Archives

Powered by CMS Forex
free counters

PGAS, dan Rencana Penurunan Harga Gas

Hingga hari ini, Kamis, 10 Agustus, Perusahaan Gas Negara (PGAS) masih belum merilis laporan keuangan Kuartal II 2017 dikarenakan adanya limited review. Namun jika kita melihat kinerja perusahaan di Kuartal I, dimana labanya masih turun tipis 3.8%, maka PGAS merupakan satu dari dua perusahaan besar di BEI (satunya lagi SMGR) yang kinerjanya masih belum pulih sejak Indonesia mengalami titik terendah perlambatan ekonominya pada tahun 2015 lalu. Dilihat dari sini saja maka wajar jika dalam dua tahun terakhir, saham PGAS ketinggalan jauh dibanding saham-saham blue chip lainnya. Namun demikian kinerja PGAS sebenarnya tidak seburuk itu juga, dan perusahaan tidak memiliki problem spesifik terkait operasional, GCG, maupun industri gas itu sendiri.

Dengan kata lain, kalau kita berpandangan jauh kedepan, maka tetap terdapat ekspektasi atau harapan bahwa kinerja PGAS pada akhirnya nanti akan kembali bertumbuh, terutama karena PGAS memiliki track record sebagai sebagai salah satu perusahaan paling profitable dan konsisten di BEI (atau setidaknya di masa lalu). Dan keberadaan harapan ini menyebabkan saham PGAS, meski memang tidak akan naik dulu dalam waktu dekat ini, tapi juga tidak akan turun terlalu dalam. Contoh lainnya dari ‘pengaruh faktor harapan terhadap harga saham’ ini adalah Astra International (ASII), dimana meski kinerja perusahaan sempat stagnan cukup lama antara tahun 2012 – 2016, namun selama periode waktu tersebut para investor tidak pernah menghargai ASII pada valuasi yang terlalu rendah, dimana bahkan ketika terjadi panic selling pada Agustus – September 2015 lalu, ASII hanya turun hingga level 5,000-an, yang mencerminkan PBV 2.0 kali (berdasarkan ekuitas perusahaan ketika itu), alias masih relatif tinggi bahkan jika dibandingkan dengan sesama saham blue chip. And indeed, memasuki tahun 2017 ini kinerja ASII akhirnya kembali tumbuh signifikan.
However, contoh keberadaan ‘faktor harapan’ pada saham ASII diatas hanya berlaku untuk saham dari perusahaan dengan reputasi, kualitas brand, dan track record kinerja dalam jangka panjang yang amat sangat baik, sehingga kepercayaan investor tetap tidak luntur bahkan meski perusahan mengalami penurunan kinerja pada satu atau dua tahun tertentu. Namun untuk perusahaan-perusahaan lainnya dengan kriteria yang tidak sebaik itu, maka penurunan kinerja sedikit saja bisa langsung menyebabkan sahamnya jatuh. Contohnya? Well, Lippo Cikarang (LPCK). Ketika perusahaan membukukan kinerja yang sangat baik antara tahun 2011 – 2015, maka selama itu pula sahamnya terus naik hingga sempat tembus 12,000. Tapi begitu kinerjanya mulai turun pada tahun 2015, dan penurunan tersebut masih berlanjut sampai sekarang, maka tanpa ampun sahamnya anjlok hingga sempat menyentuh 4,000, beberapa waktu lalu, dimana PBV LPCK pada harga terendahnya tersebut hanya 0.5 kali, atau jauh dibawah PBV terendah yang pernah dicapai ASII diatas. Perbedaan valuasi yang signifikan antara ASII dan LPCK ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar berpikir, ‘Untuk ASII, saya percaya bahwa stagnan-nya kinerja perusahaan hanyalah sementara. Pada akhirnya ASII bakal profit lagi, dan nilai intrinsik perusahaan masih jauh diatas harga sahamnya saat ini. Namun untuk LPCK, saya tidak punya gambaran tentang bagaimana kinerja perusahaan di masa yang akan datang, jadi kenapa ambil risiko dengan membeli sahamnya pada harga yang masih lebih tinggi dibanding nilai bukunya?’
Lalu bagaimana dengan PGAS? Nah, dalam hal likuiditas saham, reputasi perusahaan, serta track recordkinerja, maka PGAS tidak kalah dibanding ASII, dimana dengan melihat kinerja perusahaan di masa lalu maka PGAS tetap memiliki harapan untuk kembali membukukan kinerja yang bertumbuh di masa yang akan datang, dan soal ini juga sudah kita sampaikan diatas. However, dalam hal brand alias merk, maka PGAS kalah jauh dibanding ASII, dimana PGAS tidak memiliki merk-merk terkenal seperti ‘Toyota Avanza’, ‘Motor Honda’, atau ‘Komatsu’. PGAS juga kalah populer dibanding sister company-nya, Pertamina. Maksud penulis adalah, kalau anda survey ke tetangga sebelah rumah yang bukan investor saham, maka mereka tentu familiar dengan nama ‘Astra’ atau ‘Pertamina’, tapi mereka mungkin tidak tahu dengan nama PGN.
Karena itulah, valuasi terendah bagi PGAS tidak bisa disamakan dengan ASII, tapi juga tidak bisa disamakan dengan LPCK, melainkan normalnya di tengah-tengahnya. Lalu persisnya di berapa? Well, dalam hal ini kita bisa pakai contoh saham blue chip lainnya lagi: Bank BNI (BBNI). Pada awal tahun 2016 lalu, tepatnya ketika ramai cerita pembatasan NIM perbankan yang kemudian menjadi sentimen negatif bagi saham-saham big caps di sektor banking, maka BBNI ketika itu drop sampai mentok di 4,000, dimana PBV-nya tercatat 1.0 kali, tapi dia cuma sebentar berada di level harga tersebut dan langsung naik lagi. Nah, kalau kita lihat lagi BBNI ketika itu, maka situasinya juga mirip dengan PGAS sekarang ini: Kinerjanya masih belum begitu bagus, brand-nya tidak terlalu populer terutama jika dibandingkan tiga bank besar lainnya (BBCA, BBRI, BMRI), dan sahamnya sedang diliputi sentimen negatif yang sangat kuat, yakni soal pembatasan NIM tadi, namun demikian perusahaan memiliki track record kinerja yang sangat baik di masa lalu, sehingga terdapat ekspektasi bahwa cepat atau lambat kinerja BBNI akan bagus lagi.
Jadi seandainya salah satu faktor diatas dihilangkan, misalnya ketika sentimen negatif terkait NIM tadi menguap/dilupakan orang dengan sendirinya, maka BBNI juga akan naik lagi ke posisi normalnya ketika itu yakni sekitar 5,000-an, dimana PBV-nya (berdasarkan ekuitasnya saat itu) adalah 1.2 – 1.4 kali.
Okay, balik lagi ke PGAS. Sejak tahun 2015 lalu, maka pada kondisi pasar yang normal dan tidak ada sentimen negatif, berapa harga rata-rata PGAS? Sekitar 2,400 – 2,700. Dan berapa PBV PGAS pada harga tersebut? Sekitar 1.3 – 1.5 kali, alias tidak jauh berbeda dengan PBV BBNI diatas. Dan berkaca pada BBNI, dimana meski sahamnya turun ketika ada sentimen negatif namun pada akhirnya naik lagi, maka demikian pula dengan PGAS, dimana sejak tahun 2015 lalu sahamnya sempat beberapa kali drop sampai dibawah 2,400, entah itu karena IHSG-nya lagi turun atau sedang ada sentimen negatif, namun pada akhirnya naik lagi. Disisi lain, pada pertengahan tahun 2016 lalu ketika pasar sedang ramai sentimen tax amnesty yang menyebabkan investor asing ramai-ramai belanja saham di mari, maka salah satu saham yang paling banyak diborong asing adalah PGAS ini, dimana sahamnya sempat melompat dari 2,300-an hingga tembus 3,400 (however, setelah sentimen TA mereda, maka PGAS juga segera balik kandang lagi ke 2,400 – 2,700, mengingat kinerjanya sampai sekarang masih gitu-gitu aja).
Harga Gas Akan Diturunkan?
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, dalam beberapa kesempatan penulis selalu mengatakan bahwa kalau nanti PGAS turun sampai PBV-nya hanya 1.0 – 1.2 kali, alias kisaran harganya sekarang ini (2,200-an), maka kita mungkin punya peluang jangka pendek disini. Namun, juga tidak akan semudah itu untuk masuk ke PGAS pada harga rendah seperti sekarang, karena setiap kali PGAS turun maka pasti ada saja cerita negatif tertentuyang bikin orang-orang jadi ragu untuk masuk. Jadi sama saja seperti ketika satu setengah tahun yang lalu BBNI jatuh ke 4,000-an, dimana meski logika sederhananya adalah itu merupakan big opportunity, tapi tidak semua orang cukup berani untuk masuk, karena ketika itu cerita pembatasan NIM masih dibicarakan dimana-mana, bahkan khusus untuk BBNI ini juga muncul cerita tambahan tentang kredit macetnya di Trikomsel Oke (TRIO) senilai Rp1 trilyun! (yang sebenarnya merupakan cerita lama yang sudah basi, tapi ceritanya muncul lagi setelah BBNI ketika itu turun cukup dalam hingga menyentuh panic level-nya).
Tapi yah, berapa BBNI sekarang??
Balik lagi ke PGAS. Dan untuk kali ini, cerita negatif tersebut adalah terkait berita wacana Kementerian ESDM untuk menerbitkan peraturan menteri (Permen) untuk perusahaan-perusahaan distributor gas, yang pada intinya: 1. Margin penjualan gas dibatasi maksimal 7%, 2. Tingkat internal rate return (IRR)dari bisnis pipa gas maksimal 11% per tahun. Sekilas peraturan tersebut, kalau nanti jadi di-sah-kan, akan menyebabkan laba bersih PGAS, yang memang sudah mini sejak tahun 2015 lalu, bakal jadi lebih mini lagi.
Tapi sayangnya belum ada penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dengan ‘margin’ dan ‘IRR’ diatas, serta bagaimana mekanisme pelaksanaannya di lapangan, termasuk belum ada klarifikasi apapun dari manajemen PGAS terkait berita tersebut. However, dalam hal ini ada beberapa hal yang penulis perhatikan. Pertama, cerita soal pembatasan margin diatas, yang kemudian diterjemahkan sebagai ‘harga jual gas akan turun’, itu sebenarnya bukan cerita baru, karena sudah sejak awal tahun 2015 lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa dalam rangka mendorong kemajuan industri dalam negeri, maka harga gas harus turun (waktunya hampir bersamaan dengan ketika beliau mengatakan bahwa harga semen akan diturunkan Rp1,000 per sak. Inget nggak?). Namun sampai hari ini belum ada peraturan baru dari pemerintah yang secara spesifik mengatur harga jual gas.
Kedua, Permen diatas masih sebatas wacana, dimana pengesahannya masih menunggu diskusi lanjutan antara Kementerian ESDM dengan PGAS, Pertagas, hingga INGTA (Indonesia Natural Gas Trader Association). Jadi masih ada kemungkinan bahwa Permen yang nanti diterbitkan, itupun kalau Permen tersebut jadi diterbitkan, maka isinya tidak akan persis sama dengan yang diwacanakan. Ketiga, penulis masih belum ‘ngeh dengan istilah ‘margin’ diatas, namun kalau maksudnya adalah margin laba bersih dari perusahaan distributor gas dibanding nilai pendapatannya, maka khusus untuk PGAS, margin tersebut memang sudah turun menjadi hanya 10% pada tahun 2016, dibanding rata-rata 20% pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi kalaupun margin tersebut harus turun lagi menjadi hanya 7%, maka pengaruhnya tidak akan terlalu terasa, dan laba bersih PGAS tetap bisa naik selama omzet/pendapatannya naik. Pemerintah sendiri, dalam hal ini Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, menyatakan akan mendorong pembangunan infrastruktur pipa gas, dan memang jaringan pipa gas milik PGAS sendiri bertambah 252 km atau 3.6% sepanjang Kuartal I 2017 kemarin, menjadi total 7,278 km, dan PGAS sampai sekarang masih terus membangun jaringan pipa-pipa baru.
Peta rencana pengembangan jaringan distribusi gas milik PGAS hingga tahun 2018. Klik gambar untuk memperbesar

Keempat, diluar berinvestasi pada jaringan pipa gas baru, PGAS sejak beberapa tahun lalu juga sudah berinvestasi ke sektor hulu dengan mengakuisisi kepemilikan di beberapa ladang migas, dan pada tahun 2017 ini hasilnya mulai kelihatan, dimana pada Kuartal I 2017, PGAS membukukan pendapatan US$ 100 juta dari eksplorasi dan produksi migas, dibanding hanya US$ 57 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Nah, kecuali kalau nanti Pemerintah mewacanakan peraturan lainnya lagi, maka margin untuk bisnis produksi migas ini tidak dibatasi, sehingga margin PGAS secara keseluruhan bisa tetap maksimal terutama jika perusahaan mampu mengoptimalkan kinerja di segmen produksi migas ini.
Dan kelima, sekaligus yang paling penting, sebagai salah satu saham big caps di BEI, maka PGAS ini sering sekali muncul di pemberitaan, dimana pada satu hari beritanya bisa bagus, tapi besoknya ceritanya bisa beda lagi. Actually dalam sebulanan terakhir ini saja, maka selain berita wacana Permen diatas, juga muncul setidaknya dua berita lainnya yakni bahwa PGAS akan investasi capex US$ 200 juta, dan bahwa anak usaha PGAS akan mengambil pinjaman senilai US$ 300 juta. Maksud penulis adalah, karena sekarang ini PGAS lagi turun, maka sangat wajar jika berita yang muncul ke permukaan adalah soal Permen tadi. Sekarang anda bayangkan kalau seorang broker saham, ketika ditelpon sama nasabahnya, ‘Mas, kenapa ini PGAS turun?’, kemudian dia menjawab, ‘Soalnya PGAS mau investasi capex US$ 200 juta pak’. Gak nyambung bukan? Penjelasan soal ini bisa dibaca lagi di artikel ini: Dari Mana Asalnya Sentimen Negatif?
Tapi bagaimana kalau nanti PGAS naik lagi? Maka tentu, cerita yang keluar bakal beda lagi, dan mungkin cerita Permen diatas malah menghilang begitu saja.
Jadi kesimpulannya, penulis tetap melihat PGAS, pada harganya sekarang, sebagai opportunity. Berdasarkan catatan penulis sendiri, ini sama sekali bukan kali pertama saham PGAS turun karena cerita negatif tertentu. Pada Januari 2007, PGAS pernah bablas 23% dalam sehari setelah keluar berita bahwa manajemen terlambat dalam mengkomersialkan salah satu pipa transmisinya yang baru selesai dibangun. Pada tahun 2011, PGAS sempat turun berkepanjangan hingga total 50% di bulan September (selain karena memang IHSG di bulan September 2011 tersebut juga sedang drop), setelah perusahaan dikabarkan kesulitan memperoleh pasokan gas dari produsen. Pada November 2013, PGAS turun karena berita tentang open access, dimana PGAS ‘dipaksa’ oleh Pemerintah untuk mengizinkan distributor gas lain untuk menggunakan pipa transmisi milik mereka. Terakhir pada April 2015 lalu, PGAS kembali turun setelah diserang serangkaian sentimen negatif termasuk bahwa perusahaan dipaksa untuk bergabung kedalam holding energi pimpinan Pertamina.
Dan seperti halnya cerita-cerita diatas pada akhirnya menguap dengan sendirinya, maka untuk kali inipun penulis percaya bahwa sentimen negatif diatas juga akan menguap seiring waktu. At the end, yang orang lihat itu adalah kinerja fundamental PGAS, dalam hal ini laporan keuangan terbaru perusahaan. Jadi selama LK PGAS tidak terlalu berubah dibanding Kuartal I kemarin, maka kita akan kembali melihat PGAS berada di posisi harga yang seharusnya (baca lagi contoh ASII, LPCK, dan BBNI diatas).
Hanya saja kalau anda tertarik masuk ke PGAS ini, maka masih ada sedikit catatan lagi. Pertama, PGAS kemarin turun sampai menyentuh 2,120, yang merupakan posisi terendahnya dalam lima tahun terakhir, atau lebih lama lagi. Dan itu artinya, secara teknikal PGAS mungkin masih bisa lanjut turun (karena sudah tembus support) sampai nanti ketemu bottom barunya di berapa, dan barulah setelah itu PGAS bakal naik lagi (masih inget penurunan Waskita Beton (WSBP) kemarin sebelum akhirnya membal lagi? Baca lagi ceritanya disini). Sebenernya kalo secara valuasi, penulis percaya bahwa kalaupun nanti PGAS lanjut turun, maka maksimal penurunannya akan mentok di 1,800 – 2,000, itupun hanya kalau orang-orang sudah desperate sama sekali dengan saham ini, atau keluar lagi sentimen negatif baru.
Dan kedua, PGAS masih belum merilis LK-nya untuk Kuartal II, sehingga menimbulkan keragu-raguan investor tentang fundamental terbaru perusahaan, apakah masih sama seperti Kuartal I kemarin atau malah labanya turun lebih dalem lagi. Jadi mungkin akan lebih aman kalau kita wait and see dulu setidaknya sampai bulan depan (PGAS akan merilis LK-nya paling lambat 31 Agustus), sekalian melihat PGAS turunnya sampai berapa, dan bagaimana perkembangan dari wacana permen diatas. Jadi kalau anda sudah memegang PGAS sejak awal maka boleh hold, tapi jangan dulu average down.
Okay, untuk minggu depan kita akan membahas update analisis untuk sektor batubara.

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham-Saham Konstruksi: Update

Pada Desember 2016 lalu, penulis menyampaikan bahwa salah satu sektor yang mungkin bakal ‘naik panggung’ di tahun 2017 ini adalah sektor konstruksi, ketika itu dengan inti analisa sebagai berikut: 1. Saham-saham konstruksi belum naik banyak sepanjang tahun 2016, sehingga valuasinya relatif masih rendah, 2. Kinerja fundamental serta prospeknya masih bagus seiring dengan realisasi percepatan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, dan 3. Penyebab belum ‘jalannya’ saham-saham konstruksi adalah karena faktor kurang stabilnya kondisi politik nasional menjelang Pilkada DKI Jakarta ketika itu, tapi penulis termasuk yang percaya bahwa isu politik ini nantinya akan mereda dengan sendirinya. Anda bisa baca lagi analisanya disini.

However, sekarang sudah bulan Agustus, tapi bukannya naik panggung, saham-saham konstruksi justru nyungsep lebih dalam lagi, dimana ketika artikel ini ditulis, indeks saham-saham properti dan konstruksi sudah turun 5.0% sejak awal tahun, atau jauh dibawah kenaikan IHSG yang mencapai 9.6%. Sebenarnya penulis sendiri sudah merevisi analisa untuk sektor konstruksi ini sejak April 2017 lalu, yakni ketika Pilkada DKI akhirnya selesai digelar dan ternyata yang menang adalah pasangan calon Gubernur – Wagub dari kubu partai oposisi, dan bukannya partai pendukung pemerintah. Yang itu artinya, ketidak stabilan politik yang sebelumnya penulis harapkan bakal segera mereda, kemungkinan justru akan berkepanjangan. Dan memang sampai hari ini, meski pembangunan infrastruktur di lapangan sejatinya tetap berjalan lancar, namun Presiden Jokowi tampak lebih sibuk ketemu tokoh-tokoh politik tertentu ketimbang gunting pita proyek seperti biasanya. Yang terbaru, persis tanggal 1 Agustus kemarin, Presiden bersama Wakil Presiden dan beberapa pejabat negara bertemu dengan para ulama dalam acara Zikir Kebangsaan di Istana.
Dengan melihat perkembangan politik diatas, maka kalau saja perusahaan-perusahaan konstruksi kemudian melaporkan kinerja yang tidak bagus pada tahun 2017 ini, maka penulis sendiri juga bakal give up sama sekali dengan sektor konstruksi ini, karena sebagai pelaku pasar dan bukannya pengamat politik, saya tidak punya gambaran soal kapan kira-kira isu-isu politik ini akan mereda. Namun kenyataannya pada Kuartal I 2017 lalu, Waskita Karya (WSKT) dkk masih membukukan kenaikan laba yang signifikan, dan bahkan pihak manajemen justru berani menaikkan target perolehan kontrak serta laba bersih mereka untuk tahun 2017 ini. Sementara kalau melihat kenyataannya di lapangan, anda yang di Jakarta mungkin bisa melihatnya sendiri: Pembangunan MRT masih dikebut siang dan malam, dan bahkan simpang susun di Semanggi juga sudah tersambung! Anda yang di daerah juga mungkin bisa sharing tentang perkembangan pembangunan infra di kota anda masing-masing.
Ini di Jepang? Bukan. Ini di Jakarta, tepatnya di site pembangunan stasiun MRT di Bundaran HI. Klik gambar untuk memperbesar

Karena itulah, penulis kemudian tetap memasukkan saham-saham konstruksi ke dalam watchlist, apalagi di Kuartal II barusan, laba bersih emiten-emiten konstruksi masih naik signifikan, mungkin malah paling signifikan dibanding emiten big caps lainnya di BEI. Namun memang sejak April lalu penulis sudah mengatakan bahwa, dengan mempertimbangkan faktor ketidak stabilan politik diatas, maka kita harus menghargai saham-saham konstruksi pada valuasi yang lebih konservatif. Contohnya, Waskita Beton Precast (WSBP), dimana kalau mempertimbangkan kinerja riil perusahaan, prospeknya terkait pembangunan jalan tol dll, likuiditas sahamnya, hingga statusnya sebagai anak usaha dari perusahaan konstruksi terbesar di tanah air (WSKT), maka PBV 1.7 – 1.8 kali pada harga saham 500 – 550 terbilang sudah murah, karena pada tahun 2014 lalu, saham-saham konstruksi bahkan dihargai pada PBV 3 – 4 kali.

However, karena faktor politik diatas, serta fakta bahwa WSBP ini merupakan mainan baru para trader yang secara teknikal belum jelas support resisten-nya di berapa (yang artinya kalau WSBP turun sampe dibawah 500 alias new low, maka secara teknikal dia bisa lanjut turun sampai berapa saja), maka kita harus menghargai WSBP ini pada valuasi yang lebih konservatif. Seberapa konservatif? Well, berdasarkan pengalaman, angka PBV terendah bagi saham konstruksi berfundamental bagus adalah 1.4 kali, itupun dicapai ketika IHSG drop di tahun 2013, dan 2015. Jadi bukan tidak mungkin WSBP ini juga nanti akan turun sampai PBV-nya tinggal segitu, yang itu artinya best buy-nya adalah di kisaran 400 – 420. Anda bisa baca lagi ulasan lengkapnya di Ebook Kuartal I 2017.

Dan berapa posisi terendah yang dicapai WSBP ketika kemarin dia drop? Benar sekali: 416, sebelum kemudian naik lagi ke posisi sekarang (470-an). Dengan demikian analisa untuk saham-saham konstruksi ini sudah bisa di-update lagi, yakni: Bottom-nya sudah ketemu, dan untungnya kinerja fundamental para emitennya juga masih bagus seperti sebelumnya. Jadi kecuali nanti IHSG drop, kondisi politik memburuk, atau terjadi force majeure, maka no way WSBP dkk bakal turun lagi hingga ke posisi yang lebih rendah dibanding posisi terendahnya, beberapa minggu lalu. Dan bagi para bargain hunter seperti penulis, inilah momentum yang kita tunggu-tunggu. Faktor lainnya yang juga perlu diperhatikan, jika anda merupakan fund manager besar dengan dana kelolaan trilyunan Rupiah, dimana pilihan investasi yang anda miliki terbatas hanya pada saham-saham big caps, maka anda sekarang ini tidak punya banyak pilihan lain kecuali saham-saham konstruksi. Sebab kalau anda baru masuk di saham-saham big caps yang sudah naik banyak sejak tahun lalu, seperti Astra International (ASII), Bank BCA (BBCA), hingga Telkom (TLKM), maka anda mau mengharapkan mereka naik sampai berapa lagi?
Tapi kalau kita ambil Wijaya Karya (WIKA), misalnya, maka harganya sekarang cuma 2,000, atau jauh lebih rendah dibanding all time high-nya yakni 3,100, dan harga tersebut bahkan lebih rendah dari harga right issue-nya beberapa waktu lalu! Yakni Rp2,180 per saham.
Tapi kemudian bagaimana dengan outlook dari perusahaan-perusahaan konstruksi itu sendiri? Apakah laba mereka bisa naik 50 – 100% di tahun 2017 ini dan 2018 nanti, misalnya? Well, kalau berdasarkan materi public expose WSBP, 26 Juli kemarin, disitu disebutkan bahwa perolehan kontrak hingga Semester I 2017 saja, itu sudah melebihi nilai kontrak yang dikerjakan perusahaan di sepanjang tahun 2016, padahal nilai kontrak di tahun 2016 itu sendiri naik tiga kali lipat dibanding tahun 2015! Beberapa project besar yang mulai digarap WSBP sejak tahun 2017 ini (atau sejak 2016 kemarin) adalah Tol Jakarta – Cikampek Elevated, Tol Legundi – Bunder, Tol Cimanggis – Cibitung, Tol Semarang – Batang, dan yang paling baru, Tol Bogor – Sukabumi. Sementara proyek yang sudah mulai dikerjakan sejak beberapa tahun sebelumnya seperti Tol Becakayu, dan LRT Palembang, sebentar lagi bakal tuntas 100% (yang artinya perusahaan akan segera menerima pembayaran). Secara operasional, WSBP tidak memiliki kendala apapun untuk segera menyelesaikan proyek-proyeknya secara tepat waktu. Malah jika Pemerintah bisa merealisasikan kelanjutan proyek Jalan Tol Trans Sumatera sepanjang total 2,800 KM mulai tahun 2018 nanti (dari 2,800 km tersebut, yang sudah digarap baru 500 KM, yakni Tol Bakauheni – Betung), maka WSBP dkk bakal dapet tambahan proyek lagi.
Jadi dari sisi outlook, everything seems good. Kalau ada yang mengganjal adalah rencana salah satu emiten, dalam hal ini WSBP, untuk mem-buy back sahamnya hingga senilai maksimal Rp1 trilyun, dalam rangka mengembalikan harga sahamnya di market ke level yang ‘mencerminkan fundamental perusahaan’. Karena kalau menurut penulis sendiri, WSBP akan memerlukan dana tersebut untuk membiaya proyek-proyeknya. Lagian waktu tahun lalu perusahaan menggelar IPO dan meraup tambahan modal senilai Rp5.2 trilyun, maka duitnya memang buat ekspansi bukan? Jadi kenapa sebagian dari uang tersebut malah dikembalikan lagi ke investor melalui buyback saham? Namun demikian, selama perusahaan mampu menjaga momentum pertumbuhan usahanya dan mengkomunikasikan hal tersebut ke para investor, maka penulis percaya bahwa manajemen tidak akan sampai mengeluarkan dana sebesar itu untuk buyback, mungkin realisasinya cuma Rp100 – 200 milyar saja, sehingga sisanya masih banyak untuk ekspansi. Disisi lain, meski kebijakan buy back ini tentu saja tidak menjamin bahwa WSBP akan naik dalam waktu dekat, namun minimal itu akan menjaga agar sahamnya tidak drop lagi seperti beberapa minggu lalu.
Dan kalau kita menemukan saham yang risikonya sudah terbatas seperti saham-saham konstruksi ini, maka artinya satu pekerjaan rumah kita sebagai value investor sudah selesai, dan anda boleh pergi mancing atau main catur lagi seperti biasa. Untuk analisa saham-saham konstruksi secara individual akan penulis sampaikan di Ebook Kuartal II 2017 (terbit 7 Agustus), meski mungkin perlu dicatat bahwa kita tidak akan membahas semuanya (akan dipilih dua atau tiga saham konstruksi yang dianggap paling menarik).

Untuk analisis minggu depan, kita akan membahas salah satu dari AISA, atau PGAS.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Agustus 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Buku Kumpulan Analisa Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 juga sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Klarifikasi: Rivan Kurniawan, Final

Melanjutkan klarifikasi kemarin (kalo belum tau ceritanya, boleh baca lagi disini), berikut adalah email permohonan maaf yang ditulis Pak Rivan secara langsung kepada penulis:
Dear Pak Teguh Hidayat

Pertama-tama izinkan saya sekali lagi menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian pagi ini terkait investing plan. Saya mengakui saya salah dalam menyikapi informasi yang Pak Teguh sampaikan ke member Bapak, yang saya share juga ke member saya.
Secara personal, saya seorang investor yang pernah jatuh di pasar modal pada tahun 2012, dan sempat trauma mendalam selama 1 tahun. Sampai akhirnya saya menemukan blog Pak Teguh pada tahun 2013 dan dari situ saya mulai bangkit kembali. Saya banyak belajar mengenai Value Investing Pak Teguh dan dari situ saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Value Investing dari banyak sumber.
Saya dulunya meremehkan pentingnya fundamental dan hanya berdasarkan analisa teknikal saja, sehingga saya jatuh di pasar modal. Dari situ lah ketika saya berhasil bangkit, saya memiliki passion supaya bisa membantu banyak orang agar tidak perlu jatuh seperti yang saya alami.
Per 2016, saya memutuskan untuk resign dan ingin sharing dengan banyak orang mengenai pentingnya berinvestasi. Namun saya juga memiliki passion untuk mengingatkan ke banyak orang mengenai pentingnya analisa fundamental dalam berinvestasi di saham. That’s why saya terjun ke bidang ini.
Jujur beberapa kali saya ingin bertemu dengan Pak Teguh supaya bisa saling mengenal satu sama lain, namun entah kenapa saya belum berani untuk ngobrol dengan Pak Teguh. Sempat saya memberanikan diri untuk email ke Pak Teguh sewaktu awal 2017 dan menghubungi Ms Nury untuk membuat appointment bertemu dengan Pak Teguh, namun kesempatan itu belum datang.
Betul saya menjadi pembicara dalam seminar, membuat hasil riset, membuat artikel, memang itu semua untuk active income saya menghidupi keluarga. Namun di balik semua itu, saya memiliki passion untuk berbagi kepada khalayak luas mengenai pentingnya berinvestasi, dan terutama sharing my knowledge dan experience mengenai Value Investing itu sendiri.
However, I learned a lot from this experience, dan saya benar-benar minta maaf kepada Pak Teguh atas hal ini.. Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara damai apabila Pak Teguh berkenan dan saya juga berjanji agar kesalahan ini tidak terulang kembali.
Kemudian untuk tuntutan permintaan maaf secara terbuka, Pak Rivan juga sudah memenuhinya, bisa anda baca di link berikut ini (gak saya share lagi disini karena kepanjangan, sorry).
Nah, dengan demikian Pak Rivan sudah memenuhi kewajibannya, jadi sekarang giliran penulis untuk memberikan klarifikasi final, sebagai berikut:
***
Jika Pak Rivan Kurniawan copy paste tulisan-tulisan dari blog teguhhidayat.com tanpa sepengetahuan dan seizin saya, maka itu tidak masalah. Ada banyak istilah seperti ‘nilai intrinsik’, ‘margin of safety’, ‘undervalue’, dll yg merupakan istilah umum/bukan milik Teguh Hidayat, dan istilah-istilah itu boleh digunakan oleh siapa saja tanpa perlu izin apapun. Saya sendiri kalo mau bikin kelas value investing maka gak pernah minta izin terlebih dahulu dari Warren Buffett ataupun Ben Graham, sebagai penulis buku tentang value investing (lagian gimana caranya?).
Yang jadi masalah adalah, Pak Rivan copy paste secara kalimat per kalimat, bahkan kata per kata dari beberapa istilah dan tulisan spesifik yang ditulis oleh Teguh Hidayat tanpa menyebut sumbernya, seolah-olah itu merupakan tulisan Pak Rivan sendiri, yang ditulis berdasarkan ide, knowledge, expertise dan pengalaman investasi pak Rivan sendiri. Padahal penulis sendiri kalau saya mengutip tulisan milik orang lain, maka saya selalu menyebut sumbernya, dan sama sekali tidak pernah mengklaim bahwa tulisan itu adalah ide saya sendiri.
Dan ini merupakan etika dasar dalam dunia tulis menulis, dimana ada perbedaan besar antara mengutip dan menjiplak.
Tapi kalau hanya itu saja, maka saya juga tidak akan mempermasalahkannya. Malah faktanya ada cukup banyak penulis, analis saham, blogger, hingga wartawan pasar modal yang dengan mudahnya menjiplak tulisan dari teguhhidayat.com, untuk kemudian ditampilkan di blog atau website mereka, seolah-olah itu merupakan tulisan mereka sendiri. Jadi dalam hal ini, Pak Rivan tidak sendirian (meski disisi lain, ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran. Hanya karena seorang pengendara motor menerobos lampu merah di persimpangan jalan, bukan berarti anda boleh melakukan hal yang sama).
Namun ketika Pak Rivan menyalin analisa berbayar yang penulis kirim ke member buletin bulanan, untuk kemudian di-share ke membernya sendiri, maka pada titik inilah saya kira telah terjadi sesuatu yang diluar batas. Kepada para member buletin bulanan, penulis sudah kasih warning bahwa mereka tidak boleh menyebar luaskan analisa dan informasi update market yang mereka terima, tapi apa yang Pak Rivan lakukan lebih dari itu: Beliau mengambil analisa tersebut bulat-bulat, mengemas ulang sehingga seolah-olah analisa tersebut dibuat oleh beliau sendiri, lalu menjualnya untuk memperoleh keuntungan komersial! Yakni dari para member layanan analisa berbayarnya tersebut.
Dan pakai logika akal sehat manapun, tindakan diatas tidak bisa dibenarkan. Dalam hal ini yang dirugikan bukanlah penulis, melainkan para member yang menerima analisa hasil copy paste tersebut. Karena para member ini sudah membayar untuk memperoleh analisa yang berkualitas, namun yang mereka peroleh, setidaknya sebagian diantaranya, ternyata hasil jiplakan.
Jadi ketika penulis membuat klarifikasi seperti ini, maka seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, saya tidak menuntut ganti rugi apapun. Malah justru penulis memberikan kesempatan kepada Pak Rivan untuk memperbaiki kesalahannya. Karena, coba pikir: Jika Pak Rivan terus melakukan tindakannya diatas, maka cepat atau lambat para member-nya akan menyadarinya, dan bukan tidak mungkin justru mereka-lah yang akan menuntut Pak Rivan suatu hari nanti. Tapi dengan adanya klarifikasi ini, yang kemudian memaksa Pak Rivan untuk memperbaiki apa yang sudah ia lakukan, maka dengan sendirinya kemungkinan terburuk diatas tidak akan terjadi.
***
Anyway, Pak Rivan sudah meminta maaf, dan juga sudah berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, jadi dengan ini penulis anggap masalahnya sudah clear. Penulis sebelumnya juga minta maaf kepada teman-teman atas polemik yang mungkin timbul karena kejadian ini, karena terus terang saya juga tidak menginginkannya. Sebagai investor itu sendiri, penulis tidak menginginkan apapun kecuali bisa bersantai dan pergi berlibur sepanjang tahun, dan gak mau banyak pikiran apalagi sampai harus berurusan dengan orang lain. Negara ini sudah diurus Presiden, dan tiap-tiap perusahaan di BEI juga sudah dikelola direkturnya masing-masing, jadi kenapa mesti repot.
Dan kepada Pak Rivan, saya terima permintaan maafnya, dan apapun yang anda lakukan kedepannya akan saya dukung selama tidak merugikan orang lain, siapapun itu. Barusan penulis cek lagi arsip-arsip lama, dan saya baru tahu kalo Pak Rivan juga pernah hadir di salah satu kelas seminar yang penulis buat. Dan bagi penulis sendiri, jika ada seseorang yang bersedia menerobos kemacetan Jakarta untuk kemudian meluangkan waktunya seharian hanya untuk mendengar celoteh bla bla bla dari penulis tentang value investing, maka artinya orang tersebut sudah berdedikasi untuk menjadi seorang value investor itu sendiri, dimana dengan sedikit kerja keras dan tabungan pengalaman, hasilnya akan luar biasa dalam jangka panjang. So may God bless you and us all, and thank you.
Merci,
Teguh

Untuk artikel minggu depan kita akan bahas WSBP, maaf nunggu lama.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Agustus 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk [...]

Klarifikasi: Rivan Kurniawan

Sejak masih sangat belia, penulis percaya bahwa jika kita hendak sukses di suatu bidang, apapun bidang tersebut, maka pertama-tama kita harus menjadi orang yang baik, orang yang jujur, yang berbagi kebaikan dengan orang lain, yang bersedia memberikan tempat duduk di bus atau kereta untuk ibu hamil atau orang lain yang lebih membutuhkan. Dan kalaupun kita tidak bisa melakukan itu, maka paling tidak jangan berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, apalagi mengambil/memanfaatkan sesuatu yang merupakan milik/hak orang lain.

Karena itulah, ketika penulis menterjemahkan Annual Letter Berkshire Hathaway yang ditulis langsung oleh Warren Buffett (WB) buat saya baca sendiri, tapi penulis lalu berpikir bahwa hasil terjemahan ini seharusnya juga akan sangat berguna bagi investor lain, maka saya kemudian meng-share hasil terjemahan tersebut secara gratis kepada siapapun yang tertarik untuk membacanya, dan sama sekali tidak mengambil keuntungan bahkan meski pada hasil terjemahan tersebut penulis juga menambahkan beberapa tulisan milik penulis sendiri (selengkapnya baca disini). Actually, penulis bisa saja menjual hasil terjemahan tersebut, let say Rp100,000 per copy (sehingga jika ada 1,000 orang yang membelinya saja, hasilnya sudah Rp100 juta bersih), atau bahkan mengklaim bahwa itu hasil tulisan milik penulis sendiri dan bukannya hasil terjemahan annual letter-nya WB, tapi saya tidak melakukannya. Karena jika penulis melakukan itu maka artinya saya memanfaatkan karya tulis milik orang lain untuk kepentingan pribadi, termasuk juga tidak menghormati WB sebagai pemilik asli dari annual letter tersebut,padahal WB melalui tulisan-tulisannya sudah sangat berjasa terhadap karier penulis di stock market selama ini.
However, di dunia yang tidak sempurna ini, untuk sekedar menghormati karya orang lain saja, tidak semua orang mampu melakukannya.
Jadi ceritanya pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB, penulis seperti biasa mengirim email informasi update pasar ke temen-temen member buletin bulanan. Tak sampai satu jam kemudian, penulis memperoleh forward-an email yang isinya persis sama dengan email info yang penulis kirim sebelumnya, namun kata-katanya diubah sedikit sehingga seolah-olah email itu bukan dibuat oleh penulis, melainkan oleh orang lain.
Dan penulis email hasil jiplakan tersebut bernama Rivan Kurniawan, dimana ia adalah seorang analis saham dan blogger sama seperti halnya penulis, dengan alamat blog www.rivankurniawan.com. Dan seperti halnya penulis, Pak Rivan ini juga membuat produk analisa bulanan berbayar untuk para membernya, tapi rupanya ‘analisa’ yang dibuat oleh Pak Rivan itu, yang kemudian di-share ke para membernya, sebagian diantaranya merupakan hasil copy paste analisa saham milik penulis.
Penulis kemudian langsung minta klarifikasi ke yang bersangkutan, berharap memperoleh penjelasan yang masuk akal (emailnya rivan.investing@gmail.com). Dan Pak Rivan awalnya membalas sebagai berikut:
Halo Pak Teguh,
Mohon maaf sebelumnya, tadi memang saya kebetulan dapat info mengenai INDY seperti itu.. tapi saya tidak tahu kalau ternyata itu sumber nya dari Pak Teguh. Kebetulan INDY memang menjadi salah satu pegangan terbesar saya dan banyak member juga yang menanyakan, oleh karena itu saya broadcast ke member saya begitu saya dapat info tersebut.
Penulis kemudian mengecek blog www.rivankurniawan.comdan.. saya belum pernah sekaget ini sejak terakhir menyaksikan Zidane menanduk Materazzi di live Final Piala Dunia 2006. Yup, tulisan-tulisan di blog tersebut banyak sekali yang copy pasteartikel milik penulis, bahkan judul blognya pun sama: Value Investing Indonesia! Seorang teman kemudian menginfokan:
Pak Teguh, saya buka link nya Rivan Kurniawan, banyak yang ngejiplak punya bapak. Yang tulisan dia privat coaching juga sama persis dengan modul yang saya dapat pas seminar bapak waktu itu di hotel thamrin city, sama persis pak tulisannya. Padahal itu udah setahun yang lalu.
Ebook quarter outlook punya si rivan juga kalimat kalimatnya kira kira sama dengan ebook kuartalan dari bapak.
Jadi Pak Rivan ini ternyata sudah copy paste info, tulisan dan analisa milik penulis berkali-kali dan entah sejak kapan, tapi beliau tidak tahukalau info-info itu berasal dari Teguh Hidayat? Are you kidding me???
However, mungkin karena disemprot oleh orang-orang yang mengetahui hal ini, tak lama kemudian Pak Rivan kirim email lagi, kali ini mengakui kesalahannya dan minta maaf. Namun untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada temen-temen investor, maka berikut adalah beberapa hal yang bisa penulis klarifikasi:
Rivan Kurniawan (www.rivankurniawan.com) tidak ada hubungan apapun dengan Teguh Hidayat. Jika tulisan-tulisan di blognya mirip dengan tulisan di teguhhidayat.com, demikian pula jika tulisan di analisa berbayar yang ia tawarkan mirip dengan buletin bulanan dan ebook kuartalan milik penulis, maka bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan melakukan copy paste, sekali lagi, untuk kepentingan komersialnya. Demikian pula jika Pak Rivan menggelar seminar berbayar dengan materi yang mirip dengan materi kelas value investing milik penulis (hanya diubah-ubah sedikit), maka itu juga copy paste.
Namun karena yang bersangkutan sudah minta maaf, maka penulis juga sudah memaafkan dan tidak akan menempuh jalur hukum ataupun menuntut ganti rugi kepada Pak Rivan karena pelanggaran undang-undang HAKI ini, dengan catatan bahwa yang bersangkutan:
  1. Mengakui kesalahan, dan membuat pernyataan permintaan maaf secara tulus & terbuka di blognya, instagram, dan facebook, bukan ditujukan kepada penulis melainkan kepada masyarakat investor saham secara umum, terutama mereka yang pernah ikut analisa berbayar dan seminarnya Pak Rivan.
  2. Menghapus tulisan-tulisan di blognya yang merupakan hasil copy paste, sehingga hanya tersisa tulisan asli karya Pak Rivan sendiri. Kalau misalnya ada artikel yang setengah copy paste, dan setengah tulisan sendiri, maka tulis ulang artikelnya dengan menghapus bagian yang merupakan hasil copy paste tersebut. Saya lihat di blognya sebenarnya lebih banyak tulisan yang asli milik Pak Rivan sendiri ketimbang hasil copy paste, jadi seharusnya ini tidak sulit untuk dilakukan.
  3. Demikian pula untuk materi seminar, analisa berbayar dll, jika ada diantaranya yang merupakan hasil jiplakan maka ganti dengan materi yang lain, yang asli buatan Pak Rivan sendiri.
  4. Selanjutnya, kami tidak mau peristiwa ini terulang lagi. Jika dalam dua minggu kedepan masih ditemukan tulisan, analisa, atau materi seminar di blog www.rivankurniawan.comyang mirip-mirip dengan milik penulis, maka kita siap untuk melakukan somasi kedua, hingga lapor ke kepolisian (yang terakhir saya harap tidak sampai terjadi, but it depends on you).
Catatan: Pak Rivan, atau siapapun, tidak bisa mengklaim bahwa tulisan anda mirip dengan tulisan milik penulis hanya karena kebetulan, atau karena anda juga seorang value investor sama seperti halnya penulis. Karena faktanya Warren Buffett juga seorang value investor, tapi coba anda baca-baca lagi annual letter-nya, dimana tulisannya sangat berbeda dengan tulisan milik penulis, dan berbeda pula dengan tulisan dari value investor yang lain.

Terakhir, penulis juga minta maaf kepada Pak Rivan dan juga teman-teman pembaca blog ini. Tujuan penulis membuat klarifikasi ini bukanlah untuk menyalahkan atau memojokkan Pak Rivan atau siapapun, melainkan justru memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk berubah, untuk menjadi seorang investor sekaligus pribadi yang lebih baik, dan menjadi bagian dari keluarga besar pasar modal Indonesia yang lebih baik. Tidak ada seorangpun yang bisa sukses dengan cara-cara yang tidak baik, jadi better gak enak diawal namun itu memaksa kita untuk berubah, daripada membiarkan hal ini berlarut-larut hingga menimbulkan masalah yang lebih besar. Kepada Pak Rivan, dengan catatan anda mampu untuk berubah dan melakukan poin-poin diatas, maka saya pribadi percaya bahwa anda bisa berkontribusi lebih besar untuk pasar modal di tanah air, dan juga bisa menjadi seorang investor besar, suatu hari nanti.


Okay, I think that’s enough. And btw, mohon maaf sebelumnya, untuk minggu ini seharusnya penulis kasih analisa tentang AISA, properti, konstruksi, ataupun update analisa batubara (banyak banget yang request), tapi karena kejadian ini maka saya jadi gak mood buat nulis. Jadi minggu depan aja yap. Untuk Ebook Kuartal II 2017 dan Buletin Agustus 2017 tetap akan terbit sesuai jadwal mereka [...]

Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA)

Sepanjang akhir pekan kemarin gak ada pemberitaan yang lebih heboh di bursa selain cerita tentang Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), dimana perusahaan dituding telah menjual beras  yang dioplos dengan beras bersubsidi pada harga premium, sehingga dianggap merugikan masyarakat banyak, dan itu langsung berdampak negatif bagi sahamnya: Jumat kemarin AISA ditutup auto reject di level 1,205, dan pada Senin pagi ini, ketika artikel ini ditulis, dia sudah turun lagi ke level 900-an. Pertanyaannya tentu, ini peluang apa bukan??

Namun hingga pagi ini, penulis masih mengerjakan analis lengkapnya untuk AISA ini, tentunya dari sudut pandang value investing. Jadi untuk sekarang anda mungkin bisa menyampaikan analisa/pendapat anda sendiri, dalam hal ini dengan menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana analisa anda terkait kasus AISA? Dan apakah anda akan buy sahamnya?
Anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah. Sebagai bahan tambahan analisa, boleh baca lagi dua artikel lama di blog ini tentang AISA disini, dan disini.
Pernyataan resmi dari corporate secretary AISA (sejauh ini) terkait kasusnya.
Beberapa catatan penting sejauh ini:
  1. Terkait penggerebekan pabrik berasnya, jumat kemarin, beritanya memang masih simpang siur, dimana suara-suara yang menyalahkan AISA terbilang sama kencangnya dengan yang membelanya, termasuk banyak juga yang mengkaitkan masalah ini dengan politik. However, kualitas manajemen AISA sendiri sejak awal tidak terlalu baik terutama jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan consumer goods lain, dan itu bisa dilihat dari laporan keuangannya yang sering terlambat, kegagalan investasi di Golden Plantation (GOLL) yang berujung pada fluktuasi sahamnya yang ekstrim, sekitar dua tahun lalu, hingga jarang bagi dividen. Kinerja riil AISA, baik itu secara historis maupun terbaru, juga tidak sebagus katakanlah ICBP, KLBF, atau ROTI, padahal produknya merupakan bahan makanan pokok masyarakat.
  2. Disisi lain Pemerintah juga baru saja menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras, baik itu beras biasa maupun beras premium, pada level Rp9,000 per kg, atau jauh dibawah harga jual beras milik PT Indo Beras Unggul, anak usaha AISA, yang mencapai Rp20,000 per kg. Dengan kata lain kalaupun AISA pada akhirnya dinyatakan tidak bersalah atas kasusnya, tapi jika peraturan Pemerintah diatas tidak diperbaharui, maka perusahaan kedepannya tetap akan rugi besar.
  3. Kalo dari sisi valuasi sahamnya, maka PBV AISA yang kurang dari 1 kali (cuma 0.7 kali pada harga 900-an) tentu saja terbilang atraktif untuk saham yang, terlepas dari kasusnya diatas, merupakan salah satu saham consumer paling populer di bursa. Jadi dalam jangka panjang, tentunya dengan asumsi perusahaan mampu melewati kasusnya ini dengan baik, termasuk mampu menemukan solusi terkait penetapan HET diatas, maka bisa jadi ini merupakan big opportunity.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustusmendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Ebook Analisis Kuartal II 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal II 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, 7 Agustus 2017. Anda bisa memesannya dengan cara preorder disini (tersedia diskon bagi pelanggan jangka panjang).
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya), klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa klik disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/WA 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL paling gokil
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – Jakarta
TESTIMONIAL paling jujur
Terima kasih pak Teguh untuk sarannya. Maaf, saya belajar pak, fundamental dan tehnik analisis walau masih sekulit. Untuk trading model tehnik analisis kayanya ga cocok sama sekali, ga ada waktu nongkrongin computer terus2an. Jadi saya lebih baik mempelajari saham2 pilihan pak Teguh saja. Dan dari pertengahan bulan kemarin, hasilnya sangat baik.

Terima kasih pak Teguh.
Cynthia Santoso – [...]

Cara Average Down & Average Up

Melanjutkan artikel minggu kemarin berjudul ‘Kenapa Saham Murah Masih Turun?’ (ini link-nya, kalau belum baca sebaiknya baca dulu), ada satu pertanyaan bagus: ‘Seperti yang sudah dijelaskan di artikelnya, ketika kita membeli saham bagus pada harga murah, maka bukan berarti saham tersebut akan langsung naik, melainkan bisa saja naiknya lama kemudian, atau malah justru turun dulu. Pertanyaannya, kalau dia turun dan saya hendak average down, maka bagaimana strateginya? Sebaliknya kalau sahamnya langsung naik tak lama setelah saya membelinya, padahal saya baru beli sedikit, maka bagaimana strateginya kalau saya mau average up?

Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, pertama-tama kita sepakati dulu, apa itu yang dimaksud dengan average down. Average down adalah jika kita membeli lagi saham yang sama pada harga yang lebih rendah. Misalnya kita beli saham A pada harga 1,000 sebanyak 100 lot. Kemudian alih-alih naik, saham A justru turun 10% ke 900. Tapi setelah kita pelajari/analisa sahamnya sekali lagi, kesimpulannya adalah tidak ada peristiwa penting/perubahan fundamental apapun terkait perusahaan, sehingga kita beli lagi saham A pada harga 900 tersebut, juga sebanyak 100 lot. Jadi sekarang kita memegang 200 lot saham A pada harga rata-rata 950. Karena harga rata-ratanya jadi lebih rendah dibanding sebelumnya (tadinya 1,000, kemudian menjadi 950), maka keputusan untuk membeli lagi saham A pada harga 900, itu disebut averaging down.
Sementara average up adalah sebaliknya: Kita beli saham A pada harga 1,000 sebanyak 100 lot, dan saham A kemudian naik ke katakanlah 1,100, dimana setelah kita analisa sekali lagi, kesimpulannya adalah bahwa saham A masih bisa naik lebih tinggi lagi. Karena itulah kita kemudian beli lagi saham A pada harga 1,100, juga sebanyak 100 lot, sehingga kita sekarang harga rata-ratanya naik menjadi 1,050. Jadi keputusan untuk membeli lagi saham A pada harga 1,100, itu disebut averaging up.
Banyak orang salah kaprah soal average down. Contohnya, ada yang mengatakan bahwa kalau ada saham bagus harganya turun (sehingga kalau kita sudah memegangnya, maka posisinya jadi nyangkut), maka gak apa-apa beli lagi aja. Padahal sebanyak apapun dana cash yang kita miliki, tapi kalau kita terus menerus membeli saham yang sama, maka dana tersebut akan habis juga, dan kita akan terjebak pada situasi dimana sebagian besar portofolio ditempatkan hanya pada satu saham (udah gitu posisinya nyangkut), sehingga kita gak punya dana lagi untuk membeli saham lain. Selain itu, bisa jadi pula satu saham yang dibeli lagi secara terus menerus tadi ternyata tidak juga naik setelah sekian lama, atau malah lanjut turun terus, hingga si investor akan sampai pada satu titik dimana mau cut loss pun sudah nggak bisa, karena nilai kerugiannya sudah kelewat besar (dan kalau seorang investor sudah sampai pada titik ini, artinya game over sudah).
Investor’s worst nightmare: Udah average down berkali-kali, tapi tetep aja sahamnya turun terus
Demikian pula dengan average up. Banyak orang yang ketika melihat sahamnya naik, maka dia langsung beli lagi, dan beli lagi, karena berharap kenaikannya akan berlanjut. Problemnya adalah, saham sebagus dan semurah apapun tentu saja tidak akan naik terus setiap hari, melainkan pasti ada turunnya, dimana kalau kita membeli saham tersebut secara asal-asalan sehingga average-nya menjadi kelewat tinggi, maka posisi anda bisa saja malah jadi rugi/nyangkut bahkan meski sahamnya baru turun sedikit/belum sampai balik lagi ke harga awal ketika kita membelinya pertama kali. Contohnya? Well, masih ingat ketika Indika Energy (INDY) tiba-tiba saja naik banyak hingga tembus 1,200-an, beberapa bulan lalu?
Strategi Average Down/Up
Okay, jadi bagaimana strateginya kalau kita mau beli lagi/tambah posisi di saham yang sama, entah itu average down, di harga yang sama, atau average up? Okay, kita langsung ambil contoh riil-nya saja yap. Tapi sebelum itu terdapat setidaknya tiga peraturan yang harus senantiasa anda ingat dan anda terapkan. Pertama, setelah anda memutuskan saham apa yang akan dibeli, misalnya saham A, maka tentukan berapa maksimal dana yang akan anda alokasikan untuk saham A tersebut. Seperti yang sudah penulis jelaskan di salah satu artikel di blog ini, idealnya kita menempatkan 10 – 15% dari total nilai portofolio pada satu saham tertentu, atau maksimal 20%. Jadi jika nilai porto anda adalah Rp100 juta, maka anda harus putuskan, maksimalnya berapa dari jumlah tersebut yang akan anda pakai untuk membeli saham A, apakah Rp10 juta, 15 juta, atau Rp20 juta. Ini untuk mencegah kita menempatkan terlalu banyak dana hanya pada satu saham.
Kedua, karena kita tidak bisa secara persis memprediksi bahwa sebuah saham bisa turun sampai berapa, maka sangat penting untuk membeli saham yang sudah kita pilih secara bertahap alias menyicil. Kalau penulis sendiri, biasanya saya membagi dana yang sudah dialokasikan menjadi dua atau tiga bagian. Misalnya kita mau beli saham A senilai maksimal Rp10 juta, maka kita bisa beli sebanyak Rp3 juta dulu, atau Rp5 juta. Jadi kalau sahamnya turun lagi, maka kita masih punya ‘amunisi’ buat average down. Sangat jarang, kalau tidak mau dikatakan tidak pernah, saya membeli satu saham secara sekaligus dalam jumlah besar, tak peduli seyakin apapun penulis terhadap prospek saham tersebut. Dan ketiga, setiap kali kita hendak membeli lagi saham A, maka lakukan analisa ulang, misalnya dengan melihat lagi chartnya lalu dikaitkan dengan pergerakan IHSG, baca-baca info dan berita terbaru terkait perusahaan (jika ada, karena seringkali suatu saham turun sendiri meski tidak ada berita/sentimen negatif apapun), termasuk cek lagi analisa saham A sejak awal, dimana kalau saham A turun terlalu dalam dari harga belinya maka bisa jadi sejak awal kita salah memilih saham, atau pilihan sahamnya sudah benar tapi salah di harga belinya. Intinya jangan langsung average down hanya karena sahamnya sudah turun 5%, 10%, melainkan selalu lakukan cek ulang sebelum kita beli lagi saham A tadi.
Nah, sekarang kita ke contoh riil-nya. Misalnya setelah mengerjakan analisa yang hati-hati, pada Juli 2016 lalu anda menyimpulkan bahwa Medco Energi Internasional (MEDC) itu layak invest, dimana best buy-nya adalah 1,500 (ketika itu MEDC masih 1,700), dan kita menyiapkan dana sebesar katakanlah Rp15 juta. Analisis MEDC coba baca dulu disini. Sebulan kemudian, yakni pada Agustus 2016, MEDC ternyata beneran turun sampai 1,500, dan ketika itulah kita masuk secara menyicil, katakanlah sebanyak Rp5 juta dulu.
Kemudian MEDC lanjut turun sampai 1,400, dan pada titik inilah kita cek lagi: Apakah MEDC ini secara fundamental dll masih oke seperti analisa sebelumnya? Jika ternyata ada peristiwa penting tertentu, misalnya akuisisi MEDC terhadap Newmont batal, maka jangan average down, melainkan justru harus segera cut loss. Namun karena ketika itu gak ada peristiwa apapun, maka kita kemudian beli lagi MEDC di harga 1,400, juga sebanyak Rp5 juta.
Tapi ternyata MEDC kembali lanjut turun sampai 1,300, atau sudah turun 13% dari 1,500. Nah, berdasarkan pengalaman, meski memang kita tidak bisa memprediksi sebuah saham persisnya bisa turun sampai harga berapa, tapi dengan catatan kita bisa mem-valuasi dengan akurat bahwa bahwa saham A itu murahnya di harga sekian, maka kalaupun dia kemudian turun lebih lanjut dari harga yang kita anggap sudah murah tadi, tapi penurunannya tidak akan terlalu dalam/maksimalnya sekitar 20% (namun berbeda ketika kita menentukan bahwa saham A mahalnya di harga sekian, dimana berdasarkan pengalaman, kadang-kadang saham A justru naik hingga jauh diatas harga yang kita anggap mahal tersebut).
Jadi jika saham yang kita beli turun hingga 20% atau lebih dibanding harga belinya, padahal IHSG-nya masih baik-baik saja, maka terdapat tiga kemungkinan: 1. Gak ada apa-apa, memang sahamnya lagi sepi/belum dapet giliran untuk naik aja, 2. Terdapat perubahan fundamental, force majeure atau semacamnya, 3. Sejak awal kita belinya di harga yang salah/mahal. Nah, jika kemungkinan pertama yang terjadi, maka sahamnya hold saja, tapi jika kita sudah menggunakan maksimal dana yang dialokasikan maka jangan average down lagi. Tapi jika kemungkinan kedua dan ketiga yang terjadi, maka harus siap-siap cut loss (tapi kerugiannya tidak akan terlalu besar karena kita baru memegang MEDC dalam jumlah sedikit).
Namun untungnya pada kasus MEDC, tidak ada perubahan fundamental apapun. Dan memang meski sahamnya sempat turun terus, tapi penurunannya akhirnya mentok di 1,230 (minus 18% dari 1,500, jadi gak sampai tembus batas 20% tadi), sebelum akhirnya naik lagi. So let say kita sudah beli MEDC sebanyak tiga kali pada harga 1,500, 1,400, dan 1,300, maka average-nya jadi 1,400. Sehingga ketika MEDC kemudian balik lagi ke 1,500 saja, posisinya udah cuan. Dan ketika akhirnya MEDC mulai melaju kencang pada awal tahun 2017, maka keuntungan yang anda peroleh jadi lebih besar dari sebelumnya, karena rata-rata harga belinya bukan lagi di 1,500, melainkan lebih rendah di 1,400.
Itu kalau average down. Kalau average up bagaimana? Okay, misalnya kita beli MEDC, juga sebanyak Rp5 juta pada harga 1,500, tapi belinya pada awal tahun 2017 dimana sahamnya langsung naik ke katakanlah 1,600, dimana setelah anda cek lagi (entah itu anda mau average down/up, jangan lupa untuk cek ulang dulu!), MEDC memang masih on track untuk naik lebih lanjut, selain karena harga 1,600 tadi masih belum bisa disebut mahal. Maka anda boleh beli lagi/average up pada harga 1,600 tersebut, dan anda boleh beli lagi hingga MEDC naik maksimal 20% dari harga ketika anda membelinya untuk pertama kali (dari 1,500 tadi).
Dengan kata lain, kalau MEDC sudah naik sampai diatas 1,800, padahal anda baru membelinya dua kali masing-masing senilai Rp5 juta (jadi totalnya Rp10 juta), sedangkan anda menyiapkan dana Rp15 juta untuk membeli MEDC, maka kecuali dalam beberapa waktu berikutnya MEDC turun lagi sampai dibawah 1,800 tadi, sisa dana yang Rp5 juta tadi sebaiknya dipakai buat beli saham lain saja. Ini adalah untuk mencegah kita melakukan average up pada harga yang terlalu tinggi, yang bisa berakibat pada kerugian/nyangkut kalau MEDC sewaktu-waktu kemudian turun lagi. Lalu kenapa 20%? Karena berdasarkan pengalaman, kalau sebuah saham naiknya sudah diatas 20% maka akan rawan profit taking, overbought, atau apapun itu namanya, yang bisa menyebabkan saham tersebut untuk turun lagi bahkan meski valuasinya masih murah. Actually, beberapa saham kadang-kadang bisa naik hingga puluhan atau bahkan lebih dari seratus persen dalam waktu singkat, sebelum kemudian baru turun lagi, jadi batas 20% tadi mungkin tidaklah relevan. Tapi intinya kalau anda melihat/menganggap bahwa saham yang anda beli naiknya terlalu tinggi dan dalam waktu yang terlalu singkat, maka kalaupun anda mau hold saja (istilahnya let the profit run), maka jangan juga tambah posisi/average up, karena itu, sekali lagi, bisa membuat posisi anda berbalik dari cuan besar menjadi rugi besar.

(Hanya memang, kalau anda membeli saham tertentu untuk tujuan investasi jangka panjang hingga 3 – 5 tahun atau lebih lama lagi, dimana anda secara rutin membeli lagi/tambah posisi di saham tersebut setiap beberapa waktu sekali (misalnya karena anda menyetor dana lagi ke sekuritas), maka tidak apa-apa jika harga belinya jauh diatas harga ketika anda membeli saham tersebut pertama kali, selama valuasinya, berdasarkan kinerja fundamental terbaru perusahaan, masih murah. Penjelasannya baca lagi disini).

Dengan demikian, entah itu saham anda naik atau turun setelah anda membelinya, maka sekarang anda tahu apa yang harus dilakukan. Yang juga perlu dicatat, dalam value investing, target harga/harga yang dianggap mahal untuk suatu saham biasanya jauh diatas harga belinya, katakanlah dengan kenaikan 50%, 75%, 100%, atau lebih tinggi lagi (misalnya MEDC tadi, best buy-nya 1,500, best sell-nya sekitar 2,500, berarti potensi upside-nya 60 – 70%), meski juga jangan harap sahamnya bakal naik setinggi itu dalam 2 – 3 hari (sabar!). Jadi, meski memang seorang value investor selalu berusaha untuk membeli saham bagus pada harga serendah mungkin, sehingga kita lebih suka average down ketimbang up, tapi kita sewaktu-waktu boleh average up juga, selama saham yang kita beli masih belum naik banyak/masih jauh dari perkiraan harga mahalnya.
Okay, ada pertanyaan? Buat temen-temen yang udah baca blog ini sejak tahun 2010, 2011, dan 2012, tolong bantu jawab yap :) Untuk minggu depan, kecuali kalau ada topik lain yang lebih menarik, kita akan membahas analisa salah satu saham properti.

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memesannya dengan cara preorder disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kenapa Saham Murah Kok Masih Turun??

Pada sesi kelas value investing di Jakarta, 8 Juli kemarin, salah seorang peserta bertanya, ‘Pak Teguh, kalo dari rumus cara menghitung valuasi saham yang diberikan, maka kelihatan bahwa saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) terbilang sudah mahal pada harga 4,000-an. Tapi kenapa kok sahamnya masih naik terus dalam beberapa bulan terakhir ini?’

Nah, sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita lihat lagi apa kata suhu Warren Buffett terkai hal ini. Pada banyak annual letter-nya di tahun 1960-an, Buffett berkali-kali menyampaikan kalimat berikut:
‘Saya tidak pernah berusaha untuk memprediksi arah pergerakan harga saham, ataupun arah pasar saham secara keseluruhan, entah itu dalam seminggu kedepan, sebulan kedepan, atau bahkan setahun kedepan. Fokus kami adalah pada pertanyaan apakah saham yang kami pegang akan naik atau tidak, tapi bukan pada pertanyaan kapan saham tersebut akan naik. Dalam kasus investasi dimana kami menjadi pemegang saham pengendali perusahaan, maka kami fokus pada pertanyaan apakah perusahaan akan menghasilkan laba bersih sebesar sekian Dollar atau tidak, tapi bukan pada pertanyaan kapan laba tersebut akan dihasilkan’.
‘Sebagai contoh, kami saat ini memiliki sebuah perusahaan Dept. Store, dimana setelah kalau berdasarkan kinerja historisnya, saya bisa secara yakin mengatakan bahwa Dept. Store tersebut kemungkinan akan menghasilkan keuntungan yang lebih baik pada bulan Desember dibanding Juli. Namun jangankan memastikan bahwa keuntungan di bulan Desember akan lebih baik dibanding Juli, saya bahkan tidak bisa menjamin bahwa kami tidak akan menderita kerugian di bulan Desember, karena faktanya kerugian itu pernah juga terjadi.’
‘Tapi dengan catatan kami tidak melakukan kesalahan analisa, dan juga tidak terjadi force majeure, maka meski terkadang memerlukan waktu cukup lama, namun Dept. Store tersebut pada akhirnya tetap akan menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan’.
Penulis sendiri terus terang butuh waktu beberapa tahun untuk bisa benar-benar mengerti pernyataan Buffett diatas, tapi pada akhirnya saya memahaminya: Hanya karena sebuah saham sudah mahal maka bukan berarti dia akan berhenti naik/segera turun, tapi pada akhirnya nanti dia akan turun juga. Sebaliknya, ketika sebuah saham berundamental bagus harganya sudah murah, maka bukan berarti dia akan berhenti turun/segera naik. Tapi selama tidak terjadi perubahan fundamental, maka pada akhirnya nanti dia akan naik juga. Dalam value investing, kita bisa memperkirakan bahwa sebuah saham yang mahal cepat atau lambat akan turun, sementara saham yang murah cepat atau lambat akan naik, tapi kita tidak bisa menentukan kapan saham itu akan naik/turun (meski normalnya gak akan terlalu lama/gak akan lebih dari 1 tahun). Termasuk kita juga gak bisa memperkirakan secara persis bahwa sebuah saham naiknya bisa sampaiberapa, atau sebaliknya turunnya sampai berapa. Yang bisa kita lakukan, sekali lagi, hanyalah menentukan bahwa sebuah saham berfundamental bagus terbilang murah pada harga sekian, dan terbilang mahal pada harga sekian.
Sebagai contoh, pada Juli 2016 lalu, penulis menemukan peluang di Medco Energi Internasional (MEDC), terkait kesuksesan perusahaan yang mengakuisisi Newmont Nusa Tenggara (NNT). Anda bisa baca lagi analisisnya disini, ketika itu MEDC berada di harga 1,700-an, dimana setelah penulis analisa lebih lanjut (analisanya dimasukkan ke Ebook Kuartal III 2016), disimpulkan bahwa best buy MEDC adalah di 1,500 atau dibawahnya, sementara target harganya adalah sekitar 2,500.
Dan memang MEDC kemudian turun dulu dari 1,700-an tersebut, tapi ternyata turunnya gak berhenti di 1,500, melainkan bablas sampe mentok 1,200-an, sehingga wajar jika kemudian muncul komplain: Kalau MEDC di harga 1,500 sudah murah, kenapa kok MEDC masih turun sampe dibawah itu? (apalagi MEDC kemudian seperti gak mau naik dari 1,200-an tersebut)
Tapi meski sempat lama nggak naik-naik, tapi pada akhirnya MEDC naik juga, tepatnya pada awal tahun 2017, dan ternyata naiknya gak berhenti sampai 2,500, melainkan maju terus pantang mundur sampe tembus 3,700. Sehingga lagi-lagi muncul pertanyaan: Kalau MEDC di harga diatas 2,500 sudah mahal, lalu kenapa dia masih terus naik?
Pergerakan saham MEDC dalam setahun terakhir. Perhatikan bahwa kalau ada investor yang beli MEDC di bulan Agustus 2016 pada harga 1,500, maka dia harus nunggu sampe setengah tahun kemudian, dimana MEDC baru naik hingga diatas 1,500 lagi pada Februari 2017.

But still, karena MEDC memang sudah mahal kalo diatas 2,500, maka pada akhirnya dia turun lagi, dan sekarang dia sudah di 2,400 lagi.
Nah, jadi pada contoh MEDC diatas, kita bisa lihat bahwa dengan menggunakan value investing, kita bisa menjawab setidaknya dua pertanyaan: 1. MEDC murahnya di harga berapa? 2. MEDC mahalnya di harga berapa? Dimana jawabannya adalah, kalau berdasarkan analisa penulis ketika itu: 1. 1,500, 2. 2,500. However, terdapat tiga pertanyaan lainnya yang ketika itu tidak bisa kita jawab: 1. MEDC turunnya sampe berapa? 2. Kalo nanti dia naik, maka naiknya/target harganya sampe berapa? Dan 3. Kapan dia naik?
Maksud penulis adalah, yeap, semua investor termasuk penulis sendiri juga maunya beli saham persis pada harga terendahnya, lalu jual persis pada harga tertingginya, dan kita beli saham tersebut persis sesaat sebelum dia naik! Jadi biar keuntungannya maksimal, dan nunggunya juga gak pake lama kaya di Solaria, gitu!
Tapi ya jujur sajalah: Gimana caranya biar bisa begitu??? Memang kadang-kadang pernah juga kita beli saham yang besok atau lusanya langsung lepas landas. Misalnya Harum Energy (HRUM), dimana penulis beli saham batubara ini pada harga 1,050 pada awal Oktober 2016 (baca lagi analisanya disini). Dan masih di bulan Oktober tersebut, HRUM tanpa basa basi langsung terbang hingga tembus 2,700 pada bulan November, atau naik hingga lebih dari dua kali lipat hanya dalam dua bulan! Tapi penulis sendiri sejak awal tidak berharap bahwa HRUM akan naik setinggi itu dan dalam waktu secepat itu, dimana itu kemudian penulis anggap sebagai keberuntungan saja. Pada banyak contoh saham-saham lain yang kita beli, seringkali kita harus menunggu itu saham ngetem dulu selama berbulan-bulan, termasuk harus ‘menahan nafas’ karena itu saham ditampilkan dalam warna merah di software trading (baca: nyangkut).
Tapi dengan sedikit kesabaran, maka pada akhirnya mayoritas keputusan investasi yang kita lakukan, meski tentu tidak semuanya, akan menghasilkan buah yang manis. Pada contoh MEDC dan HRUM tadi, meski kedua saham memerlukan jangka waktu yang berbeda untuk naik, tapi dua-duanya sama-sama menghasilkan profit yang extraordinary.
Hanya memang, kalau saham yang anda pegang tidak juga naik setelah beberapa waktu, maka seperti yang disampaikan Warren Buffett diatas, coba cek lagi: Apakah fundamentalnya memang bagus? Dan apakah benar harganya murah? Contohnya, seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel ini, pada tahun 2014 lalu kita pernah rugi besar dari Salim Ivomas Pratama (SIMP) karena keliru menganggap dia murah pada harga 900, dimana penulis kemudian cut loss di 700. Intinya kalau kita beli saham kemudian setelah ditunggu cukup lama dia tidak bergerak sesuai harapan (‘cukup lama’ disini katakanlah 3 – 6 bulan), maka jangan diam saja melainkan segera lakukan evaluasi/analisa ulang, karena bisa jadi sejak awal analisisnya keliru, atau terjadi peristiwa penting tertentu yang mengubah fundamental atau prospek perusahaan dalam jangka panjang. Tapi kalo gak ada apa-apa maka hold aja, karena dalam banyak kasus, bisa jadi saham anda tersebut cuma belum dapat gilirannya saja buat ‘naik panggung’.

Okay, that’s enough, jika ada pertanyaan maka boleh posting melalui kolom komentar dibawah, nanti akan dijawab oleh temen-temen pembaca yang lain (soalnya banyak juga kok pembaca blog ini yang sudah expert).

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham-Saham Properti

IHSG menutup hari perdagangan pertama setelah libur panjang lebaran dengan naik 1.4% pada Senin 3 Juli kemarin ke posisi 5,910, sehingga dengan demikian IHSG sudah naik 11.6% sejak awal tahun 2017, atau cukup signifikan (dan ini sesuai dengan analisa kita di awal tahun, anda bisa baca lagi artikelnya disini). Namun seperti juga di tahun-tahun sebelumnya, selalu ada saja saham-saham di sektor tertentu yang seperti ketinggalan kereta (baca: naiknya nggak setinggi kenaikan IHSG), atau bahkan malah turun.

Dan untuk tahun 2017 ini, atau setidaknya sampai penutupan perdagangan Senin kemarin, sektor tersebut adalah properti, real estat, dan konstruksi, dimana indeks sektor ini (anda bisa melihatnya di www.finance.yahoo.com, simbolnya ^JKPROP) sudah turun 4.0% sejak awal tahun, paling rendah dibanding indeks sektoral lainnya di BEI. Yang menarik adalah, jika periode waktunya diperpanjang hingga satu tahun kebelakang, maka IHSG sudah naik 16.6%, sementara indeks properti & konstruksi justru drop 9.0%, atau dengan kata lain gap-nya semakin lebar. Pertanyaannya, ada apa dengan sektor ini? Dan apakah ini peluang terutama untuk saham-saham properti, mengingat sekarang ini ada banyak diantara mereka yang PBV-nya sudah kurang dari 1 kali, alias sudah mirip dengan valuasi saham-saham batubara sebelum mereka mulai naik banyak, satu setengah tahun lalu?
Kompleks Modernpak, salah satu perumahan yang masih dalam tahap pengembangan di pinggir Kota Jakarta, tepatnya di Cakung, Jakarta Timur.

Jika kita melihat laporan keuangan emiten-emiten properti di Kuartal I 2017 dimana laba mereka rata-rata memang turun, maka wajar jika saham Alam Sutera Realty (ASRI) dkk belakangan ini kurang peminat, tapi sebenarnya bisnis properti itu sendiri sudah lesu sejak lama. Yup, setelah mengalami puncak booming-nya pada tahun 2012 – 2013 lalu, memasuki 2014 industri properti mulai lesu terutama setelah Bank Indonesia menerapkan beberapa regulasi seperti menaikkan DP rumah (istilahnya LTV/loan to value), ketika itu dengan tujuan agar tidak terjadi property bubble seperti yang terjadi di Amerika beberapa tahun sebelumnya (yang berujung pada subprime mortgage crisis di tahun 2008), tapi disisi lain itu praktis menurunkan pendapatan para developer. Kalau anda masih ingat, dulu orang bisa beli ruko kecil di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, pada harga Rp2 milyar, lalu menjualnya di harga Rp6 milyar, atau naik tiga kali lipat, tidak sampai setahun kemudian. Alhasil ada banyak orang yang membeli unit properti bukan untuk dihuni tapi untuk langsung dijual lagi, dengan harapan meraup untung besar dalam waktu singkat, dan biasanya belinya pake duit bank alias utang (misalnya beli unit apartemen yang belum jadi, dimana harganya biasanya bakal langsung melonjak ketika unitnya sudah siap huni, beberapa bulan kemudian).
Tapi ketika bank memberlakukan peraturan LTV, maka para spekulan ini segera kehilangan mainan mereka, dan para developer pun gak bisa lagi menggoreng harga unit-unit propertinya untuk meraup profit maksimal seperti sebelumnya. Sebenarnya kalau dilihat dari kacamata konsumen pembeli properti itu sendiri, maka kondisi ini bagus karena mereka bisa membeli rumah dll pada harga yang wajar, tapi tetap saja hal ini menyebabkan laba Bumi Serpong Damai (BSDE) dkk turun. Indikasi lesunya industri properti juga tampak dari stagnan-nya konsumsi semen nasional dalam beberapa tahun terakhir, dimana meski pembangunan infrastruktur di tanah air sekarang ini sedang dikebut, namun kenaikan permintaan semen dari sektor infra tetap tidak mampu mengimbangi penurunan permintaan semen dari sektor properti (sebab sekitar 77% permintaan semen berasal dari sektor housing alias properti, dan sisanya baru infrastruktur).
Namun seperti halnya sektor batubara, yang meski sempat sedemikian terpuruknya hingga ada banyak perusahaan di sektor ini yang menghentikan kegiatan operasionalnya atau bahkan bangkrut sama sekali pada tahun 2015 lalu, tapi pada akhirnya sektor ini bangkit lagi, maka penulis percaya bahwa sektor properti cepat atau lambat juga bakal ramai lagi. Dan meski kita belum tahu kapan itu akan terjadi, tapi kalau ada yang bilang bahwa tahun 2017 ini merupakan titik terendah industri properti, maka mungkin itu ada benarnya, mengingat beberapa hal.
Valuasi Saham-saham Properti: Sudah cukup rendah
Pertama, seperti yang sudah disebut diatas, sekarang ini valuasi saham-saham properti sudah banyak yang rendah, setidaknya dari sisi PBV, dimana ada beberapa saham properti yang PBV-nya tinggal 0.7, 0.6 atau bahkan hanya 0.5 kali. Jika dibandingkan dengan valuasi dari saham-saham batubara pada titik terendah mereka di awal tahun 2016 lalu, dimana ketika itu ada beberapa saham yang hanya dihargai pada PBV 0.2 kali atau lebih rendah lagi, maka valuasi saham properti diatas mungkin tampak belum cukup rendah. Selain itu, berbeda dengan awal tahun 2016 lalu dimana seluruh saham-saham batubara termasuk yang big caps seperti sepakat untuk ‘tiarap’ semuanya (termasuk Bukit Asam/PTBA sempat jeblok sampe dibawah 5,000), maka sekarang ini masih ada beberapa saham properti, misalnya Pakuwon Djati (PWON) atau Summarecon Agung (SMRA), yang PBV-nya relatif masih tinggi (dua koma sekian kali).
Namun ingat pula bahwa kinerja fundamental para emiten properti sekarang ini, meski memang laba bersih mereka rata-rata pada turun semua, tapi tidak sampai merugi seperti beberapa perusahaan batubara di tahun 2015 – 2016 lalu. Dan berbeda dengan perusahaan-perusahaan batubara dimana ada banyak dari mereka yang sampai berhenti berproduksi atau bahkan bangkrut sama sekali ketika harga batubara patokan Newcastle mencapai titik terendahnya di level US$ 52 per ton, maka hingga saat ini para developer masih tetap bisa membangun dan menjual rumah, apartemen dll seperti biasanya (meski dengan omzet dan margin laba yang tidak lagi setinggi sebelumnya), dan belum kedengeran ada perusahaan properti yang bangkrut. Dengan kata lain, kalau kita mengharapkan untuk bisa membeli saham-saham properti pada harga yang sama rendahnya dengan saham-saham batubara di awal tahun 2016 lalu, maka industri properti itu sendiri harus terpuruk lebih dalam lagi hingga mencapai titik dimana orang-orang putus asa sama sekali dengan prospek sektor ini. Yup, penulis masih ingat, persis dua tahun lalu (Juli 2015, anda bisa baca artikelnya disini) orang-orang sudah sedemikian putus asa-nya hingga mereka mengatakan bahwa industri batubara sudah tamat! Karena batubara bakal digantikan oleh shale gas dll, yang lebih ramah lingkungan. Tapi untuk saat ini, penulis belum mendengar ada orang yang bilang bahwa industri properti bakal tamat karena akan digantikan rumah kayu yang lebih ramah lingkungan, atau semacamnya.
Hanya memang itu kemudian menimbulkan pertanyaan: Apakah itu artinya sektor properti masih bisa turun lebih rendah lagi, mengingat sektor ini masih belum sampai pada titik despair-nya? Sementara kalo kita lihat contoh sektor batubara, sektor ini baru pulih lagi setelah melewati fase despair-nya tersebut?
Tapi penulis bisa jawab,nggak. Normalnya sektor properti gak akan sampai terpuruk seperti batubara dua tahun lalu, karena setidaknya dua alasan. Pertama, ketika booming batubara mencapai puncaknya pada tahun 2011, ada banyak perusahaan-perusahaan batubara yang memanfaatkan momentum booming tersebut dengan mengambil utang untuk ekspansi lebih luas lagi, dimana hasilnya bisa ditebak: Ketika kemudian harga batubara mulai turun dan pendapatan mereka turun, maka laba bersihnya langsung anjlok hingga minus/rugi karena tingginya beban bunga utang, dan beberapa perusahaan bahkan sampai bangkrut karena gagal membayar utangnya tersebut/default. Dan ketika ada banyak perusahaan batubara yang rugi atau bangkrut, maka tentu saja harga sahamnya terpuruk gila-gilaan.
Tapi untungnya di sektor properti tidak sampai terjadi kondisi yang sama, dimana hanya sedikit perusahaan di sektor ini yang utangnya lebih besar dari ekuitasnya, thanks to Bank Indonesia yang pada tahun 2013 lalu mengeluarkan kebijakan yang, penulis lupa persisnya seperti apa kebijakan tersebut, tapi intinya adalah melarang perusahaan-perusahaan properti untuk mengambil utang dalam jumlah besar, terutama jika utang tersebut dalam mata uang Dollar, mengingat perusahaan properti memperoleh 100% pendapatannya dalam mata uang Rupiah (jadi beda dengan perusahaan batubara yang memperoleh pendapatannya dalam Dollar, karena mereka lebih banyak ekspor). Alhasil ketika industri properti mulai melambat sejak tahun 2014 sampai sekarang, maka meski laba emiten-emiten properti memang rata-rata turun, tapi hanya sedikit yang merugi, dan tidak ada yang sampai bangkrut (‘tidak ada yang bangkrut’ disini maksudnya adalah di kelompok perusahaan Tbk. Kalau untuk developer-developer kecil sih, memang banyak juga yang kolaps).
Dan kedua, mengingat sejak tahun 2016 kemarin BI kembali melonggarkan peraturan LTV, termasuk menurunkan BI Rate dalam rangka mendorong kembali penyaluran kredit perbankan termasuk kredit KPR, maka meski tentunya akan diperlukan waktu hingga kebijakan tersebut pada akhirnya berdampak positif, tapi setidaknya itu akan mencegah industri properti itu turun lebih dalam hingga ke fase ‘putus asa’ seperti batubara di tahun 2015 lalu, karena disisi lain meski kondisi ekonomi sekarang ini belum sebagus tahun 2011 lalu, tapi juga jauh dari kata krisis. Jadi, yap, secara valuasi saham-saham properti pada saat ini sudah cukup rendah, dimana kecuali terjadi force majeure tertentu atau IHSG itu sendiri turun, maka normalnya mereka gak akan turun lebih rendah lagi (kecuali mungkin beberapa saham properti yang PBV-nya masih cukup tinggi).
2018 – 2019: Booming properti?
Itu pertama, terkait valuasi saham-saham properti. Yang kedua, kalau kita balik lagi ke tahun 2012 – 2013 dulu, maka coba anda ingat-ingat lagi: Sebenarnya pa sih yang menyebabkan harga ruko kecil ketika itu bisa melonjak hingga dua atau bahkan tiga kali lipat hanya dalam waktu gak nyampe setahun?? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, tapi penulis akan menjawabnya dari sudut pandang pelaku pasar: Pada tahun 2011, Indonesia mengalami puncak pertumbuhan ekonomi berkat booming komoditas sejak hampir satu dekade sebelumnya (harga batubara ini mulai naik sejak 2003), yang kemudian menimbulkan banyak ‘orang kaya baru’ alias kelompok middle class, yakni kelompok masyarakat yang memiliki uang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, bahkan meski gaya hidup mereka terbilang mewah. Kelompok middle class ini kemudian mulai tertarik untuk menggunakan ‘uang lebih’ mereka untuk investasi. Dan instrumen investasi apa yang sejak dulu dikenal palng mudah, paling aman, dan ‘harganya gak bisa turun’? Benar sekali: Properti!Entah itu tanah kavling, rumah, apartemen, kos-kosan, hingga condotel. Beberapa orang mungkin juga menginvestasikan uang mereka di logam mulia alias emas, tapi properti tetap lebih diminati karena ‘lebih aman’, mengingat harga emas ternyata juga bisa fluktuatif.
Karena itulah, permintaan akan properti kemudian meningkat, kali ini bukan lagi untuk dihuni tapi untuk investasi, dan permintaan tersebut terus meningkat hingga pada satu titik dimana orang-orang yang kelebihan duit inibersedia membeli unit-unit properti pada harga berapapun yang ditawarkan, karena mereka terlanjur percaya pada mitos bahwa ‘harga rumah gak bisa turun!’ (dan memang kalimat keramat ini pula yang berkali-kali diucapkan oleh Feni Rose dkk). Inilah yang kemudian menyebabkan harga-harga properti mulai naik gila-gilaan, dan kenaikan tersebut semakin gila lagi ketika para spekulan, yakni mereka yang membeli properti bukan untuk investasi melainkan untuk segera dijual lagi pada harga tinggi,ikut masuk/ikut membeli unit properti yang ditawarkan developer, dan alhasil sebuah unit properti harganya bisa naik berkali-kali, jauh sebelum unit properti tersebut siap huni. Puncaknya adalah pada tahun 2013 lalu, dimana beberapa developer bahkan sampai berani menjanjikan keuntungan ‘investasi properti’ hingga ratusan persen hanya dalam hitungan bulan! Anda bisa baca lagi ceritanya disini.
Namun seperti yang kita ketahui, selanjutnya sektor properti ini justru melambat sampai sekarang. Nah, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Bagaimana caranya agar industri properti rame lagi? Ya pertama-tama, perekonomian Indonesia secara umum harus tumbuh terlebih dahulu, daya beli masyarakat harus menguat, hingga muncul lagi sekelompk orang-orang yang ‘kelebihan duit’, kemudian barulah mereka akan ramai membeli properti. Dan bagaimana caranya agar ekonomi nasional tumbuh pesat lagi? Ya kita harus lihat lagi, apa sih tulang punggung perekonomian Indonesia kalau bukan komoditas? Yup, jadi kalau dibuat siklus-nya, pertama-tama harga batubara, CPO, dll naik dulu, ekonomi kemudian tumbuh, dan barulah setelah itu industri properti rame lagi. Faktanya, industri properti mencapai masa jayanya pada tahun 2012 – 2013, atau setahun setelah booming komoditas mencapai puncaknya pada tahun 2011.
Kabar baiknya, seperti yang kita ketahui setahunan ini harga komoditas, atau paling tidak batubara, mulai pulih kembali (meski memang harganya gak sampai setinggi tahun 2011 dulu), dimana jika kondisi ini terus tertahan, ditambah dengan terus berlangsungnya pembangunan infrastruktur, maka penulis optimis bahwa di tahun 2018 – 2019 mendatang, barulah dampak positifnya terhadap ekonomi makro akan benar-benar terasa, dan ketika itulah saham-saham properti akan dapet gilirannya untuk ‘naik panggung’ lagi.
Hanya memang, kalau kita balik lagi ke kinerja fundamental perusahaan, maka faktanya adalah hingga Kuartal I 2017 kemarin, mayoritas emiten properti masih belum men-deliverkinerja yang memuaskan, dan juga belum ada faktor fundamental tertentu yang mungkin bisa membuat kinerja mereka jadi bagus dalam waktu dekat (selain dilonggarkannya peraturan LTV, masih diperlukan beberapa faktor positif lainnya lagi). Jadi kalo penulis sendiri untuk saat ini lebih suka memasukkan saham-saham properti ke dalam watchlistsaja dulu, untuk nanti masuk kalau timing-nya sudah tepat, just like what we all did with coal sector, a year ago.
Tapi jika anda sendiri sudah pegang watchlist tersebut, maka boleh share: Kalau ada dua atau tiga saham properti yang menurut anda bagus, maka apa saja saham tersebut? Dan bagaimana analisanya?
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Juli 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Beli Saham Tidak Likuid: Jualnya Gimana?

Pada sesi kelas value investing di Surabaya, 10 Juni kemarin, salah seorang peserta bertanya, ‘Pak Teguh, kalau dari contoh-contoh saham yang dipilih menggunakan metode value investing yang ditunjukkan, beberapa diantaranya merupakan saham kecil yang tidak likuid. Pertanyaannya, kalau kita beli saham tidak likuid tersebut, nanti jualnya gimana? Khawatirnya meskipun sahamnya kemudian memang naik tinggi, tapi tetep aja gak ada yang pasang bid sehingga gak bisa dijual, dan alhasil keuntungan yang diperoleh nggak bisa direalisasikan.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, biar penulis kasih analogi sederhana: Ketika anda bepergian jauh keluar kota, misalnya waktu mudik kemarin, dan anda hendak makan siang di salah satu rumah makan yang anda temui di tepi jalan, maka rumah makan yang mana yang anda pilih? Yang kelihatannya ramai (tempat parkirnya penuh), atau yang kelihatannya sepi? Sudah tentu anda akan memilih rumah makan yang ramai bukan? Karena asumsinya adalah, kalau ada banyak orang yang makan disitu, maka pasti disitu makanannya enak! Penulis sendiri kalau lagi jalan-jalan selalu menggunakan ‘metode’ ini ketika nyari tempat makan, dan hasilnya memang tidak mengecewakan.
Dan karena hampir semua orang menggunakan metode diatas ketika memilih tempat makan, maka alhasil restoran yang ramai akan semakin ramai, sementara restoran yang sepi akan tetap sepi terus. Namun demikian restoran yang sepi bisa saja lambat laun menjadi ramai juga, yakni jika beberapa orang yang makan disitu kemudian menemukan bahwa ternyata makanannya enak, dan mereka kemudian kasih tau ke orang-orang. Sekitar dua atau tiga tahun lalu, penulis bersama keluarga pernah mampir ke sebuah rumah makan yang kelihatannya baru dibuka di Jalan Raya Cirebon – Kuningan, dan penulis terpaksa berhenti di rumah makan tersebut meski kelihatannya disitu sepi, karena si kecil sudah merengek lapar (actually, si kecil cuma nangis saja, ibunya yang menterjemahkan). Kami kemudian memesan menu ala sunda termasuk sayur asem, dan ternyata itu adalah sayur asem terenak yang pernah penulis cicipi. Dan sekarang, tiap kali penulis lewat situ, itu parkirannya meluber sampe sejauh 100-an meter dari rumah makannya sendiri.
Nah, di pasar saham juga sama begitu: Mayoritas investor atau trader saham hanya tertarik pada saham yang ramai ‘dikunjungi’ alias ramai diperdagangkan/volume transaksinya besar, atau dengan kata lain sahamnya likuid, karena asumsinya jika ada saham yang banyak dibeli orang, maka kemungkinan itu saham memang bagus. Inilah yang menyebabkan saham yang likuid akan semakin likuid, sementara saham yang tidak likuid kemungkinan akan tetap saja tidak likuid.
Namun demikian sebuah saham yang sepi bisa saja menjadi ramai jika ada sejumlah orang yang membelinya sehingga volume transaksinya menjadi besar, yang menyebabkan orang-orang lain akan ikut masuk sehingga volumenya menjadi lebih besar lagi. Jika saham tersebut kemudian naik hingga ke level harga tertentu, maka likuiditas sahamnya dari sisi nilai transaksi juga akan naik seiring dengan kenaikan harga sahamnya, dan itu akan membuat sahamnya semakin ramai lagi. Contohnya saham A, harganya 200, dan volume transaksinya hanya sekitar 5 – 10 juta lembar per hari, atau dengan kata lain nilai transaksinya hanya Rp1 – 2 milyar per hari, sehingga tergolong saham tidak likuid (nilai transaksi = harga saham x volume).
Tapi beberapa waktu kemudian saham A ini tiba-tiba saja banyak yang beli, hingga volumenya melonjak jadi 100 juta lembar, sehingga nilai transaksinya (pada harga 200) menjadi Rp20 milyar per hari, dan pada titik inilah beberapa orang lainnya mungkin akan ikut masuk, karena nilai transaksi Rp20 milyar tersebut terbilang cukup likuid. Ketika kemudian saham A naik hingga ke 300, maka meski volumenya tetap 100 juta lembar saham per hari, tapi nilai transaksinya sekarang menjadi Rp30 milyar, atau satu setengah kali lebih besar meski volumenya sama, dan itu menyebabkan lebih banyak lagi orang yang ikut masuk, sehingga volumenya akan ikut meningkat, misalnya menjadi 150 juta lembar saham per hari, sehingga nilai transaksinya jadi lebih besar lagi! Dalam analisis teknikal sendiri, yang merupakan tool paling umum yang digunakan para trader, biasanya juga jelas disebutkan bahwa kalau sebuah saham naik ke level harga tertentu pada volumetertentu, maka barulah dia layak buy(jadi kalau sahamnya naik banyak tapi nggak ada volume, atau sebaliknya volumenya besar tapi harganya nggak naik, maka belum tentu dia layak buy). Faktor penggunaan analisis teknikal ini pula yang menyebabkan semakin tinggi harga suatu saham, semakin banyak pula trader yang membelinya, dan alhasil sahamnya akan semakin likuid.
Value Investor: Selalu Curi Start di Harga Bawah!
Pertanyaannya, apa yang membuat sejumlah kecil investor berani membeli sebuah saham di awal meski kelihatannya saham tersebut masih sepi peminat/tidak likuid? Jawabannya ya karena mereka sudah mengerjakan analisa yang mendalam hingga akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa saham tersebut fundamental bagus, prospeknya cerah, dan valuasinya murah! Kalau dibuat kronologisnya kira-kira begini: Investor yang mengerjakan screening dan analisa fundamental menemukan saham bagus, katakanlah saham A, dan dia mulai membelinya. Tapi karena karena saham A ini tidak likuid, maka biasanya si investor hanya akan membelinya sedikit-sedikit/secara bertahap, dan alhasil saham A tetap tampak tidak likuid/nilai transaksinya tetap kecil.
Beberapa waktu kemudian, investor lainnya (yang juga mengerjakan analisa fundamental) juga menemukan saham A tersebut dan ikut membelinya. Hingga akhirnya terjadi satu waktu dimana ada banyak investor yang secara bersamaan hajar kanan di saham A hingga harganya naik signifikan, misalnya 5% dalam satu hari, dengan volume yang juga besar (jadi meski tiap-tiap investor membeli saham A secara sedikit-sedikit, tapi kalo ada banyak investor yang membeli saham A secara bersamaan, maka tentu volumenya akan jadi besar juga). Jika saham A ini sebelumnya sudah menjadi incaran banyak orang (karena memang fundamentalnya bagus, dan valuasinya juga masih murah) tapi mereka masih ragu untuk masuk karena sahamnya gak likuid, maka ketika saham A mulai ‘gerak’ inilah, mereka akan ikut masuk sehingga volumenya semakin besar lagi. Dan akhirnya, setelah saham A benar-benar naik signifikan, katakanlah naik 20% hanya dalam 1 – 2 minggu, atau harganya naik hingga ke level psikologis tertentu (misalnya harganya sebelumnya 350, lalu naik sampe tembus 500), maka para trader yang gak melihat faktor fundamental akan ikut masuk, entah itu pake analisis teknikal atau hanya karena penasaran saja, termasuk para broker dan analis sekuritas juga akan mulai ramai merekomendasikan saham A.
Dan akhirnya saham A, yang sebelumnya sepi, tidak likuid, dan juga tidak pernah dibicarakan di grup-grup atau direkomendasikan oleh para analis, tiba-tiba saja menjadi ramai dan likuid, sekali lagi, justru setelah dia berada di harga atas. Contoh riil dari kasus ini adalah saham KMI Wire & Cable (KBLI). Ketika penulis pertama kali menemukan saham perusahaan kabel ini pada Oktober 2016 lalu di harga 290-an (ini analisisnya), rata-rata nilai transaksi KBLI kurang Rp10 milyar per hari (harga 270 – 300 dikali volume 20 – 30 juta lembar), dan penulis sendiri harus membeli secara bertahap selama beberapa waktu hingga barulah akhirnya kita memegang KBLI dalam jumlah yang lumayan. Namun ketika dia akhirnya naik ke 400, 500, dan seterusnya, maka barulah nilai transaksinya melonjak hingga sempat menembus Rp50 milyar per hari, dan barulah ketika itu analis ramai-ramai merekomendasikan KBLI. Jadi ketika akhirnya penulis memutuskan untuk keluar dari KBLI ini, maka kita bisa langsung jualan sekaligus dalam satu klik sell saja.
 
Chart KBLI dalam setahun terakhir, klik gambar untuk memperbesar. Perhatikan bahwa ketika KBLI  masih sideways di harga 200-an, volumenya cenderung sepi. Tapi ketika dia mulai naik ke 300, 400, dan seterusnya, volumenya (tanda kotak) menjadi ramai.
Nah, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, kalau beli saham gak likuid, nanti jualnya gimana? Maka jawabannya, anda gak perlu khawatir, karena asalkan anda memilih saham yang tepat (fundamentalnya bagus, valuasinya murah), maka ketika nanti saham tersebut akhirnya naik, akan ada banyak orang yang bersedia menampung saham anda di harga atas. Selain KBLI, anda juga boleh cek saham-saham tidak likuid lainnya: Rata-rata menjadi likuid setelah harganya naik banyak. Inilah yang menyebabkan value investor terkenal seperti Lo Kheng Hong berani membeli saham yang tidak likuid seperti Petrosea (PTRO) hingga sebanyak sekitar seratus juta lembar, karena beliau sepenuhnya menyadari bahwa ketika nanti tiba waktunya untuk menjual PTRO ini, maka itu tidak akan sulit untuk dilakukan. Bonusnya adalah, ketika kita membeli saham yang belum ramai pada harga bawah, alias curi start, maka tentu saja profitnya akan jauh lebih besar dibanding investor/trader lain yang baru masuk belakangan ketika saham tersebut sudah mulai naik. Berdasarkan pengalaman, cuan ‘jackpot’ sebesar 100% atau lebih yang diperoleh seorang investor, biasanya justru berasal dari saham-saham yang tidak likuid ini.

Manajemen Risiko

Hanya memang risikonya, kalau saham yang anda beli tersebut ternyata gak naik-naik juga setelah sekian lama, atau lebih buruk lagi: Laporan keuangan berikutnya ternyata tidak lagi sebagus sebelumnya (sehingga fundamental perusahaan berubah), dimana itu bisa terjadi pada saham manapun, maka barulah anda akan kesulitan untuk jualan. Tapi untungnya risiko ini bisa ditekan dengan cara membeli secara bertahap. Jadi inilah yang penulis lakukan: Setiap kali kita menemukan saham yang berpotensi ‘jackpot’, maka faktor likuiditas tetap diperhatikan, dimana kalau sahamnya nggak likuid maka kami akan membeli saham tersebut dalam jumlah sedikit dulu, misalnya sepertiga atau setengah dari total nilai dana yang dialokasikan, kemudian baru nanti nambah lagi/average up kalau harganya mulai naik dan volumenya mulai ramai (mulai ramai, jadi bukan ketika sudah sangat ramai). Dengan cara inilah, kalau kemudian terjadi force majeure atau perubahan analisa dimana kita terpaksa harus jual sahamnya di harga yang sama atau lebih rendah, maka jualnya gak akan susah, dan nilai kerugiannya juga tidak akan terlalu besar. Sementara jika saham tersebut benar-benar naik, maka keuntungan yang diperoleh tetap optimal karena kita sudah mulai menyicil dari harga bawah.

Satu hal lagi yang perlu diingat, tidak semua saham yang tidak likuid menjadi likuid hanya karena harganya naik, dimana beberapa saham mungkin tetap saja tidak menjadi likuid meski sudah naik tinggi. Karena itulah, ketika anda hendak membeli saham A, misalnya, maka anda juga perlu cek berapa banyak jumlah saham A tersebut yang dipegang oleh investor publik, dimana itu bisa dilihat di laporan keuangan perusahaan, di bagian ‘modal saham’. Normalnya jika kepemilikan publik di suatu perusahaan mencapai setidaknya 700 juta – 1 milyar lembar saham, maka meskipun sahamnya tampak tidak likuid, tapi kalau nanti dia naik tinggi maka akan likuid juga. Tapi kalau jumlah saham publiknya kurang dari itu, maka barulah sahamnya tetap saja tidak akan menjadi likuid (dari sisi volume) bahkan meski sudah naik banyak, kecuali kalau naiknya benar-benar sangat tinggi (misalnya dari hanya Rp200 – 300 hingga menjadi ribuan Rupiah, sehingga meski volume transaksinya tetap kecil tapi nilai transaksinya menjadi besar. Tapi ini jarang terjadi). Dalam contoh saham KBLI diatas, jumlah saham publiknya, berdasarkan laporan keuangan Kuartal III 2016, adalah 1.6 milyar lembar.
Nah, jadi dengan demikian anda gak perlu lagi menyingkirkan saham-saham bagus dan murah yang sudah anda temukan melalui proses screening dan analisa yang susah payah, hanya karena khawatir ‘nanti jualnya bagaimana?’ Jadi sekarang, bagi anda yang sudah mengerjakan screening-nya, maka please share, saham apa saja yang bakal anda beli secara sedikit demi sedikit, mulai tanggal 3 Juli nanti? Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.
Untuk artikel minggu depan kita akan membahas sedikit soal sektor properti.
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Juli 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Right Issue BUMI: Memperoleh Pernyataan Efektif dari OJK. What’s Next?

Di artikel dua minggu lalu (ini link-nya) tentang rencana right issue Bumi Resources (BUMI), tepatnya mengenai perubahan pada penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) yang kemudian menyebabkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunda memberikan pernyataan efektif alias persetujuannya terhadap right issue tersebut, penulis mengatakan bahwa artikel tersebut nanti akan ada lanjutannya lagi. Karena cerita bahwa right issue BUMI ini belum memperoleh restu dari OJK, itu barulah satu dari sekian banyak drama yang terjadi di sekitar saham yang dulunya pernah disebut-sebut sebagai ‘saham sejuta umat’ ini.

And indeed, tak berapa lama kemudian muncul lagi drama berikutnya: OJK akhirnya memberikan pernyataan efektifnya pada hari Kamis, 22 Juni kemarin, atau persis di hari terakhir sebelum libur panjang lebaran, dan beritanya sendiri baru mulai beredar setelah jam tutup pasar!
Surat pernyataan efektif dari OJK terkait right issue Bumi Resources, klik gambar untuk memperbesar

Sayangnya pasar sudah terlanjur libur, dan baru akan dibuka lagi 3 Juli mendatang. Nah! Jadi sambil menunggu sekaligus mengisi waktu, melalui artikel ini penulis mengajak anda untuk berbagi analisa tentang BUMI, karena biar gimana saham yang sedang jadi trending topic di market belakangan ini ya BUMI ini. Okay, jadi mungkin kita langsung saja ke pertanyaannya:
Sebagai investor (atau trader), apakah anda akan membeli BUMI?
Jika iya, kenapa? Dan jika tidak pun, kenapa?
Dan menurut anda sendiri, setelah keluarnya putusan OJK ini, selanjutnya apa?

Anda bisa menulis analisanya melalui kolom komentar [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 8 Juli 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapanharus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun!
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 8 Juli 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (atau kalo mau kirim bukti transfer juga boleh).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman peserta Kelas Value Investing Surabaya, 10 Juni 2017. Klik gambar untuk memperbesar
Komentar Alumni
Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luarbiasa sekali..
Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalo dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
Merci..
Widya Olivia – [...]

Uang THR Buat Beli Saham? Why Not??

Salah satu moment yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang menjelang lebaran, terutama mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri ataupun swasta, adalah pemberian Tunjangan Hari Raya alias THR. Nah, kalau jaman dulu, pemberian THR ini sangat penting karena bisa membuat satu keluarga yang sehari-harinya mungkin hanya makan tahu dan tempe saja, maka khusus pada hari lebaran mereka bisa makan daging dan juga beli pakaian yang bagus-bagus. Tapi bagaimana dengan jaman sekarang?

Kalau dilihat dari sejarahnya, pemberian THR di Indonesia dimulai pada tahun 1951, dimana Pemerintah Republik Indonesia dibawah pimpinan Presiden Soekarno ketika itu memberikan THR kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) berupa uang tunai sebesar Rp125 – 200 per orang, atau setara kurang lebih Rp2 jutaan pada hari ini. Pemberian THR ini sangat penting, karena dalam kondisi ekonomi yang carut marut pasca perang revolusi ketika itu (Indonesia memang sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, tapi setelah itu terjadi perang revolusi melawan Pemerintah Kolonial Belanda hingga akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949), maka pemberian uang tunjangan bagi para PNS, meski relatif kecil dan hanya setahun sekali menjelang lebaran, namun sangatlah berarti untuk meningkatkan produktivitas serta dukungan dari para PNS itu sendiri kepada Pemerintahan yang baru berdiri. Setahun kemudian pada tahun 1952, Pemerintah juga turut memberikan THR bagi kaum buruh non PNS, dan akhirnya anggaran untuk THR ini secara rutin masuk ke dalam APBN. Di tahun-tahun berikutnya, perusahaan-perusahaan swasta juga mulai secara bertahap memberikan THR bagi para pegawainya, dengan tujuan yang sama: Meningkatkan produktivitas serta loyalitas pegawai terhadap perusahaan. Kemudian pada tahun 1994 hingga sekarang, Pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja mengatur pemberian THR oleh perusahaan swasta, termasuk memberikan sanksi kepada perusahaan yang tidak memberikan THR bagi pekerjanya.
Nah, seperti yang sudah disebut diatas, pada jaman dulu dimana kondisi ekonomi tidak senyaman saat ini, maka status ‘pegawai’, ‘karyawan’, atau ‘buruh’ bisa berarti bahwa anda memiliki penghasilan bulanan yang relatif cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi tidak lebih dari itu. Sementara untuk bisa menikmati gaya hidup ‘mewah’ seperti makan ayam goreng, minum susu dan keju, mengendarai motor atau mobil, hingga pergi ke tempat-tempat rekreasi, maka anda haruslah menjadi tuan tanah, pengusaha, atau pejabat. Pada tahun 1960-an anda akan dianggap kaya raya tujuh turunan jika anda memiliki sebuah sepeda motor. Kalo kata almarhum Benyamin Sueb, jaman dulu asal bisa pergi nonton film koboy di bioskop saja, itu rasanya udah kaya orang gedongan.

Simbol status ‘horang kayah’ di tahun 1960-an (yang sekarang jadi barang antik). Sumber www.hondacommunity.net

Sementara untuk tahun 2017 ini? Well, jika anda berstatus sebagai karyawan dengan pengalaman 5 tahun di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, maka normalnya anda sudah bisa membeli rumah secara KPR di kampung halaman, dan juga menyicil mobil type LCGC. Untuk makan sehari-hari anda juga nggak perlu makan tahu tempe melulu, apalagi makan gaplek atau nasi aking seperti jaman kakek nenek kita dulu, karena harga daging sapi sekalipun sudah relatif terjangkau. Kecuali bagi mereka yang memang tidak bekerja/tidak punya penghasilan sama sekali, maka sekarang ini kita berada di jaman dimana semua orang bisa memenuhi kebutuhan primer mereka, termasuk juga kebutuhan yang sifatnya sekunder atau bahkan tersier, karena apa yang dianggap ‘mewah’ di masa lalu sekarang ini sudah menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.
Dan kalau keadaannya sudah demikian, maka apakah keberadaan THR masih diperlukan? Toh tanpa memperoleh THR sekalipun, anda masih bisa makan enak dan juga beli baju bagus bukan?
Meski demikian pemberian THR untuk para pekerja tetap dilakukan sampe sekarang, bahkan semakin dimudahkan. Peraturan pemerintah terbaru di tahun 2016 menyebutkan bahwa pekerja yang baru bekerja selama 1 bulan sudah berhak memperoleh THR (sebelumnya minimal harus sudah 1 tahun bekerja), dan perusahaan harus sudah membayar THR tersebut satu minggu sebelum hari lebaran. Nah, pada titik inilah anda mungkin bisa berpikir berbeda soal itu duit THR mau diapakan: Daripada dipake buat beli banyak makanan untuk disajikan di hari raya tapi malah nggak habis dimakan, atau beli baju baru tapi cuma dipake sekali itu saja pas hari raya, maka kenapa tidak disimpan saja? Alias ditabung, agar anda punya simpanan aset yang nilainya kemudian meningkat dari tahun ke tahun (sehingga meski anda masih berstatus karyawan, tapi anda tetap memiliki aset seperti layaknya pengusaha).
Dan kalau anda sudah mengerti caranya, maka boleh juga THR tersebut diinvestasikan dengan cara dibelikan saham di pasar modal. I mean, kalau anda disuruh untuk menyisihkan gaji setiap bulan untuk dibelikan saham, maka itu mungkin agak sulit terutama jika gaya hidup anda sudah terlanjur ala ‘eksekutif muda’, yang biasanya terjadi pada pegawai kantoran di kota besar seperti Jakarta. Tapi ketika anda memperoleh THR inilah, maka kecuali anda hendak memberikan kembali THR tersebut ke orang tua atau keponakan di kampung halaman, maka anda bisa menyimpannya saja, dalam bentuk investasi saham.
Jadi, yup, kalau dulu setiap di bulan puasa selalu ada trader saham yang nyeletuk ‘Barusan gue dapet THR nih dari saham A!’, dimana mindset trader saham itu kalo dia cuan maka dia bisa menarik cuan tersebut untuk kemudian dipake hura-hura (istilah THR itu hanya kiasan, intinya duit hasil trading saham dipake buat hal-hal yang konsumtif), maka untuk sekarang ini, kecuali jika anda selama ini memang cuma bisa makan nasi pake kecap, maka anda bisa melakukan sebaliknya: Jika anda memperoleh THR maka uangnya kemudian dipakai untuk beli saham, dan demikian tahun-tahun selanjutnya begitu terus, hingga akhirnya anda akan memiliki sejumlah aset yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya. Bonusnya adalah, jika para pekerja di Indonesia ramai-ramai menginvestasikan THR-nya ketimbang menggunakannya untuk beli makanan dll secara berlebihan, maka itu akan menekan inflasi yang biasanya terjadi menjelang hari raya itu sendiri, sehingga berdampak positif pada perekonomian nasional. Yup, kalau anda perhatikan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada bulan Ramadhan tahun 2017 ini harga-harga kebutuhan pokok cenderung stabil (harga daging ayam dll memang masih naik, tapi masih dalam batas-batas yang bisa ditoleransi), yang mungkin karena sebagian masyarakat Indonesia sudah sadar investasi, dan lebih memilih menabung/menginvestasikan kembali THR yang mereka peroleh entah itu di saham atau lainnya, setidaknya sebagian diantaranya, ketimbang menghabiskannya untuk belanja ini itu secara berlebihan. At the end, dalam Islam sendiri disebutkan bahwa Allah SWT tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan bukan?
Okay Pak Teguh, terus saran sahamnya apa aja nih? Well, di blog ini penulis dalam beberapa bulan terakhir sudah banyak kasih clue tentang saham yang bagus-bagus kok, tinggal artikelnya dibaca lagi yap!

Info Investor: Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis 30 saham pilihan, edisi Kuartal I 2017. Anda bisa memperolehnya disini. TeguhHidayat.com tetap online selama libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bumi Resources: Obligasi Wajib Konversi??

Jika mengacu pada jadwal, right issue Bumi Resources (BUMI) seharusnya sudah memperoleh pernyataan efektif/persetujuan dari OJK pada tanggal 26 Mei kemarin. Namun hingga ketika artikel ini ditulis ternyata belum ada pernyataan efektif apapun, sehingga wajar jika kemudian timbul pertanyaan: Apakah OJK tidak setuju dengan pelaksanaan right issue tersebut, atau bagaimana? Keragu-raguan investor juga tercermin pada pergerakan saham BUMI yang pada satu waktu naik signifikan, tapi di waktu yang lain turun signifikan pula.

Nah, kalau anda baca-baca tulisan analis dan ‘pakar’ di forum-forum atau grup, maka ada banyak teori soal kenapa kok right issue BUMI sepertinya masih belum memperoleh lampu hijau dari OJK, tapi sebenarnya penjelasannya sederhana saja: Beberapa waktu lalu manajemen BUMI mengubah harga pelaksanaan obligasi wajib konversinya (OWK) dari Rp926 per unit OWK menjadi Rp1, sementara jumlah OWK yang diterbitkan bertambah dari hanya 25 unit untuk setiap 100 lembar saham BUMI, menjadi 23,089 unit (penjelasan selengkapnya baca disini).
Catatan: Obligasi wajib konversi, atau mandatory convertible bonds, adalah obligasi yang otomatis dikonversi menjadi saham setelah periode waktu tertentu, dimana pemegang sekian unit OWK BUMI bisa membeli/mengkonversi OWK-nya menjadi sekian lembar saham baru di BUMI (saham baru, yang akan diterbitkan kemudian), pada harga tertentu.
Dan ketika terjadi perubahan seperti itu, maka BUMI harus memperoleh persetujuan dari pemegang saham agar perubahan itu bisa dilakukan, alias harus menggelar RUPS lagi. Kemudian karena jumlah OWK yang diterbitkan jadi lebih banyak, maka rasio konversi dari OWK ke saham, dimana sebelumnya 1 unit OWK akan memperoleh 1 lembar saham BUMI, juga akan berubah. Intinya karena terdapat beberapa perubahan dari pelaksanaan right issue-nya (satu perubahan menyebabkan beberapa perubahan lain), maka terdapat beberapa proses yang harus diulang/dilakukan lagi oleh manajemen BUMI, sebelum baru kemudian memperoleh pernyataan efektif dari OJK. Seandainya BUMI tetap melaksanakan rencana semula, yakni menerbitkan OWK sebanyak 25 unit untuk setiap 100 embar saham BUMI, pada harga pelaksanaan Rp926 per unit, maka OJK juga seharusnya sudah memberikan pernyataan efektifnya pada tanggal 26 Mei kemarin.
Lalu kenapa BUMI mengubah harga konversi OWK-nya?
Seperti yang sudah kita bahas beberapa minggu lalu, perubahan harga konversi OWK (serta jumlah OWK yang diterbitkan) adalah untuk mengatasi perbedaan angka perolehan dana dari penerbitan OWK tersebut karena faktor pembulatan. Selain itu, kalau menurut penjelasan dari manajemen, perubahan itu dilakukan berdasarkan saran dari KSEI (Kustodian Sentra Efek Indonesia) mengingat OWK-nya diterbitkan tanpa warkat atau scripless.
Penjelasannya begini: OWK itu adalah obligasi, dan obligasi itu berbeda dengan saham. Berdasarkan rencana awal right issue-nya, setiap pemegang saham BUMI, termasuk pemegang saham publik, selain memperoleh hak untuk membeli/menebus saham baru BUMI di harga Rp926 per lembar, mereka juga memperoleh hak untuk menebus OWK di harga yang sama yakni Rp926 per unit. Ini artinya kalau ada pemegang saham yang menebus saham baru BUMI, maka jumlah saham yang ia pegang akan bertambah. Tapi bagaimana kalau ia menebus juga OWK-nya? Apakah OWK tersebut juga nantinya akan tercatat/tampak di portofolio, sementara seperti yang sudah disebut diatas, obligasi itu berbeda dengan saham?
Catatan: Diluar saham, ada dua jenis efek yang juga bisa dibeli/dimiliki oleh seorang investor saham, yakni warrant (di software trading anda, kodenya diakhiri dengan –W, misalnya BUMI-W), dan right (kodenya BUMI-R). Baik warrant maupun right, keduanya bisa dikonversi menjadi saham setelah jangka waktu tertentu, dan pada harga konversi tertentu, sehingga sejatinya dua jenis efek tersebut merupakan saham juga. Namun obligasi berbeda, terutama karena pemegang obligasi akan menerima bunga tetap/fixed interest sebesar sekian persen per tahun, sementara pemegang saham, warrant, maupun right, mereka tidak memperoleh bunga apapun. (pemegang saham akan menerima dividen/bukan bunga, tapi jumlahnya bisa berbeda dari tahun ke tahun, tergantung kinerja laba bersih perusahaan di tahun yang bersangkutan).
Namun dalam kasus OWK yang diterbitkan oleh BUMI, maka OWK ini pada akhirnya nanti akan terkonversi juga menjadi saham, atau dengan kata lain OWK ini sama saja, meski tidak sama persis, dengan warrant atau right. Karena itulah OWK ini kemudian dibuat jadi scripless saja, atau sama seperti halnya saham. Yang dimaksud dengan scripless adalah anda bisa membeli atau memiliki OWK ini tanpa harus memiliki sertifikat fisiknya. Berbeda dengan saham yang bisa dimiliki secara elektronik, ketika anda membeli obligasi yang diterbitkan sebuah perusahaan, maka normalnya pihak perusahaan akan menerbitkan warkat (semacam sertifikat) atau script yang berisi informasi-informasi penting seperti waktu penerbitan obligasi, nilai kupon, waktu jatuh tempo, dst. Hal ini karena, jika anda menjadi pemegang saham suatu perusahaan, maka pihak perusahaan tidak memiliki kewajiban membayar apapun terhadap anda kecuali kalo mereka membagikan dividen (tapi tidak ada kewajiban bagi perusahaan untuk membagikan dividen tersebut, contohnya Berkshire Hathaway yang sudah sejak 1960an belum pernah membayar dividen lagi). Sementara kalau anda memegang obligasi, maka pihak perusahaan wajib membayar bunga dalam bentuk setoran tunai langsung ke rekening anda, sehingga diperlukan semacam ‘surat perjanjian’ dalam bentuk script tadi, untuk menjamin bahwa anda akan memperoleh pembayaran bunga tersebut.
Tapi karena seperti yang sudah disebut diatas, OWK yang diterbitkan BUMI pada akhirnya nanti akan menjadi saham juga, maka OWK tersebut bisa dibuat menjadi scripless alias elektronik saja, atau sama seperti saham. Hanya memang kemudian timbul pertanyaan: Apakah OWK ini nantinya akan bisa diperdagangkan di bursa sama seperti halnya saham, warrant, atau right? (Kodenya BUMI-O?) Atau bagaimana? Penulis yakin dari pihak BEI dan OJK sendiri masih agak bingung soal ini, karena sepanjang sepengetahuan penulis, ini adalah kali pertama sebuah perusahaan menerbitkan obligasi untuk para pemegang sahamnya termasuk pemegang saham publik. Biasanya kalo perusahaan menerbitkan obligasi untuk mengkonversi atau melunasi utang-utang sebelumnya (refinancing), maka obligasi tersebut ditawarkan secara terbatas (private placement) kepada investor yang memang tipe pembeli obligasi (biasanya institusi perbankan, dana pensiun, dst), dan melalui broker obligasi yang ditunjuk (yang berbeda dengan broker saham), jadi bukan ditawarkan secara terbuka ke pemegang sahamnya apalagi ke pemegang saham publik (public offering). Dan memang BUMI sejatinya menawarkan OWK ini kepada para kreditornya sebagai alternatif konversi utangnya selain saham, tapi gak tau kenapa investor publik kemudian juga memperoleh right untuk menebus OWK tersebut.
Namun yang jelas karena itulah, proses pelaksanaan right issue BUMI ini mungkin bakal lebih lama dibanding biasanya, dimana perubahan jumlah OWK yang diterbitkan (dari 25 menjadi 23,089 unit untuk setiap 100 lembar saham BUMI) mungkin barulah satu langkah dari proses tersebut (penulis sendiri gak ngerti kenapa jumlah OWK yang diterbitkan harus lebih banyak agar menjadi scripless? Biar lebih likuid apa gimana?). Termasuk tulisan ini pun kemungkinan nanti bakal ada lanjutannya lagi.
Tapi kalau ada pertanyaan, bagaimana dampak dari perubahan harga pelaksanaan OWK dll terhadap fundamental BUMI dan/atau pelaksanaan right issue-nya itu sendiri? Maka bisa penulis katakan bahwa tidak ada dampak apapun. Untuk penerbitan sahamnya langsung tidak ada masalah, dan bukan tidak mungkin BUMI akan membagi dua right issue-nya, dimana perusahaan menerbitkan 28.7 milyar lembar saham baru dalam waktu dekat (pada harga pelaksanaan Rp926 per saham), sementara OWK-nya diterbitkan belakangan. Yang perlu dicatat adalah bahwa BUMI sudah tidak punya masalah apa-apa lagi dengan kreditornya, kinerja keuangan perusahaan di Kuartal I 2017 juga sudah mulai improve, sementara delay yang terjadi sekarang ini lebih karena masalah teknis, karena right issue yang dilakukan perusahaan memang berbeda dengan right issue seperti biasanya.
Kinerja operasional BUMI di Kuartal I 2017, perhatikan harga jual batubara yang naik signifikan
Hanya saja ketika balik lagi ke pertanyaan ala trader begijure (beli pagi jual sore): Jadi besok BUMI bakal naik atau turun nih??? Maka anda langsung tanya Mr. Dileep sajalah! Biar beliau tambah pusing sekalian.

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stockpick pilihan edisi Juni 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Three Rules of Stock Investing

Minggu lalu di artikel berjudul ‘Rekomendasi Buku untuk Value Investor’ penulis sudah share salah satu pengalaman dalam berinvestasi di saham pada tahun 2014 lalu, yang dari pengalaman tersebut penulis kemudian memperoleh beberapa pelajaran. Tak lama kemudian penulis menerima banyak email dari temen-temen investor yang juga sharing tentang pengalaman mereka masing-masing.

Karena itulah, melalui artikel kali ini, penulis mengajak anda untuk juga sharing, dalam hal ini dalam bentuk jawaban atas pertanyaan berikut: ‘Berdasarkan pengalaman anda selama ini, maka jika ada tiga peraturan atau rules dalam berinvestasi di saham, apa saja rules tersebut?’
1. ….
2. ….
3. ….
(Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah. Kalau bisa ceritakan juga salah satu pengalaman paling berkesan selama anda berinvestasi di saham).

Untuk artikel analisis saham, minggu depan kita akan bahas update terbaru dari salah satu saham yang lagi bikin pusing semua orang gara-gara right issue-nya yang ribet bin njlimet. Namun untuk sekarang, bagi teman-teman investor yang muslim penulis mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa! Semoga dengan berpuasa semakin melatih kesabaran kita ketika nungguin saham yang gak mau naik-naik.. Amin!
Buletin Analisis IHSG & Stockpick pilihan bulanan edisi Juni 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Urgent Needed: English – Indonesian Translator

Dicari: Freelance Penerjemah. Syaratnya cuma dua: 1. Mampu menterjemahkan tulisan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, lebih disukai jika juga berpengalaman sebagai penulis atau blogger, dan 2. Memahami/berpengalaman minimal dua tahun di bidang ekonomi, finance, dan investasi, khususnya di bidang pasar modal.

Bagi yang tertarik bisa kirim email ke teguh.idx@gmail.comdengan subjek ‘Freelance Penerjemah’, dan isi:
  1. Biodata & CV Lengkap, plus scan sertifikat TOEFL atau semacamnya (jika ada),
  2. Contoh hasil terjemahan dari artikel di blog ini. Anda bisa pilih salah satu artikel, terserah yang mana saja, kemudian anda tulis kembali dalam Bahasa Inggris.
Lamaran ditunggu selambat-lambatnya sampai tanggal 10 Juni [...]

Seminar Value Investing: Surabaya, 10 Juni 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Surabaya. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Surabaya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

 

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price. 
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengertiSetelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Embong Surabaya Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 10 Juni 2017
  • Waktu: Pukul 16.00 s/d 21.00 WIB (sore sampai malam hari).
  • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan malam, tajil/cemilan manis, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman peserta kelas Value Investing, Jakarta, 1 April 2017. Klik gambar untuk memperbesar
Komentar Alumni
Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luarbiasa sekali..
Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalo dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah.. 
Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn 
Merci..
Widya Olivia – Jakarta

Update: KURSINYA SUDAH PENUH. Jadi dengan ini pendaftarannya ditutup. Sampai jumpa di kelas value investing [...]

Rekomendasi Buku untuk Value Investor

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan ke penulis adalah, kalau mau belajar tentang investasi saham, khususnya metode value investing, maka buku apa saja yang disarankan terutama untuk investor pemula? Dan penulis seneng kalau ada yang bertanya seperti itu, karena itu artinya si investor, atau si calon investor ini sepenuhnya menyadari bahwa ia tidak akan memperoleh apa-apa di belantara pasar modal tanpa bekal pengetahuan. Karena, you know, adalah konyol jika kita pergi ke sungai untuk menangkap ikan tanpa membawa jaring atau alat pancing sama sekali bukan?

Namun terus terang, meski penulis sendiri suka membaca, namun hingga ketika artikel ini ditulis saya belum pernah membaca satupun buku tentang investasi saham hingga selesai. Di toko buku ada banyak sekali buku tentang investasi dan trading saham, baik itu tentang value investing atau metode lainnya, yang ditulis entah itu oleh penulis profesional, akademisi, ataupun oleh investor/praktisi investasi itu sendiri. Penulis dirumah juga punya beberapa buku karya Ben Graham, Joel Greenblatt, Peter Lynch, dan Seth Klarman (versi asli dalam Bahasa Inggris. Karena kalau ada versi bahasa Indonesia-nya, biasanya hasil terjemahannya kurang bagus, yang mungkin karena si penerjemah hanya ngerti cara men-translate English ke Bahasa, tapi gak ngerti soal investasi saham itu sendiri).
Tapi buku-buku itu kebanyakan cuma jadi pajangan saja di meja kerja penulis (biar keliatan pinter aja gitu). Termasuk buku Intelligent Investor karya gurunya Warren Buffett, Ben Graham, saya baru selesai baca kurang lebih tiga perempatnya saja. Sebab di buku tersebut konsep value investing dan margin of safety sudah cukup dijelaskan di dua bab pertamanya, sementara bab bab selanjutnya lebih banyak menyampaikan contoh-contoh aplikasi/penggunaan dari metode value investing itu sendiri di Bursa Wall Street di Amerika Serikat. Masalahnya adalah, kalau anda sudah cukup lama wara wiri di bursa saham di tanah air, maka anda akan melihat bahwa ada banyak contoh di buku tersebut yang tidak terlalu relevan dengan kondisi bursa disini (selain karena buku itu ditulis tahun 1934, alias udah lama banget), sehingga akan lebih baik jika kita sekedar memahami konsep dasarnya saja dulu, kemudian untuk penerapannya kita belajar lagi dari pengalaman dalam melakukan investasi itu sendiri.

Anda belum kelar baca buku The Intelligent Investor?? Sama!

Tapi kalau ada tulisan (bukan ‘buku’) yang banyak penulis baca, maka itu adalah Annual Letter yang ditulis langsung oleh Warren Buffett, yakni sejak ia memulai partnership-nya pada tahun 1956, hingga yang terbaru tahun 2016. Anda bisa memperolehnya di www.berkshirehathaway.com. Berbeda dengan buku-buku tentang investasi saham yang seringkali isinya cuma teori, di annual letter ini anda akan bisa merasakan sendiri perjalanan dan progress dari kegiatan investasi yang dilakukan oleh Buffett, dimana ada banyak sekali pelajaran dan wisdom yang bisa diperoleh dari situ (tulisannya dibuat dengan gaya bertutur/bercerita, sehingga seolah-olah Buffett bercerita langsung kepada anda tentang ia dapet profit dan menderita rugi di saham apa aja). Bonusnya adalah, dari dulu sampai sekarang Buffett selalu menulis letter-nya dalam bahasa yang santai dan mudah dimengerti, nyaris tanpa pernah menyertakan istilah-istilah keuangan yang biasanya sulit dipahami oleh orang awam.
Selain annual letter diatas (belum penulis baca semuanya sih, soalnya ada lebih dari 50 letter), penulis juga banyak menghabiskan waktu untuk membaca Wikipedia, Investopedia (kalau ada istilah tentang saham yang tidak anda pahami, maka investopedia biasanya punya penjelasannya), dan annual report terbaru dari emiten-emiten di BEI. Beberapa investor mungkin ingin lebih memperdalam pengetahuan dan informasi yang ia peroleh dengan juga membaca Bloomberg, Forbes, The Economist, hingga langganan koran bisnis & ekonomi, tapi terus terang penulis sendiri nggak se-rajin itu (padahal saya juga kolumnis di Forbes Indonesia). At the end, I’m just an investor, not a minister of finance.
‘Buku’ Paling Bagus sekaligus Paling Mahal: Pengalaman
Dan terakhir, seperti yang sudah disebut diatas, ‘buku’ yang senantiasa penulis baca setiap harinya adalah pengalaman dalam melakukan investasi saham itu sendiri. Boleh dibilang dari ‘buku’ inilah penulis memperoleh pelajaran yang paling berharga dan juga paling bisa diterapkan untuk kegiatan investasi selanjutnya, tapi disisi lain ‘buku’ ini ‘harganya’ jauuuuuh lebih mahal dibanding buku lain manapun yang pernah penulis baca. Yup, karena untuk memperoleh pengalaman berharga maka anda biasanya harus melewati satu peristiwa yang tidak akan pernah disukai oleh investor manapun: Jual saham dalam posisi rugi.
Contohnya, pada tahun 2014 lalu, penulis menemukan bahwa Salim Ivomas Pratama (SIMP), sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, minyak goreng, dan margarine, PBV-nya hanya 0.9 kali pada harga 900 ketika itu. SIMP adalah anak usaha dari Indofood Sukses Makmur (INDF), induk dari PP London Sumatera (LSIP), dan sister company dari Indofood CBP (ICBP). Ketika itu, penulis masih ingat, PBV dari INDF 1.7 kali, ICBP 4.9 kali, dan LSIP 2.4 kali. Alhasil penulis kemudian berkesimpulan bahwa SIMP ini undervalue, karena kalau ada orang yang mau beli INDF pada harga yang mencerminkan PBV 1.7 kali, maka tentu lebih baik ambil SIMP yang valuasinya hanya setengahnya, mengingat sekitar separuh dari aset INDF ya terletak di SIMP.
Penulis kemudian menempatkan tidak kurang dari 30% dana kelolaan di SIMP ini, pada harga 900, di bulan Maret 2014. Kemudian untuk sesaat dia naik sampai 1,000-an, tapi nggak kita jual (target kita ketika itu minimal 1,200), apalagi kemudian perusahaan merilis laporan keuangannya untuk Kuartal I 2014 dimana labanya naik signifikan. Tapi memasuki bulan Juli, entah kenapa SIMP mulai turun.. dan terus saja turun sampai level 750. Penulis katakan ‘entah kenapa’, karena ketika itu IHSG baik-baik saja, malah lagi naik, jadi saya sama sekali tidak ada clue soal penurunan SIMP tersebut. Namun karena ketika itu penulis tetap bersikukuh bahwa SIMP ini sudah kelewat murah, maka saya tetap hold.
Tapi beberapa waktu kemudian barulah penulis mengerti apa yang menyebabkan SIMP turun: Penurunan harga CPO, yang terjadi persis mulai bulan Maret 2014 dimana harga CPO ketika itu masih di level US$ 861, tapi kemudian terus saja turun hingga level US$ 600-an per ton. Dan setelah penulis pelajari lagi, ketika itu trend harga-harga komoditas memang lagi turun semua, termasuk harga CPO juga kemungkinan bakal terus turun, dan saham SIMP sebagai perusahaan sawit biar gimana ikut terpengaruh. Jadi ya sudah, dengan berat hati kita jual SIMP di harga 700 pas, dan penulis terpaksa menderita kerugian yang nilainya sama dengan uang belanja bulanan buat ibunya anak-anak di rumah selama setahun penuh (but as you might guess, penulis gak cerita apa-apa sama orang rumah karena saya gak mau tidur di teras depan. Saya baru cerita soal ini sekitar dua tahun kemudian).
Tapi dari pengalaman diatas penulis kemudian memperoleh setidaknya tiga pelajaran. Pertama, menganggap bahwa sebuah saham murah hanya karena PBV-nya lebih rendah dibanding PBV dari saham lain dalam satu grup usaha (SIMP lebih murah dibanding INDF, ICBP, dan LSIP), maka itu adalah anggapan yang keliru. Pada akhirnya orang hanya akan melihat kinerja perusahaan serta prospeknya kedepan, dalam hal ini terkait dengan harga CPO, sementara kinerja SIMP ini sejak awal gak begitu bagus jika dibanding INDF, ICBP, dan juga LSIP. Kedua, kalau ada saham turun sendiri ketika kinerjanya (sekilas) masih bagus, dan IHSG-nya juga lagi naik, maka segera lakukan evaluasi/jangan diem aja, karena bisa jadi ada sesuatu yang nggak beres (penulis ketika itu telat melakukan evaluasi setelah SIMP ini di harga 750. Harusnya waktu dia turun dari 1,000 ke 900, saya sudah mengeceknya lagi). Dan ketiga, seyakin apapun kita terhadap prospek suatu saham, sebaiknya jangan langsung hajar pake duit besar, melainkan bisa nyicil saja dulu, dimana kalau perkembangannya bagus maka boleh beli lagi, tapi kalo ternyata gak bagus/malah turun maka kita gak akan merasa berat untuk cut loss (alasan saya masih hold SIMP sampai harga 700-an ketika itu, salah satunya adalah karena merasa berat untuk jual rugi). Sejak kasus SIMP, maka kecuali untuk satu dua kasus, penulis paling banyak hanya menempatkan 15 – 20% dana kelolaan pada satu saham tertentu.
Untungnya penulis tidak perlu membayar terlalu mahal untuk memperoleh lessons diatas, karena saya sudah keluar dari SIMP ini di harga 700, sementara SIMP ini sendiri kemudian lanjut turun sampai 300-an. Dan meski sekarang dia naik lagi (waktu SIMP di mentok harga 300-an, penulis gak beli lagi), tapi dalam dua tahun terakhir penulis sudah menginvestasikan kembali uang hasil cut loss di SIMP ini pada saham-saham lain, yang kemudian menghasilkan profit lebih besar. Dari pengalaman di SIMP inilah, dan juga pengalaman di saham-saham lain, penulis menabung ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi bekal penting dalam berinvestasi itu sendiri, dan penulis menuangkan sebagian diantaranya dalam bentuk tulisan entah itu di blog ini maupun di beberapa buku yang saya tulis. Kalau anda baca buku karya penulis yang berjudul ‘Value Investing: Beat the Market in Five Minutes!’ (bisa dibeli di Gramedia), anda bisa lihat disitu kalau penulis nyaris tidak mengutip tulisan dari buku/sumber lain manapun, melainkan hampir sepenuhnya bersumber dari pengalaman penulis sebagai value investor itu sendiri.
Hanya memang, di bab bab awal tentang konsep dasar dari value investing, penulis banyak meng-quote pernyataan dari Warren Buffett. Sebab sebelum kita mulai ke bagian dari contoh-contoh penerapan value investing itu sendiri, maka tentu pertama-tama kita harus ngerti dulu, apa sih value investing itu? Seperti apa konsep dasarnya? Dan tidak ada sumber yang lebih baik untuk memahami konsep value investing selain mendengar langsung penjelasan dari Ben Graham dan Buffett sebagai ‘mbah-nya’ value investing itu sendiri.
Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Buku atau tulisan apa saja yang disarankan untuk dibaca terutama untuk value investor pemula? Jawabannya adalah annual letter yang ditulis langsung oleh Warren Buffett, artikel-artikel tentang investasi dan dunia keuangan di Wikipedia, dan Investopedia. Anda tentu boleh juga beli buku-buku tentang investasi saham di toko buku, tapi kalo misalnya bukunya bikin ngantuk maka gak usah ngotot untuk membaca semuanya sampai selesai, karena yang penting anda memperoleh konsep serta dasar pemikiran yang disampaikan di buku tersebut tentang investasi secara umum, investasi saham, dan juga value investing itu sendiri.
Sementara untuk penerapannya, maka anda bisa belajar dari pengalaman. Dan ‘buku’ bernama pengalaman ini harganya gak murah, bisa mencapai puluhan, ratusan juta, bahkan milyaran Rupiah (dalam bentuk kerugian. Karena biasanya seorang investor harus menderita rugi dulu, baru dia mau belajar. Sebab kalo belum apa-apa udah cuan, terus ngapain lagi saya harus belajar?). Bandingkan dengan rata-rata harga buku di Gramedia yang bahkan gak nyampe seratus ribu (buku penulis diatas harganya cuma Rp58,800). Namun demikian buku bernama pengalaman inilah yang akan benar-benar memberikan anda pelajaran yang bakal diingat seumur hidup. Thus, tak peduli seberapa besar ‘biaya’ yang harus anda keluarkan untuk memperolehnya, tapi asalkan anda kemudian bisa menangkap pelajarannya dengan baik dan juga menerapkannya dengan sama baiknya, then trust me, hasil profitnya akan jauh lebih besar lagi :)

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Investigasi: BEI vs Bumi Resources

Bursa Efek Indonesia (BEI): Bos, bisa minta waktunya sebentar? Kemarin kita baca-baca soal rencana right issue Bumi Resources (BUMI), dan ada beberapa hal yang mau kita tanyakan.
Mr. Dileep Srivastava (Corporate Secretary BUMI): Oh iya boleh pak, silahken.

Oke langsung aja. Dari informasi yang dirilis perusahaan, disebutkan bahwa setiap pemegang 100 lembar saham BUMI akan memperoleh dua macam right, yakni right seri A yang bisa digunakan untuk membeli/menebus 78 lembar saham baru BUMI pada harga pelaksanaan Rp926.16 per saham, dan right seri B yang bisa digunakan untuk membeli 25 unit obligasi wajib konversi atau OWK (obligasi yang otomatis dikonversi menjadi saham BUMI setelah periode waktu tertentu), juga pada harga Rp926.16 per unit. Kemudian juga disebutkan bahwa dari pelaksanaan right issue ini, perusahaan akan menerima dana Rp26.63 trilyun dari penerbitan saham baru, dan Rp8.46 trilyun dari penerbitan OWK, sehingga totalnya Rp35.09 trilyun.
Tapi setelah kita hitung ulang dengan cara mengkali harga pelaksanaan dengan jumlah saham baru dan OWK yang diterbitkan, maka dana yang diterima perusahaan hanya Rp34.94 trilyun, atau terdapat selisih Rp145 milyar. Bisa tolong dijelaskan kenapa angkanya beda?
Oh, selisih itu timbul karena faktor pembulatan saja pak. Secara lebih tepatnya, pemegang 100 lembar saham BUMI akan memperoleh right seri A untuk membeli 78.496499 lembar saham baru, dan juga right seri B untuk membeli 24.9308561 unit OWK. Angkanya kemudian dibulatkan masing-masing menjadi 78 lembar dan 25 unit, dimana kalau angka hasil pembulatan ini yang dipakai untuk menghitung total dana yang diperoleh, maka hasilnya akan sedikit berbeda dengan yang kami sampaikan di prospektus.
Tapi agar tidak lagi terjadi perbedaan seperti itu, maka pada revisi prospektus yang akan kami kirim nanti, akan disampaikan bahwa setiap pemegang 100 lembar saham BUMI akan memperoleh right seri B yang bisa digunakan untuk membeli 23,089 unit OWK(jadi bukan lagi hanya 25 unit), tapi pada harga pelaksanaan Rp1 saja per unit-nya.
Dengan demikian jumlah dana dari penebusan OWK untuk setiap 100 lembar saham BUMI adalah 23,089 unit x Rp1 = Rp23,089. Jumlah inilah yang lebih tepat/lebih menggambarkan nilai dana yang diterima perusahaan, dibanding jika kita pakai rumus awal yakni 25 unit x Rp926.16 = Rp23,154 (namun seperti yang anda lihat, selisihnya tidak jauh berbeda dan itu, sekali lagi, hanya karena faktor pembulatan saja).
Dan meski jumlah OWK yang diterbitkan jadi lebih besar, namun rasio konversi dari OWK ke saham BUMI juga akan disesuaikan, sehingga jumlah saham yang diterbitkan dari hasil konversi OWK ini tidak berubah.
Sementara untuk right seri A yang bisa digunakan untuk membeli saham baru (langsung saham, bukan lagi obligasi), harga pelaksanaannya tetap Rp926.16 per saham.
Disebutkan bahwa pembeli siaga untuk right issue ini adalah PT Samuel International yang akan membeli maksimal 28.5 milyar lembar saham senilai Rp26.4 trilyun, dan PT Danatama Capital sebanyak 286 juta lembar saham senilai Rp265 milyar. Bisa dijelaskan hubungan antara BUMI dengan Samuel dan juga Danatama?
Kita gak ada hubungan afiliasi apa-apa dengan mereka.
Seberapa siap Samuel sebagai pembeli siaga? Dari mana mereka punya Rp26.4 trilyun?
Gini bang. Waktu kemarin kita sepakat soal perjanjian restrukturisasi utang dengan para bank/kreditur, salah satu poin perjanjiannya adalah BUMI bersama dengan para keditur akan menunjuk pihak ketiga, dalam hal ini Samuel, dimana Samuel akan mengambil/menebus saham baru hasil right issue yang tidak diambil oleh pemegang saham BUMI dengan cara konversi utang BUMI menjadi saham (sehingga para kreditur BUMI menjadi pemegang saham di BUMI), jadi bukan dengan benar-benar menyetor sejumlah dana.
Terus gimana dengan Danatama?
Kalo Danatama sih, mereka beneran nyetor Rp265 milyar itu. Bukan jumlah besar lah.
Posisi Samuel dan Danatama disini sebagai apa? Perantara apa gimana?
Iya benar, Samuel adalah perantara antara BUMI dan para kreditur. Kalau Danatama bertindak untuk kepentingannya sendiri.
Disebutkan bahwa jumlah utang yang akan dikonversi menjadi saham adalah US$ 2,650,924,522 atau US$ 2.6 milyar, tapi itu lebih kecil dibanding jumlah dana yang dihasilkan dari right issue-nya, dengan selisih hampir US$ 20 juta. Kenapa beda lagi ini angkanya??
Iya betul, jumlah dana hasil right issue-nya memang sedikit lebih besar dibanding nilai utang yang dikonversi, tapi selisih US$ 20 juta itu adalah biaya yang harus kita keluarkan buat pelaksanaan right issue-nya itu sendiri, dan juga biaya restrukturisasi utangnya. Kaya Samuel tadi, mereka gak kerja gratis lah bang.
Di keterbukaan informasi, disebutkan bahwa Kaltim Prima Coal (KPC), Arutmin, dan IndoCoal Resources adalah anak-anak usaha BUMI. Tapi di laporan keuangan perusahaan per akhir tahun 2016, tiga perusahaan diatas disebut sebagai entitas ventura bersama. Yang bener yang mana cuy?
Sejak disepakatinya perjanjian restrukturisasi utang, maka setiap kali KPC, Arutmin, atau IndoCoal hendak melakukan transaksi penting, maka dibutuhkan persetujuan lebih dari satu pemegang saham (yakni BUMI dan beberapa krediturnya, yang juga menjadi pemegang saham di tiga perusahaan tersebut). Berdasarkan standar akuntansi untuk penyajian laporan keuangan, anak usaha dengan kriteria seperti itu harus diklasifikasikan sebagai entitas ventura bersama. Namun secara legal hukum, ketiga perusahaan diatas masih merupakan anak usaha BUMI.
Balik lagi ke soal OWK. Berapa harga konversi OWK ini menjadi saham? Dan kapan jatuh temponya?
Pemegang OWK akan menerima bunga 6% per tahun hingga maksimal tahun ketujuh setelah pelaksanaan right issue. Setelah tahun ketujuh, setiap unit OWK akan otomatis terkonversi menjadi saham, dimana 1 OWK akan menjadi 1 lembar saham baru BUMI yang akan diterbitkan kemudian (karena jumlah OWK yang diterbitkan berubah untuk mengatasi perbedaan karena pembulatan seperti yang sudah disampaikan diatas, maka rasio 1:1 ini akan disesuaikan). Namun pemegang OWK boleh mengkonversi OWK-nya lebih awal, dimana jika konversinya dilakukan pada tahun pertama atau kedua, maka harga pelaksanaannya adalah Rp926.16 + 30%, atau Rp1,204 per saham.
Sementara jika konversinya dilakukan pada tahun ketiga dan seterusnya, harga pelaksanaannya adalah berdasarkan harga rata-rata BUMI dipasar pada saat itu (rata-rata enam bulan terakhir).
Okay, masih ada informasi penting lain yang belum ente sampaikan? Yang mungkin bisa bikin BUMI naik atau turun??
Nggak ada bang.. Udah itu aja kok.
BUMI besok bakal cerah ijo atau hujan badai jeblok lagi?
Kalau itu tanya ke BMKG aja bang..
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Indika Energy

Bulan Mei baru saja beberapa hari, but the game difficulty has already switched from ‘easy’ to ‘hard’. Yup, kalau anda perhatikan beberapa waktu ini ada banyak saham-saham, terutama di kelompok second liner, yang turun signifikan meski IHSG sekilas nggak kemana-mana. Namun untuk beberapa saham, katakanlah Indika Energy (INDY), dia malah naik sendiri. Tapi untungnya secara fundamental kenaikan tersebut bisa dijelaskan (karena banyak juga kasus dimana saham-saham naik sendiri padahal fundamentalnya zonk), dan karena itulah kita akan membahas INDY disini. Okay, kita langsung aja.

INDY adalah perusahaan holding dengan kepemilikan aset di bidang tambang minyak, batubara dan infrastruktur pendukungnya, serta pembangkit listrik. Aset terbesar perusahaan adalah 46% saham di Kideco Jaya Agung, perusahaan tambang batubara terbesar ketiga (setelah Kaltim Prima Coal dan Adaro) di Indonesia. INDY juga merupakan pemegang saham pengendali di Mitra Energi Agung, Multi Tambangjaya Utama, Tripatra Engineering, Tripatra Constructors, dan Petrosea (PTRO), serta memegang 35% saham di Santan Batubara. Di bidang infrastruktur tambang dan energi, INDY merupakan pemegang saham pengendali di Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS, perusahaan kapal), Kuala Pelabuhan Indonesia (perusahaan pelabuhan), dan Petrosea Offshore (perusahaan logistik lepas pantai), serta memegang 20% saham di Cirebon Electric Power (perusahaan pembangkit listrik), 46% saham di Sea Bridge Shipping (perusahaan kapal), dan 45% saham di Cotrans Asia (perusahaan jasa pengangkutan batubara).

Jika penulis perhatikan, INDY ini memiliki beberapa kesamaan dibanding Bumi Resources (BUMI). Perhatikan: Meski merupakan perusahaan besar (beberapa tahun lalu market cap INDY pernah mencapai US$ 3 milyar, dan BUMI lebih besar lagi), tapi keduanya merupakan bagian dari grup usaha yang lebih besar lagi. BUMI adalah anak usaha dari Grup Bakrie, sementara INDY merupakan bagian dari Grup Indika milik Keluarga Sudwikatmono, dimana kedua perusahaan merupakan ‘wadah’ bagi aset-aset milik kedua grup diatas di bidang tambang batubara dan energi. Dan seperti halnya BUMI, perusahaan mengakuisisi aset-asetnya menggunakan utang. Alhasil ketika sektor batubara mulai lesu sejak tahun 2012, maka INDY langsung menderita kerugian karena beban bunga ketika mayoritas perusahaan batubara lainnya hanya mengalami penurunan laba. Dan sahamnya pun tanpa ampun terjun bebas dari Rp5,000-an (yup, dulu INDY pernah dihargai setinggi itu) hingga mentok di Rp100-an per saham, tahun 2015 lalu.
Hanya bedanya, jika dibanding BUMI, maka INDY dikelola dengan lebih konservatif, dan juga tidak terlalu ambisius dalam mengambil alih aset-aset. Pada periode puncak industri batubara di tahun 2011, INDY hanya memiliki utang sebanyak 2.5 kali nilai ekuitasnya, atau jauh dibawah BUMI yang mencapai 6 kali. Jika BUMI selalu berusaha untuk mengambil alih kepemilikan mayoritas di banyak perusahaan, salah satunya di Newmont Nusa Tenggara (melalui Bumi Resources Minerals/BRMS) namun gagal, maka INDY tidak pernah kedengaran berusaha untuk mengambil alih kendali atas Kideco (mereka sudah cukup puas dengan 46% saham), demikian pula di beberapa aset-aset lainnya, mereka hanya menjadi pemegang saham minoritas saja. Cara kerja yang berbeda ini menyebabkan INDY, meski sempat mengalami masa-masa sulit beberapa tahun lalu dan menderita kerugian hingga 4 tahun berturut-turut (2013 – 2016), tapi tidak sampai kedengaran gagal bayar utang ataupun terpaksa menjual asetnya seperti halnya BUMI. Dan sahamnya pun, meski sempat terpuruk sampai hanya 100-an, tapi gak pernah sampai mati di gocapan.
Nah, ketika industri batubara mencapai titik terendahnya pada pertengahan tahun 2015 lalu, ketika itu ditandai dengan ditutupnya atau berhentinya operasional dari beberapa perusahaan batubara skala kecil, dan ada beberapa perusahaan batubara yang berpindah kepemilikan, dalam hal ini Berau Coal Energy (BRAU) yang diakuisisi Grup Sinarmas (investing lesson #167: Jika suatu sektor/industri sudah sedemikian terpuruknya hingga beberapa perusahaan berhenti beroperasional atau bangkrut sama sekali, dan perusahaan-perusahaan yang bangkrut tersebut diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar dan mapan, maka itu biasanya merupakan titik balik dari sektor tersebut), maka penulis langsung mengecek lagi valuasi saham-saham batubara, dan ketemulah salah satunya INDY ini, yang ketika itu pada harga 100-an (130 lebih tepatnya), PBV-nya hanya 0.1 kali.
(Catatan: Pada Juli 2015, penulis sudah kasih hint tentang peluang di sektor batubara.  Anda bisa baca lagi analisisnya di artikel yang ini, coba baca juga komentar-komentarnya).
However, penulis ketika itu hanya memasukkan INDY kedalam watchlist saja, dan tidak/belum benar-benar berminat untuk membeli sahamnya, karena nggak pede dengan utang perusahaan yang segunung (utang INDY, meski masih lebih kecil dibanding utangnya BUMI, tapi tetep aja gede banget). Termasuk ketika sahamnya mulai merangkak naik hingga akhirnya konsolidasi di level 700 – 800, penulis tetap ambil posisi menonton saja, terutama karena INDY, seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, hingga akhir tahun 2016 masih membukukan kerugian hingga US$ 67.6 juta, dimana angka itu kembali naik dibanding kerugian di tahun sebelumnya (2015), padahal sepanjang tahun 2016 harga batubara sejatinya mulai naik.
Nah, mungkin anda bertanya, bagaimana kita bisa melihat/memperkirakan bahwa INDY mungkin belum akan profit dulu meski harga batubara mulai naik? Jawabannya simpel: Sebagian besar aset INDY bergerak di bidang mining service dan infrastruktur tambang, jadi bukan tambang batubara itu sendiri, sementara untuk perusahaan mining service yang kerjaannya menggali batubara/minyak milik perusahaan lain, maka pendapatan/labanya baru akan dicatat setelah pekerjaan menggalinya selesai dilakukan, bukan ketika kontrak pekerjaannya diterima. Jadi ketika harga batubara naik, maka anak-anak usaha INDY juga bakal kebanjiran order lagi untuk menggali batubara, tapi pendapatan mereka baru akan akan tampak naik pada 1 – 2 tahun kemudian. Contoh kasus yang bisa menjelaskan hal ini adalah ketika Petrosea (PTRO), salah satu anak usaha INDY di bidang mining service, masih membukukan pendapatan dan laba yang cukup besar di tahun 2013, padahal ketika itu harga batubara sudah mulai turun. Dan pendapatan PTRO yang besar tersebut memang berasal dari pekerjaan menggali batubara yang dilakukan perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya, yakni ketika harga batubara masih tinggi.
Namun karena masalah utangnya yang besar, maka bahkan kalaupun kita asumsikan bahwa mulai tahun 2017 ini pendapatan INDY secara overall bakal naik, tapi laba bersihnya belum tentu bakal ikut naik/mungkin masih rugi, karena masih tekor sama beban bunga utangnya. Pendek kata, berbeda dengan perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang bisa langsung diprediksi bakal profit, maka sangat sulit bagi investor/analis manapun untuk melihat apakah INDY bakal profit atau tidak di awal tahun 2017 ini. Dan itu sebabnya ketika ada banyak saham batubara yang naik signifikan sejak awal tahun kemarin, namun saham INDY cenderung gak kemana-mana di level 700-an, tapi dia nggak turun juga, karena semua orang termasuk penulis masih wait n see tentang bagaimana kira-kira kinerja INDY di Kuartal I 2017 nanti.
Jadi ketika INDY akhirnya merilis LK-nya akhir April kemarin, dan ternyata pendapatannya naik sementara laba bersihnya juga solid positif di angka US$ 22 juta, maka itulah signal yang sudah ditunggu-tunggu semua orang: INDY kemudian dengan cepat melejit, dan ketika artikel ini ditulis dia sudah berada di level 1,125 dari sebelumnya 700, seminggu lalu. Sekilas, kenaikan hingga 60% hanya dalam seminggu tentu saja tampak tidak wajar, tapi sebenarnya INDY hanya menyusul ketertinggalannya saja dari saham-saham batubara yang lain. Jika kita lihat lagi kenaikan saham-saham batubara termasuk INDY dalam setahun terakhir, maka posisi INDY saat ini sama seperti saham-saham batubara lainnya: Sudah naik sekitar dua kali lipat.
Terus apakah itu artinya INDY masih bisa naik lagi? Apalagi meski sahamnya sudah naik banyak, tapi PBV-nya pada harga 1,125 masih 0.7 kali, alias masih murah? Well, kalau anda melihatnya agak panjang, let say hingga akhir tahun 2017 maka iya, INDY mungkin masih bisa naik lagi. Tapi kalau dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu kedepan, maka tentu saja INDY mungkin akan cooling down dulu. Ingat pula bahwa sekarang sudah bulan Mei, dimana pasar normalnya tidak akan lagi serame awal tahun lalu.

Jadi Strateginya Bagaimana?
Jadi kalau anda tertarik dengan INDY ini, maka strateginya gini aja: Pertama, seperti juga kalau kita beli saham-saham lainnya, jadikan INDY ini simpanan untuk jangka menengah, alias paling pendek 3 bulan kedepan. Jika anda tertarik dengan INDY ini hanya karena dia kemarin terbang, dan juga berharap bahwa dia akan terbang lebih tinggi lagi dalam 2 – 3 hari kedepan, maka anda boleh coba saham lain saja seperti FPNI, BEKS, TRAM, MAMI, atau sebangsanya. Remember, INDY ini bukan untuk begituan.
Kedua, berapapun dana yang anda siapkan, maka bagi dana tersebut minimal jadi tiga bagian (atau empat bagian juga boleh). Bagian pertama boleh langsung dipake untuk hajar kanan, berapapun harga INDY ketika itu. Bagian kedua simpan untuk bulan depan. Jika pergerakan INDY ini sama seperti saham-saham murah lain yang melompat ketika laporan keuangannya bagus (dan prospeknya juga bagus), maka setinggi apapun kenaikannya, pada akhirnya dia akan turun lagi untuk konsolidasi, tapi penurunannya gak akan sampai balik lagi ke level sebelum dia naik (700-an). Proses konsolidasi tersebut, atau penulis suka menyebutnya cooling down, biasanya terjadi selama beberapa minggu hingga 1 – 2 bulan, tergantung IHSG-nya juga. Jika INDY kemudian turun sampai 900 – 1,000, kemudian stabil disitu katakanlah selama 2 – 3 minggu, maka anda bisa beli INDY ini sekali lagi. Tapi kalo malah naik lagi maka jangan dikejar, melainkan tunggu saja dulu sampai dia sampai ke fase stabilnya tadi.
Btw, dalam value investing, dan mungkin juga dalam metode investasi saham manapun, kita tidak bisa memprediksi arah pergerakan saham dalam jangka pendek. Tapi yang penting entah itu dia mau naik atau turun (dalam jangka pendek tersebut), kita tahu apa yang harus dilakukan. Inilah yang disebut strategi if what, then what.
Dan bagian ketiga atau terakhir, anda bisa menggunakannya pada akhir Juni (atau awal Agustus) nanti, yakni ketika INDY akan segera (atau baru saja) merilis laporan keuangannya untuk Kuartal II 2017. Dengan keluarnya LK Kuartal I, dan ternyata hasilnya positif, maka sekarang terdapat optimisme bahwa di Kuartal II nanti LK INDY bakal sama bagusnya, atau bahkan lebih bagus, karena disisi lain perusahaan baru saja merestrukturisasi sebagian utangnya (INDY barusan menerbitkan obligasi senilai US$ 265 juta dengan bunga yang lebih rendah, untuk refinancing/membayar utang sebelumnya), beberapa unit tambang batubaranya mulai beroperasi/meningkatkan volume produksi seiring dengan stabilnya harga batubara, demikian pula unit usaha mining service-nya kembali menerima banyak orderan. Optimisme investor karena poin-poin diatas akan menjaga INDY untuk setidaknya tidak balik lagi ke level 700-an, but still, untuk jangka panjang sahamnya tetap akan butuh sentimen lanjutan agar bisa naik lebih tinggi lagi. Dan sentimen yang paling bagus adalah LK Kuartal II tadi. Thus, jika semuanya berjalan lancar, maka INDY mungkin akan naik sampai level 2,000-an pada akhir tahun 2017 nanti.
Jadi yap, sepertinya kita baru dapet barang bagus lagi disini. But remember bahwa berlian yang paling cemerlang sekalipun tidak akan langsung tampak berkilau ketika kita menemukannya dari dalam tanah, melainkan harus diasah terlebih dahulu, dan tidak sesederhana itu untuk mengasah sebuah berlian. Saham juga sama: Mau sebagus apapun fundamentalnya, semurah apapun valuasinya, tapi kalau kita asal-asalan dalam membeli sahamnya (misalnya karena buru-buru ‘mengejar kereta’) maka tetap saja ujungnya malah bakal rugi. Contoh paling gampang adalah saham KMI Wire & Cable (KBLI), yang sudah kita recommend di blog ini pada Oktober 2016 lalu ketika sahamnya masih di 300-an (anda bisa baca lagi analisisnya disini), dan memang dia kemudian naik tinggi sampai sempat tembus 800, tapi kemudian malah banyak trader yang baru masuk di KBLI ini di harga 700 – 800 (udah telat banget!), sehingga sekarang mereka malah nyangkut.
Anyway, the lesson has been learned, jadi mudah-mudahan kali ini untuk INDY kita lebih beruntung.
PT Indika Energy, Tbk (INDY)
Rating Kinerja Kuartal I 2017: A
Rating Saham pada 1,125: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublish, Avere sedang dalam posisi memegang INDY di harga 780. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal I 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal I 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin, tanggal 8 Mei 2017 kemarin. Anda bisa langsung memesannya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa klik disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/WA 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL paling gokil
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – Jakarta
TESTIMONIAL paling jujur
Terima kasih pak Teguh untuk sarannya. Maaf, saya belajar pak, fundamental dan tehnik analisis walau masih sekulit. Untuk trading model tehnik analisis kayanya ga cocok sama sekali, ga ada waktu nongkrongin computer terus2an. Jadi saya lebih baik mempelajari saham2 pilihan pak Teguh saja. Dan dari pertengahan bulan kemarin, hasilnya sangat baik.
Terima kasih pak Teguh.
Cynthia Santoso – [...]

Hasil Pilkada DKI Jakarta, dan IHSG

Pada Rabu tanggal 19 April lalu, tepatnya sore harinya setelah hasil quick count menunjukkan bahwa pasangan Anies – Sandi menang Pilkada DKI Jakarta, penulis langsung menerima banyak email pertanyaan, bagaimana kira-kira IHSG besok? Sebab mayoritas pelaku pasar -meski tentu nggak semuanya- berharap pasangan Ahok – Djarot yang menang. Jadi ketika ternyata Anies yang menang, atau dengan kata lain harapan tadi tidak terwujud, maka itu seperti kita harap-harap cemas menunggu laporan keuangan terbaru perusahaan, dan ternyata hasilnya malah rugi.

Tapi ketika itu penulis langsung jawab (ke para member buletin bulanan) bahwa kalo kita sendiri gak melakukan action apa-apa, alias tetap meng-hold saham-saham yang sudah dipegang sebelumnya dan sama sekali gak jualan, karena IHSG seharunya akan aman-aman saja. Why? Well, ada beberapa alasan.
Perhatikan, di BEI ada dua kelompok investor yang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap Pilkada kemarin, yakni kelompok investor lokal, dan kelompok investor asing. Investor lokal normalnya akan bersikap subjektif terhadap Pilkada, karena mayoritas dari mereka memiliki pilihan gubernurnya masing-masing bahkan meski mereka tidak memiliki hak pilih/bukan warga Jakarta (Pilgub rasa Pilpres, katanya), dan hanya sedikit yang netral. Ini artinya bagi investor yang memilih Ahok, maka kemenangan Anies kemarin bisa berarti bahwa IHSG bakal drop. Karena, ingat bahwa kalau anda sedang nggak mood karena sesuatu, misalnya karena Ahok atau Real Madrid kemarin kalah, maka apa aja keliatannya bakal jadi jelek, termasuk IHSG kemungkinan bakal turun. Tapi bagi mereka yang memilih Anies, maka IHSG mau naik atau turun ya gak jadi soal, karena yang penting Jakarta sekarang punya gubernur yang (diharapkan) akan lebih baik.
Kombinasi antara investor atau trader domestik yang quit karena jagoannya kalah, plus investor lainnya yang tetap santai karena jagoannya menang, pada akhirnya akan membuat IHSG jalan ditempat, alias gak naik tapi juga gak turun. However, disini kita belum memperhitungkan posisi dari investor asing.
Dan berbeda dengan investor domestik, investor asing tidak peduli siapa yang menang, yang penting pelaksanaan Pilkada-nya berjalan aman dan lancar tanpa adanya kerusuhan, tindak anarkis, atau semacamnya. Dan indikasi bahwa Pilkada DKI memang akan lancar jaya sudah tampak sejak berakhirnya putaran pertama, tanggal 15 Februari lalu. Kalau anda ingat-ingat lagi, investor asing cenderung ogah masuk ke pasar pada bulan-bulan November, Desember, Januari, hingga awal Februari, sehingga volume transaksi di BEI juga menjadi sangat sepiiii, karena ketika itu suhu politik di dalam negeri sedang panas-panasnya, dimana Jakarta hampir setiap bulan dikepung oleh aksi unjuk rasa besar-besaran termasuk Aksi 212 yang legendaris itu, dan itu tentu saja membuat investor asing menjadi nervous. Karena dalam pandangan mereka, Indonesia ketika itu sudah mirip-mirip dengan Libya, Mesir, atau Suriah (berbagai gejolak politik dan peperangan di negara-negara tersebut, biasanya juga diawali dari unjuk rasa besar-besaran).
Namun Pilkada tanggal 15 Februari ternyata berjalan dengan lancar. And, surprisingly, setelah itu suhu politik mulai mereda, dimana meski masih ada beberapa aksi unjuk rasa tapi pesertanya tidak lagi sebanyak sebelumnya. Perhatikan: Sebelum tanggal 15 Februari sempat ada isu money rush, yakni ajakan dari oknum-oknum tertentu untuk menarik uang besar-besaran dari bank agar Indonesia mengalami krisis moneter, sehingga ‘memberi pelajaran’ kepada pemerintah karena (dianggap) melindungi Ahok. Intinya ketika itu yang jadi sasaran tembak adalah Pemerintah pusat langsung, dan bahkan sempat ada rumor bahwa Presiden Jokowi akan lengser.
Tapi beruntung, Pemerintah mampu melewati masa-masa krisis tersebut. Dan setelah tanggal 15 Februari, kondisi rawan karena ancaman dan intimidasi masih marak terjadi, namun kali ini hanya dialamatkan kepada pendukung Ahok saja (diusir dari masjid, jenazahnya tidak disholatkan, dll). Sementara posisi Pemerintah pusat boleh dibilang sudah kembali aman. Nah, bagi investor asing, itu saja yang mereka lihat, karena sekali lagi, mereka tidak peduli entah itu Ahok atau Anies yang menang. Dan alhasil sejak Maret kemarin mereka mulai belanja besar-besaran, dimana nilai net buy asing yang sempat minus Rp2 trilyun pada Februari lalu, sekarang sudah tercatat plus Rp19.5 trilyun (yang artinya hanya dalam tempo dua bulan, asing sudah belanja lebih dari Rp20 trilyun). Dan IHSG sendiri, yang sebelumnya hidup segan mati tak mau, akhirnya mulai naik dan terus mencetak new high. Kalau anda perhatikan lagi, asing bahkan belanja besar-besaran persis hanya dua tiga hari sebelum Pilkada tanggal 19 April, dan itu mungkin karena mereka melihat komitmen Pemerintah untuk serius mengamankan Pilkada (seminggu sebelum Pilkada, Pemerintah memobilisasi polisi dan tentara untuk mengamankan TPS-TPS di Jakarta).

Posisi net buy asing di BEI hingga 25 April

Jadi yah, ketika tanggal 19 April berlalu dan (untungnya) memang tidak terjadi aksi bakar ban atau semacamnya, maka tidak heran kalau IHSG kemudian melompat bukan?
However, itu untuk jangka pendek. Lalu bagaimana untuk jangka panjangnya? Bukankah dengan kalahnya Petahana maka berbagai pembangunan di Jakarta mungkin terpaksa dimulai lagi dari awal, atau bahkan berhenti sama sekali di tengah jalan karena Gubernur DKI yang baru, secara politik, tidak lagi berada dibawah arahan Pemeritah Pusat, dan itu akan berdampak buruk terhadap ekonomi nasional? Apakah Anies – Sandi sanggup untuk setidaknya mempertahankan berbagai pencapaian kinerja yang sudah dibuat oleh Ahok? Sementara secara politik, bukankah dengan ini maka posisi Presiden Jokowi untuk tahun 2019 nanti menjadi kurang aman? Dimana pertanyaannya juga sama: Seandainya Jokowi gagal lanjut periode kedua, maka bagaimana dengan berbagai pembangunan infrastruktur yang sudah beliau kerjakan tapi masih belum selesai???
Nah, bagi penulis sendiri, terus terang sulit untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas, karena itu sudah tidak lagi hanya terkait soal investasi saham ataupun IHSG, melainkan sudah menyangkut politik dll, dimana itu sudah diluar kapasitas penulis sebagai pelaku pasar. Namun demikian, ada satu hal yang penulis perhatikan: Meski orang-orang menyebut Pilkada DKI kemarin sebagai ‘Pilgub rasa Pilpres’, namun ada satu perbedaan mendasar: Jika pada Pilpres tahun 2014 lalu investor asing turut menjagokan salah satu capres, dalam hal ini Jokowi (sehingga ketika Jokowi menang, IHSG langsung dilanda ‘Jokowi Effect’ dan naik tinggi pada tahun 2014 tersebut), maka pada Pilgub kemarin, seperti yang sudah disebut diatas, mereka cenderung netral, karena siapapun yang menang maka pengaruhnya sebatas pada daerah yang dipimpinnya saja (Gubernur DKI, atau gubernur daerah manapun, tidak memiliki akses terhadap APBN ataupun kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik yang bersifat nasional). Yang penting posisi Pemerintah pusat aman dan tidak lagi menjadi sasaran tembak oposisi maupun kelompok-kelompok radikal.

Jadi kurang lebih sama saja ketika kemarin Amerika Serikat melangsungkan Pilpres dan ternyata Donald Trump yang menang, maka hal itu menjadi concern semua investor di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tapi ketika Amerika mengadakan pemilihan gubernur secara serentak untuk 36 negara bagian pada tahun 2014 lalu, maka hal itu tidak menjadi perhatian para investor, atau dengan kata lain, siapapun yang menang di tiap-tiap negara bagian, maka itu tidak jadi soal. Termasuk anda sendiri, mungkin anda baru mengetahui sekarang kalau pada Amerika pada tahun 2014 mengadakan Pilkada serentak bukan?

Intinya, meski pertarungan di Pilkada kemarin memang cukup menguras perhatian serta energi dari para pelaku pasar domestik, tapi selama hal itu tidak sampai menimbulkan gangguan atau tekanan tertentu terhadap pusat (atau kalaupun ada tekanan tersebut, maka dengan cepat mereda kembali), dan memang sejauh ini itulah yang terjadi, maka investor asing (dan juga lokal) tetap akan belanja saham, dan IHSG akan baik-baik saja.
Hanya memang pertanyaannya sekarang, dalam menjalani tugas-tugas serta kewajibannya sebagai Gubernur nanti, apakah Anies akan cukup strong dalam menghadapi tekanan-tekanan dari partai dan ormas yang ikut berjasa menempatkannya sebagai Gubernur? Apakah Anies mampu, seperti yang sering dikampanyekannya, untuk merangkul semua golongan termasuk para ormas ini tanpa harus merugikan warga Jakarta? Sebab, jujur saja, kalau gak ada Habib Rizieq dkk, maka mungkin Ahok masih akan jadi gubernur Jakarta untuk lima tahun kedepan. Termasuk sekarang Anies berada dalam posisi ‘berhutang budi’ kepada para partai pendukungnya, dimana utang itu hanya bisa dibayar lunas dengan mendukung penuh Prabowo sebagai Capres 2019 nanti.
Jadi kalau ada yang bilang bahwa menangnya Anies maka itu merupakan satu langkah awal bagi oposisi untuk menggulingkan Pemerintah pusat, dalam hal ini pada Pilpres 2019 nanti, termasuk apakah hasil Pilkada kemarin merupakan awal dari bangkitnya ormas-ormas ekstrimis (FPI, FUI, Hizbut Tahrir, dst) yang bakal mengancam ideologi dan keutuhan NKRI, maka penulis tidak bisa mengatakan setuju ataupun menolak pendapat tersebut, karena itu sangat tergantung dari bagaimana perkembangan politik di tanah air katakanlah dalam setahun kedepan, dimana terdapat dua kemungkinan: Pasangan Anies – Sandi mampu untuk tetap fokus pada tugas mereka untuk melayani warga Jakarta, termasuk mampu menghalau berbagai tekanan politik dan tetap berkolaborasi dengan Pemerintah pusat untuk membangun Jakarta, dan alhasil posisi Pemerintah Pusat tetap aman, dan IHSG tetap maju terus pantang mundur. Atau, mereka berdua ternyata tidak mampu berbuat apa-apa hingga cuma bisa ditunggangi oleh partai dan ormas, yang pada akhirnya berujung pada another pressure terhadap Pemerintah pusat. Dan ketika politik nasional gonjang ganjing lagi, maka tentu asing juga bakal kabur lagi.
Anyway, skenario manapun yang terjadi, kabar baiknya adalah itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, melainkan kurang lebih setahun dari sekarang, sebab ingat pula bahwa Ahok masih akan menjabat sebagai Gubernur hingga Oktober 2017. Sementara untuk saat ini, there is nothing to worry about, karena faktanya adalah pelaksanaan Pilkada kemarin berjalan sangat lancar. Disisi lain sekarang kita sudah memasuki musim laporan keuangan Kuartal I 2017, dimana kalau penulis cek LK-LK yang sudah keluar rata-rata hasilnya cukup baik, dan kalau LK yang nanti keluar juga sama baiknya maka itu tentu bagus buat IHSG. Well, mudah-mudahan.
Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 akan terbit hari Senin, 8 Mei 2017 mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.
Buletin Bulanan Analisis IHSG & Stockpick saham edisi Mei 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Batubara: Update Kuartal I 2017

Salah satu sektor yang penulis prediksi, atau lebih tepatnya penulis harap bakal hot tahun 2017 ini adalah sektor komoditas, tepatnya batubara, dan terkait hal ini sudah penulis bahas berkali-kali di banyak artikel di blog ini sejak September – Oktober tahun 2016 lalu. Kabar baiknya, berdasarkan kinerja terbaru untuk periode Kuartal I 2017 dari emiten Grup Astra yang bergerak di bidang batubara, yakni United Tractors (UNTR) (laporan keuangannya baru keluar kemarin banget), maka sepertinya harapan tersebut menjadi kenyataan, karena UNTR membukukan kenaikan laba bersih hingga lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2016.

Nah, jika anda sudah cukup lama di pasar modal, maka anda akan hafal bahwa kinerja dari anak-anak usaha Grup Astra biasanya mencerminkan kinerja sektornya secara umum, karena mereka adalah type manajemen yang running their business as it is alias gak pernah berbuat aneh-aneh, dan alhasil kinerja mereka senantiasa naik dan turun seiring dengan laju pertumbuhan industrinya (termasuk kinerja perusahaan induknya, yakni Astra International, akan mengikuti perkembangan ekonomi makro). Jadi kalau kita menggali lebih dalam lagi ke kinerja terbaru dari UNTR baik itu secara finansial maupun operasional, maka kita akan memperoleh update dari kinerja sektor batubara itu sendiri. Okay, here we go!
UNTR membukukan laba bersih Rp1.5 trilyun pada Kuartal I 2017, naik 105.5% dibanding tahun 2016. Terdapat setidaknya tiga poin yang penulis perhatikan dari kinerja UNTR. Pertama, pendapatan perusahaan naik signifikan (27.9%) dari Rp10.7 menjadi 13.7 trilyun, demikian pula laba bruto, laba operasional, hingga laba bersihnya semuanya naik signifikan. UNTR memiliki empat lini bisnis yakni penjualan alat-alat berat, kontraktor tambang batubara, penjualan batubara, dan konstruksi melalui anak usahanya, Acset Indonusa (ACST). Dan coba tebak lini bisnis mana yang pertumbuhannya paling tinggi? Benar sekali: Penjualan batubara, yang naik 62%, disusul penjualan alat-alat berat 42%, kontraktor batubara 13%, dan konstruksi 11%. Kenaikan nilai penjualan batubara berasal dari kenaikan volume produksi plus kenaikan harga jual dari batubara itu sendiri, sedangkan peningkatan penjualan alat-alat berat berasal dari meningkatnya permintaan di sektor tambang. Sepanjang tahun 2016, UNTR menjual total 2,181 unit alat berat Komatsu, yang didominasi oleh alat berat untuk konstruksi sebanyak 46%. Namun pada Kuartal I 2017 saja, perusahaan sudah menjual 847 unit Komatsu, dan kali ini didominasi alat berat untuk tambang sebanyak 41%.

Sementara untuk bisnis kontraktor tambang, penulis gak ngerti kenapa kenaikannya gak sesignifikan penjualan batubara dan alat-alat berat, tapi itu mungkin karena belum dapet gilirannya untuk naik kenceng saja, mengingat untuk usaha kontraktor tambang, UNTR baru bisa membukukan/mengakui pendapatan setelah pekerjaan menggali batubaranya selesai dilakukan, jadi bukan ketika mereka memperoleh kontraknya. Anyway, seperti unit-unit bisnis lainnya, pendapatan UNTR dari segmen mining service juga tetap bertumbuh.
Kedua, nilai utang usaha UNTR dari pihak ketiga naik signifikan dari Rp14.0 menjadi 17.3 trilyun di Kuartal I 2017, dan kenaikan tersebut terutama berasal dari kenaikan utang perusahaan ke Grup Komatsu (jadi UNTR ngambil unit-unit alat berat Komatsu, tapi bayarnya belakangan), dan juga kenaikan utang pembiayaan. Hal ini menunjukkan bahwa UNTR cukup optimis untuk menjual lebih banyak alat-alat berat sepanjang tahun 2017 ini, baik itu kepada pembeli yang membeli secara tunai maupun kredit. Dan ketiga, pada awal tahun 2017, UNTR melalui Pamapersada mengambil utang bank jangka panjang dan jangka pendek senilai total US$ 247 juta untuk keperluan modal kerja, dimana UNTR sebelumnya belum punya utang jangka panjang seperti itu. Nah, menurut anda kenapa UNTR berani ngambil utang long term buat ngemodalin usaha kontraktor tambangnya, kalau bukan karena Pamapersada mulai dapet banyak kerjaan buat gali batubara lagi? Peningkatan utang itu juga tidak berdampak buruk terhadap neraca UNTR, karena sejak awal posisi ekuitas perusahaan jauh lebih besar dibanding total kewajibannya.
Kesimpulannya, everything seems good, namun tentu kita juga perlu meng-compile data dan informasi dari perusahaan batubara yang lainnya lagi agar dapat kesimpulan yang lebih valid. However, hingga ketika artikel ini ditulis, baru UNTR saja yang sudah merilis LK untuk Kuartal I 2017, sementara yang lainnya mungkin masih harus menunggu sampai maksimal tanggal 30 April nanti.
Tapi kita mungkin bisa pakai data berikut: Seperti yang kita ketahui, Bumi Resources (BUMI) akan menggelar right issue dalam waktu dekat, dan perusahaan kemarin sudah merilis prospektusnya. Nah, prospektus ini menarik untuk dipelajari, karena kalau anda ingat-ingat lagi, BUMI juga pernah melakukan right issue pada tahun 2014 lalu (ketika itu juga ada prospektusnya), yakni ketika perlambatan di industri batubara masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Jadi anda mengerti maksud penulis bukan? Yup, berdasarkan kedua prospektus diatas, kita bisa membandingkan pandangan manajemen BUMI terhadap prospek atau outlook batubara pada tahun 2017 ini, dibandingkan dengan pandangan mereka di tahun 2014 lalu.
Okay, kita mulai dari ulasan BUMI di tahun 2014. Secara umum, manajemen ketika itu hanya mengatakan bahwa kebutuhan energi global dalam jangka panjang tetap akan bertumbuh, dan batubara tetap akan menempati posisi kedua sebagai sumber energi utama (setelah minyak). Ditambah dengan adanya proyeksi peningkatan konsumsi batubara di dalam negeri seiring dengan progress pembangunan PLTU 10,000 MW, maka dalam jangka menengah hingga panjang, permintaan batubara diprediksi akan kembali meningkat, dan harganya akan kembali naik.
Yang perlu dicatat disini adalah, ketika perusahaan menyebut ‘jangka menengah’ atau ‘jangka panjang’, maka itu maksudnya dalam waktu 5 tahun atau lebih lama lagi (dihitung dari tahun 2014), dan pernyataan itu bisa juga dibaca sebagai ‘Dalam jangka pendek, harga batubara mungkin belum akan naik dulu’. Juga, ketika manajemen menyebutkan bahwa ‘harga batubara pada akhirnya akan kembali naik’, tapi tidak disebutkan/tidak ada proyeksi bahwa harganya akan naik sampai berapa.
Lalu bagaimana dengan tahun 2017 ini? Well, secara umum bahasa prospeknya masih belum begitu optimis, karena masih ada kalimat seperti ‘kebijakan Pemerintah sangat mempengaruhi industri batubara nasional’, yang artinya pihak perusahaan menganggap bahwa outlook batubara bisa suram, tapi bisa juga cerah, tergantung dari kebijakan Pemerintah. However, untuk harga jual batubara itu sendiri, manajemen sudah cukup pede untuk secara spesifik menyebut berapa perkiraan harga batubara untuk tahun 2017 ini, yakni US$ 60 – 70 per ton, atau naik signifikan dibanding US$ 42 per ton pada tahun 2016. Sekedar catatan, harga jual batubara milik BUMI selalu lebih rendah dibanding harga patokan di Newcastle Australia, kurang lebih dengan selisih US$ 10 – 15 per ton. Namun jika harga batubara Newcastle naik, maka demikian pula harga batubara BUMI ikut naik. Karena harga batubara Newcastle terakhir mulai stabil di level US$ 85 – 90 per ton, maka perkiraan harga US$ 60 – 70 per ton diatas menjadi masuk akal.
Jadi yap, jika pertanyaan ‘Bagaimana outlook batubara untuk tahun 2017 ini?’ dijadikan semacam Pilkada dengan hanya dua pilihan jawaban yakni ‘Cerah’ atau ‘Masih Suram’, maka hasil analisa quick count sementara menunjukkan bahwa sepertinya jawaban ‘Cerah’ yang bakal menang. Memang, untuk menganalisis outlook batubara secara lebih menyeluruh maka kita juga harus menunggu sampai tanggal 30 April nanti, yakni hingga para emiten batubara merilis laporan keuangannya masing-masing. Tapi karena kalau di Pilkada hasil quick count biasanya tidak akan jauh berbeda dengan hasil real count-nya nanti, maka mudah-mudahan analisa diatas sudah bisa memberikan sedikit gambaran.
Okay, kecuali ada isu lain yang lebih menarik, untuk minggu depan kita akan bahas sedikit soal hasil Pilkada DKI, serta bagaimana pengaruhnya terhadap pasar saham dan IHSG.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 Akan Terbit Hari Senin, 8 Mei 2017. Anda Bisa Memperolehnya Disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Investasi Saham: ‘Kaya Sambil Tidur’

