Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Cara Membaca Arah Pasar Sekarang Ini

Sebagian dari anda mungkin bingung dengan kondisi pasar saham dalam satu atau dua minggu terakhir, dimana ada banyak saham yang turun cukup banyak (10% atau lebih), padahal gak ada sentimen atau berita negatif apapun terkait perusahaannya (kecuali mungkin rumor-rumor yang gak jelas dari mana sumbernya), sementara disisi lain IHSG-nya masih strong di level 6,000-an. Maksud penulis adalah, kalau misalnya sebuah saham turun ketika IHSG-nya lagi turun, atau ada something bad terkait perusahaan, maka penurunan tersebut jadi bisa dimaklumi, dan terdapat harapan bahwa saham itu nanti juga bakal naik lagi ketika IHSG naik lagi. Tapi bagaimana ketika ada sebuah saham yang seperti turun sendiri, tanpa ada peristiwa apapun yang bisa menjelaskan penurunan tersebut?

Berdasarkan pengalaman, seperti yang sudah disebutkan dalam salah satu artikel di blog ini, kalau anda beli saham namun kemudian turun cukup dalam, misalnya 10 – 15% dari harga belinya (kalau turunnya kurang dari itu, maka itu cuma fluktuasi jangka pendek biasa, yang tidak perlu dikhawatirkan), maka terdapat beberapa kemungkinan:
  1. Anda salah pilih saham,
  2. Pilihan sahamnya udah bener, tapi harga belinya yang salah/kemahalan,
  3. Terjadi peristiwa force majeure tertentu yang mengubah fundamental perusahaan, misalnya waktu Tiga Pilar Sejahtera (AISA) kena kasus hukum,
  4. Terdapat berita/rumor/sentimen negatif tertentu yang sifatnya sementara/tidak berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, misalnya waktu Februari 2017 lalu ada rumor bahwa proyek LRT milik Adhi Karya (ADHI) mangrak.
  5. Sahamnya cuma lagi turun aja, nanti juga naik lagi (ini biasanya terjadi pada saham-saham yang sejak awal memiliki fluktuasi ekstrim/gorengan, misalnya BCIP, LEAD, atau BUMI), dan
  6. IHSG-nya lagi turun, dimana memang hampir semua saham lagi pada turun/gak cuma saham yang anda beli tersebut.
Okay, katakanlah anda sudah benar pilih saham di harga beli yang juga tepat, gak ada force majeure maupun sentimen negatif apapun, dan saham tersebut juga bukan saham gorengan gak jelas yang bisa naik turun belasan persen dalam sehari. Jadi ‘biang kerok’ terakhir mungkin IHSG-nya yang sedang turun/terkoreksi, karena nyatanya saham yang lagi turun beberapa waktu terakhir ini gak cuma satu dua, tapi ada banyak! Tapi pertanyaannya sekarang, bagaimana bisa kita katakan bahwa pasar sedang terkoreksi, karena nyatanya IHSG juga sama sekali belum turun dan masih strong di 6,000-an??
Nah, dalam hal ini kita perlu flashback sedikit ke artikel penulis di tanggal 12 September 2017 lalu, yang berjudul Asing Jualan Terus? Di artikel tersebut intinya penulis menyampaikan bahwa kita sekarang ini berada dalam kondisi koreksi IHSG yang tidak kelihatan (kalo belum baca tulisannya, coba baca dulu), terutama karena investor asing terus saja jualan, tapi IHSG-nya tetap saja gak turun karena di waktu yang bersamaan, saham-saham blue chips yang berpengaruh besar terhadap IHSG (misalnya ASII, TLKM, BBCA, HMSP GGRM) justru terus naik.
Tapi sayangnya untuk saham-saham mid and small cap, yang pergerakan mereka tidak begitu ngaruh ke IHSG, mereka tetap saja turun. Dan sampai awal Desember ini penurunan tersebut terus berlanjut, karena asingnya masih terus mengobral barang. Yup, hingga Senin, 4 Desember 2017, statistik BEI menyebutkan net sell asing Rp36.4 trilyun sejak awal 2017, atau jauh lebih buruk dibanding September (tiga bulan lalu), yang baru Rp7 trilyun (sebenarnya net sell Rp36.4 trilyun itu karena ditambah transaksi crossing sebesar sekian trilyun dari saham TOWR, SMMA, dan KPIG. Tapi kalo transaksi crossing ini dihilangkan, maka nilai net sell asing tersebut masih mencapai Rp20-an trilyun, atau tetap cukup besar). Ini artinya kondisi ‘koreksi pasar yang tidak kelihatan’ yang penulis sebut di bulan September lalu, ternyata masih berlanjut sampai Desember ini.
Problemnya, karena pergerakan IHSG sekarang ini tidak lagi mencerminkan kondisi pasar, yakni apakah sedang terjadi bullish, sideways, atau koreksi, maka indikatorapa lagi, diluar IHSG, yang bisa kita lihat untuk membaca arah pasar yang sesungguhnya? Well, terdapat setidaknya dua indikator, dan dua-duanya bisa kita ambil dari sumber yang sama yakni statistik IDX. Contoh yang akan penulis sampaikan disini mengambil statistik harian IDX, bisa dilihat disini.
Nah, anda sudah buka link-nya? Okay, perhatikan. Pertama kita lihat stock price movement, yang berbentuk bar dengan warna merah, pink, kuning, hijau, dan hijau tua. Berikut adalah bar stock price movement yang penulis ambil di statistik harian IDX tanggal 4 Des 2017, klik gambar untuk memperbesar:

Dari gambar diatas bisa dilihat bahwa pada tanggal 4 Des 2017, dari total 564 saham di BEI, terdapat 223 saham yang turun, 220 saham yang tidak bergerak, dan hanya 121 saham yang naik. Menariknya, pada Senin, 4 Desember tersebut, IHSG ditutup naik cukup signifikan yakni 0.77%. Logikanya kalau IHSG pada satu hari tertentu naik signifikan yakni 0.5 – 1%, atau lebih tinggi lagi, maka pada hari tersebut jumlah saham yang naik harusnya lebih banyak dibanding yang turun, tapi ini justru sebaliknya, dimana jumlah saham yang turun pada Senin, 4 Desember, mencapai hampir dua kali lipat dibanding yang naik.
Jadi berdasarkan jumlah saham yang turun/stagnan dibanding saham yang naik, maka pasar sejatinya sedang terkoreksi/turun. Tapi bagaimana caranya IHSG bisa tetap naik ketika mayoritas saham turun?? Untuk itu kita bisa lihat indikator kedua: ‘Jakarta Composite Index Movers’, atau secara harfiah, daftar saham-saham yang berpengaruh paling besar terhadap naik turunnya IHSG.

Sekali lagi, dari gambar diatas bisa dilihat bahwa IHSG pada hari Senin tetap naik karena hampir semua saham big caps, mulai dari HMSP hingga BBNI, semuanya naik signifikan (HMSP bahkan naiknya sampai 5.4%), sehingga totalnya menyumbang kenaikan IHSG (JCI) sebesar total 66.3 point (23.1 + 9.9 + dst). Sementara untuk saham-saham yang turun dan penurunan tersebut berpengaruh signifikan ke IHSG (daftar saham laggard, mulai dari PNBN sampai BJBR), totalnya hanya menyumbang penurunan IHSG sebesar total 15.0 point saja. Hasilnya? Yep, IHSG pada Senin, 4 Desember, ditutup naik 46.1 point (66.3 dikurangi 15.0, dikurangi lagi 5.2 point. Penjelasan angka 5.2 point ini bisa dibaca dibawah) atau 0.77%.
Yang perlu dicatat disini adalah, diluar saham-saham yang masuk daftar JCI movers tersebut, maka mau mereka naik atau turun, itu hampir gak ada pengaruhnya ke IHSG. Jadi boleh-boleh saja saham yang anda pegang turun sampai diatas 10% sekalipun, tapi jika saham tersebut tidak masuk daftar ‘saham yang berpengaruh terhadap IHSG’, maka IHSG-nya bakal tetap aman. Dari perhitungan diatas, kita bisa lihat bahwa diluar pengaruh dari 10 saham leader dan 10 saham laggard, maka penurunan dari ratusan saham lainnya di BEI hanya menyebabkan IHSG totalnya turun 5.2 point saja.
Kesimpulannya, jika anda merasa ada something wrong with the market, dimana pada satu hari tertentu ada banyak saham turun tapi IHSG-nya tetap naik, maka coba cek lagi: 1. Apakah jumlah saham yang naik lebih banyak dibanding yang stagnan dan turun? dan 2. Apakah saham-saham yang berpengaruh besar terhadap IHSG, kalaupun dia naik maka naiknya tetap dalam range yang wajar? (jadi gak sampai 5% seperti kenaikan HMSP diatas) Jika jawabannya adalah 1. Tidak, dan 2. Tidak, maka lupakan fakta bahwa IHSG naik, karena yang sebenarnya terjadi adalah, pasar pada hari tersebut baru saja terkoreksi, dan penurunan saham yang anda pegang kemungkinan hanya disebabkan karena faktor koreksi pasar tersebut (jadi bukan karena perusahaannya ada problem atau apa, tapi sekali lagi, ini dengan asumsi bahwa anda membeli saham yang tepat, dan pada harga yang tepat). Kemudian anda selanjutnya bisa melakukan tindakan yang tepat, apakah jual, hold saja, atau justru tambah posisi (penulis sudah banyak menulis artikel tentang strategi investasi ketika pasar sedang terkoreksi, terutama ketika IHSG drop di tahun 2015 dan 2013. Coba search lalu baca saja).
Anyway, kalau penulis review lagi kondisi market dalam setahunan terakhir, maka kalau saja saham-saham big caps bergerak sama dengan saham-saham mid and small caps, alias pada turun semua (misalnya ASII turun ke 6,500), maka IHSG seharusnya berada di level yang jauh lebih rendah dibanding posisinya sekarang, mungkin sekitar 5,250 atau lebih rendah lagi. Karena pada tahun 2015 lalu ketika hampir semua saham baik itu big maupun small caps berjatuhan (pada tahun 2015 tersebut, beberapa saham big caps seperti ASII, BBNI, BMRI, bahkan sampai KLBF, rata-rata turun 20%), maka IHSG ketika itu jeblok 12.1% ke level 4,569. Namun pada tahun 2017 ini kita menyaksikan situasi yang sepenuhnya berbeda, dimana saham-saham mid and small caps cenderung turun (meski memang gak semuanya, karena ada juga saham-saham kecil yang naik banyak), tapi saham big caps dikerek naik semua (big caps banking seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, sepanjang 2017 ini sudah melompat sampai 30 – 50%), dan ternyata hasilnya IHSG tetap naik cukup signifikan.
Okay, lalu bagaimana kira-kira dengan 2018 nanti? Yah, we’ll see lah!

Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek ANTM, TINS, PTBA Pasca Pembentukan Holding Tambang

Pada Rabu, 29 November kemarin, tiga BUMN tambang yakni PT Aneka Tambang (ANTM), PT Timah (TINS), dan PT Bukit Asam (PTBA), secara hampir bersamaan (hanya beda jam) menyelenggarakan RUPS untuk menyetujui rencana pembentukan perusahaan holding tambang, dimana saham milik pemerintah di ketiga perusahaan (hanya saham milik pemerintah saja, jadi saham milik investor publik tetap dimiliki oleh publik/ketiga perusahaan tersebut tetap berstatus Tbk) semuanya dialihkan ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum). Dengan demikian Pemerintah sekarang memiliki satu perusahaan tambang yang besar, yang merupakan gabungan dari Inalum, ANTM, TINS, dan PTBA, dimana Inalum menjadi induk (holding) dari tiga perusahaan lainnya.

Pertanyaannya, apa tujuan dari pembentukan holding tambang ini? Apa benefitnya bagi ANTM, TINS, PTBA, dan juga Inalum itu sendiri? Dan kenapa Inalum yang dijadikan holding?
Cerita pembentukan holding tambang ini berawal ketika pada Agustus 2017, Pemerintah melalui Kementerian ESDM sukses memaksa Freeport McMoran Corp (FCX), induk dari PT Freeport McMoran Indonesia (FMI), untuk menjual 51% saham FMI ke pihak nasional Indonesia. Problemnya, FCX meminta harga yang tidak kecil, yakni US$ 4 milyar atau sekitar Rp54 trilyun. Dan meski harga tersebut masih di-negosiasikan untuk turun, tapi tetap saja selisihnya tidak akan terlalu jauh. Yup, jadi berbeda dengan kalau anda beli saham sebuah perusahaan secara ritel alias minoritas, maka anda mungkin bisa dapet harga murah, tergantung harga saham perusahaan tersebut di market (jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan Tbk). Tapi kalau anda membeli sahamnya secara mayoritas alias mengakuisisinya, maka harga belinya adalah harga premium.
Nah, berdasarkan undang-undang, kalau ada perusahaan asing yang melepas aset mereka di Indonesia, maka yang berhak mengakuisisinya adalah (diurutkan sesuai prioritas): 1. Pemerintah Pusat, 2. Pemerintah Daerah, 3. BUMN, 4. BUMD, 5. Swasta nasional. Namun dalam banyak kasus divestasi saham oleh perusahaan asing, Pemerintah pusat ataupun daerah biasanya gak mau ambil pusing dan langsung menyerahkan peluang akuisisi tersebut kepada swasta nasional. Sebab ketika Pemerintah hendak mengakuisisi sebuah perusahaan, maka artinya mereka harus keluar dana APBN (atau APBD, kalau Pemerintah daerah) untuk biaya akuisisinya, dan itu artinya harus nego lagi sama DPR (atau DPRD), dimana prosesnya bakal berkepanjangan/bisa nggak kelar-kelar karena terlalu banyak tawar menawar politik. Tapi kalau peluang akuisisi tersebut langsung dilempar ke swasta, maka soal pembiayaan, termasuk soal pengelolaan perusahaan yang diakuisisi menjadi urusan perusahaan swasta tersebut, sehingga para penentu kebijakan di Pemerintah tinggal duduk santai terima komisi serta royalti. Contoh terakhir, ketika Newmont Corp. melepas saham mereka di PT Newmont Nusa Tenggara, maka perusahaan swasta lokal yang beruntung bisa mengakuisisinya adalah Medco Energi (MEDC).
However, ketika perusahaan swasta asing menjual aset mereka di Indonesia, tapi yang menampung adalah swasta lokal (sementara pejabatnya cuma jadi makelar), maka negara sejatinya nggak dapet apa-apa. Jadi terkait divestasi Freeport, kali ini Pemerintah ngotot untuk mengakuisisinya sendiri. Tapi balik lagi, kalau Pemerintah langsung yang ambil maka prosesnya bakal ribet dan bahkan bisa bermasalah (misalnya ada oknum pejabat yang korupsi dalam proses akuisisinya).
Terus solusinya bagaimana? Ya kalau gitu FMI bisa diakuisisi oleh BUMN saja, dalam hal ini BUMN tambang (karena FMI memang merupakan perusahaan tambang). Bonusnya adalah, selain proses pendanaan akuisisinya jadi lebih simpel (cukup menggelar RUPS saja, jadi gak usah menggelar sidang istimewa DPR atau semacamnya), keberadaan tim manajemen di BUMN tambang tersebut tentunya akan membantu pengelolaan FMI, dibanding jika FMI diambil langsung oleh Pemerintah sehingga gak jelas nanti yang mengelola FMI ini siapa. FYI, setelah diakuisisi, jajaran direksi serta komisaris di FMI biasanya akan diganti semua, tapi kalau yang mengakuisisi FMI ini adalah Pemerintah langsung, maka orang-orang baru yang menempati posisi direktur dan komisaris ini bisa jadi tidak kompeten/hanya titipan dari para politisi di DPR, atau politisi itu sendiri. Dan kalau gitu caranya, maka kinerja FMI (yang kemudian/sekarang berstatus sebagai BUMN) kemungkinan justru bakal amburadul, dimana perusahaan bukannya menghasilkan keuntungan/dividen bagi negara, melainkan justru ngabisin duit negara (dalam bentuk subsidi, atau tambahan setoran modal).
Jadi sekali lagi, FMI bisa diakuisisi oleh BUMN saja. Toh BUMN ini juga tetap dimiliki oleh Pemerintah. Problemnya sekarang, BUMN tambang mana yang punya duit Rp54 trilyun? BUMN tambang terbesar, yakni ANTM, asetnya hanya Rp30.7 trilyun, jadi kalau misalnya ANTM mengajukan pinjaman ke bank juga bakal sulit, karena aset yang tersedia tidak cukup sebagai collateral. Tapi, hey, bukankah BUMN tambang di Indonesia bukan cuma ANTM, melainkan ada juga TINS, PTBA, dan Inalum? Jadi bagaimana kalau keempat perusahaan tambang ini digabung saja? Sekedar info, per Kuartal III 2017, total aset ANTM adalah Rp30.7 trilyun, TINS Rp11.6 trilyun, dan PTBA Rp19.5 trilyun. Untuk Inalum, per akhir tahun 2015, total asetnya adalah US$ US$ 1.13 milyar atau Rp14.7 trilyun. Jadi kalau ini semua digabung, maka secara kasar total aset yang terkumpul adalah Rp76.5 trilyun, atau sudah lebih besar dibanding harga akuisisi FMI yang Rp54 trilyun tadi. Inalum kemudian bisa mengajukan pinjaman ke Bank BUMN, yang juga dimiliki oleh Pemerintah (so in the end, duitnya nggak kemana-mana).
Okay, lalu kenapa Inalum yang dijadikan perusahaan induk? Kenapa bukan ANTM, misalnya? Ada dua alasan. Pertama, pengalihan saham Pemerintah dari ANTM, TINS, dan PTBA ke Inalum ini kan seperti mindahin duit dari kantong kanan ke kantong kiri, dimana saham Pemerintah di tiga perusahaan tambang tersebut akan tetap dimiliki sepenuhnya oleh Pemerintah, hanya sekarang dipegangnya melalui Inalum (jadi tiga BUMN tersebut sama sekali nggak dijual seperti yang disebut dalam rumor-rumor sesat yang beredar). Lalu kenapa Inalum yang dipilih sebagai induk? Karena berbeda dengan ANTM, TINS, dan PTBA dimana sebagian sahamnya dimiliki oleh investor publik, saham Inalum 100% dimiliki oleh Pemerintah. Jadi kalau yang dijadikan induk adalah PTBA, misalnya, dimana PTBA ini kemudian ‘mengakuisisi’ ANTM, TINS, dan Inalum, maka itu artinya Pemerintah secara sukarela menyerahkan sebagian saham mereka di tiga BUMN tambang tersebut kepada investor publik yang juga menjadi pemegang saham di PTBA. Dan kalo gitu caranya maka bukan lagi ‘mindahin duit dari kantong kanan ke kantong kiri’, karena ada sebagian saham milik pemerintah di tiga perusahaan yang diakuisisi, yang tidak lagi dikuasai oleh pemerintah.
Kedua, secara kinerja fundamental, Inalum relatif yang terbaik diantara keempat BUMN tambang yang digabung. Yup, meski terus saja merugi di masa lalu, namun sejak tahun 2011 sampai 2015 (dan kemungkinan sampai sekarang) Inalum secara konsisten membukukan laba bersih dan juga rutin membayar dividen. Actually, kinerja PTBA lebih bagus dibanding Inalum (ROE-nya lebih besar), tapi itu karena PTBA merupakan perusahaan batubara yang kerjanya ‘tinggal gali lalu jual’, jadi beda dengan Inalum yang kerjanya lebih rumit karena merupakan perusahaan hilir (gali bauksit, lalu diolah menjadi alumina, lalu diolah lebih lanjut menjadi alumunium ingot, baru dijual). Jadi harapannya adalah, dengan manajemen Inalum sebagai pengurus baru di Freeport, maka kinerja FMI akan tetap bagus seperti biasanya, dan akan benar-benar bisa berkontribusi bagi negara (dalam bentuk pajak, royalti, dan dividen). Berikut adalah ringkasan kinerja Inalum di tahun 2011 – 2015, angka dalam jutaan Dollar kecuali disebutkan lain. Sebelumnya mungkin perlu dicatat bahwa harga jual alumunium di pasar internasional cenderung turun dari tahun 2011 hingga 2015, dan baru naik lagi pada tahun 2016.
Year
2011
2012
2013
2014
2015
Revenue
579.7
511.8
521.1
632.5
490.6
Net Income
57.9
17.5
64.0
156.7
79.0
Equity
1,020.1
962.5
988.2
982.7
1,059.0
ROE (%)
5.7
1.8
6.5
15.9
7.5
Okay, lalu bagaimana dampak akuisisi Freeport serta pembentukan holding BUMN tambang ini terhadap kinerja ANTM, TINS, dan PTBA? Well, karena yang nantinya akan mengakuisisi FMI adalah Inalum, maka yang dapet cuannya ya Inalum ini, dan sayangnya Inalum bukan perusahaan Tbk. Namun demikian, karena FMI nantinya akan menjadi ‘sister company’ bagi ANTM, TINS, dan juga PTBA, maka diharapkan bahwa FMI bisa bersinergi/transfer teknologi dengan ketiga perusahaan untuk sama-sama menghasilkan kinerja yang lebih baik di masa yang akan datang. Kemudian FMI itu sendiri mungkin akan menggelar IPO sehingga investor publik bisa ikut memiliki sahamnya (kalau Inalum-nya sendiri kayanya gak bakal IPO karena posisinya sekarang menjadi strategis, sama seperti Pertamina dan PLN), dan terus terang penulis sudah tunggu-tunggu itu dari dulu. Okay, dengan berpindahnya FMI dari Freeport Corp ke Pemerintah melalui Inalum, maka itu bukan jaminan bahwa kinerja perusahaan bakal tetap profit, karena nyatanya kinerja ANTM dan TINS juga masih acakadut, dan anggota direksi Inalum juga gak dijamin bebas dari titipan politisi. Tapi yah, itu masih lebih bagus dibanding jika Freeport ini jatuh ke tangan Bakrie bukan?
Untuk artikel minggu depan, any ideas?

Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Siklus Krisis 10 Tahunan?

Salah satu topik yang paling sering dibicarakan di komunitas investor pasar modal adalah, kapan kira-kira terjadi krisis lagi? Dan sejak beberapa tahun lalu sudah muncul anggapan akan adanya ‘siklus krisis 10 tahunan’. Yup, berhubung krisis besar yang masih diingat semua orang adalah krisis moneter 1998 dan juga krisis global 2008, dimana kedua krisis tersebut terjadi dalam selang waktu 10 tahun, maka secara simpelnya krisis berikutnya akan terjadi 10 tahun setelah 2008, alias tahun 2018. Pertanyaannya, benarkah pada tahun 2018, alias tahun depan, akan kembali terjadi krisis?

Untuk mencoba menjawab pertanyaan diatas maka kita terlebih dahulu perlu menjawab dua pertanyaan berikut. Pertama, benarkah ada siklus yang disebut dengan ‘siklus krisis 10 tahunan’ tersebut? Dan kedua, apakah pada saat ini sudah tampak atau terdapat tanda-tanda menuju terjadinya krisis? Okay, kita langsung saja.
Terkait siklus krisis 10 tahunan, penulis termasuk yang berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada siklus seperti itu. Yes, Indonesia, seperti juga negara-negara lainnya di seluruh dunia, akan mengalami pasang surut secara ekonomi, dimana Indonesia akan mengalami periode economic booming di satu waktu, dan periode krisis di waktu yang lain. Namun jangka waktu antara satu krisis dengan krisis berikutnya sama sekali tidak tentu.
Nah, jadi sekarang coba anda googling lagi: Apakah pada tahun 1988 terjadi krisis, entah itu di Indonesia ataupun negara lainnya? Demikian pula dengan tahun 1978, 1968, dan seterusnya, apakah juga terjadi krisis? Faktanya adalah, Indonesia justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di penghujung dekade 80-an dan awal 90-an, termasuk jumlah perusahaan Tbk di BEI juga meningkat pesat dari hanya 24 di tahun 1987, menjadi 37 di tahun 1989 (dan kembali meningkat di tahun-tahun selanjutnya). Tidak ada data soal bagaimana pergerakan IHSG di tahun 1988, tapi kalau melihat kondisi ekonomi ketika itu yang fine-fine saja, maka seharusnya IHSG di tahun tersebut bergerak secara normal alias naik. Memang pada tahun 1987, Bursa Saham Amerika sempat mengalami crash dimana Dow Jones sempat drop 22.6% dalam seharidi bulan Oktober (silahkan googling ‘Black Monday 1987’), yang disusul oleh kejatuhan indeks-indeks saham lainnya di seluruh dunia. Tapi justru di tahun 1988 alias setahun kemudian, Dow kembali naik kencang, dan kekhawatiran akan terjadinya krisis besar ternyata tidak pernah terjadi.
Jadi kalau berdasarkan fakta historis, maka sulit untuk mengatakan bahwa benar ada siklus krisis 10 tahunan. Di Indonesia, krisis besar yang terjadi sebelum krisis tahun 1998 adalah krisis di tahun 1963 – 1966, atau 32 tahun sebelumnya (silahkan tanya orang tua/kakek nenek anda, seperti apa susahnya mereka di tahun 60-an). Dan kalau yang dimaksud dengan ‘krisis’ itu adalah sekedar kejatuhan bursa saham/IHSG, maka baru saja di tahun 2015 kemarin Indonesia sejatinya sudah mengalami krisis, dimana IHSG drop 12.1% (dan memang kondisi ekonomi dan bisnis di tahun tersebut terasa agak seret). Kemudian, krisis moneter 1998 itu juga sebenarnya sudah terjadi sejak tahun sebelumnya alias 1997, dimana pada tahun tersebut IHSG jeblok 44.3% (jadi jika dihitung dari tahun 1997 ke 2008, maka siklusnya bukan 10 tahun, melainkan 11 tahun).
Sementara di Amerika Serikat, yang merupakan negara paling maju dalam bidang industri finansial dan juga pasar saham, disana sudah rutin terjadi krisis ekonomi yang signifikan setiap beberapa tahun sekali sejak New York Stock Exchange berdiri di tahun 1817, tapi jangka waktu antara satu krisis ke krisis lainnya terbilang tidak tentu, paling dekat 5 – 6 tahun, dan paling jauh sekitar 20 tahun. Malahan pasca krisis besar di tahun 1930-an, yang dikenal dengan istilah great depression, maka krisis besar selanjutnya baru terjadi lama kemudian yakni di tahun 1970-an. Anda bisa lihat daftar lengkapnya di artikel Wikipedia disini.
Dua Pertanda Krisis: Economic Bubble dan Overleveraged
Itu pertama soal siklus krisis 10 tahunan. Kedua, terlepas dari ada atau tidaknya siklus tersebut, apakah pada saat ini sudah tampak atau terdapat tanda-tanda menuju terjadinya krisis? Analoginya adalah sama seperti kondisi cuaca: Jika langit tiba-tiba gelap dan mendung, maka kita bisa simpulkan bahwa sebentar lagi bakal turun hujan. Nah, jika kita ibaratkan hujan ini dengan krisis ekonomi atau kejatuhan bursa saham, maka apakah sekarang ini sudah tampak mendung-nya? Dalam hal ini ada beberapa hal yang penulis perhatikan.
Pertama, seperti yang mungkin sudah anda perhatikan, sejak koreksi besar di bulan Agustus – September 2015 lalu, IHSG sampai sekarang alias dua tahun kemudian masih belum mengalami koreksi lagi. Padahal biasanya IHSG mengalami koreksi dengan turun setidaknya 5 – 10% dari posisi tertingginya, minimal satu kali dalam setahun (biasanya di bulan Mei, atau Agustus). Awalnya penulis kira fenomena ini hanya terjadi di Indonesia, tapi ternyata kondisi yang sama juga terjadi di Amerika Serikat: Sudah dua tahun terakhir ini indeks Dow Jones, Nasdaq, dan S&P terus naik tanpa koreksi yang berarti, terutama karena didorong oleh kenaikan saham-saham berbasis teknologi (Apple, Amazon, Facebook, dst), dan alhasil tokoh-tokoh technopreneur seperti Jeff Bezos dan Mark Z. tiba-tiba saja nongol di puncak daftar orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes, mengalahkan nama-nama beken seperti Om Bill dan Opa Warren.
Dan meski penulis tidak tahu bagaimana valuasi saham-saham di Amerika pada saat ini (apakah sudah terlalu mahal atau belum), namun kondisi ini mengingatkan penulis dengan dot com bubble di tahun 1999 – 2000, dimana bursa saham Amerika mengalami kejatuhan setelah sebelumnya terus naik karena didorong oleh kenaikan saham-saham perusahaan internet. Indikasi bubble itu juga tampak dari kenaikan harga bitcoin, mata uang digital yang tentu saja tidak memiliki nilai riil seperti halnya mata uang sungguhan, tapi dalam setahun terakhir ini harganya tiba-tiba saja melompat dari US$ 700 menjadi lebih dari US$ 9,500 per unit, atau naik lebih dari sepuluh kali lipat. Penulis tentu saja tidak tahu apakah kenaikan tersebut akan berlanjut, atau justru bitcoin ini besok-besok akan jeblok lagi, tapi yang jelas kenaikan harga yang luar biasa tersebut telah menarik minat dari banyak spekulan dan juga investor sungguhan, termasuk para fund manager global, untuk ikut membeli bitcoin ini. Alhasil, ketika nanti tiba waktunya bitcoin ini turun kembali (itu bisa terjadi cepat atau lambat), maka kerugian yang terjadi tidak akan akan sedikit, dan itu bisa mengguncang pasar keuangan global secara keseluruhan, termasuk di Indonesia.
Kedua, diluar faktor bubble, kondisi krisis biasanya berawal diawali oleh kelewat besarnya nilai utang yang ditanggung oleh perusahaan-perusahaan swasta dan juga pemerintah, istilahnya overleveraged. Pada puncak booming kredit real estate di Amerika di tahun 2005 – 2007, perusahaan-perusahaan perbankan dan pembiayaan di Amerika berani mengambil utang dalam jumlah yang gila-gilaan untuk kemudian disalurkan kembali dalam bentuk kredit mortgage, karena adanya anggapan bahwa bisnis properti/real estate adalah bisnis yang sangat aman (harga properti gak bakal turun!). Termasuk Lehman Brothers, salah satu perusahaan investment bank terbesar di Amerika (dan juga dunia), turut bergabung dalam booming real estate ini hingga perusahaan, pada satu titik, harus menanggung utang total US$ 619 milyar, sementara ekuitasnya hanya US$ 20 milyar. Ini artinya kalau pasar kredit real estate mengalami penurunan 3 – 4% saja, maka nilai aset bersih Lehman akan tersapu habis sama sekali, alias bangkrut.
Dan sayangnya pada tahun 2008 memang itulah yang terjadi: Mulai banyak terjadi kasus kredit macet, pasar real estate di Amerika mulai lesu, dan Lehman Brothers tanpa ampun langsung bangkrut. Dan kalau bukan karena intervensi dari Pemerintah (coba anda googling ‘Freddie Mac’ dan ‘Fannie Mae’), maka kebangkrutan Lehman bisa merembet ke krisis yang lebih besar. Beruntung, itu tidak terjadi, dan memasuki tahun 2011 ekonomi Amerika mulai pulih lagi.
Balik lagi ke soal overleveraged. Jadi penyebab krisis global 2008 adalah karena faktor utang, atau sama seperti ketika Indonesia mengalami krisis di tahun 1997 – 1998, yang juga karena utang. Pada tahun 1997, rasio total utang Pemerintah dan swasta di Indonesia mencapai sekitar 80 – 90% dari nilai produk domestik bruto (PDB), yang melonjak menjadi 150% di tahun 1998 setelah nilai tukar Rupiah anjlok (sebab mayoritas dari utang tersebut merupakan utang Dollar), dan hasilnya adalah krisis moneter. Pada tahun 2008, rasio utang Pemerintah Indonesia dan swasta terhadap PDB terbilang jauh lebih aman yakni hanya 33.2%, dan alhasil Indonesia tidak terlalu terdampak oleh krisis global yang terjadi di Amerika. I mean, coba anda ingat-ingat lagi: Di tahun 1997 – 1998, harga-harga kebutuhan pokok semuanya naik, dan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dimana-mana, termasuk terjadi bank rush (masih inget rusuh Bank BCA?). Tapi di tahun 2008, harga sembako tetap aman terkendali bukan? Dan hampir gak ada pekerja yang di-PHK, apalagi sampai terjadi bank rush.

Kapan ente ‘rush’ lagi??

Tapi kenapa IHSG di tahun 2008 itu sampai jatuh lebih dari 50%? Well, itu karena ada banyak investor/trader yang beli saham pake utang/margin, dan mereka pada kena forced sell semua, belum lagi ada banyak orang yang pake fasilitas short sell. Pada jaman itu, jika anda memiliki dana Rp100 juta di rekening, maka anda bisa meminjam/pake margin hingga maksimal Rp300 juta dari sekuritas (sehingga total modalnya jadi Rp400 juta, tergantung kebijakan sekuritasnya). Jadi meski perekonomian Indonesia secara umum tidak mengalami overleveraged, tapi di pasar saham overleveraged itu tetap terjadi, dan itulah yang menyebabkan kejatuhan IHSG ketika itu.
Okay, lalu bagaimana dengan kondisi jaman now? Nah, kabar baiknya, hingga tahun 2016 kemarin, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih relatif aman di level 27.9%, atau lebih rendah dibanding 2008 (dan jauh lebih rendah dibanding 1997 – 1998). Demikian pula kalau anda cek laporan keuangan dari sepuluh perusahaan non-perbankan terbesar di BEI, yang rata-rata mencatat debt to equity ratio (DER) hanya 1 kali. Sementara untuk empat bank terbesar di tanah air yakni BRI, Mandiri, BCA, dan BNI, rata-rata membukukan capital adequacy ratio (CAR) 19 – 20%, atau jauuuh lebih aman dibanding contoh kasus Lehman Brothers diatas. Thanks to kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sejak tahun 2012 lalu, yang meski itu membuat pasar kredit perbankan, properti, hingga kredit kendaraan bermotor jadi lesu (karena orang jadi gak bisa spekulasi lagi, misalnya beli apartemen tanpa modal/pake utang bank), tapi itu mencegah terjadinya bubble dan mengurangi risiko kredit macet. Sementara di pasar sahamnya sendiri, BEI sebagai regulator terus memperbaharui dan menyempurnakan peraturan terkait penggunaan margin, dan alhasil, anda boleh tanya broker anda di sekuritas, sekarang ini nggak banyak orang yang beli saham pake margin, dan kasus forced sell juga lebih jarang terjadi.
Jadi kesimpulannya, kalau dilihat dari aspek leverage maka Indonesia, termasuk pasar sahamnya, terbilang no problem. Namun dari aspek kemungkinan terjadinya bubble, maka perkembangan yang terjadi diluar negeri, termasuk cerita bitcoin diatas, mungkin bisa saja berujung pada terjadinya krisis, atau setidaknya koreksi di pasar saham. Karena disisi lain, meski penulis ragu apakah pasar saham Indonesia sudah mencapai titik bubble atau belum, tapi valuasi saham-saham di BEI sekarang ini tidak bisa disebut murah juga, dimana saham-saham big caps sudah dihargai pada PBV 3 – 4 kali atau lebih tinggi lagi. Sebagai perbandingan, ketika saham Lehman Brothers berada di titik tertingginya di tahun 2007 yakni US$ 86, market cap-nya mencapai US$ 60 milyar, yang merefleksikan PBV 3.0 kali, dan PER 14.3 kali. Jadi maksud penulis adalah, okay, kita hampir tidak mungkin akan melihat Bank Mandiri atau BCA bangkrut dalam waktu dekat, karena mereka tidak punya utang sebesar Lehman. Tapi kalau sekedar penurunan harga sahamnya, yang kemudian menyebabkan penurunan IHSG, maka itu mungkin saja bukan?
Jadi yah, mari kita lihat lagi beberapa bulan dari sekarang. Dan jangan khawatir, kalau nanti penulis melihat ada ‘something wrong’, atau ‘mendung’ yang terjadi semakin bertambah gelap, maka tulisan dengan tema ‘krisis’ ini akan di-update kembali.
Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Desember 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing, Bali, 9 Des 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Cara Santai Dalam Menghasilkan Uang di Pasar Saham’, di Bali. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bali dan sekitarnya (atau dari kota lain juga boleh hadir, sekalian liburan). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santainamun sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Bapak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk menemukan saham yang berpotensi naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun!
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2018.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the marketdalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Rivavi, Jln. Melasti No.1, Legian Kuta, Bali
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 9 Desember 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Bali, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi kalau mau kirim bukti transfer juga boleh).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama teman-teman peserta kelas value investing, Jakarta, 28 Okt 2017
Komentar Alumni
Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luar biasa sekali..
Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalau dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
Merci..
Widya Olivia – Jakarta

Catatan: Penulis (Teguh Hidayat) akan berada di Bali dan Lombok antara tanggal 9 – 20 Desember 2017. Jadi bagi anda yang tinggal di Bali dan mungkin tertarik untuk ikut kelas private value investing, baca keterangan selengkapnya [...]

Stocksplit, & Pengaruhnya ke Harga Saham

Stocksplit, atau secara harfiah bermakna ‘pemecahan saham’, adalah aksi korporasi dimana perusahaan memecah/membelah saham beredarnya hingga jumlah saham tersebut menjadi lebih banyak, tanpa menambah ataupun mengurangi nilai dari saham itu sendiri. Untuk kalimat terakhir mungkin perlu digaris bawahi, karena seringkali investor bingung terkait apakah stocksplit ini membuat sebuah saham jadi lebih menarik/prospektif, atau justru sebaliknya harus dihindari karena nilainya (atau harganya yang tertera di market) turun.

Analogi stocksplit ini adalah seperti kalau anda punya satu lembar uang senilai Rp10,000, dan anda kemudian pergi ke warung untuk menukar uang tersebut dengan pecahan Rp2,000. Jadi sekarang anda memegang lima lembar uang (dari sebelumnya hanya satu lembar), masing-masing senilai Rp2,000. Lalu berapa total uang yang anda miliki? Ya tetap Rp10,000, alias gak berubah sama sekali. Bedanya sekarang anda memegang lima lembar uang pecahan Rp2,000, dari sebelumnya hanya satu lembar uang pecahan Rp10,000.
Jadi kalau misalnya anda memegang 10 lot (1,000 lembar) saham Bank BRI (BBRI), dan harganya di market adalah 15,000, maka total nilai saham yang anda miliki adalah Rp15,000 dikali 1,000 lembar, sama dengan Rp15 juta. Kemudian karena Bank BRI melakukan stocksplit dengan rasio  1:5, maka harga sahamnya sekarang menjadi 3,000 (15,000 dibagi 5), tapi disisi lain jumlah saham yang anda miliki meningkat dari 10 menjadi 50 lot (10 lot dikali 5). Jadi berapa nilai saham BBRI yang anda miliki sekarang? Ya gak berubah, yakni Rp3,000 dikali 5,000 lembar, sama dengan Rp15 juta.
Untuk penjelasan diatas, investor pemula sekalipun seharusnya sudah bisa memahaminya, karena untuk hal-hal teknis seperti itu (jadi bukan analisis saham) maka broker di sekuritas tempat anda membuka rekening seharusnya bisa menjelaskan. Tapi jika anda termasuk yang kaget ketika BBRI, atau saham lainnya, tiba-tiba harganya anjlok dari 15,000 menjadi 3,000 hanya dalam semalam, maka anda sekarang sudah mengerti penyebabnya: Itu karena perusahaan yang bersangkutan melakukan stocksplit, dan itu, sekali lagi, tidak mengubah total nilai saham yang dipegang oleh tiap-tiap investor, karena penurunan harga yang terjadi diimbangi oleh kenaikan jumlah lot saham yang dimiliki si investor tersebut.
Pertanyaannya sekarang, kenapa perusahaan melakukan stocksplit? Apa benefitnya bagi perusahaan atau investor pemegang sahamnya? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap prospek dari saham itu sendiri? Apakah saham yang stocksplit kemudian bakal terbang dalam waktu dekat, misalnya?
Secara fundamental, stocksplit tidak berpengaruh apapun terhadap kinerja keuangan perusahaan, baik itu terhadap kinerja perusahaan pada saat ini maupun outlook/prospeknya di masa yang akan datang. Sebuah perusahaan tidak akan menjadi lebih berpeluang untuk membukukan kenaikan laba yang lebih tinggi di masa depan, misalnya, hanya karena sahamnya dipecah. Demikian pula valuasi PBV dan PER saham yang stocksplit tidak akan berubah/menjadi lebih murah hanya karena harga sahamnya di market (tampak) turun, karena sekali lagi, penurunan harga yang terjadi diimbangi oleh kenaikan jumlah saham yang beredar di pasar. Jadi dalam hal ini anda harus hati-hati kalau melihat data di sekuritas atau website tertentu dimana PBV dan PER sebuah saham tiba-tiba jadi tampak kecil, karena bisa jadi perusahaan yang bersangkutan melakukan stocksplit, sementara datanya di sekuritas tersebut belum di-update (and btw karena alasan ini pula, penulis tidak pernah menganalisis saham menggunakan ‘data matang’ dari sekuritas atau pihak ketiga lainnya, melainkan kita selalu membaca langsung laporan keuangan emiten dan menghitung semua rasio-rasio secara manual. That’s our job, that’s what we do).
Namun terhadap naik turun sahamnya, maka barulah stocksplit ini berpengaruh, setidaknya dalam jangka pendek. Jadi begini: Salah satu pertimbangan investor dalam membeli saham adalah terkait likuiditas dari saham yang bersangkutan, dimana investor manapun umumnya lebih suka saham yang likuid dibanding yang tidak. Ini menyebabkan perusahaan-perusahaan tertentu yang meski berfundamental bagus/laporan keuangannya profit terus, tapi harga sahamnya di pasar seringkali lebih rendah/tidak mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya, dan itu hanya karena sahamnya tidak likuid, sehingga investor kurang berminat. Sebab disisi lain analis-analis sekuritas juga biasanya hanya meng-cover/merekomendasikan saham-saham yang ramai diperdagangkan saja, sehingga saham-saham yang tidak likuid ini akhirnya luput dari perhatian.
Tapi setelah perusahaan melakukan stocksplit, entah itu dalam rasio 1:2, 1:4, 1:5, atau bahkan 1:10, maka diharapkan bahwa sahamnya kemudian akan menjadi lebih likuid, karena harga nominal saham yang bersangkutan menjadi lebih terjangkau termasuk oleh investor ritel dengan modal kecil sekalipun. Contoh saham Astra International (ASII), yang pada tahun 2012 lalu melakukan stocksplit dengan rasio 1:10. Sebelum stocksplit, harga saham ASII adalah 60,000, dan pada tahun 2012 tersebut 1 lot saham adalah setara 500 lembar (1 lot saham baru berubah menjadi 100 lembar sejak tahun 2014). Itu artinya seorang investor harus keluar duit Rp60,000 dikali 500 lembar, sama dengan Rp30 juta, hanya untuk membeli saham ASII sebanyak 1 lot saja! Lah kalo gitu maka gimana caranya investor yang hanya katakanlah memiliki Rp10 juta di rekeningnya bisa membeli ASII? Sebab anda tidak mungkin membeli saham hanya sebanyak setengah lot saja. Minimal ya satu lot, atau kelipatannya.

Padahal sangat mungkin diluar sana ada banyak investor yang, meski dananya terbatas, namun mereka sangat berminat untuk memiliki ASII ini barang 1 lot. Karena itulah, ASII kemudian melakukan stocksplit, dan BEI sendiri kemudian mengubah peraturan perdagangan dimana 1 lot menjadi setara 100 lembar saham (dari tadinya 500 lembar). Jadi sekarang minimum dana yang dibutuhkan untuk membeli 1 lot ASII adalah Rp6,000 dikali 100 lembar, sama dengan Rp600,000 saja. Nah, dengan demikian harga saham ASII secara nominal menjadi terjangkau oleh semua orang, dan investor yang sejak awal memang berminat dengan ASII ini sekarang bisa ramai-ramai membelinya. Alhasil, saham ASII di market akan menjadi lebih likuid. Dan ketika sebuah saham menjadi lebih likuid dari sebelumnya, maka peminatnya juga akan menjadi lebih banyak lagi, dan sahamnya bisa naik tinggi. Ketika saham ASII diperdagangkan untuk pertama kalinya pada harga pasca stocksplit, pada tanggal 6 Juni 2012 lalu, sahamnya melonjak signifikan ke posisi 6,600.
Dalam Jangka Panjang: Balik Lagi ke Fundamental
Jadi secara teori, stocksplit akan menyebabkan sebuah saham menjadi lebih likuid, sehingga peminatnya lebih banyak, and eventually harga sahamnya di market akan menjadi lebih mencerminkan fundamental perusahaan. Yup, jadi tujuan akhirnya bukanlah agar ‘sahamnya naik’, melainkan agar ‘naik turun sahamnya lebih selaras dengan kinerja fundamental perusahaan’. Jadi kalo misalnya perusahaan memiliki kinerja yang kurang bagus, maka ya sahamnya gak akan naik bahkan meski dilakukan stocksplit. Contoh, tahun 2011 lalu ketika sedang puncak booming batubara, Resource Alam Indonesia (KKGI) melakukan stocksplit dengan rasio 1:4, sehingga jumlah saham beredarnya naik dari 250 juta lembar menjadi 1 milyar lembar, sementara harga sahamnya turun dari 4,000 menjadi 1,000. Tak lama kemudian KKGI melompat ke 1,700 setelah perusahaan membukukan ROE lebih dari 60% di laporan keuangannya, dan selanjutnya terus saja naik hingga menyentuh 8,000, satu setengah tahun kemudian.
Tapi setelah itu harga batubara mulai turun, perusahaan-perusahaan batubara mulai kocar kacir, dan saham KKGI itu sendiri kemudian turun terus hingga ke posisi 700-an, pada awal 2016 lalu. Memasuki penghujung 2016, harga batubara mulai naik, dan saham KKGI mulai naik lagi hingga sempat menembus 2,500 pada Februari 2017. Di bulan berikutnya yakni Maret 2017, KKGI stocksplit lagi, kali ini dengan rasio 1:5, sehingga jumlah saham beredarnya meningkat dari 1 menjadi 5 milyar lembar, sementara harga sahamnya jadi 500 (dari tadinya 2,500). Tapi apakah setelah itu saham KKGI naik? Ternyata tidak: Hingga Kuartal III 2017 kemarin, KKGI masih membukukan penurunan pendapatan ketika mayoritas perusahaan batubara lainnya membukukan kenaikan, dan alhasil sahamnya gak kemana-mana/cenderung turun hingga ke posisi 300-an.
Jadi sekali lagi, meski suatu saham bisa naik dengan cepat tak lama setelah stocksplit (atau bahkan sebelumnya), yakni karena sahamnya diborong oleh investor tertentu yang sejak awal hendak masuk tapi terbentur oleh seretnya likuiditas dari saham yang bersangkutan, atau karena minimnya dana (contohnya balik lagi ke ASII diatas), tapi dalam jangka panjang, pada akhirnya orang tetap akan melihat kinerja perusahaan. Disisi lain, berdasarkan pengamatan penulis selama ini, kalo sebuah perusahaan memang memiliki kinerja fundamental diatas rata-rata, maka meski sahamnya dalam jangka pendek kadang-kadang seperti susah naik (atau malah turun), tapi dalam jangka panjang tetap akan naik signifikan bahkan meski tanpa stocksplit. Pada Juni 2012 lalu, yakni ketika perusahaan melakukan stocksplit, ASII berada di level 6,600. Dan berapa harga saham ASII sekarang? Sudah naik ke 8,200, tapi total gain yang hanya sebesar 24.2% dalam waktu lima tahun tentu saja bukanlah profit yang memuaskan. Sementara itu, lima tahun yang lalu, saham Unilever Indonesia (UNVR) masih berada di level 22,000. Dan berapa UNVR sekarang? Sudah tembus 50,000, atau naik jauh lebih tinggi dibanding ASII pada periode waktu yang sama, padahal UNVR sampai sekarang belum pernah stocksplit lagi. Got it?
Nah, jadi mari kita balik lagi ke pertanyaan diatas: Kenapa perusahaan melakukan stocksplit? Salah satunya agar sahamnya lebih likuid, sehingga naik turun harganya lebih mencerminkan fundamental perusahaan, termasuk dalam jangka pendek. Apa benefitnya bagi perusahaan atau investor pemegang sahamnya? Terkait fundamental perusahaannya, tidak ada benefit apapun. Sebuah perusahaan tidak akan menjadi lebih berpeluang untuk membukukan laba bersih yang lebih besar di masa yang akan datang hanya karena stocksplit. Dan bagaimana pengaruhnya terhadap prospek dari saham itu sendiri? Apakah saham yang stocksplit kemudian bakal terbang dalam waktu dekat, misalnya? Dalam jangka waktu yang sangat pendek, katakanlah beberapa hari atau 1 – 2 minggu mungkin iya, sebuah saham bisa saja naik menjelang atau setelah stocksplit. Namun dalam jangka panjang, pada akhirnya naik turun saham tersebut akan tetap mengikuti fundamental perusahaan yang bersangkutan. Pada contoh ASII vs UNVR diatas, kinerja fundamental ASII sempat stagnan karena turunnya harga komoditas batubara dan CPO antara tahun 2012 – 2016, yang menyebabkan penurunan kinerja dari dua anak usahanya, United Tractors (UNTR) dan Astra Agro Lestari (AALI). Sementara UNVR, sebagai perusahaan consumer goods, kinerjanya dalam lima tahun terakhir terbilang lancar jaya.
Okay, I think that’s enough, untuk minggu depan kita akan membahas salah satu dari tiga tema berikut: 1. Proyeksi IHSG di 2018: Apakah siklus krisis 10 tahunan akan terulang kembali? 2. Bagaimana analisis saham-saham tambang BUMN menjelang akuisisi oleh PT Inalum? Atau 3. Prospek dari IPO PP Presisi, dan IPO Wika Gedung. Silahkan anda pilih tema yang mana, melalui kolom komentar dibawah.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Buku Kumpulan Analisis Saham, Kuartal III 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada November 2017. Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat siang pak Teguh…
Saya Mengikuti jejak bapak membeli asri. Kebetulan dapat harga di bawah bapak.
Dan sekarang mulai ada profit.
Terima kasih pak Teguh.
-Fendi-
Oya Pak…mau blng trm ksh. Sy ada beli ptro dan inds bbrp bulan lalu. Bulan lalu jual. Kecepatan sih jualnya. Tp yg penting ada cuan 30 persen walaupun gak byk lotnya. Tp tetap mau blng trm ksh sama Pak Teguh.
Sekarang ada masuk mcor dan beli hoki kmrn sesuai ebook lk 3 kmrn.smg bs ksh cuan lg.
November 14th, 2017 at 11:04 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Apa Itu Repo Saham?

Menurut Investopedia, repurchase agreement, atau biasa disingkat repo, adalah perjanjian antara dua belah pihak dimana pihak pertama meminjam sejumlah dana dari pihak kedua dengan jaminan aset keuangan tertentu, misalnya saham, obligasi, hingga surat utang negara, dengan janji bahwa pihak pertama akan membeli kembali saham tersebut (sehingga pihak kedua akan memperoleh uangnya kembali). Biasanya nilai pinjamannya lebih rendah dari nilai aset yang dijaminkan, misalnya A meminjam dana Rp100 juta dari B dengan jaminan 100,000 lembar saham X pada harga Rp1,000 per saham (jadi nilai pinjamannya Rp100 juta), sementara harga saham X di pasar mencapai Rp1,500. Sehingga teorinya adalah, kalau ternyata si A tidak dapat melunasi utangnya, maka si B sebagai pemilik dana tinggal menjual saham X yang ia pegang sebagai jaminan, dan ia tetap akan meraup untung 50% (karena ia bisa menjual saham X di pasar pada harga 1,500, sementara modalnya cuma 1,000).

Pada prakteknya, mekanisme dari transaksi repo ini terbilang macam-macam/berbeda satu sama lain, tergantung dari poin-poin perjanjian antara si peminjam dan pemilik dana. Contoh, ada transaksi repo dimana si peminjam sejak awal tidak akan membeli kembali saham yang dijaminkan, atau dengan kata lain ia benar-benar menjual sahamnya ke si pemilik dana, dan alhasil si pemilik dana hanya bisa memperoleh kembali uangnya dengan cara menjual saham tersebut di pasar. Ada juga repo dimana saham yang menjadi jaminan baru boleh dijual kembali di pasar oleh si pemilik dana setelah jangka waktu tertentu (istilahnya sahamnya di-lock). Dan ada repo dimana si peminjam menjaminkan saham pada harga yang sama dengan harga pasar, sehingga si pemilik dana tidak akan memperoleh keuntungan kalau menjual saham jaminan tersebut di pasar, namun dengan janji bahwa saham tersebut akan dibeli lagi pada harga yang sama, plus bunga.
Kalau di negara maju seperti Amerika, transaksi repo ini dianggap aman karena aset yang dijaminkan biasanya berupa surat utang negara atau treasury bonds, yang risikonya tentu jauh lebih rendah dibanding saham. However, kalau di negara berkembang seperti Indonesia, maka ‘repo’ ini memiliki konotasi yang buruk. Karena sering terjadi kasus repo dimana meski si peminjam berjanji akan membeli kembali saham yang dijaminkan pada harga yang sudah ditentukan, namun janji tersebut ternyata tidak dipenuhi. Atau ketika si pemilik dana akan menjual saham jaminan yang ia pegang di pasar, ternyata harganya sudah turun duluan, misalnya saham X diatas dimana harganya tadinya 1,500, tapi ternyata sekarang harganya tinggal 500, sehingga posisi si pemilik dana menjadi rugi (karena modalnya di harga 1,000).
Dan untuk kasus yang kedua, yakni saham yang dijaminkan sudah turun duluan, biasanya melibatkan ‘saham-saham gorengan’ yang pada waktu-waktu tertentu bergerak liar dan terbang tinggi, tapi ketika sekalinya turun maka bakal gila-gilaan turunnya. Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa saham gorengan yang turun secara tidak wajar hingga menyebabkan kerugian besar-besaran dari para pemegang sahamnya, dan ditengarai bahwa penyebab kejatuhan saham-saham tersebut salah satunya adalah karena transaksi repo. Sebut saja saham Trada Maritime (TRAM), Sekawan Intipratama (SIAP), Express Transindo Utama (TAXI), Hanson International (MYRX), hingga Sugih Energy (SUGI).
Tapi kenapa penurunan saham-saham diatas dianggap ada kaitannya dengan repo? Well, karena biasanya modusnya seperti ini. Pertama, ada individu atau perusahaan tertentu, sebut saja A, yang memegang saham X dalam jumlah besar (individu/perusahaan ini biasanya merupakan pemegang saham mayoritas/pemilik dari emiten X tersebut, tapi bisa juga pihak lain). A kemudian memperjual belikan saham X miliknya sendiri di market (jadi yang membeli dan menjual adalah pihak yang sama, tapi tentunya pake dua atau beberapa rekening sekuritas yang berbeda), dimana setiap transaksi dilakukan pada harga yang lebih tinggi dari transaksi sebelumnya. Alhasil, saham X naik terus. Misalnya tadinya saham X harganya cuma 100, setelah ‘digoreng’ seperti itu maka bisa naik sampai 500. Dan A inilah yang sering disebut dengan istilah ‘bandar’.
Kemudian, A mendatangi banyak investor, entah itu investor individu atau institusi, untuk meminjam uang dengan jaminan saham X tersebut. Biasanya dikatakan bahwa uang pinjaman tersebut akan digunakan untuk mengembangkan/ekspansi usaha dari emiten X itu sendiri. Misalnya salah satu investor tersebut adalah B, yang setuju meminjamkan dana Rp30 juta, dengan jaminan 100,000 lembar (1,000 lot) saham X pada harga Rp300 per saham. Karena saham X di pasar adalah Rp500, maka sekilas B tidak perlu khawatir, karena kalau A tidak bisa melunasi utangnya/membeli kembali saham yang dijaminkan, maka ia tinggal menjual saham X di pasar, dan ia akan tetap memperoleh keuntungan.
Problemnya, sejak awal kenaikan harga saham X dari 100 ke 500 itu bukankarena mekanisme pasar yang wajar (misalnya karena X ini memiliki fundamental yang bagus sehingga investor ramai-ramai membelinya, dan alhasil harganya naik), melainkan karena rekayasa bandar tadi. Ini artinya kalau bukan si bandar itu sendiri yang membeli/menaikkan saham X di pasar, maka gak akan ada orang lain lagi yang mau membeli saham X (kecuali mungkin spekulan, atau trader yang gak ngerti apa-apa/cuma tertarik karena kenaikan sahamnya saja). Alhasil ketika saham X turun signifikan dalam sehari, misalnya 5%, maka investor yang memegang repo-nya bisa langsung panik dan cepat-cepat menjual saham jaminan yang mereka pegang, atau bisa juga mereka kena forced sell. Dan ketika semua investor pemegang repo ini menjual saham X dalam waktu bersamaan ketika disisi lain tidak ada orang lain yang nampung, maka inilah hasilnya: Pada Oktober 2014 lalu, saham TRAM terjun bebas dari 1,850 hingga 330 hanya dalam sebulan, dan setelah itu dia kembali lanjut turun sampai akhirnya mati di gocap. Dan meski belakangan ini TRAM mulai ‘hidup’ lagi, tapi untuk saham repo lainnya seperti SIAP, nasibnya ternyata lebih buruk yakni hilang sama sekali dari peredaran (SIAP masih ada/belum delisting dari BEI, tapi sahamnya sudah tidak diperdagangkan lagi).
Penurunan Saham RIMO
Nah, jadi ketika saham Rimo International Lestari (RIMO) tiba-tiba saja drop dari 700 hingga dibawah 200 hanya dalam seminggu terakhir, maka wajar jika kemudian muncul rumor repo, karena kronologisnya memang sangat mirip dengan kasus-kasus sebelumnya: RIMO ini pertama-tama menerbitkan saham baru dalam jumlah besar (40.6 milyar lembar) melalui right issue, pada Maret 2017 lalu, pada harga Rp101 per saham. Alhasil jumlah saham beredar RIMO menjadi sangat banyak, dan sahamnya di market jadi likuid. Memasuki bulan April dan Mei, RIMO mulai merangkak naik ke 150, dan pada titik ini kenaikannya masih tampak wajar karena nilai ekuitas perusahaan juga meningkat signifikan setelah right issue-nya (RIMO tadinya merupakan perusahaan ritel yang bangkrut, yang diakuisisi seorang pengusaha bernama Benny Tjokrosaputro untuk dijadikan objek backdoor listing bagi perusahaaan properti miliknya).

Namun memasuki bulan Juni, tiba-tiba saja RIMO bergerak naik dengan volume transaksi yang amat sangat besar (pernah sampai setengah milyar lembar per hari), dan terus saja naik, hingga menyentuh 770 di bulan Oktober kemarin, atau terbang lebih dari empat kali lipat dalam waktu kurang dari enam bulan! Lalu apakah kenaikan tersebut karena fundamental RIMO memang bagus? Actually, nggak juga, karena penulis sudah bolak balik baca laporan keuangan RIMO sejak awal 2017 lalu, dan kesimpulannya adalah dia sama sekali gak istimewa. Intinya sulit untuk mengatakan bahwa kenaikan RIMO tersebut adalah karena faktor fundamental, dan penulis biasanya bisa dengan santai mengatakan bahwa saham-saham model RIMO ini cepat atau lambat bakal turun lagi. Dan ternyata memang benar: Kasus kejatuhan TRAM dan SIAP beberapa waktu lalu, kali ini kembali terulang di RIMO ini, dan tentunya dengan menyeret banyak korban, baik itu yang memegang RIMO karena membeli sahamnya di pasar, atau dari hasil repo-nya.
Balik lagi ke soal repo. Namun meski kita bisa katakan bahwa penurunan RIMO, atau saham lainnya, ditengarai karena repo, tapi kita tidak bisa mengetahui secara persis, apakah penurunan RIMO tersebut beneran karena adanya repo atau tidak. Karena kalaupun RIMO ini di-repo-kan, maka biasanya investor yang memegang saham repo-nya nggak mau ngaku (bahwa dia pegang repo RIMO), karena 1. Ia sejak awal sadar bahwa keputusannya untuk ikut repo tersebut merupakan spekulasi, atau 2. Ia diberi tahu oleh si peminjam/orang yang menawarkan repo tersebut, untuk jangan cerita-cerita lagi soal repo ini ke orang lain. Soalnya kan gak enak, orang lain harus beli RIMO di harga 700 (harga pasar), tapi bapak/ibu bisa dapet saham RIMO ini sebagai jaminan di harga 300 saja. Jadi mirip-mirip lah seperti kalau anda dapat telepon yang mengatakan bahwa anda menang undian, tapi sebelum menyuruh anda ke mesin ATM, si penelpon biasanya akan kasih tau agar anda ‘jangan bilang ke siapa-siapa’ bahwa anda menang undian tersebut.
And btw, selama wara wiri di market sejak 2009, penulis sendiri sudah beberapa kali ditawari repo seperti ini, atau bahkan ditawari untuk menjual kembali repo tersebut ke pihak lain, dengan iming-iming komisi. Tapi penulis tolak semuanya karena, entah kebetulan atau bukan, saham-saham yang direpokan biasanya emitennya memiliki kinerja fundamental yang gak jelas, dan manajemennya cuma jualan prospek. Contoh, dulu saham SIAP banyak direpokan dengan iming-iming bahwa tambang batubara milik perusahaan kalau nanti sudah beroperasi maka akan menghasilkan laba bersih yang sangat besar, padahal tambang yang dimaksud sama sekali belum diapa-apakan/masih berupa hutan lebat yang tentunya butuh banyak biaya untuk dibabat, digali, dan seterusnya, tapi SIAP ini sama sekali gak punya duit untuk pengembangan tersebut (makanya owner perusahaan me-repo-kan saham SIAP untuk memperoleh dana untuk menggali batubaranya). Sayangnya karena timing-nya salah, dimana meski si bandar kemudian punya duit banyak hasil jualan repo untuk kegiatan tambangnya, tapi tetap saja tambang batubaranya belum bisa digali dulu, karena ketika itu (tahun 2015) harga batubara justru sedang rendah-rendahnya (jadi kalau perusahaan memaksakan menggali batubara, mereka justru akan rugi). Dan sebelum SIAP benar-benar memproduksi batubara, sahamnya sudah keburu nyungsep duluan, dan SIAP itu sendiri kemudian bubar sama sekali.
Jadi maksud penulis adalah, kalau misalnya saya ditawari repo saham ASII, BBRI, atau UNVR pada harga yang jauh dibawah harga pasarnya, maka dengan senang hati penulis akan mengambilnya, kalo perlu jual rumah lah! Tapi kalau anda ditawari repo dari saham-saham yang bahkan mungkin belum pernah anda dengar sebelumnya, maka sekarang anda sudah tahu, apa yang harus anda lakukan. Dalam hal ini penulis juga hendak menyampaikan sedikit kritik kepada BEI dan OJK, yang sekarang lagi banyak berbenah untuk menata pasar modal Indonesia, tapi so far belum ada tindakan atau peraturan baru yang secara khusus mengatur soal repo ini. Penulis khawatir jika ini dibiarkan, maka tidak hanya akan terus jatuh korban dari investor ritel, tapi reputasi pasar saham Indonesia di mata fund manager global juga bakal jadi jelek, karena disini isinya cuma gorengan melulu.
Anyway, sambil menunggu para bos besar ini melakukan tindakan, yang terpenting disini adalah kita sendiri sebagai investor jangan mudah tergiur kalau misalnya ada orang yang menawari anda repo dengan iming-iming tertentu (kadang si peminjam menolak untuk menyebut ini ‘repo’ melainkan menyebutnya dengan istilah yang lebih keren seperti private placement atau lainnya, padahal private placement jelas berbeda dengan repo), atau tergiur dengan ‘saham-saham terbang’ padahal kenaikannya tidak didukung faktor fundamental. Intinya kita invest saham dengan cara yang lurus-lurus sajalah! Dan bukannya malah macem-macem dengan ikut repo atau sejenisnya, OK?

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Sido Muncul

Beberapa waktu lalu penulis mendengar cerita unik. Jadi pada tanggal 15 Oktober kemarin di Kota Bantul, Jogja, dilangsungkan pernikahan dengan mas kawin bukan emas, seperangkat alat shalat atau semacamnya, melainkan mas kawin saham, dalam hal ini saham Sido Muncul (SIDO) sebanyak 500 lot senilai Rp27.7 juta, atau Rp555 per saham. Ini menarik, mengingat mempelai pria memang seorang investor yang sudah mulai mengenal saham sejak tahun 2013, dan tentunya ia tidak main-main ketika memberikan mas kawin berupa saham tersebut. Pertanyaannya, kenapa saham SIDO yang dijadikan mas kawin, dan bukannya saham lain?

SIDO, seperti yang pastinya anda ketahui (karena SIDO ini merupakan salah satu perusahaan paling populer di tanah air), adalah perusahaan produsen obat-obatan herbal atau yang biasa disebut jamu, dengan merk andalannya Jamu Tolak Angin plus berbagai variannya (Tolak Angin Anak, Tolak Angin Flu, Tolak Angin Herbal, dst). Selain jamu, SIDO juga adalah produsen dari makanan dan minuman suplemen dengan merk-merk yang juga terkenal, seperti Kuku Bima Ener-G, Este-Emje, Kopi Jahe Sidomuncul, Kunyit Asam, dan Alangsari. Dan sejak tahun 2014 lalu, SIDO juga memasuki industri farmasi dengan mengakuisisi PT Berlico Mulia Farma, yang merupakan produsen obat-obatan ringan dengan merk Anacetine (obat panas anak), Berlosid (obat maag), dan Suprabion (suplemen vitamin). Hingga ketika artikel ini ditulis, SIDO masih terus meluncurkan banyak varian produk baru dengan tetap fokus di obat-obatan/suplemen herbal, termasuk berinovasi dengan meluncurkan Cafe Jamu Sido Muncul, yakni program franchise dimana masyarakat bisa membuka usaha cafe/warung yang menjual produk-produk jamu Sido Muncul, dengan modal mulai dari Rp1 juta saja. Program ini bisa dibilang sebagai franchise usaha jamu pertama di Indonesia (dan mungkin juga di dunia). Sebelum meluncurkan Cafe Jamu, SIDO melalui anak usahanya, PT Muncul Mekar, sudah memiliki jaringan distribusi milik sendiri yang tersebar dari Sumatera Utara hingga Papua. SIDO juga mengekspor produk-produknya ke setidaknya 16 negara berbeda, meski porsinya masih sangat kecil yakni hanya 2% dari total pendapatan.

Siapa disini yang punya stok Jamu Tolak Angin di lemari dapur di rumah??

Nah, sejak SIDO melantai di bursa untuk pertama kalinya pada Desember 2013 lalu, penulis sudah sangat tertarik dengan SIDO ini karena beberapa pertimbangan berikut. Pertama, seperti yang sudah disebut diatas, SIDO merupakan salah satu perusahaan paling terkenal di tanah air, dengan merk-merk produk yang juga terkenal. Seperti yang pernah kita bahas disini, popularitas hingga kekuatan merk yang dimiliki SIDO merupakan aset yang sangat berharga, yang membuat sahamnya layak dihargai pada valuasi tinggi. Dalam hal ini SIDO tidak kalah dengan katakanlah Unilever, Kalbe Farma, hingga Indofood. SIDO juga merupakan perusahaan jamu paling populer, paling mapan (sudah berdiri sejak tahun 1940), dan paling besar dibanding para kompetitornya, seperti PT Air Mancur, Jamu Jago, Jamu Nyonya Meneer, dst.
Kedua, produk jamu itu sendiri memiliki reputasi sebagai produk obat-obatan yang lebih alami dan ‘lebih sehat’ dibanding obat biasa, karena dibuat langsung dari bahan baku tanaman berkhasiat seperti kunyit, jahe, temulawak, dst. Plus, harga jualnya juga lebih murah sehingga otomatis pangsa pasarnya lebih luas. Problemnya, karena saking alaminya maka produk jamu biasanya berupa serbuk yang diseduh air panas sehingga tidak praktis, dan rasanya pun pahit, sehingga kadang orang enggan untuk mengkonsumsinya. Tapi untungnya sekarang ini para produsen jamu, termasuk SIDO, berinovasi dengan meluncurkan produk-produk jamu berbentuk cair dan tablet/permen yang lebih praktis, dan rasanya pun lebih enak/manis.
Ketiga, selaras dengan statusnya sebagai salah satu produsen jamu terbesar di Indonesia, kinerja SIDO juga terbilang bagus dan terus bertumbuh secara konsisten. Pada tahun 2008, SIDO membukukan pendapatan Rp1.04 trilyun, yang tumbuh menjadi RpRp2.56 trilyun di tahun 2016 (sementara total aset perusahaan hanya Rp2.99 trilyun). Laba bersih SIDO juga terus tumbuh hingga terakhir tercatat Rp380 milyar di Kuartal III 2017. Hebatnya, pertumbuhan kinerja diatas dicapai dengan hampir tidak menggunakan leverage sama sekali. Yup, dari dulu sampai terakhir per Kuartal III 2017, SIDO tidak pernah memiliki utang bank, obligasi, atau semacamnya, melainkan hanya utang usaha saja. Kondisi ini menyebabkan margin laba SIDO terbebas dari beban bunga pinjaman, dan posisi perusahaan sangat aman dari risiko business turnaround, dimana kalau industri jamu tiba-tiba drop maka SIDO secara keuangan akan baik-baik saja, karena perusahaan tidak memiliki liabilitas apapun (kita gak akan pernah mendengar cerita SIDO melakukan restrukturisasi utang atau semacamnya, itu tidak akan pernah terjadi). Disisi lain, sebagai bagian dari industri consumer goods, usaha jamu itu sendiri memiliki risiko yang rendah, dimana risiko usaha ini terbatas pada risiko fluktuasi harga bahan baku, dan risiko persaingan (dan untungnya, SIDO sejak awal sudah merupakan ‘one of the best players’ di bidangnya).
Terakhir keempat, SIDO dikelola oleh tim manajemen yang sangat tradisional, dimana mereka hanya membuat jamu, kemudian menjualnya, that’s it. Pemilik SIDO, dalam hal ini Pak Irwan Hidayat beserta keluarga (unfortunately, he’s not my uncle), selama ini juga senantiasa fokus mengelola SIDO dan hampir tidak memiliki usaha lain, kecuali jaringan Hotel Candi di Jawa Tengah dan Jogja, dan mereka juga memiliki reputasi yang sangat baik dimana Pak Irwan bersama beberapa tokoh lainnya seperti Dato’ Tahir (owner Grup Mayapada), pengusaha sekaligus Wapres M. Jusuf Kalla, hingga desainer kebaya Anne Avantie, pernah dinobatkan Majalah Forbes sebagai 4 dari ’48 orang paling dermawan di Asia’. Yup, seperti halnya Mr. Tahir, Mr. Irwan melalui SIDO memang terkenal dengan kegiatan filantropinya, yang dikemas dalam bentuk CSR. Contohnya, sejak tahun 2011 sampai sekarang, SIDO rutin menggelar operasi katarak gratis untuk masyarakat umum.
However, meski tampak sempurna secara fundamental (atau, kalau mengutip istilah Opa Warren, SIDO ini merupakan ‘wonderful company’), SIDO tetap memiliki kelemahan, yakni terkait prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan. Seperti yang disebut diatas, SIDO dikelola secara tradisional, tanpa leverage apapun (padahal kalau Mr. Irwan mengumumkan bahwa SIDO butuh pinjaman, maka penulis yakin para bank bakal langsung antri), dan sayangnya juga hampir tanpa ekspansi apapun dimana dalam beberapa tahun terakhir SIDO hanya pernah sekali mengakuisisi perusahaan (PT Berlico), dan sampai sekarang perusahaan masih mengerjakan penambahan kapasitas pabrik jamu cair-nya, padahal itu sudah dikerjakan sejak awal tahun 2014 (dananya dari hasil IPO). Lambannya ekspansi perusahaan juga bisa dilihat dari kebijakan manajemen yang membagikan 99% laba bersihnya setiap tahun sebagai dividen, jadi hampir tidak ada dari laba bersih tersebut yang disimpan untuk diinvestasikan kembali. Dan bahkan meski SIDO sangat royal dividen, tapi posisi cash-nya selalu tebal. Per Kuartal III 2017, dari total aset perusahaan senilai Rp2.97 trilyun, Rp810 milyar atau 27% diantaranya merupakan cash yang tidak produktif. Kalau kita lihat Berkshire Hathaway-nya Warren Buffett, maka perusahaan senantiasa menjaga posisi cash sekitar 15% untuk jaga-jaga kalau terjadi market crash atau semacamnya, tapi bahkan posisi cash sebesar itu saja sudah dianggap terlalu hati-hati (perusahaan besar lain biasanya hanya menjaga posisi cash-nya di level 5 – 10% dari total aset). Tapi posisi cash SIDO jauh lebih besar dari itu, dan bahkan bisa lebih besar lagi andaikata perusahaan tidak membagikan dividen dalam jumlah terlalu besar.
Jadi, yup, dalam hal ini SIDO bisa disebut sebagai kebalikan dari Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), yang juga merupakan perusahaan consumer goods, namun AISA sangat agresif dalam berekspansi dimana perusahaan sudah beberapa kali menggelar right issue, mengambil utang obligasi, utang bank, hingga private placement. Dan jika AISA sukses mencatat pertumbuhan yang sangat cepat namun disisi lain perusahaannya rawan bangkrut/menderita rugi besar kalau-kalau terjadi peristiwa buruk tertentu (dan memang AISA sudah beberapa kali kena masalah, misalnya terkait investasinya di Golden Plantation/GOLL), maka SIDO tidak akan kena masalah apapun, tapi disisi lain pertumbuhan riil perusahaan menjadi sangat lamban. Yup, meski diatas disampaikan bahwa SIDO memiliki kinerja konsisten dalam jangka panjang, namun ‘jangka panjang’ disini adalah antara 5 hingga 10 tahun, atau lebih lama lagi. Sementara kalau kita melihatnya hanya dalam waktu 2 – 3 tahun kedepan, maka bisa jadi nilai pendapatan, laba bersih, serta ekuitas SIDO hanya akan segitu-gitu saja (tetap naik, tapi dengan persentase kenaikan yang rendah).
Maksud penulis adalah, jika saya menjadi pemegang saham pengendali di SIDO, maka perusahaan tetap tidak akan mengambil utang (buat apa?), namun SIDO hanya akan membagikan dividen dalam jumlah wajar saja, yakni 30 – 40% dari laba bersih setiap tahunnya, sementara selebihnya bisa dipakai untuk akuisisi perusahaan jamu lain atau lainnya, tinggal cari saja yang harganya cocok (baca: murah). Dengan cara ini maka pendapatan SIDO bisa bertumbuh secara lebih cepat, namun disisi lain risiko usahanya tetap rendah karena, sekali lagi, kita gak pake utang apapun untuk akuisisi tersebut. Dan perlu diingat pula bahwa meski produk-produk SIDO sudah terkenal di seantero nusantara, namun jika pihak manajemen sedikit lebih ambisius, maka Jamu Tolak Angin bisa juga menyusul jejak Indomie milik Grup Indofood, yang sekarang sudah menjadi produk mie instan populer di banyak negara mulai dari Taiwan, Nigeria, hingga Belanda. Pendek kata, SIDO sebenarnya memiliki banyak peluang untuk tumbuh hingga menjadi perusahaan yang benar-benar besar, sekali lagi, asalkan pihak pengelola perusahaan mau bekerja lebih keras.
Anyway, diluar faktor lambannya pertumbuhan diatas, in the end penulis tetap setuju bahwa SIDO merupakan wonderful company, yang layak dijadikan sebagai ‘pasangan sehidup semati’ alias dipegang untuk jangka panjang, kalau bisa sampai anak cucu. Sebenarnya pada tahun 2014 lalu ketika saham SIDO mulai turun terus dari 900-an hingga mentok di 480 – 500 pada pertengahan 2015, penulis ketika itu termasuk yang menganggap bahwa meski SIDO ini sangat menarik, tapi sebaiknya kita tunggu di harga yang lebih rendah dulu, karena PBV 2.5 – 3 kali masih sedikit terlalu mahal untuk ukuran perusahaan yang nyaris tidak menawarkan prospek pertumbuhan apapun (ketika itu SIDO sudah membagikan hampir seluruh labanya sebagai dividen).
However, sudah dua tahun berlalu, dan ternyata SIDO tidak turun lebih rendah lagi (meski disisi lain juga belum naik-naik lagi), sementara disisi lain kinerjanya masih lancar jaya seperti biasanya. Jadi ya sudah, kemungkinan kisaran harga sekarang sudah cukup rendah bagi SIDO ini. Jika anda mencari saham dengan risiko rendah dan bisa dipegang untuk jangka panjaaang, maka SIDO bisa dipertimbangkan, dimana kalau kita melihatnya dalam waktu 5 – 10 tahun kedepan, penulis yakin SIDO ini pada akhirnya akan naik juga. Selain itu ingat pula bahwa meski SIDO tampak kurang bagus dari sisi kenaikan sahamnya, namun para pemegang sahamnya tetap akan memperoleh profit dari dividennya yang cukup besar yakni sekitar Rp26 per saham, atau 5% dari harga sahamnya. Sebagai perbandingan, dividend yield dari emiten-emiten bluechip biasanya hanya 2 – 3% per tahun.
Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, kenapa si mempelai pria memilih saham SIDO sebagai mas kawin? Kenapa bukan saham BUMI, misalnya?? Well, menurut anda??
PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2017: AA
Rating saham pada 500: A
Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) Edisi Kuartal III 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal III 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin,November 2017. Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor profesional adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham berdasarkan kinerja terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…

Widya Olivia – [...]

Konstruksi.. Lagi!

Sebentar lagi kita akan memasuki musim rilis laporan keuangan (LK) Kuartal III, dan seperti biasa beberapa emiten merilis LK-nya lebih awal. Salah satunya adalah emiten konstruksi Waskita Karya (WSKT), plus anak usahanya Waskita Beton Precast (WSBP), dimana hasilnya cukup mengesankan: Laba bersih WSKT melonjak dari Rp1.1 menjadi Rp2.6 trilyun, sementara laba WSBP juga naik dari Rp502 menjadi Rp825 milyar. Kemungkinan karena keluarnya LK inilah, saham WSKT dan WSBP dengan cepat melonjak dalam semingguan terakhir, demikian pula saham-saham konstruksi yang lain terutama karena adanya anggapan bahwa kalau WSKT kinerjanya bagus, maka demikian pula kinerja konstruksi BUMN lainnya bakal bagus juga. Pertanyaannya sekarang, mengingat sebelumnya WSKT dkk justru turun terus, maka apakah ini merupakan tanda bahwa penurunannya sudah maksimal, dan selanjutnya konstruksi akan balik arah? Atau bagaimana?

Sepanjang tahun 2017 ini mungkin tidak ada sektor yang paling bikin pusing selain konstruksi ini, karena jika dilihat dari kinerja keuangan perusahaan, prospeknya, hingga progress riil dari pembangunan infrastruktur di lapangan, maka semuanya tampak OK, plus IHSG-nya juga masih strong di level atas (5,900-an). Tapi nyatanya saham-saham di sektor ini justru turun sendiri ketika mayoritas saham-saham kelompok big caps lainnya masih baik-baik saja. I mean, kalau memang terjadi perubahan fundamental dimana WSKT dkk mencatat penurunan laba atau bahkan rugi, maka ya sudah, penulis sendiri juga akan minggir dulu dari konstruksi ini. Namun faktanya, seperti yang bisa anda lihat, BUMN konstruksi masih mencatat kenaikan laba yang signifikan, bahkan justru paling signifikan dibanding emiten BUMN lainnya.


Rangkuman Kinerja WSBP hingga Kuartal III 2017: Everything seems good

Dan penulis sendiri sudah ngomong seperti diatas sejak saya menyampaikan update analisis untuk sektor konstruksi pada Agustus 2017 lalu. Yup, kalau anda baca-baca lagi blog ini, kita sudah membahas sektor konstruksi sejak Desember 2016 lalu, dimana inti analisanya adalah, 1. Saham-saham konstruksi belum naik banyak sepanjang tahun 2016, sehingga valuasinya relatif masih rendah, 2. Kinerja fundamental serta prospeknya masih bagus seiring dengan realisasi percepatan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, dan 3. Penyebab belum ‘jalannya’ saham-saham konstruksi adalah karena faktor kurang stabilnya kondisi politik nasional menjelang Pilkada DKI Jakarta ketika itu, yang praktis menimbulkan kekhawatiran bahwa itu akan mengganggu kelanjutan pembangunan infra, tapi penulis termasuk yang percaya bahwa isu politik ini nantinya akan mereda dengan sendirinya. Anda bisa baca lagi ulasan lengkapnya disini.
Kemudian pada artikel di bulan Agustus 2017, analisis diatas diperbaharui, yang intinya terkait selesainya drama Pilkada DKI dimana yang menang adalah pasangan calon Gubernur – Wagub dari kubu partai oposisi, dan bukannya partai pendukung pemerintah. Yang itu artinya, ketidak stabilan politik yang sebelumnya penulis harapkan bakal segera mereda, kemungkinan justru akan berkepanjangan. Tapi untungnya diluar drama politik tersebut, yang lain-lainnya masih nggak ada masalah, malah untuk outlook-nya masih sangat menarik dimana WSKT dkk masih terus memperoleh banyak kontrak baru dari pemerintah. Jadi saya menganggap bahwa sektor konstruksi tetap menarik, namun dengan mempertimbangkan faktor isu politik tersebut maka kita harus menghargai saham-saham konstruksi pada valuasi yang lebih konservatif. Berdasarkan pengalaman, angka PBV terendah bagi saham konstruksi berfundamental bagus adalah 1.4 kali, itupun dicapai ketika IHSG drop di tahun 2013, dan 2015.
Kemudian kalau kita pakai contoh saham WSBP, maka PBV 1.4 kali tersebut adalah pada harga 400. Dan memang ketika WSBP terus saja turun sepanjang Semester I 2017 lalu, mentoknya ya di kisaran 400 tersebut (tepatnya di 416), sebelum kemudian membal dan naik lagi. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
Jadi pada ulasan di bulan Agustus tersebut, penulis menganggap bahwa saham-saham konstruksi sudah ketemu bottom-nya, sehingga dengan catatan tidak terjadi peristiwa force majeure tertentu dimana IHSG anjlok atau semacamnya, maka saham-saham konstruksi sudah layak buy. Tapi lagi-lagi, meski sempat stabil selama beberapa saat, memasuki bulan September konstruksi kembali ndlosor kebawah, dan WSBP bahkan sempat nyungsep sampai dibawah 340. So what happen?? Well, meski penulis sendiri terlambat menyadarinya, namun pada September tersebut kita menyimpulkan bahwa pasar sedang dalam kondisi yang boleh dibilang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana ada banyak saham-saham di BEI baik itu big, mid, maupun small cap yang turun signifikan, terutama karena investor asing jualan terus, namun entah gimana caranya IHSG-nya tidak ikut turun.
Dan penulis menyebut situasi ini dengan koreksi yang tidak kelihatan. Jika anda perhatikan, sekarang ini kita berada dalam situasi pasar dimana saham yang naik terus saja naik, sementara saham yang turun terus saja turun(detilnya baca lagi disini), Dan sayangnya saham-saham konstruksi termasuk dari saham-saham yang sebelumnya sudah turun banyak sejak awal tahun, sehingga jadilah mereka turun lebih lanjut.
Lalu kira-kira turunnya sampai berapa? Nah, untuk kali ini penulis terus terang belum ada gambaran, karena setelah barrier PBV 1.4 kali tadi ditembus, maka selanjutnya belum ada benchmark lagi soal berapa kira-kira valuasi terendah yang mungkin dicapai sebuah saham konstruksi. Tapi ketika WSBP kemarin turun sampai 340 dimana PBV-nya 1.2 kali, lalu kemudian naik lagi, maka apakah itu yang menjadi batas valuasi terendah bagi konstruksi? Well, belum tentu. Sekarang begini, yang bikin konstruksi terbang semingguan kemarin itu apa sih? Karena adanya sentimen laporan keuangan bukan? Tapi faktanya kinerja emiten konstruksi di Kuartal III, dalam hal ini kalau kita pakai contoh WSKT dan WSBP, meskipun bagus tapi gak lebih bagus dibanding Kuartal I dan II kemarin. Atau dengan kata lain belum ada perubahan fundamental dari sisi laporan keuangan, dimana sekitar tiga bulanan lalu juga WSKT dkk sempat naik ketika LK Kuartal II keluar, tapi kesininya turun lagi. Dari sisi perkembangan politik maupun situasi pasar juga belum ada perubahan, dimana isu-isu politik masih menjadi perhatian semua orang (malah cenderung semakin panas menjelang 2019), dan investor asing, hingga ketika artikel ini ditulis, masih terus jualan. Pendek kata, yup, kalau kita lihat pergerakan sahamnya, maka WSKT dkk memang kelihatannya sudah rebound. Tapi kalau kita lihat lagi kinerja fundamental perusahaan, situasi pasar dll, maka belum ada perubahan berarti yang bisa membuat konstruksi menjadi layak buy, tidak untuk sekarang ini (masih belum waktunya!).
Valuasi Konstruksi: Masih Lebih Mahal Dibanding Valuasi Saham-saham Lain
However, dalam rangka mencoba menggali berapa kira-kira valuasi terendah yang mungkin dicapai konstruksi, penulis barusan lihat-lihat lagi arsip lama laporan keuangan dll, dan diperoleh fakta berikut: Sektor konstruksi sejatinya mulai booming kurang lebih di tahun 2009, yakni setelah Pemerintah meluncurkan rencana pembangunan jangka panjang yang terangkum dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EIsetahun sebelumnya (2008). Yup, jadi meski pembangunan infrastruktur baru benar-benar dikebut sejak jaman Presiden Jokowi, namun pembangunan itu sendiri sejatinya sudah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya, dimana ADHI dan WIKA (beberapa emiten konstruksi lainnya baru IPO beberapa waktu kemudian) sudah menikmati kinerja cemerlang sejak 2009, dan praktis saham mereka juga sudah naik banyak sejak tahun 2009 tersebut. Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2013, saham-saham konstruksi mencapai salah satu titik tertinggi mereka dimana ADHI terbang sampai 4,000 (dari sebelumnya 500), dan WIKA 3,000 (dari sebelumnya 300 – 400), dan praktis valuasinya jadi jauh lebih mahal dibanding saham-saham lain pada umumnya (PBV ADHI dkk sempat menyentuh 4 – 5 kali). Setelah itu konstruksi perlahan tapi pasti mulai turun lagi, namun penurunan mereka tidak pernah mencapai titik yang benar-benar rendah dari sisi valuasi, dimana seperti yang disebut diatas, PBV terendah yang pernah dicapai saham konstruksi adalah 1.4 kali, itupun ketika market mengalami crash di penghujung tahun 2013 dan 2015.
Padahal kalau kita ambil contoh saham-saham batubara atau properti, maka ketika sektornya sedang benar-benar terpuruk (misalnya ketika harga batubara mencapai titik terendahnya di tahun 2016 lalu), PBV saham-saham di sektor ini bisa serendah 0.4 – 0.5 kali atau lebih rendah lagi. Yup, jadi batas PBV 1.4 kali bagi konstruksi tadi sebenarnya masih tergolong tinggi, tapi itu bisa dijelaskan mengingat tidak seperti batubara dan properti yang kinerjanya sempat hancur lebur, kinerja emiten-emiten konstruksi sampai sekarang masih lancar jaya. Dan memang kalau kita ambil data ke belakang sampai tahun 2009, maka valuasi saham-saham konstruksi tidak pernah benar-benar murah.
Namun demikian kalau kita ambil data lebih jauh lagi ke belakang, dalam hal ini sebelum tahun 2009 dimana sektor infrastruktur masih belum booming dan kinerja ADHI dkk masih biasa-biasa saja, maka valuasi saham-saham konstruksi ketika itu juga sama saja seperti saham-saham lain pada umumnya. Memasuki tahun 2009 sampai sekarang, sektor konstruksi memang memperoleh ‘penghargaan’ dari market berupa valuasi yang relatif tinggi, karena sektor ini didukung oleh banyak nilai-nilai kualitatif (Apa itu nilai kualitatif? Baca penjelasannya disini) seperti likuiditas sahamnya yang encer, status sebagai big caps (WSKT termasuk salah satu dari hanya 30-an saham di BEI dengan market cap diatas US$ 1 milyar), popularitas dari nama/merk perusahaan, kegiatan operasional perusahaan yang bisa dengan mudah dilihat di lapangan (karena WSKT dkk membangun jalan layang dll di tengah kota, bukan di tengah hutan), hingga optimisme bahwa pembangunan infrastruktur yang tengah dikebut sekarang ini akan terus berlanjut di masa yang akan datang.
Tapi diluar nilai-nilai kualitatifnya tersebut, maka dari sisi kinerja keuangan, sektor konstruksi sebenarnya tidak sebagus itu, dimana ROE ADHI dkk dalam beberapa tahun terakhir rata-rata hanya 15 – 20% saja (tidak seperti ROE perusahaan-perusahaan batubara, misalnya, yang pernah diatas 40% ketika booming batubara mencapai puncaknya di tahun 2011). Perolehan laba bersih para emiten konstruksi juga tidak se-konsisten katakanlah emiten perbankan atau consumer goods, dimana anda bisa cek sendiri: Laba bersih mereka bisa turun pada tahun-tahun tertentu bahkan meski pembangunan infra tetap gencar dilaksanakan (jadi pada tahun-tahun sebelum 2009, kinerja mereka bisa lebih tidak konsisten lagi). Industri konstruksi juga termasuk industri yang berisiko tinggi, mulai dari risiko ketidak pastian kelanjutan proyek (baca: mangkrak), risiko tidak dibayar oleh pemilik proyek, risiko supply bahan baku semen dll, risiko bencana alam, hingga risiko korupsi yang menyebabkan kualitas bangunan yang dihasilkan jadi lebih rendah dari yang seharusnya. Dan sayangnya untuk yang terakhir ini, Indonesia memang jagonya. Anda tentu sudah sering mendengar cerita jembatan miring atau bahkan ambruk bukan? Gara-gara uang pembangunannya ditilep pejabat daerah setempat.
Anyway, penulis termasuk yang percaya bahwa pembangunan infra yang sekarang tengah dikerjakan akan terus berlanjut, jadi saham-saham konstruksi tetap menawarkan prospek yang menarik. Namun maksud penulis adalah, kalau kita mencocokkan kembali track record kinerja keuangan emiten dan situasi pasar termasuk situasi politik dll, dengan valuasi dari saham-saham konstruksi, maka faktanya adalah saham-saham konstruksi belum benar-benar murah, bahkan pada posisi harga mereka sekarang ini. Contoh, WSKT pada harga 2,130, PBV-nya masih 2.2 kali, dan WSBP pada harga 400 PBV-nya 1.4 kali. Sebagai perbandingan, ketika BBRI dan BBNI digebuk oleh isu pembatasan NIM di tahun 2016 lalu, PBV mereka sempat mencapai masing-masing 1.5 dan 0.9 kali, padahal kita tahu bahwa jika dibanding konstruksi, maka emiten perbankan memiliki kinerja keuangan yang jauh lebih baik dan juga lebih konsisten dalam jangka panjang. Okay, dalam kondisi dimana pembangunan infra masih lancar, dan faktanya WSKT dkk memang mencatat kenaikan laba yang signifikan, maka valuasi segitu mungkin masih wajar. Tapi disisi lain jika kita mempertimbangkan ketidak pastian situasi politik yang bermuara pada aksi jual asing, timbulnya kekhawatiran proyek tidak dibayar dll, dimana sejak awal kita tahu bahwa itu merupakan salah satu risiko terbesar di industri konstruksi, maka tentu kita harus lebih konservatif. Ceritanya mungkin akan berbeda kalau Presiden Jokowi masih rutin gunting pita seperti biasanya, tapi seperti yang kita ketahui, Pak De sekarang ini lebih sibuk menjalin komunikasi dengan banyak elemen masyarakat, terakhir melalui acara Rembuk Nasional 2017 di Jakarta.
Baiklah, kalau gitu kapan kita bisa masuk ke konstruksi lagi? Dan pada harga berapa? Well, untuk harganya dan waktunya kita masih belum tahu, tapi untuk sekarang ini kita harus menunggu beberapa hal untuk terjadi terlebih dahulu kemudian baru kita bisa masuk, yakni: 1. Perkembangan politik yang lebih baik, misalnya ditandai dengan Presiden atau Menteri tertentu diberitakan melakukan ground breaking, atau 2. Investor asing kembali masuk ke bursa, termasuk ke saham-saham konstruksi (sampai sekarang mereka masih jualan terus, yang menunjukkan kekhawatiran mereka terkait kelanjutan pembangunan infra di tanah air). Actually, karena investor sudah banyak banget yang nyangkut di konstruksi ini, termasuk fund-fund besar, maka ada juga kemungkinan menjelang akhir tahun ini saham-saham konstruksi akan dikerek naik dalam rangka window dressing. However, diluar kemungkinan window dressing tersebut, maka tetap lebih aman jika kita wait n see dulu, dan melirik sektor lain yang 1. Valuasi saham-sahamnya lebih murah, dan 2. Sudah uptrend sejak awal. Contohnya? Well, bagaimana dengan properti?
Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 Nov 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing di Kehidupan Sehari-hari

Suatu pagi di tahun 1991. Penulis, yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 1 SD, sedang sakit demam sehingga pagi itu saya tidak berangkat sekolah, melainkan hanya tidur-tiduran saja dirumah. Kemudian mbak-mbak penjanja makanan keliling yang biasa mampir ke rumah kami mengetuk pintu, dan ditemui oleh ibu penulis, dan penulis bisa mendengar mereka mengobrol dimana salah satu topiknya adalah, ‘Si Teguh lagi sakit panas’, yang kemudian dijawab, ‘Kasih ini aja bu, mudah-mudahan cepet sembuh ya’.

Beberapa saat kemudian ibu masuk ke kamar, ‘Guh, ini ada jeruk satu buat kamu, dimakan ya’. Penulis seketika beranjak dari tempat tidur dan bertanya dengan nada menginvestigasi,
‘Jeruk? Berapa harganya??’
‘Seratus. Kamu kan lagi sakit, harus banyak makan buah-buahan.’

(Catatan: Ketika itu uang saku penulis kalau berangkat sekolah adalah Rp100, dimana uang tersebut cukup untuk beli dua atau tiga macam jajanan, jadi harga jeruk tersebut terbilang mahal. Ketika itu kami sekeluarga memang menganggap bahwa buah-buahan seperti apel dan jeruk adalah ‘makanan mewah’ yang hanya boleh dimakan pada hari raya atau semacamnya).
Penulis kemudian mengambil jeruk tersebut, kemudian setengah berlari menuju pintu keluar rumah dimana si mbak tadi masih ada disitu, ‘Munah! Ini ambil lagi jeruknya, balikin duitnya sini!’ (Catatan: nama si Mbak adalah Maemunah, biasa dipanggil Munah. Dan kalau dipikir-pikir penulis kurang ajar banget bisa kasar gitu sama orang yang lebih tua, tapi itulah yang saya lakukan ketika itu).
Mbak Munah hanya tersenyum, dan ibu kemudian menemui kami, ‘Gak apa-apa Guh, kamu makan aja jeruknya. Kamu kan lagi sakit, boleh dong sekali-kali makan jeruk manis. Jangan khawatir, mama ada kok uangnya’. Penulis menggeleng, dan bersikeras mengembalikan jeruk tersebut, hingga akhirnya Mbak Munah menawarkan untuk mengganti jeruk itu dengan buah salak, yang harganya hanya Rp25. Jadi satu jeruk itu bisa dapet empat buah salak. Kali ini penulis setuju, karena saya pikir lebih baik dapet empat buah salak yang bisa dimakan seharian daripada satu jeruk yang langsung habis sekali makan. Toh, baik itu jeruk maupun salak, keduanya sama-sama buah-buahan bukan?
Nah, penulis sendiri terus terang sudah lupa dengan kisah diatas kalau bukan karena ibu yang menceritakannya kembali, tapi dari cerita itulah penulis jadi mengerti kenapa buah favorit saya, sampai sekarang, adalah salak dan bukannya jeruk, apel, atau lainnya. Yup, karena harganya paling murah. Ketika artikel ini ditulis, satu kilogram salak pondoh di terminal kampung rambutan harganya cuma Rp10,000, sementara jeruk sekitar Rp20 – 30,000.
Dan tidak hanya buah-buahan, tapi untuk barang-barang lainnya saya juga selalu memilih yang harganya paling murah, atau harganya sama tapi dapetnya lebih banyak. Penulis masih ingat ketika diajak oleh papa untuk belanja baju lebaran, ketika itu saya kelas 5 atau 6 SD, dan penulis memilih baju yang harganya Rp20,000. Kenapa begitu? Karena baju yang lain harganya diatas itu semua. Penulis ketika itu sama sekali tidak mengerti dan tidak bisa membedakan mana baju yang bagus dan yang jelek (sampai sekarang juga masih, anda bisa lihat gaya berpakaian penulis yang asal-asalan dan cuek, bahkan ketika menjadi pembicara). Yang saya lihat, sekali lagi, hanyalah harganya, dan juga asal nyaman dipakai. Beberapa tahun kemudian, ketika penulis sudah kuliah dan mulai sering pergi travelling, maka kalau beli air mineral untuk bekal, saya selalu ambil kemasan terbesar 1.5 liter, karena harganya gak beda jauh dibanding kemasan sedang 600 ml, tapi dapetnya dua setengah kali lebih banyak.
(Dan sampai sekarang, kebiasaan beli dan bawa-bawa botol aqua gede kalau lagi jalan-jalan itu masih penulis lakukan).
Jadi ketika penulis akhirnya lulus kuliah lalu terjun ke pasar modal, dimana saya ketika itu untuk pertama kalinya mengenal dan belajar tentang metode value investing dalam berinvestasi di saham, maka penulis langsung merasa bahwa ini adalah metode yang ‘Gue banget!’ Yup, kalau konsep dasarnya adalah ‘Belilah saham/perusahaan bagus pada harga yang setara atau lebih rendah dari yang seharusnya, alias wajar atau murah’, maka dari dulu juga saya sudah melakukannya, hanya saja yang dibeli bukanlah saham, melainkan barang kebutuhan sehari-hari. Dan bahkan sampai hari ini pun, penulis masih menerapkan ‘gaya hidup hemat ala value investor’ ini, salah satunya bisa dilihat dari gambar dibawah ini:
Struk belanja ala value investor. Perhatikan bahwa hampir setiap item barang memperoleh diskon antara 30 – 50%

Dan seperti yang bisa anda perhatikan, para investor besar juga tidak hanya menerapkan metode value investing dalam pekerjaan investasi mereka, melainkan benar-benar menerapkannya secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari, dimana mereka memiliki gaya hidup yang hemat, sederhana, tidak berlebih-lebihan, dan hanya membeli apa yang mereka butuhkan. Warren Buffett masih tinggal di rumah yang sama, dan mengendarai mobil yang sama yang ia beli di tahun 1960-an hingga terpaksa ganti ketika mobil itu akhirnya mogok sama sekali. Bill Gates, kecuali di acara yang formal, selalu mengenakan kemeja yang itu-itu saja. Dan Li Ka-shing hanya mengenakan jam tangan merk Citizen seharga USD 400. Mendiang Ng Teng Fong, pendiri Sino Group yang merupakan perusahaan real estate terbesar di Singapura (putra Mr. Ng yakni Robert Ng, sekarang menjadi orang terkaya di Singapura), terkenal dengan gaya hidup hematnya dimana ia selalu membawa makan siangnya sendiri kalau naik pesawat terbang, karena ia tahu persis bahwa harga makanan di pesawat itu jauh lebih mahal dibanding di rumah makan biasa.
However, banyak orang salah kaprah tentang ‘gaya hidup hemat’. Ada yang mengatakan bahwa, kalau beli apa-apa selalu dihemat-hemat terus, lalu gimana caranya kita bisa bersenang-senang dan menikmati hidup? Kalau apa-apa maunya serba murah, bukannya pelit itu namanya? Well, penulis tidak tahu bagaimana dengan value investor lain, tapi saya tidak pernah dengan sengaja menyusahkan diri sendiri, melainkan saya dan keluarga tetap menikmati hidup kok! Yang penulis lakukan, sekali lagi, hanya berusaha untuk tidak mengeluarkan uang lebih besar dari yang seharusnya. Jadi kita bukannya maunya serba murah, melainkan: Gak apa-apa kita beli sesuatu yang harganya mahal, selama itu setimpal dengan nilai barang yang diperoleh.
Sebagai contoh, setiap satu atau dua bulan sekali, penulis mengajak anak-anak dan ibu mereka untuk menginap semalam di hotel bintang lima di Jakarta atau Bandung, dan itu tentu saja tidak murah, but it’s worth it, atau dengan kata lain penulis tidak menganggap bahwa saya mengeluarkan uang dengan sia-sia, karena dengan menginap semalam itu maka kami bisa berenang, bermain, dan sarapan pagi bersama-sama, dan anak-anak sangat senang mandi di bathtub di kamar hotel (dirumah kami nggak ada bathtub). Namun demikian sebelum kami datang ke hotel maka kami selalu mampir dulu ke minimarket untuk beli bekal cemilan kacang, keripik kentang, jus, dll. Kenapa begitu? Karena kalau kita ambil cemilan yang persis sama di minibar hotel (yang di kulkas kecil dibawah televisi), maka harganya bisa beberapa kali lipat lebih mahal. Yup, anda juga mungkin sudah hafal bahwa satu botol kecil coca-cola yang harganya cuma Rp4,000 kalau beli di Alfamart, maka di hotel bintang lima harganya melonjak jadi Rp25,000, dan itu bahkan belum termasuk tax and service 21%.
Jadi maksud penulis adalah, kalau saya harus bayar 3 – 4 juta untuk menginap semalam di hotel mevvah, maka saya tidak keberatan karena quality time bersama keluarga yang penulis peroleh juga terasa sangat menyenangkan. Tapi kalau disuruh memilih dua botol coca-cola yang persis sama, dimana yang satu harganya Rp4,000, sementara yang satunya lagi harganya Rp25,000, maka tentu saja saya memilih yang harganya Rp4,000. Got it?
Problemnya, meski logikanya sangat sederhana dan juga sangat masuk akal (kenapa anda harus beli minuman pada harga 25,000, kalau harga aslinya cuma 4,000?), namun tidak semua orang bisa menerapkan gaya hidup ala value investor seperti yang disampaikan diatas. Sebagian besar orang kalau dapet duit banyak ya langsung dihambur-hamburkan, dan mereka tidak terlalu peduli dengan konsep ‘Harga < Nilai barang yang diperoleh’. Contoh, kalau penulis pergi ke tempat wisata dengan rombongan, maka saya selalu mampir ke supermarket dekat hotel untuk beli bekal makan dan minum, karena saya sudah hafal bahwa kalau belinya nanti di lokasi wisatanya, maka harganya bisa dua atau tiga kali lebih mahal. Namun penulis perhatikan, tidak ada peserta travel lain yang melakukan hal yang sama (cuma saya saja). Sebagian besar kaum pekerja di Jakarta juga kesulitan untuk sekedar menyisakan sebagian gaji untuk ditabung, tak peduli meski gajinya lumayan besar, karena gaya hidup mereka terlanjur glamor ala ‘eksekutif muda’, dan mereka terlalu malas (atau bahkan malu) untuk membawa bekal makan siangnya sendiri ke kantor.
Anyway, dengan ulasan diatas maka anda sekarang sudah mengerti bahwa untuk menjadi investor yang sukses, atau dalam hal ini value investor yang sukses, maka pertama-tama anda harus mengubah lifestyle terlebih dahulu seperti layaknya seorang investor, yakni: Biasakan untuk mertimbangkan nilai atau manfaat yang akan anda perolehdari barang atau jasa yang akan anda beli. Biasakan untuk bertanya, is it worth it or not? Karena memang itulah yang dicontohkan oleh Warren Buffett dkk. Disisi lain, jika anda sejak awal sudah memiliki kebiasaan tersebut, then congratulations, selanjutnya cuma soal waktu sebelum anda akan menjadi investor besar :)

Jika anda pernah punya pengalaman atau kebiasaan dalam menerapkan gaya hidup hemat ala value investor, maka anda boleh share pengalaman tersebut melalui kolom komentar dibawah.

Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan Selengkapnya baca disini.

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2017 akan terbit hari Senin, 6 November 2017 mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing, Jakarta, 28 Okt 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Cara Santai Dalam Menghasilkan Uang di Pasar Saham’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santainamun sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Bapak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun!
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook hingga akhir tahun 2017, dan untuk tahun 2018.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the marketdalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!

Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 28 Oktober 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi kalau mau kirim bukti transfer juga boleh).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama teman-teman peserta dari salah satu kelas seminar sebelumnya. Klik gambar untuk memperbesar.

Komentar Alumni
Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luar biasa sekali..
Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalau dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
Merci..
Widya Olivia – [...]

Bumi Citra Permai

Saham Bumi Citra Permai (BCIP) mungkin tidak familiar bagi sebagian besar investor dan trader saham di Indonesia, namun perusahaan properti ini baru saja merilis laporan keuangan Kuartal II 2017, dimana sekilas angka-angkanya tampak mengesankan: Laba bersihnya naik lebih dari dua kali lipat, annualized ROE 25.5%, dan PBV cuma 0.5 kali pada harga Rp125 per saham. Mutiara terpendam?

Bagi anda yang belum tahu, BCIP adalah perusahaan properti skala kecil (jika dibandingkan dengan emiten properti lainnya di BEI) dengan hanya satu kepemilikan aset, yakni Kawasan Industri Millenium atau Millenium Industrial Estate (MIE) seluas 400 hektar yang berlokasi di Cikupa, Tangerang, Banten, yang berjarak sekitar 36 kilometer dari pusat kota Jakarta. Jenis properti yang dijual meliputi tanah kavling industri, bangunan perkantoran, gudang, dan ruko. Per Kuartal II 2017, BCIP membukukan total aset Rp830 milyar, dan masih memiliki stok tanah kavling dan bangunan yang tersedia untuk dijual, masing-masing sebanyak 10 dan 3 unit/lot. BCIP juga memiliki satu anak usaha yang bergerak di bidang pengelolaan air bersih, namun kontribusinya ke total pendapatan perusahaan tidak signifikan/hanya beberapa milyar Rupiah per tahun.
Nah, sejak dulu, problem yang biasa dihadapi oleh perusahaan properti spesialis kawasan industri adalah kinerja mereka yang tidak konsisten dari waktu ke waktu. Karena, berbeda dengan jualan properti residensial dimana akan selalu ada orang yang butuh tempat tinggal, maka jualan tanah kavling industri jauh lebih sulit karena tidak selalu ada perusahaan yang butuh tanah buat bangun pabrik. Problem yang sama juga dialami oleh BCIP, dan alhasil kinerjanya dalam lima tahun terakhir terbilang naik turun. Pada tahun 2013, BCIP membukukan laba Rp30 milyar, yang kemudian turun menjadi Rp5 milyar di tahun 2015, sebelum kemudian naik lagi menjadi Rp49 milyar di tahun 2016.
Jadi meski perusahaan sukses membukukan laba Rp44 milyar hingga Kuartal II 2017, namun tidak ada jaminan bahwa laba tersebut akan meningkat menjadi Rp88 milyar di akhir tahun nanti, malah bisa saja sedikit berkurang (karena beban operasional), yakni jika BCIP tidak lagi memperoleh pembeli untuk tanah kavling-nya hingga akhir tahun. Demikian pula untuk tahun 2018 dan seterusnya, laba BCIP mungkin bisa lanjut naik, tapi bisa saja turun lagi, terutama karena perusahaan tidak memiliki sumber pendapatan lain, termasuk tidak berencana untuk melakukan diversifikasi/pengembangan usaha. Untuk jangka panjang, BCIP sebenarnya punya planning untuk memperluas MIE hingga 200 hektar (tanahnya sudah ada), namun masih menunggu hingga kavling-kavling di lahan yang 400 hektar tadi habis terjual dulu, dan itu bisa lama dari sekarang.
Jadi kalau untuk investasi mid hingga long term, maka BCIP tidak disarankan. Selain itu, pada awal tahun 2013 hingga pertengahan 2016, BCIP juga pernah naik secara tidak wajar dari 200 hingga sempat tembus 1,300-an, sebelum kemudian dengan cepat anjlok ke 100 hanya dalam empat bulan (jadi mirip-mirip kasus goreng saham Trada Maritime (TRAM), dan Sekawan Intipratama (SIAP)). BCIP juga pernah disebut-sebut terlibat dengan kasus gagal bayar medium term notes (MTN, sejenis obligasi) yang diterbitkan sebuah perusahaan bernama PT Berkat Bumi Citra (BBC), dengan jaminan kawasan industri milik BCIP. Dan meski pihak manajemen sudah membantah bahwa mereka memiliki hubungan afiliasi dengan BBC, namun kasusnya sampai sekarang masih simpang siur. Dan terakhir, laporan keuangannya terkadang terlambat dirilis. Pendek kata, dari sisi kredibilitas manajemen, BCIP ini meragukan.
Namun demikian, tetap saja untuk sekarang ini faktanya adalah kinerja BCIP cukup bagus, dan yang terpenting sahamnya sudah murah. Penulis sendiri sebenarnya sudah mengamati BCIP ini sejak awal tahun 2017 lalu, yakni ketika penurunan sahamnya sudah mentok di 106, dan ketika itu BCIP sempat membal sampai 240 sebelum kemudian turun lagi, dan stabil di kisaran harga sekarang. Memang normalnya, kalau ada perusahaan kecil dengan saham yang tidak likuid seperti BCIP ini, prospeknya tidak jelas, dan kualitas manajemennya juga tidak meyakinkan, maka investor juga tidak akan tertarik sama sekali, dan sahamnya bisa saja bablas turun sampai mati di gocap. Tapi disisi lain, kinerja BCIP gak bisa disebut jelek, dan itu adalah murni karena operasional perusahaan, sementara valuasinya juga terdiskon. Jadi penulis kira, kecuali ada force majeure tertentu, maka BCIP ini gak akan sampai turun ke gocap lah. Malah kalau bandarnya nanti kumat lagi, maka bisa saja BCIP terbang lagi seperti tahun lalu (karena likuiditasnya yang kecil, untuk mengangkat BCIP ini sebenarnya enteng saja). Plus, jangan lupa pula bahwa sektor yang belakangan ini disebut-sebut bakal hot adalah properti, dan BCIP ini termasuk saham properti tersebut.
Jadi meski BCIP ini, sekali lagi, tidak disarankan untuk investasi serius untuk jangka panjang, namun sahamnya tetap menawarkan peluang trading jangka pendek, dengan catatan anda tidak menggunakan dana yang terlalu besar (Rp100 atau 200 juta sudah lumayan gede untuk BCIP, dan itu bisa menjadi ‘sasaran tembak’ bandar, jadi sebaiknya gunakan dana kurang dari itu). Penulis sebenarnya sudah ngebet banget dengan BCIP ini ketika kemarin sahamnya entah kenapa turun sendiri sampai 70-an (tapi mungkin itu karena situasi pasarnya saja, anda bisa baca penjelasannya disini), karena sebelumnya dia selalu sideways di 100-an (dan itu adalah posisi yang reasonable, karena seperti yang disebut diatas, BCIP ini gak punya alasan untuk sampai mati di gocap), tapi sayangnya dia keburu terbang duluan ke 130-an, yakni tak lama setelah LK-nya keluar.
Namun dengan mempertimbangkan kondisi pasarnya dll, maka seperti awal tahun 2017 lalu, penulis masih melihat bahwa best price bagi BCIP ini adalah di kisaran 100 – 110, atau sedikit dibawahnya. Anyway, jika anda tidak tertarik untuk membeli saham dalam jumlah kecil, maka BCIP tetap tidak disarankan. Ketika di artikel dua minggu lalu penulis menyebut ‘saham properti yang mungkin bakal terbang’, maka itu bukanlah BCIP ini, melainkan saham lain yang termasuk kategori mid cap (BCIP ini small cap). Bagi anda yang penasaran dengan saham tersebut, just wait n see, nanti juga kita akan kasih analisanya.
PT. Bumi Citra Permai, Tbk
Rating Kinerja Kuartal II 2017: A
Rating saham pada 125: A

Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 28 Okt 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek IPO GMF Aero Asia

Sepanjang tahun 2017 hingga ketika artikel ini ditulis, terdapat setidaknya 29 emiten baru yang melantai di bursa alias IPO, atau jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun kebanyakan dari saham IPO ini memiliki market cap yang kecil, sehingga tidak terlalu menarik perhatian investor. Cerita berbeda dialami oleh IPO Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFA), dimana nilai IPO-nya cukup besar yakni Rp1.1 trilyun, dan market cap GMFA itu sendiri mencapai Rp11.3 trilyun pada harga perdana Rp400 per saham. Pertanyaannya sekarang, bagaimana prospeknya?

Garuda Maintenance Facility Aero Asia, atau GMFA, adalah anak usaha dari perusahaan maskapai penerbangan, Garuda Indonesia (GIAA), yang bergerak di bidang penyediaan jasa perawatan/maintenance, perbaikan/repair, dan overhaul pesawat terbang serta fasilitas-fasilitas pendukungnya. Yang dimaksud overhaul adalah pemeriksaan komponen-komponen mesin pesawat terbang secara berkala, termasuk inspeksi keamanan/safety secara rutin setiap kali pesawat tersebut hendak terbang kembali. GMFA juga menyediakan jasa training bagi teknisi untuk pekerjaan maintenance pesawat, jasa perdagangan suku cadang pesawat terbang, jasa logistik dan transportasi pesawat terbang serta komponen-komponennya, serta jasa konsultan/tenaga ahli di bidang maintenance pesawat. Perusahaan merupakan anak usaha dari Garuda Indonesia (GIAA) dan berkantor pusat di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, serta memiliki dan mengoperasikan 44 maintenance station yang tersebar dari Banda Aceh hingga Papua, plus 3 maintenance station di Bandara Kuala Lumpur, Singapura, dan Jeddah.
Jika dibandingkan dengan bisnis maskapai penerbangan oleh GIAA itu sendiri yang margin labanya sangat kecil karena tingginya beban operasional, mulai dari untuk sewa pesawat (tidak semua pesawat yang dioperasikan GIAA adalah milik sendiri), bahan bakar, gaji pegawai (gaji pilot dan pramugari terbilang mahal), biaya ticketing(karena GIAA, seperti halnya kebanyakan maskapai lainnya, menjual tiket pesawat melalui pihak ketiga seperti Traveloka/perusahaan travel), maintenance pesawat, biaya bandara, hingga beban penyusutan, maka bisnis maintenance pesawat oleh GMFA terbilang lebih profitable, karena beban terbesarnya cuma buat gaji teknisi dan biaya material (minyak pelumas, listrik, dll). Anda bisa bayangkan bahwa GIAA ini adalah seperti perusahaan rental mobil, yang biaya operasionalnya macem-macem mulai dari bensin sampai gaji supir, sementara GMFA ini adalah bengkel mobil yang biaya terbesarnya cuma buat gaji tukang servis-nya saja. Kalo misalnya ada mobil yang mau ganti ban bocor, maka harga ban barunya juga ditanggung oleh si pemilik mobil bukan? Jadi bukan ditanggung oleh bengkel.
Dan alhasil, meskipun GIAA dalam lima tahun terakhir selalu membukukan pendapatan yang cukup besar, yakni antara US$ 3.5 – 4 milyar per tahun, namun perolehan laba bersihnya sama sekali tidak konsisten, termasuk pernah merugi di tahun 2014 dan 2017 (setidaknya hingga Kuartal II kemarin). Sementara GMFA, meski pendapatannya hanya berkisar US$ 300 – 400 juta per tahun, namun perolehan labanya jauh lebih konsisten dan senantiasa bertumbuh, dari hanya US$ 16 juta di tahun 2014, menjadi US$ 12 juta di Kuartal I 2017, alias US$ 48 juta jika disetahunkan. Dari sisi return on equity, ROE terbesar GIAA hanyalah 11% di tahun 2012, sementara ROE GMFA stabil diatas 25% per tahun.
Kesimpulannya, meski penulis sendiri sejak awal tidak pernah suka dengan GIAA karena memang dari dulu bisnis maskapai pesawat terbang itu margin profitnya sangat kecil (anda bisa baca-baca lagi arsip artikel tahun 2011 – 2012, penulis ketika itu banyak membahas GIAA, dan mayoritas rekomendasinya negatif), namun untuk GMFA, track record kinerjanya jauh lebih baik, sehingga otomatis prospeknya juga lebih menarik. Dalam hal ini penulis juga jadi ingat dengan Cardig Aero Services (CASS), perusahaan penyedia jasa pendukung kegiatan penerbangan di bandara/aviation support, termasuk jasa catering/penyediaan makanan untuk penumpang pesawat, yang juga membukukan kinerja serta margin laba yang cukup baik. So, I don’t know, tapi mungkin meski bisnis maskapai penerbangan tidaklah menguntungkan, tapi bisnis jasa pendukungnya, termasuk bisnis maintenance pesawat oleh GMFA, justru cukup menguntungkan.
Namun kalau ada yang mengganjal, maka itu adalah fakta bahwa sekitar 60% pendapatan GMFA berasal dari Grup Garuda (Garuda Indonesia, Citilink) itu sendiri, dimana itu artinya pihak GIAA bisa saja membayar lebih ke GMFA untuk jasa maintenance pesawat yang mereka terima agar pendapatan GMFA tampak naik (dan itu gak jadi soal bagi GIAA karena duitnya kan gak kemana-mana/cuma keluar kantong kanan lalu masuk kantong kiri). Manajemen GMFA memang mengatakan bahwa mereka akan terus berusaha mengurangi ketergantungan pendapatan dari Grup Garuda, termasuk dari dana hasil IPO-nya sebesar Rp1.1 trilyun, sekitar 60% diantaranya akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas line MRO (maintenance, repair, and overhaul) dalam rangka untuk melayani pelanggan baru, namun untuk realisasinya kita masih harus menunggu barang 1 – 2 tahun kedepan.
Tapi jika kita balik lagi ke track record kinerja GMFA dalam beberapa tahun ke belakang, maka penulis bisa katakan bahwa GMFA menawarkan fundamental yang jauh lebih baik ketimbang induknya. Prospek dari industri penerbangan itu sendiri secara keseluruhan sebenarnya masih sangat cerah, seiring dengan terus meningkatnya minat dan kebutuhan masyarakat luas dalam hal bepergian jarak jauh/travelling, dimana pesawat terbang merupakan alat transportasi yang paling bisa diandalkan. Jadi asalkan tidak ada masalah di beban operasionalnya, maka pendapatan GMFA normalnya akan terus naik dari tahun ke tahun, demikian pula dengan laba bersihnya.
Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
Seperti yang disebut diatas, melalui IPO-nya (GMFA akan melantai di bursa pada hari Selasa, 10 Oktober), GMFA akan meraup dana Rp1.1 trilyun. Posisi ekuitas GMFA sebelum IPO adalah US$ 184 juta, atau setara Rp2.45 trilyun (asumsi kurs Rp13,300 per USD), sehingga total ekuitasnya pasca IPO adalah Rp3.58 trilyun. Jumlah saham GMFA setelah IPO adalah 28.2 milyar lembar, sehingga book value-nya Rp3.58 trilyun / 28.2 milyar lembar, sama dengan Rp127 per saham.
Kemudian karena harga IPO-nya adalah Rp400 per saham, maka PBV-nya 400 / 127, sama dengan 3.15 kali. Mahal? Iya lah mahal. Apalagi jika dibandingkan dengan PBV dari GIAA itu sendiri, yang cuma 0.6 kali pada harga 330. Penulis tidak mengerti apa yang menjadi dasar pertimbangan dari penjamin emisi untuk menetapkan harga IPO GMFA di level yang cukup tinggi tersebut, termasuk kenapa GIAA hanya melepas 10% sahamnya dalam IPO GMFA ini (kalau saham yang dilepas ke publik adalah 20 – 30% seperti IPO yang lain pada umumnya, maka valuasinya akan jauh lebih murah), karena terlepas dari kinerja fundamental perusahaan yang cukup bagus, namun orang-orang juga tidak akan terlalu berminat dengan GMFA ini karena sentimen negatif dari kegagalan IPO induknya dulu (harga IPO GIAA waktu itu di level 750). Selain itu, publik juga tentu belum lupa dengan IPO dari sesama anak usaha BUMN, Waskita Beton Precast (WSBP), dimana harga sahamnya sekarang ini justru cukup jauh dibawah harga IPO-nya dulu yakni 490, padahal WSBP ini secara fundamental juga cukup meyakinkan. Jadi siapa yang bisa menjamin bahwa GMFA ini tidak akan mengalami cerita yang sama?
Jadi kesimpulan akhirnya, kecuali mungkin kalau nanti bisa dapet di harga yang lebih reasonable,penulis sendiri tidak berminat dengan GMFA ini, entah itu untuk investasi jangka panjang maupun sekedar trading jangka pendek. Memang, seperti halnya WSBP, GMFA juga bisa saja naik dulu, terutama jika mempertimbangkan nilai IPO-nya yang relatif kecil yakni hanya Rp1.1 trilyun (bandingkan dengan nilai IPO WSBP, yang mencapai Rp5.2 trilyun) sehingga lebih gampang ngangkatnya, sementara mood pasarnya juga lagi bagus karena IHSG-nya cukup strong di level 5,900-an. Namun demikian, kecuali ada faktor X dimana sahamnya dikerek seperti beberapa saham BUMN di masa lalu (baca lagi ceritanya disini), maka penulis ragu bahwa kenaikannya akan cukup tinggi, dan pada akhirnya dia tetap akan turun. Jika anda sejak awal sudah pegang barang, maka boleh pertimbangkan untuk segera keluar pada minggu-minggu awal perdagangan sahamnya, mulai 10 Oktober nanti.
PT. GMF Aero Asia, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal I 2017: A
Rating saham pada 400: BB

Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Oktober 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Belajar dari Li Ka-shing

Ketika artikel ini ditulis, penulis sedang berada di Hong Kong, untuk bertemu dan makan siang dengan Li Ka-shing. Well, just kidding, saya cuma bisa berkunjung ke lobby gedung kantornya saja yakni Cheung Kong Center, untuk kemudian duduk-duduk manja di taman di belakang gedung. CK Center, yang berlokasi di daerah Central, Hong Kong, merupakan kantor pusat dari CK Hutchison Holdings, perusahaan investasi milik Mr. Li, yang kalau penulis sendiri menyebutnya sebagai Berkshire Hathaway-nya Asia, karena cara kerjanya sangat mirip: CK Hutchison selalu membeli aset-aset bagus pada harga murah, dimana jika aset tersebut tidak dijual kembali beberapa waktu kemudian pada harga yang jauh lebih tinggi, maka tetap dipegang sebagai cash machine. Per akhir tahun 2016, CK Hutchison memiliki aset bersih HK$ 544 milyar, atau setara Rp925 trilyun. Mr. Li sendiri, menurut Forbes, memiliki kekayaan sekitar US$ 33.6 milyar atau setara Rp443 trilyun, yang menjadikannya sebagai salah satu orang terkaya di Asia.

Nah, jika dibanding Warren Buffett, maka Li Ka-shing memang tidak begitu terkenal, karena ia jarang menulis atau berbicara tentang value investing maupun investasi secara umum. Tapi tahukah anda bahwa Mr. Li sering diundang untuk memberikan pidato di kampus-kampus? Dalam pidatonya tersebut Mr. Li tidak banyak bicara tentang bisnis ataupun investasi, melainkan lebih banyak tentang virtue, tentang kebajikan dan kebijaksanaan, yang diperoleh dari pengalamannya sendiri sebagai seorang pebisnis dan investor selama puluhan tahun. Dan penulis sendiri sangat menyukai pidato-pidato tersebut, terutama karena pilihan kata-katanya yang sangat bagus. Berikut adalah salah satu dari banyak pidato Mr. Li, yang sudah penulis terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Catatan: Pidato aslinya adalah dalam Bahasa Mandarin, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan ditampilkan di website www.lksf.org, lalu diterjemahkan lagi ke dalam Bahasa Indonesia. Jadi hasil terjemahan dibawah ini mungkin tidak sepenuhnya tepat, terutama karena ada banyak sekali kosa kata dalam Bahasa Mandarin yang tidak terdapat dalam Bahasa Inggris maupun Indonesia.
‘The Art of Giving’
Terima kasih telah menghargai saya sebagai seorang pebisnis yang sukses. Dukungan serta dorongan yang telah anda berikan, saya sangat mengapresiasinya.
Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah tentang bagaimana cara untuk menjadi pebisnis atau pengusaha yang sukses. Namun faktanya, saya tidak bisa mendorong orang-orang untuk menjalani peran yang sama seperti yang saya jalani. Saya selalu melihat diri saya sebagai seorang manusia terlebih dahulu, kemudian baru sebagai pengusaha. Setiap orang memiliki peran dan posisinya masing-masing dalam hidup, entah itu sebagai pengusaha, politisi, artis, pekerja profesional, dan lainnya. Saya pikir kunci kesuksesan adalah terkait bagaimana anda mengelola kecerdasan intelektual serta moral yang anda miliki. Menjalani kehidupan tanpa menerapkan prinsip-prinsip moral, adalah seperti hidup tanpa arah tujuan. Kombinasi yang tepat antara kecerdasan intelektual dan moral akan memungkinkan anda untuk sukses dalam bidang serta peran apapun yang anda lakukan, dan anda bisa tetap menjadi diri anda sendiri/tidak harus berubah menjadi orang lain. Anda akan menjalani kehidupan yang amat sangat menyenangkan, jika anda mampu meraih sukses dengan menjadi diri anda sendiri, berdasarkan kemampuan dan kapasitas yang anda miliki sejak awal.
Selama ribuan tahun, masyarakat Negeri China telah menempatkan kelompok pedagang di posisi paling bawah dalam strata sosial, dibawah kelompok pejabat negara dan militer, petani, dan pekerja. Sejarawan terkenal, Sima Qian, mengatakan bahwa pedagang bertugas untuk melayani masyarakat dengan cara mendistribusikan barang dan jasa, mengelola risiko, dan menggunakan sumber daya serta modal secara efisien. Namun pengertian ini sering disalah artikan, yang kemudian menimbulkan kesan bahwa semua pedagang hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
Fakta yang harus disayangkan adalah, ada banyak pedagang dan pebisnis yang mengorbankan prinsip-prinsip moral dan integritas mereka untuk meraih keuntungan. Mereka tidak membantu atau memberikan manfaat bagi masyarakat, melainkan justru sebaliknya. Namun demikian, sebagian besar pebisnis mengerti bahwa kemajuan dalam masyarakat secara keseluruhan, termasuk kemajuan bisnisnya sendiri, itu membutuhkan dorongan niat, kerja keras, dan ketekunan. Dan yang lebih penting, mereka mengetahui bahwa keadilan sosial dalam masyarakat hanya bisa dibangun berdasarkan kepercayaan, dan integritas.
Sejak masih kanak-kanak, saya sangat suka cerita-cerita sejarah. Sudah tentu, ‘cerita’ disini tidak terbatas hanya pada cerita tentang tokoh-tokoh terkenal. Peristiwa-peristiwa penting terjadi di sekitar kita, dan mereka seringkali menjadi sumber inspirasi, dan terkadang, sumber dari profit yang sangat besar. Saya yakin sebagian dari anda pernah mendengar cerita tentang konglomerat Amerika yang terkenal, Rockefeller, dan seorang anak penyemir sepatu. Di pertengahan tahun 1929, atau hanya sesaat sebelum Wall Street crash, Rockefeller sedang duduk santai sambil membiarkan sepatunya disemir oleh seorang anak, dan si anak kemudian memberikan tips tentang cara bermain saham. Pada saat itulah Rockefeller menyadari bahwa kalau seorang anak kecil saja sudah bermain di pasar modal, dan bahkan menganggap bahwa dirinya expert (sehingga ia berani memberikan tips cara bermain saham), maka itu berarti pasar saham Amerika bakal segera meledak. Rockefeller kemudian menjual hampir seluruh saham-sahamnya, dan alhasil ia menjadi satu dari sedikit investor yang tetap kaya ketika Wall Street kemudian mengalami kejatuhan terbesarnya dalam sejarah.
Fan Li adalah seorang pejabat tinggi di Kerajaan Yue di jaman China kuno, yang sukses membantu Raja Gou Jian dalam membangun perekonomian dan militer Kerajaan Yue, hingga mampu menaklukan negara tetangga yang lebih kuat, Kerajaan Wu. Namun kemudian, setelah menyadari bahwa sang Raja tidak lagi membutuhkan bantuannya, Fan Li merasa khawatir, sehingga ia mengundurkan diri dari jabatannya, mengasingkan diri, berganti nama, dan melepaskan semua ketenaran dan kekayaan yang ia miliki. Ia beralih profesi menjadi pedagang obat-obatan tradisional, dan setelah beberapa waktu, Fan Li sekali lagi sukses mengumpulkan kekayaan yang besar, yang kemudian ia berikan begitu saja kepada orang-orang, karena khawatir bahwa kekayaan tersebut akan menimbulkan kecemburuan sosial.
Benjamin Franklin adalah seseorang yang benar-benar besar. Ia merupakan filsuf, politisi, diplomat, penulis, ilmuwan, pebisnis, dan bahkan pemain musik. Tapi di batu nisannya hanya tertulis satu kalimat pendek, ‘Benjamin Franklin. Printer’.
Ben Frankin lahir tahun 1706 di Boston, Massachusetts. Franklin tidak mengambil pendidikan formal yang tinggi, namun ia mampu belajar secara otodidak. Ben Franklin kecil sangat suka membaca hingga ia, pada usia 12 tahun, bekerja pada saudaranya, yang merupakan penerbit, dan disitulah kariernya sebagai penerbit (atau ‘printer’) dimulai. Pada tahun 1730, Franklin membeli The Pennsylvania Gazette. Almanak ‘Poor Richard’, diterbitkan oleh Franklin dengan nama samaran Richard Saunders, menjadi buku best seller kedua setelah kitab Bible. Franklin sangat bijaksana melebihi usianya, dan dedikasinya untuk orang banyak telah menghasilkan reputasi yang baik serta kepercayaan dari publik. Sejak tahun 1748 dan seterusnya, ia membangun banyak fasilitas umum mulai dari perpustakaan, sekolah, hingga rumah sakit. Setelah menjadi sangat terkenal, Franklin mampu untuk terus membantu anak-anak muda untuk mengembangkan diri mereka, melalui tulisan-tulisannya yang sangat khas.
Fan Li dan Ben Franklin adalah dua orang berbeda, yang berasal dari dua dunia yang berbeda. Namun kisah hidup keduanya patut untuk direnungkan. Fan mengubah dirinya agar bisa kembali diterima ke dalam masyarakat, sementara Franklin mempelopori perubahan dalam masyarakat itu sendiri. Fan hanya ingin agar dirinya bisa hidup dengan tenang, sementara Franklin menggunakan kecerdasan intelektual yang ia miliki untuk memberikan pencerahan bagi orang-orang, untuk menciptakan masyarakat yang manusiawi dan dermawan. Fan memberikan uang serta kekayaan kepada para tetangganya, sementara Franklin memberikan ilmu pengetahuan. Mereka berdua adalah orang-orang yang memberikan apa yang mereka miliki untuk orang banyak, mereka adalah orang-orang yang melayani masyarakat. Dan hanya orang-orang yang mau memberikan manfaat bagi orang banyak seperti mereka-lah, yang bisa mendorong kemajuan bagi masyarakat, bangsa dan negara, atau bahkan dunia.
Saya telah memberi tahukan kepada teman-teman bahwa saya sekarang memiliki anak ketiga. Saya menyayangi anak ketiga ini, dua orang putra saya juga menyayanginya, demikian pula putra putri mereka kelak. Anak ketiga ini adalah Yayasan Li Ka-shing (LKS Foundation). Sepanjang karier saya sebagai pengusaha selama lebih dari 60 tahun, saya senantiasa berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar moral yakni keadilan, integritas, kejujuran, simpati dan belas kasihan, serta komitmen untuk meraih sukses berdasarkan cara-cara yang baik dan benar. Saya percaya bahwa apa yang telah saya bangun selama ini akan tetap bertumbuh di masa yang akan datang. Saya berharap bahwa kekayaan yang saya miliki bisa digunakan secara sistematis untuk memberikan manfaat bagi orang banyak. Kami ingi berkontribusi bagi kegiatan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Saya harap bahwa kita semua bisa bekerja bersama-sama untuk memelihara ‘budaya memberi’, budaya tangan diatas, untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi negara yang kita cintai, dan untuk umat manusia secara keseluruhan.
Li Ka-shing, 28 Juni 2004.
Well, bagaimana menurut anda? Untuk pidato-pidato Mr. Li yang lain, anda bisa membacanya disini, and trust me, it worth reading. Dalam banyak kesempatan, penulis selalu berkata bahwa kalau anda sudah cukup lama di stock market dan mampu untuk bertahan, maka tidak hanya kemampuan analisa yang anda miliki yang akan meningkat pesat (selain tentunya juga nilai portofolio anda), tapi anda juga akan menjadi orang yang amat sangat bijaksana. Dan dari pidato Mr. Li diatas, kita bisa belajar untuk menjadi bijaksana tersebut, yang mampu melihat bahwa ada banyak hal dalam hidup yang jauh lebih penting dan berarti, ketimbang sekedar profit and loss dari stock market. Well, memang tidak mudah untuk bisa sampai ke ‘level tertinggi’ seperti yang sudah dicapai oleh Mr. Li, namun jika kita mau berusaha dan juga mampu untuk tetap fokus, maka kita semua akan sampai kesana, amin!
Btw, untuk minggu ini tadinya penulis mau menyajikan analisa untuk satu saham properti, tapi setelah saya pikir-pikir lagi, itu mungkin bisa bikin sahamnya terbang duluan seperti yang sudah-sudah. Karena memang, kalau anda sudah cukup menguasai kaidah value investing, maka anda pasti sudah tahu/sudah mengincar satu saham ini. Jadi ya nanti saja lah, kira-kira satu bulan dari sekarang.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Oktober 2017sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Investor Charity Gathering, Jakarta, 7 Okt 2017

Dear investor Yth.
Dalam buku ‘The Calm Investor’, di bagian akhir penulis menyampaikan bahwa salah satu cara untuk menjadi pribadi yang tenang atau calm, dimana itu mutlak diperlukan dalam berinvestasi di pasar modal, adalah dengan menjadi senantiasa menjaga perasaan senang riang gembira, alias be happy!  Dan salah cara untuk menjadi happy adalah dengan rutin beramal dalam jumlah kecil, namun secara terus menerus! Yup, dalam buku tersebut penulis menyampaikan bahwa jauh lebih baik untuk menyumbang ke katakanlah panti asuhan sebesar Rp20,000 setiap minggu secara terus menerus tanpa henti, dibanding menyumbang Rp2,000,000 tapi hanya dilakukan satu kali itu saja.

Dan penulis sendiri tentu saja selama ini senantiasa mempraktekkan tips tersebut, dimana manfaatnya sangat terasa: Setiap kali anda berbuat amal secara ikhlas, sekecil apapun itu, maka anda akan memperoleh ‘hadiahnya’ yakni perasaan lega karena telah berbuat baik, karena anda telah membantu/memberikan manfaat untuk orang lain. Dan jika kita bisa menjaga perasaan lega tersebut, maka beban berat karena nyangkut di saham dll dengan sendirinya akan berkurang, dan anda akan lebih calm, plus tidur nyenyak di malam hari. Actually, dengan menjadi investor yang tenang, yang mampu menganalisa serta mengambil keputusan jual beli saham secara logis dan bukannya karena greed atau fear, yang gak grasa grusu panik dan bingung entah itu setiap kali sahamnya terbang atau nyungsep, maka itu merupakan modal yang tidak ternilai untuk bisa bertahan di belantara pasar modal. Dan kita bisa mencapai itu dengan, salah satunya, melakukan kegiatan amal.
Karena itulah, meski penulis sangat yakin bahwa teman-teman pembaca blog ini juga sudah secara rutin melakukan kegiatan amalnya masing-masing, namun sebagai investor itu sendiri, penulis sangat tertarik untuk mengkampanyekan kegiatan amal atau charity ini. Karena kalau kita lihat investor-investor besar seperti Bill Gates, Warren Buffett, mereka juga aktif dalam kampanye/mengajak orang lain untuk kegiatan filantropi (melalui Giving Pledge). Termasuk di Indonesia, grup-grup besar seperti Djarum, Mayapada, Trans Corp (Chairul Tanjung), diluar melakukan CSR, mereka juga aktif ber-filantropi melalui foundation mereka masing-masing. Jadi kenapa kita tidak melakukan hal yang sama?
Jadi dengan ini penulis menyelenggarakan acara ‘Investor Charity Gathering’, dimana konsepnya adalah mirip seperti seminar, tapi disini kita gak akan melulu belajar soal investasi saham bla bla bla, melainkan:
  1. Penulis akan sharing/bercerita tentang perjalanan karier penulis di stock market sejak tahun 2009, termasuk ketika memutuskan untuk full time di tahun 2012, hingga sekarang. Penulis juga akan share filosofi/cara berpikir seorang investor dalam berinvestasi, hasil dari pengalaman selama ini.
  2. Sesi tanya jawab bebas, dimana anda boleh bertanya apaaaa saja, dan penulis akan menjawabnya. Alokasi waktu untuk sesi tanya jawab ini akan jauh lebih panjang dibanding seminar, jadi diharapkan bahwa setiap peserta akan memperoleh kesempatan untuk bertanya.
  3. Diskusi interaktif dengan penulis sebagai pembimbing, dimana anda juga bisa sharing tentang pengalaman untung dan rugi anda di stock market, untuk didengar oleh peserta lainnya, dan terakhir
  4. Ngobrol-ngobrol bebas antar sesama peserta gathering, termasuk mau curhat sama temen senasib juga boleh :D
Berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Oktober 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB
  • Fasilitas: Makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp650,000per peserta. Uang yang terkumpul, setelah dikurangi biaya hotel, akan didonasikan seluruhnya ke lembaga donasi (jadi penulis tidak mengambil keuntungan sama sekali), dalam hal ini melalui www.kitabisa.com.

Dan berikut cara daftarnya:
1. Pertama-tama anda transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Gathering, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Jangan lupa untuk menyertakan bukti transfer.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta gathering. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini). Tempat terbatas, hanya untuk 30 peserta.
Catatan:
  1. Dana yang terkumpul, setelah dikurangi biaya untuk hotel sebesar Rp150,000 per peserta (sehingga bersihnya adalah Rp500,000 per peserta), akan didonasikan seluruhnya ke beberapa campaign penggalangan dana di www.kitabisa.com. Dan nanti bukti donasinya akan ditampilkan di blog ini.
  2. Donasinya adalah atas nama Komunitas Indonesia Value Investing, jadi bukan atas nama penulis pribadi. Nama-nama peserta gathering tidak akan dipublikasikan.
  3. Anda juga nanti boleh usul soal campaign mana saja yang anda hendak berdonasi. Penulis tidak memiliki hubungan apapun dengan www.kitabisa.com, namun penulis memilih website tersebut karena mereka menyediakan fasilitas yang paling mudah untuk kegiatan charity. Namun demikian anda juga boleh usul website/cara yang lain untuk berdonasi.
  4. Peserta akan dibuatkan Grup Whatsapp, agar bisa tetap berkomunikasi setelah acaranya.
  5. Untuk keperluan audit jika sewaktu-waktu dibutuhkan, maka harap kirim bukti transfer ketika mengirim email pendaftaran.
Ada pertanyaan? Boleh kontak Ms. Nury di no telepon/whatsapp 081220445202, dan Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa bertanya langsung ke penulis melalui email

Logindo Samudramakmur

Logindo Samudramakmur (LEAD) membukukan rugi bersih US$ 4.7 juta hingga Kuartal II 2017, dan dilihat dari sini saja maka praktis sahamnya tidak layak invest. Namun demikian dalam sebulan terakhir, LEAD justru naik banyak dari 65 hingga sekarang sudah tembus diatas 100, sehingga dia menjadi satu dari beberapa saham yang sukses terbang ketika sebagian besar saham-saham lainnya bertumbangan dalam beberapa bulan terakhir, tapi disisi lain valuasinya masih sangat rendah dengan PBV hanya sekitar 0.2 kali. So, ini peluang apa bukan?

LEAD adalah perusahaan perkapalan spesialis pengangkutan minyak yang berdiri dan beroperasi sejak tahun 1995, dengan jumlah armada 24 unit kapal pada tahun 2005. Perusahaan baru mulai ekspansi besar-besaran pada tahun 2011 dengan menggandeng Pacific Radiance Pte Ltd, perusahaan kapal asal Singapura, yang dilanjutkan dengan IPO pada tahun 2013, mengambil banyak utang bank, dan menerbitkan obligasi senilai US$ 50 juta di Singapura pada tahun 2015, dimana uangnya dipakai untuk membeli banyak unit-unit kapal baru. Per tahun 2015, LEAD memiliki dan mengoperasikan tidak kurang dari 60 unit kapal.
Namun sayangnya manajemen LEAD keliru dalam hal timing, dimana perusahaan mulai berekspansi justru persis ketika industri kapal mulai lesu, setelah harga minyak jatuh pada tahun 2014, yang praktis mengurangi demand penggunaan kapal untuk pengangkutan minyak. Alhasil, meski LEAD masih membukukan laba bersih yang cukup besar yakni US$ 20 juta pada tahun 2014, namun laba tersebut anjlok menjadi hanya US$ 49 ribu pada tahun 2015, dan berbalik menjadi rugi US$ 21 juta di tahun 2016 (LEAD mestinya gak menderita rugi sebesar itu kalau saja perusahaan gak punya banyak utang untuk membiayai ekspansinya, beberapa tahun sebelumnya). Jadi meski penulis sendiri sempat mengamati LEAD ini pada Februari 2015 lalu (baca ulasannya disini), namun masih di tahun 2015 tersebut, penulis sudah tidak tertarik lagi dengan LEAD ini karena perusahaan, seperti juga kebanyakan perusahaan kapal lainnya, mengalami penurunan kinerja yang sangat signifikan. Pada Februari 2015, LEAD masih berada di level 1,700-an sebelum stocksplit, atau setara 425 sesudah stocksplit.
Waktu kemudian berlalu.. dan beberapa minggu lalu, penulis diberi tahu seorang teman bahwa LEAD sekarang tinggal 65 perak! Dimana PBV-nya pada harga tersebut tinggal 0.1 kali. Penulis kemudian mengecek laporan keuangan perusahaan, dan sayangnya saya kembali harus kecewa karena LEAD masih membukukan rugi bersih. Dari sisi outlook pun kelihatannya masih suram, karena jangankan mencari pelanggan baru, manajemen sampai sekarang hanya fokus pada upaya efisiensi dengan refinancing utang-utangnya, serta menjual kapal-kapal yang tidak terpakai (pada tahun 2014 hingga sekarang, utilisasi armada kapal milik LEAD anjlok menjadi hanya 30 – 40%), tapi bahkan itupun tidak terlalu berhasil, dimana sampai dengan awal 2017, LEAD hanya sukses menjual 3 unit kapal saja (sehingga sekarang perusahaan memegang 57 unit kapal). Pihak manajemen secara realistis menyatakan bahwa kalaupun nanti harga minyak pulih lagi, maka pendapatan serta laba LEAD belum tentu akan naik lagi, karena mereka masih harus bersaing dengan banyak perusahaan kapal lain seperti SOCI, BULL, WINS, TRAM, TMAS, dst, yang juga memiliki terlalu banyak armada kapal. Singkat kata, yes, LEAD ini memang amat sangat murah. Tapi kalau fundamentalnya gak bagus, termasuk outlook-nya juga masih suram, maka tentu saja sahamnya belum layak invest, setidaknya untuk sekarang ini.
Okay, tapi kalau demikian, lalu apa yang bikin LEAD tiba-tiba saja naik banyak? Well, ada dua hal yang penulis perhatikan. Pertama, seperti yang penulis sampaikan di artikel minggu lalu tentang ‘Koreksi Pasar Yang Tidak Kelihatan’ (baca lagi ulasannya disini), pasar sekarang ini didominasi investor lokal (karena asingnya udah pada kabur), termasuk banyak investor baru, yang hanya mau membeli saham-saham yang tampak bergerak naik. Atau dengan kata lain, kita berada dalam situasi pasar dimana saham yang turun akan terus saja turun, sementara saham yang naik, bahkan meski dia baru naik dalam 1 atau 2 bulan terakhir, akan terus naik, apalagi jika valuasinya tampak masih murah. Dan LEAD, terlepas dari fundamental serta outlooknya yang sama sekali belum menarik, namun sekarang ini dia merupakan salah satu saham dengan PBV paling rendah di bursa, dan itu saja sudah cukup menarik, apalagi sebelumnya sudah ada beberapa saham dengan PBV yang amat sangat rendah, seperti BRPT, INKP, TKIM, dst, yang naik berlipat-lipat dalam setahunan terakhir.
Jadi selama kondisi pasarnya masih seperti sekarang, maka LEAD mungkin bisa naik lebih lanjut, karena orang-orang cuma berpikir, ‘Yang penting murah!’. Karena ketika IHSG gak mau drop juga dalam dua tahun terakhir ini, maka praktis mayoritas saham-saham di BEI sudah pada mahal semua, sehingga barang murah seperti LEAD ini, sekali lagi terlepas dari fundamentalnya, menjadi barang langka.
Kedua, yang ini baru penulis ketahui beberapa waktu lalu: LEAD baru saja menyelenggarakan right issue pada Juli 2017 kemarin, dimana perusahaan menerbitkan 1.5 milyar lembar saham baru pada harga Rp65 per saham. Dan ini tentu saja mengingatkan penulis pada perusahaan kapal lainnya yakni Buana Listya Tama (BULL), dimana perusahaan awalnya melakukan stocksplit, membiarkan sahamnya turun, lalu right issue pada harga bawah. Atau dengan kata lain, perusahaan melakukan average down pada sahamnya sendiri (beli/nambah posisi lagi di harga bawah), dimana setelah itu biasanya sahamnya bakal dikerek naik. Sayangnya penulis sendiri terlambat mengetahui soal right issue ini, karena jelas bahwa right issue inilah yang menyebabkan penurunan LEAD berhenti di 60-an, karena sahamnya bakal dijagain agar tidak turun sampai dibawah harga right issue-nya yakni 65. Kalau saja saya mengetahui hal ini lebih awal, maka kita harusnya sudah buy LEAD pada harga 70 – 80, beberapa waktu lalu (kalau baru beli sekarang, mungkin sudah terlambat).
Tapi yang harus diperhatikan, pasca right issue ini maka PBV LEAD menjadi tidak lagi serendah sebelumnya. Jumlah saham LEAD setelah right issue adalah 4.05 milyar lembar, yang jika dikali harga saham 110, maka market cap-nya Rp405 milyar. Ekuitas LEAD sebelum right issue adalah US$ 103 juta, ditambah dana hasil right issue-nya sebesar US$ 10 juta, maka totalnya US$ 113 juta, atau setara Rp1.5 trilyun (asumsi kurs Rp13,300 per US$). Maka PBV-nya adalah 405 / 1,505, sama dengan 0.3 kali, jadi bukan lagi 0.2 kali seperti sebelumnya. Okay, PBV 0.3 kali tersebut arguably masih rendah juga, tapi juga harap diingat bahwa secara teori, LEAD hanya akan dijaga untuk tidak turun sampai dibawah 65, atau lumayan jauh dibawah harganya saat ini. Jadi untuk balik lagi ke katakanlah 70 – 80, maka itu masih mungkin terjadi kapan saja.
Kesimpulannya, kalau berdasarkan kaidah value investing, maka LEAD ini big no, apalagi kalau untuk investasi jangka panjang. Meski demikian jika mempertimbangkan kondisi pasarnya serta faktor right issue-nya diatas, maka LEAD tetap menawarkan peluang profit jangka pendek, tentunya jika kita sukses masuk di harga yang tepat, yakni 70 – 80 tadi. Jika anda sudah memegang LEAD ini sejak awal maka boleh hold, who knows dia bisa menyusul ‘saham-saham murah’ lain yang sudah duluan terbang. Tapi jika anda baru mau masuk, then remember bahwa secara fundamental, LEAD sama sekali tidak bagus, sehingga praktis risikonya jauh lebih besar dibanding saham-saham lain yang kinerja keuangannya jauh lebih sehat. Jadi kalaupun anda masih tetap tertarik, maka gunakan dana secukupnya saja.
Minggu depan kita akan membahas satu saham properti, yang juga masih murah.

Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja emiten di Kuartal II 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Asing Jualan Terus?

Hingga Selasa kemarin, 12 September 2017, investor asing masih saja jualan hingga posisi net buyasing sejak awal tahun, yang sebelumnya sempat hampir tembus Rp20 trilyun pada April lalu, sekarang sudah minus alias net sell, tepatnya minus Rp7 trilyun. Penulis pun menerima banyak pertanyaan, kenapa asing terus keluar? Tapi yang terpenting disini sebenarnya bukan soal kenapa mereka keluar, melainkan: Bagaimana dampak dari keluarnya asing terhadap pasar? Dan bagaimana strategi investasi yang paling tepat dalam situasi pasar seperti sekarang ini?

Perbandingan nilai transaksi asing vs domestik hingga 12 September 2017. Perhatikan bahwa investor domestik sekarang ini menguasai 64% volume transaksi di bursa (biasanya hanya 50 – 55%).

Berdasarkan pengalaman, ketika asing entah itu belanja atau jualan, maka itu akan berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG dalam jangka pendek, dalam hal ini selama beberapa minggu atau bulan. Yup, jadi kalau asing banyak belanja, maka IHSG akan naik, sementara kalau mereka jualan maka IHSG akan turun. Sebenarnya kalau dalam jangka panjang, dalam hal ini tahunan, maka sering juga terjadi dimana asing jualan pada tahun-tahun tertentu tapi IHSG tetap naik pada tahun tersebut, atau sebaliknya asing banyak belanja namun IHSG malah turun. Namun sekali lagi, kalau dalam jangka pendek, maka jika asing terus jualan selama katakanlah 1 – 2 bulan, maka IHSG-nya biasanya bakal drop dalam 1 – 2 bulan tersebut. Pada tahun 2011 dan 2012, IHSG secara keseluruhan naik masing-masing 3.2 dan 12.9%, dan asing juga mencatatkan net buy. Namun pada bulan Oktober 2011 dan Mei 2012, IHSG sempat drop sekitar 15 – 20% dari posisi tertingginya, dan ketika itu salah satu pemicunya adalah keluarnya asing dalam jumlah besar di bulan-bulan tersebut.
Namun sejak 2016 lalu, inilah yang terjadi: Ketika asing belanja maka IHSG sedikit banyak akan naik, sementara ketika mereka jualan maka IHSG tidak turun, melainkan bergerak sideways saja. Kalau anda perhatikan, sejak terakhir kali pasar dihantam panic selling pada Agustus – September 2015 lalu, sampai sekarang alias sudah lewat dua tahun, IHSG belum pernah turun hingga katakanlah 10 – 20% dari posisi tertingginya, dan ini merupakan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Sebab kalo kita lihat lagi pergerakan IHSG pada tahun-tahun sebelum 2015, maka IHSG biasanya akan mengalami koreksi pada bulan-bulan tertentu, entah itu di bulan Mei (yang kemudian memunculkan istilah sell in may and go away), Agustus, atau bahkan Januari. Termasuk di tahun 2010, dimana meski IHSG pada tahun tersebut secara keseluruhan naik 46%, namun pada bulan Mei-nya IHSG sempat drop dari 2,971 hingga 2,501, atau turun lebih dari 20%.
Nah, sekilas, kondisi pasar dimana IHSG tampak stabil dan tidak mengalami koreksi, maka itu tentu bagus, karena emosi pelaku pasar juga jadi ikut stabil dimana tidak ada lagi cerita panic selling atau margin call. Namun demikian kondisi ini telah menimbulkan setidaknya dua problem.
Pertama, meski koreksi atau penurunan IHSG tampak buruk, namun penurunan IHSG setiap beberapa waktu sekali justru diperlukan agar saham-saham tertentu yang sudah naik kelewat tinggi hingga valuasinya menjadi tidak wajar, atau overvalue, mereka bisa turun lagi ke level yang memang seharusnya, sehingga menjadi layak buy kembali. Dan itu sebabnya penurunan IHSG seringkali disebut sebagai koreksi, karena itu justru mengembalikan harga-harga saham ke level wajar/murah mereka masing-masing. Berdasarkan pengalaman, kenaikan harga-harga saham secara terus menerus tanpa diiringi koreksi yang sehat, pada akhirnya justru akan menimbulkan kejatuhan pasar yang jauh lebih buruk dibanding sekedar ‘koreksi sehat’ tadi. Contohnya? Well, pada tahun 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2007, IHSG terus saja naik dari posisi 700 hingga tembus 2,700, atau naik lebih dari tiga kali lipat dalam waktu tidak sampai lima tahun, dan nyaris tanpa diselingi oleh koreksi yang berarti. Tapi kita tentu sudah tahu, apa yang kemudian terjadi di tahun 2008.
Namun untungnya, meski IHSG belum mengalami koreksi lagi sejak September 2015, tapi kenaikan IHSG dalam dua tahun terakhir terbilang moderat yakni sekitar 40%, atau dengan kata lain, kenaikannya gak sekencang tahun 2013 – 2017. Dan yang juga perlu diingat adalah, kondisi makroekonomi sekarang ini relatif lebih baik dibanding 2015, jadi kenaikan IHSG terbilang reasonable, dan penulis belum melihat tanda-tanda bahwa market crash 2008 akan kembali terulang. Namun poin penulis disini adalah, ketika IHSG naik terus tanpa ‘istirahat’ sama sekali, maka itu tidak bagus karena kita tidak lagi memiliki banyak pilihan saham untuk dibeli, karena beberapa saham berfundamental bagus sudah naik kelewat tinggi.
Kondisi Pasar Sekarang Ini: Sedang Terkoreksi
Kedua, meski kalau berdasarkan pergerakan IHSG-nya, maka pasar saham Indonesia boleh dikatakan belum pernah mengalami crash lagi sejak Agustus – September 2015 lalu, namun tetap saja: Ketika asing mulai keluar dari market, maka saham-saham tertentu mulai turun secara signifikan, dan terus saja turun. Dan jumlah saham yang turun ini tidak sedikit. Pada Agustus 2016 lalu, ketika euforia sentimen tax amnesty mulai mereda dan investor asing, yang sebelumnya belanja besar-besaran, mulai keluar lagi dari pasar, ketika itu IHSG tetap stabil di level 5,400-an (sempat drop ke 5,100-an di bulan September, tapi dengan cepat naik lagi). Nevertheless, ketika itu ada banyak saham yang sebelumnya terbang pada bulan Juni – Juli 2016, perlahan tapi pasti turun lagi. Yang paling penulis ingat adalah saham Gajah Tunggal (GJTL), yang pada bulan Mei – Agustus melompat dari 700-an hingga 1,700, tapi memasuki September dia mulai turun lagi, dan terus saja turun hingga akhirnya balik lagi ke 1,000-an pada akhir tahun, padahal tidak ada perubahan fundamental apapun (kalau sekarang sih, GJTL memang merugi di Kuartal II 2017).
Tapi GJTL tidak sendirian, karena ada banyak saham lain termasuk big caps (BBRI dkk) yang juga cenderung turun pada bulan September tersebut hingga akhir tahun. Namun entah bagaimana ceritanya, IHSG-nya hanya turun sedikit saja, hingga akhirnya ditutup di posisi 5,297 pada 30 Desember (dibanding posisi tertingginya di bulan Oktober yakni 5,470).
Dan untuk Semester Dua 2017 ini, cukup jelas bahwa kondisi yang sama kembali terjadi: IHSG-nya kelihatan baik-baik saja, tapi sejak Mei kemarin asing-nya jualan terus! Dan alhasil ada banyak saham yang turun sendiri, dan tidak main-main, beberapa dari mereka turun hingga ke posisi terendahnya dalam lima tahun terakhir (istilahnya new low). Yang paling mencolok salah satunya penurunan saham-saham konstruksi, tapi silahkan anda perhatikan lebih detil lagi: Saham-saham di sektor lain juga banyak yang digebuk, tak peduli meski fundamental mereka bagus atau jelek, tak peduli valuasinya murah atau mahal.
Jadi kalau dikatakan bahwa pasar belum pernah mengalami koreksi lagi sejak tahun 2015, maka itu tidak sepenuhnya tepat. Yang benar adalah, pada September – Desember 2016 lalu pasar mengalami koreksi, dan pada waktu-waktu belakangan ini, pasar kembali mengalami koreksi tersebut. Namun karena disisi lain IHSG-nya tampak baik-baik saja, maka penulis menyebutnya dengan koreksi yang tidak kelihatan.
Dan terus terang, penulis sendiri lebih suka koreksi pasar dimana IHSG-nya benar-benar turun, dibanding ‘koreksi tanggung’ seperti yang terjadi sekarang ini. I mean, biasanya kalau kita melihat bahwa IHSG akan turun, maka strateginya sangat simpel: Segera jual beberapa pegangan, dalam rangka mengumpulkan cash untuk nanti dipake belanja lagi, dan memang itu pula yang kita lakukan sebelum terjadi panic selling tahun 2015 lalu. Tapi bagaimana kalau situasinya seperti sekarang? Dimana beberapa saham memang turun, namun beberapa lagi bergerak mendatar, dan selebihnya malah terus saja naik? (karena memang IHSG-nya nggak drop). Jadi kalau anda mau masuk ke BBRI, misalnya, maka harga sekarang jelas tanggung sehingga sebaiknya kita tunggu sahamnya turun dulu, tapi nyatanya BBRI tetap saja gak mau turun karena memang IHSG-nya gak turun. Tapi kalau mau masuk ke WSKT, maka apa anda berani? Jelas-jelas dia sudah new low begitu. Penulis yakin para broker dan analis sekuritas juga sudah pusing menerima rentetan pertanyaan dari para nasabah mereka: Kenapa saham A turun? Kenapa saham B turun? Sebab dalam kondisi pasar bearish dimana IHSG-nya turun, maka mereka bisa dengan simpel menjawab, ‘Marketnya sekarang lagi bearish pak, IHSG-nya lagi turun, jadi wajar jika saham-saham pada turun. Tapi nanti juga naik lagi’.

Tapi kalau koreksi pasar yang terjadi adalah seperti sekarang, maka bagaimana menjelaskannya ke para nasabah?? Lha wong IHSG-nya juga nggak turun kok!

Strategi Pertama: Wait n See Diluar
Anyway, penulis menghabiskan banyak waktu untuk menyusun ulang strategi investasi untuk menghadapi situasi pasar yang tidak-seperti-biasanya ini, dan berikut adalah beberapa opsi tindakan yang bisa anda lakukan.
Pertama, kita bisa terapkan strategi normal ketika pasar sedang bearish, yakni: Anda bisa jual sebagian besar saham, kemudian pegang cash, dan tunggu saja sampai awal tahun 2018. Kenapa harus sampai awal tahun? Well, berkaca pada situasi pasar di Semester Dua 2016, ketika itu saham-saham big caps sekalipun, yang sebelumnya tampak tidak tergoyahkan (sementara saham-saham second liner sudah banyak yang jatuh sejak September), pada akhirnya tetap turun di akhir tahun (Desember), dan IHSG itu sendiri tetap turun meski tidak signifikan. Penyebab penurunan saham-saham ketika itu juga sama seperti sekarang: Asing jualan terus. Poin pentingnya disini adalah, sama seperti halnya kita tidak tahu apa yang menyebabkan asing jualan, kita juga tidak tahu kapan mereka akan masuk lagi ke pasar. Tapi yang jelas sampai sekarang belum ada sentimen positif tertentu yang bisa mendorong asing untuk masuk lagi. Kemudian, seperti halnya investor domestik, asing juga biasanya baru akan belanja lagi pada awal tahun.
Kelemahan dari strategi ini adalah, anda akan miss peluang di saham-saham tertentu yang tetap bergerak naik. Yup, kalau IHSG-nya turun, maka hampir semua saham akan turun, jadi keputusan untuk ‘minggir dulu’ tetap merupakan keputusan yang terbaik. Tapi kalau IHSG-nya stagnan seperti sekarang, maka beberapa saham tetap akan naik, sama seperti di tahun 2016 dimana saham-saham batubara mulai rally justru pada bulan September – Oktober.

Namun hanya dengan strategi inilah, anda tidak lagi menanggung risiko bahwa saham anda bakal turun (karena memang anda megang cash), dan yang paling penting: Kalau anda sejak awal sudah punya incaran saham tertentu, maka meski dalam beberapa bulan kedepan anda mau tidak mau harus bersabar dulu/jangan masuk dulu, tapi profit yang akan anda peroleh di tahun 2018 nanti bisa sangat signifikan. Contoh, pada tahun 2016 lalu, saham Bank BNI (BBNI) secara keseluruhan hanya mondar-mandir saja di 5,000 – 5,500, bahkan sempat drop sampai 4,000 di bulan Mei (lalu sempat naik karena euforia tax amnesty, tapi menjelang akhir tahun turun lagi). Tapi memasuki 2017, BBNI akhirnya rally, dan sekarang sudah di level 7,000-an, atau mencetak profit lebih dari 40% hanya dalam hitungan bulan (atau bahkan 70%, jika anda buy-nya sejak harga 4,000-an).

Dan tidak cuma BBNI, tapi ada banyak juga saham lain yang cuma ‘ngetem’ saja sepanjang tahun 2016, tapi baru jalan lagi tahun 2017. Jadi maksud penulis adalah, meski dengan strategi ini maka anda akan tampak ketinggalan kereta karena saham-saham tertentu tetap bergerak naik, namun anda tidak perlu khawatir karena akan ada banyak ‘kereta’ lain yang menunggu anda di awal tahun 2018 nanti. Pada tahun 2016, saham-saham perbankan nyaris tidak menghasilkan profit sama sekali, dan itu tampak buruk mengingat di tahun 2016 tersebut, IHSG secara keseluruhan naik 15.3%. Tapi di tahun 2017 ini, seperti yang bisa anda lihat, BBRI dkk naiknya paling tinggi dibanding saham-saham big caps lainnya. Jadi penulis kira untuk tahun 2017 ini juga sama: Beberapa saham mungkin memang belum perform untuk tahun ini, namun mereka tetap berpeluang untuk menghasilkan profit jumbo di tahun 2018, jadi yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu sampai awal tahun. Actually, penulis sendiri sudah punya list saham-saham yang meski sekarang ini tampak terpuruk, but we’ll see, bagaimana mereka nanti di tahun 2018.
Hanya saja, untuk mempraktekkan strategi diatas maka diperlukan kesabaran ekstra, dan jangankan menunggu sampai akhir tahun, penulis tahu persis bahwa sebagian dari anda tidak cukup sabar untuk menunggu barang satu hari. Jadi berikut adalah strategi kedua.
Strategi Kedua: Selective Buying dengan Tetap Menyisakan Cash
Kedua, anda bisa tetap belanja/pegang saham-saham tertentu, namun kali ini harus lebih selektif. Penulis dalam beberapa bulan terakhir mengamati saham-saham yang bergerak naik, dan terdapat setidaknya dua kesamaan: 1. Merupakan saham yang perusahaannya cukup populer, tidak hanya di mata investor tapi juga masyarakat umum, 2. Mereka sejak awal trendnya sedang naik/uptrend. Pertanyaannya, kenapa bisa timbul dua kesamaan tersebut?

Tapi mungkin hal ini bisa menjawabnya. Beberapa waktu lalu, Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) mengklaim bahwa jumlah investor ritel di bursa, setidaknya dari jumlah rekening sekuritas, itu sudah tembus 1 juta rekening, atau meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2013 yang hanya 350 ribu rekening, thanks to kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ dan promosi-promosi lainnya yang dilakukan oleh BEI dkk. Nah, meski para investor baru ini belum tentu langsung menyetor dalam jumlah besar ke rekening sekuritas mereka (sebab sekarang ini anda bisa membuka rekening saham dengan menyetor Rp100,000 saja, berbeda dengan tahun 2009 dulu dimana  minimal setoran adalah Rp5 juta), namun yang jelas pasar saham sekarang ini didominasi oleh investor domestik (jadi tidak lagi didominasi asing seperti biasanya), dimana sebagian diantaranya merupakan wajah-wajah baru , yang tentu saja belum berpengalaman/masih perlu waktu untuk mempelajari cara menganalisa saham dll.

Dan kalau anda berada dalam posisi sebagai investor pemula seperti itu, maka saham apa yang akan anda beli pertama kali?? Benar sekali: Saham dari perusahaan-perusahaan yang anda tahu dulu, alias terkenal, seperti Unilever (UNVR), Bank BCA (BBCA), Jasa Marga (JSMR), dst.

Kemudian kedua, saham tersebut harus tampak sedang bergerak naik, alias sedang uptrend. Logikanya, ketika seorang investor yang masih awam tertarik pada saham tertentu, tapi saham tersebut sedang turun (misalnya konstruksi), maka otomatis dia bakal takut untuk masuk, karena bagaimana kalau besok-besok sahamnya lanjut turun lagi? Tapi ketika ia kemudian mendengar saham A sedang naik, maka dia akan masuk dengan harapan besok-besok saham A tersebut bakal naik lebih lanjut, apalagi jika ia memperoleh ‘testimoni’ dari temannya yang sudah untung di saham A tersebut karena sudah beli duluan di harga bawah, katakanlah sebulan sebelumnya.
Dan alhasil, kalau anda perhatikan dalam beberapa bulan terakhir ini, saham yang naik terus saja naik, sementara saham yang turun terus saja turun! Semetara selebihnya sepi-sepi saja/volumenya jadi gak likuid. Normalnya kan, kalau ada saham berfundamental bagus sedang turun, maka penurunannya akan mentok di titik tertentu, yakni ketika investor menganggap bahwa valuasi saham tersebut sudah cukup murah. Tapi yang terjadi sekarang ini adalah, kalau ada saham sedang turun, maka dia bisa turun sampai berapa saja, karena entah itu investor asing maupun lokal gak ada yang mau nampung. Pasar saham sekarang ini tengah didominasi oleh investor yang, sekali lagi, hanya tertarik pada saham dari perusahaan ternama, dan sahamnya sedang bergerak naik.
Jadi, yup, untuk strategi kedua ini adalah, diluar menetapkan kriteria bahwa sahamnya harus berfundamental bagus dan valuasinya masih murah, maka anda harus menambah setidaknya dua kriteria lagi, yakni 1. Perusahaannya populer, dan 2. Sahamnya sedang uptrend, atau minimal tidak sedang downtrend (apalagi kalau sudah new low). Kabar baiknya, meski beberapa saham yang sudah naik banyak valuasinya tidak lagi murah, tapi masih ada beberapa saham yang sedang uptrend sementara valuasinya (PER dan PBV-nya) masih rendah, jadi anda tetap punya pilihan saham untuk dibeli.
Hanya saja strategi nomor dua diatas tentu mengandung risiko, dimana saham yang sebelumnya sudah naik banyak tentu saja bisa turun lagi kalau ada profit taking atau semacamnya, tak peduli valuasi mereka masih murah. Jadi dalam hal ini anda bisa juga ambil strategi nomor satu, yakni wait n see saja diluar. Atau, anda bisa juga tetap belanja saham-saham tertentu, namun sisakan cash dalam jumlah besar, misalnya 50 – 70% dari total porto. Secara psikologis, memegang cash dalam jumlah besar akan membantu kita untuk tetap tenang menghadapi situasi pasar yang, sekali lagi, tidak-seperti-biasanya ini, termasuk gak akan merasa berat untuk cut loss, jika sewaktu-waktu itu memang harus dilakukan.

Dan kalaupun anda memilih untuk wait n see saja diluar, maka ingat sekarang sudah bulan September, yang artinya ‘tahun depan’ itu tinggal 3 – 4 bulan lagi, alias nggak selama itu juga/itungannya masih jangka pendek. Anyway, strategi manapun yang anda pilih, tapi intinya ingat bahwa kalau kinerja portofolio anda belakangan ini kurang memuaskan, maka anda tidak sendirian karena orang lain juga sama begitu, karena IHSG-nya sama sekali tidak se-stabil kelihatannya, dan ingat pula bahwa pasar tidak akan selamanya bersikap ‘kurang bersahabat’ seperti sekarang ini, melainkan nanti akan ada masanya lagi dimana Mr. Market akan kembali merangkul para investor yang mampu untuk bersabar. Tahun 2015 lalu, entah berapa banyak investor ritel yang rugi besar-besaran ketika IHSG sejatinya hanya drop 12%, namun hanya mereka yang mampu bertahan-lah, yang kemudian meraup profit jumbo ketika di tahun 2016-nya, IHSG kembali naik 15%. So, good luck!

Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja emiten di Kuartal II 2017. Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Mengatasi Rasa Takut dalam Berinvestasi

Salah satu musuh terbesar investor dalam berinvestasi saham adalah timbulnya rasa takut, entah itu ketika akan mulai berinvestasi/membuka rekening di sekuritas, atau ketika membeli/meng-hold saham sendiri, dimana sumber ketakutan itu hanya satu: Takut rugi, dan takut kehilangan uang. Bahkan lebih dari itu: Ketika anda beli saham di harga 1,000, kemudian dia naik ke 1,200 (sehingga anda untung 20%), maka tetap saja anda akan takut kalau-kalau sahamnya nanti turun lagi, sehingga untung 20% tersebut akan hilang lagi. Jadi meski posisi anda sebenarnya tidak rugi, tapi anda tetap takut kalau-kalau keuntungan yang sudah diperoleh sebelumnya akan hilang.

Masalahnya, ketika seorang investor mulai merasa takut, maka itu akan mendorongnya untuk bertindak secara tidak rasional, seperti contoh diatas: Menjual saham bagus dalam posisi profit hanya karena ‘khawatir besok turun lagi’, padahal saham tersebut dalam jangka panjang masih bisa naik lagi, dan bisa jadi ternyata dia malah tidak pernah turun, sehingga dalam hal ini anda justru sudah ‘cut profit’. Sebaliknya, banyak juga orang yang tidak mau cut loss di saham karena takut merealisasikan kerugian, padahal itu justru menyebabkan ruginya tambah besar ketika sahamnya lanjut turun.
Jadi pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa mengatasi rasa takut ini, sehingga pada akhirnya kita bisa tetap mengelola portofolio dengan rasional sesuai dengan analisa yang sudah kita buat dengan hati-hati sebelumnya? Well, tentunya ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, termasuk saya juga pernah membahas soal ini di buku ‘The Calm Investor’. Tapi dalam artikel kali ini kita hanya membahas satu diantaranya saja.
The ‘Real Fear’ Experience
So here’s the story. Pada Desember 2016 lalu, penulis bersama teman-teman sesama traveller pergi selama empat hari ke Pulau Derawan, Kalimantan Timur, untuk bermain pasir, berenang di pantai, melihat ikan Manta dan Hiu Paus, serta nyebur ke Danau Labuan Cermin yang airnya sebening Raisa. Pada hari pertama, kedua, dan ketiga, semuanya berjalan lancar dan menyenangkan, dimana setiap kali kita berpindah dari satu pulau ke pulau lain dengan menggunakan speedboat, maka penulis selalu mengobrol dan tertawa lepas bersama semua teman-teman yang lain.
Penulis (kaos merah) dengan teman-teman yang lain di sebuah pulau kecil dengan laguna ditengahnya.

Namun pada hari keempat, ketika kami akan pulang menuju Pelabuhan Tanjung Batu (untuk selanjutnya naik mobil carteran menuju Bandara Kota Berau, lalu terbang pulang), terjadilah satu peristiwa yang tidak akan pernah penulis lupakan seumur hidup. Jadi sore itu, sekitar pukul 16.00, speedboat yang kami tumpangi berhenti di sebuah pulau untuk mengisi bensin, kemudian jalan lagi. Pengemudi kapal mengatakan bahwa perjalanan menuju Tanjung Batu akan menempuh waktu 4 jam, alias lumayan lama, jadi kami akan tiba di Pelabuhan pukul 20.00 malam. Dua jam pertama perjalanan terasa menyenangkan, dan penulis sempat melihat sunset dari tengah-tengah laut.
Namun sekitar pukul 19.00, ketika langit sudah gelap sama sekali, mulai turun hujan, lama kelamaan semakin deras, dan lautpun mulai bergelombang sehingga pengemudi speedboat menurunkan kecepatan. Ketika itu penulis sendiri mulai merasa was-was, terutama karena meski speedboat-nya melaju dengan kecepatan pelan, namun tetap saja tingginya ombak laut membuat kapal lebih goyang dibanding biasanya. Suasana ceria di dalam kapal mulai berubah menjadi mencekam, apalagi hujannya tidak juga mereda setelah beberapa waktu.
Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, alias sudah terlambat satu jam tapi kami masih berada di tengah laut, dalam situasi hujan deras dan laut bergelombang, dan sejauh mata memandang tidak nampak apapun kecuali kegelapan. Pada saat itulah, kapal berhenti, si pengemudi berdiri dari tempat duduknya, celingak celinguk, kemudian berdiskusi dengan co-pilotnya. Dan penulis, yang kebetulan duduk persis dibelakang kursi pengemudi, bisa mendengar si pengemudi bertanya ke temannya dengan nada berbisik, ‘Kayanya kita nyasar, ini dimana ya?’ WHAAAATT?? Kalau supirnya aja udah gak tau ini dimana, apalagi para penumpang yang gak ngerti apa-apa?? Kemudian si co-pilot ke belakang kapal sebentar lalu balik lagi, dan dia mengatakan, ‘Bensinnya tinggal segini lagi.’
Dan sketika itulah penulis mulai berpikir macam-macam, termasuk ingat dengan keluarga di rumah, ingat dengan senyum dan tawa anak-anak dirumah! Penulis untuk pertama kalinya setelah sekian lama merasa takut, dan saya sempat meraih ponsel untuk mengirim pesan terakhir ke orang rumah, tapi tidak ada sinyal. Kapal tetap berhenti dan terombang ambing di tengah laut selama sekitar setengah jam, dan itu adalah setengah jam terlama yang pernah penulis alami. Penulis, termasuk teman-teman lainnya, sama sekali tidak ada yang berani bertanya kepada para awak kapal, tentang apa yang sebenarnya terjadi, melainkan kami semua hanya diam saja, tapi tidak ada seorangpun yang bisa rileks apalagi tidur.
Hingga sekitar pukul 21.30, hujan mulai reda, dan di kejauhan mulai tampak cahaya lampu kerlap kerlip. Pengemudi kapal kemudian kemudian memberikan pengumuman, ‘Maaf udah menunggu lama, tapi itu Tanjung Batu udah keliatan didepan, paling 15 menit lagi lah kita sampai..’ ALHAMDULILLAAAAAHHH! Penulis dan teman-teman yang lain spontan berucap, dan suasana mencekam didalam kapal langsung cair. Penulis sempat bertanya lagi, ‘Bensinnya cukup mas?’, dan si awak kapal tersenyum, ‘Cukup kok’. Kapal kemudian melaju lagi, dan semua orang mendadak ceria lagi. Sekitar 15 menit kemudian kami akhirnya mendarat di pelabuhan, dan semua ketakutan serta kekhawatiran seketika hilang begitu saja, dan penulis sempat saling berpelukan dengan semua teman, satu per satu, bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk hidup. Daaan sekitar seminggu kemudian (sebelum pulang, penulis mampir dan jalan-jalan dulu ke Samarinda dan Balikpapan), penulis akhirnya bisa ketemu lagi sama anak-anak, dan Alhamdulillah saya sehat-sehat saja sampai sekarang.
To Beat the Fear: Live A ‘Dangerous Life’
Okay, balik lagi ke soal investasi saham. Jadi kenapa anda takut invest di saham? Ya karena takut rugi. Dan jangankan hilang duit begitu saja karena saham, hilang duit karena membeli sesuatu sekalipun terkadang tetap terasa menakutkan (kalo bisa gratis, atau hanya perlu bayar murah, maka kenapa musti bayar mahal?). Bagi seseorang dengan kehidupan yang penuh rutinitas, yang setiap bulan menerima penghasilan sekian, yang sehat secara mental maupun fisik serta tidak kurang suatu apapun, maka kehilangan uang, entah itu di saham atau lainnya, sudah merupakan sesuatu yang sangat menakutkan, karena diluar itu maka tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, karena hidup mereka ‘lempeng-lempeng’ saja.
However, kalau anda belum pernah menghadapi sesuatu yang lain yang lebih menakutkan, maka anda akan gampang ‘meledak’ meski menderita rugi sedikit saja. Contoh, penulis pernah menerima email seperti ini, ‘Pak Teguh, itu kenapa ya saham A dibanting keras sekali sampe sedalem itu? Ada berita apa??’ Setelah penulis cek, saham A itu ternyata cuma turun dari 880 ke 855, atau turun 2.8%, dan sebelumnya saham A ini udah naik banyak dari 700. Tapi bagi teman penulis ini, ketika ia melihat sahamnya turun segitu, maka ia sudah merasa bahwa dirinya ‘dibanting keras sekali’ hingga hilang keseimbangan, dan akhirnya jatuh K.O (baca: panik, kemudian hilang fokus). Dan kalo sudah hilang fokus begitu maka ya sudah, selanjutnya portofolio anda bakal berantakan.
Jadi agar kita tidak terjebak dalam situasi seperti itu, maka kita harus memiliki atau melakukan sesuatu yang bisa jadi lebih menakutkan, dan lebih menaikkan adrenalin! Dibanding sekedar takut rugi karena berinvestasi di saham. Contohnya?? Ya seperti yang penulis lakukan: Dengan travelling, dengan pergi berpetualang! Actually, selain pernah nyasar di laut seperti yang diceritakan diatas, penulis pernah sore-sore turun sendirian dari Gunung Slamet tanpa ada seorangpun yang menemani (rombongan penulis terbagi jadi dua, dan entah gimana ceritanya penulis tidak bergabung dengan rombongan didepan maupun belakang, melainkan jalan sendirian saja di tengah-tengah), sementara ketika itu langit mulai gelap padahal penulis masih di tengah hutan. Beruntung, 15 menit kemudian penulis sampai di sebuah pos dimana disitu ada banyak pendaki-pendaki lain, dan saya kemudian bergabung dengan salah satu rombongan untuk lanjut turun, tapi penulis tidak akan pernah melupakan 15 menit tersebut. Kemudian penulis pernah juga nyetir mobil sendirian melintasi Alas Roban di Jawa Tengah, pada waktu antara Magrib dan Isya, dalam kondisi jalan yang amat sangat sepi. Dan meski penulis (untungnya) tidak melihat, mendengar, atau merasakan apapun, tapi rasa takut yang penulis alami ketika melewati jalan yang terkenal angker tersebut sungguh sangat sulit untuk dijelaskan.
Dan seterusnya, dan seterusnya. Pendek kata, dengan terus bepergian kesana kemari, dengan menjalani banyak pengalaman baru,? maka anda akan menyadari bahwa ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih menakutkan ketimbang sekedar kehilangan uang! Dan hal itu dengan sendirinya menguatkan mental anda sebagai investor dalam menghadapi ‘kejamnya’ pasar saham karena, coba pikir, kalau misalnya anda sewaktu-waktu menderita rugi, maka anda tetap bisa untung lagi di waktu yang lain. Tapi bagaimana kalau anda nyasar di tengah laut dan gak bisa kembali di darat?? Apakah ketika terombang ambing di tengah laut anda masih bisa mikir, ‘besok saham gue bakal naik atau turun ya’???
Hanya masalahnya, beberapa orang mungkin tidak punya cukup waktu untuk jalan-jalan, tapi intinya disini bukan jalan-jalannya, melainkan anda bisa melakukan sesuatu yang anda anggap menakutkan, entah itu nangkep tokek di rumah pake tangan kosong, naik ke rooftop sebuah gedung tinggi kemudian melihat ke bawah, mencoba berbicara di depan umum (bagi yang sudah biasa, berbicara di depan umum sama sekali tidak menakutkan. Tapi bagi mereka yang belum pernah melakukannya, maka itu akan menjadi pengalaman yang menakutkan), atau anda bisa bergabung dengan korps marinir untuk ikut latihan militer (yang ini penulis belum pernah, tapi terus terang saya tertarik juga). Trust me, dengan ‘live a dangerous life’, atau melakukan hal-hal yang belum pernah anda lakukan sebelumnya, maka itu akan membuat anda menjadi strong secara mental, dan anda akan sampai pada satu titik dimana anda menganggap bahwa rasa takut karena rugi di saham, itu sama sekali gak ada apa-apanya.
Dan kalau anda sudah sampai pada titik tersebut, well, welcome to the fearless club! :D
Btw penulis tadinya mau membahas soal semen, tapi saya belum melihat adanya peluang di sektor ini, jadi diganti tulisan ini saja. Minggu depan mungkin kita akan membahas saham-saham mineral non batubara (ANTM, TINS, INCO).


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Investor Charity Gathering, Jakarta, 10 Sept 2017

Dear investor Yth.
Dalam buku ‘The Calm Investor’, di bagian akhir penulis menyampaikan bahwa salah satu cara untuk menjadi pribadi yang tenang atau calm, dimana itu mutlak diperlukan dalam berinvestasi di pasar modal, adalah dengan menjadi senantiasa menjaga perasaan senang riang gembira, alias be happy!  Dan salah cara untuk menjadi happy adalah dengan rutin beramal dalam jumlah kecil, namun secara terus menerus! Yup, dalam buku tersebut penulis menyampaikan bahwa jauh lebih baik untuk menyumbang ke katakanlah panti asuhan sebesar Rp20,000 setiap minggu secara terus menerus, dibanding menyumbang Rp2,000,000 tapi hanya dilakukan satu kali itu saja.

Dan penulis sendiri tentu saja selama ini senantiasa mempraktekkan tips tersebut, dimana manfaatnya sangat terasa: Setiap kali anda berbuat amal secara ikhlas, sekecil apapun itu, maka anda akan memperoleh ‘hadiahnya’ yakni perasaan lega karena telah berbuat baik, karena anda telah membantu/memberikan manfaat untuk orang lain. Dan jika kita bisa menjaga perasaan lega tersebut, maka beban berat karena nyangkut dll akan berkurang dengan sendirinya, dan anda akan menjadi lebih calm. Actually, dengan menjadi investor yang tenang, yang mampu menganalisa serta mengambil keputusan jual beli saham secara logis dan bukannya karena greed atau fear, yang gak grasa grusu panik dan bingung entah itu setiap kali sahamnya terbang atau nyungsep, maka itu merupakan modal yang tidak ternilai untuk bisa bertahan di belantara pasar modal. Dan kita bisa mencapai itu dengan, salah satunya, melakukan kegiatan amal.
Karena itulah, meski penulis sangat yakin bahwa teman-teman pembaca blog ini juga sudah secara rutin melakukan kegiatan amalnya masing-masing, namun sebagai investor itu sendiri, penulis sangat tertarik untuk mengkampanyekan kegiatan amal atau charity ini. Karena kalau kita lihat investor-investor besar seperti Bill Gates, Warren Buffett, mereka juga aktif dalam kampanye/mengajak orang lain untuk kegiatan filantropi (melalui Giving Pledge). Termasuk di Indonesia, grup-grup besar seperti Djarum, Mayapada, Trans Corp (Chairul Tanjung), diluar melakukan CSR, mereka juga aktif ber-filantropi melalui foundation mereka masing-masing. Jadi kenapa kita tidak melakukan hal yang sama?
Jadi dengan ini penulis menyelenggarakan acara ‘Investor Charity Gathering’, dimana konsepnya adalah mirip seperti seminar, tapi disini kita gak akan melulu belajar soal investasi saham ataupun value investing, melainkan:
  1. Penulis akan sharing/bercerita tentang perjalanan karier penulis di stock market sejak tahun 2009, termasuk ketika memutuskan untuk full time di tahun 2012, hingga sekarang. Penulis juga akan share filosofi/cara berpikir seorang investor dalam berinvestasi, hasil dari pengalaman mondar mandir di market selama ini.
  2. Sesi tanya jawab bebas, dimana anda boleh bertanya apaaaa saja, dan penulis akan menjawabnya. Alokasi waktu untuk sesi tanya jawab ini akan jauh lebih banyak dibanding seminar, jadi diharapkan bahwa setiap peserta akan memperoleh kesempatan untuk bertanya.
  3. Diskusi interaktif dengan penulis sebagai pembimbing, dimana anda juga bisa sharing tentang pengalaman untung dan rugi anda di stock market, untuk didengar oleh peserta lainnya, dan terakhir
  4. Ngobrol-ngobrol bebas antar sesama investor saham peserta gathering, termasuk mau curhat sama temen senasib juga boleh :D Intinya kita having fun lah.
Berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat.
  • Hari/Tanggal: Minggu, 10 September 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB
  • Fasilitas: Makan siang, dan coffee break.
Untuk acara ini maka anda tidak dikenakan biaya, termasuk penulis juga tidak akan mengambil keuntungan sepeserpun. Namun untuk mendaftar maka anda tetap harus transfer sebesar minimal Rp500,000, maksimal tidak terbatas. Nantinya seluruh dana yang terkumpul, setelah dikurangi biaya penggunaan hotel, akan didonasikan. Dan berikut cara daftarnya:
1. Pertama-tama anda transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Gathering, dan isi: Nama lengkap anda, jumlah transfer, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, 500,000, BCA. Jangan lupa untuk menyertakan bukti transfer.
3. Minimal transfer adalah Rp500,000, maksimal tidak terbatas.
4. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta gathering. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini). Tempat terbatas, hanya untuk 30 peserta.

Catatan:
  1. Seluruh dana yang terkumpul, setelah dikurangi biaya untuk hotel (Rp150,000 per peserta), akan didonasikan ke beberapa campaign penggalangan dana di www.kitabisa.com. Dan nanti bukti donasinya akan di-upload di blog ini.
  2. Donasinya adalah atas nama Komunitas Indonesia Value Investing, jadi bukan atas nama penulis pribadi (karena dananya memang bukan milik penulis, melainkan milik anda semua). Nama-nama peserta gathering, beserta nilai donasinya masing-masing, tidak akan dipublikasikan. Yang akan dipublikasikan hanyalah jumlah peserta gathering beserta total nilai donasi yang terkumpul.
  3. Anda juga nanti boleh usul soal campaign mana saja yang anda hendak melakukan donasi. Penulis tidak memiliki hubungan apapun dengan www.kitabisa.com ataupun orang-orang didalamnya, dan penulis memilih website tersebut hanya karena mereka menyediakan fasilitas yang paling mudah dan simple untuk kegiatan charity. Namun demikian anda juga boleh usul website/cara yang lain untuk melakukan donasi.
  4. Untuk keperluan audit jika sewaktu-waktu dibutuhkan, maka harap kirim bukti transfer ketika mengirim email pendaftaran.
  5. Di acaranya nanti anda boleh membawa kamera untuk merekam video acaranya (untuk anda tonton lagi dirumah), atau merekam suara penulis saja juga boleh (pake ponsel juga bisa).
Ada pertanyaan? Boleh kontak Ms. Nury di no telepon/whatsapp 081220445202, dan Pin BB D0E5C05A. Bukti transfer juga boleh dikirim melalui kontak whatsapp/BBM tersebut.
Atau anda bisa bertanya langsung ke penulis melalui email teguh.idx@gmail.com

Untuk ikut kelas seminar value investing, di Jakarta hari Sabtu, 9 September, baca  keterangannya disini (hingga hari ini Rabu, 30 Agustus, sudah terdaftar 23 peserta, sehingga masih tersedia 7 kursi [...]

Bumi Resources: Penyelesaian Perpanjangan Jatuh Tempo Utang

Pagi ini, Bumi Resources (BUMI) merilis pengumuman di website BEI dengan judul ‘Penukaran Utang Yang Terdiri Dari Sejumlah Pinjaman Tertentu yang Diberikan Kepada Perseroan’. Seorang teman yang membaca pengumuman tersebut langsung kaget: Bukannya masalah utang BUMI udah clear semua melalui right issue-nya kemarin? Jadi utang apa lagi ini??

Masalahnya adalah, persis ketika pengumuman tersebut keluar, saham BUMI di market sedang terpuruk dibawah 300-an, sehingga wajar jika orang jadi panik. Namun demikian kalau anda baca lagi pengumumannya dengan teliti, maka it is actually a good news. Dan untuk memahaminya maka kita perlu me-review lagi BUMI ini dari awal, yakni sejak perusahaan mengajukan proposal restrukturisasi utang kepada para krediturnya, pada tahun 2015 lalu. Okay, kita langsung saja.
Semua cerita tentang BUMI ini dimulai pada September 2015 lalu. Ketika itu perusahaan memiliki utang jangka pendek dan jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat (tahun 2016 dan 2017), senilai total US$ 4.1 milyar. Karena perusahaan sama sekali tidak memiliki cukup dana untuk melunasi pinjaman tersebut, maka satu-satunya solusi adalah restrukturisasi, dimana: 1. Sebagian utang tersebut dikonversi menjadi saham, baik itu saham BUMI maupun saham dari anak-anak usaha yang dimiliki BUMI, 2. Sebagian lagi tetap berupa utang, tapi jangka jatuh temponya diperpanjang. Pada proposal yang diajukan perusahaan, BUMI menawarkan untuk (salah satunya) mengkonversi utang senilai US$ 1.5 milyar menjadi saham dengan harga konversi Rp1,660 per saham, dan memperpanjang waktu jatuh tempo untuk utang senilai US$ 1.2 milyar hingga lima tahun kedepan. Lebih lengkap mengenai poin-poin restrukturisasi utang yang diajukan oleh BUMI, bisa dibaca lagi disini.
Skema awal restrukturisasi utang yang diajukan manajemen BUMI kepada para kreditornya.

However, proposal dari BUMI tersebut tentunya membutuhkan persetujuan dari pihak kreditor agar restrukturisasinya bisa dilakukan. Kemudian setelah beberapa kali diadakan pertemuan antara manajemen BUMI dan kreditor, akhirnya disepakati bahwa, dari total utang sebesar US$ 4.1 milyar, US$ 2.0 milyar diantaranya dikonversi menjadi saham BUMI pada harga konversi Rp926 per saham (lebih rendah dari harga konversi awal yang diajukan oleh manajemen BUMI), sementara US$ 639 juta dikonversi menjadi obligasi wajib konversi (OWK), dimana OWK ini juga bisa dikonversi menjadi saham BUMI paling lambat 7 tahun dari penerbitan OWK tersebut.
Dan terakhir, sisa utang sebesar US$ 1.6 milyar (termasuk ditambah utang usaha dari supplier BUMI senilai US$ 190 juta), itu diperpanjang jatuh temponya hingga lima tahun kedepan. Jadi yup, yang perlu dicatat disini adalah, ketika BUMI selesai menggelar right issue-nya kemarin, maka itu bukan berarti seluruh utangnya sudah habis sama sekali (karena berganti menjadi ekuitas). Melainkan, sebagian utang BUMI tetap berupa utang, tapi jatuh temponya diperpanjang.
Kemudian, setelah dilakukan voting yang difasilitasi Pengadilan pada tanggal 9 November 2016, akhirnya kesepakatan antara BUMI dan para kreditor dan supplier-nya diatas menjadi efektif, sehingga kemudian tinggal pelaksanaannya. Untuk saham baru BUMI hasil konversi utang, dan juga OWK-nya, akan diterbitkan melalui mekanisme right issue senilai total US$ 2.6 milyar, dan right issue tersebut sudah sukses dilakukan pada bulan Juli 2017 kemarin.
Sementara untuk sisa utang BUMI senilai US$ 1.6 milyar, perusahaan akan menerbitkan senior secured notes baru, yang terdiri dari tranche A, B, and C yang akan jatuh tempo tahun 2022, untuk ditukar dengan notes yang lama. Nah, hingga tanggal 18 Agustus kemarin, baru sejumlah kreditor yang mewakili 98% dari total utang US$ 1.6 milyar diatas, yang sudah menyampaikan surat pemberitahuan penukaran utang ke Bank of New York Mellon cabang London, yang bertindak sebagai agen penukaran. Jadi pada hari ini BUMI mengingatkan para kreditornya yang masih belum menyerahkan surat tersebut, untuk segera melakukannya paling lambat tanggal 11 September 2017, pukul 4.00 PM, waktu London, Inggris. Jika ada kreditor yang gagal untuk menyerahkan surat pemberitahuan penukaran utang sebelum batas waktu yang ditentukan, maka mereka akan kehilangan hak tagih-nya. Yup, jadi ini sama saja seperti ketika beberapa waktu lalu BUMI sudah memperoleh pernyataan efektif dari OJK untuk menyelenggarakan right issue, maka perusahaan kemudian mengingatkan para kreditornya untuk segera menyerahkan lembar registrasi bahwa mereka akan menukar utangnya dengan saham baru BUMI, dimana jika ada kreditor yang gagal melakukan itu sebelum batas waktu yang ditentukan, maka para kreditor ini akan kehilangan hak tagih-nya/utang BUMI ke mereka otomatis hangus.
By the way beberapa orang mungkin bingung: Kalau ada kreditor yang tidak menukar utang mereka dengan utang baru, maka utang BUMI ke mereka jadi hangus begitu saja? Segampang itu?? Well, yang perlu dicatat disini adalah, baik BUMI maupun para kreditornya secara bersama-sama sudah sepakat untuk melaksanakan restrukturisasi utang pada votingyang digelar di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada November 2016 lalu. Jadi dalam hal ini BUMI bukannya memaksa para kreditornya untuk mengkonversi utang mereka, dengan ‘mengancam’ bahwa utang tersebut bakal hangus, melainkan itu sudah merupakan kesepakatan bersama semua belah pihak. Jadi ini sama seperti anda sudah membayar untuk membeli tiket pesawat, tapi kalau anda terlambat datang ke bandara maka ya sudah, tiketnya otomatis hangus. Mau ngamuk-ngamuk sama customer service-nya sekalipun, tetap saja anda gak akan mendapatkan uang anda kembali.
Jadi dengan demikian, setelah tanggal 11 September nanti BUMI akan kembali merilis pengumuman terkait update pelaksanaan penukaran utangnya selesai dilakukan, atau sama seperti ketika pada akhir Juli kemarin perusahaan merilis pengumuman bahwa right issue-nya sukses dilakukan. Thus, untuk laporan keuangannya pada Kuartal III nanti, sebagian utang BUMI sebesar US$ 2.6 milyar akan hilang sama sekali karena berganti menjadi ekuitas (dan juga obligasi wajib konversi), sementara sebagian lagi sebesar US$ 1.6 milyar tetap berupa utang namun jangka waktunya diperpanjang menjadi lima tahun kedepan, plus bonus tingkat bunga yang lebih rendah yakni hanya 7.5 – 9% per tahun, dari sebelumnya 9.25 – 12% per tahun (wihh, enak bener kan??).
Info detail utang baru yang diterbitkan BUMI untuk menggantikan utang yang lama, dengan total nilai yang sama (US$ 1.6 milyar) namun dengan waktu jatuh tempo dan tingkat bunga yang berbeda.
Btw untuk minggu ini harusnya kita membahas soal sektor semen, tapi karena kebetulan ada hot newsini maka pembahasannya kita tunda menjadi minggu depan. Just stay tune.
Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 9 September 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.

Buletin Analisa IHSG & stockpick saham pilihan edisi September 2017 akan terbit hari Jumat, 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member langsung dengan penulis.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing, Jakarta, 9 Sept 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Cara Paling Santai Dalam Menghasilkan Uang di Pasar Saham’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santainamun sekaligus paling menguntungkandalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Pak Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari 1 tahun!
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook hingga akhir tahun 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the marketdalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 9 September 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,200,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi kalau mau kirim bukti transfer juga boleh).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
  3. Di kelasnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3, 4, 5 peserta dan seterusnya, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman peserta kelas value investing, 8 Juli 2017. Klik gambar untuk memperbesar

Komentar Alumni
Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luar biasa sekali..
Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalau dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
Merci..

Widya Olivia – [...]

Prospek Batubara: Update Kuartal II 2017

Salah satu kesulitan dalam berinvestasi di saham-saham komoditas, entah itu minyak, batubara, hingga CPO, adalah kita sebagai investor tidak akan memiliki gambaran soal apakah harga minyak kedepannya bakal naik atau turun. Maksud penulis adalah, kita juga memang tidak bisa memprediksi naik turunnya harga saham, tapi naik turunnya harga komoditas, itu lebih tidak bisa diprediksi lagi. Contohnya, meski kita tidak tahu apakah besok-besok saham Astra International (ASII) bakal naik atau turun, tapi penulis cukup pede untuk mengatakan bahwa bahkan kalaupun terjadi force majeure ataupun IHSG drop, tapi ASII gak akan turun sampai dibawah 5,000.

Sementara harga komoditas? Well, ambil contoh harga minyak. Tiga tahun lalu, ketika harga minyak masih strong di level US$ 90 – 100 per barel, maka tidak ada seorangpun yang memprediksi bahwa minyak bakal drop sampai dibawah US$ 50 per barel, tapi nyatanya itulah yang terjadi. Sebaliknya, ketika awal 2016 lalu minyak terus saja turun hingga sempat dibawah US$ 30 per barel hingga menimbulkan kepanikan (anda bisa baca lagi ceritanya disini), maka ketika itu ada banyak analis yang memprediksi bahwa minyak bakal lanjut jeblok sampai US$ 15, tapi justru setelah itu minyak naik lagi, sebelum kemudian sekarang stabil di US$ 40 – 50 per barel.
Jadi kalau kita ambil saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) sebagai perbandingan, dimana ketika sahamnya turun 10 – 15% saja (dari 2,500-an ke 2,100-an) orang-orang sudah pada ribut, maka harga minyak ini bisa dengan mudah terjun bebas hingga 50 – 70%, dan tak lama kemudian langsung naik lagi dengan persentase kenaikan yang sama gilanya. Dan tidak hanya minyak, namun komoditas lainnya, termasuk batubara, juga sama seperti itu. Untuk batubara, penulis masih ingat ketika harga minyak tiba-tiba saja drop ke US$ 40 sebelum libur panjang Idul Fitri beberapa waktu lalu, yang menyebabkan harga batubara benchmarkNewcastle ikut drop hingga dibawah US$ 80 dan orang-orang langsung panik. Tapi berapa harga batubara sekarang? Well, tiba-tiba saja sudah diatas US$ 97 per ton. Lalu kedepannya harga batubara ini bakal lanjut naik atau turun lagi?? Why, I have absolutely no idea!
Dan masalahnya adalah, meski dalam jangka yang lebih panjang, pergerakan saham-saham komoditas akan dipengaruhi oleh kinerja keuangan dari perusahaan yang bersangkutan, namun dalam jangka pendek maka kalau harga batubara naik, demikian pula saham-saham batubara akan ikut naik, dan sebaliknya kalau harga batubara turun, maka Adaro Energy (ADRO) dkk akan ikut turun. Kondisi ini menyebabkan saham-saham batubara menjadi sangat berisiko terutama bagi trader yang masih suka melihat naik turunnya saham setiap menitnya, dimana mereka bisa dengan mudah terjebak euforia ketika batubara naik, tapi euforia tersebut bisa langsung berbalik menjadi panik hanya dalam hitungan hari, yakni ketika batubara turun. Risiko karena fluktuasi jangka pendek ini tidak terdapat pada saham-saham di sektor lain, katakanlah seperti properti dan konstruksi, yang meski kinerja fundamental mereka juga bersifat cyclical (baca: kinerjanya bagus di tahun-tahun tertentu, tapi kurang bagus di tahun-tahun lain), tapi naik turun sahamnya nyaris sepenuhnya dipengaruhi oleh kinerja fundamental mereka saja (dan juga valuasi sahamnya, contohnya saham-saham konstruksi dimana meski kinerjanya lebih bagus dibanding properti, tapi sejak awal PBV-nya masih agak tinggi), dan tanpa fluktuasi yang berarti.
However, dengan menggunakan pendekatan value investing, maka risiko karena fluktuasi tersebut bisa diminimalisir jika kita membeli saham-saham batubara pada harga yang sedemikian murahnya, dan itu sebabnya sejak dua tahunan terakhir penulis banyak membahas batubara di blog ini (dimulai dari artikel ini, ditulis pada bulan Juli 2015), yakni ketika harga batubara masih sangat rendah di level US$ 52 – 54 per ton, dan memang kita sendiri kemudian sukses profit besar dari sektor ini. Hanya saja, kondisinya sekarang sama sekali berbeda dengan satu atau dua tahun lalu, dimana setelah naik berlipat-lipat maka valuasi saham-saham batubara tentu saja tidak lagi semurah dulu, dimana beberapa saham sudah dihargai pada PBV 2 – 3 kali atau lebih tinggi lagi, dan masalahnya kinerja keuangan terbaru mereka hingga Kuartal II 2017, meski memang lebih baik dibanding 2015 – 2016, tapi juga masih jauh kalau dibandingkan dengan peak performance mereka di tahun 2011.
Jadi kalau berpatokan pada kinerja terbaru emiten, maka sulit untuk mengharapkan bahwa saham-saham batubara akan naik lebih tinggi lagi. Okay, tapi bagaimana dengan harga batubara yang lagi tinggi-tingginya seperti sekarang? Bukankah dengan demikian ada harapan bahwa kedepannya kinerja emiten batubara bisa saja sama bagusnya dengan kinerja mereka di tahun 2011? Well, kalau anda mikirnya masih seperti itu, maka coba baca lagi artikel ini dari awal! Posisi harga batubara yang sedang tinggi seperti sekarang, terus terang justru membuat penulis khawatir. Karena kalau berdasarkan asumsi konservatif dari manajemen perusahaan-perusahaan batubara itu sendiri, maka meski harga batubara bisa fluktuatif dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang akan stabil di rentang US$ 70 – 75 per ton, atau lumayan jauh dibawah harganya sekarang ini (baca lagi ulasannya disini).
Maksud penulis adalah, kalau saja sekarang ini harga batubara berada di level US$ 70-an per ton, yang kemudian menyebabkan saham-saham batubara turun sedikit sehingga valuasinya lebih reasonable, maka itu artinya opportunity, karena kita bisa expect bahwa harga batubara kedepannya akan naik minimal ke US$ 80-an (meski tetap berisiko karena sekali lagi, kita gak bisa memprediksi naik turunnya harga komoditas). Tapi ketika harga batubara sudah tinggi seperti sekarang, maka anda berharap dia lanjut naik sampe berapa lagi? US$ 150 per ton??
Coal Miners: Operational Update
Terlepas dari fluktuasi harga batubara, yang kemudian menyebabkan pergerakan liar saham-saham perusahaan batubara dalam jangka pendek, namun kinerja para emiten di sektor ini boleh dibilang terus membaik meski, sekali lagi, belum sebaik tahun 2011 lalu. Berikut adalah ikhtisar kinerja operasional dari tiga perusahaan batubara terbesar di BEI, dari sisi volume produksi, angka dalam jutaan ton kecuali growth dalam persen.
Companies
Indicator
First Half 2017
First Half 2016
Growth (%)
BUMI
Coal Mined
40.2
39.8
1.0
Coal Sales
41.5
41.9
(1.0)
ADRO
Coal Mined
25.1
25.9
(2.8)
Coal Sales
25.3
27.1
(6.9)
PTBA
Coal Mined
9.4
7.7
23.3
Coal Sales
11.4
10.0
13.4
Total
Coal Mined
74.8
73.3
2.0
Coal Sales
78.1
79.1
(1.2)
Secara umum, BUMI dkk sukses membukukan kenaikan laba yang signifikan pada Semester I 2017 ini berkat beberapa faktor seperti kenaikan harga jual batubara, efisiensi biaya produksi (selain karena turunnya harga minyak diesel untuk bahan bakar alat-alat berat, efisiensi produksi juga dihasilkan dari keberadaan infrastruktur tambang yang jauh lebih lengkap dibanding lima tahun lalu), hingga meningkatnya demand terutama dari pasar domestik. Tapi disisi lain volume produksi serta penjualan masih belum banyak berubah dibanding 2016, terutama karena curah hujan yang lebih tinggi dibanding biasanya di daerah Kalimantan sehingga mengganggu operasional tambang, sehingga dengan demikian terdapat dua kemungkinan: BUMI dan ADRO, dan juga perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang beroperasi di Kalimantan (meski juga punya tambang di Kalimantan, namun tambang batubara terbesar milik PTBA berlokasi di Sumatera), mereka baru saja melewatkan kesempatan untuk menjual batubara pada harga bagus sepanjang Semester I 2017 kemarin, atau sebaliknya, mereka sekarang masih punya stockpile yang melimpah yang bakal jadi duit gede dalam waktu dekat, dengan asumsi kondisi cuaca akan lebih baik pada Semester II, sementara harga batubara tetap stabil di kisaran harganya saat ini.
Pelabuhan Batubara Tarahan milik PTBA di Sumatera Selatan. Bayangkan jika batubara sebanyak itu kena hujan, maka tentu pengirimannya bakal terhambat

Namun demikian, kalau dari bahasa presentasi manajemen di public expose, juga tampak bahwa perusahaan masih berhati-hati dalam meningkatkan volume produksi dan penjualan karena dikhawatirkan itu akan menurunkan kembali harga jual batubara, karena mereka masih menjual sebagian besar batubaranya ke pasar ekspor sehingga mempengaruhi supply batubara global. Hal berbeda dialami oleh PTBA, yang 65% penjualannya berasal dari pasar domestik termasuk dari pembangkit listrik milik sendiri, sehingga perusahaan bisa memaksimalkan volume penjualan tanpa perlu khawatir harga jualnya bakal drop, selain karena permintaan batubara domestik terus meningkat seiring dengan banyaknya pembangkit listrik baru. However, PTBA merupakan satu dari hanya sedikit coal miner di Indonesia, jika tidak mau dibilang satu-satunya, yang tidak terlalu mengandalkan pasar ekspor.
Jadi untuk BUMI, ADRO, dan lainnya, maka kita mungkin belum akan melihat mereka meningkatkan volume produksi setidaknya sampai akhir tahun 2017 ini, yakni sampai pihak manajemen melihat bahwa harga batubara sudah cukup stabil dan strong. Thus, untuk tahun 2017 ini sepertinya kita hanya bisa mengharapkan kenaikan atau stabilnya harga batubara plus efisiensi produksi, agar laba para emiten tetap meningkat dibanding 2016, namun para emiten batubara mungkin baru akan benar-benar membukukan laba yang besar di tahun 2018, dengan asumsi pada tahun tersebut mereka meningkatkan volume produksinya. Kalau anda baca lagi ulasan batubara pada Kuartal I kemarin (ini link-nya), disitu juga disampaikan bahwa meski kinerja coal miner hampir pasti bakal improve signifikan pada tahun 2017 ini, namun belum jelas apakah trend peningkatan kinerja tersebut bakal berlanjut atau tidak di tahun-tahun yang akan datang, terutama karena satu pertimbangan logis: Apapun alasannya, kita tidak bisa mengharapkan bahwa harga jual batubara bakal naik terus, atau sebaliknya bakal turun terus, melainkan nanti pasti akan ketemu titik keseimbangannya. Dan kalau melihat harga batubara yang masih sangat fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir, maka cukup jelas bahwa titik keseimbangan tersebut masih belum ketemu di berapa.
Disisi lain, kenaikan saham-saham batubara sebesar tiga, empat, hingga lima kali lipat dalam satu hingga dua tahun terakhir menyebabkan valuasi mereka, seperti yang sudah disebut diatas, tidak lagi semurah dulu, malah beberapa sudah overvalue kalau berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal II 2017. Dan penulis kira kondisi ini akan menyebabkan naik turunnya saham batubara, setidaknya sampai akhir tahun 2017 ini, hanya akan dipengaruhi oleh naik turunnya harga batubara saja. Kecuali tentu, jika ADRO dkk ternyata sukses membukukan laba bersih yang lebih baik di Kuartal III dan IV nanti, dimana ROE mereka menjadi katakanlah 25 – 30%, maka barulah itu bisa dijadikan justifikasi untuk menghargai sahamnya pada valuasi yang lebih tinggi lagi dari sekarang.

Kesimpulannya, kinerja fundamental emiten-emiten batubara sejauh ini masih sesuai ekspektasi, dan kemungkinan akan tetap bagus hingga akhir tahun nanti, dimana laba mereka akan tetap naik signifikan dibanding 2016. Namun disisi lain, tidak realistis jika kita mengharapkan bahwa kinerja PTBA dkk akan langsung menyamai pencapaian mereka di tahun 2011, setidaknya untuk sekarang ini, dan itu berarti bahwa harga saham mereka pada saat ini sudah selaras(istilahnya price in) dengan fundamental maupun outlook perusahaan. Jadi kecuali untuk saham-saham batubara tertentu yang PBV atau PER-nya masih rendah sendiri, maka penulis tidak berharap bahwa saham-saham batubara di BEI bakal naik lebih tinggi lagi pada tahun 2017 ini.
Namun seperti halnya anda, penulis juga masih berharap bahwa kinerja emiten-emiten batubara di Kuartal III nanti bakal beat the expectation, dimana itu mungkin saja terjadi kalau Indonesia tidak lagi dilanda hujan lebat terus dalam beberapa bulan kedepan. Anyway, kita lihat lagi nanti update analisanya tiga bulan dari sekarang.

Untuk artikel minggu depan kita akan bahas sektor semen.

Jadwal Kelas Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu 9 Oktober 2017. Keterangan selengkapnya baca disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal II 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada Agustus 2017Dan anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (8 halaman pertama), klik gambar untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…

Widya Olivia – [...]

Antara Investor Saham, dan Pahlawan Kemerdekaan

Sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Sudirman, yang ketika itu merupakan komandan PETA (pembela tanah air, organisasi militer bentukan Pemerintah Imperial Jepang di Indonesia), bergegas ke Jakarta untuk menemui Presiden Sukarno, untuk menyatakan dukungannya terhadap Negara Republik Indonesia (RI) yang baru berdiri. Pada tanggal 5 Oktober, Pemerintah RI mendirikan Tentara Keamanan Rakjat (TKR) yang menjadi cikal bakal TNI, dan pada tanggal 12 November, para anggota TKR melakukan general meeting pertama untuk memilih siapa yang akan menjadi pimpinan tertinggi/panglima. Sudirman, yang ketika itu baru berusia 29 tahun, terpilih sebagai pimpinan militer, dengan pangkat kolonel.

Awalnya karena usia Sudirman yang dianggap masih sangat muda serta latar belakangnya sebagai guru (sebelum menjadi komandan PETA, Sudirman bekerja sebagai guru di sekolah Muhammadiyah di Cilacap), maka banyak orang meragukan kapabilitas beliau sebagai pemimpin militer. Namun Sudirman segera menunjukkan bahwa ia layak menjadi panglima. Pada tanggal 20 Oktober 1945, Tentara Inggris, yang merupakan bagian dari Tentara Sekutu (allied forces) yang baru saja memenangkan Perang Dunia Kedua, mendarat di Semarang, Jawa Tengah, untuk membebaskan tahanan perang serta melucuti senjata milik Tentara Jepang. Awalnya kedatangan mereka disambut baik, mengingat Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan RI. Namun ketika mereka terus bergerak maju menuju Ambarawa hingga Magelang, mereka mulai memberikan senjata kepada tahanan perang Belanda yang baru saja dibebaskan, dan juga berusaha melucuti senjata milik TKR, sehingga barulah kelihatan bahwa mereka membantu Pemerintah Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Tentara TKR kemudian melakukan perlawanan yang memaksa Tentara Sekutu mundur ke Ambarawa, namun Sekutu membalas dengan merangsek maju ke Magelang, dan pertempuran panjang pun tidak terhindarkan.
Hingga akhirnya pada 11 Desember 1945, Sudirman melakukan rapat dengan para komandan TKR, dimana besoknya beliau memimpin langsung pengepungan terhadap tentara Sekutu sejak subuh di Ambarawa, dan suara tembakan senapan mesin dan ledakan bom segera terdengar di seluruh penjuru kota. Dan akhirnya, setelah pertempuran sengit selama empat hari penuh, Sekutu mundur ke Semarang, dan Ambarawa dikuasai penuh oleh RI. Dalam peristiwa Palagan Ambarawa ini, tak kurang dari 2,000 tentara TKR mengorbankan jiwa mereka untuk Indonesia, sementara korban jiwa di pihak sekutu hanya sekitar 200 tentara (tentara sekutu sejak awal kalah jumlah, namun mereka didukung oleh persenjataan yang lengkap plus tank). Namun demikian kemenangan ini menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Negara RI yang baru berdiri tidak bisa dianggap remeh, dan pada 18 Desember, Kol. Sudirman dikukuhkan sebagai Panglima TKR, dimana pangkatnya dinaikkan menjadi Jendral (namun pada reorganisasi tentara beberapa waktu kemudian, dimana TKR menjadi Tentara Nasional Indonesia/TNI, pangkat tersebut diturunkan menjadi Letjend).
Di tahun-tahun berikutnya, ketika Presiden Sukarno bersama jajaran kabinetnya terus mengupayakan negosiasi dengan Pemerintah Belanda (yang masih terus berusaha menguasai Indonesia), termasuk memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta, maka Sudirman terus memimpin perlawanan secara militer. However, ketika Belanda melakukan operasi militer besar-besaran dengan membawa lebih dari 120,000 tentara pada Juli 1947, yang dikenal sebagai Agresi Militer I, maka TNI yang inferior segala-galanya segera menderita kekalahan, dimana dari 200,000 tentara dan relawan yang dimiliki TNI, sekitar 150,000 diantaranya terluka atau tewas (berbanding 6,000 korban dari pihak Belanda), dan Belanda kemudian sukses menguasai seluruh Sumatera dan sebagian Jawa. Namun demikian Sudirman tetap tidak menyerah, dan terus melakukan perlawanan dengan taktik perang gerilya, yang kemudian memaksa Belanda untuk membuat perjanjian dengan Pemerintah RI, dimana sebagian wilayah Jawa, dalam hal ini Banten, Jogja, dan sebagian Jawa Timur (termasuk Madiun), tetap berada dalam naungan RI. Sudirman kemudian memimpin tentaranya untuk pulang dari persembunyian di hutan-hutan menuju Kota Jogja.
Namun situasi Indonesia masih jauh dari kata damai. Pasca Agresi Belanda, kondisi politik dalam negeri juga sama sekali tidak stabil, termasuk terjadi pemberontakan di Madiun oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), pada September 1948. Sudirman, yang ketika itu jatuh sakit, mengirim deputi-nya, Kolonel Abdul Haris Nasution, untuk menumpas pemberontakan dan berhasil, dimana pasukan TNI menembak mati 300 tentara pemberontak dan menawan ribuan lainnya. Sudirman kemudian mengunjungi Madiun, dan beliau sempat mengatakan pada istrinya bahwa ia sama sekali tidak bisa tidur sepanjang terjadinya pertempuran. Pada 5 Oktober 1948, setelah upacara hari ulang tahun TNI yang ke-3, Sudirman jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, dan barulah ketahuan kalau beliau menderita tuberkulosis. Selama di RS, Sudirman menyerahkan sebagian besar tugas-tugasnya ke Kol. Nasution.
Sayangnya Sudirman tidak bisa beristirahat lama-lama. Pasukan Belanda, yang mungkin karena melihat militer Indonesia melemah pasca pemberontakan Madiun, kembali melakukan aksi militer, kali ini bertujuan untuk menumpas RI sama sekali, termasuk menguasai Jogja sebagai Ibukota RI. Pada 17 Desember 1948, Sudirman, yang ketika itu baru saja kembali bertugas sebagai panglima militer, segera memerintahkan latihan militer besar-besaran, untuk menunjukkan kepada Belanda bahwa TNI masih terlalu kuat untuk diserang, namun gagal karena hanya dua hari kemudian, Belanda keburu melancarkan Agresi Militer II dengan menyerang langsung ke Jogja, dan mereka segera menguasai seluruh penjuru kota. Sudirman bergegas menuju Istana Presiden di pusat kota Jogja untuk menemui para pejabat negara RI, untuk mengajak mereka untuk terus bertempur, namun ajakan tersebut ditolak, dan Sudirman sendiri tidak diizinkan oleh dokternya untuk melanjutkan peperangan, mengingat tuberkulosis-nya yang semakin parah.
Dan andai saja ketika itu Sudirman memutuskan untuk tetap di Jogja, untuk meletakkan senjata dan menyerah, maka mungkin Indonesia akhirnya akan bubar sama sekali, dan Nusantara kembali dikuasai Belanda. Namun Sudirman bersikukuh untuk melanjutkan perjuangan, sehingga akhirnya disepakati bahwa, Sudirman beserta pasukannya akan terus berperang, kali ini dengan taktik gerilya, namun Presiden Sukarno dan para pejabat Pemerintah RI akan tetap tinggal di kota dan membiarkan mereka ditangkap Belanda, sekaligus membuat Belanda sibuk sehingga pasukan Sudirman punya cukup waktu untuk meninggalkan kota. Rencana tersebut berhasil, dimana ketika Presiden Sukarno dan jajaran pemerintah RI ditangkap dan dikirim ke pengasingan, di waktu yang bersamaan Sudirman beserta pasukannya bergerak ke selatan menuju Bantul, lalu lanjut ke Trenggalek.
Kemudian, setelah perjalanan panjang melalui hutan lebat selama berbulan-bulan, termasuk beberapa kali melakukan kontak baku tembak dengan pasukan Belanda, pada 18 Februari 1949 pasukan Sudirman tiba di Sobo, dekat Gunung Lawu, dimana beliau menilai bahwa daerah tersebut aman dari kejaran Belanda namun sekaligus tidak terlalu jauh dari Jogja. Setelah rapat dengan para komandan, diputuskan bahwa TNI akan melakukan serangan besar-besaran ke Pusat Kota Jogja untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia beserta TNI-nya masih ada! Strateginya adalah, pasukan gerilya TNI akan melakukan serangan-serangan kecil ke desa-desa di sekitar Jogja, agar Belanda menempatkan lebih banyak tentara di daerah sehingga otomatis penjagaan di Kota Jogja akan berkurang, dan setelah itu barulah pasukan utama TNI bakal menyerang pusat kota. Sudirman kemudian menunjuk Letkol Suharto sebagai komandan lapangan untuk serangan utama tersebut.
Dan pada 1 Maret 1949, pukul 06.00 pagi, pasukan TNI melakukan serangan mendadak hingga Tentara Belanda terpaksa mundur meninggalkan kota, dan pada siang hari pukul 12.00, pasukan TNI berhasil menduduki dan menguasai pusat Kota Jogja! Sebelum kemudian mundur kembali pada sore hari (ketika bantuan tentara Belanda dari daerah sudah kembali tiba di Jogja, pasukan TNI sudah keburu mundur).
Tapi meski hanya menguasai kota selama sekitar enam jam, serangan tersebut sukses merusak reputasi Pemerintah Belanda di mata dunia internasional, mengingat Belanda sebelumnya mengklaim bahwa mereka sudah membabat habis TNI. Setelah menerima tekanan dari United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB), pada Mei 1949 diadakan Perjanjian Roem-Royen, dimana Tentara Belanda diharuskan untuk mundur sama sekali dari Jogja dan seluruh wilayah nusantara paling lambat bulan Juli, dan jajaran Pemerintah RI bisa kembali dari pengasingan. Setelah kembali berada di Jogja, Presiden Sukarno secara personal memerintahkan Sudirman untuk pulang, namun Sudirman memilih untuk tetap bertahan di markas gerilya-nya, dengan argumen bahwa Belanda bisa saja melanggar perjanjian dan kembali melakukan agresi militer (sebelum Roem-Royen, Pemerintah Belanda dan RI sebelumnya sudah membuat Perjanjian Renville dan Linggadjati, namun Belanda melanggar kedua perjanjian tersebut).
Barulah setelah dijemput langsung oleh Letkol Suharto, pada bulan Agustus 1949, Sudirman akhirnya bersedia pulang, dimana beliau disambut langsung oleh Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta dan lainnya, dan juga disambut upacara militer besar-besaran di alun-alun Jogja. Masih menderita tuberkulosis, Sudirman kemudian dirawat di RS Panti Ratih, sebelum kemudian dipindahkan ke rumah peristirahatan di Magelang, namun kesehatannya terus memburuk. Pada 27 Desember 1949, Belanda akhirnya mengakui Kemerdekaan Indonesia, dan sebulan kemudian pada 29 Januari 1950, Sudirman menghembuskan nafas terakhir, dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Jogja. Ketika itu usianya baru 34 tahun. Letjend Sudirman kemudian dipromosikan menjadi Jendral, dan pada tahun 1997, beliau kembali dipromosikan ke pangkat tertinggi militer yakni Jendral Besar (General of the Army).

Jendral Sudirman didampingi ajudannya, Letkol Suharto

‘Perjuangan’ Kita Sekarang Ini, dibanding Perjuangan Para Pahlawan
Sebagai investor, seperti yang pernah penulis sampaikan di artikel lain, saya sangat suka membaca cerita-cerita sejarah, khususnya kisah perjuangan Jendral Sudirman diatas dimana penulis sudah hafal diluar kepala. Karena hanya dengan mengingat kembali jasa-jasa pahlawan seperti itulah, maka kita akan menyadari bahwa kita sangat beruntung hidup di jaman yang serba mudah seperti sekarang ini. Termasuk ketika penulis mulai stress ketika melihat kinerja portofolio yang tidak sesuai harapan, maka penulis biasanya bilang ke diri sendiri: Dibanding perjuangan pahlawan-pahlawan kita dulu, kesulitan yang kamu alami sekarang ini sama sekali gak ada apa-apanya!
Maksud penulis, coba lihat Jendral Sudirman: Dalam keadaan sakit parah dan tanpa pengobatan yang memadai, beliau tetap memaksakan diri untuk berjuang, meninggalkan keluarga dan seluruh harta bendanya, menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya dalam kondisi yang jauh dari kata nyaman, sambil terus menanggung risiko ditangkap (atau bahkan ditembak mati) oleh Tentara Belanda, dan selama itu beliau harus kehilangan entah berapa anak buah karena terluka, tewas, atau tertangkap. Namun hebatnya beliau mampu untuk tetap fokus, tidak takut, dan dalam pikiran beliau ketika itu hanya ada satu sumpah: Sampai titik darah penghabisan, Indonesia harus benar-benar merdeka!
Sementara kita? Well, kalo penulis sendiri, ketika ‘berjuang’ (baca: bekerja), maka saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca laporan keuangan dll sambil duduk nyaman di kursi empuk dalam ruangan sejuk ber-AC, dan saya bisa istirahat, makan, dan tidur kapan saja, termasuk kita bisa pergi ke hutan tapi bukan untuk gerilya, melainkan untuk piknik menghirup udara segar. Dan satu-satunya risiko yang dihadapi hanyalah kalo saham kita turun sehingga terpaksa menderita rugi, tapi tidak lebih dari itu. Kita sama sekali tidak perlu khawatir ditangkap atau ditembak mati oleh tentara musuh, dan bahkan risiko jatuh sakit pun nyaris tidak ada, karena kita bekerja dalam lingkungan yang serba nyaman, bersih, dan sehat.
Jadi kalau ada teman mengeluh, ‘Pak Teguh, gimana caranya ya biar bisa tenang liat saham? Saya masih suka stress nih, sampe gak bisa tidur gara-gara nyangkut..’, maka penulis akan bilang, really? Kalau cuma karena itu saja anda gak kuat mental sampai gak bisa tidur, lalu bagaimana kalau seandainya anda berada dalam posisi bertanggung jawab untuk menumpas pemberontakan di Madiun?? Atau harus bertahan di hutan-hutan untuk menghadapi Agresi Militer Belanda??? Bisa-bisa baru jadi panglima militer sehari, besoknya anda langsung menyerah ke Belanda, dan Indonesia langsung bubar! Actually, balik lagi ke investasi saham: Kalau anda gak bisa tenang dalam memegang dana anda yang sekarang, maka bagaimana mungkin anda berharap bisa mengelola dana yang lebih besar di masa yang akan datang?
Tapi intinya sekali lagi, seperti yang sudah disampaikan diatas, kita sangat beruntung hidup di jaman dimana kita, sebagai investor, hanya perlu memikul tanggung jawab yang amat-sangat-ringan, dimana kalaupun kita gagal dan rugi maka kita akan tetap sehat-sehat saja, dan selalu ada kesempatan untuk kembali mencoba asalkan anda pantang menyerah. Sudah tentu, tidak semua orang mampu berkontribusi bagi bangsa dan negara, apalagi menjadi pahlawan seperti Jendral Besar Sudirman. Tapi kalau sampai gak bisa tidur cuma karena takut rugi di saham?? Well, anda bisa lebih baik dari itu!
Dirgahayu Indonesia-ku! Selamat Hari Ulang Tahun RI yang Ke-72!

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya [...]

PGAS, dan Rencana Penurunan Harga Gas

Hingga hari ini, Kamis, 10 Agustus, Perusahaan Gas Negara (PGAS) masih belum merilis laporan keuangan Kuartal II 2017 dikarenakan adanya limited review. Namun jika kita melihat kinerja perusahaan di Kuartal I, dimana labanya masih turun tipis 3.8%, maka PGAS merupakan satu dari dua perusahaan besar di BEI (satunya lagi SMGR) yang kinerjanya masih belum pulih sejak Indonesia mengalami titik terendah perlambatan ekonominya pada tahun 2015 lalu. Dilihat dari sini saja maka wajar jika dalam dua tahun terakhir, saham PGAS ketinggalan jauh dibanding saham-saham blue chip lainnya. Namun demikian kinerja PGAS sebenarnya tidak seburuk itu juga, dan perusahaan tidak memiliki problem spesifik terkait operasional, GCG, maupun industri gas itu sendiri.

Dengan kata lain, kalau kita berpandangan jauh kedepan, maka tetap terdapat ekspektasi atau harapan bahwa kinerja PGAS pada akhirnya nanti akan kembali bertumbuh, terutama karena PGAS memiliki track record sebagai sebagai salah satu perusahaan paling profitable dan konsisten di BEI (atau setidaknya di masa lalu). Dan keberadaan harapan ini menyebabkan saham PGAS, meski memang tidak akan naik dulu dalam waktu dekat ini, tapi juga tidak akan turun terlalu dalam. Contoh lainnya dari ‘pengaruh faktor harapan terhadap harga saham’ ini adalah Astra International (ASII), dimana meski kinerja perusahaan sempat stagnan cukup lama antara tahun 2012 – 2016, namun selama periode waktu tersebut para investor tidak pernah menghargai ASII pada valuasi yang terlalu rendah, dimana bahkan ketika terjadi panic selling pada Agustus – September 2015 lalu, ASII hanya turun hingga level 5,000-an, yang mencerminkan PBV 2.0 kali (berdasarkan ekuitas perusahaan ketika itu), alias masih relatif tinggi bahkan jika dibandingkan dengan sesama saham blue chip. And indeed, memasuki tahun 2017 ini kinerja ASII akhirnya kembali tumbuh signifikan.
However, contoh keberadaan ‘faktor harapan’ pada saham ASII diatas hanya berlaku untuk saham dari perusahaan dengan reputasi, kualitas brand, dan track record kinerja dalam jangka panjang yang amat sangat baik, sehingga kepercayaan investor tetap tidak luntur bahkan meski perusahan mengalami penurunan kinerja pada satu atau dua tahun tertentu. Namun untuk perusahaan-perusahaan lainnya dengan kriteria yang tidak sebaik itu, maka penurunan kinerja sedikit saja bisa langsung menyebabkan sahamnya jatuh. Contohnya? Well, Lippo Cikarang (LPCK). Ketika perusahaan membukukan kinerja yang sangat baik antara tahun 2011 – 2015, maka selama itu pula sahamnya terus naik hingga sempat tembus 12,000. Tapi begitu kinerjanya mulai turun pada tahun 2015, dan penurunan tersebut masih berlanjut sampai sekarang, maka tanpa ampun sahamnya anjlok hingga sempat menyentuh 4,000, beberapa waktu lalu, dimana PBV LPCK pada harga terendahnya tersebut hanya 0.5 kali, atau jauh dibawah PBV terendah yang pernah dicapai ASII diatas. Perbedaan valuasi yang signifikan antara ASII dan LPCK ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar berpikir, ‘Untuk ASII, saya percaya bahwa stagnan-nya kinerja perusahaan hanyalah sementara. Pada akhirnya ASII bakal profit lagi, dan nilai intrinsik perusahaan masih jauh diatas harga sahamnya saat ini. Namun untuk LPCK, saya tidak punya gambaran tentang bagaimana kinerja perusahaan di masa yang akan datang, jadi kenapa ambil risiko dengan membeli sahamnya pada harga yang masih lebih tinggi dibanding nilai bukunya?’
Lalu bagaimana dengan PGAS? Nah, dalam hal likuiditas saham, reputasi perusahaan, serta track recordkinerja, maka PGAS tidak kalah dibanding ASII, dimana dengan melihat kinerja perusahaan di masa lalu maka PGAS tetap memiliki harapan untuk kembali membukukan kinerja yang bertumbuh di masa yang akan datang, dan soal ini juga sudah kita sampaikan diatas. However, dalam hal brand alias merk, maka PGAS kalah jauh dibanding ASII, dimana PGAS tidak memiliki merk-merk terkenal seperti ‘Toyota Avanza’, ‘Motor Honda’, atau ‘Komatsu’. PGAS juga kalah populer dibanding sister company-nya, Pertamina. Maksud penulis adalah, kalau anda survey ke tetangga sebelah rumah yang bukan investor saham, maka mereka tentu familiar dengan nama ‘Astra’ atau ‘Pertamina’, tapi mereka mungkin tidak tahu dengan nama PGN.
Karena itulah, valuasi terendah bagi PGAS tidak bisa disamakan dengan ASII, tapi juga tidak bisa disamakan dengan LPCK, melainkan normalnya di tengah-tengahnya. Lalu persisnya di berapa? Well, dalam hal ini kita bisa pakai contoh saham blue chip lainnya lagi: Bank BNI (BBNI). Pada awal tahun 2016 lalu, tepatnya ketika ramai cerita pembatasan NIM perbankan yang kemudian menjadi sentimen negatif bagi saham-saham big caps di sektor banking, maka BBNI ketika itu drop sampai mentok di 4,000, dimana PBV-nya tercatat 1.0 kali, tapi dia cuma sebentar berada di level harga tersebut dan langsung naik lagi. Nah, kalau kita lihat lagi BBNI ketika itu, maka situasinya juga mirip dengan PGAS sekarang ini: Kinerjanya masih belum begitu bagus, brand-nya tidak terlalu populer terutama jika dibandingkan tiga bank besar lainnya (BBCA, BBRI, BMRI), dan sahamnya sedang diliputi sentimen negatif yang sangat kuat, yakni soal pembatasan NIM tadi, namun demikian perusahaan memiliki track record kinerja yang sangat baik di masa lalu, sehingga terdapat ekspektasi bahwa cepat atau lambat kinerja BBNI akan bagus lagi.
Jadi seandainya salah satu faktor diatas dihilangkan, misalnya ketika sentimen negatif terkait NIM tadi menguap/dilupakan orang dengan sendirinya, maka BBNI juga akan naik lagi ke posisi normalnya ketika itu yakni sekitar 5,000-an, dimana PBV-nya (berdasarkan ekuitasnya saat itu) adalah 1.2 – 1.4 kali.
Okay, balik lagi ke PGAS. Sejak tahun 2015 lalu, maka pada kondisi pasar yang normal dan tidak ada sentimen negatif, berapa harga rata-rata PGAS? Sekitar 2,400 – 2,700. Dan berapa PBV PGAS pada harga tersebut? Sekitar 1.3 – 1.5 kali, alias tidak jauh berbeda dengan PBV BBNI diatas. Dan berkaca pada BBNI, dimana meski sahamnya turun ketika ada sentimen negatif namun pada akhirnya naik lagi, maka demikian pula dengan PGAS, dimana sejak tahun 2015 lalu sahamnya sempat beberapa kali drop sampai dibawah 2,400, entah itu karena IHSG-nya lagi turun atau sedang ada sentimen negatif, namun pada akhirnya naik lagi. Disisi lain, pada pertengahan tahun 2016 lalu ketika pasar sedang ramai sentimen tax amnesty yang menyebabkan investor asing ramai-ramai belanja saham di mari, maka salah satu saham yang paling banyak diborong asing adalah PGAS ini, dimana sahamnya sempat melompat dari 2,300-an hingga tembus 3,400 (however, setelah sentimen TA mereda, maka PGAS juga segera balik kandang lagi ke 2,400 – 2,700, mengingat kinerjanya sampai sekarang masih gitu-gitu aja).
Harga Gas Akan Diturunkan?
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, dalam beberapa kesempatan penulis selalu mengatakan bahwa kalau nanti PGAS turun sampai PBV-nya hanya 1.0 – 1.2 kali, alias kisaran harganya sekarang ini (2,200-an), maka kita mungkin punya peluang jangka pendek disini. Namun, juga tidak akan semudah itu untuk masuk ke PGAS pada harga rendah seperti sekarang, karena setiap kali PGAS turun maka pasti ada saja cerita negatif tertentuyang bikin orang-orang jadi ragu untuk masuk. Jadi sama saja seperti ketika satu setengah tahun yang lalu BBNI jatuh ke 4,000-an, dimana meski logika sederhananya adalah itu merupakan big opportunity, tapi tidak semua orang cukup berani untuk masuk, karena ketika itu cerita pembatasan NIM masih dibicarakan dimana-mana, bahkan khusus untuk BBNI ini juga muncul cerita tambahan tentang kredit macetnya di Trikomsel Oke (TRIO) senilai Rp1 trilyun! (yang sebenarnya merupakan cerita lama yang sudah basi, tapi ceritanya muncul lagi setelah BBNI ketika itu turun cukup dalam hingga menyentuh panic level-nya).
Tapi yah, berapa BBNI sekarang??
Balik lagi ke PGAS. Dan untuk kali ini, cerita negatif tersebut adalah terkait berita wacana Kementerian ESDM untuk menerbitkan peraturan menteri (Permen) untuk perusahaan-perusahaan distributor gas, yang pada intinya: 1. Margin penjualan gas dibatasi maksimal 7%, 2. Tingkat internal rate return (IRR)dari bisnis pipa gas maksimal 11% per tahun. Sekilas peraturan tersebut, kalau nanti jadi di-sah-kan, akan menyebabkan laba bersih PGAS, yang memang sudah mini sejak tahun 2015 lalu, bakal jadi lebih mini lagi.
Tapi sayangnya belum ada penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dengan ‘margin’ dan ‘IRR’ diatas, serta bagaimana mekanisme pelaksanaannya di lapangan, termasuk belum ada klarifikasi apapun dari manajemen PGAS terkait berita tersebut. However, dalam hal ini ada beberapa hal yang penulis perhatikan. Pertama, cerita soal pembatasan margin diatas, yang kemudian diterjemahkan sebagai ‘harga jual gas akan turun’, itu sebenarnya bukan cerita baru, karena sudah sejak awal tahun 2015 lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa dalam rangka mendorong kemajuan industri dalam negeri, maka harga gas harus turun (waktunya hampir bersamaan dengan ketika beliau mengatakan bahwa harga semen akan diturunkan Rp1,000 per sak. Inget nggak?). Namun sampai hari ini belum ada peraturan baru dari pemerintah yang secara spesifik mengatur harga jual gas.
Kedua, Permen diatas masih sebatas wacana, dimana pengesahannya masih menunggu diskusi lanjutan antara Kementerian ESDM dengan PGAS, Pertagas, hingga INGTA (Indonesia Natural Gas Trader Association). Jadi masih ada kemungkinan bahwa Permen yang nanti diterbitkan, itupun kalau Permen tersebut jadi diterbitkan, maka isinya tidak akan persis sama dengan yang diwacanakan. Ketiga, penulis masih belum ‘ngeh dengan istilah ‘margin’ diatas, namun kalau maksudnya adalah margin laba bersih dari perusahaan distributor gas dibanding nilai pendapatannya, maka khusus untuk PGAS, margin tersebut memang sudah turun menjadi hanya 10% pada tahun 2016, dibanding rata-rata 20% pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi kalaupun margin tersebut harus turun lagi menjadi hanya 7%, maka pengaruhnya tidak akan terlalu terasa, dan laba bersih PGAS tetap bisa naik selama omzet/pendapatannya naik. Pemerintah sendiri, dalam hal ini Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, menyatakan akan mendorong pembangunan infrastruktur pipa gas, dan memang jaringan pipa gas milik PGAS sendiri bertambah 252 km atau 3.6% sepanjang Kuartal I 2017 kemarin, menjadi total 7,278 km, dan PGAS sampai sekarang masih terus membangun jaringan pipa-pipa baru.
Peta rencana pengembangan jaringan distribusi gas milik PGAS hingga tahun 2018. Klik gambar untuk memperbesar

Keempat, diluar berinvestasi pada jaringan pipa gas baru, PGAS sejak beberapa tahun lalu juga sudah berinvestasi ke sektor hulu dengan mengakuisisi kepemilikan di beberapa ladang migas, dan pada tahun 2017 ini hasilnya mulai kelihatan, dimana pada Kuartal I 2017, PGAS membukukan pendapatan US$ 100 juta dari eksplorasi dan produksi migas, dibanding hanya US$ 57 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Nah, kecuali kalau nanti Pemerintah mewacanakan peraturan lainnya lagi, maka margin untuk bisnis produksi migas ini tidak dibatasi, sehingga margin PGAS secara keseluruhan bisa tetap maksimal terutama jika perusahaan mampu mengoptimalkan kinerja di segmen produksi migas ini.
Dan kelima, sekaligus yang paling penting, sebagai salah satu saham big caps di BEI, maka PGAS ini sering sekali muncul di pemberitaan, dimana pada satu hari beritanya bisa bagus, tapi besoknya ceritanya bisa beda lagi. Actually dalam sebulanan terakhir ini saja, maka selain berita wacana Permen diatas, juga muncul setidaknya dua berita lainnya yakni bahwa PGAS akan investasi capex US$ 200 juta, dan bahwa anak usaha PGAS akan mengambil pinjaman senilai US$ 300 juta. Maksud penulis adalah, karena sekarang ini PGAS lagi turun, maka sangat wajar jika berita yang muncul ke permukaan adalah soal Permen tadi. Sekarang anda bayangkan kalau seorang broker saham, ketika ditelpon sama nasabahnya, ‘Mas, kenapa ini PGAS turun?’, kemudian dia menjawab, ‘Soalnya PGAS mau investasi capex US$ 200 juta pak’. Gak nyambung bukan? Penjelasan soal ini bisa dibaca lagi di artikel ini: Dari Mana Asalnya Sentimen Negatif?
Tapi bagaimana kalau nanti PGAS naik lagi? Maka tentu, cerita yang keluar bakal beda lagi, dan mungkin cerita Permen diatas malah menghilang begitu saja.
Jadi kesimpulannya, penulis tetap melihat PGAS, pada harganya sekarang, sebagai opportunity. Berdasarkan catatan penulis sendiri, ini sama sekali bukan kali pertama saham PGAS turun karena cerita negatif tertentu. Pada Januari 2007, PGAS pernah bablas 23% dalam sehari setelah keluar berita bahwa manajemen terlambat dalam mengkomersialkan salah satu pipa transmisinya yang baru selesai dibangun. Pada tahun 2011, PGAS sempat turun berkepanjangan hingga total 50% di bulan September (selain karena memang IHSG di bulan September 2011 tersebut juga sedang drop), setelah perusahaan dikabarkan kesulitan memperoleh pasokan gas dari produsen. Pada November 2013, PGAS turun karena berita tentang open access, dimana PGAS ‘dipaksa’ oleh Pemerintah untuk mengizinkan distributor gas lain untuk menggunakan pipa transmisi milik mereka. Terakhir pada April 2015 lalu, PGAS kembali turun setelah diserang serangkaian sentimen negatif termasuk bahwa perusahaan dipaksa untuk bergabung kedalam holding energi pimpinan Pertamina.
Dan seperti halnya cerita-cerita diatas pada akhirnya menguap dengan sendirinya, maka untuk kali inipun penulis percaya bahwa sentimen negatif diatas juga akan menguap seiring waktu. At the end, yang orang lihat itu adalah kinerja fundamental PGAS, dalam hal ini laporan keuangan terbaru perusahaan. Jadi selama LK PGAS tidak terlalu berubah dibanding Kuartal I kemarin, maka kita akan kembali melihat PGAS berada di posisi harga yang seharusnya (baca lagi contoh ASII, LPCK, dan BBNI diatas).
Hanya saja kalau anda tertarik masuk ke PGAS ini, maka masih ada sedikit catatan lagi. Pertama, PGAS kemarin turun sampai menyentuh 2,120, yang merupakan posisi terendahnya dalam lima tahun terakhir, atau lebih lama lagi. Dan itu artinya, secara teknikal PGAS mungkin masih bisa lanjut turun (karena sudah tembus support) sampai nanti ketemu bottom barunya di berapa, dan barulah setelah itu PGAS bakal naik lagi (masih inget penurunan Waskita Beton (WSBP) kemarin sebelum akhirnya membal lagi? Baca lagi ceritanya disini). Sebenernya kalo secara valuasi, penulis percaya bahwa kalaupun nanti PGAS lanjut turun, maka maksimal penurunannya akan mentok di 1,800 – 2,000, itupun hanya kalau orang-orang sudah desperate sama sekali dengan saham ini, atau keluar lagi sentimen negatif baru.
Dan kedua, PGAS masih belum merilis LK-nya untuk Kuartal II, sehingga menimbulkan keragu-raguan investor tentang fundamental terbaru perusahaan, apakah masih sama seperti Kuartal I kemarin atau malah labanya turun lebih dalem lagi. Jadi mungkin akan lebih aman kalau kita wait and see dulu setidaknya sampai bulan depan (PGAS akan merilis LK-nya paling lambat 31 Agustus), sekalian melihat PGAS turunnya sampai berapa, dan bagaimana perkembangan dari wacana permen diatas. Jadi kalau anda sudah memegang PGAS sejak awal maka boleh hold, tapi jangan dulu average down.
Okay, untuk minggu depan kita akan membahas update analisis untuk sektor batubara.

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham-Saham Konstruksi: Update

Pada Desember 2016 lalu, penulis menyampaikan bahwa salah satu sektor yang mungkin bakal ‘naik panggung’ di tahun 2017 ini adalah sektor konstruksi, ketika itu dengan inti analisa sebagai berikut: 1. Saham-saham konstruksi belum naik banyak sepanjang tahun 2016, sehingga valuasinya relatif masih rendah, 2. Kinerja fundamental serta prospeknya masih bagus seiring dengan realisasi percepatan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, dan 3. Penyebab belum ‘jalannya’ saham-saham konstruksi adalah karena faktor kurang stabilnya kondisi politik nasional menjelang Pilkada DKI Jakarta ketika itu, tapi penulis termasuk yang percaya bahwa isu politik ini nantinya akan mereda dengan sendirinya. Anda bisa baca lagi analisanya disini.

However, sekarang sudah bulan Agustus, tapi bukannya naik panggung, saham-saham konstruksi justru nyungsep lebih dalam lagi, dimana ketika artikel ini ditulis, indeks saham-saham properti dan konstruksi sudah turun 5.0% sejak awal tahun, atau jauh dibawah kenaikan IHSG yang mencapai 9.6%. Sebenarnya penulis sendiri sudah merevisi analisa untuk sektor konstruksi ini sejak April 2017 lalu, yakni ketika Pilkada DKI akhirnya selesai digelar dan ternyata yang menang adalah pasangan calon Gubernur – Wagub dari kubu partai oposisi, dan bukannya partai pendukung pemerintah. Yang itu artinya, ketidak stabilan politik yang sebelumnya penulis harapkan bakal segera mereda, kemungkinan justru akan berkepanjangan. Dan memang sampai hari ini, meski pembangunan infrastruktur di lapangan sejatinya tetap berjalan lancar, namun Presiden Jokowi tampak lebih sibuk ketemu tokoh-tokoh politik tertentu ketimbang gunting pita proyek seperti biasanya. Yang terbaru, persis tanggal 1 Agustus kemarin, Presiden bersama Wakil Presiden dan beberapa pejabat negara bertemu dengan para ulama dalam acara Zikir Kebangsaan di Istana.
Dengan melihat perkembangan politik diatas, maka kalau saja perusahaan-perusahaan konstruksi kemudian melaporkan kinerja yang tidak bagus pada tahun 2017 ini, maka penulis sendiri juga bakal give up sama sekali dengan sektor konstruksi ini, karena sebagai pelaku pasar dan bukannya pengamat politik, saya tidak punya gambaran soal kapan kira-kira isu-isu politik ini akan mereda. Namun kenyataannya pada Kuartal I 2017 lalu, Waskita Karya (WSKT) dkk masih membukukan kenaikan laba yang signifikan, dan bahkan pihak manajemen justru berani menaikkan target perolehan kontrak serta laba bersih mereka untuk tahun 2017 ini. Sementara kalau melihat kenyataannya di lapangan, anda yang di Jakarta mungkin bisa melihatnya sendiri: Pembangunan MRT masih dikebut siang dan malam, dan bahkan simpang susun di Semanggi juga sudah tersambung! Anda yang di daerah juga mungkin bisa sharing tentang perkembangan pembangunan infra di kota anda masing-masing.
Ini di Jepang? Bukan. Ini di Jakarta, tepatnya di site pembangunan stasiun MRT di Bundaran HI. Klik gambar untuk memperbesar

Karena itulah, penulis kemudian tetap memasukkan saham-saham konstruksi ke dalam watchlist, apalagi di Kuartal II barusan, laba bersih emiten-emiten konstruksi masih naik signifikan, mungkin malah paling signifikan dibanding emiten big caps lainnya di BEI. Namun memang sejak April lalu penulis sudah mengatakan bahwa, dengan mempertimbangkan faktor ketidak stabilan politik diatas, maka kita harus menghargai saham-saham konstruksi pada valuasi yang lebih konservatif. Contohnya, Waskita Beton Precast (WSBP), dimana kalau mempertimbangkan kinerja riil perusahaan, prospeknya terkait pembangunan jalan tol dll, likuiditas sahamnya, hingga statusnya sebagai anak usaha dari perusahaan konstruksi terbesar di tanah air (WSKT), maka PBV 1.7 – 1.8 kali pada harga saham 500 – 550 terbilang sudah murah, karena pada tahun 2014 lalu, saham-saham konstruksi bahkan dihargai pada PBV 3 – 4 kali.

However, karena faktor politik diatas, serta fakta bahwa WSBP ini merupakan mainan baru para trader yang secara teknikal belum jelas support resisten-nya di berapa (yang artinya kalau WSBP turun sampe dibawah 500 alias new low, maka secara teknikal dia bisa lanjut turun sampai berapa saja), maka kita harus menghargai WSBP ini pada valuasi yang lebih konservatif. Seberapa konservatif? Well, berdasarkan pengalaman, angka PBV terendah bagi saham konstruksi berfundamental bagus adalah 1.4 kali, itupun dicapai ketika IHSG drop di tahun 2013, dan 2015. Jadi bukan tidak mungkin WSBP ini juga nanti akan turun sampai PBV-nya tinggal segitu, yang itu artinya best buy-nya adalah di kisaran 400 – 420. Anda bisa baca lagi ulasan lengkapnya di Ebook Kuartal I 2017.

Dan berapa posisi terendah yang dicapai WSBP ketika kemarin dia drop? Benar sekali: 416, sebelum kemudian naik lagi ke posisi sekarang (470-an). Dengan demikian analisa untuk saham-saham konstruksi ini sudah bisa di-update lagi, yakni: Bottom-nya sudah ketemu, dan untungnya kinerja fundamental para emitennya juga masih bagus seperti sebelumnya. Jadi kecuali nanti IHSG drop, kondisi politik memburuk, atau terjadi force majeure, maka no way WSBP dkk bakal turun lagi hingga ke posisi yang lebih rendah dibanding posisi terendahnya, beberapa minggu lalu. Dan bagi para bargain hunter seperti penulis, inilah momentum yang kita tunggu-tunggu. Faktor lainnya yang juga perlu diperhatikan, jika anda merupakan fund manager besar dengan dana kelolaan trilyunan Rupiah, dimana pilihan investasi yang anda miliki terbatas hanya pada saham-saham big caps, maka anda sekarang ini tidak punya banyak pilihan lain kecuali saham-saham konstruksi. Sebab kalau anda baru masuk di saham-saham big caps yang sudah naik banyak sejak tahun lalu, seperti Astra International (ASII), Bank BCA (BBCA), hingga Telkom (TLKM), maka anda mau mengharapkan mereka naik sampai berapa lagi?
Tapi kalau kita ambil Wijaya Karya (WIKA), misalnya, maka harganya sekarang cuma 2,000, atau jauh lebih rendah dibanding all time high-nya yakni 3,100, dan harga tersebut bahkan lebih rendah dari harga right issue-nya beberapa waktu lalu! Yakni Rp2,180 per saham.
Tapi kemudian bagaimana dengan outlook dari perusahaan-perusahaan konstruksi itu sendiri? Apakah laba mereka bisa naik 50 – 100% di tahun 2017 ini dan 2018 nanti, misalnya? Well, kalau berdasarkan materi public expose WSBP, 26 Juli kemarin, disitu disebutkan bahwa perolehan kontrak hingga Semester I 2017 saja, itu sudah melebihi nilai kontrak yang dikerjakan perusahaan di sepanjang tahun 2016, padahal nilai kontrak di tahun 2016 itu sendiri naik tiga kali lipat dibanding tahun 2015! Beberapa project besar yang mulai digarap WSBP sejak tahun 2017 ini (atau sejak 2016 kemarin) adalah Tol Jakarta – Cikampek Elevated, Tol Legundi – Bunder, Tol Cimanggis – Cibitung, Tol Semarang – Batang, dan yang paling baru, Tol Bogor – Sukabumi. Sementara proyek yang sudah mulai dikerjakan sejak beberapa tahun sebelumnya seperti Tol Becakayu, dan LRT Palembang, sebentar lagi bakal tuntas 100% (yang artinya perusahaan akan segera menerima pembayaran). Secara operasional, WSBP tidak memiliki kendala apapun untuk segera menyelesaikan proyek-proyeknya secara tepat waktu. Malah jika Pemerintah bisa merealisasikan kelanjutan proyek Jalan Tol Trans Sumatera sepanjang total 2,800 KM mulai tahun 2018 nanti (dari 2,800 km tersebut, yang sudah digarap baru 500 KM, yakni Tol Bakauheni – Betung), maka WSBP dkk bakal dapet tambahan proyek lagi.
Jadi dari sisi outlook, everything seems good. Kalau ada yang mengganjal adalah rencana salah satu emiten, dalam hal ini WSBP, untuk mem-buy back sahamnya hingga senilai maksimal Rp1 trilyun, dalam rangka mengembalikan harga sahamnya di market ke level yang ‘mencerminkan fundamental perusahaan’. Karena kalau menurut penulis sendiri, WSBP akan memerlukan dana tersebut untuk membiaya proyek-proyeknya. Lagian waktu tahun lalu perusahaan menggelar IPO dan meraup tambahan modal senilai Rp5.2 trilyun, maka duitnya memang buat ekspansi bukan? Jadi kenapa sebagian dari uang tersebut malah dikembalikan lagi ke investor melalui buyback saham? Namun demikian, selama perusahaan mampu menjaga momentum pertumbuhan usahanya dan mengkomunikasikan hal tersebut ke para investor, maka penulis percaya bahwa manajemen tidak akan sampai mengeluarkan dana sebesar itu untuk buyback, mungkin realisasinya cuma Rp100 – 200 milyar saja, sehingga sisanya masih banyak untuk ekspansi. Disisi lain, meski kebijakan buy back ini tentu saja tidak menjamin bahwa WSBP akan naik dalam waktu dekat, namun minimal itu akan menjaga agar sahamnya tidak drop lagi seperti beberapa minggu lalu.
Dan kalau kita menemukan saham yang risikonya sudah terbatas seperti saham-saham konstruksi ini, maka artinya satu pekerjaan rumah kita sebagai value investor sudah selesai, dan anda boleh pergi mancing atau main catur lagi seperti biasa. Untuk analisa saham-saham konstruksi secara individual akan penulis sampaikan di Ebook Kuartal II 2017 (terbit 7 Agustus), meski mungkin perlu dicatat bahwa kita tidak akan membahas semuanya (akan dipilih dua atau tiga saham konstruksi yang dianggap paling menarik).

Untuk analisis minggu depan, kita akan membahas salah satu dari AISA, atau PGAS.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Agustus 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Buku Kumpulan Analisa Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 juga sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Klarifikasi: Rivan Kurniawan, Final

Melanjutkan klarifikasi kemarin (kalo belum tau ceritanya, boleh baca lagi disini), berikut adalah email permohonan maaf yang ditulis Pak Rivan secara langsung kepada penulis:
Dear Pak Teguh Hidayat

Pertama-tama izinkan saya sekali lagi menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian pagi ini terkait investing plan. Saya mengakui saya salah dalam menyikapi informasi yang Pak Teguh sampaikan ke member Bapak, yang saya share juga ke member saya.
Secara personal, saya seorang investor yang pernah jatuh di pasar modal pada tahun 2012, dan sempat trauma mendalam selama 1 tahun. Sampai akhirnya saya menemukan blog Pak Teguh pada tahun 2013 dan dari situ saya mulai bangkit kembali. Saya banyak belajar mengenai Value Investing Pak Teguh dan dari situ saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Value Investing dari banyak sumber.
Saya dulunya meremehkan pentingnya fundamental dan hanya berdasarkan analisa teknikal saja, sehingga saya jatuh di pasar modal. Dari situ lah ketika saya berhasil bangkit, saya memiliki passion supaya bisa membantu banyak orang agar tidak perlu jatuh seperti yang saya alami.
Per 2016, saya memutuskan untuk resign dan ingin sharing dengan banyak orang mengenai pentingnya berinvestasi. Namun saya juga memiliki passion untuk mengingatkan ke banyak orang mengenai pentingnya analisa fundamental dalam berinvestasi di saham. That’s why saya terjun ke bidang ini.
Jujur beberapa kali saya ingin bertemu dengan Pak Teguh supaya bisa saling mengenal satu sama lain, namun entah kenapa saya belum berani untuk ngobrol dengan Pak Teguh. Sempat saya memberanikan diri untuk email ke Pak Teguh sewaktu awal 2017 dan menghubungi Ms Nury untuk membuat appointment bertemu dengan Pak Teguh, namun kesempatan itu belum datang.
Betul saya menjadi pembicara dalam seminar, membuat hasil riset, membuat artikel, memang itu semua untuk active income saya menghidupi keluarga. Namun di balik semua itu, saya memiliki passion untuk berbagi kepada khalayak luas mengenai pentingnya berinvestasi, dan terutama sharing my knowledge dan experience mengenai Value Investing itu sendiri.
However, I learned a lot from this experience, dan saya benar-benar minta maaf kepada Pak Teguh atas hal ini.. Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara damai apabila Pak Teguh berkenan dan saya juga berjanji agar kesalahan ini tidak terulang kembali.
Kemudian untuk tuntutan permintaan maaf secara terbuka, Pak Rivan juga sudah memenuhinya, bisa anda baca di link berikut ini (gak saya share lagi disini karena kepanjangan, sorry).
Nah, dengan demikian Pak Rivan sudah memenuhi kewajibannya, jadi sekarang giliran penulis untuk memberikan klarifikasi final, sebagai berikut:
***
Jika Pak Rivan Kurniawan copy paste tulisan-tulisan dari blog teguhhidayat.com tanpa sepengetahuan dan seizin saya, maka itu tidak masalah. Ada banyak istilah seperti ‘nilai intrinsik’, ‘margin of safety’, ‘undervalue’, dll yg merupakan istilah umum/bukan milik Teguh Hidayat, dan istilah-istilah itu boleh digunakan oleh siapa saja tanpa perlu izin apapun. Saya sendiri kalo mau bikin kelas value investing maka gak pernah minta izin terlebih dahulu dari Warren Buffett ataupun Ben Graham, sebagai penulis buku tentang value investing (lagian gimana caranya?).
Yang jadi masalah adalah, Pak Rivan copy paste secara kalimat per kalimat, bahkan kata per kata dari beberapa istilah dan tulisan spesifik yang ditulis oleh Teguh Hidayat tanpa menyebut sumbernya, seolah-olah itu merupakan tulisan Pak Rivan sendiri, yang ditulis berdasarkan ide, knowledge, expertise dan pengalaman investasi pak Rivan sendiri. Padahal penulis sendiri kalau saya mengutip tulisan milik orang lain, maka saya selalu menyebut sumbernya, dan sama sekali tidak pernah mengklaim bahwa tulisan itu adalah ide saya sendiri.
Dan ini merupakan etika dasar dalam dunia tulis menulis, dimana ada perbedaan besar antara mengutip dan menjiplak.
Tapi kalau hanya itu saja, maka saya juga tidak akan mempermasalahkannya. Malah faktanya ada cukup banyak penulis, analis saham, blogger, hingga wartawan pasar modal yang dengan mudahnya menjiplak tulisan dari teguhhidayat.com, untuk kemudian ditampilkan di blog atau website mereka, seolah-olah itu merupakan tulisan mereka sendiri. Jadi dalam hal ini, Pak Rivan tidak sendirian (meski disisi lain, ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran. Hanya karena seorang pengendara motor menerobos lampu merah di persimpangan jalan, bukan berarti anda boleh melakukan hal yang sama).
Namun ketika Pak Rivan menyalin analisa berbayar yang penulis kirim ke member buletin bulanan, untuk kemudian di-share ke membernya sendiri, maka pada titik inilah saya kira telah terjadi sesuatu yang diluar batas. Kepada para member buletin bulanan, penulis sudah kasih warning bahwa mereka tidak boleh menyebar luaskan analisa dan informasi update market yang mereka terima, tapi apa yang Pak Rivan lakukan lebih dari itu: Beliau mengambil analisa tersebut bulat-bulat, mengemas ulang sehingga seolah-olah analisa tersebut dibuat oleh beliau sendiri, lalu menjualnya untuk memperoleh keuntungan komersial! Yakni dari para member layanan analisa berbayarnya tersebut.
Dan pakai logika akal sehat manapun, tindakan diatas tidak bisa dibenarkan. Dalam hal ini yang dirugikan bukanlah penulis, melainkan para member yang menerima analisa hasil copy paste tersebut. Karena para member ini sudah membayar untuk memperoleh analisa yang berkualitas, namun yang mereka peroleh, setidaknya sebagian diantaranya, ternyata hasil jiplakan.
Jadi ketika penulis membuat klarifikasi seperti ini, maka seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, saya tidak menuntut ganti rugi apapun. Malah justru penulis memberikan kesempatan kepada Pak Rivan untuk memperbaiki kesalahannya. Karena, coba pikir: Jika Pak Rivan terus melakukan tindakannya diatas, maka cepat atau lambat para member-nya akan menyadarinya, dan bukan tidak mungkin justru mereka-lah yang akan menuntut Pak Rivan suatu hari nanti. Tapi dengan adanya klarifikasi ini, yang kemudian memaksa Pak Rivan untuk memperbaiki apa yang sudah ia lakukan, maka dengan sendirinya kemungkinan terburuk diatas tidak akan terjadi.
***
Anyway, Pak Rivan sudah meminta maaf, dan juga sudah berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, jadi dengan ini penulis anggap masalahnya sudah clear. Penulis sebelumnya juga minta maaf kepada teman-teman atas polemik yang mungkin timbul karena kejadian ini, karena terus terang saya juga tidak menginginkannya. Sebagai investor itu sendiri, penulis tidak menginginkan apapun kecuali bisa bersantai dan pergi berlibur sepanjang tahun, dan gak mau banyak pikiran apalagi sampai harus berurusan dengan orang lain. Negara ini sudah diurus Presiden, dan tiap-tiap perusahaan di BEI juga sudah dikelola direkturnya masing-masing, jadi kenapa mesti repot.
Dan kepada Pak Rivan, saya terima permintaan maafnya, dan apapun yang anda lakukan kedepannya akan saya dukung selama tidak merugikan orang lain, siapapun itu. Barusan penulis cek lagi arsip-arsip lama, dan saya baru tahu kalo Pak Rivan juga pernah hadir di salah satu kelas seminar yang penulis buat. Dan bagi penulis sendiri, jika ada seseorang yang bersedia menerobos kemacetan Jakarta untuk kemudian meluangkan waktunya seharian hanya untuk mendengar celoteh bla bla bla dari penulis tentang value investing, maka artinya orang tersebut sudah berdedikasi untuk menjadi seorang value investor itu sendiri, dimana dengan sedikit kerja keras dan tabungan pengalaman, hasilnya akan luar biasa dalam jangka panjang. So may God bless you and us all, and thank you.
Merci,
Teguh

Untuk artikel minggu depan kita akan bahas WSBP, maaf nunggu lama.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Agustus 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk [...]

Klarifikasi: Rivan Kurniawan

Sejak masih sangat belia, penulis percaya bahwa jika kita hendak sukses di suatu bidang, apapun bidang tersebut, maka pertama-tama kita harus menjadi orang yang baik, orang yang jujur, yang berbagi kebaikan dengan orang lain, yang bersedia memberikan tempat duduk di bus atau kereta untuk ibu hamil atau orang lain yang lebih membutuhkan. Dan kalaupun kita tidak bisa melakukan itu, maka paling tidak jangan berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, apalagi mengambil/memanfaatkan sesuatu yang merupakan milik/hak orang lain.

Karena itulah, ketika penulis menterjemahkan Annual Letter Berkshire Hathaway yang ditulis langsung oleh Warren Buffett (WB) buat saya baca sendiri, tapi penulis lalu berpikir bahwa hasil terjemahan ini seharusnya juga akan sangat berguna bagi investor lain, maka saya kemudian meng-share hasil terjemahan tersebut secara gratis kepada siapapun yang tertarik untuk membacanya, dan sama sekali tidak mengambil keuntungan bahkan meski pada hasil terjemahan tersebut penulis juga menambahkan beberapa tulisan milik penulis sendiri (selengkapnya baca disini). Actually, penulis bisa saja menjual hasil terjemahan tersebut, let say Rp100,000 per copy (sehingga jika ada 1,000 orang yang membelinya saja, hasilnya sudah Rp100 juta bersih), atau bahkan mengklaim bahwa itu hasil tulisan milik penulis sendiri dan bukannya hasil terjemahan annual letter-nya WB, tapi saya tidak melakukannya. Karena jika penulis melakukan itu maka artinya saya memanfaatkan karya tulis milik orang lain untuk kepentingan pribadi, termasuk juga tidak menghormati WB sebagai pemilik asli dari annual letter tersebut,padahal WB melalui tulisan-tulisannya sudah sangat berjasa terhadap karier penulis di stock market selama ini.
However, di dunia yang tidak sempurna ini, untuk sekedar menghormati karya orang lain saja, tidak semua orang mampu melakukannya.
Jadi ceritanya pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB, penulis seperti biasa mengirim email informasi update pasar ke temen-temen member buletin bulanan. Tak sampai satu jam kemudian, penulis memperoleh forward-an email yang isinya persis sama dengan email info yang penulis kirim sebelumnya, namun kata-katanya diubah sedikit sehingga seolah-olah email itu bukan dibuat oleh penulis, melainkan oleh orang lain.
Dan penulis email hasil jiplakan tersebut bernama Rivan Kurniawan, dimana ia adalah seorang analis saham dan blogger sama seperti halnya penulis, dengan alamat blog www.rivankurniawan.com. Dan seperti halnya penulis, Pak Rivan ini juga membuat produk analisa bulanan berbayar untuk para membernya, tapi rupanya ‘analisa’ yang dibuat oleh Pak Rivan itu, yang kemudian di-share ke para membernya, sebagian diantaranya merupakan hasil copy paste analisa saham milik penulis.
Penulis kemudian langsung minta klarifikasi ke yang bersangkutan, berharap memperoleh penjelasan yang masuk akal (emailnya rivan.investing@gmail.com). Dan Pak Rivan awalnya membalas sebagai berikut:
Halo Pak Teguh,
Mohon maaf sebelumnya, tadi memang saya kebetulan dapat info mengenai INDY seperti itu.. tapi saya tidak tahu kalau ternyata itu sumber nya dari Pak Teguh. Kebetulan INDY memang menjadi salah satu pegangan terbesar saya dan banyak member juga yang menanyakan, oleh karena itu saya broadcast ke member saya begitu saya dapat info tersebut.
Penulis kemudian mengecek blog www.rivankurniawan.comdan.. saya belum pernah sekaget ini sejak terakhir menyaksikan Zidane menanduk Materazzi di live Final Piala Dunia 2006. Yup, tulisan-tulisan di blog tersebut banyak sekali yang copy pasteartikel milik penulis, bahkan judul blognya pun sama: Value Investing Indonesia! Seorang teman kemudian menginfokan:
Pak Teguh, saya buka link nya Rivan Kurniawan, banyak yang ngejiplak punya bapak. Yang tulisan dia privat coaching juga sama persis dengan modul yang saya dapat pas seminar bapak waktu itu di hotel thamrin city, sama persis pak tulisannya. Padahal itu udah setahun yang lalu.
Ebook quarter outlook punya si rivan juga kalimat kalimatnya kira kira sama dengan ebook kuartalan dari bapak.
Jadi Pak Rivan ini ternyata sudah copy paste info, tulisan dan analisa milik penulis berkali-kali dan entah sejak kapan, tapi beliau tidak tahukalau info-info itu berasal dari Teguh Hidayat? Are you kidding me???
However, mungkin karena disemprot oleh orang-orang yang mengetahui hal ini, tak lama kemudian Pak Rivan kirim email lagi, kali ini mengakui kesalahannya dan minta maaf. Namun untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada temen-temen investor, maka berikut adalah beberapa hal yang bisa penulis klarifikasi:
Rivan Kurniawan (www.rivankurniawan.com) tidak ada hubungan apapun dengan Teguh Hidayat. Jika tulisan-tulisan di blognya mirip dengan tulisan di teguhhidayat.com, demikian pula jika tulisan di analisa berbayar yang ia tawarkan mirip dengan buletin bulanan dan ebook kuartalan milik penulis, maka bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan melakukan copy paste, sekali lagi, untuk kepentingan komersialnya. Demikian pula jika Pak Rivan menggelar seminar berbayar dengan materi yang mirip dengan materi kelas value investing milik penulis (hanya diubah-ubah sedikit), maka itu juga copy paste.
Namun karena yang bersangkutan sudah minta maaf, maka penulis juga sudah memaafkan dan tidak akan menempuh jalur hukum ataupun menuntut ganti rugi kepada Pak Rivan karena pelanggaran undang-undang HAKI ini, dengan catatan bahwa yang bersangkutan:
  1. Mengakui kesalahan, dan membuat pernyataan permintaan maaf secara tulus & terbuka di blognya, instagram, dan facebook, bukan ditujukan kepada penulis melainkan kepada masyarakat investor saham secara umum, terutama mereka yang pernah ikut analisa berbayar dan seminarnya Pak Rivan.
  2. Menghapus tulisan-tulisan di blognya yang merupakan hasil copy paste, sehingga hanya tersisa tulisan asli karya Pak Rivan sendiri. Kalau misalnya ada artikel yang setengah copy paste, dan setengah tulisan sendiri, maka tulis ulang artikelnya dengan menghapus bagian yang merupakan hasil copy paste tersebut. Saya lihat di blognya sebenarnya lebih banyak tulisan yang asli milik Pak Rivan sendiri ketimbang hasil copy paste, jadi seharusnya ini tidak sulit untuk dilakukan.
  3. Demikian pula untuk materi seminar, analisa berbayar dll, jika ada diantaranya yang merupakan hasil jiplakan maka ganti dengan materi yang lain, yang asli buatan Pak Rivan sendiri.
  4. Selanjutnya, kami tidak mau peristiwa ini terulang lagi. Jika dalam dua minggu kedepan masih ditemukan tulisan, analisa, atau materi seminar di blog www.rivankurniawan.comyang mirip-mirip dengan milik penulis, maka kita siap untuk melakukan somasi kedua, hingga lapor ke kepolisian (yang terakhir saya harap tidak sampai terjadi, but it depends on you).
Catatan: Pak Rivan, atau siapapun, tidak bisa mengklaim bahwa tulisan anda mirip dengan tulisan milik penulis hanya karena kebetulan, atau karena anda juga seorang value investor sama seperti halnya penulis. Karena faktanya Warren Buffett juga seorang value investor, tapi coba anda baca-baca lagi annual letter-nya, dimana tulisannya sangat berbeda dengan tulisan milik penulis, dan berbeda pula dengan tulisan dari value investor yang lain.

Terakhir, penulis juga minta maaf kepada Pak Rivan dan juga teman-teman pembaca blog ini. Tujuan penulis membuat klarifikasi ini bukanlah untuk menyalahkan atau memojokkan Pak Rivan atau siapapun, melainkan justru memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk berubah, untuk menjadi seorang investor sekaligus pribadi yang lebih baik, dan menjadi bagian dari keluarga besar pasar modal Indonesia yang lebih baik. Tidak ada seorangpun yang bisa sukses dengan cara-cara yang tidak baik, jadi better gak enak diawal namun itu memaksa kita untuk berubah, daripada membiarkan hal ini berlarut-larut hingga menimbulkan masalah yang lebih besar. Kepada Pak Rivan, dengan catatan anda mampu untuk berubah dan melakukan poin-poin diatas, maka saya pribadi percaya bahwa anda bisa berkontribusi lebih besar untuk pasar modal di tanah air, dan juga bisa menjadi seorang investor besar, suatu hari nanti.


Okay, I think that’s enough. And btw, mohon maaf sebelumnya, untuk minggu ini seharusnya penulis kasih analisa tentang AISA, properti, konstruksi, ataupun update analisa batubara (banyak banget yang request), tapi karena kejadian ini maka saya jadi gak mood buat nulis. Jadi minggu depan aja yap. Untuk Ebook Kuartal II 2017 dan Buletin Agustus 2017 tetap akan terbit sesuai jadwal mereka [...]

Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA)

Sepanjang akhir pekan kemarin gak ada pemberitaan yang lebih heboh di bursa selain cerita tentang Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), dimana perusahaan dituding telah menjual beras  yang dioplos dengan beras bersubsidi pada harga premium, sehingga dianggap merugikan masyarakat banyak, dan itu langsung berdampak negatif bagi sahamnya: Jumat kemarin AISA ditutup auto reject di level 1,205, dan pada Senin pagi ini, ketika artikel ini ditulis, dia sudah turun lagi ke level 900-an. Pertanyaannya tentu, ini peluang apa bukan??

Namun hingga pagi ini, penulis masih mengerjakan analis lengkapnya untuk AISA ini, tentunya dari sudut pandang value investing. Jadi untuk sekarang anda mungkin bisa menyampaikan analisa/pendapat anda sendiri, dalam hal ini dengan menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana analisa anda terkait kasus AISA? Dan apakah anda akan buy sahamnya?
Anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah. Sebagai bahan tambahan analisa, boleh baca lagi dua artikel lama di blog ini tentang AISA disini, dan disini.
Pernyataan resmi dari corporate secretary AISA (sejauh ini) terkait kasusnya.
Beberapa catatan penting sejauh ini:
  1. Terkait penggerebekan pabrik berasnya, jumat kemarin, beritanya memang masih simpang siur, dimana suara-suara yang menyalahkan AISA terbilang sama kencangnya dengan yang membelanya, termasuk banyak juga yang mengkaitkan masalah ini dengan politik. However, kualitas manajemen AISA sendiri sejak awal tidak terlalu baik terutama jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan consumer goods lain, dan itu bisa dilihat dari laporan keuangannya yang sering terlambat, kegagalan investasi di Golden Plantation (GOLL) yang berujung pada fluktuasi sahamnya yang ekstrim, sekitar dua tahun lalu, hingga jarang bagi dividen. Kinerja riil AISA, baik itu secara historis maupun terbaru, juga tidak sebagus katakanlah ICBP, KLBF, atau ROTI, padahal produknya merupakan bahan makanan pokok masyarakat.
  2. Disisi lain Pemerintah juga baru saja menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras, baik itu beras biasa maupun beras premium, pada level Rp9,000 per kg, atau jauh dibawah harga jual beras milik PT Indo Beras Unggul, anak usaha AISA, yang mencapai Rp20,000 per kg. Dengan kata lain kalaupun AISA pada akhirnya dinyatakan tidak bersalah atas kasusnya, tapi jika peraturan Pemerintah diatas tidak diperbaharui, maka perusahaan kedepannya tetap akan rugi besar.
  3. Kalo dari sisi valuasi sahamnya, maka PBV AISA yang kurang dari 1 kali (cuma 0.7 kali pada harga 900-an) tentu saja terbilang atraktif untuk saham yang, terlepas dari kasusnya diatas, merupakan salah satu saham consumer paling populer di bursa. Jadi dalam jangka panjang, tentunya dengan asumsi perusahaan mampu melewati kasusnya ini dengan baik, termasuk mampu menemukan solusi terkait penetapan HET diatas, maka bisa jadi ini merupakan big opportunity.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustusmendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Ebook Analisis Kuartal II 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal II 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, 7 Agustus 2017. Anda bisa memesannya dengan cara preorder disini (tersedia diskon bagi pelanggan jangka panjang).
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya), klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa klik disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/WA 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL paling gokil
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – Jakarta
TESTIMONIAL paling jujur
Terima kasih pak Teguh untuk sarannya. Maaf, saya belajar pak, fundamental dan tehnik analisis walau masih sekulit. Untuk trading model tehnik analisis kayanya ga cocok sama sekali, ga ada waktu nongkrongin computer terus2an. Jadi saya lebih baik mempelajari saham2 pilihan pak Teguh saja. Dan dari pertengahan bulan kemarin, hasilnya sangat baik.

Terima kasih pak Teguh.
Cynthia Santoso – [...]

Cara Average Down & Average Up

Melanjutkan artikel minggu kemarin berjudul ‘Kenapa Saham Murah Masih Turun?’ (ini link-nya, kalau belum baca sebaiknya baca dulu), ada satu pertanyaan bagus: ‘Seperti yang sudah dijelaskan di artikelnya, ketika kita membeli saham bagus pada harga murah, maka bukan berarti saham tersebut akan langsung naik, melainkan bisa saja naiknya lama kemudian, atau malah justru turun dulu. Pertanyaannya, kalau dia turun dan saya hendak average down, maka bagaimana strateginya? Sebaliknya kalau sahamnya langsung naik tak lama setelah saya membelinya, padahal saya baru beli sedikit, maka bagaimana strateginya kalau saya mau average up?

Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, pertama-tama kita sepakati dulu, apa itu yang dimaksud dengan average down. Average down adalah jika kita membeli lagi saham yang sama pada harga yang lebih rendah. Misalnya kita beli saham A pada harga 1,000 sebanyak 100 lot. Kemudian alih-alih naik, saham A justru turun 10% ke 900. Tapi setelah kita pelajari/analisa sahamnya sekali lagi, kesimpulannya adalah tidak ada peristiwa penting/perubahan fundamental apapun terkait perusahaan, sehingga kita beli lagi saham A pada harga 900 tersebut, juga sebanyak 100 lot. Jadi sekarang kita memegang 200 lot saham A pada harga rata-rata 950. Karena harga rata-ratanya jadi lebih rendah dibanding sebelumnya (tadinya 1,000, kemudian menjadi 950), maka keputusan untuk membeli lagi saham A pada harga 900, itu disebut averaging down.
Sementara average up adalah sebaliknya: Kita beli saham A pada harga 1,000 sebanyak 100 lot, dan saham A kemudian naik ke katakanlah 1,100, dimana setelah kita analisa sekali lagi, kesimpulannya adalah bahwa saham A masih bisa naik lebih tinggi lagi. Karena itulah kita kemudian beli lagi saham A pada harga 1,100, juga sebanyak 100 lot, sehingga kita sekarang harga rata-ratanya naik menjadi 1,050. Jadi keputusan untuk membeli lagi saham A pada harga 1,100, itu disebut averaging up.
Banyak orang salah kaprah soal average down. Contohnya, ada yang mengatakan bahwa kalau ada saham bagus harganya turun (sehingga kalau kita sudah memegangnya, maka posisinya jadi nyangkut), maka gak apa-apa beli lagi aja. Padahal sebanyak apapun dana cash yang kita miliki, tapi kalau kita terus menerus membeli saham yang sama, maka dana tersebut akan habis juga, dan kita akan terjebak pada situasi dimana sebagian besar portofolio ditempatkan hanya pada satu saham (udah gitu posisinya nyangkut), sehingga kita gak punya dana lagi untuk membeli saham lain. Selain itu, bisa jadi pula satu saham yang dibeli lagi secara terus menerus tadi ternyata tidak juga naik setelah sekian lama, atau malah lanjut turun terus, hingga si investor akan sampai pada satu titik dimana mau cut loss pun sudah nggak bisa, karena nilai kerugiannya sudah kelewat besar (dan kalau seorang investor sudah sampai pada titik ini, artinya game over sudah).
Investor’s worst nightmare: Udah average down berkali-kali, tapi tetep aja sahamnya turun terus
Demikian pula dengan average up. Banyak orang yang ketika melihat sahamnya naik, maka dia langsung beli lagi, dan beli lagi, karena berharap kenaikannya akan berlanjut. Problemnya adalah, saham sebagus dan semurah apapun tentu saja tidak akan naik terus setiap hari, melainkan pasti ada turunnya, dimana kalau kita membeli saham tersebut secara asal-asalan sehingga average-nya menjadi kelewat tinggi, maka posisi anda bisa saja malah jadi rugi/nyangkut bahkan meski sahamnya baru turun sedikit/belum sampai balik lagi ke harga awal ketika kita membelinya pertama kali. Contohnya? Well, masih ingat ketika Indika Energy (INDY) tiba-tiba saja naik banyak hingga tembus 1,200-an, beberapa bulan lalu?
Strategi Average Down/Up
Okay, jadi bagaimana strateginya kalau kita mau beli lagi/tambah posisi di saham yang sama, entah itu average down, di harga yang sama, atau average up? Okay, kita langsung ambil contoh riil-nya saja yap. Tapi sebelum itu terdapat setidaknya tiga peraturan yang harus senantiasa anda ingat dan anda terapkan. Pertama, setelah anda memutuskan saham apa yang akan dibeli, misalnya saham A, maka tentukan berapa maksimal dana yang akan anda alokasikan untuk saham A tersebut. Seperti yang sudah penulis jelaskan di salah satu artikel di blog ini, idealnya kita menempatkan 10 – 15% dari total nilai portofolio pada satu saham tertentu, atau maksimal 20%. Jadi jika nilai porto anda adalah Rp100 juta, maka anda harus putuskan, maksimalnya berapa dari jumlah tersebut yang akan anda pakai untuk membeli saham A, apakah Rp10 juta, 15 juta, atau Rp20 juta. Ini untuk mencegah kita menempatkan terlalu banyak dana hanya pada satu saham.
Kedua, karena kita tidak bisa secara persis memprediksi bahwa sebuah saham bisa turun sampai berapa, maka sangat penting untuk membeli saham yang sudah kita pilih secara bertahap alias menyicil. Kalau penulis sendiri, biasanya saya membagi dana yang sudah dialokasikan menjadi dua atau tiga bagian. Misalnya kita mau beli saham A senilai maksimal Rp10 juta, maka kita bisa beli sebanyak Rp3 juta dulu, atau Rp5 juta. Jadi kalau sahamnya turun lagi, maka kita masih punya ‘amunisi’ buat average down. Sangat jarang, kalau tidak mau dikatakan tidak pernah, saya membeli satu saham secara sekaligus dalam jumlah besar, tak peduli seyakin apapun penulis terhadap prospek saham tersebut. Dan ketiga, setiap kali kita hendak membeli lagi saham A, maka lakukan analisa ulang, misalnya dengan melihat lagi chartnya lalu dikaitkan dengan pergerakan IHSG, baca-baca info dan berita terbaru terkait perusahaan (jika ada, karena seringkali suatu saham turun sendiri meski tidak ada berita/sentimen negatif apapun), termasuk cek lagi analisa saham A sejak awal, dimana kalau saham A turun terlalu dalam dari harga belinya maka bisa jadi sejak awal kita salah memilih saham, atau pilihan sahamnya sudah benar tapi salah di harga belinya. Intinya jangan langsung average down hanya karena sahamnya sudah turun 5%, 10%, melainkan selalu lakukan cek ulang sebelum kita beli lagi saham A tadi.
Nah, sekarang kita ke contoh riil-nya. Misalnya setelah mengerjakan analisa yang hati-hati, pada Juli 2016 lalu anda menyimpulkan bahwa Medco Energi Internasional (MEDC) itu layak invest, dimana best buy-nya adalah 1,500 (ketika itu MEDC masih 1,700), dan kita menyiapkan dana sebesar katakanlah Rp15 juta. Analisis MEDC coba baca dulu disini. Sebulan kemudian, yakni pada Agustus 2016, MEDC ternyata beneran turun sampai 1,500, dan ketika itulah kita masuk secara menyicil, katakanlah sebanyak Rp5 juta dulu.
Kemudian MEDC lanjut turun sampai 1,400, dan pada titik inilah kita cek lagi: Apakah MEDC ini secara fundamental dll masih oke seperti analisa sebelumnya? Jika ternyata ada peristiwa penting tertentu, misalnya akuisisi MEDC terhadap Newmont batal, maka jangan average down, melainkan justru harus segera cut loss. Namun karena ketika itu gak ada peristiwa apapun, maka kita kemudian beli lagi MEDC di harga 1,400, juga sebanyak Rp5 juta.
Tapi ternyata MEDC kembali lanjut turun sampai 1,300, atau sudah turun 13% dari 1,500. Nah, berdasarkan pengalaman, meski memang kita tidak bisa memprediksi sebuah saham persisnya bisa turun sampai harga berapa, tapi dengan catatan kita bisa mem-valuasi dengan akurat bahwa bahwa saham A itu murahnya di harga sekian, maka kalaupun dia kemudian turun lebih lanjut dari harga yang kita anggap sudah murah tadi, tapi penurunannya tidak akan terlalu dalam/maksimalnya sekitar 20% (namun berbeda ketika kita menentukan bahwa saham A mahalnya di harga sekian, dimana berdasarkan pengalaman, kadang-kadang saham A justru naik hingga jauh diatas harga yang kita anggap mahal tersebut).
Jadi jika saham yang kita beli turun hingga 20% atau lebih dibanding harga belinya, padahal IHSG-nya masih baik-baik saja, maka terdapat tiga kemungkinan: 1. Gak ada apa-apa, memang sahamnya lagi sepi/belum dapet giliran untuk naik aja, 2. Terdapat perubahan fundamental, force majeure atau semacamnya, 3. Sejak awal kita belinya di harga yang salah/mahal. Nah, jika kemungkinan pertama yang terjadi, maka sahamnya hold saja, tapi jika kita sudah menggunakan maksimal dana yang dialokasikan maka jangan average down lagi. Tapi jika kemungkinan kedua dan ketiga yang terjadi, maka harus siap-siap cut loss (tapi kerugiannya tidak akan terlalu besar karena kita baru memegang MEDC dalam jumlah sedikit).
Namun untungnya pada kasus MEDC, tidak ada perubahan fundamental apapun. Dan memang meski sahamnya sempat turun terus, tapi penurunannya akhirnya mentok di 1,230 (minus 18% dari 1,500, jadi gak sampai tembus batas 20% tadi), sebelum akhirnya naik lagi. So let say kita sudah beli MEDC sebanyak tiga kali pada harga 1,500, 1,400, dan 1,300, maka average-nya jadi 1,400. Sehingga ketika MEDC kemudian balik lagi ke 1,500 saja, posisinya udah cuan. Dan ketika akhirnya MEDC mulai melaju kencang pada awal tahun 2017, maka keuntungan yang anda peroleh jadi lebih besar dari sebelumnya, karena rata-rata harga belinya bukan lagi di 1,500, melainkan lebih rendah di 1,400.
Itu kalau average down. Kalau average up bagaimana? Okay, misalnya kita beli MEDC, juga sebanyak Rp5 juta pada harga 1,500, tapi belinya pada awal tahun 2017 dimana sahamnya langsung naik ke katakanlah 1,600, dimana setelah anda cek lagi (entah itu anda mau average down/up, jangan lupa untuk cek ulang dulu!), MEDC memang masih on track untuk naik lebih lanjut, selain karena harga 1,600 tadi masih belum bisa disebut mahal. Maka anda boleh beli lagi/average up pada harga 1,600 tersebut, dan anda boleh beli lagi hingga MEDC naik maksimal 20% dari harga ketika anda membelinya untuk pertama kali (dari 1,500 tadi).
Dengan kata lain, kalau MEDC sudah naik sampai diatas 1,800, padahal anda baru membelinya dua kali masing-masing senilai Rp5 juta (jadi totalnya Rp10 juta), sedangkan anda menyiapkan dana Rp15 juta untuk membeli MEDC, maka kecuali dalam beberapa waktu berikutnya MEDC turun lagi sampai dibawah 1,800 tadi, sisa dana yang Rp5 juta tadi sebaiknya dipakai buat beli saham lain saja. Ini adalah untuk mencegah kita melakukan average up pada harga yang terlalu tinggi, yang bisa berakibat pada kerugian/nyangkut kalau MEDC sewaktu-waktu kemudian turun lagi. Lalu kenapa 20%? Karena berdasarkan pengalaman, kalau sebuah saham naiknya sudah diatas 20% maka akan rawan profit taking, overbought, atau apapun itu namanya, yang bisa menyebabkan saham tersebut untuk turun lagi bahkan meski valuasinya masih murah. Actually, beberapa saham kadang-kadang bisa naik hingga puluhan atau bahkan lebih dari seratus persen dalam waktu singkat, sebelum kemudian baru turun lagi, jadi batas 20% tadi mungkin tidaklah relevan. Tapi intinya kalau anda melihat/menganggap bahwa saham yang anda beli naiknya terlalu tinggi dan dalam waktu yang terlalu singkat, maka kalaupun anda mau hold saja (istilahnya let the profit run), maka jangan juga tambah posisi/average up, karena itu, sekali lagi, bisa membuat posisi anda berbalik dari cuan besar menjadi rugi besar.

(Hanya memang, kalau anda membeli saham tertentu untuk tujuan investasi jangka panjang hingga 3 – 5 tahun atau lebih lama lagi, dimana anda secara rutin membeli lagi/tambah posisi di saham tersebut setiap beberapa waktu sekali (misalnya karena anda menyetor dana lagi ke sekuritas), maka tidak apa-apa jika harga belinya jauh diatas harga ketika anda membeli saham tersebut pertama kali, selama valuasinya, berdasarkan kinerja fundamental terbaru perusahaan, masih murah. Penjelasannya baca lagi disini).

Dengan demikian, entah itu saham anda naik atau turun setelah anda membelinya, maka sekarang anda tahu apa yang harus dilakukan. Yang juga perlu dicatat, dalam value investing, target harga/harga yang dianggap mahal untuk suatu saham biasanya jauh diatas harga belinya, katakanlah dengan kenaikan 50%, 75%, 100%, atau lebih tinggi lagi (misalnya MEDC tadi, best buy-nya 1,500, best sell-nya sekitar 2,500, berarti potensi upside-nya 60 – 70%), meski juga jangan harap sahamnya bakal naik setinggi itu dalam 2 – 3 hari (sabar!). Jadi, meski memang seorang value investor selalu berusaha untuk membeli saham bagus pada harga serendah mungkin, sehingga kita lebih suka average down ketimbang up, tapi kita sewaktu-waktu boleh average up juga, selama saham yang kita beli masih belum naik banyak/masih jauh dari perkiraan harga mahalnya.
Okay, ada pertanyaan? Buat temen-temen yang udah baca blog ini sejak tahun 2010, 2011, dan 2012, tolong bantu jawab yap :) Untuk minggu depan, kecuali kalau ada topik lain yang lebih menarik, kita akan membahas analisa salah satu saham properti.

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memesannya dengan cara preorder disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kenapa Saham Murah Kok Masih Turun??

Pada sesi kelas value investing di Jakarta, 8 Juli kemarin, salah seorang peserta bertanya, ‘Pak Teguh, kalo dari rumus cara menghitung valuasi saham yang diberikan, maka kelihatan bahwa saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) terbilang sudah mahal pada harga 4,000-an. Tapi kenapa kok sahamnya masih naik terus dalam beberapa bulan terakhir ini?’

Nah, sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita lihat lagi apa kata suhu Warren Buffett terkai hal ini. Pada banyak annual letter-nya di tahun 1960-an, Buffett berkali-kali menyampaikan kalimat berikut:
‘Saya tidak pernah berusaha untuk memprediksi arah pergerakan harga saham, ataupun arah pasar saham secara keseluruhan, entah itu dalam seminggu kedepan, sebulan kedepan, atau bahkan setahun kedepan. Fokus kami adalah pada pertanyaan apakah saham yang kami pegang akan naik atau tidak, tapi bukan pada pertanyaan kapan saham tersebut akan naik. Dalam kasus investasi dimana kami menjadi pemegang saham pengendali perusahaan, maka kami fokus pada pertanyaan apakah perusahaan akan menghasilkan laba bersih sebesar sekian Dollar atau tidak, tapi bukan pada pertanyaan kapan laba tersebut akan dihasilkan’.
‘Sebagai contoh, kami saat ini memiliki sebuah perusahaan Dept. Store, dimana setelah kalau berdasarkan kinerja historisnya, saya bisa secara yakin mengatakan bahwa Dept. Store tersebut kemungkinan akan menghasilkan keuntungan yang lebih baik pada bulan Desember dibanding Juli. Namun jangankan memastikan bahwa keuntungan di bulan Desember akan lebih baik dibanding Juli, saya bahkan tidak bisa menjamin bahwa kami tidak akan menderita kerugian di bulan Desember, karena faktanya kerugian itu pernah juga terjadi.’
‘Tapi dengan catatan kami tidak melakukan kesalahan analisa, dan juga tidak terjadi force majeure, maka meski terkadang memerlukan waktu cukup lama, namun Dept. Store tersebut pada akhirnya tetap akan menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan’.
Penulis sendiri terus terang butuh waktu beberapa tahun untuk bisa benar-benar mengerti pernyataan Buffett diatas, tapi pada akhirnya saya memahaminya: Hanya karena sebuah saham sudah mahal maka bukan berarti dia akan berhenti naik/segera turun, tapi pada akhirnya nanti dia akan turun juga. Sebaliknya, ketika sebuah saham berundamental bagus harganya sudah murah, maka bukan berarti dia akan berhenti turun/segera naik. Tapi selama tidak terjadi perubahan fundamental, maka pada akhirnya nanti dia akan naik juga. Dalam value investing, kita bisa memperkirakan bahwa sebuah saham yang mahal cepat atau lambat akan turun, sementara saham yang murah cepat atau lambat akan naik, tapi kita tidak bisa menentukan kapan saham itu akan naik/turun (meski normalnya gak akan terlalu lama/gak akan lebih dari 1 tahun). Termasuk kita juga gak bisa memperkirakan secara persis bahwa sebuah saham naiknya bisa sampaiberapa, atau sebaliknya turunnya sampai berapa. Yang bisa kita lakukan, sekali lagi, hanyalah menentukan bahwa sebuah saham berfundamental bagus terbilang murah pada harga sekian, dan terbilang mahal pada harga sekian.
Sebagai contoh, pada Juli 2016 lalu, penulis menemukan peluang di Medco Energi Internasional (MEDC), terkait kesuksesan perusahaan yang mengakuisisi Newmont Nusa Tenggara (NNT). Anda bisa baca lagi analisisnya disini, ketika itu MEDC berada di harga 1,700-an, dimana setelah penulis analisa lebih lanjut (analisanya dimasukkan ke Ebook Kuartal III 2016), disimpulkan bahwa best buy MEDC adalah di 1,500 atau dibawahnya, sementara target harganya adalah sekitar 2,500.
Dan memang MEDC kemudian turun dulu dari 1,700-an tersebut, tapi ternyata turunnya gak berhenti di 1,500, melainkan bablas sampe mentok 1,200-an, sehingga wajar jika kemudian muncul komplain: Kalau MEDC di harga 1,500 sudah murah, kenapa kok MEDC masih turun sampe dibawah itu? (apalagi MEDC kemudian seperti gak mau naik dari 1,200-an tersebut)
Tapi meski sempat lama nggak naik-naik, tapi pada akhirnya MEDC naik juga, tepatnya pada awal tahun 2017, dan ternyata naiknya gak berhenti sampai 2,500, melainkan maju terus pantang mundur sampe tembus 3,700. Sehingga lagi-lagi muncul pertanyaan: Kalau MEDC di harga diatas 2,500 sudah mahal, lalu kenapa dia masih terus naik?
Pergerakan saham MEDC dalam setahun terakhir. Perhatikan bahwa kalau ada investor yang beli MEDC di bulan Agustus 2016 pada harga 1,500, maka dia harus nunggu sampe setengah tahun kemudian, dimana MEDC baru naik hingga diatas 1,500 lagi pada Februari 2017.

But still, karena MEDC memang sudah mahal kalo diatas 2,500, maka pada akhirnya dia turun lagi, dan sekarang dia sudah di 2,400 lagi.
Nah, jadi pada contoh MEDC diatas, kita bisa lihat bahwa dengan menggunakan value investing, kita bisa menjawab setidaknya dua pertanyaan: 1. MEDC murahnya di harga berapa? 2. MEDC mahalnya di harga berapa? Dimana jawabannya adalah, kalau berdasarkan analisa penulis ketika itu: 1. 1,500, 2. 2,500. However, terdapat tiga pertanyaan lainnya yang ketika itu tidak bisa kita jawab: 1. MEDC turunnya sampe berapa? 2. Kalo nanti dia naik, maka naiknya/target harganya sampe berapa? Dan 3. Kapan dia naik?
Maksud penulis adalah, yeap, semua investor termasuk penulis sendiri juga maunya beli saham persis pada harga terendahnya, lalu jual persis pada harga tertingginya, dan kita beli saham tersebut persis sesaat sebelum dia naik! Jadi biar keuntungannya maksimal, dan nunggunya juga gak pake lama kaya di Solaria, gitu!
Tapi ya jujur sajalah: Gimana caranya biar bisa begitu??? Memang kadang-kadang pernah juga kita beli saham yang besok atau lusanya langsung lepas landas. Misalnya Harum Energy (HRUM), dimana penulis beli saham batubara ini pada harga 1,050 pada awal Oktober 2016 (baca lagi analisanya disini). Dan masih di bulan Oktober tersebut, HRUM tanpa basa basi langsung terbang hingga tembus 2,700 pada bulan November, atau naik hingga lebih dari dua kali lipat hanya dalam dua bulan! Tapi penulis sendiri sejak awal tidak berharap bahwa HRUM akan naik setinggi itu dan dalam waktu secepat itu, dimana itu kemudian penulis anggap sebagai keberuntungan saja. Pada banyak contoh saham-saham lain yang kita beli, seringkali kita harus menunggu itu saham ngetem dulu selama berbulan-bulan, termasuk harus ‘menahan nafas’ karena itu saham ditampilkan dalam warna merah di software trading (baca: nyangkut).
Tapi dengan sedikit kesabaran, maka pada akhirnya mayoritas keputusan investasi yang kita lakukan, meski tentu tidak semuanya, akan menghasilkan buah yang manis. Pada contoh MEDC dan HRUM tadi, meski kedua saham memerlukan jangka waktu yang berbeda untuk naik, tapi dua-duanya sama-sama menghasilkan profit yang extraordinary.
Hanya memang, kalau saham yang anda pegang tidak juga naik setelah beberapa waktu, maka seperti yang disampaikan Warren Buffett diatas, coba cek lagi: Apakah fundamentalnya memang bagus? Dan apakah benar harganya murah? Contohnya, seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel ini, pada tahun 2014 lalu kita pernah rugi besar dari Salim Ivomas Pratama (SIMP) karena keliru menganggap dia murah pada harga 900, dimana penulis kemudian cut loss di 700. Intinya kalau kita beli saham kemudian setelah ditunggu cukup lama dia tidak bergerak sesuai harapan (‘cukup lama’ disini katakanlah 3 – 6 bulan), maka jangan diam saja melainkan segera lakukan evaluasi/analisa ulang, karena bisa jadi sejak awal analisisnya keliru, atau terjadi peristiwa penting tertentu yang mengubah fundamental atau prospek perusahaan dalam jangka panjang. Tapi kalo gak ada apa-apa maka hold aja, karena dalam banyak kasus, bisa jadi saham anda tersebut cuma belum dapat gilirannya saja buat ‘naik panggung’.

Okay, that’s enough, jika ada pertanyaan maka boleh posting melalui kolom komentar dibawah, nanti akan dijawab oleh temen-temen pembaca yang lain (soalnya banyak juga kok pembaca blog ini yang sudah expert).

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal II 2017 (‘Ebook Kuartalan’) akan terbit hari Senin, 7 Agustus mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham-Saham Properti

IHSG menutup hari perdagangan pertama setelah libur panjang lebaran dengan naik 1.4% pada Senin 3 Juli kemarin ke posisi 5,910, sehingga dengan demikian IHSG sudah naik 11.6% sejak awal tahun 2017, atau cukup signifikan (dan ini sesuai dengan analisa kita di awal tahun, anda bisa baca lagi artikelnya disini). Namun seperti juga di tahun-tahun sebelumnya, selalu ada saja saham-saham di sektor tertentu yang seperti ketinggalan kereta (baca: naiknya nggak setinggi kenaikan IHSG), atau bahkan malah turun.

Dan untuk tahun 2017 ini, atau setidaknya sampai penutupan perdagangan Senin kemarin, sektor tersebut adalah properti, real estat, dan konstruksi, dimana indeks sektor ini (anda bisa melihatnya di www.finance.yahoo.com, simbolnya ^JKPROP) sudah turun 4.0% sejak awal tahun, paling rendah dibanding indeks sektoral lainnya di BEI. Yang menarik adalah, jika periode waktunya diperpanjang hingga satu tahun kebelakang, maka IHSG sudah naik 16.6%, sementara indeks properti & konstruksi justru drop 9.0%, atau dengan kata lain gap-nya semakin lebar. Pertanyaannya, ada apa dengan sektor ini? Dan apakah ini peluang terutama untuk saham-saham properti, mengingat sekarang ini ada banyak diantara mereka yang PBV-nya sudah kurang dari 1 kali, alias sudah mirip dengan valuasi saham-saham batubara sebelum mereka mulai naik banyak, satu setengah tahun lalu?
Kompleks Modernpak, salah satu perumahan yang masih dalam tahap pengembangan di pinggir Kota Jakarta, tepatnya di Cakung, Jakarta Timur.

Jika kita melihat laporan keuangan emiten-emiten properti di Kuartal I 2017 dimana laba mereka rata-rata memang turun, maka wajar jika saham Alam Sutera Realty (ASRI) dkk belakangan ini kurang peminat, tapi sebenarnya bisnis properti itu sendiri sudah lesu sejak lama. Yup, setelah mengalami puncak booming-nya pada tahun 2012 – 2013 lalu, memasuki 2014 industri properti mulai lesu terutama setelah Bank Indonesia menerapkan beberapa regulasi seperti menaikkan DP rumah (istilahnya LTV/loan to value), ketika itu dengan tujuan agar tidak terjadi property bubble seperti yang terjadi di Amerika beberapa tahun sebelumnya (yang berujung pada subprime mortgage crisis di tahun 2008), tapi disisi lain itu praktis menurunkan pendapatan para developer. Kalau anda masih ingat, dulu orang bisa beli ruko kecil di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, pada harga Rp2 milyar, lalu menjualnya di harga Rp6 milyar, atau naik tiga kali lipat, tidak sampai setahun kemudian. Alhasil ada banyak orang yang membeli unit properti bukan untuk dihuni tapi untuk langsung dijual lagi, dengan harapan meraup untung besar dalam waktu singkat, dan biasanya belinya pake duit bank alias utang (misalnya beli unit apartemen yang belum jadi, dimana harganya biasanya bakal langsung melonjak ketika unitnya sudah siap huni, beberapa bulan kemudian).
Tapi ketika bank memberlakukan peraturan LTV, maka para spekulan ini segera kehilangan mainan mereka, dan para developer pun gak bisa lagi menggoreng harga unit-unit propertinya untuk meraup profit maksimal seperti sebelumnya. Sebenarnya kalau dilihat dari kacamata konsumen pembeli properti itu sendiri, maka kondisi ini bagus karena mereka bisa membeli rumah dll pada harga yang wajar, tapi tetap saja hal ini menyebabkan laba Bumi Serpong Damai (BSDE) dkk turun. Indikasi lesunya industri properti juga tampak dari stagnan-nya konsumsi semen nasional dalam beberapa tahun terakhir, dimana meski pembangunan infrastruktur di tanah air sekarang ini sedang dikebut, namun kenaikan permintaan semen dari sektor infra tetap tidak mampu mengimbangi penurunan permintaan semen dari sektor properti (sebab sekitar 77% permintaan semen berasal dari sektor housing alias properti, dan sisanya baru infrastruktur).
Namun seperti halnya sektor batubara, yang meski sempat sedemikian terpuruknya hingga ada banyak perusahaan di sektor ini yang menghentikan kegiatan operasionalnya atau bahkan bangkrut sama sekali pada tahun 2015 lalu, tapi pada akhirnya sektor ini bangkit lagi, maka penulis percaya bahwa sektor properti cepat atau lambat juga bakal ramai lagi. Dan meski kita belum tahu kapan itu akan terjadi, tapi kalau ada yang bilang bahwa tahun 2017 ini merupakan titik terendah industri properti, maka mungkin itu ada benarnya, mengingat beberapa hal.
Valuasi Saham-saham Properti: Sudah cukup rendah
Pertama, seperti yang sudah disebut diatas, sekarang ini valuasi saham-saham properti sudah banyak yang rendah, setidaknya dari sisi PBV, dimana ada beberapa saham properti yang PBV-nya tinggal 0.7, 0.6 atau bahkan hanya 0.5 kali. Jika dibandingkan dengan valuasi dari saham-saham batubara pada titik terendah mereka di awal tahun 2016 lalu, dimana ketika itu ada beberapa saham yang hanya dihargai pada PBV 0.2 kali atau lebih rendah lagi, maka valuasi saham properti diatas mungkin tampak belum cukup rendah. Selain itu, berbeda dengan awal tahun 2016 lalu dimana seluruh saham-saham batubara termasuk yang big caps seperti sepakat untuk ‘tiarap’ semuanya (termasuk Bukit Asam/PTBA sempat jeblok sampe dibawah 5,000), maka sekarang ini masih ada beberapa saham properti, misalnya Pakuwon Djati (PWON) atau Summarecon Agung (SMRA), yang PBV-nya relatif masih tinggi (dua koma sekian kali).
Namun ingat pula bahwa kinerja fundamental para emiten properti sekarang ini, meski memang laba bersih mereka rata-rata pada turun semua, tapi tidak sampai merugi seperti beberapa perusahaan batubara di tahun 2015 – 2016 lalu. Dan berbeda dengan perusahaan-perusahaan batubara dimana ada banyak dari mereka yang sampai berhenti berproduksi atau bahkan bangkrut sama sekali ketika harga batubara patokan Newcastle mencapai titik terendahnya di level US$ 52 per ton, maka hingga saat ini para developer masih tetap bisa membangun dan menjual rumah, apartemen dll seperti biasanya (meski dengan omzet dan margin laba yang tidak lagi setinggi sebelumnya), dan belum kedengeran ada perusahaan properti yang bangkrut. Dengan kata lain, kalau kita mengharapkan untuk bisa membeli saham-saham properti pada harga yang sama rendahnya dengan saham-saham batubara di awal tahun 2016 lalu, maka industri properti itu sendiri harus terpuruk lebih dalam lagi hingga mencapai titik dimana orang-orang putus asa sama sekali dengan prospek sektor ini. Yup, penulis masih ingat, persis dua tahun lalu (Juli 2015, anda bisa baca artikelnya disini) orang-orang sudah sedemikian putus asa-nya hingga mereka mengatakan bahwa industri batubara sudah tamat! Karena batubara bakal digantikan oleh shale gas dll, yang lebih ramah lingkungan. Tapi untuk saat ini, penulis belum mendengar ada orang yang bilang bahwa industri properti bakal tamat karena akan digantikan rumah kayu yang lebih ramah lingkungan, atau semacamnya.
Hanya memang itu kemudian menimbulkan pertanyaan: Apakah itu artinya sektor properti masih bisa turun lebih rendah lagi, mengingat sektor ini masih belum sampai pada titik despair-nya? Sementara kalo kita lihat contoh sektor batubara, sektor ini baru pulih lagi setelah melewati fase despair-nya tersebut?
Tapi penulis bisa jawab,nggak. Normalnya sektor properti gak akan sampai terpuruk seperti batubara dua tahun lalu, karena setidaknya dua alasan. Pertama, ketika booming batubara mencapai puncaknya pada tahun 2011, ada banyak perusahaan-perusahaan batubara yang memanfaatkan momentum booming tersebut dengan mengambil utang untuk ekspansi lebih luas lagi, dimana hasilnya bisa ditebak: Ketika kemudian harga batubara mulai turun dan pendapatan mereka turun, maka laba bersihnya langsung anjlok hingga minus/rugi karena tingginya beban bunga utang, dan beberapa perusahaan bahkan sampai bangkrut karena gagal membayar utangnya tersebut/default. Dan ketika ada banyak perusahaan batubara yang rugi atau bangkrut, maka tentu saja harga sahamnya terpuruk gila-gilaan.
Tapi untungnya di sektor properti tidak sampai terjadi kondisi yang sama, dimana hanya sedikit perusahaan di sektor ini yang utangnya lebih besar dari ekuitasnya, thanks to Bank Indonesia yang pada tahun 2013 lalu mengeluarkan kebijakan yang, penulis lupa persisnya seperti apa kebijakan tersebut, tapi intinya adalah melarang perusahaan-perusahaan properti untuk mengambil utang dalam jumlah besar, terutama jika utang tersebut dalam mata uang Dollar, mengingat perusahaan properti memperoleh 100% pendapatannya dalam mata uang Rupiah (jadi beda dengan perusahaan batubara yang memperoleh pendapatannya dalam Dollar, karena mereka lebih banyak ekspor). Alhasil ketika industri properti mulai melambat sejak tahun 2014 sampai sekarang, maka meski laba emiten-emiten properti memang rata-rata turun, tapi hanya sedikit yang merugi, dan tidak ada yang sampai bangkrut (‘tidak ada yang bangkrut’ disini maksudnya adalah di kelompok perusahaan Tbk. Kalau untuk developer-developer kecil sih, memang banyak juga yang kolaps).
Dan kedua, mengingat sejak tahun 2016 kemarin BI kembali melonggarkan peraturan LTV, termasuk menurunkan BI Rate dalam rangka mendorong kembali penyaluran kredit perbankan termasuk kredit KPR, maka meski tentunya akan diperlukan waktu hingga kebijakan tersebut pada akhirnya berdampak positif, tapi setidaknya itu akan mencegah industri properti itu turun lebih dalam hingga ke fase ‘putus asa’ seperti batubara di tahun 2015 lalu, karena disisi lain meski kondisi ekonomi sekarang ini belum sebagus tahun 2011 lalu, tapi juga jauh dari kata krisis. Jadi, yap, secara valuasi saham-saham properti pada saat ini sudah cukup rendah, dimana kecuali terjadi force majeure tertentu atau IHSG itu sendiri turun, maka normalnya mereka gak akan turun lebih rendah lagi (kecuali mungkin beberapa saham properti yang PBV-nya masih cukup tinggi).
2018 – 2019: Booming properti?
Itu pertama, terkait valuasi saham-saham properti. Yang kedua, kalau kita balik lagi ke tahun 2012 – 2013 dulu, maka coba anda ingat-ingat lagi: Sebenarnya pa sih yang menyebabkan harga ruko kecil ketika itu bisa melonjak hingga dua atau bahkan tiga kali lipat hanya dalam waktu gak nyampe setahun?? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, tapi penulis akan menjawabnya dari sudut pandang pelaku pasar: Pada tahun 2011, Indonesia mengalami puncak pertumbuhan ekonomi berkat booming komoditas sejak hampir satu dekade sebelumnya (harga batubara ini mulai naik sejak 2003), yang kemudian menimbulkan banyak ‘orang kaya baru’ alias kelompok middle class, yakni kelompok masyarakat yang memiliki uang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, bahkan meski gaya hidup mereka terbilang mewah. Kelompok middle class ini kemudian mulai tertarik untuk menggunakan ‘uang lebih’ mereka untuk investasi. Dan instrumen investasi apa yang sejak dulu dikenal palng mudah, paling aman, dan ‘harganya gak bisa turun’? Benar sekali: Properti!Entah itu tanah kavling, rumah, apartemen, kos-kosan, hingga condotel. Beberapa orang mungkin juga menginvestasikan uang mereka di logam mulia alias emas, tapi properti tetap lebih diminati karena ‘lebih aman’, mengingat harga emas ternyata juga bisa fluktuatif.
Karena itulah, permintaan akan properti kemudian meningkat, kali ini bukan lagi untuk dihuni tapi untuk investasi, dan permintaan tersebut terus meningkat hingga pada satu titik dimana orang-orang yang kelebihan duit inibersedia membeli unit-unit properti pada harga berapapun yang ditawarkan, karena mereka terlanjur percaya pada mitos bahwa ‘harga rumah gak bisa turun!’ (dan memang kalimat keramat ini pula yang berkali-kali diucapkan oleh Feni Rose dkk). Inilah yang kemudian menyebabkan harga-harga properti mulai naik gila-gilaan, dan kenaikan tersebut semakin gila lagi ketika para spekulan, yakni mereka yang membeli properti bukan untuk investasi melainkan untuk segera dijual lagi pada harga tinggi,ikut masuk/ikut membeli unit properti yang ditawarkan developer, dan alhasil sebuah unit properti harganya bisa naik berkali-kali, jauh sebelum unit properti tersebut siap huni. Puncaknya adalah pada tahun 2013 lalu, dimana beberapa developer bahkan sampai berani menjanjikan keuntungan ‘investasi properti’ hingga ratusan persen hanya dalam hitungan bulan! Anda bisa baca lagi ceritanya disini.
Namun seperti yang kita ketahui, selanjutnya sektor properti ini justru melambat sampai sekarang. Nah, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Bagaimana caranya agar industri properti rame lagi? Ya pertama-tama, perekonomian Indonesia secara umum harus tumbuh terlebih dahulu, daya beli masyarakat harus menguat, hingga muncul lagi sekelompk orang-orang yang ‘kelebihan duit’, kemudian barulah mereka akan ramai membeli properti. Dan bagaimana caranya agar ekonomi nasional tumbuh pesat lagi? Ya kita harus lihat lagi, apa sih tulang punggung perekonomian Indonesia kalau bukan komoditas? Yup, jadi kalau dibuat siklus-nya, pertama-tama harga batubara, CPO, dll naik dulu, ekonomi kemudian tumbuh, dan barulah setelah itu industri properti rame lagi. Faktanya, industri properti mencapai masa jayanya pada tahun 2012 – 2013, atau setahun setelah booming komoditas mencapai puncaknya pada tahun 2011.
Kabar baiknya, seperti yang kita ketahui setahunan ini harga komoditas, atau paling tidak batubara, mulai pulih kembali (meski memang harganya gak sampai setinggi tahun 2011 dulu), dimana jika kondisi ini terus tertahan, ditambah dengan terus berlangsungnya pembangunan infrastruktur, maka penulis optimis bahwa di tahun 2018 – 2019 mendatang, barulah dampak positifnya terhadap ekonomi makro akan benar-benar terasa, dan ketika itulah saham-saham properti akan dapet gilirannya untuk ‘naik panggung’ lagi.
Hanya memang, kalau kita balik lagi ke kinerja fundamental perusahaan, maka faktanya adalah hingga Kuartal I 2017 kemarin, mayoritas emiten properti masih belum men-deliverkinerja yang memuaskan, dan juga belum ada faktor fundamental tertentu yang mungkin bisa membuat kinerja mereka jadi bagus dalam waktu dekat (selain dilonggarkannya peraturan LTV, masih diperlukan beberapa faktor positif lainnya lagi). Jadi kalo penulis sendiri untuk saat ini lebih suka memasukkan saham-saham properti ke dalam watchlistsaja dulu, untuk nanti masuk kalau timing-nya sudah tepat, just like what we all did with coal sector, a year ago.
Tapi jika anda sendiri sudah pegang watchlist tersebut, maka boleh share: Kalau ada dua atau tiga saham properti yang menurut anda bagus, maka apa saja saham tersebut? Dan bagaimana analisanya?
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Juli 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Beli Saham Tidak Likuid: Jualnya Gimana?

Pada sesi kelas value investing di Surabaya, 10 Juni kemarin, salah seorang peserta bertanya, ‘Pak Teguh, kalau dari contoh-contoh saham yang dipilih menggunakan metode value investing yang ditunjukkan, beberapa diantaranya merupakan saham kecil yang tidak likuid. Pertanyaannya, kalau kita beli saham tidak likuid tersebut, nanti jualnya gimana? Khawatirnya meskipun sahamnya kemudian memang naik tinggi, tapi tetep aja gak ada yang pasang bid sehingga gak bisa dijual, dan alhasil keuntungan yang diperoleh nggak bisa direalisasikan.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, biar penulis kasih analogi sederhana: Ketika anda bepergian jauh keluar kota, misalnya waktu mudik kemarin, dan anda hendak makan siang di salah satu rumah makan yang anda temui di tepi jalan, maka rumah makan yang mana yang anda pilih? Yang kelihatannya ramai (tempat parkirnya penuh), atau yang kelihatannya sepi? Sudah tentu anda akan memilih rumah makan yang ramai bukan? Karena asumsinya adalah, kalau ada banyak orang yang makan disitu, maka pasti disitu makanannya enak! Penulis sendiri kalau lagi jalan-jalan selalu menggunakan ‘metode’ ini ketika nyari tempat makan, dan hasilnya memang tidak mengecewakan.
Dan karena hampir semua orang menggunakan metode diatas ketika memilih tempat makan, maka alhasil restoran yang ramai akan semakin ramai, sementara restoran yang sepi akan tetap sepi terus. Namun demikian restoran yang sepi bisa saja lambat laun menjadi ramai juga, yakni jika beberapa orang yang makan disitu kemudian menemukan bahwa ternyata makanannya enak, dan mereka kemudian kasih tau ke orang-orang. Sekitar dua atau tiga tahun lalu, penulis bersama keluarga pernah mampir ke sebuah rumah makan yang kelihatannya baru dibuka di Jalan Raya Cirebon – Kuningan, dan penulis terpaksa berhenti di rumah makan tersebut meski kelihatannya disitu sepi, karena si kecil sudah merengek lapar (actually, si kecil cuma nangis saja, ibunya yang menterjemahkan). Kami kemudian memesan menu ala sunda termasuk sayur asem, dan ternyata itu adalah sayur asem terenak yang pernah penulis cicipi. Dan sekarang, tiap kali penulis lewat situ, itu parkirannya meluber sampe sejauh 100-an meter dari rumah makannya sendiri.
Nah, di pasar saham juga sama begitu: Mayoritas investor atau trader saham hanya tertarik pada saham yang ramai ‘dikunjungi’ alias ramai diperdagangkan/volume transaksinya besar, atau dengan kata lain sahamnya likuid, karena asumsinya jika ada saham yang banyak dibeli orang, maka kemungkinan itu saham memang bagus. Inilah yang menyebabkan saham yang likuid akan semakin likuid, sementara saham yang tidak likuid kemungkinan akan tetap saja tidak likuid.
Namun demikian sebuah saham yang sepi bisa saja menjadi ramai jika ada sejumlah orang yang membelinya sehingga volume transaksinya menjadi besar, yang menyebabkan orang-orang lain akan ikut masuk sehingga volumenya menjadi lebih besar lagi. Jika saham tersebut kemudian naik hingga ke level harga tertentu, maka likuiditas sahamnya dari sisi nilai transaksi juga akan naik seiring dengan kenaikan harga sahamnya, dan itu akan membuat sahamnya semakin ramai lagi. Contohnya saham A, harganya 200, dan volume transaksinya hanya sekitar 5 – 10 juta lembar per hari, atau dengan kata lain nilai transaksinya hanya Rp1 – 2 milyar per hari, sehingga tergolong saham tidak likuid (nilai transaksi = harga saham x volume).
Tapi beberapa waktu kemudian saham A ini tiba-tiba saja banyak yang beli, hingga volumenya melonjak jadi 100 juta lembar, sehingga nilai transaksinya (pada harga 200) menjadi Rp20 milyar per hari, dan pada titik inilah beberapa orang lainnya mungkin akan ikut masuk, karena nilai transaksi Rp20 milyar tersebut terbilang cukup likuid. Ketika kemudian saham A naik hingga ke 300, maka meski volumenya tetap 100 juta lembar saham per hari, tapi nilai transaksinya sekarang menjadi Rp30 milyar, atau satu setengah kali lebih besar meski volumenya sama, dan itu menyebabkan lebih banyak lagi orang yang ikut masuk, sehingga volumenya akan ikut meningkat, misalnya menjadi 150 juta lembar saham per hari, sehingga nilai transaksinya jadi lebih besar lagi! Dalam analisis teknikal sendiri, yang merupakan tool paling umum yang digunakan para trader, biasanya juga jelas disebutkan bahwa kalau sebuah saham naik ke level harga tertentu pada volumetertentu, maka barulah dia layak buy(jadi kalau sahamnya naik banyak tapi nggak ada volume, atau sebaliknya volumenya besar tapi harganya nggak naik, maka belum tentu dia layak buy). Faktor penggunaan analisis teknikal ini pula yang menyebabkan semakin tinggi harga suatu saham, semakin banyak pula trader yang membelinya, dan alhasil sahamnya akan semakin likuid.
Value Investor: Selalu Curi Start di Harga Bawah!
Pertanyaannya, apa yang membuat sejumlah kecil investor berani membeli sebuah saham di awal meski kelihatannya saham tersebut masih sepi peminat/tidak likuid? Jawabannya ya karena mereka sudah mengerjakan analisa yang mendalam hingga akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa saham tersebut fundamental bagus, prospeknya cerah, dan valuasinya murah! Kalau dibuat kronologisnya kira-kira begini: Investor yang mengerjakan screening dan analisa fundamental menemukan saham bagus, katakanlah saham A, dan dia mulai membelinya. Tapi karena karena saham A ini tidak likuid, maka biasanya si investor hanya akan membelinya sedikit-sedikit/secara bertahap, dan alhasil saham A tetap tampak tidak likuid/nilai transaksinya tetap kecil.
Beberapa waktu kemudian, investor lainnya (yang juga mengerjakan analisa fundamental) juga menemukan saham A tersebut dan ikut membelinya. Hingga akhirnya terjadi satu waktu dimana ada banyak investor yang secara bersamaan hajar kanan di saham A hingga harganya naik signifikan, misalnya 5% dalam satu hari, dengan volume yang juga besar (jadi meski tiap-tiap investor membeli saham A secara sedikit-sedikit, tapi kalo ada banyak investor yang membeli saham A secara bersamaan, maka tentu volumenya akan jadi besar juga). Jika saham A ini sebelumnya sudah menjadi incaran banyak orang (karena memang fundamentalnya bagus, dan valuasinya juga masih murah) tapi mereka masih ragu untuk masuk karena sahamnya gak likuid, maka ketika saham A mulai ‘gerak’ inilah, mereka akan ikut masuk sehingga volumenya semakin besar lagi. Dan akhirnya, setelah saham A benar-benar naik signifikan, katakanlah naik 20% hanya dalam 1 – 2 minggu, atau harganya naik hingga ke level psikologis tertentu (misalnya harganya sebelumnya 350, lalu naik sampe tembus 500), maka para trader yang gak melihat faktor fundamental akan ikut masuk, entah itu pake analisis teknikal atau hanya karena penasaran saja, termasuk para broker dan analis sekuritas juga akan mulai ramai merekomendasikan saham A.
Dan akhirnya saham A, yang sebelumnya sepi, tidak likuid, dan juga tidak pernah dibicarakan di grup-grup atau direkomendasikan oleh para analis, tiba-tiba saja menjadi ramai dan likuid, sekali lagi, justru setelah dia berada di harga atas. Contoh riil dari kasus ini adalah saham KMI Wire & Cable (KBLI). Ketika penulis pertama kali menemukan saham perusahaan kabel ini pada Oktober 2016 lalu di harga 290-an (ini analisisnya), rata-rata nilai transaksi KBLI kurang Rp10 milyar per hari (harga 270 – 300 dikali volume 20 – 30 juta lembar), dan penulis sendiri harus membeli secara bertahap selama beberapa waktu hingga barulah akhirnya kita memegang KBLI dalam jumlah yang lumayan. Namun ketika dia akhirnya naik ke 400, 500, dan seterusnya, maka barulah nilai transaksinya melonjak hingga sempat menembus Rp50 milyar per hari, dan barulah ketika itu analis ramai-ramai merekomendasikan KBLI. Jadi ketika akhirnya penulis memutuskan untuk keluar dari KBLI ini, maka kita bisa langsung jualan sekaligus dalam satu klik sell saja.
 
Chart KBLI dalam setahun terakhir, klik gambar untuk memperbesar. Perhatikan bahwa ketika KBLI  masih sideways di harga 200-an, volumenya cenderung sepi. Tapi ketika dia mulai naik ke 300, 400, dan seterusnya, volumenya (tanda kotak) menjadi ramai.
Nah, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, kalau beli saham gak likuid, nanti jualnya gimana? Maka jawabannya, anda gak perlu khawatir, karena asalkan anda memilih saham yang tepat (fundamentalnya bagus, valuasinya murah), maka ketika nanti saham tersebut akhirnya naik, akan ada banyak orang yang bersedia menampung saham anda di harga atas. Selain KBLI, anda juga boleh cek saham-saham tidak likuid lainnya: Rata-rata menjadi likuid setelah harganya naik banyak. Inilah yang menyebabkan value investor terkenal seperti Lo Kheng Hong berani membeli saham yang tidak likuid seperti Petrosea (PTRO) hingga sebanyak sekitar seratus juta lembar, karena beliau sepenuhnya menyadari bahwa ketika nanti tiba waktunya untuk menjual PTRO ini, maka itu tidak akan sulit untuk dilakukan. Bonusnya adalah, ketika kita membeli saham yang belum ramai pada harga bawah, alias curi start, maka tentu saja profitnya akan jauh lebih besar dibanding investor/trader lain yang baru masuk belakangan ketika saham tersebut sudah mulai naik. Berdasarkan pengalaman, cuan ‘jackpot’ sebesar 100% atau lebih yang diperoleh seorang investor, biasanya justru berasal dari saham-saham yang tidak likuid ini.

Manajemen Risiko

Hanya memang risikonya, kalau saham yang anda beli tersebut ternyata gak naik-naik juga setelah sekian lama, atau lebih buruk lagi: Laporan keuangan berikutnya ternyata tidak lagi sebagus sebelumnya (sehingga fundamental perusahaan berubah), dimana itu bisa terjadi pada saham manapun, maka barulah anda akan kesulitan untuk jualan. Tapi untungnya risiko ini bisa ditekan dengan cara membeli secara bertahap. Jadi inilah yang penulis lakukan: Setiap kali kita menemukan saham yang berpotensi ‘jackpot’, maka faktor likuiditas tetap diperhatikan, dimana kalau sahamnya nggak likuid maka kami akan membeli saham tersebut dalam jumlah sedikit dulu, misalnya sepertiga atau setengah dari total nilai dana yang dialokasikan, kemudian baru nanti nambah lagi/average up kalau harganya mulai naik dan volumenya mulai ramai (mulai ramai, jadi bukan ketika sudah sangat ramai). Dengan cara inilah, kalau kemudian terjadi force majeure atau perubahan analisa dimana kita terpaksa harus jual sahamnya di harga yang sama atau lebih rendah, maka jualnya gak akan susah, dan nilai kerugiannya juga tidak akan terlalu besar. Sementara jika saham tersebut benar-benar naik, maka keuntungan yang diperoleh tetap optimal karena kita sudah mulai menyicil dari harga bawah.

Satu hal lagi yang perlu diingat, tidak semua saham yang tidak likuid menjadi likuid hanya karena harganya naik, dimana beberapa saham mungkin tetap saja tidak menjadi likuid meski sudah naik tinggi. Karena itulah, ketika anda hendak membeli saham A, misalnya, maka anda juga perlu cek berapa banyak jumlah saham A tersebut yang dipegang oleh investor publik, dimana itu bisa dilihat di laporan keuangan perusahaan, di bagian ‘modal saham’. Normalnya jika kepemilikan publik di suatu perusahaan mencapai setidaknya 700 juta – 1 milyar lembar saham, maka meskipun sahamnya tampak tidak likuid, tapi kalau nanti dia naik tinggi maka akan likuid juga. Tapi kalau jumlah saham publiknya kurang dari itu, maka barulah sahamnya tetap saja tidak akan menjadi likuid (dari sisi volume) bahkan meski sudah naik banyak, kecuali kalau naiknya benar-benar sangat tinggi (misalnya dari hanya Rp200 – 300 hingga menjadi ribuan Rupiah, sehingga meski volume transaksinya tetap kecil tapi nilai transaksinya menjadi besar. Tapi ini jarang terjadi). Dalam contoh saham KBLI diatas, jumlah saham publiknya, berdasarkan laporan keuangan Kuartal III 2016, adalah 1.6 milyar lembar.
Nah, jadi dengan demikian anda gak perlu lagi menyingkirkan saham-saham bagus dan murah yang sudah anda temukan melalui proses screening dan analisa yang susah payah, hanya karena khawatir ‘nanti jualnya bagaimana?’ Jadi sekarang, bagi anda yang sudah mengerjakan screening-nya, maka please share, saham apa saja yang bakal anda beli secara sedikit demi sedikit, mulai tanggal 3 Juli nanti? Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.
Untuk artikel minggu depan kita akan membahas sedikit soal sektor properti.
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Juli 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Right Issue BUMI: Memperoleh Pernyataan Efektif dari OJK. What’s Next?

Di artikel dua minggu lalu (ini link-nya) tentang rencana right issue Bumi Resources (BUMI), tepatnya mengenai perubahan pada penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) yang kemudian menyebabkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunda memberikan pernyataan efektif alias persetujuannya terhadap right issue tersebut, penulis mengatakan bahwa artikel tersebut nanti akan ada lanjutannya lagi. Karena cerita bahwa right issue BUMI ini belum memperoleh restu dari OJK, itu barulah satu dari sekian banyak drama yang terjadi di sekitar saham yang dulunya pernah disebut-sebut sebagai ‘saham sejuta umat’ ini.

And indeed, tak berapa lama kemudian muncul lagi drama berikutnya: OJK akhirnya memberikan pernyataan efektifnya pada hari Kamis, 22 Juni kemarin, atau persis di hari terakhir sebelum libur panjang lebaran, dan beritanya sendiri baru mulai beredar setelah jam tutup pasar!
Surat pernyataan efektif dari OJK terkait right issue Bumi Resources, klik gambar untuk memperbesar

Sayangnya pasar sudah terlanjur libur, dan baru akan dibuka lagi 3 Juli mendatang. Nah! Jadi sambil menunggu sekaligus mengisi waktu, melalui artikel ini penulis mengajak anda untuk berbagi analisa tentang BUMI, karena biar gimana saham yang sedang jadi trending topic di market belakangan ini ya BUMI ini. Okay, jadi mungkin kita langsung saja ke pertanyaannya:
Sebagai investor (atau trader), apakah anda akan membeli BUMI?
Jika iya, kenapa? Dan jika tidak pun, kenapa?
Dan menurut anda sendiri, setelah keluarnya putusan OJK ini, selanjutnya apa?

Anda bisa menulis analisanya melalui kolom komentar [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 8 Juli 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan pada kelas seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapanharus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun!
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6 (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI), Jakarta Pusat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 8 Juli 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (atau kalo mau kirim bukti transfer juga boleh).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsappsehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman peserta Kelas Value Investing Surabaya, 10 Juni 2017. Klik gambar untuk memperbesar
Komentar Alumni
Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luarbiasa sekali..
Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalo dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah..
Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn
Merci..
Widya Olivia – [...]

Uang THR Buat Beli Saham? Why Not??

Salah satu moment yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang menjelang lebaran, terutama mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri ataupun swasta, adalah pemberian Tunjangan Hari Raya alias THR. Nah, kalau jaman dulu, pemberian THR ini sangat penting karena bisa membuat satu keluarga yang sehari-harinya mungkin hanya makan tahu dan tempe saja, maka khusus pada hari lebaran mereka bisa makan daging dan juga beli pakaian yang bagus-bagus. Tapi bagaimana dengan jaman sekarang?

Kalau dilihat dari sejarahnya, pemberian THR di Indonesia dimulai pada tahun 1951, dimana Pemerintah Republik Indonesia dibawah pimpinan Presiden Soekarno ketika itu memberikan THR kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) berupa uang tunai sebesar Rp125 – 200 per orang, atau setara kurang lebih Rp2 jutaan pada hari ini. Pemberian THR ini sangat penting, karena dalam kondisi ekonomi yang carut marut pasca perang revolusi ketika itu (Indonesia memang sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, tapi setelah itu terjadi perang revolusi melawan Pemerintah Kolonial Belanda hingga akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949), maka pemberian uang tunjangan bagi para PNS, meski relatif kecil dan hanya setahun sekali menjelang lebaran, namun sangatlah berarti untuk meningkatkan produktivitas serta dukungan dari para PNS itu sendiri kepada Pemerintahan yang baru berdiri. Setahun kemudian pada tahun 1952, Pemerintah juga turut memberikan THR bagi kaum buruh non PNS, dan akhirnya anggaran untuk THR ini secara rutin masuk ke dalam APBN. Di tahun-tahun berikutnya, perusahaan-perusahaan swasta juga mulai secara bertahap memberikan THR bagi para pegawainya, dengan tujuan yang sama: Meningkatkan produktivitas serta loyalitas pegawai terhadap perusahaan. Kemudian pada tahun 1994 hingga sekarang, Pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja mengatur pemberian THR oleh perusahaan swasta, termasuk memberikan sanksi kepada perusahaan yang tidak memberikan THR bagi pekerjanya.
Nah, seperti yang sudah disebut diatas, pada jaman dulu dimana kondisi ekonomi tidak senyaman saat ini, maka status ‘pegawai’, ‘karyawan’, atau ‘buruh’ bisa berarti bahwa anda memiliki penghasilan bulanan yang relatif cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi tidak lebih dari itu. Sementara untuk bisa menikmati gaya hidup ‘mewah’ seperti makan ayam goreng, minum susu dan keju, mengendarai motor atau mobil, hingga pergi ke tempat-tempat rekreasi, maka anda haruslah menjadi tuan tanah, pengusaha, atau pejabat. Pada tahun 1960-an anda akan dianggap kaya raya tujuh turunan jika anda memiliki sebuah sepeda motor. Kalo kata almarhum Benyamin Sueb, jaman dulu asal bisa pergi nonton film koboy di bioskop saja, itu rasanya udah kaya orang gedongan.

Simbol status ‘horang kayah’ di tahun 1960-an (yang sekarang jadi barang antik). Sumber www.hondacommunity.net

Sementara untuk tahun 2017 ini? Well, jika anda berstatus sebagai karyawan dengan pengalaman 5 tahun di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, maka normalnya anda sudah bisa membeli rumah secara KPR di kampung halaman, dan juga menyicil mobil type LCGC. Untuk makan sehari-hari anda juga nggak perlu makan tahu tempe melulu, apalagi makan gaplek atau nasi aking seperti jaman kakek nenek kita dulu, karena harga daging sapi sekalipun sudah relatif terjangkau. Kecuali bagi mereka yang memang tidak bekerja/tidak punya penghasilan sama sekali, maka sekarang ini kita berada di jaman dimana semua orang bisa memenuhi kebutuhan primer mereka, termasuk juga kebutuhan yang sifatnya sekunder atau bahkan tersier, karena apa yang dianggap ‘mewah’ di masa lalu sekarang ini sudah menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.
Dan kalau keadaannya sudah demikian, maka apakah keberadaan THR masih diperlukan? Toh tanpa memperoleh THR sekalipun, anda masih bisa makan enak dan juga beli baju bagus bukan?
Meski demikian pemberian THR untuk para pekerja tetap dilakukan sampe sekarang, bahkan semakin dimudahkan. Peraturan pemerintah terbaru di tahun 2016 menyebutkan bahwa pekerja yang baru bekerja selama 1 bulan sudah berhak memperoleh THR (sebelumnya minimal harus sudah 1 tahun bekerja), dan perusahaan harus sudah membayar THR tersebut satu minggu sebelum hari lebaran. Nah, pada titik inilah anda mungkin bisa berpikir berbeda soal itu duit THR mau diapakan: Daripada dipake buat beli banyak makanan untuk disajikan di hari raya tapi malah nggak habis dimakan, atau beli baju baru tapi cuma dipake sekali itu saja pas hari raya, maka kenapa tidak disimpan saja? Alias ditabung, agar anda punya simpanan aset yang nilainya kemudian meningkat dari tahun ke tahun (sehingga meski anda masih berstatus karyawan, tapi anda tetap memiliki aset seperti layaknya pengusaha).
Dan kalau anda sudah mengerti caranya, maka boleh juga THR tersebut diinvestasikan dengan cara dibelikan saham di pasar modal. I mean, kalau anda disuruh untuk menyisihkan gaji setiap bulan untuk dibelikan saham, maka itu mungkin agak sulit terutama jika gaya hidup anda sudah terlanjur ala ‘eksekutif muda’, yang biasanya terjadi pada pegawai kantoran di kota besar seperti Jakarta. Tapi ketika anda memperoleh THR inilah, maka kecuali anda hendak memberikan kembali THR tersebut ke orang tua atau keponakan di kampung halaman, maka anda bisa menyimpannya saja, dalam bentuk investasi saham.
Jadi, yup, kalau dulu setiap di bulan puasa selalu ada trader saham yang nyeletuk ‘Barusan gue dapet THR nih dari saham A!’, dimana mindset trader saham itu kalo dia cuan maka dia bisa menarik cuan tersebut untuk kemudian dipake hura-hura (istilah THR itu hanya kiasan, intinya duit hasil trading saham dipake buat hal-hal yang konsumtif), maka untuk sekarang ini, kecuali jika anda selama ini memang cuma bisa makan nasi pake kecap, maka anda bisa melakukan sebaliknya: Jika anda memperoleh THR maka uangnya kemudian dipakai untuk beli saham, dan demikian tahun-tahun selanjutnya begitu terus, hingga akhirnya anda akan memiliki sejumlah aset yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya. Bonusnya adalah, jika para pekerja di Indonesia ramai-ramai menginvestasikan THR-nya ketimbang menggunakannya untuk beli makanan dll secara berlebihan, maka itu akan menekan inflasi yang biasanya terjadi menjelang hari raya itu sendiri, sehingga berdampak positif pada perekonomian nasional. Yup, kalau anda perhatikan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada bulan Ramadhan tahun 2017 ini harga-harga kebutuhan pokok cenderung stabil (harga daging ayam dll memang masih naik, tapi masih dalam batas-batas yang bisa ditoleransi), yang mungkin karena sebagian masyarakat Indonesia sudah sadar investasi, dan lebih memilih menabung/menginvestasikan kembali THR yang mereka peroleh entah itu di saham atau lainnya, setidaknya sebagian diantaranya, ketimbang menghabiskannya untuk belanja ini itu secara berlebihan. At the end, dalam Islam sendiri disebutkan bahwa Allah SWT tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan bukan?
Okay Pak Teguh, terus saran sahamnya apa aja nih? Well, di blog ini penulis dalam beberapa bulan terakhir sudah banyak kasih clue tentang saham yang bagus-bagus kok, tinggal artikelnya dibaca lagi yap!

Info Investor: Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis 30 saham pilihan, edisi Kuartal I 2017. Anda bisa memperolehnya disini. TeguhHidayat.com tetap online selama libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bumi Resources: Obligasi Wajib Konversi??

Jika mengacu pada jadwal, right issue Bumi Resources (BUMI) seharusnya sudah memperoleh pernyataan efektif/persetujuan dari OJK pada tanggal 26 Mei kemarin. Namun hingga ketika artikel ini ditulis ternyata belum ada pernyataan efektif apapun, sehingga wajar jika kemudian timbul pertanyaan: Apakah OJK tidak setuju dengan pelaksanaan right issue tersebut, atau bagaimana? Keragu-raguan investor juga tercermin pada pergerakan saham BUMI yang pada satu waktu naik signifikan, tapi di waktu yang lain turun signifikan pula.

Nah, kalau anda baca-baca tulisan analis dan ‘pakar’ di forum-forum atau grup, maka ada banyak teori soal kenapa kok right issue BUMI sepertinya masih belum memperoleh lampu hijau dari OJK, tapi sebenarnya penjelasannya sederhana saja: Beberapa waktu lalu manajemen BUMI mengubah harga pelaksanaan obligasi wajib konversinya (OWK) dari Rp926 per unit OWK menjadi Rp1, sementara jumlah OWK yang diterbitkan bertambah dari hanya 25 unit untuk setiap 100 lembar saham BUMI, menjadi 23,089 unit (penjelasan selengkapnya baca disini).
Catatan: Obligasi wajib konversi, atau mandatory convertible bonds, adalah obligasi yang otomatis dikonversi menjadi saham setelah periode waktu tertentu, dimana pemegang sekian unit OWK BUMI bisa membeli/mengkonversi OWK-nya menjadi sekian lembar saham baru di BUMI (saham baru, yang akan diterbitkan kemudian), pada harga tertentu.
Dan ketika terjadi perubahan seperti itu, maka BUMI harus memperoleh persetujuan dari pemegang saham agar perubahan itu bisa dilakukan, alias harus menggelar RUPS lagi. Kemudian karena jumlah OWK yang diterbitkan jadi lebih banyak, maka rasio konversi dari OWK ke saham, dimana sebelumnya 1 unit OWK akan memperoleh 1 lembar saham BUMI, juga akan berubah. Intinya karena terdapat beberapa perubahan dari pelaksanaan right issue-nya (satu perubahan menyebabkan beberapa perubahan lain), maka terdapat beberapa proses yang harus diulang/dilakukan lagi oleh manajemen BUMI, sebelum baru kemudian memperoleh pernyataan efektif dari OJK. Seandainya BUMI tetap melaksanakan rencana semula, yakni menerbitkan OWK sebanyak 25 unit untuk setiap 100 embar saham BUMI, pada harga pelaksanaan Rp926 per unit, maka OJK juga seharusnya sudah memberikan pernyataan efektifnya pada tanggal 26 Mei kemarin.
Lalu kenapa BUMI mengubah harga konversi OWK-nya?
Seperti yang sudah kita bahas beberapa minggu lalu, perubahan harga konversi OWK (serta jumlah OWK yang diterbitkan) adalah untuk mengatasi perbedaan angka perolehan dana dari penerbitan OWK tersebut karena faktor pembulatan. Selain itu, kalau menurut penjelasan dari manajemen, perubahan itu dilakukan berdasarkan saran dari KSEI (Kustodian Sentra Efek Indonesia) mengingat OWK-nya diterbitkan tanpa warkat atau scripless.
Penjelasannya begini: OWK itu adalah obligasi, dan obligasi itu berbeda dengan saham. Berdasarkan rencana awal right issue-nya, setiap pemegang saham BUMI, termasuk pemegang saham publik, selain memperoleh hak untuk membeli/menebus saham baru BUMI di harga Rp926 per lembar, mereka juga memperoleh hak untuk menebus OWK di harga yang sama yakni Rp926 per unit. Ini artinya kalau ada pemegang saham yang menebus saham baru BUMI, maka jumlah saham yang ia pegang akan bertambah. Tapi bagaimana kalau ia menebus juga OWK-nya? Apakah OWK tersebut juga nantinya akan tercatat/tampak di portofolio, sementara seperti yang sudah disebut diatas, obligasi itu berbeda dengan saham?
Catatan: Diluar saham, ada dua jenis efek yang juga bisa dibeli/dimiliki oleh seorang investor saham, yakni warrant (di software trading anda, kodenya diakhiri dengan –W, misalnya BUMI-W), dan right (kodenya BUMI-R). Baik warrant maupun right, keduanya bisa dikonversi menjadi saham setelah jangka waktu tertentu, dan pada harga konversi tertentu, sehingga sejatinya dua jenis efek tersebut merupakan saham juga. Namun obligasi berbeda, terutama karena pemegang obligasi akan menerima bunga tetap/fixed interest sebesar sekian persen per tahun, sementara pemegang saham, warrant, maupun right, mereka tidak memperoleh bunga apapun. (pemegang saham akan menerima dividen/bukan bunga, tapi jumlahnya bisa berbeda dari tahun ke tahun, tergantung kinerja laba bersih perusahaan di tahun yang bersangkutan).
Namun dalam kasus OWK yang diterbitkan oleh BUMI, maka OWK ini pada akhirnya nanti akan terkonversi juga menjadi saham, atau dengan kata lain OWK ini sama saja, meski tidak sama persis, dengan warrant atau right. Karena itulah OWK ini kemudian dibuat jadi scripless saja, atau sama seperti halnya saham. Yang dimaksud dengan scripless adalah anda bisa membeli atau memiliki OWK ini tanpa harus memiliki sertifikat fisiknya. Berbeda dengan saham yang bisa dimiliki secara elektronik, ketika anda membeli obligasi yang diterbitkan sebuah perusahaan, maka normalnya pihak perusahaan akan menerbitkan warkat (semacam sertifikat) atau script yang berisi informasi-informasi penting seperti waktu penerbitan obligasi, nilai kupon, waktu jatuh tempo, dst. Hal ini karena, jika anda menjadi pemegang saham suatu perusahaan, maka pihak perusahaan tidak memiliki kewajiban membayar apapun terhadap anda kecuali kalo mereka membagikan dividen (tapi tidak ada kewajiban bagi perusahaan untuk membagikan dividen tersebut, contohnya Berkshire Hathaway yang sudah sejak 1960an belum pernah membayar dividen lagi). Sementara kalau anda memegang obligasi, maka pihak perusahaan wajib membayar bunga dalam bentuk setoran tunai langsung ke rekening anda, sehingga diperlukan semacam ‘surat perjanjian’ dalam bentuk script tadi, untuk menjamin bahwa anda akan memperoleh pembayaran bunga tersebut.
Tapi karena seperti yang sudah disebut diatas, OWK yang diterbitkan BUMI pada akhirnya nanti akan menjadi saham juga, maka OWK tersebut bisa dibuat menjadi scripless alias elektronik saja, atau sama seperti saham. Hanya memang kemudian timbul pertanyaan: Apakah OWK ini nantinya akan bisa diperdagangkan di bursa sama seperti halnya saham, warrant, atau right? (Kodenya BUMI-O?) Atau bagaimana? Penulis yakin dari pihak BEI dan OJK sendiri masih agak bingung soal ini, karena sepanjang sepengetahuan penulis, ini adalah kali pertama sebuah perusahaan menerbitkan obligasi untuk para pemegang sahamnya termasuk pemegang saham publik. Biasanya kalo perusahaan menerbitkan obligasi untuk mengkonversi atau melunasi utang-utang sebelumnya (refinancing), maka obligasi tersebut ditawarkan secara terbatas (private placement) kepada investor yang memang tipe pembeli obligasi (biasanya institusi perbankan, dana pensiun, dst), dan melalui broker obligasi yang ditunjuk (yang berbeda dengan broker saham), jadi bukan ditawarkan secara terbuka ke pemegang sahamnya apalagi ke pemegang saham publik (public offering). Dan memang BUMI sejatinya menawarkan OWK ini kepada para kreditornya sebagai alternatif konversi utangnya selain saham, tapi gak tau kenapa investor publik kemudian juga memperoleh right untuk menebus OWK tersebut.
Namun yang jelas karena itulah, proses pelaksanaan right issue BUMI ini mungkin bakal lebih lama dibanding biasanya, dimana perubahan jumlah OWK yang diterbitkan (dari 25 menjadi 23,089 unit untuk setiap 100 lembar saham BUMI) mungkin barulah satu langkah dari proses tersebut (penulis sendiri gak ngerti kenapa jumlah OWK yang diterbitkan harus lebih banyak agar menjadi scripless? Biar lebih likuid apa gimana?). Termasuk tulisan ini pun kemungkinan nanti bakal ada lanjutannya lagi.
Tapi kalau ada pertanyaan, bagaimana dampak dari perubahan harga pelaksanaan OWK dll terhadap fundamental BUMI dan/atau pelaksanaan right issue-nya itu sendiri? Maka bisa penulis katakan bahwa tidak ada dampak apapun. Untuk penerbitan sahamnya langsung tidak ada masalah, dan bukan tidak mungkin BUMI akan membagi dua right issue-nya, dimana perusahaan menerbitkan 28.7 milyar lembar saham baru dalam waktu dekat (pada harga pelaksanaan Rp926 per saham), sementara OWK-nya diterbitkan belakangan. Yang perlu dicatat adalah bahwa BUMI sudah tidak punya masalah apa-apa lagi dengan kreditornya, kinerja keuangan perusahaan di Kuartal I 2017 juga sudah mulai improve, sementara delay yang terjadi sekarang ini lebih karena masalah teknis, karena right issue yang dilakukan perusahaan memang berbeda dengan right issue seperti biasanya.
Kinerja operasional BUMI di Kuartal I 2017, perhatikan harga jual batubara yang naik signifikan
Hanya saja ketika balik lagi ke pertanyaan ala trader begijure (beli pagi jual sore): Jadi besok BUMI bakal naik atau turun nih??? Maka anda langsung tanya Mr. Dileep sajalah! Biar beliau tambah pusing sekalian.

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stockpick pilihan edisi Juni 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Three Rules of Stock Investing

Minggu lalu di artikel berjudul ‘Rekomendasi Buku untuk Value Investor’ penulis sudah share salah satu pengalaman dalam berinvestasi di saham pada tahun 2014 lalu, yang dari pengalaman tersebut penulis kemudian memperoleh beberapa pelajaran. Tak lama kemudian penulis menerima banyak email dari temen-temen investor yang juga sharing tentang pengalaman mereka masing-masing.

Karena itulah, melalui artikel kali ini, penulis mengajak anda untuk juga sharing, dalam hal ini dalam bentuk jawaban atas pertanyaan berikut: ‘Berdasarkan pengalaman anda selama ini, maka jika ada tiga peraturan atau rules dalam berinvestasi di saham, apa saja rules tersebut?’
1. ….
2. ….
3. ….
(Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah. Kalau bisa ceritakan juga salah satu pengalaman paling berkesan selama anda berinvestasi di saham).

Untuk artikel analisis saham, minggu depan kita akan bahas update terbaru dari salah satu saham yang lagi bikin pusing semua orang gara-gara right issue-nya yang ribet bin njlimet. Namun untuk sekarang, bagi teman-teman investor yang muslim penulis mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa! Semoga dengan berpuasa semakin melatih kesabaran kita ketika nungguin saham yang gak mau naik-naik.. Amin!
Buletin Analisis IHSG & Stockpick pilihan bulanan edisi Juni 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Urgent Needed: English – Indonesian Translator

Dicari: Freelance Penerjemah. Syaratnya cuma dua: 1. Mampu menterjemahkan tulisan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, lebih disukai jika juga berpengalaman sebagai penulis atau blogger, dan 2. Memahami/berpengalaman minimal dua tahun di bidang ekonomi, finance, dan investasi, khususnya di bidang pasar modal.

Bagi yang tertarik bisa kirim email ke teguh.idx@gmail.comdengan subjek ‘Freelance Penerjemah’, dan isi:
  1. Biodata & CV Lengkap, plus scan sertifikat TOEFL atau semacamnya (jika ada),
  2. Contoh hasil terjemahan dari artikel di blog ini. Anda bisa pilih salah satu artikel, terserah yang mana saja, kemudian anda tulis kembali dalam Bahasa Inggris.
Lamaran ditunggu selambat-lambatnya sampai tanggal 10 Juni [...]

Seminar Value Investing: Surabaya, 10 Juni 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Surabaya. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Surabaya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

 

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price. 
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengertiSetelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Embong Surabaya Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 10 Juni 2017
  • Waktu: Pukul 16.00 s/d 21.00 WIB (sore sampai malam hari).
  • Fasilitas: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan malam, tajil/cemilan manis, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama teman-teman peserta kelas Value Investing, Jakarta, 1 April 2017. Klik gambar untuk memperbesar
Komentar Alumni
Selamat sore pak Teguh, saya mau mengucapkan banyak terima kasih berkat analisa analisa dan recommend dari bapak, saya bener bener salut dan bapak luarbiasa sekali..
Saya juga heran kok analisa bapak banyak benernya daripada salahnya, padahal saya sudah banyak ikut jurnal/recommend dari beberapa tempat (bukan memuji) tapi analisa bapak yang paling gampang dan yang paling penting gak bikin saya pusing!
Saya kemaren ikutan bapak beli BULL di 130, 50% dari porto, saya gak pernah muluk muluk untuk dapat profit besar karena saya cuma pengen ngembangin simpenan saya daripada di taruh di deposito, jangankan puluhan persen, saya kalo dua bulan dapat 5 persen saja sudah lebih dari cukup sebagai perbandingan bunga di deposito.
Sebenernya kemaren juga mau ikutan beli SOCI pas  di 322, tapi engga jadi. Saya suka nya pelan pelan saja pak, Yang penting simpenan saya gak kemakan inflasi dan terus bertumbuh.
Tadi saya sudah lepas BULL di 155-160, profit 20% lebih.. Alhamdulilah.. 
Sekali lagi terimakasih Pak Teguh, semoga bapak juga selalu sehat dan profit terus, Aminnn 
Merci..
Widya Olivia – Jakarta

Update: KURSINYA SUDAH PENUH. Jadi dengan ini pendaftarannya ditutup. Sampai jumpa di kelas value investing [...]

Rekomendasi Buku untuk Value Investor

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan ke penulis adalah, kalau mau belajar tentang investasi saham, khususnya metode value investing, maka buku apa saja yang disarankan terutama untuk investor pemula? Dan penulis seneng kalau ada yang bertanya seperti itu, karena itu artinya si investor, atau si calon investor ini sepenuhnya menyadari bahwa ia tidak akan memperoleh apa-apa di belantara pasar modal tanpa bekal pengetahuan. Karena, you know, adalah konyol jika kita pergi ke sungai untuk menangkap ikan tanpa membawa jaring atau alat pancing sama sekali bukan?

Namun terus terang, meski penulis sendiri suka membaca, namun hingga ketika artikel ini ditulis saya belum pernah membaca satupun buku tentang investasi saham hingga selesai. Di toko buku ada banyak sekali buku tentang investasi dan trading saham, baik itu tentang value investing atau metode lainnya, yang ditulis entah itu oleh penulis profesional, akademisi, ataupun oleh investor/praktisi investasi itu sendiri. Penulis dirumah juga punya beberapa buku karya Ben Graham, Joel Greenblatt, Peter Lynch, dan Seth Klarman (versi asli dalam Bahasa Inggris. Karena kalau ada versi bahasa Indonesia-nya, biasanya hasil terjemahannya kurang bagus, yang mungkin karena si penerjemah hanya ngerti cara men-translate English ke Bahasa, tapi gak ngerti soal investasi saham itu sendiri).
Tapi buku-buku itu kebanyakan cuma jadi pajangan saja di meja kerja penulis (biar keliatan pinter aja gitu). Termasuk buku Intelligent Investor karya gurunya Warren Buffett, Ben Graham, saya baru selesai baca kurang lebih tiga perempatnya saja. Sebab di buku tersebut konsep value investing dan margin of safety sudah cukup dijelaskan di dua bab pertamanya, sementara bab bab selanjutnya lebih banyak menyampaikan contoh-contoh aplikasi/penggunaan dari metode value investing itu sendiri di Bursa Wall Street di Amerika Serikat. Masalahnya adalah, kalau anda sudah cukup lama wara wiri di bursa saham di tanah air, maka anda akan melihat bahwa ada banyak contoh di buku tersebut yang tidak terlalu relevan dengan kondisi bursa disini (selain karena buku itu ditulis tahun 1934, alias udah lama banget), sehingga akan lebih baik jika kita sekedar memahami konsep dasarnya saja dulu, kemudian untuk penerapannya kita belajar lagi dari pengalaman dalam melakukan investasi itu sendiri.

Anda belum kelar baca buku The Intelligent Investor?? Sama!

Tapi kalau ada tulisan (bukan ‘buku’) yang banyak penulis baca, maka itu adalah Annual Letter yang ditulis langsung oleh Warren Buffett, yakni sejak ia memulai partnership-nya pada tahun 1956, hingga yang terbaru tahun 2016. Anda bisa memperolehnya di www.berkshirehathaway.com. Berbeda dengan buku-buku tentang investasi saham yang seringkali isinya cuma teori, di annual letter ini anda akan bisa merasakan sendiri perjalanan dan progress dari kegiatan investasi yang dilakukan oleh Buffett, dimana ada banyak sekali pelajaran dan wisdom yang bisa diperoleh dari situ (tulisannya dibuat dengan gaya bertutur/bercerita, sehingga seolah-olah Buffett bercerita langsung kepada anda tentang ia dapet profit dan menderita rugi di saham apa aja). Bonusnya adalah, dari dulu sampai sekarang Buffett selalu menulis letter-nya dalam bahasa yang santai dan mudah dimengerti, nyaris tanpa pernah menyertakan istilah-istilah keuangan yang biasanya sulit dipahami oleh orang awam.
Selain annual letter diatas (belum penulis baca semuanya sih, soalnya ada lebih dari 50 letter), penulis juga banyak menghabiskan waktu untuk membaca Wikipedia, Investopedia (kalau ada istilah tentang saham yang tidak anda pahami, maka investopedia biasanya punya penjelasannya), dan annual report terbaru dari emiten-emiten di BEI. Beberapa investor mungkin ingin lebih memperdalam pengetahuan dan informasi yang ia peroleh dengan juga membaca Bloomberg, Forbes, The Economist, hingga langganan koran bisnis & ekonomi, tapi terus terang penulis sendiri nggak se-rajin itu (padahal saya juga kolumnis di Forbes Indonesia). At the end, I’m just an investor, not a minister of finance.
‘Buku’ Paling Bagus sekaligus Paling Mahal: Pengalaman
Dan terakhir, seperti yang sudah disebut diatas, ‘buku’ yang senantiasa penulis baca setiap harinya adalah pengalaman dalam melakukan investasi saham itu sendiri. Boleh dibilang dari ‘buku’ inilah penulis memperoleh pelajaran yang paling berharga dan juga paling bisa diterapkan untuk kegiatan investasi selanjutnya, tapi disisi lain ‘buku’ ini ‘harganya’ jauuuuuh lebih mahal dibanding buku lain manapun yang pernah penulis baca. Yup, karena untuk memperoleh pengalaman berharga maka anda biasanya harus melewati satu peristiwa yang tidak akan pernah disukai oleh investor manapun: Jual saham dalam posisi rugi.
Contohnya, pada tahun 2014 lalu, penulis menemukan bahwa Salim Ivomas Pratama (SIMP), sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, minyak goreng, dan margarine, PBV-nya hanya 0.9 kali pada harga 900 ketika itu. SIMP adalah anak usaha dari Indofood Sukses Makmur (INDF), induk dari PP London Sumatera (LSIP), dan sister company dari Indofood CBP (ICBP). Ketika itu, penulis masih ingat, PBV dari INDF 1.7 kali, ICBP 4.9 kali, dan LSIP 2.4 kali. Alhasil penulis kemudian berkesimpulan bahwa SIMP ini undervalue, karena kalau ada orang yang mau beli INDF pada harga yang mencerminkan PBV 1.7 kali, maka tentu lebih baik ambil SIMP yang valuasinya hanya setengahnya, mengingat sekitar separuh dari aset INDF ya terletak di SIMP.
Penulis kemudian menempatkan tidak kurang dari 30% dana kelolaan di SIMP ini, pada harga 900, di bulan Maret 2014. Kemudian untuk sesaat dia naik sampai 1,000-an, tapi nggak kita jual (target kita ketika itu minimal 1,200), apalagi kemudian perusahaan merilis laporan keuangannya untuk Kuartal I 2014 dimana labanya naik signifikan. Tapi memasuki bulan Juli, entah kenapa SIMP mulai turun.. dan terus saja turun sampai level 750. Penulis katakan ‘entah kenapa’, karena ketika itu IHSG baik-baik saja, malah lagi naik, jadi saya sama sekali tidak ada clue soal penurunan SIMP tersebut. Namun karena ketika itu penulis tetap bersikukuh bahwa SIMP ini sudah kelewat murah, maka saya tetap hold.
Tapi beberapa waktu kemudian barulah penulis mengerti apa yang menyebabkan SIMP turun: Penurunan harga CPO, yang terjadi persis mulai bulan Maret 2014 dimana harga CPO ketika itu masih di level US$ 861, tapi kemudian terus saja turun hingga level US$ 600-an per ton. Dan setelah penulis pelajari lagi, ketika itu trend harga-harga komoditas memang lagi turun semua, termasuk harga CPO juga kemungkinan bakal terus turun, dan saham SIMP sebagai perusahaan sawit biar gimana ikut terpengaruh. Jadi ya sudah, dengan berat hati kita jual SIMP di harga 700 pas, dan penulis terpaksa menderita kerugian yang nilainya sama dengan uang belanja bulanan buat ibunya anak-anak di rumah selama setahun penuh (but as you might guess, penulis gak cerita apa-apa sama orang rumah karena saya gak mau tidur di teras depan. Saya baru cerita soal ini sekitar dua tahun kemudian).
Tapi dari pengalaman diatas penulis kemudian memperoleh setidaknya tiga pelajaran. Pertama, menganggap bahwa sebuah saham murah hanya karena PBV-nya lebih rendah dibanding PBV dari saham lain dalam satu grup usaha (SIMP lebih murah dibanding INDF, ICBP, dan LSIP), maka itu adalah anggapan yang keliru. Pada akhirnya orang hanya akan melihat kinerja perusahaan serta prospeknya kedepan, dalam hal ini terkait dengan harga CPO, sementara kinerja SIMP ini sejak awal gak begitu bagus jika dibanding INDF, ICBP, dan juga LSIP. Kedua, kalau ada saham turun sendiri ketika kinerjanya (sekilas) masih bagus, dan IHSG-nya juga lagi naik, maka segera lakukan evaluasi/jangan diem aja, karena bisa jadi ada sesuatu yang nggak beres (penulis ketika itu telat melakukan evaluasi setelah SIMP ini di harga 750. Harusnya waktu dia turun dari 1,000 ke 900, saya sudah mengeceknya lagi). Dan ketiga, seyakin apapun kita terhadap prospek suatu saham, sebaiknya jangan langsung hajar pake duit besar, melainkan bisa nyicil saja dulu, dimana kalau perkembangannya bagus maka boleh beli lagi, tapi kalo ternyata gak bagus/malah turun maka kita gak akan merasa berat untuk cut loss (alasan saya masih hold SIMP sampai harga 700-an ketika itu, salah satunya adalah karena merasa berat untuk jual rugi). Sejak kasus SIMP, maka kecuali untuk satu dua kasus, penulis paling banyak hanya menempatkan 15 – 20% dana kelolaan pada satu saham tertentu.
Untungnya penulis tidak perlu membayar terlalu mahal untuk memperoleh lessons diatas, karena saya sudah keluar dari SIMP ini di harga 700, sementara SIMP ini sendiri kemudian lanjut turun sampai 300-an. Dan meski sekarang dia naik lagi (waktu SIMP di mentok harga 300-an, penulis gak beli lagi), tapi dalam dua tahun terakhir penulis sudah menginvestasikan kembali uang hasil cut loss di SIMP ini pada saham-saham lain, yang kemudian menghasilkan profit lebih besar. Dari pengalaman di SIMP inilah, dan juga pengalaman di saham-saham lain, penulis menabung ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi bekal penting dalam berinvestasi itu sendiri, dan penulis menuangkan sebagian diantaranya dalam bentuk tulisan entah itu di blog ini maupun di beberapa buku yang saya tulis. Kalau anda baca buku karya penulis yang berjudul ‘Value Investing: Beat the Market in Five Minutes!’ (bisa dibeli di Gramedia), anda bisa lihat disitu kalau penulis nyaris tidak mengutip tulisan dari buku/sumber lain manapun, melainkan hampir sepenuhnya bersumber dari pengalaman penulis sebagai value investor itu sendiri.
Hanya memang, di bab bab awal tentang konsep dasar dari value investing, penulis banyak meng-quote pernyataan dari Warren Buffett. Sebab sebelum kita mulai ke bagian dari contoh-contoh penerapan value investing itu sendiri, maka tentu pertama-tama kita harus ngerti dulu, apa sih value investing itu? Seperti apa konsep dasarnya? Dan tidak ada sumber yang lebih baik untuk memahami konsep value investing selain mendengar langsung penjelasan dari Ben Graham dan Buffett sebagai ‘mbah-nya’ value investing itu sendiri.
Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Buku atau tulisan apa saja yang disarankan untuk dibaca terutama untuk value investor pemula? Jawabannya adalah annual letter yang ditulis langsung oleh Warren Buffett, artikel-artikel tentang investasi dan dunia keuangan di Wikipedia, dan Investopedia. Anda tentu boleh juga beli buku-buku tentang investasi saham di toko buku, tapi kalo misalnya bukunya bikin ngantuk maka gak usah ngotot untuk membaca semuanya sampai selesai, karena yang penting anda memperoleh konsep serta dasar pemikiran yang disampaikan di buku tersebut tentang investasi secara umum, investasi saham, dan juga value investing itu sendiri.
Sementara untuk penerapannya, maka anda bisa belajar dari pengalaman. Dan ‘buku’ bernama pengalaman ini harganya gak murah, bisa mencapai puluhan, ratusan juta, bahkan milyaran Rupiah (dalam bentuk kerugian. Karena biasanya seorang investor harus menderita rugi dulu, baru dia mau belajar. Sebab kalo belum apa-apa udah cuan, terus ngapain lagi saya harus belajar?). Bandingkan dengan rata-rata harga buku di Gramedia yang bahkan gak nyampe seratus ribu (buku penulis diatas harganya cuma Rp58,800). Namun demikian buku bernama pengalaman inilah yang akan benar-benar memberikan anda pelajaran yang bakal diingat seumur hidup. Thus, tak peduli seberapa besar ‘biaya’ yang harus anda keluarkan untuk memperolehnya, tapi asalkan anda kemudian bisa menangkap pelajarannya dengan baik dan juga menerapkannya dengan sama baiknya, then trust me, hasil profitnya akan jauh lebih besar lagi :)

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Investigasi: BEI vs Bumi Resources

Bursa Efek Indonesia (BEI): Bos, bisa minta waktunya sebentar? Kemarin kita baca-baca soal rencana right issue Bumi Resources (BUMI), dan ada beberapa hal yang mau kita tanyakan.
Mr. Dileep Srivastava (Corporate Secretary BUMI): Oh iya boleh pak, silahken.

Oke langsung aja. Dari informasi yang dirilis perusahaan, disebutkan bahwa setiap pemegang 100 lembar saham BUMI akan memperoleh dua macam right, yakni right seri A yang bisa digunakan untuk membeli/menebus 78 lembar saham baru BUMI pada harga pelaksanaan Rp926.16 per saham, dan right seri B yang bisa digunakan untuk membeli 25 unit obligasi wajib konversi atau OWK (obligasi yang otomatis dikonversi menjadi saham BUMI setelah periode waktu tertentu), juga pada harga Rp926.16 per unit. Kemudian juga disebutkan bahwa dari pelaksanaan right issue ini, perusahaan akan menerima dana Rp26.63 trilyun dari penerbitan saham baru, dan Rp8.46 trilyun dari penerbitan OWK, sehingga totalnya Rp35.09 trilyun.
Tapi setelah kita hitung ulang dengan cara mengkali harga pelaksanaan dengan jumlah saham baru dan OWK yang diterbitkan, maka dana yang diterima perusahaan hanya Rp34.94 trilyun, atau terdapat selisih Rp145 milyar. Bisa tolong dijelaskan kenapa angkanya beda?
Oh, selisih itu timbul karena faktor pembulatan saja pak. Secara lebih tepatnya, pemegang 100 lembar saham BUMI akan memperoleh right seri A untuk membeli 78.496499 lembar saham baru, dan juga right seri B untuk membeli 24.9308561 unit OWK. Angkanya kemudian dibulatkan masing-masing menjadi 78 lembar dan 25 unit, dimana kalau angka hasil pembulatan ini yang dipakai untuk menghitung total dana yang diperoleh, maka hasilnya akan sedikit berbeda dengan yang kami sampaikan di prospektus.
Tapi agar tidak lagi terjadi perbedaan seperti itu, maka pada revisi prospektus yang akan kami kirim nanti, akan disampaikan bahwa setiap pemegang 100 lembar saham BUMI akan memperoleh right seri B yang bisa digunakan untuk membeli 23,089 unit OWK(jadi bukan lagi hanya 25 unit), tapi pada harga pelaksanaan Rp1 saja per unit-nya.
Dengan demikian jumlah dana dari penebusan OWK untuk setiap 100 lembar saham BUMI adalah 23,089 unit x Rp1 = Rp23,089. Jumlah inilah yang lebih tepat/lebih menggambarkan nilai dana yang diterima perusahaan, dibanding jika kita pakai rumus awal yakni 25 unit x Rp926.16 = Rp23,154 (namun seperti yang anda lihat, selisihnya tidak jauh berbeda dan itu, sekali lagi, hanya karena faktor pembulatan saja).
Dan meski jumlah OWK yang diterbitkan jadi lebih besar, namun rasio konversi dari OWK ke saham BUMI juga akan disesuaikan, sehingga jumlah saham yang diterbitkan dari hasil konversi OWK ini tidak berubah.
Sementara untuk right seri A yang bisa digunakan untuk membeli saham baru (langsung saham, bukan lagi obligasi), harga pelaksanaannya tetap Rp926.16 per saham.
Disebutkan bahwa pembeli siaga untuk right issue ini adalah PT Samuel International yang akan membeli maksimal 28.5 milyar lembar saham senilai Rp26.4 trilyun, dan PT Danatama Capital sebanyak 286 juta lembar saham senilai Rp265 milyar. Bisa dijelaskan hubungan antara BUMI dengan Samuel dan juga Danatama?
Kita gak ada hubungan afiliasi apa-apa dengan mereka.
Seberapa siap Samuel sebagai pembeli siaga? Dari mana mereka punya Rp26.4 trilyun?
Gini bang. Waktu kemarin kita sepakat soal perjanjian restrukturisasi utang dengan para bank/kreditur, salah satu poin perjanjiannya adalah BUMI bersama dengan para keditur akan menunjuk pihak ketiga, dalam hal ini Samuel, dimana Samuel akan mengambil/menebus saham baru hasil right issue yang tidak diambil oleh pemegang saham BUMI dengan cara konversi utang BUMI menjadi saham (sehingga para kreditur BUMI menjadi pemegang saham di BUMI), jadi bukan dengan benar-benar menyetor sejumlah dana.
Terus gimana dengan Danatama?
Kalo Danatama sih, mereka beneran nyetor Rp265 milyar itu. Bukan jumlah besar lah.
Posisi Samuel dan Danatama disini sebagai apa? Perantara apa gimana?
Iya benar, Samuel adalah perantara antara BUMI dan para kreditur. Kalau Danatama bertindak untuk kepentingannya sendiri.
Disebutkan bahwa jumlah utang yang akan dikonversi menjadi saham adalah US$ 2,650,924,522 atau US$ 2.6 milyar, tapi itu lebih kecil dibanding jumlah dana yang dihasilkan dari right issue-nya, dengan selisih hampir US$ 20 juta. Kenapa beda lagi ini angkanya??
Iya betul, jumlah dana hasil right issue-nya memang sedikit lebih besar dibanding nilai utang yang dikonversi, tapi selisih US$ 20 juta itu adalah biaya yang harus kita keluarkan buat pelaksanaan right issue-nya itu sendiri, dan juga biaya restrukturisasi utangnya. Kaya Samuel tadi, mereka gak kerja gratis lah bang.
Di keterbukaan informasi, disebutkan bahwa Kaltim Prima Coal (KPC), Arutmin, dan IndoCoal Resources adalah anak-anak usaha BUMI. Tapi di laporan keuangan perusahaan per akhir tahun 2016, tiga perusahaan diatas disebut sebagai entitas ventura bersama. Yang bener yang mana cuy?
Sejak disepakatinya perjanjian restrukturisasi utang, maka setiap kali KPC, Arutmin, atau IndoCoal hendak melakukan transaksi penting, maka dibutuhkan persetujuan lebih dari satu pemegang saham (yakni BUMI dan beberapa krediturnya, yang juga menjadi pemegang saham di tiga perusahaan tersebut). Berdasarkan standar akuntansi untuk penyajian laporan keuangan, anak usaha dengan kriteria seperti itu harus diklasifikasikan sebagai entitas ventura bersama. Namun secara legal hukum, ketiga perusahaan diatas masih merupakan anak usaha BUMI.
Balik lagi ke soal OWK. Berapa harga konversi OWK ini menjadi saham? Dan kapan jatuh temponya?
Pemegang OWK akan menerima bunga 6% per tahun hingga maksimal tahun ketujuh setelah pelaksanaan right issue. Setelah tahun ketujuh, setiap unit OWK akan otomatis terkonversi menjadi saham, dimana 1 OWK akan menjadi 1 lembar saham baru BUMI yang akan diterbitkan kemudian (karena jumlah OWK yang diterbitkan berubah untuk mengatasi perbedaan karena pembulatan seperti yang sudah disampaikan diatas, maka rasio 1:1 ini akan disesuaikan). Namun pemegang OWK boleh mengkonversi OWK-nya lebih awal, dimana jika konversinya dilakukan pada tahun pertama atau kedua, maka harga pelaksanaannya adalah Rp926.16 + 30%, atau Rp1,204 per saham.
Sementara jika konversinya dilakukan pada tahun ketiga dan seterusnya, harga pelaksanaannya adalah berdasarkan harga rata-rata BUMI dipasar pada saat itu (rata-rata enam bulan terakhir).
Okay, masih ada informasi penting lain yang belum ente sampaikan? Yang mungkin bisa bikin BUMI naik atau turun??
Nggak ada bang.. Udah itu aja kok.
BUMI besok bakal cerah ijo atau hujan badai jeblok lagi?
Kalau itu tanya ke BMKG aja bang..
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Indika Energy

Bulan Mei baru saja beberapa hari, but the game difficulty has already switched from ‘easy’ to ‘hard’. Yup, kalau anda perhatikan beberapa waktu ini ada banyak saham-saham, terutama di kelompok second liner, yang turun signifikan meski IHSG sekilas nggak kemana-mana. Namun untuk beberapa saham, katakanlah Indika Energy (INDY), dia malah naik sendiri. Tapi untungnya secara fundamental kenaikan tersebut bisa dijelaskan (karena banyak juga kasus dimana saham-saham naik sendiri padahal fundamentalnya zonk), dan karena itulah kita akan membahas INDY disini. Okay, kita langsung aja.

INDY adalah perusahaan holding dengan kepemilikan aset di bidang tambang minyak, batubara dan infrastruktur pendukungnya, serta pembangkit listrik. Aset terbesar perusahaan adalah 46% saham di Kideco Jaya Agung, perusahaan tambang batubara terbesar ketiga (setelah Kaltim Prima Coal dan Adaro) di Indonesia. INDY juga merupakan pemegang saham pengendali di Mitra Energi Agung, Multi Tambangjaya Utama, Tripatra Engineering, Tripatra Constructors, dan Petrosea (PTRO), serta memegang 35% saham di Santan Batubara. Di bidang infrastruktur tambang dan energi, INDY merupakan pemegang saham pengendali di Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS, perusahaan kapal), Kuala Pelabuhan Indonesia (perusahaan pelabuhan), dan Petrosea Offshore (perusahaan logistik lepas pantai), serta memegang 20% saham di Cirebon Electric Power (perusahaan pembangkit listrik), 46% saham di Sea Bridge Shipping (perusahaan kapal), dan 45% saham di Cotrans Asia (perusahaan jasa pengangkutan batubara).

Jika penulis perhatikan, INDY ini memiliki beberapa kesamaan dibanding Bumi Resources (BUMI). Perhatikan: Meski merupakan perusahaan besar (beberapa tahun lalu market cap INDY pernah mencapai US$ 3 milyar, dan BUMI lebih besar lagi), tapi keduanya merupakan bagian dari grup usaha yang lebih besar lagi. BUMI adalah anak usaha dari Grup Bakrie, sementara INDY merupakan bagian dari Grup Indika milik Keluarga Sudwikatmono, dimana kedua perusahaan merupakan ‘wadah’ bagi aset-aset milik kedua grup diatas di bidang tambang batubara dan energi. Dan seperti halnya BUMI, perusahaan mengakuisisi aset-asetnya menggunakan utang. Alhasil ketika sektor batubara mulai lesu sejak tahun 2012, maka INDY langsung menderita kerugian karena beban bunga ketika mayoritas perusahaan batubara lainnya hanya mengalami penurunan laba. Dan sahamnya pun tanpa ampun terjun bebas dari Rp5,000-an (yup, dulu INDY pernah dihargai setinggi itu) hingga mentok di Rp100-an per saham, tahun 2015 lalu.
Hanya bedanya, jika dibanding BUMI, maka INDY dikelola dengan lebih konservatif, dan juga tidak terlalu ambisius dalam mengambil alih aset-aset. Pada periode puncak industri batubara di tahun 2011, INDY hanya memiliki utang sebanyak 2.5 kali nilai ekuitasnya, atau jauh dibawah BUMI yang mencapai 6 kali. Jika BUMI selalu berusaha untuk mengambil alih kepemilikan mayoritas di banyak perusahaan, salah satunya di Newmont Nusa Tenggara (melalui Bumi Resources Minerals/BRMS) namun gagal, maka INDY tidak pernah kedengaran berusaha untuk mengambil alih kendali atas Kideco (mereka sudah cukup puas dengan 46% saham), demikian pula di beberapa aset-aset lainnya, mereka hanya menjadi pemegang saham minoritas saja. Cara kerja yang berbeda ini menyebabkan INDY, meski sempat mengalami masa-masa sulit beberapa tahun lalu dan menderita kerugian hingga 4 tahun berturut-turut (2013 – 2016), tapi tidak sampai kedengaran gagal bayar utang ataupun terpaksa menjual asetnya seperti halnya BUMI. Dan sahamnya pun, meski sempat terpuruk sampai hanya 100-an, tapi gak pernah sampai mati di gocapan.
Nah, ketika industri batubara mencapai titik terendahnya pada pertengahan tahun 2015 lalu, ketika itu ditandai dengan ditutupnya atau berhentinya operasional dari beberapa perusahaan batubara skala kecil, dan ada beberapa perusahaan batubara yang berpindah kepemilikan, dalam hal ini Berau Coal Energy (BRAU) yang diakuisisi Grup Sinarmas (investing lesson #167: Jika suatu sektor/industri sudah sedemikian terpuruknya hingga beberapa perusahaan berhenti beroperasional atau bangkrut sama sekali, dan perusahaan-perusahaan yang bangkrut tersebut diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar dan mapan, maka itu biasanya merupakan titik balik dari sektor tersebut), maka penulis langsung mengecek lagi valuasi saham-saham batubara, dan ketemulah salah satunya INDY ini, yang ketika itu pada harga 100-an (130 lebih tepatnya), PBV-nya hanya 0.1 kali.
(Catatan: Pada Juli 2015, penulis sudah kasih hint tentang peluang di sektor batubara.  Anda bisa baca lagi analisisnya di artikel yang ini, coba baca juga komentar-komentarnya).
However, penulis ketika itu hanya memasukkan INDY kedalam watchlist saja, dan tidak/belum benar-benar berminat untuk membeli sahamnya, karena nggak pede dengan utang perusahaan yang segunung (utang INDY, meski masih lebih kecil dibanding utangnya BUMI, tapi tetep aja gede banget). Termasuk ketika sahamnya mulai merangkak naik hingga akhirnya konsolidasi di level 700 – 800, penulis tetap ambil posisi menonton saja, terutama karena INDY, seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, hingga akhir tahun 2016 masih membukukan kerugian hingga US$ 67.6 juta, dimana angka itu kembali naik dibanding kerugian di tahun sebelumnya (2015), padahal sepanjang tahun 2016 harga batubara sejatinya mulai naik.
Nah, mungkin anda bertanya, bagaimana kita bisa melihat/memperkirakan bahwa INDY mungkin belum akan profit dulu meski harga batubara mulai naik? Jawabannya simpel: Sebagian besar aset INDY bergerak di bidang mining service dan infrastruktur tambang, jadi bukan tambang batubara itu sendiri, sementara untuk perusahaan mining service yang kerjaannya menggali batubara/minyak milik perusahaan lain, maka pendapatan/labanya baru akan dicatat setelah pekerjaan menggalinya selesai dilakukan, bukan ketika kontrak pekerjaannya diterima. Jadi ketika harga batubara naik, maka anak-anak usaha INDY juga bakal kebanjiran order lagi untuk menggali batubara, tapi pendapatan mereka baru akan akan tampak naik pada 1 – 2 tahun kemudian. Contoh kasus yang bisa menjelaskan hal ini adalah ketika Petrosea (PTRO), salah satu anak usaha INDY di bidang mining service, masih membukukan pendapatan dan laba yang cukup besar di tahun 2013, padahal ketika itu harga batubara sudah mulai turun. Dan pendapatan PTRO yang besar tersebut memang berasal dari pekerjaan menggali batubara yang dilakukan perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya, yakni ketika harga batubara masih tinggi.
Namun karena masalah utangnya yang besar, maka bahkan kalaupun kita asumsikan bahwa mulai tahun 2017 ini pendapatan INDY secara overall bakal naik, tapi laba bersihnya belum tentu bakal ikut naik/mungkin masih rugi, karena masih tekor sama beban bunga utangnya. Pendek kata, berbeda dengan perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang bisa langsung diprediksi bakal profit, maka sangat sulit bagi investor/analis manapun untuk melihat apakah INDY bakal profit atau tidak di awal tahun 2017 ini. Dan itu sebabnya ketika ada banyak saham batubara yang naik signifikan sejak awal tahun kemarin, namun saham INDY cenderung gak kemana-mana di level 700-an, tapi dia nggak turun juga, karena semua orang termasuk penulis masih wait n see tentang bagaimana kira-kira kinerja INDY di Kuartal I 2017 nanti.
Jadi ketika INDY akhirnya merilis LK-nya akhir April kemarin, dan ternyata pendapatannya naik sementara laba bersihnya juga solid positif di angka US$ 22 juta, maka itulah signal yang sudah ditunggu-tunggu semua orang: INDY kemudian dengan cepat melejit, dan ketika artikel ini ditulis dia sudah berada di level 1,125 dari sebelumnya 700, seminggu lalu. Sekilas, kenaikan hingga 60% hanya dalam seminggu tentu saja tampak tidak wajar, tapi sebenarnya INDY hanya menyusul ketertinggalannya saja dari saham-saham batubara yang lain. Jika kita lihat lagi kenaikan saham-saham batubara termasuk INDY dalam setahun terakhir, maka posisi INDY saat ini sama seperti saham-saham batubara lainnya: Sudah naik sekitar dua kali lipat.
Terus apakah itu artinya INDY masih bisa naik lagi? Apalagi meski sahamnya sudah naik banyak, tapi PBV-nya pada harga 1,125 masih 0.7 kali, alias masih murah? Well, kalau anda melihatnya agak panjang, let say hingga akhir tahun 2017 maka iya, INDY mungkin masih bisa naik lagi. Tapi kalau dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu kedepan, maka tentu saja INDY mungkin akan cooling down dulu. Ingat pula bahwa sekarang sudah bulan Mei, dimana pasar normalnya tidak akan lagi serame awal tahun lalu.

Jadi Strateginya Bagaimana?
Jadi kalau anda tertarik dengan INDY ini, maka strateginya gini aja: Pertama, seperti juga kalau kita beli saham-saham lainnya, jadikan INDY ini simpanan untuk jangka menengah, alias paling pendek 3 bulan kedepan. Jika anda tertarik dengan INDY ini hanya karena dia kemarin terbang, dan juga berharap bahwa dia akan terbang lebih tinggi lagi dalam 2 – 3 hari kedepan, maka anda boleh coba saham lain saja seperti FPNI, BEKS, TRAM, MAMI, atau sebangsanya. Remember, INDY ini bukan untuk begituan.
Kedua, berapapun dana yang anda siapkan, maka bagi dana tersebut minimal jadi tiga bagian (atau empat bagian juga boleh). Bagian pertama boleh langsung dipake untuk hajar kanan, berapapun harga INDY ketika itu. Bagian kedua simpan untuk bulan depan. Jika pergerakan INDY ini sama seperti saham-saham murah lain yang melompat ketika laporan keuangannya bagus (dan prospeknya juga bagus), maka setinggi apapun kenaikannya, pada akhirnya dia akan turun lagi untuk konsolidasi, tapi penurunannya gak akan sampai balik lagi ke level sebelum dia naik (700-an). Proses konsolidasi tersebut, atau penulis suka menyebutnya cooling down, biasanya terjadi selama beberapa minggu hingga 1 – 2 bulan, tergantung IHSG-nya juga. Jika INDY kemudian turun sampai 900 – 1,000, kemudian stabil disitu katakanlah selama 2 – 3 minggu, maka anda bisa beli INDY ini sekali lagi. Tapi kalo malah naik lagi maka jangan dikejar, melainkan tunggu saja dulu sampai dia sampai ke fase stabilnya tadi.
Btw, dalam value investing, dan mungkin juga dalam metode investasi saham manapun, kita tidak bisa memprediksi arah pergerakan saham dalam jangka pendek. Tapi yang penting entah itu dia mau naik atau turun (dalam jangka pendek tersebut), kita tahu apa yang harus dilakukan. Inilah yang disebut strategi if what, then what.
Dan bagian ketiga atau terakhir, anda bisa menggunakannya pada akhir Juni (atau awal Agustus) nanti, yakni ketika INDY akan segera (atau baru saja) merilis laporan keuangannya untuk Kuartal II 2017. Dengan keluarnya LK Kuartal I, dan ternyata hasilnya positif, maka sekarang terdapat optimisme bahwa di Kuartal II nanti LK INDY bakal sama bagusnya, atau bahkan lebih bagus, karena disisi lain perusahaan baru saja merestrukturisasi sebagian utangnya (INDY barusan menerbitkan obligasi senilai US$ 265 juta dengan bunga yang lebih rendah, untuk refinancing/membayar utang sebelumnya), beberapa unit tambang batubaranya mulai beroperasi/meningkatkan volume produksi seiring dengan stabilnya harga batubara, demikian pula unit usaha mining service-nya kembali menerima banyak orderan. Optimisme investor karena poin-poin diatas akan menjaga INDY untuk setidaknya tidak balik lagi ke level 700-an, but still, untuk jangka panjang sahamnya tetap akan butuh sentimen lanjutan agar bisa naik lebih tinggi lagi. Dan sentimen yang paling bagus adalah LK Kuartal II tadi. Thus, jika semuanya berjalan lancar, maka INDY mungkin akan naik sampai level 2,000-an pada akhir tahun 2017 nanti.
Jadi yap, sepertinya kita baru dapet barang bagus lagi disini. But remember bahwa berlian yang paling cemerlang sekalipun tidak akan langsung tampak berkilau ketika kita menemukannya dari dalam tanah, melainkan harus diasah terlebih dahulu, dan tidak sesederhana itu untuk mengasah sebuah berlian. Saham juga sama: Mau sebagus apapun fundamentalnya, semurah apapun valuasinya, tapi kalau kita asal-asalan dalam membeli sahamnya (misalnya karena buru-buru ‘mengejar kereta’) maka tetap saja ujungnya malah bakal rugi. Contoh paling gampang adalah saham KMI Wire & Cable (KBLI), yang sudah kita recommend di blog ini pada Oktober 2016 lalu ketika sahamnya masih di 300-an (anda bisa baca lagi analisisnya disini), dan memang dia kemudian naik tinggi sampai sempat tembus 800, tapi kemudian malah banyak trader yang baru masuk di KBLI ini di harga 700 – 800 (udah telat banget!), sehingga sekarang mereka malah nyangkut.
Anyway, the lesson has been learned, jadi mudah-mudahan kali ini untuk INDY kita lebih beruntung.
PT Indika Energy, Tbk (INDY)
Rating Kinerja Kuartal I 2017: A
Rating Saham pada 1,125: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublish, Avere sedang dalam posisi memegang INDY di harga 780. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan Edisi Kuartal I 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram