Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Mengapa Generasi Millennial Harus Berinvestasi?

Ada satu pertanyaan menarik ketika penulis mengisi acara talkshow investasi saham di sebuah kampus di Semarang, tahun 2016 lalu: Pak Teguh, tadi kan sudah disampaikan soal tips-tips untuk berinvestasi di saham. Tapi sekarang pertanyaannya general saja, bagaimana tips bagi kami yang masih kuliah ini untuk bisa sukses secara finansial setelah kami lulus nanti? Apakah harus bekerja dan menabung dulu sebelum baru kemudian invest di saham, atau bagaimana? Sebab untuk invest di saham juga perlu uang/modal kan? Dan kami saat ini gak punya modal tersebut.

Dan berikut adalah jawaban penulis.
Ketika saya lulus kuliah tahun 2008, dalam benak saya ketika itu hanya ada satu target: Harus segera bekerja agar bisa punya gaji/penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (sehingga gak perlu lagi minta ke orang tua), dan sebagian dari gaji itu akan saya tabung sehingga saya punya sejumlah aset. Jadi seperti lulusan S1 pada umumnya, saya kemudian melamar kerja kesana kemari, waktu itu masih pake pos untuk mengirim surat lamaran dan CV, bukan pake email yang praktis seperti sekarang. Namun ketika itu saya sudah punya ponsel, sehingga kalau ada panggilan wawancara maka perusahaan tidak lagi mengirim surat undangan untuk wawancara, melainkan orang HRD-nya simply menelpon atau kirim SMS. Tak lama kemudian saya menerima banyak telepon dan SMS undangan wawancara, dan saya akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta Utara, sekitar 2 bulan setelah saya diwisuda.
Nah, ketika itulah saya kemudian berpikir: Seandainya saya tidak punya ponsel, maka bisa saja terjadi kondisi dimana perusahaan mengirim surat undangan wawancara, namun surat tersebut tidak pernah sampai, atau sampai namun tidak sempat/terlambat dibaca, sehingga akhirnya saya tidak hadir di wawancara-nya, dan alhasil saya kehilangan kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Jadi kemajuan teknologi berupa keberadaan ponsel (waktu itu belum ada Whatsapp, hape Nokia ketika itu bener-bener cuma buat telpon dan sms saja), disadari atau tidak, telah sangat membantu penulis, dan seharusnya juga temen-temen yang lain, untuk mendapatkan pekerjaan.
Penulis kemudian bekerja sebagai karyawan biasa yang ‘dipenjara’ dari pukul 9 pagi sampe 5 sore, dengan gaji yang cuma cukup untuk bayar kosan, ongkos angkot, makan dua kali sehari, tapi saya masih bisa menyisihkan Rp400,000 per bulan untuk ditabung. Tapi saya di kantor memperoleh fasilitas komputer dengan akses internet 24 jam (dan hal ini untuk jaman itu terbilang mewah banget, karena sebelumnya penulis cuma bisa akses internet di warnet), dan melalui internet itulah penulis kemudian bisa tetap berhubungan dengan temen-temen jaman kuliah melalui Yahoo Maling List. Dari Yahoo Milis itulah penulis kemudian memperoleh info bahwa Pak Yosef Ardi, seorang wartawan dan analis senior pasar modal, membutuhkan karyawan untuk posisi analis saham. Saya kemudian mengirim surat lamaran dan CV, kali ini melalui email, dan tak lama kemudian saya ditelpon untuk wawancara langsung dengan Pak Yosef sendiri. Dan Alhamdulillah, di awal tahun 2009 penulis kemudian pindah ke kantor baru dengan bidang usaha yang juga baru, yakni di bidang pasar modal, yang akhirnya menjadi pilihan karier saya hingga saat ini (meski saya sendiri kemudian resign dari kantornya Pak Yosef, tahun 2012 lalu).


Tampilan muka Yahoo Milis, yang sekarang berubah jadi Yahoo Groups. Penulis gak tau sekarang ini orang masih pake Yahoo Groups atau nggak, tapi dulu ini populer banget

Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, yep, memang saya bukannya tanpa kerja keras untuk kemudian menjadi investor full time profesional, dan kami juga berkali-kali melewati masa-masa sulit, seperti misalnya jika IHSG anjlok (dan itu sering terjadi). Namun pencapaian yang saya dan temen-temen raih hari ini, itu salah satunya adalah karena kondisinya sekarang ini memang jauh lebih mudah dan lebih praktis dibanding dulu, terutama karena adanya teknologi. Jadi balik lagi, seandainya dulu di tahun 2008 tidak ada Yahoo Milis, maka saya sendiri mungkin tidak akan pernah memperoleh info lowongan pekerjaan dari Pak Yosef, dan akhirnya saya tidak pernah menjadi seorang investor saham.
Dan tambah kesini, segala sesuatunya tambah lebih praktis lagi! Sekarang bayangkan jika anda sudah invest di saham sejak awal tahun 1990-an, maka di jaman itu kemana anda harus cari laporan keuangan? Laporan tahunan? Bagaimana anda mau menganalisa chart saham? Lha wong RTI atau Yahoo Finance juga belum ada! Kemudian kemana anda mau belajar saham? Karena waktu itu juga blog www.teguhhidayat.comini belum ada, demikian pula blog-blog saham lainnya belum ada, dan tidak ada seorangpun yang bikin buku atau seminar tentang saham. Mau googling ‘cara berinvestasi saham’ juga gak bisa, karena Google itu sendiri baru ada tahun 1998. Udah gitu sekuritas waktu itu masih dikit banget, jadi mau buka rekening aja susah. Pendek kata, untuk sekarang ini seorang investor newbie paling-paling hanya butuh waktu 1 – 2 tahun dihitung dari pertama kali membuka rekening, untuk kemudian cukup paham soal apa itu PER, apa itu PBV dan seterusnya, asalkan dia mau meluangkan waktu saja untuk baca-baca (di ponsel juga bisa). Tapi bagi senior-senior kita seperti Pak Lo Kheng Hong atau Pak Joeliardi, mereka mungkin butuh waktu lebih lama lagi untuk belajar, karena semuanya harus serba otodidak, tanpa adanya guru ataupun mentor. Dan untuk melakukan transaksi saham itu sendiri juga sangat ribet karena harus pake telepon, atau kita beneran datang ke kantor sekuritas/trading floor di BEI, karena waktu itu belum ada OLT. Yup, jadi sangat berbeda dengan sekarang dimana anda bisa menganalisis, membeli, dan menjual saham kapanpun dan dimanapun, bahkan dari tempat tidur atau kamar mandi juga bisa, asalkan ada sinyal internet.
Dan tidak hanya berinvestasi di saham, namun dalam bekerja untuk memperoleh penghasilan, sekarang ini juga jauh lebih mudah dan lebih praktis dibanding dulu, asalkan kita mau berusaha saja. Saat ini lowongan pekerjaan ada banyak di internet, atau anda bisa pake LinkedIn, jadi kita gak perlu lagi baca Koran Kompas hari Sabtu untuk cari lowongan, dan proses rekrutmen-nya juga jauh lebih simpel karena sudah serba email. Demikian pula kalau anda punya usaha kecil-kecilan, maka untuk promosinya sekarang sangat mudah karena ada Instagram. Kalau anda masih kuliah, maka jika penulis jaman kuliah dulu harus panas-panasan buka lapak terpal beneran untuk jualan DVD bajakan di trotoar kampus, maka mahasiswa sekarang bisa jualan di bukalapak.com atau tokopedia.com dari kamar kosnya yang nyaman sambil nyeruput matcha latte. What, anda gak suka dagang? Ya sudah, di rumah ada motor kan? Anda bisa jadi supir Gojek atau Grab. Gak mau juga?? Kalo gitu buka website-website yang menawarkan pekerjaan freelance (misalnya www.fiverr.com), dan silahkan pilih job yang anda sukai, atau bahkan yang sesuai hobi anda. Yup, karena sekarang ini bahkan ada juga pekerjaan sebagai gamer profesional! (penulis sendiri seorang gamer, yang menghabiskan 2 – 3 jam setiap hari main Xbox).
Jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, bagaimana caranya agar kita bisa sukses secara finansial dan menjadi seorang investor sejati? Maka jawabannya pertama-tama kerja biasa dulu, kumpulin tabungan, terus kerja lebih keras agar gaji naik, atau kalau bisa buka buka usaha kecil-kecilan atau freelance agar tabungannya lebih banyak lagi, dan barulah kalau ada surplus cash bisa mulai invest di saham. Sudah tentu, itu semua tetap butuh kerja keras, tapi ingat bahwa dibanding dulu, sekarang ini segala sesuatunya lebih mudah. Yup, kita sekarang tidak perlu lagi seperti kakek nenek kita di tahun 1960-an dulu, yang harus berjalan kaki sekian kilometer setiap hari untuk sekolah atau bekerja, atau panas-panasan di ladang setiap hari, tapi tetep aja mereka cuma bisa makan nasi pake kecap (karena di tahun 60an itu Indonesia memang lagi krisis). Namun meski kita sekarang ini bekerja lebih santai, tapi dengan bantuan teknologi maka kita bisa tetap menghasilkan lebih banyak, termasuk dari saham. Nama-nama seperti Nadiem Makarim, William Tanuwijaya, juga tidak akan sesukses sekarang kalau bukan karena teknologi dan internet. Seperti kata Warren Buffett, orang Amerika hari ini jauh lebih sejahtera dibanding orang Amerika 100 tahun yang lalu, dan itu bukan karena generasi sekarang bekerja lebih keras atau otak mereka lebih cerdas, melainkan karena mereka bekerja lebih efisien baik dalam hal waktu, pikiran, dan tenaga, salah satunya karena adanya teknologi. Dan penulis bisa katakan bahwa hal yang sama juga berlaku di Indonesia: Kita saat ini seharusnya bisa jauh lebih sejahtera dibanding orangtua atau kakek nenek kita dulu, dan itu bukan karena kita pintar atau apa, tapi karena sekarang ini kesempatannya ada jauh lebih banyak.
Okay Pak Teguh, lalu apa hubungannya ini dengan generasi milenial seperti judul artikel ini diatas? Sebelum itu kita sepakati dulu, apa yang dimaksud milenial disini, dan ‘milenial’ versi penulis adalah anda-anda semua yang membaca artikel ini, termasuk penulis sendiri, yang dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa lagi terlepas dari internet dan teknologi. Hanya memang dalam artian yang lebih sempit, generasi milenial adalah ‘anak tahun 90-an’, atau lebih muda lagi.
Dan kalau anda baca-baca banyak tulisan tentang ‘generasi milenial’, maka ada kesan bahwa generasi ini hidupnya susah, misalnya mereka kesulitan beli rumah karena harga rumah itu sendiri naik terus. Kaum milenial ini juga dikenal pemalas (karena memang hidupnya serba mudah dan praktis itu tadi), tiap hari cuma baca berita dan rumor di medsos, hingga boros pengeluaran (karena mau beli apa-apa tinggal buka Tokopedia, atau Amazon). Yup, jadi memang kemajuan teknologi tidak selalu memberikan manfaat positif bagi semua orang, karena itu akan tetap tergantung dari bagaimana kita memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut.
Jadi balik lagi ke soal saham: Dengan adanya kemajuan teknologi, maka segala sesuatunya sekarang ini jadi lebih mudah dan praktis, dimana berbelanja dan menghabiskan uang di Tokopedia dll, atau ngobrol ngalor ngidul di medsos dan Grup Whatsapp, adalah sama mudahnya dengan berinvestasi, dalam hal ini di saham, dan juga sama mudahnya dengan berspekulasi, misalnya di judi bola yang sekarang ini ada banyak banget (jadi gak perlu jauh-jauh ke Genting, Macau, atau Las Vegas). Tinggal anda pilih sendiri, mau jadi tukang belanja, tukang gosip, spekulan, atau seorang investor??
Dan kalau anda ingin mapan secara finansial, dimana ini tentunya merupakan keinginan semua orang, maka sudah tentu, anda harus menjadi investor. Karena dengan bekerja kita memang memperoleh sejumlah penghasilan, tapi hanya dengan berinvestasi-lah, entah itu di saham atau lainnya, maka kita akan bisa mengakumulasi tabungan dan kekayaan, yang nilainya akan berlipat ganda seiring waktu karena faktor bunga majemuk, bahkan meski modal awalnya sangat kecil. Kemudian ingat sekali lagi bahwa dibanding jaman dulu, maka sekarang ini untuk berinvestasi jauh lebih praktis dan mudah, tinggal kita-nya mau baca-baca atau nggak. Thus, jika kita sebagai generasi milenial tidak berinvestasi dan alhasil kemudian tidak pernah menjadi mapan secara finansial, then it would be a shame, karena kita sudah diberikan begitu banyak kemudahan yang tidak dimiliki oleh orang tua atau kakek nenek kita dulu, yang bahkan memungkinkan kita untuk menjadi seorang millionaire, tapi tidak kita manfaatkan. Actually penulis berpikir bahwa seandainya generasi muda di Indonesia sekarang ini semuanya berinvestasi (tentunya dengan cara-cara yang benar, jadi bukannya malah trading/spekulasi gak jelas), maka dalam 10 – 20 tahun yang akan datang Indonesia akan jadi negara maju dengan penduduk yang rata-rata mapan secara finansial, dan dengan demikian generasi berikutnya, yakni anak-cucu kita nanti, akan mengalami jaman yang lebih praktis lagi. Mudah-mudahan!
Untuk minggu depan, jangan khawatir, kita tetap akan bahas satu saham wonderful company yang bisa dijadikan sebagai legacy stock.

Jadwal Kelas Value Investing, Basic & Advanced, Sabtu & Minggu, Amaris Hotel Thamrin City Jakarta, 23 – 24 Maret 2019. Info selengkapnya baca disini. Hingga Senin, 18 Maret, masih tersedia 5 seat lagi untuk kelas hari Sabtu, dan 7 seat untuk kelas hari Minggu.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Properti 2019: Jackpot??

Ketika penulis terakhir kali membahas sektor properti, Januari 2018 lalu, ketika itu kesimpulannya adalah bahwa sektor ini berpeluang untuk ‘naik panggung’ di tahun 2018 tersebut karena dua faktor yakni: 1. Suku bunga BI Rate sedang rendah-rendahnya, yang artinya bunga KPR (kredit pemilikan rumah) juga lagi murah, dan ini akan mendorong orang untuk beli rumah, 2. Kondisi ekonomi nasional secara umum cukup bagus. Namun ini bukan berarti semua saham properti bisa dikoleksi, karena selain dua faktor diatas, tiap-tiap emiten properti juga punya faktor individualnya masing-masing yang berpengaruh terhadap kinerja mereka, seperti lokasi properti-nya, kualitas infrastruktur di sekitar proyek, jenis properti yang dijual, hingga kualitas manajemen. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
Waktu berlalu, dan bagaimana realisasinya sepanjang tahun 2018 kemarin? Well, sayangnya realisasinya jauh panggang daripada api: Hampir semua emiten properti justru mencatat penurunan kinerja di tahun 2018, dan ini lebih buruk dibanding tahun 2017 dimana beberapa emiten masih membukukan kinerja positif. Alhasil, jangankan naik, saham-saham properti justru turun signifikan, dan peristiwa koreksi pasar pada April – Oktober 2018 memperburuk kondisi tersebut dimana ada banyak saham properti yang mencetak new low-nya dalam lima tahun terakhir. Dan kalau melihat kinerja Bumi Serpong Damai dkk hingga Kuartal III dan IV 2018, juga belum ada tanda-tanda bahwa kinerja fundamental di sektor properti ini akan segera membaik.
Jadi apa masalahnya? Nah, ada beberapa teori, dan harus penulis akui bahwa ketika saya mengulas sektor properti di awal tahun 2018 lalu, saya kurang teliti karena tidak ikut mempertimbangkan beberapa faktor teori tersebut, padahal bisa jadi mereka sangat berpengaruh. Pertama, jika patokannya adalah BI Rate yang berada di level rendah, yang kemudian berpengaruh terhadap rendahnya bunga KPR, maka memang itu bisa mendorong orang untuk beli rumah secara kredit, dan kita tahu bahwa permintaan rumah untuk tempat tinggal akan selalu naik seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, plus pihak BI sendiri sejak beberapa waktu lalu melonggarkan peraturan loan to value (LTV), dan bahkan ada wacana DP rumah nol persen. However, sebagian besar emiten properti di BEI tidak jualan rumah tapak sederhana atau rusun seharga Rp400 jutaan, melainkan mereka jualannya rumah townhouse untuk kelas menengah keatas, apartemen, atau kondominium yang harganya milyaran. Sementara jenis properti yang diuntungkan karena rendahnya bunga KPR adalah properti untuk kelas menengah kebawah dengan harga ratusan juta Rupiah per unit. Karena untuk properti jenis rumah cluster, biasanya orang membelinya bukan lagi untuk tempat tinggal, melainkan untuk investasi.
Dan kalau orang beli rumah untuk tujuan investasi, maka pertimbangannya tidak lagi sekedar bunga KPR yang rendah (karena banyak juga investor properti ini yang beli rumah secara tunai), tapi lebih ke kondisi ekonomi yang harus lebih baik dari sekedar ‘tidak krisis’. Yup, ketika sektor properti ini booming pada tahun 2012 – 2013 lalu (itu adalah tahun-tahun dimana Feni Rose selalu ngomong ‘Senin harga naik!’), pemicunya ketika itu adalah karena booming komoditas batubara dan CPO sejak beberapa tahun sebelumnya, yang menyebabkan munculnya banyak ‘orang kaya baru’ terutama di Kalimantan dan Sumatera, dimana mereka kemudian menempatkan surplus cashflow mereka di properti (karena berbeda dengan saham atau instrumen investasi lainnya, ada mitos bahwa harga properti ‘tidak akan pernah turun’). Nah, jadi ketika harga batubara mulai naik lagi pada tahun 2016 lalu, penulis memang termasuk yang berharap bahwa setelah booming batubara tersebut maka sektor selanjutnya yang bakal booming adalah properti ini. Namun ternyata kondisinya kali ini berbeda, dimana meski harga batubara sekarang ini sudah relatif tinggi lagi, tapi harga CPO tidak ikut naik, demikian pula harga karet tidak naik-naik (karet adalah komoditas ekspor nonmigas terbesar Indonesia ketiga setelah batubara dan CPO), dan alhasil tidak terjadi booming ekonomi seperti tahun 2011 lalu, dimana angka pertumbuhan ekonomi hingga tahun 2018 kemarin masih mandek di level lima koma sekian persen.
Jadi, yup, jika kita ngobrol sama developer kecil-kecilan yang jualan rumah tipe 36 di Parung Bogor atau Cibitung Bekasi, maka mungkin memang terjadi peningkatan volume penjualan dalam 1 – 2 tahun terakhir, tapi ingat sekali lagi bahwa Alam Sutera Realty dkk tidakjualan rumah murah seperti itu. Teori kedua, kondisi menjelang ‘tahun politik’ 2019 ini juga mungkin berpengaruh terhadap keputusan konsumen untuk membeli rumah untuk tujuan investasi, dimana mereka masih wait and see hingga tanggal 17 April nanti. Karena, you know, berbeda dengan beli saham dimana anda hanya perlu modal mulai dari ratusan ribu Rupiah, maka untuk beli rumah minimal modalnya mencapai ratusan juta hingga milyaran Rupiah, sehingga tentu saja orang akan lebih berhati-hati.

Ilustrasi Townhouse Podomoro Park di Bandung, Jawa Barat, milik Agung Podomoro Land. Harga rumah di kompleks ini serendah-rendahnya Rp1.4 milyar,
Saham Properti Hari ini = Saham Batubara di tahun 2016
Okay Pak Teguh, jadi apakah ini artinya untuk tahun 2019 ini juga properti masih belum menarik? Nah, dalam hal ini ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Ketika penulis pertama kali kembali melirik sektor properti, Juli 2017 lalu (baca lagi ulasannya disini), ketika itu saya notice bahwa valuasi saham-saham properti masih belum terlalu murah, dimana masih banyak yang PBV-nya 1 – 2 kali, atau gak sampai nol koma sekian seperti ketika saham-saham batubara lagi rendah-rendahnya pada awal tahun 2016. Tapi dengan pertimbangan bahwa emiten properti rata-rata gak punya utang besar, dan sektor komoditas mulai bakal pulih lagi (ditandai dengan kenaikan harga batubara ketika itu), maka saya menganggap bahwa BSDE dkk gak akan sampai dihargai pada PBV nol koma sekian.
Namun seperti yang sudah dibahas diatas, ternyata tidak terjadi booming komoditas, sehingga kemudian tidak terjadi booming ekonomi. Plus, di tahun 2018 kemarin terjadi koreksi pasar, yang menyebabkan saham-saham properti kembali turun lebih rendah lagi. Alhasil, sekarang ini ada banyak saham properti yang PBVnya tinggal nol koma sekian, atau kurang dari 1.5 kali, dimana beberapa diantaranya adalah developer terkemuka seperti Lippo Karawaci (LPKR), Agung Podomoro Land (APLN), Modernland Realty (MDLN), Intiland Development (DILD), Bumi Serpong Damai (BSDE), hingga Ciputra Development (CTRA). Mungkin perlu juga dicatat bahwa meski emiten-emiten properti diatas semuanya masih membukukan penurunan laba, tapi gak ada yang sampai merugi, yang artinya kinerja mereka kurang bagus karena kondisi sektornya saja, dan bukan karena manajemennya gak becus atau semacamnya.
Nah, jadi anda sekarang mengerti jalan pikiran penulis bukan? Jadi memang, berbeda dengan sektor batubara dimana kenaikan harga batubara di pasar internasional bisa menjadi sentimen positif yang kemudian mendorong PTBA dkk naik bahkan meski kinerja mereka tampak belum bagus, maka untuk properti tidak akan ada sentimen positif seperti itu, karena tidak ada patokan ‘harga properti internasional’ atau semacamnya, sehingga mau tidak mau kita harus tunggu perkembangan kinerja perusahaan, dimana kalau labanya bagus/naik maka barulah kita masuk. Namun, entah APLN dkk bakal membukukan kenaikan laba di tahun 2019 ini atau tidak, tapi yang jelas kali ini valuasi saham mereka beneran sudah murah, murah banget malah, sehingga yang perlu kita lakukan tinggal tunggu saja sampai Mei 2019 nanti, kalau memang kinerjanya improve maka sikat! Dan mungkin kita akan dapet jackpot lagi seperti di batubara pada tahun 2016 lalu. Actually, dibanding sektor-sektor lainnya, maka peluang ‘profit 100% dalam 1 tahun atau kurang’ untuk tahun 2019 ini terletak di saham-saham properti ini (karena untuk sektor lainnya, valuasi mereka masih tanggung/gak murah-murah amat), tentunya dengan asumsi kinerja mereka sesuai harapan. Well, mudah-mudahan.
Untuk minggu depan kita akan bahas satu saham consumer goods yang bisa dikategorikan sebagai ‘wonderful company’, dan bisa anda pertimbangkan untuk investasi jangka panjang.
Jadwal Kelas Value Investing, Basic & Advanced, Sabtu & Minggu, Amaris Hotel Thamrin City Jakarta, 23 – 24 Maret 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird bagi pendaftar sebelum tanggal 18 Maret.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bagaimana Jika Emiten Bangkrut?

Warren Buffett di salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, bercerita tentang investasinya di Sanborn Map Co., perusahaan penyedia layanan peta untuk seluruh wilayah Amerika Serikat dengan pelanggan perusahaan asuransi, pemerintah daerah, hingga dinas pajak. WB menempatkan tak kurang dari 35% dana kelolaannya di Sanborn, dengan alasan sebagai berikut: Sanborn ini dulunya merupakan perusahaan monopoli dibidangnya, dan otomatis kinerja profitnya sangat bagus. Namun pada dekade 1950-an, perusahaan asuransi menemukan metode under-writing yang disebut carding, yang menyebabkan mereka tidak lagi membutuhkan peta yang dibuat oleh Sanborn.

Alhasil kinerja Sanborn kemudian turun, dan otomatis sahamnya juga turun, dari US$ 110 menjadi US$ 45. Tapi inilah menariknya: Sejak awal 1930-an, manajemen Sanborn telah membentuk portofolio investasi dimana mereka menggunakan profit dari bisnis peta untuk membeli saham-saham di pasar, dan nilai investasi saham tersebut telah meningkat dari US$ 20 menjadi US$ 65 per lembar sahamnya. Ini artinya jika anda membeli saham Sanborn pada harga US$ 45, maka artinya anda hanya membayar US$ 45 untuk memperoleh portofolio investasi milik Sanborn senilai US$ 65 (jadi anda untung US$ 20 per saham, atau 44.4%), plus memperoleh bisnis peta-nya secara gratis.

WB kemudian melanjutkan, ‘Kami bersama beberapa partner berniat untuk menjadi pemegang saham mayoritas/pengendali di Sanborn, dimana dengan demikian kami akan bisa merealisasikan/menjual saham-saham yang dipegang Sanborn pada harga pasar, sehingga akan diperoleh keuntungan. Untuk bisnis petanya, kami akan meng-konversi peta-peta yang dihasilkan ke dalam bentuk elektronik, sehingga lebih mudah digunakan oleh pelanggan dan alhasil, lebih mudah untuk dijual.’ Dari sini kemudian kelihatan bahwa WB sejak awal tidak berniat membeli saham Sanborn pada harga US$ 45 untuk kemudian dijual kembali katakanlah pada harga US$ 60, ataupun untuk dipegang seterusnya. Melainkan yang ia incar adalah aset portofolio investasi milik perusahaan, yang jika dijual maka akan dihasilkan sejumlah uang yang nilainya lebih besar dibanding biaya akuisisi Sanborn itu sendiri, plus ‘bonus’ berupa aset bisnis peta-nya, yang kalaupun ternyata tidak mampu untuk kembali menghasilkan keuntungan, maka WB tetap profit besar dari menjual portofolio saham milik Sanborn.
Dan ternyata, untuk pilihan-pilihan sahamnya yang lain pun, WB rata-rata menggunakan pendekatan yang sama: Ia hanya membeli saham dari perusahaan yang kalau aset-aset milik perusahaan tersebut dilikuidasi, maka ia sebagai pemegang saham akan memperoleh keuntungan karena uang yang ia terima lebih besar dibanding biaya untuk membeli sahamnya. Salah satu rumus yang ia pakai adalah: Nilai/market cap perusahaan harus lebih rendah dibanding modal kerja bersih (net working capital), dimana modal kerja bersih ini adalah aset lancar dikurangi kewajiban lancar. Jadi jika perusahaan A aset lancarnya 1,000, sedangkan kewajiban lancarnya 300, dan market cap-nya 400, maka WB tanpa pikir panjang akan langsung membeli saham A tersebut. Sebab jika perusahaan A dilikudasi, dan kita anggap saja untuk aset tidak lancar-nya hasil penjualannya adalah nol (karena biasanya memang susah untuk menjualnya, karena aset tidak lancar disini seperti pabrik, mesin-mesin dll), maka dari penjualan aset lancarnya (persediaan, piutang) diperoleh 1,000, dikurang utang lancar 300, hasilnya adalah 700, masih lebih besar dibanding biaya membeli sahamnya sebesar 400.
Dan ada dua cara agar perusahaan dilikuidasi: Perusahaan tersebut bangkrut, atau WB mengakuisisinya/menjadi pemegang saham mayoritas, sehingga ia bisa menjual aset-aset perusahaan, dan WB biasanya pakai cara yang kedua, seperti pada Sanborn diatas. Dengan cara inilah, Warren Buffett Partnership mencatatkan kinerja yang sangat luar biasa di tahun 1960-an dengan rata-rata profit 29.8% per tahun, karena mereka hanya berinvestasi pada perusahaan yang sudah pasti akan memberikan keuntungan.
Pada perkembangannya, terutama sejak bertemu dengan Charlie Munger, WB tidak lagi menggunakan metode diatas, melainkan ia kemudian lebih banyak membeli saham dari perusahaan bagus yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan konsisten dalam jangka panjang, dan tidak masalah kalau harga belinya tidak terlalu murah. Namun metode ‘membeli saham pada harga yang sedemikian rendahnya, sehingga kalaupun perusahaannya bangkrut dan aset-asetnya dilikuidasi, maka investor pemegang saham tetap akan memperoleh keuntungan’, tetap digunakan oleh banyak value investor lain. Walter Schloss, value investor seangkatan WB, mengatakan bahwa ia tertarik membeli saham pada price to net net capital (PNNC) 0.67 kali atau kurang dari itu, dimana PNNC disini dihitung dari nilai aset lancar dikurangi semua kewajiban (jadi aset tidak lancar tidak dihitung/dianggap nilainya nol), dengan anggapan bahwa hanya aset lancar inilah yang bisa dengan mudah dijual, jika perusahaan dibubarkan. Dengan metode Schloss ini, saham dengan PBV yang sangat rendah sekalipun bisa jadi belum cukup murah, jika sebagian besar aset perusahaan merupakan aset tetap/tidak lancar.
Pertanyaannya kemudian, bisakah kita, sebagai investor ritel, menggunakan metode-nya WB ketika dulu ia mengakuisisi Sanborn, atau metodenya Walter Schloss diatas? Well, tentu bisa saja, dengan syarat anda punya cukup dana untuk mengakuisisi perusahaan yang diincar, sehingga anda bisa menendang direkturnya keluar, membubarkan perusahaan, dan mengobral aset-asetnya. Tapi jika dana anda terbatas, maka ya anda nggak bisa melakukan itu. Kalaupun ada investor besar lain yang membeli saham A dimana PNNC-nya kurang dari 0.67 kali, dengan tujuan menjual aset-asetnya, maka anda juga tetap tidak akan mendapatkan keuntungan, karena si investor besar ini, sebelum melikuidasi perusahaan, biasanya ia akan membeli saham milik publik (termasuk yang anda miliki) dengan mekanisme tender offer berdasarkan harga pasar, bukan berdasarkan nilai perusahaan.
Okay, Pak Teguh, tapi kalau perusahaannya bangkrut, maka dia otomatis akan dilikuidasi dong? Dan saya sebagai pemegang saham akan terima duit bukan? Ah, ceuk saha??? Teorinya iya memang begitu, tapi coba kita lihat prakteknya. Dulu waktu Dayaindo Resources (KARK) kolaps, maka apakah pemegang saham publiknya terima duit? Demikian pula waktu Sekawan Intipratama (SIAP) bubar, atau Berau Coal Energy (BRAU) bangkrut dan delisting, maka apakah pemegang sahamnya dapet duit yang nilainya lebih gede dibanding biaya yang mereka keluarkan buat beli sahamnya?? Yang ada mereka kehilangan semua uangnya sama sekali, dan melapor ke OJK pun percuma karena mereka masih puyeng menampung keluhan korban rentenir online.
Jadi kalau kita beli saham dengan pakai asumsi bahwa ‘kalaupun perusahaannya bangkrut, maka kita tetap bakal dapet untung’, maka jujur saja, itu tidak realistis. Kemudian ingat pula bahwa tidak segampang itu bagi sebuah perusahaan untuk dinyatakan bangkrut/pailit oleh pengadilan, karena harus ada syarat-syarat seperti gagal bayar utang atau semacamnya. Inilah kenapa di BEI ada buanyak sekali perusahaan-perusahaan yang kinerjanya dari dulu rugi mulu, dan sahamnya juga udah lama mati di gocap, tapi tetep aja gak bangkrut-bangkrut, sehingga aset-nya pun tidak mungkin di-likuidasi. Jadi kalau anda beli saham gocapan ini hanya karena alasan ‘PNNC-nya dibawah 0.67 kali’, then congratulations, you played yourself.
Okay Pak Teguh, jadi apa ini maksudnya kita jangan ikutin apa kata Walter Schloss? Well, boleh kita ikutin, tapi jangan telan mentah-mentah. Demikian pula dengan metode-nya WB, kita jangan telan begitu saja, karena ingat bahwa di tahun 1960-an sekalipun, WB sudah merupakan investor besar. Just remember: Sebagai investor ritel, peluang profit kita hanya ada dua, yakni dari kenaikan harga saham, dan dividen, tapi bukan dari penjualan aset-aset perusahaan.
Jadi yang penulis lakukan selama ini adalah, kita tidak pernah mengambil asumsi terburuk bahwa perusahaan yang sahamnya kita beli bakal bangkrut dan dilikuidasi, melainkan hanya asumsi bahwa kinerjanya/laba bersihnya bakal turun, atau terjadi force majeure yang mengubah fundamental atau prospek perusahaan, dan sahamnya otomatis ikut turun. Kemudian untuk saham dengan valuasi super duper murah, misalnya PBV dibawah 0.4 kali (kita pakenya PBV aja, bukan PNNC tadi ataupun modifikasi lainnya), maka biasanya itu adalah saham dari perusahaan yang kinerjanya jelek/rugi. Dan untuk saham model gini maka yang kita lihat adalah, seberapa besar peluangnya untuk kembali membukukan laba di masa yang akan datang, dimana itu bisa dilihat dari track record kinerjanya di masa lalu, rencana pengembangan usaha, kualitas manajemen, kebijakan pengelolaan utang, hingga kondisi terkini dari industri/bidang usaha yang dijalani perusahaan. Jika peluangnya besar, maka kita ambil sahamnya. Tapi jika peluangnya kecil, atau hasil analisanya tidak menghasilkan gambaran yang jelas soal prospek perusahaan, maka kita abaikan sahamnya. Contohnya adalah ketika kita menganggap bahwa saham-saham batubara menarik di tahun 2016 lalu bahkan meski laba mereka ketika itu masih pada turun, karena adanya prospek cerah dari kenaikan harga batubara (baca lagi ceritanya disini). Dan memang kemudian coal stocks waktu itu naik banyak.
Tapi sekali lagi, kita tidak pernah membeli perusahaan dengan asumsi bahwa perusahaannya bakal pailit. Atau, jika setelah dianalisa maka kesimpulannya perusahaan tersebut ada risiko bakal bangkrut, maka ya sudah kita gak akan masuk, dan kita tidak akan mengatakan bahwa sahamnya undervalue, tak peduli serendah apapun valuasinya.
Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Maret 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Jadwal Kelas Value Investing Advanced, Sabtu & Minggu, Jakarta, 23 – 24 Maret 2019. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto aktivitas penulis di INSTAGRAM, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta, 24 Maret

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 24 Maret 2019. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, cara merespon aksi korporasi emiten, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, saham-saham batubara naik luar biasa hanya dalam tempo 2 tahun. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ dengan masuk ke saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013, 2015, dan 2018.
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 24 Maret 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Kepa Arrizabalaga, BCA. Anda boleh lampirkan bukti transfer, tapi boleh juga tidak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus Gratis!
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis bersama temen-temen peserta di salah satu seminar sebelumnya.

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 23 Maret 2019 (sehari sebelum seminar advanced, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham. Bagi anda yang masih pemula, atau sudah lama di market namun baru mengenal value investing, maka sangat disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced ini di hari minggunya. Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Tersedia kelas private dengan lokasi di Bandung, dan [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 23 Maret

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 23 Maret 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.
Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.

Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.


***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 23 Maret 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Kepa Arrizabalaga, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial
Penulis bersama teman-teman peserta di salah satu kelas seminar sebelumnya

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Advanced, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 24 Maret 2019 (sehari setelah seminar value investing ini, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Tersedia kelas private dengan lokasi di Bandung, dan [...]

Cara Beli Saham Persis Pada Harga Terendahnya

Beberapa waktu lalu penulis menonton film berjudul Sully, yang bercerita kisah nyata (meski ditambah sedikit bumbu-bumbu fiksi) tentang seorang pilot bernama Capt. Chesley ‘Sully’ Sullenberger, yang pada Januari 2009 mendaratkan pesawat terbang secara darurat di Sungai Hudson, Kota New York, setelah pesawat tersebut sebelumnya menabrak kawanan burung di udara (bird strike). Oleh publik, Kapten Sully dianggap sebagai pahlawan, karena ia berhasil menyelamatkan nyawa seluruh penumpang serta kru pesawat, totalnya berjumlah 155 jiwa. Namun investigasi lanjutan oleh otoritas berwenang menunjukkan bahwa pesawat masih bisa berputar kembali ke bandara, dan tidak harus mendarat darurat di air.

Jadi ceritanya, investigasi dalam bentuk simulasi komputer yang dilakukan National Transportation Safety Board (NTSB), menunjukkan bahwa setelah terjadi bird strike, maka pesawat masih punya cukup waktu untuk berputar dan kembali ke Bandara La Guardia (bandara dimana pesawatnya take off), atau ke Bandara Teterboro di New Jersey. Simulasi lanjutan yang dilakukan oleh pilot sungguhan juga menunjukkan bahwa pesawat bisa mendarat dengan aman di kedua bandara tersebut. Thus, keputusan Capt. Sully untuk mendaratkan pesawat di air, meski itu sukses menyelamatkan seluruh penumpang dan kru, namun tetap dianggap sebagai pilot error. Karena rusaknya pesawat serta cedera-nya sejumlah penumpang (karena pesawatnya mendarat di air) menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi pihak maskapai US Airways.
Cuplikan selengkapnya bisa ditonton di video berikut.

Nah, di video diatas, Capt. Sully (diperankan oleh Tom Hanks), menyampaikan pembelaannya sebagai berikut (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia).
‘Kita sudah mendengar tentang simulasi pendaratan pesawat oleh komputer, dan sekarang kita melihat simulasi oleh pilot itu sendiri. Namun semua simulasi itu tidak menyertakan faktor manusia.’
‘Sebelum pesawat menabrak kawanan burung, tidak ada seorangpun yang mengingatkan kami untuk waspada terkait ini sebelumnya. Tidak ada yang mengatakan, kedua mesin pesawat anda akan rusak karena ditabrak oleh kawanan burung pada ketinggian yang amat sangat rendah. Tapi, okay, kita santai saja. Sekarang kita langsung putar balik ke bandara, seperti kalau kita mengambil barang yang ketinggalan di rumah.’
‘Ini adalah kondisi dimana pesawat kehilangan kedua mesinnya sekaligus, pada ketinggian hanya 2,800 kaki, disusul oleh pendaratan darurat di air dengan 155 jiwa penumpang dan kru didalam pesawat. Tidak pernah ada seorangpun yang dilatih untuk insiden seperti itu. Tidak seorangpun.’
‘Aku tidak mempertanyakan kualitas pilot dalam simulasi ini. Mereka pilot yang kompeten. Namun di simulasinya, mereka langsung berputar dan kembali ke bandara segera setelah pesawat mengalami bird strike. Mereka tidak terlebih dahulu melakukan analisa atau pengambilan keputusan soal apa yang harus dilakukan. Dan itu tidak seperti manusia normal, terutama yang mengalami peristiwa darurat seperti ini untuk pertama kalinya.’
Setelah itu, simulasi kembali dilakukan namun kali ini dengan menambahkan jeda waktu selama 35 detik, dimana 35 detik ini adalah waktu bagi pilot untuk melakukan analisa soal apa yang harus dilakukan. Jadi berbeda dengan simulasi sebelumnya, pilot baru berputar dan kembali ke bandara 35 detik setelah pesawat bertabrakan dengan kawanan burung. Dan hasilnya pesawat gagal mendarat dan malah menabrak gedung, sehingga kerusakan yang terjadi lebih besar hingga timbul korban jiwa.
Memahami ‘Jeda Waktu’ Dalam Investasi Saham
Film ‘Sully’ diatas menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami suatu peristiwa darurat atau emergency, apalagi jika ia mengalami peristiwa itu untuk pertama kalinya, maka sangat tidak realistis jika ia langsung mengambil tindakan, melainkan ia akan butuh waktu untuk menganalisa soal apa yang seharusnya dilakukan. Dengan kata lain, akan selalu ada jeda waktu sebelum seseorang mengambil keputusan krusial tertentu. Dan meski jeda waktu yang digunakan oleh Capt. Sully untuk melakukan analisa menyebabkan ia tidak punya cukup sisa waktu untuk berputar dan mendarat dengan aman di bandara (sehingga kemudian terpaksa mendarat di air), namun ia harus melakukan analisa tersebut. Karena justru akan menjadi keputusan yang amat sangat berisiko jika sang Kapten, tanpa mempelajari ketinggian pesawat dll, langsung saja berputar balik ke bandara. Dalam situasi dimana tindakan seorang pilot menentukan hidup matinya 155 orang termasuk dirinya sendiri, maka tidak mungkin bagi Capt. Sully untuk mengambil keputusan se-gegabah itu.
Dan satu hal lagi: Waktu 35 detik itu sebenarnya sangat mepet bagi sang pilot untuk mengambil keputusan. Jika saja pesawat yang menabrak burung itu tidak dikemudikan oleh Capt. Sully, melainkan oleh pilot lain dengan jam terbang yang lebih sedikit, maka bukan tidak mungkin ia akan butuh waktu lebih lama untuk menganalisa dan alhasil, jangankan berputar dan kembali mendarat di bandara, pilot ini bahkan belum tentu punya cukup waktu untuk mendaratkan pesawat secara darurat di Sungai Hudson.
Lalu bagaimana dengan investasi kita di pasar saham?
Berbeda dengan mengendarai pesawat terbang dimana seorang pilot jarang mengalami kondisi darurat, maka disini kita sering mengalami kondisi darurat yang bisa berujung pada kerugian jika kita salah mengambil keputusan, yakni jika IHSG/pasar atau saham yang kita pegang sedang turun/terkoreksi. Dalam keadaan ‘darurat’ inilah, para investor akan melakukan analisa ulang untuk menentukan apakah sebaiknya hold, beli lagi, atau jual saja. Yup, jadi sama seperti analisa yang dilakukan Capt. Sully diatas, dimana ia harus segera mengambil keputusan soal apakah pesawat bisa terus melanjutkan penerbangannya, kembali ke bandara, atau mendarat darurat di air.
Dan semakin darurat kondisi pasar, alias semakin dalam penurunan harga saham, maka akan semakin lama jeda waktu yang dibutuhkan para investor/trader untuk melakukan analisa, untuk cari informasi/berita kesana kemari Sekarang gini: Ketika pasar dan harga-harga saham lagi naik semua, maka orang-orang biasanya akan dengan santai beli saham ini itu, seringkali hanya dengan bekal analisa sekilas saja (hanya dengan melihat RTI atau semacamnya), atau bahkan tanpa analisa sama sekali. Dan ketika saham itu kemudian naik, maka ia kemudian masih santai-santai saja/tetap nggak mempelajari perusahaannya dst.
Tapi ketika kemudian sahamnya itu turun, maka barulah si investor ini akan baca-baca lagi laporan keuangan, termasuk kasak kusuk cari berita di grup dan forum-forum: Ini ada kejadian apa?? (Bener gitu kan? Hayo ngaku, siapa disini yang beli saham dulu lalu baru baca laporan keuangannya belakangan, itupun kalau sahamnya turun??) Dan selama si investor ini melakukan analisa, maka selama itu pula ia tidak akan membeli atau menjual saham tertentu, alias wait and see saja.
Fenomena wait and see inilah, yang kemudian menyebabkan saham tertentu bisa lanjut turun, atau tidak segera naik lagi, bahkan meski valuasinya sudah sangat murah (dan fundamentalnya/prospeknya bagus). Sebab ketika sejumlah investor menjual suatu saham karena panik, maka investor lainnya yang melihat bahwa saham itu sudah murah tidak langsung masuk, karena mereka masih sibuk menganalisa (atau tunggu keadaan membaik. Misalnya jika saham yang turun itu sedang diserang berita negatif tertentu, maka tunggu dulu beritanya akan hilang/dilupakan orang, lalu baru masuk), dan alhasil sahamnya turun lebih rendah lagi, atau tidak juga naik meski saham-saham lain sudah naik duluan.
Jadi balik lagi: Dalam value investing, tugas kita adalah membeli saham bagus pada valuasi murah, lalu tunggu saja, dimana waktu tunggu ini bisa sebentar, tapi bisa juga lama. However, jika anda termasuk yang berpikir bahwa investasi saham itu idealnya membeli saham persis pada harga terendahnya, jualnya nanti persis pada harga tertingginya, dan belinya juga persis sebelum saham itu naik (jadi nunggunya gak pake lama!), maka seperti yang dikatakan oleh Capt. Sully, anda tidak bisa melakukan itu, karena anda harus juga memasukkan faktor manusia, dalam hal ini kecenderungan orang untuk wait and see sehingga timbul jeda waktu, faktor panik, faktor serakah, dan seterusnya. Faktor-faktor manusia disini tidak berhubungan dengan fundamental perusahaan, namun tetap berpengaruh terhadap kinerja portofolio kita, terutama dalam jangka pendek. Contohnya, ketika kita beli saham A di harga 1,000 karena menganggap bahwa harga 1,000 itu sudah murah, maka bukan berarti saham A tidak bisa turun sampai 900, 800, atau lebih rendah lagi. Dan itu seringkali bukan karena kita salah hitung PBV-nya atau apa, tapi karena adanya jeda waktu ketika orang-orang wait and see tadi.
Namun dalam jangka panjang, maka selama kita memilih saham yang tepat, pada harga beli yang tepat, dan tidak terjadi perubahan fundamental terhadap perusahaannya, maka anda tetap akan memperoleh profit yang layak. Nah, jadi balik lagi ke judul diatas, bagaimana cara membeli saham persis pada harga terendahnya? Maka jawabannya, meski anda mungkin pernah membeli saham pada harga terendahnya, tapi secara umum anda tidak bisa melakukan itu. Demikian pula, meski penulis beberapa kali beli saham pada hari tertentu dan besoknya saham itu langsung naik, tapi itu hanya kebetulan, dan saya beli saham itu bukan karena tahu bahwa dia akan naik besoknya (dan gimana juga caranya saya bisa tahu??). Terakhir, penulis juga sering profit taking saham A pada harga 2,000 karena menganggap bahwa harga 2,000 itu sudah mahal, tapi ternyata dia masih naik lagi sampai 2,500, sehingga dalam hal ini profitnya jadi nggak maksimal.
Tapi meski profitnya tidak maksimal, namun itu masih lebih baik dibanding rugi bukan? Jadi sama seperti kisah Capt. Sully diatas: Meski pihak investigator menganggap bahwa idealnya pesawat bisa kembali mendarat dengan aman di bandara La Guardia, dan simulasi komputer menunjukkan bahwa sang pilot bisa melakukan itu, namun pada akhirnya mereka menyadari bahwa itu tidak realistis, karena mereka belum memasukkan human factor. Thus, meski pihak maskapai menderita kerugian karena pesawatnya mendarat di air, tapi itu masih lebih baik, bahkan sangat jauh lebih baik dibanding kemungkinan terburuknya, yakni jika pesawatnya gagal mendarat dan semua penumpangnya tewas. Nah, dalam berinvestasi di saham juga sama: Kita sering mengeluh kenapa profitnya kok kecil, sayang banget kemarin waktu sahamnya turun kita gak berani masuk, atau ini kenapa saham saya gak naik-naik juga, atau kenapa ini cut loss, tanpa menyadari bahwa kita masih lebih beruntung dibanding investor lain, yang bisa jadi menderita kerugian lebih besar. Well, ujung-ujungnya memang kita harus inget lagi sama nasihat orang tua dulu: Harus banyak-banyak bersyukur!
Untuk minggu depan kita akan membahas prospek salah satu dari sektor berikut, silahkan anda pilih di kolom komentar: 1. Properti, 2. Konstruksi, 3. Perkebunan kelapa sawit, 4. Pembiayaan /multifinance.
Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Maret 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Jadwal Kelas Value Investing Advanced, Sabtu & Minggu, Jakarta, 23 – 24 Maret 2019. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto aktivitas penulis di INSTAGRAM, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kirana Megatara, dan Prospek Harga Karet

Kirana Megatara (KMTR) membukukan laba bersih Rp69 milyar hingga Kuartal III 2018, anjlok dibanding periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp391 milyar, dan karena itulah sahamnya terjun bebas dari 900-an, Februari 2018 lalu, hingga mentok di 250 pada November, sebelum kemudian naik lagi ke posisi sekarang (350-an). Namun yang menarik perhatian penulis adalah ketika perusahaan menggelar right issue pada Januari 2019 kemarin di harga 530, alias jauh diatas harga sahamnya dipasar, dimana pembeli siaganya adalah perusahaan asal Singapura dengan nama Hainan State Farm (HSF) Pte. Ltd. Dan setelah right issue tersebut, pemegang saham mayoritas KMTR berubah dari sebelumnya Grup Triputra milik konglomerat Theodore P. Rachmat, menjadi HSF diatas (Grup Triputra masih jadi pemegang saham di KMTR, namun persentase kepemilikannya sedikit berkurang/terdilusi). Pertanyaannya, kenapa HSF bela-belain nyetor saham baru di KMTR pada harga diatas harga pasar? Termasuk kenapa mereka sampai mengambil alih KMTR dari Grup Triputra?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita pelajari dulu KMTR ini sejak awal.
Kirana Megatara adalah perusahaan holding dari beberapa anak usaha di bidang usaha produksi karet remah (crumb rubber), perkebunan karet, dan perkebunan kelapa sawit, namun lebih dari 99% pendapatan perusahaan berasal dari jualan karet remah saja. Dan meski KMTR itu sendiri baru berdiri tahun 1991 sebagai kendaraan investasi Grup Triputra di bidang karet, namun anak-anak usahanya sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 1964, dengan memiliki total 15 pabrik karet yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Mungkin tidak banyak yang mengetahui, namun selain batubara dan CPO, Indonesia adalah juga salah satu produsen karet alam terbesar di dunia (karena memang pohon karet hanya bisa tumbuh di daerah sekitar garis khatulistiwa), dan KMTR merupakan perusahaan terbesar di Indonesia di bidang ini. Karet, dalam hal ini crumb rubber, adalah bahan baku utama pembuatan ban mobil dan motor, thus pelanggan utama KMTR adalah produsen-produsen ban terkemuka di dunia seperti Bridgestone, Michelin, dan Goodyear. KMTR punya kebun karetnya sendiri, namun kapasitas panen-nya masih sangat kecil dibanding kapasitas produksi pabriknya, sehingga mereka membeli sebagian besar bahan baku getah karet dari petani. KMTR kemudian menjual sekitar 97% produksi karet remah-nya ke pasar ekspor, dan karena itulah harga jualnya mengikuti harga karet internasional.
Nah, terkait kalimat yang di-bold diatas, hal ini menyebabkan kinerja KMTR dalam jangka panjang terbilang tidak konsisten karena sangat dipengaruhi oleh harga karet internasional. Pada tahun 2014 perusahaan menderita rugi Rp46 milyar, yang berbalik menjadi laba bersih Rp423 milyar di tahun 2017, sangat besar dibanding ekuitasnya (sebelum ditambah laba tersebut) yang hanya Rp1 trilyun. Dan seperti yang bisa anda tebak, harga karet di tahun 2014 terbilang rendah di level US$1.61 per kilogram, sedangkan di tahun 2017-nya naik tinggi hingga sempat menyentuh US$2.71 per kg. Memasuki tahun 2018, harga karet turun lagi hingga mentok di US$1.32 per kg, dan karena itulah laba KMTR nyungsep lagi. Namun fakta bahwa harga karet di tahun 2018 kemarin bahkan lebih rendah lagi dibanding tahun 2014, sedangkan KMTR so far masih membukukan laba (jadi gak sampe rugi lagi), maka kinerja KMTR terbilang masih bagus, sekali lagi, jika perbandingannya adalah kinerjanya di tahun 2014 diatas.
Beberapa hal penting terkait perusahaan:
  1. Modal utama KMTR sejak awal adalah koneksi owner-nya, Theodore P. Rachmat, dengan perusahaan-perusahaan ban kelas dunia, karena memang dulu Mr. Rachmat merupakan dirut Astra Internasional, perusahaan otomotif terbesar di Indonesia. Saat ini 12 dari 20 produsen ban terbesar di dunia merupakan pelanggan KMTR, dan bisa dibilang bahwa Mr. Rachmat simply menghubungkan Bridgestone dkk dengan petani dan pabrik karet di Indonesia, yang jumlahnya sangat banyak (karena seperti yang disebut diatas, Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua di dunia, setelah Thailand).
  2. Pohon karet butuh waktu 5 – 6 tahun dari sejak ditanam hingga dewasa dan bisa disadap, alias lebih lama dibanding pohon sawit yang hanya butuh 3 tahun, sehingga akan lebih mudah bagi KMTR untuk membeli karet mentah dari petani-petani pemilik kebun yang sudah ada, daripada menanam pohon karetnya sendiri. Inilah kenapa meski pendapatan KMTR bisa mencapai lebih dari Rp10 trilyun setiap tahunnya, namun laba bersihnya hanya sekian ratus milyar Rupiah, karena ada beban pokok yang sangat besar berupa pembelian bahan baku.
  3. Karena KMTR membeli bahan baku dari petani, maka fokus perusahaan sedari dulu adalah membantu para petani itu sendiri untuk bisa terus produktif, karena para petani kecil ini umumnya terbatas dalam hal modal, pengetahuan dll, dibanding perusahaan perkebunan karet skala besar. And so far, KMTR cukup baik dalam hal memberdayakan petani tersebut, dimana perusahaan belum pernah kekurangan pasokan bahan baku.
  4. Karena bisnisnya sederhana, yakni beli getah karet dari petani, diolah jadi crumb rubber, lalu jual, maka neraca KMTR juga terbilang bersih dan simpel. Perusahaan memang punya utang bank jangka panjang sebesar Rp1.7 trilyun, cukup besar dibanding ekuitasnya yang hanya Rp1.5 trilyun, namun itu adalah untuk keperluan membeli bahan baku karet mentah. Dan karena omzet/pendapatan KMTR mencapai Rp12 trilyun per tahun, maka dana pinjaman bank tersebut memang muter buat beli bahan baku tadi/omzet KMTR bisa lebih kecil andaikan utang tersebut tidak ada. Bunga utangnya juga terbilang murah, yakni US Libor 3 bulan (sekitar 2.7%) ditambah margin maksimal 4.0%, sehingga totalnya hanya 6.7% per tahun.
Sekarang balik lagi soal harga karet internasional. Seperti yang bisa anda lihat di grafik berikut, harga karet pernah mencapai level yang sangat tinggi di US$6.26 per kg di tahun 2011, tapi setelah itu terjun bebas hingga mentok US$1.23 di awal tahun 2016, sebelum kemudian naik lagi sampai US$2.71 di awal tahun 2017, lalu turun lagi hingga US$1.35 di bulan November 2018, dan terakhir berada di posisi US$1.59 pada Januari 2019.
Harga karet internasional dalam 10 tahun terakhir. Sumber: Indexmundi.com

Nah, dari sini bisa kita lihat bahwa harga karet dunia terbilang sangat fluktuatif, jauh lebih fluktuatif dibanding harga minyak atau batubara. Kondisi ini mungkin menjelaskan kenapa nggak banyak perusahaan karet skala besar di Indonesia meski kita notabene adalah produsen karet alam terbesar di dunia, karena bisnis karet ini sangat risky, yakni gimana kalau besok-besok harga karet anjlok lagi? Sedangkan Indonesia tidak punya kendali terhadap harga karet dunia, karena kita baru bisa memproduksi karet-nya, tapi belum bisa bikin ban dll (memang ada Gajah Tunggal, tapi GJTL masih jauh lebih kecil dibanding Bridgestone dkk). Namun KMTR diuntungkan karena perusahaan, sekali lagi, memiliki hubungan baik dengan pabrik-pabrik ban di seluruh dunia yang selalu siap membeli crumb rubber hasil produksi perusahaan, berapapun harganya.
Kemudian, berbeda dengan harga batubara dan minyak yang sudah naik lagi dibanding titik terendahnya di tahun 2016 lalu, harga karet saat ini masih berada di salah satu titik terendahnya. Yang ini artinya, meski harga karet kedepannya memang tidak bisa diprediksi, namun no way dia bakal turun lebih rendah lagi, karena harga karet sekarang ini bahkan tidak lebih tinggi dibanding harganya 15 tahun yang lalu. Perlu diketahui juga bahwa terdapat dua jenis karet: Karet alam (natural rubber) yang dibuat dari getah pohon karet, dan karet sintetis, yang dibuat dari proses kimia minyak bumi. Karena di negara-negara maju produsen otomotif seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman tidak ada pohon karet, maka dimasa lalu 65% produksi karet dunia merupakan karet sintetis, namun karet alam lebih disukai karena kualitasnya lebih baik/lebih tahan lama. Tingginya permintaan karet alam menyebabkan negara-negara di Asia Tenggara menanam pohon karet secara besar-besaran sejak awal dekade 2000-an, sehingga suplai karet alam meningkat, dan alhasil saat ini produksi karet dunia tinggal 57% yang merupakan karet sintetis, sedangkan 43% sisanya adalah karet alam. Karena trend penggunaan karet alam masih terus meningkat, maka sekali lagi, harga karet seharusnya tidak akan turun lebih rendah lagi (harga karet diatas adalah harga karet alam). Dan asal harga karet kedepannya tidak turun, maka selanjutnya cuma soal waktu sebelum dia akan naik.
Nah, semua uraian diatas menjelaskan kenapa HSF berani setor modal lagi ke KMTR, bahkan pada harga saham diatas harga pasar, termasuk menjadi pemegang saham mayoritas dengan memegang 50.5% saham KMTR: Mungkin itu karena mereka melihat bahwa harga karet saat ini, yakni US$1.59 per kg, itu sudah sangat rendah, dan cuma soal waktu sebelum nanti akan naik lagi. Sebab dulu juga ketika harga karet turun sampai menyentuh US$1.5 per kg, maka perusahaan-perusahaan karet di Indonesia, Thailand, dan Malaysia, dengan dukungan pemerintah di ketiga negara, pernah membuat kesepakatan untuk membatasi volume ekspor dalam rangka menurunkan pasokan karet dunia, dan pada akhirnya menaikkan kembali harga karet. Thus, kalaupun besok-besok harga karet turun lagi, maka kita tahu bahwa perusahaan dan pemerintah tidak akan tinggal diam.
Dan gak perlu naik sampai US$6 seperti di tahun 2011, jika harga karet naik sampai US$2.5 – 3 per kg saja, maka KMTR bakal jackpot lagi. Untuk urusan pembeli sudah aman, karena Grup Triputra juga masih ada disitu. Dan untuk urusan bahan baku juga sudah aman karena KMTR sudah sangat berpengalaman dalam hal memberdayakan petani. Satu-satunya risiko adalah jika Grup Triputra, karena posisinya tidak lagi menjadi pemegang mayoritas, kemudian melepaskan pengelolaan KMTR ini secara seluruhnya ke tangan HSF, sedangkan sejak awal KMTR ini bisa maju karena tangan dingin dari Mr. Rachmat (atau melalui putranya yang menjadi direktur perusahaan, Arif Rachmat). Tapi seharusnya itu tidak terjadi, karena saham Triputra di KMTR masih lebih dari 40%, alias masih cukup besar, sehingga kalau KMTR kenapa-napa maka mereka sendiri yang rugi (dan Triputra juga mungkin butuh keberadaan HSF yang berasal dari Singapura, karena KMTR banyak ekspor melalui Singapura, dan harga karet internasional juga ditentukan di Singapore Commodity Exchange).
Prospek Saham KMTR
Okay Pak Teguh, tapi itu kan dari sudut pandang HSF dan Triputra sebagai pemegang saham pengendali di KMTR. Lalu bagaimana prospek KMTR ini dari sudut pandang investor ritel? Well, mari kita cek lagi KMTR ini dari sudut valuasi saham serta kinerja terakhirnya di Kuartal III 2018 kemarin: Karena laba KMTR terakhir masih turun, dan karena diatas kita baru mengatakan bahwa harga karet sudah cukup rendah dan harusnya gak turun lebih dalem lagi, tapi disisi lain kita nggak tahu juga kapan harga karet akan naik lagi (bisa sangat lama dari sekarang), maka ini artinya laba KMTR belum tentu akan naik lagi di tahun 2019 ini, atau bahkan di 2020 nanti. Dan itu artinya, sahamnya juga belum punya alasan untuk naik. Sebab kalau kita lihat juga harga CPO, yang mencapai titik terendahnya di 1,900 Ringgit Malaysia per ton beberapa tahun lalu, tapi sampai sekarang dia cuma naik sedikit ke RM2,250 per ton (dan alhasil sampai sekarang emiten-emiten sawit di Indonesia masih pada tekor), maka bukan tidak mungkin harga karet juga akan disitu-situ saja dalam 2 – 3 tahun kedepan. Jika HSF memutuskan untuk masuk lebih banyak ke KMTR, maka itu karena sebagai pengendali perusahaan, horizon investasi mereka biasanya sangat panjang antara 5 – 10 tahun, tapi jangka waktu holding investor publik biasanya lebih pendek dari itu.
Jadi kesimpulannya, akan lebih baik jika kita menunggu salah satu dari dua hal berikut, sebelum kemudian masuk ke KMTR: 1. Harga karet naik, linknya bisa dilihat disini, atau 2. Laba KMTR naik. Untuk langsung masuk di harga sekarang, maka itu gak worth it, karena meski HSF menebus saham anyar KMTR pada harga 530, tapi pada harga 356, PBV KMTR masih tercatat 1.7 kali (sudah memperhitungkan tambahan setoran modal dan peningkatan jumlah saham setelah right issue-nya), gak bisa disebut murah untuk ukuran saham komoditas yang relatif high risk, dan belum cukup populer di mata investor di BEI.
Tapi karena untuk mengecek harga karet, atau laporan keuangan terbaru KMTR, dua-duanya sangat mudah dilakukan, maka KMTR ini tetap layak untuk setidaknya masuk watch list, untuk nanti kita masuk jika timing-nya sudah tepat. Karena, hey, ingat sekali lagi bahwa, asal harga karet naik sampai US$2 – 3 per kg saja, maka KMTR ini bakal jackpot lagi, dan demikian pula sahamnya bisa kembali menggapai langit, seperti tahun 2017 kemarin.
Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, tersedia pula Ebook edisi lama dengan harga diskon.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Buku Karya Value Investor Senior: Pak Joeliardi

Sebagai investor, ada satu ‘aset’ yang menurut penulis sangat berharga untuk dimiliki, namun sekaligus sangat sulit untuk diperoleh: Kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan investor yang lebih senior. Berharga, karena dari mereka-lah kita bisa memperoleh sharing pengalaman, pencerahan, dan nasihat-nasihat penting, dimana itu semua sangat dibutuhkan dalam kegiatan berinvestasi itu sendiri. Namun kesempatan ini juga sulit untuk diperoleh, mengingat investor senior yang sudah berinvestasi di pasar saham sejak tahun 80-an atau 90-an (BEI itu sendiri baru buka lagi tahun 1977), dan masih aktif berinvestasi sampai sekarang, itu jumlahnya sangat sedikit. Dan kalaupun ada maka biasanya mereka low profile dan cenderung tertutup, yang jangankan ditemui, untuk ditelpon saja susahnya sampai jungkir balik.

Jadi ketika penulis memperoleh jadwal makan siang dengan Bapak Joeliardi Sunendar, seorang (value) investor aktif yang sudah berpengalaman sejak awal dekade 1990-an, maka penulis tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Profil lengkap Pak Joeliardi bisa dibaca lagi disini.
Nah, kabar baiknya, karena Pak Joel sejak awal memiliki passion untuk menulis dan memberikan edukasi (beliau sudah mengajar sejak semasa kuliah di Fakultas Ekonomi, UI), maka beliau adalah satu dari sedikit investor senior di Indonesia yang tidak hanya sarat pengalaman, tapi juga mampu menuangkan pengalamannya tersebut dalam bentuk tulisan maupun speech yang enak dibaca dan didengar, dan juga mudah dipahami. Dalam setahunan terakhir, Pak Joel mengumpulkan sebagian tulisan-tulisannya tersebut menjadi satu buah buku setebal lebih dari 300 halaman (Volume I, nanti akan ada lagi volume II, III, dan seterusnya, karena pengalaman yang akan di-share memang buanyak sekali), yang bisa anda baca sendiri dirumah.
Cover depan dan belakang, klik gambar untuk memperbesar
Dan berikut daftar isi dari buku tersebut:

Bab I. Saham, Instrumen Investasi Terbaik:
  • The Buffett Way: Memahami cara berpikir dan berinvestasi Warren Buffett
  • Equity bond
  • Keunggulan individual investor dibanding fund manager
  • Bisakah investor ritel menghasilkan kinerja profit lebih baik dibanding investor profesional? Bisa!
  • Invest in what you know
  • Belajar dari kedai kopi, dan Bank Permata
Bab II. Beda Metode Investasi? So What?
  • Apa yang Terjadi dengan Harga Saham?
  • Time Gap, dan perbedaan derap waktu.
Bab III. Ketika Kesempatan Itu Datang
  • Memahami koreksi pasar dan penurunan harga saham.
  • Jangan biarkan pergerakan IHSG menggiring anda ke jalan yang salah!
  • Contrarian Investor
  • Selalu siapkan dry powder
  • Peluang di bursa-bursa saham utama dunia.
Bab IV. Time is Your Friend
  • Memahami time frame investasi
  • Tiga puluh tahun lagi saya pensiun
  • Diversifikasi, atau satu saham saja?
  • Mengenal trailing stoploss
Bab V. Pengalaman Profit ‘Multibagger’ di BEI
  • Indika Energy
  • Harum Energy
***

Bukunya akan terbit bulan Maret 2019 ini, harganya Rp250,000 per eksemplar.
Untuk pemesanan, kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Buku Pak Joeliardi’, dengan isi: Nama lengkap, nomor telepon, dan alamat lengkap beserta kode pos.
Nanti anda akan memperoleh email balasan berisi konfirmasi bahwa pesanan anda sudah diterima termasuk jumlah yang harus anda transfer (harga buku plus ongkos kirimnya), dan bahwa nanti akan akan dikabari lagi jika bukunya sudah dikirim (plus nomor resi pengirimannya, kami pakai JNE atau semacamnya).
Demikian, semoga bermanfaat!
Merci,
Teguh Hidayat
Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memperolehnya [...]

Value Investing: Analogi Sederhana

Beberapa waktu lalu di Instagram penulis posting ‘value investing quiz’ dengan pertanyaan, jika anda hendak bepergian pakai pesawat dari Jakarta ke Padang dengan hanya dua pilihan jadwal berikut (di hari yang sama), maka berdasarkan kaidah value investing, manakah yang akan anda pilih? Lion atau Garuda? Dan ternyata banyak sekali jawaban yang bagus-bagus yang masuk. Nah, sekarang giliran jawaban dari saya.

Sekilas, kita akan ambil tiket Lion karena harganya lebih murah, lebih rendah 20% dibanding harga tiket Garuda. Selisih 20% atau Rp323,500 ini mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, namun jika anda bisa saving 20% dari setiap transaksi yang anda lakukan (tidak hanya dari membeli tiket pesawat), kemudian uang tersebut diinvestasikan dan menghasilkan return 20% juga setiap tahunnya selama 20 tahun, maka hasilnya akan luar biasa. Value investor mampu untuk menilai sejumlah aset tidak hanya berdasarkan angka nominalnya pada saat ini, namun hingga jauh di masa yang akan datang.
However, pelayanan yang diberikan Garuda tentu jauh lebih baik dibanding Lion, dan harga tiket Lion ke Padang itupun sebenarnya jauh lebih mahal dibanding biasanya. Sehingga, yes, meski biaya tiket Garuda lebih tinggi, tapi masih worth itdibanding pelayanan yang diperoleh, dan kita masih bisa saving 20% dari transaksi yang lain yang kita lakukan. Kemudian beberapa waktu lalu Lion juga pernah mengalami kecelakaan. Sehingga, meski secara statistik, pesawat terbang adalah yang paling aman dibanding moda transportasi lainnya, namun beberapa orang mungkin tidak akan nyaman naik Lion/ketika pesawat di udara maka itu akan terasa sangat menegangkan. In that case, dia sebaiknya pilih Garuda saja, bahkan meski harganya lebih tinggi lagi.
Tapi kemudian kita lihat lagi waktunya: Garuda take off pukul 06.15 pagi, yang artinya anda harus berangkat dari rumah pukul 03.15 subuh atau lebih awal lagi, karena bandara CGK itu memang jaraknya cukup jauh, dan ada risiko jalan macet karena orang-orang masuk kerja. Ini artinya terdapat risiko anda akan ketinggalan pesawat, dan risiko itu lebih kecil jika anda ambil Lion, karena jadwalnya agak siang (pukul 11.55). Risiko ini sangat penting untuk diperhatikan, karena jika anda ketinggalan pesawat maka anda akan keluar biaya yang sangat besar (yang sebenarnya tidak perlu) untuk membeli tiket baru. Remember the rules in value investing: Never lose money.
Dengan mempertimbangkan risiko diatas, maka Lion relatif lebih aman. Tapi kemudian anda lihat lagi: Dengan harga tiket yang memang cukup tinggi, maka kemungkinan jumlah penumpangnya akan sedikit, dan pihak maskapai Lion bisa saja membatalkan jadwal tersebut, atau menundanya hingga keesokan harinya (dan mereka sering melakukan itu). Jika ini yang terjadi, maka juga terdapat risiko bahwa anda akan rugi waktu, dan risiko ini juga sangat penting untuk diperhatikan, terutama jika anda berangkat ke Padang untuk urusan bisnis yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.
Jadi ternyata, mengambil Garuda ataupun Lion, dua-duanya ada risikonya. Tinggal anda tentukan sendiri: Jika anda tidak masalah harus bangun dini hari, maka ambil Garuda. Tapi jika anda tidak sedang buru-buru, dan gak masalah jika ternyata penerbangannya delay atau ditunda, maka ambil Lion.
Kemudian terakhir, jika anda pilih Lion, maka dapetnya 31 poin, tapi jika anda pilih Garuda, dapetnya 63 poin. Sekilas ini menjadikan Garuda lebih baik (karena poinnya lebih besar), tapi sebenarnya poin itu nilainya sangat kecil, hanya Rp100 per poin, dan harus terkumpul 1,000 poin terlebih dahulu agar bisa ditukar dengan diskon tiket senilai Rp100,000. Ini artinya kalau anda ambil Garuda, maka anda dapat selisih 32 poin senilai Rp3,200 saja (harga sebungkus mi instan), really gak seberapa dibanding harga tiket Garuda itu sendiri yang mencapai Rp1.5 juta. Jika anda memilih Garuda hanya karena faktor poin ini namun mengabaikan risiko ketinggalan pesawat tadi, maka anda bisa saja kehilangan Rp1.5 juta sama sekali ketika anda harus beli tiket baru, hanya untuk memperoleh ‘bonus’ senilai Rp3,200 tadi, yang bahkan belum tentu bisa dipakai karena harus terkumpul 1,000 poin terlebih dahulu.
Kesimpulannya, sebelum membeli barang atau jasa, value investor selalu mempertimbangkan hal-hal berikut:
  1. Harga. Lebih murah praktis lebih baik, dan ingat bahwa selisih harga sekecil apapun akan jadi besar jika dikumpulkan, kemudian diinvestasikan.
  2. Kualitas barang/jasa. Value investor memang terkesan pelit dan kelewat hemat dalam kehidupan sehari-harinya, tapi sebenarnya itu tidak tepat, karena kami juga tidak masalah membeli produk/jasa pada harga yang tinggi selama itu setimpal dengan nilai atau manfaat dari produk yang diterima. Adalah lebih baik membayar 900 untuk memperoleh barang senilai 900 juga, daripada membayar 700 namun hanya untuk memperoleh barang senilai 500, dan
  3. Tingkat risiko.
Keputusan untuk membeli sesuatu, baik itu saham atau lainnya, tanpa mempertimbangkan ketiga hal diatas, adalah lebih dekat ke spekulasi ketimbang investasi. Plus satu lagi: Kita harus bisa memilah-milah informasi terkait produk yang akan kita beli, karena tidak semua informasi tersebut pentinguntuk dijadikan bahan pertimbangan (Contohnya soal poin tadi). Well, dalam berinvestasi di saham, munculnya ‘informasi yang tidak penting’ ini, yang kemudian membuat orang ramai-ramai membeli atau menjual saham tertentu padahal informasi tadi hampir tidak berdampak apapun terhadap fundamental perusahaan, maka itu cukup sering sering terjadi bukan? Jadi disinilah kita harus hati-hati.
Nah sekarang kita quiz lagi: Ketika anda membaca artikel ini, maka barang atau jasa apa (bukan saham) yang terakhir anda beli? Apakah anda membelinya sesuai kaidah value investing? Jika iya, bagaimana analisanya?
Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman/audiobook seminarnya saja dulu (terbaru tahun 2019). Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

‘Wonderful Company’ di Sektor Konstruksi

Kalau kita bicara sektor konstruksi, maka perhatian investor dalam 1 – 2 tahun terakhir ini hanya terfokus pada emiten-emiten konstruksi BUMN, karena di lapangan kita bisa melihat bahwa pembangunan infrastruktur terus dikebut oleh Pemerintah, dan yang diuntungkan tentunya adalah Waskita Karya dkk. However, perusahaan konstruksi sebenarnya tidak melulu membangun jalan tol dll, melainkan ada juga konstruktor spesialis membangun gedung dan properti. Hanya memang, seiring dengan masih lesunya industri properti itu sendiri, maka kinerja emiten konstruktor gedung ini juga ikut melambat dalam 1 – 2 tahun terakhir, demikian pula saham mereka ikut turun. Namun ternyata masih ada satu perusahaan konstruksi gedung yang kinerjanya baik itu dari sisi pendapatan, laba bersih, nilai kontrak, hingga nilai dividen yang dibayarkan, hingga Kuartal III 2018 kemarin hampir semuanya konsisten naik meski tipis (tapi masih lebih baik dibanding kinerja konstruktor lain yang turun). Perusahaan apakah itu?

Jawabannya adalah Total Bangun Persada (TOTL). Yup, berikut adalah rangkuman kinerja perusahaan dalam 5 tahun terakhir, angka dalam milyaran Rupiah kecuali dividen. Angka pendapatan dan laba bersih untuk tahun 2018 adalah berdasarkan laporan keuangan Kuartal III yang sudah disetahunkan.
Tahun
2014
2015
2016
2017
2018*)
Nilai Kontrak
3,400
3,800
4,500
4,600
4,600
Pendapatan
2,106
2,266
2,379
2,936
2,686
Laba Bersih
161
191
223
245
257
Dividen (Rp per saham)
35
30
40
45
50
*) Pendapatan dan Laba Bersih disetahunkan
Nevertheless, seperti juga saham-saham konstruksi lainnya, sejak akhir 2014 lalu TOTL tetap turun dari 1,100-an hingga mentok di 500, Oktober 2018 kemarin, sebelum kemudian naik sedikit ke level sekarang (590). Biasanya sih, kalau ada saham udah turun banyak ketika di periode yang sama kinerja perusahaannya masih tumbuh lancar, maka valuasinya bakal jadi murah. Namun dengan PBV yang masih 2.0 kali pada harga 590, maka apakah TOTL sudah bisa dikatakan murah, terutama mengingat PBV saham-saham konstruksi lainnya saat ini hanya 1 koma sekian? Untuk menjawab ini maka mari kita pelajari lagi TOTL dari awal.
Total Bangun Persada adalah salah satu perusahaan konstruksi swasta tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1970, namun baru muncul ke permukaan setelah perusahaan menyelesaikan kontrak besar pertamanya, yakni Gedung Bank Buana di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, pada tahun 1986. Setelah itu TOTL banyak menyelesaikan pengerjaan gedung bertingkat seperti Wisma GKBI, Hotel Crowne Plaza, Apartemen Regatta, Superblock Central Park, dan The City Tower, kesemuanya di Jakarta. Mayoritas gedung yang dibangun TOTL memiliki citarasa arsitektur yang modern dan mewah, sehingga TOTL kemudian dikenal sebagai konstruktor gedung-gedung kelas premium atau ‘Grade-A’. Ibaratnya jika konstruktor lain bisa membangun rumah susun, maka TOTL hanya membangun kondominium. Beberapa proyek prestisius yang saat ini sedang digarap perusahaan adalah Thamrin Nine Tower, Millenium Village Lippo Karawaci, Verde II Condominium, dan Chitaland Tower. Selain menjadi kontraktor tunggal, TOTL juga menggarap beberapa proyek kerjasama operasi dimana kontraktornya ada dua atau tiga (misalnya ketika perusahaan membangun Menara Astra di Jln. Sudirman, Jakarta), dan yang dibangun adalah tetap gedung kelas premium.


Beberapa proyek yang tengah dikerjakan oleh TOTL

Dan mungkin karena perusahaan bermain di segmen konstruksi gedung premium, sekaligus satu-satunya konstruktor lokal dengan track record panjang di bidang ini, maka perusahaan bisa kasih harga tinggi ke developer pemilik gedung, dan alhasil margin laba TOTL jauh lebih baik dibanding perusahaan konstruksi lain pada umumnya. Kemudian satu lagi: Karena material yang dibutuhkan untuk membangun gedungnya seringkali harus spesifik dan unik (untuk keperluan desain arsitekturnya tadi), maka TOTL biasanya meminta pihak developer untuk menyediakan material tersebut, dan alhasil TOTL gak perlu ngutang ke toko bahan bangunan, sehingga di neraca laporan keuangannya, utangnya terbilang kecil, dan bahkan tidak ada hutang bank, dimana hal inipun menyebabkan margin labanya menjadi besar (karena tidak ada beban bunga). Sebelumnya sedikit catatan, kalau konstruktor yang lain, biasanya pihak pemilik gedungnya mau tau beres saja, sehingga untuk bahan baku material pembuatan gedungnya ditalangi oleh si konstruktor itu sendiri, dengan cara ngutang dulu ke pabrik semen dll. Inilah yang menyebabkan liabilitas WSKT dkk jauh lebih besar dari ekuitasnya, karena adanya utang usahayang besar.
Faktor-faktor lainnya yang juga penting untuk diperhatikan.
  1. TOTL hanya fokus membangun gedung bertingkat kelas premium (high-rise premium building) saja. Berdasarkan pengalaman, perusahaan dengan jenis usaha yang sangat spesifik seperti TOTL ini kinerjanya bagus dan kosisten dalam jangka panjang, dan dalam kasus TOTL memang benar demikian (bahwa kinerjanya bagus). TOTL juga tidak punya catatan pernah mengalami hambatan tertentu dalam menyelesaikan proyek: Rata-rata semua proyeknya selesai sesuai target dan tepat waktu.
  2. Tidak ada informasi marketshare TOTL di pasar konstruksi gedung di Indonesia, namun kemungkinan perusahaan adalah nomor dua setelah Wijaya Karya Gedung (WEGE). However, WEGE unggul karena banyak pegang proyek Pemerintah, dan WEGE tidak selalu membangun gedung Grade-A. Sedangkan di pasar konstruksi gedung premium milik swasta, maka TOTL adalah nomer satu.
  3. Pemilik perusahaan, Pak Reyno Adhiputranto, sampai saat ini (usia 75 tahun) masih menjabat langsung sebagai Komisaris Utama, dan kelihatannya beliau juga gak punya usaha lain kecuali fokus di TOTL ini. Dan karena ownernya memang ‘orang teknik’ dan bukannya investment banker atau semacamnya (Pak Adhiputranto dulu lulusan Teknik Sipil ITB), maka TOTL dari dulu dikelola dengan cara tradisional seperti seharusnya perusahaan konstruksi: Ikut tender, terima kontrak, kerjakan gedungnya, selesai, terima bayaran. TOTL dari dulu gak pernah ambil utang berlebihan atau investasi yang aneh-aneh, melainkan sekali lagi, hanya membangun gedung saja.
  4. Seiring dengan profitabilitasnya yang sangat baik (ROE TOTL rata-rata lebih dari 20% dalam 10 tahun terakhir), maka TOTL juga termasuk royal dividen, dimana dividend payout ratio-nya mencapai 50 – 60% dari laba bersih perusahaan setiap tahun. Terakhir, TOTL membayar dividen Rp50 per saham pada Mei 2018. Thus, meskipun valuasi TOTL mungkin tampak tidak murah dari sisi PBV atau PER, namun dengan dividend yield 50 / 590 = 8.5%, maka sahamnya tetap sangat menarik.
  5. Meski sahamnya tampak turun dalam 5 tahun terakhir seiring dengan lesunya industri properti, tapi jika kita tarik datanya lebih jauh, maka pada Januari 2009 lalu TOTL masih berada 63, sehingga dengan demikian sahamnya sudah naik hampir 10 kali lipat dalam 10 tahun terakhir, dan itu belum termasuk dividen, dimana jumlah dividen inipun sangat besar. Jika memperhitungkan dividen ini, maka besar kemungkinan bahwa TOTL adalah tetap merupakan salah satu saham yang memberikan total gain paling besar bagi para investor di pasar saham dalam 10 tahun terakhir di BEI, dimana itu selaras dengan catatan kinerjanya yang memang juga ‘Grade-A’.
  6. Berbeda dengan saham konstruksi lainnya terutama konstruksi BUMN yang sering ‘diserang’ rumor aneh-aneh, dan juga sahamnya sangat fluktuatif (gampang naik tapi gampang juga turunnya), maka TOTL ini pergerakannya lebih adem, dan juga gak pernah diserang berita negatif apapun. Thus, sahamnya sangat cocok bagi anda yang masih gampang jantungan atau belum bisa menganalisa news: Beli saja, lalu silahkan tidur.
Kemudian, setelah melewati masa-masa ‘kering’ dalam beberapa tahun terakhir, barulah pada tahun 2019 ini TOTL kembali mentargetkan perolehan kontrak yang lebih tinggi, dalam hal ini Rp5.0 trilyun, dengan target pendapatan Rp3.1 trilyun. Hal ini seiring dengan mulai meningkatnya permintaan konstruksi untuk proyek-proyek apartemen, perkantoran, kawasan terpadu, pusat perbelanjaan, hingga hotel. Dan menariknya, dari tender-tender konstruksi yang diikuti perusahaan, 65% diantaranya berasal dari pelanggan baru dan hanya 35% yang berasal dari pelanggan lama. Ini artinya ada cukup banyak developer properti yang baru muncul, yang berpotensi menjadi pelanggan tetap TOTL untuk jangka panjang kedepannya, sehingga portofolio proyek milik TOTL akan meningkat signifikan. Manajemen TOTL sendiri mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak pernah kekurangan permintaan konstruksi, tapi kemarin-kemarin itu ada banyak konsumen yang menunda pelaksanaan proyeknya karena mereka belum ada dananya. Tapi sekarang, para konsumen ini mulai agresif membangun lagi. Jadi, yep, prospek TOTL untuk 1 – 2 tahun kedepan juga cukup cerah, dimana laba bersih perusahaan bisa diharapkan akan naik signifikan.
Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
Karena TOTL ini memang barangnya bagus, boleh dibilang tanpa cela sama sekali, maka valuasi sahamnya pun dari dulu selalu premium, dengan rata-rata PBV diatas 3 kali, bahkan pernah mencapai 5 kali pada tahun 2013 lalu, yakni ketika boomingproperti mencapai puncaknya (jaman-jaman Feni Rose selalu ngomong ‘Senin harga naik!’ Masih inget gak??). Kelemahannya hanya di nama perusahaannya yang meski sangat populer di kalangan developer properti, tapi merk ‘Total BP’ kurang terkenal di telinga orang awam ataupun investor pasar saham, dan demikian pula sahamnya gak likuid, jauhlah kalau perbandingannya Waskita Karya dkk. Nevertheless, dengan melihat sahamnya yang tetap ikut naik sejak Oktober 2018 kemarin, maka mungkin PBV 2.0 kali bagi TOTL sudah cukup murah, karena memang kinerjanya juga no problem at all. Kemudian karena Mei nanti perusahaan juga harusnya bakal bayar dividen dalam jumlah besar yakni sekitar Rp50 per saham, maka dia menjadi salah satu dividend stock yang belum naik banyak sejak akhir 2018 kemarin, dan biasanya cuma soal waktu saja sebelum investor akan menyadari hal ini, lalu mereka akan ramai-ramai memborong sahamnya, terutama setelah mereka melihat bahwa sudah agak terlambat kalau mau masuk ke dividend stock yang lain (seperti ADMF, BJTM, atau MYOH). Thus, jika tidak ada force majeure, dan pasarnya tetap bergerak normal, maka TOTL ini menawarkan profit lumayan dalam 3 – 4 bulan kedepan. Dan kalau anda berniat menjadikannya pegangan jangka panjang maka itu juga boleh, karena TOTL ini, meski jenis usahanya adalah konstruksi dan bukannya consumer goods, tapi kinerjanya terbilang sangat konsisten dalam jangka panjang.
Hanya satu hal lagi: Pada Agustus 2018 kemarin, manajemen mengatakan bahwa perolehan laba bersih TOTL untuk tahun penuh 2018 ini mungkin akan sedikit turun dibanding 2017, karena ada sebagian proyeknya yang belum bisa diselesaikan karena masalah perizinan, sehingga perusahaan juga belum bisa menagih bayaran ke pemilik proyek, dan laba tersebut baru akan naik lagi pada Kuartal I 2019. Nah, sebenarnya kalau kita lihat kinerja TOTL di Kuartal III 2018 dimana labanya masih naik, maka kita bisa katakan bahwa proyeksi manajemen tersebut mungkin terlalu pesimis, namun jika beneran itu yang terjadi (laba TOTL turun di Kuartal IV 2018), maka sahamnya bisa jadi batal naik meski juga tidak turun (karena sudah murah, dan karena investor publik yang pegang belum banyak). In short, meski TOTL ini tengah dalam momentum kenaikan menjelang pembayaran dividennya, dan prospeknya untuk jangka panjang juga tampak cerah, namun ada sedikit risiko jangka pendek terkait kinerjanya untuk Kuartal IV 2018 nanti. Sudah tentu, jika dibanding dengan peluang profitnya maka risiko tersebut tetap worth it, namun ini harus tetap menjadi bahan pertimbangan sebelum anda mengambil keputusan.
Untuk ulasan minggu depan, ada usul saham apa yang akan kita bahas selanjutnya?
PT. Total Bangun Persada, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2018: AAA
Rating saham pada 590: A

Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memperolehnya disini.

Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman/audiobook seminarnya saja dulu (terbaru tahun 2019). Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning – Kuartal IV 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Ebooknya sudah terbit pada bulan Februari 2019, dan anda bisa langsung memesannya disini.


Halaman daftar isi ebooknya, salah satu edisi sebelumnya

Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor profesional adalah membuat investment planning, dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’(saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan itu bahkan belum termasuk diskonjika anda berlangganan ebooknya untuk jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, pioneer metode value investing dalam berinvestasi saham di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi Lestianto-


Menghitung ‘Prospek Saham’ Dalam Value Investing

Kalau anda ketik ‘prospek saham’ di Google, maka akan keluar beberapa sugesti seperti ‘prospek saham antm’, ‘prospek saham bumi’, ‘prospek saham asii’, dan seterusnya. Tapi ketika anda googling ‘valuasi saham’, maka tidak muncul sugesti ‘valuasi saham asii’. Ini menunjukkan bahwa ketika seorang investor di Indonesia mencoba mencari informasi tentang saham tertentu di Google, maka hampir pasti kata yang ia gunakan adalah ‘prospek saham + kode sahamnya’. Hanya ada sedikit investor yang googling informasi tentang saham menggunakan kata ‘valuasi saham A’, ‘kinerja perusahaan B’, atau lainnya. Kata yang paling sering digunakan, sekali lagi, adalah prospek.


Dan memang penulis sendiri kalau ada yang tanya tentang saham tertentu, maka hampir pasti bunyi pertanyaannya seperti ini, ‘Pak Teguh, prospek saham A bagaimana ya?’ Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan prospek disini?
Secara harfiah, ‘prospek’ bermakna sebagai peluang atau kemungkinan terjadinya peristiwa tertentu di masa yang akan datang. Jadi ketika seseorang bertanya, ‘Bagaimana prospek saham A’, maka sejatinya ia bertanya tentang seberapa besar kemungkinan harga saham A akan naik dalam beberapa waktu kedepan, entah itu sebulan kedepan, setahun kedepan, atau malah cuma sehari kedepan. Sehingga jika kemudian jawabannya, ‘Saham A prospeknya bagus’, maka artinya orang yang ditanya secara tidak langsung mengatakan bahwa saham A akan naik.
Tapi apa yang dimaksud ‘prospek’ dalam kaidah ilmu value investing?
Dalam value investing, seperti yang sudah penulis sampaikan berkali-kali di banyak tulisan di blog ini, pekerjaan kita ada dua: Menilai fundamental perusahaan berdasarkan kinerja terbaru dan kinerja historisnya, dan menghitung valuasi sahamnya. Jika kesimpulannya adalah kinerja perusahaan bagus dan valuasinya murah, maka baru kita boleh beli saham tersebut. Tapi seringkali muncul pertanyaan berikutnya: Jika saat ini kinerja perusahaan bagus, maka apakah kinerja yang bagus tersebut akan bertahan kedepannya?Bagaimana jika laba perusahaan tahun ini bagus, tapi tahun depan laba tersebut turun lagi? Kalau itu yang terjadi, maka otomatis sahamnya menjadi tidak layak invest lagi bukan?
Karena itulah, dalam value investing, ‘menghitung prospek’ artinya menghitung peluang soal bagaimana kinerja perusahaan kedepan, apakah bakal bagus atau tidak. Dan soal prospek ini baru bisa ditanyakan jika saham yang bersangkutan sejak awal valuasinya murah dan fundamentalnya bagus, atau kalaupun fundamentalnya tidak terlalu bagus maka valuasinya sudah sangat murah (misalnya karena saham tersebut sudah turun banyak sebelumnya). Sementara soal sahamnya? Well, kalau memang kinerja perusahaan bagus terus maka sahamnya akan ikut naik dengan sendirinya, meski perlu dicatat bahwa kita tidak bisa memprediksi kapan dia akan naik, dimana bisa saja sahamnya malah turun dulu jika IHSG lagi turun, misalnya ketika terjadi koreksi pasar tahun 2018 kemarin. Thus, jika saham A sejak awal perusahaannya labanya kelewat kecil atau rugi melulu, atau valuasinya sudah mahal, atau dua-duanya, maka soal prospeknya nanti gimana sudah tidak penting lagi, karena sejak awal sahamnya sudah tidak layak invest.
Nah, jadi dengan demikian kita punya dua contoh kasus disini: 1. Prospek dari saham berfundamental bagus, dan 2. Prospek dari saham dengan fundamental tidak terlalu bagus, namun valuasinya sudah sangat murah sehingga jika nanti kinerja/laba perusahaan kembali naik banyak, maka sahamnya tetap bisa naik lagi.
Okay, sekarang kita mulai dari contoh pertama dulu: Prospek dari saham yang kinerja laporan keuangan terakhirnya memang sudah bagus. Dalam hal ini kita bisa lihat lagi contoh artikel minggu kemarin soal Adira Dinamika Multifinance (ADMF) (ini link artikelnya). Perhatikan: Di ulasannya, penulis pertama-tama membahas soal fundamental perusahaan (paragraf keempat), dilanjut valuasi sahamnya (paragraf kelima), dimana kesimpulannya adalah ADMF ini bagus dan valuasinya pun masih murah. Namun ketika lanjut membahas soal prospek kinerja perusahaan dalam jangka panjang, maka penulis menyampaikan bahwa di masa lalu, tepatnya tahun 2012 – 2015, ADMF pernah membukukan kinerja yang kurang bagus seiring dengan pengetatan penyaluran kredit oleh Bank Indonesia (BI). Sehingga dalam hal ini ada risiko bahwa ADMF bisa saja kembali membukukan penurunan kinerja di masa yang akan datang. Namun jika ditelisik lagi, alasan BI memperketat penyaluran kredit di tahun 2012 adalah karena adanya kekhawatiran terjadinya credit bubble di sektor properti, dimana harga unit-unit apartemen dll ketika itu bisa naik sampai 100% atau lebih hanya dalam hitungan bulan karena mudahnya mengajukan kredit properti ke bank.
Tapi untuk saat ini, indikasi bubble tersebut sudah tidak ada (malah sektor properti lagi lesu-lesunya), dan mungkin karena itulah BI pada Agustus 2018 merilis peraturan yang pada intinya melonggarkan kembali penyaluran kredit bank dan pembiayaan. Thus, meski risiko terulangnya penurunan kinerja ADMF di tahun 2012 – 2015 tetap ada, namun untuk saat ini risikonya terbilang kecil, dan karena itulah prospeknya cukup cerah. Sebab diluar problem yang disebabkan oleh BI atau otoritas lainnya, ADMF merupakan perusahaan dengan strong power of brand, manajemen bagus, dan merupakan perusahaan pembiayaan terbesar di Indonesia.
However, kasus berbeda terjadi ketika penulis membahas saham Indo-Rama Synthetics (INDR) (ini link artikelnya), dimana kalau anda baca lagi ulasannya, maka penulis mengatakan bahwa INDR ini memang menarik karena kinerja laporan keuangannya (untuk periode Kuartal I 2018) terbilang bagus, dan valuasinya juga tampak sangat seksi di PBV 0.3 kali (pada harga 3,000-an). Namun karena beberapa hal seperti: 1. INDR ini hanyalah bagian kecil dai Indorama Corp milik Sri Prakash Lohia, dengan usahanya yang tersebar di seluruh dunia, 2. Kinerja INDR selama ini jelek terus, sehingga ada kesan bahwa manajemen tidak peduli perusahaan untung atau tidak (yang penting Indorama Corp-nya untung terus), dan 3. Industri kimia tekstil terbilang rumit (mata rantainya ada buanyak dari mulai bahan baku mentah hingga pakaian jadi, kemudian ada pengaruh eksternal dari kurs Rupiah dll karena banyak melakukan ekspor impor) sehingga sulit untuk dipelajari, maka penulis katakan bahwa prospeknya tidak jelas, dimana penulis tidak punya gambaran soal bagaimana kinerja perusahaan kedepannya. Dan karena itulah INDR ini, meski valuasinya murah dan kinerjanya di tahun 2018 terbilang bagus, tapi sahamnya sedikit berbau spekulasi.
Prospek dari ‘Turn Around Company’?
Selain menghitung prospek dari saham yang kinerja perusahaannya/laporan keuangan terakhirnya bagus, maka kita juga bisa menghitung prospek dari saham dengan fundamental tidak terlalu bagus, namun valuasinya sudah sangat murah, biasanya ditandai dengan PBV nol koma sekian, atau PER kurang dari 5 kali. Sehingga jika nanti kinerja/laba perusahaan kembali naik banyak, maka sahamnya tetap bisa naik lagi.
Dan contoh dari kasus ini adalah saham Petrosea (PTRO) (ini link artikelnya), dimana meski hingga Kuartal III 2018, PTRO hanya membukukan laba US$ 17.8 juta, atau masih jauh lebih kecil dibanding rekor labanya di tahun 2011 sebesar US$ 52.6 juta, namun dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti meningkatnya capex, yang artinya perusahaan mulai sibuk gali batubara lagi, kemudian nature bisnis dari PTRO sendiri sebagai perusahaan mining service dimana laba mereka biasanya baru naik agak lama setelah kenaikan harga batubara itu sendiri, dan sahamnya sejauh ini masih melanjutkan trend kenaikan jangka panjangnya, dimana kenaikan tersebut selaras dengan perbaikan fundamental perusahaan sejak 2016 lalu, maka kesimpulannya: Meski kita tidak tahu bagaimana kinerja PTRO dalam 5 – 10 tahun mendatang (karena itu akan bergantung pada naik turunnya harga batubara), namun dalam waktu 1 – 2 tahun kedepan harusnya labanya masih naik, sehingga prospeknya pun menarik. Thus, PBV-nya yang cuma 0.65 kali jelas akan tampak sangat murah, terutama jika ROE PTRO beneran improve kedepannya.

Perusahaan mining service ini sudah turn-around sejak 2016 lalu

Namun tidak semua ‘saham dengan valuasi sangat murah’ punya peluang untuk ‘membukukan kinerja yang lebih baik kedepannya’. Contohnya Krakatau Steel (KRAS), dimana ketika Agustus 2018 lalu penulis membahasnya disini, kesimpulannya adalah saya tidak punya gambaran sama sekali soal gimana kinerjanya di masa yang akan datang, dan karena itulah prospeknya gelap, dan saya sendiri tidak akan membelinya, setidaknya untuk saat ini.
Kesimpulan
Dari penyampaian diatas maka bisa disimpulkan bahwa untuk menilai prospek sebuah saham, maka kita harus menguasai industrinya, dan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhinya, baik itu yang berpengaruh positif maupun negatif. Jadi kalau anda hendak menghitung prospek Bank BRI, misalnya, maka pertama-tama anda harus mengerti industri perbankan itu seperti apa, dan ini bisa dipelajari secara bertahap dalam jangka panjang (anda tidak harus langsung mengerti perbankan hanya dalam semalam), terutama dengan membaca laporan tahunan dari emiten-emiten di sektor perbankan itu sendiri. Hanya memang karena itu terdengar seperti ‘PR’ yang bikin repot, maka kebanyakan investor/trader tidak mau melakukannya (mempelajari suatu sektor/industri secara menyeluruh), dan lebih suka corat coret chart, karena itu kelihatannya ‘lebih gampang’.
Tapi mudah-mudahan setelah membaca artikel ini, maka anda tahu apa yang harus dilakukan. Dan ketika kita berbicara mengenai ‘investasi jangka panjang’, maka soal prospek ini menjadi sangat penting, karena tidak mungkin kita membeli saham tertentu untuk di-hold katakanlah 1 – 2 tahun kedepan, jika kita gak punya gambaran soal bagaimana laporan keuangan perusahaan kedepannya, tak peduli meski kinerjanya saat ini terbilang bagus, dan/atau sahamnya lagi naik. Kalau mau lebih strict, maka kita juga sebaiknya hanya memilih saham yang kinerja perusahaannya dari dulu sampai sekarang baguuuusss terus, sehingga kita gak perlu tebak-tebakan soal prospeknya lagi. Namun karena sulit untuk menemukan saham dengan kriteria seperti itu (kalau ada pun maka biasanya valuasinya sudah mahal), maka pilihan alternatifnya adalah saham dari turn around company, sekali lagi, asalkan valuasinya benar-benar murah, dan prospeknya cerah.
Btw tadinya saya mau nulis analisa sebuah saham, tapi gak jadi karena harganya udah naik duluan seiring dengan naiknya IHSG di awal tahun 2019 ini. Jadi, ada ide saham apa yang menarik untuk dibahas pekan depan?
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Februari 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Peluang di Saham Multifinance

Warren Buffett pernah mengatakan bahwa, ketika menghitung valuasi sebuah saham, maka kita jangan hanya melihat aset-aset berwujud milik perusahaan seperti pabrik, persediaan, piutang dst, melainkan kita juga harus melihat aset-aset tidak berwujud seperti reputasi, kekuatan merk, dan keunggulan kompetitif. Singkatnya, jika ada dua perusahaan dengan nilai buku yang persis sama, namun perusahaan A memilik reputasi yang lebih baik, dan produknya pun lebih dikenal masyarakat dibanding perusahaan B, maka Buffett akan memilih perusahaan A, bahkan meski harganya lebih tinggi.


Dan ini menjelaskan mengapa saham-saham paling populer di Indonesia seperti Bank BCA, Astra International, hingga Telkom, valuasinya jauh lebih tinggi dibanding rata-rata valuasi saham lain yang tidak begitu populer. Contohnya, anda mungkin bisa membeli saham dari perusahaan kecil yang kurang terkenal pada PBV kurang dari 1 kali, namun harga terendah yang bisa anda peroleh untuk saham Astra adalah PBV 2 koma sekian kali, itupun Astra hanya akan turun ke harga tersebut jika pasar sedang bearish.

Tapi bagaimana kalau saya beri tahu anda bahwa ada satu saham, dimana perusahaannya merupakan yang terbesar di bidangnya, memiliki reputasi baik dan merk yang kuat plus track record kinerja yang konsisten, namun valuasinya jauh lebih rendah dibanding Astra dkk?

Yup, saham itu adalah Adira Dinamika Multifinance (ADMF). Dengan total aset Rp30.7 trilyun per 30 September 2018, dan sudah berdiri dan beroperasi sebagai perusahaan pembiayaan otomotif sejak tahun 1991, Adira adalah perusahaan pembiayaan terbesar dan ter-mapan di Indonesia, dan kinerja perusahaan terbilang bagus dalam jangka panjang dimana ROE-nya mencapai 20 – 25% per tahun (hanya pernah sekali turun menjadi 15% di tahun 2014 dan 2015, ketika itu karena terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dan pengetatan penyaluran kredit oleh Bank Indonesia). Namun lebih dari itu, Adira adalah juga perusahaan pembiayaan paling terkenal di Indonesia, dengan reputasi yang juga baik (perusahaan tidak pernah terlibat masalah yang serius baik secara hukum maupun dengan para pelanggannya), dan memiliki jaringan kantor cabang yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Dan bisnis pembiayaan itu sendiri terbilang sangat menguntungkan, karena bunga pinjamannya sangat tinggi namun demikian non performing loan-nya tetap relatif rendah, atau setidaknya untuk Adira dimana NPL-nya hanya 1.6% pada akhir tahun 2017. Per 30 September 2018, rata-rata bunga kontraktual pembiayaan milik Adira mencapai 18.1% per tahun untuk mobil, 34.0% untuk sepeda motor, dan 51.5% untuk barang-barang lainnya. Maksud penulis adalah, dimana lagi anda bisa dapetin bunga sebesar itu??

Informasi suku bunga Adira di laporan keuangannya, halaman 47


Dengan semua kriteria diatas, dan juga karena perusahaan masih membukukan kenaikan laba bersih dan ekuitas pada laporan keuangan terbarunya di Kuartal III 2018, maka normalnya anda hanya akan bisa membeli sahamnya pada valuasi yang premium. Namun pada harganya saat ini yakni Rp9,000 per saham, PBV Adira hanya 1.4 kali, dan PER-nya 5.0 kali. Dan dengan mempertimbangkan dividennya sebesar Rp704.5 per saham (sebelum pajak) di tahun kemarin, maka yield-nya juga tinggi yakni 7.8%.

Jadi apa masalahnya? Well, pertama, mungkin karena Adira memang SEBAGUS ITU, maka Bank Danamon Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas memegang 92.1% saham perusahaan, dan hanya menyisakan 7.5% atau 75 juta lembar saham di pasar untuk dimiliki oleh investor publik (selebihnya dipegang oleh Asuransi Adira), dan itu menyebabkan sahamnya menjadi tidak likuid, dengan nilai transaksi hanya sekitar Rp1 milyar per hari, sehingga sahamnya kurang diminati oleh para investor dan trader. Dan karena permintaannya tidak besar, maka jadilah valuasinya menjadi tidak terlalu tinggi.

Kedua, Adira pernah membukukan penurunan laba yang signifikan mulai tahun 2012 hingga 2015, dimana seperti yang sudah disebut diatas, disebabkan oleh peraturan pengetatan penyaluran kredit oleh BI, dan memang pada periode tersebut saham Adira jatuh dari 12,000 hingga mentok di 3,000. Dan meski laba bersih perusahaan naik lagi di tahun 2016 sampai sekarang, namun kejadian ini mungkin meninggalkan pertanyaan bagi investor yang berpikir untuk membeli sahamnya untuk jangka panjang: Bagaimana jika suatu hari nanti BI kembali memperketat penyaluran kredit keuangan??

Namun untungnya, bahkan jika anda tidak berniat untuk memegang sahamnya selama 5 tahun atau lebih lama lagi, Adira tetap menawarkan profit signifikan untuk jangka yang lebih pendek, dan berikut alasannya. Pertama, meskipun sahamnya tidak likuid, namun Adira tetap naik dari 3,000 hingga 9,000, atau profit tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir (dan belum termasuk dividen!) seiring dengan kinerja fundamental perusahaan yang memang sangat bagus. Kedua, persis Agustus 2018 kemarin, BI mengeluarkan peraturan LTV (loan to value) yang pada intinya melonggarkan penyaluran kredit, yang memungkinkan perusahaan pembiayaan untuk meningkatkan omzet mereka, dan tidak atau belum ada indikasi bahwa BI akan kembali memperketat peraturan tersebut dalam waktu dekat (di tahun 2012, peraturan LTV diperketat karena adanya kekhawatiran terjadinya credit bubble di sektor properti, dimana harga unit-unit apartemen dll ketika itu bisa naik sampai 100% atau lebih hanya dalam hitungan bulan karena mudahnya mengajukan kredit properti ke bank, namun untuk saat ini sudah tidak ada lagi isu bubble tersebut). Dan ketiga, Adira terakhir kali membayar dividen Rp704.5 per saham pada April 2018, jadi kemungkinan perusahaan akan kembali membayar dividen di bulan April 2019 (tinggal beberapa bulan lagi), tentunya pada nilai dividen yang lebih tinggi karena laba perusahaan masih naik sampai tahun 2018 kemarin. Dan biasanya, sahamnya bakal naik banyak sebelum tanggal cum dividennya, karena tingginya dividend yield itu sendiri.

Kesimpulannya, kita sekarang punya satu saham yang menawarkan peluang investasi baik itu untuk jangka pendek maupun panjang, dan momentumnya juga sudah pas banget, dimana anda mungkin akan kehilangan peluang ini jika anda baru membaca analisis ini 6 atau 12 bulan dari sekarang. Karena, sebelum tahun 2012, Adira memang dihargai pada valuasi premium (karena merk ‘Adira’-nya yang terkenal, plus kinerja yang konsisten), dengan PBV lebih dari 4 kali. Jadi jika perusahaan mampu menjaga kinerjanya saat ini (yang sudah naik lagi sejak tahun 2016 lalu) sampai beberapa tahun kedepan, dan perusahaan punya peluang besar untuk itu, maka suatu hari nanti harganya akan kembali premium seperti di masa lalu. Singkatnya, it’s now or never!

Disclosure: Ketika analisa ini diposting, Avere sedang dalam posisi memegang ADMF di harga 8,175. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Talkshow Sharing Pengalaman Investasi Saham

Berikut ini adalah video ketika penulis memenuhi undangan BEI Kantor Perwakilan Kalimantan Selatan untuk sharing pengalaman investasi saham, dengan lokasi acara di Hotel Mercure, Kota Banjarmasin. Dalam kesempatan ini penulis berbagi cerita tentang bagaimana awalnya saya masuk ke dunia pasar saham, pengalaman ketika membuka rekening di sekuritas untuk pertama kali, hingga pengalaman membeli saham-saham tertentu, yakni pada tahun 2009 – 2010 lalu. Okay, kita langsung saja.

Penulis insya Allah akan juga memenuhi undangan dari BEI Kanwil Sumatera Barat, untuk sharing session di Kota Padang, 26 Januari mendatang (Acaranya gratis! Silahkan hubungi langsung panitianya), dan nanti acaranya juga akan divideokan.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham di Tahun Pemilu 2019

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, topik ‘prospek atau outlook pasar saham’ di awal tahun 2019 ini mungkin menjadi topik yang sangat penting bagi banyak investor, dan ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, sebagaimana yang kita ketahui, di tahun ini di Indonesia akan ada hajatan besar yakni Pemilihan Umum (Pemilu) sekaligus Pemilihan Presiden (Pilpres). Nah, meski Indonesia pasca reformasi sudah rutin menggelar Pemilu 5 tahunan sejak tahun 1999 lalu, dan juga menggelar Pilpres sejak 2004, namun memang Pemilu tahun 2019 ini sejak awal terasa berbeda khususnya bagi investor saham.

Sebab ketika terakhir kita menggelar Pemilu di tahun 2014, jumlah investor ritel di bursa belum sebanyak sekarang. Pada tahun 2014, jumlah rekening investor ritel sekitar 400 ribuan, tapi sekarang jumlahnya melompat menjadi 1.1 juta rekening, thanks to gencarnya kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ oleh BEI sejak tahun 2015 lalu. Ini artinya lebih dari separuh pelaku pasar di bursa adalah investor pemula yang baru buka rekening tahun 2015 keatas, sehingga wajar jika mereka kemudian khawatir soal prospek saham di ‘Tahun Pemilu 2019’ ini, karena memang mereka belum pernah mengalami berinvestasi di saham di tahun pemilu sebelumnya. Yep, jangankan invest di saham, mencoba nangkep ayam untuk pertama kalinya sekalipun akan terasa menegangkan bukan? Dan pasar saham Indonesia saat ini dipenuhi oleh investor yang belum tahu gimana rasanya memegang saham di tahun 2014 lalu.
Itu pertama. Kedua, selain Pemilu untuk memilih anggota legislatif, dan Pilpres untuk memilih presiden, maka persis sejak tahun 2015 lalu, untuk pertama kalinya Indonesia menggelar Pilkada serentak, yakni untuk memilih Gubernur dan Walikota/Bupati. Sebenarnya pilkada ini sudah digelar sejak tahun 2005, namun ketika itu pelaksanaannya tidak bersamaan/tanggal pencoblosannya berbeda-beda untuk tiap daerah, sehingga ‘suasana pemilu’-nya juga hanya terasa di daerah yang bersangkutan ketika mendekati hari pemilihan. Namun karena sejak tahun 2015, pilkada ini dilakukan secara bersamaan pada satu tanggal yang sama, maka jadilah suasana pemilu-nya lebih terasa secara nasional, karena semua calon pemimpin daerah ramai-ramai berkampanye mendekati tanggal pemilihan yang sama.
Dan berbeda dengan pemilu dan piplres yang hanya digelar setiap 5 tahun sekali, pilkada serentak ini digelar hampir setiap tahun, dimana setelah pilkada tahun 2015, maka digelar pula pilkada serentak tahun 2017, dan 2018 kemarin. Alhasil tidak hanya tahun 2019 ini, namun sebenarnya di Indonesia, setiap tahun adalah tahun pemilu, dimana hampir setiap saat kita melihat baligo dan spanduk bergambar wajah politisi dan lambang partai di jalan raya. And thanks to kampanye terus menerus yang dilakukan oleh para pemburu jabatan ini, maka kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pilkada, pemilu, dan pilpres itu sendiri kemudian meningkat pesat, dimana orang kalau gak milih capres A maka ya milih capres B (jarang ada yang golput), dan topik politik kemudian menjadi pembicaraan sehari-hari di media sosial ataupun warung kopi. Pengaruh ‘suasana pemilu’ terhadap keseharian masyarakat ini sedemikian besarnya, sampai-sampai ketika ada berita artis melakukan sesuatu yang kontroversial, dimana biasanya itu menjadi topik hangat yang dibicarakan berhari-hari oleh para biang gosip (dan imbasnya menaikkan popularitas si artis itu sendiri), tapi sekarang itu tidak terjadi lagi/orang sudah tidak lagi peduli. Tapi ketika ada tokoh politisi atau kader partai tertentu yang salah ngomong sedikiiitt saja, maka hebohnya langsung kemana-mana, baik itu dari yang pro maupun yang kontra. Demikian pula ketika seorang artis ikut ‘nyaleg’, maka semua tindak tanduknya yang sebelumnya tidak diperhatikan orang, mendadak jadi bahan pembicaraan netizen kurang kerjaan.
Pemilu Aman dan Damai?
Meski semua fenomena diatas menyebabkan Indonesia menjadi negara yang ‘benar-benar demokrasi’, namun ternyata muncul efek samping: Ketika seseorang kemudian menjadi fanatik terhadap tokoh politisi atau partai tertentu, maka ia akan mulai bersikap kurang bersahabat terhadap siapapun yang tidak ‘satu perahu’ dengannya, dan ini merupakan sumber kekerasan. Yup, jadi sama saja seperti kalau Persija ketemu Persib, maka tidak hanya kedua kelompok suporternya tidak pernah akur satu sama lain, namun terkadang sampai timbul korban jiwa jika kebetulan ada pendukung Persija yang nyasar ke Bandung, atau ada pendukung Persib yang nekad ke Stadion GBK. Demikian pula tim sepakbola lain, yang kalau mereka kalah di kandangnya sendiri maka tidak jarang pendukungnya kemudian berbuat rusuh dan anarkis. Dan ini sama seperti pemilu tahun 2014 lalu, termasuk pilkada-pilkada serentak setelahnya: Setelah selesainya pemilihan itu sendiri, maka hampir pasti pihak yang kalah beserta para pendukungnya tidak akan langsung menerima kekalahan, melainkan akan mencari-cari pembenaran bahwa seharusnya mereka-lah yang menang, hingga menuduh pihak lawan (atau KPU) berbuat curang. Yang paling konyol, penulis pernah mendengar bahwa seorang calon kepala desa bersama para pendukungnya dengan sengaja merusak satu-satunya jalan besar yang menghubungkan desa mereka dengan desa-desa tetangga, cuma gara-gara ia tidak terima kalah di pilkades! Jadi apa jadinya jika pihak yang kalah di pemilu nasional nanti, siapapun itu, melakukan hal yang sama??
Dan penulis kira inilah sumber kekhawatiran semua orang: Sebenarnya gak penting hasil pemilu-nya nanti siapa yang menang, tapi yang penting adalah pelaksanaan pemilu-nya itu sendiri, apakah bisa berjalan aman dan damai, ataukah rusuh. Dan masalahnya orang Indonesia memang gak seperti orang Inggris, yang bisa anteng duduk manis di tribun stadion dan gak masuk ke lapangan meski tidak ada pagar pembatas. Jadi risiko pelaksanaan pemilu yang ‘tidak damai’ akan tetap ada, karena sejak awal pun sudah kelihatan ada banyak politisi beserta para pendukungnya yang menggunakan ‘segala cara’ agar bisa menang, tak peduli meski itu bisa bikin Indonesia jadi tidak aman atau bahkan krisis ekonomi (masih inget propaganda ‘money rush’ di tahun 2016 lalu? Kalau lupa, baca lagi ceritanya disini).
Jadi memang kalau ada pihak yang harus kerja ekstra keras sejak beberapa tahun terakhir ini, maka itu adalah Polri dan TNI, termasuk juga Intelijen. Karena sekali lagi berbeda dengan pemilu-pemilu yang lalu, saat ini risiko terjadinya tindak anarkis tidak lagi hanya bersumber dari para politisi itu sendiri, melainkan juga dari para pendukung garis keras mereka. Lalu bagaimana dengan kinerja tiga lembaga ini sejauh ini?
Untungnya sejauh yang penulis perhatikan, mereka semuanya bekerja dengan cukup baik. Yang paling diingat adalah ketika di tahun 2016 lalu terjadi Aksi Damai 212 yang dihadiri oleh buanyak sekali orang, dimana aksi tersebut bisa saja berakhir rusuh. Sebab jika anda lihat lagi aksi-aksi pengumpulan massa di negara lain, apalagi jika jumlah pesertanya sama banyaknya seperti aksi 212 tersebut, maka endingnya hampir pasti bakal rusuh, termasuk ada korban jiwa. Termasuk di Indonesia sendiri, ketika terakhir kali terjadi aksi turun ke jalan dengan jumlah massa yang sangat besar pada tahun 1998 lalu, maka hasilnya adalah kerusuhan yang menelan ratusan korban jiwa (and yep, IHSG juga wassalam di tahun tersebut).

Namun ternyata aksi di tahun 2016 tersebut berjalan aman dan lancar dan tidak ada korban sama sekali (ada satu peserta yang meninggal namun itu karena serangan jantung). Demikian pula ketika diselenggarakan ‘reuni’ aksi yang sama di tahun 2017 dan 2018 kemarin, dan juga aksi-aksi pengumpulan massa lainnya, maka semuanya aman-aman saja. Mungkin perlu ditegaskan disini bahwa tidak semudah itu bagi aparat untuk mengamankan massa sebanyak itu, apalagi seperti yang sudah disebut diatas, orang Indonesia beda dengan orang Inggris yang gampang diatur. Dengan kata lain, jika Polri dkk selama ini tidak bekerja dengan baik, maka Indonesia ini akan sudah kacau balau sejak Pemilu tahun 2014 lalu, dan berinvestasi di pasar saham juga tidak akan senyaman sekarang (awal tahun 2014, IHSG di posisi 4,274, tapi sekarang sudah 6,000-an).


Posisi IHSG di penghujung tahun 2014. Secara keseluruhan IHSG naik 22.3% di tahun 2014.

Jadi kesimpulannya, selama pihak berwenang bisa terus mempertahankan kinerja mereka saat ini, maka penulis termasuk yang optimis bahwa Indonesia akan tetap aman-aman saja, termasuk IHSG juga akan aman-aman saja. Hanya saja terkait prospek investasi saham itu sendiri, maka karena seperti yang disebut diatas, ada banyak investor yang belum berpengalaman masuk pasar di tahun pemilu 2014 lalu, dan karena adanya pilkada serentak hampir saban tahun menyebabkan ‘gonjang-ganjing’ politik sekarang ini jauh lebih terasa dibanding dulu, maka mungkin pasar saham akan cenderung sepi sampai April 2019 nanti, karena akan ada banyak investor yang memilih wait n see, dan mungkin itu akan bikin IHSG stagnan, atau tetap naik tapi dengan kenaikan yang moderat. Tapi selama tidak ada problem keamanan yang serius, dan sampai saat ini memang kelihatannya demikian, maka tentunya juga tidak ada alasan bagi kita untuk keluar dari market.
Diluar faktor pemilu sebenarnya ada banyak lagi faktor-faktor lainnya ketika kita bicara soal prospek pasar saham dalam satu tahun tertentu, tapi untuk selebihnya kita akan bahas lagi next time.

Untuk minggu depan kita akan membahas satu saham BUMN yang masih murah, yang berpeluang menjadi ‘turn around’ company.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham di Tahun Pemilu

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, topik ‘prospek atau outlook pasar saham’ di awal tahun 2019 ini mungkin menjadi topik yang sangat penting bagi banyak investor, dan ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, sebagaimana yang kita ketahui, di tahun ini di Indonesia akan ada hajatan besar, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) sekaligus Pemilihan Presiden (Pilpres), keduanya dalam satu waktu. Nah, meski Indonesia pasca reformasi sudah rutin menggelar Pemilu 5 tahunan sejak tahun 1999 lalu, dan juga menggelar Pilpres sejak 2004, namun memang Pemilu tahun 2019 ini sejak awal terasa berbeda khususnya bagi investor saham.

Sebab ketika terakhir kita menggelar Pemilu di tahun 2014, jumlah investor ritel di bursa belum sebanyak sekarang. Yup, pada tahun 2014, jumlah rekening investor ritel diperkirakan sekitar 400 ribuan. Tapi sekarang, berdasarkan data dari KSEI, jumlah rekening tersebut melompat menjadi 1.1 juta rekening, thanks to gencarnya kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ oleh BEI sejak tahun 2015 lalu. Ini artinya lebih dari separuh pelaku pasar di bursa adalah investor pemula yang baru buka rekening tahun 2015 keatas, sehingga wajar jika mereka kemudian khawatir soal prospek saham di ‘Tahun Pemilu 2019’ ini, karena memang mereka belum pernah mengalami berinvestasi di saham di tahun pemilu sebelumnya. Yep, jangankan invest di saham, mencoba nangkep ayam untuk pertama kalinya sekalipun akan terasa menegangkan bukan? Dan pasar saham Indonesia saat ini dipenuhi oleh investor yang belum tahu gimana rasanya berinvestasi di tahun 2014 lalu.
Itu pertama. Kedua, selain Pemilu untuk memilih anggota legislatif, dan Pilpres untuk memilih presiden, maka persis sejak tahun 2015 lalu, untuk pertama kalinya Indonesia juga rutin menggelar Pilkada serentak, yakni untuk memilih Gubernur dan Walikota/Bupati. Sebenarnya pilkada ini sudah digelar sejak tahun 2005, namun ketika itu pelaksanaannya tidak bersamaan/tanggal pencoblosannya berbeda-beda untuk tiap daerah, sehingga ‘suasana pemilu’-nya juga hanya terasa di daerah yang bersangkutan ketika mendekati hari pemilihan. Namun karena sejak tahun 2015, pilkada ini dilakukan secara bersamaan pada satu tanggal yang sama setiap tahunnya, maka jadilah suasana pemilu-nya lebih terasa secara nasional, karena semua calon pemimpin daerah ramai-ramai berkampanye mendekati tanggal pemilihan yang sama.
Dan berbeda dengan pemilu dan piplres yang hanya digelar setiap 5 tahun sekali, pilkada serentak ini digelar hampir setiap tahun, dimana setelah pilkada tahun 2015, maka digelar pula pilkada serentak tahun 2017, dan 2018 kemarin. Alhasil tidak hanya tahun 2019 ini, namun sebenarnya di Indonesia, setiap tahun adalah tahun pemilu, dimana hampir setiap saat kita melihat baligo dan spanduk bergambar wajah politisi dan lambang partai di jalan raya. Dan thanks to kampanye terus menerus yang dilakukan oleh para pemburu jabatan ini, maka kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pilkada, pemilu, dan pilpres itu sendiri kemudian meningkat pesat, dimana orang kalau gak milih capres A maka ya milih capres B (jarang ada yang golput), dan topik politik kemudian menjadi pembicaraan sehari-hari di media sosial ataupun warung kopi. Pengaruh ‘suasana pemilu’ terhadap keseharian masyarakat ini sedemikian besarnya, sampai-sampai ketika ada berita artis melakukan sesuatu yang kontroversial, dimana biasanya itu menjadi topik hangat yang dibicarakan berhari-hari oleh para biang gosip (dan imbasnya menaikkan popularitas si artis itu sendiri), tapi sekarang itu tidak terjadi lagi/orang sudah tidak tertarik. Tapi ketika ada politisi atau kader partai tertentu yang salah ngomong sedikiiiittt saja, maka hebohnya langsung kemana-mana, baik itu dari yang pro maupun yang kontra. Demikian pula ketika seorang artis ikut ‘nyaleg’, maka semua tindak tanduknya yang sebelumnya tidak diperhatikan orang, mendadak jadi bahan pembicaraan netizen kurang kerjaan.
Pemilu Aman dan Damai?
Nah, meski semua fenomena diatas menyebabkan Indonesia menjadi negara yang ‘benar-benar demokrasi’, namun ternyata kemudian muncul efek samping: Ketika seseorang kemudian menjadi fanatik terhadap tokoh politisi atau partai tertentu, maka ia akan mulai bersikap ‘tidak ramah’ terhadap siapapun yang tidak ‘satu perahu’ dengannya, dan ini merupakan sumber kekerasan. Yup, jadi sama saja seperti kalau Persija ketemu Persib, maka tidak hanya kedua kelompok suporternya tidak bisa akur satu sama lain, namun terkadang sampai timbul korban jiwa jika kebetulan ada pendukung Persija yang nyasar ke Bandung, atau ada pendukung Persib yang nekad ke Stadion GBK. Termasuk kalau ada tim sepakbola yang kalah di kandangnya sendiri, maka tidak jarang pendukungnya kemudian berbuat rusuh dan anarkis. Yep, jadi sama seperti halnya ketika pemilu tahun 2014 lalu, termasuk pilkada-pilkada serentak setelahnya: Setelah selesainya pemilihan itu sendiri, maka selalu saja pihak yang kalah beserta para pendukungnya tidak bisa langsung menerima kekalahan, melainkan selalu mencari-cari pembenaran bahwa seharusnya mereka-lah yang menang, hingga menuduh pihak sebelah berbuat curang. Yang paling konyol, penulis pernah mendengar bahwa di sebuah desa, seorang calon kepala desa bersama para pendukungnya dengan sengaja merusak satu-satunya jalan besar yang menghubungkan desa tersebut dengan desa-desa tetangga, cuma gara-gara ia tidak terima kalah di pilkades! Jadi apa jadinya jika pihak yang kalah di pemilu nasional nanti, siapapun itu, melakukan hal yang sama??
Dan penulis kira inilah sumber kekhawatiran semua orang: Sebenarnya gak penting hasil pemilu-nya nanti bagaimana, tapi yang penting adalah pelaksanaan pemilu-nya itu sendiri, apakah bisa berjalan aman dan damai, ataukah rusuh. Dan masalahnya orang Indonesia memang gak seperti orang Inggris, yang bisa anteng duduk manis di tribun stadion dan gak masuk ke lapangan meski tidak ada pagar pembatas. Yup, jadi potensi pelaksanaan pemilu yang ‘tidak damai’ akan tetap ada, karena sejak awal pun sudah kelihatan ada banyak politisi beserta para pendukungnya yang menggunakan ‘segala cara’ agar bisa menang, tak peduli meski itu bisa bikin Indonesia jadi tidak aman atau bahkan krisis ekonomi (masih inget propaganda ‘money rush’ di tahun 2016 lalu? Kalau lupa, baca lagi ceritanya disini).
Jadi memang kalau ada pihak yang harus kerja ekstra keras sejak beberapa tahun terakhir ini, maka itu adalah Polri dan TNI, termasuk juga Intelijen. Yup, karena sekali lagi berbeda dengan pemilu-pemilu yang lalu, saat ini potensi terjadinya tindak anarkis tidak lagi hanya bersumber dari para politisi itu sendiri, melainkan juga dari para pendukung garis keras mereka. Lalu bagaimana dengan kinerja tiga lembaga ini sejauh ini?
Untungnya, sejauh yang penulis perhatikan, mereka kesemuanya bekerja dengan cukup baik. Yang paling diingat adalah ketika di tahun 2016 lalu terjadi Aksi Damai 212 yang dihadiri oleh buanyak sekali orang, dimana tentu saja bisa aksi tersebut berakhir rusuh (jika anda lihat lagi aksi-aksi pengumpulan massa di negara lain, dimana jika jumlah pesertanya sama banyaknya seperti aksi 212 tersebut, maka endingnya hampir pasti bakal rusuh, termasuk ada korban jiwa), namun ternyata semuanya aman dan lancar dan tidak ada korban sama sekali (ada satu peserta yang meninggal namun itu karena serangan jantung). Demikian pula ketika diselenggarakan ‘reuni’ aksi yang sama di tahun 2017 dan 2018 kemarin, maka semuanya juga aman-aman saja. Mungkin perlu ditegaskan disini bahwa tidak semudah itu bagi aparat untuk mengamankan massa sebanyak itu, apalagi seperti yang sudah disebut diatas, orang Indonesia beda dengan orang Inggris yang gampang diatur. Dengan kata lain, jika Polri dkk selama ini tidak bekerja dengan baik, maka Indonesia ini akan sudah kacau balau sejak Pemilu tahun 2014 lalu, dan berinvestasi di pasar saham juga tidak akan senyaman sekarang (awal tahun 2014, IHSG di posisi 4,274, tapi sekarang sudah 6,000-an).


Posisi IHSG di penghujung tahun 2014. Secara keseluruhan IHSG naik 22.3% di tahun 2014.

Jadi kesimpulannya, selama para pihak berwenang bisa terus mempertahankan kinerja mereka saat ini, maka penulis termasuk yang optimis bahwa Indonesia akan tetap aman-aman saja, termasuk IHSG juga akan aman-aman saja. Hanya saja terkait prospek investasi saham itu sendiri, maka karena seperti yang disebut diatas, ada banyak investor yang belum berpengalaman masuk pasar di tahun pemilu 2014 lalu, dan karena adanya pilkada serentak hampir saban tahun menyebabkan ‘gonjang-ganjing’ politik sekarang ini jauh lebih terasa dibanding dulu, maka mungkin pasar saham akan cenderung sepi sampai April 2019 nanti, karena akan ada banyak investor yang memilih wait n see, dan mungkin itu akan bikin IHSG stagnan, atau tetap naik tapi dengan kenaikan yang moderat. Tapi selama tidak ada problem keamanan yang serius, dan sampai saat ini memang kelihatannya demikian, maka tentunya tidak ada alasan bagi kita untuk keluar dari market.
Diluar faktor pemilu sebenarnya ada banyak lagi faktor-faktor lainnya ketika kita bicara soal prospek pasar saham dalam satu tahun tertentu, tapi untuk selebihnya kita akan bahas lagi next time.
***
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Januari 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.
Jadwal Seminar Value Investing & Advanced: Amaris Thamrin City Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu – Minggu, 19 – 20 Januari 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird untuk peserta yang mendaftar pada atau sebelum tanggal 11 Januari.
Jadwal Value Investing Private Class: Central Park Mall, Jakarta Barat, Jumat 18 Januari 2019 Pukul 13.30. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing – Advanced, Jakarta 20 Januari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 2 Desember 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, saham-saham batubara naik luar biasa hanya dalam tempo 2 tahun. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar kita ‘curi start’ membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 20 Januari 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,550,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Eden Hazard, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Early Bird Discount!
Jika anda mendaftar pada atau sebelum tanggal 11 Januari, maka biayanya jadi Rp1,200,000 per peserta.
Jika anda mendaftar pada atau sebelum tanggal 17 Januari, maka biayanya jadi Rp1,300,000 per peserta.
Bonus Gratis!

  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Suasana Seminar di Gedung BEI, dengan penulis sebagai pembicaranya

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 19 Januari 2019 (sehari sebelum seminar advanced, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham. Untuk memperoleh insight yang lengkap, anda disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced di hari minggunya. Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 19 Januari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 19 Januari 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.
Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Januari 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,350,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Early Bird Discount!
Jika anda mendaftar sebelum atau pada tanggal 11 Januari, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Jika anda mendaftar sebelum atau pada tanggal 17 Januari, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial

Penulis bersama temen-temen peserta di salah satu kelas sebelumnya
Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Advanced, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 20 Desember 2019 (sehari setelah seminar value investing ini, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang [...]

Cara Menjadi Happy Investor!

Jika penulis bertanya, apa atau dimana makanan terenak yang pernah anda makan? Maka setiap orang tentu punya jawabannya masing-masing, karena selera dan kesukaan tiap orang berbeda-beda. Namun jika penulis bertanya lagi, dalam kondisi bagaimana makanan yang kita lahap terasa sangat nikmat dan lezat? Maka kita semua akan memiliki jawaban yang sama: Dalam kondisi lapar! Yakni benar-benar lapar, apalagi jika ditambah kondisi capek setelah melakukan aktivitas fisik. Yep, sebagai penyuka kuliner, penulis bisa katakan bahwa saya sudah mencoba hampir semua rumah makan populer di Jakarta dan Bandung, dan beberapa restoran memang punya menu yang lebih enak dibanding restoran lainnya.
Tapi tahukah anda, apa makan malam terenak yang pernah saya cicipi? Jawabannya adalah semangkuk indomie rebus yang masih panas, yang dimakan di puncak Gunung Salak yang dingin dalam keadaan lapar (karena memang belum makan sejak pagi harinya), dan letih setelah mendaki seharian! Indomie rebus itu sedemikian lezatnya hingga penulis kemudian sengaja beberapa kali mendaki gunung lainnya lagi, hanya untuk makan mie rebus yang sama lagi. Pertanyaannya, apakah indomie-nya beda dengan indomie yang biasa kita masak di dapur rumah? Nggak, itu indomie yang sama kok. Dan apakah indomie itu harganya lebih mahal dibanding menu main course di restoran Italia di hotel bintang lima? Ah, nggak juga! Sekali lagi, itu cuma mie instant dengan harga gak nyampe Rp3,000 per bungkusnya, literally bisa dibeli oleh siapapun.
Jadi apa yang membuat mi rebus di puncak gunung itu terasa istimewa?? Well, kalau anda pernah naik gunung juga, maka anda tentu tahu jawabannya: Indomie-nya sih sama saja dengan yang biasa kita pesan di warung kopi, tapi yang membedakan adalah kondisi kitanya sendiri, yang pastinya sudah sangat lapar, capek, plus menggigil kedinginan, setelah berjalan kaki menanjak sejauh sekian kilometer, alias mendaki gunung. Nah sekarang bagaimana jika kondisi kita adalah sedang duduk santai dirumah, gak lagi capek dan hanya sedang lapar biasa saja (misalnya karena sudah jam makan siang), lalu anda makan mie rebus yang sama: Rasanya pasti akan biasa-biasa saja bukan?
Jadi kesimpulannya, untuk bisa mencicipi makanan yang terlezat, maka anda harus benar-benar lapar dan capek dulu, entah itu dengan cara mendaki gunung atau lainnya. Pertanyaannya, apakah merasa lapar dan capek itu menyenangkan? Jelas tidak! Tidak ada seorangpun di dunia ini yang suka merasa kelaparan, dan sebagai pendaki amatir, penulis juga selalu ingat bagaimana rasanya ‘penderitaan’ ketika kita harus terus mendaki menuju puncak tertinggi, ditambah membawa carrier yang luar biasa beratnya. Tapi justru segala penderitaan itulah yang menyebabkan makan malam di puncak gunung terasa sangat nikmat, bahkan meski hanya dengan semangkuk mie rebus.


Penulis di puncak Gunung Pangrango, Kab. Bogor, dengan latar belakang Gunung Gede

‘Semangkuk Mie Rebus’ di Pasar Saham
Kembali ke pasar modal. Sebagai investor, kita tentu menginginkan bahwa setiap keputusan jual beli saham yang dilakukan selalu membuahkan profit, tapi pertanyaannya kemudian, apakah kita bisa melakukannya? Apakah mungkin bagi seseorang untuk selalu profit dari saham, tanpa pernah rugi satu kalipun?? Meski pertanyaan ini terdengar konyol (karena anda semua tentu sudah tahu jawabannya: Nggak mungkin, karena bahkan Warren Buffett sekalipun kalau lagi rugi ya rugi saja), namun nyatanya ada banyak pelaku pasar modal yang berharap seperti itu: Saya tidak mau rugi, bahkan meski satu Rupiahpun! Kalau mereka ditanya lagi, kenapa to sampeyan gak mau rugi? Ya karena rugi itu rasanya nggak enak! Memangnya siapa yang mau kehilangan uangnya begitu saja, entah itu di saham atau lainnya?? Problemnya disini bukan kehilangan duitnya (karena terkadang, ilangnya gak seberapa), tapi timbulnya rasa kesal, jengkel, baper ketika uang itu hilang, dan itu bikin kita jadi males ngapa-ngapain.
Nah, kalau anda termasuk anggota asosiasi investor anti rugi diatas, maka penulis punya satu kabar buruk, dan dua kabar baik. Kabar buruknya, anda pasti akan merasakan rugi, kalau bukan karena salah pilih saham maka karena kondisi pasarnya yang kurang bagus. Contohnya ya tahun 2018 ini, dimana IHSG ditutup di posisi 6,194, turun 2.5%dibanding awal tahun, dan kalau kita hitung penurunan IHSG dari posisi tertingginya yakni 6,689 hingga posisi terendahnya yakni 5,634, maka IHSG sempat turun total 15.8%, alias cukup signifikan. Dalam kondisi ini maka meski sebagian investor tetap cuan, namun tentunya banyak juga yang rugi, dan itu tidak menyenangkan, mungkin juga bikin anda capek pikiran (aaand seriously, capek pikiran seperti ini seringkali malah lebih berat dibanding capek fisik karena mendaki gunung). Lebih dari itu, jika anda sudah membaca blog teguhhidayat.com ini sejak lama, maka terhitung sejak 2010 lalu kita sudah mengalami setidaknya tiga kali koreksi pasar yang berkepanjangan, yakni di tahun 2013, 2015, dan tahun 2018 ini. Dan harus saya katakan bahwa, dari tiga kali koreksi pasar tersebut, kesemuanya benar-benar menguras mental, tenaga, pikiran kita sebagai investor, dimana itu, sekali lagi, rasanya tidak menyenangkan.
Jadi suka atau tidak, anda pasti akan baper karena saham. Kabar baiknya, pasar tidak selalu turun, melainkan pada akhirnya akan naik lagi. Sehingga asalkan kita konsisten berinvestasi dengan cara-cara yang benar, maka pada tahun-tahun yang sulit kita mungkin akan rugi, tapi kita akan kembali profit ketika pasar akhirnya pulih. Yep, diluar tahun 2013, 2015, dan 2018, maka IHSG selalu naik, dan meski kedepannya IHSG tentunya akan turun lagi pada tahun-tahun tertentu, tapi di tahun-tahun lainnya pasar akan naik. In fact, jika kita lihat lagi pergerakan IHSG sejak tahun 1997, maka IHSG selalu naik dan turun silih bergantisetiap tahunnya, namun dengan urutan yang acak (jadi kadang turunnya dua tahun berturut-turut, kadang cuma setahun). Data selengkapnya sebagai berikut:
Year
Growth (%)
Year
Growth (%)
1997
-44.3
2008
-50.6
1998
-0.9
2009
87.0
1999
70.1
2010
46.1
2000
-38.5
2011
3.2
2001
-5.8
2012
12.9
2002
8.4
2013
-1.0
2003
62.8
2014
22.3
2004
44.6
2015
-12.1
2005
16.2
2016
15.3
2006
55.3
2017
20.0
2007
52.1
2018
-2.5
Itu kabar baik pertama. Kabar baik kedua-nya adalah, ketika kita akhirnya profit lagi setelah sebelumnya rugi, maka secara psikologis, rasanya akan lebih menyenangkan dibanding jika kita sebelumnya profit terus, dan penulis sendiri sudah mengalaminya berkali-kali: Itu bisa bikin kita segeeerrr secara jasmani dan rohani! ???? Yep, jadi sama seperti mie rebus yang kalau kita makan dalam kondisi tidak terlalu lapar, maka rasanya akan biasa-biasa saja, tapi beda ceritanya ketika kita makan mie rebus itu di puncak gunung setelah letih mendaki seharian: Rasanya lebih uenak dibanding masakannya Gordon Ramsay sekalipun! Demikian pula profit yang diperoleh setelah sebelumnya nyangkut, maka profit itu akan terasa lebih ‘lezat’ dibanding biasanya.
Dan penulis kira inilah salah satu alasan kenapa para value investor legendaris di seluruh dunia rata-rata berusia panjang (Note: Warren Buffett tahun ini sudah 88 tahun, dan masih sehat walafiat): Itu adalah karena mereka senantiasa happy, dan itu justru karena setiap beberapa waktu sekali, pasar saham terasa lebih ‘menantang’ dibanding biasanya. Sekarang bayangkan jika seorang investor selalu profit tanpa pernah rugi sekalipun (meski pada kenyataannya ini gak mungkin, tapi gpp bayangkan saja), maka itu sama seperti orang super-kaya yang kemana-mana naik pesawat jet pribadi dan setiap harinya menjalani gaya hidup mewah tanpa pernah sekalipun makan di warteg, namun semua kemewahan itu terkadang malah bikin dia jadi bosan dan tidak bahagia lagi bukan?? Penulis sendiri sangat happy menjalani kehidupan sehari-hari saya saat ini, dan itu adalah karena di tahun 2009 – 2010 saya pernah berada dalam kondisi harus masak sendiri di kamar kost, atau kemana-mana jalan kaki alih-alih naik kendaraan umum, agar uang gaji bulanan ketika itu masih ada sisanya untuk ditabung.
Jadi kalau saja penulis tidak pernah mengalami kondisi diatas, maka saya tidak akan menikmati kondisi sekarang ini karena saya tidak akan tahu apa bedanya. Demikian pula kalau anda gak pernah rugi atau nyangkut, maka anda tidak akan mengerti gimana nikmatnya cuan. Ingat ini: Happiness is like food: To really enjoy it, you must be hungry first. So to be happy and comfort, one must know what suffering is like.

Beruntung, dalam berinvestasi anda tidak akan selalu profit melainkan juga sesekali rugi, namun justru disitulah sumber kebahagiaan seorang investor karena perjalanan karier-nya tidak pernah ‘datar-datar’ saja, melainkan selalu penuh cerita dan drama yang terkadang lebih seru dibanding sinetron di Indosiar! So if you want to be happy, be an investor!
Selamat Tahun Baru 2019! Terima kasih sudah menjadi pembaca setia TeguhHidayat.com selama ini ????, selanjutnya bagaimana harapan anda untuk tahun 2019 nanti??

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Dow Jones vs IHSG

Setelah turun terus hampir setiap hari selama bulan Desember ini, Dow Jones Industrial Average kemarin akhirnya rebound 1,000 point atau hampir 5% ke posisi 22,878, demikian pula S&P500 dan Nasdaq turut rebound dengan persentase kenaikan yang kurang lebih sama. Kenaikan tersebut untuk sementara mengkonfirmasi dua hal. Pertama, bahwa seperti halnya IHSG, Dow juga tidak akan turun terus menerus melainkan pasti akan ada rebound-nya, sehingga kalau misalnya anda berinvestasi di New York Stock Exchange dan termasuk yang telat jualan (atau baru kepikiran untuk jualan setelah Dow nyungsep), maka waktu terbaik untuk jualan bukanlah ketika kemarin Dow terus saja turun, melainkan harus tunggu hingga rebound ini terjadi. Ulasan strategi lengkapnya bisa dibaca disini.

Kemudian kedua, di artikel minggu lalu berjudul Amerika Resesi?, penulis mengatakan bahwa di Amerika sebenernya tidak ada resesi apapun, hanya valuasi saham-saham disana sudah pada mahal saja, sehingga Dow memang harus turun, tapi penurunan Dow karena penyebab seperti ini biasanya tidak akan terlalu dalem, melainkan maksimal sekitar 20% saja dari posisi tertingginya. And indeed, posisi terendah yang dicapai Dow kemarin adalah 21,730, atau turun 19.4% dibanding posisi tertinggi Dow yakni 26,952. Untuk kedepannya Dow tentu bisa saja turun sekali lagi, dan hingga ke posisi yang lebih rendah lagi, tapi normalnya itu hanya akan terjadi jika ada sentimen negatif kuat tertentu.  Sementara jika tidak tidak ada sentimen apa-apa, maka level 21,000-an kemarin harusnya sudah menjadi titik terendah Dow, dan selanjutnya dia akan bergerak lebih stabil/sideways.
Nah, terus terang penulis sejak Senin kemarin sudah pengen posting artikel ‘Dow Jones vs IHSG’ ini, yang pada intinya berisi analisa soal pengaruh Dow terhadap IHSG, tapi saya sengaja tunggu Dow rebound dulu lalu baru posting, karena berdasarkan pengalaman, seringkali ulasan di blog ini tidak akan memberikan pencerahan apapun bagi pembaca jika si pembaca itu sendiri sedang dalam kondisi panik (karena Dow-nya masih terus meluncur kebawah), dan kadang malah menimbulkan sikap skeptis: Prospek cerah apaan?? Lo kagak liat sekarang saham-saham pada anjlok semua!
Tapi dengan Dow kemarin akhirnya naik lagi, maka minimal anda harusnya sekarang sudah lebih tenang :D Dan bisa kembali membaca dengan kepala dingin. So here we go!
Pengaruh Dow Terhadap IHSG
Sebagai indeks saham paling populer di Amerika Serikat, sedangkan New York Stock Exchange itu sendiri pada gilirannya adalah bursa saham terbesar di dunia, maka pergerakan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) sudah seperti benchmark bagi pergerakan indeks-indeks saham lainnya di seluruh dunia termasuk IHSG, sehingga kemudian ada anggapan bahwa jika Dow naik maka IHSG akan naik, demikian sebaliknya jika Dow turun maka IHSG juga akan turun. Tapi benarkah demikian?
Nah, sebenarnya anda tidak perlu menjadi ‘pakar’ untuk menjawab pertanyaan diatas, karena anda bisa langsung cek sendiri data terbaru: Meski Dow hingga tanggal 26 Desember sudah turun 15.1% dari posisi tertingginya pada awal Oktober kemarin (dari 26,828 ke 22,878), namun pada periode yang sama, IHSG justru naik lumayan dari 5,868 ke 6,128. Sementara ketika Dow naik dari 23,533 hingga break new high di level 26,828 pada kurun waktu Maret – Oktober 2018, IHSG pada periode yang sama malah turun dari 6,175 ke 5,731. Demikian seterusnya jika anda cek data historis pergerakan kedua indeks saham, maka anda akan menemukan banyak kasus dimana Dow naik pada satu periode tertentu namun IHSG turun, atau sebaliknya Dow turun ketika IHSG naik.
However, berdasarkan pengalaman penulis sendiri, yang sering terjadi adalah jika pada satu waktu tertentu Dow turun signifikan, katakanlah 2 – 3% dalam sehari atau total 5 – 10% dalam seminggu, maka beritanya akan santer terdengar (bahwa Dow turun), dan itu bisa bikin investor di Indonesia panik minimal sesaat, dan imbasnya IHSG bisa ikut turun pada hari/minggu tersebut (meski seringkali, turunnya nggak banyak). Jadi meski pergerakan Dow dan IHSG tidak selalu seiringan, tapi benar bahwa Dow berpengaruh ke IHSG, minimal dalam jangka pendek. Simpelnya, jika seorang investor sebelumnya sudah berencana untuk membeli saham tertentu pada hari tertentu, maka bisa jadi ia akan menunda rencananya tersebut jika pada malam harinya Dow turun. Dan kalau ada banyak orang yang gak jadi beli saham karena khawatir dengan penurunan Dow, sementara yang jualan tetep banyak, maka otomatis IHSG akan ikut turun.
Tapi dari tulisan diatas maka kelihatan bahwa naik turunnya Dow ini hanyalah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG dan saham-saham didalamnya. You see, ketika seorang investor hendak membeli sebuah saham, maka tentu dalam pertimbangannya saham tersebut berfundamental bagus dst. Thus, ketika Dow turun dan penurunannya tersebut menjadi headline dimana-mana, maka si investor mungkin menunda rencana buy-nya, tapi ia hanya menunda dan bukan membatalkannya. Sehingga kalau nanti Dow naik lagi, dan Dow pasti akan naik lagi, maka ia tetap akan buy, dan alhasil saham-saham di Indonesia tetap akan naik.
Penurunan Dow = Kenaikan IHSG?
Daaaaan untungnya bisa penulis katakan bahwa diluar cerita koreksi Dow, faktor-faktor lainnya masih mendukung jika anda hendak belanja atau tetap hold saham: Kinerja para emiten hingga Kuartal III 2018 kemarin rata-rata masih bagus, valuasi saham masih banyak yang murah, Rupiah mulai stabil di 14,000-an, harga minyak turun (penurunan harga minyak akan menurunkan nilai impor), kondisi ekonomi/politik dalam negeri juga stabil, dan sekarang sudah akhir tahun (biasanya suka nongol cerita Window Dressing dan January Effect). Malah actually, penulis termasuk yang beranggapan bahwa penurunan Dow, meski dalam jangka pendek memang menimbulkan shock therapy, namun dalam jangka menengah – panjang dampaknya justru akan positif terhadap IHSG. Kenapa begitu?
Jadi begini: Sejak awal tahun 2016, Dow sudah rally dari 16,346 hingga sempat menyentuh 26,952, atau naik total 64.9% dalam waktu kurang dari tiga tahun seiring dengan kembali booming-nya ekonomi Amerika itu sendiri, setelah sebelumnya mereka krisis pada tahun 2008 – 2009 (pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi AS tercatat -4%, tapi sekarang stabil di 3 – 4% per tahun), thanks to pertumbuhan pesat industri teknologi terutama yang berhubungan dengan internet. Nah, meski kenaikan sekitar 60% dalam waktu tiga tahun mungkin terbilang biasa saja bagi indeks saham di negara berkembang termasuk IHSG di Indonesia, tapi itu adalah angka kenaikan yang sangat besar bagi Dow. Analoginya Dow ini seperti saham ASII, BBCA, atau UNVR, yang kalau dalam setahun naik 40% saja maka itu akan tampak luar biasa, sedangkan IHSG adalah seperti saham-saham kecil atau second liner gak jelas, yang bisa dengan mudah terbang 100% hanya dalam 1 – 2 bulan (meski disisi lain, bisa cepet juga turunnya).

Pergerakan Dow Jones dalam dua tahun terakhir, dimana kenaikannya paling tinggi dibanding indeks-indeks saham kelas dunia lainnya seperti Nikkei, Shanghai Composite, Euronext Amsterdam, hingga FTSE London, dan hanya bisa disamai oleh Hang Seng Hongkong.
Jadi ketika dalam tiga tahun terakhir ini Dow naik banyak, maka otomatis itu menarik perhatian investor dan para fund manager di seluruh dunia untuk invest di Amerika, karena tingkat risiko investasi disana tentunya dianggap lebih aman dibanding di Indonesia atau negara berkembang lainnya. Ditambah lagi kenaikan Fed Rate juga menyebabkan imbal hasil obligasi dll di Amerika menjadi naik (sejak 2016 sampai sekarang Fed Rate terus naik dari 0.25% sampai terakhir 2.50%). Ini pula yang salah satunya menjelaskan kenapa asing sejak 2 – 3 tahun ini terus keluar dari BEI, dan kalau kita melihat fakta bahwa mata uang di negara-negara emerging market (termasuk Rupiah) hampir semuanya melemah terhadap US Dollar, maka kemungkinan asing tidak hanya keluar dari Indonesia, tapi mereka juga keluar dari Turki, Brazil, Meksiko dst, untuk kemudian ramai-ramai pindah ke New York. Karena logikanya, jika anda menganggap bahwa ada satu saham bluechip dan satu saham second liner tertentu yang sama-sama bakal naik 20%, maka anda tentu akan memilih yang bluechip bukan? Karena risikonya biasanya lebih rendah, dan karena sahamnya lebih likuid sehingga belinya bisa banyak. Dan dengan nilai transaksi lebih dari US$ 170 milyar per hari, NYSE adalah juga bursa saham paling likuid di dunia (sebagai perbandingan, rata-rata nilai transaksi di BEI hanya Rp7 trilyun atau US$ 500 juta per hari, atau gak nyampe 0.5% nilai transaksi NYSE).
Tapi dengan Dow akhirnya turun juga, maka para fund manager global sekarang gak punya pilihan lain kecuali kembali menyebarkan investasinya ke seluruh dunia, termasuk balik lagi ke Indonesia. Yup, salah satu faktor yang bikin pasar minus sepanjang tahun 2008 ini adalah karena aksi jual asing yang, hingga ketika artikel ini ditulis, mencapai Rp51.6 trilyun sejak awal tahun, dimana itu merupakan angka net sell asing terbesar sepanjang sejarah. Sehingga meski IHSG-nya tampak nggak turun banyak (sempet drop sampai 5,600-an tapi sekarang sudah naik lagi), tapi ini menyebabkan kondisi pasar secara umum terasa tidak nyaman, dimana ada buanyak saham yang secara fundamental no problem, demikian pula valuasinya masih murah, tapi tetep aja seperti gak mau naik (atau malah turun sendiri) cuma gara-gara asingnya lepas barang terus.
Namun dengan kondisi pasar saham Amerika saat ini, maka sekali lagi terdapat harapan bahwa asing akan kembali masuk kesini. Sehingga dengan catatan faktor-faktor lainnya tetap sama, maka ini artinya pasar akan bergerak lebih stabil kedepannya. Mudah-mudahan!
Untuk artikel minggu depan penulis akan sampaikan pandangan penulis terkait outlook pasar di tahun 2019. Tapi sebelum itu, menurut anda sendiri, bagaimana pandangannya terkait arah pasar tahun 2019 nanti? Faktor-faktor penting apa saja yang harus diperhatikan? Anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Amerika Resesi??

Dua bulan lalu, tepatnya pada tanggal 3 Oktober 2018, ada satu fakta peristiwa penting yang menarik perhatian penulis, tapi cenderung diabaikan oleh para pelaku pasar lainnya karena memang hampir gak ada beritanya: Dow Jones ketika itu kembali break new high ke level 26,828 (all time high Dow sebelumnya adalah di level 26,617, yang dicapai pada 26 Januari 2018), dan itu terjadi ketika valuasi AMZN dkk sudah amat sangat mahal, cerita perang dagang Amerika Serikat (AS) vs China juga masih ramai, plus adanya kekhawatiran krisis di negara-negara emerging market. Berdasarkan pengalaman, ini justru berarti bahwa Dow rawan untuk jatuh lagi sewaktu-waktu, dimana ketika itu terjadi maka barulah beritanya bakal ramai. Penulis kemudian menyampaikan soal kemungkinan penurunan Dow ini, plus faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pergerakan pasar secara umum, pada buletin analisis IHSG edisi Oktober, dimana intinya kita harus waspada/jangan dulu belanja saham.

Daaan ternyata benar: Masih di bulan Oktober, Dow dengan cepat drop sampai 24,442, pada 29 Oktober. Tapi mungkin karena penurunannya tidak terlalu signifikan (totalnya 8.8%), dan karena memasuki November Dow dengan cepat rebound lagi sampai 26,191, maka tetap belum ada cerita negatif apapun. However, setelah Dow kembali turun hingga menyentuh 23,593 pada 17 Desember, atau turun total 12.1% dibanding posisi tertingginya pada awal Oktober (secara psikologis, jika Dow turun lebih dari 10% dari posisi tertingginya, maka pasar saham Amerika ‘resmi’ memasuki periode bear market), maka barulah para investor dan analis di seluruh dunia seperti terbangun dari tidur: Ada apa ini?? Lalu entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul kabar bombastis: Amerika bakal resesi!
Tapi benarkah demikian? Bahwa Amerika akan resesi?? Nah, memang itulah yang akan kita bahas disini, okay kita langsung saja:
Terkait cerita ‘Amerika Resesi’ ini, maka penulis termasuk yang tidak kaget ketika isunya nongol, karena seperti yang disampaikan diatas, sejak Oktober kami sudah melihat kemungkinan Dow akan jatuh, dimana ketika itu terjadi maka barulah beritanya akan ramai, dan akan dibumbui banyak sentimen negatif. Yup, jadi ya sama saja seperti 2 – 3 bulan kemarin di Indonesia, yakni ketika IHSG berada di 5,600 – 5,700 dimana anda tentu masih ingat ketika itu ramai cerita Krisis Turki, pelemahan Rupiahdst, dan banyak juga yang mengatakan bahwa pasar bakal lanjut turun.
Tapi ketika sekarang IHSG naik lagi, maka seperti yang bisa anda lihat, hampir semua berita negatif menghilang dengan sendirinya. Jadi untuk Amerika juga sebenarnya sama saja: Kalau besok-besok Dow, S&P, dan Nasdaq naik lagi, maka kekhawatiran terkait resesi akan mereda, dan anda tidak akan lagi diganggu oleh broadcast aneh-aneh tentang krisis bla bla bla di grup whatsapp. Hanya saja disisi lain, jika penurunan Dow ternyata berlanjut, maka tentu saja cerita Amerika Resesi ini akan terdengar semakin kencang.
Kemana Arah Dow Jones Selanjutnya?
Pergerakan DJIA dalam dua tahun terakhir: Perhatikan bahwa meski Dow saat ini sudah turun lumayan, namun posisinya masih jauh lebih tinggi dibanding posisinya pada awal 2017 lalu
Dan sayangnya memang masih terdapat kemungkinan bahwa penurunan Dow akan berlanjut. You see, soal penurunan Dow Jones ini sebenarnya sudah kita bahas pada Februari 2018 lalu, dimana ketika itu Dow turun total 10.3% dari 26,616 ke 23,860 (baca lagi ulasannya disini), dan di artikel berikutnya penulis katakan bahwa penurunan tersebut bukanlah karena Amerika lagi krisis atau gimana, melainkan karena valuasi saham-saham disana sudah pada mahal saja, atau minimal sudah tidak bisa dikatakan murah lagi (istilahnya ‘price in’, baca penjelasannya disini), setelah pasar saham Amerika itu sendiri naik banyak dalam dua tahun sebelumnya.
Jadi pertanyaannya sekarang, apakah saham-saham di Amerika sana, atau dalam hal ini 30 saham komponen indeks Dow Jones Industrial Average sudah relatif murah setelah kemarin Dow itu sendiri turun banyak, atau masih mahal? Well, mari kita lihat saja datanya, sebagai berikut:
No.
Company
Price (US$ per share)
PER (x)
PBV (x)
Dividend Yield (%)
1
Travelers Companies
119.2
13.3
1.4
2.5
2
IBM
116.4
18.8
5.4
5.3
3
Walt Disney
109.2
13.1
3.3
1.6
4
DowDuPont
52.2
58.5
1.2
5.6
5
Microsoft
103.7
42.7
9.6
1.7
6
McDonald’s
179.2
27.2
-
2.3
7
Verizon Communications
55.9
7.1
4.2
4.3
8
Walmart
90.6
51.7
3.7
2.3
9
Merck
73.8
59.7
6.1
2.6
10
Procter & Gamble
91.8
24.0
4.5
3.0
11
Coca-Cola
47.9
72.8
11.2
3.2
12
Pfizer
42.0
10.6
3.4
3.2
13
UnitedHealth Group
250.3
19.6
4.8
1.3
14
Visa
131.3
29.7
10.2
0.7
15
JPMorgan Chase
97.3
12.1
1.4
2.5
16
Goldman Sachs Group
169.3
12.4
0.9
1.8
17
Home Depot
167.6
18.3
143.6
2.4
18
Caterpillar
122.3
19.4
4.6
2.6
19
Exxon Mobil
70.8
13.0
1.6
4.4
20
United Technologies
113.8
18.3
2.8
2.4
21
Chevron
107.8
14.5
1.3
4.1
22
Cisco Systems
43.1
164.7
4.4
2.9
23
Johnson & Johnson
127.6
224.3
5.3
2.7
24
American Express
98.8
23.8
3.9
1.4
25
3M
190.0
25.5
10.8
2.7
26
Boeing
319.6
18.8
-
2.0
27
Walgreens Boots Alliance
73.3
14.5
2.7
2.2
28
NIKE
69.0
54.7
12.2
1.1
29
Apple
160.9
13.5
7.1
1.6
30
Intel
45.6
14.2
2.9
2.5
Catatan:
  1. Data diambil dari www.finance.yahoo.com, dimana untuk PBV McDonald’s dan Boeing memang nggak ada datanya. Semua angka diatas adalah per tanggal 20 Desember 2018, ketika Dow berada di posisi 23,324. Untuk melihat valuasi Travelers Companies, misalnya, maka klik disini.
  2. Angka PER yang diambil adalah trailing PER, yakni PER yang dihitung berdasarkan angka laba bersih terbaru perusahaan. Jika laba perusahaan diasumsikan akan naik, maka PER-nya di masa yang akan datang, atau forward PER-nya juga bisa turun. Dan karena ke-30 perusahaan diatas rata-rata labanya tahun ini masih pada naik semua, maka PER-nya nanti bisa saja turun/forward PER-nya lebih rendah dibanding trailing PER-nya.
  3. Untuk dividend yield juga sama, dimana yang diambil adalah trailing dividend yield, sehingga realisasi dividen untuk tahun depan mungkin lebih besar jika laba perusahaan pada tahun ini naik.
  4. Beberapa perusahaan mencatat PER yang rendah namun PBV-nya sangat tinggi, karena memang ROE-nya juga sangat besar. Contohnya Home Depot, dimana ROE-nya mencapai 500%.

Okay, sekarang kita analisis. Dari tabel diatas dimana angka PBV rata-rata cukup tinggi dibanding PER, maka bisa kita katakan bahwa secara return on equity (ROE), ke-30 perusahaan komponen Dow mayoritas membukukan ROE yang cukup besar, yakni sekitar 20 – 30% (sebagai perbandingan, jika suatu saham PER-nya 10 kali, sedangkan PBV-nya 2 kali, maka ROE-nya adalah 20%), dan itu lebih tinggi dibanding level ROE di Indonesia dimana Astra International dkk ROE-nya terakhir hanya di kisaran 15% saja. Kinerja para emiten Amerika yang lebih baik dibanding Indonesia juga sekaligus menjelaskan kenapa Dow naik lebih banyak dibanding IHSG dalam lima tahun terakhir (antara Desember 2013 – Desember 2018, Dow naik total 48.6%, sedangkan IHSG hanya naik 38.6%).
Namun disisi lain, jika menggunakan standar valuasi yang sama dengan di Indonesia, maka saat ini valuasi IBM dkk sudah (dan masih) mahal, dimana PER-nya rata-rata mencapai 15 – 20 kali, sedangkan PBV-nya juga sudah mencapai 2, 3, atau 4 kali (kecuali PBV perusahaan minyak dan perbankan, yang mungkin karena dipengaruhi fluktuasi harga minyak, serta isu kenaikan suku bunga The Fed yang selalu diulang-ulang). Sekali lagi perlu dicatat bahwa itu adalah valuasi ketika Dow sudah turun ke level 23,000-an, dan bukan ketika kemarin masih berada di level 26,000-an. Mengingat kinerja para perusahaan yang masih bagus, maka memang tidak realistis jika kita katakanlah mau beli saham Apple pada harga yang mencerminkan PER 7 kali, tapi PER 10 – 11 kali tentunya masih sangat mungkin bukan? Karena beberapa tahun lalu PER Apple memang stabilnya disitu, dan baru naik tinggi sampai sempat tembus 19 kali (sebelum sekarang turun lagi ke 13 kali) dalam dua tahun terakhir. Demikian pula saham-saham yang lain, dimana meski valuasi mereka turun signifikan seiring dengan penurunan harga sahamnya sejak Oktober 2018 kemarin, tapi valuasi mereka saat ini mayoritas masih lebih tinggi dibanding dua atau tiga tahun yang lalu.
Karena itulah, diatas penulis sudah sampaikan bahwa Dow masih mungkin untuk lanjut turun lagi. Namun soal seberapa dalem Dow bakal turun, maka seharusnya juga tidak akan terlalu dalem, karena problemnya disini hanya terkait valuasi para emiten disana saja, dan bukan karena ada problem ekonomi. Yep, beberapa analis luar negeri mengatakan bahwa posisi bottom Dow adalah sekitar 20,000, dan penulis sependapat dengan itu, selain karena berdasarkan pengalaman, koreksi pasar yang ‘sehat’, yakni koreksi untuk mengembalikan valuasi saham-saham ke level yang seharusnya/nggak mahal lagi (jadi sekali lagi, bukan karena kinerja perusahaan lagi jelek, atau karena ada krisis), adalah jika Dow turun 20 – 25% dari posisi tertingginya, tapi nggak lebih dari itu. Karena posisi tertinggi Dow adalah 26,828, maka artinya target penurunannya adalah sampai kurang lebih 20,000 – 21,000. Well, sedikit lagi lah :D Termasuk jika ada yang bilang bahwa tahun 2019 nanti pasar saham Amerika bakal lesu, maka itu juga penulis setuju karena, well, dalam satu dekade terakhir Dow Jones dkk memang sudah naik buanyak banget sejak terakhir krisis tahun 2008 lalu, jadi ya mau naik sampai berapa lagi?? Sedangkan sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia, pertumbuhan ekonomi yang riil di Amerika juga tidak bisa terlalu tinggi (3 – 4% per tahun sudah sangat bagus, beda dengan Indonesia yang mencapai 5 – 6%). Jadi tentu sangat normal jika pasar saham Amerika ‘beristirahat’ dulu sejenak dari rally panjangnya, dimana kalau Dow nggak turun maka minimal stagnan lah, sebelum baru tahun 2020 atau 2021 nanti lanjut naik lagi.
Tapi Pak Teguh, bagaimana dengan berita bahwa Amerika katanya sedang resesi? Bukankah kalau Amerika beneran krisis maka Dow bakal turun lebih dalem lagi?? Nah, sebenarnya kalau kita baca-baca lagi data ekonomi makro Amerika (paling gampang lihat di www.tradingeconomics.com), kemudian menganalisa kinerja emiten di Amerika seperti yang sudah saya kerjakan pada tabel diatas, hingga baca tulisan-tulisan dari analis beneran (jadi bukan berita yang ditulis wartawan), maka kesimpulannya, gak ada resesi apapun. Sebelumnya perlu dipahami bahwa definisi dari ‘resesi’ adalah satu periode dalam perputaran siklus ekonomi dimana kegiatan ekonomi masyarakat (investasi dan konsumsi) secara umum melambat atau turun, dan perusahaan-perusahaan membukukan penurunan laba. Resesi berbeda dengan krisis, dimana ketika terjadi resesi maka pendapatan perusahaan-perusahaan mungkin akan stagnan atau turun, tapi mereka gak akan sampai bangkrut atau gagal bayar utang (itu hanya akan terjadi ketika krisis).
Namun karena perbedaan definisi inilah, maka hal-hal paling sepele sekalipun bisa langsung diberikan label sebagai ‘pertanda resesi’. Contohnya, ketika mall-mall di Amerika cenderung sepi dari orang yang berbelanja (padahal harusnya rame, karena ini sebentar lagi libur Natal), media dan orang-orang di medsos langsung menyebut itu sebagai ‘sinyal resesi’ atau semacamnya, yang kemudian dikatakan sebagai penyebab penurunan Dow Jones. Padahal jika kita mau telaah datanya sedikiiiit saja, maka akan langsung kelihatan bahwa mall sepi karena orang-orang sudah pindah ke toko online. Demikian pula isu perang dagang US vs China, yang sudah muncul sejak setahunan terakhir, tapi sampai sekarang belum ada dampak riil dari isu perang dagang tersebut terhadap ekonomi US.
Anyway, seperti yang sudah disebut diatas, jika besok-besok Dow lanjut turun, maka cerita soal resesi ini akan semakin ramai dibicarakan, dan masalahnya diatas juga sudah disampaikan bahwa Dow memang masih mungkin untuk lanjut turun lagi, so brace yourself. Tinggal pertanyaannya sekarang, jika nanti Dow beneran bablas jeblok sampai 20,000 atau lebih rendah lagi, maka gimana kira-kira pengaruhnya terhadap IHSG??
Namun berhubung artikelnya sudah cukup panjang, maka kita akan menjawab itu pekan depan.
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Januari 2019 akan terbit hari Rabu, 2 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal III 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental 30 saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Saat ini ebooknya sudah terbit, dan anda bisa langsung memesannya disini. Seperti juga analisa yang ditampilkan secara terbuka di website ini, semua ulasan saham di ebooknya disampaikan dengan bahasa yang lugas, to the point, detail, namun tetap mudah dipahami, bahkan bagi pemula sekalipun.

Halaman daftar isi ebooknya, salah satu edisi sebelumnya

Pekerjaan rutin investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. For professional stock investors and fund managers, this book is a must read!
Layanan gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis via email.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Anda pendatang baru di pasar modal? Atau sudah lama jadi investor saham tapi baru tau website ini sekarang? Kalau gitu maka anda mungkin tertarik dengan paket analisis saham berikut (silahkan klik linknya).

Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi Lestianto-


Petrosea.. Lagi!

Di ulasan minggu lalu, kita sudah membahas kemungkinan peluang di saham-saham batubara, yang rata-rata menjadi murah kembali setelah turun signifikan karena isu pembatasan impor batubara oleh China, namun dibagian akhir artikel penulis menyebutkan adanya sedikit masalah di sektor ini, yakni kinerja para emiten yang kurang meyakinkan/laba mereka banyak yang turun, sehingga otomatis dividen mereka di tahun 2019 nanti juga bakal turun. Sementara untuk emiten batubara yang kinerjanya bagus, valuasi sahamnya masih relatif tinggi. Jadi pilih mana?

Namun dengan melihat rasio-rasio keuangan yang ada, maka untuk menjawab pertanyaan diatas sebenarnya nggak terlalu sulit: Dengan kenaikan laba lebih dari dua kali lipat pada Kuartal III 2018, ROE 12.8% dan berpeluang untuk kembali naik di masa yang akan datang (penjelasannya dibawah), historis pembayaran dividen yang bagus, dan yang paling penting PBV-nya juga cuma 0.65 kali (pada harga 1,750), maka saham Petrosea (PTRO) mungkin bisa dipertimbangkan. Okay, mari kita telisik lagi perusahaannya dari awal.


Salah satu truk pengangkut batubara (atau lapisan tanah) milik PTRO, di lokasi tambang.

Petrosea adalah perusahaan kontraktor tambang batubara (baca: perusahaan yang menggali batubara milik perusahaan lain), jasa engineering dan konstruksi infrastruktur tambang, dan jasa pendukung kegiatan tambang migas. Namun sebagian besar pendapatan perusahaan berasal dari kontraktor tambang batubara saja, dan karena itulah kinerja PTRO hampir sepenuhnya tergantung oleh perkembangan industri batubara. PTRO dimiliki dan dikendalikan oleh Indika Energy (INDY), sekaligus merupakan bagian kecil dari jaringan usaha energi terintegrasi milik INDY (selain PTRO, INDY juga punya usaha kapal, pembangkit listrik, pelabuhan, jasa pengangkutan batubara, dan tambang batubara itu sendiri). Klien terbesar PTRO, PT Kideco Jaya Agung, adalah juga anak usaha dari INDY sejak Desember 2017 lalu (sebelum itu, INDY hanya memegang 40% saham Kideco). Dan Kideco sejak tahun 2017 lalu sudah meminta PTRO untuk meningkatkan volume produksi batubara, seiring dengan mulai naiknya harga batubara ketika itu. Sebagai perusahaan batubara terbesar ketiga di Indonesia (setelah Kaltim Prima Coal, dan Adaro Energy), Kideco sebenarnya punya beberapa kontraktor untuk menggali batubara miliknya, namun PTRO diuntungkan karena statusnya sebagai sesama anak usaha INDY.
Nah, diatas sudah disebutkan bahwa kinerja PTRO, secara historis, tergantung oleh perkembangan industri batubara, dalam hal ini naik turunnya harga batubara di pasar internasional. Tapi yang juga perlu diingat, PTRO ini perusahaan jasa tambang batubara, yang baru akan memperoleh bayaran dari klien pemilik batubaranya setelah batubara itu sendiri selesai digali dan diangkut ke pelabuhan. Ini artinya, berbeda dengan ADRO dkk yang bakal langsung cuan kalau harga batubara naik, maka pendapatan dan laba PTRO baru akan tampak naik sekitar 1 – 2 tahun setelah kenaikan harga batubara itu sendiri.
Dan itulah yang menjelaskan kenapa pada tahun 2016 lalu perusahaan masih membukukan rugi US$ 7.8 juta, meskipun di tahun tersebut harga batubara mulai naik (dari US$ 51.7 per ton pada bulan Juni, hingga sempat menyentuh US$ 102 per ton pada November), dan PTRO baru membukukan laba di tahun 2017-nya, itupun hanya US$ 8 juta, atau masih jauh lebih kecil dibanding rekor tahun 2011 lalu yang mencapai US$ 52.6 juta. Tapi yang terpenting adalah, pada tahun 2016 – 2017 tersebut PTRO mulai sibuk gali batubara lagi, dimana itu bisa dilihat dari meningkatnya capex, dan perusahaan mulai mengambil utang modal usaha dan sewa pembiayaan untuk membeli alat-alat berat (catatan: Berbeda dengan induknya/INDY yang punya banyak utang karena memang usahanya juga ada buanyak, manajemen PTRO terbilang lebih konservatif dan hanya mengambil utang untuk tambahan modal usaha jika proyek galian batubaranya memang sudah ada). Alhasil sejak November 2016 lalu penulis sendiri sudah berkesimpulan bahwa PTRO berpeluang untuk membukukan laba di tahun 2017 dan seterusnya, dan karena itulah sahamnya tetap layak buy meski labanya ketika itu masih tampak minus, terutama karena valuasinya masih super duper murah pada harga 750 (PBV-nya cuma 0.4 kali, dan PTRO menjadi salah satu saham yang dibahas di Ebook Kuartalan ketika itu).
Waktu berlalu, dan bagaimana perkembangannya sekarang? Well, ternyata PTRO beneran kembali membukukan laba US$ 8 juta di tahun 2017, dan sampai Kuartal III 2018 kemarin laba tersebut naik lagi menjadi US$ 17.8 juta, sementara capex PTRO juga kembali meningkat dari US$ 78.2 juta di tahun 2017, menjadi US$ 112.6 juta di tahun 2018. Nilai kontrak ditangan (backlog) milik PTRO per Maret 2018 juga tercatat US$ 1 milyar, meningkat signifikan dibanding tahun 2017 yang hanya US$ 696 juta, thanks to kontrak baru yang berasal dari dua pelanggan utama perusahaan, yakni Kideco dan PT Indonesia Pratama. Dan sejak tahun 2018 kemarin PTRO kembali membayar dividen, dalam hal ini Rp61 per saham, setelah dua tahun sebelumnya dividen itu tidak dibayarkan.
Jadi kesimpulannya, jika tidak ada aral melintang, maka pendapatan serta laba PTRO akan kembali naik di tahun 2019, ROE-nya yang 12.8% tadi akan naik menjadi sekitar 15 – 20%, dan para pemegang sahamnya akan kembali menikmati dividen rutin. Sebenarnya ada satu penjelasan kenapa beberapa perusahaan tambang batubara mengalami penurunan laba ketika harga batubara masih stabil: Faktor alam seperti curah hujan yang tinggi terkadang menyebabkan batubara hasil galian gak bisa langsung dikirim ke pelabuhan untuk dijual, melainkan harus dikeringkan dulu, dan itu saja bisa makan waktu berbulan-bulan. Tapi untungnya untuk perusahaan mining service seperti PTRO, faktor alam seperti itu hampir tidak ada pengaruhnya. Karena asalkan batubaranya sudah digali dan sudah ditaroh di stockpile, maka PTRO sudah bisa menagih bayaran. Sementara soal batubaranya belum bisa dijual kerana masih basah, itu ya urusan si pemiliknya lah!
Kemudian terkait harga beli sahamnya, maka dengan mempertimbangkan faktor-faktor diatas, tidak realistis jika anda berharap bisa membeli PTRO di harga yang sama dengan harganya dua tahun lalu (di 750). Tapi, hey, pada harga sekarang yakni 1,700-an, itu juga jauh lebih baik dibanding Januari lalu dimana PTRO sempat hampir menembus 3,000 bukan? Lalu dengan PBV hanya 0.65 kali, maka PTRO jelas masih sangat murah, malah merupakan salah satu yang termurah di sektor batubara pada saat ini. Kemudian terakhir, kalau kita lihat lagi pergerakan historisnya, maka saham PTRO sedang dalam trend kenaikan jangka panjang sejak akhir 2015 lalu, dimana PTRO biasanya mengalami rally tinggi pada awal tahun hingga sekitar bulan April. Yup! Pada Desember 2015, PTRO berada di level 290, dan pada April 2016 sudah naik 86% ke level 560. Pada Desember 2016, PTRO sudah di 720, tapi naik lagi hingga 95% ke 1,410 pada April 2017. Dan terakhir pada Desember 2017, PTRO berada di level 1,660, kemudian naik sampai 1,965 di bulan April 2017, tapi sempat menyentuh 2,900 di bulan Februari-nya, alias juga naik sekitar 75%.
Nah, karena sekarang sudah bulan Desember, sedangkan posisi PTRO juga hanya sedikit lebih tinggi dibanding posisinya pada Desember 2017 lalu (1,660), atau dengan kata lain sahamnya masih melanjutkan trend kenaikan jangka panjangnya, lalu apa lagi yang anda tunggu?? Jika PTRO kembali mengulang kebiasaan rally tinggi-nya pada awal tahun, maka disini kita punya peluang profit 75 – 100%, hanya dalam tempo beberapa bulan kedepan.
However, seperti halnya saham-saham lainnya, PTRO bukannya tanpa risiko, dan dalam hal ini ada dua hal yang harus anda perhatikan. Pertama, meski diatas dikatakan bahwa manajemen PTRO jarang ngambil utang kecuali sudah ada pekerjaannya, namun faktanya nilai liabilitas PTRO terakhir mencapai US$ 329.7 juta, lumayan besar dibanding ekuitasnya yang hanya US$ 185.1 juta. Namun liabilitas PTRO bisa gede gitu karena adanya utang jangka panjang senilai US$ 115.3 juta dari INDY melalui Indo Energy Capital BV, dimana PTRO harus membayar bunga 6.45% per tahun hingga utangnya jatuh tempo tahun 2023 nanti (dan bisa diperpanjang). Masalahnya, tidak jelas duit US$ 115.3 juta itu dipake buat apa, dan kelihatannya PTRO juga sama sekali gak butuh pinjaman tersebut, karena kalau perusahaan butuh tambahan modal maka manajemen bisa nyari pinjaman sendiri ke bank.
Jadi kemungkinan INDY sengaja memberikan utang itu hanya agar PTRO setor bunga saban tahun ke perusahaan, selain setor dividen. Dan memang hingga Kuartal III 2018, PTRO membayar bunga US$ 6.0 juta atas pinjaman ini (US$ 8 juta kalau disetahunkan), dimana jika beban bunga tersebut tidak ada, maka laba PTRO harusnya mencapai US$ 23.8 juta, dan bukannya hanya US$ 17.8 juta. Ini sedikit tidak adil memang, jadi kalau Pak Lo Kheng Hong baca tulisan ini, saya titip pesen sama manajemennya, kalo bisa itu utang segera dilunasi saja lah. Beban bunga US$ 8 juta setahun itu gede banget lho, termasuk pada tahun 2016 lalu PTRO mungkin harusnya masih profit kalau beban bunga ini tidak ada.
Kemudian kedua masih terkait harga batubara, dimana kalau besok-besok harga batubara turun lebih lanjut, atau ada sentimen lain lagi setelah pembatasan impor China kemarin, maka PTRO, seperti juga saham-saham batubara lainnya, akan kembali turun. Dan mengingat likuiditasnya yang seret, maka PTRO ini bisa gampang banget turunnya kalau para pemegang sahamnya panik jualan, karena yang pasang bid juga nggak ada.
Tapi yah, disisi lain kalau sentimen yang keluar nanti malah positif, maka PTRO juga bakal gampang banget naiknya. Dan diluar fluktuasi jangka pendeknya karena sentimen bla bla bla, PTRO ini dalam jangka panjang sejak awal 2016 lalu memang naik terus kok, dimana kenaikannya tersebut selaras dengan perkembangan positif fundamentalnya (dan memang PTRO ini sudah jadi salah satu favorit penulis ketika itu), jadi kita juga nggak sedang berspekulasi pada saham gorengan nggak jelas disini. Thus, your call!
PT Petrosea, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2018: A
Rating saham pada 1,750: AA
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Desember 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Peluang di Saham Batubara?

Minggu kemarin, tepatnya pada hari Senin, 26 November, saham-saham batubara secara bersamaan turun tajam hingga 3 – 4% dalam satu hari tersebut, dan penulis sendiri ketika itu baru sadar bahwa sepanjang bulan November saham batubara cenderung turun banyak, justru ketika saham-saham di sektor lain mulai naik. Penyebabnya? Ada dua faktor: Penurunan harga batubara, yang menyusul penurunan harga minyak sebelumnya, dan sentimen negatif pembatasan impor batubara oleh China, dimana China memang salah satu konsumen batubara terbesar didunia, termasuk dari Indonesia.

Ilustrasi truk  yang tengah mengangkut batubara di lokasi tambang

Disisi lain, beberapa saham batubara turun sedemikian dalamnya hingga valuasi mereka menjadi terdiskon lagi, dimana PBV mereka tinggal nol koma sekian, sementara sekarang sudah akhir tahun, yang artinya tidak terlalu lama lagi, yakni pada April – Mei tahun depan, para emiten batubara ini rata-rata akan membayar dividen dalam jumlah yang cukup besar. Sebelumnya mungkin perlu diketahui bahwa karena model bisnisnya yang sangat simpel, yakni tinggal gali batubaranya lalu jual, maka perusahaan-perusahaan batubara umumnya tidak menginvestasikan kembali laba bersih mereka, melainkan ditarik dalam bentuk dividen untuk kemudian diinvestasikan di usaha lain, karena untuk menggali batubara itu memang nyaris gak butuh modal apapun kecuali untuk membeli alat-alat berat dan bahan bakar. Beberapa perusahaan memang juga membangun pembangkit listrik dll sebagai hilirisasi usaha batubaranya, tapi kebalikannya dengan usaha batubara itu sendiri, membangun infrastruktur seperti itu justu butuh investasi yang amat besar dan biasanya baru balik modal dalam jangka panjang 5 – 10 tahun, itupun kalau pembangunannya selesai tepat waktu. Jadi, sekali lagi, mayoritas emiten lebih suka membayar dividen saja, dimana rasio pembayaran dividen PTBA dkk mencapai lebih dari 50% laba bersih mereka setiap tahunnya.
Nah, jadi ketika saham-saham batubara turun banyak pada November kemarin, sementara saat ini sudah akhir tahun, maka valuasi mereka tidak hanya menjadi menarik dari sisi PBV, tapi juga dari sisi dividend yield. Jadi dalam hal ini kita gak cuma punya saham yang valuasinya murah, tapi juga menghasilkan keuntungan tunai (berupa dividen) yang lumayan.
Untuk informasi selengkapnya, berikut adalah daftar saham-saham tambang batubara dan jasa tambang batubara yang terbilang royal dividen. Sebelumnya mungkin perlu dicatat bahwa selain emiten-emiten yang disebut dibawah ini, ada dua emiten batubara yang juga royal dividen yakni Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Mitrabara Adiperdana (MBAP), dimana dividend yield mereka totalnya bisa lebih dari 10%. Namun karena kedua perusahaan membayar dividennya dua kali dalam setahun, maka jadilah dividen yang besar tersebut menjadi tampak kecil karena dibagi dua, dan alhasil faktor dividen tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap pergerakan sahamnya pada awal tahun.
Ticker
Net Earnings
EPS
DPR
Dividend
Price
Dividend Yield
PTBA
5,240
455
82.0
373
3,870
9.6
ADRO
6,254
196
26.6
52
1,220
4.3
HRUM
346
128
101.0
129
1,395
9.3
PTRO
261
259
54.7
141
1,635
8.7
UNTR
12,096
3,243
30.8
998
29,950
3.3
MYOH
327
148
139.6
207
1,010
20.5
Catatan:
  1. Net earnings 2018: Laba bersih hingga Kuartal III 2018 yang sudah disetahunkan, angka dalam milyaran Rupiah. Laba dalam Dollar dikonversi ke Rupiah menggunakan kurs Rp14,700 per USD.
  2. EPS: earnings per share, angka dalam Rupiah per lembar saham.
  3. DPR: dividend payout ratio, atau rasio jumlah dividen dibandingkan nilai laba bersih perusahaan dalam setahun pada tahun 2017 kemarin. Angka dalam persen. Mungkin perlu dicatat bahwa DPR untuk PTBA dan MYOH untuk tahun depan kemungkinan akan turun.
  4. Dividend: Perkiraan nilai dividen yang akan dibayar pada April atau Mei 2019 nanti, berdasarkan net earnings 2018 dan DPR-nya, angka dalam Rupiah per lembar saham, belum dipotong pajak. Dalam hal ini realisasi dividen PTBA dan MYOH mungkin lebih kecil dari angka pada tabel diatas.
  5. Price: Harga terendah saham pada penghujung November kemarin, angka dalam Rupiah.
  6. Dividend yield: Nilai perkiraan dividen dibagi harga saham, angka dalam persen.
  7. Selain emiten yang disebut diatas, ada beberapa emiten batubara lainnya yang juga royal dividen seperti Bayan Resources (BYAN) dan Toba Bara Sejahtra (TOBA), tapi karena alasan sahamnya tidak likuid maka penulis menganggap sentimen dividen tidak akan terlalu berpengaruh.
Okay, kelihatannya menarik, tapi bagaimana dengan penurunan harga batubara tadi? Well, kalau kita cek lagi harga monthly Newcastle di Indexmundi.com, maka akan langsung kelihatan bahwa, yep, batubara memang turun dari posisi tertingginya di US$120 per ton, Juli 2018 lalu, hingga sempat tembus dibawah level psikologis $100 per ton setelah ramai cerita pembatasan impor batubara oleh China, tapi harga $90 – 100 per ton tersebut jelas terbilang masih tinggi. Malah kalau melihat chart dibawah maka kita bisa pula katakan bahwa, adalah normal jika harga batubara turun dulu sejenak karena sebelumnya memang sudah naik banyak dari $93 ke $120 per ton, hanya dalam tiga bulan. Namun jika melihat trend jangka panjangnya sejak tahun 2016 lalu, maka cukup jelas bahwa harga batubara masih dalam trend naik, atau minimal belum ada tanda-tanda bahwa dia akan balik arah menjadi trend turun. Dan asalkan harga batubara bertahan di level sekarang yakni $90 – 100 per ton, maka secara teori itu sudah sangat menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan batubara di Indonesia, karena ongkos kas produksi disini cuma sekitar $30 per ton batubara yang dihasilkan (baca lagi penjelasannya disini).
Pergerakan harga batubara dalam lima tahun terakhir. Perhatikan meski harga batubara turun sejak Juli 2018, tapi posisinya saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding titik terendahnya pada tahun 2016 lalu. Sumber: Indexmundi.com

Tapi bagaimana dengan cerita China tadi? Bukankah dengan pembatasan impornya maka harga batubara bisa turun drastis? Nah, pertama, cerita pembatasan impor itu sudah sering diulang-ulang sejak dulu, mirip seperti cerita wacana penurunan harga gas bla bla bla yang bikin saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun, tapi ketika ceritanya hilang maka ya sahamnya naik lagi. Dengan kata lain, kalau nanti sentimen China ini mereda seiring dengan waktu, maka saham-saham batubara gak punya alasan lagi untuk turun lebih lanjut.
Kemudian kedua, kata kuncinya disini adalah pembatasan impor. Nah, kebanyakan orang mengetahui bahwa China adalah memang konsumen batubara terbesar di dunia, dimana pada tahun 2017, konsumsi batubara China mencapai 51% atau lebih dari separuh total konsumsi batubara dunia, namun China bukanlah berarti importir batubara terbesar. Faktanya, importir batubara terbesar di dunia adalah Jepang, kemudian baru disusul oleh China, dan China juga hanya mengimpor 14% dari total nilai impor batubara di seluruh dunia pada tahun 2017. Dan kenapa kok China impornya gak sebanyak konsumsi batubaranya? Karena tidak hanya berstatus sebagai konsumen terbesar, China adalah juga produsen batubara terbesar di dunia, dimana pada tahun 2016, produksi batubara China mencapai 46% dari total produksi batubara dunia. Yup, jadi sebagian besar kebutuhan batubara China dipasok oleh supplier dari dalam negerinya sendiri.
Jadi sebenarnya kurang relevan jika dikatakan bahwa pembatasan impor oleh China berpengaruh negatif terhadap harga batubara. Di Indonesia sendiri, rata-rata produsen batubara disini hanya mengekspor 15 – 20% produksinya ke China, sementara selebihnya dilempar ke Jepang, Korea Selatan, dan India. Fakta menarik lainnya adalah, volume konsumsi batubara China justru mulai naik lagi pada tahun 2017 lalu, setelah sebelumnya turun pada tahun 2015 dan 2016, ketika itu karena perlambatan pertumbuhan ekonomi disana, sehingga penulis ragu bahwa kalaupun benar Pemerintah China membatasi impor batubaranya, maka kebijakan itu akan bertahan lama. Kemudian meski pertumbuhan angka konsumsi batubara di negara-negara konsumen batubara terbesar seperti China, Amerika Serikat, India, dan Jepang memang cenderung stagnan, tapi pertumbuhan konsumsi batubara tertinggi justru dialami oleh negara-negara emerging market termasuk Indonesia itu sendiri. Yep, pada tahun 2017 kemarin, untuk pertama kalinya Indonesia masuk 10 besar konsumen batubara terbesar di dunia, dimana salah satu pemicunya adalah karena adanya megaproyek pembangkit listrik 35,000 MW yang sudah dicanangkan sejak Mei 2015 lalu, dimana hingga akhir tahun 2017 kemarin, kapasitas pembangkit listrik PLN telah meningkat sekitar 7,000 MW. Well, bagi anda yang terutama tinggal di kota-kota besar, anda sendiri juga mungkin bisa merasakan kalau belakangan ini sudah jarang mati lampu bukan?
However, kalau ada yang mengganjal terkait prospek saham-saham batubara, maka itu adalah kinerja para emitennya yang kurang bagus di tahun 2018 ini, dimana laba bersih mereka banyak yang turun. Penulis sendiri nggak ngerti apa masalahnya, karena nyatanya harga Newcastle masih stabil di level $90 – 100 per ton sejak tahun 2017 lalu, tapi yang jelas itu menyebabkan ADRO dkk turun lumayan sepanjang tahun 2018 ini, beberapa diantaranya bahkan balik lagi ke level rendah mereka di tahun 2016. Dalam hal ini kita sebagai investor jadi punya dua opsi, jika memang tertarik untuk masuk: Tetap mengambil saham-saham yang menawarkan dividend yield tinggi namun ada risiko sahamnya tidak bergerak naik karena orang tetap melihat penurunan laba perusahaan, atau ambil saham dengan kinerja positif namun valuasinya belum bisa dikatakan murah sehingga risikonya downside-nya pun lebih besar, seperti katakanlah PTBA atau UNTR.

Okay Pak Teguh, jadi kalau anda sendiri ambilnya saham yang mana? Nah, itu nanti kita bahas minggu depan :)

Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Desember 2018 juga sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Tahapan Karier Investor

Tak lama setelah buka rekening di sekuritas


Setelah mengikuti rekomendasi saham A, rekomendasi saham B, beberapa bulan kemudian..

Kemudian cut loss, atau pertama kali melihat saham yang dipegang/IHSG jatuh

Setelah rugi sana sini, sebagian orang mungkin menutup rekeningnya sama sekali. Namun sebagian lagi kembali belajar, baca-baca lagi dari awal tentang analisis fundamental dst.

Kemudian mulai praktek menyusun investment planning miliknya sendiri, menyeleksi saham-saham apa yang akan dibeli, menerapkan diversifikasi dll, berdasarkan ilmu yang sudah diperoleh.

Mulai profit. Terkadang masih suka rugi, tapi lebih sering profit. Nilai porto pelan-pelan mulai naik

Menyetor modal lagi ke sekuritas, sehingga sekarang ‘pelurunya’ lebih banyak. Selanjutnya rutin menyetor setiap beberapa waktu sekali, dan alhasil nilai porto meningkat lebih cepat lagi.

Profit mulai konsisten, cuek dengan naik turunnya saham, dan lebih santai dalam melakukan analisa serta eksekusi jual/beli saham. Termasuk mau untung atau rugi, udah biasa aja.

And eventually, everyday is a holiday!

Pertanyaannya, anda sekarang berada di tahap yang mana? :D

Sumber gambar: Google Images.

Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Desember 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk [...]

Prospek HM Sampoerna Setelah Peraturan Free Float

Saham Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP), seperti yang kita ketahui, menjadi saham yang paling terpukul oleh rencana penerapan bobot free float terhadap indeks LQ45, karena memang bobot HMSP yang turun paling signifikan (baca lagi ceritanya disini), dan alhasil HMSP kemarin drop dari 3,950 hingga sempet menyentuh level 3,290, sebelum kemudian naik lagi ke level 3,400-an. However, penulis sendiri tetap melihat penurunan HMSP ini dari sudut pandang value investing: Kita tahu bahwa HMSP ini barang bagus, hanya saja sejak awal valuasinya kelewat premium, dan makanya penulis sendiri nggak tertarik. Tapi kerana saat ini harganya sudah jauh lebih rendah dibanding sebelumnya (HMSP pada Januari 2018 kemarin malah sempat berada di level 5,200), maka apakah valuasinya sudah murah?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita pelajari lagi HMSP ini dari awal.
HMSP adalah perusahaan rokok tertua (berdiri sejak tahun 1913) sekaligus terbesar di Indonesia baik dari sisi nilai aset, pangsa pasar (sekitar 33% per tahun 2017), power of brand, nilai pendapatan dan laba, hingga market cap. Perusahaan adalah pemegang merk rokok kretek paling populer di Indonesia, ‘Dji Sam Soe’, dan sejak tahun 1989 juga sukses meluncurkan merk ‘A Mild’, yang sekarang menjadi ‘Sampoerna A’. HMSP listing di bursa pada tahun 1990 dengan harga perdana Rp12,600, yang setelah beberapa kali perubahan nilai nominal dan stocksplit, itu setara dengan Rp50.4 per saham (bandingkan dengan harganya saat ini yakni 3,400). Kenaikan sahamnya sebanyak total 6,600% dalam waktu hampir 30 tahun terakhir, belum termasuk dividen, kemungkinan adalah yang terbaik kedua di Bursa Efek Indonesia, setelah Unilever Indonesia (UNVR), dan itu selaras dengan kinerja fundamental HMSP dalam jangka panjang yang, meski amat sangat baik dibanding rata-rata emiten lainnya di BEI, tapi masih terhitung No.2 jika dibandingkan dengan UNVR. HMSP dulunya dimiliki dan dikendalikan oleh Keluarga Sampoerna asal Surabaya, Jawa Timur, namun sejak tahun 2005 perusahaan diakuisisi oleh Philip Morris, perusahaan rokok terbesar di dunia asal Amerika Serikat, yang juga sukses menjadi besar karena merk legendaris ‘Marlboro’. Dan sejak dipegang oleh Philip Morris, HMSP juga menjadi distributor rokok Marlboro di Indonesia.
Okay, sekarang kita gali kinerja keuangan HMSP. Ketika perusahaan diambil alih oleh Philip Morris, sempat ada kekhawatiran bahwa gaya manajemen yang sebelumnya sangat tradisional dan konservatif (mengembangkan merk, bikin rokoknya, lalu jual, that’s it) akan berubah, tapi untungnya itu tidak terjadi: Hingga Kuartal III 2018 kemarin, HMSP tetap menjadi perusahaan rokok dengan neraca yang bersih (perusahaan tidak punya aset aneh-aneh kecuali yang berhubungan dengan usaha rokoknya), zero liabilities (HMSP hampir gak punya utang bank, obligasi, atau utang lainnya yang mengandung bunga), dan nilai aset lancar terutama kas yang besar (yang biasanya akan dibayarkan sebagai dividen). Pendapatan HMSP juga konsisten naik terus dalam 5 – 10 tahun terakhir, dimana meski ini bisa kita katakan karena memang jumlah penduduk Indonesia selalu meningkat, termasuk harga rokok juga selalu naik karena inflasi (dan anehnya orang-orang tetep beli), tapi faktor lainnya adalah karena HMSP sukses menjaga posisinya sebagai market leader. Perusahaan juga terbilang sukses dalam meluncurkan merk-merk baru (U Mild atau Sampoerna U, Sampoerna Hijau, Magnum Mild), dan sukses beradaptasi dengan selera pasar dimana meski pada tahun 2014 sempat harus menutup pabriknya di Jember dan Lumajang yang memproduksi rokok sigaret kretek tangan (SKT), tapi pendapatan HMSP tetap naik karena perusahaan mampu dengan cepat berpindah ke produksi rokok sigaret kretek mesin (SKM). Beberapa problem seperti kenaikan tarif cukai rokok juga sempat menyebabkan pertumbuhan laba HMSP menjadi stagnan pada tahun 2013 – 2015, but still, secara keseluruhan perusahaan terus bertumbuh bahkan meski manajemen selalu membayar dividen sebesar 99 – 100% laba bersih HMSP setiap tahunnya (jadi hampir tidak ada dari laba bersih tersebut yang diinvestasikan kembali).
Kalau ada kelemahan, maka itu adalah kebijakan dari pihak Philip Morris yang hanya menjadikan HMSP ini sebagai cash cow dengan mengambil seluruh laba bersih sebagai dividen dan tidak menginvestasikannya kembali, jadi nggak pernah kedengeran kalau HMSP akan misalnya mengakuisisi perusahaan rokok lain, demikian pula HMSP hanya memfokuskan pasarnya di Indonesia saja (beda dengan Djarum yang juga mengekspor rokoknya), karena untuk pasar diluar negeri, Philip Morris sudah punya anak usaha yang lainnya lagi. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekuitas HMSP terbilang stagnan, dimana ketika ekuitasnya melompat menjadi Rp32.0 trilyun di tahun 2015 (dibanding Rp13.5 trilyun di tahun 2014), maka itu karena perusahaan memperoleh tambahan modal sebesar Rp20.8 trilyun dari right issue-nya di harga Rp3,080 per saham. Dalam hal ini kita bisa katakan bahwa perusahaan sudah mature, dan anda tidak bisa berharap bahwa perusahaan tumbuh pesat di masa yang akan datang. However, karena nilai dividen HMSP terus bertumbuh, hasil dari laba bersihnya yang juga terus naik, maka sahamnya tetap punya alasan untuk terus naik dalam jangka panjang, sehingga tetap layak invest.
Okay, lalu bagaimana dengan valuasinya?
Aset terbesar HMSP, seperti yang sudah disebut diatas, adalah power of brand-nya, dimana setelah dikombinasikan dengan merk Marlboro milik Philip Morris itu sendiri, maka meminjam quote dari presdir-nya, posisi HMSP sebagai market leader industri rokok di Indonesia menjadi tidak terbantahkan (di Indonesia, HMSP jualan merk rokok paling populer di Indonesia, dan sekaligus merk rokok paling populer di dunia). Sebelum tahun 2015, ROE HMSP konsisten di angka 90 – 100% per tahun, atau sama dengan UNVR, namun valuasinya kira-kira hanya dua per tiganya UNVR (jadi jika PBV UNVR 30 kali, maka PBV HMSP 20 kali), yang mungkin itu karena biar gimana, investor lebih nyaman berinvestasi pada perusahaan sabun mandi dan pasta gigi ketimbang perusahaan rokok. Nevertheless, diluar perbedaan bisnisnya antara rokok dengan barang kebutuhan sehari-hari, maka sebelum tahun 2015, fundamental HMSP sebenarnya tidak kalah dibanding UNVR sekalipun.
However, dalam rangka memenuhi kewajiban free float sebesar minimum 7.5% (apa itu free float? Baca lagi penjelasannya disini), maka pada tahun 2015, HMSP menggelar right issue dengan menerbitkan 6.7 milyar saham baru (sudah disesuaikan stocksplit) pada harga Rp3,080, yang kesemuanya diambil oleh investor publik (individual dan institusional), tapi HMSP kemudian memperoleh tambahan modal Rp20.8 trilyun. Penulis katakan ‘tapi’, karena HMSP sebenarnya sama sekali gak butuh tambahan modal tersebut, karena cashflow-nya sudah sangat lebih dari cukup untuk memenuhi modal kerja maupun capital expenditure-nya. Alhasil boleh dikatakan bahwa dana hasil right issue-nya tersebut menjadi duit nganggur, dimana sampai Kuartal III 2018, posisi kas HMSP juga masih tercatat Rp20 trilyun sekian. Keberadaan dana nganggur ini menyebabkan ekuitas HMSP meningkat signifikan, tapi karena labanya tetap atau hanya naik sedikit, maka jadilah ROE-nya turun ke level 40 – 50%. Tapi disisi lain, valuasi PBV HMSP juga turun menjadi hanya 12 – 14 kali, atau jauh lebih kecil dibanding UNVR, meski mungkin perlu juga dicatat bahwa karena lebih dari separuh nilai buku HMSP adalah uang kas yang tidak produktif, maka valuasi HMSP sejatinya masih tetap mahal.
Faktor keberadaan uang kas ini menyebabkan valuasi HMSP menjadi sulit dihitung dari sisi PBV. Namun dari sisi PER, dan valuasi HMSP bisa dilihat dari PER-nya karena perolehan laba bersih perusahaan nyaris pasti bakal stabil terus saban tahun, maka pada harga 3,400, PER HMSP tercatat 30.6 kali, masih rada mahal dibanding PER dari beberapa saham consumer goods besar dan terkemuka lainnya seperti Kalbe Farma (KLBF), Indofood CBP (ICBP) hingga Mayora Indah (MYOR), tapi jangan lupa bahwa ROE atau profitabilitas HMSP juga jauh lebih tinggi, dan setelah stocksplit-nya kemarin maka sekarang sahamnya juga sudah tidak kalah likuid dibanding saham-saham tersebut. Thus, meski penulis sendiri akan lebih suka membeli saham HMSP pada harga yang mencerminkan PER 20 – 25 kali, tapi mungkin tidak realistis untuk mengharapkan HMSP akan turun serendah itu, karena toh sampai sekarang perusahaannya masih fine-fine aja. Disisi lain, dengan dividend yield 3.1% (HMSP membayar dividen Rp107.3 per saham tahun kemarin), maka HMSP memang sudah murah, atau minimal tidak bisa disebut mahal lagi. Karena pada saat ini, yield HMSP sudah lebih tinggi dibanding rata-rata emiten bluechip lainnya.
Okay Pak Teguh, tapi bagaimana dengan rencana penerapan bobot free float terhadap indeks LQ45 yang kemarin dibahas? Bukankah dengan demikian maka HMSP tidak akan lagi disukai oleh investor institusi/para fund manager, karena pergerakan saham HMSP akan tidak lagi terlalu berpengaruh terhadap naik turunnya indeks LQ45? Well, jika rencana tersebut memang jadi dilakukan (sampai sekarang masih wacana), maka memang akan ada dampaknya dalam jangka pendek, tapi bagaimana dalam jangka panjang? Sekarang coba anda lihat lagi KLBF, ICBP, dan MYOR; Saham-saham ini mungkin tidak terlalu disukai oleh para fund manager karena alasan itu tadi, yakni bobot pengaruhnya terhadap indeks LQ45 (dan juga IHSG) tidak terlalu besar, dan makanya seringkali sahamnya tampak stagnan atau bahkan turun dalam jangka waktu yang cukup lama, tapi bagaimana jika kita melihatnya 5 – 10 tahun ke belakang? Tetap naik banyak bukan? Intinya, yang berpengaruh terhadap prospek long term sebuah saham ya tetap saja fundamentalnya, dan sebuah saham yang ‘tidak terlalu diminati fund manager’, entah itu karena alasan free float atau lainnya, tetap akan naik banyak dalam jangka panjang selama fundamentalnya mendukung. Selain saham-saham yang sudah disebut diatas, ada banyak juga saham kecil tidak likuid yang tetap profit bahkan meski likuiditasnya, atau market cap-nya, jauh lebih kecil dibanding saham-saham bluechip ‘favorit’ fund manager.
Dan HMSP ini sejak awal juga memang hanya ideal untuk investasi jangka panjaaaang diatas 5 tahun, dimana kalau horizon waktunya lebih pendek dari itu, maka anda juga mungkin gak bakal dapet apa-apa kecuali dividen. Namun jika anda bisa komitmen memegangnya as long as possible, maka faktor-faktor jangka pendek seperti rencana peraturan BEI diatas bisa diabaikan, malah justru menjadi peluang untuk membeli/tambah posisi di harga bagus. Seperti yang sudah dibahas diatas, penulis sendiri awalnya gak tertarik sama HMSP ini kerana valuasinya premium, tapi kalau di harga sekarang maka sahamnya minimal sudah bisa dipertimbangkan. Yang terpenting tentu saja, HMSP ini barang bagus, sampai sekarang masih bagus, dan keliatannya juga tidak akan ada faktor-faktor tertentu yang bisa bikin fundamentalnya menjadi buruk, entah itu dalam waktu dekat ini atau nanti. Nah, bagaimana menurut anda?
PT. HM Sampoerna, Tbk
Rating Kinerja Sembilan Bulan 2018: S
Rating Saham pada 3,400: A
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 Sudah Terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing – Advanced, Jakarta, Minggu 2 Desember

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 2 Desember 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam tempo 2 tahun. Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 2 Desember 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Eden Hazard, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Promo!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Bonus Gratis!
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special Bonus: Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Salah satu testimonial yang masuk ke inbox Instagram penulis

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 1 Desember 2018 (sehari sebelum seminar advanced, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya 

Seminar Value Investing, Jakarta, Sabtu 1 Desember

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 1 Desember 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.

Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Desember 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Promo!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta seminar bulan Oktober 2018

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Advanced, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 2 Desember 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Anjloknya HMSP, dan Peraturan Free Float?

Pada hari Jumat, 9 November kemarin, IHSG drop 1.7% setelah dua saham yang pergerakannya selama ini berpengaruh besar terhadap naik turunnya indeks, yakni HM Sampoerna (HMSP) dan Unilever Indonesia (UNVR), jeblok masing-masing 10.3% dan 4.7%, dan demikian pula sebagian besar saham lainnya turun, namun ada beberapa saham bluechip yang malah naik. Tak lama kemudian barulah muncul penyebabnya: Penurunan IHSG, yang terutama disebabkan oleh jatuhnya saham HMSP dan UNVR, adalah karena adanya rencana dari BEI untuk menyesuaikan perhitungan bobot pengaruh dari pergerakan tiap-tiap saham anggota LQ45 terhadap naik turunnya indeks LQ45 itu sendiri, dimana memang bobot HMSP dan UNVR adalah yang turunnya paling signifikan. Lebih jelasnya sebagai berikut.

Jadi begini. Selain Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG, dimana naik turunnya IHSG merupakan cerminan atau rata-rata dari pergerakan semua saham yang diperdagangkan di BEI, maka ada juga indeks LQ45, yang merupakan cerminan dari pergerakan 45 saham anggota LQ45, yang sudah diseleksi oleh tim dari BEI berdasarkan kriteria tertentu, terutama karena likuiditas perdagangannya. Jadi bisa dibilang bahwa 45 saham anggota LQ45 adalah saham-saham paling likuid di bursa. Pihak BEI sendiri melakukan evaluasi setiap enam bulan sekali dimana saham-saham yang tidak lagi memenuhi kriteria sebagai ‘saham LQ45’ akan dikeluarkan dari daftar, dan digantikan oleh saham lain sehingga jumlahnya tetap 45 saham. Anda bisa baca lagi penjelasan lebih lanjut di artikel berikut.
Kemudian, selama ini bobot pengaruh dari tiap-tiap saham terhadap indeks IHSG, dan juga indeks LQ45, itu dihitung berdasarkan kapitalisasi pasar atau market capitalization, atau market cap, dimana pergerakan saham dengan market cap besar akan lebih berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG, dibanding pergerakan saham dengan market cap yang lebih kecil. Contohnya, dengan market cap Rp400-an trilyun, maka pergerakan HMSP memberikan bobot pengaruh sekitar 6.0% terhadap pergerakan IHSG secara keseluruhan. Jadi ketika saham HMSP kemarin turun 10.3%, itu ikut menurunkan IHSG hingga 40.1 point, tapi ketika saham Transcoal Pacific (TCPI) auto reject atas sampai 20.0%, maka itu hanya menaikkan IHSG sebesar 4.6 point, karena market cap TCPI memang hanya Rp32 trilyun.
Masalahnya adalah, beberapa saham dengan market cap jumbo, termasuk HMSP, itu sahamnya tidak se-likuid saham-saham big caps lainnya seperti Bank BCA (BBCA), Astra International (ASII), hingga Bank BRI (BBRI). Atau dengan kata lain, pergerakan HMSP sebenarnya tidak benar-benar mencerminkan arah pasar, karena investor/trader yang memperjual belikan sahamnya tidak sebanyak trader yang memperjual belikan saham BBCA dan lainnya, sehingga tidak adil jika saham HMSP justru lebih berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG/indeks LQ45.
Karena itulah, kemudian diusulkan peraturan baru: Bobot pengaruh dari pergerakan tiap-tiap saham LQ45 terhadap naik turunnya indeks LQ45 itu sendiri, itu tidak lagi dihitung berdasarkan market cap perusahaan secara keseluruhan, melainkan hanya market cap free float. Jadi begini: Rumus market cap adalah harga saham dikali jumlah saham beredar. Kita ambil contoh HMSP, harga sahamnya Rp3,400, dan jumlah sahamnya 116.3 milyar lembar. Maka market capnya Rp3,400 x 116.3 milyar = Rp395.5 trilyun.
Sedangkan rumus market cap free float, atau kita singkat saja market cap FF, adalah harga saham dikali jumlah saham beredar yang dimiliki oleh investor publik, alias saham free float (disebut ‘free float’, karena saham yang dimiliki publik inilah yang bebas diperdagangkan di bursa, sedangkan saham yang dimiliki oleh pemegang saham pengendali biasanya hanya di-hold saja). Yang dimaksud ‘investor publik’ disini adalah investor yang memegang suatu saham kurang dari 5% dari total jumlah saham beredar.
Nah, balik lagi ke HMSP, jumlah saham free float-nya adalah 8.7 milyar lembar. Maka market cap FF-nya adalah Rp3,400 x 8.7 milyar = Rp29.6 trilyun, atau jauh lebih kecil dari market cap-nya diatas yang Rp395.5 trilyun.
Karena itulah, berdasarkan aturan baru dimana bobot pengaruh saham terhadap indeks LQ45 tidak lagi dihitung berdasarkan market cap-nya, melainkan hanya berdasarkan market cap FF-nya, maka saham-saham dengan porsi kepemilikan publik alias free float yang kecil, itu bobot pengaruhnya terhadap pergerakan indeks LQ45 akan turun.
Sementara untuk saham-saham dengan free float yang besar, pengaruhnya akan naik. Perubahan selengkapnya sebagai berikut. Catatan: Saham yang ditampilkan adalah saham anggota indeks IDX30, yakni saham-saham anggota LQ45 yang sudah diseleksi lebih lanjut berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, sehingga jumlahnya berkurang dari 45 menjadi 30 saham:
Saham
Bobot Penuh (%)
Bobot FF (%)
Perubahan (%)
HMSP
11.12
2.36
-8.76
UNVR
8.45
3.43
-5.02
GGRM
3.56
1.75
-1.81
ICBP
2.67
1.52
-1.15
PTBA
1.25
0.90
-0.35
BRPT
0.88
0.68
-0.20
JSMR
0.77
0.66
-0.11
WSKT
0.50
0.49
-0.01
WSBP
0.21
0.20
-0.01
ANTM
0.42
0.42
-0.00
SRIL
0.19
0.22
0.03
MEDC
0.37
0.42
0.05
BBTN
0.57
0.65
0.08
PTPP
0.21
0.30
0.09
INKP
1.78
2.07
0.29
PGAS
1.38
1.69
0.31
BSDE
0.54
0.89
0.35
BBCA
14.79
15.15
0.36
BBNI
3.47
3.96
0.49
UNTR
3.20
3.70
0.50
LPPF
0.36
0.88
0.52
SMGR
1.37
1.91
0.54
INDF
1.34
1.90
0.56
INTP
1.63
2.27
0.64
BMRI
8.11
9.26
1.15
KLBF
1.65
2.96
1.31
ADRO
1.35
2.81
1.46
BBRI
9.86
12.17
2.31
ASII
8.20
10.55
2.35
TLKM
9.77
13.84
4.07
Total
99.97
100.01
0.04
Sebelumnya perlu dicatat bahwa meski pada tabel diatas total persentasenya tidak bulat 100%, tapi itu adalah karena faktor pembulatan dari persentase bobot tiap-tiap saham. Sedangkan total yang sebenarnya adalah 100% untuk bobot penuh, dan juga 100% untuk bobot free float, sehingga perubahannya adalah 0%.
Nah, dari tabel diatas tampak jelas bahwa saham yang bobot pengaruhnya turun paling signifikan adalah HMSP dan UNVR, sedangkan saham yang bobotnya naik paling banyak adalah TLKM, ASII, dan BBRI. Ini artinya, setelah nanti peraturan free float ini diberlakukan pada Februari 2019, maka pengaruh pergerakan HMSP dan UNVR tidak akan lagi se-signifikan sebelumnya terhadap naik turunnya indeks LQ45. Sedangkan sebaliknya, pergerakan TLKM, ASII, dan BBRI akan menjadi lebih berpengaruh terhadap indeks LQ45.
Efeknya Terhadap OutlookTiap-tiap Saham
Bagi investor profesional, mereka memiliki patokan ukuran atau benchmark untuk menilai apakah kinerja portofolio mereka, dalam satu waktu periode tertentu (biasanya 1 tahun) terbilang memuaskan atau tidak. Dan patokan tersebut adalah IHSG. Yup, jadi kalau anda profit 20% dalam satu tahun tertentu, tapi pada tahun yang sama IHSG naik 25%, maka kinerja porto anda tidak bisa dikatakan bagus. Demikian pula jika anda rugi 5% ketika IHSG turun 15%, maka anda sejatinya masih beat the market.
Namun diluar IHSG, maka beberapa fund manager di perusahaan asset management, asuransi, hingga dana pensiun, terkadang juga menggunakan indeks LQ45 sebagai benchmark tadi, dimana target profit mereka adalah ‘lebih tinggi, atau minimal sama dengan naik atau turunnya indeks LQ45’. Konsekuensinya, mereka kemudian akan lebih banyak membeli saham-saham yang paling berpengaruh terhadap naik turunnya indeks LQ45, dan alhasil saham-saham big capsseperti BBCA, HMSP, dan UNVR hampir selalu menjadi pilihan utama mereka.
Tapi dengan adanya peraturan baru ini, maka otomatis HMSP dan UNVR, dan mungkin juga GGRM serta ICBP (selebihnya harusnya tidak akan berpengaruh, karena perubahan bobotnya sangat kecil), akan mulai ditinggalkan para fund manager ini, dan mereka beralih ke TLKM, ASII, dan BBRI. However, ada beberapa hal yang kemudian menjadi perhatian:
Pertama, fund manager yang lebih menggunakan indeks LQ45 sebagai patokan kinerja ketimbang IHSG, itu jumlahnya berapa banyak sih? Well, penulis sudah diskusi dengan temen-temen di reksadana, jawabannya tidak banyak. Sebagian besar fund manager ya tetep pake IHSG sebagai patokan, dan fund manager yang pake indeks LQ45 biasanya hanya karena mereka kesulitan mengalahkan IHSG itu sendiri (karena memang, hingga ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah turun 7.6% YTD, sedangkan LQ45 turun lebih signifikan yakni 13.8%, sehingga indeks LQ45 ini ‘lebih mudah untuk dikalahkan’). Sementara di kelompok investor ritel, malah boleh dibilang hampir gak ada satupun yang melihat indeks LQ45, karena mereka semua ngeliatnya ya IHSG. Untuk mudahnya biar penulis tes: Tahukah anda, berapa posisi IHSG saat ini? Anda mungkin bisa langsung menjawab: 5,800 sekian! Tapi jika saya tanya lagi, berapa posisi indeks LQ45 saat ini? Well, ada yang bisa jawab?
Nah, karena perubahan perhitungan bobot diatas hanya berlaku untuk indeks LQ45 (dan juga indeks IDX30), namun tidak atau belum berlaku untuk IHSG, maka artinya sebagian besar fund manager akan tetap membeli HMSP dan UNVR. Yep, karena ketika peraturan diatas diberlakukan, maka ketika HMSP dan UNVR ini turun, itu memang tidak akan lagi terlalu berpengaruh terhadap indeks LQ45, tapi IHSG akan tetap jatuh. Demikian pula kalau dua saham itu naik, maka IHSG akan tetap naik. Jadi bagi para fund manager yang menggunakan IHSG sebagai benchmark, maka mau tidak mau mereka tetap harus memegang dua saham consumer ini, kecuali jika nanti perubahan bobot pengaruh ini juga diberlakukan terhadap IHSG, tapi jujur saja, itu akan sulit dilakukan. Penjelasannya sebagai berikut:
Kedua, diatas disebutkan bahwa definisi ‘saham free float’ adalah saham dari suatu emiten yang dimiliki/dipegang oleh ‘investor publik’, yakni investor dengan kepemilikan kurang dari 5% dari total jumlah saham beredar.
Tapi masalahnya, ketika saham free float suatu emiten katakanlah mencapai 49% (51% selebihnya dimiliki oleh pemegang saham pengendali), maka benarkah 49% saham tersebut semuanya dimiliki oleh investor publik? Belum tentu. Karena faktanya, pemegang saham pengendali pun bisa juga memiliki/membeli saham perusahaannya sendiri menggunakan banyak rekening terpisah, dimana persentase kepemilikan untuk tiap-tiap rekening tersebut dibuat kurang dari 5%, sehingga dicatat sebagai ‘investor publik’. Ini juga menjelaskan kenapa pada beberapa emiten, kepemilikan publiknya mencapai lebih dari 50%, bahkan ada yang 70%. Contohnya? Bumi Resources (BUMI), dimana ‘kepemilikan publik’-nya mencapai 77%. Sekarang pake logika saja: Jika benar saham BUMI mayoritas dimiliki oleh investor publik, maka kenapa perusahaannya masih dikendalikan oleh Grup Bakrie??
Komposisi Pemegang Saham BUMI, dimana pemilik perusahaan adalah ‘masyarakat’, alias kita-kita semua. Congrats!
Jadi intinya, ketika data pemegang saham suatu emiten menyebutkan bahwa saham free float-nya mencapai katakanlah 1 milyar lembar, maka belum tentu saham yang beredar di publik adalah sebanyak 1 milyar juga, melainkan sebagian diantaranya tetap dikuasai oleh pemegang saham pengendali. Karena itulah, kecuali pihak BEI punya cara yang akurat untuk menghitung berapa jumlah riil saham free float dari 600-an emiten di bursa, maka penulis menganggap bahwa peraturan perubahan bobot diatas mungkin bisa berlaku untuk indeks LQ45, tapi tidak akan bisa diberlakukan untuk IHSG. Karena kalau gitu caranya maka saham model BUMI akan tiba-tiba naik kelas, menjadi saham dengan ‘fundamental yang lebih bagus’ dibanding UNVR sekalipun.
Dan karena para fund manager masih lebih banyak yang menggunakan IHSG sebagai patokan kinerja ketimbang indeks LQ45, maka yo wis, perubahan peraturan diatas tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap outlook jangka panjang dari tiap-tiap saham anggota LQ45 itu sendiri. Actually ketika pada Jumat 9 November kemarin IHSG tiba-tiba drop, maka itu lebih karena investor masih bingung saja dengan rencana peraturan baru ini. Sebab yang turun gak cuma HMSP dan UNVR, tapi TLKM yang jelas-jelas bobotnya naik pun juga malah ikut turun 2.0%. Penulis sendiri juga perlu waktu seharian untuk mempelajarinya, sebelum baru kemudian saya bisa menulis artikel ini.
Tapi setelah pasar nanti pada akhirnya mengerti soal peraturan baru ini, dan harusnya itu gak akan butuh waktu lama, maka ya sudah, saham-saham yang kemarin ‘kena hantam’ cerita bobot free float bla bla bla ini akan kembali ke posisi normalnya masing-masing.
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 Sudah Terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rupiah Menguat??

Setelah sebelumnya melemah terus, dalam seminggu terakhir Rupiah tiba-tiba saja menguat terhadap US Dollar dimana hingga ketika artikel ini ditulis, posisinya sudah dibawah level psikologis Rp15,000, tepatnya Rp14,632. Praktis, pasar pun segera meresponnya dengan positif dimana kemarin IHSG kembali naik hingga hampir saja tembus 6,000 lagi. Pertanyaannya tentu, penguatan Rupiah ini cuma sementara atau untuk seterusnya? Dan sebenarnya faktor-faktor apa saja sih yang membuat Rupiah menguat atau melemah?

Pergerakan Rupiah sejak 1 Sept 2018 sampai sekarang. Sumber: Bank Indonesia

Seperti halnya saham, secara umum ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap USD, yakni faktor jangka panjang, dan faktor jangka pendek. Untuk faktor-faktor jangka panjang, seperti dikutip dari Wikipedia, adalah sebagai berikut:
Pertama, neraca pembayaran, alias transaksi jual beli yang dilakukan orang-orang, organisasi dan perusahaan, hingga Pemerintah di Indonesia dengan negara-negara lainnya di seluruh dunia, termasuk didalamnya neraca ekspor impor. Simpelnya jika Indonesia lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor produk dan jasa, maka Rupiah akan melemah. However, defisit neraca ekspor impor tidak selalu melemahkan Rupiah, karena itu baru satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi neraca pembayaran. Contohnya, jika jumlah wisatawan mancanegara di Indonesia meningkat, maka itu akan meningkatkan permintaan terhadap mata uang Rupiah (karena wisatawan ini ya harus transaksi jual beli pake Rupiah ketika mereka berada di Indonesia), dan itu bisa mendorong neraca pembayaran menjadi surplus.
Kedua, tingkat suku bunga, atau dalam hal ini BI Rate, dimana jika BI Rate naik maka tingkat bunga di Indonesia secara umum akan naik, termasuk bunga obligasi, deposito dll juga ikut naik, dan itu bisa menarik minat investor dari luar negeri untuk menginvestasikan dana mereka disini, yang otomatis meningkatkan permintaan terhadap Rupiah.
Ketiga, inflasi. Ketika terjadi inflasi maka itu menunjukkan bahwa purchasing power Rupiah melemah, dimana harga-harga barang didalam negeri akan tampak naik, padahal sebenarnya itu karena nilai Rupiah yang turun. Dan jika pada satu waktu inflasi di Indonesia lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat (AS), maka Rupiah otomatis akan melemah. Di artikel ini penulis sudah jelaskan bahwa salah satu penyebab Rupiah dalam jangka panjang terus turun terhadap USD, adalah karena inflasi disini hampir selalu jauh lebih tinggi dibanding di AS, setiap tahunnya.
Keempat, kebijakan fiskal dan moneter, alias tingkat pendapatan serta belanja pemerintah, dimana jika angkanya defisit (pengeluaran lebih besar dibanding penerimaan pajak) maka itu juga bisa melemahkan Rupiah. Tapi disisi lain jika Pemerintah mengetatkan/menurunkan anggaran belanja, atau menaikkan tarif pajak dalam rangka agar APBN menjadi surplus, maka itu bisa melambatkan perputaran roda ekonomi, dan ujungnya bisa melemahkan Rupiah juga. Jadi dalam hal ini yang penting bukan surplus atau defisitnya, melainkan bagaimana agar kebijakan fiskal ini bisa seimbang dalam jangka panjang, alias gak defisit terus menerus, dan sebaliknya gak surplus terus menerus.
Kelima, intervensi pemerintah. Seperti halnya saham, Rupiah bisa juga fluktuatif, alias naik atau turun secara tajam dalam waktu singkat karena faktor-faktor non fundamental seperti adanya aksi spekulan domestik yang memborong USD, sehingga Rupiah melemah meski ekonomi dalam negeri sejatinya baik-baik saja. Dalam hal ini Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) atau organisasi lainnya bisa melakukan intervensi dengan membeli kembali Rupiah di pasar, sehingga harapannya Rupiah kembali menguat. Pada negara tertentu, termasuk di Indonesia, intervensi pemerintah ini bisa dilakukan secara terus menerus dalam jangka panjang.
Dan keenam, sekaligus yang paling penting, adalah kondisi fundamental ekonomi dalam negeri. Simpelnya kalau terjadi krisis maka Rupiah otomatis akan melemah, dan sebaliknya kalau ekonomi lagi bagus-bagusnya dimana usaha lancar, orang-orang mudah memperoleh pekerjaan dst, maka Rupiah juga akan menguat.
Faktor Jangka Pendek
Nah, itu diatas adalah faktor-faktor jangka panjang. Terus bagaimana dengan faktor-faktor jangka pendeknya? Ya simply berdasarkan hukum supply and demand, dimana Rupiah bisa menguat kalau permintaan terhadap Rupiah meningkat, demikian sebaliknya, dimana faktor supply and demand ini bisa berubah setiap saat. Contohnya itu tadi: Jika ada spekulan yang memborong USD, maka Rupiah bisa melemah untuk sesaat, tapi sebesar apapun modal si spekulan ini maka tetap saja dia tidak bisa terus menerus membeli USD, sehingga Rupiah bisa langsung menguat lagi. Ketika mata uang negara lain seperti Turki, Argentina dst melemah terhadap USD, maka secara psikologis itu juga bisa membuat investor yang memegang Rupiah menjadi khawatir (karena Indonesia adalah juga emerging market), sehingga mereka buru-buru menukarnya dengan USD, dan nilai Rupiah turun. Tapi ketika mata uang negara lain tersebut kembali menguat, maka rupiah juga akan ikut menguat.
Dan ketika terjadi perubahan cepat antara supply and demand, maka Rupiah bisa menjadi sangat fluktuatif: Tiba-tiba melemah, tapi tapi tak lama kemudian menguat lagi. Nah, seperti halnya saham, maka ketika harga suatu saham fluktuatif maka itu disukai akan oleh para trader/spekulan (yang berharap bisa dapet profit cepat) tapi tidak disukai oleh investor jangka panjang, maka demikian pula jika nilai tukar Rupiah fluktuatif, itu tidak akan disukai oleh pengusaha, karena mereka jadinya pusing ketika menghitung harga jual produk dan biaya produksi, terutama jika bisnisnya berhubungan dengan ekspor impor. Dalam hal inilah intervensi kemudian Pemerintah menjadi penting agar Rupiah menjadi stabil, tapi terkadang dengan adanya intervensi sekalipun, fluktuasi itu tetap terjadi.
Proyeksi Kurs Rupiah Kedepannya
Tapi mau Rupiah naik atau turun kaya gimana, pada akhirnya dia akan mengikuti fundamental ekonomi makro. Dan kabar baiknya, dari faktor-faktor jangka panjang yang mempengaruhi nilai tukar Rupiah, kesemuanya menunjukkan bahwa, yes, Rupiah memang normalnya melemah terhadap USD, tapi seharusnya tidak akan sampai bernasib seperti Turkish Lira yang nilai tukarnya terhadap Dollar jeblok hingga separuhnya (sedangkan pelemahan Rupiah sepanjang 2018 ini baru sekitar 10%). You see, ‘current account’ atau transaksi berjalan Indonesia, yang merupakan komponen dari neraca pembayaran, memang defisit sejak tahun 2012 lalu, salah satunya karena defisit neraca ekspor impor, namun angkanya hanya -1.7%, dibanding -5.5% milik negara Turki. Untuk BI Rate, angkanya juga turun terus sejak tahun 2009 hingga mencapai titik terendahnya dalam sejarah yakni 4.25% di tahun 2017, tapi belakangan dinaikkan lagi ke level 5.75% agar investor asing kembali tertarik investasi disini, dan sejauh ini dampaknya cukup terasa: Asing mulai masuk lagi, dan Rupiah turut menguat. Kenaikan suku bunga biasanya bisa berdampak negatif terhadap inflasi (baca lagi hubungan antara BI Rate, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi di artikel ini), sehingga ujungnya Rupiah bisa tetap melemah lagi, namun inflasi Indonesia sampai saat ini masih stabil di angka 3.16%, lebih rendah dibanding rata-rata inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir yang mencapai 6 – 7%, dan juga jauh lebih rendah dibanding inflasi Turki yang mencapai 25.2% (jadi kenaikan BI Rate masih aman).
Lalu soal kebijakan fiskal, APBN Indonesia sudah defisit lebih dari -2% sejak tahun 2013 (sebelumnya defisit juga, tapi rata-rata hanya 0 – 1%), dan ini mungkin turut melemahkan Rupiah karena untuk menutup defisit tersebut, Pemerintah mengambil utang luar negeri sehingga otomatis membeli Dollar (rasio debt to GDP Indonesia naik dari 23.0% di tahun 2012, menjadi 28.7% di tahun 2017). Kemudian soal intervensi Pemerintah, maka beberapa waktu lalu ketika Rupiah untuk pertama kalinya kembali tembus diatas Rp15,000 per USD, maka Kementerian Keuangan dll terbilang cepat tanggap dengan segera meluncurkan paket kebijakan pembatasan impor dll, dan itu juga berpengaruh positif terhadap Rupiah. Dan terakhir, kondisi ekonomi dalam negeri, dimana itu bisa dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi, juga stabil di kisaran 5 – 5.2%. Angka 5% ini mungkin tampak kurang mengesankan, mengingat pada tahun 2011 lalu Indonesia pernah mencatat pertumbuhan ekonomi sampai 6%, tapi perlu dilihat pula bahwa GDP nasional ketika itu masih US$ 750-an milyar, sedangkan saat ini GDP nasional sudah tembus US$ 1 trilyun. Yang itu berarti, ketika saat ini pertumbuhan ekonomi tercatat 5%, maka GDP bertambah US$ 50 milyar, atau masih sedikit lebih besar dibanding ketika pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi tercatat 6%, dimana GDP hanya bertambah US$ 45 milyar.
Kesimpulannya, beberapa faktor seperti defisit APBN dan defisit current account memang berpengaruh negatif terhadap Rupiah, namun faktor-faktor lainnya menunjukkan bahwa ekonomi kita masih aman. Sehingga sekali lagi, yep, Rupiah normalnya harus melemah, tapi pelemahannya tidak akan signifikan, apalagi sampai kejadian seperti tahun 1998. Dan itu berarti, jika sewaktu-waktu Rupiah kumat lagi dengan terjun bebas ke 15,000 atau bahkan 16,000 sekalipun (karena faktor jangka pendek supply and demand tadi), tapi pada akhirnya ya dia akan menguat lagi. Untuk bisa balik lagi ke level 12,000 – 13,000 mungkin agak berat karena diatas kita sudah menyebutkan beberapa faktor yang membuat Rupiah melemah, tapi jika kita katakan bahwa Rupiah kedepannya akan stabil di 14,000-an, maka itu adalah proyeksi yang realistis.
Nah, jadi ketika semingguan ini Rupiah menguat lagi, maka itu seperti mengkonfirmasi bahwa, yep, posisi Rupiah saat ini sudah cukup rendah, dan seharusnya gak akan melemah lebih lanjut. Rupiah tentunya masih bisa melemah lagi sesekali karena fluktuasi jangka pendek, salah satunya jika nanti ramai lagi isu perang dagang bla bla bla, tapi selama tidak ada perubahan berarti terhadap fundamental ekonomi makro, maka seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel bulan September 2018, seharusnya tidak sulit bagi Pemerintah untuk menjaga agar Rupiah, dalam jangka panjang, tetap bertahan di level sekarang.
Okay Pak Teguh, jadi saham-saham apa saja yang diuntungkan oleh penguatan atau pelemahan Rupiah ini? Lalu bagaimana juga pengaruhnya ke IHSG? Well, karena artikelnya sudah cukup panjang, maka silahkan temen-temen yang lain bantu menjawab.

Untuk artikel minggu depan kita akan membahas rencana BEI untuk menyesuaikan bobot pengaruh dari pergerakan tiap-tiap saham anggota LQ45 terhadap naik turunnya indeks LQ45 itu sendiri, dan apa pengaruhnya terhadap saham yang bobotnya dinaikkan, ataupun diturunkan.
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal seminar Value Investing, Jakarta, Sabtu & Minggu, 1 – 2 Desember 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Diskusi Investasi Saham: Pak Joeliardi Sunendar

Dear investor, penulis beberapa waktu lalu membuat video diskusi investasi saham dengan Pak Joeliardi Sunendar, dan videonya sekarang sudah jadi, bisa langsung anda lihat di Youtube. Selengkapnya sebagai berikut (ada sampai part 7, tapi yang saya tampilkan disini hanya part 5).

Soal siapa itu Pak Joel, anda bisa baca lagi profil beliau disini.
Dalam waktu dekat ini penulis juga akan membuat video-video lainnya seputar edukasi saham, market outlook dll, dan akan di posting di Youtube. Untuk informasi selengkapnya boleh langsung kunjungi channel Youtube penulis di link berikut. Semoga bermanfaat!

Ebook Kuartalan Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Nippon Indosari Corpindo (ROTI)

Penulis pertama kali membahas Nippon Indosari Corpindo (ROTI) pada Agustus 2015 (3 tahun lalu, baca lagi ulasan lengkapnya disini), ketika itu dengan kesimpulan bahwa emitennya masuk kategori wonderful company yang cocok untuk investasi jangka panjang, dan sahamnya pada harga 1,085, yang ketika itu mencerminkan PER 22.3 dan PBV 5.2 kali terbilang murah untuk ukuran saham consumer goods dengan intangiable asset berupa merk ‘Sari Roti’ yang sangat terkenal. Dan memang, ROTI kemudian naik banyak hingga sempat tembus 1,700 pada September 2016, atau mencetak profit 60% dalam waktu setahun lebih sedikit (belum termasuk dividen), dan sahamnya juga rutin menjadi salah satu dari 30 saham pilihan yang dibahas di ebook kuartalan.

However, sebenarnya ketika ROTI sudah berada diatas level 1,500-an, penulis ketika itu menganggap bahwa valuasinya sudah tidak murah lagi, sehingga kita kemudian melepasnya dan tidak lirik-lirik lagi sahamnya (ROTI tidak lagi masuk ebook kuartalan, dia lanjut naik pun kita biarken saja). Sampai tiba-tiba saja, pada Juni 2017, ROTI sudah berada di 1,200-an lagi. Namun karena perusahaan ternyata membukukan penurunan laba pada tahun 2017 tersebut, maka sahamnya tetap absen dari stockpick penulis.
Hingga akhirnya pada Kuartal III 2018 barusan, laba ROTI tercatat Rp103 milyar, naik tipis dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp97 milyar. Sebenarnya, mengingat kenaikan laba tersebut lebih karena pendapatan keuangan (laba usaha ROTI masih turun), maka ini tidak bisa dijadikan sinyal bahwa kinerja ROTI sudah kembali bertumbuh. Namun yang juga penulis perhatikan, setelah kemarin sempat drop lagi sampai 900-an, ROTI kemudian naik lagi hingga sekarang sudah di 1,080 lagi, dan kenaikannya tersebut tampak normal/bukan karena ada bandar yang mainin. Jadi apakah ini karena investor menganggap bahwa sahamnya sudah sangat murah, sehingga mereka tetap masuk meskipun kinerja ROTI masih belum meyakinkan? Atau bagaimana?
Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk melihat lagi contoh-contoh saham consumer goodslain, yang rata-rata memang cocok untuk investasi jangka panjang: Ketika Warren Buffett mulai membeli saham Coca Cola (KO), akhir dekade 1980-an lalu, kemudian di-hold saja sampai sekarang, maka apakah KO selalu membukukan kenaikan laba setiap tahunnya? Ternyata tidak. Malah antara tahun 2000 – 2010, KO membukukan laba yang cenderung stagnan, atau turun. Demikian pula di Indonesia, apakah perusahaan-perusahaan consumer yang populer seperti Unilever Indonesia (UNVR), Kalbe Farma (KLBF), Indofood CBP (ICBP), laba mereka naik terus tiap tahun? Ternyata tidak juga. Malah kalau perusahaan-perusahaan tersebut katakanlah labanya naik terus dalam lima tahun terakhir, maka ada kemungkinan bahwa dalam lima tahun berikutnya, laba mereka akan stagnan atau turun. Intinya, memang idealnya perusahaan membukukan kenaikan ekuitas serta laba setiap tahunnya dalam jangka panjang, tapi pada prakteknya itu nyaris mustahil. Termasuk laba bersihnya Berkshire Hathaway juga sering turun pada tahun-tahun tertentu (dibanding tahun sebelumnya).
Namun demikian, khusus untuk perusahaan consumer goods, ada satu faktor yang menjadi semacam garansi bahwa meskipun kinerja perusahaan tampak kurang bagus pada tahun-tahun tertentu, tapi kedepannya kinerja tersebut tetap berpeluang besar untuk naik lagi. Faktor tersebut adalah power of brand, alias kekuatan merk. Jadi intinya gini: Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dalam jangka pendek, katakanlah 1 – 2 tahun, dimana perolehan laba perusahaan dalam jangka waktu tersebut bisa saja stagnan atau turun, tak peduli meski manajemen perusahaan dll masih baik-baik saja. Tapi selama perusahaan mampu mempertahankan kekuatan merk yang dimiliki, atau dalam kasus ROTI, mempertahankan posisi perusahaan sebagai market leader di industri mass-market bread, maka dalam jangka panjang 5 – 10 tahun, kinerja perusahaan pada akhirnya tetap akan bertumbuh. Contoh riil-nya ya UNVR tadi, atau Mayora Indah (MYOR), dimana meski laba MYOR bahkan pernah turun sampai separohnya, dan sahamnya pun ikut turun, tapi tak lama kemudian laba tersebut naik lagi, dan sahamnya juga naik lagi. Bahasa kerennya, kinerja itu temporary, kadang naik kadang turun. Tapi kekuatan merk, itu abadi.
Jadi kalau ROTI membukukan penurunan laba, dan sahamnya ikut turun hingga valuasinya menjadi murah, maka justru itulah saat terbaik untuk masuk, dan actually di artikel ROTI di tahun 2015, penulis juga sudah sampaikan soal ini (bahwa waktu terbaik untuk invest di ROTI adalah ketika kinerja perusahaan turun). Hipotesa ini baru akan berubah jika katakanlah ada merk roti baru yang sukses menggeser posisi Sari Roti sebagai market leader, atau perusahaan terkena kasus hukum yang serius dll, tapi itu tidak terjadi toh?
Dan setelah penulis cek lagi, ternyata benar bahwa pada harga 900, PBV ROTI adalah persis 2.0 kali, relatif murah dibanding saham consumer goods dengan reputasi baik lainnya, dan juga lebih murah dibanding valuasi ROTI itu sendiri di tahun 2015 lalu. Jadi, yap, tidak mengherankan jika kemudian sahamnya rebound. Untuk pergerakan ROTI kedepannya tentunya masih akan tergantung pada perkembangan kinerja perusahaan, tapi penulis kira kinerja terbarunya di Kuartal III 2018 juga sudah cukup untuk mengkonfirmasi bahwa sahamnya, dengan catatan tidak terjadi force majeure, tidak akan balik lagi ke 900-an.
Jadi pilihan strateginya sekarang ada dua: Jika anda cukup yakin bahwa laba ROTI akan naik signifikan lagi, katakanlah di tahun 2019 nanti, maka boleh mulai nyicil masuk lagi dari sekarang. Tapi jika anda nggak yakin, maka boleh tunggu sampai April 2019 nanti, yakni ketika perusahaan merilis LK Kuartal I 2019, just to make sure. Manapun yang anda pilih, maka seperti saham BTPS yang dibahas kemarin, ingat bahwa ROTI ini juga hanya cocok untuk jangka panjang minimal 1 tahun. Dan sedikit catatan penting: Pada tahun 2017 kemarin ROTI menggelar right issue pada harga Rp1,275 per saham, dimana perusahaan memperoleh modal Rp1.4 trilyun yang seluruhnya digunakan untuk membangun 4 hingga 6 pabrik roti baru di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Jadi jika semuanya lancar, maka dalam 2 – 3 tahun kedepan pendapatan ROTI akan meningkat signifikan, demikian pula dengan laba bersihnya. We’ll see.
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi November 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bank BTPN Syariah (BTPS)

Sejak dulu, kalau kita hendak investasi jangka panjang di Bursa Saham Indonesia untuk simpanan pensiun atau tujuan lainnya, maka pilihan sektornya hanya ada dua: Consumer goods dan perbankan. However, bagi anda pemilik rekening syariah maka anda tentunya gak bisa membeli saham-saham perbankan, sehingga pilihannya terbatas pada saham consumer saja. Pilihan lainnya adalah saham bank syariah, namun seperti yang sudah disampaikan di artikel ini, kinerja fundamental bank syariah umumnya tidak sebagus kinerja bank konvensional. Beruntung, untuk Bank BTPN Syariah (BTPS), kalau berdasarkan kinerjanya di Kuartal III 2018 yang terbilang sangat baik, maka sahamnya mungkin bisa anda pertimbangkan. Okay, kita langsung saja.

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk, atau disingkat BTPN Syariah (BTPS), awalnya merupakan unit usaha syariah dari Bank BTPN (BTPN)yang mulai dirintis pada tahun 2010, sebelum kemudian di­-spin off (dipisahkan dari perusahaan induknya) menjadi sebuah perusahaan tersendiri dengan nama BTPN Syariah pada tahun 2014. BTPS saat ini dipegang dan dikendalikan oleh dua entitas yakni BTPN, dan pengusaha Arif Rachmat (putra dari konglomerat Theodore P. Rachmat), dengan BTPN sebagai pemegang saham mayoritas.
Nah, sejak awal penulis tertarik dengan BTPS ini karena kalau perusahaan menjalankan bisnis yang sama dengan BTPN sebagai induknya, yakni pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah alias UKM (hanya saja bedanya dengan metode syariah), maka perusahaan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi dibanding induknya tersebut. Perhatikan: BTPN mampu bertumbuh dari tadinya bank kecil menjadi bank kelas menengah (nilai aset BTPN saat ini sudah hampir tembus Rp100 trilyun), karena perusahaan sukses menjadi pionir di industri perbankan mikro yang menjangkau pelosok pedesaan di seluruh penjuru tanah air (sekali lagi, baca ulasannya disini), dimana dengan teknologi electronic data capture (EDC), maka alih-alih meminta nasabah dan konsumen untuk ke kantor bank, justru BTPN-lah yang mendatangi mereka. Yup, BTPN adalah seperti bank keliling dengan para klien seperti pemilik toko kelontong, pedagang sayur di pasar, tukang gorengan, hingga pemilik usaha home industry yang kemana-mana cuma pake sendal jepit. Dalam hal ‘menjemput bola’ seperti ini, maka BTPN bahkan lebih unggul dibanding Bank BRI (BBRI) sekalipun. Dan kabar baiknya, bunga kredit mikro umumnya jauh lebih besar dibanding bunga kredit korporasi (20 – 24% berbanding 12 – 16% per tahun), dan itulah yang kemudian menyebabkan BTPN sukses menjadi besar (demikian pula dengan BBRI, yang dulu adalah bank terbesar ketiga setelah Bank Mandiri dan Bank BCA, tapi sekarang sudah menjadi nomer satu).
However, kalau kita menyebut istilah ‘bank keliling’, maka itu identik dengan kegiatan rentenir atau lintah darat, dimana debitur biasanya dibebani bunga pinjaman yang sangat tinggi, dan BTPN tidak terhindar dari citra negatif tersebut. Dan meskipun bunga yang dibebankan oleh BTPN sejatinya jauh lebih kecil dibanding bunga dari bank/koperasi keliling tidak resmi, tapi tetap saja judulnya bunga atau ‘riba’. Sementara belakangan ini semakin banyak warga negara Indonesia yang ‘alergi’ dengan sistem bunga perbankan yang dianggap merugikan.
Jadi solusinya bagaimana? Ya dengan mengganti sistem bunga tersebut dengan sistem syariah, namun dengan tetap menggunakan infrastruktur ‘bank keliling’ tadi, dimana para agen BTPS bisa terus berkeliling ke lingkungan pedesaan (BTPS bahkan bisa mempekerjakan lulusan SMA, yang masuk ke kampung-kampung di tengah sawah menggunakan sepeda onthel), tapi kali ini yang ditawarkan bukan lagi pinjaman, melainkan modal usaha berbasis syariah. Nah! Sekarang bayangkan jika anda adalah seorang petani yang butuh modal Rp2 juta untuk membeli pupuk, tapi rumah anda terlalu jauh dari kantor bank di pusat kota (udah gitu ribet pula prosedurnya), sementara para rentenir yang tiap hari mondar mandir di kampung anda menawarkan pinjaman Rp2 juta tersebut, namun bayarnya harus Rp4 juta setelah 3 bulan. Tapi kemudian datang seorang agen dengan tanda pengenal resmi dari Bank BTPN Syariah, yang menawarkan modal usaha syariah yang tidak lagi menuntut anda untuk membayar bunga, melainkan pakai sistem bagi hasil dimana anda hanya perlu membayar sesuai dengan hasil panen, sudah gitu anda diberikan pelatihan gratis pula. Kira-kira bagaimana reaksi anda?
Karena itulah, penulis kira tidak mengherankan jika kehadiran BTPS diterima dengan sangat baik oleh masyarakat, dan perusahaan kemudian membukukan kinerja yang bahkan lebih bagus dibanding induknya: Pada tahun 2015, BTPS membukukan laba bersih Rp174 milyar, yang naik menjadi Rp422 milyar di tahun 2016, naik lagi menjadi Rp670 milyar di 2017, dan terakhir sudah mencapai Rp698 milyar untuk periode sembilan bulan di tahun 2018. Ekuitas BTPS sendiri tumbuh pesat dari tadinya Rp1.2 trilyun menjadi saat ini Rp3.7 trilyun, hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun, dimana diluar dari dana IPO-nya sebesar Rp751 milyar, seluruh peningkatan ekuitas tersebut berasal dari akumulasi laba bersih perusahaan. Bisa dikatakan bahwa BTPS memiliki dua keunggulan sekaligus, yang tidak dimiliki oleh bank lain: 1. Sistem syariah yang lebih diterima masyarakat, dan tentunya memiliki citra yang jauh lebih baik dibanding bank keliling, 2. Infrastruktur perbankan yang menjangkau pelosok pedesaan yang sudah dirintis sebelumnya oleh BTPN sebagai induk perusahaan. Fakta-fakta menarik lainnya adalah:
  1. 100% debitur BTPS adalah perempuan pra-sejahtera, dimana BTPS tidak hanya memberikan mereka modal usaha, tapi juga melakukan program pendampingan melalui bankir pemberdaya yang melatih nasabah untuk mengelola keuangan, menabung, dan membuka usaha/berdagang. Dalam hal ini BTPS menjadi satu dari sedikit bank yang benar-benar fokus pada ‘meningkatkan kesejahteraan masyarakat’, dimana debitur mereka justru berasal dari kelompok wong cilik semua.
  2. Saat ini diperkirakan terdapat 23 juta perempuan pra-sejahtera di Indonesia, sedangkan BTPS baru memiliki 3.2 juta nasabah aktif, sehingga peluang pertumbuhannya masih terbuka lebar.
  3. Dalam eksistensinya yang belum genap 10 tahun, BTPS sudah menjangkau 23 provinsi dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, dan mempekerjakan 12 ribu bankir pemberdaya. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang.
  4. Selain modal usaha, BTPS juga memberikan pinjaman syariah untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan perbaikan tempat tinggal (jadi inget acara ‘bedah rumah’), dimana sebelumnya kredit jenis ini hanya dijangkau oleh bank keliling rentenir tadi.
  5. Kelemahan kredit mikro adalah besarnya risiko gagal bayar oleh debitur, apalagi jika debitur tersebut termasuk kategori pra-sejahtera. Namun dengan program pemberdayaan yang mengiringi setiap pemberian modal/kredit konsumsi (intinya nasabah tidak hanya dikasih pinjaman modal, tapi juga dilatih/dibimbing secara intens agar bisa mengembalikan pinjaman tersebut), maka NPF gross BTPS per Kuartal III 2018 hanya 1.6%, lebih rendah dibanding rata-rata NPF gross bank syariah di Indonesia yang mencapai 3 – 4%.
Catatan: NPF atau non performing financing, adalah istilah bank syariah untuk NPL atau non performing loan, mengingat kredit yang mereka berikan ke debitur bukanlah pinjaman/loan yang menggunakan sistem bunga, melainkan pembiayaan/financing yang menggunakan sistem bagi hasil.
Selain mempekerjakan ‘bankir pemberdaya’, maka melalui ‘program daya’ dengan konsep sesama nasabah membantu satu sama lain, BTPS juga bekerjasama dengan nasabah pemilik dana yang memiliki keahlian khusus tertentu untuk memberikan pelatihan bagi ibu-ibu pra-sejahtera. This is amazing!
Kesimpulannya, well, sepertinya kita baru saja menemukan wonderful company disini, dimana cara kerja BTPS juga sangat mirip dengan Grameen Bank milik Muhammad Yunus yang terkenal itu. Tapi kemudian bagaimana dengan sahamnya?
Sayangnya pada harga 1,680, BTPS mencatat PBV 3.5 kali, dan PER 13.9 kali, lumayan tinggi terutama dalam kondisi pasar saat ini dimana ada banyak saham dari bank lain yang lebih besar, dan juga lebih terkenal, yang valuasinya lebih rendah. Selain itu, meskipun BTPS punya kinerja yang luar biasa baik dalam 3 tahun terakhir, tapi track record 3 tahun tersebut tentunya masih terlalu pendek untuk dijadikan dasar pernyataan bahwa kinerja BTPS akan tetap bagus untuk seterusnya. Sehingga sekali lagi, PBV diatas 3 kali terbilang sudah tinggi, atau minimal sudah tidak bisa dikatakan murah lagi.
Tapi berhubung di kinerja terbarunya, laba BTPS masih naik signifikan, termasuk ROE-nya juga masih sangat tinggi (disetahunkan 25.1%), maka gak realistis juga kalau mengharapkan sahamnya untuk turun dalam waktu dekat ini. Jadi dalam hal ini anda punya dua opsi: 1. Mulai beli dari sekarang untuk tujuan investasi jangka panjang, tapi nyicil saja dulu alias jangan sekaligus banyak, 2. Tunggu dulu barang 1 – 2 tahun, dimana jika BTPS tetap membukukan kinerja yang bagus, sedangkan harganya tidak berubah, maka valuasinya tetap akan turun (karena ekuitas dan laba bersih BTPS naik), dan ketika itulah anda bisa langsung beli sahamnya dalam jumlah besar. Yang perlu diingat, BTPS ini hanya cocok untuk jangka panjang. Jadi kalau anda beli sahamnya untuk nanti dijual lagi, maka boleh pertimbangkan saham lain saja.
Untuk minggu depan kita akan bahas saham lainnya sesuai laporan keuangan Kuartal III 2018, mudah-mudahan ketemu saham bagus lagi yang masih murah.
PT Bank BTPN Syariah, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2018: AAA
Rating saham pada 1,680: BBB
Ebook Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 akan terbit hari Kamis, 8 Novembermendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning – Kuartal III 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Saat ini ebooknya sudah terbit, dan anda bisa langsung memesannya disini.
Halaman daftar isi ebooknya, salah satu edisi sebelumnya
Pekerjaan rutin investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.

Layanan gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 

Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

-Renaldi [...]

Geliat Investor Muda di Pasar Saham Indonesia

Ada yang menarik ketika penulis memenuhi undangan BEI Kantor Perwakilan Kalimantan Selatan untuk mengisi sharing session (talkshow berbagi pengalaman dan tanya jawab seputar investasi saham) di Banjarmasin, Sabtu 13 Oktober kemarin: Dari 150-an peserta yang hadir, hampir semuanya merupakan mahasiswa atau karyawan berusia 20-an atau 30-an, dan hanya sedikit yang berusia diatas 40-an. Dan ini sangat berbeda dibanding ketika penulis terakhir kali mengisi acara seperti ini sebelumnya, dimana pesertanya rata-rata sudah senior secara usia. Tidak hanya para peserta talkshow, tapi para karyawan BEI Kalsel itu sendiri rata-rata masih berusia 20-an, bahkan ada yang masih fresh graduate.

Dan memang, melalui salah satunya kampanye Yuk Nabung Saham! (YNS) sejak tahun 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan juga self regulatory organization lainnya di lingkungan pasar modal seperti OJK, KPEI, dan KSEI, seperti mengubah paradigma sebelumnya bahwa pasar saham hanyalah untuk ‘orang kaya dan mapan dengan modal minimal puluhan atau bahkan ratusan juta Rupiah’, melainkan sekarang mahasiswa atau karyawan dengan modal terbatas pun bisa menjadi pemilik perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI. Jika dulu pada tahun 2002, seseorang harus menyetor minimal Rp25 juta untuk membuka rekening di sekuritas, dan di tahun 2009 turun menjadi Rp5 juta, maka sekarang setoran minimal itu turun lagi menjadi hanya Rp1 juta, relatif terjangkau bagi siapapun, sehingga ‘investasi saham’ kini tidak lagi menjadi privilege bagi kelompok masyarakat menengah keatas, melainkan sekali lagi, semua orang sekarang bisa invest di saham. Bahasa kampanye YNS di medsos juga lebih banyak ditujukan untuk investor generasi muda, dan tidak lagi kaku dan formal seperti sebelumnya.


Penulis bersama Kepala OJK Kalimantan Selatan, Bpk. Ali Ridwan, memberikan penghargaan bagi temen-temen mahasiswa pemenang kompetisi investor D-Vlog yang diselenggarakan BEI Kalsel

Dan alhasil, berdasarkan data single investor identification (SID) dari KSEI (Kustodian Sentra Efek Indonesia), saat ini sudah terdapat 1.3 juta rekening dana investor di Indonesia, meningkat sekitar 3 kali lipat dibanding tahun 2013 dimana hanya terdapat 400 ribu rekening, tapi tidak hanya itu: Saat ini sekitar 35% pemilik rekening sekuritas adalah berusia dibawah 30 tahun, dan 25% lainnya berusia 30 – 40 tahun. Sehingga bisa dikatakan bahwa mayoritas atau 60% investor ritel di pasar saham Indonesia merupakan generasi muda.
Peningkatan signifikan jumlah investor ritel ini di satu sisi menimbulkan dua problem. Pertama, saat ini dua pertiga investor domestik di market adalah investor pemula dengan pengalaman kurang dari 3 tahun, sehingga SRO dan sekuritas harus bekerja keras untuk mengedukasi mereka untuk berinvestasi itu sendiri dengan baik dan benar (ini kalau sekuritasnya bener/gak melulu orientasi ke trading), dan terutama menjaga mereka agar tidak keluar lagi dari pasar/berhenti berinvestasi ketika terjadi market bearish seperti yang memang sedang terjadi di tahun 2018 ini. Kedua, meski jumlah investor meningkat signifikan, namun sebagian besar merupakan investor dengan ‘dana coba-coba’ dimana nilai dana ini bisa jadi lebih kecil lagi dibanding dulu, karena itu tadi: Sekarang investor dengan modal Rp1 juta sekalipun sudah bisa buka rekening. Kondisi ini menyebabkan para equity sales di sekuritas memang menerima banyak nasabah baru, sehingga mereka jadi sangat sibuk dibanding sebelumnya, tapi trading fee yang mereka peroleh tidak benar-benar meningkat signifikan karena para nasabah ini berinvestasi menggunakan dana yang kecil saja.
Namun disisi lain, belakangan saya baru kepikiran bahwa meningkatnya jumlah investor secara signifikan dimana mereka mayoritas berusia muda, maka itu adalah awal yang sangat baik bagi perkembangan pasar saham Indonesia itu sendiri, dalam beberapa dekade ke depan.
Jadi begini. Yup, investor karyawan atau mahasiswa memang rata-rata modalnya kecil, tapi mereka punya aset yang sebenarnya lebih berharga dibanding modal itu sendiri: Waktu yang lebih panjang untuk menggali pengalaman dan untuk mengumpulkan modal investasi itu sendiri, dan terutama antusiasme yang lebih besar untuk belajar. Di masa lalu, tingginya minimum setoran awal untuk membuka rekening menyebabkan pasar saham menjadi eksklusif hanya untuk pengusaha sukses atau karyawan/manajer senior sebuah perusahaan, yang rata-rata sudah mapan secara usia, alias berusia 40 tahun keatas. Termasuk investor ritel paling sukses di Indonesia, Pak Lo Kheng Hong, juga baru mulai investasi saham di usia 30-an.
Tapi masalahnya adalah, kalau anda sudah senior secara usia, maka terus terang saja, anda sedikit banyak akan males kalo disuruh membaca laporan tahunan setebal ratusan halaman bukan? Atau kalau disuruh menghitung formula PER PBV bla bla bla, bahkan meskipun sudah menggunakan alat bantu Excel. Penulis sendiri sering bertemu (calon) investor yang masih bingung cara menghitung kalau saham A hari ini harganya 955, lalu besoknya naik jadi 975, maka itu naiknya berapa persen? (padahal itu cuma matematika sederhana). Kurangnya semangat dan antusiasme untuk belajar menganalisa, atau untuk melakukan pekerjaan analisa itu sendiri, menyebabkan banyak investor tidak benar-benar berinvestasi di saham, melainkan hanya gambling saja. Sudah tentu, investor pemula manapun kalau baru pertama kali buka rekening maka pasti mereka belum ngerti apa-apa/belum punya cukup pengetahuan. Tapi maksud penulis disini adalah, ketika seorang calon investor yang masih kuliah, atau baru berusia 20-an membuka rekening, maka biasanya ia akan semangat dan antusias untuk belajar, untuk menggali pengalaman, dan untuk melakukan eksperimen yang berisiko (karena nothing to lose juga toh? Kan modalnya masih kecil). Sehingga setelah 5 – 10 tahun, ia akan menjadi investor handal sarat pengalaman, plus bekal mental yang jauh lebih kuat, dan tentunya dengan modal yang lebih besar dibanding ketika ia dulu pertama kali membuka rekening.
Dan karena mayoritas investor di bursa adalah generasi muda yang sedang semangat-semangatnya untuk belajar, maka bisakah anda bayangkan bagaimana dampaknya terhadap pasar saham Indonesia itu sendiri dalam beberapa dekade kedepan? Just remember, ketika Warren Buffett mulai serius berinvestasi di saham pada tahun 1950-an, maka tidak hanya Buffett ketika itu masih berusia 20-an dengan modal yang juga kecil, tapi Bursa Wall Street juga sama sekali belum sebesar hari ini. Jadi jika anda termasuk investor generasi muda ini, maka perkenankan penulis untuk mengucapkan, congratulations! Karena anda saat ini adalah seperti Warren Buffett di tahun 1950-an, dimana yang perlu anda lakukan selanjutnya adalah keep moving forward, dan mari kita lihat lagi bagaimana hasilnya, beberapa tahun dari sekarang.
Problemnya bukan di Usia, Tapi Semangat untuk Belajar
Tapi Pak Teguh, apa itu artinya kalau saya sudah berusia 40-an atau lebih senior lagi, berarti saya sudah terlambat untuk invest di saham? Kabar baiknya, tidak juga. Sebab kata kuncinya disini bukanlah di usia kita berapa, melainkan seberapa besar semangat yang kita miliki untuk menggali pengetahuan serta pengalaman yang memang mutlak diperlukan dalam berinvestasi itu sendiri. Jadi bahkan kalaupun anda adalah seorang pensiunan berusia 60 tahun, tapi jika anda mampu dan memang seneng mengutak atik angka-angka yang ada di laporan keuangan emiten, maka anda tetap lebih baik dibanding investor usia 20-an yang kerjaannya cuma ngeliatin naik turun sahamnya setiap hari. Selain itu kalau anda bukan lagi seorang karyawan fresh graduate, maka harusnya modalnya juga lebih gede dong (sehingga hasil profitnya juga lebih gede). Kalau kita pake contoh W. Buffett sendiri, ketika ia mencapai US$ 1 billion pertamanya pada usia 55, tapi bahkan setelah itu ia tetap semangat berinvestasi dan melakukan pekerjaan analisa hingga hari ini, pada usia 88 tahun, ia menjadi jauh lebih kaya lagi. Nah, jadi dalam hal ini penulis juga perlu ingatkan kepada anda yang merasa ‘menang’ hanya karena anda masih berusia 30-an, 20-an, atau lebih muda lagi: Usia muda bukan jaminan bahwa anda pasti akan sukses sebagai investor, karena itu akan sepenuhnya bergantung pada seberapa baik anda dalam memanfaatkan waktu yang anda miliki.
Hanya memang, seperti yang sudah disebut diatas, investor yang baru mulai invest ketika ia sudah berusia mapan biasanya kurang semangat belajarnya, dibanding mereka yang sudah mulai lebih awal. Dalam hal ini pun anda tetap tidak perlu berkecil hati, karena kalaupun anda termasuk yang ‘capek’ untuk belajar ini, maka kata capek itu tidak berlaku bagi putra putri anda, dimana yang mereka butuhkan selanjutnya hanyalah mentor yang bisa diandalkan, yakni anda sendiri sebagai orang tuanya. Thus, jika anda baru pertama kali baca blog ini, maka ajaklah putra putri anda untuk ikut membacanya. Dan jika mereka tertarik, maka tinggal sisihkan saja barang beberapa juta Rupiah untuk membuka rekening di sekuritas untuk mereka (anak anda) kelola sendiri (kalau dia belum punya KTP, maka bisa rekeningnya pake nama anda sendiri dulu), lalu lihat hasilnya beberapa waktu kemudian ????
Dan mudah-mudahan dengan cara inilah, pasar saham Indonesia benar-benar akan menjadi besar suatu hari nanti, lebih besar dari pasar saham China dan Jepang sekalipun. Amin!

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Pension Class: Surabaya, Sabtu 27 Oktober

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension’. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividend serta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investor yang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.


Pembicara: Teguh Hidayat

Materi Utama:
  1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
  2. Cara memaksimalkan profit dengan cara meminimalisir risiko-risiko kerugian, sehingga investasi kita di saham menjadi sama aman-nya dengan katakanlah punya rumah kontrakan (atau bahkan lebih aman), dan pertumbuhan nilainya menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang.
  3. Cara menyusun portofolio untuk investasi jangka panjang berdasarkan dua kategori saham: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, dengan tujuan memperoleh dividend, 2. Saham-saham berfundamental amat sangat bagus yang analisanya sebatas ‘Belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dengan tujuan memperoleh capital gain, berdasarkan kaidah value investing.
  4. Ciri-ciri ‘wonderful company’, serta apa bedanya dengan saham cyclical, yakni saham yang akan di-hold paling lama 1 – 2 tahun saja (tapi jika timing-nya tepat, maka capital gain-nya justru lebih besar/bisa lebih dari 100%).
  5. Cara memanfaatkan fluktuasi pasar untuk membeli saham-saham terbaik pada harga terbaik.
  6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
  7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskan mengelola portofolio kita di saham.
Perkembangan nilai aset Warren Buffett ketika ia berusia 14 hingga 83 tahun, tapi hey, kita gak usah punya aset US$ 50 billion untuk bisa pensiun bukan?
Bonus Materi:
  1. Ciri-ciri investor berpengalaman/profesional, yang sudah siap untuk investasi jangka panjang dengan target pensiun: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
  2. Sharing pengalaman penulis ketika menemukan saham-saham untuk jangka panjang, 5 – 7 tahun lalu (dan bagaimana perkembangan perusahaannya sekarang), dan apa bedanya dengan saham-saham yang sempat populer pada masanya, namun bukan untuk jangka panjang. 
  3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, dan sudah bisa diakumulasi sejak sekarang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
Surabaya
  • Tempat: Amaris Hotel Embong Malang, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 Oktober 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mauro Icardi, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif, maka jumlah kursi dibatasi hanya untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat Kamis, 25 Oktober, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi no telp/SMS/Whatsapp 0811-1168-885 (Mira) atau 0812-2044-5202 (Nury). Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut (jika salah satu nomor slow respon, maka hubungi nomer satunya).
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama temen-temen peserta ‘Value Investing Advanced Class’, Jakarta 7 Oktober 2018
    Untuk rekaman ‘Value Investing Pension Class’, untuk saat ini belum ada, tapi nanti akan dibuatkan dan dijual, tentunya dengan harga lebih murah dibanding ikut kelasnya itu [...]

    Prospek IPO Duck King

    Kalau penulis menyebut nama PT Jaya Bersama Indo, mungkin anda tidak tahu itu perusahaan apa. Tapi kalau kita sebut Restoran Duck King, maka kemungkinan anda ‘ngeh nama tersebut, apalagi jika anda adalah pecinta kuliner seperti penulis. Yup, Restoran Duck King adalah jaringan rumah makan spesialis menu oriental yang cukup populer di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya, karena mereka memiliki gerai di banyak mall-mall besar di kota-kota tersebut. Dan kenapa mereka bisa punya banyak gerai sekaligus? Ya karena memang makanan disitu enak, sehingga pelanggan setianya ada banyak. Penulis sendiri bisa katakan bahwa, sebagai penyuka dimsum dan nasi hainan, saya sudah mencoba hampir semua restoran chinese di mall-mall di Jakarta, tapi hanya di Duck King yang saya kemudian jadi langganan.

    Dan karena perusahaan pemilik jaringan restoran Duck King ini kemudian melantai di bursa, maka jadilah sahamnya menarik untuk dianalisa. Okay, kita coba pelajari lagi perusahaannya dari awal.
    PT Jaya Bersama Indo (DUCK) baru didirikan pada tahun 2013 sebagai perusahaan holding dari beberapa anak usaha di bidang usaha pengelolaan restoran Duck King, namun restoran Duck King itu sendiri pertama kali dibuka di Senayan Trade Center, Jakarta, pada tahun 2003. Restoran pertama itu sukses besar hingga pemiliknya, masih di tahun yang sama, segera membuka restoran kedua, ketiga, dan seterusnya di wilayah Jabodetabek, termasuk membuka satu gerai restoran di Surabaya pada tahun 2004. Di tahun-tahun selanjutnya Grup Duck King terus membuka gerai baru di banyak lokasi berbeda, hingga akhirnya perusahaan memiliki lima nama/merk gerai berdasarkan jenis menu dan tingkat kemewahan restorannya, yakni 1. The Duck King, 2. The Grand Duck King, 3. The Grand Duck King Signatures, 4. Imperial Chef, dan 5. The Duck King Noodle. Terakhir pada tahun 2017, DUCK mengakuisisi 4 gerai restoran Fook Yew di Jakarta. Saat ini DUCK totalnya memiliki dan mengoperasikan 31 gerai restoran di 9 kota di Indonesia, belum termasuk jaringan restoran Fook Yew diatas, dimana itu mengukuhkan perusahaan sebagai grup restoran chinese food untuk konsumen menengah keatas terbesar di Indonesia. Dan dari dana hasil IPO-nya, perusahaan berencana untuk menambah beberapa gerai baru termasuk membuka restoran di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Dengan asumsi selera orang disana terhadap masakan chinese kurang lebih sama seperti disini, maka seharusnya DUCK juga bakal sukses besar dengan gerai-gerai barunya tersebut.
    Salah satu kunci kesuksesan DUCK dalam mengembangkan jaringan restorannya adalah kemampuan perusahaan dalam menyajikan masakan chinese tanpa menyertakan menu non-halal/babi (untuk The Duck King dan The Grand Duck King) namun dengan citarasa yang tetap otentik. Hal ini berbeda dengan restoran chinese food lainnya yang rata-rata masih menyediakan menu non-halal, sedangkan kita tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah mayoritas muslim, sehingga isu halal ini menjadi penting. Meski demikian DUCK tetap melakukan diversifikasi: Untuk restoran Imperial Chef juga menyediakan menu non-halal, dan gerainya berlokasi di daerah yang terdapat banyak warga nonmuslim.
    Nah, setelah membaca prospektusnya, berikut adalah beberapa keunggulan DUCK yang membuat sahamnya bisa dipertimbangkan.
    1.     Sejak dulu, bisnis kuliner adalah salah satu bisnis yang paling menguntungkan terutama untuk negara dengan penduduk besar seperti Indonesia, dimana syarat sukses sebuah restoran hanya satu: Citarasa menu yang enak dan disukai masyarakat. Dan DUCK memiliki syarat tersebut.
    2.     Posisi DUCK saat ini sudah merupakan market leader di Indonesia di bidang restoran chinese food, dimana jumlah gerai yang dimiliki perusahaan juga meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
    3.     Merk ‘Duck King’ sudah sangat dikenal di masyarakat perkotaan sebagai jaringan restoran chinese, lebih terkenal dibanding katakanlah Ta Wan, Din Tai Fung, Crystal Jade, Paradise Dynasty, dst.
    4.     Berbeda dengan jaringan restoran chinese food lainnya, DUCK dengan slogannya ‘no pork, no lard’ (tidak menggunakan daging dan lemak babi, kecuali untuk Imperial Chef) sukses membuat restorannya selalu dipenuhi pengunjung, yang 70% merupakan muslim.
    5.     Dengan 5 merk restorannya, plus Fook Yew yang baru diakuisisi, kini DUCK menjangkau semua lapisan konsumen mulai dari menengah kebawah, menengah keatas, hingga VVIP. Ini berbeda dengan jaringan restoran lainnya yang kalau nggak menyasar segmen menengah kebawah, ya menengah keatas.
    6.     Perkembangan teknologi termasuk munculnya aplikasi pengiriman makanan seperti Go-Food, Grab-Food dst semakin memperluas pangsa pasar perusahaan, dimana kini konsumen yang hendak makan bebek peking panggang namun males datang ke restoran (misalnya karena macet), tetap bisa memesan menu bebek tersebut dari rumah atau kantor.
    7.     DUCK benar-benar menggunakan dana hasil IPO-nya untuk ekspansi hingga keluar negeri. Dan karena saat ini DUCK baru memiliki restoran di 9 kota besar di Indonesia, maka perusahaan masih memiliki ruang yang lebar untuk membuka gerai-gerai baru, entah itu stand-alone atau di mall.
    Namun diluar ketujuh point diatas, berikut adalah beberapa poin yang juga harus anda pertimbangkan. Pertama, meski jaringan restoran Duck King sudah ada sejak tahun 2003, namun karena PT Jaya Bersama Indo itu sendiri baru berdiri tahun 2013, maka perusahaan belum memiliki track record kinerja yang cukup panjang (di prospektusnya hanya ada catatan kinerja tahun 2015 – 2017, dan bahkan belum ada laporan keuangan untuk Kuartal II 2018), dan itupun kinerjanya kurang bagus: Laba DUCK di tahun 2017 tercatat Rp72 milyar, turun dari tahun 2016 sebesar Rp89 milyar.
    Kemudian kedua, meski memiliki citarasa menu yang enak sehingga perusahaan memiliki banyak pelanggan setia, namun sebagian besar konsumen DUCK adalah dari segmen menengah keatas, karena memang harga makanan disitu nggak murah, minimal Rp100 – 150,000 per orang sekali makan. Hal ini menyebabkan DUCK tidak akan bisa se-ekspansif katakanlah Solaria, KFC, Pizza Hut, atau jaringan restoran lainnya yang harga menunya lebih terjangkau, melainkan hanya bisa buka cabang di mall besar di kota besar. Kinerja keuangan DUCK juga praktis lebih rentan terhadap risiko penurunan daya beli masyarakat, dimana kalau ekonomi melambat maka orang tentunya bakal tetep makan di warteg, tapi mungkin bakal mikir-mikir kalau mau makan disana. Terkait hal ini DUCK memang sudah mengakuisisi restoran Fook Yew untuk menjangkau konsumen menengah kebawah, tapi so far kontribusinya baru 6% dari total pendapatan perusahaan.
    Nevertheless, dengan kembali mempertimbangkan poin-poin analisa diatas yang menyebabkan DUCK ini prospektif, maka sahamnya secara umum tetap menarik, terutama karena penulis tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan seperti IPO Garudafood yang sudah kita bahas sebelumnya (baca lagi ulasannya disini), dan terutama karena penulis beranggapan bahwa, asalkan perusahaan bisa konsisten menjaga citarasa menu restorannya selama ini (karena kadang ada juga restoran yang dulunya enak, eh kesininya jadi gak enak lagi), dan Indonesia tidak mengalami konstraksi ekonomi yang serius, maka gerai-gerai baru yang akan dibangun nanti juga bakal ramai dipenuhi pengunjung, sehingga DUCK memiliki prospek jangka panjang yang cerah.
    Lalu bagaimana dengan valuasi sahamnya?
    Di IPO-nya, DUCK melepas 403 juta lembar saham baru untuk publik, yang mencerminkan 34.4% modal ditempatkan dan disetor perusahaan, pada harga Rp505 per saham, sehingga perusahaan akan memperoleh tambahan ekuitas Rp259 milyar. Karena ekuitas DUCK sebelum IPO (per akhir 2017) adalah Rp318 milyar, maka setelah IPO angkanya naik menjadi Rp577 milyar. Karena jumlah saham DUCK setelah IPO (termasuk menghitung saham employee stock allocation) adalah 1,173.8 juta lembar, maka book value-nya adalah Rp577 milyar / 1.2 milyar lembar saham, sama dengan Rp491 per saham. Maka PBV-nya 505 / 491 = 1.02 kali. Well, surprise sodara-sodara, ternyata harga IPO-nya terbilang murah, malah murah banget kalau mempertimbangkan power of brand ‘Duck King’ yang dimiliki perusahaan. Dan dalam hal ini juga penulis agak bingung: Bukannya sebelumnya dikatakan bahwa DUCK menetapkan harga IPO-nya di rentang 1,550 – 1,950 per saham? Kenapa sekarang malah turun drastis jadi cuma 505 per saham? Ini penjamin emisinya kagak pinter jualan apa gimana?
    Tapi apapun itu, sayangnya DUCK sudah akan melantai di bursa pada tanggal 10 Oktober ini, jadi sudah telat kalau anda mau ikut book building-nya sekarang. Dan dengan jumlah saham untuk publik hanya 403 juta lembar, maka penulis juga ragu kalau ada banyak investor publik yang kebagian jatah; kemungkinan yang makan masih owner-nya juga. Thus, ada kemungkinan sahamnya bakal digoreng seperti saham-saham IPO sebelumnya. Tapi kalau anda, entah gimana caranya, bisa beli DUCK ini pada harga yang tidak terlalu berbeda dengan harga perdananya yakni 505, maka anda berpeluang untuk cuan lumayan. Satu hal lagi: Selain menerbitkan saham baru untuk publik melalui IPO, DUCK juga akan menerbitkan saham baru untuk management-nya sendiri (EMSOP) secara bertahap hingga dua tahun kedepan setelah tanggal IPO-nya, dalam jumlah yang cukup besar yakni 117 juta lembar. Yang itu artinya, saham DUCK di pasar normalnya akan naik lumayan dalam dua tahun tersebut, sehingga saham baru yang diterbitkan nanti untuk diambil para direksinya bakal langsung membuat si direktur cuan, minimal diatas kertas.
    Anyway, seperti yang disebut diatas, penetapan harga IPO yang kelewat murah ini justru bikin penulis jadi bingung; Apa ada sesuatu yang kelewat dalam hitung-hitungan diatas? Dan apakah ini karena saham Sarimelati Kencana (PZZA), yang juga perusahaan restoran dalam hal ini restoran Pizza Hut, belakangan cenderung turun lagi? Ataukah harga murah itu karena pasarnya memang lagi bearish? Well, apapun itu, mari kita lihat saja bagaimana perkembangan harga sahamnya mulai hari Rabu ini, tanggal 10 Oktober.
    PT Jaya Bersama Indo, Tbk (DUCK)
    Rating Kinerja pada 2017: A
    Rating saham pada 505: AA
    Buletin Analisis Pasar/IHSG dan stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

    Jadwal Kelas Investasi SahamValue Investing Pension Class, Cara Investasi Saham Berdasarkan Metode Value Investing u/ Persiapan Dana Pensiun. Surabaya, Sabtu 27 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Surya Toto Indonesia (TOTO)

    Saham PT Surya Toto Indonesia, Tbk (TOTO) mungkin tidak termasuk saham yang diminati oleh para pelaku pasar karena likuiditasnya yang seret, namun nama perusahaan terbilang populer sebagai produsen barang-barang sanitary seperti toilet, bak kamar mandi, wastafel, dan semacamnya, sementara merk ‘Toto’ sendiri sudah seperti jaminan mutu untuk produk-produk yang berhubungan dengan kamar kecil. Perusahaan dengan intangiable asset berupa strong power of brand seperti TOTO ini biasanya cocok untuk investasi jangka panjang. Jadi ketika dalam tiga tahun terakhir sahamnya malah terus saja turun dari 700-an hingga Agustus 2018 kemarin mentok di 264, maka penulis jadi penasaran: Apa yang salah?

    Sejarah TOTO dimulai pada pada tahun 1968 ketika perusahaan, yang ketika itu masih bernama CV Surya, menjadi agen penjualan resmi untuk produk-produk sanitasi milik Toto Limited Japan (TLJ), yang merupakan produsen sanitary wares kelas dunia asal Jepang, di Indonesia. Pada tahun 1977, TOTO memperoleh lisensi dari TLJ untuk membuat produk sanitasi-nya sendiri dengan tetap menggunakan merk ‘Toto’, dan nama perusahaan berubah menjadi PT Surya Toto Indonesia. Pabrik pertama perusahaan, yang merupakan hasil joint venture antara TOTO dan TLJ, berdiri pada tahun 1978 dengan 65 orang karyawan. Hanya dua tahun kemudian yakni di tahun 1980, TOTO sudah mampu mengekspor produknya ke mancanegara. Tahun 1985, TOTO membangun satu lagi pabrik yang khusus memproduksi barang-barang fitting seperti keran air dan shower. Dan pada tahun 2006, TOTO membangun pabrik ketiganya yang memproduksi perlengkapan dapur dan produk kebutuhan rumah tangga, sekaligus merupakan upaya perusahaan untuk melakukan diversifikasi usaha. Ketiga pabrik milik TOTO kesemuanya berlokasi di Tangerang, Banten.


    Nah, entah karena pengaruh dari TLJ sebagai salah satu pemegang saham perusahaan (saat ini TLJ masih memegang 37.9% saham TOTO), atau karena faktor lainnya, namun manajemen TOTO ini type tradisional: Bikin produk lalu jual, gak mengambil utang yang berlebihan, dan selama ini perusahaan hampir gak melakukan ekspansi apapun kecuali terus mengembangkan jenis produk-produknya. Termasuk untuk pabrik yang memproduksi perlengkapan dapur, hingga Kuartal II 2018 kemarin kontribusinya masih kecil, yakni kurang dari 5% dari total pendapatan perusahaan. Sebenarnya di tahun 2018 ini TOTO sudah selesai membangun pabrik keempatnya yang berlokasi di Surabaya, yang juga memproduksi barang-barang sanitasi, tapi kita belum tahu seberapa besar nanti kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan.
    Kemudian terkait kinerja perusahaan, lesunya industri properti sejak tahun 2013 menyebabkan pendapatan TOTO menjadi stagnan, dan laba perusahaan sempat turun signifkan pada tahun 2016 (meski di tahun 2017-nya naik lagi, tapi angkanya masih lebih rendah dibanding laba tahun 2014 dan 2015). Namun sejak tahun 2017 lalu manajemen TOTO sudah memprediksi bahwa, dengan mempertimbangkan penjualan apartemen serta rumah untuk kelas menengah yang ketika itu sudah mulai naik lagi, maka pendapatan dan laba perusahaan di tahun 2018 ini berpeluang untuk meningkat. Dan memang, hingga Kuartal II 2018, TOTO membukukan laba bersih Rp145 milyar, naik 32.1% dibanding periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp109 milyar, dan terdapat peluang bahwa laba TOTO di tahun 2018 ini akan tumbuh signifikan untuk pertama kalinya sejak tahun 2013 lalu (antara tahun 2013 – 2017, laba tertinggi TOTO adalah Rp295 milyar di tahun 2014, sedangkan untuk tahun ini perusahaan berpeluang membukukan laba diatas Rp300 milyar). Jika proyeksi ini benar adanya, maka TOTO menawarkan handsome profit jika kita bisa hold sahamnya katakanlah selama 2 – 3 tahun kedepan.
    Lalu bagaimana sahamnya? Jika benar bahwa TOTO ini bagus, maka kenapa sejak November 2015 lalu sahamnya turun terus?
    Untuk menjawab pertanyaan diatas maka pertama-tama kita lihat valuasi sahamnya dulu: Lima tahun yang lalu, yakni pada Oktober 2013, saham TOTO berada pada level 380, dimana berdasarkan jumlah sahamnya ketika itu (9.9 juta lembar, sudah disesuaikan dengan stocksplit) dan juga nilai ekuitas perusahaan (Rp1,036 milyar), maka PBV-nya adalah 3.6 kali. Dengan mempertimbangkan ROE-nya ketika itu yang sangat bagus yakni 22%, sedangkan merk TOTO juga sangat populer sebagai merk toilet dll, tapi disisi lain sahamnya gak likuid (hanya 7% saham TOTO yang dimiliki investor publik), maka PBV segitu terbilang wajar: Nggak murah, tapi juga gak bisa disebut mahal. Tapi yang jelas karena TOTO sebelumnya sudah naik cukup banyak dimana pada tahun 2010, atau 3 tahun sebelumnya, saham TOTO masih berada di level 100-an, maka normalnya dia gak akan naik lebih lanjut alias ‘istirahat’ dulu, setidaknya sampai beberapa tahun berikutnya.
    Namun setelah perusahaan secara mengejutkan membukukan laba Rp296 milyar di tahun 2014, atau naik signifikan dibanding Rp236 milyar di tahun 2013 (mengejutkan, karena di tahun 2014 itu sebenernya sektor properti mulai lesu), dan ROE TOTO juga melonjak ke level 26%, maka jadilah investor berebut sahamnya, dan alhasil TOTO lanjut naik hingga sempat menyentuh 715 di bulan November 2015. Pada titik ini valuasi sahamnya sudah overvalue (PBV 5 – 6 kali), sehingga selanjutnya bisa ditebak: Jika kemudian laba TOTO turun sedikit saja, maka sahamnya bakal gampang banget turunnya. And indeed, di tahun 2015 tersebut laba perusahaan turun menjadi Rp285 milyar, dan berlanjut menjadi hanya Rp169 milyar di tahun 2016. Alhasil sahamnya terus saja turun hingga akhirnya mentok di 264, Agustus 2018 lalu.
    Tapi menariknya, setelah mentok di 264 di bulan Agustus tersebut, TOTO kemudian dengan cepat naik lagi, dan sekarang sudah di level 328. Apa penyebabnya? Well, pertama-tama itu mungkin karena investor menyadari bahwa di tahun 2018 ini, kinerja perusahaan mulai naik signifikan lagi, dan yang terpenting valuasi TOTO juga sudah mulai wajar lagi, atau bahkan undervalue. Yup, pada harga terendahnya kemarin yakni 264, maka PBV dan PER TOTO tercatat hanya 1.5 dan 9.4 kali, relatif murah jika mempertimbangkan kekuatan merk ‘Toto’ yang dimiliki perusahaan, sementara kinerja perusahaan sendiri memang mulai tumbuh lagi. Posisi saham TOTO pada hari ini juga tidak jauh berbeda dengan lima tahun lalu, yang artinya ketika diatas penulis mengatakan bahwa ‘TOTO ini normalnya bakal istirahat dulu sampai beberapa tahun kedepan’, maka statement itu benar adanya. Tapi karena dalam 5 tahun terakhir ini TOTO sudah melewati masa-masa ‘istirahat’-nya, maka artinya dalam 5 tahun berikutnya sahamnya berpeluang untuk melaju lagi, tentunya dengan asumsi bahwa kinerja bagusnya di tahun 2018 ini akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
    Kesimpulannya, jika anda sedang mencari saham untuk investasi jangka panjang yang aman/tidak terlalu dipengaruhi oleh naik turunnya IHSG, termasuk menginginkan ‘bonus’ dividen yang lumayan, maka TOTO ini bisa dipertimbangkan (TOTO membagikan sekitar 40 – 50% laba bersih tahunannya sebagai dividen), terutama karena kenaikannya dalam dua bulan terakhir adalah juga mengkonfirmasi bahwa long term downtrend-nya sudah berakhir, dimana dengan asumsi bahwa perusahaan mampu mempertahankan kenaikan labanya, maka no way sahamnya bakal mencetak new low lagi. Disisi lain, PBV TOTO pada harga 328 sudah 1.9 kali, alias gak semurah kemarin ketika dia masih di 264, dan kalau ada saham sudah naik lebih dari 30% dalam waktu kurang dari 3 bulan, maka biasanya akan ada cooling down-nya. Jadi untuk mengurangi risiko maka anda bisa membeli sahamnya secara menyicil dengan membagi dana anda menjadi tiga bagian, dimana bagian pertama bisa langsung dipake untuk beli TOTO di harga sekarang, sedangkan bagian kedua adalah untuk average down jika nanti sahamnya melandai ke kisaran 290 – 300.
    Dan bagian ketiga adalah untuk nanti beli lagi pada sekitar awal tahun 2019, yakni jika perusahaan confirm tetap membukukan kenaikan laba yang signifikan, dan selanjutnya ya sudah hold saja terus. Semoga beruntung!
    Untuk minggu depan kita akan bahas prospek IPO Duck King.
    Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Breaking News: Jumlah Emiten di BEI Tembus 600!

    Pada 28 September kemarin, Saham PT Natura City Developments Tbk (CITY), yang merupakan anak usaha dari Sentul City (BKSL), resmi melantai di bursa pada harga perdana 120. Nah, yang menarik disini bukanlah fakta bahwa harga sahamnya langsung melesat 70.0% ke posisi 204, melainkan dengan listing-nya CITY, maka di Bursa Efek Indonesia (BEI) genap sudah terdaftar 600perusahaan Tbk. Suatu prestasi membanggakan bagi BEI itu sendiri? Well, maybe not.

    Ketika penulis mulai belajar saham pada tahun 2009 lalu, saya masih ingat, di BEI hanya ada sekitar 350-an emiten. Dan sampai tahun 2015, jumlahnya hanya meningkat sedikit menjadi 400-an emiten. Lonjakan jumlah emiten di BEI memang baru terjadi dalam 2 – 3 tahun terakhir seiring dengan gencarnya sosialisasi dan ‘ajakan’ dari BEI itu sendiri kepada perusahaan-perusahaan untuk menggelar IPO. Sekilas, ini kabar bagus, karena dengan begitu maka investor menjadi punya lebih banyak pilihan saham untuk investasi, ditambah lagi ada banyak perusahaan-perusahaan populer yang akhirnya ikut go public. Namun benarkah demikian?
    Sayangnya dalam 2 – 3 tahun terakhir ini pula, anda sendiri mungkin bisa memperhatikan: Jumlah IPO memang melonjak signifikan, tapi kualitas dari penyelenggaraan IPO itu sendiri turun drastis. Kualitas yang dimaksud disini mulai dari perusahaannya (ada banyak perusahaan kecil gak jelas, yang baru berdiri tiga empat tahun lalu, tapi sudah bisa ikut IPO), nilai IPO-nya (dulu, nilai IPO itu trilyunan atau minimal ratusan milyar Rupiah, tapi kemarin sempat ada IPO senilai Rp30 milyar saja, dan jumlah saham yang ditawarkan ke publik sangat sedikit), hingga valuasi dari saham-saham yang di-IPO-kan (rata-rata muahal semua). Tapi yang paling bikin jengkel dari semuanya adalah, meski sekarang ini banyak diselenggarakan IPO, tapi sangat sulit bagi investor publik manapun untuk bisa memperoleh jatah saham IPO-nya, biasanya karena itu tadi: Jumlah saham yang ditawarkan ke publik sangat sedikit, dan bahkan saham yang sedikit ini sejak awal sudah diborong oleh entah siapa. Sehingga di beberapa emiten, investor publik sama sekali tidak memperoleh jatah saham IPO-nya.
    Dan anehnya, hampir semua saham IPO yang kecil-kecil ini langsung terbang gila-gilaan di hari-hari perdana perdagangan, bahkan ada saham yang terbang sampai 30 kali lipat hanya dalam sebulan! Tapi anehnya lagi, saham-saham tersebut langsung melesat hampir tanpa volume transaksi sama sekali. Contohnya saham CITY tadi: Begitu perdagangannya dibuka, sahamnya langsung melesat ke batas auto reject atas-nya, yakni 204. Dan berapa volume saham yang diperdagangkan hari itu? Cuma 47,500 saham alias 475 lot, semuanya pada harga 204. Atau dengan kata lain, nilai transaksinya bahkan gak nyampe 10 juta Rupiah! Sekarang pake logika saja: Jika benar bahwa dari 2.6 milyar lembar saham yang dilepas CITY itu dibeli/dimiliki oleh investor publik, maka masa iya sih gak ada sekian juta lembar saham yang langsung dilepas oleh para investor publik tadi pada harga 204? Itu profit 70% loh!
    Tapi CITY tidak sendirian. Silahkan anda cek lagi saham-saham IPO sebelum CITY ini, rata-rata ceritanya sama saja: Investor publik sulit memperoleh jatah IPO-nya, kemudian begitu listing sahamnya langsung terbang tapi nyaris tanpa volume transaksi, dan barulah setelah harganya diatas maka volumenya mulai ramai. Makanya wajar jika kemudian muncul tuduhan bahwa ketika sebuah perusahaan go public, sebenarnya yang membeli saham anyar yang diterbitkan adalah pihak owner perusahaan itu sendiri. Kemudian mereka akan melakukan transaksi kecil-kecil agar harganya dipasar naik terus (yang beli dan yang jual adalah orang yang sama, meski tentunya pake beberapa rekening berbeda), dan setelah harganya diatas maka barulah Mr. Bandar ini mulai jualan ke investor publik, sehingga mereka memperoleh keuntungan substansial yang, ironisnya, berasal dari kerugian investor. Salah satu contohnya adalah saham Campina Ice Cream Industry (CAMP), yang begitu listing pada Desember 2017 lalu langsung dikerek gila-gilaan dari harga perdana 330 hingga ke level 1,833 (sekali lagi, nyaris tanpa volume transaksi sama sekali), dan barulah setelah itu sahamnya mulai cukup ramai diperdagangkan/besar kemungkinan investor publik mulai masuk, tapi CAMP ini pelan-pelan turun hingga sekarang sudah di level 300-an lagi.
    Terus bagaimana nasib investor yang udah kadung beli CAMP ini di harga 900, 1,200, atau 1,500?? Unfortunately, CAMP bukanlah satu-satunya saham IPO yang sudah makan korban, padahal secara fundamental perusahaan terbilang bagus, dengan kinerja yang profitable serta punya merk produk yang populer (siapa yang gak tau merk es krim Campina?)
    Dilema Ketika Mengajak Perusahaan Untuk IPO
    Ketika BEI meluncurkan kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’, tahun 2015 lalu, maka yang didorong untuk ikut meramaikan pasar saham tidak hanya para investor publik pemilik dana, melainkan para perusahaan juga diajak untuk go public. Nah, untuk mengajak investor publik membuka rekening di sekuritas, maka itu relatif mudah, misalnya dengan menurunkan batas minimum setoran di sekuritas. Jaman penulis nubie tahun 2009 – 2010 dulu, kalau kita buka rekening maka harus setor minimal Rp5 juta. Tapi sekarang beberapa sekuritas mensyaratkan setoran minimal Rp1 juta saja, bahkan ada yang cuma Rp100,000. Harapannya adalah, kalaupun para investor baru ini kemudian dikepret rugi bolak balik karena belum ngerti apa-apa, maka ruginya gak akan besar karena sejak awal setorannya juga kecil, dan secara psikologis gak akan sampe bikin si investor kapok. In the end, hari gini duit seratus ribu cuma cukup buat sekali makan di Solaria buat dua orang.
    Tapi bagaimana ketika BEI mengajak perusahaan untuk IPO? Nah, seperti halnya investor publik, pemilik perusahaan juga akan mengajukan pertanyaan yang sama: Apa untungnya kalau perusahaan saya menggelar IPO? Pihak BEI normalnya akan menyebut beberapa benefit seperti, 1. Perusahaan memperoleh sumber pendanaan baru, 2. Membuat perusahaan lebih dikenal publik, 3. Meningkatkan citra serta nilai perusahan. Tapi tetap saja si pemilik perusahaan akan bertanya lagi: Saya gak peduli soal citra bla bla bla, lo kira citra itu bisa dimakan? Sekarang to the point saja lah! Berapa besar jumlah uang yang bisa kita peroleh kalau perusahaan go public?? Yep, jadi kurang lebih sama saja seperti ketika orang-orang diajak untuk buka rekening di sekuritas, dimana meski BEI mengatakan bahwa keuntungan menjadi investor adalah kita akan menjadi pemilik perusahaan bla bla bla, tapi tetap saja yang mereka tanyakan adalah, berapa besar keuntungan yang bisa kami peroleh setiap tahunnya? Setiap bulannya? Bisa gak dapetnya minimal 100% gitu per tahun? Terus bisa gak keuntungan itu ditarik sebulan sekali untuk kebutuhan sehari-hari? Saya gak mau rugi, gimana caranya agar kita invest di saham tanpa pernah rugi sedikitpun?? Dan banyak lagi pertanyaan ala pemula lainnya.
    Dan masalahnya adalah, berbeda dengan orang-orang yang diajak ‘nabung saham’ dimana mereka adalah bagian dari masyarakat umum, maka pemilik perusahaan sedikit berbeda dimana mereka rata-rata sudah sangat mapan secara finansial, sehingga mereka gak akan mau kalau diajak menggelar IPO jika hanya dengan iming-iming perusahaan bakal dapet duit sekian, melainkan mereka baru akan tertarik kalau bisa dapet duit lebih besar dari itu. Nah, bener kan? Let say anda adalah pemilik perusahaan besar dengan aset Rp5 trilyun, dan laba bersih per tahun Rp500 milyar. Kemudian anda diajak IPO dimana perusahaan anda akan dapet tambahan modal Rp300 milyar saja.. Dan setelah itupun perusahaan anda harus merilis laporan keuangan setiap kuartal, termasuk harus mematuhi peraturan ini itu yang ditetapkan oleh BEI dan OJK. Kira-kira bagaimana reaksi anda??
    Inilah yang mungkin menjelaskan kenapa saham-saham IPO sekarang ini rata-rata ‘berperilaku aneh’, karena tujuannya adalah agar pemilik perusahaan memperoleh ‘profit lebih besar’ dari yang seharusnya (meski, sekali lagi, profit ekstra itu berasal dari kerugian investor publik), dan pihak otoritas juga seperti mengabaikan hal ini karena itu tadi: Kalau cara-cara seperti ini dilarang (actually secara undang-undang, insider trading atau perdagangan saham yang dilakukan oleh dua pihak yang sama memang dilarang, tapi penerapannya sangat tidak tegas, karena insider trading ini juga sulit dibuktikan), maka juga tidak ada alasan yang cukup menarik bagi para pemilik perusahaan tadi untuk go public. Sedangkan dalam rangka mengejar ketertinggalan dibanding negara-negara tetangga (misalnya, di Bursa Malaysia terdapat 900-an emiten, dan di Singapore Exchange terdapat 1,500-an emiten), maka para perusahaan di Indonesia memang harus diberi semacam ‘insentif’ agar mereka mau menggelar IPO.
    Jadi, yap, ini seperti polisi yang mempermudah proses penerbitan SIM bagi para pemilik kendaraan bermotor, meski itu menimbulkan risiko bakal banyak terjadi kecelakaan di jalan raya. Tapi jika proses penerbitan SIM ini dipersulit, maka akan timbul protes dari perusahaan-perusahan otomotif yang kesulitan jualan. Serba salah kan?
    Lalu Bagaimana Sikap Kita Sebagai Investor?
    Sebenarnya, meski mayoritas IPO dalam beberapa tahun terakhir terbilang ‘bikin kesel’, tapi beberapa saham IPO memang layak invest, dan tidak kelihatan kalau sahamnya digoreng. Sebut saja Buyung Poetra Sembada (HOKI), Kirana Megatara (KMTR), hingga Panca Budi Idaman (PBID). Tapi memang, dibanding IPO-IPO yang terjadi sebelum tahun 2015, maka IPO-IPO jaman now seringkali langsung bikin males penulis tak lama setelah saya membaca prospektusnya. Salah satunya IPO Garudafood, yang sejatinya sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang, tapi ternyata IPO-nya ya gitu deh.

    Ini perusahaan bagus lho, baru listing Desember 2017 kemarin

    However, kalau kita balik lagi ke kaidah value investing, maka sebenarnya fenomena ‘maraknya IPO liar’ ini tidak usah dibuat pusing, karena yang perlu kita lakukan adalah cukup ignore saja saham-saham IPO tersebut (baca lagi soal cara ignore/mengabaikan saham di artikel ini), apalagi jika belum apa-apa sahamnya langsung terbang hingga valuasinya menjadi gak masuk akal, dan kita bisa tetap fokus hunting saham-saham bagus pada harga murah. Kemudian ingat bahwa, tak peduli segigih apapun Mr. Bandar dalam memain-mainkan harga suatu saham, tapi pada akhirnya harga saham tersebut akan mengikuti fundamentalnya. Yang itu artinya, kalau sebelumnya dia terbang hingga valuasinya ridiculously overvalue, maka cepat atau lambat akan turun lagi, dan sebaliknya mau dia turun kaya apa tapi kalo barangnya no problemo, maka nanti juga akan naik lagi.
    Dengan kata lain, meski saham-saham anyar yang nongol bak jamur di musim hujan ini rata-rata gorengan semua, tapi pada akhirnya mereka akan bergerak normal sesuai dengan mekanisme pasar, biasanya setelah 2 – 3 tahun sejak tanggal IPO-nya. Thus, adalah benar bahwa dengan kehadiran 600 emiten di bursa, maka kita jadi lebih punya banyak pilihan investasi, tapi khusus untuk saham-saham yang baru IPO ini maka kita gak usah buru-buru, melainkan wait n see saja dulu (termasuk melihat perkembangan kinerja perusahaan setiap kuartalnya), hingga akhirnya pergerakan sahamnya menjadi normal dengan sendirinya. Contohnya ya saham CAMP tadi, dimana meski kenaikannya kemarin mungkin memakan sejumlah korban, tapi pada kisaran harganya saat ini maka sahamnya sudah bisa dipertimbangkan kembali (tapi masih rada mahal sih, tunggu dikit lagi deh).
    Sementara bagi saham tertentu yang gak juga turun setelah beberapa waktu, maka ya sudah abaikan saja. Actually beberapa orang, dengan strategi tertentu mungkin justru bisa memperoleh keuntungan instan dari saham-saham IPO ini, dan jika anda termasuk yang profit tersebut then go ahead. Tapi jika anda termasuk yang sempat terkena jebakan betmen disini, maka anda tahu apa yang harus dilakukan.

    Mingdep kita akan bahas IPO Restoran Raja Bebek.
    ***

    Penulis menyampaikan turut berduka cita atas peristiwa gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah. Semoga amal ibadah para korban diterima disisi-Nya, semoga anggota keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan semoga rumah-rumah hingga jalan yang rusak bisa segera diperbaiki kembali.. Aamiin. Dan bagi temen-temen sesama investor, setelah kemarin Lombok, maka sekarang kita punya satu kesempatan lagi untuk berbagi manfaat untuk saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah, yang memang tengah membutuhkan. Silahkan berkunjung ke www.kitabisa.com atau website charity lainnya.

    Buletin Analisis IHSG& stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Persib vs Persija

    Pagi ini, sekitar pukul 08.00 WIB, penulis menerima pesan Whatsapp (WA) dari seorang kerabat, yang ternyata merupakan pesan terusan dari sebuah grup, dengan isi sebagai berikut: ‘Hati-hati warga Bandung dan sekitarnya yang sedang berada di Jakarta atau menuju Jakarta menggunakan mobil dengan plat D. Saat ini di semua ruas tol Jakarta – Bandung sedang ada sweeping plat D oleh suporter Persija.’

    ‘Hal ini karena kejadian 1 orang suporter Persija meninggal dunia, saat pertandingan Persib vs Persija kemarin’. Pesan berantai tersebut disertai juga dengan foto buram sebuah ruas jalan tol yang dipenuhi orang-orang yang mengenakan kaos oranye khas Persija, seolah-olah menjadi ‘bukti’ bahwa memang benar ada sweeping tersebut (tapi jelas kelihatan bahwa itu foto editan). Kebetulan mobil penulis memang plat D, sedangkan saya bekerja dan beraktivitas di Jakarta, sehingga mungkin kerabat penulis tadi jadi khawatir dan karena itulah ia kemudian mem-forward pesan WA tersebut. Penasaran, penulis langsung cek di mbah google, dan memang ternyata benar bahwa pada hari Minggu kemarin, terjadi peristiwa pengeroyokan oleh oknum supporter Persib terhadap satu orang suporter Persija diluar stadion GBLA, Bandung, yang mengakibatkan tewasnya suporter Persija tersebut.

    Sumber ilustrasi: Indosport.com
    Tapi apakah benar bahwa terjadi sweeping? Ternyata tidak, bahkan pihak Jakmania sudah menyebut bahwa itu hoax, termasuk gambar-gambar yang beredar juga hoax. Nevertheless, berita sweeping plat D tersebut sudah terlanjur menyebar, termasuk mungkin anda yang tinggal di Bandung juga menerima pesan berantai yang sama. Thus, besar kemungkinan karena adanya pesan berantai tersebut, maka ada banyak warga Bandung yang tadinya berniat ke Jakarta untuk bekerja atau keperluan lainnya tapi nggak jadi, atau sebaliknya, ada warga Jakarta yang membatalkan trip-nya ke Bandung karena khawatir pendukung Persib melakukan sweeping yang sama.
    Namun dari sini kita bisa lihat bahwa ketika terjadi satu peristiwa penting tertentu yang ramai dibicarakan orang, maka biasanya akan muncul berita atau info lanjutan tentang satu atau beberapa peristiwa yang terkait dengan peristiwa pertama tadi, tak peduli meski peristiwa lanjutan tersebut sebenarnya tidak terjadi, atau terjadi namun tidak se-menakutkan seperti yang diinformasikan. Tapi apapun itu, informasi-informasi seperti ini akan langsung menimbulkan kekhawatiran, dan itu pada akhirnya mengganggu aktivitas ekonomi sekelompok masyarakat. Contohnya, jika ada pengusaha warga Bandung yang berniat ke Jakarta untuk keperluan usaha tertentu, tapi karena pesan terusan ini maka ia membatalkan rencananya tersebut, dan otomatis usahanya gagal. Dalam hal ini bukan peristiwa sweeping plat D-nya yang menggagalkan rencana si pengusaha tadi (karena nyatanya tidak ada sweeping tersebut, atau kalaupun ada maka bukan ‘di semua ruas jalan tol’ seperti yang disebutkan di pesannya), melainkan justru karena munculnya berita sweeping itu sendiri.

    Lalu bagaimana bisa pesan berantai tentang sweeping itu muncul? Dari mana asalnya?
    Mengenal Pola ‘Sebab – Akibat’
    Secara psikologis, otak manusia selalu berpikir berdasarkan pola sebab – akibat. Contohnya, kalau misalnya terjadi peristiwa kecelakaan bus di jalan raya, maka yang pertama kali diinvestigasi oleh polisi adalah apa penyebabnya, apakah ban meletus, supir mengantuk, atau lainnya. Demikian pula setelah peristiwa kecelakaan itu terjadi, maka hampir semua orang bisa berasumsi bahwa biasanya setelah itu akan terjadi peristiwa-peristiwa lanjutan yang merupakan akibat, misalnya si pengemudi ditahan sebagai tersangka, ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, dan izin trayek bus tadi bakal dicabut.
    Jadi ketika seseorang mengetahui, melihat, atau mendengar kejadian atau peristiwa tertentu, maka ia akan langsung berasumsi tentang peristiwa apa yang kemungkinan bakal terjadi setelah peristiwa tersebut. Thus, adalah normal jika setelah peristiwa meninggalnya pendukung Persija diatas (sebab), tak lama kemudian timbul kekhawatiran bakal terjadi sweeping mobil plat D di Jakarta (akibat), karena hal ini pernah terjadi sebelumnya. Masalahnya adalah, keberadaan media sosial dimana orang-orang sangat mudah bertukar informasi dan cerita, menyebabkan kekhawatiran bahwa akan terjadi sweeping tersebut dengan cepat berpindah dari satu ponsel ke ponsel lainnya, dan kemudian ‘berevolusi’ menjadi informasi bahwa sweeping itu benar-benar terjadi! Padahal, sekali lagi, tidak ada sweeping apapun, melainkan itu hanya kekhawatiran saja.
    Lalu apa hubungannya semua ini dengan pasar saham? Well, peristiwa menyebarnya berita ‘sweeping mobil plat D’ diatas merupakan contoh riil dari apa yang terjadi setiap hari di pasar saham. You see, disini kita setiap hari disuguhi oleh berita tentang peristiwa ini itu, mulai dari perang dagang, kenaikan Fed Rate, melemahnya Rupiah, defisit neraca ekspor bla bla bla bla. Bahkan dalam kondisi dimana tidak ada peristiwa penting apapun di pasar, maka tetap saja nongol berita berjudul ‘IHSG Jeblok, Ini Penyebabnya’, atau semacamnya.
    Nah, sampai titik ini, semuanya masih no problemo. Tapi ketika wartawan mulai kejar setorandengan menulis banyak artikel berita tentang peristiwa-peristiwa ini itu yang merupakan akibat dari peristiwa sebelumnya, termasuk si investor sendiri menulis ini itu di medsos bahwa dia khawatir suatu peristiwa akan menyebabkan bla bla bla, maka disinilah dampak negatifnya mulai terasa. Contohnya, kita tahu bahwa Rupiah tengah melemah hingga kemarin sempat menyentuh Rp15,000 per USD, dan itu adalah peristiwa yang benar terjadi. However, berita-berita yang kemudian muncul, bahkan jika dibaca dari judulnya saja, lebih merupakan asumsiatas ‘peristiwa lanjutan yang mungkin akan terjadi’ setelah Rupiah melemah, jadi bukan karena peristiwa lanjutan itu benar-benar terjadi. Tapi bahkan itu saja sudah cukup membuat investor menjadi kalang kabut, termasuk malah cut loss justru ketika ia seharusnya beli saham bagus di harga terbaik (jadi seperti ilustrasi pengusaha asal Bandung diatas, yang gagal melakukan deal bisnis di Jakarta cuma karena adanya isu sweeping plat D). Contohnya, anda pasti sering baca berita dengan judul panjang seperti ini: ‘Rupiah Anjlok, Indonesia Dikhawatirkan Krisis Finansial’, ‘Inilah Daftar Emiten yang Ditengarai Terimbas Amukan Dollar’, ‘Pelemahan Rupiah Diprediksi Mengganggu Industri’, dst. Tapi setelah baca beritanya, ternyata isinya cuma hasil wawancara wartawan dengan seorang pengamat yang entah dari mana asalnya, atau kadang malah tidak lebih dari cuplikan statement seorang tokoh tertentu di akun instagram-nya (berita macam apa ini??). Jadi sekali lagi, bukan merupakan informasi tentang peristiwa ‘krisis’ atau apapun itu yang bener-benar terjadi.

    Catatan: Karena cara kerja media yang seperti ini pula, belakangan ini saya jadi males kalo di-wawancara sama jurnalis media online, kecuali jika wawancaranya adalah terkait analisa mendalam sebuah perusahaan/bukan untuk mengomentari peristiwa ini itu.
    Cara Investor Menyaring Informasi
    Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal ini? Nah, penulis sudah banyak menulis di blog ini bahwa kita sebagai investor harus bisa menyaring informasi dan pemberitaan, dan jangan sampai berita yang kita baca justru menyebabkan kita sell ketika seharusnya buy (atau sebaliknya, menyebabkan kita buy saham yang harganya sudah naik tinggi). Dan salah satu cara untuk menyaring informasi tersebut adalah dengan memahami psikologis sebab – akibat tadi. Yup, ketika anda mendengar info tentang peristiwa tertentu, maka coba cari tahu dulu, peristiwa apa yang sejak awal menyebabkan munculnya peristiwa yang diberitakan tersebut. Seperti penulis tadi, yang ketika mendengar isu bahwa terjadi sweeping plat D, maka yang saya cari tahu pertama kali adalah apa penyebab munculnya isu tersebut (yang ternyata karena meninggalnya seorang pendukung Persija). Setelah mengerti penyebabnya, barulah kemudian saya bisa menganalisa terkait apakah berita sweeping itu beneran adanya, ataukah cuma kekhawatiran atau rumor yang nanti juga akan langsung dilupakan orang. Dalam banyak kasus, seringkali berita-berita tertentu tentang suatu saham ternyata hanya berupa kekhawatiran atas kemungkinan imbas, dampak, atau akibat (anda boleh ingat 3 kata tersebut baik-baik) dari peristiwa lain yang terjadi sebelumnya.
    Jika disingkat, ketika anda membaca berita tertentu maka coba cek dulu, apa latar belakang peristiwa hingga kemudian muncul berita tersebut. Ini mungkin akan sulit untuk dilakukan pada awalnya, karena seperti jika kita menonton film drama, kadang-kadang kita bisa hanyut oleh jalan cerita film tersebut, hingga lupa menyadari bahwa tangisan si aktor itu cuma akting. Tapi jika anda bisa melakukannya, maka anda tidak akan lagi terjebak dalam situasi dimana anda jual saham ketika seharusnya beli. Untuk contoh-contoh aplikasi dari ‘analisa sebab – akibat’ ini, maka anda boleh baca-baca artikel lama di blog ini yang membahas peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di pasar (misalnya dua bulan lalu kita membahas soal Krisis Turki, yang ternyata cuma kekhawatiran karena imbas pelemahan Turkish Lira).
    Kemudian, kita juga harus mengerti bahwa meskipun kita bisa memahami bahwa berita tertentu itu cuma rumor, atau cuma kekhawatiran, tapi orang lain tidak bisa melihat sejauh itu. Atau dengan kata lain, meskipun kita tahu bahwa sentimen negatif terkait saham A itu cuma rumor, tapi saham A tetap akan turun. Tapi jika kita kemudian bisa melihat bahwa penurunan itu hanya disebabkan oleh sentimen sesaat, dan bukan karena terjadi perubahan fundamental terhadap emiten yang bersangkutan, maka kita akan tetap bersikap tenang, dan menunggu saja sampai sentimen negatif tadi menguap dengan sendirinya (because, in the end, pasar akan balik lagi ke faktor fundamental).
    Btw Pak Teguh, kenapa kok judul artikel kali ini gak nyambung sama isinya? Well, ini sekalian menjadi contoh bahwa ada buanyak orang diluar sana yang dengan sengaja membuat judul yang se-menarik mungkin dari sebuah tulisan (agar mendorong orang untuk membaca tulisan tersebut), tak peduli meski judulnya jaka sembung bawa golok, dan nyatanya orang-orang lebih seneng baca judulnya saja ketimbang isinya, sehingga informasi yang ia peroleh juga menjadi sangat misleading. Anyway, setelah membaca artikel diatas, maka anda tentu sudah memperoleh pesannya.
    Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Value Investing Advanced Class, Jakarta, 7 Okt

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 7 Oktober 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

    Pembicara: Teguh Hidayat
    Materi Utama:
    1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
    2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
    3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
    4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
    5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
    6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
    7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
    8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
    Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam waktu 2 tahun. Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
    Bonus Materi Tambahan:
    1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
    2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
    3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Okay, berikut jadwal selengkapnya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    • Hari/Tanggal: Minggu, 7 Oktober 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.

    Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com

    Penulis bersama teman-teman peserta di salah satu kelas seminar sebelumnya
    Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Basic Class (sangat disarankan jika anda masih pemula), maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 6 Oktober 2018 (sehari sebelum seminar advanced class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya 

    Value Investing Basic Class, Jakarta, Sabtu 6 Okt

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’ di Jakarta, hari Sabtu, 6 Oktober 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

    Ilustrasi value investing

    Pembicara: Teguh Hidayat
    Materi Utama:

    1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
    2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
    3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
    4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
    5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
    6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
    7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
    8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.
    Bonus Materi Tambahan:

    1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
    2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
    3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:

    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 6 Oktober 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Basic Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Luka Modric, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Layanan Gratis:

    1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
    2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang sudah berisi member ratusan orang.
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama teman-teman peserta salah satu seminar sebelumnya
    Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Advanced Class, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 7 Oktober 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

    Prospek IPO Garudafood

    IPO dari perusahaan consumer goods dengan brand produk yang kuat tentunya selalu menarik perhatian investor, karena perusahaan dengan ciri-ciri demikian umumnya memiliki fundamental yang bagus serta cocok untuk investasi jangka panjang. Jadi ketika PT Garudafood Putra Putri Jaya mengumumkan bahwa perusahaan akan go public, maka penulis sendiri langsung meluangkan waktu untuk menganalisanya. However, setelah membaca prospektusnya, saya malah jadi bingung sendiri. Ada apa?

    Sejarah Garudafood dimulai pada tahun 1958, ketika Bapak Darmo Putro beserta keluarga memulai usaha produksi tepung tapioka di Pati, Jawa Tengah, dan pada tahun 1979 usaha tersebut ditempatkan dibawah bendera PT Tudung Putra Jaya. Namun lompatan besar perusahaan terjadi pada tahun 1987, yakni ketika TPJ memproduksi kacang tanah kemasan dengan merk ‘Kacang Garing Garuda’, yang kemudian lebih dikenal sebagai ‘Kacang Garuda’, dan sukses besar di pasaran. Hingga pada tahun 1994, didirikanlah PT Garudafood Putra Putri Jaya, dimana TPJ digabung kedalamnya. Dibawah pimpinan Bapak Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, yang merupakan generasi kedua pemilik perusahaan (Pak Sudhamek adalah putra dari Pak Darmo), Garudafood kemudian berekspansi dengan meluncurkan produk-produk makanan dan minuman diluar kacang, seperti biskuit, pilus, keripik, confectionery, minuman susu, dan serbuk coklat, dengan merk-nya masing-masing seperti Gery, Chocolatos, Leo, dan Clevo, dan kesemuanya sukses besar. Thus, saat ini Garudafood tidak lagi hanya dikenal sebagai produsen kacang garing merk Garuda, tapi juga sebagai salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar dan paling terkemuka di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa keunggulan perusahaan dibanding perusahaan lain yang sejenis, adalah kemampuan manajemen dalam menciptakan dan mempopulerkan merk-merk produknya, dan saat ini produk makanan dan minuman dengan merk ‘Garuda’ dan ‘Chocolatos’ sudah menjadi pemimpin pasar di segmennya masing-masing. Jika dibanding dengan sesama produsen makanan ringan seperti Kino Indonesia (KINO), atau Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), maka cukup jelas bahwa Garudafood menang telak dalam hal kepemilikan intangiable asset berupa power of brand.
    However, setelah membaca prospektusnya, penulis sempat bingung dengan IPO Garudafood ini, tapi ya sekarang sih saya udah ngerti. Okay, berikut penjelasannya.
    MCB Pelican?
    Kalau anda baca-baca berita soal IPO Garudafood ini di internet, maka disebutkan bahwa perusahaan akan menerbitkan 766 juta lembar saham, atau setara 10.34% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan nilai IPO yang cukup besar yakni US$ 200 juta, atau sekitar Rp2.8 trilyun. Namun hampir tidak ada wartawan yang menulis lebih rinci lagi, yakni bahwa dari 766 juta lembar saham anyar tersebut, hanya sebagian kecil diantaranya yang benar-benar ‘dikasiin’ ke investor ritel. Yup, jadi pada hajatan IPO-nya kali ini, Garudafood memang menerbitkan 766 juta lembar saham baru, namun dengan rincian sebagai berikut:
    Jatah Untuk:
    Jumlah Saham (lembar)
    Konversi MCB Pelican
    727,841,290
    Investor Publik
    35,000,000
    Karyawan Perusahaan
    3,500,000
    Total Saham Baru
    766,341,290
    Jadi dari sekian ratus juta lembar saham baru yang diterbitkan, yang bisa dibeli oleh investor ritel hanya 35 juta lembar saja. Sementara sebagian besar lainnya yakni sebanyak 728 juta lembar, adalah hasil konversi mandatory convertible bonds (MCB), alias obligasi wajib konversi (baca lagi penjelasan soal OWK ini disini) dari perusahaan bernama Pelican Company Ltd, yang otomatis merupakan jatah dari pemegang MCB Pelican tersebut, sehingga tidak bisa diambil oleh investor publik. Nah, bingung kan? Tapi biar kita jelaskan lagi:
    Jadi pada tanggal 28 Maret 2018 (baru beberapa bulan lalu), Garudafood menerbitkan obligasi MCB senilai Rp935 milyar di Singapura, yang kesemuanya diambil oleh perusahaan bernama Pelican Company Limited, dan uangnya dipakai untuk keperluan umum perusahaan. Tidak ada penjelasan lebih detil soal Pelican ini siapa, dan apa yang dimaksud dengan ‘keperluan umum’ diatas. Namun yang jelas obligasi yang kemudian diberi nama ‘MCB Pelican’ ini diterbitkan tanpa bunga, tanpa jatuh tempo, dan tidak bisa ditagih kembali ke perusahaan. Dengan kata lain, Garudafood tidak memiliki kewajiban untuk membayar kembali Rp935 milyar diatas. Namun pihak pemegang obligasi bisa mengkonversi obligasi tersebut menjadi saham sebanyak total 723 juta lembar, pada harga konversi Rp1,285 per saham, sehingga total nilai saham baru hasil konversi adalah Rp935 milyar, atau sama dengan nilai obligasinya diatas. Thus, jika Pelican Company menginginkan uangnya kembali, maka mereka bisa menjual saham hasil konversi tersebut ke investor publik di pasar, normalnya tentu saja pada harga yang lebih tinggi dari Rp1,285 tadi, atau bahkan sangat tinggi.
    Sebab mengingat saham yang dilepas ke publik hanya 35 juta lembar (Seriously? Itu kan berarti cuma 350 ribu lot!), sementara peminatnya membludak, maka harga saham Garudafood di market bisa langsung terbang menggapai langit, bahkan tanpa perlu digoreng sama sekali. Nah, ketika itulah, ‘investor’ Garudafood yang memperoleh sahamnya dari konversi MCB Pelican diatas bisa pelan-pelan melepas saham mereka ke publik, dan memperoleh keuntungan substansial. Yang penulis khawatirkan adalah tentu saja, jika para pemegang MCB Pelican tadi akhirnya selesai jualan dan sudah memperoleh keuntungan yang mereka inginkan, maka tidak ada alasan lagi bagi saham Garudafood untuk lanjut naik, melainkan selanjutnya dia akan turun pelan-pelan, terutama jika valuasinya sejak awal overvalue.
    Dan memang valuasi saham Garudafood itu sendiri sejak awal sudah overvalue, atau paling tidak, tidak bisa disebut murah. Informasi terakhir, saham Garudafood akan dilepas pada harga perdana Rp1,100 – 1,400, dan itu adalah range harga yang masuk akal, mengingat diatas sudah disebutkan bahwa harga konversi MCB Pelican adalah Rp1,285 per saham. Let say, harga IPO Garudafood adalah sama dengan harga konversi MCB-nya: 1,285. Maka perusahaan akan memperoleh dana Rp985 milyar, namun itu sudah termasuk Rp935 milyar hasil penerbitan MCB Pelican diatas, sehingga dana yang benar-benar diperoleh dari investor publik (dan juga karyawan perusahaan sendiri) adalah hanya Rp50 milyar. Per tanggal 30 April 2018, ekuitas Garudafood tercatat Rp2,138 milyar, yang setelah IPO menjadi Rp2,188 milyar. Karena jumlah saham Garudafood setelah IPO adalah 7.4 milyar lembar, maka book value Garudafood adalah Rp2,188 / 7.4 = Rp296 per saham. Karena harga sahamnya adalah Rp1,285, maka PBV-nya 1,285 / 296 = 4.3 kali.
    Kesimpulannya, jika pihak owner Garudafood menggelar IPO dengan cara yang ‘normal’ dimana perusahaan menerbitkan sekian ratus juta lembar saham baru pada harga 1,285, yang kesemuanya dilempar ke publik, maka sebenarnya itu saja sudah sangat menguntungkan, dimana nilai pasar/market cap Garudafood akan melonjak menjadi sekitar Rp10 trilyun, dan nama Pak Sudhamek di daftar Majalah Forbes akan langsung naik beberapa peringkat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. However, pemilik perusahaan mungkin tetap saja nggak puas kalo ‘cuma dapet segitu’, sehingga kemudian dibuat sedikit akal-akalan dengan MCB Pelican ini, dan memang dengan cara inilah mereka bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar, yang ironisnya bisa saja berasal dari kerugian investor publik, yakni jika investor membeli saham Garudafood di market pada harga 2,000 – 3,000 atau lebih tinggi lagi, tapi setelah itu sahamnya turun lagi, yakni ketika pemegang MCB Pelican selesai jualan.
    Tapi dari sini penulis bisa katakan bahwa, diluar fundamental perusahaannya yang luar biasa serta prospek jangka panjangnya yang cerah (bisnis makanan ringan, selama perusahaannya dikelola secara normal dan tanpa leverage yang berlebihan, akan terus menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang tak peduli meski terjadi krisis sekalipun, apalagi jika sudah punya merk-merk yang kuat), namun sayangnya manajemen Garudafood tidak berpihak kepada investor, dimana mereka tidak menganggap kita investor publik sebagai mitra pemegang saham dengan posisi setara, melainkan tidak lebih dari komoditas yang mereka bisa mengambil keuntungan darinya. Actually, di prospektus sudah disebutkan bahwa Pelican Company Ltd tidak memiliki hubungan afiliasi apapun dengan perusahaan, sehingga memang gak ada buktinya kalau penulis katakan bahwa Pelican itu sebenarnya juga dimiliki oleh owner-nya Garudafood. Namun entah Pelican itu adalah ada hubungannya dengan perusahaan atau tidak, tapi tetap saja: Dengan investor publik hanya memperoleh jatah saham 350 ribu lot saja, maka itu sangat sangat ridiculous: Elu niat IPO apa kagak sih? Gimana gua bisa dapet jatah IPO-nya kalau saham yang dilepas cuma segitu?? Lu kira Garudafood ini cuma tukang jualan kacang rebus di Istora Senayan waktu Asian Games kemarin? Ini perusahaan gede dan beken cuy! Dan hey, BEI dan OJK! Kenapa kok IPO model gini dikasih pernyataan efektif juga? Ente kira ini tahun 2000-an dimana orang-orang di market cuma trading tik tok gak jelas tanpa membaca dokumen prospektus sama sekali? Ini sudah tahun 2018!
    Kesimpulan akhirnya.. ya sutralah, penulis juga bisa ngomong apa lagi. Karena sejak awal almost impossible untuk bisa dapet jatah saham IPO-nya, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah biarken saja saham Garudafood melantai di bursa, tanggal 10 Oktober nanti, termasuk biarkan saja kalau kemudian sahamnya benar-benar terbang. Sebab mau dia naik setinggi apapun, pada akhirnya akan turun lagi. Dan setelah itu tunggu saja barang 2 – 3 tahun, sambil tentunya tetap melihat perkembangan kinerja perusahaan. Jika berkaca pada pengalaman IPO Sido Muncul tahun 2013 lalu, dimana ketika itu sahamnya juga sempat naik banyak dari 400-an sampai 900-an, tapi beberapa tahun kemudian turun lagi ke 400-an (dan setelah itu naik lagi), dan kita harus tunggu sampai sekitar 4 tahun sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa SIDO ini memang layak invest (penulis baru merekomendasikan lagi SIDO ini tahun 2017 kemarin, di artikel ini), maka mungkin untuk Garudafood ini juga sama begitu: Untuk saat ini kita ignore saja dulu sahamnya, dan nanti kita lihat lagi sekitar tahun 2022.
    Dan mudah-mudahan ketika itu kita tidak akan lagi menemukan nama-nama Eagle, Dove, Penguin, Seagull Company Ltd atau semacamnya di laporan keuangan perusahan.

    Penulis membuat buku kumpulan analisa saham-saham pilihan, lengkap dengan harga beli yang disarankan, target harga, hingga tingkat risiko untuk tiap-tiap saham. Anda bisa memperolehnya disini.

    Jadwal Seminar Value Investing: Basic & Advanced, Jakarta, 6 – 7 Oktober 2018. Pembicara Teguh Hidayat. Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda dari perusahaan atau institusi tertentu, maka anda bisa mengundang penulis langsung (Teguh Hidayat) ke kantor anda untuk ‘sharing session’, yakni sesi dimana saya akan berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang investasi saham, termasuk menjadi narasumber untuk tanya jawab saham. Caranya kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Sharing session. Jangan lupa untuk menyebutkan nama anda, nama perusahaan/institusi, serta kapan jadwal yang anda inginkan (sebaiknya jangan mendadak, minimal dua minggu sebelumnya). Untuk sharing session ini penulis tidak memungut biaya, kecuali untuk akomodasi.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Value Investing Advanced Class: Jakarta, Minggu 30 Sept

    Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 30 September 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar dll. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

    Pembicara: Indonesia Value Investing Certified Trainer, Zomi Wijaya. Profil Pak Zomi bisa dibaca disini.
    Materi Utama:
    1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
    2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
    3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
    4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
    5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’dalam laporan keuangan,
    6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
    7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
    8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
    Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam waktu 2 tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
    Bonus Materi Tambahan:
    1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
    2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
    3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman Teguh Hidayat sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Okay, berikut jadwal selengkapnya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    • Hari/Tanggal: Minggu, 30 September 2018

    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
    Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Special Bonus!
    Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
    Penulis bersama peserta salah satu kelas seminar sebelumnya
    Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Basic Class (sangat disarankan jika anda masih pemula), maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 29 September 2018 (sehari sebelum seminar advanced class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya

    Value Investing Basic Class: Jakarta, Sabtu 29 Sept

    Dear investor, penulis menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’ di Jakarta, hari Sabtu, 29 September 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:


    Pembicara: Indonesia Value Investing Certified Trainer, Zomi Wijaya. Profil Pak Zomi bisa dibaca disini.
    Materi Utama:
    1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
    2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
    3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
    4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
    5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
    6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
    7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
    8. Daftar sumber website penting dan terpercayauntuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.

    Bonus Materi Tambahan:
    1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
    2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
    3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman Teguh Hidayat sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 29 September 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Basic Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Luka Modric, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Layanan Gratis
    1. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang sudah berisi member ratusan orang.
    2. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama teman-teman alumni salah satu kelas seminar sebelumnya
    Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Advanced Class, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 30 September 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]