Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Foto-Foto Seminar Value Investing

Dear investor, berikut ini adalah foto-foto penulis bersama para peserta seminar value investing, ketika kami melakukan ‘Value Investing Tour 2014’ mulai dari Medan, Sumatera Utara, hingga Legian, Bali, antara tanggal 30 Agustus hingga 22 November 2014. Klik tiap-tiap foto untuk memperbesar.
Medan, Sumatera Utara, 30 Agustus


Surabaya, Jawa Timur, 6 September
Makassar, Sulawesi Selatan, 20 September
Jakarta, 27 September
Semarang, Jawa Tengah, 11 Oktober
Yogyakarta, 15 November
Legian, Bali, 22 November
Nah, jika anda punya usulan tentang kota mana lagi yang bisa kami kunjungi, maka anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah. FYI, khusus untuk Kota Jakarta, kita akan rutin bikin seminar yang sama setiap 1 atau 2 bulan sekali, jadi jangan lupa untuk mengunjungi TeguhHidayat.com minimal seminggu sekali untuk mengetahui jadwal seminar & investor gathering terbaru.
NB: Penulis membuat CD yang berisi materi dan rekaman suara penulis ketika mengisi seminarnya. Anda bisa memperolehnya 

Saham Terbaik di Sektor Konstruksi

Jika anda termasuk salah satu dari sekian banyak warga Indonesia yang tidak telalu terpengaruh oleh berbagai pemberitaan negatif oleh TvOon dan Metro Mini selama Indonesia dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, maka anda akan bisa melihat bahwa selama sepuluh tahun terakhir, atau khususnya dalam lima tahun terakhir (2009 – 2014), Indonesia telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam hal pembangunan infrastruktur. Yang paling gampang dilihat, Indonesia kini merupakan salah satu negara dengan jumlah bandara paling banyak di dunia, termasuk bandara internasional, dimana kebanyakan dari bandara-bandara tersebut baru dibangun dalam sepuluh tahun terakhir. Jika dulu naik pesawat terbang merupakan suatu hal yang terbilang mewah, maka pada saat ini, seperti yang dikatakan Air Asia, ‘now everyone can fly’.

Di bidang infrastruktur lainnya seperti pembangunan jalan tol, stasiun kereta api, pembangkit listrik, hingga jaringan telekomunikasi dan internet, semuanya juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan, meski memang belum merata alias masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. However, pengalaman penulis kemarin jalan-jalan ke Medan, Sumatera Utara, hingga Makassar, Sulawesi Selatan, sinyal internet di kota-kota tersebut sudah cukup bagus kok, termasuk Makassar juga punya jalan tol yang sangat mulus. Jadi untuk kekurangan infrastruktur yang lainnya mungkin cuma soal waktu untuk bisa dipenuhi. At the end, Pemerintah juga memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk bisa membangun infrastruktur secara menyeluruh di negara seluas Indonesia, mengingat kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia.
Berbagai pembangunan infrastruktur yang dikerjakan selama ini turut mendorong pertumbuhan yang sangat signifikan bagi perusahaan-perusahaan konstruksi, terutama perusahaan konstruksi BUMN dimana biasanya mereka-lah yang memenangkan tender-tender untuk proyek pembangunan jalan raya, jembatan dll milik pemerintah. Adhi Karya (ADHI), contohnya. Dalam tempo kurang dari enam tahun, perusahaan konstruksi BUMN terbaik di BEI ini secara fundamental (versi TeguhHidayat.com tentunya) mampu untuk terus mendulang laba, hingga nilai aset bersihnya naik signifikan dari Rp600 milyar pada akhir tahun 2008, menjadi Rp1.5 trilyun pada Kuartal III 2014, padahal selama itu perusahaan juga terbilang cukup royal membagikan dividen, yakni mencapai 30 – 40% laba bersihnya setiap tahun. Seiring prestasi kinerjanya tersebut, saham ADHI juga terbang tinggi dalam lima tahun terakhir, dan demikian pula dengan saham-saham konstruksi lainnya.
Pertanyaannya, apakah trend positif ini masih akan berlanjut? Nah, kebetulan dibawah Pemerintahan yang baru yang dipimpin oleh Presiden Jokowi, visi terkait pembangunan infrastruktur tersebut sepertinya masih akan dilanjutkan. Jika Indonesia pada saat ini sudah memiliki infrastruktur transportasi udara (pesawat terbang) dan darat (kereta api) yang lumayan baik, maka tidak demikian halnya dengan laut, padahal seperti yang sudah disebutkan tadi: Kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Ketidak merataan pembangunan infrastruktur, termasuk perbedaan harga jual berbagai komoditas seperti BBM dan semen yang sangat mencolok antara Pulau Jawa dan Papua, misalnya, itu adalah karena kita belum memiliki infrastruktur kelautan yang memadai, yang mampu menghubungkan Sumatera hingga Papua. Negara besar lainnya seperti Amerika Serikat, misalnya, mereka relatif tidak mengalami masalah dalam hal pemerataan pembangunan infrastruktur, karena mereka bisa dengan mudah mengirim semen dan besi dari pantai timur New York ke pantai barat California atau sebaliknya melalui jalan darat (kereta api), tanpa perlu naik kapal sama sekali.
Karena itulah, ketika Presiden Jokowi dalam banyak kesempatan menyatakan bahwa beliau akan fokus pada pembangunan infrastruktur kelautan, maka itu adalah keputusan yang sangat tepat dan memang sesuai kebutuhan. Jika visi tersebut bisa terealisasi, maka dalam beberapa tahun kedepan Indonesia akan juga memiliki banyak pelabuhan dan galangan kapal dengan standar internasional. Dan sudah tentu, perusahaan-perusahaan konstruksi akan kembali kebanjiran proyek pembangunan pelabuhan dll.
Kesimpulannya, penulis sependapat dengan Grup Astra yang kemarin mengakuisisi PT Acset Indonusa (ACST), yakni bahwa sektor konstruksi masih menarik untuk investasi, termasuk investasi jangka panjang hingga 5 tahun kedepan.
Pertanyaan berikutnya tentu, saham mana di sektor ini yang paling layak dikoleksi? Nah, kalau berkaca pada pengalaman dimana tender-tender proyek infrastruktur biasanya dimenangkan oleh perusahaan-perusahaan konstruksi pelat merah, maka pilihannya ya masih seputar ADHI, Wijaya Karya (WIKA), Waskita Karya (WSKT), hingga Pembangunan Perumahan (PTPP), dimana keempat perusahaan konstruksi ini masih sangat ber-prospek untuk kembali mendulang laba dari future infrastructure projects. Namun dalam value investing kita tidak begitu memperhatikan prospek seperti itu, melainkan lebih melihat ke valuasi. Dan sayangnya pada saat ini, valuasi dari keempat saham konstruksi tersebut tidak ada yang bisa dikatakan murah. Berikut selengkapnya, dimana harga saham adalah per penutupan pasar tanggal 24 November 2014.
Stocks
Price (Rp)
PER (x)
PBV (x)
Dividend (Rp)
Dividend Yield (%)
ADHI
2,775
37.1
3.3
68
2.4
PTPP
3,010
37.7
6.8
26
0.9
WIKA
3,035
34.9
4.5
28
0.9
WSKT
1,045
58.7
4.2
11
1.1
Berdasarkan pengalaman, membeli saham pada harga/valuasi yang tinggi mungkin masih bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan ketika pasar/IHSG sedang normal atau bullish, namun risikonya akan sangat besar jika pasar kemudian berbalik arah dan turun. Pada tahun 2013 lalu dimana IHSG mengalami rally pada semester pertama, ADHI sempat naik hingga menyentuh 4,000, before then slashed down to as low as 1,425, atau anjlok lebih dari 60 persen! Jadi jika anda ketika itu termasuk yang membeli ADHI di harga yang dekat-dekat dengan 4,000 dan belum menjualnya sampai sekarang, maka bisa dipastikan bahwa anda masih nyangkut di saham ini, karena terakhir ADHI masih mentok di 2,775. Yang perlu dicatat disini adalah, dari sisi kinerja perusahaannya, tidak ada yang salah dengan ADHI. Yang salah adalah investor yang kelewat optimis dengan membelinya di harga yang terlalu tinggi, itu saja.
Sekali lagi, dalam value investing yang kita perhatikan adalah 1. Kualitas kinerja/fundamental perusahaan, 2. Valuasi sahamnya, kemudian baru 3. Prospeknya. Terkait hal ini pula penulis belum begitu tertarik dengan saham-saham perkapalan, karena meski prospek mereka tampak menarik seiring dengan rencana pembangunan kemaritiman oleh Presiden Jokowi, namun hanya sedikit dari mereka yang memiliki track record kinerja yang bagus dan konsisten dalam beberapa tahun terakhir (yang ‘sedikit’ itu sudah saya share analisis singkatnya di ebook kuartalan). Dan jika tadi disebutkan bahwa dari sisi valuasi, saham-saham konstruksi pelat merah seperti ADHI masih belum bisa dikoleksi (kalau ADHI turun ke 2,000, maka baru bakal kita sikat), lalu bagaimana dengan saham konstruksi non-BUMN? Well, untuk analisis selengkapnya anda bisa cek tabel berikut. Data diolah berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2014, dimana harga saham adalah per penutupan pasar tanggal 24 November 2014:
Stocks
Price (Rp)
PER (x)
PBV (x)
ROE (%)
Equity Growth (%)
ACST
3,285
17.8
2.7
15.1
8.8
ADHI
2,775
37.1
3.3
8.9
(1.4)
DGIK
175
13.3
0.9
6.6
3.6
NRCA
930
8.3
2.5
30.0
17.6
PTPP
3,010
37.7
6.8
18.0
8.2
TOTL
990
21.5
4.5
20.9
(0.2)
WIKA
3,035
34.9
4.5
12.8
41.1
WSKT
1,045
58.7
4.2
7.1
1.4
Nah, berdasarkan tabel diatas, saham mana yang pada harganya saat ini paling layak koleksi? Betul sekali.. Nusa Raya Cipta alias NRCA! NRCA mengalami pertumbuhan nilai aset bersih (atau saya biasa menyebutnya: pertumbuhan riil) yang paling menonjol sepanjang sembilan bulan pertama 2014, yakni mencapai 17.6%, dari Rp786 pada akhir tahun 2013 menjadi 924 milyar pada tanggal 30 September 2014 (pertumbuhan riil WIKA memang mencapai 41.1%, tapi itu karena perusahaan dapet dana segar dari IPO anak usahanya, Wijaya Karya Beton/WTON). Jika NRCA tidak membayar dividen senilai Rp69 milyar pada Mei lalu, maka angka pertumbuhannya bahkan mencapai 26.4%, atau jauh diatas rata-rata pertumbuhan pasar.

Gerung UOB Plaza, Jakarta Pusat, dimana pengerjaan konstruksinya dikerjakan oleh NRCA

Berkat pertumbuhannya tersebut, sementara disisi lain sahamnya belum kemana-mana, maka NRCA pada saat ini menjadi atraktif secara valuasi. Anda bisa lihat sendiri di tabel diatas, dimana dari sisi PBV, NRCA merupakan saham yang paling murah (PBV DGIK memang hanya 0.9 kali, namun sayang kinerjanya kurang bagus, bisa dilihat dari ROE-nya yang paling kecil diantara semuanya). Ketika dulu penulis membahas NRCA pada saat perusahaan menggelar IPO pada Juli 2013 lalu (ini link artikelnya), saya mengatakan bahwa dengan nilai ekuitas perusahaan yang ketika itu hanya Rp528 milyar, maka harga 1,040 per saham tentu saja sangat mahal, dimana harga tersebut mencerminkan PBV 4.3 kali. Jadi penulis memperkirakan (atau lebih tepatnya mengharapkan) bahwa NRCA bakal turun. Kabar baiknya, dia memang turun! Kemudian setelah satu tahun, lihat kondisinya: Ekuitas NRCA sudah mencapai Rp924 milyar, dan dengan mempertimbangkan growth rate-nya yang sangat menonjol maka dia bisa saja menembus Rp1 trilyun pada akhir tahun nanti, sehingga bisa kita katakan bahwa nilai riil NRCA naik hingga hampir dua kali lipat hanya dalam tempo setahun lebih sedikit. Kabar baiknya lagi, disisi lain sahamnya masih belum begitu naik, melainkan masih berada di level 930.
Fakta menarik lainnya adalah, dalam jangka panjang, NRCA juga memiliki track record yang boleh dikatakan paling solid diantara semua perusahaan konstruksi lainnya di BEI, mengingat perusahaan selama ini jarang menggunakan leverage yang berlebihan. Berikut selengkapnya:
NRCA 2009 2010 2011 2012 2013 CAGR (%) Average
Equity (Rp billion) 126 155 176 268 786 58.1 -
Liabilities (Rp billion) 253 357 538 568 840 35.0 -
Revenue (Rp billion) 892 1,008 1,582 2,024 3,006 35.5 -
Net Profit (Rp billion) 17 29 46 92 188 82.2 -
ROE (%) 13.5 19.0 26.1 34.3 23.9 - 23.4
DER (x) 2.0 2.3 3.1 2.1 1.1 - 2.1

Nah, perhatikan bahwa perusahaan ini memenuhi dua kriteria utama Warren Buffett tentang ‘an excellent business’, yakni pertumbuhan yang konsisten dan juga signifikan (CAGR-nya semua diatas 30%, meski untuk CAGR ekuitas perlu dicatat bahwa itu salah satunya karena perusahaan dapet dana IPO pada tahun 2013 sebesar Rp250 milyar), dan perusahaan juga mampu menghasilkan keuntungan yang besar dengan hanya menggunakan sedikit utang. Sebagai perusahaan konstruksi, adalah wajar jika utang NRCA lebih besar dibanding ekuitasnya. Namun jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan konstruksi lain, maka kita bisa katakan bahwa NRCA dikelola dengan sangat prudent, dimana hal ini memang selaras dengan kebijakan induknya, Surya Semesta Internusa (SSIA), yang juga hanya menanggung utang yang relatif kecil.

However, PBV 2.5 kali sebenarnya masih belum terlalu murah, terutama jika kita mempertimbangkan fakta bahwa NRCA ini relatif hanya sebuah perusahaan konstruksi kelas menengah yang ‘kering’ prospek karena statusnya sebagai non-BUMN, yang itu berarti peluang perusahaan terbilang kecil untuk memperoleh potongan kue dari pembangunan infrastruktur pelabuhan dll. Jadi kalau mau amannya, best entry untuk saham ini adalah di kisaran 800 pas.
Tapi untungnya, bicara soal prospek, NRCA ini nggak kering-kering amat, karena seperti yang anda ketahui, perusahaan merupakan salah satu kontraktor utama dari pembangunan Jalan Tol Cikampek – Palimanan, dimana pekerjaan konstruksinya memang sudah dimulai dan dijadwalkan akan tuntas tahun 2016 mendatang. Jika proyek jalan tol tersebut bisa selesai tepat waktu, maka NRCA sudah pasti bakal kembali dipercaya oleh Pemerintah untuk memegang proyek infrastruktur lainnya. Faktanya, NRCA memang punya pengalaman dan sejarah panjang dalam hal pembangunan infrastruktur jalan raya, dimana pada penghujung tahun 60-an, perusahaan pernah mengerjakan proyek pembangunan Jalan Raya Provinsi di Sumatera Selatan sepanjang 145 kilometer.
Dan jika kita bandingkan valuasi NRCA ini dengan semua saham konstruksi lainnya, maka dia jelas masih tetap affordable. Jika perusahaan mampu untuk melanjutkan trend positif kinerjanya pada saat ini hingga setidaknya awal tahun 2015 mendatang (dimana ketika itu nilai aset bersih perusahaan seharusnya sudah diatas Rp1 trilyun), maka target jangka menengah hingga 1,200 terbilang cukup realistis. So, mengingat bahwa NRCA bisa turun ke 800 atau dibawahnya hanya jika IHSG terkoreksi, maka di harga sekarang dia sudah layak buy. Bagi anda yang technicalist, anda akan bisa melihat bahwa, meski lumayan fluktuatif, namun saham NRCA secara keseluruhan memiliki pergerakan yang uptrend dalam setahun terakhir. So let me tell you that the technical of this stock is actually in line with the fundementals.
Okay, itu untuk NRCA. Lalu bagaimana dengan saham-saham konstruksi lainnya? Well, kalau anda perhatikan, kinerja TOTL, ADHI, WIKA, hingga PTPP, sebenarnya juga tidak kalah dengan NRCA (kalau DGIK dan WSKT agak jelek). Namun berkaca pada pengalaman tahun 2013 lalu, timing terbaik untuk masuk ke ADHI dkk adalah ketika IHSG hancur berantakan. Anda bisa lihat bahwa saham-saham konstruksi diluar NRCA rata-rata turun lebih dari 60% ketika IHSG anjlok hingga titik terendahnya (sementara NRCA sendiri hanya turun sampai 700-an ketika pasar hancur pada akhir tahun 2013 lalu, atau hanya turun kurang dari 20% dibanding harga sebelum turun yakni 800 – 900), namun mereka langsung naik lagi begitu pasar pulih. Perhatikan: Kalau anda pada awal tahun lalu sukses beli ADHI di 2,000 atau dibawahnya, maka anda bisa membukukan gain hingga 50%, mengingat kemarin ADHI sempat diatas 3,000. Untuk saham-saham konstruksi yang lain, ceritanya juga sama.
Sementara untuk Nusa Konstruksi Enjiniring (DGIK), penulis juga terus memperhatikan saham ini karena valuasinya yang murah secara absolut (PBV kurang dari 1 kali), dan ini jauuuuh lebih murah termasuk jika dibandingkan dengan NRCA sekalipun. Namun memang, perusahaan konstruksi swasta yang sejatinya memiliki nilai aset bersih yang lebih besar dibanding ACST, NRCA, ataupun TOTL ini memiliki kinerja yang kurang mengesankan baik secara historis maupun terbaru, tapi disisi lain ndak bisa disebut jelek juga. Jadi kalau nanti di periode laporan keuangan berikutnya dia mengalami lompatan laba atau semacamnya, maka sahamnya juga akan dengan mudah terbang ke langit.
Okay, I think it’s enough. Ada yang mau menambahkan?
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Teguh Hidayat & Partners sedang dalam posisi memegang NRCA di harga rata-rata 910. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Pengumuman: Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis dari saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2014, dan pada saat ini buku tersebut sudah selesai dikerjakan. Anda bisa memperolehnya [...]

Conservative? What is That?

Di hari Senin pagi yang cerah ini, di Kota Jogja yang amat sangat bersahabat ini, penulis iseng-iseng mengecek lagi harga dari saham-saham Grup Bakrie. Andd.. whoaaa.. Bumi Resources (BUMI) sepertinya tinggal selangkah lagi menuju gocap! Sebab saat ini harganya tinggal Rp103 per saham. Sebelumnya, beberapa saham Grup Bakrie lainnya seperti Darma Henwa (DEWA), Bakrie Sumatra Plantations (UNSP), Bakrie Telecom (BTEL), Bakrie & Brothers (BNBR), hingga Bakrieland Development (ELTY), mereka semua sudah lebih dulu mencapai level gocap tersebut. Dan kalau mengingat bahwa di tahun 2009 – 2010 lalu, saham-saham Grup Bakrie begitu mendominasi volume perdagangan saham di BEI dimana orang-orang bahkan lebih tertarik untuk melihat arah pergerakan BUMI ketimbang pergerakan IHSG itu sendiri, maka ini tentu saja menimbulkan pertanyaan: What the hell happen???

Bagi anda pengunjung teguhhidayat.com yang masih baru, maka biar penulis sampaikan sekali lagi bahwa, sejak saya masuk pasar saham pada tahun 2009 lalu, penulis tidak pernah sekalipun mencolek BUMI barang satu lot pun. Padahal faktanya BUMI merupakan salah satu saham paling populer ketika itu, dimana data registrasi di bulan tertentu di tahun 2009 menunjukkan bahwa BUMI dipegang oleh lebih dari 50,000 investor, baik individu maupun institusi, baik asing maupun lokal. Mengingat jumlah investor saham ketika itu tidak sampai 300,000 orang di seluruh Indonesia, maka kita bisa mengatakan bahwa, dari setiap 5 atau 6 pemain saham di bursa, minimal ada satu orang yang pegang BUMI.
However, seorang teman pernah berkomentar begini, ‘Kalau Mas Teguh sudah masuk pasar pada tahun 2006 atau 2007, maka besar kemungkinan Mas Teguh juga bakal pegang BUMI. Sebab, BUMI memang saham paling fenomenal sepanjang sejarah BEI, dimana harganya naik dari awalnya 700-an di bulan September 2006, hingga menjadi 3,500-an pada bulan yang sama setahun kemudian (2007), atau naik 5 kali lipat hanya dalam waktu 1 tahun, dan itu memang sejalan dengan fundamentalnya yang (ketika itu) memang bagus. Karena volume transaksi sahamnya sangat likuid, maka semua orang bisa masuk untuk membeli BUMI, termasuk fund-fund besar sekalipun, dan itu membuat harganya naik lebih tinggi lagi hingga menembus 8,000-an pada bulan Mei 2008. Pada titik tersebut semua orang sudah kalap, dimana sekuritas-sekuritas amat sangat rajin merilis riset dan analisis yang pada kesimpulannya merekomendasikan BUMI, termasuk ada juga sekuritas besar yang mengatakan bahwa BUMI bisa lanjut terbang lagi sampai 12,000-an.’
Temen penulis ini melanjutkan, ‘Kalau Mas Teguh ketika itu sudah masuk pasar dan entah bagaimana caranya bisa menahan diri untuk tidak membeli BUMI, maka semua orang akan menganggap anda gila.’
Intinya, terlepas dari harga sahamnya yang terpuruk saat ini, termasuk fundamentalnya yang juga hancur berantakan, namun pada satu periode tertentu di masa lalu, BUMI ini merupakan perusahaan yang memang layak di-admire. It was ACTUALLY a good company! Termasuk, pada tahun 2009 lalu, Gita Wirjawan juga sukses besar setelah membeli BUMI di rentang harga 500 – 1,000, dan menjualnya di 2,500-an hanya dalam waktu sekitar setahun kemudian (dan itu sebabnya ia menjadi kaya raya). Jadi pertanyaannya sekarang, apa yang terjadi dengan BUMI, dan juga saham-saham Bakrie-related lainnya?
Jawaban dari pertanyaan ini balik lagi ke sejarah berdirinya BUMI itu sendiri. Seperti yang pernah penulis ceritakan di artikel ini, Pada tahun 2001, Grup Bakrie mencoba menata kembali imperium bisnis mereka, yang sebelumnya hancur berantakan diterpa Krisis Moneter 1998, dengan mengakuisisi sebuah perusahaan batubara bernama Arutmin,  ketika itu dengan memperoleh pinjaman senilai Rp2 trilyun dari Bank Mandiri dan Jamsostek (jadi Bakrie memperoleh Arutmin dengan cara berhutang). Bakrie sebelumnya membeli perusahaan perhotelan kecil yang nyaris bangkrut di bursa dengan kode BUMI, dan mengubah namanya menjadi Bumi Resources (namun kodenya tetap sama). Arutmin kemudian dimasukkan kedalam BUMI ini (backdoor listing), sehingga BUMI berubah status menjadi perusahaan batubara.
Tak lama kemudian Arutmin mulai menghasilkan keuntungan substansial, sehingga Grup Bakrie mulai mencari peluang baru. Pada tahun 2003, Pemerintah RI ketika itu mewajibkan dua perusahaan tambang global, British Petroleum (BP) dan Rio Tinto, untuk mendivestasi saham mereka di Kaltim Prima Coal (KPC), sebuah perusahaan batubara terbesar di Indonesia. Dengan keahliannya yang luar biasa dalam hal bernegosiasi, Mr. Ical dan adiknya, Mr. Nirwan, sukses mengambil alih KPC ini dengan nilai akuisisi US$ 500 juta, padahal mereka ketika itu nggak punya uang sebanyak itu. Jadi duitnya dari mana? Yaaa dari utang lagi! KPC kemudian terbukti sukses menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi BUMI, dimana dalam beberapa tahun berikutnya laba bersih serta kinerja BUMI secara umum terus naik secara sangat signifikan, hingga sahamnya pun terus naik, dari hanya 200-an pada 2003, menjadi 8,000-an pada tahun 2007. Pada titik ini, Mr. Ical dan keluarganya sukses untuk kembali menempatkan diri mereka dalam jajaran orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes.
Tapi yah, namanya pebisnis itu seringkali memang gak ada puasnya. Dengan memegang KPC, Grup Bakrie sebenarnya sudah sangat sukses dalam menyingkirkan banyak konglomerat lainnya yang cuma bisa ngiler melihat cadangan batubara KPC yang mencapai 2 milyar ton (dan terus meningkat seiring dengan dilanjutkannya kegiatan eksplorasi), dan faktanya Grup Bakrie sukses menjadi besar kembali berkat KPC tersebut.
Namun mungkin justru karena mereka sukses dengan mudahnya mengambil alih Arutmin dan KPC (bahkan meski mereka nggak punya uang), maka mereka kembali melanjutkan kegiatan ‘belanja’ aset tersebut. Selesai dengan KPC, Grup Bakrie melalui BUMI kembali mengakuisisi banyak aset, seperti perusahaan batubara PT Fajar Bumi Sakti, PT Pendopo Energi Batubara, perusahaan tambang emas PT Gorontalo Minerals, PT Citra Palu Mineral, perusahaan tambang bijih besi PT Dairi Prima Mineral, hingga yang paling hot, kepemilikan minoritas di salah satu perusahaan emas terbesar di tanah air, PT Newmont Nusa Tenggara. Dalam hal ini penulis jadi berandai-andai bahwa, seandainya Pemerintah RI entah bagaimana caranya bisa memaksa Freeport McMoran untuk mendivestasikan sahamnya di PT Freeport Indonesia, maka Bakrie bakal berada dalam barisan paling depan untuk mengambil alih saham yang dijual tersebut, sekali lagi, bahkan meski mereka nggak punya uang.
Lalu dari mana Nirwan cs punya duit untuk serangkaian akuisisi tersebut? Ya dari mana lagi kalau bukan dari pinjaman sana-sini. Ibaratnya Mr. Nirwan tinggal tunjuk aset anu, lalu setelah aset tersebut sudah deal dijual pada harga sekian, dia datang ke bank buat ngambil duitnya. Tidak hanya melalui BUMI, namun melalui perusahaan-perusahaan lainnya seperti Energi Mega Persada (ENRG), ELTY, BNBR, hingga yang listing paling baru, Visi Media Asia (VIVA), Grup Bakrie rajin mengakuisisi aset-aset sesuai jenis asetnya (BUMI untuk aset-aset tambang batubara dan mineral, ENRG untuk aset-aset minyak dan gas, ELTY untuk aset-aset properti dan infrastruktur, dst).
Masalahnya, Bakrie sama sekali tidak membatasi diri mereka dalam hal berhutang ini. Mereka terus saja mengambil alih aset sehingga utang mereka terus membesar, termasuk utang-utang dengan beban bunga yang sebenarnya mencekik, seperti pinjaman ke China Investment Corporation (CIC) dengan bunga 19% per tahun. Karena nilai pinjaman itu sendiri mencapai US$ 1.9 milyar, maka Grup Bakrie harus membayar US$ 361 juta, atau sekitar Rp4 trilyun per tahun, hanya untuk membayar bunganya saja, dan itu belum termasuk bunga dari utang-utang yang lain! Maka tidak heran Bakrie kemudian lebih sibuk melakukan refinancing, penundaan pembayaran bunga, dll, ketimbang mengurus perusahaan itu sendiri.

Dan ketika aset-aset yang dipegang BUMI (dan juga perusahaan-perusahaan lainnya dalam naungan Grup Bakrie) mulai mengalami penurunan kinerja sedikit saja, misalnya karena penurunan harga batubara, maka dampaknya negatifnya menjadi sangat besar karena perusahaan tidak memiliki cukup dana (dari laba bersih yang diperoleh, karena nilai dari laba itu sendiri turun) untuk membayar bunga pinjaman, hingga menyebabkan perusahaan mengalami kerugian yang luar biasa besar. Ketika kerugian ini terakumulasi maka nilai aset bersih BUMI itu sendiri menjadi terus tertekan hingga minus (defisiensi modal). Dan hal itulah yang menyebabkan keterpurukan BUMI pada saat ini, yang kemudian merembet pada perusahaan-perusahaan Bakrie lainnya. Penulis tidak tahu apakah Grup Bakrie bisa survive atau tidak, termasuk apakah mereka sanggup untuk mengembalikan kejayaan BUMI seperti tahun 2007 lalu atau tidak, tapi yang jelas untuk saat ini mereka hancur berantakan karena ulah mereka sendiri. Anda tentu bisa melihat bahwa perusahaan-perusahaa batubara di BEI memang lagi susah, dan saham-saham mereka pada turun semua, tapi kenapa cuma BUMI doang yang turun sampai segininya?

Okay, jadi pelajaran apa yang bisa diambil dari Kasus Bakrie diatas?
Dalam berbisnis, atau berinvestasi, sifat serakah, atau istilahnya greed, itu merupakan hal yang biasa. Even Gordon Gekko once said, ‘Greed, for the lack of better words, is good’. Penulis sendiri sudah sering ketemu anak muda yang tidak antusias ketika penulis mengatakan, ‘Target investasi saya konservatif aja, sekitar 20 – 30% per tahun karena, terus terang, dapetin cuan segitu juga nggak gampang lho’. Mungkin mereka berpikir: Kalau cuma segitu kapan gue bisa kaya???
Nah, hal yang sama juga terjadi pada level investor yang lebih tinggi, seperti Grup Bakrie ini (kalau kita kan cuma pemain kelas teri, yang cuma bisa ambil alih aset yang diperdagangkan di market dengan duit ala kadarnya karena kita gak punya akses ke Credit Suisse atau Deutsche Bank). Grup Bakrie sejatinya sudah sangat sukses ketika mereka mengambil alih KPC, dimana mereka menjadi kaya raya kembali dalam sekejap, namun kesuksesan itu justru menyebabkan mereka penasaran untuk melangkah lebih jauh lagi. Istilahnya kalau perlu, seluruh aset-aset bagus yang ada di Indonesia semuanya dipegang oleh mereka! Masalah dana, itu soal gampang. Toh para bank juga malah ngantri untuk ngasih pinjaman.

Sebenarnya beberapa grup konglomerasi lainnya, let say Grup Astra, mereka juga bukannya anti utang. Namun mereka hanya mengambil utang dalam jumlah yang wajar, dan hanya mengakuisisi aset-aset sesuai kemampuan mereka. Mereka tidak tertarik dengan ‘melompat’ menggunakan leverage (istilah keren untuk utang), melainkan lebih suka untuk melangkah maju terus meski terkesan ‘alon-alon asal kelakon’, salah satunya dengan terus mengembangkan aset-aset yang ada, dan ini berbeda dengan Grup Bakrie yang lebih tertarik untuk terus mengakuisisi aset baru ketimbang mengembangkan yang sudah ada. Singkat kata, Grup Astra berbisnis (dan berinvestasi) dengan cara yang jauh lebih konservatif dibanding Grup Bakrie.

Tapi hasilnya? Yah, anda lihat sendiri bagaimana besarnya Astra sekarang. Sementara BNBR, yang pernah disebut sebagai ‘Berkshire Hathaway Indonesia’, malah mati di gocap. Sebenarnya bukan kali ini saja cara investasi yang terlalu berani, bahkan terkesan nekad, seperti yang dilakukan Grup Bakrie, pada akhirnya hanya menghasilkan kehancuran. Lehman Brothers bangkrut di tahun 2008 karena terlalu royal dalam menyalurkan kredit perumahan, dan menanggung utang hingga US$ 900 milyar. Enron Corp., sebuah perusahaan minyak di Amerika yang sempat tenar di tahun 90-an, juga bangkrut terutamanya karena teramat sangat rajin dalam mengakuisisi aset-aset menggunakan utang. WorldCom Inc., sebuah perusahaan telekomunikasi yang juga besar di Amerika, bangkrut pada tahun 2002 setelah gagal dalam membayar utang-utang mereka yang nilainya mencapai US$ 41 milyar. Dan seterusnya.
Sementara di Indonesia? Well, selain Bakrie (meski anehnya kok mereka belum bangkrut juga, tapi memang peraturan kepailitan disini belum seketat di Amerika), ada Berlian Laju Tanker (BLTA), sebuah perusahaan perkapalan yang punya sejarah panjang yang cemerlang, namun semuanya berubah setelah pada tahun 2007 manajemen perusahaan memutuskan untuk ‘melompat lebih tinggi’ dengan mengambil hutang hingga milyaran Dollar. Terus ada Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), sebuah perusahaan batubara dengan prospek yang luar biasa karena dia adalah satu dari sedikit pemilik batubara mahal jenis coking coal di Indonesia, namun seketika langsung hancur lebur setelah perusahaan memutuskan untuk ikut dalam ‘kerjasama malapetaka’ dengan Bakrie dan Rothschild, dimana BORN sekarang terlilit utang US$ 1 milyar ke Standard Chartered Bank yang tidak mampu mereka bayar. Pada tahun 1998 lalu ketika terjadi krisis moneter, juga tidak terhitung berapa banyaknya perusahaan yang bangkrut, dan lagi-lagi masalahnya sama: Karena mereka kebanyakan megang utang.
Jadi apa kesimpulannya?
Kalau ada yang mengatakan bahwa pasar modal itu ada karena adanya keserakahan dari para investor di dalamnya, maka penulis setuju dengan itu. However, sejarah membuktikan bahwa investor yang mampu mengendalikan sifat serakahnya itulah, yang pada akhirnya akan menang. Tindakan leverage, selama itu dilakukan dalam tingkatan yang wajar, maka itu diperbolehkan. Namun jika dilakukan secara berlebihan, maka ujungnya nyaris selalu jelek. Grup Bhakti, yang sekarang berubah nama menjadi Grup MNC milik pengusaha muda Hary Tanoe, merupakan salah satu kelompok investor yang juga menggunakan leverage alias mengambil utang ke bank atau menerbitkan obligasi, namun itu dilakukan secara wajar dan secukupnya saja. Dan hasilnya, meski Mr. Hary kelihatannya masih gatot di politik, namun bisnisnya lancar-lancar aja tuh. Saham MNC Investama (BHIT), perusahaan holding dari seluruh anak-anak usaha Grup MNC, meski juga belum kemana-mana lagi, tapi juga nggak sampai mati di gocapan seperti BNBR (atau BUMI, sebentar lagi kayanya).
Karena itulah, anda sebagai investor di pasar saham, harap hati-hati dalam melihat jumlah utang dari perusahaan yang akan anda beli sahamnya. Seperti yang dikatakan Warren Buffett, ‘Kami menyukai perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan yang konsisten, dimana keuntungan tersebut diperoleh dengan hanya memanfaatkan sedikit utang, atau tidak sama sekali’. Penulis sendiri cenderung menghindari perusahaan yang memiliki utang-utang yang mengandung bunga(utang bank, obligasi) yang nilainya terlalu besar, let say lebih besar dari nilai ekuitasnya sendiri. Kalau di saham-saham perbankan, saya selalu mencari saham perbankan yang CAR-nya besar, katakanlah diatas 15%. Yang juga perlu dicatat disini adalah, ketika perusahaan berhutang namun jumlahnya tidak  berlebihan, maka itu masih diperbolehkan. Jadi anda nggak perlu juga membatasi investasi anda pada saham/perusahaan yang gak punya utang sama sekali.
Itu dari sisi perusahaan yang akan anda beli sahamnya. Sementara dari sisi anda sendiri sebagai investor, usahakan untuk bersikap se-konservatif mungkin. Mungkin harus penulis sampaikan sekali lagi bahwa, ‘strategi bertahan’ seperti ini memang bukanlah ide yang populer, terutama karena orang paling malas kalau disuruh jalan, maunya lari terus. Seperti halnya dalam pertandingan sepakbola, akan lebih seru jika kedua tim saling menyerang ketimbang jika salah satunya hanya bertahan. But trust me, tak peduli taktik apapun yang digunakan sang pelatih, entah itu total menyerang, bermain di tengah, atau counter attack, namun sisi pertahanan tetap saja tidak boleh dilupakan bukan? Seorang pelatih sepakbola tidak bisa hanya terus memikirkan soal bagaimana cara menjebol gawang lawan, tapi juga soal bagaimana cara menjaga agar gawang sendiri tidak kebobolan. Nah, dalam value investing juga sama: Kamu tentu akan selalu mengincar keuntungan, namun strategi margin of safety agar kami tidak mengalami kerugian juga sama pentingnya, atau bahkan lebih penting. Kami tidak tertarik dengan potensi keuntungan yang amat besar jika kami tidak bisa mengukur, seberapa besar risikonya.
Penulis sendiri, ketika masih sangat muda dulu, juga tidak tertarik dengan konsep konservatif seperti ini, karena itu tadi: Kalau begitu caranya, lalu kapan saya bisa kaya? Namun setelah diajari oleh pengalaman selama beberapa tahun ini, termasuk melihat sejarah dari ‘conservatism vs greedism’ yang ternyata selalu dimenangkan oleh orang-orang yang konservatif, maka penulis memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemenang ini. Kami lebih suka berinvestasi hanya dengan menggunakan dana yang ada saja, tanpa margin, leverage atau semacamnya kecuali jika memang benar-benar diperlukan (Warren Buffett pada waktu-waktu tertentu juga kadang menerbitkan obligasi, tapi ya itu: Hanya di waktu-waktu tertentu saja). Kami juga tidak tertarik untuk memperoleh ‘keuntungan besar dalam waktu singkat’ atau yang seperti itu, melainkan alon-alon sajalah, yang penting kami enjoy, santai, dan tidak stress dalam menjalani kegiatan investasi yang kami lakukan.
And I’m inviting you guys, to join me to the club! Just do your investment like Astra or Hary Tanoe does instead of Bakrie, and see the results! Aanndd oh, do not play politics, please?
Pengumuman: Penulis membuat Buku berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja mereka di Kuartal III 2014, dan pada saat ini buku itu sudah terbit. Anda bisa memperolehnya [...]

Prospek IPO Soechi Lines

PT Soechi Lines adalah perusahaan yang penulis sendiri baru mendengar namanya semingguan terakhir ini setelah perusahaan menggelar IPO. However, IPO Soechi mungkin menarik untuk diperhatikan mengingat perusahaan bergerak di bidang perkapalan, dan kita tahu bahwa saham-saham di sektor perkapalan di BEI terus bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir ini karena didorong oleh sentimen positif yang timbul dari rencana serta visi Pemerintah RI, dibawah Presiden Jokowi, untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu ‘poros maritim’ dunia. Jadi pertanyaannya tentu, apakah layar Soechi juga akan ikut mengembang ketika listing perdana tanggal 2 Desember nanti?

Sejarah Soechi Lines dimulai pada tahun 1977, dimana seorang pengusaha bernama Paulus Utomo, dengan dibantu oleh beberapa orang teman dan saudaranya, memenangkan tender penyediaan kapal pengangkut minyak bagi kegiatan operasional Pertamina di perairan sekitar Singapura dan Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Usaha penyediaan kapal tersebut berlanjut, hingga ada tahun 1980, Mr. Paulus cs mendirikan PT Armada Bumi Pratiwi Lines, yang bergerak di bidang penyewaan kapal, ketika itu masih dengan Pertamina sebagai pelanggan utamaanya. Seiring dengan berjalannya waktu, bisnis yang dijalani perusahaan terus berkembang, dimana jumlah kapal yang dimiliki perusahaan juga senantiasa bertambah, dan Mr. Paulus sendiri mendirikan beberapa PT baru diluar PT Armada, namun kesemuanya masih bergerak di bisnis yang sama yakni penyewaan kapal.
Kemudian pada tahun 2009, Mr. Paulus memutuskan untuk maju satu langkah dengan membangun galangan kapal di Pulau Karimun, Kepulauan Riau (masih dekat-dekat dengan Singapura dan Batam), agar seluruh perusahaan penyewaan kapalnya bisa membuat kapal mereka sendiri, atau minimal bisa melakukan reparasi sendiri kalau ada kapal yang ngadat. Pertimbangan dilakukannya ekspansi ini adalah karena perusahaan melihat bahwa Pemerintah RI mulai memberikan perhatian khusus ke industri perkapalan di tanah air dengan memberlakukan asas cabotage, dimana seluruh perusahaan pengguna jasa logistik laut (kebanyakan perusahaan minyak) diwajibkan untuk menggunakan kapal berbendera Indonesia. Dan sebagai perusahaan kapal lokal, PT Armada cs tentunya diuntungkan karena asas cabotage tersebut.
Dan pada tahun 2010, PT Soechi Lines didirikan untuk menjadi perusahaan induk dari sembilan PT yang bergerak di bidang penyewaan kapal, dan satu PT yang bergerak di bidang galangan kapal (jadi Soechi totalnya punya sepuluh anak perusahaan). Setelah dikonsolidasikan dalam satu holding, maka Soechi totalnya memiliki dan mengoperasikan 33 armada kapal berbagai ukuran untuk pengangkutan minyak mentah, bahan bakar minyak/BBM, CPO, gas cair, dan bahan kimia cair (pokoknya yang cair-cair), yang melayani rute Asia Tenggara, India, hingga Timur Tengah. Sementara untuk galangan kapalnya, perusahaan memiliki 1 kapal tunda dan 2 kapal tongkang.
Meski ukuran perusahaan pada saat ini jelas sudah jauh lebih besar dibanding ketika didirikan pada tahun 1980 lalu, namun menariknya mayoritas pendapatan perusahaan, dalam hal ini sekitar 60%, masih berasal dari Pertamina. Namun itu bisa dijelaskan karena di lokasi dimana perusahaan paling banyak beroperasi (Batam – Singapura), memang hanya Pertamina saja yang memegang hak dari Pemerintah untuk melakukan kegiatan ekspor impor minyak. Meski demikian Soechi terus berupaya melakukan diversifikasi dengan juga menawarkan jasa logistik laut bagi mitra-mitra bisnis Pertamina, seperti Chandra Asri (perusahaan petrokimia), ConocoPhilips (supplier minyak bagi Pertamina), dan jasa pengangkutan CPO bagi beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bermarkas di Singapura, seperti Wilmar, Golden Agri (Grup Sinarmas), dan Asian Agri. Namun berhubung karena Soechi juga bukanlah perusahaan kapal yang terlalu besar termasuk untuk ukuran perusahaan kapal lokal (beberapa raksasa bisnis kapal di Indonesia adalah Berlian Laju Tanker/BLTA, Samudera/SMDR, Humpuss/HITS, hingga Arpeni/APOL), maka mau tidak mau hingga saat ini kinerja perusahaan memang masih harus tergantung pada Pertamina. Tapi berhubung Pertamina sendiri merupakan pemegang mandat terbesar dari Pemerintah untuk ururan ekspor impor minyak, dan kegiatan ekspor impor tersebut juga akan terus berjalan tanpa henti, maka sebenarnya ini gak terlalu menjadi masalah.
Lalu seperti apa prospek perusahaan kedepan, terutama terkait potensi pembangunan sektor maritim dibawah Pemerintahan Jokowi?
Dalam presentasinya di forum APEC 2014 di Tiongkok, beberapa hari terakhir ini, Jokowi menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 24 pelabuhan berukuran besar, dan ratusan pelabuhan lainnya yang berukuran lebih kecil, yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Jokowi menyatakan bahwa Pemerintah RI akan membangun dan mengembangkan pelabuhan-pelabuhan yang sudah ada, termasuk membangun pelabuhan-pelabuhan baru, hingga akhirnya seluruh Indonesia, dari ujung barat sampai timur, akan terkoneksi dengan jalur kapal laut, dimana jalur tersebut akan dilalui oleh kapal-kapal secara terus menerus. Konsep inilah yang disebut ‘tol laut’. Pemerintah RI memiliki visi untuk membangun pelabuhan super-besar yang bisa disinggahi kapal-kapal berukuran raksasa sekalipun di setidaknya enam lokasi yakni Aceh, Jakarta, Surabaya, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, sehingga kapal besar dari Jakarta (yang mengangkut BBM, semen, dll) bisa langsung berangkat menuju Papua (melalui jalur kapal yang menghubungkan pelabuhan Jakarta dan Sorong) tanpa perlu transit di Makassar atau Maluku.
Kemudian enam pelabuhan besar yang saling terhubung tersebut akan dihubungkan lagi dengan jalur kapal menuju pelabuhan-pelabuhan yang lebih kecil. Jadi muatan semen yang sudah mendarat di Sorong, itu bisa diangkut lagi menggunakan kapal-kapal yang berukuran lebih kecil ke Nabire, Jayapura, dan lainnya, sehingga secara keseluruhan muatan semen dari Jakarta menuju kota tertentu hanya transit satu kali (di Sorong). Dengan cara inilah biaya transportasi akan menjadi jauh lebih efisien, dan alhasil harga semen di Papua diharapkan tidak akan lagi mencapai Rp1 – 1.5 juta per sak seperti saat ini.
Nah, sebagai perusahaan kapal spesialis pengangkut barang berwujud cair (minyak mentah dll), manajemen Soechi melihat adanya peluang dari dibukanya ‘tol laut’ ini. Sebab berbeda dengan semen, misalnya, yang masih bisa diangkut pakai pesawat dari Pulau Jawa menuju Papua, maka BBM hanya bisa diangkut menggunakan kapal (pake pesawat juga bisa sih, tapi cuma bisa pake pesawat kecil). Dan selama ini pihak Pertamina sendiri pun masih mengalami kesulitan dalam mendistribusikan BBM terutama ke daerah-daerah diluar Jawa karena ‘terhalang’ oleh laut, karena belum adanya fasilitas pelabuhan yang memadai. Seperti yang anda ketahui, beberapa pelabuhan yang ‘itu-itu saja’ seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Belawan, kapasitasnya sudah sangat penuh, hingga Pertamina sendiri nyaris gak dapet tempat.
Jadi dengan adanya pembangunan pelabuhan-pelabuhan baru, termasuk peningkatan kapasitas dari pelabuhan-pelabuhan yang sudah ada, maka itu juga akan membuka ruang bagi Pertamina untuk lebih mudah mendistribusikan BBM ke seluruh penjuru negeri, dari Aceh hingga Papua, kali ini dalam volume pengangkutan yang besar sekali jalan (Pertamina sejak dulu sudah bisa mengirim BBM ke Papua, namun harus selalu dalam jumlah yang kecil kecil dan melalui banyak tangan distributor, sehingga ketika sudah mendarat disana harganya jadi mahal, sekitar Rp20,000 – 40,000 per liter). Sementara Soechi? Ya tinggal menyediakan unit-unit kapalnya saja. Meski bukan merupakan perusahaan kapal yang terlalu besar, termasuk juga bukan satu-satunya penyedia servis kapal bagi Pertamina, namun posisi perusahaan yang sudah 30 tahun bermitra dengan Pertamina memungkinkan Soechi untuk kembali memenangkan tender, jika nanti Pertamina butuh tambahan kapal lagi.
Melihat peluang tersebut, Soechi kemudian menggelar IPO dimana sebagian besar perolehan dananya akan digunakan untuk membeli unit-unit kapal baru. Sebenarnya ketika nanti perusahaan memperoleh dana dari IPO-nya (mengingat sahamnya di lepas pada rentang harga Rp600 – 800 per saham, maka Soechi akan meraup dana Rp1.5 – 2 trilyun), maka itu bukan berarti perusahaan bisa langsung memanfaatkan dana tersebut untuk meningkatkan pendapatan. Karena meski proses membeli kapal baru membutuhkan waktu yang relatif cepat ketimbang mendirikan sebuah pabrik, misalnya, namun rencana pemerintah untuk membangun pelabuhan-pelabuhan baru, itu akan membutuhkan waktu lumayan lama (belum lagi menghadapi gangguan dari Fadli Zon cs, yang bakal kepo bertanya soal dananya dari mana). Contohnya, pembangunan Pelabuhan Kalibaru yang saat ini sedang berjalan, itu diperkirakan membutuhkan waktu 2.5 – 3 tahun sejak dari ground breaking-nya pada tanggal 22 Maret lalu.
Intinya sih, meski sektor perkapalan tampak sangat menarik setelah Jokowi menyatakan visinya untuk membangun tol laut (atau apapun itu namanya), namun visi tersebut membutuhkan waktu untuk terealisasi, bahkan meski Pak Dhe pengennya kerja cepat. Dan selama pelabuhan-pelabuhan baru yang nanti akan dibangun belum siap untuk beroperasi, maka Pertamina juga belum akan membutuhkan kapal baru dulu, dan itu berarti bahwa Soechi tidak akan bisa langsung memperoleh kontrak untuk kapal-kapal barunya nanti (berbeda dengan Pertamina, untuk memperoleh kontrak pengangkutan minyak dari Chevron, Exxon, dll, maka Soechi harus bertarung ketat dengan banyak pesaing, termasuk Wintermar/WINS yang juga spesialis pengangkut minyak).
Karena itulah, meski penulis juga optimis bahwa sektor maritim dibawah Pemerintahan RI yang baru bakal maju pesat, namun pada akhirnya kita tetap perlu melihat track record kinerja Soechi sebagai perusahaan perkapalan untuk menilai apakah sahamnya nanti layak buy atau tidak, karena kalau hanya melihat prospeknya saja maka anda harus ingat bahwa prospek tersebut tidak akan bisa terealisasi dalam satu atau dua hari.
Dan untungnya, berbeda dengan BLTA yang hancur karena utang, Soechi tergolong perusahaan kapal yang sehat dengan DER hanya 1.2 kali pada Semester I 2014 (utang Soechi memang masih sedikit lebih besar ketimbang ekuitasnya, namun sebagai perusahaan transportasi, itu wajar saja), itupun perusahaan langsung berniat untuk mengurangi utangnya dimana 25% dari dana hasil IPO-nya, yang itu berarti sekitar Rp400 – 500 milyar), bakal dipakai untuk membayar sebagian utang bank.
Namun dari sisi profitabilitas, Soechi baru meraup laba bersih yang cukup besar pada tahun 2013 hingga sekarang. Sementara sebelum itu labanya kecil sekali, bahkan nyaris rugi di tahun 2010. Berikut selengkapnya:
Tahun
2010
2011
2012
2013
2014*)
Ekuitas
47
54
83
138
174
Pendapatan
25
65
71
106
55
Laba Bersih
0
3
3
30
16
ROE (%)
0.1
6.3
3.3
21.8
17.9**)
*) hingga Semester I
**) disetahunkan
Nah, perhatikan bahwa, kalau dari sisi historis, Soechi belum memiliki track record yang mengesankan, dimana kinerja perusahaan baru tampak menonjol dalam dua tahun terakhir ini saja, itupun dengan ROE yang tidak terlalu besar, hanya 18 – 22%. Namun bisa jadi ini karena pada tahun 2010 hingga 2012, belum semua anak-anak usaha Grup Soechi dikonsolidasikan kedalam induknya karena seperti yang sudah dibahas diatas, PT Soechi Lines itu sendiri baru didirikan pada tahun 2010. Tapi yang jelas dari sisi komposisi neraca dan kinerja terbarunya, terutama jika dibandingkan dengan sesama perusahaan kapal yang sudah listing lebih dulu di BEI dimana mereka biasanya punya utang segunung dan perolehan labanya pun naik turun, maka Soechi terbilang cukup baik secara fundamental.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Seperti sudah disebut diatas, Soechi akan dilepas pada harga Rp600 – 800 per saham. Kita ambil yang terendah yakni Rp600, maka perusahaan akan meraup dana Rp1.5 trilyun. Posisi ekuitas Soechi pada tanggal 30 Juni 2014 adalah US$ 174 juta, atau persis Rp2 trilyun dengan asumsi kurs US$ 1 = Rp11,500. Dengan demikian nilai ekuitas Soechi pasca IPO adalah Rp3.5 trilyun, yang setelah dibagi jumlah saham beredar sebanyak 8.6 milyar lembar, maka diperoleh nilai buku Soechi adalah Rp414 per saham. Karena harga sahamnya 600, maka PBV-nya 600 / 414 = 1.5 kali. Nah, what do you think? Kalau menurut penulis sendiri, dengan mempertimbangkan kinerja terakhir dari perusahaan, maka ini adalah valuasi yang cukup wajar meski juga tidak bisa dikatakan terlalu murah, selain karena perusahaannya bukanlah perusahaan yang cukup terkenal, katakanlah seperti Blue Bird (BIRD) yang juga IPO kemarin.
Namun kalau anda termasuk yang percaya bahwa ‘Jokowi Effect’ terkait sektor maritim akan terus bertahan hingga beberapa waktu ke depan, maka harga tersebut jelas murah. Kalau kita melihat pengalaman dari IPO Waskita Karya (WSKT), dimana sahamnya sukses terbang untuk menyusul saham-saham konstruksi lainnya yang juga pada terbang ketika itu, maka Soechi juga bisa mengalami hal yang sama, selain karena fundamentalnya jauh lebih dibanding WSKT.
Jadi kesimpulannya, saham ini cukup layak koleksi dengan catatan itu tadi: Harganya dilepas di 600 atau sedikit diatasnya juga nggak apa-apa, asal jangan 800 banget. Bookbuilding terakhir untuk Soechi ini sudah ditutup Senin kemarin, sehingga kalau anda berminat maka mungkin terpaksa harus beli dari market, awal Desember nanti (tapi kalau bukan nasabah dari underwriternya, yakni RHB OSK Securities dan Mandiri Sekuritas, ya susah juga dapetnya). Penulis tidak tahu apakah Soechi bakal terbang atau tidak, namun dengan melihat kinerja perusahaan, valuasi saham, dan terutama prospek yang sedang ramai dibicarakan, maka juga hampir tidak ada alasan bagi saham ini untuk turun. We’ll see.
PT Soechi Lines, Tbk
Rating Kinerja pada Semester I 2014: A
Rating Saham pada 600: AA
Pengumuman: Buku kumpulan analisis & rekomendasi dari saham-saham pilihan berdasarkan laporan keuangan perusahaan di Kuartal III 2014 sudah terbit hari ini. Dan anda bisa memperolehnya [...]

United Tractors: Another Blue Chip Opportunity

Bicara tentang United Tractors (UNTR), maka kita berbicara tentang perusahaan terbesar di Indonesia di dua bidang sekaligus yakni jual beli alat-alat berat dan jasa kontraktor tambang batubara, dan merupakan salah satu dari sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI (berfluktuatif, terkadang UNTR keluar dari daftar sepuluh besar tersebut kalau harga sahamnya lagi turun). UNTR juga memiliki sejarah kinerja yang sangat solid dalam jangka panjang, dimana sejak industri batubara mulai booming di Indonesia sejak awal dekade 2000-an, UNTR terus berkembang hingga kini berstatus sebagai anak perusahaan sekaligus kontributor pendapatan terbesar kedua (setelah bisnis otomotif) dari Astra International (ASII). Yup, dari total pendapatan ASII senilai Rp150.6 trilyun hingga Kuartal III 2014, Rp40.8 trilyun diantaranya berasal dari UNTR.

Melihat ukurannya saat ini, mungkin sulit untuk mempercayai bahwa UNTR tadinya (ketika perusahaan berdiri pada tahun 1972) hanya merupakan perusahaan kecil di bidang distribusi alat-alat berat merk Komatsu, Tadano, dan Bomag. Dan hingga hampir dua puluh tahun berikutnya UNTR tidak mengalami perkembangan usaha yang berarti. Setelah perusahaan diakuisisi oleh Grup Astra pada penghujung dekade 1980-an (sehingga secara otomatis mengalami pergantian manajemen), barulah UNTR mulai berekspansi, ditandai dengan menggelar IPO di Bursa Saham, dan masuk ke industri jasa kontraktor tambang batubara dengan mendirikan PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Pendirian PAMA ini kemudian terbukti sukses besar, dimana di tangan Grup Astra, PAMA kemudian sukses menjadi perusahaan kontraktor tambang batubara terbesar di Indonesia pada saat ini, dengan pangsa pasar sekitar 45% pada akhir tahun 2013.
Sementara di bisnis aslinya yakni jual beli alat-alat berat, UNTR juga terus berkembang. Dari awalnya hanya memegang hak distribusi untuk tiga merk alat-alat berat (Komatsu, Tadano, dan Bomag), UNTR kini juga jualan alat-alat berat merk Komatsu Forest, UD Trucks, dan Scania Bus (dan mungkin akan bertambah lagi di masa mendatang). Tidak hanya jual beli, UNTR juga menyediakan layanan solusi yang lengkap terkait alat-alat berat, seperti konsultasi lapangan, memberikan rekomendasi penyediaan dan penggunaan alat-alat berat yang optimal, layanan purna jual dan servis alat-alat berat, layanan jual beli spare parts, hingga garansi dukungan produk. Sedikit berbeda dengan PAMA yang sudah menjadi perusahaan nomor satu di industri kontraktor batubara, bisnis alat-alat berat milik UNTR masih harus bersaing ketat dengan Grup Trakindo, yang merupakan distributor alat-alat berat merk Caterpillar, untuk menjadi perusahaan alat-alat berat (atau disebut juga ‘mesin konstruksi’) terbesar di Indonesia (namun dengan pangsa pasar 40%, UNTR masih berada satu langkah didepan Trakindo).

Beberapa merk alat berat/mesin konstruksi yang dipegang UNTR. Sumber: unitedtractors.com

Sukses di bidang alat-alat berat dan kontraktor tambang batubara, pada tahun 2007 UNTR mulai masuk ke industri tambang batubara itu sendiri. Hingga Kuartal III 2014, UNTR sudah memegang setidaknya sepuluh konsesi batubara dengan cadangan batubara lebih dari 409 juta ton, yang menjadikan UNTR sebagai perusahaan batubara kelas menengah di Indonesia (jauh lebih kecil dibanding ADRO, BUMI, PTBA, namun lebih besar dibanding KKGI, HRUM, GTBO). Sayangnya perusahaan kehilangan momentum ketika harga batubara sempat booming pada tahun 2011, dimana ketika itu mayoritas konsesinya belum sempat berproduksi. Pada tahun 2014 ini, terdapat setidaknya dua konsesi tambangnya yang sudah siap beroperasi secara full, namun perusahaan belum mulai melaksanakan penambangan batubara secara skala penuh karena masih menunggu harga batubara pulih. Alhasil, hingga Kuartal III 2014, dari total pendapatan UNTR senilai Rp40.8 trilyun, hanya Rp3.9 trilyun yang berasal dari penjualan batubara. Dalam kesempatan public expose yang terakhir, manajamen UNTR menyatakan bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk menggali batubara yang mereka miliki, melainkan tunggu saja dulu sampai harga jual batubara pulih dengan sendirinya.
Ekspansi UNTR terus berlanjut (dan ini adalah salah satu alasan kenapa penulis suka sama perusahaan ini, selain karena fakta bahwa ia dikelola manajemen sekelas Grup Astra, yakni bahwa setiap tahunnya UNTR selalu melakukan ekspansi bisnis, entah itu dengan cara mendirikan anak usaha baru, menjalin kerjasama dengan perusahaan lain, dll, tanpa banyak gembar gembor! Sehingga tak heran jika perusahaannya berkembang terus secara signifikan). Pada tahun 2014 ini, UNTR masuk ke venture baru dengan mengakuisisi 50.1% saham PT Acset Indonusa, Tbk (ACST), sehingga UNTR praktis menjadi pemegang saham pengendali ACST, dan ACST menjadi anggota baru di keluarga besar Grup Astra. Tidak disebutkan berapa nilai akuisisinya, namun penulis percaya bahwa itu dilakukan pada harga yang wajar. Beberapa analis sekuritas menilai bahwa tindakan UNTR ini (yang mengakuisisi ACST), merupakan tindakan yang bisa berdampak buruk pada kinerja UNTR secara keseluruhan, karena ditengarai akan menyebabkan UNTR kehilangan fokus karena perusahaan sebelumnya tidak pernah bermain di sektor konstruksi.
However, penulis justru menilai bahwa langkah UNTR tersebut merupakan langkah yang bagus. Sejak awal, Grup Astra sudah tertarik untuk masuk ke bisnis properti dan kontraktor properti/konstruksi, dan itu sebabnya ASII melalui salah satu anak usahanya (bukan UNTR) mulai mendirikan Menara Astra sejak tahun 2013 lalu, dengan bekerja sama dengan perusahaan properti asal Hong Kong, yang sama-sama berstatus sebagai anak usaha dari Grup Jardine, Hong Kong (ASII adalah anak usaha dari Grup Jardine tersebut). Sementara untuk bisnis konstruksi, ketimbang capek-capek mendirikan perusahaan konstruksi sendiri kemudian merintis semuanya dari nol, maka jauh lebih baik untuk mengakuisisi perusahaan konstruksi yang kecil namun bisa menjadi besar suatu hari nanti. Dan dengan track record kinerja yang excellent dalam beberapa tahun terakhir, ACST merupakan pilihan yang terbaik, dimana dengan dukungan permodalan dan lain-lain yang luar biasa dari Grup Astra, ACST sangat berpeluang untuk menjadi perusahaan konstruksi yang besar suatu hari nanti (dan kalau melihat track record Grup Astra yang nyaris selalu sukses di bidang usaha apapun yang mereka masuki, maka peluang ‘menjadi besar’ tersebut terbilang terbuka). Saat ini ACST hanyalah perusahaan konstruksi yang relatif kecil dibanding Adhi Karya dkk, dengan nilai aset hanya Rp1.4 trilyun pada Kuartal III 2014.
Kemudian kenapa masuknya melalui UNTR? Ya karena UNTR ini sudah berpengalaman sebelumnya dalam bisnis jual beli alat-alat berat untuk proyek konstruksi (catat bahwaUNTR selama ini nggak cuma melulu jualan alat-alat berat untuk tambang batubara), alias matching dengan jenis bisnis yang dijalani ACST. Adalah konyol jika ASII mengakuisisi ACST secara langsung atau melalui Astra Graphia (ASGR), misalnya, karena nggak bakal nyambung.
So, hingga ketika artikel ini ditulis maka UNTR telah memiliki setidaknya empat jenis usaha: 1. Distribusi alat-alat berat, 2. Kontraktor tambang batubara, 3. Tambang batubara, dan 4. Konstruksi. Menurut penulis, itu adalah kombinasi usaha yang bagus dan saling melengkapi, dimana tambang batubara membutuhkan kontraktor, dan kontraktor membutuhkan alat-alat berat. Dan selain alat-alat berat untuk tambang batubara, UNTR juga bisa menyediakan alat-alat berat untuk keperluan konstruksi bagi ACST, yang tidak lain merupakan anak usahanya sendiri (UNTR sebenarnya bisa juga masuk ke bisnis perkebunan kelapa sawit, karena perusahaan juga menjual alat-alat berat untuk perkebunan, namun itu tidak dilakukan karena bisnis kebon sawit sudah dipegang saudaranya, Astra Agro Lestari/AALI).
Lalu apa yang menyebabkan saham UNTR turun akhir-akhir ini?
Kalau kita menilik kinerja UNTR di Kuartal II 2014 kemarin yang kembali solid dimana labanya naik 41.4% (setelah pada tahun 2012 dan 2013, laba UNTR sempat turun), maka penurunan saham UNTR dari 24,000-an hingga mencapai 18,000-an pada saat ini (kemarin malah sempat menyentuh 16,850, tapi langsung naik lagi), sekilas menjadi tampak tidak bisa dijelaskan secara fundamental. However, faktanya adalah, ketika saham UNTR berada di posisi puncaknya yakni 24,000-an, maka itu berarti bahwa dia sudah naik lebih dari 30% sejak awal 2014, dan itu adalah kenaikan yang terlalu optimis mengingat sektor batubara sejatinya belum pulih benar. Dan faktanya pada harga 24,000, UNTR (berdasarkan laporan keuangannya di Kuartal II 2014) mencatatkan PER 14.1 dan PBV 2.5 kali, alias tidak bisa dikatakan murah, sekali lagi, dengan mempertimbangkan situasi sektornya. Sepertinya investor yang masuk ke UNTR ini terlalu silau dengan kinerja perusahaan di awal-awal tahun 2014, dimana UNTR sukses membukukan kenaikan laba bersih hingga diatas 40% sementara ada banyak perusahaan batubara atau perusahaan kontraktor batubara yang lain yang labanya masih nyungsep di tahun 2014 ini.
Beruntung, hingga Kuartal III barusan, UNTR masih sukses menjaga kinerja solid-nya tersebut, dimana meski perusahaan sempat membagikan dividen senilai Rp727 milyar namun ekuitasnya masih bertumbuh total 8.5% sejak awal tahun 2014, dan labanya juga masih tumbuh diatas 40%. Secara operasional, UNTR masih mengalami penurunan penjualan alat-alat berat, terutama alat-alat berat untuk tambang batubara dan perkebunan (sementara alat-alat berat untuk konstruksi dan kehutanan, volume penjualannya masih meningkat). Namun entah bagaimana caranya, nilai pendapatan perusahaan dari penjualan alat-alat berat masih bisa naik sedikit menjadi 17.3 trilyun hingga Kuartal III 2014, dibanding Rp17.0 trilyun pada periode yang sama tahun 2013.
Dan yang terutama menyebabkan laba UNTR kembali naik, adalah karena PAMA sebagai anak usahanya sukses dalam hal meningkatkan efisiensi pekerjaannya sebagai kontraktor tambang. Hingga Kuartal III 2014, PAMA telah menggali dan mengangkat setidaknya 89.9 juta ton batubara, meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun 2013 sebanyak 78.5 juta ton, padahal volume overburden (lapisan tanah yang diangkut agar batubara yang terletak dibawahnya bisa diambil) turun dari 639.5 menjadi 605.5 juta bcm. Ini artinya PAMA menggali lebih sedikit, tapi menghasilkan batubara lebih banyak (stripping ratio-nya menjadi lebih kecil, penjelasannya dibawah). Alhasil UNTR mencatatkan laba Rp5.4 trilyun dari bisnis kontraktor tambang batubaranya, atau meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp3.4 trilyun.
(catatan: kalau anda masih bingung soal apa itu bedanya tambang batubara dengan kontraktor tambang batubara, baca penjelasannya disini. Intinya sih, perusahaan tambang batubara adalah pemilik dari batubara hasil galian. Sementara perusahaan kontraktor tambang batubara, mereka cuma menggali batubara milik perusahaan lain, kemudian dibayar untuk pekerjaan menggalinya tersebut).
Sementara untuk bisnis tambang batubara dan konstruksi, belum banyak yang bisa diceritakan karena UNTR masih mengalami kerugian (meski tidak signifikan) dari bisnis tambang batubaranya, dikarenakan penurunan harga jual batubara. Untuk pendapatan dari bisnis konstruksi juga mungkin baru akan dikonsolidasikan pada tahun depan, karena ACST baru diakuisisi pada tanggal 10 Oktober kemarin. Beruntung, sekitar 60 – 65% pendapatan UNTR berasal dari kontraktor batubara, dan justru bisnis kontraktor batubara inilah yang sedang tumbuh pesat setelah PAMA sukses meningkatkan efisiensi kinerjanya. Sekedar informasi, pendapatan perusahaan kontraktor tambang batubara tidak tergantung pada harga jual dari batubara, melainkan tergantung stripping ratio-nya, yakni perbandingan antara jumlah batubara yang digali dengan jumlah lapisan tanah yang dipindahkan. Semakin kecil angka stripping ratio tersebut, maka semakin sedikit volume tanah yang harus dipindahkan untuk jumlah batubara yang sama, sehingga biaya penggalian yang harus dikeluarkan si kontraktor menjadi semakin sedikit pula (sehingga margin labanya menjadi semakin besar). Soal batubaranya dijual pada harga berapa, itu menjadi urusan perusahaan pemilik tambang batubara-nya, bukan lagi urusan PAMA sebagai kontraktor.
Jadi karena itulah, penulis menganggap bahwa UNTR masih menawarkan prospek yang menarik (termasuk untuk jangka panjang), terutama, sekali lagi, karena perusahaan ini dikelola oleh manajemen sekelas Grup Astra. Malah jika nanti harga batubara akhirnya pulih kembali (dan saya pribadi termasuk yang percaya bahwa itu akan terjadi suatu hari nanti), maka UNTR bisa memaksimalkan konsesi-konsesi batubaranya, sehingga pendapatannya pun akan meningkat signifikan. Beberapa investor mungkin khawatir dengan kabar bahwa UNTR telah melakukan restrukturisasi beberapa anak-anak usahanya, dimana hal itu dikhawatirkan akan mengganggu kinerja perusahaan, dan itu sebabnya sahamnya kemudian turun. Namun faktanya, restrukturisasi tersebut justru bertujuan agar perusahaan lebih fokus dalam menjalankan bisnis kontraktor tambang batubara.
Jadi restrukturisasinya seperti ini: UNTR memiliki anak usaha bernama PT Tuah Turangga Agung (TTA), yang merupakan pemilik dari enam konsesi tambang batubara (jadi UNTR, melalui TTA, adalah pemilik dari enam konsesi tambang). Kemudian, melalui PAMA yang notabene merupakan perusahaan kontraktor tambang (bukan tambang batubara itu sendiri), UNTR juga memiliki empat konsesi lagi (jadi totalnya sepuluh konsesi). Agar PAMA tetap fokus pada kegiatan usahanya sebagai kontraktor tambang, maka keempat konsesi tersebut kemudian dialihkan semuanya ke TTA (‘restrukturisasi’), sehingga UNTR tetap memiliki sepuluh konsesi tambang batubara, namun kali ini semuanya melalui TTA, bukan PAMA. Dengan demikian, PAMA bisa kembali fokus pada usaha kontraktor tambang batubara, sementara untuk urusan tambang batubara, UNTR bisa menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada manajemen TTA. So, ndak ada masalah bukan? Kata ‘restrukturisasi’ mungkin berkonotasi negatif jika itu dilakukan oleh Grup Bakrie, but don’t worry, we talk about ASTRA here.
Okay, jadi apakah dengan demikian UNTR pada harga saat ini (18,375) layak buy?
Well, sebelum menjawab pertanyaan diatas, maka pertama-tama kita pelajari dulu ‘karakter’ saham blue chip seperti UNTR ini. Sebagai perusahaan yang 1. Punya nama besar, 2. Merupakan market leader di bidangnya, 3. Merupakan bagian dari grup usaha sebesar Astra, 4. Memiliki track record kinerja yang cemerlang dalam jangka panjang, dan 5. Sahamnya sangat likuid, maka adalah wajar jika saham UNTR dihargai relatif mahal oleh para investor. Pada tahun 2011 lalu dimana bisnis tambang batubara sedang jaya-jayanya, UNTR sempat terus naik hingga menyentuh level 33,000, yang mencerminkan PBV lebih dari 5 kali (berdasarkan posisi ekuitas perusahaan ketika itu). Sementara pada waktu-waktu yang lain, PBV UNTR biasanya berada di rentang 2.5 – 3.5 kali.
However, pada waktu-waktu tertentu terkadang UNTR turun hingga valuasinya tidak lagi semahal biasanya. Misalnya ketika tahun 2013 lalu dimana laba UNTR memang turun, atau seperti pada saat ini, ketika UNTR dihantam berbagai sentimen negatif terkait restrukturisasi tadi, dan juga pelemahan harga batubara. Padahal yaa, kinerja perusahaannya bisa anda lihat sendiri: No problemo!
Jadi kalau bagi penulis pribadi kesimpulannya cukup jelas: It’s an opportunity. You know, di BEI nggak setiap hari ada saham blue chip murah seperti ini, dan UNTR adalah saham yang penulis admire sejak dulu namun selalu nggak jadi beli karena harganya selalu kemahalan (sementara pada tahun 2013 lalu, laba perusahaan masih turun). Sementara kalau berkaca pada pengalaman dimana saham-saham blue chip berfundamental bagus lainnya seperti Perusahaan Gas Negara (PGAS), Unilever Indonesia (UNVR), hingga Jasa Marga (JSMR)yang juga sempat turun sangat dalam karena sentimen negatif tertentu namun toh pada akhirnya naik lagi (karena kinerja perusahaannya sama sekali gak kenapa-napa kok), maka seharusnya demikian pula dengan UNTR! Gak usah jauh-jauh, kalau nanti UNTR ini balik lagi ke 22,000 saja, maka gain-nya sudah mendekati 20% bukan? Jadi sekali lagi, it’s an opportunity. Apalagi kita tahu bahwa Pemprov DKI sedang berencana untuk menambah armada bis Transjakarta merk Scania, dimana UNTR adalah distributor utama Scania Bus di Indonesia.
Hanya saja, sudah tentu, setiap peluang selalu diiringi dengan faktor risiko. UNTR mungkin bisa lanjut turun, atau paling tidak tertahan pada level harganya saat ini, jika harga batubara kembali tertekan (kita tidak pernah tahu soal itu, dan bahkan Warren Buffett tidak pernah bisa memprediksi harga komoditas). Tapi diluar itu, well, this ‘blue thing’ is too beautiful to be ignored.
PT United Tractors, Tbk (UNTR)
Rating Kinerja pada Kuartal III 2014: A
Rating Saham pada 18,375: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Teguh Hidayat & Partners sedang dalam posisi memegang UNTR di harga rata-rata 18,025. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
NB: Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis & rekomendasi dari saham-saham pilihan berdasarkan laporan keuangan perusahaan di Kuartal III 2014. Anda bisa memperolehnya

Seminar Value Investing: Bali!

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Bali. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bali. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:

  • Tempat: Hotel Rivavi, Jln. Melasti No.1, Legian Kuta, Bali
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 November 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 WIB (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Bali, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Vladimir Putin, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.
Berikut adalah foto-foto dari penyelenggaraan seminar yang sama di kota-kota sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar.

Yogyakarta, 15 November 2014
Jakarta, 27 September
Medan, Sumatera Utara, 30 Agustus
Surabaya, Jawa Timur, 6 September
Makassar, Sulawesi Selatan, 20 September
Semarang, Jawa Tengah, 11 [...]

Ebook Analisis Kuartal III 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2014 (Q3 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana. Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG). 
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 10 November 2014 mendatang. Anda bisa memperoleh ebook-nya disini.
Berikut screening ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu.
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan edisi kali ini merupakan edisi ketujuh belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca contoh-contoh analisis yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini:
  1. Resource Alam Indonesia (KKGI)
  2. Indofood Sukses Makmur (INDF)
  3. Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)
  4. Adira Dinamika Multifinance (ADMF)
  5. Jasa Marga (JSMR)
  6. Astra International (ASII), dan seterusnya.

Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Tanya Jawab Value Investing

Dalam setiap kali kesempatan seminar/pelatihan value investing, penulis selalu memberi kesempatan kepada para peserta untuk bertanya terkait materi yang disampaikan, baik itu dalam acara seminarnya ataupun setelah seminarnya (melalui email). Beberapa peserta menanyakan pertanyaan yang bisa saya jawab dengan jawaban yang singkat, dan beberapa lagi membutuhkan jawaban yang agak panjang. Berikut adalah beberapa dari pertanyaan-pertanyaan tersebut plus jawabannya. Silahkan cek, anda mungkin pernah juga punya pertanyaan yang sama.
Saya hanya mau beli saham-saham yang likuid, dalam hal ini yang masuk daftar LQ45, atau istilahnya saham-saham blue chip. Tapi kenapa valuasinya mahal semua? Sangat jarang, kalau tidak mau dikatakan tidak ada, saham-saham LQ45 yang PER-nya kurang dari 7 kali, atau PBV-nya kurang dari 1.0 kali. Kalaupun ada biasanya fundamentalnya jelek, jadi gak layak buy juga. Jadi apa yang harus saya lakukan?

Sebenarnya jawaban atas pertanyaan ini terletak di pertanyaan itu sendiri, yakni ketika anda mengatakan ‘saya hanya mau beli saham-saham yang likuid’. Nah, kalau semua investor berpikir seperti itu (hanya mau membeli saham-saham yang likuid), maka tentu saja harga dari saham-saham likuid ini tidak akan pernah terlalu murah bukan? Karena selalu ada investor yang ingin membelinya (berbeda dengan saham-saham yang tidak likuid, yang bid-nyakadang ada kadang nggak).
Itu sebabnya dalam value investing, likuiditas merupakan salah satu elemen penting dalam menilai valuasi sebuah saham, dimana saham yang likuid sudah selayaknya dihargai sedikit lebih tinggi dibanding saham lain yang tidak likuid, dengan catatan bahwa kedua saham tersebut memiliki kualitas fundamental/kinerja perusahaan yang kurang lebih sama.
Setidaknya terdapat dua alasan kenapa para investor, baik ritel maupun institusi, lebih menyukai saham-saham yang likuid ketimbang yang tidak. Yang pertama adalah karena kemudahan untuk membeli/menjualnya. Saham yang likuid jauh lebih mudah untuk dijual/dibeli setiap saat karena itu tadi: Selalu ada orang yang pasang bid dan offer. Yang kedua adalah karena saham likuid relatif aman dari praktek bandar-bandaran, dimana pergerakan harganya benar-benar hanya tergantung pasar, sehingga pola pergerakannya tersebut biasanya bisa dipelajari menggunakan analisis teknikal. Hal yang berbeda terjadi pada saham non likuid, yang naik turunnya bisa dipengaruhi oleh tindakan investor besar tertentu yang menjual atau membelinya. Makanya kalau anda terbiasa pakai analisis teknikal, anda bisa lihat sendiri kalau chart dari saham-saham anggota LQ45 biasanya lebih ‘mulus’ ketimbang chart dari saham-saham ‘antah berantah’ bukan?

Bagi investor institusi seperti Schroders, ‘maenannya’ gak jauh-jauh dari ASII, BMRI, UNVR, dst..

Yang juga perlu diperhatikan, terkadang bukan seretnya likuiditas yang menyebabkan suatu saham menjadi dihargai lebih murah (dibanding saham lain dengan fundamental setara namun lebih likuid), melainkan justru sebaliknya: Saham tersebut sudah kelewat murah hingga para pemegangnya sudah tidak lagi mau menjualnya, biasanya karena masih berharap bahwa saham tersebut masih bisa naik lagi suatu hari (kalau sahamnya sudah ‘nggak ada harapan’ sih, maka sahamnya bakal meluncur turun terus sampai mentok di gocap), namun disisi lain juga belum ada investor yang pasang bid untuk membelinya. Karena itulah kemudian tidak terjadi transaksi, dan saham tersebut menjadi tidak likuid.
Kondisi ini seringkali terjadi pada perusahaan dengan fundamental bagus di masa lalu, namun pada saat ini kinerjanya terbilang buruk sehingga sahamnya pun turun signifikan hingga ke level harga yang ‘sudah tidak bisa lebih murah lagi’. Saham seperti ini biasanya akan sideways dalam jangka waktu yang cukup lama (dan dengan likuiditas yang seret), hingga akhirnya berbalik arah alias naik jika kinerja perusahaan yang bersangkutan membaik kembali (yang menyebabkan para investor berebut membeli saham tersebut). Contoh kasus ini yang pernah terjadi adalah saham Elnusa (ELSA), yang pernah turun sampai mentok dibawah 200 karena labanya turun sampai minus (rugi), namun kemudian naik lagi setelah perusahaan sukses mencatatkan laba kembali.
Faktor lain diluar likuiditas yang menyebabkan suatu saham layak dihargai lebih tinggi, adalah jika saham tersebut mewakili perusahaan yang memiliki nama besar alias terkenal. Sederhana saja: Jika anda disuruh pilih ponsel Samsung atau ponsel merk lainnya pada harga yang sama dan spesifikasi yang juga sama, maka anda akan pilih? Samsung, tentu saja. Dan faktanya meski ponsel Samsung (atau Apple) dihargai lebih tinggi dibanding Huawei, Evercoss, Xiaomi, Advan, dll, namun tetap saja lebih laris. Nah, hal yang sama juga terjadi pada saham, dimana anda tidak akan bisa menyamakan valuasi saham Bank BCA (BBCA) dengan Bank ICB Bumiputera (BABP), misalnya, bahkan jika kedua bank tersebut memiliki kualitas kinerja keuangan yang setara.
However, ini bukan berarti anda boleh menghargai saham-saham likuid dan punya nama besar dengan valuasi yang selangit. Jika anda menganggap bahwa saham A layak dihargai pada PBV 1.5 kali (dimana saham A ini non likuid dan perusahaannya tidak terkenal), maka saham B, yang fundamentalnya kurang lebih setara dengan saham A namun lebih likuid dan perusahaannya juga lebih terkenal, bolehlah dihargai pada PBV 2.0 kali. Tapi kalau saham B ini harganya kebetulan berada di level PBV 2.5 kali, maka ya tahan dulu cash anda. Intinya, setelah anda memberikan ‘toleransi’ bahwa saham-saham LQ45 dan blue chip memang layak dihargai lebih tinggi dibanding kebanyakan saham lainnya, namun ternyata tetap saja tidak ada satupun diantara mereka yang cukup murah untuk dibeli, maka tunggu dulu. Coba cek dulu posisi IHSG, kemungkinan memang sedang tinggi-tingginya.
Mas Teguh bilang bahwa Astra International (ASII) sudah cukup murah kalau bisa dibeli di 6,000 atau dibawahnya. Tapi kemarin ketika dia turun sampai 6,150 langsung naik lagi tuh. Gimana dong?
Salah satu prinsip dasar dalam menilai bahwa valuasi suatu saham terbilang mahal/wajar/murah adalah, tidak pernah ada angka yang pasti tentang di harga berapa suatu saham, entah itu ASII atau lainnya, sudah bisa dikatakan murah. Sebab tidak pernah ada dua orang investor pun yang bisa sepakat tentang di harga berapa suatu saham sudah layak buy. Contohnya, meski penulis menganggap bahwa ASII baru bisa dikatakan murah jika harganya turun sampai dibawah 6,000, namun jika ada banyak investor lain yang menganggap bahwa ASII sudah cukup murah dibawah 6,500, dan karena itulah mereka terus hajar kanan setiap kali ada investor yang menjual ASII di harga antara 6,000 – 6,500, maka tentu saja ASII tidak akan bisa turun lebih rendah dari 6,000 bukan? Lha wong ada yang ‘ngeganjel’ kok.
Sebaliknya, meski saya menganggap bahwa ASII sudah murah di 6,000, namun jika terjadi kondisi tertentu dimana para pemegang saham ASII panik dan ramai-ramai melepas saham mereka, maka ASII bisa turun lebih dalam lagi, mungkin bisa sampai 5,500, 5,000, dan seterusnya. Intinya, hanya karena anda (atau saya) menganggap bahwa ASII sudah murah di 6,000, maka bukan berarti ASII tidak bisa turun lebih rendah lagi dari itu.
Jadi solusi untuk mengatasi hal ini adalah dengan menerapkan pembelian secara bertahap. Contohnya kalau pakai kasus ASII, maka meski anda mungkin menganggap bahwa level harganya yang cukup murah adalah dibawah 6,000, namun kalau ASII sudah berada di level dibawah 6,500 setelah sebelumnya lama berkutat di 7,000-an, maka anda sudah boleh masuk sedikit-sedikit. Dengan cara ini, maka jika nanti ASII terus turun hingga dibawah 6,000, maka anda bisa kembali membelinya, kali ini dalam jumlah yang lebih banyak, karena sebelumnya kan anda hanya membelinya dalam jumlah sedikit. Namun jika ASII tidak sampai turun hingga dibawah 6,000 dan langsung naik lagi, maka anda tetap untung karena sudah pegang barang. Dan sisa dana anda yang nggak kepake (karena ASII nggak turun sampe dibawah 6,000) bisa dialokasikan untuk saham-saham lain.
Tapi bagaimana kalau ASII terus turun hingga 6,000, 5,500, atau bahkan 5,000? Misalnya jika IHSG turun? Nah, jika kejadiannya demikian, maka pada satu titik tertentu anda akan (pada akhirnya) kehabisan dana cash, dan posisi anda jadinya nyangkut. Namun jangan khawatir karena toh pada akhirnya, selama saham yang anda pilih memang tepat dan anda membelinya di harga yang tidak terlalu tinggi, smaka aham anda tersebut akan naik lagi. Kondisi ini pernah penulis alami beberapa kali, salah satunya ketika tahun lalu mulai menyicil beli BBRI di 7,500, dan beli lebih banyak lagi ketika BBRI sudah berada dibawah 7,000. Namun nyatanya, seiring dengan pelemahan IHSG ketika itu, BBRI terus saja longsor hingga sempat menyentuh 6,150 sebagai titik terendahnya. Alhasil posisi kita jadi nyangkut! Tapi yah, lihat sendiri udah berapa BBRI sekarang? (meski, harus saya akui, saat ini saya sudah melepasnya untuk nanti masuk lagi kalau dikasih harga murah).
Boleh saya minta konfirmasi tentang berapa lama itu ‘jangka pendek’, ‘jangka menengah’, dan ‘jangka panjang’?
Beberapa literatur menyebutkan bahwa jangka pendek itu 1 – 2 tahun, jangka menengah itu 3 – 5 tahun, dan jangka panjang itu adalah sampai 10 tahun. However, sebagai full time investor, dan karena pasar saham Indonesia termasuk perkembangan kinerja dari sektor-sektor didalamnya memang sangat fluktuatif, maka penulis memilih untuk lebih realistis. In my opinion, jangka pendek adalah 1 – 3 bulan (atau kurang dari itu), jangka menengah adalah 3 bulan hingga 1 tahun, dan jangka panjang adalah diatas 1 tahun. Ada beberapa saham di porto kami yang sudah kami pegang selama lebih dari satu tahun, namun jujur saja, jumlahnya tidak terlalu banyak dibandingkan saham-saham lain yang mungkin bisa kami jual/beli kembali dalam waktu kurang dari satu tahun. You know, setiap kali kami memandang bahwa pasar mungkin akan turun, maka kami akan ‘cuci gudang’ dulu, tak peduli meski saham tersebut harganya masih kami anggap murah.
Dan salah satu salah kaprah yang perlu diluruskan disini adalah, value investing bukanlah soal investasi jangka panjang atau trading jangka pendek, melainkan strategi untuk membeli saham bagus pada harga yang serendah-rendahnya. Ketika anda memperoleh saham bagus pada harga murah, maka seringkali cuma soal waktu sebelum harga saham tersebut akan naik hingga akhirnya tidak bisa dikatakan murah lagi. Nah, ‘waktu’ tersebut bisa sangat sebentar (baru anda beli, sorenya udah terbang), satu atau dua minggu, beberapa bulan, hingga beberapa tahun. Yang diingat orang mungkin hanya yang ‘beberapa tahun’ ini, sehingga kesannya value investing adalah pasti investasi jangka panjang. Padahal kalau anda beli beberapa saham blue chip ketika IHSG masih nyungsep awal tahun 2014 lalu, maka belum genap satu tahun, keuntungan yang anda peroleh sudah cukup besar bukan? Dan anda akan selalu memiliki opsi untuk keluar dulu atau switch ke saham lain, jika harga dari saham yang anda pegang, setelah anda pelajari lagi, sudah tidak bisa dikatakan murah lagi.
Hanya memang, value investor cenderung menghindari trading yang berlebihan, apalagi swing trading seperti yang sering dilakukan oleh trader yang mengira bahwa dirinya adalah Michael Schumacher. We do trade, only with a little bit patience.
Apakah Mas Teguh pake Discounted Cashflow (DCF) atau Dividend Discounted Model (DDM) dalam menghitung valuasi saham?
Tidak. Saya bahkan tidak mengerti apa itu DDM (kalau DCF sih ngerti sedikit). Namun yang saya tahu, Buffett pun tidak menggunakan dua teknik tersebut. Kalau anda baca annual letter Berkshire Hathaway (yang ditulis langsung oleh Buffett sendiri), kakek awet muda ini nggak pernah menyebutkan teknik valuasi lain selain PBV, PER, dan dividend yield, plus satu lagi yakni teknik menghitung nilai intrinsik saham seperti yang dipaparkan disini. Kalau anda baca-baca buku tentang cara investasi Warren Buffett yang ditulis oleh orang lain, maka barulah anda akan menemukan DCF, DDM, dan mungkin juga teknik-teknik valuasi lainnya. However, saya menganggap bahwa si penulis mungkin sengaja menambahkan teknik-teknik tetek bengek tersebut agar bukunya jadi tampak tebal saja.
Okay, I think that’s all. Selebihnya kita bahas lagi minggu depan.

NB: Bagi anda yang tinggal di Yogyakarta dan Bali, kita ada jadwal seminar value investing di Jogja, dan Bali (tepatnya di Legian, Kuta), masing-masing pada hari Sabtu, tanggal 15 dan 22 November. Keterangan selengkapnya klik [...]

Inilah Susunan Kabinet Jokowi

Setelah ditunggu selama hampir satu minggu, Presiden Jokowi akhirnya mengumumkan susunan kabinet yang berisi total 34 menteri, sudah termasuk menteri koordinator (menko). Kabinet tersebut dinamakan ‘Kabinet Kerja’, dan berikut adalah nama-nama menteri selengkapnya:

  1. Menteri Sekretaris Negara                              : Pratikno
  2. Menko Politik, Hukum & Keamanan             : Tedjo Edy Purdijatno
  3. Menko Maritim                                               : Indroyono Soesilo
  4. Menko Ekonomi                                             : Sofjan Djalil
  5. Menko Pembangunan & Kebudayaan            : Puan Maharani
  6. Menteri Perencanaan Pembangunan               : Adrinof Chaniago
  7. Menteri Perhubungan                                      : Ignasius Jonan
  8. Menteri Kelautan & Perikanan                       : Susi Pudjiastuti
  9. Menteri Pariwisata                                          : Arief Yahya
  10. Menteri Energi & Sumberdaya Mineral          : Sudirman Said
  11. Menteri Dalam Negeri                                    : Tjahjo Kumolo
  12. Menteri Luar Negeri                                       : Retno Lestari P. Marsudi
  13. Menteri Pertahanan                                         : Ryamizard Ryacudu
  14. Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia           : Yasonna H. Laoly
  15. Menteri Komunikasi & Informatika               : Rudiantara
  16. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara       : Yuddy Chrisnandi
  17. Menteri Keuangan                                          : Bambang Brodjonegoro
  18. Menteri BUMN                                              : Rini M. Soemarno
  19. Menteri Koperasi                                            : Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga
  20. Menteri Perindustrian                                     : Saleh Husin
  21. Menteri Perdagangan                                      : Rahmat Gobel
  22. Menteri Pertanian                                            : Amran Sulaiman
  23. Menteri Tenaga Kerja                                     : Hanif Dhakiri
  24. Menteri PU & Perumahan Rakyat                  : Basuki Hadimuljono
  25. Menteri LH & Kehutanan                               : Siti Nurbaya Bakar
  26. Menteri Agraria & Tata Ruang                       : Ferry Musyidan Baldan
  27. Menteri Agama                                               : Lukman Hakim Saefudin
  28. Menteri Kesehatan                                          : Nila F. Moeloek
  29. Menteri Sosial                                                 : Khofifah Indar Parawansa
  30. Menteri Wanita & Perlindungan Anak           : Yohana Yambise
  31. Menteri Kebudayaan & Pendidikan               : Anies Baswedan
  32. Menteri Riset, Teknologi, & Dikti                  : M. Nasir
  33. Menteri Pemuda & Olahraga                          : Imam Nahrawi
  34. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal      : Marwan Jafar
Komentar penulis: Secara individu di tiap-tiap kementerian, saya tidak bisa berkomentar banyak karena nggak hafal track record dari tiap-tiap menteri yang dipilih, kecuali bahwa Anies Baswedan, dengan mempertimbangkan latar belakang beliau sebagai rektor universitas dan tokoh pendidikan, memang sangat cocok untuk ditempatkan sebagai Menteri Kebudayaan & Pendidikan. Lalu ada juga Ignasius Jonan, yang juga sangat cocok untuk posisi Menteri Perhubungan, mengingat prestasi yang bersangkutan selama menjabat sebagai Direktur PT Kereta Api.
 
Anies Baswedan. Sumber: aniesbaswedan.com

Kemudian, dari 34 nama yang dipilih, beberapa diantaranya merupakan politisi alias orang partai, namun nama-nama dari kalangan profesional jumlahnya lebih banyak, dan itu tentu bagus (meski politisi dari partai tertentu mungkin bakal protes karena PDI-P memperoleh jatah yang jauh lebih banyak ketimbang partai lain). Adanya posisi menko baru yakni menko maritim menunjukkan bahwa Jokowi tidak main-main ketika beliau pas pelantikan kemarin menyatakan bahwa ia akan berusaha mengembalikan identitas Bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim dan kelautan.
Dan yang paling penting, sudah tidak ada lagi nama Tifatul dan Roy ‘tidak hafal lagu Indonesia Raya’ Suryo.
Nah, sebagai pelaku pasar saham, komentar [...]

Tips Sukses Investasi: Jadilah Supir yang Baik

Di waktu senggang, penulis suka sekali baca-baca website Kaskus, karena disitulah orang-orang bisa beropini tentang segala sesuatu dengan bebasnya, meski saya sendiri lebih suka hanya menjadi silent reader saja. Nah, kebetulan ada dua cerita menarik yang sama-sama mengambil judul ‘surat terbuka bagi pengendara mobil dengan nomor bla bla bla’. Isi dari cerita tersebut, seperti yang bisa anda tebak, merupakan buntut dari perselisihan yang terjadi antar sesama pengendara mobil di jalan raya, dalam hal ini di Jakarta dan sekitarnya yang, karena kondisi macetnya yang luar biasa, menyebabkan para pengguna jalan raya sangat mudah tersulut emosinya jika mobil/motornya terserempet sedikit saja, apalagi jika sampai tertabrak.

‘Surat terbuka’ yang pertama, kronologisnya kira-kira begini. Si penulis surat, sebut saja Mr. A, sedang berhenti di lampu merah. Ketika lampu berubah menjadi hijau, seluruh kendaraan mulai bergerak maju. Tiba-tiba, di sebelah kiri mobil Mr. A, ada sebuah mobil (yang dikendarai oleh seseorang, sebut saja namanya Mr. B) yang tampak banting setir ke kanan (kemungkinan karena menghindari sepeda motor) hingga hampir saja menabrak mobil Mr. A. Sontak Mr. A membunyikan klakson kuat-kuat, untuk mengingatkan Mr. B agar tidak menabraknya.
Namun disinilah menariknya. Mobil Mr. A dan Mr. B tidak saling bertabrakan, namun Mr. B yang mengambil posisi didepan mobil Mr. A, kemudian dengan sengaja mengerem mendadak hingga menghalangi jalur mobil Mr. A. Kenapa dikatakan sengaja? Karena Mr. B melakukan itu (mengerem mendadak) beberapa kali. Pada kondisi inilah Mr. A mulai terpancing emosinya, hingga ia lalu mengejar mobil Mr. B, sambil terus membunyikan klakson kuat-kuat, meminta Mr. B untuk meminggirkan kendaraannya.
Hingga kemudian di satu ruas jalan yang tidak begitu ramai, Mr. A sukses memaksa Mr. B untuk berhenti. Mr. A turun dari mobil untuk menghampiri Mr. B. Namun Mr. B, bukannya turun tapi malah tancap gas untuk kabur, hingga menyerempet Mr. A yang sedang berjalan kaki kearahnya, dan juga menyerempet mobil Mr. A hingga ringsek.
Karena merasa sangat dirugikan (udah mobilnya jadi penyok, hampir celaka juga karena tertabrak), Mr. A kemudian menulis surat terbuka di Kaskus. Hasilnya memang cukup baik: Beberapa minggu kemudian Mr. B berhasil ditemukan, dan berhasil dipaksa untuk memberikan ganti rugi kepada Mr. A. Kasus selesai.
Lalu, surat terbuka yang kedua, kronologisnya begini. Si penulis surat, sebut saja Mr. C, sedang mengendarai mobilnya di ruas Jalan tol Jakarta – Cikampek, tepatnya di sekitar Bekasi. Lagi enak-enak nyetir, tiba-tiba ada mobil (yang dikendarai oleh seseorang, sebut saja Mr. D) yang tanpa menyalakan lampu sen langsung pindah jalur ke jalur yang sedang dilewati Mr. C. Sontak Mr. C mengerem mendadak hingga hampir saja menabrak pembatas jalan. Pada titik ini Mr. C mulai merasa kesal, namun masih bisa mengendalikan emosinya. Namun kemudian, Mr. D benar-benar menghalangi lajurnya karena Mr. D menjalankan mobilnya dengan kecepatan pelan. Mr. C mau menyalip dari kiri nggak bisa karena jalan tol-nya lagi penuh. Hingga akhirnya Mr. C sukses menyalip Mr. D, dan ketika menyalip itulah, Mr. C membuka kaca jendela dan mengacungkan jari tengah ke Mr. D.
Cerita serunya baru dimulai disini. Tidak terima dengan perlakuan Mr. C, Mr. D kemudian mulai memacu mobilnya untuk mengejar mobil Mr. C, hingga hampir saja mencelakakan mereka sendiri. Endingnya bisa ditebak: Kedua mobil sama-sama menepi di pinggir jalan tol, dan kedua pengemudi mulai terlibat debat kusir soal siapa yang ‘nyetir nggak bener’. Pada akhirnya Mr. C mengalah dan melanjutkan perjalanan, namun ia kemudian menulis ‘surat terbuka’ di Kaskus.
Studi Kasus
Okay, sekarang mari kita evaluasi. Kira-kira siapa yang salah dalam dua kejadian diatas? Ya kalau berdasarkan pendapat dari si penulis surat, yakni Mr. A dan Mr. C, maka jelas bahwa yang salah adalah ‘lawan’ mereka masing-masing, dalam hal ini Mr. B dan Mr. D. Penyebabnya kan jelas: Mr. B dengan sengaja menghalang-halangi jalur Mr. A, dan Mr. D dengan seenaknya pindah jalur hingga membuat Mr. C hampir saja menabrak pagar pembatas jalan tol.
Namun coba kita perhatikan lagi, kenapa Mr. B dengan sengaja menghalang-halangi jalur Mr. A? Well, mungkin itu karena Mr. A membunyikan klakson kuat-kuat ketika Mr. B secara tidak sengaja hampir saja menabraknya ketika membanting setir ke arah kanan (karena menghindari sepeda motor), dan Mr. B tidak terima atas klakson tersebut, sehingga ia kemudian ‘berbuat ulah’. Untuk hal ini bisa penulis pahami, memangnya siapa yang suka dengan suara bising klakson yang dibunyikan terus menerus? Dalam pengakuannya, Mr. B sedang dalam kondisi bad mood karena baru bertengkar dengan istrinya, dan suara klakson dari mobil Mr. A praktis memicu emosinya.
Kemudian, kenapa Mr. D dengan seenaknya pindah jalur di jalan tol? Yah, itu sih mungkin karena dia memang nggak ngerti cara berkendara saja. Ada banyak sekali supir-supir model begini yang nggak ngerti perlunya menyalakan lampu sen kalau pindah jalur di jalan tol. Penulis pribadi bukan cuma sekali ketemu pengendara seperti Mr. D ini, baik itu di jalan tol maupun jalan biasa, melainkan sudah sangat sering. Reaksi saya tiap kali ketemu orang seperti itu biasanya cuma mengelus dada saja.
Tapi yang jadi problem adalah, Mr. C ini benar-benar tidak terima dengan perlakuan Mr. D, hingga kemudian mengacungkan jari tengah ke Mr. D. Dan tindakan Mr. C inilah yang kemudian memicu keributan. Jika tidak ada kejadian jari tengah tersebut, maka Mr. C juga kemungkinan tidak akan menulis surat terbuka di Kaskus.
Okay, jadi apa kesimpulannya?
Pernahkah anda bertemu dengan sesama pengemudi mobil/motor yang cenderung seenaknya di jalan raya? Penulis kira bukan pernah lagi, tapi sering! Masalahnya adalah, berdasarkan cara pengguna jalan raya dalam menanggapi pengguna jalan raya yang lain yang (dia anggap) menyusahkan, maka terdapat dua macam pengemudi. Yang pertama adalah pengemudi yang reaktif, yang mudah terpancing emosinya setiap kali mobilnya hampir terserempet (apalagi kalau sampai terserempet beneran), dan tak jarang melontarkan sumpah serapah ke pengemudi lain yang (dia anggap) tidak berkendara dengan benar. Meski belum pernah dilakukan penelitian, namun penulis cukup yakin bahwa pengemudi yang sering meneriakkan kata GOBL*K!, akan lebih sering terlibat perselisihan di jalan raya ketimbang pengemudi lain yang tidak pernah atau jarang melontarkan kata yang sama.
Yang kedua, tipe pengemudi yang santai, yang tidak gampang terpancing emosinya, yang hanya diam saja alias menunggu (tanpa membunyikan klakson) setiap kali ada mobil/motor lain yang menghalangi jalannya, atau semacamnya. Pengemudi seperti ini biasanya lebih banyak mengalah dan tidak ambil pusing setiap kali ia merasa ‘dirugikan’ oleh pengemudi lain yang seenaknya atau tidak tahu aturan. Dalam kasus yang lebih ekstrim, jika mobilnya terserempet atau tertabrak dan pelakunya menolak untuk bertanggung jawab, maka dia pun tetap akan diam saja dan tidak marah sama sekali, karena toh mobilnya sudah diasuransikan. Meski kasus ini jarang terjadi (kalau kalau dua mobil tabrakan dan kedua supirnya nggak cedera, maka biasanya kedua supir tersebut mendadak menjadi petinju amatir), namun di Jogja pernah terjadi dua mobil tabrakan, dan kedua supirnya justru bersalaman sambil tertawa renyah, dan keduanya sama-sama bersedia untuk saling bertanggung jawab (What an attitude! What a city!).
Biasanya pula, pengemudi tipe ‘selow’ ini jarang ugal-ugalan di jalan raya, dan juga selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, termasuk selalu berhenti di belakang garis putih setiap kali lampu merah menyala.
Nah, sekarang penulis minta anda untuk jujur: Tipe pengemudi yang manakah anda? Jika anda bisa dengan tegas menjawab, ‘Saya tipe pengemudi nomor dua!’, maka selamat! Anda lebih dari layak untuk berinvestasi di pasar saham, bahkan meski anda masih belum benar-benar menguasai entah itu analisis fundamental, teknikal, maupun metode-metode investasi/trading saham lainnya.
Sebab pasar saham itu merupakan ‘pengemudi yang benar-benar tidak tahu aturan’, sehingga benar-benar memancing emosi setiap ‘supir’ (baca: investor/trader) didalamnya! Tak peduli seyakin apapun anda terhadap prospek saham tertentu, namun anda tidak akan pernah tahu secara persis kapan saham tersebut akan banting setir ke kiri atau ke kanan (baca: naik atau turun). Termasuk, sebagus apapun saham yang anda pilih, namun kalau IHSG turun sewaktu-waktu maka diapun kemungkinan akan tetap turun. Jadi jika anda tidak bisa mengendalikan emosi anda dalam melihat ‘manuver’ dari saham-saham yang anda pegang, atau sering membunyikan klakson (baca: mengeluh) setiap kali saham anda turun, maka ujung-ujungnya anda mungkin hanya akan terlibat tabrakan (baca: mengalami kerugian).
Kemampuan untuk mengontrol emosi ini sedemikian pentingnya, termasuk lebih penting dari kemampuan dalam menganalisis saham itu sendiri. Ibaratnya, menganalisis saham itu adalah seperti cara-cara untuk mengendarai mobil, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, dan seterusnya. Namun tanpa diiringi oleh kemampuan mengendalikan emosi, seluruh kemampuan menyetir anda tersebut akan menjadi sia-sia, karena anda kemungkinan akan sering terlibat tabrakan, ditilang polisi, atau semacamnya. Nah, di pasar saham juga sama begitu. Tak peduli sejago apapun anda dalam analisis fundamental/teknikal/bandarmologi dst, namun tanpa pengendalian emosi, tanpa kemampuan untuk tidak panik dan serakah, maka itu semua menjadi sia-sia.
Lalu bagaimana caranya agar saya bisa mengendalikan emosi saya di pasar saham? Tentunya yaaa, ada banyak sekali tips. Namun jika anda masih menyetir mobil/motor anda sendiri (soalnya Warren Buffett juga nyetir sendiri, gak pake supir), maka berikut adalah hal-hal yang bisa anda terapkan, berdasarkan pengalaman penulis sendiri setiap kali menjadi supir pribadi untuk ibunya anak-anak:
Opa Buffett lagi nyetir ke kantornya, sambil mampir dulu ke McD dulu buat beli sarapan. Sumber: vanityfair.com
  1. Hilangkan istilah-istilah ‘kebun binatang’ dalam kamus bahasa anda. Jika anda punya anak-anak yang masih kecil, maka sering-sering bawa mereka bepergian, agar anda dengan sendirinya menahan diri setiap kali hendak meneriakkan kata-kata yang tidak baik, karena anda tentu tidak mau putra/putri anda mendengar dan menirunya.
  2. Tahan diri anda untuk tidak membunyikan klakson, apapun alasannya. Penulis ingat pernah mengendarai mobil melewati jalan yang sempit, dan terhalang oleh rombongan ibu-ibu (sepertinya abis pulang kondangan) yang berjalan terlalu di tengah. Saya menjalankan mobil dengan sangat pelan di belakang mereka selama sekitar 1 – 2 menit, tanpa membunyikan klakson sama sekali. Hingga akhirnya seorang ibu menyadari keberadaan saya di belakang, dan ia mengingatkan teman-temannya yang lain untuk minggir. Ketika melewati mereka, penulis membuka kaca jendela dan mengucapkan terima kasih.
  3. Biasakan mengalah. Jika anda hendak masuk pintu tol, kemudian tiba-tiba ada metro mini/mobil lain yang berusaha mencuri jalur anda (padahal anda sudah capek-capek ngantri), maka biarkan dia masuk. Inipun saya sering sekali mengalami. However, penulis pernah juga bepergian dimana yang menyetir adalah seorang anggota keluarga penulis, dan dia tidak mau mengalah pada mobil yang menyerobot jalurnya, hingga kedua mobil hampir saja saling menyerempet. Dan yap, seperti yang sudah anda duga, si supir ini juga ugal-ugalan di jalan tol, dan sering melontarkan kata-kata kasar.
  4. Patuhi rambu-rambu lalu lintas, berhentilah dibelakang garis putih, jangan naik ke trotoar (jika anda pake motor), jangan parkir di pinggir jalan (ingat bahwa itu akan menyusahkan pengguna jalan lain), dan bayarlah tilang jika memang anda melanggar rambu tertentu. Dan terakhir,
  5. Sering-seringlah menghela nafas panjang setiap kali ada pengguna jalan raya yang membuat anda kesal, misalnya ketika anda terpaksa mengerem mendadak, atau jika mobil anda benar-benar terserempet/tertabrak. Lakukan itu sampai kesal anda mereda dengan sendirinya. Berpikirlah secara realistis: Membalas perbuatan orang yang membuat anda kesal di jalan raya tidak akan menghentikan masalah, melainkan hanya membuat posisi anda menjadi sama buruknya dengan dia, dan itu hanya membuang-buang waktu.
Ada lagi? Nggak, itu saja kok. Just do it all, dan setelah beberapa waktu rasakan perbedaannya: Anda akan lebih tenang dan tidak lagi terlalu emosional dalam meng-handle portofolio anda di saham. Beberapa orang sejak awal sudah terlahir dengan kemampuan mengendalikan emosi yang jauh lebih baik dibanding orang kebanyakan, namun beberapa lagi mungkin perlu menerapkan tips-tips diatas agar mereka bisa lebih baik dalam berkendara di jalan raya.. dan juga dalam berinvestasi di saham.
Masih ada banyak lagi tips dan trik terkait pengendalian emosi ini, atau istilahnya manajemen psikologis dalam berinvestasi di saham. Artikel lainnya yang terkait sudah pernah dibahas di website ini (silahkan anda baca sendiri), dan kita akan membahas selebihnya lain waktu.
Pengumuman: Penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan Seminar Investasi Saham: Value Investing, di Jogja dan Bali, masing-masing pada hari Sabtu, tanggal 15 dan 22 November. Biayanya hanya Rp500,000. Keterangan selengkapnya klik [...]

Seminar Value Investing: Jogja, dan Bali!

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Yogyakarta, dan Bali. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jogja dan Bali. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here! 
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
Yogyakarta
  • Tempat: Hotel Abadi, Jln. Pasar Kembang No.49 (Seberang Stasiun Kereta Api Tugu),  Yogyakarta
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 15 November 2014
Bali
  • Tempat: Hotel Rivavi, Jln. Melasti No.1, Legian Kuta, Bali
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 November 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 WIB (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Jogja/Bali, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Joko Widodo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta untuk setiap seminar.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
  3. Baru! Setelah acara seminarnya, anda akan diberikan ‘PR’ (pekerjaan rumah) dimana anda bisa berlatih untuk menerapkan metode value investing yang sudah diajarkan sebelumnya, kemudian nantinya saya sendiri (Teguh Hidayat) yang akan mengkoreksi hasil ‘PR’ anda tersebut. PR ini bertujuan agar anda benar-benar memperoleh manfaat dari seminar yang diberikan :)
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.
Berikut adalah foto-foto dari penyelenggaraan seminar di kota-kota sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar.



Medan, Sumatera Utara, 30 Agustus
Surabaya, Jawa Timur, 6 September
Makassar, Sulawesi Selatan, 20 September
Jakarta, 27 September
Semarang, Jawa Tengah, 11 [...]

Bank Danamon

Bank Danamon (BDMN) menjadi emiten pertama di BEI yang sudah merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal III 2014 (Q3 2014). Dan hasilnya? Well, BDMN sejak awal tahun 2014 lalu merupakan salah satu emiten perbankan yang manajemennya tidak mampu mengatasi dampak negatif dari kenaikan BI Rate, dimana meski pendapatannya naik namun laba usaha serta laba bersihnya turun cukup signifikan karena kenaikan beban bunga, dan trend tersebut masih terjadi hingga saat ini. Hingga Q3 2014, BDMN mencatatkan laba bersih Rp2.1 trilyun, turun 29.9% dibanding periode yang sama tahun 2013.

Pencapaian kinerja yang kurang memuaskan tersebut menyebabkan saham BDMN cenderung bergerak turun dalam dua tahun terakhir, karena pada tahun 2013, perolehan laba BDMN juga boleh dikatakan tidak tumbuh sama sekali dibanding tahun 2012. Namun disinilah menariknya: Sebelum tahun 2013, BDMN memiliki kinerja fundamental yang cemerlang, sementara bank-nya sendiri merupakan bank swasta terbesar ketiga di Indonesia dari sisi aset setelah Bank BCA (BBCA), dan Bank CIMB Niaga (BNGA). Dan setelah ditambah dengan likuiditasnya yang sangat bagus, maka jadilah saham BDMN menjadi salah satu saham perbankan termahal di BEI dengan PBV antara 3 hingga 4 kali, hanya kalah dibanding BBCA.
Namun, itu dulu. Setelah sahamnya turun kurang lebih 35% dalam dua tahun terakhir, sementara nilai ekuitas BDMN masih bertumbuh dari Rp28.7 trilyun pada akhir tahun 2012 menjadi Rp32.1 trilyun pada saat ini, maka PBV-nya menjadi hanya 1.2 kali pada harga 4,000. Dengan mempertimbangkan status sahamnya yang masih bisa disebut sebagai blue chip, maka itu adalah valuasi yang atraktif. BDMN berpeluang untuk naik signifikan jika nanti laporan keuangannya mencatatkan pertumbuhan yang positif kembali.
Dan kalau kita cek kinerja BDMN secara historis, tahun 2014 ini adalah merupakan pertama kalinya BDMN mengalami penurunan laba sejak 2009 (di tahun-tahun yang lain, laba BDMN naik terus). Hingga Kuartal III 2014, ROE perusahaan tercatat hanya single digit, tepatnya 9.3%, namun sejak 2001 (yap, anda tidak salah baca) hingga 2012, ROE tersebut nyaris selalu diatas 15% (kecuali untuk tahun 2009). Dari sisi net interest margin (NIM) yang mencapai antara 8 – 10%, maka BDMN adalah bank dengan margin bunga terbaik di BEI setelah Bank BTPN (BTPN). Pencapaian historis yang bagus ini terutama karena BDMN bermain di dua segmen kredit yang paling menguntungkan, yakni kredit mikro, usaha kecil dan menengah (UKM), dan kredit pembiayaan kendaraan bermotor melalui anak usahanya, Adira Dinamika Multifinance (ADMF). You see, jika untuk kredit korporasi BDMN hanya bisa membebankan bunga 14 – 16% per tahun kepada debitur, maka untuk kredit sepeda motor, bunganya bisa diatas 40%.
Jadi meski kinerja BDMN sejauh ini masih belum cukup atraktif bagi investor untuk memburu sahamnya, yang itu berarti sahamnya mungkin belum akan naik dulu meskipun valuasinya sudah cukup murah, namun ketika tadi dikatakan bahwa ‘BDMN berpeluang untuk naik signifikan jika nanti laporan keuangannya mencatatkan pertumbuhan yang positif kembali’, maka kembalinya pertumbuhan yang positif tersebut mungkin cuma soal waktu. Beberapa perusahaan mencatatkan kinerja yang kurang bagus, atau kinerja yang buruk sama sekali, karena perusahaannya memang jelek. Namun BDMN tidak tergolong perusahaan seperti itu, meski memang selama dua tahun ini mereka sedang mengalami masa-masa sulit.
Pertanyaannya, apa yang menyebabkan stagnasi kinerja tersebut? Well, tidak ada penyebab yang khusus kecuali karena pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang memang sedang melambat, disebabkan oleh melemahnya pertumbuhan ekonomi nasional secara umum, yang sayangnya berdampak cukup signifikan terhadap kinerja BDMN karena perusahaan tidak mengerjakan kegiatan ekspansi tertentu, misalnya membuka banyak kantor cabang baru, dalam dua tahun terakhir. BDMN, seperti beberapa bank-bank lainnya, lebih banyak mengembangkan sumber pendapatan baru berdasarkan fee (fee based income), seperti layanan kartu kredit (dengan bekerja sama dengan klub sepak bola Manchester United), dan layanan gadai. Namun sudah tentu, kontribusi fee based income ini masih sangat kecil dibanding pendapatan perusahaan secara keseluruhan.
Lalu apa yang dilakukan manajemen untuk memperbaiki kondisi saat ini? Nah, dalam hal ini penulis juga agak bingung. Dalam materi analyst briefing-nya yang terakhir, manajemen BDMN tidak memperinci langkah signifikan apapun. Mereka hanya mengharapkan bahwa penyaluran kredit akan tumbuh 15 – 17% pada tahun 2014 ini, dimana penyaluran kredit dari ADMF ditargetkan tumbuh paling rendah, yakni hanya 10%. Hal ini pula yang menjelaskan kenapa BDMN ‘keluar’ dari ADMF dengan menarik dividen hingga Rp2.7 trilyun, atau hampir separuh dari nilai ekuitas ADMF (kemarin ADMF bagi dividen gede banget, yakni Rp2,700 per saham). Mungkin manajemen BDMN menilai bahwa kedepannya, bisnis pembiayaan sepeda motor tidak akan lagi se-menguntungkan sebelumnya, sehingga ketimbang ADMF capek-capek memutar dana yang ada untuk memperoleh pendapatan, mendingan dana tersebut ditarik saja.
Sementara di segmen kredit yang menguntungkan yang satunya lagi, yakni kredit UKM, manajemen BDMN masih agak limbung setelah ditinggal oleh direktur small medium enterprise-nya, Ali Yong, sejak Maret 2014 lalu. Ali Yong meniti karier di Bank Danamon sejak tahun 1999, dan sudah memegang bisnis kredit mikro (menjadi direkturnya) sejak tahun 2008. Sementara penggantinya, Muliadi Rahardja, meski juga sudah bergabung dengan Danamon sejak tahun 1999, namun baru sejak tahun ini ia memegang bisnis kredit mikro. So, BDMN mungkin belum bisa mengerjakan rencana pengembangan tertentu di segmen kredit UKM, karena direkturnya masih harus menyesuaikan diri dulu.
Kesimpulannya, BDMN boleh dibilang tidak menawarkan prospek apapun, dan karena itulah sahamnya belum layak untuk koleksi pada saat ini, kecuali: 1. Pada Kuartal IV 2014 nanti, atau pada Kuartal I 2015, labanya confirm kembali meningkat (dengan mempertimbangkan kinerja perusahaan secara historis, maka kemungkinan pemulihan kinerja tersebut tetap ada), atau 2. Sahamnya turun lebih lanjut hingga valuasinya murah secara absolut, alias PBV-nya dibawah 1.0 kali, dan itu berarti 3,400 atau dibawahnya. Jika melihat likuiditasnya yang sangat bagus (yang itu artinya saham ini banyak dipegang oleh fund manager besar), maka bahkan meski kinerja terakhirnya masih belum meyakinkan, BDMN mungkin sulit untuk bisa turun sampai ke posisi yang serendah itu, kecuali jika nanti ada sentimen negatif tertentu. Namun kecuali jika anda bisa masuk ke BDMN ini di kisaran 3,400-an tersebut, maka di BEI masih ada banyak saham perbankan lainnya yang menawarkan kenaikan yang lebih tinggi dalam jangka waktu beberapa bulan kedepan.
PT Bank Danamon, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2014: BBB
Rating Saham pada 4,000: BBB
NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis dari saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2014. Anda bisa memperolehnya [...]

Ebook Analisis Kuartal III 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2014 (Q3 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana. Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 10 November 2014 mendatang. Anda bisa memperoleh ebook-nya disini.
Berikut screening ebooknya (edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu.
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan edisi kali ini merupakan edisi ketujuh belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca contoh-contoh analisis yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini:
  1. Resource Alam Indonesia (KKGI)
  2. Indofood Sukses Makmur (INDF)
  3. Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)
  4. Adira Dinamika Multifinance (ADMF)
  5. Jasa Marga (JSMR)
  6. Astra International (ASII), dan seterusnya.
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Prospek IPO Blue Bird

Satu lagi perusahaan dengan nama besar ikut melantai di bursa saham tanah air. PT Blue Bird, Tbk., dan memang hanya itu saja nama perusahaannya, merupakan perusahaan penyedia layanan taksi terbesar di Indonesia, sekaligus merupakan yang paling populer, sehingga tak heran jika berita tentang IPO-nya direspon dengan antusias oleh pasar. However, seperti ‘barang terkenal’ lainnya, saham Blue Bird tidak dijual pada harga murah, melainkan akan dilepas pada rentang harga Rp7,200 – 9,300 per saham, padahal nilai nominalnya cuma Rp100. Jadi pertanyaannya sekarang, apakah harga tersebut terbilang worth? Okay, kita langsung saja.

Ketika tadi diatas penulis mengatakan bahwa Blue Bird merupakan perusahaan taksi terbesar di Indonesia, maka maksud penulis adalah, benar-benar besar. Pada tahun 2013, Blue Bird memegang 33% pangsa pasar taksi di Indonesia, atau 2.3 kali lebih besar dibanding pangsa pasar PT Express Transindo Utama, Tbk (TAXI) sebagai perusahaan taksi terbesar kedua, dan jumlah armada taksi yang dimiliki perusahaan lebih banyak dibanding armada taksi milik lima perusahaan taksi terbesar lainnya secara keseluruhan (termasuk TAXI tadi). Dominasi Blue Bird di pasar taksi Indonesia terutama disebabkan karena industri taksi itu sendiri merupakan industri yang high barrier to entry, dimana sulit sekali bagi pemain baru untuk memperoleh izin dari Pemerintah Daerah untuk mengoperasikan armada taksi. Pihak Blue Bird sendiri menyebutkan bahwa risiko terbesarnya dalam menjalani usaha adalah kemungkinan dicabutnya izin operasional taksi oleh Pemerintah Kota/Kabupaten tertentu, sehingga perusahaan tidak bisa lagi beroperasi disitu. Beruntung, sebagai perusahaan yang paling mapan di bidang per-taksi-an, kondisi tersebut justru menyebabkan Blue Bird relatif aman dari kemungkinan mengetatnya persaingan karena adanya kompetitor baru.
Dan mungkin karena perusahaan sangat menguasai industri taksi, sementara bisnis taksi itu sendiri mengalami kemajuan yang cukup pesat selama empat tahun terakhir (pendapatan industri taksi pada tahun 2009, secara keseluruhan, tercatat Rp4.1 trilyun, dan angka tersebut meningkat menjadi Rp8.2 trilyun pada tahun 2013), maka kinerja keuangan Blue Bird sekilas tampak memuaskan. Pada tahun 2013, Blue Bird membukukan laba bersih Rp713 milyar, atau mencerminkan return on equity (ROE) yang mencapai 59%. Nilai ekuitas perusahaan juga terus naik secara konsisten, dari Rp207 milyar di tahun 2009, menjadi Rp1.5 trilyun per tanggal 30 April 2014.
However, anda mungkin perlu menggaris bawahi kata ‘sekilas’ diatas. Blue Bird, seperti kebanyakan perusahaan jasa transportasi darat lainnya, memiliki utang yang sangat besar di neracanya. Dari total nilai aset perusahaan senilai Rp5.5 trilyun pada akhir April 2014, Rp4.0 trilyun diantaranya merupakan utang, termasuk utang bank senilai lebih dari Rp2.7 trilyun. Kondisi ini menyebabkan laba perusahaan sangat rentan terhadap fluktuasi tingkat suku bunga pinjaman. Laba Blue Bird juga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, karena banyak dari armada taksinya yang harus beli dengan cara impor. Alhasil, seperti yang sudah bisa ditebak, meski ekuitasnya naik terus setiap tahunnya, namun perolehan laba bersih Blue Bird cenderung kurang konsisten dan kurang stabil. Pada tahun 2010, laba perusahaan melompat menjadi Rp405 milyar (dari sebelumnya Rp77 milyar), namun turun menjadi Rp389 milyar di tahun 2011, sebelum kemudian naik lagi menjadi Rp440 milyar di tahun 2012. Intinya sih, pada tahun 2013 kemarin laba Blue Bird memang melompat lagi dibanding 2012, namun tidak ada jaminan bahwa di tahun 2014 atau 2015 mendatang lompatan tersebut akan bisa dipertahankan. Jika nanti sewaktu-waktu laba Blue Bird turun, maka demikian pula dengan sahamnya.
Komponen lainnya diluar bunga pinjaman dan selisih kurs, yang bisa menggerus laba Blue Bird sewaktu-waktu, adalah jika perusahaan gagal dalam ‘memutar’ asetnya dengan baik. Sebagai perusahaan taksi, Blue Bird dituntut untuk secara rutin meremajakan armadanya setiap tahun, dimana taksi yang sudah usang dijual, lalu beli lagi mobil baru, sama seperti Adi Sarana Armada (ASSA). Sejauh ini, Blue Bird selalu memperoleh keuntungan dari penjualan taksi bekasnya, namun nilai keuntungan tersebut juga bisa sangat berfluktuatif, dimana jika nilainya turun maka demikian pula dengan laba bersih perusahaan secara keseluruhan.
Dan karena utangnya besar, maka pencapaian laba Blue Bird tidak sebesar kelihatannya, karena meski dari ROE-nya tercatat 59%, namun ROA-nya (return on asset) cuma 14%.
Kasus Hukum
Satu hal lagi yang membuat penulis kurang sreg dengan Blue Bird ini adalah, pada saat ini perusahaannya sedang tersangkut beberapa masalah hukum. Pada tanggal 17 Mei 2013, seseorang bernama Ibu Mintarsih Latief, yang masih merupakan saudara kandung dari direktur utama Blue Bird, Bapak Purnomo Mangkusudjono, menggugat saudaranya sendiri karena dituduh telah secara sepihak menguasai aset-aset milik PT Blue Bird Taxi (BBT), perusahaan afiliasi dari Blue Bird, dimana Ibu Mintarsih merupakan direktur dari BBT. Menurut penulis ini lebih ke masalah sengketa warisan, karena Ibu Mintarsih nggak cuma menggugat Pak Purnomo, tapi juga Chandra Suharto yang juga masih saudaranya. Namun karena Pak Chandra sudah almarhum, maka Ibu Mintarsih mengarahkan gugatan ke anak-anak almarhum Pak Chandra, alias keponakannya sendiri.
Masalah sengketa ini masih belum kelar sampai sekarang, bahkan kemungkinan bisa berkepanjangan. Pada tanggal 4 April 2014, pengacara kondang OC Kaligis, mengajukan gugatan atas nama dirinya sendiri terhadap Ibu Mintarsih, Pak Purnomo, dan petinggi-petinggi lainnya di dalam Blue Bird Grup, dengan nilai gugatan Rp2.2 trilyun! OC Kaligis, yang sebelumnya merupakan pengacara Ibu Mintarsih ketika si Ibu menggugat saudara-saudaranya, menyatakan bahwa dirinya telah kehilangan pendapatan karena Ibu Mintarsih secara sepihak memutus kerjasama dengannya sebagai penasehat hukum. Jadi urusannya sekarang bukan lagi Ibu Mintarsih vs saudara-saudaranya, melainkan orang luar (Om OC Kaligis) melawan Ibu Mintarsih, Pak Purnomo, dan anak-anak dari Pak Chandra. Menariknya, Pak Purnomo juga menggunakan jasa dari pengacara kondang lainnya, Hotman Paris, ketika beliau dulu bertarung melawan Ibu Mintarsih, jadi kemungkinan beliau masih pake pengacara yang sama untuk melawan Om OC. Kebayang apa jadinya jika dua orang pengacara ini ketemu di Indonesia Lawyers Club di TvOne?
Jika itu belum cukup, maka pada tanggal 2 Juni 2014, dua orang yang bernama Ibu Lani Wibowo dan Ibu Elliana Wibowo, yang masih merupakan saudara kandung dari Bapak Gunawan Surjo Wibowo yang merupakan komisaris Blue Bird, ikut-ikutan menggugat perusahaan dengan menuntut ganti rugi senilai Rp652 milyar. Well, kalau urusannya udah sama keluarga sendiri seperti ini sih, maka penulis kira masalahnya bisa berlanjut sampai tujuh turunan, alias gak akan selesai-selesai. Meski pihak perusahaan mengklaim bahwa hal ini tidak akan mengganggu operasional perusahaan, namun sebagai pemegang saham, saya tidak bisa tidak, pasti bakal khawatir. Gimana perusahaan bisa berjalan lancar kalau pengelolanya justru sibuk berantem melulu?
Menariknya, kalau anda cari di Google, nyaris tidak ada satupun pemberitaan yang membahas soal kasus hukum yang sedang membelit Blue Bird ini. Sepertinya pihak penjamin emisi IPO Blue Bird, yakni Credit Suisse Securities, Danareksa, dan UBS Securities sukses dalam hal membungkam media. Sebab jika pemberitaan soal kasus hukum ini mencuat, otomatis saham Blue Bird gak akan laku dijual. Hal ini juga mengingatkan penulis ketika dulu Garuda Indonesia (GIAA) menggelar IPO, dimana IPO-nya dipromosikan habis-habisan melalui media, padahal, terlepas dari nama besar Garuda Indonesia, kinerja perusahaannya gak ada bagus-bagusnya sama sekali.
Kesimpulannya, diluar nama besar perusahaannya dan prospek bisnis taksi itu sendiri yang mungkin cukup menarik, namun faktanya adalah bahwa investasi di Blue Bird ini terbilang berisiko, dan itu bahkan belum mempertimbangkan valuasi sahamnya, yang sekilas memang mahal.
Berikut adalah beberapa fakta penting lainnya terkait investasi di Blue Bird yang perlu anda ketahui:
  1. Pada tahun 2012, perusahaan melakukan restrukturisasi kepemilikan anak-anak usaha, sehingga ada beberapa anak usaha yang tidak lagi dikonsolidasikan sebagai anak usaha dari PT Blue Bird, dan komposisi pemegang saham dari PT Blue Bird itu sendiri juga menjadi berubah. Kemungkinan restrukturisasi ini pula yang kemudian menyebabkan sengketa antar sesama pemegang saham di Grup Blue Bird, seperti yang sudah dibahas diatas.
  2. Diluar mengoperasikan taksi, Blue Bird (setelah restrukturisasi) juga menjalankan bisnis taksi eksekutif (‘Silver Bird’), sewa mobil dan limosin (‘Golden Bird’), dan sewa bis (‘Big Bird’). Hinggal akhir April 2014, ketiga ‘bird’ tersebut menyumbang pendapatan sebesar Rp280 milyar, atau 19% dari pendapatan perusahaan secara keseluruhan, jadi tidak banyak yang bisa diceritakan dari tiga bird tersebut karena memang keberadaannya kurang signifikan. Di Jakarta anda akan cukup sering melihat taksi Silver Bird lalu lalang, tapi di kota-kota lain sepertinya nggak ada sama sekali. Sementara satu lagi ‘bird’ yang tidak dikonsolidasikan ke dalam Blue Bird yang akan IPO ini (tidak dianggap sebagai anak usaha), adalah ‘Iron Bird’, penyedia jasa logistik dan pengiriman barang.
  3. Danareksa, salah satu penjamin emisi Blue Bird, punya track record yang buruk ketika dulu meng-IPO-kan Krakatau Steel (KRAS), dan Garuda Indonesia (GIAA), dimana saham KRAS dijual pada harga yang terlalu murah (terlepas dari fakta bahwa sahamnya sekarang nyungsep lagi karena kinerja perusahaannya memang jelek), sementara GIAA dijual pada harga yang terlalu mahal sehingga nggak laku, hingga dia harus nalangin sendiri saham yang tidak laku tersebut. Beruntung, ada Chairul Tanjung yang datang sebagai penyelamat, yang membeli saham GIAA dari Danareksa pada harga Rp680 per saham senilai Rp1.3 trilyun. Jika bukan karena kehadiran Om CT, sekuritas BUMN ini bisa benar-benar habis sama sekali.
Terus terang, setelah sampai pada bagian ini maka penulis sudah tidak lagi berminat untuk melanjutkan artikelnya, karena biar gimana saya pribadi tidak akan beli saham Blue Bird. Anyway, jika tadi diatas disebutkan bahwa saham Blue Bird ini mahal, maka anda mungkin bertanya, ngitungnya bagaimana? And here we go!
Saham Blue Bird, seperti disebutkan diatas, akan dilepas pada rentang harga Rp7,200 – 9,300 per saham. Karena jumlah saham yang dijual adalah 531.4 juta lembar (yang mencerminkan 20% dari jumlah seluruh saham), maka perusahaan akan meraup dana antara Rp3.8 – 4.9 trilyun… alias sangat besar! Sooo, let me get this straight: Untuk perusahaan dengan total ekuitas hanya senilai Rp1.5 trilyun, track record kinerja yang tidak konsisten, punya utang segunung (termasuk sebagian dari dana hasil IPO itu juga akan dipake buat bayar utang), dan manajemennya lagi sibuk berantem persis kaya di sidang paripurna DPR kemarin, maka penulis hendak mengatakan: Are you nuts??? Apalagi sekarang IHSG lagi down trend, sehingga penjamin emisi Blue Bird sepertinya hanya akan mengulangi kesalahan ketika dulu mereka meng-IPO-kan Garuda pada kondisi pasar yang lagi turun di akhir tahun (dan juga pada harga mahal), dimana investor sedang kehilangan appetite untuk belanja saham. Jadi jika saham Blue Bird tidak sampai bernasib seperti GIAA yang anjlok dulu, maka itu sudah bagus sekali. Okay, Blue Bird memang punya nama besar, namun itu saja jelas tidak cukup untuk menjual sahamnya pada harga selangit. Dan faktanya, Sido Muncul (SIDO) juga punya nama besar, dengan fundamental yang jauh lebih baik dari Blue Bird. Namun karena sejak awal harganya sudah sangat mahal, maka meski dia sempat naik lumayan, tapi toh kesininya turun lagi.
Lalu memangnya seberapa mahal Blue Bird ini? Well, mari kita hitung. Jika sahamnya dilepas pada harga terendah, yakni Rp7,200, maka nilai ekuitas Blue Bird akan menjadi Rp1.5 + 3.8 trilyun, alias Rp5.3 trilyun. Jumlah saham Blue Bird setelah IPO akan menjadi 2.7 milyar lembar, sehingga market cap Blue Bird (pada harga 7,200) adalah Rp19.1 trilyun. Maka PBV-nya =  19.1 trilyun / 5.3 trilyun, sama dengan 3.6 kali. Analis tertentu mungkin akan menganggap bahwa valuasi ini masih wajar, karena ROE perusahaan, seperti yang sudah disebut diatas, mencapai 59% alias sangat tinggi, belum lagi mempertimbangkan nama besar perusahaan. Namun yah, dengan pelbagai faktor yang sudah kita bahas disini, maka anda tahu bahwa anda tidak mungkin membayar sampai Rp36 juta untuk memperoleh bagian aset bersih Blue Bird senilai Rp10 juta saja, apalagi jika aset tersebut nggak bagus dan juga sedang bermasalah (cuma menang merk ‘cap burung biru’ doang).
Lalu apakah saham Blue Bird akan anjlok ketika dia listing perdana pada tanggal 3 November nanti? Well, belum tentu juga sih. Seperti ketika Grup Rajawali masuk ke BW Plantation, Blue Bird juga punya program MESOP (management and employee stock option program), dimana pegawai perusahaan memiliki opsi untuk membeli saham Blue Bird pada harga sekian, yang biasanya lebih tinggi dari harga IPO. Jadi agar para pegawai ini mau mengeksekusi opsi-nya, maka harga saham Blue Bird di pasar tentunya harus dijaga agar tidak turun.
Tapi yah, kalau anda beli Blue Bird berdasarkan analisis ‘gorengan’ seperti itu, maka itu lebih dekat ke spekulasi ketimbang investasi. Penulis suka berinvestasi pada saham-saham yang (kalau bisa) boleh saya tinggal tidur. However, kalau penulis ikut ambil Blue Bird ini, maka saya mungkin akan menjadi seperti para sopir taksinya, yang harus begadang sampai dini hari demi mengejar penumpang. And frankly, I don’t like that kind of lifestyle.
PT Blue Bird, Tbk.
Rating Kinerja pada 30 April 2014: BBB
Rating Saham pada 7,200: BB

Berikut adalah link prospektus lengkap Blue Bird, silahkan copy ke alamat browser anda:
http://dmia.danareksaonline.com/Upload/Prospektus%20Blue%20Bird.pdf

Pengumuman: Ebook Analisis Kuartal III 2014 akan terbit hari Senin, tanggal 10 November mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Perkembangan Politik & Pengaruhnya Terhadap IHSG

Dalam salah satu annual letter-nya, Warren Buffett pernah ngomong begini, ‘Kami berharap bahwa anda akan bersama kami untuk seterusnya (baca: menjadi pemegang saham Berkshire Hathaway untuk seterusnya), dan tidak akan keluar/menjual saham anda hanya karena anda khawatir ketika terjadi gejolak ekonomi dan politik di Amerika Serikat.’ Nah, perhatikan bahwa Buffett menyebutkan dua kata: ekonomi, dan politik. Buffett mengatakan kalimat tersebut karena, berdasarkan pengalamannya selama menjadi investor, terdapat setidaknya dua hal yang bisa membuat pasar saham Amerika, termasuk kinerja para perusahaan didalamnya, mengalami penurunan, yakni jika ‘ada masalah’ terhadap perekonomian ataupun situasi politik, baik dalam skala nasional maupun global.

Dan faktanya, ekonomi dan politik merupakan dua hal yang sangat berbeda namun tidak dapat dipisahkan, dan keduanya sama-sama berpengaruh terhadap kinerja bursa saham. IHSG sebagai indikator kinerja bursa saham di Indonesia hanya bisa naik secara konsisten jika ditopang oleh perekonomian yang bertumbuh secara riil. Sementara ekonomi Indonesia hanya bisa maju jika suhu politiknya kondusif, dan suhu politik hanya bisa kondusif jika para pelakunya (para politisi) mampu untuk paling tidak berhenti tonjok-tonjokkan dan mulai bekerja dengan semestinya. Kesimpulannya, IHSG akan bisa naik secara konsisten jika para penghuni gedung parlemen bisa benar-benar ‘bekerja untuk rakyat’ seperti yang mereka kampanyekan, dan bukannya saling lempar interupsi ketika dilakukan sidang paripurna atau semacamnya.
Sementara jika yang terjadi tidak seperti itu, maka dampaknya terhadap IHSG akan buruk. Selama ini penulis sendiri mengira bahwa satu-satunya hal yang mempengaruhi pergerakan IHSG adalah terkait perekonomian, baik secara makro (ekonomi negara secara keseluruhan), sektoral, maupun mikro (kinerja perusahaan-perusahaan), sementara politik tidak berpengaruh sama sekali. Namun ternyata itu adalah karena suasana politik di Indonesia, khususnya selama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkuasa, terbilang kondusif. Satu-satunya gonjang-ganjing politik yang penulis ingat adalah ketika pada tahun 2009 – 2010, SBY dan Partai Demokrat-nya diserang habis-habisan oleh para oposisi di parlemen menggunakan Kasus Bank Century, dan kasus Cicak vs Buaya (terkait pelemahan KPK), ketika itu bahkan sampai ada wacana untuk melengserkan Presiden segala. Namun toh, Sir Beye berhasil meredam itu semua (termasuk ‘membungkam’ wakilnya, Pak Boediono, untuk nurut saja sama beliau).

Logo PT Bank Mutiara, Tbk (BCIC), yang dahulu bernama Bank Century

Karena tidak ada ‘masalah politik’ yang benar-benar serius, maka jadilah selama 10 tahun ini hanya faktor ekonomi saja yang bisa meruntuhkan IHSG, salah satunya ketika dunia dilanda krisis global pada tahun 2008 dimana Indonesia terkena imbasnya, dan ketika Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang serius di tahun 2013. Diluar itu, bursa saham kita nyaris selalu maju terus pantang mundur.
Kondisi yang berbeda terjadi di Amerika Serikat (AS). Sejak masalah Krisis Yunani reda pada akhir tahun 2011, panggung bursa saham dunia dipenuhi oleh berita-berita terkait Debt Ceiling, Quantitative EasingFiscal Cliff, hingga United States Shut Down. Butuh waktu yang agak lama bagi penulis untuk menyadari bahwa berbagai isu tersebut ternyata bukanlah isu ekonomi, melainkan lebih merupakan isu politik di negeri Paman Sam. Pada kasus United States Shut Down dimana Pemerintah AS menutup kantor-kantor pemerintahan dan merumahkan ratusan ribu PNS, misalnya, maka itu adalah buntut dari perselisihan antara Presiden Obama dan House of Representative (kalau di Indonesia sama dengan DPR) terkait rancangan APBN Amerika, dan bukan karena perekonomian AS sedang bermasalah. Namun tetap saja: Ketika ‘shutdown’ tersebut diumumkan, tak lama kemudian Dow Jones cs langsung berjatuhan.
Lalu bagaimana dengan perpolitikan Indonesia dibawah pimpinan Presiden yang baru, Jokowi?
Jika SBY adalah seorang politisi ulung, maka diakui atau tidak, tidak demikian halnya dengan Joko Widodo alias Jokowi. Sebagai seorang ‘pekerja & pelayan rakyat’, Jokowi punya track record yang luar biasa baik selama beliau menjadi walikota Solo, termasuk ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, dimana hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun sejak beliau dilantik, ada banyak sekali perubahan positif yang bisa langsung dirasakan oleh seluruh warga Jakarta (termasuk penulis).
However, sebagai politisi, Jokowi masih belum cukup berpengalaman. Jika anda membaca profil dari politisi-politisi senior di Indonesia, maka anda akan menemukan bahwa mereka biasanya sudah berpolitik sejak masih sangat muda, biasanya dengan menjadi aktivis di kampusnya masing-masing (jika dia adalah tokoh sipil). Contohnya Bung Karno, yang sudah bergabung dengan organisasi politik sejak berusia 16 tahun, dan sudah mendirikan partainya sendiri (Partai Nasional Indonesia/PNI) pada usia 28 tahun.
Sementara bagi para politisi dengan latar belakang militer, kemampuan berpolitik itu telah terbentuk dengan sendirinya sejak ia masih di dinas militer, dimana untuk bisa naik pangkat menjadi sersan, mayor, letnan, kolonel, hingga jendral, maka seorang tentara harus memiliki kemampuan untuk memimpin (leadership) para anak buahnya di medan perang, dimana semakin tinggi kemampuannya dalam memimpin, maka semakin tinggi pangkatnya. Dan ‘kemampuan untuk memimpin’ itu adalah dasar dari politik itu sendiri bukan?
Lalu, Jokowi? Well, Jokowi adalah warga sipil biasa, tanpa latar belakang militer, tanpa latar belakang keuturunan ningrat atau keluarga kaya, dan juga: Tanpa latar belakang politik. Karier politik Jokowi benar-benar baru dimulai ketika beliau menjadi Walikota Solo pada tahun 2005, atau hingga saat ini belum genap 10 tahun. Sementara sebelum itu, Jokowi adalah seorang pengusaha dengan kisah karier yang juga biasa-biasa saja: Lulus kuliah, nganggur sebentar lalu kerja di perusahaan, lalu resign dan nekad buka perusahaan sendiri dibidang meubel, mengalami jatuh bangun termasuk kena tipu, dan akhirnya sukses hingga bisa mengekspor meubel ke Eropa.
Pendek kata, Jokowi bukanlah figur yang spesial sama sekali, karena beliau benar-benar merupakan orang yang biasa-biasa saja, atau kasarnya: rakyat jelata. Dalam hal inilah penulis jadi maklum ketika Prabowo kemarin nggak bisa langsung legowo setelah kalah Pilpres, karena bagaimana mungkin seorang mantan jendral, masih turunan ningrat (Prabowo merupakan keturunan generasi kesekian dari Tumenggung Banyakwide, seorang jendral kepercayaan Pangeran Diponegoro), pimpinan tertinggi dari partai politik yang cukup besar, dan punya aset trilyunan, bisa-bisanya kalah sama seorang.. tukang kayu?
Kembali ke Jokowi. Meski tidak punya latar belakang sebagai politisi yang berpengalaman, namun faktanya Jokowi adalah Presiden terpilih Indonesia untuk periode 2014 – 2019. However, ketiadaan pengalaman berpolitik tersebut menyebabkan posisi Jokowi sebagai Presiden, secara politik, mau tidak mau menjadi tidak cukup kuat. Sebab, ingat ini: Tugas presiden bukan melulu soal melaksanakan pembangunan, mensejahterakan rakyat, dan semacamnya, tapi juga membangun koalisi di parlemen, karena seperti itulah cara kerja sistem demokrasi. Pak Harto sukses menjadi Presiden selama 32 tahun karena selama itu  beliau mampu mengendalikan para penghuni gedung DPR dengan tangan besinya. Sir Beye dan Bu Mega juga mampu menjalankan tugas sebagai Presiden hingga akhir periode jabatannya masing-masing, karena mampu menjalin komunikasi dengan para anggota dewan.
Sementara BJ Habibie dan Gus Dur, mereka berdua tidak bisa mengendalikan ataupun menjalin komunikasi dengan warga Senayan, dan alhasil dua-duanya didepak lebih awal. Kesalahan BJ Habibie dan Gus Dur bukanlah karena mereka ‘tidak berpihak kepada rakyat’, melainkan karena tidak bisa berdamai dengan pihak legislatif, atau dengan kata lain: Tidak mampu berpolitik.
Dan Jokowi, meski beliau mungkin sepenuhnya independen dalam hal menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang Presiden, namun dalam hal berpolitik itu tadi, beliau sama sekali tidak bisa bergerak dengan bebas, karena di internal partainya sendiri dia masih berada dibawah bayang-bayang Megawati sebagai ketua Partai. Sekarang coba anda bayangkan: Jokowi mengajak tokoh politik tertentu, katakanlah Pak Beye, untuk ‘ngobrol-ngobrol santai’ sambil makan siang, dan ternyata mereka berdua klop sehingga Sir Beye setuju untuk memberikan dukungan kepada Jokowi di Parlemen (meski tidak lagi menjabat Presiden, namun SBY tetap memiliki kekuasaan dalam kapasitasnya sebagai pimpinan tertinggi Partai Demokrat).
Tapi kalau Megawati nggak setuju dengan keberadaan SBY di koalisi, maka Jokowi bisa apa?
Dalam hal ini penulis sempat berpikir bahwa, kalau mau pemerintahannya berjalan mulus, maka Jokowi mungkin harus mengkudeta Megawati sebagai pimpinan partai, dan menjadikan PDI-P sebagai miliknya sendiri. Sebab ketika kemarin Anas Urbaningrum mulai punya kubu sendiri di Demokrat, maka SBY langsung bergerak cepat dengan meng-KPK-kannya, sehingga Demokrat kembali menjadi milik beliau sendiri. Tidak boleh ada dua orang pemimpin dalam satu partai. Dan karena Jokowi yang jadi presiden, maka harusnya ia pula yang menjadi pemimpin tertinggi partai, bukan Megawati.
Namun Jokowi bukan tipe backstabber seperti itu. Malah mungkin, beliau sama sekali tidak peduli soal itu. Penulis bisa membayangkan bahwa yang ada di benak Jokowi saat ini adalah soal tugas-tugas apa yang bisa ia kerjakan sebagai seorang Presiden, dimana ia bisa blusukan dari Aceh hingga Papua, mengawasi secara langsung berbagai kegiatan pembangunan, ketimbang buang-buang waktu untuk debat kusir dengan anggota dewan. Dan jika rakyat bisa melihat hal tersebut, maka meski Jokowi mungkin akan sering diganggu oleh Fadli Zon dkk di parlemen, namun beliau tetap akan memperoleh simpati rakyat, dan itu adalah bekal yang sangat berharga untuk menjaga agar pemerintahannya tetap kokoh. Masih ingat bagaimana ketika Jokowi dikritik habis-habisan oleh seorang politisi yang merupakan anggota DPRD DKI Jakarta, namun justru malah si anggota dewan ini yang jadi bulan-bulanan publik di televisi dan media sosial?

Tapi apapun itu, berbeda dengan SBY yang merupakan politisi ulung (dan karena itu pula Indonesia relatif aman dari gejolak politik selama 10 tahun beliau berkuasa), maka Jokowi tidak atau belum memiliki kapasitas berpolitik tersebut. Dan karena itulah penulis melihat bahwa selain isu-isu ekonomi, pergerakan IHSG kedepannya akan juga sesekali digoyang oleh isu-isu politik. Termasuk penurunan IHSG akhir-akhir inipun, itu jelas karena kubu Jokowi gagal dalam pertarungan RUU Pilkada dan Pemilihan Ketua di DPR (diluar faktor lain seperti pelemahan Rupiah). Jika nanti kubu Jokowi kalah lagi dalam Pemilihan Ketua MPR, maka pasar juga akan terguncang sekali lagi. We’ll see.

Catatan: Politik adalah tema yang sangat menarik untuk didiskusikan, jadi kalau anda punya pendapat tersendiri mengenai perkembangan politik di Indonesia saat ini, silahkan anda menyampaikannya melalui kolom komentar [...]

Penyebab Turunnya IHSG

Akhir-akhir ini terjadi penurunan tajam dari harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencapai posisi 5,263 sebagai posisi tertingginya pada tanggal 8 September lalu, saat ini sudah turun ke posisi 4,949 (per penutupan pasar tanggal 3 Oktober). Penurunan tersebut tidak terlepas dari penjualan saham-saham oleh investor asing, dimana dalam dua hari terakhir, foreign net sell tercatat total Rp2.3 trilyun. Apa alasan sebenarnya yang menyebabkan investor asing keluar dari pasar saham Indonesia?

Catatan: Sebelum anda melanjutkan membaca, perlu diketahui bahwa artikel ini tidak ditulis oleh Teguh Hidayat, melainkan oleh seorang kontributor.
Beberapa alasan yang bermunculan di pasar antara lain adalah perkembangan politik dalam negeri yang tidak kondusif, bakal naiknya suku bunga mata uang US Dollar (USD), valuasi saham-saham yang dinilai sudah kemahalan, prospek ekonomi dalam negeri yang tidak begitu baik, turunnya mata uang Rupiah (IDR), dan lain-lain. Tampaknya semua alasan tersebut kait-mengkait. Namun sebenarnya, menurut penulis, keluarnya investor asing dari bursa saham Indonesia lebih disebabkan oleh faktor naiknya USD.
Saat ini, kenaikan USD merupakan fenomena global yang tidak hanya terjadi pada mata uang IDR, melainkan juga terjadi pada mata uang negara-negara lain, beberapa diantaranya terpuruk lebih dalam ketimbang IDR. Kalau kita amati, maka kenaikan USD  dimulai pada awal Juli 2014 seperti diperlihatkan oleh grafik index USD berikut ini (sumber data Bloomberg, klik untuk memperbesar).

Perhatikan: Kenaikan USD (terhadap IDR dan banyak lagi mata uang lainnya) menyebabkan para investor global harus mengurangi investasinya di negara-negara yang memiliki risiko besar terhadap kenaikan USD. Dan Indonesia, yang dikelompokkan ke dalam negara fragile five’, tentunya tidak luput dari sasaran keluarnya investasi tersebut.
Sejak dari awal Oktober 2013 hinggasaat ini, IDR telah melemah terhadap USD sebesar 7%. Jika dibandingkan dengan negara  fragile fivelain, yaitu Rusia yang melemah sebesar 24.1%, Afrika Selatan (13.1%) dan Brazil (11.4%), maka boleh dibilang bahwa IDR masih cukup beruntung. Jika diukur dari awal Juli 2014, IDR melemah sebesar 2.6% yang hampir sama dengan mata uang India yang melemah sebesar 2.4%, namun tetap masih lebih baik dibanding Rusia, Afrika Selatan, dan Brazil.
Indeks USD sendiri sejak awal Oktober 2013 hingga saat ini telah menguat 8.64% dan penguatan tersebut hampir seluruhnya terjadi pada paruh kedua tahun ini dengan kenaikan dari awal Juli 2014 sebesar 8.60%.
Yang menarik adalah, negara-negara maju justru terkena dampak yang lebih besar dari penguatan USD tersebut.  Dihitung dari awal Juli 2014, mata uang Yen (Jepang), Euro, Pound Sterling (Inggris), Dollar Kanada, hingga Dollar Australia, semuanya melemah antara 5 hingga 9%. Berikut ini adalah tabel perbandingan perubahan mata uang USD terhadap mata uang lainnya dengan data terakhir tanggal 3 Oktober 2014.

Untuk berharap agar IDR akan menguat dalam jangka pendek, pendapat penulis sendiri masih relatif pesimis meskipun tidak lama lagi Jokowi akan dilantik sebagai presiden, mengingat pelemahan IDR tidak hanya disebabkan oleh faktor  dalam negeri tetapi tentunya juga disebabkan oleh menguatnya ekonomi Amerika Serikat (AS), yang menyebabkan mata uangnya semakin menguat. Ini masih dalam kondisi suku bunga The Fed yang belum dinaikkan(gimana kalau nanti dinaikkan?). Namun market selalu bergerak mendahului di depan, sehingga kenaikan USD beberapa waktu terakhir mungkin telah mendiskon kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga pada masa-masa mendatang. Saat ini Fed rate adalah 0.25%, namun angka tersebut bisa berubah sewaktu-waktu.
Kenaikan USD tidak hanya memukul mata uang negara-negara lain namun juga berimbas ke pasar komoditas. Harga emas selama setahun terakhir telah melorot sebesar 9.3% menjadi USD 1.193 per ounce. Harga minyak Brent merosot 9.6% menjadi USD 92.3 per barrel. Bagaimana dengan batubara dan CPO? Sama saja. Harga patokan batubara Newcastle dari awal Oktober 2013 merosot sebesar 23.1% menjadi USD 65.7 per ton, sementara harga CPO di Bursa Malaysia terakhir tercatat RM2,170 per ton. Namun harga CPO di dalam negeri yang ditunjukkan oleh lelang PT Astra Agro Lestari (AALI) tidak banyak berubah di level Rp8,850 per kg.
Kenaikan USD telah menutup peluang akan diturunkannya BI rate, bahkan BI Rate bisa saja dinaikkan kembali jika suku bunga The Fed dinaikkan.
Jika ada hal yang bisa membuat nilai tukar IDR menguat ke depannya (yang diharapkan akan juga berimbas positif terhadap IHSG), maka itu adalah dengan perbaikan fundamental ekonomi makro dalam negeri seperti perbaikan pada neraca perdagangan, peningkatan ekspor, peningkatan investasi langsung, perbaikan postur APBN dengan pengurangan pengeluaran yang tidak perlu dan mubazir diiringi dengan peningkatan pemasukan, inflasi yang rendah, peningkatan neraca pembayaran, peningkatan cadangan devisa, dan lain-lain. Sayangnya data terakhir tidak terlalu menunjukkan perbaikan dimana angka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif rendah di level 5.2%. So, kita lihat nanti bagaimana perkembangannya.
Penulis bernama Lim Ik Nen (Lim), merupakan investor saham sejak tahun 90-an asal Kota Pekanbaru, Riau, dan merupakan pemilik dari blog www.idx-investor.blogspot.com. Untuk berdiskusi, anda bisa menyampaikan pendapat/mengajukan pertanyaan melalui kolom komentar dibawah, dimohon untuk tidak menggunakan nama [...]

Seminar Value Investing: Semarang

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, di Semarang, Jawa Tengah. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Semarang dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Pandanaran, Jln. Pandanaran No.58, Semarang
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 11 Oktober 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 WIB (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar  Semarang, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Joko Widodo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta untuk setiap seminar.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.
Berikut adalah foto-foto dari penyelenggaraan seminar sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar.
Medan, Sumatera Utara, 30 Agustus
Surabaya, Jawa Timur, 6 September
Makassar, Sulawesi Selatan, 20 September
Jakarta, 27 [...]

Fakta Dibalik Right Issue BW Plantation

Di artikel minggu lalu tentang kapan kita sebagai investor harus membeli, menjual, atau meng-hold saham tertentu (atau istilahnya portfolio rebalancing), penulis mengatakan bahwa anda bisa membeli saham-saham tertentu jika ada peristiwa luar biasa yang bisa terjadi setiap saat (jadi nggak perlu nunggu akhir bulan, apalagi akhir tahun), katakanlah jika ada saham tertentu yang harganya tiba-tiba saja anjlok. Dan kebetulan, beberapa hari yang lalu memang ‘peristiwa luar biasa’ tersebut sekali lagi terjadi, dimana saham BW Plantation (BWPT) tiba-tiba saja jeblok dari 1,000-an pada awal September lalu, hingga sekarang tinggal 460, atau kehilangan lebih dari separuh nilai pasarnya hanya dalam hitungan minggu. Udah gitu, hari ini sahamnya di-suspend pula!

Sejak awal, BWPT tidak pernah masuk watchlist penulis, sehingga saya baru mengamatinya untuk pertama kali pada tanggal 24 September lalu, ketika dia tiba-tiba saja auto reject kiri setelah turun 25% dalam sehari (seorang teman memberi tahu penulis soal kejatuhan BWPT ini, dan dia ketika itu masih bingung apa penyebabnya). Setelah saya telepon broker, si broker segera menjelaskan bahwa BWPT bisa turun begitu karena perusahaan akan menggelar right issue sebanyak 27.0 milyar lembar saham di harga pelaksanaan Rp390 – 411 per saham (ini juga salah satu penyebab kenapa saya pake broker saya yang satu ini, karena dia selalu mengetahui apa yang sedang terjadi di pasar, tidak seperti broker sebelumnya yang ketika ditelepon, jawabannya malah, ‘Oh, kejadian itu saya juga baru tahu pak!’).
Karena harga right issue-nya jauh dibawah harga pasar, sementara jumlah saham baru yang diterbitkan juga sangat banyak (jumlah saham BWPT sebelum right issue hanya 4.5 milyar lembar), maka tidak heran jika saham BWPT kemudian jatuh hingga ke 400-an, atau di kisaran harga pelaksanaan right issue-nya. Nah, jadi sekarang pertanyaannya ada dua. Pertama, jika saya sejak awal sudah memegang BWPT ini di harga atas, apa yang harus saya lakukan? Dan kedua, jika saya belum memegang BWPT ini, maka apakah di harga sekarang dia layak beli? Bagaimana prospeknya? Well, sebelum itu mari kita pelajari dulu BWPT ini dari sisi perusahaannya dan fundamentalnya.

Kilang penyimpanan minyak sawit milik BW Plantation

BWPT adalah satu dari sekian banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Jika dibandingkan dengan beberapa raksasa sawit seperti Sinar Mas Agro (SMAR), Astra Agro (AALI), dan Salim Ivomas (SIMP), maka BWPT hanyalah perusahaan sawit kelas menengah dengan total luas lahan tertanam 70 ribu hektar pada akhir Juni 2014, sudah termasuk kebun plasma (SMAR, atau dalam hal ini induknya yakni Golden Agri Resources yang terdaftar di Singapura, merupakan perusahaan sawit terbesar di Indonesia dari sisi luas lahan tertanam, yang mencapai 460 ribu hektar pada akhir tahun 2013).
Seperti mayoritas perusahaan sawit lainnya, BWPT mengalami masa-masa sulit di tahun 2013 lalu dimana labanya turun, dan sahamnya pun ketika itu terus turun sampai mentok di 600 pada Agustus 2013. Namun memasuki tahun 2014 ini BWPT kembali menunjukkan perbaikan kinerja, dimana hingga Kuartal II 2014 labanya tercatat naik 67.3% alias sangat signifikan, sementara sahamnya pun sejak akhir tahun 2013 sudah berbalik arah alias naik, hingga kembali lagi ke rentang 1,300 – 1,400. Jadi BWPT ini sudah naik duluan sebelum kinerja perusahaan benar-benar kelihatan membaik.
Dan meski kebanyakan saham baru naik setelah kinerjanya confirm bagus, kenaikan lebih awal seperti yang dialami BWPT ini memang kadang-kadang terjadi pada saham tertentu. Ketika perusahaan merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal I 2014 pada awal April 2014, sahamnya sudah berada di level harga 1,300-an, yang mencerminkan PBV 2.7 kali berdasarkan posisi ekuitas perusahaan ketika itu. Dari sini anda bisa melihat alasan kenapa BWPT ini tidak masuk watchlist penulis, karena di BEI masih ada banyak saham sawit lain yang valuasinya jauh lebih murah.
Anyway, sekarang kan harga BWPT cuma 460, berarti udah murah dong? Ya belum tentu, karena dengan adanya penambahan saham baru pasca right issue-nya nanti, maka valuasi BWPT ini harus dihitung dari awal lagi, karena jumlah saham beredar dan nilai bukunya sudah beda lagi. Perhatikan: Dengan catatan right issue-nya dilaksanakan pada harga tertinggi, yakni Rp411 per saham, maka nilai ekuitas BWPT akan memperoleh tambahan modal senilai Rp11.1 trilyun. Karena posisi ekuitas BWPT saat ini adalah Rp2.3 trilyun, maka setelah right issue, nilai ekuitas tersebut akan menjadi Rp13.4 trilyun. Jumlah saham BWPT setelah right issue adalah 31.5 milyar lembar, dikali harga sahamnya saat ini yakni 460, maka market cap-nya adalah Rp14.5 trilyun. Maka PBV-nya = 13.4 / 14.5 = 1.1 kali, atau memang sudah lebih murah dibanding sebelumnya, namun belum terlalu murah mengingat BWPT tidak memiliki fundamental historis yang terlalu bagus. Pada masa puncak kejayaan sawit di tahun 2011, BWPT hanya mencatat ROE 22.4% ketika banyak perusahaan sawit lainnya mencatat ROE diatas 30%.
Selain itu, yang perlu diperhatikan disini adalah bagaimana latar belakang kinerja dari Green Eagle, yakni anak usaha dari Grup Rajawali milik pengusaha Peter Sondakh, yang khusus bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Seperti yang anda ketahui, right issue BWPT ini sebenarnya bertujuan untuk memasukkan perusahaan-perusahaan sawit milik Green Eagle Holdings Pte. Ltd. (terdaftar di Singapura) ke bursa saham Indonesia melalui BWPT, alias backdoor listing, karena pembeli siaga right issue-nya adalah pihak Grup Rajawali sendiri, dalam hal ini PT Rajawali Capital (jadi Grup Rajawali keluar duit sekian trilyun untuk mengakuisisi Green Eagle melalui BWPT. Namun karena Green Eagle sejak awal merupakan milik mereka sendiri, maka sebenarnya tidak ada uang yang berpindah tangan).
Melalui Green Eagle, Grup Rajawali memiliki lahan perkebunan kelapa sawit di tiga belas lokasi yang berbeda di Indonesia, termasuk di Papua. Seluruh lahan perkebunan ini akan disatukan (menjadi anak-anak usaha dari satu perusahaan induk) dengan lahan-lahan perkebunan kelapa sawit milik BWPT, sehingga gabungan antara BWPT dan Geen Eagle akan memiliki lahan perkebunan kelapa sawit (tertanam) seluas total 147 ribu hektar, termasuk kebun plasma. Dengan demikian, BWPT akan menjadi salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang cukup besar di BEI, meski nama ‘BW Plantation’ kemungkinan akan diganti, mungkin menjadi ‘BW Eagle Plantation’ atau semacamnya. Karena pasca right issue, pemegang saham pengendali atas BWPT bukan lagi PT BW Investindo, melainkan Grup Rajawali melalui PT Rajawali Capital.
Nah, ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan terkait right issue BWPT ini.
Pertama, akuisisi yang dilakukan oleh BWPT (atau lebih tepatnya akuisisi yang dilakukan oleh PT Rajawali Capital melalui BWPT) terhadap Green Eagle dilakukan pada harga yang bisa dikatakan cukup mahal. BWPT mengakuisisi 100% saham Green Eagle senilai Rp10.5 trilyun. Sementara menurut pihak penilai independen yang ditunjuk perusahaan, nilai aset bersih Green Eagle secara keseluruhan hanya Rp8.5 trilyun. Selain itu berdasarkan laporan keuangan terakhirnya per tanggal 30 Juni 2014, nilai ekuitas Green Eagle tercatat hanya Rp2.2 trilyun. Jadi bisa dibilang bahwa BWPT mengakuisisi Green Eagle pada harga premium (actually, mau akuisisinya dilakukan di harga yang lebih tinggi lagi dari Rp10.5 trilyun sekalipun sebenarnya nggak masalah bukan? Karena toh duitnya masuk ke kantong mereka juga). Meski transaksi akuisisi tersebut tetap dianggap wajar (oleh penilai independen tadi) karena alasan tertentu, namun hal ini menunjukkan bahwa valuasi saham BWPT pasca right issue, yang sudah kita bahas tadi diatas (PBV-nya 1.1 kali pada harga 460), mungkin tidak serendah kelihatannya.
Yang juga perlu anda perhatikan adalah, Green Eagle belum memiliki track record kinerja yang bagus. Green Eagle baru didirikan pada bulan Desember 2010 lalu sebagai kendaraan untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan sawit, dimana Grup Rajawali melalui Green Eagle kemudian mengakuisisi empat belas perusahaan sawit yang berbeda. Sebagai perusahaan start-up dengan modal terbatas (namun dengan ambisi yang tidak terbatas), banyak dari aktivitas akuisisi tersebut dibiayai oleh utang bank (dan mungkin juga obligasi), sehingga Green Eagle memiliki banyak sekali utang di neracanya. Alhasil, di tahun-tahun pertamanya, perusahaan masih mengalami kerugian yang rata-rata cukup besar, termasuk rugi bersih komprehensif senilai Rp162 milyar di tahun 2013, karena tingginya beban bunga pinjaman sementara pendapatan belum begitu besar. Barulah pada tahun 2014 ini, Green Eagle tampak mulai menghasilkan, dengan mencatat laba bersih komprehensif Rp217 milyar pada Semester Pertama 2014. But still, dengan kinerja masa lalu yang sama sekali tidak meyakinkan, belum termasuk utang yang menggunung (posisi DER terakhir Green Eagle adalah 2.9 kali), maka tidak ada jaminan bahwa kedepannya Green Eagle tidak bakal mengalami rugi lagi.
Melihat fakta diatas, maka cukup jelas bahwa saham BWPT, yang nantinya bukan lagi BW Plantation melainkan BW Eagle Plantation, belum cukup layak untuk investasi, karena selain harganya agak dimark-up, barangnya juga nggak atau belum bisa dikatakan bagus (BWPT-nya sih lumayan, tapi Green Eagle-nya tidak).
Itu yang pertama. Yang kedua, aksi korporasi Grup Rajawali melalui BWPT ini mengingatkan penulis pada aksi korporasi sebelumnya yang sangat mirip, yakni ketika Grup Rajawali mengakuisisi PT Eatertainment International (SMMT), sebuah perusahaan kecil nan sakit-sakitan yang merupakan pemilik franchise Paparons Pizza. Setelah diambil alih oleh Rajawali, SMMT menjual Paparons Pizza-nya, lalu dijadikan sebagai perusahaan batubara dengan nama PT Golden Eagle Energy (kodenya masih sama, SMMT). Melalui SMMT, Grup Rajawali kemudian menerbitkan 820 juta lembar saham baru alias right issue senilai Rp410 milyar (harga saham right issue-nya Rp500 per saham), dimana dananya digunakan untuk mengakuisisi dan melakukan penempatan modal di dua perusahaan batubara, yakni PT Naga Mas Makmur Jaya, dan PT Rajawali Resources. Sekali lagi, karena kedua perusahaan tersebut sejak awal dimiliki oleh Grup Rajawali sendiri, maka tidak ada uang yang berpindah tangan.
Karena nilai right issue-nya relatif kecil (tidak seperti BWPT ini yang besar sekali), dan karena SMMT juga merupakan saham kecil yang sama sekali tidak likuid, maka backdoor listing Grup Rajawali melalui SMMT ini tidak begitu diperhatikan pasar. Dari seluruh saham anyar yang diterbitkan, boleh dibilang semuanya diambil oleh Grup Rajawali sendiri melalui perusahaan-perusahaan afiliasinya, sehingga kepemilikan publik terhadap SMMT terbilang sedikit, kalau tidak mau dibilang nol. Namun disinilah menariknya: Pasca right issue, saham SMMT yang tadinya boleh dibilang mati sama sekali, ternyata terus bergerak naik dari harga right issue-nya yakni 500, hingga sekarang sudah menembus 1,800, dan trend-nya terus bergerak naik. Kalau melihat pola pergerakannya yang tidak wajar (stagnan di rentang 1,600 – 1,700 selama setahun terakhir, nyaris tanpa fluktuasi sama sekali meski IHSG tentunya selalu naik dan turun selama periode setahun tersebut), dan fundamentalnya yang boleh dikatakan nol besar (sampai Kuartal II 2014, SMMT hanya mencatat laba bersih Rp6 milyar, alias keciiiiil sekali), maka cukup jelas bahwa yang menaikkan SMMT selama ini adalah pemiliknya sendiri.
Terus apa tujuannya SMMT dinaik-naikkan begitu? Well, ask them! Tapi dari sini kita bisa lihat bahwa, pada kasus BWPT, kenapa kok harga right issue-nya ditetapkan di level yang jauh dibawah harga pasar? Dan mungkin jawabannya adalah, bisa jadi agar sahamnya anjlok dengan sendirinya sehingga pemegang saham publik yang memegang BWPT ini mau tidak mau harus melepasnya terutama jika mereka belinya pake duit margin, alias force sell! (BWPT ini masuk kelompok saham yang bisa dibeli pake margin). Makanya kemarin BWPT ini bisa auto reject kiri selama dua hari berturut-turut bukan? Karena mau tak mau orang sekuritas harus menjualnya sementara nggak ada yang pasang bid karena orang-orang sudah keburu tahu duluan soal right issue ini.
Nah, jika skenario ‘kicking everybody out’ ini memang benar adanya (meski juga perlu dicatat bahwa ini hanya teori, alias Grup Rajawali belum tentu akan benar-benar melakukan itu), maka nantinya saham BWPT akan nyaris sepenuhnya dipegang oleh Grup Rajawali, dan setelah itu mereka bisa bebas menaik-naikkannya, tak peduli pasar mau naik atau turun, tak peduli laporan keuangan BWPT akan mencatat untung atau rugi, sama seperti yang mereka lakukan terhadap SMMT. Pada kasus SMMT, right issue-nya tidak perlu dilakukan pada harga yang jauh dibawah harga pasar, karena sejak awal saham SMMT ini hampir tidak dipegang sama sekali oleh investor publik.
Kesimpulan
Okay, sekarang kita balik lagi ke dua pertanyaan diatas: Saya sudah terlanjur megang BWPT ini di harga atas, apa yang harus saya lakukan? Well, kalau kita memperhatikan bahwa fundamental BWPT setelah nanti digabung dengan Green Eagle menjadi sedikit ‘tidak tentu’ (BWPT, sekali lagi, kinerjanya memang lumayan bagus, namun tidak demikian dengan Green Eagle), maka keputusan untuk tetap meng-hold BWPT merupakan keputusan yang berisiko, apalagi jika Grup Rajawali benar-benar berupaya untuk menendang semua orang untuk keluar dari BWPT (sahamnya pasti bakal diturun-turunin). Sebab jika mereka hendak menaikkan BWPT, maka pertama-tama mereka harus menguasai semua saham terlebih dahulu.
Tapi kalau gitu artinya cut loss dong? Dan dengan nilai kerugian yang besar pula! Yah.. apa boleh buat, tapi itu lebih baik daripada anda kehilangan seluruh dana anda sama sekali bukan? Saat ini mulai ada upaya-upaya yang dilakukan pihak tertentu untuk melaporkan BWPT ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau pihak berwenang lainnya, namun penulis sendiri pesimis bahwa itu akan berhasil, mengingat program perlindungan investor disini belum sebaik di Amerika sana atau negara maju lainnya. Terus terang, kalau penulis termasuk pemegang saham BWPT ini, maka saya juga tidak tahu harus mengadu kemana. Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai penyelenggara pasar modal secara rutin menggelar investor summit setiap tahun untuk menarik minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal, namun sepertinya mereka lupa untuk mensosialisasikan nomor telepon pengaduan atau semacamnya (jika memang ada), sehingga investor bisa mengadu jika mengalami kerugian yang tidak biasa, seperti kasus BWPT ini. Well, mungkin Pak Ito Warsito bisa meniru Pak Ahok yang dengan sengaja menyebarkan nomor telepon pribadinya, sehingga warga Jakarta bisa langsung melapor kalau ada apa-apa.
Tapi yah, sudahlah. Satu-satunya upaya yang bisa dilakukan kedepannya untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya kerugian seperti kasus BWPT ini, adalah dengan melakukan diversifikasi. Seperti yang sudah sering penulis bahas di website ini, berapapun dana yang anda miliki, namun jangan pernah sekali-kali menempatkan seluruhnya hanya pada satu atau dua saham, melainkan sebaiknya disebar pada sepuluh hingga maksimal lima belas saham yang berbeda. Kasus BWPT ini bisa terjadi pada saham apapun yang anda pegang, tak peduli sebaik apa fundamentalnya, dan itu adalah bagian dari risiko berinvestasi di pasar saham. Namun jika anda memegang sepuluh saham yang berbeda, maka sangat kecil kemungkinan bahwa kesepuluh perusahaan tersebut melakukan right issue secara bersamaan, bukan begitu?
Okay, lalu bagaimana kalau saya belum megang? Apakah di harga sekarang BWPT layak buy? Nah, kalau melihat kemungkinan bahwa BWPT ini bisa seperti SMMT, maka dari sisi spekulasi, BWPT ini mungkin bisa naik lagi dalam jangka panjang. Apalagi perusahaan memiliki program ESOP (employee stock option program) dimana karyawan BWPT memiliki opsi untuk membeli saham BWPT di harga Rp790 per saham, dimana opsi tersebut akan expired pada Oktober 2015 (setahun lagi). Artinya, jika perusahaan menginginkan agar karyawan mau mengeksekusi opsi saham tersebut, maka saham BWPT harus dinaikkan dulu hingga diatas 790, paling lambat pada bulan Oktober 2015 (setahun dari sekarang). Sebab bagaimana mungkin karyawan mau beli BWPT di harga 790, jika pada Oktober 2015 tersebut harga BWPT di pasar masih berada di level 460 seperti sekarang?
Namun seperti yang sudah disebut diatas, perusahaan kemungkinan tidak akan serta merta menaikkan harga saham BWPT, melainkan ‘kick everybody out’ dulu, sehingga yang nantinya akan menikmati kenaikan harga sahamnya adalah mereka sendiri (dan karyawan perusahaan). Jadi penulis terus terang bingung juga bagaimana strategi masuknya, karena ini bukan soal fundamental melainkan bandar-bandaran, sementara saya nggak ngerti apa itu bandarmologi atau semacamnya. Yang saya tahu, kalau anda beli BWPT ini dalam jumlah besar, katakanlah senilai Rp10 milyar, maka anda akan digencet oleh bandarnya dimana BWPT akan diturun-turunkan, atau dengan kata lain: Anda akan dipaksa untuk keluar.
Tapi yang jelas dari sisi fundamental dan value investing, BWPT ini (setelah nanti digabung dengan Green Eagle) bukanlah perusahaan yang bagus, dan valuasinya pun di mark-up, sehingga keputusan untuk membelinya lebih dekat ke spekulasi ketimbang investasi. So, the choice is yours.
NB: Buletin Analisis & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Oktober 2014 sudah terbit tanggal 1 Oktober kemarin. Anda masih bisa memperolehnya disini.
Catatan: Kalau saya menulis artikel seperti ini maka biasanya akan ada wartawan yang mengutip. Jadi bagi teman-teman wartawan, saya sampaikan bahwa anda boleh mengutipnya dengan menyebut nama Teguh Hidayat, praktisi pasar modal, sebagai [...]

Seminar Value Investing: Jakarta, dan Semarang

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, di dua kota berbeda yakni Jakarta, dan Semarang. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di kota yang bersangkutan. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk membedakan saham yang bagus dan yang tidak (secara fundamental), dan cara untuk membeli saham yang bagus pada harga serendah mungkin (sehingga potensi keuntungannya menjadi setinggi mungkin).
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
Jakarta:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 September 2014
Semarang, Jawa Tengah:
  • Tempat: Hotel Pandanaran, Jln. Pandanaran No.58, Semarang
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 11 Oktober 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 waktu setempat (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Makassar/Jakarta/Semarang (sebutkan salah satu), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Joko Widodo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta untuk setiap seminar.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.
Bagi anda yang berasal dari luar kota dan hendak mengikuti seminar yang di Jakarta, maka dari Bandara Soekarno-Hatta anda bisa naik bis Damri langsung menuju Mall Thamrin City, demikian pula pulangnya bisa naik bis yang sama. Ongkosnya cuma Rp30,000. Selain itu disini banyak sekali hotel untuk menginap (karena lokasinya benar-benar di pusat kota Jakarta), dengan pilihan tarif mulai dari Rp400,000 hingga jutaan Rupiah per malam, jika anda berminat.

Untuk seminar di Semarang, tadinya jadwalnya adalah hari Sabtu tanggal 4 Oktober, namun diundur jadi hari Sabtu berikutnya, yakni tanggal 11 Oktober, karena tanggal 4 Oktober tersebut bertepatan/berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Berikut adalah foto-foto dari penyelenggaraan seminar sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar.


Medan, 30 Agustus

Surabaya, 6 September
Makassar, 20 September
Update: Stop mendaftar untuk seminar yang di Jakarta karena kursinya sudah penuh! Bagi teman-teman di Jakarta, sampai ketemu di kesempatan berikutnya, 2 bulan lagi dari [...]

Rencana Investasi: Kapan Harus Buy, Hold, or Sell?

Salah satu teknik/strategi dalam berinvestasi di saham adalah terkait bagaimana mengelola portofolio setiap beberapa waktu sekali agar menjadi ‘rapih’ kembali setelah sebelumnya ‘berantakan’, dengan cara melepas saham-saham yang tidak produktif/turun, meng-hold saham-saham yang masih berpotensi untuk naik lebih lanjut, dan membeli saham-saham baru untuk menggantikan saham-saham yang dilepas. Bahasa kerennya untuk strategi seperti ini adalah portfolio re-balancing. Portfolio rebalancing ini sangat penting untuk dilakukan entah itu anda adalah seorang investor jangka panjang, ataupun trader.

Analogi dari portfolio rebalancing ini adalah seperti dalam kompetisi sepakbola. Setiap tahunnya, para manajer sebuah klub memiliki kesempatan dua kali, yakni ketika jendela transfer dibuka pada pertengahan dan awal musim kompetisi, untuk membeli pemain yang ia butuhkan, mempertahankan sebagian pemain yang sudah ada, dan menjual/melepas sebagian pemain yang tidak lagi dibutuhkan oleh tim. Kegiatan jual beli pemain ini diperlukan karena pemain sepakbola yang amat sangat bagus sekalipun, pada akhirnya dia akan menjadi tua dan kehilangan kemampuannya, sehingga tidak lagi bisa berkontribusi terhadap tim. Disisi lain, setiap tahunnya akan selalu ada pemain-pemain muda berbakat yang bisa diambil oleh klub untuk memperkuat tim, untuk menggantikan pemain yang sudah tidak lagi bisa berkontribusi.
Selain karena masalah usia yang tidak lagi muda, masih ada banyak lagi alasan kenapa sebuah klub menjual pemainnya, seperti karena: 1. Si pemain ternyata tidak mampu bermain seperti yang diharapkan, atau karena gaya permainannya tidak cocok dengan gaya permainan tim secara keseluruhan (kalau kejadiannya kaya gini, maka harga jual si pemain akan lebih rendah dibanding harga belinya, alias pihak klub terpaksa jual rugi), 2. Si pemain memiliki sifat temperamental, atau sering berbuat onar diluar lapangan, dan 3. Adanya tawaran dari klub lain yang berani membelinya dengan harga selangit.
Ketika klub mempertahankan pemainnya/tidak menjualnya, maka alasannya cuma satu: Si pemain masih bisa diharapkan untuk berkontribusi lebih banyak lagi terhadap tim secara keseluruhan, dimana meski ada klub-klub lain yang mengincarnya, namun harga yang mereka tawarkan tidak/belum sebanding dengan besarnya kontribusi tersebut.
Sementara ketika sebuah klub membeli seorang pemain, alasannya bisa karena: 1. Harganya relatif murah dibanding dengan kualitas si pemarin itu sendiri, 2. Harganya murah, dan memang kualitasnya juga tidak bagus-bagus amat, namun sesuai dengan kebutuhan tim atau si manajer, 3. Merupakan pemain muda dengan bakat terpendam, dan 4. Harganya mahal, namun setimpal dengan kualitasnya yang luar biasa.
Nah, percaya atau tidak, dalam menyusun komposisi portofolio saham, maka tugas anda sebagai investor adalah seperti manajer klub sepakbola tadi, dan saham-saham yang anda pegang adalah seperti para pemain sepakbolanya. Jadi kenapa anda harus menjual salah satu atau beberapa saham yang anda pegang? Well, itu mungkin karena: 1. Ketika anda membeli saham tertentu, alasannya adalah karena kinerja/fundamental perusahaannya terbilang bagus, namun di periode berikutnya perusahaan ternyata tidak bisa mempertahankan kinerjanya yang bagus tersebut (misalnya labanya tiba-tiba turun drastis, atau bahkan rugi), 2. Sahamnya sering bergerak liar termasuk turun sendiri tanpa penyebab yang jelas, sehingga mengganggu kinerja portofolio secara keseluruhan, dan 3. Pada titik tertentu, misalnya ketika pasar sedang bullish, harga saham tersebut sudah naik sangat tinggi dibanding dengan perkembangan fundamental dari perusahaannya sendiri, sehingga valuasinya menjadi sangat mahal.
Kalau anda perhatikan ketiga poin ‘alasan penjualan’ diatas, maka anda bisa menjual saham anda dalam posisi untung, rugi, ataupun tengah-tengahnya. Jadi alasan kenapa anda harus menjual saham tertentu bukanlah karena anda sudah untung atau rugi sekian persen dari saham tersebut, melainkan karena anda harus menjualnya saja. Tak peduli seberapa dalam kerugian yang anda alami, namun kalau saham tersebut kemungkinan masih bisa turun, maka segeralah menjualnya. Sebaliknya, meski anda mungkin akan ‘jatuh cinta’ pada saham tertentu karena saham tersebut sudah memberikan keuntungan sebesar sekian kali lipat sehingga anda bertekad untuk memegangnya selamanya, namun jika ‘waktunya tiba’ dimana anda harus menjualnya, maka anda harus menjualnya. Saham sekelas Astra International (ASII) sekalipun, jika anda terus memegangnya selama periode tahun 2011 – 2013, maka anda akan kehilangan waktu 2 tahun yang amat berharga tanpa memperoleh apa-apa, karena ASII hanya bergerak stagnan selama periode waktu tersebut, sesuai dengan kinerjanya yang juga stagnan karena pelemahan harga CPO dan batubara ketika itu.
Lalu kenapa saham-saham yang lainnya bisa di-hold? Ya itu karena saham tersebut, setelah anda pelajari kembali, masih berpotensi untuk naik lebih tinggi lagi, meski kenaikan tersebut tentunya tidak akan terjadi hanya dalam waktu 1 – 2 hari. Adalah konyol jika anda meng-hold saham tertentu karena ‘soalnya saya udah nyangkut terlalu dalam, jadi tunggu dia naik dulu deh kemudian baru cut loss’. Pertanyaannya, kalau kinerja perusahaannya sendiri ternyata sudah amburadul, gimana sahamnya bisa naik?
Dan ketika anda berniat untuk membeli saham-saham tertentu (sebagai ganti dari saham-saham yang sudah dijual sebelumnya), maka beberapa alasan yang masuk akal adalah: 1. Valuasinya relatif murah, padahal sahamnya bagus (biasanya ini terjadi hanya kalau pasar/IHSG lagi bearish alias turun), 2. Valuasinya sangat murah, meski memang fundamentalnya gak bagus-bagus amat (tapi juga nggak bisa dikatakan jelek), 3. Sahamnya mewakili perusahaan kecil yang berpeluang untuk tumbuh menjadi besar suatu hari nanti, dan 4. Meski harganya mahal, namun harga tersebut cukup setimpal dengan kemampuan perusahaan dalam mencetak laba secara konsisten dari tahun ke tahun.
Jadi percaya atau tidak, kalau orang-orang seperti Carlo Ancelotti, Jose Mourinho, dan Joseph Guardiola main saham, mereka semua akan menggunakan strategi value investing, yakni membeli saham berdasarkan fundamental dan valuasinya. Nah, sekarang coba anda bayangkan kalau para manajer sepakbola ini membeli pemain sepakbola hanya karena rumor bahwa ada pemain hebat bla bla bla, tanpa menyelidiki/menganalisis si pemain ini terlebih dahulu, dan tanpa mempertimbangkan apakah harganya terbilang wajar atau tidak. Kira-kira bagaimana hasilnya? Sayangnya, hingga di pasar modal masih banyak sekali investor/trader yang membeli saham hanya berdasarkan rumor tanpa analisis, sehingga hasilnya pun bisa ditebak: Di musim berikutnya mereka terdegradasi, alias gak maen saham lagi karena sudah rugi terlalu besar. Sebenarnya, seorang manajer yang berkualitas pun belum tentu bisa langsung membawa timnya ke tangga juara, seperti semalam, Manchester United lagi-lagi keok ditangan tim semenjana, Leicester City, padahal mereka sudah ditangani oleh pelatih yang kemarin sukses membawa Belanda menempati peringkat ketiga Piala Dunia 2014: Louis van Gaal. Okay, Meneer van Gaal pun mungkin melakukan kesalahan tertentu yang menyebabkan MU kalah, tapi bisakah anda bayangkan bakal seperti apa hasilnya jika van Gaal hanya asal comot pemain tanpa analisis apakah sesuai dengan kebutuhan tim, dan semacamnya?
Okay, lalu pertanyaan berikutnya, kapan kita bisa ‘mengocok ulang’ komposisi portofolio, alias menjual saham yang tertentu, meng-hold selebihnya, dan membeli saham-saham baru?
Tidak ada jawaban pasti akan pertanyaan ini, karena jawabannya bisa beda-beda tergantung siapa yang ditanya. Beberapa trader yang kecanduan trading mungkin akan mengocok portofolionya setiap saat selama jam trading, dimana ia bisa membeli saham tertentu di pagi hari, dan menjualnya pada sore harinya, dan besoknya ganti saham lagi. Namun sayangnya berdasarkan pengalaman banyak kawan-kawan trader, termasuk pengalaman penulis sendiri dulu, keseringan mengocok seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kerugian. Ingat bahwa arisan-pun tidak dikocok setiap hari bukan?
Sementara kalau anda mau mencontoh strategi portfolio rebalancing ala manager klub sepakbola, maka anda bisa melakukan melirik kembali portofolio anda setiap enam bulan sekali. Sebenarnya pasar saham membuka ‘transfer window’-nya hampir setiap hari, yakni dari hari Senin sampai Jumat, pukul 09.00 – 16.00 WIB, namun anda bisa menerapkan transfer window anda sendiri, katakanlah setiap enam bulan sekali, yakni pada akhir tahun dan akhir bulan Juni. Beberapa pakar investasi di masa lalu seperti John Maynard Keynes, menyarankan kepada investor untuk mengunjungi portofolio-nya setahun sekali saja, sementara waktu selebihnya gunakan untuk ‘minum sampanye, pergi keluar dan menikmati hidup’.

However, kalau kita hanya berlibur saja sepanjang tahun, maka bisa jadi liburan itu sendiri justru akan terasa membosankan. Jadi keputusan untuk hanya melirik koleksi pegangan saham setahun sekali mungkin bukanlah ide yang terlalu bagus. So, disini penulis akan share apa saya lakukan selama ini. Ingat bahwa penulis adalah full time investor, sehingga diluar kegiatan ‘kocok mengocok’ saham, menulis blog ini, baca-baca tentang investasi, hingga menyelenggarakan seminar, saya lebih banyak jalan-jalan atau maen Playstation saja dirumah, alias liburan (meski gak pake minum sampanye juga). And here we go!
Pertama, meski penulis terbilang jarang trading saham apalagi mengamati running trade, namun minimal sebulan sekali saya selalu mengecek kondisi portofolio, yakni pada awal bulan (tanggal 1 atau 2) untuk mengetahui saham-saham apa saja yang naik, saham mana yang mungkin malah turun, dan mempelajari posisi IHSG, apakah pada bulan depan kemungkinan dia akan naik atau terkoreksi. Penulis katakan minimal, karena pada tanggal-tanggal tertentu diluar tanggal 1 atau 2, saya juga bisa saja membeli atau menjual saham tertentu, tapi itu bukan karena saya melototin monitor komputer setiap hari, melainkan kalau terjadi peristiwa luar biasa tertentu. Contohnya, beberapa waktu terakhir ini penulis banyak mendengar keluhan dari teman-teman bahwa United Tractors (UNTR) entah kenapa turun, padahal gak ada masalah apa-apa. Karena kebetulan penulis tidak memegang UNTR ini sebelumnya, dan memang masih ada sedikit cash, maka penulis kemudian mengamati UNTR ini hingga pada titik tertentu saya mungkin memutuskan untuk membelinya, jika tampak bahwa dia akan kembali rebound. Dan keputusan untuk membeli tersebut tidak perlu menunggu sampai akhir bulan/awal bulan berikutnya.
Sedikit catatan, Buffett pernah ditanya soal kapan waktunya beli saham? Dan beliau menjawab, ketika kamu menemukan saham murah, dan kamu punya uangnya! Jadi kerjaan value investor itu adalah hunting ­saham-saham murah, gak perlu setiap hari (pas lagi mood aja juga boleh), dan kalau ketemu maka belilah saat itu juga, alias nggak perlu menunggu akhir bulan apalagi akhir tahun.
Dan kedua, diluar kerjaan rutin tiap bulan diatas, penulis juga senantiasa mempelajari laporan keuangan para emiten setiap kali laporan keuangan ini keluar setiap kuartal, alias setiap tiga bulan sekali. Jika ada pegangan saham yang kinerja perusahaannya ternyata tidak lagi sebagus sebelumnya, maka mungkin sahamnya akan dilepas dulu, mungkin untuk nanti dibeli kembali atau dilupakan sama sekali. Dan jika ada perusahaan yang kinerja tampak meyakinkan, maka sahamnya boleh dibeli.
Jadi kalau bagi penulis sendiri, ‘transfer window’-nya dibuka setiap awal bulan Januari – Februari, April, Agustus, dan November, alias empat kali setahun. Diluar pengaruh faktor kenaikan/koreksi pasar yang bisa terjadi setiap saat, pada waktu-waktu itulah penulis paling banyak menjual atau membeli saham tertentu.
Cara Menjaga Agar Komposisi Portofolio Tetap Terkendali
Kemudian, anda harus menjaga jumlah saham yang anda pegang agar tidak terlalu banyak. Analoginya balik lagi ke klub sepakbola: Terserah mereka mau seberapa sering menjual atau membeli pemain, namun peraturan internasional menyebutkan bahwa jumlah pemain di dalam sebuah tim adalah maksimal 32 orang (diluar tim junior), yakni 11 pemain inti, 11 pemain cadangan, dan selebihnya pemain lapis tiga. Artinya jika Manchester United mau membeli 1 orang pemain baru, sementara jumlah anggota tim-nya sudah mentok 32 pemain, maka manajemen klub harus melepas satu pemain yang sudah ada, entah itu menjualnya atau memutus kontraknya (jika dia nggak laku dijual).
Disisi lain, sebuah klub juga harus memiliki minimal 16 pemain jika hendak ikut kompetisi, alias gak boleh kurang dari itu, dan itu tentu saja bisa dijelaskan. Bisakah anda bayangkan jika Real Madrid hanya punya persis 11 pemain tanpa adanya pemain cadangan sama sekali? Bagaimana jika kemudian Cristiano Ronaldo atau Gareth Bale cedera? Siapa yang menggantikan?
So, di saham juga anda harus menetapkan berapa maksimal anda bisa memegang saham-saham yang berbeda, dan juga berapa minimalnya. Jika anda sejak awal memutuskan bahwa anda hanya bisa memegang maksimal sepuluh saham, maka ketika anda tertarik untuk membeli saham nomor sebelas, anda harus menjual salah satu pegangan anda sehingga jumlah saham yang anda pegang tetap sepuluh saham. Yang menetapkan batas maksimal 10 saham itu adalah anda sendiri, jadi jangan pernah melanggar peraturan yang anda buat sendiri.
Disisi lain anda juga harus menetapkan jumlah minimal saham yang bisa anda pegang, karena akan sangat berisiko jika anda menempatkan seluruh dana yang tersedia hanya pada satu atau dua saham. Jika anda menetapkan minimalnya tiga saham, misalnya, maka ketika anda menjual hampir seluruh pegangan (misalnya karena anda melihat bahwa IHSG sebentar lagi bakal anjlok), tetap sisakan tiga saham di portofolio anda, biasanya merupakan saham-saham yang sejak awal anda memutuskan untuk memegangnya dalam jangka panjang, dimana kalau nanti harganya turun maka itu nggak masalah, karena anda bisa membelinya lagi menggunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, tindakan untuk ‘sapu bersih’ portofolio hanya karena khawatir bahwa pasar akan jatuh justru merugikan diri sendiri dimana saya jadinya ketinggalan kereta (atau merealisasikan kerugian yang seharusnya masih floating) ketika IHSG kemudian berbalik naik, dan masalahnya kita tidak bisa mengetahui secara persis kapan pasar akan naik atau turun.
Setelah melakukan trial and error selama beberapa tahun ini, jumlah maksimal saham yang penulis pegang adalah 15 saham, dan minimalnya 5 saham. Menurut opini penulis, jumlah ini mencerminkan strategi diversifikasi yang sehat dan tidak berlebihan, dimana saya nggak pernah memegang lebih dari 15 saham (jumlah 15 ini mungkin akan dinaikkan suatu hari nanti, tapi untuk saat ini belum perlu). Penulis mengenal beberapa investor yang cukup sering membeli saham tapi ‘lupa’ menjualnya, sehingga koleksi sahamnya jadi banyak sekali dan nggak karuan (baca: banyak yang nyangkut), dan anda tentu saja tidak mau mengalami hal itu bukan? So, mudah-mudahan dengan strategi ‘maksimal minimal’ ini komposisi portofolio anda akan menjadi jauh lebih sehat dari sebelumnya.
Okay, that’s all I can share for this week. Jika anda punya strategi alternatif terkait rebalancing portfolio ini, maka anda bisa juga meng-share-nya melalui kolom komentar [...]

Seminar Value Investing: Makassar, Jakarta, dan Semarang

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, di tiga kota berbeda yakni Makassar, Jakarta, dan Semarang. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di kota yang bersangkutan. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
Makassar. Sulawesi Selatan:
  • Tempat: Hotel AviraJln. Adhyaksa Baru No.18A – C, Panakukkang, Makassar
  • Hari/Tanggal: Sabtu20 September 2014
Jakarta:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 September 2014
Semarang, Jawa Tengah:
  • Tempat: Hotel Pandanaran, Jln. Pandanaran No.58, Semarang
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 4 Oktober 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 waktu setempat (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini sangat terjangkau, hanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Makassar/Jakarta/Semarang (sebutkan salah satu), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Jusuf Kalla, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta untuk setiap seminar.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.

Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.

Update: Hingga hari Selasa, tanggal 16 September, jumlah kursi yang sudah terisi untuk seminar di Makassar adalah 15 kursi.

Berikut foto-foto dari dua kali penyelenggaraan seminar yang sama sebelumnya (di Medan, Sumatera Utara, dan Surabaya, Jawa Timur), klik gambar untuk memperbesar.

Cara Membedakan Laporan Keuangan ‘Palsu’

Berdasarkan pengalaman penulis ketika beberapa kali mengadakan seminar investasi saham, salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh peserta seminar ketika sesi tanya jawab adalah soal bagaimana cara kita mengetahui apakah laporan keuangan sebuah perusahaan menyajikan angka-angka (pendapatan, laba bersih dll) yang sebenarnya atau tidak. Atau dengan kata lain, bagaimana jika kita melihat bahwa laporan keuangan sebuah perusahaan tampak bagus dengan laba bersih yang besar dll, namun ternyata itu karena pihak perusahaan memalsukan laporan keuangannya tersebut? Nah, berhubung ini mungkin merupakan pertanyaan dari banyak sekali teman-teman investor, maka sekalian saja kita bahas disini. Okay, kita langsung saja.

Salah satu kekhawatiran yang sering melanda seorang investor adalah terkait benar tidaknya informasi keuangan yang disajikan oleh laporan keuangan perusahaan. Contohnya, pada Kuartal II 2014, laporan keuangan PT Astra International, Tbk (ASII) menunjukkan bahwa perusahaan membukukan laba bersih Rp11.8 trilyun selama Januari – Juni 2014. Pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa ASII benar-benar membukukan laba sebesar itu? Bagaimana jika kenyataannya adalah bahwa laba ASII ternyata lebih kecil dari Rp11.8 trilyun, atau sebaliknya lebih besar?
Terkait hal ini, penulis jadi ingat dengan seorang kawan yang merupakan pemilik dari salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, namun tidak terdaftar di bursa, dimana kami sempat mengobrol soal laporan keuangan ini (kalau saya sebutkan nama PT-nya anda pasti tahu, namun beliau keberatan jika nama perusahaannya disebut). Beliau bercerita bahwa, sebagai pemilik dari perusahaan besar yang memiliki banyak sekali anak perusahaan, maka bukanlah pekerjaan yang mudah untuk merekap data-data pendapatan, laba bersih, dll dari anak-anak usahanya tersebut, untuk kemudian dikonsolidasikan ke induknya. Alhasil, bahkan beliau sendiri pun tidak bisa menjamin bahwa data-data yang disajikan di laporan keuangannya adalah benar, dan itu bukan karena mereka (pihak manajemen) sengaja memanipulasinya, melainkan karena kesulitan dalam merekap itu tadi. Sekarang coba anda bayangkan: Kalau anda adalah pemilik dari perusahaan rental mobil kecil-kecilan, maka menghitung laba bersihnya mudah saja: Ongkos rental yang masuk selama satu periode dikurangi bensin, gaji supir, penyusutan, dan seterusnya hingga potongan pajak. Maka ketemu deh laba bersihnya berapa. Tapi kalau anda adalah pemilik dari grup usaha yang bergerak di bidang produksi dan distribusi mobil, perkebunan kelapa sawit, alat-alat berat, tambang batubara, perbankan dan jasa keuangan, hingga teknologi informasi (seperti ASII), maka bagaimana menghitung total laba bersihnya? Ya bisa saja dihitung hingga ketemu totalnya berapa. Namun semakin besar angkanya, maka semakin besar kemungkinan terjadinya perbedaan antara hasil perhitungan laba bersih yang sesungguhnya dengan yang disajikan di laporan keuangan, karena perhitungan yang dilakukan harus memenuhi standar akuntansi.

Itu sebabnya Warren Buffett pernah ngomong begini, ‘Karena faktor keterbatasan akuntansi, kinerja kami yang sesungguhnya mungkin tidak tersajikan dalam laporan keuangan Berkshire Hathaway.’
Nah, ketika pihak manajemen ketemu dengan auditor independen, seringkali terdapat dispute (perselisihan) tentang berapa angka yang benar, karena adanya perbedaan tadi. Misalnya, manajemen mengklaim bahwa berdasarkan perhitungan internal yang mereka lakukan, laba bersih perusaahaan adalah Rp100 milyar. However, setelah melakukan audit, pihak auditor menyatakan bahwa perusahaan tidak bisa menyajikan cukup bukti bahwa laba bersihnya mencapai Rp100 milyar, melainkan (yang benar, atau istilahnya yang ‘wajar tanpa pengecualian’) adalah Rp70 milyar. Jika kedua belah pihak (pihak manajemen dan auditor) sama-sama bersikukuh dengan hasil perhitungannya masing-masing, maka seringkali yang diambil adalah jalan tengahnya. Alhasil, di laporan keuangan perusahaan (yang sudah diaudit), laba bersih yang ditampilkan bukanlah Rp70 atau 100 milyar, melainkan mungkin Rp85 milyar.
Lalu apakah dengan begitu laba perusahaan adalah benar Rp85 milyar? Sekali lagi, belum tentu. Malah faktanya, tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui secara persis, berapa sebenarnya nilai laba bersih tersebut.

Catatan: Yang dimaksud dengan mengaudit laporan keuangan bukanlah menghitung ulang nilai pendapatan, laba bersih dll sejak awal, melainkan mengevaluasi transaksi-transaksi keuangan yang dilakukan perusahaan, apakah benar transaksi itu dilakukan atau tidak, itupun pihak auditor tidak mengevaluasi seluruh transaksi. Contohnya, kalau pihak perusahaan mengklaim telah mengeluarkan Rp10 milyar untuk biaya hotel, dimana hal itu dicatat sebagai beban di laporan keuangannya, maka pihak auditor akan minta bukti kwitansi hotelnya sebagai bukti transaksi tersebut, tidak perlu semuanya, tapi beberapa diantaranya saja.

Jadi tugas auditor bukanlah membuat ‘laporan keuangan tandingan’, melainkan, sekali lagi, hanya mengevaluasi angka-angka yang diajukan perusahaan di laporan keuangannya. Jika perusahaan tidak bisa mengajukan bukti-bukti yang cukup terkait angka-angka yang mereka ajukan, maka pihak auditor mungkin akan memberikan opini bahwa laporan keuangan tersebut adalah ‘tak wajar’. Opini terbaik yang bisa diberikan auditor adalah ‘wajar tanpa pengecualian’, dan untuk memperoleh opini tersebut-lah, pihak perusahaan seringkali harus beberapa kali mengkoreksi laporan keuangannya, hingga akhirnya sesuai dengan semua bukti yang bisa diajukan kepada pihak auditor (pada titik inilah mungkin akan dilakukan ‘jalan tengah’ tadi). Setelah itu barulah laporan keuangannya akan dipublikasikan, plus dilengkapi pernyataan opini dari auditornya.

Proses audit ini rata-rata memerlukan waktu hampir 2 bulan setelah pembuatan laporan keuangannya selesai (tapi belum dipublikasikan karena masih belum memperoleh opini dari auditor). Itu sebabnya untuk laporan keuangan periode setahun penuh yang diaudit, keluarnya adalah sekitar tanggal 31 Maret, atau 3 bulan setelah tanggal laporan keuangannya (31 Desember). Sementara untuk periode kuartal yang lain (yang tidak diaudit), laporan keuangannya akan sudah dipublikasikan 1 bulan setelah tanggal laporan keuangan. Untuk periode kuartal 1 yang berakhir tanggal 31 Maret, misalnya, laporan keuangannya akan sudah dipublikasikan pada tanggal 30 April atau beberapa hari sebelumnya.

Makanya, kalau anda perhatikan, dalam Bahasa Inggris, laporan keuangan tidak disebut sebagai financial report, melainkan financial statement, alias pernyataan keuangan. Berbagai data dan angka terkait nilai aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, laba operasional, hingga laba bersih perusahaan, itu semua tidak lebih dari pernyataan dari satu pihak saja yakni pihak manajemen perusahaan, dan bukan merupakan laporan yang secara persis menggambarkan keadaan dan fakta di lapangan. Sebagai contoh, ketika di laporan keuangan PT A disebutkan bahwa nilai ekuitas atau aset bersih perusahaan (setelah dikurangi seluruh kewajiban) adalah Rp1 trilyun, maka ketika perusahaan dilikuidasi dimana aset-aset tersebut dijual kemudian sebagian uangnya dipakai untuk melunasi semua utang/kewajiban, maka nilai uang tunai yang tersisa belum tentu akan persis Rp1 trilyun juga, melainkan bisa kurang, dan bisa juga lebih, tergantung oleh banyak faktor (kalau jualnya cepet-cepet alias diobral, maka kemungkinan harga jual asetnya akan turun, sehingga uang yang terkumpul akan lebih sedikit dari Rp1 trilyun).
Itu sebabnya, untuk mengkonfirmasi apakah pernyataan seperti yang tercantum di laporan keuangan itu benar atau tidak, maka diperlukan pernyataan tambahan dari pihak ketiga, dalam hal ini auditor independen, dimana pernyataan tersebut bukan berupa ‘laporan keuangan tandingan’, melainkan hanya sekedar pernyataan pendapat/opini bahwa laporan keuangan tersebut disajikan secara wajar atau tidak. Jika ‘wajar tanpa pengecualian’ adalah opini terbaik yang bisa diberikan pihak auditor, maka opini terburuknya adalah ‘disclaimer’, yakni bahwa auditor sama sekali tidak melihat bahwa laporan keuangannya disajikan secara wajar, atau dengan kata lain, berbagai angka-angka seperti pendapatan dan laba bersih, itu semua tidak bisa dibuktikan kebenarannya sama sekali (penulis ingat dulu pernah menemukan satu perusahaan Tbk di Indonesia yang memperoleh predikat ‘disclaimer’ dari auditornya, namun saya lupa nama perusahaannya).

Makanya pihak BEI sebagai otoritas bursa juga mewajibkan perusahaan untuk menunjuk auditor untuk mengaudit laporan keuangannya minimal setahun sekali (laporan keuangan kuartalan boleh nggak diaudit, tapi laporan keuangan pada akhir tahun harus diaudit). Namun keberadaan auditor inipun tetap tidak menjamin bahwa laporan keuangan perusahaan akan menjadi benar 100%, karena itu tadi: Kalau pihak manajemen dan pihak auditor sama-sama mengklaim bahwa angka mereka-lah yang benar, maka kemudian yang diambil adalah tengah-tengahnya.

Logo PWC, salah satu auditor paling terkemuka di dunia
Lho, jadi apakah dengan demikian laporan keuangan perusahaan itu angkanya justru palsu semua? Well, bukan palsu, hanya saja tidak bisa dijamin keakuratannya, dan itu sekali lagi bukan karena pihak perusahaan sengaja memanipulasi (meski kemungkinan manipulasi tersebut akan selalu ada), melainkan karena faktor perbedaan yang mungkin terjadi ketika dilakukan perhitungan nilai laba bersih dll.
Tapi berdasarkan pengalaman penulis selama ini, tidak adanya jaminan bahwa angka-angka yang disajikan di laporan keuangan sebuah perusahaan (termasuk laporan keuangan yang diaudit) adalah benar, itu tidak sebenarnya tidak jadi masalah. Sebab mau datanya benar atau tidak, namun yang jelas semua investor melihat ke laporan keuangan yang sama, karena tidak pernah ada laporan keuangan tandingan atau semacamnya. Contohnya, ketika ASII menyatakan di laporan keuangannya bahwa laba bersih mereka untuk periode Kuartal II 2014 adalah Rp11.8 trilyun, maka entah itu angkanya benar atau tidak, namun yang jelas tidak ada data lain (atau laporan keuangan versi lain) yang menyebutkan bahwa laba ASII bukanlah Rp11.8 trilyun, melainkan hanya (misalnya) Rp10 trilyun.
Dan ketika informasi tertentu hanya bisa diperoleh dari satu sumber yang sama, maka anda tidak perlu khawatir bahwa anda akan memperoleh informasi yang keliru, karena orang lain juga memperoleh informasi yang sama. Ketika anda membaca bahwa nilai laba bersih ASII adalah Rp11.8 trilyun, maka fund manager di Schroders juga membaca angka yang sama. Alhasil, entah itu merupakan angka yang benar atau tidak, namun semua orang sepakat bahwa laba bersih ASII adalah benar Rp11.8 trilyun.
Analoginya seperti ketika Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Indonesia pada tahun 2014 adalah sekian persen. Nah, apakah itu merupakan angka yang benar? Ya bisa benar, bisa juga tidak, tapi yang jelas data dari BPS itulah yang dijadikan acuan oleh semua orang, atau dengan kata lain dianggap benar oleh semua orang, karena memang tidak ada data alternatif.
Namun ketika sebuah lembaga survey politik menyatakan bahwa, berdasarkan survey/polling yang mereka selenggarakan, partai tertentu akan memenangkan Pemilu, maka orang-orang tidak akan langsung percaya dengan data hasil survey tersebut, karena masih ada beberapa lembaga lain yang juga menyajikan data hasil survey milik mereka masing-masing, yang berbeda satu sama lain. Sementara pada kasus data yang disajikan di laporan keuangan, hal ini tidak terjadi karena untuk perusahaan manapun, laporan keuangannya (untuk periode tertentu) hanya ada satu, dan tidak ada ‘laporan keuangan tandingan’.
Dan jika laporan keuangan sebuah perusahaan memang menunjukkan hasil yang menggembirakan, sementara disisi lain sahamnya pun masih murah, maka harga sahamnya juga akan naik. Contoh sederhana saja: Pada awal tahun 2013 lalu, saham-saham properti mengalami kenaikan yang signifikan, dan itu adalah karena sektor properti memang mencatat kinerja yang luar biasa pada tahun 2013 tersebut. Jika pada tahun ini saham-saham properti tidak mampu naik kembali hingga melewati titik tertinggi yang pernah dicapai setahun yang lalu, maka itu adalah karena pada tahun 2014 ini laba perusahaan properti banyak yang turun. Contoh lainnya, saham-saham batubara dan CPO terbilang terpuruk sepanjang 2012 – 2013 karena pada dua tahun tersebut kinerja mereka memang jeblok, namun pada tahun ini saham-saham di dua sektor tersebut mulai bergerak naik, dan itu karena beberapa perusahaan batubara dan sawit (meski tidak semuanya) mulai menunjukkan kenaikan pendapatan dan laba kembali.
Nah, jika anda kritis, anda mungkin bertanya: 1. Benarkah laba perusahaan-perusahaan properti naik banyak pada tahun 2013, lalu 2. Bernarkah laba tersebut kemudian turun pada tahun 2014 ini? Well, jika anda meragukan dua fakta tersebut, namun yang jelas orang lain juga melihat data dan angka yang sama, dimana mereka kemudian mengeksekusi buy and sell mereka berdasarkan data-data tersebut. Dan itu sebabnya saham-saham di sektor properti rata-rata naik banyak pada tahun 2013 lalu karena orang ramai-ramai membelinya (karena laporan keuangannya bagus). Namun setelah mini-crash di akhir tahun 2013 lalu, mereka ternyata belum naik banyak lagi pada tahun ini (sementara saham-saham konstruksi, meski juga turun banyak pada akhir tahun 2013 lalu, namun kesininya dengan cepat naik kembali karena kinerja mereka sejauh ini masih bagus).
Dan contoh terakhir, kalau anda membaca laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan Grup Bakrie, maka anda bisa dengan mudah melihat bahwa kinerja mereka amat sangat berantakan: Ekuitas yang turun terus (bahkan ada yang sampai minus), utang segunung, dan rugi melulu. Kalaupun anda menganggap bahwa mungkin saja kinerja mereka sebenarnya tidak seburuk kelihatannya, namun investor yang lain juga melihat ke laporan keuangan yang sama, sehingga mereka ramai-ramai menghindari sahamnya. Hasilnya, bisa anda lihat sendiri kan gimana nasib saham-saham Bakrie?
Tips-tips dalam membaca laporan keuangan
However, seperti yang sudah disebut diatas, kemungkinan terjadinya manipulasi yang disengajapada laporan keuangan akan selalu ada. Selain itu, problem terbesar yang seringkali dialami seorang investor adalah ketidak telitiannya dalam membaca dan menganalisis laporan keuangan secara mendetail, sehingga bisa menimbulkan salah persepsi. Sebagai contoh, saya sering sekali menerima keluhan, ‘Mas Teguh, saham A kenapa turun ya? Padahal saya lihat labanya naik.’ Dan saat itulah saya sekali lagi harus menjelaskan bahwa hanya karena sebuah perusahaan mencatatkan laba yang naik, maka itu bukan berarti bisa langsung disimpulkan bahwa kinerjanya bagus, karena masih ada beberapa hal lain yang juga perlu diperhatikan di laporan keuangannya, belum termasuk valuasi sahamnya. Jadi jika seorang investor mengalami kerugian karena hal ini, maka itu bukan berarti karena perusahaan memanipulasi laporan keuangannya, melainkan karena ia kurang teliti saja dalam membaca laporan keuangan tersebut.
Dan satu tips yang mudah-mudahan bisa membantu anda untuk membedakan mana laporan keuangan yang berkualitas (baca: menyajikan data dan angka yang kemungkinan besar adalah benar adanya), dan laporan keuangan yang abal-abal, adalah sebagai berikut: Sebaiknya pilih saham yang menyajikan laporan keuangannya secara ‘bersih’, yakni disajikan secara simpel, rapih, dan tidak ada akun-akun yang aneh-aneh. Contohnya Unilever Indonesia (UNVR) dimana pada laporan laba ruginya hanya ada angka penjualan, yang setelah dikurangi harga pokok penjualan, beban pemasaran, beban umum, penghasilan/biaya keuangan, dan pajak, maka diperolehlah laba bersihnya berapa.
Sementara kalau anda lihat laporan keuangan Benakat Integra (BIPI), di laporan laba ruginya terdapat beberapa akun yang ‘tidak sederhana’, seperti keuntungan/kerugian lain-lain (kalau ditulis ‘lain-lain’, biasanya tidak ada hubungannya dengan operasional perusahaan, atau dengan kata lain itu merupakan keuntungan/kerugian yang tidak seharusnya ada), keuntungan/kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan, dan peningkatan/penurunan nilai wajar dari aset keuangan. Semakin banyak akun-akun yang rumit seperti ini, maka semakin besar kemungkinan bahwa laporan keuangan tersebut telah diutak atik sedemikian rupa sehingga hasilnya menjadi tidak seperti yang sebenarnya.

Kasus paling terkenal terkait hal ini adalah ketika Enron, perusahaan minyak raksasa di Amerika Serikat, ketahuan telah memanipulasi laporan keuangannya dan akhirnya dinyatakan bangkrut pada tahun 2011. Ketika itu, para analis di Wallstreet pun mengaku bingung ketika mempelajari laporan keuangan Enron, yang dipenuhi oleh akun ‘transaksi oleh pihak berelasi’, ‘tansaksi derivatif’, ‘kerugian dari penurunan nilai dari aset yang tersedia untuk dijual’, dan semacamnya (auditor Enron, Arthur Andersen, pada akhirnya juga ikut bangkrut setelah mereka dengan cerobohnya terus memberikan opini ‘wajar tanpa pengecualian’ untuk laporan Enron yang berantakan tersebut).

Selain itu, hati-hati dengan perusahaan yang sering telat dalam merilis laporan keuangannya karena bisa jadi mereka sengaja mengutak atiknya terlebih dahulu, atau perusahaan yang menunjuk auditor yang kurang kredibel untuk mengaudit laporan keuangannya. Beberapa grup usaha yang punya kredibilitas tinggi seperti Grup Astra, mau kinerja mereka bagus atau lagi turun, selama lima tahun terakhir ini selalu merilis laporan keuangannya tepat waktu, dan mereka selalu menggunakan jasa PriceWaterhouseCooper (PWC), salah satu anggota big four auditor kelas dunia, untuk mengaudit laporan keuangan mereka.

Sementara Grup Bakrie, mereka hanya menunjuk auditor yang tidak terlalu terkenal, Mazars, untuk mengaudit laporan keuangan Bumi Resources (BUMI) dkk. Meski memang, untuk laporan keuangan BUMI di tahun penuh 2013, pihak Mazars juga memberikan banyak sekali catatan setelah memberikan opini ‘wajar tanpa pengecualian’nya, yakni dengan menyebutkan bahwa angka-angka yang disajikan di laporan keuangan BUMI (yang telah diaudit) belum termasuk memperhitungan penyesuaian/perubahan tertentu yang mungkin terjadi karena kondisi tertentu yang dialami perusahaan/anak usahanya (mungkin disini artinya laporan keuangannya tidak bisa dipastikan kebenarannya bukan?)

Lalu untuk membaca laporan keuangan secara teliti, maka anda tidak boleh membaca laporan keuangan hanya secara sekilas, melainkan hari dari awal (dari bagian aset lancar) hingga akhir (arus kas), termasuk poin-poin penjelasannya (di bagian ‘catatan’), sehingga anda akan memperoleh informasi yang lebih menyeluruh ketimbang sekedar ‘laba perusahaan naik sekian persen’. Jika perusahaan membukukan laba bersih yang tiba-tiba naik signifikan, maka coba cek, dari mana asal peningkatan tersebut, apakah dari penjualan aset atau memang benar dari operasional. Kasus lain yang sering penulis temui belakangan ini adalah ketika nilai ekuitas/aset bersih perusaahan naik signifikan, sehingga valuasinya (dari sisi PBV) menjadi rendah, namun ternyata itu karena tambahan modal disetor, revaluasi aset dll, dan bukan karena peningkatan saldo laba yang riil. Dan seterusnya.
Hufftt, okay, I think that’s enough. Sebenarnya kalau saya ingat-ingat lagi, artikel yang kurang lebih serupa dengan artikel kali ini sudah pernah saya tulis beberapa tahun lalu, juga di website teguhhidayat.com ini (coba cari artikelnya di arsip artikel di sebelah kanan), namun sepertinya banyak teman-teman investor pengunjung website ini yang hanya membaca artikel yang baru-baru saja. Karena itulah, tips terakhir yang bisa saya berikan pada kesempatan kali ini adalah, setelah anda selesai membaca artikel ini maka jangan langsung buru-buru pindah ke website lain, melainkan silahkan baca-baca artikel yang lainnya lagi (dari tahun 2010 sampai sekarang, total ada sekitar 350 artikel). Trust me, it worth your while.

Pengumuman: Penulis menyelenggarakan seminar investasi saham: value investing, di Makassar, Sulawesi Selatan, hari Sabtu tanggal 20 September 2014. Keterangan selengkapnya baca [...]

Kedawung Setia Industrial

Kalau anda ketik kata ‘Kedawung Setia Industrial’ di Google, maka anda akan menemukan fakta menarik bahwa perusahaan ini, meski hanya merupakan perusahaan kecil dengan volume transaksi saham yang juga tidak likuid, namun sudah cukup sering dibahas oleh analis/investor dari sisi fundamentalnya, dan terutama: Dari sisi valuasinya yang sangat rendah. Dan memang, dengan PBV yang hanya 0.4 kali pada harga Rp369 per saham, sementara kinerja perusahaannya juga tidak bisa dikatakan buruk, saham PT Kedawung Setia Industrial, Tbk (KDSI) sangat menarik bagi para bargain hunter. Lalu sebenarnya perusahaan apa sih, KDSI ini?

KDSI adalah satu dari sedikit perusahaan terdaftar di BEI yang tidak berkantor pusat di Jakarta, melainkan di Surabaya (dan mungkin karena itu pula sahamnya tidak ter-cover oleh analis sekuritas atau fund manager reksadana besar, karena mereka harus keluar kota kalau mau ketemu jajaran direksinya). Perusahaan bergerak di bidang pembuatan alat-alat dapur yang terbuat dari (panci, rantang, dll) yang dilapisi enamel, yakni semacam cat khusus yang membuat peralatan dapur tersebut menjadi warna-warni sehingga lebih enak dilihat dan berkesan ‘mahal’. Yap, KDSI tidak memproduksi peralatan dapur biasa, melainkan peralatan dapur kelas atas yang bisa anda beli di supermarket-supermarket besar.

Meski bukan perusahaan yang terlalu terkenal, namun KDSI praktis merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia di bidang manufaktur peralatan dapur, yang sudah beroperasi sejak cukup lama (dari tahun 1970-an), dan sudah merambah pasar ekspor. Oleh BEI, KDSI diklasifikasikan sebagai perusahaan houseware atau produsen alat-alat rumah tangga, atau satu kelompok dengan Kedaung Indah Can (KICI), dan Langgeng Makmur Industri (LMPI).
Selain membuat panci dan wajan, KDSI juga memiliki satu anak usaha yang bergerak di bidang pembuatan kotak kertas karton alias kardus, wadah telur (yang juga terbuat dari kertas karton), dan tikarplastik. Pada perkembangannya, KDSI pada saat ini justru lebih banyak memproduksi dan menjual kotak kertas karton ketimbang peralatan dapur. Hingga Kuartal II 2014, dari pendapatan perusahaan senilai Rp795 milyar, Rp698 milyar diantaranya berasal dari penjualan kotak kertas karton, dan hanya Rp91 milyar yang berasal dari penjualan peralatan dapur (nilai penjualan wadah telur dan tikar plastik tercatat Rp7 milyar). Dan demikian pula di tahun-tahun sebelumnya, mayoritas pendapatan KDSI selalu berasal dari penjualan kotak kertas karton. Hal ini mungkin menimbulkan sedikit kebingungan, karena selama ini KDSI jauh lebih dikenal sebagai produsen alat-alat dapur ketimbang kotak kertas karton. Termasuk di website resmi perusahaan, www.kedawungsetia.com, sama sekali tidak disebutkan bahwa perusahaan memproduksi kotak kertas karton, melainkan hanya panci dan peralatan dapur lainnya. Tapi jika melihat fakta diatas, maka jelas sekali bahwa KDSI kurang cocok jika disebut sebagai perusahaan produsen peralatan rumah tangga, melainkan produsen kotak kardus.
Nah, terus terang penulis kurang paham soal bisnis kardus di Indonesia. Namun mengingat bahwa KDSI memproduksi kardus yang dijual ke perusahaan consumer seperti perusahaan rokok, makanan dan minuman, dan barang-barang elektronik, maka kita bisa berasumsi bahwa selama industri consumer maju terus, maka demikian pula kardus yang dijual KDSI akan selalu ada pembelinya. Dan kabar baiknya, seperti yang kita ketahui, industri consumer adalah industri yang paling stabil di dunia.
However, KDSI menghadapi beberapa tantangan dalam menjalani bisnisnya. Untuk segmen peralatan rumah tangga berlapis enamel, misalnya, trend-nya terus menurun sejak ASEAN – China Free Trade Area (ACFTA) diberlakukan di Indonesia pada tahun 2009, karena kini produk panci dan rantang milik perusahaan harus bersaing dengan produk-produk serupa asal Tiongkok yang membanjiri pasar domestik. Alhasil pada tahun 2013 lalu, KDSI hanya memproduksi 4,050 ton peralatan rumah tangga berlapis enamel, atau turun 12% dibanding tahun 2012. Tapi untungnya pemberlakuan ACFTA ini tidak berpengaruh terhadap bisnis kotak kertas karton yang juga dijalan perusahaan, dimana trend-nya tetap terus naik dalam lima tahun terakhir.
Dan mungkin karena itu pula, manajemen KDSI pada tahun 2013 lalu memutuskan untuk lebih fokus mengembangkan bisnis kardus, dimana mereka menginvestasikan Rp80 milyar untuk mendirikan pabrik kardus baru, yang akan meningkatkan kapasitas produksi dari 15,000 ton menjadi 29,000 ton kotak kertas karton per bulan. Pabrik baru tersebut pada saat ini sudah selesai dibangun dan juga sudah beroperasi, namun sepertinya belum bisa berkontribusi banyak terhadap peningkatan pendapatan dan laba perusahaan, dimana hingga Kuartal II 2014, laba KDSI hanya tumbuh 2.8%, meski pendapatannya 15.5%. Faktor penghambatnya kali ini adalah kenaikan harga bahan baku kertas karton untuk pembuatan kardus.
Berikut ini adalah beberapa poin lainnya yang penulis perhatikan dari KDSI.
  1. Dengan return on asset (ROA) yang hanya 3.9%, maka KDSI bukanlah perusahaan yang menguntungkan. Ketergantungan perusahaan akan bahan baku yang harus diperoleh dengan cara impor menyebabkan margin laba KDSI menjadi sangat tipis, yakni hanya sekitar 2 – 3%, meskipun pendapatannya terbilang sangat besar (lebih besar dari total aset perusahaan). Ini adalah salah satu kelemahan industri manufaktur di Indonesia, dimana banyak terdapat missing link dalam rantai industri itu sendiri. Sebagai contoh, Indonesia sebenarnya merupakan salah satu produsen kertas terbesar di dunia, namun kertas itu harus diekspor dulu keluar negeri untuk diolah menjadi kertas karton, kemudian baru diimpor lagi oleh KDSI. Seandainya ada perusahaan lokal yang bisa membuat kertas karton dalam skala besar (sebenarnya ada juga beberapa perusahaan lokal yang bisa mengolah limbah kertas menjadi kertas karton, tapi total kapasitas produksinya kecil sekali), maka KDSI bisa membeli bahan bakunya dengan harga yang lebih murah (dan tidak terlalu berfluktuasi) dari produsen lokal, sehingga margin labanya bisa lebih baik. Tapi sayangnya faktanya tidak demikian.
  2. Bisnis peralatan rumah tangga yang dijalani perusahaan selama ini ada kemungkinan bakal ditinggalkan sama sekali, karena digempur oleh dua masalah sekaligus: 1. ACFTA tadi, dan 2. Seretnya suplai bahan baku. Selama ini KDSI memperoleh bahan baku logam untuk membuat panci dari PT Krakatau Steel (KRAS), namun pihak KRAS sendiri akhir-akhir ini juga sering kehabisan barang, sehingga lagi-lagi KDSI harus impor.
  3. Manajemen KDSI bukanlah tipe manajemen yang terlalu agresif, dimana mereka biasanya hanya mentargetkan kenaikan pendapatan/laba bersih sebesar 10% saja per tahunnya, yang mungkin itu karena mereka, dengan mempertimbangkan faktor-faktor kesulitan diatas, lebih memilih untuk bersikap realistis. Untuk tahun 2014 ini memang ada kemungkinan kenaikan tersebut bisa lebih besar karena adanya pabrik baru, namun sekali lagi, lonjakan kenaikan tersebut sejauh ini belum kelihatan.
  4. Dalam lima tahun terakhir KDSI sukses membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih yang cukup konsisten meski, sekali lagi, persentase kenaikannya sama sekali tidak mengesankan. Pada tahun 2009, pendapatan KDSI tercatat Rp960 milyar, yang menjadi Rp1.4 trilyun pada tahun 2013, atau hanya naik total 44% setelah lima tahun. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis yang dijalani perusahaan, terutama bisnis kotak kertas karton, terbilang stabil dalam hal memperoleh pelanggan, namun rate pertumbuhannya hampir nol, karena ada kemungkinan bahwa kenaikan pendapatan tersebut hanya karena didorong oleh faktor inflasi (pendapatan perusahaan bisa naik karena KDSI menaikkan harga produk-produknya seiring inflasi, bukan karena peningkatan volume penjualan/omzet).
Nah, melihat fakta-fakta diatas, maka sulit untuk menyimpulkan bahwa KDSI ini layak untuk investasi. However, KDSI tetap dibahas di website ini karena alasan yang sudah disebut diatas: Dengan PER dan PBV yang masing-masing tercatat 4.0 dan 0.4 kali pada harga Rp369 per saham, maka KDSI ini sangatlah murah. Berdasarkan pengalaman, saham yang murah secara absolut (PBV-nya dibawah 1 kali, apalagi cuma 0.4 seperti KDSI ini) bisa naik bahkan melompat sewaktu-waktu jika laporan keuangannya menunjukkan peningkatan ekuitas atau laba bersih yang signifikan, katakanlah naik sampai 100% (dua kali lipat).
Dan karena KDSI baru saja meningkatkan kapasitas produksi kotak kertas kartonnya menjadi hampir dua kali lipat pada tahun ini, maka kemungkinan bahwa laba perusahaan bisa melompat sewaktu-waktu memang terbuka lebar, entah itu di Kuartal III nanti, atau periode berikutnya lagi. Okay, lompatan tersebut memang belum terjadi sejauh ini, dan itu sebabnya sahamnya pun belum kemana-mana (dan juga tidak likuid). Namun karena disisi lain saham KDSI ini juga sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi bahkan jika nanti IHSG terkoreksi dalam (karena sudah kelewat murah, sementara perusahaannya sendiri, meski bukan perusahaan yang terlalu bagus, namun juga tidak pernah terkena masalah apapun), maka saham ini cocok bagi anda yang bersedia untuk menunggu untuk bisa memperoleh jackpot suatu waktu nanti, tanpa perlu khawatir bakal nyangkut. Meski memang, karena masalah likuiditasnya, saham ini kurang cocok bagi anda dengan dana besar, kecuali jika anda mau membelinya secara menyicil (lalu kemudian menunggu).
So, wanna test your patience? Sekedar informasi yang mungkin sebagian dari anda juga sudah tahu, Pak Haiyanto (value investor kawakan yang seangkatan dengan Om Lo Kheng Hong) juga memegang saham KDSI sejak cukup lama, yakni sejak tahun 2011 atau mungkin lebih lama lagi, dalam jumlah yang cukup besar, yakni hampir mencapai 210 ribu lot (per 30 Juni 2014) atau setara Rp7.7 milyar berdasarkan harga Rp369 per saham. Menariknya, jumlah kepemilikan Pak Haiyanto ini kadang naik dan kadang turun, dimana kalau sewaktu-waktu saham KDSI naik (sekitar satu setengah tahun lalu KDSI sempat naik sampai 700-an), maka kepemilikan tersebut akan berkurang, dan kalau saham KDSI lagi turun seperti sekarang, maka kepemilikan tersebut akan bertambah. Got the point? Intinya, Pak Haiyanto ini sebenarnya trading juga, hanya saja menggunakan metode value investing dan dengan jangka waktu yang relatif panjang (ketika beliau ambil saham KDSI, jualnya bisa satu tahun kemudian). Dan kalau melihat fakta bahwa setiap kali KDSI ini naik maka kenaikannya selalu lebih tinggi dari sekedar 5 – 10%, maka tampak jelas bahwa ‘trading’ ala Pak Haiyanto ini, meski membutuhkan kesabaran ekstra dan juga sedikit repot (karena belinya gak bisa sekaligus, melainkan harus nyicil), namun senantiasa menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit, sementara disisi lain risikonya nyaris nol!
And that’s what we call, ‘the beauty of value investing’.
PT. Kedawung Setia Industrial, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2014: BBB
Rating Saham pada 369: AA

Pengumuman: Jadwal seminar investasi saham oleh Teguh Hidayat adalah sebagai berikut: Makassar (20 September 2014), Jakarta (27 September), dan Semarang (4 Oktober). Keterangan lebih lanjut

Seminar Value Investing: Makassar, Jakarta, dan Semarang

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, di tiga kota berbeda yakni Makassar, Jakarta, dan Semarang. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di kota yang bersangkutan. Dan berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:

  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
Makassar, Sulawesi Selatan:
  • Tempat: Hotel AviraJln. Adhyaksa Baru No.18A – C, Panakukkang, Makassar
  • Hari/Tanggal: Sabtu20 September 2014
Jakarta:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 September 2014
Semarang, Jawa Tengah:
  • Tempat: Hotel Pandanaran, Jln. Pandanaran No.58, Semarang
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 4 Oktober 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 waktu setempat (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Makassar/Jakarta/Semarang (sebutkan salah satu), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Jusuf Kalla, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta untuk setiap seminar.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4 (office hour [...]

Investor vs Broker: Can’t We Just be Friends?

Anda sudah nonton film The Wolf of Wallstreet? (Jika belum, nonton dulu sana). Film tersebut menceritakan tentang kisah karier Jordan Belfort, seorang broker/pialang saham di Pasar Saham Amerika (Wallstreet) pada tahun 90-an, yang sangat ahli dalam meyakinkan para nasabahnya untuk membeli dan menjual saham-saham tertentu, dimana ia kemudian memperoleh trading fee dari situ. Karena keahliannya tersebut ia sukses mendirikan perusahaan pialangnya sendiri, Stratton Oakmont, dan menjadi sangat kaya raya pada usia yang belum genap 30 tahun. Namun endingnya cukup ironis: Belfort ditangkap pihak berwajib karena ketahuan melakukan insider trading, yang menyebabkan kerugian nasabahnya hingga puluhan juta Dollar.


Poster Film ‘The Wolf of Wallstreet’. Sumber: imdb.com

Belfort bukanlah investor atau trader saham, dia adalah broker atau pialang saham (atau disebut juga equity sales). Ia meraup pendapatannya dari aktivitas jual beli saham yang dilakukan para nasabahnya. Dan dengan sedikit trik, ia juga bisa meraup keuntungan tambahan dari kerugian yang diderita nasabahnya, dengan cara menggoreng saham-saham penny yang membuat para investor membeli saham-saham penny tersebut pada harga tinggi. Istilah gampangnya, Belfort ini seorang bandar.
Namun hal itu (kerugian yang diderita nasabah) mungkin bukan sepenuhnya salah Belfort. Dalam film-nya, ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan sekuritas untuk pertama kalinya pada usia 22 tahun, Belfort (diperankan oleh Leonardo di Caprio) diajak makan siang oleh atasannya, dan mereka berdialog kurang lebih seperti berikut:
    Belfort: ‘Suatu kehormatan bagi saya untuk bekerja di perusahaan anda pak, apalagi disini saya bertemu     dengan banyak klien/nasabah yang merupakan orang-orang kaya dan penting…’
    Atasannya: ‘(Memotong) F**k the client. Tugasmu adalah memberikan keuntungan bagi perusahaan’
    Belfort: ‘Well, tapi itu bisa dilakukan sambil membantu nasabah untuk meraup keuntungan bukan?’
    Atasannya: ‘(Menggeleng) Ketika nasabah menjual sahamnya dan memperoleh untung, maka jangan           biarkan ia menarik keuntungan tersebut, tapi dorong dia untuk membeli saham yang lain lagi, dan lagi.. Dia     mungkin akan meraup keuntungan atau menderita kerugian karenanya, bahkan kalaupun dia untung maka       keuntungan itu hanya diatas kertas. Yapi yang terpenting, kita akan memperoleh trading fee, tunai!’
Melihat adegan film tersebut, penulis jadi ingat kejadian di tahun 2011 lalu dimana saya ditawari untuk bekerja sebagai pialang di sebuah sekuritas. Ketika penulis bertemu dengan orang yang akan menjadi atasan penulis (jika saya jadi bekerja disitu), dia juga bilang begini, ‘Tugas kamu kamu adalah mendorong nasabah untuk trading, trading, dan trading lagi. Karena pendapatan kita berasal dari situ’. Ketika itu, berhubung penulis juga sudah menjadi seorang investor, penulis berpikir dalam hati: ‘Jadi tugas kita sebagai pialang, alih-alih membantu nasabah untuk memperoleh keuntungan dari investasinya, kita justru harus mendorong nasabah untuk mengeluarkan biaya karena sering melakukan jual beli saham, tak peduli dia untung atau tidak?’
Dua detik kemudian, saya memutuskan untuk tidak jadi bekerja disitu.
Sayangnya ketika penulis ketemu dengan beberapa kenalan dari sekuritas lain, ternyata cara kerja mereka juga sama begitu: Dorong nasabah untuk trading sesering mungkin. Sudah tentu, para pialang ini tidak serta merta mengatakan kepada nasabahnya, ‘Pak, trading dong! Biar saya dapat komisi nih!’, melainkan, ‘Pak, ada saham bagus nih. Chart-nya bagus, potensi upside sekian persen, risiko terbatas! Mau beli nggak? Berapa lot? Wah, tapi cash-nya kurang, jadi saham apa dulu yang mau dijual nih? Okay, mau pake margin nggak?’ Yap! Pialang dituntut (oleh perusahan sekuritas tempat ia bekerja) untuk memberikan rekomendasi saham, kalau bisa setiap hari, kepada para nasabahnya, dengan harapan nasabah tersebut menjual saham yang ia pegang sebelumnya, lalu menggunakan uangnya untuk membeli saham yang direkomendasikan. Atau dengan kata lain, melakukan trading. Dengan cara inilah, si nasabah tidak akan merasa bahwa ia sebenarnya sedang ‘beramal’ untuk pihak sekuritas. Malah justru, ia akan merasa senang bisa memperoleh informasi/rekomendasi saham gratis, setiap hari pula, apalagi jika saham yang ia beli kemudian naik.
Jadi ketika seorang investor sudah menjadi kecanduan untuk trading saham, apalagi sampai setiap hari, maka ketika itulah sang pialang boleh dikatakan telah meraup kesuksesan.
However, cara kerja pialang yang seperti itu dapat dipahami. Investor manapun, bahkan termasuk Warren Buffett sekalipun, bisa menderita kerugian setiap saat. Jadi jika pendapatan pialang berasal dari keuntungan atau profit sharing dari nasabahnya (sehingga si pialang akan membantu nasabahnya untuk menperoleh cuan sebanyak-banyaknya), lalu bagaimana jika nasabahnya tersebut merugi? Karena itulah, sekuritas menciptakan sistem dimana mereka bisa tetap memperoleh pendapatan baik dalam kondisi si nasabah meraup keuntungan ataupun menderita kerugian, yakni dengan menerapkan trading fee. Dan itu adalah pendapatan yang legal, karena dimana-mana yang namanya ‘perantara’ itu memang berhak atas sejumlah komisi atas jasa perantara yang mereka berikan. Selain itu ketika seorang investor menderita kerugian, maka itu juga bukan salah pialangnya, karena tidak pernah ada seorang pialang pun yang dengan sengaja menjeremuskan nasabahnya agar menderita kerugian (apa untungnya? Toh mau nasabah untung atau rugi, si pialang hanya akan dapet trading fee), kecuali jika dia jadi bandar seperti Jordan Belfort tadi.
Namun ketika seorang pialang terjebak pada kalimat, ‘peduli amat nasabah untung atau rugi, yang penting saya dapet fee!’, maka, diakui atau tidak, itu bukanlah cara berbisnis yang baik. Seorang teman penulis yang merupakan fund manager di Dana Pensiun Angkasa Pura pernah bilang begini, ‘Meski keputusan untuk membeli atau menjual tetap ada di tangan nasabah, namun pialang atau broker saham itu seharusnya juga bisa menjadi fund manager bagi nasabahnya, dalam hal sama-sama berusaha untuk memperoleh keuntungan dari investasi yang dilakukan. Investor paruh waktu mungkin kurang memperhatikan soal apakah pialangnya membantunya atau tidak, namun bagi investor profesional seperti kami, kami bisa membedakan pialang mana yang hanya peduli soal trading fee, dan pialang mana yang benar-benar berusaha membantu kami. Dan sudah tentu, kami lebih menyukai pialang yang disebut terakhir.’
Jadi sebagai pialang, apa yang harus saya lakukan? Well, sebenarnya sederhana saja, yakni: Jangan lagi menganggap klien/nasabah anda sebagai ‘mesin uang’, melainkan partner bisnis yang, seperti halnya anda, juga berhak untuk memperoleh keuntungan dari kerjasama yang dilakukan, dalam hal ini ketika mereka membuka rekening di tempat anda. Anda harus memiliki visi yang sama dengan kami, yakni: Untuk meraup keuntungan dari kegiatan investasi yang dilakukan, dan bukan untuk tik tok tik tok gak jelas. Ketika anda memberikan rekomendasi saham kepada kami, maka itu haruslah rekomendasi yang berkualitas, dan bukan asal rekomendasi agar kami melakukan trading.
Dan kalau anda perhatikan, tidak benar bahwa mau nasabah untung atau rugi, maka si pialang tetap memperoleh fee. Yang benar adalah, jika nasabah mengalami rugi, maka trading fee yang diperoleh akan jadi kecil karena nilai dana yang dipakai untuk jual beli saham menjadi berkurang bukan? Kalau si nasabah ini rugi terus, maka lama-lama dana dia akan habis, dan tidak bisa trading lagi. Tapi jika nasabah untung, maka fee yang anda terima juga akan naik karena jumlah dana yang dipakai menjadi bertambah, termasuk si nasabah juga kemungkinan besar akan menyetor dana lagi.
Mitos lainnya yang mungkin dipercaya oleh sebagian equity sales adalah bahwa investor jangka panjang tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi mereka, karena mereka jarang sekali trading. Padahal faktanya, bahkan Warren Buffett pun dari duluuu sampai sekarang, setiap tahunnya selalu membeli saham tertentu (kecuali di tahun 1999 ketika terjadi dot com bubble) dan iapun sesekali menjual saham tertentu. Artinya? Ia selalu menghasilkan komisi bagi pialangnya! Coba anda pikirkan, ketika kemarin Buffett membeli IBM senilai total kurang lebih US$ 10 milyar, maka berapa fee-nya??? Ambil 0.07% saja (ini adalah rata-rata komisi bersih bagi pialang di Indonesia, setelah dipotong bagian perusahaan sekuritas, BEI, KSEI, KPEI, dan pajak), maka itu artinya US$ 7 juta! Maksud penulis adalah, lebih baik anda memegang nasabah besar yang sekali pencet tombol buy bisa menghasilkan komisi jumbo, daripada nasabah kecil yang harus didorong untuk trading setiap hari agar komisi anda terasa berarti.
However, anda tidak akan bisa meng-handle nasabah besar kecuali jika anda memiliki reputasi bahwa anda memang benar-benar membantu nasabah untuk memperoleh keuntungan, atau jika anda sukses membantu nasabah anda yang tadinya kecil menjadi besar dengan sendirinya. Penulis kenal beberapa pialang sukses yang menghasilkan ratusan juta Rupiah setiap bulannya, dan itu adalah karena mereka memegang klien-klien besar, seperti investor institusi, atau investor individu yang full time. Kenapa para klien besar ini mau dipegang oleh mereka? Ya karena para pialang ini memang sangat mengerti soal saham (ini mungkin perlu digaris bawahi, soalnya penulis pernah juga ketemu dengan pialang yang bahkan gak tahu dimana harus mencari laporan keuangan perusahaan!), sudah sangat berpengalaman, mampu membantu nasabah untuk menghasilkan keuntungan yang riil, dan yang terpenting: Mampu menjadi teman bagi nasabah! Karena, investor seringkali tidak butuh rekomendasi saham, melainkan hanya teman untuk curhat dan minta saran jika ia kebetulan sedang nyangkut. Pialang yang baik adalah yang mampu memberikan counseling bagi para nasabahnya, dimana mereka bisa membesarkan hati para investor ketika pasar saham sedang anjlok, dan sebaliknya, mengingatkan investor agar realistis dan tidak serakah ketika pasar sedang naik tinggi. Jika anda ikut-ikutan panik ketika nasabah anda panik, atau sebaliknya ikut-ikutan serakah ketika nasabah anda serakah, maka itu seperti dokter yang ketika didatangi pasien, ia bukannya mengobati tapi malah ikut jatuh sakit. Dan sudah tentu, anda tidak akan menjadi pialang besar dengan cara seperti itu.
Contoh pialang yang sukses karena menerapkan metode ‘menjadi teman’ bagi kliennya adalah Chris Gardner. Dalam film berjudul ‘Pursuit of Happyness’, Gardner, yang diperankan oleh Will Smith, dengan sengaja datang ke rumah seorang fund manager besar untuk menawari membuka rekening di Dean Witter Reynolds, perusahaan pialang tempat Gardner bekerja (sementara teman-teman broker lainnya hanya menghubungi calon klien potensial melalui telepon). Gardner juga memenuhi ajakan si fund manager yang akan membawa anaknya untuk menonton pertandingan base ball, meski ia sebenarnya tidak menyukai base ball. Sepanjang pertandingan, Gardner lebih banyak bicara soal pertandingannya itu sendiri, termasuk mengobrol dengan si anak, ketimbang ngoceh soal saham. Hasilnya, ia sukses besar, hingga beberapa tahun kemudian mampu mendirikan perusahaan pialangnya sendiri.
Tidak banyak pialang yang bisa menjadi teman bagi klien-nya, dan kalaupun ada, terkadang si pialang ini bukanlah teman yang baik (baca: tidak cukup mengerti soal saham, sehingga nasabahnya tidak bisa meminta advice apapun). Seorang kawan baik penulis, Pak Gunawan pemilik blog Anggun Trader, beliau adalah trader tulen dengan kepemilikan dana yang tidak sedikit, dan beliau pernah ngomong begini, ‘Saya paling males kalau buka rekening di sekuritas besar, karena direkturnya sulit sekali ditemui dan terkesan sombong, sementara saya cuma dikasih sales anak muda yang bisa saya kontak sewaktu-waktu, padahal dia nggak ngerti apa-apa. Kalau di sekuritas kecil, direkturnya biasanya lebih friendly dan tidak sulit untuk ditemui atau diajak makan siang. Dan sebagai trader, itu saja yang saya butuhkan.’
Penulis sendiri, ketika dulu pertama kali membuka rekening di sekuritas tidak pernah memperhatikan soal ini. Namun sekarang, sekuritas yang saya pilih bukanlah karena sistemnya bagus, fee-nya murah, atau semacamnya, melainkan karena salesnya merupakan kawan baik penulis dimana penulis merasa nyambung setiap kali berdiskusi soal saham dengannya, dan dia selalu available setiap kali penulis membutuhkan bantuan tertentu. Itu saja!
So, mari kita runut lagi kriterianya. Untuk menjadi pialang yang sukses, anda harus: 1. Menjadi partner bisnis yang memiliki visi yang sama dengan nasabah, yakni untuk memperoleh keuntungan dan sama-sama bertumbuh menjadi besar, 2. Memiliki pengetahuan yang luas tentang saham agar nasabah bisa konsultasi, termasuk memiliki ketenangan agar nasabah bisa counseling, dan 3. Mampu menjadi seorang teman. Terdengar sulit? Well, sebenarnya tidak juga, karena kami sebagai investor juga memiliki kesulitan yang sama untuk mengerjakan analisis, mengelola portofolio, dll. Tidak mudah bagi kami untuk terus berupaya memperoleh keuntungan, sembari diwaktu yang bersamaan menjaga agar tidak kebobolan (baca: rugi). Intinya, semua profesi di pasar modal memiliki tantangannya masing-masing, demikian pula profesi-profesi lainnya yang ada di dunia, dimana kita dituntut untuk bekerja seperti yang memang seharusnya, jika kita ingin menjadi besar.
Hmm, penulis kira sudah cukup. Ada yang mau menambahkan?

Untuk memperoleh rekomendasi sekuritas/broker yang berkualitas (yang selama ini saya pakai), silahkan kirim email kosong ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Rekomendasi [...]

Seminar Value Investing, Makassar

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Makassar dan sekitarnya. Berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi Value Investing
Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!

Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel AviraJln. Adhyaksa Baru No.18A – C, Panakukkang, Makassar
  • Hari/Tanggal: Sabtu20 September 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WITA.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan siang, dan coffee break.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30.
Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Makassar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Jusuf Kalla, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.

Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.

Update: Hingga hari Selasa, tanggal 2 September, seminarnya sudah terisi 6 kursi, jadi masih tersedia 24 kursi [...]

Outlook Sektor Sawit: Antara Harga CPO dan Biodiesel

Setelah sempat turun sedikit pada bulan Mei – Juni kemarin, sepanjang dua bulan terakhir IHSG terus naik hingga terakhir ditutup di posisi 5,199. Jika trend-nya begini terus, maka sepertinya cuma soal waktu saja sebelum IHSG akan kembali mencatat new high, dimana posisi tertinggi yang pernah diraih IHSG selama ini adalah 5,251, yang dicapai pada Mei 2013 lalu. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang, maka hampir semua saham tampak naik signifikan. Meski demikian, saham-saham di sektor perkebunan kelapa sawit justru turun rata-rata 10% dalam dua bulan terakhir, padahal kinerja mereka pada Kuartal II 2014 terbilang bagus dengan perolehan laba yang naik signifikan. What’s wrong?

Jika anda yang sudah terbiasa bermain dengan saham-saham komoditas, maka anda akan dengan mudah mengetahui bahwa penyebab penurunan saham-saham perkebunan kelapa sawit adalah karena penurunan harga minyak sawit mentah, atau lebih dikenal dengan CPO (crude palm oil). Berdasarkan data dari Bursa Malaysia, harga terakhir CPO adalah RM1,987per ton, dan menariknya, ini adalah harga terendah sejak tahun 2009. Pada pertengahan Juli kemarin, harga CPO masih berada di level RM2,400-an per ton, sebelum kemudian tiba-tiba saja turun terus hingga ke posisinya saat ini, atau anjlok lebih dari 15% hanya dalam tempo sebulan. Jika ditarik dari harga tertingginya sepanjang tahun 2014, yakni RM2,910 per ton (yang dicapai pada Maret lalu), maka harga CPO sudah turun lebih dari 30%, dan kelihatannya masih akan terus turun.
Lalu apa yang menyebabkan penurunan tersebut? Beberapa analis dan media menyebut bahwa hal itu disebabkan oleh meningkatnya volume produksi CPO, yang itu berarti meningkatnya supply, sementara disisi lain volume penjualan CPO, dalam hal ini volume ekspor CPO dari Indonesia dan Malaysia (sebagai dua produsen CPO utama dunia) ke seluruh dunia, malah turun, yang mungkin itu karena menurunnya demand. Dan memang kalau kita pakai data milik PT Astra Agro Lestari (AALI), salah satu perusahaan sawit terbesar di Indonesia ini memproduksi 973 ribu ton CPO sepanjang Januari – Juli 2014, atau naik 16.6% dibanding periode yang sama tahun 2013. Sementara berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total volume ekspor CPO asal Indonesia pada periode Januari – Juni 2014 tercatat 9.8 juta ton, atau turun 7.7% dibanding periode yang sama tahun 2013.
However, kenaikan produksi CPO yang sebenarnya tidak terlalu menonjol (kurang dari 20%), sementara penurunan volume ekspor yang terjadi juga tidak signifikan, maka hal ini kurang bisa menjustifikasi penurunan harga CPO yang mencapai lebih dari 15% hanya dalam sebulan terakhir. Dan ternyata, kalau kita perhatikan pola pergerakan harga CPO dalam jangka panjang, maka harga CPO ini (dan mungkin juga harga komoditas lainnya) cenderung bergerak liar tanpa pola yang jelas, dan dengan fluktuasi yang ekstrim. Gambar chart berikut akan menjelaskan pergerakan harga CPO dalam 10 tahun terakhir (Juli 2004 – Juli 2014), chart diambil dari www.indexmundi.com, klik gambar untuk memperbesar:

Nah, perhatikan bahwa selama periode dua tahun antara Juli 2004 – Juli 2006, harga CPO cenderung bergerak mendatar di rentang RM1,300 – 1,500 per ton. Memasuki paruh tahun kedua di 2006, harga CPO mulai bergerak naik.. dan terus naik hingga mencapai puncaknya di RM3,700 pada Februari 2008, atau melejit sekitar 150% dalam tempo satu setengah tahun, padahal selama dua tahun sebelumnya harga CPO sama sekali tidak bergerak kemana-mana. Kemudian, pada bulan Juni 2008, harga CPO tiba-tiba saja anjlok hingga balik lagi ke RM1,500 per ton pada bulan November, masih di tahun  yang sama!
Jadi jika ada seseorang yang menganalisis pergerakan harga CPO selama empat setengah tahun antara Juli 2004 hingga awal tahun 2009, maka ia akan menemukan fakta bahwa harga CPO pada akhirnya sama sekali tidak berubah sepanjang periode waktu yang cukup lama tersebut, yakni tetap di RM1,500-an per ton, namun harga CPO ini pernah naik dengan sangat ekstrim hingga RM3,700 per ton, sebelum kemudian balik lagi ke posisi harga semula. Mirip pergerakan saham gorengan bukan?
Memasuki tahun 2009, harga CPO sekali lagi terus bergerak naik hingga mencapai puncaknya yakni RM3,800-an pada awal tahun 2011, dan penulis bisa melihat sendiri bahwa pada periode dua tahun tersebut (karena pada tahun 2009, saya sudah masuk pasar), perusahaan-perusahaan sawit di tanah air kembali meraup keuntungan yang luar biasa. Namun sejak awal tahun 2011, harga CPO kembali turun hingga mentok di RM2,200-an per ton pada awal 2013, sebelum kemudian sempat bergerak naik hingga menyentuh RM2,900-an pada Maret 2014, dan turun kembali hingga saat ini sudah dibawah RM2,000 per ton.
Melihat fakta diatas, sulit untuk mengatakan bahwa harga CPO bisa secara sederhana dipengaruhi oleh peningkatan volume produksi, atau menurunnya volume ekspor. Karena tentunya, selama 10 tahun terakhir, volume produksi maupun ekspor CPO bisa naik dan turun setiap saat, namun seberapa ekstrim sih kenaikan/penurunan tersebut hingga menyebabkan harga CPO terbang hingga lebih dari 150% dari tahun 2009 hingga 2011? Atau sebaliknya, menyebabkan harga CPO anjlok dari tahun 2011 hingga tinggal hampir separuhnya pada saat ini? Pada akhirnya, ada banyaaaaak sekali faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan/penurunan harga CPO diluar sekedar masalah supply and demand, seperti kabar soal El Nino, perkembangan proyek biodiesel, naik turunnya harga dari komoditas pengganti (minyak kedelai, minyak jagung, dll), kebijakan bea ekspor impor oleh India dan Tiongkok sebagai tujuan utama ekspor CPO asal Indonesia, perkembangan pajak di tanah air, dan seterusnya.
Saking banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut, maka anda pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa pergerakan harga CPO tidak bisa diprediksi, karena memang pergerakannya seperti saham gorengan yang tidak ada polanya, sehingga tidak bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal (dengan melihat chart-nya) apalagi fundamental (faktor supply and demand). Diatas penulis menyebutkan bahwa harga CPO mungkin masih bisa turun, namun siapa yang tahu bahwa pada akhir tahun 2014 ini, harga CPO mungkin malah bakal balik lagi ke RM3,000 per ton?
Karena itulah, seperti yang sudah anda ketahui, Buffett kurang suka saham-saham komoditas, karena harganya mudah naik dan turun tergantung dari harga komoditasnya itu sendiri, sementara harga komoditas tersebut bisa naik dan turun kapan saja, seringkali dengan fluktuasi yang ekstrim. Tapi pertanyaannya sekarang, jika saya sudah terlanjur masuk ke saham-saham perkebunan, maka apa yang harus saya lakukan? Well, dalam hal ini ada beberapa hal yang mesti anda perhatikan.
Kondisi Industri Sawit di dalam Negeri, pada Saat ini
Pertama, entah bagaimana dengan perusahaan-perusahaan sawit lainnya, namun tiga perusahaan sawit dengan fundamental terbaik di BEI yakni Astra Agro Lestari (AALI), PP London Sumatera (LSIP), dan Sampoerna Agro (SGRO), selama tahun 2014 ini memperoleh seluruh pendapatannya dari pasar dalam negeri, alias tidak melakukan ekspor sama sekali. Hal inilah yang menyebabkan harga jual CPO dari ketiga perusahaan tersebut tidak lagi terlalu dipengaruhi oleh harga CPO internasional yang di Malaysia itu, meski memang pengaruh tersebut tetap ada. Sebagai ilustrasi, harga rata-rata CPO yang dijual AALI pada Januari – Juni 2014 adalah Rp8,700 per kg, naik 31.5% dibanding periode yang sama tahun 2013, dan masih lebih tinggi dibanding harga rata-rata CPO sepanjang tahun 2013, yakni Rp7,322 per kg. Dan terakhir, berdasarkan data dari Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan Nusantara (KPBPTPN), harga CPO untuk lelang tanggal 22 Agustus berada di level Rp7,940 per kg, atau sekali lagi, masih lebih tinggi dibanding harga rata-rata tahun 2013.
Padahal, seperti yang sudah disebutkan diatas, saat ini harga CPO di Bursa Malaysia sudah lebih rendah dibanding harga tahun 2009. Pada tahun 2009, tepatnya di bulan Maret ketika harga CPO di Bursa Malaysia tercatat sekitar RM2,000 per ton, harga CPO yang dijual AALI adalah Rp7,000 per kg (berdasarkan data lelang saat itu). Namun pada hari ini, ketika harga CPO di Bursa Malaysia kembali berada di kisaran RM2,000 per ton, harga CPO di Indonesia masih berada di kisaran Rp8,000 per kg.
Makanya, jika anda perhatikan, pada Semester Pertama 2014 volume penjualan CPO milik AALI sebenarnya turun 10.3% dibanding periode yang sama tahun 2013 karena mereka menghapuskan penjualan ekspor, namun pendapatan perusahaan tetap naik signifikan karena kenaikan harga jual CPO yang mencapai lebih dari 30%, dan karena adanya pendapatan tambahan dari penjualan olein. AALI berani menghentikan ekspor karena mereka sudah mulai bisa mengolah CPO-nya menjadi produk dengan nilai tambah/produk hilir, dalam hal ini olein. Sementara perusahaan sawit lainnya, LSIP, juga tidak perlu melakukan ekspor karena bisa menjual CPO ke induknya, Salim Ivomas Pratama (SIMP), untuk juga diolah menjadi produk hilir, dalam hal ini margarin. Lalu, SGRO, jika perusahaan sawit milik Grup Sampoerna ini pada tahun 2013 lalu harus menjual sebagian CPO-nya ke Cargill di Singapura (alias ekspor), maka pada tahun ini perusahaan bisa menjual seluruh CPO-nya ke pelanggan di dalam negeri, yang kemungkinan juga diolah menjadi produk hilir. Kondisi seperti ini belum terjadi pada 3 – 5 tahun yang lalu, dimana pada saat itu boleh dibilang seluruh perusahaan sawit di Indonesia langsung menjual CPO-nya tanpa mengolahnya terlebih dahulu, karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mengolah CPO menjadi olein atau margarin.
Kesimpulannya, penulis termasuk yang optimis bahwa penurunan harga CPO di Bursa Malaysia tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan sawit di Indonesia, khususnya perusahaan-perusahaan sawit yang disebut diatas, karena kondisinya saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu, dimana industri sawit di dalam negeri sudah lebih mandiri.
Harga CPO di Bursa Malaysia bisa Rebound Kapan Saja
Itu yang pertama. Yang kedua, meski harga CPO di Bursa Malaysia (atau di Rotterdam) mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja perusahaan sawit di dalam negeri, namun harus diakui bahwa pengaruh tersebut tetap ada, dimana perusahaan sawit tetap melirik harga di Malaysia dalam menentukan harga jual CPO di pasar dalam negeri. Buktinya harga CPO di pasar lelang dalam negeri tetap turun ketika harga CPO di Malaysia turun (meski penurunannya tidak sedrastis yang di Malaysia). Jadi jika harga CPO di Malaysia kembali melanjutkan penurunannya, maka pendapatan AALI dkk mau tidak mau akan terkena imbasnya juga. Selain itu bagi investor asing yang memegang saham-saham perkebunan di BEI, yang mereka lihat ya cuma harga CPO di Malaysia, karena mereka nggak tahu apa itu KPBPTPN (dan jangan-jangan anda juga nggak tahu?).
Karena itulah, pelemahan saham-saham CPO yang terjadi sebulan terakhir ini bisa berlanjut jika harga CPO di Bursa Malaysia kembali turun. Tapi disisi lain, bagaimana jika nanti harga CPO rebound? Yaaa saham-saham sawit juga akan naik kembali. Memang, kalau kita perhatikan lagi chart diatas, setiap kali harga CPO turun, maka penurunannya biasanya nggak tanggung-tanggung, seperti saat ini sudah turun 30% dibanding posisi puncaknya bulan Maret kemarin. Namun kapan penurunan tersebut akan berhenti untuk kemudian rebound, itu tidak ada seorangpun yang tahu.
Dan menariknya, sekali lagi kalau kita perhatikan chart diatas, seperti halnya penurunannya yang seperti terus menerus tanpa jeda (sebulan terakhir ini harga CPO terus turun setiap hari, tanpa pernah naik satu hari pun), maka ketika nanti gilirannya harga CPO ini naik, kenaikannya pun akan secara terus menerus tanpa jeda! Makanya diatas penulis mengatakan bahwa siapa yang tahu, kalau pada akhir tahun 2014 ini harga CPO bisa naik lagi ke RM3,000 per ton? CPO biar bagaimanapun merupakan komoditas yang masih sangat diperlukan oleh seluruh penduduk dunia, termasuk Indonesia (anda mau goreng ayam pake apa kalau gak ada minyak goreng, yang dibuat dari CPO ini?). Jadi mau sedalam apapun penurunannya, namun pada akhirnya nanti dia akan rebound dan naik kembali.
Kesimpulannya, dengan mempertimbangkan bahwa industri sawit di tanah air sudah tidak lagi terlalu bergantung pada harga CPO di pasar intenasional, dan bahwa harga CPO (di Bursa Malaysia) bisa kembali naik kapan saja, maka keputusan untuk menjual saham sawit yang anda pegang mungkin merupakan keputusan yang keliru (penulis menerima cukup banyak email yang menanyakan soal ini). Pada akhirnya, di tahun 2014 ini para emiten sawit mencatatkan kinerja yang cukup baik, dimana kalaupun pada Kuartal III nanti kinerja mereka sedikit tertekan karena penurunan harga CPO, namun seharusnya perolehan laba AALI dkk masih akan tampak naik dibanding tahun 2013.
New Project: Biodiesel!
Tapi memang, karena disisi lain kita juga nggak tahu kapan penurunan harga CPO ini akan berhenti, maka anda mungkin bisa keluar dulu setidaknya sebagian, tapi jangan lupa untuk terus mencari peluang untuk masuk kembali jika nanti dikasih harga bawah. Penulis masih menganggap bahwa sektor sawit sangat menarik karena, diluar fakta bahwa kinerja para emiten sawit mulai membaik pada tahun 2014 ini, terpilihnya Jokowi – Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI untuk lima tahun kedepan memberikan sentimen positif bahwa proyek konversi CPO menjadi biodiesel untuk pengganti BBM, yang sudah dicanangkan Pemerintah sejak lama namun realisasinya jalan ditempat (yang mungkin karena Pak SBY sudah terlalu sibuk mengerjakan banyak proyek lainnya, sementara Pak Boediono, apalagi para menteri-menteri dibawahnya, dengan segala hormat, tidak bisa apa-apa), akan bisa kembali dikebut. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Pak JK punya track record meyakinkan ketika ia dulu bisa dengan cepat mengeksekusi konversi penggunaan minyak tanah ke gas. Jadi dengan kembalinya beliau ke kursi Wakil Presiden, maka terhadap harapan yang besar bahwa proyek biodiesel ini juga bisa dengan cepat dikerjakan (masih ingat slogan ‘lebih cepat, lebih baik’?), karena disisi lain proyek tersebut juga sudah sangat urgent agar Pemerintah punya alternatif ketimbang terus menerus mengimpor BBM, sehingga pada akhirnya bisa mengurangi beban APBN gara-gara subsidi BBM. Pak Dhe Jokowi sendiri, dalam salah satu debat capres beberapa waktu lalu, sempat menyatakan bahwa salah satu fokusnya jika terpilih sebagai Presiden adalah mengembangkan sumber energi terbarukan, dalam hal ini memerintahkan Pertamina untuk membuka pasar untuk biofuel/biodiesel, dan memberi insentif kepada perusahaan-perusahaan sawit yang mau mengembangkan industri biodiesel tersebut. Jika melihat fakta bahwa AALI dkk sudah bisa mengembangkan olein dan margarin, maka industri sawit di tanah air tinggal memerlukan sedikit support dari Pemerintah, entah itu dalam bentuk insentif pajak atau semacamnya, untuk kemudian mulai mengembangkan proyek biodiesel.
Dan jika proyek biodiesel ini bisa terealisasi sepenuhnya (sudah ada beberapa perusahaan produsen biodiesel di Indonesia, namun jumlahnya belum banyak), maka harga BBM tidak perlu dinaikkan, APBN terselamatkan, sementara para perusahaan sawit di tanah air bisa terus menggenjot volume produksinya tanpa khawatir bahwa harga CPO di pasar internastional akan turun karena oversupply, karena seluruh produksi CPO tersebut akan diserap untuk kebutuhan pembuatan biodiesel di dalam negeri. Dan terakhir: Pertumbuhan ekonomi RI secara keseluruhan bisa dipastikan akan kembali menanjak. Semua senang, semua menang! Lalu kapan semua ini akan terealisasi? Yah mudah-mudahan, secepatnya.
Pengumuman: Buletin Analisis & Rekomendasi saham bulanan edisi September 2014 akan terbit tanggal 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Seminar Value Investing, Medan

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Medan, Sumatera Utara, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Kota Medan dan sekitarnya. Berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Bagaimana cara mengaplikasikan value investing secara cepat dan mudah dalam kegiatan investasi.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!

Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel Swiss-BelinnJln. Surabaya No.88, Kota Medan.
  • Hari/Tanggal: Sabtu30 Agustus 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan siang, dan coffee break.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30.

Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Medan, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Anton Medan, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB [...]

Cara Membangun ‘Passion’ dalam Berinvestasi

Pada hari Minggu ini, berhubung ibunya anak-anak mengajak dua jagoan kami menonton lomba Agustusan, sementara penulis sendiri kurang tertarik untuk ikut lomba panjat pinang atau semacamnya, maka jadilah saya diam saja dirumah, dan mengisi waktu dengan membaca-baca berbagai macam tulisan di internet. Selain membaca segala sesuatu tentang dunia finansial khususnya tentang investasi di pasar saham, penulis juga menyukai sepakbola, kuliner, dan terutama: Sejarah. Jika ada kelas ujian dimana penulis harus menyebutkan siapa saja nama-nama Kaisar dari Dinasti Han di Tiongkok, maka saya akan bisa menjawabnya dengan lengkap, mulai dari Kaisar Gaozu sebagai pendiri dinasti, hingga terakhir Kaisar Xian. Nah, dari sinilah penulis kemudian punya ide untuk menulis artikel ini, yang mudah-mudahan bisa memberi anda sedikit inspirasi.

Semuanya dimulai sejak penulis menyukai sejarah. Entah sejak saya menyukai sejarah, namun membaca sejarah sangatlah menyenangkan. Anda akan merasa seolah-olah sedang terbang menjelajah dan melintasi ruang dan waktu, untuk melihat semua tempat, peristiwa, dan kejadian, mulai dari berkuasanya Raja Menes di Mesir pada 3000 tahun Sebelum Masehi, hingga mendaratnya pasukan sekutu di Omaha Beach di Normandy pada peristiwa Perang Dunia kedua di tahun 1944. Bahkan hanya dengan membaca tulisan sejarah saja, apalagi jika dilengkapi gambar-gambar dan video, maka anda akan bisa berimajinasi, dan membayangkan bagaimana suatu peristiwa sejarah terjadi. Pengalaman seperti ini adalah hampir sama menyenangkannya dengan pergi berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah anda kunjungi sebelumnya, seperti berpetualang keliling dunia, tapi bahkan lebih hebat lagi karena anda tidak hanya menjelajah dunia, tapi juga menjelajah waktu hingga ke masa lalu.

Dan sebagai investor di pasar modal, hobi ‘berpetualang’ ini ternyata memberikan banyak sekali keuntungan, contohnya:
1. Membuat anda awet muda
Apakah anda merasa bahwa semakin anda dewasa, maka semakin cepat waktu berjalan? Ternyata itu ada penjelasannya, yakni: Waktu akan terasa cepat berjalan jika kita mengalami peristiwa atau menjalani rutinitas yang itu itu saja, yang sudah sering kita lakukan sebelumnya. Ketika seorang bayi terlahir ke dunia hingga ia tumbuh menjadi seorang anak kecil, ia akan mengalami banyaaaaaak sekali hal-hal yang baru, yang ia belum pernah alami sebelumnya, seperti belajar berjalan, berbicara, minum susu, makan nasi dengan lauk pauknya, dan seterusnya. Hampir setiap peristiwa yang dialami oleh seorang balita adalah merupakan peristiwa yang baru ia alami untuk pertama kalinya, dan itu sebabnya usia nol sampai dengan enam tahun merupakan periode terpanjangdalam kehidupan seorang manusia.
Memasuki usia 6 tahun, seorang anak mulai menjalani sebuah rutinitas, dalam hal ini berangkat sekolah dan lain-lain, namun ia tetap akan mengalami banyak peristiwa dan pengalaman yang baru, seperti untuk pertama kalinya merasa suka kepada lawan jenis ketika sudah berusia belasan tahun. Pada rentang usia enam hingga dua puluh satu tahun, seseorang akan mengalami kombinasi dari peristiwa-peristiwa baru, sekaligus rutinitas yang sama yang harus ia jalani, dimana rutinitas ini menyebabkan waktu berjalan lebih cepat. Alhasil, sebagian besar orang akan merasa bahwa lamanya waktu ketika ia berusia antara 6 – 21 tahun, adalah kurang lebih sama lamanya dengan ketika ia berusia 0 – 6 tahun.
Ketika seseorang beranjak dewasa, maka ia akan mengalami lebih banyak lagi rutinitas, seperti harus kekantor tiap hari, kejebak macet tiap hari, ketemu orang-orang yang sama setiap hari, dan seterusnya. Pada periode inilah seseorang, jika ia tidak mencoba melakukan hal-hal yang baru melainkan terus tenggelam dalam rutinitasnya,  akan mulai merasa bahwa waktu berjalan sangat cepat dan membosankan.
Dan jika waktu sudah terasa berjalan terlalu cepat, maka anda juga akan menjadi lebih cepat tua meski sejatinya, secara usia, anda mungkin masih relatif muda.
Nah, untuk mencegah hal itu terjadi, maka anda bisa melakukan hal-hal yang baru setiap hari, atau paling tidak setiap minggu, setiap bulan, atau minimaaaaaal setiap tahun! Contohnya? Jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah anda kunjungi di kota tempat anda tinggal, mencoba restoran baru, nginep di hotel (biar ada variasi, masa tidur di rumah mulu), ketemu orang yang belum pernah anda temui sebelumnya (ini sering sekali penulis lakukan), dan seterusnya. Jika anda punya budget ekstra, maka boleh keliling Indonesia, keliling dunia, termasuk mencoba sate serangga di Vietnam, atau melihat kawanan singa di Afrika Selatan. Dan seterusnya.
Daaan jika anda tidak punya cukup waktu untuk melakukan itu semua, maka anda bisa berpetualang dengan cara membaca. Membaca apa? Ya apa saja! Dengan adanya internet, maka anda tidak perlu lagi repot datang ke toko buku untuk membaca. Pokoknya bacalah sesuatu yang baru, tontonlah video yang belum pernah anda tonton sebelumnya, dan seterusnya. Seperti yang penulis sedang lakukan hari ini, saya hanya dirumah aja membaca-baca artikel sejarah di Wikipedia, dan itu membuat penulis merasa mengalami hal-hal yang baru, dalam hal ini: Baru tahubahwa keturunan Napoleon Bonaparte hingga saat ini masih menjadi penguasa tidak resmi di Kekaisaran Perancis. Dan masih banyak lagi ‘baru tahu-baru tahu’ lainnya.
And trust me, dalam hal membuat kita menjadi awet muda, it works! Penulis sendiri, setiap kali ketemu orang, maka yang biasanya mereka tanyakan adalah saya ini kelahiran tahun berapa, karena kelihatannya kok masih muda sekali, padahal penulis juga sudah tidak lagi semuda lima tahun yang lalu. Seorang teman pernah ngomong begini, ‘Mas Teguh tadi waktu pake baju rapih ketika mengisi kelas, kelihatannya dewasa sekali. Tapi sekarang setelah ganti pake kaos, kelihatan biasa saja.’ Nah, ‘biasa saja’ disini penulis artikan sebagai masih muda, bahkan cenderung masih seperti anak kecil. Sebab ketika penulis tampil didepan forum seminar, semua orang memanggil saya ‘Pak Teguh’. Tapi setelah saya pake kaos, teman penulis tadi ganti memanggilnya jadi ‘Mas Teguh’.
Lalu apa kaitannya awet muda ini dengan pekerjaan kita sebagai investor? Well, ketika anda secara fisik tampak awet muda, maka demikian pula didalam fisik anda tersebut terdapat jiwa yang juga muda. Dan jiwa muda identik dengan semangat dan passion, yakni passion untuk terus maju kedepan, untuk menggapai sesuatu yang sudah dicita-citakan sebelumnya, dan selanjutnya bekerja keras untuk itu. Tak peduli berapapun usia anda, namun jika anda memiliki passion tersebut, maka anda memiliki jiwa yang masih sangat muda, dimana masih ada banyak petualangan yang akan menanti anda kedepannya.
Dan sebagai seorang investor, keinginan untuk ‘terus maju kedepan’ seperti itu, untuk tidak cepat puas dengan hasil apapun yang diperoleh dan sebaliknya, tidak lekas kecewa ketika mengalami kerugian, adalah bekal yang sangat penting untuk bekerja secara terus menerus dalam menumbuhkan nilai portofolio investasi anda. Percaya atau tidak, pada Annual Letter-nya yang terakhir, yakni tahun 2013, Buffett menulis bahwa pada tahun depan, yakni ketika ia resmi sudah memegang Berkshire Hathaway selama 50 tahun, ia akan menuliskan tentang bagaimana prediksinya tentang kinerja investasi Berkshire, dalam 50 tahun berikutnya lagi. Penulis yakin seyakin-yakinnya bahwa Buffett juga sadar bahwa ia tidak mungkin masih hidup pada 50 tahun lagi dari sekarang, tapi bahkan itu tidak mencegahnya untuk terus maju kedepan, dalam hal ini hingga 50 tahun berikutnya! Dan itulah yang penulis maksud dengan passion, yang biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang berjiwa muda, tak peduli berapapun usianya. Sounds great, eh?
2. Membuat anda memiliki wawasan yang luas
Untuk keuntungan yang ini sih sudah tidak perlu dijabarkan panjang lebar lagi. Jika anda senang membaca, maka anda tentunya akan mengetahui banyak hal. Dan sebagai investor saham, ketika anda sudah bisa menikmati pengalaman membaca dokumen-dokumen terkait perusahaan yang anda tertarik untuk membeli sahamnya, maka anda akan mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut dengan sedetil-detilnya, termasuk sektornya. Sehingga jika anda kemudian memutuskan untuk berinvestasi di sahamnya, maka anda akan memiliki kepercayaan diri yang kuat, karena keputusan anda tersebut didukung oleh informasi yang lengkap. Ada banyak kasus dimana seorang investor mengalami kerugian karena panik langsung cut loss ketika saham yang ia beli turun, karena ia tidak mengetahui secara detail tentang saham tersebut, dalam hal ini perusahaannya, padahal informasi detail tentang sebuah perusahaan bisa diperoleh dari laporan keuangan, laporan tahunan, prospektus, dan dokumen-dokumen lain yang terkait.
Dan ketika penulis mengatakan bahwa anda harus ‘menikmati’ membaca dokumen-dokumen terkait perusahaan, maka penulis tidak bercanda. Anda harus menjadikan kebiasaan membaca tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan, yang membuat anda mengalami ‘baru tahu’ lagi, dan bukannya pekerjaan yang membosankan.
Otak manusia didesain untuk mampu menampung informasi sebanyak-banyaknya, terutama jika informasi tersebut bersifat valid, contohnya data dan fakta kinerja perusahaan di masa lalu. Jadi anda jangan khawatir akan ‘keberatan pikiran’ jika membaca terlalu banyak. Malah justru kalau anda jarang membaca, maka kepala anda akan berisi pikiran yang nggak-nggak. Penulis punya kenalan seorang pensiunan yang belum terlalu senior, masih 50-an lah, tapi sehari-harinya ia hanya diam saja dirumah tanpa melakukan atau memikirkan apapun, dan hasilnya yang ia pikirkan adalah bahwa ia mengalami sakit ini dan itu, padahal sebenarnya ia tidak sakit apa-apa. Tapi justru karena ia berpikir bahwa ia sakit, maka jadinya malah sakit beneran.
Sementara Buffett, dia bisa-bisanya masih sehat walafiat begitu pada usia yang sudah mencapai 83 tahun, dan itu karena setiap hari ia menghabiskan sekitar 4 jam hanya untuk membaca.
3. Membuat anda memiliki kemampuan berimajinasi yang baik
Nah, poin yang ketiga ini adalah mungkin justru merupakan poin yang terpenting. Ketika anda membaca, katakanlah membaca kisah-kisah sejarah, maka pikiran anda akan melayang-layang. Ketika penulis membaca tentang kisah peperangan tertentu, maka jika jalannya perang tersebut ditulis secara detail, penulis akan bisa membayangkan seolah-olah saya ikut ada didalamnya. Dan itulah yang disebut dengan imajinasi. Semakin sering anda membaca tentang apa saja, maka akan semakin baik kemampuan anda dalam berimajinasi. Salah satu buku cerita terbaik yang pernah ditulis, yaitu Harry Potter, mampu membuat pembacanya membayangkan bahwa ia seolah-olah sedang berada di kastil, melihat si tokoh utama sedang mengayunkan tongkat sihir, dan seterusnya (jadi kalau anda hendak melatih kemampuan anak anda dalam berimajinasi, maka berikanlah dia novel Harry Potter).
Dan imajinasi ini sangatlah penting, termasuk dalam hal posisi kita sebagai investor saham. Contoh kecil saja: Bisakah anda membayangkan, meng-imajinasi-kan, bahwa IHSG kita suatu hari nanti, meski itu mungkin butuh waktu bertahun-tahun dari sekarang, akan menembus 10,000? Ketika anda membeli saham tertentu pada harga 1,000, bisakan anda membayangkan bahwa saham tersebut akan naik menjadi 1,500, 2,000, 3,000, dan seterusnya? Jika anda tidak bisa membayangkannya, maka ngapain anda beli sahamnya??? Lalu terakhir yang paling penting, bisakah anda membayangkan bahwa nilai portofolio anda, yang mungkin anda anggap masih kecil pada saat ini, akan menjadi besar suatu hari nanti?
Imajinasi merupakan pangkal dari peristiwa yang benar-benar akan terjadi nantinya. Tidak semua imajinasi, bayangan, atau cita-cita akan menjadi kenyataan, tentu saja. Namun jika untuk membayangkan sesuatu saja, anda tidak bisa, lalu bagaimana mungkin anda bisa membuat sesuatu tersebut menjadi kenyataan?
Kesimpulan
Kombinasi antara passion, wawasan yang luas, hingga kemampuan untuk berimajinasi, pada akhirnya akan sangat membantu anda dalam menata investasi anda di saham, dan bahkan mungkin: Di segala bidang. Dan semua itu bisa anda peroleh hanya dengan satu tips saja: Membaca. Ketika anda sudah bisa menjadikan membaca sebagai gaya hidup, ketika anda sudah menganggap bahwa membaca merupakan petualangan dan bukannya sesuatu yang membosankan, ketika benak anda sudah dipenuhi oleh banyak pengetahuan dan informasi yang bermanfaat ketimbang pikiran-pikiran yang nggak ada gunanya, maka ketika itulah anda sudah siap untuk menjadi besar, entah itu sebagai investor di pasar modal, atau apapun bidang yang anda tekuni.
Dan dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, maka anda tidak perlu menyisihkan waktu secara spesifik untuk membaca. Anda bisa membaca dimana saja, dan kapan saja. Berbekal sebuah smartphone, penulis paling suka membaca artikel-artikel di Wikipedia (dan Investopedia) pada malam hari menjelang tidur, ketika berdiri di bis Transjakarta, ketika duduk di cafe menunggu teman datang, atau ketika lagi diem dirumah seperti sekarang.
However, harap bedakan antara membaca dengan browsing-browsing internet gak jelas. Banyak orang yang menggunakan smartphone-nya hanya untuk membuka Facebook, ngerumpi di BBM, atau maen Candy Crush, dan semua itu tentunya bukanlah tindakan yang produktif. Jadi mulai sekarang, anda bisa membuat smartphone anda lebih bermanfaat dengan menggunakannya untuk membaca, tidak hanya seputar pasar modal, tapi tentang topik apapun yang anda tertarik untuk membacanya. What? Anda masih bingung harus mulai baca dari mana? Well, jangan khawatir, anda bisa memulainya dengan membaca-baca artikel yang disajikan di website ini. Coba arahkan kursor anda ke kanan, disitu ada banyak artikel-artikel lama namun masih relevan untuk dibaca.
Hufftt, okay, I think that’s enough. Selanjutnya kita ketemu lagi minggu depan.
NB: Bagi anda yang tinggal di Medan dan Surabaya, penulis akan share lebih banyak lagi topik-topik seperti diatas dengan cara ketemu dengan anda langsung melalui event seminar. Keterangan selengkapnya boleh baca disini(Medan), dan

Seminar Value Investing, Surabaya

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Surabaya, Jawa Timur, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Surabaya dan sekitarnya. Berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi value investing
Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Bagaimana cara mengaplikasikan value investing secara cepat dan mudah dalam kegiatan investasi.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Memperoleh pencerahan, menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Favehotel MEX SurabayaJln. Pregolan No.1 – 5, Surabaya.
  • Hari/Tanggal: Sabtu6 September 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan siang, dan coffee break.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30.

Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 3384.34.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Dahlan Iskan, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB [...]

Ebook Analisis Kuartal II 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2014 (Q2 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana. Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG). 
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin, tanggal 11 Agustus 2014 kemarin. Anda bisa memperoleh ebook-nya disini.
Berikut screening ebooknya (klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu.
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan edisi kali ini merupakan edisi keenam belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca contoh-contoh analisis yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini:
  1. Resource Alam Indonesia (KKGI)
  2. Indofood Sukses Makmur (INDF)
  3. Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)
  4. Adira Dinamika Multifinance (ADMF)
  5. Jasa Marga (JSMR)
  6. Astra International (ASII), dan seterusnya.
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Multi Indocitra: Another Value Stock

Multi Indocitra (MICE) mungkin bukanlah perusahaan yang cukup populer entah itu di mata investor pasar modal maupun masyarakat umum, namun perusahaan ini adalah produsen dari salah satu merk produk perlengkapan kebutuhan bayi paling terkenal di Indonesia: Pigeon, dan juga kosmetik dengan merk yang sama. MICE juga sempat memiliki bisnis sampingan dengan membuat lampu hemat energi merk ‘Hori’, namun sepertinya gagal sehingga perusahaan kembali fokus ke bisnis utamanya, yakni perlengkapan kebutuhan bayi dan kosmetik.

MICE tergolong perusahaan baru di Indonesia. Sejarah perusahaan baru dimulai pada tahun 1995 sebagai pemegang lisensi untuk membuat produk-produk perlengkapan kebutuhan bayi dengan merk Pigeon (Pigeon sendiri merupakan merk asal Jepang), dan sejak saat itu hingga sekarang, bisnis yang dijalani MICE sepenuhnya hanya di seputar membuat botol susu, dot, pompa penyedot ASI, sabun mandi dan shampoo bayi, bedak, dan baby oil. Namun MICE terbilang sukses dalam mengembangkan jaringan distribusi untuk produk-produknya, dimana pada saat ini produk-produk kebutuhan bayi merk Pigeon sudah bisa ditemukan dari Banda Aceh hingga Jayapura, dengan kantor cabang di tiga kota besar yakni Jakarta, Medan, dan Surabaya.
Nah, dari pengalaman penulis sendiri sebagai ayah dari dua orang putra putri yang masih kecil-kecil, bisnis perlengkapan bayi ini memang menjanjikan. Ketika istri anda melahirkan maka anda, suka atau tidak, harus membeli botol susu berbagai ukuran, dan merk botol tersebut apalagi kalau bukan Pigeon (ada juga merk ‘Huki’, tapi kami lebih suka Pigeon). Ketika kami belanja sabun mandi dan shampoo khusus bayi, harganya ternyata lebih mahal ketimbang sabun dan shampoo biasa. Dan kalau nanti putra putri kami sudah tumbuh besar sehingga tidak lagi membutuhkan produk-produk tersebut maka masih banyak bayi-bayi lainnya diluar sana yang terus dilahirkan setiap saat, sehingga MICE akan selalu memperoleh konsumen untuk produk-produknya.
Berdasarkan profil industri seperti itu, maka penulis mengira bahwa MICE ini merupakan perusahaan yang menguntungkan, dan kinerjanya pun akan bertumbuh secara konsisten dari tahun ke tahun. Namun sayang sekali, kenyataannya tidak demikian. Berikut data kinerja perusahaan selengkapnya. Sebelumnya catat bahwa ekuitas yang ditampilkan disini adalah ekuitas bersih diluar kepentingan non pengendali (salah satu anak usaha MICE, PT Pigeon Indonesia, sahamnya hanya dipegang 65% oleh MICE, dan selebihnya dipegang Pigeon Corp., sehingga 35% saham yang tidak dimiliki ini menjadi kepentingan non pengendali), dan laba bersihnya adalah laba bersih yang sudah dikurangi bagian untuk kepentingan non pengendali. Angka dalam milyar Rupiah, kecuali margin laba dan ROE dalam persen.
Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Ekuitas
176
185
202
229
240
302
441
Pendapatan
244
308
340
423
465
560
591
Laba bersih
30
24
28
28
30
41
40
Margin Laba (%)
12.3
7.8
8.1
6.7
6.5
7.3
6.8
ROE (%)
17.1
13.0
13.7
12.3
12.5
13.5
9.1
Nah, perhatikan bahwa kecuali untuk tahun 2007, MICE hanya mampu menghasilkan laba yang tidak sampai 15% dari nilai modal bersihnya, dan nilai laba itu sendiri cenderung stagnan dengan hanya mampu bertumbuh kurang dari sepuluh persen (jika dirata-ratakan) setiap tahunnya. Alhasil, pertumbuhan ekuitasnya pun tidak terlalu menonjol. Dan untuk ukuran perusahaan produsen (MICE ini membuat botol susu, bukan mengimpor botol susu dari Jepang), maka maka margin laba yang tidak sampai 10% tentunya juga tidak terlalu bagus. Jika perusahaan masih mencatat kinerja yang seperti ini hingga tahun-tahun berikutnya, maka sahamnya pun kemungkinan tidak akan naik terlalu tinggi meski setelah menunggu beberapa tahun, dan itu artinya MICE ini tidak begitu cocok untuk investasi jangka panjang.
Lantas apa yang membuat MICE kok kurang bagus, padahal industrinya tampak menjanjikan? Well, entahlah, tapi itu mungkin karena ada perjanjian kerjasama tertentu dengan pihak Pigeon Corp. yang menyebabkan perolehan laba MICE menjadi tidak maksimal. Sebab kalau anda perhatikan, sudah beberapa tahun ini MICE mencoba untuk lepas dari ketergantungan Pigeon dengan meluncurkan merk produk milik sendiri, namun sayang sampai sekarang upaya tersebut masih gagal. Contohnya, sekitar dua tahun yang lalu perusahaan mencoba masuk ke bisnis lampu hemat energi dengan meluncurkan lampu merk ‘Hori’, namun hasilnya ternyata mengecewakan: Bisnis lampu hemat energi tersebut hanya bertahan sebentar sebelum kemudian ditinggalkan.
Dan belakangan pihak manajemen MICE kembali mencoba peruntungannya dengan kembali berekspansi, kali ini dengan meluncurkan pruduk kosmetik (berbeda dengan bisnis lampu, perusahaan sudah berpengalaman di bisnis ini sebelumnya, dimana Pigeon juga memproduksi kosmetik terutama untuk remaja) dengan merk Astalift dan Aibu. Astalift merupakan produk kosmetik wanita untuk kalangan menengah keatas, dimana MICE sudah membuka gerai Astalift di enam mall besar di Jakarta dan sekitarnya, dan satu mall di Medan (Sun Plaza). Sementara Aibu adalah kosmetik remaja untuk semua kalangan, yang bisa dijual di semua lokasi termasuk melalui roadshow ke sekolah-sekolah.

Gerai Astalift di salah satu mall di Jakarta

Lalu bagaimana kira-kira hasilnya nanti? Apakah dua merk ini akan sukses? Well, mengingat Astalift dan Aibu baru diluncurkan pada tahun 2014 ini, maka kalaupun dua merk kosmetik ini laris dipasaran, hasilnya tidak akan langsung kelihatan dalam waktu dekat. Jadi kita tunggu saja. Malah justru, mungkin karena perusahaan lagi keluar banyak modal untuk bisnis barunya, maka pendapatan serta labanya untuk tahun 2014 ini agak tertekan. Hingga Kuartal II 2014, pendapatan MICE turun 14.3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan laba bersihnya pun anjlok 36.6% (karena margin laba MICE sejak awal kecil, maka labanya bisa turun dalam jika pendapatannya turun sedikit).
Dan karena kinerjanya yang memang tampak jelek tersebut, saham MICE menjadi tertekan hingga sekarang sudah turun ke 350, namun disinilah menariknya: Sejatinya MICE pada harga 400 sudah merupakan saham yang murah, jadi pada harga sekarang dia menjadi lebih murah lagi, dimana PBV-nya cuma 0.5 kali. Jika anda membeli 100% saham MICE pada harga sahamnya saat ini, maka anda akan mengeluarkan dana Rp210 milyar, untuk memperoleh modal kerja bersih (aset lancar dikurangi kewajiban lancar) senilai Rp264 milyar, belum termasuk aset-aset tetap milik perusahaan! Jadi dalam kasus inilah sebuah saham bisa dikatakan murah secara absolut.
However, hanya karena harga sahamnya murah, maka itu bukan berarti MICE akan langsung naik lagi dalam waktu dekat. Berdasarkan pengalaman, sebuah saham baru akan naik, bahkan cenderung melejit jika harganya benar-benar murah seperti MICE ini, jika, dan hanya jika terjadi hal-hal berikut: 1. Adanya sentimen positif tertentu yang menyebabkan investor menjadi yakin bahwa kinerja perusahaan akan segera membaik, 2. Perusahaan membagikan dividen dalam jumlah besar, atau 3. Kinerja perusahaan memang benar-benar membaik, misalnya labanya kembali naik setelah sebelumnya turun.
Nah, perhatikan bahwa untuk poin nomor 1, yakni adanya sentimen positif, maka untuk MICE hal itu kecil kemungkinannya akan terjadi, karena sebagai saham kecil (MICE cenderung berstatus sebagai third liner, jadi bukan second liner lagi) jarang ada orang yang memperhatikan saham ini, sehingga hampir tidak pernah timbul sentimen macam-macam. Lalu untuk dividen, pada tahun 2014 ini MICE hanya membayar dividen Rp10 untuk para pemegang saham, alias tidak signifikan (dimasa lalu MICE sangat rajin bagi dividen, tapi untuk tahun ini manajemen agak pelit, yang mungkin itu karena perusahaan lagi butuh dana untuk membiayai ekspansinya diatas. Dari laba bersihnya di tahun 2013, hanya 15% yang dibayarkan sebagai dividen).
Jadi sekarang tinggal kemungkinan yang nomor 3: MICE mungkin baru akan naik lagi kalau nanti kinerjanya tampak bagus lagi. Dan itu artinya, jika anda tertarik dengan saham ini, maka anda mungkin harus menunggu minimal sampai perusahaan merilis laporan keuangannya untuk Kuartal III 2014, akhir September mendatang.
Disisi lain jika anda masih yakin dengan prospek jangka panjang perusahaan (kalau anda baca-baca di internet, MICE ini termasuk sering dibahas oleh para investor dengan gaya value investing karena valuasinya memang sangat murah), termasuk yakin bahwa saham ini juga bisa menghadirkan jackpot seperti Maret 2013 lalu, dimana ia tiba-tiba saja terbang sampai menembus 850, maka anda boleh menyicil dari sekarang. MICE mungkin masih perlu waktu untuk naik kembali, mungkin bisa sampai tahun depan jika petualangan bisnis kosmetik mereka berhasil, atau jika perusahaan kembali membayar dividen dalam jumlah besar, tapi disisi lain untuk turun lagi juga kecil kemungkinannya karena valuasinya biar bagaimanapun sudah sangat rendah.
Sekedar informasi tambahan, dua value investor kawakan yang kurang lebih seangkatan dengan Om Lo Kheng Hong, yakni Pak Haiyanto dan Pak Surono Subekti, juga pernah memegang MICE ini dalam jumlah banyak sejak lamaaaaa sekali. Hanya memang Pak Haiyanto kalau gak salah sudah menjualnya, mungkin pas MICE ini naik banyak di tahun 2013 lalu untuk meraup keuntungan sekian kali lipat. Nah, kalau anda adalah Pak Haiyanto tersebut, maka masa iya sih, harga MICE yang sekarang semurah ini nggak cukup tempting untuk membuat anda membelinya kembali?
PT Multi Indocitra, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal II 2014: BB
Rating Saham pada 350: A
Pengumuman: Buku kumpulan Analisis Kuartalan edisi Kuartal II 2014 sudah terbit! Dan anda bisa membelinya disini (disitu juga disebutkan saham-saham apa saja yang dipilih untuk [...]

Seminar Value Investing, Medan

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Medan, Sumatera Utara, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Medan dan sekitarnya. Berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel Swiss-BelinnJln. Surabaya No.88, Kota Medan.
  • Hari/Tanggal: Sabtu30 Agustus 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan siang, dan coffee break.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30.

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Medan, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Anies Baswedan, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di Kota Medan!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4

Update: hingga hari Rabu tanggal 20 Agustus sudah ada 24 peserta yang mendaftar. Jadi masih ada kursi untuk 6 peserta [...]

Jurus Beli Tapi Nyicil: Dollar Cost Averaging!

Kalau anda googling kata ‘Dollar Cost Averaging (DCA)’ di internet, maka definisinya ada macam-macam. Namun definisi dari DCA menurut penulis adalah, ‘Membeli saham yang sama secara sedikit demi sedikit dan terus menerus, dengan tujuan untuk memiliki saham tersebut sebanyak mungkin’. Kalau sudah megang banyak, selanjutnya apa? Ya hold saja saham tersebut untuk seterusnya. Keuntungan yang diperoleh bukan lagi berupa kenaikan harga saham, melainkan dividen yang dibagikan oleh perusahaan setiap tahun. Sebab ketika anda memegang saham tertentu dalam jumlah sedikit, maka dividen yang diperoleh juga sedikit. Tapi bagaimana jika megangnya banyak?

Konsep DCA ini cocok bagi anda yang memiliki penghasilan sekian setiap bulannya, yang setelah dikurangi untuk kebutuhan sehari-hari dan lain-lain, masih ada lebihnya (actually, bahkan kalau anda adalah karyawan fresh graduate dengan gaji ala kadarnya, maka penulis tetap menyarankan agar anda bisa menyisihkan sebagian gaji anda untuk ditabung. Gaji pertama saya di tahun 2008 adalah Rp1.6 juta per bulan, dan saya bisa menabung Rp400 ribu diantaranya. Saya tidak pernah ada pikiran soal duit empat ratus ribu itu nantinya mau dipakai buat beli apa, karena yang penting adalah saya punya tabungan, itu saja).
Uang lebih ini kemudian bisa disimpan/ditabung dalam bentuk aset produktif, dalam hal ini saham yang mewakili perusahaan yang mampu mencetak laba bersih secara konsisten dari tahun ke tahun. Jika dalam sebulan anda bisa menabung Rp1 juta, misalnya, maka pada bulan pertama anda membeli saham senilai Rp1 juta. Pada bulan berikutnya, anda bisa top up alias beli lagi saham yang sama, tak peduli berapapun harganya ketika itu, senilai Rp1 juta juga, sehingga totalnya kini anda memegang saham senilai Rp2 juta. Dan demikian seterusnya, setiap bulan anda membeli saham yang sama, sehingga setelah satu atau dua tahun, anda memegang saham tersebut dalam jumlah yang besar.
Dan setelah beberapa tahun, anda mungkin bisa hidup hanya dari dividen yang dibagikan perusahaan setiap tahunnya. Terus terang, bagi penulis sendiri pun hal ini masih sebatas cita-cita (nilai dividen yang saya terima dari perusahaan yang saya pegang sahamnya masih sangat kecil), namun ini adalah cita-cita yang terdengar menyenangkan bukan?
Meski tidak pernah secara eksplisit menyebutkan tentang strategi DCA, namun Warren Buffett adalah pelaku DCA ini. Pada salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, ketika masih menjalankan Buffett Partnership dimana ia mengelola dana milik teman-temannya, Buffett mengatakan, ‘Saya lebih suka harus membayar bunga plus bagian keuntungan investasi kepada para partner pemilik dana di Buffett Partnership, ketimbang meminjam uang ke bank bahkan meski bank membebankan biaya bunga yang lebih rendah. Hal ini karena saya memperoleh dana (dari para partner) tidak secara sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit. Setiap kali saya memperoleh partner baru, maka setiap kali itu pula Buffett Partnership menerima dana baru yang bisa langsung dipakai untuk belanja saham. Alhasil, saya bisa membeli saham-saham yang sudah diincar sebelumnya secara terus menerus, termasuk bisa average down jika kebetulan harganya turun. Ceritanya akan berbeda jika saya menerima pinjaman dari bank sebanyak sekian, kemudian pada waktu-waktu selanjutnya saya tidak memperoleh dana lagi, sehingga saya hanya bisa membeli saham tertentu sebanyak satu kali saja. Jadi ketika nanti harga saham tersebut ternyata malah turun, maka saya nggak punya dana untuk beli lagi di harga bawah.’
Intinya, Buffett mengatakan bahwa ia suka membeli saham secara menyicil. Pembelian saham secara menyicil ini memungkinkannya untuk membeli lebih banyak ketika harga (dari saham yang diincar) turun, dan hanya membeli sedikit ketika harga saham tersebut sedang tinggi. Cara investasi seperti ini secara otomatis mengurangi risiko kerugian karena fluktuasi atau naik turunnya harga saham, yang bisa terjadi setiap saat. Dalam pandangan Buffett, terlepas dari harganya yang bisa naik dan turun setiap saat, namun saham yang mewakili perusahaan yang berfundamental baik pada akhirnya akan terus naik dalam jangka panjang.
Nah, konsep membeli saham secara menyicil ini juga bisa anda praktekkan pada kegiatan investasi pribadi anda. Simpel saja, ketika anda untuk pertama kalinya coba-coba invest di saham, maka anda tidak mungkin langsung pakai dana besar bukan? Melainkan pakai dana kecil dulu. Ketika nanti anda punya duit lagi, maka anda bisa setor ke rekening anda di sekuritas untuk beli saham lagi. Jika anda melihat bahwa harga dari saham yang anda incar sedang tinggi, misalnya karena IHSG sedang bullish, maka anda bisa tahan dulu posisi cash anda (sudah disetor ke sekuritas, tapi nggak langsung dipake buat beli saham), atau tetap beli hanya dengan jumlah yang lebih sedikit dari biasanya. Ketika kemudian pasar turun, dan saham anda juga turun, maka barulah uang yang sudah terkumpul sebelumnya bisa dipakai untuk belanja saham secara borongan. Strategi seperti ini, sekali lagi, memungkinkan anda untuk justru meraih keuntungan setiap kali harga saham turun, dan bukannya menderita kerugian.
Lalu bagaimana bisa strategi DCA ini menghasilkan keuntungan yang ternyata cukup besar, minimal mampu mengalahkan kenaikan IHSG/pasar? Well, itu karena perusahaan-perusahaan yang bagus di Indonesia, kalau anda perhatikan, memiliki rate pertumbuhan riil yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan rata-rata pasar setiap tahunnya. Yang penulis maksud dengan pertumbuhan riil disini adalah pertumbuhan aset bersih atau ekuitas plus dividen. Perusahaan-perusahaan kategori ‘super company’ seperti ASII, BBRI dan seterusnya, memiliki rate pertumbuhan diatas 20% per tahun, atau lebih tinggi dibanding IHSG yang hanya berkisar 12% (dihitung sejak IHSG diluncurkan pada tahun 1982).

Dan meski harga saham dari perusahaan-perusahaan diatas bisa naik dan turun setiap saat, termasuk bisa anjlok jika IHSG anjlok, namun pada akhirnya harga saham tersebut akan bergerak mengikuti pertumbuhan riil perusahaan, alias naik. Jadi jika pertumbuhan riil perusahaan (yang anda beli sahamnya) lebih tinggi dibanding kenaikan IHSG, maka kinerja investasi anda pada akhirnya akan juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan pasar. Anda tidak perlu khawatir terjebak membeli saham pada harga yang terlalu tinggi, karena melalui strategi DCA, anda bisa mengakumulasi saham tersebut dengan terus membelinya secara sedikit demi sedikit tak peduli harganya lagi tinggi atau rendah (sehingga rata-rata harga belinya akan menjadi ditengah-tengah), atau dengan sedikit modifikasi: Hanya membeli sedikit ketika harganya lagi tinggi, atau tidak sama sekali, dan membeli lebih banyak ketika harganya lagi dibawah.
Kesulitan utamanya, tentu saja, adalah ketika kita memilih saham mana yang bakal kita ambil. Sebab dalam berinvestasi dengan gaya DCA, anda harus memiliki niat untuk memegang saham tertentu (yang sudah anda pilih sebelumnya) untuk seterusnya, jadi bukan untuk nantinya dijual karena harganya sudah naik banyak, atau karena alasan lainnya. Masalahnya, it’s relatively easy untuk meng-hold saham tertentu ketika kinerjanya bagus, dan harganya pun naik terus. Tapi bagaimana kalau dia malah turun, apalagi jika dalam waktu yang sama, IHSG masih baik-baik saja?
Karena itulah, tugas maha penting yang harus anda kerjakan ketika berniat mengaplikasikan DCA ini adalah melakukan seleksi ketat terhadap saham mana yang kira-kira bakal anda ambil. Ada banyak kriteria saham yang bagus, yang sudah penulis bahas berkali-kali di website ini (contohnya di artikel tentang nilai intrinsik, kriteria saham bagus, dan kualitas manajemen). Tips yang bisa penulis sampaikan adalah: Jangan kompromi dengan kualitas fundamental perusahaan, dan hanya pilih saham yang menurut anda yang terbaik dari yang terbaik, yang anda bersedia untuk ‘terus bersamanya’, baik dalam kondisi susah (bisnis seret, pasar jatuh), maupun senang (bisnis lancar, harga barang dagangan naik, harga saham terbang).
Sementara satu tips yang pernah disampaikan oleh seorang teman investor senior, yang memang sudah menerapkan DCA ini sejak lama, adalah sebagai berikut: Belilah saham dari perusahaan yang terkenal, yang nama perusahaannya diketahui oleh banyak orang, entah itu investor saham ataupun orang awam.
However, tidak pernah ada strategi investasi yang sempurna, termasuk DCA pun memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah adalah jika perusahaan yang anda pilih setelah beberapa waktu ternyata tidak menghasilkan pertumbuhan riil seperti yang diharapkan, atau bisnisnya malah meredup dan bangkrut, maka kerugian yang anda derita pun akan sangat besar, karena anda sejak awal telah menutup opsi untuk menjual saham tersebut. Dan faktanya, hanya karena sebuah perusahaan memiliki catatan kinerja yang cemerlang dan konsiten di masa lalu, maka itu bukan berarti dia dijamin akan terus bertahan kedepannya. Lehman Brothers, Inc. adalah perusahaan investment banking yang memiliki track record yang amat cemerlang sejak tahun 1850 (sudah lama sekali), termasuk sanggup bertahan ketika dihantam great depression pada tahun 1930-an, tapi toh dia bangkrut juga pada tahun 2008 lalu. Sementara di Indonesia, ada Berlian Laju Tanker (BLTA) yang merupakan salah satu saham blue chip terkemuka pada tahun 1990-an, tapi sekarang bangkrut juga. Jangan salah, penulis juga kenal dengan beberapa old timer yang masih nyangkut di BLTA ini sampai sekarang.
Kelemahan lainnya adalah, ketika anda hanya mengincar pertumbuhan yang konsisten sebesar sekian persen per tahun (yang penting diatas rata-rata pertumbuhan pasar), maka anda mungkin akan kehilangan momentum untuk membeli saham-saham yang, pada periode waktu tertentu, menawarkan kenaikan yang lebih tinggi dibanding sekedar dua atau tiga puluh persen, meski mungkin di periode waktu yang lain mereka berhenti naik atau malah turun kembali. Contohnya pada tahun 2009 – 2011, sektor batubara dan perkebunan kelapa sawit tengah booming dan ketika itu hampir semua saham di dua sektor ini mengalami pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata kenaikan pasar. Meski setelah tahun 2011 tersebut dua sektor ini menjadi terpuruk, namun jika ada investor yang cukup jeli dengan masuk ke kedua sektor ini pada tahun 2009, dan kemudian keluar ketika timing-nya tepat, maka dia akan meraup keuntungan yang jauh lebih besar dibanding investor lain yang kerjaannya hanya menyicil saham yang itu-itu saja setiap bulannya.
Jadi dengan demikian, untuk meminimalkan risiko dari strategi DCA ini (jika seandainya saham yang anda pilih untuk dibeli secara menyicil setiap bulannya ternyata malah turun atau bahkan bangkrut), sekaligus tetap memaksimalkan keuntungan (dari saham-saham yang menawarkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding rata-rata, yang nantinya akan anda jual ketika waktunya tepat), maka anda bisa mengkombinasikan DCA ini dengan metode investasi lainnya, tentunya yang anda kuasai.
Intinya sih, kalau anda bisa menemukan satu atau dua saham yang anda cukup yakin bisa memegangnya as long as possible, tak peduli harganya naik atau turun (sedikit tips, sebaiknya saham tersebut adalah yang masuk kategori blue chip. Kenapa begitu? Baca penjelasannya disini), sehingga anda bisa membelinya secara terus menerus tanpa pernah menjualnya sama sekali, maka jangan gunakan seluruh dana yang tersedia untuk membeli saham tersebut, melainkan sisakan sebagian untuk invest menggunakan strategi/metode investasi yang berbeda, seperti (yang biasa penulis lakukan) membeli saham-saham yang harganya sedang murah, atau saham yang mewakili perusahaan kecil namun menawarkan pertumbuhan untuk menjadi besar suatu hari nanti.
Namun jika berkaca pada pengalaman beberapa investor, termasuk pengalaman penulis sendiri, maka kita sebagai investor memang sebaiknya memiliki satu atau beberapa buah saham yang kita berkomitmen untuk memegangnya selama mungkin, dan bersedia untuk membeli lagi (nambah barang) setiap kali dikasih harga yang murah. Anda boleh tanya investor kawakan manapun, biasanya mereka selalu punya setidaknya satu saham andalan yang sudah mereka pegang selama bertahun-tahun, tidak pernah mereka jual, dan justru selalu mereka beli lagi setiap kali dikasih harga murah, misalnya ketika IHSG mengalami koreksi. Dan hasilnya? Mereka meraup keuntungan berkali-kali lipat! (jadi bukan persen lagi). Nah, jadi kenapa kita tidak mencoba strategi yang sama?
Okay, I think that’s enough. Selanjutnya jika anda punya pengalaman terkait strategi Dollar Cost Averaging ini, maka boleh share pengalaman anda melalui kolom komentar dibawah ini, siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi kawan-kawan investor yang lain :)

Follow penulis di Twitter, klik [...]

Bukit Asam (PTBA)

Pada hari ini, Jumat tanggal 25 Juli 2014, mulai terdapat banyak emiten yang merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal II 2014, baik itu melalui website BEI maupun koran. Sayangnya sebagian besar diantara mereka mencatat kinerja yang mengecewakan, jika ukurannya adalah laba bersihnya yang tumbuh negatif alias turun. Meski demikian ada satu emiten yang mencuri perhatian karena kenaikan labanya yang menonjol, yakni lebih dari 30%, dan emiten itu adalah PT Bukit Asam (PTBA). Perusahaan batubara ini mungkin mewakili kinerja sektor batubara secara keseluruhan yang memang mulai menggeliat kembali pada tahun 2014 ini, setelah dua tahun sebelumnya cenderung lesu. Prospek kedepan?

PTBA mungkin boleh dikatakan sebagai perusahaan tambang batubara tertua di Indonesia. Sejarah perusahaan sudah dimulai sejak tahun 1876 (138 tahun yang lalu) ketika Pemerintah Hindia Belanda membuka tambang batubara, mungkin yang pertama di Indonesia, di Ombilin, Sumatera Barat. Pada tahun 1919 Pemerintah Hindia Belanda membuka tambang batubara keduanya di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, termasuk setelah Indonesia merdeka, kegiatan usaha tambang tersebut dilakukan tanpa payung hukum perusahaan. Namun akhirnya pada tahun 1981, PTBA resmi berdiri sebagai perusahaan milik pemerintah (BUMN) di bidang tambang batubara. Pada tahun 1990, satu lagi perusahaan BUMN milik pemerintah, yakni PU Tambang Batubara, dimerger dengan PTBA, sehingga PTBA kemudian menjadi satu-satunya BUMN di bidang batubara, hingga saat ini.
PTBA go public sejak tahun 2002, dan sejak saat itu perusahaan terus tumbuh berkembang hingga memiliki beberapa unit usaha sebagai berikut:
  1. Tambang batubara, yang tersebar di empat lokasi yakni Peranap, Ombilin, Tanjung Enim (semuanya di Sumatera), dan Samarinda (Kalimantan Timur). Total cadangan batubara yang dimiliki perusahaan adalah hampir 2 milyar ton (dan masih bisa meningkat seiring dengan dilanjutkannya pekerjaan eksplorasi), menjadikan PTBA sebagai perusahaan tambang batubara terbesar kedua di Indonesia dari sisi volume cadangan batubara, setelah Bumi Resources (BUMI). Mayoritas cadangan batubara tersebut terkonsentrasi di Tanjung Enim.
  2. Perdagangan batubara
  3. Pembangkit listrik, yang berlokasi di tambang batubara di Tanjung Enim
  4. Logistik, dalam hal ini jaringan rel kereta api milik sendiri yang menghubungkan lokasi tambang batubara Tanjung Enim dengan pelabuhan di Lampung dan Palembang, dan
  5. Tambang gas metana (coal bed methane). Yang disebut terakhir ini boleh dibilang, kalau di Indonesia, cuma perusahaan yang punya.
PTBA adalah salah satu perusahaan batubara dengan posisi keuangan paling sehat di BEI, dimana perusahaan hampir tidak memiliki utang kecuali utang usaha, dan ekuitasnya pun senantiasa bertumbuh dari tahun ke tahun, padahal perusahaan cenderung royal dalam membagikan dividen, yakni sekitar 50 – 60% dari perolehan laba bersih perusahaan setiap tahunnya. Boleh dibilang perusahaan diuntungkan karena sejak awal sudah menempati lokasi tambang batubara paling ‘berisi’ di Sumatera (atau bahkan di dunia), yakni Tanjung Enim, sehingga biaya yang perlu dikeluarkan perusahaan hanyalah untuk eksplorasi saja. Hal ini berbeda dengan banyak perusahaan batubara swasta yang harus mengeluarkan biaya yang mahal jika mereka hendak memperoleh ‘spot’ tambang yang bagus. Ketika perusahaan menambah portofolio tambangnya dengan mengakuisisi tambang batubara di Peranap dan Samarinda (tambang Ombilin juga sudah dipegang sejak awal), maka itu karena perusahaan punya surplus dari hasil operasional Tanjung Enim. Actually, hanya dengan memegang Tanjung Enim saja, PTBA sudah merupakan salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia, bahkan dunia.
Karena itulah, mayoritas pengembangan usaha yang dikerjakan perusahaan selama ini difokuskan di tambang Tanjung Enim. PTBA adalah satu dari sedikit perusahaan batubara di Indonesia yang punya jaringan rel kereta api milik sendiri (dengan bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia), dan juga memiliki fasilitas coal bed methane (dan juga pembangkit listrik, tapi kalau pembangkit listrik sih perusahaan batubara yang lain juga banyak yang punya). Kadang-kadang penulis berpikir bahwa perusahaan seharusnya bisa memanfaatkan posisinya sebagai pemilik salah satu tambang batubara terbesar untuk berbuat lebih banyak, katakanlah menjadi salah satu pengendali harga batubara di pasar internasional sehingga kinerja PTBA tidak lagi tergantung pada fluktuasi harga batubara.
However, manajemen PTBA tidak sehebat itu, dimana mereka lebih suka menghabiskan laba bersih untuk membayar dividen ke pemegang saham ketimbang menggunakannya untuk membangun proyek pengembangan usaha tertentu (PTBA terus membangun pembangkit listrik baru dan meningkatkan kapasitas jaringan kereta apinya, tapi ya selama beberapa tahun terakhir ini hanya itu saja yang mereka lakukan). Meski demikian jika dibandingkan dengan beberapa perusahaan batubara raksasa lainnya di tanah air, maka PTBA ini sangat layak investasi karena perusahaannya bebas hutang dan bermain di ‘lahan basah’, yakni Tanjung Enim tadi. Jika nanti harga batubara kembali tembus US$ 100 per ton, maka PTBA juga akan dengan mudah mencatat kinerja super lagi.
Sedikit informasi, meski perusahaan merupakan pemilik dari salah satu cadangan batubara terbesar di dunia, namun volume produksi PTBA sejauh ini hanya sekitar 12 juta ton per tahun, jauh lebih rendah dibanding Adaro Energy (ADRO) sebesar 53 juta ton, dan Bumi Resources (BUMI) 80 juta ton. PTBA sebenarnya mentargetkan untuk bisa memproduksi batubara hingga 50 juta ton per tahun sejak beberapa tahun lalu, namun sampai sekarang hal itu belum terealisasi (tapi mungkin juga sengaja ditahan dulu, karena harga batubara kan lagi murah-murahnya sepanjang tahun 2012 – 2013 lalu, jadi ngapain juga gali banyak-banyak?). Jika melihat fakta bahwa PTBA merupakan perusahaan batubara dengan margin laba terbaik di BEI (margin laba bersih terhadap pendapatan mencapai 17%, sementara perusahaan batubara lain paling tinggi hanya 10 – 11%), ditambah dengan kemungkinan bahwa volume produksi batubaranya bisa ‘melompat’ sewaktu-waktu jika nanti harga batubara pulih, maka ya.. mau bilang apa lagi? Perusahaan ini sangat menarik untuk investasi.
Kemudian bagaimana dengan sahamnya?
PTBA adalah salah satu saham berfundamental terbaik di bursa, sehingga selama ini valuasinya tidak pernah benar-benar murah, melainkan hampir selalu premium. Pada tahun 2011 lalu dimana industri batubara sedang jaya-jayanya, PBV PTBA sempat mencapai lebih dari 7.0 kali. Sementara pada harga sahamnya saat ini yakni 11,450, PBV tersebut tercatat 3.5 kali, dengan PER 10.8 kali (sebagai perusahaan mature dan mapan, valuasi PTBA juga bisa dilihat dari PER-nya). Penulis terus terang masih agak ragu dalam menanggapi apakah PBV 3.5 kali ini masih layak buy atau tidak, karena angka tersebut tentu saja tidak bisa dikatakan rendah, tapi dimasa lalu PBV PTBA hampir selalu terjaga di level 4 – 4.5 kali. Dan dengan perkembangan kinerja terbaru yang boleh dibilang paling menonjol bahkan diantara sesama perusahaan batubara itu sendiri, plus secara teknikal dia juga tampak mulai uptrend, maka praktis PTBA ini menjadi satu-satunya pilihan bagi investor penyuka saham-saham batubara. Jika anda sudah memegangnya sejak awal maka disarankan untuk hold.
Kalau ada hal yang mungkin bisa membuat PTBA ini turun adalah jika IHSG turun. Seperti yang sudah disebut diatas, kinerja para emiten di Kuartal II 2014 tidak begitu bagus, sehingga posisi IHSG pada saat ini kurang didukung oleh faktor fundamental kecuali hanya karena asing terus masuk setelah Jokowi menang Pilpres. Namun jika nanti indeks turun, maka PTBA ini juga mungkin akan turun sampai 9,500 – 10,000, dimana pada harga itulah PTBA terbilang sangat ideal untuk dibeli untuk kemudian biarkan saja sampai akhir tahun. Well, kita lihat nanti bagaimana perkembangannya.
PT Bukit Asam (Persero), Tbk.
Rating Kinerja pada Semester I 2014: AAA
Rating Saham pada 11,450: A
NB: Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis dan rekomendasi saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di kuartal II 2014. Anda bisa memperolehnya

Pernyataan Prabowo! (Forum)

Sebagaimana yang anda ketahui, hari ini, Rabu tanggal 22 Juli 2014, Komisi Pemilihan Umum dijadwalkan untuk merilis pengumuman terkait pemenang Pilpres, dimana kalau berdasarkan hasil real count, pasangan Jokowi – JK keluar sebagai pemenang. Yang mungkin tidak diduga oleh banyak orang sebelumnya adalah pernyataan Prabowo yang secara tegas menolak hasil pilpres tersebut. Alhasil IHSG hari ini anjlok cukup dalam, meski masih berada di level yang cukup optimis, yakni 5,000-an.

Berikut ini adalah pernyataan Prabowo secara keseluruhan:
Kalau sekedar mencari hidup enak, saya tidak perlu berjuang di bidang politik. Demokrasi artinya rakyat berkuasa. Wujud dari demokrasi adalah pemilihan, dan esensi pemilihan adalah pemilihan yang jujur, yang bersih, dan yang adil. Kalau ada satu orang yang mencoblos puluhan sampai ratusan surat suara, maka itu tidak demokratis. Dari Papua saja ada 14 kabupaten yang tidak pernah mencoblos tetapi ada hasil pemilunya. Ada 5,000 lebih TPS di DKI Jakarta yang direkomendasikan untuk dilakukan pemungutan suara ulang tetapi rekomendasi tersebut tidak digubris oleh KPU.

Oleh karena itu, kami Prabowo-Hatta mengambil sikap sebagai berikut:
  1. Proses penyelenggaraan pilpres yang diselenggarakan oleh KPU bermasalah. Sebagai pelaksana, KPU tidak adil dan tidak terbuka. Banyak peraturan main yang dibuat oleh KPU tapi justru dilanggar sendiri oleh mereka.
  2. Rekomendasi yang dikeluarkan Bawaslu banyak diabaikan oleh KPU.
  3. Ditemukannya banyak tindak pidana Pemilu yang dilakukan oleh penyelenggara dan pihak asing.
  4. KPU selalu mengalihkan masalah ke MK, seolah-olah setiap keberatan harus diselesaikan di MK padahal sumber masalahnya di KPU.
  5. Telah terjadi kecurangan masif dan sistematis untuk mempengaruhi hasil pilpres.
Oleh karena itu, saya Prabowo-Hatta akan menggunakan hak konstitusional kami, yakni menolak pelaksanaan Pilpres 2014 yang cacat hukum. Oleh karena itu kami menarik diri dari proses yang sedang berlangsung.
Kami tidak bersedia mengorbankan mandat yang telah diberikan oleh rakyat dipermainkan dan diselewengkan. Kami siap menang dan siap kalah namun dengan cara yang demokratis dan terhormat.
Bagi setiap rakyat Indonesia yang telah memilih kami, kami minta untuk tetap tenang. Yakinlah bahwa kami tidak akan membiarkan hak demokrasi anda diciderai. Saya telah menginstruksikan kepada saksi-saksi yang sedang mengikuti proses rekapitulasi di KPU untuk tidak melanjutkan.

Kami menambahkan, bahwa kami tetap minta semua pendukung kami untuk selalu dan tetap tenang. Kami akan berjuang di atas landasan konstitusi, di atas landasan hukum, di atas landasan tidak menggunakan kekerasan apapun.
H. Prabowo Subianto
Well, bagaimana menurut anda? Bagi anda yang mungkin lebih paham soal politik, komentar anda [...]

Prabowo vs Jokowi: The Battle Continues!

Kalau boleh jujur, penulis tadinya termasuk yang mengira bahwa setelah pelaksanaan Pilpres pada tanggal 9 Juli kemarin, maka semuanya sudah usai dan kita sebagai investor bisa kembali menganalisis saham seperti biasa, dan tidak lagi menjadi pengamat politik dadakan. However, I was wrong. Kemenangan Jokowi atas Prabowo yang relatif tipis versi quick count, seperti yang sudah diduga sebelumnya, menimbulkan polemik karena kubu Prabowo sudah tentu tidak akan menyerah begitu saja sampai Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan pemenang Pilpres pada tanggal 22 Juli nanti. Jika sebelum tanggal 9 Juli, para pendukung kedua kubu saling perang argumen soal capres mana yang lebih baik, maka selepas tanggal 9 Juli, kedua kubu ternyata masih belum berhenti berperang, kali ini saling mengklaim kemenangan.

Berikut adalah beberapa perkembangan terkait dunia persilatan politik di Indonesia, atau setidaknya yang penulis perhatikan (coz, at the end, saya bukan pengamat politik), menjelang detik-detik pengumuman pemenang Pilpres oleh KPU, pada tanggal 22 Juli mendatang.
  1. Setelah hasil quick count cenderung memenangkan Jokowi dengan selisih suara sekitar 4 – 5%, ternyata mayoritas hasil real count juga menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa.
  2. Karena faktor hasil real count diatas, kubu Jokowi kesininya cenderung santai dan hampir ‘do nothing’. Terakhir, Jokowi secara pribadi menyampaikan kepada para pendukungnya untuk meninggalkan seluruh atribut ‘salam dua jari’ atau semacamnya, dan kembali ke negara ‘Indonesia Raya’. Penulis melihat hal ini sebagai bentuk kepercayaan diri dari kubu Jokowi bahwa mereka memang sudah menang.
  3. Beberapa partai pendukung Prabowo mulai gelisah, dan banyak diantaranya yang menyatakan ‘Bisa beralih ke Jokowi kapan saja’. Partai yang paling santer akan berpindah mendukung Jokowi adalah Golkar, dimana para elit politiknya mulai menggoyang posisi Ical Bakrie sebagai ketua umum.
  4. Orang-orang terdekat Prabowo merespon hal diatas dengan membentuk ‘Koalisi Permanen’. Sayangnya aksi politik ini nampak kurang efektif.
  5. Kubu Prabowo mulai mengintervensi Bawaslu dan KPU. Hasilnya, KPU setuju untuk melakukan pencoblosan ulang di Jakarta, meski itu hanya di 13 TPS. Pencoblosan ulang tersebut dilakukan hari Sabtu, tanggal 19 Juli kemarin.
  6. Namun ternyata di 13 TPS itu Jokowi masih menang. Alhasil Kubu Prabowo mulai menuntut agar jumlah TPS yang dilakukan pencoblosan ulang diperbanyak, maksimal hingga 5,000 TPS.
  7. Yang paling fresh, hari ini Prabowo secara terbuka menyerukan kepada KPU untuk menunda pengumuman pemenang Pilpres, yang sedianya akan dilakukan tanggal 22 Juli mendatang. Kubu Prabowo bahkan menuntut pilpres ulang. Ketua tim sukses Prabowo, Mahfud MD, juga sempat menyatakan bahwa jika KPU menolak rekomendasi dari tim sukses Prabowo, maka mereka bisa membawa masalah ini hingga ke Mahkamah Konstitusi (MK). However, di kesempatan yang lain, Pak Mahfud juga sempat bilang bahwa kalau KPU memenangkan Jokowi, maka ia akan menerimanya (sepertinya beliau masih bingung).
Well, komentar anda???
NB: Preorder untuk pemesanan ebook kumpulan analisis dan rekomendasi saham edisi Kuartal II 2014 sudah dibuka. Keterangan selengkapnya baca [...]

Ebook Analisis Kuartal II 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2014 (Q2 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid. Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali
  2. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  3. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  4. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG). 
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 11 Agustus 2014. Anda bisa memperoleh ebook-nya dengan cara preorder disini.
Berikut screening ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada TH & Partners, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu.
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan edisi kali ini merupakan edisi keenam belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi teguhhidayat.com, boleh baca contoh-contoh analisis yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini:
  1. Resource Alam Indonesia (KKGI)
  2. Indofood Sukses Makmur (INDF)
  3. Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)
  4. Adira Dinamika Multifinance (ADMF)
  5. Jasa Marga (JSMR)
  6. Astra International (ASII), dan seterusnya.
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Chitose International

Apa yang terlintas di kepala anda ketika mendengar kata ‘Chitose’? Kalau penulis sih, saya langsung teringat dengan kursi-kursi lipat yang suka ada di acara-acara kondangan. Dan Chitose International (CINT) adalah memang merupakan perusahaan produsen kursi lipat (folding chair) paling terkemuka di Indonesia. Namun pada saat ini CINT tidak hanya membuat kursi lipat saja, melainkan membuat berbagai produk furniture umum untuk dijual ke perusahaan event organizer (untuk mereka sewakan ke acara pernikahan dll), gedung-gedung kantor, residensial, hotel, restoran, sekolah, hingga rumah sakit. Untuk kedepannya perusahaan masih memiliki sejumlah rencana pengembangan usaha, dimana kebutuhan dananya diperoleh dari IPO-nya pada bulan Juni 2014 kemarin.

Sejarah perusahaan dimulai pada tahun 1980, dimana Chitose Manufacturing Japan, sebuah perusahaan kursi lipat asal Jepang, membuka pabrik pertamanya di Indonesia (tepatnya di Cimahi) dibawah bendera PT Chitose Indonesia. Dua puluh tahun kemudian yakni pada tahun 2000, terjadi perubahan kepemilikan perusahaan dimana PT Chitose Indonesia diakuisisi oleh PT Tritirta Inti Mandiri, sebuah perusahaan lokal yang juga merupakan pemilik dari PT Trisula International (TRIS, perusahaan garment asal Bandung), sehingga Chitose berubah status dari perusahaan Jepang menjadi perusahaan lokal, namun nama Chitose tetap dipertahankan sebagai nama perusahaan. Pada tahun-tahun berikutnya, perusahaan terus menjalin hubungan kerja dengan perusahaan-perusahaan Jepang untuk membuat kursi dan meja lipat serta untuk mengekspor produk-produk furniture ke Jepang.

Pada tahun 2012, Chitose mengakuisisi lima perusahaan distributor yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Denpasar, sehingga perusahaan kini memiliki unit distributor sendiri (sebelumnya Chitose selalu mendistribusikan produk-produknya melalui pihak ketiga). Pada tahun 2013, PT Chitose Indonesia berubah nama menjadi PT Chitose International, dan sukses go public setahun kemudian dengan CINT sebagai kode sahamnya.
Ada beberapa hal yang membuat CINT sangat bisa dipertimbangkan untuk investasi. Pertama, CINT merupakan pemimpin pasar di seluruh jenis produk furniture-nya tanpa terkecuali, selain karena merk ‘Chitose’ merupakan merk kursi lipat paling populer di Indonesia. Berdasarkan data dari lembaga riset Markplus, per tahun 2014, CINT memegang pangsa pasar antara 24 – 38% (terbesar diantara semua kompetitornya) untuk produk-produk kursi dan meja, baik yang bisa dilipat maupun tidak, yang biasa digunakan oleh hotel, restoran, foodcourt, kantor, dan sekolah.
Kedua, CINT mencatatkan track record pertumbuhan yang meyakinkan dalam tiga belas tahun terakhir. Pada tahun 2001, atau setahun ketika manajemen yang baru mengambil alih perusahaan, CINT hanya memproduksi 13 varian kursi dan meja. Tapi sekarang? CINT sudah memiliki lebih dari 300 varian produk! Dan kesemuanya sukses menjadi pemimpin di pasarnya masing-masing. Kesuksesan ini terutama karena perusahaan mampu menjalin hubungan baik dengan perusahaan-perusahaan Jepang dalam hal transfer teknologi (untuk pembuatan kursi) dan juga memiliki pelanggan tetap di Jepang sana. CINT juga sukses dalam hal memasarkan produk-produknya hingga ke pelosok nusantara, dimana pada saat ini perusahaan memiliki kantor-kantor pemasaran yang tersebar di 22 kota besar di Indonesia, dari Medan sampai Jayapura. Jika itu belum cukup, maka sejak beberapa tahun terakhir CINT juga memasarkan produk-produknya secara online, dalam hal ini dengan bekerja sama dengan salah satu toko online termuka di Indonesia, Rakuten (www.rakuten.co.id).
Nah, kalau dibandingkan dengan perusahaan furniture yang satunya lagi, yakni Gema Grahasarana (GEMA), maka CINT memiliki keunggulan dalam hal produk-produknya bisa dibeli secara online. Sementara kalau anda mau beli furniture merk Vivere (merk furniture milik GEMA), maka anda harus datang ke gerai-nya. Harga dari furniture yang dijual CINT juga lebih murah, sehingga pangsa pasarnya otomatis lebih luas dan perputaran barangnya lebih cepat. Pada tahun 2013, CINT mencatatkan inventory turnover sebesar 7.2 kali, yang itu artinya perusahaan bisa memutar persediaan produknya hingga lebih dari tujuh kali dalam setahun. Dan untuk ukuran perusahaan manufaktur, jujur saja, itu adalah angka turnover yang sangat baik.
Dan yang ketiga, jika selama ini perusahaan hanya mengandalkan pabrik satu-satunya yang berlokasi di Cimahi, maka kedepannya perusahaan akan mendirikan satu lagi pabrik baru (masih di Cimahi) untuk menambah kapasitas produksi, dimana kebutuhan dananya diperoleh dari IPO-nya kemarin. Dari IPO-nya tersebut, CINT memperoleh dana sekitar Rp99 milyar, dimana itu sudah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pendirian pabrik baru, mulai dari membeli lahan, konstruksi pabrik serta gudang, pembelian mesin-mesin dan alat-alat berat, dan modal kerja.
Yang menarik disini adalah, jika anda perhatikan, Rp99 milyar bukanlah dana yang terlalu besar untuk ukuran perusahaan yang terdaftar di bursa saham Indonesia. Jadi penulis pribadi cukup terkesan bahwa ‘hanya’ dengan dana segitu perusahaan bisa mendirikan pabrik baru (jadi gak perlu ngutang, sehingga neraca perusahaan praktis menjadi sehat), dan bahkan masih ada sisanya untuk mendirikan ruang-ruang pamer (showroom) dengan konsep flagship shop (toko khusus Chitose, dengan plang nama Chitose yang buessaaaar dan kelihatan dari pinggir jalan) di kantor-kantor pemasaran milik perusahaan di Jabodetabek dan Jawa Timur. Flagship shop ini tentunya diharapkan akan semakin meningkatkan volume penjualan dari produk-produk yang dibuat perusahaan.
Sudah tentu, pabrik baru serta flagship shop tadi baru akan beroperasi nanti, dalam hal ini tahun 2016, karena proses pembangunannya membutuhkan waktu. Namun tanpa mengharapkan pabrik baru tersebut sekalipun, track record pertumbuhan kinerja CINT dalam lima tahun terakhir cukup mengesankan. Berikut datanya, angka dalam milyaran Rupiah. Perhatikan nilai pendapatan CINT yang setiap tahunnya selalu jauh lebih besar dibanding nilai ekuitas perusahaan:
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013
Ekuitas
40
45
58
71
185
Pendapatan
210
224
239
254
288
Laba Bersih
13
18
20
23
42
Yang perlu dicatat disini adalah, laba CINT senantiasa meningkat dalam lima tahun terakhir ketika volume produksi kursi dan mejanya sama sekali tidak bertambah. Pada tahun 2008, CINT memproduksi 1.22 juta unit furniture berbagai jenis. Dan lima tahun kemudian yakni pada tahun 2013, volume produksi tersebut malah turun sedikit menjadi 1.18 juta unit. Hal ini karena satu-satunya pabrik milik perusahaan hanya memiliki kapasitas produksi maksimal 1.3 juta unit per tahun.
Jadi menarik untuk melihat nanti ketika CINT memperoleh tambahan kapasitas produksi dari pabriknya yang baru, dimana jika ketika itu pasar furniture masih bagus seperti saat ini, maka pendapatan serta laba perusahaan seharusnya akan melonjak signifikan. Margin laba perusahaan juga menjadi lebih baik sejak tahun 2012, setelah CINT memiliki distributornya sendiri.
Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
Pasca IPO, nilai ekuitas CINT akan menjadi kurang lebih Rp280 milyar. Dengan market cap Rp348 milyar pada harga Rp348 per lembar saham (jumlah saham beredar perusahaan adalah persis 1 milyar lembar) maka CINT mencatat PBV-nya adalah 1.2 kali. Actually, ini harga yang sangat murah untuk perusahaan yang punya nama besar, memiliki perputaran bisnis yang cepat (jadi gampang jualannya), dan memiliki rasio keuntungan yang sangat besar (rata-rata ROE-nya diatas 25%). Penulis tidak tahu kenapa kok CINT ini nggak terbang dan hanya naik sedikit setelah dia IPO-nya, tapi yang jelas ini menjadi kesempatan bagi kita sebagai bargain hunter.
Satu-satunya risiko yang mungkin anda tanggung kalau anda invest di CINT ini adalah ketergantungan perusahaan terhadap baja jenis stainless steel untuk bahan baku pembuatan kursi dan meja. Dan harus diakui, perusahaan mencatatkan peningkatan keuntungan yang signifikan dalam dua tahun terakhir karena harga baja itu sendiri sedang turun. Selain itu kalau anda perhatikan saham GEMA sebagai sesama perusahaan furniture, maka GEMA juga relatif murah tapi toh nggak naik-naik juga, selain sahamnya sendiri tidak likuid (CINT juga kemungkinan tidak akan likuid).
However, undervalue is undervalue. Seperti halnya GEMA yang, meski belum naik, tapi juga sulit untuk turun karena sudah murah, maka demikian pula halnya dengan CINT. Dan jika laporan keuangan terbaru CINT nanti masih mencatatkan kinerja yang sama baiknya seperti periode sebelumnya, maka sahamnya pun tidak akan butuh waktu lama untuk take off. We’ll see.
PT Chitose International, Tbk
Rating Kinerja pada 2013: AAA
Rating Saham pada 348: A
NB: Anda bisa men-download prospektus lengkap CINT

Antara Pajak, Inflasi, dan Return Investasi

Apa itu inflasi? Saya yakin teman-teman akan setuju jika inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Tapi menurut saya itu hanya mitos. Inflasi menurut saya adalah cara pemerintah menarik pajak dari rakyatnya dengan cara mencetak uang baru sehinga jumlah uang yang beredar lebih banyak dari jumlah barang yang beredar.

Catatan: Sebelum anda melanjutkan membaca, perlu dicatat bahwa artikel ini bukan ditulis oleh Teguh Hidayat, melainkan oleh salah seorang kontributor.
Banyak orang ingin kaya. Mereka bekerja keras untuk meningkatkan jumlah nol di rekening mereka, namun mereka tidak menyadari meskipun jumlah nol di rekening mereka meningkat namun nilainya menurun.  Misalkan anda punya uang  Rp60 juta di tahun 2008, kemudian uang tersebut anda investasikan ke deposito dan ditambah dengan hasil kerja keras anda uang tersebut menjadi  Rp90 juta di tahun 2013. Terlihat nominal uang anda meningkat Rp30 juta atau 50% dalam 5 tahun.  Anda bahagia, karena kekayaan anda meningkat.
Tapi benarkah demikian? Ternyata tidak! Di tahun 2008, uang anda yang senilai Rp60 juta bisa membeli 10 ton beras pada harga Rp6,000 per kilogram. Namun di tahun 2013 uang anda yang senilai Rp90 juta ternyata hanya bisa membeli 9 ton beras (Rp10.000/kg). Bukan inflasi, namun pajak-lah yang menyebabkan nilai mata uang anda menurun meskipun nominal uang anda bertambah.
Ada dua cara pemerintah menarik pajak. Yang pertama, dengan cara terang-terangan. Misalnya laba perusaahan anda Rp1 miliar, dipotong pajak 25% menjadi  Rp750 juta.  Contoh lain ada makan direstoran Rp100,000 dikenakan pajak 10% sehingga jumlah yang harus anda bayar Rp110,000.
Yang kedua, dengan cara yang lebih halus dan tersembunyi, yang membuat anda tidak menyadari bahwa anda telah membayar pajak, yaitu dengan cara mencetak uang baru. Misalnya di negara Indonesia pada tahun 2013, jumlah uang yang beredar adalah Rp1,000. Luas tanah Indonesia 10 meter persegi, maka harga tanah akan menjadi Rp100 per meter.  Jika pemerintah di tahun 2014 mencetak uang 10% dari jumlah uang yang beredar, maka jumlah uang yang beredar akan menjadi  Rp1,100, sehingga harga tanah akan menjadi  Rp110 per meter di tahun 2014.
Jadi pada tahun 2014, anda harus membeli tanah pada harga Rp110 per meter, atau lebih tinggi Rp10 di banding tahun 2013. Kenaikan sebesar Rp10 tersebut merupakan pajak.  Jika anda menonton televisi maka pejabat negara akan  menyebut  kenaikan harga-harga barang sebagai inflasi. Padahal kenaikan harga tersebut adalah  ‘akibat’, sementara ‘penyebabnya’ tidak pernah dibahas. Wajar saja jika pemerintah menutup-nutupi penyebab kenaikan harga barang-barang ini, karena kita pasti akan marah jika mengetahui bahwa kita dikenai pajak melalui hak monopoli percetakan uang oleh negara.

Sang Pencetak Rupiah
Menurut saya cara kedua adalah cara menagih pajak yang paling adil. Warga menengah kebawah yang punya uang tunai Rp1 juta membayar pajak Rp100,000 pertahun. Warga menengah keatas yang mempunyai penghasilan Rp10 milyar membayar pajak Rp1 milyar. Jika anda pekerja kantoran, tangan pajak bisa menjangkau anda melalui perusahaan dimana pajak dipotong langsung oleh perusahaan. Tapi lain halnya dengan tukang bakso, tukang sayur, pengemis, pemulung, tukang ojek dan profesi sejenisnya, dimana mereka tidak kena pajak penghasilan atau pajak penjualan.
Padahal, jangan dikira mereka ini penghasilannya rendah. Seorang pemulung bisa meraup Rp100,000 – Rp200,000 per hari, 365 hari per tahun, jadi jelas bahwa penghasilan mereka sudah melewati batas kena pajak. Sayangnya penarik pajak tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Oleh sebab itu diperlukan cara untuk mempajaki mereka yaitu lewat inflasi, yakni inflasi yang menggerus nilai riil tabungan mereka. Kalau uang kertas diperbanyak jumlahnya, maka nilainya akan turun. Akibat selanjutnya adalah nilai riil tabungan turun.
Pajak ini, atau yang kita kenal dengan istilah inflasi, sangat penting untuk diperhatikan karena terkait return investasi. Beberapa orang investor atau fund manager membanggakan return investasi mereka yang diatas rata-rata pasar setiap tahunnya, namun melupakan fakta bahwa return tersebut belum ‘dipotong pajak’ berupa inflasi. Simpel saja. Pada tahun 2000, satu bungkus nasi di warung makan sederhana harganya Rp1,000. Sekarang? Sekitar Rp3,000. Ini artinya kalau nilai aset anda di saham pada tahun 2000 adalah Rp100 juta, misalnya, dan pada saat ini aset anda tersebut telah tumbuh tiga kali lipat menjadi Rp300 juta, maka sejatinya tingkat pertumbuhannya adalah nol persen, karena 300 juta pada hari ini nilainya adalah kurang lebih sama dengan 100 juta di tahun 2000.
Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari pajak dalam wujud inflasi. Saya menyarankan agar anda:
  1. Jangan menyimpan uang tunai karena nilai uang tunai anda akan tergerus 10 – 11% setiap tahun. Sebagai gambaran, jumlah mata uang Rupiah yang beredar pada Januari 2013 tercatat Rp3,268 triliun. Dan pada januari 2014 uang yang beredar telah mencapai Rp3,649 Triliun, yang itu artinya pemerintah mencetak/menambah uang baru sebesar 11.6%. Untuk mengetahui perkembangan uang yang beredar silahkan buka link berikut: http://www.bi.go.id/id/publikasi/perkembangan/Pages/M2_april_2014.aspx.
  2. Jangan investasikan uang anda pada barang-barang yang nilainya terdepresiasi/turun dari tahun ke tahun. Contohnya: mobil.
  3. Jangan investasikan uang anda ke instrument investasi yang imbal hasilnya kurang dari persentase pertumbuhan jumlah uang yang beredar, dalam hal ini kurang dari 10 – 11% tadi. Deposito adalah salah satu contohnya.
  4. Jika anda berani mengambil resiko, maka investasikan uang anda ke saham. Silahkan baca-baca buku tentang Warren Buffet atau semacamnya.
Di Indonesia, memang sulit untuk mengalahkan inflasi karena rate inflasi itu sendiri sangat tinggi, dan ini berbeda dengan deflasi yang terjadi di Jepang.  Jika terjadi deflasi maka nilai uang akan naik dari tahun ke tahun, dan akibatnya harga barang-barang akan turun. Di Jepang uang anda cukup di simpan di bawah bantal, nilainya akan naik dari tahun ke tahun. Misalnya jika anda membeli rumah tahun 1990 seharga Rp1 miliar, sekarang anda mungkin hanya perlu membayar Rp300 juta untuk rumah yang sama.
Sementara saat terjadi inflasi maka kita harus menyimpan uang kita dalam bentuk barang. Namun menyimpan barang punya kelemahan, yaitu butuh waktu untuk mengubahnya menjadi uang cash, dan barang itu sendiri bisa lapuk dimakan usia (misalnya besi bisa berkarat). Jadi saya menyarankan agar anda investasi di tanah. Mengapa tanah? Tanah tidak bisa lapuk dimakan usia, hanya bisa dicuri atau diklaim orang kalau tidak dijaga. Berbeda dengan rumah, rumah masih bisa runtuh. Pemerintah bisa mencetak uang sesuka hati, namun pemerintah tidak bisa mencetak tanah. Jika pemerintah mencetak uang 10%, nilai riil tanah juga akan naik 10%.
Sebagai gambaran, pada tahun 2014, harga tanah di Jln. Rasuna Said, Jakarta, adalah sekitar Rp30 juta, sementara di Jln. Sudirman Rp50 – 60 juta per meter persegi. Jika dihitung dari tahun 1983 hingga 2014 atau kurang lebih selama 31 tahun, maka investasi di tanah di Jakarta kususnya di Jalan Rasuna said dan Sudirman telah memberikan return sekitar 14% per tahun, atau sudah lebih besar dari tingkat inflasi.
Selain tanah, emas juga bisa menjadi alat untuk melindungi nilai aset dari inflasi. Pada tahun 1996, harga emas adalah sekitar US$ 400 per oz, dan hari ini sudah menjadi US$ 1,323 per oz. Dengan mempertimbangkan kurs Rupiah yang pada saat itu (tahun 1996) adalah Rp2,500 per Dollar, sementara pada saat ini sudah menjadi Rp11,000 per Dollar, maka tingkat kenaikan harga emas selama delapan belas tahun terakhir juga sudah mengalahkan inflasi.
Baiklah, saya kira sudah cukup. Ada yang mau menambahkan? Saya terbuka untuk berdiskusi :)
Penulis bernama Yudi Susanto, pekerjaan pengusaha, tinggal di Provinsi Bangka Belitung. Saya bisa dihubungi melalui email shen_long05@yahoo.com
NB: Jika anda memiliki tulisan terkait investasi saham atau hal lain yang terkait, yang sekiranya bermanfaat untuk orang banyak, maka silahkan kirim tulisan anda tersebut ke email teguh.idx@gmail.com. Untuk tulisan yang dimuat, pada bagian bawahnya akan ditampilkan nama lengkap anda sebagai kontributor, biodata singkat, nomor kontak anda (email, nomor telepon, pin BB, dll), dan alamat website anda (jika ada).

Website teguhhidayat.com setiap minggunya memperoleh kunjungan sekitar 20,000 kali, sehingga artikel anda akan dibaca oleh banyak orang yang rata-rata merupakan investor saham/pelaku pasar modal. Setiap artikel yang ditayangkan akan sedikit diedit tanpa mengubah arti dan maksud kalimatnya, agar lebih enak dibaca.

Layanan preorder untuk pemesanan Buku Kumpulan Analisis edisi Kuartal II 2014 sudah dibuka! Keterangan selengkapnya baca [...]

Cipaganti Citra Graha

Setelah mengalami keterlambatan pembayaran bunga, plus juga gagal mengembalikan modal pokok milik para investor selama beberapa bulan, pihak penegak hukum akhirnya turun tangan terhadap kasus Koperasi Cipaganti. Tidak tanggung-tanggung, kemarin Polda Jabar menetapkan status tersangka kepada tiga orang sekaligus. Mereka adalah Andianto Setiabudi, Julia Sri Redjeki, dan Yulinda Tjendrawati, yang merupakan pengurus utama koperasi yang masih satu keluarga. Karena ketiga figur ini merupakan juga anggota manajemen langsung dari Cipaganti Citra Graha (CPGT), dalam hal ini sebagai presiden direktur, presiden komisaris, dan komisaris, maka jadilah saham CPGT kena imbasnya dan sempat jatuh hingga ke posisi 54, atau turun lebih dari 70% dibanding harga IPO-nya yakni 190, sebelum kemudian naik lagi ke posisinya saat ini yakni 72.

Nah, kalau urusan soal Koperasi-nya sih, penulis nggak ambil pusing lah, karena saya nggak pernah ikut begituan. Tapi pertanyaanya sekarang, bagaimana kalau ada investor yang memegang CPGT di harga atas? Dan bagi investor yang belum masuk, maka apakah CPGT pada harganya saat ini menarik secara valuasi, mengingat PBV-nya cuma 0.4 kali? Untuk itu mari kita pelajari lagi CPGT ini dari awal. Agar nggak jadi melebar kemana-mana, maka pembahasan di bawah ini akan fokus ke CPGT-nya, dan bukan Grup Cipaganti secara keseluruhan.

CPGT dirintis pertama kali sebagai perusahaan jual beli mobil bekas di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1984. Seiring berjalannya waktu, usaha berkembang hingga perusahaan masuk juga ke bisnis penyewaan mobil dan alat-alat berat. Hingga ketika perusahaan go public pada tahun 2013, Grup Cipaganti sudah merambah ke banyak sekali bidang usaha, namun yang ditempatkan dibawah CPGT adalah usaha-usaha berikut: 1. Travel & Shuttle, 2. Jasa perjalanan wisata, jasa pembelian tiket pesawat terbang, dan rental bis pariwisata, 3. Rental mobil, 4. Jasa kurir dan kargo, 5. Taksi, dan 6. Rental alat-alat berat.
Jika disimpulkan, CPGT terutama bergerak di bidang jasa transportasi, penyewaan alat-alat berat, dan perjalanan wisata. Pada Kuartal I 2014, CPGT mencatat pendapatan Rp139 milyar dimana Rp110 milyar diantaranya berasal dari jasa transportasi, sehingga boleh dibilang bahwa dua unit bisnis lainnya hanya berkontribusi sedikit terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Dan ini menarik mengingat pada komposisi aset tetap perusahaan, nilai buku dari aset alat-alat berat milik CPGT tercatat Rp464 milyar, atau hanya sedikit lebih kecil dibanding nilai aset kendaraan yakni Rp613 milyar. Artinya? Return atau keuntungan yang diperoleh CPGT dari bisnis penyewaan alat-alat beratnya jauh lebih kecil dibanding bisnis jasa transportasi.
Dan kalau keuntungan yang kecil tersebut tergerus oleh penyusutan yang terjadi pada alat-alat berat yang disewakan, maka holaaa.. Jadilah perusahaan merugi. Dan memang pada Kuartal I 2014, CPGT mencatat rugi Rp3 milyar dari bisnis rental alat-alat beratnya, dimana kondisi merugi ini sudah terjadi sejak tahun 2013 karena berkurangnya pelanggan dari kalangan pengusaha tambang (pada tahun 2012, bisnis rental alat-alat berat masih menghasilkan keuntungan meski kecil).
Seperti yang pernah penulis sampaikan di analisis terkait Adi Sarana Armada (ASSA), bisnis penyewaan kendaraan dan alat-alat berat kurang prospektif untuk investasi karena jika pada waktu-waktu tertentu manajemen gagal dalam memperoleh pelanggan, maka pendapatan perusahaan akan berkurang, namun penyusutan jalan terus. Bisnis ini juga biasanya membutuhkan banyak leverage (baca: utang) agar jumlah armada bisa lebih banyak ketimbang jika perusahaan membeli kendaraan hanya menggunakan uang milik sendiri. Tapi memang jika dibandingkan perusahaan sejenis seperti ASSA, atau Expressindo Transindo Utama (TAXI), maka utang CPGT nggak terlalu besar. However, karena sejak awal margin laba bersih yang diperoleh CPGT terbilang kecil, yakni rata-rata kurang dari 10% laba bersih, maka perusahaan ini tetap menghadapi risiko kerugian jika sewaktu-waktu bank menaikkan bunga pinjamannya, mengingat mayoritas pinjaman bank yang diperoleh CPGT memiliki suku bunga yang floating.
Hubungannya dengan Koperasi Cipaganti
Okay, CPGT mungkin tidak menarik untuk investasi jangka panjang. Tapi yang jelas sahamnya sekarang cuma 72 perak, dengan PBV yang juga sudah sangat rendah. Bayangkan, pada harga sahamnya saat ini, nilai CPGT secara keseluruhan hanyalah Rp260 milyar, padahal modal disetor perusahaan tercatat Rp361 milyar, belum termasuk ditambah akumulasi saldo laba! Jadi jika seseorang mengakuisisi 100% saham CPGT pada harganya saat ini, kemudian ia (daripada pusing) memutuskan untuk melikuidasi perusahaan alias menjual murah seluruh aset-aset kendaraan, alat-alat berat, serta lainnya, kemudian sebagian uangnya dipakai untuk melunasi seluruh utang perusahaan, maka ia tetap akan memperoleh keuntungan yang signifikan.
Dan bagi investor/trader di pasar modal, saham ini mungkin kasih cuan besar kalau nanti masalah hukum yang dialami pengurus perusahaan selesai, dan sahamnya pun naik kembali. Faktanya kalau ada trader yang cukup bernyali mengambil CPGT ini di harga 50-an, maka sekarang dia sudah cuan lebih dari dua puluh persen. Untuk itu, mari kita coba lihat lagi kasus Koperasi Cipaganti dari awal.
Koperasi, seperti yang sudah penulis bahas disini, adalah jenis badan hukum yang jauh lebih sederhana dibanding perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas atau PT, tapi sama-sama bisa memperoleh pendanaan dari luar. Jika anda memiliki sebuah PT, maka melalui PT tersebut anda bisa mengajukan pinjaman ke bank, menerbitkan saham, menggelar IPO, hingga menerbitkan obligasi. However, proses untuk melakukan itu semua tidaklah mudah. Ketika anda hendak pinjam dana ke bank, misalnya, maka anda harus menyediakan aset senilai sekian sebagai jaminan, dan PT tersebut juga harus sudah beroperasi sekian tahun serta memiliki track record yang bisa dipertanggung jawabkan.
Namun hal yang sama tidak berlaku untuk koperasi. Jika anda mengelola sebuah koperasi, maka selama anda bisa meyakinkan para calon investor untuk menempatkan dananya pada koperasi tersebut, then holaa.. you got the money! Anda tidak perlu memberikan jaminan apapun terhadap si investor, yang penting anda bisa secara rutin membayarkan bunga yang memang sudah dijanjikan setiap bulannya.
Persoalannya adalah, beban bunga yang ditanggung koperasi biasanya sangat besar. Anda tidak akan bisa menarik minat investor untuk menempatkan dana di koperasi anda jika anda tidak menawarkan bunga yang jumbo, katakanlah 2% per bulan, atau setara 24% per tahun (Koperasi Cipaganti sendiri menawarkan bunga hingga 1.95% per bulan). Sementara kalau anda pinjam ke bank, bunganya paling-paling cuma 12 – 14%. Kalau anda sukses menerbitkan obligasi, maka bunganya bisa rendah lagi, bisa lebih rendah dari 10% kalau menerbitkannya diluar negeri (di Singapura). Namun adalah wajar jika koperasi ‘terpaksa’ menawarkan bunga sebesar itu, karena mereka tidak menjaminkan apapun kepada investor, kecuali selembar surat yang ditanda tangani didepan notaris yang berisi perjanjian bahwa jika terjadi kerugian, maka pihak koperasi akan melikuidasi/menjual aset-asetnya untuk kemudian mengembalikan dana hasil penjualan aset tersebut kepada investor.
Tapi karena beban bunga yang ditanggung koperasi sangat besar, maka jika pengurus koperasi yang bersangkutan bisa memperoleh sumber dana dengan cara yang lain, yang tidak membebaninya dengan bunga yang besar, maka tentunya ia tidak perlu lagi meneruskan koperasinya. Contohnya, kalau saya sukses memperoleh pinjaman dari bank dengan tingkat bunga 12% per tahun, maka ngapain saya masih harus bayar bunga 24% kepada para nasabah koperasi yang saya kelola? Jika nanti saya bisa menerbitkan obligasi dengan bunga 9%, maka tentu utang-utang bank juga akan saya kurangi. Dan seterusnya.
Dan penulis pikir itulah kekeliruan yang dilakukan oleh Bapak Andianto Setiabudi, pendiri sekaligus pemilik dari seluruh Grup Cipaganti. Ketika ia sukses meng-IPO-kan CPGT ke pasar saham pada tahun 2013 kemarin (jangan salah, meng-IPO-kan perusahaan itu nggak gampang lho!), ia entah kenapa masih terus mempertahankan Koperasi Cipaganti-nya. Coba lihat pengusaha besar lain: Adakah yang masih capek-capek mengurus koperasi, jika itu tujuannya untuk menghimpun dana dari masyarakat, ketika mereka sudah sukses go public?
Atau mungkin bisa jadi juga bahwa Bapak Andianto ini sebenarnya sudah berniat untuk membubarkan koperasinya, namun timing-nya kurang tepat dimana pada tahun 2012 dan 2013, bisnis yang dialami Grup Cipaganti mengalami kemunduran sehingga ia tidak bisa serta merta membubarkan dan melikuidasi aset-aset koperasinya. Ketika Mr. Andianto beserta kerabatnya akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, menurut penulis itu adalah puncak dari timing yang tidak tepat tadi.
Lalu kapan kira-kira CPGT bakal naik kembali?
However, nasi sudah jadi bubur, dan Mr. Andianto beserta Grup Cipaganti-nya sekarang sudah berubah dari ‘pengusaha penuh inspirasi’ menjadi ‘tersangka kasus penipuan’. Mungkin ini yang Warren Buffett maksud dengan ‘It takes twenty years to build a reputation and five minutes to ruin it’. Terkait dengan saham CPGT yang kini terpuruk, maka untuk bisa naik lagi akan tergantung dari beberapa hal berikut:
Pertama, terkait kasus ‘penipuan’ yang dilakukan Mr. Andianto (kata penipuan disini mungkin harus diberi tanda kutip karena kalau melihat reputasi baiknya selama ini, sulit untuk mempercayai bahwa Mr. Andianto adalah seorang penipu, melainkan dia lagi sial saja), ending-nya nanti ada dua kemungkinan, yakni Mr. Andianto beserta dua tersangka lainnya benar-benar dijebloskan ke penjara, atau ketiga tersangka hanya dipidana denda dan ganti rugi, tapi nggak sampai dipenjara. Manapun yang terjadi, kemungkinan tetap bakal jadi sentimen negatif bagi CPGT. Kalau Mr. Andianto dipenjara, maka CPGT harus memilih presiden direktur yang baru, padahal selama ini peran Mr. Andianto-lah yang menyebabkan CPGT sukses menjadi besar hingga akhirnya juga sukses menggelar IPO. Jadi siapapun penggantinya nanti, maka itu tetap akan menimbulkan keraguan bahwa dirut baru ini akan mampu memimpin CPGT, apalagi trend bisnis perusahaan dalam setahun terakhir memang sedang menurun.
Namun kalau Mr. Andianto tidak sampai dipenjara, maka itu juga akan menimbulkan sentimen buruk karena ini bukan kali pertama seorang tersangka dari kasus penipuan yang menyebabkan kerugian bagi banyak orang, pada akhirnya lolos dari ancaman jeruji besi. Sudah pasti nanti akan ada tuduhan bahwa Cipaganti menyuap polisi dan semacamnya, tak peduli meski Mr. Andianto membayar ganti rugi ke seluruh nasabah koperasi (Masih ingat kasus tabrakan yang melibatkan Rasyid Radjasa? Anak bungsu Hatta Radjasa ini juga tetap mendapat cemoohan dari publik hanya karena ia tidak dipenjara, padahal bapaknya udah ganti rugi habis-habisan ke korban kecelakaan).
Itu yang pertama, terkait penyelesaian kasusnya yang ‘serba salah’. Yang kedua, pada Kuartal I 2014 laba CPGT turun sekitar 65%, dan kemungkinan trend penurunan ini akan berlanjut pada Kuartal II mendatang karena perusahaan tentunya perlu waktu untuk meningkatkan pendapatannya kembali, apalagi ketika di saat yang bersamaan, dirutnya malah sibuk berurusan dengan polisi. Jadi ketika perusahaan merilis laporan keuangan Kuartal II-nya pada akhir Juli nanti, dimana kinerjanya kembali memburuk, maka itu juga akan jadi sentimen buruk bagi sahamnya.
Intinya sih, sulit untuk melihat saham CPGT akan naik kembali ke posisi sebelum dia jatuh, kecuali: 1. Mr. Andianto cs, entah dengan cara apa, sukses menyelesaikan kasusnya dengan penyelesaian yang positif, misalnya beliau tidak sampai dipenjara, dan mengumumkan melalui media bahwa Koperasi Cipaganti pada akhirnya berhasil membayar seluruh kewajibannya kepada nasabah, sehingga reputasi Cipaganti kembali pulih, dan/atau 2. CPGT menjual sebagian aset-asetnya dan uangnya kemudian dibukukan sebagai pendapatan, sehingga laba bersih perusahaan akan naik.
Nah, kalau belakangan ini CPGT kembali naik, maka kemungkinan itu karena terjadi peristiwa nomor 1, dimana Mr. Andianto sukses (setidaknya hingga saat ini) dalam menjalani kasusnya dengan baik, dan itu menjadi sentimen positif bagi saham CPGT. Pada persidangan yang digelar tanggal 3 Juli lalu, Mr. Andianto menyatakan kesanggupannya untuk melunasi seluruh kewajiban Koperasi Cipaganti terhadap seluruh nasabahnya, dengan cara menyerahkan aset-aset milik koperasi kepada pengadilan untuk kemudian dilikuidasi. Karena sebelumnya Koperasi Cipaganti senantiasa menunjukkan itikad baik dengan rutin menggelar meeting dengan para nasabahnya (jadi mereka nggak kabur), maka pernyataan Mr. Andianto ini untuk sejenak meredakan kekhawatiran para nasabah koperasi. Jika nanti proses likuidasi dari aset-aset milik Koperasi Cipaganti selesai dilakukan tanpa hambatan, dan seluruh nasabah koperasi memperoleh modal mereka kembali, maka CPGT akan melanjutkan kenaikannya. However, anda harus hati-hati jika nanti keluar berita bahwa Koperasi Cipaganti ternyata tidak memiliki cukup aset untuk membayar ganti rugi ke nasabahnya, atau semacamnya. Karena yang harus diingat disini adalah bahwa Koperasi Cipaganti belum membayar ganti rugi apapun, dan urusan Mr. Andianto dengan polisi dan pengadilan masih belum selesai.
Yang mungkin juga menarik untuk diperhatikan adalah, sejak bulan Juli 2013 lalu hingga April 2014, PT Cipaganti Global Corporindo sebagai pemegang saham mayoritas CPGT terus menjual saham CPGT ke publik di rentang harga Rp160 – 255 per saham. Apakah hal ini juga bertujuan untuk mengumpulkan dana untuk membayar kerugian yang diderita nasabah Koperasi Cipaganti? Kita lihat saja nanti.

Penulis membuat CD rekaman seminar dengan tema value investing dan nilai intrinsik saham. Anda bisa membelinya [...]

Antara Pajak, Inflasi, dan Return Investasi

Apa itu inflasi? Saya yakin teman-teman akan setuju jika inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Tapi menurut saya itu hanya mitos. Inflasi menurut saya adalah cara pemerintah menarik pajak dari rakyatnya dengan cara mencetak uang baru sehinga jumlah uang yang beredar lebih banyak dari jumlah barang yang beredar.

Catatan: Sebelum anda melanjutkan membaca, perlu dicatat bahwa artikel ini bukan ditulis oleh Teguh Hidayat, melainkan oleh salah seorang kontributor.
Banyak orang ingin kaya. Mereka bekerja keras untuk meningkatkan jumlah nol di rekening mereka, namun mereka tidak menyadari meskipun jumlah nol di rekening mereka meningkat namun nilainya menurun.  Misalkan anda punya uang  Rp60 juta di tahun 2008, kemudian uang tersebut anda investasikan ke deposito dan ditambah dengan hasil kerja keras anda uang tersebut menjadi  Rp90 juta di tahun 2013. Terlihat nominal uang anda meningkat Rp30 juta atau 50% dalam 5 tahun.  Anda bahagia, karena kekayaan anda meningkat.
Tapi benarkah demikian? Ternyata tidak! Di tahun 2008, uang anda yang senilai Rp60 juta bisa membeli 10 ton beras pada harga Rp6,000 per kilogram. Namun di tahun 2013 uang anda yang senilai Rp90 juta ternyata hanya bisa membeli 9 ton beras (Rp10.000/kg). Bukan inflasi, namun pajak-lah yang menyebabkan nilai mata uang anda menurun meskipun nominal uang anda bertambah.
Ada dua cara pemerintah menarik pajak. Yang pertama, dengan cara terang-terangan. Misalnya laba perusaahan anda Rp1 miliar, dipotong pajak 25% menjadi  Rp750 juta.  Contoh lain ada makan direstoran Rp100,000 dikenakan pajak 10% sehingga jumlah yang harus anda bayar Rp110,000.
Yang kedua, dengan cara yang lebih halus dan tersembunyi, yang membuat anda tidak menyadari bahwa anda telah membayar pajak, yaitu dengan cara mencetak uang baru. Misalnya di negara Indonesia pada tahun 2013, jumlah uang yang beredar adalah Rp1,000. Luas tanah Indonesia 10 meter persegi, maka harga tanah akan menjadi Rp100 per meter.  Jika pemerintah di tahun 2014 mencetak uang 10% dari jumlah uang yang beredar, maka jumlah uang yang beredar akan menjadi  Rp1,100, sehingga harga tanah akan menjadi  Rp110 per meter di tahun 2014.
Jadi pada tahun 2014, anda harus membeli tanah pada harga Rp110 per meter, atau lebih tinggi Rp10 di banding tahun 2013. Kenaikan sebesar Rp10 tersebut merupakan pajak.  Jika anda menonton televisi maka pejabat negara akan  menyebut  kenaikan harga-harga barang sebagai inflasi. Padahal kenaikan harga tersebut adalah  ‘akibat’, sementara ‘penyebabnya’ tidak pernah dibahas. Wajar saja jika pemerintah menutup-nutupi penyebab kenaikan harga barang-barang ini, karena kita pasti akan marah jika mengetahui bahwa kita dikenai pajak melalui hak monopoli percetakan uang oleh negara.
Menurut saya cara kedua adalah cara menagih pajak yang paling adil. Warga menengah kebawah yang punya uang tunai Rp1 juta membayar pajak Rp100,000 pertahun. Warga menengah keatas yang mempunyai penghasilan Rp10 milyar membayar pajak Rp1 milyar. Jika anda pekerja kantoran, tangan pajak bisa menjangkau anda melalui perusahaan dimana pajak dipotong langsung oleh perusahaan. Tapi lain halnya dengan tukang bakso, tukang sayur, pengemis, pemulung, tukang ojek dan profesi sejenisnya, dimana mereka tidak kena pajak penghasilan atau pajak penjualan.
Padahal, jangan dikira mereka ini penghasilannya rendah. Seorang pemulung bisa meraup Rp100,000 – Rp200,000 per hari, 365 hari per tahun, jadi jelas bahwa penghasilan mereka sudah melewati batas kena pajak. Sayangnya penarik pajak tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Oleh sebab itu diperlukan cara untuk mempajaki mereka yaitu lewat inflasi, yakni inflasi yang menggerus nilai riil tabungan mereka. Kalau uang kertas diperbanyak jumlahnya, maka nilainya akan turun. Akibat selanjutnya adalah nilai riil tabungan turun.
Pajak ini, atau yang kita kenal dengan istilah inflasi, sangat penting untuk diperhatikan karena terkait return investasi. Beberapa orang atau fund manager membanggakan return investasi mereka yang diatas rata-rata pasar setiap tahunnya, namun melupakan fakta bahwa return tersebut belum ‘dipotong pajak’ berupa inflasi. Simpel saja. Pada tahun 2000, satu bungkus nasi harganya Rp1,000. Sekarang? Sekitar Rp3,000. Ini artinya kalau nilai aset anda di saham pada tahun 2000 adalah Rp100 juta, misalnya, dan pada saat ini aset anda tersebut telah tumbuh tiga kali lipat menjadi Rp300 juta, maka sejatinya tingkat pertumbuhannya adalah nol persen, karena 300 juta pada hari ini nilainya adalah kurang lebih sama dengan 100 juta di tahun 2000.
Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari pajak dalam wujud inflasi. Saya menyarankan agar anda:
  1. Jangan menyimpan uang tunai karena nilai uang tunai anda akan tergerus 10 – 11% setiap tahun. Sebagai gambaran, jumlah mata uang Rupiah yang beredar pada Januari 2013 tercatat  Rp3,268 triliun. Dan pada januari 2014 uang yang beredar telah mencapai Rp3,649 Triliun, yang itu artinya pemerintah mencetak/menambah uang baru sebesar 11.6%.  Untuk mengetahui perkembangan uang yang beredar silahkan buka link ini :   http://www.bi.go.id/id/publikasi/perkembangan/Pages/M2_april_2014.aspx .
  2. Jangan investasikan uang anda pada barang-barang yang nilainya terdepresiasi/turun dari tahun ke tahun. Contohnya: mobil.
  3. Jangan investasikan uang anda ke instrument investasi yang imbal hasilnya kurang dari persentase pertumbuhan jumlah uang yang beredar, dalam hal ini kurang dari 10 – 11% tadi. Deposito adalah salah satu contohnya.
  4. Jika anda seorang yang berani mengambil resiko, investasikan uang anda ke saham. Silahkan baca-baca buku tentang Warren Buffet atau semacamnya.
Di Indonesia, memang sulit untuk mengalahkan inflasi karena rate inflasi itu sendiri sangat tinggi, dan ini berbeda dengan deflasi yang terjadi di Jepang.  Jika terjadi deflasi maka nilai uang akan naik dari tahun ke tahun, dan akibatnya harga barang-barang akan turun. Di Jepang uang anda cukup di simpan di bawah bantal, nilainya akan naik dari tahun ke tahun. Misalnya jika anda membeli rumah tahun 1990 seharga Rp1 miliar, sekarang anda mungkin hanya perlu membayar Rp300 juta untuk rumah yang sama.
Sementara saat terjadi inflasi maka kita harus menyimpan uang kita dalam bentuk barang. Namun menyimpan barang punya kelemahan, yaitu butuh waktu untuk mengubahnya menjadi uang cash, dan barang itu sendiri bisa lapuk dimakan usia (misalnya besi bisa berkarat). Jadi saya menyarankan anda  investasi ke tanah. Mengapa tanah? Tanah tidak bisa lapuk dimakan usia, hanya bisa dicuri atau diklaim orang kalau tidak dijaga. Berbeda dengan rumah, rumah masih bisa lapuk. Pemerintah bisa mencetak uang sesuka hati, namun pemerintah tidak bisa mencetak tanah.  Jika pemerintah mencetak uang 10%, nilai riil tanah juga akan naik 10%.
Sebagai gambaran, pada tahun 2014, harga tanah di Jln. Rasuna Said, Jakarta, adalah sekitar Rp30 juta, sementara di Jln. Sudirman Rp50 – 60 juta. Jika di hitung dari tahun 1983 – 2014 atau kurang lebih selama 31 tahun, investasi di tanah di  Jakarta  kususnya Rasuna said dan Sudirman telah memberikan return sekitar 14%, atau sudah lebih besar dari tingkat inflasi.
Selain tanah, emas juga bisa menjadi alat untuk melindungi nilai aset dari inflasi. Pada tahun 1996, harga emas adalah sekitar US$ 400 per oz, dan hari ini sudah menjadi US$ 1,323 per oz. Dengan mempertimbangkan kurs Rupiah yang pada saat itu (tahun 1996) adalah Rp2,500 per Dollar, sementara pada saat ini sudah menjadi Rp11,000 per Dollar, maka tingkat kenaikan harga emas selama delapan belas tahun terakhir sudah mengalahkan inflasi.
Baiklah, saya kira sudah cukup. Ada pertanyaan?
Penulis bernama Yudi, tinggal di Provinsi Bangka Belitung. Saya bisa dihubungi melalui email shen_long05@yahoo.com
NB: Jika anda memiliki tulisan terkait investasi saham atau hal lain yang terkait, yang sekiranya bermanfaat untuk orang banyak, maka silahkan kirim tulisan anda tersebut ke email teguh.idx@gmail.com. Untuk tulisan yang dimuat, pada bagian bawahnya akan ditampilkan nama lengkap anda sebagai kontributor, biodata singkat, nomor kontak anda (email, nomor telepon, pin BB, dll), dan alamat website anda (jika ada).
Website teguhhidayat.com setiap minggunya memperoleh kunjungan sekitar 20,000 kali, sehingga artikel anda akan dibaca oleh banyak orang yang rata-rata merupakan investor saham/pelaku pasar modal. Setiap tulisan yang masuk akan melalui proses seleksi, sehingga tidak semuanya akan [...]

Akhirnya! Jokowi!

Hari ini, Rabu, tanggal 9 Juli 2014 pukul 16.00, berdasarkan data quick count yang ditampilkan oleh Bloomberg TV (stasiun televisi yang, menurut penulis, boleh dikatakan netral dalam Pilpres kali ini), pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden nomor urut dua, yakni Joko Widodo dan Jusuf Kalla, atau disingkat Jokowi-JK, unggul dalam Pilpres 2014 dengan mengantongi 52.9% suara, berbanding pasangan Prabowo-Hatta yang hanya memperoleh 47.1% suara. Meski kemenangan ini terbilang sangat tipis, dan data quick count yang ditampilkan oleh stasiun televisi lain ada juga yang justru memenangkan Prabowo, namun sebagian besar data hasil quick count lebih berpihak pada Jokowi.

Karena itulah, penulis mengucapkan selamat bagi anda sekalian yang mendukung Jokowi-JK! Nah, sebelum kita mulai menganalisis macam-macam, mungkin ada baiknya kita merayakan kemenangan ini dulu. Kebetulan, penulis tinggal di Kelurahan Kebagusan, Jakarta Selatan, dimana Pak Jokowi barusan sempat mampir kesini, tepatnya ke rumah Ibu Megawati di Jalan Kebagusan 4. Dan berikut adalah foto-foto serta video di lokasi pertemuannya, yang bisa penulis peroleh. Klik gambar untuk memperbesar.
Bang Yos

Om Brewok

Dan akhirnya! Bapak Presiden bersama salah seorang calon Menterinya, Mas Anies (I’m sorry, this is the best picture I got. The crowds were heavy)

Dan yang ini adalah sedikit video ketika mobil Bapak Presiden keluar dari Kediaman Ibu Mega
Sedikit komentar penulis, kemenangan Jokowi versi quick count kali ini harus diakui sangat tipis, sehingga hasil akhir di KPU nanti bisa saja berbeda, bahkan mungkin bisa terjadi perdebatan hingga ke Mahkamah Konstitusi. However, kita akan membicarakan soal itu nanti. Untuk sekarang, bagaimana tanggapan anda tentang kemenangan Jokowi?

Dan bagaimana kira-kira pengaruh dari kemenangan Jokowi ini terhadap pasar saham, perekonomian nasional, dan juga kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia secara keseluruhan?

Ataukah pada akhirnya nanti justru Prabowo-Hatta yang [...]

Polling: Prabowo, atau Jokowi? (Forum)

Untuk minggu ini kalau kita bahas soal saham apapun, maka rasa-rasanya itu tidak akan menarik mengingat pandangan, fokus, dan pikiran semua orang tertuju pada Pilpres tanggal 9 Juli mendatang, yang tinggal hitungan hari lagi. Bahkan kalau anda ketemu dengan calon investor dari luar negeri sana, maka yang mereka tanyakan bukan ‘Saham apa yang bagus?’, melainkan, ‘Siapa Presiden yang akan terpilih?’

Karena itulah, melalui artikel forum ini, anda bisa menyampaikan siapa Presiden pilihan anda. Apakah itu calon Presiden nomor urut 1:
Ataukah calon presiden nomor urut 2:
Dan apa alasannya? Kalau bisa alasannya terkait posisi kita semua sebagai rakyat Indonesia ya, jadi bukan sekedar sebagai investor saham. Karena ingat bahwa siapapun Presiden yang akan terpilih nanti, maka tanggung jawab beliau tidak hanya seputar perekonomian apalagi hanya soal IHSG, melainkan terkait semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara keseluruhan.
Catatan: Komentar yang bernada black campaign akan langsung [...]

Training Value Investing & Gathering, Bandung

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Bandung, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bandung dan sekitarnya, sekaligus untuk berbuka puasa bersama, dan kita juga akan berdiskusi sedikit terkait Pilpres. Berikut keterangan selengkapnya:


Penulis ketika menjadi pembicara di Acara IDX Investor Gathering di Gedung BEI, Jakarta. Klik gambar untuk memperbesar

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk training kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya!
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Materi Tambahan: Outlook IHSG kedepan setelah Prabowo/Jokowi terpilih sebagai Presiden (pada tanggal 12 Juli nanti akan sudah ketahuan siapa Presiden RI untuk lima tahun kedepan, karena Pilpresnya sudah digelar tiga hari sebelumnya).
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Brick & Wood CafeJln. Cihampelas No.96, Bandung (dekat dengan jalan layang Pasoepati).
  • Hari/Tanggal: Sabtu12 Juli 2014
  • Waktu: Sore pukul 16.00 s/d 21.00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan malam, plus makanan dan minuman ringan/ta’jil bagi anda yang berbuka puasa (tapi bagi anda yang nggak berpuasa juga tetep dapet kok hehe)
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 15.30.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 3384.34.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Bandung, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Ruhut Sitompul, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus!
  1. Penulis menyediakan CD Seminar dengan tema Nilai Intrinsik senilai Rp95,000 bagi anda secara gratis! (akan diberikan ketika acara seminarnya nanti). CD ini berisi suara penulis ketika mengisi seminar sebelumnya dengan tema nilai intrinsik saham (baca artikel tentang nilai intrinsik saham disini).
  2. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. Of course, layanan ini juga gratis :)
  3. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.

Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB [...]

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Sekolah Internet Indonesia

Rahasia Flip Klik Disini

Panduan Rahasia Dropshipping

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.