Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Perusahaan Gas Negara

Hingga hari ini, Selasa, 21 Agustus, Perusahaan Gas Negara (PGAS)masih belum merilis laporan keuangan untuk Kuartal II 2018, namun kinerjanya di Kuartal I terbilang kurang bagus dimana labanya kembali turun dari US$ 98 menjadi 81 juta, dan ROE-nya masih tertahan di level 9.9%. Jika pada tahun 2018 ini laba PGAS kembali turun dibanding 2017, maka genap lima tahun sudah laba perusahaan turun terus, dan ini menjelaskan kenapa sahamnya, meski sempat gagah di level 6,000-an pada tahun 2014 lalu, sampai sekarang masih belum bangkit lagi.

Namun inilah menariknya: Dalam setahun terakhir, setelah penurunannya mentok di level 1,400 pada Oktober 2017 lalu, kesininya PGAS cenderung naik lagi, bahkan sempat mencapai 2,700 pada Januari 2018 (sebelum kemudian turun lagi karena terseret penurunan IHSG). Kemudian ketika penurunan PGAS mencapai level 1,525, Juli 2018 kemarin, kesininya dia naik cenderung naik lagi. Secara teknikal, ini mengkonfirmasi bahwa level 1,400 yang dicapai PGAS pada Oktober 2017 lalu sudah merupakan bottom-nya.
Catatan: Dalam menganalisa saham, seorang value investor juga memperhatikan faktor teknikal. Namun jika kebanyakan trader hanya melihat pergerakan saham dalam jangka waktu bulanan, mingguan, harian, atau bahkan jam-jaman, termasuk heboh sendiri jika saham tersebut naik atau turun katakanlah 5 – 10% dalam sehari, maka kita mengabaikan fluktuasi jangka pendek seperti itu, dan hanya melihat pergerakan saham dalam beberapa bulan atau setahun terakhir, atau lebih lama lagi. Selengkapnya baca disini: https://www.teguhhidayat.com/2014/12/follow-trend-dalam-analisis-fundamental.html
Nah, actually penulis sendiri sebenarnya sudah tertarik ketika PGAS berada di level 1,400, delapan bulan lalu, karena PBV-nya pada harga segitu cuma 0.7 kali, clearly undervalue untuk ukuran saham dari perusahaan besar dan terkemuka, yang di masa lalu pernah konsisten membukukan kinerja extraordinary dari tahun ke tahun (sebelum tahun 2014, ROE PGAS stabil di level 30 – 40%), dan PGAS selama ini tidak pernah terkena masalah hukum atau semacamnya. Namun karena kinerja perusahaan masih belum kembali pulih, dan tidak ada kejelasan soal outlook-nya kedepan bagaimana (meski rame soal akuisisi Pertagas, Pertamina bla bla bla, tapi gak ada informasi soal ekspansi usaha tertentu), maka penulis putuskan untuk wait n see saja dulu.
Dan setelah hampir satu tahun, sepertinya sekarang sudah waktunya untuk melirik sahamnya lagi. Tapi sebelum itu mari kita lihat lagi PGAS ini dari awal, apa saja bidang usaha yang dikerjakan perusahaan saat ini, termasuk bagaimana update terakhir soal akuisisi PGAS terhadap PT Pertamina Gas (Pertagas).
PGAS adalah perusahaan kedua tertua di Indonesia (setelah Kimia Farma/KAEF, yang berdiri tahun 1817), yang berdiri pada tahun 1859 dengan nama LJN Eindhoven & Co. sebagai perusahaan distributor gas swasta di Batavia, yang pada tahun 1863 diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1958, perusahaan dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia (sehingga menjadi BUMN), dan go public pada tahun 2003. Pada perkembangannya, usaha PGAS terbagi menjadi dua jenis: Distribusi gas, yakni penyaluran gas melalui truk tangki, tabung gas, hingga pipa-pipa gas berukuran kecil ke pelanggan-pelanggan di kawasan industri, kawasan komersial, dan perumahan, dan transmisi gas, yakni jasa penyaluran gas melalui pipa-pipa khusus berukuran besar, dimana perusahaan menerima fee dari produsen gas yang mengalirkan gas-nya melalui pipa-pipa tersebut. Pada tahun 2011, PGAS mulai masuk ke bidang hulu dan hilir bisnis gas alam, dengan mendirikan PT Saka Energi Indonesia, dan PT Gagas Energi Indonesia. Melalui Saka Energi, PGAS mengakuisisi kepemilikan saham, baik mayoritas maupun minoritas, di 11 lapangan migas (10 di Indonesia, 1 di Amerika Serikat), dan pada saat ini sebagian besar diantaranya sudah berproduksi. Sementara melalui Gagas Energi, PGAS mengelola hasil produksi gas dari Blok West Madura Offshore milik Pertamina, menjadi liquefied natural gas siap pakai yang langsung disalurkan ke sektor transportasi (melalui SPBG dan Mobile Refueling Unit), sektor industri, dan komersial.
Nah, jika pada tahun-tahun sebelumnya pendapatan PGAS nyaris sepenuhnya berasal dari usaha distribusi dan transmisi gas-nya, maka pada Kuartal I 2018 kemarin, dari pendapatannya sebesar total US$ 872 juta, US$ 219 juta atau 25% diantaranya berasal dari usaha produksi gas (hulu), pengolahan gas (hilir), dan lain-lain. However, meski pendapatan PGAS dari usaha diluar distribusi gas terbilang cukup besar, namun labanya dari unit-unit usaha baru ini justru minus alias rugi. Penulis tidak tahu apa masalahnya, namun ini berarti laba bersih PGAS pada hari ini akan lebih besar andaikan perusahaan tetap fokus pada bidang usaha aslinya, yakni distribusi gas. Sebenarnya diluar keputusan manajemen untuk masuk ke hulu, hilir, dan lainnya (dalam rangka membangun PGAS menjadi perusahaan gas yang lengkap serta terintegrasi), maka PGAS juga terus membangun jaringan pipa gas baru untuk memperluas usaha distribusi gas-nya, dimana update terakhir menyebutkan bahwa perusahaan tengah menyelesaikan pipa transmisi gas Duri – Dumai di Riau, yang akan disambungkan dengan jaringan pipa gas di Kota Medan dan Deli Serdang. However, pemerintah sebenarnya sudah memerintahkan PGAS untuk membangun jaringan pipa gas di Sumatera Bagian Utara sejak tahun 2014 lalu, sehingga entah ada hubungannya atau tidak dengan kesibukan baru manajemen PGAS diluar usaha distribusi gas, bisa dikatakan bahwa progress pembangunan jaringan pipa barunya sangat lambat.
Kesimpulannya, meski pihak manajemen selalu mengatakan bahwa kinerja perusahaan, yang sampai sekarang belum profitable lagi seperti sebelum tahun 2014 lalu, adalah karena perlambatan ekonomi makro bla bla bla, tapi sebenarnya ada faktor lain, yakni cara kerja perusahaan yang tidak lagi efisien. Bagi anda investor berpengalaman, kita semua tahu bahwa PGAS merupakan salah satu big caps paling profitable di bursa di masa lalu, bahkan lebih profitable dibanding emiten-emiten perbankan dan sebagian emiten consumer goods, adalah karena dua hal:
PGAS membeli gas dari produsen (Conoco Phillips, Pertamina, dst) pada harga fix yang nyaris tidak berubah dalam jangka panjang, namun harga jual PGAS ke konsumen cenderung naik dari waktu ke waktu karena mengikuti inflasi dan faktor-faktor lain.
Dengan jaringan pipa gas-nya yang terbesar di Indonesia, maka PGAS nyaris me-monopoli usaha distribusi gas di tanah air, termasuk bisa menekan produsen untuk menjual gas mereka pada harga rendah (jadi balik lagi ke point 1 diatas).
However, karena PGAS terbilang lambat dalam hal menambah jaringan pipa-pipa gas-nya, sementara kompetitor juga mulai bermunculan (salah satunya Rukun Raharja/RAJA), maka PGAS tidak lagi monopoli seperti dulu, dimana pangsa pasarnya turun dari tadinya 92% se-Indonesia, menjadi hanya 81% pada akhir tahun 2014 lalu, dan kalau melihat pendapatannya yang jalan di tempat sejak tahun 2014 tersebut, maka kemungkinan pangsa pasarnya sekarang sudah turun lagi. Jika kondisi ini tidak juga berubah, maka sulit untuk membayangkan bahwa PGAS akan kembali mencetak ROE 30 – 40% seperti di masa lalu.
Sinergis PGAS – Pertamina
Diluar perkembangan kinerja fundamental perusahaan, ada satu lagi cerita menarik terkait PGAS: Dalam rangka pembentukan holding migas, maka saham Pemerintah di PGAS diambil alih oleh PT Pertamina, dimana proses pengambil alihannya akhirnya selesai pada tanggal 11 April 2018 kemarin, sehingga PGAS saat ini berstatus sebagai anak usaha dari Pertamina. Langkah selanjutnya, Pertamina akan meng-integrasi-kan anak usahanya dibidang gas, yakni PT Pertamina Gas atau Pertagas, menjadi anak usaha dari PGAS. In this way, PGAS menjadi sub-holding bagi Pertamina untuk unit-unit usaha gas-nya, dan dari sinergi yang kemudian timbul maka diharapkan akan berdampak positif bagi kinerja Pertamina, PGAS, dan Pertagas itu sendiri.
Nah, rencana pemerintah untuk menempatkan PGAS dibawah Pertamina, itu sebenarnya sudah dicanangkan sejak 2 – 3 tahun lalu, tapi lagi-lagi prosesnya sangat lambat, dimana dalam perjalanannya maka investor selalu dibuat bingung soal apakah pembentukan holding migas ini akan berdampak positif atau tidak terhadap fundamental perusahaan. Sementara untuk proses penempatan Pertagas dibawah PGAS, ini juga belum ada kepastian kapan selesainya, sehingga bisa dikatakan bahwa proses pembentukan holding migas ini baru separuh jalan. Thus, jangankan mencoba menganalisa soal bagaimana dampak integrasi Pertamina – PGAS – Pertagas ini terhadap kinerja ketiga perusahaan, untuk saat ini kita bahkan belum punya gambaran soal kapan proses integrasi tersebut selesai dilakukan. In short, saham PGAS bisa saja terbang lagi sewaktu-waktu kalau nanti muncul lagi cerita (positif) terkait akuisisi Pertagas, tapi abis itu ya turun lagi, karena kinerja PGAS sampai sekarang masih gitu-gitu saja.
PGAS: Sudah murah?
Anyway, balik lagi ke pergerakan sahamnya dalam setahun terakhir dimana PGAS ternyata tidak turun lebih rendah lagi, sementara disisi lain perusahaan masih membukukan laba, ekuitasnya masih naik, masih membayar dividen, dan tidak ada masalah tertentu, dan brand ‘PGN’ dengan slogannya ‘energy for life’ juga sekarang mulai strong seiring dengan inisiatif manajemen untuk memasang iklan (in the end, kualitas brand ini pada akhirnya akan lebih kelihatan dibanding kinerja perusahaan itu sendiri, karena semua orang bisa nonton televisi/liatin medsos, tapi tidak semua orang bisa baca laporan keuangan).
Dan fakta kuantitatifnya adalah, dengan PBV kurang dari 1.0 kali, maka PGAS bisa dinobatkan sebagai saham blue chip paling murah di jagat BEI pada saat ini. Kemudian meski prospek kinerja kedepannya masih belum terlalu cerah, tapi cerita fairytale ‘akuisisi Pertagas’ diatas akan menjaga sahamnya untuk tetap ‘hidup’, baik itu di pemberitaan media maupun dilihat dari volume transaksinya di market. Dan terakhir, pada tahun 2017, laba bersih PGAS totalnya hanya US$ 148 juta, yang itu artinya, masih ada peluang bagi PGAS untuk mencatat kenaikan laba pada tahun 2018 ini, karena perolehan labanya di Kuartal I sudah mencapai US$ 81 juta.
Nah, jadi selanjutnya kita tinggal tunggu satu hal lagi: Jika benar bahwa level 1,400 (yang dicapai Oktober 2017) dan 1,525 (yang dicapai Juli 2018) sudah merupakan bottom bagi sahamnya, atau dengan kata lain jika besok-besok PGAS turun lagi (misalnya karena IHSG turun) tapi penurunannya gak sampai tembus 1,525, maka fix, sahamnya sudah tidak akan turun lebih rendah lagi, dimana jika nanti perusahaan akhirnya merilis LK Kuartal II, dan labanya ternyata naik, maka pada saat itulah sahamnya bakal naik pelan-pelan, minimal ke 2,400 dulu. We’ll see.

Minggu depan kita akan membahas profil  dan success story dari Pak Joeliardi Sunandar, value investor senior yang sudah berinvestasi di saham sejak tahun 1990an.

Jadwal Seminar: Value Investing Pension Class: Cara Mempersiapkan Dana Pensiun Melalui Investasi Saham, menggunakan Kaidah Value Investing. Jakarta, Sabtu 1 September. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing: Mempersiapkan Dana Pensiun, Jakarta, 1 Sept

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension’. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividendserta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investoryang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.

Materi Utama:
  1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
  2. Cara memaksimalkan profit dengan cara meminimalisir risiko-risiko kerugian, sehingga investasi kita di saham menjadi sama aman-nya dengan katakanlah punya rumah kontrakan (atau bahkan lebih aman), dan pertumbuhan nilainya menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang.
  3. Cara menyusun portofolio untuk investasi jangka panjang berdasarkan dua kategori saham: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, dengan tujuan memperoleh dividend, 2. Saham-saham berfundamental amat sangat bagus yang analisanya sebatas ‘Belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dengan tujuan memperoleh capital gain, berdasarkan kaidah value investing.
  4. Ciri-ciri ‘wonderful company’, serta apa bedanya dengan saham cyclical, yakni saham yang akan di-hold paling lama 1 – 2 tahun saja (tapi jika timing-nya tepat, maka capital gain-nya justru lebih besar/bisa lebih dari 100%).
  5. Cara memanfaatkan fluktuasi pasar untuk membeli saham-saham terbaik pada harga terbaik.
  6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
  7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskanmengelola portofolio kita di saham.
Perkembangan nilai aset Buffett dari tahun ke tahun, yang sangat sulit untuk bisa disamai oleh investor manapun. Tapi, hey, kita tidak harus punya aset US$ 1 billion untuk bisa pensiun bukan?
Bonus Materi:
  1. Ciri-ciri investor berpengalaman/profesional: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
  2. Sharing pengalaman penulis ketika menemukan saham-saham untuk jangka panjang, 5 – 7 tahun lalu (dan bagaimana perkembangan perusahaannya sekarang), dan apa bedanya dengan saham-saham yang sempat populer pada masanya, namun bukan untuk jangka panjang. 
  3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, dan sudah bisa diakumulasi sejak sekarang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
Hari/Tanggal: Sabtu, 1 September 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Pembicara: Teguh Hidayat.
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,750,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif, maka jumlah kursi dibatasi hanya untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat Kamis, 30 Agustus, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,650,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,500,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis (duduk ditengah, mengenakan kemeja biru) bersama temen-temen dari salah satu kelas seminar [...]

Ebook Investment Planning

Apa pekerjaan paling penting dalam berinvestasi di saham? Yep, jawabannya adalah menyusun perencanaan alias PLANNING, yang terdiri dari 1. Daftar saham pilihan yang akan dibeli, termasuk informasi prospek perusahaannya 2. Harga beli terbaik untuk saham-saham tersebut, dan 3. Strateginya baik itu untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.
Daftar isi dari ebook edisi sebelumnya (Kuartal I 2018), lengkap beserta harga beli terbaik yang disarankan, rating/tingkat rekomendasi, strategi, dan tingkat risiko untuk tiap-tiap saham

Dan semua itu terangkum dalam Ebook Kuartalan (by Teguh Hidayat) edisi Kuartal II 2018, yang akan sudah Agustus 2018, dan anda bisa langsung memperolehnya disini.
For professional investors and fund managers, this book is a must-read! Seperti biasa, analisa dalam ebook ini dibuat berdasarkan metode yang sangat efektif dalam investasi saham, yakni value investing (Gambar adalah daftar isi dari ebook kuartalan edisi sebelumnya yakni Kuartal I [...]

Seminar Value Investing: Mempersiapkan Dana Pensiun, Jakarta, 1 Sept

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividend serta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investor yang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.

Materi Utama:
  1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
  2. Mengenal risiko-risiko dalam investasi saham, dan cara meminimalisirnya, sehingga pertumbuhan aset kita menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang (ingat tugas investor itu bukan untuk meraih profit sebesar-besarnya, melainkan untuk meraih profit se-konsisten mungkin).
  3. Cara menyusun portofolio pegangan saham berdasarkan tiga kategori: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, 2. Saham-saham berfundamental bagus yang analisanya sebatas ‘belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dan 3. Saham-saham agresif yang diharapkan profit 100% atau lebih dalam waktu setahun atau kurang.
  4. Ciri-ciri ‘wonderful company’: Apakah ada saham wonderful selain UNVR? Banyak!
  5. Lebih detail tentang strategi untuk ‘menabung saham’ pada wonderful company untuk di-hold forever untuk meraih dividend,dan juga strategi membeli saham untuk nanti dijual lagi pada harga yang lebih tinggi untuk meraih capital gain,berdasarkan kaidah value investing.
  6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
  7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskan mengelola portofolio kita di saham.
Perkembangan nilai aset Buffett dari tahun ke tahun, yang sangat sulit untuk disamai oleh investor manapun. Tapi, hey, kita tidak harus punya aset US$ 1 billion untuk bisa pensiun bukan?
Bonus Materi:
  1. Ciri-ciri investor berpengalaman: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
  2. Belajar dari Warren Buffett di tahun 1950 dan 1960-an: Apa-apa saja yang dilakukan oleh Oracle of Omaha hingga meraih US$ 1 juta pertamanya? Dan apa yang ia lakukan selanjutnya hingga aset tersebut kembali tumbuh berlipat-lipat di tahun-tahun berikutnya? Dan
  3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, baik itu dari kategori perusahaan besar/bluechip, maupun perusahaan menengah dan kecil/second liner.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 September 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Pembicara: Teguh Hidayat.

***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,750,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNIno rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,650,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,500,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email

Donasi Gempa Lombok

Dear investor, seperti yang kita ketahui, beberapa hari lalu Pulau Lombok diguncang gempa hingga 7.0 skala richter, yang disusul gempa-gempa yang lebih kecil hingga ratusan kali. Update terakhir menyebutkan bahwa korban jiwa mencapai 400 orang, sementara jumlah pengungsi juga mencapai 300 ribu orang. Mereka tentunya membutuhkan uluran tangan kita semua, baik itu kecil maupun besar.
Sumber ilustrasi: www.kitabisa.com

Karena itulah, penulis mengajak temen-temen sesama investor untuk turut membantu meringankan beban saudara-saudara kita disana, salah satunya melalui kampanye berikut: https://kitabisa.com/korbangempalombok, atau anda bisa pilih kampanye lainnya, terserah yang mana saja. Berapapun yang kita donasikan, itu sama sekali tidak penting, yang penting kita turut memberikan peran dan manfaat bagi sesama. Bagi penulis pribadi, ini juga sebagai ungkapan syukur bahwa, Alhamdulillah, saya dan anda semua masih sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun, jadi mari kita sisihkan setidaknya sebagian kecil dari apa yang kita punya bagi saudara-saudara kita di Lombok, yang memang tengah membutuhkan bantuan kita semua.
Dan semoga kondisi di Lombok segera pulih kembali seperti sediakala.. [...]

Krisis Turki, dan IHSG

Dalam sebulan terakhir, mata uang Negara Turki, Turkish Lira (TL), terjun bebas dari ?4.8 ke ?7.0 per US Dollar, atau drop lebih dari 30%, dan kejatuhan tersebut memperparah devaluasi TL yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dimana pada tahun 2014 lalu, TL masih berada di level ?2.0 per USD. Atau dengan kata lain, mata uang Negara Turki telah kehilangan lebih dari dua per tiga nilainyahanya dalam empat tahun terakhir, dan ini otomatis menimbulkan pertanyaan: Apa yang terjadi? Apakah Turki sedang krisis atau semacamnya? Dan khususnya apa yang terjadi dalam sebulan terakhir hingga TL jatuh sangat cepat? Sebagai perbandingan, meskipun Indonesian Rupiah (IDR) juga cenderung melemah terhadap US Dollar, namun pada tahun 2014 lalu IDR berada di level Rp12,700, berbanding hari ini sekitar Rp14,500 per USD, yang artinya penurunannya total hanya 12% dalam empat tahun terakhir (tapi bahkan itupun sudah bikin kita khawatir, jadi bagaimana dengan Turki ini?)

Posisi real time Turkish Lira per hari Senin, 13 Agustus 2018, pukul 12.00 WIB, dimana TL sempat drop sampai ?7.0 per USD, sebelum kemudian menguat sedikit ke ?6.7 per USD. Sumber: www.tradingeconomics.com

Pelemahan TL yang terjadi sejak 2014 sebenarnya in line dengan pelemahan hampir semua mata uang negara lainnya di seluruh dunia terhadap USD (sehingga dalam hal ini lebih tepat jika dikatakan bahwa USD-lah yang menguat, bukan Rupiah dll yang melemah), namun kejatuhannya dalam sebulan terakhir dipicu oleh dua faktor yang bisa dikatakan faktor eksternal. Pertama, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menaikkan tarif impor baja dan alumunium dari Turki sebesar masing-masing 50% dan 20%, yang tentu saja dikhawatirkan akan menurunkan nilai impor Turki ke AS. Kedua, sebelumnya pada tanggal 26 Juli 2018, Wakil Presiden AS, Michael Pence, mengirim pesan langsung kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk membebaskan Pdt. Andrew Brunson, seorang pendeta katolik asal AS di Turki, yang pada tahun 2016 lalu ditangkap dan dipenjara karena dianggap terlibat dengan upaya kudeta militer terhadap Presiden Erdogan. Dan ancamannya adalah, jika Pdt. Brunson tidak segera dibebaskan, maka Turki akan menerima sanksi serius dari AS. Thus, muncul spekulasi bahwa kenaikan tarif impor diatas adalah bentuk dari sanksi tersebut, dan akan ada sanksi berikutnya jika masalah ini kemudian berkepanjangan.
Tapi diluar kemungkinan sanksi tambahan dari AS, maka kejatuhan TL ini sudah mulai membuka problem-problem lainnya terkait ekonomi Turki. Pertama, seiring dengan pesatnya pertumbuhan GDP/ekonomi Turki dalam beberapa tahun terakhir (GDP Turki terakhir tercatat USD 851 milyar di tahun 2017, naik hampir empat kali lipat dibanding tahun 2003, yakni ketika Presiden Erdogan mulai menjabat sebagai Perdana Menteri), itu menimbulkan efek samping berupa lonjakan inflasi, yang terakhir mencapai 17.5%, jauh diatas rata-rata inflasi Turki dalam sepuluh tahun terakhir yang hanya 6 – 7% per tahun, dan tingkat inflasi ini diprediksi akan semakin besar seiring dengan kejatuhan TL. Kedua, dalam rangka menekan inflasi dan menghambat pelemahan TL, tingkat suku bunga Bank Sentral Turki juga dinaikkan dari 4.75% di tahun 2014, menjadi sekarang sudah tembus 17.75%. Dengan suku bunga setinggi ini maka tentu saja dikhawatirkan bahwa economic growth yang dialami Turki bisa berbalik setiap saat menjadi pertumbuhan ekonomi minus, alias krisis, karena tingkat suku bunga di Turki sekarang ini sudah merupakan yang tertinggi dibanding negara-negara lain sesama anggota G20, termasuk inflasinya juga sangat tinggi. Sebagai perbandingan, tingkat suku bunga di Indonesia atau BI Rate, sekarang hanya 5.25%, sementara inflasi Indonesia juga cuma 3.2% per tahun.
However, kalau kita lihat indikator-indikator makro lainnya seperti Government Debt to GDP, tingkat pengangguran, dst, maka Turki tidak bisa dikatakan sedang krisis, melainkan baru sebatas dikhawatirkan akan jatuh krisis, yakni jika kejatuhan TL yang terjadi sekarang ini berlanjut. Dengan kata lain, jika besok-besok TL naik lagi maka ya sudah, masalahnya selesai. Malah, diluar cerita kejatuhan mata uangnya, maka ekonomi Turki dalam sepuluh tahun terakhir ini justru sedang bagus-bagusnya (dan makanya Presiden Erdogan juga kemudian menjadi sangat populer).
Jadi pertanyaannya sekarang, apakah pelemahan TL akan berlanjut, ataukah posisi TL terhadap USD pada saat ini sudah cukup rendah sehingga selanjutnya dia akan rebound? Dan jika Turki kemudian beneran krisis, maka kira-kira bagaimana dampaknya terhadap Indonesia? Nah, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita coba lihat dulu ceritanya dari awal.
Fluktuasi Market Global vs IHSG
Sepanjang tahun 2018 ini, sejak awal tahun sudah muncul beberapa cerita dari luar negeri yang kemudian menyebabkan pasar saham Indonesia tertekan. Yang pertama adalah ketika Dow Jones Industrial Average (DJIA), yang sebelumnya naik terus, tiba-tiba drop 10.3% dari 26,616 ke 23,860 pada bulan Februari 2018, yang tentu saja memunculkan isu Amerika krisis bla bla bla. Tapi setelah kita bahas lagi di artikel ini, maka justru tidak ada krisis apapun disana, malah ekonomi Amerika sedang bagus-bagusnya setelah terakhir kali mereka krisis di tahun 2008, dan sekarang inipun pun DJIA sudah stabil lagi. Kemudian pada Juli 2018, Pemerintah AS menerapkan tarif 25% untuk impor barang-barang dari China senilai US$ 34 milyar, yang segera dibalas oleh Beijing dengan juga menerapkan tarif untuk beberapa impor barang dari AS. Peristiwa ini kemudian memunculkan istilah perang dagang, antara AS dan China, yang lagi-lagi dikhawatirkan akan menimbulkan krisis (karena dua negara ini notabene berstatus sebagai penguasa ekonomi dunia saat ini) dan ceritanya semakin memanas karena ditambah dengan pernyataan-pernyataan Trump di media.
But still, cerita perang dagang itu baru sebatas ‘dikhawatirkan akan menimbulkan krisis’, dan sampai saat ini belum ada indikasi krisis yang serius karena imbas dari ‘trade war’, baik itu di AS, China, ataupun negara-negara lainnya. Dan IHSG sendiri, meski kemudian turun lumayan banyak dari puncaknya di level 6,600-an, Februari 2018 lalu, tapi penyebabnya lebih karena isu-isu dalam negeri seperti pelemahan Rupiah dll, selain tentunya karena sejak awal valuasi saham-saham, terutama blue chip, sudah pada mahal.
Nah, cerita selanjutnya adalah Krisis Turki ini, dan penulis bisa katakan bahwa cerita ini lebih serius dibanding perang dagang kemarin, dan juga mengingatkan penulis dengan Krisis Yunani di tahun 2011 lalu, dimana meski GDP Yunani terbilang kecil, namun krisis disana dikhawatirkan akan merembet ke negara-negara Uni Eropa lainnya, termasuk sampai ke Indonesia. Dan meski pada akhirnya tidak terjadi krisis besar apapun (Ekonomi Yunani sampai sekarang masih belum benar-benar pulih, tapi sudah tidak ada lagi kekhawatiran bahwa kondisi ekonomi disana akan merembet ke negara lain), namun sentimen krisis Yunani ini tetap berpengaruh ke pasar saham Indonesia, dimana IHSG sepanjang tahun 2011 hanya naik 3.2%, padahal GDP growth kita ketika itu lagi bagus-bagusnya di level diatas 6% (sekarang cuma 5%).
Sementara untuk Turki ini, maka kalau dia beneran krisis maka pengaruhnya ke perekonomian dunia bakal lebih signifikan, karena ukuran ekonomi Turki sebagai negara anggota G20 terbilang cukup besar, dan statusnya sebagai emerging market menimbulkan kekhawatiran investor global bahwa negara-negara emerging market lainnya, termasuk Indonesia, juga bisa saja mengalami kondisi yang sama. Namun demikian kata kuncinya itu tadi: Kalau Turki beneran krisis.
Sementara untuk saat ini, maka diluar kejatuhan mata uangnya, Turki belum mengalami krisis apapun, masih jauh lah kalau dibandingkan dengan Yunani di tahun 2011, malah disana justru lagi booming industri pariwisata dll (coba googling, Istanbul and Cappadocia). Dan kalau kita baca lagi ceritanya diatas, maka kejatuhan TL ini sepertinya lebih disebabkan oleh faktor politik ketimbang ekonomi, yakni terkait Trump vs Erdogan. Mungkin, seiring dengan kesuksesannya membangun ekonomi Turki, popularitas Erdogan juga meningkat pesat tidak hanya di Turki tapi juga seluruh dunia, tapi disisi lain itu membuat negara-negara adidaya justru khawatir kalau kedepannya Turki ini bakal jadi ‘sulit dikendalikan’.
Jadi kecuali kedepannya nanti ada isu lainnya lagi, atau pelemahan TL terus berlanjut, maka jangankan pengaruh secara fundamental terhadap makroekonomi nasional, pengaruh cerita krisis Turki ini terhadap indeks-indeks saham di seluruh dunia, termasuk Indonesia, juga masih akan sebatas sentimen jangka pendek, yang bisa langsung dilupakan lagi dalam beberapa waktu kedepan, dan IHSG akan kembali bergerak stabil sesuai dengan perkembangan ekonomi dalam negeri. Dengan kata lain, jika nanti peristiwa penurunan Turkish Lira ini berlanjut maka artikel ini juga akan ada lanjutannya, tapi jika tidak maka yo wis, kita hanya akan membahas peristiwa penting yang lainnya lagi. So let us just sit, and wait. Actually, kalau kita lebih teliti maka sebenarnya ada isu lain yang lebih serius, yakni kejatuhan Bursa Shanghai di China, dimana SSE Composite Index sudah drop 3,558 pada Januari 2018 lalu, ke posisi 2,746 pada saat ini, dan kalau lihat chart-nya maka sepertinya penurunannya masih akan berlanjut. Tapi entah kenapa hal ini tidak begitu diperhatikan publik, dan perhatian kita malah tertuju pada Turki yang ukuran negaranya jauh lebih kecil, dan hubungan ekonominya dengan Indonesia juga tidak terlalu dekat.
Anyway, welcome to the stock market, dimana seringkali perhatian investor lebih tertuju pada apa yang sedang ramai diberitakan di media, ketimbang peristiwa atau fakta apa yang benar-benar tengah terjadi di Indonesia atau diluar sana.
Untuk minggu depan, kecuali ada isu lain yang lebih rame, kita akan analisa Perusahaan Gas Negara (PGAS).

Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Krakatau Steel

Krakatau Steel (KRAS) kembali melaporkan rugi US$ 16 juta di Kuartal II 2018, sehingga dari sini saja sahamnya sudah tidak layak invest, terutama karena dalam lima tahun terakhir, atau bahkan lebih lama lagi, KRAS selalu merugi. Hanya memang valuasi sahamnya yang sudah sangat murah, yakni PBV 0.3 kali, sementara perusahaannya sendiri punya segudang proyek pengembangan yang, kalau nanti sudah beroperasi, diperkirakan akan meningkatkan pendapatan KRAS secara signifikan, menyebabkan sahamnya mulai banyak dilirik investor. Jadi mungkin pertanyaannya sekarang simpel saja: Apakah KRAS akan menjadi The Next INDY? Atau justru malah menjadi The Next AISA?? Okay, kita langsung saja.

Sejak sahamnya listing di BEI, tahun 2011 lalu, KRAS nyaris tidak pernah menarik minat investor karena itu tadi: Perusahaannya tiap tahun rugi mulu, dan ini sebenarnya aneh mengingat KRAS sudah ekspansi membangun pabrik ini dan itu beserta infrastruktur pendukungnya bahkan sejak tahun 2010 lalu. Contohnya, seperti yang dulu kita bahas disini, pada akhir tahun 2013 lalu KRAS menyelesaikan pembangunan pabrik slab steel dan steel plate lengkap dengan fasilitas pelabuhan serta pembangkit listrik di Cilegon, Banten, dengan bekerja sama dengan Posco Steel asal Korea Selatan, dan pabrik tersebut sudah beroperasi sejak tahun 2014. Kemudian di tahun 2014 tersebut, KRAS juga tengah membangun pabrik baja blast furnace, pabrik baja hot strip, pabrik pipa baja, hingga kawasan industri, semuanya berlokasi di Cilegon. Karena sekarang sudah tahun 2018, maka secara teori seharusnya pabrik-pabrik tersebut sudah selesai dibangun dan juga sudah menghasilkan pendapatan.
Okay, lalu berapa pendapatan KRAS sekarang? US$ 854 juta di Semester I 2018, yang kalau disetahunkan menjadi US$ 1.7 milyar, dimana meski itu meningkat lumayan dibanding tahun 2015, 2016, dan 2017, tapi masih lebih kecil dibanding pendapatan KRAS di tahun 2013 yang mencapai US$ 2.1 milyar. Aneh? Yep, jelas aneh. Karena diatas sudah dikatakan bahwa pabrik baja milik Krakatau – Posco mulai beroperasi tahun 2014, yang artinya pendapatan KRAS harusnya mulai melonjak di tahun 2014 tersebut, tapi kenapa pendapatan KRAS sampai sekarang malah lebih kecil dibanding pendapatannya di tahun 2013?
Tapi apapun itu, yang jelas investor pada akhirnya hanya melihat perolehan laba bersih perusahaan (yang sayangnya selalu minus), dan alhasil saham KRAS terus turun pelan-pelan hingga menyentuh 260-an, akhir tahun 2015 lalu. Memasuki tahun 2016, KRAS dengan cepat naik hingga menyundul level 800-an, tapi penyebabnya bukan faktor fundamental, melainkan karena perusahaan menggelar right issue yang kemudian ditetapkan pada level Rp525 per saham. Ketika itupun lagi-lagi KRAS ini heboh karena dikatakan bahwa perusahaannya bakal profit besar kalau pabriknya nanti sudah jadi (karena memang dana hasil right issue-nya digunakan untuk membangun satu lagi pabrik baja hot strip, yang dijadwalkan selesai tahun 2019). However, karena pada tahun 2016 tersebut, dan berlanjut sampai hari ini, KRAS masih tetap merugi, maka jadilah sahamnya turun lagi.
Lalu untuk kedepannya bagaimana? Nah, sebelum bicara prospek, penulis sebenarnya sudah mengidentifikasikan beberapa problem menahun yang dialami KRAS (yang sampai sekarang belum ada solusinya), dan inilah yang menyebabkan perusahaan terus saja merugi. Pertama, perusahaan sejak dulu tidak efisien dalam kegiatan operasionalnya dimana ada banyak biaya-biaya yang sebenarnya bisa ditekan. Contohnya, KRAS membeli gas dari PT Pertamina sebanyak 8,942.5 MSCF (million standard cubic feet) per tahun, pada harga US$ 6.75 per MMBTU, dimana dalam perjanjiannya yang terakhir di-amandemen pada tahun 2016, KRAS diwajibkan untuk membayar penuh harga beli gas sebanyak 8,942.5 MSCF tersebut, baik itu gasnya diambil semuanya atau tidak. Dan harga beli yang US$ 6.75 itu juga lebih tinggi dari instruksi Kementerian ESDM di tahun 2017, yang menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan distributor gas, termasuk Pertamina, harus menjual gasnya maksimal pada harga US$ 6 per MMBTU kepada pelanggan industri.
Lalu kenapa kok KRAS seperti gak bisa meng-amandemen perjanjiannya dengan Pertamina agar lebih menguntungkan buat perusahaan? Well, tanya direktur utamanya!
Kemudian kedua, seperti yang disebut diatas, KRAS punya banyak planning pengembangan usaha dimana perusahaan banyak membangun pabrik baja ini itu, lengkap beserta infrastruktur pendukungnya, tapi sayangnya progress-nya tidak secepat pembangunan Simpang Susun Semanggi di Jakarta, dimana sebagian dari pabrik-pabrik itu harusnya sudah selesai beberapa waktu lalu, tapi sampai sekarang masih on progress. Contohnya kompleks pabrik baja blast furnace, yang sudah digarap sejak tahun 2011 dan dijadwalkan sudah selesai dan beroperasi pada tahun 2015, tapi sampai penghujung tahun 2017 kemarin masih belum selesai juga. Kemudian, pada bulan November 2016 lalu KRAS memperoleh dana Rp1.9 trilyun dari right issue, yang rencananya akan dipakai untuk membangun pabrik hot strip mill keduanya. Lalu bagaimana progress-nya? Well, setelah hampir lewat dua tahun, maka berdasarkan laporan penggunaan dana hasil right issue per tanggal 30 Juni 2018, ternyata sisa dana right issue tersebut masih tercatat Rp1.9 trilyun juga.. alias belum digunakan sepeser pun! (Jadi bisa dipastikan bahwa pembangunan pabrik hot strip ini gak bakal selesai sesuai jadwal, yakni 2019, melainkan bakal molor lagi).
Jadi sepertinya masalah KRAS ini sejak awal di manajemennya, yang memang tidak kompeten, dan kondisi KRAS ini mengingatkan penulis dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang dulu juga rugi melulu karena manajemennya amburadul setengah mati. Tapi setelah direktur lamanya ditendang dan digantikan Ignasius Jonan, maka barulah PT KAI sekarang menjadi perusahaan yang profesional dan menguntungkan, dan sampai sekarang penulis sendiri tetap nyaman pake kereta api meski Pak Jonan sudah resign (karena jadi Menteri). Nah, jadi kecuali nanti ada figur tertentu yang masuk menjadi direktur utama KRAS dan kemudian mentransformasi perusahaan secara besar-besaran, maka untuk saat ini penulis tidak tertarik untuk menjadi pemegang saham di KRAS. Okay, kalau denger-denger cerita bahwa pabrik blast furnace-nya sebentar lagi bakal jadi (sebentar lagi itu artinya belum jadi kan?), dermaganya sudah jadi bla bla bla, maka sekilas memang KRAS ini menarik. Tapi, hey, bukankah KRAS ini juga sudah menjanjikan prospek begini begitu sejak 2014 lalu? Tapi mana hasilnya?

Anyway, kalau nanti, entah gimana caranya, susunan direksi KRAS digantikan oleh orang-orang baru yang lebih kompeten, maka barulah KRAS ini menarik, possibly bahkan bisa dipertimbangkan untuk investasi serius untuk jangka panjang. Sebab sejatinya prospek bisnis baja di Indonesia itu sangat menarik karena tingkat konsumsi baja nasional masih sangat rendah (data dari Worldsteel.org menunjukkan bahwa konsumsi baja di negara-negara Asia termasuk Indonesia tapi diluar China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, rata-rata hanya 87.3 kilogram per kapita, atau jauh dibawah rata-rata konsumsi baja dunia yang mencapai 214.5 kg per kapita, di tahun 2017), sementara sekarang sedang dikebut pembangunan infrastruktur, dan KRAS sejak awal sudah merupakan salah satu market leader di pasar baja tanah air. Dan ingat pula bahwa pemilik perusahaan baja terbesar di dunia Arcellor Mittal, yakni Lakshmi Mittal, ia juga dulu memulai usaha pabrik bajanya di Indonesia, tepatnya di Sidoarjo! Dan menariknya Chaacha Mittal ini juga memulai pabrik bajanya di Sidoarjo pada tahun 1970, atau hanya setahun sebelum Krakatau Steel berdiri dan beroperasi pada tahun 1971.
Nah, kalau ada dua pabrik baja yang usianya kurang lebih sama, dan juga memulai usahanya di negara yang sama, tapi yang satu kemudian tumbuh menjadi perusahaan raksasa, sementara yang satunya lagi malah bikin kesel karena rugi melulu, maka dimana letak masalahnya? Sudah pasti, pada orang-orang yang bertanggung jawab atas operasional perusahaan. Actually, soal manajemen ini juga sepertinya sudah menjadi perhatian serius dari pemilik KRAS itu sendiri (baca: Pemerintah), dimana pada Maret 2017 lalu kembali dilakukan penggantian dewan direksi, setelah sebelumnya juga terjadi pergantian dewan direksi pada April 2015. However, hingga Kuartal II 2018 kemarin hasilnya belum kelihatan, jadi mari kita lihat lagi gimana perkembangannya dalam beberapa waktu kedepan.
PT Krakatau Steel, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2018: BB
Rating Saham pada 400: A
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Jadwal Value Investing Private Class, Jakarta, Minggu 12 Agustus (sisa 1 seat lagi). Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Strategi Investasi Saham u/ Dana Pensiun

Secara harfiah, yang dimaksud ‘dana pensiun’ adalah sejumlah dana yang terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pemiliknya selama sekian tahun, bahkan meski ia sudah pensiun alias tidak lagi bekerja. Di perusahaan-perusahaan besar biasanya gaji karyawan dipotong sekian persen setiap bulannya sebagai iuran pensiun, dimana dana yang terkumpul kemudian bisa disimpan sendiri oleh perusahaan, atau diserahkan untuk dikelola oleh pihak ketiga, misalnya BPJS Ketenagakerjaaan, sehingga menghasilkan keuntungan yang pada akhirnya akan dikembalikan ke si pemilik dana (karyawan) ketika nanti ia pensiun, entah itu dibayar semuanya secara sekaligus di awal, atau dibayar setiap bulan selama batas waktu tertentu, atau hingga si karyawan meninggal dunia.

However, sebanyak apapun aset atau tabungan yang dimiliki seorang pensiunan, pada akhirnya tabungan itu bisa saja habis sebelum waktunya. Karena itulah, masih ada satu lagi definisi dari dana pensiun: Itu adalah adalah sejumlah dana, tabungan, atau aset yang menghasilkan pendapatanbagi pemiliknya bahkan meski ia sudah pensiun, alias tidak lagi bekerja, dimana jumlah pendapatan tersebut terbilang cukup atau lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini yang dimaksud dana pensiun adalah lebih dari sekedar tabungan, melainkan merupakan investasi yang mampu menghasilkan passive income bagi pemiliknya.
Dan dalam kaitannya dengan investasi di saham, maka boleh baca bagian ini baik-baik (yang mau copy paste, be smart, jangan lupa menyebut nama saya sebagai penulisnya):
Jika anda bekerja dan memiliki penghasilan, maka anda bisa membuat ‘dana pensiun’ milik anda sendiri dengan cara membeli satu atau beberapa saham tertentu secara menyicil setiap bulannya (misalnya tiap kali anda gajian, maka tiap kali itu pula anda menyetor ke sekuritas untuk langsung beli lagi/tambah posisi di saham yang sama), untuk kemudian disimpan untuk jangka panjang, dimana setelah katakanlah 15 – 20 tahun, diharapkan bahwa anda akan memiliki saham tersebut dalam jumlah yang cukup besar. Hingga ketika akhirnya anda sudah tidak memiliki penghasilan lagi (karena sudah pensiun/berhenti bekerja), maka sebagian dari capital gain atau dividen yang dihasilkan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga anda bisa menariknya tanpa perlu khawatir bahwa jumlah tabungan anda di saham akan berkurang.
Kemudian mungkin ada pertanyaan, kenapa harus 15 – 20 tahun? Karena kalau kita ambil contoh peraturan dari BPJS Ketenagakerjaan, seorang pekerja hanya diperbolehkan untuk ikut program jaminan hari tua jika ia masih akan bekerja/bisa menyetor iuran bulanan hingga minimal 15 tahunkedepan. Ini artinya para fund manager profesional disitu juga sudah bisa memperkirakan bahwa kalau si pekerja menyetor iuran pensiunnya dalam jangka waktu yang kurang dari itu, katakanlah hanya selama 5 – 10 tahun, maka hasilnya tidak akan cukup besar karena, pertama, total iuran yang terkumpul masih sedikit, dan kedua, jangka waktunya tidak cukup lama dimana dana yang disetor, yang kemudian diputar di instrumen investasi seperti saham, obligasi, pasar uang dll, juga belum menghasilkan keuntungan sebesar yang diharapkan.
Sebagai ilustrasi, pada tahun 2003, saham Unilever Indonesia (UNVR) berada di level 3,350. Katakanlah anda membeli UNVR senilai Rp1 juta setiap bulannya, dan anda terus melakukan itu hingga hari ini sahamnya sudah berada di level 44,100. Sebagai catatan, antara tahun 2003 – 2008 UNVR berada di rentang 3,000 – 7,000, antara tahun 2008 – 2013 UNVR berada di rentang 7,000 – 23,000, dan antara tahun 2013 – 2018 UNVR berada di rentang 23,000 – 58,000.
Maka pada hari ini atau setelah 15 tahun, anda akan memiliki saham UNVR dengan total nilai modal Rp180 juta (Rp1 juta per bulan dikali 12, dikali 15 tahun), pada rata-rata harga beli sekitar 10,000 – 15,000 per saham. Karena UNVR itu sendiri sekarang berada di level 44,100, sementara total dividen yang dibayar UNVR antara tahun 2003 – 2017 adalah sekitar Rp7,000-an per saham (setelah pajak jadi Rp6,000-an), maka nilai investasi anda hari ini beserta capital gain serta dividennya bukan lagi 180 juta, melainkan sekitar Rp600 – 900 juta. Ini adalah dengan asumsi, pertama, nilai setoran anda gak berubah, tetap Rp1 juta per bulan sampai sekarang. Kedua, anda beli sahamnya tanpa strategi, pokoknya tiap ada duit langsung haka alias hajar kanan. Dan ketiga, anda tidak menginvestasikan kembali dividen yang diterima, melainkan tetap disimpan dalam bentuk cash.
Nah, ketika melihat asumsi pertama saja maka sudah langsung kelihatan bahwa, pada prakteknya, hasil investasi jangka panjang anda di UNVR seharusnya bakal jauh lebih besar dari sekedar Rp600 – 900 juta. Karena kalau anda di tahun 2003 sudah bisa menyisihkan Rp1 juta per bulan untuk diinvestasikan, maka dalam waktu 5, 10, hingga 15 tahun berikutnya, cicilan investasi anda seharusnya sudah jauh lebih besar dari itu, minimal sudah menembus angka belasan juta per bulannya. Sebab, just remember, pada awal dekade 2000-an, seorang PNS dengan gaji Rp1 jutaan per bulan sudah menjadi calon mantu idaman bagi setiap orang tua yang punya anak gadis. Sementara sekarang? Well, penulis punya teman yang kerja di bank dengan gaji Rp25 juta per bulannya, dan dia bilang gaji segitu masih kecil, karena cicilan rumah serta mobilnya saja sudah Rp9 jutaan.
Jadi akan lebih masuk akal kalau kita katakan bahwa, meski pada tahun 2003 setoran anda ke sekuritas cuma Rp1 juta, atau bahkan lebih kecil lagi, tapi pada hari ini nilai setoran tersebut seharusnya sudah jauh lebih besar dari itu. Thus, nilai modal anda di saham UNVR seharusnya juga jauh lebih besar dari sekedar Rp180 juta, melainkan mungkin sekitar Rp400 – 500 juta, dimana setelah ditambah capital gain serta dividen, totalnya sudah tembus sekian milyar Rupiah.
Tapi bahkan, sekali lagi, itu dengan adanya asumsi No. 2 dan 3 tadi, yakni anda investasi tanpa strategi, dan tidak menginvestasikan kembali dividen yang diperoleh! Lalu bagaimana jika kita menerapkan strategi tertentu? Maka sudah tentu, hasilnya akan lebih besar lagi! Kemudian ingat pula: Anda selama 15 tahun tersebut masih bekerja, yang artinya anda masih punya penghasilan, jadi anda belum butuh dividen tunai kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga dividen yang diterima mestinya bisa diinvestasikan kembali. Dividen tersebut baru perlu ditarik, sekali lagi, kalau nanti anda sudah pensiun.
Lalu Bagaimana Strateginya?
Berdasarkan pengalaman penulis selama ini maka terdapat tiga strategi, dimulai dari yang strategi yang mudah, sulit, dan paling sulit, tapi disisi lain nilai profit yang dihasilkan juga akan setimpal dengan tingkat kesulitan dari strategi yang anda pilih. Dan kesamaan dari ketiga strategi ini adalah, tidak hanya dana setoran bulanan, anda juga harus menggunakan/menginvestasikan kembali dividen yang anda terima untuk membeli kembali saham yang sama, dan jangan pernah berpikir untuk menarik/mencairkan sepeserpun hasil investasi anda sebelum waktunya, karena ingat sekali lagi bahwa itu adalah tabungan untuk hari tua anda nanti.
Kita mulai dari strategi yang mudah: Dengan asumsi anda mampu memilih saham yang benar-benar berfundamental bagus hingga saham tersebut bisa di-hold forever (baca lagi kriteria wonderful company disini), maka risiko terbesarnya terbatas pada fluktuasi pasar, dimana saham anda hanya akan turun kalau IHSG/pasar turun. Nah, meski kita tidak pernah bisa tahu persis kapan IHSG atau saham yang kita pegang akan naik atau turun, tapi kita tentu sudah hafal bahwa pasar akan mengalami koreksi setiap beberapa waktu sekali, atau bahkan market crash (seperti tahun 1998, atau 2008) pada jangka waktu yang lebih panjang.
Jadi, pertama, kita harus ingat bahwa dalam jangka puanjaaaanng, maka rata-rata persentase kenaikan saham yang paling bagus sekalipun sebenarnya tidak terlalu besar setiap tahunnya. Kalau kita ambil contoh UNVR, maka dari tahun 2003 sampai hari ini, jika dirata-ratakan sahamnya hanya naik sekitar 19% per tahun. Kedua, ini artinya jika saham yang anda pegang naik lebih cepat dibanding biasanya, misalnya mencapai 40 – 50% atau lebih dalam waktu satu tahun atau kurang, maka cepat atau lambat kedepannya dia akan turun, entah itu turun sendiri, atau turun karena koreksi pasar/IHSG. Nah, pada kondisi inilah, anda tetap menyetor ke sekuritas setiap bulan, tapi duitnya jangan langsung dipake beli saham, melainkan diamkan saja dulu dalam bentuk cash. Demikian pula jika anda memperoleh dividen, maka diamkan saja dulu.

Lalu kapan boleh belinya? Yakni ketika saham anda tersebut sudah turun 10 – 20% dari harga tertingginya, atau lebih rendah lagi. Seperti yang pernah kita bahas disini, IHSG bisa dikatakan berada dalam periode bearish jika sudah turun 10 – 20% dari posisi tertingginya, dan kalau IHSG-nya saja sudah turun sedalam itu maka penurunan saham-saham tertentu biasanya lebih dalam lagi. Sebagai contoh, ketika beberapa waktu lalu IHSG drop dari 6,700 sampai 5,600-an, atau turun 15%, maka saham Bank BNI (BBNI)yang notabene no problem secara fundamental, ikut turun dari 10,000 sampai sempat menyentuh 6,400, atau drop lebih dari 30%.
Kabar baiknya, anda gak perlu nongkrongin pasar untuk tahu bahwa pasar sedang terkoreksi. Sebab sudah menjadi tabiat penghuni pasar dari dulu bahwa kalau pasar lagi aman/IHSG naik terus, maka orang-orang akan diem-diem aja, tapi sekalinya IHSG drop 5% saja, maka mereka bakal langsung ribut dan panik. Yep, jadi kalau pasar sedang bearish, maka kecuali anda tinggal di goa, anda akan mengetahuinya, misalnya ketika ada yang mulai curhat di Facebook. Dan ketika itulah duit yang masih nganggur bisa mulai dibelanjakan, semakin turun sahamnya maka semakin banyak belinya, dan kalaupun pada satu titik duit cash tersebut sudah habis maka gak usah khawatir, karena anda masih menyetor tiap bulannya bukan?
Kemudian strategi kedua, yakni strategi sulit, yang sebenarnya masih sama dengan strategi mudah diatas, namun ditambah dengan menyiapkan payung (payung apaan? Coba baca dulu link-nya). Intinya, ketika saham anda naik lebih cepat dari biasanya (bagi saham blue chips, kenaikan 50% dalam setahun sudah bisa dikatakan ‘lebih cepat dari biasanya’), maka ketika itulah anda bisa jual dulu,  untuk nanti duitnya dipake untuk nyicil beli lagi saham yang sama ketika harganya turun, tambah dalem turunnya maka tambah banyak pula belinya. Dengan cara ini maka anda akan punya lebih banyak amunisi untuk membeli lagi saham anda pada harga terbaik.
However, cara ini sulit dilakukan karena, pertama, sering juga terjadi kasus dimana kita jual saham tertentu karena menganggap naiknya sudah tinggi, tapi ternyata dia masih lanjut naik lagi, dan secara psikologis itu akan sangat mengganggu, karena kita akan jadi berpikir bahwa kita baru saja kehilangan investasi berharga yang seharusnya bisa menjadi pegangan jangka panjang. Dan pada kasus terburuk, anda bisa saja, karena takut ketinggalan kereta, kemudian beli lagi saham tersebut pada harga yang lebih tinggi dari harga ketika kemarin anda menjualnya, tapi justru tak lama kemudian saham itu turun! Nah, dalam hal ini strategi yang tadinya bertujuan untuk ‘memaksimalkan profit’, hasilnya justru malah rugi.
Nevertheless, risiko terjadinya ‘strategi yang tidak berjalan sesuai rencana’ diatas bisa diminimalisir dengan cara anda tidak menjual seluruh saham yang anda pegang, melainkan sebagian saja, entah itu seperlima, sepertiga, atau separuh. Dengan cara ini maka, kalau saham itu ternyata masih naik lagi, maka yo wes biarken saja, toh kita masih pegang barangnya bukan? Dan karena kita tahu bahwa setinggi apapun kenaikan suatu saham namun pada akhirnya dia akan turun lagi, maka uang cash yang anda pegang tetap bisa dipakai untuk beli lagi saham tersebut, sekali lagi, ketika harganya sudah turun 10 – 20% atau lebih dari posisi tertingginya.
Ketiga, strategi yang paling sulit, yakni dengan menerapkanvalue investing, dimana rule-nya sederhana: Ketika saham anda naik banyak hingga valuasinya menjadi overvalue, maka ketika itulah kita mulai jualan entah itu sedikit-sedikit atau sekaligus, lalu tunggu. Ketika pasar kemudian terkoreksi, dan saham yang anda jual sebelumnya mulai turun, maka anda boleh membelinya bukan ketika saham tersebut sudah turun 10 – 20% dari posisi puncaknya, melainkan ketika valuasinya sudah murah kembali. Dan seperti contoh BBNI diatas, sebuah saham bisa turun sampai 30% atau bahkan lebih, dan barulah valuasinya akan berubah dari tadinya mahal menjadi murah.

Nah, jika anda bisa secara akurat menghitung valuasi saham yang anda incar, maka disinilah anda berpeluang untuk memperoleh profit maksimal, dimana hasil investasi anda setelah 15 tahun bukan lagi sekian milyar Rupiah, melainkan jauh lebih besar lagi. Dan karena nilai portofolio anda lebih besar, maka otomatis nilai dividennya juga lebih besar lagi, hingga nilai dividen ini pada satu waktu bisa saja mengimbangi atau bahkan sudah lebih besar dibanding nilai dana yang anda setor tiap bulannya!
Lalu dimana letak sulitnya? Ya tentunya anda harus bisa menghitung apakah valuasi sebuah saham terbilang murah, wajar, atau mahal, dimana meski secara teori sebenarnya itu mudah saja (baca saja buku penulis, atau dengarkan rekaman seminar, anda akan langsung ngerti caranya), tapi tetap saja untuk penerapannya butuh pengalaman. Sebab, pertama, adalah tidak mungkin bagi siapapun, termasuk value investor yang paling berpengalaman sekalipun, untuk menentukan secara persis bahwa sebuah saham maksimalnya akan naik/turun sampai level berapa. Dengan kata lain, bisa saja anda bilang bahwa saham A di harga 500 sudah murah, tapi nyatanya saham itu kemudian turun ke 450, 400, atau lebih rendah lagi. Dan meski saham tersebut, selama tidak terjadi perubahan fundamental, pada akhirnya akan naik lagi, tapi dalam jangka pendek ini akan menjadi ujian bagi si investor itu sendiri, apakah ia akan tetap yakin dengan perhitungannya, atau mulai ragu sendiri. Kemudian kedua, secara psikologis, kebanyakan investor/trader saham itu berperilaku kebalikan dengan yang dilakukan value investor, yakni mereka membeli saham yang lagi naik, bukan saham yang lagi turun! In fact, ketika selama beberapa bulan terakhir ini IHSG terkoreksi, dan ada banyak saham yang valuasinya kemudian menjadi murah, tapi tetap saja orang-orang, bahkan termasuk penulis sendiri, seringkali ragu-ragu untuk masuk, karena sudah sejak jaman baheula, setiap koreksi pasar selalu diiringi dengan berita-berita negatif, yang kemudian bikin kita bukannya antusias karena banyak kesempatan buy, melainkan ikutan panik. Demikian pula ketika saham tertentu sudah naik tinggi, bukannya menghindar kita malah membelinya karena penasaran, termasuk karena takut ketinggalan kereta. Fenomena ini, sekali lagi, sudah terjadi sajak dulu, dan akan terus terjadi sampai kapanpun.

Tantangan Tersulit
Anyway, jika anda mampu mengatasi problem-problem psikologis diatas, sehingga alhasil anda bisa menerapkan value investing secara efektif, then there you go: Profit yang anda peroleh akan maksimal namun disisi lain risikonya tetap terbatas, karena saham yang anda pilih sejak awal merupakan saham terbaik. Tapi jika anda memilih strategi yang paling mudah pun (yang gak pake analisis apapun, pokoknya kalau sahamnya turun 10 – 20% dari posisi tertingginya maka hajar!), maka tetap saja profitnya akan lebih besar dibanding jika anda langsung haka tiap kali anda nyetor ke sekuritas. Cuma balik lagi: Strategi manapun yang anda pilih, ada dua kesulitan yang mau tidak mau akan anda hadapi. Pertama, anda harus memilih saham yang benar-benar bagus, yang anda cukup yakin untuk ‘tetap bersamanya sehidup semati’, dan masalahnya dari sekian banyak saham di BEI, cuma ada sedikit saham yang masuk kriteria wonderful company seperti itu. Sementara sebagian besar saham lainnya, tak peduli selama apapun anda meng-hold-nya, biasanya nanti akan ada saja waktu-waktu dimana anda harus menjualnya, untuk kemudian pindah ke saham lain.
Dan kedua, inilah tantangan tersulitnya: Anda harus berinvestasi minimal selama 15 tahun, sebelum barulah kemudian nilai portofolio yang anda pegang menjadi cukup besar, dan profit yang anda peroleh per tahunnya jadi ‘lebih terasa’. Yep, ini pula sebabnya penulis di buku ‘Value Investing: Beat the Market In Five Minutes!’ dan juga seminar mengatakan bahwa, jangankan dalam waktu beberapa bulan hingga 1 – 2 tahun, anda bahkan tidak akan menghasilkan keuntungan yang signifikan dari investasi anda di saham dalam waktu 10 tahun!
(Dan masalahnya adalah, sejauh yang bisa penulis amati, hanya sedikit sekali investor profesional yang ngomongnya seperti diatas. Kebanyakan ‘investor sukses’ lainnya mengklaim bahwa mereka bisa ‘cepat kaya dari saham’, ‘menjadi milyader di usia muda’, ‘profit 700% dalam setahun’, dst. Intinya, menjadi kaya dalam 15 – 20 tahun dari saham bukanlah ide yang menarik bagi calon investor manapun, dimana mereka maunya ya begitu beli saham langsung cuan besoknya, kalo bisa AR kanan!)
Tapi balik lagi, jika anda mampu melewati 10 tahun pertama dengan baik, maka 10 tahun berikutnya akan jauh lebih mudah. Kemudian ingat pula, ini kan tujuannya untuk persiapan nanti kalau anda pensiun, jadi ngapain buru-buru?? Yep, jadi ketimbang ikut program dana pensiun maka anda bisa membuat dana pensiun milik anda sendiri, anda bisa pilih strateginya sendiri, dan anda bisa tentukan sendiri berapa ‘iuran’ alias setoran perbulannya. Kabar baiknya, anda gak perlu nyetor terlalu besar, karena bahkan hanya Rp1 – 2 juta per bulan sudah cukup, dan anda bisa pilih strategi yang paling aman jika memang tidak mau ambil risiko. Dan kalau anda kemudian bisa melewati bagian tersulitnya, yakni menunggu selama 15 – 20 tahun dimana anda selama itu mampu berinvestasi secara konsisten (itu juga akan sangat menantang, karena dalam perjalanannya anda akan dihantam koreksi pasar, dikerjai bandar dll), maka baru setelah itulah anda akan memperoleh hadiah terbesarnya: Sejumlah aset dalam bentuk saham yang nilainya cukup besar, atau bahkan sangat besar, sehingga capital gain dan dividend yang dihasilkan juga besar, dimana anda hanya perlu menarik sebagian diantaranya untuk kebutuhan sehari-hari, atau bahkan keliling dunia jika anda mau, sementara selebihnya bisa diinvestasikan kembali. Dan sudah tentu, anda tidak perlu bekerja lagi, melainkan boleh pergi memancing seharian, atau melakukan hobi apapun yang anda sukai.
Anda mau belajar sabar? Cobalah memancing
Well, sounds good eh? Nah, mumpung kondisi pasar sekarang ini masih jauh dari kata bullish, lalu apa lagi yang anda tunggu??
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, Minggu 12 Agustus. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal II 2018 – Sudah Terbit!

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Dan ebooknya sudah terbit pada bulan Agustus kemarin, anda bisa memesannya disini.
Berikut daftar 30 saham yang masuk pembahasan edisi kali ini:
ASII WSBP BTON
BBRI WEGE ADMF
BBNI ADHI WOMF
BJTM ASRI ASSA
BNGA LPCK MPMX
BBKP BKSL EKAD
UNVR MBAP RDTX
KLBF MTDL ADMG
JSMR MAIN DYAN
WSKT PBID INDR
Pekerjaan rutin investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental . Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata  hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 

Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

-Renaldi Lestianto-

Tiga Pilar Sejahtera Food: Default?

Kalau anda baca lagi pembahasan Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) bulan Desember 2017 lalu, yakni ketika sahamnya masih berada di level 450 – 500, maka di bagian artikel penulis menyebut tiga skenario untuk AISA ini. Pertama, manajemen AISA sukses mendivestasi usaha berasnya, kasus hukumnya (terkait anak usahanya, PT Indo Beras Unggul) selesai dengan baik, dan laba perusahaan kembali naik di tahun 2018. Dan jika ini yang terjadi, maka AISA berpeluang untuk naik dengan cepat, karena valuasinya sejak awal sudah sangat terdiskon. Kedua, masih mirip dengan skenario pertama, namun bedanya kinerja perusahaan di tahun 2018 masih biasa saja/belum kembali pulih, tapi semua berita simpang siur terkait kelangsungan usaha perusahaan tetap mereda/dilupakan orang seiring dengan berjalannya waktu. Jika skenario kedua inilah yang terjadi, maka saham AISA tetap berpeluang untuk rebound, meskipun naiknya mungkin gak akan banyak.

Dan actually, hingga sekitar bulan Februari – Maret 2018, maka skenario kedua diatas-lah yang terjadi, dimana berita simpang siur terkait AISA perlahan-lahan dilupakan orang, dan sahamnya juga beneran rebound dari 378 di bulan Desember 2017, hingga sempat tembus 700 pada akhir Februari.
However, masih ada skenario ketiga: Rencana perusahaan untuk mendivestasi usaha berasnya ternyata terhambat, atau malah muncul lagi problem baru. Dan sayangnya setelah lewat Februari – Maret 2018, justru skenario ketiga inilah yang terjadi, dimana kronologisnya sebagai berikut: Pada bulan Mei, Pefindo kembali menurunkan rating obligasi AISA, dan investor mulai was-was terutama karena AISA ketika itu bahkan masih belum merilis laporan keuangan untuk tahun penuh 2017. Ketika itu AISA masih di 480-an, turun dari 600an di bulan April, tapi turunnya lebih karena koreksi pasar. Pada 11 Juni, AISA akhirnya merilis laporan keuangan untuk tahun penuh 2017, dimana perusahaan secara mengejutkan membukukan rugi Rp552 milyar (mengejutkan, karena di Kuartal III-nya, AISA masih mencatat laba bersih Rp173 milyar). Disinilah saham AISA mulai terjun bebas ke level 200-an. Lanjut pada tanggal 26 Juni, manajemen AISA menyatakan bahwa mereka belum berhasil menjual unit usaha berasnya, tanpa menyebut secara spesifik dimana letak masalahnya (tapi kemungkinan karena pihak pembeli, yakni PT JOM Prawarsa yang masih merupakan pihak berelasi, belum punya cukup uang untuk membayar harga beli unit usaha beras tersebut, karena disisi lain PT JOM ini juga masih belum membayar harga beli PT Golden Plantation yang didivestasi AISA, dua tahun sebelumnya).
Daaan puncaknya adalah ketika pada tanggal 5 Juli, AISA kembali merilis pengumuman bahwa manajemen tidak memiliki uang kas yang cukup untuk membayar bunga salah satu utang obligasinya, yang jatuh tempo pada tanggal tersebut. Ketika itu AISA sudah terkapar di 168, dan pihak BEI segera men-suspen sahamnya. Sebab jika perdagangan AISA tetap dibuka, maka hampir bisa dipastikan bahwa sahamnya bakal jeblok lebih dalam lagi, karena kali ini masalahnya beneran serius, yakni AISA mengalami default/gagal bayar utang, yang bisa berujung pailit. Pada titik ini soal saham AISA sudah murah bla bla bla tidak lagi penting, karena perhatian semua orang tertuju hanya pada satu hal: AISA bakal bangkrut! Karena di waktu yang nyaris bersamaan, beredar pula kabar bahwa AISA digugat pailit(sebenarnya bukan digugat pailit, tapi digugat PKPU) oleh dua pemegang obligasinya yakni Sinarmas Asset Manajemen, dan Asuransi Jiwa Sinarmas, yang dikemudian hari dikonfirmasi oleh manajemen AISA, bahwa benar mereka digugat PKPU.


Konfirmasi dari manajemen AISA terkait gugatan Sinarmas, klik gambar untuk memperbesar

Kapan Suspensi AISA Dicabut?
Sebelum membahas soal ‘nasib’ AISA itu sendiri, pertama-tama kita coba runut dulu, apa yang akan terjadi ketika sebuah perusahaan gagal membayar utangnya, dalam hal ini utang obligasi. Pertama, pihak perusahaan akan mengupayakan restrukturisasi, atau refinancing, atau apapun itu istilahnya, dimana waktu jatuh tempo obligasi tersebut bisa diperpanjang, ditukar dengan obligasi baru dengan bunga yang lebih tinggi, hingga dikonversi menjadi saham, tergantung kesepakatan antara perusahaan dengan pemegang obligasi. Grup Bakrie bisa dinobatkan sebagai grup usaha yang paling jago untuk urusan beginian, dimana pada tahun 2015 – 2017 lalu, mereka sukses merestrukturisasi utang-utang dari salah satu anak usahanya, Bumi Resources (BUMI), meskipun memang prosesnya butuh waktu sampai beberapa tahun. Anda bisa baca lagi mekanisme restrukturisasinya disini.
Nah, jadi ketika pada tanggal 5 Juli kemarin manajemen AISA tidak bisa membayar utangnya yang jatuh tempo, maka yang akan dilakukan kemudian adalah proses restrukturisasi, dan memang sudah ada jadwal RUPO (rapat umum pemegang obligasi) dan RUPSI (rapat umum pemegang sukuk ijarah) pada tanggal 10 Agustus 2018, dimana dari rapat tersebut akan disepakati solusi yang (diharapkan) akan menguntungkan semua pihak (RUPO dan RUPSI sebelumnya hanya membahas soal penggantian collateral, karena AISA berencana melepas aset usaha berasnya, sementara ada sebagian dari usaha beras itu yang menjadi jaminan obligasinya). Cuma, inilah bedanya Grup Tiga Pilar dengan Grup Bakrie: Sekitar dua atau tiga tahun lalu, manajemen Bakrieland Development (ELTY), yang mungkin karena menyadari bahwa mereka gak punya duit buat bayar salah satu utang obligasinya yang diterbitkan di Singapura, sudah mengajukan permohonan perlindungan atas gugatan kepailitan kepada Pengadilan Singapura, sekitar dua atau tiga bulan sebelum obligasi tersebut jatuh tempo! Alhasil ketika pihak pemegang obligasi mencoba menggugat PKPU setelah utangnya jatuh tempo, maka belum apa-apa gugatan itu langsung ditolak, dan alhasil sampai sekarang tidak pernah timbul rumor bahwa ELTY bakal bangkrut.
Jadi kesalahan manajemen AISA disini adalah, entah karena mereka masih sibuk soal urusan divestasi usaha berasnya atau apa, tapi mereka diam saja ketika salah satu obligasinya akan jatuh tempo, padahal mereka tahu persis bahwa mereka tidak punya cukup uang untuk membayar obligasi tersebut. Jika saja mereka sudah mengupayakan proses restrukturisasi jauh sebelum obligasinya benar-benar jatuh tempo, termasuk mengajukan sendiri permohonan PKPU ke pengadilan, maka Sinarmas juga tidak akan mengajukan gugatan PKPU, dan tidak akan timbul cerita bahwa AISA bakal bangkrut.
Catatan: PKPU, atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, adalah suatu jangka waktu tertentu yang diberikan oleh Pengadilan Niaga, dimana selama jangka waktu tersebut pihak kreditur dan debitur akan bermusyawarah tentang cara-cara pembayaran sebagian atau seluruh utangnya. PKPU ini normalnya diajukan (ke pengadilan) oleh pihak yang berhutang, tapi pada kasus AISA, justru pihak pemegang obligasi-lah yang mengajukannya, sehingga istilah yang timbul adalah ‘gugatan’, dan bukannya ‘permohonan’, dan inilah yang menyebabkan munculnya sentimen negatif bahwa AISA sedang dalam masalah serius, dan bisa saja bangkrut.
Kedua, meski terkesan terlambat (termasuk AISA kembali mengumumkan bahwa mereka gak bisa membayar bunga obligasi yang jatuh tempo tanggal 19 Juli kemarin), tapi akhirnya proses restrukturisasi itu tetap dilakukan, dimulai dengan RUPO dan RUPSI pada tanggal 10 Agustus nanti. Yep, jadi dalam hal ini, AISA sudah memasuki periode waktu PKPU, dimana skenario selanjutnya ada dua: 1. AISA dan para pemegang obligasinya sepakat restrukturisasi alias happy ending, dan suspensi saham AISA akan segera dicabut (dan sahamnya akan naik), atau 2. Tidak terjadi kesepakatan apapun, dan saham AISA tetap di-suspen.
Jika skenario No.2 yang terjadi, maka lanjut ke proses berikutnya, yakni gugatan pailit. Nah, pada titik inilah proses hukumnya akan mulai ribet, karena bahkan kalaupun pengadilan akhirnya memutuskan bahwa AISA bangkrut (dan aset-aset AISA kemudian dialihkan ke krediturnya), maka pemilik lama AISA bisa mengajukan kasasi hingga peninjauan kembali (PK). Selain itu, berbeda dengan PKPU dimana jangka waktunya tidak boleh lebih lama dari 270 hari sejak putusan PKPU dibacakan hakim, maka proses kepailitan ini tidak ada batas waktu (sumber: www.hukumonline.com). Atau dengan kata lain, selama owner AISA masih bisa melawan dengan mengajukan kasasi dan PK, maka selama itu pula Sinarmas dan pemegang obligasi lainnya tidak bisa menyita aset-aset AISA. Dan kalaupun AISA akhirnya berpindah tangan ke pemilik baru, maka tetap saja sahamnya bakal di-suspen, sama seperti saham Berau Coal Energy (BRAU) yang sampai sekarang masih di-suspen, padahal urusan pailit-nya sudah beres/perusahaannya sudah diambil alih oleh Grup Sinarmas.
Anyway, untuk sekarang kita belum bisa menganalisa apapun terkait outlook AISA kedepannya, karena masih harus menunggu hasil RUPO dan RUPSI-nya, tanggal 10 Agustus nanti (jadi artikel ini nanti akan di-update lagi secara khusus). Harapan penulis tentu saja, hasil rapatnya adalah terjadi kesepakatan restrukturisasi, misalnya jatuh tempo obligasinya diperpanjang, dan AISA bisa kembali fokus ke upaya menjual unit usaha berasnya. Dan sudah tentu, suspensi AISA akan dicabut, dimana meski sahamnya mungkin gak akan naik banyak (karena sampai sekarang AISA belum merilis LK Kuartal I 2018, sehingga praktis investor jadi ragu: Bagaimana kalau perusahaan masih membukukan rugi?), tapi minimal dia tidak akan drop lebih lanjut karena.. PBV-nya sekarang tinggal 0.16 kali. Sebagai perbandingan, ketika saham Indika Energy (INDY) turun terus dari 5,200 hingga mentok di 150-an, tahun 2015 lalu, ketika itu karena perusahaan membukukan rugi selama empat tahun berturut-turut, maka PBV-nya ketika itu juga tinggal 0.1 – 0.2 kali. Tapi setelah harga batubara pulih, dan INDY juga sukses membukukan laba, maka anda bisa lihat sendiri kan, berapa harga sahamnya sekarang?
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau nanti hasil RUPO dan RUPSI-nya adalah bahwa tidak ada restrukturisasi, dan AISA kemudian benar-benar digugat pailit? Well, kalau kita terlalu khawatir maka itu juga percuma saja, karena untuk saat ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali tunggu sampai tanggal 10 Agustus. Sebenarnya ada satu lagi skenario yang mungkin terjadi: AISA mendapatkan suntikan modal, entah itu dalam bentuk private placement atau lainnya, dari Fidelity atau investor strategis lain yang sejak awal sudah mulai menyicil membeli saham AISA waktu sahamnya drop ke 500-an, enam bulan lalu. Dari suntikan modal itulah AISA akan bisa melunasi utang-utangnya, dan sebagai imbalannya investor strategis ini kemudian menjadi salah satu pemegang saham pengendali di AISA, termasuk membantu manajemen menjual usaha berasnya.
Dan penulis menganggap bahwa kemungkinan masuknya investor baru itu cukup terbuka, karena meski secara manajemen AISA ini nggak bagus, tapi mereka punya banyak aset bagus termasuk intangiable asset berupa merk snack ‘Taro’ yang terkenal, dan Warren Buffett sendiri paling suka aset seperti ini. Thus, all AISA need is a second hand to help, tinggal pertanyaannya, bersediakah Mr. Joko Mogoginta berbagi perusahaan yang sudah susah payah ia besarkan sejak tahun 2007 lalu?
Untuk minggu depan, sambil tunggu tanggal 10 Agustus, kita akan bahas: 1. Krakatau Steel (KRAS), 2. Update sektor konstruksi, 3. Strategi investasi jangka panjang untuk dana pensiun, mumpung saham-saham lagi murah, atau 4. Outlook jangka panjang IHSG menjelang Pemilu 2019.
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick Saham bulanan edisi Agustus 2018 akan terbit hari Rabu, 1 Agustus. Info selengkapnya baca disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ristia Bintang Mahkotasejati

Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS) adalah satu dari sekian banyak developer properti spesialis perumahan yang listing di BEI, yang sahamnya dalam beberapa tahun terakhir terbilang mati suri setelah perusahaan membukukan kinerja yang mengecewakan, seiring dengan lesunya industri properti itu sendiri. Namun pada tahun 2017 kemarin RBMS mengakuisisi dua anak usaha yang masing-masing bergerak di industri perhotelan dan pembangunan perumahan sederhana, dan pada tahun 2018 ini hasilnya mulai kelihatan dimana RBMS per Kuartal I membukukan pendapatan Rp24.5 milyar, melonjak dibanding periode yang sama tahun 2017 yang hanya Rp551 juta, dan demikian pula sahamnya pun mulai bergerak naik, tapi disisi lain valuasinya sekilas masih sangat murah dengan PBV hanya 0.3 kali. Prospek kedepan?

Sejarah RBMS dimulai pada tahun 1994 dengan membangun Perumahan Bintang Metropole di Bekasi, Jawa Barat, seluas 20 hektar. Perumahan tersebut sukses besar, hingga di tahun berikutnya yakni 1995, perusahaan mengerjakan proyek keduanya yakni Perumahan Mahkota Simprug di Ciledug, Tangerang Banten, seluas 45 hektar. Namun entah karena peristiwa krisis moneter di tahun 1998 atau lainnya, setelah proyek keduanya tersebut, RBMS kemudian nyaris berhenti beroperasi (atau tetap beroperasi dengan membangun dan menjual unit-unit rumah baru di komplek perumahan yang sudah ada, namun tidak ada lagi ekspansi membangun perumahan baru). Barulah di tahun 2013, RBMS mencoba bangkit dengan membangun Perumahan Saung Riung di Karawang, Jawa Barat, tapi lagi-lagi timing-nya tidak tepat dimana ketika itu booming properti yang sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya justru mulai mereda.
Waktu berlalu, hingga pada tahun 2017, RBMS sekali lagi bergerak maju dengan mengakuisisi developer properti bernama PT Alam Indah Selaras (AIS), yang memegang proyek perumahan untuk kelas menengah kebawah. Jadi sebelumnya, sejak tahun 2015 sampai sekarang, Pemerintah RI meluncurkan program pembangunan 1 juta rumah per tahun untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dengan harga jual Rp250 – 300 jutaan saja per unitnya, yang didukung dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), dan AIS adalah salah satu developer yang menerima pekerjaan pembangunan tersebut. Selain AIS, RBMS juga mengakuisisi PT Tiara Raya Bali International (TRBI), yang merupakan pemilik dan operator Hotel Le Meridien Jimbaran, Bali. Dengan demikian RBMS melakukan diversifikasi, dari tadinya hanya membangun perumahan untuk konsumen menengah, menjadi membangun perumahan untuk konsumen menengah kebawah, dan juga punya usaha hotel.
Tapi yang paling menarik adalah akuisisi RBMS terhadap AIS. In fact, dari pendapatan Rp24.5 milyar RBMS di Kuartal I 2018, itu nyaris seluruhnya berasal dari penjualan unit-unit rumah di kompleks Alam Indah Selaras di Karawang, Jawa Barat. Sepanjang tahun 2017, AIS sukses menjual 596 unit rumah sederhana, dan pada tahun 2018 hingga bulan April sudah terjual 199 unit rumah lagi, dimana pembelinya rata-rata adalah karyawan pabrik di banyak lokasi Kawasan Industri di Karawang. Untuk kedepannya AIS masih memegang izin lokasi seluas total 30 hektar, dimana di atas lahan tersebut bisa dibangun rumah type 60 sebanyak kurang lebih 2,500 unit. Dan dengan asumsi perusahaan mampu menjual 600 – 700 unit rumah per tahun, dimana ini merupakan asumsi yang realistis mengingat program rumah murah ini didukung penuh oleh Pemerintah (jadi mau suku bunga KPR naik atau turun, itu gak akan ngaruh karena rumahnya disubsidi), maka kalaupun kedepannya AIS tidak kembali memperoleh izin untuk lahan baru, masih tersedia cukup lahan untuk dikembangkan hingga tahun 2022 nanti.

Progress pembangunan rumah murah di Komplek Alam Indah Selaras, Karawang. Berbeda dengan developer
Tbk lainnya yang rata-rata jualan properti untuk kelas menengah keatas, RBMS mampu menangkap peluang dari pasar rumah murah untuk kelas menengah kebawah.


Diluar proyek rumah murahnya melalui AIS, pada tahun 2018 ini RBMS juga kembali ‘menghidupkan’ proyek Perumahan Saung Riung, yang sebelumnya pembangunannya berhenti di 212 unit rumah (dari rencana pembangunan sebanyak total 616 unit diatas lahan seluas 7.4 hektar), dimana jika semuanya berjalan lancar, RBMS akan menjual dan membangun total 180 unit rumah baru pada akhir tahun 2018 ini. Kemudian, untuk recurring income alias pendapatan berulang, maka mulai Kuartal II 2018 nanti, RBMS akan mulai mengkonsolidasikan pendapatan dari unit usaha hotelnya. Tidak ada informasi spesifik soal berapa kira-kira pendapatan RBMS dari Le Meridien Jimbaran, tapi penulis perkirakan tidak akan terlalu signifikan dibandingkan pendapatan RBMS dari penjualan unit-unit rumahnya.

Hitung-hitungan Pendapatan serta Laba RBMS
Diatas sudah disebutkan bahwa RBMS membukukan pendapatan Rp24.5 milyar pada Kuartal I 2018, dan dengan laba bersih Rp4.4 milyar, which is not a big figure. Tapi jika kita lihat laporan cashflow-nya, maka RBMS membukukan penerimaan kas sebesar Rp42 milyar, dimana setelah dikurangi biaya pemasok dll, diperoleh kas bersih sebesar Rp21.6 milyar (sehingga margin laba operasinya mencapai 50% dari pendapatan). Mengingat diatas juga disebutkan bahwa RBMS melalui AIS menjual 199 unit rumah hingga April 2018, atau kurang lebih 150 unit rumah hingga Kuartal I (Maret 2018), sementara harga jual rumahnya sendiri adalah Rp250 – 300 juta per unit, maka penerimaan kas yang Rp42 milyar tadi menjadi masuk akal. Jika RBMS melalui AIS bisa menjual dan menyelesaikan pembangunan total 600 unit rumah saja sepanjang tahun 2018 ini, dimana itu sekali lagi merupakan proyeksi yang realistis, maka total pendapatannya adalah kurang lebih Rp170 milyar, dimana jika margin laba bersihnya adalah 20 – 30% (yang 50% tadi margin laba operasional), maka labanya mencapai Rp34 – 50 milyar. Nah! Angkanya mulai kelihatan menarik bukan? Mengingat ekuitas RBMS per Kuartal I 2018 hanya Rp170 milyar, maka ROE RBMS akan mencapai 20 – 30%.
Dan itu baru proyeksi pendapatan dari perumahan milik AIS! Jadi belum menghitung potensi pendapatan dari Perum Saung Riung, dan Hotel Le Meridien. Sekarang kita coba konservatif saja: RBMS sukses menjual 100 unit rumah di Saung Riung (separuh dari targetnya yakni 180 unit rumah), sementara pendapatan dari hotelnya adalah nol. Maka, dengan asumsi harga rumah di Saung Riung adalah juga Rp300 jutaan per unit (seharusnya bisa lebih mahal, karena type rumah yang dijual bukan rumah sederhana banget seperti yang dijual melalui AIS, tapi kita pake angka Rp300 juta ini saja), RBMS akan memperoleh tambahan pendapatan Rp30 milyar, sehingga totalnya dengan pendapatan dari AIS tadi mencapai Rp200 milyar, dan praktis labanya juga bisa lebih besar dari Rp34 – 50 milyar tadi. Thus, jika anda mencari saham properti yang menawarkan prospek menarik untuk jangka menengah, atau setidaknya hingga akhir tahun 2018 ini, maka RBMS sangat layak dipertimbangkan. Karena, tidak hanya prospek tersebut didukung oleh program Pemerintah, harganya unit propertinya juga sangat murah sehingga pangsa pasarnya sangat luas (dan memang target konsumennya sudah sangat jelas, yakni karyawan pabrik di Kawasan Industri di Karawang), dan jenis propertinya juga gampang banget bikinnya yakni rumah sederhana, bukan perumahan township atau kondominium mewah yang bisa butuh waktu bertahun-tahun untuk dikerjakan. Selain itu manajemen RBMS juga tipe tradisional yang cuma bikin rumah lalu jual, gak punya banyak utang, dan ownernya masih menempati posisi dirut serta merupakan pemegang saham langsung perusahaan. Kalau ada yang mengganjal adalah keputusan perusahaan untuk mengakuisisi Hotel Le Meridien, dimana jika mereka tidak bisa mengelolanya (karena memang belum berpengalaman) maka bisa saja hotel itu malah bikin tekor perusahaan. Tapi dengan fakta bahwa sepanjang tahun 2017 lalu tingkat okupansi hotel tersebut mencapai 70%, alias cukup baik, dan perusahaan bekerja sama dengan JW Marriott untuk mengelolanya, maka mari kita lihat saja dulu bagaimana hasilnya hingga akhir tahun 2018 nanti.
Valuasi Saham RBMS
Berdasarkan jumlah saham, nilai ekuitas, serta nilai laba bersih RBMS di Kuartal I 2018, maka pada harga Rp149 per saham, PBV RBMS tercatat 0.3 kali alias unbelievably undervalue, sementara annualized PER-nya juga hanya 2.8 kali. However, pada April 2018, RBMS menggelar right issue dengan menerbitkan 1.18 milyar lembar saham baru pada harga Rp216 per saham, sehingga perusahaan menerima tambahan ekuitas sebesar Rp256 milyar. Dengan demikian jumlah saham RBMS pasca right issue adalah 1.51 milyar lembar, sementara ekuitasnya naik menjadi Rp426 milyar. Menggunakan data tersebut, maka PBV RBMS menjadi 0.5 kali. Sementara angka ROE-nya juga akan turun, dimana jika benar bahwa RBMS akan membukukan laba bersih Rp34 – 50 milyar pada akhir tahun 2018, maka ROE-nya menjadi hanya 9 – 11%.
Namun balik lagi, semua hitung-hitungan diatas menggunakan asumsi yang serba konservatif, dimana kalau kita berpatokan pada target yang ditetapkan oleh manajemen maka angkanya terbilang jauh lebih optimis: Diluar proyek utamanya melalui AIS, dari Saung Riung dan Hotel Le Meridien, RBMS mentargetkan pendapatan total Rp250 milyar per tahun (jadi bukan cuma Rp30 milyar seperti yang disebut diatas). Yep, jadi hingga akhir tahun 2018 nanti, atau paling lambat 2019, perusahaan tetap berpeluang untuk membukukan kinerja yang jauh lebih baik dibanding proyeksi diatas. Dan yang paling penting adalah valuasinya: PBV 0.5 kali jelas masih sangat murah, sehingga no way RBMS balik lagi ke level dibawah 100 seperti setahunan lalu, terutama karena kinerja perusahaan juga beneran sudah mulai bagus sejak penghujung tahun 2017 lalu (pada tahun 2017, RBMS membukukan pendapatan Rp73 milyar dan laba bersih Rp14.5 milyar, meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya dimana perusahaan hampir selalu merugi). Dan jika semua proyeksi diatas teralisasi, atau bahkan lebih baik lagi, maka tentu saja pasar kedepannya akan menghargai saham RBMS pada valuasi yang lebih layak, minimal PBV 1 kali. Jadi, yep, kita punya potensi upside yang sangat besar disini.
Kesimpulannya, RBMS menarik karena sahamnya murah, model bisnisnya sederhana, manajemennya cukup baik serta fokus, dan prospeknya cerah terkait program Pemerintah. Namun disisi lain, RBMS merupakan perusahaan kecil dengan brand yang sama sekali tidak terkenal (dan anda sendiri mungkin baru tahu ada perusahaan properti dengan kode saham RBMS?), tidak punya track record kinerja yang meyakinkan, sahamnya fluktuatif (jadi sahamnya bisa berbahaya bagi anda yang masih suka melihat naik turunnya setiap hari), dan ketergantungannya dengan Program Pemerintah justru membuatnya berisiko dimana jika Pemerintah, karena penyebab tertentu, kedepannya menghentikan program 1 juta rumah ini (karena banyak juga kritikan terhadap program ini, yang disebut-sebut tidak pernah mencapai target, dan terlalu membebani negara), maka ya sudah RBMS juga bakal wassalam. Jadi jika anda belum cukup yakin, maka boleh juga tunggu sampai perusahaan merilis laporan keuangan Kuartal II, akhir Juli ini, sekalian melihat bagaimana dampak right issue-nya terhadap ekuitas perusahaan.
PT Ristia Bintang Mahkotasejati, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal I 2018: A
Rating Saham pada 149: AA

Untuk artikel minggu depan, silahkan anda pilih: 1. Krakatau Steel (KRAS), 2. Update analisa Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), 3. Update sektor konstruksi, atau 4. Strategi investasi saham jangka panjang untuk dana pensiun, mumpung pasar lagi bearish/lagi ada banyak saham yang murah.
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Layanan preorder-nya hari ini sudah dibuka, keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Pelemahan Rupiah, Kenaikan BI Rate, dan IHSG

Salah satu hotnews di pasar akhir-akhir ini adalah terkait pelemahan Rupiah terhadap US Dollar, dimana hingga ketika artikel ini ditulis, Rupiah sudah berada di level Rp14,326, melemah cukup signifikan dibanding setahunan lalu yang masih di level Rp13,400-an, dan wajar jika orang kemudian jadi khawatir: Bagaimana jika Rupiah terus saja melemah sampai katakanlah tembus Rp15,000? Apakah kita akan mengalami krisis? Lalu bagaimana nasib pasar saham?

