Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Seminar Value Investing – Advanced, Jakarta, Minggu 2 Desember

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 2 Desember 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam tempo 2 tahun. Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 2 Desember 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Eden Hazard, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Promo!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Bonus Gratis!
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special Bonus: Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202 atau Ms. Mira 08111168885. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Salah satu testimonial yang masuk ke inbox Instagram penulis

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 1 Desember 2018 (sehari sebelum seminar advanced, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya 

Seminar Value Investing, Jakarta, Sabtu 1 Desember

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 1 Desember 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.

Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Desember 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Promo!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202 atau Ms. Mira 08111168885 (jika salah satu nomor slow respon, maka hubungi nomer satunya). Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta seminar bulan Oktober 2018

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Advanced, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 2 Desember 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Anjloknya HMSP, dan Perubahan Bobot Saham LQ45?

Pada hari Jumat, 9 November kemarin, IHSG drop 1.7% setelah dua saham yang selama ini pergerakannya berpengaruh besar terhadap naik turunnya indeks, yakni HM Sampoerna (HMSP) dan Unilever Indonesia (UNVR), jeblok masing-masing 10.3% dan 4.7%, dan demikian pula sebagian besar saham lainnya turun, namun ada beberapa saham bluechip yang malah naik. Tak lama kemudian barulah muncul penyebabnya: Penurunan IHSG, yang terutama disebabkan oleh jatuhnya saham HMSP dan UNVR, adalah karena adanya rencana dari BEI untuk menyesuaikan perhitungan bobot pengaruh dari pergerakan tiap-tiap saham anggota LQ45 terhadap naik turunnya indeks LQ45 itu sendiri, dimana memang bobot HMSP dan UNVR adalah yang turunnya paling signifikan. Lebih jelasnya sebagai berikut.

Jadi begini. Selain Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG, dimana naik turunnya IHSG merupakan cerminan atau rata-rata dari pergerakan semua saham yang diperdagangkan di BEI, maka ada juga indeks LQ45, yang merupakan cerminan dari pergerakan 45 saham-saham anggota LQ45, yang sudah diseleksi oleh tim dari BEI berdasarkan kriteria tertentu, terutama karena likuiditas perdagangannyanya. Jadi bisa dibilang bahwa 45 saham anggota LQ45 adalah saham-saham paling likuid di bursa. Pihak BEI sendiri melakukan evaluasi setiap enam bulan sekali dimana saham-saham yang tidak lagi memenuhi kriteria sebagai ‘saham LQ45’ akan dikeluarkan dari daftar, dan digantikan oleh saham lain sehingga jumlahnya tetap 45 saham. Anda bisa baca lagi penjelasan lebih lanjut di artikel berikut.
Kemudian, selama ini bobot pengaruh dari pergerakan saham-saham terhadap pergerakan indeks IHSG, dan juga indeks LQ45, itu dihitung berdasarkan kapitalisasi pasar atau market capitalization, atau market cap, dimana pergerakan saham dengan market cap besar akan lebih berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG, ketimbang pergerakan saham dengan market cap yang lebih kecil. Contohnya, dengan market cap Rp400-an trilyun, maka pergerakan HMSP memberikan bobot pengaruh sekitar 6.0% terhadap pergerakan IHSG secara keseluruhan. Jadi ketika saham HMSP kemarin turun 10.3%, itu ikut menurunkan IHSG hingga 40.1 point, tapi ketika saham Transcoal Pacific (TCPI) auto reject atas sampai 20.0%, maka itu hanya menaikkan IHSG sebesar 4.6 point, karena market cap TCPI memang hanya Rp32 trilyun.
Masalahnya adalah, beberapa saham dengan market cap jumbo, termasuk HMSP, itu sahamnya tidak se-likuid saham-saham big caps lainnya seperti Bank BCA (BBCA), Astra International (ASII), hingga Bank BRI (BBRI). Atau dengan kata lain, pergerakan HMSP sebenarnya tidak benar-benar mencerminkan arah pasar, karena investor/trader yang memperjual belikan sahamnya tidak sebanyak trader yang memperjual belikan saham BBCA dan lainnya, sehingga tidak adil jika saham HMSP justru lebih berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG/indeks LQ45.
Karena itulah, kemudian diusulkan peraturan baru: Bobot pengaruh dari pergerakan tiap-tiap saham LQ45 terhadap naik turunnya indeks LQ45 itu sendiri, itu tidak lagi dihitung berdasarkan market cap perusahaan secara keseluruhan, melainkan hanya market cap free float. Jadi begini: Rumus market cap itu adalah harga saham dikali jumlah saham beredar. Kita ambil contoh HMSP, harga sahamnya Rp3,400, dan jumlah sahamnya 116.3 milyar lembar. Maka market capnya Rp3,400 x 116.3 milyar = Rp395.5 trilyun.
Sedangkan rumus market cap free float, atau kita singkat saja market cap FF, adalah harga saham dikali jumlah saham beredar yang dimiliki oleh investor publik, alias saham free float (disebut ‘free float’, karena saham yang dimiliki publik inilah yang bebas diperdagangkan di bursa, sedangkan saham yang dimiliki oleh pemegang saham pengendali biasanya hanya di-hold saja). Yang dimaksud ‘investor publik’ disini adalah investor yang memegang suatu saham kurang dari 5% dari total jumlah saham beredar, sehingga bukan termasuk investor pengendali perusahaan.
Nah, balik lagi ke HMSP, jumlah saham free float-nya adalah 8.7 milyar lembar. Maka market cap FF-nya adalah Rp3,400 x 8.7 milyar = Rp29.6 trilyun, atau jauh lebih kecil dari market cap-nya diatas yang Rp395.5 trilyun.
Karena itulah, berdasarkan aturan baru dimana bobot pengaruh saham terhadap indeks LQ45 tidak lagi dihitung berdasarkan market cap-nya, melainkan hanya berdasarkan market cap FF-nya, maka saham-saham dengan porsi kepemilikan publik alias free float yang kecil, itu bobot pengaruhnya terhadap pergerakan indeks LQ45 akan turun.
Sementara untuk saham-saham dengan free float yang besar, pengaruhnya akan naik. Perubahan selengkapnya sebagai berikut. Catatan: Saham yang ditampilkan adalah saham anggota indeks IDX30, yakni saham-saham anggota LQ45 yang sudah diseleksi lebih lanjut berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, sehingga jumlahnya berkurang dari 45 menjadi 30 saham:
Saham
Bobot Penuh (%)
Bobot FF (%)
Perubahan (%)
HMSP
11.12
2.36
-8.76
UNVR
8.45
3.43
-5.02
GGRM
3.56
1.75
-1.81
ICBP
2.67
1.52
-1.15
PTBA
1.25
0.90
-0.35
BRPT
0.88
0.68
-0.20
JSMR
0.77
0.66
-0.11
WSKT
0.50
0.49
-0.01
WSBP
0.21
0.20
-0.01
ANTM
0.42
0.42
-0.00
SRIL
0.19
0.22
0.03
MEDC
0.37
0.42
0.05
BBTN
0.57
0.65
0.08
PTPP
0.21
0.30
0.09
INKP
1.78
2.07
0.29
PGAS
1.38
1.69
0.31
BSDE
0.54
0.89
0.35
BBCA
14.79
15.15
0.36
BBNI
3.47
3.96
0.49
UNTR
3.20
3.70
0.50
LPPF
0.36
0.88
0.52
SMGR
1.37
1.91
0.54
INDF
1.34
1.90
0.56
INTP
1.63
2.27
0.64
BMRI
8.11
9.26
1.15
KLBF
1.65
2.96
1.31
ADRO
1.35
2.81
1.46
BBRI
9.86
12.17
2.31
ASII
8.20
10.55
2.35
TLKM
9.77
13.84
4.07
Total
99.97
100.01
0.04
Sebelumnya perlu dicatat bahwa meski pada tabel diatas total persentasenya tidak bulat 100%, tapi itu adalah karena faktor pembulatan dari persentase bobot tiap-tiap saham. Sedangkan total yang sebenarnya adalah 100% untuk bobot penuh, dan juga 100% untuk bobot free float, sehingga perubahannya adalah 0%.
Nah, dari tabel diatas tampak jelas bahwa saham yang bobot pengaruhnya turun paling signifikan adalah HMSP dan UNVR, sedangkan saham yang bobotnya naik paling banyak adalah TLKM, ASII, dan BBRI. Ini artinya, setelah nanti peraturan free float ini diberlakukan pada Februari 2019, maka pengaruh pergerakan HMSP dan UNVR tidak akan lagi se-signifikan sebelumnya terhadap naik turunnya indeks LQ45. Sedangkan sebaliknya, pergerakan TLKM, ASII, dan BBRI akan menjadi lebih berpengaruh terhadap indeks LQ45.
Efeknya Terhadap OutlookTiap-tiap Saham
Bagi investor profesional, mereka memiliki patokan ukuran atau benchmark untuk menilai apakah kinerja portofolio mereka, dalam satu waktu periode tertentu (biasanya 1 tahun) terbilang memuaskan atau tidak. Dan patokan tersebut adalah IHSG. Yup, jadi kalau anda profit 20% dalam satu tahun tertentu, tapi pada tahun yang sama IHSG naik 25%, maka kinerja porto anda tidak bisa dikatakan bagus. Demikian pula jika anda rugi 5% ketika IHSG turun 15%, maka anda sejatinya masih beat the market.
Namun diluar IHSG, maka beberapa fund manager di perusahaan asset management, asuransi, hingga dana pensiun, terkadang juga menggunakan indeks LQ45 sebagai benchmark tadi, dimana target profit mereka adalah ‘lebih tinggi, atau minimal sama dengan naik atau turunnya indeks LQ45’. Konsekuensinya, mereka kemudian akan lebih banyak membeli saham-saham yang paling berpengaruh terhadap naik turunnya indeks LQ45, dan alhasil saham-saham big capsseperti BBCA, HMSP, dan UNVR hampir selalu menjadi pilihan utama mereka.
Tapi dengan adanya peraturan baru ini, maka otomatis HMSP dan UNVR, dan mungkin juga GGRM serta ICBP (selebihnya harusnya tidak akan berpengaruh, karena perubahan bobotnya sangat kecil), akan mulai ditinggalkan para fund manager ini, dan mereka beralih ke TLKM, ASII, dan BBRI. However, ada beberapa hal yang kemudian menjadi perhatian:
Pertama, fund manager yang lebih menggunakan indeks LQ45 sebagai patokan kinerja ketimbang IHSG, itu jumlahnya berapa banyak sih? Well, penulis sudah diskusi dengan temen-temen di reksadana, jawabannya tidak banyak. Sebagian besar fund manager ya tetep pake IHSG sebagai patokan, dan fund manager yang pake indeks LQ45 biasanya hanya karena mereka kesulitan mengalahkan IHSG itu sendiri (karena memang, hingga ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah turun 7.6% YTD, sedangkan LQ45 turun lebih signifikan yakni 13.8%, sehingga indeks LQ45 ini ‘lebih mudah untuk dikalahkan’). Sementara di kelompok investor ritel, malah boleh dibilang hampir gak ada satupun yang melihat indeks LQ45, karena mereka semua ngeliatnya ya IHSG. Untuk mudahnya biar penulis tes: Tahukah anda, berapa posisi IHSG saat ini? Anda mungkin bisa langsung menjawab: 5,800 sekian! Tapi jika saya tanya lagi, berapa posisi indeks LQ45 saat ini? Well, ada yang bisa jawab?
Nah, karena perubahan perhitungan bobot diatas hanya berlaku untuk indeks LQ45 (dan juga indeks IDX30), namun tidak atau belum berlaku untuk IHSG, maka artinya sebagian besar fund manager akan tetap membeli HMSP dan UNVR. Yep, karena ketika peraturan diatas diberlakukan, maka ketika HMSP dan UNVR ini turun, itu tidak akan terlalu berpengaruh lagi terhadap indeks LQ45, tapi disisi lain IHSG akan tetap jatuh. Demikian pula kalau dua saham itu naik, maka IHSG akan tetap naik. Jadi bagi para fund manager yang menggunakan IHSG sebagai benchmark, maka mau tidak mau mereka tetap harus memegang dua saham consumer ini, kecuali jika nanti peraturan ini juga diberlakukan terhadap IHSG, tapi jujur saja, itu akan sulit dilakukan. Penjelasannya sebagai berikut:
Kedua, diatas disebutkan bahwa definisi ‘saham free float’ adalah saham dari suatu emiten yang dimiliki/dipegang oleh ‘investor publik’, yakni investor dengan kepemilikan kurang dari 5% dari total jumlah saham beredar, sehingga bukan termasuk investor pengendali perusahaan.
Tapi masalahnya adalah, ketika suatu emiten free float sahamnya katakanlah mencapai 49% (51% selebihnya dimiliki oleh pemegang saham pengendali), maka benarkah 49% saham tersebut semuanya dimiliki oleh investor publik? Belum tentu. Karena faktanya, pemegang saham pengendali bisa juga memiliki/membeli saham perusahaannya sendiri menggunakan banyak rekening terpisah, dimana persentase kepemilikan untuk tiap-tiap rekening tersebut dibuat kurang dari 5%, sehingga dicatat sebagai ‘investor publik’. Ini juga menjelaskan kenapa pada beberapa emiten, kepemilikan publiknya mencapai lebih dari 50%, bahkan ada yang 70%. Contohnya? Bumi Resources (BUMI), dimana ‘kepemilikan publik’-nya mencapai 77%. Sekarang pake logika saja: Jika benar saham BUMI mayoritas dimiliki oleh investor publik, maka kenapa perusahaannya masih dikendalikan oleh Grup Bakrie??
Komposisi Pemegang Saham BUMI, dimana pemilik perusahaan adalah ‘masyarakat’, alias kita-kita semua. Congrats!
Jadi intinya, ketika komposisi pemegang saham suatu emiten menyebutkan bahwa saham free float-nya mencapai katakanlah 5 milyar lembar, maka belum tentu saham yang beredar di publik adalah sebanyak 5 milyar juga, melainkan sebagian diantaranya tetap dikuasai oleh pemegang saham pengendali. Karena itulah, kecuali pihak BEI punya cara yang akurat untuk menghitung berapa jumlah riil saham free float dari 600-an emiten di bursa, maka penulis menganggap bahwa peraturan perubahan bobot diatas mungkin bisa berlaku untuk indeks LQ45, tapi tidak akan bisa diberlakukan untuk IHSG. Karena kalau gitu caranya maka saham seperti BUMI akan tiba-tiba naik kelas, menjadi saham dengan ‘fundamental yang lebih bagus’ dibanding UNVR sekalipun.
Dan karena para fund manager masih lebih banyak yang menggunakan IHSG sebagai patokan kinerja ketimbang indeks LQ45, maka ya sudah, perubahan peraturan diatas tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap outlook jangka panjang dari tiap-tiap saham anggota LQ45 itu sendiri. Actually ketika pada Jumat 9 November kemarin IHSG tiba-tiba drop, maka itu lebih karena investor masih bingung saja dengan rencana peraturan baru ini. Sebab yang turun gak cuma HMSP dan UNVR, tapi TLKM yang jelas-jelas bobotnya naik pun juga malah ikut turun 2.0%. Penulis sendiri juga perlu waktu seharian untuk mempelajarinya, sebelum baru kemudian saya bisa menulis artikel ini.
Tapi setelah pasar nanti pada akhirnya mengerti soal peraturan baru ini, dan harusnya itu gak akan butuh waktu lama, maka ya sudah, saham-saham yang kemarin ‘kena hantam’ cerita bobot free float bla bla bla ini akan kembali ke posisi normalnya masing-masing.
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 Sudah Terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rupiah Menguat??

Setelah sebelumnya melemah terus, dalam seminggu terakhir Rupiah tiba-tiba saja menguat terhadap US Dollar dimana hingga ketika artikel ini ditulis, posisinya sudah dibawah level psikologis Rp15,000, tepatnya Rp14,632. Praktis, pasar pun segera meresponnya dengan positif dimana kemarin IHSG kembali naik hingga hampir saja tembus 6,000 lagi. Pertanyaannya tentu, penguatan Rupiah ini cuma sementara atau untuk seterusnya? Dan sebenarnya faktor-faktor apa saja sih yang membuat Rupiah menguat atau melemah?

Pergerakan Rupiah sejak 1 Sept 2018 sampai sekarang. Sumber: Bank Indonesia

Seperti halnya saham, secara umum ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap USD, yakni faktor jangka panjang, dan faktor jangka pendek. Untuk faktor-faktor jangka panjang, seperti dikutip dari Wikipedia, adalah sebagai berikut:
Pertama, neraca pembayaran, alias transaksi jual beli yang dilakukan orang-orang, organisasi dan perusahaan, hingga Pemerintah di Indonesia dengan negara-negara lainnya di seluruh dunia, termasuk didalamnya neraca ekspor impor. Simpelnya jika Indonesia lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor produk dan jasa, maka Rupiah akan melemah. However, defisit neraca ekspor impor tidak selalu melemahkan Rupiah, karena itu baru satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi neraca pembayaran. Contohnya, jika jumlah wisatawan mancanegara di Indonesia meningkat, maka itu akan meningkatkan permintaan terhadap mata uang Rupiah (karena wisatawan ini ya harus transaksi jual beli pake Rupiah ketika mereka berada di Indonesia), dan itu bisa mendorong neraca pembayaran menjadi surplus.
Kedua, tingkat suku bunga, atau dalam hal ini BI Rate, dimana jika BI Rate naik maka tingkat bunga di Indonesia secara umum akan naik, termasuk bunga obligasi, deposito dll juga ikut naik, dan itu bisa menarik minat investor dari luar negeri untuk menginvestasikan dana mereka disini, yang otomatis meningkatkan permintaan terhadap Rupiah.
Ketiga, inflasi. Ketika terjadi inflasi maka itu menunjukkan bahwa purchasing power Rupiah melemah, dimana harga-harga barang didalam negeri akan tampak naik, padahal sebenarnya itu karena nilai Rupiah yang turun. Dan jika pada satu waktu inflasi di Indonesia lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat (AS), maka Rupiah otomatis akan melemah. Di artikel ini penulis sudah jelaskan bahwa salah satu penyebab Rupiah dalam jangka panjang terus turun terhadap USD, adalah karena inflasi disini hampir selalu jauh lebih tinggi dibanding di AS, setiap tahunnya.
Keempat, kebijakan fiskal dan moneter, alias tingkat pendapatan serta belanja pemerintah, dimana jika angkanya defisit (pengeluaran lebih besar dibanding penerimaan pajak) maka itu juga bisa melemahkan Rupiah. Tapi disisi lain jika Pemerintah mengetatkan/menurunkan anggaran belanja, atau menaikkan tarif pajak dalam rangka agar APBN menjadi surplus, maka itu bisa melambatkan perputaran roda ekonomi, dan ujungnya bisa melemahkan Rupiah juga. Jadi dalam hal ini yang penting bukan surplus atau defisitnya, melainkan bagaimana agar kebijakan fiskal ini bisa seimbang dalam jangka panjang, alias gak defisit terus menerus, dan sebaliknya gak surplus terus menerus.
Kelima, intervensi pemerintah. Seperti halnya saham, Rupiah bisa juga fluktuatif, alias naik atau turun secara tajam dalam waktu singkat karena faktor-faktor non fundamental seperti adanya aksi spekulan domestik yang memborong USD, sehingga Rupiah melemah meski ekonomi dalam negeri sejatinya baik-baik saja. Dalam hal ini Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) atau organisasi lainnya bisa melakukan intervensi dengan membeli kembali Rupiah di pasar, sehingga harapannya Rupiah kembali menguat. Pada negara tertentu, termasuk di Indonesia, intervensi pemerintah ini bisa dilakukan secara terus menerus dalam jangka panjang.
Dan keenam, sekaligus yang paling penting, adalah kondisi fundamental ekonomi dalam negeri. Simpelnya kalau terjadi krisis maka Rupiah otomatis akan melemah, dan sebaliknya kalau ekonomi lagi bagus-bagusnya dimana usaha lancar, orang-orang mudah memperoleh pekerjaan dst, maka Rupiah juga akan menguat.
Faktor Jangka Pendek
Nah, itu diatas adalah faktor-faktor jangka panjang. Terus bagaimana dengan faktor-faktor jangka pendeknya? Ya simply berdasarkan hukum supply and demand, dimana Rupiah bisa menguat kalau permintaan terhadap Rupiah meningkat, demikian sebaliknya, dimana faktor supply and demand ini bisa berubah setiap saat. Contohnya itu tadi: Jika ada spekulan yang memborong USD, maka Rupiah bisa melemah untuk sesaat, tapi sebesar apapun modal si spekulan ini maka tetap saja dia tidak bisa terus menerus membeli USD, sehingga Rupiah bisa langsung menguat lagi. Ketika mata uang negara lain seperti Turki, Argentina dst melemah terhadap USD, maka secara psikologis itu juga bisa membuat investor yang memegang Rupiah menjadi khawatir (karena Indonesia adalah juga emerging market), sehingga mereka buru-buru menukarnya dengan USD, dan nilai Rupiah turun. Tapi ketika mata uang negara lain tersebut kembali menguat, maka rupiah juga akan ikut menguat.
Dan ketika terjadi perubahan cepat antara supply and demand, maka Rupiah bisa menjadi sangat fluktuatif: Tiba-tiba melemah, tapi tapi tak lama kemudian menguat lagi. Nah, seperti halnya saham, maka ketika harga suatu saham fluktuatif maka itu disukai akan oleh para trader/spekulan (yang berharap bisa dapet profit cepat) tapi tidak disukai oleh investor jangka panjang, maka demikian pula jika nilai tukar Rupiah fluktuatif, itu tidak akan disukai oleh pengusaha, karena mereka jadinya pusing ketika menghitung harga jual produk dan biaya produksi, terutama jika bisnisnya berhubungan dengan ekspor impor. Dalam hal inilah intervensi kemudian Pemerintah menjadi penting agar Rupiah menjadi stabil, tapi terkadang dengan adanya intervensi sekalipun, fluktuasi itu tetap terjadi.
Proyeksi Kurs Rupiah Kedepannya
Tapi mau Rupiah naik atau turun kaya gimana, pada akhirnya dia akan mengikuti fundamental ekonomi makro. Dan kabar baiknya, dari faktor-faktor jangka panjang yang mempengaruhi nilai tukar Rupiah, kesemuanya menunjukkan bahwa, yes, Rupiah memang normalnya melemah terhadap USD, tapi seharusnya tidak akan sampai bernasib seperti Turkish Lira yang nilai tukarnya terhadap Dollar jeblok hingga separuhnya (sedangkan pelemahan Rupiah sepanjang 2018 ini baru sekitar 10%). You see, ‘current account’ atau transaksi berjalan Indonesia, yang merupakan komponen dari neraca pembayaran, memang defisit sejak tahun 2012 lalu, salah satunya karena defisit neraca ekspor impor, namun angkanya hanya -1.7%, dibanding -5.5% milik negara Turki. Untuk BI Rate, angkanya juga turun terus sejak tahun 2009 hingga mencapai titik terendahnya dalam sejarah yakni 4.25% di tahun 2017, tapi belakangan dinaikkan lagi ke level 5.75% agar investor asing kembali tertarik investasi disini, dan sejauh ini dampaknya cukup terasa: Asing mulai masuk lagi, dan Rupiah turut menguat. Kenaikan suku bunga biasanya bisa berdampak negatif terhadap inflasi (baca lagi hubungan antara BI Rate, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi di artikel ini), sehingga ujungnya Rupiah bisa tetap melemah lagi, namun inflasi Indonesia sampai saat ini masih stabil di angka 3.16%, lebih rendah dibanding rata-rata inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir yang mencapai 6 – 7%, dan juga jauh lebih rendah dibanding inflasi Turki yang mencapai 25.2% (jadi kenaikan BI Rate masih aman).
Lalu soal kebijakan fiskal, APBN Indonesia sudah defisit lebih dari -2% sejak tahun 2013 (sebelumnya defisit juga, tapi rata-rata hanya 0 – 1%), dan ini mungkin turut melemahkan Rupiah karena untuk menutup defisit tersebut, Pemerintah mengambil utang luar negeri sehingga otomatis membeli Dollar (rasio debt to GDP Indonesia naik dari 23.0% di tahun 2012, menjadi 28.7% di tahun 2017). Kemudian soal intervensi Pemerintah, maka beberapa waktu lalu ketika Rupiah untuk pertama kalinya kembali tembus diatas Rp15,000 per USD, maka Kementerian Keuangan dll terbilang cepat tanggap dengan segera meluncurkan paket kebijakan pembatasan impor dll, dan itu juga berpengaruh positif terhadap Rupiah. Dan terakhir, kondisi ekonomi dalam negeri, dimana itu bisa dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi, juga stabil di kisaran 5 – 5.2%. Angka 5% ini mungkin tampak kurang mengesankan, mengingat pada tahun 2011 lalu Indonesia pernah mencatat pertumbuhan ekonomi sampai 6%, tapi perlu dilihat pula bahwa GDP nasional ketika itu masih US$ 750-an milyar, sedangkan saat ini GDP nasional sudah tembus US$ 1 trilyun. Yang itu berarti, ketika saat ini pertumbuhan ekonomi tercatat 5%, maka GDP bertambah US$ 50 milyar, atau masih sedikit lebih besar dibanding ketika pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi tercatat 6%, dimana GDP hanya bertambah US$ 45 milyar.
Kesimpulannya, beberapa faktor seperti defisit APBN dan defisit current account memang berpengaruh negatif terhadap Rupiah, namun faktor-faktor lainnya menunjukkan bahwa ekonomi kita masih aman. Sehingga sekali lagi, yep, Rupiah normalnya harus melemah, tapi pelemahannya tidak akan signifikan, apalagi sampai kejadian seperti tahun 1998. Dan itu berarti, jika sewaktu-waktu Rupiah kumat lagi dengan terjun bebas ke 15,000 atau bahkan 16,000 sekalipun (karena faktor jangka pendek supply and demand tadi), tapi pada akhirnya ya dia akan menguat lagi. Untuk bisa balik lagi ke level 12,000 – 13,000 mungkin agak berat karena diatas kita sudah menyebutkan beberapa faktor yang membuat Rupiah melemah, tapi jika kita katakan bahwa Rupiah kedepannya akan stabil di 14,000-an, maka itu adalah proyeksi yang realistis.
Nah, jadi ketika semingguan ini Rupiah menguat lagi, maka itu seperti mengkonfirmasi bahwa, yep, posisi Rupiah saat ini sudah cukup rendah, dan seharusnya gak akan melemah lebih lanjut. Rupiah tentunya masih bisa melemah lagi sesekali karena fluktuasi jangka pendek, salah satunya jika nanti ramai lagi isu perang dagang bla bla bla, tapi selama tidak ada perubahan berarti terhadap fundamental ekonomi makro, maka seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel bulan September 2018, seharusnya tidak sulit bagi Pemerintah untuk menjaga agar Rupiah, dalam jangka panjang, tetap bertahan di level sekarang.
Okay Pak Teguh, jadi saham-saham apa saja yang diuntungkan oleh penguatan atau pelemahan Rupiah ini? Lalu bagaimana juga pengaruhnya ke IHSG? Well, karena artikelnya sudah cukup panjang, maka silahkan temen-temen yang lain bantu menjawab.
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Diskusi Investasi Saham: Pak Joeliardi Sunendar

Dear investor, penulis beberapa waktu lalu membuat video diskusi investasi saham dengan Pak Joeliardi Sunendar, dan videonya sekarang sudah jadi, bisa langsung anda lihat di Youtube. Selengkapnya sebagai berikut (ada sampai part 7, tapi yang saya tampilkan disini hanya part 3).

Soal siapa itu Pak Joel, anda bisa baca lagi profil beliau disini.
Dalam waktu dekat ini penulis juga akan membuat video-video lainnya seputar edukasi saham, market outlook dll, dan akan di posting di Youtube. Untuk informasi selengkapnya boleh langsung kunjungi channel Youtube penulis di link berikut. Semoga bermanfaat!
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi November 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Nippon Indosari Corpindo (ROTI)

Penulis pertama kali membahas Nippon Indosari Corpindo (ROTI) pada Agustus 2015 (3 tahun lalu, baca lagi ulasan lengkapnya disini), ketika itu dengan kesimpulan bahwa emitennya masuk kategori wonderful company yang cocok untuk investasi jangka panjang, dan sahamnya pada harga 1,085, yang ketika itu mencerminkan PER 22.3 dan PBV 5.2 kali terbilang murah untuk ukuran saham consumer goods dengan intangiable asset berupa merk ‘Sari Roti’ yang sangat terkenal. Dan memang, ROTI kemudian naik banyak hingga sempat tembus 1,700 pada September 2016, atau mencetak profit 60% dalam waktu setahun lebih sedikit (belum termasuk dividen), dan sahamnya juga rutin menjadi salah satu dari 30 saham pilihan yang dibahas di ebook kuartalan.

However, setelah ROTI berada diatas level 1,700-an, penulis ketika itu menganggap bahwa valuasinya sudah tidak murah lagi, sehingga kita kemudian melepasnya dan tidak lirik-lirik lagi sahamnya (ROTI tidak lagi masuk ebook kuartalan). Sampai tiba-tiba saja, pada Juni 2017, ROTI sudah berada di 1,200-an. Namun karena perusahaan ternyata membukukan penurunan laba pada tahun 2017 tersebut, maka sahamnya tetap absen dari stockpick penulis.
Hingga akhirnya pada Kuartal III 2018 barusan, laba ROTI tercatat Rp103 milyar, naik tipis dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp97 milyar. Sebenarnya, mengingat kenaikan laba tersebut lebih karena pendapatan keuangan (laba usaha ROTI masih turun), maka ini tidak bisa dijadikan sinyal bahwa kinerja ROTI sudah kembali bertumbuh. Namun yang juga penulis perhatikan, setelah kemarin sempat drop lagi sampai 900-an, ROTI kemudian naik lagi hingga sekarang sudah di 1,080 lagi, dan kenaikannya tersebut tampak normal/bukan karena ada bandar yang mainin. Jadi apakah ini karena investor menganggap bahwa sahamnya sudah sangat murah, sehingga mereka tetap masuk meskipun kinerja ROTI masih belum meyakinkan? Atau bagaimana?
Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk melihat lagi contoh-contoh saham consumer goodslain, yang rata-rata memang cocok untuk investasi jangka panjang: Ketika Warren Buffett mulai membeli saham Coca Cola (KO), akhir dekade 1980-an lalu, kemudian di-hold saja sampai sekarang, maka apakah KO selalu membukukan kenaikan laba setiap tahunnya? Ternyata tidak. Malah antara tahun 2000 – 2010, KO membukukan laba yang cenderung stagnan, atau turun. Demikian pula di Indonesia, apakah perusahaan-perusahaan consumer yang populer seperti Unilever Indonesia (UNVR), Kalbe Farma (KLBF), Indofood CBP (ICBP), laba mereka naik terus tiap tahun? Ternyata tidak juga. Malah kalau perusahaan-perusahaan tersebut katakanlah labanya naik terus dalam lima tahun terakhir, maka ada kemungkinan bahwa dalam lima tahun berikutnya, laba mereka akan stagnan atau turun. Intinya, memang idealnya perusahaan membukukan kenaikan ekuitas serta laba setiap tahunnya dalam jangka panjang, tapi pada prakteknya itu nyaris mustahil. Termasuk laba bersihnya Berkshire Hathaway juga sering turun pada tahun-tahun tertentu (dibanding tahun sebelumnya).
Namun demikian, khusus untuk perusahaan consumer goods, ada satu faktor yang menjadi semacam garansi bahwa meskipun kinerja perusahaan tampak kurang bagus pada tahun-tahun tertentu, tapi kedepannya kinerja tersebut tetap berpeluang besar untuk naik lagi. Faktor tersebut adalah power of brand, alias kekuatan merk. Jadi intinya gini: Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dalam jangka pendek, katakanlah 1 – 2 tahun, dimana perolehan laba perusahaan dalam jangka waktu tersebut bisa saja stagnan atau turun, tak peduli meski manajemen perusahaan dll masih baik-baik saja. Tapi selama perusahaan mampu mempertahankan kekuatan merk yang dimiliki, atau dalam kasus ROTI, mempertahankan posisi perusahaan sebagai market leader di industri mass-market bread, maka dalam jangka panjang 5 – 10 tahun, kinerja perusahaan pada akhirnya tetap akan bertumbuh. Contoh riil-nya ya UNVR tadi, atau Mayora Indah (MYOR), dimana meski laba MYOR bahkan pernah turun sampai separohnya, dan sahamnya pun ikut turun, tapi tak lama kemudian laba tersebut naik lagi, dan sahamnya juga naik lagi.
Jadi kalau ROTI membukukan penurunan laba, dan sahamnya ikut turun hingga valuasinya menjadi murah, maka justru itulah saat terbaik untuk masuk, dan actually di artikel ROTI di tahun 2015, penulis juga sudah sampaikan soal ini (bahwa waktu terbaik untuk invest di ROTI adalah ketika kinerja perusahaan turun). Hipotesa ini baru akan berubah jika katakanlah ada merk roti baru yang sukses menggeser posisi Sari Roti sebagai market leader, atau perusahaan terkena kasus hukum yang serius dll, tapi itu tidak terjadi toh?
Dan setelah penulis cek lagi, ternyata benar bahwa pada harga 900, PBV ROTI adalah persis 2.0 kali, relatif murah dibanding saham consumer goods dengan reputasi baik lainnya, dan juga lebih murah dibanding valuasi ROTI itu sendiri di tahun 2015 lalu. Jadi, yap, tidak mengherankan jika kemudian sahamnya rebound. Untuk pergerakan ROTI kedepannya tentunya masih akan tergantung pada perkembangan kinerja perusahaan, tapi penulis kira kinerja terbarunya di Kuartal III 2018 juga sudah cukup untuk mengkonfirmasi bahwa sahamnya, dengan catatan tidak terjadi force majeure, tidak akan balik lagi ke 900-an.
Jadi pilihan strateginya sekarang ada dua: Jika anda cukup yakin bahwa laba ROTI akan naik signifikan lagi, katakanlah di tahun 2019 nanti, maka boleh mulai nyicil masuk lagi dari sekarang. Tapi jika anda nggak yakin, maka boleh tunggu sampai April 2019 nanti, yakni ketika perusahaan merilis LK Kuartal I 2019, just to make sure. Manapun yang anda pilih, maka seperti saham BTPS yang dibahas kemarin, ingat bahwa ROTI ini juga hanya cocok untuk jangka panjang minimal 1 tahun. Dan sedikit catatan penting: Pada tahun 2017 kemarin ROTI menggelar right issue pada harga Rp1,275 per saham, dimana perusahaan memperoleh modal Rp1.4 trilyun yang seluruhnya digunakan untuk membangun 4 hingga 6 pabrik roti baru di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Jadi jika semuanya lancar, maka dalam 2 – 3 tahun kedepan pendapatan ROTI akan meningkat signifikan, demikian pula dengan laba bersihnya. We’ll see.
Jadwal Kelas Investasi Saham: Value Investing Pension Class, Cara Investasi Saham u/ Persiapan Pensiun/Passive Income. Surabaya, Sabtu 27 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini.
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi November 2018 akan terbit hari Kamis, 1 November. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bank BTPN Syariah (BTPS)

Sejak dulu, kalau kita hendak investasi jangka panjang di Bursa Saham Indonesia untuk simpanan pensiun atau tujuan lainnya, maka pilihan sektornya hanya ada dua: Consumer goods dan perbankan. However, bagi anda pemilik rekening syariah maka anda tentunya gak bisa membeli saham-saham perbankan, sehingga pilihannya terbatas pada saham consumer saja. Pilihan lainnya adalah saham bank syariah, namun seperti yang sudah disampaikan di artikel ini, kinerja fundamental bank syariah umumnya tidak sebagus kinerja bank konvensional. Beruntung, untuk Bank BTPN Syariah (BTPS), kalau berdasarkan kinerjanya di Kuartal III 2018 yang terbilang sangat baik, maka sahamnya mungkin bisa anda pertimbangkan. Okay, kita langsung saja.

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk, atau disingkat BTPN Syariah (BTPS), awalnya merupakan unit usaha syariah dari Bank BTPN (BTPN)yang mulai dirintis pada tahun 2010, sebelum kemudian di­-spin off (dipisahkan dari perusahaan induknya) menjadi sebuah perusahaan tersendiri dengan nama BTPN Syariah pada tahun 2014. BTPS saat ini dipegang dan dikendalikan oleh dua entitas yakni BTPN, dan pengusaha Arif Rachmat (putra dari konglomerat Theodore P. Rachmat), dengan BTPN sebagai pemegang saham mayoritas.
Nah, sejak awal penulis tertarik dengan BTPS ini karena kalau perusahaan menjalankan bisnis yang sama dengan BTPN sebagai induknya, yakni pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah alias UKM (hanya saja bedanya dengan metode syariah), maka perusahaan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi dibanding induknya tersebut. Perhatikan: BTPN mampu bertumbuh dari tadinya bank kecil menjadi bank kelas menengah (nilai aset BTPN saat ini sudah hampir tembus Rp100 trilyun), karena perusahaan sukses menjadi pionir di industri perbankan mikro yang menjangkau pelosok pedesaan di seluruh penjuru tanah air (sekali lagi, baca ulasannya disini), dimana dengan teknologi electronic data capture (EDC), maka alih-alih meminta nasabah dan konsumen untuk ke kantor bank, justru BTPN-lah yang mendatangi mereka. Yup, BTPN adalah seperti bank keliling dengan para klien seperti pemilik toko kelontong, pedagang sayur di pasar, tukang gorengan, hingga pemilik usaha home industry yang kemana-mana cuma pake sendal jepit. Dalam hal ‘menjemput bola’ seperti ini, maka BTPN bahkan lebih unggul dibanding Bank BRI (BBRI) sekalipun. Dan kabar baiknya, bunga kredit mikro umumnya jauh lebih besar dibanding bunga kredit korporasi (20 – 24% berbanding 12 – 16% per tahun), dan itulah yang kemudian menyebabkan BTPN sukses menjadi besar (demikian pula dengan BBRI, yang dulu adalah bank terbesar ketiga setelah Bank Mandiri dan Bank BCA, tapi sekarang sudah menjadi nomer satu).
However, kalau kita menyebut istilah ‘bank keliling’, maka itu identik dengan kegiatan rentenir atau lintah darat, dimana debitur biasanya dibebani bunga pinjaman yang sangat tinggi, dan BTPN tidak terhindar dari citra negatif tersebut. Dan meskipun bunga yang dibebankan oleh BTPN sejatinya jauh lebih kecil dibanding bunga dari bank/koperasi keliling tidak resmi, tapi tetap saja judulnya bunga atau ‘riba’. Sementara belakangan ini semakin banyak warga negara Indonesia yang ‘alergi’ dengan sistem bunga perbankan yang dianggap merugikan.
Jadi solusinya bagaimana? Ya dengan mengganti sistem bunga tersebut dengan sistem syariah, namun dengan tetap menggunakan infrastruktur ‘bank keliling’ tadi, dimana para agen BTPS bisa terus berkeliling ke lingkungan pedesaan (BTPS bahkan bisa mempekerjakan lulusan SMA, yang masuk ke kampung-kampung di tengah sawah menggunakan sepeda onthel), tapi kali ini yang ditawarkan bukan lagi pinjaman, melainkan modal usaha berbasis syariah. Nah! Sekarang bayangkan jika anda adalah seorang petani yang butuh modal Rp2 juta untuk membeli pupuk, tapi rumah anda terlalu jauh dari kantor bank di pusat kota (udah gitu ribet pula prosedurnya), sementara para rentenir yang tiap hari mondar mandir di kampung anda menawarkan pinjaman Rp2 juta tersebut, namun bayarnya harus Rp4 juta setelah 3 bulan. Tapi kemudian datang seorang agen dengan tanda pengenal resmi dari Bank BTPN Syariah, yang menawarkan modal usaha syariah yang tidak lagi menuntut anda untuk membayar bunga, melainkan pakai sistem bagi hasil dimana anda hanya perlu membayar sesuai dengan hasil panen, sudah gitu anda diberikan pelatihan gratis pula. Kira-kira bagaimana reaksi anda?
Karena itulah, penulis kira tidak mengherankan jika kehadiran BTPS diterima dengan sangat baik oleh masyarakat, dan perusahaan kemudian membukukan kinerja yang bahkan lebih bagus dibanding induknya: Pada tahun 2015, BTPS membukukan laba bersih Rp174 milyar, yang naik menjadi Rp422 milyar di tahun 2016, naik lagi menjadi Rp670 milyar di 2017, dan terakhir sudah mencapai Rp698 milyar untuk periode sembilan bulan di tahun 2018. Ekuitas BTPS sendiri tumbuh pesat dari tadinya Rp1.2 trilyun menjadi saat ini Rp3.7 trilyun, hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun, dimana diluar dari dana IPO-nya sebesar Rp751 milyar, seluruh peningkatan ekuitas tersebut berasal dari akumulasi laba bersih perusahaan. Bisa dikatakan bahwa BTPS memiliki dua keunggulan sekaligus, yang tidak dimiliki oleh bank lain: 1. Sistem syariah yang lebih diterima masyarakat, dan tentunya memiliki citra yang jauh lebih baik dibanding bank keliling, 2. Infrastruktur perbankan yang menjangkau pelosok pedesaan yang sudah dirintis sebelumnya oleh BTPN sebagai induk perusahaan. Fakta-fakta menarik lainnya adalah:
  1. 100% debitur BTPS adalah perempuan pra-sejahtera, dimana BTPS tidak hanya memberikan mereka modal usaha, tapi juga melakukan program pendampingan melalui bankir pemberdaya yang melatih nasabah untuk mengelola keuangan, menabung, dan membuka usaha/berdagang. Dalam hal ini BTPS menjadi satu dari sedikit bank yang benar-benar fokus pada ‘meningkatkan kesejahteraan masyarakat’, dimana debitur mereka justru berasal dari kelompok wong cilik semua.
  2. Saat ini diperkirakan terdapat 23 juta perempuan pra-sejahtera di Indonesia, sedangkan BTPS baru memiliki 3.2 juta nasabah aktif, sehingga peluang pertumbuhannya masih terbuka lebar.
  3. Dalam eksistensinya yang belum genap 10 tahun, BTPS sudah menjangkau 23 provinsi dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, dan mempekerjakan 12 ribu bankir pemberdaya. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang.
  4. Selain modal usaha, BTPS juga memberikan pinjaman syariah untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan perbaikan tempat tinggal (jadi inget acara ‘bedah rumah’), dimana sebelumnya kredit jenis ini hanya dijangkau oleh bank keliling rentenir tadi.
  5. Kelemahan kredit mikro adalah besarnya risiko gagal bayar oleh debitur, apalagi jika debitur tersebut termasuk kategori pra-sejahtera. Namun dengan program pemberdayaan yang mengiringi setiap pemberian modal/kredit konsumsi (intinya nasabah tidak hanya dikasih pinjaman modal, tapi juga dilatih/dibimbing secara intens agar bisa mengembalikan pinjaman tersebut), maka NPF gross BTPS per Kuartal III 2018 hanya 1.6%, lebih rendah dibanding rata-rata NPF gross bank syariah di Indonesia yang mencapai 3 – 4%.
Catatan: NPF atau non performing financing, adalah istilah bank syariah untuk NPL atau non performing loan, mengingat kredit yang mereka berikan ke debitur bukanlah pinjaman/loan yang menggunakan sistem bunga, melainkan pembiayaan/financing yang menggunakan sistem bagi hasil.
Selain mempekerjakan ‘bankir pemberdaya’, maka melalui ‘program daya’ dengan konsep sesama nasabah membantu satu sama lain, BTPS juga bekerjasama dengan nasabah pemilik dana yang memiliki keahlian khusus tertentu untuk memberikan pelatihan bagi ibu-ibu pra-sejahtera. This is amazing!
Kesimpulannya, well, sepertinya kita baru saja menemukan wonderful company disini, dimana cara kerja BTPS juga sangat mirip dengan Grameen Bank milik Muhammad Yunus yang terkenal itu. Tapi kemudian bagaimana dengan sahamnya?
Sayangnya pada harga 1,680, BTPS mencatat PBV 3.5 kali, dan PER 13.9 kali, lumayan tinggi terutama dalam kondisi pasar saat ini dimana ada banyak saham dari bank lain yang lebih besar, dan juga lebih terkenal, yang valuasinya lebih rendah. Selain itu, meskipun BTPS punya kinerja yang luar biasa baik dalam 3 tahun terakhir, tapi track record 3 tahun tersebut tentunya masih terlalu pendek untuk dijadikan dasar pernyataan bahwa kinerja BTPS akan tetap bagus untuk seterusnya. Sehingga sekali lagi, PBV diatas 3 kali terbilang sudah tinggi, atau minimal sudah tidak bisa dikatakan murah lagi.
Tapi berhubung di kinerja terbarunya, laba BTPS masih naik signifikan, termasuk ROE-nya juga masih sangat tinggi (disetahunkan 25.1%), maka gak realistis juga kalau mengharapkan sahamnya untuk turun dalam waktu dekat ini. Jadi dalam hal ini anda punya dua opsi: 1. Mulai beli dari sekarang untuk tujuan investasi jangka panjang, tapi nyicil saja dulu alias jangan sekaligus banyak, 2. Tunggu dulu barang 1 – 2 tahun, dimana jika BTPS tetap membukukan kinerja yang bagus, sedangkan harganya tidak berubah, maka valuasinya tetap akan turun (karena ekuitas dan laba bersih BTPS naik), dan ketika itulah anda bisa langsung beli sahamnya dalam jumlah besar. Yang perlu diingat, BTPS ini hanya cocok untuk jangka panjang. Jadi kalau anda beli sahamnya untuk nanti dijual lagi, maka boleh pertimbangkan saham lain saja.
Untuk minggu depan kita akan bahas saham lainnya sesuai laporan keuangan Kuartal III 2018, mudah-mudahan ketemu saham bagus lagi yang masih murah.
PT Bank BTPN Syariah, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2018: AAA
Rating saham pada 1,680: BBB

Jadwal Value Investing Pension Class, Cara Investasi Saham u/ Persiapan Dana Pensiun. Surabaya, Sabtu 27 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini. Hingga sabtu, 20 Oktober, masih tersedia slot untuk 11 peserta lagi.
Jadwal Private Class: Jakarta, Central Park Mall, Kamis 25 Oktober pukul 12.00 WIB. Keterangan selengkapnya baca disini.
Ebook Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 akan terbit hari Kamis, 8 Novembermendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning – Kuartal III 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Ebooknya dijadwalkan untuk terbit pada hari Kamis, 8 November 2018, dan anda bisa memesannya disini.
Halaman daftar isi ebooknya, salah satu edisi sebelumnya
Pekerjaan rutin investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui emailteguh.idx@gmail.com.


Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 

Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

-Renaldi [...]

Geliat Investor Muda di Pasar Saham Indonesia

Ada yang menarik ketika penulis memenuhi undangan BEI Kantor Perwakilan Kalimantan Selatan untuk mengisi sharing session (talkshow berbagi pengalaman dan tanya jawab seputar investasi saham) di Banjarmasin, Sabtu 13 Oktober kemarin: Dari 150-an peserta yang hadir, hampir semuanya merupakan mahasiswa atau karyawan berusia 20-an atau 30-an, dan hanya sedikit yang berusia diatas 40-an. Dan ini sangat berbeda dibanding ketika penulis terakhir kali mengisi acara seperti ini sebelumnya, dimana pesertanya rata-rata sudah senior secara usia. Tidak hanya para peserta talkshow, tapi para karyawan BEI Kalsel itu sendiri rata-rata masih berusia 20-an, bahkan ada yang masih fresh graduate.

Dan memang, melalui salah satunya kampanye Yuk Nabung Saham! (YNS) sejak tahun 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan juga self regulatory organization lainnya di lingkungan pasar modal seperti OJK, KPEI, dan KSEI, seperti mengubah paradigma sebelumnya bahwa pasar saham hanyalah untuk ‘orang kaya dan mapan dengan modal minimal puluhan atau bahkan ratusan juta Rupiah’, melainkan sekarang mahasiswa atau karyawan dengan modal terbatas pun bisa menjadi pemilik perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI. Jika dulu pada tahun 2002, seseorang harus menyetor minimal Rp25 juta untuk membuka rekening di sekuritas, dan di tahun 2009 turun menjadi Rp5 juta, maka sekarang setoran minimal itu turun lagi menjadi hanya Rp1 juta, relatif terjangkau bagi siapapun, sehingga ‘investasi saham’ kini tidak lagi menjadi privilege bagi kelompok masyarakat menengah keatas, melainkan sekali lagi, semua orang sekarang bisa invest di saham. Bahasa kampanye YNS di medsos juga lebih banyak ditujukan untuk investor generasi muda, dan tidak lagi kaku dan formal seperti sebelumnya.


Penulis bersama Kepala OJK Kalimantan Selatan, Bpk. Ali Ridwan, memberikan penghargaan bagi temen-temen mahasiswa pemenang kompetisi investor D-Vlog yang diselenggarakan BEI Kalsel

Dan alhasil, berdasarkan data single investor identification (SID) dari KSEI (Kustodian Sentra Efek Indonesia), saat ini sudah terdapat 1.3 juta rekening dana investor di Indonesia. meningkat sekitar 3 kali lipat dibanding tahun 2013 dimana hanya terdapat 400 ribu rekening. Tapi tidak hanya itu: Saat ini sekitar 35% pemilik rekening sekuritas adalah berusia dibawah 30 tahun, dan 25% lainnya berusia 30 – 40 tahun. Sehingga bisa dikatakan bahwa mayoritas atau 60% investor ritel di pasar saham Indonesia merupakan generasi muda.
Peningkatan signifikan jumlah investor ritel ini di satu sisi menimbulkan dua problem. Pertama, saat ini dua pertiga investor domestik di market adalah investor pemula dengan pengalaman kurang dari 3 tahun, sehingga SRO dan sekuritas harus bekerja keras untuk mengedukasi mereka untuk berinvestasi itu sendiri dengan baik dan benar (ini kalau sekuritasnya bener/gak melulu orientasi ke trading), dan terutama menjaga mereka agar tidak keluar lagi dari pasar/berhenti berinvestasi ketika terjadi market bearish seperti yang memang sedang terjadi di tahun 2018 ini. Kedua, meski jumlah investor meningkat signifikan, namun sebagian besar merupakan investor dengan ‘dana coba-coba’ dimana nilai dana ini bisa jadi lebih kecil lagi dibanding dulu, karena itu tadi: Sekarang investor dengan modal Rp1 juta sekalipun sudah bisa buka rekening. Kondisi ini menyebabkan para equity sales di sekuritas memang menerima banyak nasabah baru, sehingga mereka jadi sangat sibuk dibanding sebelumnya, tapi trading fee yang mereka peroleh tidak benar-benar meningkat signifikan karena para nasabah ini berinvestasi menggunakan dana yang kecil saja.
Namun demikian, belakangan saya baru kepikiran bahwa apa yang sudah terjadi di bursa dalam tiga tahun terakhir ini, yakni meningkatnya jumlah investor secara signifikan dimana mayoritas mereka adalah berusia muda, maka itu adalah awal yang sangat baik bagi perkembangan pasar saham Indonesia itu sendiri, dalam beberapa dekade ke depan.
Jadi begini. Yup, investor karyawan atau mahasiswa memang rata-rata modalnya kecil, tapi mereka punya aset yang sebenarnya lebih berharga dibanding modal itu sendiri: Waktu yang lebih panjang untuk menggali pengalaman dan untuk mengumpulkan modal investasi itu sendiri, dan terutama antusiasme yang lebih besar untuk belajar. Di masa lalu, tingginya minimum setoran awal untuk membuka rekening menyebabkan pasar saham menjadi eksklusif hanya untuk pengusaha sukses atau karyawan/manajer senior sebuah perusahaan, yang rata-rata sudah mapan secara usia, alias berusia 40 tahun keatas. Termasuk investor ritel paling sukses di Indonesia, Pak Lo Kheng Hong, juga baru mulai investasi saham di usia 30-an.
Tapi masalahnya adalah, kalau anda sudah senior secara usia, maka terus terang saja, anda sedikit banyak akan males kalo disuruh membaca laporan tahunan setebal ratusan halaman bukan? Atau kalau disuruh menghitung formula PER PBV bla bla bla, bahkan meskipun sudah menggunakan alat bantu Excel. Penulis sendiri sering bertemu (calon) investor yang masih bingung cara menghitung kalau saham A hari ini harganya 955, lalu besoknya naik jadi 975, maka itu naiknya berapa persen? (padahal itu cuma matematika sederhana). Kurangnya semangat dan antusiasme untuk belajar menganalisa, atau untuk melakukan pekerjaan analisa itu sendiri, menyebabkan banyak investor tidak benar-benar berinvestasi di saham, melainkan hanya gambling saja. Sudah tentu, investor pemula manapun kalau baru pertama kali buka rekening maka pasti mereka belum ngerti apa-apa/belum punya cukup pengetahuan. Tapi maksud penulis disini adalah, ketika seorang calon investor yang masih kuliah, atau baru berusia 20-an membuka rekening, maka biasanya ia akan semangat dan antusias untuk belajar, untuk menggali pengalaman, dan untuk melakukan eksperimen yang berisiko (karena nothing to lose juga toh? Kan modalnya masih kecil). Sehingga setelah 5 – 10 tahun, ia akan menjadi investor handal sarat pengalaman, plus bekal mental yang jauh lebih kuat, dan tentunya dengan modal yang lebih besar dibanding ketika ia dulu pertama kali membuka rekening.
Dan karena mayoritas investor di bursa adalah generasi muda yang sedang semangat-semangatnya untuk belajar, maka bisakah anda bayangkan bagaimana dampaknya terhadap pasar saham Indonesia itu sendiri dalam beberapa dekade kedepan? Just remember, ketika Warren Buffett mulai serius berinvestasi di saham pada tahun 1950-an, maka tidak hanya Buffett ketika itu masih berusia 20-an dengan modal yang juga kecil, tapi Bursa Wall Street juga sama sekali belum sebesar hari ini. Jadi jika anda termasuk investor generasi muda ini, maka perkenankan penulis untuk mengucapkan, congratulations! Karena anda saat ini adalah seperti Warren Buffett di tahun 1950-an, dimana yang perlu anda lakukan selanjutnya adalah keep moving forward, dan mari kita lihat lagi bagaimana hasilnya, beberapa tahun dari sekarang.
Problemnya bukan di Usia, Tapi Semangat untuk Belajar
Tapi Pak Teguh, apa itu artinya kalau saya sudah berusia 40-an atau lebih senior lagi, berarti saya sudah terlambat untuk invest di saham? Kabar baiknya, tidak juga. Sebab kata kuncinya disini bukanlah di usia kita berapa, melainkan seberapa besar semangat yang kita miliki untuk menggali pengetahuan serta pengalaman yang memang mutlak diperlukan dalam berinvestasi itu sendiri. Jadi bahkan kalaupun anda adalah seorang pensiunan berusia 60 tahun, tapi jika anda mampu dan memang seneng mengutak atik angka-angka yang ada di laporan keuangan emiten, maka anda tetap lebih baik dibanding investor usia 20-an yang kerjaannya cuma ngeliatin naik turun sahamnya setiap hari. Selain itu kalau anda bukan lagi seorang karyawan fresh graduate, maka harusnya modalnya juga lebih gede dong (sehingga hasil profitnya juga lebih gede). Kalau kita pake contoh W. Buffett sendiri, ketika ia mencapai US$ 1 billion pertamanya pada usia 55, tapi bahkan setelah itu ia tetap semangat berinvestasi dan melakukan pekerjaan analisa hingga hari ini, pada usia 88 tahun, ia menjadi jauh lebih kaya lagi. Nah, jadi dalam hal ini penulis juga perlu ingatkan kepada anda yang merasa ‘menang’ hanya karena sudah buka rekening ketika anda baru 30-an, 20-an, atau lebih muda lagi: Hanya karena anda masih muda, bukan berarti anda pasti akan sukses sebagai investor, karena itu akan sepenuhnya bergantung pada seberapa baik anda dalam memanfaatkan waktu yang anda miliki.
Hanya memang, seperti yang sudah disebut diatas, investor yang baru mulai invest ketika ia berusia mapan biasanya kurang semangat untuk belajarnya, dibanding investor lain yang sudah mulai lebih awal. Dalam hal ini pun anda tetap tidak perlu berkecil hati, karena kalaupun anda termasuk yang ‘capek’ untuk belajar ini, maka kata capek itu tidak berlaku bagi putra putri anda, dimana yang mereka butuhkan selanjutnya hanyalah mentor yang bisa diandalkan, dalam hal ini anda sendiri sebagai orang tuanya. Thus, jika anda baru pertama kali baca blog ini, maka ajaklah putra putri anda untuk ikut membacanya. Dan jika mereka tertarik, maka tinggal sisihkan saja barang beberapa juta Rupiah untuk membuka rekening di sekuritas untuk mereka (anak anda) kelola sendiri (kalau dia belum punya KTP, maka bisa rekeningnya pake nama anda sendiri dulu), lalu lihat hasilnya beberapa waktu kemudian ????
Dan mudah-mudahan dengan cara inilah, pasar saham Indonesia benar-benar akan menjadi besar suatu hari nanti, lebih besar dari pasar saham China dan Jepang sekalipun. Amin!
Jadwal Kelas Investasi SahamValue Investing Pension Class, Cara Investasi Saham Berdasarkan Metode Value Investing u/ Persiapan Dana Pensiun. Surabaya & Jakarta, 27 & 28 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Pension Class: Surabaya & Jakarta, 27 & 28 Oktober

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension’. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividend serta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investor yang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.


Pembicara: Teguh Hidayat

Materi Utama:
  1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
  2. Cara memaksimalkan profit dengan cara meminimalisir risiko-risiko kerugian, sehingga investasi kita di saham menjadi sama aman-nya dengan katakanlah punya rumah kontrakan (atau bahkan lebih aman), dan pertumbuhan nilainya menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang.
  3. Cara menyusun portofolio untuk investasi jangka panjang berdasarkan dua kategori saham: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, dengan tujuan memperoleh dividend, 2. Saham-saham berfundamental amat sangat bagus yang analisanya sebatas ‘Belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dengan tujuan memperoleh capital gain, berdasarkan kaidah value investing.
  4. Ciri-ciri ‘wonderful company’, serta apa bedanya dengan saham cyclical, yakni saham yang akan di-hold paling lama 1 – 2 tahun saja (tapi jika timing-nya tepat, maka capital gain-nya justru lebih besar/bisa lebih dari 100%).
  5. Cara memanfaatkan fluktuasi pasar untuk membeli saham-saham terbaik pada harga terbaik.
  6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
  7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskan mengelola portofolio kita di saham.
Perkembangan nilai aset Warren Buffett ketika ia berusia 14 hingga 83 tahun, tapi hey, kita gak usah punya aset US$ 50 billion untuk bisa pensiun bukan?
Bonus Materi:
  1. Ciri-ciri investor berpengalaman/profesional, yang sudah siap untuk investasi jangka panjang dengan target pensiun: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
  2. Sharing pengalaman penulis ketika menemukan saham-saham untuk jangka panjang, 5 – 7 tahun lalu (dan bagaimana perkembangan perusahaannya sekarang), dan apa bedanya dengan saham-saham yang sempat populer pada masanya, namun bukan untuk jangka panjang. 
  3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, dan sudah bisa diakumulasi sejak sekarang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
Surabaya
  • Tempat: Amaris Hotel Embong Malang, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 Oktober 2018
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Minggu, 28 Oktober 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,750,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class Surabaya/Jakarta (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mauro Icardi, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif, maka jumlah kursi dibatasi hanya untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat Kamis, 25 Oktober, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,650,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,500,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta ‘Value Investing Advanced Class’, Jakarta 7 Oktober 2018
Untuk rekaman ‘Value Investing Pension Class’, untuk saat ini belum ada, tapi nanti akan dibuatkan dan dijual, tentunya dengan harga lebih murah dibanding ikut kelasnya itu [...]

Prospek IPO Duck King

Kalau penulis menyebut nama PT Jaya Bersama Indo, mungkin anda tidak tahu itu perusahaan apa. Tapi kalau kita sebut Restoran Duck King, maka kemungkinan anda ‘ngeh nama tersebut, apalagi jika anda adalah pecinta kuliner seperti penulis. Yup, Restoran Duck King, atau kita singkat saja Duck King, adalah jaringan rumah makan spesialis menu oriental yang cukup populer di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya, karena mereka memiliki gerai di banyak mall-mall besar di kota-kota tersebut. Dan kenapa mereka bisa punya banyak gerai sekaligus? Ya karena memang makanan disitu enak, sehingga pelanggan setianya ada banyak. Penulis sendiri bisa katakan bahwa, sebagai penyuka dimsum dan nasi hainan, saya sudah mencoba hampir semua restoran chinese di mall-mall di Jakarta, tapi hanya di Duck King yang saya kemudian jadi langganan.

Dan karena perusahaan pemilik jaringan restoran Duck King ini kemudian melantai di bursa, maka jadilah sahamnya menarik untuk dianalisa. Okay, kita coba pelajari lagi perusahaannya dari awal.
PT Jaya Bersama Indo (DUCK) baru didirikan pada tahun 2013 sebagai perusahaan holding dari beberapa anak usaha di bidang usaha pengelolaan restoran Duck King, namun restoran Duck King itu sendiri pertama kali dibuka di Senayan Trade Center, Jakarta, pada tahun 2003. Restoran pertama itu sukses besar hingga pemiliknya, masih di tahun yang sama, segera membuka restoran kedua, ketiga, dan seterusnya di wilayah Jabodetabek, termasuk membuka satu gerai restoran di Surabaya pada tahun 2004. Di tahun-tahun selanjutnya Grup Duck King terus membuka gerai baru di banyak lokasi berbeda, hingga akhirnya perusahaan memiliki lima nama/merk gerai berdasarkan jenis menu dan tingkat kemewahan restorannya, yakni 1. The Duck King, 2. The Grand Duck King, 3. The Grand Duck King Signatures, 4. Imperial Kitchen, dan 5. The Duck King Noodle. Terakhir pada tahun 2017, DUCK mengakuisisi 4 gerai restoran Fook Yew di Jakarta. Saat ini DUCK totalnya memiliki dan mengoperasikan 31 gerai restoran di 9 kota di Indonesia, belum termasuk jaringan restoran Fook Yew diatas, dimana itu mengukuhkan perusahaan sebagai grup restoran chinese food untuk konsumen menengah keatas terbesar di Indonesia. Dan dari dana hasil IPO-nya, perusahaan berencana untuk menambah beberapa gerai baru termasuk membuka restoran di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Dengan asumsi selera orang disana terhadap masakan chinese kurang lebih sama seperti disini, maka seharusnya DUCK juga bakal sukses besar dengan gerai-gerai barunya tersebut.
Salah satu kunci kesuksesan DUCK dalam mengembangkan jaringan restorannya adalah kemampuan perusahaan dalam menyajikan masakan chinese tanpa menyertakan menu non-halal/babi (untuk The Duck King dan The Grand Duck King) namun dengan citarasa yang tetap otentik. Hal ini berbeda dengan restoran chinese food lainnya yang rata-rata masih menyediakan menu non-halal, sedangkan kita tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah mayoritas muslim, sehingga isu halal ini menjadi penting. Meski demikian DUCK tetap melakukan diversifikasi: Untuk restoran Imperial Kitchen juga menyediakan menu non-halal, dan gerainya berlokasi di daerah yang terdapat banyak warga nonmuslim.
Nah, setelah membaca prospektusnya, berikut adalah beberapa keunggulan DUCK yang membuat sahamnya bisa dipertimbangkan.
1.     Sejak dulu, bisnis kuliner adalah salah satu bisnis yang paling menguntungkan terutama untuk negara dengan penduduk besar seperti Indonesia, dimana syarat sukses sebuah restoran hanya satu: Citarasa menu yang enak dan disukai masyarakat. Dan DUCK memiliki syarat tersebut.
2.     Posisi DUCK saat ini sudah merupakan market leader di Indonesia di bidang restoran chinese food, dimana jumlah gerai yang dimiliki perusahaan juga meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
3.     Merk ‘Duck King’ sudah sangat dikenal di masyarakat perkotaan sebagai jaringan restoran chinese, lebih terkenal dibanding katakanlah Ta Wan, Din Tai Fung, Crystal Jade, Paradise Dynasty, dst.
4.     Berbeda dengan jaringan restoran chinese food lainnya, DUCK dengan slogannya ‘no pork, no lard’ (tidak menggunakan daging dan lemak babi, kecuali untuk Imperial Kitchen) sukses membuat restorannya selalu dipenuhi pengunjung, yang 70% merupakan muslim.
5.     Dengan 5 merk restorannya, plus Fook Yew yang baru diakuisisi, kini DUCK menjangkau semua lapisan konsumen mulai dari menengah kebawah, menengah keatas, hingga VVIP. Ini berbeda dengan jaringan restoran lainnya yang kalau nggak menyasar segmen menengah kebawah, ya menengah keatas.
6.     Perkembangan teknologi termasuk munculnya aplikasi pengiriman makanan seperti Go-Food, Grab-Food dst semakin memperluas pangsa pasar perusahaan, dimana kini konsumen yang hendak makan bebek peking panggang namun males datang ke restoran (misalnya karena macet), tetap bisa memesan menu bebek tersebut dari rumah atau kantor.
7.     DUCK benar-benar menggunakan dana hasil IPO-nya untuk ekspansi hingga keluar negeri. Dan karena saat ini DUCK baru memiliki restoran di 9 kota besar di Indonesia, maka perusahaan masih memiliki ruang yang lebar untuk membuka gerai-gerai baru, entah itu stand-alone atau di mall.
Namun diluar ketujuh point diatas, berikut adalah beberapa poin yang juga harus anda pertimbangkan. Pertama, meski jaringan restoran Duck King sudah ada sejak tahun 2003, namun karena PT Jaya Bersama Indo itu sendiri baru berdiri tahun 2013, maka perusahaan belum memiliki track record kinerja yang cukup panjang (di prospektusnya hanya ada catatan kinerja tahun 2015 – 2017, dan bahkan belum ada laporan keuangan untuk Kuartal II 2018), dan itupun kinerjanya kurang bagus: Laba DUCK di tahun 2017 tercatat Rp72 milyar, turun dari tahun 2016 sebesar Rp89 milyar.
Kemudian kedua, meski memiliki citarasa menu yang enak sehingga perusahaan memiliki banyak pelanggan setia, namun sebagian besar konsumen DUCK adalah dari segmen menengah keatas, karena memang harga makanan disitu nggak murah, minimal Rp100 – 150,000 per orang sekali makan. Hal ini menyebabkan DUCK tidak akan bisa se-ekspansif katakanlah Solaria, KFC, Pizza Hut, atau jaringan restoran lainnya yang harga menunya lebih terjangkau, melainkan hanya bisa buka cabang di mall besar di kota besar. Kinerja keuangan DUCK juga praktis lebih rentan terhadap risiko penurunan daya beli masyarakat, dimana kalau ekonomi melambat maka orang tentunya bakal tetep makan di warteg, tapi mungkin bakal mikir-mikir kalau mau makan disana. Terkait hal ini DUCK memang sudah mengakuisisi restoran Fook Yew untuk menjangkau konsumen menengah kebawah, tapi so far kontribusinya baru 6% dari total pendapatan perusahaan.
Nevertheless, dengan kembali mempertimbangkan poin-poin analisa diatas yang menyebabkan DUCK ini prospektif, maka sahamnya secara umum tetap menarik, terutama karena penulis tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan seperti IPO Garudafood yang sudah kita bahas sebelumnya (baca lagi ulasannya disini), dan terutama karena penulis beranggapan bahwa, asalkan perusahaan bisa konsisten menjaga citarasa menu restorannya selama ini (karena kadang ada juga restoran yang dulunya enak, eh kesininya jadi gak enak lagi), dan Indonesia tidak mengalami konstraksi ekonomi yang serius, maka gerai-gerai baru yang akan dibangun nanti juga bakal ramai dipenuhi pengunjung, sehingga DUCK memiliki prospek jangka panjang yang cerah.
Lalu bagaimana dengan valuasi sahamnya?
Di IPO-nya, DUCK melepas 403 juta lembar saham baru untuk publik, yang mencerminkan 34.4% modal ditempatkan dan disetor perusahaan, pada harga Rp505 per saham, sehingga perusahaan akan memperoleh tambahan ekuitas Rp259 milyar. Karena ekuitas DUCK sebelum IPO (per akhir 2017) adalah Rp318 milyar, maka setelah IPO angkanya naik menjadi Rp577 milyar. Karena jumlah saham DUCK setelah IPO (termasuk menghitung saham employee stock allocation) adalah 1,173.8 juta lembar, maka book value-nya adalah Rp577 milyar / 1.2 milyar lembar saham, sama dengan Rp491 per saham. Maka PBV-nya 505 / 491 = 1.02 kali. Well, surprise sodara-sodara, ternyata harga IPO-nya terbilang murah, malah murah banget kalau mempertimbangkan power of brand ‘Duck King’ yang dimiliki perusahaan. Dan dalam hal ini juga penulis agak bingung: Bukannya sebelumnya dikatakan bahwa DUCK menetapkan harga IPO-nya di rentang 1,550 – 1,950 per saham? Kenapa sekarang malah turun drastis jadi cuma 505 per saham? Ini penjamin emisinya kagak pinter jualan apa gimana?
Tapi apapun itu, sayangnya DUCK sudah akan melantai di bursa pada tanggal 10 Oktober ini, jadi sudah telat kalau anda mau ikut book building-nya sekarang. Dan dengan jumlah saham untuk publik hanya 403 juta lembar, maka penulis juga ragu kalau ada banyak investor publik yang kebagian jatah; kemungkinan yang makan masih owner-nya juga. Thus, ada kemungkinan sahamnya bakal digoreng seperti saham-saham IPO sebelumnya. Tapi kalau anda, entah gimana caranya, bisa beli DUCK ini pada harga yang tidak terlalu berbeda dengan harga perdananya yakni 505, maka anda berpeluang untuk cuan lumayan. Satu hal lagi: Selain menerbitkan saham baru untuk publik melalui IPO, DUCK juga akan menerbitkan saham baru untuk management-nya sendiri (EMSOP) secara bertahap hingga dua tahun kedepan setelah tanggal IPO-nya, dalam jumlah yang cukup besar yakni 117 juta lembar. Yang itu artinya, saham DUCK di pasar normalnya akan naik lumayan dalam dua tahun tersebut, sehingga saham baru yang diterbitkan nanti untuk diambil para direksinya bakal langsung membuat si direktur cuan, minimal diatas kertas.
Anyway, seperti yang disebut diatas, penetapan harga IPO yang kelewat murah ini justru bikin penulis jadi bingung; Apa ada sesuatu yang kelewat dalam hitung-hitungan diatas? Dan apakah ini karena saham Sarimelati Kencana (PZZA), yang juga perusahaan restoran dalam hal ini restoran Pizza Hut, belakangan cenderung turun lagi? Ataukah harga murah itu karena pasarnya memang lagi bearish? Well, apapun itu, mari kita lihat saja bagaimana perkembangan harga sahamnya mulai hari Rabu ini, tanggal 10 Oktober.
PT Jaya Bersama Indo, Tbk (DUCK)
Rating Kinerja pada 2017: A
Rating saham pada 505: AA
Buletin Analisis Pasar/IHSG dan stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Surya Toto Indonesia

Saham PT Surya Toto Indonesia, Tbk (TOTO) mungkin tidak termasuk saham yang diminati oleh para pelaku pasar karena likuiditasnya yang seret, namun nama perusahaan terbilang populer sebagai produsen barang-barang sanitary seperti toilet, bak kamar mandi, wastafel, dan semacamnya, sementara merk ‘Toto’ sendiri sudah seperti jaminan mutu untuk produk-produk yang berhubungan dengan kamar kecil. Perusahaan dengan intangiable asset berupa strong power of brand seperti TOTO ini biasanya cocok untuk investasi jangka panjang, dan memang kinerja TOTO dalam jangka panjang terbilang konsisten serta profitable, termasuk dividennya pun lumayan besar. Jadi ketika dalam tiga tahun terakhir sahamnya malah terus saja turun dari 700-an hingga Agustus 2018 kemarin mentok di 264, maka penulis jadi penasaran: Apa yang salah?

Sejarah TOTO dimulai pada pada tahun 1968 ketika perusahaan, yang ketika itu masih bernama CV Surya, menjadi agen penjualan resmi untuk produk-produk sanitasi milik Toto Limited Japan (TLJ), yang merupakan produsen sanitary wares kelas dunia asal Jepang, di Indonesia. Pada tahun 1977, TOTO memperoleh lisensi dari TLJ untuk membuat produk sanitasi-nya sendiri dengan tetap menggunakan merk ‘Toto’, dan nama perusahaan berubah menjadi PT Surya Toto Indonesia. Pabrik pertama perusahaan, yang merupakan hasil joint venture antara TOTO dan TLJ, berdiri pada tahun 1978 dengan 65 orang karyawan. Hanya dua tahun kemudian yakni di tahun 1980, TOTO sudah mampu mengekspor produknya ke mancanegara. Tahun 1985, TOTO membangun satu lagi pabrik yang khusus memproduksi barang-barang fitting seperti keran air dan shower. Dan pada tahun 2006, TOTO membangun pabrik ketiganya yang memproduksi perlengkapan dapur dan produk kebutuhan rumah tangga, sekaligus merupakan upaya perusahaan untuk melakukan diversifikasi usaha. Ketiga pabrik milik TOTO kesemuanya berlokasi di Tangerang, Banten.


Nah, entah karena pengaruh dari TLJ sebagai salah satu pemegang saham perusahaan (saat ini TLJ masih memegang 37.9% saham TOTO), atau karena faktor lainnya, namun manajemen TOTO ini type tradisional: Bikin produk lalu jual, gak mengambil utang yang berlebihan, dan selama ini perusahaan hampir gak melakukan ekspansi apapun kecuali terus mengembangkan jenis produk-produknya. Termasuk untuk pabrik yang memproduksi perlengkapan dapur, hingga Kuartal II 2018 kemarin kontribusinya masih kecil, yakni kurang dari 5% dari total pendapatan perusahaan. Sebenarnya di tahun 2018 ini TOTO sudah selesai membangun pabrik keempatnya yang berlokasi di Surabaya, yang juga memproduksi barang-barang sanitasi, tapi kita belum tahu seberapa besar nanti kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan.
Kemudian terkait kinerja perusahaan, lesunya industri properti sejak tahun 2013 menyebabkan pendapatan TOTO menjadi stagnan, dan laba perusahaan sempat turun signifkan pada tahun 2016 (meski di tahun 2017-nya naik lagi, tapi angkanya masih lebih rendah dibanding laba tahun 2014 dan 2015). Namun sejak tahun 2017 lalu manajemen TOTO sudah memprediksi bahwa, dengan mempertimbangkan penjualan apartemen serta rumah untuk kelas menengah yang ketika itu sudah mulai naik lagi, maka pendapatan dan laba perusahaan di tahun 2018 ini berpeluang untuk meningkat. Dan memang, hingga Kuartal II 2018, TOTO membukukan laba bersih Rp145 milyar, naik 32.1% dibanding periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp109 milyar, dan terdapat peluang bahwa laba TOTO di tahun 2018 ini akan tumbuh signifikan untuk pertama kalinya sejak tahun 2013 lalu (antara tahun 2013 – 2017, laba tertinggi TOTO adalah Rp295 milyar di tahun 2014, sedangkan untuk tahun ini perusahaan berpeluang membukukan laba diatas Rp300 milyar). Jika proyeksi ini benar adanya, maka TOTO menawarkan handsome profit jika kita bisa hold sahamnya katakanlah selama 2 – 3 tahun kedepan.
Lalu bagaimana sahamnya? Jika benar bahwa TOTO ini bagus, maka kenapa sejak November 2015 lalu sahamnya turun terus?
Untuk menjawab pertanyaan diatas maka pertama-tama kita lihat valuasi sahamnya dulu: Lima tahun yang lalu, yakni pada Oktober 2013, saham TOTO berada pada level 380, dimana berdasarkan jumlah sahamnya ketika itu (9.9 juta lembar, sudah disesuaikan dengan stocksplit) dan juga nilai ekuitas perusahaan (Rp1,036 milyar), maka PBV-nya adalah 3.6 kali. Dengan mempertimbangkan ROE-nya ketika itu yang sangat bagus yakni 22%, sedangkan merk TOTO juga sangat populer sebagai merk toilet dll, tapi disisi lain sahamnya gak likuid (hanya 7% saham TOTO yang dimiliki investor publik), maka PBV segitu terbilang wajar: Nggak murah, tapi juga gak bisa disebut mahal. Tapi yang jelas karena TOTO sebelumnya sudah naik cukup banyak dimana pada tahun 2010, atau 3 tahun sebelumnya, saham TOTO masih berada di level 100-an, maka normalnya dia gak akan naik lebih lanjut alias ‘istirahat’ dulu, setidaknya sampai beberapa tahun berikutnya.
Namun setelah perusahaan secara mengejutkan membukukan laba Rp296 milyar di tahun 2014, atau naik signifikan dibanding Rp236 milyar di tahun 2013 (mengejutkan, karena di tahun 2014 itu sebenernya sektor properti mulai lesu), dan ROE TOTO juga melonjak ke level 26%, maka jadilah investor berebut sahamnya, dan alhasil TOTO lanjut naik hingga sempat menyentuh 715 di bulan November 2015. Pada titik ini valuasi sahamnya sudah overvalue (PBV 5 – 6 kali), sehingga selanjutnya bisa ditebak: Jika kemudian laba TOTO turun sedikit saja, maka sahamnya bakal gampang banget turunnya. And indeed, di tahun 2015 tersebut laba perusahaan turun menjadi Rp285 milyar, dan berlanjut menjadi hanya Rp169 milyar di tahun 2016. Alhasil sahamnya terus saja turun hingga akhirnya mentok di 264, Agustus 2018 lalu.
Tapi menariknya, setelah mentok di 264 di bulan Agustus tersebut, TOTO kemudian dengan cepat naik lagi, dan sekarang sudah di level 328. Apa penyebabnya? Well, pertama-tama itu mungkin karena investor menyadari bahwa di tahun 2018 ini, kinerja perusahaan mulai naik signifikan lagi, dan yang terpenting valuasi TOTO juga sudah mulai wajar lagi, atau bahkan undervalue. Yup, pada harga terendahnya kemarin yakni 264, maka PBV dan PER TOTO tercatat hanya 1.5 dan 9.4 kali, relatif murah jika mempertimbangkan kekuatan merk ‘Toto’ yang dimiliki perusahaan, sementara kinerja perusahaan sendiri memang mulai tumbuh lagi. Posisi saham TOTO pada hari ini juga tidak jauh berbeda dengan lima tahun lalu, yang artinya ketika diatas penulis mengatakan bahwa ‘TOTO ini normalnya bakal istirahat dulu sampai beberapa tahun kedepan’, maka statement itu benar adanya. Tapi karena dalam 5 tahun terakhir ini TOTO sudah melewati masa-masa ‘istirahat’-nya, maka artinya dalam 5 tahun berikutnya sahamnya berpeluang untuk melaju lagi, tentunya dengan asumsi bahwa kinerja bagusnya di tahun 2018 ini akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
Kesimpulannya, jika anda sedang mencari saham untuk investasi jangka panjang yang aman/tidak terlalu dipengaruhi oleh naik turunnya IHSG, termasuk menginginkan ‘bonus’ dividen yang lumayan, maka TOTO ini bisa dipertimbangkan (TOTO membagikan sekitar 40 – 50% laba bersih tahunannya sebagai dividen), terutama karena kenaikannya dalam dua bulan terakhir adalah juga mengkonfirmasi bahwa long term downtrend-nya sudah berakhir, dimana dengan asumsi bahwa perusahaan mampu mempertahankan kenaikan labanya, maka no way sahamnya bakal mencetak new low lagi. Disisi lain, PBV TOTO pada harga 328 sudah 1.9 kali, alias gak semurah kemarin ketika dia masih di 264, dan kalau ada saham sudah naik lebih dari 30% dalam waktu kurang dari 3 bulan, maka biasanya akan ada cooling down-nya. Jadi untuk mengurangi risiko maka anda bisa membeli sahamnya secara menyicil dengan membagi dana anda menjadi tiga bagian, dimana bagian pertama bisa langsung dipake untuk beli TOTO di harga sekarang, sedangkan bagian kedua adalah untuk average down jika nanti sahamnya melandai ke kisaran 290 – 300.
Dan bagian ketiga adalah untuk nanti beli lagi pada sekitar awal tahun 2019, yakni jika perusahaan confirm tetap membukukan kenaikan laba yang signifikan, dan selanjutnya ya sudah hold saja terus. Semoga beruntung!
Untuk minggu depan kita akan bahas prospek IPO Duck King.
Jadwal Seminar Value InvestingBasic & Advanced Class, Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu & Minggu, 6 & 7 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini, dan disini.
Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Breaking News: Jumlah Emiten di BEI Tembus 600!

Pada 28 September kemarin, Saham PT Natura City Developments Tbk (CITY), yang merupakan anak usaha dari Sentul City (BKSL), resmi melantai di bursa pada harga perdana 120. Nah, yang menarik disini bukanlah fakta bahwa harga sahamnya langsung melesat 70.0% ke posisi 204, melainkan dengan listing-nya CITY, maka di Bursa Efek Indonesia (BEI) genap sudah terdaftar 600perusahaan Tbk. Suatu prestasi membanggakan bagi BEI itu sendiri? Well, maybe not.

Ketika penulis mulai belajar saham pada tahun 2009 lalu, saya masih ingat, di BEI hanya ada sekitar 350-an emiten. Dan sampai tahun 2015, jumlahnya hanya meningkat sedikit menjadi 400-an emiten. Lonjakan jumlah emiten di BEI memang baru terjadi dalam 2 – 3 tahun terakhir seiring dengan gencarnya sosialisasi dan ‘ajakan’ dari BEI itu sendiri kepada perusahaan-perusahaan untuk menggelar IPO. Sekilas, ini kabar bagus, karena dengan begitu maka investor menjadi punya lebih banyak pilihan saham untuk investasi, ditambah lagi ada banyak perusahaan-perusahaan populer yang akhirnya ikut go public. Namun benarkah demikian?
Sayangnya dalam 2 – 3 tahun terakhir ini pula, anda sendiri mungkin bisa memperhatikan: Jumlah IPO memang melonjak signifikan, tapi kualitas dari penyelenggaraan IPO itu sendiri turun drastis. Kualitas yang dimaksud disini mulai dari perusahaannya (ada banyak perusahaan kecil gak jelas, yang baru berdiri tiga empat tahun lalu, tapi sudah bisa ikut IPO), nilai IPO-nya (dulu, nilai IPO itu trilyunan atau minimal ratusan milyar Rupiah, tapi kemarin sempat ada IPO senilai Rp30 milyar saja, dan jumlah saham yang ditawarkan ke publik sangat sedikit), hingga valuasi dari saham-saham yang di-IPO-kan (rata-rata muahal semua). Tapi yang paling bikin jengkel dari semuanya adalah, meski sekarang ini banyak diselenggarakan IPO, tapi sangat sulit bagi investor publik manapun untuk bisa memperoleh jatah saham IPO-nya, biasanya karena itu tadi: Jumlah saham yang ditawarkan ke publik sangat sedikit, dan bahkan saham yang sedikit ini sejak awal sudah diborong oleh entah siapa. Sehingga di beberapa emiten, investor publik sama sekali tidak memperoleh jatah saham IPO-nya.
Dan anehnya, hampir semua saham IPO yang kecil-kecil ini langsung terbang gila-gilaan di hari-hari perdana perdagangan, bahkan ada saham yang terbang sampai 30 kali lipat hanya dalam sebulan! Tapi anehnya lagi, saham-saham tersebut langsung melesat hampir tanpa volume transaksi sama sekali. Contohnya saham CITY tadi: Begitu perdagangannya dibuka, sahamnya langsung melesat ke batas auto reject atas-nya, yakni 204. Dan berapa volume saham yang diperdagangkan hari itu? Cuma 47,500 saham alias 475 lot, semuanya pada harga 204. Atau dengan kata lain, nilai transaksinya bahkan gak nyampe 10 juta Rupiah! Sekarang pake logika saja: Jika benar bahwa dari 2.6 milyar lembar saham yang dilepas CITY itu dibeli/dimiliki oleh investor publik, maka masa iya sih gak ada sekian juta lembar saham yang langsung dilepas oleh para investor publik tadi pada harga 204? Itu profit 70% loh!
Tapi CITY tidak sendirian. Silahkan anda cek lagi saham-saham IPO sebelum CITY ini, rata-rata ceritanya sama saja: Investor publik sulit memperoleh jatah IPO-nya, kemudian begitu listing sahamnya langsung terbang tapi nyaris tanpa volume transaksi, dan barulah setelah harganya diatas maka volumenya mulai ramai. Makanya wajar jika kemudian muncul tuduhan bahwa ketika sebuah perusahaan go public, sebenarnya yang membeli saham anyar yang diterbitkan adalah pihak owner perusahaan itu sendiri. Kemudian mereka akan melakukan transaksi kecil-kecil agar harganya dipasar naik terus (yang beli dan yang jual adalah orang yang sama, meski tentunya pake beberapa rekening berbeda), dan setelah harganya diatas maka barulah Mr. Bandar ini mulai jualan ke investor publik, sehingga mereka memperoleh keuntungan substansial yang, ironisnya, berasal dari kerugian investor. Salah satu contohnya adalah saham Campina Ice Cream Industry (CAMP), yang begitu listing pada Desember 2017 lalu langsung dikerek gila-gilaan dari harga perdana 330 hingga ke level 1,833 (sekali lagi, nyaris tanpa volume transaksi sama sekali), dan barulah setelah itu sahamnya mulai cukup ramai diperdagangkan/besar kemungkinan investor publik mulai masuk, tapi CAMP ini pelan-pelan turun hingga sekarang sudah di level 300-an lagi.
Terus bagaimana nasib investor yang udah kadung beli CAMP ini di harga 900, 1,200, atau 1,500?? Unfortunately, CAMP bukanlah satu-satunya saham IPO yang sudah makan korban, padahal secara fundamental perusahaan terbilang bagus, dengan kinerja yang profitable serta punya merk produk yang populer (siapa yang gak tau merk es krim Campina?)
Dilema Ketika Mengajak Perusahaan u/ IPO
Ketika BEI meluncurkan kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’, tahun 2015 lalu, maka yang didorong untuk ikut meramaikan pasar saham tidak hanya para investor publik pemilik dana, melainkan para perusahaan juga diajak untuk go public. Nah, untuk mengajak investor publik membuka rekening di sekuritas, maka itu relatif mudah, misalnya dengan menurunkan batas minimum setoran di sekuritas. Jaman penulis nubie tahun 2009 – 2010 dulu, kalau kita buka rekening maka harus setor minimal Rp5 juta. Tapi sekarang beberapa sekuritas mensyaratkan setoran minimal Rp1 juta saja, bahkan ada yang cuma Rp100,000. Harapannya adalah, kalaupun para investor baru ini kemudian dikepret rugi bolak balik karena belum ngerti apa-apa, maka ruginya gak akan besar karena sejak awal setorannya juga kecil, dan secara psikologis gak akan sampe bikin si investor kapok. In the end, hari gini duit seratus ribu cuma cukup buat sekali makan di Solaria buat dua orang.
Tapi bagaimana ketika BEI mengajak perusahaan untuk IPO? Nah, seperti halnya investor publik, pemilik perusahaan juga akan mengajukan pertanyaan yang sama: Apa untungnya kalau perusahaan saya menggelar IPO? Pihak BEI normalnya akan menyebut beberapa benefit seperti, 1. Perusahaan memperoleh sumber pendanaan baru, 2. Membuat perusahaan lebih dikenal publik, 3. Meningkatkan citra serta nilai perusahan. Tapi tetap saja si pemilik perusahaan akan bertanya lagi: Saya gak peduli soal citra bla bla bla, lo kira citra itu bisa dimakan? Sekarang to the point saja lah! Berapa besar jumlah uang yang bisa kita peroleh kalau perusahaan go public?? Yep, jadi kurang lebih sama saja seperti ketika orang-orang diajak untuk buka rekening di sekuritas, dimana meski BEI mengatakan bahwa keuntungan menjadi investor adalah kita akan menjadi pemilik perusahaan bla bla bla, tapi tetap saja yang mereka tanyakan adalah, berapa besar keuntungan yang bisa kami peroleh setiap tahunnya? Setiap bulannya? Bisa gak dapetnya minimal 100% gitu per tahun? Terus bisa gak keuntungan itu ditarik sebulan sekali untuk kebutuhan sehari-hari? Saya gak mau rugi, bisa gak kita invest di saham tanpa pernah rugi sedikitpun?? Dan banyak lagi pertanyaan ala pemula lainnya.
Dan masalahnya adalah, berbeda dengan orang-orang yang diajak membuka rekening di sekuritas, dimana mereka mayoritas berasal dari kelompok ekonomi menengah atau bahkan menengah kebawah, maka pemilik perusahaan tentunya sudah sangat mapan secara finansial, sehingga mereka gak akan mau kalau diajak menggelar IPO jika hanya dengan iming-iming perusahaan bakal dapet duit sekian, melainkan mereka baru akan tertarik kalau bisa dapet duit lebih besar dari itu. Nah, bener kan? Let say anda adalah pemilik perusahaan besar dengan aset Rp5 trilyun, dan laba bersih per tahun Rp500 milyar. Kemudian anda diajak IPO dimana perusahaan anda akan dapet tambahan modal Rp300 milyar saja.. Dan setelah itupun perusahaan anda harus merilis laporan keuangan setiap kuartal, termasuk harus mematuhi peraturan ini itu yang ditetapkan oleh BEI dan OJK. Kira-kira bagaimana reaksi anda??
Inilah yang mungkin menjelaskan kenapa saham-saham IPO sekarang ini rata-rata ‘berperilaku aneh’, karena tujuannya adalah agar pemilik perusahaan memperoleh ‘profit lebih besar’ dari yang seharusnya (meski, sekali lagi, profit ekstra itu berasal dari kerugian investor publik), dan pihak otoritas juga seperti mengabaikan hal ini karena itu tadi: Kalau cara-cara seperti ini dilarang (actually secara undang-undang, insider trading atau perdagangan saham yang dilakukan oleh dua pihak yang sama memang dilarang, tapi penerapannya sangat tidak tegas, karena insider trading ini juga sulit dibuktikan), maka juga tidak ada alasan yang cukup menarik bagi para pemilik perusahaan tadi untuk go public. Sedangkan dalam rangka mengejar ketertinggalan dibanding negara-negara tetangga (misalnya, di Bursa Malaysia terdapat 900-an emiten, dan di Singapore Exchange terdapat 1,500-an emiten), maka para perusahaan di Indonesia memang harus diberi semacam ‘insentif’ agar mereka mau menggelar IPO.
Jadi, yap, ini seperti polisi yang mempermudah proses penerbitan SIM bagi para pemilik kendaraan bermotor, meski itu menimbulkan risiko bakal banyak terjadi kecelakaan di jalan raya. Tapi jika proses penerbitan SIM ini dipersulit, maka akan timbul protes dari perusahaan-perusahan otomotif yang kesulitan jualan. Serba salah kan?
Lalu Bagaimana Sikap Kita Sebagai Investor?
Sebenarnya, meski mayoritas IPO dalam beberapa tahun terakhir terbilang ‘bikin kesel’, tapi beberapa saham IPO memang layak invest, dan tidak kelihatan kalau sahamnya digoreng. Sebut saja Buyung Poetra Sembada (HOKI), Kirana Megatara (KMTR), hingga Panca Budi Idaman (PBID). Tapi memang, dibanding IPO-IPO yang terjadi sebelum tahun 2015, maka IPO-IPO jaman now seringkali langsung bikin males penulis tak lama setelah saya membaca prospektusnya. Salah satunya IPO Garudafood, yang sejatinya sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang, tapi ternyata IPO-nya ya gitu deh.


Ini perusahaan bagus lho, baru listing Desember 2017 kemarin

However, kalau kita balik lagi ke kaidah value investing, maka sebenarnya fenomena ‘maraknya IPO liar’ ini tidak usah dibuat pusing, karena yang perlu kita lakukan adalah cukup ignore saja saham-saham IPO tersebut (baca lagi soal cara ignore/mengabaikan saham di artikel ini), apalagi jika belum apa-apa sahamnya langsung terbang hingga valuasinya menjadi gak masuk akal, dan kita bisa tetap fokus hunting saham-saham bagus pada harga murah. Kemudian ingat bahwa, tak peduli segigih apapun Mr. Bandar dalam memain-mainkan harga suatu saham, tapi pada akhirnya harga saham tersebut akan mengikuti fundamentalnya. Yang itu artinya, kalau sebelumnya dia terbang hingga valuasinya ridiculously overvalue, maka cepat atau lambat akan turun lagi, dan sebaliknya mau dia turun kaya apa tapi kalo barangnya no problemo, maka nanti juga akan naik lagi.
Dengan kata lain, meski saham-saham anyar yang nongol bak jamur di musim hujan ini rata-rata gorengan semua, tapi pada akhirnya mereka akan bergerak normal sesuai dengan mekanisme pasar, biasanya setelah 2 – 3 tahun sejak tanggal IPO-nya. Thus, adalah benar bahwa dengan kehadiran 600 emiten di bursa, maka kita jadi lebih punya banyak pilihan investasi, tapi khusus untuk saham-saham yang baru IPO ini maka kita gak usah buru-buru, melainkan wait n see saja dulu (termasuk melihat perkembangan kinerja perusahaan setiap kuartalnya), hingga akhirnya pergerakan sahamnya menjadi normal dengan sendirinya. Contohnya ya saham CAMP tadi, dimana meski kenaikannya kemarin mungkin memakan sejumlah korban, tapi pada kisaran harganya saat ini maka sahamnya sudah bisa dipertimbangkan kembali (tapi masih rada mahal sih, tunggu dikit lagi deh).
Sementara bagi saham tertentu yang gak juga turun setelah beberapa waktu, maka ya sudah abaikan saja. Actually beberapa orang, dengan strategi tertentu mungkin justru bisa memperoleh keuntungan instan dari saham-saham IPO ini, dan jika anda termasuk yang profit tersebut then go ahead. Tapi jika anda termasuk yang sempat terkena jebakan betmen disini, maka anda tahu apa yang harus dilakukan.
***

Penulis menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas peristiwa gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah. Semoga amal ibadah para korban diterima disisi-Nya, dan semoga anggota keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.. Aamiin. Dan bagi temen-temen sesama investor, setelah kemarin Lombok, maka sekarang kita punya satu kesempatan lagi untuk berbagi kepada saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah, yang memang tengah membutuhkan. Silahkan berkunjung ke www.kitabisa.com atau website charity lainnya.
Jadwal Seminar Value Investing: Basic & Advanced Class, Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu & Minggu, 6 & 7 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini, dan disini.

Materi basic: Cara membaca laporan keuangan, cara menghitung harga wajar saham, cara menganalisa perusahaan secara menyeluruh, cara menganalisa manajemen perusahaan. Materi advanced: Cara membaca arah pasar, cara menganalisa aksi korporasi emiten, cara mengidentifikasi saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, cara membedakan berita dan rumor, dan cara menyusun portofolio yang seimbang antara risk and reward.

Buletin Analisis IHSG& stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 akan terbit hari Senin, 1 Oktober mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Persib vs Persija

Pagi ini, sekitar pukul 08.00 WIB, penulis menerima pesan Whatsapp (WA) dari seorang kerabat, yang ternyata merupakan pesan terusan dari sebuah grup, dengan isi sebagai berikut: ‘Hati-hati bagi warga Bandung dan sekitarnya yang sedang berada di Jakarta atau menuju Jakarta menggunakan mobil dengan plat D. Saat ini di semua ruas tol Jakarta – Bandung sedang ada sweeping plat D oleh supporter Persija.’

‘Hal ini karena karena kejadian 1 orang suporter Persija wafat, saat pertandingan Persib vs Persija kemarin’. Pesan berantai tersebut disertai juga dengan foto buram sebuah ruas jalan tol yang dipenuhi orang-orang yang mengenakan kaos oranye khas Persija, seolah-olah menjadi ‘bukti’ bahwa memang benar ada sweeping tersebut (tapi jelas kelihatan bahwa itu foto editan). Kebetulan mobil penulis memang plat D, sedangkan saya bekerja dan beraktivitas di Jakarta, sehingga mungkin kerabat penulis tadi jadi khawatir dan karena itulah ia kemudian mem-forward pesan WA tersebut. Penasaran, penulis langsung cek di mbah google, dan memang ternyata benar bahwa pada hari Minggu kemarin, terjadi peristiwa pengeroyokan oleh oknum supporter Persib terhadap satu orang supporter Persija diluar stadion GBLA, Bandung, yang mengakibatkan tewasnya supporter Persija tersebut.

Sumber ilustrasi: Indosport.com
Tapi apakah benar bahwa terjadi sweeping? Ternyata tidak, bahkan pihak Jakmania sudah menyebut bahwa itu hoax, termasuk gambar-gambar yang beredar juga hoax. Nevertheless, berita sweeping pelat D tersebut sudah terlanjur menyebar, termasuk mungkin anda yang tinggal di Bandung juga menerima pesan berantai yang sama. Thus, bukan tidak mungkin karena adanya pesan berantai tersebut, maka ada banyak warga Bandung yang tadinya berniat ke Jakarta untuk bekerja atau keperluan lainnya tapi nggak jadi, atau sebaliknya, ada warga Jakarta yang membatalkan trip-nya ke Bandung karena khawatir pendukung Persib melakukan sweeping yang sama.
Namun dari sini kita bisa lihat bahwa ketika terjadi satu peristiwa penting tertentu yang ramai dibicarakan orang, maka biasanya akan muncul berita atau info lanjutan tentang satu atau beberapa peristiwa yang terkait dengan peristiwa pertama tadi, tak peduli meski peristiwa lanjutan tersebut sebenarnya tidak terjadi, atau terjadi namun tidak se-menakutkan seperti yang diinformasikan. Tapi apapun itu, informasi-informasi seperti ini akan langsung menimbulkan kekhawatiran, dan itu pada akhirnya mengganggu aktivitas ekonomi sekelompok masyarakat. Contohnya, jika ada pengusaha warga Bandung yang berniat ke Jakarta untuk keperluan usaha tertentu, tapi karena pesan terusan ini maka ia membatalkan rencananya tersebut, dan otomatis usahanya gagal. Dalam hal ini bukan peristiwa sweeping pelat D-nya yang menggagalkan rencana si pengusaha tadi (karena nyatanya tidak ada sweeping tersebut, atau kalaupun ada maka bukan ‘di semua ruas jalan tol’ seperti yang disebutkan di pesannya), melainkan justru karena munculnya berita sweeping itu sendiri.
Mengenal Pola ‘Sebab – Akibat’
Secara psikologis, otak manusia selalu berpikir berdasarkan pola sebab – akibat. Contohnya, kalau misalnya terjadi peristiwa kecelakaan bus di jalan raya, maka yang pertama kali diinvestigasi oleh pihak kepolisian adalah apa penyebabnya, apakah ban meletus, supir mengantuk, atau lainnya. Demikian pula setelah peristiwa kecelakaan itu terjadi, maka hampir semua orang bisa berasumsi bahwa biasanya setelah itu akan terjadi peristiwa-peristiwa lanjutan yang merupakan akibat, misalnya si pengemudi ditahan sebagai tersangka, ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, dan izin trayek bus tadi bakal dicabut.
Jadi ketika seseorang mengetahui, melihat, atau mendengar kejadian atau peristiwa tertentu, maka ia akan langsung berpikir tentang peristiwa apa yang kemungkinan bakal terjadi setelah peristiwa tersebut. Thus, adalah normal jika setelah peristiwa meninggalnya pendukung Persija diatas (sebab), tak lama kemudian timbul kekhawatiran bakal terjadi sweeping mobil plat D di Jakarta (akibat), karena hal ini pernah terjadi sebelumnya. Masalahnya adalah, keberadaan media sosial dimana orang-orang sangat mudah bertukar informasi dan cerita, menyebabkan kekhawatiran bahwa akan terjadi sweeping tersebut dengan cepat berpindah dari satu ponsel ke ponsel lainnya, dan kemudian ‘berevolusi’ menjadi informasi bahwa sweeping itu benar-benar terjadi! Padahal, sekali lagi, tidak ada sweeping apapun, melainkan itu hanya kekhawatiran saja.
Lalu apa hubungannya semua ini dengan pasar saham? Well, peristiwa menyebarnya berita ‘sweeping mobil plat D’ diatas merupakan contoh riil dari apa yang terjadi setiap hari di pasar saham. You see, disini kita setiap hari disuguhi oleh berita tentang peristiwa ini itu, mulai dari perang dagang, kenaikan Fed Rate, melemahnya Rupiah, defisit neraca ekspor bla bla bla bla. Bahkan dalam kondisi dimana tidak ada peristiwa penting apapun di pasar, maka tetap saja nongol berita berjudul ‘IHSG Jeblok, Ini Penyebabnya’, atau semacamnya.
Nah, sampai titik ini, semuanya masih no problemo. Tapi ketika wartawan mulai kejar setoran dengan menulis banyak artikel berita tentang peristiwa-peristiwa ini itu yang merupakan akibat dari peristiwa sebelumnya, termasuk si investor sendiri menulis ini itu di medsos bahwa dia khawatir suatu peristiwa akan menyebabkan bla bla bla, maka disinilah dampak negatifnya mulai terasa. Contohnya, kita tahu bahwa Rupiah tengah melemah hingga kemarin sempat menyentuh Rp15,000 per USD, dan itu adalah peristiwa yang benar terjadi. However, berita-berita yang kemudian muncul, bahkan jika dibaca dari judulnya saja, lebih merupakan asumsiatas ‘peristiwa lanjutan yang mungkin akan terjadi’ setelah Rupiah melemah, jadi bukan karena peristiwa lanjutan itu benar-benar terjadi. Tapi bahkan itu saja sudah cukup membuat investor menjadi kalang kabut, termasuk malah cut loss justru ketika ia seharusnya beli saham bagus di harga terbaik (jadi seperti ilustrasi pengusaha asal Bandung diatas, yang gagal melakukan deal bisnis di Jakarta cuma karena adanya isu sweeping plat D). Contohnya, anda pasti sering baca berita dengan judul panjang seperti ini: ‘Rupiah Anjlok, Indonesia Dikhawatirkan Krisis Finansial’, ‘Inilah Daftar Emiten yang Ditengarai Terimbas Amukan Dollar’, ‘Pelemahan Rupiah Diprediksi Mengganggu Industri’, dst. Tapi setelah baca beritanya, ternyata isinya cuma hasil wawancara wartawan dengan seorang pengamat yang entah dari mana asalnya, dan sekali lagi, bukan merupakan informasi tentang peristiwa ‘krisis’ atau apapun itu yang bener-benar terjadi.
Cara Investor Menyaring Informasi
Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal ini? Nah, penulis sudah banyak menulis di blog ini bahwa kita sebagai investor harus bisa menyaring informasi dan pemberitaan, dan jangan sampai berita yang kita baca justru menyebabkan kita sell ketika seharusnya buy (atau sebaliknya, menyebabkan kita buy saham yang harganya sudah naik tinggi). Dan salah satu cara untuk menyaring informasi tersebut adalah dengan memahami psikologis sebab – akibat tadi. Yup, ketika anda mendengar info tentang peristiwa tertentu, maka coba cari tahu dulu, peristiwa apa yang sejak awal menyebabkan munculnya peristiwa yang diberitakan tersebut. Seperti penulis tadi, yang ketika mendengar isu bahwa terjadi sweeping plat D, maka yang saya cari tahu pertama kali adalah apa penyebab munculnya isu tersebut (yang ternyata karena meninggalnya seorang pendukung Persija). Setelah mengerti penyebabnya, barulah kemudian saya bisa menganalisa terkait apakah berita sweeping itu beneran adanya, ataukah cuma kekhawatiran atau rumor yang nanti juga akan langsung dilupakan orang. Dalam banyak kasus, seringkali berita-berita tertentu tentang suatu saham ternyata hanya berupa kekhawatiran atas kemungkinan imbas, dampak, atau akibat (anda boleh ingat 3 kata tersebut baik-baik) dari peristiwa lain yang terjadi sebelumnya.
Jika disingkat, ketika anda membaca berita tertentu maka coba cek dulu, apa latar belakang peristiwa hingga kemudian muncul berita tersebut. Ini mungkin akan sulit untuk dilakukan pada awalnya, karena seperti jika kita menonton film drama, kadang-kadang kita bisa hanyut oleh jalan cerita film tersebut, hingga lupa menyadari bahwa tangisan si aktor itu cuma akting. Tapi jika anda bisa melakukannya, maka anda tidak akan lagi terjebak dalam situasi dimana anda jual saham ketika seharusnya beli. Untuk contoh-contoh aplikasi dari ‘analisa sebab – akibat’ ini, maka anda boleh baca-baca artikel lama di blog ini yang membahas peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di pasar (misalnya dua bulan lalu kita membahas soal Krisis Turki, yang ternyata cuma kekhawatiran karena imbas pelemahan Turkish Lira).
Kemudian, kita juga harus mengerti bahwa meskipun kita bisa memahami bahwa berita tertentu itu cuma rumor, atau cuma kekhawatiran, tapi orang lain tidak bisa melihat sejauh itu. Atau dengan kata lain, meskipun kita tahu bahwa sentimen negatif terkait saham A itu cuma rumor, tapi saham A tetap akan turun. Tapi jika kita kemudian bisa melihat bahwa penurunan itu hanya disebabkan oleh sentimen sesaat, dan bukan karena terjadi perubahan fundamental terhadap emiten yang bersangkutan, maka kita akan tetap bersikap tenang, dan menunggu saja sampai sentimen negatif tadi menguap dengan sendirinya (because, in the end, pasar akan balik lagi ke faktor fundamental).
Btw Pak Teguh, kenapa kok judul artikel kali ini gak nyambung sama isinya? Well, ini sekalian menjadi contoh bahwa ada buanyak orang diluar sana yang dengan sengaja membuat judul yang se-menarik mungkin dari sebuah tulisan (agar mendorong orang untuk membaca tulisan tersebut), tak peduli meski judulnya jaka sembung bawa golok. Anyway, setelah membaca artikelnya, maka anda tentu sudah memperoleh pesannya.
Jadwal Seminar Value Investing: Basic & Advanced Class, Jakarta, Sabtu & Minggu, 6 & 7 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini, dan disini.
Materi basic: Cara membaca laporan keuangan, cara menghitung harga wajar saham, cara menganalisa perusahaan secara menyeluruh, cara menganalisa manajemen perusahaan. Materi advanced: Cara membaca arah pasar, cara menganalisa aksi korporasi emiten, cara mengidentifikasi saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dan cara menyusun portofolio yang seimbang antara risk and reward.
Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Oktober akan terbit hari Senin, 1 Oktober mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class, Jakarta, 7 Okt

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 7 Oktober 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam waktu 2 tahun. Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 7 Oktober 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan 
  2. orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.

Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com

Penulis bersama teman-teman peserta di salah satu kelas seminar sebelumnya
Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Basic Class (sangat disarankan jika anda masih pemula), maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 6 Oktober 2018 (sehari sebelum seminar advanced class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya 

Value Investing Basic Class, Jakarta, Sabtu 6 Okt

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’ di Jakarta, hari Sabtu, 6 Oktober 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi value investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:

  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.
Bonus Materi Tambahan:

  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:

  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 6 Oktober 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Basic Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Luka Modric, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Layanan Gratis:

  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang sudah berisi member ratusan orang.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman peserta salah satu seminar sebelumnya
Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Advanced Class, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 7 Oktober 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Prospek IPO Garudafood

IPO dari perusahaan consumer goods dengan brand produk yang kuat tentunya selalu menarik perhatian investor, karena perusahaan dengan ciri-ciri demikian umumnya memiliki fundamental yang bagus serta cocok untuk investasi jangka panjang. Jadi ketika PT Garudafood Putra Putri Jaya mengumumkan bahwa perusahaan akan go public, maka penulis sendiri langsung meluangkan waktu untuk menganalisanya. However, setelah membaca prospektusnya, saya malah jadi bingung sendiri. Ada apa?

Sejarah Garudafood dimulai pada tahun 1958, ketika Bapak Darmo Putro beserta keluarga memulai usaha produksi tepung tapioka di Pati, Jawa Tengah, dimana pada tahun 1979 usaha tersebut diletakkan dibawah PT Tudung Putra Jaya. Namun lompatan besar perusahaan terjadi pada tahun 1987, yakni ketika TPJ memproduksi kacang tanah kemasan dengan merk ‘Kacang Garing Garuda’, yang kemudian lebih dikenal sebagai ‘Kacang Garuda’, dan sukses besar di pasaran. Hingga pada tahun 1994, didirikanlah PT Garudafood Putra Putri Jaya, dimana TPJ digabung kedalamnya. Dibawah pimpinan Bapak Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, generasi kedua pemilik perusahaan (Pak Sudhamek adalah putra dari Pak Darmo), Garudafood kemudian berekspansi dengan meluncurkan produk-produk makanan dan minuman diluar kacang, seperti biskuit, pilus, keripik, confectionery, minuman susu, dan serbuk coklat, dengan merk-nya masing-masing seperti Gery, Chocolatos, Leo, dan Clevo, dan kesemuanya sukses besar. Thus, saat ini Garudafood tidak lagi hanya dikenal sebagai produsen kacang garing merk Garuda, tapi juga sebagai salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar dan paling terkemuka di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa kelebihan utama perusahaan dibanding perusahaan lain yang sejenis, adalah kemampuan manajemen dalam menciptakan dan mempopulerkan merk-merk produknya, dan saat ini produk makanan dan minuman dengan merk ‘Garuda’ dan ‘Chocolatos’ sudah menjadi pemimpin pasar di segmennya masing-masing. Jika dibanding dengan sesama produsen makanan ringan seperti Kino Indonesia (KINO), atau Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), maka cukup jelas bahwa Garudafood menang telak dalam hal kepemilikan intangiable asset berupa power of brand.
However, setelah membaca prospektusnya, penulis sempat bingung dengan IPO Garudafood ini, tapi ya sekarang sih saya udah ngerti. Okay, berikut penjelasannya.
MCB Pelican?
Kalau anda baca-baca berita soal IPO Garudafood ini di internet, maka disebutkan bahwa perusahaan akan menerbitkan 766 juta lembar saham, atau setara 10.34% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan nilai IPO yang cukup besar yakni US$ 200 juta, atau sekitar Rp2.8 trilyun. Namun hampir tidak ada wartawan yang menulis lebih rinci lagi, yakni bahwa dari 766 juta lembar saham anyar tersebut, hanya sebagian kecil diantaranya yang benar-benar ‘dikasiin’ ke investor ritel. Yup, jadi pada hajatan IPO-nya kali ini, Garudafood memang menerbitkan 766 juta lembar saham, namun dengan rincian sebagai berikut:
Jatah Untuk:
Jumlah Saham (lembar)
Konversi MCB Pelican
727,841,290
Investor Publik
35,000,000
Karyawan Perusahaan
3,500,000
Total Saham Baru
766,341,290
Jadi dari sekian ratus juta lembar saham baru yang diterbitkan, yang bisa dibeli oleh investor ritel, itu hanya 35 juta lembar saja. Sementara sebagian besar saham anyar yang diterbitkan, yakni 728 juta lembar, adalah hasil konversi mandatory convertible bonds (MCB), alias obligasi wajib konversi (baca lagi penjelasan soal OWK ini disini) dari perusahaan bernama Pelican Company Ltd, yang otomatis merupakan jatah dari pemegang MCB Pelican tersebut, sehingga tidak bisa diambil oleh investor publik. Nah, bingung kan? Tapi biar kita jelaskan lagi:
Jadi pada tanggal 28 Maret 2018 (baru beberapa bulan lalu), Garudafood menerbitkan obligasi senilai Rp935 milyar di Singapura, yang kesemuanya diambil oleh perusahaan bernama Pelican Company Limited, dan uangnya dipakai untuk keperluan umum perusahaan. Tidak ada penjelasan lebih detil soal Pelican ini siapa, dan apa yang dimaksud dengan ‘keperluan umum’ diatas. Namun yang jelas obligasi yang kemudian diberi nama ‘MCB Pelican’ ini diterbitkan tanpa bunga, tanpa jatuh tempo, dan tidak bisa ditagih kembali ke perusahaan (Garudafood tidak memiliki kewajiban untuk membayar kembali Rp935 milyar diatas). However, pihak pemegang obligasi bisa mengkonversi obligasi tersebut menjadi saham sebanyak total 723 juta lembar, pada harga konversi Rp1,285 per saham, sehingga total nilai saham baru hasil konversi adalah Rp935 milyar, atau sama dengan nilai obligasinya diatas. Thus, jika pemegang MCB Pelican menginginkan uangnya kembali, maka mereka bisa menjual saham hasil konversi tersebut ke investor publik di pasar, normalnya tentu saja pada harga yang lebih tinggi dari Rp1,285 tadi, atau bahkan sangat tinggi.
Sebab mengingat saham yang dilepas ke publik hanya 35 juta lembar (Seriously? Itu kan berarti cuma 350 ribu lot!), sementara peminatnya membludak, maka harga saham Garudafood di market bisa langsung terbang menggapai langit, bahkan tanpa perlu digoreng sama sekali. Nah, ketika itulah, ‘investor’ Garudafood yang memperoleh sahamnya dari konversi MCB Pelican diatas bisa pelan-pelan melepas saham mereka ke publik, dan memperoleh keuntungan substansial. Yang penulis khawatirkan adalah tentu saja, jika para pemegang MCB Pelican tadi akhirnya selesai jualan dan sudah memperoleh keuntungan yang mereka inginkan, maka tidak ada alasan lagi bagi saham Garudafood untuk lanjut naik, melainkan selanjutnya dia akan turun pelan-pelan, terutama jika valuasinya sejak awal overvalue.
Dan memang valuasi saham Garudafood itu sendiri sejak awal sudah overvalue, atau paling tidak, tidak bisa disebut murah. Informasi terakhir, saham Garudafood akan dilepas pada harga perdana Rp1,100 – 1,400, dan itu adalah range harga yang masuk akal, mengingat diatas sudah disebutkan bahwa harga konversi MCB Pelican adalah Rp1,285 per saham. Let say, harga IPO Garudafood adalah sama dengan harga konversi MCB-nya: 1,285. Maka perusahaan akan memperoleh dana Rp985 milyar, namun itu sudah termasuk Rp935 milyar hasil penerbitan MCB Pelican diatas, sehingga dana yang benar-benar diperoleh dari investor publik (dan juga karyawan perusahaan sendiri) adalah hanya Rp50 milyar. Per tanggal 30 April 2018, ekuitas Garudafood tercatat Rp2,138 milyar, yang setelah IPO menjadi Rp2,188 milyar. Karena jumlah saham Garudafood setelah IPO adalah 7.4 milyar lembar, maka book value Garudafood adalah Rp2,188 / 7.4 = Rp296 per saham. Karena harga sahamnya adalah Rp1,285, maka PBV-nya 1,285 / 296 = 4.3 kali.
Kesimpulannya, jika pihak owner Garudafood menggelar IPO dengan cara yang ‘normal’ dimana perusahaan menerbitkan sekian ratus juta lembar saham baru pada harga 1,285, yang kesemuanya dilempar ke publik, maka sebenarnya itu saja sudah sangat menguntungkan, dimana nilai pasar/market cap Garudafood akan melonjak menjadi sekitar Rp10 trilyun, dan nama Pak Sudhamek di daftar Majalah Forbes akan langsung naik beberapa peringkat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. However, pemilik perusahaan mungkin tetap saja nggak puas kalo ‘cuma dapet segitu’, sehingga kemudian dibuat sedikit akal-akalan dengan MCB Pelican ini, dan memang dengan cara inilah mereka bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar, yang ironisnya bisa saja berasal dari kerugian investor publik, yakni jika investor membeli saham Garudafood di market pada harga 2,000 – 3,000 atau lebih tinggi lagi, tapi setelah itu sahamnya turun lagi, yakni ketika pemegang MCB Pelican selesai jualan.
Tapi dari sini penulis bisa katakan bahwa, diluar fundamental perusahaannya yang luar biasa serta prospek jangka panjangnya yang cerah (bisnis makanan ringan, selama perusahaannya dikelola secara normal dan tanpa leverage yang berlebihan, akan terus menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang tak peduli meski terjadi krisis sekalipun, apalagi jika sudah punya merk-merk yang kuat), namun sayangnya manajemen Garudafood tidak berpihak kepada investor, dimana mereka tidak menganggap kita investor publik sebagai mitra pemegang saham dengan posisi setara, melainkan tidak lebih dari komoditas yang mereka bisa mengambil keuntungan darinya. Actually, di prospektus sudah disebutkan bahwa Pelican Company Ltd tidak memiliki hubungan afiliasi apapun dengan perusahaan, sehingga memang gak ada buktinya kalau penulis katakan bahwa Pelican itu sebenarnya juga dimiliki oleh owner-nya Garudafood. However, entah Pelican itu adalah ada hubungannya dengan perusahaan atau tidak, tapi tetap saja: Dengan investor publik hanya memperoleh jatah saham 350 ribu lot saja, maka itu sangat sangat ridiculous: Elu niat IPO apa kagak sih? Gimana gua bisa dapet jatah IPO-nya kalau saham yang dilepas cuma segitu?? Lu kira Garudafood ini cuma tukang jualan kacang rebus di Istora Senayan waktu Asian Games kemarin? Ini perusahaan gede dan beken cuy! Dan hey, BEI dan OJK! Kenapa kok IPO model gini dikasih pernyataan efektif juga? Ente kira ini tahun 2000-an dimana orang-orang di market cuma trading tik tok gak jelas tanpa membaca dokumen prospektus sama sekali? Ini sudah tahun 2018!
Kesimpulan akhirnya.. ya sutralah, penulis juga bisa ngomong apa lagi. Karena sejak awal almost impossible untuk bisa dapet jatah saham IPO-nya, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah biarken saja saham Garudafood melantai di bursa, tanggal 10 Oktober nanti, termasuk biarkan saja kalau kemudian sahamnya benar-benar terbang. Sebab mau dia naik setinggi apapun, pada akhirnya akan turun lagi. Dan setelah itu tunggu saja barang 2 – 3 tahun, sambil tentunya tetap melihat perkembangan kinerja perusahaan. Jika berkaca pada pengalaman IPO Sido Muncul tahun 2013 lalu, dimana ketika itu sahamnya juga sempat naik banyak dari 400-an sampai 900-an, tapi beberapa tahun kemudian turun lagi ke 400-an (dan setelah itu naik lagi), dan kita harus tunggu sampai sekitar 4 tahun sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa SIDO ini memang layak invest (penulis baru merekomendasikan lagi SIDO ini tahun 2017 kemarin, di artikel ini), maka mungkin untuk Garudafood ini juga sama begitu: Untuk saat ini kita ignore saja dulu sahamnya, dan nanti kita lihat lagi sekitar tahun 2022.
Dan mudah-mudahan ketika itu manajemen Garudafood sudah tidak melakukan aksi korporasi yang aneh-aneh lagi.
Penulis membuat buku kumpulan analisa saham-saham pilihan, lengkap dengan harga beli yang disarankan, target harga, hingga tingkat risiko untuk tiap-tiap saham. Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar Value Investing: Basic & Advanced, Jakarta, 6 – 7 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda dari perusahaan atau institusi tertentu, maka anda bisa mengundang penulis langsung (Teguh Hidayat) ke kantor anda untuk ‘sharing session’, yakni sesi dimana saya akan berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang investasi saham, termasuk menjadi narasumber untuk tanya jawab saham. Caranya kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Sharing session. Jangan lupa untuk menyebutkan nama anda, nama perusahaan/institusi, serta kapan jadwal yang anda inginkan (sebaiknya jangan mendadak, minimal dua minggu sebelumnya). Untuk sharing session ini penulis tidak memungut biaya, kecuali untuk akomodasi.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Jakarta, Minggu 30 Sept

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 30 September 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar dll. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Pembicara: Indonesia Value Investing Certified Trainer, Zomi Wijaya. Profil Pak Zomi bisa dibaca disini.
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam waktu 2 tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman Teguh Hidayat sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 30 September 2018

Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis!
Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special Bonus!
Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
Penulis bersama peserta salah satu kelas seminar sebelumnya
Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Basic Class (sangat disarankan jika anda masih pemula), maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 29 September 2018 (sehari sebelum seminar advanced class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya

Value Investing Basic Class: Jakarta, Sabtu 29 Sept

Dear investor, penulis menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’ di Jakarta, hari Sabtu, 29 September 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:


Pembicara: Indonesia Value Investing Certified Trainer, Zomi Wijaya. Profil Pak Zomi bisa dibaca disini.
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercayauntuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.

Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman Teguh Hidayat sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 29 September 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Basic Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Luka Modric, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang sudah berisi member ratusan orang.
  2. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman alumni salah satu kelas seminar sebelumnya
Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Advanced Class, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 30 September 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Rupiah 15,000??

Beberapa waktu lalu ketika penulis bepergian, di pesawat saya membaca sebuah artikel di majalah yang ada di kabin, yang intinya menjelaskan bahwa jika terjadi turbulensi/getaran pada badan pesawat, maka itu adalah sesuatu yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Tak butuh waktu lama, saya langsung memahami maksud dari artikel tersebut: Penumpang yang sudah sering naik pesawat sekalipun seringkali khawatir jika pesawat mengalami turbulensi, dan beberapa orang mungkin langsung kapok naik pesawat jika pesawatnya kebetulan mengalami goncangan keras. Jadi dengan membaca artikel tersebut maka diharapkan bahwa para penumpang, termasuk penulis, untuk tidak lagi menganggap kejadian turbulensi sebagai sesuatu yang menakutkan.

However, setelah membaca artikel tersebut penulis malah mikir begini: Saya gak yakin orang-orang bakal jadi lebih rileks ketika terjadi turbulensi setelah membaca artikel tersebut, jadi sebenarnya tulisan itu sia-sia saja. Alih-alih menulis artikel untuk menenangkan para penumpang, pihak maskapai seharusnya lebih fokus pada upaya untuk membuat pesawat lebih kuat/tidak gampang mengalami turbulensi lagi. Sebab pada akhirnya, para penumpang ini awam cara kerja pesawat, sehingga satu-satunya cara untuk menenangkan mereka adalah dengan mengurangi kemungkinan terjadinya turbulensi itu sendiri.
Hanya memang, sebelum penulis mengetik tulisan diatas, para perusahaan maskapai sepertinya sudah mengerti soal itu. Dibanding ketika dulu penulis pertama kali naik pesawat, sekarang ini pesawat apapun sudah lebih tenang/jarang terjadi getaran, dan dalam kondisi cuaca cerah maka terkadang pesawat itu seperti diam di udara saking tenangnya. Sementara soal artikel di majalah tadi? Well, seorang insinyur mungkin bisa membuat sebuah pesawat lebih kuat terhadap turbulensi, tapi sehebat apapun dia, tentunya tidak mungkin untuk menghilangkan turbulensi itu sama sekali. Jadi diluar mendesain pesawat agar lebih kuat, maka artikel itu pada akhirnya tetap diperlukan.
Okay, lalu apa hubungannya ini dengan kurs Rupiah, yang kemarin sempat menyentuh level psikologis Rp15,000 per US$?


Pergerakan Rupiah sepanjang tahun 2018, melemah sekitar 10%

Isu pelemahan Rupiah sebenarnya sudah bergulir sejak awal tahun 2018 ini, dimana Rupiah mulai drop dari 13,000-an ke 14,000-an, dan actually di artikel ini pada bulan Juli kemarin, kita sudah membahas bahwa bahkan kalaupun nanti Rupiah drop sampai 15,000, maka tetap tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena dari tiga faktor yang menyebabkan pelemahan Rupiah, yakni: 1. Menguatnya US Dollar terhadap mata uang semua negara emerging market termasuk Indonesia, 2. Kenaikan harga minyak, yang otomatis menaikkan nilai impor, dan 3. Capital outflow, kesemuanya merupakan faktor eksternal. Jadi ini berbeda dengan tahun 2015 lalu, dimana Rupiah juga sempat menyentuh level Rp15,000-an per USD, dan penyebabnya adalah economic slowdown dimana kegiatan ekonomi dalam negeri mengalami kelesuan yang luar biasa (anda bisa baca lagi ceritanya disini).
Namun setelah membaca tulisan tentang turbulensi pesawat diatas, penulis jadi sadar bahwa tulisan soal Rupiah di bulan Juli kemarin sebenarnya sia-sia saja, alias tidak akan bisa meng-convince para pelaku pasar bahwa ekonomi kita masih baik-baik saja. Termasuk kalau saya katakan bahwa penurunan Rupiah saat ini sama sekali tidak separah tahun 2015, 2018, atau 1998 (dari 13,600 ke 15,000, berarti kan cuma turun 9.3%, bandingkan dengan tahun 2015 dimana Rupiah sempat drop dari 12,400 ke 15,100, atau drop 17.9%), maka tetap saja: Yang dilihat semua orang bukan soal penurunan Rupiah berapa persen, atau bahwa pertumbuhan ekonomi kita masih tinggi bla bla bla, melainkan Rupiah sekarang sudah 15,000. Jadi Indonesia bakal krisis ini, itu sudah!
Jadi ketika di artikel Juli lalu penulis katakan bahwa, selama Pemerintah (melalui Kementerian Keuangan dan institusi lainnya yang terkait), Bank Indonesia (BI), BEI, hingga OJK belum ‘do something’, maka artinya situasi masih aman terkendali (para institusi tersebut baru akan mengeluarkan kebijakan tertentu jika memang diperlukan), maka dalam hal ini penulis harus melontarkan sedikit kritik: Bahkan meskipun dalam pandangan mereka, ekonomi masih baik-baik saja, tapi masyarakat awam punya pandangan berbeda, dan sejak awal kita semua tahu bahwa kalau Rupiah sampai tembus 15,000, maka dampak psikologisnya akan sangat terasa. Masalahnya, sekarang ini kita berada pada jaman dimana informasi sangat cepat tersebar, biasanya pula dengan dibumbui kalimat-kalimat hiperbola, dan alhasil tukang sayur sekalipun sekarang juga sudah tahu bahwa Rupiah sudah 15,000, dan bahwa (itu artinya) Indonesia krisis.
Thus, alih-alih kekeuh bahwa ekonomi masih baik-baik saja bla bla bla, termasuk harus menunggu Rupiah jebol 15,000 dulu lalu baru mereka do something, maka seharusnya ‘something’ itu sudah dikerjakan ketika Rupiah masih di 14,000-an.
Tapi seperti halnya cerita turbulensi diatas, para pejabat berwenang juga sepertinya sudah memahami soal ini, dimana Kementerian Keuangan dkk sejak semingguan lalu segera mengeluarkan kebijakan ini dan itu (detilnya bisa anda baca sendiri di internet), hanya saja mungkin timing-nya yang sedikit terlambat, dimana kemarin Rupiah akhirnya mencolek level psikologis Rp15,000. Alhasil orang-orang sempat panik, pasar saham drop, dan cerita pelemahan Rupiah ini menjadi headline dimana-mana. Pertanyaannya, bagaimana kedepannya? Dan IHSG mau dibawa kemana ini??
Antara Psikologis vs Logika Analisis
Pasca kebijakan pemerintah, maka ketika artikel ini ditulis, Rupiah sedikit menguat ke level Rp14,835 per USD. Untuk kedepannya kita belum tahu apakah penguatan Rupiah akan berlanjut atau cuma sementara, namun yang pasti jika nanti Rupiah kumat lagi, maka sekarang kita tahu bahwa Pemerintah (akhirnya) tidak tinggal diam. Atau, sebenarnya mereka juga sudah kerja keras/sejak awal sudah banyak mengeluarkan kebijakan, hanya saja kurang dipublikasikan sehingga masyarakat taunya para pejabat santai-santai saja. Sementara untuk saat ini publikasinya terbilang luar biasa, hingga kita bisa katakan bahwa selain menjaga Rupiah itu sendiri, Pemerintah juga bekerja keras menjaga psikologis masyarakat. Jadi ibarat turbulensi pesawat diatas, maka selain menyuruh para insinyur membuat badan pesawat agar lebih tahan goncangan, pihak maskapai juga menyuruh humas-nya untuk membuat artikel-artikel yang menjelaskan soal turbulensi tersebut.
Lalu apakah semua upaya diatas bisa membuat Rupiah kembali stabil, dan juga membuat masyarakat kembali optimis? Well, soal itu hanya waktu yang bisa menjawabnya, namun balik lagi: Karena sejak awal penyebab pelemahan Rupiah adalah mayoritas faktor eksternal, alias bukan karena Indonesia beneran krisis atau semacamnya, maka seharusnya sedikit kebijakan ini dan itu sudah cukup untuk membuat Rupiah stabil kembali. Actually, kalau bukan karena adanya faktor psikologis dimana sejak awal sudah ada anggapan bahwa kalau Rupiah tembus 15,000 maka itu artinya krisis (dan bisa jadi isu politik juga), maka Rupiah mungkin akan dibiarkan melemah hingga ke level tertentu. Karena, coba pikir lagi: Kalau Rupiah menguat maka itu juga bisa menurunkan ekspor, sehingga berdampak negatif ke pertumbuhan ekonomi. Intinya pelemahan atau penguatan Rupiah itu seperti pisau bermata dua, dimana pelemahan Rupiah tidak selalu berarti jelek, demikian pula penguatan Rupiah tidak selalu berarti bagus.
Namun karena sejak awal seperti sudah ada ‘kesepakatan’ bahwa Rupiah boleh turun tapi gak boleh sampai 15,000, maka ya sudah: Kalaupun Rupiah gak sampai dibawa menguat lagi, maka minimal dia bakal stabil di level 14,000-an, dan secara teori harusnya tidak sulit untuk menjaga agar Rupiah stabil disitu. Dan satu hal lagi: Karena penyebab pelemahan Rupiah terhadap Dollar adalah faktor eksternal, maka dalam hal ini kebijakan luar negeri Pemerintah juga menjadi penting. Sebab jika kita lihat lagi negara-negara emerging market yang mata uang mereka juga anjlok dibanding USD, yakni Turki, Argentina, Iran, hingga Venezuela(dibanding mata uang di empat negara ini, kinerja Rupiah terbilang sangat baik), maka rata-rata pemerintahnya punya ‘urusan’ dengan negeri Paman Sam, yang sekarang ini memang agak ‘koboy’ dibawah pimpinan Presiden Trump. Beruntung, Indonesia sejauh ini mampu menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat dan juga negara-negara lainnya (ketika artikel ini ditulis, Presiden Jokowi tengah melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan), jadi seharusnya ekonomi kita tidak akan sampai di-Turki-kan atau semacamnya.
Okay, lalu bagaimana dengan IHSG? Nah, berbeda dengan psikologis masyarakat awam yang baru kepikiran kalau Indonesia ‘krisis’ setelah Rupiah kemarin mencolek level 15,000, psikologis investor di pasar modal sudah under pressure sejak cukup lama, tepatnya sejak Mei 2017 lalu setelah investor asing terus menerus jualan, dimana itu masih terjadi sampai sekarang (asing hanya stop jualan 1 kali di bulan Januari 2018), dan alhasil ada banyak saham-saham di BEI yang anjlok gila-gilaan dan belum naik lagi, demikian pula IHSG itu sendiri masih minus sepanjang tahun 2018 ini. Menariknya, kondisi pasar yang carut marut karena foreign outflow ini sudah terjadi sejak sebelum ada isu negatif tertentu terkait perekonomian nasional, baik itu dari dalam maupun luar negeri (isu perang dagang dst baru nongol beberapa bulan lalu, sedangkan asing sudah jualan jauh sebelum itu).
Jadi ketika beberapa waktu lalu muncul cerita krisis Turki, dan gak sampai sebulan kemudian nongol lagi cerita pelemahan Rupiah, maka seperti yang bisa anda lihat sendiri, IHSG gampang banget jatuhnya. Bisa kita katakan bahwa kondisi psikologis investor pada saat ini sangat berbeda dengan psikologis masyarakat umum: Ketika Rupiah menyentuh 15,000, orang-orang mungkin mulai berpikir bahwa Indonesia krisis, tapi setelah mereka melihat bahwa harga sembako masih aman-aman saja, toko-toko masih laku, dan Rupiah itu sendiri menguat lagi, maka ya sudah, mereka akan kembali berpikir bahwa Indonesia masih aman. Sedangkan investor? Well, jauh sebelum cerita pelemahan Rupiah ini ramai dibicarakan, portofolio mereka sudah babak belur duluan, sehingga otomatis secara psikologis, mereka juga sudah kadung males dan capek. Thus, ketika muncul isu negatif sedikiiiit saja, maka IHSG langsung anjlok tanpa ampun.
Kesimpulannya, yep, meski berdasarkan data ekonomi dll penulis masih bisa katakan bahwa pasar saham masih baik-baik saja, tapi secara psikologis pasar, IHSG untuk saat ini masih belum aman, terutama karena kita belum tahu apakah Rupiah akan mampu stabil di 14,000-an, dan karena isu-isu lain seperti utang pemerintah, krisis Turki, perang dagang dst belum benar-benar mereda, dan bisa kembali ramai dibicarakan sewaktu-waktu.
Namun untungnya kita tahu bahwa fluktuasi pasar karena faktor sentimen, itu hanya bersifat jangka pendek, dimana jika nanti sentimennya hilang maka ya sudah, pasar juga bakal stabil lagi. Sedangkan untuk jangka panjangnya ya tetap balik lagi ke fundamental ekonomi, kinerja emiten, serta valuasi saham-saham di bursa, dan untungnya untuk faktor-faktor tersebut bisa penulis katakan bahwa: 1. Ekonomi kita secara umum masih cukup baik, tidak bisa disebut booming tapi juga jauh dari kata krisis, 2. Kinerja para emiten, meski tidak sebagus tahun 2011 lalu, tapi masih lebih baik dibanding 2015, dan 3. Valuasi saham-saham sudah sangat banyak yang terdiskon, terutama di kelompok second and third liner (bluechip masih tanggung/belum bener-bener murah). Jadi kecuali nanti ada force majeure tertentu, maka asalkan kita bisa melihatnya katakanlah sampai setahun kedepan, maka sekarang-sekarang ini justru merupakan waktu terbaik untuk belanja. What? Duit anda sudah masuk semua? Ya sudah kalau gitu tunggu saja, tahun 2018 juga tinggal kurang dari empat bulan lagi kok.
Untuk minggu depan kita akan bahas soal cerita Krisis Turki, Argentina, Iran, hingga Venezuela, serta bagaimana perbandingan kondisi makroekonomi antara keempat negara tersebut dengan Indonesia. Minggu depannya lagi kita bahas IPO Garuda Food.
Jadwal Value Investing Private Class: Hotel Hilton Bandung, Sabtu 15 September. Keterangan selengkapnya baca disini.
Penulis Membuat Rekaman Seminar Value Investing: Basic & Advanced Class, masing-masing berdurasi 4.5 jam. Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Sharing Pengalaman: Pak Joeliardi Sunandar

Sebagai investor, ada satu ‘aset’ yang menurut penulis sangat berharga untuk dimiliki, namun sekaligus sangat sulit untuk diperoleh: Kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan investor yang lebih senior. Berharga, karena dari mereka-lah kita bisa memperoleh sharing pengalaman, pencerahan, dan nasihat-nasihat penting, dimana itu semua sangat dibutuhkan dalam kegiatan berinvestasi itu sendiri. Namun kesempatan ini juga sulit untuk diperoleh, mengingat investor senior yang sudah berinvestasi di pasar saham sejak tahun 80-an atau 90-an (BEI itu sendiri baru buka lagi tahun 1977), dan masih aktif berinvestasi sampai sekarang, itu jumlahnya tidak banyak. Dan kalaupun ada maka biasanya mereka low profile dan cenderung tertutup, yang jangankan ditemui, untuk ditelpon saja susahnya setengah mati (dan actually penulis sendiri juga begitu, karena untuk bisa berinvestasi dengan baik dan benar, maka anda harus menghindari hiruk pikuk pasar, alias pergi menyendiri ke satu tempat yang tidak ada sinyal internet).

Jadi ketika penulis memperoleh jadwal makan siang dengan Bapak Joeliardi Sunandar, seorang (value) investor aktif yang sudah berpengalaman sejak awal tahun 90-an, maka penulis tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dan saya juga akan men-sharing kembali hasil diskusinya disini. Tapi sebelum itu mari kita lihat dulu profil dari Pak Joel.
Joeliardi Sunandar merupakan alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, lulus pada tahun 1981, dan semasa kuliah sudah aktif mengajar sebagai asisten dosen. Kemudian beliau bekerja di Ernst & Young sebagai auditor, lanjut ke PT Total Indonesie sebagai supervisor, Johnson & Johnson Indonesia sebagai chief accountant, dan Intercon Enterprise sebagai finance manager. Sukses meniti karier sebagai profesional di bidang keuangan, karier Pak Joel sebagai entrepreneur dan investor dimulai pada tahun 1988, ketika ia bersama rekan-rekannya mengakuisisi perusahaan leasing dengan nama PT Perdana Finance, dan menempati posisi komisaris. Di tahun yang sama Pak Joel mengakuisisi PT Bank Putera, dan menempati posisi presdir, dan juga mulai berinvestasi di pasar saham, terutama di Amerika Serikat. Tahun 1994, Pak Joel menjual Bank Putera ke Grup Texmaco, dan setelah itu beliau lebih banyak berinvestasi di saham saja. Selain menjadi investor, Pak Joel juga banyak menerbitkan tulisan-tulisan tentang investasi saham, dan aktif menjadi pembicara di banyak forum investasi diluar negeri. Pak Joel saat ini berstatus sebagai salah satu pemegang saham Berkshire Hathaway (BRK), perusahaan investasi milik Warren Buffett.


Penulis bersama Pak Joeliardi

Nah, karena Pak Joel sejak awal memiliki passion untuk menulis dan memberikan edukasi (beliau sudah mengajar sejak semasa kuliah), maka beliau adalah satu dari sedikit investor senior di Indonesia yang tidak hanya sarat pengalaman, tapi juga mampu menuangkan pengalamannya tersebut dalam bentuk tulisan maupun speech yang enak dibaca dan didengar, dan juga mudah dipahami. Sejak beberapa tahun terakhir Pak Joel banyak menulis di forum Stockbit.com, dan juga mengisi seminar yang dipromosikan melalui Sahamku.id. Dalam waktu dekat beliau juga akan menerbitkan buku, yang merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya di Stockbit.
Okay, lalu Pak Teguh, jadi sharing apa saja yang kemarin panjenengan dapet dari Pak Joel? Well, actually banyak banget yang beliau sampaikan, dimana kita diskusi beberapa saham mulai dari yang populer seperti Bank BRI, Ultrajaya, Unilever, hingga yang aneh-aneh seperti Indika Energy, Polychem, dan Modern Internasional. Karena, you know, kalau penulis sendiri sharing pengalaman dengan investor junior dimana ia antusias mendengarkan, serta mampu memahami apa yang disampaikan dengan baik, maka penulis juga jadi enjoy ngobrolnya. Nah, dalam hal ngobrol dengan Pak Joel, maka penulis-lah yang menjadi ‘junior’ tersebut.
Namun jika disimpulkan, ada tiga point penting yang disampaikan oleh Pak Joel, yang surprisingly seperti mengajak kita semua, para investor newbie, untuk lebih bersemangat berinvestasi karena sebenarnya, kita punya peluang memperoleh profit yang justru lebih baik dibanding investor kelas kakap. Okay, langsung saja.
Kelebihan Investor Ritel, Analisa Sederhana, dan Pengalaman Ketika Terjadi Krisis
Pertama, tentang bagaimana investor ritel dengan dana terbatas, mereka justru memiliki banyak keistimewaanyang tidak dimiliki oleh investor institusi. Contoh, tidak hanya mereka bisa lebih ‘lincah’ dalam melakukan jual beli saham, mereka juga tidak dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu yang menyebabkan kinerja portofolio menjadi tidak optimal. Misalnya, kita tahu bahwa BRK memegang saham Coca Cola (KO) senilai lebih dari US$ 15 milyar. Nah, karena BRK merupakan perusahaan publik, maka jika Buffett mulai keluar dari KO, itu harus diumumkan. Dan bisakah anda bayangkan bagaimana dampaknya terhadap saham KO itu sendiri di market, ketika keluar pengumuman bahwa BRK menjual sahamnya? Sedangkan BRK sendiri memegang KO dalam jumlah yang amat sangat besar, yang tidak mungkin bisa langsung habis dijual bahkan dalam waktu beberapa bulan. In this case, meski Buffett sebenarnya melihat banyak peluang investasi yang mungkin lebih baik dibanding KO, namun ia mau tidak mau harus menggunakan dana yang lain, karena ia tidak mungkin keluar dari KO. Lebih detil soal ini sudah disampaikan disini.
Karena itulah, dalam annual letter-nya di tahun 2015, Buffett mengatakan bahwa kinerja BRK dalam persentase profit tahunan (bukan dalam Dollar) di masa yang akan datang tidak akan sama dengan apa yang sudah dicapai sejak 50 tahun sebelumnya, yakni sekitar 19.0% per tahun, melainkan kemungkinan bakal kurang dari itu. Hal ini karena, dengan semakin membesarnya aset yang dipegang BRK, maka semakin sulit pula untuk ‘memutarnya’ sehingga bisa dihasilkan profit yang optimal. FYI, per 30 Juni 2018, BRK memegang aset total US$ 711.9 milyar, atau sekitar 6 kali lipat nilai APBN Indonesia di tahun 2018. Jadi jangankan 15 – 20%, untuk bisa mencatat profit 1 – 2% saja maka artinya BRK harus menghasilkan belasan milyar Dollar bukan?
Jadi percaya atau tidak, beruntunglah kita yang hanya mengelola dana ‘ala kadarnya’, dimana secara teori, harusnya lebih mudah bagi kita untuk menghasilkan kinerja yang satisfactory. Memang, investor institusi yang besar-besar juga punya beberapa kemudahan yang tidak dimiliki investor ritel, seperti akses informasi yang lebih baik, dan akses untuk mengelola perusahaan (jika si investor membeli sebuah saham secara mayoritas). However, kemudahan yang dimiliki investor ritel tetap lebih banyak, termasuk keputusan-keputusan investasi terbaik yang pernah dibuat oleh Warren Buffet adalah justru ketika ia hanya membeli saham sebuah perusahaan secara minoritas, alias sama sepertiyang dilakukan investor ritel, dan bukannya investasi lainnya dimana ia mengakuisisi sebuah perusahaan.
Kedua, investasi saham itu jauh lebih simpel/sederhanadibanding kelihatannya, dimana cara menghitung untuk menentukan apakah sebuah saham berfundamental bagus atau tidak, dan apakah harga belinya murah atau mahal, itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perhitungan yang diajarkan di matematika sekolah dasar! Yep, Pak Joel memberikan ilustrasi, di Amerika Serikat pernah diadakan suatu penelitian dimana anak-anak sekolah dasar diberikan rekening virtual/simulasi, kemudian mereka diminta untuk memilih saham-saham yang mereka sukai, dan mereka memilih saham Walt Disney, Nike, dst, yang rata-rata merupakan perusahaan populer, kemudian didiamkan saja selama beberapa tahun. Hasilnya, kinerja investasi dari anak-anak ini justru secara signifikan lebih baik dibanding para fund manager profesional di perusahaan-perusahaan asset management terkemuka. Padahal, berbeda dengan para fund manager ini yang menggunakan banyak sekali perhitungan rumit dalam memilih saham mereka, anak-anak tadi hanya diberikan pengetahuan dasar analisa fundamental seperti cara menghitung ROE, debt to equity ratio, PER, dan PBV (dan kalau anda baca lagi buku penulis yang berjudul Value Investing: Beat The Market in Five Minutes!, maka ya memang cuma angka-angka itu saja yang penulis bahas disitu, dan kita sama sekali gak pernah pake DCF, WACC, dividend discount model bla bla bla).
Pak Joel menambahkan, ‘Investasi saham itu sebenarnya sangat sederhana, namun ada banyak profesional di bidang ini yang dengan sengaja membuatnya tampak rumit untuk orang awam. Tujuannya adalah agar mereka menjadi tampak pintar, dan alhasil orang mau membayar mahal hanya untuk mendengarkan nasihat mereka.’ Well said Sir!
However, pertanyaan yang kemudian timbul adalah, kalau memang investasi saham itu (harusnya) lebih mudah bagi investor ritel, dan untuk menganalisanya juga tidak serumit yang digambarkan oleh para analis, maka kenapa banyak sekali investor ritel yang merugi? Jika memang benar bahwa investasi saham, jika berdasarkan kaidah value investing, adalah dengan memilih saham dengan ROE tinggi, DER rendah, PER rendah, dan PBV rendah, maka kenapa saham-saham yang saya pikir sudah memenuhi semua kriteria tersebut, ternyata tetap saja malah turun setelah saya membelinya? Dan bagaimana dengan krisis ekonomi, market crash, Rupiah anjlok bla bla bla??
Nah, dalam hal ini Pak Joel kemudian menambahkan, ‘Cara menganalisis saham, seperti yang sudah disebut diatas, sebenarnya mudah saja. Tapi ketika harga saham mengalami naik turun, terjadi volatilitas pasar, hingga adanya peristiwa pasang surut ekonomi, maka barulah kemampuan setiap investor berbeda-beda dalam menghadapinya. Dan biasanya mereka yang sudah pernah mengalami kondisi terburuk-lah, yang kemudian mampu berinvestasi dengan lebih baik lagi. Saya pribadi sudah pernah mengalami krisis 1998, dan mampu bertahan, dan itu saja perbedaansaya dengan investor-investor lain yang lebih junior. Bagi saya, fluktuasi pasar yang terjadi setelah tahun 1998 itu sama sekali tidak ada apa-apanya/bisa kita abaikan, jadi saya bisa tetap katakan bahwa investasi saham itu mudah dan sederhana.’
Jadi kesimpulannya untuk poin ketiga adalah, yep, investasi saham itu relatif lebih mudah bagi investor ritel, dan cara menganalisanya pun sebenarnya sangat sederhana. Namun untuk bisa menghasilkan kinerja portofolio yang memuaskan, maka yang selanjutnya dibutuhkan adalah pengalaman, lebih spesifik-nya lagi adalah pengalaman ketika terjadi market crash! Atau bahkan pengalaman ketika terjadi krisis ekonomi. Soal pentingnya pengalaman, penulis sudah banyak mengulasnya di artikel-artikel di blog ini. Namun tentang ‘pengalaman ketika terjadi market crash’, maka penulis belum pernah mengulasnya secara spesifik, karena terus terang saja, saya baru ngalamin koreksi pasar tahun 2013 dan 2015, yang tentunya tidak separah market crash di tahun 2008 dan 1998 (di tahun 2008 penulis masih pusing revisi skripsi, dan di tahun 1998 saya masih SMP kelas satu dan belum ngerti apa itu ‘emiten’).
Anyway, mudah-mudahan next time Pak Joel bisa berbagi pengalaman beliau ketika terjadi krisis 1998 dulu, dimana terjadi bank rush, Rupiah jatuh, hingga pecah kerusuhan yang memakan korban jiwa. Beruntung, karena seperti yang disampaikan diatas, Pak Joel memiliki passion dalam hal mengajar, maka dalam waktu dekat ini beliau bersama penulis akan menyelenggarakan seminar, termasuk seminar melalui video Youtube yang bisa anda tonton kapan saja dan dimana saja, dan tentunya secara gratis. Well, mudah-mudahan semuanya lancar, karena memang nulis itu gampang, tapi kalo bikin video maka itu agak ribet. Just stay tune.
Okay, untuk minggu depan kita akan update soal kurs Rupiah.
Buletin analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi September 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab analisa saham dan konsultasi portofolio untuk member.
Penulis membuat rekaman seminar value investing: Basic and Advanced, yang bisa anda dengarkan sendiri dirumah, masing-masing berdurasi 4.5 jam. Dan anda bisa memperolehnya [...]

Saham-Saham Yang Aman u/ Pensiun?

Ketika penulis lulus SMU, tahun 2003 lalu, ibu di rumah berpesan bahwa kalau bisa kamu masuk STPDN (yang sekarang berubah menjadi IPDN, atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri), atau masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Alasannya adalah, pertama, sekolah disitu katanya gratis, dan itu sangat menarik mengingat orang tua penulis ketika itu tidak cukup mampu untuk mengkuliahkan putra mereka ke universitas. Dan kedua, lulusan IPDN dan STAN juga dikatakan dijamin akan memperoleh pekerjaan sebagai abdi negara, alias PNS. Dan apa menariknya kalau kita jadi PNS? Well, dengan menjadi PNS maka kita otomatis menerima jaminan keamanan finansial, termasuk kita akan tetap menerima tunjangan dari negara, bahkan ketika nanti kita sudah tidak bekerja lagi, alias pensiun.

Sayangnya penulis tidak cukup qualified untuk diterima di kedua perguruan tinggi tersebut (saya langsung gagal di tes awal), namun beruntung saya masih diterima di Unpad, yang ternyata biayanya gak semahal yang diperkirakan sebelumnya (waktu itu SPP-nya cuma Rp375,000 per semester, thanks to government!). Namun ketika penulis lulus kuliah tahun 2008, maka sekali lagi ibu mendorong penulis untuk ikut CPNS, dan saya pun mematuhinya. Tapi lagi-lagi, saya langsung gagal di tes-tes awal. I don’t know, tapi ketika beberapa orang mungkin sangat baik dalam hal menghafal dan kemudian mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas kertas, maka penulis sama sekali tidak punya kemampuan tersebut.
Pada akhirnya, penulis justru masuk ke dunia yang sama sekali tidak menawarkan financial security seperti halnya kalau kita menjadi PNS, melainkan malah sebaliknya: Di dunia yang katanya ‘kejam’ ini, seseorang bisa dengan mudah kehilangan tabungan yang sudah mereka kumpulkan dengan susah payah, hasil dari bekerja keras selama bertahun-tahun, karena merugi besar-besaran. Bagi kebanyakan orang, dunia yang disebut diatas tidak lebih dari arena judi, dimana mereka yang meraup keuntungan hanya sekedar lebih beruntung dibanding mereka yang menderita kerugian. Yup, dunia tersebut adalah dunia pasar modal, atau pasar saham. Sepanjang sekian tahun karier penulis di belantara pasar saham ini, sudah tidak terhitung berapa banyak orang yang coba-coba masuk kesini, tapi hanya sedikit dari mereka yang bertahan. Sementara selebihnya terpaksa keluar lagi, tidak hanya dengan tangan hampa, tapi juga dengan kehilangan sebagian dari harta yang mereka miliki.
Jadi jika dikatakan bahwa kita bisa invest di saham untuk tujuan persiapan dana pensiun, maka sebagian dari anda mungkin mengernyitkan dahi: Apa gak salah? Kalau tujuannya sekedar untuk punya cukup uang untuk kebutuhan hari tua, maka ya jangan invest di saham. Beli tanah saja! Atau taroh deposito, emas, sawah, dan sejenisnya yang terbilang aman. Sebab kalau di saham itu, kalau sampeyan gak jadi horang kayah sekalian, ya jadi blangsak sekalian!
However, fakta lainnya adalah, diluar dari mereka yang hanya datang dan pergi, ada banyak juga investor yang tidak hanya sukses bertahan, tapi benar-benar making money dari saham, dan beberapa diantaranya bahkan mencapai target yang lebih tinggi dari sekedar memiliki tabungan pensiun, dimana mereka sukses punya duit yang lebih dari cukup untuk jalan-jalan keliling dunia atau semacamnya. Jadi balik lagi: Kalau tujuan kita invest di saham adalah untuk memiliki tabungan pensiun, dan untuk itu maka kita gak harus sampai sama kaya-nya dengan Gayus Tambunan, maka seharusnya itu akan lebih mudah dicapai. Karena nyatanya, ada banyak investor yang mencapai lebih dari itu.
Thus, pertanyaannya sekarang adalah, kalau saya mau invest di saham dengan target ‘yang penting untung’ saja, tapi asalkan disisi lain risikonya juga amat sangat rendah, maka adakah caranya untuk bisa seperti itu? Okay, mari kita mulai pembahasannya dari salah satu quote gurunya Warren Buffett.
Tips Dari Benjamin Graham
Benjamin Graham, guru besar value investor di seluruh dunia, pernah ngomong begini: ‘Untuk mencapai hasil investasi yang memuaskan, itu lebih mudah dari yang disadari kebanyakan orang. Namun untuk menghasilkan profit yang unggul/superior, maka itu lebih sulit dari kelihatannya.’ Sekilas, kalimat ini terdengar membingungkan: Apa maksudnya? Tapi biar penulis jelaskan disini.
Jadi begini. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, ketika dulu saya untuk pertama kalinya coba-coba beli saham, maka ada satu fakta yang menarik perhatian saya: Di BEI, setiap harinya selalu ada saja saham yang naik sampai 10%, 15%, 20%, hingga auto reject, tak peduli pada hari tersebut IHSG naik atau turun. Ketika itu penulis langsung berpikir bahwa, seandainya saya bisa mengidentifikasikan saham-saham apa saja yang bakal terbang dalam satu hari, dan membeli saham tersebut, maka saya bisa profit 10 – 20% dalam sehari. Kemudian, diluar saham-saham yang terbang pada hari-hari tertentu, penulis juga menemukan fakta bahwa setiap tahunnya, selalu ada saja beberapa saham yang terbang sampai 100 – 200% atau lebih tinggi lagi, hanya dalam hitungan bulan/gak sampai setahun. Dan otak penulis ketika itu juga langsung berpikir bahwa kalau saya beli saham tersebut, maka kita bisa profit ratusan persen sambil ongkang-ongkang saja, alias beli sekarang, lalu jualnya nanti tahun depan.
However, setelah berusaha menggali ilmu ‘memburu saham ARA’, ‘swing trading harian ala Jesse Livermore’ atau semacamnya, hasilnya nol besar, malah nyangkut dimana-mana. Kemudian untuk ‘saham-saham jangka panjang’ yang naik ratusan persen hanya dalam hitungan bulan, yang sering terjadi adalah saya telat masuk, yakni baru beli setelah saham itu naik banyak (ketika itu penulis belum mengerti value investing), dan justru setelah itu sahamnya turun lagi. Tapi intinya setelah sekitar 1 – 2 tahun trading tik tok gak jelas, maka barulah penulis mengerti bahwa, benar apa yang dikatakan Ben Graham: Untuk bisa menghasilkan profit jumbo dalam waktu singkat, itu lebih sulit dari kelihatannya. Yep, hanya karena di BEI selalu ada saham yang terbang 20% dalam sehari, setiap harinya, maka bukan berarti anda bisa profit 20% juga setiap harinya. Demikian pula, untuk bisa mengidentifikasikan saham yang naik katakanlah 100% dalam setahun, maka diperlukan kemampuan analisa yang luar biasa untuk menemukan ‘satu berlian diantara tumpukan sampah’, plus keberuntungan. Yup, karena analisa seakurat apapun bisa menjadi mentah jika di kemudian hari terjadi force majeure, atau pasar/IHSG mengalami koreksi signifikan. Disisi lain, jika ada saham berpeluang untuk naik banyak dalam jangka waktu tertentu, maka biasanya risikonya juga lebih besar dibanding saham-saham lain yang type ‘alon-alon asal kelakon’. Faktanya, ketika sebuah saham naik dari katakanlah 500 ke 2,500 dalam waktu singkat, maka selain mereka yang profit besar karena membelinya di harga 500 – 1,000, maka ada juga investor yang rugi besar karena mereka justru baru masuk di harga 2,500 tersebut, dan setelah itu sahamnya turun lagi.
Jadi dalam banyak kasus, ketika seorang investor berusaha menghasilkan profit yang superior, maka hasilnya justru minus alias rugi. Masalahnya, kebanyakan orang di pasar modal ya seperti itu: Mereka selalu berusaha meraup profit sebesar-besarnya, seringkali tanpa peduli risikonya, karena mereka berpikir bahwa gampang saja untuk bisa menemukan saham terbang seperti itu. Dan sangat sering terjadi sebuah saham baru ramai ‘dikunjungi’ justru setelah harganya naik tinggi, karena orang-orang penasaran apakah saham tersebut bakal naik lebih tinggi lagi (tapi ketika saham tersebut turun, maka korban langsung berjatuhan). Dalam hal inilah timbul kesan bahwa, investasi saham itu sulit. Karena jangankan meraup profit, yang ada orang-orang malah rugi semua.
Namun balik lagi: Seandainya target seorang investor adalah kinerja profit yang memuaskan, maka sebenarnya itu lebih mudah dari yang kebanyakan orang sadari. Contohnya? Well, masih ingatkah anda ketika pada Oktober 2017 lalu, beredar cerita tentang pernikahan dengan mas kawin bukan berupa emas, ataupun seperangkat alat sholat, melainkan saham? Dan saham apa yang dijadikan mas kawin tersebut? Jawabannya saham Sido Muncul (SIDO) (baca lagi ceritanya disini). Yup, SIDO bukanlah type saham yang bakal terbang 20% dalam sehari, termasuk juga belum pernah naik sampai 100% dalam setahun, namun dalam jangka panjang ia tetap menawarkan profit yang cukup baik, terutama dari dividen-nya. Jadi maksud penulis adalah, ketika seorang investor memutuskan untuk membeli saham seperti SIDO ini untuk investasi jangka panjang, termasuk berani menggunakannya untuk mas kawin, maka cukup jelas bahwa ia tidak mengincar profit superior, melainkan profit yang memuaskan saja, let say 15 – 25% per tahun. Dan hasilnya, ketika orang-orang lain kena rugi di saham ini itu, namun para investor yang memegang saham-saham seperti SIDO inilah, yang bisa tetap duduk santai sepanjang hari. Para ‘investor tradisional’ ini tahu persis bahwa mereka tidak akan meraih profit extraordinaryseperti investor lainnya yang membeli saham Indika Energy (INDY), setahun lalu, tapi disisi lain mereka juga tidak perlu khawatir bahwa sahamnya bakal di-suspen atau semacamnya. Sehingga meski target profitnya tampak kecil, tapi peluangnya lebih besar, alias profit tersebut lebih mudah untuk dicapai, tanpa perlu terlalu khawatir bakal menderita kerugian.

Kesimpulannya, yep, untuk mencapai hasil investasi yang memuaskan, itu lebih mudah dari yang disadari kebanyakan orang. Namun untuk menghasilkan profit yang unggul/superior, maka itu lebih sulit dari kelihatannya. Nah, karena dalam investasi saham untuk tujuan menghasilkan dana pensiun maka anda tidak harus menghasilkan profit superior (karena, sekali lagi, anda tidak harus sekaya Setya Novanto untuk bisa pensiun), maka anda bisa mengubah target anda menjadi menghasilkan ‘profit yang memuaskan’ saja, alias target profitnya harus konservatif dan realistis. Dan untuk bisa menghasilkan profit yang memuaskan tersebut, maka itu sebenarnya mudah saja, dimana anda tinggal memilih saham-saham type low risk, bisnisnya sederhana, membayar dividen, dan satu lagi: Berhenti ngiri sama tetangga sebelah yang kebetulan cuan dari INKP, TKIM, atau semacamnya.
Okay Pak Teguh, kalau sampeyan sendiri bagaimana? Apakah pilihnya hanya saham-saham yang aman, atau ada kejar saham terbang juga? Well, seperti yang bisa anda lihat sendiri di blog ini, saya mengkombinasikan keduanya, dimana kami banyak mengulas saham-saham mainstream yang target profitnya hanya 15 – 25% dalam setahun tapi risikonya pun rendah, sementara di lain waktu kami juga membahas saham-saham yang diharapkan menjadi ‘mutiara terpendam’, meski risikonya pun lumayan. Dan itu karena, sebagai investor full time, penulis dibantu dengan tim punya banyak waktu untuk mengerjakan analisa, sehingga kami punya peluang lebih besar untuk menemukan saham-saham jackpot, tapi disisi lain kami juga sepenuhnya sadar bahwa saham-saham tersebut risikonya besar, sehingga kami mengimbanginya dengan juga membeli saham-saham yang lebih aman. Kombinasi portofolio seperti ini, pada akhirnya menghasilkan kinerja yang ‘lebih dari sekedar memuaskan’ dalam jangka panjang.
Anyway, jika anda terlalu sibuk untuk mengerjakan analisa, maka boleh pilih cara yang lebih mudah: Silahkan beli/akumulasi ‘saham-saham mas kawin’ bagi diri anda sendiri (gak harus SIDO, karena SIDO sendiri sudah naik lumayan). Dengan cara inilah, meski anda mungkin tidak akan lagi melihat saham anda auto reject atas atau semacamnya, tapi investasi anda di saham akan menjadi jauh lebih aman, dan anda tetap akan memperoleh handsome profit dalam jangka panjang. Satu-satunya syarat yang dibutuhkan adalah, anda jangan lagi gampang tersepona dengan saham-saham terbang, yang selalu berseliweran di market setiap hari. Dan, yap, setelah katakanlah 15 – 20 tahun, maka dengan catatan anda rutin nyetor ‘iuran pensiun’ katakanlah setiap bulannya ke sekuritas, maka hasilnya tetap akan luar biasa, dan anda akan memiliki sejumlah aset yang lebih dari cukup untuk dana pensiun bagi diri anda dan keluarga. Good luck!
Okay, minggu depan baru kita akan bahas tentang Pak Joel.
Jadwal Seminar Value Investing: Pension Class: Cara mempersiapkan dana pensiun melalui investasi saham, menggunakan kaidah value investing. Jakarta, Sabtu 1 September. Info selengkapnya baca disini.
Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi September akan terbit hari Minggu, 2 September mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing: Advanced Class, Jakarta, 8 Sept 2018

Dear investor, penulis menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Pembicara: Zomi Wijaya (profil Pak Zomi bisa dibaca disini).
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaikuntuk buy dan sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.

Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias membeli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah?

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman Teguh Hidayat sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman Teguh Hidayat sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
Hari/Tanggal: Sabtu, 8 September 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100%(uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!

Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis/Teguh Hidayat melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special Bonus! Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
***
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta salah satu seminar sebelumnya
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnyasaja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Jadwal seminar lainnya: Value Investing Pension Class: Cara mempersiapkan dana pensiun melalui investasi saham, menggunakan kaidah value investing. Jakarta, Sabtu, 1 Sept 2018. Info selengkapnya baca [...]

Certified Trainer: Zomi Wijaya

Indonesia Value Investing welcomes our new trainer and mentor, Zomi Wijaya! ‘Zomi is one of the most brilliant individuals in Indonesian stock market. His in depth knowledge and experience related to stock investing, especially value investing, will help many people to achieve their investment goals.’ -Teguh Hidayat-

Profil Singkat
Nama: Zomi Wijaya
Tempat/Tahun Lahir: Sukabumi, 1993
Pendidikan: S1 Jurusan Manajemen, Universitas Pelita Harapan (UPH), dan S2 Master of Management, UPH.
Setifikat pasar modal: WPPE, dan WMI.
Pengalaman di pasar modal: Sejak Tahun 2015.
Pekerjaan diluar bidang pasar modal: Tidak ada.
Seperti yang sudah penulis (Teguh Hidayat) sampaikan sebelumnya, seiring dengan semakin banyaknya jumlah investor di pasar modal, dan juga semakin populernya metode value investing itu sendiri, maka saya belakangan ini menerima banyak sekali permintaan untuk mengisi kelas kampus, pelatihan, dan workshop, baik itu secara private maupun kelas seminar. However, karena disisi lain saya juga harus fokus jagain portofolio milik Avere, dan itu juga bukan pekerjaan yang mudah, maka tidak semua request pelatihan tersebut bisa saya penuhi. Pada tahun 2016 lalu penulis banyak mengisi kelas di kampus-kampus, tapi belakangan ini hampir semua request dari universitas terpaksa saya tolak karena, sekali lagi, sulit ngatur waktunya (jadi dalam hal ini saya mohon maaf, dan harap maklum).
Karena itulah, penulis kemudian merekrut trainer untuk mengisi kelas-kelas seminar, baik itu di Jakarta maupun di daerah. However, ‘trainer’ yang dimaksud disini haruslah memenuhi setidaknya dua kriteria: 1. Mampu berbicara di depan publik, dan tentunya 2. Memiliki pengalaman yang cukup dan wawasan yang luas tentang investasi saham, khususnya tentang metode value investing itu sendiri. Dan ada satu lagi kriteria tambahan: Trainer tersebut sebaiknya sudah pernah membaca semua tulisan di blog TeguhHidayat.com ini, termasuk sudah membaca buku-buku yang saya tulis, mengikuti seminar yang pernah saya selenggarakan, dan seterusnya. Ini agar dia bisa memaparkan materi seminar dengan sama baiknyadengan yang penulis lakukan selama ini, atau bahkan lebih baik lagi.
Dan setelah proses seleksi, wawancara, dan training yang melelahkan, akhirnya penulis memperoleh satu nama: Zomi Wijaya. Pak Zomi memenuhi semua kriteria yang kami butuhkan: Pengalaman, pengetahuan, kemampuan menyampaikan materi, dan ia sudah hafal diluar kepala semua tulisan di teguhhidayat.com. Dan setelah penulis training sendiri untuk menjadi pembicara, Pak Zomi lulus training tersebut. Thus, dengan ini Indonesia Value Investing memberikan sertifikat kepada Zomi Wijaya sebagai trainer and mentor untuk kelas value investing yang kami selenggarakan, baik untuk materi basic maupun advanced.
Catatan: Penulis (Teguh Hidayat) masih tetap mengisi seminar atau kelas private, hanya saja tidak akan sesering sebelumnya. Dengan adanya Pak Zomi ini, maka kami juga kedepannya akan mulai bikin kelas-kelas seminar di daerah, jadi gak cuma di Jakarta atau Surabaya saja.
Jakarta, 22 Agustus 2018
Teguh Hidayat
Galeri Foto
Pak Zomi di Jepang
Ketika mengisi kelas investasi saham di Gedung BEI
Mr. Mentor and his protege
Salah satu seminar yang penulis adakan, pak Zomi paling kanan
Pak Zomi di kelas private
Terakhir, ‘Indonesia Value Investing’ masih membuka lowongan untuk posisi trainer, dan junior partner. Bagi yang tertarik maka boleh baca info selengkapnya [...]

Perusahaan Gas Negara

Hingga hari ini, Selasa, 21 Agustus, Perusahaan Gas Negara (PGAS)masih belum merilis laporan keuangan untuk Kuartal II 2018, namun kinerjanya di Kuartal I terbilang kurang bagus dimana labanya kembali turun dari US$ 98 menjadi 81 juta, dan ROE-nya masih tertahan di level 9.9%. Jika pada tahun 2018 ini laba PGAS kembali turun dibanding 2017, maka genap lima tahun sudah laba perusahaan turun terus, dan ini menjelaskan kenapa sahamnya, meski sempat gagah di level 6,000-an pada tahun 2014 lalu, sampai sekarang masih belum bangkit lagi.

Namun inilah menariknya: Dalam setahun terakhir, setelah penurunannya mentok di level 1,400 pada Oktober 2017 lalu, kesininya PGAS cenderung naik lagi, bahkan sempat mencapai 2,700 pada Januari 2018 (sebelum kemudian turun lagi karena terseret penurunan IHSG). Kemudian ketika penurunan PGAS mencapai level 1,525, Juli 2018 kemarin, kesininya dia naik cenderung naik lagi. Secara teknikal, ini mengkonfirmasi bahwa level 1,400 yang dicapai PGAS pada Oktober 2017 lalu sudah merupakan bottom-nya.
Catatan: Dalam menganalisa saham, seorang value investor juga memperhatikan faktor teknikal. Namun jika kebanyakan trader hanya melihat pergerakan saham dalam jangka waktu bulanan, mingguan, harian, atau bahkan jam-jaman, termasuk heboh sendiri jika saham tersebut naik atau turun katakanlah 5 – 10% dalam sehari, maka kita mengabaikan fluktuasi jangka pendek seperti itu, dan hanya melihat pergerakan saham dalam beberapa bulan atau setahun terakhir, atau lebih lama lagi. Selengkapnya baca disini: https://www.teguhhidayat.com/2014/12/follow-trend-dalam-analisis-fundamental.html
Nah, actually penulis sendiri sebenarnya sudah tertarik ketika PGAS berada di level 1,400, delapan bulan lalu, karena PBV-nya pada harga segitu cuma 0.7 kali, clearly undervalue untuk ukuran saham dari perusahaan besar dan terkemuka, yang di masa lalu pernah konsisten membukukan kinerja extraordinary dari tahun ke tahun (sebelum tahun 2014, ROE PGAS stabil di level 30 – 40%), dan PGAS selama ini tidak pernah terkena masalah hukum atau semacamnya. Namun karena kinerja perusahaan masih belum kembali pulih, dan tidak ada kejelasan soal outlook-nya kedepan bagaimana (meski rame soal akuisisi Pertagas, Pertamina bla bla bla, tapi gak ada informasi soal ekspansi usaha tertentu), maka penulis putuskan untuk wait n see saja dulu.
Dan setelah hampir satu tahun, sepertinya sekarang sudah waktunya untuk melirik sahamnya lagi. Tapi sebelum itu mari kita lihat lagi PGAS ini dari awal, apa saja bidang usaha yang dikerjakan perusahaan saat ini, termasuk bagaimana update terakhir soal akuisisi PGAS terhadap PT Pertamina Gas (Pertagas).
PGAS adalah perusahaan kedua tertua di Indonesia (setelah Kimia Farma/KAEF, yang berdiri tahun 1817), yang berdiri pada tahun 1859 dengan nama LJN Eindhoven & Co. sebagai perusahaan distributor gas swasta di Batavia, yang pada tahun 1863 diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1958, perusahaan dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia (sehingga menjadi BUMN), dan go public pada tahun 2003. Pada perkembangannya, usaha PGAS terbagi menjadi dua jenis: Distribusi gas, yakni penyaluran gas melalui truk tangki, tabung gas, hingga pipa-pipa gas berukuran kecil ke pelanggan-pelanggan di kawasan industri, kawasan komersial, dan perumahan, dan transmisi gas, yakni jasa penyaluran gas melalui pipa-pipa khusus berukuran besar, dimana perusahaan menerima fee dari produsen gas yang mengalirkan gas-nya melalui pipa-pipa tersebut. Pada tahun 2011, PGAS mulai masuk ke bidang hulu dan hilir bisnis gas alam, dengan mendirikan PT Saka Energi Indonesia, dan PT Gagas Energi Indonesia. Melalui Saka Energi, PGAS mengakuisisi kepemilikan saham, baik mayoritas maupun minoritas, di 11 lapangan migas (10 di Indonesia, 1 di Amerika Serikat), dan pada saat ini sebagian besar diantaranya sudah berproduksi. Sementara melalui Gagas Energi, PGAS mengelola hasil produksi gas dari Blok West Madura Offshore milik Pertamina, menjadi liquefied natural gas siap pakai yang langsung disalurkan ke sektor transportasi (melalui SPBG dan Mobile Refueling Unit), sektor industri, dan komersial.
Nah, jika pada tahun-tahun sebelumnya pendapatan PGAS nyaris sepenuhnya berasal dari usaha distribusi dan transmisi gas-nya, maka pada Kuartal I 2018 kemarin, dari pendapatannya sebesar total US$ 872 juta, US$ 219 juta atau 25% diantaranya berasal dari usaha produksi gas (hulu), pengolahan gas (hilir), dan lain-lain. However, meski pendapatan PGAS dari usaha diluar distribusi gas terbilang cukup besar, namun labanya dari unit-unit usaha baru ini justru minus alias rugi. Penulis tidak tahu apa masalahnya, namun ini berarti laba bersih PGAS pada hari ini akan lebih besar andaikan perusahaan tetap fokus pada bidang usaha aslinya, yakni distribusi gas. Sebenarnya diluar keputusan manajemen untuk masuk ke hulu, hilir, dan lainnya (dalam rangka membangun PGAS menjadi perusahaan gas yang lengkap serta terintegrasi), maka PGAS juga terus membangun jaringan pipa gas baru untuk memperluas usaha distribusi gas-nya, dimana update terakhir menyebutkan bahwa perusahaan tengah menyelesaikan pipa transmisi gas Duri – Dumai di Riau, yang akan disambungkan dengan jaringan pipa gas di Kota Medan dan Deli Serdang. However, pemerintah sebenarnya sudah memerintahkan PGAS untuk membangun jaringan pipa gas di Sumatera Bagian Utara sejak tahun 2014 lalu, sehingga entah ada hubungannya atau tidak dengan kesibukan baru manajemen PGAS diluar usaha distribusi gas, bisa dikatakan bahwa progress pembangunan jaringan pipa barunya sangat lambat.
Kesimpulannya, meski pihak manajemen selalu mengatakan bahwa kinerja perusahaan, yang sampai sekarang belum profitable lagi seperti sebelum tahun 2014 lalu, adalah karena perlambatan ekonomi makro bla bla bla, tapi sebenarnya ada faktor lain, yakni cara kerja perusahaan yang tidak lagi efisien. Bagi anda investor berpengalaman, kita semua tahu bahwa PGAS merupakan salah satu big caps paling profitable di bursa di masa lalu, bahkan lebih profitable dibanding emiten-emiten perbankan dan sebagian emiten consumer goods, adalah karena dua hal:
PGAS membeli gas dari produsen (Conoco Phillips, Pertamina, dst) pada harga fix yang nyaris tidak berubah dalam jangka panjang, namun harga jual PGAS ke konsumen cenderung naik dari waktu ke waktu karena mengikuti inflasi dan faktor-faktor lain.
Dengan jaringan pipa gas-nya yang terbesar di Indonesia, maka PGAS nyaris me-monopoli usaha distribusi gas di tanah air, termasuk bisa menekan produsen untuk menjual gas mereka pada harga rendah (jadi balik lagi ke point 1 diatas).
However, karena PGAS terbilang lambat dalam hal menambah jaringan pipa-pipa gas-nya, sementara kompetitor juga mulai bermunculan (salah satunya Rukun Raharja/RAJA), maka PGAS tidak lagi monopoli seperti dulu, dimana pangsa pasarnya turun dari tadinya 92% se-Indonesia, menjadi hanya 81% pada akhir tahun 2014 lalu, dan kalau melihat pendapatannya yang jalan di tempat sejak tahun 2014 tersebut, maka kemungkinan pangsa pasarnya sekarang sudah turun lagi. Jika kondisi ini tidak juga berubah, maka sulit untuk membayangkan bahwa PGAS akan kembali mencetak ROE 30 – 40% seperti di masa lalu.
Sinergis PGAS – Pertamina
Diluar perkembangan kinerja fundamental perusahaan, ada satu lagi cerita menarik terkait PGAS: Dalam rangka pembentukan holding migas, maka saham Pemerintah di PGAS diambil alih oleh PT Pertamina, dimana proses pengambil alihannya akhirnya selesai pada tanggal 11 April 2018 kemarin, sehingga PGAS saat ini berstatus sebagai anak usaha dari Pertamina. Langkah selanjutnya, Pertamina akan meng-integrasi-kan anak usahanya dibidang gas, yakni PT Pertamina Gas atau Pertagas, menjadi anak usaha dari PGAS. In this way, PGAS menjadi sub-holding bagi Pertamina untuk unit-unit usaha gas-nya, dan dari sinergi yang kemudian timbul maka diharapkan akan berdampak positif bagi kinerja Pertamina, PGAS, dan Pertagas itu sendiri.
Nah, rencana pemerintah untuk menempatkan PGAS dibawah Pertamina, itu sebenarnya sudah dicanangkan sejak 2 – 3 tahun lalu, tapi lagi-lagi prosesnya sangat lambat, dimana dalam perjalanannya maka investor selalu dibuat bingung soal apakah pembentukan holding migas ini akan berdampak positif atau tidak terhadap fundamental perusahaan. Sementara untuk proses penempatan Pertagas dibawah PGAS, ini juga belum ada kepastian kapan selesainya, sehingga bisa dikatakan bahwa proses pembentukan holding migas ini baru separuh jalan. Thus, jangankan mencoba menganalisa soal bagaimana dampak integrasi Pertamina – PGAS – Pertagas ini terhadap kinerja ketiga perusahaan, untuk saat ini kita bahkan belum punya gambaran soal kapan proses integrasi tersebut selesai dilakukan. In short, saham PGAS bisa saja terbang lagi sewaktu-waktu kalau nanti muncul lagi cerita (positif) terkait akuisisi Pertagas, tapi abis itu ya turun lagi, karena kinerja PGAS sampai sekarang masih gitu-gitu saja.
PGAS: Sudah murah?
Anyway, balik lagi ke pergerakan sahamnya dalam setahun terakhir dimana PGAS ternyata tidak turun lebih rendah lagi, sementara disisi lain perusahaan masih membukukan laba, ekuitasnya masih naik, masih membayar dividen, dan tidak ada masalah tertentu, dan brand ‘PGN’ dengan slogannya ‘energy for life’ juga sekarang mulai strong seiring dengan inisiatif manajemen untuk memasang iklan (in the end, kualitas brand ini pada akhirnya akan lebih kelihatan dibanding kinerja perusahaan itu sendiri, karena semua orang bisa nonton televisi/liatin medsos, tapi tidak semua orang bisa baca laporan keuangan).
Dan fakta kuantitatifnya adalah, dengan PBV kurang dari 1.0 kali, maka PGAS bisa dinobatkan sebagai saham blue chip paling murah di jagat BEI pada saat ini. Kemudian meski prospek kinerja kedepannya masih belum terlalu cerah, tapi cerita fairytale ‘akuisisi Pertagas’ diatas akan menjaga sahamnya untuk tetap ‘hidup’, baik itu di pemberitaan media maupun dilihat dari volume transaksinya di market. Dan terakhir, pada tahun 2017, laba bersih PGAS totalnya hanya US$ 148 juta, yang itu artinya, masih ada peluang bagi PGAS untuk mencatat kenaikan laba pada tahun 2018 ini, karena perolehan labanya di Kuartal I sudah mencapai US$ 81 juta.
Nah, jadi selanjutnya kita tinggal tunggu satu hal lagi: Jika benar bahwa level 1,400 (yang dicapai Oktober 2017) dan 1,525 (yang dicapai Juli 2018) sudah merupakan bottom bagi sahamnya, atau dengan kata lain jika besok-besok PGAS turun lagi (misalnya karena IHSG turun) tapi penurunannya gak sampai tembus 1,525, maka fix, sahamnya sudah tidak akan turun lebih rendah lagi, dimana jika nanti perusahaan akhirnya merilis LK Kuartal II, dan labanya ternyata naik, maka pada saat itulah sahamnya bakal naik pelan-pelan, minimal ke 2,400 dulu. We’ll see.

Minggu depan kita akan membahas profil  dan success story dari Pak Joeliardi Sunandar, value investor senior yang sudah berinvestasi di saham sejak tahun 1990an.

Jadwal Seminar: Value Investing Pension Class: Cara Mempersiapkan Dana Pensiun Melalui Investasi Saham, menggunakan Kaidah Value Investing. Jakarta, Sabtu 1 September. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing: Mempersiapkan Dana Pensiun, Jakarta, 1 Sept

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension’. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividendserta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investoryang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.

Materi Utama:
  1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
  2. Cara memaksimalkan profit dengan cara meminimalisir risiko-risiko kerugian, sehingga investasi kita di saham menjadi sama aman-nya dengan katakanlah punya rumah kontrakan (atau bahkan lebih aman), dan pertumbuhan nilainya menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang.
  3. Cara menyusun portofolio untuk investasi jangka panjang berdasarkan dua kategori saham: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, dengan tujuan memperoleh dividend, 2. Saham-saham berfundamental amat sangat bagus yang analisanya sebatas ‘Belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dengan tujuan memperoleh capital gain, berdasarkan kaidah value investing.
  4. Ciri-ciri ‘wonderful company’, serta apa bedanya dengan saham cyclical, yakni saham yang akan di-hold paling lama 1 – 2 tahun saja (tapi jika timing-nya tepat, maka capital gain-nya justru lebih besar/bisa lebih dari 100%).
  5. Cara memanfaatkan fluktuasi pasar untuk membeli saham-saham terbaik pada harga terbaik.
  6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
  7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskanmengelola portofolio kita di saham.
Perkembangan nilai aset Buffett dari tahun ke tahun, yang sangat sulit untuk bisa disamai oleh investor manapun. Tapi, hey, kita tidak harus punya aset US$ 1 billion untuk bisa pensiun bukan?
Bonus Materi:
  1. Ciri-ciri investor berpengalaman/profesional: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
  2. Sharing pengalaman penulis ketika menemukan saham-saham untuk jangka panjang, 5 – 7 tahun lalu (dan bagaimana perkembangan perusahaannya sekarang), dan apa bedanya dengan saham-saham yang sempat populer pada masanya, namun bukan untuk jangka panjang. 
  3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, dan sudah bisa diakumulasi sejak sekarang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
Hari/Tanggal: Sabtu, 1 September 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Pembicara: Teguh Hidayat.
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,750,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif, maka jumlah kursi dibatasi hanya untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat Kamis, 30 Agustus, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,650,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,500,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis (duduk ditengah, mengenakan kemeja biru) bersama temen-temen dari salah satu kelas seminar [...]

Ebook Investment Planning

Apa pekerjaan paling penting dalam berinvestasi di saham? Yep, jawabannya adalah menyusun perencanaan alias PLANNING, yang terdiri dari 1. Daftar saham pilihan yang akan dibeli, termasuk informasi prospek perusahaannya 2. Harga beli terbaik untuk saham-saham tersebut, dan 3. Strateginya baik itu untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.
Daftar isi dari ebook edisi sebelumnya (Kuartal I 2018), lengkap beserta harga beli terbaik yang disarankan, rating/tingkat rekomendasi, strategi, dan tingkat risiko untuk tiap-tiap saham

Dan semua itu terangkum dalam Ebook Kuartalan (by Teguh Hidayat) edisi Kuartal II 2018, yang akan sudah Agustus 2018, dan anda bisa langsung memperolehnya disini.
For professional investors and fund managers, this book is a must-read! Seperti biasa, analisa dalam ebook ini dibuat berdasarkan metode yang sangat efektif dalam investasi saham, yakni value investing (Gambar adalah daftar isi dari ebook kuartalan edisi sebelumnya yakni Kuartal I [...]

Seminar Value Investing: Mempersiapkan Dana Pensiun, Jakarta, 1 Sept

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividend serta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investor yang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.

Materi Utama:
  1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
  2. Mengenal risiko-risiko dalam investasi saham, dan cara meminimalisirnya, sehingga pertumbuhan aset kita menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang (ingat tugas investor itu bukan untuk meraih profit sebesar-besarnya, melainkan untuk meraih profit se-konsisten mungkin).
  3. Cara menyusun portofolio pegangan saham berdasarkan tiga kategori: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, 2. Saham-saham berfundamental bagus yang analisanya sebatas ‘belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dan 3. Saham-saham agresif yang diharapkan profit 100% atau lebih dalam waktu setahun atau kurang.
  4. Ciri-ciri ‘wonderful company’: Apakah ada saham wonderful selain UNVR? Banyak!
  5. Lebih detail tentang strategi untuk ‘menabung saham’ pada wonderful company untuk di-hold forever untuk meraih dividend,dan juga strategi membeli saham untuk nanti dijual lagi pada harga yang lebih tinggi untuk meraih capital gain,berdasarkan kaidah value investing.
  6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
  7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskan mengelola portofolio kita di saham.
Perkembangan nilai aset Buffett dari tahun ke tahun, yang sangat sulit untuk disamai oleh investor manapun. Tapi, hey, kita tidak harus punya aset US$ 1 billion untuk bisa pensiun bukan?
Bonus Materi:
  1. Ciri-ciri investor berpengalaman: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
  2. Belajar dari Warren Buffett di tahun 1950 dan 1960-an: Apa-apa saja yang dilakukan oleh Oracle of Omaha hingga meraih US$ 1 juta pertamanya? Dan apa yang ia lakukan selanjutnya hingga aset tersebut kembali tumbuh berlipat-lipat di tahun-tahun berikutnya? Dan
  3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, baik itu dari kategori perusahaan besar/bluechip, maupun perusahaan menengah dan kecil/second liner.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 September 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Pembicara: Teguh Hidayat.

***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,750,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNIno rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,650,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,500,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email

Donasi Gempa Lombok

Dear investor, seperti yang kita ketahui, beberapa hari lalu Pulau Lombok diguncang gempa hingga 7.0 skala richter, yang disusul gempa-gempa yang lebih kecil hingga ratusan kali. Update terakhir menyebutkan bahwa korban jiwa mencapai 400 orang, sementara jumlah pengungsi juga mencapai 300 ribu orang. Mereka tentunya membutuhkan uluran tangan kita semua, baik itu kecil maupun besar.
Sumber ilustrasi: www.kitabisa.com

Karena itulah, penulis mengajak temen-temen sesama investor untuk turut membantu meringankan beban saudara-saudara kita disana, salah satunya melalui kampanye berikut: https://kitabisa.com/korbangempalombok, atau anda bisa pilih kampanye lainnya, terserah yang mana saja. Berapapun yang kita donasikan, itu sama sekali tidak penting, yang penting kita turut memberikan peran dan manfaat bagi sesama. Bagi penulis pribadi, ini juga sebagai ungkapan syukur bahwa, Alhamdulillah, saya dan anda semua masih sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun, jadi mari kita sisihkan setidaknya sebagian kecil dari apa yang kita punya bagi saudara-saudara kita di Lombok, yang memang tengah membutuhkan bantuan kita semua.
Dan semoga kondisi di Lombok segera pulih kembali seperti sediakala.. [...]

Krisis Turki, dan IHSG

Dalam sebulan terakhir, mata uang Negara Turki, Turkish Lira (TL), terjun bebas dari ?4.8 ke ?7.0 per US Dollar, atau drop lebih dari 30%, dan kejatuhan tersebut memperparah devaluasi TL yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dimana pada tahun 2014 lalu, TL masih berada di level ?2.0 per USD. Atau dengan kata lain, mata uang Negara Turki telah kehilangan lebih dari dua per tiga nilainyahanya dalam empat tahun terakhir, dan ini otomatis menimbulkan pertanyaan: Apa yang terjadi? Apakah Turki sedang krisis atau semacamnya? Dan khususnya apa yang terjadi dalam sebulan terakhir hingga TL jatuh sangat cepat? Sebagai perbandingan, meskipun Indonesian Rupiah (IDR) juga cenderung melemah terhadap US Dollar, namun pada tahun 2014 lalu IDR berada di level Rp12,700, berbanding hari ini sekitar Rp14,500 per USD, yang artinya penurunannya total hanya 12% dalam empat tahun terakhir (tapi bahkan itupun sudah bikin kita khawatir, jadi bagaimana dengan Turki ini?)

Posisi real time Turkish Lira per hari Senin, 13 Agustus 2018, pukul 12.00 WIB, dimana TL sempat drop sampai ?7.0 per USD, sebelum kemudian menguat sedikit ke ?6.7 per USD. Sumber: www.tradingeconomics.com

Pelemahan TL yang terjadi sejak 2014 sebenarnya in line dengan pelemahan hampir semua mata uang negara lainnya di seluruh dunia terhadap USD (sehingga dalam hal ini lebih tepat jika dikatakan bahwa USD-lah yang menguat, bukan Rupiah dll yang melemah), namun kejatuhannya dalam sebulan terakhir dipicu oleh dua faktor yang bisa dikatakan faktor eksternal. Pertama, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menaikkan tarif impor baja dan alumunium dari Turki sebesar masing-masing 50% dan 20%, yang tentu saja dikhawatirkan akan menurunkan nilai impor Turki ke AS. Kedua, sebelumnya pada tanggal 26 Juli 2018, Wakil Presiden AS, Michael Pence, mengirim pesan langsung kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk membebaskan Pdt. Andrew Brunson, seorang pendeta katolik asal AS di Turki, yang pada tahun 2016 lalu ditangkap dan dipenjara karena dianggap terlibat dengan upaya kudeta militer terhadap Presiden Erdogan. Dan ancamannya adalah, jika Pdt. Brunson tidak segera dibebaskan, maka Turki akan menerima sanksi serius dari AS. Thus, muncul spekulasi bahwa kenaikan tarif impor diatas adalah bentuk dari sanksi tersebut, dan akan ada sanksi berikutnya jika masalah ini kemudian berkepanjangan.
Tapi diluar kemungkinan sanksi tambahan dari AS, maka kejatuhan TL ini sudah mulai membuka problem-problem lainnya terkait ekonomi Turki. Pertama, seiring dengan pesatnya pertumbuhan GDP/ekonomi Turki dalam beberapa tahun terakhir (GDP Turki terakhir tercatat USD 851 milyar di tahun 2017, naik hampir empat kali lipat dibanding tahun 2003, yakni ketika Presiden Erdogan mulai menjabat sebagai Perdana Menteri), itu menimbulkan efek samping berupa lonjakan inflasi, yang terakhir mencapai 17.5%, jauh diatas rata-rata inflasi Turki dalam sepuluh tahun terakhir yang hanya 6 – 7% per tahun, dan tingkat inflasi ini diprediksi akan semakin besar seiring dengan kejatuhan TL. Kedua, dalam rangka menekan inflasi dan menghambat pelemahan TL, tingkat suku bunga Bank Sentral Turki juga dinaikkan dari 4.75% di tahun 2014, menjadi sekarang sudah tembus 17.75%. Dengan suku bunga setinggi ini maka tentu saja dikhawatirkan bahwa economic growth yang dialami Turki bisa berbalik setiap saat menjadi pertumbuhan ekonomi minus, alias krisis, karena tingkat suku bunga di Turki sekarang ini sudah merupakan yang tertinggi dibanding negara-negara lain sesama anggota G20, termasuk inflasinya juga sangat tinggi. Sebagai perbandingan, tingkat suku bunga di Indonesia atau BI Rate, sekarang hanya 5.25%, sementara inflasi Indonesia juga cuma 3.2% per tahun.
However, kalau kita lihat indikator-indikator makro lainnya seperti Government Debt to GDP, tingkat pengangguran, dst, maka Turki tidak bisa dikatakan sedang krisis, melainkan baru sebatas dikhawatirkan akan jatuh krisis, yakni jika kejatuhan TL yang terjadi sekarang ini berlanjut. Dengan kata lain, jika besok-besok TL naik lagi maka ya sudah, masalahnya selesai. Malah, diluar cerita kejatuhan mata uangnya, maka ekonomi Turki dalam sepuluh tahun terakhir ini justru sedang bagus-bagusnya (dan makanya Presiden Erdogan juga kemudian menjadi sangat populer).
Jadi pertanyaannya sekarang, apakah pelemahan TL akan berlanjut, ataukah posisi TL terhadap USD pada saat ini sudah cukup rendah sehingga selanjutnya dia akan rebound? Dan jika Turki kemudian beneran krisis, maka kira-kira bagaimana dampaknya terhadap Indonesia? Nah, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita coba lihat dulu ceritanya dari awal.
Fluktuasi Market Global vs IHSG
Sepanjang tahun 2018 ini, sejak awal tahun sudah muncul beberapa cerita dari luar negeri yang kemudian menyebabkan pasar saham Indonesia tertekan. Yang pertama adalah ketika Dow Jones Industrial Average (DJIA), yang sebelumnya naik terus, tiba-tiba drop 10.3% dari 26,616 ke 23,860 pada bulan Februari 2018, yang tentu saja memunculkan isu Amerika krisis bla bla bla. Tapi setelah kita bahas lagi di artikel ini, maka justru tidak ada krisis apapun disana, malah ekonomi Amerika sedang bagus-bagusnya setelah terakhir kali mereka krisis di tahun 2008, dan sekarang inipun pun DJIA sudah stabil lagi. Kemudian pada Juli 2018, Pemerintah AS menerapkan tarif 25% untuk impor barang-barang dari China senilai US$ 34 milyar, yang segera dibalas oleh Beijing dengan juga menerapkan tarif untuk beberapa impor barang dari AS. Peristiwa ini kemudian memunculkan istilah perang dagang, antara AS dan China, yang lagi-lagi dikhawatirkan akan menimbulkan krisis (karena dua negara ini notabene berstatus sebagai penguasa ekonomi dunia saat ini) dan ceritanya semakin memanas karena ditambah dengan pernyataan-pernyataan Trump di media.
But still, cerita perang dagang itu baru sebatas ‘dikhawatirkan akan menimbulkan krisis’, dan sampai saat ini belum ada indikasi krisis yang serius karena imbas dari ‘trade war’, baik itu di AS, China, ataupun negara-negara lainnya. Dan IHSG sendiri, meski kemudian turun lumayan banyak dari puncaknya di level 6,600-an, Februari 2018 lalu, tapi penyebabnya lebih karena isu-isu dalam negeri seperti pelemahan Rupiah dll, selain tentunya karena sejak awal valuasi saham-saham, terutama blue chip, sudah pada mahal.
Nah, cerita selanjutnya adalah Krisis Turki ini, dan penulis bisa katakan bahwa cerita ini lebih serius dibanding perang dagang kemarin, dan juga mengingatkan penulis dengan Krisis Yunani di tahun 2011 lalu, dimana meski GDP Yunani terbilang kecil, namun krisis disana dikhawatirkan akan merembet ke negara-negara Uni Eropa lainnya, termasuk sampai ke Indonesia. Dan meski pada akhirnya tidak terjadi krisis besar apapun (Ekonomi Yunani sampai sekarang masih belum benar-benar pulih, tapi sudah tidak ada lagi kekhawatiran bahwa kondisi ekonomi disana akan merembet ke negara lain), namun sentimen krisis Yunani ini tetap berpengaruh ke pasar saham Indonesia, dimana IHSG sepanjang tahun 2011 hanya naik 3.2%, padahal GDP growth kita ketika itu lagi bagus-bagusnya di level diatas 6% (sekarang cuma 5%).
Sementara untuk Turki ini, maka kalau dia beneran krisis maka pengaruhnya ke perekonomian dunia bakal lebih signifikan, karena ukuran ekonomi Turki sebagai negara anggota G20 terbilang cukup besar, dan statusnya sebagai emerging market menimbulkan kekhawatiran investor global bahwa negara-negara emerging market lainnya, termasuk Indonesia, juga bisa saja mengalami kondisi yang sama. Namun demikian kata kuncinya itu tadi: Kalau Turki beneran krisis.
Sementara untuk saat ini, maka diluar kejatuhan mata uangnya, Turki belum mengalami krisis apapun, masih jauh lah kalau dibandingkan dengan Yunani di tahun 2011, malah disana justru lagi booming industri pariwisata dll (coba googling, Istanbul and Cappadocia). Dan kalau kita baca lagi ceritanya diatas, maka kejatuhan TL ini sepertinya lebih disebabkan oleh faktor politik ketimbang ekonomi, yakni terkait Trump vs Erdogan. Mungkin, seiring dengan kesuksesannya membangun ekonomi Turki, popularitas Erdogan juga meningkat pesat tidak hanya di Turki tapi juga seluruh dunia, tapi disisi lain itu membuat negara-negara adidaya justru khawatir kalau kedepannya Turki ini bakal jadi ‘sulit dikendalikan’.
Jadi kecuali kedepannya nanti ada isu lainnya lagi, atau pelemahan TL terus berlanjut, maka jangankan pengaruh secara fundamental terhadap makroekonomi nasional, pengaruh cerita krisis Turki ini terhadap indeks-indeks saham di seluruh dunia, termasuk Indonesia, juga masih akan sebatas sentimen jangka pendek, yang bisa langsung dilupakan lagi dalam beberapa waktu kedepan, dan IHSG akan kembali bergerak stabil sesuai dengan perkembangan ekonomi dalam negeri. Dengan kata lain, jika nanti peristiwa penurunan Turkish Lira ini berlanjut maka artikel ini juga akan ada lanjutannya, tapi jika tidak maka yo wis, kita hanya akan membahas peristiwa penting yang lainnya lagi. So let us just sit, and wait. Actually, kalau kita lebih teliti maka sebenarnya ada isu lain yang lebih serius, yakni kejatuhan Bursa Shanghai di China, dimana SSE Composite Index sudah drop 3,558 pada Januari 2018 lalu, ke posisi 2,746 pada saat ini, dan kalau lihat chart-nya maka sepertinya penurunannya masih akan berlanjut. Tapi entah kenapa hal ini tidak begitu diperhatikan publik, dan perhatian kita malah tertuju pada Turki yang ukuran negaranya jauh lebih kecil, dan hubungan ekonominya dengan Indonesia juga tidak terlalu dekat.
Anyway, welcome to the stock market, dimana seringkali perhatian investor lebih tertuju pada apa yang sedang ramai diberitakan di media, ketimbang peristiwa atau fakta apa yang benar-benar tengah terjadi di Indonesia atau diluar sana.
Untuk minggu depan, kecuali ada isu lain yang lebih rame, kita akan analisa Perusahaan Gas Negara (PGAS).

Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Krakatau Steel

Krakatau Steel (KRAS) kembali melaporkan rugi US$ 16 juta di Kuartal II 2018, sehingga dari sini saja sahamnya sudah tidak layak invest, terutama karena dalam lima tahun terakhir, atau bahkan lebih lama lagi, KRAS selalu merugi. Hanya memang valuasi sahamnya yang sudah sangat murah, yakni PBV 0.3 kali, sementara perusahaannya sendiri punya segudang proyek pengembangan yang, kalau nanti sudah beroperasi, diperkirakan akan meningkatkan pendapatan KRAS secara signifikan, menyebabkan sahamnya mulai banyak dilirik investor. Jadi mungkin pertanyaannya sekarang simpel saja: Apakah KRAS akan menjadi The Next INDY? Atau justru malah menjadi The Next AISA?? Okay, kita langsung saja.

Sejak sahamnya listing di BEI, tahun 2011 lalu, KRAS nyaris tidak pernah menarik minat investor karena itu tadi: Perusahaannya tiap tahun rugi mulu, dan ini sebenarnya aneh mengingat KRAS sudah ekspansi membangun pabrik ini dan itu beserta infrastruktur pendukungnya bahkan sejak tahun 2010 lalu. Contohnya, seperti yang dulu kita bahas disini, pada akhir tahun 2013 lalu KRAS menyelesaikan pembangunan pabrik slab steel dan steel plate lengkap dengan fasilitas pelabuhan serta pembangkit listrik di Cilegon, Banten, dengan bekerja sama dengan Posco Steel asal Korea Selatan, dan pabrik tersebut sudah beroperasi sejak tahun 2014. Kemudian di tahun 2014 tersebut, KRAS juga tengah membangun pabrik baja blast furnace, pabrik baja hot strip, pabrik pipa baja, hingga kawasan industri, semuanya berlokasi di Cilegon. Karena sekarang sudah tahun 2018, maka secara teori seharusnya pabrik-pabrik tersebut sudah selesai dibangun dan juga sudah menghasilkan pendapatan.
Okay, lalu berapa pendapatan KRAS sekarang? US$ 854 juta di Semester I 2018, yang kalau disetahunkan menjadi US$ 1.7 milyar, dimana meski itu meningkat lumayan dibanding tahun 2015, 2016, dan 2017, tapi masih lebih kecil dibanding pendapatan KRAS di tahun 2013 yang mencapai US$ 2.1 milyar. Aneh? Yep, jelas aneh. Karena diatas sudah dikatakan bahwa pabrik baja milik Krakatau – Posco mulai beroperasi tahun 2014, yang artinya pendapatan KRAS harusnya mulai melonjak di tahun 2014 tersebut, tapi kenapa pendapatan KRAS sampai sekarang malah lebih kecil dibanding pendapatannya di tahun 2013?
Tapi apapun itu, yang jelas investor pada akhirnya hanya melihat perolehan laba bersih perusahaan (yang sayangnya selalu minus), dan alhasil saham KRAS terus turun pelan-pelan hingga menyentuh 260-an, akhir tahun 2015 lalu. Memasuki tahun 2016, KRAS dengan cepat naik hingga menyundul level 800-an, tapi penyebabnya bukan faktor fundamental, melainkan karena perusahaan menggelar right issue yang kemudian ditetapkan pada level Rp525 per saham. Ketika itupun lagi-lagi KRAS ini heboh karena dikatakan bahwa perusahaannya bakal profit besar kalau pabriknya nanti sudah jadi (karena memang dana hasil right issue-nya digunakan untuk membangun satu lagi pabrik baja hot strip, yang dijadwalkan selesai tahun 2019). However, karena pada tahun 2016 tersebut, dan berlanjut sampai hari ini, KRAS masih tetap merugi, maka jadilah sahamnya turun lagi.
Lalu untuk kedepannya bagaimana? Nah, sebelum bicara prospek, penulis sebenarnya sudah mengidentifikasikan beberapa problem menahun yang dialami KRAS (yang sampai sekarang belum ada solusinya), dan inilah yang menyebabkan perusahaan terus saja merugi. Pertama, perusahaan sejak dulu tidak efisien dalam kegiatan operasionalnya dimana ada banyak biaya-biaya yang sebenarnya bisa ditekan. Contohnya, KRAS membeli gas dari PT Pertamina sebanyak 8,942.5 MSCF (million standard cubic feet) per tahun, pada harga US$ 6.75 per MMBTU, dimana dalam perjanjiannya yang terakhir di-amandemen pada tahun 2016, KRAS diwajibkan untuk membayar penuh harga beli gas sebanyak 8,942.5 MSCF tersebut, baik itu gasnya diambil semuanya atau tidak. Dan harga beli yang US$ 6.75 itu juga lebih tinggi dari instruksi Kementerian ESDM di tahun 2017, yang menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan distributor gas, termasuk Pertamina, harus menjual gasnya maksimal pada harga US$ 6 per MMBTU kepada pelanggan industri.
Lalu kenapa kok KRAS seperti gak bisa meng-amandemen perjanjiannya dengan Pertamina agar lebih menguntungkan buat perusahaan? Well, tanya direktur utamanya!
Kemudian kedua, seperti yang disebut diatas, KRAS punya banyak planning pengembangan usaha dimana perusahaan banyak membangun pabrik baja ini itu, lengkap beserta infrastruktur pendukungnya, tapi sayangnya progress-nya tidak secepat pembangunan Simpang Susun Semanggi di Jakarta, dimana sebagian dari pabrik-pabrik itu harusnya sudah selesai beberapa waktu lalu, tapi sampai sekarang masih on progress. Contohnya kompleks pabrik baja blast furnace, yang sudah digarap sejak tahun 2011 dan dijadwalkan sudah selesai dan beroperasi pada tahun 2015, tapi sampai penghujung tahun 2017 kemarin masih belum selesai juga. Kemudian, pada bulan November 2016 lalu KRAS memperoleh dana Rp1.9 trilyun dari right issue, yang rencananya akan dipakai untuk membangun pabrik hot strip mill keduanya. Lalu bagaimana progress-nya? Well, setelah hampir lewat dua tahun, maka berdasarkan laporan penggunaan dana hasil right issue per tanggal 30 Juni 2018, ternyata sisa dana right issue tersebut masih tercatat Rp1.9 trilyun juga.. alias belum digunakan sepeser pun! (Jadi bisa dipastikan bahwa pembangunan pabrik hot strip ini gak bakal selesai sesuai jadwal, yakni 2019, melainkan bakal molor lagi).
Jadi sepertinya masalah KRAS ini sejak awal di manajemennya, yang memang tidak kompeten, dan kondisi KRAS ini mengingatkan penulis dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang dulu juga rugi melulu karena manajemennya amburadul setengah mati. Tapi setelah direktur lamanya ditendang dan digantikan Ignasius Jonan, maka barulah PT KAI sekarang menjadi perusahaan yang profesional dan menguntungkan, dan sampai sekarang penulis sendiri tetap nyaman pake kereta api meski Pak Jonan sudah resign (karena jadi Menteri). Nah, jadi kecuali nanti ada figur tertentu yang masuk menjadi direktur utama KRAS dan kemudian mentransformasi perusahaan secara besar-besaran, maka untuk saat ini penulis tidak tertarik untuk menjadi pemegang saham di KRAS. Okay, kalau denger-denger cerita bahwa pabrik blast furnace-nya sebentar lagi bakal jadi (sebentar lagi itu artinya belum jadi kan?), dermaganya sudah jadi bla bla bla, maka sekilas memang KRAS ini menarik. Tapi, hey, bukankah KRAS ini juga sudah menjanjikan prospek begini begitu sejak 2014 lalu? Tapi mana hasilnya?

Anyway, kalau nanti, entah gimana caranya, susunan direksi KRAS digantikan oleh orang-orang baru yang lebih kompeten, maka barulah KRAS ini menarik, possibly bahkan bisa dipertimbangkan untuk investasi serius untuk jangka panjang. Sebab sejatinya prospek bisnis baja di Indonesia itu sangat menarik karena tingkat konsumsi baja nasional masih sangat rendah (data dari Worldsteel.org menunjukkan bahwa konsumsi baja di negara-negara Asia termasuk Indonesia tapi diluar China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, rata-rata hanya 87.3 kilogram per kapita, atau jauh dibawah rata-rata konsumsi baja dunia yang mencapai 214.5 kg per kapita, di tahun 2017), sementara sekarang sedang dikebut pembangunan infrastruktur, dan KRAS sejak awal sudah merupakan salah satu market leader di pasar baja tanah air. Dan ingat pula bahwa pemilik perusahaan baja terbesar di dunia Arcellor Mittal, yakni Lakshmi Mittal, ia juga dulu memulai usaha pabrik bajanya di Indonesia, tepatnya di Sidoarjo! Dan menariknya Chaacha Mittal ini juga memulai pabrik bajanya di Sidoarjo pada tahun 1970, atau hanya setahun sebelum Krakatau Steel berdiri dan beroperasi pada tahun 1971.
Nah, kalau ada dua pabrik baja yang usianya kurang lebih sama, dan juga memulai usahanya di negara yang sama, tapi yang satu kemudian tumbuh menjadi perusahaan raksasa, sementara yang satunya lagi malah bikin kesel karena rugi melulu, maka dimana letak masalahnya? Sudah pasti, pada orang-orang yang bertanggung jawab atas operasional perusahaan. Actually, soal manajemen ini juga sepertinya sudah menjadi perhatian serius dari pemilik KRAS itu sendiri (baca: Pemerintah), dimana pada Maret 2017 lalu kembali dilakukan penggantian dewan direksi, setelah sebelumnya juga terjadi pergantian dewan direksi pada April 2015. However, hingga Kuartal II 2018 kemarin hasilnya belum kelihatan, jadi mari kita lihat lagi gimana perkembangannya dalam beberapa waktu kedepan.
PT Krakatau Steel, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2018: BB
Rating Saham pada 400: A
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Jadwal Value Investing Private Class, Jakarta, Minggu 12 Agustus (sisa 1 seat lagi). Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Strategi Investasi Saham u/ Dana Pensiun

Secara harfiah, yang dimaksud ‘dana pensiun’ adalah sejumlah dana yang terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pemiliknya selama sekian tahun, bahkan meski ia sudah pensiun alias tidak lagi bekerja. Di perusahaan-perusahaan besar biasanya gaji karyawan dipotong sekian persen setiap bulannya sebagai iuran pensiun, dimana dana yang terkumpul kemudian bisa disimpan sendiri oleh perusahaan, atau diserahkan untuk dikelola oleh pihak ketiga, misalnya BPJS Ketenagakerjaaan, sehingga menghasilkan keuntungan yang pada akhirnya akan dikembalikan ke si pemilik dana (karyawan) ketika nanti ia pensiun, entah itu dibayar semuanya secara sekaligus di awal, atau dibayar setiap bulan selama batas waktu tertentu, atau hingga si karyawan meninggal dunia.

However, sebanyak apapun aset atau tabungan yang dimiliki seorang pensiunan, pada akhirnya tabungan itu bisa saja habis sebelum waktunya. Karena itulah, masih ada satu lagi definisi dari dana pensiun: Itu adalah adalah sejumlah dana, tabungan, atau aset yang menghasilkan pendapatanbagi pemiliknya bahkan meski ia sudah pensiun, alias tidak lagi bekerja, dimana jumlah pendapatan tersebut terbilang cukup atau lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini yang dimaksud dana pensiun adalah lebih dari sekedar tabungan, melainkan merupakan investasi yang mampu menghasilkan passive income bagi pemiliknya.
Dan dalam kaitannya dengan investasi di saham, maka boleh baca bagian ini baik-baik (yang mau copy paste, be smart, jangan lupa menyebut nama saya sebagai penulisnya):
Jika anda bekerja dan memiliki penghasilan, maka anda bisa membuat ‘dana pensiun’ milik anda sendiri dengan cara membeli satu atau beberapa saham tertentu secara menyicil setiap bulannya (misalnya tiap kali anda gajian, maka tiap kali itu pula anda menyetor ke sekuritas untuk langsung beli lagi/tambah posisi di saham yang sama), untuk kemudian disimpan untuk jangka panjang, dimana setelah katakanlah 15 – 20 tahun, diharapkan bahwa anda akan memiliki saham tersebut dalam jumlah yang cukup besar. Hingga ketika akhirnya anda sudah tidak memiliki penghasilan lagi (karena sudah pensiun/berhenti bekerja), maka sebagian dari capital gain atau dividen yang dihasilkan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga anda bisa menariknya tanpa perlu khawatir bahwa jumlah tabungan anda di saham akan berkurang.
Kemudian mungkin ada pertanyaan, kenapa harus 15 – 20 tahun? Karena kalau kita ambil contoh peraturan dari BPJS Ketenagakerjaan, seorang pekerja hanya diperbolehkan untuk ikut program jaminan hari tua jika ia masih akan bekerja/bisa menyetor iuran bulanan hingga minimal 15 tahunkedepan. Ini artinya para fund manager profesional disitu juga sudah bisa memperkirakan bahwa kalau si pekerja menyetor iuran pensiunnya dalam jangka waktu yang kurang dari itu, katakanlah hanya selama 5 – 10 tahun, maka hasilnya tidak akan cukup besar karena, pertama, total iuran yang terkumpul masih sedikit, dan kedua, jangka waktunya tidak cukup lama dimana dana yang disetor, yang kemudian diputar di instrumen investasi seperti saham, obligasi, pasar uang dll, juga belum menghasilkan keuntungan sebesar yang diharapkan.
Sebagai ilustrasi, pada tahun 2003, saham Unilever Indonesia (UNVR) berada di level 3,350. Katakanlah anda membeli UNVR senilai Rp1 juta setiap bulannya, dan anda terus melakukan itu hingga hari ini sahamnya sudah berada di level 44,100. Sebagai catatan, antara tahun 2003 – 2008 UNVR berada di rentang 3,000 – 7,000, antara tahun 2008 – 2013 UNVR berada di rentang 7,000 – 23,000, dan antara tahun 2013 – 2018 UNVR berada di rentang 23,000 – 58,000.
Maka pada hari ini atau setelah 15 tahun, anda akan memiliki saham UNVR dengan total nilai modal Rp180 juta (Rp1 juta per bulan dikali 12, dikali 15 tahun), pada rata-rata harga beli sekitar 10,000 – 15,000 per saham. Karena UNVR itu sendiri sekarang berada di level 44,100, sementara total dividen yang dibayar UNVR antara tahun 2003 – 2017 adalah sekitar Rp7,000-an per saham (setelah pajak jadi Rp6,000-an), maka nilai investasi anda hari ini beserta capital gain serta dividennya bukan lagi 180 juta, melainkan sekitar Rp600 – 900 juta. Ini adalah dengan asumsi, pertama, nilai setoran anda gak berubah, tetap Rp1 juta per bulan sampai sekarang. Kedua, anda beli sahamnya tanpa strategi, pokoknya tiap ada duit langsung haka alias hajar kanan. Dan ketiga, anda tidak menginvestasikan kembali dividen yang diterima, melainkan tetap disimpan dalam bentuk cash.
Nah, ketika melihat asumsi pertama saja maka sudah langsung kelihatan bahwa, pada prakteknya, hasil investasi jangka panjang anda di UNVR seharusnya bakal jauh lebih besar dari sekedar Rp600 – 900 juta. Karena kalau anda di tahun 2003 sudah bisa menyisihkan Rp1 juta per bulan untuk diinvestasikan, maka dalam waktu 5, 10, hingga 15 tahun berikutnya, cicilan investasi anda seharusnya sudah jauh lebih besar dari itu, minimal sudah menembus angka belasan juta per bulannya. Sebab, just remember, pada awal dekade 2000-an, seorang PNS dengan gaji Rp1 jutaan per bulan sudah menjadi calon mantu idaman bagi setiap orang tua yang punya anak gadis. Sementara sekarang? Well, penulis punya teman yang kerja di bank dengan gaji Rp25 juta per bulannya, dan dia bilang gaji segitu masih kecil, karena cicilan rumah serta mobilnya saja sudah Rp9 jutaan.
Jadi akan lebih masuk akal kalau kita katakan bahwa, meski pada tahun 2003 setoran anda ke sekuritas cuma Rp1 juta, atau bahkan lebih kecil lagi, tapi pada hari ini nilai setoran tersebut seharusnya sudah jauh lebih besar dari itu. Thus, nilai modal anda di saham UNVR seharusnya juga jauh lebih besar dari sekedar Rp180 juta, melainkan mungkin sekitar Rp400 – 500 juta, dimana setelah ditambah capital gain serta dividen, totalnya sudah tembus sekian milyar Rupiah.
Tapi bahkan, sekali lagi, itu dengan adanya asumsi No. 2 dan 3 tadi, yakni anda investasi tanpa strategi, dan tidak menginvestasikan kembali dividen yang diperoleh! Lalu bagaimana jika kita menerapkan strategi tertentu? Maka sudah tentu, hasilnya akan lebih besar lagi! Kemudian ingat pula: Anda selama 15 tahun tersebut masih bekerja, yang artinya anda masih punya penghasilan, jadi anda belum butuh dividen tunai kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga dividen yang diterima mestinya bisa diinvestasikan kembali. Dividen tersebut baru perlu ditarik, sekali lagi, kalau nanti anda sudah pensiun.
Lalu Bagaimana Strateginya?
Berdasarkan pengalaman penulis selama ini maka terdapat tiga strategi, dimulai dari yang strategi yang mudah, sulit, dan paling sulit, tapi disisi lain nilai profit yang dihasilkan juga akan setimpal dengan tingkat kesulitan dari strategi yang anda pilih. Dan kesamaan dari ketiga strategi ini adalah, tidak hanya dana setoran bulanan, anda juga harus menggunakan/menginvestasikan kembali dividen yang anda terima untuk membeli kembali saham yang sama, dan jangan pernah berpikir untuk menarik/mencairkan sepeserpun hasil investasi anda sebelum waktunya, karena ingat sekali lagi bahwa itu adalah tabungan untuk hari tua anda nanti.
Kita mulai dari strategi yang mudah: Dengan asumsi anda mampu memilih saham yang benar-benar berfundamental bagus hingga saham tersebut bisa di-hold forever (baca lagi kriteria wonderful company disini), maka risiko terbesarnya terbatas pada fluktuasi pasar, dimana saham anda hanya akan turun kalau IHSG/pasar turun. Nah, meski kita tidak pernah bisa tahu persis kapan IHSG atau saham yang kita pegang akan naik atau turun, tapi kita tentu sudah hafal bahwa pasar akan mengalami koreksi setiap beberapa waktu sekali, atau bahkan market crash (seperti tahun 1998, atau 2008) pada jangka waktu yang lebih panjang.
Jadi, pertama, kita harus ingat bahwa dalam jangka puanjaaaanng, maka rata-rata persentase kenaikan saham yang paling bagus sekalipun sebenarnya tidak terlalu besar setiap tahunnya. Kalau kita ambil contoh UNVR, maka dari tahun 2003 sampai hari ini, jika dirata-ratakan sahamnya hanya naik sekitar 19% per tahun. Kedua, ini artinya jika saham yang anda pegang naik lebih cepat dibanding biasanya, misalnya mencapai 40 – 50% atau lebih dalam waktu satu tahun atau kurang, maka cepat atau lambat kedepannya dia akan turun, entah itu turun sendiri, atau turun karena koreksi pasar/IHSG. Nah, pada kondisi inilah, anda tetap menyetor ke sekuritas setiap bulan, tapi duitnya jangan langsung dipake beli saham, melainkan diamkan saja dulu dalam bentuk cash. Demikian pula jika anda memperoleh dividen, maka diamkan saja dulu.

Lalu kapan boleh belinya? Yakni ketika saham anda tersebut sudah turun 10 – 20% dari harga tertingginya, atau lebih rendah lagi. Seperti yang pernah kita bahas disini, IHSG bisa dikatakan berada dalam periode bearish jika sudah turun 10 – 20% dari posisi tertingginya, dan kalau IHSG-nya saja sudah turun sedalam itu maka penurunan saham-saham tertentu biasanya lebih dalam lagi. Sebagai contoh, ketika beberapa waktu lalu IHSG drop dari 6,700 sampai 5,600-an, atau turun 15%, maka saham Bank BNI (BBNI)yang notabene no problem secara fundamental, ikut turun dari 10,000 sampai sempat menyentuh 6,400, atau drop lebih dari 30%.
Kabar baiknya, anda gak perlu nongkrongin pasar untuk tahu bahwa pasar sedang terkoreksi. Sebab sudah menjadi tabiat penghuni pasar dari dulu bahwa kalau pasar lagi aman/IHSG naik terus, maka orang-orang akan diem-diem aja, tapi sekalinya IHSG drop 5% saja, maka mereka bakal langsung ribut dan panik. Yep, jadi kalau pasar sedang bearish, maka kecuali anda tinggal di goa, anda akan mengetahuinya, misalnya ketika ada yang mulai curhat di Facebook. Dan ketika itulah duit yang masih nganggur bisa mulai dibelanjakan, semakin turun sahamnya maka semakin banyak belinya, dan kalaupun pada satu titik duit cash tersebut sudah habis maka gak usah khawatir, karena anda masih menyetor tiap bulannya bukan?
Kemudian strategi kedua, yakni strategi sulit, yang sebenarnya masih sama dengan strategi mudah diatas, namun ditambah dengan menyiapkan payung (payung apaan? Coba baca dulu link-nya). Intinya, ketika saham anda naik lebih cepat dari biasanya (bagi saham blue chips, kenaikan 50% dalam setahun sudah bisa dikatakan ‘lebih cepat dari biasanya’), maka ketika itulah anda bisa jual dulu,  untuk nanti duitnya dipake untuk nyicil beli lagi saham yang sama ketika harganya turun, tambah dalem turunnya maka tambah banyak pula belinya. Dengan cara ini maka anda akan punya lebih banyak amunisi untuk membeli lagi saham anda pada harga terbaik.
However, cara ini sulit dilakukan karena, pertama, sering juga terjadi kasus dimana kita jual saham tertentu karena menganggap naiknya sudah tinggi, tapi ternyata dia masih lanjut naik lagi, dan secara psikologis itu akan sangat mengganggu, karena kita akan jadi berpikir bahwa kita baru saja kehilangan investasi berharga yang seharusnya bisa menjadi pegangan jangka panjang. Dan pada kasus terburuk, anda bisa saja, karena takut ketinggalan kereta, kemudian beli lagi saham tersebut pada harga yang lebih tinggi dari harga ketika kemarin anda menjualnya, tapi justru tak lama kemudian saham itu turun! Nah, dalam hal ini strategi yang tadinya bertujuan untuk ‘memaksimalkan profit’, hasilnya justru malah rugi.
Nevertheless, risiko terjadinya ‘strategi yang tidak berjalan sesuai rencana’ diatas bisa diminimalisir dengan cara anda tidak menjual seluruh saham yang anda pegang, melainkan sebagian saja, entah itu seperlima, sepertiga, atau separuh. Dengan cara ini maka, kalau saham itu ternyata masih naik lagi, maka yo wes biarken saja, toh kita masih pegang barangnya bukan? Dan karena kita tahu bahwa setinggi apapun kenaikan suatu saham namun pada akhirnya dia akan turun lagi, maka uang cash yang anda pegang tetap bisa dipakai untuk beli lagi saham tersebut, sekali lagi, ketika harganya sudah turun 10 – 20% atau lebih dari posisi tertingginya.
Ketiga, strategi yang paling sulit, yakni dengan menerapkanvalue investing, dimana rule-nya sederhana: Ketika saham anda naik banyak hingga valuasinya menjadi overvalue, maka ketika itulah kita mulai jualan entah itu sedikit-sedikit atau sekaligus, lalu tunggu. Ketika pasar kemudian terkoreksi, dan saham yang anda jual sebelumnya mulai turun, maka anda boleh membelinya bukan ketika saham tersebut sudah turun 10 – 20% dari posisi puncaknya, melainkan ketika valuasinya sudah murah kembali. Dan seperti contoh BBNI diatas, sebuah saham bisa turun sampai 30% atau bahkan lebih, dan barulah valuasinya akan berubah dari tadinya mahal menjadi murah.

Nah, jika anda bisa secara akurat menghitung valuasi saham yang anda incar, maka disinilah anda berpeluang untuk memperoleh profit maksimal, dimana hasil investasi anda setelah 15 tahun bukan lagi sekian milyar Rupiah, melainkan jauh lebih besar lagi. Dan karena nilai portofolio anda lebih besar, maka otomatis nilai dividennya juga lebih besar lagi, hingga nilai dividen ini pada satu waktu bisa saja mengimbangi atau bahkan sudah lebih besar dibanding nilai dana yang anda setor tiap bulannya!
Lalu dimana letak sulitnya? Ya tentunya anda harus bisa menghitung apakah valuasi sebuah saham terbilang murah, wajar, atau mahal, dimana meski secara teori sebenarnya itu mudah saja (baca saja buku penulis, atau dengarkan rekaman seminar, anda akan langsung ngerti caranya), tapi tetap saja untuk penerapannya butuh pengalaman. Sebab, pertama, adalah tidak mungkin bagi siapapun, termasuk value investor yang paling berpengalaman sekalipun, untuk menentukan secara persis bahwa sebuah saham maksimalnya akan naik/turun sampai level berapa. Dengan kata lain, bisa saja anda bilang bahwa saham A di harga 500 sudah murah, tapi nyatanya saham itu kemudian turun ke 450, 400, atau lebih rendah lagi. Dan meski saham tersebut, selama tidak terjadi perubahan fundamental, pada akhirnya akan naik lagi, tapi dalam jangka pendek ini akan menjadi ujian bagi si investor itu sendiri, apakah ia akan tetap yakin dengan perhitungannya, atau mulai ragu sendiri. Kemudian kedua, secara psikologis, kebanyakan investor/trader saham itu berperilaku kebalikan dengan yang dilakukan value investor, yakni mereka membeli saham yang lagi naik, bukan saham yang lagi turun! In fact, ketika selama beberapa bulan terakhir ini IHSG terkoreksi, dan ada banyak saham yang valuasinya kemudian menjadi murah, tapi tetap saja orang-orang, bahkan termasuk penulis sendiri, seringkali ragu-ragu untuk masuk, karena sudah sejak jaman baheula, setiap koreksi pasar selalu diiringi dengan berita-berita negatif, yang kemudian bikin kita bukannya antusias karena banyak kesempatan buy, melainkan ikutan panik. Demikian pula ketika saham tertentu sudah naik tinggi, bukannya menghindar kita malah membelinya karena penasaran, termasuk karena takut ketinggalan kereta. Fenomena ini, sekali lagi, sudah terjadi sajak dulu, dan akan terus terjadi sampai kapanpun.

Tantangan Tersulit
Anyway, jika anda mampu mengatasi problem-problem psikologis diatas, sehingga alhasil anda bisa menerapkan value investing secara efektif, then there you go: Profit yang anda peroleh akan maksimal namun disisi lain risikonya tetap terbatas, karena saham yang anda pilih sejak awal merupakan saham terbaik. Tapi jika anda memilih strategi yang paling mudah pun (yang gak pake analisis apapun, pokoknya kalau sahamnya turun 10 – 20% dari posisi tertingginya maka hajar!), maka tetap saja profitnya akan lebih besar dibanding jika anda langsung haka tiap kali anda nyetor ke sekuritas. Cuma balik lagi: Strategi manapun yang anda pilih, ada dua kesulitan yang mau tidak mau akan anda hadapi. Pertama, anda harus memilih saham yang benar-benar bagus, yang anda cukup yakin untuk ‘tetap bersamanya sehidup semati’, dan masalahnya dari sekian banyak saham di BEI, cuma ada sedikit saham yang masuk kriteria wonderful company seperti itu. Sementara sebagian besar saham lainnya, tak peduli selama apapun anda meng-hold-nya, biasanya nanti akan ada saja waktu-waktu dimana anda harus menjualnya, untuk kemudian pindah ke saham lain.
Dan kedua, inilah tantangan tersulitnya: Anda harus berinvestasi minimal selama 15 tahun, sebelum barulah kemudian nilai portofolio yang anda pegang menjadi cukup besar, dan profit yang anda peroleh per tahunnya jadi ‘lebih terasa’. Yep, ini pula sebabnya penulis di buku ‘Value Investing: Beat the Market In Five Minutes!’ dan juga seminar mengatakan bahwa, jangankan dalam waktu beberapa bulan hingga 1 – 2 tahun, anda bahkan tidak akan menghasilkan keuntungan yang signifikan dari investasi anda di saham dalam waktu 10 tahun!
(Dan masalahnya adalah, sejauh yang bisa penulis amati, hanya sedikit sekali investor profesional yang ngomongnya seperti diatas. Kebanyakan ‘investor sukses’ lainnya mengklaim bahwa mereka bisa ‘cepat kaya dari saham’, ‘menjadi milyader di usia muda’, ‘profit 700% dalam setahun’, dst. Intinya, menjadi kaya dalam 15 – 20 tahun dari saham bukanlah ide yang menarik bagi calon investor manapun, dimana mereka maunya ya begitu beli saham langsung cuan besoknya, kalo bisa AR kanan!)
Tapi balik lagi, jika anda mampu melewati 10 tahun pertama dengan baik, maka 10 tahun berikutnya akan jauh lebih mudah. Kemudian ingat pula, ini kan tujuannya untuk persiapan nanti kalau anda pensiun, jadi ngapain buru-buru?? Yep, jadi ketimbang ikut program dana pensiun maka anda bisa membuat dana pensiun milik anda sendiri, anda bisa pilih strateginya sendiri, dan anda bisa tentukan sendiri berapa ‘iuran’ alias setoran perbulannya. Kabar baiknya, anda gak perlu nyetor terlalu besar, karena bahkan hanya Rp1 – 2 juta per bulan sudah cukup, dan anda bisa pilih strategi yang paling aman jika memang tidak mau ambil risiko. Dan kalau anda kemudian bisa melewati bagian tersulitnya, yakni menunggu selama 15 – 20 tahun dimana anda selama itu mampu berinvestasi secara konsisten (itu juga akan sangat menantang, karena dalam perjalanannya anda akan dihantam koreksi pasar, dikerjai bandar dll), maka baru setelah itulah anda akan memperoleh hadiah terbesarnya: Sejumlah aset dalam bentuk saham yang nilainya cukup besar, atau bahkan sangat besar, sehingga capital gain dan dividend yang dihasilkan juga besar, dimana anda hanya perlu menarik sebagian diantaranya untuk kebutuhan sehari-hari, atau bahkan keliling dunia jika anda mau, sementara selebihnya bisa diinvestasikan kembali. Dan sudah tentu, anda tidak perlu bekerja lagi, melainkan boleh pergi memancing seharian, atau melakukan hobi apapun yang anda sukai.
Anda mau belajar sabar? Cobalah memancing
Well, sounds good eh? Nah, mumpung kondisi pasar sekarang ini masih jauh dari kata bullish, lalu apa lagi yang anda tunggu??
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, Minggu 12 Agustus. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal II 2018 – Sudah Terbit!

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Dan ebooknya sudah terbit pada bulan Agustus kemarin, anda bisa memesannya disini.
Berikut daftar 30 saham yang masuk pembahasan edisi kali ini:
ASII WSBP BTON
BBRI WEGE ADMF
BBNI ADHI WOMF
BJTM ASRI ASSA
BNGA LPCK MPMX
BBKP BKSL EKAD
UNVR MBAP RDTX
KLBF MTDL ADMG
JSMR MAIN DYAN
WSKT PBID INDR
Pekerjaan rutin investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental . Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata  hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 

Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

-Renaldi Lestianto-

Tiga Pilar Sejahtera Food: Default?

Kalau anda baca lagi pembahasan Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) bulan Desember 2017 lalu, yakni ketika sahamnya masih berada di level 450 – 500, maka di bagian artikel penulis menyebut tiga skenario untuk AISA ini. Pertama, manajemen AISA sukses mendivestasi usaha berasnya, kasus hukumnya (terkait anak usahanya, PT Indo Beras Unggul) selesai dengan baik, dan laba perusahaan kembali naik di tahun 2018. Dan jika ini yang terjadi, maka AISA berpeluang untuk naik dengan cepat, karena valuasinya sejak awal sudah sangat terdiskon. Kedua, masih mirip dengan skenario pertama, namun bedanya kinerja perusahaan di tahun 2018 masih biasa saja/belum kembali pulih, tapi semua berita simpang siur terkait kelangsungan usaha perusahaan tetap mereda/dilupakan orang seiring dengan berjalannya waktu. Jika skenario kedua inilah yang terjadi, maka saham AISA tetap berpeluang untuk rebound, meskipun naiknya mungkin gak akan banyak.

Dan actually, hingga sekitar bulan Februari – Maret 2018, maka skenario kedua diatas-lah yang terjadi, dimana berita simpang siur terkait AISA perlahan-lahan dilupakan orang, dan sahamnya juga beneran rebound dari 378 di bulan Desember 2017, hingga sempat tembus 700 pada akhir Februari.
However, masih ada skenario ketiga: Rencana perusahaan untuk mendivestasi usaha berasnya ternyata terhambat, atau malah muncul lagi problem baru. Dan sayangnya setelah lewat Februari – Maret 2018, justru skenario ketiga inilah yang terjadi, dimana kronologisnya sebagai berikut: Pada bulan Mei, Pefindo kembali menurunkan rating obligasi AISA, dan investor mulai was-was terutama karena AISA ketika itu bahkan masih belum merilis laporan keuangan untuk tahun penuh 2017. Ketika itu AISA masih di 480-an, turun dari 600an di bulan April, tapi turunnya lebih karena koreksi pasar. Pada 11 Juni, AISA akhirnya merilis laporan keuangan untuk tahun penuh 2017, dimana perusahaan secara mengejutkan membukukan rugi Rp552 milyar (mengejutkan, karena di Kuartal III-nya, AISA masih mencatat laba bersih Rp173 milyar). Disinilah saham AISA mulai terjun bebas ke level 200-an. Lanjut pada tanggal 26 Juni, manajemen AISA menyatakan bahwa mereka belum berhasil menjual unit usaha berasnya, tanpa menyebut secara spesifik dimana letak masalahnya (tapi kemungkinan karena pihak pembeli, yakni PT JOM Prawarsa yang masih merupakan pihak berelasi, belum punya cukup uang untuk membayar harga beli unit usaha beras tersebut, karena disisi lain PT JOM ini juga masih belum membayar harga beli PT Golden Plantation yang didivestasi AISA, dua tahun sebelumnya).
Daaan puncaknya adalah ketika pada tanggal 5 Juli, AISA kembali merilis pengumuman bahwa manajemen tidak memiliki uang kas yang cukup untuk membayar bunga salah satu utang obligasinya, yang jatuh tempo pada tanggal tersebut. Ketika itu AISA sudah terkapar di 168, dan pihak BEI segera men-suspen sahamnya. Sebab jika perdagangan AISA tetap dibuka, maka hampir bisa dipastikan bahwa sahamnya bakal jeblok lebih dalam lagi, karena kali ini masalahnya beneran serius, yakni AISA mengalami default/gagal bayar utang, yang bisa berujung pailit. Pada titik ini soal saham AISA sudah murah bla bla bla tidak lagi penting, karena perhatian semua orang tertuju hanya pada satu hal: AISA bakal bangkrut! Karena di waktu yang nyaris bersamaan, beredar pula kabar bahwa AISA digugat pailit(sebenarnya bukan digugat pailit, tapi digugat PKPU) oleh dua pemegang obligasinya yakni Sinarmas Asset Manajemen, dan Asuransi Jiwa Sinarmas, yang dikemudian hari dikonfirmasi oleh manajemen AISA, bahwa benar mereka digugat PKPU.


Konfirmasi dari manajemen AISA terkait gugatan Sinarmas, klik gambar untuk memperbesar

Kapan Suspensi AISA Dicabut?
Sebelum membahas soal ‘nasib’ AISA itu sendiri, pertama-tama kita coba runut dulu, apa yang akan terjadi ketika sebuah perusahaan gagal membayar utangnya, dalam hal ini utang obligasi. Pertama, pihak perusahaan akan mengupayakan restrukturisasi, atau refinancing, atau apapun itu istilahnya, dimana waktu jatuh tempo obligasi tersebut bisa diperpanjang, ditukar dengan obligasi baru dengan bunga yang lebih tinggi, hingga dikonversi menjadi saham, tergantung kesepakatan antara perusahaan dengan pemegang obligasi. Grup Bakrie bisa dinobatkan sebagai grup usaha yang paling jago untuk urusan beginian, dimana pada tahun 2015 – 2017 lalu, mereka sukses merestrukturisasi utang-utang dari salah satu anak usahanya, Bumi Resources (BUMI), meskipun memang prosesnya butuh waktu sampai beberapa tahun. Anda bisa baca lagi mekanisme restrukturisasinya disini.
Nah, jadi ketika pada tanggal 5 Juli kemarin manajemen AISA tidak bisa membayar utangnya yang jatuh tempo, maka yang akan dilakukan kemudian adalah proses restrukturisasi, dan memang sudah ada jadwal RUPO (rapat umum pemegang obligasi) dan RUPSI (rapat umum pemegang sukuk ijarah) pada tanggal 10 Agustus 2018, dimana dari rapat tersebut akan disepakati solusi yang (diharapkan) akan menguntungkan semua pihak (RUPO dan RUPSI sebelumnya hanya membahas soal penggantian collateral, karena AISA berencana melepas aset usaha berasnya, sementara ada sebagian dari usaha beras itu yang menjadi jaminan obligasinya). Cuma, inilah bedanya Grup Tiga Pilar dengan Grup Bakrie: Sekitar dua atau tiga tahun lalu, manajemen Bakrieland Development (ELTY), yang mungkin karena menyadari bahwa mereka gak punya duit buat bayar salah satu utang obligasinya yang diterbitkan di Singapura, sudah mengajukan permohonan perlindungan atas gugatan kepailitan kepada Pengadilan Singapura, sekitar dua atau tiga bulan sebelum obligasi tersebut jatuh tempo! Alhasil ketika pihak pemegang obligasi mencoba menggugat PKPU setelah utangnya jatuh tempo, maka belum apa-apa gugatan itu langsung ditolak, dan alhasil sampai sekarang tidak pernah timbul rumor bahwa ELTY bakal bangkrut.
Jadi kesalahan manajemen AISA disini adalah, entah karena mereka masih sibuk soal urusan divestasi usaha berasnya atau apa, tapi mereka diam saja ketika salah satu obligasinya akan jatuh tempo, padahal mereka tahu persis bahwa mereka tidak punya cukup uang untuk membayar obligasi tersebut. Jika saja mereka sudah mengupayakan proses restrukturisasi jauh sebelum obligasinya benar-benar jatuh tempo, termasuk mengajukan sendiri permohonan PKPU ke pengadilan, maka Sinarmas juga tidak akan mengajukan gugatan PKPU, dan tidak akan timbul cerita bahwa AISA bakal bangkrut.
Catatan: PKPU, atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, adalah suatu jangka waktu tertentu yang diberikan oleh Pengadilan Niaga, dimana selama jangka waktu tersebut pihak kreditur dan debitur akan bermusyawarah tentang cara-cara pembayaran sebagian atau seluruh utangnya. PKPU ini normalnya diajukan (ke pengadilan) oleh pihak yang berhutang, tapi pada kasus AISA, justru pihak pemegang obligasi-lah yang mengajukannya, sehingga istilah yang timbul adalah ‘gugatan’, dan bukannya ‘permohonan’, dan inilah yang menyebabkan munculnya sentimen negatif bahwa AISA sedang dalam masalah serius, dan bisa saja bangkrut.
Kedua, meski terkesan terlambat (termasuk AISA kembali mengumumkan bahwa mereka gak bisa membayar bunga obligasi yang jatuh tempo tanggal 19 Juli kemarin), tapi akhirnya proses restrukturisasi itu tetap dilakukan, dimulai dengan RUPO dan RUPSI pada tanggal 10 Agustus nanti. Yep, jadi dalam hal ini, AISA sudah memasuki periode waktu PKPU, dimana skenario selanjutnya ada dua: 1. AISA dan para pemegang obligasinya sepakat restrukturisasi alias happy ending, dan suspensi saham AISA akan segera dicabut (dan sahamnya akan naik), atau 2. Tidak terjadi kesepakatan apapun, dan saham AISA tetap di-suspen.
Jika skenario No.2 yang terjadi, maka lanjut ke proses berikutnya, yakni gugatan pailit. Nah, pada titik inilah proses hukumnya akan mulai ribet, karena bahkan kalaupun pengadilan akhirnya memutuskan bahwa AISA bangkrut (dan aset-aset AISA kemudian dialihkan ke krediturnya), maka pemilik lama AISA bisa mengajukan kasasi hingga peninjauan kembali (PK). Selain itu, berbeda dengan PKPU dimana jangka waktunya tidak boleh lebih lama dari 270 hari sejak putusan PKPU dibacakan hakim, maka proses kepailitan ini tidak ada batas waktu (sumber: www.hukumonline.com). Atau dengan kata lain, selama owner AISA masih bisa melawan dengan mengajukan kasasi dan PK, maka selama itu pula Sinarmas dan pemegang obligasi lainnya tidak bisa menyita aset-aset AISA. Dan kalaupun AISA akhirnya berpindah tangan ke pemilik baru, maka tetap saja sahamnya bakal di-suspen, sama seperti saham Berau Coal Energy (BRAU) yang sampai sekarang masih di-suspen, padahal urusan pailit-nya sudah beres/perusahaannya sudah diambil alih oleh Grup Sinarmas.
Anyway, untuk sekarang kita belum bisa menganalisa apapun terkait outlook AISA kedepannya, karena masih harus menunggu hasil RUPO dan RUPSI-nya, tanggal 10 Agustus nanti (jadi artikel ini nanti akan di-update lagi secara khusus). Harapan penulis tentu saja, hasil rapatnya adalah terjadi kesepakatan restrukturisasi, misalnya jatuh tempo obligasinya diperpanjang, dan AISA bisa kembali fokus ke upaya menjual unit usaha berasnya. Dan sudah tentu, suspensi AISA akan dicabut, dimana meski sahamnya mungkin gak akan naik banyak (karena sampai sekarang AISA belum merilis LK Kuartal I 2018, sehingga praktis investor jadi ragu: Bagaimana kalau perusahaan masih membukukan rugi?), tapi minimal dia tidak akan drop lebih lanjut karena.. PBV-nya sekarang tinggal 0.16 kali. Sebagai perbandingan, ketika saham Indika Energy (INDY) turun terus dari 5,200 hingga mentok di 150-an, tahun 2015 lalu, ketika itu karena perusahaan membukukan rugi selama empat tahun berturut-turut, maka PBV-nya ketika itu juga tinggal 0.1 – 0.2 kali. Tapi setelah harga batubara pulih, dan INDY juga sukses membukukan laba, maka anda bisa lihat sendiri kan, berapa harga sahamnya sekarang?
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau nanti hasil RUPO dan RUPSI-nya adalah bahwa tidak ada restrukturisasi, dan AISA kemudian benar-benar digugat pailit? Well, kalau kita terlalu khawatir maka itu juga percuma saja, karena untuk saat ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali tunggu sampai tanggal 10 Agustus. Sebenarnya ada satu lagi skenario yang mungkin terjadi: AISA mendapatkan suntikan modal, entah itu dalam bentuk private placement atau lainnya, dari Fidelity atau investor strategis lain yang sejak awal sudah mulai menyicil membeli saham AISA waktu sahamnya drop ke 500-an, enam bulan lalu. Dari suntikan modal itulah AISA akan bisa melunasi utang-utangnya, dan sebagai imbalannya investor strategis ini kemudian menjadi salah satu pemegang saham pengendali di AISA, termasuk membantu manajemen menjual usaha berasnya.
Dan penulis menganggap bahwa kemungkinan masuknya investor baru itu cukup terbuka, karena meski secara manajemen AISA ini nggak bagus, tapi mereka punya banyak aset bagus termasuk intangiable asset berupa merk snack ‘Taro’ yang terkenal, dan Warren Buffett sendiri paling suka aset seperti ini. Thus, all AISA need is a second hand to help, tinggal pertanyaannya, bersediakah Mr. Joko Mogoginta berbagi perusahaan yang sudah susah payah ia besarkan sejak tahun 2007 lalu?
Untuk minggu depan, sambil tunggu tanggal 10 Agustus, kita akan bahas: 1. Krakatau Steel (KRAS), 2. Update sektor konstruksi, 3. Strategi investasi jangka panjang untuk dana pensiun, mumpung saham-saham lagi murah, atau 4. Outlook jangka panjang IHSG menjelang Pemilu 2019.
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick Saham bulanan edisi Agustus 2018 akan terbit hari Rabu, 1 Agustus. Info selengkapnya baca disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ristia Bintang Mahkotasejati

Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS) adalah satu dari sekian banyak developer properti spesialis perumahan yang listing di BEI, yang sahamnya dalam beberapa tahun terakhir terbilang mati suri setelah perusahaan membukukan kinerja yang mengecewakan, seiring dengan lesunya industri properti itu sendiri. Namun pada tahun 2017 kemarin RBMS mengakuisisi dua anak usaha yang masing-masing bergerak di industri perhotelan dan pembangunan perumahan sederhana, dan pada tahun 2018 ini hasilnya mulai kelihatan dimana RBMS per Kuartal I membukukan pendapatan Rp24.5 milyar, melonjak dibanding periode yang sama tahun 2017 yang hanya Rp551 juta, dan demikian pula sahamnya pun mulai bergerak naik, tapi disisi lain valuasinya sekilas masih sangat murah dengan PBV hanya 0.3 kali. Prospek kedepan?

Sejarah RBMS dimulai pada tahun 1994 dengan membangun Perumahan Bintang Metropole di Bekasi, Jawa Barat, seluas 20 hektar. Perumahan tersebut sukses besar, hingga di tahun berikutnya yakni 1995, perusahaan mengerjakan proyek keduanya yakni Perumahan Mahkota Simprug di Ciledug, Tangerang Banten, seluas 45 hektar. Namun entah karena peristiwa krisis moneter di tahun 1998 atau lainnya, setelah proyek keduanya tersebut, RBMS kemudian nyaris berhenti beroperasi (atau tetap beroperasi dengan membangun dan menjual unit-unit rumah baru di komplek perumahan yang sudah ada, namun tidak ada lagi ekspansi membangun perumahan baru). Barulah di tahun 2013, RBMS mencoba bangkit dengan membangun Perumahan Saung Riung di Karawang, Jawa Barat, tapi lagi-lagi timing-nya tidak tepat dimana ketika itu booming properti yang sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya justru mulai mereda.
Waktu berlalu, hingga pada tahun 2017, RBMS sekali lagi bergerak maju dengan mengakuisisi developer properti bernama PT Alam Indah Selaras (AIS), yang memegang proyek perumahan untuk kelas menengah kebawah. Jadi sebelumnya, sejak tahun 2015 sampai sekarang, Pemerintah RI meluncurkan program pembangunan 1 juta rumah per tahun untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dengan harga jual Rp250 – 300 jutaan saja per unitnya, yang didukung dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), dan AIS adalah salah satu developer yang menerima pekerjaan pembangunan tersebut. Selain AIS, RBMS juga mengakuisisi PT Tiara Raya Bali International (TRBI), yang merupakan pemilik dan operator Hotel Le Meridien Jimbaran, Bali. Dengan demikian RBMS melakukan diversifikasi, dari tadinya hanya membangun perumahan untuk konsumen menengah, menjadi membangun perumahan untuk konsumen menengah kebawah, dan juga punya usaha hotel.
Tapi yang paling menarik adalah akuisisi RBMS terhadap AIS. In fact, dari pendapatan Rp24.5 milyar RBMS di Kuartal I 2018, itu nyaris seluruhnya berasal dari penjualan unit-unit rumah di kompleks Alam Indah Selaras di Karawang, Jawa Barat. Sepanjang tahun 2017, AIS sukses menjual 596 unit rumah sederhana, dan pada tahun 2018 hingga bulan April sudah terjual 199 unit rumah lagi, dimana pembelinya rata-rata adalah karyawan pabrik di banyak lokasi Kawasan Industri di Karawang. Untuk kedepannya AIS masih memegang izin lokasi seluas total 30 hektar, dimana di atas lahan tersebut bisa dibangun rumah type 60 sebanyak kurang lebih 2,500 unit. Dan dengan asumsi perusahaan mampu menjual 600 – 700 unit rumah per tahun, dimana ini merupakan asumsi yang realistis mengingat program rumah murah ini didukung penuh oleh Pemerintah (jadi mau suku bunga KPR naik atau turun, itu gak akan ngaruh karena rumahnya disubsidi), maka kalaupun kedepannya AIS tidak kembali memperoleh izin untuk lahan baru, masih tersedia cukup lahan untuk dikembangkan hingga tahun 2022 nanti.

Progress pembangunan rumah murah di Komplek Alam Indah Selaras, Karawang. Berbeda dengan developer
Tbk lainnya yang rata-rata jualan properti untuk kelas menengah keatas, RBMS mampu menangkap peluang dari pasar rumah murah untuk kelas menengah kebawah.


Diluar proyek rumah murahnya melalui AIS, pada tahun 2018 ini RBMS juga kembali ‘menghidupkan’ proyek Perumahan Saung Riung, yang sebelumnya pembangunannya berhenti di 212 unit rumah (dari rencana pembangunan sebanyak total 616 unit diatas lahan seluas 7.4 hektar), dimana jika semuanya berjalan lancar, RBMS akan menjual dan membangun total 180 unit rumah baru pada akhir tahun 2018 ini. Kemudian, untuk recurring income alias pendapatan berulang, maka mulai Kuartal II 2018 nanti, RBMS akan mulai mengkonsolidasikan pendapatan dari unit usaha hotelnya. Tidak ada informasi spesifik soal berapa kira-kira pendapatan RBMS dari Le Meridien Jimbaran, tapi penulis perkirakan tidak akan terlalu signifikan dibandingkan pendapatan RBMS dari penjualan unit-unit rumahnya.

Hitung-hitungan Pendapatan serta Laba RBMS
Diatas sudah disebutkan bahwa RBMS membukukan pendapatan Rp24.5 milyar pada Kuartal I 2018, dan dengan laba bersih Rp4.4 milyar, which is not a big figure. Tapi jika kita lihat laporan cashflow-nya, maka RBMS membukukan penerimaan kas sebesar Rp42 milyar, dimana setelah dikurangi biaya pemasok dll, diperoleh kas bersih sebesar Rp21.6 milyar (sehingga margin laba operasinya mencapai 50% dari pendapatan). Mengingat diatas juga disebutkan bahwa RBMS melalui AIS menjual 199 unit rumah hingga April 2018, atau kurang lebih 150 unit rumah hingga Kuartal I (Maret 2018), sementara harga jual rumahnya sendiri adalah Rp250 – 300 juta per unit, maka penerimaan kas yang Rp42 milyar tadi menjadi masuk akal. Jika RBMS melalui AIS bisa menjual dan menyelesaikan pembangunan total 600 unit rumah saja sepanjang tahun 2018 ini, dimana itu sekali lagi merupakan proyeksi yang realistis, maka total pendapatannya adalah kurang lebih Rp170 milyar, dimana jika margin laba bersihnya adalah 20 – 30% (yang 50% tadi margin laba operasional), maka labanya mencapai Rp34 – 50 milyar. Nah! Angkanya mulai kelihatan menarik bukan? Mengingat ekuitas RBMS per Kuartal I 2018 hanya Rp170 milyar, maka ROE RBMS akan mencapai 20 – 30%.
Dan itu baru proyeksi pendapatan dari perumahan milik AIS! Jadi belum menghitung potensi pendapatan dari Perum Saung Riung, dan Hotel Le Meridien. Sekarang kita coba konservatif saja: RBMS sukses menjual 100 unit rumah di Saung Riung (separuh dari targetnya yakni 180 unit rumah), sementara pendapatan dari hotelnya adalah nol. Maka, dengan asumsi harga rumah di Saung Riung adalah juga Rp300 jutaan per unit (seharusnya bisa lebih mahal, karena type rumah yang dijual bukan rumah sederhana banget seperti yang dijual melalui AIS, tapi kita pake angka Rp300 juta ini saja), RBMS akan memperoleh tambahan pendapatan Rp30 milyar, sehingga totalnya dengan pendapatan dari AIS tadi mencapai Rp200 milyar, dan praktis labanya juga bisa lebih besar dari Rp34 – 50 milyar tadi. Thus, jika anda mencari saham properti yang menawarkan prospek menarik untuk jangka menengah, atau setidaknya hingga akhir tahun 2018 ini, maka RBMS sangat layak dipertimbangkan. Karena, tidak hanya prospek tersebut didukung oleh program Pemerintah, harganya unit propertinya juga sangat murah sehingga pangsa pasarnya sangat luas (dan memang target konsumennya sudah sangat jelas, yakni karyawan pabrik di Kawasan Industri di Karawang), dan jenis propertinya juga gampang banget bikinnya yakni rumah sederhana, bukan perumahan township atau kondominium mewah yang bisa butuh waktu bertahun-tahun untuk dikerjakan. Selain itu manajemen RBMS juga tipe tradisional yang cuma bikin rumah lalu jual, gak punya banyak utang, dan ownernya masih menempati posisi dirut serta merupakan pemegang saham langsung perusahaan. Kalau ada yang mengganjal adalah keputusan perusahaan untuk mengakuisisi Hotel Le Meridien, dimana jika mereka tidak bisa mengelolanya (karena memang belum berpengalaman) maka bisa saja hotel itu malah bikin tekor perusahaan. Tapi dengan fakta bahwa sepanjang tahun 2017 lalu tingkat okupansi hotel tersebut mencapai 70%, alias cukup baik, dan perusahaan bekerja sama dengan JW Marriott untuk mengelolanya, maka mari kita lihat saja dulu bagaimana hasilnya hingga akhir tahun 2018 nanti.
Valuasi Saham RBMS
Berdasarkan jumlah saham, nilai ekuitas, serta nilai laba bersih RBMS di Kuartal I 2018, maka pada harga Rp149 per saham, PBV RBMS tercatat 0.3 kali alias unbelievably undervalue, sementara annualized PER-nya juga hanya 2.8 kali. However, pada April 2018, RBMS menggelar right issue dengan menerbitkan 1.18 milyar lembar saham baru pada harga Rp216 per saham, sehingga perusahaan menerima tambahan ekuitas sebesar Rp256 milyar. Dengan demikian jumlah saham RBMS pasca right issue adalah 1.51 milyar lembar, sementara ekuitasnya naik menjadi Rp426 milyar. Menggunakan data tersebut, maka PBV RBMS menjadi 0.5 kali. Sementara angka ROE-nya juga akan turun, dimana jika benar bahwa RBMS akan membukukan laba bersih Rp34 – 50 milyar pada akhir tahun 2018, maka ROE-nya menjadi hanya 9 – 11%.
Namun balik lagi, semua hitung-hitungan diatas menggunakan asumsi yang serba konservatif, dimana kalau kita berpatokan pada target yang ditetapkan oleh manajemen maka angkanya terbilang jauh lebih optimis: Diluar proyek utamanya melalui AIS, dari Saung Riung dan Hotel Le Meridien, RBMS mentargetkan pendapatan total Rp250 milyar per tahun (jadi bukan cuma Rp30 milyar seperti yang disebut diatas). Yep, jadi hingga akhir tahun 2018 nanti, atau paling lambat 2019, perusahaan tetap berpeluang untuk membukukan kinerja yang jauh lebih baik dibanding proyeksi diatas. Dan yang paling penting adalah valuasinya: PBV 0.5 kali jelas masih sangat murah, sehingga no way RBMS balik lagi ke level dibawah 100 seperti setahunan lalu, terutama karena kinerja perusahaan juga beneran sudah mulai bagus sejak penghujung tahun 2017 lalu (pada tahun 2017, RBMS membukukan pendapatan Rp73 milyar dan laba bersih Rp14.5 milyar, meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya dimana perusahaan hampir selalu merugi). Dan jika semua proyeksi diatas teralisasi, atau bahkan lebih baik lagi, maka tentu saja pasar kedepannya akan menghargai saham RBMS pada valuasi yang lebih layak, minimal PBV 1 kali. Jadi, yep, kita punya potensi upside yang sangat besar disini.
Kesimpulannya, RBMS menarik karena sahamnya murah, model bisnisnya sederhana, manajemennya cukup baik serta fokus, dan prospeknya cerah terkait program Pemerintah. Namun disisi lain, RBMS merupakan perusahaan kecil dengan brand yang sama sekali tidak terkenal (dan anda sendiri mungkin baru tahu ada perusahaan properti dengan kode saham RBMS?), tidak punya track record kinerja yang meyakinkan, sahamnya fluktuatif (jadi sahamnya bisa berbahaya bagi anda yang masih suka melihat naik turunnya setiap hari), dan ketergantungannya dengan Program Pemerintah justru membuatnya berisiko dimana jika Pemerintah, karena penyebab tertentu, kedepannya menghentikan program 1 juta rumah ini (karena banyak juga kritikan terhadap program ini, yang disebut-sebut tidak pernah mencapai target, dan terlalu membebani negara), maka ya sudah RBMS juga bakal wassalam. Jadi jika anda belum cukup yakin, maka boleh juga tunggu sampai perusahaan merilis laporan keuangan Kuartal II, akhir Juli ini, sekalian melihat bagaimana dampak right issue-nya terhadap ekuitas perusahaan.
PT Ristia Bintang Mahkotasejati, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal I 2018: A
Rating Saham pada 149: AA

Untuk artikel minggu depan, silahkan anda pilih: 1. Krakatau Steel (KRAS), 2. Update analisa Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), 3. Update sektor konstruksi, atau 4. Strategi investasi saham jangka panjang untuk dana pensiun, mumpung pasar lagi bearish/lagi ada banyak saham yang murah.
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Layanan preorder-nya hari ini sudah dibuka, keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Pelemahan Rupiah, Kenaikan BI Rate, dan IHSG

Salah satu hotnews di pasar akhir-akhir ini adalah terkait pelemahan Rupiah terhadap US Dollar, dimana hingga ketika artikel ini ditulis, Rupiah sudah berada di level Rp14,326, melemah cukup signifikan dibanding setahunan lalu yang masih di level Rp13,400-an, dan wajar jika orang kemudian jadi khawatir: Bagaimana jika Rupiah terus saja melemah sampai katakanlah tembus Rp15,000? Apakah kita akan mengalami krisis? Lalu bagaimana nasib pasar saham?

Nah, meski mungkin soal Rupiah ini tampak buruk karena terjadi bersamaan dengan periode bear market, tapi bisa penulis katakan bahwa there is nothing to worry about, at least until today, dan berikut penjelasannya.
Pertama, seperti yang pernah saya tulis dulu (tapi lupa di artikel mana), jika Indonesia adalah perusahaan, maka kurs Rupiah itu adalah ‘harga sahamnya’, dimana jika kinerja fundamental makroekonomi nasional lagi bagus maka Rupiah akan menguat, sementara jika ekonomi lagi lesu/krisis, maka Rupiah akan melemah. Namun demikian penulis sendiri belakangan menyadari bahwa, jika Rupiah itu adalah seperti harga saham ‘PT Republik Indonesia Tbk’, lalu kenapa kurs Rupiah sampai sekarang tidak pernah menguat sampai ke level sebelum krisis moneter 1998 (Rp2,500-an per USD), padahal ekonomi kita dalam dua dekade terakhir pasca krismon terbilang tumbuh pesat??
Dan jawabannya adalah, karena tingkat inflasi di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia, jauh diatas inflasi di negara-negara lain manapun, dan mungkin hanya lebih baik dibanding negara-negara Afrika. Sebagaimana yang kita ketahui, inflasi menurunkan nilai mata uang. Dan level inflasi kita yang mencapai 10% per tahun (rata-rata dari tahun 1997 sampai 2018) itu jauh lebih besar, dibanding inflasi Amerika Serikat (AS) yang hanya 2 – 3% per tahun. Inilah kenapa Rupiah, meski pada waktu-waktu tertentu menguat terhadap USD, tapi dalam jangka panjang dia akan terus melemah terhadap USD. Jika anda lihat lagi sejarah kurs Rupiah di wikipedia, maka akan kelihatan bahwa Rupiah sejak tahun 1970-an sampai sekarang selalu melemah terhadap USD, tapi disini penulis akan tampilkan ringkasannya saja.
Tahun
Kurs
1966
250
1970
378
1980
626
1990
1,842
1998
14,800
2000
9,725
2010
9,036
2015
14,000
Jul-18
14,300
Nah, jadi jangan kaget jika katakanlah pada tahun 2030 nanti, kurs Rupiah mungkin akan sudah jauh lebih rendah lagi dibanding sekarang, dan itu sesuatu yang normal/bukan karena krisis ekonomi atau semacamnya. Proyeksi ini baru bisa berubah jika inflasi di Indonesia, yang sekarang ini relatif rendah di level 3 – 4% per tahun, bisa bertahan untuk seterusnya, tapi itu akan sulit untuk terjadi karena sejak awal, geografis Indonesia yang berupa negara kepulauan menyebabkan proses distribusi barang membutuhkan biaya tinggi, sehingga harga sembako di Papua bisa belasan kali lebih mahal dibanding di Jawa, dan itulah yang memicu terjadinya inflasi selama ini. Beruntung, karena sekarang ini pulau-pulau di Indonesia mulai terkoneksi dengan baik (dulu anda kalo mau ke Papua mungkin harus pake kapal laut, tapi sekarang bisa pake pesawat, dan biayanya relatif murah dibanding dulu) maka itu turut menurunkan biaya distribusi barang sekaligus menekan inflasi, tapi penulis masih belum tahu apakah trend positif akan bertahan untuk seterusnya atau tidak karena, actually, keadaan geografis Indonesia yang kita bahas diatas hanyalah satu dari sekian banyak faktor pemicu inflasi, sementara faktor-faktor lainnya bisa dibaca disini. Hanya saja, berbeda dengan faktor-faktor lainnya yang kadang terjadi kadang tidak, alias hanya berpengaruh dalam jangka pendek, maka kondisi geografis merupakan faktor konstan yang tidak akan pernah bisa berubah, dimana jarak antar pulau di Indonesia tidak akan menjadi lebih dekat ataupun lebih jauh. Jadi dalam kaitannya dengan turunnya kurs Rupiah dalam jangka panjang yang disebabkan inflasi, maka penulis menyebutkan faktor geografis ini sebagai penyebab jangka panjang inflasi tersebut.
Kedua, meski dalam jangka panjang Rupiah akan terus turun terhadap USD, namun pada waktu-waktu tertentu dimana ekonomi kita lagi ada problem alias krisis, maka penurunan itu akan lebih lebih tajamdibanding biasanya (termasuk angka inflasi akan lebih besar dibanding biasanya, contohnya di tahun 1998 dimana inflasi mencapai 70%). Yup, jadi teori penulis diatas bahwa kurs Rupiah merupakan ‘harga saham’ Indonesia, alias cerminan dari fundamental makroekonomi Indonesia, itu tetap berlaku. Pada tahun 1997 – 1998, Rupiah anjlok dari Rp2,500 hingga sempat menyentuh Rp18,000, sebelum kemudian menguat kembali dan stabil di 9,000-an. Tahun 2008, Rupiah melemah ke 12,000-an karena imbas krisis global, lalu menguat lagi hingga sempat dibawah 9,000 pada tahun 2011 (karena ekonomi nasional yang lagi bagus-bagusnya ketika itu, thanks to booming komoditas), sebelum kemudian turun lagi pelan-pelan seiring dengan economic slowdown hingga sempat tembus Rp15,000 pada tahun 2015. Ini artinya dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, pelemahan Rupiah mencapai 60% (dari 9,000-an ke 15,000-an). Beruntung, pada tahun 2016 harga komoditas mulai pulih, ekonomi mulai jalan lagi (meski belum sekencang tahun 2011), dan alhasil Rupiah kembali menguat sebelum kemudian stabil di Rp13,000-an, dan untungnya sampai saat ini, seperti yang sudah penulis sampaikan disini, ekonomi kita secara umum masih baik-baik saja.
Tapi Pak Teguh, kalau dikatakan bahwa ekonomi masih aman, maka kenapa sekarang Rupiah melemah lagi? Sebelum kita membahas soal itu, biar penulis bertanya satu hal: Pernah nggak anda megang saham tertentu yang bagus dan valuasinya masih murah, dan itu perusahaan masih aman-aman saja/gak ada masalah serius atau sentimen negatif apapun, tapi harganya tiba-tiba turun sendiri? Well, pasti pernah bukan? Dan dalam kondisi bear market seperti enam bulan terakhir ini, maka saham apapun yang anda pegang kemungkinan besar ikut turun, dan itu bukan karena perusahaannya bangkrut atau apa, tapi memang karena pasarnya sedang terkoreksi saja. Dengan kata lain, saham anda turun bukan karena ada masalah di internal perusahaan, melainkan karena faktor eksternal berupa koreksi pasar.
Nah! Untuk kurs Rupiah juga sama begitu: Dalam kondisi ekonomi yang aman terkendali maka Rupiah bukan berarti pasti akan stabil, melainkan bisa tetap turun karena faktor-faktor eksternal yang tidak terlalu berhubungan dengan fundamental makroekonomi. Contohnya ya di tahun 2008, dimana Rupiah ketika itu jeblok bukan karena ekonomi nasional lagi ada problem, tapi lebih karena kekhawatiran bahwa krisis subprime mortgage yang ketika itu terjadi di AS akan meluas termasuk ke Indonesia. Buktinya ketika kekhawatiran terkait krisis di AS itu mereda dengan sendirinya di tahun 2009, maka seketika itu pula Rupiah perkasa lagi, hingga sempat tembus dibawah 9,000 pada tahun 2011.
Sementara untuk tahun 2018 ini, maka terdapat setidaknya tiga faktor yang bikin Rupiah loyo. Pertama, kondisi ekonomi AS, seperti yang sudah kita bahas disini, sekarang ini lagi bagus-bagusnya, dan itu menyebabkan USD menguat terhadap banyak mata uang lain termasuk Rupiah (jadi dalam hal ini USD lah yang menguat, bukan Rupiah yang melemah). Kedua, harga minyak naik hingga terakhir sudah tembus USD 70 per barel, dan ini otomatis menaikkan nilai impor Indonesia, dan Rupiah kena imbasnya karena kita jadi butuh banyak Dollar buat beli minyak. Dan ketiga, anda mungkin memperhatikan bahwa sudah setahunan terakhir ini investor asing terus keluar dari bursa saham Indonesia, demikian pula mereka banyak keluar dari obligasi, surat utang negara dll, dan itu praktis menekan Rupiah, karena para investor asing ini banyak menukar Rupiah mereka dengan Dollar. Penulis sampai sekarang masih belum mengerti, apa yang bikin mereka keluar ramai-ramai (ada banyak teori soal ini, tapi semuanya hanya sebatas teori yang belum bisa dibuktikan), tapi yang jelas inilah yang bikin Rupiah turun.
Kabar baiknya, meski penulis belum tahu seberapa lama kondisi ekonomi AS dan tekanan outflow asing akan berdampak terhadap Rupiah, tapi terkait naiknya harga minyak, maka bisa penulis katakan bahwa harga minyak saat ini sudah cukup tinggi, dan harusnya gak akan sampai balik lagi ke level USD 100-an per barel seperti sebelum tahun 2016 lalu (penjelasannya baca lagi disini), dan bahkan kenaikan minyak ini juga sudah kita prediksi sebelumnya (baca lagi prediksinya disini, intinya terkait IPO Aramco). Jika proyeksi ini benar adanya, maka posisi Rupiah saat ini sudah cukup rendah, dimana kecuali kedepannya nanti ada peristiwa force majeure tertentu, maka kita tidak akan melihat Rupiah turun sampai ke level seperti di tahun 2015 lalu.
Dampak Kenaikan BI Rate?
Kalau anda teliti, maka ulasan diatas sekaligus menjelaskan kenapa, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pemerintah sampai sekarang terkesan seperti cuek saja terhadap pelemahan Rupiah ini. Pada tahun 2008, setelah Rupiah anjlok ke 12,000-an, Pemerintah ketika itu meluncurkan paket kebijakan ekonomi termasuk menyelamatkan Bank Century yang bermasalah, karena jika bank tersebut dibiarkan kolaps maka dikhawatirkan akan berdampak sistemik, karena ketika itu psikologis market sedang jelek-jeleknya seiring dengan hancurnya IHSG. Pada tahun 2013, tepatnya tanggal 23 Agustus 2013, Pemerintah juga meluncurkan ‘paket kebijakan penyelamatan ekonomi’ setelah Rupiah ketika itu terjun bebas ke dari 9,000-an ke 11,000-an (baca lagi ceritanya disini). Dan pada tahun 2015, tepatnya tanggal 9 September 2015 setelah Rupiah sempat tembus 15,000, Pemerintah meluncurkan ‘Paket kebijakan ekonomi Jilid 1’, yang kemudian berlanjut pada paket-paket kebijakan selanjutnya hingga terakhir Jilid 16, yang diluncurkan pada Agustus 2017 lalu (info lengkapnya boleh gogling aja, kepanjangan kalo ditulis disini).
Tapi setelah paket kebijakan ekonomi jilid 16 tersebut, sampai sekarang belum ada paket kebijakan lagi. Kalaupun ada kebijakan, maka itu adalah keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI 7-day Rate, atau disingkat BI Rate, dari sebelumnya 4.25% menjadi sekarang 5.25%, dan tujuannya sangat jelas: Untuk membuat tingkat suku bunga atau yield di Indonesia kembali tampak menarik di mata investor asing, sehingga harapannya mereka kembali masuk kesini, atau minimal gak keluar lebih lanjut. Dan jika itulah yang terjadi, maka Rupiah juga diharapkan akan menguat kembali.
Namun disisi lain, kenaikan BI Rate ini justru dikhawatirkan akan menurunkan kinerja sektor perbankan, perusahaan pembiayaan, hingga properti. Karena secara teori, kalau bunga bank naik maka omzet penyaluran kredit bank juga akan turun, demikian pula orang yang beli mobil atau rumah pake kredit KPR akan berkurang. Tapi, okay, biar kita luruskan semuanya disini.
Pertama, BI sebagai otoritas moneter Indonesia memiliki goal untuk 1. Menjaga nilai tukar Rupiah, 2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan 3. Menekan inflasi. Jadi entah itu BI menaikkan atau menurunkan BI Rate, maka seperti yang pernah kita bahas disini (sekali lagi, buat yang belum mengerti cara kerja BI Rate, coba baca dulu), harapannya adalah itu akan berdampak positif terhadap tiga poin tujuan diatas. Yep, jadi pihak BI tidak akan menaikkan atau menurunkan BI Rate dalam rangka menjaga nilai tukar Rupiah, jika itu disisi lain menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, atau menaikkan inflasi ke level yang berbahaya. Tapi seperti yang kita ketahui, pertumbuhan GDP sekarang ini stabil di level 5%, sementara inflasi juga cukup rendah di level 3%, jadi sangat reasonable jika BI Rate kemudian dinaikkan. Thus, meski bunga bank akan naik karena naiknya BI Rate ini, tapi selama kegiatan ekonomi masih berjalan lancar, maka kenaikan suku bunga tidak akan sampai menurunkan omzet kredit bank, sehingga kinerja mereka tidak akan terganggu. Lain ceritanya jika BI Rate ini dinaikkan ketika ekonomi sedang lesu-lesunya seperti tahun 2015 lalu, maka itu artinya wassalam.
Kedua, seiring dengan turunnya inflasi sejak tahun 2015, maka BI Rate juga cenderung turun dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai level 4.25%, yang merupakan level terendah dalam sejarah (antara tahun 2005 hingga 2018, BI Rate rata-rata berada di level 7 – 8%). Maksud penulis adalah, yep, kalau BI Rate dinaikkan ke level yang terlalu tinggi, maka biar gimana itu akan ada dampak negatifnya terhadap perekonomian, tapi faktanya angka BI Rate yang 5.25% sekarang ini terbilang masih rendah, dan suku bunga KPR, KUR juga masih berada di level yang lebih rendah dibanding 2 – 3 tahun lalu. Jadi kalau BI Rate nanti naik lagi sampai ke level seperti di tahun 2015 lalu, maka barulah kita perlu waspada. Tapi karena kenaikan BI Rate sejauh ini hanya bertujuan untuk ‘merayu’ asing agar masuk lagi kesini, dan bukan karena ekonomi kita ada problem, maka penulis kira posisi BI Rate saat ini sudah cukup tinggi, dan tidak akan dinaikkan lebih lanjut kecuali jika nanti terjadi peristiwa penting tertentu.


Data BI Rate sejak Juli 2005 – Juni 2018 (judul gambarnya salah, yang bener 2005 bukan 2015), perhatikan bahwa angkanya cenderung turun terus, dan posisi BI Rate saat ini, meski naik, tapi masih lebih rendah dibanding tahun 2015. Sumber: www.bi.go.id

Anyway, kata kuncinya disini adalah, jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap perekonomian maka Pemerintah akan segera bertindak, termasuk BEI hingga OJK juga akan ‘do something’ jika penurunan IHSG sudah kelewat dalem, contohnya ketika terjadi panic selling di tahun 2015 lalu, tapi faktanya sampai sekarang belum ada tindakan khusus apapun. Sehingga bisa dikatakan bahwa kondisi market, atau setidaknya di mata para pejabat berwenang yang sarat pengetahuan serta pengalaman ini (kecuali anda punya sederet gelar seperti Tuan Doktor Profesor Patrick, maka anda tidak bisa melamar jadi komisaris di OJK), masih aman terkendali. Hanya memang, diluar cerita pelemahan Rupiah serta BI Rate ini maka diluar sana masih banyak isu-isu negatif terkait perang dagang dll, yang belum kita bahas disini. Tapi berhubung tulisan ini sudah cukup panjang (dan mungkin anda juga sudah puyeng bacanya), maka soal itu kita bahas lain waktu.
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Cara ‘Membuka Payung’ Ketika Sudah ‘Turun Hujan’

Kalau anda pernah mengikuti kelas Value Investing – Advanced Class yang penulis adakan, maka materi pertama sekaligus yang terpenting yang disampaikan adalah soal cara membaca arah pasar atau IHSG, termasuk apa yang harus dilakukan jika kita melihat tanda-tanda bahwa pasar akan turun. Simpelnya, jika kita melihat bahwa IHSG mungkin akan turun, atau sudah ada tanda-tanda ‘mendung’, maka ketika itulah kita harus menyiapkan ‘payung’.

Dan yang dimaksud dengan membuka payung disini adalah, anda harus menyiapkan sejumlah cash dengan cara menjual beberapa pegangan saham. Atau dengan kata lain, ketika anda melihat langit mulai mendung, maka jangan full power dengan menempatkan seluruh dana anda di saham, melainkan harus pegang cash katakanlah sebesar 30 – 50% dari total nilai porto. Dengan cara inilah, jika kemudian pasar benar-benar turun, maka anda bisa beli lagi saham-saham bagus di harga bawah.
Tapi, hey, bagaimana kalau saya belum sempet buka payung tapi pasar sudah keburu diguyur hujan badai seperti sekarang? Bagaimana kalau kita baru kepikiran mau jualan justru ketika posisinya udah nyangkut dimana-mana? Kalau udah basah kuyup gitu maka kita duduk pasrah saja sampe masuk angin, apa gimana? Nah, karena ketika artikel ini ditulis, IHSG berada di level 5,650, atau total sudah turun lebih dari 1,000 poin dari level tertingginya (6,689) di bulan Februari 2018, maka artikel kali ini menjadi sangat relevan. Okay, kita langsung saja. Jadi intinya, ada beberapa ‘cara kerja Mr. Market’ yang harus kita pahami, ketika Mr. Market itu sendiri sedang bearish.
  1. Ketika IHSG sedang dalam trend turun, maka bukan berartidia akan turun setiap hari, melainkan akan ada hari-hari atau minggu-minggu tertentu dimana dia akan naik.
  2. Ketika IHSG sedang trend turun, maka akan ada waktu-waktu ekstrim dimana penurunannya lebih besar dibanding hari-hari lainnya, misalnya mencapai total 5 – 10% hanya dalam beberapa hari, sementara di waktu-waktu yang lain penurunannya terbilang pelan-pelan. Ibaratnya ketika terjadi hujan, maka awalnya gerimis dulu selama beberapa saat, kemudian turun hujan deras sekali tapi hanya beberapa menit, dan setelah itu gerimis lagi selama berjam-jam, hingga akhirnya hujannya berhenti dan langit menjadi cerah kembali.
  3. Biasanya setelah terjadi kondisi dimana IHSG anjlok/turun sangat dalam, maka dalam beberapa waktu berikutnya dia akan naik lagi, meski mungkin hanya selama beberapa waktu saja, sebelum kemudian turun lagi.
Sebagai ilustrasi, sekarang anda buka https://finance.yahoo.com/chart/%5EJKSE/, klik 1Y di sebelah atas untuk melihat chart IHSG dalam setahun terakhir, lalu geser chart-nya terus kekiri sampai ke tahun 2015, hingga ketemu gambar berikut:

Sekarang perhatikan gambar diatas, klik untuk memperbesar. Pada bulan April 2015 (perhatikan kotak biru yang ada di bawah untuk melihat bulan), IHSG dengan cepat turun dari 5,400-an ke 5,000, hanya dalam seminggu (kotak hitam No.1), yang seketika bikin orang panik. Tapi tak lama kemudian, di bulan Mei-nya, IHSG langsung naik lagi meski naiknya gak sampai balik lagi ke 5,400-an (kotak hijau No.1), sebelum kemudian turun lagi (kotak hitam No.2). Setelah itu IHSG turun lagi tapi pelan-pelan, dan baru nyungsep dengan cepat di bulan Agustus dengan anjlok dari 4,800-an ke 4,100 hanya dalam dua minggu, tapi kembali disusul oleh rebound dimana IHSG pada awal September naik lagi ke 4,500. And finally, penghujung September IHSG kembali sliding ke 4,100-an lagi, tapi pada bulan Oktobernya terjadi high rebound dimana IHSG naik dengan cepat hingga menyentuh 4,700-an pada bulan November. Dan setelah bulan November 2015 itulah, pasar kembali normal/tidak terjadi koreksi lanjutan, meski juga belum naik lagi.
Nah, dari gambar diatas maka kita bisa lihat bahwa ketika IHSG turun dengan cepat (kotak hitam), maka hampir selalu disusul dengan rebound (kotak hijau), dan hanya sekali IHSG turun cepat pada bulan Juni 2015, tapi tidak disusul oleh rebound di bulan berikutnya. Tapi diluar itu maka sekali lagi, setiap kali IHSG turun dengan cepat, maka disusul oleh rebound. Inilah yang saya sebut dengan ‘Cara kerja Mr. Market’, dalam hal ini ketika terjadi bearish. Pada koreksi pasar tahun 2018 inipun, maka seperti yang bisa anda lihat di gambar di bawah ini, setiap kotak hitam selalu disusul oleh kotak hijau. 

Hanya bedanya dengan tahun 2015, untuk tahun ini kotak-kotak hitam dan hijau itu letaknya sangat berdekatan, dimana hampir gak pernah ada waktu-waktu dimana IHSG bergerak mendatar. Jadi investor hampir tidak diberikan kesempatan untuk ‘mengambil nafas’ sama sekali, melainkan mereka seperti dipaksa untuk selalu melihat kondisi dimana IHSG kalo lagi gak naik ya turun (dan kondisi membuat koreksi pasar tahun 2018 ini menjadi sulit untuk dianalisa, dibandingkan koreksi tahun 2015 lalu). Tapi intinya sekali lagi, bisa kita lihat bahwa setelah muncul ‘kotak hitam’, maka tak lama kemudian akan muncul ‘kotak hijau’.

Okay, sekarang kita coba pelajari ‘cara berpikir investor’. Biasanya kalau IHSG lagi turun tapi turunnya cuma sedikit-sedikit, maka investor dan trader tidak akan panik, dan belum akan kepikiran untuk ‘menyiapkan payung’. Mereka baru akan panik dan baru berpikir untuk menyiapkan payung, kalau IHSG turunnya sudah seperti di kotak-kotak hitam diatas. Tapi jika mereka melakukan itu (membuka payung, alias jualan), artinya sudah terlambat, karena hujannya sudah keburu turun, bukan mendung lagi.
Jadi kalau gitu bagaimana? Nah, secara teori, kalau kita lihat lagi chart IHSG di tahun 2015 dan 2018 diatas, maka seharusnya kita sudah membuka payung bahkan sebelum kotak hitam No.1 muncul, tapi kan pada prakteknya gak segampang itu, dimana ada banyak investor yang masih memegang saham-saham bahkan ketika kotak hitam kedua dan ketiga sudah muncul. Kabar baiknya, investor yang sudah ‘basah kuyup kehujanan’ sekalipun tidak mesti bakal habis sama sekali, melainkan mereka masih bisa menyelamatkan sebagian portofolio mereka, dan yang perlu mereka lakukan adalah menunggu munculnya kotak hijau, alias periode dimana IHSG rebound.
Jadi meski anda baru kepikiran untuk jualan karena panik melihat IHSG terjun bebas, tapi justru ketika inilah anda harus bertahan/jangan dulu jualan. Dan anda baru boleh jualan, cut loss sebagian juga ndak apa-apa, ketika beberapa waktu kemudian IHSG naik lagi. Dengan cara inilah, meski mungkin ujungnya tetap saja anda rugi, namun ruginya tidak akan sebesar jika anda jualan/cut loss ketika IHSG berada di kotak hitam. Dan yang terpenting, anda kemudian akan memiliki pegangan cash, yang siap untuk dibelanjakan/average down jika nanti IHSG anjlok sekali lagi, sehingga posisi saham-saham anda yang tadinya nyangkut bisa berbalik menjadi hijau kembali, yakni setelah nanti pada akhirnya periode koreksi IHSG berakhir.
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau rebound itu ternyata tidak terjadi/IHSG bablas turun terus gak pake rem? Well, kalau anda cek lagi pergerakan IHSG ketika terjadi market crash seperti 2008 sekalipun, maka rebound itu selalu terjadi. Bahkan pada kondisi dimana pasar turunnya terlalu dalam sehingga peluang terjadinya rebound menjadi tampak mustahil sekalipun, maka pihak otoritas bursa (BEI, atau OJK) biasanya akan turun tangan untuk menenangkan pasar, dan alhasil pasar kemudian rebound juga. Tiga tahun lalu, tepatnya pada Agustus 2015 lalu, BEI pernah menggelar press release untuk mengumumkan kebijakan-kebijakan baru yang pada intinya bertujuan untuk mendorong pasar, yang ketika itu sudah hancur lebur setelah IHSG nyungsep dari 5,512 ke 4,170, untuk segera pulih kembali (anda bisa baca lagi ceritanya disini: http://www.teguhhidayat.com/2015/08/outlook-ihsg-setelah-kebijakan-bei.html), dan memang setelah itu pasar perlahan tapi pasti mulai pulih.
Tapi lagi Pak Teguh, bagaimana kalau misalnya IHSG rebound dan kita jualan/cut loss, dan ternyata selanjutnya IHSG gak turun lagi? Nah, soal apakah anda mau jualan untuk menyiapkan cash, atau tetap hold saja ketika IHSG kemudian berada di ‘kotak hijau’, maka itu tergantung pandangan anda terhadap pasar itu sendiri, apakah kenaikan IHSG itu cuma sementara, atau memang untuk seterusnya. Tapi yang jelas sekali lagi, jika anda baru kepikiran untuk jualan justru setelah IHSG bablas turun hingga 7 – 10% atau lebih hanya dalam beberapa hari, maka itulah yang gak boleh, jadi anda harus menunggu terjadinya rebound terlebih dahulu (karena seperti itulah cara kerja Mr. Market), kemudian baru bisa jualan. Good luck!
Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Juli 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
Jadwal Seminar Value Investing (hari Sabtu): Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Jadwal Seminar Value Investing – Advanced Class(hari Minggu): Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini, bonus gratis Ebook ‘How to be a Full Time Investor’.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Analisa Cash Flow Dalam Value Investing

Kalau anda terbiasa baca laporan keuangan (LK) perusahaan, maka anda akan hafal bahwa format standar LK di Indonesia adalah urutannya sebagai berikut: 1. Laporan posisi keuangan (aset, kewajiban, dan ekuitas), 2. Laporan laba rugi (pendapatan, hingga laba bersih), 3. Laporan perubahan posisi ekuitas, dan terakhir 4. Laporan arus kas. Normalnya, kalau penulis sendiri melakukan analisa cepat LK, maka yang kita pelajari hanyalah perkembangan aset hingga laba bersih perusahaan saja, dan jarang melihat sampai laporan arus kas, tapi mungkin dari sinilah kemudian timbul pertanyaan: Apa bedanya laporan arus kas dengan laporan laba rugi? Bagaimana kalau perusahaan di laporan laba ruginya membukukan profit sekian Rupiah, tapi jumlah kas yang diterima (yang tercantum di laporan arus kas) lebih kecil? Lalu bagaimana jika perusahaan membukukan arus kas negatif? Dan seterusnya.
Nah, sebelum kita bahas lebih lanjut, mari kita pelajari dulu definisi arus kas ini dari awal.
Laporan arus kas, atau cash flows statement, adalah sama seperti laporan keuangan itu sendiri secara keseluruhan, namun informasi yang dicantumkan hanya sebatas jumlah uang Rupiah (atau Dollar) yang benar-benar diterima atau dibayarkan oleh perusahaan pada periode laporan keuangan yang bersangkutan. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa ketika perusahaan membukukan pendapatan Rp100 pada Kuartal I 2018, maka uang Rp100 itu bisa saja baru akan diterima (dalam bentuk tunai) pada Kuartal II, atau lebih lama lagi.
Analogi sederhananya sebagai berikut. Let say anda sebagai fund manager membeli saham A, dan perusahaan A kemudian mengumumkan pembayaran dividen sebesar Rp100 dengan tanggal cum 15 Maret, dan tanggal pembayaran 10 April. Karena anda tetap meng-hold saham A hingga lewat tanggal cum-nya tersebut, maka anda otomatis berhak atas dividennya, sehingga ketika anda membuat laporan keuangan untuk periode Kuartal I (per tanggal 31 Maret) untuk dipresentasikan ke klien, maka di LK tersebut bisa dicantumkan pendapatan dividen sebesar Rp100, tapi di laporan cashflow uang Rp100 tersebut belum masuk. Why?Ya karena itu tadi: Dividen tersebut baru akan dibayar/ditransfer ke rekening anda pada tanggal 10 April, sehingga untuk LK per tanggal 31 Maret, uangnya memang belum masuk.
Tapi sekali lagi, meski per tanggal 31 Maret dividen tersebut belum benar-benar masuk ke rekening, namun anda sudah pasti akan memperoleh uangnya karena anda masih memegang saham A hingga lewat tanggal cum dividennya. Sehingga di LK yang anda buat, anda sudah bisa melaporkan pendapatan dividen Rp100. Got it?
Selain kondisi dimana ‘pendapatan dicatat duluan, sementara uangnya masuk belakangan’, bisa juga terjadi kondisi dimana ‘uangnya masuk duluan, tapi belum bisa dicatat sebagai pendapatan’. Contohnya perusahaan developer properti, dimana mereka bisa menerima sejumlah uang kas dari pelanggan yang membeli properti, tapi jika unit rumah/kantor/apartemen-nya belum diserah terimakan (karena memang masih dibangun), maka uang tersebut belum bisa dicatat sebagai pendapatan, melainkan harus dicatat sebagai uang muka pembelian, yang merupakan utang. Thus, di laporan keuangan akan tampak bahwa perusahaan menerima ‘uang kas dari pelanggan’ sebesar sekian, tapi pendapatannya lebih kecil dari itu. Dan pihak developer baru bisa mengakui uang yang diterima dari pelanggan sebagai pendapatan, jika unit propertinya nanti sudah diserah terimakan.
Karena hal-hal yang disebut diatas, pada akhirnya laporan cashflow sebuah perusahaan, dalam hal ini cashflow operasional, itu tidak pernah persis sama dengan laporan laba ruginya, melainkan pasti ada saja bedanya. Faktor-faktor tambahan seperti administrasi bank, dimana kalau anda transfer/setor ke suatu bank maka duitnya baru akan masuk besoknya (misalnya kalau anda beli unit apartemen seharga Rp1 milyar secara cash, maka hampir gak mungkin bayarnya pake duit kertas bukan? Melainkan harus pake transfer bank), juga bisa menyebabkan perbedaan antara laporan laba rugi dengan laporan cashflow operasional. Yup, jadi dalam hal ini anda tidak perlu khawatir jika perusahaan membukukan profit sekian, tapi di laporan cashflow-nya jumlah uang tunai yang masuk lebih kecil, apalagi sampai menganggap bahwa laporan keuangannya ‘direkayasa’. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, jarang terjadi kasus dimana laporan keuangan dipermak dari sisi laporan cashflow-nya. Ketika laporan keuangan diutak atik, maka bagi analis berpengalaman, itu bisa langsung kelihatan dari posisi neraca serta laporan laba rugi, tanpa perlu lagi melihat laporan arus kas-nya.
Pentingnya Analisa Cashflow untuk Investasi Jangka Panjang
Karena itulah, seperti yang sudah disampaikan diatas, ketika melakukan analisa cepat (sebelum kemudian dilanjut analisa mendalam), biasanya penulis berhenti pada angka laba bersih perusahaan. However, untuk perusahaan consumer goods, dimana ketika seorang pembeli membeli produk kebutuhan sehari-hari maka pihak perusahaan langsung menerima pembayaran tunai, dan pembayaran itu bisa langsung diakui sebagai pendapatan karena barangnya juga sudah diserahkan ke pelanggan tersebut, maka barulah laporan cashflow ini penting untuk diperhatikan. Jadi anda boleh bersikap kritis kalau misalnya Indofood CBP (ICBP) melaporkan pendapatan Rp1,000, tapi penerimaan dari pelanggan di laporan arus kas-nya hanya Rp500. Sebab ICBP kan jualannya Indomie dan semacemnya, yang harga per bungkusnya murah sehingga orang belinya hampir selalu tunai, dan saya belum pernah dengar ada orang beli Indomie di Alfamart namun barangnya baru dikasiin sebulan kemudian.


Fast Moving Consumer Goods milik ICBP

Jadi berbeda dengan katakanlah Waskita Karya (WSKT), dimana perusahaan bisa membukukan pendapatan sekian trilyun Rupiah sekaligus dari 1 proyek jalan tol, namun karena duitnya gede banget maka uang tersebut baru benar-benar diterima perusahaan beberapa minggu hingga beberapa bulan kemudian (karena proses pencairan dananya dll perlu waktu), maka pendapatan ICBP harusnya gak beda jauh dengan laporan arus kasnya. Simpelnya, jika perusahaan di sektor lain biasanya memiliki perputaran omzet yang lambat, dimana WSKT belum tentu menerima pembayaran tunai tiap hari (kalau lagi gak ada proyek, atau ada proyek tapi selesainya masih lama, maka WSKT juga belum akan menerima pembayaran dulu), maka perusahaan consumer goods memiliki perputaran omzet yang cepat, dimana boleh dikatakan bahwa ICBP menerima pembayaran cash tiap hari. Dan memang, anda bisa cek sendiri, sampai laporan keuangan terakhirnya, laporan pendapatan ICBP tidak beda jauh dengan laporan arus kas-nya.

Selain perusahaan consumer, perusahaan perbankan juga normalnya memiliki laporan laba rugi yang tidak jauh berbeda dengan laporan arus kas-nya, karena itu tadi: Mereka menjual jasanya (kredit KPR, jasa administrasi bank, dll) langsung ke konsumen akhir yang membayar bunga secara tunai, dan konsumen ini juga sudah menerima jasa yang dimaksud sehingga pihak bank bisa langsung mengakui uang yang mereka terima sebagai pendapatan.
Tapi untuk perusahaan-perusahaan diluar sektor consumer dan perbankan, maka laporan cashflow tidak terlalu penting untuk diperhatikan, karena tidak menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau earnings power, yang perlu kita perhatikan dalam menghitung nilai intrinsik/valuasi sebuah perusahaan (earnings power itu ya dilihatnya dari track record laba bersih perusahaan, serta track record pertumbuhan ekuitasnya dari tahun ke tahun). Nevertheless, laporan cashflow menjadi sangat penting untuk diperhatikan jika: 1. Anda berencana untuk membeli perusahaan secara penuh/menjadi pemegang saham mayoritas disitu, atau 2. Anda berencana untuk hold forever sahamnya, misalnya untuk dijadikan sebagai mesin dividen.
Sebab jika anda memiliki serta mengendalikanperusahaan A, maka anda akan memiliki akses dan juga bertanggung jawab terhadap arus keluar masuk uang tunai, dan anda mungkin akan puyeng sendiri ketika misalnya harus bayar supplier bahan baku, tapi uang hasil penjualan masih belum masuk (tapi jika anda cuma pegang saham A sebanyak 1 lot, maka anda gak perlu pusing soal ini). Demikian pula jika anda membeli saham untuk tujuan memperoleh dividennya tiap tahun, maka perusahaan akan bisa membayar dividen secara teratur tidak hanya jika perusahaan konsisten membukukan laba, tapi juga jika cashflow-nya lancar/selaras dengan laporan laba bersihnya tersebut. Karena yang namanya bayar dividen, itu harus pake duit tunai toh?
Tapi sayangnya berdasarkan pengalaman selama ini, jika penulis ditanya saham apa yang bisa di-hold forever di bursa saham Indonesia, baik itu kita belinya dalam jumlah besar/mayoritas maupun hanya beli 1 – 2 lot, maka berdasarkan ‘syarat-syarat saham yang bisa dipegang sehidup semati’ yang pernah kita bahas disini, penulis gak punya banyak opsi lain selain saham consumer goods atau perbankan. Sedangkan untuk saham-saham dari sektor lainnya, meski kita bisa saja hold sampai bertahun-tahun, tapi biasanya nanti ada waktunya untuk menjualnya kembali (baca lagi penjelasannya disini). Jadi balik lagi, analisa cashflow hanya penting untuk saham di sektor consumer dan perbankan. Sementara untuk saham-saham di sektor lainnya, kita bisa menghemat waktu dengan menganalisa hingga sebatas laporan laba bersih komprehensif perusahaan saja.
Btw penulis sengaja menulis soal cashflow sekarang karena saya baru sadar, sejak tahun 2010 sampai sekarang kita sama sekali belum membahas soal cashflow ini. Jadi untuk kedepannya bagi anda yang mungkin sudah baca-baca semua artikel di blog ini dari dulu sampai sekarang, anda boleh kasih usul kita akan bahas soal apa lagi, yang mungkin belum pernah penulis bahas sebelumnya. Tapi untuk minggu depan kita akan kasih analisa saham lagi.
Jadwal Seminar Value Investing(hari Sabtu): Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Jadwal Seminar Value Investing – Advanced Class (hari Minggu): Jakarta 1 Juli, Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Buletin Bulanan Analisis IHSG& Stockpick SahamBulanan edisi Juli 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham via email langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Indo-Rama Synthetics

Jika ada pertanyaan, siapakah perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, maka temen-temen investor mungkin akan menjawab, Sri Rejeki Isman atau Sritex (SRIL). Karena dari sejumlah saham-saham tekstil yang ada di BEI memang hanya SRIL yang ramai diperdagangkan, dan SRIL sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, yang sudah mengekspor produknya ke seluruh dunia. Namun sebenarnya di BEI ada satu lagi perusahaan tekstil yang, kalau berdasarkan nilai aset serta cakupan bisnisnya yang sudah worldwide, maka perusahaan tersebut lebih besar lagi dari SRIL. Yup, dia adalah Indo-Rama Synthetics (INDR), and seriously, INDR ini memang merupakan perusahaan yang benar-benar besar. Okay, kita langsung saja.

Sejarah INDR dimulai ketika founder perusahaan, Sri Prakash Lohia, pindah dari kampung halamannya di India ke Indonesia, tepatnya ke Kota Purwakarta, Jawa Barat, pada tahun 1974. Dua tahun kemudian, yakni pada tahun 1976, INDR didirikan sebagai perusahaan pemintalan benang dengan lokasi pabrik di Purwakarta, dan di tahun-tahun berikutnya perusahaan berekspansi dengan memproduksi benang filamen, benang polyester, kain polyester, PET resin (untuk membuat botol air mineral, dll), yang kesemuanya dijual ke pasar global. Per hari ini INDR sudah memiliki pabrik-pabrik tekstil & petrochemical yang tersebar di Purwakarta, Bandung, Jakarta Timur, Bekasi, hingga di luar negeri seperti Tekirdag (Turki), Andiambalama (Sri Lanka), dan Kokand (Uzbekistan). Jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan tekstil lainnya di tanah air, maka perkembangan INDR terbilang amat sangat pesat, dimana selain lokasi-lokasi pabrik yang disebut diatas, Grup Indorama masih punya banyak pabrik lainnya lagi. Mr. Lohia kemudian mendirikan Indorama Corporation Pte Ltd di Singapura, yang dijadikan sebagai holdingdari seluruh operasional Grup Indorama yang tersebar di seluruh dunia.
Karena itulah, meski total aset INDR per Kuartal I 2018 ‘hanya’ US$ 845 juta, tapi total aset Indorama Corp jauh lebih besar dari itu, karena ada banyak aset Indorama Corp seperti pabrik polyolefin dan fertilizer di Nigeria, pabrik fiber di Jerman, pabrik benang di India, yang tidak ditempatkan dibawah INDR. Indorama Ventures, salah satu unit investasi milik Indorama Corp, berkantor pusat di Thailand dan memiliki setidaknya 75 lokasi pabrik polyester dll di seantero Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika.
Dan ini pula sebabnya Mr. Lohia kemudian masuk daftar Majalah Forbes sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, dengan net worth US$ 7.1 milyar. Mr. Lohia sendiri adalah saudara ipar dari Lakshmi Mittal, pemilik serta CEO dari Arcellor Mittal yang merupakan salah satu perusahaan baja terbesar di dunia, sekaligus salah satu orang terkaya di dunia dengan net worth sekitar US$ 17.9 milyar. Kemungkinan koneksi langsung dari Mr. Mittal inilah yang menyebabkan Mr. Lohia kemudian sukses menjalin hubungan dengan perusahaan-perusahaan supplier kimia kelas dunia seperti Du Pont, BP, Toyota Chemical, untuk kebutuhan bahan baku Indorama, termasuk menjalin hubungan dengan pelanggan yang juga kelas dunia seperti Nike, Adidas, Uniqlo, Coca Cola, dan ini semua pada akhirnya membuat Indorama Corp turut menjadi perusahaan kelas dunia itu sendiri.
Sayangnya meski mengawali usahanya di Indonesia, dan Mr. Lohia sendiri juga sudah (dan masih) berstatus sebagai WNI, namun seperti yang sudah disebut diatas, pada akhirnya Mr. Lohia menempatkan Indorama Corp bukan disini, melainkan di Singapura (dan Mr. Lohia sendiri tinggalnya di London, bukan di Blok A Tanah Abang), dan Indorama Corp kemungkinan hanya menempatkan sebagian kecil aset-asetnya di INDR. Yep, jadi yang berstatus sebagai ‘perusahaan kelas dunia’ adalah Indorama Corp, bukan INDR itu sendiri. Dan inilah yang penting untuk diperhatikan: Meski Indorama Corp secara keseluruhan terus tumbuh pesat, dimana itu bisa dilihat dari net worth Mr. Lohia yang terus naik dari tahun ke tahun (sekitar tahun 2009, menurut Majalah Forbes, net worth Lohia Family hanya sekitar US$ 800 juta), namun pertumbuhan INDR itu sendiri terbilang lambat, dengan track record laba rugi yang juga tidak mencerminkan kinerja dari ‘perusahaan kelas dunia’. Antara tahun 2011 hingga 2017, INDR membukukan laba bersih paling besar hanya US$ 9.8 juta di tahun 2015, alias sangat kecil dibanding ekuitasnya di tahun 2015 tersebut yang tercatat US$ 297 juta. Jika dirata-ratakan, ROE INDR bahkan hanya 1 – 2% setiap tahunnya, which is, sekali lagi, tidak mencerminkan kinerja dari perusahaan kelas dunia. Total aset INDR juga hanya tumbuh sedikit dari US$ 674 juta di akhir tahun 2011, menjadi US$ 845 juta pada hari ini. Sebenarnya kalau dari sisi pendapatan, kinerja INDR terbilang bagus karena pendapatannya mencapai US$ 700 – 800 juta setiap tahunnya, atau kurang lebih sama dengan total nilai aset perusahaan (salah satu kriteria wonderful company adalah pendapatan perusahaan dalam satu tahun sudah sama atau lebih besar dibanding total asetnya), tapi entah kenapa margin laba kotornya gak sampai 10% dari pendapatannya tersebut, dan margin laba bersihnya lebih kecil lagi.
Karena itulah, meski INDR sejatinya merupakan perusahaan besar, dan juga merupakan bagian dari konglomerasi yang lebih besar lagi, tapi sahamnya sangat sangat sepi pengunjung. Penulis sendiri awalnya bingung, kenapa kok Mr. Lohia bisa berada di posisi No. 3 sebagai orang terkaya di Indonesia, karena market cap INDR ketika sahamnya dulu masih di 1,000-an, itu cuma Rp600-an milyar. Tapi rupanya yang dilihat oleh Forbes gak cuma INDR, melainkan Indorama Corp, dan Indorama Corp adalah memang perusahaan raksasa dengan kepemilikan aset yang tersebar di seluruh dunia.
INDR = The Next INKP?
Meski INDR hanyalah bagian kecil dari Indorama Corp, namun dengan total aset yang, kalau di-Rupiah-kan, mencapai lebih dari Rp10 trilyun, maka INDR bukanlah perusahaan kecil juga, dan masih merupakan salah satu perusahaan kimia serta tekstil terbesar di Indonesia. Dalam hal ini penulis langsung ingat dengan Indah Kiat Pulp & Paper (INKP), yang merupakan perusahaan kertas terbesar di Indonesia, tapi INKP juga hanyalah salah satu anak usaha dari Asia Pulp & Paper (APP), milik Grup Sinarmas. Seperti halnya INDR, INKP dulu juga sepi pengunjung karena kinerjanya sama sekali gak bagus, dan ketika itu tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa dia adalah perusahaan besar (sekaligus bagian dari grup yang lebih besar lagi). Tapi setelah perusahaan tiba-tiba saja membukukan laba bersih yang cukup besar pada tahun 2017 lalu, maka ketika itulah sahamnya mulai naik dengan cepat karena, setelah dicek lagi, PBV-nya ketika itu cuma 0.2 kali (pada harga saham 2,000-an).
Dan untuk tahun 2018 ini sepertinya giliran INDR untuk naik panggung karena kronologisnya sangat mirip: INDR ini, karena memang track record kinerjanya gak bagus, maka sahamnya sejak dulu gak pernah kemana-mana di level 800 – 1,000, tapi PBV-nya pada harga tersebut juga cuma 0.1 – 0.2 kali. Thus, ketika perusahaan membukukan laba bersih US$ 13.6 juta di Kuartal I 2018, yang mencerminkan annualized ROE 18.0%, maka seketika itulah sahamnya langsung terbang, dan pada harga sekarang pun (7,475), PBV-nya masih 1.1 kali, dan PER 6.7 kali, clearly still undervalue jika mempertimbangkan status perusahaan sebagai big company, dan notabene merupakan market leader di bidangnya.
Jadi dengan asumsi di Kuartal II nanti kinerja INDR masih sama bagusnya seperti sekarang/ROE-nya stabil di angka 15 – 20%, maka hampir pasti sahamnya bakal naik lebih lanjut. Karena sejak awal, seperti yang sudah disebut diatas, kinerja INDR sebenarnya cukup bagus dari sisi nilai pendapatan, maka mungkin sebenarnya mudah saja bagi Mr. Lohia untuk membuat INDR membukukan laba yang besar (tinggal pertanyaannya, beliau mau atau tidak?), sama seperti INKP yang sampai sekarang labanya masih besar.
Hanya saja, jika di Kuartal II nanti laba INDR mengecil lagi, dan itu pernah terjadi di masa lalu (penulis lupa kapan persisnya, tapi INDR pernah membukukan laba besar di Kuartal tertentu, tapi pada akhirnya laba tersebut jadi kecil lagi di akhir tahun), maka praktis sahamnya bisa balik arah dan turun, meski juga gak akan balik lagi ke level sebelum naik (1,000-an), karena orang sudah terlanjur notice bahwa INDR ini undervalue. Actually, jika anda perhatikan, maka selain INDR, ada banyak saham-saham kecil lainnya di sektor kimia atau sektor-sektor lainnya yang tidak populer, yang mulai naik pelan-pelan dalam beberapa bulan terakhir hanya karena PBV mereka masih nol koma sekian, alias masih murah, tak peduli meski kinerjanya/labanya masih turun. Yup, seperti yang pernah penulis sampaikan sebelumnya, meningkatnya popularitas metode value investing di pasar saham Indonesia menyebabkan para investor sekarang tidak lagi melulu mengejar ‘saham terbang’, tapi juga mereka diam-diam masuk ke saham yang masih murah, dan itulah yang menyebabkan saham-saham undervalue ini mulai naik, dan khususnya INDR ini naiknya lebih cepat karena dua faktor itu tadi: 1. INDR sejatinya merupakan perusahaan besar, sama seperti INKP, dan 2. Kinerjanya, atau setidaknya di Kuartal I 2018, terbilang bagus.
Jadi meski risiko terbesar di INDR ini adalah jika nanti di Kuartal berikutnya labanya turun lagi, namun dengan mempertimbangkan trend ‘the rise of undervalued stocks’ di market, maka risiko tersebut relatif terbatas. Sementara disisi lain, jika kinerja apik INDR berlanjut sampai akhir tahun, maka sahamnya bisa dengan mudah naik sampai berapa saja, karena sejauh yang penulis perhatikan, investor ritel yang pegang INDR ini masih belum banyak (orang-orang masih ramai di INKP, TKIM, ERAA, dst). Jadi sekarang strateginya gini saja: Jika anda berani ambil risiko, maka boleh haka dari sekarang. Namun jika anda mau lebih hati-hati, maka boleh tunggu dulu sampai kinerja Kuartal II keluar, akhir Juli nanti, kalau masih bagus dan sahamnya juga belum kemana-mana, maka sikat!
Anyway, penulis sendiri sebenarnya terlambat menemukan peluang value investing di INDR ini (harusnya kita masuknya bulan Mei lalu, waktu sahamnya masih di 3,000-an), tapi kabar baiknya kita masih punya satu lagi pilihan mutiara terpendam yang meski sahamnya juga sudah mulai naik, mungkin masih belum telat untuk masuk, karena ketika artikel ini ditulis, PBV-nya masih 0.3 kali. Kita akan membahasnya lebih lengkap minggu depan.
PT. Indo-Rama Synthetics, Tbk (INDR)
Rating Kinerja pada Q1 2018: BBB
Rating Saham pada 7,475: A
Jadwal Seminar Value Investing(hari Sabtu): Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Jadwal Seminar Value Investing – Advanced Class (hari Minggu): Jakarta 1 Juli, Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Selamat Datang Era Ekonomi Efisien!

Kalau anda googling istilah efficient economy, atau ekonomi efisien, maka anda akan menemukan banyak definisi serta penjelasan mengenai istilah tersebut, tapi biar disini penulis jelaskan dengan Bahasa sederhana: Ekonomi efisien adalah suatu keadaan dimana setiap sumber daya teralokasikan secara optimal untuk menghasilkan barang dan jasa, sehingga tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia/tidak menghasilkan manfaat apapun. Yang dimaksud dengan sumber daya disini adalah sumber daya manusia, sumber daya alam, modal/capital, waktu, dan seterusnya.
Dan ekonomi yang tidak efisien merupakan hambatan utama pertumbuhan ekonomi suatu negara. Contoh, ketika seorang karyawan digaji oleh perusahaan namun ia tidak benar-benar bekerja melainkan cuma medsos-an di kantor (istilahnya makan gaji buta), artinya ada sejumlah modal/uang gaji yang terbuang sia-sia. Ketika suatu negara memiliki banyak pengangguran, artinya terdapat sumber daya manusia yang terbuang sia-sia. Dan ketika warga Jakarta harus bermacet-macetan di jalan setiap kali berangkat dan pulang kerja, artinya terdapat sumber daya waktu dan juga sumber daya alam (bensin) yang terbuang sia-sia.
Sayangnya kalau di Indonesia, maka memang inilah yang terjadi sejak dulu, dan alhasil ekonomi kita susah maju (tapi mungkin gak cuma Indonesia, melainkan negara lainnya juga sama begitu). Namun beruntung, anda sendiri mungkin memperhatikan bahwa kemajuan teknologi dalam beberapa tahun terakhir telah sangat membantu kegiatan ekonomi menjadi jauh lebih efisien. Yup, kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri:
  1. Sekarang ini ada banyak orang yang kerja dari rumah. Penulis sendiri sebagai investor saham dan blogger praktis gak perlu kemana-mana kecuali buat ketemu orang, dan ini jelas sangat menghemat waktu. Sejak tahun 2012, penulis gak pernah lagi mengeluh soal terjebak macet Jakarta.
  2. Karena saya punya lebih banyak waktu dirumah, maka kita otomatis kerja secara jauh lebih produktif. Salah satu alasan kenapa blog TeguhHidayat.com ini bisa menyajikan analisa-analisa saham yang sangat detail adalah karena penulis setiap harinya punya waktu seharian untuk bongkar-bongkar laporan keuangan dll, dimana saya tidak akan bisa melakukan itu kalau masih harus ‘meluangkan’ waktu 3 – 4 jam untuk nyetir di jalan raya.
  3. Di ruang kerja penulis dirumah ada kulkas kecil yang berisi cemilan dan minuman lengkap, tapi kadang-kadang saya suka pengen ngemil pizza atau makanan berat lainnya (kaya orang ngidam aja). Nah kalau dulu penulis harus keluar rumah, tapi sekarang tinggal buka Go-Food, 30 menit kemudian pizza-nya nyampe, dan juga gak usah bayar atau repot ngitung kembalian, karena udah pake Go-Pay (ini bukan iklan lho).
  4. Demikian pula kalau mau beli ini-itu, pesen tiket kereta, hingga booking hotel, maka semuanya bisa dilakukan dirumah via ponsel, dan gak perlu pergi ke ATM karena untuk pembayarannya bisa pake m-banking atau kartu kredit.
  5. Kalau penulis akhirnya (terpaksa) keluar rumah, maka tetep gak perlu nyetir karena tinggal panggil Gocar, dan saya bisa duduk santai seperti juragan di kursi belakang, dimana dalam perjalanan saya bisa sambil kerja di komputer tablet, atau tidur.
  6. Dan kalau harus keluar kota pun, sekarang gampang banget tinggal pake pesawat terbang atau kereta api (sementara ke bandaranya pake Gojek), dan kalau harus nyetir sendiripun maka waktu perjalanannya juga terbilang singkat, karena bisa langsung lewat jalan tol.

Yang juga penulis perhatikan, harga-harga barang di toko online terbilang jauh lebih murah dibanding toko fisik, dan itu wajar saja, karena ketika seseorang buka toko online maka ia tidak perlu lagi sewa tempat, dan bahkan gak perlu mempekerjakan pegawai delivery karena tinggal pake jasa Gojek atau Grab. Ini artinya terjadi capital efficiency, dimana asalkan anda punya barang dan jasa untuk dijual, maka anda sudah siap untuk buka toko sendiri, nyaris tanpa perlu keluar modal alias gratis! Untuk keperluan iklan dan marketing juga bisa pake jasa Instagram atau Google Adsense, yang biayanya jauh lebih murah dibanding iklan konvensional. Sementara para supir ojek online yang mungkin sebelumnya nganggur, sekarang mereka juga turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi, dimana mereka sangat membantu orang-orang lainnya (termasuk penulis) untuk menghemat waktu dan tenaga, tapi disisi lain juga tidak ada modal/uang gaji yang terbuang sia-sia, karena para supir ojek ini hanya menerima uang jika mereka memperoleh penumpang, atau pesanan untuk mengirim barang.
Dan terakhir, kemajuan teknologi membuat orang-orang work less, produce more. Contohnya ya penulis sendiri, yang cukup sekali menulis sebuah artikel, tapi artikel itu kemudian bisa dibaca terus menerus oleh setiap orang yang membuka blog TeguhHidayat.com ini. Atau dengan kata lain, saya hanya perlu kerja satu kali saja, juga tanpa perlu keluar biaya publikasi atau semacamnya (tinggal posting di blog), tapi manfaat pencerahan, informasi, hingga ilmu pengetahuan yang dihasilkan bagi teman-teman pembaca boleh dibilang tidak terbatas, termasuk anda masih bisa tulisan-tulisan saya di tahun 2010 lalu. Plus, kecuali anda membeli produk berbayar, maka anda juga tidak perlu membayar apapun untuk memperoleh manfaat dari semua artikel di blog ini, sehingga lagi-lagi terjadi capital efficiency.
Kesimpulannya, kita sekarang berada dalam era ekonomi efisien, dan itu adalah kabar yang sangat baik karena ini artinya kita sekarang berpeluang untuk menjadi negara maju dalam beberapa dekade kedepan. Menurut Warren Buffett sendiri, salah satu penyebab Amerika Serikat sukses tumbuh hingga menjadi negara maju dalam 200 tahun terakhir (pada abad 18 dan 19, AS masih merupakan negara miskin, dan masih -secara tidak resmi- dijajah oleh Inggris), itu bukan karena orang-orang pada hari ini bekerja lebih keras dibanding masa lalu, melainkan karena mereka bekerja lebih efisien. Sekitar 100 tahun lalu, lebih dari separuh warga AS berprofesi sebagai petani, namun hari ini hanya 3% warga AS yang masih menjadi petani, tapi produksi panen jagung yang dihasilkan justru meningkat 3 kali lipat. Surplus suplai makanan kemudian menaikkan standar hidup masyarakat, sementara surplus tenaga kerja yang tidak lagi bekerja di sektor pertanian kemudian teralihkan ke sektor lain terutama industri, dan itulah yang kemudian menyebabkan ‘Murica, pada hari ini, menjadi negara adidaya.
Ekonomi Efisien = Percepatan Pertumbuhan Ekonomi
Dan pada hari ini, sepertinya giliran Indonesia yang mengalami hal yang sama. Kalau kita lihat lagi data-fakta ekonomi makro, maka terdapat dua data yang mendukung: Yang pertama adalah rendahnya angka inflasi. Seperti yang kita ketahui, Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat inflasi yang buruk, mungkin hanya lebih baik dibanding Zimbabwe, karena kegiatan ekonomi disini memang sangat tidak efisien. Contohnya ya kalau anda belanja di minimarket, maka sering tiba-tiba nongol preman minta duit parkir bukan? Padahal tukang parkir dadakan ini tidak memberikan kontribusi atau jasa apapun, termasuk kalau kendaraan anda kenapa-napa juga ia tidak akan bertanggung jawab. Sehingga dalam hal ini, meskipun jumlah uang parkirnya hanya dua ribu Rupiah, tapi uang itu kemudian menjadi sia-sia/tidak efisien. Dan ketika sejumlah uang berpindah tangan namun tidak menghasilkan barang atau jasa apapun, maka dari situlah timbul inflasi.
Tapi karena sekarang ini orang-orang gak perlu lagi keluar rumah kalo gak penting-penting banget, termasuk juga gak perlu bayar parkir, maka hampir tidak ada lagi uang yang terbuang sia-sia, dan alhasil tingkat inflasi menjadi turun.
Tingkat inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Perhatikan bahwa jika inflasi kita biasanya di level 6%, dan bahkan pernah tembus 12% di tahun 2008, tapi sekarang cuma sekitar 3%. Sumber: www.tradingeconomics.com
Kedua, turunnya angka pengangguran. Seperti yang sudah disebut diatas, sekarang ini kalau orang gak bekerja maka dia bisa buka toko online, dan kalaupun dia gak bisa dagang maka bisa jadi supir ojek online. Kemudian kalau seseorang punya keahlian tertentu, maka ia tidak perlu lagi kerja di perusahaan, melainkan bisa menawarkan jasa keahliannya tersebut secara freelance melalui internet, dimana ia hanya akan dibayar sesuai dengan pekerjaan yang dihasilkan (jadi gak ada lagi istilah magabut). Ilustrasi mudahnya, seandainya di jaman penulis kuliah dulu sudah ada Tokopedia dll, maka seharusnya saya ketika itu sudah kaya raya bahkan sebelum lulus kuliah, dan juga gak perlu ngelamar kerja kesana kemari, karena memang passionpenulis adalah dagang (saya sudah cerita soal ini di buku The Calm Investor). Tapi berhubung Toped baru nongol sekarang-sekarang ini, maka jadilah sampai tahun 2008 saya masih gak punya apa-apa, dan juga pernah harus nganggur selama 2 bulan.
Tingkat pengangguran dalam 10 tahun terakhir, yang terus turun dari 8.5% menjadi sekitar 5%. Sumber: www.tradingeconomics.com
Nah, kombinasi antara capital efficiency (yang ditunjukkan oleh rendahnya inflasi, yang artinya setiap Rupiah yang berpindah tangan memang menghasilkan barang dan jasa), dan human resources efficiency (yang ditunjukkan oleh rendahnya angka pengangguran, yang artinya sekarang ini hampir setiap orang bekerja dan berkontribusi terhadap ekonomi), belum lagi efisiensi-efisiensi yang lain, pada akhirnya mendorong ekonomi nasional untuk tumbuh pesat. Sebenarnya, meski secara mata uang Rupiah, GDP kita naik terus dari tahun ke tahun, tapi karena Rupiah itu sendiri melemah terhadap Dollar maka GDP nasional terbilang stagnan sejak tahun 2012 lalu, yakni ketika harga-harga batubara dll mulai turun. Beruntung, memasuki 2016 ekonomi mulai benar-benar tumbuh kembali, dan kalau melihat Gojek dkk yang semakin hari semakin populer, maka harusnya trend pertumbuhan tersebut masih berlanjut di tahun 2018 ini. Informasi selengkapnya bisa dilihat pada gambar berikut:
 
Data GDP Indonesia tahun 2008 – 2016. Perhatikan bahwa sejak tahun 2012, GDP nasional sebenarnya turun dari US$ 918 menjadi hanya 861 milyar di tahun 2015 (makanya di tahun 2015 itu ekonomi terasa lesu banget, dan IHSG sendiri memang drop), dan baru naik lagi di tahun 2016, dan untuk tahun 2017 – 2018 ini seharusnya angkanya sudah tembus US 1,000 milyar. Sumber: www.tradingeconomics.com

Okay, Pak Teguh, jadi apa yang sebenarnya hendak sampeyan sampaikan disini? Well, anda mungkin memperhatikan kalau belakangan ini banyak muncul isu-isu negatif bahwa Rupiah hancur, Indonesia krisis utang, BUMN dijual bla bla bla, sehingga seolah-olah Indonesia sedang krisis, padahal kalau kita luangkan waktu untuk cross check data sedikit saja, maka sebenarnya gak ada problem apapun. Contoh, soal utang Pemerintah yang dikatakan naik terus, ketika itu penulis sudah menjelaskannya disini, dan intinya adalah no problemo (Coba anda baca dulu artikelnya. Mungkin perlu dicatat bahwa artikel tersebut ditulis tahun 2015 lalu, yakni ketika IHSG sedang crash dan semua orang berpikir bahwa akan terjadi krismon seperti tahun 1998, namun fakta bahwa IHSG di tahun-tahun berikutnya malah naik terus membuktikan bahwa apa yang penulis sampaikan ketika itu benar adanya). Malah justru, berdasarkan data-fakta makroekonomi serta pengamatan di lapangan seperti yang sudah penulis paparkan diatas, maka kita justru sedang berada dalam era ekonomi efisien, yang kemudian berujung pada era percepatan pertumbuhan ekonomi.
Hanya memang, kemajuan teknologi menyebabkan era economic efficiency diatas, itu bukannya tanpa efek samping. Yup, kemajuan teknologi juga menyebabkan informasi-informasi mudah sekali menyebar dengan cepat entah itu melalui medsos, media elektronik, Whatsapp dll, dan masalahnya sekarang ini (atau sejak dulu??) ada banyak orang atau organisasi yang dengan sengaja untuk kepentingan tertentu menyebar luaskan informasi palsu, atau informasi yang benar adanya namun dikemas sedemikian rupa hingga menimbulkan perspektif tertentu dari pembacanya (istilahnya news framing, anda bisa baca lagi penjelasannya disini). Dan malahan sekarang ini kita sulit sekali menemukan berita yang netral, dimana ketika koran A bilang bla bla bla terkait isu tertentu, maka koran B ngomongnya beda lagi untuk isu yang sama (jadi yang bener yang mana??).
Nah, bagi investor berpengalaman, sebenarnya ini gak jadi masalah, karena kita sudah terbiasa kritis dalam menyikapi isu-isu tertentu, sama seperti penulis yang rutin menghabiskan waktu berjam-jam hingga berhari-hari untuk menganalisa, untuk kemudian menyimpulkan apakah suatu saham layak invest atau tidak. Actually, penulis sendiri tidak selalu mengatakan bahwa ‘ekonomi kita baik-baik saja’. Karena kalau anda baca-baca lagi arsip blog ini di bulan-bulan tertentu di tahun 2013 dan 2015, maka ketika itu juga saya mengatakan bahwa ada ‘something wrong’ di perekonomian nasional, sehingga kita sebagai investor harus lebih waspada/jangan buru-buru belanja saham dulu.
Tapi bagi investor pemula yang biasanya langsung percaya saja ketika disodori berita/rumor tertentu, maka hal itu bisa membuat seorang investor menjual saham ketika ia seharusnya membeli, dan sebaliknya, membeli saham ketika seharusnya menjual. Dan sudah tentu, ujung-ujungnya adalah cerita kerugian. Anyway, berdasarkan apa yang sudah penulis pelajari sejauh ini, maka sekali lagi kesimpulannya adalah no problemo, malah justru kita harus mengucapkan ‘Selamat Datang Era Ekonomi Efisien!’, dan anda bisa tetap belanja saham seperti biasa. Dan jangan khawatir, kalau nanti ada perubahan analisa yang serius maka tulisan ini akan di-update.
Jadwal Seminar Value Investing (hari Sabtu): Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Jadwal Value Investing – Advanced Class (hari Minggu): Jakarta 1 Juli, Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Jakarta, Medan, & Surabaya

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buydan sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias membeli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Okay, berikut jadwal selengkapnya (boleh dicatat):
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 1 Juli 2018
Medan, Sumatera Utara
  • Tempat: Cordela Hotel, Jln. Prof HM. Yamin SH. No.90, Kota Medan
  • Hari/Tanggal: Minggu, 8 Juli 2018
Surabaya, Jawa Timur
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Minggu, 15 Juli 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class Jakarta/Medan/Surabaya (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegramsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special Bonus!
Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama temen-temen peserta Advanced Class, Medan, 21 April 2018
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin! TeguhHidayat.com akan tetap online sepanjang libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

June 8th, 2018 at 11:49 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Buy, Hold, Sell, or.. Ignore?

Kalau anda baca-baca ulasan emiten yang dibuat analis sekuritas, maka di akhir ulasan tersebut biasanya terdapat kesimpulan terkait apakah rekomendasinya (untuk saham yang bersangkutan) adalah buy, hold, atau sell. Namun pada ulasan Lippo Cikarang (LPCK), di bagian akhir tulisan penulis mengajak pembaca untuk juga menyampaikan analisanya masing-masing, entah itu rekomendasinya buy, hold, sell, atau ignore. Nah lho, jadi apa yang dimaksud dengan ignore disini?
Ignore, secara harfiah bermakna abaikan. Jadi jika suatu saham rekomendasinya adalah ignore artinya anda disarankan untuk mengabaikan saja saham tersebut, dan gak usah pusing memikirkan soal apakah sahamnya layak buy atau tidak. Kesimpulan analisa berupa ignore ini ditujukan pada satu saham tertentu yang anda belum memegangnya sebelumnya, yang anda mungkin tertarik untuk membelinya karena alasan tertentu, misalnya karena harganya naik terus hingga bikin orang-orang jadi penasaran, atau sebaliknya harganya turun jauh hingga valuasinya menjadi kelewat murah, tapi pada akhirnya anda disarankan untuk mengabaikan saham tersebut, dan cari saja saham yang lain. However, jika posisi anda sejak awal sudah memegang saham tersebut, maka ignore ini juga bisa diartikan sebagai ‘quit (sell), and never look back’, alias segera jual sahamnya dan jangan pernah lihat-lihat lagi (jadi mau selanjutnya saham itu naik atau turun, biarkan saja).
Seperti yang sudah disebut diatas, kalau anda terbiasa membaca rekomendasi sekuritas, maka anda tidak akan pernah menemukan rekomendasi ignore ini, dan anda bahkan mungkin baru mendengar istilah ignore ini, dalam kaitannya dengan dunia investasi saham, pada artikel ini. Tapi berdasarkan pengalaman selama ini, penulis sendiri sudah sering ketemu suatu kondisi dimana kita sebaiknya memang mengabaikan saham tertentu, bahkan meski saham tersebut sedang ramai-ramainya dibicarakan di market/hampir semua orang membelinya, dan anda akan tampak konyol jika anda tidak ikut membeli.
Okay, lalu kenapa, dan kapan kita harus meng-ignore suatu saham? Ada beberapa alasan, tapi pertama-tama kita belajar dari quotes-nya Opa Warren Buffett (WB) dulu, dalam hal ini ada tiga quotes yang penting untuk diperhatikan:
1. Rule No.1, never lose money. Rule No.2, don’t forget rule No.1
2. Risk comes from not knowing what you are doing
3. Never invest in a business you cannot understand.
Jadi pertama-tama, kita berangkat dari rule paling dasar dalam investasi saham ala WB: Jangan pernah kehilangan uang, alias rugi. Sudah tentu, ini bukan berarti WB tidak pernah rugi sepanjang kariernya sebagai investor, tapi maksudnya adalah, alih-alih berusaha memaksimalkan keuntungan, ia justru selalu berusaha keras untuk meminimalisir risiko terjadinya kerugian.
Dan risiko terjadinya kerugian itu biasanya berasal dari ketidak tahuan kita dalam berinvestasi, salah satunya ketika kita berinvestasi pada saham/perusahaan yang tidak bisa kita pahami, entah itu terkait industri/sektor usaha yang dijalani perusahaan, cara kerja perusahaan, kualitas manajemen, valuasi sahamnya, pergerakan sahamnya, dan seterusnya. Kemudian perhatikan bahwa WB mengatakan ‘never invest in a business you cannot understand’, dan bukannya ‘never invest in a business you don’tunderstand’. Ini artinya, ketika anda tertarik untuk berinvestasi pada saham tertentu, maka anda seperti biasa boleh analisa dan pelajari terlebih dahulu perusahaannya secara menyeluruh, tapi jika setelah anda pelajari bolak balik namun anda tetap saja pada akhirnya tidak mengerti kenapa kok perusahaannya begini? Kenapa kok sahamnya begitu? Maka.. Anda jangan beli sahamnya! Karena kalau demikian, artinya anda berinvestasi pada perusahaan yang tidak anda pahami, atau dengan kata lain anda tidak tahu apa yang sedang anda lakukan, dan ini akan menyebabkan anda menghadapi risiko yang sangat besar untuk menderita kerugian.
Dan inilah kenapa, hingga sekitar tahun 2010, WB hampir tidak pernah berinvestasi pada saham-saham perusahaan teknologi, karena alasannya ya itu tadi: Ia tidak mampu untuk memahami value serta prospek dari perusahaan teknologi. Jadi meski orang mungkin mengkritik WB karena tidak membeli saham-saham teknologi yang naik luar biasa dalam jangkan panjang seperti Google, Amazon Inc, dst, tapi WB dalam hal ini telah melakukan tindakan yang paling tepat. Memasuki tahun 2010 sampai sekarang, barulah Berkshire Hathaway (BRK) mulai berinvestasi di saham-saham teknologi seperti IBM dan Apple, dan lagi-lagi itu mengundang kritikan karena WB dianggap plin-plan, tapi WB sekali lagi tetap melakukan tindakan yang tepat, karena pada hari ini, ia beserta jajaran fund manager-nya di BRK sudah mampu memahami cara kerja dan prospek jangka panjang dari Apple Inc, dimana kesimpulan dari analisanya adalah, Apple layak untuk invest.
Berdasarkan ulasan diatas maka bisa disimpulkan bahwa dalam memnentukan apakah suatu saham layak buy atau tidak, itu tidak melulu mempertimbangkan fundamental serta prospek perusahaan yang bersangkutan, melainkan juga mempertimbangkan posisi si investor itu sendiri, apakah ia cukup memahami perusahaan tersebut atau tidak. Jadi ketika WB tidak membeli saham Google di awal tahun 2000-an, maka itu bukan berarti saham Google nggak bagus (dan memang nyatanya saham Google naik banyak). Dan ketika WB mulai membeli saham Apple sejak sekitar tahun 2016, maka itu juga bukan berarti Apple ini pasti bagus, tapi yang jelas WB beserta tim-nya sudah mempelajari perusahaannya secara menyeluruh, dan kesimpulan mereka adalah, Apple ini layak invest.
However, jika anda sendiri kemudian mempelajari Apple, tapi kesimpulan akhirnya adalah aku ora ngerti, maka, dengan mengikuti kaidah value investing seperti yang disampaikan WB, rekomendasi penulis untuk Apple ini adalah ignore(dan memang penulis sendiri gak akan buy saham Apple, karena saya tidak punya waktu untuk mempelajari perusahaannya/kita fokus ke saham-saham dalam negeri saja).
Inilah sebabnya ketika penulis ditanya, ‘Pak Teguh, gimana prospek saham INKP? TKIM? ERAA?’ (Catatan: setiap tahun di market akan selalu ada saja ‘saham-saham terbang’ yang bikin penasaran seperti itu), tapi jawaban penulis adalah, ‘I don’t know and I don’t care’. Yup, tiga saham yang disebut diatas memang pernah sangat murah sekitar satu atau dua tahun yang lalu, dan fundamentalnya juga bagus (kita pernah merekomendasikan ketiganya di ebook kuartalan), tapi ketika itu kita tidak pernah menyangka bahwa sahamnya akan naik setinggi ini, dan meski sudah kita pelajari bolak balik, tetap saja kami tidak mengerti kenapa ketiganya bisa naik setinggi itu.

Jadi mau besok-besok itu saham naik atau turun, kami akan mengabaikannya. Demikian pula untuk saham-saham lainnya yang entah kenapa naik sendiri, atau sebaliknya turun sendiri (misalnya saham Campina Ice Cream (CAMP), yang sekilas menarik karena merupakan perusahaan es krim terkenal, tapi kita tetep aja gak mengerti kenapa saham ini di awal tahun kemarin sempat mencapai 1,800, dan sekarang anjlok ke 300-an), tapi kalau kita gak ngerti kenapa kok perusahaannya begini, kenapa kok sahamnya begitu, maka ya sudah, rekomendasinya ignore saja. Dalam hal ini, sekali lagi, ketika kita meng-ignore saham tertentu maka bukan berarti saham tersebut jelek, dan contoh-contoh saham yang disebut diatas bisa saja besok-besok naik lagi. Tapi ketika kita membeli saham tertentu yang ‘you cannot understand’, misalnya cuma karena penasaran soalnya saham itu naik terus/ramai dibicarakan orang, maka itu artinya bukan investasi, melainkan spekulasi.
Ini seharusnya bisa jadi saham bagus, tapi ya gak tau lah
Namun sebaliknya, ketika seorang investor membeli saham tertentu yang orang lain menganggap saham tersebut jelek, maka bisa jadi itu karena si investor tersebut mampu mempelajari dan memahami perusahaan, termasuk paham soal risk and reward-nya, sedangkan orang lain tidak cukup paham saja. In fact, WB sendiri menyarankan kita untuk membeli saham yang orang lain justru menghindarinya (atau orang lain tidak berminat untuk ikut membeli), tapi tentunya dengan catatan anda sudah mempelajari dan sudah memahami saham/perusahaan tersebut. Dan berdasarkan pengalaman penulis sendiri, saham-saham terbaik kita adalah memang saham yang ketika kami memutuskan untuk membelinya maka orang-orang justru kebingungan, itu saham apaan? Apa bagusnya? Bukannya perusahaannya rugi bla bla bla??
However, kalau kita sudah pelajari saham tertentu dan kesimpulan akhirnya adalah anda gak ngerti apa-apa (atau kadang ada juga saham yang semakin dipelajari, semakin bikin tambah puyeng), maka yo wis: Mau itu saham naik atau turun maka abaikan saja, dan anda boleh membeli saham lain yang, setelah anda pelajari, bisa disimpulkan bahwa saham itu memang bagus dan layak invest, dan setelah itu anda boleh pergi berlibur.
Jika anda punya pengalaman terkait meng-ignore suatu saham, boleh menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

Jadwal Seminar Value Investing: Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin! TeguhHidayat.com akan tetap online sepanjang libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

We’re Hiring! Value Investing Trainer, & Junior Partner

Dear investor, seiring dengan semakin banyaknya jumlah investor saham berkat kampanye Yuk Nabung Saham!oleh BEI, dan juga semakin populernya metode value investing itu sendiri, maka penulis belakangan ini menerima banyak sekali permintaan untuk mengisi kelas kampus, pelatihan, dan workshop, baik itu secara private maupun kelas seminar.

However, karena disisi lain saya juga harus fokus jagain portofolio milik Avere, dan itu juga bukan pekerjaan yang mudah, maka tidak semua request pelatihan tersebut bisa saya penuhi. Pada tahun 2016 lalu penulis banyak mengisi kelas di kampus-kampus, tapi belakangan ini semua request dari universitas terpaksa saya tolak karena, sekali lagi, sulit ngatur waktunya (jadi dalam hal ini saya mohon maaf, dan harap maklum).
Jadi dengan ini, Indonesia Value Investing membuka posisi sebagai value investing trainer, dimana kandidat yang terpilih akan bertugas untuk:
  1. Mengisi kelas seminar seminar yang rutin, baik itu kelas value investing maupun kelas value investing advanced, di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia (materinya tetap dari penulis sendiri, jadi anda gak usah bikin materi baru).
  2. Menerima undangan untuk mengisi training di institusi, perusahaan, atau kampus-kampus,
  3. Mengisi kelas private, jika ada request, dan
  4. Mengisi acara investor gathering, market outlook, dan semacamnya (bukan seminar), dimana disitu akan lebih banyak sesi tanya jawab, dan anda menjawab pertanyaan dari teman-teman yang hadir.
Kriteria:
  1. Pria/wanita, berpenampilan menarik, usia dan latar belakang pendidikan tidak diutamakan.
  2. Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai pembicara di depan umum, termasuk menguasai teknik-teknik public speaking.
  3. Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai investor saham,
  4. Memiliki wawasan yang luas tentang ekonomi dan dunia pasar saham (jangan sampai ketika peserta seminar bertanya apa itu waran, apa itu private placement, anda gak bisa jawab), dan
  5. Menguasai metode value investing, lebih disukai jika anda sudah pernah membaca sebagian besar tulisan di blog teguhhidayat.com.
Karena ini merupakan part time job (anda rata-rata hanya akan mengisi seminar sebulan sekali, sesuai permintaan), maka anda tidak harus meninggalkan pekerjaan sebelumnya.
Bagi yang memenuhi kriteria diatas silahkan kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek ‘Trainer’, paling lambat hari Sabtu, 30 Juni. Jangan lupa sertakan CV lengkap anda beserta foto, serta jelaskan (melalui essay singkat) kenapa anda cocok untuk posisi ini.
Catatan Penting: Sebelum nanti ada pengumuman bahwa kita sudah punya trainer baru, maka semua jadwal seminar kedepannya masih diisi oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.

***

Selain sebagai trainer, penulis juga membuka posisi sebagai Junior Partner, dimana kandidat terpilih akan bertugas:

  1. Membantu penulis men-screening saham dan mencari saham ‘mutiara terpendam’, dengan cara baca-baca laporan keuangan emiten, satu per satu.
  2. Menjadi market watcher, dimana anda memberikan info kepada penulis kalau ada saham tertentu yang sudah diincar sebelumnya, yang sudah masuk buying range-nya.
  3. Memberikan opsi-opsi saham bagus nan undervalue yang anda temukan, yang mungkin penulis sendiri terlewat/gak sempat melihat saham tersebut,
  4. Memberikan second opinion terkait analisa saham-saham tertentu, dengan kata lain menjadi partner diskusi bagi penulis (dalam hal ini anda harus benar-benar memiliki wawasan yang luas tentang dunia pasar saham), dan
  5. Membantu penulis menganalisis IHSG, makro ekonomi, analisis sektoral, dan seterusnya.
Sebagai partner, anda akan keep in touch dengan penulis via Whatsapp dan telepon, bisa bertanya dan mengajak diskusi setiap saat, dan kita juga akan rutin meeting minimal sebulan sekali untuk diskusi perkembangan portofolio, perkembangan market, dll. Dan sudah tentu, jika penulis memperoleh profit di saham tertentu, maka anda juga akan memperoleh profit sesuai besarnya dana milik anda sendiri, yang anda investasikan pada saham tersebut. Tersedia bonus berupa uang tunai hingga paket jalan-jalan keluar negeri, jika anda sukses membantu penulis menghasilkan kinerja investasi yang lebih baik.

Untuk kriterianya sama seperti kriteria untuk posisi trainer diatas, kecuali poin No. 2, karena anda tidak akan berbicara di depan publik. Lebih disukai jika anda: 1. Punya latar belakang pendidikan ekonomi/finance/manajemen, 2. Pernah bekerja di kantor akuntan publik, asset management, dan semacamnya, 3. Punya sertifikat WMI, CFA, dan semacamnya.

Bagi yang memenuhi kriteria diatas silahkan kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek ‘Junior Partner’, paling lambat hari Sabtu, 30 Juni. Jangan lupa sertakan CV lengkap beserta foto, serta: 1. Jelaskan (melalui essay singkat) kenapa anda cocok untuk posisi ini, 2. Ceritakan pengalaman anda menemukan saham ‘mutiara terpendam’ (saham yang kemudian naik 100% atau lebih dalam waktu 1 – 2 tahun atau kurang) menggunakan metode value investing, jika ada.

Hanya email dari kandidat yang memenuhi kriteria yang akan menerima balasan. Deadline pengiriman lamaran: 31 Agustus [...]

Seminar Value Investing: Jakarta, Medan, Surabaya

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat the Market in Five Minutes!’, di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, dan cara menyusun portofolio. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator nilai intrinsik saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercayauntuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal. Plus cara untuk memperoleh info yang lebih komprehensif tentang suatu perusahaan, yang tidak akan anda peroleh dari sumber informasi dalam negeri.
Ilustrasi Value Investing

Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya (boleh dicatat):
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 30 Juni 2018
Medan, Sumatera Utara
  • Tempat: Cordela Hotel, Jln. Prof HM. Yamin SH. No.90, Kota Medan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Juli 2018
Surabaya, Jawa Timur
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Juli 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***


Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,350,000, dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Jakarta/Medan/Surabaya(pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang untuk setiap kelas.

5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,200,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegramsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta kelas Surabaya, 14 April 2018
Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Advanced Class, maka boleh lihat jadwalnya disini.

Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Tips Menghadapi Koreksi Pasar

Salah satu tugas rutin seorang investor adalah untuk menjaga pikiran untuk tetap tenang, untuk tetap fokus. Untuk tidak dilanda rasa khawatir ketinggalan kereta, takut rugi, takut dengan rumor-rumor yang beredar, dan seterusnya. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa melakukan pekerjaan analisa dengan baik dan logis, mengambil keputusan buy and sell berdasarkan analisa tersebut dengan sama baiknya, dan pada akhirnya menghasilkan return investasi sesuai dengan yang diharapkan.

Dan itu tidak pernah menjadi tugas yang mudah. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa, berbeda dengan investor pemula, investor berpengalaman bisa lebih santai karena ia sudah pernah mengalami banyak hal, melewati banyak kondisi naik turunnya pasar, dan normalnya juga sudah lebih mahir dalam menganalisis dan membuat investment planning.
Padahal itu tidak sepenuhnya tepat. Lemme be honest here: Bagi anda yang masih baru di market, dan masih sering nervous serta bingung (apa yang harus saya lakukan??) ketika melihat naik turunnya IHSG maupun saham-saham yang anda pegang, maka penulis juga masih sering mengalami hal yang sama. Yup, saya masih suka panas dingin kalau saham yang dipegang turun, atau sebaliknya, saham yang diincar sudah naik duluan sebelum kita sempat membelinya. Ketika dalam satu dua bulan terakhir ini pasar saham mengalami koreksi, maka penulis tetap saja terkadang merasa under pressure secara psikologis, bahkan meski saya sudah sering melewati koreksi pasar seperti ini sebelumnya.
Dan itu karena, sebagai investor, nilai aset/portofolio kita naik terus dari tahun ke tahun, yang otomatis menyebabkan nilai profit and loss yang dialami juga terus meningkat dibanding di masa lalu. Maksud penulis adalah, yes, dulu waktu penulis masih baruuu banget, maka ketika melihat saham kita turun dan di software OLT nongol angka floating loss sebesar Rp200,000 saja, maka rasanya sudah seperti dunia mau kiamat. Sementara hari ini, kalau nongol lagi floating loss sebesar itu atau lebih besar lagi, maka kita sudah bisa bersikap biasa saja.
Tapi masalahnya, ketika aset anda terus meningkat, dan itu adalah sesuatu yang normal dalam berinvestasi (kalau anda hari ini kelola dana Rp10 juta, dan lima tahun kemudian dana anda masih Rp10 juta juga, berarti ada yang salah), maka ketika satu dua tahun lalu penulis nyangkut lagi, nilai floating loss-nya bukan lagi 200 ribu, bukan lagi 2 juta, bukan lagi 20 juta.. melainkan jauh lebih besar dari itu! Dan ketika hari ini nilai aset kita kembali naik dibanding tahun kemarin, maka lagi-lagi nilai ruginya (berdasarkan nilai Rupiah) menjadi lebih besar ketika pasar kembali mengalami koreksi. Point penulis adalah, sebagian investor pemula dengan ‘dana coba-coba’ mungkin mengeluh bahwa kalau mereka beli saham dan profit, maka nilai profitnya dalam Rupiah ‘tidak terlalu berasa’, karena memang modalnya masih kecil, tapi faktanya fund manager profesional justru harus menghadapi pressure yang jauh lebih lebih berat! Karena ketika mereka berbuat kesalahan, atau simply nilai portonya turun karena koreksi pasar, maka nilai ruginya dalam Rupiah akan jauh lebih besar dibanding investor lain yang asetnya lebih kecil.
Nah, jadi anda mengerti maksud penulis bukan? Jadi katakanlah anda sudah terbiasa dan mampu untuk bersikap santai saja ketika nyangkut Rp200,000, maka ketika itu rugi anda sudah meningkat jadi Rp2 juta. Dan ketika anda sudah biasa-biasa saja ketika nyangkut Rp2 juta, maka ruginya naik lagi menjadi Rp20 juta! Demikian seterusnya, dan alhasil rasa nervous yang dulu penulis alami ketika kita rugi Rp200,000, sampai sekarang saya masih mengalaminya karena rugi kita hari ini sudah jauh lebih besar dari itu.
Tapi Pak Teguh, memang kalo kita pegang duit Rp100 juta, maka ruginya lebih gede dibanding kalau modalnya cuma Rp10 juta, tapi disisi lain kalau kita profit maka profitnya juga lebih gede dong? Yang itu artinya, memang kalau pasar lagi turun maka kita akan down, tapi kalau pasar lagi naik maka kita akan happy bukan? Well, nggak juga. Sebagian investor mungkin menyadari bahwa ketika mereka dapet profit, maka itu cuma karena beruntung, karena sejak awal mereka membeli saham lebih banyak pakai metode tebak-tebakan, atau ikut-ikutan teman, ketimbang berdasarkan analisa yang dibuat secara teliti dan hati-hati.
Tapi investor lainnya sama sekali nggak begitu, dimana ketika penulis membeli saham maka itu adalah berdasarkan analisa yang sudah kita buat susah payah sebelumnya, termasuk hasil dari membaca ratusan laporan keuangan emiten, satu per satu. Yep, jadi ketika kita memperoleh profit maka itu bukan kebetulan semata, melainkan hasil dari kerja keras. Memang benar bahwa value investor itu jauh lebih santai dibanding trader karena kita gak perlu melihat naik turunnya saham seharian setiap hari, tapi bukan berarti kita gak ngapa-ngapain sama sekali, karena mengerjakan analisis fundamental itu juga tetap memerlukan waktu serta fokus. Penulis sendiri bisa menghabiskan waktu sehari semalam untuk baca-baca dokumen laporan tahunan dll dari suatu emiten, hingga akhirnya diperoleh kesimpulan apakah saham emiten tersebut layak invest atau tidak.
Jadi ketika kita profit, maka memang penulis happy, tapi juga gak akan happy-happy banget, karena profit itu tidak kita peroleh begitu saja, melainkan hasil dari kerja keras. In fact, bahkan setelah kita bolak balik menganalisis dan baca dokumen ini itu, tapi tetap saja kita bisa rugi sewaktu-waktuentah itu karena koreksi pasar, force majeure dll, dan itu semakin menambah beban pressure yang kita alami. Karena analoginya seperti anda kerja keras dan lembur tiap malam di kantor, tapi tidak hanya tidak memperoleh gaji di akhir bulan, bos anda malah mengambil sebagian tabungan anda karena ‘IHSG lagi turun’. Well, gimana rasanya??
Tips Agar Tetap Tenang & Santai
Jadi balik lagi keatas, salah satu tugas rutin seorang investor adalah untuk menjaga pikiran untuk tetap tenang, untuk tidak terlalu under pressure dalam kondisi pasar yang paling tidak kondusif sekalipun. Pertanyaannya sekarang, gimana caranya?
Nah, bagi anda yang sudah kenal dengan penulis, maka anda mungkin hafal bahwa kita sangat menerapkan prinsip simplicity and humbleness, alias gaya hidup sederhana baik itu ketika bekerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Yup, tidak seperti ‘investor sukses’ yang terkadang memperlihatkan gaya hidup mewah dan wah, penulis nggak begitu, dimana saya selalu pake baju biasa saja (bahkan ketika mengisi seminar, dan seminarnya pun di hotel biasa saja), smartphone biasa saja, kalau jalan-jalan maka pake style backpacker (kecuali kalau sama keluarga), dan penulis tidak malu untuk mengakui bahwa saya kemana-mana pake busway atau Gojek. Di buku The Calm Investor, saya mengatakan bahwa ‘Investor saham bukanlah selebritis infotainment. Mereka tidak perlu mengendarai mobil mewah hanya untuk menunjukkan bahwa mereka kaya raya’.
Namun demikian, ketika sewaktu-waktu kinerja porto tidak sesuai harapan dan beban pressure terasa semakin berat, maka ketika itulah penulis akan menghibur diri dengan sedikit melonggarkan ‘humble policy’ ini. Ketika itulah saya akan:
  1. Nyetir pulang kampung ke Cirebon, mentraktir keluarga besar makan-makan dan belanja, dan kasih sumbangan/pinjaman modal usaha ke saudara yang membutuhkan (yang ini penulis lakukan setiap saat sih sebenernya, jadi gak harus pas pasar lagi turun).
  2. Pergi fancy dining di hotel berbintang sama keluarga atau teman.
  3. Belanja di Kemchick Kemang, Jakarta Selatan, tanpa lagi melihat label harganya (saya terakhir kaya gini tahun 2015 lalu).
  4. Liburan ke pantai dengan naik pesawat kelas bisnis, menginap di villa, dan nongkrong melihat sunset. Dan seterusnya.
Sunset di Pantai Kuta, Bali
However, kalau susah ngatur waktunya (rencana bukber aja kadang cuma jadi wacana forever), maka penulis akan pergi makan di restoran mahal saja, sekalian mentraktir sahabat dekat. Dengan cara inilah biasanya penulis akan menyadari bahwa, sesulit-sulitnya kerjaan kita di stock market, dan sebesar-besarnya rugi yang dialami, tapi paling tidak kita masih bisa makan (makan enak pula), dan juga masih bisa berbagi kebahagiaan dengan teman-teman dan keluarga. Dan kabar baiknya, kebahagiaan itu menular. Jadi ketika anda bisa membuat orang-orang terdekat anda happy, maka anda akan ikut happy karenanya, dan itu akan sangat membantu mengangkat beban pressure terkait investasi anda di saham. Li Ka-shing sendiri pernah menyarankan agar kita membagi penghasilan kita menjadi lima bagian (diluar untuk investasi), salah satunya digunakan untuk mengajak/mentraktir makan teman-teman dan sahabat yang anda miliki.
Nah, jadi ketika orang lain mungkin akan bersenang-senang atau beli barang mahal ketika cuan besar dari saham, yang penulis lakukan justru sebaliknya, dimana kalau kita lagi profit maka ya kita biasa-biasa saja, karena sejak awal we are supposed to make money from stocks. Jadi kalau kita profit maka ya gak ada yang perlu dirayakan, dan penulis tetap akan kemana-mana naik Lion Air.
Tapi ketika kondisi pasar lagi sulit, maka ketika itulah penulis akan merogoh kocek sedikit lebih dalam, untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Dan meski sekilas itu tampak sebagai pemborosan, tapi itu justru merupakan investasi. Karena hasilnya akan sangat terasa: Kita menjadi happy, beban pikiran jauh berkurang, kita menjadi lebih confident, dan pada akhirnya kita tetap bisa melakukan keputusan buy and sell berdasarkan akal sehat, bukan karena panik atau serakah. Yep, anda boleh-boleh saja sesekali rugi dari market, karena pada akhirnya anda gak mungkin bakal cuan terus. Tapi yang terpenting adalah, dalam kondisi profit, anda tahu apa yang harus dilakukan, dan dalam kondisi loss, anda juga tahu apa yang harus dilakukan. Sebab sekalinya anda lost control karena tidak kuat dengan beban pressure tadi, maka saat itulah anda akan ditendang keluar dari permainan, dan anda tidak akan mampu bangkit lagi ketika nanti pasar kembali pulih. Dan agar emosi serta kondisi psikologis kita tetap under control, maka penulis sudah menyampaikan tips-nya diatas.
Well, that’s another investment tips from me. Ada yang mau menambahkan?
Buletin Analisis IHSG, update situasi pasar, serta stockpick saham pilihan edisi Juni 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram