Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Seminar Value Investing: Jakarta, dan Semarang

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, di dua kota berbeda yakni Jakarta, dan Semarang. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di kota yang bersangkutan. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk membedakan saham yang bagus dan yang tidak (secara fundamental), dan cara untuk membeli saham yang bagus pada harga serendah mungkin (sehingga potensi keuntungannya menjadi setinggi mungkin).
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
Jakarta:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 September 2014
Semarang, Jawa Tengah:
  • Tempat: Hotel Pandanaran, Jln. Pandanaran No.58, Semarang
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 11 Oktober 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 waktu setempat (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Makassar/Jakarta/Semarang (sebutkan salah satu), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Joko Widodo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta untuk setiap seminar.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.
Bagi anda yang berasal dari luar kota dan hendak mengikuti seminar yang di Jakarta, maka dari Bandara Soekarno-Hatta anda bisa naik bis Damri langsung menuju Mall Thamrin City, demikian pula pulangnya bisa naik bis yang sama. Ongkosnya cuma Rp30,000. Selain itu disini banyak sekali hotel untuk menginap (karena lokasinya benar-benar di pusat kota Jakarta), dengan pilihan tarif mulai dari Rp400,000 hingga jutaan Rupiah per malam, jika anda berminat.

Untuk seminar di Semarang, tadinya jadwalnya adalah hari Sabtu tanggal 4 Oktober, namun diundur jadi hari Sabtu berikutnya, yakni tanggal 11 Oktober, karena tanggal 4 Oktober tersebut bertepatan/berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Berikut adalah foto-foto dari penyelenggaraan seminar sebelumnya di Medan (Sumatera Utara), Surabaya (Jawa Timur), dan Makassar (Sulawesi Selatan). Klik gambar untuk memperbesar.

Kapan Kita Harus Buy, Hold, or Sell?

Salah satu teknik/strategi dalam berinvestasi di saham adalah terkait bagaimana mengelola portofolio setiap beberapa waktu sekali agar menjadi ‘rapih’ kembali setelah sebelumnya ‘berantakan’, dengan cara melepas saham-saham yang tidak produktif/turun, meng-hold saham-saham yang masih berpotensi untuk naik lebih lanjut, dan membeli saham-saham baru untuk menggantikan saham-saham yang dilepas. Bahasa kerennya untuk strategi seperti ini adalah portfolio re-balancing. Portfolio rebalancing ini sangat penting untuk dilakukan entah itu anda adalah seorang investor jangka panjang, ataupun trader.

Analogi dari portfolio rebalancing ini adalah seperti dalam kompetisi sepakbola. Setiap tahunnya, para manajer sebuah klub memiliki kesempatan dua kali, yakni ketika jendela transfer dibuka pada pertengahan dan awal musim kompetisi, untuk membeli pemain yang ia butuhkan, mempertahankan sebagian pemain yang sudah ada, dan menjual/melepas sebagian pemain yang tidak lagi dibutuhkan oleh tim. Kegiatan jual beli pemain ini diperlukan karena pemain sepakbola yang amat sangat bagus sekalipun, pada akhirnya dia akan menjadi tua dan kehilangan kemampuannya, sehingga tidak lagi bisa berkontribusi terhadap tim. Disisi lain, setiap tahunnya akan selalu ada pemain-pemain muda berbakat yang bisa diambil oleh klub untuk memperkuat tim, untuk menggantikan pemain yang sudah tidak lagi bisa berkontribusi.
Selain karena masalah usia yang tidak lagi muda, masih ada banyak lagi alasan kenapa sebuah klub menjual pemainnya, seperti karena: 1. Si pemain ternyata tidak mampu bermain seperti yang diharapkan, atau karena gaya permainannya tidak cocok dengan gaya permainan tim secara keseluruhan (kalau kejadiannya kaya gini, maka harga jual si pemain akan lebih rendah dibanding harga belinya, alias pihak klub terpaksa jual rugi), 2. Si pemain memiliki sifat temperamental, atau sering berbuat onar diluar lapangan, dan 3. Adanya tawaran dari klub lain yang berani membelinya dengan harga selangit.
Ketika klub mempertahankan pemainnya/tidak menjualnya, maka alasannya cuma satu: Si pemain masih bisa diharapkan untuk berkontribusi lebih banyak lagi terhadap tim secara keseluruhan, dimana meski ada klub-klub lain yang mengincarnya, namun harga yang mereka tawarkan tidak/belum sebanding dengan besarnya kontribusi tersebut.
Sementara ketika sebuah klub membeli seorang pemain, alasannya bisa karena: 1. Harganya relatif murah dibanding dengan kualitas si pemarin itu sendiri, 2. Harganya murah, dan memang kualitasnya juga tidak bagus-bagus amat, namun sesuai dengan kebutuhan tim atau si manajer, 3. Merupakan pemain muda dengan bakat terpendam, dan 4. Harganya mahal, namun setimpal dengan kualitasnya yang luar biasa.
Nah, percaya atau tidak, dalam menyusun komposisi portofolio saham, maka tugas anda sebagai investor adalah seperti manajer klub sepakbola tadi, dan saham-saham yang anda pegang adalah seperti para pemain sepakbolanya. Jadi kenapa anda harus menjual salah satu atau beberapa saham yang anda pegang? Well, itu mungkin karena: 1. Ketika anda membeli saham tertentu, alasannya adalah karena kinerja/fundamental perusahaannya terbilang bagus, namun di periode berikutnya perusahaan ternyata tidak bisa mempertahankan kinerjanya yang bagus tersebut (misalnya labanya tiba-tiba turun drastis, atau bahkan rugi), 2. Sahamnya sering bergerak liar termasuk turun sendiri tanpa penyebab yang jelas, sehingga mengganggu kinerja portofolio secara keseluruhan, dan 3. Pada titik tertentu, misalnya ketika pasar sedang bullish, harga saham tersebut sudah naik sangat tinggi dibanding dengan perkembangan fundamental dari perusahaannya sendiri, sehingga valuasinya menjadi sangat mahal.
Kalau anda perhatikan ketiga poin ‘alasan penjualan’ diatas, maka anda bisa menjual saham anda dalam posisi untung, rugi, ataupun tengah-tengahnya. Jadi alasan kenapa anda harus menjual saham tertentu bukanlah karena anda sudah untung atau rugi sekian persen dari saham tersebut, melainkan karena anda harus menjualnya saja. Tak peduli seberapa dalam kerugian yang anda alami, namun kalau saham tersebut kemungkinan masih bisa turun, maka segeralah menjualnya. Sebaliknya, meski anda mungkin akan ‘jatuh cinta’ pada saham tertentu karena saham tersebut sudah memberikan keuntungan sebesar sekian kali lipat sehingga anda bertekad untuk memegangnya selamanya, namun jika ‘waktunya tiba’ dimana anda harus menjualnya, maka anda harus menjualnya. Saham sekelas Astra International (ASII) sekalipun, jika anda terus memegangnya selama periode tahun 2011 – 2013, maka anda akan kehilangan waktu 2 tahun yang amat berharga tanpa memperoleh apa-apa, karena ASII hanya bergerak stagnan selama periode waktu tersebut, sesuai dengan kinerjanya yang juga stagnan karena pelemahan harga CPO dan batubara ketika itu.
Lalu kenapa saham-saham yang lainnya bisa di-hold? Ya itu karena saham tersebut, setelah anda pelajari kembali, masih berpotensi untuk naik lebih tinggi lagi, meski kenaikan tersebut tentunya tidak akan terjadi hanya dalam waktu 1 – 2 hari. Adalah konyol jika anda meng-hold saham tertentu karena ‘soalnya saya udah nyangkut terlalu dalam, jadi tunggu dia naik dulu deh kemudian baru cut loss’. Pertanyaannya, kalau kinerja perusahaannya sendiri ternyata sudah amburadul, gimana sahamnya bisa naik?
Dan ketika anda berniat untuk membeli saham-saham tertentu (sebagai ganti dari saham-saham yang sudah dijual sebelumnya), maka beberapa alasan yang masuk akal adalah: 1. Valuasinya relatif murah, padahal sahamnya bagus (biasanya ini terjadi hanya kalau pasar/IHSG lagi bearish alias turun), 2. Valuasinya sangat murah, meski memang fundamentalnya gak bagus-bagus amat (tapi juga nggak bisa dikatakan jelek), 3. Sahamnya mewakili perusahaan kecil yang berpeluang untuk tumbuh menjadi besar suatu hari nanti, dan 4. Meski harganya mahal, namun harga tersebut cukup setimpal dengan kemampuan perusahaan dalam mencetak laba secara konsisten dari tahun ke tahun.
Jadi percaya atau tidak, kalau orang-orang seperti Carlo Ancelotti, Jose Mourinho, dan Joseph Guardiola main saham, mereka semua akan menggunakan strategi value investing, yakni membeli saham berdasarkan fundamental dan valuasinya. Nah, sekarang coba anda bayangkan kalau para manajer sepakbola ini membeli pemain sepakbola hanya karena rumor bahwa ada pemain hebat bla bla bla, tanpa menyelidiki/menganalisis si pemain ini terlebih dahulu, dan tanpa mempertimbangkan apakah harganya terbilang wajar atau tidak. Kira-kira bagaimana hasilnya? Sayangnya, hingga di pasar modal masih banyak sekali investor/trader yang membeli saham hanya berdasarkan rumor dan analisis, sehingga hasilnya pun bisa ditebak: Di musim berikutnya mereka terdegradasi, alias gak maen saham lagi karena sudah rugi terlalu besar. Sebenarnya, seorang manajer yang berkualitas pun belum tentu bisa langsung membawa timnya ke tangga juara, seperti semalam, Manchester United lagi-lagi keok ditangan tim semenjana, Leicester City, padahal mereka sudah ditangani oleh pelatih yang kemarin sukses membawa Belanda menempati peringkat ketiga Piala Dunia 2014: Louis van Gaal. Okay, Meneer van Gaal pun mungkin melakukan kesalahan tertentu yang menyebabkan MU kalah, tapi bisakah anda bayangkan bakal seperti apa hasilnya jika van Gaal hanya asal comot pemain tanpa analisis apakah sesuai dengan kebutuhan tim, dan semacamnya?
Okay, lalu pertanyaan berikutnya, kapan kita bisa ‘mengocok ulang’ komposisi portofolio, alias menjual saham yang tertentu, meng-hold selebihnya, dan membeli saham-saham baru?
Tidak ada jawaban pasti akan pertanyaan ini, karena jawabannya bisa beda-beda tergantung siapa yang ditanya. Beberapa trader yang kecanduan trading mungkin akan mengocok portofolionya setiap saat selama jam trading, dimana ia bisa membeli saham tertentu di pagi hari, dan menjualnya pada sore harinya, dan besoknya ganti saham lagi. Namun sayangnya berdasarkan pengalaman banyak kawan-kawan trader, termasuk pengalaman penulis sendiri dulu, keseringan mengocok seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kerugian. Ingat bahwa arisan-pun tidak dikocok setiap hari bukan?
Sementara kalau anda mau mencontoh strategi portfolio rebalancing ala manager klub sepakbola, maka anda bisa melakukan melirik kembali portofolio anda setiap enam bulan sekali. Sebenarnya pasar saham membuka ‘transfer window’-nya hampir setiap hari, yakni dari hari Senin sampai Jumat, pukul 09.00 – 16.00 WIB, namun anda bisa menerapkan transfer window anda sendiri, katakanlah setiap enam bulan sekali, yakni pada akhir tahun dan akhir bulan Juni. Beberapa pakar investasi di masa lalu seperti John Maynard Keynes, menyarankan kepada investor untuk mengunjungi portofolio-nya setahun sekali saja, sementara waktu selebihnya gunakan untuk ‘minum sampanye, pergi keluar dan menikmati hidup’.

However, kalau kita hanya berlibur saja sepanjang tahun, maka bisa jadi liburan itu sendiri justru akan terasa membosankan. Jadi keputusan untuk hanya melirik koleksi pegangan saham setahun sekali mungkin bukanlah ide yang terlalu bagus. So, disini penulis akan share apa saya lakukan selama ini. Ingat bahwa penulis adalah full time investor, sehingga diluar kegiatan ‘kocok mengocok’ saham, menulis blog ini, baca-baca tentang investasi, hingga menyelenggarakan seminar, saya lebih banyak jalan-jalan atau maen Playstation saja dirumah, alias liburan (meski gak pake minum sampanye juga). And here we go!
Pertama, meski penulis terbilang jarang trading saham apalagi mengamati running trade, namun minimal sebulan sekali saya selalu mengecek kondisi portofolio, yakni pada awal bulan (tanggal 1 atau 2) untuk mengetahui saham-saham apa saja yang naik, saham mana yang mungkin malah turun, dan mempelajari posisi IHSG, apakah pada bulan depan kemungkinan dia akan naik atau terkoreksi. Penulis katakan minimal, karena pada tanggal-tanggal tertentu diluar tanggal 1 atau 2, saya juga bisa saja membeli atau menjual saham tertentu, tapi itu bukan karena saya melototin monitor komputer setiap hari, melainkan kalau terjadi peristiwa luar biasa tertentu. Contohnya, beberapa waktu terakhir ini penulis banyak mendengar keluhan dari teman-teman bahwa United Tractors (UNTR) entah kenapa turun, padahal gak ada masalah apa-apa. Karena kebetulan penulis tidak memegang UNTR ini sebelumnya, dan memang masih ada sedikit cash, maka penulis kemudian mengamati UNTR ini hingga pada titik tertentu saya mungkin memutuskan untuk membelinya, jika tampak bahwa dia akan kembali rebound. Dan keputusan untuk membeli tersebut tidak perlu menunggu sampai akhir bulan/awal bulan berikutnya.
Sedikit catatan, Buffett pernah ditanya soal kapan waktunya beli saham? Dan beliau menjawab, ketika kamu menemukan saham murah, dan kamu punya uangnya! Jadi kerjaan value investor itu adalah hunting ­saham-saham murah, gak perlu setiap hari (pas lagi mood aja juga boleh), dan kalau ketemu maka belilah saat itu juga, alias nggak perlu menunggu akhir bulan apalagi akhir tahun.
Dan kedua, diluar kerjaan rutin tiap bulan diatas, penulis juga senantiasa mempelajari laporan keuangan para emiten setiap kali laporan keuangan ini keluar setiap kuartal, alias setiap tiga bulan sekali. Jika ada pegangan saham yang kinerja perusahaannya ternyata tidak lagi sebagus sebelumnya, maka mungkin sahamnya akan dilepas dulu, mungkin untuk nanti dibeli kembali atau dilupakan sama sekali. Dan jika ada perusahaan yang kinerja tampak meyakinkan, maka sahamnya boleh dibeli.
Jadi kalau bagi penulis sendiri, ‘transfer window’-nya dibuka setiap awal bulan Januari – Februari, April, Agustus, dan November, alias empat kali setahun. Diluar pengaruh faktor kenaikan/koreksi pasar yang bisa terjadi setiap saat, pada waktu-waktu itulah penulis paling banyak menjual atau membeli saham tertentu.
Cara Menjaga Agar Komposisi Portofolio Tetap Terkendali
Kemudian, anda harus menjaga jumlah saham yang anda pegang agar tidak terlalu banyak. Analoginya balik lagi ke klub sepakbola: Terserah mereka mau seberapa sering menjual atau membeli pemain, namun peraturan internasional menyebutkan bahwa jumlah pemain di dalam sebuah tim adalah maksimal 32 orang (diluar tim junior), yakni 11 pemain inti, 11 pemain cadangan, dan selebihnya pemain lapis tiga. Artinya jika Manchester United mau membeli 1 orang pemain baru, sementara jumlah anggota tim-nya sudah mentok 32 pemain, maka manajemen klub harus melepas satu pemain yang sudah ada, entah itu menjualnya atau memutus kontraknya (jika dia nggak laku dijual).
Disisi lain, sebuah klub juga harus memiliki minimal 16 pemain jika hendak ikut kompetisi, alias gak boleh kurang dari itu, dan itu tentu saja bisa dijelaskan. Bisakah anda bayangkan jika Real Madrid hanya punya persis 11 pemain tanpa adanya pemain cadangan sama sekali? Bagaimana jika kemudian Cristiano Ronaldo atau Gareth Bale cedera? Siapa yang menggantikan?
So, di saham juga anda harus menetapkan berapa maksimal anda bisa memegang saham-saham yang berbeda, dan juga berapa minimalnya. Jika anda sejak awal memutuskan bahwa anda hanya bisa memegang maksimal sepuluh saham, maka ketika anda tertarik untuk membeli saham nomor sebelas, anda harus menjual salah satu pegangan anda sehingga jumlah saham yang anda pegang tetap sepuluh saham. Yang menetapkan batas maksimal 10 saham itu adalah anda sendiri, jadi jangan pernah melanggar peraturan yang anda buat sendiri.
Disisi lain anda juga harus menetapkan jumlah minimal saham yang bisa anda pegang, karena akan sangat berisiko jika anda menempatkan seluruh dana yang tersedia hanya pada satu atau dua saham. Jika anda menetapkan minimalnya tiga saham, misalnya, maka ketika anda menjual hampir seluruh pegangan (misalnya karena anda melihat bahwa IHSG sebentar lagi bakal anjlok), tetap sisakan tiga saham di portofolio anda, biasanya merupakan saham-saham yang sejak awal anda memutuskan untuk memegangnya dalam jangka panjang, dimana kalau nanti harganya turun maka itu nggak masalah, karena anda bisa membelinya lagi menggunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, tindakan untuk ‘sapu bersih’ portofolio hanya karena khawatir bahwa pasar akan jatuh justru merugikan diri sendiri dimana saya jadinya ketinggalan kereta (atau merealisasikan kerugian yang seharusnya masih floating) ketika IHSG kemudian berbalik naik, dan masalahnya kita tidak bisa mengetahui secara persis kapan pasar akan naik atau turun.
Setelah melakukan trial and error selama beberapa tahun ini, jumlah maksimal saham yang penulis pegang adalah 15 saham, dan minimalnya 5 saham. Menurut opini penulis, jumlah ini mencerminkan strategi diversifikasi yang sehat dan tidak berlebihan, dimana saya nggak pernah memegang lebih dari 15 saham (jumlah 15 ini mungkin akan dinaikkan suatu hari nanti, tapi untuk saat ini belum perlu). Penulis mengenal beberapa investor yang cukup sering membeli saham tapi ‘lupa’ menjualnya, sehingga koleksi sahamnya jadi banyak sekali dan nggak karuan (baca: banyak yang nyangkut), dan anda tentu saja tidak mau mengalami hal itu bukan? So, mudah-mudahan dengan strategi ‘maksimal minimal’ ini komposisi portofolio anda akan menjadi jauh lebih sehat dari sebelumnya.
Okay, that’s all I can share for this week. Jika anda punya strategi alternatif terkait rebalancing portfolio ini, maka anda bisa juga meng-share-nya melalui kolom komentar dibawah.

NB: Penulis menyelenggarakan seminar investasi saham di Jakarta, hari Sabtu tanggal 27 September 2015. Biayanya hanya Rp500,000, keterangan selengkapnya baca [...]

Seminar Value Investing: Makassar, Jakarta, dan Semarang

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, di tiga kota berbeda yakni Makassar, Jakarta, dan Semarang. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di kota yang bersangkutan. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
Makassar. Sulawesi Selatan:
  • Tempat: Hotel AviraJln. Adhyaksa Baru No.18A – C, Panakukkang, Makassar
  • Hari/Tanggal: Sabtu20 September 2014
Jakarta:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 September 2014
Semarang, Jawa Tengah:
  • Tempat: Hotel Pandanaran, Jln. Pandanaran No.58, Semarang
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 4 Oktober 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 waktu setempat (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini sangat terjangkau, hanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Makassar/Jakarta/Semarang (sebutkan salah satu), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Jusuf Kalla, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta untuk setiap seminar.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.

Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.

Update: Hingga hari Selasa, tanggal 16 September, jumlah kursi yang sudah terisi untuk seminar di Makassar adalah 15 kursi.

Berikut foto-foto dari dua kali penyelenggaraan seminar yang sama sebelumnya (di Medan, Sumatera Utara, dan Surabaya, Jawa Timur), klik gambar untuk memperbesar.

Cara Membedakan Laporan Keuangan ‘Palsu’

Berdasarkan pengalaman penulis ketika beberapa kali mengadakan seminar investasi saham, salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh peserta seminar ketika sesi tanya jawab adalah soal bagaimana cara kita mengetahui apakah laporan keuangan sebuah perusahaan menyajikan angka-angka (pendapatan, laba bersih dll) yang sebenarnya atau tidak. Atau dengan kata lain, bagaimana jika kita melihat bahwa laporan keuangan sebuah perusahaan tampak bagus dengan laba bersih yang besar dll, namun ternyata itu karena pihak perusahaan memalsukan laporan keuangannya tersebut? Nah, berhubung ini mungkin merupakan pertanyaan dari banyak sekali teman-teman investor, maka sekalian saja kita bahas disini. Okay, kita langsung saja.

Salah satu kekhawatiran yang sering melanda seorang investor adalah terkait benar tidaknya informasi keuangan yang disajikan oleh laporan keuangan perusahaan. Contohnya, pada Kuartal II 2014, laporan keuangan PT Astra International, Tbk (ASII) menunjukkan bahwa perusahaan membukukan laba bersih Rp11.8 trilyun selama Januari – Juni 2014. Pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa ASII benar-benar membukukan laba sebesar itu? Bagaimana jika kenyataannya adalah bahwa laba ASII ternyata lebih kecil dari Rp11.8 trilyun, atau sebaliknya lebih besar?
Terkait hal ini, penulis jadi ingat dengan seorang kawan yang merupakan pemilik dari salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, namun tidak terdaftar di bursa, dimana kami sempat mengobrol soal laporan keuangan ini (kalau saya sebutkan nama PT-nya anda pasti tahu, namun beliau keberatan jika nama perusahaannya disebut). Beliau bercerita bahwa, sebagai pemilik dari perusahaan besar yang memiliki banyak sekali anak perusahaan, maka bukanlah pekerjaan yang mudah untuk merekap data-data pendapatan, laba bersih, dll dari anak-anak usahanya tersebut, untuk kemudian dikonsolidasikan ke induknya. Alhasil, bahkan beliau sendiri pun tidak bisa menjamin bahwa data-data yang disajikan di laporan keuangannya adalah benar, dan itu bukan karena mereka (pihak manajemen) sengaja memanipulasinya, melainkan karena kesulitan dalam merekap itu tadi. Sekarang coba anda bayangkan: Kalau anda adalah pemilik dari perusahaan rental mobil kecil-kecilan, maka menghitung laba bersihnya mudah saja: Ongkos rental yang masuk selama satu periode dikurangi bensin, gaji supir, penyusutan, dan seterusnya hingga potongan pajak. Maka ketemu deh laba bersihnya berapa. Tapi kalau anda adalah pemilik dari grup usaha yang bergerak di bidang produksi dan distribusi mobil, perkebunan kelapa sawit, alat-alat berat, tambang batubara, perbankan dan jasa keuangan, hingga teknologi informasi (seperti ASII), maka bagaimana menghitung total laba bersihnya? Ya bisa saja dihitung hingga ketemu totalnya berapa. Namun semakin besar angkanya, maka semakin besar kemungkinan terjadinya perbedaan antara hasil perhitungan laba bersih yang sesungguhnya dengan yang disajikan di laporan keuangan, karena perhitungan yang dilakukan harus memenuhi standar akuntansi.

Itu sebabnya Warren Buffett pernah ngomong begini, ‘Karena faktor keterbatasan akuntansi, kinerja kami yang sesungguhnya mungkin tidak tersajikan dalam laporan keuangan Berkshire Hathaway.’
Nah, ketika pihak manajemen ketemu dengan auditor independen, seringkali terdapat dispute (perselisihan) tentang berapa angka yang benar, karena adanya perbedaan tadi. Misalnya, manajemen mengklaim bahwa berdasarkan perhitungan internal yang mereka lakukan, laba bersih perusaahaan adalah Rp100 milyar. However, setelah melakukan audit, pihak auditor menyatakan bahwa perusahaan tidak bisa menyajikan cukup bukti bahwa laba bersihnya mencapai Rp100 milyar, melainkan (yang benar, atau istilahnya yang ‘wajar tanpa pengecualian’) adalah Rp70 milyar. Jika kedua belah pihak (pihak manajemen dan auditor) sama-sama bersikukuh dengan hasil perhitungannya masing-masing, maka seringkali yang diambil adalah jalan tengahnya. Alhasil, di laporan keuangan perusahaan (yang sudah diaudit), laba bersih yang ditampilkan bukanlah Rp70 atau 100 milyar, melainkan mungkin Rp85 milyar.
Lalu apakah dengan begitu laba perusahaan adalah benar Rp85 milyar? Sekali lagi, belum tentu. Malah faktanya, tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui secara persis, berapa sebenarnya nilai laba bersih tersebut.

Catatan: Yang dimaksud dengan mengaudit laporan keuangan bukanlah menghitung ulang nilai pendapatan, laba bersih dll sejak awal, melainkan mengevaluasi transaksi-transaksi keuangan yang dilakukan perusahaan, apakah benar transaksi itu dilakukan atau tidak, itupun pihak auditor tidak mengevaluasi seluruh transaksi. Contohnya, kalau pihak perusahaan mengklaim telah mengeluarkan Rp10 milyar untuk biaya hotel, dimana hal itu dicatat sebagai beban di laporan keuangannya, maka pihak auditor akan minta bukti kwitansi hotelnya sebagai bukti transaksi tersebut, tidak perlu semuanya, tapi beberapa diantaranya saja.

Jadi tugas auditor bukanlah membuat ‘laporan keuangan tandingan’, melainkan, sekali lagi, hanya mengevaluasi angka-angka yang diajukan perusahaan di laporan keuangannya. Jika perusahaan tidak bisa mengajukan bukti-bukti yang cukup terkait angka-angka yang mereka ajukan, maka pihak auditor mungkin akan memberikan opini bahwa laporan keuangan tersebut adalah ‘tak wajar’. Opini terbaik yang bisa diberikan auditor adalah ‘wajar tanpa pengecualian’, dan untuk memperoleh opini tersebut-lah, pihak perusahaan seringkali harus beberapa kali mengkoreksi laporan keuangannya, hingga akhirnya sesuai dengan semua bukti yang bisa diajukan kepada pihak auditor (pada titik inilah mungkin akan dilakukan ‘jalan tengah’ tadi). Setelah itu barulah laporan keuangannya akan dipublikasikan, plus dilengkapi pernyataan opini dari auditornya.

Proses audit ini rata-rata memerlukan waktu hampir 2 bulan setelah pembuatan laporan keuangannya selesai (tapi belum dipublikasikan karena masih belum memperoleh opini dari auditor). Itu sebabnya untuk laporan keuangan periode setahun penuh yang diaudit, keluarnya adalah sekitar tanggal 31 Maret, atau 3 bulan setelah tanggal laporan keuangannya (31 Desember). Sementara untuk periode kuartal yang lain (yang tidak diaudit), laporan keuangannya akan sudah dipublikasikan 1 bulan setelah tanggal laporan keuangan. Untuk periode kuartal 1 yang berakhir tanggal 31 Maret, misalnya, laporan keuangannya akan sudah dipublikasikan pada tanggal 30 April atau beberapa hari sebelumnya.

Makanya, kalau anda perhatikan, dalam Bahasa Inggris, laporan keuangan tidak disebut sebagai financial report, melainkan financial statement, alias pernyataan keuangan. Berbagai data dan angka terkait nilai aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, laba operasional, hingga laba bersih perusahaan, itu semua tidak lebih dari pernyataan dari satu pihak saja yakni pihak manajemen perusahaan, dan bukan merupakan laporan yang secara persis menggambarkan keadaan dan fakta di lapangan. Sebagai contoh, ketika di laporan keuangan PT A disebutkan bahwa nilai ekuitas atau aset bersih perusahaan (setelah dikurangi seluruh kewajiban) adalah Rp1 trilyun, maka ketika perusahaan dilikuidasi dimana aset-aset tersebut dijual kemudian sebagian uangnya dipakai untuk melunasi semua utang/kewajiban, maka nilai uang tunai yang tersisa belum tentu akan persis Rp1 trilyun juga, melainkan bisa kurang, dan bisa juga lebih, tergantung oleh banyak faktor (kalau jualnya cepet-cepet alias diobral, maka kemungkinan harga jual asetnya akan turun, sehingga uang yang terkumpul akan lebih sedikit dari Rp1 trilyun).
Itu sebabnya, untuk mengkonfirmasi apakah pernyataan seperti yang tercantum di laporan keuangan itu benar atau tidak, maka diperlukan pernyataan tambahan dari pihak ketiga, dalam hal ini auditor independen, dimana pernyataan tersebut bukan berupa ‘laporan keuangan tandingan’, melainkan hanya sekedar pernyataan pendapat/opini bahwa laporan keuangan tersebut disajikan secara wajar atau tidak. Jika ‘wajar tanpa pengecualian’ adalah opini terbaik yang bisa diberikan pihak auditor, maka opini terburuknya adalah ‘disclaimer’, yakni bahwa auditor sama sekali tidak melihat bahwa laporan keuangannya disajikan secara wajar, atau dengan kata lain, berbagai angka-angka seperti pendapatan dan laba bersih, itu semua tidak bisa dibuktikan kebenarannya sama sekali (penulis ingat dulu pernah menemukan satu perusahaan Tbk di Indonesia yang memperoleh predikat ‘disclaimer’ dari auditornya, namun saya lupa nama perusahaannya).

Makanya pihak BEI sebagai otoritas bursa juga mewajibkan perusahaan untuk menunjuk auditor untuk mengaudit laporan keuangannya minimal setahun sekali (laporan keuangan kuartalan boleh nggak diaudit, tapi laporan keuangan pada akhir tahun harus diaudit). Namun keberadaan auditor inipun tetap tidak menjamin bahwa laporan keuangan perusahaan akan menjadi benar 100%, karena itu tadi: Kalau pihak manajemen dan pihak auditor sama-sama mengklaim bahwa angka mereka-lah yang benar, maka kemudian yang diambil adalah tengah-tengahnya.

Logo PWC, salah satu auditor paling terkemuka di dunia
Lho, jadi apakah dengan demikian laporan keuangan perusahaan itu angkanya justru palsu semua? Well, bukan palsu, hanya saja tidak bisa dijamin keakuratannya, dan itu sekali lagi bukan karena pihak perusahaan sengaja memanipulasi (meski kemungkinan manipulasi tersebut akan selalu ada), melainkan karena faktor perbedaan yang mungkin terjadi ketika dilakukan perhitungan nilai laba bersih dll.
Tapi berdasarkan pengalaman penulis selama ini, tidak adanya jaminan bahwa angka-angka yang disajikan di laporan keuangan sebuah perusahaan (termasuk laporan keuangan yang diaudit) adalah benar, itu tidak sebenarnya tidak jadi masalah. Sebab mau datanya benar atau tidak, namun yang jelas semua investor melihat ke laporan keuangan yang sama, karena tidak pernah ada laporan keuangan tandingan atau semacamnya. Contohnya, ketika ASII menyatakan di laporan keuangannya bahwa laba bersih mereka untuk periode Kuartal II 2014 adalah Rp11.8 trilyun, maka entah itu angkanya benar atau tidak, namun yang jelas tidak ada data lain (atau laporan keuangan versi lain) yang menyebutkan bahwa laba ASII bukanlah Rp11.8 trilyun, melainkan hanya (misalnya) Rp10 trilyun.
Dan ketika informasi tertentu hanya bisa diperoleh dari satu sumber yang sama, maka anda tidak perlu khawatir bahwa anda akan memperoleh informasi yang keliru, karena orang lain juga memperoleh informasi yang sama. Ketika anda membaca bahwa nilai laba bersih ASII adalah Rp11.8 trilyun, maka fund manager di Schroders juga membaca angka yang sama. Alhasil, entah itu merupakan angka yang benar atau tidak, namun semua orang sepakat bahwa laba bersih ASII adalah benar Rp11.8 trilyun.
Analoginya seperti ketika Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Indonesia pada tahun 2014 adalah sekian persen. Nah, apakah itu merupakan angka yang benar? Ya bisa benar, bisa juga tidak, tapi yang jelas data dari BPS itulah yang dijadikan acuan oleh semua orang, atau dengan kata lain dianggap benar oleh semua orang, karena memang tidak ada data alternatif.
Namun ketika sebuah lembaga survey politik menyatakan bahwa, berdasarkan survey/polling yang mereka selenggarakan, partai tertentu akan memenangkan Pemilu, maka orang-orang tidak akan langsung percaya dengan data hasil survey tersebut, karena masih ada beberapa lembaga lain yang juga menyajikan data hasil survey milik mereka masing-masing, yang berbeda satu sama lain. Sementara pada kasus data yang disajikan di laporan keuangan, hal ini tidak terjadi karena untuk perusahaan manapun, laporan keuangannya (untuk periode tertentu) hanya ada satu, dan tidak ada ‘laporan keuangan tandingan’.
Dan jika laporan keuangan sebuah perusahaan memang menunjukkan hasil yang menggembirakan, sementara disisi lain sahamnya pun masih murah, maka harga sahamnya juga akan naik. Contoh sederhana saja: Pada awal tahun 2013 lalu, saham-saham properti mengalami kenaikan yang signifikan, dan itu adalah karena sektor properti memang mencatat kinerja yang luar biasa pada tahun 2013 tersebut. Jika pada tahun ini saham-saham properti tidak mampu naik kembali hingga melewati titik tertinggi yang pernah dicapai setahun yang lalu, maka itu adalah karena pada tahun 2014 ini laba perusahaan properti banyak yang turun. Contoh lainnya, saham-saham batubara dan CPO terbilang terpuruk sepanjang 2012 – 2013 karena pada dua tahun tersebut kinerja mereka memang jeblok, namun pada tahun ini saham-saham di dua sektor tersebut mulai bergerak naik, dan itu karena beberapa perusahaan batubara dan sawit (meski tidak semuanya) mulai menunjukkan kenaikan pendapatan dan laba kembali.
Nah, jika anda kritis, anda mungkin bertanya: 1. Benarkah laba perusahaan-perusahaan properti naik banyak pada tahun 2013, lalu 2. Bernarkah laba tersebut kemudian turun pada tahun 2014 ini? Well, jika anda meragukan dua fakta tersebut, namun yang jelas orang lain juga melihat data dan angka yang sama, dimana mereka kemudian mengeksekusi buy and sell mereka berdasarkan data-data tersebut. Dan itu sebabnya saham-saham di sektor properti rata-rata naik banyak pada tahun 2013 lalu karena orang ramai-ramai membelinya (karena laporan keuangannya bagus). Namun setelah mini-crash di akhir tahun 2013 lalu, mereka ternyata belum naik banyak lagi pada tahun ini (sementara saham-saham konstruksi, meski juga turun banyak pada akhir tahun 2013 lalu, namun kesininya dengan cepat naik kembali karena kinerja mereka sejauh ini masih bagus).
Dan contoh terakhir, kalau anda membaca laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan Grup Bakrie, maka anda bisa dengan mudah melihat bahwa kinerja mereka amat sangat berantakan: Ekuitas yang turun terus (bahkan ada yang sampai minus), utang segunung, dan rugi melulu. Kalaupun anda menganggap bahwa mungkin saja kinerja mereka sebenarnya tidak seburuk kelihatannya, namun investor yang lain juga melihat ke laporan keuangan yang sama, sehingga mereka ramai-ramai menghindari sahamnya. Hasilnya, bisa anda lihat sendiri kan gimana nasib saham-saham Bakrie?
Tips-tips dalam membaca laporan keuangan
However, seperti yang sudah disebut diatas, kemungkinan terjadinya manipulasi yang disengajapada laporan keuangan akan selalu ada. Selain itu, problem terbesar yang seringkali dialami seorang investor adalah ketidak telitiannya dalam membaca dan menganalisis laporan keuangan secara mendetail, sehingga bisa menimbulkan salah persepsi. Sebagai contoh, saya sering sekali menerima keluhan, ‘Mas Teguh, saham A kenapa turun ya? Padahal saya lihat labanya naik.’ Dan saat itulah saya sekali lagi harus menjelaskan bahwa hanya karena sebuah perusahaan mencatatkan laba yang naik, maka itu bukan berarti bisa langsung disimpulkan bahwa kinerjanya bagus, karena masih ada beberapa hal lain yang juga perlu diperhatikan di laporan keuangannya, belum termasuk valuasi sahamnya. Jadi jika seorang investor mengalami kerugian karena hal ini, maka itu bukan berarti karena perusahaan memanipulasi laporan keuangannya, melainkan karena ia kurang teliti saja dalam membaca laporan keuangan tersebut.
Dan satu tips yang mudah-mudahan bisa membantu anda untuk membedakan mana laporan keuangan yang berkualitas (baca: menyajikan data dan angka yang kemungkinan besar adalah benar adanya), dan laporan keuangan yang abal-abal, adalah sebagai berikut: Sebaiknya pilih saham yang menyajikan laporan keuangannya secara ‘bersih’, yakni disajikan secara simpel, rapih, dan tidak ada akun-akun yang aneh-aneh. Contohnya Unilever Indonesia (UNVR) dimana pada laporan laba ruginya hanya ada angka penjualan, yang setelah dikurangi harga pokok penjualan, beban pemasaran, beban umum, penghasilan/biaya keuangan, dan pajak, maka diperolehlah laba bersihnya berapa.
Sementara kalau anda lihat laporan keuangan Benakat Integra (BIPI), di laporan laba ruginya terdapat beberapa akun yang ‘tidak sederhana’, seperti keuntungan/kerugian lain-lain (kalau ditulis ‘lain-lain’, biasanya tidak ada hubungannya dengan operasional perusahaan, atau dengan kata lain itu merupakan keuntungan/kerugian yang tidak seharusnya ada), keuntungan/kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan, dan peningkatan/penurunan nilai wajar dari aset keuangan. Semakin banyak akun-akun yang rumit seperti ini, maka semakin besar kemungkinan bahwa laporan keuangan tersebut telah diutak atik sedemikian rupa sehingga hasilnya menjadi tidak seperti yang sebenarnya.

Kasus paling terkenal terkait hal ini adalah ketika Enron, perusahaan minyak raksasa di Amerika Serikat, ketahuan telah memanipulasi laporan keuangannya dan akhirnya dinyatakan bangkrut pada tahun 2011. Ketika itu, para analis di Wallstreet pun mengaku bingung ketika mempelajari laporan keuangan Enron, yang dipenuhi oleh akun ‘transaksi oleh pihak berelasi’, ‘tansaksi derivatif’, ‘kerugian dari penurunan nilai dari aset yang tersedia untuk dijual’, dan semacamnya (auditor Enron, Arthur Andersen, pada akhirnya juga ikut bangkrut setelah mereka dengan cerobohnya terus memberikan opini ‘wajar tanpa pengecualian’ untuk laporan Enron yang berantakan tersebut).

Selain itu, hati-hati dengan perusahaan yang sering telat dalam merilis laporan keuangannya karena bisa jadi mereka sengaja mengutak atiknya terlebih dahulu, atau perusahaan yang menunjuk auditor yang kurang kredibel untuk mengaudit laporan keuangannya. Beberapa grup usaha yang punya kredibilitas tinggi seperti Grup Astra, mau kinerja mereka bagus atau lagi turun, selama lima tahun terakhir ini selalu merilis laporan keuangannya tepat waktu, dan mereka selalu menggunakan jasa PriceWaterhouseCooper (PWC), salah satu anggota big four auditor kelas dunia, untuk mengaudit laporan keuangan mereka.

Sementara Grup Bakrie, mereka hanya menunjuk auditor yang tidak terlalu terkenal, Mazars, untuk mengaudit laporan keuangan Bumi Resources (BUMI) dkk. Meski memang, untuk laporan keuangan BUMI di tahun penuh 2013, pihak Mazars juga memberikan banyak sekali catatan setelah memberikan opini ‘wajar tanpa pengecualian’nya, yakni dengan menyebutkan bahwa angka-angka yang disajikan di laporan keuangan BUMI (yang telah diaudit) belum termasuk memperhitungan penyesuaian/perubahan tertentu yang mungkin terjadi karena kondisi tertentu yang dialami perusahaan/anak usahanya (mungkin disini artinya laporan keuangannya tidak bisa dipastikan kebenarannya bukan?)

Lalu untuk membaca laporan keuangan secara teliti, maka anda tidak boleh membaca laporan keuangan hanya secara sekilas, melainkan hari dari awal (dari bagian aset lancar) hingga akhir (arus kas), termasuk poin-poin penjelasannya (di bagian ‘catatan’), sehingga anda akan memperoleh informasi yang lebih menyeluruh ketimbang sekedar ‘laba perusahaan naik sekian persen’. Jika perusahaan membukukan laba bersih yang tiba-tiba naik signifikan, maka coba cek, dari mana asal peningkatan tersebut, apakah dari penjualan aset atau memang benar dari operasional. Kasus lain yang sering penulis temui belakangan ini adalah ketika nilai ekuitas/aset bersih perusaahan naik signifikan, sehingga valuasinya (dari sisi PBV) menjadi rendah, namun ternyata itu karena tambahan modal disetor, revaluasi aset dll, dan bukan karena peningkatan saldo laba yang riil. Dan seterusnya.
Hufftt, okay, I think that’s enough. Sebenarnya kalau saya ingat-ingat lagi, artikel yang kurang lebih serupa dengan artikel kali ini sudah pernah saya tulis beberapa tahun lalu, juga di website teguhhidayat.com ini (coba cari artikelnya di arsip artikel di sebelah kanan), namun sepertinya banyak teman-teman investor pengunjung website ini yang hanya membaca artikel yang baru-baru saja. Karena itulah, tips terakhir yang bisa saya berikan pada kesempatan kali ini adalah, setelah anda selesai membaca artikel ini maka jangan langsung buru-buru pindah ke website lain, melainkan silahkan baca-baca artikel yang lainnya lagi (dari tahun 2010 sampai sekarang, total ada sekitar 350 artikel). Trust me, it worth your while.

Pengumuman: Penulis menyelenggarakan seminar investasi saham: value investing, di Makassar, Sulawesi Selatan, hari Sabtu tanggal 20 September 2014. Keterangan selengkapnya baca [...]

Kedawung Setia Industrial

Kalau anda ketik kata ‘Kedawung Setia Industrial’ di Google, maka anda akan menemukan fakta menarik bahwa perusahaan ini, meski hanya merupakan perusahaan kecil dengan volume transaksi saham yang juga tidak likuid, namun sudah cukup sering dibahas oleh analis/investor dari sisi fundamentalnya, dan terutama: Dari sisi valuasinya yang sangat rendah. Dan memang, dengan PBV yang hanya 0.4 kali pada harga Rp369 per saham, sementara kinerja perusahaannya juga tidak bisa dikatakan buruk, saham PT Kedawung Setia Industrial, Tbk (KDSI) sangat menarik bagi para bargain hunter. Lalu sebenarnya perusahaan apa sih, KDSI ini?

KDSI adalah satu dari sedikit perusahaan terdaftar di BEI yang tidak berkantor pusat di Jakarta, melainkan di Surabaya (dan mungkin karena itu pula sahamnya tidak ter-cover oleh analis sekuritas atau fund manager reksadana besar, karena mereka harus keluar kota kalau mau ketemu jajaran direksinya). Perusahaan bergerak di bidang pembuatan alat-alat dapur yang terbuat dari (panci, rantang, dll) yang dilapisi enamel, yakni semacam cat khusus yang membuat peralatan dapur tersebut menjadi warna-warni sehingga lebih enak dilihat dan berkesan ‘mahal’. Yap, KDSI tidak memproduksi peralatan dapur biasa, melainkan peralatan dapur kelas atas yang bisa anda beli di supermarket-supermarket besar.