Nah, meski mungkin soal Rupiah ini tampak buruk karena terjadi bersamaan dengan periode bear market, tapi bisa penulis katakan bahwa there is nothing to worry about, at least until today, dan berikut penjelasannya.
Pertama, seperti yang pernah saya tulis dulu (tapi lupa di artikel mana), jika Indonesia adalah perusahaan, maka kurs Rupiah itu adalah ‘harga sahamnya’, dimana jika kinerja fundamental makroekonomi nasional lagi bagus maka Rupiah akan menguat, sementara jika ekonomi lagi lesu/krisis, maka Rupiah akan melemah. Namun demikian penulis sendiri belakangan menyadari bahwa, jika Rupiah itu adalah seperti harga saham ‘PT Republik Indonesia Tbk’, lalu kenapa kurs Rupiah sampai sekarang tidak pernah menguat sampai ke level sebelum krisis moneter 1998 (Rp2,500-an per USD), padahal ekonomi kita dalam dua dekade terakhir pasca krismon terbilang tumbuh pesat??
Dan jawabannya adalah, karena tingkat inflasi di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia, jauh diatas inflasi di negara-negara lain manapun, dan mungkin hanya lebih baik dibanding negara-negara Afrika. Sebagaimana yang kita ketahui, inflasi menurunkan nilai mata uang. Dan level inflasi kita yang mencapai 10% per tahun (rata-rata dari tahun 1997 sampai 2018) itu jauh lebih besar, dibanding inflasi Amerika Serikat (AS) yang hanya 2 – 3% per tahun. Inilah kenapa Rupiah, meski pada waktu-waktu tertentu menguat terhadap USD, tapi dalam jangka panjang dia akan terus melemah terhadap USD. Jika anda lihat lagi sejarah kurs Rupiah di wikipedia, maka akan kelihatan bahwa Rupiah sejak tahun 1970-an sampai sekarang selalu melemah terhadap USD, tapi disini penulis akan tampilkan ringkasannya saja.
Tahun
Kurs
1966
250
1970
378
1980
626
1990
1,842
1998
14,800
2000
9,725
2010
9,036
2015
14,000
Jul-18
14,300
Nah, jadi jangan kaget jika katakanlah pada tahun 2030 nanti, kurs Rupiah mungkin akan sudah jauh lebih rendah lagi dibanding sekarang, dan itu sesuatu yang normal/bukan karena krisis ekonomi atau semacamnya. Proyeksi ini baru bisa berubah jika inflasi di Indonesia, yang sekarang ini relatif rendah di level 3 – 4% per tahun, bisa bertahan untuk seterusnya, tapi itu akan sulit untuk terjadi karena sejak awal, geografis Indonesia yang berupa negara kepulauan menyebabkan proses distribusi barang membutuhkan biaya tinggi, sehingga harga sembako di Papua bisa belasan kali lebih mahal dibanding di Jawa, dan itulah yang memicu terjadinya inflasi selama ini. Beruntung, karena sekarang ini pulau-pulau di Indonesia mulai terkoneksi dengan baik (dulu anda kalo mau ke Papua mungkin harus pake kapal laut, tapi sekarang bisa pake pesawat, dan biayanya relatif murah dibanding dulu) maka itu turut menurunkan biaya distribusi barang sekaligus menekan inflasi, tapi penulis masih belum tahu apakah trend positif akan bertahan untuk seterusnya atau tidak karena, actually, keadaan geografis Indonesia yang kita bahas diatas hanyalah satu dari sekian banyak faktor pemicu inflasi, sementara faktor-faktor lainnya bisa dibaca disini. Hanya saja, berbeda dengan faktor-faktor lainnya yang kadang terjadi kadang tidak, alias hanya berpengaruh dalam jangka pendek, maka kondisi geografis merupakan faktor konstan yang tidak akan pernah bisa berubah, dimana jarak antar pulau di Indonesia tidak akan menjadi lebih dekat ataupun lebih jauh. Jadi dalam kaitannya dengan turunnya kurs Rupiah dalam jangka panjang yang disebabkan inflasi, maka penulis menyebutkan faktor geografis ini sebagai penyebab jangka panjang inflasi tersebut.
Kedua, meski dalam jangka panjang Rupiah akan terus turun terhadap USD, namun pada waktu-waktu tertentu dimana ekonomi kita lagi ada problem alias krisis, maka penurunan itu akan lebih lebih tajamdibanding biasanya (termasuk angka inflasi akan lebih besar dibanding biasanya, contohnya di tahun 1998 dimana inflasi mencapai 70%). Yup, jadi teori penulis diatas bahwa kurs Rupiah merupakan ‘harga saham’ Indonesia, alias cerminan dari fundamental makroekonomi Indonesia, itu tetap berlaku. Pada tahun 1997 – 1998, Rupiah anjlok dari Rp2,500 hingga sempat menyentuh Rp18,000, sebelum kemudian menguat kembali dan stabil di 9,000-an. Tahun 2008, Rupiah melemah ke 12,000-an karena imbas krisis global, lalu menguat lagi hingga sempat dibawah 9,000 pada tahun 2011 (karena ekonomi nasional yang lagi bagus-bagusnya ketika itu, thanks to booming komoditas), sebelum kemudian turun lagi pelan-pelan seiring dengan economic slowdown hingga sempat tembus Rp15,000 pada tahun 2015. Ini artinya dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, pelemahan Rupiah mencapai 60% (dari 9,000-an ke 15,000-an). Beruntung, pada tahun 2016 harga komoditas mulai pulih, ekonomi mulai jalan lagi (meski belum sekencang tahun 2011), dan alhasil Rupiah kembali menguat sebelum kemudian stabil di Rp13,000-an, dan untungnya sampai saat ini, seperti yang sudah penulis sampaikan disini, ekonomi kita secara umum masih baik-baik saja.
Tapi Pak Teguh, kalau dikatakan bahwa ekonomi masih aman, maka kenapa sekarang Rupiah melemah lagi? Sebelum kita membahas soal itu, biar penulis bertanya satu hal: Pernah nggak anda megang saham tertentu yang bagus dan valuasinya masih murah, dan itu perusahaan masih aman-aman saja/gak ada masalah serius atau sentimen negatif apapun, tapi harganya tiba-tiba turun sendiri? Well, pasti pernah bukan? Dan dalam kondisi bear market seperti enam bulan terakhir ini, maka saham apapun yang anda pegang kemungkinan besar ikut turun, dan itu bukan karena perusahaannya bangkrut atau apa, tapi memang karena pasarnya sedang terkoreksi saja. Dengan kata lain, saham anda turun bukan karena ada masalah di internal perusahaan, melainkan karena faktor eksternal berupa koreksi pasar.
Nah! Untuk kurs Rupiah juga sama begitu: Dalam kondisi ekonomi yang aman terkendali maka Rupiah bukan berarti pasti akan stabil, melainkan bisa tetap turun karena faktor-faktor eksternal yang tidak terlalu berhubungan dengan fundamental makroekonomi. Contohnya ya di tahun 2008, dimana Rupiah ketika itu jeblok bukan karena ekonomi nasional lagi ada problem, tapi lebih karena kekhawatiran bahwa krisis subprime mortgage yang ketika itu terjadi di AS akan meluas termasuk ke Indonesia. Buktinya ketika kekhawatiran terkait krisis di AS itu mereda dengan sendirinya di tahun 2009, maka seketika itu pula Rupiah perkasa lagi, hingga sempat tembus dibawah 9,000 pada tahun 2011.
Sementara untuk tahun 2018 ini, maka terdapat setidaknya tiga faktor yang bikin Rupiah loyo. Pertama, kondisi ekonomi AS, seperti yang sudah kita bahas disini, sekarang ini lagi bagus-bagusnya, dan itu menyebabkan USD menguat terhadap banyak mata uang lain termasuk Rupiah (jadi dalam hal ini USD lah yang menguat, bukan Rupiah yang melemah). Kedua, harga minyak naik hingga terakhir sudah tembus USD 70 per barel, dan ini otomatis menaikkan nilai impor Indonesia, dan Rupiah kena imbasnya karena kita jadi butuh banyak Dollar buat beli minyak. Dan ketiga, anda mungkin memperhatikan bahwa sudah setahunan terakhir ini investor asing terus keluar dari bursa saham Indonesia, demikian pula mereka banyak keluar dari obligasi, surat utang negara dll, dan itu praktis menekan Rupiah, karena para investor asing ini banyak menukar Rupiah mereka dengan Dollar. Penulis sampai sekarang masih belum mengerti, apa yang bikin mereka keluar ramai-ramai (ada banyak teori soal ini, tapi semuanya hanya sebatas teori yang belum bisa dibuktikan), tapi yang jelas inilah yang bikin Rupiah turun.
Kabar baiknya, meski penulis belum tahu seberapa lama kondisi ekonomi AS dan tekanan outflow asing akan berdampak terhadap Rupiah, tapi terkait naiknya harga minyak, maka bisa penulis katakan bahwa harga minyak saat ini sudah cukup tinggi, dan harusnya gak akan sampai balik lagi ke level USD 100-an per barel seperti sebelum tahun 2016 lalu (penjelasannya baca lagi disini), dan bahkan kenaikan minyak ini juga sudah kita prediksi sebelumnya (baca lagi prediksinya disini, intinya terkait IPO Aramco). Jika proyeksi ini benar adanya, maka posisi Rupiah saat ini sudah cukup rendah, dimana kecuali kedepannya nanti ada peristiwa force majeure tertentu, maka kita tidak akan melihat Rupiah turun sampai ke level seperti di tahun 2015 lalu.
Dampak Kenaikan BI Rate?
Kalau anda teliti, maka ulasan diatas sekaligus menjelaskan kenapa, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pemerintah sampai sekarang terkesan seperti cuek saja terhadap pelemahan Rupiah ini. Pada tahun 2008, setelah Rupiah anjlok ke 12,000-an, Pemerintah ketika itu meluncurkan paket kebijakan ekonomi termasuk menyelamatkan Bank Century yang bermasalah, karena jika bank tersebut dibiarkan kolaps maka dikhawatirkan akan berdampak sistemik, karena ketika itu psikologis market sedang jelek-jeleknya seiring dengan hancurnya IHSG. Pada tahun 2013, tepatnya tanggal 23 Agustus 2013, Pemerintah juga meluncurkan ‘paket kebijakan penyelamatan ekonomi’ setelah Rupiah ketika itu terjun bebas ke dari 9,000-an ke 11,000-an (baca lagi ceritanya disini). Dan pada tahun 2015, tepatnya tanggal 9 September 2015 setelah Rupiah sempat tembus 15,000, Pemerintah meluncurkan ‘Paket kebijakan ekonomi Jilid 1’, yang kemudian berlanjut pada paket-paket kebijakan selanjutnya hingga terakhir Jilid 16, yang diluncurkan pada Agustus 2017 lalu (info lengkapnya boleh gogling aja, kepanjangan kalo ditulis disini).
Tapi setelah paket kebijakan ekonomi jilid 16 tersebut, sampai sekarang belum ada paket kebijakan lagi. Kalaupun ada kebijakan, maka itu adalah keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI 7-day Rate, atau disingkat BI Rate, dari sebelumnya 4.25% menjadi sekarang 5.25%, dan tujuannya sangat jelas: Untuk membuat tingkat suku bunga atau yield di Indonesia kembali tampak menarik di mata investor asing, sehingga harapannya mereka kembali masuk kesini, atau minimal gak keluar lebih lanjut. Dan jika itulah yang terjadi, maka Rupiah juga diharapkan akan menguat kembali.
Namun disisi lain, kenaikan BI Rate ini justru dikhawatirkan akan menurunkan kinerja sektor perbankan, perusahaan pembiayaan, hingga properti. Karena secara teori, kalau bunga bank naik maka omzet penyaluran kredit bank juga akan turun, demikian pula orang yang beli mobil atau rumah pake kredit KPR akan berkurang. Tapi, okay, biar kita luruskan semuanya disini.
Pertama, BI sebagai otoritas moneter Indonesia memiliki goal untuk 1. Menjaga nilai tukar Rupiah, 2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan 3. Menekan inflasi. Jadi entah itu BI menaikkan atau menurunkan BI Rate, maka seperti yang pernah kita bahas disini (sekali lagi, buat yang belum mengerti cara kerja BI Rate, coba baca dulu), harapannya adalah itu akan berdampak positif terhadap tiga poin tujuan diatas. Yep, jadi pihak BI tidak akan menaikkan atau menurunkan BI Rate dalam rangka menjaga nilai tukar Rupiah, jika itu disisi lain menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, atau menaikkan inflasi ke level yang berbahaya. Tapi seperti yang kita ketahui, pertumbuhan GDP sekarang ini stabil di level 5%, sementara inflasi juga cukup rendah di level 3%, jadi sangat reasonable jika BI Rate kemudian dinaikkan. Thus, meski bunga bank akan naik karena naiknya BI Rate ini, tapi selama kegiatan ekonomi masih berjalan lancar, maka kenaikan suku bunga tidak akan sampai menurunkan omzet kredit bank, sehingga kinerja mereka tidak akan terganggu. Lain ceritanya jika BI Rate ini dinaikkan ketika ekonomi sedang lesu-lesunya seperti tahun 2015 lalu, maka itu artinya wassalam.
Kedua, seiring dengan turunnya inflasi sejak tahun 2015, maka BI Rate juga cenderung turun dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai level 4.25%, yang merupakan level terendah dalam sejarah (antara tahun 2005 hingga 2018, BI Rate rata-rata berada di level 7 – 8%). Maksud penulis adalah, yep, kalau BI Rate dinaikkan ke level yang terlalu tinggi, maka biar gimana itu akan ada dampak negatifnya terhadap perekonomian, tapi faktanya angka BI Rate yang 5.25% sekarang ini terbilang masih rendah, dan suku bunga KPR, KUR juga masih berada di level yang lebih rendah dibanding 2 – 3 tahun lalu. Jadi kalau BI Rate nanti naik lagi sampai ke level seperti di tahun 2015 lalu, maka barulah kita perlu waspada. Tapi karena kenaikan BI Rate sejauh ini hanya bertujuan untuk ‘merayu’ asing agar masuk lagi kesini, dan bukan karena ekonomi kita ada problem, maka penulis kira posisi BI Rate saat ini sudah cukup tinggi, dan tidak akan dinaikkan lebih lanjut kecuali jika nanti terjadi peristiwa penting tertentu.


Data BI Rate sejak Juli 2005 – Juni 2018 (judul gambarnya salah, yang bener 2005 bukan 2015), perhatikan bahwa angkanya cenderung turun terus, dan posisi BI Rate saat ini, meski naik, tapi masih lebih rendah dibanding tahun 2015. Sumber: www.bi.go.id

Anyway, kata kuncinya disini adalah, jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap perekonomian maka Pemerintah akan segera bertindak, termasuk BEI hingga OJK juga akan ‘do something’ jika penurunan IHSG sudah kelewat dalem, contohnya ketika terjadi panic selling di tahun 2015 lalu, tapi faktanya sampai sekarang belum ada tindakan khusus apapun. Sehingga bisa dikatakan bahwa kondisi market, atau setidaknya di mata para pejabat berwenang yang sarat pengetahuan serta pengalaman ini (kecuali anda punya sederet gelar seperti Tuan Doktor Profesor Patrick, maka anda tidak bisa melamar jadi komisaris di OJK), masih aman terkendali. Hanya memang, diluar cerita pelemahan Rupiah serta BI Rate ini maka diluar sana masih banyak isu-isu negatif terkait perang dagang dll, yang belum kita bahas disini. Tapi berhubung tulisan ini sudah cukup panjang (dan mungkin anda juga sudah puyeng bacanya), maka soal itu kita bahas lain waktu.
Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Cara ‘Membuka Payung’ Ketika Sudah ‘Turun Hujan’

Kalau anda pernah mengikuti kelas Value Investing – Advanced Class yang penulis adakan, maka materi pertama sekaligus yang terpenting yang disampaikan adalah soal cara membaca arah pasar atau IHSG, termasuk apa yang harus dilakukan jika kita melihat tanda-tanda bahwa pasar akan turun. Simpelnya, jika kita melihat bahwa IHSG mungkin akan turun, atau sudah ada tanda-tanda ‘mendung’, maka ketika itulah kita harus menyiapkan ‘payung’.

Dan yang dimaksud dengan membuka payung disini adalah, anda harus menyiapkan sejumlah cash dengan cara menjual beberapa pegangan saham. Atau dengan kata lain, ketika anda melihat langit mulai mendung, maka jangan full power dengan menempatkan seluruh dana anda di saham, melainkan harus pegang cash katakanlah sebesar 30 – 50% dari total nilai porto. Dengan cara inilah, jika kemudian pasar benar-benar turun, maka anda bisa beli lagi saham-saham bagus di harga bawah.
Tapi, hey, bagaimana kalau saya belum sempet buka payung tapi pasar sudah keburu diguyur hujan badai seperti sekarang? Bagaimana kalau kita baru kepikiran mau jualan justru ketika posisinya udah nyangkut dimana-mana? Kalau udah basah kuyup gitu maka kita duduk pasrah saja sampe masuk angin, apa gimana? Nah, karena ketika artikel ini ditulis, IHSG berada di level 5,650, atau total sudah turun lebih dari 1,000 poin dari level tertingginya (6,689) di bulan Februari 2018, maka artikel kali ini menjadi sangat relevan. Okay, kita langsung saja. Jadi intinya, ada beberapa ‘cara kerja Mr. Market’ yang harus kita pahami, ketika Mr. Market itu sendiri sedang bearish.
  1. Ketika IHSG sedang dalam trend turun, maka bukan berartidia akan turun setiap hari, melainkan akan ada hari-hari atau minggu-minggu tertentu dimana dia akan naik.
  2. Ketika IHSG sedang trend turun, maka akan ada waktu-waktu ekstrim dimana penurunannya lebih besar dibanding hari-hari lainnya, misalnya mencapai total 5 – 10% hanya dalam beberapa hari, sementara di waktu-waktu yang lain penurunannya terbilang pelan-pelan. Ibaratnya ketika terjadi hujan, maka awalnya gerimis dulu selama beberapa saat, kemudian turun hujan deras sekali tapi hanya beberapa menit, dan setelah itu gerimis lagi selama berjam-jam, hingga akhirnya hujannya berhenti dan langit menjadi cerah kembali.
  3. Biasanya setelah terjadi kondisi dimana IHSG anjlok/turun sangat dalam, maka dalam beberapa waktu berikutnya dia akan naik lagi, meski mungkin hanya selama beberapa waktu saja, sebelum kemudian turun lagi.
Sebagai ilustrasi, sekarang anda buka https://finance.yahoo.com/chart/%5EJKSE/, klik 1Y di sebelah atas untuk melihat chart IHSG dalam setahun terakhir, lalu geser chart-nya terus kekiri sampai ke tahun 2015, hingga ketemu gambar berikut:

Sekarang perhatikan gambar diatas, klik untuk memperbesar. Pada bulan April 2015 (perhatikan kotak biru yang ada di bawah untuk melihat bulan), IHSG dengan cepat turun dari 5,400-an ke 5,000, hanya dalam seminggu (kotak hitam No.1), yang seketika bikin orang panik. Tapi tak lama kemudian, di bulan Mei-nya, IHSG langsung naik lagi meski naiknya gak sampai balik lagi ke 5,400-an (kotak hijau No.1), sebelum kemudian turun lagi (kotak hitam No.2). Setelah itu IHSG turun lagi tapi pelan-pelan, dan baru nyungsep dengan cepat di bulan Agustus dengan anjlok dari 4,800-an ke 4,100 hanya dalam dua minggu, tapi kembali disusul oleh rebound dimana IHSG pada awal September naik lagi ke 4,500. And finally, penghujung September IHSG kembali sliding ke 4,100-an lagi, tapi pada bulan Oktobernya terjadi high rebound dimana IHSG naik dengan cepat hingga menyentuh 4,700-an pada bulan November. Dan setelah bulan November 2015 itulah, pasar kembali normal/tidak terjadi koreksi lanjutan, meski juga belum naik lagi.
Nah, dari gambar diatas maka kita bisa lihat bahwa ketika IHSG turun dengan cepat (kotak hitam), maka hampir selalu disusul dengan rebound (kotak hijau), dan hanya sekali IHSG turun cepat pada bulan Juni 2015, tapi tidak disusul oleh rebound di bulan berikutnya. Tapi diluar itu maka sekali lagi, setiap kali IHSG turun dengan cepat, maka disusul oleh rebound. Inilah yang saya sebut dengan ‘Cara kerja Mr. Market’, dalam hal ini ketika terjadi bearish. Pada koreksi pasar tahun 2018 inipun, maka seperti yang bisa anda lihat di gambar di bawah ini, setiap kotak hitam selalu disusul oleh kotak hijau. 

Hanya bedanya dengan tahun 2015, untuk tahun ini kotak-kotak hitam dan hijau itu letaknya sangat berdekatan, dimana hampir gak pernah ada waktu-waktu dimana IHSG bergerak mendatar. Jadi investor hampir tidak diberikan kesempatan untuk ‘mengambil nafas’ sama sekali, melainkan mereka seperti dipaksa untuk selalu melihat kondisi dimana IHSG kalo lagi gak naik ya turun (dan kondisi membuat koreksi pasar tahun 2018 ini menjadi sulit untuk dianalisa, dibandingkan koreksi tahun 2015 lalu). Tapi intinya sekali lagi, bisa kita lihat bahwa setelah muncul ‘kotak hitam’, maka tak lama kemudian akan muncul ‘kotak hijau’.

Okay, sekarang kita coba pelajari ‘cara berpikir investor’. Biasanya kalau IHSG lagi turun tapi turunnya cuma sedikit-sedikit, maka investor dan trader tidak akan panik, dan belum akan kepikiran untuk ‘menyiapkan payung’. Mereka baru akan panik dan baru berpikir untuk menyiapkan payung, kalau IHSG turunnya sudah seperti di kotak-kotak hitam diatas. Tapi jika mereka melakukan itu (membuka payung, alias jualan), artinya sudah terlambat, karena hujannya sudah keburu turun, bukan mendung lagi.
Jadi kalau gitu bagaimana? Nah, secara teori, kalau kita lihat lagi chart IHSG di tahun 2015 dan 2018 diatas, maka seharusnya kita sudah membuka payung bahkan sebelum kotak hitam No.1 muncul, tapi kan pada prakteknya gak segampang itu, dimana ada banyak investor yang masih memegang saham-saham bahkan ketika kotak hitam kedua dan ketiga sudah muncul. Kabar baiknya, investor yang sudah ‘basah kuyup kehujanan’ sekalipun tidak mesti bakal habis sama sekali, melainkan mereka masih bisa menyelamatkan sebagian portofolio mereka, dan yang perlu mereka lakukan adalah menunggu munculnya kotak hijau, alias periode dimana IHSG rebound.
Jadi meski anda baru kepikiran untuk jualan karena panik melihat IHSG terjun bebas, tapi justru ketika inilah anda harus bertahan/jangan dulu jualan. Dan anda baru boleh jualan, cut loss sebagian juga ndak apa-apa, ketika beberapa waktu kemudian IHSG naik lagi. Dengan cara inilah, meski mungkin ujungnya tetap saja anda rugi, namun ruginya tidak akan sebesar jika anda jualan/cut loss ketika IHSG berada di kotak hitam. Dan yang terpenting, anda kemudian akan memiliki pegangan cash, yang siap untuk dibelanjakan/average down jika nanti IHSG anjlok sekali lagi, sehingga posisi saham-saham anda yang tadinya nyangkut bisa berbalik menjadi hijau kembali, yakni setelah nanti pada akhirnya periode koreksi IHSG berakhir.
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau rebound itu ternyata tidak terjadi/IHSG bablas turun terus gak pake rem? Well, kalau anda cek lagi pergerakan IHSG ketika terjadi market crash seperti 2008 sekalipun, maka rebound itu selalu terjadi. Bahkan pada kondisi dimana pasar turunnya terlalu dalam sehingga peluang terjadinya rebound menjadi tampak mustahil sekalipun, maka pihak otoritas bursa (BEI, atau OJK) biasanya akan turun tangan untuk menenangkan pasar, dan alhasil pasar kemudian rebound juga. Tiga tahun lalu, tepatnya pada Agustus 2015 lalu, BEI pernah menggelar press release untuk mengumumkan kebijakan-kebijakan baru yang pada intinya bertujuan untuk mendorong pasar, yang ketika itu sudah hancur lebur setelah IHSG nyungsep dari 5,512 ke 4,170, untuk segera pulih kembali (anda bisa baca lagi ceritanya disini: http://www.teguhhidayat.com/2015/08/outlook-ihsg-setelah-kebijakan-bei.html), dan memang setelah itu pasar perlahan tapi pasti mulai pulih.
Tapi lagi Pak Teguh, bagaimana kalau misalnya IHSG rebound dan kita jualan/cut loss, dan ternyata selanjutnya IHSG gak turun lagi? Nah, soal apakah anda mau jualan untuk menyiapkan cash, atau tetap hold saja ketika IHSG kemudian berada di ‘kotak hijau’, maka itu tergantung pandangan anda terhadap pasar itu sendiri, apakah kenaikan IHSG itu cuma sementara, atau memang untuk seterusnya. Tapi yang jelas sekali lagi, jika anda baru kepikiran untuk jualan justru setelah IHSG bablas turun hingga 7 – 10% atau lebih hanya dalam beberapa hari, maka itulah yang gak boleh, jadi anda harus menunggu terjadinya rebound terlebih dahulu (karena seperti itulah cara kerja Mr. Market), kemudian baru bisa jualan. Good luck!
Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Juli 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
Jadwal Seminar Value Investing (hari Sabtu): Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Jadwal Seminar Value Investing – Advanced Class(hari Minggu): Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini, bonus gratis Ebook ‘How to be a Full Time Investor’.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Analisa Cash Flow Dalam Value Investing

Kalau anda terbiasa baca laporan keuangan (LK) perusahaan, maka anda akan hafal bahwa format standar LK di Indonesia adalah urutannya sebagai berikut: 1. Laporan posisi keuangan (aset, kewajiban, dan ekuitas), 2. Laporan laba rugi (pendapatan, hingga laba bersih), 3. Laporan perubahan posisi ekuitas, dan terakhir 4. Laporan arus kas. Normalnya, kalau penulis sendiri melakukan analisa cepat LK, maka yang kita pelajari hanyalah perkembangan aset hingga laba bersih perusahaan saja, dan jarang melihat sampai laporan arus kas, tapi mungkin dari sinilah kemudian timbul pertanyaan: Apa bedanya laporan arus kas dengan laporan laba rugi? Bagaimana kalau perusahaan di laporan laba ruginya membukukan profit sekian Rupiah, tapi jumlah kas yang diterima (yang tercantum di laporan arus kas) lebih kecil? Lalu bagaimana jika perusahaan membukukan arus kas negatif? Dan seterusnya.
Nah, sebelum kita bahas lebih lanjut, mari kita pelajari dulu definisi arus kas ini dari awal.
Laporan arus kas, atau cash flows statement, adalah sama seperti laporan keuangan itu sendiri secara keseluruhan, namun informasi yang dicantumkan hanya sebatas jumlah uang Rupiah (atau Dollar) yang benar-benar diterima atau dibayarkan oleh perusahaan pada periode laporan keuangan yang bersangkutan. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa ketika perusahaan membukukan pendapatan Rp100 pada Kuartal I 2018, maka uang Rp100 itu bisa saja baru akan diterima (dalam bentuk tunai) pada Kuartal II, atau lebih lama lagi.
Analogi sederhananya sebagai berikut. Let say anda sebagai fund manager membeli saham A, dan perusahaan A kemudian mengumumkan pembayaran dividen sebesar Rp100 dengan tanggal cum 15 Maret, dan tanggal pembayaran 10 April. Karena anda tetap meng-hold saham A hingga lewat tanggal cum-nya tersebut, maka anda otomatis berhak atas dividennya, sehingga ketika anda membuat laporan keuangan untuk periode Kuartal I (per tanggal 31 Maret) untuk dipresentasikan ke klien, maka di LK tersebut bisa dicantumkan pendapatan dividen sebesar Rp100, tapi di laporan cashflow uang Rp100 tersebut belum masuk. Why?Ya karena itu tadi: Dividen tersebut baru akan dibayar/ditransfer ke rekening anda pada tanggal 10 April, sehingga untuk LK per tanggal 31 Maret, uangnya memang belum masuk.
Tapi sekali lagi, meski per tanggal 31 Maret dividen tersebut belum benar-benar masuk ke rekening, namun anda sudah pasti akan memperoleh uangnya karena anda masih memegang saham A hingga lewat tanggal cum dividennya. Sehingga di LK yang anda buat, anda sudah bisa melaporkan pendapatan dividen Rp100. Got it?
Selain kondisi dimana ‘pendapatan dicatat duluan, sementara uangnya masuk belakangan’, bisa juga terjadi kondisi dimana ‘uangnya masuk duluan, tapi belum bisa dicatat sebagai pendapatan’. Contohnya perusahaan developer properti, dimana mereka bisa menerima sejumlah uang kas dari pelanggan yang membeli properti, tapi jika unit rumah/kantor/apartemen-nya belum diserah terimakan (karena memang masih dibangun), maka uang tersebut belum bisa dicatat sebagai pendapatan, melainkan harus dicatat sebagai uang muka pembelian, yang merupakan utang. Thus, di laporan keuangan akan tampak bahwa perusahaan menerima ‘uang kas dari pelanggan’ sebesar sekian, tapi pendapatannya lebih kecil dari itu. Dan pihak developer baru bisa mengakui uang yang diterima dari pelanggan sebagai pendapatan, jika unit propertinya nanti sudah diserah terimakan.
Karena hal-hal yang disebut diatas, pada akhirnya laporan cashflow sebuah perusahaan, dalam hal ini cashflow operasional, itu tidak pernah persis sama dengan laporan laba ruginya, melainkan pasti ada saja bedanya. Faktor-faktor tambahan seperti administrasi bank, dimana kalau anda transfer/setor ke suatu bank maka duitnya baru akan masuk besoknya (misalnya kalau anda beli unit apartemen seharga Rp1 milyar secara cash, maka hampir gak mungkin bayarnya pake duit kertas bukan? Melainkan harus pake transfer bank), juga bisa menyebabkan perbedaan antara laporan laba rugi dengan laporan cashflow operasional. Yup, jadi dalam hal ini anda tidak perlu khawatir jika perusahaan membukukan profit sekian, tapi di laporan cashflow-nya jumlah uang tunai yang masuk lebih kecil, apalagi sampai menganggap bahwa laporan keuangannya ‘direkayasa’. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, jarang terjadi kasus dimana laporan keuangan dipermak dari sisi laporan cashflow-nya. Ketika laporan keuangan diutak atik, maka bagi analis berpengalaman, itu bisa langsung kelihatan dari posisi neraca serta laporan laba rugi, tanpa perlu lagi melihat laporan arus kas-nya.
Pentingnya Analisa Cashflow untuk Investasi Jangka Panjang
Karena itulah, seperti yang sudah disampaikan diatas, ketika melakukan analisa cepat (sebelum kemudian dilanjut analisa mendalam), biasanya penulis berhenti pada angka laba bersih perusahaan. However, untuk perusahaan consumer goods, dimana ketika seorang pembeli membeli produk kebutuhan sehari-hari maka pihak perusahaan langsung menerima pembayaran tunai, dan pembayaran itu bisa langsung diakui sebagai pendapatan karena barangnya juga sudah diserahkan ke pelanggan tersebut, maka barulah laporan cashflow ini penting untuk diperhatikan. Jadi anda boleh bersikap kritis kalau misalnya Indofood CBP (ICBP) melaporkan pendapatan Rp1,000, tapi penerimaan dari pelanggan di laporan arus kas-nya hanya Rp500. Sebab ICBP kan jualannya Indomie dan semacemnya, yang harga per bungkusnya murah sehingga orang belinya hampir selalu tunai, dan saya belum pernah dengar ada orang beli Indomie di Alfamart namun barangnya baru dikasiin sebulan kemudian.


Fast Moving Consumer Goods milik ICBP

Jadi berbeda dengan katakanlah Waskita Karya (WSKT), dimana perusahaan bisa membukukan pendapatan sekian trilyun Rupiah sekaligus dari 1 proyek jalan tol, namun karena duitnya gede banget maka uang tersebut baru benar-benar diterima perusahaan beberapa minggu hingga beberapa bulan kemudian (karena proses pencairan dananya dll perlu waktu), maka pendapatan ICBP harusnya gak beda jauh dengan laporan arus kasnya. Simpelnya, jika perusahaan di sektor lain biasanya memiliki perputaran omzet yang lambat, dimana WSKT belum tentu menerima pembayaran tunai tiap hari (kalau lagi gak ada proyek, atau ada proyek tapi selesainya masih lama, maka WSKT juga belum akan menerima pembayaran dulu), maka perusahaan consumer goods memiliki perputaran omzet yang cepat, dimana boleh dikatakan bahwa ICBP menerima pembayaran cash tiap hari. Dan memang, anda bisa cek sendiri, sampai laporan keuangan terakhirnya, laporan pendapatan ICBP tidak beda jauh dengan laporan arus kas-nya.

Selain perusahaan consumer, perusahaan perbankan juga normalnya memiliki laporan laba rugi yang tidak jauh berbeda dengan laporan arus kas-nya, karena itu tadi: Mereka menjual jasanya (kredit KPR, jasa administrasi bank, dll) langsung ke konsumen akhir yang membayar bunga secara tunai, dan konsumen ini juga sudah menerima jasa yang dimaksud sehingga pihak bank bisa langsung mengakui uang yang mereka terima sebagai pendapatan.
Tapi untuk perusahaan-perusahaan diluar sektor consumer dan perbankan, maka laporan cashflow tidak terlalu penting untuk diperhatikan, karena tidak menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau earnings power, yang perlu kita perhatikan dalam menghitung nilai intrinsik/valuasi sebuah perusahaan (earnings power itu ya dilihatnya dari track record laba bersih perusahaan, serta track record pertumbuhan ekuitasnya dari tahun ke tahun). Nevertheless, laporan cashflow menjadi sangat penting untuk diperhatikan jika: 1. Anda berencana untuk membeli perusahaan secara penuh/menjadi pemegang saham mayoritas disitu, atau 2. Anda berencana untuk hold forever sahamnya, misalnya untuk dijadikan sebagai mesin dividen.
Sebab jika anda memiliki serta mengendalikanperusahaan A, maka anda akan memiliki akses dan juga bertanggung jawab terhadap arus keluar masuk uang tunai, dan anda mungkin akan puyeng sendiri ketika misalnya harus bayar supplier bahan baku, tapi uang hasil penjualan masih belum masuk (tapi jika anda cuma pegang saham A sebanyak 1 lot, maka anda gak perlu pusing soal ini). Demikian pula jika anda membeli saham untuk tujuan memperoleh dividennya tiap tahun, maka perusahaan akan bisa membayar dividen secara teratur tidak hanya jika perusahaan konsisten membukukan laba, tapi juga jika cashflow-nya lancar/selaras dengan laporan laba bersihnya tersebut. Karena yang namanya bayar dividen, itu harus pake duit tunai toh?
Tapi sayangnya berdasarkan pengalaman selama ini, jika penulis ditanya saham apa yang bisa di-hold forever di bursa saham Indonesia, baik itu kita belinya dalam jumlah besar/mayoritas maupun hanya beli 1 – 2 lot, maka berdasarkan ‘syarat-syarat saham yang bisa dipegang sehidup semati’ yang pernah kita bahas disini, penulis gak punya banyak opsi lain selain saham consumer goods atau perbankan. Sedangkan untuk saham-saham dari sektor lainnya, meski kita bisa saja hold sampai bertahun-tahun, tapi biasanya nanti ada waktunya untuk menjualnya kembali (baca lagi penjelasannya disini). Jadi balik lagi, analisa cashflow hanya penting untuk saham di sektor consumer dan perbankan. Sementara untuk saham-saham di sektor lainnya, kita bisa menghemat waktu dengan menganalisa hingga sebatas laporan laba bersih komprehensif perusahaan saja.
Btw penulis sengaja menulis soal cashflow sekarang karena saya baru sadar, sejak tahun 2010 sampai sekarang kita sama sekali belum membahas soal cashflow ini. Jadi untuk kedepannya bagi anda yang mungkin sudah baca-baca semua artikel di blog ini dari dulu sampai sekarang, anda boleh kasih usul kita akan bahas soal apa lagi, yang mungkin belum pernah penulis bahas sebelumnya. Tapi untuk minggu depan kita akan kasih analisa saham lagi.
Jadwal Seminar Value Investing(hari Sabtu): Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Jadwal Seminar Value Investing – Advanced Class (hari Minggu): Jakarta 1 Juli, Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Buletin Bulanan Analisis IHSG& Stockpick SahamBulanan edisi Juli 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham via email langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Indo-Rama Synthetics

Jika ada pertanyaan, siapakah perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, maka temen-temen investor mungkin akan menjawab, Sri Rejeki Isman atau Sritex (SRIL). Karena dari sejumlah saham-saham tekstil yang ada di BEI memang hanya SRIL yang ramai diperdagangkan, dan SRIL sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, yang sudah mengekspor produknya ke seluruh dunia. Namun sebenarnya di BEI ada satu lagi perusahaan tekstil yang, kalau berdasarkan nilai aset serta cakupan bisnisnya yang sudah worldwide, maka perusahaan tersebut lebih besar lagi dari SRIL. Yup, dia adalah Indo-Rama Synthetics (INDR), and seriously, INDR ini memang merupakan perusahaan yang benar-benar besar. Okay, kita langsung saja.

Sejarah INDR dimulai ketika founder perusahaan, Sri Prakash Lohia, pindah dari kampung halamannya di India ke Indonesia, tepatnya ke Kota Purwakarta, Jawa Barat, pada tahun 1974. Dua tahun kemudian, yakni pada tahun 1976, INDR didirikan sebagai perusahaan pemintalan benang dengan lokasi pabrik di Purwakarta, dan di tahun-tahun berikutnya perusahaan berekspansi dengan memproduksi benang filamen, benang polyester, kain polyester, PET resin (untuk membuat botol air mineral, dll), yang kesemuanya dijual ke pasar global. Per hari ini INDR sudah memiliki pabrik-pabrik tekstil & petrochemical yang tersebar di Purwakarta, Bandung, Jakarta Timur, Bekasi, hingga di luar negeri seperti Tekirdag (Turki), Andiambalama (Sri Lanka), dan Kokand (Uzbekistan). Jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan tekstil lainnya di tanah air, maka perkembangan INDR terbilang amat sangat pesat, dimana selain lokasi-lokasi pabrik yang disebut diatas, Grup Indorama masih punya banyak pabrik lainnya lagi. Mr. Lohia kemudian mendirikan Indorama Corporation Pte Ltd di Singapura, yang dijadikan sebagai holdingdari seluruh operasional Grup Indorama yang tersebar di seluruh dunia.
Karena itulah, meski total aset INDR per Kuartal I 2018 ‘hanya’ US$ 845 juta, tapi total aset Indorama Corp jauh lebih besar dari itu, karena ada banyak aset Indorama Corp seperti pabrik polyolefin dan fertilizer di Nigeria, pabrik fiber di Jerman, pabrik benang di India, yang tidak ditempatkan dibawah INDR. Indorama Ventures, salah satu unit investasi milik Indorama Corp, berkantor pusat di Thailand dan memiliki setidaknya 75 lokasi pabrik polyester dll di seantero Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika.
Dan ini pula sebabnya Mr. Lohia kemudian masuk daftar Majalah Forbes sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, dengan net worth US$ 7.1 milyar. Mr. Lohia sendiri adalah saudara ipar dari Lakshmi Mittal, pemilik serta CEO dari Arcellor Mittal yang merupakan salah satu perusahaan baja terbesar di dunia, sekaligus salah satu orang terkaya di dunia dengan net worth sekitar US$ 17.9 milyar. Kemungkinan koneksi langsung dari Mr. Mittal inilah yang menyebabkan Mr. Lohia kemudian sukses menjalin hubungan dengan perusahaan-perusahaan supplier kimia kelas dunia seperti Du Pont, BP, Toyota Chemical, untuk kebutuhan bahan baku Indorama, termasuk menjalin hubungan dengan pelanggan yang juga kelas dunia seperti Nike, Adidas, Uniqlo, Coca Cola, dan ini semua pada akhirnya membuat Indorama Corp turut menjadi perusahaan kelas dunia itu sendiri.
Sayangnya meski mengawali usahanya di Indonesia, dan Mr. Lohia sendiri juga sudah (dan masih) berstatus sebagai WNI, namun seperti yang sudah disebut diatas, pada akhirnya Mr. Lohia menempatkan Indorama Corp bukan disini, melainkan di Singapura (dan Mr. Lohia sendiri tinggalnya di London, bukan di Blok A Tanah Abang), dan Indorama Corp kemungkinan hanya menempatkan sebagian kecil aset-asetnya di INDR. Yep, jadi yang berstatus sebagai ‘perusahaan kelas dunia’ adalah Indorama Corp, bukan INDR itu sendiri. Dan inilah yang penting untuk diperhatikan: Meski Indorama Corp secara keseluruhan terus tumbuh pesat, dimana itu bisa dilihat dari net worth Mr. Lohia yang terus naik dari tahun ke tahun (sekitar tahun 2009, menurut Majalah Forbes, net worth Lohia Family hanya sekitar US$ 800 juta), namun pertumbuhan INDR itu sendiri terbilang lambat, dengan track record laba rugi yang juga tidak mencerminkan kinerja dari ‘perusahaan kelas dunia’. Antara tahun 2011 hingga 2017, INDR membukukan laba bersih paling besar hanya US$ 9.8 juta di tahun 2015, alias sangat kecil dibanding ekuitasnya di tahun 2015 tersebut yang tercatat US$ 297 juta. Jika dirata-ratakan, ROE INDR bahkan hanya 1 – 2% setiap tahunnya, which is, sekali lagi, tidak mencerminkan kinerja dari perusahaan kelas dunia. Total aset INDR juga hanya tumbuh sedikit dari US$ 674 juta di akhir tahun 2011, menjadi US$ 845 juta pada hari ini. Sebenarnya kalau dari sisi pendapatan, kinerja INDR terbilang bagus karena pendapatannya mencapai US$ 700 – 800 juta setiap tahunnya, atau kurang lebih sama dengan total nilai aset perusahaan (salah satu kriteria wonderful company adalah pendapatan perusahaan dalam satu tahun sudah sama atau lebih besar dibanding total asetnya), tapi entah kenapa margin laba kotornya gak sampai 10% dari pendapatannya tersebut, dan margin laba bersihnya lebih kecil lagi.
Karena itulah, meski INDR sejatinya merupakan perusahaan besar, dan juga merupakan bagian dari konglomerasi yang lebih besar lagi, tapi sahamnya sangat sangat sepi pengunjung. Penulis sendiri awalnya bingung, kenapa kok Mr. Lohia bisa berada di posisi No. 3 sebagai orang terkaya di Indonesia, karena market cap INDR ketika sahamnya dulu masih di 1,000-an, itu cuma Rp600-an milyar. Tapi rupanya yang dilihat oleh Forbes gak cuma INDR, melainkan Indorama Corp, dan Indorama Corp adalah memang perusahaan raksasa dengan kepemilikan aset yang tersebar di seluruh dunia.
INDR = The Next INKP?
Meski INDR hanyalah bagian kecil dari Indorama Corp, namun dengan total aset yang, kalau di-Rupiah-kan, mencapai lebih dari Rp10 trilyun, maka INDR bukanlah perusahaan kecil juga, dan masih merupakan salah satu perusahaan kimia serta tekstil terbesar di Indonesia. Dalam hal ini penulis langsung ingat dengan Indah Kiat Pulp & Paper (INKP), yang merupakan perusahaan kertas terbesar di Indonesia, tapi INKP juga hanyalah salah satu anak usaha dari Asia Pulp & Paper (APP), milik Grup Sinarmas. Seperti halnya INDR, INKP dulu juga sepi pengunjung karena kinerjanya sama sekali gak bagus, dan ketika itu tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa dia adalah perusahaan besar (sekaligus bagian dari grup yang lebih besar lagi). Tapi setelah perusahaan tiba-tiba saja membukukan laba bersih yang cukup besar pada tahun 2017 lalu, maka ketika itulah sahamnya mulai naik dengan cepat karena, setelah dicek lagi, PBV-nya ketika itu cuma 0.2 kali (pada harga saham 2,000-an).
Dan untuk tahun 2018 ini sepertinya giliran INDR untuk naik panggung karena kronologisnya sangat mirip: INDR ini, karena memang track record kinerjanya gak bagus, maka sahamnya sejak dulu gak pernah kemana-mana di level 800 – 1,000, tapi PBV-nya pada harga tersebut juga cuma 0.1 – 0.2 kali. Thus, ketika perusahaan membukukan laba bersih US$ 13.6 juta di Kuartal I 2018, yang mencerminkan annualized ROE 18.0%, maka seketika itulah sahamnya langsung terbang, dan pada harga sekarang pun (7,475), PBV-nya masih 1.1 kali, dan PER 6.7 kali, clearly still undervalue jika mempertimbangkan status perusahaan sebagai big company, dan notabene merupakan market leader di bidangnya.
Jadi dengan asumsi di Kuartal II nanti kinerja INDR masih sama bagusnya seperti sekarang/ROE-nya stabil di angka 15 – 20%, maka hampir pasti sahamnya bakal naik lebih lanjut. Karena sejak awal, seperti yang sudah disebut diatas, kinerja INDR sebenarnya cukup bagus dari sisi nilai pendapatan, maka mungkin sebenarnya mudah saja bagi Mr. Lohia untuk membuat INDR membukukan laba yang besar (tinggal pertanyaannya, beliau mau atau tidak?), sama seperti INKP yang sampai sekarang labanya masih besar.
Hanya saja, jika di Kuartal II nanti laba INDR mengecil lagi, dan itu pernah terjadi di masa lalu (penulis lupa kapan persisnya, tapi INDR pernah membukukan laba besar di Kuartal tertentu, tapi pada akhirnya laba tersebut jadi kecil lagi di akhir tahun), maka praktis sahamnya bisa balik arah dan turun, meski juga gak akan balik lagi ke level sebelum naik (1,000-an), karena orang sudah terlanjur notice bahwa INDR ini undervalue. Actually, jika anda perhatikan, maka selain INDR, ada banyak saham-saham kecil lainnya di sektor kimia atau sektor-sektor lainnya yang tidak populer, yang mulai naik pelan-pelan dalam beberapa bulan terakhir hanya karena PBV mereka masih nol koma sekian, alias masih murah, tak peduli meski kinerjanya/labanya masih turun. Yup, seperti yang pernah penulis sampaikan sebelumnya, meningkatnya popularitas metode value investing di pasar saham Indonesia menyebabkan para investor sekarang tidak lagi melulu mengejar ‘saham terbang’, tapi juga mereka diam-diam masuk ke saham yang masih murah, dan itulah yang menyebabkan saham-saham undervalue ini mulai naik, dan khususnya INDR ini naiknya lebih cepat karena dua faktor itu tadi: 1. INDR sejatinya merupakan perusahaan besar, sama seperti INKP, dan 2. Kinerjanya, atau setidaknya di Kuartal I 2018, terbilang bagus.
Jadi meski risiko terbesar di INDR ini adalah jika nanti di Kuartal berikutnya labanya turun lagi, namun dengan mempertimbangkan trend ‘the rise of undervalued stocks’ di market, maka risiko tersebut relatif terbatas. Sementara disisi lain, jika kinerja apik INDR berlanjut sampai akhir tahun, maka sahamnya bisa dengan mudah naik sampai berapa saja, karena sejauh yang penulis perhatikan, investor ritel yang pegang INDR ini masih belum banyak (orang-orang masih ramai di INKP, TKIM, ERAA, dst). Jadi sekarang strateginya gini saja: Jika anda berani ambil risiko, maka boleh haka dari sekarang. Namun jika anda mau lebih hati-hati, maka boleh tunggu dulu sampai kinerja Kuartal II keluar, akhir Juli nanti, kalau masih bagus dan sahamnya juga belum kemana-mana, maka sikat!
Anyway, penulis sendiri sebenarnya terlambat menemukan peluang value investing di INDR ini (harusnya kita masuknya bulan Mei lalu, waktu sahamnya masih di 3,000-an), tapi kabar baiknya kita masih punya satu lagi pilihan mutiara terpendam yang meski sahamnya juga sudah mulai naik, mungkin masih belum telat untuk masuk, karena ketika artikel ini ditulis, PBV-nya masih 0.3 kali. Kita akan membahasnya lebih lengkap minggu depan.
PT. Indo-Rama Synthetics, Tbk (INDR)
Rating Kinerja pada Q1 2018: BBB
Rating Saham pada 7,475: A
Jadwal Seminar Value Investing(hari Sabtu): Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Jadwal Seminar Value Investing – Advanced Class (hari Minggu): Jakarta 1 Juli, Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Selamat Datang Era Ekonomi Efisien!

Kalau anda googling istilah efficient economy, atau ekonomi efisien, maka anda akan menemukan banyak definisi serta penjelasan mengenai istilah tersebut, tapi biar disini penulis jelaskan dengan Bahasa sederhana: Ekonomi efisien adalah suatu keadaan dimana setiap sumber daya teralokasikan secara optimal untuk menghasilkan barang dan jasa, sehingga tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia/tidak menghasilkan manfaat apapun. Yang dimaksud dengan sumber daya disini adalah sumber daya manusia, sumber daya alam, modal/capital, waktu, dan seterusnya.
Dan ekonomi yang tidak efisien merupakan hambatan utama pertumbuhan ekonomi suatu negara. Contoh, ketika seorang karyawan digaji oleh perusahaan namun ia tidak benar-benar bekerja melainkan cuma medsos-an di kantor (istilahnya makan gaji buta), artinya ada sejumlah modal/uang gaji yang terbuang sia-sia. Ketika suatu negara memiliki banyak pengangguran, artinya terdapat sumber daya manusia yang terbuang sia-sia. Dan ketika warga Jakarta harus bermacet-macetan di jalan setiap kali berangkat dan pulang kerja, artinya terdapat sumber daya waktu dan juga sumber daya alam (bensin) yang terbuang sia-sia.
Sayangnya kalau di Indonesia, maka memang inilah yang terjadi sejak dulu, dan alhasil ekonomi kita susah maju (tapi mungkin gak cuma Indonesia, melainkan negara lainnya juga sama begitu). Namun beruntung, anda sendiri mungkin memperhatikan bahwa kemajuan teknologi dalam beberapa tahun terakhir telah sangat membantu kegiatan ekonomi menjadi jauh lebih efisien. Yup, kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri:
  1. Sekarang ini ada banyak orang yang kerja dari rumah. Penulis sendiri sebagai investor saham dan blogger praktis gak perlu kemana-mana kecuali buat ketemu orang, dan ini jelas sangat menghemat waktu. Sejak tahun 2012, penulis gak pernah lagi mengeluh soal terjebak macet Jakarta.
  2. Karena saya punya lebih banyak waktu dirumah, maka kita otomatis kerja secara jauh lebih produktif. Salah satu alasan kenapa blog TeguhHidayat.com ini bisa menyajikan analisa-analisa saham yang sangat detail adalah karena penulis setiap harinya punya waktu seharian untuk bongkar-bongkar laporan keuangan dll, dimana saya tidak akan bisa melakukan itu kalau masih harus ‘meluangkan’ waktu 3 – 4 jam untuk nyetir di jalan raya.
  3. Di ruang kerja penulis dirumah ada kulkas kecil yang berisi cemilan dan minuman lengkap, tapi kadang-kadang saya suka pengen ngemil pizza atau makanan berat lainnya (kaya orang ngidam aja). Nah kalau dulu penulis harus keluar rumah, tapi sekarang tinggal buka Go-Food, 30 menit kemudian pizza-nya nyampe, dan juga gak usah bayar atau repot ngitung kembalian, karena udah pake Go-Pay (ini bukan iklan lho).
  4. Demikian pula kalau mau beli ini-itu, pesen tiket kereta, hingga booking hotel, maka semuanya bisa dilakukan dirumah via ponsel, dan gak perlu pergi ke ATM karena untuk pembayarannya bisa pake m-banking atau kartu kredit.
  5. Kalau penulis akhirnya (terpaksa) keluar rumah, maka tetep gak perlu nyetir karena tinggal panggil Gocar, dan saya bisa duduk santai seperti juragan di kursi belakang, dimana dalam perjalanan saya bisa sambil kerja di komputer tablet, atau tidur.
  6. Dan kalau harus keluar kota pun, sekarang gampang banget tinggal pake pesawat terbang atau kereta api (sementara ke bandaranya pake Gojek), dan kalau harus nyetir sendiripun maka waktu perjalanannya juga terbilang singkat, karena bisa langsung lewat jalan tol.

Yang juga penulis perhatikan, harga-harga barang di toko online terbilang jauh lebih murah dibanding toko fisik, dan itu wajar saja, karena ketika seseorang buka toko online maka ia tidak perlu lagi sewa tempat, dan bahkan gak perlu mempekerjakan pegawai delivery karena tinggal pake jasa Gojek atau Grab. Ini artinya terjadi capital efficiency, dimana asalkan anda punya barang dan jasa untuk dijual, maka anda sudah siap untuk buka toko sendiri, nyaris tanpa perlu keluar modal alias gratis! Untuk keperluan iklan dan marketing juga bisa pake jasa Instagram atau Google Adsense, yang biayanya jauh lebih murah dibanding iklan konvensional. Sementara para supir ojek online yang mungkin sebelumnya nganggur, sekarang mereka juga turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi, dimana mereka sangat membantu orang-orang lainnya (termasuk penulis) untuk menghemat waktu dan tenaga, tapi disisi lain juga tidak ada modal/uang gaji yang terbuang sia-sia, karena para supir ojek ini hanya menerima uang jika mereka memperoleh penumpang, atau pesanan untuk mengirim barang.
Dan terakhir, kemajuan teknologi membuat orang-orang work less, produce more. Contohnya ya penulis sendiri, yang cukup sekali menulis sebuah artikel, tapi artikel itu kemudian bisa dibaca terus menerus oleh setiap orang yang membuka blog TeguhHidayat.com ini. Atau dengan kata lain, saya hanya perlu kerja satu kali saja, juga tanpa perlu keluar biaya publikasi atau semacamnya (tinggal posting di blog), tapi manfaat pencerahan, informasi, hingga ilmu pengetahuan yang dihasilkan bagi teman-teman pembaca boleh dibilang tidak terbatas, termasuk anda masih bisa tulisan-tulisan saya di tahun 2010 lalu. Plus, kecuali anda membeli produk berbayar, maka anda juga tidak perlu membayar apapun untuk memperoleh manfaat dari semua artikel di blog ini, sehingga lagi-lagi terjadi capital efficiency.
Kesimpulannya, kita sekarang berada dalam era ekonomi efisien, dan itu adalah kabar yang sangat baik karena ini artinya kita sekarang berpeluang untuk menjadi negara maju dalam beberapa dekade kedepan. Menurut Warren Buffett sendiri, salah satu penyebab Amerika Serikat sukses tumbuh hingga menjadi negara maju dalam 200 tahun terakhir (pada abad 18 dan 19, AS masih merupakan negara miskin, dan masih -secara tidak resmi- dijajah oleh Inggris), itu bukan karena orang-orang pada hari ini bekerja lebih keras dibanding masa lalu, melainkan karena mereka bekerja lebih efisien. Sekitar 100 tahun lalu, lebih dari separuh warga AS berprofesi sebagai petani, namun hari ini hanya 3% warga AS yang masih menjadi petani, tapi produksi panen jagung yang dihasilkan justru meningkat 3 kali lipat. Surplus suplai makanan kemudian menaikkan standar hidup masyarakat, sementara surplus tenaga kerja yang tidak lagi bekerja di sektor pertanian kemudian teralihkan ke sektor lain terutama industri, dan itulah yang kemudian menyebabkan ‘Murica, pada hari ini, menjadi negara adidaya.
Ekonomi Efisien = Percepatan Pertumbuhan Ekonomi
Dan pada hari ini, sepertinya giliran Indonesia yang mengalami hal yang sama. Kalau kita lihat lagi data-fakta ekonomi makro, maka terdapat dua data yang mendukung: Yang pertama adalah rendahnya angka inflasi. Seperti yang kita ketahui, Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat inflasi yang buruk, mungkin hanya lebih baik dibanding Zimbabwe, karena kegiatan ekonomi disini memang sangat tidak efisien. Contohnya ya kalau anda belanja di minimarket, maka sering tiba-tiba nongol preman minta duit parkir bukan? Padahal tukang parkir dadakan ini tidak memberikan kontribusi atau jasa apapun, termasuk kalau kendaraan anda kenapa-napa juga ia tidak akan bertanggung jawab. Sehingga dalam hal ini, meskipun jumlah uang parkirnya hanya dua ribu Rupiah, tapi uang itu kemudian menjadi sia-sia/tidak efisien. Dan ketika sejumlah uang berpindah tangan namun tidak menghasilkan barang atau jasa apapun, maka dari situlah timbul inflasi.
Tapi karena sekarang ini orang-orang gak perlu lagi keluar rumah kalo gak penting-penting banget, termasuk juga gak perlu bayar parkir, maka hampir tidak ada lagi uang yang terbuang sia-sia, dan alhasil tingkat inflasi menjadi turun.
Tingkat inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Perhatikan bahwa jika inflasi kita biasanya di level 6%, dan bahkan pernah tembus 12% di tahun 2008, tapi sekarang cuma sekitar 3%. Sumber: www.tradingeconomics.com
Kedua, turunnya angka pengangguran. Seperti yang sudah disebut diatas, sekarang ini kalau orang gak bekerja maka dia bisa buka toko online, dan kalaupun dia gak bisa dagang maka bisa jadi supir ojek online. Kemudian kalau seseorang punya keahlian tertentu, maka ia tidak perlu lagi kerja di perusahaan, melainkan bisa menawarkan jasa keahliannya tersebut secara freelance melalui internet, dimana ia hanya akan dibayar sesuai dengan pekerjaan yang dihasilkan (jadi gak ada lagi istilah magabut). Ilustrasi mudahnya, seandainya di jaman penulis kuliah dulu sudah ada Tokopedia dll, maka seharusnya saya ketika itu sudah kaya raya bahkan sebelum lulus kuliah, dan juga gak perlu ngelamar kerja kesana kemari, karena memang passionpenulis adalah dagang (saya sudah cerita soal ini di buku The Calm Investor). Tapi berhubung Toped baru nongol sekarang-sekarang ini, maka jadilah sampai tahun 2008 saya masih gak punya apa-apa, dan juga pernah harus nganggur selama 2 bulan.
Tingkat pengangguran dalam 10 tahun terakhir, yang terus turun dari 8.5% menjadi sekitar 5%. Sumber: www.tradingeconomics.com
Nah, kombinasi antara capital efficiency (yang ditunjukkan oleh rendahnya inflasi, yang artinya setiap Rupiah yang berpindah tangan memang menghasilkan barang dan jasa), dan human resources efficiency (yang ditunjukkan oleh rendahnya angka pengangguran, yang artinya sekarang ini hampir setiap orang bekerja dan berkontribusi terhadap ekonomi), belum lagi efisiensi-efisiensi yang lain, pada akhirnya mendorong ekonomi nasional untuk tumbuh pesat. Sebenarnya, meski secara mata uang Rupiah, GDP kita naik terus dari tahun ke tahun, tapi karena Rupiah itu sendiri melemah terhadap Dollar maka GDP nasional terbilang stagnan sejak tahun 2012 lalu, yakni ketika harga-harga batubara dll mulai turun. Beruntung, memasuki 2016 ekonomi mulai benar-benar tumbuh kembali, dan kalau melihat Gojek dkk yang semakin hari semakin populer, maka harusnya trend pertumbuhan tersebut masih berlanjut di tahun 2018 ini. Informasi selengkapnya bisa dilihat pada gambar berikut:
 
Data GDP Indonesia tahun 2008 – 2016. Perhatikan bahwa sejak tahun 2012, GDP nasional sebenarnya turun dari US$ 918 menjadi hanya 861 milyar di tahun 2015 (makanya di tahun 2015 itu ekonomi terasa lesu banget, dan IHSG sendiri memang drop), dan baru naik lagi di tahun 2016, dan untuk tahun 2017 – 2018 ini seharusnya angkanya sudah tembus US 1,000 milyar. Sumber: www.tradingeconomics.com

Okay, Pak Teguh, jadi apa yang sebenarnya hendak sampeyan sampaikan disini? Well, anda mungkin memperhatikan kalau belakangan ini banyak muncul isu-isu negatif bahwa Rupiah hancur, Indonesia krisis utang, BUMN dijual bla bla bla, sehingga seolah-olah Indonesia sedang krisis, padahal kalau kita luangkan waktu untuk cross check data sedikit saja, maka sebenarnya gak ada problem apapun. Contoh, soal utang Pemerintah yang dikatakan naik terus, ketika itu penulis sudah menjelaskannya disini, dan intinya adalah no problemo (Coba anda baca dulu artikelnya. Mungkin perlu dicatat bahwa artikel tersebut ditulis tahun 2015 lalu, yakni ketika IHSG sedang crash dan semua orang berpikir bahwa akan terjadi krismon seperti tahun 1998, namun fakta bahwa IHSG di tahun-tahun berikutnya malah naik terus membuktikan bahwa apa yang penulis sampaikan ketika itu benar adanya). Malah justru, berdasarkan data-fakta makroekonomi serta pengamatan di lapangan seperti yang sudah penulis paparkan diatas, maka kita justru sedang berada dalam era ekonomi efisien, yang kemudian berujung pada era percepatan pertumbuhan ekonomi.
Hanya memang, kemajuan teknologi menyebabkan era economic efficiency diatas, itu bukannya tanpa efek samping. Yup, kemajuan teknologi juga menyebabkan informasi-informasi mudah sekali menyebar dengan cepat entah itu melalui medsos, media elektronik, Whatsapp dll, dan masalahnya sekarang ini (atau sejak dulu??) ada banyak orang atau organisasi yang dengan sengaja untuk kepentingan tertentu menyebar luaskan informasi palsu, atau informasi yang benar adanya namun dikemas sedemikian rupa hingga menimbulkan perspektif tertentu dari pembacanya (istilahnya news framing, anda bisa baca lagi penjelasannya disini). Dan malahan sekarang ini kita sulit sekali menemukan berita yang netral, dimana ketika koran A bilang bla bla bla terkait isu tertentu, maka koran B ngomongnya beda lagi untuk isu yang sama (jadi yang bener yang mana??).
Nah, bagi investor berpengalaman, sebenarnya ini gak jadi masalah, karena kita sudah terbiasa kritis dalam menyikapi isu-isu tertentu, sama seperti penulis yang rutin menghabiskan waktu berjam-jam hingga berhari-hari untuk menganalisa, untuk kemudian menyimpulkan apakah suatu saham layak invest atau tidak. Actually, penulis sendiri tidak selalu mengatakan bahwa ‘ekonomi kita baik-baik saja’. Karena kalau anda baca-baca lagi arsip blog ini di bulan-bulan tertentu di tahun 2013 dan 2015, maka ketika itu juga saya mengatakan bahwa ada ‘something wrong’ di perekonomian nasional, sehingga kita sebagai investor harus lebih waspada/jangan buru-buru belanja saham dulu.
Tapi bagi investor pemula yang biasanya langsung percaya saja ketika disodori berita/rumor tertentu, maka hal itu bisa membuat seorang investor menjual saham ketika ia seharusnya membeli, dan sebaliknya, membeli saham ketika seharusnya menjual. Dan sudah tentu, ujung-ujungnya adalah cerita kerugian. Anyway, berdasarkan apa yang sudah penulis pelajari sejauh ini, maka sekali lagi kesimpulannya adalah no problemo, malah justru kita harus mengucapkan ‘Selamat Datang Era Ekonomi Efisien!’, dan anda bisa tetap belanja saham seperti biasa. Dan jangan khawatir, kalau nanti ada perubahan analisa yang serius maka tulisan ini akan di-update.
Jadwal Seminar Value Investing (hari Sabtu): Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.
Jadwal Value Investing – Advanced Class (hari Minggu): Jakarta 1 Juli, Medan 8 Juli, Surabaya 15 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Jakarta, Medan, & Surabaya

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buydan sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias membeli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Okay, berikut jadwal selengkapnya (boleh dicatat):
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 1 Juli 2018
Medan, Sumatera Utara
  • Tempat: Cordela Hotel, Jln. Prof HM. Yamin SH. No.90, Kota Medan
  • Hari/Tanggal: Minggu, 8 Juli 2018
Surabaya, Jawa Timur
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Minggu, 15 Juli 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class Jakarta/Medan/Surabaya (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegramsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special Bonus!
Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama temen-temen peserta Advanced Class, Medan, 21 April 2018
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin! TeguhHidayat.com akan tetap online sepanjang libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

June 8th, 2018 at 11:49 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Buy, Hold, Sell, or.. Ignore?

Kalau anda baca-baca ulasan emiten yang dibuat analis sekuritas, maka di akhir ulasan tersebut biasanya terdapat kesimpulan terkait apakah rekomendasinya (untuk saham yang bersangkutan) adalah buy, hold, atau sell. Namun pada ulasan Lippo Cikarang (LPCK), di bagian akhir tulisan penulis mengajak pembaca untuk juga menyampaikan analisanya masing-masing, entah itu rekomendasinya buy, hold, sell, atau ignore. Nah lho, jadi apa yang dimaksud dengan ignore disini?
Ignore, secara harfiah bermakna abaikan. Jadi jika suatu saham rekomendasinya adalah ignore artinya anda disarankan untuk mengabaikan saja saham tersebut, dan gak usah pusing memikirkan soal apakah sahamnya layak buy atau tidak. Kesimpulan analisa berupa ignore ini ditujukan pada satu saham tertentu yang anda belum memegangnya sebelumnya, yang anda mungkin tertarik untuk membelinya karena alasan tertentu, misalnya karena harganya naik terus hingga bikin orang-orang jadi penasaran, atau sebaliknya harganya turun jauh hingga valuasinya menjadi kelewat murah, tapi pada akhirnya anda disarankan untuk mengabaikan saham tersebut, dan cari saja saham yang lain. However, jika posisi anda sejak awal sudah memegang saham tersebut, maka ignore ini juga bisa diartikan sebagai ‘quit (sell), and never look back’, alias segera jual sahamnya dan jangan pernah lihat-lihat lagi (jadi mau selanjutnya saham itu naik atau turun, biarkan saja).
Seperti yang sudah disebut diatas, kalau anda terbiasa membaca rekomendasi sekuritas, maka anda tidak akan pernah menemukan rekomendasi ignore ini, dan anda bahkan mungkin baru mendengar istilah ignore ini, dalam kaitannya dengan dunia investasi saham, pada artikel ini. Tapi berdasarkan pengalaman selama ini, penulis sendiri sudah sering ketemu suatu kondisi dimana kita sebaiknya memang mengabaikan saham tertentu, bahkan meski saham tersebut sedang ramai-ramainya dibicarakan di market/hampir semua orang membelinya, dan anda akan tampak konyol jika anda tidak ikut membeli.
Okay, lalu kenapa, dan kapan kita harus meng-ignore suatu saham? Ada beberapa alasan, tapi pertama-tama kita belajar dari quotes-nya Opa Warren Buffett (WB) dulu, dalam hal ini ada tiga quotes yang penting untuk diperhatikan:
1. Rule No.1, never lose money. Rule No.2, don’t forget rule No.1
2. Risk comes from not knowing what you are doing
3. Never invest in a business you cannot understand.
Jadi pertama-tama, kita berangkat dari rule paling dasar dalam investasi saham ala WB: Jangan pernah kehilangan uang, alias rugi. Sudah tentu, ini bukan berarti WB tidak pernah rugi sepanjang kariernya sebagai investor, tapi maksudnya adalah, alih-alih berusaha memaksimalkan keuntungan, ia justru selalu berusaha keras untuk meminimalisir risiko terjadinya kerugian.
Dan risiko terjadinya kerugian itu biasanya berasal dari ketidak tahuan kita dalam berinvestasi, salah satunya ketika kita berinvestasi pada saham/perusahaan yang tidak bisa kita pahami, entah itu terkait industri/sektor usaha yang dijalani perusahaan, cara kerja perusahaan, kualitas manajemen, valuasi sahamnya, pergerakan sahamnya, dan seterusnya. Kemudian perhatikan bahwa WB mengatakan ‘never invest in a business you cannot understand’, dan bukannya ‘never invest in a business you don’tunderstand’. Ini artinya, ketika anda tertarik untuk berinvestasi pada saham tertentu, maka anda seperti biasa boleh analisa dan pelajari terlebih dahulu perusahaannya secara menyeluruh, tapi jika setelah anda pelajari bolak balik namun anda tetap saja pada akhirnya tidak mengerti kenapa kok perusahaannya begini? Kenapa kok sahamnya begitu? Maka.. Anda jangan beli sahamnya! Karena kalau demikian, artinya anda berinvestasi pada perusahaan yang tidak anda pahami, atau dengan kata lain anda tidak tahu apa yang sedang anda lakukan, dan ini akan menyebabkan anda menghadapi risiko yang sangat besar untuk menderita kerugian.
Dan inilah kenapa, hingga sekitar tahun 2010, WB hampir tidak pernah berinvestasi pada saham-saham perusahaan teknologi, karena alasannya ya itu tadi: Ia tidak mampu untuk memahami value serta prospek dari perusahaan teknologi. Jadi meski orang mungkin mengkritik WB karena tidak membeli saham-saham teknologi yang naik luar biasa dalam jangkan panjang seperti Google, Amazon Inc, dst, tapi WB dalam hal ini telah melakukan tindakan yang paling tepat. Memasuki tahun 2010 sampai sekarang, barulah Berkshire Hathaway (BRK) mulai berinvestasi di saham-saham teknologi seperti IBM dan Apple, dan lagi-lagi itu mengundang kritikan karena WB dianggap plin-plan, tapi WB sekali lagi tetap melakukan tindakan yang tepat, karena pada hari ini, ia beserta jajaran fund manager-nya di BRK sudah mampu memahami cara kerja dan prospek jangka panjang dari Apple Inc, dimana kesimpulan dari analisanya adalah, Apple layak untuk invest.
Berdasarkan ulasan diatas maka bisa disimpulkan bahwa dalam memnentukan apakah suatu saham layak buy atau tidak, itu tidak melulu mempertimbangkan fundamental serta prospek perusahaan yang bersangkutan, melainkan juga mempertimbangkan posisi si investor itu sendiri, apakah ia cukup memahami perusahaan tersebut atau tidak. Jadi ketika WB tidak membeli saham Google di awal tahun 2000-an, maka itu bukan berarti saham Google nggak bagus (dan memang nyatanya saham Google naik banyak). Dan ketika WB mulai membeli saham Apple sejak sekitar tahun 2016, maka itu juga bukan berarti Apple ini pasti bagus, tapi yang jelas WB beserta tim-nya sudah mempelajari perusahaannya secara menyeluruh, dan kesimpulan mereka adalah, Apple ini layak invest.
However, jika anda sendiri kemudian mempelajari Apple, tapi kesimpulan akhirnya adalah aku ora ngerti, maka, dengan mengikuti kaidah value investing seperti yang disampaikan WB, rekomendasi penulis untuk Apple ini adalah ignore(dan memang penulis sendiri gak akan buy saham Apple, karena saya tidak punya waktu untuk mempelajari perusahaannya/kita fokus ke saham-saham dalam negeri saja).
Inilah sebabnya ketika penulis ditanya, ‘Pak Teguh, gimana prospek saham INKP? TKIM? ERAA?’ (Catatan: setiap tahun di market akan selalu ada saja ‘saham-saham terbang’ yang bikin penasaran seperti itu), tapi jawaban penulis adalah, ‘I don’t know and I don’t care’. Yup, tiga saham yang disebut diatas memang pernah sangat murah sekitar satu atau dua tahun yang lalu, dan fundamentalnya juga bagus (kita pernah merekomendasikan ketiganya di ebook kuartalan), tapi ketika itu kita tidak pernah menyangka bahwa sahamnya akan naik setinggi ini, dan meski sudah kita pelajari bolak balik, tetap saja kami tidak mengerti kenapa ketiganya bisa naik setinggi itu.

Jadi mau besok-besok itu saham naik atau turun, kami akan mengabaikannya. Demikian pula untuk saham-saham lainnya yang entah kenapa naik sendiri, atau sebaliknya turun sendiri (misalnya saham Campina Ice Cream (CAMP), yang sekilas menarik karena merupakan perusahaan es krim terkenal, tapi kita tetep aja gak mengerti kenapa saham ini di awal tahun kemarin sempat mencapai 1,800, dan sekarang anjlok ke 300-an), tapi kalau kita gak ngerti kenapa kok perusahaannya begini, kenapa kok sahamnya begitu, maka ya sudah, rekomendasinya ignore saja. Dalam hal ini, sekali lagi, ketika kita meng-ignore saham tertentu maka bukan berarti saham tersebut jelek, dan contoh-contoh saham yang disebut diatas bisa saja besok-besok naik lagi. Tapi ketika kita membeli saham tertentu yang ‘you cannot understand’, misalnya cuma karena penasaran soalnya saham itu naik terus/ramai dibicarakan orang, maka itu artinya bukan investasi, melainkan spekulasi.
Ini seharusnya bisa jadi saham bagus, tapi ya gak tau lah
Namun sebaliknya, ketika seorang investor membeli saham tertentu yang orang lain menganggap saham tersebut jelek, maka bisa jadi itu karena si investor tersebut mampu mempelajari dan memahami perusahaan, termasuk paham soal risk and reward-nya, sedangkan orang lain tidak cukup paham saja. In fact, WB sendiri menyarankan kita untuk membeli saham yang orang lain justru menghindarinya (atau orang lain tidak berminat untuk ikut membeli), tapi tentunya dengan catatan anda sudah mempelajari dan sudah memahami saham/perusahaan tersebut. Dan berdasarkan pengalaman penulis sendiri, saham-saham terbaik kita adalah memang saham yang ketika kami memutuskan untuk membelinya maka orang-orang justru kebingungan, itu saham apaan? Apa bagusnya? Bukannya perusahaannya rugi bla bla bla??
However, kalau kita sudah pelajari saham tertentu dan kesimpulan akhirnya adalah anda gak ngerti apa-apa (atau kadang ada juga saham yang semakin dipelajari, semakin bikin tambah puyeng), maka yo wis: Mau itu saham naik atau turun maka abaikan saja, dan anda boleh membeli saham lain yang, setelah anda pelajari, bisa disimpulkan bahwa saham itu memang bagus dan layak invest, dan setelah itu anda boleh pergi berlibur.
Jika anda punya pengalaman terkait meng-ignore suatu saham, boleh menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

Jadwal Seminar Value Investing: Jakarta 30 Juni, Medan 7 Juli, Surabaya 14 Juli. Keterangan selengkapnya baca disini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin! TeguhHidayat.com akan tetap online sepanjang libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

We’re Hiring! Value Investing Trainer, & Junior Partner

Dear investor, seiring dengan semakin banyaknya jumlah investor saham berkat kampanye Yuk Nabung Saham!oleh BEI, dan juga semakin populernya metode value investing itu sendiri, maka penulis belakangan ini menerima banyak sekali permintaan untuk mengisi kelas kampus, pelatihan, dan workshop, baik itu secara private maupun kelas seminar.

However, karena disisi lain saya juga harus fokus jagain portofolio milik Avere, dan itu juga bukan pekerjaan yang mudah, maka tidak semua request pelatihan tersebut bisa saya penuhi. Pada tahun 2016 lalu penulis banyak mengisi kelas di kampus-kampus, tapi belakangan ini semua request dari universitas terpaksa saya tolak karena, sekali lagi, sulit ngatur waktunya (jadi dalam hal ini saya mohon maaf, dan harap maklum).
Jadi dengan ini, Indonesia Value Investing membuka posisi sebagai value investing trainer, dimana kandidat yang terpilih akan bertugas untuk:
  1. Mengisi kelas seminar seminar yang rutin, baik itu kelas value investing maupun kelas value investing advanced, di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia (materinya tetap dari penulis sendiri, jadi anda gak usah bikin materi baru).
  2. Menerima undangan untuk mengisi training di institusi, perusahaan, atau kampus-kampus,
  3. Mengisi kelas private, jika ada request, dan
  4. Mengisi acara investor gathering, market outlook, dan semacamnya (bukan seminar), dimana disitu akan lebih banyak sesi tanya jawab, dan anda menjawab pertanyaan dari teman-teman yang hadir.
Kriteria:
  1. Pria/wanita, berpenampilan menarik, usia dan latar belakang pendidikan tidak diutamakan.
  2. Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai pembicara di depan umum, termasuk menguasai teknik-teknik public speaking.
  3. Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai investor saham,
  4. Memiliki wawasan yang luas tentang ekonomi dan dunia pasar saham (jangan sampai ketika peserta seminar bertanya apa itu waran, apa itu private placement, anda gak bisa jawab), dan
  5. Menguasai metode value investing, lebih disukai jika anda sudah pernah membaca sebagian besar tulisan di blog teguhhidayat.com.
Karena ini merupakan part time job (anda rata-rata hanya akan mengisi seminar sebulan sekali, sesuai permintaan), maka anda tidak harus meninggalkan pekerjaan sebelumnya.
Bagi yang memenuhi kriteria diatas silahkan kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek ‘Trainer’, paling lambat hari Sabtu, 30 Juni. Jangan lupa sertakan CV lengkap anda beserta foto, serta jelaskan (melalui essay singkat) kenapa anda cocok untuk posisi ini.
Catatan Penting: Sebelum nanti ada pengumuman bahwa kita sudah punya trainer baru, maka semua jadwal seminar kedepannya masih diisi oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.

***

Selain sebagai trainer, penulis juga membuka posisi sebagai Junior Partner, dimana kandidat terpilih akan bertugas:

  1. Membantu penulis men-screening saham dan mencari saham ‘mutiara terpendam’, dengan cara baca-baca laporan keuangan emiten, satu per satu.
  2. Menjadi market watcher, dimana anda memberikan info kepada penulis kalau ada saham tertentu yang sudah diincar sebelumnya, yang sudah masuk buying range-nya.
  3. Memberikan opsi-opsi saham bagus nan undervalue yang anda temukan, yang mungkin penulis sendiri terlewat/gak sempat melihat saham tersebut,
  4. Memberikan second opinion terkait analisa saham-saham tertentu, dengan kata lain menjadi partner diskusi bagi penulis (dalam hal ini anda harus benar-benar memiliki wawasan yang luas tentang dunia pasar saham), dan
  5. Membantu penulis menganalisis IHSG, makro ekonomi, analisis sektoral, dan seterusnya.
Sebagai partner, anda akan keep in touch dengan penulis via Whatsapp dan telepon, bisa bertanya dan mengajak diskusi setiap saat, dan kita juga akan rutin meeting minimal sebulan sekali untuk diskusi perkembangan portofolio, perkembangan market, dll. Dan sudah tentu, jika penulis memperoleh profit di saham tertentu, maka anda juga akan memperoleh profit sesuai besarnya dana milik anda sendiri, yang anda investasikan pada saham tersebut. Tersedia bonus berupa uang tunai hingga paket jalan-jalan keluar negeri, jika anda sukses membantu penulis menghasilkan kinerja investasi yang lebih baik.

Untuk kriterianya sama seperti kriteria untuk posisi trainer diatas, kecuali poin No. 2, karena anda tidak akan berbicara di depan publik. Lebih disukai jika anda: 1. Punya latar belakang pendidikan ekonomi/finance/manajemen, 2. Pernah bekerja di kantor akuntan publik, asset management, dan semacamnya, 3. Punya sertifikat WMI, CFA, dan semacamnya.

Bagi yang memenuhi kriteria diatas silahkan kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek ‘Junior Partner’, paling lambat hari Sabtu, 30 Juni. Jangan lupa sertakan CV lengkap beserta foto, serta: 1. Jelaskan (melalui essay singkat) kenapa anda cocok untuk posisi ini, 2. Ceritakan pengalaman anda menemukan saham ‘mutiara terpendam’ (saham yang kemudian naik 100% atau lebih dalam waktu 1 – 2 tahun atau kurang) menggunakan metode value investing, jika ada.

Hanya email dari kandidat yang memenuhi kriteria yang akan menerima balasan. Deadline pengiriman lamaran: 31 Agustus [...]

Seminar Value Investing: Jakarta, Medan, Surabaya

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat the Market in Five Minutes!’, di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, dan cara menyusun portofolio. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator nilai intrinsik saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercayauntuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal. Plus cara untuk memperoleh info yang lebih komprehensif tentang suatu perusahaan, yang tidak akan anda peroleh dari sumber informasi dalam negeri.
Ilustrasi Value Investing

Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya (boleh dicatat):
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 30 Juni 2018
Medan, Sumatera Utara
  • Tempat: Cordela Hotel, Jln. Prof HM. Yamin SH. No.90, Kota Medan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Juli 2018
Surabaya, Jawa Timur
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Juli 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***


Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,350,000, dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Jakarta/Medan/Surabaya(pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang untuk setiap kelas.

5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,200,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegramsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta kelas Surabaya, 14 April 2018
Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Advanced Class, maka boleh lihat jadwalnya disini.

Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Tips Menghadapi Koreksi Pasar

Salah satu tugas rutin seorang investor adalah untuk menjaga pikiran untuk tetap tenang, untuk tetap fokus. Untuk tidak dilanda rasa khawatir ketinggalan kereta, takut rugi, takut dengan rumor-rumor yang beredar, dan seterusnya. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa melakukan pekerjaan analisa dengan baik dan logis, mengambil keputusan buy and sell berdasarkan analisa tersebut dengan sama baiknya, dan pada akhirnya menghasilkan return investasi sesuai dengan yang diharapkan.

Dan itu tidak pernah menjadi tugas yang mudah. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa, berbeda dengan investor pemula, investor berpengalaman bisa lebih santai karena ia sudah pernah mengalami banyak hal, melewati banyak kondisi naik turunnya pasar, dan normalnya juga sudah lebih mahir dalam menganalisis dan membuat investment planning.
Padahal itu tidak sepenuhnya tepat. Lemme be honest here: Bagi anda yang masih baru di market, dan masih sering nervous serta bingung (apa yang harus saya lakukan??) ketika melihat naik turunnya IHSG maupun saham-saham yang anda pegang, maka penulis juga masih sering mengalami hal yang sama. Yup, saya masih suka panas dingin kalau saham yang dipegang turun, atau sebaliknya, saham yang diincar sudah naik duluan sebelum kita sempat membelinya. Ketika dalam satu dua bulan terakhir ini pasar saham mengalami koreksi, maka penulis tetap saja terkadang merasa under pressure secara psikologis, bahkan meski saya sudah sering melewati koreksi pasar seperti ini sebelumnya.
Dan itu karena, sebagai investor, nilai aset/portofolio kita naik terus dari tahun ke tahun, yang otomatis menyebabkan nilai profit and loss yang dialami juga terus meningkat dibanding di masa lalu. Maksud penulis adalah, yes, dulu waktu penulis masih baruuu banget, maka ketika melihat saham kita turun dan di software OLT nongol angka floating loss sebesar Rp200,000 saja, maka rasanya sudah seperti dunia mau kiamat. Sementara hari ini, kalau nongol lagi floating loss sebesar itu atau lebih besar lagi, maka kita sudah bisa bersikap biasa saja.
Tapi masalahnya, ketika aset anda terus meningkat, dan itu adalah sesuatu yang normal dalam berinvestasi (kalau anda hari ini kelola dana Rp10 juta, dan lima tahun kemudian dana anda masih Rp10 juta juga, berarti ada yang salah), maka ketika satu dua tahun lalu penulis nyangkut lagi, nilai floating loss-nya bukan lagi 200 ribu, bukan lagi 2 juta, bukan lagi 20 juta.. melainkan jauh lebih besar dari itu! Dan ketika hari ini nilai aset kita kembali naik dibanding tahun kemarin, maka lagi-lagi nilai ruginya (berdasarkan nilai Rupiah) menjadi lebih besar ketika pasar kembali mengalami koreksi. Point penulis adalah, sebagian investor pemula dengan ‘dana coba-coba’ mungkin mengeluh bahwa kalau mereka beli saham dan profit, maka nilai profitnya dalam Rupiah ‘tidak terlalu berasa’, karena memang modalnya masih kecil, tapi faktanya fund manager profesional justru harus menghadapi pressure yang jauh lebih lebih berat! Karena ketika mereka berbuat kesalahan, atau simply nilai portonya turun karena koreksi pasar, maka nilai ruginya dalam Rupiah akan jauh lebih besar dibanding investor lain yang asetnya lebih kecil.
Nah, jadi anda mengerti maksud penulis bukan? Jadi katakanlah anda sudah terbiasa dan mampu untuk bersikap santai saja ketika nyangkut Rp200,000, maka ketika itu rugi anda sudah meningkat jadi Rp2 juta. Dan ketika anda sudah biasa-biasa saja ketika nyangkut Rp2 juta, maka ruginya naik lagi menjadi Rp20 juta! Demikian seterusnya, dan alhasil rasa nervous yang dulu penulis alami ketika kita rugi Rp200,000, sampai sekarang saya masih mengalaminya karena rugi kita hari ini sudah jauh lebih besar dari itu.
Tapi Pak Teguh, memang kalo kita pegang duit Rp100 juta, maka ruginya lebih gede dibanding kalau modalnya cuma Rp10 juta, tapi disisi lain kalau kita profit maka profitnya juga lebih gede dong? Yang itu artinya, memang kalau pasar lagi turun maka kita akan down, tapi kalau pasar lagi naik maka kita akan happy bukan? Well, nggak juga. Sebagian investor mungkin menyadari bahwa ketika mereka dapet profit, maka itu cuma karena beruntung, karena sejak awal mereka membeli saham lebih banyak pakai metode tebak-tebakan, atau ikut-ikutan teman, ketimbang berdasarkan analisa yang dibuat secara teliti dan hati-hati.
Tapi investor lainnya sama sekali nggak begitu, dimana ketika penulis membeli saham maka itu adalah berdasarkan analisa yang sudah kita buat susah payah sebelumnya, termasuk hasil dari membaca ratusan laporan keuangan emiten, satu per satu. Yep, jadi ketika kita memperoleh profit maka itu bukan kebetulan semata, melainkan hasil dari kerja keras. Memang benar bahwa value investor itu jauh lebih santai dibanding trader karena kita gak perlu melihat naik turunnya saham seharian setiap hari, tapi bukan berarti kita gak ngapa-ngapain sama sekali, karena mengerjakan analisis fundamental itu juga tetap memerlukan waktu serta fokus. Penulis sendiri bisa menghabiskan waktu sehari semalam untuk baca-baca dokumen laporan tahunan dll dari suatu emiten, hingga akhirnya diperoleh kesimpulan apakah saham emiten tersebut layak invest atau tidak.
Jadi ketika kita profit, maka memang penulis happy, tapi juga gak akan happy-happy banget, karena profit itu tidak kita peroleh begitu saja, melainkan hasil dari kerja keras. In fact, bahkan setelah kita bolak balik menganalisis dan baca dokumen ini itu, tapi tetap saja kita bisa rugi sewaktu-waktuentah itu karena koreksi pasar, force majeure dll, dan itu semakin menambah beban pressure yang kita alami. Karena analoginya seperti anda kerja keras dan lembur tiap malam di kantor, tapi tidak hanya tidak memperoleh gaji di akhir bulan, bos anda malah mengambil sebagian tabungan anda karena ‘IHSG lagi turun’. Well, gimana rasanya??
Tips Agar Tetap Tenang & Santai
Jadi balik lagi keatas, salah satu tugas rutin seorang investor adalah untuk menjaga pikiran untuk tetap tenang, untuk tidak terlalu under pressure dalam kondisi pasar yang paling tidak kondusif sekalipun. Pertanyaannya sekarang, gimana caranya?
Nah, bagi anda yang sudah kenal dengan penulis, maka anda mungkin hafal bahwa kita sangat menerapkan prinsip simplicity and humbleness, alias gaya hidup sederhana baik itu ketika bekerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Yup, tidak seperti ‘investor sukses’ yang terkadang memperlihatkan gaya hidup mewah dan wah, penulis nggak begitu, dimana saya selalu pake baju biasa saja (bahkan ketika mengisi seminar, dan seminarnya pun di hotel biasa saja), smartphone biasa saja, kalau jalan-jalan maka pake style backpacker (kecuali kalau sama keluarga), dan penulis tidak malu untuk mengakui bahwa saya kemana-mana pake busway atau Gojek. Di buku The Calm Investor, saya mengatakan bahwa ‘Investor saham bukanlah selebritis infotainment. Mereka tidak perlu mengendarai mobil mewah hanya untuk menunjukkan bahwa mereka kaya raya’.
Namun demikian, ketika sewaktu-waktu kinerja porto tidak sesuai harapan dan beban pressure terasa semakin berat, maka ketika itulah penulis akan menghibur diri dengan sedikit melonggarkan ‘humble policy’ ini. Ketika itulah saya akan:
  1. Nyetir pulang kampung ke Cirebon, mentraktir keluarga besar makan-makan dan belanja, dan kasih sumbangan/pinjaman modal usaha ke saudara yang membutuhkan (yang ini penulis lakukan setiap saat sih sebenernya, jadi gak harus pas pasar lagi turun).
  2. Pergi fancy dining di hotel berbintang sama keluarga atau teman.
  3. Belanja di Kemchick Kemang, Jakarta Selatan, tanpa lagi melihat label harganya (saya terakhir kaya gini tahun 2015 lalu).
  4. Liburan ke pantai dengan naik pesawat kelas bisnis, menginap di villa, dan nongkrong melihat sunset. Dan seterusnya.
Sunset di Pantai Kuta, Bali
However, kalau susah ngatur waktunya (rencana bukber aja kadang cuma jadi wacana forever), maka penulis akan pergi makan di restoran mahal saja, sekalian mentraktir sahabat dekat. Dengan cara inilah biasanya penulis akan menyadari bahwa, sesulit-sulitnya kerjaan kita di stock market, dan sebesar-besarnya rugi yang dialami, tapi paling tidak kita masih bisa makan (makan enak pula), dan juga masih bisa berbagi kebahagiaan dengan teman-teman dan keluarga. Dan kabar baiknya, kebahagiaan itu menular. Jadi ketika anda bisa membuat orang-orang terdekat anda happy, maka anda akan ikut happy karenanya, dan itu akan sangat membantu mengangkat beban pressure terkait investasi anda di saham. Li Ka-shing sendiri pernah menyarankan agar kita membagi penghasilan kita menjadi lima bagian (diluar untuk investasi), salah satunya digunakan untuk mengajak/mentraktir makan teman-teman dan sahabat yang anda miliki.
Nah, jadi ketika orang lain mungkin akan bersenang-senang atau beli barang mahal ketika cuan besar dari saham, yang penulis lakukan justru sebaliknya, dimana kalau kita lagi profit maka ya kita biasa-biasa saja, karena sejak awal we are supposed to make money from stocks. Jadi kalau kita profit maka ya gak ada yang perlu dirayakan, dan penulis tetap akan kemana-mana naik Lion Air.
Tapi ketika kondisi pasar lagi sulit, maka ketika itulah penulis akan merogoh kocek sedikit lebih dalam, untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Dan meski sekilas itu tampak sebagai pemborosan, tapi itu justru merupakan investasi. Karena hasilnya akan sangat terasa: Kita menjadi happy, beban pikiran jauh berkurang, kita menjadi lebih confident, dan pada akhirnya kita tetap bisa melakukan keputusan buy and sell berdasarkan akal sehat, bukan karena panik atau serakah. Yep, anda boleh-boleh saja sesekali rugi dari market, karena pada akhirnya anda gak mungkin bakal cuan terus. Tapi yang terpenting adalah, dalam kondisi profit, anda tahu apa yang harus dilakukan, dan dalam kondisi loss, anda juga tahu apa yang harus dilakukan. Sebab sekalinya anda lost control karena tidak kuat dengan beban pressure tadi, maka saat itulah anda akan ditendang keluar dari permainan, dan anda tidak akan mampu bangkit lagi ketika nanti pasar kembali pulih. Dan agar emosi serta kondisi psikologis kita tetap under control, maka penulis sudah menyampaikan tips-nya diatas.
Well, that’s another investment tips from me. Ada yang mau menambahkan?
Buletin Analisis IHSG, update situasi pasar, serta stockpick saham pilihan edisi Juni 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Lippo Cikarang: Unbelievably Undervalue, But..

Kalau anda sudah sering baca-baca artikel di blog teguhhidayat.com ini, anda mungkin beberapa kali menemukan istilah unbelievably undervalue. Yup, itu adalah istilah yang penulis ciptakan sendiri untuk mendeskripsikan situasi dimana valuasi sebuah saham sudah sedemikian murahnya, sampai-sampai kita sebagai investor sulit untuk mempercayai bahwa ada saham semurah itu, dan malah jadi takut karenanya. Analoginya seperti kalau anda ditawari untuk membeli rumah mewah seluas 1,000 meter persegi di Pondok Indah pada harga Rp100 juta saja, dimana anda pasti berpikir, apakah sertifikatnya bermasalah? Atau jangan-jangan itu rumah angker?? Dan seterusnya.
Diluar ilustrasi rumah diatas, masih ada banyak contoh ilustrasi lain yang menunjukkan bahwa secara psikologis, orang cenderung gak mau kalau ditawari untuk membeli sesuatu pada harga yang kelewat rendah, karena ia akan otomatis berpikir bahwa mungkin barangnya ‘kenapa-napa’. Kalau motor Honda CBR dijual pada harga Rp5 juta saja, maka mungkin itu motor curian. Kalau tas Louis Vuitton harganya Rp1 juta, maka biasanya itu cuma tas LV mangga dua. Dan kalau duren montong harganya cuma Rp25,000, maka biasanya buahnya kurang sempurna/rusak sebagian.
Padahal, tidak semua barang murah itu bermasalah. Kalau anda pernah jalan-jalan ke mall di malam hari, ada beberapa toko kue dan roti yang, mulai pukul 20.00 keatas, menjual barang dagangan mereka pada harga diskon 50% atau bahkan lebih. Apakah itu berarti roti yang dijual itu kualitasnya jelek/tidak sebagus roti yang dijual di siang hari? Tentu tidak. Itu roti sama saja kok, dimana harganya jadi murah karena biar cepet habis saja, sebab besok rotinya akan sudah tidak fresh from the oven lagi. Malah bagi pelanggan yang udah ngerti, mereka sengaja datang malam hari agar bisa membeli rotinya pada setengah harga.
Tapi tetap saja, bagi mereka yang belum mengerti cara kerja toko roti, mereka mungkin malah takut ketika ditawari membeli roti pada harga diskon.
Nah, ‘cara kerja psikologis’ seperti itu juga sangat berlaku di pasar saham: Ketika sebuah saham bergerak turun hingga PER dan PBV-nya menjadi rendah, maka para investor, terutama mereka yang sudah cukup mengerti cara menghitung valuasi saham, mungkin akan mulai tertarik untuk masuk. Tapi ketika kemudian saham itu terus saja turun hingga valuasinya menjadi tidak masuk akal, maka mereka yang tadinya berminat untuk masuk biasanya malah jadi ragu, sementara mereka yang sudah masuk akan panik dan kocar kacir cari info kesana-kemari: Jangan-jangan perusahaannya kenapa-napa?? Dan bahkan kalaupun itu saham/perusahaan sebenarnya gak ada masalah apa-apa, tapi kalau sahamnya terus saja turun/gak mau naik-naik, maka orang akan berasumsi liar, bahwa memang perusahaannya ada masalah. Dari sinilah biasanya kemudian muncul rumor-rumor negatif terkait perusahaan yang sahamnya turun terus tersebut. Analoginya ya itu tadi: Kalau anda ditawari membeli rumah bagus di lokasi bagus tapi pada harga yang kelewat murah, maka anda akan otomatis berburuk sangkabahwa rumahnya bermasalah, bahkan meski itu rumah sejatinya aman-aman saja.
LPCK = Unbelievably Undervalue = Bad News Come Out
Dan pada kasus emiten Lippo Cikarang (LPCK), that is exactly the case. Pada awal tahun 2015, seiring dengan moncernya kinerja fundamental perusahaan ketika itu, saham LPCK terus saja naik hingga sempat tembus 12,000. Setelah itu saham LPCK mulai turun seiring dengan penurunan IHSG, dan karena memasuki tahun 2016 kinerja/laba LPCK juga mulai turun, maka jadilah sahamnya gak naik-naik lagi. Hingga pada pertengahan 2017, setelah LPCK berada di level 4,000-an, beberapa orang notice bahwa PBV LPCK ketika itu tinggal 0.5 kali, sementara ketika itu juga mulai ramai iklan megaproyek Meikarta yang disebut-sebut bernilai Rp200 sekian trilyun. Thus, meski kinerja perusahaan hingga Kuartal II 2017 masih belum bagus, namun mulai muncul ekspektasi bahwa LPCK menawarkan prospek yang luar biasa cerah. Dan alhasil sahamnya sempat naik lagi sampai hampir tembus 5,000.
However, entah karena di kuartal-kuartal berikutnya laba LPCK tetap saja turun, atau karena mulai muncul beberapa kejanggalan seperti: 1. LPCK terlambat merilis laporan keuangan, 2. Perusahaan tiba-tiba mengumumkan rencana right issue, tapi tidak jelas kapan right issue itu akan dilaksanakan, 3. Cerita terkait Meikarta menjadi simpang siur, malah ada rumor di media sosial bahwa pekerjaan konstruksi salah satu menaranya ‘ditunda hingga waktu yang belum ditentukan’ (meski kemudian rumor ini dibantah oleh perusahaan kontraktor yang bersangkutan), dan 4. Saham-saham Grup Lippo lainnya seperti MLPL, MPPA, LPKR terus saja turun, maka jadilah LPCK kembali turun.. dan terus turun. Puncaknya adalah ketika pada April – Mei 2018 ini, seiring dengan IHSG-nya mulai dilanda koreksi, sementara surprisingly kinerja LPCK sampai Kuartal I 2018 juga masih saja jelek/labanya masih turun, maka jadilah sahamnya bablas hingga kemarin mentok di 1,600.
Tapi disinilah menariknya: Pada harga sahamnya saat ini (1,870), PBV LPCK sekarang hanyaaa… 0.2 kali. Dalam banyak artikel-artikel analisis di blog ini, penulis sudah sering mengatakan bahwa kalau ada saham (yang dulunya pernah) bagus dihargai pada PBV kurang dari 0.4 kali, maka itu sudah masuk kategori unbelievably undervalue. Dan kalau saham tersebut termasuk saham yang (pernah) populer di kalangan investor dan trader, maka biasanya akan ada saja rumor jeleknya, dimana rumor-rumor tersebut sebenarnya berasal dari buruk sangka investor itu sendiri. Contohnya, masih ingat beberapa bulan lalu ketika salah satu saham second liner paling populer di BEI, Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), terus saja anjlok dari 2,000-an hingga dibawah 500? Ketika itu memang karena perusahaan tersangkut masalah hukum, berencana menjual unit usaha berasnya, dan rating obligasinya pun turun. Tapi diluar fakta-fakta diatas, beredar pula rumor simpang siur bahwa AISA ini bangkrut bla bla bla, dimana sekali lagi, rumor-rumor itu berasal dari kepanikan investor itu sendiri karena pada harga dibawah 500, PBV AISA juga sudah persis 0.4 kali. Yep, alias sudah unbelievably undervalue.
Jadi mungkin perlu dicatat bahwa rumusnya adalah, kalau ada saham populer (populer itu bukan berarti berfundamental bagus, hati-hati!) yang terus turun hingga valuasinya undervalue, maka orang-orang akan meliriknya. Tapi jika dia turun lebih lanjut hingga valuasinya unbelievably undervalue, maka orang-orang justru akan ragu, dan akan mulai keluar berita-berita jelek. So, when a stock is unbelievably undervalue = bad news would come out.
Tapi berbeda dengan AISA yang beneran bermasalah, LPCK sebenarnya gak ada masalah hukum atau apapun. Silahkan anda buka http://www.idx.co.id/berita/pengumuman/, kemudian masukkan ‘LPCK’ pada kotak kata kunci, lalu klik CARI. Maka anda tidak akan menemukan keterbukaan informasi apapun yang menjelaskan permasalahan tertentu yang tengah dihadapi perusahaan (kecuali klarifikasi dari kontraktor terkait isu penghentian pekerjaan salah satu tower di Meikarta). Ini berbeda dengan AISA, dimana informasi faktual terakhir adalah terkait penurunan rating obligasinya, yang artinya setelah kemarin berurusan sama polisi terkait penutupan pabrik berasnya, sekarang utang obligasi perusahaan yang bermasalah.
Sementara untuk LPCK, sekali lagi, tidak ada masalah spesifik tertentu, sehingga informasi apapun yang anda dengar dari koran, media elektronik, ataupun medsos, rata-rata itu cuma rumor ‘saya dengar’, atau ‘katanya’ yang gak jelas kata siapa, dan biasanya sih rumor-rumor seperti ini akan menghilang dengan sendirinya jika nanti LPCK naik lagi. Masih ingat sekitar September – Oktober 2017 lalu ketika saham-saham BUMN konstruksi terus saja turun hingga keluar rumor aneh-aneh bahwa proyeknya mangkrak lah, pemerintah kehabisan duit lah, tapi ketika WSBP dkk kemudian naik lagi, maka semua rumor itu menguap dengan sendirinya dan berganti cerita optimis bahwa ‘Pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur’, atau semacamnya?? Well, mari kita lihat kalau LPCK juga nanti bakal sama kaya gitu. Sebab kalau kita pakai lagi analogi ‘barang murah’ diatas, maka LPCK ini bukanlah tas Lous Vuitton KW mangga dua, melainkan roti berkualitas baik yang harganya lagi diskon saja.
Masalah LPCK: Manajemennya
However, kalau dikatakan bahwa LPCK tidak ada masalah sama sekali, maka itu kurang tepat juga. Seperti yang sudah disebut diatas, masalah utama LPCK adalah ketika muncul kejanggalan-kejanggalan seperti laporan keuangannya telat keluar, right issue-nya gak jelas kapan dilaksanakan (dan pada harga berapa), dan yang paling penting, sampai sekarang labanya masih turun. Jadi kemana semua hasil pra penjualan/marketing sales Meikarta yang tercatat Rp7.5 trilyunsepanjang tahun 2017?? Disisi lain aset LPCK tiba-tiba saja melonjak dari Rp5.6 menjadi Rp12.4 trilyun, ekuitasnya juga melonjak, tapi tidak jelas dari mana asal lonjakan tersebut. Lebih aneh lagi: Kalau anda search laporan keuangan serta dokumen public expose LPCK, maka anda tidak akan menemukan kata ‘Meikarta’, sama sekali! Manajemen LPCK hanya menyebut soal Meikarta di laporan tahunannya, itupun tidak secara spesifik.
Pendek kata, kalau ada masalah di LPCK, maka itu adalah terkait fakta-informasinya yang serba membingungkan bahkan bagi analis/investor berpengalaman sekalipun, dan ada kesan bahwa itu semua disengaja (soalnya dulu LPCK gak begini, dimana laporan keuangannya bersih/gak ada akun yang aneh-aneh, dan selalu keluar tepat waktu). Yup, jadi wajar saja kalau rumor ‘LPCK vs Meikarta’ kemudian menjadi liar di publik, karena ketika saham Waskita Beton Precast (WSBP) turun, misalnya, maka investor bisa tetap santai karena toh biar gimana fundamental perusahaan masih sangat bagus. Sementara LPCK? Well, laba perusahaan biar gimana masih turun. Jadi meski valuasinya memang sudah sangat murah, tapi kecuali di Kuartal II 2018 nanti labanya (akhirnya) naik, maka secara fundamental belum ada alasan bagi sahamnya untuk naik lagi.
Anyway, seperti halnya AISA yang, meski belum naik lagi ke 1,000-an, tapi juga tidak turun lebih lanjut bahkan meski perusahaan masih menghadapi segudang masalah (LK AISA malah belum keluar), maka demikian pula LPCK nanti akan ketemu bottom-nya di berapa (atau mungkin memang sudah, yakni di 1,600-an kemarin), dan selanjutnya dia akan sideways, dan bisa naik lagi sewaktu-waktu. Yup, kata kuncinya disini adalah, seperti halnya AISA, LPCK tidak mengalami rugi, gagal bayar utang, bangkrut, atau semacamnya -malah kejauhan lah kalau dibilang bangkrut-, jadi perusahaannya tetap memiliki nilai, dan valuasinya beneran murah/bukan value trap. Dan ini berarti, seperti halnya AISA yang sempat beberapa kali membal naik dari posisi terendahnya (378) sampai tembus 700, maka LPCK juga bisa mengalami hal yang sama.

Namun jika anda tertarik untuk masuk, maka ingat bahwa karena, sekali lagi, fakta-informasi terkait LPCK ini serba membingungkan, maka LPCK untuk saat ini sulit untuk dianalisa (apalagi kalau anda masih pake jurus ‘katanya’, atau ‘denger-denger Meikarta bla bla bla’), sehingga jika anda tidak mau ambil risiko maka boleh ambil saham lain saja yang ‘lebih jelas’, atau boleh juga tunggu sampai nanti laba perusahaan akhirnya naik (itu bisa terjadi dalam waktu dekat ini, karena pra penjualan Meikarta yang Rp7.5 trilyun itu bukan rumor, melainkan informasi faktual yang sudah disampaikan oleh Dewan Komisaris & Direksi di laporan tahunan LPCK itu sendiri).

Kutipan laporan Dewan Direksi di Annual Report 2017 Lippo Cikarang

Sementara bagi anda yang sudah masuk, maka meski situasinya sekarang mungkin sudah desperate, tapi sebenarnya anda hanya perlu menunggu dua hal: 1. Pelaksanaan right issue LPCK, dimana kalau mempertimbangkan valuasi sahamnya yang saat ini kelewat rendah, maka kemungkinan besar right issue-nya akan dilakukan pada harga yang jauh diatas harga pasar, dan itu akan jadi sentimen positif bagi saham LPCK (masih ingat analisa Bank Bukopin (BBKP) kemarin?), dan 2. Membaiknya laporan keuangan perusahaan, dimana itu bisa terjadi kapan saja. Salah satu alasan kenapa LPCK masih belum mengakui pra penjualan unit-unit apartemen di Meikarta sebagai pendapatan, adalah karena megaproyek sebesar itu tentunya perlu waktu untuk dikerjakan (pra penjualan baru akan diakui sebagai pendapatan setelah unit propertinya selesai dibangun dan sudah diserah terimakan ke pembeli), tapi progressnya tetap berjalan, dimana update terakhir adalah sudah dilakukan topping off untuk dua tower apartemen perdana, dan tower-tower lainnya akan menyusul. Yep, jadi meski penulis juga gak bisa kasih saran untuk average down karena LPCK biar gimana labanya masih turun, tapi dalam value investing, anda baru boleh ‘quit and never look back’ kalau perusahaannya memang sudah ‘no hope’ sama sekali, baik itu dalam jangka panjang maupun pendek. Sedangkan untuk LPCK ini, the hope is still there. So, your call!

Jika anda punya analisa sendiri terkait LPCK, baik itu rekomendasinya buy, sell, hold, atau ignore, boleh sampaikan melalui kolom komentar dibawah.
PT. Lippo Cikarang, Tbk
Rating Kinerja pada Q1 2018: BBB
Rating Saham pada 1,870: AAA
Buletin Analisis IHSG, Update Situasi Pasar, Serta Stockpick Saham Pilihan edisi Juni 2018 akan terbit hari Jumat, 1 Juni mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Private Class, Jakarta, 26 Mei

Dear investor, selain menggelar kelas seminar value investing, baik itu materi basic maupun advanced, penulis juga menggelar kelas privatedengan materi yang kurang lebih sama, terutama di bagian metode analisis fundamental emiten serta menghitung harga wajar saham, namun dengan penyampaian materi secara lebih personal. Yup, karena berbeda dengan kelas seminar dimana jumlah pesertanya adalah 30 – 40 orang, di private class ini jumlah pesertanya maksimal 5 orang saja per sesi.

Berbeda dengan seminar biasa dimana materinya disampaikan secara satu arah (penulis menjelaskan, peserta mendengarkan) di private class ini penyampaian materinya dilakukan dengan cara diskusi interaktif, dimana peserta boleh bertanya setiap saat, jadi seperti ngobrol santai sambil ngopi-ngopi aja gitu. Kemudian, berbeda dengan seminar yang diselenggarakan di ruang meeting hotel, private class ini diselenggarakan di cafe, restoran, atau lounge hotel, dengan suasana yang tentunya lebih rileks dan tidak formal, namun tetap tertutup dan fokus.
Okay, berikut inti materi yang akan disampaikan (kurang lebih sama dengan materi value investing basic class):
  1. Bagaimana cara untuk menemukan MUTIARA TERPENDAM (menyeleksi saham-saham yang bagus), hanya dengan membaca laporan keuangan perusahaan selama BEBERAPA DETIK
  2. Bagaimana cara untuk menghitung HARGA WAJAR SAHAM sehingga anda akan langsung mengetahui saham mana yang murah (dan juga bagus),
  3. Bagaimana cara untuk mengetahui SEGALA SESUATU tentang perusahaan (yang anda beli atau akan anda beli sahamnya) hanya dalam waktu 30 menit atau kurang,
  4. Bagaimana cara untuk menyusun komposisi pegangan saham yang mampu MEMAKSIMALKAN POTENSI KEUNTUNGAN sekaligus disisi lain MEMINIMALISIR RISIKO KERUGIAN, dan
  5. Bagaimana cara untuk menemukan saham-saham yang berpotensi naik sebanyak 100% ATAU LEBIH dalam waktu kurang dari satu tahun!
Bonus Materi Tambahan:
Informasi serta analisa lengkap untuk tiga saham terbaik versi penulis, yang berpotensi mejadi ‘mutiara terpendam’ selanjutnya.
Bonus Lagi:
  1. Di kelasnya nanti anda boleh diskusi portofolio/meminta analisa untuk saham-saham yang anda pegang, termasuk sharing tentang rencana investasi anda seperti apa, kemudian penulis akan memberikan masukan dari sudut pandang pelaku pasar profesional. Dan setelah pertemuannya, anda juga bisa tetap konsultasi via email.
  2. Di kelasnya nanti anda boleh membawa alat perekam suara (atau handphone yang bisa merekam suara) untuk merekam suara penulis ketika kita berdiskusi, untuk nanti anda dengarkan kembali dirumah. Dengan cara ini, maka anda tidak perlu khawatir bakal lupa materi kelasnya, karena anda akan bisa mendengarkan kembali diskusinya setiap saat.

Okay, berikut jadwalnya:
  • Tempat: Ritz-Carlton Hotel Pacific Place, Kawasan SCBD, Jln. Jend. Sudirman Kav.52 – 53, Jakarta Selatan.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 26 Mei
  • Waktu: Pukul 16.00 – 20.00 WIB (menjelang buka puasa).
  • Fasilitas: Makan malam, softcopy materi seminar, dan ‘kalkulator saham’.
Biaya untuk ikut private class ini hanya Rp3,500,000, sudah termasuk biaya makan dan minum. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Private Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer, no telepon yang bisa dihubungi. Contoh: Mohamed Salah, BCA, 0811223344. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima konfirmasi melalui telepon/Whatsapp bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta maksimal 5 orang saja.
Catatan: Jika pesertanya hanya 1 atau 2 orang, maka kelasnya tetap akan diselenggarakan. Sementara jika pesertanya banyak maka akan diadakan jadwal kelas tambahan (bisa pas weekend atau weekdays, yang pasti waktunya sore/after office hour), dan jumlah peserta tetap dibatasi maksimal 5 orang untuk satu kelas.
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, biayanya jadi Rp3,200,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, biayanya jadi Rp3,000,000 per peserta. 
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis bersama temen-temen peserta private class, 22 Mei 2018, Jakarta

Private Class Recording


Bagi anda yang tidak bisa ikut kelasnya karena kendala jarak/waktu, maka bisa juga beli rekamannya saja, tentunya dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Keterangan selengkapnya baca [...]

Ebook Analisis Kuartal I 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, level risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Dan ebooknya sudah terbit pada bulan Mei 2018, jadi anda bisa langsung memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik gambar untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202atau Pin BB D76DFC5C.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Testimonial
Terima kasih …  dulu saya beli PPRO di harga 150 rekomen analisa pak teguh juga saya hold sampe trend uptren nya patah lepas di 1245  dari profitnya alhamdulillah  bisa bangun rumah kontrakan jd 4 pintu alhamdulillah jd ada pasif income tiap bulan … moga2 saham2 grup indy ini bisa nambah bangun kontrakan lg :)
Hatur nuhun sebelum nya  … sukses dan sehat selalu pak teguh & kel Aamiin
Salam
Aan D. [...]

Bank Bukopin: Revisi Laporan Keuangan??

Bank Bukopin (BBKP) membukukan laba bersih Rp127 milyar di Q1 2018, naik 10.1% dibanding periode yang sama tahun 2017. Namun yang menarik adalah harga sahamnya, yang sebelumnya cukup stabil di 600-an, tiba-tiba saja sekarang sudah dibawah 400, dan PBV-nya pun hanya 0.5 kali, clearly low enough untuk ukuran saham emiten perbankan yang lumayan punya nama di masyarakat. Namun disisi lain beredar pula pemberitaan bahwa BBKP mengubah/menyajikan kembali laporan keuangan untuk tahun 2016, hingga dikabarkan mengundang teguran dari OJK. Bagaimana detail kasusnya?

Jadi kronologisnya sebagai berikut. Pada tanggal 25 April 2018, BBKP merilis koreksi laporan keuangan untuk tahun penuh 2017 (dengan perbandingan tahun 2016), dimana terdapat banyak perubahan yang mencolok untuk data neraca dan laporan laba rugi untuk tahun 2016. Misalnya, ekuitas BBKP yang tadinya tercatat Rp9.5 trilyun per akhir tahun 2016 direvisi menjadi hanya Rp6.9 trilyun, dan EPS yang tadinya Rp120 per saham direvisi menjadi Rp20 per saham. Detailnya sebagai berikut, angka dalam jutaan Rupiah, klik gambar untuk memperbesar.

Karena perubahan angkanya terbilang besar (catatan: penyajian kembali atau koreksi laporan keuangan sebenarnya merupakan peristiwa yang umum terjadi, namun biasanya yang berubah hanya satu atau dua account saja, itupun perubahannya tidak besar), maka BEI pun segera meminta penjelasan dari manajemen, dan beritanya pun bocor ke media, bahwa ‘BBKP permak laporan keuangan’. Inilah yang kemudian menyebabkan saham BBKP terjun bebas, karena BI dan OJK kemudian juga disebut-sebut akan memberi sanksi (padahal orang OJK-nya sendiri mengaku belum mengetahui atau menerima laporan apapun/mereka baru tahu soal ini dari awak media).
Tapi apakah benar bahwa BBKP memanipulasi LKnya? Mari kita cek lagi. Di LK baru hasil revisinya, sudah dijelaskan bahwa revisi LK tahun 2016 itu disebabkan oleh dua hal: 1. Kesalahan penyajian angka piutang kartu kredit, yang disebabkan oleh modifikasi data kartu kredit tertentu, dan 2. Kesalahan penyajian angka piutang pembiayaan syariah dari Bank Syariah Bukopin (anak usaha BBKP), terkait penambahan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) untuk debitur tertentu.
Jadi bahasa mudahnya sebagai berikut: BBKP ini, selain menyalurkan kredit dalam bentuk pinjaman berbunga, juga menyalurkan kredit melalui kartu kredit, dan melalui pembiayaan syariah. Kemudian, kalau berdasarkan tingkat kelancaran penagihannya, kredit ini digolongkan menjadi lima status: 1. Lancar, 2. Dalam perhatian khusus, 3. Kurang lancar, 4. Diragukan, dan 5. Macet. Untuk status lancar, berarti kredit tersebut tidak bermasalah dan bisa ditagih dengan lancar secara tepat waktu. Untuk status dalam perhatian khusus, maka kredit tersebut mulai bermasalah, misalnya tetap dibayar lunas tapi lewat jatuh temponya. Dan untuk golongan yang terparah yaitu status macet, maka kredit tersebut sudah tidak bisa ditagih sama sekali, atau tidak dapat dipastikan kapan akan dikembalikan oleh peminjamnya.
Nah, ketika bank menyalurkan kredit ke masyarakat, maka bank mencatat aset berupa ‘kredit yang diberikan’, atau piutang kredit. Dalam hal kreditnya disalurkan melalui kartu kredit, maka piutangnya disebut piutang kartu kredit. Sementara dalam hal kreditnya disalurkan melalui pembiayaan syariah, maka piutangnya disebut piutang syariah. Kemudian disinilah catatan pentingnya: Jika ada sebagian dari piutang tersebut yang berstatus No.5, yakni macet/tidak bisa dipastikan kapan akan dikembalikan oleh peminjamnya, maka bank tidak boleh lagi mencatatnya sebagai aset piutang, melainkan harus dicatat sebagai penyisihan atau cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), yang nilainya negatif (sehingga mengurangi nilai aset/ekuitas perusahaan). Karena logikanya, ketika sejumlah kredit yang disalurkan tidak bisa ditagih lagi, artinya duitnya dianggap hilang begitu saja/tidak bisa lagi dianggap sebagai aset bank.
Namun ketika kredit yang disalurkan masih berstatus No.4, yakni Diragukan, maka masih boleh dicatat sebagai aset piutang kredit. Nah, disinilah kemudian sering terjadi perbedaan pendapat diantara personel manajemen bank itu sendiri, dalam menentukan apakah sejumlah kredit yang bermasalah statusnya masih diragukan, ataukah sudah macet sama sekali. Pada kasus BBKP, kemungkinan pihak manajemen tadinya menilai bahwa sejumlah kredit bermasalah di kelompok piutang kartu kredit dan piutang syariahnya, itu belum sampai berstatus macet, sehingga masih bisa dicatat sebagai aset milik bank. Tapi kemudian dilakukan review, dan sebagian dari kredit bermasalah tersebut akhirnya dianggap berstatus macet, dan alhasil (coba lihat lagi gambar LK BBKP diatas):
  1. Nilai piutang kartu kredit BBKP turun, dan itu menyebabkan penurunan pendapatan provisi dan komisi dari tadinya Rp1.06 trilyun, menjadi hanya Rp318 milyar, dan
  2. Nilai beban CKPN pada Bank Syariah Bukopin naik, sehingga menaikkan CKPN BBKP secara keseluruhan dari tadinya Rp649 milyar menjadi Rp798 milyar.
Penurunan pendapatan serta bertambahnya beban ini pada akhirnya menyebabkan laba BBKP, yang tadinya Rp1.09 trilyun, direvisi menjadi hanya Rp176 milyar saja. Dan praktis nilai aset, saldo laba, hingga ekuitas BBKP juga ikut turun signifikan. Yup, jadi terdapat efek domino disini.
Namun sekali lagi, pangkal masalahnya cuma itu tadi: Adanya perbedaan pendapat diantara personel manajemen BBKP, termasuk mungkin juga melibatkan pihak auditor, dalam menilai apakah sejumlah kredit yang bermasalah statusnya masih diragukan, ataukah sudah macet. Yup, jadi ini bukan berarti manajemen BBKP sengaja memanipulasi laporan keuangannya atau apa, karena actually, kasus ini juga sering terjadi pada bank-bank lain, termasuk bank yang lebih besar. Contohnya, pada Kuartal II 2015, Bank BBNI (BBNI) tiba-tiba saja membukukan beban CKPN senilai Rp6.0 trilyun, naik tajam dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp2.2 trilyun, dan itu praktis menyebabkan laba bersihnya anjlok setengahnya menjadi hanya Rp2.4 trilyun, dari sebelumnya Rp4.9 trilyun. Melalui analyst meeting, manajemen BBNI mengatakan bahwa lonjakan CKPN yang tiba-tiba tersebut (dan imbasnya menyebabkan laba bersihnya anjlok) adalah karena mereka sebelumnya me-review kembali kualitas sejumlah piutang kreditnya, dan kesimpulannya, sejumlah aset kredit harus dicatat sebagai ‘macet’, dan alhasil beban CKPN-nya harus dinaikkan.

Tapi bedanya dengan BBKP adalah, BBNI dalam hal ini tidak mengkoreksi laporan keuangannya di masa lalu, melainkan lonjakan CKPN tersebut langsung dimasukkan ke LK terbaru perusahaan di Kuartal II 2015 tersebut, dan alhasil tidak pernah ada tuduhan bahwa ‘Bank BNI permak laporan keuangan’ atau semacamnya.
Nevertheless, nasi sudah jadi ketupat, dan yang jelas karena imbas cerita ‘manipulasi laporan keuangan’-nya ini, saham BBKP sekarang jadi murah. Terus terang, penulis dulu sempat tertarik sama BBKP ini karena valuasinya lumayan atraktif (PBV nol koma sekian), tapi karena kinerja fundamentalnya juga so-so, maka kita selalu memilih saham lain yang lebih baik, entah itu sesama saham perbankan atau lainnya. Tapi dengan valuasinya saat ini, dan terutama karena sebenarnya tidak ada masalah serius dari kasus LK-nya diatas, maka mungkin kali ini BBKP bisa dipertimbangkan. Sebab disisi lain, dalam waktu dekat ini BBKP akan menggelar right issue pada harga pelaksanaan Rp550 – 700 per saham, alias diatas harga pasar. Jadi biasanya sih, kalau right issue-nya nanti lancar, dan harga pelaksanaannya ditetapkan pada level katakanlah Rp550, maka cepat atau lambat BBKP akan naik minimal ke 550 tersebut.
Hanya saja, jika anda mencari saham berfundamental bagus untuk investasi jangka menengah – panjang, dan juga karena tidak ada jaminan bahwa ‘saham BBKP akan naik minimal ke harga right issue-nya’, maka anda boleh pertimbangkan saham lain saja. Mengingat meski labanya masih naik, tapi dengan NPL yang besar di 4.5% (BBCA dkk NPL-nya cuma nol koma sekian persen), NIM hanya 2.5% (bank besar lainnya NIM-nya diatas 5%), dan ROE-nya bahkan gak sampai 10%, maka fundamental BBKP secara umum belum bisa dikatakan bagus, dan perusahaannya juga tidak menawarkan prospek apapun (right issuenya bertujuan untuk memperbaiki CAR-nya saja, yang sekarang relatif rendah di level 11.1%, jadi bukan untuk modal ekspansi atau apapun). Namun jika anda berani ambil sedikit risiko untuk mencoba mempraktekkan ‘momentum investing’  alias investasi jangka pendek – menengah (momentum, karena mumpung saham BBKP ini lagi turun, cerita revisi LKnya tidak seburuk yang diberitakan, sedangkan perusahaannya sendiri ada aksi korporasi right issue), dimana penulis sendiri pernah beberapa kali mempraktekkan momentum investing ini dan sukses (misalnya di saham Jasa Marga (JSMR) waktu perusahaan menggelar right issue tahun 2016 lalu), then there you go!
Catatan: Jika anda masih bingung soal istilah-istilah perbankan maka boleh baca-baca lagi, dimulai dari sini.

Minggu depan kita akan bahas Lippo Cikarang (LPCK), namun sambil menunggu, bagi anda yang punya analisanya sendiri untuk LPCK ini, boleh menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.
PT Bank Bukopin, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal I 2018: BBB
Rating Saham pada 394: A
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan edisi Kuartal I 2018 (‘Ebook Kuartalan’) sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

It’s Not About Which Stock You Buy, It’s About Patience

Pada tahun 1984, Warren Buffett (WB) memberikan seminar di kampus Columbia University, Amerika Serikat, dimana disitu ia memaparkan kinerja dari tujuh fund manager penganut metode value investing, termasuk dirinya sendiri. Menariknya, salah satu fund manager tersebut yakni Rick Guerin, mencatatkan rata-rata return 32.9% per tahun antara tahun 1965 – 1983, atau jauh diatas kinerja fund manager lainnya, termasuk mengalahkan kinerja WB yang hanya 29.5% per tahun (antara tahun 1957 – 1969). Guerin bahkan pernah membukukan profit 180.1% di tahun 1967, ketika indeks S&P hanya naik 23.9% di tahun tersebut.

Melihat track record-nya yang luar biasa diatas, maka secara teori, seharusnya sekarang ini Guerin sudah menjadi seorang billionaire dan terkenal. Tapi berbeda dengan WB yang kemudian rutin nongol di daftar Majalah Forbes sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Guerin justru menghilang. Kalau anda googling nama ‘Rick Guerin’, juga nyaris tidak ada informasi apapun tentangnya. So what happen?
Kalau menurut penuturan dari WB sendiri (karena memang, banyak yang bertanya kepadanya tentang Guerin), berbeda dengan fund manager lainnya, Guerin menginginkan untuk cepat kaya dari investasinya di saham, dan alhasil ia menggunakan margin/utang untuk menambah ‘amunisi’ dana kelolaannya. Dalam kondisi pasar yang normal dimana S&P naik, penggunaan margin tersebut memang menyebabkan profit yang dihasilkan menjadi berlipat ganda. Tapi sebaliknya, ketika terjadi krisis atau market crash, maka kerugian yang terjadi juga berlipat ganda.
Jadi, yap, Guerin sempat sukses besar di tahun 1967 – 68 dengan membukukan profit diatas 100% per tahun selama dua tahun berturut-turut. Namun seluruh profit yang dihasilkan pada dua tahun tersebut, dan juga profit di tahun-tahun selanjutnya, nyaris tersapu habis ketika pada tahun 1973 – 74 terjadi market crash, dan Guerin membukukan rugi total 62% selama dua tahun tersebut. Problemnya, ketika anda menderita rugi dan aset anda turun dari katakanlah Rp100 juta menjadi hanya Rp50 juta pada tahun tertentu, alias rugi 50%, maka anda kedepannya harus profit bukan 50%, melainkan 100%, hanya agar aset anda menjadi Rp100 juta lagi. Thus, tak peduli sesukses apapun anda dalam menghasilkan keuntungan di stock market, tapi jika anda selanjutnya menderita rugi kelewat besar, maka anda akan kehilangan semua profit tersebut dan harus memulai lagi semuanya dari awal, atau dalam banyak kasus, terpaksa berhenti sama sekali (sebagai investor).
Dan sekali lagi, menurut WB, inilah yang menyebabkan Guerin ‘kicked out from the game’, dimana ketika value investor lain hanya menderita kerugian yang wajar ketika terjadi koreksi pasar atau market crash, dan alhasil mereka langsung bangkit ketika pasar kembali pulih, Guerin tidak mengalami hal yang sama. Tidak ada yang salah dengan metode value investing yang ia terapkan, dan sebagian besar saham-saham yang dipilih Guerin adalah sama dengan saham-saham milik WB dan lainnya. Yang salah adalah, Guerin menginginkan untuk ‘cepat kaya’, ketika fund manager lainnya berinvestasi menggunakan dana yang ada saja.
Okay, lalu apa pelajaran yang bisa diambil dari cerita diatas?
Ketika artikel ini ditulis, IHSG berada di posisi 5,919, turun 11.5% dibanding posisi tertingginya pada Februari lalu, yakni 6,689. Sehingga, officially, untuk pertama kalinya sejak September 2015 lalu, pasar saham Indonesia sekarang berada dalam periode koreksi (meski, kalau kita tidak terlalu berpatokan pada IHSG-nya, Desember 2017 kemarin juga pasar sempat terkoreksi. Anda bisa baca lagi ceritanya disini). Dalam situasi ini maka wajar jika ada banyak investor yang rugi dan nyangkut, namun beberapa orang mungkin menderita rugi lebih besar dibanding lainnya, dan itu bukan karena dia salah pilih saham atau apa, melainkan karena ia menggunakan margin. Dan jika koreksi pasar yang terjadi sekarang berlanjut/tambah parah, maka kerugian yang mereka alami akan semakin besar lagi, hingga bukan tidak mungkin mereka akan mengalami forced sell.
Dan actually, inilah yang terjadi pada tahun 2008 lalu: Ketika IHSG mulai turun dari 2,830 di bulan Januari, penurunannya masih relatif normal/terjadi secara pelan-pelan dimana hingga bulan Agustus, IHSG masih berada di level 2,200-an. Tapi ketika pada Agustus tersebut IHSG mulai bablas alias nyungsep, banyak investor yang kena margin call, dimana mereka dipaksa menjual sahamnya ketika tidak ada investor lain yang menampung. Dan inilah yang menyebabkan pasar kembali terjun bebas di bulan Oktober dimana IHSG sempat drop total 20% hanya dalam 3 hari ke posisi 1,200-an, dan entah berapa banyak investor yang terpaksa menutup rekeningnya sama sekali setelah menderita kerugian hingga 100% (jadi nilai porto mereka menjadi nol), bahkan ada yang minus alias masih menanggung utang ke sekuritas. Mereka-mereka inilah yang ‘ditendang keluar dari permainan’, seperti halnya Rick Guerin diatas.


Pergerakan IHSG sepanjang 2008, perhatikan bahwa meski sebelumnya IHSG turun pelan-pelan, tapi penurunan tersebut terjadi sangat drastis pada September – Oktober (tanda kotak), karena ketika itu banyak investor yang kena margin call.

Namun demikian, diluar para investor yang tepaksa ‘tutup laptop’ ini, ada banyak juga investor lainnya yang, meski juga rugi besar, namun mereka tidak sampai kena forced sell dan mampu bertahan. Dan alhasil ketika pasar langsung pulih lagi di tahun 2009, saham-saham yang mereka pegang kembali naik, dan mereka kembali profit besar.
Kesimpulan
Kalau kita telisik lagi, di pasar modal ini ada dua kelompok investor berdasarkan apakah mereka menggunakan margin atau tidak, dan dua kelompok ini sebenarnya sama-sama rugi di tahun 2008. Bedanya, satu kelompok rugi kelewat besar hingga dana mereka menjadi nol (atau bahkan minus), sementara satu kelompok lagi ruginya tidak sebesar itu, dan alhasil mereka bisa bertahan. Beberapa investor yang mampu memprediksi bahwa pasar akan drop di tahun 2008, dan sudah jualan sebelum market crash itu terjadi, mungkin tidak sampai rugi (dan malah untung besar ketika mereka belanja di awal tahun 2009), tapi jumlah mereka sangat sedikit. Intinya sih, kalau pasar lagi turun ya turun saja. Dan bahkan seorang WB sekalipun tetap akan menderita rugi/nilai kekayaannya berkurang ketika terjadi koreksi pasar (sejak tahun 1964 sampai sekarang, saham Berkshire Hathaway pernah 3 kali anjlok lebih dari 50% dari posisi tertingginya).
Namun yang membedakan investor sungguhan dengan ‘investor numpang lewat’, adalah mereka mampu bertahan dan tidak pernah benar-benar keluar dari market, bahkan meski terjadi krisis atau semacamnya, dan itu karena mereka tidak serakah. Yup, jangankan menggunakan leverage yang berlebihan, WB malah punya kebijakan untuk selalu menjaga posisi cash sebesar 10 – 20% dari total aset Berkshire, dimana meski kebijakan ini menyebabkan profitnya jadi tidak maksimal (karena ada dana nganggur yang tidak digunakan), tapi dana cash ini akan sangat berguna jka sewaktu-waktu terjadi ‘hujan badai’. Sementara di Indonesia, salah satu alasan kenapa Pak Lo Kheng Hong masih bertahan dan juga sukses di market, bahkan meski pernah kena hantam krisis moneter 1998 dan krisis global 2008, adalah karena beliau, setidaknya menurut pengakuannya, tidak pernah pakai margin. Yup, jadi ketika ada banyak investor se-angkatan beliau, atau bahkan lebih senior lagi, yang jatuh ketika terjadi krisis dan tidak mampu bangkit lagi/terpaksa keluar dan akhirnya menghilang, Pak LKH tetap bertahan, dan akhirnya sukses besar.
Jadi sekali lagi, kalau pasar lagi turun dan anda rugi, that’s totally normal, dimana yang perlu anda lakukan hanyalah bertahan, karena badai pasti akan berlalu. Dalam hal ini penulis bukannya mengatakan bahwa pasar nanti akan langsung naik lagi, karena ada akhirnya, kita tidak bisa tahu persis apakah besok-besok IHSG akan naik lagi, sideways, atau turun lebih dalam lagi (itu perlu analisa lebih lanjut). Tapi skenario manapun yang terjadi, selama anda sebelumnya tidak pernah komplain ‘modal saya kecil, jadi profitnya nggak berasa’, dan kemudian pake dana margin (agar ‘profitnya maksimal’), maka porto anda pada akhirnya akan baik-baik saja. It’s not about which stock you buy, it’s about patience.
Btw, berhubung marketnya lagi meriang, maka artikel tentang cara ‘mengejar kereta’ untuk sementara ditunda dulu. Untuk artikel minggu depan, berhubung sekarang lagi musim keluarnya laporan keuangan Kuartal I 2018, maka anda boleh kasih usul soal saham/emiten apa yang akan kita bahas, yang menurut anda laporan keuangannya bagus (dan tentunya, valuasi sahamnya masih murah). Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.

Untuk kelas Value Investing, baik itu yang Basic maupun Advanced, penulis untuk saat ini belum ada jadwal lagi/libur dulu. Namun anda bisa membeli rekaman/recording-nya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek IPO Bank BRI Syariah

IPO Bank Rakyat Indonesia Syariah, atau Bank BRI Syariah (BRIS) yang merupakan anak usaha dari Bank BRI (BBRI), terbilang menarik perhatian banyak investor karena dua hal: 1. Karena BBRI-nya, dan 2. Karena syariah-nya. Secara fundamental, BBRI sejak dulu sudah bisa dinobatkan sebagai bank terbaik di Indonesia, sehingga sahamnya menjadi menu wajib bagi banyak fund manager dan juga investor ritel. Namun bagi anda yang memegang rekening saham syariah, maka anda tidak bisa turut membeli saham bank konvensional seperti BBRI ini. Jadi bagaimana kalau kita ambilnya BRIS saja? Tapi hey, apakah kinerja BRIS ini sama bagusnya dengan induknya?

Sebelum kita bahas mengenai BRIS itu sendiri, mari kita bahas dulu cara kerja bank syariah, dan apa bedanya dengan bank konvensional (selanjutnya disebut ‘bank’ saja). Singkatnya, bank syariah tidak mengenal sistem bunga (atau ‘riba’), melainkan bagi hasil. Jadi katakanlah perusahaan A meminjam dana ke bank untuk modal usaha. Maka, berbeda dengan bank yang tetap memperoleh bunga fix sekian persen bahkan meski perusahaan A tadi menderita rugi dalam menjalankan usahanya (dan kalau A tidak bisa membayar utangnya, maka asetnya bisa disita), bank syariah tidak akan memperoleh bagian bagi hasil jika terjadi kerugian. Tapi sebaliknya, jika A untung besar berkat modal pinjaman tadi, maka bank tetap dapetnya bunga fix tadi, sementara bank syariah akan menerima bagian bagi hasil yang lebih besar. However, jika bank syariah menerima bagi hasil yang besar, maka mereka juga harus membayar bagi hasil yang lebih besar ke nasabah yang menyimpan dana di bank syariah tersebut. Jadi kalau anda taruh deposito di BRI, dan bunganya 4% per tahun, maka ya sudah anda dapatnya 4% itu saja. Tapi jika anda menempatkan tabungan mudharabah (semacam deposito juga, tapi sistemnya bagi hasil) di BRI Syariah, maka keuntungan yang anda peroleh bisa lebih besar atau lebih kecil dari 4% tadi, atau tidak dapat keuntungan sama sekali.
Hanya saja pada prakteknya, cara kerja bank syariah tidak jauh beda dengan bank. Contohnya, secara teori bank syariah tidak bisa menyita aset peminjam, tapi nyatanya penyitaan aset oleh bank syariah itu pernah juga terjadi. Kemudian, secara teori pula, bank tidak bisa rugi karena kalau peminjam tidak bisa melunasi hutangnya, maka mereka tinggal menyita aset yang dijaminkan, lalu dilelang. Namun, seperti halnya bank syariah, bank juga harus mencadangkan kerugian jika ada kredit macet, yang menyebabkan labanya turun, atau bahkan berbalik jadi rugi (baca lagi soal cadangan kerugian penurunan nilai, atau CKPN, di artikel ini).
Tapi ada satu perbedaan mendasar antara bank dan bank syariah: Bank bisa memperoleh banyak tambahan pendapatan diluar bunga, seperti provisi, komisi, fee based income, jasa valuta asing, jasa perantara perdagangan obligasi pemerintah, asset management, asuransi, hingga jasa pembiayaan/leasing. Dan beberapa pendapatan tersebut nyaris risk free. Contohnya, pendapatan provisi, dimana kalau anda mengajukan kredit Rp100 juta ke bank, maka selain bunga yang harus anda bayar kemudian, anda biasanya harus bayar provisi dimuka sebesar 1% dari nilai pinjaman, alias Rp1 juta. Jadi kalau ternyata anda kemudian gak bisa membayar cicilan beserta bunganya, maka setidaknya pihak bank sudah mengamankan pendapatan yang Rp1 juta tadi.
Sedangkan bank syariah, atau setidaknya kalau pakai contoh BRIS, pendapatannya hampir sepenuhnya berasal dari bagi hasil usaha saja. Sedangkan disisi lain beban CKPN BRIS terbilang besar, bahkan terus naik dari tahun ke tahun. Kalau di BBRI-nya itu sendiri, CKPN-nya juga besar, tapi tertutup oleh pendapatan diluar bunga, jadi alhasil laba bersihnya tetap besar. Namun di BRIS, karena pendapatan lain-lain diluar bagi hasilnya tidak cukup besar untuk menutup beban CKPN, maka jadilah labanya kecil. Perbandingan selengkapnya bisa dilihat di tabel berikut, sebelumnya catat bahwa pendapatan hingga laba bersih BBRI sudah termasuk menghitung pendapatan dari unit usaha syariahnya/BRIS, dan pendapatan lain-lain bagi BBRI sudah termasuk unit usaha asuransinya (BRI Life). Angka dalam milyaran Rupiah.
Tahun (BBRI) 2017 2016 2015
Pendapatan bunga 100,080 91,358 85,434
Pendapatan lain-lain 19,476 17,277 13,855
CKPN (16,994) (13,700) (8,891)
Laba bersih 28,997 26,196 25,398
Margin Laba (%) 29.0 28.7 29.7
Tahun (BRIS) 2017 2016 2015
Pendapatan syariah 2,817 2,634 2,425
Pendapatan lain-lain 149 128 130
CKPN (453) (319) (231)
Laba bersih 101 170 123
Margin Laba (%) 3.6 6.5 5.1
Okay, perhatikan. Diatas jelas tampak bahwa margin laba BBRI jauh lebih besar dibanding BRIS, jadi praktis return on equity (ROE) BBRI juga lebih besar dibanding BRIS. Awalnya penulis berpikir, apa ini karena usaha bank syariah memang kurang profitable dibanding usaha bank biasa? Tapi ternyata bukan, melainkan karena itu tadi: BBRI punya banyak tambahan pendapatan diluar bunga, tapi untuk BRIS-nya sendiri, tambahan pendapatan diluar bagi hasilnya hanya sedikit. Jika BRIS hendak membukukan laba yang lebih besar di masa yang akan datang, maka caranya: 1. Menekan CKPN-nya, 2. Mengembangkan usaha-usaha syariah lainnya diluar bagi hasil, misalnya asuransi syariah, pembiayaan syariah dll, agar pendapatannya jadi lebih besar. However, menekan CKPN ini sulit karena tergantung kondisi makroekonomi (kalau ekonomi lagi kurang bagus, maka mau gak mau bakal banyak kredit macet). Sedangkan kalau dari rencana penggunaan dana hasil IPO-nya sendiri, dimana 80% akan dipakai untuk pembiayaan syariah seperti biasanya, maka penulis juga belum melihat ada rencana dari manajemen BRIS untuk mencari tambahan pendapatan diluar pendapatan bagi hasil seperti biasanya.
Kesimpulannya, kalau disuruh milih, maka penulis tetap ambil BBRI-nya saja. Dan meski BBRI sekarang sudah berstatus sebagai bank terbesar di Indonesia dari sisi aset (Rp1,126 trilyun per akhir 2017), tapi dengan total aset Rp31 trilyun, maka BRIS masih berstatus bank kecil, yang masih perlu waktu untuk berkembang hingga akhirnya mampu memberikan kontribusi laba yang signifikan bagi induknya.
Anyway, sekali lagi jika anda tidak bisa membeli saham BBRI karena anda membuka rekening syariah di sekuritas, selain karena valuasi BBRI saat ini tidak bisa disebut murah juga, maka BRIS tetap boleh dipertimbangkan mengingat meski secara aset dia sangat kecil dibanding BBRI, tapi BRIS adalah bank syariah terbesar ketiga di Indonesia setelah Bank Muamalat, dan BNI Syariah, dan berpeluang untuk menjadi bank syariah terbesar jika manajemennya mau kerja keras (karena ingat, dulu juga BBRI lebih kecil dari Bank Mandiri dan Bank BCA, tapi sekarang sudah jadi yang terbesar). Sementara industri perbankan syariah itu sendiri, dengan hanya total aset Rp424 trilyun di tahun 2017, alias masih sangat kecil dibanding total aset bank konvensional yang Rp7,387 trilyun, maka industri ini berpeluang besar untuk tumbuh kencang di masa yang akan datang, mengingat Indonesia merupakan negara mayoritas muslim.
Dan meski penulis sendiri sebenarnya kurang suka membeli saham berdasarkan ‘analisa prospek’ diatas (dalam value investing, kita hanya melihat track record kinerja perusahaan di masa lalu, bukan mencoba memprediksi bagaimana kinerja mereka di masa yang akan datang), namun valuasi BRIS juga terbilang atraktif. Jika harga perdananya ditetapkan di level 600, maka PBV BRIS tercatat 1.4 kali, yang meski tidak bisa disebut murah jika mempertimbangkan kinerja fundamental perusahaan, tapi relatif murah dibanding valuasi induknya, dan juga relatif murah jika mempertimbangkan nama besar ‘Bank BRI’. Kalau ada satu hal yang mengganjal adalah fakta bahwa di tahun 2017 kemarin, laba BRIS turun lumayan dalam dibanding 2016 (sekali lagi, gara-gara CKPN-nya naik). Jadi mungkin bisa juga kita tunggu dulu bagaimana kinerja perusahaan untuk Kuartal I 2018 ini. Kalau labanya naik lagi, go ahead!
PT Bank BRI Syariah, Tbk (BRIS)
Rating Kinerja pada tahun 2017: BBB
Rating saham pada 600: A
Untuk minggu depan kita akan bahas tema strategi ‘mengejar ketertinggalan kereta’: Bagaimana strateginya jika saham yang diincar sudah naik duluan sebelum kita sempat membelinya??


Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Mei 2018 akan terbit tanggal 1 Mei mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis via email untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal I 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama, salah satu edisi sebelumnya), klik untuk memperbesar.

Tugas rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
TESTIMONIAL
Selamat siang pak Teguh…
Saya Mengikuti jejak bapak membeli asri. Kebetulan dapat harga di bawah bapak.
Dan sekarang mulai ada profit.
Terima kasih pak Teguh.
-Fendi-
Oya Pak…mau blng trm ksh. Sy ada beli ptro dan inds bbrp bulan lalu. Bulan lalu jual. Kecepatan sih jualnya. Tp yg penting ada cuan 30 persen walaupun gak byk lotnya. Tp tetap mau blng trm ksh sama Pak Teguh.
Sekarang ada masuk mcor dan beli hoki kmrn sesuai ebook lk 3 kmrn.smg bs ksh cuan lg.
April 17th, 2018 at 9:44 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Ekuitas Tidak Riil??

Jika anda membeli beberapa saham senilai total Rp10 juta, dan beberapa waktu kemudian saham-saham anda tersebut naik rata-rata 10%, maka sekarang di software online trading (OLT) anda tertulis aset Rp11 juta, naik dari sebelumnya Rp10 juta. Pertanyaannya, apakah nilai portofolio anda benar-benar menjadi Rp11 juta seperti yang tampak di OLT? Jawabannya, tidak. Karena jika besok-besok ada saham anda yang naik atau turun, maka nilai porto anda akan berubah lagi. Porto anda baru akan fix bernilai sekian juta Rupiah, jika anda sudah menjual dan merealisasikanprofit dan/atau rugi dari semua saham yang anda pegang.

Jadi dalam hal ini bisa kita katakan bahwa nilai porto saham anda yang Rp11 juta tadi tidak riil. Konsep yang sama juga berlaku pada perusahaan-perusahaan holding atau investment company yang kerjaannya berinvestasi atau membeli saham atau aset keuangan lainnya (obligasi, promissory notes, reksadana, dll) dari perusahaan lain: Nilai ekuitas mereka tidak riil, karena nilai ekuitas tersebut bisa berubah setiap saat tergantung naik turunnya harga market atau ‘nilai wajar’ dari aset-aset keuangan yang mereka pegang.
Dan alhasil, jika kita hendak membeli saham dari perusahaan holding seperti ini, maka valuasinya tidak bisa disamakan dengan valuasi saham dari perusahaan biasa, melainkan harus lebih konservatif. Contoh, saham Saratoga Investama Sedaya (SRTG), sekilas tampak murah karena PBV-nya cuma 0.5 kali pada harga saham 4,000. Tapi setelah kita cek lagi, ternyata dari total aset SRTG senilai Rp26.6 trilyun per tahun 2017, mayoritas diantaranya merupakan ‘investasi pada efek ekuitas’. Seperti yang kita ketahui, SRTG merupakan induk dari banyak anak usaha termasuk beberapa perusahaan Tbk, yakni Adaro Energy (ADRO), Tower Bersama Infrastructure (TBIG), Nusa Raya Cipta (NRCA), Mitra Pinasthika Mustika (MPMX), Provident Agro (PALM), dan Merdeka Copper & Gold (MDKA), dimana nilai investasi SRTG pada anak-anak usahanya tersebut dihitung berdasarkan dua cara: 1. Berdasarkan naik turunnya harga saham ADRO dkk di market, dan 2. Berdasarkan nilai wajar sesuai nilai laba dan rugi yang dihasilkan tiap-tiap perusahaan.
Jadi simpelnya, kalau harga saham ADRO dkk naik, atau jika ADRO membukukan laba bersih yang besar (meskipun laba tersebut belum dicairkan oleh SRTG/tidak semuanya ditarik dalam bentuk dividen), maka akun ‘investasi pada efek ekuitas’ di laporan keuangan SRTG akan naik, demikian pula ekuitas perusahaan ikut naik. Karena dalam 2 – 3 tahun terakhir harga saham ADRO memang naik banyak seiring pulihnya sektor batubara, maka alhasil ekuitas SRTG juga turut naik banyak. Pada tahun 2014, SRTG membukukan aset investasi pada efek ekuitas sebesar Rp12.2 trilyun, dengan ekuitas Rp10.5 trilyun. Dan tiga tahun kemudian, pada tahun 2017, aset investasi tersebut melonjak jadi Rp24.8 trilyun, sementara ekuitasnya naik hampir dua kali lipat menjadi Rp19.0 trilyun.
Tapi sekali lagi, karena SRTG belum menjual saham mereka di ADRO dan lainnya, dan memang mereka hampir tidak mungkin akan menjualnya, maka ekuitas SRTG tidak sebesar kelihatannya, dimana kalau besok-besok ADRO mengalami penurunan kinerja, atau harga sahamnya turun, maka ekuitas SRTG juga akan turun. Dalam hal ini PBV SRTG yang hanya 0.5 kali tadi menjadi tidak semurah kelihatannya, melainkan mungkin memang wajarnya segitu. Meski demikian, kita tidak bisa menyebut SRTG sebagai contoh saham value trap seperti yang sudah kita bahas beberapa waktu lalu, melainkan sekali lagi, kita hanya perlu menghargai sahamnya dengan lebih konservatif saja. Sebab kalau kita lihat di Amerika pun, saham Berkshire Hathaway (BRK) juga PBV-nya hanya 1.4 kali, alias sangat rendah jika dibandingkan dengan katakan saham Apple Inc (AAPL), Alphabet Inc (GOOG), hingga Microsoft (MSFT), ydimana PBV mereka rata-rata diatas 3 – 4 kali. Sebab memang, nilai ekuitas BRK, setidaknya sebagian diantaranya, juga bisa berubah setiap saat tergantung naik turunnya saham Coca Cola (KO) dll.
Jadi jika besok-besok SRTG ini turun hingga PBV-nya menjadi hanya 0.3 – 0.4 kali, maka mungkin baru kita bisa katakan bahwa sahamnya murah.
Perhatikan Cara Penyajian LK
However, tidak semua saham perusahaan holding harus kita hargai pada valuasi yang rendah, karena yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara perusahaan dalam menyajikan laporan keuangannya. Contohnya Astra International (ASII), dimana cara penyajian LK-nya berbeda dengan SRTG. ASII, yang merupakan induk dari United Tractors (UNTR), Astra Agro Lestari (AALI) dst, tidak mencantumkan aset investasinya di UNTR dkk sebagai ‘investasi ekuitas’, melainkan aset-aset tambang milik UNTR dikonsolidasikan/dianggap sebagai aset tetap perusahaan (dan sudah termasuk menghitung penyusutan), demikian pula pendapatan UNTR dikonsolidasikan sebagai bagian dari pendapatan ASII. Lebih jelasnya klik gambar berikut:
Rincian aset SRTG

Perhatikan: Pada gambar diatas bisa kita lihat bahwa SRTG membukukan asetnya dengan sangat simpel, yakni berdasarkan nilai dari aset-aset keuangan (deposito, saham, equity share swap, dst) yang mereka pegang saat ini, dimana nilai aset-aset tersebut bisa berubah setiap saat. Sedangkan aset tambang milik ADRO dkk, itu tidak dikonsolidasikan sama sekali. Dan ini, sekali lagi, adalah sama dengan jika jika anda beli saham Bank BCA (BBCA), dimana di OLT, nilai investasi anda di BBCA akan berubah sesuai dengan naik turun sahamnya, bukan berdasarkan berubahnya nilai gedung kantor BCA dll.
Rincian aset ASII

Untuk ASII, seperti yang sudah disebut diatas, perusahaan menyajikan laporan keuangannya berdasarkan metode konsolidasi seperti LK emiten lain pada umumnya, dimana aset-aset tetap milik anak-anak usaha, termasuk aset piutang pembiayaan (melalui FIF Group), aset perkebunan (melalui AALI), dan aset pertambangan (melalui UNTR), semuanya diakui sebagai bagian dari aset ASII. Ini artinya mau saham UNTR di market naik atau turun, maka gak ada pengaruhnya ke ekuitas ASII sebagai induknya.
Laporan laba rugi SRTG

Perbedaan mencolok juga tampak di laporan laba rugi perusahaan, dimana SRTG mengakui ‘keuntungan investasi pada efek ekuitas’ sebagai pendapatan, meskipun sejatinya perusahaan tidak benar-benar menerima uangnya. Nilai pajak penghasilan yang terbilang kecil, yakni hanya Rp182 milyar (dibanding dengan laba sebelum pajaknya yakni Rp3.2 trilyun), juga menunjukkan bahwa sebagian besar laba sebelum pajak tersebut hanya bersifat pembukuan/diatas kertas, karena PPh badan yang 25% memang hanya dikenakan pada laba bersih perusahaan yang riil (jadi laba riil SRTG untuk tahun 2017 hanya sekitar Rp182 milyar / 25% = Rp728 milyar).
Laporan laba rugi ASII

Sementara untuk ASII, perusahaan mencatat pendapatannya berdasarkan nilai pendapatan konsolidasi dari anak-anak usahanya, dan hanya ada sedikit pendapatan yang sifatnya diatas kertas. Thus, laba bersih ASII adalah riil, sehingga kenaikannya ekuitasnya (karena tambahan saldo laba) juga riil, dan valuasi/nilai intrinsik sahamnya boleh kita hitung menggunakan metode value investing yang seperti biasanya.
Anyway, contoh ‘ekuitas yang tidak riil’ pada perusahaan type holding ini barulah satu dari sekian banyak contoh angka-angka di laporan keuangan yang belum tentu sebesar kelihatannya/harus kita cermati lebih teliti lagi. Well, tapi berhubung artikelnya sudah cukup panjang, maka soal ini nanti kita bahas lagi dilain waktu.

Untuk minggu depan kita akan membahas prospek IPO BRI Syariah (BRIS).
Jadwal Seminar Value Investing: Advanced Class. Bali, Rivavi Hotel Pantai Kuta, 28 April. Keterangan selengkapnya baca disini.

Penulis juga membuat rekaman seminar Value Investing: Basic & Advanced Class. Dan anda bisa memperolehnya disini.


Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal I 2018 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Selasa, 8 Mei 2018. Anda sudah bisa memesannya dari sekarang, baca info selengkapnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ciri-Ciri Investor Saham

Sebagai investor saham berpengalaman, apa saja ciri-ciri khas yang anda miliki, baik itu terkait aktivitas anda di stock market maupun di kehidupan sehari-hari, yang membedakan anda dengan trader saham/orang lain pada umumnya, dan terutama jika dibandingkan dengan anda sendiri ketika dulu masih newbie?

1. ….
2. ….
3. ….
4. Dst
Anda bisa menjawabnya melalui kolom komentar dibawah, lengkap dengan penjelasannya. Sebagai contoh:
1. Sabar & santai. Dulu saya beli saham jam 9.00 pagi, jam 9.05 sudah dijual. Sekarang saya bisa hold saham yang sama selama berbulan-bulan, atau lebih lama lagi,
2. Dst.

Jadwal Seminar Value Investing: Advanced Class. Bali, Rivavi Hotel Pantai Kuta, 28 April (masih available). Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Wijaya Karya Gedung

Wika Gedung (WEGE) menjadi salah satu saham anyar di BEI yang menarik untuk diperhatikan setelah perusahaan melaporkan laba bersih Rp295 milyar untuk tahun penuh 2017, dimana kalau kita bandingkan dengan ekuitasnya setelah dikurangi dana hasil IPO-nya (karena perusahaan baru menggelar IPO pada November 2017, sehingga dana hasil IPO-nya masih belum digunakan), yakni 1,698 – 833 = Rp865 milyar, maka laba tersebut mencerminkan return on equity (ROE) 34.1%, alias sangat besar baik itu jika dibandingkan dengan emiten-emiten konstruksi yang lain, ataupun dibandingkan dengan semua emiten di BEI secara umum. Disisi lain dengan PBV 1.5 kali pada harga saham 264, maka valuasi WEGE juga tidak bisa dikatakan mahal. Prospek kedepan?

PT Wijaya Karya Bangunan Gedung, Tbk (WEGE) adalah salah satu anak usaha dari Wijaya Karya (WIKA), yang spesialis bergerak di bidang konstruksi bangunan gedung dan properti seperti apartemen, hotel, mall & pusat perbelanjaan, menara perkantoran, gedung kampus, kompleks olahraga, hingga rumah sakit. Berbeda dengan WIKA itu sendiri yang sebagian besar pendapatannya berasal dari proyek-proyek pekerjaan umum milik pemerintah termasuk dari sesama BUMN dan BUMD, sekitar 80% pendapatan WEGE berasal dari swasta. Jadi jika WIKA adalah kompetitor dari Waskita Karya (WSKT) dan Adhi Karya (ADHI), dalam hal membangun infrastruktur/fasilitas umum milik negara, maka WEGE sebagai konstruktor gedung properti milik swasta adalah kompetitor dari Total Bangun Persada (TOTL), Nusa Raya Cipta (NRCA), Acset Indonusa (ACST), hingga Totalindo Eka Persada (TOPS), tapi posisi WEGE secara umum lebih unggul dibanding para kompetitornya tersebut. Berdasarkan pangsa pasarnya baik itu dari pelanggan pemerintah maupun swasta, maka WEGE adalah perusahaan konstruksi gedung terbesar ketiga di tanah air, setelah Pembangunan Perumahan (PTPP), dan Adhi Persada Gedung, anak usaha dari ADHI. Selain menjual jasa konstruksi, WEGE juga jualan beton pracetak (precast) khusus untuk kontruksi gedung, tapi kontribusinya berdasarkan nilai laba bersih tidak signifikan/hanya sekitar 1% dari total laba perusahaan.
Selain usaha konstruksi dan beton pracetak, sejak tahun 2013 WEGE juga punya usaha usaha properti milik sendiri jenis apartemen dan hotel di beberapa kota di Pulau Jawa, dan kontribusi usaha properti ini terbilang signifikan, dimana dari laba bersih WEGE sebesar Rp295 milyar di tahun 2017, Rp80 milyar berasal dari properti, dan angka tersebut melonjak dari Rp32 milyar di tahun 2016. Berhubung perusahaan masih punya cukup banyak stok apartemen yang siap dijual maupun masih dalam tahap pembangunan, dan sektor properti itu sendiri secara umum mulai hot lagi sejak tahun 2017 kemarin, maka seharusnya momentum lonjakan kinerja WEGE dari unit usaha propertinya bisa berlanjut pada tahun 2018 ini.
Kembali ke usaha konstruksi WEGE. Dibanding konstruksi infrastruktur yang rata-rata berskala besar (bisa mencapai belasan trilyun untuk satu proyek) serta butuh waktu pengerjaan hingga bertahun-tahun, konstruksi gedung nilainya lebih kecil (ratusan milyar), tapi disisi lain: 1. Margin labanya lebih besar, dan 2. Waktu pengerjaannya lebih singkat yakni hanya hitungan bulan, sehingga WEGE bisa lebih cepat menerima pembayaran dari pemilik proyek. Yup, awalnya penulis bingung, kenapa WEGE labanya terbilang besar padahal WIKA itu sendiri dari dulu ROE-nya paling besar hanya di kisaran 20 – 24%, tapi kemudian saya sadar bahwa WEGE ini, kalau melihat fokus usahanya, maka lebih cocok dibandingkan dengan TOTL dkk, ketimbang WSKT dkk, dan ROE TOTL sejak dulu memang selalu diatas rata-rata. Karena, you know, ketika perusahaan konstruksi BUMN membangun jalan tol dll milik pemerintah, maka mereka tidak mengambil keuntungan terlalu besar karena sebagai badan usaha milik pemerintah itu sendiri, maka sejak awal tujuannya bukan untuk meraup profit sebesar-besarnya, melainkan untuk membangun infrastruktur untuk kepentingan umum. Ini berbeda dengan konstruksi gedung milik swasta, katakanlah gedung apartemen, dimana perusahaan konstruksi bisa mengambil margin yang besar, karena pemilik gedung itu juga nanti bakal untung lebih besar lagi ketika mereka menjual unit-unit apartemennya ke konsumen akhir.
Kemudian, jika ADHI katakanlah harus menunggu sampai 3 – 4 tahun untuk menerima pembayaran dari proyek light rail transit (LRT) yang mereka kerjakan, karena proyek LRT tersebut memang butuh waktu selama itu untuk bisa selesai seluruhnya, maka WEGE tidak perlu menunggu selama itu karena mayoritas proyek-proyeknya bisa diselesaikan hanya dalam hitungan bulan saja, sehingga omzet/perputaran usahanya jauh lebih cepat, dan otomatis labanya pun lebih besar. Dan berbeda dengan proyek infra skala besar yang berisiko tinggi untuk mangkrak karena kurangnya dana, ketidak stabilan politik, dll, maka konstruksi gedung skala kecil risikonya lebih rendah/tidak akan mangkrak kecuali perusahaan pemilik proyeknya tiba-tiba bangkrut/gak bisa bayar.
Kesimpulannya, yep, sepertinya kita baru saja ketemu ‘BUMN konstruksi rasa swasta’ di WEGE ini, dimana margin laba WEGE tidak kalah dibanding TOTL dkk, tapi perusahaan tetap diuntungkan karena statusnya sebagai anak usaha BUMN, dimana jika WIKA dapet proyek membangun jalan tol, misalnya, maka WEGE bisa dapet jatah membangun fasilitas rest area­-nya. Demikian pula jika kawasan tertentu berkembang pesat karena sudah ada infrastruktur yang lebih lengkap disitu (yang dibangun oleh WIKA), maka daripada repot-repot cari kontraktor baru, para developer properti yang hendak membangun apartemen dll di kawasan tersebut bisa langsung menunjuk WIKA saja, dimana WIKA kemudian memberikan pekerjaan konstruksi tersebut kepada WEGE, atau bahkan WEGE bisa membangun apartemen miliknya sendiri.
Dan yang paling menarik adalah valuasi sahamnya: Dengan PBV 1.5 dan PER 8.6 kali pada harga saham 264, maka WEGE, meski valuasinya tampak belum begitu murah dibanding sesama anak usaha BUMN konstruksi seperti Wika Beton (WTON), Waskita Beton (WSBP), hingga PP Precast (PPRE), tapi dia jelas lebih murah dibanding TOTL dkk. Jadi kalau pada Kuartal I 2018 nanti WEGE kembali membukukan kenaikan laba yang signifikan, maka sahamnya bisa naik banyak.. entah sampai berapa, meski mungkin naiknya tidak akan sekaligus/cenderung pelan-pelan, karena orang-orang di market masih akan perlu waktu untuk menyadari bahwa WEGE, sekali lagi, lebih cocok untuk dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan konstruksi swasta, dibanding konstruksi BUMN lainnya.
Hanya saja, mengingat perusahaan belum punya track record jangka panjang yang solid (WEGE sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 2008, tapi kinerjanya baru lompat 2 tahunan terakhir ini saja) maka mungkin ada baiknya juga kita tunggu sampai perusahaan benar-benar merilis LK Kuartal I 2018 nanti, kalau labanya beneran naik maka baru kita masuk. Juga pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa cepat perusahaan dalam menggunakan dana Rp833 milyar hasil IPO-nya kemarin? Sebab jika dana ini tidak segera diputar untuk menghasilkan laba/dibiarkan menganggur, maka dana tersebut cuma bikin ROE WEGE jadi tampak kecil, dan sayangnya belum ada informasi soal berapa total nilai kontrak anyar yang diperoleh WEGE untuk tahun 2018 ini. Tapi jika melihat mulai bangkitnya industri properti, serta masih gencarnya pembangunan infra, maka momentum pertumbuhan kinerja WEGE yang terjadi sejak 2016 kemarin harusnya masih berlanjut pada tahun 2018, dan demikian pula dana hasil IPO-nya bisa digunakan lebih cepat. We’ll see!

PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung, Tbk (WEGE)
Rating Kinerja pada 2017: AA
Rating Saham pada 264: A
Jadwal seminar/workshop Value Investing: Advanced Class. Bali, Rivavi Hotel Pantai Kuta, 28 April (masih available). Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Surabaya, Medan, Bali

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Surabaya, Medan, dan Bali. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih sangat murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik setidaknya 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi secara efektif serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy, dan kapan waktu terbaik untuk sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ membeli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah?

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besarpula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
Surabaya (Full Seat!)
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 April 2018
Medan (Full Seat Juga)
  • Tempat: Grand Sakura Hotel, Jln. Prof HM. Yamin SH. No.41, Kota Medan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 21 April 2018
Bali (Masih Available)
  • Tempat: Rivavi Hotel, Jln. Melasti No.1, Legian Kuta, Kab. Badung, Bali
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 28 April 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut kelas ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class Surabaya/Medan/Bali (pilih salah satu lokasi), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang pesertauntuk setiap kelas.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis (kemeja lengan pendek, duduk ditengah) bersama teman-teman peserta Value Investing Advanced Class, Jakarta, 10 Maret 2018

Testimonial
Terima kasih …  dulu saya beli PPRO di harga 150 rekomen analisa pak teguh juga saya hold sampe trend uptren nya patah lepas di 1245  dari profitnya alhamdulillah  bisa bangun rumah kontrakan jd 4 pintu alhamdulillah jd ada pasif income tiap bulan … moga2 saham2 grup indy ini bisa nambah bangun kontrakan lg :)

Hatur nuhun sebelum nya  … sukses dan sehat selalu pak teguh & kel Aamiin

Salam
Aan D. [...]

Mengenal Strategi ‘Concentrated Diversification’

Salah satu quoteterkenal dalam investasi saham adalah, ‘do not put all your eggs in one basket’, yang artinya bahwa seorang investor disarankan untuk tidak menempatkan seluruh dananya hanya pada satu atau dua saham saja, melainkan sebaiknya disebar ke beberapa saham berbeda. Atau dengan kata lain, seorang investor dianjurkan untuk melakukan diversifikasi, biasanya bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya kerugian. Dan di blog ini kita sudah banyak membahas tips-tips dan trik dalam menerapkan diversifikasi portofolio, misalnya pada artikel ini, dan artikel ini.

Terkait quote diatas, sebagian orang mungkin mengira bahwa quote tersebut diucapkan oleh Warren Buffett, padahal bukan. Malah justru, Buffett terkenal sebagai investor yang anti diversifikasi, dimana ia pernah mengatakan bahwa kalau anda sudah cukup yakin dengan investasi anda di satu saham/perusahaan tertentu, maka anda tidak perlu lagi berinvestasi/membeli saham perusahaan lainnya. Tapi kalau kita lihat lagi komposisi porto Berkshire Hathaway yang sampai berisi ratusan saham/anak usaha yang berbeda-beda di hampir semua bidang usaha, maka mungkin anda bakal jadi bingung: Jadi Warren Buffett ini sebenarnya anti diversifikasi, atau tetap menerapkan diversifikasi, atau bagaimana???
Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk melihat lagi seperti apa cara kerja Buffett, baik itu ketika dulu masih mengelola partnership-nya atau sudah memegang Berkshire Hathaway, dibanding dengan fund manager/manajer investasi lain pada umumnya. Kebanyakan manajer investasi (MI) yang bekerja di perusahaan reksadana/asset management, mereka biasanya tidak hanya menempatkan dana kelolaan di saham, tapi juga di obligasi, pasar uang/deposito, hingga surat utang negara, dalam rangka diversifikasi. Namun Buffett tidak begitu, dimana ia hampir menempatkan seluruh portofolionya di saham, dan sangat jarang membeli obligasi ataupun instrumen investasi lainnya. Buffett mungkin menempatkan sebagian asetnya dalam bentuk cash/deposito di bank, tapi itu adalah untuk jaga-jaga kalau nanti ada kesempatan untuk beli saham bagus pada harga murah, jadi bukan untuk memperoleh bunga depositonya.
Kemudian, para MI biasanya membeli saham-saham blue chip yang termasuk 10 saham dengan market cap terbesar, tak peduli dalam kondisi pasar yang bullish maupun bearish, tak peduli meski harga belinya mahal. Jadi, yup, kalau kita pakai contoh para MI di Indonesia, maka bisa penulis katakan bahwa 90% dari mereka selalu memegang minimal salah satu dari saham Astra International (ASII), Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), HM Sampoerna (HMSP), atau Unilever Indonesia (UNVR). Karena asumsinya adalah, meski pegangan saham yang lain mungkin bisa saja naik atau turun sendiri sewaktu-waktu, tapi saham-saham big caps akan selalu naik turun mengikuti benchmark IHSG. Jadi kalau misalnya seorang MI  salah pilih saham small cap yang ternyata malah turun banyak, maka kinerja unit reksadananya secara keseluruhan tidak akan terlalu buruk dibanding rata-rata pasar, karena pegangan saham-saham blue chip-nya tetap akan bergerak selaras dengan IHSG.
However, strategi ini menyebabkan portofolio seorang MI menjadi berisi banyak saham berbeda, karena ketika ia membeli dan meng-hold banyak saham-saham mid and small cap, maka disisi lain ia tetap harus mengalokasikan sejumlah dana untuk membeli beberapa saham big caps, tak peduli meski mereka membeli saham-saham big caps tersebut pada valuasi yang sebenarnya sudah overvalue. Beberapa MI juga terkadang membeli minimal satu saham yang dianggap terbaik dari tiap-tiap sektor industri di bursa (jadi kalau misalnya ada 30 sektor berbeda, maka ia membeli 30 saham berbeda), sekali lagi, dalam rangka diversifikasi.
Tapi Buffett, sekali lagi, tidak begitu. Sejak menjalankan partnership-nya di tahun 1960-an, Buffett jarang membeli saham-saham big caps di NYSE, apalagi jika tujuannya adalah untuk ‘menyelaraskan kinerja partnership-nya dengan naik turunnya Dow Jones’. Melainkan, ia tetap fokus invest pada saham-saham yang ia anggap undervalue, dan ia hanya membeli saham big caps jika valuasinya memang murah. Alhasil, jika MI lain bisa memegang sampai 100 saham berbeda dalam satu waktu, maka Buffett paling banyak hanya memegang sekitar 20 saham saja. Inilah asal mulanya Buffett dikenal anti diversifikasi, karena cara kerjanya sangat berbeda dibanding MI lain pada umumnya. Tapi juga harus diingat, anti diversifikasi ala Buffett ini bukan berarti dia hanya membeli satu dua saham saja, melainkan ia tetap membeli beberapa hingga belasan saham-saham yang berbeda.
Anyway, istilah ‘anti diversifikasi’ yang disampaikan Buffett mungkin tetap terdengar membingungkan, karena toh nyatanya ia tetap melakukan diversifikasi tersebut. Termasuk hari ini, seperti yang sudah disampaikan diatas, Berkshire Hathaway memegang saham dari ratusan perusahaan yang berbeda. Jadi mungkin istilah yang lebih tepat adalah yang disampaikan oleh guru Buffett, Ben Graham, di bukunya The Intelligent Investor: Concentrated diversification, alias diversifikasi terkonsentrasi, dimana anda tetap disarankan melakukan diversifikasi tapi jangan berlebihan, jangan pula membeli obligasi atau instrumen pasar uang, dan isi portofolio anda harus tetap terkonsentrasi pada saham-saham bagus yang dibeli pada harga undervalue.
Jika dibuat poin per poin, maka tips-tipsnya adalah sebagai berikut:
  1. Kecuali dalam kondisi tertentu, anda tidak perlu lagi berinvestasi pada instrumen investasi diluar saham. Kalaupun anda menyisakan sejumlah cash pada situasi pasar tertentu, maka tujuannya tetap agar bisa belanja saham lagi sewaktu-waktu,
  2. Anda tidak perlu membeli saham tertentu hanya karena saham tersebut populer atau berstatus ‘blue chip’. Kalaupun anda hendak membeli saham blue chip, maka pastikan bahwa harganya memang undervalue/tunggu timing terbaik untuk masuk, misalnya ketika terjadi koreksi pasar,
  3. Anda juga tidak perlu membeli saham dari tiap-tiap sektor usaha di bursa. Beberapa sektor usaha mungkin perlu dihindari pada satu waktu tertentu, dan baru layak investasi lagi pada waktu-waktu yang lain,
  4. Pastikan bahwa portofolio anda hanya berisi saham-saham berfundamental bagus dan undervalue, dan ingat pula bahwa saham dengan kriteria seperti itu jumlahnya tidak banyak. Sehingga normalnya porto anda tidak akan berisi terlalu banyak saham-saham yang berbeda, melainkan hanya beberapa saja, dan
  5. Anda boleh menempatkan hingga 40% total dana kelolaan hanya pada satu saham (ini kata Buffett sendiri), tapi tidak lebih dari itu.

Lebih jelasnya, Buffett pernah menulis sebagai berikut, ‘Jika anda bisa menemukan enam saham/perusahaan yang sangat bagus, maka anda sudah cukup melakukan diversifikasi, dan anda akan menghasilkan banyak uang. Saya bisa menjamin bahwa keputusan untuk membeli saham ketujuh akan menjadi kesalahan besar, dan akan jauh lebih baik jika anda menambah investasi pada salah satu dari enam saham yang sudah anda miliki. Enam saham sudah cukup banyak, dan saya sendiri mungkin akan menempatkan lebih dari separuh total portofolio hanya pada dua atau tiga diantaranya.’ Sekedar catatan, meski Berkshire Hathaway sekarang ini memang memegang ratusan saham berbeda, namun ‘saham-saham kesayangan’ Buffett sebenarnya jumlahnya tidak banyak, melainkan hanya beberapa saja, seperti Coca Cola, American Express, dan IBM.


Fakta menarik terkait IBM adalah, Buffett sebenarnya sudah tertarik untuk membeli sahamnya sejak duluu sekali di tahun 1950-an, tapi ia baru benar-benar membelinya di tahun 2011.

Sementara Joel Greenblatt mengatakan, ‘Jika anda sudah membeli enam hingga delapan saham yang berbeda, maka itu sudah cukup, dan risiko kerugian yang anda tanggung tidak akan berkurang signifikan jika anda membeli saham kesembilan dan seterusnya.’ Seth Klarman mengatakan, ‘Jika tujuannya adalah untuk meminimalisir risiko, maka jumlah saham yang harus dimiliki seorang investor tidak perlu terlalu banyak. Biasanya sepuluh hingga lima belas saham sudah cukup.’ Dan Teguh Hidayat mengatakan, ‘Diluar saham-saham yang di-hold forever, maka portofolio anda sebaiknya berisi sepuluh hingga dua belas saham berbeda’.
However, tidak pernah ada seorang investor-pun yang mengatakan, ‘Satu saham sudah cukup, dan anda tidak perlu membeli saham kedua’, dan penulis sendiri juga tidak akan menyarankan itu. Kemudian kalau anda membeli katakanlah lima saham berbeda namun semuanya berasal dari sektor yang sama, maka itu juga bukan diversifikasi yang baik. Terkait tips No.3, penulis ingat bahwa di tahun 2012, 2013, 2014, hingga 2015, saham-saham batubara tampak menarik karena mereka nyaris selalu turun dibanding tahun sebelumnya, tapi penulis sendiri ketika itu tidak pernah masuk ke sektor batubara ini, dan baru masuk di tahun 2016 ketika akhirnya harga batubara mulai naik kembali. Jika seorang investor memutuskan untuk membeli saham-saham batubara antara tahun 2012 – 2015 dalam rangka ‘diversifikasi’, maka bukannya meminimalisir risiko, yang ada ia malah merugi karena ketika itu saham-saham di sektor tambang terus saja turun.
Dan terkait Tips No.1, maka anda bisa lihat bahwa di blog ini dari dulu sampai sekarang kita cuma bahas investasi saham, karena penulis sendiri selama ini investasinya ya cuma di saham saja, dan gak pernah invest di obligasi, reksadana, taroh dana di deposito, apalagi beli bitcoin. Termasuk kita tidak pernah tertarik beli saham di bursa luar negeri, melainkan selalu fokus ke saham-saham Indonesia. However, kebanyakan ‘investor’ lain tidak seperti itu, dimana mereka kadang-kadang membahas juga soal investasi properti, trading forex, hingga trading emas dan komoditas. Juga ketika ramai bitcoin dan cryptocurrency lainnya, mereka langsung ikut-ikutan. Penulis tidak tahu apakah cara investasi yang ‘terdiversifikasi’ seperti itu sukses menghasilkan keuntungan yang besar, atau malah jadinya gagal fokus, tapi yang jelas penulis selama ini hanya berinvestasi di saham saja, dan so far hasilnya tidak mengecewakan.
Anyway, bagi investor pemula atau investor paruh waktu, maka tentu tidak disarankan untuk langsung taroh semua uang yang anda miliki di saham, karena itu terlalu berisiko. Jadi kalau anda diversifikasi ke sektor riil, misalnya dengan memiliki properti untuk disewakan, atau sawah/kebun yang menghasilkan, maka itu boleh, malah sangat dianjurkan. Tapi setelah anda memegang aset-aset riil tersebut, maka dalam rangka menerapkan ‘concentrated diversification’, anda sekarang sudah tahu, kemana seluruh investasi anda harus ditempatkan.
Buletin Analisis IHSG & stockpick saham pilihan bulanan edisi April sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bagaimana Cara Membuat Pesawat Terbang?

Dalam suatu sesi seminar, seorang peserta bertanya seperti ini, ‘Pak Teguh, saya lihat Anda di blog sering menemukan/membahas secara detil saham-saham kecil yang orang lain belum perhatikan, tapi di kemudian hari ternyata beneran naik banyak sampai ratusan persen (contohnya KBLI, INDY, MEDC, HRUM, PPRO, LEAD, dst). Atau ketika saham bluechip tertentu sedang turun, bisa memperkirakan kira-kira turunnya bakal mentok di berapa, sehingga investor bisa membelinya di harga bottom-nya tersebut, dan alhasil profitnya jadi maksimal ketika sahamnya kemudian rebound/naik lagi (contohnya JSMR). Dan kalau di bursa lagi ramai berita/isu tertentu terkait IHSG, sektor, atau saham tertentu, maka juga bisa memperkirakan bagaimana kira-kira dampak isu tersebut secara fundamental terhadap IHSG atau saham yang bersangkutan (contohnya isu pelemahan Rupiah di tahun 2015).

Pertanyaannya, bagaimana sih caranya biar bisa begitu??? Ada tidak semacam rule of thumb yang paling sederhana dan ringkas dalam menganalisa sehingga kita bisa membuat analisa seperti yang  Pak Teguh buat diatas??
Okay, sebelum kita membahas soal ini, pertama-tama penulis hendak disclaimer dulu. Pertama, yup, memang kerjaan kita sebagai value investor adalah mencari mutiara terpendam, yakni saham yang belum dilirik orang tapi menawarkan potensi profit jackpot yang luar biasa. Namun demikian, tidak semua saham ‘mutiara’ yang kita temukan kemudian beneran sukses naik; sebagian diantaranya ternyata malah tetap saja gak kemana-mana, atau malah turun, contohnya dulu kita pernah rekomen SOCI, dan ternyata gagal. Kedua, ketika penulis mengatakan bahwa penurunan saham A akan mentok di 1,000, maka itu juga tidak selalu tepat, karena kadang saham A mentoknya di 1,100, 900, atau 800, atau lebih rendah lagi. Dan ketiga, ketika kita mempelajari suatu isu hingga akhirnya menyimpulkan bahwa isu tersebut berdampak bla bla bla, maka terkadang yang terjadi kemudian ternyata tidak seperti yang diperkirakan. Intinya sih, seperti halnya investor lain manapun, penulis juga sering melakukan kesalahan, dan menderita rugi karenanya.
Hanya memang, diluar kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi, maka sebagian besar analisa yang kita buat memang tepat dan akurat adanya. Jadi pertanyaannya sekali lagi, gimana caranya?
Nah, dalam hal ini penulis akan kasih satu analogi. Let say, anda adalah seorang dosen jurusan Teknik Mesin dan Kedirgantaraan di Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian tiba-tiba ada anak SD masuk ke ruangan anda, dan ngomong seperti ini, ‘Pak, tolong ajarkan saya cara membuat pesawat terbang. Tolong ajarkan semuanya dengan sedetil-detilnya, dari awal sampai akhir, karena saya benar-benar tidak mengerti sama sekali.’
Kira-kira anda akan jawab gimana? Dan kalaupun anda memutuskan untuk mengajari si anak cara membuat pesawat terbang, maka dari mana mulai mengajarinya? Sedangkan si anak bahkan masih belum mengerti basic matematika seperti aljabar, kalkulus, geometri, dst (karena memang topik itu baru diajarkan di SMP dan SMU).
Jadi balik lagi ke soal cara analisa saham. Dalam banyak kesempatan seminar, penulis selalu mengatakan bahwa, menganalisa saham itu mudah saja sebenarnya, termasuk membaca laporan keuangan juga tidaklah sesulit itu. Tapi pada prakteknya maka tetap dibutuhkan pengalaman, dimana anda harus sering-sering mengerjakan analisa saham hingga akhirnya menjadi terbiasa. Contohnya, jangankan menyimpulkan apakah suatu emiten punya fundamental bagus atau tidak, investor yang benar-benar masih baru mungkin akan langsung puyeng ketika buka laporan laba rugi emiten yang bersangkutan (dan kemudian balik lagi ke cara cepat, yakni melihat data-data rekapan sekuritas/RTI/sumber pihak ketiga lainnya, padahal itu adalah cara yang salah). Tapi investor lainnya yang sudah terbiasa, mereka bisa langsung ambil kesimpulan apakah sebuah saham bagus atau tidak, hanya dengan membaca laporan keuangannya selama beberapa detik. Dan ketika ia kemudian melanjutkan analisanya dengan membaca dokumen-dokumen lain yang terkait, maka akhirnya diperoleh kesimpulan yang detil serta komprehensif terkait kegiatan operasional perusahaan dll, tentang apakah sahamnya layak buy atau tidak, dan sebaiknya buy di harga berapa.
Tapi sekali lagi, anda tidak akan bisa langsung melakukan itu jika anda belum pernah membaca laporan keuangan sama sekali sebelumnya.
Jadi, yup, salah satu level tertinggi seorang investor adalah ketika dia bisa dengan tepat menemukan saham ‘mutiara terpendam’, yang kemudian naik hingga ratusan persen. Namun untuk bisa sampai ke level tersebut, maka ada banyak step by step yang harus dilewati seorang investor pemula, alias gak bisa langsung. Seorang (calon) investor haruslah belajar cara membaca laporan keuangan, laporan tahunan, cara menghitung valuasi saham, cara membaca trend saham, mempelajari sektor-sektor ekonomi, mempelajari istilah-istilah pasar saham, dan masih banyak lagi, hingga akhirnya ia naik level demi level ke posisi puncak. Dan satu lagi yang perlu dicatat: Itu semua perlu waktu. Tidak ada rule of thumb/cara cepat untuk bisa menjadi investor saham yang mampu meraih profit konsisten, sama seperti anda tidak bisa tiba-tiba punya badan atletis seperti Arnold Schwarzenegger hanya dengan rutin olahraga di gym selama sebulan, melainkan harus lebih lama lagi.
Karena itulah, kalau penulis menerima pertanyaan tertentu dari teman-teman pembaca blog ini, dan dari pertanyaannya tersebut penulis bisa menilai bahwa yang bersangkutan masih sangat pemula, maka saya tidak langsung menjawabnya, karena itu jadinya sama seperti analogi dosen ITB diatas. Melainkan, penulis akan menyarankan ke si penanya untuk banyak baca-baca saja dulu, bisa dimulai dari tanya jawab saham disini, kemudian banyak-banyak gali pengalaman saja dulu dengan trial and error alias coba-coba beli saham, terserah yang mana saja, selama katakanlah 1 – 2 tahun, sambil teruuuuus membaca. Di blog teguhhidayat.com ini, seperti juga di banyak lagi sumber lainnya, ada banyak sekali tulisan-tulisan edukasi terkait investasi saham yang bisa anda baca secara gratis, jadi anda tinggal membacanya saja. Melalui layanan ebook kuartalan dan buletin bulanan pun, yang penulis tawarkan bukanlah jaminan bahwa porto anda bakal profit, melainkan bahwa kalau anda mengikuti analisa yang kami buat, termasuk mempelajari alasan-alasan/dasar pemikiran setiap kali kita membeli dan menjual saham tertentu, maka dari situlah kita semua, termasuk penulis sendiri, akan sama-sama belajar.
Dan beberapa waktu kemudian, setelah anda akhirnya mengerti matematika dasar, mampu memperhatikan detail, mengerti soal konsep mesin, paham soal cara kerja aerodynamics, maka barulah anda boleh datang lagi dan bertanya, ‘Bagaimana cara membuat pesawat terbang?’ Dan saya jamin, Pak Dosen akan menjelaskannya dengan senang hati. Mungkin ada juga yang komplain, ‘Pak Teguh, saya ini bukan lulusan ekonomi. Jadi gimana caranya biar saya bisa belajar soal dunia finance dan pasar saham itu sendiri?’ Well, penulis sendiri juga sama sekali gak ada latar belakang pendidikan finance, termasuk gak pernah ikut kursus CFA, dll (belajar otodidak saja), tapi toh kita sekarang bisa bikin analisa saham yang akurat. Jadi kenapa anda nggak bisa? Syaratnya, sekali lagi, anda harus mau meluangkan waktu untuk belajar secara step by step/jangan langsung lompat, termasuk harus terus menggali pangalaman.
Problemnya, kebanyakan pemula tidak mau melewati fase step by step ini. Kebanyakan dari mereka maunya instant saja, dan langsung berusaha mengejar ‘saham pesawat terbang’ tanpa mau belajar laporan keuangan terlebih dahulu, dan alhasil mereka gak kemana-mana/beberapa malah give up sama sekali setelah mengalami rugi. Tapi ada banyak juga investor pemula yang sadar betul tentang pentingnya belajar secara tahap demi tahap, tidak terburu-buru untuk langsung mengejar profit jackpot, dan mampu melihat jauh kedepan bahwa toh pada akhirnya nanti mereka akan mampu untuk menemukan mutiara terpendam dll, namun untuk mencapai level tersebut maka mereka harus kerja keras dan ‘sekolah’ terlebih dahulu, dimulai dari sekarang. Pertanyaannya, anda termasuk yang mana?

Kedepannya kita akan bahas lebih lanjut soal step by step, alias tahapan-tahapan belajar seorang investor itu seperti apa saja, dan bagaimana kita katakan bahwa kita sebagai investor itu masih berada di level pemula, advanced, atau sudah sophisticated (saya tidak mau menyebut ‘expert’, karena tidak pernah ada istilah ‘expert investor’ di pasar modal, melainkan hanya sophisticated investor/investor berpengalaman). Namun untuk minggu depan kita akan bahas sedikit soal kondisi IHSG, termasuk kaitannya dengan pelemahan Rupiah, dll.
Jadwal Value Investing Basic Class: Amaris Thamrin City Jakarta, Sabtu 24 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Harga DMO Batubara, dan Pengaruhnya ke Emiten Tambang

Pada hari Jumat, 9 Maret 2018, Pemerintah melalui Kementerian ESDM menerbitkan peraturan domestic market obligation (DMO) terkait harga jual batubara, dimana perusahaan-perusahaan batubara diwajibkan untuk menjual sebagian produksi batubara mereka ke konsumen dalam negeri, dalam hal ini PT PLN, pada harga yang sudah ditetapkan, alias tidak lagi mengikuti harga pasar. Dan berapa persisnya ‘harga yang sudah ditetapkan’ tersebut? Well, maksimal hanya US$ 70 per ton. Karena harga DMO ini jauh lebih rendah dibanding harga batubara acuan (HBA) yakni US$ 102 per ton per Maret 2018, maka jadilah peraturan DMO ini menjadi sentimen negatif bagi saham-saham batubara dan alhasil, dalam seminggu terakhir saham-saham batubara berjatuhan antara 10 hingga 20%, atau lebih dalam lagi.
Nah, jadi sekarang pertanyaannya ada dua. Pertama, seberapa besar dampak peraturan DMO ini terhadap kinerja Adaro Energy dkk? Dan kedua seperti biasa, apakah penurunan saham-saham batubara karena sentimen DMO ini merupakan peluang, ataukah ini justru merupakan akhir dari rally sektor batubara yang sudah terjadi sejak dua tahunan terakhir? Okay, kita langsung saja.
Jadi cerita soal DMO ini berawal ketika pada tahun 2016 lalu, PT PLN sebagai konsumen terbesar batubara di Indonesia mengeluhkan kenaikan harga batubara yang terlalu cepat, yang otomatis menaikkan biaya produksi (setidaknya 40% pembangkit listrik di Indonesia menggunakan batubara sebagai bahan bakar), tapi disisi lain mereka tidak bisa begitu saja menaikkan tarif listrik, sehingga praktis posisinya jadi besar pasak daripada tiang, karena disisi lain PLN tidak lagi disubsidi sebesar sebelumnya (karena duitnya dialihkan ke pembangunan infrastruktur). Ketika itu harga batubara patokan Newcastle memang naik dengan cepat hingga sempat tembus US$ 100 per ton di bulan November 2016, dari sebelumnya US$ 50 per ton di awal 2016. Atau dengan kata lain, setelah sebelumnya turun pelan-pelan antara tahun 2011 hingga awal 2016, harga batubara tiba-tiba melejit hingga dua kali lipat dalam waktu kurang dari setahun. Untuk memahami posisi PLN disini, anda boleh bayangkan ketika anda mampir ke pom bensin seperti biasa, dan harga Pertamax, yang tadinya katakanlah Rp8,900 per liter, tiba-tiba saja dalam hitungan bulan naik jadi Rp18,000 per liter. Kira-kira anda bakal tenang-tenang saja nggak?
Dan sekarang harga batubara Newcastle Australia malah sudah nongkrong di level US$ 105 per ton. Dalam kondisi ini biasanya Pemerintah akan mengeksekusi salah satu dari dua opsi: Menaikkan tarif dasar listrik (TDL), atau kembali mensubsidi PLN. However, menaikkan TDL tentunya bakal menimbulkan efek domino dimana itu bisa menaikkan harga-harga barang kebutuhan pokok, dan mengganggu ekonomi secara umum. Sementara kalau PLN disubsidi lagi, maka pembangunan infra bisa terganggu karena duitnya jadi berkurang sebagian.
Jadi solusinya gimana? Well, bagaimana kalau para perusahaan batubara ini disuruh jual ke PLN pada harga yang lebih ekonomis?? Dan menurut penulis pribadi, ini adalah solusi yang masuk akal karena, pertama, sejak awal batubara sebagai kekayaan alam adalah dikuasai oleh negara (UUD Pasal 33, Ayat 3). ‘Dikuasai’ disini maksudnya, perusahaan swasta diperbolehkan untuk memiliki sumber-sumber cadangan batubara, tapi negara tetap berhak dan wajib memanfaatkan batubara tersebut jika itu adalah untuk kepentingan orang banyak. Karena tujuan peraturan DMO ini adalah agar tarif listrik tidak sampai dinaikkan, maka disinilah Pemerintah menjalankan perannya untuk memenuhi kepentingan orang banyak tadi.
Kedua, jika masyarakat tetap menikmati tarif listrik yang stabil tapi imbasnya perusahaan-perusahaan batubara pada tekor, maka itu juga nggak adil dong? Nah, dalam hal inilah penetapan harga DMO yang US$ 70 per ton tadi menjadi penting. Sekarang kita balik lagi ke tahun 2016 lalu, ketika harga batubara mulai naik: Berdasarkan perkiraan dari manajemen United Tractors dkk sendiri, maka berapa sih perkiraan harga batubara dalam beberapa tahun kedepan? Well, seperti yang dulu kita bahas disini, hanya US$ 70 – 75 per ton.
Jadi ketika harga batubara Newcastle dengan cepat naik sampai US$ 100 per ton, dan sampai sekarang masih stabil di level harga tersebut, maka itu diluar ekspektasi semua orang. Karena asalkan harga batubara stabil di level US$ 70 – 75 saja, maka Bumi Resources dkk sejatinya sudah kembali untung besar. Sebab meski harga US$ 70 – 75 tersebut belum setinggi harga di tahun 2011 ketika terjadi puncak booming batubara, yakni US$ 120 per ton, namun saat ini para perusahaan batubara diuntungkan oleh dua kondisi sekaligus. Yang pertama, volume produksi batubara yang lebih besar. Sepanjang tahun 2017 lalu, Indonesia memproduksi 461 juta ton batubara, meningkat signifikan dibanding hanya 353 juta ton di tahun 2011, dan diperkirakan akan kembali meningkat di tahun 2018 ini dan seterusnya. Dan yang kedua, biaya produksi yang lebih murah. Di tahun 2011, harga minyak mencapai US$ 100 – 110 per barel, yang otomatis bikin harga minyak solar untuk bahan bakar excavator dll jadi mahal. Sementara harga minyak sekarang? Cuma US$ 64 per barel, malah beberapa bulan lalu cuma US$ 47 per barel.
Kesimpulannya, kalau perusahaan batubara harus jualan pada harga US$ 70, maka mereka gak akan rugi/masih profit lumayan, hanya saja profitnya jadi nggak terlalu besar. Dan juga yang perlu dicatat, peraturan DMO menyebutkan bahwa perusahaan batubara hanya harus menjual 25% produksinya ke pasar domestik pada harga US$ 70 tadi, sementara selebihnya boleh tetap dijual ke pasar ekspor pada harga pasar. Jadi, yup, jangan dibayangkan bahwa pendapatan ADRO dkk akan langsung jeblok hingga sepertiganya, karena sebagian besar produksi batubara mereka tetap dijual pada harga diatas US$ 100 per ton, yang notabene sangat tinggi.
Tidak Semua Emiten Batubara Terkena Dampak DMO
Dari ulasan diatas maka bisa dipahami bahwa penetapan harga DMO yang US$ 70 per ton tadi tidaklah asal-asalan, apalagi disengaja agar para perusahaan batubara jadi susah karena, perlu diingat pula bahwa Pemerintah mengandalkan para produsen batubara untuk mendorong nilai ekspor nasional (karena dari dulu sampai sekarang, batubara masih merupakan komoditas ekspor terbesar Indonesia diluar migas), yang pada akhirnya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga memberikan insentif berupa tambahan kuota ekspor 10% bagi perusahaan batubara yang memenuhi kewajiban DMO ini, yang itu berarti bahwa meski pendapatan perusahaan dari pasar domestik turun, tapi pendapatan dari pasar ekspor akan naik, sehingga totalnya kurang lebih bakal sama saja. Sebelumnya Pemerintah memang sengaja membatasi kuota ekspor batubara nasional dalam rangka menjaga cadangan batubara dalam negeri untuk masa depan, tapi sekarang peraturan itu sedikit dilonggarkan.
Kemudian, kalau kita lihat data yang ada, maka dari puluhan emiten batubara di Indonesia, hanya beberapa yang mensuplai batubara dalam jumlah besar ke PLN. Mereka adalah Bukit Asam (PTBA), Indika Energy (INDY, melalui anak usahanya PT Kideco Jaya Agung), Adaro Energy (ADRO), dan Indo Tambangraya Megah (ITMG). Sementara selebihnya hanya menjual sebagian kecil produksi batubara mereka ke pasar domestik, atau 100% ekspor. Ini artinya diluar keempat emiten batubara diatas, maka emiten batubara lainnya tidak terkena dampak apapun dari peraturan DMO ini, karena mereka nyaris sepenuhnya jualan ke pasar ekspor.

Kalau ada perusahaan batubara yang paling terkena dampak peraturan DMO, maka itu adalah PTBA
Tapi Pak Teguh, seperti yang sudah disebut diatas, bukannya seluruh perusahaan batubara diwajibkan untuk menjual minimal 25% batubaranya ke pasar domestik? Artinya perusahaan batubara yang sebelumnya 100% ekspor, maka mulai sekarang mereka harus menyisihkan sebagian produksinya untuk dijual ke pasar dalam negeri bukan? Well, secara teori memang iya begitu, tapi pada prakteknya belum tentu. Let say, semua perusahaan batubara di Indonesia tanpa terkecuali menjual 25% produksi mereka ke PLN, maka pertanyaannya sekarang, apakah PLN dkk bisa membeli/menampung semua batubara tersebut?
Sebab di tahun 2017 kemarin, dari total produksi nasional 461 juta ton, hanya 97 juta ton atau 21% yang terserap oleh pasar domestik termasuk PLN (jadi untuk PLN-nya sendiri, kebutuhan batubaranya lebih kecil lagi). Untuk tahun-tahun sebelumnya malah lebih kecil, hanya sekitar 16 – 19%. Konsumsi batubara dalam negeri memang tengah meningkat akhir-akhir ini setelah banyak berdiri pembangkit listrik baru sebagai bagian dari megaproyek 35,000 MW, tapi perjalanannya masih sangat puanjang sebelum megaproyek itu kelar semuanya, dan konsumsi batubara PLN benar-benar melonjak signifikan. Sementara sebelum itu, ya mau gak mau para produsen batubara jualannya ke pasar ekspor, karena pasar dalam negeri belum siap untuk menampung.
Jadi penulis kira, tetap pada akhirnya hanya emiten yang punya porsi penjualan besar ke pasar domestik-lah, yang terkena dampak peraturan DMO ini, itupun dampaknya tidak signifikan karena hal-hal yang sudah dibahas diatas. Kalaupun peraturan kuota 25% untuk pasar domestik tetap diberlakukan, maka yang bakal kena duluan adalah yang besar-besar seperti BUMI, ADRO (ADRO saat ini hanya menjual sekitar 23% produksinya ke pasar domestik), dan INDY, sementara selebihnya bakal aman-aman saja/kenanya belakangan. Karena, coba pikir: Tujuan dari peraturan DMO ini kan agar PLN bisa memperoleh pasokan batubara pada harga yang normal/gak terlalu mahal. Dan kalau dari perusahaan batubara yang besar-besar saja PLN sudah bisa memperoleh pasokan batubara yang cukup, dan memang seharusnya demikian, maka ngapain juga PLN masih nyari-nyari lagi pasokan ke perusahaan batubara yang kecil-kecil? Untuk ilustrasi, BUMI sebagai coal miner terbesar di Indonesia memproduksi 100 juta ton batubara per tahun, jadi 25%-nya sudah 25 juta ton. Sedangkan beberapa coal miner kecil seperti Harum Energy, Resource Alam Indonesia, hingga Mitrabara Adiperdana, produksi mereka cuma 4 juta ton per tahun, jadi 25%-nya cuma 1 juta ton, alias gak signifikan.
Kesimpulan
Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, apakah penurunan saham-saham batubara karena sentimen DMO ini merupakan peluang, mengingat dampak DMO ini sepertinya tidak seburuk kelihatannya? Well, mari kita lihat lagi: Harga batubara sepanjang awal tahun 2018 ini stabil di level US$ 100 – 105 per ton, naik signifikan dibanding awal 2017 lalu di level US$ 80 per ton, sedangkan peraturan DMO baru ditetapkan awal Maret ini, sehingga implementasinya baru akan berlaku dalam beberapa waktu kedepan. Ini berarti, mayoritas emiten batubara berpeluang besar untuk kembali membukukan kenaikan atau bahkan lompatan laba di laporan keuangan mereka di Kuartal I 2018 nanti. Berdasarkan pengalaman di awal tahun 2017 lalu, saham-saham batubara sudah naik banyak bahkan sebelum LK Kuartal I 2017 mereka keluar, tapi setelah LK tersebut keluar, sahamnya malah turun sejenak (baca lagi ceritanya disini). Pada tahun 2018 ini, saham PTBA dkk juga naik banyak sejak awal tahun kemarin, namun akibat sentimen DMO ini mereka turun lagi, tapi boleh anda cek, turunnya gak sampai dibawah level sebelum mereka naik, awal Januari lalu. Dengan kata lain, secara YTD, saham-saham batubara masih dalam trend naik.
Dan yang terpenting adalah, valuasi saham-saham batubara, meski tidak lagi semurah awal tahun 2016 lalu, tapi juga belum bisa disebut mahal, dimana kalau beneran laba (dan ekuitas) mereka naik lagi di tahun 2018 ini, maka valuasi tersebut otomatis jadi lebih murah. Perhatikan juga bahwa mayoritas saham-saham batubara belum naik banyak lagi sepanjang tahun 2017 kemarin (mereka naik banyaknya di tahun 2016), dan baru naik lagi awal 2018 ini karena adanya ekspektasi kenaikan laba diatas, tapi kemudian ‘rehat’ sejenak karena cerita DMO ini. Tapi jika benar bahwa peraturan DMO tidak berdampak besar pada kinerja fundamental emiten-emiten batubara, dan para emiten ini tetap membukukan kinerja yang lebih baik lagi di tahun 2018, maka rally jangka panjang saham-saham batubara yang sudah terjadi sejak awal tahun 2016 lalu seharusnya tidak akan langsung berakhir, tidak dalam waktu dekat ini.
Kesimpulannya, yep, bagi anda yang ketinggalan kereta di saham-saham batubara awal Januari kemarin, perhaps this is your opportunity. Kalau ada yang perlu dikhawatirkan maka itu adalah harga batubara Newcastle itu sendiri, yang belum tentu bisa terus bertahan di level diatas US$ 100 per ton seperti sekarang. Tapi selama itu yang terjadi, maka sentimen DMO ini pada akhirnya nanti akan menguap dengan sendirinya, sama seperti pada September 2017 lalu saham PTBA pernah tiba-tiba anjlok 22% dari 12,400 ke 9,600-an (harga sebelum stocksplit), demikian pula saham-saham batubara yang lain ikut turun, karena ketika itu juga sempat keluar cerita DMO ini. Tapi yah, setelah itu PTBA dkk naik lagi, dan cerita DMO ini hilang dengan sendirinya. So let see, apakah untuk sekarang juga kejadiannya bakal sama seperti itu.
Jadwal Seminar Value Investing: Kelas Pemula, Amaris Thamrin City Jakarta, Sabtu 24 Maret. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Jakarta, Surabaya, Medan

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, menerbitkan obligasi, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik setidaknya 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy, dan kapan waktu terbaik untuk sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias beli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah??
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.


Lokasi dan waktu acaranya (boleh dicatat):
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 April 2018
Surabaya
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 April 2018
Medan
  • Tempat: Grand Sakura Hotel, Jln. Prof HM. Yamin SH. No.41, Kota Medan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 21 April 2018
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut kelas ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat

2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced ClassJakarta/Surabaya/Medan (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer, tapi boleh juga nggak (karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis (kemeja lengan pendek, duduk di tengah) bersama temen-temen peserta Advanced Class, Jakarta, 3 Maret 2018.
Testimonial

Terima kasih pak teguh.
Saya banyak belajar dari bapak.
Sedikit testimoni, setelah membeli saham mengikuti arahan ebook kuartal bapak, saya mendapat profit jumbo dari HRUM dan BBNI. Saham lain meskipun turun tetapi tidak terlalu banyak.
Saya juga banyak belajar dari website dan buku pak teguh.
Semoga pak teguh tetap sehat sehingga terus berkarya dan mencerdaskan investor Indonesia
Bravo pak teguh.

Salam

Mengenal ‘Value Trap’, dan Cara Menghindarinya

Menurut Investopedia, value trap adalah satu kondisi dimana sebuah saham tampak murah karena angka-angka indikator valuasinya (PER, PBV, dst) terbilang rendah, namun valuasi yang rendah tersebut sebenarnya nggak bisa dikatakan murah, melainkan memang sudah merupakan valuasi wajarnya, misalnya karena perusahaannya tidak memiliki kinerja fundamental yang bagus, dan juga tidak menawarkan prospek apapun. Bahasa gampangnya, value trap adalah ketika anda menemukan saham yang tampak murah, padahal aslinya murahan.

Dan berdasarkan pengalaman, value trap bisa dikelompokkan jadi dua jenis. Pertama, saham yang valuasinya tampak sangat rendah dibanding saham-saham lain di sektor yang sama, demikian pula dibanding saham-saham lain BEI pada umumnya, tapi karena perusahaan yang bersangkutan dari dulu sampai sekarang gak pernah membukukan kinerja bagus, prospeknya gak jelas, dan nama perusahaannya jarang dikenal publik, maka jadilah sahamnya gak mau naik-naik, karena memang hampir gak ada investor yang mau beli (Ngapain beli? Lha wong barangnya jelek kok).
Contohnya, kalau anda melakukan screening dengan menghitung PBV dari tiap-tiap saham di BEI, maka anda akan ketemu banyak saham yang PBV-nya kurang dari 1 kali, biasanya termasuk second atau third liner yang gak likuid dengan harga nominal yang rendah dibawah 500 perak atau bahkan deket-deket gocap, tapi dari dulu sampai sekarang sahamnya ya disitu-situ saja. Atau kalaupun sempet naik sesekali maka ujung-ujungnya turun lagi. Misalnya (penulis disini sengaja memilih saham-saham yang pernah ramai dibicarakan di market) Benakat Integra (BIPI), Gading Development (GAMA), hingga Mas Murni Indonesia (MAMI). Dalam beberapa kasus, kadang pernah juga terjadi saham-saham value trap ini naik tinggi sampai PBV-nya tidak murah lagi, tapi biasanya tidak sulit untuk melihat bahwa itu cuma karena kerjaan bandar/bukan karena para investor ramai-ramai memborong sahamnya, dan pada akhirnya tetap saja sahamnya turun lagi. Pada Februari 2017 lalu, saham Lotte Chemical Titan (FPNI), yang sebelumnya gak pernah kemana-mana di level 120-an (PBV 0.5 kali), tiba-tiba saja naik dengan cepat hingga tembus 600 di bulan Maret (PBV 2.5 kali), tapi setelah itu turun lagi ke level 150 – 200, dan PBV-nya jadi nol koma sekian lagi.
Dan alasan kenapa saham-saham ‘murah’ diatas gak mau naik-naik (kecuali jika digoreng bandar), padahal market cap-nya sudah lebih rendah dibanding nilai aset bersih perusahaan, adalah karena investor profesional manapun tidak akan hanya melihat value sebuah perusahaan dari nilai aset bersih/ekuitasnya saja, tapi juga dari earnings power, alias kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Karena memang itulah fungsi sebuah perusahaan: Menghasilkan laba. Jadi jika anda membeli perusahaan dengan nilai aset bersih Rp100 milyar pada harga Rp30 milyar saja, tapi perusahaan itu selama ini malah rugi terus, maka anda mungkin baru saja kehilangan Rp30 milyar tadi sama sekali. Karena jika trend meruginya perusahaan terus berlanjut di masa yang akan datang, maka nilai aset bersih yang Rp100 milyar tadi akan terus menyusut hingga akhirnya menjadi nol.
Value Trap: Dying Company
Okay, itu tadi jenis value trap pertama. Kedua, seringkali terjadi sebuah perusahaan yang tadinya membukukan kinerja fundamental bagus, namun kesininya rugi terus, dan alhasil sahamnya juga turun terus hingga akhirnya valuasinya menjadi tampak murah. Misalnya perusahaan-perusahaan batubara, yang pada tahun 2009 – 2012 lalu membukukan kinerja bagus seiring dengan booming komoditas ketika itu, dan otomatis saham-saham batubara pada periode itu dihargai sangat mahal, tapi memasuki tahun 2012 kinerja para emiten batubara mulai turun, dan terus saja turun sampai tahun 2016. Alhasil saham-saham batubara juga ikut turun, beberapa diantaranya bahkan hingga PBV-nya tinggal 0.1 kali di tahun 2016 tersebut (saham INDY, waktu di harga 200 – 300).
Nah, ketika saham-saham batubara ini sudah sedemikian murahnya, sedangkan kinerja mereka di masa lalu sebenarnya terbilang cukup bagus, maka para bargain hunter (termasuk penulis) akan mulai membeli saham-saham batubara ini, dengan harapan jika nanti para emitennya kembali membukukan kenaikan laba, maka otomatis sahamnya juga akan naik, dan naiknya pun bisa sangat tinggi karena sejak awal valuasi mereka sudah super duper diskon.
Dan memang, pada hari ini kita bisa lihat saham-saham batubara sudah naik ratusan persen dibanding posisi terendah mereka pada pertengahan tahun 2016 lalu. Akan tetapi kalau anda perhatikan lagi, tidak semua saham-saham batubara naik banyak dalam dua tahun terakhir. Beberapa saham batubara, sebut saja Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), Berau Coal Energy (BRAU), Dayaindo Resources (KARK), hingga Sekawan Intipratama (SIAP), sampai sekarang masih mati suri dan gak pernah kedengaran kabarnya lagi (KARK malah sudah delisting), karena memang perusahaannya sudah keburu kolaps sebelum sektor batubara itu kembali pulih (BORN dan BRAU mengalami default, KARK banyak kena kasus bahkan ketika batubara masih jaya di tahun 2010 – 2011, sedangkan SIAP ketauan melakukan transaksi repo yang merugikan investor ritel).
Padahal, penulis masih ingat, ketika saham BORN beberapa tahun lalu terus saja turun sampai akhirnya mentok di gocap, maka PBV-nya, berdasarkan laporan keuangannya ketika itu, juga tinggal nol koma sekian kali, dan itu adalah valuasi yang sangat atraktif mengingat ketika di masa jayanya, BORN ini merupakan perusahaan batubara yang sangat profitable. Yup, karena BORN merupakan satu-satunya perusahaan Tbk yang memproduksi batubara kalori tinggi jenis coking coal, yang harganya 2 – 3 kali lebih mahal dibanding batubara biasa, sehingga otomatis margin labanya lebih besar.

However, jika ketika itu ada investor yang masuk ke BORN ini pada harga gocap, maka ya sudah wassalam. Dalam hal ini kita bisa sebut BORN sebagai value trap. Dan gak cuma BORN, dulu juga pernah ada saham perusahaan kapal yang termasuk blue chip di jamannya, yakni Berlian Laju Tanker (BLTA), yang sahamnya turun terus hingga valuasinya menjadi murah meriah, tapi nyatanya sampe sekarang sahamnya malah mati/disuspen. Di level internasional, pada tahun 2008 lalu saham Lehman Brothers (LEH) jeblok dari US$ 80-an hingga dibawah US$ 20, sehingga otomatis valuasinya menjadi menarik (PBV sekitar 0.7 kali). Karena meski LEH ketika itu tengah merugi, namun para investor sudah hafal betul bahwa LEH ini merupakan perusahaan investment banking skala global dengan kinerja historis yang cemerlang, punya track record panjang dan konsisten selama 150 tahun, bahkan sukses bertahan ketika Amerika dilanda great depression di tahun 1930-an, yang notabene merupakan krisis yang jauh lebih besar dibanding krisis tahun 2008. Jadi PBV 0.7 kali tadi terbilang murah meriah. Alhasil di pertengahan tahun 2008, ada banyak fund manager besar yang masuk ke saham LEH pada harga US$ 20-an atau dibawahnya, termasuk George Soros, ketika itu dengan harapan bahwa buruknya kinerja LEH di tahun 2008 hanyalah sementara. Jadi jika di tahun-tahun berikutnya kinerja LEH mulai pulih, maka otomatis sahamnya akan naik lagi.
Namun ternyata, Lehman Brothers malah bangkrut! Dan sahamnya juga habis sama sekali/tidak lagi diperdagangkan lagi di NYSE (sehingga kerugian para pemegang sahamnya menjadi 100%). Jadi juga bisa disimpulkan bahwa ketika para bargain hunter membeli saham LEH di harga bawah karena melihat bahwa valuasinya sudah murah untuk ukuran saham dari perusahaan yang too big to fail, maka sebenarnya mereka baru saja terjebak value trap, karena LEH ternyata malah fail beneran.
Nah, jika dibandingkan dengan jenis value trap yang pertama, maka jenis value trap yang kedua inilah yang sering makan korban, tidak hanya investor pemula tapi juga investor kawakan kelas kakap sekalipun (contohnya ya Om Soros tadi). I mean, kalau sebuah perusahaan sejak awal gak pernah punya kinerja bagus/rugi meululu, prospeknya suram dan gak jelas usahanya apaan, serta hampir gak pernah kedengaran nama PT-nya, maka ngapain juga kita beli sahamnya?
Tapi ketika ada saham dari perusahaan besar yang anjlok, maka meski sebagian memang sukses naik lagi ketika fundamental perusahaan yang bersangkutan kembali pulih (dan alhasil investor yang membelinya di harga bawah sukses cuan besar), namun sebagian lagi malah terus saja turun hingga nilainya menjadi nol, dan saham inilah yang kita sebut value trap. Dan actually guru besar kita semua, Warren Buffett, juga pernah jadi korban value trap jenis ini. Yakni ketika beliau di tahun 1960-an membeli saham Berkshire Hathaway (BRK) pada PBV 0.4 kali, harga yang sangat murah untuk ukuran perusahaan tekstil yang pernah jaya di masanya (BRK sudah berdiri dan beroperasi sejak awal abad ke-19), tapi ternyata kesininya BRK malah terus saja merugi hingga akhirnya perusahaan menutup usaha tekstilnya sama sekali. Kesulitan terbesar bagi seorang value investor ketika ia membeli ‘saham murah’ seperti saham LEH atau BRK ini adalah ketika ia tidak bisa membedakan, apakah perusahaan tengah struggling, atau malah dying. Jika perusahaan hanya sekedar struggling saja, alias masih mampu bertahan dan juga masih beroperasi meski merugi/labanya turun, maka tetap terdapat harapan bahwa pada akhirnya kinerja mereka bakal pulih lagi. Tapi jika perusahaannya sedang sekarat, ya artinya tinggal tunggu waktu saja sebelum mereka bangkrut, dan sahamnya menjadi worthless sama sekali.
Dan sejarah menunjukkan bahwa ada banyak sekali perusahaan-perusahaan besar di masa lalu, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Dari 500 perusahaan penghuni daftar Fortune 500 di tahun 1950-an, hanya 8 diantaranya yang masih berada di dalam daftar Fortune 500 tersebut.
Okay, jadi bagaimana caranya agar kita bisa membeli saham murah yang perusahaannya hanya lagi struggling saja, dan bukannya dying? Well, secara teori sebenarnya mudah saja membedakannya, meski untuk prakteknya membutuhkan pengalaman yang cukup: Jika anda perhatikan, perusahaan-perusahaan yang dying adalah mereka yang memiliki utang terlalu besar dibanding nilai aset bersihnya, apalagi jika utang-utang tersebut mengandung bunga yang tinggi. Beberapa perusahaan yang disebut diatas, yakni BORN, BRAU, BLTA, dan juga LEH, kesemuanya menanggung utang yang amat sangat besar sebelum mereka bangkrut. Jadi ketika ekonomi lagi gak bagus, atau sektor usahanya lagi lesu, maka ketika perusahaan-perusahaan lain hanya sekedar mengalami penurunan laba saja, para perusahaan yang utangnya gede ini biasanya bakal menderita rugi besar. Karena ketika pendapatan operasional mereka turun, namun beban cicilan utang serta bunganya akan tetap/tidak ikut turun, sehingga secara keseluruhan perusahaan akan merugi. Dan jika iklim usaha ternyata tidak juga membaik setelah beberapa waktu, maka kerugian tersebut akan terjadi terus menerus hingga akhirnya menghapus nilai aset bersih perusahaan sama sekali.
Dan pada titik inilah, secara teknis sebuah perusahaan bisa disebut bangkrut. Analoginya seperti kalau anda beli saham pake duit sendiri, dan kemudian terjadi market crash, maka saham-saham yang anda pegang akan turun/anda menderita rugi. Tapi selama anda tidak cut loss, tidak harus bayar bunga margin, dan juga tidak kena forced sell, maka ketika akhirnya pasar naik kembali, saham-saham anda juga akan ikut naik, dan porto anda akan hijau kembali. Tapi jika anda beli saham pake margin lalu terjadi market crash, maka kerugian anda akan berlipat ganda karena anda tetap dibebani bunga pinjaman margin, dan beberapa saham yang anda pegang akan dipaksa dijual pada harga rendah (forced sell). Alhasil ketika pasar akhirnya pulih kembali, aset anda di saham sudah terlanjur habis tak tersisa. Actually, inilah yang terjadi pada banyak sekali investor pemula di tahun 2008 lalu.
Karena itulah, dalam beberapa kali kesempatan ketika kita banyak membahas saham-saham batubara di tahun 2016 lalu (waktu itu saham ADRO dkk masih pada murah-murah), penulis menyebutkan bahwa saham favorit kita di sektor ini ada empat, yakni Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA), Indo Tambangraya (ITMG), Harum Energy (HRUM), dan Resource Alam Indonesia (KKGI). Alasannya, selain karena kinerja historis yang moncer, neraca dari ke-empat emiten batubara tersebut juga relatif bersih dari utang. Dan memang kinerja keempat perusahaan sukses pulih lagi dalam dua tahun terakhir, demikian pula sahamnya naik banyak. Memang, beberapa saham batubara yang utangnya gede seperti Indika Energy (INDY) dan Bumi Resources (BUMI) ternyata gak sampai bernasib seperti BORN, malah INDY naik banyak. Tapi secara risiko, maka saham-saham tersebut lebih berisiko/bisa saja merupakan value trap, dibanding empat saham batubara yang disebut diatas.
Kesimpulannya, asalkan kita bisa berhati-hati, maka gak terlalu sulit untuk menghindari value trap ini. Dan lagi, kalau misalnya kita terjebak membeli saham murah padahal murahan, atau saham murah tapi perusahaannya mau bangkrut, maka asalkan kita sebelumnya menerapkan diversifikasi yang efektif dimana kita gak cuma beli 1 – 2 saham murah melainkan beberapa, maka berdasarkan pengalaman, meski mungkin ada satu atau dua saham yang ternyata merupakan value trap, tapi saham-saham lainnya tetap akan menghasilkan profit jumbo setelah beberapa waktu. Dan alhasil kinerja porto kita secara keseluruhan akan tetap bagus, sehingga sekali lagi, soal value trap ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
And btw, selain dua jenis value trap diatas, sebenarnya masih ada satu lagi jenis value trap, yakni saham dengan PBV yang rendah padahal nilai ekuitas perusahaan tidak riil/tidak sebesar kelihatannya, atau saham dengan PER yang rendah padahal laba bersihnya juga tidak riil/bukan berasal dari operasional perusahaan. Well, tapi berhubung artikel ini sudah lumayan panjang, maka soal ini akan kita bahas lain waktu.

Untuk artikel minggu depan, ada masukan?
Jadwal Seminar: Value Investing Basic Class, Jakarta, Sabtu 24 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Modernland Realty

Modernland Realty (MDLN) adalah salah satu stockpick penulis di masa lalu, tepatnya di tahun 2012 – 2013 ketika sektor properti tengah booming, dan anda bisa baca lagi ulasannya disini. Namun sayangnya ketika itu hasilnya gak bagus karena kita salah timing masuk di bulan Juni 2013, dimana dalam enam bulan berikutnya IHSG justru drop (dari 5,250 hingga mentok di 3,900), dan MDLN juga ikut turun dari 1,000 (sebelum stocksplit, setara 500) hingga mentok di 650 (setara 325). Dan meski di tahun 2014, seiring dengan pulihnya kondisi market, MDLN kembali naik, tapi kenaikannya berhenti di level 580-an di awal tahun 2015 karena setelah itu industri properti mulai lesu, dimana MDLN bersama juga mayoritas emiten properti lainnya membukukan penurunan kinerja, dan sahamnya ramai-ramai turun lagi.

(Catatan: Dari pengalaman di tahun 2013 tersebut, penulis banyak belajar tentang market timing, dan juga tentang siklus ekonomi industri termasuk industri properti, yang tidak kalah pentingnya dibanding value investing itu sendiri).
Hingga dua tahunan berikutnya, penulis tidak pernah melirik-lirik lagi MDLN ini (jadi kerjaan kita cuma liat laporan keuangan terbarunya setiap tiga bulan, dan ketika MDLN masih melaporkan penurunan laba maka yo wis, analisanya selesai). Sampai pada awal tahun/Kuartal I 2017 dimana MDLN akhirnya membukukan kenaikan laba, barulah kita kembali memasukkan MDLN kedalam planning. Hingga tahun penuh 2017, laba MDLN masih naik menjadi Rp615 milyar, dibanding Rp501 milyar di tahun 2016. Actually, jika dibandingkan dengan kinerjanya di tahun 2012 – 2013 lalu, maka kinerja terbaru MDLN ini masih kurang memuaskan. Namun jika melihat sektor propertinya sendiri yang mulai bangkit lagi setelah sempat mati suri dalam lima tahun terakhir, maka setelah tahun 2017 kemarin, kita bisa expect bahwa trend kenaikan laba MDLN akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
Okay, lalu MDLN ini perusahaan properti apa sih tepatnya? Aset-asetnya ada dimana saja?

MDLN merupakan bagian dari Grup Modern, dengan bisnis utama mereka sebagai distributor film kamera foto berbagai merk terutama Fuji Film dan Kodak, melalui PT Modern Internasional (MDRN). Namun berbeda dengan MDRN yang sekarang mati suri seiring dengan bubarnya industri film kamera (karena diganti oleh kamera digital), MDLN justru maju pesat. Setelah cenderung jalan ditempat sejak perusahaan berdiri di tahun 1983, milestone pertama MDLN dicapai pada tahun 2005 dengan membangun Jakarta Garden City (JGC) di Kawasan Cakung, Jakarta Timur, ketika itu seluas 270 hektar (yang kemudian meningkat menjadi 370 hektar, dan itu sangat luas untuk ukuran township didalam Kota Jakarta), dengan bekerja sama dengan Keppel Land asal Singapura, dan sampai sekarang JGC masih terus dikembangkan, termasuk berdiri IKEA dan Mall AEON. Menariknya, hingga Juni 2017, JGC masih memiliki sisa landbank seluas 250 hektar, yang artinya baru sekitar sepertiga dari total area JGC yang sudah dikembangkan, sehingga potensi pertumbuhan JGC di masa depan masih sangat terbuka lebar.

Selain JGC, MDLN juga punya beberapa aset properti berikut:
  1. Padang Golf Modern di Tangerang
  2. Modernhill Townhouse di Pondok Cabe, Tangerang Selatan
  3. Kota Modern seluas 400 hektar di Cipondoh, Tangerang
  4. Modern Cikande Industrial Estate (MCIE) di Cikande, Serang
  5. Perumahan murah type 36/72 dan 45/90 di MCIE
  6. Hotel Novotel Gajah Mada, Jakarta Barat, dan
  7. Sebuah pabrik yang memproduksi panel lantai, dinding, dan tangga.
Dan yang terbaru, sejak tahun 2016 lalu MDLN bekerja sama dengan Astra Land Indonesia untuk mengembangkan JGC, dimana kedua perusahaan mendirikan anak usaha dengan nama PT Astra Modern Land (AML). Ini menarik, karena seperti yang kita ketahui, Grup Astra dalam 2 – 3 tahun terakhir banyak berinvestasi ke sektor properti melalui Astra Land diatas, namun mungkin karena menyadari bahwa mereka belum berpengalaman di bidang properti ini, maka Astra kemudian bekerja sama dengan beberapa developer termasuk MDLN. Yep, jadi MDLN menawarkan pengalaman sebagai developer serta kompleks JGC itu sendiri (jadi Astra gak perlu repot-repot membangun sendiri township-nya sejak awal), sementara Astra menawarkan dukungan modal yang kuat serta brand Astra (karena brand ‘Modernland’ biar gimana belum sepopuler ‘Bumi Serpong Damai’, ‘Ciputra’, atau ‘Alam Sutera’). Thus, ini akan jadi kerjasama yang sangat baik. AML diproyeksikan akan menghasilkan pendapatan total Rp3.2 trilyun dalam beberapa tahun kedepan, yang akan dibagi dua untuk MDLN dan Astra Land.
Jadi secara prospek MDLN memang menarik, karena sebelum bekerja sama dengan Astra, perusahaan sebelumnya sudah bekerja sama dengan Keppel Land untuk mengembangkan JGC. Dan memang kalau dari sisi nilai revenue/pendapatan, kinerja MDLN sudah terbilang bagus bahkan ketika industri properti tengah lesu antara tahun 2013 – 2016, dimana pendapatannya konsisten di angka Rp2.5 – 3 trilyun per tahun. Problemnya, karena MDLN mengembangkan sebagian besar proyek-proyeknya dengan bekerja sama dengan pihak ketiga (Keppel Land, dan sekarang Astra), dan juga menggunakan utang obligasi (per akhir tahun 2017, MDLN memiliki utang obligasi senilai Rp4.7 trilyun, atau terbilang besar dibanding total asetnya yang Rp14.6 trilyun), maka jadilah margin laba MDLN terbilang tipis dibanding kebanyakan perusahaan properti lain, yakni hanya 15 – 20%, karena besarnya beban profit sharing dan bunga obligasi. Ini artinya, kalau nanti Feni Rose kembali sering nongol di televisi dengan slogannya yang terkenal, ‘Senin harga naik!’, maka mungkin laba bersih MDLN tetap akan segitu-gitu saja, atau naik tapi naiknya gak banyak, bahkan meski pendapatannya naik banyak (selain dari JGC, sejak tahun 2017 kemarin MDLN juga mulai panen dari MCIE dan Kota Modern Cipondoh).
Valuasi MDLN = Paling Murah
Kombinasi antara kurang populernya nama perusahaan (karena sekali lagi, Grup Modern lebih dikenal sebagai tukang foto ketimbang tukang bikin rumah), dan relatif kecilnya margin laba, menyebabkan MDLN tidak begitu disukai investor di market, dan alhasil sahamnya hingga awal tahun 2017 cenderung turun terus, tapi hikmahnya itu bikin valuasi sahamnya jadi paling murah dibanding developer besar lain. Yup, kalau melihat total aset perusahaan yang lebih dari US$ 1 milyar, serta posisi JGC yang juga sudah well established, maka MDLN bukanlah developer kelas teri yang masih harus struggleuntuk sekedar bertahan hidup, melainkan developer besar yang cuma butuh kondisi dimana sektor properti itu sendiri mulai menggeliat lagi, agar bisa kembali profit. Dan seperti yang sudah kita bahas disini, dan disini, intinya penulis personally sepakat dengan pernyataan manajemen MDLN (dan juga manajemen developer properti lainnya), yang mengatakan bahwa tahun 2017 kemarin merupakan titik terendah/titik balikdari industri properti setelah sebelumnya industri ini turun terus, sehingga untuk tahun 2018 dan kedepannya, properti berpeluang untuk booming lagi (meski, seperti halnya trend penurunannya terjadi pelan-pelan selama lima tahun, maka industri properti juga gak akan langsung booming dalam waktu singkat, melainkan perlu waktu).
Hanya masalahnya, karena industri properti ini tidak sampai benar-benar terpuruk seperti halnya sektor batubara di tahun 2016 lalu (di tahun tersebut ada banyak perusahaan batubara yang kolaps, berhenti beroperasi sama sekali, hingga gagal bayar utang. Dan kecuali Bakrieland Development, sampai sekarang tidak ada developer besar lain yang terpaksa melego aset-aset mereka), maka saham-saham properti turunnya tidak terlalu dalam, dan alhasil valuasi saham-saham di sektor ini tidak sampai kelewat rendah, dimana mayoritas saham dari developer papan atas masih dihargai pada PBV 1 – 2 kali. Memang, untuk developer yang kecil-kecil seperti Gading Development, Bumi Citra Permai, dst, valuasi mereka jauh lebih murah, tapi kan barangnya juga kurang bagus.
Tapi untuk MDLN ini, pada harga 330 dan berdasarkan LK Tahun Penuh 2017, PER dan PBV-nya masing-masing hanya 6.7 dan 0.6 kali, clearly undervalue whatsoever, dan itu pula yang menyebabkan penurunan sahamnya selama setahun terakhir mentok di 270 – 300. Jadi asalkan perusahaan bisa kembali membukukan kenaikan laba di tahun 2018 (yang penting asal naik saja, jadi laba tersebut gak usah terlalu besar), dan itu adalah ekspektasi yang masuk akal, maka MDLN berpeluang untuk naik pelan-pelan dengan risiko penurunan yang terbatas karena sekali lagi, valuasinya paling murah dibanding saham properti lain di kelasnya. Indikasi sudah rendahnya valuasi saham MDLN juga tampak dari keputusan manajemen yang mengalokasikan maksimal Rp250 milyar untuk buy back saham MDLN di market, dimana hingga akhir Desember 2017 kemarin, manajemen sudah membelanjakan sekitar Rp20 milyar untuk membeli saham MDLN di harga 290 – 330 (jadi sisa dananya masih banyak yakni sekitar Rp230 milyar, dimana kalau nanti sewaktu-waktu MDLN turun lagi, misalnya kalau pasar terkoreksi, maka penurunannya gak akan terlalu dalam/langsung naik lagi, karena ada yang nampung).
Kesimpulannya, jika dibanding beberapa saham yang pernah dibahas di blog ini, maka MDLN mungkin tidak menawarkan potensi profit yang terlalu besar, tapi disisi lain risikonya juga terbatas, sehingga it’s still a good deal. Disisi lain kalau misalnya kinerja perusahaan di tahun 2018 ini beyond expectation, misalnya karena joint venture-nya dengan Astra sukses menaikkan popularitas perusahaan sehingga unit-unit properti di JGC laku keras, maka potensi kenaikan harga saham hingga 50 – 100% dalam 1 – 2 tahun kedepan terbilang realistis mengingat di masa lalu, PBV MDLN ini serendah-rendahnya di 1.5 – 1.7 kali. Well, let see bagaimana nanti kinerja perusahaan di tahun 2018 ini.
PT Modernland Realty, Tbk (MDLN)
Rating Kinerja pada 2017: BBB
Rating Saham pada 330: AA
Disclosure: Ketika analisis ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang MDLN di harga 324. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Maret 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis via email.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Basic Class: Jakarta, 24 Maret 2018

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’, di Jakarta. Materi yang disampaikan adalah sama seperti kelas seminar yang biasanya, namun sesuai request, kali ini materinya dimodifikasi/ditambah beberapa materi tambahan yang disesuaikan khusus untuk para calon investor, investor pemula/beginner, atau investor yang sudah lama namun masih awam analisis fundamental, dan khususnya metode value investing. Berikut materi selengkapnya:

Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat menganalisa laporan keuangan perusahaan, menilai apakah perusahaan memiliki fundamental bagus atau tidak, hanya dalam beberapa detik. Dan cara untuk memperoleh seluruh informasi penting tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  3. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal.
  4. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham.
  6. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss.
  7. Cara menyusun investment/trading plan: Meski lebih banyak santai dan gak ngapa-ngapain, namun apa saja tugas rutin yang harus dikerjakan seorang value investor setiap hari, setiap bulan, setiap tiga bulan, hingga setiap tahun? Dan terakhir
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang value investing, investasi saham itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal. Plus cara untuk memperoleh info yang lebih komprehensif tentang suatu perusahaan, yang tidak akan anda peroleh dari sumber informasi dalam negeri.
Ilustrasi Value Investing

Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk membangun mental investor, yakni 1. Sabar, 2. Tidak mudah panik, dan 3. Tidak mudah serakah, berdasarkan keseharian penulis sendiri sebagai full time investor, baik di dalam maupun di luar stock market.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, dan Waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 24 Maret 2018
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.30 WIB.
  • Fasilitas: Softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut kelas ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Basic Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Layanan Gratis
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.

Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis bersama teman-teman peserta di salah satu kelas seminar sebelumnya, di Jakarta
TESTIMONIAL

Dear Mas Teguh,
Taun ini rasanya bakal jd peningkatan ekstrem dr portofolio saya. Bahkan sblm ipo aramco mas hehehe.. ini berkat advice value investing dr blog mas teguh,
Intinya tengkyu banget mas. Dulu sy udah baca2 graham & buffet, tapi karna ngga ada contoh yg jelas di indo (selain pak LKH) sy susah banget mau nerapin value investing. Kalo udah lancar, mgkn sy jg mau buat blog juga. Oiya mas teguh harus bangga, slama bbrp taun ini mas jadi “amazing senpai which changes my way of investing”. Your work improves my life.
Best regards,
Arif [...]

Ekonomi Bagus, Kenapa Saham Turun?

Ada yang menarik ketika Dow Jones turun nyaris 1,200 poin pada hari Senin, 5 Februari lalu, dan itu bukanlah fakta bahwa penurunan tersebut merupakan penurunan terbesar Dow dalam-satu-hari sepanjang sejarah (dari sisi poin, bukan persentase), melainkan respon Presiden Trump melalui akun Twitter-nya: ‘Di masa lalu, ketika berita baik keluar maka pasar saham akan naik. Tapi hari ini, ketika berita baik keluar pasar saham justru turun. Ini kesalahan besar! Dan kita punya banyak berita baik terkait perekonomian Amerika!’

Dan meski kemudian muncul berbagai respon positif dan negatif atas tweet tersebut, tapi logika pertanyaannya memang masuk akal: Kenapa kok pasar saham Amerika turun justru ketika berita baik terkait rendahnya angka pengangguran dll keluar? Bukankah berita baik seharusnya menjadi sentimen positif bagi pasar saham??
Tapi jika anda sudah cukup berpengalaman di stock market, maka anda akan hafal bahwa ini bukan kali pertama terjadi peristiwa saham turun ketika keluar good news, atau sebaliknya saham naik justru ketika keluar bad news, melainkan itu sudah sering terjadi sejak dulu. Contoh paling baru, pada April – Mei 2017 lalu, saham-saham batubara turun rata-rata 10 – 20%, justru setelah Harum Energy (HRUM) dkk melaporkan kenaikan laba bersih yang cukup signifikan di laporan keuangan (LK) mereka untuk Kuartal I 2017.
Namun jika anda memperhatikan, maka akan juga tampak fakta bahwa saham-saham batubara sudah naik jauh sebelum para emitennya melaporkan kenaikan laba bersih. Pada contoh saham HRUM, pada September 2016 sahamnya masih di level 1,000-an, sebelum kemudian naik dengan cepat hingga hampir saja tembus 3,000 pada awal April 2017. Jadi meski di bulan Mei-nya HRUM kembali turun hingga mentok di 2,000, tapi secara keseluruhan jika dihitung dari September 2016 tersebut, maka HRUM ini, demikian pula dengan saham-saham batubara lainnya, tetap terbilang naik signifikan.
Apa Itu Teori ‘Price In’?
Tapi pertanyaannya balik lagi: Kenapa kok saham-saham batubara sudah naik duluan sebelum para emitennya merilis LK, dan justru turun setelah LK tersebut dirilis? Nah, dalam hal ini penulis hendak memperkenalkan satu istilah yang mungkin tidak akan anda temukan di buku-buku text book tentang investasi saham: Price In Theory. Harap baca bagian ini baik-baik: Yang dimaksud dengan price in adalah suatu keadaan dimana harga sebuah saham sudah berada pada level yang mencerminkan/selaras dengan fundamental perusahaan dan/atau isu-isu yang beredar terkait perusahaan tersebut. Dalam hubungannya dengan indeks saham seperti Dow Jones dan IHSG, maka price in adalah keadaan dimana posisi indeks sudah mencerminkan fundamental ekonomi negara, dan juga selaras dengan berita-berita ekonomi (dan politik) nasional.
(Catatan: Kalau di dunia trader saham, maka price in theory, meski tidak sama persis, adalah kurang lebih sama dengan istilah buy on rumors, sell on news!).
Jadi kronologisnya seperti ini. Pertama, harga batubara mulai naik, dan semua orang bisa melihatnya. Kedua, karena harga batubara naik, maka muncul harapan alias ekspektasi bahwa emiten-emiten batubara akan membukukan kenaikan laba. Ketika ‘harapan’ ini semakin menguat, maka para investor, terutama mereka yang menyadari bahwa valuasi saham-saham batubara sudah kelewat murah (pada September 2016, ada banyak saham batubara yang PBV-nya cuma nol koma sekian), akan mulai membeli saham batubara bahkan meski emiten yang bersangkutan masih membukukan penurunan laba atau bahkan rugi. Alhasil, saham-saham batubara mulai naik. Ketiga, para emiten batubara akhirnya merilis LK dimana kinerja mereka indeed bagus, tapi ketika itu saham-saham batubara sudah naik tinggi hingga valuasinya tidak murah lagi/sudah match dengan LK terbaru tersebut, sebagian malah sudah kelewat mahal. Pada titik inilah beberapa investor yang ‘curi start’ membeli saham-saham batubara di harga bawah, ketika itu dengan ekspektasi bahwa LK-nya bakal bagus dan kemudian ekspektasi tersebut tercapai/sudah ‘price in’, akan mempertimbangkan untuk profit taking dulu. Karena mereka menyadari bahwa agar saham-saham batubara bisa naik lebih tinggi lagi, maka dibutuhkan ekspektasi yang baru lagi.
Dan ketika sudah tidak ada/belum muncul lagi ekspektasi yang baru tersebut, maka para investor ini kemudian jualan. Inilah yang kemudian menyebabkan penurunan saham-saham batubara di bulan Mei, yakni justru ketika para emiten sudah merilis LK terbaru mereka. Tapi karena yang jualan hanyalah mereka yang beli HRUM dkk di harga bawah (sementara orang-orang yang baru masuk ke saham batubara di harga atas, mereka gak akan jualan karena posisinya masih nyangkut, dan mereka tidak akan cut loss karena toh nyatanya kinerja emiten batubara terbilang bagus), maka penurunan yang terjadi tidak terlalu dalam, dan tidak sampai mengembalikan saham-saham batubara ke level sebelum mereka mulai rally, September 2016 lalu.

Pergerakan indeks saham-saham tambang dalam setahun terakhir. Perhatikan bahwa indeks tambang turun signifikan pada bulan Mei 2017 (kotak merah), tapi beberapa waktu kemudian naik lagi

Nah, jadi bisa disimpulkan bahwa penurunan yang terjadi pada saham-saham batubara di bulan Mei 2017 merupakan koreksi sehat, yang bukan disebabkan karena para perusahaan batubara melaporkan kinerja jelek, tapi justru karena saham-saham batubara sudah naik tinggi sebelumnya hingga harganya sejak awal sudah match/sudah price in dengan kondisi fundamental terbaru perusahaan. Berbeda dengan penurunan saham berkepanjangan karena adanya masalah fundamental, ‘koreksi sehat’ seperti ini biasanya tidak akan terjadi terlalu lama dan juga tidak akan terlalu dalam, dan lebih merupakan ‘istirahat sejenak sebelum nanti mulai jalan lagi’. Dan memang terbukti, saham-saham batubara pada hari ini sudah lebih tinggi dibanding posisi tertinggi mereka (sebelum terkoreksi) pada April 2017 lalu.
Kenapa muncul bad news ketika sebuah saham/indeks saham turun?
Jadi balik lagi ke penurunan Dow Jones: Kenapa pada 5 Februari lalu Dow turun signifikan justru ketika data-data ekonomi Amerika menunjukkan angka-angka yang bagus? Ya itu karena Dow memang sudah naik banyak sejak dua tahun sebelumnya, ketika itu memang karena di-drive oleh ekspektasi terkait pulihnya kondisi ekonomi. Jadi ketika ekspektasi tersebut akhirnya terpenuhi, dimana ekonomi Amerika sekarang ini lagi bagus-bagusnya, maka justru inilah saatnya untuk keluar dulu. However, karena yang jualan hanyalah mereka yang mulai belanja saham ketika Dow dua tahun lalu masih di 18,000-an, maka kecuali terjadi peristiwa ekonomi politik yang serius, penurunan Dow tidak akan terlalu besar/tidak akan sampai balik lagi ke level 18,000 tersebut.
Tapi Pak Teguh, seperti yang anda bahas di artikel minggu lalu, kenapa ketika Dow turun total 10.3%, berita yang kemudian muncul di media-media mainstream adalah bad news terkait inflasi, dan bukannya soal ‘price in’ ini? Well, itu karena untuk bisa mengerti bahwa harga atau valuasi sebuah saham sudah match/sudah price in atau belum dengan fundamentalnya, maka seorang investor haruslah mengerti tentang analisis fundamental itu sendiri, dan khususnya mengerti soal metode value investing. Dan problemnya, jangankan orang awam, dua orang value investor yang sama-sama berpengalaman sekalipun bisa saja berbeda pendapat tentang apakah saham A yang naik dari harga 500 ke 1,000 itu sudah price in dengan kinerja fundamental terbaru perusahaan, atau belum?
Karena itulah, kalau misalnya para broker dan analis sekuritas menerima pertanyaan dari nasabahnya dan wartawan terkait jatuhnya Dow, dan mereka kemudian menjawab, ‘Soalnya valuasi Apple dkk emang udah mahal pak, jadi ya harus turun dulu’, maka mereka akan diberondong pertanyaan lanjutan: ‘Tau dari mana kalau Dow sudah mahal?’ ‘Gimana cara ngitungnya?’ ‘Jadi Dow harusnya berada di level berapa??’ (karena, honestly, jangankan di Indonesia, di negara maju seperti Amerika sekalipun, sangat sedikit investor yang benar-benar menganalisa saham pake analisis fundamental/kaidah value investing).
Tapi kalau para broker dan analis bisa menemukan ‘peristiwa penting’ untuk menjelaskan penurunan Dow, dalam hal ini cerita soal inflasi tadi (meski ceritanya sebenarnya mengada-ngada), maka soal inflasi itulah yang kemudian menjadi kambing hitam, tapi setidaknya itu akan cukup untuk membuat orang-orang ngomong, ‘Oh, jadi Dow turun karena itu toh!’ Padahal Dow turun ya bukan karena inflasi atau apapun itu, melainkan karena faktor price in tadi (anda bisa membaca lebih lanjut soal ‘penyebab keluarnya bad news setiap kali saham turun’, di artikel ini).
Anyway, jadi sekarang anda mengerti bahwa, seperti yang penulis sampaikan di artikel minggu lalu, terdapat dua penyebab turunnya saham/indeks saham. Yang pertama adalah karena faktor fundamental/terjadi penurunan kinerja perusahaan, dan kedua karena faktor price in ini. Sudah tentu, untuk bisa membedakan keduanya maka anda harus telebih dahulu paham soal fundamental perusahaan, valuasi saham, hingga makroekonomi serta analisis industri/sektoral. Tapi yah, meski memang bikin bingung pada awalnya, tapi kalau sudah terbiasa maka itu nggak sulit kok :) Anda tinggal baca-baca lagi saja artikel-artikel lama di blog ini.
Kecuali ada peristiwa penting, untuk minggu depan kita akan bahas satu saham bagus dan (masih) murah, yang kinerjanya di Full Year 2017 barusan beyond expectation.
Penulis membuat Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Tahun Penuh 2017. Anda bisa memperolehnya disini.
Jadwal Seminar: Value Investing Advanced Class, Jakarta, Sabtu 17 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Penurunan Dow Jones & Pengaruhnya ke IHSG

Setelah sebelumnya cenderung naik terus, Dow Jones Industrial Average (DJIA), seperti yang anda ketahui, sejak awal Februari kemarin mulai bergerak turun hingga sempat ditutup di posisi 23,860, atau drop 10.3%dari posisi tertingginya yakni 26,616. Secara teori, jika indeks saham turun hingga 10% dari level tertingginya, maka artinya pasar saham di negara yang bersangkutan ‘resmi’ memasuki periode koreksi/bearish. Dan berhubung yang turun adalah Dow dkk (S&P500 dan Nasdaq juga turun), yang notabene merupakan benchmark dari pergerakan bursa saham global, maka pertanyaannya sekarang, bagaimana pengaruh penurunan DJIA ini terhadap IHSG?

Tapi sebelum menjawab pertanyaan diatas, terlebih dahulu kita jawab pertanyaan berikut: Apa yang sebenarnya tengah terjadi di Amerika Serikat sana, sehingga DJIA turun? Bukankah perekonomian Amerika, setidaknya menurut klaim dari Presiden Trump, justru sedang bagus-bagusnya?
Nah, kalau anda baca-baca pemberitaan di media mainstream tentang penurunan Dow, maka isunya adalah adanya kekhawatiran akan tingginya inflasi di US, sebagai efek samping dari rendahnya suku bunga serta pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat (hubungan antara inflasi, suku bunga bank, serta pertumbuhan ekonomi bisa anda baca disini). Tapi faktanya inflasi di US terakhir masih aman terkendali di level 2.1%. Memang, angka tersebut lebih tinggi dibanding tahun 2015 lalu yang hanya 0%, tapi dalam 10 tahun terakhir, angka inflasi di US ya stabilnya di level kisaran 1 – 2%. Dan kalaupun kedepannya terdapat risiko bahwa inflasi tersebut bakal naik, maka Federal Reserve sebagai Bank Sentral Amerika tinggal menaikkan suku bunga acuan/Fed Rate, yang saat ini masih berada di level 1.5%, atau jauh dibawah levelnya di awal dekade 2000-an yang mencapai 4 – 5% (sehingga masih terbuka ruang lebar bagi fed rate tersebut untuk dinaikkan).

Data inflasi di Amerika Serikat dalam 10 tahun terakhir. Sumber: www.tradingeconomics.com

Lalu kalau bukan soal inflasi, lalu apa masalahnya? Well, kalau mau jujur ya nggak ada masalah apa-apa. Setelah mengalami krisis subprime mortgage di tahun 2008 lalu, bisa dikatakan bahwa Amerika pada saat ini sudah benar-benar recover dari krisis tersebut, dimana perusahaan-perusahaan besar disana berlomba-lomba membukukan kinerja positif, terutama perusahaan teknologi. Even Twitter Inc., salah satu perusahaan teknologi yang paling populer namun sedari dulu nyaris selalu membukukan rugi, di tahun 2017 kemarin untuk pertama kalinya membukukan profit, dan sahamnya pun naik.
Jadi kalau dikatakan bahwa penurunan Dow disebabkan oleh ‘something wrong’ in the US economy, maka mengutip pernyataan Presiden Trump, it’s fake news. Namun demikian harus juga dicatat bahwa adanya problem ekonomi maupun perubahan fundamental/kinerja perusahaan bukanlah satu-satunyapenyebab penurunan Bursa Saham. Penyebab kedua adalah, justru ketika ekonomi sedang bagus-bagusnya, maka seringkali harga-harga saham terus saja naik hingga valuasinya tidak lagi mencerminkan nilai wajarnya (istilahnya overvalue), sehingga secara normalnya akan terjadi koreksi sehat untuk mengembalikan harga-harga saham ke posisi wajar mereka masing-masing.
Dan memang ketika Dow berada di level 26,000-an, beberapa waktu lalu, maka berdasarkan angka PER dan PBV dari 30 saham komponen DJIA, maka valuasi saham-saham di Amerika berada di salah satu level tertingginya, yang hanya pernah dicapai 3 kali dalam 100 tahun terakhir. Mengingat DJIA sudah naik nyaris 4 kali lipat dalam waktu sepuluh tahun terakhir (pada titik terendah krisis 2008, DJIA berada di level 6,626), maka ini bukanlah fakta yang mengejutkan. Secara khusus, kenaikan DJIA juga tambah kencang dalam dua tahun terakhir, dimana setelah terakhir mengalami koreksi dengan turun ke 16,000 pada Oktober 2015 lalu, selanjutnya Dow terus saja naik hingga total 10,000 poin (ke 26,000-an) dalam dua tahun tiga bulan, nyaris tanpa koreksi berarti.
Dan penulis sendiri sebenarnya agak terganggu dengan kenaikan DJIA yang seperti tanpa henti, hingga para technopreneur seperti Mr. Bezos dan Zuc tiba-tiba saja bersanding dengan Om Bill dan Opa Warren di daftar Majalah Forbes (which is ridiculous). Jadi ketika Dow akhirnya turun juga, maka itu justru sudah ditunggu-tunggu. Kemudian, karena problem utamanya sebatas tingginya valuasi saham-saham di Amerika, maka kalau kedepannya Dow lanjut turun lagi (dan normalnya memang demikian. Secara historis, setiap kali Dow turun banyak, maka dia tidak  akan langsung pulih lagi dalam waktu kurang dari sebulan), penulis kira penurunannya tidak akan terlalu dalam/tidak akan sampai mengembalikan Dow ke level sebelum dia mulai rally dua tahun lalu, yakni 16,000-an. However, kalau turun sampai level 20,000-an, maka itu masih mungkin.
Lalu bagaimana dengan IHSG?
Secara umum kondisi di Indonesia sekarang ini terbilang mirip dengan Amerika: Ekonomi lagi bagus, saham-saham lagi naik, dan kenaikan IHSG juga terasa lebih kencang dalam dua tahun terakhir (posisi tertinggi IHSG saat ini adalah 6,686, atau naik 40% dibanding akhir Januari 2016 di level 4,771). Dan seperti halnya di Amerika, sekarang ini sangat sulit mencari saham-saham blue chipyang valuasinya masih murah.
Karena kondisinya mirip, maka secara teori ketika Dow turun 10%, harusnya IHSG bakal ikut turun kurang lebih segitu juga. Tapi nyatanya IHSG kemarin hanya turun sampai mentok di 6,427 (turun 3.8%), sebelum kemudian membal lagi ke 6,500-an. Tapi disinilah menariknya: Kalau anda perhatikan pergerakan saham-saham secara individual, maka ada banyak saham yang turun signifikan ketika Dow mulai turun, dengan total penurunan yang jauh lebih dalam dibanding penurunan IHSG itu sendiri. Disisi lain ada beberapa saham-saham big caps yang pergerakan mereka berpengaruh besar terhadap IHSG, seperti HMSP dan UNVR, yang justru naik sendiri ketika pasar mulai under attack karena sentimen penurunan Dow, biasanya naiknya pada saat sesi pre-closing. Inilah yang menyebabkan IHSG, yang mungkin totalnya turun 1 – 2% pada hari tertentu, pada sore harinya mendadak naik hingga total penurunnya hanya 0.5% saja.
Nah, jadi anda sudah mengerti bukan? Yup, kondisi pasar pada Februari ini mirip dengan kondisi pasar Desember 2017 kemarin, dimana meski IHSG ketika itu naik luar biasa hingga lebih 6% (dari 5,900-an ke 6,300-an), tapi ada banyak saham-saham terutama second liner yang justru bertumbangan (baca lagi ulasan market Desember 2017 lalu disini, coba baca juga komentar-komentarnya). Jadi kalau yang kita lihat adalah pergerakan dari saham-saham itu sendiri, dan bukan dari IHSG-nya, maka pasar saham Indonesia sejak awal Februari kemarin juga sebenernya tengah terkoreksi/turun, dengan penurunan yang kurang lebih sama dengan penurunan Dow Jones. Cara membaca pasar seperti ini mungkin sulit untuk dilakukan: Koreksi apanya? Jelas-jelas IHSG masih aman-aman saja kok! Tapi coba anda tanyakan soal itu ke para fund manager reksadana, yang kinerja mereka hampir semuanya kalah telak dibanding IHSG: Bagaimana situasi pasar sepanjang tahun 2017 lalu, dan juga sepanjang awal 2018 ini? Apakah mayoritas saham-saham di BEI sepanjang tahun 2017 lalu benar-benar naik hingga 20% seperti halnya kenaikan IHSG? Ataukah kenaikan IHSG yang spektakuler tersebut hanya ditopang oleh saham-saham yang itu-itu saja??
Kesimpulan
Okay, jadi mari kita simpulkan lagi: 1. Dow Jones saat ini sedang mengalami ‘koreksi sehat’ yang bukan disebabkan oleh problem ekonomi, melainkan karena valuasi saham-saham disana sudah kelewat mahal saja, 2. Normalnya koreksi ini gak akan langsung selesai dalam waktu dekat, melainkan butuh waktu minimal 2 – 3 bulan, selain karena valuasi saham-saham di Amerika belum bisa dikatakan terdiskon, dan 3. Ketika Bursa Saham Amerika turun, bursa-bursa saham diseluruh dunia akan ikut turun tak terkecuali di Indonesia, apalagi kondisi disini mirip dengan di Amerika (jadi baru akan lain ceritanya kalau IHSG sekarang ini masih di level 5,000-an, misalnya).
Namun sekali lagi, jika yang jadi patokannya adalah pergerakan IHSG, maka kalaupun nanti Dow benar-benar lanjut drop sampai level 20,000-an, penulis kira IHSG tetap tidak akan turun terlalu dalam(atau turun dalem sebentar, tapi langsung naik lagi). However, pengalaman di bulan Desember 2017 kemarin, dan juga di sepanjang tahun 2017 itu sendiri, telah mengajarkan bahwa stabilnya (atau bahkan naiknya) IHSG tidak selalu berarti bahwa saham-saham memang sedang naik semua, melainkan bisa saja IHSG naik sendiri sementara kebanyakan saham-saham justru berjatuhan.
Jadi, yap, setelah sempat dikasih ‘nafas’ sejenak di bulan Januari kemarin, untuk sekarang kita boleh lebih waspada lagi. And don’t worry, berbeda dengan koreksi pasar karena adanya problem di ekonomi makro, koreksi sehat karena mahalnya saham-saham biasanya cuma sebentar/hitungan minggu hingga 2 – 3 bulan, jadi gak akan berkepanjangan seperti di tahun 2008 dan 2015 lalu. Malah kalau kita melihatnya dari sudut pandang value investing, maka bagi anda yang melewatkan stock big sale! di bulan Desember 2017 kemarin (waktu itu saham-saham konstruksi dan batubara masih pada murah semua), maka dalam waktu dekat ini BEI mungkin akan menggelar big sale sekali lagi. We’ll see!

Jadwal Seminar: Value Investing Advanced Class: Jakarta, 17 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Advanced Class: Jakarta, 3, 10, & 17 Maret 2018

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik setidaknya 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy, dan kapan waktu terbaik untuk sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias beli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah??

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Lokasi, dan Waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Maret (sudah penuh!), 10 Maret (sudah penuh!), dan 17 Maret 2018 (sudah penuh juga!).
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.30 WIB.
  • Fasilitas: Softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta. Untuk jadwal hari Sabtu, 3 & 10 Maret, kursinya sudah penuh. Jadi pendaftaran berikutnya dianggap untuk kelas tanggal 17 Maret 2018.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Discount!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Layanan Gratis!
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman di salah satu kelas seminar sebelumnya, di Jakarta.
Testimonial

Terima kasih pak teguh.

Saya banyak belajar dari bapak.

Sedikit testimoni, setelah membeli saham mengikuti arahan ebook kuartal bapak, saya mendapat profit jumbo dari HRUM dan BBNI. Saham lain meskipun turun tetapi tidak terlalu banyak.

Saya juga banyak belajar dari website dan buku pak teguh.

Semoga pak teguh tetap sehat sehingga terus berkarya dan mencerdaskan investor Indonesia
Bravo pak teguh.


Salam
Daniel-Samarinda


Pengumuman: Seluruh jadwal kelas dari tanggal 3, 10, dan 17 Maret, semuanya sudah FULL SEAT! Jadi bagi teman-teman yang belum mendaftar maka harap tunggu jadwal berikutnya, April nanti (akan segera diumumkan jika jadwalnya sudah [...]

Berapa Lama Sebaiknya Kita Hold Saham?

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan sebagai berikut, ‘Pak Teguh, saya dengar Warren Buffett (WB) itu kalau sudah beli saham maka tidak pernah dijual lagi/di hold selamanya. Demikian pula Pak Lo Kheng Hong, yang dikatakan bisa hold saham sampai 7 tahun. Tapi Pak Teguh sendiri, saya perhatikan anda hold saham paling lama cuma sampai 1 – 2 tahun saja, selebihnya cuma hold beberapa bulan, dan ada juga saham-saham yang dibeli karena perusahaannya bayar dividen, untuk kemudian dijual setelah nanti dapet dividennya. Bisa tolong dijelaskan soal ini Pak?’

Nah, berhubung pertanyaan ini kemungkinan mewakili pertanyaan dari temen-temen investor lainnya, maka sekalian saya bikinkan saja artikelnya.
Jadi, yap, penulis sendiri ketika dulu pertama kali baca-baca tentang metode value investing, terutama tentang cara investasinya Warren Buffett, maka salah satu perbedaan mendasar antara beliau sebagai value investor dengan investor/trader saham kebanyakan adalah terkait holding period, alias seberapa lama ia memegang suatu saham, dimana jika investor lain cenderung main jangka pendek, maka WB mainnya jangka panjang. Dan yang dimaksud dengan ‘panjang’ disini adalah benar-benar puanjaaang, yakni antara 5 tahun hingga selamanya. Salah satu quote WB yang terkenal adalah, ‘my favorite holding period is forever’, yang mengindikasikan bahwa kalau Berkshire Hathaway (BRK) membeli saham tertentu, maka selanjutnya saham tersebut tidak akan dijual lagi sampai kapanpun.
Dua Kelemahan
Dan ketika itu, sebagai pemula, penulis pun kemudian mencoba menerapkan cara investasi WB tersebut. Tapi tak butuh lama sebelum saya kemudian menemukan setidaknya dua kelemahan dari strategi ‘holding forever’-nya WB ini. Pertama, keputusan untuk tetap hold saham akan menjadi keputusan yang buruk dalam kondisi bear market. Penulis masih ingat, pada bulan Mei 2010, saya untuk pertama kalinya berkenalan dengan market crash, dimana IHSG drop dari 2,971 hingga mentok di 2,501, atau drop 16% hanya dalam sebulan, dan ketika itu ada banyak saham-saham yang drop-nya sampai 20 – 30%.
Dan meski di bulan Juni-nya pasar langsung pulih lagi, dimana saham-saham bagus pada naik lagi, tapi dari pengalaman koreksi pasar tersebut penulis langsung menyadari bahwa seandainya saya beli saham-saham tertentu pada tahun 2007 lalu, lalu tetap meng-hold-nya meski pasar mengalami crash yang jauh lebih buruk di tahun 2008, maka bisa jadi sampai tahun 2010 tersebut, atau 3 tahun kemudian, saham yang saya pegang masih baru sekedar balik modal saja, alias baru naik lagi ke posisi harga belinya. Jadi dalam hal ini meski posisinya memang nggak rugi, tapi kita jadi kehilangan waktu 3 tahun yang amat sangat berharga, itu juga dengan asumsi kita gak panik ketika terjadi krisis, alias cukup kuat mental untuk terus hold sahamnya termasuk ketika krisis tersebut mencapai titik terendahnya, pada Oktober 2008 lalu.
Diluar faktor koreksi pasar/market crash yang bisa terjadi sewaktu-waktu, sekitar dua tahun kemudian penulis menyadari satu lagi faktor lainnya yang mengharuskan seseorang untuk menjual sahamnya (sehingga gak jadi pegang ‘forever’), yakni jika perusahaan yang bersangkutan mengalami perubahan fundamental. Yup, pada tahun 2011, saham-saham batubara mengalami kenaikan yang luar biasa seiring dengan kinerja emiten yang sangat baik, tapi di tahun 2012-nya laba mereka mulai turun, dan sahamnya pun ikut turun. Contohnya, Resource Alam Indonesia (KKGI), dimana sahamnya naik dari 1,000-an sampai tembus 8,000 (sebelum stocksplit) pada awal tahun 2012. Tapi pada Kuartal I 2012, perusahaan membukukan penurunan laba, atau dengan kata lain mengalami perubahan fundamental. Dan ternyata, seiring dengan penurunan harga batubara ketika itu, kinerja KKGI tidak pernah pulih lagi sampai tahun 2016. Sementara sahamnya? Well, drop dari 8,000-an tadi hingga as low as 500-an (sekali lagi, sebelum stocksplit), atau jeblok lebih dari 90 persen! Jadi bisakah anda bayangkan jika seseorang membeli KKGI ini di tahun 2012 tadi, lalu memutuskan untuk ‘hold forever’?? Karena faktanya, meski sejak pertengahan tahun 2016 kemarin saham KKGI mulai naik lagi, tapi sampai sekarang harganya masih sangat jauh untuk mencapai titik tertingginya di tahun 2012 lalu.
Itu pertama terkait faktor koreksi pasar, dan perubahan fundamental emiten. Kedua, penulis kemudian juga menyadari bahwa strategi ‘holding forever’ tidak menghasilkan kinerja investasi yang optimal. Contoh, pada akhir dekade 1980-an, WB mulai mengakumulasi saham Coca Cola (KO), hingga akhirnya BRK memegang KO senilai lebih dari US$ 1 milyar pada tahun 1990, dan ketika itu KO berada di level US$ 4 per saham dan terus naik. Hingga di tahun 1998, KO sudah berada di level diatas US$ 40, atau naik 10 kali lipat dari harga beli WB. Setelah itu KO mulai turun, dan terus saja turun sampai tinggal US$ 20 di tahun 2004 (penulis belum cek karena sulit cari datanya, tapi kemungkinan pada tahun-tahun tersebut Coca Cola mengalami penurunan kinerja). Dan barulah pada hari ini, atau hampir 20 tahunsejak saham KO mencapai titik tertingginya di tahun 1998, saham KO kembali naik ke level US$ 40-an.
Harga saham Coca Cola dari tahun 1975 sampai sekarang. Perhatikan bahwa harga sahamnya sekarang ini tidak jauh berbeda dibanding tahun 1998 lalu. Source: Google.
Jadi, yes, pada akhirnya WB tetap profit besar dari KO, tapi profit 1,000% dalam waktu hampir 30 tahun tentunya bukan kinerja investasi yang memuaskan. Memang, keuntungan terbesar WB dari KO bukan cuma dari kenaikan harga sahamnya, melainkan juga dari dividen, dimana saat ini BRK menerima dividen dari KO sekitar US$ 500 – 600 juta per tahun, tapi tetap saja total profitnya tidak terlalu besar, sekali lagi, jika mempertimbangkan holding period-nya yang kelewat lama. Jika WB menjual KO di tahun 1998, maka ia ketika itu sudah menghasilkan profit 10 kali lipat, dan ia bisa menginvestasikan kembali uangnya di saham lain untuk menghasilkan profit yang bisa saja mencapai 10 kali lipat lagi dalam 10 tahun berikutnya (jadi totalnya WB cuan 100 kali lipat dalam 20 tahun). But still, bukan itu yang ia lakukan.
‘Holding Period’ Buffett di Tahun 1960-an
Penasaran, penulis kemudian pelajari lebih lanjut cara investasi WB, apakah beliau sejak awal kariernya sebagai investor sudah menerapkan strategi holding forever, ataukah dulu strateginya beda lagi. Daaaan ternyata pada tahun 1960-an, WB sama sekali tidak pernah membeli saham untuk kemudian ‘dipegang selamanya’, melainkan untuk dijual lagi setelah beberapa waktu, tentunya pada harga yang lebih tinggi. Kalau anda baca-baca annual letter WB sejak ia masih mengelola Buffett Partnership, maka disitu ada banyak disebutkan saham-saham yang WB beli pada harga murah, lalu dijual kembali pada harga yang memang seharusnya. Sebut saja Sanborn Map, Dempster Mill, hingga HKC Dept. Store. Termasuk ketika WB membeli saham BRK di tahun 1962, tujuan awalnya adalah untuk nanti dijual lagi pada harga yang (diharapkan) lebih tinggi (tapi karena sedikit ‘kecelakaan’, Berkshire Hathaway akhirnya tetap di-hold WB sampai sekarang, meski aset-aset tetap perusahaan sudah dilego semua/tinggal sisa nama perusahaannya saja sebagai holding company). Pada tahun 1960-an, WB rata-rata menjual kembali sahamnya setelah 1 – 2 tahun, atau paling lama 3 tahun, tapi ada juga saham yang langsung ia jual kembali di tahun yang sama (jadi hold-nya hanya beberapa bulan).
Setelah menyadari fakta diatas, termasuk setelah baca-baca (dan berlatih) lebih banyak lagi tentang metode value investing, maka penulis kemudian mengerti bahwa, value investing itu bukanlah ‘Beli saham hari ini lalu jualnya 5 tahun kemudian’, sama sekali bukan! Melainkan: Beli saham bagus pada harga murah. Lalu bagaimana kalau nanti saham tersebut naik terus hingga valuasinya jadi gak murah lagi? Atau jika fundamentalnya gak bagus lagi? Ya ketika itulah, anda bisa mempertimbangkan untuk menjualnya, dan nanti duitnya dipindah ke saham lain yang juga bagus, tapi valuasinya masih murah. Gitu!
Okay, lalu apa yang menyebabkan WB mengubah strateginya, dari yang tadinya hold selama beberapa bulan hingga 2 – 3 tahun, menjadi ‘hold forever’? Penulis sendiri perlu waktu cukup lama untuk menjawab ini, tapi sekarang saya sudah mengerti jawabannya: Kalau anda pegang Rp10 juta, maka anda bisa invest di saham-saham apa saja, termasuk saham gak likuid sekalipun, dan anda bisa dengan mudah menjualnya kembali setelah beberapa waktu.
Tapi kalau anda pegangnya let say Rp10 milyar, maka tentu gak segampang itu untuk melakukan aktivitas jual beli saham, dimana anda gak bisa lagi beli saham yang anda incar secara sekaligus dalam satu kali transaksi, demikian pula ketika anda menjualnya gak bisa sekaligus. Dengan kata lain, investor dengan dana besar tidak bisa ‘gerak lincah’ seperti investor lain yang dananya lebih kecil. Bahkan WB sendiri butuh waktu beberapa tahun (dari 1987 sampai 1990) hanya untuk mengakumulasi saham Coca Cola, senilai total US$ 1 milyar ketika itu.
Dan pada hari ini, nilai investasi BRK di KO sudah naik menjadi US$ 15 milyar (harusnya US$ 10 milyar, tapi WB kemudian beberapa kali menambah investasinya di KO). Pertanyaannya, kalau untuk membeli saham KO senilai US$ 1 milyar saja butuh waktu beberapa tahun, maka berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjual saham yang sama senilai 15 kali lipat-nya???
Karena itulah, penulis kira WB bukannya nggak mau menjual KO di tahun 1998 lalu, tapi ia sejak awal gak bisa/sulit untuk menjualnya. WB sendiri melalui annual letter-nya mengakui bahwa sebelum tahun 1980, ia selalu menerapkan strategi beli saham murah, lalu kemudian dijual di harga tinggi. Tapi seiring dengan terus meningkatnya dana kelolaan, WB kemudian menyadari bahwa ia gak bisa lagi menerapkan strategi jual – beli seperti itu. Jadi memasuki tahun 1980-an, terutama setelah ketemu Charlie Munger (justru Munger-lah yang pertama kali mengajarkan WB untuk beli saham lalu hold selamanya), WB kemudian mengubah strateginya: Hanya beli saham-saham yang benar-benar bagus (sebelumnya WB kadang beli saham dari perusahaan kelas coro, asalkan harganya benar-benar terdiskon) pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsik-nya, lalu hold selamanya.
Dan berbekal strategi ‘holding forever’ tersebut, BRK kemudian sukses untuk terus bertumbuh sampai sekarang, but still, jika dibanding return investasi WB di tahun 1960-an, maka kinerja BRK dalam satu atau dua dekade terakhir terbilang kurang memuaskan (baca lagi paragraf diatas, soal tidak optimalnya kinerja investasi dengan strategi hold forever). Dan WB sendiri mengakui bahwa periode 1960-an justru merupakan periode terbaiknya sebagai seorang value investor, dimana ia ketika itu membukukan rata-rata return 29% per tahun, sudah termasuk tahun-tahun krisis. Sementara pada hari ini, rata-rata return BRK dari tahun 1965 – 2016 hanya 19% per tahun (tapi ini sekaligus mematahkan kritik yang mengatakan bahwa ‘Warren Buffett nggak sehebat itu karena return investasinya bahkan gak nyampe 20% per tahun’. Well, silahkan anda tunjuk investor manapun yang anda anggap hebat, lalu suruh dia pegang dana sebesar yang dipegang WB saat ini: Kira-kira bisa nggak dia dapet return 19% juga per tahunnya?).
Kesimpulan
Kebanyakan investor pemula, ketika ia pertama kali googling nama ‘Warren Buffett’, maka yang ia pelajari adalah cara investasi WB pada saat ini, yakni ketika beliau sudah menjadi salah satu orang terkaya di dunia. However, investor berpengalaman mengerti bahwa cara investasi WB, meski tetap konsisten berpedoman pada kaidah value investing, namun senantiasa berubah dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu, karena menyesuaikan dengan besarnya dana kelolaan, dll. Jadi kecuali nama anda juga pernah nongol di Majalah Forbes, maka anda tidak bisa berinvestasi dengan cara yang persis sama dengan cara investasi WB sekarang ini, melainkan anda boleh coba baca lagi, seperti apa cara investasi WB ketika dulu dananya masih terbilang kecil (meski mungkin juga perlu dicatat bahwa WB sejak dulu tidak pernah trading cepat/swing trading. Masa hold beliau paling singkat adalah beberapa bulan).
Dan memang itulah yang penulis lakukan: Mempelajari strategi investasi WB di masa lalu, dimana setelah disesuaikan lagi dengan kondisi pasar saham di Indonesia dll, hasilnya adalah ‘Strategi investasi saham ala Teguh Hidayat’, seperti yang banyak disampaikan di blog ini. Tapi meski ada banyak perbedaan, yang penting prinsip value investing-nya tetap dipake: Beli saham bagus pada harga murah, that’s it. Dan hasilnya, seperti yang bisa anda baca-baca lagi di arsip analisa saham di blog ini, terbilang cukup baik.
Btw untuk minggu ini tadinya kita mau bahas konstruksi, tapi setelah penulis pertimbangkan lagi, ngapain bahas saham yang udah naik duluan, jadi yo wis nanti saja. Untuk minggu depan kita akan bahas soal ‘value trap’.

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal IV sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Value Investing Advanced Class, Jakarta, Sabtu 17 Maret 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham Properti

Di artikel minggu lalu, penulis menyebutkan bahwa ketika IHSG naik 20.0% sepanjang tahun 2017, namun terdapat dua sektor yang justru tumbuh negatif, yakni agriculture atau perkebunan, dan properti & konstruksi. Nah, karena biasanya value opportunity terletak di sektor-sektor yang ‘ketinggalan kereta’ ini, maka dua sektor tersebut menarik untuk dibahas. Untuk sektor perkebunan sudah kita bahas, jadi sekarang giliran sektor berikutnya: Properti & konstruksi. Kebetulan, seiring dengan situasi market bullish sepanjang awal tahun 2018 ini, saham-saham konstruksi kelihatannya sudah pada naik semua. Tapi bagaimana dengan properti?

Penulis pertama kali melirik kembali sektor properti pada Juli 2017, ketika itu karena melihat bahwa IHSG sudah naik 16.6% dalam setahun terakhir, sementara indeks properti & konstruksi (anda bisa lihat di Yahoo Finance, kodenya ^JKPROP) justru drop 9.0%, dan karena ketika itu saham-saham properti sudah banyak yang PBV-nya kurang dari 1 kali, atau sudah mirip valuasi saham-saham batubara ketika mereka berada di titik terendahnya, pertengahan 2016 lalu. Setelah mempertimbangkan dan menganalisis banyak faktor, penulis kemudian menyampaikan bahwa, yup, memang ada value opportunity disini, dimana saham-saham properti berpeluang untuk naik banyak seperti hal-nya batubara. Anda bisa baca lagi ulasan  selengkapnya disini.
Waktu berlalu. Dan pada hari ini, atau setengah tahun kemudian, saham-saham properti ternyata masih belum naik signifikan, padahal saham dari sektor-sektor lain sudah seperti kejar-kejaran, termasuk batubara juga melaju kencang kembali, demikian pula dengan saudaranya yakni konstruksi. So what’s wrong? Nah, dalam hal ini penulis mungkin bisa mengulang kembali apa yang sering saya sampaikan di kelas-kelas seminar: Dalam value investing, kita bisa 1. Menyaring/screening saham berfundamental bagus dari yang jelek, dan 2. Menilai apakah valuasi dari saham hasil screening ini terbilang murah atau mahal. Tapi yang tidak bisa kita lakukan adalah: 1. Menebak kapan persisnya saham itu akan naik, 2. Apakah saham tersebut akan langsung naik atau malah turun dulu, dan 3. Kalau nanti saham tersebut akhirnya naik, maka naiknya sampai berapa.
Karena itulah, berdasarkan pengalaman penulis sendiri selama ini, saham-saham yang kita beli kadang ada yang langsung naik, kadang ada juga yang agak lama kemudian baru naik. Tapi dengan sedikit kesabaran, maka selama saham yang kita beli memang tepat (bahwa dia berfundamental bagus, dan valuasinya beneran murah/bukan murahan), dan tidak terjadi force majeure (seperti kasus AISA, atau koreksi IHSG), maka pada akhirnya anda tetap akan profit lumayan. Lebih jelas soal ini bisa dibaca lagi di artikel ini.
Okay, jadi balik lagi ke sektor properti. Bagaimana dengan kinerja fundamental dari sektor ini? Well, berdasarkan kinerja BSDE dkk hingga Kuartal III 2017, bisa penulis katakan bahwa para emiten properti melaporkan kinerja yang bervariasi: Ada yang bagus banget, ada yang biasa saja, dan ada juga yang labanya masih turun. Tapi secara valuasi, maka seperti yang sudah disebut di artikel Juli 2017 lalu, ada banyak pilihan undervalue stock di sektor ini, dan sampai sekarang pilihannya masih banyak, karena memang sektor ini belum naik signifikan dalam enam bulan terakhir, meski disisi lain juga sudah tidak turun lebih dalam lagi/downtrend-nya sudah berhenti. Malah kalau secara teknikal jangka menengah (pake chart minimal 6 bulan), ada banyak saham-saham properti yang kelihatannya sedang ‘ancang-ancang’ untuk naik.
Dua Faktor Penting
Pertanyaannya sekarang, kenapa sektor properti ini masih belum jalan sampai sekarang, bahkan saham-saham batubara dll sudah pada berangkat? Apakah mungkin itu karena ada something wrong terkait outlook industrinya itu sendiri, seperti yang Pak Teguh bahas kemarin terkait sektor perkebunan kelapa sawit dimana ternyata ada masalah terkait harga CPO yang gak mau naik-naik? Untungnya, untuk sektor properti so far nggak ada problem apa-apa. You see, berkaca pada pengalaman lesunya sektor properti pada krisis tahun 2008, dan pada periode economic slowdown di tahun 2013 – 2015, maka problem terbesar sektor properti adalah 1. Perlambatan (atau penurunan) makroekonomi Indonesia secara umum, dan 2. Tingginya suku bunga perbankan. Karena jika ekonomi melemah apalagi sampai krisis, maka orang-orang masih akan beli beras, mandi pake sabun mandi, merokok, dll, tapi mereka akan mikir-mikir kalo ditawari beli rumah. Demikian pula jika bunga bank tinggi, yang otomatis menurunkan penyaluran kredit perbankan itu sendiri termasuk untuk KPR, padahal mayoritas orang beli rumah ya pake KPR ini.
Okay, lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang? Nah, anda sendiri mungkin bisa merasakan bahwa kondisi ekonomi saat ini terbilang baik, sangat baik malah, meski mungkin belum merata (ketika Nadiem Makarim sukses besar dengan Gojek-nya, tapi di tempat lain tetap ada saja orang-orang yang kesulitan mencari kerja), tapi itu sesuatu yang normal, yang pasti terjadi di negara manapun. Tapi yang penulis perhatikan, sekarang ini iklan-iklan penjualan rumah, apartemen dll mulai rame lagi, dan kawasan-kawasan township di Serpong, Cikarang, hingga Cibubur mulai banyak pembangunan perumahan. Lalu bagaimana dengan bunga bank? Well, juga lagi murah-murahnya! Seiring dengan benchmark BI 7-day rate yang terakhir berada di level 4.25%, yang merupakan salah satu level terendahnya dalam sejarah.
 
Posisi BI Rate dalam sepuluh tahun terakhir, perhatikan bahwa level saat ini (4.25%) itu bahkan lebih rendah dibanding ketika booming properti tahun 2009 – 2012 lalu. Sumber: www.tradingeconomics.com
Jadi kalau melihat environment dari sektor properti itu sendiri, maka kondisi sektor ini sangat mirip dengan sektor batubara pada Semester II 2016 lalu: Meski ketika itu Harum Energydkk masih belum membukukan kinerja bagus/laba mereka masih pada turun, tapi karena harga batubara mulai merangkak naik, maka outlook sektor tambang otomatis menjadi cerah, dan alhasil saham PTBA dkk sudah naik duluan bahkan ketika perusahaan belum benar-benar membukukan kenaikan profit.
Okay, tapi kenapa saham-saham properti, meski tadi dikatakan outlook-nya cerah, tetap saja belum naik setinggi batubara? Well, pertama, kalau dikatakan sektor ini belum naik maka itu kurang tepat juga, karena nyatanya beberapa saham penulis perhatikan sudah naik 20 – 30% dalam enam bulan terakhir, dan itu merupakan kenaikan yang signifikan (tapi kadang orang gak memperhatikan hal ini, karena keburu silau sama saham/sektor lain yang naiknya lebih tinggi). Kedua, berbeda dengan perusahaan batubara yang hampir pasti bakal cuan asalkan harga batubara naik, maka tidak semua emiten properti bakal profit bahkan meski kondisi ekonomi lagi baik, dan suku bunga bank turun. Karena diluar dua faktor penting tersebut, maka tiap-tiap perusahaan secara individual memiliki faktor-faktor lainnya lagi yang mempengaruhi kinerja mereka, mulai dari lokasi proyek (perusahaan properti dengan lokasi proyek di Serpong tentu lebih berpeluang profit ketimbang perusahaan properti dengan lokasi proyek di Balikpapan, misalnya), kualitas infrastruktur/akses jalan di lokasi properti, jenis properti yang dijual (landed house akan lebih gampang terjual ketimbang kondominium), hingga kualitas/reputasi manajemen. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu saham Sentul City (BKSL) turun sendiri dari 300-an hingga dibawah 100, dan itu cuma gara-gara owner-nya diciduk oleh KPK, dimana setelah itu perusahaan praktis kehilangan arah, sama sekali.
Karena itulah, pergerakan saham properti ini mirip-mirip dengan saham perkebunan kelapa sawit: Sahamnya biasanya baru akan naik signifikan setelah perusahaan yang bersangkutan confirm membukukan profit besar di laporan keuangannya. Problemnya, kalo kita baru masuk setelah laporan keuangan keluar, maka terdapat risiko ketinggalan kereta disini. Nah, jadi selain melihat outlook dari sektor properti itu sendiri, anda harus menyeleksi lagi: Dari sekian banyak saham properti, yang mana yang manajemennya bagus? Kinerja historisnya bagus? Dan seterusnya. Dan saham properti itulah yang anda beli.
But anyway, itu gak terlalu sulit kok :) Nah, jadi menurut anda sendiri, saham-saham properti apa saja yang saat ini menarik untuk dikoleksi?
Untuk artikel minggu depan kita akan membahas update sektor konstruksi.

Buletin Bulanan yang berisi analisis IHSG, investment planning, & stockpick saham pilihan edisi Februari 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal IV 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal dan lainnya). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada Februari 2018. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.
Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat siang pak Teguh…
Saya Mengikuti jejak bapak membeli asri. Kebetulan dapat harga di bawah bapak.
Dan sekarang mulai ada profit.
Terima kasih pak Teguh.
-Fendi-
Oya Pak…mau blng trm ksh. Sy ada beli ptro dan inds bbrp bulan lalu. Bulan lalu jual. Kecepatan sih jualnya. Tp yg penting ada cuan 30 persen walaupun gak byk lotnya. Tp tetap mau blng trm ksh sama Pak Teguh.
Sekarang ada masuk mcor dan beli hoki kmrn sesuai ebook lk 3 kmrn.smg bs ksh cuan lg.
January 22nd, 2018 at 10:54 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed