Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Saatnya Beli Saham Batubara?

Pada Jumat kemarin IHSG ditutup di posisi 4,857, sehingga secara year to date, IHSG sudah turun lebih dari 7%. Dalam kondisi seperti ini maka sudah tentu sebagian besar saham-saham di BEI mengalami penurunan, namun menariknya, tidak ada yang turun sedalam saham-saham pertambangan, khususnya batubara. Berdasarkan statistik BEI, indeks sektor tambang sudah anjlok 26.3% sepanjang tahun 2015, terburuk dibanding sektor manapun, padahal saham-saham di sektor ini sudah turun banyak di tahun-tahun sebelumnya. Beberapa saham batubara bahkan sudah turun lebih dari 90%, jika dihitung dari posisi puncak mereka di tahun 2011.

Disisi lain, jika melihat kinerja perusahaan-perusahaan batubara di Kuartal I 2015 yang terbilang masih buruk, maka penurunan tersebut menjadi beralasan. Sudah gitu, sampai sekarang harga batubara masih terus saja turun, sehingga outlooknya otomatis menjadi suram.
Namun, apakah keadaannya akan begini terus? Maksud penulis, sampai sekarang harga batubara memang masih turun, tapi apakah selamanya dia akan turun terus? Jika pembangkit-pembangkit listrik di seluruh dunia udah nggak pake batubara lagi, maka jawabannya mungkin iya, tapi kan faktanya sama sekali tidak demikian. Berdasarkan data dari www.worldcoal.com, saat ini sekitar 41% pembangkit-pembangkit listrik di seluruh dunia masih menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Ketika Pemerintah meresmikan dimulainya proyek pembangunan pembangkit listrik 35,000 MW, akhir Mei lalu, maka sebagian besar pembangkit listrik tersebut juga menggunakan bahan batubara. Menurut Menteri ESDM, Sudirman Said, kalau nanti pembangunan pembangkit listrik tersebut selesai dan mulai beroperasi, maka konsumsi batubara Indonesia akan melonjak dari saat ini hanya 90 juta ton per tahun, menjadi sekitar 200 juta ton per tahun (mudah-mudahan lancar, karena membangun proyek ambisius seperti itu tentu saja nggak gampang).
Tapi kalau dunia masih membutuhkan batubara, lalu kenapa harga batubara terus saja turun? Well, penyebabnya tentu ada banyak faktor, namun salah satunya yang paling berpengaruh adalah karena oversupply. Pada tahun 2012 lalu, Indonesia sempat menjadi negara terbesar kelima produsen batubara (dibawah Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Australia), namun tingkat konsumsi batubaranya justru sangat rendah, sehingga sebagian besar hasil produksi batubara tersebut diekspor Tiongkok, India, dan Jepang, terutama Tiongkok yang merupakan negara konsumen batubara terbesar di dunia (posisi kedua sebagai konsumen batubara terbesar ditempati oleh Amerika, tapi jaraknya terlalu jauh dari Indonesia).
Jadi ketika pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus saja melambat dalam beberapa tahun terakhir, maka pertumbuhan konsumsi batubaranya juga tidak lagi sekencang sebelumnya. Padahal disisi lain, perusahaan-perusahaan batubara diseluruh dunia, termasuk Indonesia, terus saja meningkatkan volume produksinya (sepanjang tahun 2014 Indonesia memproduksi 458 juta ton batubara, atau mulai turun dibanding tahun 2013 sebanyak 474 juta ton, tapi masih jauh lebih besar dibanding tahun 2011 sebanyak 353 juta ton). Ke-tidak sinkron-an antara supply dan demand inilah, yang pada akhirnya membuat harga batubara kemudian turun. Jika suatu waktu nanti posisi supply dan demand ini kembali ketemu, entah itu karena tingkat supply-nya yang turun atau demand-nya yang naik, maka ketika itulah harga batubara akan pulih kembali.
Dan penulis tidak tahu soal supply, namun demand batubara untuk pembangkit listrik seharusnya akan terus naik dalam jangka panjang, karena listrik merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh orang banyak secara terus menerus, sementara jumlah penduduk itu sendiri juga terus meningkat. Jadi pada akhirnya mungkin cuma soal waktu saja sebelum harga batubara naik kembali, meski tentu, kita tidak akan pernah tahu kapan itu akan terjadi.
Saatnya Belanja?
Dalam value investing, seperti yang sudah penulis sebutkan berkali-kali di banyak artikel di website ini, kita hanya membeli saham yang: 1. Perusahaannya mencatat kinerja terbaru yang bagus, dan 2. Valuasinya masih murah. Kalau anda menemukan dua saham yang memenuhi dua kriteria tersebut namun hanya mau membeli salah satu diantaranya, maka boleh seleksi lebih lanjut dengan kriteria ketiga: 3. Perusahaannya memiliki outlook/masa depan yang cerah, baik itu dalam jangka pendek (satu tahun atau kurang), atau panjang. Kriteria nomor 3 ini memang sedikit spekulatif karena kita tentu tidak bisa melihat masa depan. Namun berdasarkan pengalaman, perusahaan yang memiliki track record kinerja yang bagus di masa lalu, serta dikelola oleh tim manajemen yang jujur, maka biasanya akan juga memiliki kinerja yang baik di masa yang akan datang.
Sayangnya, kalau kita cek lagi kinerja terakhir perusahaan-perusahaan batubara di Kuartal I kemarin, maka praktis tidak ada emiten yang memiliki kinerja bagus, dimana perusahaan sekelas Bukit Asam (PTBA) sekalipun mencatat penurunan laba hingga 37%. Beberapa perusahaan seperti Garda Tujuh Buana (GTBO), bahkan sampai berhenti beroperasi sebagian, karena sudah tidak tahan lagi dengan penurunan harga batubara. Kalau bukan karena di-suspend, maka saham GTBO mungkin akan bernasib seperti BUMI yang sudah sangat dekat dengan level gocapan.

GTBO.. Nasibmu Kini

Jadi dalam pandangan value investor, untuk saat ini masih belum waktunya untuk masuk ke saham-saham batubara, karena belum ada diantara mereka yang memenuhi kriteria nomor 1 diatas.
Namun disisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa saham-saham batubara saat ini sudah sedemikian murahnya, dimana ada beberapa perusahaan batubara yang: 1. Mayoritas asetnya berupa dana cash atau aset lancar lainnya, 2. Hanya punya sedikit utang, atau bahkan tidak punya utang sama sekali dan 3. Punya cadangan batubara segunung yang siap ‘dipanen’ sewaktu-waktu kalau nanti harga batubara naik kembali, tapi PBV-nya sudah kurang dari 1 kali. Beberapa perusahaan batubara mungkin bermasalah dengan utang-utangnya yang amat sangat besar, sehingga kemungkin akan sulit bagi mereka untuk mencatat kinerja yang positif bahkan ketika nanti harga batubara mulai kembali naik, tapi perusahaan-perusahaan yang lainnya kan gak ada masalah apa-apa toh? Dimana kinerja mereka turun bukan karena perusahaannya jelek atau, namun karena sektornya yang lagi lesu saja.
Nah, kalau kita balik lagi ke soal kriteria diatas, maka pada saat ini anda sudah bisa menemukan saham-saham batubara yang: 1. Valuasinya murah, dan 2. Dengan mempertimbangkan kinerja apiknya di masa lalu, maka perusahaannya memiliki outlook jangka panjang yang cerah (kenapa jangka panjang? Karena dalam jangka pendek, dalam hal ini satu tahun atau kurang, maka harga batubaranya minimal harus naik dulu, dan setelah itu baru perusahaan akan profit lagi). Dengan demikian, kita hanya perlu melakukan satu hal lagi: Tunggu hingga perusahaan mencatatkan kinerja yang bagus, lalu sikat!
However, jika anda pegang dana yang besaaaaarr, maka mungkin anda tidak perlu menunggu, melainkan sudah boleh nyicil dari sekarang. Kenapa demikian? Karena seperti umumnya saham-saham yang sudah murah, maka mayoritas saham-saham batubara pada saat ini sudah tidak likuid lagi, sehingga anda tidak mungkin bisa membelinya dalam satu kali hajar kanan, melainkan perlu waktu berhari-hari, atau bahkan lebih lama lagi.
Selain itu, dalam hal ini penulis jadi ingat dengan saham-saham properti di tahun 2010. Ketika itu perusahaan-perusahaan properti juga memiliki kinerja yang buruk, imbas dari krisis global tahun 2007 – 2008 yang kebetulah penyebabnya adalah karena macetnya kredit perumahan/properti (jadi pada tahun 2007 hingga 2010, kondisi sektor properti mirip seperti kondisi sektor batubara pada saat ini). Alhasil, saham-saham properti semuanya jeblok, dimana ketika itu tidak ada satupun saham properti yang harganya diatas 1,000 perak.
Tapi siapa sangka, hanya setahun kemudian yakni pada tahun 2011, perusahaan-perusahaan properti mulai mencatat kinerja yang bagus, buah dari pertumbuhan ekonomi yang ketika itu sempat mencapai rekor 6.9%. Dan sudah tentu, saham-saham properti mulai merangkak naik.. dan terus naik.. hingga mencapai puncaknya pada tahun 2013 lalu. Jadi jika seseorang membeli saham properti di tahun 2010, maka dia akan memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat.. hanya dalam tempo tiga tahun kemudian. Salah satu perusahaan properti yang paling sukses, Alam Sutera Realty (ASRI) bahkan naik dari level 100-an di tahun 2010, hingga sempat menembus 1,000 di tahun 2013, atau naik sepuluh kali lipat!
Padahal kinerja ASRI di tahun 2010 sama sekali belum tampak bagus,sehingga keputusan untuk membelinya ketika itu mungkin tampak sebagai keputusan yang bodoh.
Jadi yah, mungkin itu sebabnya Grup Sinarmas ngebet masuk ke Berau Coal Energy (BRAU), dan bisa jadi grup-grup besar lainnya juga diam-diam mulai nyicil saham-saham batubara. Mereka mungkin tidak peduli meski dalam jangka pendek bisnis batubara masih suram, karena toh dalam jangka panjang, dan memang sudah seharusnya, pada akhirnya harga batubara akan naik kembali (penurunan harga batubara dalam beberapa tahun terakhir hanyalah bagian dari siklus yang normal). Dan jika mereka beruntung, maka profit yang diperoleh mungkin bukan lagi sekian persen, melainkan sekian kali lipat.
However, jika dana anda tidak sebesar Sinarmas, maka lebih baik tunggu dulu, ketimbang harus harap-harap cemas dengan perkembangan harga batubara. Selain itu ingat bahwa posisi anda sebagai pemegang saham minoritas tentu saja berbeda dengan pemegang saham mayoritas, dimana anda tidak punya kendali atas manajemen yang bisa ‘mengutak atik’ perusahaan. Kalau nanti harga batubara kembali naik, maka ketimbang BUMI, BRAU atau sejenisnya, maka perusahaan-perusahaan batubara yang bebas utang seperti PTBA, Harum Energy (HRUM), atau Resource Alam Indonesia (KKGI), tentu jauh lebih menarik. Tapi sekali lagi, untuk saat ini sebaiknya anda tunggu dulu.

Dan selama menunggu tersebut, perhatian bisa tetap difokuskan pada saham-saham lain yang perusahaannya jelas-jelas memiliki kinerja yang bagus. Kebetulan dalam waktu seminggu kedepan para emiten akan merilis laporan keuangan mereka untuk periode Kuartal II 2015, so let the hunt begin!

Buletin Stockpick Saham dan Analisis IHSG Bulanan edisi Agustus sudah terbit. Anda bisa memperolehnya 

Ebook Analisis Kuartal II 2015

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal II 2015. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten untuk periode Kuartal II 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, dan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 10 Agustus 2015. Anda bisa memperoleh ebook-nya dengan cara preorder, keterangan selengkapnya baca disini.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu (biayanya masih tetap sama seperti tahun 2010 lalu, jadi tidak naik sama sekali).
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan selanjutnya terbit setiap kuartal sekali (setahun empat kali). Jadi edisi kali ini merupakan edisi kedua puluh. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca lagi contoh-contoh analisis saham yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini. Dan berikut ini adalah contoh tiga analisis/rekomendasi saham terbaru:
  1. Megapolitan Developments (EMDE)
  2. Sri Rejeki Isman (SRIL)
  3. PP Properti (PPRO), dan seterusnya
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com [...]

Sinarmas Akuisisi Berau Coal: Why?

Perusahaan batubara yang sahamnya sebentar lagi bakal mati di gocapan, Bumi Resources (BUMI), barusan merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal I 2015 (seperti biasa telat mulu). Dan hasilnya? Tambah nyungsep! BUMI melaporkan rugi bersih US$ 344 juta, yang menyebabkan defisiensi ekuitasnya kembali meningkat hingga kini sudah tembus US$ 1.2 milyar. Lebih gila lagi, dari total kewajiban perusahaan senilai US$ 5.7 milyar, US$ 3.6 milyar atau Rp48 trilyun diantaranya merupakan utang bank yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun. Jadi sekarang, dengan kondisi saat ini dimana harga batubara masih terus saja turun, lalu bagaimana caranya agar BUMI dapat membayar utang sebesar itu dalam waktu kurang dari satu tahun?

Meski tampak sangat buruk, namun hebatnya sampai sekarang belum pernah terdengar berita bahwa BUMI mengalami gagal bayar utang atau default. Memang, pada November 2014 lalu perusahaan sempat gagal membayar kupon salah satu obligasinya yang diterbitkan di Singapura, namun yang gagal dibayar adalah kupon obligasi, bukan obligasi itu sendiri (karena obligasi tersebut baru akan jatuh tempo tahun 2017). Dan ketika itupun, entah bagaimana caranya pihak manajemen bisa memperoleh perlindungan dari pengadilan di Singapura untuk melindungi perusahaan dari kemungkinan adanya tuntutan hukum dari para pemegang obligasi (karena hak mereka untuk menerima kupon/bunga obligasi telah dilanggar oleh BUMI).
Namun, nasib yang berbeda dialami oleh Berau Coal Energy (BRAU).
BRAU dulunya dimiliki oleh Grup Recapital, perusahaan investasi milik duo pengusaha muda Sandi Uno dan Rosan Roeslani. Karena Rosan adalah anak buah dari Nirwan Bakrie, yang notabene merupakan orang nomor satu di Grup Bakrie, maka otomatis BRAU memiliki hubungan langsung dengan Grup Bakrie dan juga BUMI. Ketika pada tahun 2011 lalu Grup Bakrie mengadakan kerja sama tukar guling saham BUMI dengan saham Bumi Plcmilik Nathaniel Rothschild yang terdaftar di Bursa London, maka saham BRAU juga turut dimasukkan kedalam perjanjian tukar guling saham tersebut. Alhasil pada tahun 2011 lalu Grup Bakrie dan Recapital sama-sama memegang sekian persen saham Bumi Plc, sementara Bumi Plc itu sendiri memegang 75% saham BRAU (yang kemudian ditingkatkan menjadi 85%), dan 29.2% saham BUMI.
Belakangan, seperti yang mungkin sudah anda ketahui, Bakrie pecah kongsi dengan Mr. Nathaniel. Dan setelah pertarungan berkepanjangan selama nyaris dua tahun, pada akhirnya Nathaniel kalah dimana Bumi Plc harus mengembalikan BUMI sepenuhnya ke tangan Grup Bakrie, namun mereka masih menjadi pemegang saham mayoritas di BRAU. Bagi Grup Bakrie atau Recapital sendiri, mereka sepertinya tidak terlalu ambil pusing kalau harus kehilangan BRAU, asalkan BUMI kembali ke pangkuan. Keputusan final bahwa Grup Bakrie dan Recapital putus hubungan sama sekali dengan Bumi Plc, termasuk bahwa Recapital tidak lagi memegang BRAU (tapi Bakrie tetap sepenuhnya memegang BUMI), terjadi pada Februari 2013.
Jadi terhitung sejak Februari 2013 tersebut, BRAU sudah tidak ada sangkut pautnya lagi baik itu dengan Grup Bakrie maupun Rcapital. Nama Bumi Plc sendiri (pemegang saham BRAU) kemudian berubah menjadi Asia Resource Minerals Plc (ARMS), dan masih tetap terdaftar di Bursa London, Inggris.
Nah, disinilah menariknya: Seperti halnya BUMI, Grup Recapital mengelola BRAU menggunakan metode ala ‘Bakrie style’, dimana perusahaan dibebani oleh banyak sekali utang. Dan baik itu Grup Bakrie maupun Recapital sangat hebat dalam hal men-treatmentkreditor, sehingga meskipun kondisinya sangat sulit akibat lesunya industri batubara, namun mereka berkali-kali mampu lolos dari ancaman default. Termasuk BUMI, seperti yang sudah disebut diatas, sampai sekarang masih belum benar-benar bermasalah dengan utang-utangnya.
Tapi sepertinya pemilik baru BRAU, yakni Nat Rothschild, tidak memiliki kemampuan yang sama. Jadi ketika pada awal tahun 2015 lalu BRAU terancam tidak bisa melunasi utang obligasinya sebesar US$ 450 juta yang akan jatuh tempo pada tanggal 8 Juli 2015, ternyata pihak manajemen tidak mampu melakukan lobi-lobi untuk menunda pembayaran entah itu ke pengadilan (seperti yang dilakukan manajemen BUMI) atau langsung ke pemegang obligasinya. Dan alhasil obligasi tersebut sekarang resmi default.
Status default tersebut mengharuskan Nat Rotschild sebagai pemegang saham BRAU untuk menjual aset-aset yang dimiliki oleh BRAU pada harga berapapun, atau bahkan mungkin menjual BRAU itu sendiri, dalam hal ini mayoritas sahamnya, sehingga Nat tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali di BRAU.
Dan sepertinya peluang itulah yang ditangkap oleh Grup Sinarmas. Pada keterbukaan informasi yang dirilis pada April 2015 lalu oleh United Fiber System (Unifiber), perusahaan batubara milik Grup Sinarmas yang listing di Bursa Singapura, manajemen Unifiber menyatakan bahwa perusahaan telah mencapai kesepakatan dengan Nat Rothschild untuk mengakuisisi ARMS, yang itu artinya secara tidak langsung mengakuisisi BRAU.
Logo Unifiber. Unifiber adalah anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), perusahaan batubara milik Grup Sinarmas
Pertanyaannya sekarang, kenapa Sinarmas berani mengakuisisi BRAU? Bukankah itu berarti justru mereka-lah yang sekarang harus membayar utang obligasi sebesar US$ 450 juta tadi? Dan itu bahkan termasuk obligasi lainnya senilai US$ 500 juta yang akan jatuh tempo tahun 2017 nanti. Okay, katakanlah Sinarmas punya cukup dana untuk melunasi semua utang-utang tersebut, yang jika ditambah dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi BRAU itu sendiri, maka totalnya mereka harus keluar duit lebih dari US$ 1 milyar. Lalu apakah BRAU memang se-berharga itu, sampai-sampai mereka rela mengeluarkan duit sebanyak itu?
Karena kalau melihat laporan keuangan BRAU yang terakhir yakni periode Kuartal III 2014 (sejak perusahaan mengalami default, BRAU belum merilis laporan keuangan terbarunya lagi. Dan ini berbeda dengan BUMI yang, meski masih telat seperti biasanya, tapi laporan keuangannya untuk Kuartal I 2015 sudah dirilis), ekuitas BRAU juga mulai minus alias defisiensi modal, gara-gara perusahaan terus menerus menderita kerugian. Saham BRAU sendiri terus saja turun hingga akhirnya di-suspend pada harga 82.
Sementara jika kita asumsikan bahwa Grup Sinarmas harus keluar persis US$ 1 milyar atau setara Rp13.2 trilyun untuk mengakuisisi 85% saham BRAU (melalui ARMS), maka itu artinya mereka membeli saham BRAU pada harga.. Rp450 per lembar! Masuk akal? Kalau di mata investor retail, jelas tidak! Kenapa juga anda harus membeli BRAU pada harga 450, kalau anda bisa beli pada harga 82 perak di pasar??? (meskipun untuk saat ini nggak bisa, soalnya BRAU lagi di-suspend).
Tapi pertanyaan yang sama juga mungkin akan timbul kalau anda mencermati fakta bahwa Grup Bakrie, ketika dulu mereka sukses merebut kembali 29.2% saham BUMI dari tangan Bumi Plc, maka mereka harus membayar US$ 501 juta untuk saham BUMI tersebut, yang setara dengan kurang lebih Rp1,000 untuk per lembar saham BUMI! Fakta menariknya adalah, bahkan Nat Rotschild-pun sebenarnya tidak akan melepas BUMI pada harga berapapun kalau bukan karena terpaksa. Jadi bagaimana ceritanya dua raksasa ini (Bakrie dan Rothschild) kok bisa-bisanya rebutan saham gocapan, pada harga tinggi pula?
Dan sekarang kenapa Sinarmas malah ikut-ikutan? Meski yang diakuisisi Sinarmas adalah BRAU dan bukannya BUMI, namun itu karena yang mengalami default adalah BRAU. Grup Sinarmas sendiri mungkin gak akan bisa masuk ke BRAU kalau bukan karena default tersebut. Jadi coba pikir: Kalau nanti BUMI pada akhirnya mengalami default juga (sehingga Bakrie mau tidak mau harus melepasnya), maka Sinarmas, dan mungkin juga grup-grup besar lainnya, bisa jadi akan berebut BUMI ini. Pertanyaannya sekali lagi, BUMI dan BRAU ini apa bagusnya? Atau lebih spesifiknya lagi, terlepas dari berapapun harga sahamnya, kenapa dua saham yang cenderung dihindari oleh investor ritel ini justru menjadi rebutan para pemain besar???

Dan jika Sinarmas saja berani beli BRAU, bahkan pada harga yang jauh diatas harga pasar, lalu apakah kita sebagai investor ritel juga boleh ikut masuk?
Anyway, karena artikelnya sudah cukup panjang, dan sepertinya kelanjutannya bakalan lebih panjang lagi, maka selebihnya akan kita bahas minggu depan. Namun sebelum itu, anda mungkin bisa menjawab pertanyaan diatas melalui kolom komentar dibawah. Sedikit clue, untuk bisa menjawab pertanyaan diatas, maka anda harus berpikir layaknya pemegang saham pengendali atas BUMI dan juga BRAU, dan bukan sekedar pemegang saham ritel yang untung atau ruginya ditentukan oleh kenaikan atau penurunan sahamnya di pasar.

Pengumuman: Layanan preorder untuk buku analisis saham terbaru edisi Kuartal II 2015, sudah dibuka! Keterangan selengkapnya baca [...]

Bursa Tiongkok Jatuh, What Happen?

Pada tanggal 12 Juni lalu, setelah baru saja mencetah another new high di 5,178, Indeks Shanghai Stock Exchange (SSE) tiba-tiba saja turun dengan cepat.. dan terus turun hingga sempat balik lagi ke posisi 3,383 pada tanggal 9 Juli kemarin, atau anjlok lebih dari 30% hanya dalam tempo kurang dari sebulan! Penurunan yang dialami SSE ini begitu cepat dan begitu tiba-tiba, hingga kemudian menimbulkan pertanyaan dari investor di seluruh dunia termasuk di Indonesia: Apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tiongkok? Apakah benar bahwa disana sedang terjadi krisis?

Dan kalau bukan karena kebijakan otoritas Bursa Tiongkok bahwa sebuah saham hanya bisa turun maksimal hingga 10% dalam satu hari (kalau di Indonesia istilahnya auto reject kiri), maka SSE seharusnya anjlok lebih rendah lagi. Pada hari Rabu, tanggal 8 Juli, nyaris separuh dari saham-saham yang diperdagangkan di SSE (dan juga di Shenzhen) di-suspend, karena penurunan mereka sudah mencapai 10%. Sekarang anda bayangkan: Jika tidak ada kebijakan batas maksimal penurunan ini, dimana saham-saham di SSE bisa saja turun hingga 25% dalam sehari seperti yang bisa (dan pernah) terjadi pada saham-saham tertentu di BEI, maka kira-kira bakal bagaimana jadinya?
Meski tampak mengkhawatirkan, namun jika anda sudah mengamati pola pergerakan SSE ini sejak awal, dalam hal ini sejak setahunan lalu, maka anda mungkin sudah memprediksi bahwa kejatuhan SSE ini cepat atau lambat pasti akan terjadi.
Sebab persis sejak setahun lalu (Juli 2014), SSE tiba-tiba saja naik terus dari posisi 2,000-an hingga akhirnya menembus level psikologis 5,000-an pada awal Juni 2015, atau naik lebih dari 150% hanya dalam tempo sebelas bulan. Dan menariknya kenaikan yang luar biasa tersebut dicapai justru ketika Negeri Tiongkok menunjukkan data fundamental perekonomian yang kurang bagus, dimana pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I 2015 tercatat hanya 7.0%, terendah sejak 2009, salah satunya karena penurunan nilai ekspor hingga 15%.
Dan ketika kenaikan indeks saham suatu negara, apalagi dengan kenaikan yang sangat ekstrim, sama sekali tidak ditopang oleh fundamental ekonomi negara yang bersangkutan, maka itu berarti? Bubble, tentu saja. Sejak bulan April kemarin, ketika SSE terus saja naik tanpa henti, sudah terdapat banyak tulisan di internet mengingatkan soal indikasi bubble tersebut, atau bahkan dalam hal ini tidak perlu lagi disebut ‘indikasi’, karena bubble tersebut tampak sangat nyata adanya. Maksud penulis adalah, bagaimana mungkin anda mengatakan bahwa Bursa Tiongkok berada pada level yang ‘wajar’, ketika satu dari lima saham disana di hargai pada PER.. 100 kali???
Pertanyaannya kemudian, apa yang menyebabkan bubble tersebut? Well, jawaban atas pertanyaan tersebut bisa macam-macam. Namun yang jelas, pada tanggal 11 Maret 2015 lalu, People’s Bank of China (bank sentral Tiongkok) mengumumkan setidaknya dua kebijakan stimulus bagi investor di pasar modal Tiongkok, yakni: 1. Pemotongan suku bunga acuan (sama dengan BI Rate di Indonesia) hingga 4.85%, terendah sepanjang sejarah, dan 2. Dukungan atas pemberian pinjaman dana bagi investor di pasar saham, termasuk bagi investor yang baru saja membuka rekening untuk pertama kalinya di sekuritas.

Logo Central Bank of China

Dua kebijakan tersebut menyebabkan para investor di Bursa Tiongkok bisa meminjam dana dalam jumlah besar dari bank/sekuritas pada tingkat bunga yang rendah. Dan hasilnya gampang ditebak: Investor ramai-ramai meminjam dana untuk membeli saham. Per April 2015, nilai pinjaman seluruh investor di Bursa Tiongkok mencapai US$ 269 milyar, naik tiga kali lipat dibanding setahun sebelumnya. Ketika semua orang memiliki uang yang banyak (meski sebenarnya itu bukan milik mereka), maka mereka terus saja membeli saham, sehingga alhasil, SSE terus saja naik.
Jadi sekarang anda sudah mengetahui, apa yang menyebabkan SSE langsung anjlok tanpa ampun dalam sebulanan terakhir: Margin call. Ketika harga suatu saham mulai turun hingga batas tertentu, maka investor yang membelinya menggunakan dana pinjaman/margin akan diminta oleh pihak sekuritas untuk menyetor dana tambahan, untuk menutup besarnya kerugian yang mungkin terjadi. Jika si investor tidak bisa menyetor dana, maka ia terpaksa menjual sahamnya pada harga berapapun (bahkan meski harga tersebut sangat rendah) alias force sell. Dan ketika terdapat banyak investor melakukan force sell secara bersamaan, maka ya begitulah jadinya: SSE langsung anjlok 30% dalam sebulan.
Pertanyaannya sekarang, apakah perekonomian Tiongkok memang dalam kondisi krisis? Termasuk, benarkah bahwa krisis Tiongkok ini lebih parah dari Yunani? Actually, nggak juga. Diatas memang sudah disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok sedang melambat, namun kondisinya masih jauh dari krisis. Untuk memberikan gambaran, berikut ini adalah perbandingan data ekonomi makro antara Tiongkok dengan Indonesia (yang mulai batuk-batuk), dan Yunani (yang sudah masuk UGD). Perhatikan bahwa dari sisi pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, hingga rasio jumlah utang terhadap GDP, maka berbeda dengan Yunani yang memang sedang dalam bad condition, baik Tiongkok maupun Indonesia sama sekali tidak bisa dikatakan sedang dalam kondisi krisis.
Country
GDP Growth
Interest Rate
Inflation
Jobless
Debt/GDP
Cur. Account
China
7.0
4.9
1.4
4.1
22.4
2.1
Indonesia
4.7
7.5
7.3
5.8
25.0
(3.0)
Greece
0.2
0.1
(2.1)
25.6
177.1
0.9
Jadi penurunan Bursa Tiongkok ini murni hanya merupakan dinamika pasar saja, dan tidak berkaitan langsung dengan kinerja para emiten ataupun kondisi makro ekonomi Tiongkok. Faktanya meski turun sangat signifikan dalam sebulan terakhir, namun secara year to date, SSE masih naik sekitar 8% sepanjang tahun 2015 ini.
Hanya saja karena magnitude dari penurunan SSE terbilang sangat ekstrim, maka kemungkinan terburuknya adalah, jika para investor gagal membayar utangnya bahkan setelah mereka mengalami force sell, maka itu bisa menyebabkan bank atau sekuritas yang memberikan utang juga turut mengalami gagal bayar. Kondisi ini pernah terjadi di Amerika pada tahun 1929 lalu, dimana puluhan bank tidak mampu menagih utang kepada para debitur-nya, hingga bank itu sendiri kesulitan keuangan dan akhirnya cuma bisa angkat tangan ketika para nasabah datang untuk mencairkan tabungan/deposito. Dan ketika bank-bank tersebut bangkrut, maka itulah awal dari periode great depression di Amerika Serikat pada dekade 1930-an, yang hingga saat ini masih diingat sebagai krisis ekonomi terburuk sepanjang masa.
However, meski para investor di Tiongkok mulai menderita kerugian yang sangat besar, namun hingga saat ini belum ada berita bahwa ada investor yang gagal sama sekali dalam membayar utangnya. Dan Pemerintah Tiongkok sendiri gerak cepat dengan meluncurkan sepuluh kebijakan sekaligus yang diharapkan mampu untuk kembali memulihkan kondisi pasar, yakni:
  1. Pemerintah Tiongkok, melalui China Securities Finance Corp. (CSF), akan meminjamkan setidaknya US$ 42 milyar ke dua puluh satu perusahaan sekuritas, agar mereka bisa membeli saham-saham bluechip di SSE maupun Bursa Shenzhen.
  2. CSF sendiri akan secara langsung membeli saham-saham kecil dan menengah di Bursa.
  3. Pemerintah akan memberikan stimulus tunai sebesar US$ 40 milyar, yang akan disalurkan ke wilayah-wilayah tertentu di mainland yang dianggap membutuhkan, untuk kembali mendorong pertumbuhan ekonomi.
  4. Pemerintah akan mengeluarkan anggaran lebih untuk belanja infrastruktur.
  5. Otoritas Bursa Tiongkok mengizinkan lebih dari separuh perusahaan yang terdaftar di bursa SSE dan Shenzhen untuk menghentikan perdagangan sahamnya, agar harga saham mereka tidak turun lebih jauh.
  6. Otoritas Bursa Tiongkok melarang pemegang saham mayoritas dari seluruh perusahaan di bursa untuk menjual sahamnya (untuk mencegah agar harga saham tidak turun semakin dalam), setidaknya hingga enam bulan kedepan.
  7. Otoritas Bursa Tiongkok membatalkan semua rencana IPO, setidaknya untuk saat ini.
  8. Bank Sentral Tiongkok akan sekali lagi menurunkan tingkat suku bunga, agar terdapat lebih banyak dana masuk ke bursa.
  9. Investor saham akan dipermudah untuk mengajukan pinjaman/menggunakan dana margin. Sebagai contoh, investor kini bahkan boleh menjaminkan sertifikat rumah mereka ke pihak sekuritas untuk memperoleh pinjaman. Dan
  10. Bank Sentral Tiongkok akan menurunkan nilai mata uang Yuan terhadap US Dollar, dimana itu diharapkan akan meningkatkan nilai ekspor Tiongkok, yang sebelumnya memang turun 15% atau cukup signifikan.
Nah, lalu apakah kebijakan-kebijakan tersebut akan mampu kembali menaikkan indeks SSE? Well, kita lihat saja nanti. Tapi kalau penulis boleh jujur, saya justru khawatir. Seperti yang sudah kita bahas diatas, penyebab dari kejatuhan Bursa Saham Tiongkok ini sejatinya sudah sangat jelas: Adanya kebijakan pemerintah, dalam hal ini Bank Sentral, yang menyebabkan hampir semua orang membeli saham menggunakan utang, dan seperti biasa itu kemudian menyebabkan bubble (dan bubble tersebut memang sudah mulai meletus dalam sebulanan terakhir). Lalu kenapa Pemerintah Tiongkok sekarang malah memberikan pinjaman yang lebih besar lagi? Bukankah itu berarti bahwa Pemerintah hanya menunda bubble yang terjadi untuk tidak meletus sekarang, tapi pada akhirnya justru akan menyebabkan letusan yang lebih besar, suatu hari nanti???
Tapi yah, mudah-mudahan saja para ahli ekonomi disana lebih ngerti soal ini, dan kebijakan Pemerintah tersebut memang tepat adanya. Hanya memang, kalau skenario yang terjadi adalah yang terburuk, maka mau tidak mau perekonomian Indonesia termasuk IHSG akan terkena imbasnya. Seperti yang sudah dibahas disini, jika Yunani mengalami krisis maka pengaruhnya ke Indonesia akan sangat kecil atau bahkan tidak ada pengaruh sama sekali (kecuali pengaruh secara psikologis). Namun kalau Tiongkok yang krisis? Ya wassalaaam.. Memangnya ketika harga batubara terus saja turun, dimana itu menyebabkan turunnya nilai ekspor Indonesia dan pada akhirnya menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional sejak tahun 2011 lalu, itu apa lagi penyebabnya kalau bukan menurunnya permintaan batubara dari Tiongkok, karena memang pertumbuhan ekonomi disana melambat?
However, penulis kira sekarang ini masih terlalu dini untuk menebak-nebak tentang apa yang kira-kira bakal terjadi dengan Bursa Saham dan perekonomian Tiongkok kedepannya, termasuk bagaimana pengaruhnya ke IHSG dan perekonomian Indonesia. Tapi yang jelas, kalau kita melihat kondisi ekonomi di lapangan, maka sulit untuk mengatakan bahwa periode Kuartal II tahun 2015 ini sudah lebih baik dibanding Kuartal I lalu. Maksud penulis adalah, jika pada Kuartal I lalu pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 4.7%, maka pada Kuartal II mendatang angkanya mungkin akan lebih rendah lagi. Dan itu, sudah tentu, akan menjadi sentimen negatif bagi bursa saham di dalam negeri, bahkan jika Indeks Shanghai ternyata mampu untuk pulih kembali.
Libur panjang lebaran, saatnya belajar tentang investasi saham! Jika anda masih bingung mulainya dari mana, maka anda bisa memulainya dengan membaca kumpulan pertanyaan tentang saham dan juga jawabannya, disini.

Atau anda bisa membeli CD rekaman seminar investasi saham,

Ketika Cuan Bukanlah Segalanya

Dalam value investing, terdapat istilah yang sangat populer yakni nilai intrinsik saham, dimana menurut Mbah Warren, nilai intrinsik dari suatu saham/perusahaan adalah nilai aset bersih/ekuitas perusahaan tersebut plus akumulasi laba bersih yang akan dikumpulkan kedepannya, yaitu selama perusahaan beroperasi. Ini artinya, ketika anda melihat bahwa nilai ekuitas dari PT A adalah Rp1 trilyun, misalnya, dan terdapat asumsi yang kuat bahwa PT A tersebut akan mampu untuk menghasilkan laba bersih sebesar sekian secara konsisten dalam jangka panjang, maka nilai intrinsiknya biasanya lebih besar dari ekuitasnya tersebut.
‘Asumsi yang kuat’ tersebut hanya akan diperoleh jika perusahaan yang bersangkutan memang sudah memiliki track record kinerja yang solid dalam jangka panjang, katakanlah 5 – 10 tahun ke belakang atau lebih, dimana selama itu perusahaan terbukti mampu untuk terus menghasilkan laba bersih secara konsisten dari tahun ke tahun. Jadi jika ada asumsi bahwa perusahaan ‘kemarin sore’, atau perusahaan yang sebelumnya rugi melulu, bahwa mereka akan mampu menghasilkan laba bersih kedepannya, maka itu adalah asumsi yang ngawur.
Dan itu sebabnya, perhitungan nilai intrinsik biasanya hanya berlaku untuk saham-saham bluechip, yang perusahaannya sudah beroperasi selama berpuluh-puluh tahun, dan selama itu pula mereka memiliki track record kinerja keuangan yang solid. Penjelasan selengkapnya baca lagi disini.
Belakangan, penulis baru sadar bahwa tidak hanya saham yang memiliki nilai intrinsik, melainkan investor juga. Jadi selain ‘nilai intrinsik saham’, maka melalui artikel ini penulis juga hendak memperkenalkan istilah ‘nilai intrinsik investor’, dan berikut penjelasannya.
Seorang investor, entah itu investor individu maupun institusi, sebenarnya tidak ada ubahnya dengan perusahaan. Maksudnya begini: Jika perusahaan memiliki aset bersih/ekuitas di neraca keuangannya, maka demikian halnya pula dengan investor yang memiliki aset di portofolio investasinya. Dan jika nilai intrinsik suatu saham/perusahaan biasanya lebih tinggi dari nilai ekuitasnya, maka, pernahkah anda berpikir bahwa nilai intrinsik anda sebagai investor, seharusnya juga lebih tinggi dibanding nilai aset/dana yang sudah ada dalam rekening sekuritas anda?
Jadi katakanlah anda memegang aset, entah itu berupa saham atau cash, senilai Rp100 juta di portofolio, dan itu seluruhnya merupakan aset milik anda sendiri (bukan dana pinjaman). Maka apakah nilai anda sebagai investor adalah Rp100 juta juga? Well, jika anda cukup yakin bahwa anda mampu mengelola aset tersebut untuk menghasilkan keuntungan sebesar sekian secara konsisten dalam jangka panjang, maka sudah tentu: Nilai intrinsik anda sebagai investor lebih besar dibanding nilai aset yang anda pegang saat ini, karena Rp100 juta tadi akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.
Namun kata kuncinya ya itu tadi: Apakah anda mampu mengelola aset tersebut? Sebab jika tidak, maka bukannya dapet untung, yang ada malah rugi, sehingga Rp100 juta tersebut jangankan bertambah, yang ada malah berkurang.
Dan kalau begitu kejadiannya, maka anda tidak memiliki nilai intrinsik sebagai investor.
Aset Paling Berharga
Dalam beberapa kali kesempatan seminar, penulis selalu menyampaikan bahwa seorang investor memiliki tiga aset utama: 1. Aset saham/dana cash, 2. Waktu, dan 3. Dia sendiri sebagai investor. Sebagian besar orang mengira bahwa aset yang paling utama bagi seorang investor adalah yang nomor 1, yakni aset yang ada di portofolio. Jadi jika anda pegang portofolio yang berisi saham/cash senilai Rp1 milyar, misalnya, maka nilai anda secara keseluruhan lebih tinggi dibanding investor lain yang pegang portofolio Rp100 juta.
Padahal, kalau anda sebagai investor sama sekali belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tentu saja mutlak diperlukan agar bisa mengelola portofolio dengan baik, maka jangankan Rp1 milyar, Rp10 milyar sekalipun tidak akan ada artinya sama sekali karena anda akan mengalami kerugian secara terus menerus.
Disisi lain, tak peduli seorang investor memulai karier investasinya hanya dengan modal Rp5 juta sekalipun, namun jika ia mampu untuk juga menginvestasikan waktunya untuk terus belajar dan menimba pengalaman, maka setelah beberapa waktu, pada akhirnya ia akan menjadi investor yang handal, dan modal Rp5 juta tadi akan bertumbuh dengan sendirinya.. dan terus bertumbuh entah hingga menjadi berapa, kecuali jika suatu hari nanti ia memutuskan berhenti berinvestasi sama sekali.
As an investor, what is your greatest asset? Yourself!
Tingkatkan Kualitas Diri
Sebagian besar investor/trader di Indonesia, dan mungkin juga di seluruh dunia, biasanya hanya fokus pada upaya untuk memperoleh keuntungan, dimana ‘cuan’ adalah segalanya. Seorang investor biasanya akan merasa senang jika ia memperoleh untung besar dari saham tertentu. Disisi lain, ia mungkin akan merasa biasa-biasa saja jika setelah beberapa waktu, ia tidak mempelajari apapun selama selama periode waktu tersebut.
Padahal, just think about it: Sebaik apapun anda dalam berinvestasi, namun anda bisa mengalami untung dan rugi setiap saat, sehingga nilai portofolio anda juga bisa naik dan turun sepanjang waktu. Namun jika anda keep learning, maka kualitas diri anda sebagai seorang investor tidak akan pernah berkurang sedikitpun, melainkan akan senantiasa meningkat dari waktu ke waktu.
Dan tidak peduli seberapa dalam kerugian yang bisa dialami oleh seorang investor yang high quality, namun pada akhirnya ia akan meraih untung besar kembali. Pada krisis global tahun 2008 lalu, semua investor tanpa terkecuali mengalami kerugian di pasar saham Indonesia. Namun hanya mereka yang berpengalaman-lah, dan juga memiliki visi kedepan, yang mampu untuk bertahan dan sukses untuk langsung cuan besar lagi di tahun berikutnya (2009). Opa Warren juga udah sangat sering rugi besar setiap kali Wall-Street dilanda krisis. Namun karena emang dasarnya beliau investor sejati, maka ia selalu berhasil menjadi kaya raya lagi ketika perekonomian dan bursa-bursa saham pulih kembali.
Karena itulah, ketimbang berusaha untuk meraih cuan setiap hari (because you can’t!), melalui artikel ini penulis hendak mengajak anda untuk fokus mengembangkan aset yang sesungguhnya jauh lebih berharga: Diri anda sendiri. Because, trust me, ketika anda sudah menjadi investor yang handal, the money will follow by itself.

Dan untuk meningkatkan kualitas diri anda sendiri, maka anda bisa menggunakan aset berikutnya: Waktu. Masalahnya adalah, sebagian besar investor lebih suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sebenarnya kurang bermanfaat, seperti ngerumpi di grup Whatsapp soal saham apa yang cuan besok, ngeliatin running trade, baca-baca rumor yang gak jelas, dan seterusnya. Tidak banyak investor yang mau meluangkan waktunya untuk belajar dan baca-baca artikel atau buku (tentang value investing ya, jangan yang lain), menganalisis fundamental perusahaan secara menyeluruh, mengevaluasi portofolio dan memperbaiki cara-cara investasi/trading yang sebelumnya keliru, dan seterusnya.

Padahal hanya dengan cara itulah anda bisa meningkatkan kualitas diri anda sebagai investor. Tak peduli meski seorang investor sudah malang melintang selama bertahun-tahun di pasar modal, namun jika selama itu ia masih belum mengerti apa-apa, maka ia tetap tidak ada bedanya dengan seorang pemula.
Namun jika anda bisa melakukan itu, then that’s it, anda sudah memiliki nilai intrinsik sebagai seorang investor, dan selanjutnya tinggal soal waktu sebelum nilai portofolio anda akan menjadi besar.
Baiklah, Pak Teguh, lalu bagaimana caranya agar saya tahu bahwa saya sudah berinvestasi dengan cara yang benar, dan sudah memiliki nilai intrinsik tersebut? Well, it’s so simple, anda hanya perlu menanyakan ini kepada diri anda sendiri: ‘Dalam sepuluh tahun kedepan, kira-kira bagaimana nilai portofolio saya? Apakah akan naik sekian kali lipat, segitu-gitu saja, atau malah turun?’ Jika jawabannya adalah akan naik, dan anda yakin dengan jawaban tersebut (karena jika selama ini anda lebih sering rugi ketimbang untung, maka anda tidak akan memiliki keyakinan tersebut), maka selamat: Anda sudah memiliki nilai intrinsik sebagai investor!
Tapi jika tidak? Then you know what to do :) Pesan penulis adalah, jangan pernah tunda-tunda lagi, do it now. Terus asah kemampuan anda dalam berinvestasi, hingga pada akhirnya nanti anda akan sampai pada satu titik dimana tidak hanya nilai porto anda sukses meningkat sekian kali lipat, namun anda juga akan bisa melihat bahwa apa yang anda miliki sesungguhnya jauh lebih besar dibanding sekedar apa yang sudah ada dalam portofolio. Good luck!

Buletin analisis IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Juli 2015 sudah terbit tanggal 1 Juli kemarin. Anda masih bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk [...]

Megapolitan Developments

Beberapa hari lalu, Pemerintah mengeluarkan setidaknya dua peraturan yang diharapkan akan berdampak positif terhadap industri properti di tanah air, yang sebelumnya mulai meredup seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Yang pertama adalah penurunan batas minimum nilai uang muka pembelian properti, dari tadinya 30% menjadi 20% saja. Dan kedua, investor dan warga negara asing kini diperbolehkan untuk membeli aset properti/real estate di Indonesia. Keluarnya dua peraturan ini segera direspon positif oleh para investor di BEI, dimana saham-saham properti melonjak cukup signifikan dalam dua tiga hari terakhir.

However, seperti biasa harus penulis ingatkan bahwa hanya karena Pemerintah mengeluarkan kebijakan tertentu yang diharapkan akan berdampak positif terhadap saham atau sektor tertentu, maka itu bukan berarti harapan tersebut sudah pasti akan jadi kenyataan. In the end, orang-orang tetap akan melihat kinerja keuangan untuk menentukan apakah saham dari sebuah perusahaan layak dibeli atau tidak. Dan harus diakui bahwa untuk tahun 2015 ini, sektor properti mulai agak lesu dimana beberapa pemain besar seperti Alam Sutera Realty (ASRI), Pakuwon Jati (PWON), dan Summarecon Agung (SMRA), semuanya mengalami penurunan laba pada Kuartal I. Beberapa perusahaan besar lainnya seperti Lippo Karawaci (LPKR), Bumi Serpong Damai (BSDE), dan Ciputra Development (CTRA), mereka memang masih mencatat kenaikan laba, namun dengan outlook yang juga kurang prospektif seiring dengan lesunya perekonomian, karena sektor properti itu sendiri memang sangat rentan terhadap risiko perubahan ekonomi makro. Pada tahun 2008 lalu industri properti di Indonesia juga hampir habis sama sekali karena imbas krisis global, dan bahkan saham ASRI ketika itu juga sempat mati di level gocapan.
But, okay, mari kita mencoba bersikap lebih optimis disini, dimana peraturan Pemerintah ini mungkin akan mampu menggairahkan kembali industri properti di tanah air, atau minimal mempertahankan momentum pertumbuhannya yang sudah terjadi sejak tahun 2011 lalu. Pertanyaannya sekarang, kira-kira saham properti apa yang paling menarik? Nah, kalau kita balik lagi ke kaidah value investing dimana saham yang bagus adalah yang: 1. Kinerja keuangan/fundamentalnya bagus, dan 2. Valuasi sahamnya masih rendah, maka agak sulit untuk menemukan kedua kriteria tersebut pada enam saham properti yang sudah disebut diatas. Karena sebagai perusahaan properti yang sudah punya track record kinerja yang excellent serta dan reputasi yang mentereng, maka jangan harap anda bisa beli ASRI pada PBV 1.0 kali, misalnya.
Thus, perhatian mungkin bisa diarahkan pada saham-saham dari perusahaan properti yang lebih kecil. In fact, beberapa perusahaan properti kecil mungkin bisa menjadi alternatif pilihan investasi jangka panjang karena mereka masih dalam tahap tumbuh dan berkembang (enam perusahaan properti yang sudah disebut diatas, mereka semua sudah tumbuh besar dan sudah menikmati masa jayanya sejak tahun 2011), sehingga otomatis prospek pertumbuhannya masih terbuka lebar. Jadi selain kita bisa memperoleh harga yang lebih murah, maka jika anda beruntung, anda juga mungkin bisa memperoleh gain 2 – 3 lipat dalam 2 – 3 tahun, sama seperti jika anda membeli saham ASRI, PWON, atau Lippo Cikarang (LPCK) pada tahun 2011 lalu.
Salah satu small player itu adalah Megapolitan Developments (EMDE). Sebagai value investor, penulis tertarik dengan EMDE ini bukan karena prospeknya, tapi karena valuasinya yang sangat terdiskon setelah sahamnya terus saja turun dari harga IPO-nya yakni 250, hingga pada April kemarin sempat menyentuh 84, padahal kinerja perusahaannya baik-baik saja. Berdasarkan pengalaman di Sri Rejeki Isman (SRIL) dimana sahamnya juga sempat terus turun dari 300-an hingga mentok di 120, tapi toh kemudian naik lagi karena memang tidak ada yang salah dengan fundamentalnya, maka penulis kemudian menganggap bahwa mungkin ada opportunity di EMDE ini. Apalagi, pada harga 84 tersebut PBV-nya cuma 0.5 kali, atau jauh lebih murah dibanding saham properti manapun di BEI.
Anyway, mari kita pelajari EMDE ini sejak awal.
EMDE didirikan oleh dua orang pengusaha bernama Sudjono Barak Rimba dan Lora Melani Rowas, yang sebelumnya berprofesi sebagai agen properti, pada tahun 1976. Pada tahun 1979, perusahaan mengembangkan proyek properti pertamanya di Kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, berupa perumahan diatas lahan seluas 55 hektar. Proyek tersebut sukses besar, sehingga di tahun-tahun berikutnya perusahaan terus membangun perumahan-perumahan baru plus sebuah mall (Mall Cinere) di kawasan yang sama. Alhasil, pada akhir tahun 2014, dengan total luas lahan pengembangan lebih dari 300 hektar (sementara luas Cinere sendiri hanya 1,100 hektar), maka EMDE bisa dinobatkan sebagai perusahaan properti nomor 1 di Cinere.

But still, hingga saat ini perusahaan masih mengembangkan Kawasan Cinere. Namun karena luas lahannya kini mulai terbatas, maka EMDE memfokuskan pengembangan propertinya pada satu kawasan superblok dengan nama Centro Cinere. Di Centro Cinere ini terdapat Mall Cinere Bellevue, kompleks pertokoan dan restoran Cinere Terrace, apartemen Cinere Suites, kompleks ruko Cinere One Commercial Park, dan perumahan Cinere One Residence. The good news is, sebagian besar dari proyek-proyek properti tersebut sudah selesai dibangun, dan akan mulai menghasilkan pendapatan bagi perusahaan pada tahun 2015 ini.
Kedepannya, masih di superblok Centro Cinere, EMDE juga akan membangun kompleks kondominium Cinere Mansion, menara perkantoran The Block, dan menara perkantoran The Marche. However, beberapa proyek tersebut masih dalam tahap perencanaan, dan baru akan bisa menghasilkan pendapatan paling cepat dalam waktu 2 – 3 tahun mendatang.
Dan jika seluruh proyek properti di superblok Centro Cinere ditujukan untuk konsumen kelas menengah keatas, maka EMDE juga masih punya dua kompleks perumahan di Cinere yakni Cinere Parkview dan Graha Cinere, dimana unit-unit rumah di dua kompleks tersebut dijual pada harga yang lebih terjangkau. Untuk Cinere Parkview, sebagian kompleks perumahannya sudah selesai dibangun dan sudah bisa dipasarkan, sementara Graha Cinere sejauh ini masih berupa perencanaan (masih berupa landbank).
Diluar Kawasan Cinere, perusahaan mulai ‘keluar kandang’ pertama kali pada tahun 2002, ketika itu dengan membangun ‘Bellagio Residence & Mansion’, sebuah kompleks gedung perkantoran, apartemen, kondominium, dan mall di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Dan proyek Bellagio ini juga sukses besar. Namun karena keterbatasan lahan di Mega Kuningan, maka proyek Bellagio ini pada akhirnya selesai dibangun dan tidak bisa dikembangkan lebih lanjut lagi.
Karena itulah, pada tahun 2005, perusahaan merambah Kawasan Sentul, Bogor, dengan membangun superblok ‘Vivo Sentul’. So far, beberapa proyek properti yang sudah mulai digarap disini adalah Galleria Kiosk Mall (sudah selesai dan sudah siap beroperasi), kompleks pertokoan Vivo Walk, dan kompleks ruko Bizpark. Jika proyek-proyek tersebut sukses dan laris manis, maka selanjutnya akan dibangun shopping mall, hotel, kompleks apartemen, dan perumahan. EMDE sudah menguasai lahan seluas 200 hektar disini, sehingga jika semuanya berjalan lancar, Sentul bisa menjadi ‘Cinere berikutnya’ dalam beberapa tahun kedepan.
Sudah cukup? Belum, satu lagi: Sejak tahun 2008 lalu, EMDE ikut masuk ke Kawasan Karawaci, Tangerang, dengan membangun superblok ‘The Habitat’, yang berisi kompleks apartemen khusus mahasiswa, hotel, dan apartemen untuk umum. Sejauh ini beberapa gedung apartemen untuk mahasiswa sudah selesai dibangun, alias sudah siap jual, sementara pembangunan hotel dan apartemen untuk umum akan menyusul dalam 1 – 2 tahun mendatang.
Siap Panen
Dengan demikian, pada tahun 2015 ini perusahaan memiliki tiga lokasi properti yang sedang dikembangkan yakni di Cinere, Sentul, dan Karawaci. Namun yang terpenting adalah, pada tiga lokasi tersebut sudah terdapat beberapa proyek properti yang ‘siap panen’, alias sudah selesai dikerjakan dan siap dipasarkan. Terus terang, penulis sebelumnya sudah sering ketemu dengan perusahaan properti di BEI yang punya rencana besar untuk mengembangkan properti disini dan disitu, namun semuanya masih sebatas rencana saja, sementara propertinya belum benar-benar dibangun. Poinnya disini adalah, bahkan kalaupun pengerjaan proyeknya berjalan lancar, maka hasilnya (laba bersihnya) baru akan dinikmati 2 – 3 tahun kemudian, karena untuk membangun banyak properti di satu kawasan yang luas, itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Dan bagi kami investor di pasar saham, prinsipnya sederhana saja: Selama perusahaan belum benar-benar membukukan laba bersih yang besar di laporan keuangannya, maka jangan harap sahamnya akan naik.
However, EMDE berbeda. Actually, pada tahun 2011 lalu, perusahaan juga hanya ‘bermodalkan’ rencana untuk bangun ini dan itu, namun belum ada yang benar-benar dikerjakan. Tapi sekarang, atau 3 tahun kemudian, sebagian besar dari rencana tersebut sudah terealisasi. Pendapatan serta laba bersih EMDE sendiri terus naik sejak tahun 2011 lalu, hingga terakhir tercatat Rp26 milyar untuk Kuartal I 2015, dimana itu mencerminkan annualized ROE 17.2%.
Dan pihak manajemen sendiri, untuk tahun 2015 ini berani mentargetkan pendapatan Rp700 milyar, naik lebih dari dua kali lipat dibanding 2014, karena ya itu tadi: Dalam waktu dekat ini perusahaan akan panen pendapatan dari unit-unit rumah, apartemen, kios, hingga sewa mall yang sudah selesai di bangun, baik itu di Cinere, Sentul, ataupun Karawaci. Jika target tersebut tercapai, maka dengan asumsi margin labanya tetap terjaga di level 25% (margin laba EMDE terbilang besar karena utang perusahaan relatif kecil), maka laba EMDE akan mencapai Rp175 milyar pada tahun penuh 2015 ini, dan ROE-nya akan mencapai 30%. Well, sounds good eh?
Valuasi yang sangat rendah
Terlepas dari kemungkinan adanya lompatan laba tersebut (selain karena, pada akhirnya, seorang value investor gak boleh membeli saham hanya karena ‘prospek’), yang paling menarik dari EMDE ini adalah valuasi sahamnya yang sangat rendah. Diatas sudah disebutkan bahwa pada harga 84, PBV EMDE ini hanya 0.5 kali. Dan pada harganya saat ini yakin 124, PBV-nya masih 0.7 kali, dan PER-nya 3.9 kali. Rendahnya valuasi EMDE karena memang sahamnya secara umum terus turun sejak dia listing pada harga 250, pada Januari 2011 lalu.
Dan awalnya penulis juga bingung, apa yang menyebabkan EMDE turun. Namun kemudian penulis menemukan jawabannya: Pada Kuartal I 2011 lalu (laporan keuangan pertama yang dirilis perusahaan setelah sahamnya IPO), EMDE mencatat rugi bersih Rp3 milyar karena penurunan pendapatan. Dan hingga akhir tahun 2011, laba EMDE untuk tahun 2011 tersebut tercatat hanya Rp3 milyar, atau anjlok dibanding Rp24 milyar di tahun sebelumnya (2010). Penurunan tersebut bukan karena perusahaan sedang bermasalah atau apa, tapi karena memang pada tahun 2011 tersebut EMDE baru saja menjual habis unit-unit propertinya, sementara unit-unit properti berikutnya masih dalam tahap dibangun alias belum siap dijual.
Tapi apapun itu, kinerja perusahaan yang tampak buruk tersebut menyebabkan sahamnya langsung turun tak lama setelah IPO. Memasuki tahun 2012 hingga 2014, laba EMDE sebenarnya mulai kembali merangkak naik. Namun karena ROE-nya masih tetap saja rendah (pada tahun 2014, ROE EMDE tercatat 7.5%, atau jauh dibawah ASRI dkk), maka investor tetap saja membuang sahamnya dan alhasil EMDE terus saja turun hingga valuasinya menjadi unbelievably undervalue. Nah, jadi dalam hal ini kita sepertinya ketemu lagi dengan saham korban ‘drama queen’ disini. Bagi anda yang belum mengerti apa itu drama queen, silahkan baca lagi artikelnya disini.
Kabar baiknya, pada tahun 2015 ini ROE EMDE tampak mulai tumbuh signifikan (sudah diatas 17%). Dan dengan mempertimbangkan faktor ‘siap panen’ diatas, maka pencapaian ini seharusnya akan kembali meningkat hingga akhir tahun nanti, dan mungkin akan meningkat lagi pada tahun-tahun selanjutnya.
Jadi yah, mau bilang apa lagi? This is our opportunity!
However, dibalik peluang maka selalu ada faktor risiko. Dan risiko bagi EMDE ini adalah terkait track record manajemennya yang beberapa kali tersangkut masalah hukum. Pada tahun 2012, perusahaan digugat Rp50 milyar oleh mantan komisarisnya, Charles Dulles Marpaung, karena yang bersangkutan merasa dipecat secara sepihak oleh perusahaan. Dan pada saat inipun perusahaan sedang terlibat sengketa tanah dengan beberapa pihak terkait lahan untuk perumahan Graha Cinere (dan itu pula sebabnya perumahannya masih belum dibangun). Belum ada kejelasan soal kapan sengketa ini akan selesai. Selain itu faktanya adalah bahwa sektor properti belakangan ini memang mulai agak lesu.
Namun diluar masalah hukum diatas, penulis tidak melihat masalah lainnya terkait perusahaan (dan untungnya Graha Cinere ini hanya sebagian kecil dari proyek-proyek EMDE secara keseluruhan). Sementara terkait risiko lesunya sektor properti, pemerintah juga sudah mulai mengeluarkan kebijakan yang meringankan, dan pihak manajemen sendiri tidak merevisi target penjualannya yang Rp700 milyar tadi. So let see, apakah hingga akhir tahun nanti perusahaan bisa memenuhi target penjualannya atau tidak, dimana jika target tersebut tercapai, maka sahamnya akan terbang entah sampai berapa (dan dengan mempertimbangkan pengalaman perusahaan sebagai developer properti selama 35 tahun terakhir dengan track record yang excellent, maka dengan catatan tidak ada peristiwa force majeure, target tersebut terbilang realistis).
Tapi jika tidak? Well, asalkan labanya masih naik dan tidak ada kejadian luar biasa, maka tetap saja sahamnya tidak punya alasan untuk turun karena valuasinya sudah sangat murah (fluktuasi IHSG seharusnya tidak akan terlalu berpengaruh karena EMDE ini tidak likuid. Dia baru akan likuid nanti kalau harganya sudah diatas). Jadi kalau bagi penulis sendiri, EMDE ini adalah investasi yang sangat menarik karena dia tidak hanya menawarkan peluang lompatan dalam waktu relatif dekat, namun disisi lain risikonya juga terbatas. Faktor risiko inilah yang seringkali dilupakan investor karena terlalu fokus pada faktor ‘potensi’ dan ‘prospek’ saja dari sebuah saham (terus terang, penulis juga dulu begitu). Namun untuk EMDE ini, penulis bisa katakan bahwa you’ve got your back covered.
PT Megapolitan Developments, Tbk (EMDE)
Rating Kinerja pada Kuartal I 2015: A
Rating Saham pada 124: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Investama sedang dalam posisi memegang EMDE di harga rata-rata 97. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin analisis IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Juli 2015 sudah terbit tanggal 1 Juli kemarin. Anda masih bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk [...]

History & Future of Indonesia Stock Exchange

Dengan market cap senilai Rp5,070 trilyun atau setara US$ 381 milyar pada 19 Juni kemarin, Bursa Efek Indonesia atau BEI sama sekali bukan merupakan salah satu bursa saham terbesar di dunia. However, kalau kita bicara sejarah, maka BEI memiliki latar belakang sejarah yang ternyata lebih kompleks dari yang mungkin anda bayangkan. Termasuk, believe it or not, perusahaan pertama di dunia yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Saham, mereka bukan berkantor di London, New York, ataupun Tokyo, melainkan.. Jakarta!

Perusahaan tersebut adalah Vereenigde Oostindische Compagnie, atau disingkat VOC (kalo orang jaman dulu bilang: kompeni). VOC adalah perusahaan milik Pemerintah Kerajaan Belanda yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah asal ‘India Timur’, alias Indonesia. VOC didirikan pada tahun 1602 di Amsterdam, dan menjadi perusahaan pertama di dunia yang menerbitkan saham dan obligasi. Pada tahun 1602 itu pula, Bursa Efek Amsterdam didirikan sebagai wadah untuk perdagangan saham dan obligasi tersebut. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1619, VOC membuka kantor (atau lebih tepatnya markas) di Jayakarta alias Jakarta, dan selanjutnya lebih banyak beroperasi di kota tersebut ketimbang Amsterdam itu sendiri.
So, meski BEI hingga saat ini masih berstatus sebagai ‘anak bawang’ bahkan jika dibanding Bursa Tokyo, Shanghai, atau Australia (kalau dibanding Wall-Street kayanya kejauhan), namun markas BEI, yakni Jakarta, merupakan saksi dari kegiatan operasional perusahaan ‘tbk’ pertama di dunia, pada hampir empat abad yang lalu.
Namun demikian, terkait pasar modal itu sendiri, maka sejarah pasar modal di Indonesia baru dimulai pada tahun 1912 dengan berdirinya Bursa Efek Batavia (BEB) di Batavia, alias Jakarta (pada tahun 1600-an, meski perusahaannya beroperasi disini, namun saham VOC diperdagangkan di Amsterdam, bukan Jakarta). BEB ini kemudian menjadi wadah transaksi jual beli saham dan obligasi perusahaan-perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, dan juga obligasi pemerintah. Seiring dengan perkembangannya yang pesat, pada tahun 1925, BEB membuka cabang di Semarang dan Surabaya.
Sayangnya pada tahun 1929, Bursa Wall-Street di Amerika jatuh dan hancur berantakan, disusul oleh great depression yang melanda seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Karena keadaan ekonomi tidak juga kembali membaik setelah beberapa tahun, plus adanya peristiwa perang dunia kedua dimana Negeri Belanda dicaplok oleh Nazi Jerman pada tahun 1939, membuat seluruh kantor cabang BEB akhirnya ditutup pada tahun 1940. Tahun 1945, Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan setelah perang revolusi selama 5 tahun, Pemerintah Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun 1952, BEB kembali dibuka namun kali ini dengan nama Bursa Efek Jakartaalias BEJ.
Sayangnya karena berbagai masalah nasional seperti kasus sengketa Irian Barat, inflasi yang sangat tinggi, hingga krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1960-an, pada akhirnya menyebabkan BEJ sama sekali tidak beroperasi layaknya sebuah Bursa Saham, selain karena perusahaan-perusahaan yang tadinya sahamnya diperdagangkan di BEJ, semuanya ‘pulang kampung’ ke Belanda atau bubar sama sekali. Barulah ketika tampuk kekuasaan berpindah ke tangan Presiden Soeharto pada tahun 1967, dan perekonomian mulai pulih pada tahun 1970-an, BEJ di-restart lagi. Dan kali ini BEJ benar-benar beroperasi seperti layaknya Bursa Saham pada umumnya, ditandai dengan IPO PT Semen Cibinong (SMCB) pada tahun 1977. Dengan demikian, SMCB, yang sekarang bernama PT Holcim Indonesia, adalah perusahaan pertama yang melantai di Bursa Saham Jakarta. Lima tahun kemudian, yakni tahun 1982, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diluncurkan dengan posisi awal 100, sebagai patokan kenaikan atau penurunan harga dari saham-saham yang diperdagangkan di BEJ.
Jadi Pasar Modal Indonesia yang ada saat ini, secara resmi dibuka sejak tahun 1977.
Pad tahun-tahun berikutnya, BEJ berkembang dengan sangat lambat dimana pada tahun 1987 baru terdapat 24 perusahaan Tbk di Indonesia. Hingga akhirnya pada tahun 1987 tersebut Pemerintah mengeluarkan banyak regulasi baru yang pada intinya 1. Mempermudah perusahaan untuk go public, 2. Mempermudah masyarakat untuk turut berinvestasi di pasar modal, dan 3. Pembentukan lembaga-lembaga pendukung pasar modal, seperti Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), hingga perusahaan-perusahaan reksadana.
Berbagai regulasi baru tersebut sukses membuat BEJ berkembang sangat cepat, dimana pada tahun 1989 terdapat tidak kurang dari 37 perusahaan melantai di bursa. Pada tahun ini pula PT Bursa Efek Surabaya berdiri, disusul dengan berdirinya PT Bursa Efek Jakarta (sebelumnya BEJ tidak berbentuk sebagai PT) pada tahun 1992. Paruh pertama dekade 1990-an menjadi masa keemasan kedua sepanjang sejarah Pasar Modal Indonesia (masa keemasan pertama terjadi pada tahun 1912 hingga 1920-an, ketika BEJ masih bernama BEB), dimana IHSG terus naik hingga ditutup di level 637 pada akhir tahun 1996 (dan pada awal tahun 1997 masih terus naik hingga tembus 700-an). Pada masa inilah orang-orang mulai mengenal ‘saham’ sebagai instrumen investasi yang menguntungkan. Hingga tahun 1996, puluhan ribu orang mulai dari pengusaha, karyawan, hingga ibu rumah tangga rama-ramai membuka rekening di sekuritas. Pada tahun 1996 pula, investor legendaris, Lo Kheng Hong, memutuskan untuk keluar dari pekerjaan beliau sebagai kepala kantor cabang di Bank Ekonomi (BAEK), untuk selanjutnya fokus sebagai investor saham full time.
Sayangnya pada tahun 1997, Indonesia mulai dilanda krisis ekonomi, dan IHSG sendiri jatuh dari 700-an hingga sempat menyentuh 250-an pada tahun berikutnya (1998). Namun hebatnya BEJ tetap beroperasi seperti biasa (meski memang sempat ditutup pada hari-hari tertentu). Dan IHSG sendiri, meski sempat menyentuh level terendahnya pada tahun 1998, namun lima tahun kemudian (2003) akhirnya sukses mencatatkan new high-nya kembali. Setahun kemudian, pada tahun 2004, IHSG menembus level psikologis 1,000 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.
Dan pada tahun-tahun berikutnya, IHSG nyaris terus naik kecuali pada tahun 2008 dan 2013. Sementara pada tahun 2007, BEJ dan Bursa Efek Surabaya di-merger untuk menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga pada akhir 2014 lalu, IHSG ditutup di posisi 5,226, dengan jumlah emiten 512 perusahaan, market cap Rp5,228 trilyun atau US$ 420 milyar, dan nilai transaksi saham rata-rata Rp6 trilyun atau US$ 483 juta per hari.

Logo Indonesia Stock Exchange

Okay, Pak Teguh, lalu kenapa anda tiba-tiba membahas soal sejarah BEI ini?
Beberapa waktu lalu penulis bertemu dengan Bapak M. Noor Rachman. Beliau adalah salah satu petinggi OJK, tepatnya menduduki posisi sebagai deputi komisioner pengawas pasar modal. Dalam pertemuan tersebut beliau bertanya begini, ‘Menurut pandangan Pak Teguh sebagai pelaku investor, apa saja yang perlu dilakukan oleh OJK untuk memajukan pasar modal di Indonesia?’
Dan penulis menjawab, ‘Sebenarnya, banyak sekali pak. Ada banyak sekali yang perlu dan harus dilakukan oleh OJK dan seluruh instansi yang terkait, termasuk oleh para emiten, sekuritas, dan pelaku investasi itu sendiri, agar pasar modal Indonesia menjadi lebih maju kedepannya.’
‘Namun,’ penulis melanjutkan, ‘Yang perlu diingat disini adalah bahwa usia pasar modal di Indonesia masih sangat belia, dimana BEI baru benar-benar beroperasi (dan dimulai lagi dari awal) pada tahun 1977. Kalau dibandingkan dengan New York Stock Exchange, misalnya, maka bursa saham terbesar di dunia itu sudah dibuka dan beroperasi sejak tahun 1792, atau lebih dari dua abad yang lalu. Jumlah emiten di BEI baru ada 500-an, jauh lebih sedikit dibanding NYSE yang mencapai 7,000-an. Namun pada tahun 1950-an, jumlah saham yang diperdagangkan di NYSE juga cuma 500-an. Dan jika nilai market cap BEI pada saat ini hanya US$ 400-an milyar, atau jauuuuh lebih kecil dibanding nilai market cap NYSE, maka ingat bahwa pada tahun 1970, market cap NYSE juga hanya US$ 700-an milyar.’
‘Maksud saya adalah, pada akhirnya yang perlu kita lakukan hanyalah tetap menjalankan pekerjaan-pekerjaan kita sebagaimana mestinya, dan selanjutnya biarkan pasar modal Indonesia untuk maju dan bertumbuh dengan sendirinya. Karena tidak peduli seperti apapun regulasi yang diterapkan, segencar apapun promosi yang dibuat untuk menarik minat investor untuk membuka rekening (atau minat perusahaan untuk menggelar IPO), namun tetap saja BEI membutuhkan waktu untuk bisa maju dan berkembang. Dan dalam banyak hal, berbagai kemajuan tersebut tidak bisa dipaksakan untuk bisa dicapai lebih cepat. Sebagai contoh, kita semua tentu sepakat bahwa suatu hari nanti IHSG akan tembus 10,000. Tapi jika posisi 10,000 itu dicapai dalam waktu, let say, beberapa bulan kedepan, maka jadinya justru agak menakutkan bukan?
‘Disisi lain, Indonesia is a great country. Kita adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, dengan nilai GDP yang termasuk sepuluh besar dunia, dan juga dengan luas area yang membentang hingga 5,428 kilometer dari Sabang (Aceh), hingga Merauke (Papua), atau jauh lebih panjang dibanding jarak antara Lisbon di Portugal dan Moskow di Rusia! Kita juga merupakan salah satu negara dengan wilayah perairan terluas di dunia, dengan sumber daya perikanan dan kelautan yang sama sekali belum terjamah.’
‘Dan semua itu merupakan bekal yang tidak terbantahkan yang akan mendorong pasar modal Indonesia, cepat atau lambat, untuk menjadi besar suatu hari nanti. Karena bahkan sejarah juga membuktikan bahwa VOC (yang tadi sudah dibahas diatas) sukses menjadi perusahaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (yap, anda tidak salah baca), termasuk sukses membawa Amsterdam Stock Exchange sebagai Bursa Saham terbesar di dunia di abad ke-17, juga karena mereka beroperasi di remarkable Indonesia!’
‘So after all, it’s all about time. Sebagai perbandingan, Tiongkok adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, dan juga negara terluas ketiga di dunia. Dan memang saat ini Tiongkok adalah negara dengan GDP terbesar di dunia, termasuk Shanghai dan Hong Kong Stock Exchange masing-masing merupakan bursa saham terbesar kelima dan keenam di dunia. Namun pada tahun 1952, dengan GDP hanya US$ 68 milyar, Tiongkok justru termasuk sebagai salah satu negara termiskin di dunia, dan kondisi tersebut bertahan hingga beberapa dekade berikutnya. Hingga barulah pada awal tahun 1990-an, dibawah pimpinan paramount leader, Deng Xiaoping, perekonomian Tiongkok maju dengan sangat pesat hingga akhirnya menjadi sebesar sekarang, dan demikian pula dengan pasar modalnya.’
Nah, kembali lagi soal sejarah. Jika dihitung sejak tahun 1977, maka sejarah perkembangan pasar modal Indonesia memang masih sangat singkat, sehingga disini sama sekali belum banyak yang bisa diceritakan, dan juga belum banyak trilyuner yang terlahir dari lantai bursa. Meski demikian, perkembangan yang terjadi selama hampir empat dekade ini juga sejatinya cukup menggembirakan. Maksud penulis adalah, jika anda sudah berinvestasi di saham sejak tahun 1990, maka ketika itu anda juga pastinya akan sulit untuk membayangkan bahwa BEI, dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, akan memiliki market cap lebih dari Rp5,000 trilyun bukan?

Hanya memang, Rp5,000 trilyun itu masih sangat kecil dibanding bursa-bursa saham lainnya di seluruh dunia. Tapi disisi lain itu berarti bahwa BEI masih bisa berkembang untuk menjadi lebih besar lagi, dan kita pada saat ini masih merupakan bagian dari sejarah perkembangan tersebut. Dan kesempatan untuk menjadi trilyuner adalah milik mereka yang melakukan investasinya sekarang! Dalam dua atau tiga dekade kedepan, pasar saham Indonesia akan menjadi lebih ramai lagi, lebih likuid, dan juga akan lebih diperhitungkan di jagat finansial dunia. Sudah tentu, perjalanannya tidak akan mulus dimana peristiwa tahun 2008 lalu bisa saja kembali terjadi sewaktu-waktu, but hey, that’s just part of the game, right?

Buletin analisis IHSG & rekomendasi saham bulanan edisi Juli 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk [...]

‘Drama Queen’ of Stock Market

Beberapa hari lalu penulis mengalami peristiwa yang cukup unik dengan keluarga di rumah. Jadi ceritanya si teteh (panggilan untuk kakak perempuan, urang Bandung pasti ngerti), yang berusia 3 tahun, lari-lari dan terjatuh hingga lututnya lecet dan harus dipasang plester. Besok paginya, si teteh menolak untuk mandi karena takut lututnya yang lecet tersebut akan terasa perih kalau terkena air. Mamanya berkali-kali menjelaskan bahwa itu cuma lecet kecil jadi gak apa-apa kena air juga, tapi si teteh berkali-kali juga berteriak ‘gak mau!’. Kehilangan kesabaran, si mama juga ikutan teriak. Alhasil jadilah pagi itu rumah gempar hanya gara-gara lecet kecil di lutut, dan si papa (penulis) harus intervensi. Setelah pendekatan persuasif dengan mengajaknya makan-makan di HokBen (meniru caranya Presiden Jokowi) dan main perosotan, si teteh akhirnya bersedia mandi, tapi dengan syarat lututnya yang lecet itu harus dibungkus dulu pake plastik wrapping biar gak kena air.

Contoh kasus diatas menjelaskan bagaimana sebuah peristiwa yang kecil dan cenderung sepele menjadi tampak serius, hanya karena orang-orang yang terlibat didalamnya menanggapi peristiwa tersebut secara berlebihan. Si mama sempat menyebut si teteh sebagai ‘drama queen’, karena si kecil ini kelewat khawatir akan luka lecetnya, padahal itu cuma lecet kecil. Dan setelah penulis googling, menurut urbandictionary.com, drama queen is ‘someone who turns something unimportant into a major deal’, atau secara harfiah bermakna sebagai seseorang yang memandang sesuatu yang sebenarnya tidak penting, sebagai masalah yang serius.
Istilah drama queen biasanya merujuk pada perempuan, entah itu anak kecil ataupun orang dewasa (makanya istilahnya queen, bukan king). Tapi pada prakteknya, siapapun itu entah dia laki-laki atau perempuan, entah dia anak-anak ataupun orang dewasa, entah itu investor saham atau bukan, terkadang (atau malah seringkali) suka bersikap berlebihan dalam menanggapi suatu masalah.
Dan di pasar saham, salah satu masalah itu adalah terkait kinerja keuangan perusahaan. Berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan mencatat kinerja yang tampak buruk sedikit saja, misalnya laba bersihnya turun dibanding tahun sebelumnya, maka investor seringkali akan menanggapinya secara berlebihan, seolah-olah perusahaan itu jelek sama sekali (sama seperti putri penulis yang menganggap bahwa lecet kecil dilututnya merupakan luka yang parah). Dan alhasil sahamnya bisa turun sangat dalam, terkadang bisa anjlok 50% atau lebih dari harga tertingginya. Padahal selama perusahaan masih mencetak laba, maka nilai aset bersih perusahaan sejatinya masih bertumbuh bukan? Dan selama perusahaan tidak terkena force majeure tertentu (tersangkut kasus hukum, dll), maka mereka akan tetap beroperasi dengan normal tanpa adanya masalah apapun, dan seharusnya akan tetap menghasilkan keuntungan dari tahun ke tahun.
But still, karena kinerja perusahaan tampak buruk, maka orang-orang jadi males megang sahamnya, termasuk yang tadinya berniat membelinya juga nggak jadi, dan alhasil harganya terjun bebas terkadang sampai sedemikian murahnya. Contoh yang penulis perhatikan baru-baru ini adalah Erajaya (ERAA), Wismilak (WIIM), dan Semen Baturaja (SMBR). Dilihat dari sisi manapun, ketiga perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang baik, punya track record kinerja yang oke dan outlook jangka panjang yang bagus, utangnya kecil, dan juga dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya. Tapi hanya gara-gara laba mereka turun sedikit di Kuartal I 2015 kemarin, maka ketiga saham ini terus saja mencetak new low padahal IHSG sejatinya baru turun sekitar 10 – 12% dari puncaknya.
Logo PT Erajaya Swasembada, perusahaan distributor telepon selular terbesar di tanah air
Awalnya penulis mengira bahwa ini hanya fenomena di Pasar Saham Indonesia, dan juga hanya terbatas pada saham-saham kecil atau second liner (saham bluechip biasanya hanya akan turun kalau IHSG turun, bahkan  meski kinerja mereka tampak tidak terlalu bagus). Tapi ternyata diluar negeri juga sama begitu, dan itu juga bisa terjadi pada saham dari perusahaan sekelas Berkshire Hathaway sekalipun. Jika pada tahun tertentu laba bersih Berkshire turun dibanding tahun sebelumnya, maka sahamnya biasanya ikut turun pada tahun tersebut, tak peduli meski nilai aset bersih perusahaan sejatinya masih naik. Berikut adalah data sepuluh tahun terakhir (2004 – 2014) dari 1. Laba bersih Berkshire Hathaway (dalam jutaan USD), 2. Persentase kenaikan/penurunan nilai aset bersih perusahaan, 3. Persentase enaikan/penurunan harga sahamnya dalam satu tahun.
Sebelumnya catat bahwa di website perusahaan (www.berkshirehathaway.com), sebenarnya tersedia juga data hingga tahun 1964, yakni sejak Berkshire diambil alih oleh Mbah Buffett. Namun kalau kita tampilkan semua datanya disini maka tabelnya akan jadi sangat panjang. Jadi penulis kira data sepuluh tahun terakhir sudah cukup mewakili.
Year
Net Earnings
Book Value
Market Value
(US$ million)
(%)
(%)
2004
7,308
10.5
4.3
2005
8,528
6.4
0.8
2006
11,015
18.4
24.1
2007
13,213
11.0
28.7
2008
4,994
(9.6)
(31.8)
2009
8,055
19.8
2.7
2010
12,967
13.0
21.4
2011
10,254
4.6
(4.7)
2012
14,824
14.4
16.8
2013
19,476
18.2
32.7
2014
19,872
8.3
27.0
Nah, perhatikan bahwa antara tahun 2004 hingga 2007, laba bersih Berkshire selalu naik, dan demikian pula dengan nilai aset bersih/nilai bukunya. Dan alhasil harga sahamnya (market value) juga terus naik selama kurun waktu tersebut. Namun pada tahun 2008, laba perusahaan tercatat hanya US$ 5.0 milyar, atau anjlok signifikan dibanding tahun sebelumnya yakni US$ 13.2 milyar. Karena harga dari beberapa saham yang dipegang Berkshire juga anjlok pada tahun 2008 tersebut, maka jadilah nilai aset bersih perusahaan ikut turun sebesar 9.6%.
Dan meski Warren sendiri mengatakan bahwa tahun 2008 memang merupakan tahun yang buruk bagi Berkshire, namun investor menanggapi buruknya kinerja Berkshire tersebut secara berlebihan, dimana saham Berkshire anjlok hingga 31.8%, atau turun lebih dalam dibanding penurunan nilai riil perusahaan. Pada tahun 2009 dan 2010, laba Berkshire kembali naik, dan demikian pula nilai aset bersih perusahaan sukses naik selama dua tahun berturut-turut. Namun pada tahun 2011, laba Berkshire turun lagi dari US$ 13.0 milyar menjadi US$ 10.3 milyar. Dan lagi-lagi investor menanggapi hal tersebut secara berlebihan, dimana saham Berkshire pada tahun 2011 tersebut turun 4.7%, padahal nilai aset bersih perusahaan masih tumbuh 4.6%.
Namun disisi lain, respon investor terhadap kinerja Berkshire (yang tercermin pada kenaikan atau penurunan harga sahamnya di pasar) juga akan berlebihan ketika perusahaan menghasilkan kinerja yang bagus. Perhatikan lagi tabel diatas, pada tahun 2006 laba Berkshire tercatat US$ 11.0 milyar, tumbuh cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya US$ 8.5 milyar. Dan nilai aset bersih perusahaan juga naik 18.4% pada tahun tersebut, atau jauh lebih baik dibanding tahun 2005 yang hanya 6.4%. Dan hasilnya, saham Berkshire di tahun 2006 naik 24.1%, atau lebih tinggi dibanding kenaikan nilai riil perusahaan. Pada tahun 2013, harga saham Berkshire juga naik 32.7%, atau lebih tinggi dibanding kenaikan nilai riil perusahaan yang hanya 18.2%.
And, believe it or not, kalau kita cek lagi data yang lebih lama, maka sejak dulu ceritanya juga sama begitu: Kenaikan atau penurunan harga saham Berkshire di market selalu lebih signifikan dibanding kenaikan atau penurunan nilai riil perusahaan. Pada tahun 1991, nilai aset bersih Berkshire sukses naik 7.4%. Tapi masalahnya, kenaikan nilai aset bersih tersebut lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yakni 1990, yang mencapai 44.4%, sehingga jelas pada tahun 1991 tersebut Berkshire mengalami penurunan laba bersih. Dan alhasil, sahamnya turun 23.1%. Kemudian pada tahun 1976, Berkshire mencatat kenaikan nilai aset bersih 59.3%, atau jauh lebih tinggi dibanding kenaikan tahun sebelumnya yang hanya 21.9% (jadi laba bersih Berkshire di tahun 1976 tersebut melejit dibanding tahun sebelumnya). Dan alhasil, sahamnya juga sukses terbang bahkan dengan kenaikan yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 129.3%.
Okay, Pak Teguh, so what’s your point?
Contoh diatas membuktikan bahwa salah satu sifat dasar investor di pasar modal adalah selalu bereaksi secara berlebihan terhadap baik atau buruknya kinerja sebuah perusahaan. Yep, pasar modal adalah gudangnya drama queen! Jadi kalau sebuah perusahaan kinerjanya tampak bagus banget, dimana labanya melejit, dan ROE-nya juga sangat besar, maka orang-orang akan memburu sahamnya sehingga harganya bisa naik secara sangat signifikan, katakanlah hingga lebih dari 100% dalam tempo yang relatif singkat. Tapi sebaliknya, ketika perusahaan mencatat penurunan laba sedikiiit saja, maka sahamnya bisa turun gila-gilaan, apalagi jika IHSG-nya juga lagi turun. Pada tahun 2011 lalu ketika sektor batubara lagi jaya-jayanya, harga-harga saham perusahaan seperti Bukit Asam (PTBA), Adaro Energy (ADRO), Indika Energy (INDY), Bumi Resources (BUMI), Resource Alam Indonesia (KKGI), hingga Garda Tujuh Buana (GTBO), semuanya naik gila-gilaan (naik lebih tinggi dibanding kenaikan nilai riil perusahaan) hingga PBV-nya bisa mencapai 7, 8, atau bahkan 10 kali, alias amat sangat muahal.
Tapi di tahun-tahun berikutnya, setelah harga batubara kemudian turun dan perusahaan-perusahaan tersebut mengalami penurunan laba atau bahkan kerugian, maka anda bisa lihat sendiri bukan, seperti apa nasib saham-saham batubara saat ini? Pada tahun 2011 lalu saham GTBO sukses naik dari 109 hingga 6,000-an (naik berapa persen tuh? Silahkan hitung sendiri) hanya dalam tempo setahunan. Tapi seiring meredupnya bisnis batubara, kesininya dia anjlok tanpa ampun dan sekarang mati di 260 (di-suspend. Kalo gak disuspend mungkin bisa turun sampe gocap karena perusahaannya sendiri berhenti beroperasi).
Nah, kalau untuk sektor komoditas seperti batubara, maka memang sulit sekali untuk berharap kapan perusahaan-perusahaan di sektor ini akan kembali menunjukkan kinerja yang positif, karena kita tidak pernah kapan harga batubara akan naik kembali.
Namun untuk perusahaan di sektor-sektor lain yang lebih sustainable seperti consumer goods, semen, perdagangan, perbankan, ataupun konglomerasi (bergerak di banyak bidang usaha, contohnya Astra International/ASII), maka dengan catatan manajemennya jujur dan kompeten, biasanya kinerja mereka secara keseluruhan akan bagus dalam jangka panjang. Tapi seperti halnya Berkshire Hathaway, pada tahun-tahun tertentu mungkin saja laba bersih mereka sedikit turun, dan alhasil pertumbuhan aset bersih mereka pada tahun tersebut menjadi lebih lambat dibanding sebelumnya. Dan ketika itulah, apalagi jika IHSG-nya mendukung (baca: turun), maka harga saham dari perusahaan-perusahaan tersebut akan turun gila-gilaan, mungkin hingga pada level yang unbelievably undervalue.
And maybe, that’s our opportunity!
Karena, jika kinerja perusahaan pada akhirnya akan kembali baik suatu waktu nanti, maka harga sahamnya juga sudah pasti akan kembali naik kencang! Ada banyak kasus dimana harga sebuah saham turun drastis ketika kinerja perusahaannya tampak buruk, tapi kemudian naik sangat tinggi ketika kinerja tersebut kembali positif. Pada tahun 2011, Elnusa (ELSA) menderita kerugian Rp43 milyar, sehingga ekuitasnya juga turun tipis dari Rp1.96 trilyun menjadi Rp1.91 trilyun. Tapi sahamnya? Tenggelam tanpa ampun dari 350-an hingga mentok di 170-an (turun hampir 50%), dimana pada harga 170 itu PBV ELSA hanya 0.6 kali. Namun pada tahun 2012 dan 2013, ELSA kembali membukukan laba bersih selama dua tahun berturut-turut, dan alhasil sahamnya juga kembali terbang hingga sempat menembus 700 pada Agustus 2014 lalu.
Jadi jika seseorang membeli ELSA di harga 170 – 200, karena ia mampu melihat penurunan saham ELSA sebagai suatu peluang (bahkan meski penurunan tersebut memang disebabkan oleh kinerja perusahaan yang buruk), dan ia kemudian sukses menjualnya di harga 700, sekitar satu setengah tahun kemudian, maka berapa persen keuntungannya?
Jadi apa kesimpulannya?
Seperti yang anda ketahui, pada tahun 2015 ini ada banyak perusahaan yang mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan. Jika tahun 2013 dan 2014 lalu hanya perusahaan-perusahan batubara dan CPO yang mengalami penurunan laba bersih, maka tahun ini bahkan perusahaan sekelas Astra sekalipun mengalami penurunan laba bersih (sementara Bumi Resources malah udah kelaut). However, jika anda mampu mengidentifikasi saham-saham yang 1. Meski kinerja perusahaannya pada saat ini tampak buruk, namun pada akhirnya nanti akan bagus kembali, 2. Sahamnya sudah jatuh sedemikian parahnya, sehingga valuasinya benar-benar sudah sangat murah, maka anda selanjutnya tinggal tunggu sampai perusahaan yang bersangkutan merilis kinerja yang lebih baik di laporan keuangannya, kemudian sikaaat! Sebab, ketika itulah sahamnya kemungkinan besar akan terbang. Diatas penulis sudah menyebutkan ERAA, WIIM, dan SMBR, yang belakangan ini sahamnya terus turun karena kinerja perusahaannya memang kurang oke (diluar tiga itu, anda mungkin punya pilihan anda sendiri). Tapi ketika pada akhirnya nanti mereka kembali membukukan kenaikan laba bersih yang signifikan, then you know what to do!
Lalu bagaimana dengan IHSG yang belakangan ini lagi turun? Well, kalau IHSG turun maka mungkin saham yang sudah anda beli tersebut akan tetap terseret turun, tapi mungkin juga tidak. Antara Juni hingga Desember 2013, IHSG turun dari 5,250 hingga 4,200. Namun saham ELSA pada periode yang sama justru tetap naik dari 250 sampai 350, karena kinerja perusahaan memang memuaskan. Ketika koreksi pasar akhirnya selesai pada awal tahun 2014 dan IHSG kembali merangkak naik, kenaikan ELSA tidak terbendung lagi, dan dia sukses mencapai 700-an hanya dalam waktu beberapa bulan berikutnya (meski belakangan turun lagi karena biar bagaimanapun, harga 700-an itu sudah kelewatan mahalnya).
Dalam hal ini penulis jadi paham kata-kata Mbah Warren: ‘Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful’. Ketika sebuah perusahaan bagus mengalami kinerja yang tidak memuaskan pada satu waktu tertentu, maka investor biasanya akan khawatir dengan masa depan perusahaan, dan alhasil sahamnya akan terjun bebas. Tapi bagi value investor yang cukup jeli, maka mungkin justru disitulah ada kesempatan. Sebaliknya, ketika sebuah perusahaan mencatat kinerja yang sangat baik pada satu waktu tertentu, maka investor akan optimis terhadap ramai-ramai memburu sahamnya dan alhasil sahamnya akan naik tinggi hingga valuasinya menjadi sangat mahal. Tapi jika seorang value investor sudah memegang saham tersebut sejak awal, maka mungkin justru itulah saatnya untuk keluar.

Jadi di pasar modal itu, sebuah saham kalau gak terbang sekalian ya jeblok sekalian. Mayoritas investor tidak pernah bersikap biasa-biasa saja terhadap suatu saham ketika kinerja perusahaannya tampak bagus atau buruk (apalagi jika IHSG-nya juga sedang bullish atau bearish), because almost everybody is a drama queen in the stock market. However, sebagai value investor, maka anda hanya perlu menggunakan sedikit logika saja: Ketika harga sebuah saham sudah sedemikian murahnya, sementara perusahaannya masih beroperasi dengan normal dan masih menghasilkan keuntungan, tidak sedang tersangkut masalah/kasus apapun, dan manajemennya juga jujur serta kompeten, maka apa yang perlu dikhawatirkan? Seorang anak kecil berusia 3 tahun mungkin harus diberi tahu oleh ibunya bahwa lecet kecil di lututnya itu tidak akan terasa perih kalau terkena air. But hey, anda sudah dewasa bukan?

Pasar turun: Saatnya belanja! Dapatkan informasi mengenai menu belanja pilihan (baca: saham-saham berfundamental bagus)

Tips & Strategi Menghadapi Penurunan IHSG

Setelah sempat ‘absen’ dari peristiwa koreksi yang signifikan sepanjang tahun 2014 lalu, pada pertengahan tahun 2015 ini IHSG kembali membara. Ketika artikel ini ditulis, posisi IHSG tercatat 5,055, atau turun total 3.2% dibanding posisi awal tahun yakni 5,227. Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dll yang memang tidak begitu bagus (kita sudah berkali-kali membahasnya di website ini, coba baca lagi artikel-artikel sejak Maret lalu), maka penurunan ini sama sekali tidak mengejutkan dan sejak awal memang sudah diantisipasi. Jika tidak ada perubahan fundamental kedepannya, kemungkinan kondisi ini akan terus berlanjut, dan alhasil IHSG pada tahun 2015 ini bisa kembali ditutup turun dibanding tahun sebelumnya. Pertanyaannya, what should we do?

IHSG sebenarnya ‘secara resmi’ sudah memulai periode koreksinya sejak akhir April lalu, dimana ia tiba-tiba saja turun terus menerus dari puncaknya 5,512 hingga 5,086, yang kemungkinan karena dipicu oleh buruknya kinerja pada emiten di Kuartal I 2015. Karena penurunannya sangat signifikan (lebih dari 8% hanya dalam tempo seminggu), maka tak lama kemudian dia rebound cepat hingga sempat naik 5,300-an lagi. Tapi yah.. karena memang belum ada peristiwa apapun yang secara fundamental bisa mengubah outlook perekonomian Indonesia kedepannya (kemarin ada perubahan outlook rating dari S&P, tapi rating itu sendiri masih belum berubah), maka sangat wajar jika kemudian IHSG longsor kembali.
Dalam acara investor meeting dan gathering dengan tema ‘Strategi Investasi Menghadapi Bear Market’ yang penulis selenggarakan di Jakarta, tanggal 23 Juni lalu (ketika IHSG mengalami rebound-nya dengan naik lagi ke 5,300-an), penulis menyampaikan setidaknya tiga point utama terkait perekonomian nasional.
  1. Pertumbuhan ekonomi mulai slow down, dimana bisnis terasa lesu di segala sektor, para emiten di BEI mengalami penurunan laba, inflasi masih tinggi di level 6.9%, dan Rupiah masih lemah di level Rp13,000-an per USD.
  2. Namun demikian, kondisi ekonomi masih jauh dari krisis. Tapi jika tidak ada perubahan terkait kebijakan pemerintah dll, maka bukan tidak mungkin krisis tersebut pada akhirnya akan terjadi.
  3. Berdasarkan pengalaman, ketika perekonomian mulai menunjukkan trend slow down, maka kalaupun nantinya ada perubahan yang positif, trend tersebut tetap tidak akan langsung berbalik arah lagi dalam waktu dekat melainkan butuh waktu minimal setahunan.

Nah, penulis tidak tahu apakah saya sudah pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi saya akan menyampaikannya lagi disini: Dalam jangka pendek (kurang dari tiga bulan), harga sebuah saham bisa naik atau turun terlepas dari apakah fundamentalnya bagus atau jelek, juga tak peduli valuasinya mahal atau murah. Namun dalam jangka menengah hingga panjang (diatas 3 bulan, atau diatas satu tahun), maka harga saham akan selalu mengikuti fundamental serta valuasinya. Dalam tempo kurang dari 3 bulan, saham Bank BRI (BBRI) atau Bumi Resources (BUMI) bisa saja bergerak saja naik atau turun, sehingga dalam jangka pendek tersebut seseorang mungkin akan mengalami kerugian dari BBRI, dan malah meraup keuntungan dari BUMI. Namun dalam jangka panjang, dalam hal ini beberapa tahun terakhir, saham BBRI mampu untuk naik terus, sementara BUMI sebaliknya turun terus, dan itu tentu bukan tanpa alasan: Ketika BBRI mampu untuk mencetak laba bersih secara konsisten dari kuartal ke kuartal, BUMI justru terus mengalami kerugian yang pada akhirnya membuat ekuitasnya menjadi negatif alias defisiensi modal (jadi secara pembukuan, BUMI ini gak ada nilainya sama sekali).

Logo Bank BRI, perusahaan dengan track record pertumbuhan aset bersih tertinggi di BEI dalam 5 tahun terakhir

Cara kerja yang sama juga berlaku untuk IHSG: Dalam jangka pendek, IHSG bisa naik atau turun terlepas dari dari apakah kinerja perusahaan-perusahaan didalamnya terbilang bagus atau jelek, juga tak peduli valuasinya mahal atau murah. Namun dalam jangka panjang (atau minimal menengah), pergerakan IHSG pada akhirnya akan mengikuti fundamental perekonomian nasional. Pertanyaannya sekarang, berdasarkan pengamatan anda sendiri di lapangan, perkembangan bisnis di Indonesia pada saat ini masih lancar-lancar saja, atau memang lagi agak seret?
Okay, Mas Teguh, jadi apakah itu berarti anda mengatakan bahwa IHSG secara keseluruhan akan turun pada tahun 2015 ini? Ya belum tentu juga. Seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel ini, perekonomian akan improve kedepannya jika 1. Pemerintah bersedia melonggarkan beberapa kebijakannya terkait perekonomian (terutama terkait subsidi dan pajak), 2. Harga komoditas terutama CPO dan batubara kembali naik, atau 3. Pembangunan infrastruktur segera direalisasikan. Jika salah satu saja dari tiga point tersebut terjadi, maka ekonomi bisa tumbuh diatas 5% kembali, dan demikian pula IHSG akan punya alasan untuk melaju kencang kembali seperti tahun 2014 lalu.
Tapi mari kita ambil skenario terburuknya: Jika sama sekali tidak ada perubahan, dan IHSG pada tahun 2015 ini benar-benar tumbuh secara negatif, maka apa yang harus kita lakukan?
Sebelum kita bicara soal strategi, penulis akan mengajak anda untuk lihat-lihat lagi pergerakan IHSG di masa lalu, dan poin utamanya adalah ini: Meski indeks-indeks saham di seluruh dunia, termasuk IHSG pada akhirnya akan terus naik dalam jangka puanjaaaanng, namun pada tahun-tahun tertentu mereka bisa saja turun. Antara tahun 1997 hingga 2014, IHSG mengalami penurunan 6 kali, yakni tahun 1997, 1998, 2000, 2001, 2008, dan 2013. Antara tahun 1997 hingga 2001, IHSG mengalami penurunan hampir setiap tahunnya karena memang Indonesia ketika itu sedang dilanda krisis moneter. Pada tahun 2008, IHSG sekali lagi turun karena efek dari krisis global, dan tahun 2013 IHSG turun karena perekonomian nasional mulai mengalami slow down setelah terus menerus ekspansi selama hampir 10 tahun sebelumnya. Kita pernah membahas soal itu disini.
Sementara pada tahun-tahun lainnya, IHSG naik terus. Namun intinya adalah, selama 18 tahun terakhir (dari akhir tahun 1996 hingga akhir tahun 2014), IHSG secara keseluruhan mencatat kenaikan pada 12 tahun tertentu, dan turun pada 6 tahun sisanya. Jadi kalau dirata-ratakan, dengan tidak menyertakan dividen, IHSG mengalami penurunan rata-rata setiap tiga tahun sekali. Namun pola pergantian antara kenaikan dan penurunan IHSG tersebut bersifat random. Jadi IHSG bisa saja naik terus selama lima tahun berturut-turut, dan baru turun lagi pada tahun keenam, atau sebaliknya, IHSG turun dua tahun berturut-turut, dan baru naik lagi pada tahun ketiga.
Dan percaya atau tidak, kalau kita ambil contoh pergerakan indeks S&P 500 di Amerika yang ditampilkan di Annual Letter-nya Berkshire Hathaway, maka polanya juga hampir sama begitu. Selama 50 tahun terakhir, yakni antara tahun 1964 – 2014, S&P secara keseluruhan turun pada 10 tahun tertentu, dan naik pada 40 tahun lainnya, dengan pola yang random. Longest streak bagi S&P terjadi antara tahun 1990 – 1999, dimana ia naik terus selama 9 tahun berturut-turut, tapi pada akhirnya ‘dibayar lunas’ oleh penurunan selama 3 tahun berikutnya.
Jadi bisa disimpulkan bahwa S&P mengalami koreksi rata-rata lima tahun sekali. However, data kenaikan/penurunan S&P diatas sudah termasuk menyertakan dividen. Jika dividen ini dianggap tidak ada, maka mengingat pada tahun-tahun tertentu kenaikannya hanya 1 – 3%, S&P sejatinya turun lebih dari 10 kali dalam 50 tahun terakhir, totalnya mungkin sekitar 15 kali. Dengan demikian, dengan tidak menyertakan dividen, maka S&P 500 juga mengalami penurunan rata-rata tiga tahun sekali, atau sama dengan IHSG.
Intinya sih, penulis hendak menyampaikan bahwa kalaupun benar IHSG akan turun pada tahun 2015 ini, maka itu hal yang biasaaaa… Karena memang sudah sewajarnya bagi IHSG untuk turun, rata-rata setiap tiga tahun sekali. Malah justru, dengan penurunan tersebut maka ruang gerak IHSG akan menjadi lebih terbuka kedepannya. Pada tahun 2013 lalu penulis juga sempat kalang kabut setelah IHSG anjlok dari 5,250 sampai 4,000, tapi ketika itu saya menyakinkan diri sendiri bahwa kalaupun pada tahun 2013 tersebut IHSG turun, maka itu justru bagus untuk kedepannya. Dan memang benar, IHSG turun 1% saja pada 2013 tersebut, namun langsung naik 22.3% di tahun berikutnya yakni 2014. Terkait perekonomian yang melambat akhir-akhir ini, meski memang menyebalkan, namun itu juga sesuatu yang biasa-biasa saja karena itu hanyalah bagian dari siklus. Maksud penulis adalah, ketika perekonomian terus berlari kencang hingga mencapai puncaknya pada tahun 2011 lalu, anda bersikap biasa-biasa saja bukan? Jadi kenapa juga sekarang kita harus mengeluh ketika gilirannya ekonomi mengalami perlambatan?
Okay, tapi itu belum menjawab pertanyaannya: Sebagai investor, apa yang harus saya lakukan dalam kondisi sekarang?
Dalam acara gathering dua minggu lalu, ada tiga poin strategi yang penulis share: 1. Trading cepat memanfaatkan rebound IHSG, 2. Tetap membeli saham-saham berfundamental bagus, dan 3. Just hold your cash and wait, until the stock prices are really discounted. Kalau penulis sendiri, kami sudah cuci gudang pada minggu ketiga April lalu, atau persis sesaat sebelum IHSG jatuh pada akhir April (kami sudah menginformasikan hal ini ke member buletin bulanan), sehingga kami pada saat ini berada dalam posisi free untuk menerapkan salah satu dari tiga strategi diatas, atau kombinasi dari ketiganya.
Okay, sekarang coba kita bahas satu per satu, mulai dari trading cepat memanfaatkan rebound IHSG. Kuncinya ini: Ketika IHSG mengalami penurunan selama periode waktu tertentu, let say selama beberapa bulan, maka penurunannya tidak akan terjadi secara terus menerus melainkan juga akan diselingi rebound-rebound, seperti yang memang terjadi sepanjang Mei kemarin dimana IHSG naik hingga 5,300-an (setelah sebelumnya anjlok sampai 5,086). Nah, Kita bisa memanfaatkan rebound tersebut untuk trading saham-saham bluechip berfundamental bagus. Caranya, anda hold posisi cash, dan tunggu pasar ‘kebakaran’ lagi seperti pada akhir April lalu. Jika pada akhir April lalu IHSG turun sampai 5,000-an, maka pada koreksi berikutnya IHSG mungkin akan turun sampai 4,900-an.
Dan kebetulan, ketika artikel ini ditulis, IHSG memang sedang kebakaran lagi, jadi mungkin anda bisa menerapkan strategi hit and run diatas. Bagi anda yang masih dalam posisi pegang barang, maka anda juga bisa memanfaatkan moment rebound IHSG untuk keluar dulu (jadi jangan keluar pas IHSG anjlok lagi seperti sekarang)
Meski demikian strategi ini memiliki kelemahan: Kita tentu tidak bisa memprediksi kapan persisnya IHSG akan rebound. Jadi jika timing-nya ternyata meleset, maka anda mungkin tetap harus cut loss jika ternyata IHSG tetap melanjutkan penurunannya ketika anda sudah terlanjur masuk. Beberapa saham juga mungkin tidak akan serta merta naik ketika IHSG benar-benar mengalami rebound, melainkan tetap lanjut turun. Karena itulah, anda mungkin bisa menerapkan strategi berikutnya, yakni tetap koleksi saham-saham berfundamental bagus.
Seperti yang sudah penulis sampaikan sebelumnya, ketika kinerja para emiten di BEI terbilang buruk, maka selalu ada saja perusahaan yang kinerjanya masih oke, dan valuasi sahamnya juga masih rendah. Ketika IHSG turun, maka saham-saham yang turun duluan adalah yang fundamentalnya buruk, atau fundamentalnya bagus tapi valuasinya sejak awal sudah mahal.

Sementara untuk saham-saham berfundamental bagus dan valuasinya murah, mereka dalam jangka pendek mungkin akan ikut terseret turun, tapi mungkin juga mereka tetap mampu untuk naik atau minimal bertahan di posisinya. Dan kalaupun mereka ikut terseret turun, namun pada akhirnya mereka akan naik lagi dengan cepat, yakni ketika masa koreksi IHSG berakhir (IHSG boleh turun sampai berapa saja, tapi pada akhirnya dia akan naik lagi). Contoh yang penulis ingat adalah saham Metrodata Electronics (MTDL). Antara Mei – September 2013, saham MTDL ikut terseret oleh penurunan IHSG yang ketika itu anjlok ke level 4,000-an, dengan turun dari 330-an hingga 200 pas. Namun ketika koreksi IHSG berakhir, MTDL juga dengan cepat naik lagi karena memang tidak ada masalah dengan fundamentalnya.

Untuk strategi nomor dua ini, anda nyaris tidak perlu memperhatikan pergerakan IHSG sama sekali (fokus pada sahamnya saja). However, problemnya adalah, dalam kondisi dimana sebagian besar emiten mencatatkan kinerja yang buruk, maka untuk saat ini tidaklah mudah untuk bisa menemukan saham seperti MTDL ini. Okay, beberapa emiten memiliki kinerja yang bagus pada Kuartal I 2015 lalu. Tapi jika perlambatan pertumbuhan ekonomi belakangan ini terus berlanjut, maka siapa yang bisa menjamin bahwa mereka masih akan mencatatkan kinerja yang sama bagusnya pada Kuartal II nanti?
Karena itulah, anda juga bisa pilih strategi nomor tiga: Just hold your cash and wait, tentunya sambil terus memperhatikan perkembangan ekonomi di lapangan.
Karena kalau berdasarkan pengalaman, ketika IHSG turun karena penyebab yang jelas (penyebab kali ini adalah terkait perkembangan ekonomi dalam negeri yang memang tidak menggembirakan), maka penurunan tersebut tidak akan langsung selesai dalam waktu dekat. Pada tahun 2013 lalu, IHSG butuh waktu tiga bulan untuk turun dari 5,200 sampai 3,900. Pada tahun 2008, IHSG juga butuh waktu sembilan bulan untuk turun dari 2,800-an hingga 1,300-an.
Sementara untuk koreksi ini, dihitung sejak akhir April lalu, maka koreksinya baru berjalan selama satu setengah bulan. Penulis tidak tahu IHSG akan turun sampai berapa (actually we have our own estimates, but not to be openly published). Tapi kalau melihat saham-saham bagus di BEI yang valuasinya, setelah dihitung, belum begitu murah, sementara yang sudah murah tapi barangnya memang gak bagus, maka IHSG kemungkinan besar melanjutkan penurunannya minimal dalam beberapa bulan kedepan, sekali lagi, jika tidak terjadi peristiwa tertentu yang secara signifikan bisa mengubah outlook perekonomian menjadi lebih positif.
Strategi ketiga ini adalah yang paling aman, tapi sekaligus paling membosankan serta butuh kekuatan mental, even we cannot do it. Selain itu strategi ini tetap saja ada kekurangannya: Bagaimana jika kita ternyata hanya terlalu pesimis terhadap perkembangan pasar? Bagaimana jika IHSG ternyata langsung pulih lagi besok? Karena pada akhirnya, tidak ada seorangpun yang bisa memprediksi arah pergerakan IHSG maupun saham-saham didalamnya, bukan begitu?

Jadi kami sendiri lebih suka mengkombinasikan strategi ketiga ini dengan strategi pertama dan kedua diatas, contohnya dengan tetap memegang Sri Rejeki Isman (SRIL) (strategi nomor dua) yang, ketika artikel ini ditulis, ternyata mampu untuk bertahan di posisinya meski IHSG turun.

Sudah tentu, ketika pasar sedang tidak bersahabat, maka tetap saja sangat sulit bagi siapapun untuk bisa mencetak keuntungan, tidak peduli seperti apa strategi yang diterapkan. Namun demikian, jika pada tahun ini porto anda minus 5% tapi disisi lain IHSG turun 10%, maka anda sejatinya masih mencatatkan kinerja investasi yang lebih baik dibanding kinerja rata-rata investor di seluruh jagat BEI, dan nilai porto anda tetap berpeluang untuk kembali tumbuh signifikan di tahun berikutnya. Just remember, kita tidak invest di saham untuk sekali ini saja, melainkan untuk seterusnya. Dan jika pada tahun ini IHSG tidak menghasilkan kinerja yang memuaskan, maka secara statistik itu justru bagus karena IHSG akan lebih ‘enteng’ untuk menanjak naik pada tahun berikutnya. At the end, we’ve done this before, so why [...]

Trada Maritime

Pada Kuartal I 2015, Trada Maritime membukukan laba bersih (yang dapat diatribusikan kepada entitas induk) sebesar US$ 0.4 juta, dimana meski angka tersebut naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun tetap saja sangat kecil dibandingkan dengan nilai ekuitas perusahaan sebesar US$ 86.7 juta. Namun demikian, cerita menarik tentang TRAM ini mungkin bukan terkait dengan kinerjanya tersebut, melainkan terkait sahamnya yang pada saat ini terpuruk di level 50-an, padahal tidak sampai setahun yang lalu dia sempat berada di level 1,800-an. Kalau melihat laporan keuangannya yang, meski memang tidak bagus, tapi juga tidak jelek-jelek amat (perusahaannya masih menghasilkan keuntungan, dan ekuitasnya juga masih positif), dan PBV-nya pada harga sekarang tinggal 0.5 kali, maka mungkin timbul pertanyaan: Apakah ada opportunity disini?

TRAM adalah salah satu perusahaan penyewaan kapal dan jasa transportasi laut yang tergolong baru di Indonesia. Perusahaan berdiri pada tahun 1998 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2000, ketika itu dengan memperoleh kontrak dari PT Exspan Nusantara untuk pekerjaan floating storage & offloading (FSO). Tahun 2003, perusahaan membeli kapal tanker untuk mengangkut muatan cair (liquid cargo), dalam hal ini aspal cair. Pada tahun 2008 perusahaan kembali menambah armadanya yakni beberapa unit kapal motor dan tongkang untuk mengangkut muatan kering (dry cargo) seperti batubara dll. Pada tahun 2008 itu pula perusahaan untuk pertama kalinya terdaftar di BEI. Pada akhir tahun 2014, TRAM secara keseluruhan mengoperasikan total 20 kapal yang terdiri dari 5 kapal FSO, 5 kapal pendukung untuk FSO, 3 kapal liquid cargo, 5 bulk carrier, 1 kapal penumpang, dan 1 kapal pengangkut LNG. TRAM hingga saat ini memiliki beberapa pelanggan jangka panjang yang kebanyakan merupakan perusahaan minyak dan gas, dan batubara.
Nah, setelah sampai pada paragraf diatas, maka anda mungkin tidak melihat sesuatu yang istimewa dari TRAM ini. Namun satu hal yang membedakan TRAM dengan banyak perusahaan kapal lainnya di Indonesia adalah, belakangan ini TRAM dilanda oleh setidaknya dua peristiwa luar biasa yang mengganggu operasional perusahaan, yang pada akhirnya menyebabkan kinerja perusahaan mengalami penurunan dalam setahunan terakhir. Berikut adalah penjelasan dari peristiwa luar biasa tersebut.
                                   
1. Musibah kebakaran kapal ‘Lentera Bangsa’
Pada bulan Juni dan Juli 2010, TRAM memperoleh pinjaman dari International Finance Corporation (IFC) dan Bank of Tokyo – Mitsubishi UFJ senilai total US$ 50 juta, yang digunakan untuk membiayai modifikasi kapal FSO ‘Lentera Bangsa’ milik perusahaan. Perusahaan selanjutnya akan membayar utang tersebut dengan cara menyicil setiap tiga bulan. Namun pada September 2011, kapal Lentera Bangsa terbakar hingga terpaksa berhenti beroperasi sama sekali. Alhasil sejak September 2011 tersebut, perusahaan gagal untuk memenuhi kewajibannya untuk menyicil pembayaran utang kepada IFC maupun Bank of Tokyo.
Sebelum mengalami musibah kebakaran, kapal Lentera Bangsa sudah diasuransikan ke PT Asuransi Dayin Mitra, Tbk (ASDM) dan PT Asuransi Purna Artanugraha, dengan broker asuransi PT Marsh Indonesia, dengan nilai total pertanggungan maksimal hingga US$ 75 juta. Namun sejak kapal Lentera Bangsa terbakar sampai dengan saat ini, nilai pertanggungan tersebut masih belum dibayarkan oleh perusahaan asuransi. Permasalahan menjadi rumit setelah pihak IFC dan Bank of Tokyo, pada Mei 2014, sempat hendak melakukan ‘segala cara’ agar TRAM segera membayar utangnya, namun untungnya itu tidak dilakukan karena manajemen TRAM berhasil meyakinkan mereka bahwa perusahaan bukannya tidak mau membayar utang, namun masalahnya terletak di klaim asuransi yang belum dibayar. Hingga saat ini pihak TRAM bersama-sama dengan IFC dan Bank of Tokyo masih dalam posisi berdiskusi dengan pihak perusahaan asuransi untuk sesegera mungkin menyelesaikan klaim yang sudah diajukan (TRAM sudah mengajukan klaim tersebut pada Juni 2014).
2. Kasus penyelundupan minyak mentah, yang melibatkan kapal ‘Jelita Bangsa’
Pada Juni 2014, kapal FSO ‘Jelita Bangsa’ milik perusahaan ditangkap oleh petugas bea dan cukai di Perairan Kepulauan Riau, karena diduga telah memindahkan muatan minyak ke kapal lain secara ilegal. Akibat kasus ini, kapal Jelita Bangsa ditahan oleh pihak berwajib dan praktis berhenti beroperasi.
Investigasi serta penyidikan segera dilakukan oleh pihak berwenang. Dan pada akhir Maret 2015, penyidikan terhadap kasus ini sudah selesai dilakukan, dan hasilnya adalah pihak penyidik menetapkan status tersangka kepada nahkoda dan dua orang awak kapal, namun pihak TRAM sebagai pemilik kapal tidak turut menjadi tersangka karena tiga orang tersangka tersebut bertindak diluar wewenang perusahaan. Meski demikian, hingga saat ini kapal Jelita Bangsa masih tetap ditahan oleh pihak berwajib sebagai barang bukti.
Okay. Kalau anda jeli, maka anda akan menemukan beberapa hal yang mengganjal terkait dua peristiwa diatas. Yang pertama, kapal Lentera Bangsa terbakar pada September 2011, atau hampir empat tahun yang lalu, dan sejak saat itu pula perusahaan berhenti membayar cicilan utangnya ke IFC dan Bank of Tokyo. Lalu kenapa manajemen TRAM pada saat itu tidak langsung mengajukan klaim ke pihak asuransi, melainkan baru melakukannya pada bulan Juni 2014? Dan itupun setelah perusahaan menerima protes dari IFC dan Bank of Tokyo sebulan sebelumnya (Mei 2014), gara-gara mereka kelamaan menunggak cicilan pembayaran utang. Seharusnya kalau pihak TRAM sudah mengajukan klaim ke perusahaan asuransi pada bulan September 2011, maka pada saat ini klaim tersebut sudah dibayarkan. Namun karena TRAM baru mengajukan klaim tersebut pada bulan Juni 2014, maka pihak perusahaan asuransi hingga saat ini kemungkinan masih melakukan investigasi/pemeriksaan terhadap klaim tersebut, karena nilai pertanggungan sebesar US$ 75 juta tentu saja bukan jumlah yang kecil untuk bisa langsung dibayarkan begitu saja.
Anyway, karena sampai saat ini TRAM masih belum menerima pembayaran klaim dari perusahaan asuransi, maka di laporan keuangannya sejak tahun 2012 lalu, TRAM dua kali membukukan kerugian non operasional karena taksiran penurunan nilai aset (‘aset’ disini adalah kapal Lentera Bangsa), yakni sebesar US$ 12 juta pada tahun 2012, dan US$ 23 juta pada tahun 2014, sehingga totalnya adalah US$ 35 juta. Ditambah dengan biaya-biaya yang harus keluar karena berurusan dengan IFC dan Bank of Tokyo, maka perusahaan membukukan kerugian (mayoritas hanya kerugian diatas kertas, bukan kerugian operasional) yang nyaris beruntun selama tiga tahun terakhir, sehingga nilai ekuitas TRAM menyusut tajam dari US$ 152 juta di akhir tahun 2011, menjadi hanya US$ 86 juta pada Kuartal I 2015.
Nah, dari sini tampak jelas bahwa ketika pada akhirnya nanti klaim asuransinya dibayarkan (US$ 75 juta tadi adalah maksimalnya, jadi realisasinya kemungkinan akan kurang dari itu), maka nilai ekuitas TRAM akan melejit kembali, dan valuasi sahamnya yang tampak murah pada saat ini (PBV-nya hanya 0.5 pada harga Rp55 per saham) akan menjadi jauh lebih murah lagi. Namun sekali lagi pertanyaannya, kenapa pihak TRAM baru mengajukan klaim pada bulan Juni 2014, atau nyaris tiga tahun setelah peristiwa kebakarannya?
Yang kedua, terkait kasus penyelundupan minyak yang melibatkan kapal Jelita Bangsa. Ketika dikatakan bahwa perusahaan tidak terlibat penyelundupan tersebut, maka kenapa kok kapal Jelita Bangsa-nya sampai sekarang masih ditahan oleh pihak yang berwajib? Dalam materi public expose insidentil yang digelar perusahaan untuk menjelaskan masalah tersebut, juga tidak disebutkan adanya upaya tertentu yang dilakukan perusahaan agar kapal Jelita Bangsa bisa dibebaskan seceparnya, agar kapal tersebut kemudian bisa kembali beroperasi dan kembali memberikan kontribusi pendapatan terhadap perusahaan, melainkan hanya akan menunggu proses hukum. Perusahaan lebih menekankan kepada poin bahwa meski kapal Jelita Bangsa masih belum bisa beroperasi kembali, namun kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan hanya sekitar 5% alias tidak terlalu besar, sehingga kegiatan operasional TRAM tidak akan terlalu terganggu. However, faktanya adalah pendapatan TRAM pada Kuartal I 2015 anjlok 44.2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan itu tentu saja bisa dijelaskan: Kalau penulis adalah salah satu pelanggan TRAM, maka sebelum TRAM bisa benar-benar menyelesaikan kasus hukumnya terkait kapal Jelita Bangsa, saya juga mendingan pilih perusahaan kapal lainnya dulu lah. Saya tentu gak mau ambil risiko dianggap turut ‘terlibat’ dengan kasus penyelundupan atau apapun yang dituduhkan kepada perusahaan.
Diluar dua masalah yang sudah dibahas diatas, maka cerita yang lebih seru terkait TRAM ini adalah mengenai sahamnya. Seperti yang sudah disebut diatas, pada September 2011 TRAM mengalami force majeure yakni kebakaran kapal Lentera Bangsa, yang notabene merupakan salah satu armada utama (dan termahal) milik perusahaan. Biasanya kalau ada peristiwa yang bersifat musibah seperti ini, maka saham dari perusahaan yang bersangkutan akan anjlok (karena investor pada kabur). Namun pada TRAM, yang terjadi justru sebaliknya. Pada September 2011 tersebut, saham TRAM yang sebelumnya sideways cukup lama di rentang 550 – 600, tiba-tiba saja terbang hingga menembus 1,000 pada Januari 2012, dengan volume transaksi yang sangat besar. Dengan PBV yang sudah menembus 6 kali ketika itu, sementara perusahaannya baru saja mengalami musibah, dan kinerja TRAM juga sama sekali tidak bisa dikatakan istimewa, maka jelas bahwa kenaikannya tidak wajar. Apalagi disisi lain volume transaksinya kelewat besar (mencapai 100 juta lembar saham per hari) untuk ukuran saham yang sama sekali tidak pernah masuk radar investor sebagai ‘saham yang mewakili perusahaan dengan fundamental yang cukup baik, sehingga bisa dijadikan pilihan investasi’. Sejak tahun 2010 sampai sekarang, setiap kali penulis membaca-baca laporan keuangan terbaru para emiten di BEI setiap kuartalnya, TRAM ini memang sama sekali tidak pernah lolos screening untuk dijadikan pilihan investasi.
However, TRAM selanjutnya tetap stay di rentang harga 800 – 1,000. Ketika perusahaan akhirnya membukukan rugi bersih pada akhir tahun 2012, saham TRAM sekali lagi bukannya turun tapi malah naik kembali hingga menembus 1,400-an (gak masuk akal!). Karena disisi lain volume transaksinya masih sangat besar, maka akhirnya saham ini masuk indeks LQ45 pada awal tahun 2013. Pada tahun 2013 kinerja perusahaan masih belum membaik, dan valuasi sahamnya sudah tidak masuk akal saking mahalnya. But still, TRAM masih melanjutkan kenaikannya hingga sempat menyentuh 1,800-an. Karena volume transaksi hariannya yang sangat besar, maka biaya trading fee yang harus dibayar oleh siapapun yang memperjual belikan TRAM ini mencapai total Rp500 juta per hari, atau Rp100 milyar per tahun! (dengan asumsi bahwa dalam satu tahun terdapat 200 trading day). Pertanyaannya: Investor/trader mana yang mau mengeluarkan biaya trading fee hingga sebesar itu hanya untuk memperjual belikan saham dari perusahaan kecil seperti TRAM, padahal TRAM ini fundamentalnya buruk dan valuasinya juga amat sangat mahal? Apa untungnya buat dia?
Dan akhirnya, pada bulan Juni 2014, ketika saham TRAM sudah berada di level 1,800-an, perusahaan mengalami peristiwa kedua yakni ditangkapnya kapal Jelita Bangsa oleh petugas bea dan cukai di Perairan Kepulauan Riau (dilanjut dengan pemutusan kontrak sewa dari Pertamina, yang merupakan pengguna jasa kapal Jelita Bangsa tersebut), dan manajemen TRAM juga menerima surat tuntutan dari IFC untuk segera melunasi tunggakan utangnya. Merespon kejadian ini, pihak BEI kemudian segera menghentikan/men-suspensi perdagangan saham TRAM di market. Ketika suspensi tersebut akhirnya dicabut pada November 2014, mulailah TRAM longsor tanpa ampun! Nyaris dengan mengalami auto reject kiri setiap hari.
Namun ketika sebuah saham longsor gila-gilaan, maka berdasarkan pengalaman, terlepas dari faktor fundamental maupun valuasinya, pada waktu tertentu dia biasanya akan mengalami technical rebound. Dan memang itulah yang terjadi pada saham TRAM, dimana ketika penurunannya sampai pada harga 400-an, dia sempat naik signifikan pada hari-hari tertentu. Salahnya adalah, ketika itu ada banyak investor (atau lebih tepatnya spekulan) yang ikut masuk ke TRAM ini hanya karena tertarik dengan kenaikannya tersebut, padahal mereka mengetahui secara persis masalah apa yang sedang terjadi pada perusahaan. Selain itu pada harga 400-an tersebut, valuasi saham TRAM juga sama sekali belum bisa disebut murah karena PER dan PBV-nya masih sangat tinggi. Ada banyak investor ketika itu yang menyangka bahwa TRAM ini sudah murah, hanya karena harganya sudah turun banyak (dari 1,800 ke 400, berarti sudah turun lebih dari 75%).
Tapi yah.. nasi sudah jadi bubur, dan sekarang TRAM sepertinya tinggal sesaat lagi menuju level kematian alias gocap. Pertanyaannya, okay, kalau di harga 400 TRAM ini mungkin masih mahal. Tapi di harganya saat ini yaitu 55, maka harusnya dia udah murah dong? PBV-nya aja cuma 0.5 kali bukan? Selain itu, seperti yang tadi sudah dibahas diatas, kalau nanti perusahaan pada akhirnya menerima klaim asuransinya, maka ekuitasnya akan meningkat dan valuasi sahamnya akan menjadi lebih murah lagi.
Jadi kesimpulannya saya boleh average down dong? Well, ya nggak sesimpel itu juga lah, Kalau anda baca lagi pembahasannya diatas, masalah yang dihadapi TRAM ini bukan sekedar masalah kebakaran kapal Lentera Bangsa, atau soal ditahannya kapal Jelita Bangsa oleh pihak yang berwajib, melainkan terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti: 1. Kenapa manajemen TRAM baru mengajukan klaim asuransi ke perusahaan asuransi, hampir tiga tahun setelah kejadian kebakarannya? 2. Kenapa manajemen TRAM seperti membiarkan masalah tunggakan utangnya ke IFC dan Bank of Tokyo, hingga akhirnya IFC terpaksa mengajukan surat tuntutan? 3. Kapan klaim asuransi itu akan dibayarkan? 4. Bagaimana sebenarnya detail dari kasus penyelundupan minyak yang melibatkan kapal Jelita Bangsa? Lalu kapan kapal tersebut akan dibebaskan dan mulai kembali beroperasi? 5. Sebelum mencuatnya kasus kapal Jelita Bangsa dan surat tuntutan dari IFC, bagaimana mungkin saham TRAM bisa terus bergerak naik secara tidak wajar, dan dengan volume transaksi yang tidak wajar pula? Dan 6. Berdasarkan data registrasi pemegang efek, pada akhir April 2015, PT Trada Resources dan PT Trada International hanya memegang total 36% saham TRAM, atau kurang dari 51%, sementara selebihnya dipegang oleh publik. Jadi sebenarnya yang jadi pemegang saham pengendali di TRAM ini siapa???
Nah, sekarang kita pakai logika saja: Berinvestasi di saham itu tak ubahnya seperti mempercayakan dana ke seorang pengusaha/perusahaan. Kalau anda hendak mempercayakan dana sebesar katakanlah Rp100 juta ke seorang pengusaha untuk nantinya diinvestasikan ke bidang usaha tertentu, maka sudah tentu anda akan menginterogasi orang tersebut dengan berbagai pertanyaan bukan? Dan jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka apakah anda masih akan mempercayakan dana anda kepadanya?
Tapi bahkan kalau kita mengabaikan faktor kepercayaan ini, maka dengan track record kinerja yang amburadul, rasio profitabilitas yang sangat rendah, jumlah utangnya yang cukup tinggi (dan juga bermasalah), dan tidak ada kepastian soal masa depan perusahaan, maka tetap saja TRAM ini tidak bagus untuk pilihan investasi. I mean, untuk apa anda membeli saham dari perusahaan perkapalan yang baru saja kehilangan mayoritas sumber pendapatannya, karena para pelanggannya sudah tentu tidak mau turut terlibat dengan.. well.. kasus apapun itu yang sedang dihadapi perusahaan?
Jadi seperti yang sudah pernah penulis sampaikan pada salah satu artikel di website ini, kami tidak tertarik dengan TRAM ini. Sementara jika anda sudah terlanjur masuk, maka pilihannya ada dua: 1. Get out while you can, atau 2. Tunggu saja hingga akhirnya perusahaan merilis dua kabar positif, yakni bahwa perusahaan akhirnya menerima pembayaran klaim asuransi, dan kapal Jelita Bangsa juga dibebaskan dan kembali beroperasi. Ketika itulah saham TRAM akan memiliki alasan yang sangat bagus untuk bisa naik kembali.

However, penulis sendiri terus terang tidak tahu kapan itu akan terjadi, mungkin bisa sangat lama dari sekarang atau malah tidak terjadi sama sekali. Jadi mungkin opsi pertama tetap merupakan pilihan terbaik. Nevertheless, the choice is yours.
Penulis menyelenggarakan Seminar Investasi Saham: Value Investing, di Ibis Styles HotelJakarta, hari Sabtu tanggal 13 Juni 2015. Biayanya hanya Rp750,000 per peserta. Keterangan mengenai materi seminarnya dll bisa dibaca disini.
Buletin Analisis IHSG dan stock-pick saham bulanan edisi Juni 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Seminar Value Investing – Jakarta, 13 Juni 2015

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Penerapan & Hasilnya’, kali ini di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  4. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
  5. Contoh-contoh saham yang dipilih menggunakan metode value investing dan terbukti cuan di masa lalu, dan contoh-contoh saham lainnya yang dipilih menggunakan metode yang sama, yang diharapkan bisa menghasilkan cuan di masa yang akan datang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Ibis Styles Hotel – Mangga Dua Square, Jln. Gunung Sahari Raya No.1, Jakarta
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 13 Juni 2015.
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.3WIB (seminarnya total 5 – 6 jam termasuk istirahat makan siang dan coffee break), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30 agar punya waktu untuk ngobrol dan diskusi santai dengan sesama peserta. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett. Bonus buku ‘Warren Buffett Annual Letter – 50 Years of Berkshire Hathaway’ dalam Bahasa Indonesia (buku fisik, untuk ebooknya bisa didownload disini).
Diskon Khusus! Bagi anda yang masih kuliah alias mahasiwa, biayanya boleh didiskon menjadi hanya Rp500,000. Syaratnya cukup dengan menyertakan gambar/scan Kartu Tanda Mahasiswa ketika anda mengirim email konfirmasi pembayaran.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Jika anda ternyata berhalangan hadir pas tanggal acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh (uang anda tidak akan hangus), dengan catatan anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut (melalui email atau melalui kontak telepon dibawah), paling lambat dua hari sebelum acaranya. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus lagi:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
  3. Bonus dari pihak hotel: Voucher diskon 10% untuk belanja di ‘Fifth Avenue’ factory outlet, Mall Mangga Dua Square.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2AE8431F. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB tersebut.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 52596BDA, office hour only. Untuk melihat foto-foto penyelenggaraan seminar sebelumnya, klik disini.
Contoh penerapan dari metode value investing: Berikut adalah saham-saham yang pernah/masih kami pegang, yang keputusan untuk membelinya didasarkan pada metode value investing: Sri Rejeki Isman (SRIL), Bank BTN (BBTN), Mandala Multifinance (MFIN), dan masih banyak lagi.

UPDATE: Hingga hari Senin, tanggal 8 Juni, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Indonesia Meraih Investment Grade?

Pada hari Kamis, tanggal 21 Mei kemarin, salah satu dari tiga lembaga pemeringkat terbesar di dunia, Standard & Poor’s (S&P), merilis perubahan credit rating bagi Indonesia, dari tadinya BB+ dengan outlook stabil, menjadi BB+ dengan outlook positif. Jadi sebenarnya ratingnya masih tetap sama, hanya outlook-nya saja yang berubah menjadi lebih baik. Meski demikian kabar ini tetap direspon oleh investor di pasar saham, dimana pada hari kamis tersebut IHSG ditutup naik meski pada pagi harinya sempat tertekan. Dan pada hari kamis itu pula, asing untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir kembali mencatatkan net buy (tapi pada hari jumatnya langsung net sell lagi). Pertanyaannya mungkin, apa itu yang dimaksud dengan credit rating? Dan bagaimana itu mempengaruhi perekonomian di Indonesia, khususnya IHSG itu sendiri?

Bagi anda yang belum mengerti apa itu yang dimaksud dengan credit rating, coba baca lagi penjelasannya disini. Kalau berdasarkan rating yang dirilis oleh Moody’s dan Fitch (dua lembaga pemeringkat terbesar di dunia, selain S&P), Indonesia pada saat ini memiliki status investment grade, atau dengan kata lain dianggap sebagai negara yang layak untuk tujuan investasi bagi para investor global, meskipun perlu dicatat disini bahwa rating yang diberikan oleh Moody’s dan Fitch merupakan rating terendah di kelas investment grade, yakni Baa3 dan BBB-. Ini artinya jika kedepannya Moody’s dan Fitch menurunkan rating Indonesia sebanyak satu peringkat saja, maka Indonesia akan tidak lagi memiliki status investment grade. However, hingga saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa kedua lembaga pemeringkat tersebut akan menurunkan rating Indonesia.
Sementara S&P, hingga saat ini masih belum memberikan status investment grade bagi Indonesia. Meski demikian, rating BB+ yang diberikan S&P merupakan rating tertinggi di kelas non-investment grade. Atau dengan kata lain, Indonesia hanya perlu memperoleh kenaikan satu peringkat saja agar juga dianggap sebagai negara investment grade oleh S&P. Dan pada Kamis kemarin, dengan mengubah outlook ratingnya dari stabil menjadi positif, maka S&P memberikan indikasi bahwa dalam beberapa waktu kedepan, paling lambat mungkin setahun dari sekarang (dengan catatan tidak ada kejadian luar biasa terkait perekonomian Indonesia), mereka akan juga mengganjar Indonesia dengan status investment grade.
Logo Standard & Poor’s
Dan ketika itu terjadi (ingat bahwa S&P belum benar-benar menaikkan rating Indonesia), maka investor asing seharusnya akan lebih banyak lagi masuk kesini, entah itu melalui instrumen keuangan termasuk pasar modal, atau melalui investasi langsung dengan mendirikan pabrik dll. Karena ketika seorang fund manager dari perusahaan asset management global berencana untuk berinvestasi di negara-negara di seluruh dunia, maka yang pertama-tama ia pilih adalah negara yang memperoleh status investment grade secara penuh (dari tiga lembaga pemeringkat tadi). Jadi dalam hal ini, berhubung masih ada satu lembaga pemeringkat yang belum memberikan status investment grade, maka Indonesia masih dianggap sebagai pilihan kedua bagi para investor asing untuk menanamkan modalnya disini, apalagi jika dibandingkan dengan Singapura, misalnya, yang ratingnya bahkan lebih tinggi dibanding Amerika Serikat.
Balik lagi ke soal kenaikan outlook rating yang diberikan oleh S&P. Pertanyaannya, dengan kondisi perekonomian Indonesia yang, jujur saja, tidak terlalu baik belakangan ini, lalu kenapa kok S&P malah memberikan indikasi bahwa mereka mungkin akan menaikkan rating Indonesia? Well, sebelum menjawab pertanyaan itu, maka kita perlu pelajari dulu secara lebih lanjut, apa yang dimaksud dengan credit rating ini dan bagaimana cara kerjanya.
Jadi begini. Pada dasarnya ketika seorang investor meminta pendapat dari penasihat investasi mengenai saham apa (atau instrumen investasi lainnya) yang terbaik untuk dibeli,  maka si penasihat investasi tersebut akan balik bertanya: ‘Seberapa besar risiko kerugian yang bisa anda tanggung?’ Karena kalau yang ditanyakan adalah, ‘Seberapa besar potensi keuntungan yang ingin anda peroleh?’ Maka sudah pasti jawaban si investor adalah ‘Sebesar-besarnya!’ Tapi ketika yang ditanyakan adalah risiko kerugian, maka jawaban si investor akan berbeda-beda. Beberapa investor mungkin berani mengambil investasi dengan risiko yang tinggi jika memang itu menawarkan potensi gain yang juga lebih, namun beberapa investor lainnya mungkin lebih memilih konservatif dengan mengambil investasi dengan risiko yang rendah.
Karena dalam berinvestasi, risiko kerugian serta potensi keuntungan adalah seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pada perkembangannya, investor profesional senantiasa fokus pada upaya untuk menekan risiko kerugian hingga serendah-rendahnya, kemudian baru bicara soal potensi keuntungan. Seperti quote Warren Buffett yang terkenal: ‘Rule No.1, never lose money. Rule No.2, don’t forget rule No.1’. Ini artinya, alih-alih mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya, Warren lebih suka berupaya untuk minimal tidak sampai menderita kerugian. Analoginya seperti dalam pertandingan sepakbola: Kalau tim anda bisa dengan sekuat tenaga menjaga agar gawangnya tidak kebobolan, maka cukup dengan mencetak 1 gol saja ke gawang lawan, tim anda tetap menang bukan?
Nah, posisi Moody’s, Fitch, dan S&P adalah seperti penasihat investasi tadi. Mereka tidak ikut berinvestasi pada saham atau instrumen apapun, melainkan hanya memberikan rekomendasi kepada para investor di seluruh dunia dalam bentuk rating tadi, dimana rating tersebut bukan didasarkan pada seberapa besar potensi keuntungan yang ditawarkan oleh instrumen investasi yang memperoleh rating tersebut, melainkan didasarkan pada seberapa rendah risiko kerugian yang mungkin akan diderita investor, jika ia memilih instrumen investasi tadi.
Ini artinya, ketika sebuah negara memperoleh rating cukup tinggi hingga statusnya menjadi investment grade, maka negara tersebut dianggap aman untuk investasi (hanya dianggap aman saja, dan bukan berarti bahwa negara tersebut memiliki potensi return investasi yang tinggi). Semakin tinggi ratingnya, maka semakin aman negara tersebut. Jika Pemerintah Singapura menerbitkan surat utang, misalnya, maka surat utang tersebut dianggap memiliki risiko yang amat sangat rendah untuk mengalami default alias gagal bayar. Sementara jika Pemerintah Indonesia menerbitkan surat utang, maka surat utang tersebut dianggap memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gagal bayar, dibanding surat utang Singapura.
Padahal jika kita bicara soal prospek atau potensi keuntungan yang bisa diperoleh investor, maka bisa jadi Indonesia justru lebih menawarkan potensi keuntungan dibanding Singapura. Contoh simpel saja: Dalam lima tahun terakhir, IHSG sudah naik total 90.0%, belum termasuk dividen. Sementara Straits Times of Singapore? Hanya naik 25.3% selama periode waktu yang sama. However, sekali lagi, baik itu Moody’s, Fitch, dan S&P sama sekali tidak memperhatikan potensi keuntungan tersebut, melainkan hanya fokus pada faktor risiko.
Lalu bagaimana cara lembaga pemeringkat mengukur tingkat risiko investasi di suatu negara?
Pada dasarnya risiko investasi di sebuah negara dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni risiko politik dan risiko ekonomi. Negara dengan perpolitikan yang stabil akan dianggap lebih aman untuk investasi dibanding negara yang perang saudara melulu, misalnya. Dan negara dengan perekonomian yang maju juga akan dianggap lebih aman dibanding negara berkembang. Untuk masalah politik, Indonesia relatif stabil sejak Pak Jokowi menjadi Presiden menggantikan Sir Beye. Sementara untuk ekonomi, pertumbuhan ekonomi kita terakhir tercatat hanya 4.7%, atau terendah dalam lima tahun terakhir dan ini tentu saja merupakan sinyal yang buruk, terutama ketika inflasi serta nilai tukar Rupiah juga tidak menunjukkan angka yang menggembirakan.
Namun berbagai kebijakan Pemerintah terkait perekonomian seperti mencabut subsidi BBM, kemungkinan dilihat oleh S&P sebagai satu langkah yang, dalam jangka panjang, akan mampu mengurangi risiko terjadinya masalah tertentu pada kondisi keuangan negara. Selama ini, setiap kali harga minyak dunia melambung tinggi maka demikian pula beban subsidi negara untuk BBM turut naik, sehingga negara tidak punya cukup ruang fiskal untuk pengeluaran lain yang lebih bermanfaat seperti pembangunan infrastruktur. Ketika subsidi tersebut sekarang sudah dihapuskan sama sekali, maka negara kini memiliki lebih banyak uang untuk keperluan lain, termasuk untuk membayar utang-utang luar negeri tertentu (plus bunganya) ketika nanti utang tersebut jatuh tempo.
Jadi dalam hal ini, atau setidaknya dalam pandangan S&P, risiko gagal bayar utang yang mungkin bisa dialami Indonesia, entah itu utang perusahaan-perusahaan asal Indonesia atau utang Pemerintah Indonesia itu sendiri, bisa menjadi lebih rendah kedepannya, jika memang penghapusan subsidi BBM dll mampu untuk secara efektif berpengaruh positif terhadap APBN, dan tentunya perekonomian secara keseluruhan.
Namun sekali lagi, yang diubah S&P hanya outlook ratingnya, bukan rating itu sendiri. Dalam pandangan S&P, Indonesia belum menjadi negara yang cukup maju secara ekonomi, dan praktis masih belum benar-benar layak untuk memperoleh status investment grade, dan risiko investasi disini masih dianggap tinggi (risiko tersebut belum berkurang). Jika berbagai kebijakan Pemerintah memang benar-benar berdampak positif terhadap perekonomian nasional dalam waktu, let say, 1 – 2 tahun dari sekarang, maka barulah setelah 1 atau 2 tahun tersebut, S&P mungkin akan memberikan kenaikan rating bagi Indonesia.
Okay, tapi mari kita bersikap sedikit optimis disini: Jika S&P pada akhirnya nanti memberikan status investment grade bagi Indonesia? Lalu apa dampaknya terhadap IHSG? Well, tentu saja tidak ada dampaknya secara langsung. Kemarin kamis IHSG memang sempat naik dan asing mencatatkan net buy, tapi pada Jumatnya dia langsung turun lagi (dan asing net sell lagi). Sementara dalam jangka panjang pun, diatas tadi sudah disebutkan bahwa kenaikan Straits Times dalam lima tahun terakhir justru lebih rendah dibanding IHSG, padahal rating Singapura jauh lebih tinggi dibanding Indonesia.
Tapi yang jelas, ketika S&P pada akhirnya nanti memberikan status investment grade bagi Indonesia, maka itu akan meningkatkan posisi tawar perusahaan-perusahaan asal Indonesia dihadapan investor asing. Let say, jika sebelumnya perusahaan-perusahaan di Indonesia harus menawarkan bunga 10 – 12% per tahun ketika mereka menerbitkan obligasi di Singapura (bunga tersebut terbilang tinggi, dan itu karena obligasi asal Indonesia dianggap berisiko tinggi), maka kedepannya bunga tersebut bisa diturunkan menjadi hanya 7 – 9% saja. Karena bunganya lebih rendah, maka otomatis beban keuangan perusahaan menjadi lebih ringan, sehingga laba bersihnya bisa menjadi lebih besar. Jika kondisi tersebut terjadi pada banyak perusahaan sekaligus, maka fundamental perekonomian nasional akan menjadi lebih baik. Dana investasi asing juga akan lebih banyak masuk kesini, entah itu dalam bentuk FDI (foreign direct investment) atau melalui pasar saham dan obligasi, dan itu akan meningkatkan likuiditas keuangan, meningkatkan volume transaksi jual beli, dan pada akhirnya bisa membantu menumbuhkan perekonomian.
But still, pada saat ini kondisi diatas belum terjadi, melainkan mungkin baru akan terjadi setahunan dari sekarang, itupun jika S&P benar-benar menaikkan ratingnya bagi Indonesia (dan Moody’s dan Fitch, dalam waktu yang bersamaan, juga mempertahankan ratingnya bagi Indonesia dan tidak menurunkannya). Sementara untuk saat ini, let’s face it: Our economy is not in a very good shape.

Untuk artikel minggu depan, karena banyaknya permintaan, maka kita akan bahas sedikit soal Trada Maritime (TRAM).

Pengumuman: Buletin Analisis IHSG dan informasi stock-pick saham bulanan edisi Juni 2015 sudah terbit hari ini.Anda bisa memperolehnya 

Mengenal Waran: Peluang Serta Risikonya

Pada November 2014 kemarin penulis memutuskan untuk membeli saham di sektor konstruksi, dalam hal ini Nusa Raya Cipta (NRCA) pada harga rata-rata 910, karena saya melihat bahwa sektor ini mungkin akan diuntungkan dengan rencana pembangunan infrastruktur jangka panjang oleh Presiden Jokowi yang baru saja dilantik sebulan sebelumnya. Lalu kenapa NRCA yang dipilih? Well, itu karena, setelah mempertimbangkan 1. Kualitas fundamental perusahaan, baik secara historis maupun kinerja terbarunya, serta 2. Valuasi sahamnya (dalam value investing, cuma dua itu saja yang kita lihat, abis itu baru liat prospeknya jika ada), maka NRCA memang merupakan pilihan yang paling masuk akal dibanding tujuh saham konstruksi lainnya yang tersedia di pasar. Lebih detail terkait NRCA, baca lagi analisisnya disini.

Tak disangka, NRCA sama sekali tidak butuh ‘jangka panjang’ untuk bisa naik signifikan, dimana hanya dalam tempo dua atau tiga bulan berikutnya dia naik hingga sempat tembus 1,600, atau jauh diatas level 1,200 yang penulis targetkan sebelumnya (meski memang yang perlu dicatat disini adalah, ketika itu tidak cuma NRCA yang naik, tapi semua saham konstruksi termasuk Adhi Karya dkk juga turut naik). However, setelah mempertimbangkan bahwa kenaikan tersebut terlalu cepat dan juga bukan karena benar-benar ditopang oleh faktor fundamental melainkan lebih karena faktor euforia dan berbagai sentimen positif (popularitas serta harapan terhadap Presiden Jokowi ketika itu lagi tinggi-tingginya), maka penulis memutuskan untuk keluar saja dulu.
Nah, meski keuntungan yang dihasilkan NRCA ketika itu terbilang lumayan, namun seorang teman kemudian mengirim email yang isinya kurang lebih sebagai berikut: ‘Pak Teguh gak ngambil waran NRCA? Soalnya saya lihat kenaikannya jauh lebih tinggi dibanding kenaikan saham NRCA itu sendiri. Terus waran itu apa sih?’ Setelah penulis cek, ketika NRCA naik banyak, ternyata waran-nya (kodenya NRCA-W) memang naik lebih banyak lagi, dalam hal ini dari 200-an hingga sempat menembus 500, atau dengan kata lain kenaikannya mencapai 150% (meski belakangan NRCA-W turun lagi dan sekarang berada di posisi 185). Sementara NRCA, dalam waktu yang bersamaan, kenaikannya ‘hanya’ sekitar 70% (dari 900-an ke 1,600-an). Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan: Jika kita menemukan bahwa sebuah saham menarik untuk dibeli, sementara saham tersebut memiliki waran (tidak semua saham memiliki waran), maka kenapa gak ambil waran-nya saja? Karena siapa tahu keuntungan yang dihasilkan bisa lebih besar!
Dari sinilah penulis baru ingat bahwa kita belum pernah membahas soal waran di website ini, padahal mungkin anda juga masih belum mengerti, apa itu yang dimaksud dengan waran? Dan benarkah waran dari sebuah saham menawarkan potensi keuntungan yang lebih besar dibanding saham itu sendiri? Okay, kita langsung saja.
Waran adalah semacam kupon, dimana pemilik satu lembar waran bisa menggunakan waran tersebut untuk membeli satu lembar saham baru yang akan diterbitkan kemudian (saham baru tersebut hanya akan diterbitkan jika waran tersebut benar-benar digunakan), pada harga yang sudah ditentukan sebelumnya atau biasa disebut harga exercise, jadi bukan berdasarkan harga pasar. Analoginya seperti jika Pemerintah menggelar operasi pasar dengan menjual beras langsung ke masyarakat, dimana Pemerintah akan membagikan kupon kepada orang-orang tertentu yang sudah dipilih, dan orang-orang ini akan bisa menggunakan kupon tersebut untuk membeli beras dari Pemerintah pada harga yang sudah ditentukan, yang biasanya lebih rendah dibanding harga beras di pasar. Operasi pasar ini biasanya bertujuan untuk menurunkan harga beras di pasar, jika sebelumnya harga beras tersebut telah naik terlalu tinggi.
Waran biasanya diterbitkan oleh perusahaan secara bersamaan ketika perusahaan tersebut menerbitkan saham baru, entah itu melalui IPO atau right issue, dimana waran tersebut akan diberikan secara cuma-cuma kepada investor yang membeli saham baru yang diterbitkan. Tujuannya tentu, agar investor menjadi lebih tertarik untuk ikut dalam IPO/right issue-nya. Pada contoh NRCA, ketika perusahaan menggelar IPO pada Juni 2013 di harga perdana Rp850 per saham, para investor yang ikut IPO-nya juga menerima 1 lembar waran secara gratis untuk setiap 3 lembar saham NRCA yang mereka beli. Let say, seorang investor membeli 300,000 lembar saham NRCA, sehingga ia memperoleh NRCA-W sebanyak 100,000 lembar. Segera setelah NRCA listing dan mulai diperdagangkan di bursa, maka demikian pula hal-nya dengan NRCA-W turut diperdagangkan. Jika harga NRCA-W ini naik dari Rp0 (karena NRCA-W ini kan diperoleh investor secara gratis, sehingga nilai awalnya adalah nol), menjadi katakanlah Rp100, dan si investor tadi menjual waran-nya pada harga Rp100 tersebut, maka praktis ia bakal memperoleh keuntungan sebesar 100,000 x Rp100, alias Rp10 juta, boleh dibilang secara cuma-cuma karena ia tidak mengeluarkan biaya sama sekali untuk memperoleh NRCA-W tersebut.

Logo PT Nusa Raya Cipta, Tbk

Sementara ketika seorang investor membeli NRCA-W di pasar pada harga Rp100 per waran, misalnya, maka selanjutnya ia memiliki dua opsi. Yang pertama, menjualnya kembali sebelum masa berlaku waran tersebut habis, atau yang kedua, benar-benar menggunakan waran tersebut untuk membeli saham NRCA pada harga exercise-nya, sekali lagi, sebelum masa berlaku waran tersebut habis.
Karena seperti halnya kupon pada umumnya, waran ini juga ada masa berlakunya, dimana jika waran tersebut belum juga digunakan untuk membeli saham hingga lewat tanggal kadaluarsa/expire-nya, maka dia akan dianggap hangus. Kalau pake contoh NRCA-W, maka tanggal expire-nya adalah 27 Juni 2016 (masih agak lama). Jika anda memegang NRCA-W dan sampai tanggal tersebut anda belum menggunakannya untuk membeli saham NRCA pada exercise-nya, yakni Rp1,050, maka waran anda akan hangus dengan sendirinya. Yang dimaksud dengan hangus disini adalah, jika anda membeli waran tersebut senilai Rp100 juta, misalnya, maka uang Rp100 juta tersebut akan benar-benar habis sama sekali, atau dengan kata lain kerugian anda mencapai 100%, jika anda gagal untuk menjualnya sebelum masa berlakunya habis, atau menggunakannya untuk membeli saham NRCA pada harga 1,050 tadi.
Nah, dari sini anda akan bisa melihat apa penyebab naik turunnya harga sebuah waran, dalam hal ini NRCA-W: Ketika harga saham NRCA di pasar terus saja naik hingga lebih dari 1,600, maka praktis investor yang memegang NRCA-W akan memperoleh keuntungan yang substansial jika menggunakan NRCA-W tersebut untuk membeli NRCA pada harga exercise-nya yakni 1,050, kemudian menjualnya pada harga pasar yakni 1,600 (keuntungannya mencapai Rp550 per saham). Karena adanya potensi keuntungan tersebut, maka investor akan ramai-ramai memburu NRCA-W di pasar, dan alhasil harganya akan naik signifikan. Ketika beberapa waktu lalu NRCA-W sempat naik dari 200-an hingga menembus 500-an, maka itu karena investor yang membeli NRCA-W pada harga 500 tersebut berpikir bahwa uang yang ia keluarkan akan balik modal ketika nanti ia menggunakan waran tersebut untuk membeli saham NRCA pada harga 1,050, dan menjualnya pada harga 1,600 (jadi total modalnya Rp500 untuk membeli waran, plus Rp1,050 untuk membeli/menebus saham baru, sehingga totalnya Rp1,550 per saham. Karena saham NRCA kemudian dijual pada harga pasar yakni Rp1,600, maka keuntungannya adalah Rp50 per saham).
Dari sini bisa disimpulkan bahwa, ketika sebuah saham naik atau turun sebesar katakanlah Rp500, maka waran-nya kemungkinan juga akan naik (atau turun) sebesar kurang lebih Rp500 juga. Pada contoh kasus NRCA, ketika sahamnya naik dari 900 menjadi 1,600, maka waran-nya ternyata juga naik dari 200 hingga 500 (atau jika dihitung dari harga awal-nya yakni Rp0, maka nominal kenaikan NRCA-W mencapai Rp500). Let say, jika anda membeli NRCA di harga 900 dan menjualnya tepat di 1,600, maka keuntungan anda adalah lebih dari 70%. Tapi jika anda membeli NRCA-W di 200 dan menjualnya di 500, maka keuntungannya adalah 150%, atau lebih dari dua kali lipatnya!
Jadi sekali lagi pertanyaannya, ketimbang membeli sebuah saham sementara saham tersebut ada waran-nya, maka kenapa gak ambil waran-nya saja?
Meski demikian, perhatikan pula risikonya: Jika NRCA ini bukannya naik tapi malah turun (kita tidak pernah benar-benar bisa menebak apakah sebuah saham akan naik atau turun bukan?), katakanlah dari 900 dia turun ke 800 alias turun Rp100, maka demikian pula NRCA-W bisa turun sebesar Rp100, dari 200 menjadi sisa 100 perak. Ini berarti kerugian yang anda derita kalau memegang NRCA hanya skitar 10%. Tapi jika yang anda pegang adalah NRCA-W, then well, kerugiannya mencapai 50%. Selain itu, seperti yang sudah disampaikan diatas, jika sampai tanggal expire-nya anda tidak juga menggunakan NRCA-W yang anda pegang untuk membeli saham NRCA (dan itu sangat mungkin terjadi. Jika mendekati tanggal 27 Juni 2016, harga NRCA di pasar ternyata masih dibawah harga exercise waran-nya yakni 1,050, maka para pemegang NRCA-W tentunya tidak punya alasan sama sekali untuk menggunakan waran yang mereka pegang untuk membeli saham NRCA), maka waran tersebut akan hangus, dan kerugian anda mencapai 100%.
Karena itulah, atau setidaknya sampai dengan saat ini, penulis belum pernah membeli waran. Karena dalam berinvestasi, kita tidak melulu hanya melihat soal seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh, tapi juga seberapa besar kerugian yang mungkin diderita. Dan potensi keuntungan sebesar sekian puluh persen dari sebuah saham adalah sudah cukup baik terutama jika disisi lain risikonya juga terbatas, dibanding waran yang, meski ia mungkin menawarkan keuntungan hingga 100%, tapi disisi lain risikonya juga sangat besar. Selama berinvestasi di saham, saya pernah beberapa kali menderita kerugian yang signifikan (diatas 10%) dari saham-saham tertentu, dan risiko kerugian tersebut sudah diperhitungkan sebelumnya. Tapi kalau mengambil risiko menderita kerugian hingga 100%, kayanya mending nggak usah deh.

Selain itu ketika anda memegang saham dari sebuah perusahaan yang sangat bagus, maka anda mungkin bisa memegang saham tersebut untuk seterusnya (selama harganya belum naik terlalu tinggi, dan selama fundamental perusahaan masih sangat bagus, maka ngapain dijual?), sehingga anda bisa memegangnya dengan santai tanpa adanya tekanan harus cepat-cepat menjualnya. Sementara waran, cepat atau lambat anda tetap harus menjualnya karena ia bukanlah aset keuangan yang riil seperti halnya saham, melainkan hanya selembar kupon yang tidak akan memiliki nilai lagi ketika masa berlakunya sudah habis.

Waran adalah salah satu dari sekian banyak instrumen derivatif yang diperdagangkan di Bursa Saham diluar saham itu sendiri. Waran merupakan salah satu bentuk dari options, yakni instrumen derivatif yang memberikan pemiliknya pilihan/opsi (opsi, bukan kewajiban) untuk membeli atau menjual saham atau aset keuangan lainnya pada harga yang sudah ditentukan sebelumnya, sebelum masa berlaku options tersebut berakhir. Selain options, terdapat juga futures dan swaps. Dan seperti halnya waran, berbagai instrumen derivatif tersebut biasanya juga menawarkan potensi keuntungan yang besar, tapi disisi lain risikonya juga sangat besar. Penulis tidak tahu apakah setelah waran ini, kita akan membahas lebih lanjut soal derivatif ini kedepannya, karena terus terang saya tidak tertarik sama sekali (mending invest biasa-biasa saja lah, gak usah macem-macem. Yang penting masih bisa makan enak, tidur nyenyak, dan tetep cuan). Tapi sebelum itu, silahkan anda pelajari sendiri berbagai istilah diatas dengan konsul ke Mbah Google atau Wikipedia, gampang kok.
Penulis mengadakan acara temu investor, diskusi, serta gathering di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 23 Mei 2015. Untuk ikut bergabung (masih ada kursi tersedia), keterangan selengkapnya baca disini.
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) sudah terbit dan sudah bisa anda baca. Anda bisa memperolehnya [...]

Situasi Ekonomi Saat Ini dan Kedepannya

Dalam beberapa bulan terakhir, perekonomian Indonesia di tingkat sektor riil, baik itu usaha kecil, menengah, maupun besar, mengalami kelesuan yang luar biasa. Beberapa perusahaan besar seperti Astra International (ASII), Perusahaan Gas Negara, Gudang Garam (GGRM), Semen Indonesia (SMGR), hingga Jasa Marga (JSMR), semuanya mencatat penurunan laba bersih pada Kuartal I 2015. Sementara di bidang usaha yang lebih kecil, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Berikut adalah beberapa ‘testimoni’ yang penulis kumpulkan dari teman-teman pelaku usaha di beberapa kota di Indonesia.

(Andri Tan – Jakarta) Saya wiraswasta di bidang furniture, dan sekarang ini sedang mengalami masa-masa sulit. Sejak Januari sampai sekarang, omzet perusahaan makin lama makin turun. Beberapa teman saya di bidang bangunan, ban, sembako juga mengalami kesulitan yang sama. Ditambah lagi sekarang beban operasional makin tinggi, jadi sekarang benar-benar waktu yang luar biasa menantang bagi pengusaha, apalagi sekarang pemerintah bukannya memberi insentif ke pengusaha malah lebih terkesan memberatkan misalnya dengan menaikan listrik, pajak dll.. Demikian pengalaman yang ingin saya share terima kasih.
(Budi Kusuma – Jakarta) Saya punya usaha di bidang pembuatan besi kawat dan produk turunannya. Kami membeli bahan baku dari pabrik baja di tanah air seperti Krakatau Steel (KS), Gunung Garuda, dan juga impor dari Tiongkok. Belakangan ini usaha kami mengalami penurunan omzet. Kami punya beberapa pelanggan seperti pabrik pakan ayam (Charoen Pokphand), pabrik kertas (Fajar Surya Wisesa), hingga perusahaan-perusahaan konstruksi. Tapi sejak akhir tahun 2014 kemarin permintaan besi kawat turun dari semua sektor.  Jadi kalo dulu konstruksi sepi, maka sektor pakan ayam masih rame, jadi saling menutupi. Tapi kalo sekarang, semuanya sepi.
Akibatnya pabrik rekanan kami yang produksi kawat mengurangi jam kerja pegawai, dan ujung-ujungnya mengurangi tenaga kerja alias PHK. Keadaan tambah runyam karena di Tiongkok sana, para pabrik baja juga lagi sepi order, sehingga  harga jual besi impor dari Tiongkok diturunkan rata-rata 10 – 20%.  Karena pabrik baja Tiongkok kasih diskon gede, maka pabrik kawat disini gak mau beli dari pabrikan lokal seperti KS. Kami lebih milih impor agar hemat harga bahan baku 10%, tapi saya dengar pihak KS udah protes ke pemerintah agar pemerintah mengeluarkan peraturan bea masuk. Jika kami dipaksa beli dari KS maka bakal tambah repot lagi urusannya.
Kami semua berharap proyek-proyek konstruksi dari bumn (WIKA cs), dan swasta (NRCA TOTL ACST) bisa beneran jalan. Karena dari awal tahun udah dijanjikan bahwa tahun ini bakalan rame order, tapi yang kejadian malah sebaliknya: Tambah sepi.
(Yulianto Tanaya – Surabaya) Saya bergerak dalam bidang tekstil, dalam hal ini jualan seprei, bedcover, dan juga bahan baku bahan baku untuk membuat seprei/bedcover tersebut. Sejak tahun baru Imlek kemarin omzet penjualan saya terus turun, bahkan sampai anjlok 50% pada bulan Maret kemarin. Pada bulan April ini juga masih tidak ada perbaikan.
Beberapa hal yang bikin bisnis saya sepi:
  1. Harga bahan baku kain yang terus naik karena harus impor, sementara Rupiah terus melemah hingga sekarang udah tembus Rp13,000 per Dollar.
  2. Karena harga-harga kebutuhan pokok belakangan ini terus naik, maka upah minimum regional (UMR) di wilayah Surabaya ikut naik, sehingga kita harus keluar biaya ekstra untuk gaji pegawai. Karena disisi lain biaya listrik naik, harga bensin naik, maka terpaksa harga jual kain juga saya naikkan. Tapi mungkin ini yang bikin pelanggan jadi kaget, karena kok naiknya banyak sekali (kenaikan harga kain di wilayah Surabaya kira-kira 5 10%), sehingga mereka mengerem untuk beli bahan kain ini.
Kondisinya sekarang seperti ini: Jika dulu para pelanggan selalu membelanjakan lebih dari Rp3 juta setiap kali mereka mengambil bahan baku kain, maka sekarang mereka paling-paling hanya belanja Rp1 juta saja. Beberapa pelanggan malah menghilang sama sekali. Saya sempat tanya kenapa kok mereka nggak lagi belanja kain, dan semuanya komplain bahwa belakangan ini pembeli sprei sangat sepi. Bahkan ada perusahaan kompetitor yang sudah mulai mengurangi pegawainya sejak bulan Februari kemarin karena nggak ada order.

Yang jadi  pertanyaan saya sekarang, kita ini salah pilih Presiden tidak sih? Pada jaman SBY dulu, terutama tahun 2008, juga pernah sepi tapi tidak separah sekarang.. Untuk kali ini bener-bener luar biasa sepinya.. Sekedar info:
  1. Kakak saya di Lombok buka toko emas, omzetnya drop.
  2. Temen saya dagang oli di Solo juga drop, sampai tidak berani beli barang lagi karena takut ndak bisa bayar. Jadi cuma habisin sisa stok di gudangnya.
  3. Adik mama saya jualan rokok dan Nutrisari partai besar, omzetnya juga drop.
  4. Temen saya punya usaha truk ekspedisi di Jalan Slompretan, Surabaya, sampengelus dada saking sepinya. Selain itu dia juga bingung nentuin harga jual ke customernyagara-gara harga BBM yang naik turun nggak jelas. Dia sempet bilang gini, ‘Harga BBM naik ndak masalah lah, tapi mbok ya jangan naik turun gak jelas begini!’
(Hermawan Honggo – Semarang) Sekarang saya mau sharing apa yang dialami di Semarang. Karena berhubung trading saham juga lagi sepi, saya siangnya banyakin jalan-jalan sekalian dolan-dolan ke tempat teman.. hehe
  1. Pengusaha angkutan di daerah Pecinan Semarang, biasanya saya lihat barangnya overload sampai teras, lah sekarang kok sepi.. Akhirnya ngobrol sekilas dengan salah seorang owner angkutan, dan dia bilang kalau biasanya sehari dapat 1.5 – 2 juta, ini hari dapet 900 ribu aja sudah untung bener.
  2. Jalan Pekojan, Semarang, yang ada banyak toko bangunan dan keramik, biasanya selalu ramai dan macet sehingga jalan yang panjangnya nggak nyampe 2 km ini harus ditempuh selama lebih dari 20 menit. Makanya saya biasanya selalu menghindari jalan ini. Tapi karena kemaren perlu ke pasar ikan, dan jalan pulang tercepatnya lewat sini, akhirnya ya sudahlah.. Ehhh ternyata lancar car car karena sepiiiii.. Nggak ada 5 menit sudah lewat.
  3. Ditelpon sama sales mobil Toyota Nasmoco, ‘Pak, mau upgrade mobil nggak.. Innova-nya faktur 2014 diskon 25 juta neh.’ Saya iseng aja jawab, ‘Diskon 50 juta boleh nggaaak?’ Tapi dia bilang gak boleh. Tetapi kemudian saya diundang datang ke pamerannya di Paragon, dan disitu salesnya curhat.. sepi Pak, sepiiii… Temen-temen yang berada di marketing Nissan, Datsun Madukoro, Toyota Pemuda Semarang, Honda, semuanya satu suara: ‘SEEPIIIII…!’ Lo kira kuburan sepi!
Yahh kalau optimisnya, mungkin karena sekarang mau masuk masa panen, tanaman padi sudah mulai banyak yang ditutupin plastik (biar gak dimakan burung). Jadi sekarang ini adalah masa terjauh dari panen sebelumnya, dimana tabungan duit dari pedesaan sudah berada di titik nadir.. Ini juga upload gambar spiderman-nya temen saya, menggambarkan curhatnya 3 bulan ini… sepibenermann… hahahaha..

Nah, entah itu posisi anda sebagai karyawan ataupun pemilik perusahaan, bagaimana dengan bisnis anda sendiri? Apakah sepi juga, biasa-biasa aja, atau malah maju?
Lalu bagaimana kedepannya?
Penulis kira relatif mudah bagi siapapun untuk bisa melihat bahwa situasi ekonomi saat ini merupakan buah dari kebijakan Pemerintahan baru yang, dengan sangat cepat, menghapus subsidi disana sini (yang menyebabkan harga-harga naik), dan menaikkan tarif pajak atau mengenakan banyak pajak baru bagi para pelaku usaha maupun masyarakat umum, padahal sejak awal kondisi ekonomi nasional sudah cukup lesu karena pelemahan Rupiah dan penurunan harga komoditas yang berkepanjangan sejak tahun 2011 lalu. Disisi lain berbagai rencana pembangunan infrastruktur yang digadang-gadang sejak Jokowi dilantik sebagai Presiden pada Oktober lalu, sampai sekarang realisasinya masih belum begitu kelihatan. Alhasil, seperti yang sudah diinformasikan oleh BPS beberapa waktu lalu, perekonomian nasional hanya tumbuh 4.7% pada awal tahun 2015, atau jauh dibawah rekor 6.9% pada tahun 2011 lalu.
Meski kondisinya tampak buruk, however, kalau kita ambil contoh kinerja para emiten yang besar-besar di BEI, maka mereka hanya mengalami penurunan laba saja, dan tidak sampai menderita kerugian apalagi bangkrut. Juga, sama sekali tidak terdengar adanya bank yang harus dilikuidasi seperti pada tahun 1998 dan 2008 lalu. Kalau anda pengusaha, maka jujur saja, omzet anda mungkin memang berkurang, tapi secara umum usaha anda tersebut masih bisa jalan bukan? Jadi kalau ada yang bilang bahwa tahun ini bisa saja krisis moneter terulang, maka penulis kira itu terlalu berlebihan. Perekonomian kita belakangan ini memburuk, dan itu memang benar, tapi kita sudah pernah mengalami situasi yang jauh lebih buruk dari kondisi sekarang.
Hanya memang pertanyaannya sekarang, apakah kondisinya akan terus begini, atau ataukah kedepannya bisa ada perbaikan? Well, karena penyebabnya sudah cukup jelas, maka perekonomian nasional akan bisa membaik kedepannya jika Pemerintah bersedia mengubah atau melonggarkan kebijakannya terkait subsidi dan pajak, dan juga segera merealisasikan pembangunan infrastuktur yang pastinya akan kembali menggerakkan roda perekonomian. Diluar faktor Pemerintah, jika kedepannya harga komoditas seperti batubara dan CPO kembali naik, maka nilai ekspor Indonesia akan dengan sendirinya meningkat, Rupiah akan menguat, dan perekonomian akan kembali tumbuh kencang. Kalau anda ingat-ingat lagi, pada awal tahun 2009 lalu perekonomian Indonesia juga tercatat hanya tumbuh 4.1% gara-gara krisis global setahun sebelumnya. Namun berkat berbagai kebijakan Pemerintah (salah satunya menggelontorkan Rp4 trilyun untuk buyback saham-saham BUMN) plus adanya ‘anugerah’ berupa booming harga CPO, maka hanya dalam setahun berikutnya perekonomian tersebut dengan cepat tumbuh lagi hingga menembus 6.2%.
Karena itulah, kalau ada yang bertanya, mungkinkah kedepannya ekonomi kita tumbuh 5% lagi? Maka penulis jawab, jangankan 5%, 6% sekalipun mungkin saja, kita pernah mengalaminya kok! Tapi apakah ekonomi kita akan membaik kedepannya atau malah tambah buruk, maka itu tergantung oleh banyak faktor. Let say, jika Pemerintah tidak kunjung memberikan insentif tertentu bagi dunia usaha dan tidak segera merealisasikan pembangunan infrastruktur, sementara disisi lain harga-harga komoditas masih terus melemah dan nilai Rupiah juga masih tetap terpuruk, maka ya apa boleh buat: Jangankan membaik, angka pertumbuhan ekonomi yang hanya 4.7% tadi bisa saja kembali turun hingga menjadi lebih rendah lagi.
Namun sedikit pencerahan, baru-baru ini Presiden Jokowi berkunjung ke Kawasan Indonesia Timur termasuk Provinsi Papua, untuk meresmikan dimulainya pembangunan beberapa proyek besar seperti pembangunan Jalan Trans Papua, food estate di Merauke, hingga jaringan kabel optik milik PT Telkom di Manokwari. Jadi apakah ini merupakan tanda bahwa Pemerintah sudah mulai merealisasikan pembangunan infrastruktur? Let’s hope so!
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) sudah terbit dan sudah bisa anda baca. Anda bisa memperolehnya disini.
Penulis mengadakan acara temu investor, diskusi, serta gathering di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 23 Mei 2015. Untuk ikut bergabung, keterangan selengkapnya baca [...]

Investor Meeting: Strategi Investasi Menghadapi Bear Market

Dear investor, beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi nasional, dan hasilnya memang mengecewakan dimana perekonomian Indonesia hanya tumbuh 4.7% secara year on year, dan inflasi masih tinggi di level 6.8%. Sebelumnya Rupiah juga terus melemah hingga menembus Rp13,000 per USD, dan para emiten termasuk yang besar-besar mencatatkan kinerja yang mengecewakan di Kuartal I 2015. Melihat kondisi tersebut maka tak heran jika IHSG turun signifikan dalam seminggu terakhir, dimana jika kondisi ini tidak ada perbaikan maka kemungkinan penurunan tersebut masih akan berlanjut kedepannya. Pertanyaannya sekarang, sebagai investor pasar modal, what should we do?

Meski kondisinya tampak tidak bagus, however, peluang untuk meraup keuntungan dari pasar modal bukannya tidak ada sama sekali melainkan justru masih sangat terbuka, mengingat:
  1. Meski mayoritas perusahaan mencatatkan kinerja yang kurang bagus di Kuartal I 2015, tapi selalu ada saja beberapa perusahaan yang kinerjanya masih sangat bagus dan valuasinya juga masih murah, salah satunya seperti Sri Rejeki Isman (SRIL) yang sudah kita bahas kemarin. Jadi jika anda bisa memfokuskan investasi anda pada saham-saham berfundamental bagus tersebut, maka anda seharusnya masih bisa meraup keuntungan yang signifikan tak peduli meski IHSG lanjut turun.
  2. Pada kondisi bear market, pasar tidak selalu turun setiap hari melainkan terkadang mengalami rebound, seperti yang terjadi beberapa hari terakhir. Dan dengan sedikit trik, kita bisa memanfaatkan pola pergerakan tersebut untuk meraup keuntungan jangka pendek.
  3. Jika Pemerintah bisa segera merealisasikan pembangunan infrastruktur, maka dampaknya perekonomian akan tumbuh kembali, investor asing balik lagi kesini, dan IHSG juga tentunya akan naik kembali.
Sooo, dalam forum meeting-nya nanti, saya akan menyampaikan tentang:
  1. Analisis lengkapterkait ekonomi makro, kebijakan pemerintah, dan IHSG, plus outlook IHSG itu sendiri hingga akhir tahun
  2. Tips dan strategi untuk trading jangka pendek memanfaatkan moment rebound jika pasar melanjutkan penurunannya, plus pilihan saham-saham yang bisa digunakan untuk trading tersebut, dan
  3. Daftar saham pilihan yang bisa dipegang minimal untuk jangka menengah (3 – 12 bulan) yang sudah diseleksi berdasarkan fundamental serta valuasinya.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, gak usah dibawa serius :) Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor saham. Selain penyampaian materi diatas nantinya juga akan ada forum diskusi & konsultasi selama 1 jam penuh dimana anda boleh bertanya apa saja soal investasi saham, dan penulis akan menjawabnya.
Okay, berikut detail acaranya:
  • TempatRuang Meeting BNI Securities, APL Tower Lantai Dasar, Podomoro City Central Park, Jln. Letjend. S. Parman Kav.28, Jakarta Barat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 23 Mei 2015
  • Waktu: Pukul 13.00 (after lunch) s/d 17.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: harcopy & softcopy materi meeting, snack dan minuman kopi biar nggak ngantuk
Nah, jika untuk seminar anda dikenakan biaya Rp750,000, maka untuk acara ini biayanya hanya Rp350,000 saja. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Investor Meeting, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Sri Mulyani Indrawati, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta meeting. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 52596BDA, office hour only!

Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) akan terbit tanggal 11 Mei mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Sri Rejeki Isman (Sritex)

Seperti yang anda ketahui, pada saat ini sekitar 90% emiten di BEI sudah merilis laporan keuangannya masing-masing untuk periode Kuartal I 2015. Kabar buruknya, sebagian besar dari mereka mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan. Bahkan perusahaan sekelas Astra International (ASII) sekalipun mencatat penurunan laba hingga 15%, terburuk dalam 10 tahun terakhir. Melihat fakta tersebut maka tidak heran jika dalam semingguan terakhir ini IHSG anjlok hingga hampir 7% (meski belakangan rebound kembali), karena memang penulis sendiri, kalau saya memegang ASII atau saham-saham lainnya yang perusahaannya mencatatkan kinerja yang kurang oke, sudah tentu akan memilih untuk keluar dulu.

Kabar baiknya, dari 500-an perusahaan di BEI sudah tentu tidak semuanya mencatatkan kinerja yang buruk. Jika anda jeli, maka anda akan tetap bisa menemukan beberapa saham yang valuasinya masih cukup rendah, dan kinerja perusahaannya juga tidak ada masalah.
Dan salah satu saham tersebut adalah Sri Rejeki Isman (SRIL). SRIL mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 12.3% pada Kuartal I 2015, dan ROE 24.0%. Dengan PER hanya 7.3 kali pada harga 296, maka tentu saja saham ini relatif murah terutama ketika investor seperti tidak punya pilihan lain kecuali mengalokasikan dana mereka pada saham-saham yang masih mencatatkan kinerja yang bagus di awal tahun 2015 ini, salah satunya SRIL. Anyway, mari kita pelajari SRIL ini sejak awal.

SRIL pada saat ini merupakan perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, atau bahkan di Asia Tenggara (dari sisi omzet penjualan), yang bermarkas di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sejarah perusahaan dimulai pada tahun 1966 dimana pendiri perusahaan, Almarhum Haji Muhammad Lukminto, ketika itu membuka toko produk-produk tekstil di Pasar Klewer, Kota Solo. Dua tahun kemudian, HM Lukminto sukses mendirikan pabrik kain pertamanya di Jalan Baturono No.81A, Solo. Sepuluh tahun kemudian, yakni pada tahun 1978, PT Sri Rejeki Isman, atau disingkat Sritex,resmi berdiri.
Tahun-tahun berikutnya, perusahaan terus berkembang. Tahun 1982, Sritex membuka pabrik tenun pertamanya. Pada tahun 1992, Sritex mencapai salah satu milestone-nya dengan menjadi perusahaan tekstil yang terintegrasi, dengan menguasai empat lini produksi yakni pemintalan, penenunan, pencelupan, dan garmen. Pada tahun 1994, Sritex untuk pertama kalinya memperoleh kepercayaan dari Pemerintah Jerman untuk memproduksi seragam militer bagi Tentara Jerman, dan dari situlah Sritex kemudian membangun reputasinya sebagai salah satu produsen seragam militer paling terkemuka di dunia.
Tahun 2006, HM Lukminto pensiun, dan posisinya sebagai chairman Sritex digantikan oleh putra pertamanya, Iwan Setiawan Lukminto. Di tangan generasi kedua perusahaan, perkembangan bisnis Sritex bahkan melaju lebih kencang lagi dalam waktu yang relatif singkat, dimana pada tahun 2013 Sritex resmi listing di BEI, mengakuisisi salah satu kompetitornya, PT Sinar Pantja Djaja (sehingga memperbesar kapasitas produksi perusahaan), dan melipat gandakan kapasitas produksi garmen-nya menjadi 12 juta pakaian per tahun. Pada saat ini Sritex menjadi supplier tetap seragam militer bagi lebih dari 30 negara di seluruh dunia, membuat seragam bagi karyawan di perusahaan-perusahaan di Indonesia, membuat baju dan produk-produk fashion lainnya untuk dijual ke toko ritel, memproduksi benang, kain mentahan, dan fabric. Dari tadinya hanya memiliki toko tekstil di Pasar Klewer, Solo, Sritex kini memiliki sentra produksi berupa kompleks pabrik seluas 52 hektar di Sukoharjo, belum termasuk kompleks pabrik kedua di Semarang, Jawa Tengah, seluas 18 hektar, dan pada akhir tahun 2014 mempekerjakan total 16,800 karyawan.
Nah, kalau anda mempelajari bisnis tekstil di Indonesia, maka anda akan menemukan beberapa fakta berikut:
Yang pertama, diluar komoditas seperti batubara dan CPO yang sempat booming beberapa tahun lalu, Indonesia juga memiliki produk tekstil sebagai salah satu produk andalan untuk ekspor. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2013 lalu Indonesia mengekspor pakaian jadi bukan rajutan (jadi belum termasuk produk-produk tekstil lainnya) senilai US$ 3.9 milyar. Nilai ekspor ini, meski jauh lebih kecil dibanding nilai ekspor batubara dan CPO senilai total lebih dari US$ 40 milyar, tapi masih lebih besar dibanding nilai ekspor dari produk andalan ekspor lainnya, seperti sepatu dan plastik. Pada tahun 2013 tersebut, berdasarkan data dari Statista.com, Indonesia juga termasuk salah satu dari sepuluh negara eksportir tekstil terbesar di dunia.
Kedua, seperti halnya industri minyak dan gas, mayoritas industri tekstil di Indonesia dikuasai asing, terutama asal Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan, atau setidaknya demikilanlah jika kita melihat komposisi pemegang saham dari 19 perusahaan tekstil yang listing di BEI (sementara secara keseluruhan, Indonesia memiliki 500-an perusahaan tekstil). SRIL adalah salah satu dari sedikit perusahaan tekstil di Indonesia yang masih dikuasai oleh pemilik lokal, tapi untungnya dia justru berstatus sebagai perusahaan tekstil terbesar.
Dan ketiga, entah itu karena adanya transfer pricing, kesulitan dalam memperoleh bahan baku produksi, atau lainnya, perusahaan-perusahaan tekstil yang listing di BEI kebanyakan mencatatkan kinerja yang buruk dalam jangka panjang. Kalau kita ambil contoh dua kompetitor utama SRIL, yakni Pan Brothers (PBRX), dan Apac Citra Centertex (MYTX), maka PBRX memiliki margin laba yang sangat tipis (kurang dari 3%) sehingga ROE-nya nggak nyampe 10%. Untuk MYTX malah lebih parah lagi, dimana perusahaan terus saja merugi sejak tahun 2008 sampai sekarang. Kalau melihat fakta bahwa Indonesia adalah salah satu produsen tekstil terbesar di dunia, termasuk kalau di Bandung sendiri penulis bisa melihat ada banyak pengusaha pemilik pabrik tekstil atau toko pakaian yang kaya raya, maka hal ini menjadi aneh: Ngapain aja para perusahaan tekstil itu sampe rugi melulu?
However, hal yang berbeda terjadi pada SRIL. Antara tahun 2010 – 2014, perusahaan selalu mencatatkan margin laba antara 5 – 8%, dan perolehan laba itu sendiri senantiasa naik dari tahun ke tahun. Dan pada awal tahun 2015 ini, trend kenaikan tersebut masih berlanjut dimana seperti yang sudah disebut diatas, pada Kuartal I 2015 laba bersih perusahaan naik 12.3% dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ROE tercatat 24.0%. Karena disisi lain nilai ekuitas SRIL sebenarnya melonjak karena adanya tambahan modal sebesar Rp1.3 trilyun dari IPO-nya pada tahun 2013, maka ROE sebesar 24.0% tersebut terbilang sangat baik, karena itu berarti bahwa perusahaan bisa dengan cepat menggunakan dana hasil IPO-nya (hanya butuh waktu setahun) untuk melakukan pengembangan usaha.
Lalu bagaimana dengan prospek perusahaan kedepan?
Sebagai sebuah perusahaan, SRIL boleh dibilang mengalami masa-masa keemasannya terutama sejak tampuk kepemimpinan perusahaan diambil alih oleh Iwan Setiawan Lukminto, dan juga adiknya, Iwan Kurniawan Lukminto (Iwan S. menjadi komisaris, sementara Iwan K. menjadi direktur), dimana sejak tahun 2006 lalu SRIL melakukan banyak pembangunan pabrik baru untuk memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, memperluas diversifikasi produk, hingga menambah jaringan pelanggan. And so far, berbagai ekspansi tersebut sukses besar hingga SRIL sekarang ini menjadi perusahaan tekstil terbesar di Indonesia (pada tahun 2006, SRIL sama sekali belum sebesar sekarang).
Namun proses ekspansi itu sendiri masih jauh dari kata berhenti. In fact, perusahaan masih punya rencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga tahun 2016 nanti (dihitung sejak 2006, berarti proses ekspansinya membutuhkan waktu total 10 tahun), salah satunya produksi pakaian jadi yang ditargetkan akan mencapai 30 juta potong pada tahun 2016, meningkat 150% dibanding 2013.
Lalu dari mana kebutuhan modalnya? Well, setelah sukses meraup Rp1.3 trilyun dari IPO-nya di BEI pada tahun 2013 lalu (yang langsung habis untuk membangun ini dan itu), setahun kemudian SRIL menerbitkan obligasi senilai US$ 270 juta di Singapura, dimana US$ 110 juta diantaranya digunakan untuk melunasi utang bank (refinancing, utang bank dengan bunga 11 – 12% per tahun diganti dengan utang obligasi dengan bunga yang lebih murah, yakni 9% per tahun), sementara selebihnya dipakai untuk belanja modal.
Karena adanya utang obligasi ini maka nilai kewajiban SRIL tercatat total  US$ 433 juta pada Kuartal I 2015, atau mencapai 1.7 kali nilai ekuitasnya sebesar US$ 247 juta, dan menurut penulis sendiri ini DER sebesar itu agak berisiko. Wujud utangnya yang dalam mata uang USD juga membuat kinerja SRIL menjadi rentan terhadap risiko pelemahan nilai tukar Rupiah yang terjadi akhir-akhir ini. However, karena proses ekspansi yang dilakukan SRIL sudah lebih dari separuh jalan (dan sejauh ini semuanya lancar-lancar saja), maka penulis optimis bahwa manajemen akan mampu menggunakan dana hasil penerbitan obligasinya secara optimal. Pelemahan nilai tukar Rupiah juga seharusnya tidak akan berdampak negatif karena toh mayoritas pendapatan SRIL juga dalam mata uang USD. In fact, jika ada perusahaan-perusahaan di BEI yang diuntungkan karena pelemahan Rupiah, maka SRIL adalah salah satu perusahaan tersebut mengingat SRIL membayar biaya bahan baku dan tenaga kerja dalam mata uang Rupiah (posisi SRIL sebagai perusahaan tekstil yang terintegrasi dari hulu ke hilir menyebabkan perusahaan tidak tergantung pada impor bahan baku), namun memperoleh pendapatannya dalam mata uang USD. Dan tidak seperti harga CPO atau batubara yang terus saja turun dalam tiga tahun terakhir, harga produk-produk tekstil yang dihasilkan perusahaan terbilang sangat stabil.
Jadi jika tidak ada aral melintang ataupun kejadian luar biasa (force majeure) terentu, maka kinerja positif serta pertumbuhan aset yang signifikan yang dihasilkan oleh SRIL sejauh ini seharusnya bisa dipertahankan paling tidak hingga tahun 2016 nanti. And by that I pointed to you, private equity guys, ‘coz you do like prospect, eh?
Kemudian bagaimana dengan sahamnya?
Sejak listing perdana di BEI pada bulan Juni 2013 di harga 240, pergerakan SRIL terbilang fluktuatif dimana meski ia sempat naik sampai 300 pada Januari 2014, tapi selanjutnya  ia malah turun, dan terus saja turun hingga sempat menyentuh 120 pada Oktober 2014, atau anjlok persis 60% dibanding harga puncaknya, yang mungkin itu karena investor khawatir dengan utang obligasi perusahaan sebesar US$ 270 juta, dimana nilainya dalam mata uang Rupiah tentu akan meningkat jika Rupiah itu sendiri melemah.
However, seperti yang sudah dibahas diatas, pelemahan Rupiah seharusnya tidak akan berdampak negatif terhadap perusahaan. Penulis sendiri mulai tertarik dengan saham ini ketika ia berada di posisi 150-an, karena ketika itu PBV-nya cuma 1.1 kali sementara kinerja perusahaan terbilang no problemo (saya ketika itu sudah membahas dan merekomendasikan sahamnya di ebook kuartalan edisi Kuartal III 2014). Plus, SRIL berstatus sebagai leader di bidangnya, dan juga menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang seperti yang sudah dibahas diatas. Meski ketika itu sahamnya masih downtrend berat sampai tinggal sisa 120-an perak, namun setelah penulis pertimbangkan, no way sahamnya bisa sampai ke gocap. Malahan jika perusahaan sukses membukukan kenaikan laba pada Kuartal I 2015 nanti, maka sahamnya seharusnya bakal sukses naik kembali.
Dan kabar baiknya, SRIL memang sukses mencatatkan kinerja positif di Kuartal I 2015. Tapi kabar buruknya, sahamnya juga sudah terbang duluan. Setelah sideways cukup lama di rentang harga 150 – 160 dari November 2014 hingga Februari 2015, sejak awal Maret lalu SRIL mulai merangkak naik dan teruuus saja naik hingga sekarang sebentar lagi mencetak new high. Tapi dari sisi valuasi dimana harga 296 masih mencerminkan PER 7.6 kali dan PBV 1.7 kali, serta dengan memperhatikan outlook perusahaan yang cukup cerah, maka peluang kenaikan lebih lanjut bagi SRIL mungkin masih terbuka. Secara konservatif saja, dengan mempertimbangkan bahwa PBV yang wajar bagi SRIL ini adalah 2.0 kali, maka targetnya sekitar 350. Fluktuasi IHSG sepertinya tidak berpengaruh dimana meski semingguan ini IHSG turun tajam, namun SRIL malah terus saja naik, dan kenaikannya tersebut memang ditopang oleh fundamentalnya yang juga bagus.
Hanya saja, berdasarkan pola pergerakan saham ini di masa lalu, SRIL memang cenderung fluktuatif dimana dia bisa cepat naik, tapi juga bisa dengan cepat turun. Kenaikan hingga nyaris 2 kali lipat (dari 150-an hingga sebentar lagi tembus 300) hanya dalam tempo dua bulan juga tentu saja terlalu cepat, dimana kedepannya mungkin akan ada investor yang profit taking dari SRIL ini sehingga menyebabkan sahamnya turun kembali. Secara teknikal, support kuat hingga beberapa bulan kedepan bagi SRIL ini adalah di level 225-an, atau cukup jauh dibawah posisi harganya saat ini (jadi secara teknikal pula, anda baru boleh akumulasi SRIL di harga 225-an tersebut).
Karena itulah, jika anda tertarik dengan saham ini maka strateginya adalah sebagai berikut: 1. Jadikan SRIL ini sebagai investasi untuk jangka minimal menengah (3 – 12 bulan), dimana target 350 tadi mungkin baru bisa dicapai, dengan catatan tidak terjadi force majeure, dalam waktu hingga setahun dari sekarang. Lupakan soal trading jangka pendek apalagi swing, karena SRIL ini terlalu bagus untuk itu, dan 2. Sebelum waktu setahun tersebut ada kemungkinan SRIL ini bisa turun dulu, mungkin mentoknya sampai 225 tadi. Karena itulah anda sebaiknya membeli SRIL ini secara sedikit demi sedikit sambil ‘testing the ground’, yakni untuk mengetahui bahwa kalau saham ini nantinya turun lagi maka dia mentoknya sampai berapa. Jangan beli sekaligus terutama karena posisi IHSG juga masih rentan koreksi lanjutan, dimana kalau ada orang yang beli SRIL ini pake duit margin dan dia kena force sell, maka SRIL tetap akan terseret turun meski fundamentalnya nggak kenapa-napa.
Okay, I think that’s all. Any comments? :)
PT. Sri Rejeki Isman, Tbk (SRIL)
Rating Kinerja pada Kuartal I 2015: A
Rating Harga Saham pada 296: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Investama sedang dalam posisi memegang SRIL di harga beli rata-rata 274. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Pengumuman: Buletin Bulanan Special Edition yang berisi: 1. Analisis lengkap posisi IHSG, 2. Tips & strategi investasi/trading disaat pasar turun, dan 3. Stockpick Saham, sudah terbit hari Senin, tanggal 4 Mei kemarin. Anda masih bisa memperolehnya disini. Gratis ebook kuartalan edisi Kuartal II 2014 bagi member baru.
Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) sudah terbit tanggal 11 Mei kemarin. Anda bisa memperolehnya [...]

Prospek IPO PP Properti

Pada bulan April 2014 lalu, Wijaya Karya (WIKA), salah satu perusahaan BUMN di bidang konstruksi di Indonesia, meng-IPO-kan salah satu anak usahanya yaitu Wijaya Karya Beton (WTON), dimana WTON sukses meraup tambahan modal senilai Rp1.2 trilyun hasil dari menerbitkan 2 milyar lembar saham baru (dan menjualnya ke publik) pada harga Rp590 per saham. Mengingat nilai ekuitas WTON sebelum IPO hanya Rp680 milyar, dimana setelah dibagi 6.7 milyar lembar saham (jumlah saham WTON sebelum IPO) maka hasilnya adalah Rp102 per saham, maka cukup jelas bahwa investor publik telah membayar saham baru WTON pada harga yang sangat mahal, yakni nyaris 6 kali lipat lebih tinggi (590 berbanding 102) dibanding harga yang dibayar WIKA sebagai pemegang saham mayoritas dari WTON.

Meski demikian, mungkin karena kinerja WTON terbilang cukup baik sepanjang tahun 2014 lalu (laba perusahaan naik 33.6% dibanding tahun 2013), plus didorong oleh adanya sentimen positif terkait banyaknya rencana pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah sepanjang tahun 2014 tersebut, maka WTON tetap naik signifikan hingga sempat menembus 1,400, atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding harga perdananya (meskipun belakangan mulai longsor lagi, karena memang udah gak ketulungan mahalnya).
Nah, jadi ketika BUMN konstruksi lainnya, Pembangunan Perumahan (PTPP), mengikuti jejak WIKA dengan meng-IPO-kan salah satu anak usahanya, dalam hal ini PP Properti (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja PPRO), maka perhatian investor mungkin fokus pada pertanyaan berikut: Apakah PPRO bisa mengikuti jejak WTON yang sukses mencetak gain dua kali lipat?
Karena seperti halnya WTON yang pelaksanaan IPO-nya diurus oleh empat sekuritas sekaligus (jadi tukang jualan saham IPO-nya ada banyak), maka IPO PPRO kali ini bahkan diurus oleh lima sekuritas sekaligus. Penulis awalnya heran, kenapa kok saya menerima banyak sekali email pertanyaan dari teman-teman investor soal prospek dari IPO PP Properti ini? Tapi ternyata itu karena para investor tersebut memperoleh tawaran dari sekuritasnya masing-masing untuk ikut IPO-nya. Termasuk, iklan IPO PPRO ini juga ada dimana-mana, biasanya dalam bentuk artikel ulasan ‘prospeknya’ yang ditulis para analis sekuritas di media, baik itu media cetak maupun internet (but don’t worry, penulis bisa menjamin bahwa ulasan yang sedang anda baca disini adalah sepenuhnya independen sesuai pemikiran penulis sendiri).
Pendek kata, PPRO tampak menarik karena banyak yang mempromosikan, sementara perusahaannya sendiri belum tentu beneran bagus. Jika IPO PPRO hanya dipegang oleh satu sekuritas, maka mungkin IPO-nya juga tidak akan seheboh sekarang. Disisi lain, karena proses kelahiran PPRO ke Bursa Efek ini ‘dibidani’ oleh lima sekuritas sekaligus, maka peluangnya untuk sukses (baca: sahamnya naik) tetap terbilang besar kecuali jika fundamentanya memang sangat buruk, katakanlah seperti IPO GarudaIndonesia (GIAA) dulu.
Anyway, mari kita coba pelajari dulu PP Properti ini sejak awal.
Pada tahun 1991, PTPP yang sebelumnya hanya bergerak di bidang konstruksi, mulai melebarkan sayapnya dengan juga masuk ke bisnis developer properti, ketika itu dengan membangun Perumahan Otorita di Jatiluhur, Jawa Barat, kali ini dengan kapasitasnya sebagai developer pemilik proyek, bukan kontraktor. Seiring dengan berjalannya waktu, PTPP kemudian lebih banyak lagi mengerjakan proyek-proyek properti lainnya. Hingga pada tahun 2010, PTPP menjadikan portofolio properti-nya sebagai salah satu lini bisnis utama diluar konstruksi sebagai bisnis asli perusahaan. Dan pada tahun 2013, PT PP Properti (PPRO) secara resmi didirikan sebagai wadah dari unit-unit bisnis properti yang dimiliki PTPP.
Kalau melihat usia perusahaannya yang terbilang ‘kemarin sore’ maka praktis PPRO belum memiliki track record yang solid dalam jangka panjang, dimana laporan keuangannya hanya hanya ada sampai tahun 2013 karena perusahaan baru berdiri pada tahun 2013 tersebut (kalau dihitung dari tahun 1991 sejak PTPP masuk ke bisnis properti, maka PPRO ini juga baru berusia 24 tahun). Dengan nilai aset Rp2.7 trilyun pada akhir tahun 2014, maka ukuran perusahaan juga relatif kecil terutama jika dibandingkan dengan developer-developer papan atas di Indonesia. Terkait prospek pertumbuhan perusahaan kedepannya, PPRO juga tidak menawarkan prospek yang terbilang ‘wah’. Pada akhir tahun 2014, PPRO hanya memiliki landbank seluas 54 hektar yang akan dikembangkan dalam waktu 15 – 20 tahun kedepan (salah satunya dengan menggunakan dana hasil IPO-nya). Jika dibandingkan dengan landbank dari Bumi Serpong Damai (BSDE) yang mencapai lebih dari 7,000 hektar, misalnya, maka PPRO jelas gak ada apa-apanya, bahkan jika nanti perusahaan sukses menambah cadangan landbank-nya tersebut (PPRO berencana menggunakan sebagian dana hasil IPO-nya untuk membeli beberapa bidang tanah).
Meski demikian PPRO tetap memiliki keunggulan dalam posisinya sebagai anak usaha dari PTPP yang tentunya sudah cukup mapan sebagai perusahaan konstruksi, dan saham PTPP sendiri sukses naik banyak sejak IPO-nya pada tahun 2010 lalu di harga 560. Alhasil PTPP menjadi salah satu perusahaan konstruksi paling populer di Indonesia (atau minimal di tingkat investor di BEI), sehingga PPRO dengan sendirinya turut menjadi populer. Selain itu, kecilnya jumlah landbank milik perusahaan adalah karena PPRO belakangan ini lebih fokus pada pembangunan superblock, yang memang tidak membutuhkan tanah yang luas.
Dan mungkin faktor terpentingnya adalah, pada saat ini kinerja PPRO sedang dalam momentum pertumbuhan yang luar biasa karena kebetulan ada banyak proyek-proyek properti yang sudah digarap sejak tahun 2012 (ketika itu PPRO masih berstatus sebagai salah satu divisi dibawah PTPP), yang pada tahun 2014 kemarin mulai membuahkan hasil dimana laba perusahaan melonjak dibanding 2013 (persentase kenaikan secara persisnya tidak bisa dihitung karena laporan keuangan PPRO untuk tahun 2013 hanya untuk periode dua bulan, yakni November – Desember), dan seharusnya trend pertumbuhan tersebut masih akan berlanjut pada tahun 2015 ini. Per akhir tahun 2014, PPRO memiliki setidaknya 21 proyek pengembangan properti mulai dari Patria Park Hotel hingga Grand Slipi Tower, dimana ada banyak diantaranya yang sudah mulai ‘berbuah’ tapi ‘belum habis dipanen’.
Jadi berkaca pada pengalaman di WTON, maka jika pada Kuartal II 2015 nanti (PPRO akan listing perdana di BEI pada tanggal 19 Mei, sehingga perusahaan nggak akan sempat merilis LK Kuartal I 2015) PPRO kembali membukukan lonjakan laba bersih, maka sahamnya juga mungkin akan naik signifikan tak peduli meski valuasinya sudah mahal. Dalam hal ini kita tidak perlu berharap pada prospek terkait penggunaan dana hasil IPO yang diperoleh perusahaan, karena PPRO juga tentunya akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar (minimal 2 – 3 tahun) untuk memberdayakan dana hasil IPO tersebut hingga menghasilkan tambahan keuntungan bagi perusahaan.
Lalu bagaimana dengan valuasi sahamnya? Apakah juga mahal seperti WTON dulu?
Bagi anda yang masih awam value investing, anda mungkin bingung bagaimana caranya menentukan apakah saham PP Properti ini mahal, wajar, atau murah, padahal sebenarnya sederhana saja kok. Pada IPO-nya nanti, PPRO akan melepas saham baru ke publik pada rentang harga Rp185 – 350 per saham. Sebelum IPO, nilai ekuitas PPRO tercatat Rp1.0 trilyun, sementara jumlah sahamnya adalah 9.1 milyar lembar. Maka, nilai saham PPRO adalah 1 trilyun dibagi 9.1 milyar, sama dengan Rp113 per saham. Jika saham baru PP Properti dilepas pada harga terendah yakni 185 per saham, maka itu artinya anda sebagai pemegang saham baru di perusahaan hanya perlu mengeluarkan dana dalam jumlah yang sedikit lebih besar (Rp185 berbanding Rp113, berarti 1.6 kalinya) dibanding modal yang disetor PTPP sebagai pemilik asli sekaligus penanggung jawab atas jalannya operasional perusahaan.
Dan menurut penulis itu adalah harga yang relatif murah, atau bahkan sangat murah jika dibanding IPO WTON setahun yang lalu. Jika PP Properti benar-benar dijual pada harga 185, dan jika pada Mei nanti IHSG paling tidak masih stabil di posisinya saat ini (5,400-an), maka saham PPRO berpeluang untuk naik signifikan sejak listing perdananya, dan kenaikannya tersebut akan berlanjut jika pada laporan keuangan terbarunya (Kuartal II 2015, akan terbit akhir Juli nanti) perusahaan masih sukses membukukan kinerja yang bertumbuh.
Namun jika PP Properti dilepas pada harga 350, maka tentunya dia tidak bisa dikatakan murah lagi. Selain itu peningkatan ekuitas dalam jumlah yang kelewat besar (karena besarnya dana perolehan hasil IPO-nya) juga akan menyebabkan ROE PPRO nantinya akan tampak sangat kecil, dan itu bisa membuat kinerja fundamental perusahaan menjadi tampak buruk sehingga malah menjadi katalis negatif bagi sahamnya. But well, mari kita berharap bahwa mudah-mudahan PP Properti ini akan dilepas pada harga yang 185, syukur-syukur bisa lebih rendah lagi (ya gak mungkin lah, just kidding!)
PT PP Properti, Tbk
Rating Kinerja Pada 2014: A
Rating Saham pada 185: AA
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) akan terbit tanggal 11 Mei mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Ebook Analisis Kuartal I 2015

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2015. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten untuk periode Kuartal I 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, dan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue (murah), atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 11 Mei 2015. Anda bisa memperoleh ebook-nya dengan cara preorder, keterangan selengkapnya baca disini.
Berikut screening ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).
Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu (biayanya masih tetap sama seperti tahun 2010 lalu, alias tidak naik sama sekali).
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan selanjutnya terbit setiap kuartal sekali (setahun empat kali). Jadi edisi kali ini merupakan edisi kesembilan belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca lagi contoh-contoh analisis saham yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini. Dan berikut ini adalah contoh tiga analisis terbaru:
  1. Mandala Multifinance (MFIN)
  2. Bank BTN (BBTN)
  3. Perusahaan Gas Negara (PGAS), dan seterusnya
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) di pin BB 52596BDA (office hour [...]

PGAS, Bluechip at Bargain Price

Warren Buffett pernah mengatakan dalam salah satu annual letter-nya, ‘Kami menyukai untuk berinvestasi pada perusahaan yang sudah berdiri dan beroperasi selama lebih dari 100 tahun. Kami tidak mau ambil risiko dengan berinvestasi pada perusahaan start-up yang belum memiliki track-record kinerja yang panjang.’ Pendek kata, Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang sudah mapan ketimbang perusahaan yang baru berdiri ‘kemarin sore’. However, ketika prinsip ini diterapkan di Indonesia maka investor mungkin akan mengalami kesulitan. Sebab, berapa banyak sih perusahaan yang listing di BEI yang sudah berusia lebih dari 100 tahun? Lha wong Republik Indonesia sendiri baru berdiri pada tahun 1945 bukan?

Tapi untungnya, Indonesia bukannya tidak memiliki perusahaan yang sudah berusia lebih dari satu abad, meski memang jumlahnya sangat sedikit. Salah dari perusahaan tersebut adalah Perusahaan Gas Negara (PGAS). Secara formal, PGAS memang baru berdiri pada tahun 1965, dan juga baru listing di BEI pada tahun 2003. Namun sebagai perusahaan gas, PGAS sudah berdiri dan beroperasi jauh sebelum itu, yakni sejak tahun 1859 dengan nama LJN Eindhoven & Co., ketika itu merupakan perusahaan pertama di Indonesia (bahkan mungkin salah satu yang pertama di dunia) yang memperkenalkan penggunaan gas untuk masyarakat umum dan industri, dimana bisnis utama perusahaan perusahaan adalah mendistribusikan gas (yang terbuat dari batubara) dari lokasi tambang batubara ke kawasan perkotaan.
Hingga hari ini bisnis utama perusahaan masih sama, yakni distribusi gas, meski bukan lagi gas yang dibuat dari batubara melainkan gas alam, karena biayanya lebih ekonomis. Kemungkinan karena berstatus sebagai perusahaan pertama di bidangnya, selain karena bisnis distribusi gas merupakan bisnis yang sulit dimasuki pemain lain, maka PGAS hingga hari ini praktis merupakan penguasa tunggal di bisnis distribusi gas di Indonesia, dengan pangsa pasar 81% pada akhir tahun 2014. Kombinasi antara penguasaan pasar yang cenderung monopoli tersebut plus pengalaman selama lebih dari seratus lima puluh tahun (karena kalau cuma monopoli, toh sejatinya Pertamina, PLN, dan PT Kereta Api juga monopoli, tapi entah kenapa mereka rugi melulu), menyebabkan PGAS senantiasa mencetak keuntungan yang besar setiap tahunnya, dengan rata-rata ROE lebih dari 30% selama sembilan tahun terakhir (2006 – 2014). Alhasil, nilai aset bersih perusahaan meningkat dari US$ 569 juta pada akhir tahun 2006, menjadi US$ 2.8 milyar pada akhir tahun 2014. Ini artinya jika seseorang membeli saham PGAS pada tahun 2006 dan masih memegangnya sampai sekarang, maka terlepas dari fluktuasi harga sahamnya di market, ia secara riil telah memperoleh capital gain sebesar rata-rata 21.9% per tahun, belum termasuk perolehan dividen. Sebagai perusahaan BUMN yang sudah mapan, PGAS membayar dividen rata-rata 30 – 50% dari laba bersihnya setiap tahun kepada para pemegang saham.
Pendek kata, kalau memperhatikan track record-nya yang excellent diatas, maka PGAS ini sangat menarik untuk investasi jangka panjang. Apalagi belakangan ini perusahaan juga mulai sukses menuai pendapatan yang signifikan dari investasinya di sektor hulu migas, yang sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu dimana perusahaan ketika itu mendirikan PT Saka Energi Indonesia sebagai kendaraan untuk mengakuisisi blok-blok migas di tanah air, entah itu secara keseluruhan ataupun sebagian, dan akuisisi-akuisisi tersebut masih dilakukan sampai sekarang. Yang terbaru, pada tanggal 15 April kemarin PGAS menambah portofolio blok migas-nya dengan mengakuisisi 11.7% participating interest di Muara Bakau PSC, Provinsi Kalimantan Timur, yang dijadwalkan akan memproduksi gas pada tahun 2017.

Logo PT Saka Energi Indonesia

Dan hasilnya, dari laba kotor perusahaan sebesar US$ 1.04 milyar di tahun 2014, terdapat US$ 115 juta atau 11% diantaranya yang berasal dari bisnis minyak dan gas. Yang perlu dicatat disini adalah, perolehan laba tersebut diperoleh ketika harga minyak dan gas sedang turun dalam beberapa bulan terakhir. Jadi jika nanti harga minyak dan gas kembali naik, maka seharusnya laba tersebut bisa lebih besar lagi. Bisnis hulu migas milik PGAS ini tampak lebih sukses dalam menghasilkan alternatif income bagi perusahaan ketimbang bisnis transmisi gas yang, meski sudah dirintis sejak tahun 1998, namun sampai sekarang hanya mampu menghasilkan laba kotor US$ 5 juta bagi perusahaan pada tahun 2014, atau sama sekali tidak signifikan. Penjelasan mengenai transmisi gas tersebut bisa dibaca lagi disini.
Kemungkinan karena kesuksesan PGAS dalam memperoleh sumber pendapatan baru dari blok-blok migas milik perusahaan, pihak manajemen kemudian lebih bersemangat untuk mengakuisisi lebih banyak lagi blok migas, dan itu sebabnya pada tahun 2014 kemarin PGAS menerbitkan obligasi senilai US$ 1.3 milyar di Singapura, dimana dananya akan digunakan untuk modal kerja termasuk akuisisi blok migas. Obligasi tersebut baru akan jatuh tempo pada tahun 2024, dengan tingkat suku bunga yang terbilang sangat murah yakni hanya 5.1% per tahun (jadi PGAS seperti dapat duit gratis, karena bahkan kalau dana hasil obligasi tersebut disimpan begitu saja di deposito bank atau surat utang negara, maka keuntungan yang diperoleh sudah lebih dari cukup untuk membayar bunga tersebut). Rendahnya tingkat suku bunga serta lamanya jangka waktu obligasi tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan para investor di Singapura sana bahwa PGAS merupakan perusahaan yang sangat baik dan akan terus bertumbuh dalam jangka panjang, karena kalaupun perusahaan ternyata gagal dalam venture blok migas-nya, namun pendapatan perusahaan secara umum tetap tidak akan terganggu karena bisnis inti perusahaan, yakni distribusi gas, sudah memang sudah sangat settle. Karena nilai obligasinya besar (US$ 1.3 milyar itu sama dengan Rp16 trilyun, kalau pake kurs sekarang), maka tentu saja PGAS menerapkan hedging dimana nilai obligasi tersebut tidak akan terpengaruh terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Bagi anda yang sudah hafal dengan gaya investasi penulis, maka anda pasti sudah tahu kenapa saya tiba-tiba saja membahas PGAS ini. Yup, itu karena sahamnya tiba-tiba saja turun signifikan dalam beberapa minggu terakhir, dan seperti biasa dengan ‘dibumbui’ oleh banyak sentimen negatif. Ketika artikel ini ditulis, saham PGAS berada di posisi 4,340, yang merupakan posisi terendahnya dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan untuk tahun penuh 2014, dan dengan menggunakan posisi kurs Rupiah pada tanggal 31 Desember 2014 yakni Rp12,501 per US Dollar, maka harga tersebut mencerminkan PBV 3.0 kali dan PER 11.6 kali. Pertanyaannya tentu, apakah harga tersebut sudah cukup murah? Dalam hal ini maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Yang pertama, sebagai salah satu perusahaan paling mapan, paling konsisten, dan paling menguntungkan di BEI, maka adalah wajar jika PGAS senantiasa dihargai pada valuasi yang cukup tinggi, bisa dilihat dari PER-nya yang selalu berkisar antara 14 hingga 16 kali, terkadang bahkan lebih tinggi dari itu. However, itu bukan berarti PGAS tidak pernah dihargai pada valuasi yang rendah. Dalam lima tahun terakhir, PGAS pernah tiga kali turun hingga mendekati 30% dari posisi tertingginya, yakni pada September 2011, Desember 2013, dan sekarang. Berikut data selengkapnya:
Date
Lowest
Highest (before drop)
Change (%)
Sep-11
2,350
4,475
(47.5)
Dec-13
4,435
6,250
(29.0)
Apr-15
4,370
6,150
(28.9)
Nah, kalau berkaca pada pengalaman di bulan September 2011 dan Desember 2013, maka tidak peduli sedalam apapun penurunan PGAS, namun toh pada akhirnya dia akan naik lagi. Namun berbeda dengan dua kali koreksi sebelumnya (dan mungkin juga koreksi-koreksi sebelumnya lagi) dimana penurunan PGAS ketika itu selaras dengan pergerakan IHSG yang juga turun (pada bulan September 2011 dan Desember 2013, IHSG telah turun masing-masing 17 dan 19% dari posisi puncaknya), maka penurunan PGAS kali ini terjadi ketika pergerakan IHSG masih relatif stabil. Selain itu kalau melihat kasus koreksi di bulan September 2011, PGAS sempat turun hingga PER-nya tercatat hanya 8.5 kali. Sementara pada harganya saat ini, PER PGAS masih tercatat 11.6 kali.
Itu yang pertama. Yang kedua, setiap kali saham-saham besar (termasuk PGAS) turun maka di media selalu beredar banyak pemberitaan yang ‘menjelaskan’ penyebab penurunan tersebut, atau dengan kata lain sentimen negatif. Berdasarkan catatan penulis saja, untuk penurunan PGAS kali ini terdapat beberapa ‘bad news’ terkait perusahaan, yakni: 1. Menteri Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan kepada pers bahwa Kemenperin mengusulkan penurunan harga jual gas sebesar 10 – 20%, dimana jika itu direalisasikan maka margin laba PGAS tentunya akan tertekan (Sebenarnyaaaa, harga jual gas dari PGAS adalah yang termurah sejagat nusantara, bahkan lebih murah dibanding gas melon. Jadi mau diturunin sampe berapa lagi?), 2. Pendapatan PGAS di tahun 2015 diprediksi turun 6% karena penyerapan gas oleh PLN berkurang (isu ini tidak valid, karena pada tahun 2014, pendapatan PGAS dari PLN tercatat US$ 624 juta, masih naik dibanding tahun sebelumnya sebesar US$ 575 juta. Lagipula kalau benar pendapatan dari PLN berkurang, maka itu tidak bepengaruh signifikan terhadap kinerja PGAS karena pendapatan dari PLN tersebut tidak sampai 20% dari pendapatan PGAS secara keseluruhan), 3. Blok-blok migas yang dimiliki PGAS harus diserahkan ke Pertamina (Ini siapa yang ngomong coba? Ngaco banget!), dan 4. PGAS mengalami kesulitan memperoleh pasokan gas (meski yang ini memang bener, tapi itu cuma cerita lama yang diungkit-ungkit lagi).
Tapi terus terang, kalau penulis sendiri sudah cukup hafal bahwa isu-isu negatif seperti itu pada akhirnya nanti akan menguap dengan sendirinya. Faktanya, ada banyak dari isu-isu negatif tersebut yang justru baru keluar setelah PGAS turun (jadi ketika PGAS masih diatas, tidak ada isu negatif apapun). Dan sebagai investor, disitulah tantangannya: Ketika anda sedang mengincar (atau memang sudah membeli) saham blue chip yang harganya sedang turun, maka anda harus bisa memilah-milah, berita yang mana yang memang berita sungguhan dan berita mana yang sekedar rumor. Penjelasan selengkapnya boleh dibaca disini. Selebihnya, anda harus tetap fokus pada fundamental perusahaan serta valuasi sahamnya.
Dan yang ketiga, adalah terkait dengan fundamental perusahaan. Meski sampai hari ini PGAS masih mendominasi bisnis distribusi gas di Indonesia, namun pangsa pasar perusahaan terus turun dari 93% pada akhir tahun 2010, menjadi hanya 81% pada akhir tahun 2014. Penurunan tersebut terjadi karena dari sisi volume, jumlah gas yang didistribusikan perusahaan memang cenderung stagnan karena, seperti yang sudah disebut diatas, PGAS kesulitan untuk memperoleh pasokan gas dari pihak produsen, dan kondisi tersebut sudah terjadi sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pada tahun 2014 kemarin PGAS telah menyalurkan gas sebanyak 1,717 MMScfd, atau hanya naik sedikit sekali dibanding 1,661 MMScfd pada tahun 2010. Alhasil, meski nilai aset bersih PGAS masih terus tumbuh secara signifikan setiap tahunnya (karena tingginya rasio profitabilitas perusahaan), namun rate pertumbuhan laba bersih PGAS cenderung stagnan, Pada tahun 2014 perusahaan mencatatkan laba bersih US$ 748 juta, atau hanya tumbuh sedikit dibanding US$ 696 juta pada tahun 2010. Seretnya pasokan gas ini juga menyebabkan PGAS agak ‘malas’ dalam membangun jaringan pipa gas baru dan infrastruktur gas lainnya, karena buat apa repot-repot menambah jaringan pipa gas, kalau perusahaan tidak memperoleh pasokan gas untuk didistribusikan?
Untuk mengatasi masalah sulitnya pasokan gas, sejak tahun 2011 perusahaan berupaya untuk memiliki pasokan gas-nya sendiri dengan cara mengakuisisi blok-blok migas. Dan kabar baiknya, seperti yang sudah disebutkan diatas, upaya tersebut sejauh ini terbilang berhasil dimana PGAS kini memiliki sumber pendapatan baru dari penjualan minyak dan gas, kali ini dalam posisinya sebagai produsen, bukan distributor. Pada akhir tahun 2014, dari delapan blok migas yang dimiliki perusahaan, baik seluruhnya maupun sebagian (belum termasuk Blok Muara Bakau yang baru diakuisisi pada tahun 2015), tiga diantaranya memang sudah berproduksi. Malah, kalau bukan karena adanya pendapatan baru tersebut, maka laba bersih PGAS pada tahun 2014 tidak akan turun sebesar 10.1% dibanding tahun 2013, melainkan lebih dari itu.
However, faktanya tetap saja: Laba bersih PGAS di tahun 2014 kemarin tercatat turun dibanding tahun sebelumnya. Jika pada Kuartal I 2015 mendatang perusahaan kembali mencatatkan penurunan laba, maka sentimen-sentimen negatif yang sudah disebutkan diatas akan kembali ramai dibicarakan orang, dan saham PGAS akan kembali tertekan. Tapi jika pada Kuartal I tersebut perusahaan sukses membukukan kenaikan laba, maka sentimen negatif tadi akan menguap lebih cepat, dan seharusnya PGAS akan mampu naik kembali.
Kesimpulannya, meski PGAS pada saat ini sangat menarik dari sisi valuasi, sementara outlook jangka panjangnya juga terbilang cerah dimana perusahaan terbilang sukses masuk ke bisnis hulu migas, namun penulis sendiri lebih memilih wait and see, terutama karena melihat IHSG yang belakangan ini seperti kehabisan bensin untuk naik lebih lanjut (jika IHSG turun maka PGAS tetap akan lanjut turun), dan ada baiknya kita menunggu laporan keuangan berikutnya, just to be sure. Penulis tidak tahu penurunan PGAS ini bakal mentoknya sampai level berapa, tapi seperti yang sudah disebutkan diatas: Serendah apapun penurunannya, namun pada akhirnya PGAS ini akan naik lagi. Jadi semakin rendah penurunannya maka itu semakin bagus! Karena itu artinya potensi keuntungannya menjadi semakin besar.
Tapi Pak Teguh, saya sudah terlanjur beli sahamnya nih? What should I do? Well, kalau anda belinya di harga 4,750 atau dibawahnya, maka sebenarnya itu sudah cukup murahsehingga seharusnya, meski mungkin perlu menunggu cukup lama, pada akhirnya anda tetap akan memperoleh keuntungan. Selain itu PGAS hanya bisa turun lebih rendah lagi dari posisinya saat ini kalau: 1. IHSG mengalami koreksi, 2. Terdapat sentimen negatif yang serius (sentimen-sentimen negatif terkait PGAS yang beredar sejauh ini rata-rata cuma ‘bercanda’), atau 3. Perusahaan kembali membukukan penurunan labanya di tahun 2015. Jadi saran penulis adalah, jika tiga kondisi diatas tidak terjadi, maka anda bisa tetap hold saham anda, termasuk boleh juga beli lagi di harga bawah alias average down. Tapi jika salah satu dari tiga kondisi diatas terjadi, maka sebaiknya keluar dulu, paling tidak separuhnya. Jadi kalau anda pegang PGAS 100 lot maka boleh jual 50 lot, sementara selebihnya tetap di-hold.
Dengan cara ini maka kalau PGAS beneran lanjut turun, anda bisa menggunakan dana hasil penjualan PGAS tadi untuk nanti beli lagi di harga bawah. Tapi jika PGAS ternyata tidak lanjut turun dan rebound, maka kerugian anda hanya separuh dari yang seharusnya. Good luck!

PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk
Rating Kinerja pada 2014: A
Rating Saham pada 4,340: [...]

Terjemahan Buffett Annual Letter, Special Edition!

Tahun 2014 kemarin adalah tepat 50 tahun sejak Warren Buffett, guru besar dari investor saham di seluruh dunia, mengambil alih kepemilikan sekaligus kepemimpinan di Berkshire Hathaway. Mungkin dalam rangka merayakan 50 tahun tersebut, Buffett kemudian secara pribadi menulis ‘surat’ khusus di Berkshire Hathaway Annual Letter untuk tahun 2014, yang berisi tentang pengalaman serta kebijaksanaannya dalam berinvestasi, yang telah sukses ‘menyulap’ Berkshire dari sebuah perusahaan tekstil yang hampir bangkrut, menjadi sebuah perusahaan konglomerasi yang amat sangat besar.

Selain tulisan khusus oleh Buffett diatas, vice-chairman Berkshire, Charlie Munger, juga menulis artikel yang juga menjelaskan tentang strategi-strategi serta kebijakan Berkshire Hathaway, atau Warren Buffett khususnya, dalam berinvestasi, dan pelajaran apa yang kemudian bisa diambil dari situ.
Nah, kalau anda sudah membaca tulisannya, maka anda akan memperoleh banyak sekali wisdom dan pencerahan yang disajikan, tidak hanya tentang investasi tapi juga tentang bagaimana mengelola perusahaan, bagaimana membentuk karakter seorang investor/CEO, serta tips-tips berharga lainnya dalam berinvestasi.
Sayangnya karena Buffett dan Munger bukan orang Indonesia melainkan Amerika, maka mereka tentu saja menulis suratnya dalam bahasa Inggris, dan juga dengan banyak memasukkan istilah-istilah/peribahasa yang mungkin tidak familiar bagi orang Indonesia kebanyakan. Karena itulah, penulis kemudian membuat versi terjemahan dari annual letter tersebut dalam Bahasa Indonesia, tentunya dengan hasil terjemahan yang enak dibaca. Selain menterjemahkan, penulis juga menyelipkan beberapa komentar penulis sendiri didalam annual letter tersebut, agar keseluruhan tulisannya menjadi lebih mudah dimengerti bahkan untuk investor/calon investor yang masih awam sekalipun.

Warren Buffett bersama seluruh anggota keluarga besarnya. Looks like he’s a family man.

Anda bisa memperoleh hasil terjemahan tersebut dalam bentuk ebook (file PDF) dengan cara mendownload-nya disini, gratis! Catatan: Setelah anda membuka link-nya, klik kotak ‘download’ yang berwarna merah muda dan akan muncul iklan tapi abaikan saja (langsung tutup iklannya). Kemudian klik lagi kotak download tadi, masukkan verification code, dan klik ‘download’ sekali lagi.
Tapi jika anda tidak bisa mendownload-nya, maka boleh kirim email dengan subjek ‘Buffett Annual Letter’ ke teguh.idx@gmail.com, dan kami akan mengirim file-nya ke anda melalui email. Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.
Okay lads, I think that’s all. Untuk artikel selanjutnya akan ditulis minggu [...]

Ketika Perusahaan Mengendalikan Harga Sahamnya

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan dari seorang teman (damn I have a lot of friends, thanks to this blog) yang intinya kira-kira begini, ‘Pak Teguh, di BEI ada beberapa perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan kinerja yang konsisten, valuasi sahamnya murah, dan manajemennya menerapkan GCG dengan baik. Namun sahamnya tetap saja tidak mau bergerak atau tidak likuid, salah satunya mungkin Mandala Multifinance (MFIN) yang Pak Teguh rekomendasikan.’

‘Sementara ada juga perusahaan yang kinerjanya tidak bagus, valuasi sahamnya mahal, dan manajemennya juga kurang baik. Tapi sahamnya banyak diperdagangkan alias likuid, dan juga mampu untuk terus naik karena pihak perusahaan, atau dalam hal ini investor relation-nya, rajin melakukan roadshow atau semacamnya untuk mempromosikan sahamnya ke investor, rutin melakukan presentasi di media, termasuk mereka sendiri juga turut mengendalikan harga sahamnya di pasar agar naik terus, atau minimal nggak turun.’
‘Dari sini kemudian timbul kesan bahwa percuma saja membeli saham dari perusahaan yang hanya fokus pada kegiatan operasional namun tidak peduli soal apakah sahamnya naik atau turun tanpa pernah berusaha mengendalikannya, termasuk juga jarang mempromosikan sahamnya ke investor. Karena, tak peduli sebagus apapun kinerja sebuah perusahaan tapi kalau tidak ada investor yang membeli sahamnya, maka harga sahamnya juga tidak akan naik bukan? Tapi bagaimana seorang investor akan membeli suatu saham kalau saham tersebut jarang dipromosikan?’
Nah, meski pertanyaannya cukup masuk akal, dan penulis sebelumnya sudah pernah juga menerima keluhan dari seorang teman yang menolak untuk membeli saham yang saya rekomendasikan karena dia bilang, ‘Saya lihat pihak manajemen perusahaan sama sekali gak peduli jika sahamnya naik atau turun’, namun setidaknya terdapat dua poin yang bisa langsung kita lihat bahwa hal tersebut tidaklah relevan.
Yang pertama, dikatakan bahwa ada beberapa saham di BEI yang perusahannya yang mencatatkan pertumbuhan kinerja yang konsisten, valuasi sahamnya murah, dan manajemennya menerapkan GCG dengan baik, akan tetap sahamnya tetap saja tidak mau bergerak atau tidak likuid. Contohnya mungkin MFIN. Selama ini MFIN memang gak pernah kedengaran melakukan roadshow atau promosi ke investor. Yang mereka kerjakan ya cuma sesuai bidangnya saja yakni menjalankan bisnis pembiayaan sepeda motor, dan mereka sama sekali tidak pernah mencoba mengendalikan harga sahamnya di pasar.
Pertanyaannya, kalau kita pakai contoh MFIN tersebut, maka benarkah MFIN tidak mau bergerak alias naik? Well, anda bisa melihatnya sendiri. Ketika artikel ini ditulis, MFIN berada di posisi 950, atau 27.5% lebih tinggi dibanding posisinya persis setahun yang lalu. Jadi bagaimana bisa dikatakan bahwa MFIN ini tidak bergerak naik?
However, penulis paham dengan istilah ‘tidak bergerak’ yang dimaksud oleh teman penulis tersebut. Memang, dalam jangka panjang (1 tahun atau lebih) MFIN ini senantiasa naik dan itu selaras dengan peningkatan nilai riil perusahannya. Namun dalam jangka yang lebih pendek, katakanlah beberapa bulan, maka seringkali saham ini gak mau kemana-mana. Contohnya kalau anda beli MFIN pada harga 710 di bulan April 2013, maka pada bulan Maret 2014, atau hampir setahun kemudian, saham MFIN anda ternyata tetap stay di harga 700, alias malah turun 10 perak. Bagi beberapa investor terutama yang masih pemula, tidak ada yang lebih membosankan ketimbang menunggui saham yang sama selama berbulan-bulan (jangankan berbulan-bulan, seminggu aja kadang-kadang udah gak tahan) dan ternyata dia malah gak naik-naik (kalau ditungguin tapi naik terus sih gpp lah, malah bagus). Mereka pengennya saham tersebut kalau ndak naik ya turun, sehingga mereka bisa melakukan profit taking ataupun cut loss. Para broker di sekuritas juga bakal bete kalau nasabahnya bengong aja dan nggak trading, karena kalau begitu caranya maka darimana mereka memperoleh penghasilan?

Logo PT Mandala Multifinance, Tbk

Namun intinya adalah, meski saham dari perusahaan tertentu terkadang tampak gak bergerak kemana-mana dalam kurun waktu yang tidak sebentar, namun pada akhirnya dia akan bergerak mengikuti fundamental perusahaan. Jika nilai riil atau nilai aset bersih/ekuitas meningkat, maka harga sahamnya juga akan meningkat. Jika perusahaannya mengalami rugi sehingga nilai ekuitasnya turun, maka sahamnya juga akan turun. Selama 5 tahun terakhir penulis belum pernah, sekali lagi lagi belum pernah, ketemu perusahaan yang menghasilkan laba bersih yang besar secara selama dua atau tiga tahun berturut-turut sehingga nilai ekuitasnya naik tajam, namun sahamnya tetap saja gak kemana-mana selama kurun waktu tersebut. Kalau anda ketemu dan membeli saham yang menurut anda bagus namun setelah ditunggu selama lebih dari setahun dia tetap saja nggak kemana-mana (sementara disisi lain IHSG bergerak normal dan tidak mengalami koreksi), maka coba evaluasi lagi: Apakah saham yang anda beli beneran sebagus itu?
Okay, tapi MFIN tetap saja nggak likuid kan? Yahh, itu sih karena memang harga sahamnya belum terlalu tinggi saja. Sekarang coba lihat Lippo Cikarang (LPCK) (ini saham favorit penulis di sektor properti, yang meski belum pernah dibahas secara terbuka di website ini, namun sudah sering dibahas di ebook kuartalan). Pada awal tahun 2011 lalu, ketika di BEI masih belum booming saham-saham properti, saham LPCK yang ketika itu masih berada di level 400-an, nilai transaksi perdagangannya hanya sekitar Rp100 juta per hari, bahkan seringkali kurang dari itu. Posisi bid dan offer-nya juga banyak yang bolong-bolong. Tapi sekarang? Sudah belasan milyar Rupiah per hari, alias sudah cukup likuid, karena disisi lain harga sahamnya juga sudah jauh lebih tinggi dibanding tahun 2011 tersebut.
Kalau mau contoh yang lebih ekstrim lagi, saham Astra International sempat tidak likuid sama sekali di tahun 1998 – 1999, karena ketika itu juga perusahaan sempat mengalami defisiensi modal. Tapi sekarang berapa nilai transaksi perdagangan saham ASII setiap harinya? Lebih dari Rp250 milyar!
Jadi sekali lagi, kalau sebuah perusahaan memiliki kinerja yang bagus dan senantiasa bertumbuh dari tahun ke tahun, maka jangan khawatir: Sahamnya tetap akan naik dan pada akhirnya juga akan likuid. Memang ada beberapa pengecualian, seperti saham HM Sampoerna (HMSP) dan Multi Bintang Indonesia (MLBI), yang meski mereka terus naik dalam jangka panjang karena fundamentalnya yang memang moncer, tapi sampe sekarang likuiditasnya tetep aja seret. Namun berdasarkan pengalaman, hal itu seharusnya tidak jadi masalah. Kalau anda bisa masuk (membeli) sebuah saham meskipun mungkin harus dengan cara nyicil karena likuiditasnya yang seret, maka anda juga seharusnya bisa keluar meski harus dengan cara nyicil juga. Balik lagi ke contoh MFIN, kalau sahamnya benar-benar tidak likuid sama sekali maka saya juga tidak akan membelinya (nilai transaksi MFIN mencapai lebih dari Rp100 juta per hari, masih cukup lah). Sementara ada satu lagi saham yang sebenarnya penulis suka, yakni Siantar Top (STTP), namun saya nggak pernah membelinya (meskipun faktanya STTP ini sudah naik lebih dari 10 kali lipat dalam 5 tahun terakhir). Karena dengan nilai transaksi saham yang bahkan gak nyampe Rp10 juta per hari, maka bagaimana penulis bisa membelinya?
Itu yang pertama. Yang kedua, ketika ada pertanyaan, bagaimana seorang investor akan membeli suatu saham kalau saham tersebut jarang dipromosikan oleh manajemen perusahaan? Maka jawabannya adalah pertanyaan juga: Memangnya penulis tau dari mana soal saham MFIN, padahal manajemen MFIN ini gak pernah woro-woro soal sahamnya? Sebuah perusahaan sama sekali tidak perlu melakukan promosi apapun kepada investor hanya agar sahamnya naik. Karena kalau fundamental perusahaan memang beneran bagus, maka para investor pasti akan mengetahui dengan sendirinya, sehingga sahamnya di pasar juga akan naik dengan sendirinya.
Sebab seorang investor sungguhan (baca: investor yang mengetahui cara untuk menganalisis saham/perusahaan), yang dia lakukan bukan baca-baca koran atau ngeliatin iklan/promosi yang dilakukan perusahaan atau ikut roadshow, melainkan baca-baca laporan keuangan perusahaan. Jadi kalau ada barang bagus, maka mereka akan mengetahuinya. Buktinya ya LPCK dan MFIN tadi, yang karena kinerjanya bagus maka sahamnya terus naik dalam jangka panjang, tak peduli meski perusahaan jarang atau bahkan tidak pernah peduli dengan harga sahamnya di market, dan tidak peduli meski nama perusahaan belum terlalu terkenal (MFIN sama sekali tidak seterkenal Adira). Selain itu, tiga perusahaan terbesar di BEI dari sisi market cap, yakni Bank BCA (BBCA), Unilever (UNVR) dan ASII, mereka juga hampir tidak pernah terdengar melakukan roadshow atau semacamnya (atau memang tidak pernah sama sekali?), namun tetap saja sahamnya ramai diperdagangkan karena perusahaannya punya fundamental dan reputasi yang baik. Plus, ketiga perusahaan juga tidak pernah terdengar mencoba mengendalikan harga sahamnya di pasar. Yang mereka lakukan hanyalah melakukan buy back jika dalam kondisi tertentu (misalnya krisis) saham mereka benar-benar anjlok.
Sebaliknya, ketika sebuah perusahaan memiliki fundamental yang buruk, maka nggak peduli sesering apapun pihak manajemen melakukan roadshow, atau sehebat apapun investor relation perusahaan dalam hal cuap-cuap untuk memaparkan ‘prospek saham’ hingga berbusa-busa, namun tetap saja sahamnya bakal jeblok. Bumi Resources (BUMI) mungkin bisa dinobatkan sebagai perusahaan publik yang paling sering menggelar roadshow di dalam maupun luar negeri, analyst meeting, press conference, hingga promosi-promosi lainnya agar investor tertarik untuk membeli saham BUMI. Tapi yah, karena perusahaannya juga terus merugi dalam beberapa tahun terakhir, maka berapa harga BUMI sekarang???
However, penulis juga tetap menghargai perusahaan yang mau memberikan sedikit perhatian terhadap harga sahamnya di pasar. Kalau kita pakai contoh perusahaan investasi milik Opa Warren, Berkshire Hathaway, perusahaan memiliki kebijakan untuk melakukan buy back sahamnya sendiri di pasar, jika saham Berkshire telah turun pada level tertentu yang dianggap jauh lebih rendah dibanding nilai intrinsiknya. Dan ketika perusahaan melakukan buy back, maka penurunannya akan berhenti untuk kemudian perlahan tapi pasti berbalik naik.

Namun cukup itu saja yang perlu dilakukan perusahaan, dan tidak perlu sampai berusaha menaik-naikkan sahamnya sendiri di pasar. Dan memang Berkshire tidak pernah mencoba mengendalikan harga sahamnya apalagi menaik-naikkannya.

Sementara di BEI, ada banyak perusahaan yang meski mereka juga tidak pernah mencoba mengendalikan harga sahamnya di pasar, namun mereka selalu siap sedia untuk melakukan buy back jika sahamnya turun terlalu rendah. Contohnya Semen Baturaja (SMBR), dimana manajemen sejak awal sudah menyiapkan dana maksimal hingga Rp100 milyar, untuk membeli sendiri sahamnya di pasar jika sewaktu-waktu SMBR turun hingga, katakanlah, lebih rendah dari 300. Pada puncak krisis global di tahun 2008, Pemerintah RI dalam kapasitasnya sebagai pemegang saham pengendali dari perusahaan-perusahaan BUMN, juga dengan sengaja mengucurkan dana sebesar Rp4 trilyun untuk membeli saham-saham seperti BBRI, BMRI, SMGR dll untuk mencegah agar saham-saham tersebut tidak turun lebih rendah lagi. Kebijakan buy back ini, ketika disatu sisi kembali menghadirkan kepercayaan investor (karena pemerintah berani masuk ketika terjadi krisis), namun juga memberikan keuntungan bagi Pemerintah itu sendiri, karena mereka membeli saham-saham tersebut pada harga yang sebenarnya harga diskon.
But still, Pemerintah juga tidak pernah mencoba menaik-naikkan atau menggoreng saham-saham BUMN di BEI.
Sementara ketika sebuah perusahaan menggoreng sahamnya sendiri hingga dia naik tinggi, entah itu sambil promosi/roadshow atau tidak, maka seringkali ending-nya menjadi sangat tidak enak. Anda mungkin bertanya-tanya, kenapa kok saham Trada Maritime (TRAM) terus saja turun hingga sekarang tinggal 60 perak, padahal sebelumnya dia sempat gagah di harga 1,800-an. Namun pernahkah anda bertanya, bagaimana caranya TRAM bisa terus naik dari 500-an pada empat tahun lalu hingga menyentuh 1,800-an, juga dengan volume transaksi yang sangat besar, padahal fundamentalnya gak ada bagus-bagusnya? Ya itu berarti sudah pasti ada bandar besar yang bermain [...]

Seminar Value Investing: Jogja

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Yogyakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jogja. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  4. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Abadi, Jln. Pasar Kembang No.49 (seberang Stasiun Tugu), Kota Yogyakarta
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 25 April 2015
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.3WIB (seminarnya total 5 jam termasuk istirahat makan siang), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30 agar punya waktu untuk ngobrol dan diskusi santai dengan sesama peserta. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta. Diskon Early bird: Rp500,000 per peserta jika anda mendaftar sebelum tanggal 13 AprilGratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Jogja, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Zayn Malik, BCA. Jika anda mendaftar untuk dua orang maka sebutkan nama dua-duanya. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Bonus Materi: Outlook IHSG, dan beberapa pilihan saham untuk dipegang hingga akhir tahun 2015. Beberapa pilihan saham sebelumnya yang pernah dibahas disini adalah United Tractors (UNTR), Mandala Multifinance (MFIN), dan Bank BTN (BBTN).
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 52596BDA, office hour only.
Berikut adalah foto penulis bersama para peserta seminar hari Sabtu, tanggal 24 Januari 2015 di Jakarta, klik untuk memperbesar. Untuk melihat foto-foto lainnya, klik disini.
Testimonial!
Dear Pak Teguh, terima kasih atas pembelajarannya, kinerja tahun 2014 ini cukup memuaskan, porto tumbuh kurang lebih 50%, better than IHSG :)
Sugianto Effendy – Surabaya, Jawa Timur

Tertarik untuk mengikuti kelas value investing secara private? Baca keterangan selengkapnya [...]

Teknik Diversifikasi Anti Pusing

Strategi diversifikasi adalah salah satu elemen penting dalam berinvestasi di saham terutama untuk mengurangi risiko kerugian, dan di blog ini kita sudah membahas tema ‘diversifikasi’ tersebut beberapa kali, contohnya pada artikel ini, dan yang ini. Mungkin perlu penulis sampaikan sekali lagi bahwa, kalau anda meniru strategi diversifikasi ala Warren Buffett, maka dalam satu waktu tertentu anda bisa memegang sekitar 15 hingga 20 saham yang berbeda dalam portofolio anda. Pada tahun 1960-an, ketika masih mengelola Buffett Partnership dengan dana kelolaan sekitar US$ 40 juta, Warren Buffett memang hanya memegang sekitar 20-an saham di dalam portofolio-nya.

Jumlah 20 saham ala Warren ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan fund manager profesional lainnya, yang bisa memegang sampai lebih dari 100 saham yang berbeda, belum termasuk diversifikasi tambahan dengan juga menempatkan investasi pada obligasi dan istrumen pasar uang (contohnya deposito bank). Sementara Mr. Buffett, tidak hanya dia hanya menempatkan dana kelolaannya hanya pada 20 saham, tapi juga dia sepertinya tidak pernah menempatkan investasi pada obligasi, dan sangat jarang memegang uang tunai/deposito kecuali dalam jumlah yang sedikit. Karena itulah, Warren Buffett dikenal sebagai investor saham yang anti diversifikasi. Jika melihat komposisi portofolio Berkshire Hathaway pada saat ini yang berisi lebih dari 100 saham/perusahaan yang berbeda, maka itu bukan karena Mr. Buffett sudah mengubah strategi diversifikasinya. Melainkan karena, dengan jumlah dana kelolaan Berkshire yang sudah amat sangat besar (nilai total aset Berkshire pada akhir tahun 2014 tercatat US$ 526 milyar), maka adalah mustahil jika dana sebesar itu bisa ditempatkan hanya pada beberapa saham saja. Let say, kalau Buffett tertarik untuk mengakuisisi 100% saham dari perusahaan terbesar di Indonesia, yakni Astra International (ASII), maka dia hanya perlu mengeluarkan dana sekitar US$ 25 milyar saja, atau nggak sampai 5% dari nilai aset Berkshire secara keseluruhan.
However, meski Buffett dikatakan sebagai investor yang anti diversifikasi, namun itu bukan berarti dia sama sekali tidak menerapkan diversifikasi tersebut. Karena seperti yang disebut diatas, dia tetap menempatkan investasinya pada sekitar 20-an saham yang berbeda. Investor paling terkenal di Indonesia, Bapak Lo Kheng Hong, juga terbiasa untuk menempatkan investasinya pada 20 – 30 saham yang berbeda.
Nah, berdasarkan pengalaman penulis dalam memberikan advice kepada teman-teman sesama investor, biasanya mereka mengeluh bahwa jangankan 20 saham, megang 10 saham saja mereka sudah pusing. Mereka biasanya bilang begini, ‘Pak Teguh, gak usah kasih saya banyak rekomendasi. Cukup satu atau dua saja, tapi yang bagus!’ Atau, ‘Dari sepuluh saham yang direkomendasikan, yang mana yang paling bagus? Saya mau beli satu saham yang paling bagus itu saja’.
Intinya adalah, dalam pandangan investor ritel paruh waktu, yang dimaksud dengan ‘anti diversifikasi’ adalah benar-benar hanya fokus pada satu atau dua saham saja! Untuk apa report-repot menyebar dana pada banyak saham kalau kita bisa menempatkan semuanya pada satu saham yang terbaik? Yakni saham yang, setelah dianalisis secara hati-hati, menawarkan potensi keuntungan yang paling tinggi?
Terkait hal ini, maka penulis akan share tentang pengalaman saya di tahun 2012 lalu. Pada tahun 2012 tersebut sektor properti rata-rata menghasilkan kinerja fundamental yang bagus, sehingga saham-saham di sektor ini banyak yang naik. Setelah lihat-lihat barang, maka pilihan penulis jatuh pada dua saham properti yang penulis anggap paling bagus, baik itu dari sisi fundamental, valuasi, prospek kedepan, dan juga risiko kerugiannya. Mereka adalah Alam Sutera Realty (ASRI), dan Greenwood Sejahtera (GWSA). Ketika itu, ASRI berada pada harga 450-an, sementara GWSA 250-an. Dan setelah dianalisis, penulis mengambil kesimpulan bahwa secara konservatif, ASRI mungkin bisa naik sampai 700, sementara GWSA 400.
Awalnya penulis hendak mengambil keduanya. Namun karena saya sudah punya beberapa pegangan saham di sektor lain, maka rasanya bakal repot juga kalau harus ngambil dua-duanya. Penulis kemudian berpikir keras: Kalau saya harus memilih salah satu saja dari keduanya, maka yang manakah yang terbaik dari ASRI dan GWSA? Dan ternyata penulis memilih GWSA. Alhasil, dana yang tadinya dialokasikan untuk ASRI dan GWSA, kesemuanya ditempatkan pada GWSA saja.
Bad luck for me, ASRI ternyata kemudian naik.. dan terus naik.. hingga pada pertengahan tahun 2013 sempat menembus 1,000! Sementara GWSA? Dia hanya sempat naik sedikit sampai 300, sebelum kemudian turun pada sekitar bulan April di tahun 2013 karena kinerja perusahaan secara tidak terduga menjadi buruk dimana labanya anjlok, gara-gara perusahaan menghadapi sengketa lahan berkepanjangan yang menyebabkan mereka tidak bisa melanjutkan pembangunan gedung. Dan ketika tidak ada gedung perkantoran atau apartemen yang dibangun, maka apa yang mau dijual? Meski penulis dengan cepat keluar dari GWSA begitu melihat laporan keuangan perusahaan, sehingga hanya menderita kerugian yang tidak terlalu besar, namun penulis tetap rugi karena kehilangan momentum di ASRI. Seandainya penulis sejak awal tetap melakukan diversifikasi dimana saya mengambil ASRI dan juga GWSA, maka saya tetap akan memperoleh keuntungan yang cukup signifikan, karena kenaikan ASRI sendiri mencapai lebih dari dua kali lipat (dari 450-an ke 1,000).

Mungkin ada pertanyaan: Lho, daripada beli GWSA dan ASRI, lalu kenapa gak semua dana dipake buat beli ASRI saja? Dengan demikian maka keuntungannya bakal lebih besar lagi bukan? Iya, memang. Tapi masalahnya, bagaimana anda bisa tahu kalau ASRI yang bakal naik, dan GWSA yang akan turun? Bagaimana kalau ternyata malah ASRI yang mengalami force majeure, sehingga kinerjanya turun dan sahamnya juga anjlok, sementara GWSA tidak mengalami masalah apa-apa sehingga kinerjanya bagus terus dan sahamnya juga terus naik? Kasus sengketa lahan yang dihadapi GWSA diatas adalah force majeure, alias peristiwa tidak terduga yang berdampak negatif pada kinerja perusahan, dan itu bisa terjadi pada perusahaan mana saja entah itu GWSA, ASRI, atau lainnya.
Dan tidak peduli sebaik apapun anda dalam menilai kualitas fundamental sebuah saham, namun kalau perusahaan mengalami force majeure seperti itu, maka anda tetap akan mengalami kerugian! Kesalahan penulis ketika itu bukan karena saya tidak memprediksi bahwa GWSA akan mengalami masalah sengketa lahan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memprediksi hal seperti itu, dan bahkan Warren Buffett pun tidak. Kesalahan penulis cuma satu: Saya tidak melakukan diversifikasi. Jika penulis menempatkan seluruh dana pada ASRI tanpa membeli GWSA sama sekali, maka itu juga tetap merupakan suatu kesalahan, yang meski tidak mengakibatkan kerugian (karena ASRI sukses naik banyak), namun tetap akan menyebabkan kerugian di masa yang akan datang.
Karena itulah, ketika ada seorang teman yang bertanya seperti ini, ‘Dari sepuluh saham yang Pak Teguh direkomendasikan, yang mana yang paling bagus? Saya mau beli satu saham yang paling bagus itu saja’, maka penulis biasanya menjawab, ‘Kesepuluh saham tersebut adalah yang terbaik, yang sudah saya seleksi dari ratusan saham di BEI. However, dari sepuluh saham itu bisa saja ada satu atau dua diantaranya yang malah turun, entah itu karena force majeure atau memang karena saya keliru dalam menganalisisnya, tapi saya tentu saja tidak tahu yang mana. Saya khawatir kalau saya menunjuk satu saham tertentu, maka justru saham itulah yang ternyata malah turun. Karena itulah, saya sarankan untuk melakukan diversifikasi dengan membeli semuanya.’
Analogi dari diversifikasi ini adalah seperti ujian matematika. Kalau anda punya anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar, maka coba perhatikan: Setiap kali dia mengikuti ulangan/tes matematika, maka jumlah soal yang diberikan bukan hanya satu atau dua, melainkan biasanya sepuluh. Dari sepuluh soal ini, jika si anak mampu menjawab semuanya dengan benar, maka dia akan memperoleh nilai sempurna yakni seratus.
Namun dari katakanlah empat puluh siswa dalam satu kelas, berapa banyak siswa yang memperoleh nilai seratus tersebut? Paling-paling hanya satu atau dua bukan? Atau malah tidak ada sama sekali. Kalau seorang siswa bisa memperoleh nilai 80 saja (jadi dari sepuluh soal yang diberikan, ada dua diantaranya yang tidak mampu ia jawab dengan benar), maka itu sudah sangat bagus bukan? Tidak masalah kalau ada satu atau dua soal yang tidak bisa dijawab, yang penting soal-soal lainnya bisa dijawab dengan benar.
Sekarang bayangkan jika Pak Guru hanya memberikan satu soal saja dalam tes matematika, sehingga hanya ada dua kemungkinan nilai bagi siswa: Seratus alias sempurna, atau nol alias gagal sama sekali. Maka bagaimana kira-kira hasilnya?
Hal yang sama juga berlaku di saham. Kalau anda membeli sepuluh saham yang berbeda, maka biasanya ada saja satu, dua, atau tiga saham yang ternyata malah turun, but it’s okay. Namun kalau anda hanya membeli satu saham dan ternyata dia turun, maka skor anda adalah nol alias gagal sama sekali.
Teknik Diversifikasi Dengan Hanya Memegang Satu Saham
Sayangnya meski penulis sudah sering membahas soal diversifikasi diatas, namun tetap saja ada banyak investor yang lebih suka hanya memegang satu atau dua saham saja di portofolionya, dan belakangan penulis bisa memahami hal itu. Seorang investor, jika dia tidak full time di saham, maka dia biasanya tidak menempatkan seluruh asetnya di saham, melainkan juga menempatkan sebagian diantaranya di properti, reksadana, dll. Ini berarti ia sejak awal sudah melakukan diversifikasinya sendiri, jadi kenapa juga di saham harus melakukan diversifikasi lagi? Untuk fund manager profesional, apalagi yang mengelola dana besar dan menempatkan investasinya tidak hanya di Indonesia melainkan seluruh dunia, maka dia juga seringkali hanya membeli satu atau dua saham saja di Indonesia, karena ia juga sudah menempatkan investasinya pada saham-saham lain di negara-negara lain, belum termasuk penempatan investasi pada obligasi dan pasar uang.
Jadi pertanyaannya sekarang, kalau saya hanya mau menempatkan investasi pada satu saham saja, maka adakah teknik diversifikasi yang bisa diterapkan? Well, ternyata ada, dan berikut penjelasannya.
Seorang teman pernah bercerita kepada penulis bahwa ia, dalam melakukan investasi atau trading saham, selama bertahun-tahun hanya pernah memegang satu saham saja, yakni Astra International (ASII), dan alasannya adalah ‘Saya nggak mau invest di saham-saham yang gak jelas, jadi mending main ASII saja’. Dan meski ASII sendiri kadang naik banyak dalam tahun tertentu dan kemudian cenderung mendatar atau malah turun di tahun berikutnya, namun teman penulis ini sukses dalam menghasilkan keuntungan sekitar 30 atau bahkan 40% per tahun hanya dengan trading di saham ASII.
Bagaimana caranya? Here we go: Setiap kali ASII turun hingga menembus batas hargatertentu katakanlah 7,000, entah itu karena koreksi IHSG atau karena penyebab lainnya, maka ia akan beli ASII sebanyak sepertiga dari seluruh dana yang dimiliki. Jika ASII turun lebih lanjut hingga mencapai batas harga berikutnya katakanlah 6,500, maka dia akan beli sebanyak sepertiga lagi (average down, sehingga rata-rata harga belinya menjadi 6,750). Setelah itu biasanya ASII akan naik, let say sampai 7,750 – 8,000, dan ketika itulah dia akan melepas semua pegangan untuk meraup keuntungan antara 10 – 15%, sudah termasuk memperhitungkan sisa sepertiga dana yang tidak digunakan.
Selanjutnya tinggal tunggu ASII turun lagi, sambil terus memperhatikan perkembangan laporan keuangan perusahaan (jadi jika kinerja ASII bagus, maka batas-batas harga tadi bisa dinaikkan). Kecuali pada kasus-kasus tertentu dimana IHSG turun secara ekstrim, maka ASII biasanya tidak turun lebih lanjut lagi, sehingga sepertiga dana yang terakhir tidak perlu digunakan. Namun jika IHSG mengalami koreksi besar dan ASII juga turun lebih dalam dari biasanya, katakanlah sampai mencapai 5,000-an, maka barulah sisa dana yang sepertiga tadi bisa digunakan.
So, jika teman penulis tadi bisa trading ASII sebanyak dua atau tiga kali saja dalam setahun, maka keuntungan yang diperoleh adalah antara 20 hingga 40%, tak peduli meski IHSG mengalami koreksi seperti tahun 2013 lalu. Dan bonusnya adalah, dia nggak perlu pusing karena dia hanya harus memperhatikan pergerakan saham serta perkembangan kinerja dari satu perusahaan saja, yakni ASII tadi.
Nah, sudah dapat poinnya? Intinya adalah, kalau anda hanya mau invest/trading pada satu saham saja, maka anda bisa menggunakan trik ini: Bagi dana anda menjadi minimal tiga bagian (atau empat, lima, enam bagian, terserah anda), kemudian belilah saham yang anda incar secara bertahap. Dengan cara ini, maka in case saham anda ternyata malah turun (ingat bahwa kita tidak bisa secara persis memperkirakan bahwa kalau sebuah saham lagi turun, maka penurunannya akan mentok pada level harga berapa), anda bisa beli lagi di harga yang lebih rendah. Jika dia masih turun? Ya beli sekali lagi. Jika dana anda sudah habis, selanjutnya tinggal tunggu saja sampai dia naik sendiri.
However, strategi ini hanya efektif pada saham-saham dengan kinerja fundamental serta reputasi yang sangat baik, dan biasanya merupakan saham-saham blue chip seperti ASII, Bank BRI (BBRI), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Semen Indonesia (SMGR), dan seterusnya. Kecuali perusahaannya diterpa sentimen negatif tertentu atau kinerja perusahaan sedikit kurang bagus dibanding biasanya, maka saham-saham tersebut biasanya hanya akan turun kalau IHSG turun, dan ini berbeda dengan saham-saham kecil yang bisa turun kapan saja, dan turunnya bisa sampai pada level berapa saja.
Selain itu risikonya tetap ada. Kalau anda terjebak dalam situasi dimana anda menempatkan nyaris seluruh dana pada satu saham, tapi kemudian perusahaannya mengalami force majeure seperti kasus GWSA tadi, maka kerugian yang anda derita akan sangat besar. Saham-saham blue chip, meski sangat jarang mengalami force majeure seperti itu, namun mereka bukannya tidak pernah mengalaminya. Pada bulan Januari 2007, saham PGAS pernah ARB 23% hanya dalam satu hari karena keluarnya berita bahwa perusahaan terlambat dalam melakukan komersialisasi dari salah satu jaringan pipa yang dibangun. Beberapa saham blue chip lainnya seperti Berlian Laju Tanker (BLTA) dan Bumi Resources (BUMI), malah mengalami nasib yang lebih buruk dimana sahamnya hancur berantakan tanpa mampu bangkit lagi, setidaknya sampai sekarang.
Tapi yang jelas, risiko dari strategi ‘anti diversifikasi’ ini tetap rendah asalkan anda mainnya di blue chip, dan faktanya strategi ini terbukti cukup berhasil pada beberapa investor tertentu. So, anda mau mencobanya?
Info Bagi Investor: Buletin analisis dan stock-pick saham bulanan edisi April 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Bonus bagi pelanggan baru: Gratis buletin edisi Januari, Februari, dan Maret [...]

Mengenal ‘Fed Rate’, dan Pengaruhnya Terhadap IHSG

Pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2015, chairwoman Federal Reserve, Janet Yellen, menyatakan bahwa The Fed (istilah populer dari Federal Reserve, yang merupakan Bank Sentral Amerika Serikat) tidak akan terburu-buru dalam menaikan suku bunga acuan, atau yang dikenal dengan istilah ‘Fed Rate’. Sesaat setelah pernyataan tersebut dirilis, indeks-indeks saham di  Benua Eropa dan juga Asia rata-rata naik signifikan . Sebelumnya, para pelaku pasar di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, khawatir bahwa jika The Fed menaikkan Fed Rate, maka dana asing yang ada di bursa saham lokal akan keluar dan berpindah ke Negeri Paman Sam. Sebab dengan suku bunga acuan yang lebih tinggi, maka dalam pandangan investor-investor global, investasi di Amerika Serikat (AS) dengan sendirinya menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, sementara disisi lain risikonya tetap dianggap sangat rendah mengingat Amerika adalah negara dengan perekonomian paling besar di dunia.

Dan jika dana asing keluar dari pasar saham Indonesia, maka IHSG juga bisa dipastikan akan tertekan minimal dalam jangka pendek. However, itu belum terjadi, setidaknya untuk saat ini. Namun mungkin yang sekarang menarik untuk dibahas adalah, apa itu Fed Rate? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap IHSG?
Fed Rate, atau suku bunga Federal Reserve, adalah kurang lebih sama dengan BI Rate (penjelasannya baca disini) dimana itu adalah tingkat suku bunga untuk satu tahun yang ditetapkan oleh The Fed sebagai patokan bagi suku bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank dan atau lembaga-lembaga keuangan di seluruh AS. Simpelnya ketika Fed Rate naik, maka bunga pinjaman maupun simpanan di bank dan lembaga keuangan lainnya juga bisa naik. Jika bunga simpanan di bank-bank di Amerika naik, maka itu akan menarik minat investor dari seluruh dunia untuk menempatkan dana mereka dalam bentuk tabungan/deposito di Amerika. Tidak hanya bunga tabungan, ketika Fed Rate naik maka bunga obligasi yang diterbitkan perusahaan-perusahaan di Amerika juga biasanya akan ikut naik. Kalau kita ambil contoh BlackRock, perusahaan asset management terbesar di dunia asal New York, AS, mereka lebih banyak menempatkan portofolionya di instrumen obligasi ketimbang saham (53.3% berbanding 43.5%, sisanya dalam bentuk istrumen pasar uang termasuk deposito). Jadi jika Fed Rate naik maka bisa dipastikan bahwa mereka akan menarik minimal sebagian investasinya dari negara-negara diluar Amerika (termasuk dari Indonesia, jika mereka turut menempatkan sebagian kecil investasinya disini) untuk balik kandang ke negara mereka sendiri.


Logo dari BlackRock, perusahaan asset management terbesar di dunia dengan dana kelolaan lebih dari US$ 4.6 trilyun pada akhir Februari 2015

Nah, sebelum keluarnya pernyataan Janet Yellen pada Kamis lalu, terdapat spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan Fed Rate dalam waktu dekat, dan spekulasi itu timbul hanya karena Fed Rate sudah berada di level yang sangat rendah yakni 0.25% sejak Desember 2008 lalu dan masih belum naik-naik lagi sampai sekarang. Sebelumnya, The Fed sengaja menekan Fed Rate hingga mentok di level 0.25% sejak Desember 2008 lalu karena pada tahun tersebut AS mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah, bahkan sampai negatif.
Karena seperti halnya tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank-bank sentral dari negara-negara lainnya di seluruh dunia, penetapan Fed Rate juga bertujuan untuk menyeimbangkan antara tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi di AS. Simpelnya, ketika Fed Rate diturunkan, maka para bank di Amerika akan ‘dipaksa’ untuk menyalurkan kredit ke masyarakat. Sebab kalau mereka hanya mau main aman dengan menaruh dana di The Fed (risiko kredit macet di The Fed sangat kecil, karena dijamin oleh Pemerintah AS), maka mereka hanya akan menerima bunga yang amat sangat kecil, yakni 0.25% per tahun. Dan ketika para pengusaha/perusahaan menerima kredit/pinjaman dari bank, maka mereka akan menggunakannya untuk mendirikan pabrik dll, yang kemudian menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya menumbuhkan perekonomian secara keseluruhan.
Sebenarnya, ketika Amerika mengalami krisis pada tahun 2008 dan 2009 dimana pertumbuhan ekonominya tercatat negatif, maka seharusnya Fed Rate diturunkan ke level yang lebih rendah lagi. Namun karena Fed Rate tidak bisa ditetapkan pada level 0% apalagi negatif, maka The Fed menggunakan instrumen lain yakni quantitative easing (QE), dimana The Fed itu sendiri yang mencetak uang Dollar baru dan menyalurkannya ke masyarakat, dengan harapan itu akan memudahkan orang-orang untuk melakukan transaksi jual beli, dan pada akhirnya menumbuhkan perekonomian. Penjelasan selengkapnya baca lagi disini.
Disisi lain, ketika para bank jor-joran dalam menyalurkan kreditnya, dan The Fed itu sendiri mencetak banyak uang Dollar baru melalui program QE tadi, maka jumlah uang yang beredar di seluruh penjuru Amerika akan meningkat signifikan sehingga bisa menyebabkan kenaikan inflasi. Karena itulah, ketika Amerika sudah kembali mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif namun disisi lain tingkat inflasi juga turut naik, maka program QE tadi bisa dihentikan (istilahnya tapering, penjelasannya baca disini), dan Fed Rate juga bisa kembali dinaikkan agar tingkat inflasi bisa kembali turun ke level yang aman.
Nah, berdasarkan data terbaru dari US Bureau of Economic Analysis, Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 2.4% secara year on year pada tahun 2014, dan itu sudah jauh lebih baik dibanding puncak krisis global pada awal tahun 2009 lalu, dimana pertumbuhan ekonomi Amerika tercatat minus 4.2%. Namun menariknya, tingkat inflasi juga ternyata masih terjaga di level yang sangat aman, yakni minus 0.1% (year on year, bukan monthly) alias deflasi pada Januari 2015, atau terendah sejak 2009. Berdasarkan fakta inilah, maka pernyataan Ms. Yellen bahwa The Fed tidak akan buru-buru menaikkan Fed Rate menjadi bisa dijelaskan. Karena untuk apa menaikkan Fed Rate kalau data pertumbuhan ekonomi dan inflasi sama-sama menunjukkan angka yang bagus? Ceritanya mungkin baru akan berbeda jika Pemerintah Amerika menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi (karena pertumbuhan 2.4% tadi biar bagaimanapun masih relatif rendah), dimana mereka akan meminta The Fed untuk menaikkan Fed Rate.
Problemnya adalah, karena posisi Fed Rate sudah mentok di level terendahnya yakni 0.25%, maka praktis cuma soal waktu saja sebelum dia akan dinaikkan kembali, dan dia bisa naik sampai level berapa saja. Karena meskipun posisi Fed Rate pada saat ini tampak sangat rendah dibanding dengan rate dari bank-bank sentral di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia, dimana BI Rate-nya mencapai 7.50%), namun dimasa lalu Fed Rate juga pernah ditetapkan pada posisi yang sangat tinggi, termasuk pernah menembus angka 19% pada awal dekade 80-an. Jadi seperti yang sudah penulis sebutkan barusan, ketika nanti Fed Rate pada akhirnya mulai dinaikkan, maka dia bisa terus naik sampai level berapa saja.
Pertanyaannya, ketika Fed Rate nanti benar-benar naik, maka bagaimana dampaknya terhadap IHSG?
Secara teori, seperti yang sudah disebut diatas, ketika Fed Rate dinaikkan maka dana investor yang ditempatkan di negara-negara diluar Amerika, termasuk Indonesia, akan berhamburan keluar menuju New York dan sekitarnya. Dan ketika itu terjadi maka IHSG mestinya bakal turun.
Namun, itu teorinya. Lalu bagaimana dengan prakteknya? Well, mari kita langsung saja melihat datanya. Berikut adalah data Fed Rate sejak 1997 sampai sekarang, plus data net foreign buy di BEI, dan kenaikan/penurunan IHSG dalam satu tahun.
Year
Fed Rate
Net Foreign Buy
JCI Growth
1997
5.50
0.4
(44.3)
1998
4.75
5.1
(0.9)
1999
5.50
12.1
70.1
2000
6.50
0.8
(38.5)
2001
1.75
4.5
(5.8)
2002
1.25
7.9
8.4
2003
1.00
9.9
62.8
2004
2.25
18.8
44.6
2005
4.25
(15.4)
16.2
2006
5.25
17.3
55.3
2007
4.25
32.6
52.1
2008
0.25
18.7
(50.6)
2009
0.25
13.3
87.0
2010
0.25
21.0
46.1
2011
0.25
24.3
3.2
2012
0.25
15.9
12.9
2013
0.25
(20.6)
(1.0)
2014
0.25
42.6
22.3
Catatan:
  1. Fed Rate adalah posisi pada akhir tahun yang bersangkutan, angka dalam persen
  2. Net Foreign Buy (belanja asing bersih) adalah dalam trilyunan Rupiah, sementara JCI Growth (Kenaikan IHSG) adalah dalam persen per tahun.

Perhatikan. Kata kuncinya disini adalah, kalau Fed Rate naik, maka asing seharusnya akan keluar dan IHSG juga turun. Namun apakah benar seperti itu yang terjadi? Here we go: Pada tahun 2000, Fed Rate naik dari 4.75% di dua tahun sebelumnya, menjadi 6.50%. Namun ternyata pada tahun 1999 dan 2000, asing masih mencatatkan net buy di BEI masing-masing Rp12.1 dan 0.8 trilyun. Menarikanya, IHSG bergerak secara bertolak belakang pada dua tahun tersebut, dimana ia naik 70.1% pada 1999, namun anjlok 38.5% pada tahun 2000. Jadi dalam contoh kasus antara tahun 1998 hingga 2000, maka teori bahwa The Fed naik akan menyebabkan asing keluar dan IHSG turun, tidak berlaku.
Kemudian pada tahun 2004, Fed Rate sekali lagi naik dari 1.00 (di tahun 2003) menjadi 2.25%, dan terus naik hingga mencapai 5.25% pada tahun 2006. Namun faktanya antara tahun 2003 hingga 2006, IHSG malah naik terus dengan kenaikan yang sangat signifikan setiap tahunnya (rata-rata lebih dari 40% per tahun), dan asing juga hanya sekali mencatatkan net sell pada tahun 2005. Setelah tahun 2006, Fed Rate terus turun hingga mencapai titik terendahnya yakni 0.25% pada 2008, yang bertahan sampai sekarang. Namun pada tahun 2008, ketika Fed Rate terus turun hingga mencapai 0.25%, IHSG juga malah anjlok sampai lebih dari separuhnya. Dan pada tahun 2013, ketika Fed Rate masih adem ayem di level 0.25%, asing malah tetap saja keluar secara besar-besaran dari BEI, dan ketika itu IHSG turun tipis 1.0%.
Intinya sih, penulis bukannya mengatakan bahwa Fed Rate tidak berpengaruh apa-apa terhadap IHSG. Hanya saja, Fed Rate tersebut hanyalah satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi IHSG. Faktor-faktor lainnya contohnya kenaikan/penurunan BI Rate, inflasi, pertumbuhan ekonomi, kinerja para emiten, fluktuasi nilai tukar Rupiah, valuasi IHSG itu sendiri, kebijakan pemerintah, daaaaan seterusnya, dimana ada beberapa faktor tersebut yang lebih berpengaruh terhadap pergerakan IHSG ketimbang sekedar Fed Rate. At the end, Fed Rate yang kita bahas disini hanyalah faktor yang berasal dari luar, yang tidak berhubungan langsung dengan fundamental perekonomian Indonesia.
Jadi apakah itu artinya jika nanti Fed Rate dinaikkan, maka IHSG tidak akan turun? Ya belum tentu juga. Berdasarkan pengalaman, faktor yang paling berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG adalah valuasi dari IHSG itu sendiri (penjelasannya baca disini). Kebanyakan orang mengatakan bahwa anjloknya IHSG pada tahun 2008 lalu adalah karena imbas dari krisis global, dan itu memang benar. Namun faktor lainnya yang juga harus diperhatikan adalah, pada tahun 2007, setelah dia terus saja naik selama empat tahun berturut-turut, valuasi IHSG sudah amat sangat mahal, dimana rata-rata PER dari seluruh saham di BEI ketika itu sempat menyentuh angka 21 kali, atau jauh diatas level normalnya yakni 12 – 14 kali. Jadi bisa dikatakan bahwa isu krisis global tersebut hanyalah pemicu untuk meledakkan bubble IHSG, yang sejak awal memang sudah siap untuk meletus kapan saja.
Problemnya adalah, ketika artikel ini ditulis, rata-rata PER IHSG tercatat 18.5 kali, atau sudah lumayan mahal meski belum semahal ketika IHSG mencapai level 2,800-an pada tahun 2007, atau ketika IHSG mencapai level 5,250-an pada pertengahan 2013. Intinya sih, untuk saat ini IHSG masih memiliki sedikit ruang untuk naik lebih lanjut, tapi pada akhirnya dia tetap akan turun untuk kembali ke level normalnya, meski kita tentunya tidak akan mengtahui kapan itu akan terjadi. 

Namun jika IHSG masih melanjutkan kenaikannya dalam waktu dekat ini hingga PER-nya menembus 19 kali, misalnya, maka ketika nanti Fed Rate akhirnya dinaikkan, maka itu akan jadi pemicu yang sangat bagus bagi IHSG untuk mengalami koreksi. Dan jika faktor-faktor lainnya turut ‘mendukung’ koreksi tersebut, misalnya jika para emiten mencatatkan kinerja yang tidak terlalu baik di Kuartal I 2015 nanti, maka pasar saham Indonesia tentunya akan memasuki periode bearish-nya kembali dimana itu akan menjadi kesempatan bagi para bargain hunter untuk belanja barang-barang blue chip nan bagus di harga murah, sama seperti beberapa bulan lalu kita belanja UNTR di harga diskon. Kita tunggu!
Info Bagi Investor: Buletin analisis dan stock-pick saham bulanan edisi April 2015 akan terbit tanggal 1 April mendatang Anda bisa memperolehnya disini.

Pelemahan Rupiah, dan Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), pada tanggal 14 Maret 2015, Rupiah ditutup di posisi Rp13,191 per US Dollar, dan ini adalah posisi terendah bagi mata uang Rupiah terhadap US Dollar sejak.. well.. krisis moneter tahun 1998. Jadi meski penulis pribadi dalam satu dua tahun terakhir ini berusaha untuk tutup mata terhadap perkembangan ekonomi makro dan tetap fokus pada faktor fundamental perusahaan dalam berinvestasi di pasar saham, namun hal ini mau tidak mau tetap kelihatan, karena bahkan pada krisis global tahun 2008 sekalipun, posisi nilai tukar Rupiah tidak pernah turun sampai serendah ini. Pada puncak krisis global tahun 2008, Rupiah hanya anjlok sampai Rp12,768 per US Dollar sebagai titik terendahnya, sebelum kemudian segera balik lagi ke level normalnya yakni Rp9,000-an per US Dollar.

Menariknya, kita tahu bahwa pada tahun 1998 dan juga 2008, Indonesia sempat dilanda krisis ekonomi termasuk bursa saham ketika itu juga hancur berantakan. Tapi pada hari ini, meski kondisi Rupiah tampak mengkhawatirkan namun kondisi perekonomian secara umum tampak masih berjalan normal, dan IHSG juga justru malah sukses break new high dalam beberapa bulan terakhir. So, anda mungkin bertanya, sebenarnya Indonesia sedang dalam kondisi krisis, baik-baik saja, apa gimana?
Nah, terkait hal ini, penulis hendak mengajak anda untuk flashback  ke tahun 2013 lalu, tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2013, dimana Pemerintah Indonesia ketika itu meluncurkan paket kebijakan ‘penyelamatan ekonomi’, terutama untuk mengatasi gejolak pelemahan Rupiah yang ketika itu sudah menembus Rp11,000 per USD. Sedikit mengingatkan, kondisi pasar saham ketika itu berbanding terbalik dengan saat ini dimana IHSG terpuruk di level 4,200-an, atau anjlok lebih dari 1,000 poin dibanding posisi puncaknya pada bulan Mei di tahun yang sama. Jadi boleh dibilang bahwa ‘problem’ yang dihadapi Pemerintah ketika itu ada dua, yakni pelemahan Rupiah itu sendiri (yang dikeluhkan para pelaku usaha riil), dan juga pelemahan IHSG (yang dikeluhkan para investor dan pelaku pasar modal lainnya). Dan mungkin itu sebabnya Presiden SBY ketika itu gerak cepat dengan meluncurkan paket kebijakan tadi, karena beliau dihadapkan pada tekanan baik dari para pengusaha maupun investor di pasar modal.
However, seperti yang dulu sudah pernah kita bahas disini, problem yang sesungguhnya yang dihadapi Indonesia ketika itu (tahun 2013) adalah1. Perlambatan pertumbuhan ekonomi, akibat 2. Defisitnya neraca ekspor impor, yang disebabkan oleh 3. Meningkatnya nilai impor peralatan dan mesin-mesin industri karena pertumbuhan industri manufaktur di dalam negeri, dan 4. Turunnya nilai ekspor karena turunnya harga batubara, CPO, serta karet, yang merupakan tiga komoditas utama ekspor Indonesia. Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tercatat hanya 5.8%, alias turun signifikan dibanding puncaknya yakni 6.9% pada tahun 2011. Jadi ketika Rupiah melemah sampai menembus Rp11,000 per Dollar, maka itu adalah refleksi dari perlambatan pertumbuhan ekonomi tadi, dimana jika fundamental perekonomian Indonesia melemah, maka Rupiah sebagai ‘saham Indonesia’ juga akan turut melemah.

Biji kelapa sawit dan batubara, dua komoditas utama ekspor Indonesia

Dan ketika Pemerintah meluncurkan paket kebijakan penyelamatan ekonomi, maka harapannya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali meningkat, dan alhasil nilai tukar Rupiah akan menguat dengan sendirinya. Berikut adalah empat poin utama dari paket kebijakan ala Presiden SBY pada tahun 2013 lalu:
  1. Pemberlakuan potongan/pengurangan pajak bagi industri padat karya yang mampu mengekspor minimal 30% produksinya
  2. Ekspor bijih mineral, yang sebelumnya dilarang sama sekali, sekarang dibolehkan asalkan pihak perusahaan memenuhi syarat-syarat tertentu.
  3. Meningkatkan porsi penggunaan campuran biodiesel dalam solar, sehingga diharapkan akan menekan impor bahan bakar minyak jenis solar, dan
  4. Menaikkan pajak untuk impor barang mewah, dari tadinya 75% menjadi maksimal 150%.
Berdasarkan keempat poin diatas, maka jelas sekali bahwa tujuan Pemerintah ketika itu adalah untuk meningkatkan ekspor (poin 1 dan 2), sembari diwaktu yang bersamaan menekan impor (poin 3 dan 4), sehingga defisit perdagangan yang ketika itu terjadi diharapkan tidak akan terjadi lagi. However, paket kebijakan diatas masih menyentuh akar permasalahan dari defisit tersebut, yakni penurunan harga komoditas CPO dan batubara yang merupakan andalan ekspor Indonesia, dan peningkatan impor peralatan dan mesin-mesin industri. Dan sayangnya bahkan sampai hari ini harga CPO dan batubara masih belum pulih kembali. Alhasil, berdasarkan data ekspor impor terakhir dari BPS, sepanjang tahun 2014 Indonesia masih mengalami defisit neraca ekspor impor sebesar US$ 1.9 milyar. Kabar buruknya, angka pertumbuhan ekonomi juga terus turun hingga sekarang tinggal 5.0% pada Kuartal III 2014, dimana jika trend-nya begini terus, maka pada Kuartal berikutnya angka pertumbuhan ekonomi tersebut kemungkinan bakal turun lagi.
Jadi ketika Rupiah sekarang sudah menembus Rp13,000 per USD, maka sebenarnya kurang tepat jika dikatakan bahwa, ‘Rupiah melemah karena seluruh mata uang di negara manapun juga sedang melemah terhadap US Dollar’, karena faktanya perekonomian kita memang lagi ada problem, dimana problem ini bukan terjadi baru-baru ini saja, melainkan sudah terjadi sejak dua atau tiga tahun yang lalu. Kalau dikatakan bahwa kita sedang krisis ekonomi sih mungkin agak berlebihan, tapi jika kondisi ini dibiarkan maka bukan tidak mungkin jika krisis itu pada akhirnya akan benar-benar terjadi.
Problemnya adalah, terkait ‘akar permasalahan’ tadi, Pemerintah tentunya tidak bisa mengendalikan harga komoditas di pasar internasional, dan Pemerintah juga tidak bisa begitu saja menghentikan impor mesin-mesin industri, karena itu akan mematikan industri itu sendiri (sehingga dalam hal ini kita juga tidak bisa menyalahkan Pemerintah pada tahun 2013 lalu hanya karena kebijakannya tidak ‘menyentuh akar permasalahan’, karena mungkin memang hanya itu yang bisa dilakukan). Jadi pertanyaannya sekarang, mampukah Pemerintah kali ini untuk mengeluarkan kebijakan yang, meski mungkin juga tidak bisa secara langsung menyentuh akar permasalahan, namun paling tidak bisa lebih efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan juga bisa dengan cepat diimplementasikan? Contohnyaaa:
  1. Ekspor terbesar Indonesia setelah migas, CPO, dan batubara, adalah ekspor alat-alat listrik, karet, dan mesin-mesin mekanik. Jadi Pemerintah mungkin bisa memberikan insentif tertentu pada perusahaan-perusahaan alat-alat listrik dan mesin mekanik, agar mereka bisa meningkatkan nilai ekspor.
  2. Ekspor terbesar Indonesia hingga saat ini adalah migas, entah itu berbentuk minyak mentah, gas, ataupun minyak olahan. However, nilai ekspor migas ini cenderung turun dari tahun ke tahun, dari US$ 41.5 milyar pada tahun 2011, menjadi hanya US$ 30.3 milyar pada 2014 (dan penyebabnya bukan karena semata penurunan harga minyak dunia, mengingat rata-rata harga minyak pada tahun 2011 tercatat US$ 104 per barel, atau hanya sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata tahun 2014 yakni US$ 96 per barel). Jadi dalam hal ini Pemerintah melalui kementerian dan badan-badan terkait mungkin bisa mendorong perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di tanah air, baik asing maupun lokal, untuk meningkatkan produksinya.
  3. Impor terbesar Indonesia juga terletak di migas. Dan sayangnya meski nilai ekspor migas terus turun dalam tiga tahun terakhir, namun nilai impor migas malah naik terus. Jadi meski solusi yang ini sulit untuk bisa direalisasikan dalam waktu dekat, namun Pemerintah harus segera merencanakan pembangunan kilang-kilang pengolahan minyak di dalam negeri, agar kita tidak harus impor bensin dan solar lagi, atau minimal dikurangi lah.
  4. Memberikan insentif bagi perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit agar mereka mau mengembangkan industri hilir CPO, termasuk mengembangkan biodiesel, agar Indonesia bisa mengekspor produk hilir CPO yang memiliki nilai tambah, dan juga mengurangi impor solar (sebenarnya ini juga baru akan terasa manfaatnya dalam jangka panjang. Tapi kalau implementasinya gak dimulai dari sekarang, maka mau nunggu sampai kapan?)
  5. Diluar masalah defisit neraca perdagangan, ingat pula bahwa pertumbuhan ekonomi tidak semata didorong oleh meningkatnya ekspor dan menurunnya impor, melainkan juga didorong oleh meningkatnya 1. Belanja pemerintah, 2. Konsumsi, dan 3. Investasi. Well, pemerintah tentunya punya banyak opsi untuk meningkatkan ketiga hal tersebut, tinggal pilih yang mana yang bisa diimplementasikan dalam waktu dekat.
Daaaan seterusnya.. Kebetulan, setelah memperoleh tekanan dari publik terkait melemahnya Rupiah, dalam waktu dekat ini Presiden Jokowi juga kemungkinan akan mengumumkan paket kebijakan penyelamatan ekonomi. Kita lihat nanti, seperti apa paket kebijakannya.
Lalu bagaimana dengan IHSG? Apakah ini artinya IHSG juga bakal anjlok, mengingat seperti yang sudah dibahas diatas, perekonomian kita memang tidak bisa dikatakan baik-baik saja? Dan jika IHSG nanti beneran anjlok, maka dia akan turun sampai berapa? (ini pertanyaan yang sering sekali diajukan). Well, seperti yang pernah dikatakan seorang teman, the future is not ours to see. IHSG bisa naik dan turun kapan saja, dan kalau dia turun maka penurunannya juga bisa sampai berapa saja. Namun yang bisa penulis sampaikan untuk saat ini adalah bahwa kinerja para emiten di BEI sejauh ini masih cukup bagus, dan valuasi IHSG masih belum terlalu mahal (masih lebih rendah dibanding ketika IHSG mencapai posisi 5,250 pada bulan Mei 2013 lalu), meski juga sudah tidak bisa dikatakan murah lagi. Jadi kalau asing masih terus masuk seperti sebulanan terakhir, maka IHSG juga masih bisa naik karena dari sisi valuasi IHSG masih memiliki ruang untuk naik lebih lanjut, selain karena masih ada sentimen positif dari keluarnya laporan keuangan perusahaan serta pembagian dividen dalam waktu satu dua bulanan kedepan.
Intinya sih, meski dalam jangka waktu yang lebih panjang penulis melihat bahwa IHSG pada akhirnya nanti akan turun untuk menyesuaikan dengan fundamental ekonomi nasional, namun untuk saat ini IHSG masih punya cukup banyak alasan untuk paling tidak bertahan di posisinya saat ini. Benar atau tidak, kita lihat [...]

Join Our Team

Teguh Hidayat & Partners opens an opportunity for capital market professionals to occupy a position as a Junior and Senior Partner.
Jobdesks:
  1. Build Analysis,
  2. Provide Advice, Consulting, and Training
  3. Managing Private Investment for High Net Worth Clients (for Senior Partner only).

Requirements for Junior Partner:
  1. Male/Female, minimum bachelor degree from Department of Economics/Investment/Finance from reputable university, a minimum of 1 year experience in the field of capital markets.
  2. Have a broad knowledge of fundamental analysis, especially value investing.
  3. Holding WPPE, or other capital market certificates
  4. Good looking, able to speak in front of people
  5. Have a calmness and patience, with proven examples (that you are the type of person who is calm and cannot be easily panic)
  6. Domicile in Jakarta and surrounding areas
Requirements for Senior Partner: Meet the six requirements above, plus
  1. Holding WMI, CFA is preferrable
  2. Minimum of five years experience in capital markets, preferably as investor/fund manager with a proven track record of investment.
Note: In this job you may meet a lot of people (investors, brokers, fund managers, etc), and also travelling throughout Indonesia. Our office is in Citylofts Sudirman, Central Jakarta.

Send 1. Your CV, 2. Your latest photo, and 3. An essay describing yourself (that you met the requirements), to teguh.idx@gmail.com, (subject: Join the team, att: Teguh Hidayat) no later than April 5, [...]

Show Me the Money!

Beberapa waktu lalu penulis ketemu dengan seorang kawan lama (kami rutin ketemu setiap 2 – 3 bulan sekali sambil makan-makan untuk cerita ini dan itu, sekedar ngisi waktu lah), dan seperti biasa kita ngobrol panjang lebar tentang investasi saham dan lain-lain. Kebetulan, kawan penulis ini beberapa hari sebelumnya baru saja ketemu dengan salah seorang tokoh paling hot di Jakarta: Bapak Gubernur Ahok. Jadi ceritanya salah seorang anggota keluarga dari teman penulis ini meninggal dunia, dan Pak Ahok menyempatkan diri datang untuk melayat. Dalam forum tersebut Pak Ahok banyak cerita panjang lebar ngalor ngidul, dan kesan yang diperoleh adalah: Pak Ahok ini, tidak seperti birokrat pada umumnya yang cenderung kaku, beliau orangnya asyik! Sebelumnya, teman penulis ini sama sekali gak pernah memperhatikan soal Pak Ahok ini bagaimana, namun setelah pertemuan tersebut, ia secara gamblang mengatakan bahwa ia menyukai sang Bapak Gubernur.

Nah, karena kebetulan belakangan ini Pak Ahok juga sedang menjadi trending topic di jagat media, maka penulis dan kawan penulis tersebut kemudian mulai berdiskusi soal peselisihan antara Ahok dan para anggota DPRD Jakarta terkait adanya dana ‘siluman’ senilai Rp12 trilyun sekian dalam APBD DKI Jakarta, hanya untuk sampai pada kesimpulan bahwa.. kami nggak mengerti apapun tentang itu karena memang nggak ngikutin beritanya. Contohnya, ketika kami diskusi soal anggaran penyediaan UPS yang katanya mencapai Rp5 milyar per unitnya.. kami bahkan nggak tahu, apa itu UPS? United Parcel Service?
However, ketika teman penulis ini bertanya kepada penulis, gimana pendapat Pak Teguh tentang Ahok? Maka penulis menjawab begini: Urusan APBD dan tetek bengeknya, atau soal apakah Ahok atau Haji Lulung cs yang bersalah dalam kejadian ini, saya nggak mengerti soal itu sama sekali, dan terus terang saya nggak peduli juga.
Tapi sebagai salah satu dari sekian juta warga Jakarta, maka saya cuma peduli satu hal yakni: Penataan kota yang teratur, dan penyediaan fasilitas-fasilitas umum yang layak.
Dan sejak Kota Jakarta tercinta ini dipimpin oleh Jokowi dan Ahok sejak tahun 2012 lalu, maka perubahan itu memang nyata adanya. Saya pindah ke Jakarta sejak tahun 2008, ketika Jakarta masih dipegang Pak Fauzi Bowo. Dan kesan yang penulis peroleh selama tinggal di Jakarta antara tahun 2008 hingga 2012 adalah: Kalau bukan karena masalah kerjaan, mending gua pindah lagi ke Bandung!
Namun sejak Jokowi – Ahok mengambil alih posisi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta pada akhir tahun 2012, maka berbagai perubahan seketika melanda Kota Jakarta, dan itu bisa langsung dilihat atau dirasakan oleh penulis sendiri sebagai warga Jakarta, dalam hal ini Jakarta Selatan, tanpa perlu ‘konsultasi’ dulu dengan MetroTV atau TvOne, diantaranya:
  1. Pada tahun 2013, ketika terjadi banjir besar, kawasan Jalan TB Simatupang termasuk yang terendam parah sekali. Tak lama kemudian sungai di dekat kawasan yang tadinya banjir langsung dikeruk, jalan ditinggikan, dan dibangun taman terbuka serta danau buatan untuk menyerap air jika terjadi hujan deras. Hasilnya, pada tahun ini kawasan TB Simatupang tersebut tidak lagi terjadi banjir.
  2. Sejak dulu, bepergian di Jakarta selalu merupakan mimpi buruk, dimana kalau nggak terjebak macet di mobil pribadi, maka terjebak nunggu busway lamaaaaa banget. However, sejak tahun 2012, Pemprov DKI menyediakan Kopaja AC, jumlah busway diperbanyak, sehingga kini bepergian menggunakan angkutan umum menjadi jauh lebih nyaman dibanding sebelumnya. Salah satu kepuasan pribadi yang sering penulis rasakan adalah ketika saya duduk santai didalam busway yang adem dan melaju kencang, sementara masih di ruas jalan yang sama, saya bisa melihat mobil-mobil pribadi sedang terjebak kemacetan yang parah.
  3. Di dekat rumah dibangun fasilitas fitness outdoor, gratis! Pemprov juga banyak membangun taman-taman terbuka hijau dimana orang-orang bisa jogging dan menghirup udara segar dari pohon-pohon yang sengaja ditanam.
  4. Pedagang kaki lima, yang selama ini sering memenuhi badan jalan sehingga menyebabkan kemacetan, ditertibkan. Pasar-pasar tradisional dibangun dan dirapihkan sehingga kalau mau belanja disana juga cukup nyaman.
  5. Jalan-jalan kalau ada yang berlubang langsung ditambal, lampu penerangan kalau ada yang mati langsung diganti, trotoar kalau rusak langsung diperbaiki, daaaan seterusnya. Dan meski relatif masih sumpek karena padatnya penduduk, namun dalam hal penataan kota Jakarta mulai mirip dengan Jogja, dan itu sebabnya penulis betah tinggal disini.
Nah, kalau anda berada dalam posisi penulis, maka coba katakan: Bagaimana caranya agar saya nggak suka sama Ahok? Sebagai warga Jakarta, kami menyukai Ahok bukan karena dia anti korupsi atau semacamnya (karena kami juga nggak ngerti soal itu), tapi karena dia memiliki karya yang nyata! Sudah tentu, seorang Ahok juga perlu waktu untuk membenahi Jakarta secara keseluruhan, sehingga pada saat ini pasti masih ada saja warga Jakarta yang belum suka dengan Ahok karena belum merasakan perubahan tersebut (termasuk kemarin Jakarta masih sempat kena banjir besar, meski cuma sehari). However, kalau Ahok tetap terus bekerja seperti sekarang, maka penulis kira ketika pada akhirnya beliau tidak lagi menjadi Gubernur, seluruh warga Jakarta akan tetap mengenangnya sebagai seorang tokoh yang meninggalkan banyak legacy yang bermanfaat bagi orang banyak.
Lalu bagaimana dengan pembawaan Ahok yang suka ngomong kasar dan cenderung tidak beretika? (penulis sudah menonton videonya, emang Ahok keterlaluan juga sih, sama orang tua ngomongnya nunjuk-nunjuk gitu). Well, it’s another thing, dimana beberapa orang mungkin tidak menyukai sang Bapak Gubernur karena style-nya tersebut, dan menurut penulis sendiri Ahok memang layak dikritik untuk itu. Namun sebagai warga Jakarta, penulis akan lebih suka mengkritisi Ahok kalau memang dia kerjanya nggak bener dan, katakanlah, membuat Jakarta menjadi semrawut seperti Bekasi. But so far, seperti yang sudah disebut diatas, Jakarta sudah jauh lebih nyaman dibanding sebelum tahun 2012 dulu.
(Dan terus terang, kalau soal kerja nyata ini, penulis juga mulai nggak suka dengan Jokowi dimana meski beliau sangat sukses di Jakarta, namun Pak Dhe sejauh ini belum berhasil mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok ataupun ‘do someting’ untuk menahan laju pelemahan Rupiah.. tapi kita lihat nanti kelanjutannya bagaimana).
Okay, lalu apa hubungan antara Ahok ini dengan saham?
Ketika sekarang lagi ramai soal perseteruan antara Ahok vs DPRD, maka perseteruan tersebut kemudian mulai menarik banyak analisis dan opini dari para ‘pengamat’, entah itu ditelevisi ataupun media sosial, terkadang pula dengan analisa yang ‘canggih-canggih’ yang bikin bingung orang awam (termasuk soal spesifikasi UPS tadi, dan juga penjelasan soal kenapa kok harganya bisa sampe Rp5 milyar per unit, kalau pengamatnya kebetulan pro DPRD). Meski mayoritas masyarakat mendukung Ahok dalam  perseteruan ini, tapi tidak sedikit juga yang menyalahkan Ahok (meski juga tidak mendukung DPRD) dengan berbagai argumentasinya. Tidak sedikit pula mereka yang menganggap bahwa posisi Ahok adalah salah dalam kasus ini, menilai Ahok sebagai Gubernur paling buruk dalam sejarah DKI Jakarta, dan kemudian sepenuhnya mengabaikan prestasi-prestasi Ahok dalam membenahi Jakarta selama ini.
Tapi kalau anda bertanya kepada warga Jakarta yang awam soal politik anggaran, peraturan tentang cara pengajuan APBD bla bla bla.. maka kira-kira apa pendapat kami soal Ahok? Well, anda sudah tau jawabannya. In fact, kami tidak peduli soal apapun kecuali berharap bahwa Jakarta bisa menjadi kota yang lebih nyaman untuk ditinggali, dan Bapak Gubernur sejauh ini mampu memenuhi harapan kami tersebut.
Nah, cara pandang ala ‘orang awam’ itu juga berlaku untuk investasi di saham. Beberapa waktu lalu penulis ketemu dan berdiskusi dengan seorang teman yang kebetulan seorang pengusaha di bidang tambang batubara. Dan ketika diskusi mengerucut pada pertanyaan: Kira-kira saham batubara apa yang paling menarik untuk investasi jangka panjang? Maka menurut teman penulis jawabannya adalah.. Bumi Resources! Alias BUMI. Kenapa demikian? Ya simpel saja: BUMI adalah perusahaan batubara terbesar di Indonesia pada saat ini, dengan volume produksi lebih dari 100 juta ton per tahun, dan cadangan batubara terbukti yang kini mencapai.. 2.9 milyar ton! Saking besarnya BUMI ini, bahkan kalau perusahaan batubara terbesar kedua dan ketiga di Indonesia, yakni Adaro Energy (ADRO) dan Bukit Asam(PTBA), di-merger, maka gabungan volume produksi serta cadangan batubaranya tetap jauh lebih kecil dibanding BUMI.
Tapi kalau memang BUMI sebagus itu maka kenapa sahamnya justru terpuruk sangat dalam? Penulis jawab, ya karena laporan keuangan BUMI jelek nggak ketulungan, ekuitasnya aja minus begitu.. Teman penulis bertanya lagi, tapi kan kalau melihat fakta soal volume produksi dan cadangan batubara diatas, maka BUMI ini justru bagus banget! Jadi para investor di pasar modal ini nggak ngerti bisnis batubara apa gimana? Penulis tersenyum: Justru karena kita nggak benar-benar mengerti bisnis batubara pak, makanya kita hanya melihat laporan keuangan perusahaan. Kami tidak bisa benar-benar mengerti sektor batubara ataupun sektor-sektor lainnya, karena kita kan gak cuma invest di satu saham atau satu sektor saja. Jadi bagi para investor, mau dia investor retail atau institusi dengan dana trilyunan, prinsip kami sederhana saja: ‘Show me the money!’. Kami tidak mau pusing soal hal-hal detail dan teknis seperti volume produksi bla bla bla.. yang penting perusahaan untung, itu saja! Sekarang ambil contoh, itu Garuda Indonesia (GIAA) kurang bagus apa coba? Pesawatnya jarang delay, kualitas pelayanan nomor satu, dan penumpangnya juga sepertinya penuh terus.
Tapi kalau laporan keuangan Garuda ini masih rugi, maka ya ngapain saya beli sahamnya??? Dan itu sebabnya GIAA ini, meski sudah bertahun-tahun, tapi dia disitu-situ aja bukan?
Sebaliknya, PTBA, meski dari sisi volume produksi dia lebih kecil dibanding ADRO ataupun BUMI, namun harga sahamnya tetap tinggi karena sampai saat ini perusahaan tetap menghasilkan laba yang besar, dan bukannya malah menderita kerugian. Terlepas dari fakta bahwa dia adalah perusahaan batubara terbesar di Indonesia, namun BUMI hanya akan naik signifikan suatu hari nanti kalau laporan keuangannya lebih baik, misalnya menghasilkan profit yang besar, dan ekuitasnya juga tidak minus lagi. Kalau kita ambil contoh dua perusahaan batubara yakni Garda Tujuh Buana (GTBO) dan Resource Alam Indonesia (KKGI), saham keduanya juga terbang tinggi pada tahun 2011 lalu ketika perusahaan mencatatkan profit yang luar biasa besar di laporan keuangannya, padahal cadangan batubaranya sama sekali gak seberapa. Tapi karena di tahun-tahun selanjutnya mereka gagal untuk kembali mencetak laba yang besar, maka anda bisa lihat sendiri kan, bagaimana sahamnya sekarang?

Logo PT Bukit Asam, perusahaan batubara dengan kinerja keuangan terbaik di tahun 2014

Jadi seperti kasus Ahok diatas dimana kita nggak mau pusing APBD dan segala tetek bengeknya, dalam berinvestasi kami juga tidak mau pusing soal detail operasional perusahaan kecuali sebatas yang perlu kami ketahui saja. Dan kalau sama Pak Ahok kita bisa bilang, ‘just show me the works!’, maka kepada perusahaan-perusahaan kita juga bisa bilang, ‘just show me the money!’. Sebagai warga Jakarta, apa lagi yang kita pedulikan selain kota yang lebih nyaman untuk ditinggali? Sama halnya dengan investor: Apa lagi yang kita pedulikan selain duit dan profit? Soal bagaimana cara perusahaan dalam meraup keuntungan, itu urusan para direktur dan komisaris sebagai pengelola perusahaan, dan bukan lagi urusan kami sebagai pemegang saham. Jika pengelola perusahaan gagal dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan, apapun alasannya, maka kami tetap tidak akan membeli sahamnya. Sebaliknya, ketika manajemen bicara soal prospeknya yang cerah, laba perusahaan akan naik dst, maka sahamnya pun sesaat mungkin akan turut naik. Tapi kalau kenyataan dilaporan keuangan tetap saja menunjukkan bahwa perusahaan gagal menghasilkan laba yang besar, maka pada akhirnya sahamnya tetap akan turun kembali.
Nah, jadi mulai sekarang, anda juga bisa menerapkan judul artikel diatas dalam kegiatan investasi anda sehari-hari: ‘Show me the money!’ Hati-hati dengan perusahaan yang banyak bicara soal prospek ini dan itu tapi hasilnya nol besar. Hati-hati juga dengan perusahaan yang meski labanya tampak besar, tapi itu ternyata karena penjualan aset atau semacamnya. Sudah tentu, ini bukan berarti anda boleh mengabaikan soal teknis operasional perusahaan sama sekali, hanya saja jangan tempatkan hal tersebut diatas sesuatu yang biar bagaimanapun lebih penting, yakni: Net profit for the company, for us as shareholders.
Info bagi Investor: Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal IV 2014 (sudah terbit dan sudah bisa dipesan). Anda bisa memperolehnya 

Bank BTN, an Opportunity for Short-Term Play

Bank BTN (BBTN) mencatatkan kinerja yang kurang bagus sepanjang tahun 2014 dimana labanya turun dari Rp1.6 trilyun di tahun 2013, menjadi hanya Rp1.1 trilyun pada tahun 2014, atau turun 28.6%. Meski tampak mengecewakan, namun faktanya ini adalah kali pertama dalam delapan tahun terakhir dimana perusahaan mencatat laba bersih yang turun dibanding tahun sebelumnya (pada tahun 2006 laba BBTN turun dibanding tahun 2005, namun itu karena pada tahun 2005 perusahaan tidak melakukan penyisihan untuk pembayaran pajak, sehingga labanya tampak sangat besar). Sementara antara 2006 hingga 2013, laba BBTN terus naik secara konsisten, demikian juga dengan ekuitasnya.

Jadi dalam hal ini penulis bisa katakan bahwa meski sejak awal BBTN bukanlah perusahaan yang sangat menguntungkan (dalam lima tahun terakhir, ROE BBTN hanya berada di level 15 – 18%, dimana meski angka segitu sejatinya lumayan baik, namun terbilang rendah dibanding tiga bank BUMN lainnya), namun ia bukanlah perusahaan yang jelek juga. Pada situasi saat ini, kita bisa menyebut BBTN sebagai ‘perusahaan bagus yang kinerjanya sedang jelek’. Sekedar catatan, Warren Buffett lebih menyukai perusahaan yang seperti BBTN ini ketimbang perusahaan yang kinerjanya selama ini jelek tapi tiba-tiba saja jadi bagus.

Kabar baiknya, harga saham BBTN di pasar sejak awal sudah mencerminkan kinerjanya yang turun tersebut. Ketika artikel ini ditulis, BBTN diperdagangkan di level Rp1,070 per saham, atau terbilang rendah dibanding rata-rata harganya selama setahun terakhir yakni 1,200-an. Disisi lain, dengan PER 10.1 kali dan PBV 0.9 kali, maka praktis dari sisi valuasi, BBTN pada harganya saat ini ini lebih menarik dibanding tiga saudaranya sesama bank BUMN. Selengkapnya bisa dilihat pada tabel berikut:
Stocks
Price (Rp per Share)
PER (x)
PBV (x)
ROE (%)
Mkt Cap (US$ Million)
Bank BRI
12,875
13.1
3.3
24.8
26,468
Bank Mandiri
12,000
14.1
2.7
19.4
23,333
Bank BNI
6,875
11.9
2.2
18.3
10,684
Bank BTN
1,070
10.1
0.9
9.1
942
Catatan:
1.      Market cap adalah berdasarkan asumsi kurs Rp12,000 per USD
2.      ROE dihitung berdasarkan nilai laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan kepada entitas induk, dibagi nilai ekuitas bersih perusahaan pada akhir tahun 2014. Angka yang ditampilkan pada tabel diatas mungkin lebih rendah dibanding angka ROE yang disajikan pada laporan keuangan perusahaan versi iklan koran.
Nah, kalau anda lihat lagi tabel diatas, maka tampak bahwa return BBTN tercatat hanya sepertiga return Bank BRI (BBRI), padahal nilai total aset BBTN tidak sampai seperlima aset BBRI (semakin besar nilai aset perusahaan, semakin sulit bagi perusahaan tersebut untuk mencatatkan return yang tinggi setiap tahunnya), dan itu membuat kinerja BBTN tampak lebih buruk lagi, sekaligus menjelaskan kenapa sahamnya gak kemana-mana ketika tiga saudaranya terus berlari kencang selama setahun terakhir.
However, jangan lupakan pula bahwa return BBTN yang hanya 9.1% diatas (atau 10.7%, kalau kita pakai ROE yang disajikan di laporan keuangan perusahaan), itu lebih rendah dibanding rata-rata return BBTN selama ini, yakni 15 – 18%. Jadi tahun 2014 kemarin benar-benar merupakan pengecualian. Make a guess, jika pada Kuartal I 2015 nanti perusahaan kembali bangkit dan mencatatkan annualized return seperti yang biasanya, maka bagaimana dampaknya terhadap sahamnya? Ya sudah tentu bakal naik lagi. Disisi lain, karena sejak awal valuasinya sudah sangat rendah, maka bahkan kalaupun pada tahun 2015 ini perusahaan kembali mencatatkan kinerja yang sama seperti 2014 lalu, maka sahamnya tetap tidak akan turun lebih rendah lagi.
Yang mungkin masih mengganjal disini adalah, apa yang menyebabkan laba BBTN turun di tahun 2014 lalu? Tidak ada jawaban pasti soal ini. Namun mengingat BBTN tidak sendirian dalam hal mencatatkan penurunan laba (beberapa bank kelas menengah seperti Bank Danamon, Bank CIMB Niaga, dan Bank BJB, juga mengalami penurunan laba pada tahun 2014), maka penyebabnya kemungkinan karena sektor perbankan secara umum mengalami pengetatan likuiditas, yakni karena kenaikan BI Rate yang disusul oleh kenaikan suku bunga pinjaman dan deposito (sehingga bank-bank mengalami kesulitan dalam menyalurkan kredit, sementara disisi lain mereka harus membayar bunga yang lebih tinggi kepada para deposan). Sebagaimana yang kita ketahui, antara tahun 2009 hingga 2013, sektor perbankan di Indonesia mengalami masa-masa keemasan dimana BI Rate terus turun dari 9.25% pada akhir tahun 2008, hingga mencapai titik terendahnya yakni 5.75% pada tahun 2012 hingga pertengahan 2013. Dan pada masa-masa itu para bank bisa dengan mudah menyalurkan kreditnya, termasuk kredit KPR yang merupakan spesialisasi BBTN.
Namun memasuki bulan Mei 2013, BI Rate mulai merangkak naik kembali hingga sempat menyentuh 7.75% pada Januari 2015 kemarin (sebelum kemudian mulai sedikit turun ke posisi 7.50% seperti sekarang). Pihak Bank Indonesia (BI) bahkan juga memberikan arahan kepada bank-bank untuk menurunkan pertumbuhan penyaluran kredit menjadi 15 – 17% saja pada tahun 2014 kemarin, dan inilah masalahnya: Berbeda dengan tiga saudaranya yakni BBRI, Bank BNI (BBNI), dan Bank Mandiri (BMRI) yang memiliki beberapa sumber income diluar penyaluran kredit, seperti berbagai macam fee based income hingga asuransi, dan selain karena penyaluran kredit itu sendiri bisa menyasar ke berbagai segmen seperti kredit konsumer, kredit korporasi, kredit mikro, dan juga kredit KPR, maka BBTN sepertinya hanya bisa mengandalkan pendapatan dari penyaluran kredit KPR dan unit syariah-nya saja. BBTN bukannya nggak punya sumber income diluar penyaluran kredit KPR dan properti, salah satunya dari layanan priority banking yang dibentuk sejak tahun 2010, namun kontribusinya masih sangat kecil.
Dan hasilnya, pendapatan BBTN memang hanya tumbuh 18.8% sepanjang 2014, atau jauh lebih rendah dibanding BBRI, BBNI, dan BMRI, yang pendapatan mereka rata-rata sukses naik 25%. Karena disisi lain beban operasional perusahaan naik lebih tinggi, termasuk karena adanya penyisihan atas penurunan nilai aset senilai Rp771 milyar (angka ini terbilang sangat besar mengingat laba BBTN hanya Rp1.1 trilyun), maka jadilah laba BBTN menjadi tertekan lumayan dalam. Terkait penyisihan tadi, maka barulah dalam hal ini kita bisa menganggap bahwa manajemen BBTN memang kurang kompeten dalam hal menjaga kualitas penyaluran kreditnya, dimana rasio kredit macet (NPL Net) BBTN tercatat sangat tinggi yakni 2.8% (sementara pada BBNI, BBRI, dan BMRI, NPL net mereka hanya 0.3 – 0.4%). Simpelnya, seseorang yang mengambil pinjaman ke Bank BTN memiliki kemungkinan hingga tujuh kali lebih besar untuk mengalami gagal bayar, ketimbang orang lainnya yang mengambil pinjaman ke Bank BRI. Dan dalam hal ini penulis jadi bingung: Bukannya kredit KPR itu jelas-jelas dijamin oleh rumah itu sendiri? Lalu kenapa rasio kredit macetnya bisa sampai sebesar itu? Fakta menyebalkannya adalah, masalah kredit macet ini sudah terjadi sejak lama dan sampai sekarang belum ada perbaikan, dimana antara tahun 2009 hingga 2014, NPL Net BBTN selalu tercatat antara 2.2 – 3.0%. Dan mungkin ini juga yang menjelaskan kenapa return BBTN terbilang rendah dibanding tiga saudaranya sesama bank-bank BUMN.
Karena nilai pendapatan BBTN sejauh ini hanya bergantungm pada penyaluran kredit KPR tanpa adanya alternative income, maka bisa dikatakan bahwa kinerja BBTN kedepannya akan sangat tergantung dari kebijakan BI dalam menentukan BI Rate. Kabar baiknya, kita tahu bahwa belakangan ini BI Rate mulai turun kembali. Jadi meski mungkin agak sulit untuk mengharapkan bahwa BBTN bisa menghasilkan ROE diatas 20% karena ketergantungan perusahaan pada kredit KPR dan masalah kredit macetnya tadi, namun kalau untuk balik lagi ke level normalnya yakni 15 – 18%, maka itu masih realistis. Jika manajemen BBTN bisa memanfaatkan momentum penurunan BI Rate dan mampu mencatatkan laba yang kembali naik pada Kuartal I 2015, maka sahamnya juga seharusnya mampu untuk kembali ke level normal/wajarnya, yakni 1,200 – 1,400.
Okay, jadi apakah itu berarti sahamnya layak dikoleksi pada harganya saat ini? Nah, penulis sendiri sebenarnya tertarik dengan BBTN ini karena batas penurunan harganya sudah sangat jelas, dimana kalau BBTN ini lagi turun maka mentoknya paling-paling sampai 900 – 1,000, dan secara valuasi itu bisa dijelaskan: BBTN ini sahamnya likuid, boleh dikatakan termasuk blue chip, dan perusahaannya juga bukan perusahaan kecil antah berantah yang baru berdiri kemarin sore (kalau anda sering lewat kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, maka kantor Bank BTN akan kelihatan gede dan jelas banget). Lalu masa iya PBV-nya cuma 0.8 kali? Kalaupun problemnya adalah karena fundamentalnya yang memang nggak terlalu bagus, tapi BBTN juga nggak sejelek itu bukan? At the end, BBTN masih terus beroperasi dengan normal tanpa adanya masalah yang berarti, tetap rutin membayar dividen setiap tahunnya, dan nilai aset bersih perusahaan juga masih terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Kita bisa mengatakan bahwa, although this company is not so wonderful, but after considering everything, the price is absolutely wonderful!
Jadi kalau anda membeli BBTN pada harganya saat ini, maka risikonya bisa dikatakan sangat rendah dimana kecuali ada kejadian luar biasa atau IHSG hancur lebur, maka BBTN tidak akan turun lebih rendah dari 1,000, atau maksimal 900 tadi. Disisi lain BBTN ini akan dengan mudah naik ke katakanlah 1,400, kalau: 1. Perusahaan sukses mencatatkan kenaikan laba pada Kuartal I 2015 mendatang, 2. Perusahaan mengumumkan dividen, atau 3. Berita soal rencana merger antara BBTN dengan BMRI atau bank BUMN lainnya (ini cerita lama sebenernya, tapi sampe sekarang nggak jadi-jadi) mencuat kembali. So, meski BBTN ini mungkin tidak menarik untuk investasi jangka panjang kecuali jika manajemen sukses menciptakan pendapatan diluar kredit KPR (dan juga berhasil menekan rasio kredit macetnya), namun pada harganya saat ini, saham BBTN ini menawarkan peluang trading, dimana anda mungkin bisa memperoleh gain 10 – 20% dalam waktu relatif singkat (1 atau 2 bulan, atau mungkin kurang dari itu) sementara risiko terburuknya adalah anda ternyata hanya buang-buang waktu, karena setelah ditunggu-tunggu ternyata saham ini nggak kemana-mana melainkan disitu-situ saja.
Masalah Penurunan Bunga Kredit KPR
Terakhir, anda mungkin memperhatikan bahwa saham BBTN belakangan ini turun karena adanya berita bahwa Pemerintah menurunkan bunga KPR bersubsidi dari tadinya 7.5% menjadi hanya 5%, dengan tujuan agar lebih banyak lagi orang yang bisa memiliki rumah. Karena BBTN sejak awal sudah ditunjuk sebagai salah satu pelaksana program KPR bersubsidi tersebut, maka jadilah orang menyangka bahwa BBTN harus menurunkan bunga KPR-nya menjadi hanya 5%, dimana jika itu terjadi maka pendapatan BBTN dari penyaluran KPR bakal anjlok gila-gilaan, padahal sebagian besar pendapatan BBTN ya memang cuma dari bunga KPR saja. Alhasil, saham BBTN langsung turun dari 1,200-an pada awal Januari lalu hingga sempat menyentuh 975 sebagai titik terendahnya, dan sampai sekarang masih belum naik kembali.
Padahal yang bener adalah sebagai berikut: Satu, bunga kredit KPR di BBTN secara umum adalah 11.5%per tahun, dimana besaran bunga ini mengikuti BI Rate. Dua, dari total penyaluran kredit KPR yang dilakukan BBTN sepanjang tahun 2014, hanya sekitar 5 – 6% diantaranya yang disalurkan melalui program KPR bersubsidi (yang bunganya lebih rendah, yakni 7.5%). Dan tiga, meski BBTN menerima pendapatan bunga yang lebih rendah dari penyaluran KPR bersubsidi (karena bunganya lebih rendah dibanding bunga KPR biasa), namun selisihnya sejak awal sudah diganti oleh Pemerintah! Analoginya sama saja dengan Pertamina, dimana meski perusahaan menjual gas elpiji 3 kg pada harga yang sebenarnya terlalu rendah, namun selisihnya sudah diganti oleh Pemerintah dalam bentuk subsidi. Jadi ketika Pemerintah memberikan subsidi barang-barang kebutuhan pokok ke masyarakat, maka yang menerimanya uangnya bukan masyarakat langsung, melainkan perusahaan-perusahaan BUMN (Pertamina, PLN, Bank BTN, dst) sehingga mereka bisa menjual produk-produknya pada harga yang terjangkau masyarakat, namun perusahaan tetap memperoleh keuntungan.
Jadi mau Pemerintah menurunkan bunga KPR bersubsidi (bersubsidi ya, jadi bukan KPR biasa) sampai 0% sekalipun, maka BBTN tetap tidak akan terkena dampak apa-apa! Sepanjang tahun 2014, BBTN menerima subsidi yang dibayar dimuka senilai Rp427 milyar dari Pemerintah terkait program KPR bersubsidi, dimana uang Rp427 milyar tersebut nantinya akan diakui sebagai pendapatan ketika KPR bersubsidi tersebut sudah disalurkan. Kalau memang Pemerintah benar-benar menurunkan bunga KPR bersubsidi menjadi hanya 5%, maka itu artinya Pemerintah akan membayar subsidi ke BBTN dalam jumlah yang lebih besar. Pemerintah sendiri melalui Kementerian Perumahan Rakyat memang sudah menganggarkan Rp5.4 trilyun pada tahun 2015 ini (anggarannya sudah disetujui DPR pada awal Februari lalu), naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp4.0 trilyun, untuk program KPR bersubsidi, dimana BBTN akan menjadi salah satu penerima dana anggaran tersebut (selain melalui Bank BTN, pemerintah juga akan menyalurkan KPR bersubsidi melalui beberapa bank daerah).
So, meski dalam beberapa kasus, adanya sentimen negatif tertentu memang benar-benar berdampak buruk pada kinerja perusahaan, namun untuk masalah bunga KPR ini penulis bisa katakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan itu artinya kesimpulan akhir bagi BBTN ini masih sama dengan yang sudah disampaikan diatas: Pada kisaran harganya saat ini, maka BBTN ini menawarkan peluang untuk trading jangka pendek dengan target sekitar 1,200 – 1,400. We’ll see.
PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk (BBTN)
Rating Kinerja pada Kuartal IV 2014: BBB
Rating Saham pada 1,070: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Investama sedang dalam posisi memegang BBTN di average 1,032. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis dari saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di laporan keuangan terbarunya (Kuartal IV 2014). Anda bisa memperolehnya

Logindo Samudramakmur

Pada hari ini, Senin tanggal 23 Februari 2015, IHSG ditutup di posisi 5,403, yang kemudian tercatat sebagai posisi tertingginya sepanjang sejarah. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang maka mayoritas saham-saham di BEI juga seperti berlomba-lomba untuk mencatat rekor harga tertinggi. However, beberapa saham justru mengalami cerita yang berbeda dimana mereka bukannya naik tapi malah terus turun. Dan salah satunya adalah Logindo Samudramakmur (LEAD), yang saat ini diperdagangkan di level Rp1,845 per lembar saham, atau jauuuh dibawah posisi puncaknya yang dicapai enam bulan lalu yakni 5,325. Berbeda dengan beberapa saham lainnya yang turun entah itu karena sejak awal sahamnya tidak memiliki fundamental yang bagus, atau karena perusahaan mengalami penurunan kinerja, atau karena adanya sentimen negatif tertentu, maka LEAD ini sekilas nggak punya masalah apapun. An opportunity?

LEAD adalah salah satu perusahaan penyewaan kapal laut yang tergolong baru, karena baru berdiri dan beroperasi pada tahun 1997 lalu, ketika perusahaan untuk pertama kalinya memperoleh kontrak penyewaan kapal dari Total E&P Indonesie, salah satu perusahaan minyak asing yang beroperasi di Indonesia, tepatnya di Blok Mahakam, Kalimantan Timur. Selanjutnya perusahaan terus berkembang hingga memiliki dan mengoperasikan 25 kapal pada tahun 2005, yang kesemuanya merupakan jenis kapal untuk menunjang kegiatan tambang minyak lepas pantai. Pada akhir tahun 2013 Logindo sudah mengoperasikan 59 unit kapal, dan pada tahun itu pula perusahaan memutuskan untuk go public, ketika itu dengan harga IPO Rp2,800 per saham.           
Kemudian, entah itu karena mendapat sentimen positif terkait ‘tol laut’ di sektor perkapalan atau karena faktor lainnya, saham LEAD terus menanjak naik hingga menembus 5,000 pada September 2014. Namun bahkan pada harga 5,000 tersebut, dengan PER dan PBV masing-masing 12.1 dan 2.2 kali, maka valuasi LEAD tentunya tampak belum terlalu tinggi. However, memasuki bulan Oktober 2014, tanpa didahului oleh sentimen negatif tertentu atau laporan keuangan yang mengecewakan, LEAD dengan sendirinya mulai bergerak turun, dan terus turun sampai sekarang. Secara teknikal saham ini masih belum menunjukkan tanda-tanda rebound, namun secara valuasi, dengan PER yang kini hanya 4.5 kali, maka LEAD mulai menarik perhatian para bargain hunter termasuk penulis. Pertanyaannya sekarang, okay dia sekilas mungkin tampak murah (penulis mungkin perlu menegaskan kata ‘sekilas’ disini, karena mengingat LEAD ini baru IPO kemarin sore, maka kita sebagai investor belum benar-benar mengetahui berapa seharusnya valuasi yang bisa dikatakan undervalue bagi sahamnya, karena kita belum bisa melihat batas-batas kenaikan atau penurunan harga sahamnya di masa lalu). Tapi bagaimana dengan fundamental perusahaannya? Nah, berikut adalah beberapa poin yang harus anda perhatikan terkait LEAD jika anda tertarik untuk berinvestasi didalamnya.
Pertama, ketika tadi dikatakan bahwa penurunan LEAD ini tanpa sentimen negatif, maka pernyataan tersebut mungkin tidak sepenuhnya tepat. LEAD, seperti yang sudah disebutkan diatas, adalah perusahaan penyewaan kapal spesialis transportasi minyak, dalam hal ini minyak mentah, sementara harga minyak mentah itu sendiri turun drastis dalam enam bulan terakhir, dari US$ 90-an menjadi hanya US$ 50.3 per barel pada saat ini. Dengan kondisi seperti itu, maka adalah wajar jika timbul kekhawatiran bahwa para pelanggan LEAD akan mengalami kesulitan untuk melakukan pembayaran, dan hal itu pada akhirnya akan menurunkan laba perusahaan. Seperti mayoritas perusahaan kapal kelas menengah lainnya, pendapatan LEAD sangat tergantung pada satu atau dua pelanggan saja, dalam hal ini Total E&P Indonesie dan Pertamina Hulu Energi, yang berkontribusi total lebih dari 80% pendapatan perusahaan. Jadi jika salah satu atau kedua perusahaan tersebut menunda pembayaran atau meminta diskon harga karena alasan penurunan harga minyak, maka LEAD akan sulit untuk menolaknya karena mereka nggak punya pelanggan lain. Sepanjang tahun 2014 kemarin LEAD secara rutin mengikuti tender penyediaan kapal bagi perusahaan minyak lain, namun sejauh ini upaya tersebut tampak belum membuahkan hasil yang signifikan.
Kedua, meski memiliki track record operasional yang cukup bagus sejak perusahaan berdiri pada tahun 1997, namun LEAD, dalam rangka mengejar target untuk mengubah statusnya dari perusahaan kapal kecil menjadi perusahaan kapal kelas atas, telah melakukan beberapa ‘lompatan’ yang terbilang berisiko dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu lompatan tersebut adalah ketika perusahaan melakukan kemitraan strategis dengan Pacific Radiance (PR), sebuah perusahaan perkapalan asal Singapura, dimana PR menempatkan 50% saham di LEAD (menjadi 35% setelah IPO), dan alhasil direktur utama PR yakni Pang Yoke Min, menjadi komisaris utama perusahaan. Kemitraan strategis ini membuka peluang bagi LEAD untuk menjadi besar dan mampu menembus pasar internasional, dan sebaliknya, membuka peluang bagi PR untuk masuk ke pasar penyewaan kapal di Indonesia.
However, pasca kerjasama ini, tidak ada kejelasan soal siapa ultimate shareholder dari LEAD, karena porsi saham dari tiga bersaudara pendiri perusahaan, yakni Eddy Kurniawan Logam, Rudy Kurniawan Logam, dan Merna Logam, secara keseluruhan adalah sama persis dengan porsi saham yang dipegang PR. Berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan dikuasai secara merata oleh dua belah pihak, maka besar kemungkinan terjadinya konflik dimana satu pihak maunya perusahaan bergerak kesini, sementara pihak lainnya menginginkan perusahaan bergerak kesono. Dan kalau begitu caranya maka perusahaan akan sulit untuk bergerak maju. Ceritanya baru bakal berbeda jika salah satu dari PR atau Keluarga Logam dinobatkan menjadi pemegang saham mayoritas, dimana si pemegang saham mayoritas ini akan menjadi pengambil keputusan akhir dari setiap rencana kerja perusahaan.
Dalam hal ini penulis melihat bahwa Eddy Kurniawan dkk mungkin sebenarnya menginginkan bahwa mereka tetap menjadi pemegang saham mayoritas di LEAD, namun sayangnya posisi mereka terlalu lemah dihadapan PR untuk bisa tetap menjadi pengendali tunggal perusahaan.
Ketiga, sejak tahun 2008 (atau bahkan mungkin juga tahun-tahun sebelumnya) sampai sekarang, perusahaan terbilang berani dalam mengambil pinjaman bank dalam jumlah besar (senilai lebih dari US$ 120 juta). Dan ini adalah ‘lompatan berisiko’ lainnya diluar kerjasama perusahaan dengan PR tadi. Penulis katakan berisiko, karena pada laporan keuangan terakhir perusahaan yakni per Kuartal III 2014, posisi utang jangka pendek perusahaan tercatat US$ 41 juta, sementara nilai aset lancar perusahaan hanya US$ 29 juta. Ini artinya perusahaan mengalami masalah likuiditas, dimana jika terjadi sesuatu yang menyebabkan perusahaan tidak bisa membayar hutang jangka pendeknya, maka LEAD akan dipaksa untuk menjual aset jangka panjangnya, dalam hal ini unit-unit kapal, pada harga yang lebih rendah dari yang seharusnya! Atau bahkan mungkin jauh lebih rendah. Hal ini pernah terjadi pada duo raksasa perkapalan yakni Berlian Laju Tanker (BLTA) dan Arpeni Pratama Ocean Line (APOL), yang gagal dalam membayar hutangnya dan hingga saat ini masih berjuang untuk terhindar dari kebangkrutan. Actually, ketika kemarin LEAD menggelar IPO, maka sebagian dana hasil IPO-nya memang digunakan untuk membayar utang bank.
Terkait masalah likuiditas ini, LEAD kemarin sukses menerbitkan obligasi senilai US$ 37 juta di Singapura dengan tingkat suku bunga yang jauh lebih murah dibanding utang bank (kemungkinan berkat koneksinya dengan Pacific Radiance). Tadinya penulis mengira bahwa dana hasil obligasinya akan digunakan untuk melunasi pinjaman bank yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, tapi ternyata bukan, melainkan untuk terus membeli unit-unit kapal baru, karena perusahaan berencana untuk menambah 4 – 5 unit kapal baru setiap tahunnya. Well, mungkin pihak manajemen punya pandangan sendiri soal ini, tapi kalau bagi kita sebagai investor, maka ini adalah salah satu ‘lompatan berisiko’ yang lainnya lagi.
Terakhir, keempat. Selain utang bank, LEAD juga memiliki utang dari dua kreditor, yakni SACLPInvestment dan ASEAN China Investment Fund (ACIF), masing-masing senilai US$ 11 dan 5 juta. Menariknya, utang tersebut berbentuk convertible loan yang bisa dikonversi menjadi saham LEAD, yakni ketika LEAD sukses menggelar IPO di Bursa Efek Indonesia. Dan ternyata, baik SACLP maupun ACIF memang mengkonversi piutang mereka menjadi saham perusahaan, dimana ketika perusahaan menggelar IPO pada tangga 11 Desember 2013, kedua perusahaan tersebut mengkonversi utangnya berdasarkan harga IPO Rp2,800 per saham, sehingga SACLP memegang 45.3 juta lembar saham LEAD, sementara ACIF memegang 20.6 juta lembar saham.
Dan per tanggal 30 September 2014, kedua perusahaan ini masing-masing tinggal memegang 35.3 dan 14.6 juta lembar saham LEAD, yang itu berarti antara Desember 2013 dan September 2014, baik SACLP maupun ACIF telah melepas sebagian saham mereka ke publik. Namun pada tanggal 30 September tersebut, saham LEAD justru tengah berada di salah satu posisi tertingginya yakni 5,100. Got the point? Jadi ketika saham LEAD terus naik dalam waktu beberapa bulan pasca IPO-nya, maka sebenarnya itu karena bandarnya sedang distribusi di harga atas! Yakni agar mereka memperoleh keuntungan dari trading jangka pendek.
Dan ketika kemudian LEAD turun hingga ke posisi sekarang, maka si bandar ini mulai akumulasi barang lagi. Berdasarkan data registrasi pemegang saham perusahaan, jumlah saham LEAD yang dipegang SACLP dan ACIF telah meningkat dari totalnya 54.6 juta lembar pada akhir November 2014, menjadi 57.9 juta lembar pada akhir Januari 2015. Kalau melihat trend saham LEAD yang masih tertekan sampai sekarang, maka ada kemungkinan bahwa bandar LEAD masih dalam tahap akumulasi, dimana tentunya mereka lebih suka akumulasi di harga bawah.
Jadi kesimpulannya, LEAD ini sedikit banyak bisa disebut saham gorengan karena pergerakan harganya dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu dan bukannya oleh mekanisme pasar, dan itu mungkin sekaligus menjelaskan kenapa kok sahamnya gampang sekali turun bablas hingga ke posisi serendah ini nyaris tanpa ada perlawanan sama sekali. Jadi dalam kasus ini, bahkan kalau anda menganggap bahwa LEAD ini sudah cukup murah dan fundamentalnya juga bagus, namun sahamnya tetap tidak akan naik jika harganya sengaja ditahan pada level bawah. Dan penulis, terus terang, paling nggak suka saham model begini.
Hingga ketika artikel ini ditulis, LEAD masih belum merilis laporan keuangannya untuk Kuartal IV 2014. Namun berdasarkan LK Kuartal III, perusahaan masih mencatat trend pertumbuhan yang bagus dimana pendapatan serta labanya naik masing-masing 27.7 dan 53.0%, dan ekuitasnya juga tumbuh 14.0%. Dengan return yang mencapai 18.0% padahal perusahaannya baru saja IPO (yang itu berari LEAD terbilang cepat dalam menggunakan dana IPO-nya), maka PBV 0.8 kali bagi LEAD ini tampak sangat menarik. However, setelah dipelajari lebih lanjut, maka cukup jelas bahwa faktor fundamental serta valuasi bagi saham ini mungkin tidak berarti apapun. Jika anda berani ambil risiko ‘digencet’ oleh bandar, termasuk risiko bahwa kinerja LEAD kedepannya mungkin akan sedikit turun karena faktor penurunan harga minyak, maka anda mungkin boleh ikut akumulasi LEAD ini, karena mau dia dijongkokin sampai seribu perak sekalipun, tapi seharusnya pada akhirnya dia akan kembali naik. Namun kalau dari sudut pandang value investing, well, kita tidak mau ambil risiko semacam itu, kecuali mungkin jika dikasih harga yang benar-benar murah, let say, 1,500.
Buletin Analisis & Rekomendasi Saham bulanan edisi Maret 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya

Seminar/Training Value Investing: Jakarta

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  4. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Materi Tambahan: Beberapa pilihan saham untuk dipegang selama tahun 2015. Materinya sendiri mulai tahun ini sedikit diubah/di-update berdasarkan pengalaman investasi penulis sepanjang tahun 2014 lalu, namun inti value investing-nya tetap sama.
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • TempatHotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/TanggalSabtu, 21 Februari 2015
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.3WIB (seminarnya total 5 jam termasuk istirahat makan siang), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30 agar punya waktu untuk ngobrol dan diskusi santai dengan sesama peserta. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Diskon Khusus: Bagi anda yang masih kuliah alias mahasiwa, biayanya boleh didiskon menjadi hanya Rp500,000. Syaratnya cukup dengan menyertakan gambar/scan Kartu Tanda Mahasiswa ketika anda mengirim email konfirmasi pembayaran.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Jakartadan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Jika anda mendaftar untuk dua orang maka sebutkan nama dua-duanya. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 52596BDA, office hour only.
Berikut adalah foto penulis bersama para peserta seminar hari Sabtu, tanggal 24 Januari 2015 di Jakarta, klik untuk memperbesar. Untuk melihat foto-foto lainnya, klik disini.
Update: Hingga hari Rabu, tanggal 18 Februari, peserta yang sudah mendaftar adalah 24 orang, jadi masih tersedia 6 kursi [...]

‘Wonderful Company at a Wonderful Price’

Warren Buffett pernah menyampaikan salah satu quote-nya yang terkenal: ‘It is far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price.’ Kalau kita cermati, dalam kalimatnya tersebut Buffett menyatakan bahwa ketika menyeleksi saham untuk dibeli maka kita harus memilih salah satu faktor, entah itu harga yang serendah-rendahnya ataupun kualitas fundamental perusahaan yang setinggi-tingginya. Adalah nyaris tidak mungkin bagi value investor manapun untuk bisa menemukan perusahaan dengan fundamental yang amat sangat bagus, tapi disisi lain dijual pada harga yang justru amat sangat rendah. So, dalam hal ini, Opa Warren lebih memilih ‘wonderful company at a fair price’. Jadi harga saham dari perusahaan yang sangat bagus tidak perlu terlalu murah, yang penting asal jangan terlalu mahal saja.

But hey, bagaimana kalau kita bisa menemukan saham yang seperti itu? Yakni saham yang sangat bagus yang dijual pada harga yang sangat rendah?
Meski terdengar sedikit mustahil, namun nyatanya di BEI terkadang ada saja saham-saham yang seperti itu. Dan kalau bagi penulis pribadi, adalah merupakan suatu tantangan bagi saya untuk bisa menemukannya. Sebab, jika sekalinya kita ketemu saham seperti itu, maka tinggal klik buy, lalu kesananya tinggal nonton doang nyaris tanpa perlu ngapa-ngapain lagi!
Salah satu saham tersebut adalah Mandala Multifinance (MFIN). Bagi anda yang lebih suka trading pada saham-saham blue chip atau second liner yang likuid, saham MFIN mungkin terdengar asing. Tapi bagi penganut value investing, MFIN is our hidden pearl! Because it is wonderful both in terms of value, and fundamental quality (kita sudah pernah membahas saham ini sebelumnya disini). Kekurangannya hanya ada dua. Pertama, saham ini tidak likuid, sehingga kalau anda tertarik untuk masuk maka anda harus komitmen untuk memegangnya dalam jangka panjang, yakni lebih dari 1 tahun. Dan kedua, nama perusahaannya benar-benar kurang populer. Semua orang mungkin hafal dengan nama Adira Finance (ADMF) sebagai perusahaan pembiayaan di Indonesia. Sementara Mandala? Yang ada orang lebih hafal dengan nama Mandala Airlines, dan bukannya Mandala Multifinance (padahal kedua perusahaan tersebut, sepanjang pengetahuan penulis, tidak memiliki hubungan apapun).
Namun ketika tadi disebutkan bahwa MFIN ini ‘wonderful company’, maka penulis tidak mengada-ngada. Pertama, sejak awal perusahaan bermain di bisnis yang relatif mudah, yakni pembiayaan sepeda motor. Dan meski bukan perusahaan terbesar di bidangnya (jasa pembiayaan), namun MFIN adalah perusahaan dengan track record pertumbuhan yang paling meyakinkan di bidang jasa pembiayaan. Pada akhir tahun 2006 (MFIN menggelar IPO pada tahun 2005), nilai aset bersih perusahaan tercatat Rp245 milyar. Dan pada tahun 2014, atau delapan tahun kemudian, aset bersih tersebut telah tumbuh menjadi Rp1.4 trilyun. Ini artinya, rata-rata pertumbuhan riil perusahaan (CAGR) adalah 24.4% per tahun, sudah termasuk dikurangi dividen, dan juga sudah termasuk periode krisis 2008. Perhatikan pula bahwa pada kurun waktu yang sama yakni 2006 – 2014, IHSG telah naik dari 1,802 hingga 5,227, sehingga CAGR-nya adalah 14.2%. Karena CAGR MFIN adalah 24.4%, maka bisa dikatakan bahwa kinerja MFIN adalah rata-rata 10.2% lebih baik dibanding kinerja pasar secara umum. Well, sudah mirip dengan Berkshire Hathaway bukan?
Kedua, laba bersih perusahaan juga terus naik dalam jangka panjang tanpa pernah sekalipun turun, dari Rp51 milyar di tahun 2006, menjadi Rp301 milyar di tahun 2014. Dari sisi operasional pun kinerja MFIN terus meningkat, dari 100 ribu unit pembiayaan pada tahun 2006, menjadi sekitar 600 ribu unit pada tahun 2014, padahal selama ini perusahaan tidak pernah gembar gembor soal kegiatan ekspansi usahanya, even in its public expose materials. So this company is silent but deadly, is not it? Bisa dikatakan bahwa pada setiap tahunnya, perusahaan hanya mentargetkan pertumbuhan, entah itu pertumbuhan pendapatan maupun pertumbuhan jumlah kantor cabang, sebanyak 20 – 25% saja. Namun bisa dikatakan pula bahwa target yang terdengar konservatif tersebut selalu tercapai, dimana dalam jangka panjang hasilnya ternyata luar biasa.
Dan ketiga, manajemen MFIN adalah tipe manajemen yang apa adanya (struktur perusahaan sangat sederhana, dimana MFIN bahkan tidak memiliki anak usaha), running business as it is (MFIN selalu fokus sebagai perusahaan pembiayaan sepeda motor), dan benar-benar menguasai bidangnya (yang mungkin karena Pak Alex Hendrawan, salah satu owner sekaligus komisaris utama perusahaan, memang sudah berkarier di bidang leasing kendaraan bermotor sejak beliau masih sangat muda dulu, yakni di tahun 70-an). Kalau penulis baca-baca laporan tahunan perusahaan sejak 2011 hingga 2013, pihak manajemen jarang sekali mengeluh atau berdalih tentang ‘kondisi iklim usaha yang kurang kondusif’ atau semacamnya.

Terkait funding, salah satu problem perusahaan pembiayaan adalah ketergantungan mereka terhadap pinjaman dari bank, dimana cost of fund yang ditanggung perusahaan akan meningkat kalau pihak bank menaikkan bunga pinjaman, misalnya kalau BI Rate naik. Karena itulah, seperti juga perusahaan pembiayaan lainnya, MFIN mencoba mencari sumber dana lain, dan mereka berhasil melakukannya. Pada tahun 2012 dan 2014, perusahaan menerbitkan obligasi dan medium terms note (MTN) dengan kupon 8 – 11.25% per tahun, atau lebih murah dibanding bunga bank sebesar 12 – 14% per tahun. Meski nilai dari penerbitan obligasi dan MTN ini masih sangat kecil, yakni hanya Rp200 milyar (sementara utang bank perusahaan hampir mencapai Rp3 trilyun), namun ini adalah pintu pembuka bagi penerbitan obligasi selanjutnya yang nilainya bisa lebih besar. Jika MFIN bisa mempertahankan tingkat pertumbuhannya selama ini, maka kedepannya perusahaan juga bisa meniru Adira, yang mampu meraih separuh pendanaannya dari penerbitan obligasi, dan separuhnya lagi baru berupa utang bank.

Diluar faktor-faktor yang disebut diatas, yang bisa penulis cermati langsung dilapangan adalah bahwa kantor cabang Mandala Multifinance ini mulai bisa ditemui dimana-mana (biasanya di ruko-ruko), padahal dulu sulit sekali ketemu kantor MFIN ini. Ternyata, perusahaan secara rutin menambah jumlah kantor baru, dimana pada tahun 2013 MFIN menambah 15 kantor cabang, tahun 2014 nambah lagi 18 kantor, dan tahun 2015 mungkin 25 kantor. Penambahan kantor cabang yang terus menerus ini menunjukkan bahwa mayoritas kantor-kantor cabangnya tersebut sukses. MFIN kini sudah melayani Banda Aceh hingga Maluku. Hal ini mengingatkan penulis dengan Adira yang kantor cabangnya juga ada dimana-mana, sehingga orang jadi hafal dengan nama ‘Adira’. Intinya adalah, meski MFIN memang bukan perusahaan besar dan terkenal, namun seharusnya cuma soal waktu saja sebelum nama ‘Mandala’ nantinya akan sejajar dengan ‘Adira’ sebagai salah satu brand leasing terkemuka di tanah air. Adalah sangat bisa dipahami jika MFIN tampak telat berkembang dibanding Adira, karena berbeda dengan Adira dimana pendirinya, Theodore Permadi Rachmat, sejak awal sudah merupakan konglomerat, MFIN ini benar-benar dirintis dari nol. Tapi kita lihat saja perkembangannya beberapa tahun lagi dari sekarang.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Pada harga 925, maka berdasarkan laporan keuangan perusahaan untuk periode Kuartal IV 2014, PBV MFIN tercatat hanya 0.9 kali, alias sangat murah kalau kita mempertimbangkan track record pertumbuhannya yang sangat signifikan dan konsisten, sementara disisi lain ukuran perusahaannya masih relatif kecil sehingga ruang untuk bertumbuhnya masih terbuka lebar. Dengan kriteria seperti itu, maka minimal PBV bagi MFIN adalah 2.0 kali, sehingga dari sisi valuasi, potensi upside di saham ini sangat signifikan.
However, diatas kita sudah menyebutkan bahwa MFIN memiliki dua kekurangan, yakni nama perusahaannya yang kurang populer, dan sahamnya yang juga tidak likuid. Poin lainnya yang juga harus diperhatikan adalah, rata-rata PBV di sektor pembiayaan memang rendah, yakni hanya sekitar 1.0 kali (yang mungkin karena mayoritas investor menganggap bahwa sektor pembiayaan merupakan sektor yang cukup berisiko, salah satunya jika terjadi kenaikan bunga pinjaman bank. Padahal seperti halnya sektor perbankan itu sendiri, sektor pembiayaan terbukti mampu untuk terus tumbuh dalam jangka panjang, baik dalam kondisi ekonomi yang kondusif maupun sulit). Hanya ada satu saham di sektor ini yang PBV-nya ‘normal’ alias diatas 2.0 kali, yakni Adira. Sementara selebihnya termasuk MFIN, rata-rata PBV-nya hanya 1.0 kali atau bahkan kurang dari itu.
Jadi meski penulis bisa katakan bahwa MFIN ini adalah ‘wonderful company at a wonderful price’, tapi mungkin sulit untuk membayangkan bahwa sahamnya akan naik signifikan dalam waktu dekat. But still, undervalue is undervalue. Kalau anda bisa komitmen untuk memegangnya dalam jangka waktu satu atau dua tahun kedepan, maka sejatinya MFIN ini tidak mengecewakan. Persis setahun yang lalu, MFIN berada di posisi 700. Dan sekarang sudah 925. Artinya? Gainnya lebih dari 30 persen! Dan itu memang selaras dengan pertumbuhan nilai aset bersih perusahaan, sehingga PBV-nya tetap saja rendah meski sahamnya sudah naik banyak.
Tapi lagi-lagi, gain 30% itu mungkin hanya diatas kertas karena anda akan sulit untuk menjual MFIN ini secara sekaligus karena masalah likuiditasnya tadi, terutama jika anda memegangnya dalam jumlah besar. So, jika anda tertarik untuk masuk ke MFIN ini, maka mungkin anda tidak perlu membelinya terlalu banyak, melainkan sebatas jumlah dana yang bisa anda simpan selama mungkin. Disisi lain, karena kita tidak tahu kapan IHSG akan turun, atau bagaimana jika saham-saham yang lain yang kita beli ternyata malah menghasilkan kerugian, maka MFIN ini tetap perlu untuk dibeli karena sahamnya relatif kebal terhadap pengaruh fluktuasi IHSG, dan meski butuh waktu yang sekilas cukup lama, tapi toh pada akhirnya dia naik terus. Diatas kita sudah menyebutkan bahwa dalam setahun terakhir MFIN sudah naik lebih dari 30%. And believe or not, jika jangka waktunya diperpanjang hingga lima tahun terakhir, maka saham MFIN sudah naik rata-rata 27.0% setiap tahunnya, atau kurang lebih selaras dengan pertumbuhan riil-nya diatas. Not bad, eh?

PT Mandala Multifinance, Tbk (MFIN)
Rating Kinerja pada Kuartal IV 2014: AA
Rating Saham pada 925: AA

Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Teguh Hidayat & Partners sedang dalam posisi memegang MFIN di average 790. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Info bagi Investor: Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal IV 2014 (sudah terbit dan sudah bisa dipesan). Anda bisa memperolehnya

Saham Terbaik dari Sisi Pertumbuhan Riil Perusahaan

Jika anda hendak berinvestasi di pasar saham melalui reksadana, maka salah satu indikator utama yang dipakai dalam menentukan reksadana mana yang terbaik adalah dengan melihat track record kinerjanya dalam jangka panjang, katakanlah lima tahun terakhir. Jika CAGR (compound annual growth rate, alias rata-rata pertumbuhan tahunan) dari suatu reksadana tercatat lebih baik dari kenaikan IHSG pada periode waktu yang sama, maka simpelnya bisa kita katakan bahwa reksadana tersebut memiliki kinerja yang bagus. Jika selisihnya terbilang besar, katakanlah rata-rata 17% per tahun sementara rata-rata kenaikan IHSG pada periode yang sama hanya 7% (sehingga selisihnya mencapai 10%), maka itu lebih bagus lagi.
Nah, meskipun dalam prospektus reksadana selalu ada kalimat berikut: ‘Kinerja reksadana dimasa lalu tidak mencerminkan kinerja dimasa yang akan datang’, namun tetap saja, anda tentu akan merasa lebih nyaman jika berinvestasi pada reksadana yang memiliki track record kinerja yang bagus bukan?
Lalu pertanyaannya, berapa standar pertumbuhan tahunan yang bisa dikatakan bagus bagi suatu unit reksadana? Kalau di Indonesia, sepertinya tidak ada standar baku yang berlaku. Sebagian orang mungkin cukup puas dengan pertumbuhan 10 – 15%, sebagian lainnya lebih agresif dengan mengincar 25 – 30% per tahun, dan selebihnya mungkin kembali lagi ke peraturan dasar: Yang penting lebih baik dari IHSG.
Namun kalau kita pakai track record dari Berkshire Hathaway, maka selama kurun waktu yang sangat panjang antara tahun 1965 hingga 2013, perusahaan investasi milik Opa Warren ini mencatat rata-rata pertumbuhan 19.7% per tahun, sudah termasuk memperhitungan kinerja pada tahun-tahun tertentu dimana terjadi kondisi krisis. Karena rata-rata kenaikan indeks S&P500 pada periode yang sama adalah 9.8% per tahun (sudah termasuk dividen), maka kinerja Berkshire adalah 9.9% lebih baik dibanding kinerja pasar saham Amerika secara umum. Selisih 9.9% ini mungkin tampak kecil, namun kalau anda mampu untuk terus mempertahankannya selama berpuluh-puluh tahun, maka hasilnya akan sangat luar biasa, dan itu sebabnya Warren Buffett hingga kini masih tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Pertanyaannya lagi, Berkshire Hathaway kan bukan perusahaan reksadana. Perusahaan tidak pernah mengambil dana dari masyarakat untuk diinvestasikan di saham, melainkan hanya pake dana mereka sendiri atau dana pinjaman, entah itu dari bank atau lainnya, tapi yang jelas bukan dari masyarakat. Jika seseorang hendak berinvestasi di Berkshire, maka caranya bukan dengan membeli unit reksadana yang ditawarkan perusahaan (karena memang perusahaan tidak pernah menawarkan unit reksadana apapun), melainkan bisa langsung dengan cara membeli sahamnya di market.
Jadi kalau begitu, bagaimana caranya Opa Buffett menghitung kinerja investasi Berkshire setiap tahunnya? Kalau di reksadana kan jelas: Kinerja suatu reksadana bisa dihitung dari nilai NAV-nya (net asset value). Simpelnya, kalau NAV tersebut tercatat 1,000 pada awal tahun, dan tumbuh menjadi 1,200 pada akhir tahun, maka pertumbuhannya adalah 20%, sehingga angka 20% itulah yang bisa dicatat sebagai kinerja reksadana di tahun yang bersangkutan.
Sementara Berkshire? Ternyata perusahaan menggunakan nilai buku perusahaan per lembar sahamnya (book value per share/BVS) sebagai indikator kinerjanya. Penjelasannya begini: Nilai ekutas/aset bersih, atau nilai buku Berkshire pada akhir tahun 2013 adalah US$ 221.9 milyar. Pada periode yang sama, jumlah saham beredar Berkshire adalah 1.6 juta lembar, atau tepatnya 1,644 ribu lembar. Maka, BVS Berkshire adalah US$ 221.9 milyar dibagi 1.6 juta, sama dengan US$ 134,973 per lembar saham.
Kemudian, pada tahun sebelumnya yakni 2012, nilai ekuitas Berkshire tercatat US$ 187.6 milyar, sementara jumlah saham beredar adalah 1,643 ribu lembar. Maka BVS Berkshire pada akhir tahun 2012 adalah US$ 114,214 per lembar saham.
Kesimpulannya, sepanjang tahun 2013, Berkshire Hathaway mencatat kinerja investasi sebesar 18.2%, karena BVS-nya naik dari US$ 114 ribu pada awal tahun, menjadi US$ 135 ribu per saham pada akhir tahun. However, angka 18.2% ini terbilang ‘buruk’ karena pada tahun yang sama, S&P500 sukses naik 32.4%.
Melihat metode perhitungan kinerja investasi yang sangat simpel diatas, penulis jadi mikir: Kalau begitu maka ketimbang kita invest di reksadana dimana dana kita bakal dipotong management fee dan juga profit sharing (atau fee transaksi, atau apapun itu namanya) bagi si fund manager, maka kenapa kita tidak langsung invest di saham-saham perusahaan saja? Jika kita bisa menilai kualitas suatu reksadana dari track record kinerja investasinya, maka di saham juga sama: Kita bisa menilai kualitas suatu saham dari track record pertumbuhan nilai aset bersih perusahaannya, atau tepatnya aset bersih per lembar saham atau book value per share (BVS). Boleh jadi, di BEI sebenarnya ada banyak saham-saham yang memiliki rata-rata pertumbuhan BVS yang lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan IHSG. Jadi kenapa kita tidak ambil saham-saham tersebut?
So, berikut adalah track record pertumbuhan book value per share (BVS) dari dua puluh saham terbesar di BEI dari sisi likuiditas sahamnya, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yakni 2009 – 2013. Data ini bisa di-update jika nanti seluruh emiten sudah merilis laporan keuangannya untuk tahun penuh 2014:
Company
Ticker
BVS 2009
BVS 2013
CAGR (%)
Bank BRI
BBRI
1,105
3,216
30.6
Telkom
TLKM
387
601
11.6
Bank Mandiri
BMRI
1,674
3,747
22.3
Astra International
ASII
985
2,623
27.7
Bank BCA
BBCA
1,130
2,590
23.1
Semen Indonesia
SMGR
1,719
3,521
19.6
Bank BNI
BBNI
1,253
2,552
19.5
Perusahaan Gas Negara
PGAS
484
1,280
27.5
Lippo Karawaci
LPKR
282
555
18.4
Kalbe Farma
KLBF
85
173
19.5
Indocement
INTP
2,901
6,234
21.1
United Tractors
UNTR
4,161
9,557
23.1
Indofood Sukses Makmur
INDF
1,157
2,693
23.5
Wijaya Karya
WIKA
245
526
21.1
Adhi Karya
ADHI
416
860
19.9
PP London Sumatera
LSIP
559
969
14.8
Adaro Energy
ADRO
545
1,031
17.2
Bank BTN
BBTN
619
1,094
15.3
Gudang Garam
GGRM
9,512
15,209
12.5
Jasa Marga
JSMR
1,056
1,598
10.9
Jakarta Composite Index
JCI
2,534
4,274
14.0
Catatan:
  1. Data diurutkan berdasarkan tingkat likuiditas saham
  2. Book value per share (BVS) adalah dalam Rupiah penuh, dihitung berdasarkan nilai ekuitas perusahaan pada akhir tahun 2009 dan 2013, dibagi dengan jumlah saham beredar pada tahun yang bersangkutan
  3. Jumlah saham beredar sudah termasuk memperhitungkan faktor stock-split
  4. Jika laporan keuangan perusahaan disajikan dalam mata uang US Dollar, maka angkanya dikonversi dulu kedalam Rupiah. Kurs yang digunakan adalah Rp9,400 per USD untuk tahun 2009, dan Rp12,189 per USD untuk tahun 2013.
Nah, sekarang perhatikan. Seandainya kita menganggap bahwa rata-rata pertumbuhan book value per share untuk tiap-tiap saham diatas adalah sama dengan pertumbuhan NAV di reksadana (dan memang sama, hanya beda istilah saja), maka ‘reksadana’ terbaik yang bisa diambil adalah? Bank BRI (BBRI), tentu saja. Dengan CAGR mencapai 30.6%, maka rata-rata pertumbuhan BBRI tercatat jauh lebih baik dibanding rata-rata pertumbuhan IHSG (sebenarnya kalau cakupan data diatas diperluas hingga ke saham-saham yang kecil-kecil, maka bisa saja ada saham lain yang CAGR-nya bahkan lebih tinggi dibanding BBRI. However, angka 30.6% yang dicapai BBRI ini tentunya sudah sangat baik). CAGR dari sisi BVS ini jauh lebih riil dibanding CAGR dari sisi kenaikan harga saham perusahaan, karena harga saham bisa naik dan turun setiap saat, namun BVS akan terus naik dari ke waktu selama perusahaan masih menghasilkan laba. Bagi anda sebagai investor, maka diluar keuntungan dalam bentuk real capital gain sebesar 30.6% per tahun, anda juga akan menerima ‘bonus’ dalam bentuk dividen tahunan, sehingga total keuntungannya adalah lebih dari 30.6% tersebut.

Sementara jika anda berinvestasi di reksadana, maka tidak hanya anda tidak akan memperoleh dividen, namun keuntungan yang anda peroleh dalam satu tahun akan dikurangi management fee sebesar 1 – 2%, dan mungkin juga biaya-biaya lainnya. Jadi kalau diatas kertas anda memperoleh keuntungan 20% per tahun, maka realisasinya kurang lebih hanya 17%.
Setelah BBRI, pilihan selanjutnya adalah Astra International (ASII) dengan CAGR 27.7%, dan PGAS dengan CAGR 27.5%. Seperti halnya BBRI, dua perusahaan ini juga cukup royal dalam membagikan dividen. So, melihat fakta diatas, maka penulis kira bukan suatu kebetulan kalau sebagian besar fund manager yang beroperasi di Indonesia, entah itu asing maupun lokal, hampir pasti memegang trio BBRI, ASII, dan PGAS ini dalam portofolio-nya. Jadi ketimbang anda menitipkan dana anda kepada mereka, lalu kenapa anda nggak langsung beli sendiri saja sahamnya?
Sudah tentu, seperti yang sudah disebutkan diatas, ‘Kinerja dimasa lalu tidak mencerminkan kinerja dimasa yang akan datang’. Kedepannya, baik BBRI, ASII, maupun PGAS bisa saja mengalami penurunan kinerja sewaktu-waktu, sama seperti hal-nya kinerja Berkshire Hathaway yang, dalam lima tahun terakhir, justru terbilang kurang meyakinkan karena empat kali kalah cepat dengan kenaikan indeks S&P. Oleh karena itu anda tetap harus memperhatikan faktor-faktor fundamental lain diluar faktor track record pertumbuhan book value per share, dan juga jangan lupa: Valuasi sahamnya. Hanya karena anda menemukan suatu saham dengan fundamental yang sangat bagus, maka itu bukan berarti anda boleh membelinya pada harga berapapun.
Disisi lain, tiga saham dengan track record kinerja yang paling buruk dari tabel diatas adalah Gudang Garam (GGRM), Telkom (TLKM), dan Jasa Marga (JSMR). Sebagai perusahaan consumer goods, dan juga merupakan salah satu yang terbesar di bidangnya, GGRM sepertinya memang sulit untuk melangkah lebih jauh lagi, apalagi setelah HM Sampoerna dipegang oleh Philip Morris sejak tahun 2005 lalu, dimana perusahaan cenderung kalah bersaing. Untuk TLKM, ceritanya juga mirip dengan GGRM dimana perusahaan telekomunikasi ini sudah ‘mentok’ dan nyaris gak bisa ngapa-ngapain lagi. Dan JSMR, meski sejatinya prospeknya sangat menarik karena Indonesia sejauh ini masih kekurangan jalan tol, namun perusahaan sangat lambat dalam hal merealisasikan pembangunan ruas-ruas jalan tol yang baru, sehingga pertumbuhan perusahaan nyaris sepenuhnya bergantung pada kenaikan harga tiket tol semata. Well, kalau anda salah satu pemegang sahamnya, maka mungkin anda perlu ikut RUPS untuk mengusulkan penggatian direksi, biar perusahaan ini bisa sedikit lebih agresif dalam berekspansi.
Hmm, okay apa lagi ya? Ya sudah, selebihnya silahkan anda tuliskan sendiri melalui kolom komentar [...]

Ebook Analisis Kuartal IV 2014

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal IV 2014. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten pada periode Kuartal IV 2014. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Rabu, tanggal 18 Februari 2015. Anda sudah bisa memperoleh ebook-nya, keterangan selengkapnya baca disini.
Berikut screening ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).
Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu.
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan edisi kali ini merupakan edisi kedelapan belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca lagi contoh-contoh analisis saham terbaru (analisis yang lama lebih banyak lagi) yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini:
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Capital Expenditure, dan Prospek Saham

Beberapa waktu lalu seorang teman bertanya kepada penulis, ‘Apa itu capital expenditure?’ Dan penulis baru sadar bahwa meski di website ini kita sudah membahas banyak hal, tapi belum pernah sekalipun membahas soal capital expenditure, atau yang biasa disingkat capex. Padahal capex adalah sesuatu yang sering sekali diperhatikan para analis ketika mereka menganalisis prospek sebuah saham, karena itu menyangkut ‘apa-apa saja yang dikerjakan perusahaan untuk memperoleh kenaikan laba di masa yang akan datang’. Karena itulah, kita juga akan membahasnya disini, tentunya menggunakan bahasa yang lebih mudah. Here we go.

Capex, atau kalau dalam bahasa Indonesianya ‘belanja modal’, adalah sejumlah uang yang dikeluarkan oleh perusahaan selama kurun waktu tertentu (misalnya satu tahun) untuk membeli aset tertentu (biasanya aset fisik, jadi kalau beli saham maka itu tidak masuk capex), atau meningkatkan kapasitas produksi dari aset yang sudah ada, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja operasional perusahaan yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan/laba bersih. Contohnya, kalau anda punya restoran dan untuk tahun 2015 ini anda menganggarkan Rp1 milyar untuk membuka cabang dan membeli meja, kursi, piring, hingga alat-alat memasak, maka anda bisa dikatakan telah mengeluarkan capex Rp1 milyar untuk tahun fiskal 2015. Tujuannya? Untuk meningkatkan pendapatan dari usaha restoran yang anda miliki, dimana dengan adanya cabang, maka tentunya diharapkan bahwa pendapatan restoran juga akan bertambah.
Dari definisi diatas maka bisa disimpulkan bahwa jika perusahaan menganggarkan capex yang besar pada tahun tertentu, maka itu artinya perusahaan sedang melebarkan sayap usahanya alias sedang berekspansi, dimana jika ekspansinya tersebut sukses maka pendapatan serta laba bersih perusahaan di tahun berikutnya (atau tahun berikutnya lagi) akan naik signifikan. Ini sebabnya setiap kali analis atau wartawan mewawancarai direktur atau corporate secretary dari perusahaan tertentu yang terdaftar di BEI, maka yang ditanyakan pertama kali adalah, ‘Berapa capex perusahaan untuk tahun ini/tahun depan?’ Sebab jika angka capex-nya besar, let say mencapai 100% dari laba bersih perusahaan di tahun sebelumnya, maka akan terdapat kesan bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek yang cerah, karena dia sedang bertumbuh untuk memperoleh pendapatan dan laba bersih yang lebih besar lagi di masa yang akan datang.
Nah, sebagai investor yang memegang saham dari perusahaan tertentu, pernahkah anda bertanya begini? Tahun ini perusahaan dapet laba Rp100 milyar, dimana Rp30 milyar diantaranya sudah dibagikan kepada kami para pemegang saham dalam bentuk dividen. Lantas, sisanya yang Rp70 milyar itu diapakan? Jawabannya ya untuk mengembangkan usaha, entah itu mendirikan pabrik baru, membuka kantor cabang baru, menambah stok persediaan barang, dan seterusnya. However, pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana progress dari pendirian pabrik baru tersebut? Sebab hanya karena perusahaan punya duit Rp70 milyar yang akan dipakai buat mendirikan pabrik baru, maka itu bukan berarti bahwa besok-besok pabrik baru tersebut akan langsung siap beroperasi bukan? Maka dari itu informasi soal capex ini diperlukan, karena itu akan menjelaskan kepada investor bahwa perusahaan pada tahun ini akan membelanjakan dana sebesar sekian (yang salah satunya diambil dari laba ditahan sebesar Rp70 milyar tadi) untuk mendirikan pabrik baru, dimana pada akhir tahun nanti  (atau tahun berikutnya lagi) pabrik baru tersebut akan sudah siap beroperasi. Intinya, pada tahun ini perusahaan tidak akan berdiam diri/membiarkan dana Rp70 milyar tadi mengendap di bank, melainkan akan segera menggunakannya untuk tujuan pengembangan usaha tadi.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka bisa dikatakan bahwa perusahaan yang bagus adalah perusahaan yang memegang dana kas dalam jumlah yang tidak terlalu besar, dimana setiap kali mereka memperoleh dana kas (dari laba bersih pada tahun tertentu), maka dana tersebut langsung diputar lagi untuk membeli aset, persediaan, dll, paling lambat pada tahun berikutnya, tentunya setelah disisihkan sebagian untuk membayar dividen (jika perusahaannya memiliki kebijakan untuk membayar dividen, karena ada juga perusahaan yang tidak membayar dividen). Sebuah perusahaan idealnya memiliki dana kas sebesar 10% dari nilai asetnya secara keseluruhan. Jadi kalau PT A asetnya Rp1 trilyun, maka dana kas-nya maksimal Rp100 milyar. Jika lebih dari itu maka akan timbul kesan bahwa perusahaan ‘malas’ atau lambat dalam memberdayakan aset dana tunai yang mereka miliki.
Kalau penulis perhatikan, di BEI terdapat setidaknya tiga macam perusahaan berdasarkan besaran anggaran capex-nya. Yang pertama adalah perusahaan yang menganggarkan capex sesuai kemampuan, yakni 1. Sebesar dana cash yang mereka miliki, dan juga 2. Sesuai tingkat kecepatan manajemen dalam bekerja. Contohnya Semen Baturaja (SMBR). Untuk tahun 2015, perusahaan menganggarkan capex Rp900 milyar, yang sepenuhnya dialokasikan untuk meningkatkan kapasitas pabrik semen milik perusahaan, dan juga mendirikan pabrik semen baru. Karena posisi kas internal perusahaan (dana kas milik sendiri, bukan hasil pinjaman) tercatat Rp1.8 trilyun, maka kebutuhan capex tadi bisa diambil dari dana kas tersebut tanpa perlu ngutang ke bank. Sebenarnya, jika memungkinkan, maka bisa jadi bahwa manajemen SMBR juga maunya langsung menghabiskan Rp1.8 trilyun tadi hanya dalam waktu 1 tahun saja (dalam bentuk capex), untuk mendirikan pabrik baru. However, mendirikan pabrik semen memerlukan waktu paling cepat 2 – 3 tahun, sehingga mau tidak mau dana kas tersebut hanya bisa digunakan secara bertahap.
Yang kedua adalah perusahaan yang menganggarkan capex melebihi kemampuan. Misalnya, perusahaan cuma punya dana kas internal Rp100 milyar, namun capex-nya dalam satu tahun tertentu bisa sampai Rp200 milyar. Lalu kekurangan dananya ngambil dari mana? Ya dari pinjaman lah, bisa ke bank atau menerbitkan obligasi. Contoh dari perusahaan ini adalah Bumi Resources Minerals (BRMS), anak usaha dari Bumi Resources (BUMI). Beberapa tahun lalu, tepatnya pada akhir tahun 2010, manajemen BRMS ketika itu mengumumkan bahwa perusahaan menganggarkan US$ 581 juta atau setara Rp5.2 trilyun berdasarkan kurs Rupiah ketika itu, untuk belanja modal selama tiga tahun kedepan (tahun 2011, 2012, dan 2013). Untuk tahun pertama yakni 2011, dana yang akan dibelanjakan adalah US$ 240 juta, atau sekitar Rp2.3 trilyun.
Padahal berapa dana kas perusahaan ketika itu? Cuma Rp914 milyar, karena laba bersih BRMS untuk tahun 2010 juga hanya Rp764 milyar. Jadi dari mana BRMS memperoleh dana untuk memenuhi capex-nya? Ya dari pinjaman bank. However, dalam kasus ini maka capex yang terlalu besar tersebut justru menjadi berisiko, karena jika pengembangan usahanya ternyata gagal (ingat bahwa hanya karena perusahaan keluar duit sekian untuk membangun pabrik baru atau membuka tambang batubara, maka itu bukan berarti bahwa proses pembukaan tambangnya dijamin akan berjalan lancar. Dan kalaupun pembukaan tambang tersebut berjalan lancar hingga siap berproduksi, maka belum tentu juga batubara yang dihasilkan akan langsung laku terjual pada harga yang diinginkan), maka perusahaan tidak memperoleh peningkatan pendapatan yang diinginkan, namun tetap harus membayar bunga pinjaman bank. Ketika sebuah perusahaan menganggarkan capex yang kelewat agresif seperti yang ditunjukkan oleh BRMS, maka hasilnya seringkali malah jadi buruk.
Yang ketiga adalah perusahaan yang menganggarkan capex ala kadarnya saja, biasanya karena perusahaannya sudah mature dimana memang sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan untuk meningkatkan pendapatan perusahaan di masa yang akan datang. Contohnya Unilever Indonesia (UNVR). Untuk tahun fiskal 2014, perusahaan hanya menganggarkan Rp1.4 trilyun untuk membeli alat-alat produksi es krim, padahal laba perusahaan di tahun sebelumnya (2013) tercatat RpRp5.4 trilyun. Jadi buat apa laba tersebut? Ya dibagikan saja semuanya ke pemegang saham dalam bentuk dividen.
Jadi kesimpulannya, perusahaan yang baik adalah perusahaan yang menganggarkan capex-nya dalam jumlah yang wajar, yakni sesuai kemampuan perusahaan, tidak lebih dan tidak kurang. Mengambil utang bukannya tidak boleh, namun harus hati-hati karena jika berlebihan maka risikonya menjadi lebih besar, karena tidak ada jaminan bahwa rencana ekspansi yang dilakukan perusahaan pasti akan berhasil. Sementara kalau hanya ala kadarnya seperti contoh UNVR diatas, maka itu artinya perusahaan tidak menawarkan pertumbuhan yang lebih lanjut di masa yang akan datang.
Penulis sendiri selama ini jarang menganalisis saham dari sisi nilai capex-nya, karena informasi mengenai capex tersebut hanya ada di koran-koran/media internet, sementara saya sekarang ini gak pernah lagi baca koran (karena dulu waktu langganan suka bingung buang sisa koran bekasnya kemana, kalau dibakar pasti dimarahi Pak RT). Selain itu, ketika perusahaan pada akhir tahun tertentu menganggarkan capex sebesar Rp100 milyar untuk tahun berikutnya, misalnya, maka seringkali realisasi penyerapannya tidak persis Rp100 milyar juga melainkan bisa kurang, bisa juga lebih. Karena itulah angka capex ini mungkin tidak berarti apapun. Namun dari materi public expose yang bisa anda download dari website IDX, disitu biasanya sudah cukup dijelaskan kalau perusahaan punya rencana ekspansi tertentu, dimana anda bisa menilai apakah ekspansinya wajar atau berlebihan. Sementara beberapa perusahaan yang mature seperti UNVR tadi, pada materi public expose-nya biasanya tidak dijelaskan soal perusahaan mau ngapain kecuali hanya beroperasi seperti biasanya saja, dan dari situ bisa langsung disimpulkan bahwa UNVR ini tidak menganggarkan capex yang besar.
Okay, materi edukasi selanjutnya kita bahas lagi minggu depan, kecuali jika ketika itu ada saham yang menarik untuk [...]

Seminar Value Investing: Surabaya & Jakarta

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Surabaya dan Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  4. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Materi Tambahan: Beberapa pilihan saham untuk dipegang selama tahun 2015. Materinya sendiri mulai tahun ini sedikit diubah/di-update berdasarkan pengalaman investasi penulis sepanjang tahun 2014 lalu, namun inti value investing-nya tetap sama.
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
Surabaya
  • Tempat: Favehotel MEX, Jln. Pregolan No.3 – 5, Tegalsari, Kota Surabaya
  • Hari/TanggalSabtu, 14 Februari 2015
Jakarta
  • TempatHotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/TanggalSabtu, 21 Februari 2015
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.3WIB (seminarnya total 5 jam termasuk istirahat makan siang), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30 agar punya waktu untuk ngobrol dan diskusi santai dengan sesama peserta. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Diskon Khusus: Bagi anda yang masih kuliah alias mahasiwa, biayanya boleh didiskon menjadi hanya Rp500,000. Syaratnya cukup dengan menyertakan gambar/scan Kartu Tanda Mahasiswa ketika anda mengirim email konfirmasi pembayaran.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya/Jakarta (pilih salah satu kota)dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Joko Widodo, BCA. Jika anda mendaftar untuk dua orang maka sebutkan nama dua-duanya. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta di tiap-tiap kota.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 52596BDA, office hour only.
Berikut adalah foto penulis bersama para peserta seminar pada hari Sabtu, tanggal 24 Januari 2015 di Jakarta, klik gambar. untuk memperbesar. Untuk melihat foto-foto lainnya, klik disini.
Testimonial!
Dear Pak Teguh, terima kasih atas pembelajarannya, kinerja tahun 2014 ini cukup memuaskan, porto tumbuh kurang lebih 50%, better than IHSG :)
Sugianto Effendy – Surabaya, Jawa Timur

Update: Hingga hari Senin tanggal 9 Februari, masih tersedia kursi untuk 11 peserta (Surabaya), dan 12 peserta lagi [...]

Peluang Investasi di Saham-Saham Semen

Pada hari Jumat tanggal 16 Januari lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemerintah mengintervensi industri semen dengan mengumumkan penurunan harga semen sebesar maksimal Rp3,000 per sak. Dan hasilnya mudah ditebak: Seketika itu juga saham-saham semen di BEI langsung bertumbangan. Pada hari Jumat tersebut saham Semen Indonesia (SMGR) anjlok 7.4% dari 16,200 ke 15,000, dan berlanjut turun ke level 14,100 pada hari perdagangan berikutnya. Saham-saham semen lainnya yakni Semen Baturaja (SMBR), Holcim Indonesia (SMCB), dan Indocement (INTP), tiga-tiganya juga turun antara 4.9 hingga 12.2% dalam dua hari perdagangan setelah kebijakan penurunan harga semen tadi diumumkan.

Secara teori, kebijakan pemerintah terkait penurunan harga jual semen ini hanya berlaku bagi perusahaan semen BUMN, dalam hal ini SMGR dan Semen Baturaja (SMBR), dimana Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas dari kedua perusahaan tersebut tentunya memiliki kuasa penuh untuk menaikkan atau menurunkan harga jual dari produk semen yang dihasilkan perusahaan. However, kalau SMGR sebagai pemimpin pasar semen di Indonesia menurunkan harga jual produknya, maka mau tidak mau perusahaan semen lainnya akan turut dipaksa untuk melakukan hal yang sama. Jadi ini bisa menjelaskan kenapa saham dari perusahaan semen swasta seperti INTP dan SMCB ikut tertekan.
Tapi benarkah kebijakan Pemerintah ini benar-benar akan menekan kinerja perusahaan-perusahaan semen kedepannya? Well, mungkin nggak juga, dan berikut penjelasannya.
Ketika Pemerintah mengumumkan penurunan harga jual semen, pada saat yang bersamaan Pemerintah juga mengumumkan penurunan harga jual BBM (premium dan solar) dan elpiji non-subsidi. Penurunan tersebut adalah untuk menyesuaikan dengan harga minyak dunia (dan gas) yang memang sedang turun. Seperti yang kita ketahui, pada saat ini Pemerintah sudah tidak lagi mensubsidi BBM jenis premium sehingga harga jualnya bisa berubah setiap saat, dalam hal ini setiap dua minggu sekali, dengan mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Untuk gas elpiji non-subsidi ceritanya juga sama, dimana harga jualnya akan disesuaikan dengan perkembangan harga gas dunia. Terkait harga semen, belum jelas soal apakah harganya juga akan naik dan turun mengikuti harga BBM. Namun karena penurunan harga jual semen ini diumumkan berbarengan dengan penurunan harga BBM, maka besar kemungkinan bahwa kedepannya harga jual semen juga akan dinaikkan dan diturunkan mengikuti harga BBM.
Ini artinya kalau nanti harga bensin naik lagi, maka harga jual semen juga akan dinaikkan kembali. Malah faktanya tanpa perlu Pemerintah mengumumkan kenaikan harga, harga semen sudah pasti akan naik dengan sendirinya ketika nanti harga BBM naik kembali, karena memang setiap kali harga BBM naik maka harga barang-barang termasuk semen akan juga naik dengan sendirinya.
Sementara ketika gilirannya harga BBM turun (ini bukan kali pertama harga BBM turun), maka biasanya harga barang-barang bukannya ikut turun tapi malah cenderung tetap. Jika ‘kebiasaan buruk’ ini dibiarkan maka akan menyebabkan tingginya inflasi, yang pada akhirnya mengganggu perekonomian. Dan mungkin itu pula sebabnya Pemerintah mengeluarkan kebijakan intervensi pasar, dalam hal ini dimulai dari harga jual semen karena seperti hal-nya industri BBM di Indonesia dikuasai oleh Pemerintah melalui Pertamina, industri semen juga dikuasai oleh Pemerintah melalui Semen Indonesia (dan juga Semen Baturaja). Ketika harga semen disebutkan turun Rp3,000 per sak, maka sejatinya harga semen tersebut tidak benar-benar turun melainkan hanya balik lagi ke harga semula sebelum dinaikkan beberapa waktu lalu, yakni ketika harga BBM jenis premium naik dari Rp6,500 menjadi Rp8,500 per liter. Berdasarkan survei yang penulis lakukan sendiri ke toko bangunan di dekat rumah (di Jakarta), harga semen merk Tiga Roda pada saat ini adalah Rp62,000 per sak. Harga tersebut lebih tinggi dibanding beberapa bulan lalu sebelum BBM naik, yakni Rp58,000 per sak. Jadi kalau harga tersebut diturunkan Rp3,000, maka secara keseluruhan sebenarnya harga semen masih naik seribu perak toh?
Itu yang pertama. Yang kedua, meski tidak secara resmi diumumkan oleh Pemerintah, namun tarif dasar listrik non-subsidi untuk pelanggan industri juga ikut turun mengikuti penurunan harga minyak dunia (sehingga nanti kalau harga minyak dunia naik, maka tarif listrik ini juga akan naik lagi). Mengingat biaya listrik adalah salah satu komponen utama dari ongkos produksi semen, maka penurunan harga jual semen belum tentu berdampak signifikan terhadap laba bersih perusahaan, karena disisi lain biaya produksi semen-nya juga turun. Malahan kalau penurunan biaya produksi ini lebih besar dibanding penurunan harga jual semen, maka SMGR dkk jadinya justru diuntungkan, karena itu artinya margin laba mereka menjadi lebih besar. Ingat bahwa biaya BBM juga merupakan salah satu biaya utama yang harus ditanggung perusahaan-perusahaan semen, dalam hal ini biaya distribusi, dan biaya itu juga turun seiring dengan penurunan harga BBM itu sendiri.
Kesimpulannya, terlalu dini jika kita langsung memvonis bahwa ‘penurunan’ harga jual semen ini akan berdampak negatif pada perolehan laba para juragan semen. Kalau kita melihatnya dari sisi lain, maka ketika Pemerintah mengumumkan penurunan harga jual semen, itu adalah kabar baik bagi perusahaan-perusahaan konstruksi dan juga para developer properti, dimana kalau mereka sebelumnya menghemat anggaran belanja semen (karena harganya naik), maka sekarang mereka akan ramai-ramai menyerbu toko bangunan kembali. Jadi penurunan harga jual semen, jika itu benar-benar terjadi, akan dikompensasi oleh peningkatan omzet. Hal ini juga sejalan dengan visi Presiden Jokowi untuk mengembangkan infrastruktur di Indonesia, dimana visi tersebut tidak akan jalan kalau Adhi Karya dkk belum apa-apa udah males duluan ketika ketemu orang sales dari SMGR yang dengan seenaknya menaikkan harga karena alasan harga BBM naik, tapi nggak mau nurunin harga ketika gilirannya harga BBM turun.
Okay, jadi apa itu artinya sekarang merupakan saat yang tepat untuk membeli SMGR, INTP, SMBR, atau SMCB, mumpung harganya lagi turun? Sebelum itu, mari kita cek valuasi terbaru dari saham-saham semen, dan berikut datanya berdasarkan harga saham per tanggal 23 Januari 2015:
Stocks
Price (Rp)
PER (x)
PBV (x)
ROE (%)
SMGR
14,475
15.8
3.8
24.2
INTP
23,000
17.1
3.6
21.3
SMCB
1,985
20.0
1.7
8.5
SMBR
376
12.6
1.4
11.3
Nah, kalau anda perhatikan, ketika tanggal 16 Januari kemarin pengumuman soal penurunan harga semen ini keluar, maka saham yang paling terkena dampak negatifnya adalah SMGR, dimana dia turun total 14% dalam dua hari. Sementara yang paling kuat bertahan adalah SMBR, yang cuma turun gak sampe 5% pada periode waktu yang sama. And you know what? Dari sisi PBV, seperti yang ditunjukkan pada tabel diatas, saham SMGR merupakan saham termahal di BEI pada saat ini, sementara SMBR adalah yang termurah. Jadi perbedaan yang signifikan pada penurunan yang dialami SMGR dan SMBR, padahal dua-duanya merupakan perusahaan semen BUMN yang terkena dampak langsung dari penurunan harga semen ini, menjadi bisa dijelaskan. SMGR, karena valuasinya yang premium, sejak awal sudah rentan terhadap risiko penurunan jika sewaktu-waktu IHSG turun atau perusahaannya diterpa sentimen negatif tertentu. Sementara SMBR, karena  valuasinya lebih rendah, maka risiko penurunannya otomatis lebih rendah pula.
Jadi sebenarnya tidak ada yang salah dengan fundamental SMGR. Malahan sampai sekarang penulis masih menganggap SMGR sebagai perusahaan semen dengan fundamendal terbaik di BEI. Tapi kalau harga sahamnya ketinggian maka yaa.. gitu deh. Kalau anda perhatikan, dalam setahun terakhir saham SMGR selalu terjaga di level 15,000 – 16,000 dan gak mau turun (pernah turun sesekali ke 14,000-an, tapi langsung naik lagi) karena didorong oleh optimisme investor terkait prospeknya seiring dengan pembangunan infrastruktur. Namun karena disisi lain valuasinya juga sudah mahal, maka sahamnya sulit untuk naik lebih lanjut dan justru bisa dengan mudah turun ketika terjadi sentimen negatif tertentu yang secara otomatis ‘membuyarkan’ prospeknya.
However, karena predikatnya sebagai ‘saham dengan fundamental terbaik’, maka SMGR pada saat ini lebih menarik perhatian penulis dibanding ketiga saham semen lainnya.
Problemnya adalah, bahkan setelah harganya turun ke posisi sekarang, valuasi SMGR masih belum benar-benar terdiskon. Berdasarkan pengalaman, PER 15.8 kali (sebagai saham blue chip, valuasi SMGR bisa dilihat pula dari PER-nya) masih belum bisa dikatakan cukup rendah bagi saham dengan kriteria seperti SMGR yakni: 1. Sahamnya sangat likuid, 2. Nama perusahaannya terkenal dan juga punya reputasi baik, 3. Kinerjanya sangat baik dan juga konsisten dalam jangka panjang. Idealnya, pada kondisi pasar yang normal dimana IHSG tidak sedang terkoreksi signifikan, PER SMGR adalah kurang lebih 14 kali, sehingga dia baru bisa dikatakan murah kalau PER-nya sudah dibawah 14 kali tersebut, yang itu berarti target penurunannya adalah hingga 12,500, dimana harga tersebut akan mencerminkan PER 13.6 kali.
Lalu apakah SMGR akan benar-benar turun sampai level 12,500 tersebut? Ya ndak tau.. Siapa yang tahu kalau dua minggu lagi Pemerintah ternyata kembali menaikkan harga semen, sehingga SMGR dan yang lainnya langsung berbalik terbang? Namun yang kita ketahui adalah, valuasi SMGR pada saat ini masih belum cukup murah. Secara teknikal-pun SMGR belum tampak benar-benar rebound karena harganya sekarang masih dibawah support kuatnya (yang sekarang menjadi resistance), yakni 14,625. Kenaikan yang terjadi dua hari terakhir kemungkinan juga hanya karena didorong kenaikan IHSG yang sedang break new high. Jadi kalau nanti IHSG turun maka SMGR bisa saja melanjutkan penurunannya. Dan terakhir, sekali lagi berdasarkan pengalaman, kalau ada saham blue chip yang turun karena penyebab atau sentimen negatif tertentu, maka dia akan memerlukan waktu, mungkin satu dua atau beberapa bulan, untuk bisa naik lagi, yakni ketika sentimen negatif tadi dilupakan orang dengan sendirinya.
So, ketika para analis sekuritas sibuk merilis riset dan analisis mereka yang pada intinya adalah memprediksi bagaimana kinerja SMGR dkk kedepan, termasuk dengan menyertakan hitung-hitungan penurunan margin laba bersih bla bla bla yang sangat rumit, namun kita value investor mikirnya sederhana saja: Kalau nanti SMGR beneran ke lanjut turun ke 12,500 atau dibawahnya, maka boleh mulai cicil, sembari terus mengamati perkembangan kinerja perusahaan dari kuartal ke kuartal. Tapi kalau SMGR nggak turun sampai serendah itu maka yaaa.. masih ada banyak saham-saham lain yang lebih murah kok. Kalau anda masuk di harga sekarang maka anda bukannya nggak bisa dapet cuan, tapi risikonya tentu lebih besar dibanding jika anda sukses masuk di 12,500 tadi.
NB: Buletin analisis & rekomendasi saham bulanan edisi Februari 2015 akan terbit tanggal 1 Februari mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Pertanyaan Investor Pemula, dan Jawabannya (Forum)

Setiap kali penulis menyelenggarakan seminar/training value investing, penulis memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya melalui email tentang apa saja, selama itu masih ada hubungannya dengan investasi di saham. Nah, kebetulan ada satu email yang masuk yang sepertinya mewakili mayoritas pertanyaan dari teman-teman investor, khususnya investor yang merasa masih pemula alias newbie. Karena itulah, sekalian saya bikin saja artikelnya. Actually, bagi anda yang baru masuk pasar kurang dari 1 tahun, maka pertanyaan-pertanyaan soal ini dan itu memang seperti tidak pernah ada habisnya. Namun mudah-mudahan artikel ini paling tidak bisa menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Bagaimana pengaruh dari beberapa indikator berikut ini terhadap saham dan IHSG? BI Rate, US Rate/Federal Reserve Rate, dan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Contohnya, kalau Rupiah melemah maka saham/sektor apa yang terkena imbasnya?
Terkait pengaruh naik turunnya BI Rate terhadap IHSG/saham-saham tertentu, baca lagi penjelasannya disini. Intinya adalah bahwa BI Rate ini merupakan instrumen dari bank sentral, dalam hal ini Bank Indonesia atau BI, untuk mengendalikan inflasi di tanah air dan juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Simpelnya, jika instrumen BI Rate ini bisa ditetapkan pada level yang secara efektif menekan inflasi, sembari disisi lain tetap menjaga atau mendorong pertumbuhan ekonomi, maka perekonomian nasional secara umum akan membaik, dan selanjutnya itu akan memberi dampak positif pada IHSG.
Kalau United States Rate, atau Federal Reserve Rate (Federal Reserve, atau The Fed, adalah BI-nya Amerika Serikat), itu hubungannya dengan dana milik investor asing yang ditanamkan disini, di pasar saham Indonesia. Sebagai negara berkembang, Indonesia menawarkan tingkat suku bunga yang sebenarnya sangat tinggi (BI Rate terakhir tercatat 7.75%, bandingkan dengan Fed Rate yang cuma 0.25%), namun disisi lain Indonesia juga dianggap sebagai negara yang mengandung risiko investasi yang relatif tinggi. Ini artinya dalam pandangan investor asing, investasi disini menawarkan keuntungan tinggi, tapi disisi risikonya pun tinggi.
Nah, kalau negara-negara maju, katakanlah seperti Amerika Serikat (AS), menaikkan tingkat suku bunganya dimana Fed Rate naik menjadi 0.50%, misalnya maka itu bisa menjadi cukup alasan bagi investor asing untuk memindahkan dananya dari sini ke AS, karena dengan demikian AS menawarkan keuntungan investasi yang lebih tinggi dari sebelumnya, sementara disisi lain risiko investasinya sejak awal dianggap jauh lebih rendah dibanding Indonesia.
Dan kalau dana asing ramai-ramai keluar dari bursa saham Indonesia, maka IHSG juga akan turun.
Tapi berdasarkan pengalaman, efek dari kenaikan atau penurunan Fed Rate itu biasanya cuma sementara. Pada akhirnya, seperti halnya dana domestik juga terus masuk ke pasar saham Indonesia (seiring dengan terus meningkatnya jumlah investor, baik ritel maupun institusi), dana asing juga tetap masuk kesini. Sejak tahun 1997 hingga tahun 2014 kemarin, cuma dua kali dana asing keluar dari BEI, yakni tahun 2005 dan 2013. Selebihnya dana asing terus masuk kesini dengan jumlah yang juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2014 kemarin bahkan jumlah dana asing yang masuk ke BEI tercatat Rp42.6 trilyun, atau terbesar sepanjang sejarah pasar saham Indonesia.
Terkait pengaruh pelemahan atau penguatan Rupiah terhadap saham/IHSG, kita sudah membahasnya berkali-kali di website ini. Coba anda baca lagi artikel ini, ini, dan ini. Sebenarnya, pelemahan Rupiah, selama masih dalam batas-batas yang wajar, maka pengaruhnya juga terbatas hanya pada perusahaan-perusahaan tertentu saja, yakni perusahaan yang: 1. Membeli produk/bahan baku dari luar negeri alias impor, dan 2. Memiliki utang dalam mata uang US Dollar dalam jumlah yang besar. Diluar itu maka nyaris tidak ada pengaruh apapun. Dalam tiga tahun terakhir, Rupiah sudah terjerembab cukup dalam dari Rp9,000-an hingga terakhir sudah menembus Rp12,500 per Dollar. But still, perekonomian di Indonesia masih berjalan dengan normal dan wajar, dan tidak sampai terjadi krisis atau semacamnya.
Bagaimana pengaruh penurunan harga minyak terhadap saham/IHSG?
Pengaruhnya? Well, harga minyak sudah anjlok dari sebelumnya US$ 90-an per barel hingga terakhir sudah dibawah US$ 50 per barel, atau anjlok hampir separohnya. Tapi nyatanya IHSG masih baik-baik saja bukan? Jadi kenapa khawatir?
Tapi.. okay, penjelasannya begini. Minyak mentah, alias crude oil, bisa disebut sebagai komoditas utama diantara berbagai macam komoditas lainnya yang diperdangkan di pasar futures maupun pasar spot (lho, bedanya futures dan spot itu apa? Tanya google!), seperti gas alam, batubara, CPO, nikel, timah, tembaga, emas, perak, kacang kedelai, jagung, karet, kapas, gula, daaaaan seterusnya. Penulis menyebut minyak ini sebagai ‘komoditas utama’, karena entah kenapa semua pelaku pasar saham di seluruh dunia lebih memperhatikan harga minyak dibanding harga komoditas lainnya. Termasuk di statistik BEI juga selalu dicantumkan harga minyak terbaru, tapi nggak ada harga batubara ataupun CPO. Alhasil, kalau harga minyak turun, maka akan timbul asumsi bahwa pasar komoditas secara umum juga turun, sehingga (meski tidak selalu) harga komoditas-komoditas lainnya juga ikut turun. Dan ketika harga batubara dan CPO turun, misalnya, maka mau tidak mau saham-saham batubara dan perkebunan kelapa sawit juga akan terkena imbasnya. Jika hal ini terjadi secara bersamaan pada banyak saham sekaligus, maka IHSG juga akan ikut tertekan.
However, poinnya disini adalah, kita tidak pernah bisa memprediksi apakah harga minyak (dan juga komoditas-komoditas lainnya) akan naik atau turun dalam beberapa waktu mendatang. Para analis dan chief economist dari bank-bank atau lembaga investasi besar biasanya punya pandangan mereka masing-masing soal bagaimana kira-kira harga minyak kedepannya. Tapi kalau anda tanya Warren Buffett, maka jawabannya cuma satu: I.. don’t.. know. Dan kalau anda tanya penulis, maka jawaban saya juga sama, plus: …and I don’t care.
Bagaimana dampak krisis Rusia terhadap pasar saham Indonesia?
Sejak tahun 2009 sampai sekarang, penulis pribadi sudah kelewat kenyang dengan berbagai macam isu seperti Krisis Eropa, Krisis Yunani, Debt Ceiling, Fiscal Cliff, United States Shutdown, perlambatan ekonomi di China, Tapering, dan sekarang krisis Rusia… hanya untuk sampai pada kesimpulan bahwa berbagai macam isu tersebut tidak berpengaruh apa-apa terhadap IHSG. Bahkan krisis global yang melanda dunia pada tahun 2008 sekalipun (saya belum masuk pasar ketika itu, jadi artikelnya juga nggak ada), sejatinya tidak benar-benar berpengaruh terhadap perekonomian nasional dan juga IHSG, kecuali dalam jangka pendek saja. Buktinya, meski IHSG ketika itu (sepanjang tahun 2008) hancur berantakan dimana ia turun lebih dari separuhnya, tapi hanya dalam tempo tak sampai dua tahun selanjutnya dia sudah mau break new high lagi. Ceritanya berbeda dengan krisis 1998, dimana ketika itu memang Indonesia-lah yang terkena krisis. Dan ketika itu, IHSG sampai perlu waktu hingga hampir lima tahun (sampai awal tahun 2004) untuk benar-benar pulih kembali.
Intinya sih, berbagai kejadian krisis dan semacamnya yang terjadi diluar sana, itu hal yang biasa terjadi dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan setelah krisis Rusia ini nanti pasti akan ada cerita ‘krisis’ lainnya lagi. Sementara kita sebagai investor lebih fokus pada fundamental perusahaan-perusahaan, dan juga perkembangan ekonomi dalam negeri. Penulis juga dulunya sering sekali memperhatikan, bahkan kadang sampai bingung sendiri, ketika mendengar berita bahwa Yunani krisis, Amerika krisis, Bekasi krisis bla bla bla.. (krisis aja terus!). Jadi kalau anda masih pemula, maka saya bisa katakan bahwa adalah wajar jika anda memperhatikan isu krisis Rusia dll, karena saya juga dulu begitu. Tapi suatu hari nanti, anda akan mengatakan sama seperti yang penulis katakan diatas: I don’t care.
Bagaimana cara screening saham yang benar? Poin-poin apa saja dalam laporan keuangan yang harus diperhatikan terlebih dahulu?
Yang ini nanti diajarkan di seminar. Well, sebenarnya di website ini juga sudah diajarkan kok, coba anda cari sendiri artikelnya. Kalau anda baru mengunjungi website teguhhidayat.com ini untuk pertama kali, maka silahkan baca-baca artikel lama (sejak tahun 2010) yang sudah disajikan secara terbuka disini. Semuanya gratis!
Data dari ft.com atau imq21, yang mana yang lebih akurat?
Investor profesional biasanya mengambil data langsung dari laporan keuangan perusahaan dan dokumen-dokumen lain yang terkait, namun jarang atau bahkan tidak pernah mengambil data dari pihak ketiga (seperti FT.com dan lainnya). Jadi bagi kami, data-data yang disajikan oleh pihak ketiga tersebut tidak akurat. Tips bagi investor pemula: Meski awalnya memang sulit, namun biasakan untuk mengerjakan analisis saham milik anda sendiri menggunakan data-data dari sumber primer, yakni laporan keuangan dan dokumen-dokumen lainnya yang bersumber langsung dari perusahaan. Anda bukannya nggak boleh ambil data-data atau analisis dari pihak ketiga, termasuk dari website ini, namun gunakan data pihak ketiga tersebut hanya sebagai alat bantu pengambilan keputusan, atau second opinion, dan bukannya acuan utama dalam menentukan saham mana yang akan anda beli atau jual.
Dan kalau anda tidak bisa atau sejak awal tidak punya waktu untuk mengerjakan analisis, maka pertimbangkan untuk membuka rekening reksadana saja. Meski juga tidak ada jaminan bakal untung, namun risiko investasinya akan lebih rendah dibanding jika anda membeli saham sendiri secara langsung, karena dana anda dikelola oleh fund manager profesional.
Apakah kita bisa memprediksi kapan pasar akan terkoreksi besar-besaran? Jika bisa, bagaimana caranya?
Sejak tahun 2009 sampai sekarang, kami sudah mengalami setidaknya empat kali koreksi pasar yang lumayan besar, yakni Mei 2010, Agustus – September 2011, Mei 2012, dan Juni – Desember 2013 (tahun 2013 ini yang terburuk). Sementara pada tahun 2014 kemarin, boleh dibilang tidak terjadi koreksi yang berarti.
However, setelah empat kali berdarah-darah tersebut, pada akhirnya tetap saja: Kami tidak bisa memprediksi kapan pasar akan terkoreksi, karena bahkan Warren Buffett pun tidak.
Meski demikian, kami bisa menilai pada level berapa IHSG dikatakan sudah terlalu mahal (penjelasannya baca disini), sehingga besar kemungkinannya bahwa dia akan terkoreksi. Meski kita tidak bisa secara persis memprediksi kapan pasar akan turun (atau naik), namun kami biasanya akan segera keluar dari pasar alias cuci gudang besar-besaran, jika kami melihat bahwa 1. IHSG sudah terlalu mahal, 2. Pergerakannya juga mulai bergerak kebawah (downtrend) ditandai dengan gagal break-out dimana, meski IHSG ditutup naik dalam satu hari tertentu, namun posisi penutupannya tetap lebih rendah dibanding posisi penutupan tertinggi beberapa hari sebelumnya, dan 3. IHSG mengalami penurunan signifikan (diatas 1 atau 2%) dalam satu hari. Udah, cuma tiga itu aja tandanya.
Lalu kapan waktunya belanja lagi? Ya kalau penurunannya sudah lumayan dalam hingga IHSG menjadi tidak mahal lagi, dan trend-nya secara teknikal juga mulai berbalik arah lagi menjadi uptrend. Pada prakteknya memang tidak semudah itu dimana dalam kondisi pasar jeblok, maka psikologis kita juga akan ikut terpengaruh (ikut panik) dan hal itu mau tidak mau berpengaruh terhadap cara kita mengambil keputusan. Pada akhirnya, untuk bisa mengatasi koreksi IHSG ini maka solusinya cuma satu: Anda harus pernah mengalaminya sendiri.
Apa itu yang dimaksud dengan EPS dan PER?
Jawabannya baca lagi artikel yang ini.
Okay, sebenarnya masih ada lagi beberapa pertanyaan lainnya, seperti:
  1. Bagaimana cara menganalisis ROE dan ROA? Apakah patokan ROA itu mesti lebih tinggi dibanding BI Rate?
  2. Analisis hutang cukup dilihat dari DER saja? Atau ada lagi yang lain?
  3. (Khusus bagi anda yang technicalist) Bagaimana cara melihat bahwa sebuah saham sudah overbought atau oversold?
  4. Apa itu yang dimaksud dengan trading plan? Bagaimana cara anda dalam menyusun/membuat trading plan? Apa-apa saja yang perlu dicatat dalam buku ‘diary’ seorang investor?

Daaannn seterusnya.. However, berhubung artikel ini sudah cukup panjang dan saya juga sudah capek ngetiknya (anda bisa lihat dari pertanyaan terakhir diatas yang jawabannya singkat banget), maka selebihnya saya serahkan kepada teman-teman yang mungkin juga bisa kasih pencerahan bagi teman-teman lainnya yang masih pemula. Anda bisa menulis jawabannya melalui kolom komentar [...]

Tidak Apa Menjadi Berbeda, Asalkan..

Beberapa waktu lalu penulis ketemu dan diskusi dengan seorang investor senior, dan dalam diskusi tersebut kita sedikit membahas soal salah seorang investor saham paling terkenal di Indonesia: Pak Lo Kheng Hong. Menurut kawan penulis ini, LKH tidak layak disebut sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’, karena terdapat beberapa perbedaan mendasar antara cara investasi LKH dengan Buffett. Sebagai contoh, LKH sama sekali bukan investor jangka panjang seperti layaknya Buffett. Pada tahun 2002, ketika ia membeli United Tractors (UNTR) pada harga Rp400 per saham,  hanya dalam tempo 3 tahun kemudian UNTR tersebut sudah dijual. Bandingkan dengan Buffett yang sejak membeli saham Coca Cola pada tahun 1989, hingga saat ini atau lebih dari 25 tahun kemudian, saham tersebut masih dipegang.

Pendapat kawan penulis tersebut memang benar, tapi disisi lain pernyataannya tersebut juga membuat penulis jadi berpikir: Apakah untuk menjadi investor saham yang sukses, maka kita harus berinvestasi dengan cara yang sama persis dengan Warren Buffett, dan tidak boleh berbeda sedikitpun? Tapi kalau memang benar demikian, lalu kenapa pak LKH, yang dikatakan berinvestasi dengan cara yang berbeda dengan Warren Buffett, ternyata tetap saja sukses besar hingga menjadi kaya raya seperti sekarang?
Dalam hal inilah penulis jadi ingat lagi dengan seminar yang disampaikan oleh Mr. Buffett di Columbia University pada taun 1984 lalu, ketika itu dalam rangka memperingati 50 tahun terbitnya buku ‘The Intelligent Investor’, sebuah buku pertama di dunia tentang value investing yang ditulis oleh Ben Graham, mahaguru dari Warren Buffett dan juga semua value investor di seluruh dunia. Dalam seminarnya tersebut, Buffett memaparkan tentang bagaimana kinerja investasi dari beberapa investor penganut paham value investing, termasuk dirinya sendiri, yang rata-rata lebih baik dibanding pasar (dalam hal ini pasar saham Amerika). Contohnya seperti Buffett Partnership, yang antara tahun 1957 – 1969 sukses membukukan gain rata-rata 29.5% per tahun, atau jauh diatas kenaikan indeks Dow Jones yang rata-rata hanya 7.4% per tahun.
Tapi intinya adalah, dalam seminar tersebut Buffett berkali-kali menyampaikan bahwa meski ia dan beberapa fund manager lainnya menganut paham yang saham yakni value investing, namun setiap fund manager memiliki gaya investasinya masing-masing, yang berbeda satu sama lain. Sebelumnya, berikut adalah beberapa nama investor/fund manager penganut value investing yang diceritakan oleh Buffett dalam seminarnya tersebut:
  1. Walter J. Schloss
  2. Tom Knapp
  3. Warren E. Buffett sendiri
  4. Bill Ruane
  5. Charles T. Munger (Mr. Charlie kemudian menjadi orang nomor dua di Berkshire)
  6. Rick Guerin, dan
  7. Stan Perlmeter
Okay, lalu apa perbedaan ‘gaya investasi’ dari ketujuh orang diatas? Here we go. Walter Schloss merupakan tipe investor yang menyukai diversifikasi dimana ia memegang lebih dari 100 saham yang berbeda, dan ini berkebalikan dengan Charlie Munger yang memegang kurang dari 20 saham dalam portofolionya. Kemudian Tom Knapp, ia lebih suka menjadi investor aktif yang memegang kendali atas perusahaan (yang ia beli sahamnya), sehingga ia lebih banyak berinvestasi pada perusahaan-perusahaan kecil dimana ia bisa menjadi pemegang saham mayoritas. Dan ini berkebalikan dengan cara investasi Bill Ruane, yang lebih suka memegang saham dari perusahaan-perusahaan besar. Jika Warren Buffett punya metode work-out dalam strategi investasinya, dimana melalui metode ini ia membeli saham-saham yang pergerakannya tidak dipengaruhi oleh naik turunnya pasar, maka keenam investor lainnya tidak menerapkan strategi yang sama, namun menariknya kinerja investasi dari salah satu dari mereka, yakni Rick Guerin, tercatat lebih baik dari Buffett. Terakhir, Stan Perlmeter, yang mungkin karena latar belakangnya yang tidak pernah kuliah jurusan finansial dan juga tidak pernah secara langsung menghadiri seminar/kursus dari Ben Graham (Mr. Stan hanya sempat ketemu beberapa kali dengan Buffett), maka ia tidak pernah melakukan analisis yang ribet dalam memilih saham seperti bagaimana kira-kira kinerja perusahaan setahun kedepan, bagaimana trend perubahan harga saham, dan seterusnya. Dan ini berbeda dengan Buffett yang seringkali menganalisis perusahaan secara mendalam, termasuk menghitung nilai intrinsiknya kira-kira berapa, karena Buffett sejak awal memang sudah merupakan pakar investasi dengan gelar master (S2) di bidang sains ekonomi dari Universitas Columbia.
But still, kinerja investasi Mr. Stan juga tetap lebih baik dibanding rata-rata pasar.
Beberapa perbedaan yang disebutkan diatas hanyalah sebagian. Pada prakteknya ketujuh value investor diatas benar-benar berinvestasi dengan cara mereka masing-masing, yang bisa jadi sangat berbeda satu sama lain. Dan itu sebabnya komposisi portofolio dari ketujuh investor diatas juga berbeda. Ketika salah seorang investor diatas membeli saham tertentu, maka itu bukan berarti keenam investor lainnya akan turut membeli saham yang sama. Malah faktanya, tidak ada satupun dari ketujuh investor diatas yang berusaha mencontek apa saja pilihan saham dari investor disebelahnya, karena masing-masing punya pilihan sahamnya sendiri.
Warren Buffett bersama para karyawan inti di Berkshire Hathaway. Selain dikelola langsung oleh Buffett, Berkshire juga mempercayakan sebagian kecil dana (beberapa milyar Dollar) ke beberapa fund manager internal untuk dikelola sendiri oleh mereka sesuai gaya investasi mereka masing-masing, dengan catatan mereka tetap menerapkan konsep value investing. Dan hasilnya, fund-fund manager ini pada tahun-tahun tertentu terkadang mencatat kinerja yang justru lebih baik dibanding kinerja Buffett itu sendiri.
Kalau begitu bagaimana bisa ketujuh value investor ini kesemuanya sukses dalam menaklukan pasar? Apa sebenarnya persamaan dari mereka semua? Well, kenyataannya hanya ada satu persamaan: Baik itu Walter Schloss, Tom Knapp, hingga Stan Perlmeter, kesemuanya hanya membeli saham yang, setelah mereka hitung secara hati-hati, memiliki nilai yang secara signifikan lebih tinggi dibanding harga belinya. Singkatnya, mereka semua membeli saham senilai US$ 1 pada harga 40 sen atau kalau bisa kurang dari itu. Perkara jualnya nanti di harga berapa, pegangnya berapa lama, atau bagaimana dengan prospek perusahaan kedepannya dll, dalam value investing sama sekali tidak ada patokannya secara spesifik. Jika anda baca lagi buku ‘The Intelligent Investor’, maka meskipun buku itu sangat tebal yakni lebih dari 1,000 halaman, namun intinya ya cuma itu tadi, yakni belilah saham pada harga yang jauh lebih rendah dibanding nilainya, dan tidak ada lagi peraturan lainnya. Mau anda coba baca buku-buku tentang value investing lainnya pun, intinya tetap saja sama. Salah seorang value investor yang usianya relatif masih muda namun sudah kaya raya (mengelola aset lebih dari US$ 1 milyar) bernama Seth A. Klarman, juga pernah menulis buku berjudul ‘Margin of Safety: Risk Averse Value Investing Strategies for Thoughtful Investor’. Dan lagi-lagi inti dari bukunya juga sama: Belilah saham pada harga yang lebih rendah dibanding nilai intrinsik perusahaan. Mungkin penulis perlu menekankan juga bahwa, dalam bukunya, Mr. Klarman menyampaikan bahwa ia memiliki beberapa metode investasi yang berbeda dengan Warren Buffett. Contohnya, jika Buffett lebih suka beli saham kemudian ditinggal, maka Mr. Klarman sesekali masih men-trading-kan sahamnya. Namun karena inti strateginya tetap sama yakni value investing, maka tetap saja Mr. Klarman ini sukses.
So kesimpulannya balik lagi keatas, okay Pak LKH mungkin memang bukan Warren Buffett, dimana mereka berdua memiliki banyak perbedaan baik itu dalam hal strategi investasi maupun komposisi portofolio (komposisi porto LKH dengan Berkshire Hathaway jelas beda, karena LKH invest di Indonesia sementara Berkshire di Amerika). Tapi yah, faktanya tetap saja LKH menjadi besar bukan? Karena beliau adalah seorang penganut sejati dari paham margin of safety. Yang juga harus diingat, adalah juga tidak mungkin bagi siapapun untuk meniru 100% metode yang diterapkan Warren Buffet ataupun LKH dalam berinvestasi, karena setiap investor memiliki ciri khas mereka masing-masing, seperti lamanya pengalaman investasi, latar belakang pendidikan, besarnya jumlah dana kelolaan dan seterusnya, yang pastinya berbeda dengan investor-investor lainnya.
Tapi kalau anda sudah paham inti dari value investing itu sendiri, yakni margin of safety tadi, maka itu sudah cukup! You know, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo memiliki style mereka masing-masing dalam hal mencetak gol, dimana Messi fokus pada teknik sementara Ronaldo fokus pada power. Namun karena keduanya mampu melakukan hal tersebut (mencetak gol) dengan sama baiknya, maka dua-duanya tetap layak disebut sebagai pemain terbaik dunia bukan? Intinya disini adalah bukan bagaimana cara anda mencetak gol, tapi seberapa banyak gol yang bisa anda cetak. Mau anda pake teknik jungkir balik dalam menendang bola dan mencetak gol, tapi kalau hasilnya tendangan anda malah melenceng, maka ya buat apa??? Dalam value investing juga sama: Entah itu anda menerapkan diversifikasi atau hanya memegang saham-saham tertentu, entah itu anda pilih saham-saham blue chip atau second liner, entah itu anda pegang saham yang sama selama bertahun-tahun atau lebih suka trading dalam jangka yang lebih pendek (asal jangan jadi day trader aja), maka itu semua tidak jadi soal! Karena yang terpenting adalah, anda harus beli saham pada harga yang secara signifikan lebih rendah dibanding nilainya. Kenapa demikian? Karena hanya dengan metode itulah anda bisa disebut sebagai value investor, dimana anda akan berpeluang besar untuk beat the market, seperti yang telah sukses dilakukan oleh para value investor senior yang sudah disebutkan diatas.
Catatan: Bagi anda pengunjung baru TeguhHidayat.com, penjelasan lebih lanjut soal margin of safety baca lagi disini. Soal bagaimana menghitung berapa nilai saham, apakah lebih rendah atau lebih tinggi dibanding harganya, penulis juga sudah cukup sering membahasnya di website ini. Silahkan cari di artikel-artikel terdahulu, semuanya boleh anda baca secara gratis!
Baiklah, tapi masa iya sih caranya sesederhana itu? Pokoknya beli saham murah, udah gitu aja? Ya memang tidak sesimpel itu juga. Berdasarkan pengalaman, diluar peraturan margin of safety yang sudah tidak boleh lagi ditawar-tawar tersebut, maka seiring perjalanan investasi yang anda lakukan, anda juga akan menemukan beberapa peraturan lainnya yang bisa disesuaikan dengan karakter anda sendiri sebagai investor. Contohnya, penulis termasuk investor yang cuek dan tidak peduli dengan fluktuasi jangka pendek/harian. Karena itulah penulis beberapa waktu terakhir berani beli saham-saham komoditas meski mereka sedang turun (karena sentimennya lagi jelek), as long as fundamentalnya bagus dan harga belinya juga nggak mahal. Tapi kalau anda tipe jantungan, maka anda disarankan untuk ambil saham-saham blue chip saja. Penulis pada waktu-waktu tertentu cukup berani untuk menempatkan 100% dana di saham, tapi beberapa investor lain mungkin lebih suka tetap harus menyisakan dana cash. Penulis tidak tahu apakah gaya investasi ini akan bisa dipertahankan kedepannya, atau, karena satu dan lain hal, harus diubah. Tapi yang pasti, sejak awal hingga seterusnya, saya akan selalu beli saham-saham yang berfundamental bagus pada harga yang murah.
Dan Warren Buffett juga sama. Pada tahun 60-an, ia menyukai saham-saham dengan PBV kurang dari 1 kali, bahkan meski perusahaan tersebut agak amburadul. Tapi kesininya ia lebih memilih saham-saham dari perusahaan yang sudah mapan meski memang harga belinya tidak bisa lagi semurah itu, dengan catatan harga beli tersebut tetap lebih rendah dibanding nilai intrinsik perusahaan. Intinya, Buffett pada hari ini bisa jadi sangatlah berbeda dengan Buffett 40 tahun yang lalu, meski kedua orang tersebut (Buffett pada hari ini, dan Buffett di tahun 1960-an) sama-sama menerapkan value investing. Penulis sendiri juga sama begitu, dimana saya hari ini sangatlah berbeda dengan saya lima tahun lalu, dan saya lima tahun yang akan datang mungkin juga akan berbeda dengan saya hari ini, but it’s okay as long as you keep applying the formula: The margin of safety.
Okay, ada yang mau [...]

As a Stock/Value Investor..

What my mom thinks I do

What stock traders think I do
What people think I do

What my wife thinks I do

What I think I do
What I really [...]

Seminar Value Investing: Jakarta

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, kali ini di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  4. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Materi Tambahan: Beberapa pilihan saham untuk dipegang selama tahun 2015.
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 24 Januari 2015
  • Dress code: Formal dan mengenakan sepatu (anda nantinya akan difoto bareng kemudian fotonya ditampilkan di website ini).
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 WIB (seminarnya total 5 jam termasuk istirahat makan siang), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30 agar punya waktu untuk ngobrol dan diskusi santai dengan sesama peserta. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara inihanya Rp750,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Diskon Khusus: Bagi anda yang masih kuliah alias mahasiwa, biayanya boleh didiskon menjadi hanya Rp500,000. Syaratnya cukup dengan menyertakan gambar/scan Kartu Tanda Mahasiswa ketika anda mengirim email konfirmasi pembayaran.

Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Joko Widodo, BCA. Jika anda mendaftar untuk dua orang maka sebutkan nama dua-duanya. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 52596BDA, office hour only.
Untuk melihat foto-foto dari penyelenggaraan seminar-seminar sebelumnya, klik disini.
Testimonial!
Dear Pak Teguh, terima kasih atas pembelajarannya, kinerja tahun 2014 ini cukup memuaskan, porto tumbuh kurang lebih 50%, better than IHSG :)
Sugianto Effendy – Surabaya, Jawa Timur

Update: Kursinya sudah penuh! Jadi kalo gitu sampe ketemu di jadwal selanjutnya!

Catatan: Kita bikin seminar di Jakarta setiap 1 atau 2 bulan sekali, jadi jadwal berikutnya adalah paling cepat hari Sabtu tanggal 21 Februari 2015. Nanti akan diumumkan lagi kalau tanggalnya sudah fix (karena tergantung ketersediaan hotelnya juga), just stay [...]

Tantangan Ekonomi Presiden Jokowi

Jumat kemarin, Presiden Jokowi meresmikan pembukaan pasar saham di hari perdagangan pertama di tahun 2015, di Gedung BEI, Jakarta. Meski sejak beberapa tahun terakhir, pembukaan pasar saham di awal tahun memang rutin dihadiri oleh Presiden RI, namun kehadiran Jokowi terasa istimewa karena kita semua tahu persis bahwa sebelumnya beliau, terkait tragedi Air Asia, sampai harus bolak-balik Papua – Jakarta – Pangkalan Bun – Surabaya, dan ke Jakarta lagi hanya dalam hitungan hari, dan itu belum termasuk melakukan tugas kenegaraan seperti menerima George Soros di Istana, rapat dengan para menteri terkait penurunan harga BBM, dan melantik beberapa petinggi TNI yang baru. Tapi toh, jumat kemarin beliau masih sempat-sempatnya mampir ke SCBD dan juga hadir tepat waktu (sebelum pasar dibuka pukul 09.00 WIB), padahal pagi harinya beliau berkunjung ke Pasar Tanah Abang dulu! Untuk blusukan seperti biasa, dan juga membuka kegiatan perdagangan di Pasar Tanah Abang tersebut.

Penulis pribadi, sebagai investor yang setahunan terakhir lebih banyak menghabiskan waktu untuk berlibur dan do nothing, terus terang menjadi malu sendiri kepada Pak Presiden yang seperti tanpa pernah beristirahat dalam menjalankan seluruh tugas-tugasnya sebagai seorang pemimpin. Entah itu para pedagang di pasar tradisional ataupun para pelaku pasar saham, dan juga para korban bencana longsor Banjarnegara dan Air Asia, semuanya memperoleh perhatian secara langsung tanpa terkecuali! So, dengan ini saya menyatakan, God bless you Mr. President! Semoga anda panjang umur, tetap sehat walafiat, dan terus memberikan inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia, untuk juga terus bekerja keras sesuai peran dan kapasitas kami masing-masing, demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Anyway, sekarang kita ke inti dari artikel ini. Sepanjang tahun 2014 lalu, seperti yang anda ketahui, IHSG naik cukup signifikan yakni 22.3%. Berdasarkan statistik BEI di hari perdagangan terakhir di tahun 2014, dua sektor yang menjadi pendorong utama kenaikan IHSG adalah sektor properti dan konstruksi dengan kenaikan 55.8%, dan jasa finansial (perbankan, asuransi, dan pembiayaan) sebesar 35.4%. Kenaikan yang tinggi di sektor properti dan konstruksi, terutama konstruksi, salah satunya karena didorong oleh optimisme investor bahwa Pemerintahan yang baru dibawah presiden Jokowi akan fokus pada pembangunan infrastruktur, dimana perusahaan-perusahaan konstruksi akan diuntungkan. Dan karena pembangunan infrastruktur tersebut dikatakan akan fokus pada sektor maritim, maka jadilah saham-saham perkapalan, pelabuhan, hingga perikanan turut terkena sentimen positif. Jika semuanya lancar, maka Indonesia akan menjadi salah satu ‘poros maritim dunia’ dalam beberapa tahun kedepan. Penjelasan lebih lanjut mengenai prospek sektor konstruksi dan kelautan ini bisa dibaca disini, dan disini.
However, seperti yang sudah sering penulis sampaikan, hanya karena Presiden Jokowi sudah mantap untuk sesegera mungkin membangun infrastruktur termasuk infrastruktur kelautan, maka itu bukan berarti sektor maritim kita akan langsung jadi bagus dalam sekejap untuk kemudian memberikan dampak positif kepada perekonomian nasional secara keseluruhan. Pembangunan pelabuhan dll biar bagaimanapun akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, belum termasuk harus menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang sudah pasti akan timbul dengan sendirinya.
Dan sayangnya, kalau kita balik lagi ke kondisi perekonomian nasional pada saat ini, maka Indonesia sejatinya sedang dalam kondisi yang tidak terlalu baik. Jumat kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca ekspor impor untuk periode Januari – November 2014, dan datanya menunjukkan bahwa neraca perdagangan kita masih defisit (impor lebih besar dibanding ekspor) sebesar US$ 2.1 milyar. Defisit yang terjadi terus menerus sejak tahun 2012 turut menekan pertumbuhan ekonomi nasional hingga ke level 5.0% pada Kuartal III 2014, atau level terendah dalam lima tahun terakhir. Data inflasi juga tampak tidak terlalu bagus, dimana sepanjang tahun 2014 angkanya tercatat 8.4%, atau jauh diatas target Bank Indonesia (BI) sebesar 4.5%. Karena itulah, meski ada banyak pihak yang menyatakan bahwa pelemahan Rupiah hingga ke posisi Rp12,474 per US Dollar adalah lebih karena penguatan mata uang US Dollar itu sendiri, terbukti yang melemah gak cuma Rupiah melainkan hampir seluruh mata uang negara lainnya juga turut melemah, namun faktor lainnya yang juga harus diperhatikan adalah fundamental perekonomian Indonesia yang memang, seperti yang sudah disebut diatas, sedang tidak terlalu bagus.
Kalau penulis perhatikan, kondisi ini masih merupakan buntut dari pelemahan harga komoditas, terutama batubara, crude palm oil (CPO), dan karet yang terjadi sejak 2012 lalu sampai sekarang (kita pernah membahasnya disini), karena memang tiga komoditas itulah yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Posisi terakhir dari harga batubara adalah sekitar US$ 65 per ton, dan CPO RM2,284 per ton, alias masih sangat jauh dibawah harga tertingginya masing-masing yakni US$ 110 per ton untuk batubara, dan RM3,900 per ton untuk CPO (untuk harga karet agak susah cari datanya, tapi yang pasti lagi anjlok juga). And you know what? Bahkan dalam kondisi dimana pendapatan perusahaan-perusahaan batubara dan perkebunan kelapa sawit di BEI turun terus dalam 3 tahun terakhir, batubara dan CPO masih menjadi komoditas ekspor utama Indonesia (diluar migas) dengan nilai ekspor yang hampir persis sama, yakni masing-masing US$ 19.4 milyar untuk periode Januari – November 2014. Sementara ekspor mesin dan peralatan listrik, yang menempati posisi ketiga sebagai ekspor nonmigas terbesar Indonesia, nilainya hanya US$ US$ 8.9 milyar (ekspor karet menempati posisi keempat dengan nilai US$ 6.6 milyar). Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2011 dimana harga komoditas sedang tinggi-tingginya, Indonesia mengekspor batubara, CPO, dan karet senilai masing-masing US$ 27.4, 21.7, dan 14.3 milyar, yang menjadikan ketiganya sebagai andalan utama ekspor nonmigas di Indonesia.
Problemnya adalah, diluar migas, batubara, CPO, dan karet, ekspor Indonesia juga masih didominasi oleh komoditas natural resources lainnya, seperti kakao, tembaga, bijih nikel, dan timah, dimana nilai ekspor dari berbagai komoditas tersebut masih sangat tergantung oleh fluktuasi harga internasional dari komoditas yang bersangkutan. Ketika kondisinya seperti sekarang, dimana harga komoditas semuanya turun tanpa terkecuali, maka jadilah ekonomi makro kita menjadi terkena dampak negatifnya, dimana kondisi fundamental ekonomi kita pada saat ini justru lebih buruk dari setahunan yang lalu. Pada Agustus 2013 lalu ketika IHSG sedang berada di salah satu level terendahnya yakni 3,900 – 4,000, Rupiah masih berada di level Rp10,700 – 11,000 per USD, pertumbuhan ekonomi tercatat 5.8%, dan inflasi 8.8% (meski inflasi ketika itu sudah tinggi, tapi ingat bahwa BI Rate pada Agustus 2013 hanya 6.50% dan bukan 7.75% seperti sekarang). Meski Warren Buffett sendiri seringkali mengabaikan data makroekonomi seperti ini dan lebih fokus pada fundamental perusahaan, namun mau tidak mau hal ini tetap menjadi concern penulis, karena itu artinya terdapat gap yang cukup lebar antara posisi IHSG pada saat ini dengan fakta ekonomi di lapangan. Kalau anda mau jujur, anda juga harus mengakui bahwa kenaikan saham-saham konstruksi, perkapalan hingga perikanan sepanjang 2014 lalu, rata-rata lebih didorong oleh ‘prospek kedepan’ ketimbang fundamental riil mereka bukan?
Kondisi perekonomian Indonesia yang tergantung pada fluktuasi harga-harga komoditas di pasar internasional ini, mengingatkan penulis dengan negara Qatar. Kalau anda rajin baca-baca tentang ekonomi makro (di Wikipedia banyak kok), anda akan mengetahui bahwa Qatar adalah negara paling makmur di dunia, dengan GDP per kapita sebesar US$ 146 ribu pada tahun 2013, atau paling tinggi dibanding negara lain manapun. Qatar bisa menjadi negara dengan GDP sebesar itu, karena mereka memiliki salah satu cadangan gas alam (natural gas) terbesar di dunia, dimana sektor gas alam dan minyak menyumbang lebih dari 60% GDP di Qatar. Karena penduduk di Qatar cuma sedikit, maka jadilah GDP per kapita mereka menjadi sangat besar. Kondisi ini juga mirip dengan negara Brunei Darussalam, yang juga merupakan salah satu negara dengan GDP per kapita tertinggi di dunia, karena mereka punya stok minyak dan gas alam yang melimpah untuk diekspor, sementara disisi lain jumlah penduduknya tidak begitu banyak.
However, baik Pemerintah Qatar maupun Brunei sejak awal sudah sadar bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya menggantungkan diri pada ekspor minyak dan gas, karena kalau begitu caranya maka pertumbuhan ekonomi mereka akan dengan mudah diombang ambing oleh fluktuasi dari harga minyak dan gas itu sendiri di pasar internasional. Karena itulah, sejak tahun 1983, Pemerintah Brunei mendirikan Brunei Investment Agency (BIA), yakni sebuah badan dibawah Kementerian Keuangan Brunei, yang secara khusus bertugas untuk menginvestasikan kembali dana surplus yang dihasilkan dari ekspor migas, sehingga dana tersebut tidak menguap sia-sia melainkan menjadi aset yang menghasilkan tambahan pendapatan bagi negara dan juga perekonomian Brunei secara keseluruhan. BIA kemudian menempatkan investasi pada beragam aset, seperti Dolchester Collection, Beverly Hills Hotel, Grand Hyatt Singapore Hotel, Paterson Securities (di Australia), Bahagia Investment Corp (di Malaysia), dan seterusnya.
Sementara di Qatar, pemerintah setempat baru mendirikan Qatar Investment Authority (QIA) pada tahun 2005, dengan tujuan yang juga sama dengan BIA: Menginvestasikan kembali dana surplus yang dihasilkan dari ekspor migas. Meski masih relatif baru, QIA malah justru lebih agresif dalam berinvestasi dimana mereka membeli saham-saham, baik minoritas maupun mayoritas, dari perusahaan-perusahaan paling terkenal di dunia, seperti Barclays, Fisker, Volkswagen Group, Harrods Group, Sainsbury’s, Miramax Films, Credit Suisse, Royal Dutch Shell, hingga klub sepakbola Paris Saint Germain. Dengan kepemilikan dana yang sepertinya tidak terbatas, baru-baru ini QIA juga menginvestasikan US$ 5 milyar untuk membangun fasilitas petrokimia di Malaysia, dan US$ 10 milyar untuk investasi di berbagai sektor ekonomi di Tiongkok (dengan bekerja sama dengan CITIC Group sebagai fund manager-nya).
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Meski Indonesia memiliki cadangan sumber daya alam yang melimpah mulai dari minyak dan gas, emas, nikel, batubara, hingga CPO dan karet, namun kebanyakan dari sumber daya alam tersebut dikuasai oleh swasta, baik itu asing maupun domestik, dan bukannya Pemerintah, dan ini berbeda dengan Pemerintah Brunei dan Qatar yang memiliki kendali penuh atas hampir seluruh cadangan migas mereka. Alhasil ketika harga-harga komoditas sedang naik, maka yang menikmatinya hanya pihak-pihak tertentu seperti para konglomerat pemilik tambang batubara, dan bukannya warga negara secara keseluruhan. Itu sebabnya meski ekonomi kita tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini, namun pertumbuhan tersebut terjadi dengan sangat tidak merata, dimana beberapa orang kaya di perkotaan bisa menjadi tambah kaya, tapi orang-orang yang miskin di kampung-kampung tetap saja miskin.
Problemnya adalah, jika para konglomerat ini lebih memilih untuk menarik dana hasil surplus mereka dari ekspor batubara dll keluar Indonesia (seperti yang dilakukan Banpu melalui ITMG), maka ya jadinya kita nggak dapet apa-apa. Tapi ketika gilirannya harga-harga komoditas ini turun, maka perekonomian kita tetap terkena dampaknya. Pemerintah Indonesia sebenarnya bukan tanpa kendali sama sekali terhadap natural resources, karena mereka masih menguasai minyak melalui Pertamina, batubara melalui Bukit Asam (PTBA), dan perkebunan kelapa sawit dan karet melalui PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Tapi yah, seberapa besar sih kekuasaan Pertamina atas cadangan minyak di seluruh Indonesia? SKK Migas sejauh ini kerjanya ngapain aja? Termasuk PTBA, coba deh, bisa nggak mereka ambil alih Kaltim Prima Coal (KPC) dari tangan Bumi Resources (BUMI)?
However, kinerja yang tidak terlalu bagus yang ditunjukkan oleh BUMN-BUMN di bidang natural resources diatas, mungkin itu karena kurangnya support dari Pemerintah juga, dimana DPR kerjaannya cuma minta setoran dividen aja tiap tahun, atau minta jatah kursi komisaris dengan gaji Rp50 juta per bulan padahal kerjaannya cuma datang rapat nggak jelas setahun sekali. At the end, baik itu pemerintah Qatar maupun Brunei, mereka bisa memiliki kendali penuh atas natural resources-nya, karena ketegasan sang Emir dan Sultan dalam mengatakan, ‘all of these natural resources are belong to our people, and not certain individual or corporations!’. Dalam mengelola migas-nya, pemerintah Brunei sejatinya tidak sendirian melainkan bekerja sama dengan Shell, dan Pemerintah Qatar juga harus bekerja sama dengan ExxonMobil, Total, Mitsui, dan Marubeni. However, sebagai tuan rumah, Pemerintah Brunei dan Qatar sama-sama dalam posisi majority shareholders dari perusahaan minyak yang didirikan, sehingga mereka memiliki kendali atas perusahaan-perusahaan minyak global tersebut, dan bukannya sebaliknya.
Kemudian bagaimana dengan Pemerintah Indonesia?
Di bawah pimpinan Presiden Jokowi, jika menyaksikan ketegasan beliau dalam memimpin TNI, Polri, dan seluruh elemen pemerintahan yang terkait dalam proses pencarian dan evakuasi pesawat Air Asia QZ8501 hingga akhirnya beberapa jenazah korban bisa dievakuasi dalam waktu yang relatif singkat, dan juga ketika bagaimana Pemerintah bisa dengan gampangnya mencabut subsidi BBM dan mengeksekusi keputusan penting lainnya tanpa perlu lagi bagi-bagi jatah jabatan dengan para orang-orang di DPR seperti yang dulu selalu dilakukan Presiden SBY, maka terdapat harapan yang besar bahwa Indonesia kini memiliki pemerintahan yang efektif, yang bisa dengan tegas mengatakan kepada individu maupun korporasi tertentu, baik asing maupun lokal, bahwa, ‘bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara, dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat!’. Penulis berharap bahwa, meski tentunya memerlukan kerja keras dan waktu yang tidak sebentar, namun suatu hari nanti Pemerintah RI pada akhirnya memiliki cukup kendali atas cadangan natural resourcesdi Indonesia, entah itu melalui BUMN atau badan-badan yang secara khusus dibentuk untuk mengelola natural resources tersebut.
Kemudian, setelah memastikan bahwa hasil sumber daya alam kita nggak diangkut kemana-mana melainkan balik lagi ke bumi Indonesia, maka Pemerintah juga mendirikan satu badan khusus, mungkin dengan nama Indonesia Investment Authoritiesatau semacamnya, yang bertugas untuk menginvestasikan kembali hasil surplus dari natural resources (atau dari manapun), ke aset-aset yang produktif. Dengan cara inilah, meski tentunya akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, maka suatu hari nanti pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tidak lagi tergantung pada fluktuasi harga komoditas, karena kita juga punya alternative income dalam bentuk dividen ataupun profit sharing dari investasi-investasi yang sudah ditanamkan sebelumnya, dimana income ini langsung masuk ke kas negara dan bisa dialokasikan untuk APBN.
Kalau boleh jujur, jika mampu dikelola dengan serius, maka Indonesia Investment Authorities ini sebenarnya bisa juga langsung didirikan untuk kemudian beroperasi tanpa perlu menunggu support dana yang dihasilkan dari surplus natural resources. Sejak tahun 1974 lalu, atau kurang dari sepuluh tahun sejak negaranya merdeka, Pemerintah Singapura sudah mendirikan Temasek Holdings, sebuah perusahaan investasi yang kerjaannya menginvestasikan sejumlah dana yang sejak awal memang sudah dialokasikan oleh Pemerintah untuk diinvestasikan, tanpa perlu menunggu surplus dari hasil ekspor natural resources atau lainnya, karena memang Singapura nggak punya natural resources sama sekali. Dan setelah 40 tahun, pada saat ini Temasek merupakan salah satu perusahaan konglomerasi terbesar di dunia dengan total aset US$ 317 milyar pada akhir tahun 2013. Untuk tahun fiskal 2013, Temasek menghasilkan laba bersih US$ 10.6 milyar, yang kesemuanya menjadi milik Kementerian Keuangan Republik Singapura sebagai pemegang 100% sahamnya. Untuk state budget, Pemerintah Singapura juga secara rutin menarik dividen dari Temasek dengan nilai sesuai kebutuhan.
Kesimpulan
Karena negaranya tidak memiliki natural resources, maka nilai dana kelolaan yang dipegang Temasek sebenarnya relatif terbatas, sehingga kontribusinya terhadap perekonomian Singapura secara keseluruhan tidak terlalu signifikan, dan ini berbeda dengan BIA milik Brunei ataupun QIA milik Qatar, yang kinerja mereka dalam berinvestasi cukup berpengaruh terhadap perekonomian nasional.
Sementara posisi Indonesia lebih mirip dengan Brunei dan Qatar ketimbang Singapura, dalam hal kepemilikan sumber daya alamnya yang melimpah. However, jika Pemerintah kesulitan dalam mengambil alih semua aset natural resources yang tersebar di seluruh Indonesia (karena memang tidak semudah itu), maka paling tidak bisa dibuat beberapa formula atau peraturan yang memungkinkan Pemerintah memperoleh bagian lebih dari natural resources yang dihasilkan perusahaan-perusahaan. Contohnya, diluar pajak yang dibayar perusahaan, Pemerintah sudah menerima royalti dari batubara, bea keluar dari ekspor CPO, dan juga royalti dari tambang emas milik Freeport dan Newmont. Jika Pemerintah mampu bernegosiasi dengan pihak korporasi, maka nilai dari royalti dan bea keluar tersebut bisa dinaikkan sekian persen, katakanlah dengan menyesuaikan dengan harga komoditas di pasar internasional (jadi kalau harga batubara naik, royaltinya ikut naik, kalau turun ya ikut turun).
Dana yang diperoleh kemudian dikumpulkan dalam satu wadah, katakanlah dengan nama Indonesia Natural Resources Fund, untuk kemudian jangan digunakan untuk apa-apa kecuali untuk investasi, dalam hal ini investasi di dalam negeri untuk membangun infrastruktur pelabuhan, pembangkit listrik dll. Selain itu, diluar dana yang dikelola sendiri oleh negara, Pemerintah juga bisa mengeluarkan peraturan yang mengharuskan korporasi-korporasi tambang dan lainnya untuk menggunakan perolehan laba yang besar termasuk ketika harga batubara sedang tinggi-tingginya, untuk diinvestasikan disini ketimbang dibawa kabur keluar negeri.
Sebab, sebagai mana yang kita ketahui pertumbuhan ekonomi didorong oleh empat komponen yakni konsumsi, investasi, belanja negara, dan ekspor,dan ditekan oleh satu komponen, yakni impor. Jadi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, ada banyak upaya yang bisa dilakukan selain dengan terus mendorong ekspor dan menekan impor, yakni juga dengan mendorong investasi di dalam negeri, atau boleh juga investasi diluar negeri selama dana yang diinvestasikan adalah milik Pemerintah atau pihak swasta domestik (sehingga keuntungan hasil investasinya akan tetap balik lagi ke Indonesia). Ketika harga-harga komoditas sedang naik, maka ekspor Indonesia juga akan meningkat dengan sendirinya, namun yang terpenting adalah surplus/cadangan dana yang bisa digunakan untuk investasi kemudian, baik itu oleh Pemerintah maupun swasta, juga turut meningkat. Dan ketika harga-harga komoditas sedang turun, maka penurunan nilai ekspor akan dikompensasi dengan peningkatan investasi, menggunakan dana ‘tabungan’ dari periode waktu ketika harga-harga komoditas sedang tinggi.
Dengan cara inilah, yakni menyimpan/menabung kelebihan dana ketika lagi banyak duit dalam bentuk investasi, dan menggunakannya nanti ketika lagi susah (untuk konsumsi, belanja negara dalam bentuk subsidi, dll), maka ekonomi Indonesia akan bisa tumbuh secara stabil tanpa perlu lagi bergantung pada fluktuasi harga komoditas di pasar internasional.
.
.
.
Kepada yang terhormat Bapak Presiden,
Sebagai rakyat biasa, kami tentu tidak memiliki power apapun untuk merealisasikan ide-ide yang sudah dibahas diatas. Dan terus terang kami merasa malu karena melalui tulisan ini kami seolah-olah mengatur-ngatur Bapak dan seluruh jajaran pemerintah dibawah pimpinan Bapak untuk melakukan ini dan itu, padahal tugas dan pekerjaan mereka sudah sangat banyak. Kami juga mengetahui persis bahwa apa yang sudah disampaikan diatas jauh lebih mudah untuk dikatakan ketimbang dipraktekkan di lapangan.
However, seperti yang sudah kami sampaikan diatas, kerja keras yang Bapak tunjukkan selama ini telah menginspirasi kami untuk juga melakukan hal yang sama, untuk turut berkontribusi secara positif, meski mungkin hanya dalam bentuk kontribusi yang teramat sangat kecil dan tidak berarti, terhadap pembangunan negeri.
Dan dalam kapasitas kami sebagai penulis dan pelaku investasi, maka hanya dalam bentuk tulisan inilah kontribusi tersebut bisa kami berikan. Tidak ada maksud dan tujuan lain dari tulisan ini kecuali kami menginginkan agar Indonesia menjadi negara yang maju, dimana suatu hari nanti ketika kami bepergian ke luar negeri dan ketika ditanya oleh penduduk setempat tentang dari mana kami berasal, kami bisa dengan bangga menjawab, ‘from beloved Indonesia’.
Terus terang, sebelum Bapak menjadi Presiden, kami tidak terlalu merasa optimis dengan Pemerintah, dan karena itulah kami juga bersikap apatis dengan hanya peduli pada diri kami sendiri namun tidak pernah peduli terhadap negara. Namun apa yang Bapak lakukan sejauh ini membuat optimisme tersebut telah tumbuh dengan sangat cepat, hingga membuat kami merasa begitu bersemangat untuk juga turut ambil bagian dalam pembangunan nusantara tercinta. Jadi dengan ini kami sampaikan, you’re not alone, Mr. President! Karena kami semua ada di belakangmu.
Semoga panjang umur Pak Jokowi, semoga rahmat Allah SWT senantiasa tercurah bagi Bapak dan seluruh keluarga. Amin!
Jakarta, 3 Januari 2015
Teguh [...]

Inspirasi Awal Tahun 2015

Beberapa waktu lalu penulis iseng-iseng membuka kembali arsip foto-foto jaman saya masih muda dulu, dan saya menemukan foto yang menarik. Nih, anda langsung lihat saja sendiri:

Foto diatas adalah foto penulis (Teguh Hidayat) pada tahun 2007, sorry for the duckface. Ketika itu saya, yang berusia 21 tahun dan masih kuliah di Bandung, sengaja datang ke Jakarta bersama beberapa orang teman untuk menonton langsung pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Bahrain di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan. Pada siang hari sebelum pertandingannya dimulai, kami jalan-jalan di sekitar stadion, dan saya mengambil foto ini dengan latar belakang Gedung BEJ dan Plaza Bapindo. Saya kemudian mengatakan kepada teman saya:
‘(sambil menunjuk ke Gedung BEJ) Suatu hari nanti, gue akan kerja disitu!’
Penampakan Gedung BEJ (sekarang BEI) di tahun 2007. Perhatikan logonya yang masih jadul
Sekedar catatan, ketika itu penulis sama sekali nggak ngerti dan nggak ada bayangan sedikitpun soal apa itu saham, apalagi value investing. Termasuk saya juga nggak tahu siapa itu Warren Buffett. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah bahwa Gedung BEJ itu tampak bagus dan megah, jadi sepertinya akan keren sekali kalau saya bisa bekerja disitu.
Tidak mau kalah, salah seorang teman (kami jalan-jalan berempat) menunjuk Wisma GKBI di Semanggi yang juga kelihatan dari tempat kami berjalan, dan mengatakan, ‘Kalau gue Guh, gue akan kerja disitu.’ Kami berdua kemudian bertanya kepada dua teman lainnya soal mereka akan kerja dimana, namun mereka berdua menolak untuk ‘berkhayal’ seperti yang kami lakukan, dengan hanya menjawab, ‘Soal kerja, gimana nanti sajalah!’ Yap, bagi anak kuliahan yang biasa-biasa saja seperti kami, untuk memperoleh pekerjaan sebagai ‘eksekutif muda’ di lingkungan perkantoran yang elit seperti SCBD, Semanggi, atau Sudirman, adalah merupakan cita-cita yang sangat tinggi, dan beberapa dari kami tidak cukup berani untuk memimpikan hal tersebut.
However, berikut ini adalah foto penulis beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 2014 kemarin, ketika mengisi pelatihan analisis fundamental di salah satu ruang seminar di Gedung BEI. Klik gambar untuk memperbesar.
Sementara teman penulis yang mengatakan bahwa ia akan bekerja di Wisma GKBI, guess what? Dia benar-benar bekerja disitu! Setelah lulus kuliah pada tahun 2009, ia melamar kerja sebagai management trainee di Bank BRI dan diterima, menyisihkan ratusan kandidat lainnya (which surprises many of our fellow students because he was lazy, not-so-smart, video game and soccer enthusiast, and a little annoying, just like me). Ia kemudian ditempatkan di Wisma GKBI tersebut. Sementara dua orang kawan kami, mereka juga memperoleh pekerjaan namun bukan di Jakarta.
Jadi mungkin pesan yang terkandung dalam cerita ini adalah, ‘Berhati-hatilah dengan apa yang kamu katakan, karena bisa jadi itu akan menjadi kenyataan’.
Nah, di awal tahun 2015 ini, apa yang ingin anda katakan? :)
Saya, Teguh Hidayat, bersama para rekan kerja di Teguh Hidayat & Partners, dengan ini menyatakan turut berduka cita atas tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Semoga semua yang telah berpulang mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya, dan semoga anggota keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Postingan ini juga secara khusus ditujukan bagi Ibu Linawati Soetopo, salah seorang pembaca setia TeguhHidayat.com, dimana beliau adalah kerabat dari Kevin Alexander Soetjipto, salah satu korban dari Air Asia yang kemarin berhasil ditemukan dan diidentifikasi. Kevin tidak sendirian dalam penerbangan tersebut melainkan bersama ayah, ibu, dan adik perempuannya, namun sampai saat ini mereka semua masih belum ditemukan. Mohon doa dari teman-teman sekalian agar proses pencariannya dimudahkan, [...]

Indo Tambangraya Megah

Tahun 2014 merupakan tahun ketiga secara berturut-turut dimana saham-saham di sektor pertambangan, khususnya batubara, mengalami pergerakan negatif alias turun. However, meski belum semuanya, namun pada tahun ini terdapat beberapa perusahaan batubara yang kembali mengalami kenaikan laba dan juga ekuitas. Dalam pandangan value investing, ketika harga sebuah saham terus turun sementara nilai riil perusahaannya, dalam hal ini ekuitas perusahaan, berhasil tumbuh dalam periode yang sama, maka itu artinya peluang investasi. Dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) sekilas menawarkan peluang tersebut karena ekuitasnya tumbuh 8.1% dalam sembilan bulan pertama 2014, sementara disisi lain sahamnya malah anjlok sebesar 45.4% jika dihitung sejak awal 2014.

Sayangnya jika kita pelajari lebih dalam, maka ITMG mungkin tidak benar-benar menawarkan peluang tersebut. Tapi sebelum itu mari kita cek perusahaannya terlebih dahulu.
ITMG adalah satu dari sekian banyak perusahaan batubara yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Selatan. Per akhir tahun 2013, perusahaan memegang hak konsesi di setidaknya enam lokasi tambang, yakni lima diantaranya di Kalimantan Timur, dan satu sisanya di Kalimantan Selatan. Pada tahun 2013 perusahaan menjual 29.1 juta ton batubara, yang menjadikannya sebagai perusahaan batubara ukuran menengah di Indonesia. Sebagai perbandingan, Bumi Resources (BUMI) sebagai perusahaan batubara terbesar di Indonesia, memproduksi (dan menjual) kurang lebih 86 juta ton batubara di tahun yang sama.
Seperti kebanyakan perusahaan batubara lainnya, upaya pengembangan usaha yang dilakukan ITMG selama ini adalah dengan terus berusaha mengakuisisi konsesi tambang baru jika memang ada peluang, dan meningkatkan volume produksi. However, penurunan harga batubara yang terjadi sejak tahun 2011 lalu hingga sekarang memaksa perusahaan untuk lebih fokus pada strategi efisiensi ketimbang meningkatkan volume produksi, karena percuma saja menggali batubara banyak-banyak jika batubara itu sendiri nggak laku dijual. Untuk tahun 2014, ITMG hanya mentargetkan produksi/penjualan 29.7 juta ton batubara, atau nyaris tidak berubah dibanding tahun 2012. Namun dengan dilakukannya efisiensi terutama di komponen biaya alat-alat berat dan penggunaan bahan bakar (meski para pekerja di bidang tambang batubara dikenal memiliki gaji super-besar, namun biaya karyawan ini ternyata hanya merupakan komponen kecil dari biaya produksi secara keseluruhan, jadi tidak perlu dilakukan pemotongan gaji), maka diharapkan perolehan laba perusahaan akan tetap bertumbuh meski pendapatan kemungkinan turun.
Dan karena ITMG sejak awal tidak bermasalah dalam hal utang ataupun masalah lainnya, maka upaya efisiensi tersebut dengan cepat membuahkan hasil. Pada tahun 2012, total biaya kas yang harus dikeluarkan perusahaan adalah US$ 68.0 per ton batubara yang diproduksi. Dan pada tahun 2013, angkanya turun menjadi US$ 60.3 per ton. Untuk tahun 2014 ini kemungkinan angkanya akan kembali turun karena pada Kuartal IV 2013, biaya produksi kas tersebut sudah mencapai angka US$ 57.8 per ton.
Alhasil, untuk tahun 2014 ini, atau setidaknya hingga Kuartal III kemarin, meski pendapatan ITMG masih turun 8.9% menjadi US$ 1.5 milyar, namun laba bersihnya naik 8.3% menjadi US$ 169 juta, padahal harga batubara pada tahun ini juga masih turun dibanding 2013 lalu. Dalam hal inilah penulis jadi berpikir: Jika perusahaan mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan efisiensi operasionalnya, maka ketika nanti tiba waktunya harga batubara kembali naik, maka ITMG bisa mencatat kinerja yang lebih baik lagi dibanding masa keemasan mereka di tahun 2011 lalu. However, seorang teman yang kerja di kontraktor batubara pernah ngomong begini, ‘Laba perusahaan kontraktor batubara maupun perusahaan batubara itu sendiri masih bisa naik pada tahun 2014 ini (meski harga jual batubara masih turun), karena kita sukses minta diskon ke para supplier alat-alat berat dll. Misalnya, harga salah satu komponen mesin dari truk loader yang segede gaban itu bisa mencapai Rp4 milyar (hanya komponen mesin ya, harga truknya sendiri sekitar Rp40 – 50 milyar). Namun karena kita lagi susah, pihak supplier/importir kasih keringanan dan kita boleh beli tuh komponen seharga Rp3 milyar aja. Tapi kalau nanti harga batubara naik lagi, maka harga komponen itu ya bakal dinaikin lagi.’
Namun kata kuncinya adalah, berbeda dengan beberapa perusahaan batubara lainnya yang lebih memilih untuk mengurangi volume produksi sehingga laba mereka turun sama sekali (jadi istilahnya libur dulu sajalah sampai nanti harga batubara naik lagi), atau tetap mempertahankan volume produksi namun belum terlalu berhasil dalam hal efisiensi, misalnya karena masih terlilit beban bunga utang, maka ITMG sama sekali tidak mengurangi volume produksinya, dan strategi efisiensinya jelas tampak cukup berhasil. Jika tahun 2015 nanti harga batubara belum kembali naik, maka naik turunnya laba ITMG kemungkinan masih akan sepenuhnya bergantung pada upaya efisiensinya, karena volume produksi dan penjualan batubaranya kemungkinan hanya akan naik sedikit. Tapi setidaknya kita tahu bahwa laba ITMG tidak akan anjlok dalam karena perusahaan tetap akan memproduksi batubara seperti biasa, dan bukannya malah mengurang kegiatan produksi.
Lalu apa yang membuat ITMG ini menarik? Well, dengan ROE yang masih terjaga di level 23.2%, margin laba juga bagus di 11.4%, dan saat ini sahamnya hanya dihargai pada PBV 1.6 kali dan PER 6.8 kali (pada harga 15,750), maka berdasarkan analisis fundamental standar, ITMG memang tampak bagus dan murah. Kalau kita turut mempertimbangkan dividennya yang mencapai Rp1,100 untuk semester pertama 2014, sehingga dengan catatan bahwa untuk semester kedua 2014 mendatang perusahaan kembali membagikan dividen dengan nilai yang sama, maka total dividennya mencapai Rp2,200 dalam satu tahun, maka dividend yield-nya mencapai 15,750 / 2,200 = 0.14, alias 14 persen!
Namun justru problem ITMG ini terletak di dividennya yang kelewat besar tersebut. Anda bisa lihat bahwa untuk semester pertama 2014, perusahaan membayar dividen US$ 103.6 juta, atau mencapai 70% perolehan labanya di periode yang bersangkutan. Dan sejak tahun 2008 hingga sekarang, ITMG memang terus membayar dividen setiap satu semester sekali (jadi perusahaan membayar dividen dua kali dalam setahun) sebesar rata-rata 70 – 80%, atau bahkan 90% dari perolehan labanya di semester yang bersangkutan, tak peduli meski perolehan laba mereka sedang turun. Disisi lain, perusahaan jarang kedengaran mau membangun pembangkit listrik atau semacamnya, melainkan terus saja menghambur-hamburkan dividen (sementara Bukit Asam/PTBA, meski juga boros dividen, namun tetap membangun pembangkit listrik, pelabuhan, dan jaringan rel kereta api).
Dalam hal ini penulis jadi sedikit curiga dengan pemilik perusahaan, yakni Banpu Public Company, yang merupakan perusahaan energi asal Thailand. Dan ternyata memang benar: Sebagai BUMN Thailand, Banpu sudah sejak lama membangun pembangkit listrik, namun hanya di negaranya sendiri. Banpu memiliki beberapa lokasi tambang batubara di Thailand, Tiongkok, Indonesia (melalui ITMG), dan juga Australia. Namun untuk tambang-tambang yang berlokasi diluar Thailand, boleh dibilang perusahaan hanya mengeruk batubaranya saja, untuk kemudian hasilnya langsung ditarik (dalam bentuk dividen) untuk membangun infrastruktur di Thailand. Hal ini pula yang menyebabkan ITMG sama sekali tidak mengurangi volume produksi batubaranya meski harga batubara lagi murah, karena Banpu sebagai induknya tetap membutuhkan dana secara terus menerus untuk membangun ini dan itu (mungkin itu pula sebabnya dividennya dibagikan dua kali setahun, karena kalau satu tahun sekali kelamaan nunggunya). You know, kalau anda hanya memegang ITMG katakanlah sebanyak 10 lot, maka dividen tunai sebesar Rp1.1 juta (belum dipotong pajak) mungkin tampak kecil dan hanya cukup untuk jalan-jalan ke Bandung. Namun sebagai pemegang 65% saham di ITMG, selama periode 2008 – 2013 (belum termasuk Rp1,100 per saham kemarin), Banpu telah menarik dividen senilai kurang lebih Rp9.8 trilyun (belum dipotong pajak, tapi juga belum termasuk dividen Rp1,100 per saham untuk semester pertama 2014). Dan dana sebesar itu tentu saja lebih dari cukup untuk membangun pembangkit listrik, dll, yang sayangnya tidak dilakukan disini.
Karena Banpu sebagai pemilik perusahaan selalu menarik laba bersih yang diperoleh dalam bentuk dividen, maka praktis nilai aset bersih ITMG nyaris tidak pernah bertumbuh. Berdasarkan laporan keuangannya, posisi terakhir dari aset bersih perusahaan adalah US$ 971 juta pada Kuartal III 2014, yang bisa dipastikan bakal turun lagi di Kuartal IV nanti karena dikurangi dividen sebesar US$ 103 juta tadi. Jadi katakanlah posisi ekuitas ITMG pada saat ini adalah kurang lebih US$ 875 juta. And guess what? Posisi ekuitas tersebut hanya sedikit lebih tinggi dibanding tahun 2010 (empat tahun lalu) yang tercatat US$ 721 juta. Nilai aset bersih tertinggi yang pernah dicapai ITMG adalah US$ 1.1 milyar pada tahun 2011 lalu, karena pada tahun tersebut perusahaan panen besar dari tingginya harga batubara ketika itu. Namun karena duitnya langsung ditarik dalam bentuk dividen, maka nilai aset bersih tersebut menyusut lagi hingga ke level saat ini.
Kesimpulannya, penulis tidak merekomendasikan ITMG ini untuk jangka panjang, karena kita tentu tidak mau invest di perusahaan yang tidak bisa bertumbuh gara-gara tiap dapet cuan duitnya diambil terus. Diatas disebutkan bahwa ekuitas ITMG naik 8.1% sepanjang sembilan bulan pertama 2014, namun kalau dihitung dari tahun 2011 ternyata justru turun. Kalau untuk trading jangka pendek karena mengharapkan bahwa sahamnya bakal naik menjelang musim dividen Mei 2015 mendatang, itu juga mungkin agak sulit karena ITMG membayar dividennya dua kali dalam setahun, sehingga dividend yield-nya tampak kecil karena dibagi dua (baca lagi penjelasannya disini), sehingga dampaknya terhadap harga sahamnya tidak akan signifikan. ROE perusahaan yang tampak besar sejatinya tidak berarti apa-apa karena disebabkan oleh ekuitasnya yang turun, jadi bukan labanya yang naik. Selain itu, meski masih naik, namun perolehan laba ITMG pada Kuartal III 2014 terbilang turun dibanding Kuartal II. Kita sudah tahu persis bahwa ekuitas ITMG pada Kuartal IV mendatang akan turun, sehingga valuasi sahamnya dari sisi PBV menjadi tidak semurah kelihatannya. Jika pada Kuartal IV nanti labanya perusahaan ikut-ikutan turun (dibanding Kuartal IV 2013), maka sahamnya bisa tertekan lebih lanjut.
Seperti hal-nya United Tractors (UNTR), ITMG adalah saham batubara yang sejak dulu dihargai sangat mahal karena fundamentalnya yang (sekilas) terbilang bagus, dan sebenarnya jarang-jarang dia dihargai rendah seperti sekarang. However berbeda dengan UNTR yang nyaris pasti bakal tumbuh terus, ITMG tidak menawarkan hal yang sama kecuali jika manajemen Banpu mengubah kebijakan dividennya. Kesimpulan akhirnya, kecuali dikasih harga yang benar-benar diskon, penulis tidak tertarik dengan ITMG ini.
But don’t worry, setelah tahun baru nanti kita akan bahas saham-saham lain yang lebih worth to buy. For now just enjoy your vacation :)
NB: Buletin Analisis Saham Bulanan edisi Januari 2014 akan terbit tanggal 2 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini. Bonus awal tahun bagi pelanggan baru: Gratis buletin-buletin edisi Oktober, November, dan Desember 2014 sebagai bahan [...]

‘Follow the Trend’ dalam Analisis Fundamental

Beberapa waktu lalu penulis menerima saran dari seorang teman, ‘Mas Teguh, saya tahu Mas Teguh ini tipe value investor yang lebih banyak pake analisis fundamental. Tapi sebagaimana yang kita ketahui, di market terdapat lebih banyak trader yang pake teknikal. Jadi gimana kalau Mas Teguh nulis juga soal analisis saham dari sisi teknikal? Pasti blog-nya bakal lebih banyak lagi yang baca’

Well, itu saran yang bagus! Tapi sayangnya penulis sendiri gak ngerti analisis teknikal itu gimana. Kalau cuma sekedar moving average, bollinger bands, itu saya ngerti lah, dan kita juga pernah membahasnya disini (coba klik link-nya). Tapi kalau lebih dari itu, maka kemampuan saya mungkin cuma setara anak TK di hadapan para analis teknikal di sekuritas-sekuritas yang punya sederet gelar. Sempet kepikiran juga untuk meng-hire penulis lain yang jago teknikal untuk mengisi blog ini, tapi sulit sekali menemukan orang yang bisa membuat tulisan yang enak dibaca dan sekaligus mudah dimengerti.
Namun penulis cukup paham tentang konsep dasar dari analisis teknikal, yaitu: ‘Follow the trend’. Jika kerjaan value investor fundamentalist adalah membeli saham-saham yang bagus (secara fundamental) dan valuasinya juga masih murah, maka kerjaan trader technicalist adalah membeli saham yang trend-nya sedang bergerak naik alias uptrend. Kemudian soal timing jualnya, value investor akan menjual sahamnya ketika fundamental dari saham tersebut tidak lagi sebagus sebelumnya, atau jika dia sudah naik terlalu tinggi hingga valuasinya tidak bisa dikatakan murah lagi. Sementara trader? Ya jika trend dari pergerakan saham yang ia beli sudah berubah arah, dari tadinya uptrend menjadi downtrend.
Beberapa investor/analis profesional menyarankan untuk tidak mengkombinasikan antara analisis fundamental dan teknikal, karena menurut mereka hasil analisisnya bisa sangat berlawanan. Jadi kalau anda pake fundamental, maka ya sudah, anda pake fundamental saja. Sebaliknya kalau anda suka trading cepat pake teknikal, maka jangan lagi liat laporan keuangan perusahaan dll, melainkan cukup liat chart saja. Kalau anda pake analisis fundamental dan teknikal secara bersamaan, maka anda akan bingung ketika fundamental sebuah perusahaan menunjukkan bahwa saham tersebut layak buy, misalnya karena laba perusahaan naik dll, tapi teknikalnya justru menunjukkan sebaliknya (downtrend). Selain itu di bagian dunia manapun, belum pernah ada investor/analis yang cukup ahli dalam dua bidang tersebut (fundamental dan teknikal) secara sekaligus. Jika Warren Buffett gak tau apa-apa soal garis menggaris, maka demikian pula dengan George Soros, yang cuma mengerti sedikit soal apa itu nilai intrinsik.
Tapi berdasarkan pengalaman penulis selama ini, kesimpulan akhir dari analisis fundamental dan teknikal terhadap suatu saham lebih sering seiring sejalan ketimbang berlawanan, dengan catatan analisis teknikal yang dipakai adalah analisis untuk jangka yang tidak terlalu pendek, misalnya beberapa bulan (jangan beberapa minggu, apalagi beberapa hari).  Jadi kalau anda melihat sebuah saham fundamentalnya bagus, misalnya ROE-nya besar, utangnya kecil, labanya naik signifikan, dan valuasinya juga masih rendah, maka coba deh perhatikan chart sahamnya dalam waktu 3 – 6 bulanterakhir, kemungkinan juga sedang dalam posisi bergerak naik. Contohnya, Elnusa (ELSA). Perusahaan minyak ini mengalami kerugian pada tahun 2010 dan 2011 (fundamental jelek), dan alhasil sahamnya terus turun (downtrend) hingga mentok di 170-an. Pada tahun 2012, perusahaan kembali sukses membukukan laba (fundamental berbalik jadi bagus), dan sahamnya pada awal tahun 2013 (setelah laporan keuangan perusahaan untuk tahun 2012 keluar) mulai naik ke 250-an (uptrend). Pada tahun 2013, laba ELSA ternyata naik lagi hampir dua kali lipat (fundamentalnya semakin bagus), dan alhasil pada awal tahun 2014 saham ELSA kembali melanjutkan uptrend-nya hingga sekarang berada di level 600-an.
Dalam jangka yang lebih panjang, perhatikan: Analisis teknikal juga selalu seiring sejalan dengan fundamental. Pada tahun 2009 hingga 2011, laba Astra International (ASII) naik terus, dan alhasil sahamnya terus uptrend dari 2,400 hingga sempat menyentuh 8,000. Namun pada tahun 2012 hingga saat ini, seiring dengan perlambatan kinerja perusahaan karena penurunan harga CPO dan batubara dimana labanya tidak lagi naik setinggi sebelumnya (tapi gak turun juga), maka sahamnya pun cenderung bergerak mendatar dalam tiga tahun terakhir alias sideways. Memang, selama tiga tahun tersebut ada saja waktu-waktu dimana ASII bergerak naik atau turun secaar signifikan, katakanlah lebih dari 10% (tergantung IHSG juga). Tapi secara keseluruhan, dia bergerak sideways alias mendatar, dan itu memang sesuai dengan kondisi fundamentalnya.
Contoh lainnya adalah Bumi Resources (BUMI). Perusahaan batubara ini mencatat kinerja yang cukup baik dengan laba sekian ratus juta Dollar pada tahun 2011 lalu, dan alhasil sahamnya yang sempat anjlok sampe 450 gara-gara krisis global pada awal 2009, kembali naik hingga menyentuh 3,000-an, dua tahun kemudian (trend BUMI selama dua tahun tersebut jelas uptrend). Namun pada tahun 2012 BUMI merugi, dan sahamnya mulai turun. Karena pada tahun 2013 labanya kembali minus hingga ekuitasnya pun menjadi minus, maka jadilah penurunan (downtrend) tersebut terus berlanjut hingga BUMI terkapar di posisinya sekarang.
Gocap here I cooommmeee…!
Yang perlu dicatat adalah, meski pada trahun 2012 lalu hingga saat ini BUMI sempat beberapa kali naik dan menampakkan indikasi uptrend di chart-nya (dalam jangka pendek), namun karena fundamentalnya belum menunjukkan perbaikan, maka pada akhirnya trend-nya tetap downtrend. Penulis ada kenalan yang seneng banget trading-in BUMI ketika masih di 300-an, dan memang sempet beberapa kali untung, tapi toh akhirnya nyangkut juga.
Jadi sekali lagi, dan anda boleh perhatikan contoh saham yang lainnya lagi, kesimpulan yang dihasilkan analisis teknikal itu lebih banyak seiring sejalan ketimbang berlawanan dengan fundamental, dengan catatan anda menganalisis teknikal suatu saham berdasarkan jangka waktu minimal menengah, yakni diatas 3 bulan. Kenapa 3 bulan? Ya karena perusahaan juga hanya merilis laporan keuangannya setiap kuartal alias 3 bulan sekali, dimana setiap 3 bulan itulah fundamental perusahaan bisa tampak berubah, entah itu kenaikan labanya tidak setinggi sebelumnya, atau jika perusahaan tiba-tiba menanggung utang yang besar. Kalau anda pake teknikal dalam jangka yang sangat pendek, apalagi harian (di trading forex bahkan ada metode analisis teknikal yang, katanya, bisa mendeteksi perubahan trend setiap 3 detik!), maka barulah kesimpulan analisisnya bisa berbeda dengan analisis fundamental, dimana suatu saham bisa saja menunjukkan pola downtrend dimana ia bakal turun dalam jangka pendek, padahal fundamentalnya masih oke.
However, pengalaman sekali lagi membuktikan bahwa para trader yang tipe ‘follow the trend’, setelah beberapa tahun biasanya lebih sukses ketimbang trader ‘pembalap’, karena para trader pembalap ini seringkali terpeleset dan jatuh (baca: cut loss) ketika bermanuver di tikungan (ketika suatu saham, berdasarkan TA jangka pendek, menunjukkan bahwa dia akan berbalik arah dari uptrend menjadi downtrend, demikian sebaliknya). Contohnya ya temen penulis yang trading BUMI tadi. Sementara trader tipe follow the trend lebih mengabaikan perubahan trend dalam jangka pendek dan lebih melihat trend dalam jangka panjang. Bagi anda investor yang pake fundamental, dimana anda membeli saham bagus pada harga murah dan menjualnya beberapa waktu kemudian ketika fundamental saham tersebut tidak bagus lagi atau valuasinya sudah mahal (biasanya bukan keesokan harinya atau minggu depan, tapi agak lama), maka  disadari atau tidak anda juga sama dengan trader yang follow the trend tadi, tepatnya ‘trend fundamental’.

Jadi dalam hal ini, value investor juga bukannya tidak mengenal cut loss. Kalau memang terjadi perubahan fundamental yang menyebabkan saham yang kita pegang turun duluan sebelum sempat naik, maka ya ndak apa-apa, jual aja dulu. Hanya memang, kita lebih suka hold jika saham yang dipegang entah kenapa turun sendiri padahal perusahaannya gak kenapa-napa, karena biasanya dia akan naik lagi nanti. Dan berdasarkan pengalaman, hal itu (sebuah saham turun sendiri padahal kinerjanya gak kenapa-napa, tapi pada akhirnya naik lagi) memang cukup sering terjadi.

Intinya sih, FA (fundamental analysis) dan TA (technical analysis) bukanlah sesuatu yang saling berlawanan, melainkan justru saling mendukung. Kalaupun ada perbedaan, maka itu karena TA terkadang menunjukkan bahwa suatu saham sedang bergerak naik alias uptrend (biasanya ditandai dengan break out), sehingga rekomendasinya adalah buy, tak peduli meski fundamentalnya nol. Contohnya ya BUMI tadi. Antara bulan Mei hingga Juni 2014, BUMI sempat mulai bergerak naik (uptrend) dari 122 hingga sempat menembus 200-an, atau naik lebih dari 60 persen! Para technicalist yang bisa mendeteksi perubahan trend tersebut mungkin akan meraup keuntungan sekian puluh persen dari BUMI, sekali lagi, tak peduli meski BUMI ini fundamentalnya nol. Permasalahannya adalah, kalau anda telat keluarnya dari BUMI ini, maka ya bakal nyangkut juga akhirnya, dan keuntungan yang anda peroleh sebelumnya bakal habis tak tersisa.
Sebaliknya, saham yang fundamentalnya bagus juga seringkali turun sendiri tanpa penyebab yang jelas. Lippo Cikarang (LPCK) adalah saham yang secara fundamental bisa dinobatkan sebagai saham properti terbaik di BEI, tapi coba lihat sahamnya: Setahun yang lalu entah kenapa dia anjlok sendiri dari 10,000-an sampai 4,600 (jeblok gak main-main, lebih dari separuhnya!). Dan pada Oktober 2014 lalu dia juga turun ke 7,100 dari sebelumnya 8,500, padahal kinerjanya gak kenapa-napa. Kalau anda murni pake TA, maka ketika LPCK turun sampai 7,100 tersebut, maka tidak ada tawar menawar lagi: Harus cut loss! Tapi toh, karena fundamentalnya masih oke, maka anda bisa lihat sendiri, berapa posisi LPCK sekarang? Meski memang harus menunggu agak lama (dari Oktober ke Desember, itu berarti 3 bulan).

(Selain LPCK, ketika artikel ini ditulis juga ada beberapa saham berfundamental bagus yang sedang dalam posisi turun entah itu karena sentimen negatif terkait sektornya atau murni karena penurunan IHSG. Tapi coba lihat lagi nanti setelah beberapa bulan: Biasanya mereka juga akan mengikuti jejak LPCK, tentunya selama tidak terjadi perubahan fundamental).

Karena itulah, dalam FA khususnya value investing, kita mengabaikan saham-saham yang naik atau terbang selama fundamentalnya tidak mendukung. Disisi lain, kita justru tertarik pada saham yang sedang downtrend, tentunya jika fundamentalnya bagus dan valuasinya sudah murah. Sebelumnya catat bahwa hanya karena sebuah saham sudah turun banyak, katakanlah dari 1,000 menjadi tinggal 500, maka itu bukan berarti kita bisa langsung menyimpulkan bahwa dia sudah murah. Ada beberapa indikator yang kita gunakan dalam menentukan apakah suatu saham sudah murah atau belum, namun bukan dengan cara melihat bahwa dia sudah naik atau turun sekian persen. Malah kalau ada saham yang sudah naik 100% sekalipun tapi valuasinya masih murah, maka ya why not? Warren Buffett juga membeli Coca-Cola dalam jumlah besar pada penghujung tahun 1980-an, justru setelah saham tersebut naik berkali-kali lipat selama beberapa tahun sebelumnya. Jadi dalam kondisi inilah metode value investing juga bisa memiliki kesimpulan analisis yang sama dengan metode teknikal, yakni buy when breakout.
Okay, ada yang mau menambahkan? Untuk minggu depan, jika harga sahamnya masih berada di posisinya saat ini, kita akan coba bahas Indo Tambangraya Megah (ITMG).
NB: Penulis menyelenggarakan acara diskusi terkait ‘Market Outlook 2015’ di Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 20 Desember (right before escape for holiday!). Untuk ikut hadir, baca keterangan selengkapnya [...]

Meraup Untung dari Saham Dividen

Saham dividen, atau dividend stock, adalah istilah untuk menyebut saham yang perusahaannya membagikan dividen dalam jumlah besar, katakanlah lebih dari separuh perolehan laba bersihnya dalam satu tahun tertentu, sementara disisi lain harga sahamnya juga tidak terlalu tinggi sehingga yield-nya lebih besar dibanding saham lain pada umumnya. Contohnya? Bank BJB (BJBR). Sejak tahun buku 2007 hingga 2013, BJBR selalu membagikan dividen rata-rata sebesar 65% dari laba bersihnya di tahun yang bersangkutan. Pada tahun 2013 lalu, nilai dividen BJBR tercatat Rp78 per saham. Dengan harga saham Rp965 menjelang tanggal cum-nya, maka dividend yield BJBR adalah 965 / 78 = 0.081, alias 8.1%. Angka tersebut terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan dividend yield dari saham-saham blue chip, yang rata-rata hanya 2 – 4%.

Nah, jadi kalau anda menemukan saham/perusahaan yang membagikan dividen hingga 100% laba bersihnya sekalipun, namun disisi lain yield-nya kecil karena harga sahamnya sudah terlalu tinggi, maka anda tahu bahwa saham tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai dividend stock. Contohnya? Unilever Indonesia (UNVR). Sebaliknya, kalau ada saham yang membagikan dividennya dalam jumlah kecil, katakanlah cuma 20% labanya, namun dividend yield-nya tetap tinggi, maka itu juga bukan dividend stock. However, penulis sendiri belum pernah menemukan contoh saham yang seperti itu (dividennya kecil, tapi yield-nya tetap tinggi). Karena kalaupun ada saham yang seperti itu, maka itu berarti valuasinya rendah sekali dan saya akan berada di barisan terdepan untuk membelinya.
Ukuran lain yang juga sering digunakan untuk menyebut ‘saham dividen’, adalah saham yang dividennya lebih besar dibanding bunga deposito, yakni diatas 4 – 5%. Jadi kalau ada saham yang dividen yield-nya mencapai 8.1% seperti BJBR tadi, maka anda bisa langsung menyebutnya sebagai dividend stock.
Beberapa investor mungkin menyukai saham dividen ini karena, coba bayangkan: Anda tinggal membeli sahamnya menjelang tanggal cum, dan tak lama kemudian anda akan memperoleh sejumlah uang yang nilainya lebih besar dari bunga deposito, yang ditransfer langsung ke rekening RDI anda. Selain itu berbeda dengan capital gainyang nilainya bisa naik dan turun tergantung perubahan harga dari saham yang anda pegang (bisa rugi juga, kalau harganya turun), maka dividen ini sifatnya fix, alias nilainya sudah pasti segitu.
However, kalau kita lihat cara investasi-nya Warren Buffett, ia justru tidak menyukai saham-saham yang membagikan dividen terlalu besar. Sebab ketimbang ‘menghambur-hamburkan’ perolehan laba dalam bentuk dividen, maka akan lebih baik jika laba tersebut tetap disimpan untuk diinvestasikan kembali. Logikanya, ketika BJBR membagikan dividen senilai Rp757 milyar pada April 2014 lalu, maka ya sudah, hanya uang sebesar itu saja yang diterima oleh seluruh pemegang saham BJBR. Namun jika uang tersebut diinvestasikan kembali, let say untuk membuka kantor cabang baru, maka kantor cabang tersebut bisa menghasilkan tambahan laba bersih bagi perusahaan, sehingga pada akhirnya lebih menguntungkan para pemegang saham sebagai pemilik perusahaan.
Itu sebabnya, sejak Buffett mengakuisisi Berkshire Hathaway pada tahun 60-an, hingga saat ini perusahaan nyaris tidak pernah membagikan dividen sama sekali, meskipun perusahaan-perusahaan yang ada dalam portofolio Berkshire rutin membayarkan sejumlah dividen tunai setiap tahunnya (tapi oleh Buffett, uang hasil dividen tersebut malah dipake buat belanja saham lagi). Dan hasilnya nilai aset bersih atau book value Berkshire tumbuh jauh lebih kencang dibanding rata-rata pertumbuhan pasar saham Amerika, dengan selisih hampir 10% setiap tahunnya. Ibaratnya, Buffett nyaris tidak pernah mengambil sepeserpun hasil investasinya di saham, dimana setiap keuntungan yang dihasilkan selalu diinvestasikan kembali. Untuk kebutuhan sehari-hari, Buffett hanya mengambil gajinya sebagai CEO Berkshire sebesar US$ 100,000 (sekitar Rp1 milyar) per tahun, dimana gaji tersebut dianggap sebagai salah satu beban perusahaan.
Seperti halnya Berkshire, di BEI juga ada beberapa perusahaan yang hanya membagikan dividen dalam jumlah kecil, atau bahkan tidak membagikan dividen sama sekali, padahal perusahaannya untung terus. Dan hasilnya? Rate pertumbuhan riil (pertumbuhan aset bersih/ekuitas/modal) dari perusahaan tersebut jauuuh lebih tinggi dibanding rata-rata sektornya. Contohnya? Bank BTPN (BTPN). Pada akhir tahun 2010, BTPN mencatat nilai ekuitas Rp4.2 trilyun. Dan pada saat ini, atau per Kuartal III 2014, ekuitas tersebut sudah tumbuh menjadi Rp11.4 trilyun, atau tumbuh hampir tiga kali lipat hanya dalam waktu kurang dari empat tahun!
Sementara BJBR yang terbilang ‘boros’ dividen, pada rentang waktu yang sama hanya membukukan kenaikan nilai aset bersih dari Rp5.0 trilyun menjadi Rp6.7 trilyun. Berdasarkan contoh inilah, maka saham yang ‘pelit dividen’, tentunya selama perusahaannya beroperasi dengan wajar dan mampu menghasilkan keuntungan (ROE) yang besar, adalah justru lebih bagus untuk dipegang terutama untuk jangka panjang, karena perusahaannya menawarkan rate pertumbuhan aset bersih yang lebih tinggi dibanding perusahaan sejenis yang terlalu royal dalam membagikan dividen. Dan sudah tentu, kalau sebuah perusahaan sukses mencatatkan pertumbuhan aset yang signifikan, maka harga sahamnya di pasar akan ikut terbang dengan sendirinya.
Meski demikian, Buffett tetap membeli saham-saham yang membagikan dividen dalam jumlah yang wajar, yakni sekitar 30 – 40% laba bersihnya setiap tahun, karena ia bisa menggunakan dana tunai hasil dividen tersebut untuk membeli lagi saham yang sama ketika pasar sedang turun, atau jika ia menemukan saham/perusahaan lain yang cukup bagus dan murah untuk dibeli. Sebagai investor yang di software online tradingnya cuma ada tombol ‘buy’, dividen ini menjadi penting karena Buffett tidak bisa memperoleh uang tunai hasil dari penjualan sahamnya, karena ia memang hampir tidak pernah menjual saham-sahamnya sama sekali.
Karena itulah, kalau anda hendak copy paste cara investasi sang guru besar, maka penulis menyarankan anda untuk tidak membeli saham dividen seperti BJBR tadi, tapi jangan juga ambil perusahaan yang gak membagikan dividen saham sekali seperti BTPN, melainkan: Belilah saham/perusahaan yang membagikan dividen dalam jumlah wajar setiap tahunnya.Salah satu pegangan utama Berkshire Hathaway, the Coca-Cola Company, setiap tahunnya rutin membagikan dividen sebesar 50 – 60% laba bersihnya (untuk perusahaan consumer seperti Coca-Cola, jumlah 60% tersebut masih terbilang wajar dan tidak terlalu besar. Bandingkan dengan UNVR yang membagikan 100% labanya sebagai dividen), sementara selebihnya diinvestasikan kembali. Dan karena laba bersih itu sendiri terus naik selama lebih dari 50 tahun terakhir secara berturut-turut, maka nilai dividen yang diterima Berkshire dari Coca-Cola juga terus naik dari tahun ke tahun.
Tapi pembahasan diatas belum menjawab pertanyaannya: Bagaimana cara kita untuk memperoleh keuntungan signifikan dari saham-saham dividen?
Berdasarkan pengalaman, saham dividen memiliki beberapa ciri berikut. Pertama, harganya seringkali naik signifikan menjelang tanggal cum-nya, atau ketika nilai dividennya sudah diumumkan, yakni setelah perusahaan menyelenggarakan RUPS tahunan. Jika nilai dividennya besar, katakanlah Rp100 sementara harga sahamnya itu sendiri cuma Rp1,000 (sehingga yield-nya mencapai 10%), maka sahamnya biasanya akan naik minimal sebesar 10% tersebut ketika dividennya diumumkan. Jika perusahaannya sudah sering membagikan dividen besar di tahun-tahun sebelumnya, maka kenaikannya bahkan sudah terjadi beberapa minggu sebelum pengumuman dividennya keluar, let say pada bulan Januari – Februari (sebab pengumuman soal pembagian dividen biasanya keluar pada bulan Maret – April). Selain BJBR, anda bisa perhatikan pergerakan Indo Tambangraya Megah (ITMG), yang juga royal membayar dividen, dan sahamnya biasanya naik lumayan banyak pada awal tahun.

Logo PT Indo Tambangraya Megah, Tbk., salah satu perusahaan batubara paling ‘boros dividen’ di BEI

Jadi dalam hal ini, jika anda bisa mengidentifikasikan saham-saham apa saja yang kira-kira bakal membagikan dividen besar, dan kapan kira-kira mereka akan menggelar RUPS untuk menentukan besaran dividennya (biasanya sih antara Maret dan April), maka anda bisa membeli saham tersebut untuk kemudian hold saja sampai tanggal cum-nya. Kecuali pasar kenapa-napa, maka anda berpeluang besar untuk memperoleh gain yang lebih besar dari dividend yield-nya itu sendiri. Kalau pake contoh BJBR (yang sejak dulu sudah dikenal royal bayar dividen), sahamnya naik dari 915 pada awal tahun 2014 hingga sempat menembus 1,100 pada bulan Maret (ketika dividennya diumumkan), atau naik 185 perak, padahal nilai dividennya sendiri cuma Rp78.
Itu pertama. Yang kedua, setelah lewat tanggal cum-nya, sebuah saham biasanya bakal turun (mungkin tidak langsung turun keesokan harinya, tapi lambat laun dia tetap akan turun) dengan nilai penurunan yang lebih besar dari nilai dividennya itu sendiri. Contohnya? Adira Dinamika Multifinance (ADMF). Pada tanggal 31 Oktober lalu, ADMF cum dividen Rp2,295 per saham (totalnya Rp2,700, tapi sebagian diantaranya sudah dibayarkan sebelumnya). Dan sahamnya? Anjlok dari 11,125 pada tanggal cum-nya, hingga sekarang tinggal 7,450, atau turun 3,675 perak! Alhasil ketimbang beli saham untuk tujuan memperoleh dividennya, maka akan lebih baik jika strateginya seperti itu tadi: Belinya jauh hari sebelum dividennya diumumkan/dibayarkan, kemudian jual pas tanggal cum-nya. Dengan cara ini, anda tidak akan memperoleh dividen, namun anda akan memperoleh capital gain yang nilainya lebih besar dari dividen itu sendiri.
Nah, kalau anda baca lagi ulasan diatas, maka cukup jelas bahwa kita bisa memanfaatkan fluktuasi yang ekstrim yang terjadi pada harga saham ketika menjelang pembagian dividen (dan juga setelahnya), untuk meraup keuntungan. However, bagi investor tertentu yang dananya sangat besar sehingga gak bisa keluar masuk pasar setiap saat, maka mereka tidak bisa menerapkan strategi yang sama, sehingga fluktuasi harga saham yang terjadi karena faktor dividen ini lebih bersifat merugikan ketimbang menguntungkan. Untuk mengatasi hal ini, maka perusahaan-perusahaan tertentu di BEI membagikan dividennya tidak secara sekaligus melainkan secara bertahap, katakanlah sebanyak dua atau tiga kali dalam setahun, sehingga nilai dividen itu sendiri menjadi tampak kecil (karena sudah dibagi dua atau tiga). Contohnya, United Tractors (UNTR). Untuk tahun fiskal 2013, UNTR membagikan dividen total Rp515 per saham, sehingga yield-nya 2.5% kalau pakai harga saham 20,000, atau cukup ‘kelihatan’. Jika dividen Rp515 tadi dibayarkan secara sekaligus, maka sebelum tanggal cum-nya, harga saham UNTR di pasar bisa naik sebanyak lebih dari 2.5%, dan juga sebaliknya, setelah tanggal cum-nya, UNTR juga bisa turun lebih dari 2.5%. Namun karena manajemen membayar dividen tersebut secara bertahap sebanyak dua kali, yakni Rp340 pada Mei dan Rp195 pada September 2014, maka dengan sendirinya yield-nya menjadi tampak jauh lebih kecil. Alhasil, pembayaran dividen tersebut nyaris tidak berdampak apapun pada harga saham perusahaan, baik ketika dividennya diumumkan ataupun setelah tanggal cum-nya (pada bulan Mei dan September tadi).
Okay, saya mengerti sekarang. Lalu, Mas Teguh, apakah anda punya data tentang saham-saham apa saja yang dividennya besar? Berdasarkan statistik BEI per Kuartal II 2014, terdapat 165 perusahaan dari 480 perusahaan di BEI, yang membayar dividen tunai untuk tahun buku 2013. Tapi untuk mengecek saham-saham apa saja yang yield-nya besar, maka anda mungkin harus mengeceknya satu-satu secara manual. Namun berdasarkan pengamatan penulis sendiri, saham yang yield-nya besar seperti contoh-contoh yang sudah dibahas diatas, itu jumlahnya nggak banyak. Anda mungkin bisa menyebutkan lagi beberapa contoh saham lainnya yang juga bisa dikategorikan sebagai ‘saham dividen’.
Nah, berhubung sekarang sudah bulan Desember, maka anda punya waktu sekitar sebulan untuk mulai menyeleksi saham-saham dividen sebelum mereka mulai beterbangan pada awal tahun depan, tentunya jika dividend yield-nya minimal sama dengan dividen tahun lalu, atau kalau bisa lebih besar lagi (jadi anda harus perhatikan posisi laba perusahaan di tahun 2014 ini, apakah naik atau turun dibanding 2013). Tapi kalau anda tidak mau repot begitu dan lebih suka memegang saham untuk hari ini dan seterusnya alias jangka panjang, maka anda boleh coba tips dari Opa Buffett: Pilihlah saham yang membagikan dividen dalam jumlah yang wajar, yakni 30 – 50% laba bersihnya, dan nilai dividen itu sendiri kalau bisa terus naik dari tahun ke tahun, seiring dengan kenaikan laba bersih perusahaan. Contohnya? Well, penulis sudah cukup banyak memberi contoh pada artikel kali ini, jadi selebihnya silahkan anda cari sendiri.
NB: Penulis menyelenggarakan acara diskusi terkait ‘Market Outlook 2015’ di Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 20 Desember (right before escape for holiday!). Untuk ikut hadir, baca keterangan selengkapnya [...]