Meski bukan perusahaan yang terlalu terkenal, namun KDSI praktis merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia di bidang manufaktur peralatan dapur, yang sudah beroperasi sejak cukup lama (dari tahun 1970-an), dan sudah merambah pasar ekspor. Oleh BEI, KDSI diklasifikasikan sebagai perusahaan houseware atau produsen alat-alat rumah tangga, atau satu kelompok dengan Kedaung Indah Can (KICI), dan Langgeng Makmur Industri (LMPI).
Selain membuat panci dan wajan, KDSI juga memiliki satu anak usaha yang bergerak di bidang pembuatan kotak kertas karton alias kardus, wadah telur (yang juga terbuat dari kertas karton), dan tikarplastik. Pada perkembangannya, KDSI pada saat ini justru lebih banyak memproduksi dan menjual kotak kertas karton ketimbang peralatan dapur. Hingga Kuartal II 2014, dari pendapatan perusahaan senilai Rp795 milyar, Rp698 milyar diantaranya berasal dari penjualan kotak kertas karton, dan hanya Rp91 milyar yang berasal dari penjualan peralatan dapur (nilai penjualan wadah telur dan tikar plastik tercatat Rp7 milyar). Dan demikian pula di tahun-tahun sebelumnya, mayoritas pendapatan KDSI selalu berasal dari penjualan kotak kertas karton. Hal ini mungkin menimbulkan sedikit kebingungan, karena selama ini KDSI jauh lebih dikenal sebagai produsen alat-alat dapur ketimbang kotak kertas karton. Termasuk di website resmi perusahaan, www.kedawungsetia.com, sama sekali tidak disebutkan bahwa perusahaan memproduksi kotak kertas karton, melainkan hanya panci dan peralatan dapur lainnya. Tapi jika melihat fakta diatas, maka jelas sekali bahwa KDSI kurang cocok jika disebut sebagai perusahaan produsen peralatan rumah tangga, melainkan produsen kotak kardus.
Nah, terus terang penulis kurang paham soal bisnis kardus di Indonesia. Namun mengingat bahwa KDSI memproduksi kardus yang dijual ke perusahaan consumer seperti perusahaan rokok, makanan dan minuman, dan barang-barang elektronik, maka kita bisa berasumsi bahwa selama industri consumer maju terus, maka demikian pula kardus yang dijual KDSI akan selalu ada pembelinya. Dan kabar baiknya, seperti yang kita ketahui, industri consumer adalah industri yang paling stabil di dunia.
However, KDSI menghadapi beberapa tantangan dalam menjalani bisnisnya. Untuk segmen peralatan rumah tangga berlapis enamel, misalnya, trend-nya terus menurun sejak ASEAN – China Free Trade Area (ACFTA) diberlakukan di Indonesia pada tahun 2009, karena kini produk panci dan rantang milik perusahaan harus bersaing dengan produk-produk serupa asal Tiongkok yang membanjiri pasar domestik. Alhasil pada tahun 2013 lalu, KDSI hanya memproduksi 4,050 ton peralatan rumah tangga berlapis enamel, atau turun 12% dibanding tahun 2012. Tapi untungnya pemberlakuan ACFTA ini tidak berpengaruh terhadap bisnis kotak kertas karton yang juga dijalan perusahaan, dimana trend-nya tetap terus naik dalam lima tahun terakhir.
Dan mungkin karena itu pula, manajemen KDSI pada tahun 2013 lalu memutuskan untuk lebih fokus mengembangkan bisnis kardus, dimana mereka menginvestasikan Rp80 milyar untuk mendirikan pabrik kardus baru, yang akan meningkatkan kapasitas produksi dari 15,000 ton menjadi 29,000 ton kotak kertas karton per bulan. Pabrik baru tersebut pada saat ini sudah selesai dibangun dan juga sudah beroperasi, namun sepertinya belum bisa berkontribusi banyak terhadap peningkatan pendapatan dan laba perusahaan, dimana hingga Kuartal II 2014, laba KDSI hanya tumbuh 2.8%, meski pendapatannya 15.5%. Faktor penghambatnya kali ini adalah kenaikan harga bahan baku kertas karton untuk pembuatan kardus.
Berikut ini adalah beberapa poin lainnya yang penulis perhatikan dari KDSI.
  1. Dengan return on asset (ROA) yang hanya 3.9%, maka KDSI bukanlah perusahaan yang menguntungkan. Ketergantungan perusahaan akan bahan baku yang harus diperoleh dengan cara impor menyebabkan margin laba KDSI menjadi sangat tipis, yakni hanya sekitar 2 – 3%, meskipun pendapatannya terbilang sangat besar (lebih besar dari total aset perusahaan). Ini adalah salah satu kelemahan industri manufaktur di Indonesia, dimana banyak terdapat missing link dalam rantai industri itu sendiri. Sebagai contoh, Indonesia sebenarnya merupakan salah satu produsen kertas terbesar di dunia, namun kertas itu harus diekspor dulu keluar negeri untuk diolah menjadi kertas karton, kemudian baru diimpor lagi oleh KDSI. Seandainya ada perusahaan lokal yang bisa membuat kertas karton dalam skala besar (sebenarnya ada juga beberapa perusahaan lokal yang bisa mengolah limbah kertas menjadi kertas karton, tapi total kapasitas produksinya kecil sekali), maka KDSI bisa membeli bahan bakunya dengan harga yang lebih murah (dan tidak terlalu berfluktuasi) dari produsen lokal, sehingga margin labanya bisa lebih baik. Tapi sayangnya faktanya tidak demikian.
  2. Bisnis peralatan rumah tangga yang dijalani perusahaan selama ini ada kemungkinan bakal ditinggalkan sama sekali, karena digempur oleh dua masalah sekaligus: 1. ACFTA tadi, dan 2. Seretnya suplai bahan baku. Selama ini KDSI memperoleh bahan baku logam untuk membuat panci dari PT Krakatau Steel (KRAS), namun pihak KRAS sendiri akhir-akhir ini juga sering kehabisan barang, sehingga lagi-lagi KDSI harus impor.
  3. Manajemen KDSI bukanlah tipe manajemen yang terlalu agresif, dimana mereka biasanya hanya mentargetkan kenaikan pendapatan/laba bersih sebesar 10% saja per tahunnya, yang mungkin itu karena mereka, dengan mempertimbangkan faktor-faktor kesulitan diatas, lebih memilih untuk bersikap realistis. Untuk tahun 2014 ini memang ada kemungkinan kenaikan tersebut bisa lebih besar karena adanya pabrik baru, namun sekali lagi, lonjakan kenaikan tersebut sejauh ini belum kelihatan.
  4. Dalam lima tahun terakhir KDSI sukses membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih yang cukup konsisten meski, sekali lagi, persentase kenaikannya sama sekali tidak mengesankan. Pada tahun 2009, pendapatan KDSI tercatat Rp960 milyar, yang menjadi Rp1.4 trilyun pada tahun 2013, atau hanya naik total 44% setelah lima tahun. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis yang dijalani perusahaan, terutama bisnis kotak kertas karton, terbilang stabil dalam hal memperoleh pelanggan, namun rate pertumbuhannya hampir nol, karena ada kemungkinan bahwa kenaikan pendapatan tersebut hanya karena didorong oleh faktor inflasi (pendapatan perusahaan bisa naik karena KDSI menaikkan harga produk-produknya seiring inflasi, bukan karena peningkatan volume penjualan/omzet).
Nah, melihat fakta-fakta diatas, maka sulit untuk menyimpulkan bahwa KDSI ini layak untuk investasi. However, KDSI tetap dibahas di website ini karena alasan yang sudah disebut diatas: Dengan PER dan PBV yang masing-masing tercatat 4.0 dan 0.4 kali pada harga Rp369 per saham, maka KDSI ini sangatlah murah. Berdasarkan pengalaman, saham yang murah secara absolut (PBV-nya dibawah 1 kali, apalagi cuma 0.4 seperti KDSI ini) bisa naik bahkan melompat sewaktu-waktu jika laporan keuangannya menunjukkan peningkatan ekuitas atau laba bersih yang signifikan, katakanlah naik sampai 100% (dua kali lipat).
Dan karena KDSI baru saja meningkatkan kapasitas produksi kotak kertas kartonnya menjadi hampir dua kali lipat pada tahun ini, maka kemungkinan bahwa laba perusahaan bisa melompat sewaktu-waktu memang terbuka lebar, entah itu di Kuartal III nanti, atau periode berikutnya lagi. Okay, lompatan tersebut memang belum terjadi sejauh ini, dan itu sebabnya sahamnya pun belum kemana-mana (dan juga tidak likuid). Namun karena disisi lain saham KDSI ini juga sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi bahkan jika nanti IHSG terkoreksi dalam (karena sudah kelewat murah, sementara perusahaannya sendiri, meski bukan perusahaan yang terlalu bagus, namun juga tidak pernah terkena masalah apapun), maka saham ini cocok bagi anda yang bersedia untuk menunggu untuk bisa memperoleh jackpot suatu waktu nanti, tanpa perlu khawatir bakal nyangkut. Meski memang, karena masalah likuiditasnya, saham ini kurang cocok bagi anda dengan dana besar, kecuali jika anda mau membelinya secara menyicil (lalu kemudian menunggu).
So, wanna test your patience? Sekedar informasi yang mungkin sebagian dari anda juga sudah tahu, Pak Haiyanto (value investor kawakan yang seangkatan dengan Om Lo Kheng Hong) juga memegang saham KDSI sejak cukup lama, yakni sejak tahun 2011 atau mungkin lebih lama lagi, dalam jumlah yang cukup besar, yakni hampir mencapai 210 ribu lot (per 30 Juni 2014) atau setara Rp7.7 milyar berdasarkan harga Rp369 per saham. Menariknya, jumlah kepemilikan Pak Haiyanto ini kadang naik dan kadang turun, dimana kalau sewaktu-waktu saham KDSI naik (sekitar satu setengah tahun lalu KDSI sempat naik sampai 700-an), maka kepemilikan tersebut akan berkurang, dan kalau saham KDSI lagi turun seperti sekarang, maka kepemilikan tersebut akan bertambah. Got the point? Intinya, Pak Haiyanto ini sebenarnya trading juga, hanya saja menggunakan metode value investing dan dengan jangka waktu yang relatif panjang (ketika beliau ambil saham KDSI, jualnya bisa satu tahun kemudian). Dan kalau melihat fakta bahwa setiap kali KDSI ini naik maka kenaikannya selalu lebih tinggi dari sekedar 5 – 10%, maka tampak jelas bahwa ‘trading’ ala Pak Haiyanto ini, meski membutuhkan kesabaran ekstra dan juga sedikit repot (karena belinya gak bisa sekaligus, melainkan harus nyicil), namun senantiasa menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit, sementara disisi lain risikonya nyaris nol!
And that’s what we call, ‘the beauty of value investing’.
PT. Kedawung Setia Industrial, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2014: BBB
Rating Saham pada 369: AA

Pengumuman: Jadwal seminar investasi saham oleh Teguh Hidayat adalah sebagai berikut: Makassar (20 September 2014), Jakarta (27 September), dan Semarang (4 Oktober). Keterangan lebih lanjut

Seminar Value Investing: Makassar, Jakarta, dan Semarang

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’, di tiga kota berbeda yakni Makassar, Jakarta, dan Semarang. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di kota yang bersangkutan. Dan berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:

  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
Makassar, Sulawesi Selatan:
  • Tempat: Hotel AviraJln. Adhyaksa Baru No.18A – C, Panakukkang, Makassar
  • Hari/Tanggal: Sabtu20 September 2014
Jakarta:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 September 2014
Semarang, Jawa Tengah:
  • Tempat: Hotel Pandanaran, Jln. Pandanaran No.58, Semarang
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 4 Oktober 2014
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 waktu setempat (seminarnya 5 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Makassar/Jakarta/Semarang (sebutkan salah satu), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Jusuf Kalla, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta untuk setiap seminar.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4 (office hour [...]

Investor vs Broker: Can’t We Just be Friends?

Anda sudah nonton film The Wolf of Wallstreet? (Jika belum, nonton dulu sana). Film tersebut menceritakan tentang kisah karier Jordan Belfort, seorang broker/pialang saham di Pasar Saham Amerika (Wallstreet) pada tahun 90-an, yang sangat ahli dalam meyakinkan para nasabahnya untuk membeli dan menjual saham-saham tertentu, dimana ia kemudian memperoleh trading fee dari situ. Karena keahliannya tersebut ia sukses mendirikan perusahaan pialangnya sendiri, Stratton Oakmont, dan menjadi sangat kaya raya pada usia yang belum genap 30 tahun. Namun endingnya cukup ironis: Belfort ditangkap pihak berwajib karena ketahuan melakukan insider trading, yang menyebabkan kerugian nasabahnya hingga puluhan juta Dollar.

Belfort bukanlah investor atau trader saham, dia adalah broker atau pialang saham (atau disebut juga equity sales). Ia meraup pendapatannya dari aktivitas jual beli saham yang dilakukan para nasabahnya. Dan dengan sedikit trik, ia juga bisa meraup keuntungan tambahan dari kerugian yang diderita nasabahnya, dengan cara menggoreng saham-saham penny yang membuat para investor membeli saham-saham penny tersebut pada harga tinggi. Istilah gampangnya, Belfort ini seorang bandar.
Namun hal itu (kerugian yang diderita nasabah) mungkin bukan sepenuhnya salah Belfort. Dalam film-nya, ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan sekuritas untuk pertama kalinya pada usia 22 tahun, Belfort (diperankan oleh Leonardo di Caprio) diajak makan siang oleh atasannya, dan mereka berdialog kurang lebih seperti berikut:
    Belfort: ‘Suatu kehormatan bagi saya untuk bekerja di perusahaan anda pak, apalagi disini saya bertemu     dengan banyak klien/nasabah yang merupakan orang-orang kaya dan penting…’
    Atasannya: ‘(Memotong) F**k the client. Tugasmu adalah memberikan keuntungan bagi perusahaan’
    Belfort: ‘Well, tapi itu bisa dilakukan sambil membantu nasabah untuk meraup keuntungan bukan?’
    Atasannya: ‘(Menggeleng) Ketika nasabah menjual sahamnya dan memperoleh untung, maka jangan           biarkan ia menarik keuntungan tersebut, tapi dorong dia untuk membeli saham yang lain lagi, dan lagi.. Dia     mungkin akan meraup keuntungan atau menderita kerugian karenanya, bahkan kalaupun dia untung maka       keuntungan itu hanya diatas kertas. Yapi yang terpenting, kita akan memperoleh trading fee, tunai!’
Melihat adegan film tersebut, penulis jadi ingat kejadian di tahun 2011 lalu dimana saya ditawari untuk bekerja sebagai pialang di sebuah sekuritas. Ketika penulis bertemu dengan orang yang akan menjadi atasan penulis (jika saya jadi bekerja disitu), dia juga bilang begini, ‘Tugas kamu kamu adalah mendorong nasabah untuk trading, trading, dan trading lagi. Karena pendapatan kita berasal dari situ’. Ketika itu, berhubung penulis juga sudah menjadi seorang investor, penulis berpikir dalam hati: ‘Jadi tugas kita sebagai pialang, alih-alih membantu nasabah untuk memperoleh keuntungan dari investasinya, kita justru harus mendorong nasabah untuk mengeluarkan biaya karena sering melakukan jual beli saham, tak peduli dia untung atau tidak?’
Dua detik kemudian, saya memutuskan untuk tidak jadi bekerja disitu.
Sayangnya ketika penulis ketemu dengan beberapa kenalan dari sekuritas lain, ternyata cara kerja mereka juga sama begitu: Dorong nasabah untuk trading sesering mungkin. Sudah tentu, para pialang ini tidak serta merta mengatakan kepada nasabahnya, ‘Pak, trading dong! Biar saya dapat komisi nih!’, melainkan, ‘Pak, ada saham bagus nih. Chart-nya bagus, potensi upside sekian persen, risiko terbatas! Mau beli nggak? Berapa lot? Wah, tapi cash-nya kurang, jadi saham apa dulu yang mau dijual nih? Okay, mau pake margin nggak?’ Yap! Pialang dituntut (oleh perusahan sekuritas tempat ia bekerja) untuk memberikan rekomendasi saham, kalau bisa setiap hari, kepada para nasabahnya, dengan harapan nasabah tersebut menjual saham yang ia pegang sebelumnya, lalu menggunakan uangnya untuk membeli saham yang direkomendasikan. Atau dengan kata lain, melakukan trading. Dengan cara inilah, si nasabah tidak akan merasa bahwa ia sebenarnya sedang ‘beramal’ untuk pihak sekuritas. Malah justru, ia akan merasa senang bisa memperoleh informasi/rekomendasi saham gratis, setiap hari pula, apalagi jika saham yang ia beli kemudian naik.
Jadi ketika seorang investor sudah menjadi kecanduan untuk trading saham, apalagi sampai setiap hari, maka ketika itulah sang pialang boleh dikatakan telah meraup kesuksesan.
However, cara kerja pialang yang seperti itu dapat dipahami. Investor manapun, bahkan termasuk Warren Buffett sekalipun, bisa menderita kerugian setiap saat. Jadi jika pendapatan pialang berasal dari keuntungan atau profit sharing dari nasabahnya (sehingga si pialang akan membantu nasabahnya untuk menperoleh cuan sebanyak-banyaknya), lalu bagaimana jika nasabahnya tersebut merugi? Karena itulah, sekuritas menciptakan sistem dimana mereka bisa tetap memperoleh pendapatan baik dalam kondisi si nasabah meraup keuntungan ataupun menderita kerugian, yakni dengan menerapkan trading fee. Dan itu adalah pendapatan yang legal, karena dimana-mana yang namanya ‘perantara’ itu memang berhak atas sejumlah komisi atas jasa perantara yang mereka berikan. Selain itu ketika seorang investor menderita kerugian, maka itu juga bukan salah pialangnya, karena tidak pernah ada seorang pialang pun yang dengan sengaja menjeremuskan nasabahnya agar menderita kerugian (apa untungnya? Toh mau nasabah untung atau rugi, si pialang hanya akan dapet trading fee), kecuali jika dia jadi bandar seperti Jordan Belfort tadi.
Namun ketika seorang pialang terjebak pada kalimat, ‘peduli amat nasabah untung atau rugi, yang penting saya dapet fee!’, maka, diakui atau tidak, itu bukanlah cara berbisnis yang baik. Seorang teman penulis yang merupakan fund manager di Dana Pensiun Angkasa Pura pernah bilang begini, ‘Meski keputusan untuk membeli atau menjual tetap ada di tangan nasabah, namun pialang atau broker saham itu seharusnya juga bisa menjadi fund manager bagi nasabahnya, dalam hal sama-sama berusaha untuk memperoleh keuntungan dari investasi yang dilakukan. Investor paruh waktu mungkin kurang memperhatikan soal apakah pialangnya membantunya atau tidak, namun bagi investor profesional seperti kami, kami bisa membedakan pialang mana yang hanya peduli soal trading fee, dan pialang mana yang benar-benar berusaha membantu kami. Dan sudah tentu, kami lebih menyukai pialang yang disebut terakhir.’
Jadi sebagai pialang, apa yang harus saya lakukan? Well, sebenarnya sederhana saja, yakni: Jangan lagi menganggap klien/nasabah anda sebagai ‘mesin uang’, melainkan partner bisnis yang, seperti halnya anda, juga berhak untuk memperoleh keuntungan dari kerjasama yang dilakukan, dalam hal ini ketika mereka membuka rekening di tempat anda. Anda harus memiliki visi yang sama dengan kami, yakni: Untuk meraup keuntungan dari kegiatan investasi yang dilakukan, dan bukan untuk tik tok tik tok gak jelas. Ketika anda memberikan rekomendasi saham kepada kami, maka itu haruslah rekomendasi yang berkualitas, dan bukan asal rekomendasi agar kami melakukan trading.
Dan kalau anda perhatikan, tidak benar bahwa mau nasabah untung atau rugi, maka si pialang tetap memperoleh fee. Yang benar adalah, jika nasabah mengalami rugi, maka trading fee yang diperoleh akan jadi kecil karena nilai dana yang dipakai untuk jual beli saham menjadi berkurang bukan? Kalau si nasabah ini rugi terus, maka lama-lama dana dia akan habis, dan tidak bisa trading lagi. Tapi jika nasabah untung, maka fee yang anda terima juga akan naik karena jumlah dana yang dipakai menjadi bertambah, termasuk si nasabah juga kemungkinan besar akan menyetor dana lagi.
Mitos lainnya yang mungkin dipercaya oleh sebagian equity sales adalah bahwa investor jangka panjang tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi mereka, karena mereka jarang sekali trading. Padahal faktanya, bahkan Warren Buffett pun dari duluuu sampai sekarang, setiap tahunnya selalu membeli saham tertentu (kecuali di tahun 1999 ketika terjadi dot com bubble) dan iapun sesekali menjual saham tertentu. Artinya? Ia selalu menghasilkan komisi bagi pialangnya! Coba anda pikirkan, ketika kemarin Buffett membeli IBM senilai total kurang lebih US$ 10 milyar, maka berapa fee-nya??? Ambil 0.07% saja (ini adalah rata-rata komisi bersih bagi pialang di Indonesia, setelah dipotong bagian perusahaan sekuritas, BEI, KSEI, KPEI, dan pajak), maka itu artinya US$ 7 juta! Maksud penulis adalah, lebih baik anda memegang nasabah besar yang sekali pencet tombol buy bisa menghasilkan komisi jumbo, daripada nasabah kecil yang harus didorong untuk trading setiap hari agar komisi anda terasa berarti.
However, anda tidak akan bisa meng-handle nasabah besar kecuali jika anda memiliki reputasi bahwa anda memang benar-benar membantu nasabah untuk memperoleh keuntungan, atau jika anda sukses membantu nasabah anda yang tadinya kecil menjadi besar dengan sendirinya. Penulis kenal beberapa pialang sukses yang menghasilkan ratusan juta Rupiah setiap bulannya, dan itu adalah karena mereka memegang klien-klien besar, seperti investor institusi, atau investor individu yang full time. Kenapa para klien besar ini mau dipegang oleh mereka? Ya karena para pialang ini memang sangat mengerti soal saham (ini mungkin perlu digaris bawahi, soalnya penulis pernah juga ketemu dengan pialang yang bahkan gak tahu dimana harus mencari laporan keuangan perusahaan!), sudah sangat berpengalaman, mampu membantu nasabah untuk menghasilkan keuntungan yang riil, dan yang terpenting: Mampu menjadi teman bagi nasabah! Karena, investor seringkali tidak butuh rekomendasi saham, melainkan hanya teman untuk curhat dan minta saran jika ia kebetulan sedang nyangkut. Pialang yang baik adalah yang mampu memberikan counseling bagi para nasabahnya, dimana mereka bisa membesarkan hati para investor ketika pasar saham sedang anjlok, dan sebaliknya, mengingatkan investor agar realistis dan tidak serakah ketika pasar sedang naik tinggi. Jika anda ikut-ikutan panik ketika nasabah anda panik, atau sebaliknya ikut-ikutan serakah ketika nasabah anda serakah, maka itu seperti dokter yang ketika didatangi pasien, ia bukannya mengobati tapi malah ikut jatuh sakit. Dan sudah tentu, anda tidak akan menjadi pialang besar dengan cara seperti itu.
Contoh pialang yang sukses karena menerapkan metode ‘menjadi teman’ bagi kliennya adalah Chris Gardner. Dalam film berjudul ‘Pursuit of Happyness’, Gardner, yang diperankan oleh Will Smith, dengan sengaja datang ke rumah seorang fund manager besar untuk menawari membuka rekening di Dean Witter Reynolds, perusahaan pialang tempat Gardner bekerja (sementara teman-teman broker lainnya hanya menghubungi calon klien potensial melalui telepon). Gardner juga memenuhi ajakan si fund manager yang akan membawa anaknya untuk menonton pertandingan base ball, meski ia sebenarnya tidak menyukai base ball. Sepanjang pertandingan, Gardner lebih banyak bicara soal pertandingannya itu sendiri, termasuk mengobrol dengan si anak, ketimbang ngoceh soal saham. Hasilnya, ia sukses besar, hingga beberapa tahun kemudian mampu mendirikan perusahaan pialangnya sendiri.
Tidak banyak pialang yang bisa menjadi teman bagi klien-nya, dan kalaupun ada, terkadang si pialang ini bukanlah teman yang baik (baca: tidak cukup mengerti soal saham, sehingga nasabahnya tidak bisa meminta advice apapun). Seorang kawan baik penulis, Pak Gunawan pemilik blog Anggun Trader, beliau adalah trader tulen dengan kepemilikan dana yang tidak sedikit, dan beliau pernah ngomong begini, ‘Saya paling males kalau buka rekening di sekuritas besar, karena direkturnya sulit sekali ditemui dan terkesan sombong, sementara saya cuma dikasih sales anak muda yang bisa saya kontak sewaktu-waktu, padahal dia nggak ngerti apa-apa. Kalau di sekuritas kecil, direkturnya biasanya lebih friendly dan tidak sulit untuk ditemui atau diajak makan siang. Dan sebagai trader, itu saja yang saya butuhkan.’
Penulis sendiri, ketika dulu pertama kali membuka rekening di sekuritas tidak pernah memperhatikan soal ini. Namun sekarang, sekuritas yang saya pilih bukanlah karena sistemnya bagus, fee-nya murah, atau semacamnya, melainkan karena salesnya merupakan kawan baik penulis dimana penulis merasa nyambung setiap kali berdiskusi soal saham dengannya, dan dia selalu available setiap kali penulis membutuhkan bantuan tertentu. Itu saja!
So, mari kita runut lagi kriterianya. Untuk menjadi pialang yang sukses, anda harus: 1. Menjadi partner bisnis yang memiliki visi yang sama dengan nasabah, yakni untuk memperoleh keuntungan dan sama-sama bertumbuh menjadi besar, 2. Memiliki pengetahuan yang luas tentang saham agar nasabah bisa konsultasi, termasuk memiliki ketenangan agar nasabah bisa counseling, dan 3. Mampu menjadi seorang teman. Terdengar sulit? Well, sebenarnya tidak juga, karena kami sebagai investor juga memiliki kesulitan yang sama untuk mengerjakan analisis, mengelola portofolio, dll. Tidak mudah bagi kami untuk terus berupaya memperoleh keuntungan, sembari diwaktu yang bersamaan menjaga agar tidak kebobolan (baca: rugi). Intinya, semua profesi di pasar modal memiliki tantangannya masing-masing, demikian pula profesi-profesi lainnya yang ada di dunia, dimana kita dituntut untuk bekerja seperti yang memang seharusnya, jika kita ingin menjadi besar.
Hmm, penulis kira sudah cukup. Ada yang mau [...]

Seminar Value Investing, Makassar

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Makassar dan sekitarnya. Berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi Value Investing
Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  3. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!

Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel AviraJln. Adhyaksa Baru No.18A – C, Panakukkang, Makassar
  • Hari/Tanggal: Sabtu20 September 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WITA.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan siang, dan coffee break.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30.
Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Makassar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Jusuf Kalla, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.

Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4.

Update: Hingga hari Selasa, tanggal 2 September, seminarnya sudah terisi 6 kursi, jadi masih tersedia 24 kursi [...]

Outlook Sektor Sawit: Antara Harga CPO dan Biodiesel

Setelah sempat turun sedikit pada bulan Mei – Juni kemarin, sepanjang dua bulan terakhir IHSG terus naik hingga terakhir ditutup di posisi 5,199. Jika trend-nya begini terus, maka sepertinya cuma soal waktu saja sebelum IHSG akan kembali mencatat new high, dimana posisi tertinggi yang pernah diraih IHSG selama ini adalah 5,251, yang dicapai pada Mei 2013 lalu. Dalam kondisi pasar yang kondusif seperti sekarang, maka hampir semua saham tampak naik signifikan. Meski demikian, saham-saham di sektor perkebunan kelapa sawit justru turun rata-rata 10% dalam dua bulan terakhir, padahal kinerja mereka pada Kuartal II 2014 terbilang bagus dengan perolehan laba yang naik signifikan. What’s wrong?

Jika anda yang sudah terbiasa bermain dengan saham-saham komoditas, maka anda akan dengan mudah mengetahui bahwa penyebab penurunan saham-saham perkebunan kelapa sawit adalah karena penurunan harga minyak sawit mentah, atau lebih dikenal dengan CPO (crude palm oil). Berdasarkan data dari Bursa Malaysia, harga terakhir CPO adalah RM1,987per ton, dan menariknya, ini adalah harga terendah sejak tahun 2009. Pada pertengahan Juli kemarin, harga CPO masih berada di level RM2,400-an per ton, sebelum kemudian tiba-tiba saja turun terus hingga ke posisinya saat ini, atau anjlok lebih dari 15% hanya dalam tempo sebulan. Jika ditarik dari harga tertingginya sepanjang tahun 2014, yakni RM2,910 per ton (yang dicapai pada Maret lalu), maka harga CPO sudah turun lebih dari 30%, dan kelihatannya masih akan terus turun.
Lalu apa yang menyebabkan penurunan tersebut? Beberapa analis dan media menyebut bahwa hal itu disebabkan oleh meningkatnya volume produksi CPO, yang itu berarti meningkatnya supply, sementara disisi lain volume penjualan CPO, dalam hal ini volume ekspor CPO dari Indonesia dan Malaysia (sebagai dua produsen CPO utama dunia) ke seluruh dunia, malah turun, yang mungkin itu karena menurunnya demand. Dan memang kalau kita pakai data milik PT Astra Agro Lestari (AALI), salah satu perusahaan sawit terbesar di Indonesia ini memproduksi 973 ribu ton CPO sepanjang Januari – Juli 2014, atau naik 16.6% dibanding periode yang sama tahun 2013. Sementara berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total volume ekspor CPO asal Indonesia pada periode Januari – Juni 2014 tercatat 9.8 juta ton, atau turun 7.7% dibanding periode yang sama tahun 2013.
However, kenaikan produksi CPO yang sebenarnya tidak terlalu menonjol (kurang dari 20%), sementara penurunan volume ekspor yang terjadi juga tidak signifikan, maka hal ini kurang bisa menjustifikasi penurunan harga CPO yang mencapai lebih dari 15% hanya dalam sebulan terakhir. Dan ternyata, kalau kita perhatikan pola pergerakan harga CPO dalam jangka panjang, maka harga CPO ini (dan mungkin juga harga komoditas lainnya) cenderung bergerak liar tanpa pola yang jelas, dan dengan fluktuasi yang ekstrim. Gambar chart berikut akan menjelaskan pergerakan harga CPO dalam 10 tahun terakhir (Juli 2004 – Juli 2014), chart diambil dari www.indexmundi.com, klik gambar untuk memperbesar:

Nah, perhatikan bahwa selama periode dua tahun antara Juli 2004 – Juli 2006, harga CPO cenderung bergerak mendatar di rentang RM1,300 – 1,500 per ton. Memasuki paruh tahun kedua di 2006, harga CPO mulai bergerak naik.. dan terus naik hingga mencapai puncaknya di RM3,700 pada Februari 2008, atau melejit sekitar 150% dalam tempo satu setengah tahun, padahal selama dua tahun sebelumnya harga CPO sama sekali tidak bergerak kemana-mana. Kemudian, pada bulan Juni 2008, harga CPO tiba-tiba saja anjlok hingga balik lagi ke RM1,500 per ton pada bulan November, masih di tahun  yang sama!
Jadi jika ada seseorang yang menganalisis pergerakan harga CPO selama empat setengah tahun antara Juli 2004 hingga awal tahun 2009, maka ia akan menemukan fakta bahwa harga CPO pada akhirnya sama sekali tidak berubah sepanjang periode waktu yang cukup lama tersebut, yakni tetap di RM1,500-an per ton, namun harga CPO ini pernah naik dengan sangat ekstrim hingga RM3,700 per ton, sebelum kemudian balik lagi ke posisi harga semula. Mirip pergerakan saham gorengan bukan?
Memasuki tahun 2009, harga CPO sekali lagi terus bergerak naik hingga mencapai puncaknya yakni RM3,800-an pada awal tahun 2011, dan penulis bisa melihat sendiri bahwa pada periode dua tahun tersebut (karena pada tahun 2009, saya sudah masuk pasar), perusahaan-perusahaan sawit di tanah air kembali meraup keuntungan yang luar biasa. Namun sejak awal tahun 2011, harga CPO kembali turun hingga mentok di RM2,200-an per ton pada awal 2013, sebelum kemudian sempat bergerak naik hingga menyentuh RM2,900-an pada Maret 2014, dan turun kembali hingga saat ini sudah dibawah RM2,000 per ton.
Melihat fakta diatas, sulit untuk mengatakan bahwa harga CPO bisa secara sederhana dipengaruhi oleh peningkatan volume produksi, atau menurunnya volume ekspor. Karena tentunya, selama 10 tahun terakhir, volume produksi maupun ekspor CPO bisa naik dan turun setiap saat, namun seberapa ekstrim sih kenaikan/penurunan tersebut hingga menyebabkan harga CPO terbang hingga lebih dari 150% dari tahun 2009 hingga 2011? Atau sebaliknya, menyebabkan harga CPO anjlok dari tahun 2011 hingga tinggal hampir separuhnya pada saat ini? Pada akhirnya, ada banyaaaaak sekali faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan/penurunan harga CPO diluar sekedar masalah supply and demand, seperti kabar soal El Nino, perkembangan proyek biodiesel, naik turunnya harga dari komoditas pengganti (minyak kedelai, minyak jagung, dll), kebijakan bea ekspor impor oleh India dan Tiongkok sebagai tujuan utama ekspor CPO asal Indonesia, perkembangan pajak di tanah air, dan seterusnya.
Saking banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut, maka anda pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa pergerakan harga CPO tidak bisa diprediksi, karena memang pergerakannya seperti saham gorengan yang tidak ada polanya, sehingga tidak bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal (dengan melihat chart-nya) apalagi fundamental (faktor supply and demand). Diatas penulis menyebutkan bahwa harga CPO mungkin masih bisa turun, namun siapa yang tahu bahwa pada akhir tahun 2014 ini, harga CPO mungkin malah bakal balik lagi ke RM3,000 per ton?
Karena itulah, seperti yang sudah anda ketahui, Buffett kurang suka saham-saham komoditas, karena harganya mudah naik dan turun tergantung dari harga komoditasnya itu sendiri, sementara harga komoditas tersebut bisa naik dan turun kapan saja, seringkali dengan fluktuasi yang ekstrim. Tapi pertanyaannya sekarang, jika saya sudah terlanjur masuk ke saham-saham perkebunan, maka apa yang harus saya lakukan? Well, dalam hal ini ada beberapa hal yang mesti anda perhatikan.
Kondisi Industri Sawit di dalam Negeri, pada Saat ini
Pertama, entah bagaimana dengan perusahaan-perusahaan sawit lainnya, namun tiga perusahaan sawit dengan fundamental terbaik di BEI yakni Astra Agro Lestari (AALI), PP London Sumatera (LSIP), dan Sampoerna Agro (SGRO), selama tahun 2014 ini memperoleh seluruh pendapatannya dari pasar dalam negeri, alias tidak melakukan ekspor sama sekali. Hal inilah yang menyebabkan harga jual CPO dari ketiga perusahaan tersebut tidak lagi terlalu dipengaruhi oleh harga CPO internasional yang di Malaysia itu, meski memang pengaruh tersebut tetap ada. Sebagai ilustrasi, harga rata-rata CPO yang dijual AALI pada Januari – Juni 2014 adalah Rp8,700 per kg, naik 31.5% dibanding periode yang sama tahun 2013, dan masih lebih tinggi dibanding harga rata-rata CPO sepanjang tahun 2013, yakni Rp7,322 per kg. Dan terakhir, berdasarkan data dari Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan Nusantara (KPBPTPN), harga CPO untuk lelang tanggal 22 Agustus berada di level Rp7,940 per kg, atau sekali lagi, masih lebih tinggi dibanding harga rata-rata tahun 2013.
Padahal, seperti yang sudah disebutkan diatas, saat ini harga CPO di Bursa Malaysia sudah lebih rendah dibanding harga tahun 2009. Pada tahun 2009, tepatnya di bulan Maret ketika harga CPO di Bursa Malaysia tercatat sekitar RM2,000 per ton, harga CPO yang dijual AALI adalah Rp7,000 per kg (berdasarkan data lelang saat itu). Namun pada hari ini, ketika harga CPO di Bursa Malaysia kembali berada di kisaran RM2,000 per ton, harga CPO di Indonesia masih berada di kisaran Rp8,000 per kg.
Makanya, jika anda perhatikan, pada Semester Pertama 2014 volume penjualan CPO milik AALI sebenarnya turun 10.3% dibanding periode yang sama tahun 2013 karena mereka menghapuskan penjualan ekspor, namun pendapatan perusahaan tetap naik signifikan karena kenaikan harga jual CPO yang mencapai lebih dari 30%, dan karena adanya pendapatan tambahan dari penjualan olein. AALI berani menghentikan ekspor karena mereka sudah mulai bisa mengolah CPO-nya menjadi produk dengan nilai tambah/produk hilir, dalam hal ini olein. Sementara perusahaan sawit lainnya, LSIP, juga tidak perlu melakukan ekspor karena bisa menjual CPO ke induknya, Salim Ivomas Pratama (SIMP), untuk juga diolah menjadi produk hilir, dalam hal ini margarin. Lalu, SGRO, jika perusahaan sawit milik Grup Sampoerna ini pada tahun 2013 lalu harus menjual sebagian CPO-nya ke Cargill di Singapura (alias ekspor), maka pada tahun ini perusahaan bisa menjual seluruh CPO-nya ke pelanggan di dalam negeri, yang kemungkinan juga diolah menjadi produk hilir. Kondisi seperti ini belum terjadi pada 3 – 5 tahun yang lalu, dimana pada saat itu boleh dibilang seluruh perusahaan sawit di Indonesia langsung menjual CPO-nya tanpa mengolahnya terlebih dahulu, karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mengolah CPO menjadi olein atau margarin.
Kesimpulannya, penulis termasuk yang optimis bahwa penurunan harga CPO di Bursa Malaysia tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan sawit di Indonesia, khususnya perusahaan-perusahaan sawit yang disebut diatas, karena kondisinya saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu, dimana industri sawit di dalam negeri sudah lebih mandiri.
Harga CPO di Bursa Malaysia bisa Rebound Kapan Saja
Itu yang pertama. Yang kedua, meski harga CPO di Bursa Malaysia (atau di Rotterdam) mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja perusahaan sawit di dalam negeri, namun harus diakui bahwa pengaruh tersebut tetap ada, dimana perusahaan sawit tetap melirik harga di Malaysia dalam menentukan harga jual CPO di pasar dalam negeri. Buktinya harga CPO di pasar lelang dalam negeri tetap turun ketika harga CPO di Malaysia turun (meski penurunannya tidak sedrastis yang di Malaysia). Jadi jika harga CPO di Malaysia kembali melanjutkan penurunannya, maka pendapatan AALI dkk mau tidak mau akan terkena imbasnya juga. Selain itu bagi investor asing yang memegang saham-saham perkebunan di BEI, yang mereka lihat ya cuma harga CPO di Malaysia, karena mereka nggak tahu apa itu KPBPTPN (dan jangan-jangan anda juga nggak tahu?).
Karena itulah, pelemahan saham-saham CPO yang terjadi sebulan terakhir ini bisa berlanjut jika harga CPO di Bursa Malaysia kembali turun. Tapi disisi lain, bagaimana jika nanti harga CPO rebound? Yaaa saham-saham sawit juga akan naik kembali. Memang, kalau kita perhatikan lagi chart diatas, setiap kali harga CPO turun, maka penurunannya biasanya nggak tanggung-tanggung, seperti saat ini sudah turun 30% dibanding posisi puncaknya bulan Maret kemarin. Namun kapan penurunan tersebut akan berhenti untuk kemudian rebound, itu tidak ada seorangpun yang tahu.
Dan menariknya, sekali lagi kalau kita perhatikan chart diatas, seperti halnya penurunannya yang seperti terus menerus tanpa jeda (sebulan terakhir ini harga CPO terus turun setiap hari, tanpa pernah naik satu hari pun), maka ketika nanti gilirannya harga CPO ini naik, kenaikannya pun akan secara terus menerus tanpa jeda! Makanya diatas penulis mengatakan bahwa siapa yang tahu, kalau pada akhir tahun 2014 ini harga CPO bisa naik lagi ke RM3,000 per ton? CPO biar bagaimanapun merupakan komoditas yang masih sangat diperlukan oleh seluruh penduduk dunia, termasuk Indonesia (anda mau goreng ayam pake apa kalau gak ada minyak goreng, yang dibuat dari CPO ini?). Jadi mau sedalam apapun penurunannya, namun pada akhirnya nanti dia akan rebound dan naik kembali.
Kesimpulannya, dengan mempertimbangkan bahwa industri sawit di tanah air sudah tidak lagi terlalu bergantung pada harga CPO di pasar intenasional, dan bahwa harga CPO (di Bursa Malaysia) bisa kembali naik kapan saja, maka keputusan untuk menjual saham sawit yang anda pegang mungkin merupakan keputusan yang keliru (penulis menerima cukup banyak email yang menanyakan soal ini). Pada akhirnya, di tahun 2014 ini para emiten sawit mencatatkan kinerja yang cukup baik, dimana kalaupun pada Kuartal III nanti kinerja mereka sedikit tertekan karena penurunan harga CPO, namun seharusnya perolehan laba AALI dkk masih akan tampak naik dibanding tahun 2013.
New Project: Biodiesel!
Tapi memang, karena disisi lain kita juga nggak tahu kapan penurunan harga CPO ini akan berhenti, maka anda mungkin bisa keluar dulu setidaknya sebagian, tapi jangan lupa untuk terus mencari peluang untuk masuk kembali jika nanti dikasih harga bawah. Penulis masih menganggap bahwa sektor sawit sangat menarik karena, diluar fakta bahwa kinerja para emiten sawit mulai membaik pada tahun 2014 ini, terpilihnya Jokowi – Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI untuk lima tahun kedepan memberikan sentimen positif bahwa proyek konversi CPO menjadi biodiesel untuk pengganti BBM, yang sudah dicanangkan Pemerintah sejak lama namun realisasinya jalan ditempat (yang mungkin karena Pak SBY sudah terlalu sibuk mengerjakan banyak proyek lainnya, sementara Pak Boediono, apalagi para menteri-menteri dibawahnya, dengan segala hormat, tidak bisa apa-apa), akan bisa kembali dikebut. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Pak JK punya track record meyakinkan ketika ia dulu bisa dengan cepat mengeksekusi konversi penggunaan minyak tanah ke gas. Jadi dengan kembalinya beliau ke kursi Wakil Presiden, maka terhadap harapan yang besar bahwa proyek biodiesel ini juga bisa dengan cepat dikerjakan (masih ingat slogan ‘lebih cepat, lebih baik’?), karena disisi lain proyek tersebut juga sudah sangat urgent agar Pemerintah punya alternatif ketimbang terus menerus mengimpor BBM, sehingga pada akhirnya bisa mengurangi beban APBN gara-gara subsidi BBM. Pak Dhe Jokowi sendiri, dalam salah satu debat capres beberapa waktu lalu, sempat menyatakan bahwa salah satu fokusnya jika terpilih sebagai Presiden adalah mengembangkan sumber energi terbarukan, dalam hal ini memerintahkan Pertamina untuk membuka pasar untuk biofuel/biodiesel, dan memberi insentif kepada perusahaan-perusahaan sawit yang mau mengembangkan industri biodiesel tersebut. Jika melihat fakta bahwa AALI dkk sudah bisa mengembangkan olein dan margarin, maka industri sawit di tanah air tinggal memerlukan sedikit support dari Pemerintah, entah itu dalam bentuk insentif pajak atau semacamnya, untuk kemudian mulai mengembangkan proyek biodiesel.
Dan jika proyek biodiesel ini bisa terealisasi sepenuhnya (sudah ada beberapa perusahaan produsen biodiesel di Indonesia, namun jumlahnya belum banyak), maka harga BBM tidak perlu dinaikkan, APBN terselamatkan, sementara para perusahaan sawit di tanah air bisa terus menggenjot volume produksinya tanpa khawatir bahwa harga CPO di pasar internastional akan turun karena oversupply, karena seluruh produksi CPO tersebut akan diserap untuk kebutuhan pembuatan biodiesel di dalam negeri. Dan terakhir: Pertumbuhan ekonomi RI secara keseluruhan bisa dipastikan akan kembali menanjak. Semua senang, semua menang! Lalu kapan semua ini akan terealisasi? Yah mudah-mudahan, secepatnya.
Pengumuman: Buletin Analisis & Rekomendasi saham bulanan edisi September 2014 akan terbit tanggal 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Seminar Value Investing, Medan

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Medan, Sumatera Utara, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Kota Medan dan sekitarnya. Berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Bagaimana cara mengaplikasikan value investing secara cepat dan mudah dalam kegiatan investasi.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!

Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel Swiss-BelinnJln. Surabaya No.88, Kota Medan.
  • Hari/Tanggal: Sabtu30 Agustus 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan siang, dan coffee break.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30.

Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Medan, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Anton Medan, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB [...]

Cara Membangun ‘Passion’ dalam Berinvestasi

Pada hari Minggu ini, berhubung ibunya anak-anak mengajak dua jagoan kami menonton lomba Agustusan, sementara penulis sendiri kurang tertarik untuk ikut lomba panjat pinang atau semacamnya, maka jadilah saya diam saja dirumah, dan mengisi waktu dengan membaca-baca berbagai macam tulisan di internet. Selain membaca segala sesuatu tentang dunia finansial khususnya tentang investasi di pasar saham, penulis juga menyukai sepakbola, kuliner, dan terutama: Sejarah. Jika ada kelas ujian dimana penulis harus menyebutkan siapa saja nama-nama Kaisar dari Dinasti Han di Tiongkok, maka saya akan bisa menjawabnya dengan lengkap, mulai dari Kaisar Gaozu sebagai pendiri dinasti, hingga terakhir Kaisar Xian. Nah, dari sinilah penulis kemudian punya ide untuk menulis artikel ini, yang mudah-mudahan bisa memberi anda sedikit inspirasi.

Semuanya dimulai sejak penulis menyukai sejarah. Entah sejak saya menyukai sejarah, namun membaca sejarah sangatlah menyenangkan. Anda akan merasa seolah-olah sedang terbang menjelajah dan melintasi ruang dan waktu, untuk melihat semua tempat, peristiwa, dan kejadian, mulai dari berkuasanya Raja Menes di Mesir pada 3000 tahun Sebelum Masehi, hingga mendaratnya pasukan sekutu di Omaha Beach di Normandy pada peristiwa Perang Dunia kedua di tahun 1944. Bahkan hanya dengan membaca tulisan sejarah saja, apalagi jika dilengkapi gambar-gambar dan video, maka anda akan bisa berimajinasi, dan membayangkan bagaimana suatu peristiwa sejarah terjadi. Pengalaman seperti ini adalah hampir sama menyenangkannya dengan pergi berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah anda kunjungi sebelumnya, seperti berpetualang keliling dunia, tapi bahkan lebih hebat lagi karena anda tidak hanya menjelajah dunia, tapi juga menjelajah waktu hingga ke masa lalu.
Dan sebagai investor di pasar modal, hobi ‘berpetualang’ ini ternyata memberikan banyak sekali keuntungan, contohnya:
1. Membuat anda awet muda
Apakah anda merasa bahwa semakin anda dewasa, maka semakin cepat waktu berjalan? Ternyata itu ada penjelasannya, yakni: Waktu akan terasa cepat berjalan jika kita mengalami peristiwa atau menjalani rutinitas yang itu itu saja, yang sudah sering kita lakukan sebelumnya. Ketika seorang bayi terlahir ke dunia hingga ia tumbuh menjadi seorang anak kecil, ia akan mengalami banyaaaaaak sekali hal-hal yang baru, yang ia belum pernah alami sebelumnya, seperti belajar berjalan, berbicara, minum susu, makan nasi dengan lauk pauknya, dan seterusnya. Hampir setiap peristiwa yang dialami oleh seorang balita adalah merupakan peristiwa yang baru ia alami untuk pertama kalinya, dan itu sebabnya usia nol sampai dengan enam tahun merupakan periode terpanjangdalam kehidupan seorang manusia.
Memasuki usia 6 tahun, seorang anak mulai menjalani sebuah rutinitas, dalam hal ini berangkat sekolah dan lain-lain, namun ia tetap akan mengalami banyak peristiwa dan pengalaman yang baru, seperti untuk pertama kalinya merasa suka kepada lawan jenis ketika sudah berusia belasan tahun. Pada rentang usia enam hingga dua puluh satu tahun, seseorang akan mengalami kombinasi dari peristiwa-peristiwa baru, sekaligus rutinitas yang sama yang harus ia jalani, dimana rutinitas ini menyebabkan waktu berjalan lebih cepat. Alhasil, sebagian besar orang akan merasa bahwa lamanya waktu ketika ia berusia antara 6 – 21 tahun, adalah kurang lebih sama lamanya dengan ketika ia berusia 0 – 6 tahun.
Ketika seseorang beranjak dewasa, maka ia akan mengalami lebih banyak lagi rutinitas, seperti harus kekantor tiap hari, kejebak macet tiap hari, ketemu orang-orang yang sama setiap hari, dan seterusnya. Pada periode inilah seseorang, jika ia tidak mencoba melakukan hal-hal yang baru melainkan terus tenggelam dalam rutinitasnya,  akan mulai merasa bahwa waktu berjalan sangat cepat dan membosankan.
Dan jika waktu sudah terasa berjalan terlalu cepat, maka anda juga akan menjadi lebih cepat tua meski sejatinya, secara usia, anda mungkin masih relatif muda.
Nah, untuk mencegah hal itu terjadi, maka anda bisa melakukan hal-hal yang baru setiap hari, atau paling tidak setiap minggu, setiap bulan, atau minimaaaaaal setiap tahun! Contohnya? Jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah anda kunjungi di kota tempat anda tinggal, mencoba restoran baru, nginep di hotel (biar ada variasi, masa tidur di rumah mulu), ketemu orang yang belum pernah anda temui sebelumnya (ini sering sekali penulis lakukan), dan seterusnya. Jika anda punya budget ekstra, maka boleh keliling Indonesia, keliling dunia, termasuk mencoba sate serangga di Vietnam, atau melihat kawanan singa di Afrika Selatan. Dan seterusnya.
Daaan jika anda tidak punya cukup waktu untuk melakukan itu semua, maka anda bisa berpetualang dengan cara membaca. Membaca apa? Ya apa saja! Dengan adanya internet, maka anda tidak perlu lagi repot datang ke toko buku untuk membaca. Pokoknya bacalah sesuatu yang baru, tontonlah video yang belum pernah anda tonton sebelumnya, dan seterusnya. Seperti yang penulis sedang lakukan hari ini, saya hanya dirumah aja membaca-baca artikel sejarah di Wikipedia, dan itu membuat penulis merasa mengalami hal-hal yang baru, dalam hal ini: Baru tahubahwa keturunan Napoleon Bonaparte hingga saat ini masih menjadi penguasa tidak resmi di Kekaisaran Perancis. Dan masih banyak lagi ‘baru tahu-baru tahu’ lainnya.
And trust me, dalam hal membuat kita menjadi awet muda, it works! Penulis sendiri, setiap kali ketemu orang, maka yang biasanya mereka tanyakan adalah saya ini kelahiran tahun berapa, karena kelihatannya kok masih muda sekali, padahal penulis juga sudah tidak lagi semuda lima tahun yang lalu. Seorang teman pernah ngomong begini, ‘Mas Teguh tadi waktu pake baju rapih ketika mengisi kelas, kelihatannya dewasa sekali. Tapi sekarang setelah ganti pake kaos, kelihatan biasa saja.’ Nah, ‘biasa saja’ disini penulis artikan sebagai masih muda, bahkan cenderung masih seperti anak kecil. Sebab ketika penulis tampil didepan forum seminar, semua orang memanggil saya ‘Pak Teguh’. Tapi setelah saya pake kaos, teman penulis tadi ganti memanggilnya jadi ‘Mas Teguh’.
Lalu apa kaitannya awet muda ini dengan pekerjaan kita sebagai investor? Well, ketika anda secara fisik tampak awet muda, maka demikian pula didalam fisik anda tersebut terdapat jiwa yang juga muda. Dan jiwa muda identik dengan semangat dan passion, yakni passion untuk terus maju kedepan, untuk menggapai sesuatu yang sudah dicita-citakan sebelumnya, dan selanjutnya bekerja keras untuk itu. Tak peduli berapapun usia anda, namun jika anda memiliki passion tersebut, maka anda memiliki jiwa yang masih sangat muda, dimana masih ada banyak petualangan yang akan menanti anda kedepannya.
Dan sebagai seorang investor, keinginan untuk ‘terus maju kedepan’ seperti itu, untuk tidak cepat puas dengan hasil apapun yang diperoleh dan sebaliknya, tidak lekas kecewa ketika mengalami kerugian, adalah bekal yang sangat penting untuk bekerja secara terus menerus dalam menumbuhkan nilai portofolio investasi anda. Percaya atau tidak, pada Annual Letter-nya yang terakhir, yakni tahun 2013, Buffett menulis bahwa pada tahun depan, yakni ketika ia resmi sudah memegang Berkshire Hathaway selama 50 tahun, ia akan menuliskan tentang bagaimana prediksinya tentang kinerja investasi Berkshire, dalam 50 tahun berikutnya lagi. Penulis yakin seyakin-yakinnya bahwa Buffett juga sadar bahwa ia tidak mungkin masih hidup pada 50 tahun lagi dari sekarang, tapi bahkan itu tidak mencegahnya untuk terus maju kedepan, dalam hal ini hingga 50 tahun berikutnya! Dan itulah yang penulis maksud dengan passion, yang biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang berjiwa muda, tak peduli berapapun usianya. Sounds great, eh?
2. Membuat anda memiliki wawasan yang luas
Untuk keuntungan yang ini sih sudah tidak perlu dijabarkan panjang lebar lagi. Jika anda senang membaca, maka anda tentunya akan mengetahui banyak hal. Dan sebagai investor saham, ketika anda sudah bisa menikmati pengalaman membaca dokumen-dokumen terkait perusahaan yang anda tertarik untuk membeli sahamnya, maka anda akan mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut dengan sedetil-detilnya, termasuk sektornya. Sehingga jika anda kemudian memutuskan untuk berinvestasi di sahamnya, maka anda akan memiliki kepercayaan diri yang kuat, karena keputusan anda tersebut didukung oleh informasi yang lengkap. Ada banyak kasus dimana seorang investor mengalami kerugian karena panik langsung cut loss ketika saham yang ia beli turun, karena ia tidak mengetahui secara detail tentang saham tersebut, dalam hal ini perusahaannya, padahal informasi detail tentang sebuah perusahaan bisa diperoleh dari laporan keuangan, laporan tahunan, prospektus, dan dokumen-dokumen lain yang terkait.
Dan ketika penulis mengatakan bahwa anda harus ‘menikmati’ membaca dokumen-dokumen terkait perusahaan, maka penulis tidak bercanda. Anda harus menjadikan kebiasaan membaca tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan, yang membuat anda mengalami ‘baru tahu’ lagi, dan bukannya pekerjaan yang membosankan.
Otak manusia didesain untuk mampu menampung informasi sebanyak-banyaknya, terutama jika informasi tersebut bersifat valid, contohnya data dan fakta kinerja perusahaan di masa lalu. Jadi anda jangan khawatir akan ‘keberatan pikiran’ jika membaca terlalu banyak. Malah justru kalau anda jarang membaca, maka kepala anda akan berisi pikiran yang nggak-nggak. Penulis punya kenalan seorang pensiunan yang belum terlalu senior, masih 50-an lah, tapi sehari-harinya ia hanya diam saja dirumah tanpa melakukan atau memikirkan apapun, dan hasilnya yang ia pikirkan adalah bahwa ia mengalami sakit ini dan itu, padahal sebenarnya ia tidak sakit apa-apa. Tapi justru karena ia berpikir bahwa ia sakit, maka jadinya malah sakit beneran.
Sementara Buffett, dia bisa-bisanya masih sehat walafiat begitu pada usia yang sudah mencapai 83 tahun, dan itu karena setiap hari ia menghabiskan sekitar 4 jam hanya untuk membaca.
3. Membuat anda memiliki kemampuan berimajinasi yang baik
Nah, poin yang ketiga ini adalah mungkin justru merupakan poin yang terpenting. Ketika anda membaca, katakanlah membaca kisah-kisah sejarah, maka pikiran anda akan melayang-layang. Ketika penulis membaca tentang kisah peperangan tertentu, maka jika jalannya perang tersebut ditulis secara detail, penulis akan bisa membayangkan seolah-olah saya ikut ada didalamnya. Dan itulah yang disebut dengan imajinasi. Semakin sering anda membaca tentang apa saja, maka akan semakin baik kemampuan anda dalam berimajinasi. Salah satu buku cerita terbaik yang pernah ditulis, yaitu Harry Potter, mampu membuat pembacanya membayangkan bahwa ia seolah-olah sedang berada di kastil, melihat si tokoh utama sedang mengayunkan tongkat sihir, dan seterusnya (jadi kalau anda hendak melatih kemampuan anak anda dalam berimajinasi, maka berikanlah dia novel Harry Potter).
Dan imajinasi ini sangatlah penting, termasuk dalam hal posisi kita sebagai investor saham. Contoh kecil saja: Bisakah anda membayangkan, meng-imajinasi-kan, bahwa IHSG kita suatu hari nanti, meski itu mungkin butuh waktu bertahun-tahun dari sekarang, akan menembus 10,000? Ketika anda membeli saham tertentu pada harga 1,000, bisakan anda membayangkan bahwa saham tersebut akan naik menjadi 1,500, 2,000, 3,000, dan seterusnya? Jika anda tidak bisa membayangkannya, maka ngapain anda beli sahamnya??? Lalu terakhir yang paling penting, bisakah anda membayangkan bahwa nilai portofolio anda, yang mungkin anda anggap masih kecil pada saat ini, akan menjadi besar suatu hari nanti?
Imajinasi merupakan pangkal dari peristiwa yang benar-benar akan terjadi nantinya. Tidak semua imajinasi, bayangan, atau cita-cita akan menjadi kenyataan, tentu saja. Namun jika untuk membayangkan sesuatu saja, anda tidak bisa, lalu bagaimana mungkin anda bisa membuat sesuatu tersebut menjadi kenyataan?
Kesimpulan
Kombinasi antara passion, wawasan yang luas, hingga kemampuan untuk berimajinasi, pada akhirnya akan sangat membantu anda dalam menata investasi anda di saham, dan bahkan mungkin: Di segala bidang. Dan semua itu bisa anda peroleh hanya dengan satu tips saja: Membaca. Ketika anda sudah bisa menjadikan membaca sebagai gaya hidup, ketika anda sudah menganggap bahwa membaca merupakan petualangan dan bukannya sesuatu yang membosankan, ketika benak anda sudah dipenuhi oleh banyak pengetahuan dan informasi yang bermanfaat ketimbang pikiran-pikiran yang nggak ada gunanya, maka ketika itulah anda sudah siap untuk menjadi besar, entah itu sebagai investor di pasar modal, atau apapun bidang yang anda tekuni.
Dan dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, maka anda tidak perlu menyisihkan waktu secara spesifik untuk membaca. Anda bisa membaca dimana saja, dan kapan saja. Berbekal sebuah smartphone, penulis paling suka membaca artikel-artikel di Wikipedia (dan Investopedia) pada malam hari menjelang tidur, ketika berdiri di bis Transjakarta, ketika duduk di cafe menunggu teman datang, atau ketika lagi diem dirumah seperti sekarang.
However, harap bedakan antara membaca dengan browsing-browsing internet gak jelas. Banyak orang yang menggunakan smartphone-nya hanya untuk membuka Facebook, ngerumpi di BBM, atau maen Candy Crush, dan semua itu tentunya bukanlah tindakan yang produktif. Jadi mulai sekarang, anda bisa membuat smartphone anda lebih bermanfaat dengan menggunakannya untuk membaca, tidak hanya seputar pasar modal, tapi tentang topik apapun yang anda tertarik untuk membacanya. What? Anda masih bingung harus mulai baca dari mana? Well, jangan khawatir, anda bisa memulainya dengan membaca-baca artikel yang disajikan di website ini. Coba arahkan kursor anda ke kanan, disitu ada banyak artikel-artikel lama namun masih relevan untuk dibaca.
Hufftt, okay, I think that’s enough. Selanjutnya kita ketemu lagi minggu depan.
NB: Bagi anda yang tinggal di Medan dan Surabaya, penulis akan share lebih banyak lagi topik-topik seperti diatas dengan cara ketemu dengan anda langsung melalui event seminar. Keterangan selengkapnya boleh baca disini(Medan), dan

Seminar Value Investing, Surabaya

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Surabaya, Jawa Timur, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Surabaya dan sekitarnya. Berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi value investing
Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Bagaimana cara mengaplikasikan value investing secara cepat dan mudah dalam kegiatan investasi.
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Memperoleh pencerahan, menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Favehotel MEX SurabayaJln. Pregolan No.1 – 5, Surabaya.
  • Hari/Tanggal: Sabtu6 September 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan siang, dan coffee break.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30.

Biaya untuk ikut acara inihanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 3384.34.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Dahlan Iskan, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB [...]

Ebook Analisis Kuartal II 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2014 (Q2 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana. Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG). 
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin, tanggal 11 Agustus 2014 kemarin. Anda bisa memperoleh ebook-nya disini.
Berikut screening ebooknya (klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu.
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan edisi kali ini merupakan edisi keenam belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca contoh-contoh analisis yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini:
  1. Resource Alam Indonesia (KKGI)
  2. Indofood Sukses Makmur (INDF)
  3. Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)
  4. Adira Dinamika Multifinance (ADMF)
  5. Jasa Marga (JSMR)
  6. Astra International (ASII), dan seterusnya.
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Multi Indocitra: Another Value Stock

Multi Indocitra (MICE) mungkin bukanlah perusahaan yang cukup populer entah itu di mata investor pasar modal maupun masyarakat umum, namun perusahaan ini adalah produsen dari salah satu merk produk perlengkapan kebutuhan bayi paling terkenal di Indonesia: Pigeon, dan juga kosmetik dengan merk yang sama. MICE juga sempat memiliki bisnis sampingan dengan membuat lampu hemat energi merk ‘Hori’, namun sepertinya gagal sehingga perusahaan kembali fokus ke bisnis utamanya, yakni perlengkapan kebutuhan bayi dan kosmetik.

MICE tergolong perusahaan baru di Indonesia. Sejarah perusahaan baru dimulai pada tahun 1995 sebagai pemegang lisensi untuk membuat produk-produk perlengkapan kebutuhan bayi dengan merk Pigeon (Pigeon sendiri merupakan merk asal Jepang), dan sejak saat itu hingga sekarang, bisnis yang dijalani MICE sepenuhnya hanya di seputar membuat botol susu, dot, pompa penyedot ASI, sabun mandi dan shampoo bayi, bedak, dan baby oil. Namun MICE terbilang sukses dalam mengembangkan jaringan distribusi untuk produk-produknya, dimana pada saat ini produk-produk kebutuhan bayi merk Pigeon sudah bisa ditemukan dari Banda Aceh hingga Jayapura, dengan kantor cabang di tiga kota besar yakni Jakarta, Medan, dan Surabaya.
Nah, dari pengalaman penulis sendiri sebagai ayah dari dua orang putra putri yang masih kecil-kecil, bisnis perlengkapan bayi ini memang menjanjikan. Ketika istri anda melahirkan maka anda, suka atau tidak, harus membeli botol susu berbagai ukuran, dan merk botol tersebut apalagi kalau bukan Pigeon (ada juga merk ‘Huki’, tapi kami lebih suka Pigeon). Ketika kami belanja sabun mandi dan shampoo khusus bayi, harganya ternyata lebih mahal ketimbang sabun dan shampoo biasa. Dan kalau nanti putra putri kami sudah tumbuh besar sehingga tidak lagi membutuhkan produk-produk tersebut maka masih banyak bayi-bayi lainnya diluar sana yang terus dilahirkan setiap saat, sehingga MICE akan selalu memperoleh konsumen untuk produk-produknya.
Berdasarkan profil industri seperti itu, maka penulis mengira bahwa MICE ini merupakan perusahaan yang menguntungkan, dan kinerjanya pun akan bertumbuh secara konsisten dari tahun ke tahun. Namun sayang sekali, kenyataannya tidak demikian. Berikut data kinerja perusahaan selengkapnya. Sebelumnya catat bahwa ekuitas yang ditampilkan disini adalah ekuitas bersih diluar kepentingan non pengendali (salah satu anak usaha MICE, PT Pigeon Indonesia, sahamnya hanya dipegang 65% oleh MICE, dan selebihnya dipegang Pigeon Corp., sehingga 35% saham yang tidak dimiliki ini menjadi kepentingan non pengendali), dan laba bersihnya adalah laba bersih yang sudah dikurangi bagian untuk kepentingan non pengendali. Angka dalam milyar Rupiah, kecuali margin laba dan ROE dalam persen.
Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Ekuitas
176
185
202
229
240
302
441
Pendapatan
244
308
340
423
465
560
591
Laba bersih
30
24
28
28
30
41
40
Margin Laba (%)
12.3
7.8
8.1
6.7
6.5
7.3
6.8
ROE (%)
17.1
13.0
13.7
12.3
12.5
13.5
9.1
Nah, perhatikan bahwa kecuali untuk tahun 2007, MICE hanya mampu menghasilkan laba yang tidak sampai 15% dari nilai modal bersihnya, dan nilai laba itu sendiri cenderung stagnan dengan hanya mampu bertumbuh kurang dari sepuluh persen (jika dirata-ratakan) setiap tahunnya. Alhasil, pertumbuhan ekuitasnya pun tidak terlalu menonjol. Dan untuk ukuran perusahaan produsen (MICE ini membuat botol susu, bukan mengimpor botol susu dari Jepang), maka maka margin laba yang tidak sampai 10% tentunya juga tidak terlalu bagus. Jika perusahaan masih mencatat kinerja yang seperti ini hingga tahun-tahun berikutnya, maka sahamnya pun kemungkinan tidak akan naik terlalu tinggi meski setelah menunggu beberapa tahun, dan itu artinya MICE ini tidak begitu cocok untuk investasi jangka panjang.
Lantas apa yang membuat MICE kok kurang bagus, padahal industrinya tampak menjanjikan? Well, entahlah, tapi itu mungkin karena ada perjanjian kerjasama tertentu dengan pihak Pigeon Corp. yang menyebabkan perolehan laba MICE menjadi tidak maksimal. Sebab kalau anda perhatikan, sudah beberapa tahun ini MICE mencoba untuk lepas dari ketergantungan Pigeon dengan meluncurkan merk produk milik sendiri, namun sayang sampai sekarang upaya tersebut masih gagal. Contohnya, sekitar dua tahun yang lalu perusahaan mencoba masuk ke bisnis lampu hemat energi dengan meluncurkan lampu merk ‘Hori’, namun hasilnya ternyata mengecewakan: Bisnis lampu hemat energi tersebut hanya bertahan sebentar sebelum kemudian ditinggalkan.
Dan belakangan pihak manajemen MICE kembali mencoba peruntungannya dengan kembali berekspansi, kali ini dengan meluncurkan pruduk kosmetik (berbeda dengan bisnis lampu, perusahaan sudah berpengalaman di bisnis ini sebelumnya, dimana Pigeon juga memproduksi kosmetik terutama untuk remaja) dengan merk Astalift dan Aibu. Astalift merupakan produk kosmetik wanita untuk kalangan menengah keatas, dimana MICE sudah membuka gerai Astalift di enam mall besar di Jakarta dan sekitarnya, dan satu mall di Medan (Sun Plaza). Sementara Aibu adalah kosmetik remaja untuk semua kalangan, yang bisa dijual di semua lokasi termasuk melalui roadshow ke sekolah-sekolah.

Gerai Astalift di salah satu mall di Jakarta

Lalu bagaimana kira-kira hasilnya nanti? Apakah dua merk ini akan sukses? Well, mengingat Astalift dan Aibu baru diluncurkan pada tahun 2014 ini, maka kalaupun dua merk kosmetik ini laris dipasaran, hasilnya tidak akan langsung kelihatan dalam waktu dekat. Jadi kita tunggu saja. Malah justru, mungkin karena perusahaan lagi keluar banyak modal untuk bisnis barunya, maka pendapatan serta labanya untuk tahun 2014 ini agak tertekan. Hingga Kuartal II 2014, pendapatan MICE turun 14.3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan laba bersihnya pun anjlok 36.6% (karena margin laba MICE sejak awal kecil, maka labanya bisa turun dalam jika pendapatannya turun sedikit).
Dan karena kinerjanya yang memang tampak jelek tersebut, saham MICE menjadi tertekan hingga sekarang sudah turun ke 350, namun disinilah menariknya: Sejatinya MICE pada harga 400 sudah merupakan saham yang murah, jadi pada harga sekarang dia menjadi lebih murah lagi, dimana PBV-nya cuma 0.5 kali. Jika anda membeli 100% saham MICE pada harga sahamnya saat ini, maka anda akan mengeluarkan dana Rp210 milyar, untuk memperoleh modal kerja bersih (aset lancar dikurangi kewajiban lancar) senilai Rp264 milyar, belum termasuk aset-aset tetap milik perusahaan! Jadi dalam kasus inilah sebuah saham bisa dikatakan murah secara absolut.
However, hanya karena harga sahamnya murah, maka itu bukan berarti MICE akan langsung naik lagi dalam waktu dekat. Berdasarkan pengalaman, sebuah saham baru akan naik, bahkan cenderung melejit jika harganya benar-benar murah seperti MICE ini, jika, dan hanya jika terjadi hal-hal berikut: 1. Adanya sentimen positif tertentu yang menyebabkan investor menjadi yakin bahwa kinerja perusahaan akan segera membaik, 2. Perusahaan membagikan dividen dalam jumlah besar, atau 3. Kinerja perusahaan memang benar-benar membaik, misalnya labanya kembali naik setelah sebelumnya turun.
Nah, perhatikan bahwa untuk poin nomor 1, yakni adanya sentimen positif, maka untuk MICE hal itu kecil kemungkinannya akan terjadi, karena sebagai saham kecil (MICE cenderung berstatus sebagai third liner, jadi bukan second liner lagi) jarang ada orang yang memperhatikan saham ini, sehingga hampir tidak pernah timbul sentimen macam-macam. Lalu untuk dividen, pada tahun 2014 ini MICE hanya membayar dividen Rp10 untuk para pemegang saham, alias tidak signifikan (dimasa lalu MICE sangat rajin bagi dividen, tapi untuk tahun ini manajemen agak pelit, yang mungkin itu karena perusahaan lagi butuh dana untuk membiayai ekspansinya diatas. Dari laba bersihnya di tahun 2013, hanya 15% yang dibayarkan sebagai dividen).
Jadi sekarang tinggal kemungkinan yang nomor 3: MICE mungkin baru akan naik lagi kalau nanti kinerjanya tampak bagus lagi. Dan itu artinya, jika anda tertarik dengan saham ini, maka anda mungkin harus menunggu minimal sampai perusahaan merilis laporan keuangannya untuk Kuartal III 2014, akhir September mendatang.
Disisi lain jika anda masih yakin dengan prospek jangka panjang perusahaan (kalau anda baca-baca di internet, MICE ini termasuk sering dibahas oleh para investor dengan gaya value investing karena valuasinya memang sangat murah), termasuk yakin bahwa saham ini juga bisa menghadirkan jackpot seperti Maret 2013 lalu, dimana ia tiba-tiba saja terbang sampai menembus 850, maka anda boleh menyicil dari sekarang. MICE mungkin masih perlu waktu untuk naik kembali, mungkin bisa sampai tahun depan jika petualangan bisnis kosmetik mereka berhasil, atau jika perusahaan kembali membayar dividen dalam jumlah besar, tapi disisi lain untuk turun lagi juga kecil kemungkinannya karena valuasinya biar bagaimanapun sudah sangat rendah.
Sekedar informasi tambahan, dua value investor kawakan yang kurang lebih seangkatan dengan Om Lo Kheng Hong, yakni Pak Haiyanto dan Pak Surono Subekti, juga pernah memegang MICE ini dalam jumlah banyak sejak lamaaaaa sekali. Hanya memang Pak Haiyanto kalau gak salah sudah menjualnya, mungkin pas MICE ini naik banyak di tahun 2013 lalu untuk meraup keuntungan sekian kali lipat. Nah, kalau anda adalah Pak Haiyanto tersebut, maka masa iya sih, harga MICE yang sekarang semurah ini nggak cukup tempting untuk membuat anda membelinya kembali?
PT Multi Indocitra, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal II 2014: BB
Rating Saham pada 350: A
Pengumuman: Buku kumpulan Analisis Kuartalan edisi Kuartal II 2014 sudah terbit! Dan anda bisa membelinya disini (disitu juga disebutkan saham-saham apa saja yang dipilih untuk [...]

Seminar Value Investing, Medan

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Medan, Sumatera Utara, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Medan dan sekitarnya. Berikut keterangan selengkapnya:


Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya.
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel Swiss-BelinnJln. Surabaya No.88, Kota Medan.
  • Hari/Tanggal: Sabtu30 Agustus 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan siang, dan coffee break.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30.

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Medan, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Anies Baswedan, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di Kota Medan!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 7556E6B4

Update: hingga hari Rabu tanggal 20 Agustus sudah ada 24 peserta yang mendaftar. Jadi masih ada kursi untuk 6 peserta [...]

Jurus Beli Tapi Nyicil: Dollar Cost Averaging!

Kalau anda googling kata ‘Dollar Cost Averaging (DCA)’ di internet, maka definisinya ada macam-macam. Namun definisi dari DCA menurut penulis adalah, ‘Membeli saham yang sama secara sedikit demi sedikit dan terus menerus, dengan tujuan untuk memiliki saham tersebut sebanyak mungkin’. Kalau sudah megang banyak, selanjutnya apa? Ya hold saja saham tersebut untuk seterusnya. Keuntungan yang diperoleh bukan lagi berupa kenaikan harga saham, melainkan dividen yang dibagikan oleh perusahaan setiap tahun. Sebab ketika anda memegang saham tertentu dalam jumlah sedikit, maka dividen yang diperoleh juga sedikit. Tapi bagaimana jika megangnya banyak?

Konsep DCA ini cocok bagi anda yang memiliki penghasilan sekian setiap bulannya, yang setelah dikurangi untuk kebutuhan sehari-hari dan lain-lain, masih ada lebihnya (actually, bahkan kalau anda adalah karyawan fresh graduate dengan gaji ala kadarnya, maka penulis tetap menyarankan agar anda bisa menyisihkan sebagian gaji anda untuk ditabung. Gaji pertama saya di tahun 2008 adalah Rp1.6 juta per bulan, dan saya bisa menabung Rp400 ribu diantaranya. Saya tidak pernah ada pikiran soal duit empat ratus ribu itu nantinya mau dipakai buat beli apa, karena yang penting adalah saya punya tabungan, itu saja).
Uang lebih ini kemudian bisa disimpan/ditabung dalam bentuk aset produktif, dalam hal ini saham yang mewakili perusahaan yang mampu mencetak laba bersih secara konsisten dari tahun ke tahun. Jika dalam sebulan anda bisa menabung Rp1 juta, misalnya, maka pada bulan pertama anda membeli saham senilai Rp1 juta. Pada bulan berikutnya, anda bisa top up alias beli lagi saham yang sama, tak peduli berapapun harganya ketika itu, senilai Rp1 juta juga, sehingga totalnya kini anda memegang saham senilai Rp2 juta. Dan demikian seterusnya, setiap bulan anda membeli saham yang sama, sehingga setelah satu atau dua tahun, anda memegang saham tersebut dalam jumlah yang besar.
Dan setelah beberapa tahun, anda mungkin bisa hidup hanya dari dividen yang dibagikan perusahaan setiap tahunnya. Terus terang, bagi penulis sendiri pun hal ini masih sebatas cita-cita (nilai dividen yang saya terima dari perusahaan yang saya pegang sahamnya masih sangat kecil), namun ini adalah cita-cita yang terdengar menyenangkan bukan?
Meski tidak pernah secara eksplisit menyebutkan tentang strategi DCA, namun Warren Buffett adalah pelaku DCA ini. Pada salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, ketika masih menjalankan Buffett Partnership dimana ia mengelola dana milik teman-temannya, Buffett mengatakan, ‘Saya lebih suka harus membayar bunga plus bagian keuntungan investasi kepada para partner pemilik dana di Buffett Partnership, ketimbang meminjam uang ke bank bahkan meski bank membebankan biaya bunga yang lebih rendah. Hal ini karena saya memperoleh dana (dari para partner) tidak secara sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit. Setiap kali saya memperoleh partner baru, maka setiap kali itu pula Buffett Partnership menerima dana baru yang bisa langsung dipakai untuk belanja saham. Alhasil, saya bisa membeli saham-saham yang sudah diincar sebelumnya secara terus menerus, termasuk bisa average down jika kebetulan harganya turun. Ceritanya akan berbeda jika saya menerima pinjaman dari bank sebanyak sekian, kemudian pada waktu-waktu selanjutnya saya tidak memperoleh dana lagi, sehingga saya hanya bisa membeli saham tertentu sebanyak satu kali saja. Jadi ketika nanti harga saham tersebut ternyata malah turun, maka saya nggak punya dana untuk beli lagi di harga bawah.’
Intinya, Buffett mengatakan bahwa ia suka membeli saham secara menyicil. Pembelian saham secara menyicil ini memungkinkannya untuk membeli lebih banyak ketika harga (dari saham yang diincar) turun, dan hanya membeli sedikit ketika harga saham tersebut sedang tinggi. Cara investasi seperti ini secara otomatis mengurangi risiko kerugian karena fluktuasi atau naik turunnya harga saham, yang bisa terjadi setiap saat. Dalam pandangan Buffett, terlepas dari harganya yang bisa naik dan turun setiap saat, namun saham yang mewakili perusahaan yang berfundamental baik pada akhirnya akan terus naik dalam jangka panjang.
Nah, konsep membeli saham secara menyicil ini juga bisa anda praktekkan pada kegiatan investasi pribadi anda. Simpel saja, ketika anda untuk pertama kalinya coba-coba invest di saham, maka anda tidak mungkin langsung pakai dana besar bukan? Melainkan pakai dana kecil dulu. Ketika nanti anda punya duit lagi, maka anda bisa setor ke rekening anda di sekuritas untuk beli saham lagi. Jika anda melihat bahwa harga dari saham yang anda incar sedang tinggi, misalnya karena IHSG sedang bullish, maka anda bisa tahan dulu posisi cash anda (sudah disetor ke sekuritas, tapi nggak langsung dipake buat beli saham), atau tetap beli hanya dengan jumlah yang lebih sedikit dari biasanya. Ketika kemudian pasar turun, dan saham anda juga turun, maka barulah uang yang sudah terkumpul sebelumnya bisa dipakai untuk belanja saham secara borongan. Strategi seperti ini, sekali lagi, memungkinkan anda untuk justru meraih keuntungan setiap kali harga saham turun, dan bukannya menderita kerugian.
Lalu bagaimana bisa strategi DCA ini menghasilkan keuntungan yang ternyata cukup besar, minimal mampu mengalahkan kenaikan IHSG/pasar? Well, itu karena perusahaan-perusahaan yang bagus di Indonesia, kalau anda perhatikan, memiliki rate pertumbuhan riil yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan rata-rata pasar setiap tahunnya. Yang penulis maksud dengan pertumbuhan riil disini adalah pertumbuhan aset bersih atau ekuitas plus dividen. Perusahaan-perusahaan kategori ‘super company’ seperti ASII, BBRI dan seterusnya, memiliki rate pertumbuhan diatas 20% per tahun, atau lebih tinggi dibanding IHSG yang hanya berkisar 12% (dihitung sejak IHSG diluncurkan pada tahun 1982).
Dan meski harga saham dari perusahaan-perusahaan diatas bisa naik dan turun setiap saat, termasuk bisa anjlok jika IHSG anjlok, namun pada akhirnya harga saham tersebut akan bergerak mengikuti pertumbuhan riil perusahaan, alias naik. Jadi jika pertumbuhan riil perusahaan (yang anda beli sahamnya) lebih tinggi dibanding kenaikan IHSG, maka kinerja investasi anda pada akhirnya akan juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan pasar. Anda tidak perlu khawatir terjebak membeli saham pada harga yang terlalu tinggi, karena melalui strategi DCA, anda bisa mengakumulasi saham tersebut dengan terus membelinya secara sedikit demi sedikit tak peduli harganya lagi tinggi atau rendah (sehingga rata-rata harga belinya akan menjadi ditengah-tengah), atau dengan sedikit modifikasi: Hanya membeli sedikit ketika harganya lagi tinggi, atau tidak sama sekali, dan membeli lebih banyak ketika harganya lagi dibawah.
Kesulitan utamanya, tentu saja, adalah ketika kita memilih saham mana yang bakal kita ambil. Sebab dalam berinvestasi dengan gaya DCA, anda harus memiliki niat untuk memegang saham tertentu (yang sudah anda pilih sebelumnya) untuk seterusnya, jadi bukan untuk nantinya dijual karena harganya sudah naik banyak, atau karena alasan lainnya. Masalahnya, it’s relatively easy untuk meng-hold saham tertentu ketika kinerjanya bagus, dan harganya pun naik terus. Tapi bagaimana kalau dia malah turun, apalagi jika dalam waktu yang sama, IHSG masih baik-baik saja?
Karena itulah, tugas maha penting yang harus anda kerjakan ketika berniat mengaplikasikan DCA ini adalah melakukan seleksi ketat terhadap saham mana yang kira-kira bakal anda ambil. Ada banyak kriteria saham yang bagus, yang sudah penulis bahas berkali-kali di website ini (contohnya di artikel tentang nilai intrinsik, kriteria saham bagus, dan kualitas manajemen). Tips yang bisa penulis sampaikan adalah: Jangan kompromi dengan kualitas fundamental perusahaan, dan hanya pilih saham yang menurut anda yang terbaik dari yang terbaik, yang anda bersedia untuk ‘terus bersamanya’, baik dalam kondisi susah (bisnis seret, pasar jatuh), maupun senang (bisnis lancar, harga barang dagangan naik, harga saham terbang).
Sementara satu tips yang pernah disampaikan oleh seorang teman investor senior, yang memang sudah menerapkan DCA ini sejak lama, adalah sebagai berikut: Belilah saham dari perusahaan yang terkenal, yang nama perusahaannya diketahui oleh banyak orang, entah itu investor saham ataupun orang awam.
However, tidak pernah ada strategi investasi yang sempurna, termasuk DCA pun memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah adalah jika perusahaan yang anda pilih setelah beberapa waktu ternyata tidak menghasilkan pertumbuhan riil seperti yang diharapkan, atau bisnisnya malah meredup dan bangkrut, maka kerugian yang anda derita pun akan sangat besar, karena anda sejak awal telah menutup opsi untuk menjual saham tersebut. Dan faktanya, hanya karena sebuah perusahaan memiliki catatan kinerja yang cemerlang dan konsiten di masa lalu, maka itu bukan berarti dia dijamin akan terus bertahan kedepannya. Lehman Brothers, Inc. adalah perusahaan investment banking yang memiliki track record yang amat cemerlang sejak tahun 1850 (sudah lama sekali), termasuk sanggup bertahan ketika dihantam great depression pada tahun 1930-an, tapi toh dia bangkrut juga pada tahun 2008 lalu. Sementara di Indonesia, ada Berlian Laju Tanker (BLTA) yang merupakan salah satu saham blue chip terkemuka pada tahun 1990-an, tapi sekarang bangkrut juga. Jangan salah, penulis juga kenal dengan beberapa old timer yang masih nyangkut di BLTA ini sampai sekarang.
Kelemahan lainnya adalah, ketika anda hanya mengincar pertumbuhan yang konsisten sebesar sekian persen per tahun (yang penting diatas rata-rata pertumbuhan pasar), maka anda mungkin akan kehilangan momentum untuk membeli saham-saham yang, pada periode waktu tertentu, menawarkan kenaikan yang lebih tinggi dibanding sekedar dua atau tiga puluh persen, meski mungkin di periode waktu yang lain mereka berhenti naik atau malah turun kembali. Contohnya pada tahun 2009 – 2011, sektor batubara dan perkebunan kelapa sawit tengah booming dan ketika itu hampir semua saham di dua sektor ini mengalami pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata kenaikan pasar. Meski setelah tahun 2011 tersebut dua sektor ini menjadi terpuruk, namun jika ada investor yang cukup jeli dengan masuk ke kedua sektor ini pada tahun 2009, dan kemudian keluar ketika timing-nya tepat, maka dia akan meraup keuntungan yang jauh lebih besar dibanding investor lain yang kerjaannya hanya menyicil saham yang itu-itu saja setiap bulannya.
Jadi dengan demikian, untuk meminimalkan risiko dari strategi DCA ini (jika seandainya saham yang anda pilih untuk dibeli secara menyicil setiap bulannya ternyata malah turun atau bahkan bangkrut), sekaligus tetap memaksimalkan keuntungan (dari saham-saham yang menawarkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding rata-rata, yang nantinya akan anda jual ketika waktunya tepat), maka anda bisa mengkombinasikan DCA ini dengan metode investasi lainnya, tentunya yang anda kuasai.
Intinya sih, kalau anda bisa menemukan satu atau dua saham yang anda cukup yakin bisa memegangnya as long as possible, tak peduli harganya naik atau turun (sedikit tips, sebaiknya saham tersebut adalah yang masuk kategori blue chip. Kenapa begitu? Baca penjelasannya disini), sehingga anda bisa membelinya secara terus menerus tanpa pernah menjualnya sama sekali, maka jangan gunakan seluruh dana yang tersedia untuk membeli saham tersebut, melainkan sisakan sebagian untuk invest menggunakan strategi/metode investasi yang berbeda, seperti (yang biasa penulis lakukan) membeli saham-saham yang harganya sedang murah, atau saham yang mewakili perusahaan kecil namun menawarkan pertumbuhan untuk menjadi besar suatu hari nanti.
Namun jika berkaca pada pengalaman beberapa investor, termasuk pengalaman penulis sendiri, maka kita sebagai investor memang sebaiknya memiliki satu atau beberapa buah saham yang kita berkomitmen untuk memegangnya selama mungkin, dan bersedia untuk membeli lagi (nambah barang) setiap kali dikasih harga yang murah. Anda boleh tanya investor kawakan manapun, biasanya mereka selalu punya setidaknya satu saham andalan yang sudah mereka pegang selama bertahun-tahun, tidak pernah mereka jual, dan justru selalu mereka beli lagi setiap kali dikasih harga murah, misalnya ketika IHSG mengalami koreksi. Dan hasilnya? Mereka meraup keuntungan berkali-kali lipat! (jadi bukan persen lagi). Nah, jadi kenapa kita tidak mencoba strategi yang sama?
Okay, I think that’s enough. Selanjutnya jika anda punya pengalaman terkait strategi Dollar Cost Averaging ini, maka boleh share pengalaman anda melalui kolom komentar dibawah ini, siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi kawan-kawan investor yang lain :)
NB: Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal II 2014. Anda bisa memperolehnya disini..

Follow penulis di Twitter, klik [...]

Bukit Asam (PTBA)

Pada hari ini, Jumat tanggal 25 Juli 2014, mulai terdapat banyak emiten yang merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal II 2014, baik itu melalui website BEI maupun koran. Sayangnya sebagian besar diantara mereka mencatat kinerja yang mengecewakan, jika ukurannya adalah laba bersihnya yang tumbuh negatif alias turun. Meski demikian ada satu emiten yang mencuri perhatian karena kenaikan labanya yang menonjol, yakni lebih dari 30%, dan emiten itu adalah PT Bukit Asam (PTBA). Perusahaan batubara ini mungkin mewakili kinerja sektor batubara secara keseluruhan yang memang mulai menggeliat kembali pada tahun 2014 ini, setelah dua tahun sebelumnya cenderung lesu. Prospek kedepan?

PTBA mungkin boleh dikatakan sebagai perusahaan tambang batubara tertua di Indonesia. Sejarah perusahaan sudah dimulai sejak tahun 1876 (138 tahun yang lalu) ketika Pemerintah Hindia Belanda membuka tambang batubara, mungkin yang pertama di Indonesia, di Ombilin, Sumatera Barat. Pada tahun 1919 Pemerintah Hindia Belanda membuka tambang batubara keduanya di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, termasuk setelah Indonesia merdeka, kegiatan usaha tambang tersebut dilakukan tanpa payung hukum perusahaan. Namun akhirnya pada tahun 1981, PTBA resmi berdiri sebagai perusahaan milik pemerintah (BUMN) di bidang tambang batubara. Pada tahun 1990, satu lagi perusahaan BUMN milik pemerintah, yakni PU Tambang Batubara, dimerger dengan PTBA, sehingga PTBA kemudian menjadi satu-satunya BUMN di bidang batubara, hingga saat ini.
PTBA go public sejak tahun 2002, dan sejak saat itu perusahaan terus tumbuh berkembang hingga memiliki beberapa unit usaha sebagai berikut:
  1. Tambang batubara, yang tersebar di empat lokasi yakni Peranap, Ombilin, Tanjung Enim (semuanya di Sumatera), dan Samarinda (Kalimantan Timur). Total cadangan batubara yang dimiliki perusahaan adalah hampir 2 milyar ton (dan masih bisa meningkat seiring dengan dilanjutkannya pekerjaan eksplorasi), menjadikan PTBA sebagai perusahaan tambang batubara terbesar kedua di Indonesia dari sisi volume cadangan batubara, setelah Bumi Resources (BUMI). Mayoritas cadangan batubara tersebut terkonsentrasi di Tanjung Enim.
  2. Perdagangan batubara
  3. Pembangkit listrik, yang berlokasi di tambang batubara di Tanjung Enim
  4. Logistik, dalam hal ini jaringan rel kereta api milik sendiri yang menghubungkan lokasi tambang batubara Tanjung Enim dengan pelabuhan di Lampung dan Palembang, dan
  5. Tambang gas metana (coal bed methane). Yang disebut terakhir ini boleh dibilang, kalau di Indonesia, cuma perusahaan yang punya.
PTBA adalah salah satu perusahaan batubara dengan posisi keuangan paling sehat di BEI, dimana perusahaan hampir tidak memiliki utang kecuali utang usaha, dan ekuitasnya pun senantiasa bertumbuh dari tahun ke tahun, padahal perusahaan cenderung royal dalam membagikan dividen, yakni sekitar 50 – 60% dari perolehan laba bersih perusahaan setiap tahunnya. Boleh dibilang perusahaan diuntungkan karena sejak awal sudah menempati lokasi tambang batubara paling ‘berisi’ di Sumatera (atau bahkan di dunia), yakni Tanjung Enim, sehingga biaya yang perlu dikeluarkan perusahaan hanyalah untuk eksplorasi saja. Hal ini berbeda dengan banyak perusahaan batubara swasta yang harus mengeluarkan biaya yang mahal jika mereka hendak memperoleh ‘spot’ tambang yang bagus. Ketika perusahaan menambah portofolio tambangnya dengan mengakuisisi tambang batubara di Peranap dan Samarinda (tambang Ombilin juga sudah dipegang sejak awal), maka itu karena perusahaan punya surplus dari hasil operasional Tanjung Enim. Actually, hanya dengan memegang Tanjung Enim saja, PTBA sudah merupakan salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia, bahkan dunia.
Karena itulah, mayoritas pengembangan usaha yang dikerjakan perusahaan selama ini difokuskan di tambang Tanjung Enim. PTBA adalah satu dari sedikit perusahaan batubara di Indonesia yang punya jaringan rel kereta api milik sendiri (dengan bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia), dan juga memiliki fasilitas coal bed methane (dan juga pembangkit listrik, tapi kalau pembangkit listrik sih perusahaan batubara yang lain juga banyak yang punya). Kadang-kadang penulis berpikir bahwa perusahaan seharusnya bisa memanfaatkan posisinya sebagai pemilik salah satu tambang batubara terbesar untuk berbuat lebih banyak, katakanlah menjadi salah satu pengendali harga batubara di pasar internasional sehingga kinerja PTBA tidak lagi tergantung pada fluktuasi harga batubara.
However, manajemen PTBA tidak sehebat itu, dimana mereka lebih suka menghabiskan laba bersih untuk membayar dividen ke pemegang saham ketimbang menggunakannya untuk membangun proyek pengembangan usaha tertentu (PTBA terus membangun pembangkit listrik baru dan meningkatkan kapasitas jaringan kereta apinya, tapi ya selama beberapa tahun terakhir ini hanya itu saja yang mereka lakukan). Meski demikian jika dibandingkan dengan beberapa perusahaan batubara raksasa lainnya di tanah air, maka PTBA ini sangat layak investasi karena perusahaannya bebas hutang dan bermain di ‘lahan basah’, yakni Tanjung Enim tadi. Jika nanti harga batubara kembali tembus US$ 100 per ton, maka PTBA juga akan dengan mudah mencatat kinerja super lagi.
Sedikit informasi, meski perusahaan merupakan pemilik dari salah satu cadangan batubara terbesar di dunia, namun volume produksi PTBA sejauh ini hanya sekitar 12 juta ton per tahun, jauh lebih rendah dibanding Adaro Energy (ADRO) sebesar 53 juta ton, dan Bumi Resources (BUMI) 80 juta ton. PTBA sebenarnya mentargetkan untuk bisa memproduksi batubara hingga 50 juta ton per tahun sejak beberapa tahun lalu, namun sampai sekarang hal itu belum terealisasi (tapi mungkin juga sengaja ditahan dulu, karena harga batubara kan lagi murah-murahnya sepanjang tahun 2012 – 2013 lalu, jadi ngapain juga gali banyak-banyak?). Jika melihat fakta bahwa PTBA merupakan perusahaan batubara dengan margin laba terbaik di BEI (margin laba bersih terhadap pendapatan mencapai 17%, sementara perusahaan batubara lain paling tinggi hanya 10 – 11%), ditambah dengan kemungkinan bahwa volume produksi batubaranya bisa ‘melompat’ sewaktu-waktu jika nanti harga batubara pulih, maka ya.. mau bilang apa lagi? Perusahaan ini sangat menarik untuk investasi.
Kemudian bagaimana dengan sahamnya?
PTBA adalah salah satu saham berfundamental terbaik di bursa, sehingga selama ini valuasinya tidak pernah benar-benar murah, melainkan hampir selalu premium. Pada tahun 2011 lalu dimana industri batubara sedang jaya-jayanya, PBV PTBA sempat mencapai lebih dari 7.0 kali. Sementara pada harga sahamnya saat ini yakni 11,450, PBV tersebut tercatat 3.5 kali, dengan PER 10.8 kali (sebagai perusahaan mature dan mapan, valuasi PTBA juga bisa dilihat dari PER-nya). Penulis terus terang masih agak ragu dalam menanggapi apakah PBV 3.5 kali ini masih layak buy atau tidak, karena angka tersebut tentu saja tidak bisa dikatakan rendah, tapi dimasa lalu PBV PTBA hampir selalu terjaga di level 4 – 4.5 kali. Dan dengan perkembangan kinerja terbaru yang boleh dibilang paling menonjol bahkan diantara sesama perusahaan batubara itu sendiri, plus secara teknikal dia juga tampak mulai uptrend, maka praktis PTBA ini menjadi satu-satunya pilihan bagi investor penyuka saham-saham batubara. Jika anda sudah memegangnya sejak awal maka disarankan untuk hold.
Kalau ada hal yang mungkin bisa membuat PTBA ini turun adalah jika IHSG turun. Seperti yang sudah disebut diatas, kinerja para emiten di Kuartal II 2014 tidak begitu bagus, sehingga posisi IHSG pada saat ini kurang didukung oleh faktor fundamental kecuali hanya karena asing terus masuk setelah Jokowi menang Pilpres. Namun jika nanti indeks turun, maka PTBA ini juga mungkin akan turun sampai 9,500 – 10,000, dimana pada harga itulah PTBA terbilang sangat ideal untuk dibeli untuk kemudian biarkan saja sampai akhir tahun. Well, kita lihat nanti bagaimana perkembangannya.
PT Bukit Asam (Persero), Tbk.
Rating Kinerja pada Semester I 2014: AAA
Rating Saham pada 11,450: A
NB: Penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis dan rekomendasi saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di kuartal II 2014. Anda bisa memperolehnya

Pernyataan Prabowo! (Forum)

Sebagaimana yang anda ketahui, hari ini, Rabu tanggal 22 Juli 2014, Komisi Pemilihan Umum dijadwalkan untuk merilis pengumuman terkait pemenang Pilpres, dimana kalau berdasarkan hasil real count, pasangan Jokowi – JK keluar sebagai pemenang. Yang mungkin tidak diduga oleh banyak orang sebelumnya adalah pernyataan Prabowo yang secara tegas menolak hasil pilpres tersebut. Alhasil IHSG hari ini anjlok cukup dalam, meski masih berada di level yang cukup optimis, yakni 5,000-an.

Berikut ini adalah pernyataan Prabowo secara keseluruhan:
Kalau sekedar mencari hidup enak, saya tidak perlu berjuang di bidang politik. Demokrasi artinya rakyat berkuasa. Wujud dari demokrasi adalah pemilihan, dan esensi pemilihan adalah pemilihan yang jujur, yang bersih, dan yang adil. Kalau ada satu orang yang mencoblos puluhan sampai ratusan surat suara, maka itu tidak demokratis. Dari Papua saja ada 14 kabupaten yang tidak pernah mencoblos tetapi ada hasil pemilunya. Ada 5,000 lebih TPS di DKI Jakarta yang direkomendasikan untuk dilakukan pemungutan suara ulang tetapi rekomendasi tersebut tidak digubris oleh KPU.

Oleh karena itu, kami Prabowo-Hatta mengambil sikap sebagai berikut:
  1. Proses penyelenggaraan pilpres yang diselenggarakan oleh KPU bermasalah. Sebagai pelaksana, KPU tidak adil dan tidak terbuka. Banyak peraturan main yang dibuat oleh KPU tapi justru dilanggar sendiri oleh mereka.
  2. Rekomendasi yang dikeluarkan Bawaslu banyak diabaikan oleh KPU.
  3. Ditemukannya banyak tindak pidana Pemilu yang dilakukan oleh penyelenggara dan pihak asing.
  4. KPU selalu mengalihkan masalah ke MK, seolah-olah setiap keberatan harus diselesaikan di MK padahal sumber masalahnya di KPU.
  5. Telah terjadi kecurangan masif dan sistematis untuk mempengaruhi hasil pilpres.
Oleh karena itu, saya Prabowo-Hatta akan menggunakan hak konstitusional kami, yakni menolak pelaksanaan Pilpres 2014 yang cacat hukum. Oleh karena itu kami menarik diri dari proses yang sedang berlangsung.
Kami tidak bersedia mengorbankan mandat yang telah diberikan oleh rakyat dipermainkan dan diselewengkan. Kami siap menang dan siap kalah namun dengan cara yang demokratis dan terhormat.
Bagi setiap rakyat Indonesia yang telah memilih kami, kami minta untuk tetap tenang. Yakinlah bahwa kami tidak akan membiarkan hak demokrasi anda diciderai. Saya telah menginstruksikan kepada saksi-saksi yang sedang mengikuti proses rekapitulasi di KPU untuk tidak melanjutkan.

Kami menambahkan, bahwa kami tetap minta semua pendukung kami untuk selalu dan tetap tenang. Kami akan berjuang di atas landasan konstitusi, di atas landasan hukum, di atas landasan tidak menggunakan kekerasan apapun.
H. Prabowo Subianto
Well, bagaimana menurut anda? Bagi anda yang mungkin lebih paham soal politik, komentar anda [...]

Prabowo vs Jokowi: The Battle Continues!

Kalau boleh jujur, penulis tadinya termasuk yang mengira bahwa setelah pelaksanaan Pilpres pada tanggal 9 Juli kemarin, maka semuanya sudah usai dan kita sebagai investor bisa kembali menganalisis saham seperti biasa, dan tidak lagi menjadi pengamat politik dadakan. However, I was wrong. Kemenangan Jokowi atas Prabowo yang relatif tipis versi quick count, seperti yang sudah diduga sebelumnya, menimbulkan polemik karena kubu Prabowo sudah tentu tidak akan menyerah begitu saja sampai Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan pemenang Pilpres pada tanggal 22 Juli nanti. Jika sebelum tanggal 9 Juli, para pendukung kedua kubu saling perang argumen soal capres mana yang lebih baik, maka selepas tanggal 9 Juli, kedua kubu ternyata masih belum berhenti berperang, kali ini saling mengklaim kemenangan.

Berikut adalah beberapa perkembangan terkait dunia persilatan politik di Indonesia, atau setidaknya yang penulis perhatikan (coz, at the end, saya bukan pengamat politik), menjelang detik-detik pengumuman pemenang Pilpres oleh KPU, pada tanggal 22 Juli mendatang.
  1. Setelah hasil quick count cenderung memenangkan Jokowi dengan selisih suara sekitar 4 – 5%, ternyata mayoritas hasil real count juga menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa.
  2. Karena faktor hasil real count diatas, kubu Jokowi kesininya cenderung santai dan hampir ‘do nothing’. Terakhir, Jokowi secara pribadi menyampaikan kepada para pendukungnya untuk meninggalkan seluruh atribut ‘salam dua jari’ atau semacamnya, dan kembali ke negara ‘Indonesia Raya’. Penulis melihat hal ini sebagai bentuk kepercayaan diri dari kubu Jokowi bahwa mereka memang sudah menang.
  3. Beberapa partai pendukung Prabowo mulai gelisah, dan banyak diantaranya yang menyatakan ‘Bisa beralih ke Jokowi kapan saja’. Partai yang paling santer akan berpindah mendukung Jokowi adalah Golkar, dimana para elit politiknya mulai menggoyang posisi Ical Bakrie sebagai ketua umum.
  4. Orang-orang terdekat Prabowo merespon hal diatas dengan membentuk ‘Koalisi Permanen’. Sayangnya aksi politik ini nampak kurang efektif.
  5. Kubu Prabowo mulai mengintervensi Bawaslu dan KPU. Hasilnya, KPU setuju untuk melakukan pencoblosan ulang di Jakarta, meski itu hanya di 13 TPS. Pencoblosan ulang tersebut dilakukan hari Sabtu, tanggal 19 Juli kemarin.
  6. Namun ternyata di 13 TPS itu Jokowi masih menang. Alhasil Kubu Prabowo mulai menuntut agar jumlah TPS yang dilakukan pencoblosan ulang diperbanyak, maksimal hingga 5,000 TPS.
  7. Yang paling fresh, hari ini Prabowo secara terbuka menyerukan kepada KPU untuk menunda pengumuman pemenang Pilpres, yang sedianya akan dilakukan tanggal 22 Juli mendatang. Kubu Prabowo bahkan menuntut pilpres ulang. Ketua tim sukses Prabowo, Mahfud MD, juga sempat menyatakan bahwa jika KPU menolak rekomendasi dari tim sukses Prabowo, maka mereka bisa membawa masalah ini hingga ke Mahkamah Konstitusi (MK). However, di kesempatan yang lain, Pak Mahfud juga sempat bilang bahwa kalau KPU memenangkan Jokowi, maka ia akan menerimanya (sepertinya beliau masih bingung).
Well, komentar anda???
NB: Preorder untuk pemesanan ebook kumpulan analisis dan rekomendasi saham edisi Kuartal II 2014 sudah dibuka. Keterangan selengkapnya baca [...]

Ebook Analisis Kuartal II 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2014 (Q2 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid. Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali
  2. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  3. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  4. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG). 
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 11 Agustus 2014. Anda bisa memperoleh ebook-nya dengan cara preorder disini.
Berikut screening ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada TH & Partners, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu.
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan edisi kali ini merupakan edisi keenam belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi teguhhidayat.com, boleh baca contoh-contoh analisis yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini:
  1. Resource Alam Indonesia (KKGI)
  2. Indofood Sukses Makmur (INDF)
  3. Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)
  4. Adira Dinamika Multifinance (ADMF)
  5. Jasa Marga (JSMR)
  6. Astra International (ASII), dan seterusnya.
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Chitose International

Apa yang terlintas di kepala anda ketika mendengar kata ‘Chitose’? Kalau penulis sih, saya langsung teringat dengan kursi-kursi lipat yang suka ada di acara-acara kondangan. Dan Chitose International (CINT) adalah memang merupakan perusahaan produsen kursi lipat (folding chair) paling terkemuka di Indonesia. Namun pada saat ini CINT tidak hanya membuat kursi lipat saja, melainkan membuat berbagai produk furniture umum untuk dijual ke perusahaan event organizer (untuk mereka sewakan ke acara pernikahan dll), gedung-gedung kantor, residensial, hotel, restoran, sekolah, hingga rumah sakit. Untuk kedepannya perusahaan masih memiliki sejumlah rencana pengembangan usaha, dimana kebutuhan dananya diperoleh dari IPO-nya pada bulan Juni 2014 kemarin.

Sejarah perusahaan dimulai pada tahun 1980, dimana Chitose Manufacturing Japan, sebuah perusahaan kursi lipat asal Jepang, membuka pabrik pertamanya di Indonesia (tepatnya di Cimahi) dibawah bendera PT Chitose Indonesia. Dua puluh tahun kemudian yakni pada tahun 2000, terjadi perubahan kepemilikan perusahaan dimana PT Chitose Indonesia diakuisisi oleh PT Tritirta Inti Mandiri, sebuah perusahaan lokal yang juga merupakan pemilik dari PT Trisula International (TRIS, perusahaan garment asal Bandung), sehingga Chitose berubah status dari perusahaan Jepang menjadi perusahaan lokal, namun nama Chitose tetap dipertahankan sebagai nama perusahaan. Pada tahun-tahun berikutnya, perusahaan terus menjalin hubungan kerja dengan perusahaan-perusahaan Jepang untuk membuat kursi dan meja lipat serta untuk mengekspor produk-produk furniture ke Jepang.

Pada tahun 2012, Chitose mengakuisisi lima perusahaan distributor yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Denpasar, sehingga perusahaan kini memiliki unit distributor sendiri (sebelumnya Chitose selalu mendistribusikan produk-produknya melalui pihak ketiga). Pada tahun 2013, PT Chitose Indonesia berubah nama menjadi PT Chitose International, dan sukses go public setahun kemudian dengan CINT sebagai kode sahamnya.
Ada beberapa hal yang membuat CINT sangat bisa dipertimbangkan untuk investasi. Pertama, CINT merupakan pemimpin pasar di seluruh jenis produk furniture-nya tanpa terkecuali, selain karena merk ‘Chitose’ merupakan merk kursi lipat paling populer di Indonesia. Berdasarkan data dari lembaga riset Markplus, per tahun 2014, CINT memegang pangsa pasar antara 24 – 38% (terbesar diantara semua kompetitornya) untuk produk-produk kursi dan meja, baik yang bisa dilipat maupun tidak, yang biasa digunakan oleh hotel, restoran, foodcourt, kantor, dan sekolah.
Kedua, CINT mencatatkan track record pertumbuhan yang meyakinkan dalam tiga belas tahun terakhir. Pada tahun 2001, atau setahun ketika manajemen yang baru mengambil alih perusahaan, CINT hanya memproduksi 13 varian kursi dan meja. Tapi sekarang? CINT sudah memiliki lebih dari 300 varian produk! Dan kesemuanya sukses menjadi pemimpin di pasarnya masing-masing. Kesuksesan ini terutama karena perusahaan mampu menjalin hubungan baik dengan perusahaan-perusahaan Jepang dalam hal transfer teknologi (untuk pembuatan kursi) dan juga memiliki pelanggan tetap di Jepang sana. CINT juga sukses dalam hal memasarkan produk-produknya hingga ke pelosok nusantara, dimana pada saat ini perusahaan memiliki kantor-kantor pemasaran yang tersebar di 22 kota besar di Indonesia, dari Medan sampai Jayapura. Jika itu belum cukup, maka sejak beberapa tahun terakhir CINT juga memasarkan produk-produknya secara online, dalam hal ini dengan bekerja sama dengan salah satu toko online termuka di Indonesia, Rakuten (www.rakuten.co.id).
Nah, kalau dibandingkan dengan perusahaan furniture yang satunya lagi, yakni Gema Grahasarana (GEMA), maka CINT memiliki keunggulan dalam hal produk-produknya bisa dibeli secara online. Sementara kalau anda mau beli furniture merk Vivere (merk furniture milik GEMA), maka anda harus datang ke gerai-nya. Harga dari furniture yang dijual CINT juga lebih murah, sehingga pangsa pasarnya otomatis lebih luas dan perputaran barangnya lebih cepat. Pada tahun 2013, CINT mencatatkan inventory turnover sebesar 7.2 kali, yang itu artinya perusahaan bisa memutar persediaan produknya hingga lebih dari tujuh kali dalam setahun. Dan untuk ukuran perusahaan manufaktur, jujur saja, itu adalah angka turnover yang sangat baik.
Dan yang ketiga, jika selama ini perusahaan hanya mengandalkan pabrik satu-satunya yang berlokasi di Cimahi, maka kedepannya perusahaan akan mendirikan satu lagi pabrik baru (masih di Cimahi) untuk menambah kapasitas produksi, dimana kebutuhan dananya diperoleh dari IPO-nya kemarin. Dari IPO-nya tersebut, CINT memperoleh dana sekitar Rp99 milyar, dimana itu sudah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pendirian pabrik baru, mulai dari membeli lahan, konstruksi pabrik serta gudang, pembelian mesin-mesin dan alat-alat berat, dan modal kerja.
Yang menarik disini adalah, jika anda perhatikan, Rp99 milyar bukanlah dana yang terlalu besar untuk ukuran perusahaan yang terdaftar di bursa saham Indonesia. Jadi penulis pribadi cukup terkesan bahwa ‘hanya’ dengan dana segitu perusahaan bisa mendirikan pabrik baru (jadi gak perlu ngutang, sehingga neraca perusahaan praktis menjadi sehat), dan bahkan masih ada sisanya untuk mendirikan ruang-ruang pamer (showroom) dengan konsep flagship shop (toko khusus Chitose, dengan plang nama Chitose yang buessaaaar dan kelihatan dari pinggir jalan) di kantor-kantor pemasaran milik perusahaan di Jabodetabek dan Jawa Timur. Flagship shop ini tentunya diharapkan akan semakin meningkatkan volume penjualan dari produk-produk yang dibuat perusahaan.
Sudah tentu, pabrik baru serta flagship shop tadi baru akan beroperasi nanti, dalam hal ini tahun 2016, karena proses pembangunannya membutuhkan waktu. Namun tanpa mengharapkan pabrik baru tersebut sekalipun, track record pertumbuhan kinerja CINT dalam lima tahun terakhir cukup mengesankan. Berikut datanya, angka dalam milyaran Rupiah. Perhatikan nilai pendapatan CINT yang setiap tahunnya selalu jauh lebih besar dibanding nilai ekuitas perusahaan:
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013
Ekuitas
40
45
58
71
185
Pendapatan
210
224
239
254
288
Laba Bersih
13
18
20
23
42
Yang perlu dicatat disini adalah, laba CINT senantiasa meningkat dalam lima tahun terakhir ketika volume produksi kursi dan mejanya sama sekali tidak bertambah. Pada tahun 2008, CINT memproduksi 1.22 juta unit furniture berbagai jenis. Dan lima tahun kemudian yakni pada tahun 2013, volume produksi tersebut malah turun sedikit menjadi 1.18 juta unit. Hal ini karena satu-satunya pabrik milik perusahaan hanya memiliki kapasitas produksi maksimal 1.3 juta unit per tahun.
Jadi menarik untuk melihat nanti ketika CINT memperoleh tambahan kapasitas produksi dari pabriknya yang baru, dimana jika ketika itu pasar furniture masih bagus seperti saat ini, maka pendapatan serta laba perusahaan seharusnya akan melonjak signifikan. Margin laba perusahaan juga menjadi lebih baik sejak tahun 2012, setelah CINT memiliki distributornya sendiri.
Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
Pasca IPO, nilai ekuitas CINT akan menjadi kurang lebih Rp280 milyar. Dengan market cap Rp348 milyar pada harga Rp348 per lembar saham (jumlah saham beredar perusahaan adalah persis 1 milyar lembar) maka CINT mencatat PBV-nya adalah 1.2 kali. Actually, ini harga yang sangat murah untuk perusahaan yang punya nama besar, memiliki perputaran bisnis yang cepat (jadi gampang jualannya), dan memiliki rasio keuntungan yang sangat besar (rata-rata ROE-nya diatas 25%). Penulis tidak tahu kenapa kok CINT ini nggak terbang dan hanya naik sedikit setelah dia IPO-nya, tapi yang jelas ini menjadi kesempatan bagi kita sebagai bargain hunter.
Satu-satunya risiko yang mungkin anda tanggung kalau anda invest di CINT ini adalah ketergantungan perusahaan terhadap baja jenis stainless steel untuk bahan baku pembuatan kursi dan meja. Dan harus diakui, perusahaan mencatatkan peningkatan keuntungan yang signifikan dalam dua tahun terakhir karena harga baja itu sendiri sedang turun. Selain itu kalau anda perhatikan saham GEMA sebagai sesama perusahaan furniture, maka GEMA juga relatif murah tapi toh nggak naik-naik juga, selain sahamnya sendiri tidak likuid (CINT juga kemungkinan tidak akan likuid).
However, undervalue is undervalue. Seperti halnya GEMA yang, meski belum naik, tapi juga sulit untuk turun karena sudah murah, maka demikian pula halnya dengan CINT. Dan jika laporan keuangan terbaru CINT nanti masih mencatatkan kinerja yang sama baiknya seperti periode sebelumnya, maka sahamnya pun tidak akan butuh waktu lama untuk take off. We’ll see.
PT Chitose International, Tbk
Rating Kinerja pada 2013: AAA
Rating Saham pada 348: A
NB: Anda bisa men-download prospektus lengkap CINT

Antara Pajak, Inflasi, dan Return Investasi

Apa itu inflasi? Saya yakin teman-teman akan setuju jika inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Tapi menurut saya itu hanya mitos. Inflasi menurut saya adalah cara pemerintah menarik pajak dari rakyatnya dengan cara mencetak uang baru sehinga jumlah uang yang beredar lebih banyak dari jumlah barang yang beredar.

Catatan: Sebelum anda melanjutkan membaca, perlu dicatat bahwa artikel ini bukan ditulis oleh Teguh Hidayat, melainkan oleh salah seorang kontributor.
Banyak orang ingin kaya. Mereka bekerja keras untuk meningkatkan jumlah nol di rekening mereka, namun mereka tidak menyadari meskipun jumlah nol di rekening mereka meningkat namun nilainya menurun.  Misalkan anda punya uang  Rp60 juta di tahun 2008, kemudian uang tersebut anda investasikan ke deposito dan ditambah dengan hasil kerja keras anda uang tersebut menjadi  Rp90 juta di tahun 2013. Terlihat nominal uang anda meningkat Rp30 juta atau 50% dalam 5 tahun.  Anda bahagia, karena kekayaan anda meningkat.
Tapi benarkah demikian? Ternyata tidak! Di tahun 2008, uang anda yang senilai Rp60 juta bisa membeli 10 ton beras pada harga Rp6,000 per kilogram. Namun di tahun 2013 uang anda yang senilai Rp90 juta ternyata hanya bisa membeli 9 ton beras (Rp10.000/kg). Bukan inflasi, namun pajak-lah yang menyebabkan nilai mata uang anda menurun meskipun nominal uang anda bertambah.
Ada dua cara pemerintah menarik pajak. Yang pertama, dengan cara terang-terangan. Misalnya laba perusaahan anda Rp1 miliar, dipotong pajak 25% menjadi  Rp750 juta.  Contoh lain ada makan direstoran Rp100,000 dikenakan pajak 10% sehingga jumlah yang harus anda bayar Rp110,000.
Yang kedua, dengan cara yang lebih halus dan tersembunyi, yang membuat anda tidak menyadari bahwa anda telah membayar pajak, yaitu dengan cara mencetak uang baru. Misalnya di negara Indonesia pada tahun 2013, jumlah uang yang beredar adalah Rp1,000. Luas tanah Indonesia 10 meter persegi, maka harga tanah akan menjadi Rp100 per meter.  Jika pemerintah di tahun 2014 mencetak uang 10% dari jumlah uang yang beredar, maka jumlah uang yang beredar akan menjadi  Rp1,100, sehingga harga tanah akan menjadi  Rp110 per meter di tahun 2014.
Jadi pada tahun 2014, anda harus membeli tanah pada harga Rp110 per meter, atau lebih tinggi Rp10 di banding tahun 2013. Kenaikan sebesar Rp10 tersebut merupakan pajak.  Jika anda menonton televisi maka pejabat negara akan  menyebut  kenaikan harga-harga barang sebagai inflasi. Padahal kenaikan harga tersebut adalah  ‘akibat’, sementara ‘penyebabnya’ tidak pernah dibahas. Wajar saja jika pemerintah menutup-nutupi penyebab kenaikan harga barang-barang ini, karena kita pasti akan marah jika mengetahui bahwa kita dikenai pajak melalui hak monopoli percetakan uang oleh negara.
Menurut saya cara kedua adalah cara menagih pajak yang paling adil. Warga menengah kebawah yang punya uang tunai Rp1 juta membayar pajak Rp100,000 pertahun. Warga menengah keatas yang mempunyai penghasilan Rp10 milyar membayar pajak Rp1 milyar. Jika anda pekerja kantoran, tangan pajak bisa menjangkau anda melalui perusahaan dimana pajak dipotong langsung oleh perusahaan. Tapi lain halnya dengan tukang bakso, tukang sayur, pengemis, pemulung, tukang ojek dan profesi sejenisnya, dimana mereka tidak kena pajak penghasilan atau pajak penjualan.
Padahal, jangan dikira mereka ini penghasilannya rendah. Seorang pemulung bisa meraup Rp100,000 – Rp200,000 per hari, 365 hari per tahun, jadi jelas bahwa penghasilan mereka sudah melewati batas kena pajak. Sayangnya penarik pajak tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Oleh sebab itu diperlukan cara untuk mempajaki mereka yaitu lewat inflasi, yakni inflasi yang menggerus nilai riil tabungan mereka. Kalau uang kertas diperbanyak jumlahnya, maka nilainya akan turun. Akibat selanjutnya adalah nilai riil tabungan turun.
Pajak ini, atau yang kita kenal dengan istilah inflasi, sangat penting untuk diperhatikan karena terkait return investasi. Beberapa orang investor atau fund manager membanggakan return investasi mereka yang diatas rata-rata pasar setiap tahunnya, namun melupakan fakta bahwa return tersebut belum ‘dipotong pajak’ berupa inflasi. Simpel saja. Pada tahun 2000, satu bungkus nasi di warung makan sederhana harganya Rp1,000. Sekarang? Sekitar Rp3,000. Ini artinya kalau nilai aset anda di saham pada tahun 2000 adalah Rp100 juta, misalnya, dan pada saat ini aset anda tersebut telah tumbuh tiga kali lipat menjadi Rp300 juta, maka sejatinya tingkat pertumbuhannya adalah nol persen, karena 300 juta pada hari ini nilainya adalah kurang lebih sama dengan 100 juta di tahun 2000.
Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari pajak dalam wujud inflasi. Saya menyarankan agar anda:
  1. Jangan menyimpan uang tunai karena nilai uang tunai anda akan tergerus 10 – 11% setiap tahun. Sebagai gambaran, jumlah mata uang Rupiah yang beredar pada Januari 2013 tercatat Rp3,268 triliun. Dan pada januari 2014 uang yang beredar telah mencapai Rp3,649 Triliun, yang itu artinya pemerintah mencetak/menambah uang baru sebesar 11.6%. Untuk mengetahui perkembangan uang yang beredar silahkan buka link berikut: http://www.bi.go.id/id/publikasi/perkembangan/Pages/M2_april_2014.aspx.
  2. Jangan investasikan uang anda pada barang-barang yang nilainya terdepresiasi/turun dari tahun ke tahun. Contohnya: mobil.
  3. Jangan investasikan uang anda ke instrument investasi yang imbal hasilnya kurang dari persentase pertumbuhan jumlah uang yang beredar, dalam hal ini kurang dari 10 – 11% tadi. Deposito adalah salah satu contohnya.
  4. Jika anda berani mengambil resiko, maka investasikan uang anda ke saham. Silahkan baca-baca buku tentang Warren Buffet atau semacamnya.
Di Indonesia, memang sulit untuk mengalahkan inflasi karena rate inflasi itu sendiri sangat tinggi, dan ini berbeda dengan deflasi yang terjadi di Jepang.  Jika terjadi deflasi maka nilai uang akan naik dari tahun ke tahun, dan akibatnya harga barang-barang akan turun. Di Jepang uang anda cukup di simpan di bawah bantal, nilainya akan naik dari tahun ke tahun. Misalnya jika anda membeli rumah tahun 1990 seharga Rp1 miliar, sekarang anda mungkin hanya perlu membayar Rp300 juta untuk rumah yang sama.
Sementara saat terjadi inflasi maka kita harus menyimpan uang kita dalam bentuk barang. Namun menyimpan barang punya kelemahan, yaitu butuh waktu untuk mengubahnya menjadi uang cash, dan barang itu sendiri bisa lapuk dimakan usia (misalnya besi bisa berkarat). Jadi saya menyarankan agar anda investasi di tanah. Mengapa tanah? Tanah tidak bisa lapuk dimakan usia, hanya bisa dicuri atau diklaim orang kalau tidak dijaga. Berbeda dengan rumah, rumah masih bisa runtuh. Pemerintah bisa mencetak uang sesuka hati, namun pemerintah tidak bisa mencetak tanah. Jika pemerintah mencetak uang 10%, nilai riil tanah juga akan naik 10%.
Sebagai gambaran, pada tahun 2014, harga tanah di Jln. Rasuna Said, Jakarta, adalah sekitar Rp30 juta, sementara di Jln. Sudirman Rp50 – 60 juta per meter persegi. Jika dihitung dari tahun 1983 hingga 2014 atau kurang lebih selama 31 tahun, maka investasi di tanah di Jakarta kususnya di Jalan Rasuna said dan Sudirman telah memberikan return sekitar 14% per tahun, atau sudah lebih besar dari tingkat inflasi.
Selain tanah, emas juga bisa menjadi alat untuk melindungi nilai aset dari inflasi. Pada tahun 1996, harga emas adalah sekitar US$ 400 per oz, dan hari ini sudah menjadi US$ 1,323 per oz. Dengan mempertimbangkan kurs Rupiah yang pada saat itu (tahun 1996) adalah Rp2,500 per Dollar, sementara pada saat ini sudah menjadi Rp11,000 per Dollar, maka tingkat kenaikan harga emas selama delapan belas tahun terakhir juga sudah mengalahkan inflasi.
Baiklah, saya kira sudah cukup. Ada yang mau menambahkan? Saya terbuka untuk berdiskusi :)
Penulis bernama Yudi Susanto, pekerjaan pengusaha, tinggal di Provinsi Bangka Belitung. Saya bisa dihubungi melalui email shen_long05@yahoo.com
NB: Jika anda memiliki tulisan terkait investasi saham atau hal lain yang terkait, yang sekiranya bermanfaat untuk orang banyak, maka silahkan kirim tulisan anda tersebut ke email teguh.idx@gmail.com. Untuk tulisan yang dimuat, pada bagian bawahnya akan ditampilkan nama lengkap anda sebagai kontributor, biodata singkat, nomor kontak anda (email, nomor telepon, pin BB, dll), dan alamat website anda (jika ada).

Website teguhhidayat.com setiap minggunya memperoleh kunjungan sekitar 20,000 kali, sehingga artikel anda akan dibaca oleh banyak orang yang rata-rata merupakan investor saham/pelaku pasar modal. Setiap artikel yang ditayangkan akan sedikit diedit tanpa mengubah arti dan maksud kalimatnya, agar lebih enak dibaca.

Layanan preorder untuk pemesanan Buku Kumpulan Analisis edisi Kuartal II 2014 sudah dibuka! Keterangan selengkapnya baca [...]

Cipaganti Citra Graha

Setelah mengalami keterlambatan pembayaran bunga, plus juga gagal mengembalikan modal pokok milik para investor selama beberapa bulan, pihak penegak hukum akhirnya turun tangan terhadap kasus Koperasi Cipaganti. Tidak tanggung-tanggung, kemarin Polda Jabar menetapkan status tersangka kepada tiga orang sekaligus. Mereka adalah Andianto Setiabudi, Julia Sri Redjeki, dan Yulinda Tjendrawati, yang merupakan pengurus utama koperasi yang masih satu keluarga. Karena ketiga figur ini merupakan juga anggota manajemen langsung dari Cipaganti Citra Graha (CPGT), dalam hal ini sebagai presiden direktur, presiden komisaris, dan komisaris, maka jadilah saham CPGT kena imbasnya dan sempat jatuh hingga ke posisi 54, atau turun lebih dari 70% dibanding harga IPO-nya yakni 190, sebelum kemudian naik lagi ke posisinya saat ini yakni 72.

Nah, kalau urusan soal Koperasi-nya sih, penulis nggak ambil pusing lah, karena saya nggak pernah ikut begituan. Tapi pertanyaanya sekarang, bagaimana kalau ada investor yang memegang CPGT di harga atas? Dan bagi investor yang belum masuk, maka apakah CPGT pada harganya saat ini menarik secara valuasi, mengingat PBV-nya cuma 0.4 kali? Untuk itu mari kita pelajari lagi CPGT ini dari awal. Agar nggak jadi melebar kemana-mana, maka pembahasan di bawah ini akan fokus ke CPGT-nya, dan bukan Grup Cipaganti secara keseluruhan.
CPGT dirintis pertama kali sebagai perusahaan jual beli mobil bekas di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1984. Seiring berjalannya waktu, usaha berkembang hingga perusahaan masuk juga ke bisnis penyewaan mobil dan alat-alat berat. Hingga ketika perusahaan go public pada tahun 2013, Grup Cipaganti sudah merambah ke banyak sekali bidang usaha, namun yang ditempatkan dibawah CPGT adalah usaha-usaha berikut: 1. Travel & Shuttle, 2. Jasa perjalanan wisata, jasa pembelian tiket pesawat terbang, dan rental bis pariwisata, 3. Rental mobil, 4. Jasa kurir dan kargo, 5. Taksi, dan 6. Rental alat-alat berat.
Jika disimpulkan, CPGT terutama bergerak di bidang jasa transportasi, penyewaan alat-alat berat, dan perjalanan wisata. Pada Kuartal I 2014, CPGT mencatat pendapatan Rp139 milyar dimana Rp110 milyar diantaranya berasal dari jasa transportasi, sehingga boleh dibilang bahwa dua unit bisnis lainnya hanya berkontribusi sedikit terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Dan ini menarik mengingat pada komposisi aset tetap perusahaan, nilai buku dari aset alat-alat berat milik CPGT tercatat Rp464 milyar, atau hanya sedikit lebih kecil dibanding nilai aset kendaraan yakni Rp613 milyar. Artinya? Return atau keuntungan yang diperoleh CPGT dari bisnis penyewaan alat-alat beratnya jauh lebih kecil dibanding bisnis jasa transportasi.
Dan kalau keuntungan yang kecil tersebut tergerus oleh penyusutan yang terjadi pada alat-alat berat yang disewakan, maka holaaa.. Jadilah perusahaan merugi. Dan memang pada Kuartal I 2014, CPGT mencatat rugi Rp3 milyar dari bisnis rental alat-alat beratnya, dimana kondisi merugi ini sudah terjadi sejak tahun 2013 karena berkurangnya pelanggan dari kalangan pengusaha tambang (pada tahun 2012, bisnis rental alat-alat berat masih menghasilkan keuntungan meski kecil).
Seperti yang pernah penulis sampaikan di analisis terkait Adi Sarana Armada (ASSA), bisnis penyewaan kendaraan dan alat-alat berat kurang prospektif untuk investasi karena jika pada waktu-waktu tertentu manajemen gagal dalam memperoleh pelanggan, maka pendapatan perusahaan akan berkurang, namun penyusutan jalan terus. Bisnis ini juga biasanya membutuhkan banyak leverage (baca: utang) agar jumlah armada bisa lebih banyak ketimbang jika perusahaan membeli kendaraan hanya menggunakan uang milik sendiri. Tapi memang jika dibandingkan perusahaan sejenis seperti ASSA, atau Expressindo Transindo Utama (TAXI), maka utang CPGT nggak terlalu besar. However, karena sejak awal margin laba bersih yang diperoleh CPGT terbilang kecil, yakni rata-rata kurang dari 10% laba bersih, maka perusahaan ini tetap menghadapi risiko kerugian jika sewaktu-waktu bank menaikkan bunga pinjamannya, mengingat mayoritas pinjaman bank yang diperoleh CPGT memiliki suku bunga yang floating.
Hubungannya dengan Koperasi Cipaganti
Okay, CPGT mungkin tidak menarik untuk investasi jangka panjang. Tapi yang jelas sahamnya sekarang cuma 72 perak, dengan PBV yang juga sudah sangat rendah. Bayangkan, pada harga sahamnya saat ini, nilai CPGT secara keseluruhan hanyalah Rp260 milyar, padahal modal disetor perusahaan tercatat Rp361 milyar, belum termasuk ditambah akumulasi saldo laba! Jadi jika seseorang mengakuisisi 100% saham CPGT pada harganya saat ini, kemudian ia (daripada pusing) memutuskan untuk melikuidasi perusahaan alias menjual murah seluruh aset-aset kendaraan, alat-alat berat, serta lainnya, kemudian sebagian uangnya dipakai untuk melunasi seluruh utang perusahaan, maka ia tetap akan memperoleh keuntungan yang signifikan.
Dan bagi investor/trader di pasar modal, saham ini mungkin kasih cuan besar kalau nanti masalah hukum yang dialami pengurus perusahaan selesai, dan sahamnya pun naik kembali. Faktanya kalau ada trader yang cukup bernyali mengambil CPGT ini di harga 50-an, maka sekarang dia sudah cuan lebih dari dua puluh persen. Untuk itu, mari kita coba lihat lagi kasus Koperasi Cipaganti dari awal.
Koperasi, seperti yang sudah penulis bahas disini, adalah jenis badan hukum yang jauh lebih sederhana dibanding perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas atau PT, tapi sama-sama bisa memperoleh pendanaan dari luar. Jika anda memiliki sebuah PT, maka melalui PT tersebut anda bisa mengajukan pinjaman ke bank, menerbitkan saham, menggelar IPO, hingga menerbitkan obligasi. However, proses untuk melakukan itu semua tidaklah mudah. Ketika anda hendak pinjam dana ke bank, misalnya, maka anda harus menyediakan aset senilai sekian sebagai jaminan, dan PT tersebut juga harus sudah beroperasi sekian tahun serta memiliki track record yang bisa dipertanggung jawabkan.
Namun hal yang sama tidak berlaku untuk koperasi. Jika anda mengelola sebuah koperasi, maka selama anda bisa meyakinkan para calon investor untuk menempatkan dananya pada koperasi tersebut, then holaa.. you got the money! Anda tidak perlu memberikan jaminan apapun terhadap si investor, yang penting anda bisa secara rutin membayarkan bunga yang memang sudah dijanjikan setiap bulannya.
Persoalannya adalah, beban bunga yang ditanggung koperasi biasanya sangat besar. Anda tidak akan bisa menarik minat investor untuk menempatkan dana di koperasi anda jika anda tidak menawarkan bunga yang jumbo, katakanlah 2% per bulan, atau setara 24% per tahun (Koperasi Cipaganti sendiri menawarkan bunga hingga 1.95% per bulan). Sementara kalau anda pinjam ke bank, bunganya paling-paling cuma 12 – 14%. Kalau anda sukses menerbitkan obligasi, maka bunganya bisa rendah lagi, bisa lebih rendah dari 10% kalau menerbitkannya diluar negeri (di Singapura). Namun adalah wajar jika koperasi ‘terpaksa’ menawarkan bunga sebesar itu, karena mereka tidak menjaminkan apapun kepada investor, kecuali selembar surat yang ditanda tangani didepan notaris yang berisi perjanjian bahwa jika terjadi kerugian, maka pihak koperasi akan melikuidasi/menjual aset-asetnya untuk kemudian mengembalikan dana hasil penjualan aset tersebut kepada investor.
Tapi karena beban bunga yang ditanggung koperasi sangat besar, maka jika pengurus koperasi yang bersangkutan bisa memperoleh sumber dana dengan cara yang lain, yang tidak membebaninya dengan bunga yang besar, maka tentunya ia tidak perlu lagi meneruskan koperasinya. Contohnya, kalau saya sukses memperoleh pinjaman dari bank dengan tingkat bunga 12% per tahun, maka ngapain saya masih harus bayar bunga 24% kepada para nasabah koperasi yang saya kelola? Jika nanti saya bisa menerbitkan obligasi dengan bunga 9%, maka tentu utang-utang bank juga akan saya kurangi. Dan seterusnya.
Dan penulis pikir itulah kekeliruan yang dilakukan oleh Bapak Andianto Setiabudi, pendiri sekaligus pemilik dari seluruh Grup Cipaganti. Ketika ia sukses meng-IPO-kan CPGT ke pasar saham pada tahun 2013 kemarin (jangan salah, meng-IPO-kan perusahaan itu nggak gampang lho!), ia entah kenapa masih terus mempertahankan Koperasi Cipaganti-nya. Coba lihat pengusaha besar lain: Adakah yang masih capek-capek mengurus koperasi, jika itu tujuannya untuk menghimpun dana dari masyarakat, ketika mereka sudah sukses go public?
Atau mungkin bisa jadi juga bahwa Bapak Andianto ini sebenarnya sudah berniat untuk membubarkan koperasinya, namun timing-nya kurang tepat dimana pada tahun 2012 dan 2013, bisnis yang dialami Grup Cipaganti mengalami kemunduran sehingga ia tidak bisa serta merta membubarkan dan melikuidasi aset-aset koperasinya. Ketika Mr. Andianto beserta kerabatnya akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, menurut penulis itu adalah puncak dari timing yang tidak tepat tadi.
Lalu kapan kira-kira CPGT bakal naik kembali?
However, nasi sudah jadi bubur, dan Mr. Andianto beserta Grup Cipaganti-nya sekarang sudah berubah dari ‘pengusaha penuh inspirasi’ menjadi ‘tersangka kasus penipuan’. Mungkin ini yang Warren Buffett maksud dengan ‘It takes twenty years to build a reputation and five minutes to ruin it’. Terkait dengan saham CPGT yang kini terpuruk, maka untuk bisa naik lagi akan tergantung dari beberapa hal berikut:
Pertama, terkait kasus ‘penipuan’ yang dilakukan Mr. Andianto (kata penipuan disini mungkin harus diberi tanda kutip karena kalau melihat reputasi baiknya selama ini, sulit untuk mempercayai bahwa Mr. Andianto adalah seorang penipu, melainkan dia lagi sial saja), ending-nya nanti ada dua kemungkinan, yakni Mr. Andianto beserta dua tersangka lainnya benar-benar dijebloskan ke penjara, atau ketiga tersangka hanya dipidana denda dan ganti rugi, tapi nggak sampai dipenjara. Manapun yang terjadi, kemungkinan tetap bakal jadi sentimen negatif bagi CPGT. Kalau Mr. Andianto dipenjara, maka CPGT harus memilih presiden direktur yang baru, padahal selama ini peran Mr. Andianto-lah yang menyebabkan CPGT sukses menjadi besar hingga akhirnya juga sukses menggelar IPO. Jadi siapapun penggantinya nanti, maka itu tetap akan menimbulkan keraguan bahwa dirut baru ini akan mampu memimpin CPGT, apalagi trend bisnis perusahaan dalam setahun terakhir memang sedang menurun.
Namun kalau Mr. Andianto tidak sampai dipenjara, maka itu juga akan menimbulkan sentimen buruk karena ini bukan kali pertama seorang tersangka dari kasus penipuan yang menyebabkan kerugian bagi banyak orang, pada akhirnya lolos dari ancaman jeruji besi. Sudah pasti nanti akan ada tuduhan bahwa Cipaganti menyuap polisi dan semacamnya, tak peduli meski Mr. Andianto membayar ganti rugi ke seluruh nasabah koperasi (Masih ingat kasus tabrakan yang melibatkan Rasyid Radjasa? Anak bungsu Hatta Radjasa ini juga tetap mendapat cemoohan dari publik hanya karena ia tidak dipenjara, padahal bapaknya udah ganti rugi habis-habisan ke korban kecelakaan).
Itu yang pertama, terkait penyelesaian kasusnya yang ‘serba salah’. Yang kedua, pada Kuartal I 2014 laba CPGT turun sekitar 65%, dan kemungkinan trend penurunan ini akan berlanjut pada Kuartal II mendatang karena perusahaan tentunya perlu waktu untuk meningkatkan pendapatannya kembali, apalagi ketika di saat yang bersamaan, dirutnya malah sibuk berurusan dengan polisi. Jadi ketika perusahaan merilis laporan keuangan Kuartal II-nya pada akhir Juli nanti, dimana kinerjanya kembali memburuk, maka itu juga akan jadi sentimen buruk bagi sahamnya.
Intinya sih, sulit untuk melihat saham CPGT akan naik kembali ke posisi sebelum dia jatuh, kecuali: 1. Mr. Andianto cs, entah dengan cara apa, sukses menyelesaikan kasusnya dengan penyelesaian yang positif, misalnya beliau tidak sampai dipenjara, dan mengumumkan melalui media bahwa Koperasi Cipaganti pada akhirnya berhasil membayar seluruh kewajibannya kepada nasabah, sehingga reputasi Cipaganti kembali pulih, dan/atau 2. CPGT menjual sebagian aset-asetnya dan uangnya kemudian dibukukan sebagai pendapatan, sehingga laba bersih perusahaan akan naik.
Nah, kalau belakangan ini CPGT kembali naik, maka kemungkinan itu karena terjadi peristiwa nomor 1, dimana Mr. Andianto sukses (setidaknya hingga saat ini) dalam menjalani kasusnya dengan baik, dan itu menjadi sentimen positif bagi saham CPGT. Pada persidangan yang digelar tanggal 3 Juli lalu, Mr. Andianto menyatakan kesanggupannya untuk melunasi seluruh kewajiban Koperasi Cipaganti terhadap seluruh nasabahnya, dengan cara menyerahkan aset-aset milik koperasi kepada pengadilan untuk kemudian dilikuidasi. Karena sebelumnya Koperasi Cipaganti senantiasa menunjukkan itikad baik dengan rutin menggelar meeting dengan para nasabahnya (jadi mereka nggak kabur), maka pernyataan Mr. Andianto ini untuk sejenak meredakan kekhawatiran para nasabah koperasi. Jika nanti proses likuidasi dari aset-aset milik Koperasi Cipaganti selesai dilakukan tanpa hambatan, dan seluruh nasabah koperasi memperoleh modal mereka kembali, maka CPGT akan melanjutkan kenaikannya. However, anda harus hati-hati jika nanti keluar berita bahwa Koperasi Cipaganti ternyata tidak memiliki cukup aset untuk membayar ganti rugi ke nasabahnya, atau semacamnya. Karena yang harus diingat disini adalah bahwa Koperasi Cipaganti belum membayar ganti rugi apapun, dan urusan Mr. Andianto dengan polisi dan pengadilan masih belum selesai.
Yang mungkin juga menarik untuk diperhatikan adalah, sejak bulan Juli 2013 lalu hingga April 2014, PT Cipaganti Global Corporindo sebagai pemegang saham mayoritas CPGT terus menjual saham CPGT ke publik di rentang harga Rp160 – 255 per saham. Apakah hal ini juga bertujuan untuk mengumpulkan dana untuk membayar kerugian yang diderita nasabah Koperasi Cipaganti? Kita lihat saja nanti.

Penulis membuat CD rekaman seminar dengan tema value investing dan nilai intrinsik saham. Anda bisa membelinya [...]

Antara Pajak, Inflasi, dan Return Investasi

Apa itu inflasi? Saya yakin teman-teman akan setuju jika inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Tapi menurut saya itu hanya mitos. Inflasi menurut saya adalah cara pemerintah menarik pajak dari rakyatnya dengan cara mencetak uang baru sehinga jumlah uang yang beredar lebih banyak dari jumlah barang yang beredar.

Catatan: Sebelum anda melanjutkan membaca, perlu dicatat bahwa artikel ini bukan ditulis oleh Teguh Hidayat, melainkan oleh salah seorang kontributor.
Banyak orang ingin kaya. Mereka bekerja keras untuk meningkatkan jumlah nol di rekening mereka, namun mereka tidak menyadari meskipun jumlah nol di rekening mereka meningkat namun nilainya menurun.  Misalkan anda punya uang  Rp60 juta di tahun 2008, kemudian uang tersebut anda investasikan ke deposito dan ditambah dengan hasil kerja keras anda uang tersebut menjadi  Rp90 juta di tahun 2013. Terlihat nominal uang anda meningkat Rp30 juta atau 50% dalam 5 tahun.  Anda bahagia, karena kekayaan anda meningkat.
Tapi benarkah demikian? Ternyata tidak! Di tahun 2008, uang anda yang senilai Rp60 juta bisa membeli 10 ton beras pada harga Rp6,000 per kilogram. Namun di tahun 2013 uang anda yang senilai Rp90 juta ternyata hanya bisa membeli 9 ton beras (Rp10.000/kg). Bukan inflasi, namun pajak-lah yang menyebabkan nilai mata uang anda menurun meskipun nominal uang anda bertambah.
Ada dua cara pemerintah menarik pajak. Yang pertama, dengan cara terang-terangan. Misalnya laba perusaahan anda Rp1 miliar, dipotong pajak 25% menjadi  Rp750 juta.  Contoh lain ada makan direstoran Rp100,000 dikenakan pajak 10% sehingga jumlah yang harus anda bayar Rp110,000.
Yang kedua, dengan cara yang lebih halus dan tersembunyi, yang membuat anda tidak menyadari bahwa anda telah membayar pajak, yaitu dengan cara mencetak uang baru. Misalnya di negara Indonesia pada tahun 2013, jumlah uang yang beredar adalah Rp1,000. Luas tanah Indonesia 10 meter persegi, maka harga tanah akan menjadi Rp100 per meter.  Jika pemerintah di tahun 2014 mencetak uang 10% dari jumlah uang yang beredar, maka jumlah uang yang beredar akan menjadi  Rp1,100, sehingga harga tanah akan menjadi  Rp110 per meter di tahun 2014.
Jadi pada tahun 2014, anda harus membeli tanah pada harga Rp110 per meter, atau lebih tinggi Rp10 di banding tahun 2013. Kenaikan sebesar Rp10 tersebut merupakan pajak.  Jika anda menonton televisi maka pejabat negara akan  menyebut  kenaikan harga-harga barang sebagai inflasi. Padahal kenaikan harga tersebut adalah  ‘akibat’, sementara ‘penyebabnya’ tidak pernah dibahas. Wajar saja jika pemerintah menutup-nutupi penyebab kenaikan harga barang-barang ini, karena kita pasti akan marah jika mengetahui bahwa kita dikenai pajak melalui hak monopoli percetakan uang oleh negara.
Menurut saya cara kedua adalah cara menagih pajak yang paling adil. Warga menengah kebawah yang punya uang tunai Rp1 juta membayar pajak Rp100,000 pertahun. Warga menengah keatas yang mempunyai penghasilan Rp10 milyar membayar pajak Rp1 milyar. Jika anda pekerja kantoran, tangan pajak bisa menjangkau anda melalui perusahaan dimana pajak dipotong langsung oleh perusahaan. Tapi lain halnya dengan tukang bakso, tukang sayur, pengemis, pemulung, tukang ojek dan profesi sejenisnya, dimana mereka tidak kena pajak penghasilan atau pajak penjualan.
Padahal, jangan dikira mereka ini penghasilannya rendah. Seorang pemulung bisa meraup Rp100,000 – Rp200,000 per hari, 365 hari per tahun, jadi jelas bahwa penghasilan mereka sudah melewati batas kena pajak. Sayangnya penarik pajak tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Oleh sebab itu diperlukan cara untuk mempajaki mereka yaitu lewat inflasi, yakni inflasi yang menggerus nilai riil tabungan mereka. Kalau uang kertas diperbanyak jumlahnya, maka nilainya akan turun. Akibat selanjutnya adalah nilai riil tabungan turun.
Pajak ini, atau yang kita kenal dengan istilah inflasi, sangat penting untuk diperhatikan karena terkait return investasi. Beberapa orang atau fund manager membanggakan return investasi mereka yang diatas rata-rata pasar setiap tahunnya, namun melupakan fakta bahwa return tersebut belum ‘dipotong pajak’ berupa inflasi. Simpel saja. Pada tahun 2000, satu bungkus nasi harganya Rp1,000. Sekarang? Sekitar Rp3,000. Ini artinya kalau nilai aset anda di saham pada tahun 2000 adalah Rp100 juta, misalnya, dan pada saat ini aset anda tersebut telah tumbuh tiga kali lipat menjadi Rp300 juta, maka sejatinya tingkat pertumbuhannya adalah nol persen, karena 300 juta pada hari ini nilainya adalah kurang lebih sama dengan 100 juta di tahun 2000.
Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari pajak dalam wujud inflasi. Saya menyarankan agar anda:
  1. Jangan menyimpan uang tunai karena nilai uang tunai anda akan tergerus 10 – 11% setiap tahun. Sebagai gambaran, jumlah mata uang Rupiah yang beredar pada Januari 2013 tercatat  Rp3,268 triliun. Dan pada januari 2014 uang yang beredar telah mencapai Rp3,649 Triliun, yang itu artinya pemerintah mencetak/menambah uang baru sebesar 11.6%.  Untuk mengetahui perkembangan uang yang beredar silahkan buka link ini :   http://www.bi.go.id/id/publikasi/perkembangan/Pages/M2_april_2014.aspx .
  2. Jangan investasikan uang anda pada barang-barang yang nilainya terdepresiasi/turun dari tahun ke tahun. Contohnya: mobil.
  3. Jangan investasikan uang anda ke instrument investasi yang imbal hasilnya kurang dari persentase pertumbuhan jumlah uang yang beredar, dalam hal ini kurang dari 10 – 11% tadi. Deposito adalah salah satu contohnya.
  4. Jika anda seorang yang berani mengambil resiko, investasikan uang anda ke saham. Silahkan baca-baca buku tentang Warren Buffet atau semacamnya.
Di Indonesia, memang sulit untuk mengalahkan inflasi karena rate inflasi itu sendiri sangat tinggi, dan ini berbeda dengan deflasi yang terjadi di Jepang.  Jika terjadi deflasi maka nilai uang akan naik dari tahun ke tahun, dan akibatnya harga barang-barang akan turun. Di Jepang uang anda cukup di simpan di bawah bantal, nilainya akan naik dari tahun ke tahun. Misalnya jika anda membeli rumah tahun 1990 seharga Rp1 miliar, sekarang anda mungkin hanya perlu membayar Rp300 juta untuk rumah yang sama.
Sementara saat terjadi inflasi maka kita harus menyimpan uang kita dalam bentuk barang. Namun menyimpan barang punya kelemahan, yaitu butuh waktu untuk mengubahnya menjadi uang cash, dan barang itu sendiri bisa lapuk dimakan usia (misalnya besi bisa berkarat). Jadi saya menyarankan anda  investasi ke tanah. Mengapa tanah? Tanah tidak bisa lapuk dimakan usia, hanya bisa dicuri atau diklaim orang kalau tidak dijaga. Berbeda dengan rumah, rumah masih bisa lapuk. Pemerintah bisa mencetak uang sesuka hati, namun pemerintah tidak bisa mencetak tanah.  Jika pemerintah mencetak uang 10%, nilai riil tanah juga akan naik 10%.
Sebagai gambaran, pada tahun 2014, harga tanah di Jln. Rasuna Said, Jakarta, adalah sekitar Rp30 juta, sementara di Jln. Sudirman Rp50 – 60 juta. Jika di hitung dari tahun 1983 – 2014 atau kurang lebih selama 31 tahun, investasi di tanah di  Jakarta  kususnya Rasuna said dan Sudirman telah memberikan return sekitar 14%, atau sudah lebih besar dari tingkat inflasi.
Selain tanah, emas juga bisa menjadi alat untuk melindungi nilai aset dari inflasi. Pada tahun 1996, harga emas adalah sekitar US$ 400 per oz, dan hari ini sudah menjadi US$ 1,323 per oz. Dengan mempertimbangkan kurs Rupiah yang pada saat itu (tahun 1996) adalah Rp2,500 per Dollar, sementara pada saat ini sudah menjadi Rp11,000 per Dollar, maka tingkat kenaikan harga emas selama delapan belas tahun terakhir sudah mengalahkan inflasi.
Baiklah, saya kira sudah cukup. Ada pertanyaan?
Penulis bernama Yudi, tinggal di Provinsi Bangka Belitung. Saya bisa dihubungi melalui email shen_long05@yahoo.com
NB: Jika anda memiliki tulisan terkait investasi saham atau hal lain yang terkait, yang sekiranya bermanfaat untuk orang banyak, maka silahkan kirim tulisan anda tersebut ke email teguh.idx@gmail.com. Untuk tulisan yang dimuat, pada bagian bawahnya akan ditampilkan nama lengkap anda sebagai kontributor, biodata singkat, nomor kontak anda (email, nomor telepon, pin BB, dll), dan alamat website anda (jika ada).
Website teguhhidayat.com setiap minggunya memperoleh kunjungan sekitar 20,000 kali, sehingga artikel anda akan dibaca oleh banyak orang yang rata-rata merupakan investor saham/pelaku pasar modal. Setiap tulisan yang masuk akan melalui proses seleksi, sehingga tidak semuanya akan [...]

Akhirnya! Jokowi!

Hari ini, Rabu, tanggal 9 Juli 2014 pukul 16.00, berdasarkan data quick count yang ditampilkan oleh Bloomberg TV (stasiun televisi yang, menurut penulis, boleh dikatakan netral dalam Pilpres kali ini), pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden nomor urut dua, yakni Joko Widodo dan Jusuf Kalla, atau disingkat Jokowi-JK, unggul dalam Pilpres 2014 dengan mengantongi 52.9% suara, berbanding pasangan Prabowo-Hatta yang hanya memperoleh 47.1% suara. Meski kemenangan ini terbilang sangat tipis, dan data quick count yang ditampilkan oleh stasiun televisi lain ada juga yang justru memenangkan Prabowo, namun sebagian besar data hasil quick count lebih berpihak pada Jokowi.

Karena itulah, penulis mengucapkan selamat bagi anda sekalian yang mendukung Jokowi-JK! Nah, sebelum kita mulai menganalisis macam-macam, mungkin ada baiknya kita merayakan kemenangan ini dulu. Kebetulan, penulis tinggal di Kelurahan Kebagusan, Jakarta Selatan, dimana Pak Jokowi barusan sempat mampir kesini, tepatnya ke rumah Ibu Megawati di Jalan Kebagusan 4. Dan berikut adalah foto-foto serta video di lokasi pertemuannya, yang bisa penulis peroleh. Klik gambar untuk memperbesar.
Bang Yos

Om Brewok

Dan akhirnya! Bapak Presiden bersama salah seorang calon Menterinya, Mas Anies (I’m sorry, this is the best picture I got. The crowds were heavy)

Dan yang ini adalah sedikit video ketika mobil Bapak Presiden keluar dari Kediaman Ibu Mega
Sedikit komentar penulis, kemenangan Jokowi versi quick count kali ini harus diakui sangat tipis, sehingga hasil akhir di KPU nanti bisa saja berbeda, bahkan mungkin bisa terjadi perdebatan hingga ke Mahkamah Konstitusi. However, kita akan membicarakan soal itu nanti. Untuk sekarang, bagaimana tanggapan anda tentang kemenangan Jokowi?

Dan bagaimana kira-kira pengaruh dari kemenangan Jokowi ini terhadap pasar saham, perekonomian nasional, dan juga kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia secara keseluruhan?

Ataukah pada akhirnya nanti justru Prabowo-Hatta yang [...]

Polling: Prabowo, atau Jokowi? (Forum)

Untuk minggu ini kalau kita bahas soal saham apapun, maka rasa-rasanya itu tidak akan menarik mengingat pandangan, fokus, dan pikiran semua orang tertuju pada Pilpres tanggal 9 Juli mendatang, yang tinggal hitungan hari lagi. Bahkan kalau anda ketemu dengan calon investor dari luar negeri sana, maka yang mereka tanyakan bukan ‘Saham apa yang bagus?’, melainkan, ‘Siapa Presiden yang akan terpilih?’

Karena itulah, melalui artikel forum ini, anda bisa menyampaikan siapa Presiden pilihan anda. Apakah itu calon Presiden nomor urut 1:
Ataukah calon presiden nomor urut 2:
Dan apa alasannya? Kalau bisa alasannya terkait posisi kita semua sebagai rakyat Indonesia ya, jadi bukan sekedar sebagai investor saham. Karena ingat bahwa siapapun Presiden yang akan terpilih nanti, maka tanggung jawab beliau tidak hanya seputar perekonomian apalagi hanya soal IHSG, melainkan terkait semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara keseluruhan.
Catatan: Komentar yang bernada black campaign akan langsung [...]

Training Value Investing & Gathering, Bandung

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Bandung, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bandung dan sekitarnya, sekaligus untuk berbuka puasa bersama, dan kita juga akan berdiskusi sedikit terkait Pilpres. Berikut keterangan selengkapnya:


Penulis ketika menjadi pembicara di Acara IDX Investor Gathering di Gedung BEI, Jakarta. Klik gambar untuk memperbesar

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk training kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya!
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Materi Tambahan: Outlook IHSG kedepan setelah Prabowo/Jokowi terpilih sebagai Presiden (pada tanggal 12 Juli nanti akan sudah ketahuan siapa Presiden RI untuk lima tahun kedepan, karena Pilpresnya sudah digelar tiga hari sebelumnya).
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Brick & Wood CafeJln. Cihampelas No.96, Bandung (dekat dengan jalan layang Pasoepati).
  • Hari/Tanggal: Sabtu12 Juli 2014
  • Waktu: Sore pukul 16.00 s/d 21.00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan malam, plus makanan dan minuman ringan/ta’jil bagi anda yang berbuka puasa (tapi bagi anda yang nggak berpuasa juga tetep dapet kok hehe)
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 15.30.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 3384.34.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Bandung, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Ruhut Sitompul, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus!
  1. Penulis menyediakan CD Seminar dengan tema Nilai Intrinsik senilai Rp95,000 bagi anda secara gratis! (akan diberikan ketika acara seminarnya nanti). CD ini berisi suara penulis ketika mengisi seminar sebelumnya dengan tema nilai intrinsik saham (baca artikel tentang nilai intrinsik saham disini).
  2. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. Of course, layanan ini juga gratis :)
  3. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.

Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB [...]

Tips & Contoh Trading Ala Value Investor

Pada salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, Warren Buffett pernah ngomong begini, ‘Cara kerja kami adalah membeli saham-saham pada harga yang serendah-rendahnya, sehingga jika nanti kami menjualnya pada harga yang tidak terlalu tinggi sekalipun, kami tetap akan memperoleh keuntungan.’ Contoh aplikasinya bagaimana, dalam hal ini kalau di pasar saham Indonesia? Nah, kebetulan ada saham yang belakangan ini sedang penulis amati karena valuasinya sudah cukup murah. Saham tersebut adalah Bank BTN (BBTN).

Penulis tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang fundamental BBTN ini, karena artikel ini bukan soal BBTN-nya, melainkan contoh praktek dari filosofi Buffett yakni, ‘always buy stock at a lowest possible price’. Ketika artikel ini ditulis, BBTN berada di harga 1,020 dan itu mencerminkan PBV 0.9 kali. Lalu bagaimana keputusan untuk membeli BBTN pada kisaran harganya saat ini bisa menghasilkan keuntungan?  Berikut penjelasannya.
Pertama-tama ingat bahwa meski kita bicara soal ‘trading’ disini, namun jangan bayangkan bahwa anda bisa beli saham pada hari ini, kemudian bisa langsung jual keesokan harinya untuk meraup keuntungan 5 – 10%. Yang dimaksud dengan trading disini adalah kita membeli saham pada harga tertentu untuk nanti dijual kembali pada harga yang lebih tinggi, namun jangka waktunya bisa sebentar, katakanlah hanya beberapa hari, tapi bisa juga agak lama, katakanlah beberapa bulan. Tapi yang jelas mau anda sukses menjualnya pada minggu depan atau perlu menunggu hingga tiga bulan depan, anda seharusnya tetap akan memperoleh keuntungan yang lumayan.
Dan untuk contoh BBTN ini, kalau anda bisa memegang sahamnya paling nggak sampai April tahun depan (lumayan lama, tapi nggak sampai setahun), maka anda akan memperoleh gain besar jika dia nanti naik lagi ke 1,500 seperti April lalu, sebab di tahun-tahun sebelumnya juga sama begitu. Berikut adalah data posisi harga saham BBTN pada awal tahun dibanding dengan posisi tertingginya pada bulan April. Data dikumpulkan sejak tahun 2010 (BBTN IPO pada tahun 2010).
Tahun
Awal Tahun
Posisi Tertinggi di Bulan April
Kenaikan (%)
2010
840
1,580
88.1
2011
1,670
1,780
6.6
2012
1,210
1,410
16.5
2013
1,470
1,710
16.3
2014
870
1,405
61.5
Nah, perhatikan bahwa kalau anda membeli BBTN ini pada setiap awal tahun, maka anda hampir pasti akan memperoleh keuntungan yang lumayan, dan keuntungan tersebut akan lebih besar andaikata anda membelinya pada harga yang serendah-rendahnya, dalam hal ini dibawah 1,000 (lihat kasus tahun 2010 dan 2014). Pada tahun 2011, keuntungan yang diperoleh terbilang kecil karena masuknya di harga yang cukup tinggi, yakni 1,670. Namun jika anda pada awal tahun 2011 tersebut membeli BBTN ini di harga 1,670, kemudian melakukan average down ketika BBTN turun hingga 1,200-an sebulan kemudian (sehingga rata-rata harga beli-nya menjadi sekitar 1,450), maka keuntungan yang diperoleh tetap signifikan ketika anda menjual BBTN ini pada bulan April di harga 1,700-an. Kalau berkaca pada kasus ini maka anda akan mengerti bahwa bagi value investor, penurunan harga (dari saham yang berfundamental baik, tentu saja) adalah selalu merupakan peluang, dan bukannya bencana.
Dan BBTN ini, meski secara fundamental dia kalah telak dibanding BBRI atau bank-bank top lainnya, namun dia nggak bisa disebut sebagai bank jelek juga. Ini artinya, selama harga belinya cukup murah, yakni PBV 1 koma sekian kali atau kalau bisa kurang dari itu (PBV BBRI serendah-rendahnya 2.1 kali, alias jauh lebih tinggi, dan itu wajar karena fundamentalnya super), maka BBTN ini tetap layak buy.
Sedikit catatan, Buffett sebenarnya tidak akan tertarik sama BBTN ini karena dia lebih suka ‘buy a wonderful company at a fair price than buy a fair company at a wonderful price’, karena horizon dia adalah jangka puanjaaaang, dan faktanya selama lima tahun terakhir ini saham BBTN nggak kemana-mana melainkan bolak balik aja di rentang 850 – 1,700. Sementara BBRI? Sudah naik sekitar 300%, tanpa perlu kita utak atik sahamnya (anda diemin aja, ntar juga naik sendiri). However kalau anda bisa memanfaatkan fluktuasi BBTN ini dimana anda masuk di harga bawah (pada awal tahun) kemudian melepasnya di harga atas (pada sekitar bulan April), maka setelah lima tahun, total compounded gain yang anda peroleh bisa lebih dari 300%, meski anda perlu sedikit repot untuk men-trading-kan sahamnya.
Terdapat beberapa hal yang perlu anda perhatikan terkait kasus pergerakan saham dengan contoh BBTN ini. Pertama, BBTN sekali lagi hanyalah contoh. Di BEI terdapat banyak saham-saham lain, entah itu dari sektor perbankan atau sektor lainnya, yang punya pola pergerakan yang mirip dengan BBTN ini. Kebetulan sekarang ini ada banyak saham-saham, terutama di kelompok second liner, yang sudah turun lumayan sehingga valuasinya menjadi murah kembali.
Kedua, ingat bahwa BBTN ini, meski dia tidak sebagus BBRI, namun dia juga bukan bank yang jelek, sehingga harganya yang murah (PBV 1 koma sekian) masih menarik meski hanya untuk invest jangka pendek. Maksud penulis adalah, kalau anda menemukan saham yang murahnya setengah mati, katakanlah PBV-nya cuma 0.5 kali, tapi fundamental perusahaannya jelek setengah mati juga, maka ya jangan beli sahamnya lah. Untuk kasus BBTN, kalau anda perhatikan manajemennya sebenarnya lumayan jujur, hanya memang mereka nggak sekompeten manajemen BBRI atau bank lainnya dalam mengurus perusahaan.
Dan ketiga, BBTN cenderung bergerak naik sepanjang empat bulan pertama (Januari – April) di setiap tahunnya karena didorong oleh beberapa faktor, seperti Januari Effect dan pembagian dividen. Diluar itu BBTN cenderung bergerak stagnan, atau malah turun jika IHSG turun. Tapi kalau anda bisa masuk di harga yang serendah mungkin, let say dibawah 1,000, maka anda tetap berpeluang untuk memperoleh untung besar meski anda tidak membeli BBTN ini (pada harga dibawah 1,000 tadi) pada awal tahun. Karena ingat bahwa yang terpenting disini adalah bukan soal anda belinya kapan, tapi belinya di harga berapa.
And by that I mean, meski sekarang ini baru bulan Juli, namun berhubung BBTN sudah di harga bawah lagi (mungkin karena investor kecewa kemarin BBTN gak jadi diakuisisi Bank Mandiri), maka sahamnya sudah bisa diperhatikan kembali, untuk nanti di-collect pada harga 800 – 900 (itu harga terendah BBTN sepanjang sejarah, dan dia memang murah sekali di harga tersebut). Pada September 2013 lalu, ketika IHSG anjlok, BBTN juga turun sampai 850 tapi langsung naik hingga 1,100 tak sampai sebulan kemudian (naik hampir 30%). Jadi kalau anda beruntung maka mungkin anda tidak perlu menunggu sampai bulan April 2015.
Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah, berbeda dengan trading menggunakan metode lainnya, trading seperti yang dicontohkan diatas menawarkan risiko yang rendah. Sebab ketika kita menemukan saham yang meski kinerja fundamentalnya tidak terlalu istimewa, tapi disisi lain valuasinya sangat rendah dan perusahaannya sendiri juga bukan perusahaan ‘kemarin sore’, maka praktis risiko investasi pada sahamnya, atau dalam hal ini risiko trading-nya, menjadi rendah. Kalau anda perhatikan, valuasi saham-saham perbankan terbilang relatif rendah dibanding saham-saham big caps lainnya, tapi bahkan valuasi BBTN ini lebih rendah lagi, padahal nilai laba bersih serta ekuitas perusahaannya masih bertumbuh dengan lancar dari tahun ke tahun. Berikut datanya, angka dalam  milyaran Rupiah.

Tahun 2009 2010 2011 2012 2013
Aset Bersih/Ekuitas 5,393 6,447 7,322 10,279 11,557
Pendapatan 5,730 6,499 7,556 8,819 10,783
Laba Bersih 490 916 1,119 1,364 1,562

Jadi kecuali terjadi peristiwa force majeure atau IHSG jatuh sangat dalam, maka tidak ada alasan bagi BBTN ini untuk turun lebih rendah dari 800 – 900, karena valuasinya pada harga tersebut sudah sangat murah untuk perusahaan yang masih beroperasi dengan normal dan juga tidak sedang dirundung masalah apapun. Risiko yang rendah ini bisa anda anggap sebagai ‘bonus’ karena disisi lain anda tetap berpeluang untuk memperoleh gain signifikan, sehingga anda tidak perlu lagi mengatakan bahwa trading saham itu ‘high risk high gain’ (untuk penjelasan lebih lanjut mengenai manajemen risiko dalam berinvestasi di saham, anda bisa baca lagi artikel tentang saham blue chip vs second liner, menghitung risiko kerugian, serta strategi diversifikasi portofolio).

Nah, berhubung sekarang kita sudah memasuki Bulan Puasa, maka penulis dengan ini mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi anda umat muslim dimanapun anda berada. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT, dan semoga siapapun Presiden yang akan terpilih pada Pilpres tanggal 9 Juli nanti, maka beliau akan membawa perubahan yang positif bagi perekonomian nasional pada umumnya, dan juga pasar modal Indonesia pada khususnya. Aamiin..
NB: Buletin analisis & rekomendasi saham bulanan edisi Juli 2014 sudah terbit tanggal 1 Juli kemarin (plus sedikit review terkait Pilpres). Dan anda masih bisa memperolehnya [...]

Training Value Investing & Gathering, Bandung

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Bandung, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bandung dan sekitarnya, sekaligus untuk berbuka puasa bersama, dan kita juga akan berdiskusi sedikit terkait Pilpres. Berikut keterangan selengkapnya:


Penulis ketika menjadi pembicara di acara IDX Investor Gathering di Gedung BEI, Jakarta. Klik gambar untuk memperbesar

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya!
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Materi Tambahan: Outlook IHSG kedepan setelah Prabowo/Jokowi terpilih sebagai Presiden (pada tanggal 12 Juli nanti akan sudah ketahuan siapa Presiden RI untuk lima tahun kedepan, karena Pilpresnya sudah digelar tiga hari sebelumnya).
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!

Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Brick & Wood CafeJln. Cihampelas No.96, Bandung (dekat dengan jalan layang Pasoepati).
  • Hari/Tanggal: Sabtu12 Juli 2014
  • Waktu: Sore pukul 16.00 s/d 21.00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan malam, plus makanan dan minuman ringan/ta’jil bagi anda yang berbuka puasa (tapi bagi anda yang nggak berpuasa juga tetep dapet kok hehe)
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 15.30.

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 3384.34.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Bandung, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Ruhut Sitompul, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus!
  1. Penulis menyediakan CD Seminar dengan tema Nilai Intrinsik senilai Rp95,000 bagi anda secara gratis! (akan diberikan ketika acara seminarnya nanti). CD ini berisi suara penulis ketika mengisi seminar sebelumnya dengan tema nilai intrinsik saham (baca artikel tentang nilai intrinsik saham disini).
  2. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. Of course, layanan ini juga gratis :)
  3. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB [...]

Training Value Investing & Gathering, Bandung

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop edukasi investasi saham di Bandung, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Bandung dan sekitarnya, sekaligus untuk berbuka puasa bersama. Dan berikut keterangan selengkapnya:


Penulis ketika menjadi pembicara di acara IDX Investor Gathering di Gedung BEI, Jakarta. Klik untuk memperbesar

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk training kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya!
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Brick & Wood CafeJln. Cihampelas No.96, Bandung (dekat dengan jalan layang Pasoepati).
  • Hari/Tanggal: Sabtu12 Juli 2014
  • Waktu: Sore pukul 16.00 s/d 21.00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy  materi seminar, makan malam, plus makanan dan minuman ringan (ta’jil) bagi anda yang berbuka puasa (tapi bagi anda yang nggak berpuasa juga tetep dapet kok hehe)

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 3384.34.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087         Bank BRI no rek 0137.0101.0657539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Training Bandung, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Ruhut Sitompul, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus!
  1. Penulis menyediakan CD Seminar dengan tema Nilai Intrinsik senilai Rp95,000 bagi anda secara gratis! (akan diberikan ketika acara seminarnya nanti). CD ini berisi suara penulis ketika mengisi seminar sebelumnya dengan tema nilai intrinsik saham (baca artikel tentang nilai intrinsik saham disini).
  2. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. Of course, layanan ini juga gratis :)
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB [...]

Strategi Portofolio: Antara Blue Chip dan Second Liner

Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang bertanya seperti ini kepada penulis, ‘Pak Teguh, kenapa Warren Buffett nggak suka saham-saham teknologi ya? Padahal kalau dia beli Apple, Google, Microsoft.. dalam jangka panjang untungnya bisa gila-gilaan tuh.’ Dan penulis menjawab. ‘Buffett mengatakan bahwa ia tidak mengerti teknologi. Tapi saya pikir alasan sebenarnya adalah karena ia menyadari bahwa bisnis ini berisiko tinggi. Contohnya, antara tahun 1995 – 1999, di Amerika berkembang banyak sekali perusahaan teknologi, termasuk didalamnya perusahaan internet, hingga sempat terjadi dot com bubble. Tapi setelah dot com bubble tersebut meletus, hampir semuanya bangkrut kecuali Google dan Yahoo’.

Masalahnya adalah, iya kalau kita sejak awal beli saham Google atau Yahoo, maka kita bakal untung besar. Tapi bagaimana kalau kita belinya saham perusahaan internet yang lain? Ya duit kita habis lah! Sedangkan mengidentifikasikan ‘mutiara terpendam’ diantara tumpukan sampah seperti itu, dalam hal ini saham Google dan Yahoo, itu sama sekali bukanlah pekerjaan yang mudah.
Tapi intinya, terlepas dari apapun jenis bisnis yang dijalani perusahaan, Buffett lebih memilih saham atau perusahaan yang sudah berdiri dan beroperasi sejak sangat lama, dalam hal ini minimal puluhan tahun, dan juga sudah melewati berbagai macam periode ekonomi termasuk periode krisis, dan mampu bertahan. Ketika Buffett membeli saham perusahaan komputer, IBM, itu bukan karena ia mendadak ngerti soal teknologi, melainkan karena perusahaan ini sudah sangat mapan sejak ia beroperasi pada tahun 1880 (lebih dari 130 tahun yang lalu), dan selama itu perusahan hampir selalu beroperasi dengan baik. Buffett tidak membeli saham Facebook, meski FB ini adalah juga perusahaan teknologi, karena FB adalah perusahaan ‘kemarin sore’ yang baru berdiri pada tahun 2004.
Dan hal ini, kalau kita terjemahkan, bermakna bahwa Buffett lebih suka saham-saham blue chip ketimbang saham-saham kecil atau second liner. Diantara sesama perusahaan teknologi terbesar di dunia seperti Lenovo, Hewlett-Packard, Dell, Oracle, hingga Microsoft, IBM adalah memang yang tertua sekaligus yang paling mapan.
Nah, selama ini ada mitos bahwa perusahaan besar yang sudah mapan, itu tidak menarik sebagai pilihan investasi untuk jangka panjang karena mereka tidak lagi menawarkan pertumbuhan yang signifikan. Contohnya IBM. Dengan posisi aset senilai US$ 126 milyar pada akhir tahun 2013 (setara Rp1,300 trilyun), maka perusahaan ini mau tumbuh hingga sebesar apa lagi?
Sementara perusahaan yang masih baru, yang masih start up dan ukurannya juga masih kecil, maka praktis ruang untuk bertumbuhnya masih sangat terbuka. Ada banyak contoh dimana perusahaan kecil mampu untuk tumbuh sekian kali lipat dalam waktu yang relatif singkat sejak perusahaan resmi beroperasi, katakanlah tidak sampai 10 tahun. Contohnya? Ya Facebook tadi. Ketika Mark Zuckerberg mengajukan dokumen pendirian perusahaan dengan nama TheFacebook, Inc. pada tanggal 29 Juli 2004, nilai modal disetor perusahaan hanyalah US$ 55 ribu, atau sekitar Rp600 juta. Dan berapa nilai aset bersih Facebook sekarang? US$ 15.5 milyar, atau setara Rp160 trilyun! Jadi anda bisa bayangkan berapa besar keuntungan yang diperoleh para investor awal yang membantu mendirikan perusahaan (jauh sebelum FB menggelar IPO pada tahun 2012, terdapat beberapa venture capitalist yang sudah lebih dulu menanamkan modal di perusahaan).
Jadi jika dibandingkan dengan pertumbuhan yang dialami perusahaan blue chip manapun dalam sepuluh tahun terakhir ini, maka jelas bahwa pertumbuhan yang dicapai Facebook jauuuuh lebih mengesankan. Ada banyak miliarder baru di Amerika sana karena mereka termasuk yang menyuntik modal di Facebook ketika perusahaannya belum IPO.
Tapiii.. jangan lupa juga bahwa Facebook itu adalah contoh kecil, bahkan mungkin satu-satunya, dari perusahaan kecil yang mampu tumbuh menjadi raksasa dalam waktu singkat. Sementara perusahaan-perusahaan lainnya? Entah itu perusahaan teknologi juga atau lainnya? Ya sebagian gagal untuk sekedar bertahan untuk hidup ketika ‘dilahirkan’, sebagian mampu bertahan namun pada akhirnya tetap mati, sebagian mampu bertahan hingga saat ini, dan sebagian lagi mampu untuk benar-benar bertumbuh namun dengan rate pertumbuhan yang biasa-biasa saja. Sementara yang sukses luar biasa seperti Facebook, itu mungkin hanya satu dibanding seribu. Peter Thiel, investor pertama di Facebook yang membeli 10% saham perusahaan pada tahun 2004, saat ini menjadi kaya raya karena investasinya tersebut. However, Thiel tidak hanya berinvestasi di Facebook, melainkan banyak lagi perusahaan-perusahaan start-up lainnya, dimana perusahaan-perusahaan tersebut banyak juga yang kolaps.
Jadi intinya, cara investasi yang dilakukan Thiel mengandung risiko tinggi, dimana ia bisa menderita kerugian yang signifikan karena mayoritas dari investasinya kemungkinan akan gagal. Meski demikian kalau ia sukses satu kali saja pada salah satu saham/perusahaan yang ia beli (dimana perusahaan tersebut adalah perusahaan ‘kemarin sore’), maka ia akan langsung kaya raya.
Okay, Mas Teguh, lalu apa sebenarnya yang mau anda sampaikan?
Pada kesempatan seminar hari Sabtu tanggal kemarin, penulis berdiskusi dengan salah seorang peserta yang ternyata merupakan investor senior, yang sudah invest di saham sejak tahun 1999. Beliau mengatakan bahwa, berdasarkan pengalamannya, para investor yang ‘nggak ngerti apa-apa’ malah justru sukses meraup keuntungan signifikan dalam jangka panjang karena mereka biasanya hanya invest pada saham-saham yang ‘itu-itu saja’, alias saham-saham blue chip, biasanya dengan metode Dollar Cost Averaging (DCA) (nanti kita akan bahas metode ini lebih detail, karena memang terbukti ampuh). Contoh saham yang itu-itu saja tersebut adalah Astra International (ASII), Bank BCA (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Unilever (UNVR), Indofood (INDF), dan seterusnya. Para investor yang ‘nggak tau apa-apa’ ini hanya memilih saham-saham tersebut karena alasan yang simpel, seperti, ‘Siapa sih yang gak tau Astra? Jadi saya merasa aman kalau invest disitu. Tapi kalau perusahaan ini.. itu.. bla bla bla (perusahaan-perusahaan kecil, yang sahamnya berstatus second liner, atau malah gorengan), apaan tuh? Nama perusahaannya aja saya baru dengar!’
Sedangkan para investor ‘pakar’ yang pintar menganalisis dll, kebanyakan malah rugi! Karena mereka lebih suka masuk ke saham-saham yang nggak jelas, yang katanya, berdasarkan analisis mendalam yang sudah mereka kerjakan sebelumnya, menawarkan pertumbuhan signifikan dalam jangka panjang atau semacamnya. Tapi nyatanya banyak dari saham-saham kecil ini yang pada satu waktu mungkin sukses mencatatkan kinerja yang luar biasa sehingga sahamnya pun naik signifikan, tapi diwaktu yang lain kinerjanya tiba-tiba saja anjlok sehingga sahamnya pun ikut anjlok.
Sementara pada perusahaan-perusahaan blue chip, yang kinerjanya stabil dan konsisten, hampir tidak ada volatilitas seperti itu dimana sahamnya, meski dengan kenaikan yang terkesan pelan-pelan, namun terus naik dari waktu dan waktu dan biasanya hanya turun jika IHSG turun. Dan hal inilah yang pada akhirnya membuat investor yang memegang ASII dll, meraup keuntungan yang jauh lebih besar setelah lima atau sepuluh tahun, dibanding investor lain yang entah disadari atau tidak, mempertaruhkan uang mereka pada perusahaan-perusahaan kecil yang belum jelas bibit, bebet, dan bobotnya.
Sudah tentu, tidak semua investasi pada saham-saham second liner berakhir dengan kegagalan. Pada tahun-tahun sebelum tahun 2010, Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) adalah salah satu saham second liner yang tidak banyak dikenal orang. Namun setelah tahun 2010, perusahaan ini tumbuh dengan pesat dan juga mampu mempertahankan pertumbuhannya hingga saat ini, hingga akhirnya perusahaannya menjadi besar dan sahamnya pun berubah status menjadi saham blue chip. Jika dibandingkan dengan kenaikan jangka panjang dari saham-saham blue chip lainnya yang sejak awal sudah merupakan saham blue chip, seperti ASII dll, maka jelas bahwa kenaikan CPIN ini jauuuuuh lebih signifikan. Investor yang membeli CPIN untuk pertama kalinya pada tahun 2009, pada hari ini akan lebih sukses dalam investasinya, dibanding investor lain yang membeli ASII di tahun yang sama.
Nah, CPIN ini adalah seperti Google, Yahoo, atau Facebook tadi, yang sukses bertahan hingga akhirnya menjadi perusahaan besar. Namun masalahnya sekali lagi, iya kalau kita sejak awal belinya saham CPIN. Tapi bagaimana kalau kita masuknya di saham second liner yang lain? Bagaimana kita bisa tahu bahwa dua perusahaan yang sama-sama masih merupakan perusahaan baru dengan track record yang praktis belum ada, maka salah satunya akan tumbuh signifikan sementara yang satunya lagi bakal kolaps???
Terus terang, penulis sendiri juga termasuk yang (tadinya) percaya bahwa invest di saham-saham second liner lebih menguntungkan dibanding invest di saham-saham blue chip. Dan itu bukan karena saham-saham second liner ini lebih menawarkan pertumbuhan atau apa, melainkan karena dari sisi valuasi, harga mereka lebih murah dibanding saham-saham blue chip, dimana PBV dan PER-nya lebih rendah, sementara dividend yield-nya lebih tinggi (sebagai value investor, itu saja yang saya lihat). Sementara saham-saham big caps, yang perusahannya punya nama besar, rata-rata harganya premium dan jarang diantara mereka yang memiliki PBV dibawah 2 kali.
Dan di masa lalu, dalam hal ini tahun 2010 – 2012, strategi ‘fokus pada saham-saham second liner’ ini cukup sukses dimana ada beberapa saham second liner bagus yang sempat mampir di porto penulis, seperti MNCN, ASRI, GTBO, MYOR, LSIP, KKGI, ERAA, MAIN, hingga CPIN tadi. Namun kesininya, saham-saham second liner ini banyak yang melempem. Sementara blue chip? Mereka malah terus naik dengan santainya. Daaan yang juga baru penulis sadari adalah, kalau anda beli BBRI pada tahun 2010, misalnya, dan masih memegangnya hingga hari ini, maka keuntungan yang anda peroleh adalah sama besarnya, atau bahkan masih lebih besar, dibanding jika anda repot-repot keluar masuk di saham-saham second liner yang disebutkan diatas. Maksud penulis adalah, kalau di tahun 2012 lalu anda nggak cepat-cepat keluar dari KKGI, maka sekarang anda bakal nyangkut. Tapi kalau anda ‘tidur’ ketika memegang BBRI, maka sampai hari ini anda akan baik-baik saja bukan?
Karena itulah, mulai ketika artikel ini ditulis hingga seterusnya, penulis pribadi akan mulai menyisihkan sekitar separuh dari nilai portofolio, atau mungkin lebih, untuk dialokasikan pada saham-saham blue chip, meski mungkin masuknya bukan pada saat ini karena IHSG masih agak mahal. Kenapa cuma separuh dan bukan semuanya? Karena saya juga tetap akan mencari peluang pertumbuhan di saham-saham second liner yang punya potensi, selain karena berinvestasi di blue chip juga bukan tanpa risiko (risiko terbesar saham-saham blue chip adalah jika IHSG turun).

Dan keputusan ini adalah bukan semata karena baca-baca buku tentang Warren Buffett dll, melainkan karena pengalaman. Sudah tentu, anda mungkin memiliki strategi yang berbeda, dan itu sah-sah saja. Namun jika anda tertarik untuk menerapkan strategi yang sama, maka jangan lupa bahwa yang dimaksud dengan ‘saham blue chip’ itu bukanlah saham yang sekedar likuid atau masuk daftar LQ45, melainkan saham dengan ciri-ciri yang bisa dibaca di artikel ini.

Kemudian soal valuasi saham-saham blue chip yang rata-rata lebih tinggi dibanding saham-saham second liner, maka itu bukan berarti saham-saham blue chip ini benar-benar mahal, melainkan seperti kata Buffett, ‘Saya lebih suka berinvestasi pada perusahaan bagus yang dijual pada harga wajar, ketimbang berinvestasi pada perusahaan biasa-biasa saja yang dijual pada harga murah’. And, well, as an investor, penulis sendiri juga baru sekarang memahami kalimat tersebut dengan sungguh-sungguh.
Okay, penulis kira penulis sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikan, jadi sampai ketemu lagi minggu [...]

Gema Grahasarana

Periode Kuartal I 2014 kemarin merupakan periode dimana kinerja sebagian besar para emiten lapis dua mengalami kemunduran, jika ukurannya adalah laba bersihnya yang turun dibanding periode yang sama tahun 2013. Sementara kondisi yang sebaliknya dialami oleh para emiten besar (saham-saham bluechip), dimana laba bersih mereka naik signifikan. Entah ini merupakan semacam siklus atau hanya kebetulan, namun yang jelas hal ini berdampak pada banyaknya saham-saham lapis dua yang turun dalam satu atau dua bulan terakhir ini. Salah satunya Gema Grahasarana (GEMA), dimana perusahaan mencatatkan penurunan laba sekitar 40% dan alhasil sahamnya terus turun hingga sekarang sudah berada di level 380. Namun dengan PBV yang saat ini tercatat hanya 0.8 kali, maka pertanyaannya adalah apakah sekarang dia sudah cukup murah?

GEMA adalah perusahaan produsen produk-produk furniture dengan merk ‘Vivere’, selain juga menawarkan jasa interior design dan menjadi distributor untuk produk high pressure laminate (produk olahan kayu untuk membuat barang-barang furniture, lantai, dll) yang diimpor dari Amerika Serikat. Dalam lima tahun terakhir perusahaan menikmati pertumbuhan yang cukup signifikan seiring dengan pesatnya pembangunan gedung-gedung perkantoran dan juga perumahan terutama di Jabodetabek, dimana perkantoran dan perumahan ini menjadi konsumen bagi produk-produk furniture dan jasa interior design yang ditawarkan GEMA. Pada tahun 2009 posisi ekuitas GEMA tercatat Rp60 milyar. Dan sekarang? Sudah tembus Rp158 milyar, padahal selama ini perusahaan juga cukup rutin membayar dividen. Boleh dibilang bahwa pertumbuhan tersebut sepenuhnya dicapai dengan cara yang normal tanpa leverage ataupun ekspansi yang berlebihan, dimana GEMA menggunakan saldo labanya untuk secara berkala menambah gerai-gerainya hingga sekarang sudah memiliki dua belas gerai yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bali.

Nah, kalau melihat jenis produknya yang hanya menyasar kalangan tertentu (‘Vivere’ adalah merk furniture kelas menengah keatas, dan memang pelanggan GEMA adalah hanya perusahaan-perusahan besar), maka tidak heran jika pertumbuhan pendapatan dan laba bersih GEMA dalam jangka panjang agak kurang stabil, dimana pada tahun 2008 perusahaan sempat merugi, dan pada tahun 2013 kemarin juga labanya turun dibanding 2012. Meski demikian, seperti yang sudah disebut diatas, ekuitas perusahaan senantiasa tumbuh dari tahun ke tahun, termasuk GEMA juga secara rutin membayar dividen meski untuk tahun ini nilainya hanya Rp7 per saham (tahun kemarin sempat Rp31 per saham, dan dividen jumbo ini pula yang menyebabkan sahamnya sempat terbang sampai 700-an). Dan pada tahun 2014 ini, GEMA mencatatkan pertumbuhan ekuitas sebesar 4.9% sepanjang tiga bulan pertama 2014, atau 19.5% jika disetahunkan. Well, masih cukup baik bukan?
Dan kalau anda perhatikan, saham GEMA terus turun dalam beberapa waktu terakhir karena kekecewaan investor terhadap kinerjanya dimana laba bersihnya tercatat hanya Rp7 milyar pada Kuartal I 2014, atau turun drastis dibanding Rp12 milyar di periode yang sama tahun 2013.
Padahal sepanjang tahun 2013 lalu laba bersih GEMA tercatat Rp18 milyar. Artinya? Sebagian besar laba GEMA di tahun 2013 menumpuk di Kuartal I, dimana untuk Kuartal II hingga IV, perusahaan hanya mencatatkan laba Rp6 milyar saja. Jadi dengan asumsi bahwa laba bersih GEMA sepanjang periode April – Desember 2014 adalah kurang lebih Rp7 milyar dikali tiga (karena tiga kuartal), maka laba bersih GEMA pada tahun 2014 mendatang akan tercatat Rp28 milyar (sesuai target manajemen), atau naik signifikan dibanding tahun penuh 2013 yang hanya Rp18 milyar. Dan tentu saja kenaikan tersebut akan menjadi sentimen positif bagi sahamnya dimana GEMA seharusnya akan naik kembali ke paling tidak 500-an (PBV persis 1.0 kali).
Meski demikan yang juga perlu dicatat disini adalah, pada Kuartal II 2013 lalu laba bersih GEMA tercatat Rp22 milyar, sehingga pada laporan keuangan periode Kuartal II 2014 nanti laba bersih GEMA kemungkinan masih akan tampak turun. Selain itu yang menyebabkan laba bersih GEMA pada tahun penuh 2014 malah turun dibanding dua kuartal sebelumnya (Rp18 berbanding 22 milyar), adalah karena pada Kuartal IV 2013, perusahaan mengalami kerugian karena pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, dimana hal tersebut menyebabkan kenaikan harga bahan baku pembuatan furniture yang memang sebagian besar diperoleh dari impor.
Dan karena pada saat ini Rupiah kembali melemah menjadi Rp11,863 per Dollar, maka perolehan laba GEMA di Kuartal II mendatang mungkin akan sedikit lebih rendah dibanding perkiraan, sehingga sahamnya pun belum akan naik. Jadi meski tadi penulis mengatakan bahwa GEMA bisa naik ke 500-an, namun itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, kecuali jika Rupiah ternyata bisa lebih cepat pulih kalau hasil Pilpres pada tanggal 9 Juli mendatang direspon positif oleh pasar.
Kesimpulannya, meski GEMA belum bisa direkomendasikan secara penuh untuk saat ini, namun kalau anda termasuk yang yakin bahwa nilai tukar Rupiah pada akhirnya nanti akan kembali menguat, maka saham ini boleh dikoleksi sedikit demi sedikit untuk nanti biarkan dia naik sendiri pada (paling lambat) awal tahun 2015. Pada harganya saat ini GEMA sudah tidak lagi likuid, dan itu menandakan bahwa harganya sudah bottom, dan itu sesuai dengan valuasinya yang amat sangat rendah dimana market cap GEMA pada harga 380 hanyalah Rp122 milyar, atau sudah lebih rendah nilai modal kerja perusahaan yang tercatat Rp128 milyar. Sedikit clue, tidak mudah lho, menemukan saham yang valuasinya murah secara absolut seperti GEMA ini, kecuali jika perusahaan tersebut bermasalah. Tapi bahkan faktanya GEMA ini masih beroperasi dengan normal, masih mencetak laba, dan juga masih membayar dividen. So, what’s the problem?
PT Gema Grahasarana, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal I 2014: BBB
Rating Saham pada 380: A
NB: Penulis membuat buku ebook berjudul ‘Superinvestor’, yang memuat seminar Warren Buffett tentang value investing. Dan anda bisa memperolehnya [...]

Jika Prabowo Menjadi Presiden..

Kalau kita perhatikan pergerakan IHSG dalam beberapa bulan terakhir ini, dimana indeks naik tajam pada tanggal 14 Maret lalu ketika Jokowi resmi dicalonkan sebagai Presiden, dan sebaliknya turun drastis ketika Prabowo memperoleh dukungan dari Golkar, maka tampak jelas bahwa mayoritas pelaku pasar (terlepas dari pilihan pribadi tiap-tiap investor) lebih memilih Jokowi sebagai Presiden RI. However, pertama-tama anda harus menyadari bahwa jumlah investor di pasar saham Indonesia itu nggak sampai 500 ribu orang, alias sangat sedikit dibanding jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Jadi bahkan jika seluruh investor saham tanpa terkecuali memilih Jokowi, maka itu tetap tidak menjadi jaminan bahwa Jokowi akan menang.

Dan kalau anda berdiskusi soal Pilpres ini dengan orang-orang yang bukan merupakan investor/trader saham, maka anda akan mengetahui bahwa pendukung Prabowo diluar sana adalah kurang lebih sama banyaknya dengan pendukung Jokowi. Penulis sendiri termasuk yang menganggap bahwa peluang kedua kandidat adalah sama besarnya, dimana pada Pilpres 9 Juli mendatang bisa Jokowi yang menang, dan bisa juga Prabowo yang menang.
Pertanyaannya, bagaimana jika Prabowo yang menang?
Beberapa hari yang lalu, Deutsche Bank merilis survey yang menyimpulkan bahwa jika Prabowo memenangkan Pilpres, maka 56% investor akan menjual aset-asetnya di Indonesia, dimana ‘aset’ disini adalah termasuk saham-saham perusahaan yang diperdagangkan di BEI. Ini artinya, jika survey tersebut benar, maka pada tanggal 10 Juli nanti IHSG akan anjlok jika hasil quick count menunjukkan bahwa pasangan Prabowo – Hatta unggul atas pasangan Jokowi – JK, dan penurunan tersebut bisa berlanjut pada hari-hari berikutnya dimana IHSG akan kembali mengalami masa-masa sulit seperti yang terjadi pada Juni – Desember 2013 lalu.
Meski demikian penulis kira terlalu berlebihan jika ada anggapan bahwa kemenangan Prabowo akan membawa ‘akhir’ bagi pasar saham Indonesia. Karena toh pada akhirnya, yang menentukan pergerakan IHSG dalam jangka panjang, let say lima tahun kedepan, adalah fundamental perekonomian nasional termasuk kinerja para perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa. Penurunan IHSG yang mungkin (hanya mungkin saja, alias belum pasti) akan terjadi ketika nanti Prabowo memenangkan Pilpres, adalah lebih karena kekhawatiran bahwa kebijakan-kebijakan yang diterapkan Prabowo kedepannya akan kurang berpihak kepada pasar modal, terutama jika mengutip pernyataan-pernyataan yang bersangkutan selama ini (termasuk sempat bilang kalau ‘main saham’ itu judi). Namun jika berbagai kebijakan tersebut ternyata membawa dampak positif bagi perekonomian nasional secara menyeluruh (bukan hanya terhadap pasar saham), maka efeknya terhadap pasar saham akan tetap positif. Make no mistake. Jika IHSG naik terus padahal perusahan-perusahaan mengalami kemunduran kinerja dan di sekitar kita masih banyak pengangguran, maka itu adalah kenaikan yang ‘kosong’, dan cuma soal waktu saja sebelum indeks akan hancur berantakan. Tapi jika IHSG turun sementara perekonomian berjalan lancar, maka tentu itu merupakan kesempatan yang baik sekali untuk belanja saham-saham murah.
Masalahnya tentu, kita nggak tahu apakah Prabowo akan bisa membawa perekonomian nasional menjadi lebih baik lagi, atau paling tidak sama baiknya seperti saat ini (Pemerintahan Presiden SBY, diakui atau tidak, dalam sepuluh tahun terakhir cukup sukses dalam mengelola perekonomian). Sebagian dari anda mungkin berpendapat bahwa Indonesia akan maju pesat dibawah pimpinan Prabowo, tapi sebagian lagi mungkin berpendapat sebaliknya, bahwa Indonesia akan memasuki masa kegelapan jika mantan Danjen Kopassus ini sampai terpilih menjadi Presiden. Yang mana yang benar? Itu kita tidak tahu.
Namun berdasarkan pengalaman Negara Republik Indonesia tercinta ini, jika ternyata Prabowo tidak bisa memenuhi ekspektasi rakyat akan kesejahteraan dll, then trust me, beliau juga tidak akan terlalu lama menjadi penghuni Istana Negara.
Sebab, kalau anda ingat-ingat lagi, ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, Presiden Indonesia ketika itu yakni Bung Karno, sukses mempertahankan jabatannya sampai lebih dari 20 tahun meski boleh dibilang hampir tidak ada pembangunan ekonomi, karena kegiatan negara difokuskan pada pembangunan militer dll dalam upaya untuk menjaga kedaulatan. Namun karena Bung Karno juga sangat baik dalam hal pembangunan militer dll tersebut, termasuk bisa berkawan baik dengan Presiden Amerika Serikat ketika itu, John F. Kennedy, maka jadilah ia mampu mempertahankan jabatannya sebagai Presiden hingga puluhan tahun.
Dan tahukah anda bahwa pada tahun 1948 dan 1949, Indonesia sempat dipimpin oleh dua orang Presiden diluar Bung Karno? Mereka adalah Syafruddin Prawiranegara dan Assa’at. Namun karena dua tokoh ini ‘nggak ada apa-apanya’ dibanding Bung Karno, maka mereka hanya mampu menduduki jabatan Presiden dalam waktu yang sangat singkat sekali, dan juga cenderung dilupakan dalam buku sejarah.
Kemudian pada tahun 1967, ketika Pak Harto naik jabatan sebagai Presiden, barulah ketika itu Indonesia memasuki babak baru pembangunan ekonomi. Dan kenapa kok beliau bisa sukses bertahan lama sekali hingga akhirnya lengser pada tahun 1998? Ya karena selama lebih dari 30 tahun beliau berkuasa, suka atau tidak, beliau mampu melaksanakan pembangunan serta mensejahterakan rakyat. Para kritikus serta ahli-ahli ekonomi boleh ngomong apa saja, namun itulah faktanya. Jika kepemimpinan Pak Harto tidak mampu menjaga perekonomian untuk paling tidak stabil, maka ia akan langsung dilengserkan oleh rakyat Indonesia sendiri. Buktinya? Well, ketika terjadi krisis moneter 1998, tak lama kemudian beliau langsung lengser bukan? Jika krisis moneter tersebut terjadi pada tahun 1980-an, misalnya, maka mungkin sejak tahun 1980-an tersebut Presiden Indonesia bukanlah Pak Harto.
Setelah kepemimpinan Pak Harto, pada periode tahun 1998 – 2004, beberapa tokoh sempat mengisi jabatan Presiden RI, yakni B.J. Habibie, Gus Dur, dan Megawati. Ketiga tokoh tersebut tidak ada yang sukses menyelesaikan masa jabatannya hingga genap 5 tahun, dan itu karena apa? Ya karena mereka tidak cukup baik dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang kepala negara. Itu saja! Kalau memang Megawati merupakan Presiden yang memiliki kemampuan yang sama baiknya seperti ayahnya, maka beliau tidak akan kalah pada Pilpres tahun 2004 lalu.
Selanjutnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Terlepas dari banyaknya kekurangan yang ada pada diri beliau, namun toh rakyat secara keseluruhan puas terhadap kinerja SBY hingga beliau pun akhirnya sukses menyelesaikan jabatannya hingga 10 tahun penuh. Dalam dua kali lima tahun masa pemerintahannya, perekonomian nasional tumbuh cukup signifikan, dan pasar saham pun mengalami perkembangan yang sangat baik sejak tahun 2004, termasuk sukses dalam melewati masa-masa sulit di tahun 2008. Penulis kira dalam dua atau tiga abad lagi dari sekarang, sejarah mungkin akan melupakan Habibie, Gus Dur, dan Megawati sebagai Presiden RI (karena mereka terlalu singkat dalam menunaikan jabatannya), namun nama Presiden SBY tidak mungkin dilupakan.
Nah, lalu bagaimana dengan Prabowo? Ya sama saja. Kalau nanti kinerjanya ternyata tidak memuaskan rakyat, maka paling lama ia hanya akan menduduki jabatan Presiden selama satu periode alias lima tahun, untuk kemudian digantikan dengan tokoh lain. Berbeda dengan jabatan kepala daerah, menteri, anggota dewan, dan semacamnya dimana seorang pemain sinetron sekalipun bisa saja mendadak menjadi anggota DPR, jabatan Presiden sangatlah sakral dimana hanya individu yang benar-benar terpilih, yang bisa menduduki jabatan tersebut untuk periode waktu yang tidak sebentar, untuk kemudian nanti namanya akan dicatat dalam buku sejarah.
Karena itulah, meski ada banyak sekali orang yang ingin jadi Presiden, seperti Rhoma Irama, Wiranto, Aburizal Bakrie, Gita Wirjawan, hingga komedian Farhat Abbas, namun toh mereka tidak punya kemampuan untuk itu, sehingga sejak awal langsung tersingkir. Jika dari sekian banyak tokoh ini hanya terpilih dua orang kandidat yakni Jokowi dan Prabowo, maka memang dua tokoh inilah yang paling layak untuk menjadi Presiden.
Dan jika Prabowo (atau Jokowi) yang kemudian terpilih namun ternyata terbukti tidak becus, maka ia tidak akan terlalu lama menduduki jabatannya karena akan segera digantikan oleh tokoh lain.
Kesimpulannya, kalau anda tanya penulis tentang bagaimana dampaknya terhadap IHSG ketika nanti Prabowo yang menang, maka dalam jangka pendek indeks mungkin akan turun. Namun dalam jangka panjang, itu akan tergantung dari bagaimana kinerja Prabowo – Hatta terhadap perekonomian nasional, dan anda tidak bisa mengatakan bahwa perekonomian akan hancur bahkan jika anda adalah pendukung Jokowi, karena anda tidak tahu soal itu. Terkait apakah saham-saham Bakrie akan naik jika Prabowo yang menang (karena Pak ARB akan mendapat posisi ‘menteri utama’), maka itu diluar concern penulis, karena mau Bumi Resources (BUMI) naik ke 1,000 sekalipun, I don’t care. Tapi yang jelas kalau Prabowo tidak bisa mengendalikan teman-teman di koalisinya untuk paling tidak jangan korupsi, maka rakyat sendiri-lah yang akan menghukumnya dimana ia tidak akan terlalu lama menjadi seorang Presiden.
Okay, that’s all from me. Sekarang, bagaimana dengan pendapat anda sendiri? Terus pertanyaan selanjutnya, bagaimana kalau Jokowi yang [...]

Resource Alam Indonesia

Dalam beberapa kali kesempatan ngobrol santai dengan Bapak Lo Kheng Hong, beliau menyampaikan bahwa terdapat setidaknya dua saham di sektor batubara yang sangat menarik untuk investasi karena valuasinya yang rendah. Dua saham tersebut adalah Bumi Resources (BUMI), dan Resource Alam Indonesia (KKGI). Untuk BUMI, well, penulis pribadi punya pendapat yang sedikit berbeda. Namun untuk KKGI, saham ini memang menarik, dan itu bukan karena ‘romantisme masa lalu’ dimana KKGI ini sempat menghasilkan cuan besar ketika naik sampai 8,000-an di awal tahun 2012 lalu, melainkan karena valuasinya yang rendah, prospeknya yang cerah, dan perusahaannya sendiri juga tidak bermasalah. Anyway, kita langsung sajalah.

Ketika berdiri pada tahun 1981, KKGI aslinya merupakan perusahaan produsen lem kayu dengan lokasi pabrik di Pontianak, Kalimantan Barat, dan Palembang, Sumatera Selatan. Pada tahun 2006 KKGI banting setir ke sektor batubara dengan mengoperasikan tambang batubara pertamanya yang berlokasi di Kalimantan Timur, melalui anak usahanya yakni PT Insani Bara Perkasa (IBP). Setahun kemudian yakni pada tahun 2007, KKGI sukses mencatatkan produksi batubara perdana sebanyak 178 ribu ton.

Logo KKGI. ‘RAIN’ adalah kependekan dari Resource Alam Indonesia

Kemudian seiring dengan kegiatan produksi dan eksplorasi yang dilakukan secara terus menerus, volume produksi batubara KKGI terus meningkat hingga mencapai puncaknya yakni 4.2 juta ton pada tahun 2011, sementara jumlah cadangan batubara yang sudah berstatus terbukti tercatat 80 juta ton, alias masih sangat cukup untuk belasan tahun kedepan.
Namun pada tahun 2012 industri batubara mulai lesu seiring dengan penurunan harga jual batubara dari US$ 110 menjadi US$ 65 per ton, sehingga volume produksi KKGI juga ikut turun, termasuk juga pendapatan dan labanya. Dan kondisi itu kembali berlanjut hingga tahun 2013. However, selama periode 2012 – 2013 tersebut perusahaan tetap menjalani kegiatan usaha dan ekspansi seperti biasa, seperti: 1. Membangun infrastuktur jalan raya dan pelabuhan untuk transportasi batubara, termasuk mendirikan tiga anak usaha yang bergerak di bidang infrastruktur tambang, 2. Melanjutkan eksplorasi, dan 3. Menambah portofolio tambang dengan mengakuisisi tambang-tambang batubara diluar tambang yang sudah ada.
Khusus untuk poin yang ketiga, pada tahun 2013 KKGI mengakuisisi PT Kaltim Mineral dan PT Loa Haur, dua-duanya merupakan perusahaan pemilik tambang batubara di Kalimantan Timur dan Tengah, sehingga KKGI kini memiliki tiga tambang batubara di tiga lokasi yang terpisah. Sejauh ini baik Kaltim Mineral maupun Loa Haur masih belum beroperasi karena masih menunggu kenaikan harga batubara, namun dua tambang tersebut sudah dieksplorasi dan memiliki cadangan total 40 juta ton, yang semestinya akan kembali meningkat di masa yang akan datang (ketika eksplorasinya dilanjutkan). Jika harga jual batubara pada tahun 2014 ini naik menjadi US$ 82 – 88 per ton seperti yang diharapkan oleh manajemen KKGI, maka tambang Loa Haur akan segera beroperasi dengan target produksi 1 – 1.5 juta ton untuk tahun 2014. Sebab berbeda dengan Kaltim Mineral yang masih harus mengurus beberapa perizinan untuk bisa mulai menggali batubara, Loa Haur sudah sepenuhnya siap berproduksi.
Jadi bisa dibilang bahwa kalau nanti harga batubara pada akhirnya pulih ke US$ 82 per ton saja (gak perlu balik lagi ke US$ 110 seperti tahun 2011 lalu), maka pendapatan serta laba KKGI akan melompat signifikan tidak hanya karena meningkatnya margin laba, tetapi juga karena meningkatnya volume batubara yang dijual. Pihak perusahaan sendiri mentargetkan volume produksi 5.7 juta ton batubara untuk tahun 2014, dan itu hanya berasal dari tambang-tambang yang sudah beroperasi milik Insani Bara Perkasa (belum termasuk tambahan volume produksi dari tambang Loa Haur, jika tambang tersebut jadi beroperasi).
Nah, berdasarkan ulasan diatas kita bisa melihat bahwa KKGI ini menarik karena menawarkan lompatan pertumbuhan ketika nanti harga batubara pulih. Tapi kalau cuma itu sih, bukankah semua perusahaan batubara juga begitu? Yap, itu benar, namun berikut ini adalah beberapa hal lain yang membuat KKGI ini menarik:
  1. Manajemennya tipe konservatif dimana perusahaan tidak memiliki utang bank, obligasi, atau semacamnya, but still, mereka mampu untuk mengakuisisi tambang baru menggunakan keuntungan yang diperoleh dari operasional tambang yang sudah ada (Insani Bara Perkasa). Posisi neraca KKGI yang sangat sehat secara otomatis menjamin bahwa jika nanti harga batubara mulai pulih, maka laba bersih perusahaan akan melompat dengan mudah.
  2. Posisi aset perusahaan sangat bagus dengan jumlah dana kas yang sedikit (yang itu artinya KKGI selalu memberdayakan aset-asetnya, dan tidak membiarkan aset yang menganggur), posisi aset lancar dan aset tidak lancarnya cenderung berimbang, dan tidak ada aset yang tidak ada hubungannya dengan industri tambang.
  3. Bisnis perusahaan terkonsentrasi hanya di menggali batubara, kemudian jual. Dan dibanding industri-industri lain yang masih terkait seperti transportasi batubara, kontraktor, hingga pembangkit listrik, maka tambang batubara menawarkan margin laba yang terbesar bahkan meski sudah dikurangi royalti untuk pemerintah, yang terus naik setiap tahunnya.
  4. Tidak seperti beberapa perusahaan yang murni tambang batubara seperti Indo Tambangraya (ITMG), Harum Energy (HRUM), dan Bukit Asam (PTBA) yang jor-joran dalam membagikan dividen setiap tahunnya (yang itu berarti pihak manajemen sudah puas dengan bisnis batubara yang ada dan tidak mengincar pertumbuhan yang lebih lanjut bagi perusahaan), KKGI hanya membagikan dividen dalam jumlah yang wajar, yakni sekitar setengah dari laba bersih perusahaan setiap tahunnya, sementara selebihnya dipakai untuk mengembangkan perusahaan. Kalau anda perhatikan perusahaan-perusahaan besar dan bagus seperti ASII, BBRI, dan SMGR, mereka juga membagikan dividen dalam jumlah yang wajar (rata-rata separuh laba perusahaan), sehingga bisa dikatakan bahwa mereka menghargai investor dengan membayar sejumlah dividen, namun sekaligus tetap mengejar peluang pertumbuhan dengan menginvestasikan kembali laba bersih perusahaan.
Dan hal yang berbeda yang dilakukan oleh KKGI adalah, manajemen menyisihkan sebagian dana kas-nya untuk membeli kembali saham perusahaan di pasar (buy back), dan hal itu memang sudah dilakukan sehingga jumlah saham beredar KKGI telah berkurang dari 1 milyar menjadi 969 juta lembar, karena perusahaan telah mem-buy back 31 juta lembar saham KKGI dari pasar (KKGI maksimal boleh mem-buy back 100 juta lembar sahamnya di market). Secara teknis, buy back saham yang dilakukan manajemen KKGI menyebabkan kenaikan persentase kepemilikan investor atas perusahaan. Simpelnya, jika anda memegang 1 juta lembar saham KKGI, maka sebelum dilakukan buy back, anda adalah pemegang 0.10% saham KKGI, karena jumlah saham KKGI yang beredar adalah 1 milyar lembar. Namun setelah buy back, maka jumlah saham anda tetap 1 juta lembar, namun persentase kepemilikan anda atas perusahaan meningkat menjadi 0.11%, karena jumlah saham KKGI yang beredar telah berkurang menjadi 900 juta lembar.
Kalau kita pakai contoh Warren Buffett, beliau sangat menyukai jika Coca Cola atau American Express melakukan buy back terhadap saham mereka sendiri, sebab itu akan membuat persentase kepemilikan Berkshire Hathaway atas dua perusahaan tersebut menjadi meningkat dengan sendirinya tanpa perlu Buffett keluar dana untuk membeli lagi saham mereka di pasar. Sementara meski posisi ekuitas Coca Cola akan sedikit turun (karena perusahaan keluar duit untuk membeli sahamnya kembali), namun itu nggak jadi soal karena pada akhirnya ekuitas Coca Cola akan meningkat kembali seiring dengan perolehan laba perusahaan.
Kemudian bagaimana dengan sahamnya?
Dari sisi kualitas fundamentalnya secara keseluruhan, KKGI salah satu perusahaan batubara terbaik di BEI, bersanding dengan PTBA, ITMG, dan HRUM, dan sekaligus yang paling kecil diantara keempatnya sehingga lebih menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang (dan itu pula sebabnya dividen KKGI nggak terlalu besar). Ketika sektor batubara mengalami masa jayanya pada penghujung tahun 2011, kinerja KKGI bahkan merupakan yang terbaik diantara semuanya hingga sahamnya pun sempat terus naik hingga berada di level yang amat sangat optimis, yakni 8,000-an. Ketika itu penulis masih ingat, PBV KKGI ini bahkan sempat menembus 10 kali.
Lalu bagaimana kalau di harga sekarang? Well, pada harga 1,570, PBV dan PER KKGI tercatat masing-masing 7.6 dan 1.8 kali, dan dividend yield-nya 6.4% (perusahaan membagikan dividen Rp100 per saham, tanggal cum-nya 26 Juni). Actually harga ini belum terlalu ideal mengingat prospek kinerja KKGI kedepannya masih bergantung pada perkembangan harga batubara, sementara pada Kuartal I 2014 kemarin pendapatan laba KKGI masih turun (jadi bisa saja dividen KKGI di tahun depan juga turun).
Tapi ketika dulu penulis sempat menunggu saham ini di 1,100-an (PBV dibawah 1.5 kali), ternyata nggak dikasih juga, yang kemungkinan itu karena: 1. Tindakan manajemen yang telah membeli saham KKGI dipasar otomatis membuat jumlah saham yang tersedia untuk dijual menjadi lebih sedikit karena manajemen tidak akan menjual kembali saham tersebut, dan alhasil permintaan (bid) akan saham KKGI lebih besar dari penawarannya (offer), sehingga harganya pun terjaga di level yang tidak terlalu rendah, dan 2. KKGI masih merupakan perusahaan yang menguntungkan dengan tingkat return on equity (ROE) yang besar, yakni 24% di Kuartal I 2014 (padahal labanya masih turun). Sementara pada tahun 2011, ROE KKGI bahkan tercatat 69%.
Intinya sih, KKGI mungkin nggak bisa dihargai terlalu rendah meski pada saat ini rata-rata saham batubara sudah cukup murah. Kalau anda tertarik dengan saham ini maka coba untuk menunggunya di harga yang paling tidak lebih rendah dari harga buy back-nya, alias dibawah 1,500. Tapi jika mau hajar di harga sekarang maka ada baiknya menunggu pendapatan perusahaan tercatat naik kembali di Kuartal II nanti, atau jika nanti perusahaan mengumumkan bahwa tambang Loa Haur-nya mulai berproduksi. Target harganya? Konservatifnya sih 2,000 karena PER KKGI akan tercatat 9.7 kali di harga tersebut. Tapi jika nanti KKGI sukses mencatat kenaikan laba di Kuartal II mendatang, maka tentu targetnya bisa kita naikkan.
PT. Resource Alam Indonesia, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal I 2014: A
Rating saham pada 1,570: [...]

Seminar Value Investing, Jakarta

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar/workshop edukasi investasi saham di Jakarta, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Dan berikut keterangan selengkapnya:

Sebelumnya, berikut adalah potongan rekaman suara penulis ketika mengisi salah satu seminar sebelumnya dengan tema nilai intrinsik saham, klik untuk mendengarkan
Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya!
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin CityMall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu21 Juni 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BNI no rek 3384.34.774 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Jakarta, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Adian Napitupulu, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus!
  1. Penulis menyediakan CD Seminar dengan tema Nilai Intrinsik senilai Rp95,000 bagi anda secara gratis! (akan diberikan ketika acara seminarnya nanti). CD ini berisi suara penulis ketika mengisi seminar sebelumnya dengan tema nilai intrinsik saham (baca artikelnya disini).
  2. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. Of course, layanan ini gratis :)
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.

Update: Kursinya sudah penuh! Jadi dengan demikian pendaftarannya resmi ditutup. Sampai jumpa di kesempatan seminar berikutnya!

Tertarik untuk training value investing secara private? Baca keterangan selengkapnya [...]

15 Prinsip Investasi ala Buffett

Pada bulan Juni 1996, chairman Berkshire Hathaway, Warren Buffett, merilis sebuah buku kecil berjudul ‘An Owner’s Manual’, yakni semacam buku panduan bagi investor pemegang saham Berkshire. Buku tersebut berisi 13 plus 2 prinsip Berkshire dalam berbisnis, atau dalam hal ini: Berinvestasi. Ketiga belas prinsip tersebut sudah diciptakan oleh Buffett sejak tahun 1983, dan seluruhnya masih relevan hingga saat ini, atau paling tidak seperti itulah yang dikatakan Buffett di Annual Letter-nya yang terakhir, yakni edisi tahun 2013. Nah, disini penulis akan mengajak anda untuk juga membaca prinsip-prinsip ala Buffett tersebut, tentunya yang sudah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Okay, kita langsung saja:

Kepada Yth., para pemegang saham di Berkshire Hathaway
1. Meskipun Berkshire Hathaway adalah sebuah korporasi, namun kami tetap mengelolanya dengan gaya partnership/kemitraan. Saya dan Charlie Munger menganggap bahwa para pemegang saham Berkshire merupakan mitra dalam kapasitasnya sebagai pemilik perusahaan, sementara kami adalah mitra dalam kapasitas kami sebagai pengelola sekaligus juga pemilik perusahaan (karena kami juga memegang saham Berkshire dalam jumlah signifikan). Kami tidak memandang Berkshire sebagai pemilik akhir dari aset-aset yang dipegang perusahaan, melainkan hanya sebagai penyalur/perantara antara pemegang saham Berkshire dengan aset-aset tersebut. Intinya, aset-aset yang dipegang oleh Berkshire adalah merupakan milik anda sekalian sebagai pemegang saham Berkshire Hathaway.
Saya dan Charlie tidak ingin anda menganggap saham Berkshire sebagai selembar kertas tanpa arti yang harganya naik turun setiap saat sesuai mekanisme pasar, kemudian menjualnya hanya karena anda gugup ketika terjadi peristiwa tertentu terkait ekonomi maupun politik. Kami berharap bahwa anda bisa melihat diri anda sendiri sebagai salah seorang pemilik dari aset-aset bisnis yang anda miliki melalui Berkshire, dan bahwa anda akan menjadi pemilik dari aset-aset tersebut tidak hanya untuk saat ini saja, melainkan untuk seterusnya, sama seperti anda memiliki dan tinggal rumah atau apartemen secara bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga anda.
Sementara kami sendiri tidak ingin melihat pemegang saham Berkshire sebagai orang-orang yang hanya datang dan pergi hingga kami tidak pernah mengenal mereka itu siapa. Kami berharap bahwa kami bermitra dengan pemegang saham yang memiliki keyakinan bahwa partnership ini akan memberikan keuntungan jangka panjang hingga akhir hayat.
Volume transaksi perdagangan saham Berkshire yang tidak likuid, sejauh ini membuktikan bahwa sebagian besar pemegang saham Berkshire menyetujui konsep kemitraan jangka panjang seperti yang sudah diuraikan diatas, dimana para pemegang saham Berkshire tidak menjual sahamnya kembali.
Dan ketika seorang pemegang saham telah setuju untuk menjadi partner kami, maka mereka harus memandang saham Berkshire dengan cara pandang yang sama seperti ketika Berkshire memegang saham-saham perusahaan tertentu. Sebagai pemegang saham minoritas dari, katakanlah, Coca Cola atau American Express, kami menganggap Berkshire adalah merupakan partner non pengendali di dua perusahaan yang luar biasa, dimana kami menilai kesuksesan investasi kami (di dua perusahaan tersebut) bukan berdasarkan pergerakan harga sahamnya dari bulan ke bulan, melainkan berdasarkan perkembangan fundamental perusahaan dalam jangka panjang. Bahkan, kami juga tidak peduli andaikata saham Coca Cola dan American Express sama sekali tidak diperdagangkan di bursa selama bertahun-tahun.

Karena kami memiliki ekspektasi jangka panjang terhadap kinerja perusahaan, maka perubahan harga saham dalam jangka pendek sama sekali tidak berarti apapun kecuali merupakan kesempatan untuk meningkatkan persentase kepemilikan kami terhadap dua saham diatas, jika kebetulan harganya atraktif alias murah.

2. Sejalan dengan cara investasi kami, yakni dengan memandang perusahaan sebagai milik kami sepenuhnya, maka sebagian besar para direktur di Berkshire adalah juga merupakan pemegang saham Berkshire, dimana mereka menempatkan sebagian besar dari harta kekayaan mereka disini. Jadi yah, dalam berinvestasi, kami seperti menyantap masakan kami sendiri.
Charlie dan keluarganya menempatkan lebih dari 80% harta kekayaan mereka di saham Berkshire, sementara saya lebih dari 98%. Selain itu beberapa anggota keluarga saya, seperti saudari dan sepupu, juga memegang saham Berkshire dalam jumlah besar.
Saya dan Charlie merasa nyaman dengan kebijakan ‘menempatkan hampir seluruh telur hanya dalam satu keranjang’, yakni saham Berkshire Hathaway, karena Berkshire sendiri memiliki banyak perusahaan-perusahaan bagus yang bergerak di berbagai sektor. Malah, kami percaya bahwa Berkshire Hathaway merupakan sebuah bisnis yang unik karena mampu memegang banyak aset-aset/perusahaan yang bagus secara terdiversifikasi, baik sebagai pemegang saham mayoritas maupun minoritas.
Saya dan Charlie tidak bisa menjanjikan anda keuntungan. Namun, kami bisa menjamin bahwa pertumbuhan aset investasi anda akan sejalan dengan pertumbuhan harta kekayaan kami sebagai sesama pemegang saham Berkshire. Kami tidak tertarik dengan gaji besar, opsi saham, atau apapun yang bisa menyebabkan kami memperoleh keuntungan lebih besar dari yang anda terima. Lebih jauh, ketika saya melakukan sesuatu yang bodoh, maka saya harap anda mengetahui secara persis bahwa kerugian finansial yang anda derita adalah sama besarnya dengan kerugian finansial yang kami alami.
3. Visi Perusahaan: Dalam jangka panjang, tujuan kami adalah untuk memaksimalkan angka pertumbuhan tahunan dari aset bersih Berkshire Hathaway, berdasarkan pertumbuhan nilai intrinsik perusahaan. Kami tidak mengukur kinerja Berkshire berdasarkan pertumbuhan aset perusahaan, melainkan hanya berdasarkan pertumbuhan nilai intrinsik dari sahamnya. Kami akan kecewa jika rata-rata pertumbuhan kami dari tahun ke tahun lebih rendah dibanding rata-rata pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar di Amerika.
4. Misi Perusahaan: Untuk mencapai tujuan kami diatas, kami memiliki dua buah metode khusus. Yang pertama, kami secara langsung membeli/memiliki perusahaan-perusahaan yang terdiversifikasi, yang mampu menghasilkan keuntungan tunaidan secara konsisten mencatatkan nilai pengembalian modal (return of capital) diatas rata-rata. Kedua, kami membeli perusahaan-perusahaan tadi melalui anak-anak usaha kami di bidang asuransi. Jika ada perusahaan bagus dan harganya cocok sehingga bisa dibeli, sementara unit usaha asuransi kami juga sedang memegang uang cash, maka kami akan membeli perusahaan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir kami telah mengakuisisi beberapa perusahaan besar. Meskipun kedepannya mungkin akan ada tahun-tahun dimana akuisisi tersebut belum akan menghasilkan apa-apa, namun kami berharap bahwa investasi yang kami lakukan akan menghasilkan keuntungan yang signifikan dalam satu atau dua dekade mendatang. Jika akuisisi-akuisisi yang kami lakukan memberikan hasil yang sama baiknya dengan apa yang telah kami lakukan di masa lalu, maka pemegang saham Berkshire juga akan diuntungkan.
Tantangan terbesar bagi kami adalah bagaimana caranya agar kami mampu untuk terus menghasilkan ide dalam hal mengakuisisi perusahaan, sekaligus menghasilkan uang tunai untuk keperluan akuisisi tersebut. Terkait hal ini, kondisi dimana pasar saham sedang turun akan memberikan kami tiga keuntungan. Pertama, akan ada banyak saham-saham bagus yang dijual pada harga rendah. Kedua, unit-unit asuransi kami juga akan dengan mudah menemukan saham bagus yang dijual murah, atau menambah kepemilikan kami atas saham-saham yang sudah kami pegang sebelumnya. Dan ketiga, beberapa perusahaan yang sahamnya kami pegang secara minoritas, seperti Coca-Cola, adalah juga merupakan pembeli siaga dari saham-saham mereka sendiri, dimana itu berarti mereka, dan juga kami, akan diuntungkan dari meningkatnya persentase kepemilikan kami atas perusahaan, dimana kami bisa melakukan itu (membeli saham Coca-Cola di pasar) pada harga rendah.
Secara umum, Berkshire dan juga para pemegang saham perusahaan akan diuntungkan setiap kali terjadi penurunan indeks pasar saham, sama seperti pelanggan toko sembako yang diuntungkan ketika harga beras turun. Jadi ketika terjadi market crash, dan itu memang akan terus terjadi dari waktu ke waktu, maka jangan panik ataupun bersedih. Bagi Berkshire, itu adalah kabar bagus!
5. Karena adanya batasan-batasan akibat faktor akuntansi, maka laporan keuangan kami mungkin hanya menampilkan sedikit saja dari kinerja kami yang sebenarnya. Karena alasan itulah, saya dan Charlie, baik sebagai pemegang saham maupun fund manager di Berkshire, hampir sepenuhnya mengabaikan angka-angka yang ditampilkan di laporan keuangan Berkshire. Meski demikian kami juga melaporkan kepada anda mengenai kinerja dan perolehan laba bersih dari perusahaan-perusahaan yang kami miliki, dan kami berharap bahwa hal tersebut dapat membantu anda dalam membuat penilaian terhadap kinerja investasi kami.
Singkatnya, melalui annual letter, kami setiap tahunnya akan selalu memberi kabar kepada anda tentang angka-angka dan informasi lain yang kami anggap penting. Saya dan Charlie sangat memperhatikan perkembangan bisnis dari perusahaan-perusahaan yang kami miliki, termasuk memperhatikan lingkungan/sektor dimana perusahaan kami beroperasi. Contohnya: Apakah perusahaan kami berada dalam posisi sebagai perintis di industrinya, ataukah cuma ikut-ikutan perusahaan lain yang sudah lebih dulu sukses? Saya dan Charlie perlu mengetahui dalam situasi yang mana perusahaan kami berada, untuk kemudian menyesuaikan ekspektasi kami terhadap prospek perusahaan kedepannya. Dan ketika kami memperoleh kesimpulan terkait hal ini, maka kami akan menyampaikannya kepada anda.
Sejauh ini, sebagian besar dari perusahaan-perusahaan yang kami beli telah mencatat kinerja yang lebih baik dibanding ekspektasi. Tapi tentu, terkadang kami juga harus menghadapi kekecewaan. Dan kami berusaha untuk menyampaikan seluruh pengalaman investasi kami kepada anda, baik pengalaman yang baik maupun buruk, secara terbuka dan sejujur mungkin.
6. Faktor akuntansi tidak berpengaruh terhadap kinerja operasional kami maupun jumlah alokasi dana dalam setiap pembelian saham. Untuk dua buah perusahaan yang dijual pada harga yang sama, kami lebih suka mengakuisisi perusahaan yang melaporkan laba US$ 2 per saham, meskipun laba tersebut tidak atau belum tercermin di laporan keuangan, ketimbang perusahaan yang melaporkan laba US$ 1 per saham di laporan keuangannya. Kami harus melakukan ini karena seringkali sebuah perusahaan, meski pada harga yang semurah-murahnya, namun tetap dijual pada harga dua kali lipat nilai aset bersih perusahaannya (PBV-nya 2 kali). Namun kami berharap bahwa setelah beberapa waktu tertentu, laba bersih perusahaan yang belum terlapor dalam laporan keuangan perusahaan pada akhirnya nanti akan terlapor juga, dan bahwa nilai aset bersih perusahaan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya akumulasi laba perusahaan (dalam bentuk saldo laba).
Kami telah belajar dari pengalaman bahwa laba bersih yang belum tercermin di laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan yang kami miliki, secara keseluruhan, adalah sama menguntungkannya dengan laba bersih yang sudah diterima perusahaan tersebut. Hal ini adalah karena perusahaan-perusahaan kami bergerak di bidang usaha yang luar biasa baik dan mudah dipahami, dimana mereka dapat memberdayakan modal yang mereka miliki secara maksimal, entah itu dengan cara mendirikan pabrik dll, atau untuk membeli kembali saham mereka di pasar (buy back).

Sudah tentu, tidak semua keputusan investasi yang kami lakukan sukses menghasilkan keuntungan, dimana ada juga perusahaan kami yang gagal mencetak laba, padahal kami membelinya pada harga yang lebih tinggi dari nilai buku perusahaan (PBV-nya lebih dari 1 kali). Namun secara keseluruhan kami memperoleh keuntungan lebih dari satu Dollar untuk setiap Dollar yang kami keluarkan (untuk membeli saham perusahaan).

7. Kami menggunakan hutang secara hati-hati. Ketika kami meminjam sejumlah dana entah itu ke bank atau lainnya, maka kami berusaha untuk memperoleh pinjaman jangka panjang dengan tingkat bunga yang tetap. Jika kami menemukan peluang investasi namun kami tidak memiliki dana, maka kami akan memilih untuk mengabaikan peluang tersebut ketimbang membuat neraca Berkshire menjadi dipenuhi oleh hutang. Metode konservatif ini telah membatasi kinerja investasi kami selama ini, namun hanya dengan cara inilah kami bisa tidur tenang di malam hari.
Metode investasi yang saya dan Charlie lakukan tidak memungkinkan kami untuk mencoba meraih keuntungan ekstra sebanyak sekian persen dari investasi kami dalam waktu semalam. Saya tidak mau mengambil risiko dan mempertaruhkan apa yang kami punya, untuk mengejar sesuatu yang sejak awal tidak kami miliki dan juga tidak kami butuhkan.
Selain itu, Berkshire memiliki akses ke dua sumber dana murah, yang memungkinkan kami untuk memiliki lebih banyak aset ketimbang modal yang tersedia, yakni: pajak tangguhan, dan ‘float’, yaitu premi yang dibayarkan oleh para nasabah di perusahaan-perusahaan asuransi kami, yang belum dibayarkan ke mereka kembali karena mereka belum mengajukan klaim kerugian. Jumlah dana yang tersedia di dua sumber tersebut terus meningkat tajam dari tahun ke tahun, dan saat ini nilainya sudah mencapai US$ 135 milyar.
Lebih baik lagi, dana yang berasal dari dua sumber tadi nyaris bebas biaya. Pajak tangguhan tidak menanggung beban bunga, dan selama kami bisa menutup beban underwriting dalam bisnis asuransi kami, maka biaya untuk dana yang berasal dari ‘float’ juga nol. Sementara jika kami memiliki hutang, maka itu adalah hutang-hutang yang tanpa syarat dan juga tanpa tanggal jatuh tempo. Alhasil, semua ini memberikan kami peluang untuk membeli lebih banyak saham/perusahaan, sekaligus menawarkan risiko yang sangat rendah jika ternyata kami keliru dalam membeli saham-saham tertentu.
8. ‘Daftar keinginan’ para direktur/manajer di Berkshire tidak akan menjadi bagian dari biaya perusahaan.
Saya dan Charlie hanya tertarik untuk mengakuisisi perusahaan, dan terus meningkatkan nilai intrinsik dari saham Berkshire. Sementara bayaran yang kami terima sebagai pengelola perusahaan, sampai kapanpun, tidak akan sampai menyebabkan penurunan dari nilai aset bersih Berkshire.
9. Kami senantiasa mengecek hasil kinerja investasi kami secara berkala dari waktu ke waktu. Kami terus menguji hipotesa tentang apakah kami memperoleh aset senilai minimal US$ 1 untuk setiap US$ 1 yang kami keluarkan (untuk membeli saham). Hingga saat ini, hipotesa tersebut masih berlaku.
10. Kami  akan menerbitkan saham baru hanya jika kami bisa memperoleh nilai dana yang setara dengan nilai saham yang kami berikan kepada pemegang saham. Dan peraturan ini berlaku untuk semua kegiatan bisnis kami, tidak hanya ketika kami melakukan merger, penawaran saham ke publik, tapi juga ketika kami mengkonversi kewajiban menjadi saham, mengeksekusi opsi saham, dan seterusnya.
11. Terlepas dari kenaikan atau penurunan harga sahamnya di pasar, kami sama sekali tidak pernah tertarik untuk menjual perusahaan bagus yang dimiliki oleh Berkshire, bahkan meski ini berarti bahwa kinerja keuangan kami bisa terganggu ketika harga-harga saham turun. Kami juga tidak berminat untuk menjual anak-anak usaha yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang kami pegang, selama anak-anak usaha tersebut mampu menghasilkan keuntungan tunai, dan selama para manajer serta pekerja disana bekerja dengan baik.
Kami selalu menghindari metode investasi dengan cara berpindah-pindah dari memegang satu perusahaan ke perusahaan lain. Memang, pada pertengahan tahun 1980-an lalu, kami pada akhirnya menutup bisnis tekstil yang dimiliki oleh Berkshire setelah kami berjuang untuk membuatnya menguntungkan (dan akhirnya tetap gagal) selama 20 tahun. Namun kami lebih suka berupaya untuk membantu manajemen perusahaan jika perusahaan itu tidak mampu menghasilkan keuntungan, ketimbang segera menjualnya. Kebijakan ini, pada akhirnya dalam jangka panjang tetap menguntungkan bagi Berkshire.
12. Kami akan senantiasa jujur dalam setiap pelaporan tentang kinerja investasi kami. Kami juga percaya bahwa keterus terangan akan menguntungkan kami sebagai pengelola perusahaan: Para CEO yang mencoba menyesatkan seseorang dengan informasi yang keliru, pada akhirnya dia akan menyesatkan dirinya sendiri.
13. Meski kami berusaha untuk jujur dan terbuka, namun informasi mengenai kegiatan kami dalam membeli atau menjual saham-saham tertentu hanya akan disampaikan sebatas yang diperintahkan oleh hukum pasar modal Amerika (karena Berkshire adalah perusahaan publik). Sebab, ide investasi (ide untuk membeli saham/perusahaan tertentu) merupakan sesuatu yang langka dan berharga. Karena itulah kami jarang mau bicara soal saham-saham apa saja yang akan kami beli, meski pada waktu-waktu tertentu kami terkadang bersedia untuk membicarakannya. Kebijakan ‘tutup mulut’ ini juga berlaku untuk saham-saham yang akan kami jual (karena mungkin kami akan membelinya kembali), atau saham-saham yang beredar rumor bahwa kami akan membelinya. Jika beredar rumor bahwa kami akan membeli saham A, atau menjual saham B, maka kami akan menjawabnya: ‘No comment!’, dan itu adalah jawaban terakhir yang akan kami berikan.
Meski kami akan sebisa mungkin tutup mulut soal rencana kami untuk membeli atau menjual saham tertentu, namun kami terbuka untuk berbicara soal metode dan filosofi investasi kami. Selama ini saya telah sangat diuntungkan oleh kemurah hatian Ben Graham, guru terbesar sepanjang sejarah dunia keuangan, yang telah mengajarkan kepada saya tentang value investing. Dan saya merasa bahwa tidak ada ruginya jika saya menyampaikan kembali kepada orang-orang tentang apa yang sudah saya pelajari dari beliau, bahkan jika itu menyebabkan munculnya investor-investor handal yang bisa menjadi pesaing bagi Berkshire dimasa depan, seperti yang memang pernah terjadi pada diri Ben Graham sendiri dimana seluruh murid-muridnya (termasuk saya) mendirikan perusahaan investasi milik mereka masing-masing.

14. Sedapat mungkin, kami berharap bahwa setiap pemegang saham Berkshire menghasilkan keuntungan atau kerugian, terhitung sejak ia membeli saham perusahaan, yang sejalan dengan kenaikan atau penurunan nilai intrinsik perusahaan pada rentang waktu yang sama. Karena itulah, saya dan Charlie berharap bahwa harga saham Berkshire di market akan senantiasa setara atau mencerminkan nilai intrinsiknya, alias nilai wajarnya, tidak kurang (undervalue) dan tidak lebih (overvalue). Kami lebih suka melihat saham Berkshire berada pada level harga yang memang seharusnya, ketimbang pada level yang terlalu tinggi. Sudah tentu, saya dan Charlie tidak bisa mengendalikan pergerakan harga saham Berkshire di pasar. Namun melalui berbagai kebijakan serta komunikasi yang kami lakukan dengan para pemegang saham, kami berharap bahwa hal itu akan membuat harga saham Berkshire menjadi stabil di level wajarnya, dan tidak volatile.

Kebijakan kami ini mungkin terdengar tidak menyenangkan bagi sebagian pemegang saham Berkshire, terutama bagi mereka yang berharap bisa membeli saham Berkshire di harga rendah, kemudian menjualnya di harga tinggi. Namun kami berharap bahwa hal ini bisa menarik minat dari para investor untuk berinvestasi jangka panjang di saham Berkshire, dimana mereka akan diuntungkan dari perkembangan/pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang, dan bukannya malah dirugikan gara-gara keliru membeli saham Berkshire pada harga yang terlalu tinggi.

15. Kami secara rutin membandingkan kinerja investasi kami, yakni peningkatan nilai buku per saham Berkshire setiap tahunnya, dengan kenaikan/penurunan indeks S&P 500 di tahun yang sama. Setelah waktu tertentu, kami berharap bahwa rata-rata kinerja tahunan kami lebih baik dibanding rata-rata kinerja S&P 500. Jika tidak, lalu ngapain juga anda harus berinvestasi di Berkshire? Namun selama 49 tahun terakhir, kami memiliki tahun-tahun tertentu dimana kinerja kami lebih rendah dibanding kinerja indeks, dan itu tidak bisa dihindari. Hingga saat ini, kami masih terus berharap bahwa kinerja kami akan mengalahkan indeks pada tahun-tahun dimana pasar bergerak stagnan atau turun, dan akan tampak biasa-biasa saja atau bahkan underperform pada tahun-tahun dimana pasar bergerak naik secara signifikan.

Warren E. Buffett,
28 Februari 2014
Well, so what do you think? Kalau menurut penulis sendiri, beberapa prinsip investasi Buffett diatas bisa kita tiru, namun beberapa lagi tidak. Contohnya, penulis tidak akan bisa menggunakan uang ‘float’, karena saya nggak memiliki perusahaan asuransi. However, mudah-mudahan ketiga belas prinsip diatas bisa menjadi panduan anda dalam berinvestasi di pasar saham. Ingat sekali lagi bahwa yang menulis prinsip-prinsip diatas adalah Warren Buffett sendiri, dan bukan orang lain yang menulis buku berdasarkan ‘menurut Warren Buffett’ atau semacamnya.
Catatan: Penulis belum memperoleh izin dari manajemen Berkshire Hathaway untuk meng-copy paste tulisan diatas ke dalam Bahasa Indonesia, karena bingung juga bagaimana cara minta izinnya. Meski demikian penulis yakin bahwa mereka tidak akan keberatan karena ini adalah untuk kepentingan bersama. Tapi jika nanti terjadi sesuatu maka mungkin artikel ini akan [...]

Ebook Analisis Kuartal I

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal I 2014 (Q1 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid. Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali
  2. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  3. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  4. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG). 
Ebook ini sudah selesai dikerjakan dan terbit pada pertengahan Mei 2014 kemarin, dan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan. Anda bisa memperoleh ebook-nya disini.
Berikut screening ebooknya (edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada penulis, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda tidak perlu membayar mahal untuk itu.

Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Investor Berpengalaman vs Pemula: Which is Better?

Hari ini penulis menerima email yang isinya kira-kira begini, ‘Pak Teguh, saya investor newbie/pemula. Terus terang saya takut sekali untuk membeli saham, saya takut salah kemudian rugi. Apalagi saya baca-baca di internet, katanya seorang investor saham hampir pasti akan menderita kerugian di tahun pertamanya karena belum berpengalaman. Apa nggak ada cara agar saya bisa langsung untung di saham?’ Nah, penulis terus terang bingung juga menjawabnya bagaimana. Tapi berhubung ini mungkin pertanyaan umum dari kebanyakan investor baru atau calon investor, maka sekalian saja saya bikin artikelnya.

Jadi begini. Seorang investor yang masih baru alias newbie, yang masih belum berpengalaman dan juga masih belum sepenuhnya menguasai cara untuk menganalisis saham, kemungkinan memang akan mengalami kerugian di tahun pertamanya di pasar modal. Beberapa investor bahkan masih mengalami kerugian pada tahun kedua, ketiga, dan seterusnya, biasanya jika mereka sejak awal tidak bisa meluangkan waktu untuk belajar analisis saham, atau memang tidak mau melakukannya. Para ‘investor’ ini selamanya berstatus sebagai newbie, karena mereka tetap tidak tahu cara untuk memilih saham atau mengendalikan emosi mereka dalam melakukan keputusan buy, hold, atau sell.
However, yang juga perlu dicatat disini adalah, tidak ada jaminan bahwa investor yang sudah berpengalaman, yang sudah melahap buku-buku tentang investasi dan mengerti cara analisis saham hingga sedetil-detilnya, yang sudah kenyang merasakan euforia dan market crash, sudah pasti akan untung. Seperti yang tentunya sudah anda ketahui, investor sekelas Warren Buffett pun bisa saja mengalami kerugian. Termasuk investor besar di tanah air, Bapak Lo Kheng Hong, saat ini sedang nyangkut parah di saham-saham Bakrie, padahal beliau kurang pengalaman apa coba?
Tapi kalau anda baca annual letter yang ditulis Warren Buffett, maka anda akan memperoleh informasi yang bagus sekali tentang ‘Investor Berpengalaman vs Newbie’ ini. Di salah satu Annual Letter-nya, Buffett pernah bilang kalo setiap tahunnya, dia selalu memulai pekerjaan dari awal lagi. Kalau di tahun kemarin dia cuan 20%, maka pada tahun ini ia belum tentu akan cuan sebesar itu juga. Kalau selama sepuluh tahun berturut-turut sebelumnya dia cuan rata-rata 20% per tahun, maka tetap saja, pada tahun ini belum tentu dia akan cuan sebesar itu juga.
Intinya dalam investasi, seperti juga yang sering anda baca di iklan-iklan reksadana, tidak ada jaminan atau garansi bahwa kinerja yang baik (atau buruk) di masa lalu akan terulang di masa yang akan datang. Hanya karena anda sudah berpengalaman selama lima tahun sebagai investor saham, misalnya, maka itu bukan berarti bahwa kinerja investasi anda pasti akan lebih baik dibanding investor yang baru masuk pasar, atau sebaliknya lebih buruk dibanding investor lain yang berpengalaman selama sepuluh tahun.
Bukti sahih akan hal ini adalah, sepanjang karier investasinya, Buffett hanya pernah dua kali loss yaitu di tahun 2001 dan 2008, atau justru setelah dia berpengalaman selama 45 tahun (dihitung sejak ia menjalankan partnership-nya untuk pertama kali pada tahun 1956). Sementara pada awal-awal kariernya sebagai value investor, yakni di awal tahun 1960-an, dia malah cuan terus. Fakta menarik lainnya adalah, pada rentang waktu antara tahun 1965 hingga 2008, kinerja Berkshire Hathaway hanya kalah enam kali dibanding kinerja indeks S&P 500. Tapi pada tahun 2009 hingga terakhir tahun 2013 kemarin, pertumbuhan aset bersih Berkshire sudah empat kali ‘kalah cepat’ dibanding kenaikan S&P 500, yakni di tahun 2009, 2010, 2012, dan 2013.
Demikian pula dengan Bapak Lo Kheng Hong. Sejak ia memulai karier investasinya pada tahun 1989, tidak banyak kisah sukses yang bisa diceritakan, yang ada ia malah rugi besar ketika krisis moneter di tahun 1998. Milestone LKH sebagai investor besar baru dimulai pada tahun 2002 ketika ia membeli United Tractors (UNTR) di harga 400 dan menjualnya di 5,000-an beberapa tahun kemudian, sebelum kemudian ia sukses besar lagi di saham-saham lain seperti Multibreeder Adirama (MBAI), Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), Lippo Cikarang (LPCK), Gajah Tunggal (GJTL), dan seterusnya. Tapi toh, berbagai track record yang luar biasa serta pengalaman yang segudang tersebut tetap saja tidak menjamin bahwa LKH akan selamanya untung terus. Dalam dua atau tiga tahun terakhir ini, kinerja investasi LKH terbilang kalah telak dibanding pasar, terutama karena keputusannya untuk masuk ke saham-saham Grup Bakrie. Memang, bisa saja keputusan LKH membeli BUMI dkk pada akhirnya ternyata merupakan keputusan yang tepat (who knows?), tapi yang jelas untuk saat ini ia masih mengalami kerugian.
Jadi intinya, sekali lagi, tidak ada hubungan antara pengalaman dengan kemampuan seorang investor dalam menghasilkan keuntungan. Ketika seorang investor newbie mengalami kerugian maka itu bukan karena ia belum berpengalaman, melainkan lebih tepatnya karena ia masih belum menguasai cara menganalisis saham atau belum mampu mengendalikan emosinya. Makanya diatas penulis mengatakan bahwa kalau seorang ‘investor’ sama sekali tidak mengerti cara membaca laporan keuangan dll, maka tak peduli meski ia sudah main saham selama satu abad sekalipun, ia tetap merupakan seorang newbie. Seorang investor baru bisa dikatakan berpengalaman jika ia sudah mampu menganalisis saham dan mengendalikan emosinya dalam setiap pengambilan keputusan. Dan jika ia sudah mencapai tahap tersebut setelah beberapa bulan saja di pasar modal, maka ia sudah memiliki kualifikasi yang sama baiknya dengan investor lain yang sudah berpengalaman puluhan tahun.
Namun ketika seorang investor sudah berpengalaman (‘berpengalaman’ disini adalah sesuai definisi diatas, yakni bisa menganalisis dan mengendalikan emosinya dalam setiap pengambilan keputusan), maka itu tetap saja tidak bisa dijadikan jaminan bahwa ia akan untung. Contoh sederhana saja: Pada tahun 2008 lalu ketika IHSG anjlok lebih dari separuhnya, adakah satuuuu saja investor yang paling tidak tidak mengalami kerugian?
Tapi kalau ternyata pengalaman tidak bisa menjamin apapun, lalu bagaimana caranya agar kita bisa untung terus? Well, unfortunately, penulis harus katakan bahwa tidak ada cara agar kita bisa untung terus setiap kali membeli saham. Anda, suka atau tidak, pasti akan pernah mengalami kerugian dari saham-saham tertentu. Karena bahkan jika anda amat sangat baik dalam memilih saham sehingga anda tidak pernah keliru dalam memilih saham yang undervalue atau menawarkan prospek pertumbuhan yang signifikan, namun nilai portofolio anda akan tetap turun ketika IHSG anjlok. Kuncinya disini bukanlah bagaimana caranya agar kita bisa untung terus, namun anda harus menyadari bahwa investasi saham itu adalah sebuah pekerjaan yangterus menerus dan tanpa henti, entah itu dalam kondisi bull market maupun bear market, dimana pada akhirnya nanti anda akan sudah bertahun-tahun berada di pasar modal.
Dan ketika itulah, anda bisa dikatakan sebagai investor yang sukses jika kinerja anda secara keseluruhan (selama bertahun-tahun tersebut) lebih baik dibanding pasar, tak peduli meski anda pasti pernah mengalami kerugian di saham-saham atau tahun-tahun tertentu. Warren Buffett dan Lo Kheng Hong tidak bisa disebut sebagai investor gagal hanya karena kinerja investasi mereka kurang memuaskan dalam beberapa tahun terakhir, karena secara keseluruhan kinerja mereka masih jauuuuh lebih baik dibanding rata-rata pasar (dan faktanya mereka berdua juga masih sangat kaya raya bukan?).
Nah, kesalahan terbesar yang dilakukan seorang investor adalah ketika ia memutuskan untuk berhenti hanya karena ia mengalami kerugian. Contohnya, ada banyak investor yang baru masuk pasar pada tahun 2007, dan alhasil di tahun berikutnya mereka rugi besar, bahkan ada yang nilai portofolionya sampai minus (karena belanja saham pake margin). Dalam kondisi putus asa seperti itulah, banyak diantara mereka yang akhirnya keluar dan berhenti selamanya dari aktivitas investasi di saham, dan hanya bisa bengong ketika sekarang IHSG sudah di 5,000-an.
Padahal pasar naik atau turun, termasuk untung atau rugi, itu adalah hal yang biasa! Sama seperti motto dalam pertandingan sepakbola: Menang kalah itu soal biasa, yang penting kita bertanding dengan benar, penuh semangat, serta menjunjung tinggi sportifitas. Hanya karena kita kalah di satu pertandingan, maka itu bukan akhir dari segalanya karena akan selalu ada pertandingan berikutnya lagi, dimana kita masih bisa menang!
Dan penulis sendiri kebetulan punya seorang teman investor senior yang sudah berpengalaman sejak tahun 1991, yang bilang begini: ‘Saya sudah pernah rugi besar ketika terjadi market crash di tahun 1992, 1998, dan 2008, yet I’m rich! Saya tahu persis bahwa suatu hari nanti saya akan kembali mengalami periode krisis seperti itu, meski saya nggak tahu kapan pasar akan anjlok lagi seperti 2008 lalu, atau jangan-jangan portofolio saya sendiri yang anjlok padahal pasar baik-baik saja. Tapi yang terpenting, saya juga tahu bahwa semakin lama saya di pasar modal, maka akan semakin kaya saya jadinya. Warren Buffett bisa sekaya itu bukan hanya karena ia jenius di bidang investasi, tapi juga karena ia sudah berinvestasi selama lebih dari setengah abad!’
Nah! Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi penyemangat bagi anda yang merasa sebagai investor pemula di pasar saham, karena toh faktanya investor yang sudah berpengalaman puluhan tahun di pasar modal sekalipun bisa saja mengalami kerugian. Yang penting disini adalah anda harus keep learning, entah itu dari literatur maupun dari pengalaman anda sendiri (yang akan terus meningkat seiring berjalannya waktu). Kalau boleh jujur, penulis sendiri menulis artikel ini sebenarnya untuk mengingatkan diri agar terus belajar tentang investasi. Pasar modal itu adalah seperti universitas dimana tidak ada seorangpun yang bisa lulus dan mendapat gelar sarjana, kecuali drop out.
Disisi lain, jika anda pada saat ini masih atau sedang mencatatkan kinerja investasi yang tidak memuaskan, maka ingat sekali lagi bahwa anda tidak akan menjadi investor untuk saat ini saja, melainkan untuk seterusnya, dimana kedepannya nanti akan selalu ada peluang lainnya lagi untuk meraih keuntungan. Anda tahu? Bayern Munchen pernah kalah di Final Liga Champions tahun 2012 yang diselenggarakan di Allianz Arena, alias di kandang mereka sendiri, padahal sebelumnya mereka sudah unggul 1-0 sebelum gol dramatis Didier Drogba di menit-menit akhir pertandingan mengubah segalanya, dan lebih buruk lagi: Itu adalah kekalahan kedua Bayern di laga final Liga Champions dalam waktu yang berdekatan setelah dua tahun sebelumnya mereka juga kalah dari Inter.
Tapi di tahun berikutnya yakni 2013, Bayern akhirnya sukses juara!

Nah, jadi dengan demikian berikut adalah poin-poin yang bisa kita simpulkan dari pembahasan kali ini.

  1. Tidak ada, sekali lagi tidak ada, hubungan antara lamanya pengalaman seseorang dengan kemampuannya dalam mencetak keuntungan di pasar saham. Seorang investor yang berpengalaman hingga puluhan tahun pun tetap saja masih bisa menderita kerugian sewaktu-waktu, dan sebaliknya, investor yang baru masuk pasar kurang dari satu tahun juga bisa saja meraup keuntungan signifikan.
  2. Jika seorang investor pemula menderita kerugian di pasar saham, maka itu biasanya karena ia masih belum mampu untuk menganalisis dengan baik dan benar, atau masih belum mampu mengendalikan emosinya dalam setiap pengambilan keputusan. Jadi bukan semata karena dia masih ‘baru’, tapi memang karena ia belum menguasai ‘cara bermain’. Maka dalam hal ini seorang investor pemula dituntut untuk learning agar ia kemudian menjadi seorang investor yang berpengalaman.
  3. Ingatlah bahwa anda tidak menjadi investor saham hanya untuk hari ini saja, melainkan untuk seterusnya. Jika anda hari ini rugi, apalagi jika itu karena IHSG anjlok, maka ingat bahwa besok anda masih bisa untung ketika IHSG naik. Sebaliknya, jika anda hari ini untung besar, maka ingat bahwa belum tentu besok-besok anda akan untung sebesar itu lagi.
  4. Hmmm.. apa lagi ya? Ada yang bisa menambahkan?
NB: Penulis menyelenggarakan seminar/training value investing di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 21 Juni 2014. Keterangan selengkapnya baca [...]

Indofood Sukses Makmur

Indofood Sukses Makmur (INDF), seperti yang anda ketahui merupakan perusahaan makanan terbesar di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di dunia, dengan variasi produk mulai dari minyak goreng, margarin, tepung terigu, mi instan, makanan ringan, sirup, makanan bernutrisi, penyedap rasa, susu, dan gula. Melalui anak usahanya yakni Salim Ivomas Pratama (SIMP), INDF juga merupakan perusahaan perkebunan terbesar di dunia dari sisi luas lahannya yang mencapai 483 ribu hektar. Jadi yap, INDF ini memang besar sekali. Tapi penulis cukup terkejut ketika membaca laporan tahunan perusahaan, dimana INDF ini ternyata masih terus berekspansi untuk menjadi lebih besar lagi. Terakhir, perusahan milik Grup Salim ini sudah melebarkan sayapnya hingga ke Tiongkok, dengan mengakuisisi China Minzhong Food Corp., sebuah perusahaan pengolahan sayuran.

Meski Grup Salim sejak dulu sudah dikenal sebagai pionir di bidang makanan di Indonesia dengan mendirikan pabrik tepung terigu (dibawah bendera PT Bogasari) pada tahun 1974, dan kemudian menciptakan mie instan legendaris, yaitu Indomie, pada tahun 1982, namun geliat mereka di industri makanan baru benar-benar terasa setelah krisis moneter 1998. Pasca krisis, Grup Salim memutuskan untuk fokus membesarkan bisnis makanan, yang seluruhnya diletakkan dibawah bendera PT Indofood Sukses Makmur. Sejak awal tahun 2000-an, INDF telah masuk ke bidang usaha produksi minyak goreng, margarin, susu, makanan bernutrisi, gula, kecap, dan penyedap makanan. Sebelumnya pada tahun 1997, Grup Salim juga mulai masuk ke bidang usaha perkebunan kelapa sawit, minyak goreng, dan margarin, dimana usaha-usaha ini juga seluruhnya diletakkan dibawah INDF, melalui SIMP.

Logo Indofood dengan slogan barunya, ‘The Symbol of Quality Goods’ (menggantikan ‘Lambang makanan bermutu’)

Kemudian setelah sempat ‘libur’ selama beberapa tahun, pada tahun 2007 INDF kembali menambah portofolio perkebunannya, termasuk mengakuisisi PT London Sumatera (LSIP) yang kemudian dijadikan sebagai anak usaha dari SIMP. Tahun 2008, INDF masuk ke bisnis perkebunan tebu dengan mengakuisisi PT Lajuperdana Indah, dan mengakuisisi perusahaan susu, PT Indolakto (produsen susu merk Indomilk). Tahun 2010, INDF mendirikan PT Indofood CBP (ICBP) untuk dijadikan holdingdari anak-anak usahanya yang bergerak di bidang consumer brand products (termasuk Indomie) dan meng-IPO-kannya ke bursa. Dan setahun berikutnya yakni tahun 2011, giliran SIMP yang menggelar IPO. Dari dua IPO-nya tersebut, Grup Indofood meraup dana segar tak kurang dari Rp10 trilyun, yang kemudian digunakan untuk melanjutkan ekspansi.
Dan ekspansi tersebut tidak butuh waktu lama untuk segera dieksekusi. Pada tahun 2012, INDF melalui ICBP mengadakan kerja sama dengan Grup Asahi asal Jepang untuk memasuki bisnis minuman non alkohol di Indonesia, dengan mendirikan dua perusahaan yang masing-masing bergerak di bidang produksi dan distribusi minuman. Kerjasama Indofood-Asahi ini pada saat ini sudah membuahkan hasil, dimana anda bisa dengan mudah menemukan minuman teh merk ‘Ichi Ocha’ di supermarket dan pasar swalayan. Diluar itu, masih melalui ICBP, INDF juga memasuki bisnis pembuatan mayones, jaringan restoran, hingga produksi krim untuk pembuatan kue, rata-rata dengan bekerja sama juga dengan perusahaan Jepang.
Terakhir, sepanjang tahun 2013 kemarin, INDF mulai ‘go international’ dengan mengakuisisi Companhia Mineira de Açúcare Álcool Participações (susah amat bacanya), sebuah perusahaan gula di Brazil, mengakuisisi Roxas Holding, perusahaan gula terbesar di Filipina, dan mengakuisisi China Minzhong Food Corp., perusahaan budidaya dan pengolahan sayuran di Tiongkok yang sahamnya terdaftar di Bursa Singapura. Berbeda dengan perusahaan-perusahaan lainnya yang ditempatkan dibawah ICBP atau SIMP, perusahaan-perusahaan overseas diatas dipegang langsung oleh INDF, atau melalui Indofood Agri, anak usahanya yang terdaftar di Bursa Singapura. Selain itu, INDF juga telah menyelesaikan akuisisi atas seluruh saham PT Pepsi-Cola Indobeverages (yang kemudian berubah nama menjadi PT Prima Cahaya Indobeverages).
Hufftt.. Okay, udah selesai? Ternyata belum! Pada tahun 2014 ini, melalui SIMP dan ICBP (melalui LSIP boleh dibilang gak ada ekspansi apa-apa karena LSIP ini cuma ‘cucu usaha’), INDF masih punya segudang rencana ekspansi usaha, terutama karena dua anak usahanya tersebut masih memegang dana cash yang besar hasil IPO-nya dulu (per Kuartal I 2014, SIMP memegang cash Rp2.2 trilyun, sementara ICBP Rp6.3 trilyun). Model bisnis perusahaan yang banyak bermain di fast moving consumer goods, menyebabkan INDF, terutama melalui ICBP, selalu memiliki cash yang besar untuk diputar kembali. Sehingga wajar jika ekspansi lebih banyak dilakukan melalui ICBP (pada awal tahun 2014, ICBP mengakuisisi air minum dalam kemasan dengan merk ‘Club’). Meski demikian SIMP juga banyak melakukan ekspansi terutama dengan cara menanami lahan perkebunan yang sudah diakuisisi sebelumnya, dengan tanaman kelapa sawit, karet, tebu, hingga teh, dan mendirikan pabrik-pabrik untuk mengolah CPO menjadi minyak goreng dan margarin.

Bimoli dan Palmia, merk minyak goreng dan margarin andalan Indofood

Sementara INDF-nya sendiri, setelah tahun kemarin sukses mengakuisisi China Minzhong, maka kedepannya perusahaan akan kembali mengakuisisi perusahaan lainnya lagi jika memang ada kesempatan, tapi pihak manajemen memang nggak mau cerita apapun. Diluar itu, pasar Indomie kini bahkan sudah menjangkau hingga Maroko dan Kazakhstan. Jadi yah, prospek jangka panjangnya memang menarik sekali, karena pihak manajemen tidak pernah berhenti bekerja untuk membesarkan perusahaan, selain karena INDF sendiri sejak awal sudah merupakan perusahaan makanan terbesar dan termapan di tanah air.
Berikut adalah beberapa poin yang menyebabkan INDF ini layak investasi terutama jika anda merupakan investor besar (atau mewakili investor institusi) yang nggak mau invest di saham-saham ecek-ecek dan nggak jelas.
  1. INDF memiliki sejarah yang panjang dan positif sejak tahun 1970-an sebagai perusahaan makanan paling terkemuka di tanah air, dimana INDF sejauh ini senantiasa bertumbuh dan tidak pernah mengalami peristiwa buruk bahkan ketika terjadi krisis moneter 1998.
  2. INDF dipimpin langsung oleh pemilik perusahaan, Bapak Anthoni Salim, yang menempati posisi sebagai direktur utama. Kalau anda perhatikan perusahaan besar lain yang dimiliki oleh grup-grup besar, jarang ada owner perusahaan yang mau duduk di jajaran pengurus perusahaan. Contohnya di perusahaan-perusahaan milik Grup Bakrie, anda jangan harap menemukan nama Aburizal atau Nirwan Bakrie dijajaran direksi atau komisaris perusahaan. Padahal kalau pake contoh Warren Buffett, investor besar ini juga ambil bagian dengan menjadi direktur dari perusahaan-perusahaan yang ia beli/akuisisi, atau dengan kata lain, ia tidak keberatan untuk turun langsung mengelola perusahaan.
  3. Untuk efisiensi kinerja, INDF juga memiliki unit-unit usaha di bidang distribusi termasuk memiliki beberapa unit kapal untuk logistik. Grup Salim juga sebenarnya memiliki banyak perusahaan di bidang ritel, sehingga untuk membuat Indomie, misalnya, Grup Salim sudah menguasai semuanya, mulai dari bahan baku tepung terigu, pabriknya, distribusinya, hingga toko-tokok yang menjual Indomie-nya, itu semua milik mereka sendiri (Indomaret dan SuperIndo itu juga milik Grup Salim). Namun hanya unit-unit usaha distribusi yang diletakkan dibawah INDF.
  4. Perusahaan rutin membayar dividen dalam jumlah wajar setiap tahunnya, yakni sekitar separuh laba bersih yang diperoleh perusahaan di tahun yang bersangkutan, dan ini menunjukkan manajemen yang berpihak kepada investor. Nilai dividen itu sendiri terus naik dari Rp45 per saham di tahun 2008, menjadi Rp142 untuk tahun buku 2013.
  5. Return on Equity (ROE) perusahaan senantiasa terjaga di level 15 – 20% setiap tahunnya, padahal ekuitas INDF naik signifikan dalam beberapa tahun terakhir (terutama sejak IPO dua anak usahanya, ICBP dan SIMP). Tahun 2013 kemarin laba perusahaan memang turun karena penurunan harga CPO, dan alhasil ROE-nya juga turun, tapi ditahun-tahun yang lain, termasuk tahun 2014 ini, ROE tersebut tetap berada di level yang bisa dikatakan profitable. Data selengkapnya bisa dilihat di tabel dibawah. Sebelumnya catat bahwa ekuitas yang ditampilkan adalah ekuitas diluar kepentingan non pengendali, dan laba bersih yang ditampilkan adalah laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Year 2014*) 2013 2012 2011 2010 2009
Equity (Rp billion) 24,228 23,649 21,209 18,676 16,785 10,149
Net Profit (Rp billion) 1,373 2,504 3,261 3,077 2,953 2,076
ROE (%) 22.7 10.6 15.4 16.5 17.6 20.5
*) net profit is for first quarter only, the ROE is annualized

Kalau anda perhatikan, dengan PER 10.9 dan PBV 2.5 kali pada harga saham 6,775, maka INDF adalah salah satu saham blue chip di bursa yang pada saat ini memang sedang berada pada level harga wajarnya. Saham INDF sendiri cenderung bergerak stagnan selama setahun terakhir di rentang 6,500 dan 7,500 (INDF pernah turun hingga dibawah 6,000 pada Agustus 2013 ketika terjadi koreksi hebat pada IHSG, namun langsung naik lagi), dan itu adalah karena kinerja perusahaan sepanjang tahun 2013 masih turun akibat penurunan kinerja dari anak-anak usahanya dibidang perkebunan kelapa sawit dan produk turunannya, karena turunnya harga CPO. Pada tahun 2012 INDF mencatat laba bersih Rp3.3 trilyun, yang turun menjadi Rp2.5 trilyun pada tahun 2013. Namun karena sejak awal valuasi INDF tidak terlalu mahal untuk ukuran saham blue chip, maka sahamnya pun juga nggak lantas anjlok karenanya.
Kabar baiknya, INDF mengawali tahun 2014 ini dengan cukup baik dimana labanya kembali naik menjadi Rp1.4 trilyun pada Kuartal I 2014, berbanding Rp722 milyar pada periode yang sama tahun 2013, atau naik 90.1%. Kenaikan tersebut tentu saja disumbang oleh bisnis perkebunan kelapa sawit yang mulai kembali sukses menghasilkan laba yang besar setelah harga CPO mulai naik lagi (selain karena volume produksi CPO milik SIMP dan LSIP juga naik terus). Jika trend kenaikan ini terus berjalan maka jelas INDF sangat menarik untuk diperhatikan, selain karena mulai tahun ini INDF memperoleh tambahan pendapatan dari China Minzhong dimana pada tahun 2013 lalu pendapatan tersebut belum ada, dan itu belum termasuk potensi tambahan pendapatan dari ekspansi-ekspansi lainnya yang sedang dan akan dilakukan perusahaan.
However, kalau ada satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah posisi utang INDF yang pada saat ini sudah cukup besar. Berbagai ekspansi yang dilakukan perusahaan selama beberapa tahun terakhir tentu saja membutuhkan dana yang besar, sehingga perusahaan memutuskan untuk melepas ICBP dan SIMP ke bursa saham untuk memperoleh dana total Rp10 trilyun, tapi bahkan itu masih belum cukup. Jadi INDF juga mengambil utang bank jangka panjang, serta yang terbaru, perusahaan kembali menerbitkan obligasi senilai Rp2 trilyun untuk melunasi obligasi sebelumnya. Pada Kuartal I 2014, total liabilitas INDF tercatat Rp42 trilyun, cukup besar dibanding nilai ekuitas perusahaan sebesar Rp24 trilyun. Kalau kita belajar lagi sejarahnya, Grup Salim sukses mempertahankan INDF ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1998 namun terpaksa melepas Bank BCA (BBCA) dan Indocement (INTP), karena mereka menanggung utang yang cukup banyak namun INDF ini tidak termasuk perusahaan yang menanggung utang tersebut.
Tapi saat ini kondisinya jelas sudah berbeda, dimana jumlah utang INDF tidak bisa lagi dikatakan sedikit. Om Anton mungkin punya pandangan sendiri soal ini, dimana INDF saat ini memiliki banyak anak-anak perusahaan yang beroperasi diluar negeri dan itu menurunkan risiko bisnis karena penurunan nilai tukar Rupiah, karena perusahaan-perusahaan tersebut membukukan pendapatan dan labanya dalam mata uang di negaranya masing-masing (seperti China Minzhong, yang membukukan labanya dalam mata uang Renminbi/RMB), sementara kita tahu bahwa krisis moneter 1998 terjadi karena pelemahan Rupiah secara tiba-tiba dari Rp2,500 menjadi 15,000 per US Dollar. Tapi tetap saja, hal ini tetap perlu diperhatikan jika anda berminat untuk menjadi pemegang saham perusahaan.
Anyway, terkait harga ideal untuk sahamnya, seperti yang penulis katakan diatas, posisi INDF pada saat ini terbilang wajar, jadi kalau anda mau ‘mengakuisisi’-nya maka tunggu hingga harganya murah dulu, let say direntang 6,000 – 6,500 dimana INDF sangat mungkin turun hingga ke posisi tersebut jika IHSG nanti turun, kemudian selanjutnya anda bisa duduk santai menunggu dia naik sendiri. Target 9,000 bagi INDF ini terbilang realistis untuk jangka waktu 2 – 3 tahun kedepan, dengan catatan perusahaan mampu mengelola utang-utangnya dengan baik. Risiko penurunan kinerja karena penurunan harga CPO untuk saat ini praktis sudah sangat kecil mengingat harga CPO itu sendiri sudah rendah, selain karena trend-nya mulai bergerak naik setelah harga CPO ‘istirahat’ selama dua tahun terakhir.
Kemudian jika ada pertanyaan, apakah lebih baik masuk ke INDF ini ataukah anak usahanya saja? Seperti ICBP, SIMP, atau LSIP? Maka jawabannya adalah, anda harus lihat valuasinya. Saat ini dari sisi PBV, saham SIMP merupakan yang termurah diantara semuanya, namun itu karena SIMP memiliki tingkat profitabilitas yang rendah sejauh ini karena masih banyak dari aset perkebunannya yang belum menghasilkan (dari nyaris setengah juta hektar lahan perkebunan milik SIMP, baru separuhnya yang sudah ditanam), selain karena margin dari jualan minyak goreng dan margarin ternyata lebih kecil dari menjual CPO langsung (anak usaha SIMP, yakni LSIP, hanya menjual CPO). Kalau dilihat dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, atau istilahnya earnings power-nya, maka ICBP dan LSIP adalah pilihan yang terbaik, namun harganya pun premium. Jadi kalau mau ambil tengah-tengahnya saja, maka anda mungkin bisa ambil INDF ini saja, tentunya jika anda bisa masuk di harga yang ideal.
Pada pertengahan tahun 2012, INDF cukup lama tertahan di 4,500-an (sekitar delapan bulan), padahal itu adalah harga yang cukup murah dengan PBV kurang dari 2.0 kali (ingat bahwa INDF ini saham blue chip tulen, yang tidak bisa dihargai terlalu rendah). Dan sekarang, atau hampir dua tahun kemudian, INDF sudah berada di level 6,500 – 7,000, atau naik sekitar 50%. Hal ini menunjukkan bahwa kalau kita beli saham bagus di harga murah, maka meski terkadang perlu menunggu cukup lama, namun toh saham tersebut pada akhirnya akan naik juga. Kabar baiknya, untuk saat ini masih belum terlambat untuk masuk ke INDF jika tujuannya adalah untuk investasi jangka panjang, let say untuk 2 – 3 tahun kedepan.
PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk
Rating Kinerja pada Q1 2014: A
Rating Saham pada 6,775: [...]

Seminar Value Investing, 21 Juni 2014

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar/workshop edukasi investasi saham di Jakarta, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’Acara ini merupakan yang terakhir dalam waktu dekat ini, karena selama bulan puasa hingga libur lebaran mendatang penulis akan berhenti bikin acara seminar dulu.


Penulis bersama para peserta dari seminar sebelumnya

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung, atau terjebak membeli saham gorengan, saham abal-abal, atau apapun istilahnya!
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:

  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin CityMall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu21 Juni 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BNI no rek 3384.34.774 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Maldini Pali, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus!
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. Of course, layanan ini gratis :)
  2. Dan terakhir, konsultasi tersebut juga bisa dilakukan melalui telepon.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB [...]

Jokowi – JK: Confirmed!

Salah satu isu terpenting setelah majunya Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden adalah tentang siapa tokoh yang akan dipilih sebagai calon wakil presidennya. Dan setelah berkali-kali ditunda, hari ini akhirnya diumumkan bahwa tokoh tersebut adalah Jusuf Kalla atau JK. Kebetulan, jika melihat track recordnya yang sangat baik selama menjadi wakil presiden RI pada periode 2004 – 2009, JK adalah tokoh yang memang diinginkan oleh pasar. Alhasil sejak jumat kemarin dan juga berlanjut pada hari ini, IHSG melompat naik dan sekarang sudah berada di level 5,000-an kembali. Pertanyaannya tentu saja, what’s next?
Pada artikel berjudul Jokowi, ARB, atau Prabowo?, penulis mengatakan bahwa dari tiga calon presiden yang ada, hanya Jokowi yang kemungkinan akan membawa dampak positif bagi pasar saham termasuk IHSG andaikata ia yang terpilih sebagai Presiden. However, perolehan suara PDI-P di Pemilu Legislatif yang tidak sampai 20% menyebabkan Jokowi harus berkoalisi dengan partai-partai lain, yang itu berarti Jokowi tidak bisa memilih wakil presidennya sendiri, seperti yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memilih Boediono sebagai wakil presiden di tahun 2009. Masalahnya tentu, bagaimana jika wakil presiden itu merupakan figur yang tidak disukai pasar? Termasuk, beberapa waktu lalu sempat mencuat isu bahwa wakil presiden tersebut adalah Puan Maharani, atau bahkan Aburizal Bakrie (yang setelah menyadari bahwa elektabilitasnya rendah, ARB kini tidak keberatan kalau hanya jadi cawapres).
Tapi untunglah, akhirnya tetap JK yang terpilih, meski itu artinya yang bersangkutan harus keluar dari Golkar karena ARB sebagai Ketua Umum Golkar secara jelas menyatakan bahwa Partai Golkar hanya boleh mendukung dirinya entah sebagai capres ataupun cawapres.
Sekilas, pasangan Jokowi-JK ini akan menang mudah bahkan meski tidak memperoleh dukungan dari partai besar yang satunya lagi, yakni Golkar. Namun ancaman terbesar tentu datang dari pasangan capres-cawapres yang satunya lagi: Prabowo – Hatta. Kalau anda perhatikan, terlepas dari Hatta Radjasa yang tampaknya bukan siapa-siapa, elektabilitas Prabowo terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir ini, dan itu bukan tanpa alasan. Salah satu masalah pada kubu Jokowi adalah fakta bahwa berbeda dengan Prabowo yang merupakan orang nomor satu di Partainya, Jokowi hanyalah seorang kader partai di PDI-P, dimana posisinya jauh dibawah pimpinan partai, yakni Megawati.
Dan bisakah anda bayangkan, Indonesia dipimpin oleh seorang Presiden yang masih punya pimpinan lagi diatasnya? Setelah keluar dari Golkar, JK otomatis bukan lagi bawahan dari ARB atau siapapun, sehingga ia merupakan pihak yang independen. Sementara Jokowi? Well, beliau adalah, suka atau tidak, merupakan bawahan dari Megawati. Penulis pribadi tidak begitu peduli soal ini, namun bagi beberapa orang, ini adalah masalah yang tidak bisa diabaikan. Ada banyak pendukung Jokowi yang kemudian pindah mendukung Prabowo setelah Megawati sendiri menegaskan bahwa Jokowi hanyalah seorang ‘petugas partai.’
Sementara Prabowo, dari berbagai kampanyenya jelas menunjukkan bahwa ia adalah calon Presiden yang kuat, berwibawa, dan tidak bisa diatur-atur oleh siapapun. Dan bagi sebagian orang ini adalah kriteria pemimpin yang ideal, yang justru tidak ada pada diri Jokowi.
Intinya sih, hasil Pilpres pada Juli (jadinya Juli, bukan September) nanti sama sekali tidak bisa diprediksi dimana Prabowo jelas masih memiliki peluang, tinggal bagaimana ia dan timnya mampu memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk kampanye dll. Pasangan capres-cawapres yang satunya lagi, yakni ARB – Pramono Edhie (jika memang jadi dimajukan), mungkin saja bisa menjadi faktor penentu dimana jika Pilpres-nya berlangsung dua putaran, maka peluang Jokowi akan menjadi lebih kecil lagi jika ARB kemudian bergabung dengan kubu Prabowo (dan kemungkinannya memang demikian, sebab jika dilihat dari sejarahnya, Golkar sulit sekali berkoalisi dengan PDI-P, sementara Prabowo dulunya adalah kader Golkar).
Lalu bagaimana dengan IHSG?
Setelah JK resmi menjadi cawapres bagi Jokowi, asing kembali berebut masuk ke bursa, sehingga jumlah dana asing yang masuk ke BEI pada saat ini sudah menembus Rp40 trilyun, atau terbesar sepanjang sejarah mengingat jumlah dana asing terbesar yang masuk ke pasar saham Indonesia adalah Rp32.6 trilyun pada tahun 2007, dan faktanya sekarang baru bulan Mei. Hal ini tentu menimbulkan sedikit kekhawatiran karena kalau asing ini keluar separuhnya saja, maka IHSG dalam jangka pendek akan langsung turun. IHSG sendiri sejauh ini sudah naik 18% dihitung sejak awal tahun 2014, atau tertinggi sejak kenaikan 46.1% pada tahun 2010. Jadi yap, pada saat ini pasar memang sedang dalam kondisi yang optimis dalam menyambut calon pemimpin baru.
Tapi bagaimana kedepannya? Atau paling tidak hingga akhir tahun 2014 ini? Diluar faktor euforia Pilpres, yang mungkin bisa kita cermati adalah bahwa pada Kuartal I 2014 kemarin, perusahaan-perusahaan papan atas di BEI (saham-saham bluechip) mencatatkan kinerja yang terbilang baik meski pada tahun 2013 lalu Indonesia dihantui oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sementara dua sektor yang menjadi primadona pasar di masa lalu namun justru menjadi penghambat kenaikan IHSG dalam dua tahun terakhir, yakni sektor tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit, pada tahun 2014 ini mulai menunjukkan perbaikan, dan saham-saham batubara sejauh ini juga mulai bergerak naik menyusul saham-saham perkebunan kelapa sawit yang sudah naik sebelumnya. Kemudian sektor properti, meski kinerjanya banyak yang turun pada awal tahun 2014 ini, namun karena sejak awal saham-saham di sektor ini rata-rata masih murah, maka hal ini tidak menyebabkan saham-saham properti menjadi turun (sektor properti sejak awal tahun 2014 sudah naik 32.3%, tertinggi dibanding sektor-sektor lainnya). Dan sektor konstruksi, kinerjanya pada tahun 2014 ini relatif masih baik, dan ditambah dengan outlook jangka panjangnya yang juga masih baik seiring dengan banyaknya proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia, maka alhasil saham-saham di sektor ini juga langsung naik lagi (tapi mereka jadinya mahal lagi).
Kesimpulannya, terlepas dari euforia Pilpres yang lagi ramai belakangan ini, kinerja para emiten memang mendukung IHSG untuk naik tinggi, dan memang IHSG, seperti sudah disebut diatas, sejauh ini sudah naik 18% sejak awal tahun. Untuk naik lebih tinggi lagi sebenarnya mungkin saja, mengingat euforia Pilpres yang terjadi pada saat ini kemungkinan akan bertahan hingga Pilpres-nya itu sendiri digelar pada Juli nanti, apalagi jika Jokowi akhirnya benar-benar terpilih sebagai Presiden.
Namun secara historis, IHSG selalu mengalami koreksi minimal setahun sekali dimana bulan Mei dan seterusnya merupakan periode yang rawan terjadi koreksi tersebut. Kalau pada tahun 2010 dan 2012 koreksi IHSG terjadi pada bulan Mei, maka pada tahun 2011 koreksi tersebut terjadi pada bulan Agustus, dan pada tahun 2013 terjadi pada bulan Juni. Tahun 2014 ini mungkin akan jadi pengecualian dimana cerita ‘Sell in May and Go Away’ ternyata tidak terjadi, tapi itu berarti pertanyaan selanjutnya adalah, kapan koreksi tersebut akan terjadi?
Tapi kapanpun koreksi itu akan terjadi, atau malah tidak terjadi sama sekali, namun itu seharusnya tidak jadi masalah karena toh pada akhirnya indeks akan terus naik dalam jangka panjang. Namun satu hal yang mungkin perlu dicatat disini adalah, disadari atau tidak, Pemerintahan Presiden SBY sepanjang 10 tahun terakhir (2004 – 2014) telah sukses membawa IHSG untuk naik hingga lima kali lipat, dari 1,000-an pada awal tahun 2004 menjadi sekarang sudah tembus 5,000-an, dimana kenaikan tersebut memang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, dan itu bahkan sudah termasuk periode krisis tahun 2008. Dan penulis kira akan sulit bagi Presiden berikutnya nanti, entah itu Jokowi ataupun Prabowo, untuk bisa mencatatkan prestasi yang serupa dengan membawa IHSG naik hingga 400% dalam sepuluh tahun. Jangan salah, berbagai kinerja cemerlang yang dicapai oleh Astra International dkk, itu semua tidak akan terealisasi jika kondisi perekonomian nasional itu sendiri morat marit bukan?
Nah, sebenarnya untuk minggu ini penulis hendak menulis analisis saham atau materi edukasi investasi seperti biasa, namun cerita soal Pilpres ini memang terlalu menarik untuk tidak dibicarakan termasuk oleh kita semua sebagai investor saham. So, dengan ini penulis hendak melakukan survei kecil, dimana anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
  1. Menurut anda siapa yang akan memenangkan Pilpres nanti? Apakah Jokowi atau Prabowo? Atau malah ARB?
  2. Kemudian, bagaimana kira-kira reaksi pasar terhadap kemenangan Jokowi/Prabowo?
  3. Dan dalam jangka panjang, let say lima tahun kedepan, bagaimana kira-kira kinerja presiden baru kita nanti terhadap perekonomian nasional?
Update: Di saat-saat terakhir, Golkar resmi merapat ke Gerindra! Dengan demikian Pilpres mendatang bisa dipastikan akan menjadi pertarungan antara Jokowi vs Prabowo saja, dan kali ini kekuatan kedua kubu cenderung imbang, bahkan Prabowo sedikit lebih unggul karena didukung oleh enam parpol, sementara Jokowi hanya empat. Well, semakin seru saudara-saudara!
Buku kumpulan analisis saham kuartalan edisi Kuartal I 2014 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya [...]

Steel Pipe Industry of Indonesia

Sejak listing perdana pada 22 Februari 2013 lalu di harga 295, saham Steel Pipe Industry of Indonesia, yang sering juga disingkat Spindo (ISSP), bukannya naik tapi malah turun.. dan terus turun hingga sempat menyentuh 131 sebagai titik terendahnya, meski kemudian mulai naik lagi dan terakhir ditutup di 168. Kalau melihat model bisnisnya yang nggak biasa, yakni membuat dan menjual pipa-pipa baja, ISSP memang agak sulit untuk dijadikan pilihan investasi jangka panjang karena kinerja perusahaan kedepannya bisa sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan baku, pelemahan Rupiah, dll. However, kalau melihat valuasi sahamnya yang terdiskon, manajemennya yang konservatif, serta kinerja terbaru perusahaan yang jelas-jelas masih oke, maka ISSP ini terlalu menarik untuk diabaikan. Okay, berikut ulasan selengkapnya.

ISSP adalah perusahaan produsen pipa baja terbesar di Indonesia yang bermarkas di Surabaya, dimana perusahaan menjual produk berupa pipa baja berbagai bentuk dan ukuran untuk pelanggan industri, konstruksi, minyak dan gas, hingga pabrik otomotif. Selain menjual pipa baja jenis stainless steel dan karbon, ISSP juga menyediakan jasa pelapisan dan pemotongan lembaran baja. Hingga akhir tahun 2012 perusahaan memiliki lima buah pabrik dimana tiga diantaranya berlokasi di Surabaya, dan dua lainnya di Pasuruan, Jawa Timur, dan Karawang, Jawa Barat. Meski sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 1971, namun hingga saat ini perusahaan hanya fokus pada pembuatan pipa baja saja, dan tidak merambah bidang lain yang masih berkaitan seperti mendirikan pabrik baja, atau membuat produk baja lain selain pipa, seperti kawat baja, baja konstruksi, dan seterusnya (ada jasa pemotongan baja, namun kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan terbilang kecil). Namun dari sudut pandang investor hal ini justru bagus karena itu berarti perusahaannya bisa fokus pada satu jenis bidang usaha saja. Dan meski nama perusahaannya kurang terkenal di mata orang awam, namun dikalangan industri, Spindo sudah cukup dikenal sebagai perusahaan spesialis pipa baja.
Nah, diatas penulis mengatakan bahwa bisnis pipa baja yang dijalani ISSP ini sangat rentan terhadap kenaikan harga lembaran baja sebagai bahan baku pembuatan pipa, fluktuasi nilai tukar Rupiah (karena sebagian lembaran baja tersebut diperoleh dari impor), dan perkembangan dari pasar pipa baja itu sendiri, yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan industri-industri yang membutuhkan pipa baja. Makanya penulis tidak heran ketika melihat bahwa di tahun 2009 lalu, ISSP menderita kerugian hingga Rp308 milyar akibat pengaruh krisis global. Meski demikian diluar tahun 2009 tersebut, laba bersih serta ekuitas perusahaan senantiasa bertumbuh hingga saat ini.
Kemudian soal prospek kedepannya, ketika perusahaan menggelar IPO kemarin, duitnya dipakai untuk membangun pabrik anyar di Gresik, dan menambah kapasitas pabrik yang sudah ada di Karawang dan Pasuruan. Namun karena pabriknya belum jadi, maka sejauh ini hasilnya belum kelihatan. Kinerja ISSP yang cukup bagus dalam setahunan terakhir ini lebih karena turunnya harga bahan baku baja, sehingga margin laba perusahaan meningkat (dan yang kena dampak negatifnya malah Krakatau Steel/KRAS, yang merupakan salah satu supplier lembaran baja ke ISSP). Penulis sendiri tidak terlalu tertarik dengan prospek ISSP berdasarkan pabrik barunya tersebut, karena kita tidak tahu bagaimana perkembangan industri pipa baja kedepannya. I mean, percuma saja jika nanti pabriknya beroperasi namun ketika itu permintaan akan pipa baja ternyata menurun, atau jika harga lembaran baja naik.
Tapi yang membuat saham ini menarik adalah valuasinya. Kalau anda mengakuisisi 100% saham ISSP pada harga sahamnya saat ini, yakni Rp168 per saham, maka anda akan mengeluarkan dana Rp1.2 trilyun, untuk memperoleh aset bersih senilai total.. Rp2.0 trilyun. Dan kabar baiknya, mayoritas aset ISSP merupakan aset lancar seperti piutang usaha, persediaan bahan baku lembaran baja, hingga persediaan pipa baja siap jual, yang bisa dengan mudah dilikuidasi setiap saat. Jadi seperti yang pernah penulis bahas di Petrosea (PTRO), kalau anda membeli ISSP ini pada harganya saat ini, maka anda sudah untung tanpa perlu lagi berharap bahwa perusahaan akan terus mencetak laba bersih yang besar seperti sekarang (pada Kuartal I 2014, ROE-nya 17.0%, cukup besar untuk ukuran perusahaan manufaktur yang marginnya biasanya kecil).

Dan kalau anda membeli 100% saham ISSP ini pada harga terendahnya, yakni Rp131 per saham, maka anda akan mengeluarkan dana Rp941 milyar untuk memperoleh modal kerja bersih (aset lancar ISSP dikurangi kewajiban lancarnya) senilai Rp951 milyar, belum termasuk aset-aset tetap seperti pabrik, kendaraan, dll. Hal ini mengingatkan penulis ketika pada tahun 1962, Warren Buffett membeli Berkshire Hathaway pada PBV 0.8 kali berdasarkan nilai modal kerja bersihnya saja, diluar aset-aset tetap milik perusahaan. Jadi  yap,memang ISSP ini murah sekali.

Sementara berbeda dengan PTRO yang kinerjanya masih lesu, kinerja ISSP sama sekali nggak ada masalah. Pendapatan perusahaan masih naik 24.5% alias cukup signifikan, dan laba bersihnya pun masih naik. Penulis tidak tahu bagaimana kinerja perusahaan kedepannya, namun kalau berdasarkan kinerja terbarunya saat ini, maka harga sahamnya terbilang nggak wajar karena terlalu rendah. Posisi ISSP saat ini seharusnya berada di level 250 atau diatasnya, dan kalau diatas itu maka barulah dia nggak bisa dikatakan murah lagi, karena PBV-nya sudah diatas 1 kali.
So, meski saham ini mungkin tidak bisa dipegang untuk periode katakanlah 2 – 3 tahun, namun dalam jangka yang lebih pendek ISSP mungkin menawarkan gain yang lumayan. Pergerakan sahamnya sendiri, setelah terus menerus ditekan hingga jatuh ke 130-an pada Januari lalu, kesininya trend-nya secara teknikal mulai positif dimana ISSP, perlahan tapi pasti, terus merangkak naik. Ada juga yang bilang bahwa ISSP ini mungkin sengaja dijongkokin sama bandar, but as long as it is undervalue, then I don’t care.

However, karena sejak awal kinerja perusahaan bisa berfluktuasi dari waktu ke waktu, maka jika anda berminat dengan saham ini maka gunakan dana sedikit saja, dan jangan memegangnya terlalu lama. Sebab jika nanti di periode berikutnya kinerja ISSP ternyata turun, maka sahamnya pun akan sulit untuk naik, dan bisa jadi pula harga sahamnya yang rendah saat ini memang mencerminkan outlook-nya yang suram. Well, tapi mudah-mudahan kejadiannya tidak demikian.

PT. Steel Pipe Industry of Indonesia, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal I 2014: A
Rating saham pada 168: AA

Buku kumpulan analisis dan rekomendasi saham kuartalan edisi Kuartal I 2014 sudah terbit hari ini. Dan anda bisa memperolehnya [...]

Ebook Analisis Kuartal I 2014

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal I 2014 (Q1 2014). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid. Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali
  2. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  3. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  4. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG). 
Ebook ini sudah selesai dikerjakan dan terbit pada hari Senin tanggal 12 Mei 2014 kemarin, dan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan. Anda bisa memperoleh ebook-nya disini.
Berikut screening ebooknya (edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).
Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari kondisi pasar, melakukan screening saham, menganalisis saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham mana saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada penulis, sehingga anda kemudian tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda tidak perlu membayar mahal untuk itu.
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Info lebih lanjut bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Koperasi Cipaganti

Akhir-akhir ini di media banyak beredar pemberitaan bahwa Koperasi Cipaganti Karya Graha Persada, atau disingkat Koperasi Cipaganti saja, mulai mengalami kesulitan dalam membayar imbal hasil/bunga bulanan kepada para investornya, dan sudah tentu para investor ini mulai ketar ketir, belum lagi pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) langsung angkat tangan terhadap masalah ini dan malah melemparnya ke pihak Kementerian Koperasi (tapi bener juga sih). Menariknya banyak orang yang menyangka bahwa perusahaan yang listing di BEI, yakni Cipaganti Citra Graha (CPGT) merupakan Koperasi Cipaganti tersebut, padahal bukan. Anyway, mari kita pelajari lebih lanjut tentang Koperasi Cipaganti ini, termasuk bagaimana kira-kira ending dari kasus keterlambatan pembayaran imbal hasilnya.

Koperasi Cipaganti, selanjutnya disebut ‘KC’, merupakan salah satu koperasi paling terkemuka di Indonesia. Yang dimaksud dengan ‘koperasi’ itu sendiri adalah badan hukum yang memiliki izin (dari Kementerian Koperasi) untuk mengumpulkan dana dari masyarakat, dalam hal ini masyarakat yang menjadi anggota koperasi itu sendiri, dimana dana tersebut akan digunakan untuk membiayai usaha tertentu. Jika anda hendak bergabung dengan KC, misalnya, maka anda akan menanda tangani semacam surat perjanjian di depan notaris bahwa anda telah bergabung menjadi anggota KC, dan bahwa anda akan menyetor dana sebesar sekian untuk dikelola oleh KC pada usaha tertentu, dan bahwa anda akan menerima bunga yang dibayarkan setiap bulan.
Koperasi adalah jenis badan hukum yang jauh lebih sederhana dari perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas atau PT, tapi sama-sama bisa memperoleh pendanaan dari luar. Jika anda memiliki sebuah PT, maka melalui PT tersebut anda bisa mengajukan pinjaman ke bank, menerbitkan saham, hingga menerbitkan obligasi. However, proses untuk melakukan itu semua tidaklah mudah. Ketika anda hendak pinjam dana ke bank, misalnya, maka anda harus menyediakan aset senilai sekian sebagai jaminan, dan PT tersebut juga harus sudah beroperasi sekian tahun serta memiliki track record yang bisa dipertanggung jawabkan.
Namun hal yang sama tidak berlaku untuk koperasi. Jika anda mengelola sebuah koperasi, maka selama anda bisa meyakinkan para calon investor untuk menempatkan dananya pada koperasi tersebut, then holaa.. you got the money! Anda tidak perlu memberikan jaminan apapun terhadap si investor, yang penting anda bisa secara rutin membayarkan bunga yang memang sudah dijanjikan setiap bulannya.
Konsep koperasi sendiri sebenarnya merupakan alternatif bagi orang atau sekelompok orang yang membutuhkan dana/modal untuk mengembangkan usaha tertentu, namun tidak memiliki akses ke perbankan apalagi pasar modal (kalau mau IPO). Jadi dengan adanya sistem koperasi ini, seorang pengusaha bisa memperoleh pinjaman modal dari teman-temannya sendiri yang kemudian ditampung dalam satu wadah yang disebut koperasi tadi. Koperasi ini dianggap sebagai ‘milik bersama’, baik investor maupun pengelola, walaupun pada hakekatnya yang memiliki akses terhadap dana yang ditampung di koperasi tersebut hanyalah pengelola/pengusaha itu tadi saja. Para investor pasif tidak bisa begitu saja menarik dana, atau mencairkan/menjual aset-aset yang dimiliki oleh koperasi, karena yang bisa melakukan itu hanya pengelola koperasi yang bersangkutan.
Kelemahan Sistem Koperasi
Sebagai investor saham, penulis tidak pernah berminat untuk menempatkan investasi di Koperasi, entah itu KC ataupun lainnya, karena: Pertama, saya belum pernah mendengar orang yang kaya dari koperasi. Kalau di saham, tidak sedikit investor yang sukses besar, tapi di Koperasi? Yang ada, semakin banyak orang yang menjadi anggota sebuah koperasi, misalnya KC, maka yang semakin sukses justru pengurusnya. I mean, jika anda hendak sukses dari Koperasi, maka anda harus mendirikan koperasi tersebut kemudian mengajak orang lain untuk bergabung, dan bukannya dengan ikut koperasi punya orang.
Kedua, ketika sebuah perusahaan membutuhkan dana untuk mengembangkan usaha, maka perusahaan akan secara jelas memperinci berapa dana yang dibutuhkan, akan digunakan untu apa dana tersebut, kemudian bisa mengajukan pinjaman ke bank, menerbitkan saham, atau menerbitkan obligasi. Ketika dana yang dibutuhkan sudah terkumpul, maka that’s it, acara penggalangan dananya selesai (perusahaan tidak lagi berusaha mengumpulkan dana), dan selanjutnya perusahaan bisa fokus pada pengembangan usaha menggunakan dana yang sudah terkumpul tadi. Contohnya, kalau anda ikut membeli saham IPO, dan ternyata jumlah saham yang tersedia lebih sedikit dari yang hendak anda beli, maka perusahaan yang bersangkutan tidak akan menerbitkan saham baru ataupun menaikkan harga sahamnya, melainkan jumlah saham yang anda terima tetap segitu, dan kelebihan uang yang anda bayarkan akan dikembalikan (makanya kemudian ada istilah oversubscribe).
Sementara koperasi? Entah bagaimana dengan kegiatan usaha yang mereka lakukan, namun yang jelas kegiatan penggalangan dananya dilakukan setiap saatdan hampir tidak pernah mengenal kata berhenti. Contohnya di KC, sampai sekarang mereka masih menerima investor baru, dan juga masih menerima tambahan setoran modal dari investor yang sudah ada. Pertanyaannya, ketika KC pada mulanya membutuhkan dana katakanlah Rp100 milyar untuk usaha tambang batubara, misalnya, maka ketika dana yang dikumpulkan dari masyarakat lebih besar dari itu, katakanlah mencapai Rp150 milyar, lalu akan dipakai untuk apa kelebihan modal senilai Rp50 milyar tersebut? Sementara untuk menemukan peluang usaha yang baru lagi, itu juga tidak mudah bukan?
Tapi bahkan hal itu tidak menghentikan koperasi untuk terus menarik dana dari masyarakat, dan hal ini mengingatkan penulis akan Skema Ponzi lagi. Kalau anda belajar sejarahnya, pencipta skema Ponzi, yakni Charles Ponzi, sebenarnya tidak sengaja dalam menciptakan skema tersebut. Pada tahun 1918, Charles, yang ketika itu bekerja di sebuah toko di Boston, Amerika Serikat, menerima surat dari sebuah perusahaan di Spanyol yang memintanya untuk mengirim katalog produk yang dijual tokonya. Didalam amplop surat tersebut, Charles menemukan sebuah kupon yang disebut international reply coupon (IRC), yang bisa ditukar dengan selembar perangko. Perusahaan Spanyol tadi menyertakan kupon IRC didalam suratnya agar Charles bisa menukar kupon tersebut dengan perangko, sehingga ia tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk mengirim katalog yang diminta ke Spanyol.
Menariknya, ketika Charles pergi ke Kantor Pos untuk menukar kupon tersebut dengan selembar perangko, ternyata yang didapat bukan selembar perangko, melainkan beberapa, padahal yang dibutuhkan hanya selembar. Peristiwa perang dunia kesatu menyebabkan terjadinya perbedaan nilai antara biaya pengiriman pos di Eropa dan Amerika, dimana selembar kupon IRC hanya bisa memperoleh selembar perangko di Italia atau Spanyol, namun di Amerika, kupon tersebut bisa ditukar dengan beberapa lembar perangko. Alhasil Charles jadi memperoleh sejumlah uang tunai ketika menjual kembali kelebihan perangko yang tidak digunakan.
Charles segera menyadari bahwa ia baru saja menemukan peluang bisnis disini. Ia langsung menemui teman-temannya untuk meminjam uang, dan berjanji kepada mereka bahwa ia akan mengembalikannya dalam waktu 90 hari, plus bunganya. Uang tersebut digunakan untuk membeli kupon IRC dari Spanyol, yang akan ia tukarkan dengan perangko di Amerika, kemudian perangko tersebut dijual untuk meraih keuntungan sekian kali lipat. Charles berhasil mengumpulkan uang US$ 1,250, dimana ia berjanji akan memberikan bunga sebesar US$ 750. Dan hanya dalam waktu 90 hari berikutnya, ia benar-benar membayar total US$ 2,000 kepada teman-temannya.
Dan tak lama kemudian, berita tentang ‘investasi mudah’ yang ditawarkan oleh Charles seketika booming. Teman-teman Charles tadi kembali meminjamkan uang kepadanya, bahkan dengan jumlah yang lebih besar, termasuk mengajak orang lain untuk bergabung. Dan Charles menerima berapapun uang yang dipercayakan kepadanya. Hanya dalam tempo kurang dari setahun, nilai investasi yang ia kelola melonjak dari US$ 1,250 menjadi US$ 420,000, dan terus saja naik.
Namun setelah beberapa waktu, Charles sudah tidak lagi membeli kupon IRC tadi karena supplier-nya di Spanyol sudah kehabisan stok, yang itu berarti ia sudah tidak lagi menghasilkan keuntungan, padahal dana investor terus berebut untuk masuk. Dan fatalnya, Charles membiarkan hal tersebut terjadi, hingga akhirnya ia terpaksa membayar bunga kepada investor lama menggunakan dana yang disetor oleh investor baru, karena memang ‘perusahaan investasinya’ sudah tidak lagi menghasilkan keuntungan.
Dan itulah awal mulai skema Ponzi yang terkenal. Bisa kita lihat disini bahwa Mr. Charles Ponzi ini pada awalnya tidak berniat untuk berbuat jahat atau menipu investornya, namun kesalahannya adalah dia terlalu serakah, dimana ia terus menampung dana yang masuk meski sebenarnya ia tidak mampu lagi mencetak keuntungan.
Nah, meski tidak sama persis, namun di Koperasi juga bisa saja terjadi hal yang sama, karena berbeda dengan perusahaan yang hanya menarik dana (dari bank, atau dari masyarakat melalui skema penjualan saham) sebesar sekian kemudian selesai, sebuah koperasi biasanya menampung berapapun dana yang disetor oleh anggotanya, padahal pengelola koperasi ini belum tentu mampu untuk terus menemukan peluang usaha yang baru. Terkait kenapa Koperasi Cipaganti (KC) terlambat dalam membayar bunga kepada para investornya, pihak pengelola mengatakan bahwa itu karena bisnis batubara yang mereka jalani sedang lesu karena turunnya harga batubara, sehingga mereka kesulitan dalam memutar modal yang diperoleh dari anggota koperasi (investor). Tapi jika demikian maka kenapa sampai hari ini KC masih menerima setoran modal dari nasabah? Jawabannya ya, karena mereka itu koperasi!
However, ini bukan berarti KC menjalankan skema Ponzi, dan juga tidak ada bukti terkait hal itu. Namun yang penulis penulis garis bawahi disini adalah, ketika bisnis batubara yang dijalani KC lesu, lalu bagaimana KC akan memutar dana milik para anggota koperasi, sementara jumlah setoran dana juga terus bertambah?
Itu yang kedua. Yang ketiga, semua orang selalu mengatakan bahwa yang namanya investasi itu ada risikonya. Termasuk menempatkan dana di koperasi, itu juga ada risikonya. Tapi yang terkadang dilupakan orang disini adalah, risiko sudah pasti ada, namun seberapa besar risiko tersebut? Dan apakah setimpal dengan tingkat imbal hasil yang bisa diperoleh?
Nama ‘Koperasi Cipaganti’ mendadak tenar belakangan ini hanya karena pengelolanya terlambat dalam membayar bunga bulanan kepada para investor (entah terlambat atau memang tidak dibayarkan, who knows), padahal selama bertahun-tahun sebelumnya bunga bulanan tersebut selalu lancar dibayarkan (dan itu pula sebabnya KC sukses menjadi besar). Namun karena adanya peristiwa ini, para investor seketika ‘sadar’ bahwa modal mereka mungkin saja tidak balik lagi. Sebab jika untuk membayar bunga-nya saja KC mengalami kesulitan, lalu bagaimana dengan pokok investasinya? Katakanlah anda menyetor Rp100 juta ke KC, dan dijanjikan akan menerima bunga sebesar 1.5% per bulan, alias Rp1.5 juta. Tapi jika untuk Rp1.5 juta itu saja KC tidak bisa membayarnya, lalu bagaimana mereka akan mengembalikan setoran modal anda yang sebesar Rp100 juta tadi?
Dan hal inilah yang seringkali dilupakan oleh investor koperasi. Ketika KC mampu dengan rutin membayar bunga kepada investornya, maka investor pun akan merasa tenang, dan berpikir bahwa modalnya nggak kemana-mana. Tapi ketika KC mulai macet dalam pembayaran bunga tersebut, maka barulah investor akan sadar bahwa modal mereka bisa saja tidak kembali sama sekali. Padahal sejak awal, hanya karena koperasi lancar membayar bunga, itu tidak menjadi jaminan bahwa modal yang anda tempatkan tidak akan hilang! Katakanlah KC rutin membayar bunga 1.5% per bulan selama setahun, sehingga total keuntungan yang anda peroleh adalah 18%. Tapi setelah akhir tahun, dana anda ternyata tidak bisa ditarik sama sekali, bagaimana tuh? Ya itu berarti, kerugian yang anda derita menjadi jauh lebih besar ketimbang bunga yang sudah anda peroleh, benar begitu bukan?
Jadi dalam hal ini, penulis menganggap bahwa investasi di koperasi memiliki risiko yang tidak setimpal dengan potensi keuntungan yang bisa diperoleh. Kalau anda beli saham A di harga Rp1,000, misalnya, dan ternyata itu merupakan keputusan yang keliru, dimana anda terpaksa harus cut loss di harga Rp900. Maka meskipun anda rugi, namun uang anda masih ada sisanya bukan? Memang, ada juga beberapa kasus dimana seorang investor saham bisa menderita kerugian hingga 100%, dimana perusahaannya bangkrut sama sekali, sahamnya di-suspend dan tidak dicabut lagi, harga sahamnya mati di gocap, dan seterusnya. Tapi penulis sendiri rasa-rasanya belum pernah ketemu investor saham yang ‘habis’ seperti itu. Pada tahun 1998, Pak Lo Kheng Hong pernah merugi hingga 90%, dan mungkin itu adalah ‘rekor’ kerugian terburuk yang pernah dialami oleh seorang investor saham. Tapi toh beliau sukses bangkit lagi, dan malah jadi investor besar hingga saat ini.
Sementara di koperasi, in case dimana koperasi tidak sanggup lagi membayar bunga maupun pokok investasi para nasabahnya, maka aset-aset milik koperasi bisa dilikuidasi kemudian dananya dibagikan kepada para nasabah. Tapi dalam prakteknya, penulis belum pernah mendengar ada koperasi yang melakukan hal tersebut. Termasuk dalam kasus KC, kasusnya masih tarik ulur sampai sekarang. Beberapa nasabah mengalami kesulitan dalam menarik pokok investasinya, beberapa lancar saja, dan selebihnya macet sama sekali.
Kesimpulan
Koperasi Cipaganti adalah salah satu koperasi yang sudah cukup lama beroperasi di Indonesia (kalau gak salah sudah lebih dari 10 tahun), dan selama itu hampir tidak pernah ada masalah dengan para investornya. Jika belakangan ini mereka kesulitan dalam membayar bunga bulanan, maka itu adalah karena adanya peristiwa yang tidak bisa dihindari, yakni penurunan harga batubara dan mungkin juga masalah di bisnis lainnya yang dijalani oleh KC (kalau gak salah ada bikin hotel juga, tapi pembangunannya mandek). Jadi kurang lebih sama lah seperti perusahaan batubara yang sempat untung besar di tahun 2011, namun kesininya laba mereka turun drastis dan sahamnya pun ikut turun, dan alhasil menyebabkan kerugian bagi para investor yang memegang sahamnya.
Dan berbeda dengan perusahaan batubara yang langsung ‘angkat bahu’ ketika investor protes kenapa sahamnya turun (apalagi Bakrie, jangan harap bisa ketemu mereka deh), manajemen KC cukup bertanggung jawab dengan paling tidak bersedia bertemu dengan para investor (terakhir tanggal 3 Mei kemarin). Persoalannya adalah, karena KC ini sudah terlanjur besar, maka investornya juga sangat banyak, dan alhasil kasusnya jadi booming. Penulis terus terang tidak tahu bagaimana kira-kira kelanjutan dari masalah KC ini, namun dengan ukuran dana kelolaan yang pastinya sudah jauuuuh lebih besar ketimbang sekian tahun yang lalu, jelas tidak mudah bagi KC untuk memutar dana kelolaan tersebut agar bisa memperoleh keuntungan yang paling tidak cukup untuk membayar bunga kepada para investor. Tapi kalau kita melihat bahwa sektor batubara perlahan tapi pasti mulai pulih kembali, maka mungkin juga terdapat harapan bahwa pada akhirnya nanti bisnis batubara yang dijalani KC ini kembali pulih, dan mereka juga kembali mampu membayar kewajibannya kepada para investor seperti biasa.
Kemudian terkait PT Cipaganti Citra Graha, Tbk (CPGT) yang listing di bursa, itu bukan Koperasi Cipaganti/KC, karena tidak mungkin sebuah koperasi bisa IPO (CPGT ini sebuah PT, bukan koperasi). CPGT merupakan salah satu anak usaha dari Grup Cipaganti yang khusus bergerak di bidang jasa transportasi, travel wisata, dan penyewaan alat-alat berat. Sementara untuk bisnis batubara dan lainnya, itu dipegang oleh anak usaha Grup Cipaganti yang lain lagi (jadi CPGT sama sekali tidak mengelola bisnis batubara). Sementara KC, karena dia bukan merupakan perusahaan, maka secara struktur perusahaan bukan merupakan bagian dari Grup Cipaganti. Namun KC adalah salah satu pemegang saham dari CPGT, dalam hal ini sebanyak 4.4% per April 2014.
Grup Cipaganti adalah salah satu grup usaha paling terkemuka di Indonesia, tapi sekaligus yang paling unik karena mereka juga mengelola sebuah koperasi, yakni Koperasi Cipaganti ini (meskipun tidak melalui grup-nya), dimana anggotanya terbuka untuk umum (kalau koperasi milik grup usaha lain kan, biasanya keanggotaannya terbatas untuk pihak internal, misalnya koperasi karyawan PT ABCD, dan seterusnya). Jadi sayang sekali kalau reputasinya yang baik selama ini harus tercoreng hanya karena masalah KC ini. Well, namun bisnis apapun selalu ada risikonya [...]

Seminar Value Investing, Jakarta

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar/workshop edukasi investasi saham di Jakarta, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi yang Praktis dan Sederhana ala Investor Besar!’. Dan berikut keterangan selengkapnya:


Penulis bersama para peserta dari acara seminar sebelumnya
Kisi-kisi materi yang akan disampaikan:
  1. Metode sederhana untuk menganalisis dan mempelajari perusahaan agar anda bisa mengetahui segala sesuatu tentang perusahaan tersebut hingga sedetil-detilnya, sehingga anda tidak akan lagi membeli kucing dalam karung,
  2. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari.
  3. Penjelasan serta contoh-contoh yang mudah diaplikasikan mengenai value investing, serta penjelasan mengenai mengapa semua investor besar di seluruh dunia adalah merupakan value investor. Termasuk Warren Buffett dan Lo Kheng Hong, mereka berdua adalah juga value investor!
  4. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham yang bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  5. Tehnik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Memperoleh pencerahan mengenai konsep dari value investing, mengetahui cara untuk menentukan harga wajar saham, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi,
  2. Mampu meraih keuntungan investasi yang konsisten, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan kawan-kawan sesama investor saham (we are making a value investor community here).
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin CityMall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 17 Mei 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  •  Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BNI no rek 3384.34.774 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Jakarta, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Maldini Pali, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus!
  1. Suara penulis ketika mengisi seminarnya akan direkam, dan anda bisa meminta copy dari rekaman tersebut segera setelah seminarnya selesai. Dengan demikian maka anda bisa mendengarkan kembali seminarnya kapanpun anda mau. Gratis!
  2. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi kepada penulis melalui email, dan akan saya balas secepatnya. Of course, yang ini juga gratis :)
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.

Update: Kursinya sudah penuh! Jadi dengan ini pendaftarannya resmi ditutup. Untuk jadwal training selanjutnya adalah bulan Juli 2014 (tanggalnya belum [...]

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Sekolah Internet Indonesia

Rahasia Flip Klik Disini

Panduan Rahasia Dropshipping

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.