Rabu kemarin penulis mengantar keluarga bermain ke Kidzania di Mall Pacific Place, Jakarta. Semalam sebelumnya, ada satu peristiwa menarik: Anak-anak diberi tahu oleh ibu mereka untuk tidur cepat, karena besok harus bangun pagi-pagi agar tidak terlambat berangkat. Dan si teteh beserta adiknya, yang biasanya baru tidur sekitar pukul 8 – 9 malam, malam itu benar-benar tidur cepat dan mereka berdua sudah terlelap sekitar pukul 7.30, dan baru bangun lagi besok paginya.
Kemudian sepanjang perjalanan menuju Kidzania, di mobil anak-anak tidak henti-hentinya bermain, bernyanyi, dan saling mengganggu satu sama lain. Sesampainya disana pun, mereka berlari kesana kemari dan mencoba hampir semua aktivitas permainan yang tersedia. Pada perjalanan pulang, keduanya tidur lelap, tapi begitu sampai rumah mereka lari-lari lagi kesana kemari.
Sampai ibunya sendiri mulai kewalahan, ‘Ini anak-anak kok nggak ada cape-capenya ya?’
Dan penulis bilang, ‘Itu karena mereka tidur nyenyak semalem sebelum berangkat, dan tadi pas dijalan pulang mereka tidur lagi kan? Kalau udah tidur nyenyak gitu, mau sebelumnya capek kaya gimana pasti langsung seger lagi pas bangun.’
Aaaand yup! Kalau anda perhatikan, berbeda dengan orang dewasa yang kadang susah tidur, anak-anak itu gampang banget tidurnya. Dan itulah yang menyebabkan anak-anak itu seperti tidak pernah kehabisan stamina, karena setiap kali mereka sudah capek bermain, maka mereka tinggal tidur saja selama beberapa waktu, dan ‘baterai’ mereka akan terisi penuh kembali. Sementara orang dewasa, meskipun kita sama-sama tidur juga di malam hari, namun tidurnya terkadang tidak nyenyak, atau tidurnya kurang lama (misalnya baru tidur jam 12 malam, dan sudah harus bangun lagi jam 4 pagi). Alhasil ketika kita bangun di pagi hari maka baterai kita sebenarnya belum terisi penuh, sehingga badan masih terasa capek, dan kita jadi malas berangkat ke kantor. Nah, jujur saja, anda pernah mengalaminya bukan? Atau malah sering?
Okay, lalu apa hubungan soal ‘tidur’ ini dengan kegiatan investasi kita di saham?
Dalam satu tulisan di buletin bulanan, penulis pernah menyarankan kepada para member: Jika anda masih pemula, maka sebaiknya hindari saham A, karena dia type saham yang sangat fluktuatif, yang bisa naik hingga belasan persen hanya dalam hitungan hari, dan sebaliknya bisa jeblok hingga belasan persen pula hanya dalam hitungan hari, atau bahkan hanya dalam hitungan jam. Jadi kalau anda tetap membeli saham A ini, maka besar kemungkinan anda setiap harinya akan menghabiskan waktu seharian hanya untuk melihat pergerakan sahamnya dari pagi sampe sore, termasuk pada malam harinya juga nggak bisa tidur, karena deg-degan dan khawatir soal bagaimana pergerakan saham A ini keesokan harinya, apakah bakal naik atau turun. Malah ada juga investor (atau lebih tepatnya trader) yang pada malam hari bukannya tidur, tapi masih juga melototin monitor, untuk melihat pergerakan indeks Dow Jones, EIDO, atau lainnya. Lah kalo gitu terus lalu kapan istirahatnya???
Padahal dalam berinvestasi, tidur nyenyak itu sangatlah penting. Karena itu membantu kita untuk fresh dan recharged ketika bangun di pagi hari, sehingga kita bisa fokus untuk mengerjakan pekerjaan rutin kita yakni menganalisis saham, sehingga akhirnya bisa dihasilkan kesimpulan yang akurat tentang apakah suatu saham layak buy, hold, atau harus dijual. Ketika kita kurang tidur, atau cukup tidur namun tidurnya tidak berkualitas (baca: tidak nyenyak), maka kita tidak akan memiliki cukup stamina untuk mengerjakan analisis-analisis, entah itu analisis fundamental saham, teknikal, analisis IHSG, analisis dari berita-berita yang beredar, dst.
Dan ketika kita tidak bisa menganalisis dengan baik, maka jangan heran jika portofolio kita akhirnya jadi berantakan.
Nah! Jadi ketika Pak Lo Kheng Hong pernah berkata, ‘Saya menjadi kaya sambil tidur’, maka percaya atau tidak, pernyataan beliau itu benar adanya. Karena salah satu pekerjaan kita sebagai investor adalah.. Tidur! Tidurlah yang nyenyak, seperti bayi! Warren Buffett sendiri setiap harinya selalu tidur tepat pukul 22.00, dan bangun pada pukul 05.00 pagi. Sementara penulis sendiri, kalau misalnya ada pekerjaan menulis (karena menulis itu paling enak di malam hari) maka saya kadang tidurnya agak malam, sekitar pukul 23.00, dan tetap harus bangun pukul 05.00 pagi (untuk sholat subuh). Tapi kalau misalnya hari itu penulis gak kemana-mana/dirumah aja, maka penulis kemudian menggantinya dengan tidur siang pada pukul 12.30, tepatnya setelah makan siang (karena, you know, tidur yang paling enak itu kalau sehabis makan). Tidur siang ini sama sekali nggak lama, cuma sampai pukul 14.00, tapi ketika bangun rasanya segaaa…aaar sekali! Setelah pukul 14.00 itulah, kalau memang penulis masih ada kerjaan maka saya bisa langsung nyalain laptop lagi, dan tak berapa lama kemudian semua pekerjaan tersebut, termasuk kalau harus membeli dan menjual saham tertentu, akan selesai dengan baik.
‘Tidur seperti bayi’

Dan dalam jangka panjang, tidur yang berkualitas selama delapan jam setiap malam, atau enam setengah jam di malam hari plus satu setengah jam di siang hari, pada akhirnya akan membantu anda untuk melakukan pekerjaan rutin seorang value investor, yakni berburu ‘mutiara terpendam’, dan menghasilkan analisa-analisa akurat yang menghasilkan profit jumbo, seperti yang bisa anda baca di blog ini :) (Well, tidak semuanya profit, tentu saja, tapi sebagian besar lah).
Pertanyaannya sekarang, bagaimana sih caranya biar bisa tidur nyenyak begitu? Setiap malam pula? Well, menurut anda kenapa kok anak-anak gampang sekali untuk tidur nyenyak? Jawabannya ada dua: Pertama, anak-anak biasanya sangat aktif dalam bergerak, dimana mereka senang sekali main perosotan, ayunan, berenang, atau sekedar lari-lari di taman. Dan kedua, mereka nyaris tidak memiliki beban pikiran apapun, karena setiap hari kerjaannya hanya main, main, dan main. Termasuk di sekolah pun, diluar aktivitas belajar seperti biasanya, kegiatan mereka ya hanya bermain.
Jadi kalau kita mau tidur nyenyak, maka pertama, luangkan waktu untuk aktivitas fisik, aktivitas yang bikin anda berkeringat! Kalau misalnya anda gak punya waktu ke gym, maka dirumah (atau dikantor) anda bisa push up, sit up, lari di tempat, hingga berlatih tinju didepan cermin (yup, penulis sendiri suka melakukan itu). Gak usah lama-lama, totalnya cukup 15 menit aja dalam sehari. Atau misalnya ketika anda sudah duduk cukup lama didepan monitor komputer dan merasa capek, maka coba berdiri, lakukan peregangan selama 15 menit. Lakukan itu setiap hari tanpa terlewatkan, dan lihat hasilnya.
Kedua, kurangi beban pikiran anda, entah itu beban pikiran terkait investasi anda ataupun lainnya. Caranya? Ya itu tadi: Kalau anda masih pemula, maka hindari saham-saham yang fluktuatif, dan sebisa mungkin pilih saham-saham type ‘alon-alon asal kelakon’, sehingga anda bisa tidur nyenyak di malam hari karena anda tahu persis bahwa pada keesokan harinya saham anda tersebut gak akan bergerak naik terlalu tinggi, ataupun turun terlalu dalam. Contohnya saham-saham bluechip, yang pergerakannya biasanya ngikut IHSG aja. Normalnya dibutuhkan pengalaman selama beberapa tahun hingga akhirnya anda bisa membeli ‘saham-saham terbang’ tapi tetap bisa tidur nyenyak di malam hari (termasuk tidur siang dengan nyenyak juga). Tapi sebelum itu, you know what to do.
Diluar dua tips diatas, anda mungkin bisa menambahkan tips lainnya lagi soal ‘cara tidur nyenyak’, googling aja ada banyak kok. Tapi intinya ketika nanti anda bisa tidur nyenyak di malam hari, sehingga kemudian bisa mengerjakan analisis saham serta menyusun investment planning pada pagi harinya dengan baik (misalnya ketika sedang musim laporan keuangan, jadi nggak perlu tiap pagi), maka coba deh lihat sendiri hasilnya dalam jangka panjang, anda akan kaget sendiri :)

Anda investor pemula/calon investor? Silahkan baca tips-tips memilih broker/sekuritas di artikel ini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Soechi Lines

IHSG, seperti yang anda ketahui, dalam sebulanan terakhir terus bergerak naik ke level rekor tertingginya, atau istilahnya break new high, dan kalau anda baca-baca lagi tulisan di blog ini sejak Desember 2016 lalu (mulai dari artikel yang ini tentang Aksi Damai 212, hingga terakhir soal kunjungan Raja Salman) maka kenaikan IHSG ini tidaklah mengejutkan, karena sejak awal sudah banyak tanda-tandanya. Dalam kondisi ini maka hampir semua saham bagus di BEI berlomba-lomba untuk naik, sebagian diantaranya bahkan sudah naik sejak Januari kemarin, sehingga jika anda sudah ambil posisi sejak akhir 2016 lalu maka sekarang ini porto anda seharusnya sudah membukukan keuntungan yang cukup baik.

Tapi.. Hey, bagaimana kalau saya baru mau belanja sekarang? Masih adakah saham bagus yang bisa dibeli? Well, bagaimana kalau penulis bilang bahwa pilihannya masih ada banyak? :D Okay baiklah, disini kita akan bahas satu diantaranya: Soechi Lines (SOCI).
Soechi Lines adalah perusahaan kapal spesialis pengangkutan minyak, gas, kimia, dan FSO (floating, storage, offloading). Meski awalnya berstatus sebagai pemain kelas menengah, namun SOCI sekarang ini sudah ‘naik kelas’ menjadi salah satu perusahaan jasa pelayaran terbesar di Indonesia. Hingga Kuartal II 2016, perusahaan memiliki armada 35 unit kapal berbagai ukuran, termasuk 2 unit kapal tanker minyak dengan kapasitas angkut 300 ribu ton, dimana SOCI merupakan perusahaan swasta pertama di Indonesia yang memiliki kapal dengan kapasitas sebesar itu. Selain bisnis pelayaran, SOCI juga merupakan satu dari sedikit perusahaan kapal di Indonesia yang memiliki galangan kapal-nya (shipyard) sendiri yang menyediakan jasa perbaikan dan perawatan kapal, termasuk juga membuat kapal baru, baik itu untuk digunakan oleh SOCI sendiri maupun untuk dijual. Shipyard tersebut berlokasi di Pulau Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (sangat dekat dengan Selat Malaka, yang notabene merupakan salah satu jalur pelayaran paling sibuk di dunia), dan berstatus sebagai shipyard terbesar di Indonesia dengan total luas area 200 hektar.

Kapal ‘Success Challenger’, salah satu tanker minyak kapasitas besar milik PT Soechi Lines

Yang menarik dari SOCI, sekaligus membedakannya dengan perusahaan kapal lain, adalah kemampuannya untuk terus berekspansi ketika industri perkapalan sebenarnya sedang berdarah-darah dalam beberapa tahun terakhir karena penurunan harga minyak, yang mencapai titik terendahnya pada awal tahun 2016 lalu. Sejak minyak anjlok di tahun 2008, ada banyak perusahaan kapal yang lebih sibuk berurusan dengan utang-utangnya ketimbang katakanlah menambah armada kapal baru, beberapa diantaranya bahkan bangkrut sama sekali, dan sampai sekarang situasinya masih demikian. Namun SOCI berbeda. Pada tahun 2009, perusahaan justru berani masuk ke bisnis shipyard, yang tetap beroperasi dengan lancar sampai sekarang. Pada tahun 2010, SOCI memiliki 27 unit kapal dengan total kapasitas angkut 568 ribu ton, dan jumlah itu meningkat menjadi 35 unit kapal dengan total kapasitas 1.46 juta ton pada Kuartal II 2016 (plus perusahaan sukses go public pada tahun 2014, ketika itu dengan harga saham perdana Rp550).
Dan seiring dengan kembali stabilnya harga minyak serta komoditas lainnya dalam setahunan terakhir, maka SOCI juga lebih agresif lagi dalam berekspansi. Pada Desember 2016 dan Februari 2017, SOCI membeli 3 unit kapal baru, sehingga perusahaan sekarang memiliki 38 unit kapal dengan total kapasitas 1.57 juta ton. Melalui shipyard-nya, pada Desember 2016 perusahaan meluncurkan floating dock berkapasitas 12 ribu ton, sehingga sekarang SOCI mampu menyediakan jasa perawatan dan perbaikan kapal dengan kapasitas hingga 50 ribu ton. Pada Februari 2017, SOCI menyelesaikan pembangunan 1 unit kapal berkapasitas 4 ribu ton, dan pada Mei nanti perusahaan akan menyelesaikan pembuatan salah satu dari 3 unit kapal pesanan PT Pertamina.
Kabar baiknya, berbagai ekspansi diatas tetap dikerjakan dengan hati-hati dan tanpa mengambil utang yang berlebihan. Contohnya, SOCI hanya membeli kapal baru jika ada permintaan dari customer. Dan ketika perusahaan membuat kapal baru untuk dijual, maka biaya pembuatannya berasal dari termin pembayaran yang dilakukan oleh calon pembeli, dimana pembayarannya dilakukan secara bertahap mengikuti progress pembuatan kapal itu sendiri. Dengan cara inilah, rasio leverage SOCI tetap terjaga di level aman, dimana hingga akhir tahun 2016, perusahaan mencatat total kewajiban US$ 261 juta, atau masih lebih rendah dibanding ekuitasnya yakni US$ 295 juta. Disisi lain, ekspansi penambahan kapal yang dilakukan perusahaan menunjukkan bahwa permintaan jasa sewa kapal kembali meningkat, dan SOCI menjadi satu dari sedikit perusahaan kapal yang mampu menangkap peluang tersebut (karena, seperti yang sudah disebut diatas, perusahaan kapal yang lain lebih sibuk gali lobang tutup lobang).
Kesimpulannya, SOCI memiliki prospek yang cerah, terutama kalau kita lihat adanya pembangunan kilang-kilang minyak baru yang tentunya akan membutuhkan jasa angkutan kapal (termasuk kilang minyak di Cilacap senilai US$ 6 milyar, kerjasama antara Pertamina dan Aramco), selain karena perusahaan juga memiliki track record kinerja yang konsisten dimasa lalu, dimana pendapatan serta laba bersihnya naik terus dari tahun 2012 hingga 2015, dan baru turun pada tahun 2016 kemarin (pada tahun 2016, SOCI membukukan laba bersih US$ 21 juta, turun dari tahun 2015 sebesar US$ 41 juta). Penurunan kinerja perusahaan dalam setahun terakhir ini mungkin tampak buruk, tapi mari kita perhatikan lagi: Pertama, pendapatan SOCI memang turun pada tahun 2016, namun pada tahun 2016 inilah harga minyak menyentuh titik terendahnya yakni US$ 27 per barel pada Januari. Tapi sekarang, seperti yang bisa anda lihat, harga minyak sudah stabil di kisaran US$ 50 per barel.
Kedua, pada tahun 2016 SOCI menjual dua unit kapalnya senilai total US$ 17.6 juta, namun hanya pada harga US$ 7.5 juta saja, sehingga perusahaan membukukan rugi US$ 10.1 juta. Ketiga, dari bisnis shipyard-nya, SOCI juga membukukan kerugian kurs US$ 2 juta. Alhasil jika tidak ada dua akun kerugian tersebut, maka sejatinya laba bersih SOCI tercatat sekitar US$ 33 juta, atau masih turun dibanding tahun 2015, tapi penurunannya tidak terlalu besar.
Tapi apapun itu, penurunan laba bersih SOCI menyebabkan sahamnya langsung turun, dari 500-an hingga sempat menyentuh 270 pada Februari 2017 lalu. Kabar baiknya, pada harga 270 tersebut PBV SOCI tercatat hanya 0.5 kali, alias sudah sangat murah, tentu saja. Dan kalau kita pelajari lagi prospeknya diatas, plus fakta bahwa penurunan kinerja SOCI pada tahun 2016 lalu lebih karena industrinya lagi sepi plus peristiwa force majeure penjualan kapalnya (penulis tidak tahu apa yang menyebabkan SOCI menjual kapalnya dalam posisi rugi, tapi kalau melihat bahwa perusahaan juga menerima pembayaran klaim asuransi pada tahun 2016 tersebut sebesar US$ 6 juta, maka mungkin itu karena kapalnya mengalami kerusakan serius atau semacamnya, sehingga terpaksa dijual), maka untuk tahun 2017 ini dan seterusnya, dengan asumsi SOCI tidak kena force majeure lagi, maka perusahaan berpeluang untuk kembali mencetak kinerja bagus lagi seperti dulu. Yup, secara fundamental, SOCI ini jauh lebih baik dibanding Buana Listya Tama (BULL) yang sudah kita bahas minggu lalu, dimana SOCI ini konsisten membukukan ROE 15 – 20% di masa lalu, namun valuasi sahamnya sama murahnya.
Tapi masalahnya sekarang SOCI ini bukan di harga 270 lagi, melainkan sudah naik ke 384. Jadi gimana tuh? Well, kenaikan signifikan SOCI sejak dua mingguan terakhir salah satunya mungkin karena keluarnya berita bahwa Pertamina dalam waktu dekat akan menggelar tender pengadaan kapal minyak, tidak tanggung-tanggung jumlahnya hingga 45 unit kapal, dan SOCI sejak dulu sudah dikenal sebagai salah satu klien utama Pertamina dalam urusan pengadaan kapal ini, plus seperti yang sudah disebut diatas, perusahaan sendiri sejak beberapa waktu lalu sudah membeli setidaknya tiga unit kapal baru. Alhasil ketika saham-saham kapal beterbangan pada Jumat, 31 Maret kemarin, namun SOCI yang naiknya paling tinggi.
However, kenaikan saham karena pengaruh news seperti ini biasanya hanya sementara, jadi dalam waktu dekat SOCI mungkin akan turun lagi tapi seharusnya gak akan sampai balik lagi ke posisi dibawah 300, dan ketika itulah anda bisa masuk. Atau kalaupun anda mau langsung masuk di harga sekarang (karena bisa juga SOCI ini gak mau turun lagi, who knows? Selain itu di harga 384, PBV-nya masih 0.7 kali), maka masuknya sedikit saja dulu alias nyicil. Jika semuanya lancar, dan perusahaan benar-benar mampu men-deliver kinerja yang lebih baik pada Kuartal I 2017 nanti, maka hingga akhir tahun 2017 ini SOCI mungkin akan naik hingga balik lagi ke posisinya pada awal tahun 2015 lalu (yakni sesaat sebelum IHSG mulai turun berkepanjangan), yakni 500 – 600. Okay then, let’s see.
PT Soechi Lines, Tbk
Rating Kinerja pada 2016: BBB
Rating Saham pada 384: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang SOCI di harga Rp328. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham Pilihan edisi April 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Charity Lunch with Teguh Hidayat

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan program charity lunch, dimana anda bisa bertemu dan berdiskusi santai secara tentang dunia investasi saham langsung dengan penulis sambil makan siang, termasuk anda juga bisa berkonsultasi, bertanya, dan meminta ‘pencerahan’ entah itu tentang analisa saham tertentu, analisis IHSG, saran untuk portofolio dll. Pendek kata, nanti kita bisa makan-makan sambil ngobrol santai aja gitu. Berikut keterangan selengkapnya:

Untuk ikut program charity lunch ini maka anda tidak dipungut biaya, dimana dalam program ini penulis memang tidak mengenakan biaya sepeserpun. Namun demikian anda tetap harus mentransfer sejumlah uang, bukan ke rekening penulis melainkan ke lembaga donasi, yakni melalui kitabisa.com.

Lalu berapa jumlah donasinya? Well, minimal Rp2,500,000 alias dua setengah juta Rupiah, maksimal tidak terbatas. Jumlah peserta charity lunch ini dibatasi maksimal 4 orang saja.
Berikut adalah jadwal lunch terdekat: Minggu, 2 April 2017, di Collage All Day Dining, Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, pukul 11.00 WIB s/d selesai.

Okay, berikut cara untuk bergabung:
1. Kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Charity Lunch’ dan isi: Nama lengkap anda, nomor telepon/Whatsapp. Contoh: Cristiano Ronaldo, 0811223344.
2. Jika masih ada seat, maka anda akan menerima email balasan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta program, dan penulis akan kontak anda langsung via Whatsapp. Anda kemudian melakukan donasi di kitabisa.com, kemudian menunjukkan bukti transfernya, bisa via WA atau bawa langsung bukti transfer tersebut ketika ketemu penulis.
3. Namun jika seat-nya sudah penuh, maka anda akan menerima email balasan yang menginformasikan hal tersebut (bahwa seat-nya sudah penuh), dan bahwa nama anda masuk daftar tunggu/waiting list untuk acara charity lunch selanjutnya.
Catatan Penting:
1. Untuk melakukan donasi, pertama anda buka kitabisa.com, klik ‘DONASI’ dibagian atas, lalu klik salah satu campaign yang ditampilkan (campaign-nya mulai dari pembangunan rumah ibadah, santunan bagi yatim piatu, membantu biaya rumah sakit bagi penderita kanker, dan seterusnya. Jadi anda tinggal pilih saja mau nyumbang yang mana). Di halaman berikutnya, klik ‘DONASI SEKARANG’, lalu tinggal ikuti saja langkah-langkah selanjutnya.
2. Berapapun nilai donasi anda, itu tidak akan dipublikasikan. Yang akan dipublikasikan nanti hanyalah total donasi yang terkumpul dari acara charity lunch ini (asumsi pesertanya 4 orang dan masing-masing melakukan donasi Rp2.5 juta, maka totalnya adalah Rp10 juta).
3. Penulis tidak memiliki hubungan apapun dengan kitabisa.comataupun orang-orang di dalamnya, kecuali pernah menjadi salah satu donaturnya saja. Tujuan penulis mengadakan program charity lunch ini adalah untuk mengkampanyekan charity/kegiatan amal itu sendiri, dan kitabisa.com merupakan sarana paling praktis dan menawarkan banyak pilihan untuk kegiatan amal tersebut.
4. Beberapa hal yang nanti bisa didiskusikan/konsultasi secara private dengan penulis di acara lunch-nya: A. Analisis untuk saham-saham tertentu, termasuk (jika ada) harga beli terbaik, target harga, dan perkiraan waktu terbaik untuk beli dan jual, B. Pilihan saham-saham terbaik untuk tujuan investasi jangka menengah dan panjang, dan juga pilihan saham terbaik untuk trading jangka pendek (3 bulan atau kurang) berdasarkan kaidah value investing, C. Analisis & outlook sektor usaha tertentu, arah IHSG dalam jangka menengah dan panjang, hingga analisis makroekonomi, D. Penjelasan mengenai istilah-istilah tertentu dalam dunia investasi saham, E. Konsultasi mengenai susunan portofolio anda saat ini, dan seterusnya.
Penulis bersama dua pemenang lelang charity lunch, tanggal 4 Maret, di Jakarta. Dari acara ini terkumpul donasi sebesar total Rp12,200,000

Ada pertanyaan? Silahkan kontak Ms. Nury di nomor telepon/SMS/Whatsapp 081220445202.

Jadwal Kelas Training Value Investing: Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 1 April 2017. Biayanya hanya Rp950,000 per peserta. Keterangan selengkapnya baca [...]

Buana Listya Tama

Buana Listya Tama (BULL) merupakan contoh bagaimana saham yang dulunya sempat mati suri selama bertahun-tahun, biasanya karena perusahaannya memang bermasalah, tapi karena selanjutnya pihak manajemen sedikit demi sedikit mampu menyelesaikan masalahnya tersebut, maka akhirnya sahamnya juga mampu bangkit lagi. Nah, ketika ketemu ‘saham zombie’ seperti ini, biasanya value investor punya peluang. Sebab ketika sebuah perusahaan terkena masalah yang serius, entah itu gagal bayar utang, perusahaannya berhenti beroperasi dst, maka sahamnya juga praktis bakal terjun bebas hingga ke posisi yang amat sangat rendah (kadang sampai di-suspend), sehingga valuasinya menjadi amat sangat murah.

Dan memang benar: Ketika suspend BULL dicabut pada akhir Desember 2016 lalu, sahamnya langsung melompat dari 82 hingga (ketika artikel ini ditulis) ke posisi 127, atau sudah naik 55%, tapi bahkan pada posisinya tersebut, PER dan PBV-nya masing-masing cuma 2.9 dan 0.2 kali (berdasarkan laporan keuangan Kuartal III 2016, dan berdasarkan jumlah saham sebelum right issue). Pertanyaannya sekarang, okay BULL mungkin memang murah, sangat murah malah, tapi bagaimana dengan fundamentalnya? Apa yang menyebabkan sahamnya jatuh dan mati di level kisaran gocapan? Gak mungkin sebuah saham bisa sampai terpuruk seperti itu kalau perusahaannya nggak bermasalah bukan? Dan terkait masalahnya tersebut, bagaimana update terbarunya sekarang ini? Ketika kemarin suspensi sahamnya dicabut, maka apakah itu karena masalahnya sudah beres semua atau gimana?
Untuk menjawab semua pertanyaan diatas, maka kita perlu melihat lagi BULL ini sejak awal. Okay, here we go:
Buana Listya Tama adalah perusahaan jasa transportasi kapal spesialis pengangkutan minyak, gas, dan bahan-bahan kimia. Per 30 September 2016, perusahaan memiliki dan mengoperasikan 12 unit kapal tanker yang terdiri dari 7 tanker minyak, 1 FPSO (floating production storage and offloading), 3 tanker gas, dan 1 tanker kimia. Selain menyewakan kapal milik sendiri, BULL juga menyediakan jasa keagenan kapal (shipping agency) bagi kapal asing yang mengunjungi pelabuhan di Indonesia. Karena berdasarkan asas cabotage yang diberlakukan Pemerintah sejak tahun 2005, perusahaan kapal asing yang beroperasi di tanah air harus menunjuk perusahaan lokal untuk mengurus izin pelabuhan dll.

Salah satu armada kapal milik perusahaan

However, hingga Kuartal III 2016, hampir seluruh pendapatan perusahaan hanya berasal dari jasa penyewaan kapal saja, dan itupun sebagian besar hanya berasal dari satu klien, yakni PT Pertamina. Sejak BULL listing di BEI pada Mei 2011 lalu, sampai sekarang perusahaan belum melakukan pengembangan usaha apapun, entah itu menambah unit kapal atau mendapatkan klien baru, karena pihak manajemen selama beberapa tahun ini lebih sibuk menghadapi ‘satu masalah’.
Sejarah Kepemilikan BULL
Jadi ceritanya begini. BULL dulunya merupakan anak usaha dari Berlian Laju Tanker (BLTA), perusahaan kapal terbesar di Indonesia. BULL didirikan pada tahun 2005 untuk menyambut peluang dari berlakunya asas cabotage yang sudah disebut diatas, dan ketika itupun manajemen BLTA langsung membeli atau menyewa sejumlah kapal untuk ditempatkan di BULL ini. Dua tahun kemudian, yakni tahun 2007, harga minyak mulai melonjak dengan cepat hingga sempat menyentuh US$ 147 per barel pada tahun 2008, yang otomatis memicu euforia di bisnis perkapalan (karena BLTA, seperti juga mayoritas perusahaan kapal lainnya, sebagian besar pendapatannya berasal dari jasa pengangkutan minyak dan gas). Dan manajemen BLTA memanfaatkan momentum kenaikan harga minyak tersebut dengan melakukan ekspansi penambahan armada kapal secara besar-besaran, tentunya dengan menggunakan utang. Pada tahun 2007 atau 2008, BLTA memiliki utang sekitar US$ 3 milyar, sementara ekuitasnya cuma US$ 1 milyaran.
Namun masih di tahun 2008, harga minyak tiba-tiba saja jatuh hingga ke level US$ 30-an per barel pada awal 2009. Ditambah dengan terjadinya krisis global ketika itu dimana bursa-bursa saham di seluruh dunia termasuk IHSG berjatuhan, maka BLTA, yang tadinya berada dalam posisi ‘diatas angin’, tiba-tiba saja jatuh dan diuber-uber debt collector. Alhasil di tahun-tahun selanjutnya pihak manajemen hanya fokus pada upaya gali lobang tutup lobang, karena disisi lain harga minyak, meski memang naik lagi, tapi gak pernah balik lagi ke level US$ 140-an seperti tahun 2007 lalu. Ketika BLTA meng-IPO-kan BULL pada tahun 2011, tujuannya adalah juga untuk menggunakan dana hasil IPO-nya (ketika itu sebesar Rp1 trilyun) untuk membayar utang, tapi bahkan itupun masih belum cukup.
Catatan: Kalau mau baca lagi cerita lengkap soal BLTA, anda bisa membacanya lagi disini, dan disini.
Hingga pada tahun 2014, BLTA akhirnya harus melepas BULL sama sekali ke beberapa investor yakni PT Delta Royal Sejahtera (DRS), Kidson Pte Ltd (unit usaha dari Deutsche Holdings Asia Pacific, anak usaha dari Deutsche Bank), PT Southeast Capital Invesment (SCI), PT Goldsachs Capital Invesment (GCI), dan PT Benakat Integra (BIPI). Nah, kalau anda teliti, maka akan ketemu setidaknya dua fakta menarik: Pertama, tidak ada satupun dari investor diatas yang berstatus sebagai pemegang saham mayoritas/pengendali di BULL. Dan kedua, para investor diatas bukanlah investor strategis yang akan mengelola BULL untuk seterusnya, melainkan kurang lebih sama saja seperti investor ritel yang akan menjual lagi sahamnya sewaktu-waktu. Perhatikan: DRS dan SCI dimiliki seseorang bernama Budy Tjokro, dan penulis sudah cari info kesana kemari, tidak ada satupun yang mengaitkan nama Budy Tjokro ini dengan industri perkapalan. DRS masuk sebagai pemegang saham BULL dengan menyetor saham baru tanpa HMETD alias private placement senilai Rp97 milyar, dimana duitnya dipake BULL untuk bayar utang ke Merrill Lynch (DRS kemungkinan juga membeli saham BULL yang ada di pasar). Yup, jadi istilahnya DRS ini cuma nalangin utangnya BULL aja gitu, dan sebagai gantinya mereka menerima saham perusahaan.
Sementara Deutsche Bank (DB), mereka memegang BULL karena pemilik BULL sebelumnya, yakni BLTA, gagal membayar utang sehingga pihak DB menyita saham BULL sebagai salah satu collateral, tapi tentu saham BULL ini nanti akan dijual lagi ke pihak lain, entah itu melalui proses lelang atau lainnya. GCI dimiliki Janner Tandra, yang merupakan pemilik dari PT Nusa Bhakti Jayaraya, sebuah perusahaan kapal yang diakuisisi BULL pada tahun 2014 (jadi BULL membayar akuisisi tersebut dalam bentuk saham). Dan BIPI, meski judulnya adalah perusahaan minyak, namun alih-alih ngebor, BIPI ini dari dulu kerjaannya cuma jual beli aset, dan mungkin mereka melihat peluang di saham BULL ini (mumpung murah), sehingga mereka masuk.
Jadi posisi BULL sekarang ini adalah ‘tidak dimiliki oleh siapa-siapa’, kecuali sekelompok investor yang, kalau ada kesempatan, akan menjual lagi sahamnya ke investor lain, kalau bisa pada harga yang lebih tinggi. Dan ini menjelaskan kenapa BULL secara operasional sampai sekarang masih gitu-gitu aja dan gak ada pengembangan usaha apapun, karena para ownernya tidak berniat untuk memegang BULL untuk seterusnya. Sebab kalau kita perhatikan lagi beberapa aksi korporasi BULL sejak perusahaan tidak lagi berada dalam kendali BLTA tahun 2014 lalu, maka perusahaan telah melakukan setidaknya tiga aksi korporasi penting yang saling terkait. Yang pertama, pada  Februari 2015, BULL melakukan reverse stock dengan rasio 8 : 1. Nah, dalam kondisi ketika itu dimana industri harga minyak dan industri kapal sedang terpuruk, sementara BULL sendiri baru saja membukukan kerugian besar dua tahun berturut-turut di tahun 2013 dan 2014, maka aksi reverse stock itu tentu saja membuat saham BULL, yang sebelumnya mati di gocap namun naik lagi jadi 400 (karena rasio reverse stock-nya 8 : 1),  jatuh sekali lagi hingga hampir saja balik lagi ke gocap (tepatnya 55) pada September 2015.

Yang harus diingat disini, posisi BULL di harga 55 pada September 2015 tersebut, adalah hampir delapan kali lebih murah (dari sisi PBV) dibanding posisi gocap sebelum reverse stock-nya. Pada titik inilah, para pemegang saham BULL diatas kemungkinan kembali menambah kepemilikannya dengan cara membeli saham BULL di market.

Kedua, pada Maret 2015, atau hanya sebulan setelah reverse stocknya, BULL melakukan aksi tukar guling saham dengan sebuah perusahaan kapal, PT Nusa Bhakti Jayaraya, dimana BULL menjadi pemegang saham pengendali di PT Nusa, sementara pemilik PT Nusa, yakni Janner Tandra, menjadi salah satu pemegang saham di BULL. Berbeda dengan pemegang saham lainnya, Mr. Janner mungkin memang merupakan ‘orang kapal’, sehingga keberadaannya di susunan pemegang saham BULL akan menjaga perusahaan untuk tetap fokus mengoperasikan kapal seperti biasanya. Dan mungkin karena keberadaan Mr. Janner pula, BULL pada tahun 2015 berhasil membukukan laba bersih US$ 10 juta, setelah dua tahun sebelumnya rugi melulu.
Dan ketiga, pada awal tahun 2017 ini BULL menyelenggarakan right issue dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham dengan pembeli siaganya PT Danatama Makmur, sehingga BULL memperoleh tambahan modal Rp243 milyar. Yang menarik adalah, tambahan modal sebesar Rp243 milyar itu relatif kecil/tidak seberapa dibanding ekuitas BULL sebelum right issue yakni US$ 115 juta, atau setara Rp1.5 trilyun, namun jumlah saham BULL pasca right issue meningkat dua kali lipatmenjadi 4.9 milyar lembar. Itu artinya orang yang membeli saham baru BULL di harga Rp100 otomatis memperoleh keuntungan, karena book value BULL pasca right issue adalah: (Rp1.5 + 0.2 trilyun) / (4.9 milyar lembar saham) = Rp357 per saham. Yup, jadi anda cuma bayar Rp100 untuk memperoleh aset senilai Rp357, it’s a good deal, right?
Kemudian, karena sekarang jumlah saham BULL menjadi 4.9 milyar lembar, maka praktis sahamnya akan menjadi lebih likuid, dan itu akan menarik perhatian para trader. Disinilah keberadaan PT Danatama Makmurmenjadi penting: Perusahaan investment banking ini sejak dulu sudah dikenal sebagai spesialis pedagang ‘saham dari perusahaan yang biasa-biasa saja, atau bahkan bermasalah, tapi bisa dijual pada harga tinggi’. Danatama sebelumnya pernah sukses meraup dana besar dari IPO Berau Coal Energy (BRAU), BIPI, dan juga BULL itu sendiri. Danatama juga pernah sukses menggelar right issue bagi BLTA di tahun 2010, Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) di tahun 2009, dan juga beberapa perusahaan Bakrie lainnya. Biasanya sih, kalau sebuah perusahaan baru selesai menggelar IPO atau right issue dengan Danatama sebagai lead underwriter-nya, maka sahamnya di market bakal bergerak liar. Anda bisa cek sendiri saham-saham dari perusahaan yang disebut barusan: Hampir semuanya gorengan. Nah, saham BULL juga kemungkinan bakal sama begitu, apalagi dirut BULL itu sendiri, yakni Vicky Ganda Saputra, adalah juga merupakan direktur eksekutif di Danatama.
Karena right issue BULL diselenggarakan pada awal tahun 2017 ini, sementara suspensi saham BULL itu sendiri baru dicabut sesaat sebelumnya (akhir Desember 2016), maka kecil kemungkinan ada pemegang saham publik BULL yang mengeksekusi jatah right-nya (mereka mungkin bahkan belum menyadari kalo suspensi BULL sudah dicabut). Sehingga saham baru hasil right issue tersebut, diluar jatah milik PT Delta Royal dkk, hanya akan diambil oleh pembeli siaganya saja, yakni Danatama.
Kinerja Fundamental BULL
Lho pak Teguh, kalau gitu BULL ini gak bagus dan justru cenderung berisiko dong? Karena sahamnya kemungkinan bakal dibandarin? Ya memang. Dan itu pula kenapa transaksi BULL beberapa bulan terakhir ini rame banget dengan fluktuasi yang cukup ekstrim, mirip-mirip saham Bakrie lah. Tapi kan balik lagi ke cara berpikir ala value investor: Ini saham kalo di harga segini (terakhir 127), itu masih murah! Murah banget malah. I mean, kalau BULL sudah dikerek duluan seperti ketika Trada Maritime (TRAM) kemarin terbang dari gocap hingga sempat tembus 400, maka ya sudah, penulis juga nggak akan mengejarnya. Tapi BULL ini kan masih belum kemana-mana toh? Dan memang valuasinya juga masih terdiskon. Plus, normalnya sahamnya juga akan dijaga agar tidak sampai turun dibawah harga right issue-nya (Rp100), karena kalau sampai itu terjadi maka Danatama bakal diprotes oleh para pemegang saham lainnya di BULL, yang sudah keluar modal lagi buat nebus saham anyar BULL di harga Rp100.
Sementara diluar cerita tetek bengek sahamnya diatas, secara fundamental BULL ini tidak hanya sukses kembali membukukan laba bersih dalam dua tahun terakhir (2015 dan 2016, meski profitnya masih relatif kecil), tapi jumlah utang perusahaan juga terus berkurang. Dari right issue-nya di awal tahun 2017 ini, sekitar 30% dananya juga akan dipakai membayar sejumlah utang milik PT Nusa Bhakti sebagai anak usaha perusahaan (mungkin juga sebagai imbalan bagi Mr. Janner yang sudah repot-repot memegang operasional BULL), yang otomatis mengurangi utang BULL secara keseluruhan. Turunnya jumlah utang praktis mengurangi beban keuangan BULL, sehingga perusahaan berpeluang untuk terus membukukan profit di masa depan, dan pendapatan BULL sendiri mulai naik lagi sejak tahun 2015 lalu. Kemudian kalau kita bicara soal sentimen, maka harga minyak, yang ditahun-tahun lalu sempat bergejolak dan bahkan anjlok sampai dibawah US$ 30 per barel, namun sudah setahunan ini mulai stabil lagi, dan itu tentu bagus bagi perusahaan-perusahaan kapal spesialis pengangkut minyak seperti BULL ini, sehingg bukan tidak mungkin pada tahun 2017 ini BULL akan benar-benar menghasilkan kinerja keuangan yang bagus. Kemungkinan, meski BULL sudah melakukan reverse stock-nya pada tahun 2015 lalu (ketika BULL melakukan reverse stock, tujuannya juga adalah agar perusahaan bisa melakukan right issue di masa yang akan datang), namun BULL baru menyelenggarakan right issue-nya pada awal tahun 2017 ini, karena memang baru pada saat inilah Deutsche Bank dkk melihat adanya sentimen positif dari stabilnya harga minyak terhadap saham BULL, sehingga mereka juga gak keberatan untuk merogoh kocek sedikit lagi untuk nambah posisi di BULL, kali ini di harga Rp100 per saham.
Okay, sekarang kita coba jawab beberapa pertanyaan diatas: Bagaimana dengan fundamental serta prospek dari BULL ini? Well, berdasarkan laporan keuangan terakhirnya, kinerja BULL masih belum bisa dikatakan bagus karena hanya membukukan laba US$ 6 juta, itupun berasal dari surplus revaluasi, namun overall perusahaan sudah membukukan beberapa catatan positif, antara lain utangnya sudah jauh berkurang dibanding tahun 2011 – 2012 lalu, dan pendapatannya mulai naik lagi sejak 2015. Untuk tahun 2017 ini, seiring dengan stabilnya harga minyak, perusahaan berpeluang untuk kembali membukukan profit.
Lalu apa yang menyebabkan sahamnya jatuh dan mati di level kisaran gocapan, beberapa tahun lalu? Apa masalahnya? Pertama, karena reverse stock, kedua, karena perusahaan merugi dua tahun berturut-turut (2013 dan 2014), dan ketiga, karena industri kapal ketika itu memang mati suri. Waktu rame cerita ‘tol laut’ di tahun 2014 pun, nyatanya tetep aja laba dari perusahaan kapal masih segitu-gitu aja, dan alhasil saham-saham kapal yang sempat terbang di tahun tersebut dengan cepat anjlok lagi. Terus bagaimana update terbaru bagi BULL? Ketika kemarin suspensi sahamnya dicabut, maka apakah itu karena masalahnya sudah beres semua atau gimana? Nah, kalau dibilang kinerja BULL sudah pulih, sebenarnya nggak juga, tapi minimal kondisinya sekarang sudah jauh berbeda dibanding lima tahun lalu, dan BULL juga sudah nggak punya urusan apa-apa lagi dengan BLTA (yang sepertinya sampai sekarang masih bermasalah dengan utang-utangnya). Ketika suspensi-nya dicabut, maka itu terkait aksi right issue yang dilakukan perusahaan, dan seperti yang sudah disebutkan diatas, manajemen BULL menggelar right issue karena mungkin mereka melihat bahwa sekarang ini timing-nya sudah tepat.
Dan terakhir, bagaimana valuasi sahamnya pasca right issue? Here we go: Seperti yang sudah disebut diatas, pasca right issue-nya maka book value BULL akan menjadi kurang lebih Rp357 per saham. Karena harga market BULL sekarang masih 127, artinya PBV-nya 0.4 kali. Well, masih murah!
Kesimpulannya, meski penulis gak tahu BULL ini bakal naik sampai berapa, atau mungkin malah disitu-situ aja, tapi asalkan tidak terjadi force majeure, then no way dia bakal balik lagi ke gocapan. Kalau anda perhatikan, meski kemarin-kemarin BULL ini sempet turun, tapi penurunannya selalu mentok di level yang sedikit diatas Rp100 bukan? And make no mistake: Gak usahlah dia naik kaya TRAM kemarin, tapi asalkan dia naik sampai 200saja, maka profitnya sudah lebih dari 50%, not bad right??? Sementara skenario terbaiknya, jika nanti laporan keuangan BULL pada tahun penuh 2016, atau Kuartal I 2017 sukses menunjukkan kinerja yang lebih baik, misalnya labanya naik, maka sahamnya juga bisa terbang hingga ke posisi berapa saja, bahkan meski bandarnya gak ngapa-ngapain, jadi kenaikannya murni karena mekanisme pasar. So this is what I call ‘fair bet’, dimana meski keputusan untuk masuk ke BULL ini beraroma spekulasi karena faktor bandarnya tadi, tapi peluang profitnya tetap jauh lebih besar dibanding risikonya.
And as value investors, a big value opportunity, a hidden pearl like this, that’s all we need!
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang BULL di harga Rp109. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham Pilihan edisi April 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing: Jakarta, 1 April 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakart (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 April 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 sampai dengan 16.30 WIB
  • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman peserta Kelas Value Investing, Jakarta, 21 Januari 2017. Klik gambar untuk memperbesar

Komentar Alumni:
Pak teguh,
Ditahun ketiga saya mengenal dunia saham, alhamdulilah saya sudah balik modal dan sejak mengikuti seminar dan buletin bapak, sungguh banyak sekali ilmu yang saya dapat, dan saya juga sudah mendapatkan profit hampir 100 persen dari total modal saya, meskipun saya dapat nya penuh dengan perjuangan,
Saya sudah membaca buku the intelligent investor (dan beberapa buku warren buffet lainnya). Dan untuk seminar/pelatihan saya sudah muter2 ke tetangga sebelah berkali2 dari yang mahal sampe murah, tapi saya merasa di seminar bapak yang paling cocok untuk saya (bukan memuji, tapi memang yang saya rasakan seperti itu) karena cara bertransaksi bapak yang tidak grasa grusu dan logis sekali penjelasan nya,..
Dan untuk belajar, saya belajar pagi siang malam subuh, dan kalo bisa pun itu buku dan komputer saya bawak ke dalam mimpi di tidur saya, hikss (trauma mines)
Mohon saran dan petunjuk nya ya pak,
Terimakasih 
Best Regards
Widya Olivia
Dear Mas Teguh,
Taun ini rasanya bakal jd peningkatan ekstrem dr portofolio saya. Bahkan sblm ipo aramco mas hehehe.. ini berkat advice value investing dr blog mas teguh,
Intinya tengkyu banget mas. Dulu sy udah baca2 graham & buffet, tapi karna ngga ada contoh yg jelas di indo (selain pak LKH) sy susah banget mau nerapin value investing. Kalo udah lancar, mgkn sy jg mau buat blog juga. Oiya mas teguh harus bangga, slama bbrp taun ini mas jadi “amazing senpai which changes my way of investing”. Your work improves my life.
Best regards,
Arif Sutikno

Update: KURSINYA SUDAH PENUH! Jadi bagi calon peserta yang belum sempat daftar, anda bisa hubungi Ms. Nury (no telp diatas) untuk masuk daftar tunggu/waiting list untuk jadwal seminar berikutnya. [...]

Pertanyaan Investor Pemula, dan Jawabannya

Pak Teguh, Belakangan ini saya perhatikan DJ Coal Index dalam tren bearish..terakhir sudah ada di posisi terendah 38, apakah pertanda saham batubara sudah mulai pembalikan arah? Semalam oil juga anjlok 5 persen! Seberapa besar impactnya terhadap IHSG?

Halo Pak,
Yang dimaksud dengan ‘belakangan ini’, itu maksudnya beberapa hari terakhir bukan? Jadi bukan beberapa bulan terakhir. Termasuk harga minyak turun, itu yang diliat tadi malem aja, jadi bukan trendnya dalam beberapa bulan terakhir.
Dan ngomong-ngomong, ketika orang melakukan analisis itu kadang problemnya disitu: Horizon waktunya terlalu pendek. Contoh, HRUM dari November sampai Januari itu turun dari 2,700 sampe sempet dibawah 2,000, sehingga bagi orang yang hanya melihatnya sejak November itu saja, maka HRUM ini gak bagus, karena dia sedang dalam tren turun/donwtrend.
Tapi kalau ada technicalist yang bisa liat chart HRUM ini dalam setahun terakhir, maka dia akan bisa menyimpulkan bahwa HRUM itu bukannya downtred, melainkan hanya cooling down sejenak setelah sebelumnya naik terus. Yang artinya kalau nanti penurunannya mentok, maka sahamnya boleh dibeli, dan itu sebabnya kita masuk lagi ke HRUM kemarin.
Demikian pula harga coal. Kalau kita liatnya index harian, swing swingnya gila banget, bisa lebih gila dari saham Bakrie, sehingga dalam satu hari bisa muncul kesan bahwa coal udah habis, tapi besoknya ternyata dia langsung naik lagi. Tapi kalau kita lihat index bulanan, pergerakannya jauh lebih masuk akal. Coal kemarin terbang dari US$ 54 sampe US$ 100, dan ini adalah fase high rebound, yang menandakan bahwa long trend penurunannya sejak tahun 2012 (hampir 5 tahun) sudah berakhir. Setelah fase high rebound ini, coal akan turun dulu/cooling down sejenak, tapi gak akan sampe balik lagi ke US$ 54, melainkan sekitar US$ 70. Setelah itu barulah perlahan tapi pasti dia akan naik lagi. Ini cuma teknikal sederhana lho, dan saya, meski fundamentalist, tapi tetep ngerti teknikal sederhana seperti ini. Tapi orang suka nggak memperhatikan karena sekali lagi, horizon mereka terlalu pendek, malah yang diliat itu harian aja. Kemarin juga saya sudah jelaskan soal ini di artikel ini.
Harga batubara patokan Australia, dalam setahun terakhir

Dalam setahun dari sekarang, saya kira batubara akan stabil di US$ 70 – 80, sebelum kemudian baru lanjut naik lagi. Tahun depan mungkin harga batubara akan colek-colek US$ 100 sekali lagi.
Dear Pak Teguh, pertama kali saya mengamati saham second liner kira kira di bulan November lalu, sebelumnya incaran saya selalu blue chip. Dan setelah baca blog bapak saya menaruh perhatian pada KBLI (analisisnya disini), intinya sih emang bagus saya juga sudah pelajari laporan keuangannya.
Sambil menunggu lap keuangan terakhir di tahun 2016, menurut bapak bagaimana prospek KBLI ini? Saya dulu masuk di 288 dan sampai sekarang (akhir Januari 2017) KBLI gak mau gerak di 280, sementara WSBP setelah turun di akhir tahun sekarang udah positif. Apa rencana bapak untuk KBLI? Berencana nambah posisi? Atau mulai ragu melihat pergerakannya selama ini ?
Terimakasih pak, sukses selalu.
Regards,
Gini lho pak, pertama-tama kita harus ngerti dulu, how the stock market works. Di buletin Januari 2017 sudah disebutkan bahwa IHSG mungkin akan stagnan sepanjang Januari ini, dan sejauh ini (sampai akhir Januari) memang benar bahwa IHSG gak kemana-mana, dengan volume transaksi yang juga sepi.
Ketika pasar sepi/IHSG stagnan, maka demikian pula saham-saham akan sepi, dan beberapa diantaranya mungkin akan turun, contohnya KBLI (ketika saham jarang diperdagangkan maka dia akan cenderung turun), tapi beberapa lainnya mungkin tetap akan naik, contohnya WSBP.
Problemnya, dalam jangka pendek (harian, atau mingguan) kita sama sekali gak bisa prediksi saham mana yang bakal naik duluan. Kalau saya tau bahwa WSBP-lah yang akan naik, maka tentu saya ambil WSBP saja dulu, sementara KBLI nanti saja belinya. Tapi kan gak bisa begitu.
Tapi asalkan kita tau bahwa IHSG-nya gak akan sampai drop, maka ndak apa-apa kita ambil saja semua saham yang memang sudah diincar. Karena kalaupun ada diantaranya yang malah turun, tapi turunnya gak akan terlalu dalam. Toh sejak awal kita hanya beli saham bagus pada harga murah bukan?
Sementara kalau ada yang naik, maka naiknya biasanya akan cukup tinggi. Kalau kita memutuskan untuk pegang cash saja, maka mungkin kita nanti bisa ambil saham yang belum jalan atau justru sedikit turun, tapi kita akan ketinggalan kereta terhadap saham-saham yang udah naik duluan. Kita juga gak perlu khawatir kalau ada saham turun, misalnya KBLI ini, karena asalkan fundamentalnya oke maka nanti juga dia akan naik lagi.
Jadi untuk KBLI ya ga ada masalah sama sekali, yang lagi masalah itu pasarnya, dimana KBLI ini belum dapet gilirannya untuk naik saja, karena memang IHSG-nya masih stagnan. Tapi liat aja nanti, harusnya dia bakal dapet gilirannya juga kok. Kalau gak ada perubahan analisa, Februari nanti saya pikir IHSG akan mulai naik, dan ketika itulah saham-saham yang belum jalan pada Januari ini mungkin akan dapet giliran pada Februari tersebut. Jadi ya harap sabar pak. Modal sukses investor ya cuma satu itu: Sabar.
Pak Teguh, saya dengar AGRO mau right issue di harga 130, kalo gitu dia bakal turun dong? Dan hari ini dia jeblok dari 1,060 sampe mentok di 900. Apa yang harus saya lakukan pak?
Posisi kita di AGRO sejak awal sudah nothing to lose, jadi mau ada berita right issue atau lainnya, kita tetap gak peduli. AGRO ini kan saham bandar, dia bisa naik setinggi ini (dari 70-an sampe tembus 1,000), itu murni karena bandar, bukan karena fundamental (jadi dia beda sama KBLI, misalnya). Jadi bisa aja berita itu sengaja muncul dan sahamnya juga diturunin, untuk ngusir penumpang. Setelah penumpang keluar, dia nanti naik lagi.
Jadi intinya disini bukan right issue-nya, tapi permainan dibalik munculnya berita right issue tersebut. Pake logika aja: kemarin AGRO ini sudah right issue, terus baru beberapa minggu langsung right issue lagi? Ini mirip-mirip seperti kemarin UNSP ngumumin rencana reverse stock, lalu RUPS tapi gak kuorum, tapi lalu RUPS lagi dan sekarang kuorum (Artinya fix jadi).. eh gak taunya reverse stocknya ditunda! Sampai waktu yang belum ditetapkan, katanya (tapi semalem diralat lagi, reverse stocknya jadi dilakukan).
Intinya apa yang dilakukan manajemen UNSP itu jelas bertujuan agar pemegang sahamnya pusing aja. AGRO juga sama.
Tapi karena posisi kita nothing to lose, maka ya sudah, kita cuek aja. Kalau itung-itungan spekulasi, AGRO naik sampe 1,500 pun bisa aja, who knows?
Tapi disisi lain saya gak mau kalo disuruh beli/tambah posisi di harga sekarang. Karena beli AGRO di harga 1,000 jelas menawarkan potensi gain dan risiko yang sangat berbeda, dibanding beli di harga 187. Diatas kita bilang AGRO mungkin bisa naik sampe 1,500, tapi untuk turun sampe 750 atau lebih rendah lagi pun bisa saja. Jadi kalau anda kebetulan belinya di harga tinggi, maka boleh pertimbangkan lagi untuk keluar.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kunjungan Raja Salman, IPO Aramco, Harga Minyak, dan.. Batubara?

Ada yang menarik ketika Raja Salman dari Arab Saudi mengunjungi Indonesia, dan itu tentu saja bukan ketika beliau bersalaman dengan Gubernur DKI, dimana ceritanya sempet heboh kemarin. Melainkan, kunjungan sang Raja ke Indonesia merupakan rangkaian tour ke beberapa negara Asia. Yup, selain Indonesia, Raja Salman sebelumnya sudah ke Malaysia, dan selanjutnya beliau bakal ke Brunei, Jepang, China, hingga Maladewa. Untuk Indonesia sendiri, ini adalah kali pertama seorang Raja Arab berkunjung kesini dalam 47 tahun terakhir. Pertanyaannya, apa tujuannya?

Kalau kita perhatikan lagi negara-negara tujuan Raja Salman, maka akan diperoleh fakta menarik: Empat negara, yakni Malaysia, Indonesia, Brunei, dan Maladewa, kesemuanya merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam (sehingga secara tidak langsung memiliki kedekatan dengan sang Raja yang sama-sama beragama Islam), dan, secara ekonomi, merupakan negara berkembang. Sementara dua negara lagi, yakni Jepang dan China, keduanya bukanlah negara dengan penduduk mayoritas muslim, namun tergolong negara maju. Ketika kemarin sang Raja berkunjung ke Malaysia, kunjungan itu melahirkan beberapa kerjasama ekonomi antar kedua negara, salah satunya kerjasama antara Petronas dan Aramco untuk membangun kilang minyak senilai US$ 7 milyar, di Malaysia. Sementara di Indonesia, Raja Salman juga akan menempatkan investasi disini, terutama untuk proyek infrastruktur. Nilainya berapa? Well, bisa sampai US$ 25 milyar atau setara Rp300 trilyun.. termasuk kerjasama antara Pertamina dan Aramco untuk membangun kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah, senilai US$ 6 milyar. A very big money, tentu saja.
Untuk Brunei dan Maladewa, mungkin Raja Salman juga akan berinvestasi disana, tapi mungkin juga ada tujuan lain. Sementara untuk China dan Jepang, maka tujuannya adalah sebaliknya: Untuk mengajak kedua negara untuk berinvestasi di Arab Saudi. Nah, beberapa bulan sebelum Raja Salman mulai jalan-jalan, sudah ramai berita bahwa Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia milik Pemerintah Arab Saudi, akan menggelar IPO tahun 2018 mendatang, dimana IPO tersebut, jika berjalan sesuai rencana, maka akan menjadi IPO terbesar di dunia, karena Aramco akan melepas 5% sahamnya ke publik senilai US$ 100 milyar (yang itu artinya Aramco dianggap bernilai US$ 2 trilyun). Oleh Pemerintah Arab Saudi selaku pemegang saham pengendali Aramco, duit US$ 100 milyar itu akan diinvestasikan kembali ke sektor-sektor non-migas baik di dalam maupun luar negeri, untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap minyak. Namun tentu, tidak semudah itu untuk menarik minat investor hingga kemudian terkumpul dana sebesar itu (US$ 100 milyar itu empat kali lebih besar dari IPO terbesar saat ini, yakni Alibaba, senilai US$ 25 milyar). Karena itulah Raja Salman sendiri yang kemudian datang langsung ke Jepang dan China, dan mungkin juga negara-negara maju lainnya, untuk mengajak mereka berinvestasi di Arab Saudi termasuk membeli saham Aramco.

Jadi berbeda dengan negara ‘Petrodollar’ lainnya seperti Qatar dan Uni Emirat Arab, yang hanya menggunakan uang mereka sendiri (hasil dari jualan minyak) untuk berinvestasi di di dalam maupun luar negeri (Qatar Investment Authority adalah pemilik dari klub sepakbola Paris Saint Germain, pemegang 17% saham di Volkswagen, 8.2% saham di Glencore, dst. Sementara Emirates Investment Authority adalah pemilik klub Manchester City, Etisalat, dst), maka Arab Saudi lebih terbuka dengan juga menerima duit dari luar, termasuk meng-IPO-kan Aramco (meski dengan nilai yang amat sangat besar), untuk kemudian mereka putar lagi duitnya ke banyak sektor usaha. Memang ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi dibawah Pemerintahan yang baru (Raja Salman baru naik tahta pada Januari 2015, menggantikan Raja Abdullah) berambisi untuk membawa Arab Saudi menjadi negara yang benar-benar maju. Sebab meski mereka kaya akan minyak, dan juga merupakan juru kunci dari Masjidil Haram di Mekah yang menjadi tujuan haji umat muslim dari seluruh dunia, tapi mereka tidak punya sumber ekonomi lainnya lagi. Dari sisi nilai GDP-pun, Arab Saudi hanya memiliki GDP US$ 646 milyar, atau masih dibawah Indonesia yang US$ 862 milyar (tapi jumlah penduduk Arab cuma 28.8 juta, atau sangat sedikit dibanding Indonesia yang mencapai 271 juta, sehingga GDP per kapita disana jauh lebih besar dibanding disini), sehingga belum bisa disebut sebagai negara maju.
Dan ambisi itu langsung terlihat tak lama setelah Raja Salman naik tahta. Masih di bulan Januari 2015, Pemerintah Arab meluncurkan ‘Vision 2030’ yang berisi target-target pengembangan ekonomi di berbagai bidang, termasuk diresmikannya sovereign wealth fund (badan investasi milik negara) dengan dana kelolaan US$ 2 trilyun, dimana dana tersebut salah satunya diperoleh dari IPO Aramco. Pemerintah Arab Saudi mendirikan Council for Economic and Development Affairs sebagai badan otoritas dan pelaksana Vision 2030, dan Raja Salman menunjuk putra mahkotanya langsung, Prince Mohammad, sebagai chairman dari badan otoritas tersebut.
Okay, lalu apa hubungannya ini semua dengan Indonesia?
Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan. Pertama, apa yang dilakukan Arab Saudi ketika mereka berambisi menjadi negara maju, termasuk dengan membuka peluang bagi negara-negara lain untuk berinvestasi disana, ini mirip dengan yang dilakukan Indonesia sekarang ini. Dulu, investasi asing di Indonesia hanya didominasi tiga negara, yakni Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat, namun Indonesia sekarang ini juga menjadi tujuan investasi bagi China, dan mungkin juga Arab Saudi. Ketika ada banyak negara lain yang berinvestasi disini, maka Pemerintah tidak akan lagi terlalu bergantung pada satu investor saja. Yup, posisi Indonesia sekarang ini sudah mirip-mirip dengan Singapura yang terima duit dari sana sini, dan untungnya berbeda dengan Singapura, Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dan juga banyak sektor usaha, sehingga kita tidak perlu lagi berinvestasi keluar negeri karena ada banyak wilayah dan sektor-sektor didalam negeri yang bisa dikembangkan. Khusus dari Arab Saudi, jika Pemerintah disana sukses mengumpulkan dana hingga US$ 2 trilyun untuk wealth fund-nya, termasuk sukses meng-IPO-kan Aramco, maka mungkin mereka benar-benar bakal naroh duit sampai US$ 25 milyar disini, atau malah lebih besar lagi. Sebab kalau dilihat dari tour Asia-nya sekarang ini, maka sepertinya Pemerintah Arab hanya mau berinvestasi di negara yang berstatus sebagai ‘saudara sesama muslim’.
Kedua, kalau Pemerintah Arab ingin IPO Aramco-nya sukses, maka mereka harus memastikan satu hal: Stabilnya harga minyak. Karena gak mungkin investor mau beli saham Aramco kalau harga minyak jeblok. Nah, ketika pada Januari 2016 lalu harga minyak anjlok hingga dibawah US$ 30 per barel, penulis termasuk yang berpendapat bahwa, dengan mempertimbangkan sejarahnya sejak tahun 1860, maka dengan memasukkan faktor inflasi, harga minyak memang lebih sering berada di level US$ 15 – 30 per barel, dan hanya akan naik diatas itu kalau ada penyebab yang spesifik. Harga minyak bisa melambung tinggi hingga tembus US$ 100 pada dekade 2000-an karena meningkatnya permintaan dari China. Namun seiring dengan perlambatan ekonomi disana, maka permintaan minyak menurun, dan alhasil harga minyak bukannya turun, tapi balik lagi ke level normalnya, yakni US$ 15 – 30 per barel. Anda bisa baca lagi analisisnya disini.
Tapi ternyata hanya setahunan kemudian, sekarang harga minyak sudah naik ke level US$ 50-an per barel dan stabil disitu, padahal oil demand dari China masih segitu-gitu aja. Namun dengan munculnya cerita IPO Aramco ini sejak beberapa bulan lalu, maka kenaikan harga minyak itu menjadi bisa dijelaskan bukan? Kalau lihat kejadian tahun 2007 lalu dimana harga minyak sempet terbang sampai tembus US$ 144 per barel, padahal gak ada faktor fundamental apapun, maka mungkin sebenarnya mudah saja bagi siapapun untuk ‘menyetel’ harga minyak di level tertentu. Seandainya saat ini harga minyak masih terpuruk di level dibawah US$ 30, maka IPO Aramco menjadi mustahil untuk dilaksanakan, apalagi dengan target perolehan dana sebesar itu.
Ketiga, seperti yang kita ketahui, harga batubara juga naik sejak pertengahan 2016 lalu, dengan kenaikan yang sangat cepat. Penulis sendiri kaget ketika kemarin harga batubara naik dari US$ 54 hingga tembus US$ 100 per ton hanya dalam hitungan minggu, meski sekarang mulai turun lagi di level US$ 80-an, dan stabil disitu. Karena kalau penyebab dari kenaikan harga batubara ini adalah karena China mengurangi produksi batubaranya, maka harusnya naiknya gak sekenceng itu juga. Tapi ketika melihat kenaikan harga minyak, maka penulis teringat lagi satu rumus klasik: Kalau harga minyak naik, maka harga batubara biasanya akan naik juga. Dan memang kenaikan harga batubara dari US$ 54 ke US$ 80-an, maka persentase kenaikannya kurang lebih sama dengan kenaikan harga minyak dari US$ 27 ke US$ 53 per barel.
Dan kalau kedepannya harga minyak naik lagi, atau minimal stabil di posisinya saat ini, maka menurut anda bagaimana dengan harga batubara?
Kesimpulan
Kombinasi antara masuknya investasi dari Arab Saudi, stabilnya harga minyak, dan naiknya harga batubara, pada akhirnya akan membuat perekonomian Indonesia berpeluang untuk tumbuh kencang dalam beberapa tahun dari sekarang, dimulai dari tahun 2017 ini. Jika dibandingkan dengan tahun 2011 lalu, dimana Indonesia mengalami puncak pertumbuhan ekonominya hingga 6.9%, maka bisa penulis katakan bahwa kondisi sekarang jauh lebih baik. Karena, perhatikan: Pada tahun 2011, harga batubara dan CPO, yang merupakan komoditas tulang punggung perekonomian nasional, memang sedang tinggi-tingginya (batubara sempat berada di level US$ 120 per ton). Tapi ketika itu harga minyak juga masih mahal di level US$ 100-an per barel, yang menyebabkan Pemerintah harus membayar subsidi BBM dalam jumlah besar (soalnya minyaknya harus impor) sehingga gak ada lagi sisa duit untuk pembangunan. Disisi lain Pemerintah ketika itu masih tertutup alias tidak mau menerima investasi apapun dari luar negeri, kecuali yang sudah ada saja. Sebelum kunjungan Raja Salman, gak pernah ada cerita kalau Arab Saudi mau berinvestasi disini.
Sementara sekarang ini, harga batubara mulai stabil di level US$ 80-an per ton (termasuk harga CPO juga sudah lumayan tinggi di RM2,900-an per ton), dimana meski harga tersebut belum setinggi tahun 2011 lalu, tapi disisi lain cash cost produksi batubara juga sudah turun sekitar US$ 10 – 20 untuk setiap ton batubara yang dihasilkan, terutama karena turunnya harga minyak diesel (untuk menggali dan mengangkut batubara kan harus pake excavator dan truk yang segede gaban itu, dan mereka minumnya solar). Ini artinya, kalau bagi perusahaan-perusahaan batubara, maka meski harga batubara sekarang masih dibawah US$ 100 per ton, tapi mereka sudah bisa menghasilkan profit yang hampir sama besarnya dengan tahun 2011 lalu! Untuk Pemerintah, meski sekarang ini harga minyak mulai naik lagi, tapi asalkan kenaikannya gak sampai tembus US$ 100 per barel lagi, maka mereka tidak perlu kembali mensubsidi BBM, sehingga duitnya tetap bisa dipakai untuk pembangunan. Dan karena nanti ada duit tambahan dari Arab, plus tambahan royalti dan pajak dari perusahaan-perusahaan batubara, artinya pembangunannya bisa lebih gencar lagi. Kombinasi antara kembali pulihnya harga komoditas, plus gencarnya pembangunan, pada akhirnya akan membuat pertumbuhan ekonomi melaju kencang, bahkan lebih kencang lagi dari yang sudah-sudah. Dalam beberapa tahun dari sekarang, penulis kira kita akan menyaksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7 – 8% per tahun.
And of course, jika semua hipotesa diatas menjadi kenyataan, maka pasar modal di dalam negeri akan ikut terkena imbasnya. Di tahun 2017 ini IHSG kemungkinan akan kembali break new high, setelah terakhir kali itu terjadi pada awal tahun 2015 lalu. Dan kalau pada tahun 2018 nanti Aramco benar-benar go public (Aramco akan listing di Bursa Saham Arab Saudi, Tadawul. Tapi karena ukurannya sangat besar maka kemungkinan dia juga akan listing (dual listing) di New York, Toronto, London, atau bahkan Singapura), maka pasar modal di seluruh dunia akan mengalami euforia terutama di sektor perminyakan, setidaknya selama sesaat, apalagi jika saham Aramco sukses naik. Dan ketika para fund manager global sedang bersemangat untuk belanja saham-saham perusahaan minyak di seluruh dunia, maka mereka juga bakal mampir kesini untuk belanja saham-saham migas, batubara, dan komoditas lainnya. Alhasil IHSG, yang mungkin sudah naik cukup tinggi sepanjang tahun 2017, di tahun 2018 tersebut bakal naik lebih tinggi lagi!
Btw, Mas Teguh, sampeyan kok keliatannya semangat banget tho? Ya memang! Setelah beberapa tahun di market, baru kali ini saya merasa se-antusias ini. Karena kalau boleh jujur, kita sudah ‘puasa’ cukup lama sejak tahun 2013 lalu, dimana IHSG selama empat tahun terakhir cuma jalan di tempat (waktu IHSG naik 15% di tahun 2016 kemarin pun, itu cuma mengkompensasi penurunan yang terjadi di tahun 2015), dan selama empat tahun tersebut penulis sendiri belum melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan melaju kencang lagi seperti dekade 2000-an dulu.
Namun untuk sekarang ini, well.. Tanda-tandanya mulai kelihatan :) Jika semuanya berjalan lancar, maka dalam lima tahun kedepan akan banyak muncul millionaire baru dari pasar modal di tanah air, dan mudah-mudahan kita semua termasuk didalamnya. Amin!
Tapi yah, pengalaman mengajarkan bahwa sebagai investor, kita jangan pernah larut dalam euforia, melainkan tetap harus realistis dan berhati-hati. Ketika penulis mengatakan bahwa IHSG bakal break new high tahun ini, maka itu bisa saja terjadi, tapi bisa juga tidak, tergantung dari peristiwa apa saja yang akan terjadi, serta sentimen apa saja yang akan muncul dalam beberapa waktu kedepan. Well, mari kita liat nanti kedepannya bagaimana, dimana kalau nanti terjadi perubahan yang fundamental terhadap pasar, maka analisis diatas akan di-update. Just stay tune.

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Maret 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Batubara dibanding CPO, Minyak, Nikel dll

Beberapa waktu lalu seorang temen komplain, ‘Pak Teguh tanya dong, itu saham Elnusa (ELSA) kenapa turun terus yak? Padahal saya denger katanya harga minyak naik, tapi kenapa kok ELSA malah turun???’ Nah kalau dapet pertanyaan seperti itu maka biasanya penulis jawabnya normatif saja, ‘Soal kenapa sahamnya turun, saya gak tau pak, tapi sejak awal fundamental ELSA gak begitu bagus. Kenaikan harga minyak juga mungkin gak begitu ngaruh, karena waktu harga minyak sedang tinggi-tingginya di tahun 2011 sekalipun, ELSA waktu itu malah merugi.’

Nah, selama ini memang ada satu rumus sederhana terkait saham-saham komoditas: Kalau harga suatu komoditas naik, maka saham dari perusahaan komoditas yang bersangkutan biasanya akan naik juga. Contoh paling gampang ya saham-saham batubara, yang sudah naik banyak sejak tahun 2016 lalu setelah harga batubara itu sendiri naik dari US$ 50-an hingga sekarang sudah sekitar US$ 87 – 90 per ton.
Tapi kalau kita perhatikan lagi, maka rumus diatas’ternyata tidak berlaku untuk semua jenis komoditas. Contohnya ya ELSA tadi, dimana meski harga minyak sudah naik dari US$ 27 di awal tahun 2016 lalu hingga sekarang sudah tembus US$ 53 per barel, namun sahamnya cenderung gak kemana-mana, tapi itupun masih lebih baik dibanding saham Ratu Prabu Energi (ARTI), yang malah jeblok dari 200-an hingga mati di gocap. Lalu ketika harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga naik dari RM2,000 hingga kemarin sempat tembus RM3,000 per ton, namun saham dari salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di BEI, Astra Agro Lestari (AALI),  malah disitu-situ saja (14,000 – 15,000) dalam setahun terakhir.
Lalu apa yang membedakan saham batubara dengan saham komoditas lainnya? Well, sebenarnya jawabannya cukup simpel: Ketika pada dekade 2000-an lalu terjadi booming komoditas dimana harga-harga minyak, batubara, CPO dll naik semua, maka yang paling menikmatinya (baca: laporan keuangannya mencatat laba bersih paling besar) adalah perusahaan-perusahaan batubara, kemudian disusul perusahaan sawit, dan terakhir mungkin baru perusahaan minyak, tapi itupun hanya perusahaan minyak asing yang beroperasi disini seperti Chevron, Exxon, dst, sementara perusahaan minyak lokal boleh dibilang gak dapet apa-apa. Diluar tiga komoditas diatas, Indonesia juga masih punya beberapa komoditas lainnya seperti emas, perak, tembaga, timah, lead (timah hitam), bijih besi, nikel, dan bauksit. Namun lagi-lagi, kinerja dari perusahaan-perusahaan tambang emas dkk juga cenderung angin-anginan, kadang untung tapi lebih sering rugi, tak peduli meski harga emas dulu pernah sampai US$ 2,000 per oz sekalipun.
Jadi ketika harga batubara mulai naik lagi setahunan ini, maka pelaku pasar sudah cukup hafal bahwa hal itu akan berdampak positif pada kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan batubara, dan itulah yang kemudian bikin sahamnya pada naik. Tapi ketika harga minyak naik, maka belum tentu perusahaan-perusahaan minyak akan menghasilkan profit yang besar.
Dan itu karena, jika dibanding bisnis komoditas lainnya, maka bisnis batubara adalah yang paling mudah untuk dikerjakan. You see, kalau anda sudah pegang KP (kuasa pertambangan) untuk satu lahan tambang tertentu di Kalimantan atau Sumatera, maka selanjutnya tinggal buka lahannya, gali tanahnya, ambil batubara yang ada dibawah lapisan tanah tersebut, angkut batubaranya ke pelabuhan, lalu jual. Kadang-kadang untuk satu lahan tertentu, anda bahkan tidak perlu lagi menggali tanahnya (atau galinya hanya 10 – 20 meter kebawah saja), karena batubaranya sudah langsung keliatan dari permukaan tanah. Begitu mudahnya bisnis batubara ini, sampai-sampai seorang teman pernah mengatakan bahwa bisnis batubara ini adalah seperti mengambil duit gratis dari dalam tanah. Memang, ketika harga batubara sedang turun seperti beberapa waktu lalu, maka kita gak bisa menyebut batubara sebagai ‘duit’ lagi, karena bisa jadi ongkos menggalinya lebih mahal dibanding harga jual batubara itu sendiri. Tapi ketika harga batubara sekarang sudah naik lagi, maka artinya kita bisa langsung panen lagi!
(klik gambar untuk memperbesar) Foto Tambang Batubara Bengalon milik Kaltim Prima Coal, anak usaha dari Bumi Resources. Anda lihat permukaan tanah yang berwarna hitam?? Itu batubara semuanya!

Tapi itu batubara.. Kalau sawit bagaimana? Nah, kalau anda menanam pohon sawit, maka pohon itu baru bisa menghasilkan CPO sekitar tiga tahun kemudian. Masalahnya, bagaimana kalau harga CPO sedang turun justru ketika pohonnya sudah siap dipanen? I mean, kalau kita punya tambang batubara dan harga batubara sedang turun, maka ya sudah kita stop dulu saja pekerjaan tambangnya sampai nanti harganya naik lagi, atau minimal volume produksinya dikurangi, toh batubaranya juga bakal tetap ada di dalam tanah dan gak akan kemana-mana. Tapi ketika pohon sawit sudah siap panen, maka anda tetap harus panen saat itu juga, tak peduli meski harga CPO sedang turun. Sementara ketika nanti harga CPO sudah naik lagi, maka perusahaan sawit mungkin tetap tidak meraup keuntungan karena kebun sawit yang mereka miliki masih belum siap untuk panen lagi.
Demikian pula dengan minyak dan gas. Berbeda dengan batubara, minyak hanya bisa diperoleh dengan cara mengebor jauuuhh kedalam perut bumi, sekitar 4,000 – 6,000 meter atau lebih dalam lagi, sehingga biayanya sangat mahal. Kalau lokasi tambangnya di lepas pantai, maka biayanya lebih mahal lagi. Sejak dulu bisnis minyak sudah dikenal sebagai ‘bisnis untung-untungan’, karena sebuah perusahaan bisa saja menghabiskan puluhan jutaan Dollar untuk kegiatan eksplorasi di satu lokasi yang diperkirakan mengandung cadangan minyak, tapi setelah mengebor sana sini selama beberapa tahun ternyata tetap tidak ditemukan apa-apa. Tapi jika beruntung, maka bisa saja ditemukan cadangan minyak yang amat sangat besar, dan itulah yang terjadi pada perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di Timur Tengah (dua ladang minyak terbesar di dunia, yakni Ghawar dan Safaniya Oil Field, keduanya berlokasi di Arab Saudi). Tapi sayangnya hal yang sama tidak terjadi di Indonesia.
Lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan yang memproduksi logam mulia emas? Ya sama saja dengan minyak: Biaya eksplorasi dan produksi untuk menghasilkan emas terbilang sangat mahal, belum termasuk kegiatan refinery-nya (pemurnian). Sebab berbeda dengan batubara yang hanya perlu sedikit dibersihkan, diremukkan (crushing), dan dikeringkan setelah digali, anda tidak akan menemukan emas yang sudah berbentuk batangan dari dalam tanah, melainkan emas itu masih bercampur dengan tanah, batuan, dan mineral-mineral lainnya, dan tanah itu sendiri harus digali sangat dalam hingga akhirnya ketemu emasnya. Alhasil ketika sebuah perusahaan menemukan satu lokasi tambang emas, maka prosesnya mulai dari eksplorasi hingga akhirnya dihasilkan logam emas murni seperti yang kita lihat di toko-toko perhiasan, itu membutuhkan waktu yang sangat panjang, minimal beberapa tahun.
Untuk tambang mineral lainnya seperti tembaga, timah, dan nikel, juga sama begitu. Malahan sekarang ini kalau ada perusahaan yang memproduksi bijih nikel, maka berdasarkan peraturan pemerintah, bijih nikel itu harus diolah dulu di smelter hingga menjadi produk hilir, katakanlah nickel pig iron atau ferronickel, kemudian baru bisa diekspor. Dan itu artinya perusahaan yang bersangkutan harus mengeluarkan investasi besar untuk membangun smelter, sebelum kemudian baru bisa membukukan pendapatan. Namun hal yang sama tidak berlaku untuk perusahaan batubara, dimana meski mereka bisa saja membangun pembangkit listriknya sendiri (jadi yang mereka jual adalah listrik, bukan batubara lagi), tapi kalau mau langsung mengekspor batubara yang dihasilkan maka itu juga boleh-boleh saja, paling cuma harus bayar royalti doang.
Karena itulah, kalau anda baca-baca lagi artikel-artikel di teguhhidayat.com dalam setahun terakhir, maka penulis hanya membahas sektor batubara saja, karena saya sendiri hanya berminat dengan sektor ini dan tidak/belum tertarik untuk masuk ke sektor komoditas yang lain. Termasuk ketika harga-harga komoditas mencapai titik terendahnya pada pertengahan 2015 lalu, maka yang penulis lirik ketika itu juga hanya saham batubara saja, bukan saham komoditas yang lain (anda bisa baca lagi artikelnya disini).

And indeed, hanya satu setengah tahun kemudian, ketika saham-saham komoditas mulai menggeliat lagi, namun saham batubara-lah yang naiknya paling tinggi. Tapi berhubung kenaikan mereka juga belum sampai setinggi tahun 2011 lalu, maka mungkin itu berarti peluangnya masih terbuka, apalagi valuasi saham-saham batubara sejauh ini juga masih belum bisa dikatakan mahal. Well, mari kita lihat nanti kedepannya bagaimana.

Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Maret 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.
Tertarik untuk belajar saham sambil sekaligus beramal? Baca keterangannya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Charity Dinner with Teguh Hidayat

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan program charity dinner, dimana anda bisa bertemu dan berdiskusi santai secara private tentang dunia investasi saham langsung dengan penulis sambil makan malam, termasuk anda juga bisa berkonsultasi, bertanya, dan meminta ‘pencerahan’ entah itu tentang analisa saham tertentu, analisis IHSG, saran untuk portofolio dll. Pendek kata, nanti kita bisa makan-makan sambil ngobrol santai aja gitu. Berikut keterangan selengkapnya:

Untuk ikut program charity dinner ini maka anda tidak dipungut biaya, dimana dalam program ini penulis memang tidak mengenakan biaya sepeserpun. Namun demikian anda tetap harus mentransfer sejumlah uang, bukan ke rekening penulis melainkan ke lembaga donasi, yakni melalui kitabisa.com.

Lalu berapa jumlah transfernya? Well, tergantung hasil lelangnya. Yup, untuk mengikuti program charity dinner ini maka anda akan bergabung dalam acara lelang dengan harga pembukaan Rp1,000,000 alias satu juta rupiah, dan selanjutnya naik dengan kelipatan Rp100,000 alias seratus ribu Rupiah (jadi harga penawarannya adalah 1.1 juta, 1.2 juta, dan seterusnya). Dua orang penawar tertinggi akan berhak untuk bergabung dalam acara charity dinner bersama penulis (jadi nanti dinner-nya bertiga) pada waktu dan tempat yang akan ditentukan kemudian.
Sedikit catatan: Meski judulnya dinner, tapi tidak menutup kemungkinan acara makannya dilakukan di siang hari, intinya kita fleksibel aja. Penulis dalam hal ini tidak memiliki hubungan apapun dengan kitabisa.com ataupun orang-orang didalamnya, kecuali pernah menjadi salah satu donaturnya saja.
Berikut adalah jadwal dinner terdekat: Sabtu, 4 Maret 2017, di Plaza Indonesia, Jakarta.
Okay, berikut cara untuk bergabung:
1. Kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Charity Dinner’ dan isi: Nama lengkap anda, nomor telepon/Whatsapp. Contoh: Cristiano Ronaldo, 0811223344.
2. Anda akan menerima email balasan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta program. Selanjutnya nomor telepon anda akan diinvite untuk masuk grup Whatsapp (admin dari grup tersebut adalah penulis sendiri), kemudian di grup tersebut anda bisa mulai menawar harga. Misalnya jika harga penawaran tertinggi ketika anda masuk grup adalah 1.5 juta, maka anda harus menawar minimal 1.6 juta.
3. Lelang akan ditutup pada hari Jumat, 3 Maret 2017, pukul 16.00 WIB, ditandai dengan pengumuman dua orang pemenang lelang dan hasil akhir (harga penawaran tertinggi) lelangnya. Penulis kemudian akan menghubungi pemenang lewat chat pribadi untuk menentukan waktu dinnernya (pilihan waktunya adalah jam 11.00 siang, atau 16.00 sore, atau 19.00 malam).
4. Para pemenang kemudian melakukan donasi di kitabisa.com, kemudian menunjukkan bukti transfernya, bisa via Whatsapp atau bawa langsung bukti transfer tersebut ketika ketemu penulis.
Catatan Penting:
1. Grup Whatsapp-nya nanti adalah hanya untuk lelang saja, jadi tidak ada diskusi analisa atau bertanya tentang saham atau apapun. Tapi kalau sekedar memperkenalkan diri atau ngobrol santai antar anggota grup, maka itu diperbolehkan.
2. Setelah acara lelangnya, grup Whatsapp-nya akan langsung ditutup. Namun demikian para anggota grup akan menerima undangan via email untuk kembali ikut acara lelang selanjutnya, dan harga penawarannya akan kembali dibuka mulai dari satu juta Rupiah. Penulis berencana untuk mengadakan acara charity dinner ini setiap satu atau dua bulan sekali.
3. Untuk melakukan donasi, pertama anda buka kitabisa.com, klik ‘DONASI’ dibagian atas, lalu klik salah satu campaign yang ditampilkan (campaign-nya mulai dari pembangunan rumah ibadah, santunan bagi yatim piatu, membantu biaya rumah sakit bagi penderita kanker, dan seterusnya. Jadi anda tinggal pilih saja mau nyumbang yang mana). Di halaman berikutnya, klik ‘DONASI SEKARANG’, lalu tinggal ikuti saja langkah-langkah selanjutnya.

4. Beberapa hal yang nanti bisa didiskusikan/konsultasi secara private dengan penulis di acara dinner-nya: A. Analisis untuk saham-saham tertentu, termasuk (jika ada) harga beli terbaik, target harga, dan perkiraan waktu terbaik untuk beli dan jual, B. Pilihan saham-saham terbaik untuk tujuan investasi jangka menengah dan panjang, dan juga pilihan saham terbaik untuk trading jangka pendek (3 bulan atau kurang) berdasarkan kaidah value investing, C. Analisis & outlook sektor usaha tertentu, arah IHSG dalam jangka menengah dan panjang, hingga analisis makroekonomi, D. Penjelasan mengenai istilah-istilah tertentu dalam dunia investasi saham, E. Konsultasi mengenai susunan portofolio anda saat ini, dan seterusnya.

Ada pertanyaan? Silahkan kontak Ms. Nury di nomor telepon/SMS/Whatsapp 081220445202.

Update: Terima kasih dan Selamat kepada Pak Jimmy Setiawan dan Pak Polyman Tjia, pemenang lelang perdana ‘charity dinner’ dengan total nilai donasi Rp12,200,000. Sampai ketemu di acara dinner [...]

Samindo Resources

Pada akhir November 2016 lalu, penulis memperhatikan fakta bahwa seiring dengan kenaikan harga batubara yang dengan cepat menembus US$ 100 per ton, maka saham-saham batubara juga mengalami kenaikan luar biasa sejak dua bulan sebelumnya (awal Oktober). Masalahnya ketika sebuah saham naik signifikan dalam waktu singkat, katakanlah 100% hanya dalam 2 – 3 minggu, maka turunnya juga bisa sangat dalam, contohnya ya liat aja saham-saham Bakrie. Disisi lain kita juga tentu gak bisa mengharapkan harga batubara akan naik terus, melainkan pasti akan ada turunnya.
Namun setelah melakukan analisis secara detail, bisa penulis simpulkan bahwa sektor batubara belum mengalami euforia, sehingga masih menawarkan kenaikan lebih lanjut dalam jangka panjang. Meski demikian untuk periode November 2016 tersebut sampai awal tahun 2017 nanti, saham-saham batubara kemungkinan akan mengalami cooling down terlebih dahulu, alias bergerak mendatar atau turun sedikit (gak akan sampai balik lagi ke harga sebelum mereka naik), sebelum nanti siap-siap untuk lepas landas lagi, mungkin pada bulan April 2017. Sementara harga batubara itu sendiri mungkin akan turun dulu, tapi mentok-mentoknya cuma sampai US$ 80-an per ton saja. Anda bisa baca lagi ulasan analisisnya disini.
Waktu berlalu, dan ternyata apa yang terjadi kemudian memang hampir persis seperti yang diperkirakan: Saham-saham batubara mulai turun, tapi gak banyak turunnya, sementara harga batubara juga sudah turun ke level US$ 87 – 90 per ton. Namun meski sekarang baru menjelang Maret, tapi penulis perhatikan sektor batubara sudah mulai hot lagi, jadi mungkin kita gak perlu nunggu sampai April juga. However, keputusan untuk masuk ke saham-saham batubara mungkin kurang tepat untuk saat ini mengingat valuasi mereka tentunya sudah tidak semurah setahunan lalu, tapi bagaimana dengan saham-saham dari perusahaan mining service? Sebab meski mereka juga naik banyak dalam setahunan terakhir, tapi kenaikannya belum setinggi Bukit Asam (PTBA) dkk, sehingga valuasinya rata-rata masih murah, dan otomatis peluangnya masih terbuka. Jadi yang perlu kita kerjakan sekarang adalah men-screening saham-saham mining service tersebut, untuk menemukan saham yang fundamentalnya paling bagus, sekaligus (kalau bisa) valuasinya paling murah.
Dan opsi saham yang bisa dipertimbangkan adalah Samindo Resources (MYOH). Okay, kita langsung aja.
MYOH adalah perusahaan kontraktor batubara dengan layanan terintegrasi mulai dari eksplorasi tambang, studi kelayakan, penggalian batubara, pengiriman ke stockpile, dan pengangkutan batubara dari stockpile menuju pelabuhan. Dalam beberapa tahun terakhir seluruh pendapatan perusahaan berasal dari satu klien saja, yakni PT Kideco Jaya Agung, yang merupakan perusahaan batubara terbesar ketiga di Indonesia (setelah KPC milik Bumi Resources, dan Adaro). MYOH sendiri dipegang oleh Samtan Group, perusahaan asal Korea Selatan yang dimiliki oleh beberapa warga negara Korea yang dulunya merupakan karyawan senior di Kideco, jadi mungkin wajar jika Kideco kemudian menjadi pelanggan MYOH, karena koneksi langsung antara para direktur perusahaan dengan manajemen Kideco itu sendiri.
Sayangnya sampai sekarang klien MYOH ya cuma Kideco saja, sementara Kideco sendiri tidak menyerahkankan seluruh pekerjaan tambangnya ke MYOH, melainkan hanya sekitar 20% diantaranya. Jadi kalau Kideco mengeluarkan biaya US$ 1 milyar dalam setahun untuk pekerjaan tambangnya, misalnya, maka hanya sekitar US$ 200 juta yang masuk ke kantong MYOH sebagai pendapatan.
Namun entah karena MYOH ini dikelola oleh orang Korea atau faktor lainnya, track record kinerja perusahaan, kalau penulis boleh bilang, mirip-mirip perusahaan-perusahaan big caps. Pertama, utangnya kecil, hanya sekitar separuh nilai ekuitasnya. Kedua, pendapatan perusahaan dalam satu tahun sudah lebih besar total aset perusahaan, dan itu terjadi bahkan ketika harga batubara sedang terpuruk beberapa tahun lalu. Ketiga, margin laba bersihnya terbilang besar, sekitar 15% dari nilai pendapatan, dan tidak pernah ada biaya-biaya yang aneh-aneh yang menekan perolehan labanya (jadi ngga kaya Darma Henwa). Keempat, perusahaan rutin membayar dividen dalam jumlah yang wajar setiap tahunnya, yakni sekitar 30% dari nilai laba bersih perusahaan di tahun sebelumnya. Dan kelima, ketika industri tambang batubara secara umum mengalami penurunan, maka manajemen MYOH menyiasatinya dengan melakukan efisiensi yang kemudian berhasil, sehingga laba bersihnya tetap naik hingga tahun 2015 lalu, dan hanya turun di tahun 2016, tapi itupun ROE-nya tetap terjaga di level diatas 20%.
Jadi ketika pada tahun 2015 lalu penulis menemukan saham ini di harga 400-an, dan PBV-nya waktu itu cuma 0.8 kali, maka tentu saja penulis sudah mulai tertarik, apalagi dividend yield-nya juga gede banget, mencapai 10% dari harga sahamnya. Namun karena pada tahun tersebut harga batubara juga turun, tepatnya hingga mencapai titik terendahnya pada awal tahun 2016, maka MYOH, seperti juga saham-saham batubara lainnya, tidak memiliki sentimen untuk naik. Tapi karena disisi lain fundamentalnya juga masih jauh lebih baik dibanding kebanyakan perusahaan batubara dan mining servce yang lain, maka MYOH juga gak sampai jeblok, dan penurunannya tetap tertahan di 430 – 450. Sekedar pengingat, pada Januari – Februari 2016 lalu saham-saham batubara anjlok gak karu-karuan hingga 20 – 30% hanya dalam dua bulan tersebut (ketika itu karena sentimen turunnya harga minyak), padahal mereka sudah turun banyak banget sebelumnya. Tapi MYOH, sekali lagi, ketika itu tetap tidak bergeming.
Kemudian pada pertengahan 2016, harga batubara perlahan tapi pasti mulai merangkak naik, dan MYOH juga ikut naik meski gak sekenceng saham-saham batubara lainnya, ketika itu dari melompat dari 450 ke 550, dan kemudian bertahan disitu. Dan ketika artikel ini ditulis, MYOH sudah berada di level 680, tapi kabar baiknya pada harga segitu PBV-nya masih 1.1 kali, sehingga masih terbilang murah mengingat kinerjanya yang bagus, dan jangan lupa: Meski di tahun 2016 ini laba MYOH masih turun, tapi di tahun 2017 nanti hampir pasti pendapatan serta laba bersih perusahaan akan naik lagi karena imbas dari kenaikan harga batubara, sementara perusahaan juga sudah mengamankan kontrak dari Kideco hingga setidaknya tahun 2019, dan bisa diperpanjang. Sekitar dua tahun lalu waktu penulis pertama kali menemukan MYOH ini, asumsi harga wajarnya yang paling konservatif adalah sekitar 800. Namun dengan momentum rise of coal, maka tentu kita bisa sedikit lebih optimis lagi: MYOH bisa saja naik lebih tinggi lagi dari 800 tersebut, meski mungkin waktunya agak lama dari sekarang. Tapi untuk jangka pendeknya sekalipun, jangan lupa bahwa sekitar April – Mei nanti perusahaan akan bagi dividen, biasanya cukup besar, dan itu tentu bisa jadi sentimen positif buat sahamnya.
Kesimpulannya, jika saham Darma Henwa (DEWA) yang kita bahas minggu kemarin mungkin tidak bisa dipakai untuk investasi mengingat swing-swing sahamnya yang sangat ekstrim, maka MYOH merupakan pilihan yang jauh lebih aman, tapi tetap menawarkan profit lumayan (belum termasuk dividen) mengingat dia belum naik banyak jika dibanding saham-saham batubara lainnya, tentunya jika anda bisa memegangnya minimal untuk jangka menengah, alias 6 – 12 bulan kedepan.
PT. Samindo Resources, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2016: A
Rating saham pada 680: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang MYOH di harga 660. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Maret 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini. Gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing: Jakarta & Bandung

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta dan Bandung. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan Bandung (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi danjadwal acaranya:
Jakarta
Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
Hari/Tanggal: Sabtu, 4 Maret 2017
Bandung
Tempat: Amaris Hotel Cihampelas, Jln. Cihampelas No.171, Kota Bandung, Jawa Barat
Hari/Tanggal: Sabtu, 11 Maret 2017
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 sampai dengan 16.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas gardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Jakarta/Bandung (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, di tiap-tiap kota hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama temen-temen peserta kelas value investing, Jakarta, 21 Januari
Komentar Alumni:
Pak teguh, saya mau bertanya dan curhat, ^_^
Ditahun ketiga saya mengenal dunia saham, alhamdulilah saya sudah balik modal dan sejak mengikuti seminar dan buletin bapak, sungguh banyak sekali ilmu yang saya dapat, dan saya juga sudah mendapatkan profit hampir 100 persen dari total modal saya, meskipun saya dapat nya penuh dengan perjuangan,
Saya ingin menanyakan, selain mengikuti seminar, baca buku, googling dan belajar sendiri, ada kah buku rekomendasi untuk pemula seperti saya pak..? Atau audio atau apapun itu yang kira2 bisa menunjang dan lebih membantu dalam proses trading dan belajar saya.. atau kalo boleh, dulu cara bapak belajar itu seperti apa hingga bisa mencapai posisi seperti sekarang ini..?
Saya sudah membaca buku the intelligent investor (dan beberapa buku warren buffet lainnya). Dan untuk seminar/pelatihan saya sudah muter2 ke tetangga sebelah berkali2 dari yang mahal sampe murah, tapi saya merasa di seminar bapak yang paling cocok untuk saya (bukan memuji, tapi memang yang saya rasakan seperti itu) karena cara bertransaksi bapak yang tidak grasa grusu dan logis sekali penjelasan nya,..
Dan untuk belajar, saya belajar pagi siang malam subuh, dan kalo bisa pun itu buku dan komputer saya bawak ke dalam mimpi di tidur saya, hikss   :( :(
Mohon saran dan petunjuk nya ya pak,
Terimakasih 
Best Regards
Widya Olivia – Alumni Seminar [...]

Bumi Resources: Investasi atau Spekulasi?

Beberapa bulan terakhir ini penulis menerima banyak sekali pertanyaan terkait saham-saham Grup Bakrie, belum termasuk komplain dan curhat dari mereka yang posisinya nyangkut (Bakrie gitu loh). Tapi ada satu pertanyaan yang menarik: ‘Pak Teguh, di artikel anda berkali-kali mengatakan bahwa keputusan untuk membeli saham-saham Bakrie sangatlah berisiko dan lebih dekat ke spekulasi. Kalau begitu kenapa seorang investor yang sudah sarat pengalaman seperti Pak Lo Kheng Hong melakukan spekulasi dengan membeli Bumi Resources (BUMI)?’

Untuk menjawab pertanyaan diatas biar penulis kasih analogi sederhana: Jika seorang Michael Schumacher mengendarai mobil Formula 1 (F1), maka ia akan bisa ngebut hingga kecepatan 300 km per jam, dan dia akan baik-baik saja. Tapi jika penulis yang nyetir mobil F1 tersebut maka hampir pasti bakal nabrak dan masuk rumah sakit. Tidak ada yang salah dengan mobil F1-nya, yang salah adalah di pengemudinya.
Dalam investasi saham juga sama: Beberapa saham bisa dianalisa dengan analisis fundamental sederhana sehingga cocok bagi siapa saja (asalkan dia ngerti indikator-indikator sederhana seperti laba bersih, ROE, PBV, PER dll), namun beberapa lagi memerlukan analisis yang lebih mendalam, contohnya ya seperti BUMI ini. Jadi ketika Pak LKH membeli BUMI, maka itu bukan spekulasi, karena beliau tahu persis bagaimana analisisnya, sudah mengerti bagaimana risikonya, dan beliau juga memiliki mental yang sangat kuathasil dari pengalaman selama puluhan tahun di stock market, sehingga mampu untuk bersikap tidak peduli terhadap naik turun sahamnya.
Tapi ketika seseorang yang baru saja buka rekening di sekuritas sebulan lalu langsung beli BUMI, padahal dia bahkan belum tau dimana nyari laporan keuangan, maka menurut anda itu spekulasi apa bukan???
Jadi ketika anda membeli saham entah itu BUMI atau lainnya dan ternyata malah rugi, maka bisa jadi masalahnya bukan di sahamnya, melainkan di diri anda sendiri. Ketika penulis mengatakan bahwa ‘Keputusan untuk membeli saham-saham Bakrie itu lebih dekat ke spekulasi’, maka itu karena penulis asumsikan bahwa mayoritas pembaca blog ini belum se-berpengalaman Pak LKH, karena penulis sendiri juga itungannya masih anak TK kalo dibanding beliau. Kalau anda bertanya kepada Pak LKH, ‘Kenapa beli BUMI?’, maka itu sama seperti anda bertanya ke Schumacher tentang bagaimana caranya untuk nyetir mobil F1, dimana mau dia jelasin panjang lebar sampai subuh sekalipun, tetep aja anda gak akan bisa langsung jadi pembalap F1 keesokan harinya.
Kalau gitu bagaimana caranya agar saya bisa jadi pembalap Formula 1? Ya dengan menjalani karier sebagai pembalap secara step by step, tentu saja! Pertama anda coba balapan gokart, lalu naik ke Formula Vauxhall/Opel/Ford, lalu GP3, Formula 3, GP2, dan akhirnya F1. Proses dari mulai balapan gokart hingga akhirnya menjadi pembalap F1, itu tentu saja membutuhkan waktu bertahun-tahun. Max Verstappen, misalnya, yang dikenal sebagai pembalap F1 termuda yang pernah menjuarai Grand Prix pada usia 18 tahun, ia sudah menjadi pembalap gokart pada usia 4.5 tahun! Dengan kata lain Verstappen membutuhkan waktu sekitar 14 tahun sejak ia pertama kali memegang setir mobil balap, hingga akhirnya menjadi seorang juara.
Dalam investasi saham juga sama: Di BEI ada banyak saham dengan karakter alon-alon asal kelakon, alias naiknya pelan-pelan tapi aman/risikonya rendah, biasanya merupakan blue chip, misalnya (yang pernah dibahas/direkomendasikan diblog ini, anda bisa klik link-nya) Astra International (ASII), Bank BNI (BBNI), dan Jasa Marga (JSMR). Kemudian ada juga yang second & third liner yang menawarkan potensi profit lebih tinggi tapi risikonya pun agak lebih besar dibanding blue chip, katakanlah PP Properti (PPRO), KMI Wire & Cable (KBLI), dan WOM Finance (WOMF). Terakhir, saham-saham ‘ajaib’ yang sangat sulit dianalisa secara fundamental, sementara pergerakan harian sahamnya juga sangat ekstrim, sehingga bagi sebagian besar orang maka saham-saham tersebut tergolong spekulasi: Bumi Resources (BUMI), Darma Henwa (DEWA), dst.
Ini saham gak pake ribut-ribut udah naik 11.3% sepanjang Februari

Nah, jadi kalau anda baru mulai di saham, maka seperti yang sudah sering penulis sarankan di blog ini, anda bisa mulai dari balapan gokart alias membeli saham-saham blue chip terlebih dahulu. Berdasarkan pengalaman, beberapa saham blue chip bahkan begitu aman-nya sehingga meski anda membelinya tanpa analisis fundamental teknikal sekalipun (karena memang belum menguasai), namun dalam jangka panjang ternyata hasil profitnya tetap memuaskan.
Kemudian jika setelah 1 – 2 tahun hasilnya cukup baik, maka anda bisa naik kelas ke Formula 3, alias membeli saham-saham second & third liner, tentunya dengan asumsi bahwa anda sudah menguasai analisis fundamental minimal secara dasar. Karena berbeda dengan blue chip yang mayoritas bagus-bagus, sebagian besar saham second liner justru tidak cukup layak untuk investasi. Jika beberapa tahun kemudian hasilnya cukup baik juga, maka barulah anda bisa naik lagi ke Formula 1, alias membeli saham-saham ‘ajaib’ tadi, tapi bahkan pada titik inipun tetap tidak ada jaminan bahwa anda bakal cuan, apalagi kalau anda masih belum mampu untuk bersabar. Hari ini kita bisa lihat bahwa keputusan Pak LKH untuk masuk ke BUMI mungkin memang tepat, tapi 3 tahun lalu sebagian besar orang beranggapan sebaliknya. Anda bisa baca lagi ceritanya disini (coba baca komentar-komentarnya).
Sayangnya kalau penulis perhatikan, investor pemula manapun biasanya gak mau mulai dari gokart dulu karena mobilnya terlalu pelan, katanya (baca: sahamnya naiknya kelamaan!). Maka jadilah belum apa-apa langsung ngambil mobil F1, dan tak lama kemudian tabrakan dan masuk rumah sakit (baca: rugi gila-gilaan), beberapa malah langsung tewas ditempat (baca: menutup rekeningnya, plus dongkol karena berantem sama si broker/analis sekuritas, kemudian gak pernah main-main saham lagi).
Nah, kalau anda termasuk yang coba-coba ‘lompat kelas’ diatas dan hasilnya ternyata gak bagus, maka setelah keluar dari rumah sakit (baca: cut loss) anda bisa mulai balapan lagi, tapi kali ini mulai dari balapan gokart dulu, dan anda bisa mulai baca-baca tentang teknik membalap dll (baca: belajar analisis fundamental dll). Kemudian, normalnya beberapa tahun dari sekarang, tanpa disadari anda akan sudah menjadi seorang pembalap profesional, dan anda mungkin akhirnya akan mampu menembus ajang balap Formula 1. Ciri-ciri ‘pembalap F1′ di saham adalah: 1. Pilihan sahamnya aneh-aneh dan sulit dimengerti investor awam, tapi tetap berdasarkan kaidah value investing yakni: Kalau gak bagus banget, maka valuasinya murah banget, 2. Horizon investasinya panjaaaang banget, bisa sampe lima tahun atau lebih, dan 3. Biasanya merupakan investor full time.

Namun kalau anda masih belum memiliki setidaknya salah satu ciri diatas, maka jangan khawatir karena saham-saham mainstream sekalipun tetep menawarkan profit jumbo kok, asal anda bisa sedikit sabar aja. Contohnya, kalau anda beberapa bulan lalu ambil saham Medco Energi (MEDC), maka sekarang profitnya sudah sekitar 100%, padahal pergerakan sahamnya adem ayem saja, dan gak pernah pake acara jeblok 20% dalam sehari sehingga risiko terkait fluktuasi sahamnya jadi jauh lebih kecil dibanding saham-saham seperti BUMI. Jadi siapa bilang saham yang high gain itu juga harus high risk???

Jadwal Kelas Investasi Saham: Value Investing: Jakarta 4 Maret, Bandung 11 Maret. Keterangan selengkapnya baca disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal IV 2016

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan ebooknya sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, dan akhirnya mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL paling gokil
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – Jakarta
TESTIMONIAL paling jujur
Terima kasih pak Teguh untuk sarannya. Maaf, saya belajar pak, fundamental dan tehnik analisis walau masih sekulit. Untuk trading model tehnik analisis kayanya ga cocok sama sekali, ga ada waktu nongkrongin computer terus2an. Jadi saya lebih baik mempelajari saham2 pilihan pak Teguh saja. Dan dari pertengahan bulan kemarin, hasilnya sangat baik.
Terima kasih pak Teguh.
Cynthia Santoso – [...]

Darma Henwa

Sebenarnya penulis sudah hendak membahas saham Darma Henwa (DEWA) ini sejak beberapa hari lalu. Tapi berhubung kemarin gak ada yang lebih menarik untuk diperhatikan ketimbang detik-detik menjelang Pilkada DKI hingga Pilkada itu sendiri digelar hari Rabu, sementara saham-saham Bakrie juga keliatannya mulai tertekan sehingga bisa saja mereka jeblok (dan memang akhirnya itu terjadi!), maka sengaja pembahasan DEWA baru penulis tampilkan hari ini, setelah kemarin DEWA, seperti juga saham-saham Bakrie lainnya, ‘sukses’ digebuk habis-habisan, gak tanggung-tanggung sampai ada yang diatas 20 persen! Okayy, kita langsung saja.

Darma Henwa adalah perusahaan mining service alias jasa tambang batubara, yakni perusahaan yang menggali tambang batubara milik perusahaan lain. Pekerjaan jasa yang dilakukan perusahaan meliputi penyediaan infrastruktur tambang termasuk alat-alat berat (heavy equipments), pembukaan lahan, penggalian batubara atau mineral lainnya, pengangkutan batubara dari lokasi tambang menuju pelabuhan, aktivitas bongkar muat batubara di pelabuhan, hingga merehabilitasi lahan tambang yang sudah selesai digali agar menjadi hutan kembali. DEWA didirikan pada tahun 1991 oleh BHP Billiton Group, dan merupakan kontraktor untuk tambang batubara Petangis di Kalimantan Timur. Tahun 1996 perusahaan diakuisisi oleh Henry Walker Group asal Australia, dan di tahun-tahun selanjutnya perusahaan memperoleh beberapa kontrak penting dari Newmont Nusa Tenggara, Tanito Harum, dan tambang Bengalon milik Kaltim Prima Coal (KPC). Tahun 2005 perusahaan diakuisisi oleh Grup Bakrie, kemudian memperoleh kontrak dari tambang batubara Asam-Asam milik PT Arutmin di Kalimantan Selatan pada tahun 2007, dan juga melantai di bursa pada tahun yang sama.

Namun justru setelah IPO-nya di tahun 2007, kesininya DEWA boleh dibilang tidak mengalami perkembangan usaha yang berarti, dimana tambang Bengalon sampai sekarang masih menjadi klien terbesar perusahaan, padahal tambang Bengalon hanya memproduksi batubara dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibanding tambang utama milik KPC yakni Sangatta, itupun tidak semua produksi Bengalon ditangani oleh DEWA. Alhasil jika dibanding perusahaan sejenis yang lebih terkemuka seperti Pamapersada (anak usaha United Tractors/UNTR), atau Bukit Makmur Mandiri Utama (anak usaha Delta Dunia Makmur/DOID), maka DEWA terbilang kecil dengan aset hanya US$ 400 juta pada Kuartal III 2016. Tadinya penulis sendiri termasuk yang berpikir bahwa karena DEWA ini dimiliki oleh Grup Bakrie, termasuk sekitar 33% saham DEWA juga dipegang oleh Bumi Resources (BUMI) langsung, sementara kita tahu bahwa BUMI merupakan induk dari KPC dan Arutmin, maka DEWA mungkin akan didahulukan dalam memperoleh kontrak-kontrak pekerjaan tambang dari KPC dan Arutmin, tapi ternyata tidak. Pada tahun 2015, DEWA hanya menggali batubara sebanyak total 12.3 juta ton, atau tidak sampai seperlima total produksi BUMI yang mencapai 81.2 juta ton. Dan berbeda dengan BUMI yang terus bertumbuh karena ekspansi dan akuisisi kesana kemari termasuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan tambang non-batubara (yang kemudian ditempatkan di Bumi Resources Minerals (BRMS)), maka DEWA dari dulu cuma ya segitu-gitu aja, dimana nilai aset DEWA saat ini justru lebih kecil dibanding tahun 2009 lalu, yang mencapai US$ 462 juta.
Entah karena faktor ‘anak tiri’ diatas atau lainnya, tapi yang jelas kinerja DEWA jadi tidak memuaskan, dimana dalam tujuh tahun terakhir perusahaan lebih sering rugi ketimbang untung, termasuk merugi pada tahun 2011, 2012, dan 2013 berturut-turut, padahal ketika itu harga jual batubara sedang tinggi-tingginya. Dan alhasil ketika saham dari perusahaan Bakrie lainnya mungkin bisa naik sangat tinggi, maka DEWA ini paling tinggi pernah naik sampai 680 saja, yakni di tahun 2007 alias tak lama setelah IPO-nya (harga perdananya 335), tapi kemudian langsung anjlok hingga mati di gocap di tahun 2008, karena kejatuhan IHSG ketika itu karena krisis global. Di tahun 2009 IHSG mulai naik, dan DEWA juga naik sampai 200-an, tapi setelah itu turun lagi hingga akhirnya kembali mati di gocap pada tahun 2012. Yup, dibanding para pemain Grup Bakrie lainnya yang memang satu per satu tewas di gocapan sejak tahun 2012, maka DEWA ini adalah seperti pemain figuran yang mati duluan, dan baru dapat peran lagi pada awal 2017 ini.
Kinerja Fundamental DEWA
Nah, ketika saham DEWA mulai menggeliat sejak Januari kemarin, maka semua orang bisa melihat bahwa itu hanya karena mengikuti kenaikan BUMI sebagai aktor utama di sinetron Bakrie, jadi bukan karena faktor fundamental, karena memang kinerja DEWA sampai sekarang juga masih belum bisa dikatakan bagus. Hingga Kuartal III 2016 kemarin, DEWA hanya membukukan laba US$ 84 ribu (ribu, bukan juta), atau amat sangat kecil dibanding ekuitasnya yang mencapai US$ 225 juta (sehingga bisa dikatakan bahwa laba bersih DEWA adalah nol).
Meski demikian jika dibanding anak-anak usaha Bakrie lainnya, maka DEWA adalah yang paling berpeluang untuk menghasilkan kinerja bagus di tahun 2017 ini. I mean, jika patokannya adalah kinerja terakhir, maka BUMI justru jauh lebih buruk dengan mencatatkan ekuitas negatif/defisiensi modal sebesar US$ 2.7 milyar pada Kuartal III 2016, tapi toh sahamnya terbang tinggi karena adanya ekspektasi yang sangat kuat bahwa di tahun 2017 nanti perusahaan akan menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik setelah restrukturisasi utangnya sukses, dan juga karena kenaikan harga jual batubara. Mungkin juga perlu dicatat bahwa meski BUMI sekarang ini memiliki prospek yang menarik, tapi dalam upaya untuk melunasi utang-utangnya maka perusahaan kemarin terpaksa melepas paling tidak dua asetnya yang terbilang cukup besar, yakni 18% saham di Newmont Nusa Tenggara (NNT, yang sudah dijual ke Grup Medco), dan Pendopo Energi Batubara. Actually, hampir semua anak-anak usaha Grup Bakrie terpaksa melego sebagian aset-aset mereka untuk membayar utang meski, dalam kasus BUMI, perusahaan sukses mempertahankan KPC sebagai aset terbesarnya.
Sementara DEWA? Well, aset-aset perusahaan sampai sekarang masih lengkap (dulu sempat ada wacana bahwa DEWA akan menjual sebagian alat-alat beratnya, tapi itu tidak jadi dilakukan). Kebijakan perusahaan yang terlalu ekspansif menyebabkan DEWA nyaris tidak memiliki utang kecuali utang usaha dan utang sewa pembiayaan (karena perusahaan membeli alat-alat berat dengan cara kredit, atau menyewa). Sehingga ketika nanti harga batubara kembali pulih dan permintaan jasa tambang kembali meningkat, maka pendapatan DEWA hampir bisa dipastikan akan meningkat signifikan.
Dan karena sekarang ini harga batubara memang sudah mulai pulih, maka DEWA sukses memperoleh setidaknya dua kontrak baru penggalian batubara yakni untuk tambang Mulia dan Satui di Kalimantan Selatan, keduanya milik PT Cakrawala Langit Sejahtera yang juga merupakan anak usaha dari Grup Bakrie, belum termasuk kontrak perencanaan teknis dan pengawasan untuk tambang Muara Teweh, Kalimantan Tengah, milik PT Asmin Koalindo Tuhup (anak usaha dari Borneo Lumbung Energi & Metal/BORN). Ditambah dengan peningkatan produksi yang signifikan di tambang Bengalon dan Asam-Asam,  maka di tahun 2017 ini DEWA ditargetkan untuk menggali total 29.1 juta ton batubara, atau meningkat hampir dua kali lipatdibanding 15.1 juta ton (estimasi) pada tahun 2016. Well, cukup menarik bukan?
However, dari sisi perkiraan perolehan laba bersihnya yang hanya US$ 9.7 juta untuk tahun 2017, atau hanya 4.4% dibanding nilai ekuitas perusahaan, maka prospek DEWA tentu saja tidak semenarik BUMI, misalnya, apalagi selama beberapa tahun ini DEWA memang kesulitan untuk sekedar membukukan angka laba yang positif, tak peduli meski pendapatannya naik signifikan. Namun jika dibanding anak-anak usaha Bakrie yang lain maka DEWA merupakan satu-satunya perusahaan, diluar BUMI, yang menawarkan prospek lumayan mulai tahun 2017 ini dan seterusnya. Termasuk, setelah kemarin perusahaan mengumumkan bahwa mereka memperoleh kontrak dari Asmin Koalindo, maka selama selama harga jual batubara minimal bertahan di kisaran US$ 80 per ton seperti sekarang ini, kedepannya DEWA berpeluang untuk memperoleh kontrak lainnya lagi.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Jika kita review lagi pembahasan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa DEWA memiliki prospek yang menarik, aset-asetnya masih lengkap, dan jumlah utangnya juga relatif kecil atau malah sangat kecil jika dibanding jumlah utang yang dimiliki anak-anak usaha Bakrie yang lain, sehingga tidak ada keharusan bagi perusahaan untuk melakukan refinancing atau restrukturisasi utang seperti yang dilakukan BUMI kemarin (sementara Bakrieland Development (ELTY), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), hingga Energi Mega Persada (ENRG), semuanya memiliki utang yang besar, sehingga kemarin ada usulan dari manajemen UNSP dan ENRG untuk juga melakukan restrukturisasi utang/right issue, yang diawali dengan reverse stocksplit terlebih dahulu). Yep, karena Grup Bakrie sejak dulu dikenal hobi ngutang, maka terdapat kesan bahwa semua anak usahanya dibebani utang yang besar, padahal untuk DEWA sama sekali nggak begitu, sehingga sahamnya relatif lebih aman dibanding saham-saham Bakrie yang lain.
Sementara valuasi sahamnya? Nah, pada harga 66, DEWA mencatat PBV 0.5 kali alias cukup murah, sehingga kalau nanti saham-saham Bakrie ‘main’ lagi, atau sekedar keluar cerita/sentimen positif terkait bisnis batubara, maka sahamnya akan lebih gampang naik dibanding saham-saham Bakrie yang lain (dan memang kemarin DEWA sempat naik sampai tembus 100). Sudah tentu, dengan mempertimbangkan proyeksi kinerjanya di 2017 maka DEWA tidak akan naik setinggi BUMI, tapi let say dia naik ke 100 saja, maka profitnya sudah hampir 50% bukan? Dan selama BUMI-nya masih gerak, maka DEWA juga tidak punya alasan untuk mati lagi digocapan seperti tahun-tahun yang lalu.
Hanya memang balik lagi: Ketika kita diskusi tentang saham-saham Bakrie, maka analisis fundamental mau kaya gimana mungkin tidaklah berarti apapun, karena semua orang lebih tertarik dengan swing-swing sahamnya yang sangat ekstrim, bisa mencapai puluhan persen hanya dalam satu atau dua hari. Pertengahan Januari lalu DEWA ini terbang dari 50 sampai tembus 100 pada akhir bulan, atau naik 100% hanya dalam dua minggu.. tapi kemudian turun lagi ke level saat ini, padahal sekarang masih pertengahan Februari. Jadi kalau ada dua orang yang membeli DEWA ini maka hasil profit atau ruginya bisa sangat bertolak belakang, tergantung mereka belinya diharga berapa. Dan jangankan DEWA: Kalau anda beli BUMI yang sudah dikatakan memiliki prospek menarik sekalipun (anda bisa baca lagi ulasannya disini, dan disini) tapi belinya telat di 500-an, maka posisi anda sekarang bukannya profit tapi malah loss hampir 30%, hanya dalam hitungan hari! Untuk saham-saham Bakrie yang lain, ceritanya bisa lebih tragis lagi. Make no mistake: Ketika artikel ini ditulis, DEWA berada di level 66, tapi ketika anda membaca artikel ini maka DEWA bisa berada di posisi yang jauh lebih tinggi ataupun lebih rendah dari 66 tersebut.
Karena itulah, jika anda gak mau ambil risiko rugi, lupakan saja apa yang sudah anda baca diatas, dan carilah saham-saham lain yang lebih aman. Bagi sebagian besar investor, terutama yang masih pemula, maka keputusan untuk untuk masuk ke saham-saham Bakrie adalah seperti belajar berenang di laut yang penuh dengan ikan hiu, dimana kalaupun anda berhasil kembali ke darat dengan selamat, maka anda mungkin tetap akan berakhir di rumah sakit karena gagal jantung (ngerti maksudnya kan???)
Tapi, okay, mari kita anggap bahwa anda sudah jago berenang, atau lebih baik lagi: Anda sudah mengikuti analisa yang disajikan di blog ini sejak Oktober 2016 lalu, yakni ketika kita membahas BUMI ketika sahamnya masih di harga 100-an, sehingga posisinya sekarang sudah lumayan profit. Nah, kalau anda tertarik untuk mencoba keberuntungan di saham Bakrie yang lain, maka DEWA merupakan pilihan yang paling masuk akal, setidaknya untuk saat ini.
Okay, I think it’s enough. Di artikel selanjutnya kita akan membahas sedikit tips untuk meraup profit dari saham-saham seperti saham Bakrie ini, tentunya dengan tetap memperhatikan kaidah value investing.
Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal IV 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

‘News Framing’, dan Pengaruhnya Terhadap Harga Saham

Dalam bidang jurnalistik, yang dimaksud dengan ‘news framing’ atau secara harfiah bermakna ‘pembingkaian berita’, adalah cara media dalam menyampaikan/membingkai sebuah berita, informasi, atau fakta peristiwa tertentu agar menimbulkan persepsi atau kesan tertentu dari masyarakat yang membaca berita tersebut. Dengan kata lain, framing adalah metode penggiringan opini, dimana satu berita yang sama bisa menimbulkan persepsi berbeda dari para pembacanya, tergantung cara media/wartawan dalam menyampaikan berita tersebut.

Contoh sederhana dari framing adalah seperti cerita berikut, yang mungkin juga sudah pernah anda baca. Jadi ceritanya ada seorang wartawan yang mewawancarai seorang menteri:
Wartawan (W): Pak, lebih suka ayam goreng apa gulai kambing?
Menteri (M): Ayam goreng
W: Pakai tepung atau tidak?
M: Pakai tepung
W: Model ayam KFC gitu ya pak?
M: Ya kurang lebih begitulah.
Besoknya di koran muncul headline: ‘Menteri M lebih suka ayam goreng KFC model Amerika dan tidak suka gulai kambing tradisional Indonesia’.
Di sebuah media online, muncul berita dengan judul: ‘Terlalu! Gaya hidup Menteri M kebarat-baratan’.
Di media online lainnya, ‘Astaghfirullah! Menteri M benci daging kambing makanan kesukaan Rasulullah SAW’.
Seseorang menulis di status Facebook-nya, ‘Antek Asing! Menteri M lebih mendukung KFC ketimbang pedagang kecil’.
Tak lama kemudian muncul kelompok A yang berunjuk rasa di Jakarta dengan tema ‘Menolak Penyesatan Ahlak oleh Menteri M’, Kemudian muncul lagi kelompok B yang berunjuk rasa dengan tema ‘Tolak Antek Kapitalis! Dukung Usaha Kecil’.
News Framing di Dunia Pasar Saham
Setelah membaca contoh cerita diatas, anda mungkin bisa langsung menyimpulkan bahwa news framing biasanya terjadi pada pemberitaan politik, biasanya terkait pernyataan pejabat tertentu yang kemudian dipelintir sana-sini hingga timbul kesan bahwa si pejabat ngomong apa, padahal maksudnya bukan begitu. Actually, kalau anda amati, dewasa ini pemberitaan apapun yang terkait dunia politik tidak pernah lepas dari teknik framing ini, dan alhasil opini yang berkembang di masyarakat terkait isu politik tertentu selalu tergantung dari bagaimana cara media dalam mengemas suatu berita.
Tapi tahukah anda, bahwa belakangan ini pemberitaaan di dunia investasi saham juga mulai terkontaminasi virus framing ini?
Mari kita lihat contoh terbaru. Baru saja dua hari lalu, Menteri Koordinator Luhut Pandjaitan bersama beberapa menteri lainnya mengatakan kepada wartawan bahwa, agar proyek pembangunan light rail transit (LRT) bisa selesai tepat waktu, maka mekanisme pendanaan dari proyek tersebut akan dibuat lebih fleksibel, dimana jika sebelumnya proyek itu akan sepenuhnya menggunakan dana dari APBN, maka sekarang Pemerintah membuka opsi-opsi lain seperti public service obligation, penjaminan, kerja sama dengan pihak swasta maupun BUMN, dan seterusnya.
Tapi entah bagaimana, cerita yang muncul adalah ‘Proyek LRT yang dikerjakan oleh kontraktor Adhi Karya (ADHI), terancam mangkrak karena tidak lagi dibiayai APBN’.
Padahal kalau kita cermati pernyataan dari Pak Luhut, misalnya seperti yang bisa anda baca disini:
Beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa proyek LRT tidak lagi dibiayai oleh APBN. Bahkan menyatakan bahwa APBN tidak sanggup menanggung seluruh biaya proyek pun tidak! (yang menulis kalimat itu cuma wartawannya aja). Yang Pak Luhut tekankan adalah, karena Pemerintah berkeinginan agar proyek LRT itu bisa selesai tepat waktu, maka kita jangan lagi terlalu kaku dengan hanya mengandalkan APBN semata, melainkan bisa mempertimbangkan banyak opsi lain termasuk menunjuk ADHI untuk juga sekaligus sebagai investor (jadi tidak hanya sebagai kontraktor, melainkan pemilik LRT tersebut), tentunya jika perusahaan sanggup menyediakan dananya (jadi kalau gak sanggup ya gpp, LRT-nya tetap jadi milik Pemerintah). Perhatikan bahwa Pak Luhut hanya mengatakan bahwa ‘ADHI bisa juga menjadi investor pemilik proyek, jadi tidak sekedar menjadi kontraktor’, dan bukannya mengatakan ‘Kami telah menunjuk ADHI sebagai pemilik proyek, jadi mulai sekarang masalah pembiayaan LRT adalah sepenuhnya tanggung jawab perusahaan’. Perhatikan pula bahwa beliau sama sekali tidak mengatakan kata-kata seperti ‘LRT harus disetop’, ‘duitnya tidak cukup’, ‘proyeknya bakal mangkrak’, atau semacamnya. Malahan beliau menekankan bahwa ‘Kita tetap ingin proyek LRT selesai pada first quarter 2019, sepertinya tercapai’.
Tapi apapun itu, berita yang sudah tersebar luas adalah bahwa proyek LRT yang dikerjakan oleh ADHI terancam mangkrak. Dan hasilnya seperti yang bisa anda tebak: Dua hari ini saham ADHI nyungsep hingga tembus dibawah level psikologis Rp2,000 per saham, and of course, everybody went panic.
Tapi cerita ADHI ini bukanlah yang pertama. Beberapa bulan lalu, ketika saham Jasa Marga (JSMR) anjlok hingga tembus dibawah 4,000, muncul berita bahwa karena perusahaan dalam waktu dekat akan mengoperasikan banyak ruas tol baru, maka JSMR mungkin akan merugi karena ruas tol tersebut akan memakan banyak biaya operasional, sementara pendapatannya belum tentu meningkat (ini analisis yang totally ngawur, tapi tetep aja banyak orang yang percaya). Kemudian Desember 2016 lalu pernah juga ada berita bahwa terkait tax amnesty, maka bank-bank di tanah air akan kebanjiran dana repatriasi milik orang Indonesia dari luar negeri, dimana jika pihak bank tidak bisa menyalurkannya kembali maka akan menimbulkan kerugian (dan alhasil saham BBRI dkk ketika itu langsung turun). Pernah juga rame berita bahwa ‘Pemerintah akan menaikkan harga rokok jadi Rp100,000 per bungkus’, padahal itu cuma wacana sebuah LSM! Tapi efeknya lumayan dahsyat untuk menjatuhkan saham Gudang Garam (GGRM) dkk. Dan yang paling mudah diingat adalah ketika beberapa waktu lalu muncul boikot terhadap roti merk ‘Sari Roti’ milik Nippon Indosari Corpindo (ROTI), dimana entah dari mana asalnya muncul berita yang bercerita tentang pedagang Sari Roti yang menangis (‘menangis’, bukan ‘mengeluh’, biar dramatis aja gituuu) karena dagangannya gak laku-laku, sehingga timbul kesan bahwa ROTI bangkrut.
Merk roti favorit penulis, paling enak makannya sambil minum Equil (bukan minuman keras loh yaaa)
Padahal ketika penulis sorenya mampir ke warung depan rumah untuk beli cemilan, saya bertanya sama kasir, hari ini ada yang beli Sari Roti nggak? Dan dia jawab, ada kok pak, sama aja kaya hari-hari biasa.
Namun tidak semua news framing ini bikin saham jeblok, tapi juga sebaliknya bisa bikin saham gak jelas terbang. Ketika Bank Pundi, yang sekarang berubah nama menjadi Bank Banten (BEKS) menggelar right issue, maka muncul berita dimana-mana yang mengatakan bahwa kinerja BEKS akan jadi bagus seperti BJBR bla bla bla, dan alhasil sahamnya terbang. Lalu ketika kemarin Donald Trump memenangkan Pilpres Amerika Serikat versi real count, tiba-tiba saja ada media yang ‘mengingatkan’ masyarakat bahwa Trump pernah bekerja sama membangun sebuah resort dengan perusahaan properti milik Hary Tanoe, dan alhasil saham MNC Investama (BHIT), yang merupakan perusahaan investasi milik Mr. Hary, langsung terbang.
Tapi entah itu sahamnya terbang ataupun jeblok, namun seperti yang bisa anda perhatikan: Tak lama setelah beritanya dilupakan orang, maka saham tersebut akan kembali lagi ke posisi harganya semula. Jadi saham yang sebelumnya jeblok akan naik lagi, dan saham yang sebelumnya terbang akan turun lagi. Yup, jadi bahkan dalam contoh kasus ‘news framing’ yang efeknya berkepanjangan sekalipun, contohnya seperti ketika awal tahun 2016 lalu rame isu soal pembatasan NIM perbankan yang menyebabkan saham-saham bank jeblok, namun tetap saja, pada akhirnya saham yang menjadi ‘korban’ akan naik kembali.
Jadi dalam hal inilah, ketika kita menemukan saham bagus yang sedang ‘diserang’ oleh pemberitaan negatif tertentu, atau kebetulan saham yang diserang tersebut sudah kita pegang (sehingga posisinya jadi nyangkut), maka apakah situasi ini bisa menimbulkan profit atau malah kerugian, itu sepenuhnya tergantung dari cara kita dalam menyikapi ‘serangan’ tersebut: Jika anda meniru kebiasaan para ‘komentator politik’ di Facebook yang selalu membaca judul beritanya saja tanpa sekalipun membaca isi dari berita itu sendiri (padahal bisa jadi itu cuma hoax), maka ya sudah: Anda bakal langsung panik ketika saham anda under attack, lalu cut loss, lalu beberapa saat kemudian menyesal karena ternyata saham itu naik lagi.
Namun jika kita sejak awal hanya membeli saham-saham berfundamental bagus, dan meluangkan waktu untuk membaca pemberitaan yang beredar secara menyeluruh hingga memahami esensi dari berita tersebut (dimana seringkali esensi beritanya tidaklah seburuk judul headline-nya), maka penurunan saham artinya opportunity, dimana kita bisa average down, atau ya hold aja kalau memang sudah gak punya cash lagi, karena toh kita tahu bahwa nanti juga itu saham bakal naik lagi. Sebenarnya kalau anda sudah cukup pengalaman di market, maka anda akan mengerti bahwa faktor news framing terhadap pemberitaan ini merupakan salah satu risiko yang bisa menyerang saham manapun yang anda pegang, tak peduli sebagus apapun fundamental saham tersebut. Namun asalkan anda bisa menelaah kembali pemberitaan tersebut dengan seksama dan bukannya hanya mendengar ‘katanya katanya katanya’, dan kemudian menyimpulkan bahwa ternyata tidak ada peristiwa tertentu yang secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja operasional perusahaan, maka ya sudah: Anda bisa kembali duduk santai dirumah dan ngopi-ngopi lagi, coz there is nothing to worry about!
Okay, I think that’s enough. Minggu depan kita akan membahas satu saham tambang, yang mungkin akan melaporkan kinerja keuangan yang bagus di Kuartal IV 2016.

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal IV 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bumi Resources Minerals

Pada Oktober 2016 lalu, di blog ini kita sudah membahas tentang salah satu saham paling fenomenal dalam sejarah Pasar Modal di Indonesia, Bumi Resources (BUMI), yang ketika itu tiba-tiba saja melompat dari Rp82 ke Rp123 per saham, hanya dalam tiga hari perdagangan. Namun setelah mempertimbangkan kenaikan harga batubara, plus adanya rencana dari perusahaan untuk mengkonversi utangnya menjadi saham (yang kemudian disetujui oleh kreditor), maka ketika itu kesimpulannya adalah bahwa BUMI sangat menarik karena masih berpeluang untuk naik lebih tinggi lagi. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Waktu berlalu.. dan sekarang tiba-tiba saja BUMI sudah berada di level psikologis Rp500 per saham! Karena sepanjang Januari ini pasar juga sangat sepi dari sentimen, maka praktis tidak ada saham yang lebih menarik perhatian para investor dan trader dibanding BUMI ini, dimana orang-orang yang sebelumnya mengklaim bahwa mereka ‘Tidak akan menyentuh BUMI!’, mau tidak mau jadi penasaran juga: Jangan-jangan BUMI ini beneran bagus?
Tapi bahkan kalaupun BUMI ini bagus, masalahnya dia sekarang sudah bukan 50 lagi, melainkan udah nambah nolnya satu jadi 500.. Jadi bagaimana kalau kita ambil ‘saudara-saudaranya’ saja? Dan mungkin karena itulah, beberapa saham Bakrie seperti Bumi Resources Minerals (BRMS), Darma Henwa (DEWA), Energi Mega Persada (ENRG), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), hingga Bakrieland Development (ELTY), belakangan ini semuanya bangkit dari kubur. Namun bagi investor yang berpengalaman, maka cukup jelas bahwa kebangkitan saham-saham zombie diatas hanya karena mengikuti kenaikan BUMI saja, jadi belum tentu karena faktor fundamental dari perusahaan terkait.
Okay, tapi bagaimana dengan BRMS? Berbeda dengan saham-saham Grup Bakrie lainnya yang baru ‘jalan’ pada Januari ini, BRMS sudah mulai menggeliat sejak Oktober tahun lalu, atau hampir bersamaan dengan naiknya BUMI. Kemudian meski kenaikannya belum setinggi BUMI, tapi kalau dibandingkan dengan saham-saham Bakrie lainnya maka dia yang naiknya paling tinggi sejauh ini. Selain itu secara struktur perusahaan, BRMS ini 87% sahamnya dipegang oleh BUMI, jadi kalau nanti BUMI ini kembali mencatat kinerja bagus dan profit jumbo karena kenaikan harga batubara, maka harusnya demikian pula dengan BRMS, karena BUMI dan BRMS ini sejatinya merupakan perusahaan yang sama bukan? Well, mungkin nggak juga, dan berikut penjelasannya.
Analisis BRMS
Sejarah BRMS dimulai pada tahun 2009, ketika Grup Bakrie bersama dengan Pemprov Nusa Tenggara Barat sukses mengakuisisi 24% saham Newmont Nusa Tenggara (NNT), sebuah perusahaan tambang emas. Di tahun yang sama, Grup Bakrie juga sukses mengakuisisi tiga perusahaan tambang lainnya, yakni PT Gorontalo Minerals (emas dan tembaga), PT Citra Palu Minerals (emas), dan PT Dairi Prima Mineral (zinc dan timah hitam). Keempat perusahaan ini kemudian ditempatkan dibawah BUMI. Namun karena aset-aset BUMI yang lain hampir semuanya bergerak di bidang tambang batubara, sementara empat perusahaan diatas, meski juga merupakan perusahaan tambang namun bukan batubara, maka timbul ide untuk mendirikan perusahaan holding dibawah BUMI yang khusus untuk menampung NNT dan kawan-kawan. Maka kemudian lahirlah Bumi Resources Minerals. Hanya setahun kemudian yakni tahun 2010, BRMS sukses melantai di bursa dengan harga perdana Rp635 per saham. Peraturan BEI sebenarnya mensyaratkan sebuah perusahaan untuk sudah berdiri dan beroperasi minimal selama tiga tahun sebelum kemudian baru bisa IPO, tapi Grup Bakrie bisa mengakali peraturan tersebut dengan cara mengakuisisi perusahaan kecil bernama PT Panorama Timur Abadi yang sudah berdiri sejak tahun 2007 (akuisisinya dilakukan tahun 2009), kemudian mengubah nama perusahaan menjadi Bumi Resources Minerals, dan langsung meng-IPO-kannya setahun kemudian. Genius, isn’t it?

However, berbeda dengan aset-aset batubara milik BUMI yang sebagian besar sudah beroperasi, dari keempat aset yang ditempatkan dibawah BRMS, hanya NNT yang sudah beroperasi. Ketika BRMS melakukan IPO di tahun 2010, maka rencana awalnya adalah bahwa perusahaan akan melakukan kegiatan eksplorasi hingga ketiga anak perusahaan, yakni Gorontalo Minerals, Citra Palu, dan Dairi Prima, kesemuanya akan sudah beroperasi dan menghasilkan pendapatan pada tahun 2013.
Namun seperti yang kita ketahui, memasuki tahun 2012 harga batubara mulai turun, kinerja BUMI sebagai induk dari BRMS mulai tersendat-sendat, dan para direkturnya kemudian lebih sibuk berurusan dengan utang-utang perusahaan yang segunung ketimbang mengerjakan operasional tambang seperti biasanya. Dan alhasil kegiatan eksplorasi di tiga tambang milik BRMS nyaris berhenti total, sehingga tidak ada kejelasan tentang kapan Gorontalo Minerals dan lainnya akan bisa mulai beroperasi. Untuk beberapa saat, kondisi ini tidak terlalu jadi soal, karena toh BRMS masih punya sumber income dari bagian laba bersihnya di NNT.
Tapi pada tahun 2016 kemarin, setelah Grup Bakrie terus berjuang untuk melepaskan diri dari jeratan hutang-hutangnya, pada akhirnya mau tidak mau mereka harus melepas NNT ke Grup Medco, itupun pada harga murah sehingga di laporan laba rugi BRMS, tercantum kerugian investasi yang cukup besar yakni US$ 660 juta karena BRMS melepas NNT pada harga yang jauh lebih rendah dibanding yang seharusnya, istilahnya forced sell lah. Namun problem terbesarnya mungkin bukan di kerugian itu, melainkan: Setelah tidak lagi memegang NNT, maka mulai tahun 2017 ini dan seterusnya, BRMS bisa dipastikan tidak memiliki sumber pendapatan lagi.
Sebab dari tiga perusahaan tambang yang masih dipegang BRMS, diperkirakan mereka baru akan mulai beroperasi pada tahun.. 2019, itupun tentunya dengan catatan kegiatan eksplorasinya lancar (jadi realisasinya bisa lebih lama lagi). BRMS sebenarnya masih punya satu sumber pendapatan, yakni dari jasa pemasaran produk-produk tambang, namun nilainya sangat kecil, hanya US$ 2 – 3 juta per tahun. Karena disisi lain kegiatan eksplorasinya akan memakan biaya besar hingga ratusan juta Dollar, maka BRMS hampir bisa dipastikan akan kembali menderita kerugian di tahun 2017 ini, dan juga tahun 2018 nanti.
Jadi berbeda dengan BUMI yang berpeluang untuk kembali mendulang profit di tahun 2017 ini berkat naiknya harga jual batubara, plus ekuitasnya juga akan kembali positif karena restrukturisasinya sukses, atau dengan kata lain kenaikan saham BUMI selama tiga bulan kemarin memiliki dasar fundamental, maka untuk BRMS ini penulis terus terang gak punya gambaran kedepannya bakal gimana. Sebenarnya ada dua kondisi yang bisa membuat BRMS membukukan laba, yakni: 1. Perusahaan menjual salah satu dari tiga aset tambangnya pada harga tinggi, atau 2. Grup Bakrie sukses mengakuisisi perusahaan tambang yang sudah beroperasi, kemudian ditempatkan dibawah BRMS. Dan mungkin karena itu pula, setelah saham BRMS terbang hingga sekarang berada di level 130-an, kemudian nongol rumor bahwa perusahaan akan menjual Citra Palu Minerals ke investor asal China.
Tapi kalo misalnya besok-besok BRMS ini merosot lagi, maka tentu rumor-rumor seperti ini akan menguap dengan sendirinya.
Okay Pak Teguh, lalu bagaimana dengan DEWA? ENRG? UNSP? ELTY? Atau malah Bakrie & Brothers (BNBR)?? Ya santai saja lahh, nanti kita bahas mereka satu-satu. Sebenarnya sih kalo berani spekulasi, maka selama BUMI-nya naik, adek-adeknya termasuk BRMS juga bakal tetap naik, tak peduli meski laporan keuangan mereka masih amburadul. Tapi seperti halnya tiga bulan lalu kita menganalisis BUMI berdasarkan pendekatan fundamental dan value investing dan hasilnya terbukti sangat baik, maka tentu akan jauh lebih safe jika kita membeli (atau tidak membeli) saham-saham Bakrie yang lain berdasarkan kaidah value investing juga, dan bukannya malah ‘Kalo break harga segini maka buy! Kalo turun sampe tembus harga segitu maka stop loss!’ (Lah jadi maksute kalo udah naik baru beli? Kalo udah turun baru jual? Sampeyan ngajarin saya biar dapet untung atau malah rugi sih???)
Tapi ngomong-ngomong, selama Om ARB masih belum nongol lagi di daftar orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes, dan istilah ‘Saham Sejuta Umat’ belum kembali populer, maka biasanya sih itu berarti peluangnya masih terbuka, entah itu di BUMI ataupun saham-saham Grup Bakrie lainnya. Just stay tune!

Buletin Analisis IHSG & Stockpick bulanan edisi Februari 2017 sudah terbit! With special report: BAKRIE IS BACK! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal IV 2016

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, 13 Februari 2017. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya), klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL paling gokil
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – Jakarta

TESTIMONIAL paling jujur
Terima kasih pak Teguh untuk sarannya. Maaf, saya belajar pak, fundamental dan tehnik analisis walau masih sekulit. Untuk trading model tehnik analisis kayanya ga cocok sama sekali, ga ada waktu nongkrongin computer terus2an. Jadi saya lebih baik mempelajari saham2 pilihan pak Teguh saja. Dan dari pertengahan bulan kemarin, hasilnya sangat baik.
Terima kasih pak Teguh
Cynthia Santoso – [...]

Investor Lokal + Investor Asing = IHSG??

Kalau anda membuka website IDX hari ini, maka akan muncul berita bahwa per akhir tahun 2016 kemarin, kepemilikan investor domestik terhadap saham-saham di BEI tercatat 45.5%, berbanding asing sebesar 54.5%. Meski dari data ini bisa dilihat bahwa ternyata Bursa Saham Indonesia masih didominasi investor asing, namun kepemilikan investor domestik yang 45.5% tadi merupakan yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Sebelumnya, antara tahun 2007 hingga 2015, kepemilikan domestik atas saham-saham di BEI hanya berkisar antara 33 – 41%, dimana kalau kita lihat beberapa perusahaan terbesar di Bursa yang majority shareholder-nya merupakan investor asing, katakanlah seperti HM Sampoerna yang dimiliki Philip Morris (Amerika), Astra International yang dipegang Jardine Matheson (Hong Kong), atau Unilever Indonesia yang dikuasai Unilever BV (Inggris – Belanda), maka sepertinya memang cukup jelas bahwa kita masih belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

However, sejak tahun 2016 kemarin keberadaan investor domestik sedikit demi sedikit mulai menggeser dominasi asing di bursa, dimana jika trend ini berlanjut maka bukan tidak mungkin pada tahun 2017 ini kepemilikan investor domestik di BEI akan sudah lebih besar dibanding asing. Nah, terkait hal ini ada beberapa poin yang penulis perhatikan, tapi sebelum itu ada dua hal yang perlu anda ketahui terkait ‘Asing vs Lokal’ ini:
Pertama, hingga saat ini Indonesia masih belum sepenuhnya dikategorikan sebagai ‘negara layak investasi’ atau investment grade. Hingga awal tahun 2017 ini, dari tiga lembaga pemeringkat terbesar di dunia yakni Fitch Ratings, Moody’s, dan S&P, hanya Fitch dan Moody’s yang sudah memberikan cap investment grade bagi Indonesia, itupun baru diberikan pada tahun 2011 dan 2012 lalu. Di kawasan Asia Tenggara saja, dalam hal status investment grade ini, Indonesia masih dibawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan bahkan Filipina.
Kondisi diatas menyebabkan Indonesia masih belum menjadi destinasi utama bagi para fund manager global untuk menempatkan investasi mereka, dimana berinvestasi disini dianggap sangat berisiko/lebih dekat ke spekulasi. Jadi kalau anda mengelola dana US$ 1 milyar untuk ditempatkan di bursa-bursa saham di seluruh dunia, misalnya, maka mungkin anda hanya akan menempatkan total US$ 1 juta saja disini, itupun hanya dipake buat beli saham-saham yang mainstream seperti Astra International (ASII), Bank BRI (BBRI), dst.
Jadi diluar perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia dengan cara mengakuisisi perusahaan lokal, maka perusahaan asset management cenderung ogah untuk invest/trading saham di BEI, dan alhasil sampai sekarang posisi beli/jual asing di BEI tidak pernah terlalu besar. Rekor net buy asing terbesar terjadi pada tahun 2014, yakni senilai Rp42.6 trilyun atau sekitar US$ 3 milyar, dan itu merupakan nilai total pembelian yang dilakukan oleh seluruh investor asing di BEI, yang jumlahnya bisa mencapai ribuan individu dan ratusan institusi.
Padahal menurut data dari Investment & Pensions Europe, per akhir tahun 2016, 400 perusahaan asset management terbesar di dunia memiliki dana kelolaan senilai total US$ 56.3 trilyun! Alias US$ 56,300 milyar, tapi ternyata hanya sedikiiiit sekali dari dana tersebut yang diputer di Indonesia, dimana dari 400 perusahaan asset management diatas, sebagian besar diantaranya mungkin malah sama sekali tidak pernah membeli saham disini.
Tapi menariknya, keberadaan asing yang sejatinya sangat minim ini tetap berpengaruh terhadap fluktuasi IHSG selama ini terutama dalam jangka pendek, dimana kalau mereka belanja maka IHSG cenderung naik, sementara kalau mereka jualan maka IHSG cenderung turun. Pada bulan Juni – Agustus 2016 lalu, ketika booming sentimen tax amnesty, asing belanja besar-besaran hingga posisi net buy asing meningkat dari hanya Rp4 trilyun pada bulan Mei menjadi Rp38 trilyun pada bulan Agustus, dan IHSG melompat dari 4,700-an hingga mentok di 5,470. Tapi selepas Agustus tersebut, asing kemudian terus jualan hingga sekarang, dan alhasil IHSG juga seperti kehilangan tenaga untuk naik lebih tinggi lagi. Sebenarnya kalau berdasarkan data historis yang ditampilkan di artikel ini, maka aksi jual atau beli yang dilakukan asing tidaklah berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG dalam jangka panjang/tahunan (karena kalau dalam jangka panjang, yang paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG tentunya fundamental ekonomi makro dan kinerja para emiten). Namun kalau dalam jangka pendek, dalam hal ini bulanan atau mingguan, maka keluar masuknya asing di bursa tetap berpengaruh signifikan terhadap fluktuasi IHSG, padahal sekali lagi, jumlah asing yang wara wiri di BEI sebenarnya sama sekali tidak besar.
Dalam hal ini penulis jadi mikir: Seandainya besok-besok asing belanja saham besar-besaran di BEI, katakanlah sampai US$ 5 milyar saja, maka kira-kira apa yang bakal terjadi terhadap IHSG? Dan sebaliknya, jika mereka jualan besar-besaran, maka IHSG bisa jeblok sampai berapa?
Itu yang pertama. Kedua, selama ini penulis sering mendengar pendapat analis yang menyebutkan bahwa kalau misalnya Fed Rate naik, atau kemarin ada ramai cerita pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, maka asing akan ramai-ramai keluar dari sini untuk balik lagi ke AS, dan itu akan bikin IHSG jatuh. Pendek kata, setiap kali ada isu global tertentu maka itu akan menyebabkan asing keluar dari Indonesia, sementara isu-isu dalam negeri malah tidak dianggap berpengaruh.
Padahal kalau kita lihat data historis dalam jangka panjang, yang terjadi justru sebaliknya: Isu-isu yang terjadi diluar negeri tidaklah berpengaruh terhadap keluar masuknya asing di BEI, karena yang berpengaruh adalah isu-isu domestik. You see, dalam 20 tahun terakhir (antara tahun 1997 hingga 2016), asing hanya pernah tiga kali membukukan net sell, yakni tahun 2005, 2013, dan 2015. Dan apa yang terjadi pada tahun-tahun tersebut? Here we go: Pada tahun 2005, Indonesia mengalami inflasi tinggi dan perekonomian sempat terguncang, setelah Pemerintah ketika itu dengan cepat menaikkan harga BBM bersubsidi (pada Maret 2015, harga premium naik dari Rp1,810 menjadi 2,400, lalu pada Oktober 2015 naik lagi menjadi Rp4,500 per liter). Sementara pada tahun 2013, Indonesia mulai mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi karena penurunan harga komoditas (batubara dan CPO), dan puncak perlambatan tersebut terjadi pada tahun 2015, yang ditandai dengan lesunya aktivitas ekonomi di segala bidang dan merosotnya nilai tukar Rupiah (pada tahun 2014, perlambatan ekonomi untuk sesaat tertutup oleh euforia Pemilu dan Pilpres).
Sementara pada tahun 2008, yakni ketika terjadi krisis global, asing tetap belanja saham cukup besar di Indonesia. Pun ketika pada tahun 2011 terjadi Krisis Yunani, asing tetap membukukan net buy. Yang paling baru tentu saja pada pertengahan tahun 2015 kemarin dimana asing belanja besar-besaran karena sentimen tax amnesty. Tapi setelah sentimen tersebut meredup, plus adanya kekhawatiran terkait situasi keamanan dalam negeri menjelang Pilkada DKI Jakarta, maka asing perlahan tapi pasti terus jualan sampai sekarang.
Trend Meningkatnya Jumlah Investor Domestik
Ketika asing mulai keluar dari market sejak akhir Agustus 2016 lalu, maka normalnya IHSG akan turun. Namun hingga ketika buletin ini ditulis IHSG ternyata masih disitu-situ saja yakni 5,250-an, jadi gak sampe balik lagi ke 4,800-an seperti awal tahun 2016 lalu (yaitu ketika cerita tax amnesty belum ramai, dan asing belum masuk ke pasar). Pertanyaannya, apa yang menahan penurunan IHSG?
Dan mungkin jawabannya adalah, ketika beberapa bulan terakhir ini asing terus keluar, namun di waktu yang bersamaan investor lokal terus masuk. Terdapat dua data yang menunjukkan hal tersebut. Yang pertama, sepanjang tahun 2016 lalu, nilai transaksi jual beli saham (trading value) yang dilakukan investor lokal tercatat menembus Rp1,164 trilyun atau 63% dari total trading value di BEI, dan itu meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya yang stagnan di level Rp800-an trilyun, atau hanya 57 – 59% dari total trading value. Yang kedua, ya seperti yang sudah disebut diatas: Meningkatnya kepemilikan investor domestik terhadap saham-saham di BEI, dari tadinya 33 – 41% menjadi 45.5%. Berhubung kita tahu bahwa Philip Morris dkk masih belum menjual kepemilikan mereka di HM Sampoerna dan lainnya, maka peningkatan kepemilikan investor domestik itu bukan disebabkan karena keluarnya asing, melainkan karena meningkatnya jumlah investor lokal yang masuk ke bursa.
  
Pada tahun 2016 lalu, investor domestik untuk pertama kalinya mendominasi hampir dua per tiga total nilai transaksi perdagangan di BEI.
Lalu apa yang menyebabkan bursa belakangan ini dibanjiri investor lokal? Well, sudah cukup jelas bukan? Dalam 1 – 2 tahun terakhir, BEI sebagai penyelenggara Bursa Saham di Indonesia banyak melakukan kegiatan yang pada intinya mengedukasi dan menarik minat masyarakat awam untuk berinvestasi di saham, mulai dari mendirikan kantor-kantor cabang hingga ke Papua, menyelenggarakan seminar-seminar pasar modal di kampus-kampus dan kantor perusahaan (termasuk penulis juga pernah beberapa kali diundang sebagai pembicara), meluncurkan kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ termasuk mengiklankannya di televisi, hingga mengundang tokoh pasar modal, komunitas, dan perusahaan-perusahaan sekuritas untuk membuka bel perdagangan saham di Gedung BEI itu sendiri. Pendek kata, jika dulu penulis gak tau orang-orang di BEI itu kerjanya ngapain aja, maka sekarang ini tampak jelas bahwa mereka sangat bekerja keras, dan alhasil kalau berdasarkan data dari BEI sendiri, jumlah investor ritel lokal meningkat dari hanya 300 ribuan pada tahun 2013, menjadi 550 ribuan pada akhir tahun 2016, dan terus meningkat sampai sekarang.
Namun ketika investor domestik ramai-ramai masuk bursa, jumlah investor asing disini justru stagnan. Antara tahun 2012 – 2016, asing totalnya hanya membukukan net buy Rp31.5 trilyun dalam lima tahun terakhir (terutama karena posisi asing justru negatif/net sell pada tahun 2013 dan 2015), dan angka tersebut sangat kecil dibandingkan periode lima tahun sebelumnya (2007 – 2011), yang mencapai total Rp109.6 trilyun. Tapi kalau kita melihat lagi data makroekonomi nasional sejak tahun 2007, maka nilai belanja investor asing diatas menjadi bisa dijelaskan: Antara tahun 2007 – 2011, Indonesia sedang dalam masa puncak pertumbuhan ekonomi berkat booming komoditas (sempat ‘diinterupsi’ oleh krisis global 2008, tapi fundamental ekonomi dalam negeri ketika itu tetap stabil). Namun memasuki tahun 2012 sampai sekarang, seiring dengan penurunan harga komoditas maka berakhir pula masa kejayaan ekonomi di tanah air, meski juga (untungnya) gak sampai jatuh krisis.
However, kalau anda memperhatikan data fundamental perekonomian, maka seperti yang sudah penulis bahas disini, sebenarnya cukup jelas bahwa kondisi ekonomi sekarang, meski memang belum sebagus tahun 2007 – 2011 lalu, tapi perlahan tapi pasti mulai pulih, dan terdapat prospek bahwa angka pertumbuhan GDP nasional akan tumbuh kencang lagi dalam beberapa tahun kedepan. Ini artinya, terlepas dari isu-isu jangka pendek seperti Pilkada dll yang menyebabkan investor asing tahan posisi cash, namun dalam jangka panjang mereka akan kembali memborong saham-saham di BEI.
Dan karena disisi lain jumlah investor domestik juga terus meningkat, maka bagaimana kira-kira dampaknya terhadap IHSG???
Kabar baiknya adalah, meski belakangan ini jumlah investor domestik di bursa meningkat signifikan, namun jumlah investor domestik ini masih belum ada 1% dibanding total populasi Indonesia, alias masih keciiiil sekali, yang artinya potensi peningkatan jumlah investor lokal ini masih sangat terbuka lebar. Disisi lain, meski sampai sekarang S&P masih belum memberikan cap investment grade bagi Indonesia, namun penulis kira itu cuma soal waktu saja, karena toh pembangunan ekonomi di tanah air sampai sekarang masih berjalan lancar, belum lagi belakangan ini harga-harga batubara dan CPO, yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional, mulai naik lagi.
Dan ketika nanti S&P akhirnya memberikan cap investment grade, maka ya sudah: Indonesia resmi menjadi negara layak investasi, karena dua lembaga pemeringkat lainnya yakni Fitch dan Moody’s sudah lebih dulu memberikan cap investment grade tersebut. Dan mulai sejak saat itulah, Indonesia tidak akan lagi dipandang sebelah mata oleh para fund manager besar, dimana mereka akan ramai-ramai belanja saham dimari. At the end, it is just a matter of time. Someday, bursa saham di Indonesia akan menjadi cukup besar dan diperhitungkan di dunia, dan itu akan terjadi cepat atau lambat dari sekarang.
Jadi seperti yang sering penulis sampaikan ke orang-orang, ‘Pasar Saham di Indonesia itu adalah seperti di Amerika namun 50 atau bahkan 100 tahun yang lalu, dan kita-kita ini adalah seperti Warren Buffett di tahun 60-an dulu. Bisa penulis katakan bahwa, kita beruntung karena kita merupakan generasi-generasi awal di dunia investasi saham di Indonesia, namun keberuntungan tersebut akan sia-sia kalau kita tidak segera berinvestasi dari sekarang!’ So, are you join us or not???

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stockpick edisi Februari 2017 akan terbit hari Rabu, 1 Februari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kenapa Kita Harus Nabung Saham?

Di artikel minggu lalu tentang outlook IHSG untuk tahun 2017, di bagian akhir artikel penulis menyampaikan bahwa kalau Anda masih ragu-ragu dengan arah pasar, terutama karena pasar sampai sekarang masih sepi dari sentimen (sehingga IHSG bergerak stagnan), maka boleh juga tunggu diluar alias pegang cash, dimana dengan demikian porto Anda aman dari kemungkinan munculnya sentimen negatif tertentu dalam satu dua bulan kedepan yang bisa menyebabkan IHSG drop (dan saham anda ikut drop). Tapi disisi lain kalau anda hanya pegang cash saja, maka anda mungkin akan ketinggalan kereta kalau ternyata IHSG langsung naik. At the end, nobody could predict the market, right? Apalagi dalam jangka pendek seperti itu.

However, yang akan kita bahas disini bukan soal IHSG-nya.
Sekarang perhatikan lagi kalimat diatas: Kalau anda dalam posisi memegang saham, maka anda mungkin akan menderita kerugian kalau IHSG drop, dan saham-saham anda turun. Tapi kalau anda memegang cash, maka anda tetap bisa menderita kerugian, yakni kalau saham-saham yang anda incar ternyata naik duluan dan alhasil Anda kehilangan sejumlah keuntungan yang harusnya anda peroleh andaikan anda membeli saham tersebut. Intinya apapun posisi yang anda ambil, entah itu memegang saham ataupun cash, itu sama-sama mengandung risiko. Kalau anda memegang saham senilai Rp10 juta, misalnya, maka anda bisa menderita rugi Rp1 juta kalau saham tersebut turun 10%.
Tapi kalau anda memegang cash senilai Rp10 juta, maka anda bisa rugi juga! Yakni kalau ternyata saham yang anda incar naik 10% dan anda seharusnya meraup profit sebesar Rp1 juta, tapi kenyataannya anda tidak memperoleh profit apapun karena sudah memutuskan untuk memegang cash saja.
Dalam hal ini penulis jadi ingat, saya sering menerima pertanyaan kurang lebih seperti ini, ‘Pak Teguh, saya sangat tertarik untuk berinvestasi di saham, dan saya udah baca-baca blog sampeyan sejak setahun lalu. Tapi sampe sekarang saya belum buka rekening, karena saya takut rugi. Saya gak mau rugi Pak, jadi mohon sarannya.’
Bagi penulis, kalimat yang di-bold diatas terdengar seperti, ‘Pak Teguh, saya mau jadi petinju, tapi saya gak mau dipukul. Kalau bisa lawan tanding saya diem aja gitu, biar saya saja yang pukulin dia…’ Pertanyaannya, ente mau jadi petinju apa jadi anggota ormas???
Sekarang denger ya: Yang namanya rugi itu sudah makanan sehari-hari investor saham, siapapun dia termasuk penulis, atau Warren Buffett sekalipun. Bohong kalau ada orang yang mengaku untung terus dari saham. Seorang fund manager profesional yang sudah pengalaman puluhan tahun mungkin mampu menghasilkan profit yang konsisten dari tahun ke tahun, tapi pasti ada saja saham-saham yang ia jual dalam posisi rugi, entah itu karena force majeure, IHSG-nya turun, atau memang karena salah analisis, tapi itu tidak jadi masalah selama saham-saham yang lainnya bergerak naik sesuai planning.
Sementara bagi investor pemula maka ceritanya beda lagi: Anda masih belajar menganalisis. Anda masih memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab karena kurang pengalaman. Dan anda masih belum bisa mengendalikan emosi, masih gampang panik dan gak bisa lepas dari layar ponsel setiap menitnya dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore untuk melototin pergerakan saham yang anda pegang (dan kemudian kesel sendiri ketika saham anda gak naik-naik atau malah turun, padahal saham tetangga udah pada terbang). Nah, dalam kondisi seperti itu anda kemudian beli saham, kira-kira bagaimana hasilnya? You know the answer: Sangat besar kemungkinan anda akan menderita kerugian. Dan memang, investor manapun hampir pasti bakal rugi pada 1 – 2 tahun pertama. Tapi asalkan ia mau bertahan, belajar, dan menggali pengalaman, maka ia akan bisa profit pada tahun ketiga atau keempat, dan akhirnya bisa profit konsisten pada tahun kelima dan seterusnya.
Jadi kalau anda mau invest di saham tapi ‘Saya gak mau rugi’, maka ya sudah jangan invest. Karena kalau anda invest maka mau gak mau anda bakal rugi. Tapi harap diingat pula: Ketika anda tetap menyimpan uang anda di bank, maka anda mungkin akan menertawakan teman anda yang coba-coba invest saham tapi setelah setahun hasilnya malah hancur-hancuran, sementara uang anda tetap utuh tak berkurang seperakpun. Namun setelah dua, tiga, empat, lima tahun.. tanpa anda sadari ternyata teman anda itu sudah profit berlipat-lipat dari kegiatan investasinya, sementara nilai tabungan anda ya cuma segitu-gitu saja, malahan sejatinya berkurang karena tergerus inflasi.
Terus kalau gitu yang rugi siapa???
Nah, jadi kenapa kita harus nabung saham? Ya biar nggak rugi seperti contoh ‘Anda vs Teman Anda’ diatas. Agar kita bisa meraup keuntungan, dimana keuntungan tersebut tidak akan pernah kita peroleh andaikata kita terus saja naroh duit dibawah bantal. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari menderita kerugian di saham. Yang harus ditakutkan adalah jika kita tidak pernah meraih keuntungan dan aset kita tidak pernah bertumbuh, karena memang tidak pernah berinvestasi. Yes, memang benar bahwa anda akan perlu waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun untuk belajar analisis dll, dan anda juga bakal menderita sejumlah kerugian pada awalnya.
Tapi ketika ilmu pengetahuan serta pengalaman itu akhirnya diperoleh, maka kesananya bakal uenak tenan! Pada titik ini anda mungkin tetap akan menderita rugi dari saham-saham tertentu, tapi untuk saham-saham lainnya akan naik dengan sendirinya tanpa perlu diapa-apain lagi. Penulis sendiri terus terang kalau bukan karena harus nulis di blog ini, maka saya juga gak tau apa lagi yang harus dikerjakan, karena toh invest saham ya cuma gitu-gitu aja, beli kemudian ditinggal, sementara kalo pergi main atau jalan-jalan keluar kota tentunya gak bisa setiap hari. Atau saya nyalon gubernur aja kali ya??

Jadi jika anda memang tertarik untuk berinvestasi di saham, then go ahead, segera buka rekening lalu mulailah menabung, jangan ditunda-tunda lagi. Dengan mulai berinvestasi, anda mungkin (atau malah pasti) akan menderita rugi pada awalnya, tapi disisi lain anda akan memiliki peluang untuk meraup profit fantastis, dan untuk menjadi investor besar suatu hari nanti. Sementara jika cuma menonton terus dari luar, maka meski kelihatannya gak akan rugi, tapi sebenarnya anda justru sudah rugi besar karena gak akan pernah meraih profit apapun. Seperti yang pernah dikatakan seorang mafioso Italia di New York (yang penulis baca dari video game Mafia II di Playstation), ‘He who take too much risks will lose everything. But he who never take risks will achieve nothing.’
Dan kalau penulis boleh menambahkan, ‘And he who take risks with careful analysis and wisdom, will achieve everything!’


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kemana Arah IHSG di Tahun 2017??

Hingga Senin, 9 Januari kemarin, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang sepi dengan nilai transaksi rata-rata hanya Rp5.25 trilyun per hari sejak awal tahun, atau jauh dibawah biasanya yang mencapai Rp6 – 7 trilyun per hari, itupun karena ditopang oleh peningkatan nilai transaksi yang sangat signifikan dari dua saham yang sebelumnya sepi-sepi saja, yakni Bumi Resources (BUMI) dan Bumi Resources Minerals (BRMS), yang total nilai transaksi keduanya mencapai lebih dari Rp500 milyar atau 10% dari seluruh nilai transaksi di bursa setiap harinya. Kondisi ini mungkin menimbulkan pertanyaan: Ada apa ini sebenarnya? Bukannya pasar saham itu biasanya rame kalo awal tahun? Lalu bagaimana kira-kira pergerakan IHSG untuk tahun 2017 ini? Okay, kita langsung saja.

Bagi anda yang bingung dengan sepinya pasar dan arah IHSG sepanjang awal tahun 2017 ini, maka ingat ini: Dalam jangka menengah dan panjang, pergerakan IHSG dan saham-saham didalamnya akan dipengaruhi oleh kualitas kinerja para emiten dan juga fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Sementara dalam jangka pendek, dalam hal ini tiga bulan atau kurang, maka pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh pemberitaan/sentimen yang beredar. Jika sentimennya positif maka IHSG akan naik, tapi jika jelek maka IHSG akan turun.
Tapi jika tidak ada sentimen apapun seperti sekarang ini, bagaimana? Ya IHSG gak akan kemana-mana, alias gak naik tapi juga gak turun, sementara nilai transaksi perdagangan saham juga akan sepi karena orang-orang yang megang barang nggak jualan, dan sebaliknya mereka yang masih megang cash juga masih wait n see alias gak mau buru-buru masuk. Dan IHSG sendiri ketika artikel ini ditulis masih bertahan di 5,300-an, atau relatif belum kemana-mana lagi sejak Agustus 2016 lalu. Berbagai pemberitaan yang beredar juga lebih banyak yang bermuatan politik (termasuk kemarin rame lelucon ‘Fitsa Hats’) ketimbang ekonomi, sehingga news terkait pembangunan infrastruktur dll masih belum mendapat tempat di media, setidaknya hingga saat ini.
Itu pertama terkait minimnya sentimen. Yang kedua, berdasarkan pengalaman, terlepas dari apakah IHSG akan naik atau turun berapa persen pada tahun tertentu, namun para pelaku pasar biasanya hanya akan bersemangat melakukan aktivitas investasi/trading saham pada awal tahun jika IHSG mengalami kenaikan yang signifikan di tahun sebelumnya, dan secara psikologis itu bisa dijelaskan: Kalau di tahun 2016 kemarin anda cuan gede, maka anda tentu akan bersemangat untuk meraup cuan yang lebih besar lagi di tahun 2017 ini.
Tapi kalau anda di tahun kemarin nyangkut dimana-mana, gimana tuh? Ya tentu saja jadinya bakal kurang bersemangat untuk belanja. Emangnya mau belanja apaan? Lha wong duitnya masih nyangkut kok.. Sebenarnya IHSG sepanjang tahun 2016 kemarin membukukan returnyang lumayan, yakni 15.3%, tapi sayangnya mayoritas investor kemungkinan hanya menghasilkan profit yang lebih rendah dari itu, karena mereka baru masuk pada pertengahan tahun ketika IHSG sudah naik ke level 5,000-an, yakni ketika cerita tax amnesty mulai ramai dibicarakan. Sementara pada awal tahun 2016, yakni ketika pasar masih belum sepenuhnya pulih dari mini crash di tahun 2015 plus jatuhnya Bursa Shanghai, belum lagi beredar sentimen negatif terkait penurunan harga minyak hingga isu pembatasan NIM perbankan, maka keputusan untuk masuk ke pasar akan tampak sebagai keputusan yang ngawur, dan analisis yang menyebutkan bahwa IHSG akan naik ke 5,000 akan dianggap sebagai analisis yang tidak masuk akal.
Intinya, meski sebagian dari anda mungkin sukses meraup profit jumbo dari euforia tax amnesty, kenaikan saham-saham BUMN, hingga booming batubara, atau memang karena anda mampu untuk masuk ke pasar sejak awal tahun 2016 alias curi start, maka kinerja sebagian besar investor di tahun 2016 kemarin terbilang kurang bagus (itu bisa dilihat dari kinerja reksadana yang rata-rata dibawah IHSG), dan secara psikologis itu berpengaruh terhadap sepinya pasar di awal tahun 2017 ini, sama seperti sepinya pasar di awal tahun 2009 lalu, yakni setelah semua orang menderita kerugian gila-gilaan pada tahun sebelumnya alias 2008.
Menunggu Sentimen Positif
However, kita tahu bahwa di tahun 2009 itu pula, IHSG justru mencatat rekor dengan naik total 87.0% sepanjang tahun, yang itu berarti bahwa sepinya atau lesunya pasar di awal tahun bukan berarti bahwa IHSG akan lesu seterusnya di tahun tersebut. Malahan pada beberapa kasus seperti tahun 2009 dan juga 2016 kemarin, sepinya pasar di awal tahun justru merupakan big opportunity bagi para smart money, yakni mereka yang mampu menganalisis lebih dalam ke faktor-faktor fundamental ketimbang hanya memperhatikan naik turunnya IHSG, sehingga mereka bisa masuk/belanja lebih awal ketika saham-saham masih pada murah, dan tentunya profitnya pun lebih besar.
Lalu bagaimana untuk awal tahun 2017 ini? Apakah sepinya pasar juga merupakan opportunity untuk curi start, sama seperti tahun 2009 dan 2016 lalu? Bagaimana kalau untuk tahun 2017 ini ternyata pasar malah sepi untuk seterusnya, atau bahkan turun lagi? Nah, sebenarnya ada buanyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, namun untuk kali ini penulis akan mengajak anda untuk melihat dua diantaranya saja.
Pertama, dalam sepuluh tahun terakhir, terlepas dari bagaimana pergerakannya di awal tahun, namun IHSG cenderung akan naik banyak pada tahun tertentu jika pada tahun sebelumnya dia ditutup minus. Selain tahun 2009 dan 2016, IHSG juga naik lumayan banyak di tahun 2014 (22.3%) karena pada tahun 2013-nya IHSG minus tipis 1.0%. Berdasarkan hipotesa ini maka IHSG mungkin gak akan naik banyak di tahun 2017 ini, atau bisa saja malah turun, karena di tahun sebelumnya (2016) IHSG ditutup naik.
Namun demikian perhatikan: Kenaikan IHSG sepanjang 2016 kemarin hanya ditopang oleh Astra International (ASII) dan Telkom (TLKM) alias saham-saham big caps, itupun gak semuanya karena beberapa blue chips seperti PGAS, SMGR, BBNI, relatif belum kemana-mana lagi (JSMR malahan turun). Sementara saham second liner-nya, yang notabene merupakan penghuni mayoritas di bursa (saham-saham big caps/blue chips jumlahnya cuma 20-an, sisanya ya second liner) juga cenderung belum kemana-mana, dan beberapa diantaranya malah masih berada di posisi bottom-nya dalam lima tahun terakhir. Dan meski saham-saham batubara mengalami kenaikan yang luar biasa sepanjang tahun 2016 lalu, tapi jangan lupa bahwa mereka sebelumnya sudah turun berkepanjangan sejak tahun 2012 lalu, sehingga posisi mereka hingga saat ini sejatinya masih rendah.
Pendek kata, meski terdapat pengecualian untuk saham-saham tertentu yang naik banyak entah itu karena dikerek (terakhir yang rame itu BJBR) atau murni karena mekanisme pasar, namun sekarang ini sebagian besar saham di BEI masih berada di kisaran harganya seperti awal tahun 2016 lalu, dimana saham-saham ini sempat naik banyak ketika kemarin rame tax amnesty, tapi kesininya mereka turun lagi. Alhasil posisi pasar sekarang ini kurang lebih sama seperti awal tahun 2016 lalu, dan penulis bisa katakan bahwa saat ini ada cukup banyak saham-saham yang dijual pada harga diskon! Jadi tugas kita tinggal memilah-milahnya saja, yang mana yang berfundamental bagus dan yang tidak.
Kemudian kedua, kalau anda sudah cukup lama di market, maka sense alias insting anda akan terbentuk dengan baik, dan alhasil anda akan bisa merasakan kalau ada something wrong with the market. Contohnya pada tahun 2013 lalu, kejatuhan harga batubara dan komoditas lainnya menyebabkan perekonomian nasional, yang sebelumnya terus tumbuh kencang, mulai tersendat-sendat, dan pada bulan Agustus-nya penulis sudah bisa melihat hal itu akan berpengaruh negatif terhadap IHSG, setidaknya untuk tahun 2013 tersebut (anda bisa baca lagi analisisnya disini). Kemudian pada tahun 2015, perekonomian nasional sekali lagi berada dalam kondisi tertekan dimana salah satunya tampak dari Rupiah yang terus saja melemah, sehingga di bulan Maret penulis sudah bisa berkesimpulan bahwa IHSG mungkin akan turun untuk tahun 2015 tersebut, anda bisa baca lagi analisisnya disini. Sedikit pengingat, pada bulan Maret tersebut (dan juga bulan April-nya), IHSG justru terus saja break new high alias mencetak rekor kenaikan tertinggi hingga level 5,500-an. Jadi kalau anda ketika itu sekonyong-konyong mengatakan bahwa IHSG akan crash ke 4,000-an, maka anda akan dituduh sebagai ‘penebar kebencian’.
But later, IHSG ternyata benar-benar turun di tahun 2013, dan juga turun sekali lagi di 2015.
Baiklah, lalu bagaimana untuk tahun 2017 ini? Apakah juga ada something wrong? Gladly, there isn’t, setidaknya hingga saat ini. You see, tahun 2013 IHSG turun karena ekonomi mulai benar-benar melambat, terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas, dan turun sekali lagi di 2015 ketika perlambatan tersebut (mungkin) mencapai puncaknya, dimana bisnis apapun terasa lesu, dan Indonesia hampir saja jatuh krisis. Memasuki 2016 ekonomi perlahan tapi pasti mulai pulih, tapi sayangnya para emiten juga masih belum membukukan kinerja yang improve, sehingga IHSG hanya naik secara moderat.
Kemudian pada awal tahun 2017, alias saat ini, maka entah anda menyadarinya atau tidak, tapi kondisinya nyaris berkebalikan dengan tahun 2013 dan 2015 lalu. Coba perhatikan: Harga komoditas mulai naik, Rupiah stabil, pertumbuhan ekonomi stabil di 5%, ekspor impor surplus, tingkat suku bunga rendah, inflasi rendah, daaaan seterusnya.. Actually, ekonomi kita saat ini berada pada titik yang sedemikian stabilnya hingga kenaikan harga Pertamax yang cuma Rp300 per liter, atau melonjaknya harga cabai, itu seketika tampak sebagai peristiwa yang luar biasa! (Dan coba tebak siapa yang salah?? Ya pemerintah lageee…). Untuk kedepannya penulis nggak tau bakal gimana, tapi kalau melihat belanja pemerintah yang masih massive di bidang pembangunan infra, serta kembali stabilnya harga batubara serta CPO yang notabene merupakan tulang punggung perekonomian, maka penulis termasuk yang optimis bahwa kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun 2017 nanti, dan sudah tentu IHSG-nya juga akan bergerak di zona positif.
However, tulisan diatas merupakan analisis untuk jangka panjang. Terus bagaimana untuk jangka pendeknya? Sentimen apa yang nanti bakal muncul? Sebab, seperti yang sudah disebut diatas, kalau nanti tiba-tiba saja keluar sentimen negatif tertentu maka IHSG tetap akan drop bukan?? Demikian pula kalau gak ada sentimen apa-apa seperti sekarang, maka pasar tetep bakal sepi, bisa-bisa malah begini terus sampai akhir tahun?? Pak Teguh ini kenapa saham A pegangan saya kok gak mau naik-naik juga??? Hey hey.. Sabar!
Okay, dalam waktu dekat penulis atau siapapun tentu saja gak bisa menebak, sentimen apa yang bakal nongol. Tapi sekarang gini deh: Kita tahu harga batubara sudah mulai naik sejak pertengahan tahun 2016 lalu, tapi tentu itu bukan berarti perusahaan-perusahaan batubara langsung membukukan kenaikan profit pada pertengahan tahun tersebut. Lalu kapan PTBA dkk akan profit? Ya mulai tahun 2017 ini, mungkin pada Kuartal I 2017 nanti (laporan keuangannya akan keluar akhir April nanti) atau setelahnya. Dan kalau para emiten batubara kembali membukukan kenaikan profit, maka itu bakal menjadi sentimen positif bagi sahamnya, yang belakangan ini mulai cooling down setelah sebelumnya naik terus. Disisi lain kalau melihat data-data makro, penulis juga optimis bahwa para emiten di sektor lainnya juga akan membukukan kinerja bagus di awal tahun 2017 ini, dimana ketika itu terjadi maka itulah sentimen positif yang kita tunggu-tunggu!

Hingga Kuartal III 2016 kemarin, PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) masih membukukan penurunan laba. Kita lihat bagaimana untuk tahun 2017 ini.

Jadi kalau anda termasuk yang mulai bosan dengan sepinya pasar di awal tahun ini, then don’t worry, karena toh pasar gak akan selamanya sepi terus (demikian sebaliknya, gak akan selamanya rame terus). All you have to do is to put your investments, then wait. However, kalau anda lebih memilih untuk menunggu diluar dan baru masuk pada Maret atau April nanti, maka itu juga boleh-boleh saja, toh biar gimana itu lebih aman dari kemungkinan munculnya sentimen negatif, tapi risikonya anda bisa saja bakal ketinggalan kereta lagi. Anyway, the choice is yours.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing, Jakarta, 21 Januari 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 21 Januari 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama para peserta seminar sebelumnya

Update:  Pesertanya sudah PENUH! Jadi dengan ini pendaftarannya resmi ditutup. Sampai jumpa di jadwal seminar [...]

Dampak Peraturan Auto Reject 35% Terhadap IHSG

IHSG membuka tahun 2017 dengan turun 0.4% ke posisi 5,276 pada perdagangan perdana di hari Selasa, 3 Januari kemarin. Namun yang mungkin menarik untuk diperhatikan adalah, pada tanggal 3 Januari tersebut terdapat beberapa saham yang turun lebih dari 10%, katakanlah Atlas Resources (ARII) yang tak tanggung-tanggung jeblok 25% dari 520 ke 390, hanya dalam sehari! Kemudian besoknya, Rabu 4 Januari, giliran Semen Baturaja (SMBR) yang digebuk 24.8%. Sebelumnya kita tentu tahu bahwa berdasarkan peraturan BEI, saham apapun maksimal hanya bisa turun 10% dalam sehari. Jadi apakah mulai tahun 2017 ini peraturan tersebut telah berubah? Dan jika iya, lalu bagaimana dampaknya terhadap IHSG?

Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) per tanggal 13 Desember 2016, yang sepertinya luput dari pengamatan para wartawan sehingga tidak menjadi berita besar di media, memang disebutkan bahwa mulai tanggal 3 Januari 2017, BEI kembali memberlakukan peraturan auto rejection (AR) simetris, dari yang sebelumnya AR asimetris. Okay, lalu apa itu AR simetris? AR asimetris? Nah, dalam hal ini mungkin penulis perlu menyajikan lagi tulisan berikut, yang dikutip dari artikel bulan September 2016 lalu:
Jadi begini. Pada tanggal 25 Agustus 2015, atau persis sehari setelah IHSG dilanda panic selling, BEI segera bertindak dengan meluncurkan empat kebijakan baru sekaligus, yakni: 1. Emiten diperkenankan untuk membeli sahamnya di pasar (buy back) tanpa RUPS, 2. Saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, 3. Dana Perlindungan Investor dan dikelola oleh PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI) ditingkatkan dari Rp25 juta menjadi Rp100 juta, dan 4. Broker dilarang melakukan transaksi short-selling. Semua kebijakan tersebut bertujuan agar IHSG, yang ketika itu sudah crash ke posisi 4,100-an dari sebelumnya 5,500-an, bisa segera pulih kembali, atau minimal tidak turun lebih lanjut.
Nah, yang menarik adalah peraturan Nomor 2, yakni bahwa saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari. Jadi misalnya saham A harganya 1,000, maka dalam satu hari saham A ini maksimal hanya bisa turun sampai 900 saja (turun 10%). Kalau kemudian ada orang yang pasang bid atau offer pada harga yang lebih rendah dari 900, katakanlah pada harga 890, maka akan otomatis ditolak oleh sistem (auto reject), sehingga tidak terjadi transaksi pada harga 890 tersebut, dan alhasil harga saham A di pasar tetap 900. Jika seseorang tetap ngotot hendak membeli atau menjual saham A pada harga 890, maka dia baru bisa melakukannya pada keesokan harinya.
Sebelumnya, peraturan BEI menyebutkan bahwa saham dengan harga nominal Rp50 – 200 bisa naik atau turun maksimal 35% dalam sehari, nominal 200 – 5,000 bisa naik atau turun maksimal 25% dalam sehari, dan nominal diatas 5,000 bisa naik atau turun maksimal 20% dalam sehari. Peraturan dimana suatu saham memiliki batas kenaikan dan penurunan yang sama (misalnya saham A harganya Rp100, maka dia bisa naik maksimal hingga 35% dan sebaliknya bisa turun 35% juga, dalam sehari), itulah yang disebut dengan AR simetris. Namun setelah tanggal 25 Agustus 2015, maka suatu saham masih bisa naik maksimal hingga 35% dalam sehari, tapi hanya bisa turun maksimal 10% saja. Batas kenaikan dan penurunan yang berbeda inilah, yang disebut AR asimetris.
Namun terhitung mulai 3 Januari kemarin, BEI kembali memberlakukan peraturan AR simetris, yang artinya kalau anda memegang saham dengan harga nominal Rp200 atau dibawahnya, maka sekarang saham anda tersebut bisa saja turun 35% dalam sehari! Termasuk kalau anda memegang saham dengan nominal diatas Rp5,000, maka saham itu juga bisa saja jeblok 20%, hanya dalam satu hari. Terdengar horor? Well, nggak juga kok.
Karena, perhatikan: Ketika BEI pada Agustus 2015 lalu memberlakukan peraturan bahwa saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, maka pertimbangannya adalah karena ketika itu pasar sedang bergejolak, dimana saham sebagus apapun bisa saja anjlok hingga ke level yang teramat dalam, yang tidak lagi mencerminkan fundamental perusahaan. Dan jika kondisi tersebut terjadi pada banyak saham sekaligus, maka IHSG juga akan ikut-ikutan anjlok, akan terjadi kepanikan massal, dan itu semua pada akhirnya akan menghancurkan kepercayaan investor terhadap BEI dan prospek dari investasi saham itu sendiri. Nah, dengan adanya peraturan bahwa sebuah saham hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, maka IHSG, meskipun mungkin tetap akan turun, tapi turunnya tidak akan terlalu dalam. Dan peristiwa dimana IHSG jeblok hingga lebih dari 20% hanya dalam tiga hari di bulan Oktober 2008, yang kemudian menimbulkan trauma mendalam bahkan bagi investor yang paling berpengalaman sekalipun, itu tidak akan terjadi lagi.
Tapi itu kalau kondisi pasarnya lagi bergejolak, katakanlah seperti tahun 2015 lalu dimana fundamental ekonomi nasional memang lagi nggak bagus. Sementara kalau pasar sahamnya lagi aman damai seperti sekarang, bagaimana? Ya kalau gitu maka peraturan penurunan maksimal 10% itu tidak lagi diperlukan. Dan kalau dari BEI-nya sendiri sudah mencabut peraturan tersebut dan mengembalikan peraturan semula (dimana sebuah saham bisa naik atau turun maksimal 35%, 25%, atau 20% dalam sehari, tergantung nominalnya), maka artinya pihak BEI sendiri menilai bahwa kondisi pasar sudah aman kembali, setidaknya untuk saat ini, dimana pergerakan sebagian besar saham-saham sudah mengikuti fundamental mereka masing-masing, tanpa diwarnai lagi oleh fluktuasi yang ekstrim seperti yang terjadi pada tahun 2015 lalu. Dalam hal ini meski BEI kembali ‘mengizinkan’ saham Bank BRI (BBRI) untuk bisa turun maksimal 20% dalam sehari, misalnya, tapi sangat kecil kemungkinan bagi BBRI untuk bisa langsung turun sedalam itu dalam sehari, karena selain sekarang ini kondisi pasarnya sudah cukup stabil, BBRI ini masih memiliki fundamental yang sangat kuat.

(Catatan: Dalam 10 tahun terakhir, atau mungkin lebih lama lagi, BBRI hanya pernah sekali turun hingga 20% dalam sehari, yakni pada bulan Oktober 2008).
Sementara disisi lain, pemberlakuan kembali peraturan AR simetris akan menyebabkan saham-saham blangsak, yang sudah satu setengah tahun terakhir ini naik gila-gilaan tanpa ditopang oleh fundamental, tapi terkesan sulit turun karena peraturan BEI hanya mengizinkan saham tersebut untuk turun maksimal 10% saja dalam sehari, maka untuk kedepannya mereka akan kembali ke ‘kodratnya’ masing-masing, yakni: Kalau emang harus jeblok ya jeblok aja sekalian! Dan itulah sebabnya, sudah dua hari ini mulai ada beberapa saham yang turun hingga 20-an % dalam sehari, dimana kalau anda amati, saham-saham tersebut kalau fundamentalnya nggak jelek maka valuasinya gila-gilaan mahalnya, biasanya karena sebelumnya sudah dikerek setinggi langit, atau volume perdagangannya sama sekali gak likuid sehingga sahamnya gampang naik dan juga gampang turun.

Tapi kalau anda selama ini hanya memegang saham dari perusahaan berfundamental bagus, yang dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya, yang pergerakan sahamnya normal mengikuti mekanisme pasar yang wajar, dan yang harga belinya wajar atau murah, then of course, you have nothing to worry. Just relax, saham anda akan baik-baik saja, dan anda boleh pergi mancing atau main catur seperti biasa.
Nevertheless, pembahasan diatas masih belum menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana dampak dari pemberlakuan kembali peraturan AR simetris ini terhadap IHSG? Well, seperti yang sudah penulis bahas di artikel September 2016 lalu, ketika peraturan penurunan maksimum 10% dihilangkan, maka pasar akan kembali rame karena volume transaksi saham tidak lagi dibatasi oleh peraturan AR 10% tersebut. Disisi lain kita setiap harinya akan kembali melihat saham-saham tertentu yang jeblok hingga 15, 20, atau bahkan 25%, tapi tidak usah khawatir karena itu tidak akan terjadi pada saham-saham yang ‘normal’. However, terhadap IHSG-nya sendiri harusnya gak akan ada pengaruh apa-apa/tidak akan jadi fluktuatif lagi seperti tahun 2015 lalu, karena meski BEI mencabut peraturan penurunan 10% tersebut, namun BEI masih melarang praktek short selling, dan juga masih memperketat peraturan penggunaan dana margin, dimana dua hal inilah yang menjadi salah satu biang kerok kejatuhan bursa di tahun 2008 lalu. So in the end, still, there is nothing to worry about.
Minggu depan kita akan membahas sedikit soal outlook pasar saham di tahun 2017 and.. Hey! Keep the spirit guys! It’s January!
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Januari 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram