Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Ebook Analisis Kuartal I 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal I 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada pada pertengahan Mei 2016. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Btw, pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukanscreening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Jadi sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa klik disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email 

Cara Mendidik Anak untuk Investasi Saham

Di buku ‘The Calm Investor’, penulis mengatakan bahwa seorang anak sudah bisa diajari untuk investasi di saham sejak usia 6 tahun. Dan seorang teman kemudian bertanya, bagaimana caranya? Orang dewasa aja kalau belajar saham kadang susahnya setengah mati, apalagi anak kecil? Well, tapi bagaimana kalau penulis katakan bahwa justru anak kecil bisa belajar saham lebih cepat dari orang dewasa, dan berpeluang lebih besar untuk menghasilkan profit?

Pertama, menganalisa saham itu sebenarnya tidak rumit, karena hanya menggunakan matematika sederhana seperti tambah, kurang, kali, bagi, dan persen. Dan bagi anak-anak, mereka justru sangat mahir matematika sederhana seperti itu. Sebagai contoh, penulis punya keponakan usia 9 tahun, yang kalau saya bertanya, berapa 8 kali 9? Dia bisa dengan cepat menjawab, 72!
Sementara orang dewasa? Coba deh anda bertanya kepada diri anda sendiri, berapa 7 kali 8? Bisakah anda menjawabnya dengan cepat tanpa bantuan kalkulator? Belum tentu. Penulis sering ketemu dengan calon investor yang, meski sudah dijelaskan, tapi tetap saja bingung soal bagaimana menghitung price to earning ratio (PER), padahal rumusnya sangat sederhana, yakni harga saham dibagi earning per share (EPS), sementara EPS itu sendiri adalah laba bersih dalam satu tahun, dibagi jumlah saham yang beredar.
Tapi kalau penulis menjelaskan soal rumus PER itu ke mahasiswa, maka biasanya mereka bisa dengan mudah memahaminya.
Kedua, orang dewasa itu gampang panik. Kalau dia beli saham senilai Rp100 juta, lalu saham tersebut turun 5%, atau dengan kata lain dia rugi Rp5 juta (meski baru rugi diatas kertas, alias belum direalisasikan), maka dia akan langsung panik, seolah-olah Rp5 juta itu jumlah yang luar biasa besarnya (padahal investor ini punya duit 100 juta, jadi harusnya 5 juta itu jumlah yang kecil toh?). Demikian pula kalau saham tersebut naik 5%, maka biasanya dia akan buru-buru menjualnya untuk merealisasikan keuntungan, karena takut sahamnya akan turun lagi. Dan seterusnya.
Dan perilaku seperti itu sangat bisa dimaklumi. Seorang investor, siapapun dia, ketika ia menyetor sejumlah uang ke sekuritas, maka uang tersebut adalah hasil jerih payahnya, hasil bekerja dan menabung selama berbulan-bulan atau bahkan mungkin bertahun-tahun. Jadi bagaimana kalau uang tersebut kemudian berkurang begitu saja gara-gara saham? Rasanya nyesek banget bukan?

Bagi orang dewasa, tidak ada yang lebih menakutkan ketimbang harus kehilangan uang, dan ketakutan inilah yang seringkali menyebabkan mereka bertindak secara irasional (misalnya membeli saham gorengan, jual saham hanya karena ada rumor jelek, dll). Penulis masih ingat, dulu di Jakarta pernah ada razia dimana polisi menghentikan sepeda motor yang masuk jalur busway, dan menyuruh mereka membayar denda Rp500,000. Dan saking gak mau bayar denda tersebut, puluhan pengendara motor yang masuk jalur busway sampai bela-belain mengangkat motor mereka keluar jalur begitu mereka melihat ada polisi yang menunggu di depan, tak peduli meski tindakan itu membahayakan keselamatan mereka sendiri.
Tapi itu orang dewasa. Sementara anak kecil? Well, mereka lebih takut cicak atau tokek ketimbang kehilangan duit. Karena, apa yang harus ditakutkan dari kehilangan sejumlah uang? Toh mereka masih bisa minta jajan lagi ke orang tuanya. Ini artinya ketika mereka diarahkan untuk berinvestasi di saham, maka mereka akan tidak mudah panik ketika IHSG atau saham yang ia pegang bergerak fluktuatif, melainkan cuek saja. Dan alhasil mereka akan melakukan jual beli saham secara rasional berdasarkan analisis logis yang sudah dibuat sebelumnya, dimana itu pada akhirnya akan menghasilkan profit yang konsisten.
Pendek kata, jika si anak memiliki mentor yang kompeten untuk membimbing dia dalam berinvestasi, maka ia berpeluang jauh lebih besar untuk menjadi investor besar suatu hari nanti, ketimbang orang dewasa yang kalau mau bisa menganalisis saham maka harus balik lagi ke bangku SD kelas 5 untuk belajar perkalian. Di buku The Calm Investor, penulis mengatakan bahwa seorang anak bisa diajari investasi saham mulai usia 6 tahun, karena pada usia itulah seorang anak biasanya sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hanya memang, pada prakteknya beberapa anak mungkin baru bisa diajari pada usia 9, 10, atau 12 tahun, but it’s okay, karena pada usia tersebut mereka masih bisa disebut sebagai anak-anak.
Okay, lalu bagaimana cara mendidik anak untuk berinvestasi sejak dini? Here we go!
Pertama, untuk awal-awal ajarkan mereka untuk membeli dan memiliki barang yang berguna untuk waktu yang lama, bukan sekedar membeli barang yang sekali habis, katakanlah makanan. Ini adalah konsep dasar dari investasi. Contoh sederhana dari hal ini saja, biasanya ibu-ibu suka membeli baju yang agak besar untuk anak mereka yang masih balita, dengan harapan baju tersebut masih akan cukup hingga anak mereka tumbuh besar 2 – 3 tahun lagi. Nah, dalam hal ini penulis sering praktek dimana kalau saya pergi jalan-jalan berdua dengan si kecil yang cewek (usia 4 tahun), misalnya ke mall, maka sudah pasti dia minta dibeliin ini itu, dan penulis kemudian menawarkan: Mau pilih mana? Permen lolipop yang habis kalau dimakan dan mungkin bisa bikin gigi kamu sakit, naik kereta-keretaan tapi cuma sekali, beli balon warna warni yang lama-lama bakal kempes atau meletus, atau boneka Elsa yang bisa kamu mainin tiap hari dirumah? Fortunately, she always chose the latter.

Sebuah taman bermain anak di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Setiap satu atau dua pekan sekali, penulis rutin mengajak anak-anak main ke tempat seperti ini. We call this quality time investment.

Kedua, setelah anak-anak anda sudah paham pentingnya ‘memiliki’ barang (baca: aset) yang bermanfaat untuk jangka panjang, maka selanjutnya ajari mereka tentang nilai barang tersebut, kemudian arahkan mereka untuk membelinya pada harga yang sesuai nilainya, atau lebih rendah lagi. Dan ini adalah konsep dasar dari value investing. Ketika Carlos Slim Helu masih berusia 9 tahun, ayahnya mulai memberinya sejumlah uang secara rutin setiap akhir pekan, lalu di pekan selanjutnya ia akan ditanya, uang itu dipakai untuk beli apa saja. Jika Carlos membeli sesuatu yang ternyata nilainya lebih rendah dari harga yang dibayarkan, misalnya beli sebotol minuman pada harga sekian peso dari sebuah toko padahal di toko lain harganya lebih murah, maka ayahnya akan menegurnya. Dua tahun kemudian, pada usia 11, Carlos melakukan investasi pertamanya dengan membeli obligasi pemerintah Meksiko, dimana obligasi tersebut nilainya naik terus dari tahun ke tahun (karena memperoleh bunga), sehingga dengan demikian ia memenuhi tugas dari ayahnya: Membeli barang yang nilainya lebih tinggi dari harga yang dibayarkan.
Nah, ketika anak anda sudah paham sejak awal tentang konsep ‘harga vs nilai’ ini, maka ia akan mampu menguasai kaidah-kaidah value investing dengan mudah, dan akan mampu menemukan saham-saham bagus yang dijual pada harga diskon. Pada usia 12 tahun, Carlos Slim membeli saham pertamanya, yakni saham sebuah bank besar di Meksiko, setelah melihat fakta bahwa ekuitas bank tersebut naik terus secara konsisten dari tahun ke tahun, sehingga ia mampu melihat bahwa nilai investasinya akan naik signifikan dalam beberapa tahun kedepan. Carlos terus membeli saham bank tersebut setiap beberapa waktu sekali, dan 3 tahun kemudian, pada usia 15, ia sudah menjadi salah satu pemegang saham minoritas terbesar di bank tersebut.
Okay, lalu mengapa mendidik anak untuk berinvestasi ini penting? Well, tentunya ada sejuta alasan untuk itu, tapi penulis hanya akan menyebutkan salah satu diantaranya saja: Berinvestasi di saham adalah sebuah karier seumur hidup tanpa pensiun, atau bahkan bisa lebih lama lagi jika anda mampu mendelegasikan tugas berinvestasi tersebut kepada seorang penerus, dalam hal ini putra-putri anda. Seperti halnya Carlos Slim, sebenarnya yang memulai pekerjaan investasinya adalah ayahnya Julian Slim, namun Carlos Slim-lah yang ‘menuntaskan’ pekerjaan investasi tersebut hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia.
Namun sudah tentu, beberapa anak mungkin memiliki passion-nya sendiri, termasuk penulis juga akan pasrah jika anak-anak ternyata lebih suka menjadi pelukis, misalnya. Termasuk Warren Buffett sendiri sudah memutuskan bahwa kelak ia tidak akan menyerahkan posisi CIO Berkshire Hathaway ke putranya Howard, melainkan ke salah satu protege-nya, Todd Combs. Meski demikian beberapa kemampuan dasar diatas yakni 1. Memiliki aset, dan 2. Membeli aset tersebut pada harga yang setara nilainya atau lebih rendah, pada akhirnya tetap akan membuat putra putri anda hidup berkecukupan, apapun profesi yang mereka pilih. Karena seperti yang dikatakan Buffett, ‘Tidak penting berapa besar pendapatanmu, yang penting adalah seberapa besar dari pendapatan tersebut yang tidak cuma sekedar lewat di rekening bank, melainkan menjadi aset yang bermanfaat untuk jangka panjang’.
Nah, jadi sekarang, sudah siapkah anda untuk berinvestasi pada aset anda yang paliiing berharga, yakni putra putri anda sendiri?

Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal I 2016 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memesannya 

Central Omega Resources – Update

Pada April 2012, penulis menemukan ‘mutiara terpendam’ di saham Central Omega Resources (DKFT), yang ketika itu berada pada posisi 1,670 (sebelum stocksplit. Setelah DKFT melakukan stocksplit pada bulan Agustus dengan rasio 1:5, 1,670 itu menjadi setara dengan 334), dan analisisnya sederhana: DKFT ini membukukan laba Rp177 milyar di tahun 2011, yang sepenuhnya berasal dari ekspor bijih nikel dari dua tambangnya di Morowali (Sulawesi Tengah) dan Konawe (Sulawesi Tenggara), dimana dua tambang tersebut masih dalam tahap eksplorasi awal. Jadi jika nanti dilakukan eksplorasi lebih lanjut, maka DKFT akan memproduksi lebih banyak bijih nikel, dan otomatis pendapatan perusahaan akan meningkat signifikan. Pihak manajemen sendiri mentargetkan laba bersih Rp475 milyar di tahun 2012, dan Rp792 milyar di tahun 2013, dan itu tentu saja target yang sangat atraktif. Kita pernah membahasnya di artikel ini.

However, pada artikel itu pula, penulis sudah menyampaikan satu risiko investasi di DKFT ini, yaitu: Pemerintah ketika itu sudah mengharuskan perusahaan-perusahaan tambang, termasuk DKFT, untuk membuat smelter untuk mengolah bijih nikel menjadi produk hilir dengan nilai tambah, selambat-lambatnya tahun 2014. Jika pada tahun 2014 perusahaan belum juga menyelesaikan smelter tersebut, maka perusahaan mau tidak mau harus berhenti beroperasi, karena pemerintah akan melarang ekspor bijih nikel sama sekali. Masalahnya, perusahaan harus mengumpulkan dana sebesar Rp4.5 trilyun untuk membangun smelter tersebut, dan tentu saja bukan perkara mudah untuk mengumpulkan dana sebesar itu, dan dalam waktu sesingkat itu (hanya 2 tahun, dari tahun 2012 ke 2014).
Jadi jika sampai tahun 2014 DKFT masih belum bisa menyelesaikan pembangunan smelter-nya, maka pendapatannya akan menjadi nol. Dan sayangnya memang itulah yang terjadi: Hingga tahun 2014, jangankan menyelesaikan pembangunan smelter-nya, DKFT bahkan masih belum memulai pembangunan smelter tersebut. Tapi sayangnya Pemerintah sama sekali tidak memberi toleransi: Terserah ente mau alasan apa, pokoknya you mulai tahun 2014 ini gak boleh ekspor bijih nikel lagi! Alhasil DKFT membukukan pendapatan Rp0 di tahun 2014. Sahamnya sendiri, yang pada tahun 2013 sempat naik hingga 600-an (sehingga tetap menghasilkan profit signifikan bagi investor yang membelinya pada tahun 2012, belum termasuk dividen), seketika langsung jeblok di awal tahun 2014, dan untuk mencegah penurunan lebih lanjut, BEI kemudian men-suspend saham DKFT.
Namun pada Maret 2016 kemarin, suspensi DKFT dibuka. Dan berhubung DKFT masih membukukan pendapatan Rp0 hingga Kuartal I 2016, maka tentu saja sahamnya langsung jeblok hingga ke posisi sekarang yakni 200-an. Namun jika anda jeli, maka anda tentu bertanya, apa alasan suspensi DKFT dibuka? Sebab jika pendapatan DKFT masih akan tercatat Rp0 untuk seterusnya, maka jangankan di-suspen, kenapa DKFT ini gak di-delisting aja sekalian? Sebab gak mungkin investor mau masuk ke DKFT ini kalau memang perusahaan gak menghasilkan pendapatan serta laba bersih sama sekali.
Dan jawabannya adalah, benar sekali, DKFT tidak akan membukukan pendapatan Rp0 untuk selamanya, karena sekarang perusahaan sudah on track untuk menyelesaikan pembangunan smelter-nya. Yup, meski terlambat beberapa tahun, namun DKFT pada akhirnya tetap akan memiliki smelter tersebut, dan akan mengekspor bijih nikel yang sudah diolah menjadi produk dengan nilai tambah.
Jadi begini ceritanya. Sejak tahun 2012, manajemen sudah berusaha untuk memulai pembangunan smelter, dimana pada tahun 2012 tersebut, DKFT memperoleh komitmen dari E-United Group asal Taiwan, untuk mendirikan perusahaan patungan untuk membangun smelter di Indonesia. Namun sayangnya setelah beberapa waktu, pihak E-United mundur daari perjanjian, dan smelter itu gak jadi dibangun. Jika saja pada tahun 2012 tersebut DKFT bersama E-United jadi membangun smelter, maka pada tahun 2014 seharusnya DKFT sudah bisa mengekspor produk hilir nikel, namun itu tidak terjadi.
Manajemen DKFT butuh waktu cukup lama untuk memperoleh mitra strategis lainnya, namun mitra strategis tersebut akhirnya diperoleh. Pada tahun 2015, DKFT bekerja sama dengan Macrolink Group asal China, untuk mendirikan perusahaan patungan PT Macrolink Omega Adiperkasa (MOA), dimana MOA ini akan membangun smelter di Morowali yang akan mengolah bijih nikel menjadi nickel pig iron (NPI), dimana NPI ini akan diekspor ke China. NPI adalah mirip seperti ferronickel yang diproduksi oleh Antam dan INCO, dan sama-sama digunakan untuk bahan baku pembuatan stainless steel, namun harga jualnya jauh lebih murah. Untuk tahun 2017, harga NPI diperkirakan US$ 880 per ton.
Dan per akhir tahun 2015, pembangunan smelter tersebut akhirnya sudah dimulai, dimana setelah resmi bekerja sama dengan Macrolink Group, manajemen DKFT sudah melakukan: 1. Menunjuk kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC), 2. Menunjuk kontraktor piling dan civil engineering, 3. Ground breaking smelter, 4. Membangun pondasi bangunan smelter, 5. Membangun fasilitas pendukung seperti mess pekerja, dll, dan 6. Mengimpor mesin-mesin dan suku cadang smelter dari China (impornya bebas bea masuk dan pajak, thanks Government!). Seluruh pekerjaan diharapkan akan tuntas pada Kuartal III 2016, dan smelternya akan sudah beroperasi secara komersial pada awal tahun 2017. Jadi, yap, jika semuanya lancar, maka DKFT akan kembali membukukan pendapatan mulai tahun 2017 mendatang. Perusahaan sendiri akan mulai menggali bijih nikel lagi pada pertengahan tahun 2016 ini, untuk mensuplai kebutuhan bijih nikel ke smelternya nanti.

Pemandangan konstruksi pembangunan smelter milik DKFT di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Klik gambar untuk memperbesar
Pertanyaannya sekarang, berapa kira-kira pendapatan yang akan diperoleh DKFT setelah nanti smelter-nya beroperasi? Well, di materi public expose-nya, manajemen DKFT jelas sekali menyampaikan proyeksi kinerja keuangan perusahaan untuk tahun 2017, dimana jika perusahaan bisa mengekspor 72,500 ton NPI (kapasitas produksi smelternya sendiri 100,000 ton per tahun), maka pendapatannya akan mencapai US$ 63.8 juta, dengan laba bersih US$ 11.2 juta, atau setara Rp149 milyar, sehingga ROE DKFT untuk tahun 2017 akan tercatat sekitar 15%.
Yang perlu dicatat disini adalah, untuk smelter yang beroperasi tahun 2017, itu baru smelter tahap I. Secara keseluruhan hingga tahun 2019, perusahaan akan membangun tiga smelter dengan total kapasitas produksi 300,000 ton NPI. Jadi pada tahun 2019, dengan asumsi harga jual NPI tetap, kurs Rupiah tetap, dan DKFT sukses mengekspor 250 – 300 ribu NPI, maka laba DKFT akan mencapai.. Rp500 – 600 milyar, atau lebih besar lagi! Poin lainnya yang menarik adalah, harga nikel sekarang ini sedang rendah-rendahnya yakni hanya US$ 8,500 per ton, turun drastis dibanding tahun 2012 yakni US$ 16,000 per ton, namun untuk tahun 2017 nanti diperkirakan harga nikel akan naik menjadi US$ 10,000 per ton. Dan jika harga nikel naik, maka praktis harga NPI juga akan ikut naik, sehingga laba bersih yang dihasilkan DKFT bisa lebih besar dari proyeksi diatas. Another point, DKFT akan menjadi satu dari sedikit perusahaan tambang bijih nikel di Sulawesi yang memiliki smelternya sendiri, sehingga perusahaan mungkin bisa membeli bijih nikel dari perusahaan tambang lain pada harga diskon (dan bagi perusahaan tambang lain tersebut, itu masih mending lah, daripada gak dapet duit sama sekali), dan itu akan menurunkan biaya pokok produksi NPI-nya.
Dan jika DKFT benar-benar sukses mencetak laba jumbo pada tahun 2017 – 2019 nanti, maka bagaimana dengan sahamnya? You know the answer.
Meski demikian, masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, smelter milik DKFT masih dalam proses pembangunan/konstruksi, dan tidak ada jaminan bahwa konstruksinya akan selesai tepat waktu. Kedua, kalaupun nanti smelternya beroperasi tepat waktu pada awal tahun 2017, maka biasanya volume produksinya tidak akan langsung mencapai 100,000 ton ataupun 72,500 ton seperti proyeksi diatas, melainkan akan tumbuh secara bertahap hingga seluruh kapasitas produksi yang 100,000 ton tersebut terutilisasi seluruhnya (untuk awal-awal, volume produksinya mungkin cuma 20 – 30 ribu ton dulu). Dan ketiga, harga jual nikel, seperti halnya komoditas lainnya, bisa turun tajam belakangan ini seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi di China, sementara China masih menjadi satu-satunya tujuan ekspor NPI-nya nanti. Jadi meski diatas terdapat proyeksi bahwa harga nikel akan naik (dan demikian pula dengan harga NPI), namun bukan tidak mungkin kedepannya harga jual NPI justru akan turun hingga keuntungan yang diperoleh DKFT menjadi tidak sebesar yang diharapkan.
Intinya sih, meski DKFT ini memang sangat menarik jika nanti smelter-nya sudah beroperasi, namun untuk sekarang ini sebaiknya kita wait and see saja dulu, apalagi untuk tahun 2016 ini bisa dipastikan pendapatan perusahaan masih Rp0, sehingga bisa saja sahamnya turun lebih lanjut. Tapi dalam setahun kedepan, maka jangan lupa untuk melihat lagi DKFT ini.
PT. Central Omega Resources, Tbk (DKFT)
Rating Kinerja pada Kuartal I 2016: B
Rating saham pada 208: B
Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal I 2016 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memesannya 

Update Analisis IHSG, Setelah Laporan Keuangan Emiten

Tak terasa waktu sangat cepat berlalu sejak penulis menerbangkan lampion di malam tahun baru aaand.. here we are! Sekarang kita sudah memasuki bulan Mei, dimana boleh dibilang tidak ada isu yang lebih ramai untuk dibicarakan selain ‘Sell in May and Go Away’, apalagi kemarin IHSG memulai perjalanan di bulan Mei dengan hampir saja turun ke 4,700-an. Namun tahukah anda bahwa selama ini IHSG justru lebih sering naik di bulan Mei ketimbang turun?

Yup, berdasarkan data pergerakan IHSG antara tahun 1998 hingga 2015 (data IHSG di Yahoo Finance hanya tersedia sampai tanggal 1 Juli 1997), maka selama delapan belas tahun terakhir, IHSG hanya pernah tujuh kali turun di bulan Mei, dan naik sebelas kali. Jadi secara statistik historis, IHSG lebih berpeluang untuk naik ketimbang turun di bulan Mei. Berikut data posisi IHSG di awal dan akhir bulan Mei, antara tahun 1998 hingga 2015.
Year
Opening
Closing
Gain/Loss
2015
5,093
5,216
2.4
2014
4,845
4,894
1.0
2013
5,020
5,069
1.0
2012
4,181
3,833
(8.3)
2011
3,820
3,837
0.4
2010
2,972
2,797
(5.9)
2009
1,723
1,917
11.3
2008
2,334
2,444
4.7
2007
1,995
2,084
4.5
2006
1,468
1,330
(9.4)
2005
1,031
1,088
5.5
2004
785
733
(6.7)
2003
452
495
9.4
2002
534
531
(0.6)
2001
359
406
12.9
2000
527
454
(13.8)
1999
495
585
18.2
1998
460
420
(8.6)
Jadi jika dilakukan penelitian lebih lanjut, maka kemungkinan terdapat bulan lain dalam satu tahun dimana IHSG lebih berpeluang turun pada bulan tersebut, ketimbang pada bulan Mei. Namun memang istilah ‘Sell in May and Go Away’ lebih mudah diingat investor karena memang istilah tersebut terdengar pas sekali (sama-sama berakhiran ‘ay’), ketimbang istilah ‘Sell in August but Don’t be Rush’, misalnya (lah kalau pasarnya jeblok, maka gimana kita bisa tetap calm dan nggak ‘rush’?).
However, ini bukan mengatakan bahwa pasar tidak akan turun di bulan Mei ini, karena pada akhirnya pasar bisa bergerak kemana saja dalam jangka pendek, katalah satu bulan. Namun memang, kalau kita melihat jangka yang lebih panjang, maka dengan mempertimbangkan kinerja para emiten di Kuartal I 2016 yang ternyata belum begitu bagus (meski juga tidak seburuk tahun 2015 kemarin), maka suka atau tidak, untuk tahun 2016 ini kemungkinan IHSG tidak akan naik terlalu tinggi. Atau kalaupun IHSG naik tinggi, maka ujungnya dia akan terkoreksi signifikan. Untuk kasus kedua kita pernah mengalaminya tahun 2013 lalu dimana IHSG terbang dari 4,250 hingga menyentuh 5,250 antara bulan Januari – Mei, padahal kinerja Astra International dkk ketika itu mulai stagnan. Namun memasuki bulan Juni, IHSG dengan cepat terjun bebas hingga balik lagi ke posisi awal tahun, dan IHSG menutup tahun 2013 dengan tumbuh negatif alias turun 1.0%.
Hanya memang, kalau dari sisi fundamental makroekonomi, maka kondisi sekarang agak berbeda dengan tahun 2013. Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi mulai terasa melambat setelah booming batubara, CPO, dan properti mencapai puncaknya pada tahun 2011, namun baru di tahap melambat saja (jadi belum benar-benar lesu, atau krisis). Dua tahun kemudian yakni tahun 2015, barulah ‘slowdown’ tersebut mencapai puncaknya, dimana kondisi di ekonomi di lapangan sangat-sangat lesu, jualan apa aja gak laku, kinerja emiten amburadul, Rupiah hampir saja tembus 15,000, dan IHSG sendiri jeblok 12.1%. Faktanya, meski penurunan 12.1% tersebut terdengar tidak seberapa dibanding market crash di tahun 2008, namun diluar tahun 2008 tersebut, maka terakhir kali IHSG turun diatas 10%, itu terjadi pada tahun 2000, alias sudah lama sekali, ketika itu karena Indonesia masih belum pulih sepenuhnya dari krisis moneter 1998. Jadi.. yap, penurunan 12.1% di tahun 2015 tersebut sejatinya besar sekali, dan memang kondisi ekonomi Indonesia di tahun 2015 secara umum jauh lebih buruk dibanding 2013.
Namun beruntung, kita tidak sampai mengalami krisis, dan perekonomian perlahan tapi pasti mulai pulih lagi pada awal tahun 2016, dimana inflasi stabil, Rupiah stabil, dan kinerja emiten sudah tidak seburuk tahun 2015 lalu (beberapa perusahaan besar masih mengalami penurunan laba bersih, tapi penurunannya tidak lagi signifikan), meski disisi lain belum bisa disebut bagus juga. Dalam hal ini penulis jadi lebih realistis: Seperti halnya perlambatan ekonomi bisa memerlukan waktu bertahun-tahun hingga mencapai titik terendahnya (dari tahun 2011 hingga 2015, dengan asumsi bahwa tahun 2015 lalu merupakan puncak lesunya perekonomian), maka demikian pula ketika ekonomi pulih akan butuh waktu  bertahun-tahun juga, dimulai dari tahun 2016 ini. Untuk contoh kasus dimana IHSG hancur lebur di tahun 2008 namun langsung terbang lagi di tahun 2009, maka ingat bahwa yang mengalami krisis di tahun 2008 itu sebenarnya Amerika, sementara Indonesia cuma kena getahnya. Jadi ketika cerita krisis itu menguap, maka IHSG dengan cepat langsung naik lagi, karena ketika itu ekonomi dalam negeri masih on fire.
Sementara untuk saat ini, yang mengalami economic slowdown adalah Indonesia sendiri. Jadi jika anda mengharapkan bahwa IHSG akan kembali naik banyak seperti ketika dia tumbuh hampir tiga kali lipat antara tahun 2004 – 2007 lalu, maka bisa penulis katakan bahwa itu akan terjadi, tapi bukan di tahun ini. Sementara jika pada bulan-bulan pertama di tahun 2016 ini IHSG naik sangat tinggi, maka endingnya bisa seperti tahun 2013 lalu.
Data GDP Indonesia antara tahun 2006 – 2014, dalam milyar US Dollar. Perhatikan bahwa pertumbuhan GDP mulai stagnan sejak tahun 2011 (tapi mudah-mudahan mulai naik lagi pelan-pelan di tahun 2016 ini). Source: tradingeconomics.com
Untungnya, hingga awal Mei ini IHSG baru naik sekitar 5% secara YTD, alias belum terlalu tinggi. Jadi kalaupun nanti pada akhirnya terjadi koreksi (karena normalnya, IHSG akan mengalami koreksi besar paling tidak satu kali dalam setahun), maka IHSG seharusnya tidak akan turun terlalu dalam, paling-paling hanya balik lagi ke kisaran posisi awal tahun yakni 4,500-an, sebelum kemudian naik lagi. Karena, berapapun posisi penutupan IHSG di akhir tahun 2016 nanti, namun dengan mempertimbangkan ekonomi yang mulai pulih, kinerja emiten yang lebih baik, plus tidak adanya isu ekonomi yang signifikan dari luar negeri, maka seharusnya IHSG tidak akan sampai tumbuh minus lagi seperti tahun 2015 lalu. We’ll see!
Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Mei 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio/tanya jawab saham untuk member, langsung dengan [...]

Prospek Saham Komoditas

Hingga Selasa, 26 April kemarin, IHSG ditutup di posisi 4,814, atau secara keseluruhan naik 4.8% sejak awal tahun, namun indeks sektor tambang, termasuk tambang batubara, tercatat naik lebih tinggi yakni 20.5%. Penyebab kenaikan saham-saham batubara sebenarnya cukup jelas: Rebound-nya harga minyak, yang dua bulan lalu sempat nyungsep hingga US$ 27 per barel, tapi sekarang sudah naik menjadi US$ 42. Namun disisi lain, barusan salah perusahaan batubara yakni United Tractors (UNTR), sudah merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal I 2016, dan labanya masih anjlok 55.3%. Sementara perusahaan batubara lainnya, Resource Alam Indonesia (KKGI), labanya sukses naik namun hanya karena adanya keuntungan kurs, sementara pendapatannya masih turun.

Selain sektor mining, sektor yang juga mencatat kinerja lebih baik dari IHSG adalah sektor perkebunan kelapa sawit, dimana indeks sektor perkebunan tercatat sudah naik 6.1%. Namun berbeda dengan perusahaan batubara, perusahaan perkebunan sekilas tampak menyajikan fundamental yang lebih baik, dimana Astra Agro Lestari (AALI) mencatat kenaikan laba 167.5% (meski perlu dicatat pula bahwa pendapatannya masih turun). Nah, kita tahu bahwa dua sektor ini, yakni sektor tambang dan perkebunan, di masa lalu sempat menjadi sektor primadona para investor di bursa efek ketika harga batubara crude palm oil (CPO) sedang tinggi-tingginya, sebelum trend penurunan harga komoditas sejak tahun 2012 turut menyeret saham-saham batubara dan CPO ke dasar jurang.
Namun setelah hampir empat tahun turun terus, barulah belakangan ini saham-saham komoditas, terutama batubara, tampak kembali menjanjikan dimana beberapa saham batubara bahkan sudah naik ratusan persen. Pertanyaannya, apakah kenaikan tersebut selaras dengan fundamental perusahaan?
Sayangnya, jawabannya mungkin tidak. Seperti yang sudah disebut diatas, saham-saham batubara bisa naik tinggi karena harga minyak rebound, karena adanya anggapan bahwa kalau harga minyak naik, maka harga batubara juga biasanya akan ikut naik. Namun berdasarkan data dari IndexMundi.com, harga batubara jenis Australian Thermal Coal untuk pengiriman Maret 2016 tercatat US$ 55.9 per ton, atau masih lebih rendah dibanding bulan yang sama di tahun sebelumnya yakni US$ 64.4 per ton. Sementara berdasarkan data operasional milik UNTR, disebutkan bahwa volume penjualan batubara perusahaan pada Kuartal I 2016 naik 2% dibanding tahun lalu, namun pendapatannya tetap turun 11% karena penurunan harga jual.

Perkembangan harga batubara setahun terakhir. Source: www.indexmundi.com

However, jika dikatakan bahwa harga batubara sudah mencapai titik terendahnya, maka itu mungkin ada benarnya. Pada Januari kemarin, harga batubara tercatat US$ 53.4 per ton, sebelum kemudian naik tipis ke posisi sekarang (US$ 55.9 per ton). Sementara kalau kita mengambil pendapat dari manajemen UNTR, mereka mengatakan bahwa harga batubara akan berada di kisaran US$ 52 – 72 per ton dalam lima tahun kedepan terhitung mulai tahun 2016 ini. Intinya, meski harga batubara mungkin gak akan sampai balik lagi ke level US$ 120 per ton seperti pada tahun 2011 lalu, namun dia juga tidak akan turun lebih rendah lagi. Pada akhirnya, batubara tetap dibutuhkan untuk pembangkit listrik di seluruh dunia, dan penurunan harganya selama beberapa tahun terakhir ini lebih karena ketidak sinkronan antara supply and demand, entah itu karena perlambatan ekonomi di China atau lainnya. Tapi kalau nanti supply dan demand itu akhirnya ketemu, dan kemungkinan ketemunya memang di level harga US$ 50-an, maka ketika itulah harga batubara akan berhenti turun, lalu selanjutnya perlahan tapi pasti dia akan naik kembali.
Namun berhubung harga batubara belum benar-benar naik (lebih tepat jika dikatakan baru berhenti turun saja), dan kinerja sebagian emiten batubara untuk awal tahun 2016 ini juga masih belum kinclong kembali, maka suka atau tidak, saham-saham batubara masih belum layak untuk invest, setidaknya untuk sekarang ini. Tapi mari kita berharap bahwa beberapa emiten lain, seperti Indo Tambangraya (ITMG), Adaro Energy (ADRO), Harum Energy (HRUM), hingga Bukit Asam (PTBA), mereka semua mencatatkan kinerja yang lebih baik. Karena kalau melihat valuasinya sih, saham-saham tersebut masih murah-murah semuanya, bahkan meski kemarin mereka sudah naik banyak.
Lalu bagaimana dengan saham CPO?
Berbeda dengan harga batubara yang masih belum benar-benar naik, harga CPO di Bursa Malaysia terakhir tercatat RM2,662 per ton, naik cukup signifikan dibanding setahunan lalu di level RM1,900 – 2,000 per ton. Namun soal bagaimana dampak kenaikan harga ini terhadap kinerja emiten perkebunan di Kuartal I 2016, maka kita mungkin masih perlu beberapa hari lagi (deadline dirilisnya laporan keuangan adalah tanggal 30 April). Tapi kalau melihat contoh AALI, maka sepertinya kenaikan harga CPO belum berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, setidaknya untuk tiga bulan pertama di tahun 2016. Tapi jika harga CPO minimal bisa bertahan di posisinya saat ini, maka untuk tahun 2016 ini secara keseluruhan, para perusahaan perkebunan seharusnya akan sukses membukukan kenaikan profit kembali.
Kesimpulannya, terkait saham-saham komoditas ini maka penulis bisa katakan bahwa, kalau berdasarkan kaidah value investing, maka kita sebaiknya amati saja dulu tapi jangan buru-buru masuk. Dari sisi valuasi, saham-saham di sektor ini sudah gila-gilaan murahnya, tapi kita masih perlu tunggu konfirmasi kinerja dari tiap-tiap perusahaan, just to make sure. Jika nanti para emiten batubara dan CPO kembali sukses membukukan ROE katakanlah 20%, maka sahamnya akan dengan mudah terbang, bahkan meski mereka sudah naik banyak sebelumnya. Jika anda pikir bahwa kenaikan hingga 100 – 200% yang dialami saham-saham batubara dalam beberapa minggu terakhir tampak luar biasa, maka jangan lupa bahwa di tahun 2011, saham Garda Tujuh Buana (GTBO) pernah naik dari 100 perak hingga sempat menembus 6,000, atau naik 60 kali lipat, hanya dalam waktu satu setengah tahun!

Jika anda punya pendapat sendiri tentang bagaimana prospek saham-saham batubara dan CPO kedepannya, entah itu dalam jangka panjang maupun pendek, anda bisa menulisnya di kolom komentar dibawah.

Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Mei 2016 sudah terbit! Disitu juga akan dibahas soal isu ‘sell in may and go away’, apakah benar itu akan terjadi, atau cuma mitos. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio/tanya jawab saham untuk member, langsung dengan [...]

Ebook Analisis Kuartal I 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal I 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 9 Mei 2016. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya), klik untuk memperbesar.
Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Berikut ini adalah contoh tiga analisis/rekomendasi saham terbaru, yang ditulis berdasarkan kaidah value investing, dimana hingga ketika pengumuman ini ditulis, semuanya sudah menghasilkan profit signifikan:
  1. PP Properti (PPRO),
  2. Bank Bukopin (BBKP)
  3. Erajaya Swasembada (ERAA), dan seterusnya
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email 

Mengenal BI 7-day Rate, dan Dampaknya ke Perbankan

Pada Jumat, tanggal 15 April kemarin, Bank Indonesia (BI) mengumumkan formula barusuku bunga acuan perbankan, yakni BI 7-day Reverse Repo Rate, yang akan menggantikan formula sebelumnya yakni BI Rate. Ini adalah kali pertama BI sebagai bank sentral melakukan perubahan kebijakan yang tampak radikal, dan itu tentu membuat bingung para investor (jangankan ‘BI 7-day Reverse Repo Rate’, sebagian dari anda mungkin bahkan belum mengerti apa itu ‘BI Rate’), dan alhasil saham-saham perbankan langsung berjatuhan Jumat lalu, karena investor menjadi unsure soal bagaimana dampak dari penetapan formula baru ini terhadap kinerja perbankan.

Anyway, bisa penulis katakan bahwa penggunaan BI 7-day Reverse Repo Rate ini (selanjutnya disebut BI 7-day Rate) tidak akan mengganggu kinerja perusahaan-perusahaan perbankan, malah justru dampaknya akan positif. Okay, kita langsung saja.
Sebelum menggunakan BI 7-day Rate, selama ini BI menggunakan BI Rate sebagai patokan atau acuan bagi suku bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank dan atau lembaga-lembaga keuangan di seluruh Indonesia (sehingga BI Rate ini disebut juga ‘suku bunga acuan’). Simpelnya jika BI rate naik dari 6.50% menjadi 6.75%, maka bunga pinjaman maupun simpanan di bank dan lembaga keuangan lainnya juga bisa naik. Patokan ini hanya bersifat rujukan dan bukan merupakan peraturan, sehingga tidak mengikat ataupun memaksa. Jadi para bank boleh saja menaikkan bunga pinjaman kepada orang yang mengajukan kredit dengan alasan BI Rate naik, namun bunga deposito atau tabungan bagi para nasabahnya malah nggak naik sama sekali. Lebih lanjut soal BI Rate, baca lagi artikelnya disini.
Sementara bagi BI sendiri, BI Rate adalah suku bunga bagi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk jangka waktu satu tahun, yang disalurkan ke bank-bank. Ketika BI rate naik ke 6.75%, maka para bank bisa menaruh dana mereka di BI dalam bentuk SBI, dan akan menerima bunga 6.75% per tahun. Jadi kalau Bank Mandiri menaruh duit tabungan nasabahnya sebesar Rp10 trilyun di BI, maka setelah satu tahun, mereka akan memperoleh Rp675 milyar tanpa perlu ‘ngapa-ngapain’ sama sekali.

Selama ini BI menggunakan SBI untuk operasi moneter, dalam hal ini menambah atau mengurangi jumlah mata uang Rupiah (money supply) yang beredar di masyarakat. Jadi ketika jumlah uang yang beredar terlalu banyak, dan itu menaikkan inflasi, maka BI akan menaikkan BI Rate, sehingga para bank tentunya akan lebih suka menaruh dana tabungan nasabah mereka di BI (dalam bentuk SBI) daripada menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit. Alhasil, money supply akan turun, dan inflasi juga akan turun.
Lalu jika setelah beberapa waktu, inflasi sudah aman terkendali, maka BI Rate bisa kembali diturunkan, sehingga bank-bank akan kembali menyalurkan kredit ke masyarakat, perusahaan bisa mendirikan pabrik dan membuka lapangan kerja baru, dan itu pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun disinilah persoalannya: Meski BI Rate turun, namun dana milik bank yang sudah terlanjur disetor ke BI baru akan bisa ditarik kembali satu tahun kemudian. Sehingga ketika BI Rate turun, maka money supply tidak akan serta merta langsung naik lagi, melainkan harus nunggu dulu selama beberapa bulan hingga satu tahun, sehingga tujuan pertumbuhan ekonomi tadi akan perlu waktu untuk tercapai. Demikian pula ketika BI menaikkan BI Rate, maka tingkat inflasi tidak akan serta merta turun, karena para bank juga akan mikir-mikir kalau dana mereka harus mengendap di BI selama setahun.
Jadi agar operasi moneter yang dilakukan BI kedepannya menjadi lebih efektif dalam menyeimbangkan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi, maka kemudian diberlakukanlah BI 7-day Rate ini, dimana jika BI 7-day Rate ini naik, maka para bank bisa menempatkan dana mereka di BI selama tujuh hari saja (atau 14 hari, 21 hari, dan seterusnya). Jadi jika di bulan berikutnya BI 7-day Rate turun, maka pihak bank akan bisa langsung menarik dananya dan menyalurkannya ke masyarakat. Suku bunga 7-day ini disebut juga ‘reverse repo rate’, karena dalam hal ini BI sebagai ‘bank-nya para bank’ adalah seperti meminjam dana dari bank dengan janji akan dikembalikan 7 hari kemudian, plus bunga sebesar yang sudah ditentukan sebelumnya.
Pendek kata, BI nantinya akan lebih mudah dalam mengendalikan jumlah mata uang Rupiah yang beredar di masyarakat, dan sudah tentu harapannya adalah bahwa inflasi otomatis menjadi lebih terkendali, kurs Rupiah akan lebih stabil, dan pertumbuhan ekonomi akan lebih kencang. Sebenarnya di masa lalu sebelum tahun 2010, penggunaan BI Rate sudah cukup efektif untuk operasi moneter, dimana tingkat inflasi dll relatif bisa dikendalikan dengan baik.
Namun sejak 2010, dana asing mulai masuk dalam jumlah besar ke Indonesia, yang menyebabkan perputaran dana di pasar uang antar bank (PUAB) menjadi lebih cepat, dan alhasil tingkat suku bunga di PUAB ini menjadi sangat rendah karena sebuah bank terkadang memegang sejumlah dana hanya dalam hitungan harian, sebelum ‘dioper’ lagi ke bank lain (ingat bahwa semakin pendek jangka waktu penyimpanan dana, maka semakin rendah bunganya). Rendahnya suku bunga di PUAB ini pada akhirnya turut mempengaruhi tingkat suku bunga perbankan secara keseluruhan, sementara BI Rate tidak lagi begitu diperhatikan karena jangka waktunya dianggap terlalu lama, yakni 1 tahun (sementara suku bunga di PUAB bahkan bisa berlaku untuk jangka waktu 1 hari, alias overnight). Jadi dengan digunakannya BI 7-day Rate sebagai suku bunga acuan yang baru, dimana bank bisa membeli SBI hanya untuk tenor 7 hari saja, maka bank akan kembali tertarik untuk menempatkan dananya dalam bentuk SBI, karena jangka waktu 7 hari tentunya tidak terlalu lama dibanding jangka waktu di PUAB, dan BI akan kembali memiliki kontrol efektif terhadap tingkat suku bunga perbankan di Indonesia,
Lalu bagaimana dampak perubahan suku bunga acuan ini terhadap kinerja perbankan?
Karena jangka waktunya lebih pendek, maka otomatis BI 7-day Rate akan selalu lebih rendah dibanding BI Rate. Contohnya seperti saat ini dimana BI Rate berada di level 6.75%, sementara BI 7-day Rate 5.50% (tapi 5.50% tersebut tetap dihitung untuk satu tahun, sehingga kalau sebuah bank membeli SBI dan langsung menjualnya 7 hari kemudian, maka dapet bunganya cuma 0.10%). Jadi ketika nanti BI 7-day Rate akan mulai digunakan sebagai suku bunga acuan, maka akan timbul kesan bahwa BI telah menurunkan suku bunga acuan secara drastis, sehingga bank-bank juga akan menurunkan bunga kredit dan deposito, padahal tidak. BI Rate akan tetap di level 6.75%, kecuali BI menaikkan atau menurunkannya, demikian pula halnya dengan BI 7-day Rate akan tetap berada di level 5.50% kecuali BI menaikkan atau menurunkannya.
Tapi untuk menghindari kesalah pahaman itulah, maka mulai April ini hingga Agustus nanti, BI setiap bulannya akan mengumumkan dua suku bunga acuan, yakni BI Rate dan BI 7-day Rate agar pasar bisa beradaptasi dan bisa melihat bahwa tidak ada perubahan drastis terhadap BI Rate. Setelah Agustus, maka barulah BI hanya akan mengumumkan BI 7-day Rate setiap sebulan sekali.
Dengan demikian, maka para bank tidak perlu mengubah tingkat bunga kredit maupun deposito-nya (kecuali jika nanti BI Rate ini diturunkan/dinaikkan, demikian pula dengan BI 7-day Rate). Malah, jika nanti tujuan penggunaan BI 7-day Rate ini tercapai, dimana inflasi menjadi lebih terkendali, nilai tukar Rupiah menguat (kalau inflasi terlalu tinggi, maka itu juga bisa menurunkan kurs Rupiah), dan ekonomi tumbuh lebih kencang, maka tentu perbankan akan diuntungkan. Pada tahun 2010 – 2011, ketika perekonomian Indonesia sedang jaya-jayanya berkat booming batubara dan CPO, kinerja perbankan ketika itu juga sedang bagus-bagusnya, dimana Bank BRI mencatat ROE lebih dari 40% (sementara untuk tahun 2015, ROE BBRI hanya tercatat 29.9%).
Kemudian, karena BI akan kembali memiliki kontrol efektif terhadap tingkat suku bunga perbankan di Indonesia, maka meski kedepannya dana asing masuk lebih banyak lagi ke tanah air, entah itu karena pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), berpindahnya investasi dari Bursa Singapura ke Bursa Indonesia, hingga ditariknya aset-aset milik konglomerat dari luar negeri, maka tingkat suku bunga perbankan akan tetap stabil dan tidak terpengaruh, dimana para bank hanya perlu berpatokan pada BI 7-day Rate dalam menentukan bunga kredit dan deposito, tanpa perlu melihat perubahan suku bunga di PUAB. Nah, jika tingkat suku bunga menjadi lebih stabil, maka otomatis proses penyaluran kredit dll juga akan lebih mudah, dan risiko terjadinya kredit macet karena perubahan suku bunga yang tiba-tiba, juga akan menjadi lebih rendah.
However, seluruh perubahan diatas baru akan benar-benar berpengaruh secara positif terhadap kinerja perbankan dalam jangka panjang, atau paling cepat beberapa bulan kedepan, sehingga dalam jangka pendek, saham-saham perbankan mungkin masih akan fluktuatif. Tapi satu hal yang menarik: Ketika Jumat kemarin investor asing ramai-ramai keluar dari saham-saham perbankan blue chip, ternyata mereka langsung masuk lagi ke saham blue chip yang lain (yang bukan bank), dalam hal ini saham Astra International (ASII) dan Telkom (TLKM) dimana keduanya naik signifikan, dan ini menunjukkan bahwa investor asing sejatinya belum mau keluar dari BEI.
Jadi jika kedepannya investor yang besar-besar sudah lebih paham soal BI 7-day Rate ini, maka mereka akan kembali masuk ke saham-saham perbankan, karena memang mereka tidak punya pilihan lain untuk diversifikasi (dari 10 saham dengan market cap terbesar di BEI, 4 diantaranya adalah saham perbankan). Selain itu dalam waktu dekat, para emiten juga akan segera merilis laporan keuangan Kuartal I 2016, dimana emiten perbankan biasanya akan merilis LK-nya paling awal. Dan kabar baiknya, kalau melihat beberapa LK yang sudah keluar seperti milik Bank Jatim (BJTM) dan Bank BNI (BBNI), kedua perusahaan kembali sukses mencetak kenaikan laba (setelah ditahun 2015 kemarin laba mereka turun), dan seharusnya bank-bank lain juga sama, dimana itu akan menjadi sentimen fundamental yang positif bagi sahamnya. We’ll see!

Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang BBNI dan PNBN di average 4,910 dan 715. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Layanan preorder ebook analisis edisi Kuartal I 2016 sudah dibuka!Keterangan lebih lanjut klik disini, ebooknya nanti akan terbit tanggal 9 Mei [...]

Antara Panama Papers, Tax Amnesty, dan Ekonomi Nasional

Senin kemarin, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, mengatakan bahwa Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menurunkan tarif pajak penghasilan korporasi dari 25% menjadi hanya 20%. Sebetulnya ini tentu kabar baik bagi perusahaan-perusahaan, namun karena sebelumnya ada banyak cerita bahwa Pemerintah masih belum berhasil dalam mencapai target pendapatan pajak, maka yang disoroti pelaku pasar adalah bahwa penurunan tarif pajak tersebut berdampak negatif bagi keuangan negara, dan tentunya ekonomi nasional secara keseluruhan, dan alhasil kemarin IHSG turun lumayan. Namun disini kita gak akan membahas soal IHSG-nya.

Pernyataan Menteri Keuangan diatas kemungkinan merupakan respon dari pemberitaan soal terkuaknya ‘Panama Papers’, yakni dokumen yang berisi informasi lebih dari 214 ribu perusahaan offshore (perusahaan yang terdaftar/teregistrasi di negara tertentu, namun berkantor dan beroperasi diluar negara tersebut), termasuk asal Indonesia, dimana ada banyak orang Indonesia yang secara sengaja mendirikan special purpose vehicle (SPV) di negara Panama untuk tujuan tertentu, salah satunya untuk menghindari pajak. Kenapa Panama? Karena pajak penghasilan disana hanya 0%, sehingga Panama disebut juga sebagai tax haven.
Nah, sebelum beredarnya cerita soal Panama Papers ini, sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa ada banyak perusahaan atau konglomerat yang dengan sengaja mendirikan SPV di negara-negara tax haven (biasanya merupakan negara kecil antah berantah) seperti British Virgin Island, Seychelles, Cayman Island, Malta dsb, dengan tujuan untuk menghindari pajak. Caranya adalah dengan mentransfer pendapatan atau aset tertentu dari perusahaan asli yang beroperasi di Indonesia, ke SPV yang terdaftar di British Virgin Island tadi, sehingga otomatis pendapatan tersebut menjadi bebas pajak. Ini pula yang menjelaskan kenapa ada banyak perusahaan yang di laporan keuangannya tercatat merugi (sehingga tidak perlu membayar pajak), tapi anehnya mereka masih tetap beroperasi dengan normal/nggak bangkrut-bangkrut, karena mereka sejatinya memang nggak merugi, melainkan sebagian pendapatan perusahaan dipindah ke SPV tadi. SPV ini adalah seperti rekening bank yang dibuka diluar negeri, sehingga meski perusahaan tampak seperti menempatkan aset/uang mereka di lokasi yang jauh dari Indonesia, namun uang tersebut tetap bisa digunakan/dicairkan kapan saja selama mereka pegang ATM-nya.

Contoh informasi perusahaan yang ‘didirikan’ di British Virgin Island dan memiliki ‘kantor perwakilan’ di Jakarta, namun sejatinya beroperasi di Indonesia sebagai pemegang kontrak pengelolaan blok minyak dari Pertamina EP. Tulisan diambil dari prospektus sebuah perusahaan Tbk.

Dan praktek ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia. Meski di satu sisi hal ini tentunya merugikan negara yang menjadi tempat perusahaan beroperasi, namun disisi lain boleh dibilang tidak ada peraturan hukum yang melarang perusahaan/individu untuk mendirikan SPV di luar negeri. Ini berarti, jika Pemerintah hendak mendorong perusahaan-perusahaan yang punya SPV tersebut untuk tidak lagi mentransfer asetnya keluar negeri dan membayar pajaknya dengan benar, maka perusahaan tersebut justru harus diberi insentif tertentu, agar mereka bersedia membayar pajak secara apa adanya tanpa akal-akalan.
Karena itulah, sejak awal tahun lalu Pemerintah sudah mengusulkan program pengampunan pajak (tax amnesty), dimana jika program ini disetujui oleh DPR, maka perusahaan-perusahaan dengan kriteria tertentu bisa melaporkan/membayar tunggakan pajaknya tanpa bunga ataupun denda. Sekilas kebijakan ini tampak berpihak ke perusahaan/konglomerat dan merugikan negara, namun ini justru untuk mendorong penerimaan pajak itu sendiri. Dan jika pajak korporasi jadi diturunkan dari 25% menjadi 20%, maka aset-aset perusahaan yang selama ini ditempatkan diluar negeri (melalui SPV tadi atau lainnya) diharapkan akan balik lagi ke Indonesia dan bisa dikenakan pajak, sehingga ‘omzet’ pajak akan meningkat. Cerita soal Panama Papers ini juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk secara halus memaksa perusahaan-perusahaan dan para konglomerat super-kaya untuk menarik kembali aset-aset mereka ke Indonesia, atau mereka akan menerima sanksi sosial dari masyarakat sebagai pengemplang pajak (meski memang, ketika seseorang/sebuah perusahaan mendirikan SPV diluar negeri, maka tujuannya tidak selalu untuk menghindari pajak).
Pertanyaannya sekarang, jika semua upaya Pemerintah untuk meningkatkan penerimaan pajak ini berhasil, lalu bagaimana dampaknya terhadap perekonomian nasional? Well, tentunya yang perlu diingat, ada banyak tantangan yang harus diatasi agar tujuan Pemerintah tadi tercapai. Pertama, berbagai wacana seperti tax amnesty dan pemotongan pajak korporasi tadi, itu semua masih sebatas wacana yang harus lolos/disetujui DPR dulu, dan itu artinya akan terjadi tawar menawar politik yang prosesnya bisa berkepanjangan. Kedua, jika dana milik perusahaan yang selama ini disimpan diluar ditarik kembali ke Indonesia, lalu duit sebanyak itu mau diapakan? Kalau mau mendirikan perusahaan, prosesnya masih ribet, beli saham di pasar modal risikonya besar (terutama kalau nggak ngerti, jangan dikira perusahaan-perusahaan besar itu ngerti investasi saham hanya karena mereka punya duit banyak), beli obligasi pun sami mawon berisiko, sementara bunga deposito bank kelewat kecil. Jadi dalam hal ini Pemerintah juga harus meluncurkan kebijakan tambahan, entah itu meluncurkan surat utang negara (SUN) yang khusus didesain untuk ‘dana tarikan’ ini, mempermudah proses investasi/pendirian perusahaan dalam negeri, dan seterusnya.
Dan ketiga, jika Pemerintah sukses dalam menarik kembali dana perusahaan yang selama ini diparkir diluar negeri, maka negara yang selama ini menjadi ‘tempat parkir’ dana tersebut juga tidak akan tinggal diam, karena jika dana tersebut ditarik maka ekonomi mereka juga praktis akan terganggu. Beberapa negara financial center seperti Singapura, Swiss, dan Hongkong, selama ini mereka menikmati fee dari mengelola investasi milik perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, dimana kalau Pemerintah Indonesia meluncurkan kebijakan tertentu untuk menarik kembali investasi tersebut, maka mereka juga pasti akan meluncurkan kebijakan agar investasi itu tetap stay disitu. Sama sajalah seperti kalau asing mulai jualan di Bursa Saham Indonesia, maka OJK atau BEI itu sendiri biasanya akan meluncurkan kebijakan tertentu agar investor asing ini nggak jadi jualan, atau kalau bisa mereka justru belanja saham lebih banyak lagi.
Intinya sih, meski niat Pemerintah tentunya bagus, namun hasilnya tidak akan langsung kelihatan dalam waktu dekat. Hanya memang, jika berbagai upaya diatas berhasil, maka: 1. Penerimaan pajak Indonesia meningkat, sehingga pembangunan infrastruktur, yang memang sedang gencar-gencarnya, kedepannya akan lebih gencar lagi, 2. Indonesia kebanjiran ‘dana asing’ yang sejatinya merupakan dana milik orang Indonesia sendiri, dimana sebagian diantaranya pasti ikut masuk ke stock market, dan itu akan mendorong kenaikan IHSG, dan 3. Proses pendirian perusahaan dan investasi akan terus dipermudah untuk mengakomodir masuknya dana dari luar negeri, dan pendirian usaha tentunya akan menarik tenaga kerja, sehingga ekonomi akan berputar secara keseluruhan, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Well, everything sounds good, right? Tapi tentu semuanya butuh proses dan waktu. Namun paling tidak kita sudah bisa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia, dari sisi pembuat kebijakannya (baca: Pemerintah), sekarang sudah on track, dan cepat atau lambat kita akan menyaksikan perusahaan-perusahaan di BEI kembali membukukan kenaikan profit seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, yang ditargetkan mencapai 5.3% pada tahun 2016 ini. Sekitar tiga minggu lagi Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis angka pertumbuhan ekonomi untuk Kuartal I 2016, dan mari kita lihat apakah kita akan one step closer ke target 5.3% tersebut, karena terakhir masih 4.79%.

The Calm Investor, buku tentang kontrol emosi & psikologis dalam berinvestasi di pasar modal, sudah terbit! Harganya hanya Rp55,000, dan anda bisa membelinya 

Tips u/ Tetap Rileks ketika Menganalisis

Seseorang pernah mengatakan, ‘Ketika kamu senang dengan pekerjaanmu, maka setiap hari adalah hari libur.’ Jadi jika pekerjaan anda adalah berinvestasi di pasar saham (baca: menganalisis), dan anda menyukai pekerjaan tersebut, maka anda sejatinya tidak pernah bekerja barang sedetik pun. Namun inilah kenyataannya: Jika pasar sedang bersahabat dan saham-saham sedang naik, maka pekerjaan menganalisis akan tampak menyenangkan bagi investor manapun. Tapi bagaimana kalau gilirannya saham anda turun? Apakah anda masih bisa menata portofolio anda dengan perasaan riang gembira, atau minimal tidak menggerutu?

Padahal investor manapun di dunia ini, mau dia sehebat Warren Buffett sekalipun, maka selain memperoleh profit, dia pasti pernah rugi juga. Dan problemnya bukan terletak di rugi tersebut, melainkan bagaimana caranya agar ia bisa menjaga mood-nya untuk tetap mengerjakan analisis dll dengan happy, dan bukannya down karena terpengaruh oleh kerugian yang dialami.
Sebab jika anda sampai down hanya karena mengalami rugi, maka anda tidak akan bisa menganalisa lagi dengan baik, pokoknya saham/IHSG keliatan suram aja gitu! Contoh paling mudah, pada akhir tahun 2015 kemarin, IHSG ditutup turun 12.1% sepanjang tahun tersebut, dan sudah tentu ada banya investor yang mengalami kerugian lebih besar lagi. However, berdasarkan analisis-analisis yang logis, sejak Desember lalu penulis sudah mengatakan bahwa untuk tahun 2016 ini, IHSG berpeluang untuk naik. Namun beberapa teman tidak percaya akan hal tersebut (bahwa pasar akan naik), hanya karena mereka melihat bahwa tahun 2015 tampak suram (jadi bukan berdasarkan analisis tertentu), dan mungkin juga karena mereka sudah menderita kerugian, sehingga jangankan mikir bakal untung di tahun 2016 ini, untuk bisa balik lagi ke modal awal saja, itu sangat sulit! Anda bisa baca lagi artikelnya disini, dan disini, dan panic selling. Coba baca juga komentar-komentarnya.
Sementara untuk contoh yang lebih ekstrim, jika seseorang mengatakan bahwa pada awal tahun 2009 lalu bahwa IHSG akan naik banyak di tahun tersebut, maka dia mungkin akan dicaci maki, atau bahkan dianggap gila, tak peduli meski ia mengatakan hal tersebut (bahwa IHSG akan naik) berdasarkan analisis yang logis, karena ketika itu orang-orang masih trauma dengan anjloknya pasar di tahun 2008.
Tapi nyatanya IHSG justru naik 87.0% sepanjang tahun 2009, yang menjadi kenaikan terbesar sepanjang sejarah!
Nah, jadi dalam hal ini penulis mengajak anda untuk fokus pada pertanyaan berikut: Bagaimana caranya agar kita bisa tetap menganalisis/berinvestasi dengan perasaan senang dan riang gembira, atau minimal mental kita tidak down, ketika kita dalam posisi rugi? Karena hanya dengan cara itulah kita akan tetap bisa mengerjakan analisis dengan kepala dingin, dan anda mungkin justru akan menemukan peluang emas dibalik penurunan saham yang anda pegang/IHSG (dan memang biasanya peluang untuk membeli saham-saham pada harga diskon baru akan muncul justru setelah pasar mengalami crash atau semacamnya). Sementara jika anda sudah baper duluan hanya karena gak kuat liat warna merah di monitor, maka jangankan menganalisis dengan baik, anda tidurpun sudah gak bisa nyenyak lagi.
Dan inilah yang penulis lakukan, boleh anda catat: Di ruang kerja penulis di rumah, selain meja dan kursi lengkap dengan sebuah laptop diatasnya, juga terdapat televisi ultra HD 42 inch, sound system home theater, DVD player, dan console Xbox One. Lalu ada dua buah barbel masing-masing 6 kilogram untuk olahraga ringan, pewangi ruangan aromatherapy, dan kulkas kecil berisi minuman ringan, coklat, es krim, dan buah-buahan. Dan satu lagi, ketika ngutak ngatik porto dirumah, penulis biasanya cuma pake kaos dan celana pendek doang, yang nyaman untuk dikenakan.
Nah, setiap kali penulis capek atau mulai bingung/gak connect ketika membaca-baca annual letter dll, maka saya beristirahat dengan cara nonton film DVD (sekarang ini lagi seneng serial Sherlock, diperankan oleh Benedict Cumberbatch), main Pro Evolution Soccer di Xbox, melakukan peregangan dan berolahraga ringan, atau dancing sendirian sambil mendengarkan lagu-lagu yang ceria dan membawa semangat. Barulah setelah itu penulis akan kembali mood, dan bisa melanjutkan pekerjaan menganalisis dengan baik, tanpa perasaan bete atau semacamnya.
Sementara kalau pasar lagi jeblok dan mau tidak mau psikologis penulis jadi tertekan, misalnya pada Agustus – September 2015 lalu ketika pasar dilanda panic selling, maka penulis sengaja beli coklat dan es krim yang banyak lalu disimpan di kulkas, untuk kemudian dimakan. I don’t know with you guys, namun kalau bagi penulis sendiri, makan cemilan yang manis-manis terbukti bikin feeling lebih nyaman (meski bikin gendut juga sih, tapi bisa diimbangi dengan olahraga), dan itu pada akhirnya membantu penulis mengerjakan analisis dengan baik, dan mengeksekusi jual beli saham berdasarkan analisis tersebut dengan sama baiknya. Terus terang, pada Agustus lalu ketika IHSG sudah dibawah 4,500, posisi penulis adalah diluar/pegang cash cukup besar, dan logika analisis-nya adalah bahwa saya harus belanja sekarang juga! Mumpung saham-saham lagi murah-murahnya!
Tapi tentu saja, tidak segampang itu untuk belanja ketika hampir semua orang berteriak bahwa akan terjadi krisis bla bla bla, apalagi ketika itu sudah ada beberapa saham penulis yang dalam posisi nyangkut, karena posisi kita gak 100% cash (salah satunya PP Properti, yang sudah dibeli di harga 173, tapi kemudian jeblok ke 127, sebelum baru kemudian naik lagi). However, setelah menghabiskan entah berapa stik es krim Magnum, dan entah berapa batang coklat Silver Queen, penulis akhirnya mampu untuk tetap berpikir jernih, dan kita sukses belanja banyak pada bulan Agustus tersebut.

Kopiko sepenty eight degrees, minuman yang wajib selalu ada di kulkas

Nah, sekarang bayangkan jika kondisinya sebaliknya: Anda bekerja dalam ruangan sempit yang gak ada apapun kecuali meja dengan komputer diatasnya (terkadang dengan dua atau bahkan tiga monitor.. buat apa coba?), anda tidak bisa mendengarkan musik apalagi sampai joget-joget gak jelas, gak ada makanan atau cemilan, dan anda pake kemeja rapih dan dasi yang mungkin terasa sempit di pinggang dan leher! Lah, kalo gitu caranya maka gimana anda nggak stress dan panik ketika pasar turun???
Tapi nyatanya kalau penulis main ke kantor-kantor sekuritas, maka seperti itulah suasana kerja disitu, dimana setiap orang memasang wajah serius dan pandangan mereka selalu tajam mengarah ke monitor, sementara telinga juga harus stand by mendengarkan pemberitaan dari Bloomberg TV dan semacamnya.
Padahal kalau anda nonton film ‘The Big Short’ (kalau anda belum nonton, nonton dulu sana), maka tokoh utama di film tersebut, yakni seorang hedge fund manager bernama Michael Burry(diperankan oleh Christian Bale), di ruang kerjanya dia cuma pake kaos oblong dan celana pendek. Dan alih-alih menganalisis dengan serius, ia malah menyetel lagu rock keras-keras seharian sambil berpura-pura menabuh drum di kursi tempat ia duduk, atau berdiri kemudian berjoget dan nyanyi-nyanyi gak jelas mengikuti irama lagu. Hasilnya? Ia mampu melewati tekanan ketika pasar terus saja naik sepanjang tahun 2007 dan awal 2008, dan ia kemudian profit besar dari posisi short yang ia ambil, ketika pasar akhirnya jatuh pada pertengahan 2008, sesuai yang ia prediksi sebelumnya.
Nah! Jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Bagaimana caranya agar kita bisa tetap menganalisis/berinvestasi dengan perasaan senang dan riang gembira, atau minimal mental kita tidak down, ketika kita dalam posisi rugi? Maka jawabannya adalah dengan menyetel lagi yang ceria, berdiri dari tempat duduk anda, lalu mulailah dancing! Tapi kalau anda kurang suka mendengarkan musik, maka lakukan saja apapun yang anda sukai, atau makanlah sesuatu yang anda sukai (penulis suka coklat, tapi anda mungkin lebih suka kerupuk, misalnya) agar pikiran anda menjadi fresh kembali. Warren Buffett sendiri mengatakan bahwa ia menghabiskan sepuluh jam setiap minggunya untuk bermain permainan kesukaannya, yakni bridge. Apakah bermain bridge itu merupakan bagian dari pekerjaan analisis? Tentu saja tidak, tapi itu mampu membantu Buffett untuk kembali santai setelah sebelumnya pusing ngeliat-liat laporan keuangan dll.
Dan actually, tidak hanya dalam posisi nyangkut atau rugi, tapi dalam posisi profit pun anda harus menjaga agar diri anda tetap santai dan happy, entah itu dengan mendengarkan musik atau lainnya, dan hanya dengan cara itulah maka anda sebagai investor akan ‘libur’ terus sepanjang tahun, karena ‘menganalisa saham’ sudah menjadi pekerjaan yang anda sukai dan anda nikmati, tak peduli dalam kondisi pasar naik atau turun. Trust me, bahkan kalau anda sama sekali tidak suka membaca data ekonomi dll sebelumnya, maka dengan menerapkan tips ini, pekerjaan analisa tersebut akan menjadi menyenangkan dengan sendirinya, silahkan coba sendiri.
Nah, sebagai penutup, sekarang anda setel lagu ‘Better When I’m Dancing’ oleh Meghan Trainor, dibawah ini. So ladies and gentlemen, please stand up, and start dancing!

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi April 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio untuk member.

Mau tau lebih banyak tentang tips dan cara untuk menjadi ‘investor yang santai & kalem’? Anda bisa baca buku The Calm Investor karya penulis, keterangan selengkapnya klik [...]

Penguatan Rupiah: Peluang!

Sepanjang tahun 2015 lalu, pasar saham Indonesia hampir selalu dihantui oleh berbagai cerita buruk tentang perlambatan ekonomi, salah satunya terkait kurs Rupiah yang terus saja melemah dari Rp12,500 pada awal tahun, hingga hampir saja menembus Rp15,000 pada bulan September. Dan IHSG sendiri terus saja drop dari 5,500-an hingga posisi 4,120 pada September tersebut, dan kondisi psikologis market ketika itu sedemikian buruknya sampai-sampai hampir semua orang berpikir bahwa Indonesia bisa saja jatuh krisis seperti tahun 1998 (namun penulis sendiri ketika itu sudah mengatakan bahwa tidak akan terjadi krisis, anda bisa baca lagi artikelnya disini).

Beruntung, setelah September keadaan perlahan tapi pasti mulai membaik, dimana beberapa indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, hingga trading balance, semuanya menunjukkan improvement. Orang-orang sudah tidak ada lagi yang berbicara soal krisis, dan IHSG sendiri sekarang sudah berada di level 4,700-an (kemarin malah hampir saja tembus 4,900). Termasuk Rupiah, mungkin tidak banyak yang memperhatikan, tapi sekarang dia sudah berada di level Rp13,300-an per USD, atau menguat cukup signifikan dibanding September 2015 lalu, dan trend-nya juga tampak bagus dimana ia kelihatannya akan menguat lebih lanjut. Anda bisa cek gambar dibawah, dimana jelas tampak bahwa trend penguatan Rupiah sudah terjadi sejak Oktober 2015 lalu.
Kurs Rupiah sejak awal tahun 2015 hingga 29 Maret 2016. Klik gambar untuk memperbesar.
Nah, perlu anda ketahui bahwa ketika Rupiah mulai mengalami trend pelemahan dari Rp9,000-an per USD pada 2013 lalu (tepatnya mulai bulan Agustus) hingga akhirnya hampir saja menembus Rp15,000 pada September 2015, maka itu bukannya tanpa kesengajaandari pihak Bank Indonesia (BI)sebagai regulator (selain karena hampir seluruh mata uang dunia ketika itu memang melemah terhadap USD). Jadi BI sejak awal sengaja membiarkan kurs Rupiah melemah hingga sampai pada level tertentu, dalam hal ini sekitar Rp13,700, dimana menurut salah satu pejabat BI, secara fundamental memang seharusnya Rupiah berada di kurs 13,700 tersebut. Tujuannya? Untuk memperkuat neraca ekspor impor (trading balance), dimana dengan melemahnya Rupiah hingga ke posisi sekian, maka harga barang-barang impor akan naik dan otomatis nilai impor itu sendiri akan turun. Dan jika disisi lain nilai ekspornya stagnan atau tetap turun, namun penurunannya tidak sedalam penurunan impor, maka hasilnya neraca ekspor impor Indonesia akan surplus, dan itu akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Mengingat bahwa harga komoditas batubara dan CPO terus saja turun sejak penghujung 2011, dan itu pada akhirnya menyebabkan anjloknya nilai ekspor Indonesia, maka tidak ada cara lain untuk menjaga agar neraca ekspor impor tetap surplus, kecuali dengan menurunkan nilai impornya, yakni dengan cara melemahkan nilai tukar Rupiah.
Okay, lalu bagaimana hasilnya? Apakah pelemahan Rupiah tadi efektif? Well, kita lihat saja datanya. Sepanjang tahun 2015, nilai ekspor Indonesia tercatat US$ 150.3 milyar, sementara nilai impornya US$ 142.7 milyar, sehingga dihasilkan surplus US$ 7.5 milyar, dan ini adalah untuk pertama kalinya sejak tahun 2011 dimana neraca ekspor impor Indonesia kembali mencatat surplus. Selengkapnya bisa lihat tabel berikut, angka dalam milyaran USD.
Tahun
2015
2014
2013
2012
2011
Impor
142.7
178.2
186.6
191.7
177.3
Ekspor
150.3
176.0
182.6
190.0
203.6
Surplus (Defisit)
7.5
(2.2)
(4.1)
(1.7)
26.3
Karena neraca perdagangan sudah surplus, dan hingga Februari 2016 kemarin juga masih surplus, maka artinya Rupiah tidak perlu melemah lagi. Jadi kecuali jika nanti ada isu global tertentu yang menyebabkan nilai tukar mata uang dunia, termasuk Rupiah, kembali melemah terhadap US Dollar, maka trend penguatan Rupiah selama beberapa bulan terakhir ini berpeluang besar untuk berlanjut.
Pertanyaannya sekarang, ketika Rupiah menguat maka perusahaan/emiten apa saja yang akan diuntungkan? Secara umum, ketika Rupiah menguat maka semua emiten akan diuntungkan, karena dengan menguatnya Rupiah maka itu mencerminkan membaiknya fundamental ekonomi. Dan kalau ekonomi membaik, maka kinerja perusahaan secara umum juga akan membaik.
Tapi kalau secara spesifik, maka yang paling diuntungkan adalah: 1. Perusahaan yang punya utang dalam mata uang USD, biasanya dalam bentuk obligasi yang diterbitkan di Singapura, dan 2. Perusahaan berbasis impor, entah itu dia mengimpor barang jadi atau bahan baku pembuatan produk. Kabar baiknya, saat ini beberapa saham dari perusahaan diatas (perusahaannya punya utang Dollar, atau perusahaannya berbasis impor) dihargai pasar pada valuasi yang sangat rendah. Jadi ketika kemarin Rupiah terus saja melemah selama kurang lebih dua tahun (antara Agustus 2013 hingga September 2015), maka selama itu pula perusahaan yang punya utang USD dan perusahaan berbasis impor mencatat kinerja yang sangat buruk, dimana pendapatan mereka turun drastis, atau pendapatan mereka masih naik tapi labanya turun atau bahkan menjadi minus alias rugi, karena membengkaknya nilai utang (yang dicatat sebagai kerugian). Alhasil saham dari perusahaan-perusahaan tersebut juga ikut turun sangat tajam, hingga beberapa diantaranya hanya mencatat PBV 0.5 kali atau bahkan kurang dari itu.
Namun dengan menguatnya Rupiah, maka maka kinerja perusahaan-perusahaan diatas tentunya berpeluang untuk kembali positif pada tahun 2016 ini. Sementara sahamnya? Ya otomatis bakal ikut naik, bisa jadi dengan kenaikan yang sangat signifikan hingga triple digit (karena sebelumnya mereka juga turun gila-gilaan). Beberapa saham yang penulis perhatikan adalah Gajah Tunggal (GJTL), dan Erajaya Swasembada (ERAA). Pada Februari 2013, GJTL menerbitkan utang obligasi di Singapura senilai US$ 500 juta, dan nilai obligasi tersebut dalam mata uang Rupiah terus membengkak dari hanya Rp5.9 trilyun pada akhir tahun 2013, menjadi Rp7.3 trilyun pada September 2015. Kenaikan nilai obligasi tersebut menyebabkan GJTL mencatat rugi bersih hingga Rp750 milyar hingga Kuartal III 2015. Sementara sahamnya? Jeblok dari puncaknya di 3,000-an hingga kemarin sempat menyentuh level 400-an, sebelum sekarang mulai naik lagi ke level 700, dimana pada harga tersebut PBV-nya hanya 0.5 kali, valuasi yang kelewat rendah untuk ukuran perusahaan ban dengan merk ban lokal paling terkenal di Indonesia.
Sementara ERAA, dia adalah importir ponsel, dan dengan melemahnya nilai tukar Rupiah plus turunnya daya beli masyarakat itu sendiri, maka praktis pendapatannya turun dan demikian pula dengan laba bersihnya (meski gak sampai rugi), namun sahamnya ternyata turun lebih drastis lagi. Tahun 2013 lalu, ERAA masih kokoh di level 3,400-an. Tapi sekarang? Cuma 650 perak! Dimana harga tersebut mencerminkan PBV 0.6 kali. Padahal seperti halnya GJTL, ERAA juga merupakan pemimpin sekaligus perusahaan terbesar di industrinya, dalam hal ini industri ponsel.
Nah, dengan menguatnya Rupiah, maka praktis nilai utang obligasi GJTL akan turun, dan perusahaan berpeluang besar untuk kembali mencatat laba bersih di tahun 2016 ini. Untuk ERAA, dengan menguatnya Rupiah maka itu akan menurunkan biaya impor ponsel, sehingga pendapatan perusahaan berpeluang untuk kembali naik di tahun 2016 ini, demikian pula dengan laba bersihnya. Sementara sahamnya? Ya gak usah ditanya lagi lah, 99% pasti ikut naik secara signifikan, minimal hingga ke level harga yang tidak bisa dikatakan murah lagi.
Selain dua perusahaan diatas, anda mungkin bisa cari peluang di saham-saham lainnya lagi. Another good news: Baru saja sore tadi, Pemerintah meluncurkan Paket Kebijakan Ekonomi jilid XI, dimana salah satu poin kebijakannya adalah penyediaan kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga murah (9% per tahun), khusus untuk usaha yang berbasis ekspor. Tujuannya jelas: Untuk kembali meningkatkan nilai ekspor Indonesia, yang sudah sejak tahun 2011 lalu turun terus, dan itu tentunya akan kembali memperbesar nilai surplus neraca perdagagangan yang kembali dicatat pada tahun 2015 kemarin (surplus yang dicatat pada tahun 2015 lalu lebih karena turunnya nilai impor secara drastis, sementara nilai ekspornya masih belum naik kembali). Nah, jika tujuan itu tercapai, maka sudah tentu Rupiah akan kembali menguat lebih lanjut, mudah-mudahan!

Disclosure: Ketika artikel ini ditulis, Avere sedang dalam posisi memegang ERAA di average 655. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi April 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio/tanya jawab saham untuk member, langsung dengan [...]

Kuncinya: Sabar!

Beberapa waktu lalu seorang teman bertanya: ‘Pak Teguh, saya waktu itu beli PP Properti PPROdi harga 185, tapi kok dia kaya susah banget naiknya, sempet beberapa kali tembus 200, tapi turun lagi, padahal saham-saham yang lain udah pada jalan. Akhirnya saya lepas di 196.. eh gak lama kemudian dia malah terbang ke 232! Kalo di harga sekarang (232), masih boleh beli lagi gak ya?’ Nah, kalau anda sendiri dapet pertanyaan seperti itu, maka kira-kira jawabnya bijimana?

Karena nyatanya sekarang, ketika artikel ini ditulis, PPRO sedang turun lagi ke posisi 215. Sehingga kalau waktu itu penulis jawab, ‘Gpp pak, beli lagi aja’, maka posisi teman penulis itu jadinya nyangkut, karena modalnya sekarang di 232, bukan lagi 185. Tapi kalau penulis katakan, ‘Jangan pak, nanti juga PPRO turun lagi’, maka mengingat bahwa valuasinya masih rendah dan perusahaannya no problem, bagaimana kalau PPRO ternyata tidak turun dan tetap lanjut naik?
However, disini kita tidak akan membahas soal PPRO-nya.
Sekarang coba perhatikan lagi pertanyaan diatas. Menurut anda, mengapa teman penulis itu melepas PPRO di harga 196? Yep, alasannya adalah karena ‘PPRO susah banget naiknya’. Padahal kalau ia mau bersabar sedikit saja, toh pada akhirnya PPRO naik juga. Ketika ia mengatakan bahwa, ‘Akhirnya PPRO saya jual, tapi tak lama kemudian dia langsung terbang!’, maka jujur saja, anda juga pernah mengalaminya bukan? Penulis sering sekali membaca curhatan trader galau di media sosial yang mengeluh bahwa saham yang ia pegang tidak naik-naik, tapi sekalinya dijual, eh besoknya dia langsung ngacir! Jadi kalaupun anda sudah mahir menganalisa dan mampu mengidentifikasi saham-saham mana yang berfundamental bagus dan valuasinya masih murah, namun itu akan percuma saja jika anda tidak bisa bersabar setelah membeli saham tertentu, hanya karena ‘dia tidak naik-naik’.
The Marshmallow Study
Dan memang, kemampuan untuk bersabar adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan seseorang untuk bisa sukses, tidak hanya di bidang investasi saham namun juga dalam kehidupan sehari-hari, karena itu merupakan inti dari pengendalian diri. Pada tahun 1968, Walter Mischel, seorang psikolog dan juga professor di Stanford University, Amerika Serikat, melakukan eksperimen dimana ia dan timnya mengumpulkan 600 orang anak usia 4 – 6 tahun dalam satu ruangan kosong tanpa mainan atau apapun, dimana anak-anak itu diberikan cemilan yang manis-manis seperti marshmallow, permen, dan kembang gula. Para anak-anak ini dibolehkan untuk langsung memakan marshmallow yang diberikan kepada mereka, namun sebelumnya peneliti mengatakan kepada mereka bahwa kalau mereka bisa menunggu selama sekitar 15 menit untuk jangan dulu memakan marshmallow-nya, maka mereka akan memperoleh dua marshmallow.
Dan begitu peneliti meninggalkan ruangan, sebagian kecil dari anak-anak tersebut langsung mengambil marshmallow jatah mereka dan memakannya. Sementara sebagian besar lainnya mencoba mengalihkan perhatian dengan menutup mata (sehingga mereka tidak bisa melihat marshmallow yang disajikan diatas meja), berlari-lari mengelilingi ruangan, bernyanyi lagu kanak-kanak, hingga memainkan marshmallow itu seolah-olah itu bukan makanan, melainkan mainan mobil-mobilan. Dari anak-anak yang menunggu untuk memperoleh dua marshmallow ini, sepertiga diantaranya hanya mampu bertahan 3 – 5 menit, sepertiga lagi mampu bertahan sekitar 10 menit namun akhirnya mereka tetap memakan marshmallow-nya, dan hanya sepertiga sisanya yang mampu menunggu persis 15 menit dan sukses memperoleh dua marshmallow sebagai hadiahnya.
Dua puluh tahun kemudian yakni pada tahun 1988, anak-anak tadi, yang kini beranjak dewasa, kembali diteliti. Dan penelitian lanjutan ini menunjukkan bahwa anak-anak yang sukses menunggu untuk memperoleh dua marshmallow, mereka kini ‘secara signifikan lebih kompeten’ dibanding anak-anak yang dulunya gagal untuk bersabar. Ke-600 anak ini, setelah 20 tahun, mereka memperoleh kesempatan pendidikan yang berbeda-beda, dan tumbuh besar di lingkungan sosial yang berbeda-beda pula, namun tetap saja: Mereka yang dulunya mampu bersabar terbukti memiliki kehidupan serta kondisi finansial yang lebih baik, tak peduli meski mereka tidak memiliki pendidikan yang tinggi, atau tidak tumbuh besar di lingkungan sosial yang elit.
Cara untuk bersabar
Nah, setelah membaca cerita diatas, maka anda pasti berharap bahwa anda termasuk dari anak-anak yang mampu bersabar hingga sukses memperoleh dua marshmallow. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, maka ada beberapa hal yang bisa diperhatikan. Pertama, dari 600 anak yang diteliti, hanya sebagian kecil yang langsung memakan marshmallow-nya segera setelah peneliti keluar ruangan, sementara sebagian besar lainnya mencoba untuk menunggu terlebih dahulu. Ini artinya sebagian besar anak sebenarnya sudah berusaha untuk menunggu, namun hanya sebagian kecil dari mereka yang berhasil.
Dan kedua, dari anak-anak yang mencoba menunggu ini, kesemuanya melakukan segala cara untuk mengalihkan perhatian mereka. Tidak ada seorangpun dari anak-anak yang mencoba menunggu ini, yang menghabiskan 15 menit waktu mereka hanya dengan duduk berdiam diri. Namun ketika sebagian anak sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, maka setelah beberapa saat mereka akhirnya cuma bisa diam dan mau tidak mau memandangi marshmallow-nya(karena di ruangannya tidak ada apa-apa kecuali meja dan wadah berisi marshmallow). Dan tindakan tersebut (memandangi marshmallow) membuat mereka bertambah lapar seiring dengan berjalannya waktu, dan mereka akhirnya gagal.
Kesimpulannya, ketika sebagian kecil anak-anak sejak awal memang tidak bisa bersabar sama sekali (contohnya anak-anak yang langsung mengambil marshmallow tadi, segera setelah peneliti keluar ruangan), maka sebagian besar lainnya mampu untuk bersabar, namun dengan tingkat kesabaran yang berbeda-beda. Dan tingkat kesabaran tersebut ditentukan oleh seberapa kreatif seseorang dalam melakukan aktivitas tertentu untuk mengalihkan perhatiannya.
Jadi itulah kata kuncinya: Sebagai investor, ketika anda memutuskan untuk mencoba bersabar (karena anda menyadari bahwa bersabar itu perlu), maka anda harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian! Yakni perhatian terhadap naik dan turunnya harga saham yang anda pegang setiap saat. Lho, memangnya kenapa kita gak boleh memperhatikan/melihat harga saham setiap saat? Well, itu karena secara psikologis, investor manapun (termasuk penulis) tentunya ingin melihat sahamnya naik dan tidak mau melihat sahamnya turun atau sideways. Jadi kalau anda melihat saham anda setiap hari, maka ketika pada hari tertentu dia turun, atau ketika selama beberapa waktu dia gak kemana-mana, anda sedikit banyak akan merasa kecewa, apalagi jika ‘saham sebelah’ (saham yang tidak anda pegang) malah naik terus. Contohnya ya teman penulis tadi, yang kecepetan menjual PPRO hanya karena ‘dia tidak naik-naik’, sementara dia melihat saham sebelah, dalam hal ini saham batubara, malah terbang semuanya (karena kemarin ada sentimen positif dari naiknya harga minyak).
Tapi mungkinkah sebuah saham naik terus setiap hari tanpa henti? Ya tidak mungkin lah! Kalau pakai contoh PPRO diatas, dihitung sejak akhir September lalu maka dia sudah naik lebih dari 60%. Tapi apakah selama itu dia naik terus setiap hari? Jelas tidak. Termasuk ketika artikel ini ditulis, PPRO ternyata turun ke level 215. Dan kalau seseorang hanya melihat fakta bahwa PPRO hari ini turun, maka dia akan kecewa, dan dia akan kembali kecewa ketika dilain waktu PPRO mungkin turun lagi. Semakin menumpuk kekecewaan tersebut, maka akan semakin tidak sabar dia jadinya, sama seperti anak-anak tadi dimana semakin lama mereka memandangi marshmallow, maka semakin lapar mereka jadinya, dan akhirnya mereka gagal untuk menunggu. Malahan dalam beberapa kasus, ketika saham naik pun seorang investor seringkali tidak sabar untuk segera menjualnya, hanya karena profitnya tampak sudah besar (dan sekali lagi, itu karena dia melihat sahamnya terus setiap hari), padahal saham tersebut masih bisa naik lagi (sehingga ujungnya jadi cut profit).
Jadi tips pertama untuk bisa bersabar dalam berinvestasi adalah, alihkan perhatian anda dari naik turunnya harga saham setiap saat! Caranya? Well, anda bisa mencontoh perilaku anak-anak dalam studi marshmallow tadi, yakni dengan ‘menutup mata’ dengan cara memutus koneksi internet, lari keliling kompleks rumah (kalau anda kerja dirumah saja), pergi ke tempat karaoke untuk bernyanyi, bermain game Playstation, atau apapun kegiatan yang anda sukai. Sementara jika anda masih punya pekerjaan di kantor, ya anda tinggal bekerja saja seperti biasa. Intinya sekali lagi, setelah anda mengerjakan analisis dan kemudian mengambil keputusan untuk membeli saham tertentu, maka selanjutnya, alihkan perhatian anda.
Sementara investor berpengalaman, mereka biasanya mampu untuk fokus pada faktor fundamental/kinerja perusahaan ketimbang ngeliatin naik turunnya harga saham atau IHSG, dan itu dengan sendirinya membuat mereka lebih patient. Contohnya, awal tahun kemarin IHSG sempat tertekan sampai 4,300-an karena sentimen penurunan harga minyak dan anjloknya Bursa China, dan beberapa orang mulai marah-marah (tidak sabar) karena nyangkut (anda bisa baca lagi ceritanya disini). Tapi penulis sendiri tetap santai saja dan tidak menjual saham apapun, karena tahu persis bahwa secara fundamental, IHSG baik-baik saja. Dan setelah harus bersabar selama beberapa saat, toh akhirnya IHSG naik juga. Beberapa orang yang tidak sabaran mungkin justru cut loss pada awal tahun kemarin, ketika mereka seharusnya melakukan buy.
Beruntung, sebagai investor, kita bukanlah anak-anak, melainkan orang dewasa yang tentu saja punya lebih banyak trik dan cara untuk bisa bersabar, diluar dengan cara mengalihkan perhatian tadi, dan kita akan bahas ini lain waktu. And, trust me, ketika anda sudah mampu untuk tidak lagi menjual saham hanya karena ‘dia nggak naik-naik’ atau semacamnya melainkan hanya karena alasan dan analisa yang logis, maka keuntungan yang anda peroleh akan jauuuh lebih besar, dibanding sekedar ‘satu atau dua marshmallow’ tadi.

Jadwal Seminar: ‘How To Be a Calm Investor – Kontrol Emosi dalam Investasi Saham’, Hotel NEO Tendean, Jakarta, 2 April 2016. Keterangan selengkapnya baca disini. Hingga hari Senin, tanggal 28 Maret, masih tersedia kursi untuk 11 peserta [...]

‘Mumpung Murah’ Opportunity – Bank Bukopin

Selasa kemarin para supir taksi, terutama dari dua perusahaan yakni Blue Bird (BIRD) dan Express Transindo Utama (TAXI), melakukan aksi unjuk rasa di pusat kota Jakarta yang hampir saja berujung pada ‘civil war’, antara mereka dengan pengemudi Gojek (lah, apa hubungannya ama Gojek coba? Bukannya yang didemo itu Uber dan Grab?). Tak lama kemudian media sosial segera dipenuhi oleh opini para pengamat dadakan soal taksi konvensional vs taksi online ini. Sementara di pasar saham, saham BIRD dan TAXI juga menjadi pusat perhatian, dimana TAXI yang sebelumnya terjun bebas dari 1,200-an hingga dibawah 100, tiba-tiba saja sudah diatas 200 lagi. Demikian pula dengan BIRD, yang pada Januari lalu jeblok ke 5,400, tapi terakhir sudah naik ke 6,800.

Fakta menariknya adalah, ketika saham BIRD mulai melantai di bursa sejak November 2014 lalu, atau ketika TAXI terus saja turun dalam setahunan terakhir, maka dua saham ini tidak pernah benar-benar menjadi perhatian investor atau trader (kecuali mungkin spekulan yang melihat bahwa posisi TAXI sudah terlalu rendah ketika kemarin harganya menyentuh 80 perak, dan memang benar dia kemudian naik lagi). Dan kalau bukan karena demo kemarin, maka mungkin juga tidak akan ada orang yang membongkar-bongkar laporan keuangan BIRD, dan kemudian menemukan bahwa perusahaan yang hampir memonopoli industri taksi di masa lalu ini ternyata masih membukukan profit ratusan milyar Rupiah, sebuah angka yang tentu saja terdengar fantastis, dan itu kemudian dijadikan justifikasi oleh para pendukung Uber dan Grab dengan mengatakan bahwa BIRD selama ini sudah meraih profit terlalu besar dari praktek monopoli taksi yang mereka lakukan.
However, jika nanti cerita soal demo taksi Selasa kemarin mulai dilupakan orang (kecuali jika besok-besok para supir berdemo lagi, tapi susah lah, gak mungkin mereka demo tiap hari, anak bini dikasih makan apa cuy?), maka demikian pula saham BIRD dan TAXI akan dilupakan juga, karena sejak awal dua saham tersebut tidak menawarkan fundamental yang cukup baik bagi investor.
Okay, lalu apa hubungannya cerita soal TAXI ini dengan Bank Bukopin (BBKP), yang menjadi topik pembahasan kita kali ini?

Seperti halnya BIRD dan TAXI, BBKP bukanlah saham yang cukup populer di kalangan investor (dan juga trader). Namun di masa lalu, saham BBKP sempat beberapa kali menjadi pusat perhatian ketika dia naik signifikan, terakhir pada awal tahun 2013 dimana dia terbang dari 600-an hingga tembus 1,000, setelah keluar berita bahwa Grup Bosowa mengakuisisi 30% saham BBKP pada harga Rp1,050 per saham. Namun setelah itu BBKP kembali menjadi saham yang ‘biasa-biasa saja’, dan belum menjadi perhatian publik lagi sampai sekarang.
Sementara bagi para bargain hunter seperti penulis, BBKP menarik perhatian bukan ketika dia naik, tapi justru ketika dia turun. Dalam lima tahun terakhir, cukup jelas bahwa titik terendah bagi BBKP ini adalah di level 520 – 530, dan secara valuasi BBKP memang tidak bisa turun lebih rendah lagi dari itu, karena PBV-nya pada harga 525 hanya 0.5 kali, atau jauh dibawah rata-rata PBV saham-saham perbankan pada umumnya, padahal BBKP tentu saja bukan bank kecil abal-abal yang gak jelas, melainkan bank yang cukup punya nama di masyarakat, dan kinerja fundamentalnya juga terbilang konsisten dalam jangka panjang. Per akhir tahun 2015, BBKP membukukan ekuitas Rp7.5 trilyun, naik cukup signifikan dibanding lima tahun sebelumnya (tahun 2010) sebesar Rp2.9 trilyun.
Catatan: Berdasarkan riset penulis selama ini, bank-bank yang terdapat di Indonesia bisa dikelompokkan menjadi empat tier. Tier 1 adalah bank-bank besar dengan aset Rp500 trilyun atau lebih, dan merupakan bank yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh terhadap masyarakat umum, seperti Bank Mandiri, Bank BCA, dan Bank BRI. Tier 2 adalah bank-bank yang juga cukup besar dengan aset Rp100 trilyun atau lebih, namun biasanya hanya merupakan pilihan kedua bagi masyarakat (untuk menabung) diluar tiga bank besar diatas. Bank-bank di tier 2 ini contohnya Bank BNI, Bank CIMB Niaga, Bank Danamon, hingga Bank BII. Tier 3 adalah bank-bank menengah dengan aset Rp20 – 100 trilyun, nama bank-nya cukup terkenal namun kurang terkenal jika dibanding bank-bank di tier 1 dan 2, dan BBKP termasuk tier 3 ini. Terakhir, tier 4 adalah bank-bank kecil yang tidak terkenal sama sekali, dan kalau mereka listing di BEI maka sahamnya juga biasanya tidak likuid. Contohnya Bank Victoria (BVIC), Bank QNB (BKSW), Bank Mestika Dharma (BBMD), dan seterusnya.
Secara fundamental, bank-bank di tier 1 dan 2 umumnya memiliki kinerja yang sangat bagus dan juga konsisten dalam jangka panjang, karena mereka boleh dibilang mendominasi industri perbankan di Indonesia. Untuk bank-bank di tier 3, termasuk Bukopin, kinerja mereka tidak sebagus bank-bank besar, tapi juga tidak bisa dikatakan jelek dan dalam jangka panjang nilai aset bersih mereka masih bertumbuh. Sementara bank-bank di tier 4, kinerja mereka terbilang buruk, dan manajemennya seringkali harus struggle untuk sekedar tidak menderita kerugian, yang terburuk mungkin bisa bangkrut sama sekali, seperti Bank Century, yang sekarang berubah nama menjadi Bank JTrust Indonesia (BCIC).
Balik lagi ke BBKP. Seperti disebut diatas, BBKP termasuk bank tier 3 dengan fundamental yang biasa-biasa saja, dan karena itu pula valuasi sahamnya tidak bisa disamakan dengan BMRI, BBRI, atau BBCA, dimana jika tiga saham seringkali dihargai pada PBV 2, 3 atau bahkan 4 kali, maka PBV BBKP biasanya hanya 1 koma sekian kali saja.
Tapi ketika sekarang PBV BBKP hanya 0.6 kali (pada harga 590), maka itu artinya dia? Undervalue, tentu saja, sama seperti ketika pada September lalu BBRI turun sampai harga 8,000, yang mencerminkan PBV 1.7 kali, padahal normalnya BBRI ini dihargai pada PBV 2 – 3 kali. Dan setelah jangka waktu menengah (beberapa bulan), seperti yang bisa anda lihat sendiri, berapa BBRI sekarang? Poinnya disini adalah, ketika itu BBRI turun bukan karena perusahaannya lagi ada problem atau apa, tapi memang IHSG-nya sendiri yang lagi kumat, sehingga kalau nanti IHSG membaik maka sahamnya juga praktis akan naik hingga balik lagi ke posisi yang seharusnya.
Sementara BBKP? Kasusnya juga sama begitu, dimana dia sebenarnya gak ada masalah sama sekali, namun sejak awal tahun kemarin sahamnya rontok dari 700-an hingga mentok di 525, yang mungkin karena IHSG juga pada awal tahun sempat turun 3% karena cerita anjloknya Bursa China, tapi kesininya dia seperti lupa untuk naik lagi. Well, actually pada pertengahan Februari lalu dia sempat rebound mengikuti kenaikan IHSG, tapi langsung dihantam oleh isu pembatasan NIM perbankan dan turun ke 525 lagi. Seiring dengan menguapnya cerita soal NIM tersebut, BBKP mulai merangkak naik hingga terakhir sudah di posisi 590.
Namun kalau melihat bahwa normalnya ia dihargai pada PBV 0.9 – 1 kali, maka seharusnya dia masih bisa naik lebih lanjut hingga level 750 – 800. Let say, dia naik dari harga sekarang sampai 750 saja, maka itu artinya profit 27% bukan? Profit 27% ini mungkin tampak rendah, apalagi kalau dibandingkan dengan TAXI yang kemarin naik sampai 100% lebih dalam waktu sangat singkat. Namun jika mempertimbangkan risikonya, maka kecuali ada force majeure atau IHSG panic selling lagi, maka BBKP ini no way akan balik lagi ke level 525. Sementara TAXI? Well, berhubung kinerjanya juga amburadul, maka siapa yang tahu besok-besok dia akan naik atau turun keposisi berapa?
Dan terkait dengan menjadi ‘pusat perhatian’ seperti TAXI dan BIRD kemarin, maka meski BBKP sekarang ini bukan merupakan saham yang diperhatikan banyak orang, tapi seperti yang sudah disebut diatas, di masa lalu dia sempat menjadi pusat perhatian beberapa kali, dan sempat beberapa kali pula terbang (tahun 2010, BBKP sempat terbang setelah keluar cerita bahwa dia akan diakuisisi oleh Jamsostek). Jika kita asumsikan bahwa bisa saja besok-besok ada isu tertentu yang membuat BBKP ini menjadi pusat perhatian lagi, maka potensi gainnya tentu saja lebih besar dari 27% tadi, dengan risiko yang masih sama rendahnya. Tapi jika tidak cerita apapun? Well, 27% juga tentunya sudah lumayan, terutama karena kita bisa pake dana yang tidak sedikit untuk buy BBKP ini (sehingga nominal profitnya akan cukup besar), mengingat risikonya yang rendah.
PT Bank Bukopin, Tbk
Rating Kinerja pada 2015: A
Rating saham pada 590: AA
Disclosure: Ketika artikel ini ditulis, Avere sedang dalam posisi memegang BBKP di average 565. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi April 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk [...]

Investment Planning

Profil Avere Investama
Avere Investama adalah sebuah perusahaan holding yang menaungi kegiatan investasi milik Teguh Hidayat & Partners, dan kami tidak mengelola dana pihak ketiga. Meski demikian, kami masih menyediakan layanan consultingbagi klien investor institusi, sebagaimana yang akan dijelaskan dibawah ini:
Apa Itu Investment Planning?
Untuk memahami investment planning ini maka coba Anda bayangkan ketika anda hendak bepergian menggunakan kendaraan: Anda minimal harus menentukan kemana tujuan anda, dan menentukan rute jalan yang mana yang akan anda lalui. Lebih lanjut, Anda juga harus memastikan bahwa mesin kendaraan/mobil anda dalam kondisi normal, memiliki surat-surat yang lengkap, dilengkapi perlengkapan standar kendaraan (dongkrak, segitiga pengaman, dll), dan Anda sendiri sebagai pengemudinya juga harus dalam kondisi yang sehat dan prima. Jika perjalanannya jauh, maka anda juga harus merencanakan dimana dan bagaimana anda akan beristirahat setiap beberapa jam sekali, dan seterusnya.
Nah, sekarang bayangkan jika anda bepergian tanpa mengetahui rute jalannya sama sekali, maka besar kemungkinan anda akan tersesat sehingga perlu waktu yang lebih lama untuk sampai tujuan. Jika anda tidak membawa SIM dan STNK, maka anda mungkin akan berurusan dengan polisi. Dan jika anda menyetir dalam kondisi lelah dan mengantuk (karena terus mengemudi secara non stop tanpa beristirahat sama sekali), maka anda mungkin akan mengalami kecelakaan. Pendek kata, jika anda melakukan perjalanan tanpa perencanaandan persiapan sama sekali, maka alih-alih sampai tujuan dengan selamat, perjalanan anda tersebut kemungkinan malah akan menjadi sebuah bencana.
Demikian pula dalam berinvestasi di saham: Perencanaan merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan, dimana jika seorang investor membeli saham begitu saja tanpa membuat rencana apapun, maka bukannya memperoleh keuntungan, ia justru akan menderita kerugian, tak peduli meski ia sudah sangat mahir dalam menganalisis saham sekalipun.
Jadi dalam layanan investment planning ini, kami di Avere akan membantu anda untuk melakukan persiapan/menyusun perencanaan terkait:
  1. Menentukan tujuan investasi, entah itu untuk dana pensiun, atau untuk mengembangkan aset/dana yang dimiliki. Perlu diingat bahwa penentuan tujuan investasi ini akan juga menentukan step-step berikutnya.
  2. Menentukan rute/metode investasi, entah itu dengan cara trading secara berkala (beli saham ketika IHSG jeblok, jualnya nanti ketika IHSG terbang), atau beli saham kemudian disimpan,
  3. Menentukan profil risiko dan target profit, apakah anda berani mengambil risiko besar untuk memperoleh keuntungan besar, atau anda lebih suka konservatif untuk meraih profit jangka panjang,
  4. Menentukan pilihan saham-sahamnya, serta menentukan harga beli serta (kalau ada) target harganya untuk tiap-tiap saham, dan terakhir
  5. Menyiapkan Plan B, dimana jika kegiatan investasi tidak berjalan sesuai rencana maka anda tidak akan sampai mengalami kondisi terburuk. Analoginya adalah seperti ban cadangan dalam mobil, dimana jika salah satu ban mobil anda kempes maka anda tinggal menggantinya dengan ban cadangan, dan alhasil anda bisa melanjutkan perjalanan seperti biasa.

Seluruh planning diatas akan disusun menggunakan pendekatan value investing, dimana kami akan merekomendasikan saham-saham berfundamental bagus yang bisa dibeli pada harga murah, sehingga menawarkan profit konsisten dalam jangka panjang.
Penting: Sebelum anda membuat rencana perjalanan menggunakan mobil/motor, maka anda harus sudah punya SIM dan memahami rambu-rambu lalu lintas terlebih dahulu. Jadi demikian pula dalam menyusun investment planning ini, maka anda harus sudah mengertidasar-dasar tentang investasi saham itu terlebih dahulu. Karena itulah, layanan investment planning & consulting hanya tersedia bagi investor institusi (dana pensiun, asset management, asuransi dll), dimana asumsinya adalah bahwa Anda sudah sangat paham tentang investasi saham sehingga kami tidak perlu menjelaskan lagi semuanya dari awal, melainkan bisa langsung fokus ke penyusunan planning-nya.
Kontrak Jangka Panjang: Kami di Avere juga menyediakan kontrak consulting untuk 1 tahun dimana selama satu tahun tersebut kami akan meeting dengan klien sebanyak total empat kali (boleh di kantor kami, atau di kantor anda) untuk diskusi tentang investment planning, serta diskusi tentang progressdari planning tersebut, apakah menghasilkan profit sesuai harapan atau tidak. Dalam kontrak consulting ini, kami menerima pembayaran (pada akhir masa kontrak) hanya jika kinerja investasi klien sukses mencapai target profit setelah 1 tahun.
Untuk informasi lebih lanjut, kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengn subjek ‘INVESTMENT PLANNING’, dan isi: Nama lengkap anda, nama institusi, dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Nanti kami akan menelpon anda untuk menentukan jadwal dan lokasi meeting-nya (bisa di kantor kami di Cityloft Sudirman, Jakarta Pusat).
Free Consulting:
  1. Kami menyediakan layanan konsultasi via telepon, dimana anda boleh bertanya apa saja terkait penyusunan investment planning dan kami akan menjawabnya, gratis. Melalui telepon pula, anda bisa meminta contoh planning yang pernah kami buat di masa lalu, serta bagaimana hasilnya.
  2. Anda bisa mengundang kami untuk melakukan presentasi tentang investment planning ini ke kantor anda, dan anda boleh minta materi presentasinya (dalam format powerpoint) terlebih dahulu, dan kami akan mengirimnya via email. Ini juga gratis, namun jika lokasi kantornya diluar Jakarta maka kami minta biaya transportasi untuk dua orang.
Ada pertanyaan? Anda bisa kirim email pertanyaan ke teguh.idx@gmail.com (penulis sendiri), atau silahkan hubungi Ms. Nury melalui no telp 081220445202, atau Pin [...]

Seminar Calm Investor, Jakarta, 2 April 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: How To Be a Calm Investor – Kontrol Emosi dalam Investasi Saham’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Cara untuk membangun karakter khas seorang investor, yakni tenang (calm), sabar, tidak mudah panik dan bisa tidur nyenyak di malam hari, serta tidak mudah serakah.
  2. Cara untuk berinvestasi dengan santai tanpa harus melihat harga saham setiap hari, dan karenanya anda akan punya banyak waktu melakukan apapun kegiatan/pekerjaan anda dengan normal, dan
  3. Mengenal ‘Mr. Market’, serta bagaimana cara untuk menjadikan Mr. Market sebagai ‘pelayan’ agar kita memperoleh keuntungan yang lebih besar, dan bukannya malah sebagai panutan. Seperti kata Ben Graham, ‘Mr. Market is there to serve you, not to lead you.’
Bonus Materi: Sharing pengalaman penulis ketika menghadapi panic selling pada Agustus – September 2015 kemarin, dimana kita sukses membeli banyak saham-saham bagus pada harga super duper diskon. Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti.
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 2 April 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Donald Trump, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.

Catatan: Bagi anda yang belum membaca buku ‘The Calm Investor’, maka anda juga bisa membelinya di acara ini, cukup dengan menambah Rp50,000 (sehingga anda transfernya Rp550,000), lalu di isi emailnya tambahkan info: ‘Termasuk beli buku’. Dan nanti bukunya akan langsung diberikan di lokasi.

Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama peserta seminar value investing di Jakarta, 20 Februari 2016
Untuk melihat foto-foto penyelenggaraan seminar sebelumnya, klik [...]

Indonesia, Sepuluh Tahun Mendatang

Berkshire Hathaway sudah merilis annual letter-nya untuk tahun 2015 pada 27 Februari lalu (beruntung bagi kita, di usianya yang ke-85 tahun, Opa Buffett masih sehat walafiat dan juga masih rutin menulis), dan ada beberapa poin dalam annual letter tersebut yang cukup menarik. Salah satunya, yang akan kita bahas disini, adalah tentang sudut pandang Buffett tentang perekonomian Amerika yang, menurut penulis, juga bisa kita jadikan acuan untuk memandang bagaimana perekonomian di Indonesia di masa yang akan datang. Okay, kita langsung saja.

Tahun 2016 adalah tahun pemilihan Presiden di Amerika, dan para capres selalu berbicara tentang berbagai problem yang melanda negeri ini, seolah-olah Amerika sedang dalam kondisi yang benar-benar buruk. Karena itulah, sekarang ini ada banyak warga negara Amerika yang berpikir bahwa anak-anak mereka mungkin akan memiliki kehidupan (di masa depan) yang lebih buruk dibanding yang mereka miliki pada saat ini.
Namun itu sepenuhnya keliru. Para bayi yang terlahir hari ini di Amerika merupakan generasi yang paling beruntung dalam sejarah.
PDB Amerika saat ini adalah sekitar US$ 56,000 per kapita, atau enam kali lebih besar dibanding tahun 1930 (sudah termasuk memperhitungkan inflasi), yakni tahun dimana saya lahir, dan itu adalah suatu lompatan yang bahkan sangat jauh melampaui impian paling gila dari orang tua saya dan orang-orang lainnya di zaman itu. Warga negara Amerika pada hari ini tidak lebih cerdas ataupun bekerja lebih keras dibanding mereka yang hidup di tahun 1930-an, namun mereka bekerja lebih efisien, dan karenanya memproduksi lebih banyak barang dan jasa. Contoh riil: Para partner kami di Kraft-Heinz telah sukses dalam menekan inefisiensi, yang pada akhirnya meningkatkan volume produksi per jam kerja.
Contoh lainnya, pada tahun 1900, jumlah tenaga kerja di Amerika tercatat 28 juta jiwa, dimana 11 juta atau 40% diantaranya bekerja di sektor pertanian. Komoditas utama pertanian ketika itu, seperti halnya sekarang, adalah jagung. Terdapat lahan seluas 90 juta acre yang mampu memproduksi 2.7 milyar gantang jagung (satu gantang setara 35 – 36 liter), atau dengan kata lain, ketika itu satu acre lahan hanya mampu menghasilkan 30 gantang jagung per tahun.
Kemudian diciptakanlah mesin traktor, teknik penanaman, panen, irigasi, pemupukan, hingga kualitas benih yang lebih baik, dan berbagai inovasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas lahan perkebunan jagung secara sangat signifikan. Hari ini terdapat 85 juta acre lahan perkebunan jagung di seluruh Amerika, namun satu acre lahan mampu menghasilkan 150 gantang jagung per tahun. Para petani juga telah menghasilkan peningkatan produktivitas yang kurang lebih sama untuk produk-produk pertanian lainnya.
Namun peningkatan produktivitas lahan itu baru separuh cerita. Dalam lebih dari 100 tahun terakhir, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian telah turun drastis dari 11 juta jiwa menjadi hanya 3 juta pada hari ini, atau hanya 2% dari tenaga kerja Amerika secara keseluruhan (dibanding 40% pada tahun 1900). Teknologi pertanian yang lebih maju (dan juga lebih efisien) telah memungkinkan puluhan juta tenaga kerja untuk menggunakan waktu dan keahlian mereka di bidang usaha yang lain, dan realokasi tenaga kerja tersebut memungkinkan warga Amerika untuk menikmati produk-produk dan jasa non-pertanian dalam jumlah yang jauh lebih besar dibanding tahun 1900.
Dan memang, saat ini sebagian besar anak-anak di Amerika memiliki kehidupan yang sangat layak. Seluruh keluarga di lingkungan menengah keatas di daerah tempat saya tinggal memiliki ‘living standard’ yang lebih baik dibanding living standard-nya John D. Rockefeller pada tahun 1930. Nyatanya, sebagai orang terkaya di Amerika sepanjang sejarah, namun tetap saja Rockefeller tidak pernah mampu membeli atau memiliki barang dan jasa yang bisa kita miliki pada saat ini, seperti kendaraan untuk transportasi, barang-barang elektronik untuk hiburan, alat komunikasi, hingga layanan kesehatan, karena ketika itu berbagai barang dan jasa tersebut belum ada.
Dan dalam beberapa waktu kedepan, berbagai jenis produk dan jasa tersebut akan meningkat lebih banyak lagi. Hanya memang, meski ‘kue’ yang akan diperoleh oleh generasi-generasi mendatang akan lebih besar dibanding hari ini, namun potongan kue tersebut tidak akan tersebar secara merata. Akan terdapat kompetisi antara orang-orang yang dalam usia produktifnya dan para pensiunan, para ahli waris dan orang-orang yang harus memulai segalanya dari nol, para pemilik modal dan kaum pekerja, dan, yang paling penting, kompetisi antara orang-orang yang punya keahlian (untuk bekerja) di bidang tertentu, dan yang tidak. Berbagai kompetisi tersebut akan terus ada untuk selamanya, dan akan selalu ada pihak-pihak yang kalah dan tersingkirkan.
Kabar baiknya adalah bahwa para pihak yang kalah ini tetap akan menikmati produk-produk barang dan jasa yang lebih baik di masa depan. Tidak ada yang mampu menyamai sistem ekonomi dalam hal memproduksi barang dan jasa yang diinginkan orang banyak, ataupun dalam hal memproduksi sesuatu yang orang-orang belum mengetahui bahwa mereka menginginkannya. Orang tua saya, ketika mereka masih muda, tidak pernah berpikir bahwa mereka membutuhkan televisi, sama seperti halnya saya tidak pernah berpikir untuk membeli komputer, ketika saya dulu masih berusia 50 tahunan. Namun televisi dan komputer, setelah orang-orang mengetahui apa yang bisa dilakukan kedua barang tersebut, akan dengan cepat mengubah cara hidup masyarakat secara keseluruhan. Saya sekarang menghabiskan sepuluh jam per minggu untuk bermain kartu bridge secara online dan, ketika saya menulis annual letter ini, saya baru menyadari tentang betapa bermanfaatnya fitur ‘search’ di internet.
Bagaimana dengan Indonesia?
Melalui tulisannya diatas, Buffett secara tidak langsung menyampaikan bahwa meski Amerika pada hari ini merupakan salah satu negara paling makmur di dunia, namun pada tahun 1900 – 1930, Amerika sama sekali belum menjadi negara yang maju. Dan berbagai kemajuan yang dicapai oleh para Americans selama kurang lebih 100 tahun terakhir bukanlah karena mereka bekerja lebih keras, tapi karena mereka bekerja lebih efisien dan karenanya lebih produktif dalam menghasilkan barang dan jasa, dan itu pada akhirnya meningkatkan living standard masyarakat Amerika secara keseluruhan.
Dan meski terdapat kompetisi dimana akan selalu ada pihak-pihak yang tersingkirkan, namun para pihak-pihak yang kalah ini tetap akan mengalami peningkatan gaya hidup. Contohnya televisi dan komputer, dimana meski dua barang itu terhitung barang mewah di masa lalu, namun saat ini hampir seluruh warga negara Amerika bisa memilikinya, termasuk kalangan menengah kebawah sekalipun. Dan meski Opa Buffett sendiri agak ketinggalan dalam hal memanfaatkan internet, namun toh sekarang ini dia mulai terbiasa dalam menggunakan Mbah Google.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Well, anda bisa melihatnya sendiri: Bagaimana living standard warga negara Indonesia pada saat ini dibandingkan dengan tahun 1990-an dulu, atau lebih lama lagi, tahun 1970-an dulu? Penulis kasih ilustrasi mudah. Pada tahun 1970-an, sepeda motor masih merupakan barang mewah yang harganya, setelah memperhitungkan faktor inflasi, sekitar Rp100 juta per unit. Jadi pada jaman itu cuma orang kaya yang bisa punya motor. Tapi sekarang? Semua orang bisa punya motor, atau bahkan lebih ekstrim lagi: Sekarang ini motor sudah seperti simbol bagi kelas menengah kebawah, karena kelas menengah keatasnya sudah pake mobil semua (melihat fakta ini penulis jadi penasaran: Apakah suatu hari nanti mobil juga akan bernasib seperti motor, yakni menjadi simbol bagi kalangan menengah kebawah?). Contoh lain, pada tahun 1990-an, cuma orang-orang tertentu yang bisa punya ponsel (yang modelnya kayak batu bata itu). Sementara sekarang? Well, ada nggak orang yang anda kenal yang gak punya ponsel?
Keberadaang barang-barang seperti sepeda motor/mobil dan ponsel, pada akhirnya meningkatkan living standard warga Indonesia. Dan peningkatan living standard tersebut adalah karena adanya peningkatan teknologi dan kualitas tenaga kerja yang pada akhirnya mendorong efisiensi, yang menyebabkan produsen bisa memproduksi lebih banyak sepeda motor/ponsel pada biaya produksi yang lebih murah (kalau sebelumnya harus impor secara penuh, maka sekarang bisa dirakit disini), dan alhasil harga jualnya juga turun sehingga lebih terjangkau oleh orang banyak.
Menariknya, hingga saat ini sekitar 40% tenaga kerja Indonesia masih terkonsentrasi di sektor pertanian, atau sama seperti Amerika di tahun 1900. Dan kualitas SDM Indonesia juga masih rendah dimana kita belum bisa membuat produk hilir dari produk-produk tambang dan hasil perkebunan, atau membuat mobil/otomotif serta barang elektronik (baru bisa merakit). Sementara pasar modalnya? Sami mawon, dimana jumlah ‘tokoh sukses’ di bidang ini masih bisa dihitung dengan jari. Dan kondisi tersebut, sekali lagi, sama dengan Amerika pada 100 tahun yang lalu. Sebelum Ben Graham mulai mengajar value investing di Columbia Business School pada tahun 1928, hingga akhirnya menerbitkan buku ‘The Intelligent Investor’ pada tahun 1949, bursa Wall Street di Amerika sama sekali belum memiliki tokoh investor yang benar-benar sukses, padahal Wall Street itu sendiri sudah ada sejak tahun 1792. In fact, Warren Buffett sendiri baru dikenal diseluruh dunia sebagai investor besar sejak tahun 1990-an.
Balik lagi ke Indonesia. Namun jika pada 10 atau 20 tahun lalu kita masih belum bisa melihat Indonesia ini ‘akan kemana’, maka belakangan ini arah perkembangan ekonomi kita mulai kelihatan. Dulu para tenaga kerja Indonesia boleh dibilang sama sekali tidak mengerti soal teknologi, tapi sekarang mulai banyak developer aplikasi lokal, salah satunya aplikasi Gojek yang terkenal itu. Dulu developer properti tidak pernah fokus pada pembangunan kawasan perumahan yang modern (yang penting asal layak huni saja), tapi sekarang, anda bisa lihat sendiri, ada banyak kawasan hunian yang tidak hanya nyaman untuk tempat tinggal, tapi lengkap terintegrasi dengan berbagai fasilitas umum, dan berbagai bangunan seperti menara apartemen, perkantoran, hingga mall-mall sekarang ini sudah menjadi jenis bangunan yang biasa (minimal di kota-kota besar). Dan jika dulu orang-orang hanya nyimpen duit dibawah bantal, maka sekarang mereka yang tinggal di kampung sekalipun sudah terbiasa menabung ke bank, dan juga terbiasa menggunakan mesin ATM.
Kantor Bank BRI di Naringgul, Cianjur, sekitar 5 jam perjalanan arah selatan Kota Bandung (Ciwidey kesana lagi)
Sebagian besar pelaku pasar saham mungkin tidak memperhatikan perubahan-perubahan diatas, padahal itu semua adalah perubahan fundamental yang akan mengarah pada peningkatan living standard yang lebih lanjut. You see, dengan mampu membuat aplikasi, maka artinya orang Indonesia mulai melek teknologi, dan kedepannya akan tercipta produk-produk teknologi lainnya, dan keberadaan berbagai produk teknologi tersebut akan semakin meningkatkan standar living masyarakat Indonesia. Jika sekarang ini hunian dan fasilitas umum yang modern (seperti mall) mulai banyak di kota-kota besar, maka kedepannya kota-kota yang lebih kecil juga akan memiliki kawasan perumahan yang sama. Dan jika sekarang orang-orang mulai terbiasa ke bank, maka kedepannya mereka juga akan lebih mengenal dan memanfaatkan asuransi, investasi (termasuk di saham), dan produk-produk keuangan lainnya.
Pendek kata, Indonesia sekarang ini sedang dalam fase tinggal landas untuk menjadi negara maju di masa depan, sama seperti Amerika yang perekonomiannya mulai maju pesat sejak tahun 1950-an (pasca perang dunia kedua). PDB Indonesia sendiri terakhir tercatat US$ 1,866 per kapita, atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 1990, dan selama 20 tahun terakhir ini trend-nya naik terus (hanya turun sekali pada krisis 1997 – 1998, tapi di tahun-tahun lainnya termasuk 2008, cenderung naik terus). Namun sudah tentu, PDB US$ 1,866 per kapita itu masih sangat rendah dibanding banyak negara-negara maju, sehingga ruang untuk bertumbuhnya masih sangat terbuka lebar.
Kesimpulan
Ketika artikel ini ditulis, IHSG was in a good mood, dan mulai banyak orang-orang yang bilang bahwa dia akan ke 5,000. Namun seperti yang sudah kita bahas di artikel berjudul ‘smart money’, investor yang cerdas akan fokus pada faktor-faktor fundamental ketimbang naik turunnya IHSG, dan juga lebih berpandangan jauh kedepan ketika kebanyakan orang hanya fokus pada fluktuasi jangka pendek. Dan diatas kita sudah membahas sedikit dari faktor fundamental tersebut, dimana kesimpulannya adalah bahwa negara kita sedang berada di track yang benar untuk menjadi negara maju, suatu hari nanti.
Sementara soal ‘pandangan yang jauh ke depan’, biar penulis kasih ilustrasi: Jika IHSG dalam 10 tahun kedepan bergerak sebesar rata-rata kenaikannya selama ini, yakni naik 12 – 13% per tahun (belum termasuk dividen), dan dengan mempertimbangkan faktor ‘tinggal landas’ diatas maka peluang kenaikan sebesar itu sangat terbuka lebar, maka IHSG akan berada di posisi 14,000 pada tahun 2026. Sehingga jika seorang investor mampu untuk paling tidak mencatat kinerja investasi yang sama dengan rata-rata pasar, maka nilai investasinya akan meningkat sekitar 3 kali lipat dalam sepuluh tahun, belum termasuk dividen. Namun berhubung ada banyak saham-saham yang selama sepuluh tahun terakhir mencatat kinerja yang lebih baik dibanding IHSG, maka jika anda mampu untuk fokus di saham-saham ‘wonderful’ tersebut, nilai porto anda akan meningkat lebih besar dari sekedar 3 kali lipat dalam sepuluh tahun kedepan, mungkin 5 – 6 kali lipat atau lebih besar lagi, dimana kinerja sebaik itu bisa dicapai tanpa perlu capek-capek trading atau ngamatin harga saham tiap hari, melainkan cukup buy sekali ketika pasar dilandar panic selling, dan jualnya mungkin nanti ketika pasar sudah benar-benar euforia.
Okay, I think that’s enough. Melalui kolom komentar dibawah, penulis juga mengajak anda untuk sharing pendapat anda tentang bagaimana kira-kira Indonesia dalam 10 tahun kedepan, berdasarkan perkembangan yang sudah terjadi selama 10 – 20 tahun terakhir. Catatan: penulis masih utang pembahasan saham bagus dan murah, tapi artikel diatas adalah juga untuk mengingatkan anda untuk membaca annual letter terbarunya Berkshire Hathaway. Trust me, membaca annual letter tersebut adalah seperti belajar langsung dari Opa Buffett sendiri, dan itu jauh lebih bermanfaat ketimbang membaca berita bahwa Ahmad Dhani akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta atau semacemnya.
The Calm Investor, buku tentang kontrol emosi & psikologis dalam berinvestasi di pasar modal, sudah terbit! Anda bisa membelinya disini, harganya hanya Rp55,000.

Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan di BEI, dan anda bisa memperolehnya 

‘Smart Money’ of Stock Market

Tanggal 8 Januari lalu, ketika IHSG berada di level 4,500-an, penulis membuat artikel berjudul Fase Putus Asa Sudah Lewat, Lalu?, dimana intinya adalah bahwa IHSG sedang dalam periode konsolidasi, dan periode konsolidasi ini bisa berujung pada kenaikan atau lanjut turun lagi. Namun dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dll, penulis mengatakan bahwa bahwa konsolidasi tersebut akan berujung pada kenaikan (anda bisa baca lagi artikelnya disini). And here we are: Ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah naik signifikan dan berada di level 4,800-an.

However, disini kita tidak akan membahas soal IHSG-nya. Dalam artikel tanggal 8 Januari tersebut, penulis menampilkan gambar berikut, klik gambar untuk memperbesar:
Okay, perhatikan: Pada gambar diatas disebutkan bahwa terdapat tiga kelompok investor di pasar modal yakni smart money, investor institusi, dan investor publik. Smart money sudah membeli saham jauh sebelum dua kelompok investor lainnya mulai belanja, yakni ketika posisi IHSG masih rendah, alias masih ini dibawah garis mean-nya (mean disini kita pakai moving average untuk 200 trading day alias setahun, karena asumsinya adalah jika periode bear market sudah confirm berakhir, maka kita bisa beli saham kemudian disimpan untuk minimal setahun kedepan).
Sementara investor institusi baru masuk ketika IHSG sudah take off, atau bahasa teknikalnya, sudah break out. Dan investor publik adalah yang masuknya paling belakangan, yakni ketika IHSG sudah naik terus hingga akhirnya menimbulkan antusiasme orang-orang di market, atau dengan kata lain, ketika IHSG benar-benar sudah bullish. Dari sini cukup jelas bahwa kelompok investor yang meraup keuntungan terbesar adalah kelompok smart money, sementara investor publik kebanyakan hanya menikmati keuntungan yang relatif sedikit, karena mereka baru membeli saham ketika harganya sudah tidak terlalu murah lagi.
Lalu siapa sebenarnya smart money ini? Dan bagaimana bisa mereka belanja lebih awal ketika kebanyakan orang masih ragu-ragu tentang arah pasar?
Smart money ini bisa siapa saja, entah itu investor institusi dengan dana kelolaan trilyunan, atau investor perorangan dengan modal ala kadarnya. However, terdapat satu hal yang membedakan mereka dengan investor kebanyakan: Smart money mampu fokus pada kondisi fundamental ekonomi ketimbang pergerakan IHSG itu sendiri, sama seperti mereka mampu fokus pada kinerja fundamental suatu perusahaan, ketimbang naik turunnya harga saham dari perusahaan yang bersangkutan.
Sementara investor/trader kebanyakan, mereka hanya melihat posisi IHSG dan harga-harga saham, seringkali tanpa memperhatikan faktor fundamental sama sekali, dimana kalau IHSG sedang jeblok maka mereka akan panik dan ramai-ramai keluar dari pasar, dan sebaliknya ketika IHSG sudah naik, maka barulah mereka akan masuk lagi. Contoh paling gampang, pada Maret 2015 lalu, IHSG terus saja break new high ke level 5,400-an, alias tampak bagus, dan alhasil orang-orang ketika itu terus saja belanja saham tak peduli meski Rupiah terus saja melemah, daya beli masyarakat turun, dan bisnis apapun mulai lesu. Kita pernah membahas soal itu disini. Dan ketika pasar kemudian benar-benar jatuh pada penghujung April 2015, maka barulah orang-orang berhamburan keluar, tapi itu sudah terlambat!
Kemudian beberapa bulan berikutnya, IHSG terus saja turun, Rupiah juga terus saja melemah, hingga akhirnya orang-orang mulai khawatir bahwa Indonesia bisa saja jatuh ke lembah krisis seperti tahun 1998, padahal perlambatan ekonomi yang terjadi tidaklah seburuk itu (kita pernah membahasnya disinipada September lalu, dimana penulis mengatakan bahwa meski Rupiah terus saja melemah, tapi tidak akan sampai berujung pada krisis). Puncaknya adalah ketika terjadi panic selling di bulan Agustus dan September, dimana kondisi pasar ketika itu benar-benar kebalikan dengan apa yang terjadi di bulan Maret: Panik, pokoknya panik!
Beruntung, memasuki Kuartal III 2015 hingga awal tahun 2016, kondisi ekonomi perlahan tapi pasti membaik, kinerja emiten juga mulai pulih, dan IHSG juga perlahan tapi pasti mulai naik meski dengan beberapa kali setback, salah satunya pada Januari lalu dimana IHSG terseret oleh penurunan Indeks Shanghai dan Dow Jones. Dan lagi-lagi, ketika itu orang-orang kembali panik hanya karena IHSG turun sedikit, tanpa bisa melihat bahwa itu justru merupakan peluang. Yang paling terbaru, ketika kemarin ada pejabat ngomong bahwa NIM perbankan akan dibatasi, maka saham-saham bagus seperti BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA langsung berjatuhan, dan tidak sedikit yang justru keluar dari saham-saham perbankan pada harga rendah ketika seharusnya mereka masuk, mumpung dikasih harga murah!
Singkatnya, ketika orang kebanyakan hanya melihat posisi IHSG dan kemudian menjadi optimis/pesimis karenanya, para smart money selalu bisa curi start, dimana mereka jualan lebih awal sebelum IHSG turun, dan sebaliknya, mereka belanja lebih awal sebelum IHSG naik. Ketika orang kebanyakan entah kenapa melihat BBRI sebagai ‘barang jelek’ ketika sahamnya dijual pada harga 8,000, ASII 5,000, dan UNVR 34,000, maka ketika itulah para smart money diam-diam masuk. Dan ketika beberapa bulan kemudian orang-orang akhirnya ramai membicarakan soal kenaikan saham-saham tertentu, para analis sekuritas mulai mengatakan bahwa ‘IHSG akan ke 5,000’, maka para smart money sudah ambil posisi jauh hari sebelumnya, tentunya pada harga yang jauh lebih rendah, dan alhasil profitnya juga jauh lebih besar.
Lalu kedepannya, terserah IHSG mau lanjut naik atau turun lagi, namun para smart money tetap akan fokus pada faktor fundamental, dimana jika kinerja para emiten tidak sesuai harapan dan perkembangan ekonomi tampak memburuk lagi, maka tak peduli meski IHSG ketika itu sedang mencoba untuk break new high lagi, mereka akan segera keluar. Tapi kalau nggak ya hold saja.

How to be smart money?

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita menjadi smart money? Well, salah satu kuncinya adalah anda harus mampu melawan arus psikologis pasar. Namun memang itu tidaklah mudah, dan penulis sendiri sampai sekarang masih belajar untuk menjadi smart money tersebut. Tapi berdasarkan pengalaman, inilah yang bisa anda lakukan:
Yang pertama, dan ini adalah kesekian kalinya penulis mengatakan ini, jangan pernah membeli saham tanpa analisis. Dan terkait pergerakan IHSG, maka anda juga harus bisa menganalisa fundamental ekonomi nasional, termasuk bisa mengamati perkembangan bisnis di lapangan, dan mampu mengidentifikasi isu-isu ekonomi yang penting, kemudian menilai bagaimana pengaruhnya terhadap IHSG. Plus, anda juga harus bisa mengidentifikasi isu-isu ekonomi global, seperti penurunan harga minyak, kenaikan Fed Rate, koreksi Bursa Shanghai di China, dan seterusnya. Singkatnya, anda harus banyak membaca. Sebagai investor, anda harus menggunakan waktu anda untuk memperluas wawasan, dan bukannya malah nongkrongin naik turunnya saham seharian.
Kedua, perbanyak pengalaman. Diatas penulis mengatakan bahwa orang kebanyakan hanya melihat posisi IHSG dimana mereka akan euforia ketika IHSG naik, dan sebaliknya panik ketika IHSG jeblok, sementara para smart money mampu untuk fokus pada sesuatu yang jauh lebih penting, yakni fundamental ekonomi, dan mereka kemudian banyak menjual ketika posisi IHSG sudah terlalu tinggi dan tidak lagi mencerminkan fundamental ekonomi, dan sebaliknya banyak membeli ketika kemudian posisi IHSG sudah cukup rendah, sementara perkembangan ekonomi mulai membaik.
Tapi untuk bisa fokus seperti itu maka diperlukan bekal pengetahuan serta pengalaman yang cukup. Kalau anda baru 1 – 2 tahun di pasar, biasanya anda akan mudah panik ketika orang lain panik, dan sebaliknya mudah euforia ketika orang lain euforia, dan itu sepenuhnya normal, dimana yang perlu anda lakukan hanyalah keep going, teruslah berinvestasi dan belajar segala sesuatu tentang pasar modal, hingga akhirnya anda akan sampai pada posisi dimana anda menjadi lebih sabar dan tidak gampang panik lagi.
Hanya memang, kalau anda sudah cukup lama di market, katakanlah lebih dari 5 tahun tapi sampe sekarang anda masih gampang jantungan, maka coba cek lagi, mungkin selama ini anda menggunakan metode investasi yang keliru.
Dan ketiga, hati-hati dengan kenaikan harga saham yang tidak ditopang oleh faktor fundamental. Dalam kondisi pasar yang sedang turun, maka hampir semua saham tak peduli fundamentalnya bagus atau jelek, biasanya akan ikut turun, dan beberapa orang mungkin melakukan kesalahan dengan menjual saham bagus pada harga rendah, hanya karena khawatir bahwa dia akan turun lebih dalam lagi.
Sementara ketika pasar sedang naik, maka hampir semua saham, tak peduli fundamentalnya bagus atau jelek, akan ikut naik. Pada kondisi inilah sebagian orang mungkin akan terjebak membeli ‘barang blangsak’ hanya karena silau melihat dia naik hingga puluhan persen hanya dalam hitungan hari. Sebenarnya ada juga pelaku pasar tipe spekulan yang hobinya mengejar ‘saham-saham terbang’ seperti ini dengan sepenuhnya mengabaikan faktor fundamental, dan mereka mungkin memang sukses memperoleh gain besar. Tapi suka atau tidak, sebagian besar lainnya justru akan menderita kerugian dan juga stress, karena harus melihat sahamnya setiap saat. Well, penulis tidak menyarankan agar anda ikut-ikutan stress seperti itu karena, trust me, profit yang kita peroleh dari saham akan terasa lebih manis kalau kita memperoleh profit tersebut dengan cara duduk santai sambil membaca sepanjang hari, jalan-jalan, atau sambil tetap melakukan kegiatan di kantor atau dirumah seperti biasa :)
Okay, I think it’s enough. Kecuali ada topik lain yang lebih menarik, minggu depan kita akan membahas salah satu saham yang sampai sekarang masih belum menjadi perhatian pasar, tapi berdasarkan kaidah value investing, dia sejatinya menawarkan risiko yang rendah plus profit yang lumayan dalam jangka menengah.
The Calm Investor, buku tentang kontrol emosi & psikologis dalam berinvestasi di pasar modal, sudah terbit! Anda bisa membelinya disini, harganya hanya Rp55,000.

Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan di BEI, dan anda bisa memperolehnya

PP Properti

Seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2015 lalu, mayoritas perusahaan di BEI mengalami penurunan kinerja, atau bahkan menderita kerugian. However, beberapa dari mereka, seperti PT PP Properti Tbk (PPRO), masih berada dalam momentum pertumbuhan. Hingga September 2015, PPRO mencatat laba bersih Rp206 milyar, naik empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2014.

PPRO adalah anak usaha dari PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP), salah satu perusahaan konstruksi terintegrasi terbesar di Indonesia. Pada tahun 1991, PTPP, yang sebelumnya hanya bergerak di usaha konstruksi dan sektor pendukungnya, mulai mengerjakan proyek real estate-nya sendiri dengan membangun Perumahan Otorita di Purwakarta, Jawa Barat, dan berlanjut dengan proyek-proyek lainnya. Pada 2013, PPRO resmi didirikan untuk menjadi wadah bagi bisnis developer properti milik PTPP.

Antara 1991 hingga 2013, PPRO telah membangun setidaknya 24 proyek perumahan, apartemen, toko ritel, hotel, mall, dan gedung perkantoran di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Namun barulah sejak tahun 2014 lalu perusahaan meluncurkan banyak proyek properti sekaligus, dan yang terbesar adalah superblok Grand Kamala Lagoon di Bekasi, dan Grand Sungkono di Surabaya.
Sekarang, masalah umum yang dihadapi perusahaan properti adalah bahwa perolehan pendapatan serta laba mereka cenderung tidak stabil dari tahun ke tahun. Sebuah developer mungkin sukses menghasilkan laba yang besar pada tahun tertentu, tapi langsung anjlok di tahun berikutnya setelah perusahaan kehabisan unit-unit properti untuk dijual, sementara proyek properti selanjutnya masih belum siap jual, karena masih dalam tahap konstruksi atau perencanaan. Dan kalau laba bersih sebuah perusahaan properti turun, maka sahamnya juga akan turun.
Untuk mengatasi masalah diatas, beberapa developer, termasuk PPRO, berupaya untuk memiliki sumber pendapatan yang berulang (recurring income), misalnya dari sewa hotel, mall, dan kantor, namun nilai recurring income ini biasanya sangat kecil dibanding pendapatan dari penjualan unit-unit real estate. Termasuk PPRO, dimana recurring income-nya hanya sekitar 5% dari total pendapatan perusahaan (PPRO punya rencana untuk meningkatkannya menjadi 10% dalam dua atau tiga tahun kedepan, tapi itu tetap saja kecil).
Namun demikian, pendapatan PPRO dari penjualan unit-unit properti kemungkinan akan terus tumbuh pada tahun-tahun yang akan datang. Untuk dua superblok-nya yang di Bekasi dan Surabaya, perusahaan berencana untuk menyelesaikan konstruksi menara apartemen satu, menara apartemen dua, dan seterusnya, secara bertahap setiap tahun mulai dari 2014 hingga 2022 (Bekasi), dan 2035 (Surabaya). Untuk proyek-proyek lainnya juga sama: Akan dikembangkan secara bertahap hingga 2019. Jika semuanya lancar, maka perusahaan akan terus menghasilkan laba yang besar dan meningkat setiap tahunnya, minimal hingga 2019.
Pertanyaannya, bisakah PPRO menjalankan rencana jangka panjangnya diatas secara tepat waktu dan tanpa gangguan yang berarti? Bukankah ekonomi sekarang sedang tidak terlalu bagus, sehingga industri properti mau tidak mau akan ikut terpengaruh? Well, mungkin nggak juga karena, pertama, tidak seperti kebanyakan developer lainnya yang mentargetkan pembeli kelas menengah keatas, PPRO menjual sebagian besar produknya untuk kalangan menengah pada harga yang lebih terjangkau, sehingga perusahaan lebih kebal terhadap risiko perlambatan ekonomi. Kedua, seluruh proyek properti milik perusahaan berlokasi di kota besar dan didukung oleh infrastruktur yang lengkap, seperti akses jalan tol. Ketiga, meski ekonomi melambat, namun Pemerintah banyak menerapkan kebijakan ekonomi untuk kembali membuatnya melaju kencang, dan salah satu sektor yang menerima banyak perhatian adalah sektor properti. Dan sektor properti itu sendiri masih tumbuh seiring dengan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah.
Keempat, PPRO tidak memiliki utang yang besar seperti beberapa developer lainnya, sehingga laba bersihnya terbilang aman dari risiko perubahan suku bunga ataupun nilai tukar Rupiah. Dan kelima, PPRO didukung oleh perusahaan induknya, PTPP, yang merupakan perusahaan konstruksi BUMN yang mapan yang tentunya akan menerima banyak proyek infra dari Pemerintah, dimana keberadaan infrastruktur tersebut akan meningkatkan value dari unit-unit properti milik perusahaan.
Jadi, kita kesampingkan dulu perusahaan-perusahaan properti yang lain, penulis kira PPRO berpeluang untuk mempertahankan momentum pertumbuhannya yang sudah dicapai sejak 2014 lalu hingga beberapa tahun kedepan.
Lalu bagaimana dengan sahamnya? Meski PPRO menjadi satu dari sedikit perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan signifikan di tahun 2015, namun sahamnya tetap terseret oleh penurunan IHSG. PPRO pertama kali diperdagangkan pada 19 Mei 2015 ketika IHSG berada di level 5,300-an, dan sahamnya melompat dari harga perdana 185 hingga sempat menyentuh 250. Namun seiring dengan penurunan IHSG yang mencapai titik terendahnya yakni 4,100-an pada Agustus – September lalu, PPRO juga sempat turun hingga 127, atau jauh dibawah harga IPO-nya.
Namun meski sahamnya turun, perusahaannya sama sekali tidak ada masalah, sehingga penurunan sahamnya jelas sekali merupakan peluang bagi para value seekers. Pada harga 127, PBV PPRO hanya 0.9 kali, atau dengan kata lain, anda hanya perlu membayar Rp90 untuk memperoleh aset senilai Rp100, dan aset tersebut berpeluang besar untuk tumbuh signifikan di tahun-tahun mendatang. Jadi dengan mempertimbangkan nama besar perusahaan, likuiditas sahamnya, kinerjanya yang cemerlang, dan outlook-nya yang cerah, maka harga 127 tersebut tidak masuk akal. Jika IHSG mulai rebound, dan PPRO juga sukses melanjutkan kinerja positifnya, maka sahamnya juga akan naik dengan mudah.
And indeed, ketika artikel ini ditulis, IHSG mulai rebound meski masih belum kembali ke 5,300-an, namun PPRO naik cukup signifikan dan sudah berada di level 190-an kembali. Untuk kedepannya PPRO mungkin akan naik lebih lanjut atau bisa juga turun lagi, namun dengan asumsi bahwa perusahaan masih mencatatkan kinerja yang bagus dan IHSG juga minimal bertahan di kisaran posisinya saat ini, maka tidak ada alasan bagi PPRO untuk kembali ke level terendahnya bukan?
Disclosure: Artikel ini ditulis pertama kali pada Oktober 2015 untuk Majalah Forbes Indonesia edisi November 2015, dan disajikan kembali disini dengan beberapa perubahan. Pada Oktober 2015 dan pada tanggal penyajian artikel (29 Februari 2016), Avere sedang dalam posisi memegang PPRO di harga rata-rata 173. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Maret 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio untuk [...]

Penjelasan Penurunan NIM Perbankan

Kamis kemarin, tanggal 18 Februari, komisioner otoritas jasa keuangan (OJK), Muliaman Hadad, mengatakan bahwa net interest margin (NIM) perbankan di Thailand tercatat 3 – 4%, sementara NIM di Indonesia lebih tinggi. Agar lebih comparable dengan negara-negara lain dikawasan ASEAN, maka NIM bank-bank di Indonesia akan diarahkan hingga menjadi 3 – 4% juga, dimana OJK akan meminta bank untuk menurunkan bunga kreditnya. Sehari kemudian Menteri BUMN, Rini Soemarno, juga menghimbau kepada bank-bank BUMN untuk menurunkan NIM-nya menjadi sekitar 4% dengan cara melakukan konsolidasi seperrti berbagi sistem IT dan mesin ATM, sehingga menurunkan biaya operasional, dan alhasil kinerja bank-bank tersebut menjadi lebih efisien.

Terlepas dari detail pernyataan dari kedua tokoh diatas, namun judul pemberitaannya adalah bahwa ‘NIM Perbankan akan Dibatasi’, dimana oleh orang awam maka itu terdengar seperti ‘keuntungan bank akan dibatasi’. Alhasil saham-saham perbankan langsung jeblok dan itu menyebabkan IHSG turun 1.7%, Jumat lalu.
Lalu apa sih yang dimaksud dengan NIM? Bisakah NIM dibatasi? Bagaimana caranya? Kenapa dan apa tujuannya sehingga NIM bank-bank di Indonesia harus dibatasi? Dan jika NIM sebuah memang bisa diturunkan sampai dibawah 4%, maka bagaimana dampaknya terhadap kinerja bank yang bersangkutan?
Pengertian NIM
Net interest margin, atau margin bunga bersih, adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih/net interest income(pendapatan bunga/interest income dikurangi beban pokok/cost of credit), dengan nilai aset produktif. Pendapatan bunga berasal dari kredit yang disalurkan, simpanan pada obligasi pemerintah, sertifikat Bank Indonesia, dll. Sementara beban pokok merupakan biaya yang dikeluarkan bank untuk membayar bunga deposito, bunga pinjaman, dll.
Dan yang dimaksud dengan aset produktif adalah aset yang dikelola hingga menghasilkan bunga tadi, istilahnya net bearing assets. Misalnya, sebuah bank asetnya Rp100 milyar. Dari total aset tersebut, Rp80 milyar diantaranya disalurkan kesana kemari dalam bentuk kredit, surat berharga, obligasi, dll, sehingga menghasilkan pendapatan bagi bank berupa bunga. Nah, Rp80 milyar inilah yang disebut dengan aset produktif.
Jika bank tersebut mencatat pendapatan bunga Rp5 milyar dalam setahun, kemudian setelah dikurangi beban pokok hasilnya adalah Rp4 milyar, maka NIM-nya adalah 4 / 80 = 0.05 = 5%. Data terakhir dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa rata-rata NIM perbankan di Indonesia adalah 4.23%.
Nah, dari sini kita bisa melihat faktor-faktor yang menentukan NIM, yakni: 1. Nilai pendapatan bunga, 2. Nilai beban pokok, dan 3. Nilai aset produktif. Seperti halnya perusahaan manapun di seluruh dunia, bank-bank di Indonesia tentunya selalu fokus pada upaya untuk meningkatkan pendapatan hingga sebesar-besarnya, dan menekan beban pokok hingga serendah-rendahnya (sementara nilai aset seiring waktu akan meningkat dengan sendirinya). Intinya adalah menaikkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran. Dan bank yang berhasil dalam upaya tersebut akan mencatat NIM yang lebih tinggi dibanding bank lain yang kurang berhasil, dimana semakin tinggi NIM sebuah bank, maka artinya semakin efisien bank tersebut dalam beroperasi. Di Indonesia, bank dengan NIM terbesar adalah Bank BTPN dengan NIM 9.9% pada Kuartal III 2015.

Jadi kalau NIM mau diturunkan, maka caranya dibalik: Pendapatan bank ditekan hingga serendah-rendahnya, atau nilai beban pokok-nya yang dinaikkan. Tapi mungkinkah bank melakukan itu? Menaikkan pengeluarannya sendiri? Menteri Rini sendiri menghimbau kepada bank-bank BUMN untuk melakukan konsolidasi untuk menurunkan biaya operasional sehingga kinerja perusahaan menjadi lebih efisien. Tapi kalau caranya begitu, maka NIM-nya justru akan naik, sehingga dalam hal ini pernyataan Menteri Rini menjadi absurd (tapi rasanya gak mungkin kalau Menteri Rini gak ngerti apa itu NIM, jadi mungkin ini cuma karena wartawannya salah kutip).
Sementara pernyataan Muliaman Hadad bahwa OJK akan meminta bank untuk menurunkan bunga kreditnya sehingga NIM-nya akan turun, itu baru lebih masuk akal, karena jika bunga kredit turun sementara omzetnya tetap, maka pendapatan bunga bank akan turun. Dan jika beban pokoknya tetap, maka NIM-nya akan turun. Namun tetap saja: Bukan seperti itu cara untuk menurunkan NIM perbankan. Lebih lanjut akan dijelaskan dibawah.
Kenapa NIM bank harus turun? Apa tujuannya?
Dalam perekonomian suatu negara, perbankan memiliki peran sebagai ‘jembatan’ yang menghubungkan antara pemilik dana dengan orang/perusahaan yang membutuhkan dana tersebut untuk mengembangkan usaha. Dalam perannya tersebut, bank memungut bunga dari penyaluran kredit/pinjaman, dan membayar bunga ke pemilik dana, katakanlah dalam bentuk bunga deposito. Selisih antara bunga kredit yang tentu saja lebih besar dari bunga deposito, itulah yang kemudian menjadi pendapatan bank. Semakin besar selisihnya, maka semakin besar pula pendapatan bank tersebut.
Nah, terkait dengan penyaluran kredit dan pinjaman ke sektor-sektor usaha, jika bank memungut bunga terlalu besar maka itu akan membebani sektor usaha itu sendiri, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Jadi jika tujuannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka suku bunga bank bisa diturunkan. Caranya? Dengan menurunkan BI Rate, dimana itu merupakan domain dari BI (hanya BI yang bisa menurunkan BI Rate). Dengan turunnya BI Rate, maka tidak hanya bunga kredit, tapi bunga deposito juga bisa diturunkan, atau dengan kata lain, meski pendapatan bunga bank akan turun, tapi beban pokoknya juga akan turun, dan alhasil NIM-nya tetap.
Hanya memang, kalau BI Rate terus diturunkan hingga ke level yang sangat rendah, misalnya dibawah 5% (terakhir masih 7%), maka NIM perbankan akan ikut turun. Ilustrasinya sebagai berikut: Ketika BI Rate 7%, maka sebuah bank menetapkan bunga pinjaman 12%, dan bunga deposito 6%, sehingga margin-nya (NIM-nya) akan tercatat 12 – 6 = 6%. Setelah BI Rate turun menjadi 4%, maka bunga pinjaman mungkin turun menjadi 9% (dari 12 ke 9, berarti turun 25%), dan bunga deposito ikut turun tapi hanya menjadi 4.5% (dari 6 ke 4.5, berarti turun 25% juga. Ngerti nggak?), sehingga NIM-nya menjadi 9 – 4.5 = 4.5%, atau lebih rendah dari dibanding NIM 6% tadi.
Namun catat: BI Rate hanya bisa diturunkan hingga ke posisi yang serendah-rendahnya kalau perekonomian sudah sangat efisien, yang ditandai dengan rendahnya inflasi. Ini artinya jika BI Rate turun tajam dan itu menyebabkan NIM bank juga turun, maka penurunan NIM tersebut sama sekali tidak berdampak buruk bagi bank yang bersangkutan, karena disisi lain tingkat inflasi juga turun drastis. Sebab, inflasi adalah juga seperti cost dalam operasional bank, dimana jika sebuah bank mencatatkan margin bunga 6% pada tahun tertentu namun tingkat inflasi di tahun tersebut tercatat 7%, maka sejatinya bank tersebut merugi.
Jadi kenapa NIM di Thailand lebih rendah dibanding Indonesia? Karena inflasi disana cuma 0 – 1%, terakhir bahkan minus 0.5%, atau jauh lebih rendah dibanding Indonesia yakni 4.1%. Dan suku bunga bank sentral disana juga cuma 1.5%, dibanding BI Rate yakni 7%. Jadi meski NIM perbankan di Thailand lebih rendah dibanding di Indonesia, namun itu bukan berarti bahwa bank-bank disini lebih profitable dibanding di Thailand. Tapi rendahnya NIM perbankan di Thailand juga bukan berarti bahwa perbankan disana lebih baik dibanding disini, tapi bahwa perekonomian disana secara keseluruhan lebih efisien dibanding di Indonesia.
Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, kenapa NIM bank harus turun? Apa tujuannya? Jawabannya bukan NIM bank-nya yang langsung diturunkan begitu saja, katakanlah dengan memaksa bank menurunkan pendapatan dan menaikkan beban pengeluaran, tapi bank-bank di Indonesia akan diberi insentif tertentu (oleh OJK) sehingga mereka bisa menurunkan bunga kredit sesuai dengan penurunan BI Rate (BI Rate juga mulai turun dalam beberapa bulan terakhir). Dan itu diharapkan akan menstimulus sektor-sektor usaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika disisi lain tingkat inflasi juga bisa ditekan minimal di level saat ini (data inflasi terakhir, yakni 4%, itu terbilang bagus mengingat rata-rata inflasi di Indonesia tercatat 6 – 7% per tahun), maka BI Rate bisa terus turun, dan lambat laun otomatis NIM perbankan akan turun dengan sendirinya, tentunya tanpa mengganggu kinerja perbankan itu sendiri karena disisi lain tingkat inflasi memang sudah sangat rendah.

Itu sebabnya dikatakan bahwa proses ‘penurunan NIM’ ini mungkin akan makan waktu 2 – 3 tahun, karena pekerjaan utamanya adalah untuk menurunkan inflasi namun disisi lain tetap menjaga pertumbuhan ekonomi, sehingga NIM perbankan kemudian akan turun dengan sendirinya, dan itu tentu saja perlu waktu yang tidak sebentar. Lain ceritanya jika NIM sebuah bank langsung diturunkan dengan cara memaksa mereka menurunkan bunga kredit secara drastis dan menaikkan bunga deposito, misalnya, padahal inflasi masih tinggi. Kalau begitu caranya maka barulah penurunan NIM itu merupakan hal yang buruk, tapi sekali lagi, bukan begitu caranya. Sama seperti ketika Pemerintah mentargetkan penurunan harga jual gas untuk menstimulus ekonomi, maka caranya bukan dengan memaksa Perusahaan Gas Negara (PGAS) untuk langsung begitu saja menurunkan harga jual, melainkan memberikan insentif, kemudahan, dan infrastruktur agar PGAS bisa memotong jalur distribusinya, sehingga operasional PGAS menjadi lebih efisien, dan harga jual gas-nya bisa diturunkan dengan sendirinya tanpa mengurangi laba dari PGAS itu sendiri.

Kesimpulan

Turunnya rata-rata NIM perbankan adalah salah satu indikator, diluar indikator-indikator lain seperti meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan rendahnya inflasi, bahwa ekonomi Indonesia membaik. OJK atau bahkan BI sekalipun tidak bisa langsung menetapkan bahwa rata-rata NIM perbankan di Indonesia adalah maksimal sekian persen, sama seperti mereka tidak bisa menetapkan berapa persen tingkat pertumbuhan inflasi dan inflasi (hanya bisa mentargetkan), karena NIM tersebut akan secara otomatis mengikuti perkembangan fundamental ekonomi di dalam negeri, dimana kalau perkembangannya bagus maka NIM-nya akan turun, tapi kalau nggak ya nggak.
Pertanyaan terakhir, jika nanti NIM sebuah bank turun sampai dibawah 4%, maka bagaimana dampaknya terhadap kinerja bank yang bersangkutan? Well, perhatikan kata kuncinya diatas: rata-rata NIM di Indonesia akan turun kalau perekonomian sudah lebih baik/lebih efisien dibanding sebelumnya, jadi penurunan NIM tersebut tidak berdampak negatif apapun. Ibaratnya seperti gaji anda turun dari Rp10 juta menjadi Rp9 juta, tapi harga-harga beras (dan kebutuhan sehari-hari lainnya) juga turun dari Rp10,000 menjadi Rp7,000 per kilo. Nah, dengan demikian maka gaji Rp9 juta tadi sejatinya justru lebih besar bukan?
Lalu kenapa saham-saham perbankan malah turun ketika keluar statement dari OJK dan Menteri BUMN bahwa ‘NIM perbankan akan diturunkan hingga 3 – 4%’ ini? Ya sama saja ketika ada berita bahwa harga gas turun, harga semen turun, bunga KPR turun, yang langsung bikin saham PGAS, SMGR dan BBTN jeblok, karena masalahnya sebagian besar orang kalau baca berita hanya baca judulnya saja, bukan benar-benar memahami isi beritanya, dan analisa mendalam tentang berita tersebut biasanya baru akan muncul beberapa waktu kemudian. Sama seperti ketika beberapa waktu lalu heboh soal ‘Ironman’ asal Bali dimana orang-orang langsung percaya bahwa ada tukang las yang bisa bikin tangan robot hanya dengan bermodalkan barang elektronik bekas, tapi beberapa waktu kemudian barulah diketahui kalau itu cuma hoax.
Tapi yah, penulis sudah cukup hafal dengan fenomena ‘saham jeblok karena berita jelek’ seperti ini, dimana kalau yang jadi ‘korban’ adalah saham bagus, maka biasanya itu opportunity. Sejak 2009 sampai sekarang, entah sudah berapa kali saham-saham sektor perbankan dihantam sentimen miring, belum termasuk koreksi IHSG itu sendiri yang rutin menghantam hampir setiap tahunnya, tapi toh saham-saham bank yang bagus seperti BBCA, BMRI, BBRI, BBNI dst, mereka semua naik terus, dengan total kenaikan yang juga lebih tinggi dibanding IHSG. Dan apakah trend kenaikan dalam jangka panjaaaang tersebut akan terhenti hanya karena orang-orang belum paham soal NIM ini? I don’t think so!
Disclosure: Ketika artikel ini ditulis, Avere Investama sedang dalam posisi memegang BBNI, BJBR, dan BBKP. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Maret 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio untuk member.

Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Posisi Bursa Saham Indonesia di Regional Asia Tenggara

Kemarin ada berita bahwa Bank Central Asia (BBCA) telah mengambil alih posisi Development Bank of Singapore (DBS) sebagai bank terbesar di Asia Tenggara, dari sisi market cap. Dan berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan sudah memperoleh titel ‘terbesar’ entah itu dari sisi market cap, nilai aset, atau nilai ekuitas, it must mean something. Apalagi sebelumnya jarang terdengar ada perusahaan Indonesia yang mampu ‘mengalahkan’ perusahaan Singapura, dimana dalam hal perkembangan pasar modal, diakui atau tidak, kita masih kalah jauh dibanding tetangga kecil nan menjengkelkan tersebut. Dan mungkin pertanyaannya, sebenarnya bagaimana sih posisi saham-saham Indonesia di regional Asia Tenggara?

Dari sisi market cap atau kapitalisasi pasar, pada penutupan pasar tanggal 12 Februari kemarin, BBCA memiliki market cap USD 24.1 milyar, atau lebih besar dari DBS yang hanya USD 23.3 milyar. Mengingat bahwa market cap bisa berubah setiap saat tergantung naik turunnya saham, maka data diatas mungkin tidak berarti apa-apa, dimana jika besok-besok saham DBS kembali naik, maka BBCA akan kembali ke posisinya sebagai bank terbesar kedua di Asia Tenggara. Namun fakta lainnya yang menarik adalah, dalam lima tahun terakhir, saham BBCA sudah naik 115.9%, sementara DBS justru turun 10.8%. I mean, dalam jangka pendek, pergerakan harga suatu saham dan juga perubahan market cap mungkin tidak berarti apapun. Tapi jika suatu saham naik signifikan setelah lima tahun, sementara saham lainnya justru turun pada periode waktu yang sama, maka pasti terdapat perbedaan fundamental yang signifikan dari dua perusahaaan yang bersangkutan.
Dan ternyata memang benar: Antara akhir 31 Desember 2010 hingga 30 September 2015, ekuitas BBCA meningkat dari Rp34.1 menjadi 86.0 trilyun, atau naik 152%. Sementara DBS? Pada periode waktu yang sama, ekuitasnya naik dari SGD 26.6 menjadi 39.4 milyar, atau hanya naik 48%. Okay, dari sisi aset serta ekuitas, DBS masih jauh lebih besar dibanding BBCA, dan faktanya BBCA sendiri bukanlah bank terbesar di Indonesia kalau dari sisi nilai aset (yang terbesar itu Bank Mandiri, disusul Bank BRI, kemudian baru BCA).
Tapi dari sisi pertumbuhan, well, dalam beberapa tahun terakhir ini kita menang jauh, dimana tidak hanya BBCA, tapi bank-bank besar lainnya di tanah air juga rata-rata mencatat pertumbuhan sekitar 150% dalam lima tahun. Sementara pertumbuhan DBS yang terbilang moderat memang mencerminkan pertumbuhan industri perbankan di Singapura secara keseluruhan, dimana dua bank besar lainnya di Singapura yakni Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) dan United Overseas Bank (UOB), pada periode yang sama, ekuitas mereka masing-masing hanya tumbuh 79.6 dan 40.7%.
Tapi btw, balik lagi ke pertanyaan diatas: Sebenarnya bagaimana posisi saham-saham Indonesia di regional Asia Tenggara? Well, berikut ini adalah data 10 saham terbesar dari sisi market cap, yang terdaftar di bursa-bursa saham Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand:
Companies
Closing Price
Market Cap
Singapore (SGX)
SingTel
3.56
40.8
Jardine Matheson
53.23
37.9
Jardine Strategic
27.92
30.8
DBS Group
13.02
23.3
OCBC
7.46
22.0
UOB
17.56
20.2
Hongkong Land
5.62
13.2
Wilmar International
2.91
13.2
IHH Healthcare
2.11
12.4
Thai Beverage
0.68
12.1
Indonesia (IDX)
HM Sampoerna
105,700
36.5
Telkom Indonesia
3,285
24.6
BCA
13,275
24.1
Unilever Indonesia
41,100
23.3
BRI
11,800
21.4
Astra International
6,825
20.5
Bank Mandiri
9,725
16.7
Gudang Garam
60,700
8.7
BNI
5,275
7.2
Indofood CBP
14,725
6.4
Malaysia (BursaMalaysia)
Maybank
8.51
20.0
Public Bank
18.50
17.2
Petronas Chemicals
6.90
13.3
IHH Healthcare
6.49
12.9
Axiata Group
5.60
11.9
Maxis
6.06
11.0
Petronas Gas
22.24
10.6
DiGi.com
4.85
9.1
CIMB Group
4.20
8.6
IOI Corporation
4.67
7.1
Thailand (SET)
PTT
230
18.4
Siam Cement
426
14.4
Advanced Info Service
166.5
13.9
Siam Commercial Bank
130
12.4
Kasikornbank
161
10.8
CP ALL
40.3
10.2
Bangkok Bank
148
7.9
Krung Thai Bank
17.2
6.7
PTT Global Chemical
51.5
6.5
Bank of Ayudhya
30.3
6.2
Catatan:
  1. Closing price/harga penutupan adalah per 12 Februari 2016
  2. Market cap dalam milyar US Dollar.
  3. Closing price dalam mata uang di negara masing-masing, kecuali Jardine Matheson, Jardine Strategic, dan Hongkong Land dalam mata uang US Dollar
  4. IHH Healthcare bermarkas di Malaysia, namun sahamnya terdaftar di Bursa Malaysia dan Singapura sekaligus (dual listing)
  5. Thai Beverage bermarkas di Thailand, namun sahamnya terdaftar di Bursa Singapura
  6. Kurs yang digunakan untuk perhitungan market cap (per US Dollar): Singaporean Dollar 1.40, Rupiah 13,471, Malaysian Ringgit 4.15, dan Thailand Baht 35.62.
  7. Saham dengan market cap terbesar di Singapura adalah Prudential Plc., kemudian baru disusul SingTel. Namun Prudential Plc, yang juga listing di Bursa London, sahamnya yang di Singapura sama sekali tidak likuid, sehingga jarang dianggap sebagai salah satu big caps di SGX.
Dan jika dari daftar diatas diambil lima belas saham terbesar dari sisi market cap, maka berikut hasilnya (market cap dalam milyar US Dollar):
Companies
Country
Market Cap
SingTel
Singapore
40.84
Jardine Matheson
Singapore
37.89
HM Sampoerna
Indonesia
36.52
Jardine Strategic
Singapore
30.79
Telkom Indonesia
Indonesia
24.57
BCA
Indonesia
24.05
Unilever Indonesia
Indonesia
23.31
DBS Group
Singapore
23.29
OCBC
Singapore
21.96
BRI
Indonesia
21.38
Astra International
Indonesia
20.49
UOB
Singapore
20.20
Maybank
Malaysia
20.02
PTT
Thailand
18.44
Public Bank Bhd
Malaysia
17.21
Catatan: Perusahaan-perusahaan diatas bisa disebut sebagai lima belas perusahaan terbesar di Asia Tenggara (jadi gak cuma Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand), dari sisi market cap. Hal ini karena tiga perusahaan terbesar di Vietnam, yakni Vinamilk, Vietcom Bank, dan Petro Vietnam, ketiganya hanya memiliki market cap masing-masing sekitar US$ 5 milyar atau kurang dari itu. Sementara bursa-bursa saham di negara-negara lainnya di Asia Tenggara, semuanya relatif masih belum berkembang.
IDX versus SGX
Dari data diatas, maka cukup jelas bahwa posisi pasar modal kita relatif lebih baik dibanding Malaysia dan Thailand, setidaknya dari sisi market cap, namun masih kalah dari Singapura. Dan disinilah menariknya: Dengan GDP sebesar USD 889 milyar, maka Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, jauh lebih besar dibanding Singapura yang cuma punya GDP USD 308 milyar. Namun dari sisi nilai saham-sahamnya di pasar modal, per tanggal 12 Februari, seluruh saham-saham yang terdaftar di IDX memiliki market cap total Rp5,005 trilyun, atau setara USD 371 milyar. Sementara SGX? Per akhir Januari 2016, market cap-nya tercatat SGD 855 milyar, atau setara USD 612 milyar.
Tapi bagaimana mungkin nilai saham-saham di Bursa Singapura bahkan lebih besar dibanding nilai GDP negaranya sendiri? Well, jawabannya ada dua. Pertama, Singapura sejak dulu sudah dikenal sebagai tempat yang sangat uenak untuk berinvestasi, dimana Pemerintahnya sangat ramah terhadap pemilik modal baik dari dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1961, empat tahun sebelum merdeka dari Malaysia, Pemerintah Singapura bahkan sudah mendirikan badan khusus dibawah Kementerian Perdagangan dan Industri, yang dinamakan Economic Development Board (EDB), yang bertugas untuk memberikan solusi dan menciptakan value bagi investor dan perusahaan-perusahaan di Singapura. Mungkin founding father Singapura, Lee Kuan Yew, sejak awal sadar bahwa dengan luas negara yang sama sekali tidak seberapa, maka Singapura tidak mungkin bisa mengembangkan perekonomiannya sendiri tanpa bantuan modal asing, dan karena itulah para investor dimanjakan habis-habisan dengan kebijakan tax haven dll, termasuk Bursa Singapura dikembangkan sedemikian rupa sehingga ada banyak perusahaan kelas dunia yang tertarik untuk listing disana. Beberapa perusahaan besar yang listing di SGX, seperti Jardine Matheson, IHH Healthcare, dan Thai Beverage, mereka sebenarnya tidak berkantor pusat di Singapura. Tapi alih-alih listing di negara asalnya, ketiga perusahaan tersebut lebih memilih untuk listing di SGX (atau dual listing seperti IHH Healthcare, yang juga terdaftar di Bursa Malaysia). Termasuk, ada banyak juga perusahaan asal Indonesia yang sahamnya tidak terdaftar di IDX namun terdaftar di SGX.
Dan kedua, didukung oleh modal yang boleh dibilang tidak terbatas (karena investasi dari seluruh dunia masuk terus), perusahaan-perusahaan asal Singapura kemudian bisa mengembangkan usaha/investasinya tidak cuma di Singapura, tapi justru lebih banyak di negara-negara lain, paling tidak di Asia Tenggara. Misalnya DBS, OCBC, dan UOB, yang ketiganya punya operasional di Indonesia, atau SingTel yang menjadi salah satu pemegang utama di Telkomsel, perusahaan seluler terbesar di tanah air, dan Jardine Matheson juga merupakan pemegang saham mayoritas di Astra International (ASII). Boleh dibilang bahwa Singapura ini adalah seperti pengelola dana bagi investor-investor besar di seluruh dunia (termasuk dari Indonesia sendiri) yang hendak menempatkan aset/investasinya di Asia Tenggara atau bahkan di seluruh Asia.
Jadi jika ada investor besar asal Amerika yang tertarik untuk berinvestasi di Asia Tenggara, maka nama Singapura selalu muncul lebih awal, kemudian mungkin baru Jakarta. Dan meski hal ini terkesan tidak adil bagi Indonesia, namun di kawasan manapun di seluruh dunia memang selalu terdapat kota-kota (atau negara kecil) yang menjadi financial center seperti itu, seperti London di Britania Raya, Zurich di Eropa, New York di Amerika Utara, dan Hong Kong di Asia. Di Swiss, market cap bursa sahamnya tercatat USD 1,516 milyar pada tahun lalu, padahal GDP negaranya cuma USD 701 milyar.
Namun mau sekencang apapun pertumbuhan bursa saham di suatu negara, pada akhirnya pertumbuhan investasi di negara tersebut akan terhambat entah itu oleh ‘mentoknya’ pertumbuhan GDP maupun terbatasnya sumber daya manusia. Contoh paling gampang adalah Bursa Hang Seng di Hongkong, yang begitu digdaya di masa lalu, namun posisinya sebagai bursa saham terbesar di Asia (setelah Nikkei), sekarang ini sudah digantikan oleh Bursa Shanghai, yang tumbuh jauh lebih signifikan dalam dua dekade terakhir. Tidak ada perlakuan khusus dari Pemerintah China terhadap bursa sahamnya, melainkan bursa tersebut tumbuh seiring dengan kenaikan GDP China itu sendiri.
Sementara Bursa Singapura, dalam hal ini Indeks STI, meski market cap-nya hingga saat ini masih jauh diatas IHSG, namun dalam lima tahun terakhir IHSG naik 34.6%, sementra STI malah turun 17.7%. Pada akhir tahun 2009, IDX mencatat total market cap Rp801 trilyun, atau setara USD 215 milyar berdasarkan kurs ketika itu. Sementara SGX, pada waktu yang sama mencatat market cap SGD 669 milyar, atau setara USD 476 milyar. Ini artinya dalam lima tahun terakhir nilai saham-saham di BEI naik 72.9%, sementara nilai saham-saham di Singapura hanya naik 28.3%, sudah termasuk disesuaikan dengan nilai Rupiah (yang memang cenderung lebih gampang melemah dibanding SGD). Jika masa waktunya diperpanjang hingga satu atau dua dekade ke belakang, maka kesimpulannya juga tetap sama: Bursa saham di Indonesia berkembang lebih cepat dibanding Singapura.
Dan jika trend-nya begini terus, maka cuma soal waktu sebelum IDX akan mengambil alih posisi SGX sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara, dan peluang tersebut memang terbuka lebar. I mean, ketika perusahaan-perusahaan Singapura berinvestasi/membuka kantor cabang di luar negaranya, maka aktivitas operasional mereka tentu saja dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu yang tidak berlaku bagi perusahaan setempat, dan karena itulah DBS dll tidak akan pernah menjadi bank terbesar di Indonesia atau di negara-negara lainnya dimana mereka beroperasi. Sementara Bank BCA? Well, dia tidak perlu buka kantor cabang di luar negeri (meski BCA sekarang punya kantor cabang di Singapura dan Hongkong), karena di Indonesia sendiri masih ada banyak wilayah yang belum tersentuh layanan perbankan, dan perluasan layanan perbankan ini selama beberapa waktu terakhir ini memang signifikan. Di kampung halaman penulis di pinggir kota Cirebon, sepuluh tahun lalu, sangat sulit untuk menemukan mesin ATM, tapi sekarang mesin ATM itu dapat ditemukan dimana-mana.
Jadi perusahaan-perusahaan di Indonesia masih punya banyak sekali ruang untuk berkembang di negaranya sendiri sebelum kemudian baru mereka perlu ekspansi keluar negeri, sehingga praktis IDX akan lebih mudah tumbuh untuk menjadi lebih besar lagi. Jika Pemerintah atau Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sendiri bisa copy paste beberapa kebijakan SGX dalam mengembangkan pasar modal di Singapura, seperti:
  1. Mendorong perusahaan-perusahaan asing untuk listing di BEI, atau dual listing (di Indonesia dan di negaranya), dengan menawarkan kemudahan-kemudahan tertentu. Jika ini sulit dilakukan, maka minimal perusahaan-perusahaan Indonesia yang listing di Singapura bisa diarahkan untuk juga listing di BEI
  2. Membuka keran masuknya investasi asing dimana mereka bisa membeli saham-saham dari perusahaan asing tersebut (jadi asing ketemu asing).
  3. Menciptakan dan mengembangkan produk-produk investasi/trading diluar saham dan obligasi, seperti indeks futures (yang memang sudah dibikin), exchange traded funds (ETF, ini juga sudah ada, tapi belum populer), real estate investment trust (REIT), business trust, structured warrants, dll.
..Maka pasar modal di Indonesia akan tumbuh lebih kencang lagi di masa depan. Kebijakan diatas mungkin terdengar liberal, termasuk mungkin bisa menimbulkan efek samping persaingan bagi investor/perusahaan lokal dan kemungkinan berkembangnya spekulasi, namun nyatanya itulah yang dilakukan oleh beberapa negara financial center seperti Singapura, Hongkong, dan Swiss, dan alhasil tidak hanya pasar modalnya, namun ekonomi mereka maju pesat secara keseluruhan. Kalau hanya mengharapkan investor dan perusahaan domestik untuk ‘meramaikan’ pasar modal, maka untuk proses edukasinya saja mungkin perlu waktu beberapa dekade. Kalau anda perhatikan pergerakan Bursa Shanghai yang sangat ekstrim, dimana dia bisa terbang dan jeblok gila-gilaan dalam waktu singkat, kemungkinan itu karena market participant terbesarnya ya investor di dalam negerinya sendiri, yang mindsetnya masih ke gambling ketimbang investasi.
Tapi, okay, katakanlah pasar modal di Indonesia berkembang dengan sendirinya tanpa perlakukan khusus apapun dari Pemerintah maupun otoritas terkait, maka bagaimana peluangnya di masa yang akan datang? Well, seperti yang sudah disebut diatas, bahkan tanpa Pemerintah memberikan stimulus apapun, namun cuma soal waktu sebelum IDX akan menyalip SGX sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara, dan sinyal pertama akan hal itu adalah ketika market cap BBCA sudah lebih besar dari DBS.
Dan bagi fund-fund besar asal Amerika dll, ketika mereka berinvestasi di Asia Tenggara, maka sudah tentu mereka akan memilih ‘yang terbesar’ terlebih dahulu, sementara disisi lain cukup jelas bahwa Bursa Singapura sama sekali tidak menawarkan profit yang layak dalam lima tahun terakhir. Jadi dalam hal inilah, penulis kira dalam waktu dekat kita akan melihat dana asing akan ramai-ramai masuk ke saham-saham di BEI. Hingga tanggal 12 Februari, asing baru mencatatkan net buy Rp1.5 trilyun, atau masih sangat kecil dan sama sekali belum menutup net sell sebesar Rp22.6 trilyun sepanjang tahun 2015 lalu. Jika kedepannya asing belanja hingga menutup net sell yang Rp22.6 trilyun ini saja, maka IHSG tentu akan naik signifikan (actually, di website ini kita sudah mengatakan bahwa IHSG akan naik bahkan ketika dia masih terpuruk, awal Januari lalu. Anda bisa baca lagi artikelnya disini). We’ll see.
Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Tema Value Investing: Buy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 20 Februari 2016. Untuk mendaftar klik disini. Hingga Senin, 15 Februari, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Posisi Bursa Saham Indonesia di Regional Asia Tenggara

Anda mungkin sudah mendengar berita bahwa Bank Central Asia (BBCA) telah mengambil alih posisi Development Bank of Singapore (DBS) sebagai bank terbesar di Asia Tenggara, dari sisi market cap. Dan berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan sudah memperoleh titel ‘terbesar’ entah itu dari sisi market cap, nilai aset, atau nilai ekuitas, it must mean something. Apalagi sebelumnya jarang terdengar ada perusahaan Indonesia yang mampu ‘mengalahkan’ perusahaan Singapura, dimana dalam hal perkembangan pasar modal dan dunia keuangan, diakui atau tidak, kita masih kalah jauh dibanding tetangga kecil nan menjengkelkan tersebut. Dan pertanyaannya mungkin, sebenarnya bagaimana sih posisi saham-saham Indonesia di regional Asia Tenggara?

Dari sisi market cap atau kapitalisasi pasar, pada penutupan pasar tanggal 12 Februari kemarin, BBCA tercatat memiliki market cap USD 24.1 milyar, atau diatas DBS yang hanya USD 23.3 milyar. Mengingat bahwa market cap bisa berubah setiap saat tergantung naik turunnya harga saham, maka data diatas mungkin tidak berarti apa-apa, dimana jika besok-besok sahamnya kembali naik, maka DBS bisa kembali merebut posisinya sebagai bank terbesar di Asia Tenggara. Namun fakta lainnya yang menarik adalah, dalam lima tahun terakhir, saham BBCA sudah naik 115.9%, sementara DBS justru turun 10.8%. I mean, dalam jangka pendek, pergerakan harga suatu saham dan juga perubahan market cap mungkin tidak berarti apapun. Tapi jika suatu saham naik signifikan setelah lima tahun, sementara saham lainnya justru turun pada periode waktu yang sama, maka pasti terdapat perbedaan fundamental yang signifikan dari dua perusahaaan yang bersangkutan.
Dan ternyata memang benar: Antara akhir 31 Desember 2010 hingga 30 September 2015, ekuitas BBCA meningkat dari Rp34.1 menjadi 86.0 trilyun, atau naik 152%. Sementara DBS? Pada periode waktu yang sama, ekuitasnya naik dari SGD 26.6 menjadi 39.4 milyar, atau hanya naik 48%. Okay, dari sisi aset serta ekuitas, DBS masih jauh lebih besar dibanding BBCA, dan faktanya BBCA sendiri bukanlah bank terbesar di Indonesia kalau dari sisi nilai aset (yang terbesar itu Bank Mandiri, disusul Bank BRI, kemudian baru BCA).
Tapi dari sisi pertumbuhan, well, dalam beberapa tahun terakhir ini kita menang jauh, dimana tidak hanya BBCA, tapi bank-bank besar lainnya di tanah air juga rata-rata mencatat pertumbuhan sekitar 150% dalam lima tahun. Sementara pertumbuhan DBS yang terbilang moderat memang mencerminkan pertumbuhan industri perbankan di Singapura secara keseluruhan, dimana dua bank besar lainnya di Singapura yakni Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) dan United Overseas Bank (UOB), pada periode yang sama, ekuitas mereka masing-masing hanya tumbuh 79.6 dan 40.7%.
Tapi btw, balik lagi ke pertanyaan diatas: Sebenarnya bagaimana posisi saham-saham Indonesia di regional Asia Tenggara? Well, berikut ini adalah data 10 saham terbesar dari sisi market cap, yang terdaftar di bursa-bursa saham Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand:
Companies
Closing Price
Market Cap
Singapore (SGX)
SingTel
3.56
40.8
Jardine Matheson
53.23
37.9
Jardine Strategic
27.92
30.8
DBS Group
13.02
23.3
OCBC
7.46
22.0
UOB
17.56
20.2
Hongkong Land
5.62
13.2
Wilmar International
2.91
13.2
IHH Healthcare
2.11
12.4
Thai Beverage
0.68
12.1
Indonesia (IDX)
HM Sampoerna
105,700
36.5
Telkom Indonesia
3,285
24.6
BCA
13,275
24.1
Unilever Indonesia
41,100
23.3
BRI
11,800
21.4
Astra International
6,825
20.5
Bank Mandiri
9,725
16.7
Gudang Garam
60,700
8.7
BNI
5,275
7.2
Indofood CBP
14,725
6.4
Malaysia (BursaMalaysia)
Maybank
8.51
20.0
Public Bank
18.50
17.2
Petronas Chemicals
6.90
13.3
IHH Healthcare
6.49
12.9
Axiata Group
5.60
11.9
Maxis
6.06
11.0
Petronas Gas
22.24
10.6
DiGi.com
4.85
9.1
CIMB Group
4.20
8.6
IOI Corporation
4.67
7.1
Thailand (SET)
PTT
230
18.4
Siam Cement
426
14.4
Advanced Info Service
166.5
13.9
Siam Commercial Bank
130
12.4
Kasikornbank
161
10.8
CP ALL
40.3
10.2
Bangkok Bank
148
7.9
Krung Thai Bank
17.2
6.7
PTT Global Chemical
51.5
6.5
Bank of Ayudhya
30.3
6.2
Catatan:
  1. Closing price/harga penutupan adalah per 12 Februari 2016
  2. Market cap dalam milyar US Dollar.
  3. Closing price dalam mata uang di negara masing-masing, kecuali Jardine Matheson, Jardine Strategic, dan Hongkong Land dalam mata uang US Dollar
  4. IHH Healthcare bermarkas di Malaysia, namun sahamnya terdaftar di Bursa Malaysia dan Singapura sekaligus (dual listing)
  5. Thai Beverage bermarkas di Thailand, namun sahamnya terdaftar di Bursa Singapura
  6. Kurs yang digunakan untuk perhitungan market cap (per US Dollar): Singaporean Dollar 1.40, Rupiah 13,471, Malaysian Ringgit 4.15, dan Thailand Baht 35.62.
  7. Saham dengan market cap terbesar di Singapura adalah Prudential Plc., kemudian baru disusul SingTel. Namun Prudential Plc, yang juga listing di Bursa London, sahamnya yang di Singapura sama sekali tidak likuid, sehingga jarang dianggap sebagai salah satu big caps di SGX.
Dan jika dari daftar diatas diambil lima belas saham terbesar dari sisi market cap, maka berikut hasilnya (market cap dalam milyar US Dollar):
Companies
Country
Market Cap
SingTel
Singapore
40.84
Jardine Matheson
Singapore
37.89
HM Sampoerna
Indonesia
36.52
Jardine Strategic
Singapore
30.79
Telkom Indonesia
Indonesia
24.57
BCA
Indonesia
24.05
Unilever Indonesia
Indonesia
23.31
DBS Group
Singapore
23.29
OCBC
Singapore
21.96
BRI
Indonesia
21.38
Astra International
Indonesia
20.49
UOB
Singapore
20.20
Maybank
Malaysia
20.02
PTT
Thailand
18.44
Public Bank Bhd
Malaysia
17.21
Catatan: Perusahaan-perusahaan diatas bisa disebut sebagai lima belas perusahaan terbesar di Asia Tenggara (jadi gak cuma Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand), dari sisi market cap. Hal ini karena tiga perusahaan terbesar di Vietnam, yakni Vinamilk, Vietcom Bank, dan Petro Vietnam, ketiganya hanya memiliki market cap masing-masing sekitar US$ 5 milyar atau kurang dari itu. Sementara bursa-bursa saham di negara-negara lainnya di Asia Tenggara, semuanya relatif masih belum berkembang.
IDX versus SGX
Dari data diatas, maka cukup jelas bahwa posisi pasar modal kita relatif lebih baik dibanding Malaysia dan Thailand, setidaknya dari sisi market cap, namun masih kalah dari Singapura. Dan disinilah menariknya: Dengan GDP sebesar USD 889 milyar, maka Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, jauh lebih besar dibanding Singapura yang cuma punya GDP USD 308 milyar. Namun dari sisi nilai saham-sahamnya di pasar modal, per tanggal 12 Februari, seluruh saham-saham yang terdaftar di IDX memiliki market cap total Rp5,005 trilyun, atau setara USD 371 milyar. Sementara SGX? Per akhir Januari 2016, market cap-nya tercatat SGD 855 milyar, atau setara USD 612 milyar.
Tapi bagaimana mungkin nilai saham-saham di Bursa Singapura bahkan lebih besar dibanding nilai GDP negaranya sendiri? Well, jawabannya ada dua. Pertama, Singapura sejak dulu sudah dikenal sebagai tempat yang sangat uenak untuk berinvestasi, dimana Pemerintahnya sangat ramah terhadap pemilik modal baik dari dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1961, empat tahun sebelum merdeka dari Malaysia, Pemerintah Singapura bahkan sudah mendirikan badan khusus dibawah Kementerian Perdagangan dan Industri, yang dinamakan Economic Development Board (EDB), yang bertugas untuk memberikan solusi dan menciptakan value bagi investor dan perusahaan-perusahaan di Singapura. Mungkin founding father Singapura, Lee Kuan Yew, sejak awal sadar bahwa dengan luas negara yang sama sekali tidak seberapa, maka Singapura tidak mungkin bisa mengembangkan perekonomiannya sendiri tanpa bantuan modal asing, dan karena itulah para investor dimanjakan habis-habisan dengan kebijakan tax haven dll, termasuk Bursa Singapura dikembangkan sedemikian rupa sehingga ada banyak perusahaan kelas dunia yang tertarik untuk listing disana. Beberapa perusahaan besar yang listing di SGX, seperti Jardine Matheson, IHH Healthcare, dan Thai Beverage, mereka sebenarnya tidak berkantor pusat di Singapura. Tapi alih-alih listing di negara asalnya, ketiga perusahaan tersebut lebih memilih untuk listing di SGX (atau dual listing seperti IHH Healthcare, yang juga terdaftar di Bursa Malaysia). Termasuk, ada banyak juga perusahaan asal Indonesia yang sahamnya tidak terdaftar di IDX namun terdaftar di SGX.
Dan kedua, didukung oleh modal yang boleh dibilang tidak terbatas (karena investasi dari seluruh dunia masuk terus), perusahaan-perusahaan asal Singapura kemudian bisa mengembangkan usaha/investasinya tidak cuma di Singapura, tapi justru lebih banyak di negara-negara lain, paling tidak di Asia Tenggara. Misalnya DBS, OCBC, dan UOB, yang ketiganya punya operasional di Indonesia, atau SingTel yang menjadi salah satu pemegang utama di Telkomsel, perusahaan seluler terbesar di tanah air, dan Jardine Matheson juga merupakan pemegang saham mayoritas di Astra International (ASII). Boleh dibilang bahwa Singapura ini adalah seperti pengelola dana bagi investor-investor besar di seluruh dunia (termasuk dari Indonesia sendiri) yang hendak menempatkan aset/investasinya di Asia Tenggara atau bahkan di seluruh Asia.
Jadi jika ada investor besar asal Amerika yang tertarik untuk berinvestasi di Asia Tenggara, maka nama Singapura selalu muncul lebih awal, kemudian mungkin baru Jakarta. Dan meski hal ini terkesan tidak adil bagi Indonesia, namun di kawasan manapun di seluruh dunia memang selalu terdapat kota-kota (atau negara kecil) yang menjadi financial center seperti itu, seperti London di Britania Raya, Zurich di Eropa, New York di Amerika Utara, dan Hong Kong di Asia. Di Swiss, market cap bursa sahamnya tercatat USD 1,516 milyar pada tahun lalu, padahal GDP negaranya cuma USD 701 milyar.
Namun mau sekencang apapun pertumbuhan bursa saham di suatu negara, pada akhirnya pertumbuhan investasi di negara tersebut akan terhambat entah itu oleh ‘mentoknya’ pertumbuhan GDP maupun terbatasnya sumber daya manusia. Contoh paling gampang adalah Bursa Hang Seng di Hongkong, yang begitu digdaya di masa lalu, namun posisinya sebagai bursa saham terbesar di Asia (setelah Nikkei), sekarang ini sudah digantikan oleh Bursa Shanghai, yang tumbuh jauh lebih signifikan dalam dua dekade terakhir. Tidak ada perlakuan khusus dari Pemerintah China terhadap bursa sahamnya, melainkan bursa tersebut tumbuh seiring dengan kenaikan GDP China itu sendiri.
Sementara Bursa Singapura, dalam hal ini Indeks STI, meski market cap-nya hingga saat ini masih jauh diatas IHSG, namun dalam lima tahun terakhir IHSG naik 34.6%, sementra STI malah turun 17.7%. Pada akhir tahun 2009, IDX mencatat total market cap Rp801 trilyun, atau setara USD 215 milyar berdasarkan kurs ketika itu. Sementara SGX, pada waktu yang sama mencatat market cap SGD 669 milyar, atau setara USD 476 milyar. Ini artinya dalam lima tahun terakhir nilai saham-saham di BEI naik 72.9%, sementara nilai saham-saham di Singapura hanya naik 28.3%, sudah termasuk disesuaikan dengan nilai Rupiah (yang memang cenderung lebih gampang melemah dibanding SGD). Jika masa waktunya diperpanjang hingga satu atau dua dekade ke belakang, maka kesimpulannya juga tetap sama: Bursa saham di Indonesia berkembang lebih cepat dibanding Singapura.
Dan jika trend-nya begini terus, maka cuma soal waktu sebelum IDX akan mengambil alih posisi SGX sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara, dan peluang tersebut memang terbuka lebar. I mean, ketika perusahaan-perusahaan Singapura berinvestasi/membuka kantor cabang di luar negaranya, maka aktivitas operasional mereka tentu saja dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu yang tidak berlaku bagi perusahaan setempat, dan karena itulah DBS dll tidak akan pernah menjadi bank terbesar di Indonesia atau di negara-negara lainnya dimana mereka beroperasi. Sementara Bank BCA? Well, dia tidak perlu buka kantor cabang di luar negeri (meski BCA sekarang punya kantor cabang di Singapura dan Hongkong), karena di Indonesia sendiri masih ada banyak wilayah yang belum tersentuh layanan perbankan, dan perluasan layanan perbankan ini selama beberapa waktu terakhir ini memang signifikan. Di kampung halaman penulis di pinggir kota Cirebon, sepuluh tahun lalu, sangat sulit untuk menemukan mesin ATM, tapi sekarang mesin ATM itu dapat ditemukan dimana-mana.
Jadi perusahaan-perusahaan di Indonesia masih punya banyak sekali ruang untuk berkembang di negaranya sendiri sebelum kemudian baru mereka perlu ekspansi keluar negeri, sehingga praktis IDX akan lebih mudah tumbuh untuk menjadi lebih besar lagi. Jika Pemerintah atau Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sendiri bisa copy paste beberapa kebijakan SGX dalam mengembangkan pasar modal di Singapura, seperti:
  1. Mendorong perusahaan-perusahaan asing untuk listing di BEI, atau dual listing (di Indonesia dan di negaranya), dengan menawarkan kemudahan-kemudahan tertentu. Jika ini sulit dilakukan, maka minimal perusahaan-perusahaan Indonesia yang listing di Singapura bisa diarahkan untuk juga listing di BEI
  2. Membuka keran masuknya investasi asing dimana mereka bisa membeli saham-saham dari perusahaan asing tersebut (jadi asing ketemu asing).
  3. Menciptakan dan mengembangkan produk-produk investasi/trading diluar saham dan obligasi, seperti indeks futures (yang memang sudah dibikin), exchange traded funds (ETF, ini juga sudah ada tapi masih belum populer), real estate investment trust (REIT), business trust, structured warrants, dll.
..Maka pasar modal di Indonesia akan tumbuh lebih kencang lagi di masa depan. Kebijakan diatas mungkin terdengar liberal, termasuk mungkin bisa menimbulkan efek samping persaingan bagi investor/perusahaan lokal dan kemungkinan berkembangnya spekulasi, namun nyatanya itulah yang dilakukan oleh beberapa negara financial center seperti Singapura, Hongkong, dan Swiss, dan alhasil tidak hanya pasar modalnya, namun ekonomi mereka maju pesat secara keseluruhan. Kalau hanya mengharapkan investor dan perusahaan domestik untuk ‘meramaikan’ pasar modal, maka untuk proses edukasinya dan sosialisasinya saja mungkin perlu waktu beberapa dekade. Kalau anda perhatikan pergerakan Bursa Shanghai yang sangat ekstrim, dimana dia bisa terbang dan jeblok gila-gilaan dalam waktu singkat, kemungkinan itu karena market participant terbesarnya ya investor di dalam negerinya sendiri, yang mindsetnya masih ke gambling ketimbang investasi.
Tapi, okay, katakanlah pasar modal di Indonesia berkembang dengan sendirinya tanpa perlakukan khusus apapun dari Pemerintah maupun otoritas terkait, maka bagaimana peluangnya di masa yang akan datang? Well, seperti yang sudah disebut diatas, bahkan tanpa Pemerintah memberikan stimulus apapun, namun cuma soal waktu sebelum IDX akan menyalip SGX sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara, dan sinyal pertama akan hal itu adalah ketika market cap BBCA sudah lebih besar dari DBS.
Dan bagi fund-fund besar asal Amerika dll, ketika mereka berinvestasi di Asia Tenggara, maka sudah tentu mereka akan memilih ‘yang terbesar’ terlebih dahulu, sementara disisi lain cukup jelas bahwa Bursa Singapura sama sekali tidak menawarkan profit yang layak dalam lima tahun terakhir. Jadi dalam hal inilah, penulis kira dalam waktu dekat kita akan melihat dana asing akan ramai-ramai masuk ke saham-saham di BEI. Hingga tanggal 12 Februari, asing baru mencatatkan net buy Rp1.5 trilyun, atau masih sangat kecil dan sama sekali belum menutup net sell sebesar Rp22.6 trilyun sepanjang tahun 2015 lalu. Jika kedepannya asing belanja hingga menutup net sell yang Rp22.6 trilyun ini saja, maka IHSG tentu akan naik signifikan (actually, di website ini kita sudah mengatakan bahwa IHSG akan naik bahkan ketika dia masih terpuruk, awal Januari lalu. Anda bisa baca lagi artikelnya disini). We’ll see.
Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Tema Value Investing: Buy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 20 Februari 2016. Untuk mendaftar klik disini. Hingga Senin, 15 Februari, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Mengenal LQ45 Futures

Tanggal 1 Februari kemarin, BEI bersama dengan KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia) mengaktifkan kembali perdagangan LQ45 Futures. Perdagangan LQ45 Futures sebenarnya sudah ada sejak tahun 2001 lalu, namun dihentikan pada tahun 2009 karena berbagai alasan, dan sekarang diaktifkan lagi dengan beberapa penyempurnaan regulasi. Namun pertanyaannya, apa sih yang dimaksud dengan LQ45 Futures ini? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap IHSG?

Sebelum kita membahas LQ45 Futures secara spesifik, kita pelajari dulu, apa yang dimaksud dengan ‘futures’ dalam dunia keuangan. Futures, atau disebut juga kontrak berjangka, adalah perjanjian yang dibuat oleh dua belah pihak dimana satu pihak akan menjual suatu aset kepada pihak lainnya pada harga yang sudah ditentukan, pada waktu mendatang. Misalnya, sekarang ini harga minyak adalah US$ 30 per barel, dan A membuat perjanjian dengan B untuk membeli minyak dari B pada harga US$ 30 per barel, dan minyak tersebut akan diserah terimakan (termasuk uangnya akan dibayarkan) pada tiga bulan mendatang setelah perjanjiannya dibuat. Maka tiga bulan kemudian, A tetap harus membayar US$ 30 per barel, tak peduli meski harga minyak setelah tiga bulan tersebut sudah naik menjadi US$ 33, atau turun menjadi US$ 27 per barel.
Tujuan dari dibuatnya kontrak futures adalah untuk melindungi si pembeli atau penjual dari kemungkinan fluktuasi harga dari aset/komoditas yang diperjual belikan. Jadi kalau anda bekerja di Pertamina dan berencana untuk membeli minyak dalam jumlah besar, misalnya enam bulan dari sekarang, maka berhubung kita tentu saja tidak tahu bagaimana perkembangan harga minyak setelah enam bulan tersebut, anda bisa datang ke bursa berjangka (futures exchange) untuk membuat perjanjian/kontrak dengan si penjual minyak untuk membeli minyak tersebut enam bulan lagi, tapi pada harga yang sudah ditentukan/disepakati pada saat ini.
Pada prakteknya, dalam jual beli kontrak futures ini, terdapat peluang spekulasi bagi para trader untuk meraup keuntungan, meski mereka sejatinya tidak berniat untuk membeli atau menjual minyak,, karena biasanya harga aset/komoditas di bursa futures lebih rendah di pasar spot (bursa spot adalah pasar dimana kalau anda beli minyak, maka anda akan menerima minyaknya saat itu juga). Misalnya anda membeli minyak pada harga US$ 30 per barel untuk pengiriman tiga bulan dari sekarang, dan harga tersebut lebih rendah dari harga di pasar spot yakni US$ 35 per barel. Beberapa waktu kemudian, ketika mendekati deadline tiga bulan tadi, harga minyak di pasar spot tetap US$ 35 per barel, sehingga harga minyak di bursa futures tentunya naik (karena sudah dekat waktu delivery-nya), katakanlah menjadi US$ 33. Dengan demikian anda memperoleh keuntungan sebesar US$ 3 per barel alias 10%, dalam jangka waktu yang relatif singkat.
However, kalau harga di pasar spot turun, maka demikian pula harga di bursa futures akan ikut turun, dan alhasil seorang trader (orang yang membeli kontrak berjangka untuk tujuan dijual kembali) akan menderita kerugian. Dibanding dengan investasi di bursa saham, risiko kerugian di bursa futures ini terbilang sangat besar. Karena berbeda dengan harga saham yang, dalam jangka panjang, akan naik sesuai dengan kualitas fundamental perusahaan, harga suatu komoditas atau apapun bisa naik dan turun ke posisi berapa saja dan kapan saja tanpa benar-benar bisa diprediksi, dan itulah kenapa dikatakan bahwa bursa berjangka menawarkan peluang spekulasi (bukan investasi). Ketika harga minyak masih di level US$ 100-an per barel, dua tahun lalu, tidak ada seorangpun yang berani membayangkan bahwa harganya akan jeblok sampai dibawah level US$ 30 per barel seperti sekarang.
Karena jual beli kontrak futures ini tidak (atau belum) menyebabkan suatu aset benar-benar berpindah tangan, maka dalam dunia keuangan, dia termasuk produk derivatif. Instrumen derivatif lainnya yang mirip-mirip dengan futures ini adalah options, swaps, dan forwards, tapi kita tidak akan membahas itu lebih lanjut.
Okay, lalu apa yang dimaksud dengan LQ45 Futures?
Seperti halnya komoditas, saham, obligasi dll, indeks saham seperti Indeks LQ45juga bisa diperdagangkan di bursa berjangka, dimana kalau anda memperkirakan bahwa LQ45 akan naik dalam beberapa waktu kedepan, maka anda bisa membeli ‘kontrak LQ45’ pada harga berdasarkan nilainya pada hari ini, untuk nanti dijual ketika nilainya sudah naik. Risikonya adalah jika indeks LQ45 malah turun, maka anda mungkin harus menjual kontrak futures anda dalam posisi rugi.
Berdasarkan info dari BEI, anda akan membayar Rp500 ribu untuk setiap poin indeks. Jadi kalau anda membeli 1 unit LQ45 futures pada harga 834 (posisi penutupan LQ45 futures pada hari ini), maka anda akan keluar duit Rp417 juta. Tapi, seperti halnya perdagangan futures lainnya, anda hanya perlu menyediakan modal sebesar 4% saja dari Rp417 juta tersebut, alias Rp17 juta, karena selebihnya merupakan dana margin yang dibayarkan oleh sekuritas.
(catatan: untuk melihat posisi LQ45 futures, anda bisa buka www.idx.co.id, disebelah kiri klik ‘Informasi Pasar’, klik lagi ‘Derivatif’, dan terakhir klik ‘Kontrak Berjangka Indeks Efek’. Sejauh ini baru ada dua sekuritas yang sudah memperdagangkan kontrak indeks ini, dengan nilai transaksi beberapa milyar Rupiah)
Faktor margin inilah yang menyebabkan transaksi LQ45 futures menawarkan profit yang extraordinary, tapi risikonya juga gila-gilaan. Jika nilai LQ45 futures yang anda beli hari ini naik 10 poin menjadi 844 di keesokan harinya (naik 1.1%), maka profitnya adalah 10 dikali Rp500,000, sama dengan Rp5 juta, padahal modalnya cuma Rp17 juta (profitnya 30% dalam sehari, belum dipotong biaya margin). Sebaliknya, kalau futures nilainya turun 10 poin, maka modal Rp17 juta anda tinggal tersisa Rp12 juta. Kalau penurunannya lebih besar lagi, maka modal anda bisa habis sama sekali.
Namun karena untuk trading LQ45 futures ini sama sekali gak butuh modal besar, maka biasanya trader yang membeli LQ45 futures ini bukan berniat mencari untung, melainkan untuk melakukan perlindungan atau hedging terhadap investasi mereka sendiri di pasar saham, dari risiko fluktuasi bursa global.
Dan itu karena, sesuai namanya, LQ45 futures ini adalah seolah-olah merupakan posisi indeks LQ45 di masa depan, dalam hal ini satu hari kedepan. Jadi kalau LQ45 futures naik dalam satu hari tertentu, maka indeks LQ45 itu sendiri kemungkinan akan ikut naik keesokan harinya (meski mungkin juga tidak). Keberadaan LQ45 futures ini diharapkan bisa menjadi patokan baru bagi para trader dalam melihat bagaimana kira-kira pergerakan indeks saham dalam satu hari tertentu, dalam hal ini indeks LQ45 dan tentunya IHSG (karena pergerakan indeks LQ45 boleh dibilang 99.9% identik dengan IHSG, selama bertahun-tahun saya gak pernah melihat indeks LQ45 naik tapi IHSG-nya malah turun), diluar patokan-patokan lain seperti Dow Jones, EIDO, EEM, dll. Biasanya kan kalau EIDO semalem turun, maka investor berpikir bahwa pada paginya IHSG bakal turun juga. Dan kalau semua orang berpikir bahwa IHSG bakal turun, maka bisa jadi IHSG benar-benar akan turun.
Nah, dengan adanya LQ45 futures ini, maka perhatian orang-orang tidak hanya akan fokus pada EIDO dan lainnya, tapi juga LQ45 futures tersebut, dimana kalau nilainya naik, maka orang-orang mungkin tetap akan optimis dalam melihat IHSG, bahkan meski EIDO ditutup turun pada malam harinya.
Hanya memang timbul pula kekhawatiran bahwa LQ45 futures ini mungkin malah akan jadi ‘mainan’ para bandar yang dengan sengaja menaikkan atau menurunkannya dengan mudah (karena memang cuma perlu modal kecil), dan itu kemudian berpengaruh terhadap pergerakan IHSG itu sendiri. Tapi penulis kira untuk saat ini kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan, karena nilai transaksi LQ45 futures masih sangat-sangat kecil, cuma beberapa milyar Rupiah per hari (bandingkan dengan nilai transaksi seluruh saham di BEI, yang mencapai Rp6 trilyun per hari), sehingga berapapun posisi LQ45 futures maka itu belum akan mempengaruhi IHSG secara signifikan. Selain itu kontrak LQ45 futures ini gak cuma satu, tapi ada beberapa, dan nilai tiap-tiap kontrak bisa berbeda-beda. Perdagangan LQ45 futures ini masih perlu waktu, mungkin setidaknya satu tahun, agar nantinya mulai diperhatikan oleh para trader dan turut mempengaruhi keputusan mereka dalam membeli atau menjual saham.
Tapi untuk mengetes ‘kekuatan’ LQ45 futures ini, maka anda bisa mengeceknya sendiri: Ketika artikel ini ditulis, posisi penutupan LQ45 futures untuk hari Kamis, 11 Februari, adalah 834, atau lebih rendah dibanding indeks LQ45 itu sendiri yakni 839. Ini artinya para trader yang membeli LQ45 futures sepanjang Kamis siang tadi memperkirakan bahwa indeks LQ45 mungkin akan turun. Nah, mari kita lihat, apakah besok Jumat indeks LQ45, dan tentunya juga IHSG, akan benar-benar turun?
Posisi LQ45 Futures, bisa dilihat di www.idx.co.id. Klik gambar untuk memperbesar

Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit
! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar:Tema Value Investing: Buy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 20 Februari 2016. Untuk mendaftar klik disini. Hingga Kamis, 11 Februari, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 20 Februari 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, money management, and how to buy at lowest price, then sell it later at an unbelievable price.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pickpilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Sharing pengalaman penulis ketika menghadapi panic sellingpada Agustus – September 2015 kemarin, dimana kita sukses membeli banyak saham-saham bagus pada harga super duper diskon.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 20 Februari 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Diskon Tambahan: Bagi anda yang masih kuliah alias mahasiwa, maka biayanya hanya Rp500,000. Syaratnya cukup dengan menyertakan foto/scan Kartu Tanda Mahasiswa ketika anda mengirim email konfirmasi pembayaran.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Donald Trump, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Untuk melihat foto-foto penyelenggaraan seminar sebelumnya, klik [...]

Apa itu Indeks LQ45?

Tanggal 25 Januari kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar terbaru dari saham-saham yang menjadi komponen Indeks LQ45. Dalam daftar tersebut ada tiga saham baru yang menjadi komponen indeks, yakni Aneka Tambang (ANTM), HM Sampoerna (HMSP), dan Hanson International (MYRX), dimana mereka menggantikan tiga saham yang keluar yakni XL Axiata (EXCL), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Wika Beton (WTON). Tak lama kemudian penulis menerima banyak email pertanyaan: Bukannya ANTM di Kuartal III 2015 kemarin menderita rugi Rp1 trilyun, atau dengan kata lain fundamentalnya jelek? Bagaimana bisa dia masuk indeks LQ45?

Nah, dalam hal ini penulis jadi sadar bahwa masih ada banyak investor yang belum paham soal LQ45 ini. Okay kita langsung saja.
Indeks LQ45 merupakan indeks saham alternatif selain IHSG, yang pergerakannya dipengaruhi oleh 45 saham yang menjadi komponennya, dimana ke-45 saham tersebut harus memenuhi kriteria berikut:
  1. Termasuk salah satu dari 60 saham dengan market cap terbesar di BEI, selama 1 tahun terakhir
  2. Termasuk salah satu dari 60 saham dengan nilai transaksi perdagangan terbesar di pasar reguler (jadi nilai transaksi di pasar nego dan pasar tunai tidak dihitung), atau dengan kata lain termasuk dari 60 saham paling likuid di BEI, selama 1 tahun terakhir (pada akhirnya diambil 45 saham yang paling likuid sekaligus memiliki market cap paling besar).
  3. Sudah listingdi BEI setidaknya 3 bulan terakhir (jadi saham-saham yang baru IPO tidak bisa langsung masuk indeks LQ45), dan
  4. Memiliki kinerja fundamental yang baik serta prospek yang cerah.
Setiap enam bulan sekali, pihak BEI melakukan evaluasi terhadap ke-45 saham yang menjadi komponen indeks, dimana saham-saham yang tidak lagi memenuhi keempat kriteria diatas akan dikeluarkan dari daftar, digantikan oleh saham lain yang lebih memenuhi kriteria. Namun pada prakteknya, kriteria yang lebih diperhatikan adalah likuiditas sahamnya saja, dimana 45 saham yang masuk indeks LQ45 adalah saham-saham paling likuid di BEI dari sisi nilai transaksi (bukan volume/jumlah saham, atau frekuensi transaksi).

Sementara soal ‘kinerja fundamental’, itu tidak terlalu diperhatikan. Beberapa tahun lalu ketika Grup Bakrie masih menguasai bursa, dimana nilai transaksi dari saham Bumi Resources dkk masih mencapai ratusan milyar atau bahkan trilyunan Rupiah per harinya, maka saham-saham seperti BUMI, Bakrie & Brothers (BNBR), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), hingga Bakrieland Development (ELTY), ketika itu mereka semua merupakan penghuni tetap indeks LQ45. Bahkan saham blangsak seperti Trada Maritime (TRAM) juga pernah masuk indeks LQ45, hanya karena nilai transaksi harian TRAM terbilang sangat besar.

Namun setelah saham-saham diatas terus turun dan nilai transaksi sahamnya otomatis mengecil, maka mereka kemudian ditendang keluar dari indeks. Maksud penulis adalah, kalau misalnya nilai transaksi TRAM hingga hari ini masih merupakan salah satu yang terbesar di BEI, maka dia tetap akan masuk indeks LQ45, tak peduli meski fundamentalnya amburadul.
Pemilihan saham yang hanya memperhatikan faktor likuiditas itulah, yang pada akhirnya membuat indeks LQ45 tidak pernah sepopuler IHSG, dimana orang lebih tertarik untuk melihat berapa posisi IHSG hari ini, dibanding berapa posisi indeks LQ45. Sebagai investor, anda pasti tahu berapa posisi IHSG selama beberapa waktu terakhir, tapi anda mungkin tidak tahu berapa posisi indeks LQ45. Benar tidak? Jika anda belum tahu, anda bisa melihatnya di www.finance.yahoo.com, masukkan kodenya ^JKLQ45. Ketika artikel ini ditulis, indeks LQ45 berada di posisi 794.
Meski demikian, dibanding indeks-indeks saham lainnya di Indonesia seperti Bisnis 27, IDX30, Pefindo 25, ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia), Kompas 100, hingga Sri-Kehati, maka indeks LQ45 adalah yang paling penting setelah IHSG, karena indeks LQ45 lebih mencerminkan arah pasar dibanding IHSG. Dan itu karena pergerakan indeks LQ45 ini hanya dipengaruhi oleh 45 saham yang paling likuid saja, sementara pergerakan IHSG dipengaruhi oleh semua saham yang terdaftar di BEI, termasuk saham gocapan atau saham yang gak pernah ada transaksi sekalipun (meski memang bobot pengaruh dari tiap-tiap saham terhadap IHSG berbeda-beda). Perhatikan gambar berikut, dimana jelas sekali bahwa dalam kondisi pasar yang turun, indeks LQ45 turun lebih dalam dibanding IHSG. Sementara dalam kondisi pasar naik, indeks LQ45 naik lebih tinggi dibanding IHSG.
Pergerakan IHSG (merah) dan Indeks LQ45 (biru) sejak tanggal 11 Maret 2013 hingga hari ini. Klik gambar untuk memperbesar
Selain itu, bagi investor/fund manager profesional, likuiditas saham sangat penting dimana saham yang likuid bisa diprioritaskan/dibeli lebih banyak ketimbang yang tidak likuid, sehingga daftar saham-saham yang menjadi komponen indeks LQ45 tetap perlu untuk diperhatikan. Pihak sekuritas juga perlu memperhatikan komponen LQ45, sehingga mereka tahu saham-saham apa saja yang paling ramai diperjual belikan, kemudian merekomendasikan saham tersebut kepada nasabahnya. Sekuritas/broker biasanya hanya merekomendasikan saham likuid yang masuk komponen indeks LQ45 kepada nasabahnya dan jarang merekomendasikan saham diluar indeks, apalagi jika saham tersebut benar-benar tidak likuid, karena saham seperti itu kalau sudah dibeli maka akan sulit untuk dijual lagi, apalagi jika belinya banyak. Dan kalau investor kemudian hanya meng-hold saja saham tersebut, maka sekuritas tentunya nggak akan dapet trading fee. Dan mungkin karena faktor sering direkomendasikan inilah, maka timbul kesan bahwa saham-saham LQ45 merupakan saham-saham terbaik di BEI, padahal belum tentu.

Anyway, dengan ini maka anda sudah mengetahui bahwa kalau ada saham tertentu yang masuk indeks LQ45, maka bukan berarti dia layak invest, melainkan anda tetap harus menganalisanya terlebih dahulu. Namun demikian kalau ada dua saham yang fundamentalnya sama-sama bagus dan valuasinya juga sama-sama rendah, tapi saham pertama masuk indeks LQ45, sementara saham kedua tidak, maka penulis sendiri juga akan lebih memilih saham yang pertama.

Okay, I think that’s enough. Jika ada yang mau menambahkan, silahkan.
Info: Buletin Analisa IHSG, investment plan, dan stock pick bulanan edisi Februari sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi dan buletin edisi Januari untuk member baru.
Ebook Analisis Kuartal IV 2015 juga sudah terbit. Anda bisa memperolehnya

Investor Fun Gathering & Seminar, 20 – 21 Februari

Dear investor, selama beberapa bulan terakhir, penulis punya hobi baru yang bisa membuat saya merasa muda lagi yaitu adventure travelling, seperti naik gunung, berkemah, snorkling, rafting, hingga naik motor/mobil keliling Pulau Jawa/Bali/Nusa Tenggara, biasanya dengan ikut grup tour. Yang paling menyenangkan dari kegiatan jalan-jalan ini adalah keakrabanyang sangat erat antar sesama peserta tour, bahkan meski saya belum mengenal mereka sebelumnya.

Karena itulah, saya jadi punya ide untuk bikin acara ‘Investor Fun Gathering & Seminar’, yakni acara seminar seperti biasa (dengan saya sebagai pembicaranya), plus kegiatan adventure, totalnya selama dua hari satu malam (pergi sabtu pagi, pulang minggu sore), sehingga akan terjalin keakraban antar sesama peserta dan terbentuk komunitas investor. Pada akhir acara akan dibuat Grup Whatsapp khusus untuk peserta gathering, sehingga para peserta akan tetap bisa saling berkomunikasi setelah acaranya berakhir.
Dan setelah diskusi dengan seorang teman yang memang spesialis membuat acara gathering seperti ini, diputuskan untuk membuat acara gatheringnya di Off Road Lembang, Bandung. Berikut susunan kegiatannya (itinerary):

Day 1: Sabtu.
06.00 – 07.00: Kumpul di meeting point di Plaza Semanggi, Jakarta, berangkat ke Bandung menggunakan bus pariwisata. Bagi peserta yang berasal dari Bandung, bisa langsung ke lokasi villa-nya
11.00 – 12.00: Sampai di Lembang, check in di villa, istirahat, makan siang
12.00: Ke lokasi off road di Lembang, muter-muter kawasan hutan Tangkuban Parahu pake mobil jeep, dan kegiatan outbound lainnya.
18.00: Pulang ke villa, mandi, istirahat
19.30: Makan malam di dekat api unggun di halaman villa, ngobrol santai & tanya jawab saham dengan penulis, acara bebas, tidurr
Day 2: Minggu.
05.00: Bangun pagi, menghirup udara segar, sarapan
07.30 – 11.00: Acara seminar value investingdi ruang meeting di villa-nya.
11.00 – 12.00: Beres-beres, check out, mampir ke D’Ranchdan Tahu Susu Lembang (belanja oleh-oleh)
16.00: Pulang ke Jakarta, acara selesai.
Tema Seminar: Investasi Saham Tanpa Harus Melihat Harga Saham Setiap Saat.Dan kisi-kisi materi:
  1. Cara cepat dalam menyeleksi saham berdasarkan fundamentalnya,
  2. Cara menentukan harga beli saham yang murah/wajar untuk saham-saham hasil seleksi, dan juga harga jual/target harganya.
  3. Cara mengatur komposisi portofolio yang memaksimalkan potensi keuntungan sekaligus meminimalisir kerugian,
  4. Cara menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih dalam waktu 1 tahun atau kurang, dan
  5. Cara untuk mengevaluasi portofolio secara rutin dan terjadwal, tanpa perlu melihat pergerakan harga saham setiap saat.
Biaya: Rp1,350,000 per orang, sudah termasuk: Transport pulang pergi dan selama di Lembang, makan tiga kali, snack, biaya masuk ke kawasan off road, penginapan villa, air mineral, foto-foto dokumentasi, tour leader, team off road, tiket masuk D’Ranch, perlengkapan P3K, dan tentu saja seminar value investingnya. Biaya tidak termasuk pengeluaran pribadi dan belanja oleh-oleh.
Diskon: Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per orang. Karena acara ini adalah sekaligus rekreasi, maka anda juga bisa mengajak keluarga.
Keterangan Villa: Standar hotel bintang 3 dengan kamar yang besar, tiap kamar berisi 3 – 4 tempat tidur. Peserta wanita akan mendapat kamar khusus. Berikut penampakannya, klik gambar untuk memperbesar:

Tanggal Acara: Hari Sabtu dan Minggu, tanggal 20 – 21 Februari.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan pembayaran uang muka/DP sebesar minimum Rp500,000 dengan transfer ke (pilih salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Investor Gathering, dan isi: Nama lengkap anda, jumlah transfer, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, 500,000, BCA, Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta gathering.
4. Jika pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan. Jika anda ternyata berhalangan hadir pas tanggal acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh (tidak hangus), dengan catatan anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut melalui email teguh.idx@gmail.com (atau melalui kontak telepon dibawah), paling lambat tiga hari sebelum acaranya. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.

5. Pelunasan dilakukan paling lambat satu minggu sebelum acaranya (akan diingatkan melalui email/Whatsapp).

Demikian,  we will have fun & make friends, sampai jumpa di lokasi!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui telepon atau pin BB tersebut.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

Penurunan Harga Minyak, dan IHSG

Selama hampir satu dekade terakhir, kita terbiasa melihat harga minyak di kisaran US$ 100 per barel, dengan hanya sekali turun ke level US$ 45 pada tahun 2008 lalu, tapi tak lama kemudian langsung naik lagi untuk kemudian bertahan di rentang US$ 100 – 120 per barel. Memasuki tahun 2015 barulah harga minyak mulai turun dan.. tiba-tiba saja, sekarang dia sudah berada di bawah level US$ 30 per barel. Pertanyaannya, what happen? Dan apakah ini ada hubungannya dengan penurunan bursa China, Amerika, dan juga IHSG pada awal tahun 2016 ini?

Meski harga minyak terus merangkak naik dari US$ 30 pada awal dekade 2000-an hingga sempat menembus US$ 145 per barel pada tahun 2007, namun kalau kita lihat sejarahnya sejak tahun 1860-an, maka dengan memasukkan faktor inflasi, harga minyak lebih sering berada di rentang US$ 15 – 30 per barel. Dan faktanya, selama lebih dari 150 tahun terakhir, maka dengan memasukkan faktor inflasi, harga minyak hanya pernah empat kali berada pada level diatas US$ 100 per barel, yakni pada tahun 1864 (lima tahun setelah ditemukannya internal combustion engine, yakni cikal bakal mesin kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin), lalu pada tahun 1979 (ketika terjadi Revolusi di Iran, sehingga produksi minyak disana berhenti total, padahal Iran adalah salah satu eksportir minyak terbesar di dunia), tahun 2007 (ketika para spekulan di pasar futures terus membeli minyak hingga harganya melambung), dan pada tahun 2011 – 2014.
Jadi ketika harga minyak sekarang sudah dibawah US$ 30 per barel, maka secara historis itu wajar saja, karena seperti yang sudah disebut diatas, dari dulu juga harga minyak memang lebih sering berada di rentang US$ 15 – 30 per barel, dan hanya akan naik secara signifikan kalau ada penyebab yang spesifik. Ketika harga minyak mulai merangkak naik pada awal dekade 2000-an, penyebab spesifik tersebut adalah booming ekonomi di China, dimana permintaan (demand) minyak dunia melonjak tajam. Namun karena belakangan ini perekonomian China melambat, dan akan terus melambat (dengan statusnya sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia, maka tentu sangat sulit bagi China untuk kembali mencatat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa seperti beberapa tahun lalu), maka ya sudah: Cepat atau lambat harga minyak akan balik lagi ke level yang memang seharusnya. Tidak perlu menjadi analis yang canggih untuk menebak bahwa harga minyak mungkin akan lanjut turun sampai dibawah US$ 20 per barel, karena memang disitulah dia seharusnya berada, yakni pada rentang US$ 15 – 30 per barel.
Okay, tapi dengan penurunan harga minyak ini, lalu bagaimana dampaknya terhadap ekonomi dunia?
Kenaikan harga minyak sejak awal tahun 2000-an hingga 2014 kemarin, itu juga pernah terjadi pada dekade 70-an, dimana pada tahun 1973 – 1974 harga minyak melonjak dari sebelumnya dibawah US$ 20 per barel (sesudah inflasi), hingga menembus US$ 55 per barel, ketika itu karena negara-negara Arab melakukan embargo minyak ke Amerika dan Inggris, sebagai bentuk protes atas dukungan Amerika terhadap Israel yang menyerang Mesir dan Suriah. Setelah tahun 1974, harga minyak tidak serta merta turun kembali, melainkan lanjut naik hingga mencapai puncaknya yakni sekitar US$ 105 per barel pada tahun 1979, yakni ketika terjadi Revolusi Iran. Nah, tingginya harga minyak, atau lebih tepatnya kelangkaan supply minyak sepanjang dekade 70-an, pada akhirnya membuat perekonomian di Amerika dan dunia secara keseluruhan, menjadi lesu, karena kegiatan ekonomi yang membutuhkan pasokan minyak praktis terhenti. Pada tahun 1973 – 1974, pasar saham Amerika mengalami crash dimana Indeks S&P500 turun total lebih dari 40% selama dua tahun berturut-turut, dan kenaikan S&P500 di tahun-tahun berikutnya sepanjang dekade 70-an juga terbilang tidak signifikan (malah sempat turun sekali lagi pada tahun 1977).
Memasuki dekade 80-an, keributan di Timur Tengah mulai mereda, sehingga supply minyak dunia kembali lancar.. hingga tiba-tiba saja pada tahun 1982, harga minyak sudah berada di level US$ 30-an per barel lagi, dan terus turun. Alhasil mulai tahun 1982 ini dan seterusnya, beberapa negara produsen minyak seperti Venezuela, Brazil, dan Meksiko mengalami krisis, Arab Saudi mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan Uni Soviet bahkan sampai bubar (menjadi Rusia, Ukraina, Kazakhstan, dst) pada tahun 1991. Pada kasus Brazil dan Meksiko, mereka sampai mengalami krisis karena masalah klasik: Utang. Ketika dua negara tersebut mengalami booming ekonomi berkat kenaikan harga minyak pada awal dekade 1970-an, Pemerintah dan sektor swasta dengan cepat mengambil utang besar-besaran untuk membangun ini dan itu, yang kemudian tidak mampu dibayar setelah harga minyak itu sendiri turun. Di Meksiko, krisis ekonomi yang terjadi baru benar-benar pulih pada tahun 1984.
However, pada dekade 1980-an tersebut, beberapa negara konsumen minyak terbesar seperti Amerika Serikat, Jepang, hingga banyak negara-negara berkembang, justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibanding ketika terjadi krisis energi pada dekade 1970-an, dan alhasil perekonomian dunia secara keseluruhan tetap tumbuh dengan lancar. Kalau kita membandingkan pergerakan indeks Dow Jones pada dekade 70-an dengan 80-an, maka cukup jelas bahwa periode tahun 80-an, yakni ketika harga minyak turun (atau lebih tepatnya kembali ke level harga yang seharusnya), adalah lebih baik dibanding periode tahun 70-an. Perhatikan gambar berikut, dimana tampak jelas bahwa pergerakan Dow antara tahun 1970 – 1980 cenderung mendatar/sideways dengan beberapa kali penurunan ekstrim. Namun antara tahun 1980 – 1990, Dow sukses naik dari 900-an hingga 2,800, atau naik lebih dari tiga kali lipat (klik gambar untuk memperbesar).
 
Dow Jones 1970 – 1990. Perhatikan bahwa Dow cenderung mendatar pada tahun 1970 hingga awal 1980-an dengan beberapa kali koreksi besar (pada area berwarna abu-abu). Tapi memasuki tahun 1982, kesananya naik terus. Sumber: www.macrotrends.net
Antara Supply dan Demand
Nah, setelah harga minyak sempat relatif stabil selama hampir dua dekade, memasuki tahun 2000-an dia mulai naik lagi, tapi kali ini penyebabnya bukan karena menurunnya supply seperti ketika pada tahun 1973 negara-negara Arab menghentikan ekspor minyak, melainkan karena meningkatnya demand, yang berasal dari pertumbuhan ekonomi di China. Karena disisi lain supply minyak masih aman, maka kenaikan harga minyak tersebut tidak sampai menyebabkan krisis seperti tahun 1970-an, dimana pertumbuhan ekonomi di Amerika dll masih tetap lancar.
Lebih jelasnya sebagai berikut: Dalam perekonomian terdapat dua faktor fundamental yang sangat penting, yakni supply and demand. Namun kalau disuruh memilih yang paling penting diantara keduanya, maka supply/pasokan adalah yang terpenting. Malahan, asalkan ada supply, maka demand/permintaan akan muncul dengan sendirinya. Ketika orang-orang menemukan minyak pada awal abad ke-19, ketika itu mereka belum tahu, apa kegunaan minyak ini. Tapi kemudian diciptakan mesin kendaraan bermotor, sehingga timbul permintaan akan minyak. Seandainya minyak tidak pernah ditemukan, maka mesin mobil dan motor yang ada sekarang ini juga tidak akan pernah ada. Analogi yang sama juga ketika internet ditemukan pada tahun 1980-an, dimana ketika itu belum ada yang bisa melihat manfaatnya (belum ada demand terhadap internet). Tapi sekarang, coba bayangkan kalau internet tiba-tiba tidak lagi tersedia mulai hari ini: Mungkin tak lama kemudian IHSG langsung jeblok ke 2,500, karena orang-orang yang biasa pake online trading tiba-tiba harus pake cara dulu lagi, yakni telpon broker atau datang langsung ke lantai bursa di Gedung BEI di Jakarta, dimana penulis sendiri gak bisa ngebayangin kalau kita harus kaya gitu (mungkin harus tanya Om Lo Kheng Hong).
Balik lagi soal minyak. Ketika pasokan minyak berkurang, maka segala jenis industri yang membutuhkan minyak, termasuk industri transportasi yang tentu saja sangat vital bagi negara manapun, akan mandek semuanya, dan ekonomi praktis akan terganggu secara keseluruhan. Tapi ketika gilirannya permintaan minyak yang berkurang, maka yang akan terkena dampak negatifnya hanyalah para perusahaan minyak dan juga negara-negara produsen minyak. Sementara kegiatan ekonomi lainnya? Ya berjalan seperti biasa.
Karena itulah, meski harga minyak terus merangkak naik sepanjang dekade 2000-an, namun ekonomi dunia tidak mengalami perlambatan/krisis seperti tahun 1970-an, karena tidak ada problem dari sisi supply.
Dan ketika sekarang gilirannya harga minyak turun lagi, maka apakah akan terjadi krisis? Well, sebenarnya pertanyaan ‘apakah akan terjadi krisis’, itu merupakan pertanyaan yang tricky, karena krisis bisa disebabkan oleh apa saja, tidak harus karena naik turunnya harga minyak. Ketika Indonesia dihantam krisis moneter 1998, harga minyak ketika itu adem ayem saja tuh.
Tapi kalau kita fokus pada penurunan harga minyak, maka ya lihat saja tahun 1980-an: Terjadi krisis tidak? Yang terjadi perekonomian dunia secara umum justru membaik, Dow Jones naik terus, meski beberapa negara eksportir minyak memang mengalami krisis. Khusus untuk Indonesia, penurunan harga minyak sama sekali gak jadi soal, malah justru bagus, mengingat kita ini sejak tahun 2007 sudah berstatus sebagai importir minyak, bukan lagi eksportir. Okay, industri pertambangan termasuk tambang batubara, yang sempat menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia di tahun 2000-an, mungkin akan semakin tenggelam dengan turunnya harga minyak, tapi jangan lupa bahwa kontribusi sektor tambang, termasuk tambang minyak dan gas terhadap GDP nasional hanya 7.3% (per Kuartal III 2015), dan ini sangat berbeda dengan beberapa ‘raja minyak’ seperti Venezuela, yang 55% GDP-nya berasal dari ekspor minyak, atau Qatar, yang 60% GDP-nya berasal dari ekspor gas.

Hanya memang, untuk tahun 2016 ini, yang dikhawatirkan bukan soal penurunan harga minyaknya, tapi penyebab dari penurunan harga minyak itu sendiri, yakni perlambatan pertumbuhan ekonomi di China, yang sebagian menyebutnya dengan istilah yang lebih dramatis: Krisis. Anyway, berhubung pembahasan selanjutnya akan fokus pada bagaimana outlookperkembangan ekonomi Indonesia kedepan, salah satunya jika kondisi China terus memburuk (jadi tidak lagi ngomongin soal minyak), maka kita akan bahas itu minggu depan. Tapi sebelum nanti artikelnya dipublikasikan, maka silahkan anda tulis analisa anda masing-masing terkait perkembangan ekonomi nasional (dan juga global) melalui kolom komentar dibawah.

Info Investor: Buletin Analisa IHSG, investment plan, dan stock pick bulanan edisi Februari sudah terbit! Anda bisa memperolehnya

Ebook Analisis Kuartal IV 2015

Dear investor, setiap tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal IV 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.
Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Selasa, tanggal 9 Februari 2015. Anda bisa memperolehnya disini, dan ebooknya nanti akan langsung dikirim via email.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.
Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Berikut ini adalah contoh tiga analisis/rekomendasi saham terbaru:
  1. Bank BNI (BBNI)
  2. Surya Semesta Internusa (SSIA)
  3. Nippon Indosari Corpindo (ROTI), dan seterusnya
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

Mengenal ‘Nilai Kualitatif’ Saham

Sebagai investor, penulis rutin membaca annual letter Berkshire Hathway yang ditulis sendiri oleh Warren Buffett, yang biasanya terbit pada bulan Januari atau Februari setiap tahunnya, karena dari situ ada banyak sekali wisdom tentang investasi yang bisa kita peroleh. Nah, Pada annual letter-nya yang terakhir yakni edisi tahun 2014, Buffett menceritakan pengalamannya membeli saham dari See’s Candies, perusahaan pembuat cokelat dalam kotak dan cemilan manis lainnya, pada tahun 1972. Dan setelah beberapa dekade kemudian investasi tersebut sukses menghasilkan keuntungan yang sangat besar bagi Berkshire.

Buffett membeli See’s atas saran dari partner-nya, Charlie Munger, yang memperkenalkan strategi investasi yang baru yang belum pernah diterapkan oleh Buffett sebelumnya, yakni: Belilah saham dari perusahaan yang luar biasa bagus pada harga yang wajar. Sebelumnya, sejak tahun 1950-an, Buffett hampir selalu membeli saham-saham pada valuasi serendah mungkin, misalnya PBV kurang dari 1 kali, hampir tanpa memperhatikan apakah perusahaan memiliki fundamental kinerja yang sangat baik atau tidak. Dan meski strategi ‘buy at lowest possible price’ itu kebanyakan berhasil, tapi seringkali Buffett terjebak dalam posisi sebagai pemilik dari perusahaan yang ternyata terus merugi, yang meski sudah diupayakan habis-habisan untuk bisa kembali menghasilkan keuntungan, namun tetap saja gagal.
Sementara ketika Buffett memiliki peluang untuk mengakuisisi 100% saham See’s Candies, sebuah perusahaan yang tampak sangat bagus dan menjanjikan keuntungan jangka panjang, namun peluang itu harus ditebus pada harga yang relatif mahal, dimana Berkshire harus membayar US$ 25 juta padahal nilai aset bersih See’s hanya US$ 8 juta, atau dengan kata lain PBV-nya mencapai 3.1 kali. Sekedar perbandingan, ketika Buffett pertama kali membeli saham Berkshire Hathaway pada tahun 1962, PBV-nya hanya 0.4 kali.
Namun ternyata investasi Buffett di Berkshire malah gagal total, dimana Buffett pada akhirnya harus menutup pabrik tekstil terakhir milik Berkshire di tahun 1986 (dan status Berkshire Hathaway kemudian berubah menjadi perusahaan holding). Sementara investasinya yang di See’s? Sukses besar, dan See’s Candies sampai sekarang masih menjadi salah satu perusahaan paling menguntungkan yang dimiliki oleh Warren dan Charlie.
Dan inilah yang menarik: Pada annual letter-nya, Buffett menyebutkan bahwa dari See’s Candies, ia belajar bahwa aset tak berwujud berupa reputasi, kekuatan merk, hingga keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh perusahaan, adalah lebih berharga dibanding aset-aset berwujud seperti pabrik, persediaan, dll. Yup, pada laporan keuangan See’s, aset-aset berupa reputasi dll, tentu saja tidak tampak, karena aset seperti itu tidak bisa diukur berapa nilainya dalam mata uang Dollar. Jadi meski harga beli See’s yang mencapai PBV 3.1 kali sekilas tampak mahal, namun ingat bahwa harga tersebut hanya didasarkan pada aset-aset berwujud milik perusahaan alias nilai bukunya, dan belum memperhitungkan nilai dari aset-aset yang tidak berwujud tadi. Jika Buffett menemukan perusahaan coklat lain yang dijual pada harga yang lebih rendah, misalnya PBV 1.0 kali, namun perusahaan tersebut reputasinya jelek, merk produknya sama sekali tidak dikenal, dan tidak memiliki keunggulan kompetitif apapun, maka Charlie tetap akan merekomendasikan untuk membeli See’s.
Nilai dari Aset-Aset Tak Berwujud: Nilai Kualitatif
Dalam value investing, seperti yang sudah penulis sampaikan berkali-kali sebelumnya, tugas seorang value investor ada dua: 1. Menyeleksi saham-saham/perusahaan berdasarkan fundamentalnya, dan 2. Menentukan harga belinya. Untuk poin pertama, terkadang investor hanya menilai fundamental suatu perusahaan hanya dari indikator-indikator yang bisa dihitung/ada angkanya, alias nilai kuantitatif, seperti nilai ekuitas, persentase kenaikan laba bersih, return on equity, margin laba, dan seterusnya. Padahal indikator yang tidak bisa dihitung/tidak ada angkanya, alias nilai kualitatif seperti kekuatan merk dll, itu seringkali memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap nilai fundamental perusahaan secara keseluruhan, karena itu lebih sulit untuk diperoleh.
Contohnya, untuk membangun kekuatan merk, maka perusahaan manapun harus mengeluarkan biaya untuk iklan. Tapi apakah dengan semakin besarnya anggaran belanja iklan maka akan semakin meningkat pula popularitas merk tadi di mata masyarakat? Belum tentu. Kita lihat, Wings Food, produsen mie instan merk ‘Mie Sedaap’, yang iklannya nongol hampir setiap hari di televisi, tapi tetap saja popularitas Mie Sedaap masih belum bisa mengalahkan Indomie, yang sudah mengakar kuat di masyarakat.
Dari tulisan Buffett tentang See’s, penulis jadi mengerti kenapa saham-saham dari perusahaan tertentu seperti Unilever (UNVR), Bank BCA (BBCA), Indofood CBP (ICBP), hingga Kalbe Farma (KLBF), mereka memiliki valuasi yang sangat tinggi dibanding valuasi saham-saham kebanyakan, karena ketiga perusahaan tersebut memiliki segalanya diluar aset-aset berwujud, seperti reputasi, kekuatan merk, manajemen yang kredibel, hingga status sahamnya sebagai blue chip. Meski memang, kalau sewaktu-waktu perusahaan tersebut mengalami penurunan kinerja yang drastis maka sahamnya juga akan turun, contohnya seperti Multi Bintang Indonesia (MLBI), yang di tahun 2015 kemarin labanya untuk pertama kali turun, dan demikian pula dengan sahamnya.
Tapi disisi lain, selama kinerja perusahaan-perusahaan diatas masih bertumbuh, maka selama itu pula sahamnya akan naik terus, atau minimal tidak turun, tak peduli meski PER atau PBV-nya sudah sangat tinggi. Sebenarnya sejak awal, sejak sebelum penulis membaca annual letter-nya Buffett diatas, penulis sudah tahu bahwa kita tentu saja tidak bisa menyamakan valuasi BBCA dengan Bank Victoria (BVIC), misalnya, bahkan andaikata kedua perusahaan tersebut memiliki kinerja keuangan yang sama. Tapi setelah mempelajari tulisan Buffett, penulis menyimpulkan bahwa ketika kita menganalisa fundamental sebuah saham, maka selain melihat poin-poin yang tampak di laporan keuangan (kuantitatif), kita juga harus melihat poin-poin yang tidak tampak di laporan keuangan (kualitatif).
Problemnya adalah, karena nilai kualitatif ini tentu saja gak ada angkanya, maka relatif sulit untuk menentukan besarnya nilai kualitatif tersebut. Contohnya, kalau anda tinggal di perkotaan, maka Bank BCA mungkin memiliki kekuatan merk yang lebih baik, karena mesin ATM-nya bisa ditemukan dimana-mana. Tapi bagi orang-orang di kampung, mungkin Bank BRI jauh lebih populer, karena disana adanya Bank BRI, bukan BCA. Dan ini berbeda dengan nilai kuantitatif seperti return on equity (ROE), dimana jika sebuah perusahaan memiliki ROE 20%, maka jelas bahwa sahamnya lebih layak koleksi, atau valuasinya layak lebih tinggi, dibanding saham lain yang ROE-nya hanya 10%. Dalam hal ini nilai kualitatif menjadi sesuatu yang subjektif, dimana pendapat anda tentang reputasi baik suatu perusahaan bisa saja keliru, jika ternyata mayoritas investor justru menganggap bahwa perusahaan tersebut punya reputasi buruk.
Namun dalam penerapannya, maka sebenarnya untuk menghitung nilai kualitatif ini tidak sesulit itu juga. Contohnya, ketika kita mempertimbangkan soal ‘kualitas manajemen’, maka anda pilih yang mana? Saham-saham Grup Astra, atau saham-saham Grup Bakrie? You surely know the answer.. Dan berikut ini adalah contoh lainnya yang lebih riil.
Contoh Penerapan
Setelah membaca annual letter-nya Berkshire diatas, penulis kemudian sedikit mengubah strategi: Jika sebelumnya penulis hampir tidak pernah mau melirik saham-saham dengan PBV diatas 2.5 kali, maka batasan PBV tersebut dinaikkan menjadi 4 atau maksimal 5 kali, tapi dengan catatan saham yang dibeli pada ‘harga tinggi’ tersebut memang memiliki nilai kualitatif yang extraordinary, tentunya diluar nilai-nilai kuantitatif seperti ROE dll.
Dan setelah melihat-lihat ikan yang ada di kolam, pilihan penulis jatuh pada Jasa Marga (JSMR). Sebelumnya, penulis tidak pernah melirik JSMR ini karena PER-nya yang selalu diatas 20 – 25 kali, atau lebih mahal dibanding BBCA sekalipun. Namun setelah membaca lagi tulisan tentang JSMR disini (jadi salah satu alasan kenapa saya menulis disini adalah agar nanti tulisan tersebut bisa saya baca lagi. Jika suatu ide investasi/analisa tidak pernah ditulis, maka ide tersebut akan hilang begitu saja), penulis baru sadar kalau JSMR ini memiliki banyak nilai kualitatif yang tidak ada pada perusahaan-perusahaan lain, seperti popularitas perusahaan (siapa yang gak tahu Jasa Marga?), model bisnis yang aman untuk jangka panjang (jalan tol), kualitas GCG yang baik, hingga track record pembayaran utang obligasi yang baik.
Ketika artikel itu ditulis pada Februari 2014, JSMR berada di posisi 5,000 pas, atau sudah turun lumayan jauh dari puncaknya yakni 6,900. Tapi setelah melihat bahwa pada harga segitupun JSMR tampak masih mahal, maka ya sudah, penulis gak jadi membelinya. Tapi yak lama kemudian, JSMR ternyata terus merangkak naik hingga tembus 7,000 pada Januari 2015, atau mencetak gain 40% hanya dalam tempo kurang dari setahun, dan meninggalkan penulis yang cuma bisa melongo kebingungan (tapi kemudian saya menemukan jawabannya di annual letter Berkshire tadi).
Memasuki April 2015, IHSG mulai turun, dan demikian pula dengan JSMR, yang pada September 2015 lalu akhirnya balik lagi ke harga 5,000 pas. Dan kali ini penulis tidak membuang-buang waktu: JSMR langsung tak beli! Termasuk saham ini juga menjadi salah satu yang dibahas di ebook kuartalan. Hasilnya, meski JSMR sempat turun dulu sampai 4,500 pada Desember lalu, tapi belakangan naik lagi dan, ketika artikel ini ditulis, sudah berada di level 5,800. Meski kita tentu tidak bisa memprediksi akan bergerak kemana JSMR ini (dan juga saham lain manapun) dalam jangka pendek, dimana besok-besok bisa aja dia turun lagi, namun satu hal yang jelas: This company has qualitative values, dan karena itulah ia layak dihargai lebih tinggi dibanding saham dari perusahaan dengan ROE dll yang sama, atau dibanding saham lain di sektor yang sama seperti Citra Marga Nusaphala (CMNP), dan Nusantara Infrastructure (META). Prinsip yang sama juga penulis terapkan ketika pada Agustus 2015 lalu membahas saham Nippon Indosari Corpindo (ROTI), dimana meski PBV-nya 5.2 kali dan PER-nya 22.3 kali pada harga saham 1,085, namun penulis tetap mengatakan bahwa harga segitu sudah cukup wajar. And indeed, sampai sekarang ROTI masih belum bergerak kemana-mana melainkan di kisaran 1,100 – 1,200.
Jadi mulai sekarang, diluar faktor-faktor yang bisa dihitung seperti nilai ekuitas, ROE, margin laba dll, anda juga bisa mulai mempertimbangkan faktor kualitatif ini dalam menilai fundamental suatu perusahaan, dan juga berapa valuasi/harga yang layak untuk sahamnya. Termasuk, kalau anda menemukan saham yang tampak amat sangat murah, maka coba cek sekali lagi: Apakah perusahaannya memiliki nilai kualitatif? Karena jika perusahaan ternyata tidak memiliki nilai kualitatif sama sekali, maka hati-hati, mungkin valuasinya tidak semurah kelihatannya karena, sekali lagi, nilai kualitatif ini lebih valuable dibandingkan dengan apa yang tampak di laporan keuangan. Dan hati-hati: Seperti halnya kinerja keuangan, ‘kinerja merk’ atau reputasi sebuah perusahaan juga bisa turun sewaktu-waktu, misalnya ketika muncul kompetitor yang lebih populer. Jadi seperti halnya kita perlu mengecek kinerja keuangan perusahaan dari kuartal ke kuartal, kita juga perlu mengevaluasi nilai-nilai kualitatif dari sebuah saham setiap beberapa waktu sekali.
Okay, I think that’s enough. Minggu depan kita akan membahas sedikit soal harga minyak, dan pengaruhnya terhadap IHSG.

Info Investor: Layanan preorder Ebook analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal IV 2015 sudah dibuka. Keterangan lebih lanjut klik disini

Elnusa

IHSG memulai perjalanannya di tahun 2016 ini dengan kurang mulus. Ketika artikel ini ditulis, IHSG masih turun 2% secara year to date. Meski penurunan tersebut masih jauh lebih baik dibanding penurunan Bursa China dan juga Amerika, dimana Indeks Shanghai dan Dow Jones  masing-masing turun 16.7 dan 6.2%, namun beberapa saham di sektor migas dan tambang sudah jatuh lebih dalam. Salah satunya, Elnusa (ELSA), yang terakhir ditutup di posisi 200 atau sudah turun hampir 20% sejak awal tahun, dan cukup jelas bahwa penyebabnya adalah penurunan harga minyak yang sekarang sudah menyentuh US$ 30 per barel.

Dan tidak hanya di dalam negeri, tapi saham-saham perusahaan migas skala global seperti Royal Dutch Shell, Exxon Mobil, BP, Chevron, Total SA, semuanya juga tumbang. Tapi yang menarik, kemarin Berkshire Hathaway merilis keterbukaan informasi bahwa mereka menambah kepemilikan di saham Phillips 66, sebuah perusahaan minyak kelas menengah yang bermarkas di Texas, Amerika Serikat. Nah, kita tentu sudah hafal kebiasaan Opa Warren yang suka membeli saham suatu perusahaan justru ketika orang-orang menghindarinya, dan dalam hal ini membeli saham perusahaan minyak justru ketika harga minyak terus meluncur turun. Tapi mungkin pertanyaannya, apakah ini merupakan sinyal bahwa smart money sudah mulai masuk ketika mayoritas investor sudah desperate dengan bisnis perminyakan? Lalu terkait Elnusa tadi, apakah penurunan harganya adalah sebuah opportunity?

Sekilas Elnusa

ELSA merupakan anak usaha dari BUMN paling mengesalkan di Indonesia, Pertamina, yang bergerak di bidang jasa perminyakan. Yup, ELSA tidak memproduksi minyak, namun menyediakan layanan land seismic, drilling, fabrication dll bagi perusahaan-perusahaan minyak. Beberapa pelanggan ELSA adalah Pertamina Hulu Energi, Pertamina EP, Medco, Pertagas, Total Indonesie, hingga Chevron Pacific Indonesia. Khusus untuk jasa land seismic, ELSA merupakan salah satu pionir yang sudah berpengalaman sejak tahun 1974, dan saat ini berstatus sebagai market leader di tanah air.
Nah, sejak dulu entah kenapa sektor perminyakan di BEI tidak pernah mencatatkan kinerja fundamental yang bagus, bahkan ketika dulu harga minyak masih diatas US$ 100 per barel, dan alhasil penulis sendiri hampir gak pernah melirik peluang investasi di sektor ini (tapi sebenarnya itu ada penjelasannya, anda bisa membacanya disini). And btw, Perusahaan Gas Negara (PGAS) tidak bisa dikelompokkan sebagai perusahaan migas atau jasa migas, karena dia cuma distributor.
Namun dibanding beberapa emiten sejenis seperti Ratu Prabu Energi (ARTI), Benakat Integra (BIPI), Energi Mega Persada (ENRG), hingga Medco (MEDC), maka ELSA memiliki kinerja fundamental yang relatif baik, meski tetap saja masih dibawah standar ‘baik’ versi penulis. However, dengan terus menurunnya harga minyak yang diiringi oleh penurunan harga saham dari perusahaan-perusahaan terkait, maka jika anda tertarik untuk mengikuti langkah Buffett yang justru masuk ke sektor perminyakan, pilihan saham yang paling masuk akal ya ELSA ini. Dan dengan PBV 0.6 kali pada harga 200, maka jika nanti harga minyak rebound sedikit saja, harusnya dia bisa dengan mudah membal keatas.
Hanya saja, kalau untuk investasi serius untuk jangka panjang, maka ELSA terbilang meragukan. Sejak 2010 sampai sekarang, pendapatan perusahaan stagnan di Rp4 trilyunan per tahun, alias gak naik-naik, dan kenaikan laba ELSA lebih didorong oleh efisiensi kinerja, tapi bahkan sampai sekarang margin labanya masih dibawah 10%, dan itu terbilang sangat rendah untuk ukuran perusahaan jasa. Lalu seiring dengan penurunan harga minyak sejak awal tahun 2015 lalu, pendapatan ELSA juga ikut tertekan dimana hingga Kuartal III kemarin, angkanya baru tercatat Rp2.6 trilyun, sehingga ada kemungkinan bahwa untuk sepanjang tahun 2015 ini pendapatan ELSA akan tercatat dibawah Rp4 trilyun, dan memang dari pihak manajemen sendiri memperkirakan bahwa laba ELSA hanya akan mencapai Rp350 milyar untuk tahun 2015, atau turun signifikan dibanding tahun 2014 sebesar Rp412 milyar. Dalam materi public expose yang diselenggarakan perusahaan ketika harga minyak masih US$ 45 per barel, manajemen sudah mengatakan bahwa kinerja perusahaan, meski turun, tapi penurunannya tidak sedalam industri migas secara umum, karena berbeda dengan mayoritas perusahaan migas lain di tanah air, ELSA relatif tidak memiliki utang.
Penurunan Kinerja
Tapi kata kuncinya disini adalah bahwa ‘kinerja perusahaan ikut turun seiring dengan penurunan harga minyak’. Dan berhubung harga minyak sekarang tinggal US$ 30 per barel, maka ya wassalaaaam… Terkait sahamnya sendiri, pada tahun 2011 lalu, yakni ketika harga minyak lagi tinggi-tingginya di level US$ 120 per barel, ELSA justru menderita kerugian Rp43 milyar, dan itu menyebabkan sahamnya jeblok dari 350-an hingga 160-an. Namun memasuki tahun 2012 hingga 2014, perolehan laba perusahaan terus membaik hingga mencapai Rp420 milyar pada akhir tahun 2014, dan alhasil sahamnya juga terus naik sampai sempat menyentuh posisi 700, alias mencetak gain lebih dari tiga kali lipat.
Memasuki tahun 2015, secara efisiensi kinerja ELSA mungkin sudah lebih baik (jadi perusahaan gak akan sampai menderita rugi lagi), namun problemnya masih terletak di ketidakmampuan perusahaan untuk meningkatkan pendapatan. Dan berhubung harga minyak juga tinggal seperempat dari harganya di tahun 2011 maka pendapatan ELSA ikut turun, dan investor biasanya gak mau tau: Kalau pendapatan dan laba perusahaan turun tajam maka gue gak akan beli sahamnya, dan sebenarnya itulah yang menyebabkan sahamnya terpuruk. Ingat bahwa penuruan harga minyak, yang sampai awal tahun 2016 ini masih terus terjadi, bisa berarti bahwa kinerja ELSA untuk awal tahun 2016 ini juga akan kembali turun dibanding 2015.
Jadi agar saham ELSA bisa naik maka caranya ada dua: 1. Harga minyak rebound, dan 2. Kinerja perusahaan menunjukkan perbaikan. Untuk poin pertama, itu bisa terjadi kapan saja dan kalau itu terjadi maka saham ELSA bakal naik sangat tajam, mungkin bisa sampai beberapa puluh persen hanya dalam satu dua hari, tapi hanya untuk sesaat sebelum kemudian turun lagi (karena pada akhirnya orang akan lihat laporan keuangan lagi). Untuk poin kedua, itu paling cepat baru akan kelihatan di laporan keuangan Kuartal I 2016 nanti, yang akan dirilis sekitar akhir April, dan itupun dengan catatan harga minyak sudah rebound sebelumnya.
Kesimpulannya, I don’t know with others, namun kalau untuk penulis ELSA ini hanya masuk watchlist saja dulu. Ketika Opa Buffett beli Phillips 66, mungkin pertimbangannya adalah karena perusahaan oil refinery ini hingga Kuartal III 2015 masih membukukan laba US$ 3.6 milyar, atau hampir sama dengan periode yang sama tahun 2014, sementara kinerja perusahaan-perusahaan minyak lain sudah pada bertumbangan bahkan sejak tahun 2013. Jadi kalau nanti harga minyak pulih lagi maka kinerja Phillips 66 juga akan melaju kencan lagi. Sementara ELSA? We’ll, he’s not that good, setidaknya untuk saat ini, so it’s better to wait, kecuali jika anda hendak berspekulasi pada harga minyak yang bisa saja membal sewaktu-waktu. Tapi yah, penulis tentu saja tidak menyarankan untuk ‘investasi saham’ dengan cara seperti itu.
PT. Elnusa, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2015: BBB
Rating Saham pada 200: A

Btw, hingga Rabu, 13 Januari, IHSG masih turun 1.2% secara year to date, namun sektor properti/konstruksi dan finance/perbankan masing-masing hanya turun 0.7%, dan sektor infrastruktur/transportasi malah naik 1.2%. Sementara sektor pertambangan, termasuk ELSA di dalamnya, sudah turun 2.5%. Hal ini menunjukkan bahwa meski IHSG masih dipengaruhi fluktuasi bursa global dan juga turunnya harga minyak, namun beberapa saham di tiga sektor yang lagi ‘hot’ diatas tetap menanjak karena, sekali lagi, fundamental ekonomi kita mulai pulih dengan sektor-sektor tersebut sebagai pendorongnya. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Info Investor: Layanan pre-order ebook analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal IV 2015 sudah dibuka. Keterangan lebih lanjut klik [...]

Fase Putus Asa Sudah Lewat, Lalu?

Agustus lalu, tepatnya 24 Agustus 2015 ketika IHSG anjlok 4% dalam sehari dan ditutup di posisi 4,164, dan sudah tentu ketika itu dengan diiringi oleh teriakan panik para investor (panic selling), penulis membuat artikel berjudul Antara Euforia dan Putus Asa. Pada artikel tersebut dipaparkan beberapa fase pada periode bear market, yakni denial, bull trap, return to ‘normal’, fear, capitulation, dan terakhir, despair. Dan dengan merujuk pada fakta bahwa IHSG sudah turun banyak dari puncaknya yakni 5,500-an hingga ketika itu sudah mencapai 4,100-an, dan juga sudah melalui beberapa fase mulai dari denial hingga kepanikan (fear, atau capitulation), maka pada bagian akhir artikel penulis bertanya, apakah posisi IHSG saat itu sudah despair alias putus asa?

Karena, mengingat bahwa fase despair merupakan bottom atau titik terendah dari periode bear market, maka jika IHSG sudah mencapai fase tersebut maka selanjutnya dia, perlahan tapi pasti, akan naik kembali.
Dan setelah beberapa bulan, IHSG ternyata naik lagi dan sekarang sudah berada di posisi 4,500-an. Jadi mungkin pertanyaannya masih sama: Apakah ketika IHSG pada Agustus lalu berada di 4,100-an, itu sudah bottom? Dan jika jawabannya adalah ya, lalu bagaimana selanjutnya? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka anda bisa lihat lagi gambar dibawah ini, yang mengambarkan fase-fase pada periode bear market, dan juga bull market (klik untuk memperbesar).

Perhatikan bagian paling kanan dari gambar diatas: Salah satu ciri bahwa pasar/IHSG sudah ketemu fase despair-nya, adalah jika IHSG itu sendiri naik signifikan hingga balik lagi ke mean atau posisi rata-ratanya, setelah sebelumnya turun terus. Yup, jadi jika kita hendak mengetahui kapan IHSG sudah mencapai fase despair hanya dengan cara melihat chart-nya saja, alias murni pake analisa teknikal, maka anda baru akan mengetahuinya setelah fase despair tersebut terjadi, yakni setelah IHSG naik lagi keatas hingga kembali ke posisi ­mean-nya. Maksud penulis, jika pada hari ini IHSG justru berada pada posisi yang lebih rendah lagi dibanding level 4,164 yang sudah dicapai pada Agustus lalu, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa ‘Sekarang ini sudah fase despair!’.

Contohnya, pada 28 September 2015 lalu, atau sebulan setelah panic selling Agustus, IHSG ternyata sempat jeblok sekali lagi hingga ke ditutup di posisi 4,120 (panic selling round 2), atau lebih rendah dibanding posisi 4,164 di bulan Agustus. Jadi hingga penghujung bulan September tersebut, kita masih belum bisa mengatakan bahwa pasar sudah mencapai titik terendahnya, karena nyatanya IHSG masih bisa turun ke posisi yang lebih rendah dibanding posisi 4,164 pada peristiwa panic selling di bulan Agustus.

Namun berhubung setelah September IHSG tidak mencetak new low lagi, dan sekarang ini dia justru sudah berada di posisi 4,500-an alias sudah naik lumayan tapi juga belum berada diatas mean-nya (jika kita menggunakan garis MA200, alias moving average 1 tahun sebagai mean), maka itu artinya? Yup, secara teknikal dasar, IHSG mungkin sudah mencapai fase despair-nya pada September lalu, dan sekarang ini IHSG sedang dalam fase konsolidasi. Disebut konsolidasi karena penurunan IHSG mulai melandai (IHSG masih bisa turun sewaktu-waktu, tapi gak pake acara jeblok lagi), dan tekanan jual juga mulai mereda, tapi disisi lain IHSG juga belum benar-benar naik secara signifikan.
Fase konsolidasi ini bukanlah bagian dari periode bear maupun bull market, dan karenanya bisa berujung pada dua kemungkinan: IHSG ternyata kembali jeblok hingga mencetak new low lagi, yang itu artinya September kemarin kita masih belum mencapai fase despair, atau sebaliknya, IHSG ternyata terus naik hingga menembus garis mean-nya, yang itu artinya periode bear market pada IHSG resmi berakhir (Btw kita pakai moving average 1 tahun sebagai mean, karena asumsinya adalah jika periode bear market sudah confirm berakhir, maka kita bisa beli saham kemudian disimpan untuk minimal setahun kedepan). Ketika artikel ini ditulis, IHSG baru bisa disebut berada diatas mean-nya jika sudah naik hingga posisi 4,785 atau lebih.
Analisa Fundamental IHSG
Tapi kalau kita baru mulai belanja setelah IHSG berada di level 4,785, maka apa itu bukan ketinggalan kereta namanya? Nah, pada titik inilah kita harus kembali ke analisa fundamental, dalam hal ini analisa makro ekonomi dalam negeri. Dan berikut adalah beberapa data serta fakta sederhana: Pertama, setelah Rupiah stabil di Rp13,500 – 14,000 per USD, nobody talks about crisis, karena memang disisi lain kondisi ekonomi di lapangan juga mulai membaik. Kalau anda masih ingat, pada September lalu semua orang bilang bahwa pelemahan Rupiah mungkin bisa berujung pada Krisis Moneter seperti di tahun 1998, namun pada artikel ini penulis sudah mengatakan bahwa tidak akan terjadi krisis apapun. And indeed, there was no crisis, termasuk angka pertumbuhan ekonomi di Kuartal III kemarin tercatat 4.73%, atau mulai membaik dibanding Kuartal sebelumnya yang hanya 4.67%.
Kedua, dalam dua tahun terakhir, dalam rangka menekan inflasi yang timbul karena kenaikan harga BBM dll, Bank Indonesia (BI) terus menaikkan BI Rate hingga terakhir mencapai 7.50%, dan itu tidak disukai oleh mayoritas pelaku pasar yang menginginkan agar BI Rate tetap berada di level yang rendah, karena itu diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi (soal kaitan antara BI Rate, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi, boleh baca disini). Kabar baiknya, data terakhir menunjukkan bahwa inflasi untuk bulan Desember 2015 tercatat hanya 3.5% year on year, alias sudah sangat baik, dan ini membuka peluang bagi BI untuk menurunkan BI Rate cepat atau lambat. Dan ketika BI Rate turun maka itu akan direspon positif oleh pasar.
Dan ketiga, sekaligus yang terpenting, kinerja emiten perbankan pada Kuartal III 2015 kemarin secara umum sudah lebih baik dibanding kuartal sebelumnya (Kuartal II), dan ini merupakan sinyal recovery perekonomian. Dan kalau ekonomi mulai bergerak pulih, maka IHSG otomatis akan mengikuti.
Jadi dengan mempertimbangkan faktor-faktor diatas, maka fase konsolidasi yang saat ini sedang terjadi pada IHSG kemungkinan akan berujung pada.. kenaikan, tentu saja. Perhatikan lagi gambar fase pasar diatas: Jauh sebelum IHSG memasuki periode bull market (yang ditandai oleh fase media attention), dan bahkan ketika IHSG itu sendiri masih dibawah garis mean-nya, beberapa investor tipe smart money sudah curi start dengan belanja lebih awal, dan tentunya pada harga beli yang lebih rendah. Investor tipe smart money ini, meski mereka boleh dibilang mengambil risiko karena sudah belanja saham ketika IHSG masih dalam fase konsolidasi (yang itu artinya bisa saja IHSG turun lagi), namun mereka berani untuk masuk ke pasar karena mereka bisa melihat bahwa, dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan, kondisi sektoral, dan juga makroekonomi nasional dimana kesemuanya menunjukkan perbaikan, maka no way IHSG akan mencetak new low lagi. Pada kondisi inilah, investor yang ngerti fundamental akan profit jauh lebih besar, ketimbang mereka yang hanya mengandalkan analisa teknikal dan hanya menunggu IHSG untuk break out dulu, kemudian baru belanja.
(Dan, btw, kondisi yang sama juga berlaku ketika pasar akan turun. Pada Maret 2015 lalu, ketika IHSG masih berada di level 5,400-an dan terus saja naik, penulis sudah mengatakan di artikel ini bahwa ada masalah dengan perekonomian kita, dan bahwa IHSG pada akhirnya nanti akan turun untuk menyesuaikan dengan fundamental ekonomi nasional. Tapi karena ketika itu teknikal IHSG masih menunjukkan pola uptrend, maka cerita-cerita yang keluar juga masih optimis terkait percepatan infrastruktur bla bla bla, dan hampir tidak ada seorangpun yang berpikir untuk jualan kecuali sebagian kecil investor yang aware soal memburuknya fundamental ekonomi. Ketika IHSG akhirnya drop pada penghujung April, maka barulah ketika itu semua orang berhamburan keluar pasar, dan alhasil mereka menderita kerugian yang tidak dialami oleh sebagian kecil investor lainnya, yang sudah keluar lebih awal).
Nah, balik lagi ke tahun 2016 ini. Jadi, okay, ceritanya IHSG bakal naik nih? Tapi bagaimana dengan kejatuhan bursa saham di China? Devaluasi Yuan bla bla bla? Well, itu kan cerita lama bray! Di China sebenarnya gak ada krisis apa-apa, dan kita sudah pernah membahasnya disini, dan disini. Kuncinya disini adalah, selama keributan di China atau Amerika sana tidak sampai berdampak buruk pada fundamental ekonomi dalam negeri, dan memang belum ada dampak buruk apapun, maka IHSG juga akan baik-baik saja. I mean, kalau kondisi ekonomi saat ini adalah seperti krisis tahun 1998 atau 2008 lalu, maka penulis juga tidak akan seoptimis ini (Krisis 1998 diawali oleh Thailand, dan krisis 2008 diawali Amerika. Sementara pada tahun 2011, giliran Yunani yang kena krisis, tapi gak sampai berdampak apapun ke Indonesia). Tapi yah, coba anda lihat lagi sekitar anda: Krisis apanya? Hellooo crisis, where are you??? Jadi apa yang harus dipusingkan sih?
Dan kalau IHSG beneran naik cepat atau lambat, maka seperti yang sudah penulis sampaikan disini, saham-saham yang akan menjadi pendorongnya adalah saham-saham perbankan, infrastruktur, dan properti, karena memang sektor-sektor itulah yang punya sentimen bagus untuk 2016 terkait kelanjutan pembangunan infra dll, plus kinerja mereka juga tidak bisa dibilang buruk. Kalau anda perhatikan, beberapa saham di sektor-sektor diatas sudah mulai bergerak naik dalam beberapa waktu terakhir, namun kalau melihat kinerja fundamental serta valuasi sahamnya yang masih murah, maka mereka masih bisa naik lebih lanjut.
Nevertheless, nobody could predict the market precisely. Jadi kalau nanti terjadi perubahan yang fundamental pada ekonomi dan pasar, maka analisa diatas akan segera di-update kembali, just stay tune.

Info Investor: Penulis membuat buletin berisi koleksi saham-saham pilihan berfundamental bagus yang valuasinya masih murah, dan anda bisa memperolehnya

Masyarakat Ekonomi ASEAN: Good or Bad?

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), atau ASEAN Economic Society, adalah suatu integrasi/penyatuan kegiatan ekonomi dari negara-negara anggota ASEAN, dimana kegiatan perdagangan dan ekspor impor antar negara, termasuk keluar masuknya tenaga kerja dan penanaman modal/investasi, tidak lagi dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu (atau masih dibatasi, tapi dengan peraturan yang jauh lebih longgar dari sebelumnya). Contoh, kalau anda pergi ke Singapura dan pulang membawa oleh-oleh, maka anda mungkin harus membayar bea masuk di imigrasi bandara di tanah air, dan karena itulah beberapa orang mungkin jadi malas bawa oleh-oleh dari luar negeri. Tapi setelah berlakunya MEA ini maka tarif bea masuk tersebut bisa diturunkan, atau bahkan dihapus sama sekali.

Dan ketika barang-barang dari Singapura dkk bisa masuk wilayah Indonesia tanpa hambatan, maka itu dikhawatirkan akan mematikan produk dalam negeri yang tidak mampu bersaing dengan produk luar tersebut. Pun ketika tenaga kerja dari Vietnam bisa dengan bebas masuk ke Indonesia, maka dikhawatirkan bahwa tenaga kerja asal Indonesia itu sendiri akan tersingkirkan. Berbagai kekhawatiran tersebut pada akhirnya membuat para pelaku ekonomi tidak begitu antusias dalam menyambut MEA, meski sejatinya MEA ini justru bertujuan untuk mendorong perkembangan ekonomi di kawasan ASEAN secara keseluruhan, termasuk tentu saja, Indonesia.
Pertanyaannya sekarang, apakah kekhawatiran diatas cukup beralasan? Disisi lain, bagi Indonesia sendiri, apakah MEA ini tidak ada dampak positifnya sama sekali? Untuk menjawab pertanyaan ini maka mari kita pelajari dulu MEA ini secara lebih detail.
Berdasarkan ASEAN Economic Community Blueprint, MEA dijadwalkan untuk mulai berlaku pada awal 2016, alias sekarang, dan setelah pemberlakuan MEA maka ASEAN diharapkan akan menjadi kawasan yang: 1. Memiliki daya saing yang tinggi terhadap kawasan besar lainnya seperti China, India, atau Uni Eropa, 2. Memiliki pembangunan ekonomi yang merata, dan 3. Terintegrasi langsung dengan ekonomi global. Dengan bebasnya tenaga kerja, investasi, barang, dan jasa untuk berpindah dari satu negara ke negara lain di kawasan ASEAN, maka diharapkan bahwa tiap-tiap negara akan saling melengkapi dan memperkuat ekonominya satu sama lain, dan pada akhirnya meningkatkan pembangunan ekonomi di kawasan ASEAN secara keseluruhan.
Nah, kalimat tebal diatas yang menarik: Penerapan MEA akan membuat setiap negara berpeluang untuk memaksimalkan potensi ekonominya dengan cara mengambil barang/tenaga kerja/investasi dari luar negeri, dan sebaliknya, memberdayakan barang/tenaga kerja/investasi yang mereka miliki dengan mengirimnya keluar negeri. Pendek kata, tiap-tiap negara akan bisa mengisi satu sama lain.
Jadi yang perlu disadari disini adalah bahwa dengan diberlakukannya MEA, maka itu bukan berarti para pelaku ekonomi di tiap-tiap negera harus berkompetisi, bersaing, atau saling sikut satu sama lain, tapi justru sebaliknya: Saling bekerja sama untuk memaksimalkan potensi-potensi ekonomi yang ada di tiap-tiap negara.
Contohnya, di Kota Batu, Jawa Timur, kalau bagi warga aslinya sendiri, buah apel mungkin tidak memiliki nilai karena saking banyaknya dan juga sangat mudah diperoleh. Tapi setelah investor asal Singapura masuk dan, dengan mempekerjakan tenaga ahli asal Malaysia, mengolah apel tersebut menjadi keripik, kemudian keripiknya diekspor ke Thailand, maka barulah buah apel itu memiliki nilai jual yang tinggi. Seandainya investor asal Singapura dan tenaga kerja asal Malaysia ini tidak bisa masuk ke Batu karena dihambat oleh peraturan ini dan itu, atau keripik apel yang dihasilkan juga tidak bisa diekspor ke Thailand karena adanya peraturan bea masuk disana, maka buah apel tadi pada akhirnya tidak menjadi apa-apa. Tapi karena diberlakukannya MEA, maka investor asal Singapura bisa berinvestasi di Kota Batu dan meraup keuntungan, ahli keripik asal Malaysia punya kesempatan untuk menggunakan keahliannya, petani apel asal Indonesia bisa menjual hasil panennya, dan importir makanan di Thailand punya produk baru (keripik apel) untuk dijual. Semua senang, semua menang! Plus, tidak ada satu pihak pun yang harus berkompetisi, karena semua pihak memperoleh bagian pekerjaannya masing-masing. Maka tidak heran jika diatas disebutkan bahwa MEA ini bertujuan untuk mendorong perkembangan ekonomi di kawasan ASEAN secara keseluruhan, termasuk Indonesia.

Foto Alun-Alun Kota Batu, Jawa Timur (kemarin penulis jalan-jalan kesana). Kalau anda punya anak usia sekolah, anda harus mengajak mereka main kesini

Dengan demikian, meski tetap saja terdapat risiko meningkatnya persaingan antar produk dan juga tenaga kerja karena diterapkannya MEA ini, namun dampak positif yang dihasilkan akan lebih besar. Jauh sebelum MEA ini diterapkan, negara-negara di kawasan ASEAN sudah memberlakukan ASEAN Free Trade Area (AFTA), atau perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN sejak tahun 1992 lalu, dan hasilnya perekonomian di Kawasan ASEAN dengan segera meningkat pesat (sebelum kemudian dihantam krisis pada tahun 1997). Ketika AFTA ini ditingkatkan menjadi ASEAN China Free Trade Area dan ASEAN India Free Trade Area (perdagangan bebas antara ASEAN dengan China dan India) pada tahun 2010, dampaknya juga positif dimana Indonesia jadi bebas mengekspor batubara dan CPO ke China dan India, dan pertumbuhan ekonomi nasional sempat mencetak rekor 6.9% YoY pada tahun 2011.
Jadi dengan diberlakukannya MEA ini, meski mungkin agak mengkhawatirkan pada awalnya, namun kerjasama ekonomi antar negara yang dilakukan di masa lalu sudah membuktikan bahwa MEA ini pada akhirnya akan berdampak positif bagi negara-negara yang terlibat di dalamnya. Dan mungkin itu pula sebabnya Presiden Jokowi, dalam pidatonya tadi pagi di BEI terkait MEA ini, mengatakan bahwa Pemerintah tidak akan memberikan proteksi atau subsidi bagi perusahaan-perusahaan di dalam negeri karena.. kenapa juga perusahaan harus diproteksi? Tidak ada kompetisi apapun di MEA, yang ada justru peluang kerjasama yang terbuka semakin lebar. Pihak yang pesimistis dengan MEA biasanya menyebutkan bahwa Indonesia, karena kekurangan tenaga kerja ahli dan juga belum bisa membuat produk hilir untuk dijual, hanya akan jadi pasar bagi barang dan jasa asal Singapura dll, tanpa bisa menjadi produsen. Dan ini pemikiran yang konyol: Indonesia memang belum bisa bikin apa-apa, tapi memangnya Thailand, Malaysia, dst, mereka bisa bikin apa? Sama saja gak bisanya! Selama ini kan kalau kita pake mobil, komputer, ponsel, dll, itu belinya kalo gak dari China, Jepang, atau Korea, ya dari Amerika (Malaysia punya mobil Proton sih, tapi pasarnya masih kecil banget kalo dibanding Toyota, Honda, dll). Selain itu berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari – November 2015, Indonesia mengekspor barang-barang non migas senilai US$ 25.1 milyar ke negara-negara ASEAN, atau lebih tinggidibanding nilai impornya (dari negara-negara ASEAN) sebesar US$ 23.7 milyar. Atau dengan kata lain, ketika berdagang dengan negara-negara tetangganya, Indonesia lebih banyak jualan ketimbang membeli. Nah, jadi kenapa juga kita mesti takut dengan MEA?
Okey, Mas Teguh, lalu apa hubungannya MEA ini dengan IHSG? Oh, come on! Jangan apa-apa selalu dihubungkan IHSG.. Tapi yang jelas MEA ini semestinya bukanlah sesuatu yang berdampak negatif pada perekonomian nasional, melainkan justru positif. Dan kalau dampaknya memang beneran positif seperti yang diharapkan, maka pergerakan pasar modal kedepannya tentu akan positif juga. However, entah itu dampaknya akan positif atau malah negatif, namun dampak tersebut tidak akan langsung kelihatan dalam waktu dekat. Dalam beberapa bulan dari sekarang cerita soal MEA ini akan kembali ramai dibicarakan di media, dan ketika itulah anda bisa baca artikel ini sekali lagi.

Info Investor: Buletin Analisa IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Januari 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi untuk member.

Untuk memperoleh info jadwal seminar/training value investing di Jakarta, bisa telepon/SMS Ms. Nury di nomor [...]

A ‘Grown Up’ Stock Market

Dalam mengevaluasi kinerja investasi di tahun 2015, mayoritas analis dan investor di pasar saham biasanya hanya fokus pada fakta bahwa IHSG turun signifikan, dalam hal ini sekitar 13%, dan itu membuat 2015 tampak sebagai tahun yang buruk dan sulit. However, terdapat beberapa alasan bahwa tahun 2015 ini sejatinya merupakan salah satu tahun terbaik dalam sejarah perkembangan pasar modal di Indonesia. Terkait hal ini, penulis sengaja membandingkan tahun 2015 dengan 2008, yakni tahun dimana IHSG juga turun signifikan (IHSG juga turun di tahun 2013, namun penurunannya hanya 1%).

Yang pertama, pada tahun 2008, IHSG sempat anjlok hingga 60% dari posisi tertingginya, padahal kondisi ekonomi serta kinerja emiten ketika itu hanya sedikit melambat, dimana pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4.2% pada awal 2009 karena imbas krisis global, tapi tidak sampai minus seperti ketika terjadi krisis moneter di tahun 1997 – 1998. Lalu kenapa kok IHSG sampai hancur lebur begitu?
Dan jawabannya adalah karena ketika itu belum ada aturan yang ketat dari otoritas bursa terkait margin dan short selling, dimana investor bisa membeli saham menggunakan dana pinjaman yang sangat besar (margin), atau menjual saham tanpa perlu memilikinya (short selling). Dua jenis transaksi tersebut menyebabkan harga-harga saham seringkali naik secara ekstrim, dan sebaliknya jatuh berantakan hanya dalam hitungan hari. Pada Oktober 2008 IHSG sempat turun 20% hanya dalam tiga hari, gara-gara ada banyak investor yang mengalami force sell karena mereka membeli saham pakai dana margin. Kondisi ini pada akhirnya membuat pasar saham di Indonesia lebih mirip tempat judi ketimbang wadah untuk berinvestasi.
Kedua, di tahun 2008, otoritas pengawas bursa ketika itu nyaris tidak berkutik menghadapi para ‘bandar’, dimana kasus-kasus ‘goreng saham’ seperti saham AGIS (TMPI), yang sangat merugikan investor ritel, dibiarkan begitu saja. Atau kasus penggelapan dana nasabah oleh Sarijaya Sekuritas, yang sampai sekarang tidak jelas penyelesaiannya. Dan ketiga, ketika itu sedikit sekali investor saham yang benar-benar merupakan investor, karena mayoritas justru spekulan yang membeli saham tanpa analisa apapun. Penulis masih ingat seorang teman yang berkata, ‘Peduli amat soal fundamental atau saham-saham lurus kaya Astra, Bank Mandiri, Bank BCA.. Pokoknya kalau BUMI hari itu naik, maka yang lain juga bakal naik!’ Lah, logikanya dimana coba???
Logo PT AGIS, Tbk, yang sekarang bernama PT Sigmagold Inti Perkasa (TMPI), perusahaan paling legendaris di kalangan spekulan pencinta saham gorengan
Lalu bagaimana untuk tahun 2015 ini? Well, sejak market crash 2008, aturan bursa terkait margin dan short selling diperketat, dan alhasil meski pertumbuhan ekonomi juga melambat seperti tahun 2008, tapi IHSG hanya turun belasan persen saja. Beberapa aturan lain seperti perubahan fraksi harga saham dan batas auto-reject, meski tentunya belum sempurna, tapi juga mampu menekan tingkat fluktuasi pasar. Pada tahun-tahun sebelum 2015, anda mungkin terbiasa melihat IHSG naik atau turun sebesar 7 – 8% dalam sehari, tapi sepanjang 2015 ini IHSG hanya pernah sekali turun sebesar 4% dalam sehari di bulan Agustus, sementara selebihnya dia bergerak normal. Setelah kasus Sarijaya, kemudian diberlakukan sistem rekening dana investor (RDI), dimana dana milik investor tidak lagi dipegang oleh sekuritas melainkan ditempatkan di bank, dan hasilnya hingga saat ini belum pernah terjadi lagi kasus yang serupa.
Sementara soal saham-saham gorengan, hingga tahun 2015 ini memang masih ada saja beberapa kasus seperti saham Trada Maritime (TRAM), Inovisi Infracom (INVS), atau Sekawan Intipratama (SIAP), dan penulis kira sampai kapanpun akan selalu ada saham-saham seperti itu. Namun dalam kasus terakhir yakni saham SIAP, pihak OJK dan BEI sudah mulai menerapkan sanksi kepada pihak yang terlibat, dalam hal ini sekuritas, meski hanya dalam bentuk suspensi sesaat. Tapi jika trend ini berlanjut maka penulis optimis bahwa kedepannya investor publik akan lebih terlindungi.
Dan ketiga, jika dulu semua orang hanya swing, swing, dan swing, beli pagi jual sore, dan saham dari perusahaan kecil gak jelas yang terbang 20% dalam sehari jauh lebih diminati ketimbang saham blue chip berfundamental bagus yang menawarkan profit konsisten dalam jangka panjang, maka belakangan ini para investor sudah lebih ter-edukasi, dimana penggunaan analisa fundamental, yang merupakan inti terpenting dari investasi, juga mulai populer (meski belum sepopuler analisa teknikal). Lima tahun lalu nyaris tidak ada seorangpun yang berbicara soal ‘membaca laporan keuangan’, atau ‘menghitung valuasi saham’, tapi sekarang dua hal tersebut sudah mulai umum dikalangan pelaku pasar.
Singkatnya, kalau melihat ‘aturan main’ pasar modal yang lebih tertata, mulai terdapat proteksi terhadap investor publik, dan meningkatnya kesadaran dari investor itu sendiri untuk benar-benar berinvestasi dan bukan malah terjebak dalam permainan spekulasi, maka jelas bahwa pasar modal Indonesia di tahun 2015 ini sudah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Soal IHSG yang turun, itu hanyalah bagian dari siklus yang normal. Di Amerika Serikat, dalam 50 tahun terakhir (1965 – 2014), indeks S&P500 tercatat turun 15 kali pada tahun-tahun tertentu, sementara di tahun-tahun selebihnya dia naik. Dengan kata lain, indeks S&P500 rata-rata turun sekali setiap tiga tahun. Dan tahukah anda bahwa dalam 20 tahun terakhir (1996 – 2015), IHSG totalnya turun 7 kali termasuk di tahun 2015 ini, dan naik di 13 tahun lainnya?
Jadi berdasarkan statistik sederhana diatas, plus dengan mempertimbangkan beberapa faktor fundamental seperti Fed Rate, naiknya status mata uang Yuan menjadi world currency, kondisi ekonomi makro dalam negeri, kondisi ekonomi di lapangan, realisasi pembangunan infrastruktur, kinerja terbaru emiten, posisi kurs Rupiah, harga komoditas, daaan seterusnya (silahkan anda baca-baca lagi artikel sepanjang tahun 2015 ini), maka di tahun 2016 mendatang IHSG berpeluang untuk naik, karena memang ‘sudah gilirannya’ bagi dia untuk naik. Namun mau IHSG naik atau turun, yang terpenting disini adalah bahwa pasar saham di Indonesia, baik itu otoritasnya maupun para investor didalamnya, sekarang ini sudah lebih dewasa, dan akan semakin dewasa seiring dengan berjalannya waktu, karena seringkali proses pendewasaan itu memang cuma soal waktu saja. Jadi dalam 10 atau 20 tahun kedepan kita akan menyaksikan banyak billionaire yang terlahir dari lantai bursa dan.. pertanyaannya, sudah siapkah anda untuk menjadi salah satu diantaranya? :)
Info Investor: Buletin Analisa IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Januari 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disinigratis konsultasi untuk [...]

Menyambut ‘January Effect’

Dalam dunia pasar modal, ‘January Effect’ adalah situasi dimana harga-harga saham meningkat signifikan pada bulan Januari. Ada beberapa hal yang bisa menjelaskan fenomena ini, seperti bahwa investor biasanya lebih fresh dan lebih bersemangat untuk belanja saham setelah libur panjang (natal dan tahun baru), periode awal tahun hampir selalu identik dengan optimisme, dan karena perusahaan-perusahaan biasanya membayar dividen di semester pertama, tepatnya sekitar April – Juni, jadi para investor akan sudah ambil posisi di saham yang bersangkutan jauh hari sebelumnya, tepatnya mulai bulan Januari.

Jika dibandingkan dengan fenomena ‘Window Dressing’ yang sering disebut-sebut menjelang akhir tahun, maka January Effect ini benar adanya, atau paling tidak lebih berpeluang untuk terjadi. Pada event Window Dressing di bulan November – Desember, dikatakan bahwa saham-saham tertentu mungkin akan naik karena kerjaan para fund manager yang dengan sengaja menaikkan saham-saham tersebut agar kinerja porto mereka tampak bagus. Jika teori itu benar, maka seharusnya IHSG akan naik pada bulan November – Desember, namun faktanya, anda boleh cek sendiri, IHSG selama ini justru lebih sering turun pada bulan-bulan tersebut. Mungkin benar bahwa fund manager tertentu yang mengelola dana trilyunan dengan sengaja ‘mempercantik’ porto mereka dengan menaik-naikkan saham tertentu yang mereka pegang, namun tetap saja mereka tidak akan bisa mengalahkan arus pasar, dimana jika mayoritas investor males belanja di bulan Desember maka ya sudah, IHSG juga akan turun.
Sementara untuk January Effect, yang terlibat dalam aktivitas belanja saham nggak cuma fund-fund manager tertentu, tapi investor secara keseluruhan, dan hasilnya IHSG memang naik. Sepanjang pengalaman penulis sejak 2009 hingga 2015 kemarin, IHSG lebih sering naik signifikan di bulan Januari, dan hanya turun pada tahun 2009 dan 2011.
Pertanyaannya, bagaimana dengan Januari 2016 nanti? Apakah IHSG juga akan naik?
Secara statistik, IHSG biasanya akan naik pada tahun tertentu jika pada tahun sebelumnya dia turun. Kecuali terjadi krisis besar yang berkepanjangan, maka barulah IHSG bisa turun dua tahun berturut-turut, seperti tahun 1997 – 1998 dan 2000 – 2001. Tapi karena ekonomi nasional untuk tahun 2015 ini, meski lesu, namun tidak bisa disebut krisis juga, maka untuk tahun 2016 nanti secara keseluruhan, IHSG berpeluang untuk naik. However, untuk bulan Januari-nya sendiri maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, pada tahun 2008 lalu, ekonomi nasional juga sempat terkena imbas dari krisis global di Amerika, dimana tidak hanya IHSG yang ketika itu drop lebih dari 50%, tapi pertumbuhan ekonomi juga turun hingga tinggal 4.2%, dan kinerja emiten ketika itu mau tidak mau jadi ikut jelek. IHSG sendiri, setelah hancur lebur hingga mencapai titik terendahnya pada November 2008, dalam beberapa bulan berikutnya dia masih cenderung sideways hingga Februari 2009, termasuk sempat turun pada Januari 2009. Memasuki bulan Maret 2009, barulah IHSG naik kencang.. dan terus naik hingga akhirnya sepanjang tahun 2009 tersebut IHSG mencatat rekor kenaikan 87.0%, yang belum terpecahkan sampai saat ini.
Pertanyaannya, kenapa IHSG masih lesu di awal tahun 2009, dan baru naik kencang pas bulan Maret? Well, teori yang paling masuk akal adalah, kemungkinan karena pada Maret tersebut, beberapa emiten di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan mereka untuk Kuartal IV 2008, dan ada banyak diantara mereka yang mencatat kinerja yang lebih baik dari ekspektasi, terutama sektor properti, tambang batubara, dan perkebunan kelapa sawit. Khusus untuk batubara dan sawit, kinerja apik tersebut terus berlanjut di kuartal-kuartal berikutnya, seiring dengan kenaikan harga batubara dan CPO. Antara tahun 2009 – 2011, saham-saham batubara dan CPO menjadi penggerak utama kenaikan IHSG.
Nah, kondisi untuk tahun 2015 ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan 2008, dimana pertumbuhan ekonomi melambat, dan kinerja emiten hingga Kuartal III kemarin rata-rata masih jelek (tahun 2013, IHSG memang juga turun, tapi kondisi ekonomi ketika itu belum se-lesu sekarang). Dan jika investor juga lebih memilih wait and see pada awal tahun 2016 nanti, yakni setidaknya sampai para emiten merilis laporan keuangan terbaru mereka pada Maret 2016, maka fenomena ‘January Effect’ mungkin tidak akan terjadi, dan IHSG baru akan naik pada Maret, itupun jika kinerja para emiten benar menunjukkan perbaikan.
Kabar baiknya adalah, kinerja sektor perbankan di Kuartal III 2015 kemarin secara umum sudah lebih baik dibanding kuartal sebelumnya (Kuartal II), dan ini merupakan sinyal recovery perekonomian (kalau ekonomi Indonesia kenapa-napa, maka perbankan akan menjadi sektor yang terkena duluan. Sebaliknya, kalau ekonomi pulih, maka perbankan pula yang akan profit duluan). Jadi terlepas dari pertanyaan apakah pada Januari nanti IHSG akan naik atau tidak, namun pada bulan Maret dan seterusnya, IHSG berpeluang untuk naik.
Kedua, pada awal tahun 2009, investor masih banyak disuguhi oleh cerita-cerita negatif tentang krisis mortgage di Amerika yang belum benar-benar kembali pulih, termasuk Krisis Yunani (anda boleh baca artikel-artikel lawas di blog ini, kita sudah sering membahasnya). Jadi meski IHSG pada akhirnya naik banyak sepanjang 2009, namun pada Januari – Februari dia cenderung turun,dan itu mungkin karena investor juga masih ragu-ragu terkait perkembangan isu global ketika itu.
Sementara untuk tahun 2016 mendatang, kondisinya sangat berbeda: Silahkan anda cek negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Jerman, termasuk China: Nobody talks about crisis. Ekonomi global secara umum mengalami slowdown, itu benar, tapi sekali lagi, tidak ada yang membicarakan soal krisis. Ketika The Fed menaikkan Fed Rate, itu juga karena Ms. Yellen menganggap bahwa ekonomi Amerika sudah pulih, dan sudah siap untuk menerima tingkat suku bunga perbankan yang lebih tinggi (lebih detil soal Fed Rate, baca artikel ini).
Kesimpulannya, kalau mempertimbangkan faktor isu global ini, maka IHSG berpeluang naik pada Januari nanti, karena ‘optimisme awal tahun’ yang menghampiri para investor tidak akan terlalu terganggu oleh cerita yang jelek-jelek dari luar negeri (kecuali cerita atau rumor jelek yang dibuat-buat, yang selalu nongol tiap kali IHSG turun). Untuk saham-saham pendorongnya kemungkinan perbankan, infrastruktur, dan properti, karena memang sektor-sektor itulah yang punya sentimen bagus untuk 2016 mendatang terkait pembangunan infra dll, plus kinerja mereka juga tidak bisa dibilang buruk.
Logo Bank BRI (BBRI). Dengan ROE yang mencapai hampir 30% pada Kuartal III, BBRI menjadi satu dari sedikit perusahaan besar di BEI yang masih mencatatkan kinerja apik sepanjang 2015

Tapi kalaupun pada Januari nanti IHSG ternyata tidak naik, maka jangan khawatir, karena jika laporan keuangan terbaru para emiten memang menunjukkan kinerja yang sesuai ekspektasi, maka kita sebagai investor akan mengalami periode ‘honey moon’ mulai Maret nanti, mudah-mudahan.
Info Investor: Buletin Analisa IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Januari 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi untuk [...]

Buy on Weakness, Sell on Strength? Really?

Kalau ada suka travelling dan sering bepergian menggunakan pesawat terbang, maka anda tentunya hafal dengan maskapai Lion Air yang sangat terkenal.. tapi bukan terkenal dalam artian yang positif, melainkan justru terkenal sebagai maskapai ‘kelas angkot’ yang sering delay. Karena reputasinya yang buruk itu pula, ketika beberapa tahun lalu penulis mulai sering naik pesawat terbang, penulis sengaja menghindari maskapai yang satu ini dan lebih memilih Garuda, Air Asia, Citilink, dan Sriwijaya Air. Dan memang, saya tidak pernah bermasalah dengan maskapai-maskapai tersebut, apalagi Garuda yang benar-benar jaminan mutu (tapi harga tiketnya kadang bikin kesel..)

Namun sekitar dua tahun lalu, penulis mau tidak mau harus menggunakan jasa Lion Air untuk pertama kalinya, karena memang ketika itu di rute penerbangan yang akan penulis lalui (Bandung – Jogja) cuma ada Lion doang. Sempat khawatir sejenak, namun pengalaman pertama itu berjalan sangat mulus: Pesawat sama sekali tidak delay, penerbangannya cukup nyaman (meski memang jarak antara kursi dengan kursi didepannya sedikit terlalu dekat, sehingga bikin dengkul mentok), dan para flight attendant-nya juga sangat ramah.

Sejak saat itu penulis jadi pelanggan setia Lion. Dan entah kebetulan atau tidak, selama ini belum pernah sekalipun penulis merasa tidak puas dengan Lion Air ini, entah itu karena dia delay atau masalah lainnya (selalu tepat waktu). Termasuk, semalem penulis baru saja pulang dari acara Market Outlook di Surabaya menuju Jakarta pake Lion, dan sekali lagi dia tepat waktu, plus sepertinya pesawatnya masih sangat baru, sehingga penerbangannya terasa sangat mulus (pesawat sempat mengalami turbulensi karena melewati awan hujan, tapi getarannya tidak terlalu terasa). Dan para flight attendant-nya sangat-sangat sopan, dimana mereka dengan sabar mengingatkan beberapa penumpang bandel yang masih menelpon pakai handphone, padahal pesawat sudah akan tinggal landas (sumpah, penumpang model gini bikin kesel banget!)
Intinya sih, kalau pihak Lion minta testimoni, maka penulis akan dengan senang hati mengatakan bahwa, dengan mempertimbangkan value for money, maka Lion adalah salah satu maskapai terbaik di Indonesia. Kalau ada beberapa pesawatnya yang delay ataupun mengalami masalah lainnya, maka sebagai maskapai dengan rute dan jumlah pesawat paling banyak di tanah air, ya pasti ada saja pesawatnya yang tidak bisa melayani penumpang secara maksimal. Tapi yah, berapa banyak sih jumlah penerbangan yang delay ini dibanding penerbangan lainnya yang tepat waktu? Dan kalau Lion memang seburuk itu, maka kenapa pesawatnya selalu penuh?
Dalam hal ini penulis juga jadi ingat dengan restoran murah meriah, Solaria, yang sepertinya juga ‘bernasib’ sama seperti Lion Air: Punya reputasi yang buruk di mata masyarakat. Kalau anda baca-baca di internet, ada banyak sekali cerita tentang pengunjung restoran Solaria yang entah itu menemukan kecoa di makanan yang disajikan, sudah menunggu lama tapi tidak juga dilayani, makanan yang disajikan ternyata belum matang, dan seterusnya. Tapi entah kebetulan atau gimana, seperti hal-nya Lion Air, penulis juga tidak pernah mengalami masalah kalau makan di Solaria, melainkan justru selalu puas karena, coba anda bayangkan: Nasi goreng kepiting, porsinya besaaar dan rasanya pun lumayan, tapi harganya cuma Rp35,000, dan tempat restorannya pun cozy banget! Jadi kurang puas gimana coba?
Pendek kata, kalau bukan karena penulis berani mengabaikan opini-opini jelek yang beredar tentang Lion dan Solaria ini, melainkan memutuskan untuk mencobanya sendiri, maka mungkin penulis harus keluar biaya yang lebih besar untuk jalan-jalan karena terus pake Garuda, dan juga kelaparan di bandara karena gak mau makan di Solaria. Seperti halnya Lion, Solaria juga selalu penuh, dan itu tidak mungkin terjadi kalau restoran tersebut benar-benar bermasalah bukan?
Okay, lalu apa hubungannya ini dengan investasi kita di saham?
Sebagian besar investor, entah karena dia masih pemula atau memang belum benar-benar bisa melakukan menganalisis saham, dalam membuat keputusan untuk membeli atau menjual saham biasanya mereka lebih mengandalkan analisis atau opini dari orang lain, entah itu analis sekuritas, analis/investor independen (seperti penulis), atau pendapat-pendapat para ‘pakar’ yang diposting di media sosial.
Problemnya bukan terletak pada apakah opini tersebut tepat atau tidak, karena analis/investor manapun bisa saja benar sewaktu-waktu, tapi juga bisa keliru di waktu yang lain. Yang jadi masalah adalah, kebanyakan dari opini tersebut disampaikan bukan berdasarkan fundamental dari saham yang bersangkutan, melainkan berdasarkan kondisi pasar pada saat itu. Jadi kalau IHSG lagi naik nih, maka semua orang tiba-tiba saja menjadi optimis dan berani belanja besar-besaran, dan para analis sekuritas juga sangat bersemangat merekomendasikan saham ini dan itu kepada para nasabahnya. Termasuk saham abal-abal macam SIAP sekalipun, kalau dia lagi naik maka pasti ada saja analis yang rekomen.
Tapi gilirannya IHSG jeblok, ketika saham-saham pada jatuh, maka ketika itulah para analis tiba-tiba saja diam dan menghilang. Semua cerita optimis, katakanlah seperti Window Dressing yang sering disebut-sebut menjelang akhir tahun, tiba-tiba saja menguap, digantikan oleh cerita horor seperti kenaikan Fed Rate lah, pelemahan Rupiah lah, bla bla bla. Jadi kalau anda tidak mengerjakan analisa saham anda sendiri dan lebih mengikuti opini-opini yang nggak konsisten seperti itu (hari ini optimis karena IHSG sedang terbang, tapi besok atau besok lusanya langsung bilang bahwa Indonesia lagi krisis), maka anda akan bingung sendiri. Ada terlalu banyak kasus dimana seorang investor membeli saham ketika seharusnya menjual, dan menjual ketika seharusnya membeli, gara-gara pas IHSG naik dia dikomporin buat belanja, tapi ketika IHSG turun dia ditakut-takutin sehingga malah cut loss.
Padahal kalau anda sudah bisa menganalisa dengan baik, kalau anda sudah mengecek sendiri fundamental dari saham-saham yang akan anda beli dan kemudian diperoleh kesimpulan bahwa dia bagus, maka tidak peduli meski orang-orang bilang bahwa saham A jelek, tidak peduli meski saham A terseret turun karena penurunan IHSG sehingga semua orang menakut-nakuti anda, anda akan santai-santai saja! Jadi seperti cerita Lion Air dan Solaria diatas, dimana kalau anda terlalu percaya pada cerita-cerita jelek yang beredar dan tidak pernah mencobanya sendiri, maka anda mungkin tidak akan pernah tahu bahwa dua perusahaan tersebut sejatinya punya service yang bagus. Dan demikian pula di saham: Kalau anda terlalu denger omongan orang tapi gak pernah menganalisa sendiri, maka anda mungkin menjual saham yang semestinya anda beli, dan sebaliknya membeli saham yang semestinya tidak pernah anda sentuh.
Dalam hal ini mendengar atau membaca analisa/opini tentang saham tertentu dari orang lain, termasuk analisa yang disajikan di website ini, itu boleh-boleh saja, tapi jadikan analisa tersebut sebagai second opinion saja, untuk menguatkan analisa yang sudah anda buat sendiri sebelumnya. Selain itu, hindari opini-opini atau rekomendasi yang bersifat harian, karena biasanya rekomendasi seperti itu sangat labil, dimana hari ini sarannya buy (soalnya IHSG naik), tapi besoknya langsung suruh cut loss. Contohnya, ketika artikel ini ditulis, IHSG lagi longsor lagi ke posisi 4,300-an, dan semua cerita yang jelek-jelek langsung keluar dan jumlahnya akan semakin banyak setiap kali IHSG turun lebih dalam. Tapiii, liat deh kalau besok-besok IHSG naik lagi, maka ceritanya akan beda lagi!
Jadi berbeda dengan opini tentang Lion Air yang ada benarnya, bahwa memang maskapai ini kadang-kadang memang delay, opini harian tentang pasar modal seringkali ngawur sama sekali, dimana rekomendasi buy baru keluar setelah IHSG naik, dan sebaliknya, rekomendasi sell baru keluar setelah IHSG turun. Lah kalau gitu caranya gimana anda bisa untung? Bukankah katanya kita harusnya buy on weakness dan sell on strength? Kenapa ini malah sebaliknya???
Hanya memang, tidak segampang itu untuk bisa percaya diri terhadap analisis yang anda buat sendiri, untuk tetap meng-hold saham bagus yang anda pegang ketika IHSG dihantam koreksi, atau sebaliknya untuk menahan diri untuk tidak belanja ketika IHSG naik tinggi dan valuasi saham-saham sudah kelewat mahal. But trust me, selama anda bisa cuek terhadap naik turunnya pasar modal serta kehebohan orang-orang dalam menyikapinya, selama anda bisa tetap fokus pada fundamental serta valuasi dari saham-saham yang anda pegang, maka seiring dengan berjalannya waktu, hasilnya akan sangat luar biasa :)
Pengumuman: Penulis menyelenggarakan acara ‘Market Outlook – Peluang Investasi di Tahun 2016’ di Bandung. Untuk bergabung, keterangan selengkapnya klik [...]

Market Outlook 2016: Bandung

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2015 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2015 tidaklah terlalu bersahabat bagi investor pasar modal dimana IHSG turun cukup dalam, namun berdasarkan pengalaman ini justru merupakan kesempatan karena IHSG, pada akhirnya, akan naik kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan tahun 2016 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Bandung, penulis mengajak anda untuk berdiskusi soal ‘Market Outlook 2016’, tentunya dari sudut pandang value investing.

Dalam forum diskusinya nanti, saya akan menyampaikan tentang:
  1. Proyeksi IHSG untuk tahun 2016 berdasarkan analisa fundamental ekonomi makro, kinerja para emiten, dan kondisi ekonomi global, dan juga lebih dalam tentang ‘infrastructure project’ milik pemerintah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi nasional dan juga tentunya pasar saham.
  2. Koleksi saham-saham pilihan berfundamental bagus yang valuasinya sudah murah (dan mumpung masih murah!), dan
  3. Sharing pengalaman serta tips-tips/strategi investasi yang penulis peroleh/pelajari selama enam tahun terakhir (2009 – 2015), khususnya dalam kondisi dimana pasar turun di tahun 2013, dan tentunya 2015 ini.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, gak usah dibawa serius :) Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor. Anda juga nanti bisa bebas bertanya/konsultasi soal apapun terkait dunia investasi saham langsung dengan penulis.
Okay, berikut detail acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Cihampelas, Jln. Cihampelas No.171, Bandung
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Desember 2015

Acaranya akan dimulai pukul 16.00 sore, dan setiap peserta akan memperoleh fasilitas makan malam serta rangkuman materi outlook. Rundown acara: Pukul 16.00 penyampaian materi utama, pukul 17.30 istirahat shalat Maghrib dan makan malam, pukul 18.15 lanjut diskusi/tanya jawab bebas, pukul 20.00 acara selesai.
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp350,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (pilih salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087       Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Market Outlook Bandung’, dan isi: Nama lengkap anda, dan bank tujuan transfer. Contoh: Sudirman Said, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email bahwa pembayaran anda sudah diterima. Selanjutnya anda bisa langsung datang ke acaranya (sehari sebelum acaranya kami akan mengirim email lagi untuk mengingatkan anda soal acara gathering-nya).
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai ketemu di lokasi!

Penulis bersama para peserta di salah satu event investor gathering di Jakarta
Foto kemarin di Surabaya
Ada pertanyaan? Silahkan hubungi Ms. Nury di nomor telepon 081220445202, atau Pin BB 5BDF54F4

Mesin Baru Perekonomian: Internet!

Ketika mempelajari data pertumbuhan ekonomi Kuartal III 2015, penulis agak bingung dengan fakta bahwa tingkat konsumsi nasional masih tumbuh 4.96%, atau diatas pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan sebesar 4.73%, padahal di lapangan jelas sekali harga barang-barang semuanya melambung tinggi (termasuk, harga gorengan di Jakarta sekarang sudah mencapai Rp1,000 per potong, padahal rasanya baru kemarin Rp2,000 masih dapet 3 potong), dan itu seharusnya menurunkan daya beli masyarakat. Tapi sejauh yang bisa penulis amati, almost everybody still happy, dan bahkan buruh juga masih berani berdemo menuntut kenaikan upah. Pertanyaannya, bagaimana bisa?

Dan baru beberapa hari lalu penulis menyadari sesuatu yang mungkin menjadi jawabannya. Jadi ceritanya penulis kehabisan kuota internet ketika sedang browsing di laptop, namun ketika itu sudah larut malam jadi penulis males juga kalau harus keluar rumah untuk ke tukang pulsa. Jadi saya browsing lagi pake hape untuk cari orang yang jualan voucher kuota internet, dan ternyata memang banyak yang jualan, termasuk ada juga yang harganya miring. Penulis akhirnya menghubungi seorang penjual, dia menyebut nomor rekening, saya transfer pake e-banking, dan vouchernya dikirim via Whatsapp. Seluruh proses transaksi terjadi dalam waktu kurang dari 10 menit, dan penulis hanya membayar Rp125,000, dari harga normal Rp150,000 kalau beli voucher-nya di tukang pulsa biasa.
Nah, dari peristiwa diatas, tiba-tiba saja penulis menyadari akan peran internet yang menyebabkan transaksi jual beli menjadi jauh lebih mudah dari sebelumnya, dan hasilnya jumlah transaksi jual beli itu sendiri menjadi meningkat signifikan, dan pada akhirnya turut mempercepat perputaran roda perekonomian. Keberadaan internet paling tidak memungkinkan terjadinya tiga hal dalam hal yang sebelumnya boleh dibilang mustahil untuk terjadi, yakni:
  1. Mempercepat terjadinya transaksi
  2. Transaksi jual beli menjadi jauh lebih efisien
  3. Kapan saja, dan dimana saja
Pada contoh dimana penulis membeli voucher kuota internet diatas, coba bayangkan seandainya tidak ada internet (atau sudah ada, tapi harus ke warnet dan gak bisa lewat hape seperti sekarang). Maka penulis harus menunggu sampai besok pagi untuk ke tukang pulsa, dan alhasil ada jeda waktu selama beberapa jam dimana transaksi jual beli menjadi tertunda. Penulis kemudian membeli voucher tersebut pada harga normal atau bahkan mahal, yang seharusnya bisa lebih murah andaikata si tukang pulsa tidak keluar biaya untuk sewa kios, dll, dimana biaya tersebut dibebankan ke pembeli (tidak efisien). Dan ketiga, penulis harus meluangkan waktu untuk berpindah tempat ke suatu lokasi, yakni ke kios pulsa tadi terus pulang lagi.
Namun karena adanya internet, maka inilah yang terjadi: Transaksi jual beli terjadi hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, penulis membayar lebih murah namun tidak ada yang dirugikan (penjual tetap untung), dan penulis bisa membeli saat itu juga (meski malam-malam), dan juga tanpa perlu kemana-mana! Alias masih duduk manis didepan meja kerja.
Dan, bisakah anda bayangkan ada berapa buaanyak transaksi jual beli berbagai macam barang dan jasa yang terjadi malam itu di seluruh Indonesia, dan itu adalah berkat adanya internet???
Keberadaan internet juga sangat membantu untuk mempertemukan calon penjual dan pembeli, yang pada akhirnya memungkinkan transaksi jual beli untuk terjadi. Let say, anda mau beli rumah di lokasi tertentu, dan tidak ada internet. Maka bisakah anda bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang harus dihabiskan untuk survey langsung ke tiap-tiap lokasi, dan bahkan setelah itupun belum tentu anda bakal ketemu penjual yang cocok? Demikian sebaliknya, anda mau jual rumah, dan tidak ada internet. Maka entah berapa lama waktu yang terbuang untuk menunggu rumah tersebut hingga laku, dan berapa besar biaya yang keluar untuk pasang iklan di koran, jasa perantara, dll.
Tapi dengan adanya internet maka.. holaaa.. anda yang mau beli rumah tinggal browsing di google dengan kata kunci ‘jual rumah di Jakarta’, maka akan ada ribuan rumah yang ditawarkan yang bisa anda cek satu-satu, sekali lagi, tanpa perlu anda meninggalkan kursi anda. Demikian pula kalau anda mau jual rumah, maka anda tinggal pasang iklan gratis di banyak sekali website e-commerce di internet, kemudian tinggal duduk santai menunggu ditelpon oleh calon pembeli. Saking mudahnya transaksi jual beli di internet, bahkan kalau anda mau beli helikopter sekalipun, di internet ada yang jual!
Pendek kata kegiatan perekonomian di Indonesia, atau juga diseluruh dunia, sudah pasti tidak akan semudah sekarang ini kalau bukan karena adanya internet, dan sudah tentu itu turut mendorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Ada banyak orang yang tiba-tiba saja jadi pinter jualankarena adanya internet. Dan kabar baiknya, bisnis e-commerce di Indonesia pada saat ini masih berada pada tahap-tahap awal alias baru tumbuh, dimana jumlah pengguna internet di Indonesia masih sekitar 80 juta orang dari 270 juta penduduk. However perkembangan yang terjadi terbilang sangat pesat, dan semakin kesini semakin pesat. Sepuluh tahun yang lalu, nobody thinks about ‘jualan di internet’, tapi belakangan ini berbagai website e-commerce seperti FJB Kaskus, OLX, Lazada, Tokopedia, Traveloka, dst, mulai menjamur. Dan asalkan anda bisa meluangkan waktu untuk menulis tentang investasi saham atau apapun bidang yang anda kuasai, maka anda juga bisa bikin website tipe blog seperti TeguhHidayat.com yang sedang anda baca sekarang ini. So the opportunity is open for everyone.
Logo Kaskus.co.id, website e-commerce paling populer di Indonesia
Okay, lalu apa hubungannya hal ini dengan saham?
Kalau penulis banyak diskusi dengan beberapa investor/analis, maka mereka punya pandangannya masing-masing tentang bagaimana prospek ekonomi/IHSG di tahun 2016 mendatang, dimana banyak yang optimis tapi gak sedikit pula yang pesimis. However, entah karena lupa atau memang nggak ‘ngeh, tidak ada satupun yang menyinggung soal peran internet terhadap perekonomian, padahal peran tersebut terasa amat sangat nyata. Tapi mungkin itu karena para analis biasanya hanya fokus pada saham-saham yang ada di BEI, dan masalahnya di BEI belum ada perusahaan seperti Alibaba.com, Facebook.com, atau Amazon.com yang sudah listing di Amerika sana.
Tapi yang hendak penulis sampaikan adalah, dengan semakin mudahnya transaksi jual beli karena adanya internet, maka perekonomian nasional akan sangat terdorong untuk tumbuh pesat di masa yang akan datang, dan peran internet ini suatu hari nanti akan mampu menutup economic gap yang terjadi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini karena anjloknya harga komoditas batubara dan CPO sejak 2012 lalu. Dan jika ekonomi makro terus membaik secara umum, maka para emiten di Bursa juga akan terkena imbas positifnya dimana kinerja mereka akan membaik, dan sudah tentu, IHSG akan merangkak naik kembali.
Jadi meski kita tentu saja tidak bisa memprediksi secara persis soal bagaimana kira-kira arah perkembangan ekonomi/IHSG kedepannya, termasuk entah kapan harga batubara dan CPO akan naik lagi, namun yang jelas kita punya ‘mesin pendorong perekonomian’ yang baru yang bernama internet. Prediksi penulis, dalam waktu 2 – 3 tahun kedepan kita akan mulai melihat satu atau dua perusahaan lokal berbasis e-commerce yang melantai di Bursa dan.. mari kita berharap bahwa ujungnya tidak akan seperti dot com bubble di Amerika pada tahun 1999 lalu.

Pengumuman: Penulis menyelenggarakan acara ‘Market Outlook – Peluang Investasi di Tahun 2016’ di tiga kota yakni Surabaya, dan Bandung. Untuk bergabung, keterangan selengkapnya klik [...]

Market Outlook 2016: Jakarta, Surabaya, Bandung

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2015 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2015 tidaklah terlalu bersahabat bagi investor pasar modal dimana IHSG turun cukup dalam, namun berdasarkan pengalaman ini justru merupakan kesempatan karena IHSG, pada akhirnya, akan naik kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan tahun 2016 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Jakarta, Surabaya, dan Bandung, penulis mengajak anda untuk berdiskusi soal ‘Market Outlook’ untuk tahun 2016, tentunya dari sudut pandang value investing.

Dalam forum diskusinya nanti, saya akan menyampaikan tentang:
  1. Proyeksi IHSG untuk tahun 2016 berdasarkan analisa fundamental ekonomi makro, kinerja para emiten, dan kondisi ekonomi global, dan juga lebih dalam tentang ‘infrastructure project’ milik pemerintah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi nasional dan juga tentunya pasar saham.
  2. Koleksi saham-saham pilihan berfundamental bagus yang valuasinya sudah murah (dan mumpung masih murah!), dan
  3. Sharing pengalaman serta tips-tips/strategi investasi yang penulis pelajari selama enam tahun terakhir (2009 – 2015), khususnya dalam kondisi dimana pasar turun di tahun 2013, dan tentunya 2015 ini.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, gak usah dibawa serius :) Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor. Anda juga nanti bisa bebas bertanya/konsultasi soal apapun terkait dunia investasi saham langsung dengan penulis.
Okay, berikut detail acaranya:
Jakarta
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 5 Desember 2015
Surabaya
  • Tempat: Favehotel MEX, Jln. Pregolan No.1 – 3, Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 12 Desember 2015
Bandung
  • Tempat: Amaris Hotel Cihampelas, Jln. Cihampelas No.171, Bandung
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Desember 2015
Acaranya akan dimulai pukul 17.00 sore, dan setiap peserta akan memperoleh fasilitas makan malam serta rangkuman materi outlook. Rundown acara: Pukul 17.00 penyampaian materi utama, pukul 18.30 istirahat shalat Maghrib dan makan malam, pukul 19.15 lanjut diskusi/tanya jawab bebas, pukul 21.00 acara selesai.
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp350,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (pilih salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087       Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Market Outlook Jakarta/Surabaya/Bandung’, dan isi: Nama lengkap anda, dan bank tujuan transfer. Contoh: Sudirman Said, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email bahwa pembayaran anda sudah diterima. Selanjutnya anda bisa langsung datang ke acaranya (sehari sebelum acaranya kami akan mengirim email lagi untuk mengingatkan anda soal acara market outlook-nya).
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai ketemu di lokasi!
Salah satu event investor gathering yang kita adakan di Jakarta (penulis disebelah kanan atas)

Ada pertanyaan? Silahkan hubungi Ms. Nury di nomor telepon 081220445202, atau Pin BB 

Yuan Ditetapkan Sebagai World Currency, Next?

Semalam, rapat umum direktur eksekutif International Monetary Fund (IMF) memutuskan bahwa mata uang China, Yuan (disebut juga Renminbi), ditetapkan salah satu world reserve currency, berlaku efektif mulai 1 Oktober 2016. Dalam perhitungan special drawing rights atau SDR, Yuan memiliki bobot 10.9%, atau lebih besar dibanding bobot Japanese Yen atau Britain Pound Sterling, tapi masih lebih lebih rendah dibanding bobot US Dollar dan Euro. Penjelasan mengenai apa itu SDR, bisa dibaca lagi disini.

Berikut adalah bobot baru perhitungan SDR, setelah masuknya Yuan.
Currency
Before (%)
After (%)
US Dollar
41.9
41.7
Euro
37.4
30.9
Chinese Yuan
-
10.9
Japanese Yen
9.4
8.3
Pound Sterling
11.3
8.1
Total
100.0
100.0
Pertanyaannya,  bagaimana dampak dari keputusan IMF ini terhadap perekonomian Indonesia (jika memang ada dampaknya), termasuk IHSG? Apakah ketika Senin kemarin IHSG jeblok 2.5%, itu ada hubungannya dengan hal ini?
Senin kemarin pada sesi pre-closing, asing tiba-tiba saja jualan hingga akhirnya IHSG ditutup di posisi 4,446, atau turun 2.5%, padahal sepanjang hari tersebut IHSG tampak cukup stabil di posisi 4,520. Penjual terbesar adalah sekuritas Merrill Lynch, yang melepas pegangan senilai sekitar Rp2.3 trilyun, tapi sebagian diantaranya diserap oleh investor asing juga (sehingga net sell asing untuk Senin kemarin hanya Rp1.5 trilyun).
Lalu kenapa Merrill jualan? Nobody knows, namun penjelasan yang masuk akal adalah bahwa mereka kemungkinan mengubah komposisi portofolio agar kembali sesuai dengan bobot-bobot saham Indonesia di indeks MSCI Indonesia Index (MSCI = Morgan Stanley Capital International). Sebelumnya pada 11 November lalu, saham HM Sampoerna (HMSP) masuk kedalam perhitungan indeks MSCI Indonesia Index dengan bobot 3.2% (jadi naik turunnya HMSP berpengaruh sebesar 3.2% terhadap pergerakan indeks MSCI), dan masuknya HMSP ini otomatis mengurangi bobot saham lain terhadap perhitungan MSCI, contohnya Bank Mandiri (BMRI), yang bobotnya terhadap indeks MSCI turun dari 7.4 menjadi 6.8%. However, beberapa saham seperti Astra International (ASII), bobotnya masih naik dari 10.8 menjadi 11.4%.

Berikut adalah bobot baru dari tiap-tiap saham yang menjadi komponen MSCI Indonesia Index (ada 31 saham termasuk HMSP). Saham yang berwarna biru adalah yang bobotnya naik.

Stocks
Before (%)
After (%)
Bank BCA
14.0
13.8
Telkom
11.7
11.8
Astra International
10.8
11.4
Bank BRI
10.5
10.1
Bank Mandiri
7.4
6.8
Unilever Indonesia
5.0
4.7
HM Sampoerna
-
3.3
Bank BNI
3.3
3.1
Matahari Dept. Store
3.2
3.1
United Tractors
2.9
2.6
Semen Indonesia
2.7
2.6
PGN
2.8
2.6
Kalbe Farma
2.6
2.5
Indocement
2.6
2.3
Indofood Sukses Makmur
2.3
2.1
Lippo Karawaci
2.2
2.0
Gudang Garam
1.9
1.9
Surya Citra Media
1.6
1.6
Charoen Pokphand
1.6
1.6
Indofood CBP
1.3
1.3
Summarecon
1.4
1.2
Bumi Serpong Damai
1.1
1.1
Tower Bersama
1.2
1.1
Jasa Marga
0.9
0.9
Bank Danamon
0.9
0.8
XL Axiata
0.8
0.8
Adaro
0.8
0.8
Media Citra Nusantara
0.7
0.7
Astra Agro
0.7
0.6
Global Mediacom
0.6
0.5
TB Bukit Asam
0.5
0.5
Total
100.0
100.0
Dan MSCI Indonesia Index merupakan patokan yang paling banyak digunakan oleh investor internasional dalam menempatkan investasi mereka disini. Jadi ketika susunan saham-saham yang menjadi komponen indeks-nya berubah, maka praktis para fund manager asing juga akan mengubah komposisi portofolio mereka, dimana mereka banyak membeli HMSP atau menambah posisi pada ASII, dan sebaliknya, mengurangi posisi pada saham-saham yang bobotnya turun, atau menjual habis saham-saham yang tidak lagi masuk indeks MSCI. Dan itulah yang dilakukan Merrill Lynch kemarin dimana mereka menjual BMRI dll, hanya saja mereka melakukannya sekaligus dalam sehari sehingga IHSG jadi jeblok begitu.
Jadi kalau teori diatas benar, maka penurunan IHSG Senin kemarin gak ada hubungannya dengan hasil rapat IMF terkait Yuan. Namun demikian, apa yang dilakukan Merrill kemarin menjelaskan tentang apa yang kemungkinan akan terjadi setelah Yuan ditetapkan sebagai world currency, dan berikut penjelasannya:
Investor di seluruh dunia melihat mata uang yang menjadi komponen SDR dengan cara yang sama seperti mereka melihat saham-saham yang menjadi komponen MSCI Indonesia Index. Jadi dengan masuknya Yuan sebagai komponen baru yang turut menentukan nilai SDR, maka lembaga-lembaga keuangan di seluruh dunia akan mulai menyimpan aset mereka dalam mata uang Yuan, sama seperti Merrill Lynch (dan mungkin juga investor asing lainnya) yang mulai membeli saham HMSP setelah HMSP masuk indeks MSCI. Disisi lain para lembaga keuangan ini juga akan mengurangi pegangan aset dalam mata uang US Dollar, Euro, Yen, dan Pound, karena memang bobot keempat mata uang ini terhadap SDR turun. Alhasil, mulai hari ini dan seterusnya, kemungkinan nilai tukar Yuan terhadap USD akan merangkak naik, sementara nilai tukar Euro, Yen, Pound, dan USD sendiri terhadap mata-mata uang lainnya di seluruh dunia, akan turun. Dan memang, pada hari Selasa ini, USD melemah terhadap IDR (Rupiah), namun IDR sendiri melemah terhadap RMB (Renminbi).
Logo mata uang Yuan, yang sangat mirip dengan logo Yen
Namun berbeda dengan perkiraan sebelumnya yang menyebutkan bahwa akan terjadi perpindahan aset besar-besaran dari aset dalam mata uang USD, menjadi aset dalam mata uang Yuan, maka sepertinya hal itu tidak akan terjadi karena bobot USD terhadap perhitungan SDR, seperti yang bisa anda lihat ditabel diatas, hanya turun sedikit dari 41.9 menjadi 41.7%. Yang bobotnya turun paling besar adalah Euro, dari 37.4% menjadi 30.9%, dan hal itu memang bisa dijelaskan mengingat dalam lima tahun terakhir (sejak IMF mengubah komposisi SDR di tahun 2010), perekonomian China masih maju cukup pesat, sementara ekonomi Eropa tidak lagi dominan seperti biasanya, malah dihantui oleh Krisis Yunani dll. Sementara Amerika? Masih strong sampai sekarang, dan ukuran PDB-nya masih yang terbesar di dunia termasuk lebih besar dibanding PDB zona Euro maupun China, jadi belum ada alasan bagi investor di seluruh dunia untuk mengkonversi aset mereka dari USD ke Yuan. Tapi bagi investor di Jepang dan Inggris, mereka mungkin akan mulai kurang pede dengan mata uang mereka sendiri (yang sekarang bobotnya lebih rendah dari Yuan), dan mungkin akan mulai mengumpulkan Yuan sambil tetap memegang US Dollar.
Okay, namun itu belum menjawab pertanyaannya: Kira-kira apa dampak masuknya Yuan ini sebagai world currency terhadap Indonesia? Well, karena bobot USD terhadap perhitungan SDR hanya turun sedikit, maka investor-investor asing yang menempatkan investasinya disini seharusnya gak akan kabur kalau alasannya cuma karena mereka harus mengkonversi Dollar mereka ke Yuan (sehingga mereka harus jual saham dulu), meski mungkin beberapa dari mereka tetap melakukannya. Tapi yang jelas dampaknya terhadap IHSG seharusnya akan minimal, kecuali jika terdapat banyak investor asing asal Uni Eropa, Inggris, atau Jepang yang juga turut berinvestasi disini. Sayangnya tidak ada data pasti soal investor dari negara apa saja yang ikut beli saham di Indonesia.

However, dari sisi ekonomi makro, Tiongkok selama ini merupakan mitra dagang terbesar di Indonesia, dimana sepanjang tahun 2014 lalu, Indonesia mengekspor barang-barang non migas senilai US$ 16.5 milyar ke Tiongkok, terbesar dibanding ekspor ke negara lain manapun, dan sebaliknya, mengimpor barang-barang non migas senilai US$ 30.4 milyar dari Tiongkok, juga terbesar dibanding impor dari negara lain manapun. Nah, dengan naiknya ‘status’ Yuan, maka itu akan mempermudah transaksi ekspor impor antara Tiongkok dengan Indonesia, dimana eksportir dari Indonesia tidak perlu lagi mengkonversi Rupiah ke USD (kemudian oleh importir dari Tiongkok dikonversi lagi ke Yuan), melainkan bisa langsung mengkonversinya ke Yuan, demikian sebaliknya.

Jadi kedepannya besar kemungkinan bahwa nilai ekspor impor antar kedua negara akan meningkat, dan itu bisa berarti dua hal yang saling berkebalikan: Jika Indonesia bisa mengekspor ke Tiongkok lebih banyak ketimbang menerima impor, maka perekonomian Indonesia akan diuntungkan. Tapi jika Indonesia justru kebanjiran impor, maka pertumbuhan ekonomi akan kembali tertekan (baca penjelasannya disini).
Dan sayangnya selama ini nilai impor Indonesia dari Tiongkok selalu lebih besar ketimbang nilai ekspornya, sehingga dengan naiknya status Yuan, maka kemungkinan Tiongkok-lah yang lebih diuntungkan ketimbang Indonesia. Namun disisi lain jika ekonomi Tiongkok mulai melaju kencang lagi karena mereka kini lebih mudah berbisnis dengan negara lain (karena mereka sekarang bisa beli barang diluar negeri pake Yuan, jadi gak perlu dituker ke Dollar dulu), maka kebutuhan mereka atas batubara dan CPO kemungkinan akan kembali meningkat, dan itu artinya kabar bagus bagi sektor tambang dan perkebunan di Indonesia yang pada tahun ini sudah mulai mati suri. Manapun yang terjadi, kita lihat nanti.
Buletin Analisis IHSG & Stock-Pick bulanan edisi Desember 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio bagi [...]

Prospek IPO Kino Indonesia

Sebagai salah satu perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang cukup terkemuka di Indonesia, IPO Kino Indonesia (KINO) mungkin menarik perhatian investor, karena kita tahu bahwa industri FMCG biasanya menawarkan kinerja jangka panjang yang stabil. Dan KINO sendiri selama ini memiliki reputasi yang bagus sebagai perusahaan inovatif yang mampu meng­-create produk-produk baru, sementara pendirinya, Harry Sanusi, juga sudah sangat dikenal sebagai pengusaha inspiratif yang sukses mendirikan dan membesarkan KINO dari nol. Anyway, kita langsung saja.

Sejarah KINO dimulai pada tahun 1991, ketika Mr. Harry, yang baru saja lulus kuliah, memperoleh kepercayaan untuk mendistribusikan produk Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga milik PT Sinde Budi Sentosa. Mr. Harry kemudian segera menerapkan berbagai strategi marketing seperti memasang iklan, menawarkan produk dari toko ke toko, membuka cabang distribusi dll, dan hasilnya produk Larutan Penyegar milik PT Sinde menjadi populer di masyarakat. Lima tahun kemudian, yakni pada 1996, Mr. Harry mulai berpikir untuk juga menjadi distributor bagi produk lain, namun PT Sinde menginginkan agar Mr. Harry tetap fokus untuk mendistribusikan Larutan Penyegar. Ketidak cocokan ini pada akhirnya justru menyebabkan Mr. Harry putus kontrak dengan PT Sinde.
Setelah sempat menganggur hampir setahun, pada 1997 Mr. Harry memutuskan untuk tidak lagi hanya menjadi distributor, melainkan juga membuat produknya sendiri. Dan setelah melakukan riset selama berbulan-bulan, diputuskan untuk membuat produk permen jenis soft candy dengan rasa kopi, karena 1. Permen harga jualnya murah, sehingga pasarnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat, 2. Berbeda dengan produk consumer lainnya seperti rokok, mie instan dll dimana loyalitas konsumen terhadap merk yang sudah ada sangat besar (sehingga akan sulit bagi pemain baru untuk memperkenalkan merk rokok atau mie instan yang baru), di segmen permen tidak ada loyalitas merk seperti itu, dan 3. Di Indonesia belum ada permen jenis soft candy rasa kopi, sehingga praktis tidak ada kompetitor.
Dan berbekal jaringan distribusinya yang sudah dibangun sejak 1991, produk permen yang diberi merk ‘Kino’ tersebut kemudian sukses besar. Masih di tahun 1997, Mr. Harry juga meluncurkan produk minuman bubuk dengan merk ‘Segar Sari’, dan makanan ringan ‘Snack It’. Karena ketiga produk tersebut memiliki harga jual yang murah dan terjangkau oleh kelompok menengah kebawah sekalipun, maka bisnis perusahaan justru melejit ketika Indonesia dilanda krisis moneter setahun kemudian. Pada tahun 1999, masih dengan semangat inovasi untuk menciptakan produk baru, Mr. Harry masuk ke bisnis toiletries dengan meluncurkan merk ‘Ovale’, sebuah produk pembersih wajah sekaligus pelembab dalam satu kemasan (sebelumnya, produk pembersih wajah dan pelembab biasanya dibuat terpisah). Ovale juga sukses besar, sehingga di tahun-tahun berikutnya diluncurkan juga merk-merk lain yang memiliki segmen pasarnya masing-masing, seperti Eskulin (parfum), Master (parfum pria), Eskulin Disney & Master Kids (parfum anak-anak), Sleek (pembersih bayi), Resik V (pembersih daerah kewanitaan), dan Ellips (perawatan rambut). Pada tahun 1999 ini pula, Mr. Harry mendirikan PT Kinocare Era Kosmetindo (sekarang PT Kino Indonesia), yang kemudian menjadi induk dari anak-anak usaha Grup Kino.
But the innovation never stops. Pada tahun 2004, Grup Kino masuk ke bisnis beverages dengan meluncurkan produk minuman penyegar ‘Cap Kaki Tiga’ (merk Cap Kaki Tiga sudah diakuisisi dari PT Sinde, sekarang PT Sinde memproduksi larutan penyegar cap badak), minuman energi ‘Panther’, minuman herbal ‘Panda’, dan jus ‘Tampico’. Terakhir, pada tahun 2012 lalu, Grup Kino juga masuk industri farmasi dengan meluncurkan obat batuk herbal dan balsem, keduanya dengan merk ‘Cap Kaki Tiga’.
Jadi selama KINO terus berinovasi dalam menciptakan produk-produk baru, ditambah skill Mr. Harry secara pribadi di dunia pemasaran dan pengembangan merk, maka selama itu pula kita akan melihat KINO terus berekspansi. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Apple Inc., yang menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia karena inovasi perusahaan dalam menciptakan produk-produk yang unik dan eksklusif, plus mereka juga sangat jago di bidang marketing. Dibanding raksasa consumer tanah air seperti Unilever, Indofood, atau Kalbe Farma, maka dengan aset Rp2.2 trilyun pada 30 Juni 2015, KINO terbilang masih relatif kecil, sehingga peluangnya untuk tumbuh lebih lanjut masih terbuka lebar. Dan kalau melihat track record kinerja perusahaan dalam lima tahun terakhir, dimana pendapatan serta labanya naik terus secara konsisten (just as expected), maka sahamnya bisa dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Pada IPO-nya, KINO melepas 229 juta lembar saham ke publik pada harga Rp3,800 per saham, sehingga akan diperoleh dana Rp869 milyar. Nilai ekuitas KINO sebelum IPO adalah Rp823 milyar (per Kuartal II 2015), sehingga setelah IPO, ekuitas perusahaan akan menjadi kurang lebih Rp1.7 trilyun. Karena jumlah saham KINO setelah IPO adalah 1,429 juta lembar, maka market cap-nya pada harga saham Rp3,800 adalah Rp5.4 trilyun. Dengan demikian PBV-nya = 5.4 / 1.7 = 3.2 kali. Sementara dari sisi PER, hingga Kuartal II 2015, KINO membukukan laba Rp141 milyar, yang setelah dibagi dengan jumlah sahamnya setelah IPO, diperoleh annualized EPS Rp198 per saham. Maka PER-nya 3,800 / 198 = 19.2 kali.
Nah, dengan PBV dan PER yang jelas sekali diatas rata-rata pasar (dalam kondisi pasar yang normal, sebuah saham berfundamental baik biasanya dihargai pada PBV kurang lebih 2 kali dan PER 10 kali), maka IPO KINO ini sekilas tampak mahal. However, mengingat beberapa saham consumer juga dihargai pada PBV 5 kali atau PER 20 kali, sementara fundamental KINO sendiri memang sangat bagus, dan kalau kita ambil contoh IPO perusahaan consumer top lainnya yaitu Sido Muncul (SIDO), dimana sahamnya sempat naik dari harga perdana 580 hingga hampir saja tembus 1,000 bahkan meskipun valuasinya juga mahal sejak awal, maka mungkin harga 3,800 masih terbilang wajar bagi KINO.

Namun satu hal yang perlu diperhatikan: Penetapan harga nominal saham yang cukup tinggi (3,800) serta sedikitnya jumlah saham yang dilepas ke publik (hanya 229 juta lembar), kemungkinan akan menyebabkan saham KINO menjadi tidak likuid, sehingga praktis tidak akan begitu disukai oleh investor/trader. Jadi berbeda dengan IPO SIDO yang sahamnya sukses naik (meski toh pada akhirnya turun lagi), KINO mungkin tidak akan mengalami hal yang sama karena, dari sisi volume, jumlah saham KINO yang akan wara wiri di market tidak sampai seperlima saham SIDO.

Dan kalau bicara kekuatan merk, anda mungkin memperhatikan bahwa produk-produk KINO belakangan ini sering nongol di televisi, dan mungkin itu salah satu strategi agar IPO-nya laku, karena seingat penulis dulu SIDO juga sama begitu: Iklan Jamu Tolak Angin mendadak rame di tivi menjelang IPO. Nevertheless, meski perusahaan sangat kompeten dalam hal branding, namun pada akhirnya KINO masih merupakan pemain yang relatif baru di industri consumer di Indonesia, sehingga merk-merk milik KINO belum ada yang sepopuler ‘Tolak Angin’ milik Sido Muncul, ‘Lifebuoy’ milik Unilever, atau Indomie-nya Indofood. Dalam hal ini KINO mungkin lebih cocok dibandingkan dengan Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), yang juga merupakan perusahaan consumer kelas menengah, namun PBV AISA, ketika artikel ini ditulis, cuma 1.5 kali.
Kesimpulannya, meski mungkin KINO ini cocok untuk investasi jangka panjang, namun penulis lebih suka membeli sahamnya nanti di market, tentunya jika dikasih harga yang lebih affordable, sama seperti SIDO yang ketika artikel ini ditulis, harganya sudah dibawah harga IPO-nya. Sementara untuk saat ini, seiring dengan masih rendahnya posisi IHSG, maka pasar masih menawarkan banyak pilihan saham lain yang valuasinya jauh lebih terdiskon. All you have to do is to choose carefully, karena fundamental dari sebagian besar saham-saham tersebut memang lagi tidak terlalu baik, tapi yah, yang bagus-bagus ada aja kok :)
PT Kino Indonesia, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal II 2015: AA
Rating Saham pada 3,800: BBB

Belakangan ini lagi rame lagi cerita soal Yuan, mata uang negeri China, yang katanya akan ditetapkan sebagai ‘world currency’ oleh IMF, tapi kita sudah membahasnya Agustus lalu, anda bisa membacanya lagi disini.

Buletin Analisis IHSG & Stock-Pick bulanan edisi Desember 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio bagi [...]

Analisa Pertumbuhan Ekonomi: Not As Bad as It Looks

Pada tanggal 5 November lalu, Badan Pusat Statistik (BPS), merilis angka pertumbuhan ekonomi/PDB untuk Kuartal III 2015 sebesar 4.73% secara year on year. Angka 4.73% tersebut, meski masih dibawah ekspektasi Menteri Keuangan dan Bank Indonesia yakni sebesar 4.8 – 4.9%, namun sudah lebih baik dibanding Kuartal II lalu, yang hanya 4.67%. Dan jika kita mempelajari komponen dari pertumbuhan ekonomi tersebut maka akan diperoleh beberapa fakta menarik.

Yang pertama, seperti yang anda ketahui, rumus PDB (produk domestik bruto) adalah Konsumsi + Investasi + Belanja Pemerintah + Ekspor – Impor. Dan di Indonesia, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dari PDB, namun persentasenya sedikit turun dari 55.3% di Kuartal III 2014, menjadi 55.0% pada Kuartal III 2015. Sementara itu komponen investasi naik dari 31.8 menjadi 32.8%, demikian pula dengan komponen belanja pemerintah naik dari 9.5 menjadi 9.8%. Seiring dengan masih rendahnya harga dua komoditas andalan ekspor Indonesia, yakni batubara dan crude palm oil (CPO), komponen ekspor masih turun dari 22.5 menjadi 20.7%. Namun entah karena pelemahan Rupiah atau lainnya, komponen impor turun lebih dalam dari 23.2 menjadi 19.9%, dan hal ini turut membantu laju pertumbuhan ekonomi untuk kembali meningkat (karena dalam rumus perhitungan PDB, impor merupakan komponen yang berpengaruh negatif).
Jadi tampak bahwa komposisi ekonomi kita dalam setahunan ini sedikit bergeser dari konsumsi rumah tangga ke investasi dan belanja pemerintah, dan cukup jelas bahwa ini merupakan dampak dari pengalihan subsidi yang dilakukan pemerintah. Disisi lain, sejatinya tingkat konsumsi di Indonesia masih tumbuh 4.96%, atau lebih tinggi dibanding total pertumbuhan ekonomi sebesar 4.73%, namun tingkat belanja pemerintah mengalami pertumbuhan yang lebih besar, yakni 6.56%. Dari sini kelihatan bahwa pencabutan subsidi/kenaikan pajak yang dilakukan pemerintah sebenarnya tidak sampai menekan tingkat konsumsi masyarakat (harga-harga memang naik tapi masih terkendali, sehingga orang-orang masih bisa berbelanja), sementara rencana belanja infrastruktur sudah mulai dieksekusi, sehingga tingkat belanja pemerintah tumbuh signifikan. However, pertumbuhan investasi yang hanya 4.62%, atau lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi, menunjukkan bahwa pihak swasta masih menahan diri untuk ekspansi/berinvestasi karena menganggap bahwa ekonomi masih lesu. Tapi kalau kedepannya mereka bisa melihat bahwa tingkat konsumsi dalam negeri ternyata masih tetap tumbuh signifikan dalam kondisi ekonomi yang katanya ‘lesu’, maka seharusnya mereka akan agresif kembali. At the end, melambatnya laju perekonomian sejak beberapa tahun terakhir ini, tepatnya sejak 2011, sebenarnya lebih karena penurunan harga komoditas yang menyebabkan anjloknya nilai ekspor, dan bukan karena ada masalah tertentu di dalam negeri.
Yang juga menarik, meski laju pertumbuhan ekspor masih negatif (turun 0.69%), namun impor mengalami penurunan yang jauh lebih dalam yakni 6.11%, sehingga laju pertumbuhan ekonomi tidak sampai terganggu. Dalam hal ini penulis jadi mengerti kenapa Bank Indonesia (BI) adem ayem saja meski Rupiah terus saja melemah, dan baru turun tangan setelah kurs Rupiah sempat hampir saja menembus level psikologis Rp15,000 per USD, beberapa waktu lalu. Karena untuk menyeimbangkan neraca ekspor impor ini maka nilai tukar Rupiah memang harus berada di level tertentu (tidak harus menguat). BI sendiri sempat menyatakan bahwa secara fundamental, kurs Rupiah seharusnya berada di level Rp13,700 per USD. Dan ketika artikel ini ditulis, kurs Rupiah memang berada di level Rp13,700-an.
Kedua, berdasarkan sektor usaha, maka dalam setahun terakhir sektor tambang masih mengalami pertumbuhan negatif, tepatnya minus 5.64%. However, sektor tambang menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh negatif. Sementara beberapa sektor yang tumbuh diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 4.73%, adalah sektor informasi dan telekomunikasi (IT) 10.83%, jasa keuangan dan asuransi 10.35%, jasa pendidikan 8.25%, jasa perusahaan 7.61%, jasa konstruksi 6.82%, dan jasa kesehatan 6.49%. Dari sini tampak bahwa perlambatan atau penurunan dari sektor sumber daya alam/komoditas diimbangi oleh pertumbuhan dari sektor jasa/service, namun sektor industri/manufaktur masih belum bertumbuh (hanya tumbuh 3%). Jika kedepannya sektor tambang mencapai satu titik dimana ia minimal tidak turun lebih rendah lagi, sementara sektor jasa tetap bertumbuh, dan sektor manufaktur pada akhirnya juga ikut bertumbuh karena sudah di­-support oleh infrastruktur, then, well, ketika itu kita mungkin akan menyaksikan pertumbuhan ekonomi nasional sukses mencetak rekor diatas 7% secara year on year.
Dan yang ketiga, sejak Indonesia merdeka tahun 1945, salah satu problem terbesar dalam perekonomian nasional adalah bahwa ekonomi masih sangat terpusat di Pulau Jawa, dan sampai sekarang kondisinya juga masih sama, dimana dari PDB senilai nyaris Rp3,000 trilyun pada Kuartal III 2015, 58.3% diantaranya berasal dari Pulau Jawa. Sebenarnya sejak tahun 2000-an, perekonomian diluar Jawa, terutama Sumatera dan Kalimantan, juga turut berkembang pesat karena booming batubara dan CPO. Namun sejak 2011, seiring dengan turunnya harga dua komoditas tersebut, pertumbuhan ekonomi di dua Pulau ini melambat lagi. Untuk Kalimantan, angka pertumbuhan ekonominya bahkan tercatat minus 0.41% pada Kuartal III 2015.
Peta penyebaran/distribusi perekonmian di Indonesia, angka dalam persen. Sumber: BPS
However, dalam setahun terakhir, Pemerintah banyak membangun infrastruktur (pembangkit listrik, pelabuhan, rumah sakit, bendungan), baik itu yang pada saat ini sudah beroperasi maupun masih dalam tahap konstruksi, di Bali dan Nusa Tenggara, dan itu turut mendorong perekonomian di kawasan tersebut untuk tumbuh signifikan yakni 11.75%. Demikian pula dengan Sulawesi, dimana disana dibangun jalur rel kereta api, smelter nikel, kilang minyak, hingga jaringan kabel optik, dan hasilnya ekonomi Sulawesi tumbuh 8.2%. Actually, pemerintah tidak hanya membangun ini dan itu di Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi saja, melainkan di seluruh Indonesia termasuk di Pulau Jawa, dan faktanya ekonomi Pulau Jawa masih tumbuh 5.39% (jadi yang paling terkena dampak ‘krisis’ setahunan ini adalah Kalimantan, yang ekonominya tumbuh negatif). Tapi intinya jika trend pemerataan pembangunan ini terus berlanjut, maka dalam jangka panjang seluruh wilayah di Indonesia akan menikmati pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena pembangunan infrastruktur di satu wilayah tidak hanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut ketika infrastrukturnya dibangun, tapi juga setelah infra tersebut jadi dan beroperasi. Jadi ini berbeda dengan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh booming komoditas seperti beberapa tahun lalu, dimana ketika periode booming-nya sudah selesai, maka ekonomi akan langsung terasa lesu kembali.
Kesimpulannya, I don’t know with you guys, namun penulis melihat bahwa perkembangan ekonomi kita setahunan ini sama sekali tidak seburuk kelihatannya, melainkan hanya sedikit melambat untuk ancang-ancang agar kedepannya bisa melaju kencang lagi, atau bahkan lebih kencang. Malah kalau boleh jujur, it’s amazing bahwa ekonomi Indonesia, yang notabene merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, masih bisa tumbuh 4.73% alias lebih tinggi dibanding beberapa tetangganya seperti Malaysia 4.70%, Thailand 2.90%, hingga Singapura 1.40%, dan hanya kalah dibanding Filipina 5.60%, tapi ingat bahwa PDB Filipina juga hanya sepertiga PDB Indonesia (sehingga perekonomian negaranya Manny Pacquiao ini lebih mudah untuk tumbuh lebih lanjut ketimbang Indonesia), padahal sampai sekarang nilai ekspor Indonesia masih anjlok! Yakni gara-gara penurunan harga batubara dan CPO, yang entah sampai kapan akan berakhir.
Nah, dalam hal inilah penulis jadi paham ketika beberapa waktu lalu penulis mengatakan kepada seorang teman pengusaha bahwa saya suatu hari nanti pengen pindah ke Singapura, karena sebagai negara yang (kelihatannya) lebih maju, maka sepertinya peluang investasi disana lebih menarik ketimbang disini di Jakarta. Tapi teman penulis ini bilang, ‘Kata siapa invest di Singapura lebih enak? Coba ente beli saham SingTel atau DBS, bisa profit 25% dalam lima tahun juga udah bagus bener. Bandingin sama kalo ente disini beli Telkom atau Bank BRI, lebih cuan mana coba?’ Well, bener juga ya [...]

Market Outlook 2016: Jakarta, Surabaya, Bandung

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan November, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2015 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2015 tidaklah terlalu bersahabat bagi investor pasar modal dimana IHSG turun cukup dalam, namun berdasarkan pengalaman ini justru merupakan kesempatan karena IHSG, pada akhirnya, akan naik kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan tahun 2016 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Jakarta, Surabaya, dan Bandung, penulis mengajak anda untuk ketemu dan diskusi soal Market Outlook 2016, tentunya dari sudut pandang value investing.

Dalam forum diskusinya nanti, saya akan menyampaikan tentang:
  1. Proyeksi IHSG untuk tahun 2016 berdasarkan analisa fundamental ekonomi makro, kinerja para emiten, dan kondisi ekonomi global, dan juga lebih dalam tentang ‘infrastructure project’ milik pemerintah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi nasional dan juga tentunya pasar saham.
  2. Koleksi saham-saham pilihan berfundamental bagus yang valuasinya sudah murah (dan mumpung masih murah!), dan
  3. Sharing pengalaman serta tips-tips/strategi investasi yang penulis peroleh/pelajari selama enam tahun terakhir (2009 – 2015), khususnya dalam kondisi dimana pasar turun di tahun 2013, dan tentunya 2015 ini.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, gak usah dibawa serius :) Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor. Anda juga nanti bisa bebas bertanya/konsultasi soal apapun terkait dunia investasi saham langsung dengan penulis.
Okay, berikut detail acaranya:
Jakarta
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 5 Desember 2015
Surabaya
  • Tempat: Favehotel MEX, Jln. Pregolan No.1 – 3, Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 12 Desember 2015
Bandung
  • Tempat: Amaris Hotel Cihampelas, Jln. Cihampelas No.171, Bandung
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Desember 2015

Acaranya akan dimulai pukul 17.00 sore, dan setiap peserta akan memperoleh fasilitas makan malam serta rangkuman materi outlook. Rundown acara: Pukul 17.00 penyampaian materi utama, pukul 18.30 istirahat shalat Maghrib dan makan malam, pukul 19.15 lanjut diskusi/tanya jawab bebas, pukul 21.00 acara selesai.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp350,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (pilih salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087       Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Market Outlook Jakarta/Surabaya/Bandung’, dan isi: Nama lengkap anda, dan bank tujuan transfer. Contoh: Sudirman Said, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email bahwa pembayaran anda sudah diterima. Selanjutnya anda bisa langsung datang ke acaranya (sehari sebelum acaranya kami akan mengirim email lagi untuk mengingatkan anda soal acaranya). Peserta terbatas, hanya untuk 30 orang di tiap-tiap kota.
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Jika anda berhalangan hadir pas tanggal acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh/tidak hangus, dengan catatan anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut (melalui email atau melalui kontak telepon dibawah), paling lambat dua hari sebelum acaranya.
Demikian, sampai ketemu di lokasi!
Suasana salah satu event investor gathering yang kita adakan di Jakarta (penulis di sebelah kanan atas)

Ada pertanyaan? Silahkan hubungi Ms. Nury di nomor telepon 081220445202, atau Pin BB 
5BDF54F4.

Kalbe Farma

Sebagian besar orang menganggap bahwa industri farmasi, seperti industri consumer goods pada umumnya, merupakan industri yang kebal terhadap risiko perlambatan ekonomi, sehingga perusahaan-perusahaan di bidang ini seharusnya memiliki kinerja yang konsisten dari tahun ke tahun, dan saham-saham farmasi juga ideal untuk investasi jangka panjang. Karena logikanya kalau anda sakit, maka mau tidak mau anda harus minum/mengkonsumsi obat tertentu bukan? Tak peduli meski mungkin harganya mahal.

Padahal bisnis farmasi sejatinya sangat berbeda dengan bisnis consumer goods lainnya, katakanlah consumer goods jenis kebutuhan sehari-hari (sabun mandi, shampoo, pasta gigi, dll). Contoh simpel saja: Setiap orang, tanpa terkecuali, harus mandi dan menggunakan sabun mandi setiap hari, tapi tidak setiap orang harus meminum obat batuk/pilek/demam dst, apalagi sampai harus masuk rumah sakit. Dan bagi mereka yang mengkonsumsi obat inipun, kalau nanti mereka sudah sembuh maka mereka tidak perlu lagi membeli obat yang sama, kecuali kalo nanti sakitnya kambuh lagi.
Disisi lain, biaya produksi obat-obatan tidaklah murah. Biaya terbesar dari industri farmasi meliputi biaya tenaga kerja (karena biasanya padat karya), biaya bahan baku (karena mayoritas masih harus impor), biaya penelitian dan teknologi, dan biaya untuk pihak ketiga seperti profit sharing dengan apotek, rumah sakit, dan dokter. Dan kalau anda pikir bahwa perusahaan farmasi semestinya untung besar karena menjual obat resep seharga ratusan ribu Rupiah hanya untuk beberapa strip obat saja, maka jangan lupa kalau mereka juga memproduksi obat-obatan generik yang harganya ada yang cuma Rp1,000 per strip isi 12 tablet!
Dan alhasil, dari sisi profitabilitas, maka kinerja Kalbe Farma (KLBF) dkk jauh lebih rendah dibanding Unilever Indonesia (UNVR) dkk, dimana ROE KLBF rata-rata hanya 20 – 25% per tahun (atau kurang dari itu), berbanding UNVR yang bisa mencapai 100%.
Nevertheless, ROE 20 – 25% itu tentunya sudah cukup baik, apalagi jika itu bisa dicapai setiap tahun, dan beberapa perusahaan farmasi yang besar-besar seperti Kalbe Farma (KLBF), Sido Muncul (SIDO), hingga Kimia Farma (KAEF), perolehan laba bersihnya juga naik terus dari tahun ke tahun. Berikut ini adalah data laba bersih dari sembilan perusahaan farmasi di BEI antara 2010 hingga 2014, angka dalam milyaran Rupiah, data diurutkan berdasarkan likuiditas saham dari perusahaan yang bersangkutan.

Company 2010 2011 2012 2013 2014
Kalbe Farma (KLBF) 1,286 1,482 1,734 1,920 2,065
Tempo Scan Pacific (TSPC) 489 566 628 635 579
Sido Muncul (SIDO) 237 340 388 406 415
Kimia Farma (KAEF) 139 172 205 215 235
Indofarma (INAF) 13 37 42 (54) 1
Pyridam Farma (PYFA) 4 5 5 6 3
Merck (MERK) 119 231 108 175 181
Taisho Pharmaceutical (SQBB) 93 120 135 150 165
Darya-Varia (DVLA) 111 121 149 126 81
Namun disinilah problemnya: Mungkin karena mayoritas investor menganggap bahwa bisnis farmasi memiliki risiko yang rendah sehingga kinerja KLBF dkk semestinya akan naik terus dalam jangka panjang, dan bahwa profitabilitas mereka sama baiknya dengan UNVR (padahal tidak), maka valuasi saham-saham di sektor farmasi menjadi sangat mahal, termasuk PBV KLBF pernah sampai diatas 8 kali, dan PER-nya diatas 40 kali. Dan actually, dulu juga penulis mikirnya sama begitu: Saham-saham farmasi layak dihargai premium karena mereka merupakan wonderful company yang prospeknya selalu cerah untuk jangka panjang.
Tapi setelah melihat bahwa perusahaan farmasi terbesar kedua setelah KLBF, yakni TSPC, mengalami penurunan laba sejak tahun 2014 lalu (dan hingga tahun 2015 ini laba mereka masih turun), maka barulah penulis sadar bahwa risiko bisnis farmasi lebih besar dibanding risiko bisnis consumer goods lainnya, entah itu terkait kenaikan upah buruh, pelemahan nilai tukar Rupiah yang praktis menaikkan harga bahan baku impor, hingga risiko karena ketatnya persaingan (coba anda sebut merk-merk obat sakit kepala, demam, dan batuk, banyak banget kan?). Saham TSPC sendiri, setelah sebelumnya sempat dihargai pada PBV 7 – 8 kali pada harga 5,000-an, dua tahun lalu, selanjutnya dia turun terus hingga sekarang PBV-nya sudah kurang dari 2 kali, alias sudah sama dengan valuasi saham-saham lain pada umumnya.
Valuasi KLBF saat ini = Mahal
KLBF merupakan salah satu jagoan penulis di masa lalu, tepatnya tahun 2010 dimana saya membelinya pada harga 2,200 (atau 440 kalau sesudah stocksplit), dan dia kemudian sukses naik. Saham ini rutin direkomendasikan di ebook kuartalan pada periode 2010 – 2012, hingga akhirnya penulis sudah keluar beberapa bulan sebelum ia mencapai harga 7,500-an (1,500 kalau sesudah stocksplit) pada tahun 2013. Namun, pada harga 1,500 tersebut penulis sudah tidak mau masuk lagi bahkan meski KLBF terus menanjak hingga tembus 1,900 pada awal tahun 2015 kemarin. Dan itu karena, saya masih ingat, pada harga 440 di tahun 2010, PBV KLBF masih 4 koma sekian, atau relatif wajar/murah jika mempertimbangkan nama besar perusahaan, likuiditas sahamnya, track record kinerjanya, ROE-nya yang ketika itu diatas 25%, dan juga rata-rata PBV saham consumer yang diatas 5 kali. Penulis pernah membahas KLBF ini di tahun 2010 (ini artikelnya), dan ketika itu kesimpulannya adalah bahwa dia cocok untuk jangka panjang.

Sementara pada tahun 2013, ketika KLBF sudah berada di level 1,500-an, PBV-nya sudah mencapai 6 – 7 kali, padahal ROE-nya justru turun ke level 20%-an. Let say, anda masih menganggap bahwa KLBF masih murah pada harga segitu, dan memang faktanya KLBF masih mampu naik hingga tembus 1,900-an dan PBV-nya tercatat diatas 8 kali, dua tahun kemudian. Namun tetap saja: Dengan valuasi setinggi itu, nyaris mustahil bagi KLBF untuk kembali mencetak gain hingga 3 kali lipat seperti yang pernah terjadi antara tahun 2010 – 2013, tak peduli meski anda menunggu selama bertahun-tahun sekalipun.
Sementara risikonya, kalau nanti KLBF mengalami penurunan laba seperti yang sudah dialami TSPC, maka bukan tidak mungkin sahamnya akan turun hingga valuasinya menjadi sama dengan saham kebanyakan, yakni PBV 2 – 3 kali.
Karena itulah, meski KLBF beberapa bulan terakhir ini terus turun dari 1,900 hingga sekarang tinggal 1,300-an, namun berhubung PBV-nya masih 6.5 kali, maka penulis belum menganggap bahwa dia sudah cukup murah untuk dibeli. Hanya memang, dalam value investing itu yang perlu dilihat pertama kali adalah kinerja perusahaan, kemudian baru valuasi sahamnya. Pada koreksi besar IHSG di tahun 2013, KLBF juga sempat turun dari 1,540 hingga menyentuh 1,180 pada bulan Desember, dan pada harga 1,180 tersebut PBV-nya masih 6 – 7 kali. Tapi kemungkinan karena kinerja KLBF pada tahun 2013 tersebut masih bagus dimana labanya masih tumbuh signifikan dibanding 2012 (lihat lagi tabel diatas), maka ketika pada tahun 2014 IHSG kembali merangkak naik, KLBF juga ikut naik hingga tembus 1,900 pada Mei 2015, atau menghasilkan profit lebih dari 50% dalam waktu satu setengah tahun.
Lalu bagaimana untuk tahun 2015 ini? Well, pada Kuartal III kemarin laba KLBF masih naik tapi tipis sekali, yakni hanya 0.8%, jadi kondisinya untuk sekarang agak berbeda dengan 2013 lalu. Jika pada tahun 2016 nanti IHSG kembali naik seperti tahun 2014 lalu, maka KLBF mungkin akan ikut naik, tapi mungkin tidak akan sampai 50% seperti setahun lalu. Disisi lain kalau kinerjanya pada Kuartal IV nanti ternyata tidak sesuai harapan, misalnya labanya ternyata turun, maka ya sudah, sahamnya bisa saja bernasib seperti TSPC.
Kesimpulannya, meski KLBF mungkin menawarkan peluang profit dalam jangka menengah, tapi risikonya terbilang tinggi terutama terkait valuasinya yang (ternyata) belum cukup murah. Jadi kalau buat penulis sendiri, kecuali kalo nanti dikasih harga yang lebih rendah lagi, maka di pasar masih ada banyak pilihan saham lain yang lebih menarik. Beberapa orang mengatakan bahwa, berhubung KLBF ini belakangan ini mulai invest ke segmen FMCG (fast moving consumer goods) dengan memproduksi minuman, makanan bernutrisi, dan kebutuhan sehari-hari lainnya, maka dia sudah mirip-mirip dengan UNVR, sehingga wajar lah kalau valuasinya agak mahal, dan Grup Kalbe-nya sendiri sudah mulai ekspansi kesana kemari termasuk bikin rumah sakit (Mitra Keluarga/MIKA). However, kalau bagi penulis tetap saja: Selama kinerja KLBF masih belum terlalu istimewa seperti sekarang, maka mau dia ikut bikin sabun mandi atau indomie sekalipun, saya tetap tidak akan menghargai sahamnya terlalu tinggi.
PT. Kalbe Farma, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2015: A
Rating Saham pada 1,355: BBB

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal III 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Sekawan Intipratama: Another Stock Fraud

Rabu kemarin, tanggal 11 November 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) men-suspend (menghentikan sementara) aktivitas perdagangan saham yang dilakukan oleh tiga sekuritas yakni Danareksa, Millenium Danatama, dan Reliance, karena tiga sekuritas tersebut diduga ‘tidak menjalankan prosedur pengendalian internal yang memadai’. BEI melakukan suspensi tersebut setelah menerima laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menyatakan bahwa tiga sekuritas diatas terlibat dengan aksi goreng saham Sekawan Intipratama (SIAP), yang telah banyak merugikan investor ritel di pasar modal.

Sebenarnya bukan kali ini saja BEI melakukan suspensi pada sekuritas, karena gak sampai dua minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 29 Oktober, BEI juga men-suspend Trust Securities. However, karena untuk kali ini terdapat tiga sekuritas sekaligus yang di-suspend, dan dua diantaranya merupakan sekuritas yang lumayan besar (Danareksa dan Millenium Danatama), plus saham yang dipermasalahkan memang sudah makan banyak korban (SIAP), maka suspensi ini menjadi perhatian banyak media, analis, dan investor itu sendiri.
Dan terkait SIAP-nya sendiri, ini merupakan kali kesekian dimana sebuah saham dari perusahaan yang tidak jelas entah kenapa naik gila-gilaan dan juga dengan volume transaksi yang tidak masuk akal (SIAP naik dari 80 di awal tahun 2014 hingga tembus 450 pada awal 2015, atau naik lebih dari lima kali lipat waktu setahun, dan setiap harinya jumlah saham yang ditransaksikan mencapai ratusan juta lembar), namun selanjutnya jatuh berantakan dan, sudah tentu, dengan menyeret banyak korban.
Nah, terdapat setidaknya tiga hal yang penulis perhatikan disini. Pertama, BEI dan OJK finally do something to protect the investor. Baru saja pertengahan September lalu, penulis sempat mengkritik dua otoritas tersebut yang seperti membiarkan terjadinya pelanggaran di pasar saham, sama seperti polisi yang membiarkan Konvoy Harley Davidson melanggar lampu merah (anda bisa baca lagi artikelnya disini). Memang, yang dilakukan BEI baru sebatas men-suspend tiga sekuritas yang diduga terlibat, dan hari inipun suspensi tersebut sudah dicabut lagi, namun setidaknya tindakan suspensi ini sedikit banyak telah merusak reputasi dari Danareksa, Millenium Danatama, dan juga Reliance, dimana investor akan mikir-mikir lagi kalo mau buka rekening di tiga sekuritas tersebut. Dalam hal ini tindakan Direktur BEI, Tito Sulistio, patut diacungi jempol karena, coba anda pikir: Kalau anda yang jadi Direktur BEI, maka apakah akan segampang itu untuk men-suspend tiga sekuritas diatas? Karena sudah pasti anda akan ditentang oleh pihak-pihak yang merasa ‘periuk nasi’ mereka terganggu, apalagi mereka sekuritas besar.
Namun kalau suatu institusi melakukan kesalahan, maka mereka tetap harus dihukum tak peduli sebesar apapun institusi tersebut. Penulis harap apa yang dilakukan BEI ini bisa menjadi sinyal bahwa mereka benar-benar berpihak kepada semua pelaku pasar modal termasuk investor ritel, dan tidak hanya berpihak pada pemain-pemain besar saja.
Yang kedua, kejadian ini tentunya menjadi pengingat bahwa sebagai investor, anda harus hati-hati dalam memilih sekuritas, dan penulis serius soal ini: Anda harus hati-hati.
Karena, secara teori, sekuritas seharusnya mendukung investor/nasabahnya untuk bisa sukses dan meraup keuntungan di pasar modal. Namun pada prakteknya, mayoritas perusahaan sekuritas hanya peduli soal trading fee, dan mereka tidak peduli apakah anda untung atau rugi. Atau lebih buruk lagi: Tidak sedikit oknum-oknum pekerja sekuritas yang dengan sengaja mencoba meraup keuntungan yang berasal kerugian investor. Jika di Amerika sana sudah ada Jordan Belfort, seorang pemilik perusahaan sekuritas yang ditangkap dan dipenjara karena kasus ini (dan mungkin ada banyak lagi pemilik sekuritas yang lain yang juga dipenjara), maka di Indonesia penulis belum pernah mendengar pemilik atau karyawan sekuritas yang sampai dipenjara karena kasus insider trading, padahal sekali lagi, kasus SIAP ini sama sekali bukan yang pertama kali (jadi ini adalah tantangan besar bagi anda, Pak Tito Sulistio dan juga temen-temen lainnya di BEI, namun kita akan sangat apresiasi kalau anda bisa berbuat lebih banyak lagi).
Lalu terkait tips-tips untuk memilih sekuritas, anda bisa membacanya disini.
Dan ketiga, kasus SIAP ini seharusnya bisa jadi pelajaran bagi anda, entah itu yang jadi korban atau tidak, untuk tidak lagi berurusan dengan saham-saham gorengan. Sebenarnya gak sesulit itu untuk bisa melihat kalau SIAP ini emang gak beres. Pada Juni 2014, SIAP dijadikan objek backdoor listing untuk PT Indo Wana Bara (IWB), sebuah perusahaan batubara, dimana SIAP menerbitkan saham baru sebanyak 23.4 milyar lembar pada harga Rp200 per saham (sehingga diperoleh dana Rp4.7 trilyun) untuk mengakuisisi IWB. Problemnya adalah, IWB ini sama sekali belum berproduksi dan lebih buruk lagi, IWB masih belum memiliki alat-alat berat dll yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas pertambangan, dan pemegang saham SIAP juga sama sekali gak punya duit untuk membeli alat-alat berat tersebut. Jadi ketika SIAP melakukan right issue senilai Rp4.7 trilyun, maka SIAP sama sekali tidak menerima setoran modal/dana sebanyak itu, dimana pada laporan keuangan perusahaan hanya terdapat aset berupa goodwill senilai Rp4.7 trilyun tersebut.
Nah, dari sini saja sudah keliatan kalau proses right issue SIAP ini gak beres sejak awal, karena bagaimana mungkin sebuah perusahaan batubara yang masih gak berproduksi dan bahkan belum ada apa-apanya sama sekali, bisa-bisanya dihargai sampai Rp4.7 trilyun??? Selanjutnya bisa ditebak: Owner SIAP, entah karena serakah atau apa, me-repo-kan sahamnya yang sebanyak 23.4 milyar lembar tadi, yang sejatinya gak ada nilainya sama sekali (karena itu cuma saham dari sebuah perusahaan yang belum beroperasi), untuk memperoleh dana ratusan milyar Rupiah, biasanya dari dana pensiun atau investor institusi lainnya, dan biasanya pula dengan iming-iming bahwa ‘sahamnya akan dijaga’. Itu sebabnya saham SIAP kemudian dinaik-naikkan untuk memberikan keuntungan pada pemegang repo tadi, dan alhasil pergerakan SIAP jadi nggak wajar sama sekali, dimana dia bisa dengan gampang naik secara ekstrim, tapi juga gampang jebloknya, dan transaksi sahamnya juga kelewat besar untuk sebuah saham kelas third-liner.
Jadi ketika kemudian SIAP akhirnya kolaps, maka terus terang, penulis tidak kaget sama sekali, karena kalau melihat pergerakan serta volume transaksi sahamnya saja sudah sangat jelas kalau ini cuma saham gorengan (masih ingat kasus TRAM kemarin? Baca lagi disini). Fundamental SIAP juga totally bad, dimana ia perusahaan sampai sekarang masih menderita kerugian. Sementara kalau sekarang terdapat beberapa sekuritas yang disebut-sebut terlibat, maka ini memang cerita baru, tapi paling tidak ini bisa jadi pelajaran bagi para sekuritas itu sendiri untuk gak lagi macam-macam. I mean, cari duit di saham emang gak gampang, apalagi dalam kondisi pasar kaya sekarang, tapi mbok ya caranya jangan gitu juga lah!
Anyway, pasar modal bukan hanya tempat bagi para investor, tapi juga tempat bagi para spekulan dan juga mereka-mereka yang menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan. Jadi suka atau tidak, kedepannya akan ada lagi SIAP-SIAP yang lain. Bagi anda yang telah menjadi korban, penulis terus terang tidak tahu apakah anda bisa memperoleh uang anda kembali atau tidak, but at least kerugian tersebut bisa menjadi pelajaran agar anda lebih hati-hati lagi kedepannya (boleh baca lagi artikel yang ini untuk inspirasi). Just remember: Selama anda mainnya lurus-lurus aja dan tidak coba-coba berspekulasi dengan saham-saham gorengan seperti SIAP ini, then trust me, your portfolio will be just fine.
Minggu depan kita akan bahas soal Kalbe Farma (KLBF), and don’t worry guys, karena saham yang satu ini sih jelas bukan gorengan.

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya

Ebook Analisis Kuartal III 2015

Dear investor, setiap tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal III 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin, tanggal 9 November 2015. Anda bisa memperolehnya disini, dan ebooknya nanti akan langsung dikirim via email.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu (biayanya masih tetap sama seperti tahun 2010 lalu, alias tidak naik sama sekali).
Berikut ini adalah contoh tiga analisis/rekomendasi saham terbaru:
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

‘Investasi Untuk Mencari Rugi’

Tadi malam sebelum tidur, seperti biasa penulis browsing-browsing internet di hape, dan entah gimana ceritanya saya nyasar ke website terkait lowongan pekerjaan dan forum seputar dunia kerja. Yang menarik adalah, ketika penulis masuk ke forum lowongan pekerjaan untuk entry level (fresh graduate atau pengalaman 1 – 2 tahun), yang paling banyak didiskusikan adalah: Berapa sih gaji di perusahaan A? Kalau nanti sudah diangkat sebagai karyawan tetap, take home pay-nya berapa? Dapet tunjangan apa saja?

Disisi lain tidak banyak calon pelamar kerja yang bertanya soal: Apa jobdesk di perusahaan A? Kalau saya diterima kerja disitu, pengalaman kerja seperti apa yang bisa diperoleh? Kalau saya diterima kerja disitu, apa saja kesulitan, tantangan, serta peluang yang bisa dicapai? Kalaupun ada, maka tetap saja yang ditanyakan pertama kali adalah soal gajinya dulu, kemudian baru soal kerjaannya.
Intinya, kalau kita ketemu calon karyawan yang masih fresh grad, maka biasanya mereka lebih antusias untuk berbicara tentang apa yang akan mereka dapatkan, dan bukan apa yang akan mereka kerjakan.
However, untuk lowongan pekerjaan di tingkat lebih tinggi, seperti untuk posisi manajer atau direktur dimana si kandidat tentu saja harus berpengalaman selama minimal 5, 10, atau bahkan 15 tahun di bidang yang sama, maka ceritanya sama sekali berbeda. Kalau anda baca iklan lowongan pekerjaan di koran untuk posisi manajer atau direktur, maka disitu jelas tertulis jobdesk plus kriteria kandidat yang diharapkan, tapi tidak pernah disebut soal gaji.
Dan itu karena, untuk posisi yang membutuhkan tanggung jawab yang sangat besar seperti direktur atau CEO, maka gajinya gak usah ditanya lah, yang jelas jauh lebih besar dibanding gaji karyawan biasa. Beberapa orang yang pernah mencicipi posisi manajer/direktur juga biasanya kondisi keuangannya sudah mapan, sehingga ketika ia melamar untuk posisi direktur di perusahaan lain, maka yang ia cari adalah tantangan yang baru, suasana kerja yang baru, hingga peluang untuk meraih prestasi/pencapaian yang lebih tinggi lagi, jadi sama sekali bukan soal gaji (meski tentu, kalau seorang direktur pindah dari perusahaan kecil ke perusahaan yang lebih besar, maka gajinya otomatis naik). Contoh gampang, ketika Jose Mourinho pada tahun 2010 lalu sukses mencetak sejarah dengan membawa Inter meraih gelar treble, maka di tahun itu pula ia langsung pindah ke Real Madrid. Lalu apa yang memotivasi-nya untuk pindah? Ya untuk memperoleh tantangan baru, mencetak prestasi baru, atau jika memungkinkan, untuk kembali mengukir sejarah! Yakni untuk menjadi manager pertama dalam sejarah sepakbola yang menjuarai Liga Champions di tiga klub berbeda (Mou sudah dua kali menjuarai Liga Champions, masing-masing bersama Porto dan Inter). Sementara kalo cuma soal gaji atau duit, Mr. Jose sudah kaya raya bahkan sejak ia masih me-manage Porto, delapan tahun sebelumnya.
Nah, terus apa hubungan hal ini dengan investasi kita di saham?
Setiap kali penulis ketemu atau menerima pertanyaan dari nvestor pemula/calon investor, biasanya mereka antusias soal bagaimana seorang investor yang sukses bisa punya duit banyak, cuan, bisa trading for living, financial freedom, punya banyak waktu luang untuk keluarga, kaya sambil tidur.. Pokoknya yang enak-enak deh! Tapi gilirannya mereka diajak diskusi soal tugas seorang investor, yakni baca-baca laporan keuangan, baca laporan tahunan atau prospektus yang tebelnya minta ampun, harus belajar/memahami sektor-sektor ekonomi, harus banyak-banyak belajar cara menganalisa, harus belajar mengendalikan emosi dan.. yang paling penting, harus pernah merasakan rugi/cut loss serta mengalami situasi market crash, maka semua antusiasme tersebut hilang begitu saja. Pendek kata, seperti halnya mahasiswa fresh graduate yang ketika melamar pekerjaan lebih tertarik soal berapa gaji yang akan diterima ketimbang jobdesk dari pekerjaan itu sendiri, investor pemula juga lebih tertarik soal berapa besar keuntungan yang bisa ia peroleh, ketimbang apa-apa saja yang harus ia dikerjakan. Padahal, seperti kata Pak Lo Kheng Hong, anda memang bisa kaya sambil tidur dari saham, tapi itu bukan berarti anda tinggal beli saham saja secara acak tanpa analisa serta strategi apapun, kemudian tidur!
However, investor yang berpengalaman ngomongnya beda lagi. Mereka sadar betul bahwa kesuksesan di saham, seperti halnya kesuksesan di bidang lain, tidak bisa dicapai tanpa kerja keras dan juga sedikit pengorbanan, dalam hal ini kerja keras untuk menggali pengetahuan serta pengalaman, dan pengorbanan untuk sesekali menderita kerugian. Tidak ada investor besar dimanapun di belahan dunia ini, yang sukses menjadi kaya raya tanpa pernah sekalipun mengalami kondisi market crash. Tidak ada seorangpun investor besar yang bisa langsung memiliki ‘mental baja’ tanpa pernah mengalami kondisi panik dan bingung sebelumnya.
Jadi setiap kali penulis kumpul dengan partner/investor yang lebih senior (bukan kumpul di Grup WA atau BBM ya, tapi ketemu langsung sambil ngopi-ngopi), kita selalu diskusi soal economic outlook, prospek serta risiko saham tertentu (jadi gak ngomong soal prospek-prospek mulu), peluang serta tantangan pasar kedepannya, perkembangan sektor-sektor usaha tertentu di Indonesia, dan seterusnya. Kita juga banyak tukar pikiran soal strategi investasi apa yang harus diterapkan kedepan.
Lalu bagaimana soal cuan dll? Well, kami sudah cukup paham bahwa selama kami fokus pada what to do, maka kami tidak perlu khawatir soal what we’ll get. Logika sederhana: Kalau anda adalah pelatih sebuah tim sepakbola yang akan bertanding di final, dimana jika tim anda menang maka akan juara, maka anda akan fokus kemana? Apakah fokus untuk melatih pemain, menerapkan strategi, mengamati taktik lawan dan seterusnya.. Atau fokus soal berapa bonus yang akan diterima kalau tim anda nanti memenangkan pertandingan dan jadi juara? Nah, kalau anda hanya fokus soal bonus tadi dan melupakan soal strateginya, maka kira-kira tim anda bakal menang atau kalah???
Dengan demikian, jika anda mau sukses sebagai investor, maka pertama-tama ubah fokus anda dari hasil ke proses dari investasi itu sendiri. I will not lie to you guys: Pasar saham sangat kejam terhadap mereka yang tidak mau bekerja keras dan mengharapkan hasil instant. However, pasar saham juga sangat bersahabat terhadap mereka yang bisa melihat bahwa investasi itu merupakan petualangan tanpa akhir, yang dengan suka cita membaca-baca laporan keuangan setiap tiga bulan sekali, yang menyukai untuk menganalisa/menggali informasi perusahaan hingga sedalam-dalamnya, yang fokus pada strategi kedepan ketimbang setiap baca-baca berita dan rumor gak jelas, dan yang tidak menggerutu kalau menderita kerugian melainkan justru memanfaatkannya sebagai bahan evaluasi! So class, as an investor, what shouldyou do?
Penulis bersama Almarhum Om Bob Sadino di tahun 2008. Salah satu kata mutiara beliau yang jadi favorit penulis adalah, ‘Saya berbisnis untuk mencari rugi’, yang kemudian penulis terjemahkan , ‘Saya berinvestasi untuk mencari rugi, karena dari rugi itu saya bisa melakukan evaluasi untuk menghasilkan strategi investasi yang lebih baik lagi kedepannya.’
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal III 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya

Mengenal ‘Penyertaan Modal Negara’ pada BUMN

Setelah melalui perdebatan alot, DPR akhirnya menyetujui usulan Pemerintah terkait penyertaan modal negara (PMN) terhadap 23 BUMN senilai total Rp34.3 trilyun, dimana dananya diambil dari APBN 2016. Yang mungkin menjadi perhatian investor pasar saham, dari ke-23 BUMN penerima PMN tersebut, empat diantaranya merupakan perusahaan Tbk, yakni Krakatau Steel (KRAS), Jasa Marga (JSMR), Wijaya Karya (WIKA), dan Pembangunan Perumahan (PTPP). Saatnya akumulasi keempat saham tersebut? Well, seperti biasa gak usah buru-buru, melainkan mari kita pelajari dulu.

Dibawah pimpinan Jokowi, yang dilantik sebagai Presiden pada Oktober 2014, pada awal tahun 2015 lalu pemerintah segera membuat terobosan dengan menambahkan pos PMN pada R-APBN tahun 2015. Dikatakan terobosan, karena ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah RI dimana Pemerintah menyuntikkan modal ke BUMN untuk tujuan pembangunan. Biasanya kalau Pemerintah mau bikin jembatan, jalan raya dll, mereka akan membuatnya sendiri melalui departemen dan dinas-dinas terkait, nyaris tanpa melibatkan BUMN kecuali sebagai pihak ketiga (misalnya WIKA sebagai kontraktor dalam proyek pembagunan jalan tol). Tapi sekarang BUMN dilibatkan langsung dalam pembangunan, dan untuk itu mereka memperoleh tambahan modal dari Pemerintah sebagai pemegang saham pengendali. Itu sebabnya kemarin kita melihat bahwa beberapa BUMN seperti Waskita Karya (WSKT), Adhi Karya (ADHI), hingga Aneka Tambang (ANTM), semuanya menggelar right issue dengan Pemerintah sebagai pembeli siaga-nya.
Nah, pada PMN tahap pertama untuk tahun 2015, Pemerintah, dengan persetujuan dari DPR, menyertakan modal senilai total Rp37.3 trilyun untuk 27 BUMN, dan tiga diantaranya adalah perusahaan Tbk yakni WSKT, ADHI, dan ANTM, dimana untuk tiga BUMN ini PMN tersebut disertakan dalam bentuk right issue. Berdasarkan informasi rencana penggunaan dana di prospektus yang diterbitkan, jelas sekali bahwa Pemerintah melalui WSKT, ADHI, dan ANTM, berencana untuk membangun ini dan itu sesuai dengan kompetensi BUMN yang terkait, yakni:
  1. WSKT: Membangun jalan tol di Sumatera dan Jawa, plus jaringan transmisi listrik di Sumatera.
  2. ADHI: Membangun jaringan rel kereta api di seluruh Indonesia beserta stasiun dan properti pendukungnya.
  3. ANTM: Melanjutkan proyek pembangunan Pabrik Feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara. Proyek ini sejatinya sudah dimulai sejak tahun 2011, sebagai bagian dari MP3EI, tapi mandek karena ANTM kekurangan dana. Pabrik feronikel ini ditargetkan mulai beroperasi tahun 2018, dan akan memberikan nilai tambah bagi ANTM karena perusahaan bisa mengolah lebih banyak cadangan nikel mentahnya menjadi feronikel, sebelum kemudian baru dijual.
Sementara untuk PMN tahap dua untuk tahun 2016 mendatang, PT PLN menjadi penerima setoran modal terbesar yakni Rp10 trilyun, dimana dananya akan digunakan untuk membiayai mega proyek pembangkit listrik 35,000 MW, yang memang sudah on progress. Dalam waktu dekat ini kita juga akan melihat KRAS, JSMR, WIKA, dan PTPP menggelar right issue. Pemerintah sendiri berencana untuk terus menyertakanan modal ke BUMN setiap tahun, jadi untuk tahun-tahun berikutnya (2017 dan seterusnya), BUMN yang lain kemungkinan juga akan menyusul untuk menggelar right issue.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana kira-kira dampak PMN ini terhadap saham dari BUMN-BUMN yang terkait, IHSG, dan ekonomi nasional secara keseluruhan? Well, ada beberapa poin yang penulis perhatikan. Pertama, kalau kita ambil contoh right issue WSKT, ADHI, dan ANTM, yang harga right issue-nya semua ditetapkan dibawah harga pasar, maka Pemerintah sepertinya sengaja membuat agar momentum PMN ini tidak dimanfaatkan oleh investor tertentu untuk meraup keuntungan jangka pendek, karena tujuannya murni untuk pembangunan infra melalui tangan BUMN. Jika WSKT, ADHI, dan ANTM mampu menggunakan dana setoran pemerintah untuk menjalankan proyek-proyek infra secara maksimal hingga pada akhirnya meningkatkan kinerja perusahaan, dan otomatis sahamnya naik, maka barulah para pemegang sahamnya akan diuntungkan. Namun sudah tentu, para BUMN ini perlu waktu yang tidak sebentar, minimal 1 – 2 tahun atau bahkan lebih, untuk menginvestasikan tambahan modal yang mereka terima hingga menghasilkan kinerja keuangan yang baik, sehingga yang (mungkin) akan diuntungkan hanyalah investor yang memegang sahamnya untuk jangka panjang.
Kedua, terdapat multiplier effect dari PMN ini. Dengan struktur modal yang lebih kuat, maka para BUMN akan bisa mengajukan pinjaman ke bank atau menerbitkan obligasi untuk menambah modal kerja, sehingga bank akan kebanjiran omzet kredit lagi. Dana PMN plus pinjaman yang diterima para BUMN ini, contohnya oleh ADHI sebagai perusahaan kontraktor, akan digunakan untuk membayar sub-kontraktor, membeli bahan bangunan dari supplier, merekrut pegawai baru, dan seterusnya. Para pegawai ini menerima gaji, dan mereka akan membeli beras dari pedagang, dan pedagang akan membeli hasil panen dari pertani. Pendek kata uang yang disalurkan Pemerintah ke BUMN pada akhirnya akan menyebar ke seluruh masyarakat, dan akan kembali menggerakkan roda perekonomian yang sempat mandek setahunan terakhir ini karena dicabutnya subsidi BBM dan lain-lain (kita pernah membahas soal itu disini). Plus, karena Pemerintah membangun infra dari Aceh hingga Papua, maka perputaran roda perekonomian tersebut akan tersebar secara merata di seluruh penjuru negeri, dan tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa seperti biasanya. Jika semuanya lancar, maka pertumbuhan ekonomi yang melambat sepanjang tahun 2015 ini akan segera melaju kencang kembali, karena dana sekian trilyun yang disalurkan melalui BUMN tersebut hanyalah sebagian kecil dari dana pembangunan infrastruktur secara keseluruhan. Dan seperti yang bisa kita lihat dilapangan, salah satunya di artikel ini, pembangunan infra tersebut memang sudah jalan kok!
Ketiga, dan yang ini terkait IHSG, dengan meningkatnya nilai modal/aset bersih perusahan-perusahaan BUMN, maka market cap perusahaan akan turut meningkat, dan itu akan menarik minat investor dari luar (investor asing) untuk kembali menempatkan investasinya disini. Karena untuk fund yang benar-benar besar, biasanya mereka hanya mau invest di saham big caps, katakanlah diatas US$ 1 milyar. Dan pasca right issue, market cap WSKT sekarang sudah diatas US$ 1 milyar, sehingga sahamnya praktis masuk watch-list para fund manager global. Jika peningkatan market cap ini terjadi pada banyak BUMN sekaligus, maka mungkin kita akan melihat para investor asing, yang belakangan ini banyak keluar dari pasar saham Indonesia, akan berbondong-bondong masuk kembali.
Intinya penulis memandang PMN ini sebagai sesuatu yang baik, yang bisa memberikan dampak positif bagi para BUMN terkait, bagi perekonomian nasional dari multiplier effect yang dihasilkan, dan juga bagi IHSG. Meski memang terdapat risiko bahwa BUMN yang disuntik modal ternyata tidak mampu memanfaatkan setoran dana dengan baik sehingga kinerjanya malah jadi jelek (dan sahamnya jatuh), namun multiplier effect tadi tetap akan berdampak positif terhadap perekonomian karena mengalirnya uang dalam jumlah besar dari Pemerintah ke masyarakat, dan yang jelas nilai aset bersih/market cap para BUMN ini tetap akan naik. Sementara kalau melihat bahwa Pemerintah secara sengaja mensinergikan BUMN satu sama lain, maka seharusnya para BUMN ini bisa menghasilkan kinerja sesuai harapan. Contohnya, melalui PMN tahun 2015 dan 2016, Pemerintah sudah memutuskan untuk memberikan tambahan modal ke KRAS, PT Industri Kereta Api (INKA, tidak listing), ADHI, dan PT Kereta Api Indonesia, dimana KRAS memproduksi baja, baja itu akan dibeli oleh INKA untuk membuat gerbong dan rel, rel itu akan dibeli oleh ADHI untuk membangun jaringan rel kereta api, dan PT Kereta Api Indonesia akan mengoperasikan jaringan rel baru tersebut. Pendek kata, karena semua BUMN memperoleh ‘jatah pekerjaan’ sesuai kompetensinya masing-masing, maka semua BUMN akan memperoleh pembeli untuk produk/jasa yang mereka hasilkan. Dan kalau sudah demikian, maka apa lagi alasan bagi para BUMN ini untuk tidak mencatatkan kinerja yang memuaskan?


Logo PT Krakatau Steel, Tbk (KRAS). Setelah melakukan revaluasi aset hingga nilai ekuitasnya meningkat sekitar Rp10 trilyun, dalam waktu dekat perusahaan juga akan right issue dengan nilai minimal Rp2.5 trilyun

Namun, sudah tentu, seperti halnya kita kemarin harus ‘puasa’ dulu setelah ekonomi babak belur gara-gara Pemerintah mencabut subsidi ini dan itu (karena dananya dipindahkan ke pos-pos yang lebih produktif, salah satunya PMN ini), maka penyaluran PMN ini juga memerlukan waktu yang tidak sebentar agar dampak positif yang dihasilkan bisa benar-benar dirasakan. Disisi lain, karena Pemerintah juga tampaknya tidak memiliki hambatan berarti dalam merealisasikan PMN ini dan juga tindakan lainnya terkait pembangunan infra (soalnya di DPR juga tinggal sisa Fadli Zon dan Fahri Hamzah doang, yang lainnya udah jinak semua), maka penulis percaya bahwa dalam jangka panjang, Indonesia will eventually be prosperous. So guys, will you join the train? :)
Pengumuman: Buletin monthly investment plan & stock-pick saham edisi November sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk [...]