Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Penurunan Dow Jones & Pengaruhnya ke IHSG

Setelah sebelumnya cenderung naik terus, Dow Jones Industrial Average (DJIA), seperti yang anda ketahui, sejak awal Februari kemarin mulai bergerak turun hingga sempat ditutup di posisi 23,860, atau drop 10.3%dari posisi tertingginya yakni 26,616. Secara teori, jika indeks saham turun hingga 10% dari level tertingginya, maka artinya pasar saham di negara yang bersangkutan ‘resmi’ memasuki periode koreksi/bearish. Dan berhubung yang turun adalah Dow dkk (S&P500 dan Nasdaq juga turun), yang notabene merupakan benchmark dari pergerakan bursa saham global, maka pertanyaannya sekarang, bagaimana pengaruh penurunan DJIA ini terhadap IHSG?

Tapi sebelum menjawab pertanyaan diatas, terlebih dahulu kita jawab pertanyaan berikut: Apa yang sebenarnya tengah terjadi di Amerika Serikat sana, sehingga DJIA turun? Bukankah perekonomian Amerika, setidaknya menurut klaim dari Presiden Trump, justru sedang bagus-bagusnya?
Nah, kalau anda baca-baca pemberitaan di media mainstream tentang penurunan Dow, maka isunya adalah adanya kekhawatiran akan tingginya inflasi di US, sebagai efek samping dari rendahnya suku bunga serta pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat (hubungan antara inflasi, suku bunga bank, serta pertumbuhan ekonomi bisa anda baca disini). Tapi faktanya inflasi di US terakhir masih aman terkendali di level 2.1%. Memang, angka tersebut lebih tinggi dibanding tahun 2015 lalu yang hanya 0%, tapi dalam 10 tahun terakhir, angka inflasi di US ya stabilnya di level kisaran 1 – 2%. Dan kalaupun kedepannya terdapat risiko bahwa inflasi tersebut bakal naik, maka Federal Reserve sebagai Bank Sentral Amerika tinggal menaikkan suku bunga acuan/Fed Rate, yang saat ini masih berada di level 1.5%, atau jauh dibawah levelnya di awal dekade 2000-an yang mencapai 4 – 5% (sehingga masih terbuka ruang lebar bagi fed rate tersebut untuk dinaikkan).

Data inflasi di Amerika Serikat dalam 10 tahun terakhir. Sumber: www.tradingeconomics.com

Lalu kalau bukan soal inflasi, lalu apa masalahnya? Well, kalau mau jujur ya nggak ada masalah apa-apa. Setelah mengalami krisis subprime mortgage di tahun 2008 lalu, bisa dikatakan bahwa Amerika pada saat ini sudah benar-benar recover dari krisis tersebut, dimana perusahaan-perusahaan besar disana berlomba-lomba membukukan kinerja positif, terutama perusahaan teknologi. Even Twitter Inc., salah satu perusahaan teknologi yang paling populer namun sedari dulu nyaris selalu membukukan rugi, di tahun 2017 kemarin untuk pertama kalinya membukukan profit, dan sahamnya pun naik.
Jadi kalau dikatakan bahwa penurunan Dow disebabkan oleh ‘something wrong’ in the US economy, maka mengutip pernyataan Presiden Trump, it’s fake news. Namun demikian harus juga dicatat bahwa adanya problem ekonomi maupun perubahan fundamental/kinerja perusahaan bukanlah satu-satunyapenyebab penurunan Bursa Saham. Penyebab kedua adalah, justru ketika ekonomi sedang bagus-bagusnya, maka seringkali harga-harga saham terus saja naik hingga valuasinya tidak lagi mencerminkan nilai wajarnya (istilahnya overvalue), sehingga secara normalnya akan terjadi koreksi sehat untuk mengembalikan harga-harga saham ke posisi wajar mereka masing-masing.
Dan memang ketika Dow berada di level 26,000-an, beberapa waktu lalu, maka berdasarkan angka PER dan PBV dari 30 saham komponen DJIA, maka valuasi saham-saham di Amerika berada di salah satu level tertingginya, yang hanya pernah dicapai 3 kali dalam 100 tahun terakhir. Mengingat DJIA sudah naik nyaris 4 kali lipat dalam waktu sepuluh tahun terakhir (pada titik terendah krisis 2008, DJIA berada di level 6,626), maka ini bukanlah fakta yang mengejutkan. Secara khusus, kenaikan DJIA juga tambah kencang dalam dua tahun terakhir, dimana setelah terakhir mengalami koreksi dengan turun ke 16,000 pada Oktober 2015 lalu, selanjutnya Dow terus saja naik hingga total 10,000 poin (ke 26,000-an) dalam dua tahun tiga bulan, nyaris tanpa koreksi berarti.
Dan penulis sendiri sebenarnya agak terganggu dengan kenaikan DJIA yang seperti tanpa henti, hingga para technopreneur seperti Mr. Bezos dan Zuc tiba-tiba saja bersanding dengan Om Bill dan Opa Warren di daftar Majalah Forbes (which is ridiculous). Jadi ketika Dow akhirnya turun juga, maka itu justru sudah ditunggu-tunggu. Kemudian, karena problem utamanya sebatas tingginya valuasi saham-saham di Amerika, maka kalau kedepannya Dow lanjut turun lagi (dan normalnya memang demikian. Secara historis, setiap kali Dow turun banyak, maka dia tidak  akan langsung pulih lagi dalam waktu kurang dari sebulan), penulis kira penurunannya tidak akan terlalu dalam/tidak akan sampai mengembalikan Dow ke level sebelum dia mulai rally dua tahun lalu, yakni 16,000-an. However, kalau turun sampai level 20,000-an, maka itu masih mungkin.
Lalu bagaimana dengan IHSG?
Secara umum kondisi di Indonesia sekarang ini terbilang mirip dengan Amerika: Ekonomi lagi bagus, saham-saham lagi naik, dan kenaikan IHSG juga terasa lebih kencang dalam dua tahun terakhir (posisi tertinggi IHSG saat ini adalah 6,686, atau naik 40% dibanding akhir Januari 2016 di level 4,771). Dan seperti halnya di Amerika, sekarang ini sangat sulit mencari saham-saham blue chipyang valuasinya masih murah.
Karena kondisinya mirip, maka secara teori ketika Dow turun 10%, harusnya IHSG bakal ikut turun kurang lebih segitu juga. Tapi nyatanya IHSG kemarin hanya turun sampai mentok di 6,427 (turun 3.8%), sebelum kemudian membal lagi ke 6,500-an. Tapi disinilah menariknya: Kalau anda perhatikan pergerakan saham-saham secara individual, maka ada banyak saham yang turun signifikan ketika Dow mulai turun, dengan total penurunan yang jauh lebih dalam dibanding penurunan IHSG itu sendiri. Disisi lain ada beberapa saham-saham big caps yang pergerakan mereka berpengaruh besar terhadap IHSG, seperti HMSP dan UNVR, yang justru naik sendiri ketika pasar mulai under attack karena sentimen penurunan Dow, biasanya naiknya pada saat sesi pre-closing. Inilah yang menyebabkan IHSG, yang mungkin totalnya turun 1 – 2% pada hari tertentu, pada sore harinya mendadak naik hingga total penurunnya hanya 0.5% saja.
Nah, jadi anda sudah mengerti bukan? Yup, kondisi pasar pada Februari ini mirip dengan kondisi pasar Desember 2017 kemarin, dimana meski IHSG ketika itu naik luar biasa hingga lebih 6% (dari 5,900-an ke 6,300-an), tapi ada banyak saham-saham terutama second liner yang justru bertumbangan (baca lagi ulasan market Desember 2017 lalu disini, coba baca juga komentar-komentarnya). Jadi kalau yang kita lihat adalah pergerakan dari saham-saham itu sendiri, dan bukan dari IHSG-nya, maka pasar saham Indonesia sejak awal Februari kemarin juga sebenernya tengah terkoreksi/turun, dengan penurunan yang kurang lebih sama dengan penurunan Dow Jones. Cara membaca pasar seperti ini mungkin sulit untuk dilakukan: Koreksi apanya? Jelas-jelas IHSG masih aman-aman saja kok! Tapi coba anda tanyakan soal itu ke para fund manager reksadana, yang kinerja mereka hampir semuanya kalah telak dibanding IHSG: Bagaimana situasi pasar sepanjang tahun 2017 lalu, dan juga sepanjang awal 2018 ini? Apakah mayoritas saham-saham di BEI sepanjang tahun 2017 lalu benar-benar naik hingga 20% seperti halnya kenaikan IHSG? Ataukah kenaikan IHSG yang spektakuler tersebut hanya ditopang oleh saham-saham yang itu-itu saja??
Kesimpulan
Okay, jadi mari kita simpulkan lagi: 1. Dow Jones saat ini sedang mengalami ‘koreksi sehat’ yang bukan disebabkan oleh problem ekonomi, melainkan karena valuasi saham-saham disana sudah kelewat mahal saja, 2. Normalnya koreksi ini gak akan langsung selesai dalam waktu dekat, melainkan butuh waktu minimal 2 – 3 bulan, selain karena valuasi saham-saham di Amerika belum bisa dikatakan terdiskon, dan 3. Ketika Bursa Saham Amerika turun, bursa-bursa saham diseluruh dunia akan ikut turun tak terkecuali di Indonesia, apalagi kondisi disini mirip dengan di Amerika (jadi baru akan lain ceritanya kalau IHSG sekarang ini masih di level 5,000-an, misalnya).
Namun sekali lagi, jika yang jadi patokannya adalah pergerakan IHSG, maka kalaupun nanti Dow benar-benar lanjut drop sampai level 20,000-an, penulis kira IHSG tetap tidak akan turun terlalu dalam(atau turun dalem sebentar, tapi langsung naik lagi). However, pengalaman di bulan Desember 2017 kemarin, dan juga di sepanjang tahun 2017 itu sendiri, telah mengajarkan bahwa stabilnya (atau bahkan naiknya) IHSG tidak selalu berarti bahwa saham-saham memang sedang naik semua, melainkan bisa saja IHSG naik sendiri sementara kebanyakan saham-saham justru berjatuhan.
Jadi, yap, setelah sempat dikasih ‘nafas’ sejenak di bulan Januari kemarin, untuk sekarang kita boleh lebih waspada lagi. And don’t worry, berbeda dengan koreksi pasar karena adanya problem di ekonomi makro, koreksi sehat karena mahalnya saham-saham biasanya cuma sebentar/hitungan minggu hingga 2 – 3 bulan, jadi gak akan berkepanjangan seperti di tahun 2008 dan 2015 lalu. Malah kalau kita melihatnya dari sudut pandang value investing, maka bagi anda yang melewatkan stock big sale! di bulan Desember 2017 kemarin (waktu itu saham-saham konstruksi dan batubara masih pada murah semua), maka dalam waktu dekat ini BEI mungkin akan menggelar big sale sekali lagi. We’ll see!

Jadwal Seminar: Value Investing Advanced Class: Jakarta, 17 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Jakarta, 3, 10, & 17 Maret 2018

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik setidaknya 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy, dan kapan waktu terbaik untuk sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias beli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah??

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Lokasi, dan Waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Maret (sudah penuh!), 10 Maret (sudah penuh juga), dan 17 Maret 2018.
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.30 WIB.
  • Fasilitas: Softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta. Untuk jadwal hari Sabtu, 3 & 10 Maret, kursinya sudah penuh. Jadi pendaftaran berikutnya dianggap untuk kelas tanggal 17 Maret 2018.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman di salah satu kelas seminar sebelumnya, di Jakarta.
Testimonial

Terima kasih pak teguh.

Saya banyak belajar dari bapak.

Sedikit testimoni, setelah membeli saham mengikuti arahan ebook kuartal bapak, saya mendapat profit jumbo dari HRUM dan BBNI. Saham lain meskipun turun tetapi tidak terlalu banyak.

Saya juga banyak belajar dari website dan buku pak teguh.

Semoga pak teguh tetap sehat sehingga terus berkarya dan mencerdaskan investor Indonesia
Bravo pak teguh.


Salam

Berapa Lama Sebaiknya Kita Hold Saham?

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan sebagai berikut, ‘Pak Teguh, saya dengar Warren Buffett (WB) itu kalau sudah beli saham maka tidak pernah dijual lagi/di hold selamanya. Demikian pula Pak Lo Kheng Hong, yang dikatakan bisa hold saham sampai 7 tahun. Tapi Pak Teguh sendiri, saya perhatikan anda hold saham paling lama cuma sampai 1 – 2 tahun saja, selebihnya cuma hold beberapa bulan, dan ada juga saham-saham yang dibeli karena perusahaannya bayar dividen, untuk kemudian dijual setelah nanti dapet dividennya. Bisa tolong dijelaskan soal ini Pak?’

Nah, berhubung pertanyaan ini kemungkinan mewakili pertanyaan dari temen-temen investor lainnya, maka sekalian saya bikinkan saja artikelnya.
Jadi, yap, penulis sendiri ketika dulu pertama kali baca-baca tentang metode value investing, terutama tentang cara investasinya Warren Buffett, maka salah satu perbedaan mendasar antara beliau sebagai value investor dengan investor/trader saham kebanyakan adalah terkait holding period, alias seberapa lama ia memegang suatu saham, dimana jika investor lain cenderung main jangka pendek, maka WB mainnya jangka panjang. Dan yang dimaksud dengan ‘panjang’ disini adalah benar-benar puanjaaang, yakni antara 5 tahun hingga selamanya. Salah satu quote WB yang terkenal adalah, ‘my favorite holding period is forever’, yang mengindikasikan bahwa kalau Berkshire Hathaway (BRK) membeli saham tertentu, maka selanjutnya saham tersebut tidak akan dijual lagi sampai kapanpun.
Dua Kelemahan
Dan ketika itu, sebagai pemula, penulis pun kemudian mencoba menerapkan cara investasi WB tersebut. Tapi tak butuh lama sebelum saya kemudian menemukan setidaknya dua kelemahan dari strategi ‘holding forever’-nya WB ini. Pertama, keputusan untuk tetap hold saham akan menjadi keputusan yang buruk dalam kondisi bear market. Penulis masih ingat, pada bulan Mei 2010, saya untuk pertama kalinya berkenalan dengan market crash, dimana IHSG drop dari 2,971 hingga mentok di 2,501, atau drop 16% hanya dalam sebulan, dan ketika itu ada banyak saham-saham yang drop-nya sampai 20 – 30%.
Dan meski di bulan Juni-nya pasar langsung pulih lagi, dimana saham-saham bagus pada naik lagi, tapi dari pengalaman koreksi pasar tersebut penulis langsung menyadari bahwa seandainya saya beli saham-saham tertentu pada tahun 2007 lalu, lalu tetap meng-hold-nya meski pasar mengalami crash yang jauh lebih buruk di tahun 2008, maka bisa jadi sampai tahun 2010 tersebut, atau 3 tahun kemudian, saham yang saya pegang masih baru sekedar balik modal saja, alias baru naik lagi ke posisi harga belinya. Jadi dalam hal ini meski posisinya memang nggak rugi, tapi kita jadi kehilangan waktu 3 tahun yang amat sangat berharga, itu juga dengan asumsi kita gak panik ketika terjadi krisis, alias cukup kuat mental untuk terus hold sahamnya termasuk ketika krisis tersebut mencapai titik terendahnya, pada Oktober 2008 lalu.
Diluar faktor koreksi pasar/market crash yang bisa terjadi sewaktu-waktu, sekitar dua tahun kemudian penulis menyadari satu lagi faktor lainnya yang mengharuskan seseorang untuk menjual sahamnya (sehingga gak jadi pegang ‘forever’), yakni jika perusahaan yang bersangkutan mengalami perubahan fundamental. Yup, pada tahun 2011, saham-saham batubara mengalami kenaikan yang luar biasa seiring dengan kinerja emiten yang sangat baik, tapi di tahun 2012-nya laba mereka mulai turun, dan sahamnya pun ikut turun. Contohnya, Resource Alam Indonesia (KKGI), dimana sahamnya naik dari 1,000-an sampai tembus 8,000 (sebelum stocksplit) pada awal tahun 2012. Tapi pada Kuartal I 2012, perusahaan membukukan penurunan laba, atau dengan kata lain mengalami perubahan fundamental. Dan ternyata, seiring dengan penurunan harga batubara ketika itu, kinerja KKGI tidak pernah pulih lagi sampai tahun 2016. Sementara sahamnya? Well, drop dari 8,000-an tadi hingga as low as 500-an (sekali lagi, sebelum stocksplit), atau jeblok lebih dari 90 persen! Jadi bisakah anda bayangkan jika seseorang membeli KKGI ini di tahun 2012 tadi, lalu memutuskan untuk ‘hold forever’?? Karena faktanya, meski sejak pertengahan tahun 2016 kemarin saham KKGI mulai naik lagi, tapi sampai sekarang harganya masih sangat jauh untuk mencapai titik tertingginya di tahun 2012 lalu.
Itu pertama terkait faktor koreksi pasar, dan perubahan fundamental emiten. Kedua, penulis kemudian juga menyadari bahwa strategi ‘holding forever’ tidak menghasilkan kinerja investasi yang optimal. Contoh, pada akhir dekade 1980-an, WB mulai mengakumulasi saham Coca Cola (KO), hingga akhirnya BRK memegang KO senilai lebih dari US$ 1 milyar pada tahun 1990, dan ketika itu KO berada di level US$ 4 per saham dan terus naik. Hingga di tahun 1998, KO sudah berada di level diatas US$ 40, atau naik 10 kali lipat dari harga beli WB. Setelah itu KO mulai turun, dan terus saja turun sampai tinggal US$ 20 di tahun 2004 (penulis belum cek karena sulit cari datanya, tapi kemungkinan pada tahun-tahun tersebut Coca Cola mengalami penurunan kinerja). Dan barulah pada hari ini, atau hampir 20 tahunsejak saham KO mencapai titik tertingginya di tahun 1998, saham KO kembali naik ke level US$ 40-an.
Harga saham Coca Cola dari tahun 1975 sampai sekarang. Perhatikan bahwa harga sahamnya sekarang ini tidak jauh berbeda dibanding tahun 1998 lalu. Source: Google.
Jadi, yes, pada akhirnya WB tetap profit besar dari KO, tapi profit 1,000% dalam waktu hampir 30 tahun tentunya bukan kinerja investasi yang memuaskan. Memang, keuntungan terbesar WB dari KO bukan cuma dari kenaikan harga sahamnya, melainkan juga dari dividen, dimana saat ini BRK menerima dividen dari KO sekitar US$ 500 – 600 juta per tahun, tapi tetap saja total profitnya tidak terlalu besar, sekali lagi, jika mempertimbangkan holding period-nya yang kelewat lama. Jika WB menjual KO di tahun 1998, maka ia ketika itu sudah menghasilkan profit 10 kali lipat, dan ia bisa menginvestasikan kembali uangnya di saham lain untuk menghasilkan profit yang bisa saja mencapai 10 kali lipat lagi dalam 10 tahun berikutnya (jadi totalnya WB cuan 100 kali lipat dalam 20 tahun). But still, bukan itu yang ia lakukan.
‘Holding Period’ Buffett di Tahun 1960-an
Penasaran, penulis kemudian pelajari lebih lanjut cara investasi WB, apakah beliau sejak awal kariernya sebagai investor sudah menerapkan strategi holding forever, ataukah dulu strateginya beda lagi. Daaaan ternyata pada tahun 1960-an, WB sama sekali tidak pernah membeli saham untuk kemudian ‘dipegang selamanya’, melainkan untuk dijual lagi setelah beberapa waktu, tentunya pada harga yang lebih tinggi. Kalau anda baca-baca annual letter WB sejak ia masih mengelola Buffett Partnership, maka disitu ada banyak disebutkan saham-saham yang WB beli pada harga murah, lalu dijual kembali pada harga yang memang seharusnya. Sebut saja Sanborn Map, Dempster Mill, hingga HKC Dept. Store. Termasuk ketika WB membeli saham BRK di tahun 1962, tujuan awalnya adalah untuk nanti dijual lagi pada harga yang (diharapkan) lebih tinggi (tapi karena sedikit ‘kecelakaan’, Berkshire Hathaway akhirnya tetap di-hold WB sampai sekarang, meski aset-aset tetap perusahaan sudah dilego semua/tinggal sisa nama perusahaannya saja sebagai holding company). Pada tahun 1960-an, WB rata-rata menjual kembali sahamnya setelah 1 – 2 tahun, atau paling lama 3 tahun, tapi ada juga saham yang langsung ia jual kembali di tahun yang sama (jadi hold-nya hanya beberapa bulan).
Setelah menyadari fakta diatas, termasuk setelah baca-baca (dan berlatih) lebih banyak lagi tentang metode value investing, maka penulis kemudian mengerti bahwa, value investing itu bukanlah ‘Beli saham hari ini lalu jualnya 5 tahun kemudian’, sama sekali bukan! Melainkan: Beli saham bagus pada harga murah. Lalu bagaimana kalau nanti saham tersebut naik terus hingga valuasinya jadi gak murah lagi? Atau jika fundamentalnya gak bagus lagi? Ya ketika itulah, anda bisa mempertimbangkan untuk menjualnya, dan nanti duitnya dipindah ke saham lain yang juga bagus, tapi valuasinya masih murah. Gitu!
Okay, lalu apa yang menyebabkan WB mengubah strateginya, dari yang tadinya hold selama beberapa bulan hingga 2 – 3 tahun, menjadi ‘hold forever’? Penulis sendiri perlu waktu cukup lama untuk menjawab ini, tapi sekarang saya sudah mengerti jawabannya: Kalau anda pegang Rp10 juta, maka anda bisa invest di saham-saham apa saja, termasuk saham gak likuid sekalipun, dan anda bisa dengan mudah menjualnya kembali setelah beberapa waktu.
Tapi kalau anda pegangnya let say Rp10 milyar, maka tentu gak segampang itu untuk melakukan aktivitas jual beli saham, dimana anda gak bisa lagi beli saham yang anda incar secara sekaligus dalam satu kali transaksi, demikian pula ketika anda menjualnya gak bisa sekaligus. Dengan kata lain, investor dengan dana besar tidak bisa ‘gerak lincah’ seperti investor lain yang dananya lebih kecil. Bahkan WB sendiri butuh waktu beberapa tahun (dari 1987 sampai 1990) hanya untuk mengakumulasi saham Coca Cola, senilai total US$ 1 milyar ketika itu.
Dan pada hari ini, nilai investasi BRK di KO sudah naik menjadi US$ 15 milyar (harusnya US$ 10 milyar, tapi WB kemudian beberapa kali menambah investasinya di KO). Pertanyaannya, kalau untuk membeli saham KO senilai US$ 1 milyar saja butuh waktu beberapa tahun, maka berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjual saham yang sama senilai 15 kali lipat-nya???
Karena itulah, penulis kira WB bukannya nggak mau menjual KO di tahun 1998 lalu, tapi ia sejak awal gak bisa/sulit untuk menjualnya. WB sendiri melalui annual letter-nya mengakui bahwa sebelum tahun 1980, ia selalu menerapkan strategi beli saham murah, lalu kemudian dijual di harga tinggi. Tapi seiring dengan terus meningkatnya dana kelolaan, WB kemudian menyadari bahwa ia gak bisa lagi menerapkan strategi jual – beli seperti itu. Jadi memasuki tahun 1980-an, terutama setelah ketemu Charlie Munger (justru Munger-lah yang pertama kali mengajarkan WB untuk beli saham lalu hold selamanya), WB kemudian mengubah strateginya: Hanya beli saham-saham yang benar-benar bagus (sebelumnya WB kadang beli saham dari perusahaan kelas coro, asalkan harganya benar-benar terdiskon) pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsik-nya, lalu hold selamanya.
Dan berbekal strategi ‘holding forever’ tersebut, BRK kemudian sukses untuk terus bertumbuh sampai sekarang, but still, jika dibanding return investasi WB di tahun 1960-an, maka kinerja BRK dalam satu atau dua dekade terakhir terbilang kurang memuaskan (baca lagi paragraf diatas, soal tidak optimalnya kinerja investasi dengan strategi hold forever). Dan WB sendiri mengakui bahwa periode 1960-an justru merupakan periode terbaiknya sebagai seorang value investor, dimana ia ketika itu membukukan rata-rata return 29% per tahun, sudah termasuk tahun-tahun krisis. Sementara pada hari ini, rata-rata return BRK dari tahun 1965 – 2016 hanya 19% per tahun (tapi ini sekaligus mematahkan kritik yang mengatakan bahwa ‘Warren Buffett nggak sehebat itu karena return investasinya bahkan gak nyampe 20% per tahun’. Well, silahkan anda tunjuk investor manapun yang anda anggap hebat, lalu suruh dia pegang dana sebesar yang dipegang WB saat ini: Kira-kira bisa nggak dia dapet return 19% juga per tahunnya?).
Kesimpulan
Kebanyakan investor pemula, ketika ia pertama kali googling nama ‘Warren Buffett’, maka yang ia pelajari adalah cara investasi WB pada saat ini, yakni ketika beliau sudah menjadi salah satu orang terkaya di dunia. However, investor berpengalaman mengerti bahwa cara investasi WB, meski tetap konsisten berpedoman pada kaidah value investing, namun senantiasa berubah dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu, karena menyesuaikan dengan besarnya dana kelolaan, dll. Jadi kecuali anda memegang dana yang sama besarnya dengan yang dipegang WB, maka anda juga tidak bisa berinvestasi dengan cara yang persis sama dengan cara investasi WB sekarang ini, melainkan anda boleh coba baca lagi, seperti apa cara investasi WB ketika dulu dananya masih terbilang kecil (meski mungkin juga perlu dicatat bahwa WB sejak dulu tidak pernah trading cepat/swing trading. Masa hold beliau paling singkat adalah beberapa bulan).
Dan memang itulah yang penulis lakukan: Mempelajari strategi investasi WB di masa lalu, dimana setelah disesuaikan lagi dengan kondisi pasar saham di Indonesia dll, hasilnya adalah ‘Strategi investasi saham ala Teguh Hidayat’, seperti yang banyak disampaikan di blog ini. Tapi meski ada banyak perbedaan, yang penting prinsip value investing-nya tetap dipake: Beli saham bagus pada harga murah, that’s it. Dan hasilnya, seperti yang bisa anda baca-baca lagi di arsip analisa saham di blog ini, terbilang cukup baik.
Btw untuk minggu ini tadinya kita mau bahas konstruksi, tapi setelah penulis pertimbangkan lagi, ngapain bahas saham yang udah naik duluan, jadi yo wis nanti saja. Untuk minggu depan kita akan bahas soal ‘value trap’.

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal IV sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Value Investing Advanced Class, Jakarta, Sabtu 17 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham Properti

Di artikel minggu lalu, penulis menyebutkan bahwa ketika IHSG naik 20.0% sepanjang tahun 2017, namun terdapat dua sektor yang justru tumbuh negatif, yakni agriculture atau perkebunan, dan properti & konstruksi. Nah, karena biasanya value opportunity terletak di sektor-sektor yang ‘ketinggalan kereta’ ini, maka dua sektor tersebut menarik untuk dibahas. Untuk sektor perkebunan sudah kita bahas, jadi sekarang giliran sektor berikutnya: Properti & konstruksi. Kebetulan, seiring dengan situasi market bullish sepanjang awal tahun 2018 ini, saham-saham konstruksi kelihatannya sudah pada naik semua. Tapi bagaimana dengan properti?

Penulis pertama kali melirik kembali sektor properti pada Juli 2017, ketika itu karena melihat bahwa IHSG sudah naik 16.6% dalam setahun terakhir, sementara indeks properti & konstruksi (anda bisa lihat di Yahoo Finance, kodenya ^JKPROP) justru drop 9.0%, dan karena ketika itu saham-saham properti sudah banyak yang PBV-nya kurang dari 1 kali, atau sudah mirip valuasi saham-saham batubara ketika mereka berada di titik terendahnya, pertengahan 2016 lalu. Setelah mempertimbangkan dan menganalisis banyak faktor, penulis kemudian menyampaikan bahwa, yup, memang ada value opportunity disini, dimana saham-saham properti berpeluang untuk naik banyak seperti hal-nya batubara. Anda bisa baca lagi ulasan  selengkapnya disini.
Waktu berlalu. Dan pada hari ini, atau setengah tahun kemudian, saham-saham properti ternyata masih belum naik signifikan, padahal saham dari sektor-sektor lain sudah seperti kejar-kejaran, termasuk batubara juga melaju kencang kembali, demikian pula dengan saudaranya yakni konstruksi. So what’s wrong? Nah, dalam hal ini penulis mungkin bisa mengulang kembali apa yang sering saya sampaikan di kelas-kelas seminar: Dalam value investing, kita bisa 1. Menyaring/screening saham berfundamental bagus dari yang jelek, dan 2. Menilai apakah valuasi dari saham hasil screening ini terbilang murah atau mahal. Tapi yang tidak bisa kita lakukan adalah: 1. Menebak kapan persisnya saham itu akan naik, 2. Apakah saham tersebut akan langsung naik atau malah turun dulu, dan 3. Kalau nanti saham tersebut akhirnya naik, maka naiknya sampai berapa.
Karena itulah, berdasarkan pengalaman penulis sendiri selama ini, saham-saham yang kita beli kadang ada yang langsung naik, kadang ada juga yang agak lama kemudian baru naik. Tapi dengan sedikit kesabaran, maka selama saham yang kita beli memang tepat (bahwa dia berfundamental bagus, dan valuasinya beneran murah/bukan murahan), dan tidak terjadi force majeure (seperti kasus AISA, atau koreksi IHSG), maka pada akhirnya anda tetap akan profit lumayan. Lebih jelas soal ini bisa dibaca lagi di artikel ini.
Okay, jadi balik lagi ke sektor properti. Bagaimana dengan kinerja fundamental dari sektor ini? Well, berdasarkan kinerja BSDE dkk hingga Kuartal III 2017, bisa penulis katakan bahwa para emiten properti melaporkan kinerja yang bervariasi: Ada yang bagus banget, ada yang biasa saja, dan ada juga yang labanya masih turun. Tapi secara valuasi, maka seperti yang sudah disebut di artikel Juli 2017 lalu, ada banyak pilihan undervalue stock di sektor ini, dan sampai sekarang pilihannya masih banyak, karena memang sektor ini belum naik signifikan dalam enam bulan terakhir, meski disisi lain juga sudah tidak turun lebih dalam lagi/downtrend-nya sudah berhenti. Malah kalau secara teknikal jangka menengah (pake chart minimal 6 bulan), ada banyak saham-saham properti yang kelihatannya sedang ‘ancang-ancang’ untuk naik.
Dua Faktor Penting
Pertanyaannya sekarang, kenapa sektor properti ini masih belum jalan sampai sekarang, bahkan saham-saham batubara dll sudah pada berangkat? Apakah mungkin itu karena ada something wrong terkait outlook industrinya itu sendiri, seperti yang Pak Teguh bahas kemarin terkait sektor perkebunan kelapa sawit dimana ternyata ada masalah terkait harga CPO yang gak mau naik-naik? Untungnya, untuk sektor properti so far nggak ada problem apa-apa. You see, berkaca pada pengalaman lesunya sektor properti pada krisis tahun 2008, dan pada periode economic slowdown di tahun 2013 – 2015, maka problem terbesar sektor properti adalah 1. Perlambatan (atau penurunan) makroekonomi Indonesia secara umum, dan 2. Tingginya suku bunga perbankan. Karena jika ekonomi melemah apalagi sampai krisis, maka orang-orang masih akan beli beras, mandi pake sabun mandi, merokok, dll, tapi mereka akan mikir-mikir kalo ditawari beli rumah. Demikian pula jika bunga bank tinggi, yang otomatis menurunkan penyaluran kredit perbankan itu sendiri termasuk untuk KPR, padahal mayoritas orang beli rumah ya pake KPR ini.
Okay, lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang? Nah, anda sendiri mungkin bisa merasakan bahwa kondisi ekonomi saat ini terbilang baik, sangat baik malah, meski mungkin belum merata (ketika Nadiem Makarim sukses besar dengan Gojek-nya, tapi di tempat lain tetap ada saja orang-orang yang kesulitan mencari kerja), tapi itu sesuatu yang normal, yang pasti terjadi di negara manapun. Tapi yang penulis perhatikan, sekarang ini iklan-iklan penjualan rumah, apartemen dll mulai rame lagi, dan kawasan-kawasan township di Serpong, Cikarang, hingga Cibubur mulai banyak pembangunan perumahan. Lalu bagaimana dengan bunga bank? Well, juga lagi murah-murahnya! Seiring dengan benchmark BI 7-day rate yang terakhir berada di level 4.25%, yang merupakan salah satu level terendahnya dalam sejarah.
 
Posisi BI Rate dalam sepuluh tahun terakhir, perhatikan bahwa level saat ini (4.25%) itu bahkan lebih rendah dibanding ketika booming properti tahun 2009 – 2012 lalu. Sumber: www.tradingeconomics.com
Jadi kalau melihat environment dari sektor properti itu sendiri, maka kondisi sektor ini sangat mirip dengan sektor batubara pada Semester II 2016 lalu: Meski ketika itu Harum Energydkk masih belum membukukan kinerja bagus/laba mereka masih pada turun, tapi karena harga batubara mulai merangkak naik, maka outlook sektor tambang otomatis menjadi cerah, dan alhasil saham PTBA dkk sudah naik duluan bahkan ketika perusahaan belum benar-benar membukukan kenaikan profit.
Okay, tapi kenapa saham-saham properti, meski tadi dikatakan outlook-nya cerah, tetap saja belum naik setinggi batubara? Well, pertama, kalau dikatakan sektor ini belum naik maka itu kurang tepat juga, karena nyatanya beberapa saham penulis perhatikan sudah naik 20 – 30% dalam enam bulan terakhir, dan itu merupakan kenaikan yang signifikan (tapi kadang orang gak memperhatikan hal ini, karena keburu silau sama saham/sektor lain yang naiknya lebih tinggi). Kedua, berbeda dengan perusahaan batubara yang hampir pasti bakal cuan asalkan harga batubara naik, maka tidak semua emiten properti bakal profit bahkan meski kondisi ekonomi lagi baik, dan suku bunga bank turun. Karena diluar dua faktor penting tersebut, maka tiap-tiap perusahaan secara individual memiliki faktor-faktor lainnya lagi yang mempengaruhi kinerja mereka, mulai dari lokasi proyek (perusahaan properti dengan lokasi proyek di Serpong tentu lebih berpeluang profit ketimbang perusahaan properti dengan lokasi proyek di Balikpapan, misalnya), kualitas infrastruktur/akses jalan di lokasi properti, jenis properti yang dijual (landed house akan lebih gampang terjual ketimbang kondominium), hingga kualitas/reputasi manajemen. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu saham Sentul City (BKSL) turun sendiri dari 300-an hingga dibawah 100, dan itu cuma gara-gara owner-nya diciduk oleh KPK, dimana setelah itu perusahaan praktis kehilangan arah, sama sekali.
Karena itulah, pergerakan saham properti ini mirip-mirip dengan saham perkebunan kelapa sawit: Sahamnya biasanya baru akan naik signifikan setelah perusahaan yang bersangkutan confirm membukukan profit besar di laporan keuangannya. Problemnya, kalo kita baru masuk setelah laporan keuangan keluar, maka terdapat risiko ketinggalan kereta disini. Nah, jadi selain melihat outlook dari sektor properti itu sendiri, anda harus menyeleksi lagi: Dari sekian banyak saham properti, yang mana yang manajemennya bagus? Kinerja historisnya bagus? Dan seterusnya. Dan saham properti itulah yang anda beli.
But anyway, itu gak terlalu sulit kok :) Nah, jadi menurut anda sendiri, saham-saham properti apa saja yang saat ini menarik untuk dikoleksi?
Untuk artikel minggu depan kita akan membahas update sektor konstruksi.

Buletin Bulanan yang berisi analisis IHSG, investment planning, & stockpick saham pilihan edisi Februari 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal IV 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal dan lainnya). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada Februari 2018. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.
Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat siang pak Teguh…
Saya Mengikuti jejak bapak membeli asri. Kebetulan dapat harga di bawah bapak.
Dan sekarang mulai ada profit.
Terima kasih pak Teguh.
-Fendi-
Oya Pak…mau blng trm ksh. Sy ada beli ptro dan inds bbrp bulan lalu. Bulan lalu jual. Kecepatan sih jualnya. Tp yg penting ada cuan 30 persen walaupun gak byk lotnya. Tp tetap mau blng trm ksh sama Pak Teguh.
Sekarang ada masuk mcor dan beli hoki kmrn sesuai ebook lk 3 kmrn.smg bs ksh cuan lg.
January 22nd, 2018 at 10:54 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

‘Best Investment I’ve Ever Made’

Tas ransel hitam ini saya beli tahun 2007, dan sejak saat itu dia selalu setia menemani saya kuliah, ketemu dosen, ngeprint skripsi, pergi wisuda, melamar pekerjaan, berangkat ke kantor, buka rekening di sekuritas, ketemu bos untuk pamit resign, terbang untuk liburan, berkendara naik turun bukit, menaklukkan puncak gunung tertinggi, menjelajah laut lepas, hingga nyasar di negeri orang. Tak terasa 10 tahun sudah berlalu, tapi dia masih sangat awet tak kurang suatu apapun, dan mungkin masih bisa menemani saya berpetualang hingga 10 tahun berikutnya.

Tas ini dibeli pada harga Rp390,000, harga yang sangat mahal untuk ukuran kantong saya yang ketika itu masih mahasiswa, tapi saya tetap membelinya karena melihat tas ini sangat kokoh dan bisa menjadi investasi yang sangat baik. Yup, karena investasi tidak melulu soal ‘making money’, tapi juga soal bagaimana kita membeli sesuatu yang bermanfaat untuk jangka panjang, pada harga yang memang sepantasnya.
And years later, it turns out that this backpack is one of the best investments I’ve ever made :)
Nah, kalau anda sendiri, apa investasi terbaik yang pernah anda beli/miliki? Btw untuk gantungan kunci Inter Milan-nya, itu dibeli lebih lama lagi di tahun 2000 waktu saya masih SMP (jamannya Christian Vieri), harganya Rp1,000.

Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Februari 2018 akan terbit hari Kamis, 1 Februari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham Perkebunan Kelapa Sawit

Salah satu pekerjaan rutin kami di Avere setiap awal tahun adalah mengecek statistik BEI pada akhir tahun sebelumnya, untuk mengetahui berapa persen kenaikan IHSG, dan sektor-sektor apa saja yang kenaikannya tidak setinggi IHSG sepanjang tahun tersebut. Sebab berdasarkan pengalaman, value opportunity biasanya terletak pada saham-saham yang ‘ketinggalan kereta’ ini. Contoh paling dramatis, pada 2015 lalu IHSG drop 12.1%, dan sektor yang paling kena hantam adalah sektor tambang, dimana sepanjang tahun 2015 indeks mining drop sampai 40.7%, terburuk dibanding semua sektor lainnya. Namun ketika pasar mulai pulih di tahun 2016 dimana IHSG naik 15.3%, maka sektor mining-lah yang menjadi juaranya dengan kenaikan 70.7% (dan memang sepanjang tahun 2016 lalu, di blog ini sendiri kami sudah banyak membahas soal sektor mining tersebut, terutama batubara).

Okay, lalu bagaimana dengan tahun 2018 ini? Kira-kira sektor apa yang ketinggalan kereta sepanjang 2017 lalu? Well, mari kita lihat saja datanya: Sepanjang 2017, IHSG naik total 20.0%, atau cukup signifikan, namun surprisingly ada dua sektor yang justru turun yakni properti dan konstruksi (turun 4.3%), dan agriculture alias perkebunan (turun 13.3%). Nah, jadi apakah peluangnya sekarang terletak di saham-saham properti, konstruksi, serta perkebunan ini? Mari kita cek, dalam hal ini kita lihat sektor perkebunan dulu.
Indeks Kode di Yahoo Finance Kinerja 2017 (%)
IHSG ^JKSE 20.0
LQ45 ^JKLQ45 22.0
Agriculture ^JKAGRI (13.3)
Mining ^JKMING 15.1
Basic Industry & Chemicals ^JKBIND 28.1
Miscellaneous Industry ^JKMISC 0.8
Consumer Goods ^JKCONS 23.1
Property & Construction ^JKPROP (4.3)
Infrastructure & Transportation ^JKINFA 12.1
Banking & Finance ^JKFINA 40.5
Trade & Service ^JKTRAD 7.1
Manufacturing ^JKMNFG 19.8
Ketika harga-harga komoditas mulai melambung tinggi, awal dekade 2000-an lalu, salah satu komoditas yang melejit adalah minyak sawit mentah alias crude palm oil, atau CPO. Dan kebetulan, lahan di Indonesia terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan ternyata sangat cocok untuk tanaman sawit. Maka muncullah banyak perusahaan yang membeli lahan luas untuk kemudian disulap menjadi perkebunan kelapa sawit, dan Indonesia segera menjadi salah satu produsen CPO terbesar di dunia. Di tahun-tahun berikutnya, CPO, bersama dengan batubara, hampir selalu menjadi dua komoditas utama ekspor nasional diluar migas. Pada puncak booming komoditas di tahun 2011 lalu, CPO menjadi komoditas ekspor nonmigas terbesar kedua dengan nilai ekspor nasional mencapai US$ 21.7 milyar (dibawah batubara senilai US$ 27.3 milyar), dan pada tahun tersebut muncul banyak perusahaan Tbk di bidang perkebunan kelapa sawit yang, karena kinerja fundamentalnya yang bagus, menjadi favorit para investor pasar modal, seperti Astra Agro Lestari (AALI), PP London Sumatera (LSIP), hingga Sampoerna Agro (SGRO). Beberapa konglomerasi besar seperti Grup Sinarmas dan Grup Salim juga cuan besar dari sektor CPO ini, dan mereka menggunakan uangnya untuk investasi di sektor-sektor usaha lain seperti properti dan tambang, selain investasi/memperluas kebun sawit yang mereka miliki itu sendiri.

Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit & Pabrik Pengolahan Biji Sawit menjadi CPO milik PT Astra Agro Lestari, Tbk

However, pada tahun 2011 tersebut, jika dibanding batubara, maka sektor sawit ini tidak terlalu terasa booming-nya, dimana investor yang tertarik untuk invest di sektor riil biasanya akan lebih memilih beli tambang batubara ketimbang lahan kebun sawit. Sementara di pasar modal, penulis ingat betul, saham-saham CPO juga agak telat naiknya dibanding saham-saham batubara. Padahal pada awal tahun 2011, bersamaan dengan harga batubara yang mencapai rekor tertinggi US$ 120 per ton, benchmark harga CPO di Bursa Malaysia juga sempat menyentuh rekor RM4,000 per ton. Tapi ketika saham PTBA dkk ketika itu beterbangan bahkan sejak tahun sebelumnya (2010), saham LSIP dkk masih adem ayem saja/tetap naik tapi kenaikannya tidak banyak.
Dan saham-saham CPO ini baru naik banyak mulai pertengahan tahun 2011, yakni ketika para emiten merilis laporan keuangan untuk Kuartal I 2011, dimana memang profit mereka melonjak signifikan. Berdasarkan pengalaman inilah, penulis kemudian mikir lagi: Kenapa saham-saham batubara bisa dengan cepat naik simply ketika harga batubara naik (jadi para emiten batubara sejatinya belum benar-benar membukukan profit di laporan keuangannya), tapi saham-saham CPO harus tunggu laporan keuangan mereka dulu, baru kemudian naik? Dan jawabannya adalah, karena batubara itu cenderung easy business. Yup, kalau anda pegang KP (kuasa pertambangan) untuk satu lahan tambang tertentu, maka selanjutnya anda tinggal gali tanahnya, ambil batubara yang ada dibawah lapisan tanah tersebut, angkut ke pelabuhan, lalu jual, terima duit, selesai!
Sementara sawit? Well, ketika anda menanam pohon sawit, maka pohon itu baru bisa dipanen/menghasilkan CPO paling cepat sekitar tiga tahun kemudian, itupun jika selama itu kita rajin menyiram dan memberi pupuk (pohon sawit termasuk jenis tanaman yang membutuhkan pasokan air yang sangat besar). Masalahnya, let say kita sukses memelihara kebun sawitnya hingga siap panen, tapi bagaimana kalau harga CPO sedang turun justru ketika kebunnya sudah siap panen? Dari sinilah kemudian timbul ketidak pastian: Hanya karena harga CPO naik, maka bukan berarti perusahaan sawit bakal langsung cuan. Jadi kalau anda hendak beli saham LSIP dkk, maka sebaiknya tunggu dulu hingga perusahaan merilis laporan keuangannya, just to make sure.
Karena alasan inilah, ketika harga-harga komoditas mulai pulih lagi pertengahan 2016 lalu, penulis ketika itu hanya melirik saham-saham batubara saja, dan tidak atau belum melirik sektor perkebunan ini (baca lagi penjelasannya disini). Okay, tapi untuk sekarang ini kan saham-saham batubara udah pada naik semua tuh, sedangkan sawit kelihatannya masih belum kemana-mana. Jadi apakah sekarang sudah waktunya kita pindah ke sektor perkebunan ini?
Sayangnya, jawabannya mungkin masih belum. Sejak sekitar setahun lalu, penulis sudah mengatakan bahwa seiring dengan rencana IPO Aramco, yang merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia asal Arab Saudi, maka harga minyak kemungkinan akan dijaga agar tidak turun, atau bahkan dikerek naik (baca lagi ulasannya disini). Dan memang, pada hari ini kita bisa menyaksikan harga minyak dunia cenderung naik, dari US$ 40, 50, hingga tembus US$ 60 per barel. Sementara rumus gampangnya adalah, kalau harga minyak naik, maka harga komoditas energi lainnya, seperti gas dan juga batubara, biasanya juga akan ikut naik. Problemnya, sekali lagi berdasarkan pengalaman, jika semua orang di seluruh dunia hanya fokus pada kenaikan harga minyak yang notabene merupakan komoditas dunia paling penting, apalagi jika diiringi oleh ‘peristiwa besar’ seperti IPO Aramco diatas, maka terkadang komoditas-komoditas lainnya (komoditas non energi) justru terlupakan, dan alhasil harga komoditas non energi ini menjadi stagnan atau bahkan malah turun.
Dan memang itulah yang terjadi pada CPO. Sebenarnya ketika harga komoditas mulai naik pada penghujung tahun 2016 lalu, maka harga CPO juga turut merangkak naik dari RM1,900 hingga hampir saja tembus RM3,000 pada awal 2017, tapi kesininya harga CPO malah justru turun, hingga terakhir balik lagi ke level dibawah RM2,500 per ton (anda bisa melihatnya di www.bursamalaysia.com). Yup, jadi inilah yang bikin saham-saham perkebunan pada lesu darah sepanjang tahun 2017 lalu. Karena coba pikir: Jika harga CPO lagi tinggi saja maka para emiten sawit belum tentu cuan, apalagi jika harga CPO lagi turun?
Indonesia: Produsen CPO Terbesar di Dunia, but That’s Actually Bad News
Kemudian, penulis sendiri baru menyadari belakangan ini bahwa sepertinya terdapat satu lagi alasan khusus kenapa harga CPO agak susah naik: Bagi anda yang belum tahu, sejak beberapa tahun lalu Indonesia sudah menyalip Malaysia untuk menjadi produsen CPO terbesar di dunia. Yup, jadi berbeda dengan batubara dimana Indonesia hanya menempati peringkat lima produsen terbesar (setelah China, Amerika Serikat, India, dan Australia), maka untuk CPO, kita adalah numero uno. Kemudian kalau melihat cakupan penggunaan CPO yang sangat luas mulai dari minyak goreng hingga bahan bakar kendaraan bermotor, maka CPO ini sejatinya juga tidak kalah pentingnya dibanding minyak. Jadi secara teori, Indonesia seharusnya tidak kalah makmur dibanding, katakanlah, Arab Saudi.
Hanya saja, I don’t know, mungkin karena Indonesia merupakan third world country, maka jadilah harga CPO ini rada susah naiknya karena memang kita kurang pinter di marketing-nya, dimana bahkan benchmark harga CPO dunia yang dipakai adalah yang di Bursa Malaysia, bukan di Indonesia itu sendiri. Yup, jadi berbeda dengan minyak yang dimana produsen terbesarnya adalah negara superpower macam Rusia dan Amerika Serikat (Arab Saudi juga merupakan ‘kawan baik’ Amerika), sehingga mereka bisa dengan leluasa menaik turunkan harga minyak, Indonesia belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan harga CPO dunia, padahal kita merupakan produsen terbesar. Lebih buruk lagi, sudah sejak lama industri sawit juga diserang dengan isu pembabatan hutan, global warming, hingga perusakan habitat hewan-hewan seperti orangutan di Kalimantan (tapi anehnya industri minyak, yang jelas-jelas lebih merusak lingkungan, jarang diserang dengan isu-isu seperti itu). Para produsen CPO di Malaysia (lagi-lagi Malaysia, bukan Indonesia) mencoba mengatasi isu-isu negatif ini dengan mendirikan organisasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)di tahun 2004, dimana RSPO ini menerbitkan sertifikat CSPO (certified sustainable palm oil) bagi perusahaan-perusahaan sawit yang dianggap ‘tidak merusak lingkungan’, dan CSPO ini juga sudah diakui dunia. But still, hal ini tidak mampu meredam sepenuhnya isu-isu negatif di sektor perkebunan.
Dan salah satu problem kenapa Indonesia tidak memiliki kendali atas harga jual CPO, adalah karena di Indonesia sendiri belum berkembang industri-industri hilir untuk CPO (paling sebatas bikin margarine saja), sehingga otomatis posisi tawar kita menjadi lemah dibanding negara lain yang mampu mengolah CPO tersebut.
Padahal, seperti halnya minyak dan batubara, CPO adalah merupakan kebutuhan utama dunia untuk bahan baku minyak goreng dan margarine, produk-produk makanan, obat-obatan, kosmetik, produk-produk kimia (oleochemical), bahkan untuk membuat biosolar. Jadi seperti yang disebut diatas, cakupan penggunaan CPO ini sangat luas. Dan lebih penting lagi, berbeda dengan kebanyakan komoditas lainnya, CPO hampir tidak memiliki komoditas pengganti. I mean, kalau anda pakai bensin untuk mobil, maka sekarang sudah ada mobil listrik. Kalau anda pake batubara untuk pembangkit listrik, maka di Amerika sana sebagian pembangkit listrik sudah mengganti batubara dengan gas. Sementara CPO? Well, sebenarnya anda bisa juga pakai minyak kelapa atau olive oil untuk memasak, tapi harganya muahal sekali, dan juga sulit diperoleh. Jadi pada akhirnya orang hanya akan pakai minyak sawit.
Hanya saja, sekali lagi, berbeda dengan Arab Saudi yang sudah mampu mengolah sendiri minyaknya menjadi produk-produk petrochemical dll, Indonesia masih belum benar-benar mampu untuk mengolah CPO. Karena itulah, harga CPO mungkin justru malah ditekan oleh negara-negara maju agar mereka bisa memperoleh suplai CPO dari Indonesia pada harga murah. Karena toh pada akhirnya, para perusahaan perkebunan di Indonesia nyaris tidak punya pilihan lain kecuali menjual CPO-nya ke pasar ekspor ‘pada harga berapapun asal laku’, karena mereka belum bisa menjualnya ke pasar/industri dalam negeri. Jadi kecuali nanti di Indonesia sudah berdiri pabrik farmasi, kosmetik dll yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, maka harga CPO belum akan naik dulu.
Anyway, kabar baiknya, meski harga CPO turun lagi, namun penurunannya tidak sampai balik lagi ke level terendahnya di awal tahun 2016 lalu. Yup, jadi secara keseluruhan harga CPO sebenarnya masih naik, dan penulis termasuk yang percaya bahwa masa-masa kritis sektor komoditas secara umum memang sudah berakhir pada tahun 2016 tersebut, dimana untuk sekarang perlahan tapi pasti harga-harga komoditas kembali bergerak naik (karena juga seiring inflasi dunia), tapi tentu, seringkali naiknya tidak secara bersamaan, alias bergiliran.
Jadi meski seperti yang dibahas diatas, terdapat alasan kuat kenapa harga CPO susah naik, tapi disisi lain harga CPO juga tidak akan turun lagi, karena toh pada akhirnya negara-negara diluar Indonesia tetap butuh CPO ini. Kata kuncinya disini adalah, Indonesia harus bisa mengembangkan industri hilir bagi CPO agar kemudian bisa memiliki kendali atas harga CPO dunia. Jadi, yap, yang kita tunggu sekarang ini adalah kebijakan Pemerintah atau semacamnya, yang bertujuan untuk mendorong hilirisasi CPO, yang kemudian mendorong kenaikan harga CPO. Dan ketika itulah saham-saham perkebunan kelapa sawit, yang valuasinya memang bisa dianggap paling murah di bursa saat ini, akan punya alasan kuat untuk naik.

Untuk kedepannya kita mungkin akan update lagi prospek sektor perkebunan kelapa sawit ini. Tapi untuk minggu depan, kita akan bahas update sektor konstruksi, atau properti.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Saham Nyangkut: Kenapa Susah ‘Move On’?

Di artikel minggu lalu tentang Warren Buffett, penulis menyampaikan setidaknya tiga alasan kenapa saya, secara personal, menjadikan beliau sebagai panutan. Alasan tersebut adalah: 1. Penulis gak punya cukup waktu untuk baca-baca lagi tentang investor besar lainnya, 2. Tidak hanya mengajarkan tentang investasi saham, Buffett juga mengajarkan untuk menjadi ‘a good person’, yang tidak berusaha mengambil keuntungan dari kerugian orang lain, 3. Buffett merupakan satu dari sedikit investor yang selalu happy dan santai/rileks dalam menjalankan pekerjaannya di Berkshire, dan itu membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan.

However, masih ada satu lagi alasan kenapa Buffett ini sangat unik dibanding banyak sekali investor lainnya, sehingga layak menjadi contoh: Berbeda dengan kebanyakan investor lainnya yang hanya menceritakan kesuksesan-kesuksesan mereka dalam meraih profit besar dari saham (dengan harapan bahwa orang-orang akan menganggap mereka investor hebat, atau semacamnya), Buffett justru banyak menceritakan kesalahan-kesalahannya, yang kita kemudian bisa belajar banyak dari situ. Salah satu ‘kesalahan’ yang sering ia ceritakan berulang-ulang adalah keputusannya untuk mengakuisisi Berkshire Hathaway, tahun 1962 lalu, dimana bisnis tekstil yang dimiliki Berkshire ternyata tetap saja tidak mampu menghasilkan keuntungan bahkan meski tim manajemen sudah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun  kemudian.
Tapi kesalahan Buffett bahkan lebih dari itu. Yup, meski Berkshire terus saja merugi, namun Buffett malah bersikeras mempertahankan aset-aset pabrik tekstil milik perusahaan, dan imbasnya itu menurunkan kinerja portofolio investasinya secara keseluruhan. Buffett baru benar-benar menyerah dan memutuskan untuk menjual pabrik tekstil terakhir milik Berkshire pada tahun 1986, atau lebih dari 20 tahunkemudian sejak ia pertama kali membeli saham Berkshire. Dalam banyak tulisan-tulisan selanjutnya, Buffett banyak mengeluh bahwa andai saja ia langsung cut loss di Berkshire sejak awal, kemudian menggunakan uang hasil cut loss tersebut dan waktu 20 tahun berikutnya untuk sepenuhnya fokus di investasi-investasi lainnya yang lebih menguntungkan, maka ia seharusnya bakal jadi jauh lebih kaya dibanding saat ini.

This company is actually one of Buffett’s biggest mistakes

Jadi pelajarannya disini adalah, kalau anda menyadari bahwa anda sejak awal salah pilih saham, maka jangan tunda-tunda lagi: Segera jual saham tersebut, bahkan meski dalam posisi rugi.
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau nyangkut/ruginya sudah kelewat besar? Kalau itu saham dijual, nanti realisasi ruginya jadi gede banget dong? Nah terkait hal ini, baru saja beberapa waktu lalu penulis menerima email dengan isi sebagai berikut, sebut saja Pak A:
‘Pak Teguh, saya masuk pasar saham sejak Maret 2013 (hampir 5 tahun, alias sudah cukup lama), tapi setiap tahunnya porto saya justru rugi terus. Pada pertengahan tahun 2017 kemarin saya baca buku Anda yang berjudul ‘Value Investing: Beat the Market in Five Minutes!’, dan mulai membeli saham berdasarkan strategi yang anda sampaikan di buku tersebut. Dan ternyata hasilnya dalam beberapa bulan ini saja sudah sangat baik meski secara keseluruhan masih negatif, karena ada beberapa saham saya yang nyangkut lamaseperti WTON dan PTPP. Mohon masukannya pak.’
Catatan: Di lampiran yang disertakan, Pak A ini memegang 11 saham berbeda, dimana kecuali WTON dan PTPP, yang masing-masing dibeli pada tahun 2015 dan 2016, sembilan saham lainnya baru dibeli pada Kuartal III dan IV 2017. Menariknya, dari kesembilan saham tersebut, yang tentunya dibeli berdasarkan metode value investing, tujuh diantaranya menghasilkan profit signifikan hingga ada yang sampai ratusan persen (INDY), sementara dua lainnya turun tapi hanya 1 – 2%. Namun karena posisi WTON dan PTPP masih minus masing-masing 46 dan 36%, sedangkan lebih dari 50% portofolio masih tertahan di dua saham tersebut, maka jadilah secara keseluruhan kinerja portonya masih minus sekitar 4%.
Jadi respon penulis kemudian sebagai berikut:
‘Portonya sudah bagus pak, saham-saham yang dipegang termasuk harga belinya juga sesuai kriteria value investing. Hanya saja, Pak A harus belajar untuk ‘menerima kesalahan di masa lalu’ dan ‘move on’, dengan cara cut loss di WTON dan PTPP, karena memang dua saham ini tidak dibeli berdasarkan kaidah value investing bukan? Memang, itu artinya Pak A akan merealisasikan kerugian yang nilainya tidak kecil, tapi coba pikirkan berapa keuntungan yang bisa dihasilkan kedepannya jika uang hasil cut loss tersebut kembali diinvestasikan ke saham-saham yang tepat, ketimbang dibiarkan mengendap di dua saham tersebut tanpa ada kejelasan kapan bakal balik modal.’
Nah! Apa yang dialami Pak A diatas kemungkinan merupakan kasus yang umum terjadi pada investor ritel, tak peduli ia seorang pemula atau berpengalaman. Sekarang jujur aja deh: Coba lihat lagi porto anda, apakah disitu masih ada satu atau dua saham nyangkut yang dulu anda beli secara asal-asalan dan tanpa analisa/hanya mengikuti rekomendasi yang gak jelas dari mana asalnya? Sudah berapa tahun anda hold saham tersebut? Dan bisakah anda bayangkan berapa besarnya keuntungan yang seharusnya anda peroleh andaikan anda sejak awal segera menjual saham tersebut, dan menggunakan uangnya untuk membeli saham-saham lain yang lebih baik??
Inilah sebabnya kalau ada investor yang minta saran ke penulis terkait portofolionya, dan ternyata porto tersebut isinya saham-saham yang gak jelas (atau saham yang sebenernya cukup bagus, tapi harga belinya salah/kemahalan), dan si investor juga mengakui bahwa ia membeli saham-saham tersebut tanpa strategi dan analisa sama sekali, maka saran penulis adalah: Jual semua saham tersebut, baik itu yang posisinya untung maupun rugi, lalu mulai lagi semuanya dari awal. Tapi Pak, itu artinya saya merealisasikan kerugian dong? Yap, itu benar, tapi pertama, anggap itu sebagai biaya belajar dari pengalaman. Sebab tidak hanya anda, penulis sendiri (dan juga Warren Buffett, dan juga banyak lagi investor besar lainnya) juga pernah terpaksa harus jual saham dalam posisi rugi besar, tapi justru karena kita ketika itu berani untuk menerima kenyataan bahwa kita salah pilih saham, lalu move on, maka hasilnya sekarang ini terbilang sangat baik. Yup, karena ‘pengalaman’ adalah guru yang paling berharga, dan sekaligus paling mahal, jauuuuh lebih mahal dibanding jika anda beli buku, ikut seminar dll, tapi disisi lain hasil ‘pelajarannya’ justru paling baik dan tidak akan pernah anda lupakan seumur hidup. Anda bisa baca lagi cerita lengkapnya disini.
Kemudian kedua, seperti yang sudah disampaikan diatas, cobalah untuk melihat kedepan, yakni pikirkan berapa keuntungan yang bisa dihasilkan kedepannya jika kita menjual saham yang tidak produktif lalu uangnya kembali diinvestasikan ke saham-saham yang tepat, ketimbang uang tersebut dibiarkan mengendap di saham-saham yang tidak produktif tadi tanpa ada kejelasan kapan bakal balik modal. Yup, jadi ketika anda terus saja meng-hold saham yang posisinya nyangkut selama bertahun-tahun, maka sekilas anda memang gak rugi apa-apa (karena kan itu saham belum dijual? Jadi ruginya belum direalisasikan), tapi kenyataannya anda justru sudah rugi dua kali. Yakni: 1. Saham tersebut bisa saja turun lagi, terutama jika fundamentalnya memang buruk sehingga memang sejak awal sahamnya tidak layak invest, dan 2. Anda kehilangan peluang profit di saham lain, yang jauh lebih bagus.
Anyway, mumpung sekarang masih awal tahun, maka jika sekarang ini terdapat satu atau dua ‘saham nyangkut menahun’ di porto anda, inilah saatnya untuk move on! Dan jika setelah membaca tulisan ini anda segera memutuskan untuk move on, maka itu artinya anda (dalam hal ini) bahkan sudah lebih baik dari Warren Buffett, yang butuh waktu sampai 20 tahun untuk menyadari bahwa pabrik tekstil milik Berkshire tidak akan menghasilkan profit lagi. What? Anda masih gak berani untuk cut loss karena ruginya terlalu besar? Ya sudah, kalo gitu jualnya separuh pegangan saja dulu. Jadi kalau anda pegang itu saham 100 lot, maka anda bisa jual 50 lot saja dulu, kemudian gunakan uangnya untuk beli saham lain yang lebih baik, dan lihat lagi bagaimana hasilnya beberapa bulan dari sekarang.
Untuk artikel minggu depan kita akan membahas update analisa terbaru dari salah satu sektor berikut: 1. Konstruksi, 2. Properti, 3. Batubara, atau 4. Perkebunan kelapa sawit. Silahkan anda pilih sektor yang mana, anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

Jadwal Seminar Value Investing: Cara Santai u/ Menghasilkan Keuntungan dari Pasar Saham. Jakarta 13 Januari, dan Surabaya 20 Januari. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Tips u/ Investor Pemula: Milikilah Mentor!

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan sebagai berikut, ‘Pak Teguh, kalau saya baca dari tulisan-tulisannya, kelihatannya Pak Teguh ini berkiblat banget sama Warren Buffett. Kenapa pak? Apakah karena beliau paling kaya dibanding investor-investor lain? Padahal kan ada cukup banyak investor lain yang, meski belum sekaya WB, tapi annual return investasinya lebih bagus, seperti Joel Greenblatt, Carl Icahn, Peter Lynch, dst.’

Nah, kebanyakan orang mungkin mengidolakan WB karena beliau adalah investor paling senior dan paling sukses, termasuk sudah menghasilkan banyak sekali karya tulis baik itu melalui annual letter-nya yang terkenal, ataupun buku-buku tentang investasi yang ditulis oleh orang lain (tapi berdasarkan metode investasinya WB).
However, bukan itu alasan kenapa penulis hanya menjadikan WB sebagai panutan, melainkan karena alasan-alasan berikut.
Pertama, yup, memang benar bahwa investor besar di dunia ini gak cuma WB, melainkan banyak lagi yang lain. Dan kalau ukurannya adalah annual return, maka WB juga bukanlah yang terbaik.
Namun terus terang, penulis sebenarnya sama saja seperti investor lain pada umumnya: Malas belajar dan malas baca, dimana saya lebih suka menghabiskan waktu untuk liburan ke pantai ketimbang baca-baca literatur tentang saham, termasuk seperti yang pernah penulis sampaikan di artikel ini, saya bahkan belum selesai membaca buku The Intelligent Investor karya Ben Graham. Intinya kalau saya disuruh baca semua buku karya investor terkenal, maka terus terang saja, saya gak punya waktu. Yup, karena bahkan bagi investor full time sekalipun, yang notabene gak punya kerjaan lain lagi, maka pekerjaan rutin menganalisis saham serta menyusun investment planning itu sudah cukup menyita waktu, konsentrasi, serta fokus. Dan daripada belajar dari buku-buku, saya lebih suka belajar dari pengalaman saja, dengan cara learning by doing.
Karena itulah, dan karena untuk mempelajari cara-cara investasi WB (dari annual letter-nya, dll) juga sebenarnya panjang banget (selama WB masih belum pensiun, maka selama itu pula kita bisa belajar dari beliau), maka penulis kemudian fokus berpedoman dari WB saja. Sudah tentu, penulis bukannya menutup diri dari belajar dari investor lain, namun biasanya saya sebatas membaca buku karya mereka saja. Contohnya buku karya Guy Spier, seorang value investor sukses yang pernah makan siang langsung dengan WB. Namun setelah selesai membaca bukunya (isinya kaya novel, dimana Mr. Spier menceritakan pengalaman serta ‘kisah nyata’-nya sebagai investor), penulis tidak cari tahu lebih lanjut tentang Mr. Spier, karena sekali lagi, itu membutuhkan waktu.
Buku ini beneran bagus lho

Kedua, seperti yang disebut diatas, kebanyakan orang menyukai WB mungkin karena memang dia langganan Majalah Forbes sebagai salah satu orang terkaya di dunia. However, kalaupun penulis sudah mengenal WB di awal tahun 1960-an, yakni ketika beliau masih belum jadi siapa-siapa, maka mungkin saya tetap akan menjadikan beliau sebagai panutan dan kawan baik. Sebab WB tidak hanya seorang real investor, tapi ia juga merupakan a good person, and a good human being. Di banyak annual letter-nya, WB tidak hanya berbagi tentang filosofi-filosofinya dalam berinvestasi, tapi juga filosofinya dalam menjalani kehidupan layaknya manusia pada umumnya. Buffett banyak mengajarkan tentang kesederhanaan, kesabaran, hingga menggunakan kekayaan yang kita miliki untuk tujuan yang baik seperti filantropi.
Dan kalau anda sudah cukup lama di pasar modal, maka anda akan menyadari bahwa sangat sulit bagi siapapun untuk bisa menjadi ‘a good person in the stock market’, karena disini banyak sekali godaannya! Yup, karena sifat dasar manusia itu adalah serakah, dimana orang lebih tertarik ‘mencopet’ saham terbang gak jelas ketimbang meraih keuntungan konsisten melalui investasi jangka panjang. Dan tidak hanya investor ritel, investor kelas kakap pun banyak sekali yang kerjaannya cuma menggoreng saham, insider trading, melakukan aksi-aksi korporasi yang merugikan investor publik, dan seterusnya.
Tapi Buffett tidak begitu, dimana sepanjang kariernya sebagai investor selama lebih dari enam dekade dihitung dari ketika ia membuka Buffett Partnership ditahun 1956 (itu adalah jangka waktu yang sangat lama!), hampir tidak ada kasus apapun yang melibatkan dirinya ataupun Berkshire (daftar lengkap ‘skandal’ WB bisa dibaca disini). Sementara investor/trader saham besar lain biasanya mereka ada saja kasus atau cerita jeleknya, atau bahkan justru terkenal karena kasusnya tersebut. Jika Jordan Belfort pernah dipenjara karena menggoreng saham, Jesse Livermore meraup keuntungannya dari berspekulasi alih-alih investasi, maka George Soros terkenal dengan peristiwa ‘Black Wednesday’-nya di tahun 1992, dimana ia menghasilkan keuntungan US$ 1 milyar dari kejatuhan mata uang Pound Sterling, yang seketika menyebabkan Bank of England dan banyak lagi investor institusi lainnya kelimpungan.
Apa yang dilakukan Mr. Soros itu sepenuhnya legal, jadi ia gak pernah sampai dipenjara karenanya. Namun, entahlah dengan orang lain, tapi kalau bagi penulis sendiri, saya tidak akan happy jika memperoleh profit yang berasal dari kerugian orang lain. Dan WB banyak mengajarkan tentang hal tersebut, tentang bagaimana menghasilkan profit dengan cara-cara yang benar, tentang bagaimana ia mengakuisisi perusahaan secara baik-baik dan bukannya hostile takeover. Dalam banyak annual letternya Buffett banyak menceritakan tentang bagaimana pasar saham di Amerika, dari dekade ke dekade, selalu dipenuhi oleh investor-investor serakah yang menghalalkan segala cara untuk meraih profit sebesar-besarnya, dan memang mereka kemudian menjadi kaya karenanya. Namun WB kemudian menunjukkan bagaimana para rising star ini hanya datang dan pergi, alias tidak pernah bertahan lama di pasar modal (atau lebih tragis lagi, berakhir dengan bunuh diri seperti Mr. Livermore diatas).
Terakhir, ketiga, mungkin karena karakternya sebagai good person diatas, WB kemudian menjadi investor yang selalu happy dan santaidalam menjalankan pekerjaannya di Berkshire, dan itu membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan. Ia adalah satu dari sedikit investor yang 1. Panjang umur serta awet muda, 2. Selalu tersenyum, 3. Selalu bersemangat untuk hadir di universitas untuk memberikan kuliah/motivasi, 4. Masih meluangkan waktunya untuk bermain kartu bridge, yang merupakan hobinya sejak dulu, dan 5. Lebih suka stay dirumah (yang merupakan rumah yang biasa-biasa saja untuk ukuran billionaire) sambil nonton pertandingan base balldan makan pop corn, ketimbang bergabung dengan hiruk pikuk pasar modal. Ketika WB makan siang dengan Guy Spier dan rekannya, maka mereka membawa serta keluarganya termasuk anak-anak perempuan yang masih kecil. Dan WB bahkan masih meluangkan waktu untuk membeli kado bagi anak-anak kecil tersebut.
Padahal, jangankan jika anda bertanggung jawab atas dana kelolaan hingga puluhan milyar Dollar seperti WB, kadang beli saham senilai Rp10 juta saja lalu kemudian itu saham malah turun, pusingnya udah di ubun-ubun bukan? Jadi boro-boro bisa santai, yang ada kita malah gak bisa tidur! Tapi WB sama sekali tidak begitu. Padahal seperti halnya kita gak akan happy jika dapet profit dari kerugian orang lain, kita juga gak akan happy jika dapet profit tapi itu setelah kita jungkir balik stress gak karuan. Yup, Buffett tidak hanya mengajarkan bagaimana cara meraup profit dari saham, tapi beliau juga mengajarkan bagaimana agar profit itu diperoleh dengan cara yang baik, dan juga santai/casual, sehingga kita bisa tetap menikmati hidup. Dan penulis sendiri sudah banyak sharing artikel tentang cara ‘investasi santai’ di blog ini, dimana kita bisa dapet profit besar tapi disisi lain tetap bisa tidur nyenyak di malam hari, salah satunya di artikel ini.
Anyway, penulis sejak dulu percaya bahwa setiap investor ituunik, alias berbeda satu sama lain. Jadi meski penulis menjadikan WB sebagai panutan, tapi penulis tetap punya beberapa gaya investasi sendiri yang berbeda dengan yang WB lakukan (meski tetap berdasarkan kaidah value investing), karena disesuaikan dengan kondisi pasar saham di Indonesia, peluang yang tersedia, hingga jumlah dana kelolaan. Penulis juga tidak sampai mengidolakan WB ataupun investor lain manapun, jadi kalau misalnya ada orang lain yang mengkritik WB maka itu sah-sah saja, dan saya gak akan protes. However, karena penulis juga percaya dengan prinsip to be the best, you have to learn from the best, maka saran penulis bagi investor pemula adalah, anda harus punya seorang panutan, yang anda jadikan sebagai ‘mentor’ bahkan meski anda tidak pernah bertemu langsung dengannya.
Dan bagi penulis mentor tersebut adalah Warren Buffett. Actually, sejak beberapa tahun terakhir ini penulis punya lagi satu mentor, yakni Li Ka-shing, dan sekali lagi itu bukan karena beliau pernah menjadi orang terkaya di Asia, melainkan karena alasan-alasan yang mirip dengan Buffett. Contoh, pada tahun 1956, Mr. Li pernah menolak tawaran dari investor untuk membeli pabrik plastiknya pada harga yang akan memberikan ia keuntungan ekstra hingga 30%, karena ia sebelumnya sudah setuju secara verbal (jadi sebenarnya belum ada perjanjian tertulis) untuk menjual pabrik tersebut ke orang lain. Yup, Mr. Li selalu berpegang teguh pada integritasnya, bahkan meski itu artinya ia akan kehilangan sejumlah uang (but still, he still made it as the richest man in Hong Kong).
Untuk kedepannya penulis mungkin akan share lebih banyak lagi tentang cara-cara investasi Li Ka-shing, yang juga merupakan value investor (kasih saya waktu untuk baca-baca dulu). Tapi untuk sekarang penulis ucapkan Selamat Tahun Baru 2018, semoga di tahun yang baru ini kita semua bisa lebih sukses lagi, dan bisa lebih banyak berbagi untuk sesama, amin!
Buletin Analisis Pasar/IHSG dan Stockpick saham pilihan edisi Januari 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Tiga Tips Investasi Saham u/ Pemula

Seperti juga tahun-tahun sebelumnya, tak terasa tahun 2017 inipun akan segera berlalu dan, hey, blog ‘Indonesia Value Investing’ ini tiba-tiba saja sudah berusia 8 tahun. Jadi bagi anda yang sudah membaca blog ini sejak tahun-tahun awal maka anda, bersama-sama dengan penulis, sudah melewati banyak sekali fase naik turunnya pasar saham, sudah mengalami ‘susah senang’ bersama, pernah merasa flying without wings ketika memperoleh profit besar, dan sebaliknya pernah pula kebingungan hingga stress ketika terpaksa cut loss.

Tapi apapun itu kita masih sama-sama survive hingga hari ini, dan kalau bagi penulis sendiri, keuntungan terbesar yang kami peroleh selama delapan tahun terakhir ini bukanlah dari peningkatan nilai aset, melainkan dari peningkatan pengalaman, kebijaksanaan termasuk kesabaran dalam menyikapi kinerja portofolio dan kondisi pasar, serta ketenangan dalam mengeksekusi setiap aksi jual, beli, dan hold saham :)

However, selain mereka yang sudah veteran, setiap tahunnya selalu ada saja investor baru di pasar modal, terutama dalam dua tahun terakhir ini sejak ramai kampanye Yuk Nabung Saham! Karena itulah, dalam kesempatan kali ini penulis mengajak anda, yakni investor yang sudah wara wiri di market selama 2 – 3 tahun atau lebih lama lagi, untuk sharing dengan menjawab pertanyaan berikut: Mumpung sebentar lagi tahun baru, maka jika anda memiliki tiga tips, nasihat, dan saranuntuk investor pemula dan/atau calon investor, maka apa saja tips tersebut?
1. ….
2. ….
3. ….
(Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah)
Btw, Selamat Natal 2017 bagi yang merayakan, dan Selamat Tahun Baru 2018 bagi kita semua! Khusus bagi anda investor pemula yang mungkin merasa bahwa investasi saham itu ribet, bikin pusing, kenapa kok saham saya turun terus dll, ada satu quote yang sangat bagus dari Jack Ma: ‘Never give up! Today is hard, tomorrow will be worse, but the day after tomorrow will be sunshine!’

Jadwal Seminar Value Investing: How to Casually Make Money from the Stock Market, Jakarta 13 Januari, dan Surabaya 20 Januari 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.
Buletin Analisis Pasar/IHSG dan stockpick saham pilihan edisi Januari 2018 akan terbit tanggal 2 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing: Surabaya, 20 Januari 2018

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – How to Casually Make Money from Stock Market, di Surabaya. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Surabaya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Bapak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk menganalisis saham dan perusahaan secara menyeluruh, berdasarkan sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya
  3. Cara cepat untuk menghitung valuasi harga saham, apakah murah, wajar, atau mahal.
  4. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  5. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, dan
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2018.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengertiSetelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!

Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    Surabaya:
    • Tempat: Amaris Hotel Embong Malang, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 20 Januari 2017
    Waktunya adalah pukul 11.00 s/d 16.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Bonus:
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama teman-teman peserta dari salah satu seminar sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar
    Komentar Alumni:
    Pak teguh,
    Ditahun ketiga saya mengenal dunia saham, alhamdulilah saya sudah balik modal dan sejak mengikuti seminar dan buletin bapak, sungguh banyak sekali ilmu yang saya dapat, dan saya juga sudah mendapatkan profit hampir 100 persen dari total modal saya, meskipun saya dapat nya penuh dengan perjuangan,
    Saya sudah membaca buku the intelligent investor (dan beberapa buku warren buffet lainnya). Dan untuk seminar/pelatihan saya sudah muter2 ke tetangga sebelah berkali2 dari yang mahal sampe murah, tapi saya merasa di seminar bapak yang paling cocok untuk saya (bukan memuji, tapi memang yang saya rasakan seperti itu) karena cara bertransaksi bapak yang tidak grasa grusu dan logis sekali penjelasan nya,..
    Dan untuk belajar, saya belajar pagi siang malam subuh, dan kalo bisa pun itu buku dan komputer saya bawak ke dalam mimpi di tidur saya, hikss (trauma mines)
    Mohon saran dan petunjuk nya ya pak,
    Terimakasih 
    Best Regards
    Widya Olivia
    Dear Mas Teguh,
    Taun ini rasanya bakal jd peningkatan ekstrem dr portofolio saya. Bahkan sblm ipo aramco mas hehehe.. ini berkat advice value investing dr blog mas teguh,
    Intinya tengkyu banget mas. Dulu sy udah baca2 graham & buffet, tapi karna ngga ada contoh yg jelas di indo (selain pak LKH) sy susah banget mau nerapin value investing. Kalo udah lancar, mgkn sy jg mau buat blog juga. Oiya mas teguh harus bangga, slama bbrp taun ini mas jadi “amazing senpai which changes my way of investing”. Your work improves my life.
    Best regards,
    Arif [...]

    Tiga Pilar Sejahtera Food

    Dalam beberapa waktu terakhir ini ada banyak saham second liner yang turun signifikan seiring dengan terjadinya koreksi pasar (soal koreksi pasar ini, baca lagi penjelasannya disini), namun mungkin tidak ada saham lain yang turun sedalam Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA). Yup, enam bulan lalu AISA masih berada di level 1,700-an, sebelum kemudian drop ke level 1,000-an pada Juli 2017 setelah perusahaan tersangkut kasus hukum terkait anak usahanya, PT Indo Beras Unggul. However, tak hanya kasus hukumnya tersebut sampai sekarang masih simpang siur, AISA kembali dihantam isu-isu miring mulai dari rencana divestasi unit usaha berasnya hingga isu default (gagal bayar utang), dan alhasil sahamnya kembali terjun bebas hingga sempat menyentuh level 378, sebelum kemudian membal ke level 480 – 500.

    Namun disisi lain, setelah kehilangan sekitar dua pertiga nilai pasarnya, saham AISA sekarang (pada harga 480) hanya mencerminkan PBV 0.4 dan PER 6.7 kali, absolutely undervalue apalagi jika dibanding saham-saham consumer goods yang lain. Jadi ini peluang apa bukan? Kemudian bagaimana dengan isu-isu miringnya tadi??

    Secara laporan keuangan, kinerja AISA di tahun 2017 ini kurang bagus dimana hingga Kuartal III, laba bersih perusahaan drop menjadi Rp173 milyar, dibanding Rp345 milyar di periode yang sama tahun 2016. Namun antara tahun 2011 hingga 2016, laba AISA secara konsisten bertumbuh dari Rp123 menjadi 593 milyar. Yup, jadi perusahaan ini sejatinya punya track record kinerja yang bagus, dan kita bisa berharap bahwa kedepannya laba AISA bakal naik lagi. Berdasarkan pengalaman ketika kita membeli saham-saham batubara pada valuasi rendah ketika harga batubara masih belum naik di tahun 2016, atau ketika kita masuk ke saham-saham perbankan di tahun 2015 ketika sektor ini sedang dilanda isu kredit macet seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi ketika itu, dan memang keduanya menghasilkan profit signifikan setelah 1 – 2 tahun selaras dengan membaiknya kinerja masing-masing perusahaan, maka value opportunity berikutnya mungkin terletak di AISA ini.
    However, dengan berbagai problem yang menimpa perusahaan sekarang ini, maka bisakah AISA kembali membukukan kinerja positif di masa yang akan datang? Atau jangan-jangan asal gak bangkrut saja sudah bagus?? Untuk itu mari kita telaah lagi perusahaan sejak awal.
    Bisnis Asli AISA: Bihun dan Makanan Ringan
    AISA, seperti yang kita ketahui, merupakan produsen mie kering, bihun, makanan dan minuman ringan termasuk biskuit dan permen, dan distributor beras. Perusahaan adalah pemilik dari merk-merk terkenal seperti snack Taro, Beras Maknyuss, dan minuman Capri-Sun. Dalam beberapa tahun terakhir perusahaan secara rutin terus meluncurkan produk-produk dan merk baru, terakhir mereka meluncurkan ‘Mi Goreng Superior’, ‘Bihun Jagung cap Tanam Jagung’, termasuk membangun pabrik untuk memproduksi minuman Capri-Sun. Jika dibandingkan dengan perusahaan consumer goods lainnya di Indonesia, maka manajemen AISA terbilang sangat agresif dalam berinovasi/menciptakan banyak produk-produk baru sekaligus ekspansi/melakukan pengembangan usaha, namun terkadang mereka malah jadi tersandung karenanya. Contoh, beberapa tahun lalu AISA berekspansi dengan mengakuisisi perusahaan perkebunan kelapa sawit, Golden Plantation (GOLL), dalam rangka untuk memiliki supply CPO-nya sendiri untuk bisnis makanannya (karena untuk bikin mie goreng dll, itu diperlukan minyak goreng dalam jumlah besar). Namun karena timing-nya salah, dimana AISA mengakuisisi GOLL justru ketika harga jual CPO sedang turun, maka perusahaan kemudian menderita rugi besar hingga akhirnya, sekitar dua tahun lalu, AISA terpaksa menjual GOLL untuk kembali fokus ke bisnis makanan dan beras.
    Dan untuk sekarang ini, AISA sepertinya harus kembali mendivestasi salah satu lini usahanya, yakni divisi perdagangan beras. Actually, berdasarkan sejarahnya sejak tahun 1959, AISA awalnya hanya merupakan produsen bihun jagung merk ‘Cap Cangak Ular’ dan mie kering dengan merk ‘Ayam 2 Telor’. AISA baru berekspansi dengan masuk ke bisnis beras dan lainnya sejak tahun 2009, yakni ketika tampuk pimpinan perusahaan dipegang oleh Stefanus Joko Mogoginta, yang merupakan generasi ketiga/cucu dari pendiri perusahaan, mendiang Tan Pia Sioe. Dan meski berbagai ekspansi tersebut sukses mendorong ekuitas perusahaan untuk tumbuh dari Rp1.8 trilyun di tahun 2011 menjadi Rp4.1 trilyun per Kuartal III 2017, namun progress-nya tidak terlalu mulus. Yup, selain merugi dari usaha perkebunan kelapa sawitnya, bisnis beras yang diakuisisi sejak tahun 2010 juga tidak menghasilkan profit sebesar yang diharapkan/margin labanya jauh lebih rendah dibanding bisnis makanan ringan. Pada Kuartal III 2017, dari pendapatan usaha beras sebesar Rp2.3 trilyun (atau Rp3 trilyun kalau disetahunkan), laba bersihnya hanya Rp10 milyar saja. Bandingkan dengan pendapatan dari usaha makanan ringan di periode yang sama, yang sedikit lebih kecil yakni hanya Rp1.8 trilyun, tapi laba bersihnya mencapai Rp175 milyar.

    Informasi kinerja AISA per segmen usaha. Klik gambar untuk memperbesar

    Mungkin karena itulah, selain karena bisnis beras ternyata ribet karena beras merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia (sehingga harga jualnya diatur oleh Pemerintah, penulis sudah menyebut soal ini di artikel tentang AISA, tahun 2012 lalu), dan puncaknya adalah ketika perusahaan beberapa waktu lalu terlibat kasus hukum terkait usaha berasnya, maka manajemen AISA akhirnya give up dan memutuskan untuk keluar sama sekali dari usaha perdagangan beras.
    Nah, berdasarkan sense bahwa bisnis beras tidaklah menguntungkan serta rumit, dan karena bisnis asli perusahaan sejatinya adalah di bihun, mie, dan makanan ringan, maka keputusan untuk divestasi usaha beras ini merupakan keputusan yang paling tepat. However, karena investor selama ini taunya sebagian besar pendapatan perusahaan berasal dari bisnis beras (itu memang benar, tapi seperti yang disebut diatas, laba bersih AISA dari usaha berasnya justru sangat kecil), belum lagi ditambah berita penurunan rating utang obligasinya serta isu bahwa perusahaan default/gagal bayar utang, dan kasus hukum perusahaan kemarin juga masih belum kelar, maka jadilah sahamnya anjlok gila-gilaan. Karena tidak hanya investor khawatir bahwa AISA bakal kehilangan mayoritas pendapatannya, sekarang mereka juga khawatir bahwa perusahaan bakal bangkrut. Sebenarnya kalau hanya karena penurunan kinerjanya saja, maka AISA di harga 1,000-an (PBV sekitar 0.7 – 0.8 kali) itu sudah sangat murah, terutama mengingat statusnya sebagai perusahaan consumer goods dengan track record kinerja yang bagus, dan kinerja perusahaan di tahun 2017 juga sebenarnya tidak sejelek itu/nggak sampai merugi. Namun ditambah dengan berbagai ‘problem’ diatas, maka jadilah sahamnya turun sampai sekarang.
    Kondisi Perusahaan Saat Ini
    Dan kalau anda berusaha menganalisa AISA ini hanya dari berita-berita serta rumor simpang siur yang beredar, maka anda justru hanya akan bingung sendiri. Jadi, okay, penulis akan sampaikan kronologis aslinya. Pertama, pada 2 November 2017, AISA menggelar RUPS untuk meminta persetujuan pemegang saham untuk menjual/mendivestasi beberapa anak usaha perusahaan di bidang perdagangan beras. Seperti juga ketika perusahaan menjual GOLL, dua tahun lalu, AISA berencana untuk menjual unit usaha berasnya ke PT JOM Prawarsa Indonesia yang merupakan pihak berelasi (kemungkinan juga dimiliki oleh Mr. Joko Mogoginta, tapi berbeda/diluar AISA). Untuk harga jualnya belum ditentukan, namun yang pasti nilai transaksinya relatif kecil yakni tidak akan mencapai 20% dari total nilai aset perusahaan yang sebesar Rp9.7 trilyun (meski tetap mencapai 20% dari nilai ekuitas perusahaan, sehingga aksi korporasi ini memerlukan persetujuan RUPS). Yup, karena untuk usaha berasnya, aset-aset AISA hanyalah berupa gudang, persediaan beras itu sendiri, serta jaringan distribusi. AISA tidak memiliki sawah ataupun aset tetap lainnya, karena sejak awal mereka hanya jualan beras yang dibeli dari petani, bukan memproduksi beras itu sendiri.
    Jadi sekali lagi, yup, pendapatan AISA memang akan berkurang drastis (sekitar Rp3 trilyun) setelah divestasi usaha berasnya, tapi tidak demikian dengan laba bersihnya. Malah dengan kembali fokusnya perusahaan di usaha bihun dan makanan ringan, laba bersih AISA dari snack Taro dll harusnya bisa naik lagi. Kemudian total aset AISA juga akan berkurang, tapi sekali lagi berkurangnya tidak akan terlalu besar, karena mayoritas aset AISA (pabrik bihun dll) itu merupakan aset di usaha industri makanan, bukan beras. Selain itu jangan lupa bahwa AISA tidak akan kehilangan usaha berasnya begitu saja, melainkan akan menerima hasil penjualan yang bisa kembali diinvestasikan ke bidang usaha yang lain.
    Kedua, pada tahun 2013, AISA menerbitkan obligasi dan sukuk, masing-masing senilai Rp600 dan 300 milyar, dan pada tahun 2016 perusahaan kembali menerbitkan sukuk senilai Rp1.2 trilyun. Thus, perusahaan memiliki tiga utang obligasi senilai total Rp2.1 trilyun. Yang perlu dicatat disini, kesemua obligasi tersebut dijamin dengan aset tetap dari beberapa anak usaha termasuk PT Sukses Abadi Karya Inti, dan PT Jatisari Srirejeki, dimana keduanya merupakan perusahaan perdagangan beras. Karena dua anak usaha tersebut termasuk yang akan didivestasikan (sehingga tidak bisa lagi dijadikan jaminan obligasinya), maka selain menggelar RUPS, AISA juga harus menggelar RUPO (rapat umum pemegang obligasi) untuk meminta persetujuan dari para pemegang obligasinya, untuk mengganti jaminan obligasinya dari aset tetap milik dua anak usaha diatas, dengan aset AISA yang lain.
    Namun seperti yang kita ketahui, ternyata para pemegang obligasi menolak usulan tersebut, alhasil manajemen AISA sekarang harus putar otak lagi, karena mereka tetap berencana untuk menjual usaha berasnya. Ketiga, imbas dari hasil RUPO-nya tersebut, Pefindo sebagai lembaga pemeringkat kemudian segera merilis update rating untuk tiga obligasi/sukuk AISA, dimana intinya rating obligasi tersebut turun dari A menjadi BBB, dengan catatan ‘credit watch with negative implication’ (‘negative implication’ ini kemungkinan terkait keputusan manajemen AISA yang tetap berencana mendivestasi usaha berasnya meski menerima penolakan dari pemegang obligasi).
    Dari update rating Pefindo inilah kemudian muncul rumor bahwa AISA mengalami gagal bayar utang obligasinya diatas, alias default. Padahal yang benar adalah, 1. AISA sampai sekarang masih lancar membayar cicilan utang obligasinya, baik itu pokok hutang maupun bunganya, tanpa pernah terlambat sekalipun 2. Total obligasinya yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun adalah sekitar Rp900 milyar, dan AISA masih memiliki aset lancar senilai total Rp5.8 trilyun, atau jauh lebih besar, sehingga secara neraca keuangan, AISA masih jauh dari kemungkinan default ataupun restrukturisasi utang. Yang jadi masalah adalah, sekali lagi, manajemen AISA menawarkan kepada para pemegang obligasi untuk mengganti jaminan/collateral obligasinya dari aset pabrik beras dengan aset lainnya, tapi para pemegang obligasi tersebut menolak tawaran tersebut.
    Tapi karena inti masalahnya hanya sebatas penggantian collateral (jadi bukan restrukturisasi utang yang harus melalui proses yang rumit dan panjang seperti restrukturisasi utang Bumi Resources, beberapa waktu lalu), termasuk nilai utang obligasinya juga tidak sebesar itu/masih ter-cover oleh aset maupun ekuitas bersih perusahaan, maka penulis percaya bahwa nanti juga pihak manajemen akan mencapai titik temu dengan para pemegang obligasinya, dan rencana divestasi usaha berasnya bisa tetap dilaksanakan.
    Okay, lalu bagaimana dengan prospek perusahaan kedepannya setelah nanti semua gonjang ganjing divestasi beras bla bla bla ini selesai? Well, tarohlah kita anggap perusahaan bakal kehilangan usaha berasnya begitu saja/tidak menerima uang cash dari hasil penjualannya (karena waktu AISA menjual GOLL senilai Rp521 milyar, perusahaan juga tidak langsung menerima uangnya/sampai sekarang hasil penjualan tersebut masih dicatat sebagai piutang), maka aset perusahaan akan berkurang, tapi berkurangnya gak banyak/tidak akan sampai 20% dari total aset perusahaan. Kemudian pendapatan AISA juga akan turun lebih dari separuhnya (karena mayoritas pendapatan perusahaan berasal dari penjualan beras), tapi tidak demikian dengan laba bersihnya, yang hanya turun sedikit. Malahan jika kedepannya manajemen bisa fokus hanya pada usaha bihun, mie, dan makanan ringan, maka laba AISA bisa kembali naik tinggi seperti di tahun-tahun yang lalu. Ketika AISA menjual GOLL, juga ada kekhawatiran bahwa kinerja perusahaan akan turun karena kehilangan salah satu sumber pendapatannya, tapi justru laba AISA pada tahun 2016 kembali naik pesat, dan sahamnya pun ketika itu naik lagi dari 1,000-an hingga sempat tembus 2,000 kembali. Soal utang perusahaan juga tidak perlu dikhawatirkan, karena sekali lagi, jumlah utang AISA sama sekali tidak sebesar itu/total DER-nya hanya 1.3 kali, dengan jumlah utang jangka pendek yang secara signifikan lebih kecil dibanding aset lancar perusahaan (Rp3.6 berbanding Rp5.8 trilyun).
    Lalu bagaimana dengan sahamnya?
    Penulis sebenarnya sudah tertarik dengan AISA ini ketika beberapa waktu lalu sahamnya drop sampai 900 – 1,000, yakni ketika mencuat kasus hukum terkait pabrik berasnya, dimana PBV-nya pada harga tersebut sudah dibawah satu kali. However, dengan mempertimbangkan cara kerja manajemen perusahaan yang grasa grusu dalam berekspansi, pernah cut loss dari kegagalan investasinya di GOLL dua tahun lalu, termasuk kasus hukumnya sendiri kelihatannya cukup serius, maka penulis putuskan untuk wait n see saja dulu.
    Dan ketika kemudian sahamnya lanjut turun hingga dibawah 500, dimana PBV-nya tinggal 0.4 kali, maka barulah penulis melihat AISA ini dengan cara yang berbeda: Yep, kinerja AISA tahun ini memang lagi turun, dan fundamental perusahaan secara umum memang tidak sebagus perusahaan consumer goods lainnya seperti Sido Muncul (SIDO), Nippon Indosari Corpindo (ROTI), atau Kalbe Farma (KLBF), tapi disisi lain dia nggak sejelek itu juga, dimana AISA punya track record kinerja yang bagus, dan perusahaan merupakan pemegang dari merk-merk makanan yang cukup terkemuka (Ayam 2 Telor, Snack Taro, dst), dimana merk-merk ini juga ada nilainya (penjelasan soal ‘nilai merk’ bisa dibaca disini). Dan meski AISA sekarang ini memang lagi ‘problem’, tapi setelah kita telaah lagi diatas, sebenarnya kondisinya tidak seburuk itu juga, sementara disisi lain harga sahamnya sekarang ini sudah kelewat rendah/sudah mencerminkan semua kekhawatiran investor dll. Maksud penulis adalah, yup, nilai ekuitas AISA mungkin akan berkurang pasca divestasi berasnya, yakni jika perusahaan tidak segera memperoleh pembayaran tunai dari penjualan usaha berasnya, tapi penurunan harga sahamnya jauh lebih signifikan ketimbang penurunan ekuitasnya tersebut. Dengan kata lain, kalo misalnya AISA ini masih di harga 900 – 1,000, maka penulis juga gak akan tertarik.
    Kemudian, terlepas dari upaya ekspansi perusahaan yang sejauh ini kelihatannya gagal semua, tapi bisnis inti perusahaan yakni bihun dan makanan ringan sejatinya sudah cukup menguntungkan dan gak ada masalah apapun. Jadi dengan kembalinya fokus manajemen ke bisnis inti tersebut, maka diharapkan perusahaan akan kembali profitable seperti di tahun-tahun sebelum 2017.
    Jadi untuk kedepannya terdapat setidaknya tiga skenariountuk saham AISA. Pertama, AISA sukses mendivestasi usaha berasnya, kasus hukumnya juga selesai, dan semua kesimpang siuran berita terkait kelangsungan usaha perusahaan akhirnya mereda seiring dengan berjalannya waktu, dan laba perusahaan kembali naik di tahun 2018 nanti. Maka ketika itulah sahamnya akan naik sangat tinggi. Berdasarkan data historis, PBV AISA ketika perusahaan mencatatkan kinerja bagus serta tidak sedang ‘dalam masalah’ seperti sekarang, adalah sekitar 2.0 – 2.2 kali, yang setara harga saham 2,000 – 2,500. Jadi, yap, jika skenario pertama ini yang terjadi maka saham AISA bisa naik setinggi itu, dalam waktu satu tahun atau kurang. Dalam waktu kurang dari satu tahun itu pula, ada kemungkinan manajemen akan mengumumkan rencana buy back saham atau semacamnya (karena kalau penulis adalah Mr. Joko, maka ini merupakan peluang emas untuk membeli saham AISA dari investor publik, karena kapan lagi bisa dapet harga semurah ini??).
    Skenario kedua, kinerja perusahaan di tahun 2018 masih biasa saja/belum kembali pulih, tapi semua kesimpang siuran berita terkait kelangsungan usaha perusahaan tetap mereda seiring dengan berjalannya waktu. Dalam hal ini penulis berkaca pada banyak pengalaman dimana sebuah saham bisa turun drastis ketika beredar berita dan rumor negatif (sehingga menyebabkan investor, karena kebingungan, memutuskan untuk cut loss), tapi ketika pemberitaan itu akhirnya mereda/dilupakan orang dengan sendirinya, maka sahamnya kemudian naik lagi, terkadang dengan kenaikan yang signifikan/diatas 50 – 100%. Termasuk AISA sendiri, dua tahun lalu sempat drop sampai dibawah 1,000 ketika perusahaan menjual GOLL, dan beritanya waktu itu juga simpang siur, tapi tak sampai setahun kemudian langsung naik lagi ketika semua kesimpang siuran itu mereda. Make no mistake: Kalau AISA ini hanya naik sedikit ke level 900 – 1,000 saja, (PBV 0.7 kali, still reasonable), maka profitnya sudah 100% bukan?
    Sementara skenario ketiga, adalah rencana perusahaan untuk mendivestasi usaha berasnya ternyata terhambat/berkepanjangan, atau malah muncul lagi problem baru. Jika ini yang terjadi maka ya sudah: Saham AISA gak akan naik dulu, dan fluktuasi tajamnya dalam beberapa waktu terakhir bisa berlanjut (sehingga sahamnya tidak cocok bagi anda yang jantungan/masih hobi ngeliatin harga saham tiap hari). However, kalaupun skenario ini yang terjadi, penulis kira AISA tetap sulit untuk turun lebih lanjut/kalaupun lanjut turun maka gak akan banyak turunnya, karena valuasi saham AISA sekarang ini bahkan sudah lebih rendah dibanding valuasi saham-saham batubara di tahun 2015 lalu, padahal perusahaan sampai sekarang masih beroperasi dengan normal dan masih membukukan laba, jadi gak sampai merugi seperti perusahaan-perusahaan batubara di tahun 2015 tersebut.
    Jadi dengan menelaah kembali peristiwa-peristiwa terbaru terkait kegiatan usaha perusahaan, serta mempertimbangkan faktor potensi profit serta risikonya, maka yup, AISA menawarkan value opportunity terutama pada harganya saat ini, meski memang disisi lain risikonya juga masih agak besarterutama terkait kemungkinan terjadinya skenario ketiga diatas. Jika anda hendak main aman, maka boleh juga tunggu sampai proses divestasi beras AISA selesai, dan berbagai berita negatif tentang AISA berbalikmenjadi berita positif, misalnya ‘Pasca Divestasi Beras, Margin Laba AISA Meningkat Tajam’ (karena untuk ‘menyetel’ judul berita seperti itu, itu gampang banget kok. Baca penjelasannya disini). Tapi biasanya ketika itu terjadi maka sahamnya sudah naik duluan, mungkin ke 700 – 800 atau lebih tinggi lagi (meski memang masih bisa lanjut naik), dan alhasil profit yang anda peroleh juga lebih kecil dibanding jika anda masuk di harga sekarang. So, what do you think?

    Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Partners sedang dalam posisi memegang AISA di harga 500. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sebelumnya.

    Jadwal Seminar Value Investing: How to Casually Make Money from the Stock Market. Jakarta,  Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 13 Januari 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Cara ‘Membeli’ IHSG

    Pada salah satu sesi kelas private kemarin, ada pertanyaan menarik dari peserta: ‘Pak Teguh, saya ini kan gak mengejar profit besar ataupun profit cepat dari saham. Asal bisa dapet profit decent diatas bunga deposito, katakanlah 10 – 15% per tahun, dan juga konsisten dalam jangka panjang, saya sudah sangat puas. Nah, saya perhatikan kenaikan IHSG dalam jangka panjang, kalau dirata-ratakan adalah sekitar segitu per tahun. Jadi bisa gak kita gak usah beli saham, tapi beli IHSG-nya saja?’

    Kemudian berikut ini adalah jawaban penulis.
    Berbeda dengan beberapa negara lain, di Indonesia kita tidak bisa membeli IHSG (kalau di Hong Kong, misalnya, selain membeli saham-saham yang menjadi komponen indeks Hang Seng, kita juga bisa membeli indeks Hang Seng itu sendiri seperti layaknya membeli saham biasa). However, jika tujuannya adalah agar portofolio kita bertumbuh/naik secara selaras dengan kenaikan IHSG (jadi nggak harus lebih tinggi dari kenaikan IHSG), maka ada beberapa cara. Pertama, dengan membeli reksadana saham. Reksadana saham, terutama yang dana kelolaannya besar-besar/trilyunan Rupiah (misalnya Schroder, Panin, Mandiri, dst) biasanya memiliki kinerja jangka panjang yang kurang lebih sama dengan kinerja indeks, karena manajer investasinya biasanya hanya membeli saham-saham big caps penggerak indeks, seperti ASII, TLKM, BBCA dkk. Yup, jadi kalaupun mereka ada beli juga saham-saham kecil/saham-saham diluar indeks LQ45, maka biasanya alokasi dananya gak banyak, gak sampai 1% dari total nilai portofolio. Misalnya reksadana A nilai, dana kelolaannya Rp1 trilyun, dan manajer investasinya beli saham X yang bukan merupakan saham bluechip. Maka belinya paling cuma Rp5 – 7 milyar saja, apalagi jika saham X itu kurang likuid.
    Problemnya, pernyataan bahwa ‘kinerja jangka panjang reksadana, terutama yang besar-besar, adalah kurang lebih sama dengan kinerja indeks’, itu sebenarnya tidak terlalu tepat juga. Karena penulis sudah dari dulu mengamati kinerja reksadana, dan kesimpulannya adalah: Sangat jarang ada reksadana yang mampu mencetak profit setara atau diatas kinerja IHSG. Dan kalaupun ada reksadana tertentu yang sukses beat the market pada tahun tertentu, maka biasanya pada tahun berikutnya, atau tahun berikutnya lagi, dia justru rugi/nilai NAV-nya turun. Atau dengan kata lain, kinerja reksadana tersebut tidak konsisten dalam jangka panjang.
    Sebagai ilustrasi, berikut adalah data kinerja 10 reksadana terbesar di Indonesia dari sisi nilai dana kelolaan (asset under management, atau AUM), secara year to date, dalam hal ini sampai penutupan pasar tanggal 11 Desember 2017. Sumber: www.bareksa.com. Perhatikan bahwa dari 10 reksadana tersebut, hanya 1 reksadana yang sukses menghasilkan kinerja diatas kenaikan IHSG.
    No
    Nama Reksadana
    AUM (milyar Rp)
    YTD (%)
    1
    Schroder Dana Prestasi Plus
    16,038
    10.9
    2
    Mandiri Saham Atraktif
    5,799
    16.3
    3
    Ashmore Dana Ekuitas Nusantara
    4,066
    12.2
    4
    Schroder Dana Prestasi
    3,742
    9.7
    5
    Panin Dana Maksima
    2,973
    2.1
    6
    Schroder 90 Plus Equity Fund
    2,703
    10.0
    7
    BNP Paribas Infrastruktur Plus
    2,676
    13.2
    8
    BNP Paribas Ekuitas
    2,263
    11.4
    9
    Schroder Dana Istimewa
    2,008
    3.1
    10
    KAM Kapital Optimal
    2,000
    8.5
    IHSG
    13.8
    Jadi selain berinvestasi melalui reksadana, maka terdapat pilihan kedua yakni, anda bisa membuat ‘reksadana’ milik anda sendiri. Caranya? Dengan itu tadi: Anda hanya membeli saham-saham yang menjadi komponen utama penggerak indeks, dan itu adalah saham-saham likuid yang menjadi komponen dari Indeks LQ45. Namun, seperti yang sudah penulis sampaikan dulu di artikel ini, saham-saham yang menjadi komponen Indeks LQ45 itu tidak selalu merupakan saham-saham berfundamental terbaik, karena fokus utamanya adalah di likuiditas sahamnya saja. Yup, jadi saham-saham gak jelas seperti Trada Maritime (TRAM) juga pernah masuk Indeks LQ45, hanya karena nilai transaksi perdagangannya sangat besar. Padahal secara fundamental, dia tentu saja tidak bisa disetarakan dengan saham-saham LQ45 lainnya seperti ASII, TLKM dkk.
    Karena itulah, kalau mau benar-benar aman maka pilihan sahamnya harus dipersempit lagi menjadi hanya saham-saham dengan likuiditas serta market cap terbesar di BEI. Dan untuk itu anda bisa membuka statistik BEI (ini link-nya), kemudian scroll kebawah hingga ketemu tabel ‘Top Market Cap’, sebagai berikut (datanya per tanggal 14 Des 2017, klik gambar untuk memperbesar):

    Nah, berbeda dengan Indeks LQ45, tabel ‘elit’ yang berisi 10 saham dengan market cap terbesar di BEI diatas hanya akan berisi saham-saham yang tidak hanya likuid, tapi juga mewakili perusahaan-perusahaan paling aman, besar, serta populer di Indonesia, dan kita bisa juga asumsikan, meski tidak selalu, bahwa mereka memiliki fundamental bagus. Sebagai contoh, United Tractors (UNTR) baru sekarang-sekarang ini saja masuk tabel top market cap diatas, setelah sahamnya naik terus sejalan dengan perbaikan kinerjanya dalam 1 – 2 tahun terakhir, seiring dengan kenaikan harga batubara yang menjadi bisnis utama perusahaan.
    Jadi dengan strategi berikut yakni: Anda membagi porto anda menjadi sepuluh bagian, kemudian tiap-tiap bagian tersebut dipakai untuk membeli 10 saham diatas, maka anda baru saja ‘membeli IHSG’, dimana naik turunnya kinerja porto anda akan selaras dengan naik turunnya IHSG. Strategi ‘membeli IHSG’ ini sangat cocok bagi anda yang gak mau ambil pusing dengan analisa saham yang kadang bisa sangat rumit, termasuk bagi anda yang tidak tahan mental dengan fluktuasi harian saham (karena berbeda dengan saham-saham kecil yang bisa terbang atau jeblok 10 – 20% dalam sehari, saham-saham top cap diatas jarang naik turun diatas 2 – 3% dalam sehari). Malahan jika anda membeli saham-saham seperti BBCA, HMSP, TLKM, dan BBRI saja sejak awal 2017 ini, maka kinerja investasi anda mungkin bahkan bisa diatas IHSG, karena faktanya saham-saham tersebutsepanjang 2017 ini naiknya lebih tinggi dibanding kenaikan IHSG, yang baru naik sekitar 14.3% YTD. Dan kalaupun kita ketemu kondisi pasar yang turun atau bahkan market crash, misalnya seperti tahun 2008 (ketika itu IHSG drop 50.1%), atau tahun 2015 lalu (drop 12.1%), maka meski saham-saham blue chip yang anda pegang bakal bertumbangan, tapi ketika pasar kemudian pulih kembali maka saham-saham anda tersebut juga akan naik lagi, sekali lagi, seiring dengan kenaikan IHSG.
    Dan IHSG, meski bisa naik dan turun (termasuk mengalami crash) dalam jangka pendek, namun pada akhirnya akan terus naik dalam jangka panjang. Jadi dengan strategi membeli IHSG ini maka setelah 5 – 10 tahun, keuntungan yang anda peroleh akan sangat memuaskan. Pada penghujung 2008, IHSG berada di level 1,300-an. Dan sekarang, atau belum genap 10 tahun kemudian, IHSG sudah berada di level 6,000-an, atau sudah naik 4 – 5 kali lipat, sudah termasuk menghitung penurunan di tahun 2013 dan 2015. Thus, dengan strategi ‘membeli IHSG’ ini maka nilai portofolio anda akan meningkat kurang lebih 4 – 5 kali lipat pula, dan itu belum termasuk ‘bonus’ dividen.
    Dua Kelemahan
    However, berdasarkan pengalaman, terdapat setidaknya dua kelemahan dari strategi ‘membeli IHSG’ ini. Pertama, pergerakan dari 10 saham-saham dengan market cap terbesar di BEI sebenarnya tidak selalu selaras dengan IHSG. Seperti yang disampaikan diatas, jika anda membeli saham-saham seperti BBCA, HMSP, TLKM, dan BBRI pada awal 2017 ini, maka kinerja investasi anda bisa diatas IHSG, karena saham-saham tersebut sepanjang 2017 ini naiknya lebih tinggi dibanding kenaikan IHSG. However, kalau anda membeli saham-saham yang persis sama di tahun 2016 lalu, maka kinerja portofolio anda akan cukup jauh dibawah IHSG. Contohnya, sepanjang tahun 2016, saham BBRI hanya naik tipis dari 11,425 ke 11,650 (sebelum stocksplit), atau hanya naik 2.0%, sementara IHSG melonjak signifikan yakni 15.3%.
    Dan penulis sudah cek naik turunnya saham-saham big caps pada tahun-tahun tertentu dalam beberapa tahun terakhir, dan kesimpulannya adalah saham ASII dkk kadang naiknya lebih tinggi dibanding IHSG pada tahun-tahun tertentu, tapi pada tahun-tahun yang lain giliran IHSG-lah yang naiknya lebih tinggi. Kondisi ini sekilas tidak akan jadi masalah, toh pada akhirnya ASII dkk akan terus naik dalam jangka panjang bukan? Jadi jika pada tahun tertentu ASII ini tampak gak naik-naik, ya sudah hold saja, toh nanti juga naik lagi? Well, tapi pada prakteknya nggak segampang itu. Contoh, sepanjang 2017 ini, kwartet banking terbesar yakni BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI totalnya sudah menghasilkan gain sekitar 40% bagi para pemegang sahamnya, atau jauh diatas kenaikan IHSG (dan itu bahkan belum termasuk dividen). Tapi pada tahun 2016 lalu, ada banyak investor yang justru cut loss di saham-saham perbankan ketika BBCA dkk berjatuhan di tengah tahun, dan alhasil ketika saham-saham bank ini kemudian naik maka para investor ini justru sudah tidak pegang barang. Yup, karena pada tahun 2016 lalu akan sangat sulit bagi siapapun untuk tetap meng-hold saham-saham big caps banking, karena tidak hanya anda akan tertekan secara psikologis karena kinerja portofolio anda akan jauh dibawah rata-rata pasar, sentimen terkait perbankan ketika itu masih jelek semua (banyak cerita kredit macet, pembatasan NIM, dll), dan ketika itu juga ada banyak saham-saham lain yang naik lebih tinggi, misalnya saham-saham batubara.
    Jadi maksud penulis adalah, yap, kalau anda mampu untuk tetap ‘bersama-sama’ dengan saham-saham big caps ini baik dalam masa-masa ‘susah’ maupun ‘senang’, maka setelah 5 – 10 tahun, kinerja investasi anda akan sangat baik. However, pada prakteknya itu sangat sulit bahkan untuk seorang value investor berpengalaman sekalipun, terutama kalau kita baru saja melewati tahun dimana kinerja porto ternyata dibawah IHSG (karena itu jadi tidak sesuai dengan ultimate goal dari seorang investor itu sendiri, yakni untuk beat the market setiap tahunnya).
    Kedua, dengan menggunakan metode value investing, maka seorang investor memiliki peluang untuk membeli saham yang menghasilkan gain signifikan hingga 100% atau lebih, dalam waktu yang relatif singkat, yakni kurang dari 1 tahun saja. Misalnya (beberapa ‘saham jackpot’ yang penulis temukan sebelum mereka terbang) KMI Wire & Cable (KBLI), Harum Energy (HRUM), Indika Energy (INDY), Medco Energi (MEDC), dst.
    Namun kalau anda perhatikan, sebagian besar saham-saham jackpot ini, atau malah seluruhnya, merupakan saham-saham mid atau small cap, atau istilahnya second liner. Sementara pada contoh ‘value opportunity’ pada saham bluechip, misalnya Jasa Marga (JSMR) ketika sahamnya turun ke 4,000 karena right issue, total gain-nya hanya 50 – 60% saja (meski itu juga tetap sangat memuaskan).
    Jadi kalau kita membatasi diri dengan hanya membeli saham-saham big caps, maka ya sudah, anda tidak akan pernah menyaksikan saham anda naik hingga triple digit kecuali mungkin setelah jangka waktu yang relatif panjang, let say 3 – 4 tahun, dan anda akan kesulitan untuk beat the market. Kalau kita ambil contoh saham-saham pilihan investor kawakan seperti Pak Lo Kheng Hong, atau Warren Buffett ketika dana kelolaannya masih ‘kecil’ di tahun 1960-an lalu, maka mereka berdua juga lebih suka saham-saham menengah atau kecil, dibanding saham big caps/blue chip. Opa Warren baru membeli saham-saham besar seperti IBM, Well’s Fargo, hingga Apple pada tahun 2010 keatas, yakni ketika dana kelolaannya sudah kelewat besar hingga ‘tidak lagi muat’ untuk ditempatkan di saham/perusahaan yang kecil-kecil.
    Anyway, strategi ‘membeli IHSG’ ini tetap sangat disarankan terutama bagi anda yang, sekali lagi, tidak mau ambil pusing, atau memang masih awam soal menganalisa fundamental perusahaan. Yup, karena tidak semudah itu juga untuk menemukan ‘saham-saham yang bisa naik 100% atau lebih dalam waktu 1 tahun atau kurang’. Atau, anda boleh juga bereksperimen dengan membagi dua portofolio anda/membuka dua rekening, dimana satu rekening dipakai untuk membeli saham-saham berdasarkan kaidah value investing, sementara satu rekening lagi dipakai untuk membeli saham-saham yang masuk tabel ‘Top Cap’ tadi. Dan setelah beberapa tahun, anda bisa membandingkan hasil profit yang dihasilkan dari dua rekening tersebut.

    Untuk artikel minggu depan kita akan membahas Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA).

    Penulis mengadakan Kelas Private Value Investing (‘private class’) dengan jumlah peserta per sesi maksimal 5 orang saja. Keterangan selengkapnya baca disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Cara Membaca Arah Pasar Sekarang Ini

    Sebagian dari anda mungkin bingung dengan kondisi pasar saham dalam satu atau dua minggu terakhir, dimana ada banyak saham yang turun cukup banyak (10% atau lebih), padahal gak ada sentimen atau berita negatif apapun terkait perusahaannya (kecuali mungkin rumor-rumor yang gak jelas dari mana sumbernya), sementara disisi lain IHSG-nya masih strong di level 6,000-an. Maksud penulis adalah, kalau misalnya sebuah saham turun ketika IHSG-nya lagi turun, atau ada something bad terkait perusahaan, maka penurunan tersebut jadi bisa dimaklumi, dan terdapat harapan bahwa saham itu nanti juga bakal naik lagi ketika IHSG naik lagi. Tapi bagaimana ketika ada sebuah saham yang seperti turun sendiri, tanpa ada peristiwa apapun yang bisa menjelaskan penurunan tersebut?

    Berdasarkan pengalaman, seperti yang sudah disebutkan dalam salah satu artikel di blog ini, kalau anda beli saham namun kemudian turun cukup dalam, misalnya 10 – 15% dari harga belinya (kalau turunnya kurang dari itu, maka itu cuma fluktuasi jangka pendek biasa, yang tidak perlu dikhawatirkan), maka terdapat beberapa kemungkinan:
    1. Anda salah pilih saham,
    2. Pilihan sahamnya udah bener, tapi harga belinya yang salah/kemahalan,
    3. Terjadi peristiwa force majeure tertentu yang mengubah fundamental perusahaan, misalnya waktu Tiga Pilar Sejahtera (AISA) kena kasus hukum,
    4. Terdapat berita/rumor/sentimen negatif tertentu yang sifatnya sementara/tidak berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, misalnya waktu Februari 2017 lalu ada rumor bahwa proyek LRT milik Adhi Karya (ADHI) mangrak.
    5. Sahamnya cuma lagi turun aja, nanti juga naik lagi (ini biasanya terjadi pada saham-saham yang sejak awal memiliki fluktuasi ekstrim/gorengan, misalnya BCIP, LEAD, atau BUMI), dan
    6. IHSG-nya lagi turun, dimana memang hampir semua saham lagi pada turun/gak cuma saham yang anda beli tersebut.
    Okay, katakanlah anda sudah benar pilih saham di harga beli yang juga tepat, gak ada force majeure maupun sentimen negatif apapun, dan saham tersebut juga bukan saham gorengan gak jelas yang bisa naik turun belasan persen dalam sehari. Jadi ‘biang kerok’ terakhir mungkin IHSG-nya yang sedang turun/terkoreksi, karena nyatanya saham yang lagi turun beberapa waktu terakhir ini gak cuma satu dua, tapi ada banyak! Tapi pertanyaannya sekarang, bagaimana bisa kita katakan bahwa pasar sedang terkoreksi, karena nyatanya IHSG juga sama sekali belum turun dan masih strong di 6,000-an??
    Nah, dalam hal ini kita perlu flashback sedikit ke artikel penulis di tanggal 12 September 2017 lalu, yang berjudul Asing Jualan Terus? Di artikel tersebut intinya penulis menyampaikan bahwa kita sekarang ini berada dalam kondisi koreksi IHSG yang tidak kelihatan (kalo belum baca tulisannya, coba baca dulu), terutama karena investor asing terus saja jualan, tapi IHSG-nya tetap saja gak turun karena di waktu yang bersamaan, saham-saham blue chips yang berpengaruh besar terhadap IHSG (misalnya ASII, TLKM, BBCA, HMSP GGRM) justru terus naik.
    Tapi sayangnya untuk saham-saham mid and small cap, yang pergerakan mereka tidak begitu ngaruh ke IHSG, mereka tetap saja turun. Dan sampai awal Desember ini penurunan tersebut terus berlanjut, karena asingnya masih terus mengobral barang. Yup, hingga Senin, 4 Desember 2017, statistik BEI menyebutkan net sell asing Rp36.4 trilyun sejak awal 2017, atau jauh lebih buruk dibanding September (tiga bulan lalu), yang baru Rp7 trilyun (sebenarnya net sell Rp36.4 trilyun itu karena ditambah transaksi crossing sebesar sekian trilyun dari saham TOWR, SMMA, dan KPIG. Tapi kalo transaksi crossing ini dihilangkan, maka nilai net sell asing tersebut masih mencapai Rp20-an trilyun, atau tetap cukup besar). Ini artinya kondisi ‘koreksi pasar yang tidak kelihatan’ yang penulis sebut di bulan September lalu, ternyata masih berlanjut sampai Desember ini.
    Problemnya, karena pergerakan IHSG sekarang ini tidak lagi mencerminkan kondisi pasar, yakni apakah sedang terjadi bullish, sideways, atau koreksi, maka indikatorapa lagi, diluar IHSG, yang bisa kita lihat untuk membaca arah pasar yang sesungguhnya? Well, terdapat setidaknya dua indikator, dan dua-duanya bisa kita ambil dari sumber yang sama yakni statistik IDX. Contoh yang akan penulis sampaikan disini mengambil statistik harian IDX, bisa dilihat disini.
    Nah, anda sudah buka link-nya? Okay, perhatikan. Pertama kita lihat stock price movement, yang berbentuk bar dengan warna merah, pink, kuning, hijau, dan hijau tua. Berikut adalah bar stock price movement yang penulis ambil di statistik harian IDX tanggal 4 Des 2017, klik gambar untuk memperbesar:

    Dari gambar diatas bisa dilihat bahwa pada tanggal 4 Des 2017, dari total 564 saham di BEI, terdapat 223 saham yang turun, 220 saham yang tidak bergerak, dan hanya 121 saham yang naik. Menariknya, pada Senin, 4 Desember tersebut, IHSG ditutup naik cukup signifikan yakni 0.77%. Logikanya kalau IHSG pada satu hari tertentu naik signifikan yakni 0.5 – 1%, atau lebih tinggi lagi, maka pada hari tersebut jumlah saham yang naik harusnya lebih banyak dibanding yang turun, tapi ini justru sebaliknya, dimana jumlah saham yang turun pada Senin, 4 Desember, mencapai hampir dua kali lipat dibanding yang naik.
    Jadi berdasarkan jumlah saham yang turun/stagnan dibanding saham yang naik, maka pasar sejatinya sedang terkoreksi/turun. Tapi bagaimana caranya IHSG bisa tetap naik ketika mayoritas saham turun?? Untuk itu kita bisa lihat indikator kedua: ‘Jakarta Composite Index Movers’, atau secara harfiah, daftar saham-saham yang berpengaruh paling besar terhadap naik turunnya IHSG.

    Sekali lagi, dari gambar diatas bisa dilihat bahwa IHSG pada hari Senin tetap naik karena hampir semua saham big caps, mulai dari HMSP hingga BBNI, semuanya naik signifikan (HMSP bahkan naiknya sampai 5.4%), sehingga totalnya menyumbang kenaikan IHSG (JCI) sebesar total 66.3 point (23.1 + 9.9 + dst). Sementara untuk saham-saham yang turun dan penurunan tersebut berpengaruh signifikan ke IHSG (daftar saham laggard, mulai dari PNBN sampai BJBR), totalnya hanya menyumbang penurunan IHSG sebesar total 15.0 point saja. Hasilnya? Yep, IHSG pada Senin, 4 Desember, ditutup naik 46.1 point (66.3 dikurangi 15.0, dikurangi lagi 5.2 point. Penjelasan angka 5.2 point ini bisa dibaca dibawah) atau 0.77%.
    Yang perlu dicatat disini adalah, diluar saham-saham yang masuk daftar JCI movers tersebut, maka mau mereka naik atau turun, itu hampir gak ada pengaruhnya ke IHSG. Jadi boleh-boleh saja saham yang anda pegang turun sampai diatas 10% sekalipun, tapi jika saham tersebut tidak masuk daftar ‘saham yang berpengaruh terhadap IHSG’, maka IHSG-nya bakal tetap aman. Dari perhitungan diatas, kita bisa lihat bahwa diluar pengaruh dari 10 saham leader dan 10 saham laggard, maka penurunan dari ratusan saham lainnya di BEI hanya menyebabkan IHSG totalnya turun 5.2 point saja.
    Kesimpulannya, jika anda merasa ada something wrong with the market, dimana pada satu hari tertentu ada banyak saham turun tapi IHSG-nya tetap naik, maka coba cek lagi: 1. Apakah jumlah saham yang naik lebih banyak dibanding yang stagnan dan turun? dan 2. Apakah saham-saham yang berpengaruh besar terhadap IHSG, kalaupun dia naik maka naiknya tetap dalam range yang wajar? (jadi gak sampai 5% seperti kenaikan HMSP diatas) Jika jawabannya adalah 1. Tidak, dan 2. Tidak, maka lupakan fakta bahwa IHSG naik, karena yang sebenarnya terjadi adalah, pasar pada hari tersebut baru saja terkoreksi, dan penurunan saham yang anda pegang kemungkinan hanya disebabkan karena faktor koreksi pasar tersebut (jadi bukan karena perusahaannya ada problem atau apa, tapi sekali lagi, ini dengan asumsi bahwa anda membeli saham yang tepat, dan pada harga yang tepat). Kemudian anda selanjutnya bisa melakukan tindakan yang tepat, apakah jual, hold saja, atau justru tambah posisi (penulis sudah banyak menulis artikel tentang strategi investasi ketika pasar sedang terkoreksi, terutama ketika IHSG drop di tahun 2015 dan 2013. Coba search lalu baca saja).
    Anyway, kalau penulis review lagi kondisi market dalam setahunan terakhir, maka kalau saja saham-saham big caps bergerak sama dengan saham-saham mid and small caps, alias pada turun semua (misalnya ASII turun ke 6,500), maka IHSG seharusnya berada di level yang jauh lebih rendah dibanding posisinya sekarang, mungkin sekitar 5,250 atau lebih rendah lagi. Karena pada tahun 2015 lalu ketika hampir semua saham baik itu big maupun small caps berjatuhan (pada tahun 2015 tersebut, beberapa saham big caps seperti ASII, BBNI, BMRI, bahkan sampai KLBF, rata-rata turun 20%), maka IHSG ketika itu jeblok 12.1% ke level 4,569. Namun pada tahun 2017 ini kita menyaksikan situasi yang sepenuhnya berbeda, dimana saham-saham mid and small caps cenderung turun (meski memang gak semuanya, karena ada juga saham-saham kecil yang naik banyak), tapi saham big caps dikerek naik semua (big caps banking seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, sepanjang 2017 ini sudah melompat sampai 30 – 50%), dan ternyata hasilnya IHSG tetap naik cukup signifikan.
    Okay, lalu bagaimana kira-kira dengan 2018 nanti? Yah, we’ll see lah!

    Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Prospek ANTM, TINS, PTBA Pasca Pembentukan Holding Tambang

    Pada Rabu, 29 November kemarin, tiga BUMN tambang yakni PT Aneka Tambang (ANTM), PT Timah (TINS), dan PT Bukit Asam (PTBA), secara hampir bersamaan (hanya beda jam) menyelenggarakan RUPS untuk menyetujui rencana pembentukan perusahaan holding tambang, dimana saham milik pemerintah di ketiga perusahaan (hanya saham milik pemerintah saja, jadi saham milik investor publik tetap dimiliki oleh publik/ketiga perusahaan tersebut tetap berstatus Tbk) semuanya dialihkan ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum). Dengan demikian Pemerintah sekarang memiliki satu perusahaan tambang yang besar, yang merupakan gabungan dari Inalum, ANTM, TINS, dan PTBA, dimana Inalum menjadi induk (holding) dari tiga perusahaan lainnya.

    Pertanyaannya, apa tujuan dari pembentukan holding tambang ini? Apa benefitnya bagi ANTM, TINS, PTBA, dan juga Inalum itu sendiri? Dan kenapa Inalum yang dijadikan holding?
    Cerita pembentukan holding tambang ini berawal ketika pada Agustus 2017, Pemerintah melalui Kementerian ESDM sukses memaksa Freeport McMoran Corp (FCX), induk dari PT Freeport McMoran Indonesia (FMI), untuk menjual 51% saham FMI ke pihak nasional Indonesia. Problemnya, FCX meminta harga yang tidak kecil, yakni US$ 4 milyar atau sekitar Rp54 trilyun. Dan meski harga tersebut masih di-negosiasikan untuk turun, tapi tetap saja selisihnya tidak akan terlalu jauh. Yup, jadi berbeda dengan kalau anda beli saham sebuah perusahaan secara ritel alias minoritas, maka anda mungkin bisa dapet harga murah, tergantung harga saham perusahaan tersebut di market (jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan Tbk). Tapi kalau anda membeli sahamnya secara mayoritas alias mengakuisisinya, maka harga belinya adalah harga premium.
    Nah, berdasarkan undang-undang, kalau ada perusahaan asing yang melepas aset mereka di Indonesia, maka yang berhak mengakuisisinya adalah (diurutkan sesuai prioritas): 1. Pemerintah Pusat, 2. Pemerintah Daerah, 3. BUMN, 4. BUMD, 5. Swasta nasional. Namun dalam banyak kasus divestasi saham oleh perusahaan asing, Pemerintah pusat ataupun daerah biasanya gak mau ambil pusing dan langsung menyerahkan peluang akuisisi tersebut kepada swasta nasional. Sebab ketika Pemerintah hendak mengakuisisi sebuah perusahaan, maka artinya mereka harus keluar dana APBN (atau APBD, kalau Pemerintah daerah) untuk biaya akuisisinya, dan itu artinya harus nego lagi sama DPR (atau DPRD), dimana prosesnya bakal berkepanjangan/bisa nggak kelar-kelar karena terlalu banyak tawar menawar politik. Tapi kalau peluang akuisisi tersebut langsung dilempar ke swasta, maka soal pembiayaan, termasuk soal pengelolaan perusahaan yang diakuisisi menjadi urusan perusahaan swasta tersebut, sehingga para penentu kebijakan di Pemerintah tinggal duduk santai terima komisi serta royalti. Contoh terakhir, ketika Newmont Corp. melepas saham mereka di PT Newmont Nusa Tenggara, maka perusahaan swasta lokal yang beruntung bisa mengakuisisinya adalah Medco Energi (MEDC).
    However, ketika perusahaan swasta asing menjual aset mereka di Indonesia, tapi yang menampung adalah swasta lokal (sementara pejabatnya cuma jadi makelar), maka negara sejatinya nggak dapet apa-apa. Jadi terkait divestasi Freeport, kali ini Pemerintah ngotot untuk mengakuisisinya sendiri. Tapi balik lagi, kalau Pemerintah langsung yang ambil maka prosesnya bakal ribet dan bahkan bisa bermasalah (misalnya ada oknum pejabat yang korupsi dalam proses akuisisinya).
    Terus solusinya bagaimana? Ya kalau gitu FMI bisa diakuisisi oleh BUMN saja, dalam hal ini BUMN tambang (karena FMI memang merupakan perusahaan tambang). Bonusnya adalah, selain proses pendanaan akuisisinya jadi lebih simpel (cukup menggelar RUPS saja, jadi gak usah menggelar sidang istimewa DPR atau semacamnya), keberadaan tim manajemen di BUMN tambang tersebut tentunya akan membantu pengelolaan FMI, dibanding jika FMI diambil langsung oleh Pemerintah sehingga gak jelas nanti yang mengelola FMI ini siapa. FYI, setelah diakuisisi, jajaran direksi serta komisaris di FMI biasanya akan diganti semua, tapi kalau yang mengakuisisi FMI ini adalah Pemerintah langsung, maka orang-orang baru yang menempati posisi direktur dan komisaris ini bisa jadi tidak kompeten/hanya titipan dari para politisi di DPR, atau politisi itu sendiri. Dan kalau gitu caranya, maka kinerja FMI (yang kemudian/sekarang berstatus sebagai BUMN) kemungkinan justru bakal amburadul, dimana perusahaan bukannya menghasilkan keuntungan/dividen bagi negara, melainkan justru ngabisin duit negara (dalam bentuk subsidi, atau tambahan setoran modal).
    Jadi sekali lagi, FMI bisa diakuisisi oleh BUMN saja. Toh BUMN ini juga tetap dimiliki oleh Pemerintah. Problemnya sekarang, BUMN tambang mana yang punya duit Rp54 trilyun? BUMN tambang terbesar, yakni ANTM, asetnya hanya Rp30.7 trilyun, jadi kalau misalnya ANTM mengajukan pinjaman ke bank juga bakal sulit, karena aset yang tersedia tidak cukup sebagai collateral. Tapi, hey, bukankah BUMN tambang di Indonesia bukan cuma ANTM, melainkan ada juga TINS, PTBA, dan Inalum? Jadi bagaimana kalau keempat perusahaan tambang ini digabung saja? Sekedar info, per Kuartal III 2017, total aset ANTM adalah Rp30.7 trilyun, TINS Rp11.6 trilyun, dan PTBA Rp19.5 trilyun. Untuk Inalum, per akhir tahun 2015, total asetnya adalah US$ US$ 1.13 milyar atau Rp14.7 trilyun. Jadi kalau ini semua digabung, maka secara kasar total aset yang terkumpul adalah Rp76.5 trilyun, atau sudah lebih besar dibanding harga akuisisi FMI yang Rp54 trilyun tadi. Inalum kemudian bisa mengajukan pinjaman ke Bank BUMN, yang juga dimiliki oleh Pemerintah (so in the end, duitnya nggak kemana-mana).
    Okay, lalu kenapa Inalum yang dijadikan perusahaan induk? Kenapa bukan ANTM, misalnya? Ada dua alasan. Pertama, pengalihan saham Pemerintah dari ANTM, TINS, dan PTBA ke Inalum ini kan seperti mindahin duit dari kantong kanan ke kantong kiri, dimana saham Pemerintah di tiga perusahaan tambang tersebut akan tetap dimiliki sepenuhnya oleh Pemerintah, hanya sekarang dipegangnya melalui Inalum (jadi tiga BUMN tersebut sama sekali nggak dijual seperti yang disebut dalam rumor-rumor sesat yang beredar). Lalu kenapa Inalum yang dipilih sebagai induk? Karena berbeda dengan ANTM, TINS, dan PTBA dimana sebagian sahamnya dimiliki oleh investor publik, saham Inalum 100% dimiliki oleh Pemerintah. Jadi kalau yang dijadikan induk adalah PTBA, misalnya, dimana PTBA ini kemudian ‘mengakuisisi’ ANTM, TINS, dan Inalum, maka itu artinya Pemerintah secara sukarela menyerahkan sebagian saham mereka di tiga BUMN tambang tersebut kepada investor publik yang juga menjadi pemegang saham di PTBA. Dan kalo gitu caranya maka bukan lagi ‘mindahin duit dari kantong kanan ke kantong kiri’, karena ada sebagian saham milik pemerintah di tiga perusahaan yang diakuisisi, yang tidak lagi dikuasai oleh pemerintah.
    Kedua, secara kinerja fundamental, Inalum relatif yang terbaik diantara keempat BUMN tambang yang digabung. Yup, meski terus saja merugi di masa lalu, namun sejak tahun 2011 sampai 2015 (dan kemungkinan sampai sekarang) Inalum secara konsisten membukukan laba bersih dan juga rutin membayar dividen. Actually, kinerja PTBA lebih bagus dibanding Inalum (ROE-nya lebih besar), tapi itu karena PTBA merupakan perusahaan batubara yang kerjanya ‘tinggal gali lalu jual’, jadi beda dengan Inalum yang kerjanya lebih rumit karena merupakan perusahaan hilir (gali bauksit, lalu diolah menjadi alumina, lalu diolah lebih lanjut menjadi alumunium ingot, baru dijual). Jadi harapannya adalah, dengan manajemen Inalum sebagai pengurus baru di Freeport, maka kinerja FMI akan tetap bagus seperti biasanya, dan akan benar-benar bisa berkontribusi bagi negara (dalam bentuk pajak, royalti, dan dividen). Berikut adalah ringkasan kinerja Inalum di tahun 2011 – 2015, angka dalam jutaan Dollar kecuali disebutkan lain. Sebelumnya mungkin perlu dicatat bahwa harga jual alumunium di pasar internasional cenderung turun dari tahun 2011 hingga 2015, dan baru naik lagi pada tahun 2016.
    Year
    2011
    2012
    2013
    2014
    2015
    Revenue
    579.7
    511.8
    521.1
    632.5
    490.6
    Net Income
    57.9
    17.5
    64.0
    156.7
    79.0
    Equity
    1,020.1
    962.5
    988.2
    982.7
    1,059.0
    ROE (%)
    5.7
    1.8
    6.5
    15.9
    7.5
    Okay, lalu bagaimana dampak akuisisi Freeport serta pembentukan holding BUMN tambang ini terhadap kinerja ANTM, TINS, dan PTBA? Well, karena yang nantinya akan mengakuisisi FMI adalah Inalum, maka yang dapet cuannya ya Inalum ini, dan sayangnya Inalum bukan perusahaan Tbk. Namun demikian, karena FMI nantinya akan menjadi ‘sister company’ bagi ANTM, TINS, dan juga PTBA, maka diharapkan bahwa FMI bisa bersinergi/transfer teknologi dengan ketiga perusahaan untuk sama-sama menghasilkan kinerja yang lebih baik di masa yang akan datang. Kemudian FMI itu sendiri mungkin akan menggelar IPO sehingga investor publik bisa ikut memiliki sahamnya (kalau Inalum-nya sendiri kayanya gak bakal IPO karena posisinya sekarang menjadi strategis, sama seperti Pertamina dan PLN), dan terus terang penulis sudah tunggu-tunggu itu dari dulu. Okay, dengan berpindahnya FMI dari Freeport Corp ke Pemerintah melalui Inalum, maka itu bukan jaminan bahwa kinerja perusahaan bakal tetap profit, karena nyatanya kinerja ANTM dan TINS juga masih acakadut, dan anggota direksi Inalum juga gak dijamin bebas dari titipan politisi. Tapi yah, itu masih lebih bagus dibanding jika Freeport ini jatuh ke tangan Bakrie bukan?
    Untuk artikel minggu depan, any ideas?

    Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Siklus Krisis 10 Tahunan?

    Salah satu topik yang paling sering dibicarakan di komunitas investor pasar modal adalah, kapan kira-kira terjadi krisis lagi? Dan sejak beberapa tahun lalu sudah muncul anggapan akan adanya ‘siklus krisis 10 tahunan’. Yup, berhubung krisis besar yang masih diingat semua orang adalah krisis moneter 1998 dan juga krisis global 2008, dimana kedua krisis tersebut terjadi dalam selang waktu 10 tahun, maka secara simpelnya krisis berikutnya akan terjadi 10 tahun setelah 2008, alias tahun 2018. Pertanyaannya, benarkah pada tahun 2018, alias tahun depan, akan kembali terjadi krisis?

    Untuk mencoba menjawab pertanyaan diatas maka kita terlebih dahulu perlu menjawab dua pertanyaan berikut. Pertama, benarkah ada siklus yang disebut dengan ‘siklus krisis 10 tahunan’ tersebut? Dan kedua, apakah pada saat ini sudah tampak atau terdapat tanda-tanda menuju terjadinya krisis? Okay, kita langsung saja.
    Terkait siklus krisis 10 tahunan, penulis termasuk yang berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada siklus seperti itu. Yes, Indonesia, seperti juga negara-negara lainnya di seluruh dunia, akan mengalami pasang surut secara ekonomi, dimana Indonesia akan mengalami periode economic booming di satu waktu, dan periode krisis di waktu yang lain. Namun jangka waktu antara satu krisis dengan krisis berikutnya sama sekali tidak tentu.
    Nah, jadi sekarang coba anda googling lagi: Apakah pada tahun 1988 terjadi krisis, entah itu di Indonesia ataupun negara lainnya? Demikian pula dengan tahun 1978, 1968, dan seterusnya, apakah juga terjadi krisis? Faktanya adalah, Indonesia justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di penghujung dekade 80-an dan awal 90-an, termasuk jumlah perusahaan Tbk di BEI juga meningkat pesat dari hanya 24 di tahun 1987, menjadi 37 di tahun 1989 (dan kembali meningkat di tahun-tahun selanjutnya). Tidak ada data soal bagaimana pergerakan IHSG di tahun 1988, tapi kalau melihat kondisi ekonomi ketika itu yang fine-fine saja, maka seharusnya IHSG di tahun tersebut bergerak secara normal alias naik. Memang pada tahun 1987, Bursa Saham Amerika sempat mengalami crash dimana Dow Jones sempat drop 22.6% dalam seharidi bulan Oktober (silahkan googling ‘Black Monday 1987’), yang disusul oleh kejatuhan indeks-indeks saham lainnya di seluruh dunia. Tapi justru di tahun 1988 alias setahun kemudian, Dow kembali naik kencang, dan kekhawatiran akan terjadinya krisis besar ternyata tidak pernah terjadi.
    Jadi kalau berdasarkan fakta historis, maka sulit untuk mengatakan bahwa benar ada siklus krisis 10 tahunan. Di Indonesia, krisis besar yang terjadi sebelum krisis tahun 1998 adalah krisis di tahun 1963 – 1966, atau 32 tahun sebelumnya (silahkan tanya orang tua/kakek nenek anda, seperti apa susahnya mereka di tahun 60-an). Dan kalau yang dimaksud dengan ‘krisis’ itu adalah sekedar kejatuhan bursa saham/IHSG, maka baru saja di tahun 2015 kemarin Indonesia sejatinya sudah mengalami krisis, dimana IHSG drop 12.1% (dan memang kondisi ekonomi dan bisnis di tahun tersebut terasa agak seret). Kemudian, krisis moneter 1998 itu juga sebenarnya sudah terjadi sejak tahun sebelumnya alias 1997, dimana pada tahun tersebut IHSG jeblok 44.3% (jadi jika dihitung dari tahun 1997 ke 2008, maka siklusnya bukan 10 tahun, melainkan 11 tahun).
    Sementara di Amerika Serikat, yang merupakan negara paling maju dalam bidang industri finansial dan juga pasar saham, disana sudah rutin terjadi krisis ekonomi yang signifikan setiap beberapa tahun sekali sejak New York Stock Exchange berdiri di tahun 1817, tapi jangka waktu antara satu krisis ke krisis lainnya terbilang tidak tentu, paling dekat 5 – 6 tahun, dan paling jauh sekitar 20 tahun. Malahan pasca krisis besar di tahun 1930-an, yang dikenal dengan istilah great depression, maka krisis besar selanjutnya baru terjadi lama kemudian yakni di tahun 1970-an. Anda bisa lihat daftar lengkapnya di artikel Wikipedia disini.
    Dua Pertanda Krisis: Economic Bubble dan Overleveraged
    Itu pertama soal siklus krisis 10 tahunan. Kedua, terlepas dari ada atau tidaknya siklus tersebut, apakah pada saat ini sudah tampak atau terdapat tanda-tanda menuju terjadinya krisis? Analoginya adalah sama seperti kondisi cuaca: Jika langit tiba-tiba gelap dan mendung, maka kita bisa simpulkan bahwa sebentar lagi bakal turun hujan. Nah, jika kita ibaratkan hujan ini dengan krisis ekonomi atau kejatuhan bursa saham, maka apakah sekarang ini sudah tampak mendung-nya? Dalam hal ini ada beberapa hal yang penulis perhatikan.
    Pertama, seperti yang mungkin sudah anda perhatikan, sejak koreksi besar di bulan Agustus – September 2015 lalu, IHSG sampai sekarang alias dua tahun kemudian masih belum mengalami koreksi lagi. Padahal biasanya IHSG mengalami koreksi dengan turun setidaknya 5 – 10% dari posisi tertingginya, minimal satu kali dalam setahun (biasanya di bulan Mei, atau Agustus). Awalnya penulis kira fenomena ini hanya terjadi di Indonesia, tapi ternyata kondisi yang sama juga terjadi di Amerika Serikat: Sudah dua tahun terakhir ini indeks Dow Jones, Nasdaq, dan S&P terus naik tanpa koreksi yang berarti, terutama karena didorong oleh kenaikan saham-saham berbasis teknologi (Apple, Amazon, Facebook, dst), dan alhasil tokoh-tokoh technopreneur seperti Jeff Bezos dan Mark Z. tiba-tiba saja nongol di puncak daftar orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes, mengalahkan nama-nama beken seperti Om Bill dan Opa Warren.
    Dan meski penulis tidak tahu bagaimana valuasi saham-saham di Amerika pada saat ini (apakah sudah terlalu mahal atau belum), namun kondisi ini mengingatkan penulis dengan dot com bubble di tahun 1999 – 2000, dimana bursa saham Amerika mengalami kejatuhan setelah sebelumnya terus naik karena didorong oleh kenaikan saham-saham perusahaan internet. Indikasi bubble itu juga tampak dari kenaikan harga bitcoin, mata uang digital yang tentu saja tidak memiliki nilai riil seperti halnya mata uang sungguhan, tapi dalam setahun terakhir ini harganya tiba-tiba saja melompat dari US$ 700 menjadi lebih dari US$ 9,500 per unit, atau naik lebih dari sepuluh kali lipat. Penulis tentu saja tidak tahu apakah kenaikan tersebut akan berlanjut, atau justru bitcoin ini besok-besok akan jeblok lagi, tapi yang jelas kenaikan harga yang luar biasa tersebut telah menarik minat dari banyak spekulan dan juga investor sungguhan, termasuk para fund manager global, untuk ikut membeli bitcoin ini. Alhasil, ketika nanti tiba waktunya bitcoin ini turun kembali (itu bisa terjadi cepat atau lambat), maka kerugian yang terjadi tidak akan akan sedikit, dan itu bisa mengguncang pasar keuangan global secara keseluruhan, termasuk di Indonesia.
    Kedua, diluar faktor bubble, kondisi krisis biasanya berawal diawali oleh kelewat besarnya nilai utang yang ditanggung oleh perusahaan-perusahaan swasta dan juga pemerintah, istilahnya overleveraged. Pada puncak booming kredit real estate di Amerika di tahun 2005 – 2007, perusahaan-perusahaan perbankan dan pembiayaan di Amerika berani mengambil utang dalam jumlah yang gila-gilaan untuk kemudian disalurkan kembali dalam bentuk kredit mortgage, karena adanya anggapan bahwa bisnis properti/real estate adalah bisnis yang sangat aman (harga properti gak bakal turun!). Termasuk Lehman Brothers, salah satu perusahaan investment bank terbesar di Amerika (dan juga dunia), turut bergabung dalam booming real estate ini hingga perusahaan, pada satu titik, harus menanggung utang total US$ 619 milyar, sementara ekuitasnya hanya US$ 20 milyar. Ini artinya kalau pasar kredit real estate mengalami penurunan 3 – 4% saja, maka nilai aset bersih Lehman akan tersapu habis sama sekali, alias bangkrut.
    Dan sayangnya pada tahun 2008 memang itulah yang terjadi: Mulai banyak terjadi kasus kredit macet, pasar real estate di Amerika mulai lesu, dan Lehman Brothers tanpa ampun langsung bangkrut. Dan kalau bukan karena intervensi dari Pemerintah (coba anda googling ‘Freddie Mac’ dan ‘Fannie Mae’), maka kebangkrutan Lehman bisa merembet ke krisis yang lebih besar. Beruntung, itu tidak terjadi, dan memasuki tahun 2011 ekonomi Amerika mulai pulih lagi.
    Balik lagi ke soal overleveraged. Jadi penyebab krisis global 2008 adalah karena faktor utang, atau sama seperti ketika Indonesia mengalami krisis di tahun 1997 – 1998, yang juga karena utang. Pada tahun 1997, rasio total utang Pemerintah dan swasta di Indonesia mencapai sekitar 80 – 90% dari nilai produk domestik bruto (PDB), yang melonjak menjadi 150% di tahun 1998 setelah nilai tukar Rupiah anjlok (sebab mayoritas dari utang tersebut merupakan utang Dollar), dan hasilnya adalah krisis moneter. Pada tahun 2008, rasio utang Pemerintah Indonesia dan swasta terhadap PDB terbilang jauh lebih aman yakni hanya 33.2%, dan alhasil Indonesia tidak terlalu terdampak oleh krisis global yang terjadi di Amerika. I mean, coba anda ingat-ingat lagi: Di tahun 1997 – 1998, harga-harga kebutuhan pokok semuanya naik, dan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dimana-mana, termasuk terjadi bank rush (masih inget rusuh Bank BCA?). Tapi di tahun 2008, harga sembako tetap aman terkendali bukan? Dan hampir gak ada pekerja yang di-PHK, apalagi sampai terjadi bank rush.

    Kapan ente ‘rush’ lagi??

    Tapi kenapa IHSG di tahun 2008 itu sampai jatuh lebih dari 50%? Well, itu karena ada banyak investor/trader yang beli saham pake utang/margin, dan mereka pada kena forced sell semua, belum lagi ada banyak orang yang pake fasilitas short sell. Pada jaman itu, jika anda memiliki dana Rp100 juta di rekening, maka anda bisa meminjam/pake margin hingga maksimal Rp300 juta dari sekuritas (sehingga total modalnya jadi Rp400 juta, tergantung kebijakan sekuritasnya). Jadi meski perekonomian Indonesia secara umum tidak mengalami overleveraged, tapi di pasar saham overleveraged itu tetap terjadi, dan itulah yang menyebabkan kejatuhan IHSG ketika itu.
    Okay, lalu bagaimana dengan kondisi jaman now? Nah, kabar baiknya, hingga tahun 2016 kemarin, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih relatif aman di level 27.9%, atau lebih rendah dibanding 2008 (dan jauh lebih rendah dibanding 1997 – 1998). Demikian pula kalau anda cek laporan keuangan dari sepuluh perusahaan non-perbankan terbesar di BEI, yang rata-rata mencatat debt to equity ratio (DER) hanya 1 kali. Sementara untuk empat bank terbesar di tanah air yakni BRI, Mandiri, BCA, dan BNI, rata-rata membukukan capital adequacy ratio (CAR) 19 – 20%, atau jauuuh lebih aman dibanding contoh kasus Lehman Brothers diatas. Thanks to kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sejak tahun 2012 lalu, yang meski itu membuat pasar kredit perbankan, properti, hingga kredit kendaraan bermotor jadi lesu (karena orang jadi gak bisa spekulasi lagi, misalnya beli apartemen tanpa modal/pake utang bank), tapi itu mencegah terjadinya bubble dan mengurangi risiko kredit macet. Sementara di pasar sahamnya sendiri, BEI sebagai regulator terus memperbaharui dan menyempurnakan peraturan terkait penggunaan margin, dan alhasil, anda boleh tanya broker anda di sekuritas, sekarang ini nggak banyak orang yang beli saham pake margin, dan kasus forced sell juga lebih jarang terjadi.
    Jadi kesimpulannya, kalau dilihat dari aspek leverage maka Indonesia, termasuk pasar sahamnya, terbilang no problem. Namun dari aspek kemungkinan terjadinya bubble, maka perkembangan yang terjadi diluar negeri, termasuk cerita bitcoin diatas, mungkin bisa saja berujung pada terjadinya krisis, atau setidaknya koreksi di pasar saham. Karena disisi lain, meski penulis ragu apakah pasar saham Indonesia sudah mencapai titik bubble atau belum, tapi valuasi saham-saham di BEI sekarang ini tidak bisa disebut murah juga, dimana saham-saham big caps sudah dihargai pada PBV 3 – 4 kali atau lebih tinggi lagi. Sebagai perbandingan, ketika saham Lehman Brothers berada di titik tertingginya di tahun 2007 yakni US$ 86, market cap-nya mencapai US$ 60 milyar, yang merefleksikan PBV 3.0 kali, dan PER 14.3 kali. Jadi maksud penulis adalah, okay, kita hampir tidak mungkin akan melihat Bank Mandiri atau BCA bangkrut dalam waktu dekat, karena mereka tidak punya utang sebesar Lehman. Tapi kalau sekedar penurunan harga sahamnya, yang kemudian menyebabkan penurunan IHSG, maka itu mungkin saja bukan?
    Jadi yah, mari kita lihat lagi beberapa bulan dari sekarang. Dan jangan khawatir, kalau nanti penulis melihat ada ‘something wrong’, atau ‘mendung’ yang terjadi semakin bertambah gelap, maka tulisan dengan tema ‘krisis’ ini akan di-update kembali.
    Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Seminar Value Investing, Bali, 9 Des 2017

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Cara Santai Dalam Menghasilkan Uang di Pasar Saham’, di Bali. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bali dan sekitarnya (atau dari kota lain juga boleh hadir, sekalian liburan). Berikut keterangan selengkapnya:

    Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas kali ini:
    1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santainamun sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Bapak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
    2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
    3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
    4. Cara untuk menemukan saham yang berpotensi naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun!
    5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
    Bonus Materi:
    1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
    2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2018.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
    1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
    2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the marketdalam jangka panjang, dan
    3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
    Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    • Tempat: Hotel Rivavi, Jln. Melasti No.1, Legian Kuta, Bali
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 9 Desember 2017
    • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
    • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Bali, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi kalau mau kirim bukti transfer juga boleh).
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Bonus:
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
    Penulis bersama teman-teman peserta kelas value investing, Jakarta, 28 Okt 2017
    Komentar Alumni
    Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luar biasa sekali..
    Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
    Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalau dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
    Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
    Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
    Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
    Merci..
    Widya Olivia – Jakarta

    Catatan: Penulis (Teguh Hidayat) akan berada di Bali dan Lombok antara tanggal 9 – 20 Desember 2017. Jadi bagi anda yang tinggal di Bali dan mungkin tertarik untuk ikut kelas private value investing, baca keterangan selengkapnya [...]

    Stocksplit, & Pengaruhnya ke Harga Saham

    Stocksplit, atau secara harfiah bermakna ‘pemecahan saham’, adalah aksi korporasi dimana perusahaan memecah/membelah saham beredarnya hingga jumlah saham tersebut menjadi lebih banyak, tanpa menambah ataupun mengurangi nilai dari saham itu sendiri. Untuk kalimat terakhir mungkin perlu digaris bawahi, karena seringkali investor bingung terkait apakah stocksplit ini membuat sebuah saham jadi lebih menarik/prospektif, atau justru sebaliknya harus dihindari karena nilainya (atau harganya yang tertera di market) turun.

    Analogi stocksplit ini adalah seperti kalau anda punya satu lembar uang senilai Rp10,000, dan anda kemudian pergi ke warung untuk menukar uang tersebut dengan pecahan Rp2,000. Jadi sekarang anda memegang lima lembar uang (dari sebelumnya hanya satu lembar), masing-masing senilai Rp2,000. Lalu berapa total uang yang anda miliki? Ya tetap Rp10,000, alias gak berubah sama sekali. Bedanya sekarang anda memegang lima lembar uang pecahan Rp2,000, dari sebelumnya hanya satu lembar uang pecahan Rp10,000.
    Jadi kalau misalnya anda memegang 10 lot (1,000 lembar) saham Bank BRI (BBRI), dan harganya di market adalah 15,000, maka total nilai saham yang anda miliki adalah Rp15,000 dikali 1,000 lembar, sama dengan Rp15 juta. Kemudian karena Bank BRI melakukan stocksplit dengan rasio  1:5, maka harga sahamnya sekarang menjadi 3,000 (15,000 dibagi 5), tapi disisi lain jumlah saham yang anda miliki meningkat dari 10 menjadi 50 lot (10 lot dikali 5). Jadi berapa nilai saham BBRI yang anda miliki sekarang? Ya gak berubah, yakni Rp3,000 dikali 5,000 lembar, sama dengan Rp15 juta.
    Untuk penjelasan diatas, investor pemula sekalipun seharusnya sudah bisa memahaminya, karena untuk hal-hal teknis seperti itu (jadi bukan analisis saham) maka broker di sekuritas tempat anda membuka rekening seharusnya bisa menjelaskan. Tapi jika anda termasuk yang kaget ketika BBRI, atau saham lainnya, tiba-tiba harganya anjlok dari 15,000 menjadi 3,000 hanya dalam semalam, maka anda sekarang sudah mengerti penyebabnya: Itu karena perusahaan yang bersangkutan melakukan stocksplit, dan itu, sekali lagi, tidak mengubah total nilai saham yang dipegang oleh tiap-tiap investor, karena penurunan harga yang terjadi diimbangi oleh kenaikan jumlah lot saham yang dimiliki si investor tersebut.
    Pertanyaannya sekarang, kenapa perusahaan melakukan stocksplit? Apa benefitnya bagi perusahaan atau investor pemegang sahamnya? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap prospek dari saham itu sendiri? Apakah saham yang stocksplit kemudian bakal terbang dalam waktu dekat, misalnya?
    Secara fundamental, stocksplit tidak berpengaruh apapun terhadap kinerja keuangan perusahaan, baik itu terhadap kinerja perusahaan pada saat ini maupun outlook/prospeknya di masa yang akan datang. Sebuah perusahaan tidak akan menjadi lebih berpeluang untuk membukukan kenaikan laba yang lebih tinggi di masa depan, misalnya, hanya karena sahamnya dipecah. Demikian pula valuasi PBV dan PER saham yang stocksplit tidak akan berubah/menjadi lebih murah hanya karena harga sahamnya di market (tampak) turun, karena sekali lagi, penurunan harga yang terjadi diimbangi oleh kenaikan jumlah saham yang beredar di pasar. Jadi dalam hal ini anda harus hati-hati kalau melihat data di sekuritas atau website tertentu dimana PBV dan PER sebuah saham tiba-tiba jadi tampak kecil, karena bisa jadi perusahaan yang bersangkutan melakukan stocksplit, sementara datanya di sekuritas tersebut belum di-update (and btw karena alasan ini pula, penulis tidak pernah menganalisis saham menggunakan ‘data matang’ dari sekuritas atau pihak ketiga lainnya, melainkan kita selalu membaca langsung laporan keuangan emiten dan menghitung semua rasio-rasio secara manual. That’s our job, that’s what we do).
    Namun terhadap naik turun sahamnya, maka barulah stocksplit ini berpengaruh, setidaknya dalam jangka pendek. Jadi begini: Salah satu pertimbangan investor dalam membeli saham adalah terkait likuiditas dari saham yang bersangkutan, dimana investor manapun umumnya lebih suka saham yang likuid dibanding yang tidak. Ini menyebabkan perusahaan-perusahaan tertentu yang meski berfundamental bagus/laporan keuangannya profit terus, tapi harga sahamnya di pasar seringkali lebih rendah/tidak mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya, dan itu hanya karena sahamnya tidak likuid, sehingga investor kurang berminat. Sebab disisi lain analis-analis sekuritas juga biasanya hanya meng-cover/merekomendasikan saham-saham yang ramai diperdagangkan saja, sehingga saham-saham yang tidak likuid ini akhirnya luput dari perhatian.
    Tapi setelah perusahaan melakukan stocksplit, entah itu dalam rasio 1:2, 1:4, 1:5, atau bahkan 1:10, maka diharapkan bahwa sahamnya kemudian akan menjadi lebih likuid, karena harga nominal saham yang bersangkutan menjadi lebih terjangkau termasuk oleh investor ritel dengan modal kecil sekalipun. Contoh saham Astra International (ASII), yang pada tahun 2012 lalu melakukan stocksplit dengan rasio 1:10. Sebelum stocksplit, harga saham ASII adalah 60,000, dan pada tahun 2012 tersebut 1 lot saham adalah setara 500 lembar (1 lot saham baru berubah menjadi 100 lembar sejak tahun 2014). Itu artinya seorang investor harus keluar duit Rp60,000 dikali 500 lembar, sama dengan Rp30 juta, hanya untuk membeli saham ASII sebanyak 1 lot saja! Lah kalo gitu maka gimana caranya investor yang hanya katakanlah memiliki Rp10 juta di rekeningnya bisa membeli ASII? Sebab anda tidak mungkin membeli saham hanya sebanyak setengah lot saja. Minimal ya satu lot, atau kelipatannya.

    Padahal sangat mungkin diluar sana ada banyak investor yang, meski dananya terbatas, namun mereka sangat berminat untuk memiliki ASII ini barang 1 lot. Karena itulah, ASII kemudian melakukan stocksplit, dan BEI sendiri kemudian mengubah peraturan perdagangan dimana 1 lot menjadi setara 100 lembar saham (dari tadinya 500 lembar). Jadi sekarang minimum dana yang dibutuhkan untuk membeli 1 lot ASII adalah Rp6,000 dikali 100 lembar, sama dengan Rp600,000 saja. Nah, dengan demikian harga saham ASII secara nominal menjadi terjangkau oleh semua orang, dan investor yang sejak awal memang berminat dengan ASII ini sekarang bisa ramai-ramai membelinya. Alhasil, saham ASII di market akan menjadi lebih likuid. Dan ketika sebuah saham menjadi lebih likuid dari sebelumnya, maka peminatnya juga akan menjadi lebih banyak lagi, dan sahamnya bisa naik tinggi. Ketika saham ASII diperdagangkan untuk pertama kalinya pada harga pasca stocksplit, pada tanggal 6 Juni 2012 lalu, sahamnya melonjak signifikan ke posisi 6,600.
    Dalam Jangka Panjang: Balik Lagi ke Fundamental
    Jadi secara teori, stocksplit akan menyebabkan sebuah saham menjadi lebih likuid, sehingga peminatnya lebih banyak, and eventually harga sahamnya di market akan menjadi lebih mencerminkan fundamental perusahaan. Yup, jadi tujuan akhirnya bukanlah agar ‘sahamnya naik’, melainkan agar ‘naik turun sahamnya lebih selaras dengan kinerja fundamental perusahaan’. Jadi kalo misalnya perusahaan memiliki kinerja yang kurang bagus, maka ya sahamnya gak akan naik bahkan meski dilakukan stocksplit. Contoh, tahun 2011 lalu ketika sedang puncak booming batubara, Resource Alam Indonesia (KKGI) melakukan stocksplit dengan rasio 1:4, sehingga jumlah saham beredarnya naik dari 250 juta lembar menjadi 1 milyar lembar, sementara harga sahamnya turun dari 4,000 menjadi 1,000. Tak lama kemudian KKGI melompat ke 1,700 setelah perusahaan membukukan ROE lebih dari 60% di laporan keuangannya, dan selanjutnya terus saja naik hingga menyentuh 8,000, satu setengah tahun kemudian.
    Tapi setelah itu harga batubara mulai turun, perusahaan-perusahaan batubara mulai kocar kacir, dan saham KKGI itu sendiri kemudian turun terus hingga ke posisi 700-an, pada awal 2016 lalu. Memasuki penghujung 2016, harga batubara mulai naik, dan saham KKGI mulai naik lagi hingga sempat menembus 2,500 pada Februari 2017. Di bulan berikutnya yakni Maret 2017, KKGI stocksplit lagi, kali ini dengan rasio 1:5, sehingga jumlah saham beredarnya meningkat dari 1 menjadi 5 milyar lembar, sementara harga sahamnya jadi 500 (dari tadinya 2,500). Tapi apakah setelah itu saham KKGI naik? Ternyata tidak: Hingga Kuartal III 2017 kemarin, KKGI masih membukukan penurunan pendapatan ketika mayoritas perusahaan batubara lainnya membukukan kenaikan, dan alhasil sahamnya gak kemana-mana/cenderung turun hingga ke posisi 300-an.
    Jadi sekali lagi, meski suatu saham bisa naik dengan cepat tak lama setelah stocksplit (atau bahkan sebelumnya), yakni karena sahamnya diborong oleh investor tertentu yang sejak awal hendak masuk tapi terbentur oleh seretnya likuiditas dari saham yang bersangkutan, atau karena minimnya dana (contohnya balik lagi ke ASII diatas), tapi dalam jangka panjang, pada akhirnya orang tetap akan melihat kinerja perusahaan. Disisi lain, berdasarkan pengamatan penulis selama ini, kalo sebuah perusahaan memang memiliki kinerja fundamental diatas rata-rata, maka meski sahamnya dalam jangka pendek kadang-kadang seperti susah naik (atau malah turun), tapi dalam jangka panjang tetap akan naik signifikan bahkan meski tanpa stocksplit. Pada Juni 2012 lalu, yakni ketika perusahaan melakukan stocksplit, ASII berada di level 6,600. Dan berapa harga saham ASII sekarang? Sudah naik ke 8,200, tapi total gain yang hanya sebesar 24.2% dalam waktu lima tahun tentu saja bukanlah profit yang memuaskan. Sementara itu, lima tahun yang lalu, saham Unilever Indonesia (UNVR) masih berada di level 22,000. Dan berapa UNVR sekarang? Sudah tembus 50,000, atau naik jauh lebih tinggi dibanding ASII pada periode waktu yang sama, padahal UNVR sampai sekarang belum pernah stocksplit lagi. Got it?
    Nah, jadi mari kita balik lagi ke pertanyaan diatas: Kenapa perusahaan melakukan stocksplit? Salah satunya agar sahamnya lebih likuid, sehingga naik turun harganya lebih mencerminkan fundamental perusahaan, termasuk dalam jangka pendek. Apa benefitnya bagi perusahaan atau investor pemegang sahamnya? Terkait fundamental perusahaannya, tidak ada benefit apapun. Sebuah perusahaan tidak akan menjadi lebih berpeluang untuk membukukan laba bersih yang lebih besar di masa yang akan datang hanya karena stocksplit. Dan bagaimana pengaruhnya terhadap prospek dari saham itu sendiri? Apakah saham yang stocksplit kemudian bakal terbang dalam waktu dekat, misalnya? Dalam jangka waktu yang sangat pendek, katakanlah beberapa hari atau 1 – 2 minggu mungkin iya, sebuah saham bisa saja naik menjelang atau setelah stocksplit. Namun dalam jangka panjang, pada akhirnya naik turun saham tersebut akan tetap mengikuti fundamental perusahaan yang bersangkutan. Pada contoh ASII vs UNVR diatas, kinerja fundamental ASII sempat stagnan karena turunnya harga komoditas batubara dan CPO antara tahun 2012 – 2016, yang menyebabkan penurunan kinerja dari dua anak usahanya, United Tractors (UNTR) dan Astra Agro Lestari (AALI). Sementara UNVR, sebagai perusahaan consumer goods, kinerjanya dalam lima tahun terakhir terbilang lancar jaya.
    Okay, I think that’s enough, untuk minggu depan kita akan membahas salah satu dari tiga tema berikut: 1. Proyeksi IHSG di 2018: Apakah siklus krisis 10 tahunan akan terulang kembali? 2. Bagaimana analisis saham-saham tambang BUMN menjelang akuisisi oleh PT Inalum? Atau 3. Prospek dari IPO PP Presisi, dan IPO Wika Gedung. Silahkan anda pilih tema yang mana, melalui kolom komentar dibawah.

    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Buku Kumpulan Analisis Saham, Kuartal III 2017

    Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

    Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
    1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
    2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
    3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
    4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
    5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
    Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada November 2017. Anda bisa langsung memperolehnya disini.
    Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.

    Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
    Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
    Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
    TESTIMONIAL
    Selamat siang pak Teguh…
    Saya Mengikuti jejak bapak membeli asri. Kebetulan dapat harga di bawah bapak.
    Dan sekarang mulai ada profit.
    Terima kasih pak Teguh.
    -Fendi-
    Oya Pak…mau blng trm ksh. Sy ada beli ptro dan inds bbrp bulan lalu. Bulan lalu jual. Kecepatan sih jualnya. Tp yg penting ada cuan 30 persen walaupun gak byk lotnya. Tp tetap mau blng trm ksh sama Pak Teguh.
    Sekarang ada masuk mcor dan beli hoki kmrn sesuai ebook lk 3 kmrn.smg bs ksh cuan lg.
    November 14th, 2017 at 11:04 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

    Apa Itu Repo Saham?

    Menurut Investopedia, repurchase agreement, atau biasa disingkat repo, adalah perjanjian antara dua belah pihak dimana pihak pertama meminjam sejumlah dana dari pihak kedua dengan jaminan aset keuangan tertentu, misalnya saham, obligasi, hingga surat utang negara, dengan janji bahwa pihak pertama akan membeli kembali saham tersebut (sehingga pihak kedua akan memperoleh uangnya kembali). Biasanya nilai pinjamannya lebih rendah dari nilai aset yang dijaminkan, misalnya A meminjam dana Rp100 juta dari B dengan jaminan 100,000 lembar saham X pada harga Rp1,000 per saham (jadi nilai pinjamannya Rp100 juta), sementara harga saham X di pasar mencapai Rp1,500. Sehingga teorinya adalah, kalau ternyata si A tidak dapat melunasi utangnya, maka si B sebagai pemilik dana tinggal menjual saham X yang ia pegang sebagai jaminan, dan ia tetap akan meraup untung 50% (karena ia bisa menjual saham X di pasar pada harga 1,500, sementara modalnya cuma 1,000).

    Pada prakteknya, mekanisme dari transaksi repo ini terbilang macam-macam/berbeda satu sama lain, tergantung dari poin-poin perjanjian antara si peminjam dan pemilik dana. Contoh, ada transaksi repo dimana si peminjam sejak awal tidak akan membeli kembali saham yang dijaminkan, atau dengan kata lain ia benar-benar menjual sahamnya ke si pemilik dana, dan alhasil si pemilik dana hanya bisa memperoleh kembali uangnya dengan cara menjual saham tersebut di pasar. Ada juga repo dimana saham yang menjadi jaminan baru boleh dijual kembali di pasar oleh si pemilik dana setelah jangka waktu tertentu (istilahnya sahamnya di-lock). Dan ada repo dimana si peminjam menjaminkan saham pada harga yang sama dengan harga pasar, sehingga si pemilik dana tidak akan memperoleh keuntungan kalau menjual saham jaminan tersebut di pasar, namun dengan janji bahwa saham tersebut akan dibeli lagi pada harga yang sama, plus bunga.
    Kalau di negara maju seperti Amerika, transaksi repo ini dianggap aman karena aset yang dijaminkan biasanya berupa surat utang negara atau treasury bonds, yang risikonya tentu jauh lebih rendah dibanding saham. However, kalau di negara berkembang seperti Indonesia, maka ‘repo’ ini memiliki konotasi yang buruk. Karena sering terjadi kasus repo dimana meski si peminjam berjanji akan membeli kembali saham yang dijaminkan pada harga yang sudah ditentukan, namun janji tersebut ternyata tidak dipenuhi. Atau ketika si pemilik dana akan menjual saham jaminan yang ia pegang di pasar, ternyata harganya sudah turun duluan, misalnya saham X diatas dimana harganya tadinya 1,500, tapi ternyata sekarang harganya tinggal 500, sehingga posisi si pemilik dana menjadi rugi (karena modalnya di harga 1,000).
    Dan untuk kasus yang kedua, yakni saham yang dijaminkan sudah turun duluan, biasanya melibatkan ‘saham-saham gorengan’ yang pada waktu-waktu tertentu bergerak liar dan terbang tinggi, tapi ketika sekalinya turun maka bakal gila-gilaan turunnya. Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa saham gorengan yang turun secara tidak wajar hingga menyebabkan kerugian besar-besaran dari para pemegang sahamnya, dan ditengarai bahwa penyebab kejatuhan saham-saham tersebut salah satunya adalah karena transaksi repo. Sebut saja saham Trada Maritime (TRAM), Sekawan Intipratama (SIAP), Express Transindo Utama (TAXI), Hanson International (MYRX), hingga Sugih Energy (SUGI).
    Tapi kenapa penurunan saham-saham diatas dianggap ada kaitannya dengan repo? Well, karena biasanya modusnya seperti ini. Pertama, ada individu atau perusahaan tertentu, sebut saja A, yang memegang saham X dalam jumlah besar (individu/perusahaan ini biasanya merupakan pemegang saham mayoritas/pemilik dari emiten X tersebut, tapi bisa juga pihak lain). A kemudian memperjual belikan saham X miliknya sendiri di market (jadi yang membeli dan menjual adalah pihak yang sama, tapi tentunya pake dua atau beberapa rekening sekuritas yang berbeda), dimana setiap transaksi dilakukan pada harga yang lebih tinggi dari transaksi sebelumnya. Alhasil, saham X naik terus. Misalnya tadinya saham X harganya cuma 100, setelah ‘digoreng’ seperti itu maka bisa naik sampai 500. Dan A inilah yang sering disebut dengan istilah ‘bandar’.
    Kemudian, A mendatangi banyak investor, entah itu investor individu atau institusi, untuk meminjam uang dengan jaminan saham X tersebut. Biasanya dikatakan bahwa uang pinjaman tersebut akan digunakan untuk mengembangkan/ekspansi usaha dari emiten X itu sendiri. Misalnya salah satu investor tersebut adalah B, yang setuju meminjamkan dana Rp30 juta, dengan jaminan 100,000 lembar (1,000 lot) saham X pada harga Rp300 per saham. Karena saham X di pasar adalah Rp500, maka sekilas B tidak perlu khawatir, karena kalau A tidak bisa melunasi utangnya/membeli kembali saham yang dijaminkan, maka ia tinggal menjual saham X di pasar, dan ia akan tetap memperoleh keuntungan.
    Problemnya, sejak awal kenaikan harga saham X dari 100 ke 500 itu bukankarena mekanisme pasar yang wajar (misalnya karena X ini memiliki fundamental yang bagus sehingga investor ramai-ramai membelinya, dan alhasil harganya naik), melainkan karena rekayasa bandar tadi. Ini artinya kalau bukan si bandar itu sendiri yang membeli/menaikkan saham X di pasar, maka gak akan ada orang lain lagi yang mau membeli saham X (kecuali mungkin spekulan, atau trader yang gak ngerti apa-apa/cuma tertarik karena kenaikan sahamnya saja). Alhasil ketika saham X turun signifikan dalam sehari, misalnya 5%, maka investor yang memegang repo-nya bisa langsung panik dan cepat-cepat menjual saham jaminan yang mereka pegang, atau bisa juga mereka kena forced sell. Dan ketika semua investor pemegang repo ini menjual saham X dalam waktu bersamaan ketika disisi lain tidak ada orang lain yang nampung, maka inilah hasilnya: Pada Oktober 2014 lalu, saham TRAM terjun bebas dari 1,850 hingga 330 hanya dalam sebulan, dan setelah itu dia kembali lanjut turun sampai akhirnya mati di gocap. Dan meski belakangan ini TRAM mulai ‘hidup’ lagi, tapi untuk saham repo lainnya seperti SIAP, nasibnya ternyata lebih buruk yakni hilang sama sekali dari peredaran (SIAP masih ada/belum delisting dari BEI, tapi sahamnya sudah tidak diperdagangkan lagi).
    Penurunan Saham RIMO
    Nah, jadi ketika saham Rimo International Lestari (RIMO) tiba-tiba saja drop dari 700 hingga dibawah 200 hanya dalam seminggu terakhir, maka wajar jika kemudian muncul rumor repo, karena kronologisnya memang sangat mirip dengan kasus-kasus sebelumnya: RIMO ini pertama-tama menerbitkan saham baru dalam jumlah besar (40.6 milyar lembar) melalui right issue, pada Maret 2017 lalu, pada harga Rp101 per saham. Alhasil jumlah saham beredar RIMO menjadi sangat banyak, dan sahamnya di market jadi likuid. Memasuki bulan April dan Mei, RIMO mulai merangkak naik ke 150, dan pada titik ini kenaikannya masih tampak wajar karena nilai ekuitas perusahaan juga meningkat signifikan setelah right issue-nya (RIMO tadinya merupakan perusahaan ritel yang bangkrut, yang diakuisisi seorang pengusaha bernama Benny Tjokrosaputro untuk dijadikan objek backdoor listing bagi perusahaaan properti miliknya).

    Namun memasuki bulan Juni, tiba-tiba saja RIMO bergerak naik dengan volume transaksi yang amat sangat besar (pernah sampai setengah milyar lembar per hari), dan terus saja naik, hingga menyentuh 770 di bulan Oktober kemarin, atau terbang lebih dari empat kali lipat dalam waktu kurang dari enam bulan! Lalu apakah kenaikan tersebut karena fundamental RIMO memang bagus? Actually, nggak juga, karena penulis sudah bolak balik baca laporan keuangan RIMO sejak awal 2017 lalu, dan kesimpulannya adalah dia sama sekali gak istimewa. Intinya sulit untuk mengatakan bahwa kenaikan RIMO tersebut adalah karena faktor fundamental, dan penulis biasanya bisa dengan santai mengatakan bahwa saham-saham model RIMO ini cepat atau lambat bakal turun lagi. Dan ternyata memang benar: Kasus kejatuhan TRAM dan SIAP beberapa waktu lalu, kali ini kembali terulang di RIMO ini, dan tentunya dengan menyeret banyak korban, baik itu yang memegang RIMO karena membeli sahamnya di pasar, atau dari hasil repo-nya.
    Balik lagi ke soal repo. Namun meski kita bisa katakan bahwa penurunan RIMO, atau saham lainnya, ditengarai karena repo, tapi kita tidak bisa mengetahui secara persis, apakah penurunan RIMO tersebut beneran karena adanya repo atau tidak. Karena kalaupun RIMO ini di-repo-kan, maka biasanya investor yang memegang saham repo-nya nggak mau ngaku (bahwa dia pegang repo RIMO), karena 1. Ia sejak awal sadar bahwa keputusannya untuk ikut repo tersebut merupakan spekulasi, atau 2. Ia diberi tahu oleh si peminjam/orang yang menawarkan repo tersebut, untuk jangan cerita-cerita lagi soal repo ini ke orang lain. Soalnya kan gak enak, orang lain harus beli RIMO di harga 700 (harga pasar), tapi bapak/ibu bisa dapet saham RIMO ini sebagai jaminan di harga 300 saja. Jadi mirip-mirip lah seperti kalau anda dapat telepon yang mengatakan bahwa anda menang undian, tapi sebelum menyuruh anda ke mesin ATM, si penelpon biasanya akan kasih tau agar anda ‘jangan bilang ke siapa-siapa’ bahwa anda menang undian tersebut.
    And btw, selama wara wiri di market sejak 2009, penulis sendiri sudah beberapa kali ditawari repo seperti ini, atau bahkan ditawari untuk menjual kembali repo tersebut ke pihak lain, dengan iming-iming komisi. Tapi penulis tolak semuanya karena, entah kebetulan atau bukan, saham-saham yang direpokan biasanya emitennya memiliki kinerja fundamental yang gak jelas, dan manajemennya cuma jualan prospek. Contoh, dulu saham SIAP banyak direpokan dengan iming-iming bahwa tambang batubara milik perusahaan kalau nanti sudah beroperasi maka akan menghasilkan laba bersih yang sangat besar, padahal tambang yang dimaksud sama sekali belum diapa-apakan/masih berupa hutan lebat yang tentunya butuh banyak biaya untuk dibabat, digali, dan seterusnya, tapi SIAP ini sama sekali gak punya duit untuk pengembangan tersebut (makanya owner perusahaan me-repo-kan saham SIAP untuk memperoleh dana untuk menggali batubaranya). Sayangnya karena timing-nya salah, dimana meski si bandar kemudian punya duit banyak hasil jualan repo untuk kegiatan tambangnya, tapi tetap saja tambang batubaranya belum bisa digali dulu, karena ketika itu (tahun 2015) harga batubara justru sedang rendah-rendahnya (jadi kalau perusahaan memaksakan menggali batubara, mereka justru akan rugi). Dan sebelum SIAP benar-benar memproduksi batubara, sahamnya sudah keburu nyungsep duluan, dan SIAP itu sendiri kemudian bubar sama sekali.
    Jadi maksud penulis adalah, kalau misalnya saya ditawari repo saham ASII, BBRI, atau UNVR pada harga yang jauh dibawah harga pasarnya, maka dengan senang hati penulis akan mengambilnya, kalo perlu jual rumah lah! Tapi kalau anda ditawari repo dari saham-saham yang bahkan mungkin belum pernah anda dengar sebelumnya, maka sekarang anda sudah tahu, apa yang harus anda lakukan. Dalam hal ini penulis juga hendak menyampaikan sedikit kritik kepada BEI dan OJK, yang sekarang lagi banyak berbenah untuk menata pasar modal Indonesia, tapi so far belum ada tindakan atau peraturan baru yang secara khusus mengatur soal repo ini. Penulis khawatir jika ini dibiarkan, maka tidak hanya akan terus jatuh korban dari investor ritel, tapi reputasi pasar saham Indonesia di mata fund manager global juga bakal jadi jelek, karena disini isinya cuma gorengan melulu.
    Anyway, sambil menunggu para bos besar ini melakukan tindakan, yang terpenting disini adalah kita sendiri sebagai investor jangan mudah tergiur kalau misalnya ada orang yang menawari anda repo dengan iming-iming tertentu (kadang si peminjam menolak untuk menyebut ini ‘repo’ melainkan menyebutnya dengan istilah yang lebih keren seperti private placement atau lainnya, padahal private placement jelas berbeda dengan repo), atau tergiur dengan ‘saham-saham terbang’ padahal kenaikannya tidak didukung faktor fundamental. Intinya kita invest saham dengan cara yang lurus-lurus sajalah! Dan bukannya malah macem-macem dengan ikut repo atau sejenisnya, OK?

    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Sido Muncul

    Beberapa waktu lalu penulis mendengar cerita unik. Jadi pada tanggal 15 Oktober kemarin di Kota Bantul, Jogja, dilangsungkan pernikahan dengan mas kawin bukan emas, seperangkat alat shalat atau semacamnya, melainkan mas kawin saham, dalam hal ini saham Sido Muncul (SIDO) sebanyak 500 lot senilai Rp27.7 juta, atau Rp555 per saham. Ini menarik, mengingat mempelai pria memang seorang investor yang sudah mulai mengenal saham sejak tahun 2013, dan tentunya ia tidak main-main ketika memberikan mas kawin berupa saham tersebut. Pertanyaannya, kenapa saham SIDO yang dijadikan mas kawin, dan bukannya saham lain?

    SIDO, seperti yang pastinya anda ketahui (karena SIDO ini merupakan salah satu perusahaan paling populer di tanah air), adalah perusahaan produsen obat-obatan herbal atau yang biasa disebut jamu, dengan merk andalannya Jamu Tolak Angin plus berbagai variannya (Tolak Angin Anak, Tolak Angin Flu, Tolak Angin Herbal, dst). Selain jamu, SIDO juga adalah produsen dari makanan dan minuman suplemen dengan merk-merk yang juga terkenal, seperti Kuku Bima Ener-G, Este-Emje, Kopi Jahe Sidomuncul, Kunyit Asam, dan Alangsari. Dan sejak tahun 2014 lalu, SIDO juga memasuki industri farmasi dengan mengakuisisi PT Berlico Mulia Farma, yang merupakan produsen obat-obatan ringan dengan merk Anacetine (obat panas anak), Berlosid (obat maag), dan Suprabion (suplemen vitamin). Hingga ketika artikel ini ditulis, SIDO masih terus meluncurkan banyak varian produk baru dengan tetap fokus di obat-obatan/suplemen herbal, termasuk berinovasi dengan meluncurkan Cafe Jamu Sido Muncul, yakni program franchise dimana masyarakat bisa membuka usaha cafe/warung yang menjual produk-produk jamu Sido Muncul, dengan modal mulai dari Rp1 juta saja. Program ini bisa dibilang sebagai franchise usaha jamu pertama di Indonesia (dan mungkin juga di dunia). Sebelum meluncurkan Cafe Jamu, SIDO melalui anak usahanya, PT Muncul Mekar, sudah memiliki jaringan distribusi milik sendiri yang tersebar dari Sumatera Utara hingga Papua. SIDO juga mengekspor produk-produknya ke setidaknya 16 negara berbeda, meski porsinya masih sangat kecil yakni hanya 2% dari total pendapatan.

    Siapa disini yang punya stok Jamu Tolak Angin di lemari dapur di rumah??

    Nah, sejak SIDO melantai di bursa untuk pertama kalinya pada Desember 2013 lalu, penulis sudah sangat tertarik dengan SIDO ini karena beberapa pertimbangan berikut. Pertama, seperti yang sudah disebut diatas, SIDO merupakan salah satu perusahaan paling terkenal di tanah air, dengan merk-merk produk yang juga terkenal. Seperti yang pernah kita bahas disini, popularitas hingga kekuatan merk yang dimiliki SIDO merupakan aset yang sangat berharga, yang membuat sahamnya layak dihargai pada valuasi tinggi. Dalam hal ini SIDO tidak kalah dengan katakanlah Unilever, Kalbe Farma, hingga Indofood. SIDO juga merupakan perusahaan jamu paling populer, paling mapan (sudah berdiri sejak tahun 1940), dan paling besar dibanding para kompetitornya, seperti PT Air Mancur, Jamu Jago, Jamu Nyonya Meneer, dst.
    Kedua, produk jamu itu sendiri memiliki reputasi sebagai produk obat-obatan yang lebih alami dan ‘lebih sehat’ dibanding obat biasa, karena dibuat langsung dari bahan baku tanaman berkhasiat seperti kunyit, jahe, temulawak, dst. Plus, harga jualnya juga lebih murah sehingga otomatis pangsa pasarnya lebih luas. Problemnya, karena saking alaminya maka produk jamu biasanya berupa serbuk yang diseduh air panas sehingga tidak praktis, dan rasanya pun pahit, sehingga kadang orang enggan untuk mengkonsumsinya. Tapi untungnya sekarang ini para produsen jamu, termasuk SIDO, berinovasi dengan meluncurkan produk-produk jamu berbentuk cair dan tablet/permen yang lebih praktis, dan rasanya pun lebih enak/manis.
    Ketiga, selaras dengan statusnya sebagai salah satu produsen jamu terbesar di Indonesia, kinerja SIDO juga terbilang bagus dan terus bertumbuh secara konsisten. Pada tahun 2008, SIDO membukukan pendapatan Rp1.04 trilyun, yang tumbuh menjadi RpRp2.56 trilyun di tahun 2016 (sementara total aset perusahaan hanya Rp2.99 trilyun). Laba bersih SIDO juga terus tumbuh hingga terakhir tercatat Rp380 milyar di Kuartal III 2017. Hebatnya, pertumbuhan kinerja diatas dicapai dengan hampir tidak menggunakan leverage sama sekali. Yup, dari dulu sampai terakhir per Kuartal III 2017, SIDO tidak pernah memiliki utang bank, obligasi, atau semacamnya, melainkan hanya utang usaha saja. Kondisi ini menyebabkan margin laba SIDO terbebas dari beban bunga pinjaman, dan posisi perusahaan sangat aman dari risiko business turnaround, dimana kalau industri jamu tiba-tiba drop maka SIDO secara keuangan akan baik-baik saja, karena perusahaan tidak memiliki liabilitas apapun (kita gak akan pernah mendengar cerita SIDO melakukan restrukturisasi utang atau semacamnya, itu tidak akan pernah terjadi). Disisi lain, sebagai bagian dari industri consumer goods, usaha jamu itu sendiri memiliki risiko yang rendah, dimana risiko usaha ini terbatas pada risiko fluktuasi harga bahan baku, dan risiko persaingan (dan untungnya, SIDO sejak awal sudah merupakan ‘one of the best players’ di bidangnya).
    Terakhir keempat, SIDO dikelola oleh tim manajemen yang sangat tradisional, dimana mereka hanya membuat jamu, kemudian menjualnya, that’s it. Pemilik SIDO, dalam hal ini Pak Irwan Hidayat beserta keluarga (unfortunately, he’s not my uncle), selama ini juga senantiasa fokus mengelola SIDO dan hampir tidak memiliki usaha lain, kecuali jaringan Hotel Candi di Jawa Tengah dan Jogja, dan mereka juga memiliki reputasi yang sangat baik dimana Pak Irwan bersama beberapa tokoh lainnya seperti Dato’ Tahir (owner Grup Mayapada), pengusaha sekaligus Wapres M. Jusuf Kalla, hingga desainer kebaya Anne Avantie, pernah dinobatkan Majalah Forbes sebagai 4 dari ’48 orang paling dermawan di Asia’. Yup, seperti halnya Mr. Tahir, Mr. Irwan melalui SIDO memang terkenal dengan kegiatan filantropinya, yang dikemas dalam bentuk CSR. Contohnya, sejak tahun 2011 sampai sekarang, SIDO rutin menggelar operasi katarak gratis untuk masyarakat umum.
    However, meski tampak sempurna secara fundamental (atau, kalau mengutip istilah Opa Warren, SIDO ini merupakan ‘wonderful company’), SIDO tetap memiliki kelemahan, yakni terkait prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan. Seperti yang disebut diatas, SIDO dikelola secara tradisional, tanpa leverage apapun (padahal kalau Mr. Irwan mengumumkan bahwa SIDO butuh pinjaman, maka penulis yakin para bank bakal langsung antri), dan sayangnya juga hampir tanpa ekspansi apapun dimana dalam beberapa tahun terakhir SIDO hanya pernah sekali mengakuisisi perusahaan (PT Berlico), dan sampai sekarang perusahaan masih mengerjakan penambahan kapasitas pabrik jamu cair-nya, padahal itu sudah dikerjakan sejak awal tahun 2014 (dananya dari hasil IPO). Lambannya ekspansi perusahaan juga bisa dilihat dari kebijakan manajemen yang membagikan 99% laba bersihnya setiap tahun sebagai dividen, jadi hampir tidak ada dari laba bersih tersebut yang disimpan untuk diinvestasikan kembali. Dan bahkan meski SIDO sangat royal dividen, tapi posisi cash-nya selalu tebal. Per Kuartal III 2017, dari total aset perusahaan senilai Rp2.97 trilyun, Rp810 milyar atau 27% diantaranya merupakan cash yang tidak produktif. Kalau kita lihat Berkshire Hathaway-nya Warren Buffett, maka perusahaan senantiasa menjaga posisi cash sekitar 15% untuk jaga-jaga kalau terjadi market crash atau semacamnya, tapi bahkan posisi cash sebesar itu saja sudah dianggap terlalu hati-hati (perusahaan besar lain biasanya hanya menjaga posisi cash-nya di level 5 – 10% dari total aset). Tapi posisi cash SIDO jauh lebih besar dari itu, dan bahkan bisa lebih besar lagi andaikata perusahaan tidak membagikan dividen dalam jumlah terlalu besar.
    Jadi, yup, dalam hal ini SIDO bisa disebut sebagai kebalikan dari Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), yang juga merupakan perusahaan consumer goods, namun AISA sangat agresif dalam berekspansi dimana perusahaan sudah beberapa kali menggelar right issue, mengambil utang obligasi, utang bank, hingga private placement. Dan jika AISA sukses mencatat pertumbuhan yang sangat cepat namun disisi lain perusahaannya rawan bangkrut/menderita rugi besar kalau-kalau terjadi peristiwa buruk tertentu (dan memang AISA sudah beberapa kali kena masalah, misalnya terkait investasinya di Golden Plantation/GOLL), maka SIDO tidak akan kena masalah apapun, tapi disisi lain pertumbuhan riil perusahaan menjadi sangat lamban. Yup, meski diatas disampaikan bahwa SIDO memiliki kinerja konsisten dalam jangka panjang, namun ‘jangka panjang’ disini adalah antara 5 hingga 10 tahun, atau lebih lama lagi. Sementara kalau kita melihatnya hanya dalam waktu 2 – 3 tahun kedepan, maka bisa jadi nilai pendapatan, laba bersih, serta ekuitas SIDO hanya akan segitu-gitu saja (tetap naik, tapi dengan persentase kenaikan yang rendah).
    Maksud penulis adalah, jika saya menjadi pemegang saham pengendali di SIDO, maka perusahaan tetap tidak akan mengambil utang (buat apa?), namun SIDO hanya akan membagikan dividen dalam jumlah wajar saja, yakni 30 – 40% dari laba bersih setiap tahunnya, sementara selebihnya bisa dipakai untuk akuisisi perusahaan jamu lain atau lainnya, tinggal cari saja yang harganya cocok (baca: murah). Dengan cara ini maka pendapatan SIDO bisa bertumbuh secara lebih cepat, namun disisi lain risiko usahanya tetap rendah karena, sekali lagi, kita gak pake utang apapun untuk akuisisi tersebut. Dan perlu diingat pula bahwa meski produk-produk SIDO sudah terkenal di seantero nusantara, namun jika pihak manajemen sedikit lebih ambisius, maka Jamu Tolak Angin bisa juga menyusul jejak Indomie milik Grup Indofood, yang sekarang sudah menjadi produk mie instan populer di banyak negara mulai dari Taiwan, Nigeria, hingga Belanda. Pendek kata, SIDO sebenarnya memiliki banyak peluang untuk tumbuh hingga menjadi perusahaan yang benar-benar besar, sekali lagi, asalkan pihak pengelola perusahaan mau bekerja lebih keras.
    Anyway, diluar faktor lambannya pertumbuhan diatas, in the end penulis tetap setuju bahwa SIDO merupakan wonderful company, yang layak dijadikan sebagai ‘pasangan sehidup semati’ alias dipegang untuk jangka panjang, kalau bisa sampai anak cucu. Sebenarnya pada tahun 2014 lalu ketika saham SIDO mulai turun terus dari 900-an hingga mentok di 480 – 500 pada pertengahan 2015, penulis ketika itu termasuk yang menganggap bahwa meski SIDO ini sangat menarik, tapi sebaiknya kita tunggu di harga yang lebih rendah dulu, karena PBV 2.5 – 3 kali masih sedikit terlalu mahal untuk ukuran perusahaan yang nyaris tidak menawarkan prospek pertumbuhan apapun (ketika itu SIDO sudah membagikan hampir seluruh labanya sebagai dividen).
    However, sudah dua tahun berlalu, dan ternyata SIDO tidak turun lebih rendah lagi (meski disisi lain juga belum naik-naik lagi), sementara disisi lain kinerjanya masih lancar jaya seperti biasanya. Jadi ya sudah, kemungkinan kisaran harga sekarang sudah cukup rendah bagi SIDO ini. Jika anda mencari saham dengan risiko rendah dan bisa dipegang untuk jangka panjaaang, maka SIDO bisa dipertimbangkan, dimana kalau kita melihatnya dalam waktu 5 – 10 tahun kedepan, penulis yakin SIDO ini pada akhirnya akan naik juga. Selain itu ingat pula bahwa meski SIDO tampak kurang bagus dari sisi kenaikan sahamnya, namun para pemegang sahamnya tetap akan memperoleh profit dari dividennya yang cukup besar yakni sekitar Rp26 per saham, atau 5% dari harga sahamnya. Sebagai perbandingan, dividend yield dari emiten-emiten bluechip biasanya hanya 2 – 3% per tahun.
    Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, kenapa si mempelai pria memilih saham SIDO sebagai mas kawin? Kenapa bukan saham BUMI, misalnya?? Well, menurut anda??
    PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul, Tbk
    Rating Kinerja pada Kuartal III 2017: AA
    Rating saham pada 500: A
    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) Edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Ebook Analisis Kuartal III 2017

    Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

    Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
    1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
    2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
    3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
    4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
    5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
    Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin,November 2017. Anda bisa langsung memperolehnya disini.
    Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.

    Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
    Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
    Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
    TESTIMONIAL
    Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…

    Widya Olivia – [...]

    Konstruksi.. Lagi!

    Sebentar lagi kita akan memasuki musim rilis laporan keuangan (LK) Kuartal III, dan seperti biasa beberapa emiten merilis LK-nya lebih awal. Salah satunya adalah emiten konstruksi Waskita Karya (WSKT), plus anak usahanya Waskita Beton Precast (WSBP), dimana hasilnya cukup mengesankan: Laba bersih WSKT melonjak dari Rp1.1 menjadi Rp2.6 trilyun, sementara laba WSBP juga naik dari Rp502 menjadi Rp825 milyar. Kemungkinan karena keluarnya LK inilah, saham WSKT dan WSBP dengan cepat melonjak dalam semingguan terakhir, demikian pula saham-saham konstruksi yang lain terutama karena adanya anggapan bahwa kalau WSKT kinerjanya bagus, maka demikian pula kinerja konstruksi BUMN lainnya bakal bagus juga. Pertanyaannya sekarang, mengingat sebelumnya WSKT dkk justru turun terus, maka apakah ini merupakan tanda bahwa penurunannya sudah maksimal, dan selanjutnya konstruksi akan balik arah? Atau bagaimana?

    Sepanjang tahun 2017 ini mungkin tidak ada sektor yang paling bikin pusing selain konstruksi ini, karena jika dilihat dari kinerja keuangan perusahaan, prospeknya, hingga progress riil dari pembangunan infrastruktur di lapangan, maka semuanya tampak OK, plus IHSG-nya juga masih strong di level atas (5,900-an). Tapi nyatanya saham-saham di sektor ini justru turun sendiri ketika mayoritas saham-saham kelompok big caps lainnya masih baik-baik saja. I mean, kalau memang terjadi perubahan fundamental dimana WSKT dkk mencatat penurunan laba atau bahkan rugi, maka ya sudah, penulis sendiri juga akan minggir dulu dari konstruksi ini. Namun faktanya, seperti yang bisa anda lihat, BUMN konstruksi masih mencatat kenaikan laba yang signifikan, bahkan justru paling signifikan dibanding emiten BUMN lainnya.


    Rangkuman Kinerja WSBP hingga Kuartal III 2017: Everything seems good

    Dan penulis sendiri sudah ngomong seperti diatas sejak saya menyampaikan update analisis untuk sektor konstruksi pada Agustus 2017 lalu. Yup, kalau anda baca-baca lagi blog ini, kita sudah membahas sektor konstruksi sejak Desember 2016 lalu, dimana inti analisanya adalah, 1. Saham-saham konstruksi belum naik banyak sepanjang tahun 2016, sehingga valuasinya relatif masih rendah, 2. Kinerja fundamental serta prospeknya masih bagus seiring dengan realisasi percepatan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, dan 3. Penyebab belum ‘jalannya’ saham-saham konstruksi adalah karena faktor kurang stabilnya kondisi politik nasional menjelang Pilkada DKI Jakarta ketika itu, yang praktis menimbulkan kekhawatiran bahwa itu akan mengganggu kelanjutan pembangunan infra, tapi penulis termasuk yang percaya bahwa isu politik ini nantinya akan mereda dengan sendirinya. Anda bisa baca lagi ulasan lengkapnya disini.
    Kemudian pada artikel di bulan Agustus 2017, analisis diatas diperbaharui, yang intinya terkait selesainya drama Pilkada DKI dimana yang menang adalah pasangan calon Gubernur – Wagub dari kubu partai oposisi, dan bukannya partai pendukung pemerintah. Yang itu artinya, ketidak stabilan politik yang sebelumnya penulis harapkan bakal segera mereda, kemungkinan justru akan berkepanjangan. Tapi untungnya diluar drama politik tersebut, yang lain-lainnya masih nggak ada masalah, malah untuk outlook-nya masih sangat menarik dimana WSKT dkk masih terus memperoleh banyak kontrak baru dari pemerintah. Jadi saya menganggap bahwa sektor konstruksi tetap menarik, namun dengan mempertimbangkan faktor isu politik tersebut maka kita harus menghargai saham-saham konstruksi pada valuasi yang lebih konservatif. Berdasarkan pengalaman, angka PBV terendah bagi saham konstruksi berfundamental bagus adalah 1.4 kali, itupun dicapai ketika IHSG drop di tahun 2013, dan 2015.
    Kemudian kalau kita pakai contoh saham WSBP, maka PBV 1.4 kali tersebut adalah pada harga 400. Dan memang ketika WSBP terus saja turun sepanjang Semester I 2017 lalu, mentoknya ya di kisaran 400 tersebut (tepatnya di 416), sebelum kemudian membal dan naik lagi. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
    Jadi pada ulasan di bulan Agustus tersebut, penulis menganggap bahwa saham-saham konstruksi sudah ketemu bottom-nya, sehingga dengan catatan tidak terjadi peristiwa force majeure tertentu dimana IHSG anjlok atau semacamnya, maka saham-saham konstruksi sudah layak buy. Tapi lagi-lagi, meski sempat stabil selama beberapa saat, memasuki bulan September konstruksi kembali ndlosor kebawah, dan WSBP bahkan sempat nyungsep sampai dibawah 340. So what happen?? Well, meski penulis sendiri terlambat menyadarinya, namun pada September tersebut kita menyimpulkan bahwa pasar sedang dalam kondisi yang boleh dibilang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana ada banyak saham-saham di BEI baik itu big, mid, maupun small cap yang turun signifikan, terutama karena investor asing jualan terus, namun entah gimana caranya IHSG-nya tidak ikut turun.
    Dan penulis menyebut situasi ini dengan koreksi yang tidak kelihatan. Jika anda perhatikan, sekarang ini kita berada dalam situasi pasar dimana saham yang naik terus saja naik, sementara saham yang turun terus saja turun(detilnya baca lagi disini), Dan sayangnya saham-saham konstruksi termasuk dari saham-saham yang sebelumnya sudah turun banyak sejak awal tahun, sehingga jadilah mereka turun lebih lanjut.
    Lalu kira-kira turunnya sampai berapa? Nah, untuk kali ini penulis terus terang belum ada gambaran, karena setelah barrier PBV 1.4 kali tadi ditembus, maka selanjutnya belum ada benchmark lagi soal berapa kira-kira valuasi terendah yang mungkin dicapai sebuah saham konstruksi. Tapi ketika WSBP kemarin turun sampai 340 dimana PBV-nya 1.2 kali, lalu kemudian naik lagi, maka apakah itu yang menjadi batas valuasi terendah bagi konstruksi? Well, belum tentu. Sekarang begini, yang bikin konstruksi terbang semingguan kemarin itu apa sih? Karena adanya sentimen laporan keuangan bukan? Tapi faktanya kinerja emiten konstruksi di Kuartal III, dalam hal ini kalau kita pakai contoh WSKT dan WSBP, meskipun bagus tapi gak lebih bagus dibanding Kuartal I dan II kemarin. Atau dengan kata lain belum ada perubahan fundamental dari sisi laporan keuangan, dimana sekitar tiga bulanan lalu juga WSKT dkk sempat naik ketika LK Kuartal II keluar, tapi kesininya turun lagi. Dari sisi perkembangan politik maupun situasi pasar juga belum ada perubahan, dimana isu-isu politik masih menjadi perhatian semua orang (malah cenderung semakin panas menjelang 2019), dan investor asing, hingga ketika artikel ini ditulis, masih terus jualan. Pendek kata, yup, kalau kita lihat pergerakan sahamnya, maka WSKT dkk memang kelihatannya sudah rebound. Tapi kalau kita lihat lagi kinerja fundamental perusahaan, situasi pasar dll, maka belum ada perubahan berarti yang bisa membuat konstruksi menjadi layak buy, tidak untuk sekarang ini (masih belum waktunya!).
    Valuasi Konstruksi: Masih Lebih Mahal Dibanding Valuasi Saham-saham Lain
    However, dalam rangka mencoba menggali berapa kira-kira valuasi terendah yang mungkin dicapai konstruksi, penulis barusan lihat-lihat lagi arsip lama laporan keuangan dll, dan diperoleh fakta berikut: Sektor konstruksi sejatinya mulai booming kurang lebih di tahun 2009, yakni setelah Pemerintah meluncurkan rencana pembangunan jangka panjang yang terangkum dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EIsetahun sebelumnya (2008). Yup, jadi meski pembangunan infrastruktur baru benar-benar dikebut sejak jaman Presiden Jokowi, namun pembangunan itu sendiri sejatinya sudah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya, dimana ADHI dan WIKA (beberapa emiten konstruksi lainnya baru IPO beberapa waktu kemudian) sudah menikmati kinerja cemerlang sejak 2009, dan praktis saham mereka juga sudah naik banyak sejak tahun 2009 tersebut. Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2013, saham-saham konstruksi mencapai salah satu titik tertinggi mereka dimana ADHI terbang sampai 4,000 (dari sebelumnya 500), dan WIKA 3,000 (dari sebelumnya 300 – 400), dan praktis valuasinya jadi jauh lebih mahal dibanding saham-saham lain pada umumnya (PBV ADHI dkk sempat menyentuh 4 – 5 kali). Setelah itu konstruksi perlahan tapi pasti mulai turun lagi, namun penurunan mereka tidak pernah mencapai titik yang benar-benar rendah dari sisi valuasi, dimana seperti yang disebut diatas, PBV terendah yang pernah dicapai saham konstruksi adalah 1.4 kali, itupun ketika market mengalami crash di penghujung tahun 2013 dan 2015.
    Padahal kalau kita ambil contoh saham-saham batubara atau properti, maka ketika sektornya sedang benar-benar terpuruk (misalnya ketika harga batubara mencapai titik terendahnya di tahun 2016 lalu), PBV saham-saham di sektor ini bisa serendah 0.4 – 0.5 kali atau lebih rendah lagi. Yup, jadi batas PBV 1.4 kali bagi konstruksi tadi sebenarnya masih tergolong tinggi, tapi itu bisa dijelaskan mengingat tidak seperti batubara dan properti yang kinerjanya sempat hancur lebur, kinerja emiten-emiten konstruksi sampai sekarang masih lancar jaya. Dan memang kalau kita ambil data ke belakang sampai tahun 2009, maka valuasi saham-saham konstruksi tidak pernah benar-benar murah.
    Namun demikian kalau kita ambil data lebih jauh lagi ke belakang, dalam hal ini sebelum tahun 2009 dimana sektor infrastruktur masih belum booming dan kinerja ADHI dkk masih biasa-biasa saja, maka valuasi saham-saham konstruksi ketika itu juga sama saja seperti saham-saham lain pada umumnya. Memasuki tahun 2009 sampai sekarang, sektor konstruksi memang memperoleh ‘penghargaan’ dari market berupa valuasi yang relatif tinggi, karena sektor ini didukung oleh banyak nilai-nilai kualitatif (Apa itu nilai kualitatif? Baca penjelasannya disini) seperti likuiditas sahamnya yang encer, status sebagai big caps (WSKT termasuk salah satu dari hanya 30-an saham di BEI dengan market cap diatas US$ 1 milyar), popularitas dari nama/merk perusahaan, kegiatan operasional perusahaan yang bisa dengan mudah dilihat di lapangan (karena WSKT dkk membangun jalan layang dll di tengah kota, bukan di tengah hutan), hingga optimisme bahwa pembangunan infrastruktur yang tengah dikebut sekarang ini akan terus berlanjut di masa yang akan datang.
    Tapi diluar nilai-nilai kualitatifnya tersebut, maka dari sisi kinerja keuangan, sektor konstruksi sebenarnya tidak sebagus itu, dimana ROE ADHI dkk dalam beberapa tahun terakhir rata-rata hanya 15 – 20% saja (tidak seperti ROE perusahaan-perusahaan batubara, misalnya, yang pernah diatas 40% ketika booming batubara mencapai puncaknya di tahun 2011). Perolehan laba bersih para emiten konstruksi juga tidak se-konsisten katakanlah emiten perbankan atau consumer goods, dimana anda bisa cek sendiri: Laba bersih mereka bisa turun pada tahun-tahun tertentu bahkan meski pembangunan infra tetap gencar dilaksanakan (jadi pada tahun-tahun sebelum 2009, kinerja mereka bisa lebih tidak konsisten lagi). Industri konstruksi juga termasuk industri yang berisiko tinggi, mulai dari risiko ketidak pastian kelanjutan proyek (baca: mangkrak), risiko tidak dibayar oleh pemilik proyek, risiko supply bahan baku semen dll, risiko bencana alam, hingga risiko korupsi yang menyebabkan kualitas bangunan yang dihasilkan jadi lebih rendah dari yang seharusnya. Dan sayangnya untuk yang terakhir ini, Indonesia memang jagonya. Anda tentu sudah sering mendengar cerita jembatan miring atau bahkan ambruk bukan? Gara-gara uang pembangunannya ditilep pejabat daerah setempat.
    Anyway, penulis termasuk yang percaya bahwa pembangunan infra yang sekarang tengah dikerjakan akan terus berlanjut, jadi saham-saham konstruksi tetap menawarkan prospek yang menarik. Namun maksud penulis adalah, kalau kita mencocokkan kembali track record kinerja keuangan emiten dan situasi pasar termasuk situasi politik dll, dengan valuasi dari saham-saham konstruksi, maka faktanya adalah saham-saham konstruksi belum benar-benar murah, bahkan pada posisi harga mereka sekarang ini. Contoh, WSKT pada harga 2,130, PBV-nya masih 2.2 kali, dan WSBP pada harga 400 PBV-nya 1.4 kali. Sebagai perbandingan, ketika BBRI dan BBNI digebuk oleh isu pembatasan NIM di tahun 2016 lalu, PBV mereka sempat mencapai masing-masing 1.5 dan 0.9 kali, padahal kita tahu bahwa jika dibanding konstruksi, maka emiten perbankan memiliki kinerja keuangan yang jauh lebih baik dan juga lebih konsisten dalam jangka panjang. Okay, dalam kondisi dimana pembangunan infra masih lancar, dan faktanya WSKT dkk memang mencatat kenaikan laba yang signifikan, maka valuasi segitu mungkin masih wajar. Tapi disisi lain jika kita mempertimbangkan ketidak pastian situasi politik yang bermuara pada aksi jual asing, timbulnya kekhawatiran proyek tidak dibayar dll, dimana sejak awal kita tahu bahwa itu merupakan salah satu risiko terbesar di industri konstruksi, maka tentu kita harus lebih konservatif. Ceritanya mungkin akan berbeda kalau Presiden Jokowi masih rutin gunting pita seperti biasanya, tapi seperti yang kita ketahui, Pak De sekarang ini lebih sibuk menjalin komunikasi dengan banyak elemen masyarakat, terakhir melalui acara Rembuk Nasional 2017 di Jakarta.
    Baiklah, kalau gitu kapan kita bisa masuk ke konstruksi lagi? Dan pada harga berapa? Well, untuk harganya dan waktunya kita masih belum tahu, tapi untuk sekarang ini kita harus menunggu beberapa hal untuk terjadi terlebih dahulu kemudian baru kita bisa masuk, yakni: 1. Perkembangan politik yang lebih baik, misalnya ditandai dengan Presiden atau Menteri tertentu diberitakan melakukan ground breaking, atau 2. Investor asing kembali masuk ke bursa, termasuk ke saham-saham konstruksi (sampai sekarang mereka masih jualan terus, yang menunjukkan kekhawatiran mereka terkait kelanjutan pembangunan infra di tanah air). Actually, karena investor sudah banyak banget yang nyangkut di konstruksi ini, termasuk fund-fund besar, maka ada juga kemungkinan menjelang akhir tahun ini saham-saham konstruksi akan dikerek naik dalam rangka window dressing. However, diluar kemungkinan window dressing tersebut, maka tetap lebih aman jika kita wait n see dulu, dan melirik sektor lain yang 1. Valuasi saham-sahamnya lebih murah, dan 2. Sudah uptrend sejak awal. Contohnya? Well, bagaimana dengan properti?
    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 Nov 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Value Investing di Kehidupan Sehari-hari

    Suatu pagi di tahun 1991. Penulis, yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 1 SD, sedang sakit demam sehingga pagi itu saya tidak berangkat sekolah, melainkan hanya tidur-tiduran saja dirumah. Kemudian mbak-mbak penjanja makanan keliling yang biasa mampir ke rumah kami mengetuk pintu, dan ditemui oleh ibu penulis, dan penulis bisa mendengar mereka mengobrol dimana salah satu topiknya adalah, ‘Si Teguh lagi sakit panas’, yang kemudian dijawab, ‘Kasih ini aja bu, mudah-mudahan cepet sembuh ya’.

    Beberapa saat kemudian ibu masuk ke kamar, ‘Guh, ini ada jeruk satu buat kamu, dimakan ya’. Penulis seketika beranjak dari tempat tidur dan bertanya dengan nada menginvestigasi,
    ‘Jeruk? Berapa harganya??’
    ‘Seratus. Kamu kan lagi sakit, harus banyak makan buah-buahan.’

    (Catatan: Ketika itu uang saku penulis kalau berangkat sekolah adalah Rp100, dimana uang tersebut cukup untuk beli dua atau tiga macam jajanan, jadi harga jeruk tersebut terbilang mahal. Ketika itu kami sekeluarga memang menganggap bahwa buah-buahan seperti apel dan jeruk adalah ‘makanan mewah’ yang hanya boleh dimakan pada hari raya atau semacamnya).
    Penulis kemudian mengambil jeruk tersebut, kemudian setengah berlari menuju pintu keluar rumah dimana si mbak tadi masih ada disitu, ‘Munah! Ini ambil lagi jeruknya, balikin duitnya sini!’ (Catatan: nama si Mbak adalah Maemunah, biasa dipanggil Munah. Dan kalau dipikir-pikir penulis kurang ajar banget bisa kasar gitu sama orang yang lebih tua, tapi itulah yang saya lakukan ketika itu).
    Mbak Munah hanya tersenyum, dan ibu kemudian menemui kami, ‘Gak apa-apa Guh, kamu makan aja jeruknya. Kamu kan lagi sakit, boleh dong sekali-kali makan jeruk manis. Jangan khawatir, mama ada kok uangnya’. Penulis menggeleng, dan bersikeras mengembalikan jeruk tersebut, hingga akhirnya Mbak Munah menawarkan untuk mengganti jeruk itu dengan buah salak, yang harganya hanya Rp25. Jadi satu jeruk itu bisa dapet empat buah salak. Kali ini penulis setuju, karena saya pikir lebih baik dapet empat buah salak yang bisa dimakan seharian daripada satu jeruk yang langsung habis sekali makan. Toh, baik itu jeruk maupun salak, keduanya sama-sama buah-buahan bukan?
    Nah, penulis sendiri terus terang sudah lupa dengan kisah diatas kalau bukan karena ibu yang menceritakannya kembali, tapi dari cerita itulah penulis jadi mengerti kenapa buah favorit saya, sampai sekarang, adalah salak dan bukannya jeruk, apel, atau lainnya. Yup, karena harganya paling murah. Ketika artikel ini ditulis, satu kilogram salak pondoh di terminal kampung rambutan harganya cuma Rp10,000, sementara jeruk sekitar Rp20 – 30,000.
    Dan tidak hanya buah-buahan, tapi untuk barang-barang lainnya saya juga selalu memilih yang harganya paling murah, atau harganya sama tapi dapetnya lebih banyak. Penulis masih ingat ketika diajak oleh papa untuk belanja baju lebaran, ketika itu saya kelas 5 atau 6 SD, dan penulis memilih baju yang harganya Rp20,000. Kenapa begitu? Karena baju yang lain harganya diatas itu semua. Penulis ketika itu sama sekali tidak mengerti dan tidak bisa membedakan mana baju yang bagus dan yang jelek (sampai sekarang juga masih, anda bisa lihat gaya berpakaian penulis yang asal-asalan dan cuek, bahkan ketika menjadi pembicara). Yang saya lihat, sekali lagi, hanyalah harganya, dan juga asal nyaman dipakai. Beberapa tahun kemudian, ketika penulis sudah kuliah dan mulai sering pergi travelling, maka kalau beli air mineral untuk bekal, saya selalu ambil kemasan terbesar 1.5 liter, karena harganya gak beda jauh dibanding kemasan sedang 600 ml, tapi dapetnya dua setengah kali lebih banyak.
    (Dan sampai sekarang, kebiasaan beli dan bawa-bawa botol aqua gede kalau lagi jalan-jalan itu masih penulis lakukan).
    Jadi ketika penulis akhirnya lulus kuliah lalu terjun ke pasar modal, dimana saya ketika itu untuk pertama kalinya mengenal dan belajar tentang metode value investing dalam berinvestasi di saham, maka penulis langsung merasa bahwa ini adalah metode yang ‘Gue banget!’ Yup, kalau konsep dasarnya adalah ‘Belilah saham/perusahaan bagus pada harga yang setara atau lebih rendah dari yang seharusnya, alias wajar atau murah’, maka dari dulu juga saya sudah melakukannya, hanya saja yang dibeli bukanlah saham, melainkan barang kebutuhan sehari-hari. Dan bahkan sampai hari ini pun, penulis masih menerapkan ‘gaya hidup hemat ala value investor’ ini, salah satunya bisa dilihat dari gambar dibawah ini:
    Struk belanja ala value investor. Perhatikan bahwa hampir setiap item barang memperoleh diskon antara 30 – 50%

    Dan seperti yang bisa anda perhatikan, para investor besar juga tidak hanya menerapkan metode value investing dalam pekerjaan investasi mereka, melainkan benar-benar menerapkannya secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari, dimana mereka memiliki gaya hidup yang hemat, sederhana, tidak berlebih-lebihan, dan hanya membeli apa yang mereka butuhkan. Warren Buffett masih tinggal di rumah yang sama, dan mengendarai mobil yang sama yang ia beli di tahun 1960-an hingga terpaksa ganti ketika mobil itu akhirnya mogok sama sekali. Bill Gates, kecuali di acara yang formal, selalu mengenakan kemeja yang itu-itu saja. Dan Li Ka-shing hanya mengenakan jam tangan merk Citizen seharga USD 400. Mendiang Ng Teng Fong, pendiri Sino Group yang merupakan perusahaan real estate terbesar di Singapura (putra Mr. Ng yakni Robert Ng, sekarang menjadi orang terkaya di Singapura), terkenal dengan gaya hidup hematnya dimana ia selalu membawa makan siangnya sendiri kalau naik pesawat terbang, karena ia tahu persis bahwa harga makanan di pesawat itu jauh lebih mahal dibanding di rumah makan biasa.
    However, banyak orang salah kaprah tentang ‘gaya hidup hemat’. Ada yang mengatakan bahwa, kalau beli apa-apa selalu dihemat-hemat terus, lalu gimana caranya kita bisa bersenang-senang dan menikmati hidup? Kalau apa-apa maunya serba murah, bukannya pelit itu namanya? Well, penulis tidak tahu bagaimana dengan value investor lain, tapi saya tidak pernah dengan sengaja menyusahkan diri sendiri, melainkan saya dan keluarga tetap menikmati hidup kok! Yang penulis lakukan, sekali lagi, hanya berusaha untuk tidak mengeluarkan uang lebih besar dari yang seharusnya. Jadi kita bukannya maunya serba murah, melainkan: Gak apa-apa kita beli sesuatu yang harganya mahal, selama itu setimpal dengan nilai barang yang diperoleh.
    Sebagai contoh, setiap satu atau dua bulan sekali, penulis mengajak anak-anak dan ibu mereka untuk menginap semalam di hotel bintang lima di Jakarta atau Bandung, dan itu tentu saja tidak murah, but it’s worth it, atau dengan kata lain penulis tidak menganggap bahwa saya mengeluarkan uang dengan sia-sia, karena dengan menginap semalam itu maka kami bisa berenang, bermain, dan sarapan pagi bersama-sama, dan anak-anak sangat senang mandi di bathtub di kamar hotel (dirumah kami nggak ada bathtub). Namun demikian sebelum kami datang ke hotel maka kami selalu mampir dulu ke minimarket untuk beli bekal cemilan kacang, keripik kentang, jus, dll. Kenapa begitu? Karena kalau kita ambil cemilan yang persis sama di minibar hotel (yang di kulkas kecil dibawah televisi), maka harganya bisa beberapa kali lipat lebih mahal. Yup, anda juga mungkin sudah hafal bahwa satu botol kecil coca-cola yang harganya cuma Rp4,000 kalau beli di Alfamart, maka di hotel bintang lima harganya melonjak jadi Rp25,000, dan itu bahkan belum termasuk tax and service 21%.
    Jadi maksud penulis adalah, kalau saya harus bayar 3 – 4 juta untuk menginap semalam di hotel mevvah, maka saya tidak keberatan karena quality time bersama keluarga yang penulis peroleh juga terasa sangat menyenangkan. Tapi kalau disuruh memilih dua botol coca-cola yang persis sama, dimana yang satu harganya Rp4,000, sementara yang satunya lagi harganya Rp25,000, maka tentu saja saya memilih yang harganya Rp4,000. Got it?
    Problemnya, meski logikanya sangat sederhana dan juga sangat masuk akal (kenapa anda harus beli minuman pada harga 25,000, kalau harga aslinya cuma 4,000?), namun tidak semua orang bisa menerapkan gaya hidup ala value investor seperti yang disampaikan diatas. Sebagian besar orang kalau dapet duit banyak ya langsung dihambur-hamburkan, dan mereka tidak terlalu peduli dengan konsep ‘Harga < Nilai barang yang diperoleh’. Contoh, kalau penulis pergi ke tempat wisata dengan rombongan, maka saya selalu mampir ke supermarket dekat hotel untuk beli bekal makan dan minum, karena saya sudah hafal bahwa kalau belinya nanti di lokasi wisatanya, maka harganya bisa dua atau tiga kali lebih mahal. Namun penulis perhatikan, tidak ada peserta travel lain yang melakukan hal yang sama (cuma saya saja). Sebagian besar kaum pekerja di Jakarta juga kesulitan untuk sekedar menyisakan sebagian gaji untuk ditabung, tak peduli meski gajinya lumayan besar, karena gaya hidup mereka terlanjur glamor ala ‘eksekutif muda’, dan mereka terlalu malas (atau bahkan malu) untuk membawa bekal makan siangnya sendiri ke kantor.
    Anyway, dengan ulasan diatas maka anda sekarang sudah mengerti bahwa untuk menjadi investor yang sukses, atau dalam hal ini value investor yang sukses, maka pertama-tama anda harus mengubah lifestyle terlebih dahulu seperti layaknya seorang investor, yakni: Biasakan untuk mertimbangkan nilai atau manfaat yang akan anda perolehdari barang atau jasa yang akan anda beli. Biasakan untuk bertanya, is it worth it or not? Karena memang itulah yang dicontohkan oleh Warren Buffett dkk. Disisi lain, jika anda sejak awal sudah memiliki kebiasaan tersebut, then congratulations, selanjutnya cuma soal waktu sebelum anda akan menjadi investor besar :)

    Jika anda pernah punya pengalaman atau kebiasaan dalam menerapkan gaya hidup hemat ala value investor, maka anda boleh share pengalaman tersebut melalui kolom komentar dibawah.

    Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan Selengkapnya baca disini.

    Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 November 2017 mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Seminar Value Investing, Jakarta, 28 Okt 2017

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Cara Santai Dalam Menghasilkan Uang di Pasar Saham’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

    Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas kali ini:
    1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santainamun sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Bapak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
    2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
    3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
    4. Cara untuk menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun!
    5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
    Bonus Materi:
    1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
    2. Analisis singkat terkait Market Outlook hingga akhir tahun 2017, dan untuk tahun 2018.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
    1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
    2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the marketdalam jangka panjang, dan
    3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!

    Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 28 Oktober 2017
    • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
    • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi kalau mau kirim bukti transfer juga boleh).
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Bonus:
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
    Penulis bersama teman-teman peserta dari salah satu kelas seminar sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar.

    Komentar Alumni
    Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luar biasa sekali..
    Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
    Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalau dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
    Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
    Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
    Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
    Merci..
    Widya Olivia – [...]

    Bumi Citra Permai

    Saham Bumi Citra Permai (BCIP) mungkin tidak familiar bagi sebagian besar investor dan trader saham di Indonesia, namun perusahaan properti ini baru saja merilis laporan keuangan Kuartal II 2017, dimana sekilas angka-angkanya tampak mengesankan: Laba bersihnya naik lebih dari dua kali lipat, annualized ROE 25.5%, dan PBV cuma 0.5 kali pada harga Rp125 per saham. Mutiara terpendam?

    Bagi anda yang belum tahu, BCIP adalah perusahaan properti skala kecil (jika dibandingkan dengan emiten properti lainnya di BEI) dengan hanya satu kepemilikan aset, yakni Kawasan Industri Millenium atau Millenium Industrial Estate (MIE) seluas 400 hektar yang berlokasi di Cikupa, Tangerang, Banten, yang berjarak sekitar 36 kilometer dari pusat kota Jakarta. Jenis properti yang dijual meliputi tanah kavling industri, bangunan perkantoran, gudang, dan ruko. Per Kuartal II 2017, BCIP membukukan total aset Rp830 milyar, dan masih memiliki stok tanah kavling dan bangunan yang tersedia untuk dijual, masing-masing sebanyak 10 dan 3 unit/lot. BCIP juga memiliki satu anak usaha yang bergerak di bidang pengelolaan air bersih, namun kontribusinya ke total pendapatan perusahaan tidak signifikan/hanya beberapa milyar Rupiah per tahun.
    Nah, sejak dulu, problem yang biasa dihadapi oleh perusahaan properti spesialis kawasan industri adalah kinerja mereka yang tidak konsisten dari waktu ke waktu. Karena, berbeda dengan jualan properti residensial dimana akan selalu ada orang yang butuh tempat tinggal, maka jualan tanah kavling industri jauh lebih sulit karena tidak selalu ada perusahaan yang butuh tanah buat bangun pabrik. Problem yang sama juga dialami oleh BCIP, dan alhasil kinerjanya dalam lima tahun terakhir terbilang naik turun. Pada tahun 2013, BCIP membukukan laba Rp30 milyar, yang kemudian turun menjadi Rp5 milyar di tahun 2015, sebelum kemudian naik lagi menjadi Rp49 milyar di tahun 2016.
    Jadi meski perusahaan sukses membukukan laba Rp44 milyar hingga Kuartal II 2017, namun tidak ada jaminan bahwa laba tersebut akan meningkat menjadi Rp88 milyar di akhir tahun nanti, malah bisa saja sedikit berkurang (karena beban operasional), yakni jika BCIP tidak lagi memperoleh pembeli untuk tanah kavling-nya hingga akhir tahun. Demikian pula untuk tahun 2018 dan seterusnya, laba BCIP mungkin bisa lanjut naik, tapi bisa saja turun lagi, terutama karena perusahaan tidak memiliki sumber pendapatan lain, termasuk tidak berencana untuk melakukan diversifikasi/pengembangan usaha. Untuk jangka panjang, BCIP sebenarnya punya planning untuk memperluas MIE hingga 200 hektar (tanahnya sudah ada), namun masih menunggu hingga kavling-kavling di lahan yang 400 hektar tadi habis terjual dulu, dan itu bisa lama dari sekarang.
    Jadi kalau untuk investasi mid hingga long term, maka BCIP tidak disarankan. Selain itu, pada awal tahun 2013 hingga pertengahan 2016, BCIP juga pernah naik secara tidak wajar dari 200 hingga sempat tembus 1,300-an, sebelum kemudian dengan cepat anjlok ke 100 hanya dalam empat bulan (jadi mirip-mirip kasus goreng saham Trada Maritime (TRAM), dan Sekawan Intipratama (SIAP)). BCIP juga pernah disebut-sebut terlibat dengan kasus gagal bayar medium term notes (MTN, sejenis obligasi) yang diterbitkan sebuah perusahaan bernama PT Berkat Bumi Citra (BBC), dengan jaminan kawasan industri milik BCIP. Dan meski pihak manajemen sudah membantah bahwa mereka memiliki hubungan afiliasi dengan BBC, namun kasusnya sampai sekarang masih simpang siur. Dan terakhir, laporan keuangannya terkadang terlambat dirilis. Pendek kata, dari sisi kredibilitas manajemen, BCIP ini meragukan.
    Namun demikian, tetap saja untuk sekarang ini faktanya adalah kinerja BCIP cukup bagus, dan yang terpenting sahamnya sudah murah. Penulis sendiri sebenarnya sudah mengamati BCIP ini sejak awal tahun 2017 lalu, yakni ketika penurunan sahamnya sudah mentok di 106, dan ketika itu BCIP sempat membal sampai 240 sebelum kemudian turun lagi, dan stabil di kisaran harga sekarang. Memang normalnya, kalau ada perusahaan kecil dengan saham yang tidak likuid seperti BCIP ini, prospeknya tidak jelas, dan kualitas manajemennya juga tidak meyakinkan, maka investor juga tidak akan tertarik sama sekali, dan sahamnya bisa saja bablas turun sampai mati di gocap. Tapi disisi lain, kinerja BCIP gak bisa disebut jelek, dan itu adalah murni karena operasional perusahaan, sementara valuasinya juga terdiskon. Jadi penulis kira, kecuali ada force majeure tertentu, maka BCIP ini gak akan sampai turun ke gocap lah. Malah kalau bandarnya nanti kumat lagi, maka bisa saja BCIP terbang lagi seperti tahun lalu (karena likuiditasnya yang kecil, untuk mengangkat BCIP ini sebenarnya enteng saja). Plus, jangan lupa pula bahwa sektor yang belakangan ini disebut-sebut bakal hot adalah properti, dan BCIP ini termasuk saham properti tersebut.
    Jadi meski BCIP ini, sekali lagi, tidak disarankan untuk investasi serius untuk jangka panjang, namun sahamnya tetap menawarkan peluang trading jangka pendek, dengan catatan anda tidak menggunakan dana yang terlalu besar (Rp100 atau 200 juta sudah lumayan gede untuk BCIP, dan itu bisa menjadi ‘sasaran tembak’ bandar, jadi sebaiknya gunakan dana kurang dari itu). Penulis sebenarnya sudah ngebet banget dengan BCIP ini ketika kemarin sahamnya entah kenapa turun sendiri sampai 70-an (tapi mungkin itu karena situasi pasarnya saja, anda bisa baca penjelasannya disini), karena sebelumnya dia selalu sideways di 100-an (dan itu adalah posisi yang reasonable, karena seperti yang disebut diatas, BCIP ini gak punya alasan untuk sampai mati di gocap), tapi sayangnya dia keburu terbang duluan ke 130-an, yakni tak lama setelah LK-nya keluar.
    Namun dengan mempertimbangkan kondisi pasarnya dll, maka seperti awal tahun 2017 lalu, penulis masih melihat bahwa best price bagi BCIP ini adalah di kisaran 100 – 110, atau sedikit dibawahnya. Anyway, jika anda tidak tertarik untuk membeli saham dalam jumlah kecil, maka BCIP tetap tidak disarankan. Ketika di artikel dua minggu lalu penulis menyebut ‘saham properti yang mungkin bakal terbang’, maka itu bukanlah BCIP ini, melainkan saham lain yang termasuk kategori mid cap (BCIP ini small cap). Bagi anda yang penasaran dengan saham tersebut, just wait n see, nanti juga kita akan kasih analisanya.
    PT. Bumi Citra Permai, Tbk
    Rating Kinerja Kuartal II 2017: A
    Rating saham pada 125: A

    Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Prospek IPO GMF Aero Asia

    Sepanjang tahun 2017 hingga ketika artikel ini ditulis, terdapat setidaknya 29 emiten baru yang melantai di bursa alias IPO, atau jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun kebanyakan dari saham IPO ini memiliki market cap yang kecil, sehingga tidak terlalu menarik perhatian investor. Cerita berbeda dialami oleh IPO Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFA), dimana nilai IPO-nya cukup besar yakni Rp1.1 trilyun, dan market cap GMFA itu sendiri mencapai Rp11.3 trilyun pada harga perdana Rp400 per saham. Pertanyaannya sekarang, bagaimana prospeknya?

    Garuda Maintenance Facility Aero Asia, atau GMFA, adalah anak usaha dari perusahaan maskapai penerbangan, Garuda Indonesia (GIAA), yang bergerak di bidang penyediaan jasa perawatan/maintenance, perbaikan/repair, dan overhaul pesawat terbang serta fasilitas-fasilitas pendukungnya. Yang dimaksud overhaul adalah pemeriksaan komponen-komponen mesin pesawat terbang secara berkala, termasuk inspeksi keamanan/safety secara rutin setiap kali pesawat tersebut hendak terbang kembali. GMFA juga menyediakan jasa training bagi teknisi untuk pekerjaan maintenance pesawat, jasa perdagangan suku cadang pesawat terbang, jasa logistik dan transportasi pesawat terbang serta komponen-komponennya, serta jasa konsultan/tenaga ahli di bidang maintenance pesawat. Perusahaan merupakan anak usaha dari Garuda Indonesia (GIAA) dan berkantor pusat di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, serta memiliki dan mengoperasikan 44 maintenance station yang tersebar dari Banda Aceh hingga Papua, plus 3 maintenance station di Bandara Kuala Lumpur, Singapura, dan Jeddah.
    Jika dibandingkan dengan bisnis maskapai penerbangan oleh GIAA itu sendiri yang margin labanya sangat kecil karena tingginya beban operasional, mulai dari untuk sewa pesawat (tidak semua pesawat yang dioperasikan GIAA adalah milik sendiri), bahan bakar, gaji pegawai (gaji pilot dan pramugari terbilang mahal), biaya ticketing(karena GIAA, seperti halnya kebanyakan maskapai lainnya, menjual tiket pesawat melalui pihak ketiga seperti Traveloka/perusahaan travel), maintenance pesawat, biaya bandara, hingga beban penyusutan, maka bisnis maintenance pesawat oleh GMFA terbilang lebih profitable, karena beban terbesarnya cuma buat gaji teknisi dan biaya material (minyak pelumas, listrik, dll). Anda bisa bayangkan bahwa GIAA ini adalah seperti perusahaan rental mobil, yang biaya operasionalnya macem-macem mulai dari bensin sampai gaji supir, sementara GMFA ini adalah bengkel mobil yang biaya terbesarnya cuma buat gaji tukang servis-nya saja. Kalo misalnya ada mobil yang mau ganti ban bocor, maka harga ban barunya juga ditanggung oleh si pemilik mobil bukan? Jadi bukan ditanggung oleh bengkel.
    Dan alhasil, meskipun GIAA dalam lima tahun terakhir selalu membukukan pendapatan yang cukup besar, yakni antara US$ 3.5 – 4 milyar per tahun, namun perolehan laba bersihnya sama sekali tidak konsisten, termasuk pernah merugi di tahun 2014 dan 2017 (setidaknya hingga Kuartal II kemarin). Sementara GMFA, meski pendapatannya hanya berkisar US$ 300 – 400 juta per tahun, namun perolehan labanya jauh lebih konsisten dan senantiasa bertumbuh, dari hanya US$ 16 juta di tahun 2014, menjadi US$ 12 juta di Kuartal I 2017, alias US$ 48 juta jika disetahunkan. Dari sisi return on equity, ROE terbesar GIAA hanyalah 11% di tahun 2012, sementara ROE GMFA stabil diatas 25% per tahun.
    Kesimpulannya, meski penulis sendiri sejak awal tidak pernah suka dengan GIAA karena memang dari dulu bisnis maskapai pesawat terbang itu margin profitnya sangat kecil (anda bisa baca-baca lagi arsip artikel tahun 2011 – 2012, penulis ketika itu banyak membahas GIAA, dan mayoritas rekomendasinya negatif), namun untuk GMFA, track record kinerjanya jauh lebih baik, sehingga otomatis prospeknya juga lebih menarik. Dalam hal ini penulis juga jadi ingat dengan Cardig Aero Services (CASS), perusahaan penyedia jasa pendukung kegiatan penerbangan di bandara/aviation support, termasuk jasa catering/penyediaan makanan untuk penumpang pesawat, yang juga membukukan kinerja serta margin laba yang cukup baik. So, I don’t know, tapi mungkin meski bisnis maskapai penerbangan tidaklah menguntungkan, tapi bisnis jasa pendukungnya, termasuk bisnis maintenance pesawat oleh GMFA, justru cukup menguntungkan.
    Namun kalau ada yang mengganjal, maka itu adalah fakta bahwa sekitar 60% pendapatan GMFA berasal dari Grup Garuda (Garuda Indonesia, Citilink) itu sendiri, dimana itu artinya pihak GIAA bisa saja membayar lebih ke GMFA untuk jasa maintenance pesawat yang mereka terima agar pendapatan GMFA tampak naik (dan itu gak jadi soal bagi GIAA karena duitnya kan gak kemana-mana/cuma keluar kantong kanan lalu masuk kantong kiri). Manajemen GMFA memang mengatakan bahwa mereka akan terus berusaha mengurangi ketergantungan pendapatan dari Grup Garuda, termasuk dari dana hasil IPO-nya sebesar Rp1.1 trilyun, sekitar 60% diantaranya akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas line MRO (maintenance, repair, and overhaul) dalam rangka untuk melayani pelanggan baru, namun untuk realisasinya kita masih harus menunggu barang 1 – 2 tahun kedepan.
    Tapi jika kita balik lagi ke track record kinerja GMFA dalam beberapa tahun ke belakang, maka penulis bisa katakan bahwa GMFA menawarkan fundamental yang jauh lebih baik ketimbang induknya. Prospek dari industri penerbangan itu sendiri secara keseluruhan sebenarnya masih sangat cerah, seiring dengan terus meningkatnya minat dan kebutuhan masyarakat luas dalam hal bepergian jarak jauh/travelling, dimana pesawat terbang merupakan alat transportasi yang paling bisa diandalkan. Jadi asalkan tidak ada masalah di beban operasionalnya, maka pendapatan GMFA normalnya akan terus naik dari tahun ke tahun, demikian pula dengan laba bersihnya.
    Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
    Seperti yang disebut diatas, melalui IPO-nya (GMFA akan melantai di bursa pada hari Selasa, 10 Oktober), GMFA akan meraup dana Rp1.1 trilyun. Posisi ekuitas GMFA sebelum IPO adalah US$ 184 juta, atau setara Rp2.45 trilyun (asumsi kurs Rp13,300 per USD), sehingga total ekuitasnya pasca IPO adalah Rp3.58 trilyun. Jumlah saham GMFA setelah IPO adalah 28.2 milyar lembar, sehingga book value-nya Rp3.58 trilyun / 28.2 milyar lembar, sama dengan Rp127 per saham.
    Kemudian karena harga IPO-nya adalah Rp400 per saham, maka PBV-nya 400 / 127, sama dengan 3.15 kali. Mahal? Iya lah mahal. Apalagi jika dibandingkan dengan PBV dari GIAA itu sendiri, yang cuma 0.6 kali pada harga 330. Penulis tidak mengerti apa yang menjadi dasar pertimbangan dari penjamin emisi untuk menetapkan harga IPO GMFA di level yang cukup tinggi tersebut, termasuk kenapa GIAA hanya melepas 10% sahamnya dalam IPO GMFA ini (kalau saham yang dilepas ke publik adalah 20 – 30% seperti IPO yang lain pada umumnya, maka valuasinya akan jauh lebih murah), karena terlepas dari kinerja fundamental perusahaan yang cukup bagus, namun orang-orang juga tidak akan terlalu berminat dengan GMFA ini karena sentimen negatif dari kegagalan IPO induknya dulu (harga IPO GIAA waktu itu di level 750). Selain itu, publik juga tentu belum lupa dengan IPO dari sesama anak usaha BUMN, Waskita Beton Precast (WSBP), dimana harga sahamnya sekarang ini justru cukup jauh dibawah harga IPO-nya dulu yakni 490, padahal WSBP ini secara fundamental juga cukup meyakinkan. Jadi siapa yang bisa menjamin bahwa GMFA ini tidak akan mengalami cerita yang sama?
    Jadi kesimpulan akhirnya, kecuali mungkin kalau nanti bisa dapet di harga yang lebih reasonable,penulis sendiri tidak berminat dengan GMFA ini, entah itu untuk investasi jangka panjang maupun sekedar trading jangka pendek. Memang, seperti halnya WSBP, GMFA juga bisa saja naik dulu, terutama jika mempertimbangkan nilai IPO-nya yang relatif kecil yakni hanya Rp1.1 trilyun (bandingkan dengan nilai IPO WSBP, yang mencapai Rp5.2 trilyun) sehingga lebih gampang ngangkatnya, sementara mood pasarnya juga lagi bagus karena IHSG-nya cukup strong di level 5,900-an. Namun demikian, kecuali ada faktor X dimana sahamnya dikerek seperti beberapa saham BUMN di masa lalu (baca lagi ceritanya disini), maka penulis ragu bahwa kenaikannya akan cukup tinggi, dan pada akhirnya dia tetap akan turun. Jika anda sejak awal sudah pegang barang, maka boleh pertimbangkan untuk segera keluar pada minggu-minggu awal perdagangan sahamnya, mulai 10 Oktober nanti.
    PT. GMF Aero Asia, Tbk
    Rating Kinerja pada Kuartal I 2017: A
    Rating saham pada 400: BB

    Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Oktober 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Belajar dari Li Ka-shing

    Ketika artikel ini ditulis, penulis sedang berada di Hong Kong, untuk bertemu dan makan siang dengan Li Ka-shing. Well, just kidding, saya cuma bisa berkunjung ke lobby gedung kantornya saja yakni Cheung Kong Center, untuk kemudian duduk-duduk manja di taman di belakang gedung. CK Center, yang berlokasi di daerah Central, Hong Kong, merupakan kantor pusat dari CK Hutchison Holdings, perusahaan investasi milik Mr. Li, yang kalau penulis sendiri menyebutnya sebagai Berkshire Hathaway-nya Asia, karena cara kerjanya sangat mirip: CK Hutchison selalu membeli aset-aset bagus pada harga murah, dimana jika aset tersebut tidak dijual kembali beberapa waktu kemudian pada harga yang jauh lebih tinggi, maka tetap dipegang sebagai cash machine. Per akhir tahun 2016, CK Hutchison memiliki aset bersih HK$ 544 milyar, atau setara Rp925 trilyun. Mr. Li sendiri, menurut Forbes, memiliki kekayaan sekitar US$ 33.6 milyar atau setara Rp443 trilyun, yang menjadikannya sebagai salah satu orang terkaya di Asia.

    Nah, jika dibanding Warren Buffett, maka Li Ka-shing memang tidak begitu terkenal, karena ia jarang menulis atau berbicara tentang value investing maupun investasi secara umum. Tapi tahukah anda bahwa Mr. Li sering diundang untuk memberikan pidato di kampus-kampus? Dalam pidatonya tersebut Mr. Li tidak banyak bicara tentang bisnis ataupun investasi, melainkan lebih banyak tentang virtue, tentang kebajikan dan kebijaksanaan, yang diperoleh dari pengalamannya sendiri sebagai seorang pebisnis dan investor selama puluhan tahun. Dan penulis sendiri sangat menyukai pidato-pidato tersebut, terutama karena pilihan kata-katanya yang sangat bagus. Berikut adalah salah satu dari banyak pidato Mr. Li, yang sudah penulis terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

    Catatan: Pidato aslinya adalah dalam Bahasa Mandarin, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan ditampilkan di website www.lksf.org, lalu diterjemahkan lagi ke dalam Bahasa Indonesia. Jadi hasil terjemahan dibawah ini mungkin tidak sepenuhnya tepat, terutama karena ada banyak sekali kosa kata dalam Bahasa Mandarin yang tidak terdapat dalam Bahasa Inggris maupun Indonesia.
    ‘The Art of Giving’
    Terima kasih telah menghargai saya sebagai seorang pebisnis yang sukses. Dukungan serta dorongan yang telah anda berikan, saya sangat mengapresiasinya.
    Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah tentang bagaimana cara untuk menjadi pebisnis atau pengusaha yang sukses. Namun faktanya, saya tidak bisa mendorong orang-orang untuk menjalani peran yang sama seperti yang saya jalani. Saya selalu melihat diri saya sebagai seorang manusia terlebih dahulu, kemudian baru sebagai pengusaha. Setiap orang memiliki peran dan posisinya masing-masing dalam hidup, entah itu sebagai pengusaha, politisi, artis, pekerja profesional, dan lainnya. Saya pikir kunci kesuksesan adalah terkait bagaimana anda mengelola kecerdasan intelektual serta moral yang anda miliki. Menjalani kehidupan tanpa menerapkan prinsip-prinsip moral, adalah seperti hidup tanpa arah tujuan. Kombinasi yang tepat antara kecerdasan intelektual dan moral akan memungkinkan anda untuk sukses dalam bidang serta peran apapun yang anda lakukan, dan anda bisa tetap menjadi diri anda sendiri/tidak harus berubah menjadi orang lain. Anda akan menjalani kehidupan yang amat sangat menyenangkan, jika anda mampu meraih sukses dengan menjadi diri anda sendiri, berdasarkan kemampuan dan kapasitas yang anda miliki sejak awal.
    Selama ribuan tahun, masyarakat Negeri China telah menempatkan kelompok pedagang di posisi paling bawah dalam strata sosial, dibawah kelompok pejabat negara dan militer, petani, dan pekerja. Sejarawan terkenal, Sima Qian, mengatakan bahwa pedagang bertugas untuk melayani masyarakat dengan cara mendistribusikan barang dan jasa, mengelola risiko, dan menggunakan sumber daya serta modal secara efisien. Namun pengertian ini sering disalah artikan, yang kemudian menimbulkan kesan bahwa semua pedagang hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
    Fakta yang harus disayangkan adalah, ada banyak pedagang dan pebisnis yang mengorbankan prinsip-prinsip moral dan integritas mereka untuk meraih keuntungan. Mereka tidak membantu atau memberikan manfaat bagi masyarakat, melainkan justru sebaliknya. Namun demikian, sebagian besar pebisnis mengerti bahwa kemajuan dalam masyarakat secara keseluruhan, termasuk kemajuan bisnisnya sendiri, itu membutuhkan dorongan niat, kerja keras, dan ketekunan. Dan yang lebih penting, mereka mengetahui bahwa keadilan sosial dalam masyarakat hanya bisa dibangun berdasarkan kepercayaan, dan integritas.
    Sejak masih kanak-kanak, saya sangat suka cerita-cerita sejarah. Sudah tentu, ‘cerita’ disini tidak terbatas hanya pada cerita tentang tokoh-tokoh terkenal. Peristiwa-peristiwa penting terjadi di sekitar kita, dan mereka seringkali menjadi sumber inspirasi, dan terkadang, sumber dari profit yang sangat besar. Saya yakin sebagian dari anda pernah mendengar cerita tentang konglomerat Amerika yang terkenal, Rockefeller, dan seorang anak penyemir sepatu. Di pertengahan tahun 1929, atau hanya sesaat sebelum Wall Street crash, Rockefeller sedang duduk santai sambil membiarkan sepatunya disemir oleh seorang anak, dan si anak kemudian memberikan tips tentang cara bermain saham. Pada saat itulah Rockefeller menyadari bahwa kalau seorang anak kecil saja sudah bermain di pasar modal, dan bahkan menganggap bahwa dirinya expert (sehingga ia berani memberikan tips cara bermain saham), maka itu berarti pasar saham Amerika bakal segera meledak. Rockefeller kemudian menjual hampir seluruh saham-sahamnya, dan alhasil ia menjadi satu dari sedikit investor yang tetap kaya ketika Wall Street kemudian mengalami kejatuhan terbesarnya dalam sejarah.
    Fan Li adalah seorang pejabat tinggi di Kerajaan Yue di jaman China kuno, yang sukses membantu Raja Gou Jian dalam membangun perekonomian dan militer Kerajaan Yue, hingga mampu menaklukan negara tetangga yang lebih kuat, Kerajaan Wu. Namun kemudian, setelah menyadari bahwa sang Raja tidak lagi membutuhkan bantuannya, Fan Li merasa khawatir, sehingga ia mengundurkan diri dari jabatannya, mengasingkan diri, berganti nama, dan melepaskan semua ketenaran dan kekayaan yang ia miliki. Ia beralih profesi menjadi pedagang obat-obatan tradisional, dan setelah beberapa waktu, Fan Li sekali lagi sukses mengumpulkan kekayaan yang besar, yang kemudian ia berikan begitu saja kepada orang-orang, karena khawatir bahwa kekayaan tersebut akan menimbulkan kecemburuan sosial.
    Benjamin Franklin adalah seseorang yang benar-benar besar. Ia merupakan filsuf, politisi, diplomat, penulis, ilmuwan, pebisnis, dan bahkan pemain musik. Tapi di batu nisannya hanya tertulis satu kalimat pendek, ‘Benjamin Franklin. Printer’.
    Ben Frankin lahir tahun 1706 di Boston, Massachusetts. Franklin tidak mengambil pendidikan formal yang tinggi, namun ia mampu belajar secara otodidak. Ben Franklin kecil sangat suka membaca hingga ia, pada usia 12 tahun, bekerja pada saudaranya, yang merupakan penerbit, dan disitulah kariernya sebagai penerbit (atau ‘printer’) dimulai. Pada tahun 1730, Franklin membeli The Pennsylvania Gazette. Almanak ‘Poor Richard’, diterbitkan oleh Franklin dengan nama samaran Richard Saunders, menjadi buku best seller kedua setelah kitab Bible. Franklin sangat bijaksana melebihi usianya, dan dedikasinya untuk orang banyak telah menghasilkan reputasi yang baik serta kepercayaan dari publik. Sejak tahun 1748 dan seterusnya, ia membangun banyak fasilitas umum mulai dari perpustakaan, sekolah, hingga rumah sakit. Setelah menjadi sangat terkenal, Franklin mampu untuk terus membantu anak-anak muda untuk mengembangkan diri mereka, melalui tulisan-tulisannya yang sangat khas.
    Fan Li dan Ben Franklin adalah dua orang berbeda, yang berasal dari dua dunia yang berbeda. Namun kisah hidup keduanya patut untuk direnungkan. Fan mengubah dirinya agar bisa kembali diterima ke dalam masyarakat, sementara Franklin mempelopori perubahan dalam masyarakat itu sendiri. Fan hanya ingin agar dirinya bisa hidup dengan tenang, sementara Franklin menggunakan kecerdasan intelektual yang ia miliki untuk memberikan pencerahan bagi orang-orang, untuk menciptakan masyarakat yang manusiawi dan dermawan. Fan memberikan uang serta kekayaan kepada para tetangganya, sementara Franklin memberikan ilmu pengetahuan. Mereka berdua adalah orang-orang yang memberikan apa yang mereka miliki untuk orang banyak, mereka adalah orang-orang yang melayani masyarakat. Dan hanya orang-orang yang mau memberikan manfaat bagi orang banyak seperti mereka-lah, yang bisa mendorong kemajuan bagi masyarakat, bangsa dan negara, atau bahkan dunia.
    Saya telah memberi tahukan kepada teman-teman bahwa saya sekarang memiliki anak ketiga. Saya menyayangi anak ketiga ini, dua orang putra saya juga menyayanginya, demikian pula putra putri mereka kelak. Anak ketiga ini adalah Yayasan Li Ka-shing (LKS Foundation). Sepanjang karier saya sebagai pengusaha selama lebih dari 60 tahun, saya senantiasa berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar moral yakni keadilan, integritas, kejujuran, simpati dan belas kasihan, serta komitmen untuk meraih sukses berdasarkan cara-cara yang baik dan benar. Saya percaya bahwa apa yang telah saya bangun selama ini akan tetap bertumbuh di masa yang akan datang. Saya berharap bahwa kekayaan yang saya miliki bisa digunakan secara sistematis untuk memberikan manfaat bagi orang banyak. Kami ingi berkontribusi bagi kegiatan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Saya harap bahwa kita semua bisa bekerja bersama-sama untuk memelihara ‘budaya memberi’, budaya tangan diatas, untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi negara yang kita cintai, dan untuk umat manusia secara keseluruhan.
    Li Ka-shing, 28 Juni 2004.
    Well, bagaimana menurut anda? Untuk pidato-pidato Mr. Li yang lain, anda bisa membacanya disini, and trust me, it worth reading. Dalam banyak kesempatan, penulis selalu berkata bahwa kalau anda sudah cukup lama di stock market dan mampu untuk bertahan, maka tidak hanya kemampuan analisa yang anda miliki yang akan meningkat pesat (selain tentunya juga nilai portofolio anda), tapi anda juga akan menjadi orang yang amat sangat bijaksana. Dan dari pidato Mr. Li diatas, kita bisa belajar untuk menjadi bijaksana tersebut, yang mampu melihat bahwa ada banyak hal dalam hidup yang jauh lebih penting dan berarti, ketimbang sekedar profit and loss dari stock market. Well, memang tidak mudah untuk bisa sampai ke ‘level tertinggi’ seperti yang sudah dicapai oleh Mr. Li, namun jika kita mau berusaha dan juga mampu untuk tetap fokus, maka kita semua akan sampai kesana, amin!
    Btw, untuk minggu ini tadinya penulis mau menyajikan analisa untuk satu saham properti, tapi setelah saya pikir-pikir lagi, itu mungkin bisa bikin sahamnya terbang duluan seperti yang sudah-sudah. Karena memang, kalau anda sudah cukup menguasai kaidah value investing, maka anda pasti sudah tahu/sudah mengincar satu saham ini. Jadi ya nanti saja lah, kira-kira satu bulan dari sekarang.

    Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Oktober 2017sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Investor Charity Gathering, Jakarta, 7 Okt 2017

    Dear investor Yth.
    Dalam buku ‘The Calm Investor’, di bagian akhir penulis menyampaikan bahwa salah satu cara untuk menjadi pribadi yang tenang atau calm, dimana itu mutlak diperlukan dalam berinvestasi di pasar modal, adalah dengan menjadi senantiasa menjaga perasaan senang riang gembira, alias be happy!  Dan salah cara untuk menjadi happy adalah dengan rutin beramal dalam jumlah kecil, namun secara terus menerus! Yup, dalam buku tersebut penulis menyampaikan bahwa jauh lebih baik untuk menyumbang ke katakanlah panti asuhan sebesar Rp20,000 setiap minggu secara terus menerus tanpa henti, dibanding menyumbang Rp2,000,000 tapi hanya dilakukan satu kali itu saja.

    Dan penulis sendiri tentu saja selama ini senantiasa mempraktekkan tips tersebut, dimana manfaatnya sangat terasa: Setiap kali anda berbuat amal secara ikhlas, sekecil apapun itu, maka anda akan memperoleh ‘hadiahnya’ yakni perasaan lega karena telah berbuat baik, karena anda telah membantu/memberikan manfaat untuk orang lain. Dan jika kita bisa menjaga perasaan lega tersebut, maka beban berat karena nyangkut di saham dll dengan sendirinya akan berkurang, dan anda akan lebih calm, plus tidur nyenyak di malam hari. Actually, dengan menjadi investor yang tenang, yang mampu menganalisa serta mengambil keputusan jual beli saham secara logis dan bukannya karena greed atau fear, yang gak grasa grusu panik dan bingung entah itu setiap kali sahamnya terbang atau nyungsep, maka itu merupakan modal yang tidak ternilai untuk bisa bertahan di belantara pasar modal. Dan kita bisa mencapai itu dengan, salah satunya, melakukan kegiatan amal.
    Karena itulah, meski penulis sangat yakin bahwa teman-teman pembaca blog ini juga sudah secara rutin melakukan kegiatan amalnya masing-masing, namun sebagai investor itu sendiri, penulis sangat tertarik untuk mengkampanyekan kegiatan amal atau charity ini. Karena kalau kita lihat investor-investor besar seperti Bill Gates, Warren Buffett, mereka juga aktif dalam kampanye/mengajak orang lain untuk kegiatan filantropi (melalui Giving Pledge). Termasuk di Indonesia, grup-grup besar seperti Djarum, Mayapada, Trans Corp (Chairul Tanjung), diluar melakukan CSR, mereka juga aktif ber-filantropi melalui foundation mereka masing-masing. Jadi kenapa kita tidak melakukan hal yang sama?
    Jadi dengan ini penulis menyelenggarakan acara ‘Investor Charity Gathering’, dimana konsepnya adalah mirip seperti seminar, tapi disini kita gak akan melulu belajar soal investasi saham bla bla bla, melainkan:
    1. Penulis akan sharing/bercerita tentang perjalanan karier penulis di stock market sejak tahun 2009, termasuk ketika memutuskan untuk full time di tahun 2012, hingga sekarang. Penulis juga akan share filosofi/cara berpikir seorang investor dalam berinvestasi, hasil dari pengalaman selama ini.
    2. Sesi tanya jawab bebas, dimana anda boleh bertanya apaaaa saja, dan penulis akan menjawabnya. Alokasi waktu untuk sesi tanya jawab ini akan jauh lebih panjang dibanding seminar, jadi diharapkan bahwa setiap peserta akan memperoleh kesempatan untuk bertanya.
    3. Diskusi interaktif dengan penulis sebagai pembimbing, dimana anda juga bisa sharing tentang pengalaman untung dan rugi anda di stock market, untuk didengar oleh peserta lainnya, dan terakhir
    4. Ngobrol-ngobrol bebas antar sesama peserta gathering, termasuk mau curhat sama temen senasib juga boleh :D
    Berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat.
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Oktober 2017
    • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB
    • Fasilitas: Makan siang, dan coffee break.
    Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp650,000per peserta. Uang yang terkumpul, setelah dikurangi biaya hotel, akan didonasikan seluruhnya ke lembaga donasi (jadi penulis tidak mengambil keuntungan sama sekali), dalam hal ini melalui www.kitabisa.com.

    Dan berikut cara daftarnya:
    1. Pertama-tama anda transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Gathering, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Jangan lupa untuk menyertakan bukti transfer.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta gathering. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini). Tempat terbatas, hanya untuk 30 peserta.
    Catatan:
    1. Dana yang terkumpul, setelah dikurangi biaya untuk hotel sebesar Rp150,000 per peserta (sehingga bersihnya adalah Rp500,000 per peserta), akan didonasikan seluruhnya ke beberapa campaign penggalangan dana di www.kitabisa.com. Dan nanti bukti donasinya akan ditampilkan di blog ini.
    2. Donasinya adalah atas nama Komunitas Indonesia Value Investing, jadi bukan atas nama penulis pribadi. Nama-nama peserta gathering tidak akan dipublikasikan.
    3. Anda juga nanti boleh usul soal campaign mana saja yang anda hendak berdonasi. Penulis tidak memiliki hubungan apapun dengan www.kitabisa.com, namun penulis memilih website tersebut karena mereka menyediakan fasilitas yang paling mudah untuk kegiatan charity. Namun demikian anda juga boleh usul website/cara yang lain untuk berdonasi.
    4. Peserta akan dibuatkan Grup Whatsapp, agar bisa tetap berkomunikasi setelah acaranya.
    5. Untuk keperluan audit jika sewaktu-waktu dibutuhkan, maka harap kirim bukti transfer ketika mengirim email pendaftaran.
    Ada pertanyaan? Boleh kontak Ms. Nury di no telepon/whatsapp 081220445202, dan Pin BB D0E5C05A.
    Atau anda bisa bertanya langsung ke penulis melalui email

    Logindo Samudramakmur

    Logindo Samudramakmur (LEAD) membukukan rugi bersih US$ 4.7 juta hingga Kuartal II 2017, dan dilihat dari sini saja maka praktis sahamnya tidak layak invest. Namun demikian dalam sebulan terakhir, LEAD justru naik banyak dari 65 hingga sekarang sudah tembus diatas 100, sehingga dia menjadi satu dari beberapa saham yang sukses terbang ketika sebagian besar saham-saham lainnya bertumbangan dalam beberapa bulan terakhir, tapi disisi lain valuasinya masih sangat rendah dengan PBV hanya sekitar 0.2 kali. So, ini peluang apa bukan?

    LEAD adalah perusahaan perkapalan spesialis pengangkutan minyak yang berdiri dan beroperasi sejak tahun 1995, dengan jumlah armada 24 unit kapal pada tahun 2005. Perusahaan baru mulai ekspansi besar-besaran pada tahun 2011 dengan menggandeng Pacific Radiance Pte Ltd, perusahaan kapal asal Singapura, yang dilanjutkan dengan IPO pada tahun 2013, mengambil banyak utang bank, dan menerbitkan obligasi senilai US$ 50 juta di Singapura pada tahun 2015, dimana uangnya dipakai untuk membeli banyak unit-unit kapal baru. Per tahun 2015, LEAD memiliki dan mengoperasikan tidak kurang dari 60 unit kapal.
    Namun sayangnya manajemen LEAD keliru dalam hal timing, dimana perusahaan mulai berekspansi justru persis ketika industri kapal mulai lesu, setelah harga minyak jatuh pada tahun 2014, yang praktis mengurangi demand penggunaan kapal untuk pengangkutan minyak. Alhasil, meski LEAD masih membukukan laba bersih yang cukup besar yakni US$ 20 juta pada tahun 2014, namun laba tersebut anjlok menjadi hanya US$ 49 ribu pada tahun 2015, dan berbalik menjadi rugi US$ 21 juta di tahun 2016 (LEAD mestinya gak menderita rugi sebesar itu kalau saja perusahaan gak punya banyak utang untuk membiayai ekspansinya, beberapa tahun sebelumnya). Jadi meski penulis sendiri sempat mengamati LEAD ini pada Februari 2015 lalu (baca ulasannya disini), namun masih di tahun 2015 tersebut, penulis sudah tidak tertarik lagi dengan LEAD ini karena perusahaan, seperti juga kebanyakan perusahaan kapal lainnya, mengalami penurunan kinerja yang sangat signifikan. Pada Februari 2015, LEAD masih berada di level 1,700-an sebelum stocksplit, atau setara 425 sesudah stocksplit.
    Waktu kemudian berlalu.. dan beberapa minggu lalu, penulis diberi tahu seorang teman bahwa LEAD sekarang tinggal 65 perak! Dimana PBV-nya pada harga tersebut tinggal 0.1 kali. Penulis kemudian mengecek laporan keuangan perusahaan, dan sayangnya saya kembali harus kecewa karena LEAD masih membukukan rugi bersih. Dari sisi outlook pun kelihatannya masih suram, karena jangankan mencari pelanggan baru, manajemen sampai sekarang hanya fokus pada upaya efisiensi dengan refinancing utang-utangnya, serta menjual kapal-kapal yang tidak terpakai (pada tahun 2014 hingga sekarang, utilisasi armada kapal milik LEAD anjlok menjadi hanya 30 – 40%), tapi bahkan itupun tidak terlalu berhasil, dimana sampai dengan awal 2017, LEAD hanya sukses menjual 3 unit kapal saja (sehingga sekarang perusahaan memegang 57 unit kapal). Pihak manajemen secara realistis menyatakan bahwa kalaupun nanti harga minyak pulih lagi, maka pendapatan serta laba LEAD belum tentu akan naik lagi, karena mereka masih harus bersaing dengan banyak perusahaan kapal lain seperti SOCI, BULL, WINS, TRAM, TMAS, dst, yang juga memiliki terlalu banyak armada kapal. Singkat kata, yes, LEAD ini memang amat sangat murah. Tapi kalau fundamentalnya gak bagus, termasuk outlook-nya juga masih suram, maka tentu saja sahamnya belum layak invest, setidaknya untuk sekarang ini.
    Okay, tapi kalau demikian, lalu apa yang bikin LEAD tiba-tiba saja naik banyak? Well, ada dua hal yang penulis perhatikan. Pertama, seperti yang penulis sampaikan di artikel minggu lalu tentang ‘Koreksi Pasar Yang Tidak Kelihatan’ (baca lagi ulasannya disini), pasar sekarang ini didominasi investor lokal (karena asingnya udah pada kabur), termasuk banyak investor baru, yang hanya mau membeli saham-saham yang tampak bergerak naik. Atau dengan kata lain, kita berada dalam situasi pasar dimana saham yang turun akan terus saja turun, sementara saham yang naik, bahkan meski dia baru naik dalam 1 atau 2 bulan terakhir, akan terus naik, apalagi jika valuasinya tampak masih murah. Dan LEAD, terlepas dari fundamental serta outlooknya yang sama sekali belum menarik, namun sekarang ini dia merupakan salah satu saham dengan PBV paling rendah di bursa, dan itu saja sudah cukup menarik, apalagi sebelumnya sudah ada beberapa saham dengan PBV yang amat sangat rendah, seperti BRPT, INKP, TKIM, dst, yang naik berlipat-lipat dalam setahunan terakhir.
    Jadi selama kondisi pasarnya masih seperti sekarang, maka LEAD mungkin bisa naik lebih lanjut, karena orang-orang cuma berpikir, ‘Yang penting murah!’. Karena ketika IHSG gak mau drop juga dalam dua tahun terakhir ini, maka praktis mayoritas saham-saham di BEI sudah pada mahal semua, sehingga barang murah seperti LEAD ini, sekali lagi terlepas dari fundamentalnya, menjadi barang langka.
    Kedua, yang ini baru penulis ketahui beberapa waktu lalu: LEAD baru saja menyelenggarakan right issue pada Juli 2017 kemarin, dimana perusahaan menerbitkan 1.5 milyar lembar saham baru pada harga Rp65 per saham. Dan ini tentu saja mengingatkan penulis pada perusahaan kapal lainnya yakni Buana Listya Tama (BULL), dimana perusahaan awalnya melakukan stocksplit, membiarkan sahamnya turun, lalu right issue pada harga bawah. Atau dengan kata lain, perusahaan melakukan average down pada sahamnya sendiri (beli/nambah posisi lagi di harga bawah), dimana setelah itu biasanya sahamnya bakal dikerek naik. Sayangnya penulis sendiri terlambat mengetahui soal right issue ini, karena jelas bahwa right issue inilah yang menyebabkan penurunan LEAD berhenti di 60-an, karena sahamnya bakal dijagain agar tidak turun sampai dibawah harga right issue-nya yakni 65. Kalau saja saya mengetahui hal ini lebih awal, maka kita harusnya sudah buy LEAD pada harga 70 – 80, beberapa waktu lalu (kalau baru beli sekarang, mungkin sudah terlambat).
    Tapi yang harus diperhatikan, pasca right issue ini maka PBV LEAD menjadi tidak lagi serendah sebelumnya. Jumlah saham LEAD setelah right issue adalah 4.05 milyar lembar, yang jika dikali harga saham 110, maka market cap-nya Rp405 milyar. Ekuitas LEAD sebelum right issue adalah US$ 103 juta, ditambah dana hasil right issue-nya sebesar US$ 10 juta, maka totalnya US$ 113 juta, atau setara Rp1.5 trilyun (asumsi kurs Rp13,300 per US$). Maka PBV-nya adalah 405 / 1,505, sama dengan 0.3 kali, jadi bukan lagi 0.2 kali seperti sebelumnya. Okay, PBV 0.3 kali tersebut arguably masih rendah juga, tapi juga harap diingat bahwa secara teori, LEAD hanya akan dijaga untuk tidak turun sampai dibawah 65, atau lumayan jauh dibawah harganya saat ini. Jadi untuk balik lagi ke katakanlah 70 – 80, maka itu masih mungkin terjadi kapan saja.
    Kesimpulannya, kalau berdasarkan kaidah value investing, maka LEAD ini big no, apalagi kalau untuk investasi jangka panjang. Meski demikian jika mempertimbangkan kondisi pasarnya serta faktor right issue-nya diatas, maka LEAD tetap menawarkan peluang profit jangka pendek, tentunya jika kita sukses masuk di harga yang tepat, yakni 70 – 80 tadi. Jika anda sudah memegang LEAD ini sejak awal maka boleh hold, who knows dia bisa menyusul ‘saham-saham murah’ lain yang sudah duluan terbang. Tapi jika anda baru mau masuk, then remember bahwa secara fundamental, LEAD sama sekali tidak bagus, sehingga praktis risikonya jauh lebih besar dibanding saham-saham lain yang kinerja keuangannya jauh lebih sehat. Jadi kalaupun anda masih tetap tertarik, maka gunakan dana secukupnya saja.
    Minggu depan kita akan membahas satu saham properti, yang juga masih murah.

    Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja emiten di Kuartal II 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Asing Jualan Terus?

    Hingga Selasa kemarin, 12 September 2017, investor asing masih saja jualan hingga posisi net buyasing sejak awal tahun, yang sebelumnya sempat hampir tembus Rp20 trilyun pada April lalu, sekarang sudah minus alias net sell, tepatnya minus Rp7 trilyun. Penulis pun menerima banyak pertanyaan, kenapa asing terus keluar? Tapi yang terpenting disini sebenarnya bukan soal kenapa mereka keluar, melainkan: Bagaimana dampak dari keluarnya asing terhadap pasar? Dan bagaimana strategi investasi yang paling tepat dalam situasi pasar seperti sekarang ini?

    Perbandingan nilai transaksi asing vs domestik hingga 12 September 2017. Perhatikan bahwa investor domestik sekarang ini menguasai 64% volume transaksi di bursa (biasanya hanya 50 – 55%).

    Berdasarkan pengalaman, ketika asing entah itu belanja atau jualan, maka itu akan berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG dalam jangka pendek, dalam hal ini selama beberapa minggu atau bulan. Yup, jadi kalau asing banyak belanja, maka IHSG akan naik, sementara kalau mereka jualan maka IHSG akan turun. Sebenarnya kalau dalam jangka panjang, dalam hal ini tahunan, maka sering juga terjadi dimana asing jualan pada tahun-tahun tertentu tapi IHSG tetap naik pada tahun tersebut, atau sebaliknya asing banyak belanja namun IHSG malah turun. Namun sekali lagi, kalau dalam jangka pendek, maka jika asing terus jualan selama katakanlah 1 – 2 bulan, maka IHSG-nya biasanya bakal drop dalam 1 – 2 bulan tersebut. Pada tahun 2011 dan 2012, IHSG secara keseluruhan naik masing-masing 3.2 dan 12.9%, dan asing juga mencatatkan net buy. Namun pada bulan Oktober 2011 dan Mei 2012, IHSG sempat drop sekitar 15 – 20% dari posisi tertingginya, dan ketika itu salah satu pemicunya adalah keluarnya asing dalam jumlah besar di bulan-bulan tersebut.
    Namun sejak 2016 lalu, inilah yang terjadi: Ketika asing belanja maka IHSG sedikit banyak akan naik, sementara ketika mereka jualan maka IHSG tidak turun, melainkan bergerak sideways saja. Kalau anda perhatikan, sejak terakhir kali pasar dihantam panic selling pada Agustus – September 2015 lalu, sampai sekarang alias sudah lewat dua tahun, IHSG belum pernah turun hingga katakanlah 10 – 20% dari posisi tertingginya, dan ini merupakan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Sebab kalo kita lihat lagi pergerakan IHSG pada tahun-tahun sebelum 2015, maka IHSG biasanya akan mengalami koreksi pada bulan-bulan tertentu, entah itu di bulan Mei (yang kemudian memunculkan istilah sell in may and go away), Agustus, atau bahkan Januari. Termasuk di tahun 2010, dimana meski IHSG pada tahun tersebut secara keseluruhan naik 46%, namun pada bulan Mei-nya IHSG sempat drop dari 2,971 hingga 2,501, atau turun lebih dari 20%.
    Nah, sekilas, kondisi pasar dimana IHSG tampak stabil dan tidak mengalami koreksi, maka itu tentu bagus, karena emosi pelaku pasar juga jadi ikut stabil dimana tidak ada lagi cerita panic selling atau margin call. Namun demikian kondisi ini telah menimbulkan setidaknya dua problem.
    Pertama, meski koreksi atau penurunan IHSG tampak buruk, namun penurunan IHSG setiap beberapa waktu sekali justru diperlukan agar saham-saham tertentu yang sudah naik kelewat tinggi hingga valuasinya menjadi tidak wajar, atau overvalue, mereka bisa turun lagi ke level yang memang seharusnya, sehingga menjadi layak buy kembali. Dan itu sebabnya penurunan IHSG seringkali disebut sebagai koreksi, karena itu justru mengembalikan harga-harga saham ke level wajar/murah mereka masing-masing. Berdasarkan pengalaman, kenaikan harga-harga saham secara terus menerus tanpa diiringi koreksi yang sehat, pada akhirnya justru akan menimbulkan kejatuhan pasar yang jauh lebih buruk dibanding sekedar ‘koreksi sehat’ tadi. Contohnya? Well, pada tahun 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2007, IHSG terus saja naik dari posisi 700 hingga tembus 2,700, atau naik lebih dari tiga kali lipat dalam waktu tidak sampai lima tahun, dan nyaris tanpa diselingi oleh koreksi yang berarti. Tapi kita tentu sudah tahu, apa yang kemudian terjadi di tahun 2008.
    Namun untungnya, meski IHSG belum mengalami koreksi lagi sejak September 2015, tapi kenaikan IHSG dalam dua tahun terakhir terbilang moderat yakni sekitar 40%, atau dengan kata lain, kenaikannya gak sekencang tahun 2013 – 2017. Dan yang juga perlu diingat adalah, kondisi makroekonomi sekarang ini relatif lebih baik dibanding 2015, jadi kenaikan IHSG terbilang reasonable, dan penulis belum melihat tanda-tanda bahwa market crash 2008 akan kembali terulang. Namun poin penulis disini adalah, ketika IHSG naik terus tanpa ‘istirahat’ sama sekali, maka itu tidak bagus karena kita tidak lagi memiliki banyak pilihan saham untuk dibeli, karena beberapa saham berfundamental bagus sudah naik kelewat tinggi.
    Kondisi Pasar Sekarang Ini: Sedang Terkoreksi
    Kedua, meski kalau berdasarkan pergerakan IHSG-nya, maka pasar saham Indonesia boleh dikatakan belum pernah mengalami crash lagi sejak Agustus – September 2015 lalu, namun tetap saja: Ketika asing mulai keluar dari market, maka saham-saham tertentu mulai turun secara signifikan, dan terus saja turun. Dan jumlah saham yang turun ini tidak sedikit. Pada Agustus 2016 lalu, ketika euforia sentimen tax amnesty mulai mereda dan investor asing, yang sebelumnya belanja besar-besaran, mulai keluar lagi dari pasar, ketika itu IHSG tetap stabil di level 5,400-an (sempat drop ke 5,100-an di bulan September, tapi dengan cepat naik lagi). Nevertheless, ketika itu ada banyak saham yang sebelumnya terbang pada bulan Juni – Juli 2016, perlahan tapi pasti turun lagi. Yang paling penulis ingat adalah saham Gajah Tunggal (GJTL), yang pada bulan Mei – Agustus melompat dari 700-an hingga 1,700, tapi memasuki September dia mulai turun lagi, dan terus saja turun hingga akhirnya balik lagi ke 1,000-an pada akhir tahun, padahal tidak ada perubahan fundamental apapun (kalau sekarang sih, GJTL memang merugi di Kuartal II 2017).
    Tapi GJTL tidak sendirian, karena ada banyak saham lain termasuk big caps (BBRI dkk) yang juga cenderung turun pada bulan September tersebut hingga akhir tahun. Namun entah bagaimana ceritanya, IHSG-nya hanya turun sedikit saja, hingga akhirnya ditutup di posisi 5,297 pada 30 Desember (dibanding posisi tertingginya di bulan Oktober yakni 5,470).
    Dan untuk Semester Dua 2017 ini, cukup jelas bahwa kondisi yang sama kembali terjadi: IHSG-nya kelihatan baik-baik saja, tapi sejak Mei kemarin asing-nya jualan terus! Dan alhasil ada banyak saham yang turun sendiri, dan tidak main-main, beberapa dari mereka turun hingga ke posisi terendahnya dalam lima tahun terakhir (istilahnya new low). Yang paling mencolok salah satunya penurunan saham-saham konstruksi, tapi silahkan anda perhatikan lebih detil lagi: Saham-saham di sektor lain juga banyak yang digebuk, tak peduli meski fundamental mereka bagus atau jelek, tak peduli valuasinya murah atau mahal.
    Jadi kalau dikatakan bahwa pasar belum pernah mengalami koreksi lagi sejak tahun 2015, maka itu tidak sepenuhnya tepat. Yang benar adalah, pada September – Desember 2016 lalu pasar mengalami koreksi, dan pada waktu-waktu belakangan ini, pasar kembali mengalami koreksi tersebut. Namun karena disisi lain IHSG-nya tampak baik-baik saja, maka penulis menyebutnya dengan koreksi yang tidak kelihatan.
    Dan terus terang, penulis sendiri lebih suka koreksi pasar dimana IHSG-nya benar-benar turun, dibanding ‘koreksi tanggung’ seperti yang terjadi sekarang ini. I mean, biasanya kalau kita melihat bahwa IHSG akan turun, maka strateginya sangat simpel: Segera jual beberapa pegangan, dalam rangka mengumpulkan cash untuk nanti dipake belanja lagi, dan memang itu pula yang kita lakukan sebelum terjadi panic selling tahun 2015 lalu. Tapi bagaimana kalau situasinya seperti sekarang? Dimana beberapa saham memang turun, namun beberapa lagi bergerak mendatar, dan selebihnya malah terus saja naik? (karena memang IHSG-nya nggak drop). Jadi kalau anda mau masuk ke BBRI, misalnya, maka harga sekarang jelas tanggung sehingga sebaiknya kita tunggu sahamnya turun dulu, tapi nyatanya BBRI tetap saja gak mau turun karena memang IHSG-nya gak turun. Tapi kalau mau masuk ke WSKT, maka apa anda berani? Jelas-jelas dia sudah new low begitu. Penulis yakin para broker dan analis sekuritas juga sudah pusing menerima rentetan pertanyaan dari para nasabah mereka: Kenapa saham A turun? Kenapa saham B turun? Sebab dalam kondisi pasar bearish dimana IHSG-nya turun, maka mereka bisa dengan simpel menjawab, ‘Marketnya sekarang lagi bearish pak, IHSG-nya lagi turun, jadi wajar jika saham-saham pada turun. Tapi nanti juga naik lagi’.

    Tapi kalau koreksi pasar yang terjadi adalah seperti sekarang, maka bagaimana menjelaskannya ke para nasabah?? Lha wong IHSG-nya juga nggak turun kok!

    Strategi Pertama: Wait n See Diluar
    Anyway, penulis menghabiskan banyak waktu untuk menyusun ulang strategi investasi untuk menghadapi situasi pasar yang tidak-seperti-biasanya ini, dan berikut adalah beberapa opsi tindakan yang bisa anda lakukan.
    Pertama, kita bisa terapkan strategi normal ketika pasar sedang bearish, yakni: Anda bisa jual sebagian besar saham, kemudian pegang cash, dan tunggu saja sampai awal tahun 2018. Kenapa harus sampai awal tahun? Well, berkaca pada situasi pasar di Semester Dua 2016, ketika itu saham-saham big caps sekalipun, yang sebelumnya tampak tidak tergoyahkan (sementara saham-saham second liner sudah banyak yang jatuh sejak September), pada akhirnya tetap turun di akhir tahun (Desember), dan IHSG itu sendiri tetap turun meski tidak signifikan. Penyebab penurunan saham-saham ketika itu juga sama seperti sekarang: Asing jualan terus. Poin pentingnya disini adalah, sama seperti halnya kita tidak tahu apa yang menyebabkan asing jualan, kita juga tidak tahu kapan mereka akan masuk lagi ke pasar. Tapi yang jelas sampai sekarang belum ada sentimen positif tertentu yang bisa mendorong asing untuk masuk lagi. Kemudian, seperti halnya investor domestik, asing juga biasanya baru akan belanja lagi pada awal tahun.
    Kelemahan dari strategi ini adalah, anda akan miss peluang di saham-saham tertentu yang tetap bergerak naik. Yup, kalau IHSG-nya turun, maka hampir semua saham akan turun, jadi keputusan untuk ‘minggir dulu’ tetap merupakan keputusan yang terbaik. Tapi kalau IHSG-nya stagnan seperti sekarang, maka beberapa saham tetap akan naik, sama seperti di tahun 2016 dimana saham-saham batubara mulai rally justru pada bulan September – Oktober.

    Namun hanya dengan strategi inilah, anda tidak lagi menanggung risiko bahwa saham anda bakal turun (karena memang anda megang cash), dan yang paling penting: Kalau anda sejak awal sudah punya incaran saham tertentu, maka meski dalam beberapa bulan kedepan anda mau tidak mau harus bersabar dulu/jangan masuk dulu, tapi profit yang akan anda peroleh di tahun 2018 nanti bisa sangat signifikan. Contoh, pada tahun 2016 lalu, saham Bank BNI (BBNI) secara keseluruhan hanya mondar-mandir saja di 5,000 – 5,500, bahkan sempat drop sampai 4,000 di bulan Mei (lalu sempat naik karena euforia tax amnesty, tapi menjelang akhir tahun turun lagi). Tapi memasuki 2017, BBNI akhirnya rally, dan sekarang sudah di level 7,000-an, atau mencetak profit lebih dari 40% hanya dalam hitungan bulan (atau bahkan 70%, jika anda buy-nya sejak harga 4,000-an).

    Dan tidak cuma BBNI, tapi ada banyak juga saham lain yang cuma ‘ngetem’ saja sepanjang tahun 2016, tapi baru jalan lagi tahun 2017. Jadi maksud penulis adalah, meski dengan strategi ini maka anda akan tampak ketinggalan kereta karena saham-saham tertentu tetap bergerak naik, namun anda tidak perlu khawatir karena akan ada banyak ‘kereta’ lain yang menunggu anda di awal tahun 2018 nanti. Pada tahun 2016, saham-saham perbankan nyaris tidak menghasilkan profit sama sekali, dan itu tampak buruk mengingat di tahun 2016 tersebut, IHSG secara keseluruhan naik 15.3%. Tapi di tahun 2017 ini, seperti yang bisa anda lihat, BBRI dkk naiknya paling tinggi dibanding saham-saham big caps lainnya. Jadi penulis kira untuk tahun 2017 ini juga sama: Beberapa saham mungkin memang belum perform untuk tahun ini, namun mereka tetap berpeluang untuk menghasilkan profit jumbo di tahun 2018, jadi yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu sampai awal tahun. Actually, penulis sendiri sudah punya list saham-saham yang meski sekarang ini tampak terpuruk, but we’ll see, bagaimana mereka nanti di tahun 2018.
    Hanya saja, untuk mempraktekkan strategi diatas maka diperlukan kesabaran ekstra, dan jangankan menunggu sampai akhir tahun, penulis tahu persis bahwa sebagian dari anda tidak cukup sabar untuk menunggu barang satu hari. Jadi berikut adalah strategi kedua.
    Strategi Kedua: Selective Buying dengan Tetap Menyisakan Cash
    Kedua, anda bisa tetap belanja/pegang saham-saham tertentu, namun kali ini harus lebih selektif. Penulis dalam beberapa bulan terakhir mengamati saham-saham yang bergerak naik, dan terdapat setidaknya dua kesamaan: 1. Merupakan saham yang perusahaannya cukup populer, tidak hanya di mata investor tapi juga masyarakat umum, 2. Mereka sejak awal trendnya sedang naik/uptrend. Pertanyaannya, kenapa bisa timbul dua kesamaan tersebut?

    Tapi mungkin hal ini bisa menjawabnya. Beberapa waktu lalu, Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) mengklaim bahwa jumlah investor ritel di bursa, setidaknya dari jumlah rekening sekuritas, itu sudah tembus 1 juta rekening, atau meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2013 yang hanya 350 ribu rekening, thanks to kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ dan promosi-promosi lainnya yang dilakukan oleh BEI dkk. Nah, meski para investor baru ini belum tentu langsung menyetor dalam jumlah besar ke rekening sekuritas mereka (sebab sekarang ini anda bisa membuka rekening saham dengan menyetor Rp100,000 saja, berbeda dengan tahun 2009 dulu dimana  minimal setoran adalah Rp5 juta), namun yang jelas pasar saham sekarang ini didominasi oleh investor domestik (jadi tidak lagi didominasi asing seperti biasanya), dimana sebagian diantaranya merupakan wajah-wajah baru , yang tentu saja belum berpengalaman/masih perlu waktu untuk mempelajari cara menganalisa saham dll.

    Dan kalau anda berada dalam posisi sebagai investor pemula seperti itu, maka saham apa yang akan anda beli pertama kali?? Benar sekali: Saham dari perusahaan-perusahaan yang anda tahu dulu, alias terkenal, seperti Unilever (UNVR), Bank BCA (BBCA), Jasa Marga (JSMR), dst.

    Kemudian kedua, saham tersebut harus tampak sedang bergerak naik, alias sedang uptrend. Logikanya, ketika seorang investor yang masih awam tertarik pada saham tertentu, tapi saham tersebut sedang turun (misalnya konstruksi), maka otomatis dia bakal takut untuk masuk, karena bagaimana kalau besok-besok sahamnya lanjut turun lagi? Tapi ketika ia kemudian mendengar saham A sedang naik, maka dia akan masuk dengan harapan besok-besok saham A tersebut bakal naik lebih lanjut, apalagi jika ia memperoleh ‘testimoni’ dari temannya yang sudah untung di saham A tersebut karena sudah beli duluan di harga bawah, katakanlah sebulan sebelumnya.
    Dan alhasil, kalau anda perhatikan dalam beberapa bulan terakhir ini, saham yang naik terus saja naik, sementara saham yang turun terus saja turun! Semetara selebihnya sepi-sepi saja/volumenya jadi gak likuid. Normalnya kan, kalau ada saham berfundamental bagus sedang turun, maka penurunannya akan mentok di titik tertentu, yakni ketika investor menganggap bahwa valuasi saham tersebut sudah cukup murah. Tapi yang terjadi sekarang ini adalah, kalau ada saham sedang turun, maka dia bisa turun sampai berapa saja, karena entah itu investor asing maupun lokal gak ada yang mau nampung. Pasar saham sekarang ini tengah didominasi oleh investor yang, sekali lagi, hanya tertarik pada saham dari perusahaan ternama, dan sahamnya sedang bergerak naik.
    Jadi, yup, untuk strategi kedua ini adalah, diluar menetapkan kriteria bahwa sahamnya harus berfundamental bagus dan valuasinya masih murah, maka anda harus menambah setidaknya dua kriteria lagi, yakni 1. Perusahaannya populer, dan 2. Sahamnya sedang uptrend, atau minimal tidak sedang downtrend (apalagi kalau sudah new low). Kabar baiknya, meski beberapa saham yang sudah naik banyak valuasinya tidak lagi murah, tapi masih ada beberapa saham yang sedang uptrend sementara valuasinya (PER dan PBV-nya) masih rendah, jadi anda tetap punya pilihan saham untuk dibeli.
    Hanya saja strategi nomor dua diatas tentu mengandung risiko, dimana saham yang sebelumnya sudah naik banyak tentu saja bisa turun lagi kalau ada profit taking atau semacamnya, tak peduli valuasi mereka masih murah. Jadi dalam hal ini anda bisa juga ambil strategi nomor satu, yakni wait n see saja diluar. Atau, anda bisa juga tetap belanja saham-saham tertentu, namun sisakan cash dalam jumlah besar, misalnya 50 – 70% dari total porto. Secara psikologis, memegang cash dalam jumlah besar akan membantu kita untuk tetap tenang menghadapi situasi pasar yang, sekali lagi, tidak-seperti-biasanya ini, termasuk gak akan merasa berat untuk cut loss, jika sewaktu-waktu itu memang harus dilakukan.

    Dan kalaupun anda memilih untuk wait n see saja diluar, maka ingat sekarang sudah bulan September, yang artinya ‘tahun depan’ itu tinggal 3 – 4 bulan lagi, alias nggak selama itu juga/itungannya masih jangka pendek. Anyway, strategi manapun yang anda pilih, tapi intinya ingat bahwa kalau kinerja portofolio anda belakangan ini kurang memuaskan, maka anda tidak sendirian karena orang lain juga sama begitu, karena IHSG-nya sama sekali tidak se-stabil kelihatannya, dan ingat pula bahwa pasar tidak akan selamanya bersikap ‘kurang bersahabat’ seperti sekarang ini, melainkan nanti akan ada masanya lagi dimana Mr. Market akan kembali merangkul para investor yang mampu untuk bersabar. Tahun 2015 lalu, entah berapa banyak investor ritel yang rugi besar-besaran ketika IHSG sejatinya hanya drop 12%, namun hanya mereka yang mampu bertahan-lah, yang kemudian meraup profit jumbo ketika di tahun 2016-nya, IHSG kembali naik 15%. So, good luck!

    Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja emiten di Kuartal II 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Mengatasi Rasa Takut dalam Berinvestasi

    Salah satu musuh terbesar investor dalam berinvestasi saham adalah timbulnya rasa takut, entah itu ketika akan mulai berinvestasi/membuka rekening di sekuritas, atau ketika membeli/meng-hold saham sendiri, dimana sumber ketakutan itu hanya satu: Takut rugi, dan takut kehilangan uang. Bahkan lebih dari itu: Ketika anda beli saham di harga 1,000, kemudian dia naik ke 1,200 (sehingga anda untung 20%), maka tetap saja anda akan takut kalau-kalau sahamnya nanti turun lagi, sehingga untung 20% tersebut akan hilang lagi. Jadi meski posisi anda sebenarnya tidak rugi, tapi anda tetap takut kalau-kalau keuntungan yang sudah diperoleh sebelumnya akan hilang.

    Masalahnya, ketika seorang investor mulai merasa takut, maka itu akan mendorongnya untuk bertindak secara tidak rasional, seperti contoh diatas: Menjual saham bagus dalam posisi profit hanya karena ‘khawatir besok turun lagi’, padahal saham tersebut dalam jangka panjang masih bisa naik lagi, dan bisa jadi ternyata dia malah tidak pernah turun, sehingga dalam hal ini anda justru sudah ‘cut profit’. Sebaliknya, banyak juga orang yang tidak mau cut loss di saham karena takut merealisasikan kerugian, padahal itu justru menyebabkan ruginya tambah besar ketika sahamnya lanjut turun.
    Jadi pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa mengatasi rasa takut ini, sehingga pada akhirnya kita bisa tetap mengelola portofolio dengan rasional sesuai dengan analisa yang sudah kita buat dengan hati-hati sebelumnya? Well, tentunya ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, termasuk saya juga pernah membahas soal ini di buku ‘The Calm Investor’. Tapi dalam artikel kali ini kita hanya membahas satu diantaranya saja.
    The ‘Real Fear’ Experience
    So here’s the story. Pada Desember 2016 lalu, penulis bersama teman-teman sesama traveller pergi selama empat hari ke Pulau Derawan, Kalimantan Timur, untuk bermain pasir, berenang di pantai, melihat ikan Manta dan Hiu Paus, serta nyebur ke Danau Labuan Cermin yang airnya sebening Raisa. Pada hari pertama, kedua, dan ketiga, semuanya berjalan lancar dan menyenangkan, dimana setiap kali kita berpindah dari satu pulau ke pulau lain dengan menggunakan speedboat, maka penulis selalu mengobrol dan tertawa lepas bersama semua teman-teman yang lain.
    Penulis (kaos merah) dengan teman-teman yang lain di sebuah pulau kecil dengan laguna ditengahnya.

    Namun pada hari keempat, ketika kami akan pulang menuju Pelabuhan Tanjung Batu (untuk selanjutnya naik mobil carteran menuju Bandara Kota Berau, lalu terbang pulang), terjadilah satu peristiwa yang tidak akan pernah penulis lupakan seumur hidup. Jadi sore itu, sekitar pukul 16.00, speedboat yang kami tumpangi berhenti di sebuah pulau untuk mengisi bensin, kemudian jalan lagi. Pengemudi kapal mengatakan bahwa perjalanan menuju Tanjung Batu akan menempuh waktu 4 jam, alias lumayan lama, jadi kami akan tiba di Pelabuhan pukul 20.00 malam. Dua jam pertama perjalanan terasa menyenangkan, dan penulis sempat melihat sunset dari tengah-tengah laut.
    Namun sekitar pukul 19.00, ketika langit sudah gelap sama sekali, mulai turun hujan, lama kelamaan semakin deras, dan lautpun mulai bergelombang sehingga pengemudi speedboat menurunkan kecepatan. Ketika itu penulis sendiri mulai merasa was-was, terutama karena meski speedboat-nya melaju dengan kecepatan pelan, namun tetap saja tingginya ombak laut membuat kapal lebih goyang dibanding biasanya. Suasana ceria di dalam kapal mulai berubah menjadi mencekam, apalagi hujannya tidak juga mereda setelah beberapa waktu.
    Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, alias sudah terlambat satu jam tapi kami masih berada di tengah laut, dalam situasi hujan deras dan laut bergelombang, dan sejauh mata memandang tidak nampak apapun kecuali kegelapan. Pada saat itulah, kapal berhenti, si pengemudi berdiri dari tempat duduknya, celingak celinguk, kemudian berdiskusi dengan co-pilotnya. Dan penulis, yang kebetulan duduk persis dibelakang kursi pengemudi, bisa mendengar si pengemudi bertanya ke temannya dengan nada berbisik, ‘Kayanya kita nyasar, ini dimana ya?’ WHAAAATT?? Kalau supirnya aja udah gak tau ini dimana, apalagi para penumpang yang gak ngerti apa-apa?? Kemudian si co-pilot ke belakang kapal sebentar lalu balik lagi, dan dia mengatakan, ‘Bensinnya tinggal segini lagi.’
    Dan sketika itulah penulis mulai berpikir macam-macam, termasuk ingat dengan keluarga di rumah, ingat dengan senyum dan tawa anak-anak dirumah! Penulis untuk pertama kalinya setelah sekian lama merasa takut, dan saya sempat meraih ponsel untuk mengirim pesan terakhir ke orang rumah, tapi tidak ada sinyal. Kapal tetap berhenti dan terombang ambing di tengah laut selama sekitar setengah jam, dan itu adalah setengah jam terlama yang pernah penulis alami. Penulis, termasuk teman-teman lainnya, sama sekali tidak ada yang berani bertanya kepada para awak kapal, tentang apa yang sebenarnya terjadi, melainkan kami semua hanya diam saja, tapi tidak ada seorangpun yang bisa rileks apalagi tidur.
    Hingga sekitar pukul 21.30, hujan mulai reda, dan di kejauhan mulai tampak cahaya lampu kerlap kerlip. Pengemudi kapal kemudian kemudian memberikan pengumuman, ‘Maaf udah menunggu lama, tapi itu Tanjung Batu udah keliatan didepan, paling 15 menit lagi lah kita sampai..’ ALHAMDULILLAAAAAHHH! Penulis dan teman-teman yang lain spontan berucap, dan suasana mencekam didalam kapal langsung cair. Penulis sempat bertanya lagi, ‘Bensinnya cukup mas?’, dan si awak kapal tersenyum, ‘Cukup kok’. Kapal kemudian melaju lagi, dan semua orang mendadak ceria lagi. Sekitar 15 menit kemudian kami akhirnya mendarat di pelabuhan, dan semua ketakutan serta kekhawatiran seketika hilang begitu saja, dan penulis sempat saling berpelukan dengan semua teman, satu per satu, bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk hidup. Daaan sekitar seminggu kemudian (sebelum pulang, penulis mampir dan jalan-jalan dulu ke Samarinda dan Balikpapan), penulis akhirnya bisa ketemu lagi sama anak-anak, dan Alhamdulillah saya sehat-sehat saja sampai sekarang.
    To Beat the Fear: Live A ‘Dangerous Life’
    Okay, balik lagi ke soal investasi saham. Jadi kenapa anda takut invest di saham? Ya karena takut rugi. Dan jangankan hilang duit begitu saja karena saham, hilang duit karena membeli sesuatu sekalipun terkadang tetap terasa menakutkan (kalo bisa gratis, atau hanya perlu bayar murah, maka kenapa musti bayar mahal?). Bagi seseorang dengan kehidupan yang penuh rutinitas, yang setiap bulan menerima penghasilan sekian, yang sehat secara mental maupun fisik serta tidak kurang suatu apapun, maka kehilangan uang, entah itu di saham atau lainnya, sudah merupakan sesuatu yang sangat menakutkan, karena diluar itu maka tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, karena hidup mereka ‘lempeng-lempeng’ saja.
    However, kalau anda belum pernah menghadapi sesuatu yang lain yang lebih menakutkan, maka anda akan gampang ‘meledak’ meski menderita rugi sedikit saja. Contoh, penulis pernah menerima email seperti ini, ‘Pak Teguh, itu kenapa ya saham A dibanting keras sekali sampe sedalem itu? Ada berita apa??’ Setelah penulis cek, saham A itu ternyata cuma turun dari 880 ke 855, atau turun 2.8%, dan sebelumnya saham A ini udah naik banyak dari 700. Tapi bagi teman penulis ini, ketika ia melihat sahamnya turun segitu, maka ia sudah merasa bahwa dirinya ‘dibanting keras sekali’ hingga hilang keseimbangan, dan akhirnya jatuh K.O (baca: panik, kemudian hilang fokus). Dan kalo sudah hilang fokus begitu maka ya sudah, selanjutnya portofolio anda bakal berantakan.
    Jadi agar kita tidak terjebak dalam situasi seperti itu, maka kita harus memiliki atau melakukan sesuatu yang bisa jadi lebih menakutkan, dan lebih menaikkan adrenalin! Dibanding sekedar takut rugi karena berinvestasi di saham. Contohnya?? Ya seperti yang penulis lakukan: Dengan travelling, dengan pergi berpetualang! Actually, selain pernah nyasar di laut seperti yang diceritakan diatas, penulis pernah sore-sore turun sendirian dari Gunung Slamet tanpa ada seorangpun yang menemani (rombongan penulis terbagi jadi dua, dan entah gimana ceritanya penulis tidak bergabung dengan rombongan didepan maupun belakang, melainkan jalan sendirian saja di tengah-tengah), sementara ketika itu langit mulai gelap padahal penulis masih di tengah hutan. Beruntung, 15 menit kemudian penulis sampai di sebuah pos dimana disitu ada banyak pendaki-pendaki lain, dan saya kemudian bergabung dengan salah satu rombongan untuk lanjut turun, tapi penulis tidak akan pernah melupakan 15 menit tersebut. Kemudian penulis pernah juga nyetir mobil sendirian melintasi Alas Roban di Jawa Tengah, pada waktu antara Magrib dan Isya, dalam kondisi jalan yang amat sangat sepi. Dan meski penulis (untungnya) tidak melihat, mendengar, atau merasakan apapun, tapi rasa takut yang penulis alami ketika melewati jalan yang terkenal angker tersebut sungguh sangat sulit untuk dijelaskan.
    Dan seterusnya, dan seterusnya. Pendek kata, dengan terus bepergian kesana kemari, dengan menjalani banyak pengalaman baru,? maka anda akan menyadari bahwa ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih menakutkan ketimbang sekedar kehilangan uang! Dan hal itu dengan sendirinya menguatkan mental anda sebagai investor dalam menghadapi ‘kejamnya’ pasar saham karena, coba pikir, kalau misalnya anda sewaktu-waktu menderita rugi, maka anda tetap bisa untung lagi di waktu yang lain. Tapi bagaimana kalau anda nyasar di tengah laut dan gak bisa kembali di darat?? Apakah ketika terombang ambing di tengah laut anda masih bisa mikir, ‘besok saham gue bakal naik atau turun ya’???
    Hanya masalahnya, beberapa orang mungkin tidak punya cukup waktu untuk jalan-jalan, tapi intinya disini bukan jalan-jalannya, melainkan anda bisa melakukan sesuatu yang anda anggap menakutkan, entah itu nangkep tokek di rumah pake tangan kosong, naik ke rooftop sebuah gedung tinggi kemudian melihat ke bawah, mencoba berbicara di depan umum (bagi yang sudah biasa, berbicara di depan umum sama sekali tidak menakutkan. Tapi bagi mereka yang belum pernah melakukannya, maka itu akan menjadi pengalaman yang menakutkan), atau anda bisa bergabung dengan korps marinir untuk ikut latihan militer (yang ini penulis belum pernah, tapi terus terang saya tertarik juga). Trust me, dengan ‘live a dangerous life’, atau melakukan hal-hal yang belum pernah anda lakukan sebelumnya, maka itu akan membuat anda menjadi strong secara mental, dan anda akan sampai pada satu titik dimana anda menganggap bahwa rasa takut karena rugi di saham, itu sama sekali gak ada apa-apanya.
    Dan kalau anda sudah sampai pada titik tersebut, well, welcome to the fearless club! :D
    Btw penulis tadinya mau membahas soal semen, tapi saya belum melihat adanya peluang di sektor ini, jadi diganti tulisan ini saja. Minggu depan mungkin kita akan membahas saham-saham mineral non batubara (ANTM, TINS, INCO).


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Investor Charity Gathering, Jakarta, 10 Sept 2017

    Dear investor Yth.
    Dalam buku ‘The Calm Investor’, di bagian akhir penulis menyampaikan bahwa salah satu cara untuk menjadi pribadi yang tenang atau calm, dimana itu mutlak diperlukan dalam berinvestasi di pasar modal, adalah dengan menjadi senantiasa menjaga perasaan senang riang gembira, alias be happy!  Dan salah cara untuk menjadi happy adalah dengan rutin beramal dalam jumlah kecil, namun secara terus menerus! Yup, dalam buku tersebut penulis menyampaikan bahwa jauh lebih baik untuk menyumbang ke katakanlah panti asuhan sebesar Rp20,000 setiap minggu secara terus menerus, dibanding menyumbang Rp2,000,000 tapi hanya dilakukan satu kali itu saja.

    Dan penulis sendiri tentu saja selama ini senantiasa mempraktekkan tips tersebut, dimana manfaatnya sangat terasa: Setiap kali anda berbuat amal secara ikhlas, sekecil apapun itu, maka anda akan memperoleh ‘hadiahnya’ yakni perasaan lega karena telah berbuat baik, karena anda telah membantu/memberikan manfaat untuk orang lain. Dan jika kita bisa menjaga perasaan lega tersebut, maka beban berat karena nyangkut dll akan berkurang dengan sendirinya, dan anda akan menjadi lebih calm. Actually, dengan menjadi investor yang tenang, yang mampu menganalisa serta mengambil keputusan jual beli saham secara logis dan bukannya karena greed atau fear, yang gak grasa grusu panik dan bingung entah itu setiap kali sahamnya terbang atau nyungsep, maka itu merupakan modal yang tidak ternilai untuk bisa bertahan di belantara pasar modal. Dan kita bisa mencapai itu dengan, salah satunya, melakukan kegiatan amal.
    Karena itulah, meski penulis sangat yakin bahwa teman-teman pembaca blog ini juga sudah secara rutin melakukan kegiatan amalnya masing-masing, namun sebagai investor itu sendiri, penulis sangat tertarik untuk mengkampanyekan kegiatan amal atau charity ini. Karena kalau kita lihat investor-investor besar seperti Bill Gates, Warren Buffett, mereka juga aktif dalam kampanye/mengajak orang lain untuk kegiatan filantropi (melalui Giving Pledge). Termasuk di Indonesia, grup-grup besar seperti Djarum, Mayapada, Trans Corp (Chairul Tanjung), diluar melakukan CSR, mereka juga aktif ber-filantropi melalui foundation mereka masing-masing. Jadi kenapa kita tidak melakukan hal yang sama?
    Jadi dengan ini penulis menyelenggarakan acara ‘Investor Charity Gathering’, dimana konsepnya adalah mirip seperti seminar, tapi disini kita gak akan melulu belajar soal investasi saham ataupun value investing, melainkan:
    1. Penulis akan sharing/bercerita tentang perjalanan karier penulis di stock market sejak tahun 2009, termasuk ketika memutuskan untuk full time di tahun 2012, hingga sekarang. Penulis juga akan share filosofi/cara berpikir seorang investor dalam berinvestasi, hasil dari pengalaman mondar mandir di market selama ini.
    2. Sesi tanya jawab bebas, dimana anda boleh bertanya apaaaa saja, dan penulis akan menjawabnya. Alokasi waktu untuk sesi tanya jawab ini akan jauh lebih banyak dibanding seminar, jadi diharapkan bahwa setiap peserta akan memperoleh kesempatan untuk bertanya.
    3. Diskusi interaktif dengan penulis sebagai pembimbing, dimana anda juga bisa sharing tentang pengalaman untung dan rugi anda di stock market, untuk didengar oleh peserta lainnya, dan terakhir
    4. Ngobrol-ngobrol bebas antar sesama investor saham peserta gathering, termasuk mau curhat sama temen senasib juga boleh :D Intinya kita having fun lah.
    Berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat.
    • Hari/Tanggal: Minggu, 10 September 2017
    • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB
    • Fasilitas: Makan siang, dan coffee break.
    Untuk acara ini maka anda tidak dikenakan biaya, termasuk penulis juga tidak akan mengambil keuntungan sepeserpun. Namun untuk mendaftar maka anda tetap harus transfer sebesar minimal Rp500,000, maksimal tidak terbatas. Nantinya seluruh dana yang terkumpul, setelah dikurangi biaya penggunaan hotel, akan didonasikan. Dan berikut cara daftarnya:
    1. Pertama-tama anda transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Gathering, dan isi: Nama lengkap anda, jumlah transfer, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, 500,000, BCA. Jangan lupa untuk menyertakan bukti transfer.
    3. Minimal transfer adalah Rp500,000, maksimal tidak terbatas.
    4. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta gathering. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini). Tempat terbatas, hanya untuk 30 peserta.

    Catatan:
    1. Seluruh dana yang terkumpul, setelah dikurangi biaya untuk hotel (Rp150,000 per peserta), akan didonasikan ke beberapa campaign penggalangan dana di www.kitabisa.com. Dan nanti bukti donasinya akan di-upload di blog ini.
    2. Donasinya adalah atas nama Komunitas Indonesia Value Investing, jadi bukan atas nama penulis pribadi (karena dananya memang bukan milik penulis, melainkan milik anda semua). Nama-nama peserta gathering, beserta nilai donasinya masing-masing, tidak akan dipublikasikan. Yang akan dipublikasikan hanyalah jumlah peserta gathering beserta total nilai donasi yang terkumpul.
    3. Anda juga nanti boleh usul soal campaign mana saja yang anda hendak melakukan donasi. Penulis tidak memiliki hubungan apapun dengan www.kitabisa.com ataupun orang-orang didalamnya, dan penulis memilih website tersebut hanya karena mereka menyediakan fasilitas yang paling mudah dan simple untuk kegiatan charity. Namun demikian anda juga boleh usul website/cara yang lain untuk melakukan donasi.
    4. Untuk keperluan audit jika sewaktu-waktu dibutuhkan, maka harap kirim bukti transfer ketika mengirim email pendaftaran.
    5. Di acaranya nanti anda boleh membawa kamera untuk merekam video acaranya (untuk anda tonton lagi dirumah), atau merekam suara penulis saja juga boleh (pake ponsel juga bisa).
    Ada pertanyaan? Boleh kontak Ms. Nury di no telepon/whatsapp 081220445202, dan Pin BB D0E5C05A. Bukti transfer juga boleh dikirim melalui kontak whatsapp/BBM tersebut.
    Atau anda bisa bertanya langsung ke penulis melalui email teguh.idx@gmail.com

    Untuk ikut kelas seminar value investing, di Jakarta hari Sabtu, 9 September, baca  keterangannya disini (hingga hari ini Rabu, 30 Agustus, sudah terdaftar 23 peserta, sehingga masih tersedia 7 kursi [...]

    Bumi Resources: Penyelesaian Perpanjangan Jatuh Tempo Utang

    Pagi ini, Bumi Resources (BUMI) merilis pengumuman di website BEI dengan judul ‘Penukaran Utang Yang Terdiri Dari Sejumlah Pinjaman Tertentu yang Diberikan Kepada Perseroan’. Seorang teman yang membaca pengumuman tersebut langsung kaget: Bukannya masalah utang BUMI udah clear semua melalui right issue-nya kemarin? Jadi utang apa lagi ini??

    Masalahnya adalah, persis ketika pengumuman tersebut keluar, saham BUMI di market sedang terpuruk dibawah 300-an, sehingga wajar jika orang jadi panik. Namun demikian kalau anda baca lagi pengumumannya dengan teliti, maka it is actually a good news. Dan untuk memahaminya maka kita perlu me-review lagi BUMI ini dari awal, yakni sejak perusahaan mengajukan proposal restrukturisasi utang kepada para krediturnya, pada tahun 2015 lalu. Okay, kita langsung saja.
    Semua cerita tentang BUMI ini dimulai pada September 2015 lalu. Ketika itu perusahaan memiliki utang jangka pendek dan jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat (tahun 2016 dan 2017), senilai total US$ 4.1 milyar. Karena perusahaan sama sekali tidak memiliki cukup dana untuk melunasi pinjaman tersebut, maka satu-satunya solusi adalah restrukturisasi, dimana: 1. Sebagian utang tersebut dikonversi menjadi saham, baik itu saham BUMI maupun saham dari anak-anak usaha yang dimiliki BUMI, 2. Sebagian lagi tetap berupa utang, tapi jangka jatuh temponya diperpanjang. Pada proposal yang diajukan perusahaan, BUMI menawarkan untuk (salah satunya) mengkonversi utang senilai US$ 1.5 milyar menjadi saham dengan harga konversi Rp1,660 per saham, dan memperpanjang waktu jatuh tempo untuk utang senilai US$ 1.2 milyar hingga lima tahun kedepan. Lebih lengkap mengenai poin-poin restrukturisasi utang yang diajukan oleh BUMI, bisa dibaca lagi disini.
    Skema awal restrukturisasi utang yang diajukan manajemen BUMI kepada para kreditornya.

    However, proposal dari BUMI tersebut tentunya membutuhkan persetujuan dari pihak kreditor agar restrukturisasinya bisa dilakukan. Kemudian setelah beberapa kali diadakan pertemuan antara manajemen BUMI dan kreditor, akhirnya disepakati bahwa, dari total utang sebesar US$ 4.1 milyar, US$ 2.0 milyar diantaranya dikonversi menjadi saham BUMI pada harga konversi Rp926 per saham (lebih rendah dari harga konversi awal yang diajukan oleh manajemen BUMI), sementara US$ 639 juta dikonversi menjadi obligasi wajib konversi (OWK), dimana OWK ini juga bisa dikonversi menjadi saham BUMI paling lambat 7 tahun dari penerbitan OWK tersebut.
    Dan terakhir, sisa utang sebesar US$ 1.6 milyar (termasuk ditambah utang usaha dari supplier BUMI senilai US$ 190 juta), itu diperpanjang jatuh temponya hingga lima tahun kedepan. Jadi yup, yang perlu dicatat disini adalah, ketika BUMI selesai menggelar right issue-nya kemarin, maka itu bukan berarti seluruh utangnya sudah habis sama sekali (karena berganti menjadi ekuitas). Melainkan, sebagian utang BUMI tetap berupa utang, tapi jatuh temponya diperpanjang.
    Kemudian, setelah dilakukan voting yang difasilitasi Pengadilan pada tanggal 9 November 2016, akhirnya kesepakatan antara BUMI dan para kreditor dan supplier-nya diatas menjadi efektif, sehingga kemudian tinggal pelaksanaannya. Untuk saham baru BUMI hasil konversi utang, dan juga OWK-nya, akan diterbitkan melalui mekanisme right issue senilai total US$ 2.6 milyar, dan right issue tersebut sudah sukses dilakukan pada bulan Juli 2017 kemarin.
    Sementara untuk sisa utang BUMI senilai US$ 1.6 milyar, perusahaan akan menerbitkan senior secured notes baru, yang terdiri dari tranche A, B, and C yang akan jatuh tempo tahun 2022, untuk ditukar dengan notes yang lama. Nah, hingga tanggal 18 Agustus kemarin, baru sejumlah kreditor yang mewakili 98% dari total utang US$ 1.6 milyar diatas, yang sudah menyampaikan surat pemberitahuan penukaran utang ke Bank of New York Mellon cabang London, yang bertindak sebagai agen penukaran. Jadi pada hari ini BUMI mengingatkan para kreditornya yang masih belum menyerahkan surat tersebut, untuk segera melakukannya paling lambat tanggal 11 September 2017, pukul 4.00 PM, waktu London, Inggris. Jika ada kreditor yang gagal untuk menyerahkan surat pemberitahuan penukaran utang sebelum batas waktu yang ditentukan, maka mereka akan kehilangan hak tagih-nya. Yup, jadi ini sama saja seperti ketika beberapa waktu lalu BUMI sudah memperoleh pernyataan efektif dari OJK untuk menyelenggarakan right issue, maka perusahaan kemudian mengingatkan para kreditornya untuk segera menyerahkan lembar registrasi bahwa mereka akan menukar utangnya dengan saham baru BUMI, dimana jika ada kreditor yang gagal melakukan itu sebelum batas waktu yang ditentukan, maka para kreditor ini akan kehilangan hak tagih-nya/utang BUMI ke mereka otomatis hangus.
    By the way beberapa orang mungkin bingung: Kalau ada kreditor yang tidak menukar utang mereka dengan utang baru, maka utang BUMI ke mereka jadi hangus begitu saja? Segampang itu?? Well, yang perlu dicatat disini adalah, baik BUMI maupun para kreditornya secara bersama-sama sudah sepakat untuk melaksanakan restrukturisasi utang pada votingyang digelar di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada November 2016 lalu. Jadi dalam hal ini BUMI bukannya memaksa para kreditornya untuk mengkonversi utang mereka, dengan ‘mengancam’ bahwa utang tersebut bakal hangus, melainkan itu sudah merupakan kesepakatan bersama semua belah pihak. Jadi ini sama seperti anda sudah membayar untuk membeli tiket pesawat, tapi kalau anda terlambat datang ke bandara maka ya sudah, tiketnya otomatis hangus. Mau ngamuk-ngamuk sama customer service-nya sekalipun, tetap saja anda gak akan mendapatkan uang anda kembali.
    Jadi dengan demikian, setelah tanggal 11 September nanti BUMI akan kembali merilis pengumuman terkait update pelaksanaan penukaran utangnya selesai dilakukan, atau sama seperti ketika pada akhir Juli kemarin perusahaan merilis pengumuman bahwa right issue-nya sukses dilakukan. Thus, untuk laporan keuangannya pada Kuartal III nanti, sebagian utang BUMI sebesar US$ 2.6 milyar akan hilang sama sekali karena berganti menjadi ekuitas (dan juga obligasi wajib konversi), sementara sebagian lagi sebesar US$ 1.6 milyar tetap berupa utang namun jangka waktunya diperpanjang menjadi lima tahun kedepan, plus bonus tingkat bunga yang lebih rendah yakni hanya 7.5 – 9% per tahun, dari sebelumnya 9.25 – 12% per tahun (wihh, enak bener kan??).
    Info detail utang baru yang diterbitkan BUMI untuk menggantikan utang yang lama, dengan total nilai yang sama (US$ 1.6 milyar) namun dengan waktu jatuh tempo dan tingkat bunga yang berbeda.
    Btw untuk minggu ini harusnya kita membahas soal sektor semen, tapi karena kebetulan ada hot newsini maka pembahasannya kita tunda menjadi minggu depan. Just stay tune.
    Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 9 September 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

    Buletin Analisa IHSG & stockpick saham pilihan edisi September 2017 akan terbit hari Jumat, 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member langsung dengan penulis.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Seminar Value Investing, Jakarta, 9 Sept 2017

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Cara Paling Santai Dalam Menghasilkan Uang di Pasar Saham’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

    Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas kali ini:
    1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santainamun sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Pak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
    2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
    3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
    4. Cara untuk menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari 1 tahun!
    5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
    Bonus Materi:
    1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
    2. Analisis singkat terkait Market Outlook hingga akhir tahun 2017.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
    1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
    2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the marketdalam jangka panjang, dan
    3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
    Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 9 September 2017
    • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
    • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi kalau mau kirim bukti transfer juga boleh).
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Bonus:
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
    3. Di kelasnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3, 4, 5 peserta dan seterusnya, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama teman-teman peserta kelas value investing, 8 Juli 2017. Klik gambar untuk memperbesar

    Komentar Alumni
    Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luar biasa sekali..
    Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
    Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalau dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
    Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
    Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
    Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
    Merci..

    Widya Olivia – [...]

    Prospek Batubara: Update Kuartal II 2017

    Salah satu kesulitan dalam berinvestasi di saham-saham komoditas, entah itu minyak, batubara, hingga CPO, adalah kita sebagai investor tidak akan memiliki gambaran soal apakah harga minyak kedepannya bakal naik atau turun. Maksud penulis adalah, kita juga memang tidak bisa memprediksi naik turunnya harga saham, tapi naik turunnya harga komoditas, itu lebih tidak bisa diprediksi lagi. Contohnya, meski kita tidak tahu apakah besok-besok saham Astra International (ASII) bakal naik atau turun, tapi penulis cukup pede untuk mengatakan bahwa bahkan kalaupun terjadi force majeure ataupun IHSG drop, tapi ASII gak akan turun sampai dibawah 5,000.

    Sementara harga komoditas? Well, ambil contoh harga minyak. Tiga tahun lalu, ketika harga minyak masih strong di level US$ 90 – 100 per barel, maka tidak ada seorangpun yang memprediksi bahwa minyak bakal drop sampai dibawah US$ 50 per barel, tapi nyatanya itulah yang terjadi. Sebaliknya, ketika awal 2016 lalu minyak terus saja turun hingga sempat dibawah US$ 30 per barel hingga menimbulkan kepanikan (anda bisa baca lagi ceritanya disini), maka ketika itu ada banyak analis yang memprediksi bahwa minyak bakal lanjut jeblok sampai US$ 15, tapi justru setelah itu minyak naik lagi, sebelum kemudian sekarang stabil di US$ 40 – 50 per barel.
    Jadi kalau kita ambil saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) sebagai perbandingan, dimana ketika sahamnya turun 10 – 15% saja (dari 2,500-an ke 2,100-an) orang-orang sudah pada ribut, maka harga minyak ini bisa dengan mudah terjun bebas hingga 50 – 70%, dan tak lama kemudian langsung naik lagi dengan persentase kenaikan yang sama gilanya. Dan tidak hanya minyak, namun komoditas lainnya, termasuk batubara, juga sama seperti itu. Untuk batubara, penulis masih ingat ketika harga minyak tiba-tiba saja drop ke US$ 40 sebelum libur panjang Idul Fitri beberapa waktu lalu, yang menyebabkan harga batubara benchmarkNewcastle ikut drop hingga dibawah US$ 80 dan orang-orang langsung panik. Tapi berapa harga batubara sekarang? Well, tiba-tiba saja sudah diatas US$ 97 per ton. Lalu kedepannya harga batubara ini bakal lanjut naik atau turun lagi?? Why, I have absolutely no idea!
    Dan masalahnya adalah, meski dalam jangka yang lebih panjang, pergerakan saham-saham komoditas akan dipengaruhi oleh kinerja keuangan dari perusahaan yang bersangkutan, namun dalam jangka pendek maka kalau harga batubara naik, demikian pula saham-saham batubara akan ikut naik, dan sebaliknya kalau harga batubara turun, maka Adaro Energy (ADRO) dkk akan ikut turun. Kondisi ini menyebabkan saham-saham batubara menjadi sangat berisiko terutama bagi trader yang masih suka melihat naik turunnya saham setiap menitnya, dimana mereka bisa dengan mudah terjebak euforia ketika batubara naik, tapi euforia tersebut bisa langsung berbalik menjadi panik hanya dalam hitungan hari, yakni ketika batubara turun. Risiko karena fluktuasi jangka pendek ini tidak terdapat pada saham-saham di sektor lain, katakanlah seperti properti dan konstruksi, yang meski kinerja fundamental mereka juga bersifat cyclical (baca: kinerjanya bagus di tahun-tahun tertentu, tapi kurang bagus di tahun-tahun lain), tapi naik turun sahamnya nyaris sepenuhnya dipengaruhi oleh kinerja fundamental mereka saja (dan juga valuasi sahamnya, contohnya saham-saham konstruksi dimana meski kinerjanya lebih bagus dibanding properti, tapi sejak awal PBV-nya masih agak tinggi), dan tanpa fluktuasi yang berarti.
    However, dengan menggunakan pendekatan value investing, maka risiko karena fluktuasi tersebut bisa diminimalisir jika kita membeli saham-saham batubara pada harga yang sedemikian murahnya, dan itu sebabnya sejak dua tahunan terakhir penulis banyak membahas batubara di blog ini (dimulai dari artikel ini, ditulis pada bulan Juli 2015), yakni ketika harga batubara masih sangat rendah di level US$ 52 – 54 per ton, dan memang kita sendiri kemudian sukses profit besar dari sektor ini. Hanya saja, kondisinya sekarang sama sekali berbeda dengan satu atau dua tahun lalu, dimana setelah naik berlipat-lipat maka valuasi saham-saham batubara tentu saja tidak lagi semurah dulu, dimana beberapa saham sudah dihargai pada PBV 2 – 3 kali atau lebih tinggi lagi, dan masalahnya kinerja keuangan terbaru mereka hingga Kuartal II 2017, meski memang lebih baik dibanding 2015 – 2016, tapi juga masih jauh kalau dibandingkan dengan peak performance mereka di tahun 2011.
    Jadi kalau berpatokan pada kinerja terbaru emiten, maka sulit untuk mengharapkan bahwa saham-saham batubara akan naik lebih tinggi lagi. Okay, tapi bagaimana dengan harga batubara yang lagi tinggi-tingginya seperti sekarang? Bukankah dengan demikian ada harapan bahwa kedepannya kinerja emiten batubara bisa saja sama bagusnya dengan kinerja mereka di tahun 2011? Well, kalau anda mikirnya masih seperti itu, maka coba baca lagi artikel ini dari awal! Posisi harga batubara yang sedang tinggi seperti sekarang, terus terang justru membuat penulis khawatir. Karena kalau berdasarkan asumsi konservatif dari manajemen perusahaan-perusahaan batubara itu sendiri, maka meski harga batubara bisa fluktuatif dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang akan stabil di rentang US$ 70 – 75 per ton, atau lumayan jauh dibawah harganya sekarang ini (baca lagi ulasannya disini).
    Maksud penulis adalah, kalau saja sekarang ini harga batubara berada di level US$ 70-an per ton, yang kemudian menyebabkan saham-saham batubara turun sedikit sehingga valuasinya lebih reasonable, maka itu artinya opportunity, karena kita bisa expect bahwa harga batubara kedepannya akan naik minimal ke US$ 80-an (meski tetap berisiko karena sekali lagi, kita gak bisa memprediksi naik turunnya harga komoditas). Tapi ketika harga batubara sudah tinggi seperti sekarang, maka anda berharap dia lanjut naik sampe berapa lagi? US$ 150 per ton??
    Coal Miners: Operational Update
    Terlepas dari fluktuasi harga batubara, yang kemudian menyebabkan pergerakan liar saham-saham perusahaan batubara dalam jangka pendek, namun kinerja para emiten di sektor ini boleh dibilang terus membaik meski, sekali lagi, belum sebaik tahun 2011 lalu. Berikut adalah ikhtisar kinerja operasional dari tiga perusahaan batubara terbesar di BEI, dari sisi volume produksi, angka dalam jutaan ton kecuali growth dalam persen.
    Companies
    Indicator
    First Half 2017
    First Half 2016
    Growth (%)
    BUMI
    Coal Mined
    40.2
    39.8
    1.0
    Coal Sales
    41.5
    41.9
    (1.0)
    ADRO
    Coal Mined
    25.1
    25.9
    (2.8)
    Coal Sales
    25.3
    27.1
    (6.9)
    PTBA
    Coal Mined
    9.4
    7.7
    23.3
    Coal Sales
    11.4
    10.0
    13.4
    Total
    Coal Mined
    74.8
    73.3
    2.0
    Coal Sales
    78.1
    79.1
    (1.2)
    Secara umum, BUMI dkk sukses membukukan kenaikan laba yang signifikan pada Semester I 2017 ini berkat beberapa faktor seperti kenaikan harga jual batubara, efisiensi biaya produksi (selain karena turunnya harga minyak diesel untuk bahan bakar alat-alat berat, efisiensi produksi juga dihasilkan dari keberadaan infrastruktur tambang yang jauh lebih lengkap dibanding lima tahun lalu), hingga meningkatnya demand terutama dari pasar domestik. Tapi disisi lain volume produksi serta penjualan masih belum banyak berubah dibanding 2016, terutama karena curah hujan yang lebih tinggi dibanding biasanya di daerah Kalimantan sehingga mengganggu operasional tambang, sehingga dengan demikian terdapat dua kemungkinan: BUMI dan ADRO, dan juga perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang beroperasi di Kalimantan (meski juga punya tambang di Kalimantan, namun tambang batubara terbesar milik PTBA berlokasi di Sumatera), mereka baru saja melewatkan kesempatan untuk menjual batubara pada harga bagus sepanjang Semester I 2017 kemarin, atau sebaliknya, mereka sekarang masih punya stockpile yang melimpah yang bakal jadi duit gede dalam waktu dekat, dengan asumsi kondisi cuaca akan lebih baik pada Semester II, sementara harga batubara tetap stabil di kisaran harganya saat ini.
    Pelabuhan Batubara Tarahan milik PTBA di Sumatera Selatan. Bayangkan jika batubara sebanyak itu kena hujan, maka tentu pengirimannya bakal terhambat

    Namun demikian, kalau dari bahasa presentasi manajemen di public expose, juga tampak bahwa perusahaan masih berhati-hati dalam meningkatkan volume produksi dan penjualan karena dikhawatirkan itu akan menurunkan kembali harga jual batubara, karena mereka masih menjual sebagian besar batubaranya ke pasar ekspor sehingga mempengaruhi supply batubara global. Hal berbeda dialami oleh PTBA, yang 65% penjualannya berasal dari pasar domestik termasuk dari pembangkit listrik milik sendiri, sehingga perusahaan bisa memaksimalkan volume penjualan tanpa perlu khawatir harga jualnya bakal drop, selain karena permintaan batubara domestik terus meningkat seiring dengan banyaknya pembangkit listrik baru. However, PTBA merupakan satu dari hanya sedikit coal miner di Indonesia, jika tidak mau dibilang satu-satunya, yang tidak terlalu mengandalkan pasar ekspor.
    Jadi untuk BUMI, ADRO, dan lainnya, maka kita mungkin belum akan melihat mereka meningkatkan volume produksi setidaknya sampai akhir tahun 2017 ini, yakni sampai pihak manajemen melihat bahwa harga batubara sudah cukup stabil dan strong. Thus, untuk tahun 2017 ini sepertinya kita hanya bisa mengharapkan kenaikan atau stabilnya harga batubara plus efisiensi produksi, agar laba para emiten tetap meningkat dibanding 2016, namun para emiten batubara mungkin baru akan benar-benar membukukan laba yang besar di tahun 2018, dengan asumsi pada tahun tersebut mereka meningkatkan volume produksinya. Kalau anda baca lagi ulasan batubara pada Kuartal I kemarin (ini link-nya), disitu juga disampaikan bahwa meski kinerja coal miner hampir pasti bakal improve signifikan pada tahun 2017 ini, namun belum jelas apakah trend peningkatan kinerja tersebut bakal berlanjut atau tidak di tahun-tahun yang akan datang, terutama karena satu pertimbangan logis: Apapun alasannya, kita tidak bisa mengharapkan bahwa harga jual batubara bakal naik terus, atau sebaliknya bakal turun terus, melainkan nanti pasti akan ketemu titik keseimbangannya. Dan kalau melihat harga batubara yang masih sangat fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir, maka cukup jelas bahwa titik keseimbangan tersebut masih belum ketemu di berapa.
    Disisi lain, kenaikan saham-saham batubara sebesar tiga, empat, hingga lima kali lipat dalam satu hingga dua tahun terakhir menyebabkan valuasi mereka, seperti yang sudah disebut diatas, tidak lagi semurah dulu, malah beberapa sudah overvalue kalau berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal II 2017. Dan penulis kira kondisi ini akan menyebabkan naik turunnya saham batubara, setidaknya sampai akhir tahun 2017 ini, hanya akan dipengaruhi oleh naik turunnya harga batubara saja. Kecuali tentu, jika ADRO dkk ternyata sukses membukukan laba bersih yang lebih baik di Kuartal III dan IV nanti, dimana ROE mereka menjadi katakanlah 25 – 30%, maka barulah itu bisa dijadikan justifikasi untuk menghargai sahamnya pada valuasi yang lebih tinggi lagi dari sekarang.

    Kesimpulannya, kinerja fundamental emiten-emiten batubara sejauh ini masih sesuai ekspektasi, dan kemungkinan akan tetap bagus hingga akhir tahun nanti, dimana laba mereka akan tetap naik signifikan dibanding 2016. Namun disisi lain, tidak realistis jika kita mengharapkan bahwa kinerja PTBA dkk akan langsung menyamai pencapaian mereka di tahun 2011, setidaknya untuk sekarang ini, dan itu berarti bahwa harga saham mereka pada saat ini sudah selaras(istilahnya price in) dengan fundamental maupun outlook perusahaan. Jadi kecuali untuk saham-saham batubara tertentu yang PBV atau PER-nya masih rendah sendiri, maka penulis tidak berharap bahwa saham-saham batubara di BEI bakal naik lebih tinggi lagi pada tahun 2017 ini.
    Namun seperti halnya anda, penulis juga masih berharap bahwa kinerja emiten-emiten batubara di Kuartal III nanti bakal beat the expectation, dimana itu mungkin saja terjadi kalau Indonesia tidak lagi dilanda hujan lebat terus dalam beberapa bulan kedepan. Anyway, kita lihat lagi nanti update analisanya tiga bulan dari sekarang.

    Untuk artikel minggu depan kita akan bahas sektor semen.

    Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 9 Oktober 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Ebook Analisis Kuartal II 2017

    Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

    Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
    1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
    2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
    3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
    4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
    5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
    Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada Agustus 2017Dan anda bisa memperolehnya disini.
    Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik gambar untuk memperbesar.

    Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
    Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
    Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
    TESTIMONIAL
    Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…

    Widya Olivia – [...]

    Antara Investor Saham, dan Pahlawan Kemerdekaan

    Sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Sudirman, yang ketika itu merupakan komandan PETA (pembela tanah air, organisasi militer bentukan Pemerintah Imperial Jepang di Indonesia), bergegas ke Jakarta untuk menemui Presiden Sukarno, untuk menyatakan dukungannya terhadap Negara Republik Indonesia (RI) yang baru berdiri. Pada tanggal 5 Oktober, Pemerintah RI mendirikan Tentara Keamanan Rakjat (TKR) yang menjadi cikal bakal TNI, dan pada tanggal 12 November, para anggota TKR melakukan general meeting pertama untuk memilih siapa yang akan menjadi pimpinan tertinggi/panglima. Sudirman, yang ketika itu baru berusia 29 tahun, terpilih sebagai pimpinan militer, dengan pangkat kolonel.

    Awalnya karena usia Sudirman yang dianggap masih sangat muda serta latar belakangnya sebagai guru (sebelum menjadi komandan PETA, Sudirman bekerja sebagai guru di sekolah Muhammadiyah di Cilacap), maka banyak orang meragukan kapabilitas beliau sebagai pemimpin militer. Namun Sudirman segera menunjukkan bahwa ia layak menjadi panglima. Pada tanggal 20 Oktober 1945, Tentara Inggris, yang merupakan bagian dari Tentara Sekutu (allied forces) yang baru saja memenangkan Perang Dunia Kedua, mendarat di Semarang, Jawa Tengah, untuk membebaskan tahanan perang serta melucuti senjata milik Tentara Jepang. Awalnya kedatangan mereka disambut baik, mengingat Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan RI. Namun ketika mereka terus bergerak maju menuju Ambarawa hingga Magelang, mereka mulai memberikan senjata kepada tahanan perang Belanda yang baru saja dibebaskan, dan juga berusaha melucuti senjata milik TKR, sehingga barulah kelihatan bahwa mereka membantu Pemerintah Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Tentara TKR kemudian melakukan perlawanan yang memaksa Tentara Sekutu mundur ke Ambarawa, namun Sekutu membalas dengan merangsek maju ke Magelang, dan pertempuran panjang pun tidak terhindarkan.
    Hingga akhirnya pada 11 Desember 1945, Sudirman melakukan rapat dengan para komandan TKR, dimana besoknya beliau memimpin langsung pengepungan terhadap tentara Sekutu sejak subuh di Ambarawa, dan suara tembakan senapan mesin dan ledakan bom segera terdengar di seluruh penjuru kota. Dan akhirnya, setelah pertempuran sengit selama empat hari penuh, Sekutu mundur ke Semarang, dan Ambarawa dikuasai penuh oleh RI. Dalam peristiwa Palagan Ambarawa ini, tak kurang dari 2,000 tentara TKR mengorbankan jiwa mereka untuk Indonesia, sementara korban jiwa di pihak sekutu hanya sekitar 200 tentara (tentara sekutu sejak awal kalah jumlah, namun mereka didukung oleh persenjataan yang lengkap plus tank). Namun demikian kemenangan ini menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Negara RI yang baru berdiri tidak bisa dianggap remeh, dan pada 18 Desember, Kol. Sudirman dikukuhkan sebagai Panglima TKR, dimana pangkatnya dinaikkan menjadi Jendral (namun pada reorganisasi tentara beberapa waktu kemudian, dimana TKR menjadi Tentara Nasional Indonesia/TNI, pangkat tersebut diturunkan menjadi Letjend).
    Di tahun-tahun berikutnya, ketika Presiden Sukarno bersama jajaran kabinetnya terus mengupayakan negosiasi dengan Pemerintah Belanda (yang masih terus berusaha menguasai Indonesia), termasuk memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta, maka Sudirman terus memimpin perlawanan secara militer. However, ketika Belanda melakukan operasi militer besar-besaran dengan membawa lebih dari 120,000 tentara pada Juli 1947, yang dikenal sebagai Agresi Militer I, maka TNI yang inferior segala-galanya segera menderita kekalahan, dimana dari 200,000 tentara dan relawan yang dimiliki TNI, sekitar 150,000 diantaranya terluka atau tewas (berbanding 6,000 korban dari pihak Belanda), dan Belanda kemudian sukses menguasai seluruh Sumatera dan sebagian Jawa. Namun demikian Sudirman tetap tidak menyerah, dan terus melakukan perlawanan dengan taktik perang gerilya, yang kemudian memaksa Belanda untuk membuat perjanjian dengan Pemerintah RI, dimana sebagian wilayah Jawa, dalam hal ini Banten, Jogja, dan sebagian Jawa Timur (termasuk Madiun), tetap berada dalam naungan RI. Sudirman kemudian memimpin tentaranya untuk pulang dari persembunyian di hutan-hutan menuju Kota Jogja.
    Namun situasi Indonesia masih jauh dari kata damai. Pasca Agresi Belanda, kondisi politik dalam negeri juga sama sekali tidak stabil, termasuk terjadi pemberontakan di Madiun oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), pada September 1948. Sudirman, yang ketika itu jatuh sakit, mengirim deputi-nya, Kolonel Abdul Haris Nasution, untuk menumpas pemberontakan dan berhasil, dimana pasukan TNI menembak mati 300 tentara pemberontak dan menawan ribuan lainnya. Sudirman kemudian mengunjungi Madiun, dan beliau sempat mengatakan pada istrinya bahwa ia sama sekali tidak bisa tidur sepanjang terjadinya pertempuran. Pada 5 Oktober 1948, setelah upacara hari ulang tahun TNI yang ke-3, Sudirman jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, dan barulah ketahuan kalau beliau menderita tuberkulosis. Selama di RS, Sudirman menyerahkan sebagian besar tugas-tugasnya ke Kol. Nasution.
    Sayangnya Sudirman tidak bisa beristirahat lama-lama. Pasukan Belanda, yang mungkin karena melihat militer Indonesia melemah pasca pemberontakan Madiun, kembali melakukan aksi militer, kali ini bertujuan untuk menumpas RI sama sekali, termasuk menguasai Jogja sebagai Ibukota RI. Pada 17 Desember 1948, Sudirman, yang ketika itu baru saja kembali bertugas sebagai panglima militer, segera memerintahkan latihan militer besar-besaran, untuk menunjukkan kepada Belanda bahwa TNI masih terlalu kuat untuk diserang, namun gagal karena hanya dua hari kemudian, Belanda keburu melancarkan Agresi Militer II dengan menyerang langsung ke Jogja, dan mereka segera menguasai seluruh penjuru kota. Sudirman bergegas menuju Istana Presiden di pusat kota Jogja untuk menemui para pejabat negara RI, untuk mengajak mereka untuk terus bertempur, namun ajakan tersebut ditolak, dan Sudirman sendiri tidak diizinkan oleh dokternya untuk melanjutkan peperangan, mengingat tuberkulosis-nya yang semakin parah.
    Dan andai saja ketika itu Sudirman memutuskan untuk tetap di Jogja, untuk meletakkan senjata dan menyerah, maka mungkin Indonesia akhirnya akan bubar sama sekali, dan Nusantara kembali dikuasai Belanda. Namun Sudirman bersikukuh untuk melanjutkan perjuangan, sehingga akhirnya disepakati bahwa, Sudirman beserta pasukannya akan terus berperang, kali ini dengan taktik gerilya, namun Presiden Sukarno dan para pejabat Pemerintah RI akan tetap tinggal di kota dan membiarkan mereka ditangkap Belanda, sekaligus membuat Belanda sibuk sehingga pasukan Sudirman punya cukup waktu untuk meninggalkan kota. Rencana tersebut berhasil, dimana ketika Presiden Sukarno dan jajaran pemerintah RI ditangkap dan dikirim ke pengasingan, di waktu yang bersamaan Sudirman beserta pasukannya bergerak ke selatan menuju Bantul, lalu lanjut ke Trenggalek.
    Kemudian, setelah perjalanan panjang melalui hutan lebat selama berbulan-bulan, termasuk beberapa kali melakukan kontak baku tembak dengan pasukan Belanda, pada 18 Februari 1949 pasukan Sudirman tiba di Sobo, dekat Gunung Lawu, dimana beliau menilai bahwa daerah tersebut aman dari kejaran Belanda namun sekaligus tidak terlalu jauh dari Jogja. Setelah rapat dengan para komandan, diputuskan bahwa TNI akan melakukan serangan besar-besaran ke Pusat Kota Jogja untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia beserta TNI-nya masih ada! Strateginya adalah, pasukan gerilya TNI akan melakukan serangan-serangan kecil ke desa-desa di sekitar Jogja, agar Belanda menempatkan lebih banyak tentara di daerah sehingga otomatis penjagaan di Kota Jogja akan berkurang, dan setelah itu barulah pasukan utama TNI bakal menyerang pusat kota. Sudirman kemudian menunjuk Letkol Suharto sebagai komandan lapangan untuk serangan utama tersebut.
    Dan pada 1 Maret 1949, pukul 06.00 pagi, pasukan TNI melakukan serangan mendadak hingga Tentara Belanda terpaksa mundur meninggalkan kota, dan pada siang hari pukul 12.00, pasukan TNI berhasil menduduki dan menguasai pusat Kota Jogja! Sebelum kemudian mundur kembali pada sore hari (ketika bantuan tentara Belanda dari daerah sudah kembali tiba di Jogja, pasukan TNI sudah keburu mundur).
    Tapi meski hanya menguasai kota selama sekitar enam jam, serangan tersebut sukses merusak reputasi Pemerintah Belanda di mata dunia internasional, mengingat Belanda sebelumnya mengklaim bahwa mereka sudah membabat habis TNI. Setelah menerima tekanan dari United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB), pada Mei 1949 diadakan Perjanjian Roem-Royen, dimana Tentara Belanda diharuskan untuk mundur sama sekali dari Jogja dan seluruh wilayah nusantara paling lambat bulan Juli, dan jajaran Pemerintah RI bisa kembali dari pengasingan. Setelah kembali berada di Jogja, Presiden Sukarno secara personal memerintahkan Sudirman untuk pulang, namun Sudirman memilih untuk tetap bertahan di markas gerilya-nya, dengan argumen bahwa Belanda bisa saja melanggar perjanjian dan kembali melakukan agresi militer (sebelum Roem-Royen, Pemerintah Belanda dan RI sebelumnya sudah membuat Perjanjian Renville dan Linggadjati, namun Belanda melanggar kedua perjanjian tersebut).
    Barulah setelah dijemput langsung oleh Letkol Suharto, pada bulan Agustus 1949, Sudirman akhirnya bersedia pulang, dimana beliau disambut langsung oleh Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta dan lainnya, dan juga disambut upacara militer besar-besaran di alun-alun Jogja. Masih menderita tuberkulosis, Sudirman kemudian dirawat di RS Panti Ratih, sebelum kemudian dipindahkan ke rumah peristirahatan di Magelang, namun kesehatannya terus memburuk. Pada 27 Desember 1949, Belanda akhirnya mengakui Kemerdekaan Indonesia, dan sebulan kemudian pada 29 Januari 1950, Sudirman menghembuskan nafas terakhir, dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Jogja. Ketika itu usianya baru 34 tahun. Letjend Sudirman kemudian dipromosikan menjadi Jendral, dan pada tahun 1997, beliau kembali dipromosikan ke pangkat tertinggi militer yakni Jendral Besar (General of the Army).

    Jendral Sudirman didampingi ajudannya, Letkol Suharto

    ‘Perjuangan’ Kita Sekarang Ini, dibanding Perjuangan Para Pahlawan
    Sebagai investor, seperti yang pernah penulis sampaikan di artikel lain, saya sangat suka membaca cerita-cerita sejarah, khususnya kisah perjuangan Jendral Sudirman diatas dimana penulis sudah hafal diluar kepala. Karena hanya dengan mengingat kembali jasa-jasa pahlawan seperti itulah, maka kita akan menyadari bahwa kita sangat beruntung hidup di jaman yang serba mudah seperti sekarang ini. Termasuk ketika penulis mulai stress ketika melihat kinerja portofolio yang tidak sesuai harapan, maka penulis biasanya bilang ke diri sendiri: Dibanding perjuangan pahlawan-pahlawan kita dulu, kesulitan yang kamu alami sekarang ini sama sekali gak ada apa-apanya!
    Maksud penulis, coba lihat Jendral Sudirman: Dalam keadaan sakit parah dan tanpa pengobatan yang memadai, beliau tetap memaksakan diri untuk berjuang, meninggalkan keluarga dan seluruh harta bendanya, menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya dalam kondisi yang jauh dari kata nyaman, sambil terus menanggung risiko ditangkap (atau bahkan ditembak mati) oleh Tentara Belanda, dan selama itu beliau harus kehilangan entah berapa anak buah karena terluka, tewas, atau tertangkap. Namun hebatnya beliau mampu untuk tetap fokus, tidak takut, dan dalam pikiran beliau ketika itu hanya ada satu sumpah: Sampai titik darah penghabisan, Indonesia harus benar-benar merdeka!
    Sementara kita? Well, kalo penulis sendiri, ketika ‘berjuang’ (baca: bekerja), maka saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca laporan keuangan dll sambil duduk nyaman di kursi empuk dalam ruangan sejuk ber-AC, dan saya bisa istirahat, makan, dan tidur kapan saja, termasuk kita bisa pergi ke hutan tapi bukan untuk gerilya, melainkan untuk piknik menghirup udara segar. Dan satu-satunya risiko yang dihadapi hanyalah kalo saham kita turun sehingga terpaksa menderita rugi, tapi tidak lebih dari itu. Kita sama sekali tidak perlu khawatir ditangkap atau ditembak mati oleh tentara musuh, dan bahkan risiko jatuh sakit pun nyaris tidak ada, karena kita bekerja dalam lingkungan yang serba nyaman, bersih, dan sehat.
    Jadi kalau ada teman mengeluh, ‘Pak Teguh, gimana caranya ya biar bisa tenang liat saham? Saya masih suka stress nih, sampe gak bisa tidur gara-gara nyangkut..’, maka penulis akan bilang, really? Kalau cuma karena itu saja anda gak kuat mental sampai gak bisa tidur, lalu bagaimana kalau seandainya anda berada dalam posisi bertanggung jawab untuk menumpas pemberontakan di Madiun?? Atau harus bertahan di hutan-hutan untuk menghadapi Agresi Militer Belanda??? Bisa-bisa baru jadi panglima militer sehari, besoknya anda langsung menyerah ke Belanda, dan Indonesia langsung bubar! Actually, balik lagi ke investasi saham: Kalau anda gak bisa tenang dalam memegang dana anda yang sekarang, maka bagaimana mungkin anda berharap bisa mengelola dana yang lebih besar di masa yang akan datang?
    Tapi intinya sekali lagi, seperti yang sudah disampaikan diatas, kita sangat beruntung hidup di jaman dimana kita, sebagai investor, hanya perlu memikul tanggung jawab yang amat-sangat-ringan, dimana kalaupun kita gagal dan rugi maka kita akan tetap sehat-sehat saja, dan selalu ada kesempatan untuk kembali mencoba asalkan anda pantang menyerah. Sudah tentu, tidak semua orang mampu berkontribusi bagi bangsa dan negara, apalagi menjadi pahlawan seperti Jendral Besar Sudirman. Tapi kalau sampai gak bisa tidur cuma karena takut rugi di saham?? Well, anda bisa lebih baik dari itu!
    Dirgahayu Indonesia-ku! Selamat Hari Ulang Tahun RI yang Ke-72!

    Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya [...]

    PGAS, dan Rencana Penurunan Harga Gas

    Hingga hari ini, Kamis, 10 Agustus, Perusahaan Gas Negara (PGAS) masih belum merilis laporan keuangan Kuartal II 2017 dikarenakan adanya limited review. Namun jika kita melihat kinerja perusahaan di Kuartal I, dimana labanya masih turun tipis 3.8%, maka PGAS merupakan satu dari dua perusahaan besar di BEI (satunya lagi SMGR) yang kinerjanya masih belum pulih sejak Indonesia mengalami titik terendah perlambatan ekonominya pada tahun 2015 lalu. Dilihat dari sini saja maka wajar jika dalam dua tahun terakhir, saham PGAS ketinggalan jauh dibanding saham-saham blue chip lainnya. Namun demikian kinerja PGAS sebenarnya tidak seburuk itu juga, dan perusahaan tidak memiliki problem spesifik terkait operasional, GCG, maupun industri gas itu sendiri.

    Dengan kata lain, kalau kita berpandangan jauh kedepan, maka tetap terdapat ekspektasi atau harapan bahwa kinerja PGAS pada akhirnya nanti akan kembali bertumbuh, terutama karena PGAS memiliki track record sebagai sebagai salah satu perusahaan paling profitable dan konsisten di BEI (atau setidaknya di masa lalu). Dan keberadaan harapan ini menyebabkan saham PGAS, meski memang tidak akan naik dulu dalam waktu dekat ini, tapi juga tidak akan turun terlalu dalam. Contoh lainnya dari ‘pengaruh faktor harapan terhadap harga saham’ ini adalah Astra International (ASII), dimana meski kinerja perusahaan sempat stagnan cukup lama antara tahun 2012 – 2016, namun selama periode waktu tersebut para investor tidak pernah menghargai ASII pada valuasi yang terlalu rendah, dimana bahkan ketika terjadi panic selling pada Agustus – September 2015 lalu, ASII hanya turun hingga level 5,000-an, yang mencerminkan PBV 2.0 kali (berdasarkan ekuitas perusahaan ketika itu), alias masih relatif tinggi bahkan jika dibandingkan dengan sesama saham blue chip. And indeed, memasuki tahun 2017 ini kinerja ASII akhirnya kembali tumbuh signifikan.
    However, contoh keberadaan ‘faktor harapan’ pada saham ASII diatas hanya berlaku untuk saham dari perusahaan dengan reputasi, kualitas brand, dan track record kinerja dalam jangka panjang yang amat sangat baik, sehingga kepercayaan investor tetap tidak luntur bahkan meski perusahan mengalami penurunan kinerja pada satu atau dua tahun tertentu. Namun untuk perusahaan-perusahaan lainnya dengan kriteria yang tidak sebaik itu, maka penurunan kinerja sedikit saja bisa langsung menyebabkan sahamnya jatuh. Contohnya? Well, Lippo Cikarang (LPCK). Ketika perusahaan membukukan kinerja yang sangat baik antara tahun 2011 – 2015, maka selama itu pula sahamnya terus naik hingga sempat tembus 12,000. Tapi begitu kinerjanya mulai turun pada tahun 2015, dan penurunan tersebut masih berlanjut sampai sekarang, maka tanpa ampun sahamnya anjlok hingga sempat menyentuh 4,000, beberapa waktu lalu, dimana PBV LPCK pada harga terendahnya tersebut hanya 0.5 kali, atau jauh dibawah PBV terendah yang pernah dicapai ASII diatas. Perbedaan valuasi yang signifikan antara ASII dan LPCK ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar berpikir, ‘Untuk ASII, saya percaya bahwa stagnan-nya kinerja perusahaan hanyalah sementara. Pada akhirnya ASII bakal profit lagi, dan nilai intrinsik perusahaan masih jauh diatas harga sahamnya saat ini. Namun untuk LPCK, saya tidak punya gambaran tentang bagaimana kinerja perusahaan di masa yang akan datang, jadi kenapa ambil risiko dengan membeli sahamnya pada harga yang masih lebih tinggi dibanding nilai bukunya?’
    Lalu bagaimana dengan PGAS? Nah, dalam hal likuiditas saham, reputasi perusahaan, serta track recordkinerja, maka PGAS tidak kalah dibanding ASII, dimana dengan melihat kinerja perusahaan di masa lalu maka PGAS tetap memiliki harapan untuk kembali membukukan kinerja yang bertumbuh di masa yang akan datang, dan soal ini juga sudah kita sampaikan diatas. However, dalam hal brand alias merk, maka PGAS kalah jauh dibanding ASII, dimana PGAS tidak memiliki merk-merk terkenal seperti ‘Toyota Avanza’, ‘Motor Honda’, atau ‘Komatsu’. PGAS juga kalah populer dibanding sister company-nya, Pertamina. Maksud penulis adalah, kalau anda survey ke tetangga sebelah rumah yang bukan investor saham, maka mereka tentu familiar dengan nama ‘Astra’ atau ‘Pertamina’, tapi mereka mungkin tidak tahu dengan nama PGN.
    Karena itulah, valuasi terendah bagi PGAS tidak bisa disamakan dengan ASII, tapi juga tidak bisa disamakan dengan LPCK, melainkan normalnya di tengah-tengahnya. Lalu persisnya di berapa? Well, dalam hal ini kita bisa pakai contoh saham blue chip lainnya lagi: Bank BNI (BBNI). Pada awal tahun 2016 lalu, tepatnya ketika ramai cerita pembatasan NIM perbankan yang kemudian menjadi sentimen negatif bagi saham-saham big caps di sektor banking, maka BBNI ketika itu drop sampai mentok di 4,000, dimana PBV-nya tercatat 1.0 kali, tapi dia cuma sebentar berada di level harga tersebut dan langsung naik lagi. Nah, kalau kita lihat lagi BBNI ketika itu, maka situasinya juga mirip dengan PGAS sekarang ini: Kinerjanya masih belum begitu bagus, brand-nya tidak terlalu populer terutama jika dibandingkan tiga bank besar lainnya (BBCA, BBRI, BMRI), dan sahamnya sedang diliputi sentimen negatif yang sangat kuat, yakni soal pembatasan NIM tadi, namun demikian perusahaan memiliki track record kinerja yang sangat baik di masa lalu, sehingga terdapat ekspektasi bahwa cepat atau lambat kinerja BBNI akan bagus lagi.
    Jadi seandainya salah satu faktor diatas dihilangkan, misalnya ketika sentimen negatif terkait NIM tadi menguap/dilupakan orang dengan sendirinya, maka BBNI juga akan naik lagi ke posisi normalnya ketika itu yakni sekitar 5,000-an, dimana PBV-nya (berdasarkan ekuitasnya saat itu) adalah 1.2 – 1.4 kali.
    Okay, balik lagi ke PGAS. Sejak tahun 2015 lalu, maka pada kondisi pasar yang normal dan tidak ada sentimen negatif, berapa harga rata-rata PGAS? Sekitar 2,400 – 2,700. Dan berapa PBV PGAS pada harga tersebut? Sekitar 1.3 – 1.5 kali, alias tidak jauh berbeda dengan PBV BBNI diatas. Dan berkaca pada BBNI, dimana meski sahamnya turun ketika ada sentimen negatif namun pada akhirnya naik lagi, maka demikian pula dengan PGAS, dimana sejak tahun 2015 lalu sahamnya sempat beberapa kali drop sampai dibawah 2,400, entah itu karena IHSG-nya lagi turun atau sedang ada sentimen negatif, namun pada akhirnya naik lagi. Disisi lain, pada pertengahan tahun 2016 lalu ketika pasar sedang ramai sentimen tax amnesty yang menyebabkan investor asing ramai-ramai belanja saham di mari, maka salah satu saham yang paling banyak diborong asing adalah PGAS ini, dimana sahamnya sempat melompat dari 2,300-an hingga tembus 3,400 (however, setelah sentimen TA mereda, maka PGAS juga segera balik kandang lagi ke 2,400 – 2,700, mengingat kinerjanya sampai sekarang masih gitu-gitu aja).
    Harga Gas Akan Diturunkan?
    Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, dalam beberapa kesempatan penulis selalu mengatakan bahwa kalau nanti PGAS turun sampai PBV-nya hanya 1.0 – 1.2 kali, alias kisaran harganya sekarang ini (2,200-an), maka kita mungkin punya peluang jangka pendek disini. Namun, juga tidak akan semudah itu untuk masuk ke PGAS pada harga rendah seperti sekarang, karena setiap kali PGAS turun maka pasti ada saja cerita negatif tertentuyang bikin orang-orang jadi ragu untuk masuk. Jadi sama saja seperti ketika satu setengah tahun yang lalu BBNI jatuh ke 4,000-an, dimana meski logika sederhananya adalah itu merupakan big opportunity, tapi tidak semua orang cukup berani untuk masuk, karena ketika itu cerita pembatasan NIM masih dibicarakan dimana-mana, bahkan khusus untuk BBNI ini juga muncul cerita tambahan tentang kredit macetnya di Trikomsel Oke (TRIO) senilai Rp1 trilyun! (yang sebenarnya merupakan cerita lama yang sudah basi, tapi ceritanya muncul lagi setelah BBNI ketika itu turun cukup dalam hingga menyentuh panic level-nya).
    Tapi yah, berapa BBNI sekarang??
    Balik lagi ke PGAS. Dan untuk kali ini, cerita negatif tersebut adalah terkait berita wacana Kementerian ESDM untuk menerbitkan peraturan menteri (Permen) untuk perusahaan-perusahaan distributor gas, yang pada intinya: 1. Margin penjualan gas dibatasi maksimal 7%, 2. Tingkat internal rate return (IRR)dari bisnis pipa gas maksimal 11% per tahun. Sekilas peraturan tersebut, kalau nanti jadi di-sah-kan, akan menyebabkan laba bersih PGAS, yang memang sudah mini sejak tahun 2015 lalu, bakal jadi lebih mini lagi.
    Tapi sayangnya belum ada penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dengan ‘margin’ dan ‘IRR’ diatas, serta bagaimana mekanisme pelaksanaannya di lapangan, termasuk belum ada klarifikasi apapun dari manajemen PGAS terkait berita tersebut. However, dalam hal ini ada beberapa hal yang penulis perhatikan. Pertama, cerita soal pembatasan margin diatas, yang kemudian diterjemahkan sebagai ‘harga jual gas akan turun’, itu sebenarnya bukan cerita baru, karena sudah sejak awal tahun 2015 lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa dalam rangka mendorong kemajuan industri dalam negeri, maka harga gas harus turun (waktunya hampir bersamaan dengan ketika beliau mengatakan bahwa harga semen akan diturunkan Rp1,000 per sak. Inget nggak?). Namun sampai hari ini belum ada peraturan baru dari pemerintah yang secara spesifik mengatur harga jual gas.
    Kedua, Permen diatas masih sebatas wacana, dimana pengesahannya masih menunggu diskusi lanjutan antara Kementerian ESDM dengan PGAS, Pertagas, hingga INGTA (Indonesia Natural Gas Trader Association). Jadi masih ada kemungkinan bahwa Permen yang nanti diterbitkan, itupun kalau Permen tersebut jadi diterbitkan, maka isinya tidak akan persis sama dengan yang diwacanakan. Ketiga, penulis masih belum ‘ngeh dengan istilah ‘margin’ diatas, namun kalau maksudnya adalah margin laba bersih dari perusahaan distributor gas dibanding nilai pendapatannya, maka khusus untuk PGAS, margin tersebut memang sudah turun menjadi hanya 10% pada tahun 2016, dibanding rata-rata 20% pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi kalaupun margin tersebut harus turun lagi menjadi hanya 7%, maka pengaruhnya tidak akan terlalu terasa, dan laba bersih PGAS tetap bisa naik selama omzet/pendapatannya naik. Pemerintah sendiri, dalam hal ini Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, menyatakan akan mendorong pembangunan infrastruktur pipa gas, dan memang jaringan pipa gas milik PGAS sendiri bertambah 252 km atau 3.6% sepanjang Kuartal I 2017 kemarin, menjadi total 7,278 km, dan PGAS sampai sekarang masih terus membangun jaringan pipa-pipa baru.
    Peta rencana pengembangan jaringan distribusi gas milik PGAS hingga tahun 2018. Klik gambar untuk memperbesar

    Keempat, diluar berinvestasi pada jaringan pipa gas baru, PGAS sejak beberapa tahun lalu juga sudah berinvestasi ke sektor hulu dengan mengakuisisi kepemilikan di beberapa ladang migas, dan pada tahun 2017 ini hasilnya mulai kelihatan, dimana pada Kuartal I 2017, PGAS membukukan pendapatan US$ 100 juta dari eksplorasi dan produksi migas, dibanding hanya US$ 57 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Nah, kecuali kalau nanti Pemerintah mewacanakan peraturan lainnya lagi, maka margin untuk bisnis produksi migas ini tidak dibatasi, sehingga margin PGAS secara keseluruhan bisa tetap maksimal terutama jika perusahaan mampu mengoptimalkan kinerja di segmen produksi migas ini.
    Dan kelima, sekaligus yang paling penting, sebagai salah satu saham big caps di BEI, maka PGAS ini sering sekali muncul di pemberitaan, dimana pada satu hari beritanya bisa bagus, tapi besoknya ceritanya bisa beda lagi. Actually dalam sebulanan terakhir ini saja, maka selain berita wacana Permen diatas, juga muncul setidaknya dua berita lainnya yakni bahwa PGAS akan investasi capex US$ 200 juta, dan bahwa anak usaha PGAS akan mengambil pinjaman senilai US$ 300 juta. Maksud penulis adalah, karena sekarang ini PGAS lagi turun, maka sangat wajar jika berita yang muncul ke permukaan adalah soal Permen tadi. Sekarang anda bayangkan kalau seorang broker saham, ketika ditelpon sama nasabahnya, ‘Mas, kenapa ini PGAS turun?’, kemudian dia menjawab, ‘Soalnya PGAS mau investasi capex US$ 200 juta pak’. Gak nyambung bukan? Penjelasan soal ini bisa dibaca lagi di artikel ini: Dari Mana Asalnya Sentimen Negatif?
    Tapi bagaimana kalau nanti PGAS naik lagi? Maka tentu, cerita yang keluar bakal beda lagi, dan mungkin cerita Permen diatas malah menghilang begitu saja.
    Jadi kesimpulannya, penulis tetap melihat PGAS, pada harganya sekarang, sebagai opportunity. Berdasarkan catatan penulis sendiri, ini sama sekali bukan kali pertama saham PGAS turun karena cerita negatif tertentu. Pada Januari 2007, PGAS pernah bablas 23% dalam sehari setelah keluar berita bahwa manajemen terlambat dalam mengkomersialkan salah satu pipa transmisinya yang baru selesai dibangun. Pada tahun 2011, PGAS sempat turun berkepanjangan hingga total 50% di bulan September (selain karena memang IHSG di bulan September 2011 tersebut juga sedang drop), setelah perusahaan dikabarkan kesulitan memperoleh pasokan gas dari produsen. Pada November 2013, PGAS turun karena berita tentang open access, dimana PGAS ‘dipaksa’ oleh Pemerintah untuk mengizinkan distributor gas lain untuk menggunakan pipa transmisi milik mereka. Terakhir pada April 2015 lalu, PGAS kembali turun setelah diserang serangkaian sentimen negatif termasuk bahwa perusahaan dipaksa untuk bergabung kedalam holding energi pimpinan Pertamina.
    Dan seperti halnya cerita-cerita diatas pada akhirnya menguap dengan sendirinya, maka untuk kali inipun penulis percaya bahwa sentimen negatif diatas juga akan menguap seiring waktu. At the end, yang orang lihat itu adalah kinerja fundamental PGAS, dalam hal ini laporan keuangan terbaru perusahaan. Jadi selama LK PGAS tidak terlalu berubah dibanding Kuartal I kemarin, maka kita akan kembali melihat PGAS berada di posisi harga yang seharusnya (baca lagi contoh ASII, LPCK, dan BBNI diatas).
    Hanya saja kalau anda tertarik masuk ke PGAS ini, maka masih ada sedikit catatan lagi. Pertama, PGAS kemarin turun sampai menyentuh 2,120, yang merupakan posisi terendahnya dalam lima tahun terakhir, atau lebih lama lagi. Dan itu artinya, secara teknikal PGAS mungkin masih bisa lanjut turun (karena sudah tembus support) sampai nanti ketemu bottom barunya di berapa, dan barulah setelah itu PGAS bakal naik lagi (masih inget penurunan Waskita Beton (WSBP) kemarin sebelum akhirnya membal lagi? Baca lagi ceritanya disini). Sebenernya kalo secara valuasi, penulis percaya bahwa kalaupun nanti PGAS lanjut turun, maka maksimal penurunannya akan mentok di 1,800 – 2,000, itupun hanya kalau orang-orang sudah desperate sama sekali dengan saham ini, atau keluar lagi sentimen negatif baru.
    Dan kedua, PGAS masih belum merilis LK-nya untuk Kuartal II, sehingga menimbulkan keragu-raguan investor tentang fundamental terbaru perusahaan, apakah masih sama seperti Kuartal I kemarin atau malah labanya turun lebih dalem lagi. Jadi mungkin akan lebih aman kalau kita wait and see dulu setidaknya sampai bulan depan (PGAS akan merilis LK-nya paling lambat 31 Agustus), sekalian melihat PGAS turunnya sampai berapa, dan bagaimana perkembangan dari wacana permen diatas. Jadi kalau anda sudah memegang PGAS sejak awal maka boleh hold, tapi jangan dulu average down.
    Okay, untuk minggu depan kita akan membahas update analisis untuk sektor batubara.

    Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Prospek Saham-Saham Konstruksi: Update

    Pada Desember 2016 lalu, penulis menyampaikan bahwa salah satu sektor yang mungkin bakal ‘naik panggung’ di tahun 2017 ini adalah sektor konstruksi, ketika itu dengan inti analisa sebagai berikut: 1. Saham-saham konstruksi belum naik banyak sepanjang tahun 2016, sehingga valuasinya relatif masih rendah, 2. Kinerja fundamental serta prospeknya masih bagus seiring dengan realisasi percepatan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, dan 3. Penyebab belum ‘jalannya’ saham-saham konstruksi adalah karena faktor kurang stabilnya kondisi politik nasional menjelang Pilkada DKI Jakarta ketika itu, tapi penulis termasuk yang percaya bahwa isu politik ini nantinya akan mereda dengan sendirinya. Anda bisa baca lagi analisanya disini.

    However, sekarang sudah bulan Agustus, tapi bukannya naik panggung, saham-saham konstruksi justru nyungsep lebih dalam lagi, dimana ketika artikel ini ditulis, indeks saham-saham properti dan konstruksi sudah turun 5.0% sejak awal tahun, atau jauh dibawah kenaikan IHSG yang mencapai 9.6%. Sebenarnya penulis sendiri sudah merevisi analisa untuk sektor konstruksi ini sejak April 2017 lalu, yakni ketika Pilkada DKI akhirnya selesai digelar dan ternyata yang menang adalah pasangan calon Gubernur – Wagub dari kubu partai oposisi, dan bukannya partai pendukung pemerintah. Yang itu artinya, ketidak stabilan politik yang sebelumnya penulis harapkan bakal segera mereda, kemungkinan justru akan berkepanjangan. Dan memang sampai hari ini, meski pembangunan infrastruktur di lapangan sejatinya tetap berjalan lancar, namun Presiden Jokowi tampak lebih sibuk ketemu tokoh-tokoh politik tertentu ketimbang gunting pita proyek seperti biasanya. Yang terbaru, persis tanggal 1 Agustus kemarin, Presiden bersama Wakil Presiden dan beberapa pejabat negara bertemu dengan para ulama dalam acara Zikir Kebangsaan di Istana.
    Dengan melihat perkembangan politik diatas, maka kalau saja perusahaan-perusahaan konstruksi kemudian melaporkan kinerja yang tidak bagus pada tahun 2017 ini, maka penulis sendiri juga bakal give up sama sekali dengan sektor konstruksi ini, karena sebagai pelaku pasar dan bukannya pengamat politik, saya tidak punya gambaran soal kapan kira-kira isu-isu politik ini akan mereda. Namun kenyataannya pada Kuartal I 2017 lalu, Waskita Karya (WSKT) dkk masih membukukan kenaikan laba yang signifikan, dan bahkan pihak manajemen justru berani menaikkan target perolehan kontrak serta laba bersih mereka untuk tahun 2017 ini. Sementara kalau melihat kenyataannya di lapangan, anda yang di Jakarta mungkin bisa melihatnya sendiri: Pembangunan MRT masih dikebut siang dan malam, dan bahkan simpang susun di Semanggi juga sudah tersambung! Anda yang di daerah juga mungkin bisa sharing tentang perkembangan pembangunan infra di kota anda masing-masing.
    Ini di Jepang? Bukan. Ini di Jakarta, tepatnya di site pembangunan stasiun MRT di Bundaran HI. Klik gambar untuk memperbesar

    Karena itulah, penulis kemudian tetap memasukkan saham-saham konstruksi ke dalam watchlist, apalagi di Kuartal II barusan, laba bersih emiten-emiten konstruksi masih naik signifikan, mungkin malah paling signifikan dibanding emiten big caps lainnya di BEI. Namun memang sejak April lalu penulis sudah mengatakan bahwa, dengan mempertimbangkan faktor ketidak stabilan politik diatas, maka kita harus menghargai saham-saham konstruksi pada valuasi yang lebih konservatif. Contohnya, Waskita Beton Precast (WSBP), dimana kalau mempertimbangkan kinerja riil perusahaan, prospeknya terkait pembangunan jalan tol dll, likuiditas sahamnya, hingga statusnya sebagai anak usaha dari perusahaan konstruksi terbesar di tanah air (WSKT), maka PBV 1.7 – 1.8 kali pada harga saham 500 – 550 terbilang sudah murah, karena pada tahun 2014 lalu, saham-saham konstruksi bahkan dihargai pada PBV 3 – 4 kali.

    However, karena faktor politik diatas, serta fakta bahwa WSBP ini merupakan mainan baru para trader yang secara teknikal belum jelas support resisten-nya di berapa (yang artinya kalau WSBP turun sampe dibawah 500 alias new low, maka secara teknikal dia bisa lanjut turun sampai berapa saja), maka kita harus menghargai WSBP ini pada valuasi yang lebih konservatif. Seberapa konservatif? Well, berdasarkan pengalaman, angka PBV terendah bagi saham konstruksi berfundamental bagus adalah 1.4 kali, itupun dicapai ketika IHSG drop di tahun 2013, dan 2015. Jadi bukan tidak mungkin WSBP ini juga nanti akan turun sampai PBV-nya tinggal segitu, yang itu artinya best buy-nya adalah di kisaran 400 – 420. Anda bisa baca lagi ulasan lengkapnya di Ebook Kuartal I 2017.

    Dan berapa posisi terendah yang dicapai WSBP ketika kemarin dia drop? Benar sekali: 416, sebelum kemudian naik lagi ke posisi sekarang (470-an). Dengan demikian analisa untuk saham-saham konstruksi ini sudah bisa di-update lagi, yakni: Bottom-nya sudah ketemu, dan untungnya kinerja fundamental para emitennya juga masih bagus seperti sebelumnya. Jadi kecuali nanti IHSG drop, kondisi politik memburuk, atau terjadi force majeure, maka no way WSBP dkk bakal turun lagi hingga ke posisi yang lebih rendah dibanding posisi terendahnya, beberapa minggu lalu. Dan bagi para bargain hunter seperti penulis, inilah momentum yang kita tunggu-tunggu. Faktor lainnya yang juga perlu diperhatikan, jika anda merupakan fund manager besar dengan dana kelolaan trilyunan Rupiah, dimana pilihan investasi yang anda miliki terbatas hanya pada saham-saham big caps, maka anda sekarang ini tidak punya banyak pilihan lain kecuali saham-saham konstruksi. Sebab kalau anda baru masuk di saham-saham big caps yang sudah naik banyak sejak tahun lalu, seperti Astra International (ASII), Bank BCA (BBCA), hingga Telkom (TLKM), maka anda mau mengharapkan mereka naik sampai berapa lagi?
    Tapi kalau kita ambil Wijaya Karya (WIKA), misalnya, maka harganya sekarang cuma 2,000, atau jauh lebih rendah dibanding all time high-nya yakni 3,100, dan harga tersebut bahkan lebih rendah dari harga right issue-nya beberapa waktu lalu! Yakni Rp2,180 per saham.
    Tapi kemudian bagaimana dengan outlook dari perusahaan-perusahaan konstruksi itu sendiri? Apakah laba mereka bisa naik 50 – 100% di tahun 2017 ini dan 2018 nanti, misalnya? Well, kalau berdasarkan materi public expose WSBP, 26 Juli kemarin, disitu disebutkan bahwa perolehan kontrak hingga Semester I 2017 saja, itu sudah melebihi nilai kontrak yang dikerjakan perusahaan di sepanjang tahun 2016, padahal nilai kontrak di tahun 2016 itu sendiri naik tiga kali lipat dibanding tahun 2015! Beberapa project besar yang mulai digarap WSBP sejak tahun 2017 ini (atau sejak 2016 kemarin) adalah Tol Jakarta – Cikampek Elevated, Tol Legundi – Bunder, Tol Cimanggis – Cibitung, Tol Semarang – Batang, dan yang paling baru, Tol Bogor – Sukabumi. Sementara proyek yang sudah mulai dikerjakan sejak beberapa tahun sebelumnya seperti Tol Becakayu, dan LRT Palembang, sebentar lagi bakal tuntas 100% (yang artinya perusahaan akan segera menerima pembayaran). Secara operasional, WSBP tidak memiliki kendala apapun untuk segera menyelesaikan proyek-proyeknya secara tepat waktu. Malah jika Pemerintah bisa merealisasikan kelanjutan proyek Jalan Tol Trans Sumatera sepanjang total 2,800 KM mulai tahun 2018 nanti (dari 2,800 km tersebut, yang sudah digarap baru 500 KM, yakni Tol Bakauheni – Betung), maka WSBP dkk bakal dapet tambahan proyek lagi.
    Jadi dari sisi outlook, everything seems good. Kalau ada yang mengganjal adalah rencana salah satu emiten, dalam hal ini WSBP, untuk mem-buy back sahamnya hingga senilai maksimal Rp1 trilyun, dalam rangka mengembalikan harga sahamnya di market ke level yang ‘mencerminkan fundamental perusahaan’. Karena kalau menurut penulis sendiri, WSBP akan memerlukan dana tersebut untuk membiaya proyek-proyeknya. Lagian waktu tahun lalu perusahaan menggelar IPO dan meraup tambahan modal senilai Rp5.2 trilyun, maka duitnya memang buat ekspansi bukan? Jadi kenapa sebagian dari uang tersebut malah dikembalikan lagi ke investor melalui buyback saham? Namun demikian, selama perusahaan mampu menjaga momentum pertumbuhan usahanya dan mengkomunikasikan hal tersebut ke para investor, maka penulis percaya bahwa manajemen tidak akan sampai mengeluarkan dana sebesar itu untuk buyback, mungkin realisasinya cuma Rp100 – 200 milyar saja, sehingga sisanya masih banyak untuk ekspansi. Disisi lain, meski kebijakan buy back ini tentu saja tidak menjamin bahwa WSBP akan naik dalam waktu dekat, namun minimal itu akan menjaga agar sahamnya tidak drop lagi seperti beberapa minggu lalu.
    Dan kalau kita menemukan saham yang risikonya sudah terbatas seperti saham-saham konstruksi ini, maka artinya satu pekerjaan rumah kita sebagai value investor sudah selesai, dan anda boleh pergi mancing atau main catur lagi seperti biasa. Untuk analisa saham-saham konstruksi secara individual akan penulis sampaikan di Ebook Kuartal II 2017 (terbit 7 Agustus), meski mungkin perlu dicatat bahwa kita tidak akan membahas semuanya (akan dipilih dua atau tiga saham konstruksi yang dianggap paling menarik).

    Untuk analisis minggu depan, kita akan membahas salah satu dari AISA, atau PGAS.

    Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Agustus 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

    Buku Kumpulan Analisa Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 juga sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Klarifikasi: Rivan Kurniawan, Final

    Melanjutkan klarifikasi kemarin (kalo belum tau ceritanya, boleh baca lagi disini), berikut adalah email permohonan maaf yang ditulis Pak Rivan secara langsung kepada penulis:
    Dear Pak Teguh Hidayat

    Pertama-tama izinkan saya sekali lagi menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian pagi ini terkait investing plan. Saya mengakui saya salah dalam menyikapi informasi yang Pak Teguh sampaikan ke member Bapak, yang saya share juga ke member saya.
    Secara personal, saya seorang investor yang pernah jatuh di pasar modal pada tahun 2012, dan sempat trauma mendalam selama 1 tahun. Sampai akhirnya saya menemukan blog Pak Teguh pada tahun 2013 dan dari situ saya mulai bangkit kembali. Saya banyak belajar mengenai Value Investing Pak Teguh dan dari situ saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Value Investing dari banyak sumber.
    Saya dulunya meremehkan pentingnya fundamental dan hanya berdasarkan analisa teknikal saja, sehingga saya jatuh di pasar modal. Dari situ lah ketika saya berhasil bangkit, saya memiliki passion supaya bisa membantu banyak orang agar tidak perlu jatuh seperti yang saya alami.
    Per 2016, saya memutuskan untuk resign dan ingin sharing dengan banyak orang mengenai pentingnya berinvestasi. Namun saya juga memiliki passion untuk mengingatkan ke banyak orang mengenai pentingnya analisa fundamental dalam berinvestasi di saham. That’s why saya terjun ke bidang ini.
    Jujur beberapa kali saya ingin bertemu dengan Pak Teguh supaya bisa saling mengenal satu sama lain, namun entah kenapa saya belum berani untuk ngobrol dengan Pak Teguh. Sempat saya memberanikan diri untuk email ke Pak Teguh sewaktu awal 2017 dan menghubungi Ms Nury untuk membuat appointment bertemu dengan Pak Teguh, namun kesempatan itu belum datang.
    Betul saya menjadi pembicara dalam seminar, membuat hasil riset, membuat artikel, memang itu semua untuk active income saya menghidupi keluarga. Namun di balik semua itu, saya memiliki passion untuk berbagi kepada khalayak luas mengenai pentingnya berinvestasi, dan terutama sharing my knowledge dan experience mengenai Value Investing itu sendiri.
    However, I learned a lot from this experience, dan saya benar-benar minta maaf kepada Pak Teguh atas hal ini.. Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara damai apabila Pak Teguh berkenan dan saya juga berjanji agar kesalahan ini tidak terulang kembali.
    Kemudian untuk tuntutan permintaan maaf secara terbuka, Pak Rivan juga sudah memenuhinya, bisa anda baca di link berikut ini (gak saya share lagi disini karena kepanjangan, sorry).
    Nah, dengan demikian Pak Rivan sudah memenuhi kewajibannya, jadi sekarang giliran penulis untuk memberikan klarifikasi final, sebagai berikut:
    ***
    Jika Pak Rivan Kurniawan copy paste tulisan-tulisan dari blog teguhhidayat.com tanpa sepengetahuan dan seizin saya, maka itu tidak masalah. Ada banyak istilah seperti ‘nilai intrinsik’, ‘margin of safety’, ‘undervalue’, dll yg merupakan istilah umum/bukan milik Teguh Hidayat, dan istilah-istilah itu boleh digunakan oleh siapa saja tanpa perlu izin apapun. Saya sendiri kalo mau bikin kelas value investing maka gak pernah minta izin terlebih dahulu dari Warren Buffett ataupun Ben Graham, sebagai penulis buku tentang value investing (lagian gimana caranya?).
    Yang jadi masalah adalah, Pak Rivan copy paste secara kalimat per kalimat, bahkan kata per kata dari beberapa istilah dan tulisan spesifik yang ditulis oleh Teguh Hidayat tanpa menyebut sumbernya, seolah-olah itu merupakan tulisan Pak Rivan sendiri, yang ditulis berdasarkan ide, knowledge, expertise dan pengalaman investasi pak Rivan sendiri. Padahal penulis sendiri kalau saya mengutip tulisan milik orang lain, maka saya selalu menyebut sumbernya, dan sama sekali tidak pernah mengklaim bahwa tulisan itu adalah ide saya sendiri.
    Dan ini merupakan etika dasar dalam dunia tulis menulis, dimana ada perbedaan besar antara mengutip dan menjiplak.
    Tapi kalau hanya itu saja, maka saya juga tidak akan mempermasalahkannya. Malah faktanya ada cukup banyak penulis, analis saham, blogger, hingga wartawan pasar modal yang dengan mudahnya menjiplak tulisan dari teguhhidayat.com, untuk kemudian ditampilkan di blog atau website mereka, seolah-olah itu merupakan tulisan mereka sendiri. Jadi dalam hal ini, Pak Rivan tidak sendirian (meski disisi lain, ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran. Hanya karena seorang pengendara motor menerobos lampu merah di persimpangan jalan, bukan berarti anda boleh melakukan hal yang sama).
    Namun ketika Pak Rivan menyalin analisa berbayar yang penulis kirim ke member buletin bulanan, untuk kemudian di-share ke membernya sendiri, maka pada titik inilah saya kira telah terjadi sesuatu yang diluar batas. Kepada para member buletin bulanan, penulis sudah kasih warning bahwa mereka tidak boleh menyebar luaskan analisa dan informasi update market yang mereka terima, tapi apa yang Pak Rivan lakukan lebih dari itu: Beliau mengambil analisa tersebut bulat-bulat, mengemas ulang sehingga seolah-olah analisa tersebut dibuat oleh beliau sendiri, lalu menjualnya untuk memperoleh keuntungan komersial! Yakni dari para member layanan analisa berbayarnya tersebut.
    Dan pakai logika akal sehat manapun, tindakan diatas tidak bisa dibenarkan. Dalam hal ini yang dirugikan bukanlah penulis, melainkan para member yang menerima analisa hasil copy paste tersebut. Karena para member ini sudah membayar untuk memperoleh analisa yang berkualitas, namun yang mereka peroleh, setidaknya sebagian diantaranya, ternyata hasil jiplakan.
    Jadi ketika penulis membuat klarifikasi seperti ini, maka seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, saya tidak menuntut ganti rugi apapun. Malah justru penulis memberikan kesempatan kepada Pak Rivan untuk memperbaiki kesalahannya. Karena, coba pikir: Jika Pak Rivan terus melakukan tindakannya diatas, maka cepat atau lambat para member-nya akan menyadarinya, dan bukan tidak mungkin justru mereka-lah yang akan menuntut Pak Rivan suatu hari nanti. Tapi dengan adanya klarifikasi ini, yang kemudian memaksa Pak Rivan untuk memperbaiki apa yang sudah ia lakukan, maka dengan sendirinya kemungkinan terburuk diatas tidak akan terjadi.
    ***
    Anyway, Pak Rivan sudah meminta maaf, dan juga sudah berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, jadi dengan ini penulis anggap masalahnya sudah clear. Penulis sebelumnya juga minta maaf kepada teman-teman atas polemik yang mungkin timbul karena kejadian ini, karena terus terang saya juga tidak menginginkannya. Sebagai investor itu sendiri, penulis tidak menginginkan apapun kecuali bisa bersantai dan pergi berlibur sepanjang tahun, dan gak mau banyak pikiran apalagi sampai harus berurusan dengan orang lain. Negara ini sudah diurus Presiden, dan tiap-tiap perusahaan di BEI juga sudah dikelola direkturnya masing-masing, jadi kenapa mesti repot.
    Dan kepada Pak Rivan, saya terima permintaan maafnya, dan apapun yang anda lakukan kedepannya akan saya dukung selama tidak merugikan orang lain, siapapun itu. Barusan penulis cek lagi arsip-arsip lama, dan saya baru tahu kalo Pak Rivan juga pernah hadir di salah satu kelas seminar yang penulis buat. Dan bagi penulis sendiri, jika ada seseorang yang bersedia menerobos kemacetan Jakarta untuk kemudian meluangkan waktunya seharian hanya untuk mendengar celoteh bla bla bla dari penulis tentang value investing, maka artinya orang tersebut sudah berdedikasi untuk menjadi seorang value investor itu sendiri, dimana dengan sedikit kerja keras dan tabungan pengalaman, hasilnya akan luar biasa dalam jangka panjang. So may God bless you and us all, and thank you.
    Merci,
    Teguh

    Untuk artikel minggu depan kita akan bahas WSBP, maaf nunggu lama.

    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

    Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Agustus 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk [...]

    Klarifikasi: Rivan Kurniawan

    Sejak masih sangat belia, penulis percaya bahwa jika kita hendak sukses di suatu bidang, apapun bidang tersebut, maka pertama-tama kita harus menjadi orang yang baik, orang yang jujur, yang berbagi kebaikan dengan orang lain, yang bersedia memberikan tempat duduk di bus atau kereta untuk ibu hamil atau orang lain yang lebih membutuhkan. Dan kalaupun kita tidak bisa melakukan itu, maka paling tidak jangan berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, apalagi mengambil/memanfaatkan sesuatu yang merupakan milik/hak orang lain.

    Karena itulah, ketika penulis menterjemahkan Annual Letter Berkshire Hathaway yang ditulis langsung oleh Warren Buffett (WB) buat saya baca sendiri, tapi penulis lalu berpikir bahwa hasil terjemahan ini seharusnya juga akan sangat berguna bagi investor lain, maka saya kemudian meng-share hasil terjemahan tersebut secara gratis kepada siapapun yang tertarik untuk membacanya, dan sama sekali tidak mengambil keuntungan bahkan meski pada hasil terjemahan tersebut penulis juga menambahkan beberapa tulisan milik penulis sendiri (selengkapnya baca disini). Actually, penulis bisa saja menjual hasil terjemahan tersebut, let say Rp100,000 per copy (sehingga jika ada 1,000 orang yang membelinya saja, hasilnya sudah Rp100 juta bersih), atau bahkan mengklaim bahwa itu hasil tulisan milik penulis sendiri dan bukannya hasil terjemahan annual letter-nya WB, tapi saya tidak melakukannya. Karena jika penulis melakukan itu maka artinya saya memanfaatkan karya tulis milik orang lain untuk kepentingan pribadi, termasuk juga tidak menghormati WB sebagai pemilik asli dari annual letter tersebut,padahal WB melalui tulisan-tulisannya sudah sangat berjasa terhadap karier penulis di stock market selama ini.
    However, di dunia yang tidak sempurna ini, untuk sekedar menghormati karya orang lain saja, tidak semua orang mampu melakukannya.
    Jadi ceritanya pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB, penulis seperti biasa mengirim email informasi update pasar ke temen-temen member buletin bulanan. Tak sampai satu jam kemudian, penulis memperoleh forward-an email yang isinya persis sama dengan email info yang penulis kirim sebelumnya, namun kata-katanya diubah sedikit sehingga seolah-olah email itu bukan dibuat oleh penulis, melainkan oleh orang lain.
    Dan penulis email hasil jiplakan tersebut bernama Rivan Kurniawan, dimana ia adalah seorang analis saham dan blogger sama seperti halnya penulis, dengan alamat blog www.rivankurniawan.com. Dan seperti halnya penulis, Pak Rivan ini juga membuat produk analisa bulanan berbayar untuk para membernya, tapi rupanya ‘analisa’ yang dibuat oleh Pak Rivan itu, yang kemudian di-share ke para membernya, sebagian diantaranya merupakan hasil copy paste analisa saham milik penulis.
    Penulis kemudian langsung minta klarifikasi ke yang bersangkutan, berharap memperoleh penjelasan yang masuk akal (emailnya rivan.investing@gmail.com). Dan Pak Rivan awalnya membalas sebagai berikut:
    Halo Pak Teguh,
    Mohon maaf sebelumnya, tadi memang saya kebetulan dapat info mengenai INDY seperti itu.. tapi saya tidak tahu kalau ternyata itu sumber nya dari Pak Teguh. Kebetulan INDY memang menjadi salah satu pegangan terbesar saya dan banyak member juga yang menanyakan, oleh karena itu saya broadcast ke member saya begitu saya dapat info tersebut.
    Penulis kemudian mengecek blog www.rivankurniawan.comdan.. saya belum pernah sekaget ini sejak terakhir menyaksikan Zidane menanduk Materazzi di live Final Piala Dunia 2006. Yup, tulisan-tulisan di blog tersebut banyak sekali yang copy pasteartikel milik penulis, bahkan judul blognya pun sama: Value Investing Indonesia! Seorang teman kemudian menginfokan:
    Pak Teguh, saya buka link nya Rivan Kurniawan, banyak yang ngejiplak punya bapak. Yang tulisan dia privat coaching juga sama persis dengan modul yang saya dapat pas seminar bapak waktu itu di hotel thamrin city, sama persis pak tulisannya. Padahal itu udah setahun yang lalu.
    Ebook quarter outlook punya si rivan juga kalimat kalimatnya kira kira sama dengan ebook kuartalan dari bapak.
    Jadi Pak Rivan ini ternyata sudah copy paste info, tulisan dan analisa milik penulis berkali-kali dan entah sejak kapan, tapi beliau tidak tahukalau info-info itu berasal dari Teguh Hidayat? Are you kidding me???
    However, mungkin karena disemprot oleh orang-orang yang mengetahui hal ini, tak lama kemudian Pak Rivan kirim email lagi, kali ini mengakui kesalahannya dan minta maaf. Namun untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada temen-temen investor, maka berikut adalah beberapa hal yang bisa penulis klarifikasi:
    Rivan Kurniawan (www.rivankurniawan.com) tidak ada hubungan apapun dengan Teguh Hidayat. Jika tulisan-tulisan di blognya mirip dengan tulisan di teguhhidayat.com, demikian pula jika tulisan di analisa berbayar yang ia tawarkan mirip dengan buletin bulanan dan ebook kuartalan milik penulis, maka bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan melakukan copy paste, sekali lagi, untuk kepentingan komersialnya. Demikian pula jika Pak Rivan menggelar seminar berbayar dengan materi yang mirip dengan materi kelas value investing milik penulis (hanya diubah-ubah sedikit), maka itu juga copy paste.
    Namun karena yang bersangkutan sudah minta maaf, maka penulis juga sudah memaafkan dan tidak akan menempuh jalur hukum ataupun menuntut ganti rugi kepada Pak Rivan karena pelanggaran undang-undang HAKI ini, dengan catatan bahwa yang bersangkutan:
    1. Mengakui kesalahan, dan membuat pernyataan permintaan maaf secara tulus & terbuka di blognya, instagram, dan facebook, bukan ditujukan kepada penulis melainkan kepada masyarakat investor saham secara umum, terutama mereka yang pernah ikut analisa berbayar dan seminarnya Pak Rivan.
    2. Menghapus tulisan-tulisan di blognya yang merupakan hasil copy paste, sehingga hanya tersisa tulisan asli karya Pak Rivan sendiri. Kalau misalnya ada artikel yang setengah copy paste, dan setengah tulisan sendiri, maka tulis ulang artikelnya dengan menghapus bagian yang merupakan hasil copy paste tersebut. Saya lihat di blognya sebenarnya lebih banyak tulisan yang asli milik Pak Rivan sendiri ketimbang hasil copy paste, jadi seharusnya ini tidak sulit untuk dilakukan.
    3. Demikian pula untuk materi seminar, analisa berbayar dll, jika ada diantaranya yang merupakan hasil jiplakan maka ganti dengan materi yang lain, yang asli buatan Pak Rivan sendiri.
    4. Selanjutnya, kami tidak mau peristiwa ini terulang lagi. Jika dalam dua minggu kedepan masih ditemukan tulisan, analisa, atau materi seminar di blog www.rivankurniawan.comyang mirip-mirip dengan milik penulis, maka kita siap untuk melakukan somasi kedua, hingga lapor ke kepolisian (yang terakhir saya harap tidak sampai terjadi, but it depends on you).
    Catatan: Pak Rivan, atau siapapun, tidak bisa mengklaim bahwa tulisan anda mirip dengan tulisan milik penulis hanya karena kebetulan, atau karena anda juga seorang value investor sama seperti halnya penulis. Karena faktanya Warren Buffett juga seorang value investor, tapi coba anda baca-baca lagi annual letter-nya, dimana tulisannya sangat berbeda dengan tulisan milik penulis, dan berbeda pula dengan tulisan dari value investor yang lain.

    Terakhir, penulis juga minta maaf kepada Pak Rivan dan juga teman-teman pembaca blog ini. Tujuan penulis membuat klarifikasi ini bukanlah untuk menyalahkan atau memojokkan Pak Rivan atau siapapun, melainkan justru memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk berubah, untuk menjadi seorang investor sekaligus pribadi yang lebih baik, dan menjadi bagian dari keluarga besar pasar modal Indonesia yang lebih baik. Tidak ada seorangpun yang bisa sukses dengan cara-cara yang tidak baik, jadi better gak enak diawal namun itu memaksa kita untuk berubah, daripada membiarkan hal ini berlarut-larut hingga menimbulkan masalah yang lebih besar. Kepada Pak Rivan, dengan catatan anda mampu untuk berubah dan melakukan poin-poin diatas, maka saya pribadi percaya bahwa anda bisa berkontribusi lebih besar untuk pasar modal di tanah air, dan juga bisa menjadi seorang investor besar, suatu hari nanti.


    Okay, I think that’s enough. And btw, mohon maaf sebelumnya, untuk minggu ini seharusnya penulis kasih analisa tentang AISA, properti, konstruksi, ataupun update analisa batubara (banyak banget yang request), tapi karena kejadian ini maka saya jadi gak mood buat nulis. Jadi minggu depan aja yap. Untuk Ebook Kuartal II 2017 dan Buletin Agustus 2017 tetap akan terbit sesuai jadwal mereka [...]

    Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA)

    Sepanjang akhir pekan kemarin gak ada pemberitaan yang lebih heboh di bursa selain cerita tentang Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), dimana perusahaan dituding telah menjual beras  yang dioplos dengan beras bersubsidi pada harga premium, sehingga dianggap merugikan masyarakat banyak, dan itu langsung berdampak negatif bagi sahamnya: Jumat kemarin AISA ditutup auto reject di level 1,205, dan pada Senin pagi ini, ketika artikel ini ditulis, dia sudah turun lagi ke level 900-an. Pertanyaannya tentu, ini peluang apa bukan??

    Namun hingga pagi ini, penulis masih mengerjakan analis lengkapnya untuk AISA ini, tentunya dari sudut pandang value investing. Jadi untuk sekarang anda mungkin bisa menyampaikan analisa/pendapat anda sendiri, dalam hal ini dengan menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana analisa anda terkait kasus AISA? Dan apakah anda akan buy sahamnya?
    Anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah. Sebagai bahan tambahan analisa, boleh baca lagi dua artikel lama di blog ini tentang AISA disini, dan disini.
    Pernyataan resmi dari corporate secretary AISA (sejauh ini) terkait kasusnya.
    Beberapa catatan penting sejauh ini:
    1. Terkait penggerebekan pabrik berasnya, jumat kemarin, beritanya memang masih simpang siur, dimana suara-suara yang menyalahkan AISA terbilang sama kencangnya dengan yang membelanya, termasuk banyak juga yang mengkaitkan masalah ini dengan politik. However, kualitas manajemen AISA sendiri sejak awal tidak terlalu baik terutama jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan consumer goods lain, dan itu bisa dilihat dari laporan keuangannya yang sering terlambat, kegagalan investasi di Golden Plantation (GOLL) yang berujung pada fluktuasi sahamnya yang ekstrim, sekitar dua tahun lalu, hingga jarang bagi dividen. Kinerja riil AISA, baik itu secara historis maupun terbaru, juga tidak sebagus katakanlah ICBP, KLBF, atau ROTI, padahal produknya merupakan bahan makanan pokok masyarakat.
    2. Disisi lain Pemerintah juga baru saja menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras, baik itu beras biasa maupun beras premium, pada level Rp9,000 per kg, atau jauh dibawah harga jual beras milik PT Indo Beras Unggul, anak usaha AISA, yang mencapai Rp20,000 per kg. Dengan kata lain kalaupun AISA pada akhirnya dinyatakan tidak bersalah atas kasusnya, tapi jika peraturan Pemerintah diatas tidak diperbaharui, maka perusahaan kedepannya tetap akan rugi besar.
    3. Kalo dari sisi valuasi sahamnya, maka PBV AISA yang kurang dari 1 kali (cuma 0.7 kali pada harga 900-an) tentu saja terbilang atraktif untuk saham yang, terlepas dari kasusnya diatas, merupakan salah satu saham consumer paling populer di bursa. Jadi dalam jangka panjang, tentunya dengan asumsi perusahaan mampu melewati kasusnya ini dengan baik, termasuk mampu menemukan solusi terkait penetapan HET diatas, maka bisa jadi ini merupakan big opportunity.

    Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustusmendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

    Ebook Analisis Kuartal II 2017

    Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal II 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

    Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
    1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
    2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
    3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
    4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
    5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
    Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, 7 Agustus 2017. Anda bisa memesannya dengan cara preorder disini (tersedia diskon bagi pelanggan jangka panjang).
    Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya), klik untuk memperbesar.

    Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
    Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa klik disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/WA 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
    Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
    TESTIMONIAL paling gokil
    Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
    Widya Olivia – Jakarta
    TESTIMONIAL paling jujur
    Terima kasih pak Teguh untuk sarannya. Maaf, saya belajar pak, fundamental dan tehnik analisis walau masih sekulit. Untuk trading model tehnik analisis kayanya ga cocok sama sekali, ga ada waktu nongkrongin computer terus2an. Jadi saya lebih baik mempelajari saham2 pilihan pak Teguh saja. Dan dari pertengahan bulan kemarin, hasilnya sangat baik.

    Terima kasih pak Teguh.
    Cynthia Santoso – [...]

    Cara Average Down & Average Up

    Melanjutkan artikel minggu kemarin berjudul ‘Kenapa Saham Murah Masih Turun?’ (ini link-nya, kalau belum baca sebaiknya baca dulu), ada satu pertanyaan bagus: ‘Seperti yang sudah dijelaskan di artikelnya, ketika kita membeli saham bagus pada harga murah, maka bukan berarti saham tersebut akan langsung naik, melainkan bisa saja naiknya lama kemudian, atau malah justru turun dulu. Pertanyaannya, kalau dia turun dan saya hendak average down, maka bagaimana strateginya? Sebaliknya kalau sahamnya langsung naik tak lama setelah saya membelinya, padahal saya baru beli sedikit, maka bagaimana strateginya kalau saya mau average up?

    Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, pertama-tama kita sepakati dulu, apa itu yang dimaksud dengan average down. Average down adalah jika kita membeli lagi saham yang sama pada harga yang lebih rendah. Misalnya kita beli saham A pada harga 1,000 sebanyak 100 lot. Kemudian alih-alih naik, saham A justru turun 10% ke 900. Tapi setelah kita pelajari/analisa sahamnya sekali lagi, kesimpulannya adalah tidak ada peristiwa penting/perubahan fundamental apapun terkait perusahaan, sehingga kita beli lagi saham A pada harga 900 tersebut, juga sebanyak 100 lot. Jadi sekarang kita memegang 200 lot saham A pada harga rata-rata 950. Karena harga rata-ratanya jadi lebih rendah dibanding sebelumnya (tadinya 1,000, kemudian menjadi 950), maka keputusan untuk membeli lagi saham A pada harga 900, itu disebut averaging down.
    Sementara average up adalah sebaliknya: Kita beli saham A pada harga 1,000 sebanyak 100 lot, dan saham A kemudian naik ke katakanlah 1,100, dimana setelah kita analisa sekali lagi, kesimpulannya adalah bahwa saham A masih bisa naik lebih tinggi lagi. Karena itulah kita kemudian beli lagi saham A pada harga 1,100, juga sebanyak 100 lot, sehingga kita sekarang harga rata-ratanya naik menjadi 1,050. Jadi keputusan untuk membeli lagi saham A pada harga 1,100, itu disebut averaging up.
    Banyak orang salah kaprah soal average down. Contohnya, ada yang mengatakan bahwa kalau ada saham bagus harganya turun (sehingga kalau kita sudah memegangnya, maka posisinya jadi nyangkut), maka gak apa-apa beli lagi aja. Padahal sebanyak apapun dana cash yang kita miliki, tapi kalau kita terus menerus membeli saham yang sama, maka dana tersebut akan habis juga, dan kita akan terjebak pada situasi dimana sebagian besar portofolio ditempatkan hanya pada satu saham (udah gitu posisinya nyangkut), sehingga kita gak punya dana lagi untuk membeli saham lain. Selain itu, bisa jadi pula satu saham yang dibeli lagi secara terus menerus tadi ternyata tidak juga naik setelah sekian lama, atau malah lanjut turun terus, hingga si investor akan sampai pada satu titik dimana mau cut loss pun sudah nggak bisa, karena nilai kerugiannya sudah kelewat besar (dan kalau seorang investor sudah sampai pada titik ini, artinya game over sudah).
    Investor’s worst nightmare: Udah average down berkali-kali, tapi tetep aja sahamnya turun terus
    Demikian pula dengan average up. Banyak orang yang ketika melihat sahamnya naik, maka dia langsung beli lagi, dan beli lagi, karena berharap kenaikannya akan berlanjut. Problemnya adalah, saham sebagus dan semurah apapun tentu saja tidak akan naik terus setiap hari, melainkan pasti ada turunnya, dimana kalau kita membeli saham tersebut secara asal-asalan sehingga average-nya menjadi kelewat tinggi, maka posisi anda bisa saja malah jadi rugi/nyangkut bahkan meski sahamnya baru turun sedikit/belum sampai balik lagi ke harga awal ketika kita membelinya pertama kali. Contohnya? Well, masih ingat ketika Indika Energy (INDY) tiba-tiba saja naik banyak hingga tembus 1,200-an, beberapa bulan lalu?
    Strategi Average Down/Up
    Okay, jadi bagaimana strateginya kalau kita mau beli lagi/tambah posisi di saham yang sama, entah itu average down, di harga yang sama, atau average up? Okay, kita langsung ambil contoh riil-nya saja yap. Tapi sebelum itu terdapat setidaknya tiga peraturan yang harus senantiasa anda ingat dan anda terapkan. Pertama, setelah anda memutuskan saham apa yang akan dibeli, misalnya saham A, maka tentukan berapa maksimal dana yang akan anda alokasikan untuk saham A tersebut. Seperti yang sudah penulis jelaskan di salah satu artikel di blog ini, idealnya kita menempatkan 10 – 15% dari total nilai portofolio pada satu saham tertentu, atau maksimal 20%. Jadi jika nilai porto anda adalah Rp100 juta, maka anda harus putuskan, maksimalnya berapa dari jumlah tersebut yang akan anda pakai untuk membeli saham A, apakah Rp10 juta, 15 juta, atau Rp20 juta. Ini untuk mencegah kita menempatkan terlalu banyak dana hanya pada satu saham.
    Kedua, karena kita tidak bisa secara persis memprediksi bahwa sebuah saham bisa turun sampai berapa, maka sangat penting untuk membeli saham yang sudah kita pilih secara bertahap alias menyicil. Kalau penulis sendiri, biasanya saya membagi dana yang sudah dialokasikan menjadi dua atau tiga bagian. Misalnya kita mau beli saham A senilai maksimal Rp10 juta, maka kita bisa beli sebanyak Rp3 juta dulu, atau Rp5 juta. Jadi kalau sahamnya turun lagi, maka kita masih punya ‘amunisi’ buat average down. Sangat jarang, kalau tidak mau dikatakan tidak pernah, saya membeli satu saham secara sekaligus dalam jumlah besar, tak peduli seyakin apapun penulis terhadap prospek saham tersebut. Dan ketiga, setiap kali kita hendak membeli lagi saham A, maka lakukan analisa ulang, misalnya dengan melihat lagi chartnya lalu dikaitkan dengan pergerakan IHSG, baca-baca info dan berita terbaru terkait perusahaan (jika ada, karena seringkali suatu saham turun sendiri meski tidak ada berita/sentimen negatif apapun), termasuk cek lagi analisa saham A sejak awal, dimana kalau saham A turun terlalu dalam dari harga belinya maka bisa jadi sejak awal kita salah memilih saham, atau pilihan sahamnya sudah benar tapi salah di harga belinya. Intinya jangan langsung average down hanya karena sahamnya sudah turun 5%, 10%, melainkan selalu lakukan cek ulang sebelum kita beli lagi saham A tadi.
    Nah, sekarang kita ke contoh riil-nya. Misalnya setelah mengerjakan analisa yang hati-hati, pada Juli 2016 lalu anda menyimpulkan bahwa Medco Energi Internasional (MEDC) itu layak invest, dimana best buy-nya adalah 1,500 (ketika itu MEDC masih 1,700), dan kita menyiapkan dana sebesar katakanlah Rp15 juta. Analisis MEDC coba baca dulu disini. Sebulan kemudian, yakni pada Agustus 2016, MEDC ternyata beneran turun sampai 1,500, dan ketika itulah kita masuk secara menyicil, katakanlah sebanyak Rp5 juta dulu.
    Kemudian MEDC lanjut turun sampai 1,400, dan pada titik inilah kita cek lagi: Apakah MEDC ini secara fundamental dll masih oke seperti analisa sebelumnya? Jika ternyata ada peristiwa penting tertentu, misalnya akuisisi MEDC terhadap Newmont batal, maka jangan average down, melainkan justru harus segera cut loss. Namun karena ketika itu gak ada peristiwa apapun, maka kita kemudian beli lagi MEDC di harga 1,400, juga sebanyak Rp5 juta.
    Tapi ternyata MEDC kembali lanjut turun sampai 1,300, atau sudah turun 13% dari 1,500. Nah, berdasarkan pengalaman, meski memang kita tidak bisa memprediksi sebuah saham persisnya bisa turun sampai harga berapa, tapi dengan catatan kita bisa mem-valuasi dengan akurat bahwa bahwa saham A itu murahnya di harga sekian, maka kalaupun dia kemudian turun lebih lanjut dari harga yang kita anggap sudah murah tadi, tapi penurunannya tidak akan terlalu dalam/maksimalnya sekitar 20% (namun berbeda ketika kita menentukan bahwa saham A mahalnya di harga sekian, dimana berdasarkan pengalaman, kadang-kadang saham A justru naik hingga jauh diatas harga yang kita anggap mahal tersebut).
    Jadi jika saham yang kita beli turun hingga 20% atau lebih dibanding harga belinya, padahal IHSG-nya masih baik-baik saja, maka terdapat tiga kemungkinan: 1. Gak ada apa-apa, memang sahamnya lagi sepi/belum dapet giliran untuk naik aja, 2. Terdapat perubahan fundamental, force majeure atau semacamnya, 3. Sejak awal kita belinya di harga yang salah/mahal. Nah, jika kemungkinan pertama yang terjadi, maka sahamnya hold saja, tapi jika kita sudah menggunakan maksimal dana yang dialokasikan maka jangan average down lagi. Tapi jika kemungkinan kedua dan ketiga yang terjadi, maka harus siap-siap cut loss (tapi kerugiannya tidak akan terlalu besar karena kita baru memegang MEDC dalam jumlah sedikit).
    Namun untungnya pada kasus MEDC, tidak ada perubahan fundamental apapun. Dan memang meski sahamnya sempat turun terus, tapi penurunannya akhirnya mentok di 1,230 (minus 18% dari 1,500, jadi gak sampai tembus batas 20% tadi), sebelum akhirnya naik lagi. So let say kita sudah beli MEDC sebanyak tiga kali pada harga 1,500, 1,400, dan 1,300, maka average-nya jadi 1,400. Sehingga ketika MEDC kemudian balik lagi ke 1,500 saja, posisinya udah cuan. Dan ketika akhirnya MEDC mulai melaju kencang pada awal tahun 2017, maka keuntungan yang anda peroleh jadi lebih besar dari sebelumnya, karena rata-rata harga belinya bukan lagi di 1,500, melainkan lebih rendah di 1,400.
    Itu kalau average down. Kalau average up bagaimana? Okay, misalnya kita beli MEDC, juga sebanyak Rp5 juta pada harga 1,500, tapi belinya pada awal tahun 2017 dimana sahamnya langsung naik ke katakanlah 1,600, dimana setelah anda cek lagi (entah itu anda mau average down/up, jangan lupa untuk cek ulang dulu!), MEDC memang masih on track untuk naik lebih lanjut, selain karena harga 1,600 tadi masih belum bisa disebut mahal. Maka anda boleh beli lagi/average up pada harga 1,600 tersebut, dan anda boleh beli lagi hingga MEDC naik maksimal 20% dari harga ketika anda membelinya untuk pertama kali (dari 1,500 tadi).
    Dengan kata lain, kalau MEDC sudah naik sampai diatas 1,800, padahal anda baru membelinya dua kali masing-masing senilai Rp5 juta (jadi totalnya Rp10 juta), sedangkan anda menyiapkan dana Rp15 juta untuk membeli MEDC, maka kecuali dalam beberapa waktu berikutnya MEDC turun lagi sampai dibawah 1,800 tadi, sisa dana yang Rp5 juta tadi sebaiknya dipakai buat beli saham lain saja. Ini adalah untuk mencegah kita melakukan average up pada harga yang terlalu tinggi, yang bisa berakibat pada kerugian/nyangkut kalau MEDC sewaktu-waktu kemudian turun lagi. Lalu kenapa 20%? Karena berdasarkan pengalaman, kalau sebuah saham naiknya sudah diatas 20% maka akan rawan profit taking, overbought, atau apapun itu namanya, yang bisa menyebabkan saham tersebut untuk turun lagi bahkan meski valuasinya masih murah. Actually, beberapa saham kadang-kadang bisa naik hingga puluhan atau bahkan lebih dari seratus persen dalam waktu singkat, sebelum kemudian baru turun lagi, jadi batas 20% tadi mungkin tidaklah relevan. Tapi intinya kalau anda melihat/menganggap bahwa saham yang anda beli naiknya terlalu tinggi dan dalam waktu yang terlalu singkat, maka kalaupun anda mau hold saja (istilahnya let the profit run), maka jangan juga tambah posisi/average up, karena itu, sekali lagi, bisa membuat posisi anda berbalik dari cuan besar menjadi rugi besar.

    (Hanya memang, kalau anda membeli saham tertentu untuk tujuan investasi jangka panjang hingga 3 – 5 tahun atau lebih lama lagi, dimana anda secara rutin membeli lagi/tambah posisi di saham tersebut setiap beberapa waktu sekali (misalnya karena anda menyetor dana lagi ke sekuritas), maka tidak apa-apa jika harga belinya jauh diatas harga ketika anda membeli saham tersebut pertama kali, selama valuasinya, berdasarkan kinerja fundamental terbaru perusahaan, masih murah. Penjelasannya baca lagi disini).

    Dengan demikian, entah itu saham anda naik atau turun setelah anda membelinya, maka sekarang anda tahu apa yang harus dilakukan. Yang juga perlu dicatat, dalam value investing, target harga/harga yang dianggap mahal untuk suatu saham biasanya jauh diatas harga belinya, katakanlah dengan kenaikan 50%, 75%, 100%, atau lebih tinggi lagi (misalnya MEDC tadi, best buy-nya 1,500, best sell-nya sekitar 2,500, berarti potensi upside-nya 60 – 70%), meski juga jangan harap sahamnya bakal naik setinggi itu dalam 2 – 3 hari (sabar!). Jadi, meski memang seorang value investor selalu berusaha untuk membeli saham bagus pada harga serendah mungkin, sehingga kita lebih suka average down ketimbang up, tapi kita sewaktu-waktu boleh average up juga, selama saham yang kita beli masih belum naik banyak/masih jauh dari perkiraan harga mahalnya.
    Okay, ada pertanyaan? Buat temen-temen yang udah baca blog ini sejak tahun 2010, 2011, dan 2012, tolong bantu jawab yap :) Untuk minggu depan, kecuali kalau ada topik lain yang lebih menarik, kita akan membahas analisa salah satu saham properti.

    Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memesannya dengan cara preorder disini.


    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram