Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Ebook Analisis Kuartal I 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada Selasa, 8 Mei 2018. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama, salah satu edisi sebelumnya), klik untuk memperbesar.

Tugas rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
TESTIMONIAL
Selamat siang pak Teguh…
Saya Mengikuti jejak bapak membeli asri. Kebetulan dapat harga di bawah bapak.
Dan sekarang mulai ada profit.
Terima kasih pak Teguh.
-Fendi-
Oya Pak…mau blng trm ksh. Sy ada beli ptro dan inds bbrp bulan lalu. Bulan lalu jual. Kecepatan sih jualnya. Tp yg penting ada cuan 30 persen walaupun gak byk lotnya. Tp tetap mau blng trm ksh sama Pak Teguh.
Sekarang ada masuk mcor dan beli hoki kmrn sesuai ebook lk 3 kmrn.smg bs ksh cuan lg.
April 17th, 2018 at 9:44 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Ekuitas Tidak Riil??

Jika anda membeli beberapa saham senilai total Rp10 juta, dan beberapa waktu kemudian saham-saham anda tersebut naik rata-rata 10%, maka sekarang di software online trading (OLT) anda tertulis aset Rp11 juta, naik dari sebelumnya Rp10 juta. Pertanyaannya, apakah nilai portofolio anda benar-benar menjadi Rp11 juta seperti yang tampak di OLT? Jawabannya, tidak. Karena jika besok-besok ada saham anda yang naik atau turun, maka nilai porto anda akan berubah lagi. Porto anda baru akan fix bernilai sekian juta Rupiah, jika anda sudah menjual dan merealisasikanprofit dan/atau rugi dari semua saham yang anda pegang.

Jadi dalam hal ini bisa kita katakan bahwa nilai porto saham anda yang Rp11 juta tadi tidak riil. Konsep yang sama juga berlaku pada perusahaan-perusahaan holding atau investment company yang kerjaannya berinvestasi atau membeli saham atau aset keuangan lainnya (obligasi, promissory notes, reksadana, dll) dari perusahaan lain: Nilai ekuitas mereka tidak riil, karena nilai ekuitas tersebut bisa berubah setiap saat tergantung naik turunnya harga market atau ‘nilai wajar’ dari aset-aset keuangan yang mereka pegang.
Dan alhasil, jika kita hendak membeli saham dari perusahaan holding seperti ini, maka valuasinya tidak bisa disamakan dengan valuasi saham dari perusahaan biasa, melainkan harus lebih konservatif. Contoh, saham Saratoga Investama Sedaya (SRTG), sekilas tampak murah karena PBV-nya cuma 0.5 kali pada harga saham 4,000. Tapi setelah kita cek lagi, ternyata dari total aset SRTG senilai Rp26.6 trilyun per tahun 2017, mayoritas diantaranya merupakan ‘investasi pada efek ekuitas’. Seperti yang kita ketahui, SRTG merupakan induk dari banyak anak usaha termasuk beberapa perusahaan Tbk, yakni Adaro Energy (ADRO), Tower Bersama Infrastructure (TBIG), Nusa Raya Cipta (NRCA), Mitra Pinasthika Mustika (MPMX), Provident Agro (PALM), dan Merdeka Copper & Gold (MDKA), dimana nilai investasi SRTG pada anak-anak usahanya tersebut dihitung berdasarkan dua cara: 1. Berdasarkan naik turunnya harga saham ADRO dkk di market, dan 2. Berdasarkan nilai wajar sesuai nilai laba dan rugi yang dihasilkan tiap-tiap perusahaan.
Jadi simpelnya, kalau harga saham ADRO dkk naik, atau jika ADRO membukukan laba bersih yang besar (meskipun laba tersebut belum dicairkan oleh SRTG/tidak semuanya ditarik dalam bentuk dividen), maka akun ‘investasi pada efek ekuitas’ di laporan keuangan SRTG akan naik, demikian pula ekuitas perusahaan ikut naik. Karena dalam 2 – 3 tahun terakhir harga saham ADRO memang naik banyak seiring pulihnya sektor batubara, maka alhasil ekuitas SRTG juga turut naik banyak. Pada tahun 2014, SRTG membukukan aset investasi pada efek ekuitas sebesar Rp12.2 trilyun, dengan ekuitas Rp10.5 trilyun. Dan tiga tahun kemudian, pada tahun 2017, aset investasi tersebut melonjak jadi Rp24.8 trilyun, sementara ekuitasnya naik hampir dua kali lipat menjadi Rp19.0 trilyun.
Tapi sekali lagi, karena SRTG belum menjual saham mereka di ADRO dan lainnya, dan memang mereka hampir tidak mungkin akan menjualnya, maka ekuitas SRTG tidak sebesar kelihatannya, dimana kalau besok-besok ADRO mengalami penurunan kinerja, atau harga sahamnya turun, maka ekuitas SRTG juga akan turun. Dalam hal ini PBV SRTG yang hanya 0.5 kali tadi menjadi tidak semurah kelihatannya, melainkan mungkin memang wajarnya segitu. Meski demikian, kita tidak bisa menyebut SRTG sebagai contoh saham value trap seperti yang sudah kita bahas beberapa waktu lalu, melainkan sekali lagi, kita hanya perlu menghargai sahamnya dengan lebih konservatif saja. Sebab kalau kita lihat di Amerika pun, saham Berkshire Hathaway (BRK) juga PBV-nya hanya 1.4 kali, alias sangat rendah jika dibandingkan dengan katakan saham Apple Inc (AAPL), Alphabet Inc (GOOG), hingga Microsoft (MSFT), ydimana PBV mereka rata-rata diatas 3 – 4 kali. Sebab memang, nilai ekuitas BRK, setidaknya sebagian diantaranya, juga bisa berubah setiap saat tergantung naik turunnya saham Coca Cola (KO) dll.
Jadi jika besok-besok SRTG ini turun hingga PBV-nya menjadi hanya 0.3 – 0.4 kali, maka mungkin baru kita bisa katakan bahwa sahamnya murah.
Perhatikan Cara Penyajian LK
However, tidak semua saham perusahaan holding harus kita hargai pada valuasi yang rendah, karena yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara perusahaan dalam menyajikan laporan keuangannya. Contohnya Astra International (ASII), dimana cara penyajian LK-nya berbeda dengan SRTG. ASII, yang merupakan induk dari United Tractors (UNTR), Astra Agro Lestari (AALI) dst, tidak mencantumkan aset investasinya di UNTR dkk sebagai ‘investasi ekuitas’, melainkan aset-aset tambang milik UNTR dikonsolidasikan/dianggap sebagai aset tetap perusahaan (dan sudah termasuk menghitung penyusutan), demikian pula pendapatan UNTR dikonsolidasikan sebagai bagian dari pendapatan ASII. Lebih jelasnya klik gambar berikut:
Rincian aset SRTG

Perhatikan: Pada gambar diatas bisa kita lihat bahwa SRTG membukukan asetnya dengan sangat simpel, yakni berdasarkan nilai dari aset-aset keuangan (deposito, saham, equity share swap, dst) yang mereka pegang saat ini, dimana nilai aset-aset tersebut bisa berubah setiap saat. Sedangkan aset tambang milik ADRO dkk, itu tidak dikonsolidasikan sama sekali. Dan ini, sekali lagi, adalah sama dengan jika jika anda beli saham Bank BCA (BBCA), dimana di OLT, nilai investasi anda di BBCA akan berubah sesuai dengan naik turun sahamnya, bukan berdasarkan berubahnya nilai gedung kantor BCA dll.
Rincian aset ASII

Untuk ASII, seperti yang sudah disebut diatas, perusahaan menyajikan laporan keuangannya berdasarkan metode konsolidasi seperti LK emiten lain pada umumnya, dimana aset-aset tetap milik anak-anak usaha, termasuk aset piutang pembiayaan (melalui FIF Group), aset perkebunan (melalui AALI), dan aset pertambangan (melalui UNTR), semuanya diakui sebagai bagian dari aset ASII. Ini artinya mau saham UNTR di market naik atau turun, maka gak ada pengaruhnya ke ekuitas ASII sebagai induknya.
Laporan laba rugi SRTG

Perbedaan mencolok juga tampak di laporan laba rugi perusahaan, dimana SRTG mengakui ‘keuntungan investasi pada efek ekuitas’ sebagai pendapatan, meskipun sejatinya perusahaan tidak benar-benar menerima uangnya. Nilai pajak penghasilan yang terbilang kecil, yakni hanya Rp182 milyar (dibanding dengan laba sebelum pajaknya yakni Rp3.2 trilyun), juga menunjukkan bahwa sebagian besar laba sebelum pajak tersebut hanya bersifat pembukuan/diatas kertas, karena PPh badan yang 25% memang hanya dikenakan pada laba bersih perusahaan yang riil (jadi laba riil SRTG untuk tahun 2017 hanya sekitar Rp182 milyar / 25% = Rp728 milyar).
Laporan laba rugi ASII

Sementara untuk ASII, perusahaan mencatat pendapatannya berdasarkan nilai pendapatan konsolidasi dari anak-anak usahanya, dan hanya ada sedikit pendapatan yang sifatnya diatas kertas. Thus, laba bersih ASII adalah riil, sehingga kenaikannya ekuitasnya (karena tambahan saldo laba) juga riil, dan valuasi/nilai intrinsik sahamnya boleh kita hitung menggunakan metode value investing yang seperti biasanya.
Anyway, contoh ‘ekuitas yang tidak riil’ pada perusahaan type holding ini barulah satu dari sekian banyak contoh angka-angka di laporan keuangan yang belum tentu sebesar kelihatannya/harus kita cermati lebih teliti lagi. Well, tapi berhubung artikelnya sudah cukup panjang, maka soal ini nanti kita bahas lagi dilain waktu.

Untuk minggu depan kita akan membahas prospek IPO BRI Syariah (BRIS).
Jadwal Seminar Value Investing: Advanced Class
Medan, Grand Sakura Hotel, 21 April (FULL SEAT!)
Bali, Rivavi Hotel Pantai Kuta, 28 April (masih available)
Keterangan selengkapnya baca disini.

Penulis juga membuat rekaman seminar Value Investing: Basic & Advanced Class. Dan anda bisa memperolehnya disini.


Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal I 2018 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Selasa, 8 Mei 2018. Anda sudah bisa memesannya dari sekarang, baca info selengkapnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ciri-Ciri Investor Saham

Sebagai investor saham berpengalaman, apa saja ciri-ciri khas yang anda miliki, baik itu terkait aktivitas anda di stock market maupun di kehidupan sehari-hari, yang membedakan anda dengan trader saham/orang lain pada umumnya, dan terutama jika dibandingkan dengan anda sendiri ketika dulu masih newbie?

1. ….
2. ….
3. ….
4. Dst
Anda bisa menjawabnya melalui kolom komentar dibawah, lengkap dengan penjelasannya. Sebagai contoh:
1. Sabar & santai. Dulu saya beli saham jam 9.00 pagi, jam 9.05 sudah dijual. Sekarang saya bisa hold saham yang sama selama berbulan-bulan, atau lebih lama lagi,
2. Dst.

Jadwal Seminar Value Investing: Advanced Class
Surabaya, Amaris Hotel Embong Malang, 14 April (FULL SEAT!),
Medan, Grand Sakura Hotel, 21 April (FULL SEAT juga),
Bali, Rivavi Hotel Pantai Kuta, 28 April (masih available).
Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Wijaya Karya Gedung

Wika Gedung (WEGE) menjadi salah satu saham anyar di BEI yang menarik untuk diperhatikan setelah perusahaan melaporkan laba bersih Rp295 milyar untuk tahun penuh 2017, dimana kalau kita bandingkan dengan ekuitasnya setelah dikurangi dana hasil IPO-nya (karena perusahaan baru menggelar IPO pada November 2017, sehingga dana hasil IPO-nya masih belum digunakan), yakni 1,698 – 833 = Rp865 milyar, maka laba tersebut mencerminkan return on equity (ROE) 34.1%, alias sangat besar baik itu jika dibandingkan dengan emiten-emiten konstruksi yang lain, ataupun dibandingkan dengan semua emiten di BEI secara umum. Disisi lain dengan PBV 1.5 kali pada harga saham 264, maka valuasi WEGE juga tidak bisa dikatakan mahal. Prospek kedepan?

PT Wijaya Karya Bangunan Gedung, Tbk (WEGE) adalah salah satu anak usaha dari Wijaya Karya (WIKA), yang spesialis bergerak di bidang konstruksi bangunan gedung dan properti seperti apartemen, hotel, mall & pusat perbelanjaan, menara perkantoran, gedung kampus, kompleks olahraga, hingga rumah sakit. Berbeda dengan WIKA itu sendiri yang sebagian besar pendapatannya berasal dari proyek-proyek pekerjaan umum milik pemerintah termasuk dari sesama BUMN dan BUMD, sekitar 80% pendapatan WEGE berasal dari swasta. Jadi jika WIKA adalah kompetitor dari Waskita Karya (WSKT) dan Adhi Karya (ADHI), dalam hal membangun infrastruktur/fasilitas umum milik negara, maka WEGE sebagai konstruktor gedung properti milik swasta adalah kompetitor dari Total Bangun Persada (TOTL), Nusa Raya Cipta (NRCA), Acset Indonusa (ACST), hingga Totalindo Eka Persada (TOPS), tapi posisi WEGE secara umum lebih unggul dibanding para kompetitornya tersebut. Berdasarkan pangsa pasarnya baik itu dari pelanggan pemerintah maupun swasta, maka WEGE adalah perusahaan konstruksi gedung terbesar ketiga di tanah air, setelah Pembangunan Perumahan (PTPP), dan Adhi Persada Gedung, anak usaha dari ADHI. Selain menjual jasa konstruksi, WEGE juga jualan beton pracetak (precast) khusus untuk kontruksi gedung, tapi kontribusinya berdasarkan nilai laba bersih tidak signifikan/hanya sekitar 1% dari total laba perusahaan.
Selain usaha konstruksi dan beton pracetak, sejak tahun 2013 WEGE juga punya usaha usaha properti milik sendiri jenis apartemen dan hotel di beberapa kota di Pulau Jawa, dan kontribusi usaha properti ini terbilang signifikan, dimana dari laba bersih WEGE sebesar Rp295 milyar di tahun 2017, Rp80 milyar berasal dari properti, dan angka tersebut melonjak dari Rp32 milyar di tahun 2016. Berhubung perusahaan masih punya cukup banyak stok apartemen yang siap dijual maupun masih dalam tahap pembangunan, dan sektor properti itu sendiri secara umum mulai hot lagi sejak tahun 2017 kemarin, maka seharusnya momentum lonjakan kinerja WEGE dari unit usaha propertinya bisa berlanjut pada tahun 2018 ini.
Kembali ke usaha konstruksi WEGE. Dibanding konstruksi infrastruktur yang rata-rata berskala besar (bisa mencapai belasan trilyun untuk satu proyek) serta butuh waktu pengerjaan hingga bertahun-tahun, konstruksi gedung nilainya lebih kecil (ratusan milyar), tapi disisi lain: 1. Margin labanya lebih besar, dan 2. Waktu pengerjaannya lebih singkat yakni hanya hitungan bulan, sehingga WEGE bisa lebih cepat menerima pembayaran dari pemilik proyek. Yup, awalnya penulis bingung, kenapa WEGE labanya terbilang besar padahal WIKA itu sendiri dari dulu ROE-nya paling besar hanya di kisaran 20 – 24%, tapi kemudian saya sadar bahwa WEGE ini, kalau melihat fokus usahanya, maka lebih cocok dibandingkan dengan TOTL dkk, ketimbang WSKT dkk, dan ROE TOTL sejak dulu memang selalu diatas rata-rata. Karena, you know, ketika perusahaan konstruksi BUMN membangun jalan tol dll milik pemerintah, maka mereka tidak mengambil keuntungan terlalu besar karena sebagai badan usaha milik pemerintah itu sendiri, maka sejak awal tujuannya bukan untuk meraup profit sebesar-besarnya, melainkan untuk membangun infrastruktur untuk kepentingan umum. Ini berbeda dengan konstruksi gedung milik swasta, katakanlah gedung apartemen, dimana perusahaan konstruksi bisa mengambil margin yang besar, karena pemilik gedung itu juga nanti bakal untung lebih besar lagi ketika mereka menjual unit-unit apartemennya ke konsumen akhir.
Kemudian, jika ADHI katakanlah harus menunggu sampai 3 – 4 tahun untuk menerima pembayaran dari proyek light rail transit (LRT) yang mereka kerjakan, karena proyek LRT tersebut memang butuh waktu selama itu untuk bisa selesai seluruhnya, maka WEGE tidak perlu menunggu selama itu karena mayoritas proyek-proyeknya bisa diselesaikan hanya dalam hitungan bulan saja, sehingga omzet/perputaran usahanya jauh lebih cepat, dan otomatis labanya pun lebih besar. Dan berbeda dengan proyek infra skala besar yang berisiko tinggi untuk mangkrak karena kurangnya dana, ketidak stabilan politik, dll, maka konstruksi gedung skala kecil risikonya lebih rendah/tidak akan mangkrak kecuali perusahaan pemilik proyeknya tiba-tiba bangkrut/gak bisa bayar.
Kesimpulannya, yep, sepertinya kita baru saja ketemu ‘BUMN konstruksi rasa swasta’ di WEGE ini, dimana margin laba WEGE tidak kalah dibanding TOTL dkk, tapi perusahaan tetap diuntungkan karena statusnya sebagai anak usaha BUMN, dimana jika WIKA dapet proyek membangun jalan tol, misalnya, maka WEGE bisa dapet jatah membangun fasilitas rest area­-nya. Demikian pula jika kawasan tertentu berkembang pesat karena sudah ada infrastruktur yang lebih lengkap disitu (yang dibangun oleh WIKA), maka daripada repot-repot cari kontraktor baru, para developer properti yang hendak membangun apartemen dll di kawasan tersebut bisa langsung menunjuk WIKA saja, dimana WIKA kemudian memberikan pekerjaan konstruksi tersebut kepada WEGE, atau bahkan WEGE bisa membangun apartemen miliknya sendiri.
Dan yang paling menarik adalah valuasi sahamnya: Dengan PBV 1.5 dan PER 8.6 kali pada harga saham 264, maka WEGE, meski valuasinya tampak belum begitu murah dibanding sesama anak usaha BUMN konstruksi seperti Wika Beton (WTON), Waskita Beton (WSBP), hingga PP Precast (PPRE), tapi dia jelas lebih murah dibanding TOTL dkk. Jadi kalau pada Kuartal I 2018 nanti WEGE kembali membukukan kenaikan laba yang signifikan, maka sahamnya bisa naik banyak.. entah sampai berapa, meski mungkin naiknya tidak akan sekaligus/cenderung pelan-pelan, karena orang-orang di market masih akan perlu waktu untuk menyadari bahwa WEGE, sekali lagi, lebih cocok untuk dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan konstruksi swasta, dibanding konstruksi BUMN lainnya.
Hanya saja, mengingat perusahaan belum punya track record jangka panjang yang solid (WEGE sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 2008, tapi kinerjanya baru lompat 2 tahunan terakhir ini saja) maka mungkin ada baiknya juga kita tunggu sampai perusahaan benar-benar merilis LK Kuartal I 2018 nanti, kalau labanya beneran naik maka baru kita masuk. Juga pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa cepat perusahaan dalam menggunakan dana Rp833 milyar hasil IPO-nya kemarin? Sebab jika dana ini tidak segera diputar untuk menghasilkan laba/dibiarkan menganggur, maka dana tersebut cuma bikin ROE WEGE jadi tampak kecil, dan sayangnya belum ada informasi soal berapa total nilai kontrak anyar yang diperoleh WEGE untuk tahun 2018 ini. Tapi jika melihat mulai bangkitnya industri properti, serta masih gencarnya pembangunan infra, maka momentum pertumbuhan kinerja WEGE yang terjadi sejak 2016 kemarin harusnya masih berlanjut pada tahun 2018, dan demikian pula dana hasil IPO-nya bisa digunakan lebih cepat. We’ll see!

PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung, Tbk (WEGE)
Rating Kinerja pada 2017: AA
Rating Saham pada 264: A
Jadwal seminar/workshop Value Investing: Advanced Class
Surabaya, Amaris Hotel Embong Malang, 14 April (FULL SEAT!)
Medan, Grand Sakura Hotel, 21 April (FULL SEAT juga),
Bali, Rivavi Hotel Pantai Kuta, 28 April (masih available).
Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Surabaya, Medan, Bali

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Surabaya, Medan, dan Bali. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih sangat murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik setidaknya 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi secara efektif serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy, dan kapan waktu terbaik untuk sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ membeli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah?

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besarpula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
Surabaya (Full Seat!)
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 April 2018
Medan (Full Seat Juga)
  • Tempat: Grand Sakura Hotel, Jln. Prof HM. Yamin SH. No.41, Kota Medan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 21 April 2018
Bali (Masih Available)
  • Tempat: Rivavi Hotel, Jln. Melasti No.1, Legian Kuta, Kab. Badung, Bali
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 28 April 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut kelas ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class Surabaya/Medan/Bali (pilih salah satu lokasi), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang pesertauntuk setiap kelas.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis (kemeja lengan pendek, duduk ditengah) bersama teman-teman peserta Value Investing Advanced Class, Jakarta, 10 Maret 2018

Testimonial
Terima kasih …  dulu saya beli PPRO di harga 150 rekomen analisa pak teguh juga saya hold sampe trend uptren nya patah lepas di 1245  dari profitnya alhamdulillah  bisa bangun rumah kontrakan jd 4 pintu alhamdulillah jd ada pasif income tiap bulan … moga2 saham2 grup indy ini bisa nambah bangun kontrakan lg :)

Hatur nuhun sebelum nya  … sukses dan sehat selalu pak teguh & kel Aamiin

Salam
Aan D. [...]

Mengenal Strategi ‘Concentrated Diversification’

Salah satu quoteterkenal dalam investasi saham adalah, ‘do not put all your eggs in one basket’, yang artinya bahwa seorang investor disarankan untuk tidak menempatkan seluruh dananya hanya pada satu atau dua saham saja, melainkan sebaiknya disebar ke beberapa saham berbeda. Atau dengan kata lain, seorang investor dianjurkan untuk melakukan diversifikasi, biasanya bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya kerugian. Dan di blog ini kita sudah banyak membahas tips-tips dan trik dalam menerapkan diversifikasi portofolio, misalnya pada artikel ini, dan artikel ini.

Terkait quote diatas, sebagian orang mungkin mengira bahwa quote tersebut diucapkan oleh Warren Buffett, padahal bukan. Malah justru, Buffett terkenal sebagai investor yang anti diversifikasi, dimana ia pernah mengatakan bahwa kalau anda sudah cukup yakin dengan investasi anda di satu saham/perusahaan tertentu, maka anda tidak perlu lagi berinvestasi/membeli saham perusahaan lainnya. Tapi kalau kita lihat lagi komposisi porto Berkshire Hathaway yang sampai berisi ratusan saham/anak usaha yang berbeda-beda di hampir semua bidang usaha, maka mungkin anda bakal jadi bingung: Jadi Warren Buffett ini sebenarnya anti diversifikasi, atau tetap menerapkan diversifikasi, atau bagaimana???
Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk melihat lagi seperti apa cara kerja Buffett, baik itu ketika dulu masih mengelola partnership-nya atau sudah memegang Berkshire Hathaway, dibanding dengan fund manager/manajer investasi lain pada umumnya. Kebanyakan manajer investasi (MI) yang bekerja di perusahaan reksadana/asset management, mereka biasanya tidak hanya menempatkan dana kelolaan di saham, tapi juga di obligasi, pasar uang/deposito, hingga surat utang negara, dalam rangka diversifikasi. Namun Buffett tidak begitu, dimana ia hampir menempatkan seluruh portofolionya di saham, dan sangat jarang membeli obligasi ataupun instrumen investasi lainnya. Buffett mungkin menempatkan sebagian asetnya dalam bentuk cash/deposito di bank, tapi itu adalah untuk jaga-jaga kalau nanti ada kesempatan untuk beli saham bagus pada harga murah, jadi bukan untuk memperoleh bunga depositonya.
Kemudian, para MI biasanya membeli saham-saham blue chip yang termasuk 10 saham dengan market cap terbesar, tak peduli dalam kondisi pasar yang bullish maupun bearish, tak peduli meski harga belinya mahal. Jadi, yup, kalau kita pakai contoh para MI di Indonesia, maka bisa penulis katakan bahwa 90% dari mereka selalu memegang minimal salah satu dari saham Astra International (ASII), Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), HM Sampoerna (HMSP), atau Unilever Indonesia (UNVR). Karena asumsinya adalah, meski pegangan saham yang lain mungkin bisa saja naik atau turun sendiri sewaktu-waktu, tapi saham-saham big caps akan selalu naik turun mengikuti benchmark IHSG. Jadi kalau misalnya seorang MI  salah pilih saham small cap yang ternyata malah turun banyak, maka kinerja unit reksadananya secara keseluruhan tidak akan terlalu buruk dibanding rata-rata pasar, karena pegangan saham-saham blue chip-nya tetap akan bergerak selaras dengan IHSG.
However, strategi ini menyebabkan portofolio seorang MI menjadi berisi banyak saham berbeda, karena ketika ia membeli dan meng-hold banyak saham-saham mid and small cap, maka disisi lain ia tetap harus mengalokasikan sejumlah dana untuk membeli beberapa saham big caps, tak peduli meski mereka membeli saham-saham big caps tersebut pada valuasi yang sebenarnya sudah overvalue. Beberapa MI juga terkadang membeli minimal satu saham yang dianggap terbaik dari tiap-tiap sektor industri di bursa (jadi kalau misalnya ada 30 sektor berbeda, maka ia membeli 30 saham berbeda), sekali lagi, dalam rangka diversifikasi.
Tapi Buffett, sekali lagi, tidak begitu. Sejak menjalankan partnership-nya di tahun 1960-an, Buffett jarang membeli saham-saham big caps di NYSE, apalagi jika tujuannya adalah untuk ‘menyelaraskan kinerja partnership-nya dengan naik turunnya Dow Jones’. Melainkan, ia tetap fokus invest pada saham-saham yang ia anggap undervalue, dan ia hanya membeli saham big caps jika valuasinya memang murah. Alhasil, jika MI lain bisa memegang sampai 100 saham berbeda dalam satu waktu, maka Buffett paling banyak hanya memegang sekitar 20 saham saja. Inilah asal mulanya Buffett dikenal anti diversifikasi, karena cara kerjanya sangat berbeda dibanding MI lain pada umumnya. Tapi juga harus diingat, anti diversifikasi ala Buffett ini bukan berarti dia hanya membeli satu dua saham saja, melainkan ia tetap membeli beberapa hingga belasan saham-saham yang berbeda.
Anyway, istilah ‘anti diversifikasi’ yang disampaikan Buffett mungkin tetap terdengar membingungkan, karena toh nyatanya ia tetap melakukan diversifikasi tersebut. Termasuk hari ini, seperti yang sudah disampaikan diatas, Berkshire Hathaway memegang saham dari ratusan perusahaan yang berbeda. Jadi mungkin istilah yang lebih tepat adalah yang disampaikan oleh guru Buffett, Ben Graham, di bukunya The Intelligent Investor: Concentrated diversification, alias diversifikasi terkonsentrasi, dimana anda tetap disarankan melakukan diversifikasi tapi jangan berlebihan, jangan pula membeli obligasi atau instrumen pasar uang, dan isi portofolio anda harus tetap terkonsentrasi pada saham-saham bagus yang dibeli pada harga undervalue.
Jika dibuat poin per poin, maka tips-tipsnya adalah sebagai berikut:
  1. Kecuali dalam kondisi tertentu, anda tidak perlu lagi berinvestasi pada instrumen investasi diluar saham. Kalaupun anda menyisakan sejumlah cash pada situasi pasar tertentu, maka tujuannya tetap agar bisa belanja saham lagi sewaktu-waktu,
  2. Anda tidak perlu membeli saham tertentu hanya karena saham tersebut populer atau berstatus ‘blue chip’. Kalaupun anda hendak membeli saham blue chip, maka pastikan bahwa harganya memang undervalue/tunggu timing terbaik untuk masuk, misalnya ketika terjadi koreksi pasar,
  3. Anda juga tidak perlu membeli saham dari tiap-tiap sektor usaha di bursa. Beberapa sektor usaha mungkin perlu dihindari pada satu waktu tertentu, dan baru layak investasi lagi pada waktu-waktu yang lain,
  4. Pastikan bahwa portofolio anda hanya berisi saham-saham berfundamental bagus dan undervalue, dan ingat pula bahwa saham dengan kriteria seperti itu jumlahnya tidak banyak. Sehingga normalnya porto anda tidak akan berisi terlalu banyak saham-saham yang berbeda, melainkan hanya beberapa saja, dan
  5. Anda boleh menempatkan hingga 40% total dana kelolaan hanya pada satu saham (ini kata Buffett sendiri), tapi tidak lebih dari itu.

Lebih jelasnya, Buffett pernah menulis sebagai berikut, ‘Jika anda bisa menemukan enam saham/perusahaan yang sangat bagus, maka anda sudah cukup melakukan diversifikasi, dan anda akan menghasilkan banyak uang. Saya bisa menjamin bahwa keputusan untuk membeli saham ketujuh akan menjadi kesalahan besar, dan akan jauh lebih baik jika anda menambah investasi pada salah satu dari enam saham yang sudah anda miliki. Enam saham sudah cukup banyak, dan saya sendiri mungkin akan menempatkan lebih dari separuh total portofolio hanya pada dua atau tiga diantaranya.’ Sekedar catatan, meski Berkshire Hathaway sekarang ini memang memegang ratusan saham berbeda, namun ‘saham-saham kesayangan’ Buffett sebenarnya jumlahnya tidak banyak, melainkan hanya beberapa saja, seperti Coca Cola, American Express, dan IBM.


Fakta menarik terkait IBM adalah, Buffett sebenarnya sudah tertarik untuk membeli sahamnya sejak duluu sekali di tahun 1950-an, tapi ia baru benar-benar membelinya di tahun 2011.

Sementara Joel Greenblatt mengatakan, ‘Jika anda sudah membeli enam hingga delapan saham yang berbeda, maka itu sudah cukup, dan risiko kerugian yang anda tanggung tidak akan berkurang signifikan jika anda membeli saham kesembilan dan seterusnya.’ Seth Klarman mengatakan, ‘Jika tujuannya adalah untuk meminimalisir risiko, maka jumlah saham yang harus dimiliki seorang investor tidak perlu terlalu banyak. Biasanya sepuluh hingga lima belas saham sudah cukup.’ Dan Teguh Hidayat mengatakan, ‘Diluar saham-saham yang di-hold forever, maka portofolio anda sebaiknya berisi sepuluh hingga dua belas saham berbeda’.
However, tidak pernah ada seorang investor-pun yang mengatakan, ‘Satu saham sudah cukup, dan anda tidak perlu membeli saham kedua’, dan penulis sendiri juga tidak akan menyarankan itu. Kemudian kalau anda membeli katakanlah lima saham berbeda namun semuanya berasal dari sektor yang sama, maka itu juga bukan diversifikasi yang baik. Terkait tips No.3, penulis ingat bahwa di tahun 2012, 2013, 2014, hingga 2015, saham-saham batubara tampak menarik karena mereka nyaris selalu turun dibanding tahun sebelumnya, tapi penulis sendiri ketika itu tidak pernah masuk ke sektor batubara ini, dan baru masuk di tahun 2016 ketika akhirnya harga batubara mulai naik kembali. Jika seorang investor memutuskan untuk membeli saham-saham batubara antara tahun 2012 – 2015 dalam rangka ‘diversifikasi’, maka bukannya meminimalisir risiko, yang ada ia malah merugi karena ketika itu saham-saham di sektor tambang terus saja turun.
Dan terkait Tips No.1, maka anda bisa lihat bahwa di blog ini dari dulu sampai sekarang kita cuma bahas investasi saham, karena penulis sendiri selama ini investasinya ya cuma di saham saja, dan gak pernah invest di obligasi, reksadana, taroh dana di deposito, apalagi beli bitcoin. Termasuk kita tidak pernah tertarik beli saham di bursa luar negeri, melainkan selalu fokus ke saham-saham Indonesia. However, kebanyakan ‘investor’ lain tidak seperti itu, dimana mereka kadang-kadang membahas juga soal investasi properti, trading forex, hingga trading emas dan komoditas. Juga ketika ramai bitcoin dan cryptocurrency lainnya, mereka langsung ikut-ikutan. Penulis tidak tahu apakah cara investasi yang ‘terdiversifikasi’ seperti itu sukses menghasilkan keuntungan yang besar, atau malah jadinya gagal fokus, tapi yang jelas penulis selama ini hanya berinvestasi di saham saja, dan so far hasilnya tidak mengecewakan.
Anyway, bagi investor pemula atau investor paruh waktu, maka tentu tidak disarankan untuk langsung taroh semua uang yang anda miliki di saham, karena itu terlalu berisiko. Jadi kalau anda diversifikasi ke sektor riil, misalnya dengan memiliki properti untuk disewakan, atau sawah/kebun yang menghasilkan, maka itu boleh, malah sangat dianjurkan. Tapi setelah anda memegang aset-aset riil tersebut, maka dalam rangka menerapkan ‘concentrated diversification’, anda sekarang sudah tahu, kemana seluruh investasi anda harus ditempatkan.
Buletin Analisis IHSG & stockpick saham pilihan bulanan edisi April sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bagaimana Cara Membuat Pesawat Terbang?

Dalam suatu sesi seminar, seorang peserta bertanya seperti ini, ‘Pak Teguh, saya lihat Anda di blog sering menemukan/membahas secara detil saham-saham kecil yang orang lain belum perhatikan, tapi di kemudian hari ternyata beneran naik banyak sampai ratusan persen (contohnya KBLI, INDY, MEDC, HRUM, PPRO, LEAD, dst). Atau ketika saham bluechip tertentu sedang turun, bisa memperkirakan kira-kira turunnya bakal mentok di berapa, sehingga investor bisa membelinya di harga bottom-nya tersebut, dan alhasil profitnya jadi maksimal ketika sahamnya kemudian rebound/naik lagi (contohnya JSMR). Dan kalau di bursa lagi ramai berita/isu tertentu terkait IHSG, sektor, atau saham tertentu, maka juga bisa memperkirakan bagaimana kira-kira dampak isu tersebut secara fundamental terhadap IHSG atau saham yang bersangkutan (contohnya isu pelemahan Rupiah di tahun 2015).

Pertanyaannya, bagaimana sih caranya biar bisa begitu??? Ada tidak semacam rule of thumb yang paling sederhana dan ringkas dalam menganalisa sehingga kita bisa membuat analisa seperti yang  Pak Teguh buat diatas??
Okay, sebelum kita membahas soal ini, pertama-tama penulis hendak disclaimer dulu. Pertama, yup, memang kerjaan kita sebagai value investor adalah mencari mutiara terpendam, yakni saham yang belum dilirik orang tapi menawarkan potensi profit jackpot yang luar biasa. Namun demikian, tidak semua saham ‘mutiara’ yang kita temukan kemudian beneran sukses naik; sebagian diantaranya ternyata malah tetap saja gak kemana-mana, atau malah turun, contohnya dulu kita pernah rekomen SOCI, dan ternyata gagal. Kedua, ketika penulis mengatakan bahwa penurunan saham A akan mentok di 1,000, maka itu juga tidak selalu tepat, karena kadang saham A mentoknya di 1,100, 900, atau 800, atau lebih rendah lagi. Dan ketiga, ketika kita mempelajari suatu isu hingga akhirnya menyimpulkan bahwa isu tersebut berdampak bla bla bla, maka terkadang yang terjadi kemudian ternyata tidak seperti yang diperkirakan. Intinya sih, seperti halnya investor lain manapun, penulis juga sering melakukan kesalahan, dan menderita rugi karenanya.
Hanya memang, diluar kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi, maka sebagian besar analisa yang kita buat memang tepat dan akurat adanya. Jadi pertanyaannya sekali lagi, gimana caranya?
Nah, dalam hal ini penulis akan kasih satu analogi. Let say, anda adalah seorang dosen jurusan Teknik Mesin dan Kedirgantaraan di Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian tiba-tiba ada anak SD masuk ke ruangan anda, dan ngomong seperti ini, ‘Pak, tolong ajarkan saya cara membuat pesawat terbang. Tolong ajarkan semuanya dengan sedetil-detilnya, dari awal sampai akhir, karena saya benar-benar tidak mengerti sama sekali.’
Kira-kira anda akan jawab gimana? Dan kalaupun anda memutuskan untuk mengajari si anak cara membuat pesawat terbang, maka dari mana mulai mengajarinya? Sedangkan si anak bahkan masih belum mengerti basic matematika seperti aljabar, kalkulus, geometri, dst (karena memang topik itu baru diajarkan di SMP dan SMU).
Jadi balik lagi ke soal cara analisa saham. Dalam banyak kesempatan seminar, penulis selalu mengatakan bahwa, menganalisa saham itu mudah saja sebenarnya, termasuk membaca laporan keuangan juga tidaklah sesulit itu. Tapi pada prakteknya maka tetap dibutuhkan pengalaman, dimana anda harus sering-sering mengerjakan analisa saham hingga akhirnya menjadi terbiasa. Contohnya, jangankan menyimpulkan apakah suatu emiten punya fundamental bagus atau tidak, investor yang benar-benar masih baru mungkin akan langsung puyeng ketika buka laporan laba rugi emiten yang bersangkutan (dan kemudian balik lagi ke cara cepat, yakni melihat data-data rekapan sekuritas/RTI/sumber pihak ketiga lainnya, padahal itu adalah cara yang salah). Tapi investor lainnya yang sudah terbiasa, mereka bisa langsung ambil kesimpulan apakah sebuah saham bagus atau tidak, hanya dengan membaca laporan keuangannya selama beberapa detik. Dan ketika ia kemudian melanjutkan analisanya dengan membaca dokumen-dokumen lain yang terkait, maka akhirnya diperoleh kesimpulan yang detil serta komprehensif terkait kegiatan operasional perusahaan dll, tentang apakah sahamnya layak buy atau tidak, dan sebaiknya buy di harga berapa.
Tapi sekali lagi, anda tidak akan bisa langsung melakukan itu jika anda belum pernah membaca laporan keuangan sama sekali sebelumnya.
Jadi, yup, salah satu level tertinggi seorang investor adalah ketika dia bisa dengan tepat menemukan saham ‘mutiara terpendam’, yang kemudian naik hingga ratusan persen. Namun untuk bisa sampai ke level tersebut, maka ada banyak step by step yang harus dilewati seorang investor pemula, alias gak bisa langsung. Seorang (calon) investor haruslah belajar cara membaca laporan keuangan, laporan tahunan, cara menghitung valuasi saham, cara membaca trend saham, mempelajari sektor-sektor ekonomi, mempelajari istilah-istilah pasar saham, dan masih banyak lagi, hingga akhirnya ia naik level demi level ke posisi puncak. Dan satu lagi yang perlu dicatat: Itu semua perlu waktu. Tidak ada rule of thumb/cara cepat untuk bisa menjadi investor saham yang mampu meraih profit konsisten, sama seperti anda tidak bisa tiba-tiba punya badan atletis seperti Arnold Schwarzenegger hanya dengan rutin olahraga di gym selama sebulan, melainkan harus lebih lama lagi.
Karena itulah, kalau penulis menerima pertanyaan tertentu dari teman-teman pembaca blog ini, dan dari pertanyaannya tersebut penulis bisa menilai bahwa yang bersangkutan masih sangat pemula, maka saya tidak langsung menjawabnya, karena itu jadinya sama seperti analogi dosen ITB diatas. Melainkan, penulis akan menyarankan ke si penanya untuk banyak baca-baca saja dulu, bisa dimulai dari tanya jawab saham disini, kemudian banyak-banyak gali pengalaman saja dulu dengan trial and error alias coba-coba beli saham, terserah yang mana saja, selama katakanlah 1 – 2 tahun, sambil teruuuuus membaca. Di blog teguhhidayat.com ini, seperti juga di banyak lagi sumber lainnya, ada banyak sekali tulisan-tulisan edukasi terkait investasi saham yang bisa anda baca secara gratis, jadi anda tinggal membacanya saja. Melalui layanan ebook kuartalan dan buletin bulanan pun, yang penulis tawarkan bukanlah jaminan bahwa porto anda bakal profit, melainkan bahwa kalau anda mengikuti analisa yang kami buat, termasuk mempelajari alasan-alasan/dasar pemikiran setiap kali kita membeli dan menjual saham tertentu, maka dari situlah kita semua, termasuk penulis sendiri, akan sama-sama belajar.
Dan beberapa waktu kemudian, setelah anda akhirnya mengerti matematika dasar, mampu memperhatikan detail, mengerti soal konsep mesin, paham soal cara kerja aerodynamics, maka barulah anda boleh datang lagi dan bertanya, ‘Bagaimana cara membuat pesawat terbang?’ Dan saya jamin, Pak Dosen akan menjelaskannya dengan senang hati. Mungkin ada juga yang komplain, ‘Pak Teguh, saya ini bukan lulusan ekonomi. Jadi gimana caranya biar saya bisa belajar soal dunia finance dan pasar saham itu sendiri?’ Well, penulis sendiri juga sama sekali gak ada latar belakang pendidikan finance, termasuk gak pernah ikut kursus CFA, dll (belajar otodidak saja), tapi toh kita sekarang bisa bikin analisa saham yang akurat. Jadi kenapa anda nggak bisa? Syaratnya, sekali lagi, anda harus mau meluangkan waktu untuk belajar secara step by step/jangan langsung lompat, termasuk harus terus menggali pangalaman.
Problemnya, kebanyakan pemula tidak mau melewati fase step by step ini. Kebanyakan dari mereka maunya instant saja, dan langsung berusaha mengejar ‘saham pesawat terbang’ tanpa mau belajar laporan keuangan terlebih dahulu, dan alhasil mereka gak kemana-mana/beberapa malah give up sama sekali setelah mengalami rugi. Tapi ada banyak juga investor pemula yang sadar betul tentang pentingnya belajar secara tahap demi tahap, tidak terburu-buru untuk langsung mengejar profit jackpot, dan mampu melihat jauh kedepan bahwa toh pada akhirnya nanti mereka akan mampu untuk menemukan mutiara terpendam dll, namun untuk mencapai level tersebut maka mereka harus kerja keras dan ‘sekolah’ terlebih dahulu, dimulai dari sekarang. Pertanyaannya, anda termasuk yang mana?

Kedepannya kita akan bahas lebih lanjut soal step by step, alias tahapan-tahapan belajar seorang investor itu seperti apa saja, dan bagaimana kita katakan bahwa kita sebagai investor itu masih berada di level pemula, advanced, atau sudah sophisticated (saya tidak mau menyebut ‘expert’, karena tidak pernah ada istilah ‘expert investor’ di pasar modal, melainkan hanya sophisticated investor/investor berpengalaman). Namun untuk minggu depan kita akan bahas sedikit soal kondisi IHSG, termasuk kaitannya dengan pelemahan Rupiah, dll.
Jadwal Value Investing Basic Class: Amaris Thamrin City Jakarta, Sabtu 24 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Harga DMO Batubara, dan Pengaruhnya ke Emiten Tambang

Pada hari Jumat, 9 Maret 2018, Pemerintah melalui Kementerian ESDM menerbitkan peraturan domestic market obligation (DMO) terkait harga jual batubara, dimana perusahaan-perusahaan batubara diwajibkan untuk menjual sebagian produksi batubara mereka ke konsumen dalam negeri, dalam hal ini PT PLN, pada harga yang sudah ditetapkan, alias tidak lagi mengikuti harga pasar. Dan berapa persisnya ‘harga yang sudah ditetapkan’ tersebut? Well, maksimal hanya US$ 70 per ton. Karena harga DMO ini jauh lebih rendah dibanding harga batubara acuan (HBA) yakni US$ 102 per ton per Maret 2018, maka jadilah peraturan DMO ini menjadi sentimen negatif bagi saham-saham batubara dan alhasil, dalam seminggu terakhir saham-saham batubara berjatuhan antara 10 hingga 20%, atau lebih dalam lagi.
Nah, jadi sekarang pertanyaannya ada dua. Pertama, seberapa besar dampak peraturan DMO ini terhadap kinerja Adaro Energy dkk? Dan kedua seperti biasa, apakah penurunan saham-saham batubara karena sentimen DMO ini merupakan peluang, ataukah ini justru merupakan akhir dari rally sektor batubara yang sudah terjadi sejak dua tahunan terakhir? Okay, kita langsung saja.
Jadi cerita soal DMO ini berawal ketika pada tahun 2016 lalu, PT PLN sebagai konsumen terbesar batubara di Indonesia mengeluhkan kenaikan harga batubara yang terlalu cepat, yang otomatis menaikkan biaya produksi (setidaknya 40% pembangkit listrik di Indonesia menggunakan batubara sebagai bahan bakar), tapi disisi lain mereka tidak bisa begitu saja menaikkan tarif listrik, sehingga praktis posisinya jadi besar pasak daripada tiang, karena disisi lain PLN tidak lagi disubsidi sebesar sebelumnya (karena duitnya dialihkan ke pembangunan infrastruktur). Ketika itu harga batubara patokan Newcastle memang naik dengan cepat hingga sempat tembus US$ 100 per ton di bulan November 2016, dari sebelumnya US$ 50 per ton di awal 2016. Atau dengan kata lain, setelah sebelumnya turun pelan-pelan antara tahun 2011 hingga awal 2016, harga batubara tiba-tiba melejit hingga dua kali lipat dalam waktu kurang dari setahun. Untuk memahami posisi PLN disini, anda boleh bayangkan ketika anda mampir ke pom bensin seperti biasa, dan harga Pertamax, yang tadinya katakanlah Rp8,900 per liter, tiba-tiba saja dalam hitungan bulan naik jadi Rp18,000 per liter. Kira-kira anda bakal tenang-tenang saja nggak?
Dan sekarang harga batubara Newcastle Australia malah sudah nongkrong di level US$ 105 per ton. Dalam kondisi ini biasanya Pemerintah akan mengeksekusi salah satu dari dua opsi: Menaikkan tarif dasar listrik (TDL), atau kembali mensubsidi PLN. However, menaikkan TDL tentunya bakal menimbulkan efek domino dimana itu bisa menaikkan harga-harga barang kebutuhan pokok, dan mengganggu ekonomi secara umum. Sementara kalau PLN disubsidi lagi, maka pembangunan infra bisa terganggu karena duitnya jadi berkurang sebagian.
Jadi solusinya gimana? Well, bagaimana kalau para perusahaan batubara ini disuruh jual ke PLN pada harga yang lebih ekonomis?? Dan menurut penulis pribadi, ini adalah solusi yang masuk akal karena, pertama, sejak awal batubara sebagai kekayaan alam adalah dikuasai oleh negara (UUD Pasal 33, Ayat 3). ‘Dikuasai’ disini maksudnya, perusahaan swasta diperbolehkan untuk memiliki sumber-sumber cadangan batubara, tapi negara tetap berhak dan wajib memanfaatkan batubara tersebut jika itu adalah untuk kepentingan orang banyak. Karena tujuan peraturan DMO ini adalah agar tarif listrik tidak sampai dinaikkan, maka disinilah Pemerintah menjalankan perannya untuk memenuhi kepentingan orang banyak tadi.
Kedua, jika masyarakat tetap menikmati tarif listrik yang stabil tapi imbasnya perusahaan-perusahaan batubara pada tekor, maka itu juga nggak adil dong? Nah, dalam hal inilah penetapan harga DMO yang US$ 70 per ton tadi menjadi penting. Sekarang kita balik lagi ke tahun 2016 lalu, ketika harga batubara mulai naik: Berdasarkan perkiraan dari manajemen United Tractors dkk sendiri, maka berapa sih perkiraan harga batubara dalam beberapa tahun kedepan? Well, seperti yang dulu kita bahas disini, hanya US$ 70 – 75 per ton.
Jadi ketika harga batubara Newcastle dengan cepat naik sampai US$ 100 per ton, dan sampai sekarang masih stabil di level harga tersebut, maka itu diluar ekspektasi semua orang. Karena asalkan harga batubara stabil di level US$ 70 – 75 saja, maka Bumi Resources dkk sejatinya sudah kembali untung besar. Sebab meski harga US$ 70 – 75 tersebut belum setinggi harga di tahun 2011 ketika terjadi puncak booming batubara, yakni US$ 120 per ton, namun saat ini para perusahaan batubara diuntungkan oleh dua kondisi sekaligus. Yang pertama, volume produksi batubara yang lebih besar. Sepanjang tahun 2017 lalu, Indonesia memproduksi 461 juta ton batubara, meningkat signifikan dibanding hanya 353 juta ton di tahun 2011, dan diperkirakan akan kembali meningkat di tahun 2018 ini dan seterusnya. Dan yang kedua, biaya produksi yang lebih murah. Di tahun 2011, harga minyak mencapai US$ 100 – 110 per barel, yang otomatis bikin harga minyak solar untuk bahan bakar excavator dll jadi mahal. Sementara harga minyak sekarang? Cuma US$ 64 per barel, malah beberapa bulan lalu cuma US$ 47 per barel.
Kesimpulannya, kalau perusahaan batubara harus jualan pada harga US$ 70, maka mereka gak akan rugi/masih profit lumayan, hanya saja profitnya jadi nggak terlalu besar. Dan juga yang perlu dicatat, peraturan DMO menyebutkan bahwa perusahaan batubara hanya harus menjual 25% produksinya ke pasar domestik pada harga US$ 70 tadi, sementara selebihnya boleh tetap dijual ke pasar ekspor pada harga pasar. Jadi, yup, jangan dibayangkan bahwa pendapatan ADRO dkk akan langsung jeblok hingga sepertiganya, karena sebagian besar produksi batubara mereka tetap dijual pada harga diatas US$ 100 per ton, yang notabene sangat tinggi.
Tidak Semua Emiten Batubara Terkena Dampak DMO
Dari ulasan diatas maka bisa dipahami bahwa penetapan harga DMO yang US$ 70 per ton tadi tidaklah asal-asalan, apalagi disengaja agar para perusahaan batubara jadi susah karena, perlu diingat pula bahwa Pemerintah mengandalkan para produsen batubara untuk mendorong nilai ekspor nasional (karena dari dulu sampai sekarang, batubara masih merupakan komoditas ekspor terbesar Indonesia diluar migas), yang pada akhirnya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga memberikan insentif berupa tambahan kuota ekspor 10% bagi perusahaan batubara yang memenuhi kewajiban DMO ini, yang itu berarti bahwa meski pendapatan perusahaan dari pasar domestik turun, tapi pendapatan dari pasar ekspor akan naik, sehingga totalnya kurang lebih bakal sama saja. Sebelumnya Pemerintah memang sengaja membatasi kuota ekspor batubara nasional dalam rangka menjaga cadangan batubara dalam negeri untuk masa depan, tapi sekarang peraturan itu sedikit dilonggarkan.
Kemudian, kalau kita lihat data yang ada, maka dari puluhan emiten batubara di Indonesia, hanya beberapa yang mensuplai batubara dalam jumlah besar ke PLN. Mereka adalah Bukit Asam (PTBA), Indika Energy (INDY, melalui anak usahanya PT Kideco Jaya Agung), Adaro Energy (ADRO), dan Indo Tambangraya Megah (ITMG). Sementara selebihnya hanya menjual sebagian kecil produksi batubara mereka ke pasar domestik, atau 100% ekspor. Ini artinya diluar keempat emiten batubara diatas, maka emiten batubara lainnya tidak terkena dampak apapun dari peraturan DMO ini, karena mereka nyaris sepenuhnya jualan ke pasar ekspor.

Kalau ada perusahaan batubara yang paling terkena dampak peraturan DMO, maka itu adalah PTBA
Tapi Pak Teguh, seperti yang sudah disebut diatas, bukannya seluruh perusahaan batubara diwajibkan untuk menjual minimal 25% batubaranya ke pasar domestik? Artinya perusahaan batubara yang sebelumnya 100% ekspor, maka mulai sekarang mereka harus menyisihkan sebagian produksinya untuk dijual ke pasar dalam negeri bukan? Well, secara teori memang iya begitu, tapi pada prakteknya belum tentu. Let say, semua perusahaan batubara di Indonesia tanpa terkecuali menjual 25% produksi mereka ke PLN, maka pertanyaannya sekarang, apakah PLN dkk bisa membeli/menampung semua batubara tersebut?
Sebab di tahun 2017 kemarin, dari total produksi nasional 461 juta ton, hanya 97 juta ton atau 21% yang terserap oleh pasar domestik termasuk PLN (jadi untuk PLN-nya sendiri, kebutuhan batubaranya lebih kecil lagi). Untuk tahun-tahun sebelumnya malah lebih kecil, hanya sekitar 16 – 19%. Konsumsi batubara dalam negeri memang tengah meningkat akhir-akhir ini setelah banyak berdiri pembangkit listrik baru sebagai bagian dari megaproyek 35,000 MW, tapi perjalanannya masih sangat puanjang sebelum megaproyek itu kelar semuanya, dan konsumsi batubara PLN benar-benar melonjak signifikan. Sementara sebelum itu, ya mau gak mau para produsen batubara jualannya ke pasar ekspor, karena pasar dalam negeri belum siap untuk menampung.
Jadi penulis kira, tetap pada akhirnya hanya emiten yang punya porsi penjualan besar ke pasar domestik-lah, yang terkena dampak peraturan DMO ini, itupun dampaknya tidak signifikan karena hal-hal yang sudah dibahas diatas. Kalaupun peraturan kuota 25% untuk pasar domestik tetap diberlakukan, maka yang bakal kena duluan adalah yang besar-besar seperti BUMI, ADRO (ADRO saat ini hanya menjual sekitar 23% produksinya ke pasar domestik), dan INDY, sementara selebihnya bakal aman-aman saja/kenanya belakangan. Karena, coba pikir: Tujuan dari peraturan DMO ini kan agar PLN bisa memperoleh pasokan batubara pada harga yang normal/gak terlalu mahal. Dan kalau dari perusahaan batubara yang besar-besar saja PLN sudah bisa memperoleh pasokan batubara yang cukup, dan memang seharusnya demikian, maka ngapain juga PLN masih nyari-nyari lagi pasokan ke perusahaan batubara yang kecil-kecil? Untuk ilustrasi, BUMI sebagai coal miner terbesar di Indonesia memproduksi 100 juta ton batubara per tahun, jadi 25%-nya sudah 25 juta ton. Sedangkan beberapa coal miner kecil seperti Harum Energy, Resource Alam Indonesia, hingga Mitrabara Adiperdana, produksi mereka cuma 4 juta ton per tahun, jadi 25%-nya cuma 1 juta ton, alias gak signifikan.
Kesimpulan
Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, apakah penurunan saham-saham batubara karena sentimen DMO ini merupakan peluang, mengingat dampak DMO ini sepertinya tidak seburuk kelihatannya? Well, mari kita lihat lagi: Harga batubara sepanjang awal tahun 2018 ini stabil di level US$ 100 – 105 per ton, naik signifikan dibanding awal 2017 lalu di level US$ 80 per ton, sedangkan peraturan DMO baru ditetapkan awal Maret ini, sehingga implementasinya baru akan berlaku dalam beberapa waktu kedepan. Ini berarti, mayoritas emiten batubara berpeluang besar untuk kembali membukukan kenaikan atau bahkan lompatan laba di laporan keuangan mereka di Kuartal I 2018 nanti. Berdasarkan pengalaman di awal tahun 2017 lalu, saham-saham batubara sudah naik banyak bahkan sebelum LK Kuartal I 2017 mereka keluar, tapi setelah LK tersebut keluar, sahamnya malah turun sejenak (baca lagi ceritanya disini). Pada tahun 2018 ini, saham PTBA dkk juga naik banyak sejak awal tahun kemarin, namun akibat sentimen DMO ini mereka turun lagi, tapi boleh anda cek, turunnya gak sampai dibawah level sebelum mereka naik, awal Januari lalu. Dengan kata lain, secara YTD, saham-saham batubara masih dalam trend naik.
Dan yang terpenting adalah, valuasi saham-saham batubara, meski tidak lagi semurah awal tahun 2016 lalu, tapi juga belum bisa disebut mahal, dimana kalau beneran laba (dan ekuitas) mereka naik lagi di tahun 2018 ini, maka valuasi tersebut otomatis jadi lebih murah. Perhatikan juga bahwa mayoritas saham-saham batubara belum naik banyak lagi sepanjang tahun 2017 kemarin (mereka naik banyaknya di tahun 2016), dan baru naik lagi awal 2018 ini karena adanya ekspektasi kenaikan laba diatas, tapi kemudian ‘rehat’ sejenak karena cerita DMO ini. Tapi jika benar bahwa peraturan DMO tidak berdampak besar pada kinerja fundamental emiten-emiten batubara, dan para emiten ini tetap membukukan kinerja yang lebih baik lagi di tahun 2018, maka rally jangka panjang saham-saham batubara yang sudah terjadi sejak awal tahun 2016 lalu seharusnya tidak akan langsung berakhir, tidak dalam waktu dekat ini.
Kesimpulannya, yep, bagi anda yang ketinggalan kereta di saham-saham batubara awal Januari kemarin, perhaps this is your opportunity. Kalau ada yang perlu dikhawatirkan maka itu adalah harga batubara Newcastle itu sendiri, yang belum tentu bisa terus bertahan di level diatas US$ 100 per ton seperti sekarang. Tapi selama itu yang terjadi, maka sentimen DMO ini pada akhirnya nanti akan menguap dengan sendirinya, sama seperti pada September 2017 lalu saham PTBA pernah tiba-tiba anjlok 22% dari 12,400 ke 9,600-an (harga sebelum stocksplit), demikian pula saham-saham batubara yang lain ikut turun, karena ketika itu juga sempat keluar cerita DMO ini. Tapi yah, setelah itu PTBA dkk naik lagi, dan cerita DMO ini hilang dengan sendirinya. So let see, apakah untuk sekarang juga kejadiannya bakal sama seperti itu.
Jadwal Seminar Value Investing: Kelas Pemula, Amaris Thamrin City Jakarta, Sabtu 24 Maret. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Jakarta, Surabaya, Medan

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, menerbitkan obligasi, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik setidaknya 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy, dan kapan waktu terbaik untuk sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias beli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah??
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.


Lokasi dan waktu acaranya (boleh dicatat):
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 April 2018
Surabaya
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 April 2018
Medan
  • Tempat: Grand Sakura Hotel, Jln. Prof HM. Yamin SH. No.41, Kota Medan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 21 April 2018
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut kelas ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat

2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced ClassJakarta/Surabaya/Medan (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer, tapi boleh juga nggak (karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis (kemeja lengan pendek, duduk di tengah) bersama temen-temen peserta Advanced Class, Jakarta, 3 Maret 2018.
Testimonial

Terima kasih pak teguh.
Saya banyak belajar dari bapak.
Sedikit testimoni, setelah membeli saham mengikuti arahan ebook kuartal bapak, saya mendapat profit jumbo dari HRUM dan BBNI. Saham lain meskipun turun tetapi tidak terlalu banyak.
Saya juga banyak belajar dari website dan buku pak teguh.
Semoga pak teguh tetap sehat sehingga terus berkarya dan mencerdaskan investor Indonesia
Bravo pak teguh.

Salam

Mengenal ‘Value Trap’, dan Cara Menghindarinya

Menurut Investopedia, value trap adalah satu kondisi dimana sebuah saham tampak murah karena angka-angka indikator valuasinya (PER, PBV, dst) terbilang rendah, namun valuasi yang rendah tersebut sebenarnya nggak bisa dikatakan murah, melainkan memang sudah merupakan valuasi wajarnya, misalnya karena perusahaannya tidak memiliki kinerja fundamental yang bagus, dan juga tidak menawarkan prospek apapun. Bahasa gampangnya, value trap adalah ketika anda menemukan saham yang tampak murah, padahal aslinya murahan.

Dan berdasarkan pengalaman, value trap bisa dikelompokkan jadi dua jenis. Pertama, saham yang valuasinya tampak sangat rendah dibanding saham-saham lain di sektor yang sama, demikian pula dibanding saham-saham lain BEI pada umumnya, tapi karena perusahaan yang bersangkutan dari dulu sampai sekarang gak pernah membukukan kinerja bagus, prospeknya gak jelas, dan nama perusahaannya jarang dikenal publik, maka jadilah sahamnya gak mau naik-naik, karena memang hampir gak ada investor yang mau beli (Ngapain beli? Lha wong barangnya jelek kok).
Contohnya, kalau anda melakukan screening dengan menghitung PBV dari tiap-tiap saham di BEI, maka anda akan ketemu banyak saham yang PBV-nya kurang dari 1 kali, biasanya termasuk second atau third liner yang gak likuid dengan harga nominal yang rendah dibawah 500 perak atau bahkan deket-deket gocap, tapi dari dulu sampai sekarang sahamnya ya disitu-situ saja. Atau kalaupun sempet naik sesekali maka ujung-ujungnya turun lagi. Misalnya (penulis disini sengaja memilih saham-saham yang pernah ramai dibicarakan di market) Benakat Integra (BIPI), Gading Development (GAMA), hingga Mas Murni Indonesia (MAMI). Dalam beberapa kasus, kadang pernah juga terjadi saham-saham value trap ini naik tinggi sampai PBV-nya tidak murah lagi, tapi biasanya tidak sulit untuk melihat bahwa itu cuma karena kerjaan bandar/bukan karena para investor ramai-ramai memborong sahamnya, dan pada akhirnya tetap saja sahamnya turun lagi. Pada Februari 2017 lalu, saham Lotte Chemical Titan (FPNI), yang sebelumnya gak pernah kemana-mana di level 120-an (PBV 0.5 kali), tiba-tiba saja naik dengan cepat hingga tembus 600 di bulan Maret (PBV 2.5 kali), tapi setelah itu turun lagi ke level 150 – 200, dan PBV-nya jadi nol koma sekian lagi.
Dan alasan kenapa saham-saham ‘murah’ diatas gak mau naik-naik (kecuali jika digoreng bandar), padahal market cap-nya sudah lebih rendah dibanding nilai aset bersih perusahaan, adalah karena investor profesional manapun tidak akan hanya melihat value sebuah perusahaan dari nilai aset bersih/ekuitasnya saja, tapi juga dari earnings power, alias kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Karena memang itulah fungsi sebuah perusahaan: Menghasilkan laba. Jadi jika anda membeli perusahaan dengan nilai aset bersih Rp100 milyar pada harga Rp30 milyar saja, tapi perusahaan itu selama ini malah rugi terus, maka anda mungkin baru saja kehilangan Rp30 milyar tadi sama sekali. Karena jika trend meruginya perusahaan terus berlanjut di masa yang akan datang, maka nilai aset bersih yang Rp100 milyar tadi akan terus menyusut hingga akhirnya menjadi nol.
Value Trap: Dying Company
Okay, itu tadi jenis value trap pertama. Kedua, seringkali terjadi sebuah perusahaan yang tadinya membukukan kinerja fundamental bagus, namun kesininya rugi terus, dan alhasil sahamnya juga turun terus hingga akhirnya valuasinya menjadi tampak murah. Misalnya perusahaan-perusahaan batubara, yang pada tahun 2009 – 2012 lalu membukukan kinerja bagus seiring dengan booming komoditas ketika itu, dan otomatis saham-saham batubara pada periode itu dihargai sangat mahal, tapi memasuki tahun 2012 kinerja para emiten batubara mulai turun, dan terus saja turun sampai tahun 2016. Alhasil saham-saham batubara juga ikut turun, beberapa diantaranya bahkan hingga PBV-nya tinggal 0.1 kali di tahun 2016 tersebut (saham INDY, waktu di harga 200 – 300).
Nah, ketika saham-saham batubara ini sudah sedemikian murahnya, sedangkan kinerja mereka di masa lalu sebenarnya terbilang cukup bagus, maka para bargain hunter (termasuk penulis) akan mulai membeli saham-saham batubara ini, dengan harapan jika nanti para emitennya kembali membukukan kenaikan laba, maka otomatis sahamnya juga akan naik, dan naiknya pun bisa sangat tinggi karena sejak awal valuasi mereka sudah super duper diskon.
Dan memang, pada hari ini kita bisa lihat saham-saham batubara sudah naik ratusan persen dibanding posisi terendah mereka pada pertengahan tahun 2016 lalu. Akan tetapi kalau anda perhatikan lagi, tidak semua saham-saham batubara naik banyak dalam dua tahun terakhir. Beberapa saham batubara, sebut saja Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), Berau Coal Energy (BRAU), Dayaindo Resources (KARK), hingga Sekawan Intipratama (SIAP), sampai sekarang masih mati suri dan gak pernah kedengaran kabarnya lagi (KARK malah sudah delisting), karena memang perusahaannya sudah keburu kolaps sebelum sektor batubara itu kembali pulih (BORN dan BRAU mengalami default, KARK banyak kena kasus bahkan ketika batubara masih jaya di tahun 2010 – 2011, sedangkan SIAP ketauan melakukan transaksi repo yang merugikan investor ritel).
Padahal, penulis masih ingat, ketika saham BORN beberapa tahun lalu terus saja turun sampai akhirnya mentok di gocap, maka PBV-nya, berdasarkan laporan keuangannya ketika itu, juga tinggal nol koma sekian kali, dan itu adalah valuasi yang sangat atraktif mengingat ketika di masa jayanya, BORN ini merupakan perusahaan batubara yang sangat profitable. Yup, karena BORN merupakan satu-satunya perusahaan Tbk yang memproduksi batubara kalori tinggi jenis coking coal, yang harganya 2 – 3 kali lebih mahal dibanding batubara biasa, sehingga otomatis margin labanya lebih besar.

However, jika ketika itu ada investor yang masuk ke BORN ini pada harga gocap, maka ya sudah wassalam. Dalam hal ini kita bisa sebut BORN sebagai value trap. Dan gak cuma BORN, dulu juga pernah ada saham perusahaan kapal yang termasuk blue chip di jamannya, yakni Berlian Laju Tanker (BLTA), yang sahamnya turun terus hingga valuasinya menjadi murah meriah, tapi nyatanya sampe sekarang sahamnya malah mati/disuspen. Di level internasional, pada tahun 2008 lalu saham Lehman Brothers (LEH) jeblok dari US$ 80-an hingga dibawah US$ 20, sehingga otomatis valuasinya menjadi menarik (PBV sekitar 0.7 kali). Karena meski LEH ketika itu tengah merugi, namun para investor sudah hafal betul bahwa LEH ini merupakan perusahaan investment banking skala global dengan kinerja historis yang cemerlang, punya track record panjang dan konsisten selama 150 tahun, bahkan sukses bertahan ketika Amerika dilanda great depression di tahun 1930-an, yang notabene merupakan krisis yang jauh lebih besar dibanding krisis tahun 2008. Jadi PBV 0.7 kali tadi terbilang murah meriah. Alhasil di pertengahan tahun 2008, ada banyak fund manager besar yang masuk ke saham LEH pada harga US$ 20-an atau dibawahnya, termasuk George Soros, ketika itu dengan harapan bahwa buruknya kinerja LEH di tahun 2008 hanyalah sementara. Jadi jika di tahun-tahun berikutnya kinerja LEH mulai pulih, maka otomatis sahamnya akan naik lagi.
Namun ternyata, Lehman Brothers malah bangkrut! Dan sahamnya juga habis sama sekali/tidak lagi diperdagangkan lagi di NYSE (sehingga kerugian para pemegang sahamnya menjadi 100%). Jadi juga bisa disimpulkan bahwa ketika para bargain hunter membeli saham LEH di harga bawah karena melihat bahwa valuasinya sudah murah untuk ukuran saham dari perusahaan yang too big to fail, maka sebenarnya mereka baru saja terjebak value trap, karena LEH ternyata malah fail beneran.
Nah, jika dibandingkan dengan jenis value trap yang pertama, maka jenis value trap yang kedua inilah yang sering makan korban, tidak hanya investor pemula tapi juga investor kawakan kelas kakap sekalipun (contohnya ya Om Soros tadi). I mean, kalau sebuah perusahaan sejak awal gak pernah punya kinerja bagus/rugi meululu, prospeknya suram dan gak jelas usahanya apaan, serta hampir gak pernah kedengaran nama PT-nya, maka ngapain juga kita beli sahamnya?
Tapi ketika ada saham dari perusahaan besar yang anjlok, maka meski sebagian memang sukses naik lagi ketika fundamental perusahaan yang bersangkutan kembali pulih (dan alhasil investor yang membelinya di harga bawah sukses cuan besar), namun sebagian lagi malah terus saja turun hingga nilainya menjadi nol, dan saham inilah yang kita sebut value trap. Dan actually guru besar kita semua, Warren Buffett, juga pernah jadi korban value trap jenis ini. Yakni ketika beliau di tahun 1960-an membeli saham Berkshire Hathaway (BRK) pada PBV 0.4 kali, harga yang sangat murah untuk ukuran perusahaan tekstil yang pernah jaya di masanya (BRK sudah berdiri dan beroperasi sejak awal abad ke-19), tapi ternyata kesininya BRK malah terus saja merugi hingga akhirnya perusahaan menutup usaha tekstilnya sama sekali. Kesulitan terbesar bagi seorang value investor ketika ia membeli ‘saham murah’ seperti saham LEH atau BRK ini adalah ketika ia tidak bisa membedakan, apakah perusahaan tengah struggling, atau malah dying. Jika perusahaan hanya sekedar struggling saja, alias masih mampu bertahan dan juga masih beroperasi meski merugi/labanya turun, maka tetap terdapat harapan bahwa pada akhirnya kinerja mereka bakal pulih lagi. Tapi jika perusahaannya sedang sekarat, ya artinya tinggal tunggu waktu saja sebelum mereka bangkrut, dan sahamnya menjadi worthless sama sekali.
Dan sejarah menunjukkan bahwa ada banyak sekali perusahaan-perusahaan besar di masa lalu, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Dari 500 perusahaan penghuni daftar Fortune 500 di tahun 1950-an, hanya 8 diantaranya yang masih berada di dalam daftar Fortune 500 tersebut.
Okay, jadi bagaimana caranya agar kita bisa membeli saham murah yang perusahaannya hanya lagi struggling saja, dan bukannya dying? Well, secara teori sebenarnya mudah saja membedakannya, meski untuk prakteknya membutuhkan pengalaman yang cukup: Jika anda perhatikan, perusahaan-perusahaan yang dying adalah mereka yang memiliki utang terlalu besar dibanding nilai aset bersihnya, apalagi jika utang-utang tersebut mengandung bunga yang tinggi. Beberapa perusahaan yang disebut diatas, yakni BORN, BRAU, BLTA, dan juga LEH, kesemuanya menanggung utang yang amat sangat besar sebelum mereka bangkrut. Jadi ketika ekonomi lagi gak bagus, atau sektor usahanya lagi lesu, maka ketika perusahaan-perusahaan lain hanya sekedar mengalami penurunan laba saja, para perusahaan yang utangnya gede ini biasanya bakal menderita rugi besar. Karena ketika pendapatan operasional mereka turun, namun beban cicilan utang serta bunganya akan tetap/tidak ikut turun, sehingga secara keseluruhan perusahaan akan merugi. Dan jika iklim usaha ternyata tidak juga membaik setelah beberapa waktu, maka kerugian tersebut akan terjadi terus menerus hingga akhirnya menghapus nilai aset bersih perusahaan sama sekali.
Dan pada titik inilah, secara teknis sebuah perusahaan bisa disebut bangkrut. Analoginya seperti kalau anda beli saham pake duit sendiri, dan kemudian terjadi market crash, maka saham-saham yang anda pegang akan turun/anda menderita rugi. Tapi selama anda tidak cut loss, tidak harus bayar bunga margin, dan juga tidak kena forced sell, maka ketika akhirnya pasar naik kembali, saham-saham anda juga akan ikut naik, dan porto anda akan hijau kembali. Tapi jika anda beli saham pake margin lalu terjadi market crash, maka kerugian anda akan berlipat ganda karena anda tetap dibebani bunga pinjaman margin, dan beberapa saham yang anda pegang akan dipaksa dijual pada harga rendah (forced sell). Alhasil ketika pasar akhirnya pulih kembali, aset anda di saham sudah terlanjur habis tak tersisa. Actually, inilah yang terjadi pada banyak sekali investor pemula di tahun 2008 lalu.
Karena itulah, dalam beberapa kali kesempatan ketika kita banyak membahas saham-saham batubara di tahun 2016 lalu (waktu itu saham ADRO dkk masih pada murah-murah), penulis menyebutkan bahwa saham favorit kita di sektor ini ada empat, yakni Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA), Indo Tambangraya (ITMG), Harum Energy (HRUM), dan Resource Alam Indonesia (KKGI). Alasannya, selain karena kinerja historis yang moncer, neraca dari ke-empat emiten batubara tersebut juga relatif bersih dari utang. Dan memang kinerja keempat perusahaan sukses pulih lagi dalam dua tahun terakhir, demikian pula sahamnya naik banyak. Memang, beberapa saham batubara yang utangnya gede seperti Indika Energy (INDY) dan Bumi Resources (BUMI) ternyata gak sampai bernasib seperti BORN, malah INDY naik banyak. Tapi secara risiko, maka saham-saham tersebut lebih berisiko/bisa saja merupakan value trap, dibanding empat saham batubara yang disebut diatas.
Kesimpulannya, asalkan kita bisa berhati-hati, maka gak terlalu sulit untuk menghindari value trap ini. Dan lagi, kalau misalnya kita terjebak membeli saham murah padahal murahan, atau saham murah tapi perusahaannya mau bangkrut, maka asalkan kita sebelumnya menerapkan diversifikasi yang efektif dimana kita gak cuma beli 1 – 2 saham murah melainkan beberapa, maka berdasarkan pengalaman, meski mungkin ada satu atau dua saham yang ternyata merupakan value trap, tapi saham-saham lainnya tetap akan menghasilkan profit jumbo setelah beberapa waktu. Dan alhasil kinerja porto kita secara keseluruhan akan tetap bagus, sehingga sekali lagi, soal value trap ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
And btw, selain dua jenis value trap diatas, sebenarnya masih ada satu lagi jenis value trap, yakni saham dengan PBV yang rendah padahal nilai ekuitas perusahaan tidak riil/tidak sebesar kelihatannya, atau saham dengan PER yang rendah padahal laba bersihnya juga tidak riil/bukan berasal dari operasional perusahaan. Well, tapi berhubung artikel ini sudah lumayan panjang, maka soal ini akan kita bahas lain waktu.

Untuk artikel minggu depan, ada masukan?
Jadwal Seminar: Value Investing Basic Class, Jakarta, Sabtu 24 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Modernland Realty

Modernland Realty (MDLN) adalah salah satu stockpick penulis di masa lalu, tepatnya di tahun 2012 – 2013 ketika sektor properti tengah booming, dan anda bisa baca lagi ulasannya disini. Namun sayangnya ketika itu hasilnya gak bagus karena kita salah timing masuk di bulan Juni 2013, dimana dalam enam bulan berikutnya IHSG justru drop (dari 5,250 hingga mentok di 3,900), dan MDLN juga ikut turun dari 1,000 (sebelum stocksplit, setara 500) hingga mentok di 650 (setara 325). Dan meski di tahun 2014, seiring dengan pulihnya kondisi market, MDLN kembali naik, tapi kenaikannya berhenti di level 580-an di awal tahun 2015 karena setelah itu industri properti mulai lesu, dimana MDLN bersama juga mayoritas emiten properti lainnya membukukan penurunan kinerja, dan sahamnya ramai-ramai turun lagi.

(Catatan: Dari pengalaman di tahun 2013 tersebut, penulis banyak belajar tentang market timing, dan juga tentang siklus ekonomi industri termasuk industri properti, yang tidak kalah pentingnya dibanding value investing itu sendiri).
Hingga dua tahunan berikutnya, penulis tidak pernah melirik-lirik lagi MDLN ini (jadi kerjaan kita cuma liat laporan keuangan terbarunya setiap tiga bulan, dan ketika MDLN masih melaporkan penurunan laba maka yo wis, analisanya selesai). Sampai pada awal tahun/Kuartal I 2017 dimana MDLN akhirnya membukukan kenaikan laba, barulah kita kembali memasukkan MDLN kedalam planning. Hingga tahun penuh 2017, laba MDLN masih naik menjadi Rp615 milyar, dibanding Rp501 milyar di tahun 2016. Actually, jika dibandingkan dengan kinerjanya di tahun 2012 – 2013 lalu, maka kinerja terbaru MDLN ini masih kurang memuaskan. Namun jika melihat sektor propertinya sendiri yang mulai bangkit lagi setelah sempat mati suri dalam lima tahun terakhir, maka setelah tahun 2017 kemarin, kita bisa expect bahwa trend kenaikan laba MDLN akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
Okay, lalu MDLN ini perusahaan properti apa sih tepatnya? Aset-asetnya ada dimana saja?

MDLN merupakan bagian dari Grup Modern, dengan bisnis utama mereka sebagai distributor film kamera foto berbagai merk terutama Fuji Film dan Kodak, melalui PT Modern Internasional (MDRN). Namun berbeda dengan MDRN yang sekarang mati suri seiring dengan bubarnya industri film kamera (karena diganti oleh kamera digital), MDLN justru maju pesat. Setelah cenderung jalan ditempat sejak perusahaan berdiri di tahun 1983, milestone pertama MDLN dicapai pada tahun 2005 dengan membangun Jakarta Garden City (JGC) di Kawasan Cakung, Jakarta Timur, ketika itu seluas 270 hektar (yang kemudian meningkat menjadi 370 hektar, dan itu sangat luas untuk ukuran township didalam Kota Jakarta), dengan bekerja sama dengan Keppel Land asal Singapura, dan sampai sekarang JGC masih terus dikembangkan, termasuk berdiri IKEA dan Mall AEON. Menariknya, hingga Juni 2017, JGC masih memiliki sisa landbank seluas 250 hektar, yang artinya baru sekitar sepertiga dari total area JGC yang sudah dikembangkan, sehingga potensi pertumbuhan JGC di masa depan masih sangat terbuka lebar.

Selain JGC, MDLN juga punya beberapa aset properti berikut:
  1. Padang Golf Modern di Tangerang
  2. Modernhill Townhouse di Pondok Cabe, Tangerang Selatan
  3. Kota Modern seluas 400 hektar di Cipondoh, Tangerang
  4. Modern Cikande Industrial Estate (MCIE) di Cikande, Serang
  5. Perumahan murah type 36/72 dan 45/90 di MCIE
  6. Hotel Novotel Gajah Mada, Jakarta Barat, dan
  7. Sebuah pabrik yang memproduksi panel lantai, dinding, dan tangga.
Dan yang terbaru, sejak tahun 2016 lalu MDLN bekerja sama dengan Astra Land Indonesia untuk mengembangkan JGC, dimana kedua perusahaan mendirikan anak usaha dengan nama PT Astra Modern Land (AML). Ini menarik, karena seperti yang kita ketahui, Grup Astra dalam 2 – 3 tahun terakhir banyak berinvestasi ke sektor properti melalui Astra Land diatas, namun mungkin karena menyadari bahwa mereka belum berpengalaman di bidang properti ini, maka Astra kemudian bekerja sama dengan beberapa developer termasuk MDLN. Yep, jadi MDLN menawarkan pengalaman sebagai developer serta kompleks JGC itu sendiri (jadi Astra gak perlu repot-repot membangun sendiri township-nya sejak awal), sementara Astra menawarkan dukungan modal yang kuat serta brand Astra (karena brand ‘Modernland’ biar gimana belum sepopuler ‘Bumi Serpong Damai’, ‘Ciputra’, atau ‘Alam Sutera’). Thus, ini akan jadi kerjasama yang sangat baik. AML diproyeksikan akan menghasilkan pendapatan total Rp3.2 trilyun dalam beberapa tahun kedepan, yang akan dibagi dua untuk MDLN dan Astra Land.
Jadi secara prospek MDLN memang menarik, karena sebelum bekerja sama dengan Astra, perusahaan sebelumnya sudah bekerja sama dengan Keppel Land untuk mengembangkan JGC. Dan memang kalau dari sisi nilai revenue/pendapatan, kinerja MDLN sudah terbilang bagus bahkan ketika industri properti tengah lesu antara tahun 2013 – 2016, dimana pendapatannya konsisten di angka Rp2.5 – 3 trilyun per tahun. Problemnya, karena MDLN mengembangkan sebagian besar proyek-proyeknya dengan bekerja sama dengan pihak ketiga (Keppel Land, dan sekarang Astra), dan juga menggunakan utang obligasi (per akhir tahun 2017, MDLN memiliki utang obligasi senilai Rp4.7 trilyun, atau terbilang besar dibanding total asetnya yang Rp14.6 trilyun), maka jadilah margin laba MDLN terbilang tipis dibanding kebanyakan perusahaan properti lain, yakni hanya 15 – 20%, karena besarnya beban profit sharing dan bunga obligasi. Ini artinya, kalau nanti Feni Rose kembali sering nongol di televisi dengan slogannya yang terkenal, ‘Senin harga naik!’, maka mungkin laba bersih MDLN tetap akan segitu-gitu saja, atau naik tapi naiknya gak banyak, bahkan meski pendapatannya naik banyak (selain dari JGC, sejak tahun 2017 kemarin MDLN juga mulai panen dari MCIE dan Kota Modern Cipondoh).
Valuasi MDLN = Paling Murah
Kombinasi antara kurang populernya nama perusahaan (karena sekali lagi, Grup Modern lebih dikenal sebagai tukang foto ketimbang tukang bikin rumah), dan relatif kecilnya margin laba, menyebabkan MDLN tidak begitu disukai investor di market, dan alhasil sahamnya hingga awal tahun 2017 cenderung turun terus, tapi hikmahnya itu bikin valuasi sahamnya jadi paling murah dibanding developer besar lain. Yup, kalau melihat total aset perusahaan yang lebih dari US$ 1 milyar, serta posisi JGC yang juga sudah well established, maka MDLN bukanlah developer kelas teri yang masih harus struggleuntuk sekedar bertahan hidup, melainkan developer besar yang cuma butuh kondisi dimana sektor properti itu sendiri mulai menggeliat lagi, agar bisa kembali profit. Dan seperti yang sudah kita bahas disini, dan disini, intinya penulis personally sepakat dengan pernyataan manajemen MDLN (dan juga manajemen developer properti lainnya), yang mengatakan bahwa tahun 2017 kemarin merupakan titik terendah/titik balikdari industri properti setelah sebelumnya industri ini turun terus, sehingga untuk tahun 2018 dan kedepannya, properti berpeluang untuk booming lagi (meski, seperti halnya trend penurunannya terjadi pelan-pelan selama lima tahun, maka industri properti juga gak akan langsung booming dalam waktu singkat, melainkan perlu waktu).
Hanya masalahnya, karena industri properti ini tidak sampai benar-benar terpuruk seperti halnya sektor batubara di tahun 2016 lalu (di tahun tersebut ada banyak perusahaan batubara yang kolaps, berhenti beroperasi sama sekali, hingga gagal bayar utang. Dan kecuali Bakrieland Development, sampai sekarang tidak ada developer besar lain yang terpaksa melego aset-aset mereka), maka saham-saham properti turunnya tidak terlalu dalam, dan alhasil valuasi saham-saham di sektor ini tidak sampai kelewat rendah, dimana mayoritas saham dari developer papan atas masih dihargai pada PBV 1 – 2 kali. Memang, untuk developer yang kecil-kecil seperti Gading Development, Bumi Citra Permai, dst, valuasi mereka jauh lebih murah, tapi kan barangnya juga kurang bagus.
Tapi untuk MDLN ini, pada harga 330 dan berdasarkan LK Tahun Penuh 2017, PER dan PBV-nya masing-masing hanya 6.7 dan 0.6 kali, clearly undervalue whatsoever, dan itu pula yang menyebabkan penurunan sahamnya selama setahun terakhir mentok di 270 – 300. Jadi asalkan perusahaan bisa kembali membukukan kenaikan laba di tahun 2018 (yang penting asal naik saja, jadi laba tersebut gak usah terlalu besar), dan itu adalah ekspektasi yang masuk akal, maka MDLN berpeluang untuk naik pelan-pelan dengan risiko penurunan yang terbatas karena sekali lagi, valuasinya paling murah dibanding saham properti lain di kelasnya. Indikasi sudah rendahnya valuasi saham MDLN juga tampak dari keputusan manajemen yang mengalokasikan maksimal Rp250 milyar untuk buy back saham MDLN di market, dimana hingga akhir Desember 2017 kemarin, manajemen sudah membelanjakan sekitar Rp20 milyar untuk membeli saham MDLN di harga 290 – 330 (jadi sisa dananya masih banyak yakni sekitar Rp230 milyar, dimana kalau nanti sewaktu-waktu MDLN turun lagi, misalnya kalau pasar terkoreksi, maka penurunannya gak akan terlalu dalam/langsung naik lagi, karena ada yang nampung).
Kesimpulannya, jika dibanding beberapa saham yang pernah dibahas di blog ini, maka MDLN mungkin tidak menawarkan potensi profit yang terlalu besar, tapi disisi lain risikonya juga terbatas, sehingga it’s still a good deal. Disisi lain kalau misalnya kinerja perusahaan di tahun 2018 ini beyond expectation, misalnya karena joint venture-nya dengan Astra sukses menaikkan popularitas perusahaan sehingga unit-unit properti di JGC laku keras, maka potensi kenaikan harga saham hingga 50 – 100% dalam 1 – 2 tahun kedepan terbilang realistis mengingat di masa lalu, PBV MDLN ini serendah-rendahnya di 1.5 – 1.7 kali. Well, let see bagaimana nanti kinerja perusahaan di tahun 2018 ini.
PT Modernland Realty, Tbk (MDLN)
Rating Kinerja pada 2017: BBB
Rating Saham pada 330: AA
Disclosure: Ketika analisis ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang MDLN di harga 324. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Maret 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis via email.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Basic Class: Jakarta, 24 Maret 2018

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’, di Jakarta. Materi yang disampaikan adalah sama seperti kelas seminar yang biasanya, namun sesuai request, kali ini materinya dimodifikasi/ditambah beberapa materi tambahan yang disesuaikan khusus untuk para calon investor, investor pemula/beginner, atau investor yang sudah lama namun masih awam analisis fundamental, dan khususnya metode value investing. Berikut materi selengkapnya:

Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat menganalisa laporan keuangan perusahaan, menilai apakah perusahaan memiliki fundamental bagus atau tidak, hanya dalam beberapa detik. Dan cara untuk memperoleh seluruh informasi penting tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  3. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal.
  4. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham.
  6. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss.
  7. Cara menyusun investment/trading plan: Meski lebih banyak santai dan gak ngapa-ngapain, namun apa saja tugas rutin yang harus dikerjakan seorang value investor setiap hari, setiap bulan, setiap tiga bulan, hingga setiap tahun? Dan terakhir
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang value investing, investasi saham itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal. Plus cara untuk memperoleh info yang lebih komprehensif tentang suatu perusahaan, yang tidak akan anda peroleh dari sumber informasi dalam negeri.
Ilustrasi Value Investing

Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk membangun mental investor, yakni 1. Sabar, 2. Tidak mudah panik, dan 3. Tidak mudah serakah, berdasarkan keseharian penulis sendiri sebagai full time investor, baik di dalam maupun di luar stock market.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, dan Waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 24 Maret 2018
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.30 WIB.
  • Fasilitas: Softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut kelas ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Basic Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.

Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis bersama teman-teman peserta di salah satu kelas seminar sebelumnya, di Jakarta
TESTIMONIAL

Dear Mas Teguh,
Taun ini rasanya bakal jd peningkatan ekstrem dr portofolio saya. Bahkan sblm ipo aramco mas hehehe.. ini berkat advice value investing dr blog mas teguh,
Intinya tengkyu banget mas. Dulu sy udah baca2 graham & buffet, tapi karna ngga ada contoh yg jelas di indo (selain pak LKH) sy susah banget mau nerapin value investing. Kalo udah lancar, mgkn sy jg mau buat blog juga. Oiya mas teguh harus bangga, slama bbrp taun ini mas jadi “amazing senpai which changes my way of investing”. Your work improves my life.
Best regards,
Arif [...]

Ekonomi Bagus, Kenapa Saham Turun?

Ada yang menarik ketika Dow Jones turun nyaris 1,200 poin pada hari Senin, 5 Februari lalu, dan itu bukanlah fakta bahwa penurunan tersebut merupakan penurunan terbesar Dow dalam-satu-hari sepanjang sejarah (dari sisi poin, bukan persentase), melainkan respon Presiden Trump melalui akun Twitter-nya: ‘Di masa lalu, ketika berita baik keluar maka pasar saham akan naik. Tapi hari ini, ketika berita baik keluar pasar saham justru turun. Ini kesalahan besar! Dan kita punya banyak berita baik terkait perekonomian Amerika!’

Dan meski kemudian muncul berbagai respon positif dan negatif atas tweet tersebut, tapi logika pertanyaannya memang masuk akal: Kenapa kok pasar saham Amerika turun justru ketika berita baik terkait rendahnya angka pengangguran dll keluar? Bukankah berita baik seharusnya menjadi sentimen positif bagi pasar saham??
Tapi jika anda sudah cukup berpengalaman di stock market, maka anda akan hafal bahwa ini bukan kali pertama terjadi peristiwa saham turun ketika keluar good news, atau sebaliknya saham naik justru ketika keluar bad news, melainkan itu sudah sering terjadi sejak dulu. Contoh paling baru, pada April – Mei 2017 lalu, saham-saham batubara turun rata-rata 10 – 20%, justru setelah Harum Energy (HRUM) dkk melaporkan kenaikan laba bersih yang cukup signifikan di laporan keuangan (LK) mereka untuk Kuartal I 2017.
Namun jika anda memperhatikan, maka akan juga tampak fakta bahwa saham-saham batubara sudah naik jauh sebelum para emitennya melaporkan kenaikan laba bersih. Pada contoh saham HRUM, pada September 2016 sahamnya masih di level 1,000-an, sebelum kemudian naik dengan cepat hingga hampir saja tembus 3,000 pada awal April 2017. Jadi meski di bulan Mei-nya HRUM kembali turun hingga mentok di 2,000, tapi secara keseluruhan jika dihitung dari September 2016 tersebut, maka HRUM ini, demikian pula dengan saham-saham batubara lainnya, tetap terbilang naik signifikan.
Apa Itu Teori ‘Price In’?
Tapi pertanyaannya balik lagi: Kenapa kok saham-saham batubara sudah naik duluan sebelum para emitennya merilis LK, dan justru turun setelah LK tersebut dirilis? Nah, dalam hal ini penulis hendak memperkenalkan satu istilah yang mungkin tidak akan anda temukan di buku-buku text book tentang investasi saham: Price In Theory. Harap baca bagian ini baik-baik: Yang dimaksud dengan price in adalah suatu keadaan dimana harga sebuah saham sudah berada pada level yang mencerminkan/selaras dengan fundamental perusahaan dan/atau isu-isu yang beredar terkait perusahaan tersebut. Dalam hubungannya dengan indeks saham seperti Dow Jones dan IHSG, maka price in adalah keadaan dimana posisi indeks sudah mencerminkan fundamental ekonomi negara, dan juga selaras dengan berita-berita ekonomi (dan politik) nasional.
(Catatan: Kalau di dunia trader saham, maka price in theory, meski tidak sama persis, adalah kurang lebih sama dengan istilah buy on rumors, sell on news!).
Jadi kronologisnya seperti ini. Pertama, harga batubara mulai naik, dan semua orang bisa melihatnya. Kedua, karena harga batubara naik, maka muncul harapan alias ekspektasi bahwa emiten-emiten batubara akan membukukan kenaikan laba. Ketika ‘harapan’ ini semakin menguat, maka para investor, terutama mereka yang menyadari bahwa valuasi saham-saham batubara sudah kelewat murah (pada September 2016, ada banyak saham batubara yang PBV-nya cuma nol koma sekian), akan mulai membeli saham batubara bahkan meski emiten yang bersangkutan masih membukukan penurunan laba atau bahkan rugi. Alhasil, saham-saham batubara mulai naik. Ketiga, para emiten batubara akhirnya merilis LK dimana kinerja mereka indeed bagus, tapi ketika itu saham-saham batubara sudah naik tinggi hingga valuasinya tidak murah lagi/sudah match dengan LK terbaru tersebut, sebagian malah sudah kelewat mahal. Pada titik inilah beberapa investor yang ‘curi start’ membeli saham-saham batubara di harga bawah, ketika itu dengan ekspektasi bahwa LK-nya bakal bagus dan kemudian ekspektasi tersebut tercapai/sudah ‘price in’, akan mempertimbangkan untuk profit taking dulu. Karena mereka menyadari bahwa agar saham-saham batubara bisa naik lebih tinggi lagi, maka dibutuhkan ekspektasi yang baru lagi.
Dan ketika sudah tidak ada/belum muncul lagi ekspektasi yang baru tersebut, maka para investor ini kemudian jualan. Inilah yang kemudian menyebabkan penurunan saham-saham batubara di bulan Mei, yakni justru ketika para emiten sudah merilis LK terbaru mereka. Tapi karena yang jualan hanyalah mereka yang beli HRUM dkk di harga bawah (sementara orang-orang yang baru masuk ke saham batubara di harga atas, mereka gak akan jualan karena posisinya masih nyangkut, dan mereka tidak akan cut loss karena toh nyatanya kinerja emiten batubara terbilang bagus), maka penurunan yang terjadi tidak terlalu dalam, dan tidak sampai mengembalikan saham-saham batubara ke level sebelum mereka mulai rally, September 2016 lalu.

Pergerakan indeks saham-saham tambang dalam setahun terakhir. Perhatikan bahwa indeks tambang turun signifikan pada bulan Mei 2017 (kotak merah), tapi beberapa waktu kemudian naik lagi

Nah, jadi bisa disimpulkan bahwa penurunan yang terjadi pada saham-saham batubara di bulan Mei 2017 merupakan koreksi sehat, yang bukan disebabkan karena para perusahaan batubara melaporkan kinerja jelek, tapi justru karena saham-saham batubara sudah naik tinggi sebelumnya hingga harganya sejak awal sudah match/sudah price in dengan kondisi fundamental terbaru perusahaan. Berbeda dengan penurunan saham berkepanjangan karena adanya masalah fundamental, ‘koreksi sehat’ seperti ini biasanya tidak akan terjadi terlalu lama dan juga tidak akan terlalu dalam, dan lebih merupakan ‘istirahat sejenak sebelum nanti mulai jalan lagi’. Dan memang terbukti, saham-saham batubara pada hari ini sudah lebih tinggi dibanding posisi tertinggi mereka (sebelum terkoreksi) pada April 2017 lalu.
Kenapa muncul bad news ketika sebuah saham/indeks saham turun?
Jadi balik lagi ke penurunan Dow Jones: Kenapa pada 5 Februari lalu Dow turun signifikan justru ketika data-data ekonomi Amerika menunjukkan angka-angka yang bagus? Ya itu karena Dow memang sudah naik banyak sejak dua tahun sebelumnya, ketika itu memang karena di-drive oleh ekspektasi terkait pulihnya kondisi ekonomi. Jadi ketika ekspektasi tersebut akhirnya terpenuhi, dimana ekonomi Amerika sekarang ini lagi bagus-bagusnya, maka justru inilah saatnya untuk keluar dulu. However, karena yang jualan hanyalah mereka yang mulai belanja saham ketika Dow dua tahun lalu masih di 18,000-an, maka kecuali terjadi peristiwa ekonomi politik yang serius, penurunan Dow tidak akan terlalu besar/tidak akan sampai balik lagi ke level 18,000 tersebut.
Tapi Pak Teguh, seperti yang anda bahas di artikel minggu lalu, kenapa ketika Dow turun total 10.3%, berita yang kemudian muncul di media-media mainstream adalah bad news terkait inflasi, dan bukannya soal ‘price in’ ini? Well, itu karena untuk bisa mengerti bahwa harga atau valuasi sebuah saham sudah match/sudah price in atau belum dengan fundamentalnya, maka seorang investor haruslah mengerti tentang analisis fundamental itu sendiri, dan khususnya mengerti soal metode value investing. Dan problemnya, jangankan orang awam, dua orang value investor yang sama-sama berpengalaman sekalipun bisa saja berbeda pendapat tentang apakah saham A yang naik dari harga 500 ke 1,000 itu sudah price in dengan kinerja fundamental terbaru perusahaan, atau belum?
Karena itulah, kalau misalnya para broker dan analis sekuritas menerima pertanyaan dari nasabahnya dan wartawan terkait jatuhnya Dow, dan mereka kemudian menjawab, ‘Soalnya valuasi Apple dkk emang udah mahal pak, jadi ya harus turun dulu’, maka mereka akan diberondong pertanyaan lanjutan: ‘Tau dari mana kalau Dow sudah mahal?’ ‘Gimana cara ngitungnya?’ ‘Jadi Dow harusnya berada di level berapa??’ (karena, honestly, jangankan di Indonesia, di negara maju seperti Amerika sekalipun, sangat sedikit investor yang benar-benar menganalisa saham pake analisis fundamental/kaidah value investing).
Tapi kalau para broker dan analis bisa menemukan ‘peristiwa penting’ untuk menjelaskan penurunan Dow, dalam hal ini cerita soal inflasi tadi (meski ceritanya sebenarnya mengada-ngada), maka soal inflasi itulah yang kemudian menjadi kambing hitam, tapi setidaknya itu akan cukup untuk membuat orang-orang ngomong, ‘Oh, jadi Dow turun karena itu toh!’ Padahal Dow turun ya bukan karena inflasi atau apapun itu, melainkan karena faktor price in tadi (anda bisa membaca lebih lanjut soal ‘penyebab keluarnya bad news setiap kali saham turun’, di artikel ini).
Anyway, jadi sekarang anda mengerti bahwa, seperti yang penulis sampaikan di artikel minggu lalu, terdapat dua penyebab turunnya saham/indeks saham. Yang pertama adalah karena faktor fundamental/terjadi penurunan kinerja perusahaan, dan kedua karena faktor price in ini. Sudah tentu, untuk bisa membedakan keduanya maka anda harus telebih dahulu paham soal fundamental perusahaan, valuasi saham, hingga makroekonomi serta analisis industri/sektoral. Tapi yah, meski memang bikin bingung pada awalnya, tapi kalau sudah terbiasa maka itu nggak sulit kok :) Anda tinggal baca-baca lagi saja artikel-artikel lama di blog ini.
Kecuali ada peristiwa penting, untuk minggu depan kita akan bahas satu saham bagus dan (masih) murah, yang kinerjanya di Full Year 2017 barusan beyond expectation.
Penulis membuat Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Tahun Penuh 2017. Anda bisa memperolehnya disini.
Jadwal Seminar: Value Investing Advanced Class, Jakarta, Sabtu 17 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Penurunan Dow Jones & Pengaruhnya ke IHSG

Setelah sebelumnya cenderung naik terus, Dow Jones Industrial Average (DJIA), seperti yang anda ketahui, sejak awal Februari kemarin mulai bergerak turun hingga sempat ditutup di posisi 23,860, atau drop 10.3%dari posisi tertingginya yakni 26,616. Secara teori, jika indeks saham turun hingga 10% dari level tertingginya, maka artinya pasar saham di negara yang bersangkutan ‘resmi’ memasuki periode koreksi/bearish. Dan berhubung yang turun adalah Dow dkk (S&P500 dan Nasdaq juga turun), yang notabene merupakan benchmark dari pergerakan bursa saham global, maka pertanyaannya sekarang, bagaimana pengaruh penurunan DJIA ini terhadap IHSG?

Tapi sebelum menjawab pertanyaan diatas, terlebih dahulu kita jawab pertanyaan berikut: Apa yang sebenarnya tengah terjadi di Amerika Serikat sana, sehingga DJIA turun? Bukankah perekonomian Amerika, setidaknya menurut klaim dari Presiden Trump, justru sedang bagus-bagusnya?
Nah, kalau anda baca-baca pemberitaan di media mainstream tentang penurunan Dow, maka isunya adalah adanya kekhawatiran akan tingginya inflasi di US, sebagai efek samping dari rendahnya suku bunga serta pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat (hubungan antara inflasi, suku bunga bank, serta pertumbuhan ekonomi bisa anda baca disini). Tapi faktanya inflasi di US terakhir masih aman terkendali di level 2.1%. Memang, angka tersebut lebih tinggi dibanding tahun 2015 lalu yang hanya 0%, tapi dalam 10 tahun terakhir, angka inflasi di US ya stabilnya di level kisaran 1 – 2%. Dan kalaupun kedepannya terdapat risiko bahwa inflasi tersebut bakal naik, maka Federal Reserve sebagai Bank Sentral Amerika tinggal menaikkan suku bunga acuan/Fed Rate, yang saat ini masih berada di level 1.5%, atau jauh dibawah levelnya di awal dekade 2000-an yang mencapai 4 – 5% (sehingga masih terbuka ruang lebar bagi fed rate tersebut untuk dinaikkan).

Data inflasi di Amerika Serikat dalam 10 tahun terakhir. Sumber: www.tradingeconomics.com

Lalu kalau bukan soal inflasi, lalu apa masalahnya? Well, kalau mau jujur ya nggak ada masalah apa-apa. Setelah mengalami krisis subprime mortgage di tahun 2008 lalu, bisa dikatakan bahwa Amerika pada saat ini sudah benar-benar recover dari krisis tersebut, dimana perusahaan-perusahaan besar disana berlomba-lomba membukukan kinerja positif, terutama perusahaan teknologi. Even Twitter Inc., salah satu perusahaan teknologi yang paling populer namun sedari dulu nyaris selalu membukukan rugi, di tahun 2017 kemarin untuk pertama kalinya membukukan profit, dan sahamnya pun naik.
Jadi kalau dikatakan bahwa penurunan Dow disebabkan oleh ‘something wrong’ in the US economy, maka mengutip pernyataan Presiden Trump, it’s fake news. Namun demikian harus juga dicatat bahwa adanya problem ekonomi maupun perubahan fundamental/kinerja perusahaan bukanlah satu-satunyapenyebab penurunan Bursa Saham. Penyebab kedua adalah, justru ketika ekonomi sedang bagus-bagusnya, maka seringkali harga-harga saham terus saja naik hingga valuasinya tidak lagi mencerminkan nilai wajarnya (istilahnya overvalue), sehingga secara normalnya akan terjadi koreksi sehat untuk mengembalikan harga-harga saham ke posisi wajar mereka masing-masing.
Dan memang ketika Dow berada di level 26,000-an, beberapa waktu lalu, maka berdasarkan angka PER dan PBV dari 30 saham komponen DJIA, maka valuasi saham-saham di Amerika berada di salah satu level tertingginya, yang hanya pernah dicapai 3 kali dalam 100 tahun terakhir. Mengingat DJIA sudah naik nyaris 4 kali lipat dalam waktu sepuluh tahun terakhir (pada titik terendah krisis 2008, DJIA berada di level 6,626), maka ini bukanlah fakta yang mengejutkan. Secara khusus, kenaikan DJIA juga tambah kencang dalam dua tahun terakhir, dimana setelah terakhir mengalami koreksi dengan turun ke 16,000 pada Oktober 2015 lalu, selanjutnya Dow terus saja naik hingga total 10,000 poin (ke 26,000-an) dalam dua tahun tiga bulan, nyaris tanpa koreksi berarti.
Dan penulis sendiri sebenarnya agak terganggu dengan kenaikan DJIA yang seperti tanpa henti, hingga para technopreneur seperti Mr. Bezos dan Zuc tiba-tiba saja bersanding dengan Om Bill dan Opa Warren di daftar Majalah Forbes (which is ridiculous). Jadi ketika Dow akhirnya turun juga, maka itu justru sudah ditunggu-tunggu. Kemudian, karena problem utamanya sebatas tingginya valuasi saham-saham di Amerika, maka kalau kedepannya Dow lanjut turun lagi (dan normalnya memang demikian. Secara historis, setiap kali Dow turun banyak, maka dia tidak  akan langsung pulih lagi dalam waktu kurang dari sebulan), penulis kira penurunannya tidak akan terlalu dalam/tidak akan sampai mengembalikan Dow ke level sebelum dia mulai rally dua tahun lalu, yakni 16,000-an. However, kalau turun sampai level 20,000-an, maka itu masih mungkin.
Lalu bagaimana dengan IHSG?
Secara umum kondisi di Indonesia sekarang ini terbilang mirip dengan Amerika: Ekonomi lagi bagus, saham-saham lagi naik, dan kenaikan IHSG juga terasa lebih kencang dalam dua tahun terakhir (posisi tertinggi IHSG saat ini adalah 6,686, atau naik 40% dibanding akhir Januari 2016 di level 4,771). Dan seperti halnya di Amerika, sekarang ini sangat sulit mencari saham-saham blue chipyang valuasinya masih murah.
Karena kondisinya mirip, maka secara teori ketika Dow turun 10%, harusnya IHSG bakal ikut turun kurang lebih segitu juga. Tapi nyatanya IHSG kemarin hanya turun sampai mentok di 6,427 (turun 3.8%), sebelum kemudian membal lagi ke 6,500-an. Tapi disinilah menariknya: Kalau anda perhatikan pergerakan saham-saham secara individual, maka ada banyak saham yang turun signifikan ketika Dow mulai turun, dengan total penurunan yang jauh lebih dalam dibanding penurunan IHSG itu sendiri. Disisi lain ada beberapa saham-saham big caps yang pergerakan mereka berpengaruh besar terhadap IHSG, seperti HMSP dan UNVR, yang justru naik sendiri ketika pasar mulai under attack karena sentimen penurunan Dow, biasanya naiknya pada saat sesi pre-closing. Inilah yang menyebabkan IHSG, yang mungkin totalnya turun 1 – 2% pada hari tertentu, pada sore harinya mendadak naik hingga total penurunnya hanya 0.5% saja.
Nah, jadi anda sudah mengerti bukan? Yup, kondisi pasar pada Februari ini mirip dengan kondisi pasar Desember 2017 kemarin, dimana meski IHSG ketika itu naik luar biasa hingga lebih 6% (dari 5,900-an ke 6,300-an), tapi ada banyak saham-saham terutama second liner yang justru bertumbangan (baca lagi ulasan market Desember 2017 lalu disini, coba baca juga komentar-komentarnya). Jadi kalau yang kita lihat adalah pergerakan dari saham-saham itu sendiri, dan bukan dari IHSG-nya, maka pasar saham Indonesia sejak awal Februari kemarin juga sebenernya tengah terkoreksi/turun, dengan penurunan yang kurang lebih sama dengan penurunan Dow Jones. Cara membaca pasar seperti ini mungkin sulit untuk dilakukan: Koreksi apanya? Jelas-jelas IHSG masih aman-aman saja kok! Tapi coba anda tanyakan soal itu ke para fund manager reksadana, yang kinerja mereka hampir semuanya kalah telak dibanding IHSG: Bagaimana situasi pasar sepanjang tahun 2017 lalu, dan juga sepanjang awal 2018 ini? Apakah mayoritas saham-saham di BEI sepanjang tahun 2017 lalu benar-benar naik hingga 20% seperti halnya kenaikan IHSG? Ataukah kenaikan IHSG yang spektakuler tersebut hanya ditopang oleh saham-saham yang itu-itu saja??
Kesimpulan
Okay, jadi mari kita simpulkan lagi: 1. Dow Jones saat ini sedang mengalami ‘koreksi sehat’ yang bukan disebabkan oleh problem ekonomi, melainkan karena valuasi saham-saham disana sudah kelewat mahal saja, 2. Normalnya koreksi ini gak akan langsung selesai dalam waktu dekat, melainkan butuh waktu minimal 2 – 3 bulan, selain karena valuasi saham-saham di Amerika belum bisa dikatakan terdiskon, dan 3. Ketika Bursa Saham Amerika turun, bursa-bursa saham diseluruh dunia akan ikut turun tak terkecuali di Indonesia, apalagi kondisi disini mirip dengan di Amerika (jadi baru akan lain ceritanya kalau IHSG sekarang ini masih di level 5,000-an, misalnya).
Namun sekali lagi, jika yang jadi patokannya adalah pergerakan IHSG, maka kalaupun nanti Dow benar-benar lanjut drop sampai level 20,000-an, penulis kira IHSG tetap tidak akan turun terlalu dalam(atau turun dalem sebentar, tapi langsung naik lagi). However, pengalaman di bulan Desember 2017 kemarin, dan juga di sepanjang tahun 2017 itu sendiri, telah mengajarkan bahwa stabilnya (atau bahkan naiknya) IHSG tidak selalu berarti bahwa saham-saham memang sedang naik semua, melainkan bisa saja IHSG naik sendiri sementara kebanyakan saham-saham justru berjatuhan.
Jadi, yap, setelah sempat dikasih ‘nafas’ sejenak di bulan Januari kemarin, untuk sekarang kita boleh lebih waspada lagi. And don’t worry, berbeda dengan koreksi pasar karena adanya problem di ekonomi makro, koreksi sehat karena mahalnya saham-saham biasanya cuma sebentar/hitungan minggu hingga 2 – 3 bulan, jadi gak akan berkepanjangan seperti di tahun 2008 dan 2015 lalu. Malah kalau kita melihatnya dari sudut pandang value investing, maka bagi anda yang melewatkan stock big sale! di bulan Desember 2017 kemarin (waktu itu saham-saham konstruksi dan batubara masih pada murah semua), maka dalam waktu dekat ini BEI mungkin akan menggelar big sale sekali lagi. We’ll see!

Jadwal Seminar: Value Investing Advanced Class: Jakarta, 17 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Jakarta, 3, 10, & 17 Maret 2018

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik setidaknya 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy, dan kapan waktu terbaik untuk sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias beli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah??

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Lokasi, dan Waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Maret (sudah penuh!), 10 Maret (sudah penuh!), dan 17 Maret 2018 (sudah penuh juga!).
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.30 WIB.
  • Fasilitas: Softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta. Untuk jadwal hari Sabtu, 3 & 10 Maret, kursinya sudah penuh. Jadi pendaftaran berikutnya dianggap untuk kelas tanggal 17 Maret 2018.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman di salah satu kelas seminar sebelumnya, di Jakarta.
Testimonial

Terima kasih pak teguh.

Saya banyak belajar dari bapak.

Sedikit testimoni, setelah membeli saham mengikuti arahan ebook kuartal bapak, saya mendapat profit jumbo dari HRUM dan BBNI. Saham lain meskipun turun tetapi tidak terlalu banyak.

Saya juga banyak belajar dari website dan buku pak teguh.

Semoga pak teguh tetap sehat sehingga terus berkarya dan mencerdaskan investor Indonesia
Bravo pak teguh.


Salam
Daniel-Samarinda


Pengumuman: Seluruh jadwal kelas dari tanggal 3, 10, dan 17 Maret, semuanya sudah FULL SEAT! Jadi bagi teman-teman yang belum mendaftar maka harap tunggu jadwal berikutnya, April nanti (akan segera diumumkan jika jadwalnya sudah [...]

Berapa Lama Sebaiknya Kita Hold Saham?

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan sebagai berikut, ‘Pak Teguh, saya dengar Warren Buffett (WB) itu kalau sudah beli saham maka tidak pernah dijual lagi/di hold selamanya. Demikian pula Pak Lo Kheng Hong, yang dikatakan bisa hold saham sampai 7 tahun. Tapi Pak Teguh sendiri, saya perhatikan anda hold saham paling lama cuma sampai 1 – 2 tahun saja, selebihnya cuma hold beberapa bulan, dan ada juga saham-saham yang dibeli karena perusahaannya bayar dividen, untuk kemudian dijual setelah nanti dapet dividennya. Bisa tolong dijelaskan soal ini Pak?’

Nah, berhubung pertanyaan ini kemungkinan mewakili pertanyaan dari temen-temen investor lainnya, maka sekalian saya bikinkan saja artikelnya.
Jadi, yap, penulis sendiri ketika dulu pertama kali baca-baca tentang metode value investing, terutama tentang cara investasinya Warren Buffett, maka salah satu perbedaan mendasar antara beliau sebagai value investor dengan investor/trader saham kebanyakan adalah terkait holding period, alias seberapa lama ia memegang suatu saham, dimana jika investor lain cenderung main jangka pendek, maka WB mainnya jangka panjang. Dan yang dimaksud dengan ‘panjang’ disini adalah benar-benar puanjaaang, yakni antara 5 tahun hingga selamanya. Salah satu quote WB yang terkenal adalah, ‘my favorite holding period is forever’, yang mengindikasikan bahwa kalau Berkshire Hathaway (BRK) membeli saham tertentu, maka selanjutnya saham tersebut tidak akan dijual lagi sampai kapanpun.
Dua Kelemahan
Dan ketika itu, sebagai pemula, penulis pun kemudian mencoba menerapkan cara investasi WB tersebut. Tapi tak butuh lama sebelum saya kemudian menemukan setidaknya dua kelemahan dari strategi ‘holding forever’-nya WB ini. Pertama, keputusan untuk tetap hold saham akan menjadi keputusan yang buruk dalam kondisi bear market. Penulis masih ingat, pada bulan Mei 2010, saya untuk pertama kalinya berkenalan dengan market crash, dimana IHSG drop dari 2,971 hingga mentok di 2,501, atau drop 16% hanya dalam sebulan, dan ketika itu ada banyak saham-saham yang drop-nya sampai 20 – 30%.
Dan meski di bulan Juni-nya pasar langsung pulih lagi, dimana saham-saham bagus pada naik lagi, tapi dari pengalaman koreksi pasar tersebut penulis langsung menyadari bahwa seandainya saya beli saham-saham tertentu pada tahun 2007 lalu, lalu tetap meng-hold-nya meski pasar mengalami crash yang jauh lebih buruk di tahun 2008, maka bisa jadi sampai tahun 2010 tersebut, atau 3 tahun kemudian, saham yang saya pegang masih baru sekedar balik modal saja, alias baru naik lagi ke posisi harga belinya. Jadi dalam hal ini meski posisinya memang nggak rugi, tapi kita jadi kehilangan waktu 3 tahun yang amat sangat berharga, itu juga dengan asumsi kita gak panik ketika terjadi krisis, alias cukup kuat mental untuk terus hold sahamnya termasuk ketika krisis tersebut mencapai titik terendahnya, pada Oktober 2008 lalu.
Diluar faktor koreksi pasar/market crash yang bisa terjadi sewaktu-waktu, sekitar dua tahun kemudian penulis menyadari satu lagi faktor lainnya yang mengharuskan seseorang untuk menjual sahamnya (sehingga gak jadi pegang ‘forever’), yakni jika perusahaan yang bersangkutan mengalami perubahan fundamental. Yup, pada tahun 2011, saham-saham batubara mengalami kenaikan yang luar biasa seiring dengan kinerja emiten yang sangat baik, tapi di tahun 2012-nya laba mereka mulai turun, dan sahamnya pun ikut turun. Contohnya, Resource Alam Indonesia (KKGI), dimana sahamnya naik dari 1,000-an sampai tembus 8,000 (sebelum stocksplit) pada awal tahun 2012. Tapi pada Kuartal I 2012, perusahaan membukukan penurunan laba, atau dengan kata lain mengalami perubahan fundamental. Dan ternyata, seiring dengan penurunan harga batubara ketika itu, kinerja KKGI tidak pernah pulih lagi sampai tahun 2016. Sementara sahamnya? Well, drop dari 8,000-an tadi hingga as low as 500-an (sekali lagi, sebelum stocksplit), atau jeblok lebih dari 90 persen! Jadi bisakah anda bayangkan jika seseorang membeli KKGI ini di tahun 2012 tadi, lalu memutuskan untuk ‘hold forever’?? Karena faktanya, meski sejak pertengahan tahun 2016 kemarin saham KKGI mulai naik lagi, tapi sampai sekarang harganya masih sangat jauh untuk mencapai titik tertingginya di tahun 2012 lalu.
Itu pertama terkait faktor koreksi pasar, dan perubahan fundamental emiten. Kedua, penulis kemudian juga menyadari bahwa strategi ‘holding forever’ tidak menghasilkan kinerja investasi yang optimal. Contoh, pada akhir dekade 1980-an, WB mulai mengakumulasi saham Coca Cola (KO), hingga akhirnya BRK memegang KO senilai lebih dari US$ 1 milyar pada tahun 1990, dan ketika itu KO berada di level US$ 4 per saham dan terus naik. Hingga di tahun 1998, KO sudah berada di level diatas US$ 40, atau naik 10 kali lipat dari harga beli WB. Setelah itu KO mulai turun, dan terus saja turun sampai tinggal US$ 20 di tahun 2004 (penulis belum cek karena sulit cari datanya, tapi kemungkinan pada tahun-tahun tersebut Coca Cola mengalami penurunan kinerja). Dan barulah pada hari ini, atau hampir 20 tahunsejak saham KO mencapai titik tertingginya di tahun 1998, saham KO kembali naik ke level US$ 40-an.
Harga saham Coca Cola dari tahun 1975 sampai sekarang. Perhatikan bahwa harga sahamnya sekarang ini tidak jauh berbeda dibanding tahun 1998 lalu. Source: Google.
Jadi, yes, pada akhirnya WB tetap profit besar dari KO, tapi profit 1,000% dalam waktu hampir 30 tahun tentunya bukan kinerja investasi yang memuaskan. Memang, keuntungan terbesar WB dari KO bukan cuma dari kenaikan harga sahamnya, melainkan juga dari dividen, dimana saat ini BRK menerima dividen dari KO sekitar US$ 500 – 600 juta per tahun, tapi tetap saja total profitnya tidak terlalu besar, sekali lagi, jika mempertimbangkan holding period-nya yang kelewat lama. Jika WB menjual KO di tahun 1998, maka ia ketika itu sudah menghasilkan profit 10 kali lipat, dan ia bisa menginvestasikan kembali uangnya di saham lain untuk menghasilkan profit yang bisa saja mencapai 10 kali lipat lagi dalam 10 tahun berikutnya (jadi totalnya WB cuan 100 kali lipat dalam 20 tahun). But still, bukan itu yang ia lakukan.
‘Holding Period’ Buffett di Tahun 1960-an
Penasaran, penulis kemudian pelajari lebih lanjut cara investasi WB, apakah beliau sejak awal kariernya sebagai investor sudah menerapkan strategi holding forever, ataukah dulu strateginya beda lagi. Daaaan ternyata pada tahun 1960-an, WB sama sekali tidak pernah membeli saham untuk kemudian ‘dipegang selamanya’, melainkan untuk dijual lagi setelah beberapa waktu, tentunya pada harga yang lebih tinggi. Kalau anda baca-baca annual letter WB sejak ia masih mengelola Buffett Partnership, maka disitu ada banyak disebutkan saham-saham yang WB beli pada harga murah, lalu dijual kembali pada harga yang memang seharusnya. Sebut saja Sanborn Map, Dempster Mill, hingga HKC Dept. Store. Termasuk ketika WB membeli saham BRK di tahun 1962, tujuan awalnya adalah untuk nanti dijual lagi pada harga yang (diharapkan) lebih tinggi (tapi karena sedikit ‘kecelakaan’, Berkshire Hathaway akhirnya tetap di-hold WB sampai sekarang, meski aset-aset tetap perusahaan sudah dilego semua/tinggal sisa nama perusahaannya saja sebagai holding company). Pada tahun 1960-an, WB rata-rata menjual kembali sahamnya setelah 1 – 2 tahun, atau paling lama 3 tahun, tapi ada juga saham yang langsung ia jual kembali di tahun yang sama (jadi hold-nya hanya beberapa bulan).
Setelah menyadari fakta diatas, termasuk setelah baca-baca (dan berlatih) lebih banyak lagi tentang metode value investing, maka penulis kemudian mengerti bahwa, value investing itu bukanlah ‘Beli saham hari ini lalu jualnya 5 tahun kemudian’, sama sekali bukan! Melainkan: Beli saham bagus pada harga murah. Lalu bagaimana kalau nanti saham tersebut naik terus hingga valuasinya jadi gak murah lagi? Atau jika fundamentalnya gak bagus lagi? Ya ketika itulah, anda bisa mempertimbangkan untuk menjualnya, dan nanti duitnya dipindah ke saham lain yang juga bagus, tapi valuasinya masih murah. Gitu!
Okay, lalu apa yang menyebabkan WB mengubah strateginya, dari yang tadinya hold selama beberapa bulan hingga 2 – 3 tahun, menjadi ‘hold forever’? Penulis sendiri perlu waktu cukup lama untuk menjawab ini, tapi sekarang saya sudah mengerti jawabannya: Kalau anda pegang Rp10 juta, maka anda bisa invest di saham-saham apa saja, termasuk saham gak likuid sekalipun, dan anda bisa dengan mudah menjualnya kembali setelah beberapa waktu.
Tapi kalau anda pegangnya let say Rp10 milyar, maka tentu gak segampang itu untuk melakukan aktivitas jual beli saham, dimana anda gak bisa lagi beli saham yang anda incar secara sekaligus dalam satu kali transaksi, demikian pula ketika anda menjualnya gak bisa sekaligus. Dengan kata lain, investor dengan dana besar tidak bisa ‘gerak lincah’ seperti investor lain yang dananya lebih kecil. Bahkan WB sendiri butuh waktu beberapa tahun (dari 1987 sampai 1990) hanya untuk mengakumulasi saham Coca Cola, senilai total US$ 1 milyar ketika itu.
Dan pada hari ini, nilai investasi BRK di KO sudah naik menjadi US$ 15 milyar (harusnya US$ 10 milyar, tapi WB kemudian beberapa kali menambah investasinya di KO). Pertanyaannya, kalau untuk membeli saham KO senilai US$ 1 milyar saja butuh waktu beberapa tahun, maka berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjual saham yang sama senilai 15 kali lipat-nya???
Karena itulah, penulis kira WB bukannya nggak mau menjual KO di tahun 1998 lalu, tapi ia sejak awal gak bisa/sulit untuk menjualnya. WB sendiri melalui annual letter-nya mengakui bahwa sebelum tahun 1980, ia selalu menerapkan strategi beli saham murah, lalu kemudian dijual di harga tinggi. Tapi seiring dengan terus meningkatnya dana kelolaan, WB kemudian menyadari bahwa ia gak bisa lagi menerapkan strategi jual – beli seperti itu. Jadi memasuki tahun 1980-an, terutama setelah ketemu Charlie Munger (justru Munger-lah yang pertama kali mengajarkan WB untuk beli saham lalu hold selamanya), WB kemudian mengubah strateginya: Hanya beli saham-saham yang benar-benar bagus (sebelumnya WB kadang beli saham dari perusahaan kelas coro, asalkan harganya benar-benar terdiskon) pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsik-nya, lalu hold selamanya.
Dan berbekal strategi ‘holding forever’ tersebut, BRK kemudian sukses untuk terus bertumbuh sampai sekarang, but still, jika dibanding return investasi WB di tahun 1960-an, maka kinerja BRK dalam satu atau dua dekade terakhir terbilang kurang memuaskan (baca lagi paragraf diatas, soal tidak optimalnya kinerja investasi dengan strategi hold forever). Dan WB sendiri mengakui bahwa periode 1960-an justru merupakan periode terbaiknya sebagai seorang value investor, dimana ia ketika itu membukukan rata-rata return 29% per tahun, sudah termasuk tahun-tahun krisis. Sementara pada hari ini, rata-rata return BRK dari tahun 1965 – 2016 hanya 19% per tahun (tapi ini sekaligus mematahkan kritik yang mengatakan bahwa ‘Warren Buffett nggak sehebat itu karena return investasinya bahkan gak nyampe 20% per tahun’. Well, silahkan anda tunjuk investor manapun yang anda anggap hebat, lalu suruh dia pegang dana sebesar yang dipegang WB saat ini: Kira-kira bisa nggak dia dapet return 19% juga per tahunnya?).
Kesimpulan
Kebanyakan investor pemula, ketika ia pertama kali googling nama ‘Warren Buffett’, maka yang ia pelajari adalah cara investasi WB pada saat ini, yakni ketika beliau sudah menjadi salah satu orang terkaya di dunia. However, investor berpengalaman mengerti bahwa cara investasi WB, meski tetap konsisten berpedoman pada kaidah value investing, namun senantiasa berubah dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu, karena menyesuaikan dengan besarnya dana kelolaan, dll. Jadi kecuali nama anda juga pernah nongol di Majalah Forbes, maka anda tidak bisa berinvestasi dengan cara yang persis sama dengan cara investasi WB sekarang ini, melainkan anda boleh coba baca lagi, seperti apa cara investasi WB ketika dulu dananya masih terbilang kecil (meski mungkin juga perlu dicatat bahwa WB sejak dulu tidak pernah trading cepat/swing trading. Masa hold beliau paling singkat adalah beberapa bulan).
Dan memang itulah yang penulis lakukan: Mempelajari strategi investasi WB di masa lalu, dimana setelah disesuaikan lagi dengan kondisi pasar saham di Indonesia dll, hasilnya adalah ‘Strategi investasi saham ala Teguh Hidayat’, seperti yang banyak disampaikan di blog ini. Tapi meski ada banyak perbedaan, yang penting prinsip value investing-nya tetap dipake: Beli saham bagus pada harga murah, that’s it. Dan hasilnya, seperti yang bisa anda baca-baca lagi di arsip analisa saham di blog ini, terbilang cukup baik.
Btw untuk minggu ini tadinya kita mau bahas konstruksi, tapi setelah penulis pertimbangkan lagi, ngapain bahas saham yang udah naik duluan, jadi yo wis nanti saja. Untuk minggu depan kita akan bahas soal ‘value trap’.

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal IV sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Value Investing Advanced Class, Jakarta, Sabtu 17 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham Properti

Di artikel minggu lalu, penulis menyebutkan bahwa ketika IHSG naik 20.0% sepanjang tahun 2017, namun terdapat dua sektor yang justru tumbuh negatif, yakni agriculture atau perkebunan, dan properti & konstruksi. Nah, karena biasanya value opportunity terletak di sektor-sektor yang ‘ketinggalan kereta’ ini, maka dua sektor tersebut menarik untuk dibahas. Untuk sektor perkebunan sudah kita bahas, jadi sekarang giliran sektor berikutnya: Properti & konstruksi. Kebetulan, seiring dengan situasi market bullish sepanjang awal tahun 2018 ini, saham-saham konstruksi kelihatannya sudah pada naik semua. Tapi bagaimana dengan properti?

Penulis pertama kali melirik kembali sektor properti pada Juli 2017, ketika itu karena melihat bahwa IHSG sudah naik 16.6% dalam setahun terakhir, sementara indeks properti & konstruksi (anda bisa lihat di Yahoo Finance, kodenya ^JKPROP) justru drop 9.0%, dan karena ketika itu saham-saham properti sudah banyak yang PBV-nya kurang dari 1 kali, atau sudah mirip valuasi saham-saham batubara ketika mereka berada di titik terendahnya, pertengahan 2016 lalu. Setelah mempertimbangkan dan menganalisis banyak faktor, penulis kemudian menyampaikan bahwa, yup, memang ada value opportunity disini, dimana saham-saham properti berpeluang untuk naik banyak seperti hal-nya batubara. Anda bisa baca lagi ulasan  selengkapnya disini.
Waktu berlalu. Dan pada hari ini, atau setengah tahun kemudian, saham-saham properti ternyata masih belum naik signifikan, padahal saham dari sektor-sektor lain sudah seperti kejar-kejaran, termasuk batubara juga melaju kencang kembali, demikian pula dengan saudaranya yakni konstruksi. So what’s wrong? Nah, dalam hal ini penulis mungkin bisa mengulang kembali apa yang sering saya sampaikan di kelas-kelas seminar: Dalam value investing, kita bisa 1. Menyaring/screening saham berfundamental bagus dari yang jelek, dan 2. Menilai apakah valuasi dari saham hasil screening ini terbilang murah atau mahal. Tapi yang tidak bisa kita lakukan adalah: 1. Menebak kapan persisnya saham itu akan naik, 2. Apakah saham tersebut akan langsung naik atau malah turun dulu, dan 3. Kalau nanti saham tersebut akhirnya naik, maka naiknya sampai berapa.
Karena itulah, berdasarkan pengalaman penulis sendiri selama ini, saham-saham yang kita beli kadang ada yang langsung naik, kadang ada juga yang agak lama kemudian baru naik. Tapi dengan sedikit kesabaran, maka selama saham yang kita beli memang tepat (bahwa dia berfundamental bagus, dan valuasinya beneran murah/bukan murahan), dan tidak terjadi force majeure (seperti kasus AISA, atau koreksi IHSG), maka pada akhirnya anda tetap akan profit lumayan. Lebih jelas soal ini bisa dibaca lagi di artikel ini.
Okay, jadi balik lagi ke sektor properti. Bagaimana dengan kinerja fundamental dari sektor ini? Well, berdasarkan kinerja BSDE dkk hingga Kuartal III 2017, bisa penulis katakan bahwa para emiten properti melaporkan kinerja yang bervariasi: Ada yang bagus banget, ada yang biasa saja, dan ada juga yang labanya masih turun. Tapi secara valuasi, maka seperti yang sudah disebut di artikel Juli 2017 lalu, ada banyak pilihan undervalue stock di sektor ini, dan sampai sekarang pilihannya masih banyak, karena memang sektor ini belum naik signifikan dalam enam bulan terakhir, meski disisi lain juga sudah tidak turun lebih dalam lagi/downtrend-nya sudah berhenti. Malah kalau secara teknikal jangka menengah (pake chart minimal 6 bulan), ada banyak saham-saham properti yang kelihatannya sedang ‘ancang-ancang’ untuk naik.
Dua Faktor Penting
Pertanyaannya sekarang, kenapa sektor properti ini masih belum jalan sampai sekarang, bahkan saham-saham batubara dll sudah pada berangkat? Apakah mungkin itu karena ada something wrong terkait outlook industrinya itu sendiri, seperti yang Pak Teguh bahas kemarin terkait sektor perkebunan kelapa sawit dimana ternyata ada masalah terkait harga CPO yang gak mau naik-naik? Untungnya, untuk sektor properti so far nggak ada problem apa-apa. You see, berkaca pada pengalaman lesunya sektor properti pada krisis tahun 2008, dan pada periode economic slowdown di tahun 2013 – 2015, maka problem terbesar sektor properti adalah 1. Perlambatan (atau penurunan) makroekonomi Indonesia secara umum, dan 2. Tingginya suku bunga perbankan. Karena jika ekonomi melemah apalagi sampai krisis, maka orang-orang masih akan beli beras, mandi pake sabun mandi, merokok, dll, tapi mereka akan mikir-mikir kalo ditawari beli rumah. Demikian pula jika bunga bank tinggi, yang otomatis menurunkan penyaluran kredit perbankan itu sendiri termasuk untuk KPR, padahal mayoritas orang beli rumah ya pake KPR ini.
Okay, lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang? Nah, anda sendiri mungkin bisa merasakan bahwa kondisi ekonomi saat ini terbilang baik, sangat baik malah, meski mungkin belum merata (ketika Nadiem Makarim sukses besar dengan Gojek-nya, tapi di tempat lain tetap ada saja orang-orang yang kesulitan mencari kerja), tapi itu sesuatu yang normal, yang pasti terjadi di negara manapun. Tapi yang penulis perhatikan, sekarang ini iklan-iklan penjualan rumah, apartemen dll mulai rame lagi, dan kawasan-kawasan township di Serpong, Cikarang, hingga Cibubur mulai banyak pembangunan perumahan. Lalu bagaimana dengan bunga bank? Well, juga lagi murah-murahnya! Seiring dengan benchmark BI 7-day rate yang terakhir berada di level 4.25%, yang merupakan salah satu level terendahnya dalam sejarah.
 
Posisi BI Rate dalam sepuluh tahun terakhir, perhatikan bahwa level saat ini (4.25%) itu bahkan lebih rendah dibanding ketika booming properti tahun 2009 – 2012 lalu. Sumber: www.tradingeconomics.com
Jadi kalau melihat environment dari sektor properti itu sendiri, maka kondisi sektor ini sangat mirip dengan sektor batubara pada Semester II 2016 lalu: Meski ketika itu Harum Energydkk masih belum membukukan kinerja bagus/laba mereka masih pada turun, tapi karena harga batubara mulai merangkak naik, maka outlook sektor tambang otomatis menjadi cerah, dan alhasil saham PTBA dkk sudah naik duluan bahkan ketika perusahaan belum benar-benar membukukan kenaikan profit.
Okay, tapi kenapa saham-saham properti, meski tadi dikatakan outlook-nya cerah, tetap saja belum naik setinggi batubara? Well, pertama, kalau dikatakan sektor ini belum naik maka itu kurang tepat juga, karena nyatanya beberapa saham penulis perhatikan sudah naik 20 – 30% dalam enam bulan terakhir, dan itu merupakan kenaikan yang signifikan (tapi kadang orang gak memperhatikan hal ini, karena keburu silau sama saham/sektor lain yang naiknya lebih tinggi). Kedua, berbeda dengan perusahaan batubara yang hampir pasti bakal cuan asalkan harga batubara naik, maka tidak semua emiten properti bakal profit bahkan meski kondisi ekonomi lagi baik, dan suku bunga bank turun. Karena diluar dua faktor penting tersebut, maka tiap-tiap perusahaan secara individual memiliki faktor-faktor lainnya lagi yang mempengaruhi kinerja mereka, mulai dari lokasi proyek (perusahaan properti dengan lokasi proyek di Serpong tentu lebih berpeluang profit ketimbang perusahaan properti dengan lokasi proyek di Balikpapan, misalnya), kualitas infrastruktur/akses jalan di lokasi properti, jenis properti yang dijual (landed house akan lebih gampang terjual ketimbang kondominium), hingga kualitas/reputasi manajemen. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu saham Sentul City (BKSL) turun sendiri dari 300-an hingga dibawah 100, dan itu cuma gara-gara owner-nya diciduk oleh KPK, dimana setelah itu perusahaan praktis kehilangan arah, sama sekali.
Karena itulah, pergerakan saham properti ini mirip-mirip dengan saham perkebunan kelapa sawit: Sahamnya biasanya baru akan naik signifikan setelah perusahaan yang bersangkutan confirm membukukan profit besar di laporan keuangannya. Problemnya, kalo kita baru masuk setelah laporan keuangan keluar, maka terdapat risiko ketinggalan kereta disini. Nah, jadi selain melihat outlook dari sektor properti itu sendiri, anda harus menyeleksi lagi: Dari sekian banyak saham properti, yang mana yang manajemennya bagus? Kinerja historisnya bagus? Dan seterusnya. Dan saham properti itulah yang anda beli.
But anyway, itu gak terlalu sulit kok :) Nah, jadi menurut anda sendiri, saham-saham properti apa saja yang saat ini menarik untuk dikoleksi?
Untuk artikel minggu depan kita akan membahas update sektor konstruksi.

Buletin Bulanan yang berisi analisis IHSG, investment planning, & stockpick saham pilihan edisi Februari 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal IV 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal dan lainnya). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada Februari 2018. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.
Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat siang pak Teguh…
Saya Mengikuti jejak bapak membeli asri. Kebetulan dapat harga di bawah bapak.
Dan sekarang mulai ada profit.
Terima kasih pak Teguh.
-Fendi-
Oya Pak…mau blng trm ksh. Sy ada beli ptro dan inds bbrp bulan lalu. Bulan lalu jual. Kecepatan sih jualnya. Tp yg penting ada cuan 30 persen walaupun gak byk lotnya. Tp tetap mau blng trm ksh sama Pak Teguh.
Sekarang ada masuk mcor dan beli hoki kmrn sesuai ebook lk 3 kmrn.smg bs ksh cuan lg.
January 22nd, 2018 at 10:54 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

‘Best Investment I’ve Ever Made’

Tas ransel hitam ini saya beli tahun 2007, dan sejak saat itu dia selalu setia menemani saya kuliah, ketemu dosen, ngeprint skripsi, pergi wisuda, melamar pekerjaan, berangkat ke kantor, buka rekening di sekuritas, ketemu bos untuk pamit resign, terbang untuk liburan, berkendara naik turun bukit, menaklukkan puncak gunung tertinggi, menjelajah laut lepas, hingga nyasar di negeri orang. Tak terasa 10 tahun sudah berlalu, tapi dia masih sangat awet tak kurang suatu apapun, dan mungkin masih bisa menemani saya berpetualang hingga 10 tahun berikutnya.

Tas ini dibeli pada harga Rp390,000, harga yang sangat mahal untuk ukuran kantong saya yang ketika itu masih mahasiswa, tapi saya tetap membelinya karena melihat tas ini sangat kokoh dan bisa menjadi investasi yang sangat baik. Yup, karena investasi tidak melulu soal ‘making money’, tapi juga soal bagaimana kita membeli sesuatu yang bermanfaat untuk jangka panjang, pada harga yang memang sepantasnya.
And years later, it turns out that this backpack is one of the best investments I’ve ever made :)
Nah, kalau anda sendiri, apa investasi terbaik yang pernah anda beli/miliki? Btw untuk gantungan kunci Inter Milan-nya, itu dibeli lebih lama lagi di tahun 2000 waktu saya masih SMP (jamannya Christian Vieri), harganya Rp1,000.

Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Februari 2018 akan terbit hari Kamis, 1 Februari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham Perkebunan Kelapa Sawit

Salah satu pekerjaan rutin kami di Avere setiap awal tahun adalah mengecek statistik BEI pada akhir tahun sebelumnya, untuk mengetahui berapa persen kenaikan IHSG, dan sektor-sektor apa saja yang kenaikannya tidak setinggi IHSG sepanjang tahun tersebut. Sebab berdasarkan pengalaman, value opportunity biasanya terletak pada saham-saham yang ‘ketinggalan kereta’ ini. Contoh paling dramatis, pada 2015 lalu IHSG drop 12.1%, dan sektor yang paling kena hantam adalah sektor tambang, dimana sepanjang tahun 2015 indeks mining drop sampai 40.7%, terburuk dibanding semua sektor lainnya. Namun ketika pasar mulai pulih di tahun 2016 dimana IHSG naik 15.3%, maka sektor mining-lah yang menjadi juaranya dengan kenaikan 70.7% (dan memang sepanjang tahun 2016 lalu, di blog ini sendiri kami sudah banyak membahas soal sektor mining tersebut, terutama batubara).

Okay, lalu bagaimana dengan tahun 2018 ini? Kira-kira sektor apa yang ketinggalan kereta sepanjang 2017 lalu? Well, mari kita lihat saja datanya: Sepanjang 2017, IHSG naik total 20.0%, atau cukup signifikan, namun surprisingly ada dua sektor yang justru turun yakni properti dan konstruksi (turun 4.3%), dan agriculture alias perkebunan (turun 13.3%). Nah, jadi apakah peluangnya sekarang terletak di saham-saham properti, konstruksi, serta perkebunan ini? Mari kita cek, dalam hal ini kita lihat sektor perkebunan dulu.
Indeks Kode di Yahoo Finance Kinerja 2017 (%)
IHSG ^JKSE 20.0
LQ45 ^JKLQ45 22.0
Agriculture ^JKAGRI (13.3)
Mining ^JKMING 15.1
Basic Industry & Chemicals ^JKBIND 28.1
Miscellaneous Industry ^JKMISC 0.8
Consumer Goods ^JKCONS 23.1
Property & Construction ^JKPROP (4.3)
Infrastructure & Transportation ^JKINFA 12.1
Banking & Finance ^JKFINA 40.5
Trade & Service ^JKTRAD 7.1
Manufacturing ^JKMNFG 19.8
Ketika harga-harga komoditas mulai melambung tinggi, awal dekade 2000-an lalu, salah satu komoditas yang melejit adalah minyak sawit mentah alias crude palm oil, atau CPO. Dan kebetulan, lahan di Indonesia terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan ternyata sangat cocok untuk tanaman sawit. Maka muncullah banyak perusahaan yang membeli lahan luas untuk kemudian disulap menjadi perkebunan kelapa sawit, dan Indonesia segera menjadi salah satu produsen CPO terbesar di dunia. Di tahun-tahun berikutnya, CPO, bersama dengan batubara, hampir selalu menjadi dua komoditas utama ekspor nasional diluar migas. Pada puncak booming komoditas di tahun 2011 lalu, CPO menjadi komoditas ekspor nonmigas terbesar kedua dengan nilai ekspor nasional mencapai US$ 21.7 milyar (dibawah batubara senilai US$ 27.3 milyar), dan pada tahun tersebut muncul banyak perusahaan Tbk di bidang perkebunan kelapa sawit yang, karena kinerja fundamentalnya yang bagus, menjadi favorit para investor pasar modal, seperti Astra Agro Lestari (AALI), PP London Sumatera (LSIP), hingga Sampoerna Agro (SGRO). Beberapa konglomerasi besar seperti Grup Sinarmas dan Grup Salim juga cuan besar dari sektor CPO ini, dan mereka menggunakan uangnya untuk investasi di sektor-sektor usaha lain seperti properti dan tambang, selain investasi/memperluas kebun sawit yang mereka miliki itu sendiri.

Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit & Pabrik Pengolahan Biji Sawit menjadi CPO milik PT Astra Agro Lestari, Tbk

However, pada tahun 2011 tersebut, jika dibanding batubara, maka sektor sawit ini tidak terlalu terasa booming-nya, dimana investor yang tertarik untuk invest di sektor riil biasanya akan lebih memilih beli tambang batubara ketimbang lahan kebun sawit. Sementara di pasar modal, penulis ingat betul, saham-saham CPO juga agak telat naiknya dibanding saham-saham batubara. Padahal pada awal tahun 2011, bersamaan dengan harga batubara yang mencapai rekor tertinggi US$ 120 per ton, benchmark harga CPO di Bursa Malaysia juga sempat menyentuh rekor RM4,000 per ton. Tapi ketika saham PTBA dkk ketika itu beterbangan bahkan sejak tahun sebelumnya (2010), saham LSIP dkk masih adem ayem saja/tetap naik tapi kenaikannya tidak banyak.
Dan saham-saham CPO ini baru naik banyak mulai pertengahan tahun 2011, yakni ketika para emiten merilis laporan keuangan untuk Kuartal I 2011, dimana memang profit mereka melonjak signifikan. Berdasarkan pengalaman inilah, penulis kemudian mikir lagi: Kenapa saham-saham batubara bisa dengan cepat naik simply ketika harga batubara naik (jadi para emiten batubara sejatinya belum benar-benar membukukan profit di laporan keuangannya), tapi saham-saham CPO harus tunggu laporan keuangan mereka dulu, baru kemudian naik? Dan jawabannya adalah, karena batubara itu cenderung easy business. Yup, kalau anda pegang KP (kuasa pertambangan) untuk satu lahan tambang tertentu, maka selanjutnya anda tinggal gali tanahnya, ambil batubara yang ada dibawah lapisan tanah tersebut, angkut ke pelabuhan, lalu jual, terima duit, selesai!
Sementara sawit? Well, ketika anda menanam pohon sawit, maka pohon itu baru bisa dipanen/menghasilkan CPO paling cepat sekitar tiga tahun kemudian, itupun jika selama itu kita rajin menyiram dan memberi pupuk (pohon sawit termasuk jenis tanaman yang membutuhkan pasokan air yang sangat besar). Masalahnya, let say kita sukses memelihara kebun sawitnya hingga siap panen, tapi bagaimana kalau harga CPO sedang turun justru ketika kebunnya sudah siap panen? Dari sinilah kemudian timbul ketidak pastian: Hanya karena harga CPO naik, maka bukan berarti perusahaan sawit bakal langsung cuan. Jadi kalau anda hendak beli saham LSIP dkk, maka sebaiknya tunggu dulu hingga perusahaan merilis laporan keuangannya, just to make sure.
Karena alasan inilah, ketika harga-harga komoditas mulai pulih lagi pertengahan 2016 lalu, penulis ketika itu hanya melirik saham-saham batubara saja, dan tidak atau belum melirik sektor perkebunan ini (baca lagi penjelasannya disini). Okay, tapi untuk sekarang ini kan saham-saham batubara udah pada naik semua tuh, sedangkan sawit kelihatannya masih belum kemana-mana. Jadi apakah sekarang sudah waktunya kita pindah ke sektor perkebunan ini?
Sayangnya, jawabannya mungkin masih belum. Sejak sekitar setahun lalu, penulis sudah mengatakan bahwa seiring dengan rencana IPO Aramco, yang merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia asal Arab Saudi, maka harga minyak kemungkinan akan dijaga agar tidak turun, atau bahkan dikerek naik (baca lagi ulasannya disini). Dan memang, pada hari ini kita bisa menyaksikan harga minyak dunia cenderung naik, dari US$ 40, 50, hingga tembus US$ 60 per barel. Sementara rumus gampangnya adalah, kalau harga minyak naik, maka harga komoditas energi lainnya, seperti gas dan juga batubara, biasanya juga akan ikut naik. Problemnya, sekali lagi berdasarkan pengalaman, jika semua orang di seluruh dunia hanya fokus pada kenaikan harga minyak yang notabene merupakan komoditas dunia paling penting, apalagi jika diiringi oleh ‘peristiwa besar’ seperti IPO Aramco diatas, maka terkadang komoditas-komoditas lainnya (komoditas non energi) justru terlupakan, dan alhasil harga komoditas non energi ini menjadi stagnan atau bahkan malah turun.
Dan memang itulah yang terjadi pada CPO. Sebenarnya ketika harga komoditas mulai naik pada penghujung tahun 2016 lalu, maka harga CPO juga turut merangkak naik dari RM1,900 hingga hampir saja tembus RM3,000 pada awal 2017, tapi kesininya harga CPO malah justru turun, hingga terakhir balik lagi ke level dibawah RM2,500 per ton (anda bisa melihatnya di www.bursamalaysia.com). Yup, jadi inilah yang bikin saham-saham perkebunan pada lesu darah sepanjang tahun 2017 lalu. Karena coba pikir: Jika harga CPO lagi tinggi saja maka para emiten sawit belum tentu cuan, apalagi jika harga CPO lagi turun?
Indonesia: Produsen CPO Terbesar di Dunia, but That’s Actually Bad News
Kemudian, penulis sendiri baru menyadari belakangan ini bahwa sepertinya terdapat satu lagi alasan khusus kenapa harga CPO agak susah naik: Bagi anda yang belum tahu, sejak beberapa tahun lalu Indonesia sudah menyalip Malaysia untuk menjadi produsen CPO terbesar di dunia. Yup, jadi berbeda dengan batubara dimana Indonesia hanya menempati peringkat lima produsen terbesar (setelah China, Amerika Serikat, India, dan Australia), maka untuk CPO, kita adalah numero uno. Kemudian kalau melihat cakupan penggunaan CPO yang sangat luas mulai dari minyak goreng hingga bahan bakar kendaraan bermotor, maka CPO ini sejatinya juga tidak kalah pentingnya dibanding minyak. Jadi secara teori, Indonesia seharusnya tidak kalah makmur dibanding, katakanlah, Arab Saudi.
Hanya saja, I don’t know, mungkin karena Indonesia merupakan third world country, maka jadilah harga CPO ini rada susah naiknya karena memang kita kurang pinter di marketing-nya, dimana bahkan benchmark harga CPO dunia yang dipakai adalah yang di Bursa Malaysia, bukan di Indonesia itu sendiri. Yup, jadi berbeda dengan minyak yang dimana produsen terbesarnya adalah negara superpower macam Rusia dan Amerika Serikat (Arab Saudi juga merupakan ‘kawan baik’ Amerika), sehingga mereka bisa dengan leluasa menaik turunkan harga minyak, Indonesia belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan harga CPO dunia, padahal kita merupakan produsen terbesar. Lebih buruk lagi, sudah sejak lama industri sawit juga diserang dengan isu pembabatan hutan, global warming, hingga perusakan habitat hewan-hewan seperti orangutan di Kalimantan (tapi anehnya industri minyak, yang jelas-jelas lebih merusak lingkungan, jarang diserang dengan isu-isu seperti itu). Para produsen CPO di Malaysia (lagi-lagi Malaysia, bukan Indonesia) mencoba mengatasi isu-isu negatif ini dengan mendirikan organisasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)di tahun 2004, dimana RSPO ini menerbitkan sertifikat CSPO (certified sustainable palm oil) bagi perusahaan-perusahaan sawit yang dianggap ‘tidak merusak lingkungan’, dan CSPO ini juga sudah diakui dunia. But still, hal ini tidak mampu meredam sepenuhnya isu-isu negatif di sektor perkebunan.
Dan salah satu problem kenapa Indonesia tidak memiliki kendali atas harga jual CPO, adalah karena di Indonesia sendiri belum berkembang industri-industri hilir untuk CPO (paling sebatas bikin margarine saja), sehingga otomatis posisi tawar kita menjadi lemah dibanding negara lain yang mampu mengolah CPO tersebut.
Padahal, seperti halnya minyak dan batubara, CPO adalah merupakan kebutuhan utama dunia untuk bahan baku minyak goreng dan margarine, produk-produk makanan, obat-obatan, kosmetik, produk-produk kimia (oleochemical), bahkan untuk membuat biosolar. Jadi seperti yang disebut diatas, cakupan penggunaan CPO ini sangat luas. Dan lebih penting lagi, berbeda dengan kebanyakan komoditas lainnya, CPO hampir tidak memiliki komoditas pengganti. I mean, kalau anda pakai bensin untuk mobil, maka sekarang sudah ada mobil listrik. Kalau anda pake batubara untuk pembangkit listrik, maka di Amerika sana sebagian pembangkit listrik sudah mengganti batubara dengan gas. Sementara CPO? Well, sebenarnya anda bisa juga pakai minyak kelapa atau olive oil untuk memasak, tapi harganya muahal sekali, dan juga sulit diperoleh. Jadi pada akhirnya orang hanya akan pakai minyak sawit.
Hanya saja, sekali lagi, berbeda dengan Arab Saudi yang sudah mampu mengolah sendiri minyaknya menjadi produk-produk petrochemical dll, Indonesia masih belum benar-benar mampu untuk mengolah CPO. Karena itulah, harga CPO mungkin justru malah ditekan oleh negara-negara maju agar mereka bisa memperoleh suplai CPO dari Indonesia pada harga murah. Karena toh pada akhirnya, para perusahaan perkebunan di Indonesia nyaris tidak punya pilihan lain kecuali menjual CPO-nya ke pasar ekspor ‘pada harga berapapun asal laku’, karena mereka belum bisa menjualnya ke pasar/industri dalam negeri. Jadi kecuali nanti di Indonesia sudah berdiri pabrik farmasi, kosmetik dll yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, maka harga CPO belum akan naik dulu.
Anyway, kabar baiknya, meski harga CPO turun lagi, namun penurunannya tidak sampai balik lagi ke level terendahnya di awal tahun 2016 lalu. Yup, jadi secara keseluruhan harga CPO sebenarnya masih naik, dan penulis termasuk yang percaya bahwa masa-masa kritis sektor komoditas secara umum memang sudah berakhir pada tahun 2016 tersebut, dimana untuk sekarang perlahan tapi pasti harga-harga komoditas kembali bergerak naik (karena juga seiring inflasi dunia), tapi tentu, seringkali naiknya tidak secara bersamaan, alias bergiliran.
Jadi meski seperti yang dibahas diatas, terdapat alasan kuat kenapa harga CPO susah naik, tapi disisi lain harga CPO juga tidak akan turun lagi, karena toh pada akhirnya negara-negara diluar Indonesia tetap butuh CPO ini. Kata kuncinya disini adalah, Indonesia harus bisa mengembangkan industri hilir bagi CPO agar kemudian bisa memiliki kendali atas harga CPO dunia. Jadi, yap, yang kita tunggu sekarang ini adalah kebijakan Pemerintah atau semacamnya, yang bertujuan untuk mendorong hilirisasi CPO, yang kemudian mendorong kenaikan harga CPO. Dan ketika itulah saham-saham perkebunan kelapa sawit, yang valuasinya memang bisa dianggap paling murah di bursa saat ini, akan punya alasan kuat untuk naik.

Untuk kedepannya kita mungkin akan update lagi prospek sektor perkebunan kelapa sawit ini. Tapi untuk minggu depan, kita akan bahas update sektor konstruksi, atau properti.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Saham Nyangkut: Kenapa Susah ‘Move On’?

Di artikel minggu lalu tentang Warren Buffett, penulis menyampaikan setidaknya tiga alasan kenapa saya, secara personal, menjadikan beliau sebagai panutan. Alasan tersebut adalah: 1. Penulis gak punya cukup waktu untuk baca-baca lagi tentang investor besar lainnya, 2. Tidak hanya mengajarkan tentang investasi saham, Buffett juga mengajarkan untuk menjadi ‘a good person’, yang tidak berusaha mengambil keuntungan dari kerugian orang lain, 3. Buffett merupakan satu dari sedikit investor yang selalu happy dan santai/rileks dalam menjalankan pekerjaannya di Berkshire, dan itu membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan.

However, masih ada satu lagi alasan kenapa Buffett ini sangat unik dibanding banyak sekali investor lainnya, sehingga layak menjadi contoh: Berbeda dengan kebanyakan investor lainnya yang hanya menceritakan kesuksesan-kesuksesan mereka dalam meraih profit besar dari saham (dengan harapan bahwa orang-orang akan menganggap mereka investor hebat, atau semacamnya), Buffett justru banyak menceritakan kesalahan-kesalahannya, yang kita kemudian bisa belajar banyak dari situ. Salah satu ‘kesalahan’ yang sering ia ceritakan berulang-ulang adalah keputusannya untuk mengakuisisi Berkshire Hathaway, tahun 1962 lalu, dimana bisnis tekstil yang dimiliki Berkshire ternyata tetap saja tidak mampu menghasilkan keuntungan bahkan meski tim manajemen sudah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun  kemudian.
Tapi kesalahan Buffett bahkan lebih dari itu. Yup, meski Berkshire terus saja merugi, namun Buffett malah bersikeras mempertahankan aset-aset pabrik tekstil milik perusahaan, dan imbasnya itu menurunkan kinerja portofolio investasinya secara keseluruhan. Buffett baru benar-benar menyerah dan memutuskan untuk menjual pabrik tekstil terakhir milik Berkshire pada tahun 1986, atau lebih dari 20 tahunkemudian sejak ia pertama kali membeli saham Berkshire. Dalam banyak tulisan-tulisan selanjutnya, Buffett banyak mengeluh bahwa andai saja ia langsung cut loss di Berkshire sejak awal, kemudian menggunakan uang hasil cut loss tersebut dan waktu 20 tahun berikutnya untuk sepenuhnya fokus di investasi-investasi lainnya yang lebih menguntungkan, maka ia seharusnya bakal jadi jauh lebih kaya dibanding saat ini.

This company is actually one of Buffett’s biggest mistakes

Jadi pelajarannya disini adalah, kalau anda menyadari bahwa anda sejak awal salah pilih saham, maka jangan tunda-tunda lagi: Segera jual saham tersebut, bahkan meski dalam posisi rugi.
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau nyangkut/ruginya sudah kelewat besar? Kalau itu saham dijual, nanti realisasi ruginya jadi gede banget dong? Nah terkait hal ini, baru saja beberapa waktu lalu penulis menerima email dengan isi sebagai berikut, sebut saja Pak A:
‘Pak Teguh, saya masuk pasar saham sejak Maret 2013 (hampir 5 tahun, alias sudah cukup lama), tapi setiap tahunnya porto saya justru rugi terus. Pada pertengahan tahun 2017 kemarin saya baca buku Anda yang berjudul ‘Value Investing: Beat the Market in Five Minutes!’, dan mulai membeli saham berdasarkan strategi yang anda sampaikan di buku tersebut. Dan ternyata hasilnya dalam beberapa bulan ini saja sudah sangat baik meski secara keseluruhan masih negatif, karena ada beberapa saham saya yang nyangkut lamaseperti WTON dan PTPP. Mohon masukannya pak.’
Catatan: Di lampiran yang disertakan, Pak A ini memegang 11 saham berbeda, dimana kecuali WTON dan PTPP, yang masing-masing dibeli pada tahun 2015 dan 2016, sembilan saham lainnya baru dibeli pada Kuartal III dan IV 2017. Menariknya, dari kesembilan saham tersebut, yang tentunya dibeli berdasarkan metode value investing, tujuh diantaranya menghasilkan profit signifikan hingga ada yang sampai ratusan persen (INDY), sementara dua lainnya turun tapi hanya 1 – 2%. Namun karena posisi WTON dan PTPP masih minus masing-masing 46 dan 36%, sedangkan lebih dari 50% portofolio masih tertahan di dua saham tersebut, maka jadilah secara keseluruhan kinerja portonya masih minus sekitar 4%.
Jadi respon penulis kemudian sebagai berikut:
‘Portonya sudah bagus pak, saham-saham yang dipegang termasuk harga belinya juga sesuai kriteria value investing. Hanya saja, Pak A harus belajar untuk ‘menerima kesalahan di masa lalu’ dan ‘move on’, dengan cara cut loss di WTON dan PTPP, karena memang dua saham ini tidak dibeli berdasarkan kaidah value investing bukan? Memang, itu artinya Pak A akan merealisasikan kerugian yang nilainya tidak kecil, tapi coba pikirkan berapa keuntungan yang bisa dihasilkan kedepannya jika uang hasil cut loss tersebut kembali diinvestasikan ke saham-saham yang tepat, ketimbang dibiarkan mengendap di dua saham tersebut tanpa ada kejelasan kapan bakal balik modal.’
Nah! Apa yang dialami Pak A diatas kemungkinan merupakan kasus yang umum terjadi pada investor ritel, tak peduli ia seorang pemula atau berpengalaman. Sekarang jujur aja deh: Coba lihat lagi porto anda, apakah disitu masih ada satu atau dua saham nyangkut yang dulu anda beli secara asal-asalan dan tanpa analisa/hanya mengikuti rekomendasi yang gak jelas dari mana asalnya? Sudah berapa tahun anda hold saham tersebut? Dan bisakah anda bayangkan berapa besarnya keuntungan yang seharusnya anda peroleh andaikan anda sejak awal segera menjual saham tersebut, dan menggunakan uangnya untuk membeli saham-saham lain yang lebih baik??
Inilah sebabnya kalau ada investor yang minta saran ke penulis terkait portofolionya, dan ternyata porto tersebut isinya saham-saham yang gak jelas (atau saham yang sebenernya cukup bagus, tapi harga belinya salah/kemahalan), dan si investor juga mengakui bahwa ia membeli saham-saham tersebut tanpa strategi dan analisa sama sekali, maka saran penulis adalah: Jual semua saham tersebut, baik itu yang posisinya untung maupun rugi, lalu mulai lagi semuanya dari awal. Tapi Pak, itu artinya saya merealisasikan kerugian dong? Yap, itu benar, tapi pertama, anggap itu sebagai biaya belajar dari pengalaman. Sebab tidak hanya anda, penulis sendiri (dan juga Warren Buffett, dan juga banyak lagi investor besar lainnya) juga pernah terpaksa harus jual saham dalam posisi rugi besar, tapi justru karena kita ketika itu berani untuk menerima kenyataan bahwa kita salah pilih saham, lalu move on, maka hasilnya sekarang ini terbilang sangat baik. Yup, karena ‘pengalaman’ adalah guru yang paling berharga, dan sekaligus paling mahal, jauuuuh lebih mahal dibanding jika anda beli buku, ikut seminar dll, tapi disisi lain hasil ‘pelajarannya’ justru paling baik dan tidak akan pernah anda lupakan seumur hidup. Anda bisa baca lagi cerita lengkapnya disini.
Kemudian kedua, seperti yang sudah disampaikan diatas, cobalah untuk melihat kedepan, yakni pikirkan berapa keuntungan yang bisa dihasilkan kedepannya jika kita menjual saham yang tidak produktif lalu uangnya kembali diinvestasikan ke saham-saham yang tepat, ketimbang uang tersebut dibiarkan mengendap di saham-saham yang tidak produktif tadi tanpa ada kejelasan kapan bakal balik modal. Yup, jadi ketika anda terus saja meng-hold saham yang posisinya nyangkut selama bertahun-tahun, maka sekilas anda memang gak rugi apa-apa (karena kan itu saham belum dijual? Jadi ruginya belum direalisasikan), tapi kenyataannya anda justru sudah rugi dua kali. Yakni: 1. Saham tersebut bisa saja turun lagi, terutama jika fundamentalnya memang buruk sehingga memang sejak awal sahamnya tidak layak invest, dan 2. Anda kehilangan peluang profit di saham lain, yang jauh lebih bagus.
Anyway, mumpung sekarang masih awal tahun, maka jika sekarang ini terdapat satu atau dua ‘saham nyangkut menahun’ di porto anda, inilah saatnya untuk move on! Dan jika setelah membaca tulisan ini anda segera memutuskan untuk move on, maka itu artinya anda (dalam hal ini) bahkan sudah lebih baik dari Warren Buffett, yang butuh waktu sampai 20 tahun untuk menyadari bahwa pabrik tekstil milik Berkshire tidak akan menghasilkan profit lagi. What? Anda masih gak berani untuk cut loss karena ruginya terlalu besar? Ya sudah, kalo gitu jualnya separuh pegangan saja dulu. Jadi kalau anda pegang itu saham 100 lot, maka anda bisa jual 50 lot saja dulu, kemudian gunakan uangnya untuk beli saham lain yang lebih baik, dan lihat lagi bagaimana hasilnya beberapa bulan dari sekarang.
Untuk artikel minggu depan kita akan membahas update analisa terbaru dari salah satu sektor berikut: 1. Konstruksi, 2. Properti, 3. Batubara, atau 4. Perkebunan kelapa sawit. Silahkan anda pilih sektor yang mana, anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

Jadwal Seminar Value Investing: Cara Santai u/ Menghasilkan Keuntungan dari Pasar Saham. Jakarta 13 Januari, dan Surabaya 20 Januari. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Tips u/ Investor Pemula: Milikilah Mentor!

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan sebagai berikut, ‘Pak Teguh, kalau saya baca dari tulisan-tulisannya, kelihatannya Pak Teguh ini berkiblat banget sama Warren Buffett. Kenapa pak? Apakah karena beliau paling kaya dibanding investor-investor lain? Padahal kan ada cukup banyak investor lain yang, meski belum sekaya WB, tapi annual return investasinya lebih bagus, seperti Joel Greenblatt, Carl Icahn, Peter Lynch, dst.’

Nah, kebanyakan orang mungkin mengidolakan WB karena beliau adalah investor paling senior dan paling sukses, termasuk sudah menghasilkan banyak sekali karya tulis baik itu melalui annual letter-nya yang terkenal, ataupun buku-buku tentang investasi yang ditulis oleh orang lain (tapi berdasarkan metode investasinya WB).
However, bukan itu alasan kenapa penulis hanya menjadikan WB sebagai panutan, melainkan karena alasan-alasan berikut.
Pertama, yup, memang benar bahwa investor besar di dunia ini gak cuma WB, melainkan banyak lagi yang lain. Dan kalau ukurannya adalah annual return, maka WB juga bukanlah yang terbaik.
Namun terus terang, penulis sebenarnya sama saja seperti investor lain pada umumnya: Malas belajar dan malas baca, dimana saya lebih suka menghabiskan waktu untuk liburan ke pantai ketimbang baca-baca literatur tentang saham, termasuk seperti yang pernah penulis sampaikan di artikel ini, saya bahkan belum selesai membaca buku The Intelligent Investor karya Ben Graham. Intinya kalau saya disuruh baca semua buku karya investor terkenal, maka terus terang saja, saya gak punya waktu. Yup, karena bahkan bagi investor full time sekalipun, yang notabene gak punya kerjaan lain lagi, maka pekerjaan rutin menganalisis saham serta menyusun investment planning itu sudah cukup menyita waktu, konsentrasi, serta fokus. Dan daripada belajar dari buku-buku, saya lebih suka belajar dari pengalaman saja, dengan cara learning by doing.
Karena itulah, dan karena untuk mempelajari cara-cara investasi WB (dari annual letter-nya, dll) juga sebenarnya panjang banget (selama WB masih belum pensiun, maka selama itu pula kita bisa belajar dari beliau), maka penulis kemudian fokus berpedoman dari WB saja. Sudah tentu, penulis bukannya menutup diri dari belajar dari investor lain, namun biasanya saya sebatas membaca buku karya mereka saja. Contohnya buku karya Guy Spier, seorang value investor sukses yang pernah makan siang langsung dengan WB. Namun setelah selesai membaca bukunya (isinya kaya novel, dimana Mr. Spier menceritakan pengalaman serta ‘kisah nyata’-nya sebagai investor), penulis tidak cari tahu lebih lanjut tentang Mr. Spier, karena sekali lagi, itu membutuhkan waktu.
Buku ini beneran bagus lho

Kedua, seperti yang disebut diatas, kebanyakan orang menyukai WB mungkin karena memang dia langganan Majalah Forbes sebagai salah satu orang terkaya di dunia. However, kalaupun penulis sudah mengenal WB di awal tahun 1960-an, yakni ketika beliau masih belum jadi siapa-siapa, maka mungkin saya tetap akan menjadikan beliau sebagai panutan dan kawan baik. Sebab WB tidak hanya seorang real investor, tapi ia juga merupakan a good person, and a good human being. Di banyak annual letter-nya, WB tidak hanya berbagi tentang filosofi-filosofinya dalam berinvestasi, tapi juga filosofinya dalam menjalani kehidupan layaknya manusia pada umumnya. Buffett banyak mengajarkan tentang kesederhanaan, kesabaran, hingga menggunakan kekayaan yang kita miliki untuk tujuan yang baik seperti filantropi.
Dan kalau anda sudah cukup lama di pasar modal, maka anda akan menyadari bahwa sangat sulit bagi siapapun untuk bisa menjadi ‘a good person in the stock market’, karena disini banyak sekali godaannya! Yup, karena sifat dasar manusia itu adalah serakah, dimana orang lebih tertarik ‘mencopet’ saham terbang gak jelas ketimbang meraih keuntungan konsisten melalui investasi jangka panjang. Dan tidak hanya investor ritel, investor kelas kakap pun banyak sekali yang kerjaannya cuma menggoreng saham, insider trading, melakukan aksi-aksi korporasi yang merugikan investor publik, dan seterusnya.
Tapi Buffett tidak begitu, dimana sepanjang kariernya sebagai investor selama lebih dari enam dekade dihitung dari ketika ia membuka Buffett Partnership ditahun 1956 (itu adalah jangka waktu yang sangat lama!), hampir tidak ada kasus apapun yang melibatkan dirinya ataupun Berkshire (daftar lengkap ‘skandal’ WB bisa dibaca disini). Sementara investor/trader saham besar lain biasanya mereka ada saja kasus atau cerita jeleknya, atau bahkan justru terkenal karena kasusnya tersebut. Jika Jordan Belfort pernah dipenjara karena menggoreng saham, Jesse Livermore meraup keuntungannya dari berspekulasi alih-alih investasi, maka George Soros terkenal dengan peristiwa ‘Black Wednesday’-nya di tahun 1992, dimana ia menghasilkan keuntungan US$ 1 milyar dari kejatuhan mata uang Pound Sterling, yang seketika menyebabkan Bank of England dan banyak lagi investor institusi lainnya kelimpungan.
Apa yang dilakukan Mr. Soros itu sepenuhnya legal, jadi ia gak pernah sampai dipenjara karenanya. Namun, entahlah dengan orang lain, tapi kalau bagi penulis sendiri, saya tidak akan happy jika memperoleh profit yang berasal dari kerugian orang lain. Dan WB banyak mengajarkan tentang hal tersebut, tentang bagaimana menghasilkan profit dengan cara-cara yang benar, tentang bagaimana ia mengakuisisi perusahaan secara baik-baik dan bukannya hostile takeover. Dalam banyak annual letternya Buffett banyak menceritakan tentang bagaimana pasar saham di Amerika, dari dekade ke dekade, selalu dipenuhi oleh investor-investor serakah yang menghalalkan segala cara untuk meraih profit sebesar-besarnya, dan memang mereka kemudian menjadi kaya karenanya. Namun WB kemudian menunjukkan bagaimana para rising star ini hanya datang dan pergi, alias tidak pernah bertahan lama di pasar modal (atau lebih tragis lagi, berakhir dengan bunuh diri seperti Mr. Livermore diatas).
Terakhir, ketiga, mungkin karena karakternya sebagai good person diatas, WB kemudian menjadi investor yang selalu happy dan santaidalam menjalankan pekerjaannya di Berkshire, dan itu membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan. Ia adalah satu dari sedikit investor yang 1. Panjang umur serta awet muda, 2. Selalu tersenyum, 3. Selalu bersemangat untuk hadir di universitas untuk memberikan kuliah/motivasi, 4. Masih meluangkan waktunya untuk bermain kartu bridge, yang merupakan hobinya sejak dulu, dan 5. Lebih suka stay dirumah (yang merupakan rumah yang biasa-biasa saja untuk ukuran billionaire) sambil nonton pertandingan base balldan makan pop corn, ketimbang bergabung dengan hiruk pikuk pasar modal. Ketika WB makan siang dengan Guy Spier dan rekannya, maka mereka membawa serta keluarganya termasuk anak-anak perempuan yang masih kecil. Dan WB bahkan masih meluangkan waktu untuk membeli kado bagi anak-anak kecil tersebut.
Padahal, jangankan jika anda bertanggung jawab atas dana kelolaan hingga puluhan milyar Dollar seperti WB, kadang beli saham senilai Rp10 juta saja lalu kemudian itu saham malah turun, pusingnya udah di ubun-ubun bukan? Jadi boro-boro bisa santai, yang ada kita malah gak bisa tidur! Tapi WB sama sekali tidak begitu. Padahal seperti halnya kita gak akan happy jika dapet profit dari kerugian orang lain, kita juga gak akan happy jika dapet profit tapi itu setelah kita jungkir balik stress gak karuan. Yup, Buffett tidak hanya mengajarkan bagaimana cara meraup profit dari saham, tapi beliau juga mengajarkan bagaimana agar profit itu diperoleh dengan cara yang baik, dan juga santai/casual, sehingga kita bisa tetap menikmati hidup. Dan penulis sendiri sudah banyak sharing artikel tentang cara ‘investasi santai’ di blog ini, dimana kita bisa dapet profit besar tapi disisi lain tetap bisa tidur nyenyak di malam hari, salah satunya di artikel ini.
Anyway, penulis sejak dulu percaya bahwa setiap investor ituunik, alias berbeda satu sama lain. Jadi meski penulis menjadikan WB sebagai panutan, tapi penulis tetap punya beberapa gaya investasi sendiri yang berbeda dengan yang WB lakukan (meski tetap berdasarkan kaidah value investing), karena disesuaikan dengan kondisi pasar saham di Indonesia, peluang yang tersedia, hingga jumlah dana kelolaan. Penulis juga tidak sampai mengidolakan WB ataupun investor lain manapun, jadi kalau misalnya ada orang lain yang mengkritik WB maka itu sah-sah saja, dan saya gak akan protes. However, karena penulis juga percaya dengan prinsip to be the best, you have to learn from the best, maka saran penulis bagi investor pemula adalah, anda harus punya seorang panutan, yang anda jadikan sebagai ‘mentor’ bahkan meski anda tidak pernah bertemu langsung dengannya.
Dan bagi penulis mentor tersebut adalah Warren Buffett. Actually, sejak beberapa tahun terakhir ini penulis punya lagi satu mentor, yakni Li Ka-shing, dan sekali lagi itu bukan karena beliau pernah menjadi orang terkaya di Asia, melainkan karena alasan-alasan yang mirip dengan Buffett. Contoh, pada tahun 1956, Mr. Li pernah menolak tawaran dari investor untuk membeli pabrik plastiknya pada harga yang akan memberikan ia keuntungan ekstra hingga 30%, karena ia sebelumnya sudah setuju secara verbal (jadi sebenarnya belum ada perjanjian tertulis) untuk menjual pabrik tersebut ke orang lain. Yup, Mr. Li selalu berpegang teguh pada integritasnya, bahkan meski itu artinya ia akan kehilangan sejumlah uang (but still, he still made it as the richest man in Hong Kong).
Untuk kedepannya penulis mungkin akan share lebih banyak lagi tentang cara-cara investasi Li Ka-shing, yang juga merupakan value investor (kasih saya waktu untuk baca-baca dulu). Tapi untuk sekarang penulis ucapkan Selamat Tahun Baru 2018, semoga di tahun yang baru ini kita semua bisa lebih sukses lagi, dan bisa lebih banyak berbagi untuk sesama, amin!
Buletin Analisis Pasar/IHSG dan Stockpick saham pilihan edisi Januari 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Tiga Tips Investasi Saham u/ Pemula

Seperti juga tahun-tahun sebelumnya, tak terasa tahun 2017 inipun akan segera berlalu dan, hey, blog ‘Indonesia Value Investing’ ini tiba-tiba saja sudah berusia 8 tahun. Jadi bagi anda yang sudah membaca blog ini sejak tahun-tahun awal maka anda, bersama-sama dengan penulis, sudah melewati banyak sekali fase naik turunnya pasar saham, sudah mengalami ‘susah senang’ bersama, pernah merasa flying without wings ketika memperoleh profit besar, dan sebaliknya pernah pula kebingungan hingga stress ketika terpaksa cut loss.

Tapi apapun itu kita masih sama-sama survive hingga hari ini, dan kalau bagi penulis sendiri, keuntungan terbesar yang kami peroleh selama delapan tahun terakhir ini bukanlah dari peningkatan nilai aset, melainkan dari peningkatan pengalaman, kebijaksanaan termasuk kesabaran dalam menyikapi kinerja portofolio dan kondisi pasar, serta ketenangan dalam mengeksekusi setiap aksi jual, beli, dan hold saham :)

However, selain mereka yang sudah veteran, setiap tahunnya selalu ada saja investor baru di pasar modal, terutama dalam dua tahun terakhir ini sejak ramai kampanye Yuk Nabung Saham! Karena itulah, dalam kesempatan kali ini penulis mengajak anda, yakni investor yang sudah wara wiri di market selama 2 – 3 tahun atau lebih lama lagi, untuk sharing dengan menjawab pertanyaan berikut: Mumpung sebentar lagi tahun baru, maka jika anda memiliki tiga tips, nasihat, dan saranuntuk investor pemula dan/atau calon investor, maka apa saja tips tersebut?
1. ….
2. ….
3. ….
(Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah)
Btw, Selamat Natal 2017 bagi yang merayakan, dan Selamat Tahun Baru 2018 bagi kita semua! Khusus bagi anda investor pemula yang mungkin merasa bahwa investasi saham itu ribet, bikin pusing, kenapa kok saham saya turun terus dll, ada satu quote yang sangat bagus dari Jack Ma: ‘Never give up! Today is hard, tomorrow will be worse, but the day after tomorrow will be sunshine!’

Jadwal Seminar Value Investing: How to Casually Make Money from the Stock Market, Jakarta 13 Januari, dan Surabaya 20 Januari 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.
Buletin Analisis Pasar/IHSG dan stockpick saham pilihan edisi Januari 2018 akan terbit tanggal 2 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing: Surabaya, 20 Januari 2018

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – How to Casually Make Money from Stock Market, di Surabaya. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Surabaya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Bapak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk menganalisis saham dan perusahaan secara menyeluruh, berdasarkan sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya
  3. Cara cepat untuk menghitung valuasi harga saham, apakah murah, wajar, atau mahal.
  4. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  5. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, dan
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2018.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengertiSetelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!

Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    Surabaya:
    • Tempat: Amaris Hotel Embong Malang, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 20 Januari 2017
    Waktunya adalah pukul 11.00 s/d 16.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Bonus:
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama teman-teman peserta dari salah satu seminar sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar
    Komentar Alumni:
    Pak teguh,
    Ditahun ketiga saya mengenal dunia saham, alhamdulilah saya sudah balik modal dan sejak mengikuti seminar dan buletin bapak, sungguh banyak sekali ilmu yang saya dapat, dan saya juga sudah mendapatkan profit hampir 100 persen dari total modal saya, meskipun saya dapat nya penuh dengan perjuangan,
    Saya sudah membaca buku the intelligent investor (dan beberapa buku warren buffet lainnya). Dan untuk seminar/pelatihan saya sudah muter2 ke tetangga sebelah berkali2 dari yang mahal sampe murah, tapi saya merasa di seminar bapak yang paling cocok untuk saya (bukan memuji, tapi memang yang saya rasakan seperti itu) karena cara bertransaksi bapak yang tidak grasa grusu dan logis sekali penjelasan nya,..
    Dan untuk belajar, saya belajar pagi siang malam subuh, dan kalo bisa pun itu buku dan komputer saya bawak ke dalam mimpi di tidur saya, hikss (trauma mines)
    Mohon saran dan petunjuk nya ya pak,
    Terimakasih 
    Best Regards
    Widya Olivia
    Dear Mas Teguh,
    Taun ini rasanya bakal jd peningkatan ekstrem dr portofolio saya. Bahkan sblm ipo aramco mas hehehe.. ini berkat advice value investing dr blog mas teguh,
    Intinya tengkyu banget mas. Dulu sy udah baca2 graham & buffet, tapi karna ngga ada contoh yg jelas di indo (selain pak LKH) sy susah banget mau nerapin value investing. Kalo udah lancar, mgkn sy jg mau buat blog juga. Oiya mas teguh harus bangga, slama bbrp taun ini mas jadi “amazing senpai which changes my way of investing”. Your work improves my life.
    Best regards,
    Arif [...]

    Tiga Pilar Sejahtera Food

    Dalam beberapa waktu terakhir ini ada banyak saham second liner yang turun signifikan seiring dengan terjadinya koreksi pasar (soal koreksi pasar ini, baca lagi penjelasannya disini), namun mungkin tidak ada saham lain yang turun sedalam Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA). Yup, enam bulan lalu AISA masih berada di level 1,700-an, sebelum kemudian drop ke level 1,000-an pada Juli 2017 setelah perusahaan tersangkut kasus hukum terkait anak usahanya, PT Indo Beras Unggul. However, tak hanya kasus hukumnya tersebut sampai sekarang masih simpang siur, AISA kembali dihantam isu-isu miring mulai dari rencana divestasi unit usaha berasnya hingga isu default (gagal bayar utang), dan alhasil sahamnya kembali terjun bebas hingga sempat menyentuh level 378, sebelum kemudian membal ke level 480 – 500.

    Namun disisi lain, setelah kehilangan sekitar dua pertiga nilai pasarnya, saham AISA sekarang (pada harga 480) hanya mencerminkan PBV 0.4 dan PER 6.7 kali, absolutely undervalue apalagi jika dibanding saham-saham consumer goods yang lain. Jadi ini peluang apa bukan? Kemudian bagaimana dengan isu-isu miringnya tadi??

    Secara laporan keuangan, kinerja AISA di tahun 2017 ini kurang bagus dimana hingga Kuartal III, laba bersih perusahaan drop menjadi Rp173 milyar, dibanding Rp345 milyar di periode yang sama tahun 2016. Namun antara tahun 2011 hingga 2016, laba AISA secara konsisten bertumbuh dari Rp123 menjadi 593 milyar. Yup, jadi perusahaan ini sejatinya punya track record kinerja yang bagus, dan kita bisa berharap bahwa kedepannya laba AISA bakal naik lagi. Berdasarkan pengalaman ketika kita membeli saham-saham batubara pada valuasi rendah ketika harga batubara masih belum naik di tahun 2016, atau ketika kita masuk ke saham-saham perbankan di tahun 2015 ketika sektor ini sedang dilanda isu kredit macet seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi ketika itu, dan memang keduanya menghasilkan profit signifikan setelah 1 – 2 tahun selaras dengan membaiknya kinerja masing-masing perusahaan, maka value opportunity berikutnya mungkin terletak di AISA ini.
    However, dengan berbagai problem yang menimpa perusahaan sekarang ini, maka bisakah AISA kembali membukukan kinerja positif di masa yang akan datang? Atau jangan-jangan asal gak bangkrut saja sudah bagus?? Untuk itu mari kita telaah lagi perusahaan sejak awal.
    Bisnis Asli AISA: Bihun dan Makanan Ringan
    AISA, seperti yang kita ketahui, merupakan produsen mie kering, bihun, makanan dan minuman ringan termasuk biskuit dan permen, dan distributor beras. Perusahaan adalah pemilik dari merk-merk terkenal seperti snack Taro, Beras Maknyuss, dan minuman Capri-Sun. Dalam beberapa tahun terakhir perusahaan secara rutin terus meluncurkan produk-produk dan merk baru, terakhir mereka meluncurkan ‘Mi Goreng Superior’, ‘Bihun Jagung cap Tanam Jagung’, termasuk membangun pabrik untuk memproduksi minuman Capri-Sun. Jika dibandingkan dengan perusahaan consumer goods lainnya di Indonesia, maka manajemen AISA terbilang sangat agresif dalam berinovasi/menciptakan banyak produk-produk baru sekaligus ekspansi/melakukan pengembangan usaha, namun terkadang mereka malah jadi tersandung karenanya. Contoh, beberapa tahun lalu AISA berekspansi dengan mengakuisisi perusahaan perkebunan kelapa sawit, Golden Plantation (GOLL), dalam rangka untuk memiliki supply CPO-nya sendiri untuk bisnis makanannya (karena untuk bikin mie goreng dll, itu diperlukan minyak goreng dalam jumlah besar). Namun karena timing-nya salah, dimana AISA mengakuisisi GOLL justru ketika harga jual CPO sedang turun, maka perusahaan kemudian menderita rugi besar hingga akhirnya, sekitar dua tahun lalu, AISA terpaksa menjual GOLL untuk kembali fokus ke bisnis makanan dan beras.
    Dan untuk sekarang ini, AISA sepertinya harus kembali mendivestasi salah satu lini usahanya, yakni divisi perdagangan beras. Actually, berdasarkan sejarahnya sejak tahun 1959, AISA awalnya hanya merupakan produsen bihun jagung merk ‘Cap Cangak Ular’ dan mie kering dengan merk ‘Ayam 2 Telor’. AISA baru berekspansi dengan masuk ke bisnis beras dan lainnya sejak tahun 2009, yakni ketika tampuk pimpinan perusahaan dipegang oleh Stefanus Joko Mogoginta, yang merupakan generasi ketiga/cucu dari pendiri perusahaan, mendiang Tan Pia Sioe. Dan meski berbagai ekspansi tersebut sukses mendorong ekuitas perusahaan untuk tumbuh dari Rp1.8 trilyun di tahun 2011 menjadi Rp4.1 trilyun per Kuartal III 2017, namun progress-nya tidak terlalu mulus. Yup, selain merugi dari usaha perkebunan kelapa sawitnya, bisnis beras yang diakuisisi sejak tahun 2010 juga tidak menghasilkan profit sebesar yang diharapkan/margin labanya jauh lebih rendah dibanding bisnis makanan ringan. Pada Kuartal III 2017, dari pendapatan usaha beras sebesar Rp2.3 trilyun (atau Rp3 trilyun kalau disetahunkan), laba bersihnya hanya Rp10 milyar saja. Bandingkan dengan pendapatan dari usaha makanan ringan di periode yang sama, yang sedikit lebih kecil yakni hanya Rp1.8 trilyun, tapi laba bersihnya mencapai Rp175 milyar.

    Informasi kinerja AISA per segmen usaha. Klik gambar untuk memperbesar

    Mungkin karena itulah, selain karena bisnis beras ternyata ribet karena beras merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia (sehingga harga jualnya diatur oleh Pemerintah, penulis sudah menyebut soal ini di artikel tentang AISA, tahun 2012 lalu), dan puncaknya adalah ketika perusahaan beberapa waktu lalu terlibat kasus hukum terkait usaha berasnya, maka manajemen AISA akhirnya give up dan memutuskan untuk keluar sama sekali dari usaha perdagangan beras.
    Nah, berdasarkan sense bahwa bisnis beras tidaklah menguntungkan serta rumit, dan karena bisnis asli perusahaan sejatinya adalah di bihun, mie, dan makanan ringan, maka keputusan untuk divestasi usaha beras ini merupakan keputusan yang paling tepat. However, karena investor selama ini taunya sebagian besar pendapatan perusahaan berasal dari bisnis beras (itu memang benar, tapi seperti yang disebut diatas, laba bersih AISA dari usaha berasnya justru sangat kecil), belum lagi ditambah berita penurunan rating utang obligasinya serta isu bahwa perusahaan default/gagal bayar utang, dan kasus hukum perusahaan kemarin juga masih belum kelar, maka jadilah sahamnya anjlok gila-gilaan. Karena tidak hanya investor khawatir bahwa AISA bakal kehilangan mayoritas pendapatannya, sekarang mereka juga khawatir bahwa perusahaan bakal bangkrut. Sebenarnya kalau hanya karena penurunan kinerjanya saja, maka AISA di harga 1,000-an (PBV sekitar 0.7 – 0.8 kali) itu sudah sangat murah, terutama mengingat statusnya sebagai perusahaan consumer goods dengan track record kinerja yang bagus, dan kinerja perusahaan di tahun 2017 juga sebenarnya tidak sejelek itu/nggak sampai merugi. Namun ditambah dengan berbagai ‘problem’ diatas, maka jadilah sahamnya turun sampai sekarang.
    Kondisi Perusahaan Saat Ini
    Dan kalau anda berusaha menganalisa AISA ini hanya dari berita-berita serta rumor simpang siur yang beredar, maka anda justru hanya akan bingung sendiri. Jadi, okay, penulis akan sampaikan kronologis aslinya. Pertama, pada 2 November 2017, AISA menggelar RUPS untuk meminta persetujuan pemegang saham untuk menjual/mendivestasi beberapa anak usaha perusahaan di bidang perdagangan beras. Seperti juga ketika perusahaan menjual GOLL, dua tahun lalu, AISA berencana untuk menjual unit usaha berasnya ke PT JOM Prawarsa Indonesia yang merupakan pihak berelasi (kemungkinan juga dimiliki oleh Mr. Joko Mogoginta, tapi berbeda/diluar AISA). Untuk harga jualnya belum ditentukan, namun yang pasti nilai transaksinya relatif kecil yakni tidak akan mencapai 20% dari total nilai aset perusahaan yang sebesar Rp9.7 trilyun (meski tetap mencapai 20% dari nilai ekuitas perusahaan, sehingga aksi korporasi ini memerlukan persetujuan RUPS). Yup, karena untuk usaha berasnya, aset-aset AISA hanyalah berupa gudang, persediaan beras itu sendiri, serta jaringan distribusi. AISA tidak memiliki sawah ataupun aset tetap lainnya, karena sejak awal mereka hanya jualan beras yang dibeli dari petani, bukan memproduksi beras itu sendiri.
    Jadi sekali lagi, yup, pendapatan AISA memang akan berkurang drastis (sekitar Rp3 trilyun) setelah divestasi usaha berasnya, tapi tidak demikian dengan laba bersihnya. Malah dengan kembali fokusnya perusahaan di usaha bihun dan makanan ringan, laba bersih AISA dari snack Taro dll harusnya bisa naik lagi. Kemudian total aset AISA juga akan berkurang, tapi sekali lagi berkurangnya tidak akan terlalu besar, karena mayoritas aset AISA (pabrik bihun dll) itu merupakan aset di usaha industri makanan, bukan beras. Selain itu jangan lupa bahwa AISA tidak akan kehilangan usaha berasnya begitu saja, melainkan akan menerima hasil penjualan yang bisa kembali diinvestasikan ke bidang usaha yang lain.
    Kedua, pada tahun 2013, AISA menerbitkan obligasi dan sukuk, masing-masing senilai Rp600 dan 300 milyar, dan pada tahun 2016 perusahaan kembali menerbitkan sukuk senilai Rp1.2 trilyun. Thus, perusahaan memiliki tiga utang obligasi senilai total Rp2.1 trilyun. Yang perlu dicatat disini, kesemua obligasi tersebut dijamin dengan aset tetap dari beberapa anak usaha termasuk PT Sukses Abadi Karya Inti, dan PT Jatisari Srirejeki, dimana keduanya merupakan perusahaan perdagangan beras. Karena dua anak usaha tersebut termasuk yang akan didivestasikan (sehingga tidak bisa lagi dijadikan jaminan obligasinya), maka selain menggelar RUPS, AISA juga harus menggelar RUPO (rapat umum pemegang obligasi) untuk meminta persetujuan dari para pemegang obligasinya, untuk mengganti jaminan obligasinya dari aset tetap milik dua anak usaha diatas, dengan aset AISA yang lain.
    Namun seperti yang kita ketahui, ternyata para pemegang obligasi menolak usulan tersebut, alhasil manajemen AISA sekarang harus putar otak lagi, karena mereka tetap berencana untuk menjual usaha berasnya. Ketiga, imbas dari hasil RUPO-nya tersebut, Pefindo sebagai lembaga pemeringkat kemudian segera merilis update rating untuk tiga obligasi/sukuk AISA, dimana intinya rating obligasi tersebut turun dari A menjadi BBB, dengan catatan ‘credit watch with negative implication’ (‘negative implication’ ini kemungkinan terkait keputusan manajemen AISA yang tetap berencana mendivestasi usaha berasnya meski menerima penolakan dari pemegang obligasi).
    Dari update rating Pefindo inilah kemudian muncul rumor bahwa AISA mengalami gagal bayar utang obligasinya diatas, alias default. Padahal yang benar adalah, 1. AISA sampai sekarang masih lancar membayar cicilan utang obligasinya, baik itu pokok hutang maupun bunganya, tanpa pernah terlambat sekalipun 2. Total obligasinya yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun adalah sekitar Rp900 milyar, dan AISA masih memiliki aset lancar senilai total Rp5.8 trilyun, atau jauh lebih besar, sehingga secara neraca keuangan, AISA masih jauh dari kemungkinan default ataupun restrukturisasi utang. Yang jadi masalah adalah, sekali lagi, manajemen AISA menawarkan kepada para pemegang obligasi untuk mengganti jaminan/collateral obligasinya dari aset pabrik beras dengan aset lainnya, tapi para pemegang obligasi tersebut menolak tawaran tersebut.
    Tapi karena inti masalahnya hanya sebatas penggantian collateral (jadi bukan restrukturisasi utang yang harus melalui proses yang rumit dan panjang seperti restrukturisasi utang Bumi Resources, beberapa waktu lalu), termasuk nilai utang obligasinya juga tidak sebesar itu/masih ter-cover oleh aset maupun ekuitas bersih perusahaan, maka penulis percaya bahwa nanti juga pihak manajemen akan mencapai titik temu dengan para pemegang obligasinya, dan rencana divestasi usaha berasnya bisa tetap dilaksanakan.
    Okay, lalu bagaimana dengan prospek perusahaan kedepannya setelah nanti semua gonjang ganjing divestasi beras bla bla bla ini selesai? Well, tarohlah kita anggap perusahaan bakal kehilangan usaha berasnya begitu saja/tidak menerima uang cash dari hasil penjualannya (karena waktu AISA menjual GOLL senilai Rp521 milyar, perusahaan juga tidak langsung menerima uangnya/sampai sekarang hasil penjualan tersebut masih dicatat sebagai piutang), maka aset perusahaan akan berkurang, tapi berkurangnya gak banyak/tidak akan sampai 20% dari total aset perusahaan. Kemudian pendapatan AISA juga akan turun lebih dari separuhnya (karena mayoritas pendapatan perusahaan berasal dari penjualan beras), tapi tidak demikian dengan laba bersihnya, yang hanya turun sedikit. Malahan jika kedepannya manajemen bisa fokus hanya pada usaha bihun, mie, dan makanan ringan, maka laba AISA bisa kembali naik tinggi seperti di tahun-tahun yang lalu. Ketika AISA menjual GOLL, juga ada kekhawatiran bahwa kinerja perusahaan akan turun karena kehilangan salah satu sumber pendapatannya, tapi justru laba AISA pada tahun 2016 kembali naik pesat, dan sahamnya pun ketika itu naik lagi dari 1,000-an hingga sempat tembus 2,000 kembali. Soal utang perusahaan juga tidak perlu dikhawatirkan, karena sekali lagi, jumlah utang AISA sama sekali tidak sebesar itu/total DER-nya hanya 1.3 kali, dengan jumlah utang jangka pendek yang secara signifikan lebih kecil dibanding aset lancar perusahaan (Rp3.6 berbanding Rp5.8 trilyun).
    Lalu bagaimana dengan sahamnya?
    Penulis sebenarnya sudah tertarik dengan AISA ini ketika beberapa waktu lalu sahamnya drop sampai 900 – 1,000, yakni ketika mencuat kasus hukum terkait pabrik berasnya, dimana PBV-nya pada harga tersebut sudah dibawah satu kali. However, dengan mempertimbangkan cara kerja manajemen perusahaan yang grasa grusu dalam berekspansi, pernah cut loss dari kegagalan investasinya di GOLL dua tahun lalu, termasuk kasus hukumnya sendiri kelihatannya cukup serius, maka penulis putuskan untuk wait n see saja dulu.
    Dan ketika kemudian sahamnya lanjut turun hingga dibawah 500, dimana PBV-nya tinggal 0.4 kali, maka barulah penulis melihat AISA ini dengan cara yang berbeda: Yep, kinerja AISA tahun ini memang lagi turun, dan fundamental perusahaan secara umum memang tidak sebagus perusahaan consumer goods lainnya seperti Sido Muncul (SIDO), Nippon Indosari Corpindo (ROTI), atau Kalbe Farma (KLBF), tapi disisi lain dia nggak sejelek itu juga, dimana AISA punya track record kinerja yang bagus, dan perusahaan merupakan pemegang dari merk-merk makanan yang cukup terkemuka (Ayam 2 Telor, Snack Taro, dst), dimana merk-merk ini juga ada nilainya (penjelasan soal ‘nilai merk’ bisa dibaca disini). Dan meski AISA sekarang ini memang lagi ‘problem’, tapi setelah kita telaah lagi diatas, sebenarnya kondisinya tidak seburuk itu juga, sementara disisi lain harga sahamnya sekarang ini sudah kelewat rendah/sudah mencerminkan semua kekhawatiran investor dll. Maksud penulis adalah, yup, nilai ekuitas AISA mungkin akan berkurang pasca divestasi berasnya, yakni jika perusahaan tidak segera memperoleh pembayaran tunai dari penjualan usaha berasnya, tapi penurunan harga sahamnya jauh lebih signifikan ketimbang penurunan ekuitasnya tersebut. Dengan kata lain, kalo misalnya AISA ini masih di harga 900 – 1,000, maka penulis juga gak akan tertarik.
    Kemudian, terlepas dari upaya ekspansi perusahaan yang sejauh ini kelihatannya gagal semua, tapi bisnis inti perusahaan yakni bihun dan makanan ringan sejatinya sudah cukup menguntungkan dan gak ada masalah apapun. Jadi dengan kembalinya fokus manajemen ke bisnis inti tersebut, maka diharapkan perusahaan akan kembali profitable seperti di tahun-tahun sebelum 2017.
    Jadi untuk kedepannya terdapat setidaknya tiga skenariountuk saham AISA. Pertama, AISA sukses mendivestasi usaha berasnya, kasus hukumnya juga selesai, dan semua kesimpang siuran berita terkait kelangsungan usaha perusahaan akhirnya mereda seiring dengan berjalannya waktu, dan laba perusahaan kembali naik di tahun 2018 nanti. Maka ketika itulah sahamnya akan naik sangat tinggi. Berdasarkan data historis, PBV AISA ketika perusahaan mencatatkan kinerja bagus serta tidak sedang ‘dalam masalah’ seperti sekarang, adalah sekitar 2.0 – 2.2 kali, yang setara harga saham 2,000 – 2,500. Jadi, yap, jika skenario pertama ini yang terjadi maka saham AISA bisa naik setinggi itu, dalam waktu satu tahun atau kurang. Dalam waktu kurang dari satu tahun itu pula, ada kemungkinan manajemen akan mengumumkan rencana buy back saham atau semacamnya (karena kalau penulis adalah Mr. Joko, maka ini merupakan peluang emas untuk membeli saham AISA dari investor publik, karena kapan lagi bisa dapet harga semurah ini??).
    Skenario kedua, kinerja perusahaan di tahun 2018 masih biasa saja/belum kembali pulih, tapi semua kesimpang siuran berita terkait kelangsungan usaha perusahaan tetap mereda seiring dengan berjalannya waktu. Dalam hal ini penulis berkaca pada banyak pengalaman dimana sebuah saham bisa turun drastis ketika beredar berita dan rumor negatif (sehingga menyebabkan investor, karena kebingungan, memutuskan untuk cut loss), tapi ketika pemberitaan itu akhirnya mereda/dilupakan orang dengan sendirinya, maka sahamnya kemudian naik lagi, terkadang dengan kenaikan yang signifikan/diatas 50 – 100%. Termasuk AISA sendiri, dua tahun lalu sempat drop sampai dibawah 1,000 ketika perusahaan menjual GOLL, dan beritanya waktu itu juga simpang siur, tapi tak sampai setahun kemudian langsung naik lagi ketika semua kesimpang siuran itu mereda. Make no mistake: Kalau AISA ini hanya naik sedikit ke level 900 – 1,000 saja, (PBV 0.7 kali, still reasonable), maka profitnya sudah 100% bukan?
    Sementara skenario ketiga, adalah rencana perusahaan untuk mendivestasi usaha berasnya ternyata terhambat/berkepanjangan, atau malah muncul lagi problem baru. Jika ini yang terjadi maka ya sudah: Saham AISA gak akan naik dulu, dan fluktuasi tajamnya dalam beberapa waktu terakhir bisa berlanjut (sehingga sahamnya tidak cocok bagi anda yang jantungan/masih hobi ngeliatin harga saham tiap hari). However, kalaupun skenario ini yang terjadi, penulis kira AISA tetap sulit untuk turun lebih lanjut/kalaupun lanjut turun maka gak akan banyak turunnya, karena valuasi saham AISA sekarang ini bahkan sudah lebih rendah dibanding valuasi saham-saham batubara di tahun 2015 lalu, padahal perusahaan sampai sekarang masih beroperasi dengan normal dan masih membukukan laba, jadi gak sampai merugi seperti perusahaan-perusahaan batubara di tahun 2015 tersebut.
    Jadi dengan menelaah kembali peristiwa-peristiwa terbaru terkait kegiatan usaha perusahaan, serta mempertimbangkan faktor potensi profit serta risikonya, maka yup, AISA menawarkan value opportunity terutama pada harganya saat ini, meski memang disisi lain risikonya juga masih agak besarterutama terkait kemungkinan terjadinya skenario ketiga diatas. Jika anda hendak main aman, maka boleh juga tunggu sampai proses divestasi beras AISA selesai, dan berbagai berita negatif tentang AISA berbalikmenjadi berita positif, misalnya ‘Pasca Divestasi Beras, Margin Laba AISA Meningkat Tajam’ (karena untuk ‘menyetel’ judul berita seperti itu, itu gampang banget kok. Baca penjelasannya disini). Tapi biasanya ketika itu terjadi maka sahamnya sudah naik duluan, mungkin ke 700 – 800 atau lebih tinggi lagi (meski memang masih bisa lanjut naik), dan alhasil profit yang anda peroleh juga lebih kecil dibanding jika anda masuk di harga sekarang. So, what do you think?

    Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Partners sedang dalam posisi memegang AISA di harga 500. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sebelumnya.

    Jadwal Seminar Value Investing: How to Casually Make Money from the Stock Market. Jakarta,  Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 13 Januari 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Cara ‘Membeli’ IHSG

    Pada salah satu sesi kelas private kemarin, ada pertanyaan menarik dari peserta: ‘Pak Teguh, saya ini kan gak mengejar profit besar ataupun profit cepat dari saham. Asal bisa dapet profit decent diatas bunga deposito, katakanlah 10 – 15% per tahun, dan juga konsisten dalam jangka panjang, saya sudah sangat puas. Nah, saya perhatikan kenaikan IHSG dalam jangka panjang, kalau dirata-ratakan adalah sekitar segitu per tahun. Jadi bisa gak kita gak usah beli saham, tapi beli IHSG-nya saja?’

    Kemudian berikut ini adalah jawaban penulis.
    Berbeda dengan beberapa negara lain, di Indonesia kita tidak bisa membeli IHSG (kalau di Hong Kong, misalnya, selain membeli saham-saham yang menjadi komponen indeks Hang Seng, kita juga bisa membeli indeks Hang Seng itu sendiri seperti layaknya membeli saham biasa). However, jika tujuannya adalah agar portofolio kita bertumbuh/naik secara selaras dengan kenaikan IHSG (jadi nggak harus lebih tinggi dari kenaikan IHSG), maka ada beberapa cara. Pertama, dengan membeli reksadana saham. Reksadana saham, terutama yang dana kelolaannya besar-besar/trilyunan Rupiah (misalnya Schroder, Panin, Mandiri, dst) biasanya memiliki kinerja jangka panjang yang kurang lebih sama dengan kinerja indeks, karena manajer investasinya biasanya hanya membeli saham-saham big caps penggerak indeks, seperti ASII, TLKM, BBCA dkk. Yup, jadi kalaupun mereka ada beli juga saham-saham kecil/saham-saham diluar indeks LQ45, maka biasanya alokasi dananya gak banyak, gak sampai 1% dari total nilai portofolio. Misalnya reksadana A nilai, dana kelolaannya Rp1 trilyun, dan manajer investasinya beli saham X yang bukan merupakan saham bluechip. Maka belinya paling cuma Rp5 – 7 milyar saja, apalagi jika saham X itu kurang likuid.
    Problemnya, pernyataan bahwa ‘kinerja jangka panjang reksadana, terutama yang besar-besar, adalah kurang lebih sama dengan kinerja indeks’, itu sebenarnya tidak terlalu tepat juga. Karena penulis sudah dari dulu mengamati kinerja reksadana, dan kesimpulannya adalah: Sangat jarang ada reksadana yang mampu mencetak profit setara atau diatas kinerja IHSG. Dan kalaupun ada reksadana tertentu yang sukses beat the market pada tahun tertentu, maka biasanya pada tahun berikutnya, atau tahun berikutnya lagi, dia justru rugi/nilai NAV-nya turun. Atau dengan kata lain, kinerja reksadana tersebut tidak konsisten dalam jangka panjang.
    Sebagai ilustrasi, berikut adalah data kinerja 10 reksadana terbesar di Indonesia dari sisi nilai dana kelolaan (asset under management, atau AUM), secara year to date, dalam hal ini sampai penutupan pasar tanggal 11 Desember 2017. Sumber: www.bareksa.com. Perhatikan bahwa dari 10 reksadana tersebut, hanya 1 reksadana yang sukses menghasilkan kinerja diatas kenaikan IHSG.
    No
    Nama Reksadana
    AUM (milyar Rp)
    YTD (%)
    1
    Schroder Dana Prestasi Plus
    16,038
    10.9
    2
    Mandiri Saham Atraktif
    5,799
    16.3
    3
    Ashmore Dana Ekuitas Nusantara
    4,066
    12.2
    4
    Schroder Dana Prestasi
    3,742
    9.7
    5
    Panin Dana Maksima
    2,973
    2.1
    6
    Schroder 90 Plus Equity Fund
    2,703
    10.0
    7
    BNP Paribas Infrastruktur Plus
    2,676
    13.2
    8
    BNP Paribas Ekuitas
    2,263
    11.4
    9
    Schroder Dana Istimewa
    2,008
    3.1
    10
    KAM Kapital Optimal
    2,000
    8.5
    IHSG
    13.8
    Jadi selain berinvestasi melalui reksadana, maka terdapat pilihan kedua yakni, anda bisa membuat ‘reksadana’ milik anda sendiri. Caranya? Dengan itu tadi: Anda hanya membeli saham-saham yang menjadi komponen utama penggerak indeks, dan itu adalah saham-saham likuid yang menjadi komponen dari Indeks LQ45. Namun, seperti yang sudah penulis sampaikan dulu di artikel ini, saham-saham yang menjadi komponen Indeks LQ45 itu tidak selalu merupakan saham-saham berfundamental terbaik, karena fokus utamanya adalah di likuiditas sahamnya saja. Yup, jadi saham-saham gak jelas seperti Trada Maritime (TRAM) juga pernah masuk Indeks LQ45, hanya karena nilai transaksi perdagangannya sangat besar. Padahal secara fundamental, dia tentu saja tidak bisa disetarakan dengan saham-saham LQ45 lainnya seperti ASII, TLKM dkk.
    Karena itulah, kalau mau benar-benar aman maka pilihan sahamnya harus dipersempit lagi menjadi hanya saham-saham dengan likuiditas serta market cap terbesar di BEI. Dan untuk itu anda bisa membuka statistik BEI (ini link-nya), kemudian scroll kebawah hingga ketemu tabel ‘Top Market Cap’, sebagai berikut (datanya per tanggal 14 Des 2017, klik gambar untuk memperbesar):

    Nah, berbeda dengan Indeks LQ45, tabel ‘elit’ yang berisi 10 saham dengan market cap terbesar di BEI diatas hanya akan berisi saham-saham yang tidak hanya likuid, tapi juga mewakili perusahaan-perusahaan paling aman, besar, serta populer di Indonesia, dan kita bisa juga asumsikan, meski tidak selalu, bahwa mereka memiliki fundamental bagus. Sebagai contoh, United Tractors (UNTR) baru sekarang-sekarang ini saja masuk tabel top market cap diatas, setelah sahamnya naik terus sejalan dengan perbaikan kinerjanya dalam 1 – 2 tahun terakhir, seiring dengan kenaikan harga batubara yang menjadi bisnis utama perusahaan.
    Jadi dengan strategi berikut yakni: Anda membagi porto anda menjadi sepuluh bagian, kemudian tiap-tiap bagian tersebut dipakai untuk membeli 10 saham diatas, maka anda baru saja ‘membeli IHSG’, dimana naik turunnya kinerja porto anda akan selaras dengan naik turunnya IHSG. Strategi ‘membeli IHSG’ ini sangat cocok bagi anda yang gak mau ambil pusing dengan analisa saham yang kadang bisa sangat rumit, termasuk bagi anda yang tidak tahan mental dengan fluktuasi harian saham (karena berbeda dengan saham-saham kecil yang bisa terbang atau jeblok 10 – 20% dalam sehari, saham-saham top cap diatas jarang naik turun diatas 2 – 3% dalam sehari). Malahan jika anda membeli saham-saham seperti BBCA, HMSP, TLKM, dan BBRI saja sejak awal 2017 ini, maka kinerja investasi anda mungkin bahkan bisa diatas IHSG, karena faktanya saham-saham tersebutsepanjang 2017 ini naiknya lebih tinggi dibanding kenaikan IHSG, yang baru naik sekitar 14.3% YTD. Dan kalaupun kita ketemu kondisi pasar yang turun atau bahkan market crash, misalnya seperti tahun 2008 (ketika itu IHSG drop 50.1%), atau tahun 2015 lalu (drop 12.1%), maka meski saham-saham blue chip yang anda pegang bakal bertumbangan, tapi ketika pasar kemudian pulih kembali maka saham-saham anda tersebut juga akan naik lagi, sekali lagi, seiring dengan kenaikan IHSG.
    Dan IHSG, meski bisa naik dan turun (termasuk mengalami crash) dalam jangka pendek, namun pada akhirnya akan terus naik dalam jangka panjang. Jadi dengan strategi membeli IHSG ini maka setelah 5 – 10 tahun, keuntungan yang anda peroleh akan sangat memuaskan. Pada penghujung 2008, IHSG berada di level 1,300-an. Dan sekarang, atau belum genap 10 tahun kemudian, IHSG sudah berada di level 6,000-an, atau sudah naik 4 – 5 kali lipat, sudah termasuk menghitung penurunan di tahun 2013 dan 2015. Thus, dengan strategi ‘membeli IHSG’ ini maka nilai portofolio anda akan meningkat kurang lebih 4 – 5 kali lipat pula, dan itu belum termasuk ‘bonus’ dividen.
    Dua Kelemahan
    However, berdasarkan pengalaman, terdapat setidaknya dua kelemahan dari strategi ‘membeli IHSG’ ini. Pertama, pergerakan dari 10 saham-saham dengan market cap terbesar di BEI sebenarnya tidak selalu selaras dengan IHSG. Seperti yang disampaikan diatas, jika anda membeli saham-saham seperti BBCA, HMSP, TLKM, dan BBRI pada awal 2017 ini, maka kinerja investasi anda bisa diatas IHSG, karena saham-saham tersebut sepanjang 2017 ini naiknya lebih tinggi dibanding kenaikan IHSG. However, kalau anda membeli saham-saham yang persis sama di tahun 2016 lalu, maka kinerja portofolio anda akan cukup jauh dibawah IHSG. Contohnya, sepanjang tahun 2016, saham BBRI hanya naik tipis dari 11,425 ke 11,650 (sebelum stocksplit), atau hanya naik 2.0%, sementara IHSG melonjak signifikan yakni 15.3%.
    Dan penulis sudah cek naik turunnya saham-saham big caps pada tahun-tahun tertentu dalam beberapa tahun terakhir, dan kesimpulannya adalah saham ASII dkk kadang naiknya lebih tinggi dibanding IHSG pada tahun-tahun tertentu, tapi pada tahun-tahun yang lain giliran IHSG-lah yang naiknya lebih tinggi. Kondisi ini sekilas tidak akan jadi masalah, toh pada akhirnya ASII dkk akan terus naik dalam jangka panjang bukan? Jadi jika pada tahun tertentu ASII ini tampak gak naik-naik, ya sudah hold saja, toh nanti juga naik lagi? Well, tapi pada prakteknya nggak segampang itu. Contoh, sepanjang 2017 ini, kwartet banking terbesar yakni BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI totalnya sudah menghasilkan gain sekitar 40% bagi para pemegang sahamnya, atau jauh diatas kenaikan IHSG (dan itu bahkan belum termasuk dividen). Tapi pada tahun 2016 lalu, ada banyak investor yang justru cut loss di saham-saham perbankan ketika BBCA dkk berjatuhan di tengah tahun, dan alhasil ketika saham-saham bank ini kemudian naik maka para investor ini justru sudah tidak pegang barang. Yup, karena pada tahun 2016 lalu akan sangat sulit bagi siapapun untuk tetap meng-hold saham-saham big caps banking, karena tidak hanya anda akan tertekan secara psikologis karena kinerja portofolio anda akan jauh dibawah rata-rata pasar, sentimen terkait perbankan ketika itu masih jelek semua (banyak cerita kredit macet, pembatasan NIM, dll), dan ketika itu juga ada banyak saham-saham lain yang naik lebih tinggi, misalnya saham-saham batubara.
    Jadi maksud penulis adalah, yap, kalau anda mampu untuk tetap ‘bersama-sama’ dengan saham-saham big caps ini baik dalam masa-masa ‘susah’ maupun ‘senang’, maka setelah 5 – 10 tahun, kinerja investasi anda akan sangat baik. However, pada prakteknya itu sangat sulit bahkan untuk seorang value investor berpengalaman sekalipun, terutama kalau kita baru saja melewati tahun dimana kinerja porto ternyata dibawah IHSG (karena itu jadi tidak sesuai dengan ultimate goal dari seorang investor itu sendiri, yakni untuk beat the market setiap tahunnya).
    Kedua, dengan menggunakan metode value investing, maka seorang investor memiliki peluang untuk membeli saham yang menghasilkan gain signifikan hingga 100% atau lebih, dalam waktu yang relatif singkat, yakni kurang dari 1 tahun saja. Misalnya (beberapa ‘saham jackpot’ yang penulis temukan sebelum mereka terbang) KMI Wire & Cable (KBLI), Harum Energy (HRUM), Indika Energy (INDY), Medco Energi (MEDC), dst.
    Namun kalau anda perhatikan, sebagian besar saham-saham jackpot ini, atau malah seluruhnya, merupakan saham-saham mid atau small cap, atau istilahnya second liner. Sementara pada contoh ‘value opportunity’ pada saham bluechip, misalnya Jasa Marga (JSMR) ketika sahamnya turun ke 4,000 karena right issue, total gain-nya hanya 50 – 60% saja (meski itu juga tetap sangat memuaskan).
    Jadi kalau kita membatasi diri dengan hanya membeli saham-saham big caps, maka ya sudah, anda tidak akan pernah menyaksikan saham anda naik hingga triple digit kecuali mungkin setelah jangka waktu yang relatif panjang, let say 3 – 4 tahun, dan anda akan kesulitan untuk beat the market. Kalau kita ambil contoh saham-saham pilihan investor kawakan seperti Pak Lo Kheng Hong, atau Warren Buffett ketika dana kelolaannya masih ‘kecil’ di tahun 1960-an lalu, maka mereka berdua juga lebih suka saham-saham menengah atau kecil, dibanding saham big caps/blue chip. Opa Warren baru membeli saham-saham besar seperti IBM, Well’s Fargo, hingga Apple pada tahun 2010 keatas, yakni ketika dana kelolaannya sudah kelewat besar hingga ‘tidak lagi muat’ untuk ditempatkan di saham/perusahaan yang kecil-kecil.
    Anyway, strategi ‘membeli IHSG’ ini tetap sangat disarankan terutama bagi anda yang, sekali lagi, tidak mau ambil pusing, atau memang masih awam soal menganalisa fundamental perusahaan. Yup, karena tidak semudah itu juga untuk menemukan ‘saham-saham yang bisa naik 100% atau lebih dalam waktu 1 tahun atau kurang’. Atau, anda boleh juga bereksperimen dengan membagi dua portofolio anda/membuka dua rekening, dimana satu rekening dipakai untuk membeli saham-saham berdasarkan kaidah value investing, sementara satu rekening lagi dipakai untuk membeli saham-saham yang masuk tabel ‘Top Cap’ tadi. Dan setelah beberapa tahun, anda bisa membandingkan hasil profit yang dihasilkan dari dua rekening tersebut.

    Untuk artikel minggu depan kita akan membahas Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA).

    Penulis mengadakan Kelas Private Value Investing (‘private class’) dengan jumlah peserta per sesi maksimal 5 orang saja. Keterangan selengkapnya baca disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Cara Membaca Arah Pasar Sekarang Ini

    Sebagian dari anda mungkin bingung dengan kondisi pasar saham dalam satu atau dua minggu terakhir, dimana ada banyak saham yang turun cukup banyak (10% atau lebih), padahal gak ada sentimen atau berita negatif apapun terkait perusahaannya (kecuali mungkin rumor-rumor yang gak jelas dari mana sumbernya), sementara disisi lain IHSG-nya masih strong di level 6,000-an. Maksud penulis adalah, kalau misalnya sebuah saham turun ketika IHSG-nya lagi turun, atau ada something bad terkait perusahaan, maka penurunan tersebut jadi bisa dimaklumi, dan terdapat harapan bahwa saham itu nanti juga bakal naik lagi ketika IHSG naik lagi. Tapi bagaimana ketika ada sebuah saham yang seperti turun sendiri, tanpa ada peristiwa apapun yang bisa menjelaskan penurunan tersebut?

    Berdasarkan pengalaman, seperti yang sudah disebutkan dalam salah satu artikel di blog ini, kalau anda beli saham namun kemudian turun cukup dalam, misalnya 10 – 15% dari harga belinya (kalau turunnya kurang dari itu, maka itu cuma fluktuasi jangka pendek biasa, yang tidak perlu dikhawatirkan), maka terdapat beberapa kemungkinan:
    1. Anda salah pilih saham,
    2. Pilihan sahamnya udah bener, tapi harga belinya yang salah/kemahalan,
    3. Terjadi peristiwa force majeure tertentu yang mengubah fundamental perusahaan, misalnya waktu Tiga Pilar Sejahtera (AISA) kena kasus hukum,
    4. Terdapat berita/rumor/sentimen negatif tertentu yang sifatnya sementara/tidak berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, misalnya waktu Februari 2017 lalu ada rumor bahwa proyek LRT milik Adhi Karya (ADHI) mangrak.
    5. Sahamnya cuma lagi turun aja, nanti juga naik lagi (ini biasanya terjadi pada saham-saham yang sejak awal memiliki fluktuasi ekstrim/gorengan, misalnya BCIP, LEAD, atau BUMI), dan
    6. IHSG-nya lagi turun, dimana memang hampir semua saham lagi pada turun/gak cuma saham yang anda beli tersebut.
    Okay, katakanlah anda sudah benar pilih saham di harga beli yang juga tepat, gak ada force majeure maupun sentimen negatif apapun, dan saham tersebut juga bukan saham gorengan gak jelas yang bisa naik turun belasan persen dalam sehari. Jadi ‘biang kerok’ terakhir mungkin IHSG-nya yang sedang turun/terkoreksi, karena nyatanya saham yang lagi turun beberapa waktu terakhir ini gak cuma satu dua, tapi ada banyak! Tapi pertanyaannya sekarang, bagaimana bisa kita katakan bahwa pasar sedang terkoreksi, karena nyatanya IHSG juga sama sekali belum turun dan masih strong di 6,000-an??
    Nah, dalam hal ini kita perlu flashback sedikit ke artikel penulis di tanggal 12 September 2017 lalu, yang berjudul Asing Jualan Terus? Di artikel tersebut intinya penulis menyampaikan bahwa kita sekarang ini berada dalam kondisi koreksi IHSG yang tidak kelihatan (kalo belum baca tulisannya, coba baca dulu), terutama karena investor asing terus saja jualan, tapi IHSG-nya tetap saja gak turun karena di waktu yang bersamaan, saham-saham blue chips yang berpengaruh besar terhadap IHSG (misalnya ASII, TLKM, BBCA, HMSP GGRM) justru terus naik.
    Tapi sayangnya untuk saham-saham mid and small cap, yang pergerakan mereka tidak begitu ngaruh ke IHSG, mereka tetap saja turun. Dan sampai awal Desember ini penurunan tersebut terus berlanjut, karena asingnya masih terus mengobral barang. Yup, hingga Senin, 4 Desember 2017, statistik BEI menyebutkan net sell asing Rp36.4 trilyun sejak awal 2017, atau jauh lebih buruk dibanding September (tiga bulan lalu), yang baru Rp7 trilyun (sebenarnya net sell Rp36.4 trilyun itu karena ditambah transaksi crossing sebesar sekian trilyun dari saham TOWR, SMMA, dan KPIG. Tapi kalo transaksi crossing ini dihilangkan, maka nilai net sell asing tersebut masih mencapai Rp20-an trilyun, atau tetap cukup besar). Ini artinya kondisi ‘koreksi pasar yang tidak kelihatan’ yang penulis sebut di bulan September lalu, ternyata masih berlanjut sampai Desember ini.
    Problemnya, karena pergerakan IHSG sekarang ini tidak lagi mencerminkan kondisi pasar, yakni apakah sedang terjadi bullish, sideways, atau koreksi, maka indikatorapa lagi, diluar IHSG, yang bisa kita lihat untuk membaca arah pasar yang sesungguhnya? Well, terdapat setidaknya dua indikator, dan dua-duanya bisa kita ambil dari sumber yang sama yakni statistik IDX. Contoh yang akan penulis sampaikan disini mengambil statistik harian IDX, bisa dilihat disini.
    Nah, anda sudah buka link-nya? Okay, perhatikan. Pertama kita lihat stock price movement, yang berbentuk bar dengan warna merah, pink, kuning, hijau, dan hijau tua. Berikut adalah bar stock price movement yang penulis ambil di statistik harian IDX tanggal 4 Des 2017, klik gambar untuk memperbesar:

    Dari gambar diatas bisa dilihat bahwa pada tanggal 4 Des 2017, dari total 564 saham di BEI, terdapat 223 saham yang turun, 220 saham yang tidak bergerak, dan hanya 121 saham yang naik. Menariknya, pada Senin, 4 Desember tersebut, IHSG ditutup naik cukup signifikan yakni 0.77%. Logikanya kalau IHSG pada satu hari tertentu naik signifikan yakni 0.5 – 1%, atau lebih tinggi lagi, maka pada hari tersebut jumlah saham yang naik harusnya lebih banyak dibanding yang turun, tapi ini justru sebaliknya, dimana jumlah saham yang turun pada Senin, 4 Desember, mencapai hampir dua kali lipat dibanding yang naik.
    Jadi berdasarkan jumlah saham yang turun/stagnan dibanding saham yang naik, maka pasar sejatinya sedang terkoreksi/turun. Tapi bagaimana caranya IHSG bisa tetap naik ketika mayoritas saham turun?? Untuk itu kita bisa lihat indikator kedua: ‘Jakarta Composite Index Movers’, atau secara harfiah, daftar saham-saham yang berpengaruh paling besar terhadap naik turunnya IHSG.

    Sekali lagi, dari gambar diatas bisa dilihat bahwa IHSG pada hari Senin tetap naik karena hampir semua saham big caps, mulai dari HMSP hingga BBNI, semuanya naik signifikan (HMSP bahkan naiknya sampai 5.4%), sehingga totalnya menyumbang kenaikan IHSG (JCI) sebesar total 66.3 point (23.1 + 9.9 + dst). Sementara untuk saham-saham yang turun dan penurunan tersebut berpengaruh signifikan ke IHSG (daftar saham laggard, mulai dari PNBN sampai BJBR), totalnya hanya menyumbang penurunan IHSG sebesar total 15.0 point saja. Hasilnya? Yep, IHSG pada Senin, 4 Desember, ditutup naik 46.1 point (66.3 dikurangi 15.0, dikurangi lagi 5.2 point. Penjelasan angka 5.2 point ini bisa dibaca dibawah) atau 0.77%.
    Yang perlu dicatat disini adalah, diluar saham-saham yang masuk daftar JCI movers tersebut, maka mau mereka naik atau turun, itu hampir gak ada pengaruhnya ke IHSG. Jadi boleh-boleh saja saham yang anda pegang turun sampai diatas 10% sekalipun, tapi jika saham tersebut tidak masuk daftar ‘saham yang berpengaruh terhadap IHSG’, maka IHSG-nya bakal tetap aman. Dari perhitungan diatas, kita bisa lihat bahwa diluar pengaruh dari 10 saham leader dan 10 saham laggard, maka penurunan dari ratusan saham lainnya di BEI hanya menyebabkan IHSG totalnya turun 5.2 point saja.
    Kesimpulannya, jika anda merasa ada something wrong with the market, dimana pada satu hari tertentu ada banyak saham turun tapi IHSG-nya tetap naik, maka coba cek lagi: 1. Apakah jumlah saham yang naik lebih banyak dibanding yang stagnan dan turun? dan 2. Apakah saham-saham yang berpengaruh besar terhadap IHSG, kalaupun dia naik maka naiknya tetap dalam range yang wajar? (jadi gak sampai 5% seperti kenaikan HMSP diatas) Jika jawabannya adalah 1. Tidak, dan 2. Tidak, maka lupakan fakta bahwa IHSG naik, karena yang sebenarnya terjadi adalah, pasar pada hari tersebut baru saja terkoreksi, dan penurunan saham yang anda pegang kemungkinan hanya disebabkan karena faktor koreksi pasar tersebut (jadi bukan karena perusahaannya ada problem atau apa, tapi sekali lagi, ini dengan asumsi bahwa anda membeli saham yang tepat, dan pada harga yang tepat). Kemudian anda selanjutnya bisa melakukan tindakan yang tepat, apakah jual, hold saja, atau justru tambah posisi (penulis sudah banyak menulis artikel tentang strategi investasi ketika pasar sedang terkoreksi, terutama ketika IHSG drop di tahun 2015 dan 2013. Coba search lalu baca saja).
    Anyway, kalau penulis review lagi kondisi market dalam setahunan terakhir, maka kalau saja saham-saham big caps bergerak sama dengan saham-saham mid and small caps, alias pada turun semua (misalnya ASII turun ke 6,500), maka IHSG seharusnya berada di level yang jauh lebih rendah dibanding posisinya sekarang, mungkin sekitar 5,250 atau lebih rendah lagi. Karena pada tahun 2015 lalu ketika hampir semua saham baik itu big maupun small caps berjatuhan (pada tahun 2015 tersebut, beberapa saham big caps seperti ASII, BBNI, BMRI, bahkan sampai KLBF, rata-rata turun 20%), maka IHSG ketika itu jeblok 12.1% ke level 4,569. Namun pada tahun 2017 ini kita menyaksikan situasi yang sepenuhnya berbeda, dimana saham-saham mid and small caps cenderung turun (meski memang gak semuanya, karena ada juga saham-saham kecil yang naik banyak), tapi saham big caps dikerek naik semua (big caps banking seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, sepanjang 2017 ini sudah melompat sampai 30 – 50%), dan ternyata hasilnya IHSG tetap naik cukup signifikan.
    Okay, lalu bagaimana kira-kira dengan 2018 nanti? Yah, we’ll see lah!

    Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Prospek ANTM, TINS, PTBA Pasca Pembentukan Holding Tambang

    Pada Rabu, 29 November kemarin, tiga BUMN tambang yakni PT Aneka Tambang (ANTM), PT Timah (TINS), dan PT Bukit Asam (PTBA), secara hampir bersamaan (hanya beda jam) menyelenggarakan RUPS untuk menyetujui rencana pembentukan perusahaan holding tambang, dimana saham milik pemerintah di ketiga perusahaan (hanya saham milik pemerintah saja, jadi saham milik investor publik tetap dimiliki oleh publik/ketiga perusahaan tersebut tetap berstatus Tbk) semuanya dialihkan ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum). Dengan demikian Pemerintah sekarang memiliki satu perusahaan tambang yang besar, yang merupakan gabungan dari Inalum, ANTM, TINS, dan PTBA, dimana Inalum menjadi induk (holding) dari tiga perusahaan lainnya.

    Pertanyaannya, apa tujuan dari pembentukan holding tambang ini? Apa benefitnya bagi ANTM, TINS, PTBA, dan juga Inalum itu sendiri? Dan kenapa Inalum yang dijadikan holding?
    Cerita pembentukan holding tambang ini berawal ketika pada Agustus 2017, Pemerintah melalui Kementerian ESDM sukses memaksa Freeport McMoran Corp (FCX), induk dari PT Freeport McMoran Indonesia (FMI), untuk menjual 51% saham FMI ke pihak nasional Indonesia. Problemnya, FCX meminta harga yang tidak kecil, yakni US$ 4 milyar atau sekitar Rp54 trilyun. Dan meski harga tersebut masih di-negosiasikan untuk turun, tapi tetap saja selisihnya tidak akan terlalu jauh. Yup, jadi berbeda dengan kalau anda beli saham sebuah perusahaan secara ritel alias minoritas, maka anda mungkin bisa dapet harga murah, tergantung harga saham perusahaan tersebut di market (jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan Tbk). Tapi kalau anda membeli sahamnya secara mayoritas alias mengakuisisinya, maka harga belinya adalah harga premium.
    Nah, berdasarkan undang-undang, kalau ada perusahaan asing yang melepas aset mereka di Indonesia, maka yang berhak mengakuisisinya adalah (diurutkan sesuai prioritas): 1. Pemerintah Pusat, 2. Pemerintah Daerah, 3. BUMN, 4. BUMD, 5. Swasta nasional. Namun dalam banyak kasus divestasi saham oleh perusahaan asing, Pemerintah pusat ataupun daerah biasanya gak mau ambil pusing dan langsung menyerahkan peluang akuisisi tersebut kepada swasta nasional. Sebab ketika Pemerintah hendak mengakuisisi sebuah perusahaan, maka artinya mereka harus keluar dana APBN (atau APBD, kalau Pemerintah daerah) untuk biaya akuisisinya, dan itu artinya harus nego lagi sama DPR (atau DPRD), dimana prosesnya bakal berkepanjangan/bisa nggak kelar-kelar karena terlalu banyak tawar menawar politik. Tapi kalau peluang akuisisi tersebut langsung dilempar ke swasta, maka soal pembiayaan, termasuk soal pengelolaan perusahaan yang diakuisisi menjadi urusan perusahaan swasta tersebut, sehingga para penentu kebijakan di Pemerintah tinggal duduk santai terima komisi serta royalti. Contoh terakhir, ketika Newmont Corp. melepas saham mereka di PT Newmont Nusa Tenggara, maka perusahaan swasta lokal yang beruntung bisa mengakuisisinya adalah Medco Energi (MEDC).
    However, ketika perusahaan swasta asing menjual aset mereka di Indonesia, tapi yang menampung adalah swasta lokal (sementara pejabatnya cuma jadi makelar), maka negara sejatinya nggak dapet apa-apa. Jadi terkait divestasi Freeport, kali ini Pemerintah ngotot untuk mengakuisisinya sendiri. Tapi balik lagi, kalau Pemerintah langsung yang ambil maka prosesnya bakal ribet dan bahkan bisa bermasalah (misalnya ada oknum pejabat yang korupsi dalam proses akuisisinya).
    Terus solusinya bagaimana? Ya kalau gitu FMI bisa diakuisisi oleh BUMN saja, dalam hal ini BUMN tambang (karena FMI memang merupakan perusahaan tambang). Bonusnya adalah, selain proses pendanaan akuisisinya jadi lebih simpel (cukup menggelar RUPS saja, jadi gak usah menggelar sidang istimewa DPR atau semacamnya), keberadaan tim manajemen di BUMN tambang tersebut tentunya akan membantu pengelolaan FMI, dibanding jika FMI diambil langsung oleh Pemerintah sehingga gak jelas nanti yang mengelola FMI ini siapa. FYI, setelah diakuisisi, jajaran direksi serta komisaris di FMI biasanya akan diganti semua, tapi kalau yang mengakuisisi FMI ini adalah Pemerintah langsung, maka orang-orang baru yang menempati posisi direktur dan komisaris ini bisa jadi tidak kompeten/hanya titipan dari para politisi di DPR, atau politisi itu sendiri. Dan kalau gitu caranya, maka kinerja FMI (yang kemudian/sekarang berstatus sebagai BUMN) kemungkinan justru bakal amburadul, dimana perusahaan bukannya menghasilkan keuntungan/dividen bagi negara, melainkan justru ngabisin duit negara (dalam bentuk subsidi, atau tambahan setoran modal).
    Jadi sekali lagi, FMI bisa diakuisisi oleh BUMN saja. Toh BUMN ini juga tetap dimiliki oleh Pemerintah. Problemnya sekarang, BUMN tambang mana yang punya duit Rp54 trilyun? BUMN tambang terbesar, yakni ANTM, asetnya hanya Rp30.7 trilyun, jadi kalau misalnya ANTM mengajukan pinjaman ke bank juga bakal sulit, karena aset yang tersedia tidak cukup sebagai collateral. Tapi, hey, bukankah BUMN tambang di Indonesia bukan cuma ANTM, melainkan ada juga TINS, PTBA, dan Inalum? Jadi bagaimana kalau keempat perusahaan tambang ini digabung saja? Sekedar info, per Kuartal III 2017, total aset ANTM adalah Rp30.7 trilyun, TINS Rp11.6 trilyun, dan PTBA Rp19.5 trilyun. Untuk Inalum, per akhir tahun 2015, total asetnya adalah US$ US$ 1.13 milyar atau Rp14.7 trilyun. Jadi kalau ini semua digabung, maka secara kasar total aset yang terkumpul adalah Rp76.5 trilyun, atau sudah lebih besar dibanding harga akuisisi FMI yang Rp54 trilyun tadi. Inalum kemudian bisa mengajukan pinjaman ke Bank BUMN, yang juga dimiliki oleh Pemerintah (so in the end, duitnya nggak kemana-mana).
    Okay, lalu kenapa Inalum yang dijadikan perusahaan induk? Kenapa bukan ANTM, misalnya? Ada dua alasan. Pertama, pengalihan saham Pemerintah dari ANTM, TINS, dan PTBA ke Inalum ini kan seperti mindahin duit dari kantong kanan ke kantong kiri, dimana saham Pemerintah di tiga perusahaan tambang tersebut akan tetap dimiliki sepenuhnya oleh Pemerintah, hanya sekarang dipegangnya melalui Inalum (jadi tiga BUMN tersebut sama sekali nggak dijual seperti yang disebut dalam rumor-rumor sesat yang beredar). Lalu kenapa Inalum yang dipilih sebagai induk? Karena berbeda dengan ANTM, TINS, dan PTBA dimana sebagian sahamnya dimiliki oleh investor publik, saham Inalum 100% dimiliki oleh Pemerintah. Jadi kalau yang dijadikan induk adalah PTBA, misalnya, dimana PTBA ini kemudian ‘mengakuisisi’ ANTM, TINS, dan Inalum, maka itu artinya Pemerintah secara sukarela menyerahkan sebagian saham mereka di tiga BUMN tambang tersebut kepada investor publik yang juga menjadi pemegang saham di PTBA. Dan kalo gitu caranya maka bukan lagi ‘mindahin duit dari kantong kanan ke kantong kiri’, karena ada sebagian saham milik pemerintah di tiga perusahaan yang diakuisisi, yang tidak lagi dikuasai oleh pemerintah.
    Kedua, secara kinerja fundamental, Inalum relatif yang terbaik diantara keempat BUMN tambang yang digabung. Yup, meski terus saja merugi di masa lalu, namun sejak tahun 2011 sampai 2015 (dan kemungkinan sampai sekarang) Inalum secara konsisten membukukan laba bersih dan juga rutin membayar dividen. Actually, kinerja PTBA lebih bagus dibanding Inalum (ROE-nya lebih besar), tapi itu karena PTBA merupakan perusahaan batubara yang kerjanya ‘tinggal gali lalu jual’, jadi beda dengan Inalum yang kerjanya lebih rumit karena merupakan perusahaan hilir (gali bauksit, lalu diolah menjadi alumina, lalu diolah lebih lanjut menjadi alumunium ingot, baru dijual). Jadi harapannya adalah, dengan manajemen Inalum sebagai pengurus baru di Freeport, maka kinerja FMI akan tetap bagus seperti biasanya, dan akan benar-benar bisa berkontribusi bagi negara (dalam bentuk pajak, royalti, dan dividen). Berikut adalah ringkasan kinerja Inalum di tahun 2011 – 2015, angka dalam jutaan Dollar kecuali disebutkan lain. Sebelumnya mungkin perlu dicatat bahwa harga jual alumunium di pasar internasional cenderung turun dari tahun 2011 hingga 2015, dan baru naik lagi pada tahun 2016.
    Year
    2011
    2012
    2013
    2014
    2015
    Revenue
    579.7
    511.8
    521.1
    632.5
    490.6
    Net Income
    57.9
    17.5
    64.0
    156.7
    79.0
    Equity
    1,020.1
    962.5
    988.2
    982.7
    1,059.0
    ROE (%)
    5.7
    1.8
    6.5
    15.9
    7.5
    Okay, lalu bagaimana dampak akuisisi Freeport serta pembentukan holding BUMN tambang ini terhadap kinerja ANTM, TINS, dan PTBA? Well, karena yang nantinya akan mengakuisisi FMI adalah Inalum, maka yang dapet cuannya ya Inalum ini, dan sayangnya Inalum bukan perusahaan Tbk. Namun demikian, karena FMI nantinya akan menjadi ‘sister company’ bagi ANTM, TINS, dan juga PTBA, maka diharapkan bahwa FMI bisa bersinergi/transfer teknologi dengan ketiga perusahaan untuk sama-sama menghasilkan kinerja yang lebih baik di masa yang akan datang. Kemudian FMI itu sendiri mungkin akan menggelar IPO sehingga investor publik bisa ikut memiliki sahamnya (kalau Inalum-nya sendiri kayanya gak bakal IPO karena posisinya sekarang menjadi strategis, sama seperti Pertamina dan PLN), dan terus terang penulis sudah tunggu-tunggu itu dari dulu. Okay, dengan berpindahnya FMI dari Freeport Corp ke Pemerintah melalui Inalum, maka itu bukan jaminan bahwa kinerja perusahaan bakal tetap profit, karena nyatanya kinerja ANTM dan TINS juga masih acakadut, dan anggota direksi Inalum juga gak dijamin bebas dari titipan politisi. Tapi yah, itu masih lebih bagus dibanding jika Freeport ini jatuh ke tangan Bakrie bukan?
    Untuk artikel minggu depan, any ideas?

    Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Siklus Krisis 10 Tahunan?

    Salah satu topik yang paling sering dibicarakan di komunitas investor pasar modal adalah, kapan kira-kira terjadi krisis lagi? Dan sejak beberapa tahun lalu sudah muncul anggapan akan adanya ‘siklus krisis 10 tahunan’. Yup, berhubung krisis besar yang masih diingat semua orang adalah krisis moneter 1998 dan juga krisis global 2008, dimana kedua krisis tersebut terjadi dalam selang waktu 10 tahun, maka secara simpelnya krisis berikutnya akan terjadi 10 tahun setelah 2008, alias tahun 2018. Pertanyaannya, benarkah pada tahun 2018, alias tahun depan, akan kembali terjadi krisis?

    Untuk mencoba menjawab pertanyaan diatas maka kita terlebih dahulu perlu menjawab dua pertanyaan berikut. Pertama, benarkah ada siklus yang disebut dengan ‘siklus krisis 10 tahunan’ tersebut? Dan kedua, apakah pada saat ini sudah tampak atau terdapat tanda-tanda menuju terjadinya krisis? Okay, kita langsung saja.
    Terkait siklus krisis 10 tahunan, penulis termasuk yang berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada siklus seperti itu. Yes, Indonesia, seperti juga negara-negara lainnya di seluruh dunia, akan mengalami pasang surut secara ekonomi, dimana Indonesia akan mengalami periode economic booming di satu waktu, dan periode krisis di waktu yang lain. Namun jangka waktu antara satu krisis dengan krisis berikutnya sama sekali tidak tentu.
    Nah, jadi sekarang coba anda googling lagi: Apakah pada tahun 1988 terjadi krisis, entah itu di Indonesia ataupun negara lainnya? Demikian pula dengan tahun 1978, 1968, dan seterusnya, apakah juga terjadi krisis? Faktanya adalah, Indonesia justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di penghujung dekade 80-an dan awal 90-an, termasuk jumlah perusahaan Tbk di BEI juga meningkat pesat dari hanya 24 di tahun 1987, menjadi 37 di tahun 1989 (dan kembali meningkat di tahun-tahun selanjutnya). Tidak ada data soal bagaimana pergerakan IHSG di tahun 1988, tapi kalau melihat kondisi ekonomi ketika itu yang fine-fine saja, maka seharusnya IHSG di tahun tersebut bergerak secara normal alias naik. Memang pada tahun 1987, Bursa Saham Amerika sempat mengalami crash dimana Dow Jones sempat drop 22.6% dalam seharidi bulan Oktober (silahkan googling ‘Black Monday 1987’), yang disusul oleh kejatuhan indeks-indeks saham lainnya di seluruh dunia. Tapi justru di tahun 1988 alias setahun kemudian, Dow kembali naik kencang, dan kekhawatiran akan terjadinya krisis besar ternyata tidak pernah terjadi.
    Jadi kalau berdasarkan fakta historis, maka sulit untuk mengatakan bahwa benar ada siklus krisis 10 tahunan. Di Indonesia, krisis besar yang terjadi sebelum krisis tahun 1998 adalah krisis di tahun 1963 – 1966, atau 32 tahun sebelumnya (silahkan tanya orang tua/kakek nenek anda, seperti apa susahnya mereka di tahun 60-an). Dan kalau yang dimaksud dengan ‘krisis’ itu adalah sekedar kejatuhan bursa saham/IHSG, maka baru saja di tahun 2015 kemarin Indonesia sejatinya sudah mengalami krisis, dimana IHSG drop 12.1% (dan memang kondisi ekonomi dan bisnis di tahun tersebut terasa agak seret). Kemudian, krisis moneter 1998 itu juga sebenarnya sudah terjadi sejak tahun sebelumnya alias 1997, dimana pada tahun tersebut IHSG jeblok 44.3% (jadi jika dihitung dari tahun 1997 ke 2008, maka siklusnya bukan 10 tahun, melainkan 11 tahun).
    Sementara di Amerika Serikat, yang merupakan negara paling maju dalam bidang industri finansial dan juga pasar saham, disana sudah rutin terjadi krisis ekonomi yang signifikan setiap beberapa tahun sekali sejak New York Stock Exchange berdiri di tahun 1817, tapi jangka waktu antara satu krisis ke krisis lainnya terbilang tidak tentu, paling dekat 5 – 6 tahun, dan paling jauh sekitar 20 tahun. Malahan pasca krisis besar di tahun 1930-an, yang dikenal dengan istilah great depression, maka krisis besar selanjutnya baru terjadi lama kemudian yakni di tahun 1970-an. Anda bisa lihat daftar lengkapnya di artikel Wikipedia disini.
    Dua Pertanda Krisis: Economic Bubble dan Overleveraged
    Itu pertama soal siklus krisis 10 tahunan. Kedua, terlepas dari ada atau tidaknya siklus tersebut, apakah pada saat ini sudah tampak atau terdapat tanda-tanda menuju terjadinya krisis? Analoginya adalah sama seperti kondisi cuaca: Jika langit tiba-tiba gelap dan mendung, maka kita bisa simpulkan bahwa sebentar lagi bakal turun hujan. Nah, jika kita ibaratkan hujan ini dengan krisis ekonomi atau kejatuhan bursa saham, maka apakah sekarang ini sudah tampak mendung-nya? Dalam hal ini ada beberapa hal yang penulis perhatikan.
    Pertama, seperti yang mungkin sudah anda perhatikan, sejak koreksi besar di bulan Agustus – September 2015 lalu, IHSG sampai sekarang alias dua tahun kemudian masih belum mengalami koreksi lagi. Padahal biasanya IHSG mengalami koreksi dengan turun setidaknya 5 – 10% dari posisi tertingginya, minimal satu kali dalam setahun (biasanya di bulan Mei, atau Agustus). Awalnya penulis kira fenomena ini hanya terjadi di Indonesia, tapi ternyata kondisi yang sama juga terjadi di Amerika Serikat: Sudah dua tahun terakhir ini indeks Dow Jones, Nasdaq, dan S&P terus naik tanpa koreksi yang berarti, terutama karena didorong oleh kenaikan saham-saham berbasis teknologi (Apple, Amazon, Facebook, dst), dan alhasil tokoh-tokoh technopreneur seperti Jeff Bezos dan Mark Z. tiba-tiba saja nongol di puncak daftar orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes, mengalahkan nama-nama beken seperti Om Bill dan Opa Warren.
    Dan meski penulis tidak tahu bagaimana valuasi saham-saham di Amerika pada saat ini (apakah sudah terlalu mahal atau belum), namun kondisi ini mengingatkan penulis dengan dot com bubble di tahun 1999 – 2000, dimana bursa saham Amerika mengalami kejatuhan setelah sebelumnya terus naik karena didorong oleh kenaikan saham-saham perusahaan internet. Indikasi bubble itu juga tampak dari kenaikan harga bitcoin, mata uang digital yang tentu saja tidak memiliki nilai riil seperti halnya mata uang sungguhan, tapi dalam setahun terakhir ini harganya tiba-tiba saja melompat dari US$ 700 menjadi lebih dari US$ 9,500 per unit, atau naik lebih dari sepuluh kali lipat. Penulis tentu saja tidak tahu apakah kenaikan tersebut akan berlanjut, atau justru bitcoin ini besok-besok akan jeblok lagi, tapi yang jelas kenaikan harga yang luar biasa tersebut telah menarik minat dari banyak spekulan dan juga investor sungguhan, termasuk para fund manager global, untuk ikut membeli bitcoin ini. Alhasil, ketika nanti tiba waktunya bitcoin ini turun kembali (itu bisa terjadi cepat atau lambat), maka kerugian yang terjadi tidak akan akan sedikit, dan itu bisa mengguncang pasar keuangan global secara keseluruhan, termasuk di Indonesia.
    Kedua, diluar faktor bubble, kondisi krisis biasanya berawal diawali oleh kelewat besarnya nilai utang yang ditanggung oleh perusahaan-perusahaan swasta dan juga pemerintah, istilahnya overleveraged. Pada puncak booming kredit real estate di Amerika di tahun 2005 – 2007, perusahaan-perusahaan perbankan dan pembiayaan di Amerika berani mengambil utang dalam jumlah yang gila-gilaan untuk kemudian disalurkan kembali dalam bentuk kredit mortgage, karena adanya anggapan bahwa bisnis properti/real estate adalah bisnis yang sangat aman (harga properti gak bakal turun!). Termasuk Lehman Brothers, salah satu perusahaan investment bank terbesar di Amerika (dan juga dunia), turut bergabung dalam booming real estate ini hingga perusahaan, pada satu titik, harus menanggung utang total US$ 619 milyar, sementara ekuitasnya hanya US$ 20 milyar. Ini artinya kalau pasar kredit real estate mengalami penurunan 3 – 4% saja, maka nilai aset bersih Lehman akan tersapu habis sama sekali, alias bangkrut.
    Dan sayangnya pada tahun 2008 memang itulah yang terjadi: Mulai banyak terjadi kasus kredit macet, pasar real estate di Amerika mulai lesu, dan Lehman Brothers tanpa ampun langsung bangkrut. Dan kalau bukan karena intervensi dari Pemerintah (coba anda googling ‘Freddie Mac’ dan ‘Fannie Mae’), maka kebangkrutan Lehman bisa merembet ke krisis yang lebih besar. Beruntung, itu tidak terjadi, dan memasuki tahun 2011 ekonomi Amerika mulai pulih lagi.
    Balik lagi ke soal overleveraged. Jadi penyebab krisis global 2008 adalah karena faktor utang, atau sama seperti ketika Indonesia mengalami krisis di tahun 1997 – 1998, yang juga karena utang. Pada tahun 1997, rasio total utang Pemerintah dan swasta di Indonesia mencapai sekitar 80 – 90% dari nilai produk domestik bruto (PDB), yang melonjak menjadi 150% di tahun 1998 setelah nilai tukar Rupiah anjlok (sebab mayoritas dari utang tersebut merupakan utang Dollar), dan hasilnya adalah krisis moneter. Pada tahun 2008, rasio utang Pemerintah Indonesia dan swasta terhadap PDB terbilang jauh lebih aman yakni hanya 33.2%, dan alhasil Indonesia tidak terlalu terdampak oleh krisis global yang terjadi di Amerika. I mean, coba anda ingat-ingat lagi: Di tahun 1997 – 1998, harga-harga kebutuhan pokok semuanya naik, dan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dimana-mana, termasuk terjadi bank rush (masih inget rusuh Bank BCA?). Tapi di tahun 2008, harga sembako tetap aman terkendali bukan? Dan hampir gak ada pekerja yang di-PHK, apalagi sampai terjadi bank rush.

    Kapan ente ‘rush’ lagi??

    Tapi kenapa IHSG di tahun 2008 itu sampai jatuh lebih dari 50%? Well, itu karena ada banyak investor/trader yang beli saham pake utang/margin, dan mereka pada kena forced sell semua, belum lagi ada banyak orang yang pake fasilitas short sell. Pada jaman itu, jika anda memiliki dana Rp100 juta di rekening, maka anda bisa meminjam/pake margin hingga maksimal Rp300 juta dari sekuritas (sehingga total modalnya jadi Rp400 juta, tergantung kebijakan sekuritasnya). Jadi meski perekonomian Indonesia secara umum tidak mengalami overleveraged, tapi di pasar saham overleveraged itu tetap terjadi, dan itulah yang menyebabkan kejatuhan IHSG ketika itu.
    Okay, lalu bagaimana dengan kondisi jaman now? Nah, kabar baiknya, hingga tahun 2016 kemarin, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih relatif aman di level 27.9%, atau lebih rendah dibanding 2008 (dan jauh lebih rendah dibanding 1997 – 1998). Demikian pula kalau anda cek laporan keuangan dari sepuluh perusahaan non-perbankan terbesar di BEI, yang rata-rata mencatat debt to equity ratio (DER) hanya 1 kali. Sementara untuk empat bank terbesar di tanah air yakni BRI, Mandiri, BCA, dan BNI, rata-rata membukukan capital adequacy ratio (CAR) 19 – 20%, atau jauuuh lebih aman dibanding contoh kasus Lehman Brothers diatas. Thanks to kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sejak tahun 2012 lalu, yang meski itu membuat pasar kredit perbankan, properti, hingga kredit kendaraan bermotor jadi lesu (karena orang jadi gak bisa spekulasi lagi, misalnya beli apartemen tanpa modal/pake utang bank), tapi itu mencegah terjadinya bubble dan mengurangi risiko kredit macet. Sementara di pasar sahamnya sendiri, BEI sebagai regulator terus memperbaharui dan menyempurnakan peraturan terkait penggunaan margin, dan alhasil, anda boleh tanya broker anda di sekuritas, sekarang ini nggak banyak orang yang beli saham pake margin, dan kasus forced sell juga lebih jarang terjadi.
    Jadi kesimpulannya, kalau dilihat dari aspek leverage maka Indonesia, termasuk pasar sahamnya, terbilang no problem. Namun dari aspek kemungkinan terjadinya bubble, maka perkembangan yang terjadi diluar negeri, termasuk cerita bitcoin diatas, mungkin bisa saja berujung pada terjadinya krisis, atau setidaknya koreksi di pasar saham. Karena disisi lain, meski penulis ragu apakah pasar saham Indonesia sudah mencapai titik bubble atau belum, tapi valuasi saham-saham di BEI sekarang ini tidak bisa disebut murah juga, dimana saham-saham big caps sudah dihargai pada PBV 3 – 4 kali atau lebih tinggi lagi. Sebagai perbandingan, ketika saham Lehman Brothers berada di titik tertingginya di tahun 2007 yakni US$ 86, market cap-nya mencapai US$ 60 milyar, yang merefleksikan PBV 3.0 kali, dan PER 14.3 kali. Jadi maksud penulis adalah, okay, kita hampir tidak mungkin akan melihat Bank Mandiri atau BCA bangkrut dalam waktu dekat, karena mereka tidak punya utang sebesar Lehman. Tapi kalau sekedar penurunan harga sahamnya, yang kemudian menyebabkan penurunan IHSG, maka itu mungkin saja bukan?
    Jadi yah, mari kita lihat lagi beberapa bulan dari sekarang. Dan jangan khawatir, kalau nanti penulis melihat ada ‘something wrong’, atau ‘mendung’ yang terjadi semakin bertambah gelap, maka tulisan dengan tema ‘krisis’ ini akan di-update kembali.
    Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Seminar Value Investing, Bali, 9 Des 2017

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Cara Santai Dalam Menghasilkan Uang di Pasar Saham’, di Bali. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bali dan sekitarnya (atau dari kota lain juga boleh hadir, sekalian liburan). Berikut keterangan selengkapnya:

    Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas kali ini:
    1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santainamun sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Bapak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
    2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
    3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
    4. Cara untuk menemukan saham yang berpotensi naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun!
    5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
    Bonus Materi:
    1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
    2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2018.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
    1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
    2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the marketdalam jangka panjang, dan
    3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
    Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    • Tempat: Hotel Rivavi, Jln. Melasti No.1, Legian Kuta, Bali
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 9 Desember 2017
    • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
    • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Bali, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi kalau mau kirim bukti transfer juga boleh).
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Bonus:
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
    Penulis bersama teman-teman peserta kelas value investing, Jakarta, 28 Okt 2017
    Komentar Alumni
    Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luar biasa sekali..
    Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
    Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalau dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
    Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
    Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
    Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
    Merci..
    Widya Olivia – Jakarta

    Catatan: Penulis (Teguh Hidayat) akan berada di Bali dan Lombok antara tanggal 9 – 20 Desember 2017. Jadi bagi anda yang tinggal di Bali dan mungkin tertarik untuk ikut kelas private value investing, baca keterangan selengkapnya [...]

    Stocksplit, & Pengaruhnya ke Harga Saham

    Stocksplit, atau secara harfiah bermakna ‘pemecahan saham’, adalah aksi korporasi dimana perusahaan memecah/membelah saham beredarnya hingga jumlah saham tersebut menjadi lebih banyak, tanpa menambah ataupun mengurangi nilai dari saham itu sendiri. Untuk kalimat terakhir mungkin perlu digaris bawahi, karena seringkali investor bingung terkait apakah stocksplit ini membuat sebuah saham jadi lebih menarik/prospektif, atau justru sebaliknya harus dihindari karena nilainya (atau harganya yang tertera di market) turun.

    Analogi stocksplit ini adalah seperti kalau anda punya satu lembar uang senilai Rp10,000, dan anda kemudian pergi ke warung untuk menukar uang tersebut dengan pecahan Rp2,000. Jadi sekarang anda memegang lima lembar uang (dari sebelumnya hanya satu lembar), masing-masing senilai Rp2,000. Lalu berapa total uang yang anda miliki? Ya tetap Rp10,000, alias gak berubah sama sekali. Bedanya sekarang anda memegang lima lembar uang pecahan Rp2,000, dari sebelumnya hanya satu lembar uang pecahan Rp10,000.
    Jadi kalau misalnya anda memegang 10 lot (1,000 lembar) saham Bank BRI (BBRI), dan harganya di market adalah 15,000, maka total nilai saham yang anda miliki adalah Rp15,000 dikali 1,000 lembar, sama dengan Rp15 juta. Kemudian karena Bank BRI melakukan stocksplit dengan rasio  1:5, maka harga sahamnya sekarang menjadi 3,000 (15,000 dibagi 5), tapi disisi lain jumlah saham yang anda miliki meningkat dari 10 menjadi 50 lot (10 lot dikali 5). Jadi berapa nilai saham BBRI yang anda miliki sekarang? Ya gak berubah, yakni Rp3,000 dikali 5,000 lembar, sama dengan Rp15 juta.
    Untuk penjelasan diatas, investor pemula sekalipun seharusnya sudah bisa memahaminya, karena untuk hal-hal teknis seperti itu (jadi bukan analisis saham) maka broker di sekuritas tempat anda membuka rekening seharusnya bisa menjelaskan. Tapi jika anda termasuk yang kaget ketika BBRI, atau saham lainnya, tiba-tiba harganya anjlok dari 15,000 menjadi 3,000 hanya dalam semalam, maka anda sekarang sudah mengerti penyebabnya: Itu karena perusahaan yang bersangkutan melakukan stocksplit, dan itu, sekali lagi, tidak mengubah total nilai saham yang dipegang oleh tiap-tiap investor, karena penurunan harga yang terjadi diimbangi oleh kenaikan jumlah lot saham yang dimiliki si investor tersebut.
    Pertanyaannya sekarang, kenapa perusahaan melakukan stocksplit? Apa benefitnya bagi perusahaan atau investor pemegang sahamnya? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap prospek dari saham itu sendiri? Apakah saham yang stocksplit kemudian bakal terbang dalam waktu dekat, misalnya?
    Secara fundamental, stocksplit tidak berpengaruh apapun terhadap kinerja keuangan perusahaan, baik itu terhadap kinerja perusahaan pada saat ini maupun outlook/prospeknya di masa yang akan datang. Sebuah perusahaan tidak akan menjadi lebih berpeluang untuk membukukan kenaikan laba yang lebih tinggi di masa depan, misalnya, hanya karena sahamnya dipecah. Demikian pula valuasi PBV dan PER saham yang stocksplit tidak akan berubah/menjadi lebih murah hanya karena harga sahamnya di market (tampak) turun, karena sekali lagi, penurunan harga yang terjadi diimbangi oleh kenaikan jumlah saham yang beredar di pasar. Jadi dalam hal ini anda harus hati-hati kalau melihat data di sekuritas atau website tertentu dimana PBV dan PER sebuah saham tiba-tiba jadi tampak kecil, karena bisa jadi perusahaan yang bersangkutan melakukan stocksplit, sementara datanya di sekuritas tersebut belum di-update (and btw karena alasan ini pula, penulis tidak pernah menganalisis saham menggunakan ‘data matang’ dari sekuritas atau pihak ketiga lainnya, melainkan kita selalu membaca langsung laporan keuangan emiten dan menghitung semua rasio-rasio secara manual. That’s our job, that’s what we do).
    Namun terhadap naik turun sahamnya, maka barulah stocksplit ini berpengaruh, setidaknya dalam jangka pendek. Jadi begini: Salah satu pertimbangan investor dalam membeli saham adalah terkait likuiditas dari saham yang bersangkutan, dimana investor manapun umumnya lebih suka saham yang likuid dibanding yang tidak. Ini menyebabkan perusahaan-perusahaan tertentu yang meski berfundamental bagus/laporan keuangannya profit terus, tapi harga sahamnya di pasar seringkali lebih rendah/tidak mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya, dan itu hanya karena sahamnya tidak likuid, sehingga investor kurang berminat. Sebab disisi lain analis-analis sekuritas juga biasanya hanya meng-cover/merekomendasikan saham-saham yang ramai diperdagangkan saja, sehingga saham-saham yang tidak likuid ini akhirnya luput dari perhatian.
    Tapi setelah perusahaan melakukan stocksplit, entah itu dalam rasio 1:2, 1:4, 1:5, atau bahkan 1:10, maka diharapkan bahwa sahamnya kemudian akan menjadi lebih likuid, karena harga nominal saham yang bersangkutan menjadi lebih terjangkau termasuk oleh investor ritel dengan modal kecil sekalipun. Contoh saham Astra International (ASII), yang pada tahun 2012 lalu melakukan stocksplit dengan rasio 1:10. Sebelum stocksplit, harga saham ASII adalah 60,000, dan pada tahun 2012 tersebut 1 lot saham adalah setara 500 lembar (1 lot saham baru berubah menjadi 100 lembar sejak tahun 2014). Itu artinya seorang investor harus keluar duit Rp60,000 dikali 500 lembar, sama dengan Rp30 juta, hanya untuk membeli saham ASII sebanyak 1 lot saja! Lah kalo gitu maka gimana caranya investor yang hanya katakanlah memiliki Rp10 juta di rekeningnya bisa membeli ASII? Sebab anda tidak mungkin membeli saham hanya sebanyak setengah lot saja. Minimal ya satu lot, atau kelipatannya.

    Padahal sangat mungkin diluar sana ada banyak investor yang, meski dananya terbatas, namun mereka sangat berminat untuk memiliki ASII ini barang 1 lot. Karena itulah, ASII kemudian melakukan stocksplit, dan BEI sendiri kemudian mengubah peraturan perdagangan dimana 1 lot menjadi setara 100 lembar saham (dari tadinya 500 lembar). Jadi sekarang minimum dana yang dibutuhkan untuk membeli 1 lot ASII adalah Rp6,000 dikali 100 lembar, sama dengan Rp600,000 saja. Nah, dengan demikian harga saham ASII secara nominal menjadi terjangkau oleh semua orang, dan investor yang sejak awal memang berminat dengan ASII ini sekarang bisa ramai-ramai membelinya. Alhasil, saham ASII di market akan menjadi lebih likuid. Dan ketika sebuah saham menjadi lebih likuid dari sebelumnya, maka peminatnya juga akan menjadi lebih banyak lagi, dan sahamnya bisa naik tinggi. Ketika saham ASII diperdagangkan untuk pertama kalinya pada harga pasca stocksplit, pada tanggal 6 Juni 2012 lalu, sahamnya melonjak signifikan ke posisi 6,600.
    Dalam Jangka Panjang: Balik Lagi ke Fundamental
    Jadi secara teori, stocksplit akan menyebabkan sebuah saham menjadi lebih likuid, sehingga peminatnya lebih banyak, and eventually harga sahamnya di market akan menjadi lebih mencerminkan fundamental perusahaan. Yup, jadi tujuan akhirnya bukanlah agar ‘sahamnya naik’, melainkan agar ‘naik turun sahamnya lebih selaras dengan kinerja fundamental perusahaan’. Jadi kalo misalnya perusahaan memiliki kinerja yang kurang bagus, maka ya sahamnya gak akan naik bahkan meski dilakukan stocksplit. Contoh, tahun 2011 lalu ketika sedang puncak booming batubara, Resource Alam Indonesia (KKGI) melakukan stocksplit dengan rasio 1:4, sehingga jumlah saham beredarnya naik dari 250 juta lembar menjadi 1 milyar lembar, sementara harga sahamnya turun dari 4,000 menjadi 1,000. Tak lama kemudian KKGI melompat ke 1,700 setelah perusahaan membukukan ROE lebih dari 60% di laporan keuangannya, dan selanjutnya terus saja naik hingga menyentuh 8,000, satu setengah tahun kemudian.
    Tapi setelah itu harga batubara mulai turun, perusahaan-perusahaan batubara mulai kocar kacir, dan saham KKGI itu sendiri kemudian turun terus hingga ke posisi 700-an, pada awal 2016 lalu. Memasuki penghujung 2016, harga batubara mulai naik, dan saham KKGI mulai naik lagi hingga sempat menembus 2,500 pada Februari 2017. Di bulan berikutnya yakni Maret 2017, KKGI stocksplit lagi, kali ini dengan rasio 1:5, sehingga jumlah saham beredarnya meningkat dari 1 menjadi 5 milyar lembar, sementara harga sahamnya jadi 500 (dari tadinya 2,500). Tapi apakah setelah itu saham KKGI naik? Ternyata tidak: Hingga Kuartal III 2017 kemarin, KKGI masih membukukan penurunan pendapatan ketika mayoritas perusahaan batubara lainnya membukukan kenaikan, dan alhasil sahamnya gak kemana-mana/cenderung turun hingga ke posisi 300-an.
    Jadi sekali lagi, meski suatu saham bisa naik dengan cepat tak lama setelah stocksplit (atau bahkan sebelumnya), yakni karena sahamnya diborong oleh investor tertentu yang sejak awal hendak masuk tapi terbentur oleh seretnya likuiditas dari saham yang bersangkutan, atau karena minimnya dana (contohnya balik lagi ke ASII diatas), tapi dalam jangka panjang, pada akhirnya orang tetap akan melihat kinerja perusahaan. Disisi lain, berdasarkan pengamatan penulis selama ini, kalo sebuah perusahaan memang memiliki kinerja fundamental diatas rata-rata, maka meski sahamnya dalam jangka pendek kadang-kadang seperti susah naik (atau malah turun), tapi dalam jangka panjang tetap akan naik signifikan bahkan meski tanpa stocksplit. Pada Juni 2012 lalu, yakni ketika perusahaan melakukan stocksplit, ASII berada di level 6,600. Dan berapa harga saham ASII sekarang? Sudah naik ke 8,200, tapi total gain yang hanya sebesar 24.2% dalam waktu lima tahun tentu saja bukanlah profit yang memuaskan. Sementara itu, lima tahun yang lalu, saham Unilever Indonesia (UNVR) masih berada di level 22,000. Dan berapa UNVR sekarang? Sudah tembus 50,000, atau naik jauh lebih tinggi dibanding ASII pada periode waktu yang sama, padahal UNVR sampai sekarang belum pernah stocksplit lagi. Got it?
    Nah, jadi mari kita balik lagi ke pertanyaan diatas: Kenapa perusahaan melakukan stocksplit? Salah satunya agar sahamnya lebih likuid, sehingga naik turun harganya lebih mencerminkan fundamental perusahaan, termasuk dalam jangka pendek. Apa benefitnya bagi perusahaan atau investor pemegang sahamnya? Terkait fundamental perusahaannya, tidak ada benefit apapun. Sebuah perusahaan tidak akan menjadi lebih berpeluang untuk membukukan laba bersih yang lebih besar di masa yang akan datang hanya karena stocksplit. Dan bagaimana pengaruhnya terhadap prospek dari saham itu sendiri? Apakah saham yang stocksplit kemudian bakal terbang dalam waktu dekat, misalnya? Dalam jangka waktu yang sangat pendek, katakanlah beberapa hari atau 1 – 2 minggu mungkin iya, sebuah saham bisa saja naik menjelang atau setelah stocksplit. Namun dalam jangka panjang, pada akhirnya naik turun saham tersebut akan tetap mengikuti fundamental perusahaan yang bersangkutan. Pada contoh ASII vs UNVR diatas, kinerja fundamental ASII sempat stagnan karena turunnya harga komoditas batubara dan CPO antara tahun 2012 – 2016, yang menyebabkan penurunan kinerja dari dua anak usahanya, United Tractors (UNTR) dan Astra Agro Lestari (AALI). Sementara UNVR, sebagai perusahaan consumer goods, kinerjanya dalam lima tahun terakhir terbilang lancar jaya.
    Okay, I think that’s enough, untuk minggu depan kita akan membahas salah satu dari tiga tema berikut: 1. Proyeksi IHSG di 2018: Apakah siklus krisis 10 tahunan akan terulang kembali? 2. Bagaimana analisis saham-saham tambang BUMN menjelang akuisisi oleh PT Inalum? Atau 3. Prospek dari IPO PP Presisi, dan IPO Wika Gedung. Silahkan anda pilih tema yang mana, melalui kolom komentar dibawah.

    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Buku Kumpulan Analisis Saham, Kuartal III 2017

    Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

    Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
    1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
    2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
    3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
    4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
    5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
    Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada November 2017. Anda bisa langsung memperolehnya disini.
    Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.

    Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
    Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
    Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
    TESTIMONIAL
    Selamat siang pak Teguh…
    Saya Mengikuti jejak bapak membeli asri. Kebetulan dapat harga di bawah bapak.
    Dan sekarang mulai ada profit.
    Terima kasih pak Teguh.
    -Fendi-
    Oya Pak…mau blng trm ksh. Sy ada beli ptro dan inds bbrp bulan lalu. Bulan lalu jual. Kecepatan sih jualnya. Tp yg penting ada cuan 30 persen walaupun gak byk lotnya. Tp tetap mau blng trm ksh sama Pak Teguh.
    Sekarang ada masuk mcor dan beli hoki kmrn sesuai ebook lk 3 kmrn.smg bs ksh cuan lg.
    November 14th, 2017 at 11:04 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

    Apa Itu Repo Saham?

    Menurut Investopedia, repurchase agreement, atau biasa disingkat repo, adalah perjanjian antara dua belah pihak dimana pihak pertama meminjam sejumlah dana dari pihak kedua dengan jaminan aset keuangan tertentu, misalnya saham, obligasi, hingga surat utang negara, dengan janji bahwa pihak pertama akan membeli kembali saham tersebut (sehingga pihak kedua akan memperoleh uangnya kembali). Biasanya nilai pinjamannya lebih rendah dari nilai aset yang dijaminkan, misalnya A meminjam dana Rp100 juta dari B dengan jaminan 100,000 lembar saham X pada harga Rp1,000 per saham (jadi nilai pinjamannya Rp100 juta), sementara harga saham X di pasar mencapai Rp1,500. Sehingga teorinya adalah, kalau ternyata si A tidak dapat melunasi utangnya, maka si B sebagai pemilik dana tinggal menjual saham X yang ia pegang sebagai jaminan, dan ia tetap akan meraup untung 50% (karena ia bisa menjual saham X di pasar pada harga 1,500, sementara modalnya cuma 1,000).

    Pada prakteknya, mekanisme dari transaksi repo ini terbilang macam-macam/berbeda satu sama lain, tergantung dari poin-poin perjanjian antara si peminjam dan pemilik dana. Contoh, ada transaksi repo dimana si peminjam sejak awal tidak akan membeli kembali saham yang dijaminkan, atau dengan kata lain ia benar-benar menjual sahamnya ke si pemilik dana, dan alhasil si pemilik dana hanya bisa memperoleh kembali uangnya dengan cara menjual saham tersebut di pasar. Ada juga repo dimana saham yang menjadi jaminan baru boleh dijual kembali di pasar oleh si pemilik dana setelah jangka waktu tertentu (istilahnya sahamnya di-lock). Dan ada repo dimana si peminjam menjaminkan saham pada harga yang sama dengan harga pasar, sehingga si pemilik dana tidak akan memperoleh keuntungan kalau menjual saham jaminan tersebut di pasar, namun dengan janji bahwa saham tersebut akan dibeli lagi pada harga yang sama, plus bunga.
    Kalau di negara maju seperti Amerika, transaksi repo ini dianggap aman karena aset yang dijaminkan biasanya berupa surat utang negara atau treasury bonds, yang risikonya tentu jauh lebih rendah dibanding saham. However, kalau di negara berkembang seperti Indonesia, maka ‘repo’ ini memiliki konotasi yang buruk. Karena sering terjadi kasus repo dimana meski si peminjam berjanji akan membeli kembali saham yang dijaminkan pada harga yang sudah ditentukan, namun janji tersebut ternyata tidak dipenuhi. Atau ketika si pemilik dana akan menjual saham jaminan yang ia pegang di pasar, ternyata harganya sudah turun duluan, misalnya saham X diatas dimana harganya tadinya 1,500, tapi ternyata sekarang harganya tinggal 500, sehingga posisi si pemilik dana menjadi rugi (karena modalnya di harga 1,000).
    Dan untuk kasus yang kedua, yakni saham yang dijaminkan sudah turun duluan, biasanya melibatkan ‘saham-saham gorengan’ yang pada waktu-waktu tertentu bergerak liar dan terbang tinggi, tapi ketika sekalinya turun maka bakal gila-gilaan turunnya. Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa saham gorengan yang turun secara tidak wajar hingga menyebabkan kerugian besar-besaran dari para pemegang sahamnya, dan ditengarai bahwa penyebab kejatuhan saham-saham tersebut salah satunya adalah karena transaksi repo. Sebut saja saham Trada Maritime (TRAM), Sekawan Intipratama (SIAP), Express Transindo Utama (TAXI), Hanson International (MYRX), hingga Sugih Energy (SUGI).
    Tapi kenapa penurunan saham-saham diatas dianggap ada kaitannya dengan repo? Well, karena biasanya modusnya seperti ini. Pertama, ada individu atau perusahaan tertentu, sebut saja A, yang memegang saham X dalam jumlah besar (individu/perusahaan ini biasanya merupakan pemegang saham mayoritas/pemilik dari emiten X tersebut, tapi bisa juga pihak lain). A kemudian memperjual belikan saham X miliknya sendiri di market (jadi yang membeli dan menjual adalah pihak yang sama, tapi tentunya pake dua atau beberapa rekening sekuritas yang berbeda), dimana setiap transaksi dilakukan pada harga yang lebih tinggi dari transaksi sebelumnya. Alhasil, saham X naik terus. Misalnya tadinya saham X harganya cuma 100, setelah ‘digoreng’ seperti itu maka bisa naik sampai 500. Dan A inilah yang sering disebut dengan istilah ‘bandar’.
    Kemudian, A mendatangi banyak investor, entah itu investor individu atau institusi, untuk meminjam uang dengan jaminan saham X tersebut. Biasanya dikatakan bahwa uang pinjaman tersebut akan digunakan untuk mengembangkan/ekspansi usaha dari emiten X itu sendiri. Misalnya salah satu investor tersebut adalah B, yang setuju meminjamkan dana Rp30 juta, dengan jaminan 100,000 lembar (1,000 lot) saham X pada harga Rp300 per saham. Karena saham X di pasar adalah Rp500, maka sekilas B tidak perlu khawatir, karena kalau A tidak bisa melunasi utangnya/membeli kembali saham yang dijaminkan, maka ia tinggal menjual saham X di pasar, dan ia akan tetap memperoleh keuntungan.
    Problemnya, sejak awal kenaikan harga saham X dari 100 ke 500 itu bukankarena mekanisme pasar yang wajar (misalnya karena X ini memiliki fundamental yang bagus sehingga investor ramai-ramai membelinya, dan alhasil harganya naik), melainkan karena rekayasa bandar tadi. Ini artinya kalau bukan si bandar itu sendiri yang membeli/menaikkan saham X di pasar, maka gak akan ada orang lain lagi yang mau membeli saham X (kecuali mungkin spekulan, atau trader yang gak ngerti apa-apa/cuma tertarik karena kenaikan sahamnya saja). Alhasil ketika saham X turun signifikan dalam sehari, misalnya 5%, maka investor yang memegang repo-nya bisa langsung panik dan cepat-cepat menjual saham jaminan yang mereka pegang, atau bisa juga mereka kena forced sell. Dan ketika semua investor pemegang repo ini menjual saham X dalam waktu bersamaan ketika disisi lain tidak ada orang lain yang nampung, maka inilah hasilnya: Pada Oktober 2014 lalu, saham TRAM terjun bebas dari 1,850 hingga 330 hanya dalam sebulan, dan setelah itu dia kembali lanjut turun sampai akhirnya mati di gocap. Dan meski belakangan ini TRAM mulai ‘hidup’ lagi, tapi untuk saham repo lainnya seperti SIAP, nasibnya ternyata lebih buruk yakni hilang sama sekali dari peredaran (SIAP masih ada/belum delisting dari BEI, tapi sahamnya sudah tidak diperdagangkan lagi).
    Penurunan Saham RIMO
    Nah, jadi ketika saham Rimo International Lestari (RIMO) tiba-tiba saja drop dari 700 hingga dibawah 200 hanya dalam seminggu terakhir, maka wajar jika kemudian muncul rumor repo, karena kronologisnya memang sangat mirip dengan kasus-kasus sebelumnya: RIMO ini pertama-tama menerbitkan saham baru dalam jumlah besar (40.6 milyar lembar) melalui right issue, pada Maret 2017 lalu, pada harga Rp101 per saham. Alhasil jumlah saham beredar RIMO menjadi sangat banyak, dan sahamnya di market jadi likuid. Memasuki bulan April dan Mei, RIMO mulai merangkak naik ke 150, dan pada titik ini kenaikannya masih tampak wajar karena nilai ekuitas perusahaan juga meningkat signifikan setelah right issue-nya (RIMO tadinya merupakan perusahaan ritel yang bangkrut, yang diakuisisi seorang pengusaha bernama Benny Tjokrosaputro untuk dijadikan objek backdoor listing bagi perusahaaan properti miliknya).

    Namun memasuki bulan Juni, tiba-tiba saja RIMO bergerak naik dengan volume transaksi yang amat sangat besar (pernah sampai setengah milyar lembar per hari), dan terus saja naik, hingga menyentuh 770 di bulan Oktober kemarin, atau terbang lebih dari empat kali lipat dalam waktu kurang dari enam bulan! Lalu apakah kenaikan tersebut karena fundamental RIMO memang bagus? Actually, nggak juga, karena penulis sudah bolak balik baca laporan keuangan RIMO sejak awal 2017 lalu, dan kesimpulannya adalah dia sama sekali gak istimewa. Intinya sulit untuk mengatakan bahwa kenaikan RIMO tersebut adalah karena faktor fundamental, dan penulis biasanya bisa dengan santai mengatakan bahwa saham-saham model RIMO ini cepat atau lambat bakal turun lagi. Dan ternyata memang benar: Kasus kejatuhan TRAM dan SIAP beberapa waktu lalu, kali ini kembali terulang di RIMO ini, dan tentunya dengan menyeret banyak korban, baik itu yang memegang RIMO karena membeli sahamnya di pasar, atau dari hasil repo-nya.
    Balik lagi ke soal repo. Namun meski kita bisa katakan bahwa penurunan RIMO, atau saham lainnya, ditengarai karena repo, tapi kita tidak bisa mengetahui secara persis, apakah penurunan RIMO tersebut beneran karena adanya repo atau tidak. Karena kalaupun RIMO ini di-repo-kan, maka biasanya investor yang memegang saham repo-nya nggak mau ngaku (bahwa dia pegang repo RIMO), karena 1. Ia sejak awal sadar bahwa keputusannya untuk ikut repo tersebut merupakan spekulasi, atau 2. Ia diberi tahu oleh si peminjam/orang yang menawarkan repo tersebut, untuk jangan cerita-cerita lagi soal repo ini ke orang lain. Soalnya kan gak enak, orang lain harus beli RIMO di harga 700 (harga pasar), tapi bapak/ibu bisa dapet saham RIMO ini sebagai jaminan di harga 300 saja. Jadi mirip-mirip lah seperti kalau anda dapat telepon yang mengatakan bahwa anda menang undian, tapi sebelum menyuruh anda ke mesin ATM, si penelpon biasanya akan kasih tau agar anda ‘jangan bilang ke siapa-siapa’ bahwa anda menang undian tersebut.
    And btw, selama wara wiri di market sejak 2009, penulis sendiri sudah beberapa kali ditawari repo seperti ini, atau bahkan ditawari untuk menjual kembali repo tersebut ke pihak lain, dengan iming-iming komisi. Tapi penulis tolak semuanya karena, entah kebetulan atau bukan, saham-saham yang direpokan biasanya emitennya memiliki kinerja fundamental yang gak jelas, dan manajemennya cuma jualan prospek. Contoh, dulu saham SIAP banyak direpokan dengan iming-iming bahwa tambang batubara milik perusahaan kalau nanti sudah beroperasi maka akan menghasilkan laba bersih yang sangat besar, padahal tambang yang dimaksud sama sekali belum diapa-apakan/masih berupa hutan lebat yang tentunya butuh banyak biaya untuk dibabat, digali, dan seterusnya, tapi SIAP ini sama sekali gak punya duit untuk pengembangan tersebut (makanya owner perusahaan me-repo-kan saham SIAP untuk memperoleh dana untuk menggali batubaranya). Sayangnya karena timing-nya salah, dimana meski si bandar kemudian punya duit banyak hasil jualan repo untuk kegiatan tambangnya, tapi tetap saja tambang batubaranya belum bisa digali dulu, karena ketika itu (tahun 2015) harga batubara justru sedang rendah-rendahnya (jadi kalau perusahaan memaksakan menggali batubara, mereka justru akan rugi). Dan sebelum SIAP benar-benar memproduksi batubara, sahamnya sudah keburu nyungsep duluan, dan SIAP itu sendiri kemudian bubar sama sekali.
    Jadi maksud penulis adalah, kalau misalnya saya ditawari repo saham ASII, BBRI, atau UNVR pada harga yang jauh dibawah harga pasarnya, maka dengan senang hati penulis akan mengambilnya, kalo perlu jual rumah lah! Tapi kalau anda ditawari repo dari saham-saham yang bahkan mungkin belum pernah anda dengar sebelumnya, maka sekarang anda sudah tahu, apa yang harus anda lakukan. Dalam hal ini penulis juga hendak menyampaikan sedikit kritik kepada BEI dan OJK, yang sekarang lagi banyak berbenah untuk menata pasar modal Indonesia, tapi so far belum ada tindakan atau peraturan baru yang secara khusus mengatur soal repo ini. Penulis khawatir jika ini dibiarkan, maka tidak hanya akan terus jatuh korban dari investor ritel, tapi reputasi pasar saham Indonesia di mata fund manager global juga bakal jadi jelek, karena disini isinya cuma gorengan melulu.
    Anyway, sambil menunggu para bos besar ini melakukan tindakan, yang terpenting disini adalah kita sendiri sebagai investor jangan mudah tergiur kalau misalnya ada orang yang menawari anda repo dengan iming-iming tertentu (kadang si peminjam menolak untuk menyebut ini ‘repo’ melainkan menyebutnya dengan istilah yang lebih keren seperti private placement atau lainnya, padahal private placement jelas berbeda dengan repo), atau tergiur dengan ‘saham-saham terbang’ padahal kenaikannya tidak didukung faktor fundamental. Intinya kita invest saham dengan cara yang lurus-lurus sajalah! Dan bukannya malah macem-macem dengan ikut repo atau sejenisnya, OK?

    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Sido Muncul

    Beberapa waktu lalu penulis mendengar cerita unik. Jadi pada tanggal 15 Oktober kemarin di Kota Bantul, Jogja, dilangsungkan pernikahan dengan mas kawin bukan emas, seperangkat alat shalat atau semacamnya, melainkan mas kawin saham, dalam hal ini saham Sido Muncul (SIDO) sebanyak 500 lot senilai Rp27.7 juta, atau Rp555 per saham. Ini menarik, mengingat mempelai pria memang seorang investor yang sudah mulai mengenal saham sejak tahun 2013, dan tentunya ia tidak main-main ketika memberikan mas kawin berupa saham tersebut. Pertanyaannya, kenapa saham SIDO yang dijadikan mas kawin, dan bukannya saham lain?

    SIDO, seperti yang pastinya anda ketahui (karena SIDO ini merupakan salah satu perusahaan paling populer di tanah air), adalah perusahaan produsen obat-obatan herbal atau yang biasa disebut jamu, dengan merk andalannya Jamu Tolak Angin plus berbagai variannya (Tolak Angin Anak, Tolak Angin Flu, Tolak Angin Herbal, dst). Selain jamu, SIDO juga adalah produsen dari makanan dan minuman suplemen dengan merk-merk yang juga terkenal, seperti Kuku Bima Ener-G, Este-Emje, Kopi Jahe Sidomuncul, Kunyit Asam, dan Alangsari. Dan sejak tahun 2014 lalu, SIDO juga memasuki industri farmasi dengan mengakuisisi PT Berlico Mulia Farma, yang merupakan produsen obat-obatan ringan dengan merk Anacetine (obat panas anak), Berlosid (obat maag), dan Suprabion (suplemen vitamin). Hingga ketika artikel ini ditulis, SIDO masih terus meluncurkan banyak varian produk baru dengan tetap fokus di obat-obatan/suplemen herbal, termasuk berinovasi dengan meluncurkan Cafe Jamu Sido Muncul, yakni program franchise dimana masyarakat bisa membuka usaha cafe/warung yang menjual produk-produk jamu Sido Muncul, dengan modal mulai dari Rp1 juta saja. Program ini bisa dibilang sebagai franchise usaha jamu pertama di Indonesia (dan mungkin juga di dunia). Sebelum meluncurkan Cafe Jamu, SIDO melalui anak usahanya, PT Muncul Mekar, sudah memiliki jaringan distribusi milik sendiri yang tersebar dari Sumatera Utara hingga Papua. SIDO juga mengekspor produk-produknya ke setidaknya 16 negara berbeda, meski porsinya masih sangat kecil yakni hanya 2% dari total pendapatan.

    Siapa disini yang punya stok Jamu Tolak Angin di lemari dapur di rumah??

    Nah, sejak SIDO melantai di bursa untuk pertama kalinya pada Desember 2013 lalu, penulis sudah sangat tertarik dengan SIDO ini karena beberapa pertimbangan berikut. Pertama, seperti yang sudah disebut diatas, SIDO merupakan salah satu perusahaan paling terkenal di tanah air, dengan merk-merk produk yang juga terkenal. Seperti yang pernah kita bahas disini, popularitas hingga kekuatan merk yang dimiliki SIDO merupakan aset yang sangat berharga, yang membuat sahamnya layak dihargai pada valuasi tinggi. Dalam hal ini SIDO tidak kalah dengan katakanlah Unilever, Kalbe Farma, hingga Indofood. SIDO juga merupakan perusahaan jamu paling populer, paling mapan (sudah berdiri sejak tahun 1940), dan paling besar dibanding para kompetitornya, seperti PT Air Mancur, Jamu Jago, Jamu Nyonya Meneer, dst.
    Kedua, produk jamu itu sendiri memiliki reputasi sebagai produk obat-obatan yang lebih alami dan ‘lebih sehat’ dibanding obat biasa, karena dibuat langsung dari bahan baku tanaman berkhasiat seperti kunyit, jahe, temulawak, dst. Plus, harga jualnya juga lebih murah sehingga otomatis pangsa pasarnya lebih luas. Problemnya, karena saking alaminya maka produk jamu biasanya berupa serbuk yang diseduh air panas sehingga tidak praktis, dan rasanya pun pahit, sehingga kadang orang enggan untuk mengkonsumsinya. Tapi untungnya sekarang ini para produsen jamu, termasuk SIDO, berinovasi dengan meluncurkan produk-produk jamu berbentuk cair dan tablet/permen yang lebih praktis, dan rasanya pun lebih enak/manis.
    Ketiga, selaras dengan statusnya sebagai salah satu produsen jamu terbesar di Indonesia, kinerja SIDO juga terbilang bagus dan terus bertumbuh secara konsisten. Pada tahun 2008, SIDO membukukan pendapatan Rp1.04 trilyun, yang tumbuh menjadi RpRp2.56 trilyun di tahun 2016 (sementara total aset perusahaan hanya Rp2.99 trilyun). Laba bersih SIDO juga terus tumbuh hingga terakhir tercatat Rp380 milyar di Kuartal III 2017. Hebatnya, pertumbuhan kinerja diatas dicapai dengan hampir tidak menggunakan leverage sama sekali. Yup, dari dulu sampai terakhir per Kuartal III 2017, SIDO tidak pernah memiliki utang bank, obligasi, atau semacamnya, melainkan hanya utang usaha saja. Kondisi ini menyebabkan margin laba SIDO terbebas dari beban bunga pinjaman, dan posisi perusahaan sangat aman dari risiko business turnaround, dimana kalau industri jamu tiba-tiba drop maka SIDO secara keuangan akan baik-baik saja, karena perusahaan tidak memiliki liabilitas apapun (kita gak akan pernah mendengar cerita SIDO melakukan restrukturisasi utang atau semacamnya, itu tidak akan pernah terjadi). Disisi lain, sebagai bagian dari industri consumer goods, usaha jamu itu sendiri memiliki risiko yang rendah, dimana risiko usaha ini terbatas pada risiko fluktuasi harga bahan baku, dan risiko persaingan (dan untungnya, SIDO sejak awal sudah merupakan ‘one of the best players’ di bidangnya).
    Terakhir keempat, SIDO dikelola oleh tim manajemen yang sangat tradisional, dimana mereka hanya membuat jamu, kemudian menjualnya, that’s it. Pemilik SIDO, dalam hal ini Pak Irwan Hidayat beserta keluarga (unfortunately, he’s not my uncle), selama ini juga senantiasa fokus mengelola SIDO dan hampir tidak memiliki usaha lain, kecuali jaringan Hotel Candi di Jawa Tengah dan Jogja, dan mereka juga memiliki reputasi yang sangat baik dimana Pak Irwan bersama beberapa tokoh lainnya seperti Dato’ Tahir (owner Grup Mayapada), pengusaha sekaligus Wapres M. Jusuf Kalla, hingga desainer kebaya Anne Avantie, pernah dinobatkan Majalah Forbes sebagai 4 dari ’48 orang paling dermawan di Asia’. Yup, seperti halnya Mr. Tahir, Mr. Irwan melalui SIDO memang terkenal dengan kegiatan filantropinya, yang dikemas dalam bentuk CSR. Contohnya, sejak tahun 2011 sampai sekarang, SIDO rutin menggelar operasi katarak gratis untuk masyarakat umum.
    However, meski tampak sempurna secara fundamental (atau, kalau mengutip istilah Opa Warren, SIDO ini merupakan ‘wonderful company’), SIDO tetap memiliki kelemahan, yakni terkait prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan. Seperti yang disebut diatas, SIDO dikelola secara tradisional, tanpa leverage apapun (padahal kalau Mr. Irwan mengumumkan bahwa SIDO butuh pinjaman, maka penulis yakin para bank bakal langsung antri), dan sayangnya juga hampir tanpa ekspansi apapun dimana dalam beberapa tahun terakhir SIDO hanya pernah sekali mengakuisisi perusahaan (PT Berlico), dan sampai sekarang perusahaan masih mengerjakan penambahan kapasitas pabrik jamu cair-nya, padahal itu sudah dikerjakan sejak awal tahun 2014 (dananya dari hasil IPO). Lambannya ekspansi perusahaan juga bisa dilihat dari kebijakan manajemen yang membagikan 99% laba bersihnya setiap tahun sebagai dividen, jadi hampir tidak ada dari laba bersih tersebut yang disimpan untuk diinvestasikan kembali. Dan bahkan meski SIDO sangat royal dividen, tapi posisi cash-nya selalu tebal. Per Kuartal III 2017, dari total aset perusahaan senilai Rp2.97 trilyun, Rp810 milyar atau 27% diantaranya merupakan cash yang tidak produktif. Kalau kita lihat Berkshire Hathaway-nya Warren Buffett, maka perusahaan senantiasa menjaga posisi cash sekitar 15% untuk jaga-jaga kalau terjadi market crash atau semacamnya, tapi bahkan posisi cash sebesar itu saja sudah dianggap terlalu hati-hati (perusahaan besar lain biasanya hanya menjaga posisi cash-nya di level 5 – 10% dari total aset). Tapi posisi cash SIDO jauh lebih besar dari itu, dan bahkan bisa lebih besar lagi andaikata perusahaan tidak membagikan dividen dalam jumlah terlalu besar.
    Jadi, yup, dalam hal ini SIDO bisa disebut sebagai kebalikan dari Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), yang juga merupakan perusahaan consumer goods, namun AISA sangat agresif dalam berekspansi dimana perusahaan sudah beberapa kali menggelar right issue, mengambil utang obligasi, utang bank, hingga private placement. Dan jika AISA sukses mencatat pertumbuhan yang sangat cepat namun disisi lain perusahaannya rawan bangkrut/menderita rugi besar kalau-kalau terjadi peristiwa buruk tertentu (dan memang AISA sudah beberapa kali kena masalah, misalnya terkait investasinya di Golden Plantation/GOLL), maka SIDO tidak akan kena masalah apapun, tapi disisi lain pertumbuhan riil perusahaan menjadi sangat lamban. Yup, meski diatas disampaikan bahwa SIDO memiliki kinerja konsisten dalam jangka panjang, namun ‘jangka panjang’ disini adalah antara 5 hingga 10 tahun, atau lebih lama lagi. Sementara kalau kita melihatnya hanya dalam waktu 2 – 3 tahun kedepan, maka bisa jadi nilai pendapatan, laba bersih, serta ekuitas SIDO hanya akan segitu-gitu saja (tetap naik, tapi dengan persentase kenaikan yang rendah).
    Maksud penulis adalah, jika saya menjadi pemegang saham pengendali di SIDO, maka perusahaan tetap tidak akan mengambil utang (buat apa?), namun SIDO hanya akan membagikan dividen dalam jumlah wajar saja, yakni 30 – 40% dari laba bersih setiap tahunnya, sementara selebihnya bisa dipakai untuk akuisisi perusahaan jamu lain atau lainnya, tinggal cari saja yang harganya cocok (baca: murah). Dengan cara ini maka pendapatan SIDO bisa bertumbuh secara lebih cepat, namun disisi lain risiko usahanya tetap rendah karena, sekali lagi, kita gak pake utang apapun untuk akuisisi tersebut. Dan perlu diingat pula bahwa meski produk-produk SIDO sudah terkenal di seantero nusantara, namun jika pihak manajemen sedikit lebih ambisius, maka Jamu Tolak Angin bisa juga menyusul jejak Indomie milik Grup Indofood, yang sekarang sudah menjadi produk mie instan populer di banyak negara mulai dari Taiwan, Nigeria, hingga Belanda. Pendek kata, SIDO sebenarnya memiliki banyak peluang untuk tumbuh hingga menjadi perusahaan yang benar-benar besar, sekali lagi, asalkan pihak pengelola perusahaan mau bekerja lebih keras.
    Anyway, diluar faktor lambannya pertumbuhan diatas, in the end penulis tetap setuju bahwa SIDO merupakan wonderful company, yang layak dijadikan sebagai ‘pasangan sehidup semati’ alias dipegang untuk jangka panjang, kalau bisa sampai anak cucu. Sebenarnya pada tahun 2014 lalu ketika saham SIDO mulai turun terus dari 900-an hingga mentok di 480 – 500 pada pertengahan 2015, penulis ketika itu termasuk yang menganggap bahwa meski SIDO ini sangat menarik, tapi sebaiknya kita tunggu di harga yang lebih rendah dulu, karena PBV 2.5 – 3 kali masih sedikit terlalu mahal untuk ukuran perusahaan yang nyaris tidak menawarkan prospek pertumbuhan apapun (ketika itu SIDO sudah membagikan hampir seluruh labanya sebagai dividen).
    However, sudah dua tahun berlalu, dan ternyata SIDO tidak turun lebih rendah lagi (meski disisi lain juga belum naik-naik lagi), sementara disisi lain kinerjanya masih lancar jaya seperti biasanya. Jadi ya sudah, kemungkinan kisaran harga sekarang sudah cukup rendah bagi SIDO ini. Jika anda mencari saham dengan risiko rendah dan bisa dipegang untuk jangka panjaaang, maka SIDO bisa dipertimbangkan, dimana kalau kita melihatnya dalam waktu 5 – 10 tahun kedepan, penulis yakin SIDO ini pada akhirnya akan naik juga. Selain itu ingat pula bahwa meski SIDO tampak kurang bagus dari sisi kenaikan sahamnya, namun para pemegang sahamnya tetap akan memperoleh profit dari dividennya yang cukup besar yakni sekitar Rp26 per saham, atau 5% dari harga sahamnya. Sebagai perbandingan, dividend yield dari emiten-emiten bluechip biasanya hanya 2 – 3% per tahun.
    Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, kenapa si mempelai pria memilih saham SIDO sebagai mas kawin? Kenapa bukan saham BUMI, misalnya?? Well, menurut anda??
    PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul, Tbk
    Rating Kinerja pada Kuartal III 2017: AA
    Rating saham pada 500: A
    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) Edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Ebook Analisis Kuartal III 2017

    Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

    Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
    1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
    2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
    3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
    4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
    5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
    Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin,November 2017. Anda bisa langsung memperolehnya disini.
    Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.

    Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
    Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
    Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
    TESTIMONIAL
    Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…

    Widya Olivia – [...]

    Konstruksi.. Lagi!

    Sebentar lagi kita akan memasuki musim rilis laporan keuangan (LK) Kuartal III, dan seperti biasa beberapa emiten merilis LK-nya lebih awal. Salah satunya adalah emiten konstruksi Waskita Karya (WSKT), plus anak usahanya Waskita Beton Precast (WSBP), dimana hasilnya cukup mengesankan: Laba bersih WSKT melonjak dari Rp1.1 menjadi Rp2.6 trilyun, sementara laba WSBP juga naik dari Rp502 menjadi Rp825 milyar. Kemungkinan karena keluarnya LK inilah, saham WSKT dan WSBP dengan cepat melonjak dalam semingguan terakhir, demikian pula saham-saham konstruksi yang lain terutama karena adanya anggapan bahwa kalau WSKT kinerjanya bagus, maka demikian pula kinerja konstruksi BUMN lainnya bakal bagus juga. Pertanyaannya sekarang, mengingat sebelumnya WSKT dkk justru turun terus, maka apakah ini merupakan tanda bahwa penurunannya sudah maksimal, dan selanjutnya konstruksi akan balik arah? Atau bagaimana?

    Sepanjang tahun 2017 ini mungkin tidak ada sektor yang paling bikin pusing selain konstruksi ini, karena jika dilihat dari kinerja keuangan perusahaan, prospeknya, hingga progress riil dari pembangunan infrastruktur di lapangan, maka semuanya tampak OK, plus IHSG-nya juga masih strong di level atas (5,900-an). Tapi nyatanya saham-saham di sektor ini justru turun sendiri ketika mayoritas saham-saham kelompok big caps lainnya masih baik-baik saja. I mean, kalau memang terjadi perubahan fundamental dimana WSKT dkk mencatat penurunan laba atau bahkan rugi, maka ya sudah, penulis sendiri juga akan minggir dulu dari konstruksi ini. Namun faktanya, seperti yang bisa anda lihat, BUMN konstruksi masih mencatat kenaikan laba yang signifikan, bahkan justru paling signifikan dibanding emiten BUMN lainnya.


    Rangkuman Kinerja WSBP hingga Kuartal III 2017: Everything seems good

    Dan penulis sendiri sudah ngomong seperti diatas sejak saya menyampaikan update analisis untuk sektor konstruksi pada Agustus 2017 lalu. Yup, kalau anda baca-baca lagi blog ini, kita sudah membahas sektor konstruksi sejak Desember 2016 lalu, dimana inti analisanya adalah, 1. Saham-saham konstruksi belum naik banyak sepanjang tahun 2016, sehingga valuasinya relatif masih rendah, 2. Kinerja fundamental serta prospeknya masih bagus seiring dengan realisasi percepatan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, dan 3. Penyebab belum ‘jalannya’ saham-saham konstruksi adalah karena faktor kurang stabilnya kondisi politik nasional menjelang Pilkada DKI Jakarta ketika itu, yang praktis menimbulkan kekhawatiran bahwa itu akan mengganggu kelanjutan pembangunan infra, tapi penulis termasuk yang percaya bahwa isu politik ini nantinya akan mereda dengan sendirinya. Anda bisa baca lagi ulasan lengkapnya disini.
    Kemudian pada artikel di bulan Agustus 2017, analisis diatas diperbaharui, yang intinya terkait selesainya drama Pilkada DKI dimana yang menang adalah pasangan calon Gubernur – Wagub dari kubu partai oposisi, dan bukannya partai pendukung pemerintah. Yang itu artinya, ketidak stabilan politik yang sebelumnya penulis harapkan bakal segera mereda, kemungkinan justru akan berkepanjangan. Tapi untungnya diluar drama politik tersebut, yang lain-lainnya masih nggak ada masalah, malah untuk outlook-nya masih sangat menarik dimana WSKT dkk masih terus memperoleh banyak kontrak baru dari pemerintah. Jadi saya menganggap bahwa sektor konstruksi tetap menarik, namun dengan mempertimbangkan faktor isu politik tersebut maka kita harus menghargai saham-saham konstruksi pada valuasi yang lebih konservatif. Berdasarkan pengalaman, angka PBV terendah bagi saham konstruksi berfundamental bagus adalah 1.4 kali, itupun dicapai ketika IHSG drop di tahun 2013, dan 2015.
    Kemudian kalau kita pakai contoh saham WSBP, maka PBV 1.4 kali tersebut adalah pada harga 400. Dan memang ketika WSBP terus saja turun sepanjang Semester I 2017 lalu, mentoknya ya di kisaran 400 tersebut (tepatnya di 416), sebelum kemudian membal dan naik lagi. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
    Jadi pada ulasan di bulan Agustus tersebut, penulis menganggap bahwa saham-saham konstruksi sudah ketemu bottom-nya, sehingga dengan catatan tidak terjadi peristiwa force majeure tertentu dimana IHSG anjlok atau semacamnya, maka saham-saham konstruksi sudah layak buy. Tapi lagi-lagi, meski sempat stabil selama beberapa saat, memasuki bulan September konstruksi kembali ndlosor kebawah, dan WSBP bahkan sempat nyungsep sampai dibawah 340. So what happen?? Well, meski penulis sendiri terlambat menyadarinya, namun pada September tersebut kita menyimpulkan bahwa pasar sedang dalam kondisi yang boleh dibilang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana ada banyak saham-saham di BEI baik itu big, mid, maupun small cap yang turun signifikan, terutama karena investor asing jualan terus, namun entah gimana caranya IHSG-nya tidak ikut turun.
    Dan penulis menyebut situasi ini dengan koreksi yang tidak kelihatan. Jika anda perhatikan, sekarang ini kita berada dalam situasi pasar dimana saham yang naik terus saja naik, sementara saham yang turun terus saja turun(detilnya baca lagi disini), Dan sayangnya saham-saham konstruksi termasuk dari saham-saham yang sebelumnya sudah turun banyak sejak awal tahun, sehingga jadilah mereka turun lebih lanjut.
    Lalu kira-kira turunnya sampai berapa? Nah, untuk kali ini penulis terus terang belum ada gambaran, karena setelah barrier PBV 1.4 kali tadi ditembus, maka selanjutnya belum ada benchmark lagi soal berapa kira-kira valuasi terendah yang mungkin dicapai sebuah saham konstruksi. Tapi ketika WSBP kemarin turun sampai 340 dimana PBV-nya 1.2 kali, lalu kemudian naik lagi, maka apakah itu yang menjadi batas valuasi terendah bagi konstruksi? Well, belum tentu. Sekarang begini, yang bikin konstruksi terbang semingguan kemarin itu apa sih? Karena adanya sentimen laporan keuangan bukan? Tapi faktanya kinerja emiten konstruksi di Kuartal III, dalam hal ini kalau kita pakai contoh WSKT dan WSBP, meskipun bagus tapi gak lebih bagus dibanding Kuartal I dan II kemarin. Atau dengan kata lain belum ada perubahan fundamental dari sisi laporan keuangan, dimana sekitar tiga bulanan lalu juga WSKT dkk sempat naik ketika LK Kuartal II keluar, tapi kesininya turun lagi. Dari sisi perkembangan politik maupun situasi pasar juga belum ada perubahan, dimana isu-isu politik masih menjadi perhatian semua orang (malah cenderung semakin panas menjelang 2019), dan investor asing, hingga ketika artikel ini ditulis, masih terus jualan. Pendek kata, yup, kalau kita lihat pergerakan sahamnya, maka WSKT dkk memang kelihatannya sudah rebound. Tapi kalau kita lihat lagi kinerja fundamental perusahaan, situasi pasar dll, maka belum ada perubahan berarti yang bisa membuat konstruksi menjadi layak buy, tidak untuk sekarang ini (masih belum waktunya!).
    Valuasi Konstruksi: Masih Lebih Mahal Dibanding Valuasi Saham-saham Lain
    However, dalam rangka mencoba menggali berapa kira-kira valuasi terendah yang mungkin dicapai konstruksi, penulis barusan lihat-lihat lagi arsip lama laporan keuangan dll, dan diperoleh fakta berikut: Sektor konstruksi sejatinya mulai booming kurang lebih di tahun 2009, yakni setelah Pemerintah meluncurkan rencana pembangunan jangka panjang yang terangkum dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EIsetahun sebelumnya (2008). Yup, jadi meski pembangunan infrastruktur baru benar-benar dikebut sejak jaman Presiden Jokowi, namun pembangunan itu sendiri sejatinya sudah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya, dimana ADHI dan WIKA (beberapa emiten konstruksi lainnya baru IPO beberapa waktu kemudian) sudah menikmati kinerja cemerlang sejak 2009, dan praktis saham mereka juga sudah naik banyak sejak tahun 2009 tersebut. Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2013, saham-saham konstruksi mencapai salah satu titik tertinggi mereka dimana ADHI terbang sampai 4,000 (dari sebelumnya 500), dan WIKA 3,000 (dari sebelumnya 300 – 400), dan praktis valuasinya jadi jauh lebih mahal dibanding saham-saham lain pada umumnya (PBV ADHI dkk sempat menyentuh 4 – 5 kali). Setelah itu konstruksi perlahan tapi pasti mulai turun lagi, namun penurunan mereka tidak pernah mencapai titik yang benar-benar rendah dari sisi valuasi, dimana seperti yang disebut diatas, PBV terendah yang pernah dicapai saham konstruksi adalah 1.4 kali, itupun ketika market mengalami crash di penghujung tahun 2013 dan 2015.
    Padahal kalau kita ambil contoh saham-saham batubara atau properti, maka ketika sektornya sedang benar-benar terpuruk (misalnya ketika harga batubara mencapai titik terendahnya di tahun 2016 lalu), PBV saham-saham di sektor ini bisa serendah 0.4 – 0.5 kali atau lebih rendah lagi. Yup, jadi batas PBV 1.4 kali bagi konstruksi tadi sebenarnya masih tergolong tinggi, tapi itu bisa dijelaskan mengingat tidak seperti batubara dan properti yang kinerjanya sempat hancur lebur, kinerja emiten-emiten konstruksi sampai sekarang masih lancar jaya. Dan memang kalau kita ambil data ke belakang sampai tahun 2009, maka valuasi saham-saham konstruksi tidak pernah benar-benar murah.
    Namun demikian kalau kita ambil data lebih jauh lagi ke belakang, dalam hal ini sebelum tahun 2009 dimana sektor infrastruktur masih belum booming dan kinerja ADHI dkk masih biasa-biasa saja, maka valuasi saham-saham konstruksi ketika itu juga sama saja seperti saham-saham lain pada umumnya. Memasuki tahun 2009 sampai sekarang, sektor konstruksi memang memperoleh ‘penghargaan’ dari market berupa valuasi yang relatif tinggi, karena sektor ini didukung oleh banyak nilai-nilai kualitatif (Apa itu nilai kualitatif? Baca penjelasannya disini) seperti likuiditas sahamnya yang encer, status sebagai big caps (WSKT termasuk salah satu dari hanya 30-an saham di BEI dengan market cap diatas US$ 1 milyar), popularitas dari nama/merk perusahaan, kegiatan operasional perusahaan yang bisa dengan mudah dilihat di lapangan (karena WSKT dkk membangun jalan layang dll di tengah kota, bukan di tengah hutan), hingga optimisme bahwa pembangunan infrastruktur yang tengah dikebut sekarang ini akan terus berlanjut di masa yang akan datang.
    Tapi diluar nilai-nilai kualitatifnya tersebut, maka dari sisi kinerja keuangan, sektor konstruksi sebenarnya tidak sebagus itu, dimana ROE ADHI dkk dalam beberapa tahun terakhir rata-rata hanya 15 – 20% saja (tidak seperti ROE perusahaan-perusahaan batubara, misalnya, yang pernah diatas 40% ketika booming batubara mencapai puncaknya di tahun 2011). Perolehan laba bersih para emiten konstruksi juga tidak se-konsisten katakanlah emiten perbankan atau consumer goods, dimana anda bisa cek sendiri: Laba bersih mereka bisa turun pada tahun-tahun tertentu bahkan meski pembangunan infra tetap gencar dilaksanakan (jadi pada tahun-tahun sebelum 2009, kinerja mereka bisa lebih tidak konsisten lagi). Industri konstruksi juga termasuk industri yang berisiko tinggi, mulai dari risiko ketidak pastian kelanjutan proyek (baca: mangkrak), risiko tidak dibayar oleh pemilik proyek, risiko supply bahan baku semen dll, risiko bencana alam, hingga risiko korupsi yang menyebabkan kualitas bangunan yang dihasilkan jadi lebih rendah dari yang seharusnya. Dan sayangnya untuk yang terakhir ini, Indonesia memang jagonya. Anda tentu sudah sering mendengar cerita jembatan miring atau bahkan ambruk bukan? Gara-gara uang pembangunannya ditilep pejabat daerah setempat.
    Anyway, penulis termasuk yang percaya bahwa pembangunan infra yang sekarang tengah dikerjakan akan terus berlanjut, jadi saham-saham konstruksi tetap menawarkan prospek yang menarik. Namun maksud penulis adalah, kalau kita mencocokkan kembali track record kinerja keuangan emiten dan situasi pasar termasuk situasi politik dll, dengan valuasi dari saham-saham konstruksi, maka faktanya adalah saham-saham konstruksi belum benar-benar murah, bahkan pada posisi harga mereka sekarang ini. Contoh, WSKT pada harga 2,130, PBV-nya masih 2.2 kali, dan WSBP pada harga 400 PBV-nya 1.4 kali. Sebagai perbandingan, ketika BBRI dan BBNI digebuk oleh isu pembatasan NIM di tahun 2016 lalu, PBV mereka sempat mencapai masing-masing 1.5 dan 0.9 kali, padahal kita tahu bahwa jika dibanding konstruksi, maka emiten perbankan memiliki kinerja keuangan yang jauh lebih baik dan juga lebih konsisten dalam jangka panjang. Okay, dalam kondisi dimana pembangunan infra masih lancar, dan faktanya WSKT dkk memang mencatat kenaikan laba yang signifikan, maka valuasi segitu mungkin masih wajar. Tapi disisi lain jika kita mempertimbangkan ketidak pastian situasi politik yang bermuara pada aksi jual asing, timbulnya kekhawatiran proyek tidak dibayar dll, dimana sejak awal kita tahu bahwa itu merupakan salah satu risiko terbesar di industri konstruksi, maka tentu kita harus lebih konservatif. Ceritanya mungkin akan berbeda kalau Presiden Jokowi masih rutin gunting pita seperti biasanya, tapi seperti yang kita ketahui, Pak De sekarang ini lebih sibuk menjalin komunikasi dengan banyak elemen masyarakat, terakhir melalui acara Rembuk Nasional 2017 di Jakarta.
    Baiklah, kalau gitu kapan kita bisa masuk ke konstruksi lagi? Dan pada harga berapa? Well, untuk harganya dan waktunya kita masih belum tahu, tapi untuk sekarang ini kita harus menunggu beberapa hal untuk terjadi terlebih dahulu kemudian baru kita bisa masuk, yakni: 1. Perkembangan politik yang lebih baik, misalnya ditandai dengan Presiden atau Menteri tertentu diberitakan melakukan ground breaking, atau 2. Investor asing kembali masuk ke bursa, termasuk ke saham-saham konstruksi (sampai sekarang mereka masih jualan terus, yang menunjukkan kekhawatiran mereka terkait kelanjutan pembangunan infra di tanah air). Actually, karena investor sudah banyak banget yang nyangkut di konstruksi ini, termasuk fund-fund besar, maka ada juga kemungkinan menjelang akhir tahun ini saham-saham konstruksi akan dikerek naik dalam rangka window dressing. However, diluar kemungkinan window dressing tersebut, maka tetap lebih aman jika kita wait n see dulu, dan melirik sektor lain yang 1. Valuasi saham-sahamnya lebih murah, dan 2. Sudah uptrend sejak awal. Contohnya? Well, bagaimana dengan properti?
    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 Nov 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Value Investing di Kehidupan Sehari-hari

    Suatu pagi di tahun 1991. Penulis, yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 1 SD, sedang sakit demam sehingga pagi itu saya tidak berangkat sekolah, melainkan hanya tidur-tiduran saja dirumah. Kemudian mbak-mbak penjanja makanan keliling yang biasa mampir ke rumah kami mengetuk pintu, dan ditemui oleh ibu penulis, dan penulis bisa mendengar mereka mengobrol dimana salah satu topiknya adalah, ‘Si Teguh lagi sakit panas’, yang kemudian dijawab, ‘Kasih ini aja bu, mudah-mudahan cepet sembuh ya’.

    Beberapa saat kemudian ibu masuk ke kamar, ‘Guh, ini ada jeruk satu buat kamu, dimakan ya’. Penulis seketika beranjak dari tempat tidur dan bertanya dengan nada menginvestigasi,
    ‘Jeruk? Berapa harganya??’
    ‘Seratus. Kamu kan lagi sakit, harus banyak makan buah-buahan.’

    (Catatan: Ketika itu uang saku penulis kalau berangkat sekolah adalah Rp100, dimana uang tersebut cukup untuk beli dua atau tiga macam jajanan, jadi harga jeruk tersebut terbilang mahal. Ketika itu kami sekeluarga memang menganggap bahwa buah-buahan seperti apel dan jeruk adalah ‘makanan mewah’ yang hanya boleh dimakan pada hari raya atau semacamnya).
    Penulis kemudian mengambil jeruk tersebut, kemudian setengah berlari menuju pintu keluar rumah dimana si mbak tadi masih ada disitu, ‘Munah! Ini ambil lagi jeruknya, balikin duitnya sini!’ (Catatan: nama si Mbak adalah Maemunah, biasa dipanggil Munah. Dan kalau dipikir-pikir penulis kurang ajar banget bisa kasar gitu sama orang yang lebih tua, tapi itulah yang saya lakukan ketika itu).
    Mbak Munah hanya tersenyum, dan ibu kemudian menemui kami, ‘Gak apa-apa Guh, kamu makan aja jeruknya. Kamu kan lagi sakit, boleh dong sekali-kali makan jeruk manis. Jangan khawatir, mama ada kok uangnya’. Penulis menggeleng, dan bersikeras mengembalikan jeruk tersebut, hingga akhirnya Mbak Munah menawarkan untuk mengganti jeruk itu dengan buah salak, yang harganya hanya Rp25. Jadi satu jeruk itu bisa dapet empat buah salak. Kali ini penulis setuju, karena saya pikir lebih baik dapet empat buah salak yang bisa dimakan seharian daripada satu jeruk yang langsung habis sekali makan. Toh, baik itu jeruk maupun salak, keduanya sama-sama buah-buahan bukan?
    Nah, penulis sendiri terus terang sudah lupa dengan kisah diatas kalau bukan karena ibu yang menceritakannya kembali, tapi dari cerita itulah penulis jadi mengerti kenapa buah favorit saya, sampai sekarang, adalah salak dan bukannya jeruk, apel, atau lainnya. Yup, karena harganya paling murah. Ketika artikel ini ditulis, satu kilogram salak pondoh di terminal kampung rambutan harganya cuma Rp10,000, sementara jeruk sekitar Rp20 – 30,000.
    Dan tidak hanya buah-buahan, tapi untuk barang-barang lainnya saya juga selalu memilih yang harganya paling murah, atau harganya sama tapi dapetnya lebih banyak. Penulis masih ingat ketika diajak oleh papa untuk belanja baju lebaran, ketika itu saya kelas 5 atau 6 SD, dan penulis memilih baju yang harganya Rp20,000. Kenapa begitu? Karena baju yang lain harganya diatas itu semua. Penulis ketika itu sama sekali tidak mengerti dan tidak bisa membedakan mana baju yang bagus dan yang jelek (sampai sekarang juga masih, anda bisa lihat gaya berpakaian penulis yang asal-asalan dan cuek, bahkan ketika menjadi pembicara). Yang saya lihat, sekali lagi, hanyalah harganya, dan juga asal nyaman dipakai. Beberapa tahun kemudian, ketika penulis sudah kuliah dan mulai sering pergi travelling, maka kalau beli air mineral untuk bekal, saya selalu ambil kemasan terbesar 1.5 liter, karena harganya gak beda jauh dibanding kemasan sedang 600 ml, tapi dapetnya dua setengah kali lebih banyak.
    (Dan sampai sekarang, kebiasaan beli dan bawa-bawa botol aqua gede kalau lagi jalan-jalan itu masih penulis lakukan).
    Jadi ketika penulis akhirnya lulus kuliah lalu terjun ke pasar modal, dimana saya ketika itu untuk pertama kalinya mengenal dan belajar tentang metode value investing dalam berinvestasi di saham, maka penulis langsung merasa bahwa ini adalah metode yang ‘Gue banget!’ Yup, kalau konsep dasarnya adalah ‘Belilah saham/perusahaan bagus pada harga yang setara atau lebih rendah dari yang seharusnya, alias wajar atau murah’, maka dari dulu juga saya sudah melakukannya, hanya saja yang dibeli bukanlah saham, melainkan barang kebutuhan sehari-hari. Dan bahkan sampai hari ini pun, penulis masih menerapkan ‘gaya hidup hemat ala value investor’ ini, salah satunya bisa dilihat dari gambar dibawah ini:
    Struk belanja ala value investor. Perhatikan bahwa hampir setiap item barang memperoleh diskon antara 30 – 50%

    Dan seperti yang bisa anda perhatikan, para investor besar juga tidak hanya menerapkan metode value investing dalam pekerjaan investasi mereka, melainkan benar-benar menerapkannya secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari, dimana mereka memiliki gaya hidup yang hemat, sederhana, tidak berlebih-lebihan, dan hanya membeli apa yang mereka butuhkan. Warren Buffett masih tinggal di rumah yang sama, dan mengendarai mobil yang sama yang ia beli di tahun 1960-an hingga terpaksa ganti ketika mobil itu akhirnya mogok sama sekali. Bill Gates, kecuali di acara yang formal, selalu mengenakan kemeja yang itu-itu saja. Dan Li Ka-shing hanya mengenakan jam tangan merk Citizen seharga USD 400. Mendiang Ng Teng Fong, pendiri Sino Group yang merupakan perusahaan real estate terbesar di Singapura (putra Mr. Ng yakni Robert Ng, sekarang menjadi orang terkaya di Singapura), terkenal dengan gaya hidup hematnya dimana ia selalu membawa makan siangnya sendiri kalau naik pesawat terbang, karena ia tahu persis bahwa harga makanan di pesawat itu jauh lebih mahal dibanding di rumah makan biasa.
    However, banyak orang salah kaprah tentang ‘gaya hidup hemat’. Ada yang mengatakan bahwa, kalau beli apa-apa selalu dihemat-hemat terus, lalu gimana caranya kita bisa bersenang-senang dan menikmati hidup? Kalau apa-apa maunya serba murah, bukannya pelit itu namanya? Well, penulis tidak tahu bagaimana dengan value investor lain, tapi saya tidak pernah dengan sengaja menyusahkan diri sendiri, melainkan saya dan keluarga tetap menikmati hidup kok! Yang penulis lakukan, sekali lagi, hanya berusaha untuk tidak mengeluarkan uang lebih besar dari yang seharusnya. Jadi kita bukannya maunya serba murah, melainkan: Gak apa-apa kita beli sesuatu yang harganya mahal, selama itu setimpal dengan nilai barang yang diperoleh.
    Sebagai contoh, setiap satu atau dua bulan sekali, penulis mengajak anak-anak dan ibu mereka untuk menginap semalam di hotel bintang lima di Jakarta atau Bandung, dan itu tentu saja tidak murah, but it’s worth it, atau dengan kata lain penulis tidak menganggap bahwa saya mengeluarkan uang dengan sia-sia, karena dengan menginap semalam itu maka kami bisa berenang, bermain, dan sarapan pagi bersama-sama, dan anak-anak sangat senang mandi di bathtub di kamar hotel (dirumah kami nggak ada bathtub). Namun demikian sebelum kami datang ke hotel maka kami selalu mampir dulu ke minimarket untuk beli bekal cemilan kacang, keripik kentang, jus, dll. Kenapa begitu? Karena kalau kita ambil cemilan yang persis sama di minibar hotel (yang di kulkas kecil dibawah televisi), maka harganya bisa beberapa kali lipat lebih mahal. Yup, anda juga mungkin sudah hafal bahwa satu botol kecil coca-cola yang harganya cuma Rp4,000 kalau beli di Alfamart, maka di hotel bintang lima harganya melonjak jadi Rp25,000, dan itu bahkan belum termasuk tax and service 21%.
    Jadi maksud penulis adalah, kalau saya harus bayar 3 – 4 juta untuk menginap semalam di hotel mevvah, maka saya tidak keberatan karena quality time bersama keluarga yang penulis peroleh juga terasa sangat menyenangkan. Tapi kalau disuruh memilih dua botol coca-cola yang persis sama, dimana yang satu harganya Rp4,000, sementara yang satunya lagi harganya Rp25,000, maka tentu saja saya memilih yang harganya Rp4,000. Got it?
    Problemnya, meski logikanya sangat sederhana dan juga sangat masuk akal (kenapa anda harus beli minuman pada harga 25,000, kalau harga aslinya cuma 4,000?), namun tidak semua orang bisa menerapkan gaya hidup ala value investor seperti yang disampaikan diatas. Sebagian besar orang kalau dapet duit banyak ya langsung dihambur-hamburkan, dan mereka tidak terlalu peduli dengan konsep ‘Harga < Nilai barang yang diperoleh’. Contoh, kalau penulis pergi ke tempat wisata dengan rombongan, maka saya selalu mampir ke supermarket dekat hotel untuk beli bekal makan dan minum, karena saya sudah hafal bahwa kalau belinya nanti di lokasi wisatanya, maka harganya bisa dua atau tiga kali lebih mahal. Namun penulis perhatikan, tidak ada peserta travel lain yang melakukan hal yang sama (cuma saya saja). Sebagian besar kaum pekerja di Jakarta juga kesulitan untuk sekedar menyisakan sebagian gaji untuk ditabung, tak peduli meski gajinya lumayan besar, karena gaya hidup mereka terlanjur glamor ala ‘eksekutif muda’, dan mereka terlalu malas (atau bahkan malu) untuk membawa bekal makan siangnya sendiri ke kantor.
    Anyway, dengan ulasan diatas maka anda sekarang sudah mengerti bahwa untuk menjadi investor yang sukses, atau dalam hal ini value investor yang sukses, maka pertama-tama anda harus mengubah lifestyle terlebih dahulu seperti layaknya seorang investor, yakni: Biasakan untuk mertimbangkan nilai atau manfaat yang akan anda perolehdari barang atau jasa yang akan anda beli. Biasakan untuk bertanya, is it worth it or not? Karena memang itulah yang dicontohkan oleh Warren Buffett dkk. Disisi lain, jika anda sejak awal sudah memiliki kebiasaan tersebut, then congratulations, selanjutnya cuma soal waktu sebelum anda akan menjadi investor besar :)

    Jika anda pernah punya pengalaman atau kebiasaan dalam menerapkan gaya hidup hemat ala value investor, maka anda boleh share pengalaman tersebut melalui kolom komentar dibawah.

    Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan Selengkapnya baca disini.

    Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 November 2017 mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Seminar Value Investing, Jakarta, 28 Okt 2017

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Cara Santai Dalam Menghasilkan Uang di Pasar Saham’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

    Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas kali ini:
    1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santainamun sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Bapak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
    2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
    3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
    4. Cara untuk menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun!
    5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
    Bonus Materi:
    1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
    2. Analisis singkat terkait Market Outlook hingga akhir tahun 2017, dan untuk tahun 2018.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
    1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
    2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the marketdalam jangka panjang, dan
    3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!

    Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 28 Oktober 2017
    • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
    • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi kalau mau kirim bukti transfer juga boleh).
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Bonus:
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
    Penulis bersama teman-teman peserta dari salah satu kelas seminar sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar.

    Komentar Alumni
    Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luar biasa sekali..
    Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
    Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalau dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
    Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
    Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
    Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
    Merci..
    Widya Olivia – [...]

    Bumi Citra Permai

    Saham Bumi Citra Permai (BCIP) mungkin tidak familiar bagi sebagian besar investor dan trader saham di Indonesia, namun perusahaan properti ini baru saja merilis laporan keuangan Kuartal II 2017, dimana sekilas angka-angkanya tampak mengesankan: Laba bersihnya naik lebih dari dua kali lipat, annualized ROE 25.5%, dan PBV cuma 0.5 kali pada harga Rp125 per saham. Mutiara terpendam?

    Bagi anda yang belum tahu, BCIP adalah perusahaan properti skala kecil (jika dibandingkan dengan emiten properti lainnya di BEI) dengan hanya satu kepemilikan aset, yakni Kawasan Industri Millenium atau Millenium Industrial Estate (MIE) seluas 400 hektar yang berlokasi di Cikupa, Tangerang, Banten, yang berjarak sekitar 36 kilometer dari pusat kota Jakarta. Jenis properti yang dijual meliputi tanah kavling industri, bangunan perkantoran, gudang, dan ruko. Per Kuartal II 2017, BCIP membukukan total aset Rp830 milyar, dan masih memiliki stok tanah kavling dan bangunan yang tersedia untuk dijual, masing-masing sebanyak 10 dan 3 unit/lot. BCIP juga memiliki satu anak usaha yang bergerak di bidang pengelolaan air bersih, namun kontribusinya ke total pendapatan perusahaan tidak signifikan/hanya beberapa milyar Rupiah per tahun.
    Nah, sejak dulu, problem yang biasa dihadapi oleh perusahaan properti spesialis kawasan industri adalah kinerja mereka yang tidak konsisten dari waktu ke waktu. Karena, berbeda dengan jualan properti residensial dimana akan selalu ada orang yang butuh tempat tinggal, maka jualan tanah kavling industri jauh lebih sulit karena tidak selalu ada perusahaan yang butuh tanah buat bangun pabrik. Problem yang sama juga dialami oleh BCIP, dan alhasil kinerjanya dalam lima tahun terakhir terbilang naik turun. Pada tahun 2013, BCIP membukukan laba Rp30 milyar, yang kemudian turun menjadi Rp5 milyar di tahun 2015, sebelum kemudian naik lagi menjadi Rp49 milyar di tahun 2016.
    Jadi meski perusahaan sukses membukukan laba Rp44 milyar hingga Kuartal II 2017, namun tidak ada jaminan bahwa laba tersebut akan meningkat menjadi Rp88 milyar di akhir tahun nanti, malah bisa saja sedikit berkurang (karena beban operasional), yakni jika BCIP tidak lagi memperoleh pembeli untuk tanah kavling-nya hingga akhir tahun. Demikian pula untuk tahun 2018 dan seterusnya, laba BCIP mungkin bisa lanjut naik, tapi bisa saja turun lagi, terutama karena perusahaan tidak memiliki sumber pendapatan lain, termasuk tidak berencana untuk melakukan diversifikasi/pengembangan usaha. Untuk jangka panjang, BCIP sebenarnya punya planning untuk memperluas MIE hingga 200 hektar (tanahnya sudah ada), namun masih menunggu hingga kavling-kavling di lahan yang 400 hektar tadi habis terjual dulu, dan itu bisa lama dari sekarang.
    Jadi kalau untuk investasi mid hingga long term, maka BCIP tidak disarankan. Selain itu, pada awal tahun 2013 hingga pertengahan 2016, BCIP juga pernah naik secara tidak wajar dari 200 hingga sempat tembus 1,300-an, sebelum kemudian dengan cepat anjlok ke 100 hanya dalam empat bulan (jadi mirip-mirip kasus goreng saham Trada Maritime (TRAM), dan Sekawan Intipratama (SIAP)). BCIP juga pernah disebut-sebut terlibat dengan kasus gagal bayar medium term notes (MTN, sejenis obligasi) yang diterbitkan sebuah perusahaan bernama PT Berkat Bumi Citra (BBC), dengan jaminan kawasan industri milik BCIP. Dan meski pihak manajemen sudah membantah bahwa mereka memiliki hubungan afiliasi dengan BBC, namun kasusnya sampai sekarang masih simpang siur. Dan terakhir, laporan keuangannya terkadang terlambat dirilis. Pendek kata, dari sisi kredibilitas manajemen, BCIP ini meragukan.
    Namun demikian, tetap saja untuk sekarang ini faktanya adalah kinerja BCIP cukup bagus, dan yang terpenting sahamnya sudah murah. Penulis sendiri sebenarnya sudah mengamati BCIP ini sejak awal tahun 2017 lalu, yakni ketika penurunan sahamnya sudah mentok di 106, dan ketika itu BCIP sempat membal sampai 240 sebelum kemudian turun lagi, dan stabil di kisaran harga sekarang. Memang normalnya, kalau ada perusahaan kecil dengan saham yang tidak likuid seperti BCIP ini, prospeknya tidak jelas, dan kualitas manajemennya juga tidak meyakinkan, maka investor juga tidak akan tertarik sama sekali, dan sahamnya bisa saja bablas turun sampai mati di gocap. Tapi disisi lain, kinerja BCIP gak bisa disebut jelek, dan itu adalah murni karena operasional perusahaan, sementara valuasinya juga terdiskon. Jadi penulis kira, kecuali ada force majeure tertentu, maka BCIP ini gak akan sampai turun ke gocap lah. Malah kalau bandarnya nanti kumat lagi, maka bisa saja BCIP terbang lagi seperti tahun lalu (karena likuiditasnya yang kecil, untuk mengangkat BCIP ini sebenarnya enteng saja). Plus, jangan lupa pula bahwa sektor yang belakangan ini disebut-sebut bakal hot adalah properti, dan BCIP ini termasuk saham properti tersebut.
    Jadi meski BCIP ini, sekali lagi, tidak disarankan untuk investasi serius untuk jangka panjang, namun sahamnya tetap menawarkan peluang trading jangka pendek, dengan catatan anda tidak menggunakan dana yang terlalu besar (Rp100 atau 200 juta sudah lumayan gede untuk BCIP, dan itu bisa menjadi ‘sasaran tembak’ bandar, jadi sebaiknya gunakan dana kurang dari itu). Penulis sebenarnya sudah ngebet banget dengan BCIP ini ketika kemarin sahamnya entah kenapa turun sendiri sampai 70-an (tapi mungkin itu karena situasi pasarnya saja, anda bisa baca penjelasannya disini), karena sebelumnya dia selalu sideways di 100-an (dan itu adalah posisi yang reasonable, karena seperti yang disebut diatas, BCIP ini gak punya alasan untuk sampai mati di gocap), tapi sayangnya dia keburu terbang duluan ke 130-an, yakni tak lama setelah LK-nya keluar.
    Namun dengan mempertimbangkan kondisi pasarnya dll, maka seperti awal tahun 2017 lalu, penulis masih melihat bahwa best price bagi BCIP ini adalah di kisaran 100 – 110, atau sedikit dibawahnya. Anyway, jika anda tidak tertarik untuk membeli saham dalam jumlah kecil, maka BCIP tetap tidak disarankan. Ketika di artikel dua minggu lalu penulis menyebut ‘saham properti yang mungkin bakal terbang’, maka itu bukanlah BCIP ini, melainkan saham lain yang termasuk kategori mid cap (BCIP ini small cap). Bagi anda yang penasaran dengan saham tersebut, just wait n see, nanti juga kita akan kasih analisanya.
    PT. Bumi Citra Permai, Tbk
    Rating Kinerja Kuartal II 2017: A
    Rating saham pada 125: A

    Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Prospek IPO GMF Aero Asia

    Sepanjang tahun 2017 hingga ketika artikel ini ditulis, terdapat setidaknya 29 emiten baru yang melantai di bursa alias IPO, atau jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun kebanyakan dari saham IPO ini memiliki market cap yang kecil, sehingga tidak terlalu menarik perhatian investor. Cerita berbeda dialami oleh IPO Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFA), dimana nilai IPO-nya cukup besar yakni Rp1.1 trilyun, dan market cap GMFA itu sendiri mencapai Rp11.3 trilyun pada harga perdana Rp400 per saham. Pertanyaannya sekarang, bagaimana prospeknya?

    Garuda Maintenance Facility Aero Asia, atau GMFA, adalah anak usaha dari perusahaan maskapai penerbangan, Garuda Indonesia (GIAA), yang bergerak di bidang penyediaan jasa perawatan/maintenance, perbaikan/repair, dan overhaul pesawat terbang serta fasilitas-fasilitas pendukungnya. Yang dimaksud overhaul adalah pemeriksaan komponen-komponen mesin pesawat terbang secara berkala, termasuk inspeksi keamanan/safety secara rutin setiap kali pesawat tersebut hendak terbang kembali. GMFA juga menyediakan jasa training bagi teknisi untuk pekerjaan maintenance pesawat, jasa perdagangan suku cadang pesawat terbang, jasa logistik dan transportasi pesawat terbang serta komponen-komponennya, serta jasa konsultan/tenaga ahli di bidang maintenance pesawat. Perusahaan merupakan anak usaha dari Garuda Indonesia (GIAA) dan berkantor pusat di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, serta memiliki dan mengoperasikan 44 maintenance station yang tersebar dari Banda Aceh hingga Papua, plus 3 maintenance station di Bandara Kuala Lumpur, Singapura, dan Jeddah.
    Jika dibandingkan dengan bisnis maskapai penerbangan oleh GIAA itu sendiri yang margin labanya sangat kecil karena tingginya beban operasional, mulai dari untuk sewa pesawat (tidak semua pesawat yang dioperasikan GIAA adalah milik sendiri), bahan bakar, gaji pegawai (gaji pilot dan pramugari terbilang mahal), biaya ticketing(karena GIAA, seperti halnya kebanyakan maskapai lainnya, menjual tiket pesawat melalui pihak ketiga seperti Traveloka/perusahaan travel), maintenance pesawat, biaya bandara, hingga beban penyusutan, maka bisnis maintenance pesawat oleh GMFA terbilang lebih profitable, karena beban terbesarnya cuma buat gaji teknisi dan biaya material (minyak pelumas, listrik, dll). Anda bisa bayangkan bahwa GIAA ini adalah seperti perusahaan rental mobil, yang biaya operasionalnya macem-macem mulai dari bensin sampai gaji supir, sementara GMFA ini adalah bengkel mobil yang biaya terbesarnya cuma buat gaji tukang servis-nya saja. Kalo misalnya ada mobil yang mau ganti ban bocor, maka harga ban barunya juga ditanggung oleh si pemilik mobil bukan? Jadi bukan ditanggung oleh bengkel.
    Dan alhasil, meskipun GIAA dalam lima tahun terakhir selalu membukukan pendapatan yang cukup besar, yakni antara US$ 3.5 – 4 milyar per tahun, namun perolehan laba bersihnya sama sekali tidak konsisten, termasuk pernah merugi di tahun 2014 dan 2017 (setidaknya hingga Kuartal II kemarin). Sementara GMFA, meski pendapatannya hanya berkisar US$ 300 – 400 juta per tahun, namun perolehan labanya jauh lebih konsisten dan senantiasa bertumbuh, dari hanya US$ 16 juta di tahun 2014, menjadi US$ 12 juta di Kuartal I 2017, alias US$ 48 juta jika disetahunkan. Dari sisi return on equity, ROE terbesar GIAA hanyalah 11% di tahun 2012, sementara ROE GMFA stabil diatas 25% per tahun.
    Kesimpulannya, meski penulis sendiri sejak awal tidak pernah suka dengan GIAA karena memang dari dulu bisnis maskapai pesawat terbang itu margin profitnya sangat kecil (anda bisa baca-baca lagi arsip artikel tahun 2011 – 2012, penulis ketika itu banyak membahas GIAA, dan mayoritas rekomendasinya negatif), namun untuk GMFA, track record kinerjanya jauh lebih baik, sehingga otomatis prospeknya juga lebih menarik. Dalam hal ini penulis juga jadi ingat dengan Cardig Aero Services (CASS), perusahaan penyedia jasa pendukung kegiatan penerbangan di bandara/aviation support, termasuk jasa catering/penyediaan makanan untuk penumpang pesawat, yang juga membukukan kinerja serta margin laba yang cukup baik. So, I don’t know, tapi mungkin meski bisnis maskapai penerbangan tidaklah menguntungkan, tapi bisnis jasa pendukungnya, termasuk bisnis maintenance pesawat oleh GMFA, justru cukup menguntungkan.
    Namun kalau ada yang mengganjal, maka itu adalah fakta bahwa sekitar 60% pendapatan GMFA berasal dari Grup Garuda (Garuda Indonesia, Citilink) itu sendiri, dimana itu artinya pihak GIAA bisa saja membayar lebih ke GMFA untuk jasa maintenance pesawat yang mereka terima agar pendapatan GMFA tampak naik (dan itu gak jadi soal bagi GIAA karena duitnya kan gak kemana-mana/cuma keluar kantong kanan lalu masuk kantong kiri). Manajemen GMFA memang mengatakan bahwa mereka akan terus berusaha mengurangi ketergantungan pendapatan dari Grup Garuda, termasuk dari dana hasil IPO-nya sebesar Rp1.1 trilyun, sekitar 60% diantaranya akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas line MRO (maintenance, repair, and overhaul) dalam rangka untuk melayani pelanggan baru, namun untuk realisasinya kita masih harus menunggu barang 1 – 2 tahun kedepan.
    Tapi jika kita balik lagi ke track record kinerja GMFA dalam beberapa tahun ke belakang, maka penulis bisa katakan bahwa GMFA menawarkan fundamental yang jauh lebih baik ketimbang induknya. Prospek dari industri penerbangan itu sendiri secara keseluruhan sebenarnya masih sangat cerah, seiring dengan terus meningkatnya minat dan kebutuhan masyarakat luas dalam hal bepergian jarak jauh/travelling, dimana pesawat terbang merupakan alat transportasi yang paling bisa diandalkan. Jadi asalkan tidak ada masalah di beban operasionalnya, maka pendapatan GMFA normalnya akan terus naik dari tahun ke tahun, demikian pula dengan laba bersihnya.
    Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
    Seperti yang disebut diatas, melalui IPO-nya (GMFA akan melantai di bursa pada hari Selasa, 10 Oktober), GMFA akan meraup dana Rp1.1 trilyun. Posisi ekuitas GMFA sebelum IPO adalah US$ 184 juta, atau setara Rp2.45 trilyun (asumsi kurs Rp13,300 per USD), sehingga total ekuitasnya pasca IPO adalah Rp3.58 trilyun. Jumlah saham GMFA setelah IPO adalah 28.2 milyar lembar, sehingga book value-nya Rp3.58 trilyun / 28.2 milyar lembar, sama dengan Rp127 per saham.
    Kemudian karena harga IPO-nya adalah Rp400 per saham, maka PBV-nya 400 / 127, sama dengan 3.15 kali. Mahal? Iya lah mahal. Apalagi jika dibandingkan dengan PBV dari GIAA itu sendiri, yang cuma 0.6 kali pada harga 330. Penulis tidak mengerti apa yang menjadi dasar pertimbangan dari penjamin emisi untuk menetapkan harga IPO GMFA di level yang cukup tinggi tersebut, termasuk kenapa GIAA hanya melepas 10% sahamnya dalam IPO GMFA ini (kalau saham yang dilepas ke publik adalah 20 – 30% seperti IPO yang lain pada umumnya, maka valuasinya akan jauh lebih murah), karena terlepas dari kinerja fundamental perusahaan yang cukup bagus, namun orang-orang juga tidak akan terlalu berminat dengan GMFA ini karena sentimen negatif dari kegagalan IPO induknya dulu (harga IPO GIAA waktu itu di level 750). Selain itu, publik juga tentu belum lupa dengan IPO dari sesama anak usaha BUMN, Waskita Beton Precast (WSBP), dimana harga sahamnya sekarang ini justru cukup jauh dibawah harga IPO-nya dulu yakni 490, padahal WSBP ini secara fundamental juga cukup meyakinkan. Jadi siapa yang bisa menjamin bahwa GMFA ini tidak akan mengalami cerita yang sama?
    Jadi kesimpulan akhirnya, kecuali mungkin kalau nanti bisa dapet di harga yang lebih reasonable,penulis sendiri tidak berminat dengan GMFA ini, entah itu untuk investasi jangka panjang maupun sekedar trading jangka pendek. Memang, seperti halnya WSBP, GMFA juga bisa saja naik dulu, terutama jika mempertimbangkan nilai IPO-nya yang relatif kecil yakni hanya Rp1.1 trilyun (bandingkan dengan nilai IPO WSBP, yang mencapai Rp5.2 trilyun) sehingga lebih gampang ngangkatnya, sementara mood pasarnya juga lagi bagus karena IHSG-nya cukup strong di level 5,900-an. Namun demikian, kecuali ada faktor X dimana sahamnya dikerek seperti beberapa saham BUMN di masa lalu (baca lagi ceritanya disini), maka penulis ragu bahwa kenaikannya akan cukup tinggi, dan pada akhirnya dia tetap akan turun. Jika anda sejak awal sudah pegang barang, maka boleh pertimbangkan untuk segera keluar pada minggu-minggu awal perdagangan sahamnya, mulai 10 Oktober nanti.
    PT. GMF Aero Asia, Tbk
    Rating Kinerja pada Kuartal I 2017: A
    Rating saham pada 400: BB

    Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Oktober 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Belajar dari Li Ka-shing

    Ketika artikel ini ditulis, penulis sedang berada di Hong Kong, untuk bertemu dan makan siang dengan Li Ka-shing. Well, just kidding, saya cuma bisa berkunjung ke lobby gedung kantornya saja yakni Cheung Kong Center, untuk kemudian duduk-duduk manja di taman di belakang gedung. CK Center, yang berlokasi di daerah Central, Hong Kong, merupakan kantor pusat dari CK Hutchison Holdings, perusahaan investasi milik Mr. Li, yang kalau penulis sendiri menyebutnya sebagai Berkshire Hathaway-nya Asia, karena cara kerjanya sangat mirip: CK Hutchison selalu membeli aset-aset bagus pada harga murah, dimana jika aset tersebut tidak dijual kembali beberapa waktu kemudian pada harga yang jauh lebih tinggi, maka tetap dipegang sebagai cash machine. Per akhir tahun 2016, CK Hutchison memiliki aset bersih HK$ 544 milyar, atau setara Rp925 trilyun. Mr. Li sendiri, menurut Forbes, memiliki kekayaan sekitar US$ 33.6 milyar atau setara Rp443 trilyun, yang menjadikannya sebagai salah satu orang terkaya di Asia.

    Nah, jika dibanding Warren Buffett, maka Li Ka-shing memang tidak begitu terkenal, karena ia jarang menulis atau berbicara tentang value investing maupun investasi secara umum. Tapi tahukah anda bahwa Mr. Li sering diundang untuk memberikan pidato di kampus-kampus? Dalam pidatonya tersebut Mr. Li tidak banyak bicara tentang bisnis ataupun investasi, melainkan lebih banyak tentang virtue, tentang kebajikan dan kebijaksanaan, yang diperoleh dari pengalamannya sendiri sebagai seorang pebisnis dan investor selama puluhan tahun. Dan penulis sendiri sangat menyukai pidato-pidato tersebut, terutama karena pilihan kata-katanya yang sangat bagus. Berikut adalah salah satu dari banyak pidato Mr. Li, yang sudah penulis terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

    Catatan: Pidato aslinya adalah dalam Bahasa Mandarin, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan ditampilkan di website www.lksf.org, lalu diterjemahkan lagi ke dalam Bahasa Indonesia. Jadi hasil terjemahan dibawah ini mungkin tidak sepenuhnya tepat, terutama karena ada banyak sekali kosa kata dalam Bahasa Mandarin yang tidak terdapat dalam Bahasa Inggris maupun Indonesia.
    ‘The Art of Giving’
    Terima kasih telah menghargai saya sebagai seorang pebisnis yang sukses. Dukungan serta dorongan yang telah anda berikan, saya sangat mengapresiasinya.
    Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah tentang bagaimana cara untuk menjadi pebisnis atau pengusaha yang sukses. Namun faktanya, saya tidak bisa mendorong orang-orang untuk menjalani peran yang sama seperti yang saya jalani. Saya selalu melihat diri saya sebagai seorang manusia terlebih dahulu, kemudian baru sebagai pengusaha. Setiap orang memiliki peran dan posisinya masing-masing dalam hidup, entah itu sebagai pengusaha, politisi, artis, pekerja profesional, dan lainnya. Saya pikir kunci kesuksesan adalah terkait bagaimana anda mengelola kecerdasan intelektual serta moral yang anda miliki. Menjalani kehidupan tanpa menerapkan prinsip-prinsip moral, adalah seperti hidup tanpa arah tujuan. Kombinasi yang tepat antara kecerdasan intelektual dan moral akan memungkinkan anda untuk sukses dalam bidang serta peran apapun yang anda lakukan, dan anda bisa tetap menjadi diri anda sendiri/tidak harus berubah menjadi orang lain. Anda akan menjalani kehidupan yang amat sangat menyenangkan, jika anda mampu meraih sukses dengan menjadi diri anda sendiri, berdasarkan kemampuan dan kapasitas yang anda miliki sejak awal.
    Selama ribuan tahun, masyarakat Negeri China telah menempatkan kelompok pedagang di posisi paling bawah dalam strata sosial, dibawah kelompok pejabat negara dan militer, petani, dan pekerja. Sejarawan terkenal, Sima Qian, mengatakan bahwa pedagang bertugas untuk melayani masyarakat dengan cara mendistribusikan barang dan jasa, mengelola risiko, dan menggunakan sumber daya serta modal secara efisien. Namun pengertian ini sering disalah artikan, yang kemudian menimbulkan kesan bahwa semua pedagang hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
    Fakta yang harus disayangkan adalah, ada banyak pedagang dan pebisnis yang mengorbankan prinsip-prinsip moral dan integritas mereka untuk meraih keuntungan. Mereka tidak membantu atau memberikan manfaat bagi masyarakat, melainkan justru sebaliknya. Namun demikian, sebagian besar pebisnis mengerti bahwa kemajuan dalam masyarakat secara keseluruhan, termasuk kemajuan bisnisnya sendiri, itu membutuhkan dorongan niat, kerja keras, dan ketekunan. Dan yang lebih penting, mereka mengetahui bahwa keadilan sosial dalam masyarakat hanya bisa dibangun berdasarkan kepercayaan, dan integritas.
    Sejak masih kanak-kanak, saya sangat suka cerita-cerita sejarah. Sudah tentu, ‘cerita’ disini tidak terbatas hanya pada cerita tentang tokoh-tokoh terkenal. Peristiwa-peristiwa penting terjadi di sekitar kita, dan mereka seringkali menjadi sumber inspirasi, dan terkadang, sumber dari profit yang sangat besar. Saya yakin sebagian dari anda pernah mendengar cerita tentang konglomerat Amerika yang terkenal, Rockefeller, dan seorang anak penyemir sepatu. Di pertengahan tahun 1929, atau hanya sesaat sebelum Wall Street crash, Rockefeller sedang duduk santai sambil membiarkan sepatunya disemir oleh seorang anak, dan si anak kemudian memberikan tips tentang cara bermain saham. Pada saat itulah Rockefeller menyadari bahwa kalau seorang anak kecil saja sudah bermain di pasar modal, dan bahkan menganggap bahwa dirinya expert (sehingga ia berani memberikan tips cara bermain saham), maka itu berarti pasar saham Amerika bakal segera meledak. Rockefeller kemudian menjual hampir seluruh saham-sahamnya, dan alhasil ia menjadi satu dari sedikit investor yang tetap kaya ketika Wall Street kemudian mengalami kejatuhan terbesarnya dalam sejarah.
    Fan Li adalah seorang pejabat tinggi di Kerajaan Yue di jaman China kuno, yang sukses membantu Raja Gou Jian dalam membangun perekonomian dan militer Kerajaan Yue, hingga mampu menaklukan negara tetangga yang lebih kuat, Kerajaan Wu. Namun kemudian, setelah menyadari bahwa sang Raja tidak lagi membutuhkan bantuannya, Fan Li merasa khawatir, sehingga ia mengundurkan diri dari jabatannya, mengasingkan diri, berganti nama, dan melepaskan semua ketenaran dan kekayaan yang ia miliki. Ia beralih profesi menjadi pedagang obat-obatan tradisional, dan setelah beberapa waktu, Fan Li sekali lagi sukses mengumpulkan kekayaan yang besar, yang kemudian ia berikan begitu saja kepada orang-orang, karena khawatir bahwa kekayaan tersebut akan menimbulkan kecemburuan sosial.
    Benjamin Franklin adalah seseorang yang benar-benar besar. Ia merupakan filsuf, politisi, diplomat, penulis, ilmuwan, pebisnis, dan bahkan pemain musik. Tapi di batu nisannya hanya tertulis satu kalimat pendek, ‘Benjamin Franklin. Printer’.
    Ben Frankin lahir tahun 1706 di Boston, Massachusetts. Franklin tidak mengambil pendidikan formal yang tinggi, namun ia mampu belajar secara otodidak. Ben Franklin kecil sangat suka membaca hingga ia, pada usia 12 tahun, bekerja pada saudaranya, yang merupakan penerbit, dan disitulah kariernya sebagai penerbit (atau ‘printer’) dimulai. Pada tahun 1730, Franklin membeli The Pennsylvania Gazette. Almanak ‘Poor Richard’, diterbitkan oleh Franklin dengan nama samaran Richard Saunders, menjadi buku best seller kedua setelah kitab Bible. Franklin sangat bijaksana melebihi usianya, dan dedikasinya untuk orang banyak telah menghasilkan reputasi yang baik serta kepercayaan dari publik. Sejak tahun 1748 dan seterusnya, ia membangun banyak fasilitas umum mulai dari perpustakaan, sekolah, hingga rumah sakit. Setelah menjadi sangat terkenal, Franklin mampu untuk terus membantu anak-anak muda untuk mengembangkan diri mereka, melalui tulisan-tulisannya yang sangat khas.
    Fan Li dan Ben Franklin adalah dua orang berbeda, yang berasal dari dua dunia yang berbeda. Namun kisah hidup keduanya patut untuk direnungkan. Fan mengubah dirinya agar bisa kembali diterima ke dalam masyarakat, sementara Franklin mempelopori perubahan dalam masyarakat itu sendiri. Fan hanya ingin agar dirinya bisa hidup dengan tenang, sementara Franklin menggunakan kecerdasan intelektual yang ia miliki untuk memberikan pencerahan bagi orang-orang, untuk menciptakan masyarakat yang manusiawi dan dermawan. Fan memberikan uang serta kekayaan kepada para tetangganya, sementara Franklin memberikan ilmu pengetahuan. Mereka berdua adalah orang-orang yang memberikan apa yang mereka miliki untuk orang banyak, mereka adalah orang-orang yang melayani masyarakat. Dan hanya orang-orang yang mau memberikan manfaat bagi orang banyak seperti mereka-lah, yang bisa mendorong kemajuan bagi masyarakat, bangsa dan negara, atau bahkan dunia.
    Saya telah memberi tahukan kepada teman-teman bahwa saya sekarang memiliki anak ketiga. Saya menyayangi anak ketiga ini, dua orang putra saya juga menyayanginya, demikian pula putra putri mereka kelak. Anak ketiga ini adalah Yayasan Li Ka-shing (LKS Foundation). Sepanjang karier saya sebagai pengusaha selama lebih dari 60 tahun, saya senantiasa berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar moral yakni keadilan, integritas, kejujuran, simpati dan belas kasihan, serta komitmen untuk meraih sukses berdasarkan cara-cara yang baik dan benar. Saya percaya bahwa apa yang telah saya bangun selama ini akan tetap bertumbuh di masa yang akan datang. Saya berharap bahwa kekayaan yang saya miliki bisa digunakan secara sistematis untuk memberikan manfaat bagi orang banyak. Kami ingi berkontribusi bagi kegiatan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Saya harap bahwa kita semua bisa bekerja bersama-sama untuk memelihara ‘budaya memberi’, budaya tangan diatas, untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi negara yang kita cintai, dan untuk umat manusia secara keseluruhan.
    Li Ka-shing, 28 Juni 2004.
    Well, bagaimana menurut anda? Untuk pidato-pidato Mr. Li yang lain, anda bisa membacanya disini, and trust me, it worth reading. Dalam banyak kesempatan, penulis selalu berkata bahwa kalau anda sudah cukup lama di stock market dan mampu untuk bertahan, maka tidak hanya kemampuan analisa yang anda miliki yang akan meningkat pesat (selain tentunya juga nilai portofolio anda), tapi anda juga akan menjadi orang yang amat sangat bijaksana. Dan dari pidato Mr. Li diatas, kita bisa belajar untuk menjadi bijaksana tersebut, yang mampu melihat bahwa ada banyak hal dalam hidup yang jauh lebih penting dan berarti, ketimbang sekedar profit and loss dari stock market. Well, memang tidak mudah untuk bisa sampai ke ‘level tertinggi’ seperti yang sudah dicapai oleh Mr. Li, namun jika kita mau berusaha dan juga mampu untuk tetap fokus, maka kita semua akan sampai kesana, amin!
    Btw, untuk minggu ini tadinya penulis mau menyajikan analisa untuk satu saham properti, tapi setelah saya pikir-pikir lagi, itu mungkin bisa bikin sahamnya terbang duluan seperti yang sudah-sudah. Karena memang, kalau anda sudah cukup menguasai kaidah value investing, maka anda pasti sudah tahu/sudah mengincar satu saham ini. Jadi ya nanti saja lah, kira-kira satu bulan dari sekarang.

    Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Oktober 2017sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Investor Charity Gathering, Jakarta, 7 Okt 2017

    Dear investor Yth.
    Dalam buku ‘The Calm Investor’, di bagian akhir penulis menyampaikan bahwa salah satu cara untuk menjadi pribadi yang tenang atau calm, dimana itu mutlak diperlukan dalam berinvestasi di pasar modal, adalah dengan menjadi senantiasa menjaga perasaan senang riang gembira, alias be happy!  Dan salah cara untuk menjadi happy adalah dengan rutin beramal dalam jumlah kecil, namun secara terus menerus! Yup, dalam buku tersebut penulis menyampaikan bahwa jauh lebih baik untuk menyumbang ke katakanlah panti asuhan sebesar Rp20,000 setiap minggu secara terus menerus tanpa henti, dibanding menyumbang Rp2,000,000 tapi hanya dilakukan satu kali itu saja.

    Dan penulis sendiri tentu saja selama ini senantiasa mempraktekkan tips tersebut, dimana manfaatnya sangat terasa: Setiap kali anda berbuat amal secara ikhlas, sekecil apapun itu, maka anda akan memperoleh ‘hadiahnya’ yakni perasaan lega karena telah berbuat baik, karena anda telah membantu/memberikan manfaat untuk orang lain. Dan jika kita bisa menjaga perasaan lega tersebut, maka beban berat karena nyangkut di saham dll dengan sendirinya akan berkurang, dan anda akan lebih calm, plus tidur nyenyak di malam hari. Actually, dengan menjadi investor yang tenang, yang mampu menganalisa serta mengambil keputusan jual beli saham secara logis dan bukannya karena greed atau fear, yang gak grasa grusu panik dan bingung entah itu setiap kali sahamnya terbang atau nyungsep, maka itu merupakan modal yang tidak ternilai untuk bisa bertahan di belantara pasar modal. Dan kita bisa mencapai itu dengan, salah satunya, melakukan kegiatan amal.
    Karena itulah, meski penulis sangat yakin bahwa teman-teman pembaca blog ini juga sudah secara rutin melakukan kegiatan amalnya masing-masing, namun sebagai investor itu sendiri, penulis sangat tertarik untuk mengkampanyekan kegiatan amal atau charity ini. Karena kalau kita lihat investor-investor besar seperti Bill Gates, Warren Buffett, mereka juga aktif dalam kampanye/mengajak orang lain untuk kegiatan filantropi (melalui Giving Pledge). Termasuk di Indonesia, grup-grup besar seperti Djarum, Mayapada, Trans Corp (Chairul Tanjung), diluar melakukan CSR, mereka juga aktif ber-filantropi melalui foundation mereka masing-masing. Jadi kenapa kita tidak melakukan hal yang sama?
    Jadi dengan ini penulis menyelenggarakan acara ‘Investor Charity Gathering’, dimana konsepnya adalah mirip seperti seminar, tapi disini kita gak akan melulu belajar soal investasi saham bla bla bla, melainkan:
    1. Penulis akan sharing/bercerita tentang perjalanan karier penulis di stock market sejak tahun 2009, termasuk ketika memutuskan untuk full time di tahun 2012, hingga sekarang. Penulis juga akan share filosofi/cara berpikir seorang investor dalam berinvestasi, hasil dari pengalaman selama ini.
    2. Sesi tanya jawab bebas, dimana anda boleh bertanya apaaaa saja, dan penulis akan menjawabnya. Alokasi waktu untuk sesi tanya jawab ini akan jauh lebih panjang dibanding seminar, jadi diharapkan bahwa setiap peserta akan memperoleh kesempatan untuk bertanya.
    3. Diskusi interaktif dengan penulis sebagai pembimbing, dimana anda juga bisa sharing tentang pengalaman untung dan rugi anda di stock market, untuk didengar oleh peserta lainnya, dan terakhir
    4. Ngobrol-ngobrol bebas antar sesama peserta gathering, termasuk mau curhat sama temen senasib juga boleh :D
    Berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat.
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Oktober 2017
    • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB
    • Fasilitas: Makan siang, dan coffee break.
    Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp650,000per peserta. Uang yang terkumpul, setelah dikurangi biaya hotel, akan didonasikan seluruhnya ke lembaga donasi (jadi penulis tidak mengambil keuntungan sama sekali), dalam hal ini melalui www.kitabisa.com.

    Dan berikut cara daftarnya:
    1. Pertama-tama anda transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Gathering, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Jangan lupa untuk menyertakan bukti transfer.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta gathering. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini). Tempat terbatas, hanya untuk 30 peserta.
    Catatan:
    1. Dana yang terkumpul, setelah dikurangi biaya untuk hotel sebesar Rp150,000 per peserta (sehingga bersihnya adalah Rp500,000 per peserta), akan didonasikan seluruhnya ke beberapa campaign penggalangan dana di www.kitabisa.com. Dan nanti bukti donasinya akan ditampilkan di blog ini.
    2. Donasinya adalah atas nama Komunitas Indonesia Value Investing, jadi bukan atas nama penulis pribadi. Nama-nama peserta gathering tidak akan dipublikasikan.
    3. Anda juga nanti boleh usul soal campaign mana saja yang anda hendak berdonasi. Penulis tidak memiliki hubungan apapun dengan www.kitabisa.com, namun penulis memilih website tersebut karena mereka menyediakan fasilitas yang paling mudah untuk kegiatan charity. Namun demikian anda juga boleh usul website/cara yang lain untuk berdonasi.
    4. Peserta akan dibuatkan Grup Whatsapp, agar bisa tetap berkomunikasi setelah acaranya.
    5. Untuk keperluan audit jika sewaktu-waktu dibutuhkan, maka harap kirim bukti transfer ketika mengirim email pendaftaran.
    Ada pertanyaan? Boleh kontak Ms. Nury di no telepon/whatsapp 081220445202, dan Pin BB D0E5C05A.
    Atau anda bisa bertanya langsung ke penulis melalui email

    Logindo Samudramakmur

    Logindo Samudramakmur (LEAD) membukukan rugi bersih US$ 4.7 juta hingga Kuartal II 2017, dan dilihat dari sini saja maka praktis sahamnya tidak layak invest. Namun demikian dalam sebulan terakhir, LEAD justru naik banyak dari 65 hingga sekarang sudah tembus diatas 100, sehingga dia menjadi satu dari beberapa saham yang sukses terbang ketika sebagian besar saham-saham lainnya bertumbangan dalam beberapa bulan terakhir, tapi disisi lain valuasinya masih sangat rendah dengan PBV hanya sekitar 0.2 kali. So, ini peluang apa bukan?

    LEAD adalah perusahaan perkapalan spesialis pengangkutan minyak yang berdiri dan beroperasi sejak tahun 1995, dengan jumlah armada 24 unit kapal pada tahun 2005. Perusahaan baru mulai ekspansi besar-besaran pada tahun 2011 dengan menggandeng Pacific Radiance Pte Ltd, perusahaan kapal asal Singapura, yang dilanjutkan dengan IPO pada tahun 2013, mengambil banyak utang bank, dan menerbitkan obligasi senilai US$ 50 juta di Singapura pada tahun 2015, dimana uangnya dipakai untuk membeli banyak unit-unit kapal baru. Per tahun 2015, LEAD memiliki dan mengoperasikan tidak kurang dari 60 unit kapal.
    Namun sayangnya manajemen LEAD keliru dalam hal timing, dimana perusahaan mulai berekspansi justru persis ketika industri kapal mulai lesu, setelah harga minyak jatuh pada tahun 2014, yang praktis mengurangi demand penggunaan kapal untuk pengangkutan minyak. Alhasil, meski LEAD masih membukukan laba bersih yang cukup besar yakni US$ 20 juta pada tahun 2014, namun laba tersebut anjlok menjadi hanya US$ 49 ribu pada tahun 2015, dan berbalik menjadi rugi US$ 21 juta di tahun 2016 (LEAD mestinya gak menderita rugi sebesar itu kalau saja perusahaan gak punya banyak utang untuk membiayai ekspansinya, beberapa tahun sebelumnya). Jadi meski penulis sendiri sempat mengamati LEAD ini pada Februari 2015 lalu (baca ulasannya disini), namun masih di tahun 2015 tersebut, penulis sudah tidak tertarik lagi dengan LEAD ini karena perusahaan, seperti juga kebanyakan perusahaan kapal lainnya, mengalami penurunan kinerja yang sangat signifikan. Pada Februari 2015, LEAD masih berada di level 1,700-an sebelum stocksplit, atau setara 425 sesudah stocksplit.
    Waktu kemudian berlalu.. dan beberapa minggu lalu, penulis diberi tahu seorang teman bahwa LEAD sekarang tinggal 65 perak! Dimana PBV-nya pada harga tersebut tinggal 0.1 kali. Penulis kemudian mengecek laporan keuangan perusahaan, dan sayangnya saya kembali harus kecewa karena LEAD masih membukukan rugi bersih. Dari sisi outlook pun kelihatannya masih suram, karena jangankan mencari pelanggan baru, manajemen sampai sekarang hanya fokus pada upaya efisiensi dengan refinancing utang-utangnya, serta menjual kapal-kapal yang tidak terpakai (pada tahun 2014 hingga sekarang, utilisasi armada kapal milik LEAD anjlok menjadi hanya 30 – 40%), tapi bahkan itupun tidak terlalu berhasil, dimana sampai dengan awal 2017, LEAD hanya sukses menjual 3 unit kapal saja (sehingga sekarang perusahaan memegang 57 unit kapal). Pihak manajemen secara realistis menyatakan bahwa kalaupun nanti harga minyak pulih lagi, maka pendapatan serta laba LEAD belum tentu akan naik lagi, karena mereka masih harus bersaing dengan banyak perusahaan kapal lain seperti SOCI, BULL, WINS, TRAM, TMAS, dst, yang juga memiliki terlalu banyak armada kapal. Singkat kata, yes, LEAD ini memang amat sangat murah. Tapi kalau fundamentalnya gak bagus, termasuk outlook-nya juga masih suram, maka tentu saja sahamnya belum layak invest, setidaknya untuk sekarang ini.
    Okay, tapi kalau demikian, lalu apa yang bikin LEAD tiba-tiba saja naik banyak? Well, ada dua hal yang penulis perhatikan. Pertama, seperti yang penulis sampaikan di artikel minggu lalu tentang ‘Koreksi Pasar Yang Tidak Kelihatan’ (baca lagi ulasannya disini), pasar sekarang ini didominasi investor lokal (karena asingnya udah pada kabur), termasuk banyak investor baru, yang hanya mau membeli saham-saham yang tampak bergerak naik. Atau dengan kata lain, kita berada dalam situasi pasar dimana saham yang turun akan terus saja turun, sementara saham yang naik, bahkan meski dia baru naik dalam 1 atau 2 bulan terakhir, akan terus naik, apalagi jika valuasinya tampak masih murah. Dan LEAD, terlepas dari fundamental serta outlooknya yang sama sekali belum menarik, namun sekarang ini dia merupakan salah satu saham dengan PBV paling rendah di bursa, dan itu saja sudah cukup menarik, apalagi sebelumnya sudah ada beberapa saham dengan PBV yang amat sangat rendah, seperti BRPT, INKP, TKIM, dst, yang naik berlipat-lipat dalam setahunan terakhir.
    Jadi selama kondisi pasarnya masih seperti sekarang, maka LEAD mungkin bisa naik lebih lanjut, karena orang-orang cuma berpikir, ‘Yang penting murah!’. Karena ketika IHSG gak mau drop juga dalam dua tahun terakhir ini, maka praktis mayoritas saham-saham di BEI sudah pada mahal semua, sehingga barang murah seperti LEAD ini, sekali lagi terlepas dari fundamentalnya, menjadi barang langka.
    Kedua, yang ini baru penulis ketahui beberapa waktu lalu: LEAD baru saja menyelenggarakan right issue pada Juli 2017 kemarin, dimana perusahaan menerbitkan 1.5 milyar lembar saham baru pada harga Rp65 per saham. Dan ini tentu saja mengingatkan penulis pada perusahaan kapal lainnya yakni Buana Listya Tama (BULL), dimana perusahaan awalnya melakukan stocksplit, membiarkan sahamnya turun, lalu right issue pada harga bawah. Atau dengan kata lain, perusahaan melakukan average down pada sahamnya sendiri (beli/nambah posisi lagi di harga bawah), dimana setelah itu biasanya sahamnya bakal dikerek naik. Sayangnya penulis sendiri terlambat mengetahui soal right issue ini, karena jelas bahwa right issue inilah yang menyebabkan penurunan LEAD berhenti di 60-an, karena sahamnya bakal dijagain agar tidak turun sampai dibawah harga right issue-nya yakni 65. Kalau saja saya mengetahui hal ini lebih awal, maka kita harusnya sudah buy LEAD pada harga 70 – 80, beberapa waktu lalu (kalau baru beli sekarang, mungkin sudah terlambat).
    Tapi yang harus diperhatikan, pasca right issue ini maka PBV LEAD menjadi tidak lagi serendah sebelumnya. Jumlah saham LEAD setelah right issue adalah 4.05 milyar lembar, yang jika dikali harga saham 110, maka market cap-nya Rp405 milyar. Ekuitas LEAD sebelum right issue adalah US$ 103 juta, ditambah dana hasil right issue-nya sebesar US$ 10 juta, maka totalnya US$ 113 juta, atau setara Rp1.5 trilyun (asumsi kurs Rp13,300 per US$). Maka PBV-nya adalah 405 / 1,505, sama dengan 0.3 kali, jadi bukan lagi 0.2 kali seperti sebelumnya. Okay, PBV 0.3 kali tersebut arguably masih rendah juga, tapi juga harap diingat bahwa secara teori, LEAD hanya akan dijaga untuk tidak turun sampai dibawah 65, atau lumayan jauh dibawah harganya saat ini. Jadi untuk balik lagi ke katakanlah 70 – 80, maka itu masih mungkin terjadi kapan saja.
    Kesimpulannya, kalau berdasarkan kaidah value investing, maka LEAD ini big no, apalagi kalau untuk investasi jangka panjang. Meski demikian jika mempertimbangkan kondisi pasarnya serta faktor right issue-nya diatas, maka LEAD tetap menawarkan peluang profit jangka pendek, tentunya jika kita sukses masuk di harga yang tepat, yakni 70 – 80 tadi. Jika anda sudah memegang LEAD ini sejak awal maka boleh hold, who knows dia bisa menyusul ‘saham-saham murah’ lain yang sudah duluan terbang. Tapi jika anda baru mau masuk, then remember bahwa secara fundamental, LEAD sama sekali tidak bagus, sehingga praktis risikonya jauh lebih besar dibanding saham-saham lain yang kinerja keuangannya jauh lebih sehat. Jadi kalaupun anda masih tetap tertarik, maka gunakan dana secukupnya saja.
    Minggu depan kita akan membahas satu saham properti, yang juga masih murah.

    Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja emiten di Kuartal II 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Asing Jualan Terus?

    Hingga Selasa kemarin, 12 September 2017, investor asing masih saja jualan hingga posisi net buyasing sejak awal tahun, yang sebelumnya sempat hampir tembus Rp20 trilyun pada April lalu, sekarang sudah minus alias net sell, tepatnya minus Rp7 trilyun. Penulis pun menerima banyak pertanyaan, kenapa asing terus keluar? Tapi yang terpenting disini sebenarnya bukan soal kenapa mereka keluar, melainkan: Bagaimana dampak dari keluarnya asing terhadap pasar? Dan bagaimana strategi investasi yang paling tepat dalam situasi pasar seperti sekarang ini?

    Perbandingan nilai transaksi asing vs domestik hingga 12 September 2017. Perhatikan bahwa investor domestik sekarang ini menguasai 64% volume transaksi di bursa (biasanya hanya 50 – 55%).

    Berdasarkan pengalaman, ketika asing entah itu belanja atau jualan, maka itu akan berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG dalam jangka pendek, dalam hal ini selama beberapa minggu atau bulan. Yup, jadi kalau asing banyak belanja, maka IHSG akan naik, sementara kalau mereka jualan maka IHSG akan turun. Sebenarnya kalau dalam jangka panjang, dalam hal ini tahunan, maka sering juga terjadi dimana asing jualan pada tahun-tahun tertentu tapi IHSG tetap naik pada tahun tersebut, atau sebaliknya asing banyak belanja namun IHSG malah turun. Namun sekali lagi, kalau dalam jangka pendek, maka jika asing terus jualan selama katakanlah 1 – 2 bulan, maka IHSG-nya biasanya bakal drop dalam 1 – 2 bulan tersebut. Pada tahun 2011 dan 2012, IHSG secara keseluruhan naik masing-masing 3.2 dan 12.9%, dan asing juga mencatatkan net buy. Namun pada bulan Oktober 2011 dan Mei 2012, IHSG sempat drop sekitar 15 – 20% dari posisi tertingginya, dan ketika itu salah satu pemicunya adalah keluarnya asing dalam jumlah besar di bulan-bulan tersebut.
    Namun sejak 2016 lalu, inilah yang terjadi: Ketika asing belanja maka IHSG sedikit banyak akan naik, sementara ketika mereka jualan maka IHSG tidak turun, melainkan bergerak sideways saja. Kalau anda perhatikan, sejak terakhir kali pasar dihantam panic selling pada Agustus – September 2015 lalu, sampai sekarang alias sudah lewat dua tahun, IHSG belum pernah turun hingga katakanlah 10 – 20% dari posisi tertingginya, dan ini merupakan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Sebab kalo kita lihat lagi pergerakan IHSG pada tahun-tahun sebelum 2015, maka IHSG biasanya akan mengalami koreksi pada bulan-bulan tertentu, entah itu di bulan Mei (yang kemudian memunculkan istilah sell in may and go away), Agustus, atau bahkan Januari. Termasuk di tahun 2010, dimana meski IHSG pada tahun tersebut secara keseluruhan naik 46%, namun pada bulan Mei-nya IHSG sempat drop dari 2,971 hingga 2,501, atau turun lebih dari 20%.
    Nah, sekilas, kondisi pasar dimana IHSG tampak stabil dan tidak mengalami koreksi, maka itu tentu bagus, karena emosi pelaku pasar juga jadi ikut stabil dimana tidak ada lagi cerita panic selling atau margin call. Namun demikian kondisi ini telah menimbulkan setidaknya dua problem.
    Pertama, meski koreksi atau penurunan IHSG tampak buruk, namun penurunan IHSG setiap beberapa waktu sekali justru diperlukan agar saham-saham tertentu yang sudah naik kelewat tinggi hingga valuasinya menjadi tidak wajar, atau overvalue, mereka bisa turun lagi ke level yang memang seharusnya, sehingga menjadi layak buy kembali. Dan itu sebabnya penurunan IHSG seringkali disebut sebagai koreksi, karena itu justru mengembalikan harga-harga saham ke level wajar/murah mereka masing-masing. Berdasarkan pengalaman, kenaikan harga-harga saham secara terus menerus tanpa diiringi koreksi yang sehat, pada akhirnya justru akan menimbulkan kejatuhan pasar yang jauh lebih buruk dibanding sekedar ‘koreksi sehat’ tadi. Contohnya? Well, pada tahun 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2007, IHSG terus saja naik dari posisi 700 hingga tembus 2,700, atau naik lebih dari tiga kali lipat dalam waktu tidak sampai lima tahun, dan nyaris tanpa diselingi oleh koreksi yang berarti. Tapi kita tentu sudah tahu, apa yang kemudian terjadi di tahun 2008.
    Namun untungnya, meski IHSG belum mengalami koreksi lagi sejak September 2015, tapi kenaikan IHSG dalam dua tahun terakhir terbilang moderat yakni sekitar 40%, atau dengan kata lain, kenaikannya gak sekencang tahun 2013 – 2017. Dan yang juga perlu diingat adalah, kondisi makroekonomi sekarang ini relatif lebih baik dibanding 2015, jadi kenaikan IHSG terbilang reasonable, dan penulis belum melihat tanda-tanda bahwa market crash 2008 akan kembali terulang. Namun poin penulis disini adalah, ketika IHSG naik terus tanpa ‘istirahat’ sama sekali, maka itu tidak bagus karena kita tidak lagi memiliki banyak pilihan saham untuk dibeli, karena beberapa saham berfundamental bagus sudah naik kelewat tinggi.
    Kondisi Pasar Sekarang Ini: Sedang Terkoreksi
    Kedua, meski kalau berdasarkan pergerakan IHSG-nya, maka pasar saham Indonesia boleh dikatakan belum pernah mengalami crash lagi sejak Agustus – September 2015 lalu, namun tetap saja: Ketika asing mulai keluar dari market, maka saham-saham tertentu mulai turun secara signifikan, dan terus saja turun. Dan jumlah saham yang turun ini tidak sedikit. Pada Agustus 2016 lalu, ketika euforia sentimen tax amnesty mulai mereda dan investor asing, yang sebelumnya belanja besar-besaran, mulai keluar lagi dari pasar, ketika itu IHSG tetap stabil di level 5,400-an (sempat drop ke 5,100-an di bulan September, tapi dengan cepat naik lagi). Nevertheless, ketika itu ada banyak saham yang sebelumnya terbang pada bulan Juni – Juli 2016, perlahan tapi pasti turun lagi. Yang paling penulis ingat adalah saham Gajah Tunggal (GJTL), yang pada bulan Mei – Agustus melompat dari 700-an hingga 1,700, tapi memasuki September dia mulai turun lagi, dan terus saja turun hingga akhirnya balik lagi ke 1,000-an pada akhir tahun, padahal tidak ada perubahan fundamental apapun (kalau sekarang sih, GJTL memang merugi di Kuartal II 2017).
    Tapi GJTL tidak sendirian, karena ada banyak saham lain termasuk big caps (BBRI dkk) yang juga cenderung turun pada bulan September tersebut hingga akhir tahun. Namun entah bagaimana ceritanya, IHSG-nya hanya turun sedikit saja, hingga akhirnya ditutup di posisi 5,297 pada 30 Desember (dibanding posisi tertingginya di bulan Oktober yakni 5,470).
    Dan untuk Semester Dua 2017 ini, cukup jelas bahwa kondisi yang sama kembali terjadi: IHSG-nya kelihatan baik-baik saja, tapi sejak Mei kemarin asing-nya jualan terus! Dan alhasil ada banyak saham yang turun sendiri, dan tidak main-main, beberapa dari mereka turun hingga ke posisi terendahnya dalam lima tahun terakhir (istilahnya new low). Yang paling mencolok salah satunya penurunan saham-saham konstruksi, tapi silahkan anda perhatikan lebih detil lagi: Saham-saham di sektor lain juga banyak yang digebuk, tak peduli meski fundamental mereka bagus atau jelek, tak peduli valuasinya murah atau mahal.
    Jadi kalau dikatakan bahwa pasar belum pernah mengalami koreksi lagi sejak tahun 2015, maka itu tidak sepenuhnya tepat. Yang benar adalah, pada September – Desember 2016 lalu pasar mengalami koreksi, dan pada waktu-waktu belakangan ini, pasar kembali mengalami koreksi tersebut. Namun karena disisi lain IHSG-nya tampak baik-baik saja, maka penulis menyebutnya dengan koreksi yang tidak kelihatan.
    Dan terus terang, penulis sendiri lebih suka koreksi pasar dimana IHSG-nya benar-benar turun, dibanding ‘koreksi tanggung’ seperti yang terjadi sekarang ini. I mean, biasanya kalau kita melihat bahwa IHSG akan turun, maka strateginya sangat simpel: Segera jual beberapa pegangan, dalam rangka mengumpulkan cash untuk nanti dipake belanja lagi, dan memang itu pula yang kita lakukan sebelum terjadi panic selling tahun 2015 lalu. Tapi bagaimana kalau situasinya seperti sekarang? Dimana beberapa saham memang turun, namun beberapa lagi bergerak mendatar, dan selebihnya malah terus saja naik? (karena memang IHSG-nya nggak drop). Jadi kalau anda mau masuk ke BBRI, misalnya, maka harga sekarang jelas tanggung sehingga sebaiknya kita tunggu sahamnya turun dulu, tapi nyatanya BBRI tetap saja gak mau turun karena memang IHSG-nya gak turun. Tapi kalau mau masuk ke WSKT, maka apa anda berani? Jelas-jelas dia sudah new low begitu. Penulis yakin para broker dan analis sekuritas juga sudah pusing menerima rentetan pertanyaan dari para nasabah mereka: Kenapa saham A turun? Kenapa saham B turun? Sebab dalam kondisi pasar bearish dimana IHSG-nya turun, maka mereka bisa dengan simpel menjawab, ‘Marketnya sekarang lagi bearish pak, IHSG-nya lagi turun, jadi wajar jika saham-saham pada turun. Tapi nanti juga naik lagi’.

    Tapi kalau koreksi pasar yang terjadi adalah seperti sekarang, maka bagaimana menjelaskannya ke para nasabah?? Lha wong IHSG-nya juga nggak turun kok!

    Strategi Pertama: Wait n See Diluar
    Anyway, penulis menghabiskan banyak waktu untuk menyusun ulang strategi investasi untuk menghadapi situasi pasar yang tidak-seperti-biasanya ini, dan berikut adalah beberapa opsi tindakan yang bisa anda lakukan.
    Pertama, kita bisa terapkan strategi normal ketika pasar sedang bearish, yakni: Anda bisa jual sebagian besar saham, kemudian pegang cash, dan tunggu saja sampai awal tahun 2018. Kenapa harus sampai awal tahun? Well, berkaca pada situasi pasar di Semester Dua 2016, ketika itu saham-saham big caps sekalipun, yang sebelumnya tampak tidak tergoyahkan (sementara saham-saham second liner sudah banyak yang jatuh sejak September), pada akhirnya tetap turun di akhir tahun (Desember), dan IHSG itu sendiri tetap turun meski tidak signifikan. Penyebab penurunan saham-saham ketika itu juga sama seperti sekarang: Asing jualan terus. Poin pentingnya disini adalah, sama seperti halnya kita tidak tahu apa yang menyebabkan asing jualan, kita juga tidak tahu kapan mereka akan masuk lagi ke pasar. Tapi yang jelas sampai sekarang belum ada sentimen positif tertentu yang bisa mendorong asing untuk masuk lagi. Kemudian, seperti halnya investor domestik, asing juga biasanya baru akan belanja lagi pada awal tahun.
    Kelemahan dari strategi ini adalah, anda akan miss peluang di saham-saham tertentu yang tetap bergerak naik. Yup, kalau IHSG-nya turun, maka hampir semua saham akan turun, jadi keputusan untuk ‘minggir dulu’ tetap merupakan keputusan yang terbaik. Tapi kalau IHSG-nya stagnan seperti sekarang, maka beberapa saham tetap akan naik, sama seperti di tahun 2016 dimana saham-saham batubara mulai rally justru pada bulan September – Oktober.

    Namun hanya dengan strategi inilah, anda tidak lagi menanggung risiko bahwa saham anda bakal turun (karena memang anda megang cash), dan yang paling penting: Kalau anda sejak awal sudah punya incaran saham tertentu, maka meski dalam beberapa bulan kedepan anda mau tidak mau harus bersabar dulu/jangan masuk dulu, tapi profit yang akan anda peroleh di tahun 2018 nanti bisa sangat signifikan. Contoh, pada tahun 2016 lalu, saham Bank BNI (BBNI) secara keseluruhan hanya mondar-mandir saja di 5,000 – 5,500, bahkan sempat drop sampai 4,000 di bulan Mei (lalu sempat naik karena euforia tax amnesty, tapi menjelang akhir tahun turun lagi). Tapi memasuki 2017, BBNI akhirnya rally, dan sekarang sudah di level 7,000-an, atau mencetak profit lebih dari 40% hanya dalam hitungan bulan (atau bahkan 70%, jika anda buy-nya sejak harga 4,000-an).

    Dan tidak cuma BBNI, tapi ada banyak juga saham lain yang cuma ‘ngetem’ saja sepanjang tahun 2016, tapi baru jalan lagi tahun 2017. Jadi maksud penulis adalah, meski dengan strategi ini maka anda akan tampak ketinggalan kereta karena saham-saham tertentu tetap bergerak naik, namun anda tidak perlu khawatir karena akan ada banyak ‘kereta’ lain yang menunggu anda di awal tahun 2018 nanti. Pada tahun 2016, saham-saham perbankan nyaris tidak menghasilkan profit sama sekali, dan itu tampak buruk mengingat di tahun 2016 tersebut, IHSG secara keseluruhan naik 15.3%. Tapi di tahun 2017 ini, seperti yang bisa anda lihat, BBRI dkk naiknya paling tinggi dibanding saham-saham big caps lainnya. Jadi penulis kira untuk tahun 2017 ini juga sama: Beberapa saham mungkin memang belum perform untuk tahun ini, namun mereka tetap berpeluang untuk menghasilkan profit jumbo di tahun 2018, jadi yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu sampai awal tahun. Actually, penulis sendiri sudah punya list saham-saham yang meski sekarang ini tampak terpuruk, but we’ll see, bagaimana mereka nanti di tahun 2018.
    Hanya saja, untuk mempraktekkan strategi diatas maka diperlukan kesabaran ekstra, dan jangankan menunggu sampai akhir tahun, penulis tahu persis bahwa sebagian dari anda tidak cukup sabar untuk menunggu barang satu hari. Jadi berikut adalah strategi kedua.
    Strategi Kedua: Selective Buying dengan Tetap Menyisakan Cash
    Kedua, anda bisa tetap belanja/pegang saham-saham tertentu, namun kali ini harus lebih selektif. Penulis dalam beberapa bulan terakhir mengamati saham-saham yang bergerak naik, dan terdapat setidaknya dua kesamaan: 1. Merupakan saham yang perusahaannya cukup populer, tidak hanya di mata investor tapi juga masyarakat umum, 2. Mereka sejak awal trendnya sedang naik/uptrend. Pertanyaannya, kenapa bisa timbul dua kesamaan tersebut?

    Tapi mungkin hal ini bisa menjawabnya. Beberapa waktu lalu, Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) mengklaim bahwa jumlah investor ritel di bursa, setidaknya dari jumlah rekening sekuritas, itu sudah tembus 1 juta rekening, atau meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2013 yang hanya 350 ribu rekening, thanks to kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ dan promosi-promosi lainnya yang dilakukan oleh BEI dkk. Nah, meski para investor baru ini belum tentu langsung menyetor dalam jumlah besar ke rekening sekuritas mereka (sebab sekarang ini anda bisa membuka rekening saham dengan menyetor Rp100,000 saja, berbeda dengan tahun 2009 dulu dimana  minimal setoran adalah Rp5 juta), namun yang jelas pasar saham sekarang ini didominasi oleh investor domestik (jadi tidak lagi didominasi asing seperti biasanya), dimana sebagian diantaranya merupakan wajah-wajah baru , yang tentu saja belum berpengalaman/masih perlu waktu untuk mempelajari cara menganalisa saham dll.

    Dan kalau anda berada dalam posisi sebagai investor pemula seperti itu, maka saham apa yang akan anda beli pertama kali?? Benar sekali: Saham dari perusahaan-perusahaan yang anda tahu dulu, alias terkenal, seperti Unilever (UNVR), Bank BCA (BBCA), Jasa Marga (JSMR), dst.

    Kemudian kedua, saham tersebut harus tampak sedang bergerak naik, alias sedang uptrend. Logikanya, ketika seorang investor yang masih awam tertarik pada saham tertentu, tapi saham tersebut sedang turun (misalnya konstruksi), maka otomatis dia bakal takut untuk masuk, karena bagaimana kalau besok-besok sahamnya lanjut turun lagi? Tapi ketika ia kemudian mendengar saham A sedang naik, maka dia akan masuk dengan harapan besok-besok saham A tersebut bakal naik lebih lanjut, apalagi jika ia memperoleh ‘testimoni’ dari temannya yang sudah untung di saham A tersebut karena sudah beli duluan di harga bawah, katakanlah sebulan sebelumnya.
    Dan alhasil, kalau anda perhatikan dalam beberapa bulan terakhir ini, saham yang naik terus saja naik, sementara saham yang turun terus saja turun! Semetara selebihnya sepi-sepi saja/volumenya jadi gak likuid. Normalnya kan, kalau ada saham berfundamental bagus sedang turun, maka penurunannya akan mentok di titik tertentu, yakni ketika investor menganggap bahwa valuasi saham tersebut sudah cukup murah. Tapi yang terjadi sekarang ini adalah, kalau ada saham sedang turun, maka dia bisa turun sampai berapa saja, karena entah itu investor asing maupun lokal gak ada yang mau nampung. Pasar saham sekarang ini tengah didominasi oleh investor yang, sekali lagi, hanya tertarik pada saham dari perusahaan ternama, dan sahamnya sedang bergerak naik.
    Jadi, yup, untuk strategi kedua ini adalah, diluar menetapkan kriteria bahwa sahamnya harus berfundamental bagus dan valuasinya masih murah, maka anda harus menambah setidaknya dua kriteria lagi, yakni 1. Perusahaannya populer, dan 2. Sahamnya sedang uptrend, atau minimal tidak sedang downtrend (apalagi kalau sudah new low). Kabar baiknya, meski beberapa saham yang sudah naik banyak valuasinya tidak lagi murah, tapi masih ada beberapa saham yang sedang uptrend sementara valuasinya (PER dan PBV-nya) masih rendah, jadi anda tetap punya pilihan saham untuk dibeli.
    Hanya saja strategi nomor dua diatas tentu mengandung risiko, dimana saham yang sebelumnya sudah naik banyak tentu saja bisa turun lagi kalau ada profit taking atau semacamnya, tak peduli valuasi mereka masih murah. Jadi dalam hal ini anda bisa juga ambil strategi nomor satu, yakni wait n see saja diluar. Atau, anda bisa juga tetap belanja saham-saham tertentu, namun sisakan cash dalam jumlah besar, misalnya 50 – 70% dari total porto. Secara psikologis, memegang cash dalam jumlah besar akan membantu kita untuk tetap tenang menghadapi situasi pasar yang, sekali lagi, tidak-seperti-biasanya ini, termasuk gak akan merasa berat untuk cut loss, jika sewaktu-waktu itu memang harus dilakukan.

    Dan kalaupun anda memilih untuk wait n see saja diluar, maka ingat sekarang sudah bulan September, yang artinya ‘tahun depan’ itu tinggal 3 – 4 bulan lagi, alias nggak selama itu juga/itungannya masih jangka pendek. Anyway, strategi manapun yang anda pilih, tapi intinya ingat bahwa kalau kinerja portofolio anda belakangan ini kurang memuaskan, maka anda tidak sendirian karena orang lain juga sama begitu, karena IHSG-nya sama sekali tidak se-stabil kelihatannya, dan ingat pula bahwa pasar tidak akan selamanya bersikap ‘kurang bersahabat’ seperti sekarang ini, melainkan nanti akan ada masanya lagi dimana Mr. Market akan kembali merangkul para investor yang mampu untuk bersabar. Tahun 2015 lalu, entah berapa banyak investor ritel yang rugi besar-besaran ketika IHSG sejatinya hanya drop 12%, namun hanya mereka yang mampu bertahan-lah, yang kemudian meraup profit jumbo ketika di tahun 2016-nya, IHSG kembali naik 15%. So, good luck!

    Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja emiten di Kuartal II 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Mengatasi Rasa Takut dalam Berinvestasi

    Salah satu musuh terbesar investor dalam berinvestasi saham adalah timbulnya rasa takut, entah itu ketika akan mulai berinvestasi/membuka rekening di sekuritas, atau ketika membeli/meng-hold saham sendiri, dimana sumber ketakutan itu hanya satu: Takut rugi, dan takut kehilangan uang. Bahkan lebih dari itu: Ketika anda beli saham di harga 1,000, kemudian dia naik ke 1,200 (sehingga anda untung 20%), maka tetap saja anda akan takut kalau-kalau sahamnya nanti turun lagi, sehingga untung 20% tersebut akan hilang lagi. Jadi meski posisi anda sebenarnya tidak rugi, tapi anda tetap takut kalau-kalau keuntungan yang sudah diperoleh sebelumnya akan hilang.

    Masalahnya, ketika seorang investor mulai merasa takut, maka itu akan mendorongnya untuk bertindak secara tidak rasional, seperti contoh diatas: Menjual saham bagus dalam posisi profit hanya karena ‘khawatir besok turun lagi’, padahal saham tersebut dalam jangka panjang masih bisa naik lagi, dan bisa jadi ternyata dia malah tidak pernah turun, sehingga dalam hal ini anda justru sudah ‘cut profit’. Sebaliknya, banyak juga orang yang tidak mau cut loss di saham karena takut merealisasikan kerugian, padahal itu justru menyebabkan ruginya tambah besar ketika sahamnya lanjut turun.
    Jadi pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa mengatasi rasa takut ini, sehingga pada akhirnya kita bisa tetap mengelola portofolio dengan rasional sesuai dengan analisa yang sudah kita buat dengan hati-hati sebelumnya? Well, tentunya ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, termasuk saya juga pernah membahas soal ini di buku ‘The Calm Investor’. Tapi dalam artikel kali ini kita hanya membahas satu diantaranya saja.
    The ‘Real Fear’ Experience
    So here’s the story. Pada Desember 2016 lalu, penulis bersama teman-teman sesama traveller pergi selama empat hari ke Pulau Derawan, Kalimantan Timur, untuk bermain pasir, berenang di pantai, melihat ikan Manta dan Hiu Paus, serta nyebur ke Danau Labuan Cermin yang airnya sebening Raisa. Pada hari pertama, kedua, dan ketiga, semuanya berjalan lancar dan menyenangkan, dimana setiap kali kita berpindah dari satu pulau ke pulau lain dengan menggunakan speedboat, maka penulis selalu mengobrol dan tertawa lepas bersama semua teman-teman yang lain.
    Penulis (kaos merah) dengan teman-teman yang lain di sebuah pulau kecil dengan laguna ditengahnya.

    Namun pada hari keempat, ketika kami akan pulang menuju Pelabuhan Tanjung Batu (untuk selanjutnya naik mobil carteran menuju Bandara Kota Berau, lalu terbang pulang), terjadilah satu peristiwa yang tidak akan pernah penulis lupakan seumur hidup. Jadi sore itu, sekitar pukul 16.00, speedboat yang kami tumpangi berhenti di sebuah pulau untuk mengisi bensin, kemudian jalan lagi. Pengemudi kapal mengatakan bahwa perjalanan menuju Tanjung Batu akan menempuh waktu 4 jam, alias lumayan lama, jadi kami akan tiba di Pelabuhan pukul 20.00 malam. Dua jam pertama perjalanan terasa menyenangkan, dan penulis sempat melihat sunset dari tengah-tengah laut.
    Namun sekitar pukul 19.00, ketika langit sudah gelap sama sekali, mulai turun hujan, lama kelamaan semakin deras, dan lautpun mulai bergelombang sehingga pengemudi speedboat menurunkan kecepatan. Ketika itu penulis sendiri mulai merasa was-was, terutama karena meski speedboat-nya melaju dengan kecepatan pelan, namun tetap saja tingginya ombak laut membuat kapal lebih goyang dibanding biasanya. Suasana ceria di dalam kapal mulai berubah menjadi mencekam, apalagi hujannya tidak juga mereda setelah beberapa waktu.
    Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, alias sudah terlambat satu jam tapi kami masih berada di tengah laut, dalam situasi hujan deras dan laut bergelombang, dan sejauh mata memandang tidak nampak apapun kecuali kegelapan. Pada saat itulah, kapal berhenti, si pengemudi berdiri dari tempat duduknya, celingak celinguk, kemudian berdiskusi dengan co-pilotnya. Dan penulis, yang kebetulan duduk persis dibelakang kursi pengemudi, bisa mendengar si pengemudi bertanya ke temannya dengan nada berbisik, ‘Kayanya kita nyasar, ini dimana ya?’ WHAAAATT?? Kalau supirnya aja udah gak tau ini dimana, apalagi para penumpang yang gak ngerti apa-apa?? Kemudian si co-pilot ke belakang kapal sebentar lalu balik lagi, dan dia mengatakan, ‘Bensinnya tinggal segini lagi.’
    Dan sketika itulah penulis mulai berpikir macam-macam, termasuk ingat dengan keluarga di rumah, ingat dengan senyum dan tawa anak-anak dirumah! Penulis untuk pertama kalinya setelah sekian lama merasa takut, dan saya sempat meraih ponsel untuk mengirim pesan terakhir ke orang rumah, tapi tidak ada sinyal. Kapal tetap berhenti dan terombang ambing di tengah laut selama sekitar setengah jam, dan itu adalah setengah jam terlama yang pernah penulis alami. Penulis, termasuk teman-teman lainnya, sama sekali tidak ada yang berani bertanya kepada para awak kapal, tentang apa yang sebenarnya terjadi, melainkan kami semua hanya diam saja, tapi tidak ada seorangpun yang bisa rileks apalagi tidur.
    Hingga sekitar pukul 21.30, hujan mulai reda, dan di kejauhan mulai tampak cahaya lampu kerlap kerlip. Pengemudi kapal kemudian kemudian memberikan pengumuman, ‘Maaf udah menunggu lama, tapi itu Tanjung Batu udah keliatan didepan, paling 15 menit lagi lah kita sampai..’ ALHAMDULILLAAAAAHHH! Penulis dan teman-teman yang lain spontan berucap, dan suasana mencekam didalam kapal langsung cair. Penulis sempat bertanya lagi, ‘Bensinnya cukup mas?’, dan si awak kapal tersenyum, ‘Cukup kok’. Kapal kemudian melaju lagi, dan semua orang mendadak ceria lagi. Sekitar 15 menit kemudian kami akhirnya mendarat di pelabuhan, dan semua ketakutan serta kekhawatiran seketika hilang begitu saja, dan penulis sempat saling berpelukan dengan semua teman, satu per satu, bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk hidup. Daaan sekitar seminggu kemudian (sebelum pulang, penulis mampir dan jalan-jalan dulu ke Samarinda dan Balikpapan), penulis akhirnya bisa ketemu lagi sama anak-anak, dan Alhamdulillah saya sehat-sehat saja sampai sekarang.
    To Beat the Fear: Live A ‘Dangerous Life’
    Okay, balik lagi ke soal investasi saham. Jadi kenapa anda takut invest di saham? Ya karena takut rugi. Dan jangankan hilang duit begitu saja karena saham, hilang duit karena membeli sesuatu sekalipun terkadang tetap terasa menakutkan (kalo bisa gratis, atau hanya perlu bayar murah, maka kenapa musti bayar mahal?). Bagi seseorang dengan kehidupan yang penuh rutinitas, yang setiap bulan menerima penghasilan sekian, yang sehat secara mental maupun fisik serta tidak kurang suatu apapun, maka kehilangan uang, entah itu di saham atau lainnya, sudah merupakan sesuatu yang sangat menakutkan, karena diluar itu maka tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, karena hidup mereka ‘lempeng-lempeng’ saja.
    However, kalau anda belum pernah menghadapi sesuatu yang lain yang lebih menakutkan, maka anda akan gampang ‘meledak’ meski menderita rugi sedikit saja. Contoh, penulis pernah menerima email seperti ini, ‘Pak Teguh, itu kenapa ya saham A dibanting keras sekali sampe sedalem itu? Ada berita apa??’ Setelah penulis cek, saham A itu ternyata cuma turun dari 880 ke 855, atau turun 2.8%, dan sebelumnya saham A ini udah naik banyak dari 700. Tapi bagi teman penulis ini, ketika ia melihat sahamnya turun segitu, maka ia sudah merasa bahwa dirinya ‘dibanting keras sekali’ hingga hilang keseimbangan, dan akhirnya jatuh K.O (baca: panik, kemudian hilang fokus). Dan kalo sudah hilang fokus begitu maka ya sudah, selanjutnya portofolio anda bakal berantakan.
    Jadi agar kita tidak terjebak dalam situasi seperti itu, maka kita harus memiliki atau melakukan sesuatu yang bisa jadi lebih menakutkan, dan lebih menaikkan adrenalin! Dibanding sekedar takut rugi karena berinvestasi di saham. Contohnya?? Ya seperti yang penulis lakukan: Dengan travelling, dengan pergi berpetualang! Actually, selain pernah nyasar di laut seperti yang diceritakan diatas, penulis pernah sore-sore turun sendirian dari Gunung Slamet tanpa ada seorangpun yang menemani (rombongan penulis terbagi jadi dua, dan entah gimana ceritanya penulis tidak bergabung dengan rombongan didepan maupun belakang, melainkan jalan sendirian saja di tengah-tengah), sementara ketika itu langit mulai gelap padahal penulis masih di tengah hutan. Beruntung, 15 menit kemudian penulis sampai di sebuah pos dimana disitu ada banyak pendaki-pendaki lain, dan saya kemudian bergabung dengan salah satu rombongan untuk lanjut turun, tapi penulis tidak akan pernah melupakan 15 menit tersebut. Kemudian penulis pernah juga nyetir mobil sendirian melintasi Alas Roban di Jawa Tengah, pada waktu antara Magrib dan Isya, dalam kondisi jalan yang amat sangat sepi. Dan meski penulis (untungnya) tidak melihat, mendengar, atau merasakan apapun, tapi rasa takut yang penulis alami ketika melewati jalan yang terkenal angker tersebut sungguh sangat sulit untuk dijelaskan.
    Dan seterusnya, dan seterusnya. Pendek kata, dengan terus bepergian kesana kemari, dengan menjalani banyak pengalaman baru,? maka anda akan menyadari bahwa ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih menakutkan ketimbang sekedar kehilangan uang! Dan hal itu dengan sendirinya menguatkan mental anda sebagai investor dalam menghadapi ‘kejamnya’ pasar saham karena, coba pikir, kalau misalnya anda sewaktu-waktu menderita rugi, maka anda tetap bisa untung lagi di waktu yang lain. Tapi bagaimana kalau anda nyasar di tengah laut dan gak bisa kembali di darat?? Apakah ketika terombang ambing di tengah laut anda masih bisa mikir, ‘besok saham gue bakal naik atau turun ya’???
    Hanya masalahnya, beberapa orang mungkin tidak punya cukup waktu untuk jalan-jalan, tapi intinya disini bukan jalan-jalannya, melainkan anda bisa melakukan sesuatu yang anda anggap menakutkan, entah itu nangkep tokek di rumah pake tangan kosong, naik ke rooftop sebuah gedung tinggi kemudian melihat ke bawah, mencoba berbicara di depan umum (bagi yang sudah biasa, berbicara di depan umum sama sekali tidak menakutkan. Tapi bagi mereka yang belum pernah melakukannya, maka itu akan menjadi pengalaman yang menakutkan), atau anda bisa bergabung dengan korps marinir untuk ikut latihan militer (yang ini penulis belum pernah, tapi terus terang saya tertarik juga). Trust me, dengan ‘live a dangerous life’, atau melakukan hal-hal yang belum pernah anda lakukan sebelumnya, maka itu akan membuat anda menjadi strong secara mental, dan anda akan sampai pada satu titik dimana anda menganggap bahwa rasa takut karena rugi di saham, itu sama sekali gak ada apa-apanya.
    Dan kalau anda sudah sampai pada titik tersebut, well, welcome to the fearless club! :D
    Btw penulis tadinya mau membahas soal semen, tapi saya belum melihat adanya peluang di sektor ini, jadi diganti tulisan ini saja. Minggu depan mungkin kita akan membahas saham-saham mineral non batubara (ANTM, TINS, INCO).


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram