Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Prospek Saham-Saham Batubara: Update

Dua bulan lalu, tepatnya pada minggu pertama di bulan Oktober, penulis memperhatikan fakta bahwa harga batubara, dalam hal ini harga batubara acuan di Newcastle Australia, yang sebelumnya turun terus hingga mentok di US$ 53 per ton pada awal tahun 2016, ketika itu sudah mulai naik kembali hingga ke level US$ 72 per ton. Kemudian setelah mempertimbangkan beberapa faktor, penulis ketika itu menyimpulkan bahwa harga batubara mungkin masih akan terus naik dalam jangka panjang, dan alhasil saya mengambil salah satu saham batubara yang menurut kami cukup bagus, yakni Harum Energy (HRUM), ketika itu pada harga 1,050 (anda bisa baca lagi analisisnya disini).
Dan beberapa waktu kemudian memang benar bahwa harga batubara lanjut naik, tapi mungkin tak ada seorangpun yang menyangka bahwa kenaikannya akan sangat cepat, dimana saat ini harga batubara Newcastle sudah tembus level psikologis US$ 100 per ton! Akibatnya bisa ditebak: Sejak awal Oktober lalu, saham-saham batubara melonjak sangat tinggi hingga puluhan bahkan ratusan persen hanya dalam hitungan minggu, padahal mereka sudah naik banyak sebelumnya (saham-saham batubara sudah naik sejak awal tahun 2016, tapi volume transaksinya baru ramai setelah Oktober). Ambil contoh HRUM, dimana jika kita ambil harga tertingginya yakni 2,640, maka artinya dia sudah naik 300% secara YTD, tapi HRUM tidak sendirian, karena mayoritas saham batubara lainnya juga naik ratusan persen dihitung sejak awal tahun. Jadi ketika pada Oktober kemarin kenaikan IHSG mulai mentok seiring dengan meredupnya euforia tax amnesty, namun pasar tidak serta merta menjadi sepi karena para trader menemukan mainan baru: Saham-saham komoditas, terutama batubara.
Namun seperti biasa, ketika saham atau sektor tertentu mengalami kenaikan maka beberapa investor mungkin sudah masuk sejak awal di harga bawah, tapi beberapa lainnya terlambat masuk di harga atas, dan masalahnya tentu saja kita gak bisa mengharapkan bahwa sebuah saham akan naik terus setiap hari, melainkan pasti ada turunnya. Dan itu pula yang terjadi pada saham-saham batubara, dimana sudah dua mingguan terakhir ini beberapa saham batubara, meski tidak semua, mulai turun. Jika anda sudah masuk di saham-saham batubara sejak Oktober lalu, atau lebih awal lagi, maka posisi anda masih sangat aman. Tapi bagaimana kalau anda baru masuk belakangan? Nah, kalau gitu maka kita perlu me-review outlook sektor batubara sekali lagi, and here we go!
Pertama, harga batubara Newcastle yang sekarang sudah di level US$ 100 per ton, itu sudah lebih tinggi dibanding prediksi dari pihak perusahaan batubara itu sendiri. Yang penulis ingat adalah, pada April 2016 kemarin, manajemen United Tractors (UNTR) mengatakan bahwa harga batubara di level US$ 50-an per ton sudah sangat rendah, dan dalam lima tahun kedepan (terhitung mulai tahun 2016 ini) harga batubara akan naik ke kisaran US$ 52 – 72 per ton. Report dari manajemen HRUM juga memprediksi hal yang sama, yakni bahwa dalam jangka panjang harga batubara akan stabil di rata-rata US$ 75 per ton. Yang terbaru, ketika manajemen Bumi Resources (BUMI) membuat kesepakatan penyelesaian masalah utangnya dengan para kreditor, salah satu poin asumsi yang digunakan adalah bahwa harga batubara, meski mungkin bisa fluktuatif dalam jangka pendek, namun seharusnya tidak akan turun hingga lebih rendah dari US$ 70 per ton.
Namun tidak ada satupun dari tiga perusahaan diatas yang menyebutkan bahwa harga batubara akan stabil di level US$ 100 per ton. Jadi kalaupun dalam jangka pendek harga batubara bisa naik atau turun ke level berapa saja, termasuk naik hingga tembus level US$ 100 per ton seperti sekarang, namun pada akhirnya dia akan terkoreksi untuk kemudian stabil di kisaran US$ 70 – 75 per ton, atau setidaknya itulah perkiraan dari pihak perusahaan. Tapi mungkin bisa juga begini: Ketika manajemen memprediksi bahwa harga batubara akan stabil di US$ 70 – 75 per ton, maka itu sebenarnya bukan prediksi, melainkan asumsi terendah yang diharapkan akan terjadi, dimana jika harga batubara masih lebih rendah dari US$ 70 per ton seperti beberapa waktu lalu, maka volume produksi batubara akan terus diturunkan untuk mengurangi supply batubara di pasar (dan memang itulah yang dilakukan UNTR dkk pada tahun 2015 – 2016 ini). Tapi asalkan harga batubara naik sampai US$ 70 per ton saja, sukur-sukur lebih tinggi lagi, maka volume produksi bisa dinaikkan kembali.
However, itu tetap bukan berarti bahwa harga batubara akan naik terus, dan masalahnya kondisi saat ini tentu saja berbeda dengan tahun 2011 lalu, dimana harga batubara naik sampai level US$ 142 per ton karena melonjaknya permintaan dari China karena tingginya pertumbuhan ekonomi disana, tapi sekarang ini perekonomian China sudah (dan masih) slowing down. Ketika kemarin harga batubara naik dengan sangat cepat, yakni hampir dua kali lipat hanya dalam hitungan bulan, kemungkinan itu lebih karena faktor technical rebound setelah downtrend berkepanjangan selama lima tahun (sejak tahun 2011), dimana rebound ini memang menandakan bahwa long term downtrend bagi harga batubara sudah berakhir, tapi untuk bisa naik lagi ke level seperti tahun 2011 lalu maka itu tentu perlu waktu, mungkin tidak sampai lima tahun, tapi juga gak akan secepat dua bulan kemarin.
Jadi kecuali nanti ada sentimen positif entah itu dari China, Jepang, atau dari dalam negeri, penulis kira cepat atau lambat harga batubara akan turun dulu sejenak, tapi gak akan sampai ke level US$ 50-an, melainkan level US$ 70-an sudah mentok banget. Setelah itu barulah perlahan tapi pasti harga batubara akan naik kembali, namun kenaikannya tidak akan sekencang dua bulan lalu, melainkan mungkin malah akan stabil/stagnan pada level harga tertentu. Sebab ketika harga nanti batubara sudah ‘confirm’ diatas US$ 70 per ton hinga seterusnya, maka ketika itulah BUMI dkk akan kembali meningkatkan volume produksi batubara mereka masing-masing sehingga meningkatkan supply batubara di pasar, dan pada akhirnya membuat harga batubara stuck di level tertentu.
Kedua, jika benar bahwa harga batubara dalam beberapa waktu kedepan bakal turun sejenak, maka saham-saham batubara yang sudah overheat kemarin juga akan ikut turun. Kenapa penulis katakan overheat? Karena beberapa saham batubara yang tadinya murah, katakanlah PBV-nya hanya 1 kali atau kurang dari itu, sekarang malah sudah lebih mahal dibanding saham kebanyakan termasuk blue chips sekalipun.
Tapi seperti halnya harga batubara gak akan balik lagi ke level US$ 50-an per ton, maka HRUM dkk juga gak akan balik lagi ke posisi bottom mereka di awal tahun 2016 lalu. Fase cooling down ini mungkin akan terjadi sampai April 2017 nanti, yakni ketika para emiten merilis laporan keuangan untuk Kuartal I 2017, dimana jika hasilnya bagus maka ketika itulah saham-saham batubara akan punya alasan fundamental untuk naik lagi.

Belum Euforia

Terakhir, ketiga, pertanyaan besarnya sekarang adalah, berapa sih valuasi yang wajar bagi saham-saham batubara? Terkait hal ini kita bisa lihat lagi tahun 2011 lalu, yakni ketika sektor ini sedang jaya-jayanya: Pada tahun 2011 tersebut, penulis masih ingat, PBV terendah dari sebuah saham batubara adalah 4 koma sekian kali. Ketika itu saham-saham batubara memang dihargai sangat mahal, bahkan lebih mahal dibanding saham-saham consumer goods, karena investor mem-valuasi ekuitas berdasarkan jumlah cadangan batubara terbukti (proven reserves) yang dimiliki perusahaan. Jadi misalnya PT A ekuitasnya Rp1 trilyun, tapi market capnya Rp5 trilyun (PBV 5 kali), tapi bahkan valuasi segitu dianggap masih murah, karena PT A ini punya cadangan batubara sebanyak sekian puluh juta ton yang kalau digali semuanya terus dijual, maka akan diperoleh laba bersih sekian puluh trilyun! Jadi sekali lagi market cap PT A yang sampai 5 kali ekuitasnya, itu masih murah, karena ekuitas tersebut belum menghitung ‘ekuitas’ berbentuk batubara yang sudah terbukti ada didalam tanah, tapi belum dijadiin duit. Beberapa perusahaan yang dianggap memiliki cadangan batubara yang sangat besar (dibanding volume produksi tahunannya), sahamnya bahkan dihargai pada PBV 7, 9, hingga 11 kali.
(tapi memang, kesalahan mendasar para analis yang merekomendasikan saham-saham batubara ketika itu adalah mereka menyangka bahwa harga jual batubara saat itu, yakni US$ 140-an per ton, akan selamanya stabil di level tersebut dan gak akan pernah turun)
Okay, tapi itu di tahun 2011. Kalau sekarang bagaimana? Well, meski kemarin saham-saham batubara pada terbang semua, tapi PBV yang paling tinggi baru mencapai tiga koma sekian kali (saham PTBA), tapi itu tetap sudah lebih tinggi dibanding valuasi saham-saham di BEI, yang belakangan ini jadi murah lagi seiring lesunya IHSG. Dan kalau dibandingkan dengan kinerja para emiten batubara hingga Kuartal III 2016 kemarin, dimana pendapatan serta laba bersih mereka sama sekali belum improve dan ROE-nya masih pada kecil, maka jelas valuasi saham-saham batubara pada saat ini sudah tidak bisa disebut murah lagi, dimana jika nanti harga batubara mulai konsolidasi, maka saham-saham batubara juga akan turun sejenak untuk menemukan titik keseimbangan mereka masing-masing.
Namun ketika fase konsolidasi/cooling down ini berakhir, maka barulah saham-saham batubara kemudian akan naik lagi, dan kali ini kenaikannya akan berdasarkan pada bagus tidaknya kinerja laporan keuangan mereka di awal tahun 2017 nanti (jadi nggak lagi naik rame-rame hanya karena mengikuti kenaikan harga batubara). Sebagai contoh, tahun 2011 lalu ada dua saham batubara milik penulis yang naik gila-gilaan: Resource Alam Indonesia (KKGI), ketika itu dari 1,700-an sampai 8,000-an, dan Garda Tujuh Buana (GTBO), dari 100-an sampai 1,500-an, dan bahkan pada tahun 2012 lanjut naik lagi sampai 5,000-an (sadly, kita udah keluar lama sebelum GTBO ke 5,000).
Dan.. anda tahu kenapa dua saham itu bisa naik sebanyak itu? Well, it’s simple, karena keduanya sempat membukukan annualized ROE hingga 60 persen! Atau jauh lebih tinggi dari emiten batubara lainnya. Plus, ketika saham-saham batubara yang gede-gede seperti BUMI dan Adaro Energy (ADRO) sudah dihargai pada PBV 4 kali, PBV KKGI dan GTBO, berdasarkan harga mereka ketika masih belum naik (KKGI di 1,000-an, sementara GTBO di 100-an), hanya satu koma sekian kali, yang mungkin karena status mereka sebagai saham kecil sehingga tidak dilirik orang, dan baru dilirik setelah laporan keuangannya tampak extraordinary.
Kalau menurut anda kenaikan saham-saham batubara kemarin terbilang luar biasa, berarti anda belum pernah megang GTBO.

So, trust me, mau sebuah saham naik banyak atau sebaliknya turun banyak dalam jangka pendek, namun pada akhirnya orang akan melihat laporan keuangan perusahaan, dan juga valuasi sahamnya. Jadi tugas kita sangat sederhana: Pada April 2017 nanti, fokuskan diri anda untuk menggali laporan keuangan semuaemiten batubara, cari yang kinerjanya paling bagus, sekaligus sahamnya paling murah! Then buy it for mid or long term.
Tapi kalau sekarang ini saya udah pegang saham batubara gimana? Well, entah itu anda sudah masuk sejak awal sehingga posisinya sudah profit, atau baru masuk belakangan sehingga posisinya nyangkut, tapi asalkan anda bisa berpandangan sedikit jauh ke depan, dalam hal ini minimal hingga April 2017, maka sebenarnya gak ada alasan untuk buru-buru keluar. Karena meski harga batubara mungkin memang akan turun dulu, tapi asalkan turunnya gak sampe dibawah US$ 70 per ton maka para emiten batubara tetap akan meningkatkan volume produksi mereka, dan itu artinya pendapatan serta laba bersih mereka akan naik lagi, dan profitabilitas mereka akan ‘gemuk’ lagi, mungkin gak akan sampai seperti tahun 2011 lalu, tapi proyeksi ROE 20 – 25% di tahun 2017 untuk perusahaan batubara yang sehat tentunya sangat realistis, dan itu akan jadi alasan yang bagus untuk memvaluasi sahamnya pada PBV 2 – 3 kali, atau lebih tinggi lagi.
Kemudian, terakhir, ingat bahwa pada tahun 2011 lalu, semua orang mem-valuasi saham-saham batubara berdasarkan cadangan terbukti yang dimiliki perusahaan, tapi sejauh ini belum ada seorang analispun yang menyebut-nyebut soal ‘cadangan batubara’, yang itu artinya sektor batubara ini masih belum mencapai puncak euforia-nya. Kalau mau contoh yang lebih dekat, pada awal hingga pertengahan tahun 2013 lalu, saham-saham konstruksi naik gila-gilaan hingga sampai pada satu titik dimana para analis mengatakan bahwa PBV 4 – 5 kali bagi Adhi Karya (ADHI) dkk adalah wajar, mengingat perusahaan sudah mengantongi kontrak konstruksi jangka panjang senilai sekian trilyun yang masih belum tercermin dalam ekuitasnya (ketika itu ADHI sudah berada di level 4,000. Coba lihat berapa ADHI sekarang?). Kontrak konstruksi disini adalah mirip seperti cadangan batubara.
Intinya, ketika orang-orang mulai tidak realistis dalam menghitung valuasi sebuah saham, maka itulah puncak euforia-nya, dan selanjutnya saham tersebut mungkin akan jatuh. Tapi sejauh ini pada sektor batubara belum terjadi euforia semacam itu, dan valuasi saham-saham di sektor ini juga memang belum terlalu tinggi. And that means, dengan asumsi bahwa anda bisa melihat saham-saham batubara ini minimal untuk jangka menengah (antara 3 hingga 12 bulan kedepan), then the opportunity is still there!
Jadwal Seminar Investasi Saham: Value Investing, Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 3 Desember 2016. Keterangan selengkapnya baca disini.

Buletin Analisis IHSG & stockpick saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 3 Desember 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir), dan merupakan acara seminar terakhir di tahun 2016 ini. Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Desember 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email hingga sebulan kedepan, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama teman-teman peserta di seminar 29 Oktober kemarin

Dari Mana Asalnya Sentimen Negatif?

Kemarin, Jumat 18 Nopember, IHSG kembali turun sebesar 0.44%, dimana meski itu tidak tergolong sebagai penurunan yang ekstrim, katakanlah seperti Jumat minggu lalu dimana IHSG drop 4.01%, namun yang menarik adalah santernya berita, atau lebih tepatnya rumor, bahwa pada tanggal 25 November nanti akan terjadi bank rush (atau money rush) dimana dikatakan bahwa orang-orang akan menarik uang dari rekening tabungan mereka sehingga bank-bank akan mengalami kesulitan likuiditas karena jumlah uang cash berkurang drastis, dan itu pada akhirnya akan mengganggu perekonomian nasional.

Nah, sebenarnya isu rush ini sudah beredar di media sosial sejak sekitar semingguan lalu, dimana nongol propaganda entah dari mana asalnya, yang mengajak orang banyak untuk membawa Indonesia kembali ke krisis 1998 dalam rangka ‘memberi pelajaran’ kepada Pemerintah, dalam hal ini Presiden Jokowi, agar tidak lagi ‘melindungi’ Ahok, yang sebelumnya dituduh telah melakukan penistaan agama. Tapi setelah IHSG kemudian jatuh, dan pada Jumat ini IHSG kembali turun setelah dua hari kemarin rebound, maka isunya kemudian menjadi santer, dan beberapa investor mulai khawatir kalau Indonesia mungkin beneran bakal jatuh ke lembah krisis, jika ‘bank rush’ itu benar-benar terjadi.
Lalu apakah pada tanggal 25 November nanti beneran bakal terjadi rush, yang pada akhirnya menyebabkan krisis ekonomi? Well, bisa saja sih, tapi harusnya nggak lah. I mean, meski beberapa orang mungkin sukses terprovokasi, tapi sebagian besar lainnya tentu menyadari bahwa kalau mereka mengikut ajakan tersebut dan Indonesia benar-benar jatuh krisis, maka yang kena batunya ya mereka sendiri. At the end, tidak ada seorangpun yang bersedia untuk di-PHK dari pekerjaannya lalu terpaksa ngantri sembako lagi seperti delapan belas tahun lalu, apapun alasannya.
However, yang akan kita bahas disini bukanlah soal isu bank rush diatas.
Sekarang, perhatikan: Isu bank rush ini sebenarnya sudah nongol dan masuk pemberitaan sejak beberapa hari lalu, tapi baru benar-benar diperhatikan oleh pelaku pasar pada satu atau dua hari terakhir ini saja. Pertanyaannya, kenapa kok para investor dan trader terkesan cuek waktu isunya pertama kali nongol, dan mereka baru khawatir sekarang? Dan jawabannya bisa dilihat lagi diatas: Setelah pada Jumat 18 November IHSG kembali turun, maka isunya kemudian menjadi santer, dan beberapa investor mulai khawatir kalau Indonesia mungkin beneran bakal jatuh ke lembah krisis, jika ‘bank rush’ itu benar-benar terjadi.
Jadi begini urutan kejadiannya: Pertama-tama, IHSG bergerak turun, dimana pada hari Jumat kemarin IHSG sebenarnya sempat turun cukup dalam hingga tembus 1%, sebelum kemudian naik lagi pas pre-closing (sehingga secara keseluruhan hanya turun 0.44%). Ketika IHSG turun maka investor tentu menjadi khawatir dan juga bingung sehingga mereka kemudian menelpon brokernya masing-masing, untuk bertanyakenapa kok IHSG turun? Apa penyebabnya? Intinya para investor ini meminta kejelasan dari pihak sekuritas tentang apa yang sedang terjadi sehingga IHSG turun, agar mereka tidak lagi kebingungan.
Sekarang, coba bayangkan ketika seorang broker/pialang saham diserbu telepon oleh nasabahnya, lalu ia hanya menjawab, ‘Gak apa-apa pak/bu, ini cuma koreksi wajar, nanti juga IHSG naik lagi.’ Maka bagaimana kira-kira reaksi si nasabah? Bakal tambah bingung bukan? Karena jawaban si broker tidak menjelaskan apapun. Seorang broker atau analis sekuritas sebenarnya bisa saja memberikan jawaban yang lebih masuk akal tentang penyebab IHSG turun, seperti naiknya sudah terlalu tinggi, kinerja fundamental emiten belum begitu bagus, ini cuma fluktuasi biasa, dan seterusnya. Tapi biasanya jawaban yang diminta si nasabah adalah terkait sentimen, peristiwa, atau berita apa yang sedang beredar, karena itu adalah jawaban yang jauh lebih simpel dibanding kalau dijelaskan bahwa valuasi IHSG udah mahal bla bla bla.
Karena itulah, seorang pialang saham mau tidak mau harus menemukan semacam alasan sentimen untuk menjelaskan penyebab penurunan IHSG kepada nasabahnya. Dan karena kebetulan lagi ada rumor bank rush diatas, maka si broker akan menjawab, ‘Ada rumor bahwa tanggal 25 November nanti bakal ada bank rush, makanya IHSG turun’. Dalam hal ini si pialang tidak lagi peduli soal apakah rumor tersebut benar adanya ataukah cuma isu murahan, karena yang terpentingadalah si nasabah memperoleh penjelasan! Karena dalam banyak kasus,  ketika nasabah bertanya ‘Kenapa kok IHSG/saham saya turun?’, dan pialang hanya menjawab ‘Ga apa-apa, nanti juga naik lagi’, atau malah ‘Saya juga gak tau kenapa’, maka itu hanya akan bikin nasabah merasa kesal, dan mungkin akan menutup akunnya/pindah ke sekuritas lain.
Tapi setelah para nasabah memperoleh penjelasan bahwa rumor rush itulah yang bikin IHSG turun, maka itulah yang kemudian menyebabkan rumor/beritanya menjadi santer, karena biasanya si nasabah akan laporan ke temen-temennya sesama investor dan trader (biasanya di grup-grup Whatsapp gitu) tentang ‘informasi penyebab penurunan IHSG’ yang ia peroleh. Dan ketika informasinya sudah menyebar luas, maka informasi tersebut kemudian dipercaya sebagai kebenaran, tak peduli meski informasi tersebut sejatinya ngawur atau hoax.
Okay, jadi mari kita runut lagi: Seandainya IHSG masih naik/tidak turun, maka tidak akan ada investor yang menelpon brokernya, dan tidak ada broker yang ‘dipaksa’ untuk menjelaskan bahwa ‘IHSG turun karena anu’, dan alhasil tidak akan beredar sentimen negatif apapun, termasuk investor yang sudah mendengar isu bank rush sejak awal juga akan cuek saja, karena toh nyatanya IHSG masih naik kok.
Tapi ketika IHSG turun, apalagi turunnya dalem, maka seketika itulah bakal nongol cerita jelek/sentimen negatif yang macem-macem. Memang dalam banyak kasus, yang pertama keluar adalah sentimen negatifnya, kemudian baru sahamnya atau IHSG-nya turun. Tapi di waktu-waktu yang lain, sering juga terjadi sahamnya atau IHSG-nya yang turun duluan, kemudian baru sentimen negatifnya nongol belakangan. Terkait hal ini penulis jadi ingat dimana pada awal tahun 2016 lalu saham-saham perbankan dihantam oleh sentimen negatif tentang pembatasan NIM, dan kemudian disusul perubahan sistem BI Rate menjadi BI 7-day Rate. Alhasil saham-saham banking blue chips seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI semuanya bertumbangan. Tapi yang paling dalam ketika itu adalah BBNI, yang anjlok dari 5,300 sampai 4,300 di bulan Mei. Ketika itulah kemudian santer berita jelek lainnya, yakni bahwa Bank BNI terseret oleh kasus kredit macet Trikomsel Oke (TRIO) senilai Rp1 trilyun (padahal itu sebenarnya berita lama di tahun 2015, dimana efek negatifnya, jika memang ada, sudah terefleksi pada kinerja BBNI di tahun 2015 tersebut).
Tapi ketika akhirnya BBNI naik lagi di bulan Juni – Agustus, maka seperti yang bisa anda tebak, cerita soal kredit macet TRIO diatas menghilang begitu saja, termasuk juga soal pembatasan NIM dll, karena memang sejatinya itu tidak berpengaruh buruk apapun ke perbankan. Tapi yah, percaya deh, kalau besok-besok BBRI dkk jeblok lagi, maka cerita soal bank rush diatas bakal lebih rame lagi dibicarakan, dan mungkin malah bakal keluar isu jelek yang lainnya lagi.
Logo dari salah satu saham blue chip favorit penulis, dimana meski BBNI ini fundamentalnya bagus dan valuasinya juga murah, tapi kalau ada sentimen jelek/IHSG lagi turun maka dia gampang banget turunnya, dan juga gampang banget naiknya ketika kemudian IHSG pulih, sehingga kita tinggal ‘pasang ember’ untuk nampung sahamnya di harga bawah

Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Dari mana asalnya berita atau sentimen negatif? Jawabannya adalah, seringkali dari kekhawatiran kita sendiri sebagai investor. Sekarang jujur aja deh: Kalau IHSG jeblok, maka anda akan langsung panik nyari informasi dan bertanya kesana kemari bukan? Yakni untuk memperoleh jawaban, ini sebenarnya ada apa? Seorang investor biasanya hanya akan tetap tenang (ketika IHSG jeblok) jika ia sudah cukup berpengalaman atau merupakan fund manager/analis profesional, yang mampu menganalisa serta menjelaskan naik turunnya IHSG/saham-saham tertentu dari sisi analisis fundamental, teknikal, atau lainnya, sehingga tidak perlu lagi memperoleh jawaban dari broker atau siapapun tentang apa yang sedang terjadi. Analoginya seperti ketika seorang anak balita sakit demam, maka seringkali orang tuanya panik dan menganggap bahwa anaknya mungkin tidak hanya sekedar demam biasa, melainkan lebih parah dari itu, entah itu kena typhus, demam berdarah, atau lainnya. Kadang-kadang bahkan setelah diperiksa ke dokter dan hasilnya si anak cuma demam ringan, tapi tetap saja orang tuanya khawatir. Tapi setelah demam si anak mereda dengan sendirinya, maka ketika itulah kekhawatiran orang tuanya juga ikut reda, dan berbagai ‘sentimen negatif’ bahwa si anak mungkin menderita demam berdarah dll, kemudian dilupakan begitu saja.
Tapi jika si orang tua sejak awal merupakan dokter, perawat, atau cukup mengerti ilmu kesehatan, atau bukan dokter namun sudah berpengalaman sebelumnya melihat anaknya sakit, maka mereka akan lebih tenang dan tidak akan khawatir yang macam-macam.
Fenomena dimana muncul sentimen negatif yang berlebihan ketika IHSG atau saham-saham tertentu turun drastis inilah yang menyebabkan saham-saham yang sebelumnya sudah turun cukup dalam menjadi turun lebih dalam lagi (we call this panic selling), hingga valuasinya menjadi unbelievably undervalue. Namun bagi sebagian investor lainnya yang mampu fokus pada aspek fundamental serta mampu melihat bahwa keberadaan sentimen negatif tersebut hanyalah sementara, maka ketika terjadi panic selling maka itu merupakan peluang emas, dimana seorang investor bisa memperoleh profit ekstra hingga ratusan persen jika mampu memanfaatkan peluang tersebut. Pertanyaannya, menurut anda sendiri, sekarang ini sudah terjadi panic selling apa belum???
Btw, untuk minggu depan kita akan bahas lagi soal prospek dan outlook saham-saham batubara, yang belakangan ini mulai cooling down setelah sebelumnya naik terus.
Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2016, dan bukunya sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya

Ebook Analisis Kuartal III 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus baik secara historis maupun berdasarkan laporan keuangan terbaru, memiliki reputasi yang baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG), dan
  5. Sahamnya sedang dalam momentum kenaikan/memiliki sentimen positif serta prospek yang menarik.
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan saat ini ebooknya sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

Antara Trump, Kondisi Politik dalam Negeri, dan Penurunan IHSG

Jumat kemarin IHSG drop hingga 4% dalam sehari, dimana itu adalah peristiwa yang sangat jarang terjadi bahkan dalam kondisi market bearish seperti tahun 2015 sekalipun. Sebenarnya karena posisi IHSG sendiri masih relatif tinggi, yakni dikisaran 5,200-an, maka penurunan kemarin tidak sampai menimbulkan kondisi panik. Karena jika anda sudah belanja saham-saham bagus sejak awal tahun 2016 lalu, maka posisi anda pada saat ini seharusnya masih profit, hanya mungkin nilai profitnya tidak lagi sebesar sebelumnya.

However, karena penurunan kemarin berbarengan dengan terjadinya beberapa peristiwa penting baik dari dalam maupun luar negeri, maka kemudian timbul spekulasi yang mengkait-kaitkan kejatuhan IHSG dengan entah itu terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, atau dengan ribut-ribut soal Ahok yang belum sepenuhnya clear. Pada kondisi inilah, dalam rangka untuk menyusun kembali strategi investasi kedepannya, seorang investor dituntut untuk mampu memilah-milah informasi yang beredar, untuk membedakan mana informasi yang valid berdasarkan fakta dan data, dan mana informasi yang hanya bersifat opini atau rumor, yang sejatinya tidak berpengaruh apapun pergerakan IHSG maupun saham-saham tertentu (terkait hal ini, anda bisa baca lagi tips-tipsnya disini).
Kabar baiknya, berhubung posisi IHSG saat ini masih cukup tinggi, maka sama sekali masih belum terlambat jika kita hendak cuci gudang, jika memang itu yang harus dilakukan. Lalu apa saja data dan fakta yang harus kita perhatikan? Well then, here we go:
Pertama, dan ini adalah poin yang paling mudah untuk dilihat, IHSG pada posisi 5,232, jika dihitung sejak awal tahun maka sudah naik 13.9%, dan itu adalah kenaikan yang sangat tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks saham di negara-negara besar seperti Amerika Serikat (6.8%), Inggris (8.8%), China (minus 9.7%), dan Jepang (minus 8.7%). Termasuk jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, maka kenaikan IHSG juga tetap tergolong tinggi dibanding Malaysia (minus 3.4%), Singapura (minus 2.4%), Australia (1.9%), dan hanya kalah dibanding Thailand (16.4%). Dengan mempertimbangkan fakta bahwa pasar modal di seluruh dunia sebenarnya masih lesu di tahun 2016 ini, termasuk masih banyak indeks saham yang bukannya naik tapi malah turun (Indeks Straits Times Singapura malah sudah minus selama dua tahun berturut-turut) maka kenaikan IHSG terbilang terlalu cepat. Karena fakta lainnya adalah, kinerja para emiten besar di BEI pada tahun ini masih belum sepenuhnya pulih dibanding tahun 2015 lalu, dimana laba bersih mereka masih pada turun. I mean, jika ASII dkk kembali membukukan kenaikan laba yang signifikan pada tahun ini, maka kenaikan 13.9% bagi IHSG memiliki dasar fundamental yang kuat dan bisa berlanjut, sama seperti tahun 2009 lalu dimana IHSG naik kenceng pasca market crash 2008, karena pada tahun 2009 tersebut para emiten kembali (atau masih) membukukan kinerja yang sangat baik.
Tapi sayangnya bukan itu yang terjadi, sehingga suka atau tidak, IHSG cepat atau lambat akan terkoreksi untuk kembali ke track-nya.
Kedua, sepanjang paruh pertama 2016, tepatnya hingga awal Juni 2016, pasar sebenarnya masih bergerak secara moderat sesuai dengan perkembangan fundamental ekonomi dalam negeri, dimana IHSG, meski naik dari posisi awal tahun yakni 4,593, namun kenaikannya berhenti di level 4,800-an.
Namun masih di bulan Juni, terjadi satu peristiwa penting yang menyebabkan optimisme pasar meningkat signifikan: Kebijakan pemerintah dengan judul Tax Amnesty (TA), yang diharapkan akan: 1. Meningkatkan penerimaan pajak negara untuk membiayai pembangunan infrastruktur, 2. Menarik dana milik konglomerat yang selama ini ‘diparkir’ diluar negeri untuk balik lagi ke tanah air (repatriasi), dimana sebagian diantaranya akan masuk ke pasar modal, dan 3. Proses pendirian perusahaan dan investasi akan dipermudah untuk mengakomodir dana repatriasi, dan itu pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Anda bisa baca lagi cerita lengkapnya disini, disini, dan disini.
Dan berbeda dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang lainnya, cerita tentang TA ini sangat populer dan ramai dibicarakan oleh banyak kalangan mulai dari konglomerat, pemilik toko kelontong, PNS, karyawan swasta, termasuk tentunya oleh para pelaku pasar saham. Booming TA kemudian menarik minat investor asing untuk belanja saham besar-besaran. Pada pertengahan Agustus 2016, asing sudah membukukan net buy Rp38 trilyun, atau dengan kata lain mereka belanja saham senilai Rp34 trilyun hanya dalam tempo dua bulan (karena pada pertengahan Juni, sebelum booming TA, net buy asing cuma Rp4 trilyun). Dan alhasil IHSG lompat kodok dari 4,800-an hingga 5,450-an.
Namun, seperti juga sentimen-sentimen positif lainnya yang ramai dibicarakan pada satu waktu tapi tak berapa lama kemudian dilupakan, maka demikian pula dengan TA, yang pada penghujung Agustus sudah tidak lagi ramai dibicarakan, dan pasar sempat berada dalam kondisi ‘quiet’, dimana tidak ada sentimen positif maupun negatif apapun, dan IHSG hanya muter-muter disitu-situ saja (baca lagi analisisnya disini). Nevertheless, beberapa saham terutama dari kelompok second liner yang sebelumnya naik banyak pada Juni – Agustus, memasuki bulan September mereka mulai turun kembali. Namun karena para big caps masih kokoh di posisi mereka masing-masing, maka IHSG juga tetap bertahan di 5,400-an, meski juga sulit untuk naik. Pada titik inilah kita bisa menyimpulkan bahwa kalau nanti pasar ‘rame’ lagi entah itu karena sentimen positif atau negatif, maka IHSG bisa dengan mudah jatuh, jika sentimennya ternyata negatif. Actually, pada awal September kemarin, yakni ketika sentimen TA sudah meredup sama sekali, IHSG juga sempat drop sejenak ke posisi 5,146. Tapi kemudian keluar berita bahwa perolehan dana tebusan TA, yang sempat jalan ditempat pada awal-awal pelaksanaannya, ternyata sukses naik hingga hampir tembus Rp100 trilyun pada batas akhir TA Tahap I di tanggal 30 September. Alhasil IHSG langsung naik lagi, tapi kembali kenaikannya tertahan di resisten 5,450-an.
Jadi ketika sekarang IHSG drop, maka sebenarnya itu cuma mengulang penurunan yang terjadi pada awal September lalu, dimana seperti halnya pada awal September, pada saat inipun nobody talk about tax amnesty.
Ketiga, terkait cerita soal Donald Trump, sekarang ini semua orang punya pendapat dan analisisnya masing-masing tentang bagaimana pengaruh terpilihnya Trump sebagai Presiden AS terhadap perekonomian global termasuk Indonesia, dimana sebagian orang menganggap bahwa pengaruhnya bakal bagus, sebagian lagi menganggap bakal jelek, dan selebihnya malah bingung sama sekali. Kemudian terkait demo Ahok, setelah demo besar tanggal 4 November lalu, juga ada rumor bahwa akan terjadi demo susulan pada tanggal 25 November nanti, dan ketidak pastian situasi politik di dalam negeri terkait Ahok ini mungkin akan terus berlanjut sampai Pilkada DKI itu sendiri digelar pada Februari 2017 nanti.
Nah, kalau pasar saham sudah diselimuti oleh ‘ketidak pastian’ seperti itu, dimana semua orang kebingungan tentang bagaimana kalau Trump begini, bagaimana kalau Ahok begitu, maka menurut anda apa yang akan terjadi terhadap IHSG? Ya turun lebih lanjut, tentu saja, dan itu bukan karena pertumbuhan ekonomi kita drop atau apa, tetapi karena investor akan memilih untuk minggir dulu sampai semuanya clear. Termasuk kurs Rupiah juga bisa anjlok begitu hanya karena para trader forex memilih untuk keluar dulu, jadi bukan karena Fed Rate bakal naik bla bla bla. Ditambah lagi, sekarang sudah akhir tahun, dimana orang-orang (termasuk penulis) lebih sibuk mikirin mau berlibur tahun baruan kemana ketimbang ngurusin saham terus setiap hari. I mean, come on man! We need to rest our eyes and fingers!
The Bright Side
Sampai pada poin ketiga diatas, semuanya menunjukkan bahwa IHSG mungkin akan turun lebih lanjut, dan bahwa penurunan 4% kemarin mungkin baru permulaan. Namun demikian tunggu sampai anda membaca poin keempat, kelima, dan keenam. Okay, kita langsung saja.
Keempat, selepas booming TA, sebenarnya pasar kembali ketiban booming yang lain, yakni kenaikan harga-harga komoditas, terutama batubara, dimana saham-saham batubara naik kenceng dan mulai menarik perhatian investor sejak Oktober lalu. Sebenarnya ketika IHSG mulai dilanda euforia tax amnesty pada Juni, ketika itu saham-saham batubara juga sudah mulai naik, tapi kenaikannya belum banyak diperhatikan investor. Tapi setelah investor mulai banyak menaruh perhatian ke sektor ini sejak Oktober kemarin, dan sebagian diantaranya juga sudah mulai meraup profit besar, maka artinya optimisme pasar akan tetap terjaga, dan itu akan mencegah IHSG agar tidak turun terlalu dalam (karena IHSG hanya akan benar-benar jeblok jika semua orang berteriak panik dan putus asa, remember that).
Kabar baiknya, dampak dari kenaikan harga batubara yang sudah terjadi sejak pertengahan tahun lalu harusnya baru akan kelihatan di laporan keuangan mereka pada akhir tahun ini, dan awal tahun 2017 nanti. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan tahun 2011 lalu, dimana meski rally kenaikan harga batubara sudah terjadi sejak tahun 2009, namun saham-saham batubara baru benar-benar rame dan mendominasi pasar saham pada tahun 2011 tersebut (yang saya ingat betul adalah KKGI, yang meroket dari 1,700 ke 8,000). Intinya, terlepas dari kemungkinan fluktuasi jangka pendek (karena gak mungkin juga suatu saham, entah itu saham batubara atau lainnya, bakal naik terus tiap hari, melainkan pasti ada turunnya), namun yang jelas kita sudah tahu saham apa yang layak diburu pada awal tahun 2017 nanti, dimana itu, sekali lagi, akan menjaga optimisme para pelaku pasar.
Kelima, kita tahu bahwa sejak tahun 2015 lalu sampai sekarang, Pemerintah sebagai ‘grup konglomerasi’ terbesar di BEI banyak melakukan aksi korporasi mulai dari IPO BUMN, IPO anak usaha BUMN, right issue BUMN, dan yang terbaru wacana sekuritisasi aset-aset BUMN, dalam rangka membiayai pembangunan infrastruktur. Nah, agar berbagai aksi korporasi tersebut sukses, maka apa syarat yang mutlak diperlukan? Kondisi pasar yang stabil, tentu saja! Contohnya, kalau pada satu waktu Pemerintah hendak meng-IPO-kan sebuah BUMN, tapi di waktu yang bersamaan IHSG jeblok sampai 4,500, misalnya, maka kira-kira IPO-nya bakal laku nggak? You know the answer. Jadi agar kondisi pasar tetap stabil dan optimisme investor tetap terjaga, maka pemerintah punya kepentingan untuk menjaga agar IHSG, kalaupun nanti turun maka penurunannya tidak akan sampai bikin orang-orang desperate, dan actually gampang saja bagi mereka untuk melakukan itu. Maksud penulis, anda pikir gimana caranya PPRO, SMBR, INAF, hingga TLKM bisa naik sampai setinggi itu, dan dalam waktu yang gak nyampe satu tahun?
So, believe me, kalau nanti IHSG drop hingga ke level dimana Pemerintah menganggap bahwa level tersebut sudah terlalu dalam, maka mereka akan langsung take action, entah itu melalui BEI, OJK, atau lainnya, dan seketika itu pula pasar akan dengan cepat pulih. Masih ingat ketika IHSG dilanda panic selling di bulan Agustus 2015 lalu? Ketika itu Menteri Rini juga langsung instruksi ke BBRI dkk untuk melakukan buy back saham, dan tak lama kemudian di bulan November-nya IHSG naik tajam, dan alhasil IHSG secara keseluruhan tidak turun terlalu dalam sepanjang tahun 2015.
Dan terakhir, keenam, setelah hampir saja jatuh ke lembah krisis pada tahun 2015 lalu, pada tahun 2016 ini fundamental makroekonomi Indonesia perlahan tapi pasti mulai pulih, thanks to gencarnya pembangunan infra oleh pemerintah, belum termasuk banyaknya paket kebijakan ekonomi untuk menstimulus sektor swasta (sejauh ini sudah ada 14 paket kebijakan), dan mulai berkembangnya industri e-commerce. Pada tahun 2015 lalu pertumbuhan ekonomi sempat tercatat hanya 4.67%, Rupiah anjlok sampai hampir tembus Rp15,000, inflasi 8% (waktu itu karena kenaikan harga BBM, setelah subsidi BBM dicabut sama sekali), pengangguran 6.2%, dan neraca ekspor impor juga sempat defisit (meski kemudian surplus lagi pada akhir tahun).
Sementara sekarang? Well, pertumbuhan ekonomi terakhir 5.02%, Rupiah stabil di Rp13,000, inflasi sangat bagus di level 3.3%, pengangguran 5.6%, dan neraca ekspor kembali surplus secara konsisten sejak awal tahun. Sementara faktanya di lapangan, anda mungkin bisa merasakan sendiri kalau jualan apapun pada tahun ini sudah lebih laku dibanding tahun 2015 lalu (sekedar mengingat lagi gimana sepinya iklim usaha pada tahun 2015 lalu, anda bisa baca lagi artikel ini). Kalaupun ada perkembangan yang tampak kurang bagus, maka itu adalah meningkatnya rasio utang Pemerintah terhadap PDB, dari 25% menjadi 27%, karena Pemerintah memang banyak mengambil utang untuk keperluan infrastruktur, namun tentu juga harus diingat bahwa rasio 27% tersebut masih sangat aman. Sebagai perbandingan, pada tahun 2004 – 2007 lalu rasio utang kita mencapai 35 – 52%, tapi toh perekonomian ketika itu baik-baik saja, dan IHSG malah naik kenceng.
And you know what? Semua perkembangan positif diatas dicapai ketika harga-harga komoditas terutama batubara dan CPO, yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia selama ini, sejatinya masih belum sepenuhnya pulih! Actually, ketika perekonomian di tanah air mulai terasa lesu selepas tahun 2011 lalu, yang jadi penyebabnya ya penurunan harga batubara dan CPO, yang notabene merupakan andalan utama ekspor Indonesia. Nah, berhubung kita tahu bahwa sekarang ini harga-harga komoditas mulai naik lagi, maka menurut anda bagaimana kira-kira outlook makroekonomi Indonesia untuk tahun 2017 mendatang???
Biji sawit dan batubara, dua komoditas utama Indonesia
Kesimpulan
Kesimpulannya IHSG mungkin akan lanjut turun, dan itu sangat normal, tapi penurunannya tidak akan terlalu dalam, apalagi sampai ke posisi panic selling seperti tahun 2015 lalu, dan penulis termasuk yang optimis bahwa IHSG akan menutup tahun 2016 pada posisi naik (dibanding posisinya awal tahun lalu, yakni 4,593). Kemudian, terlepas dari berapapun posisi IHSG pada akhir tahun nanti, maka kecuali terjadi peristiwa penting yang benar-benar berdampak serius terhadap iklim investasi di pasar modal, kita akan memulai tahun 2017 dengan optimisme tinggi, dimana jika para emiten kembali membukukan kenaikan laba setelah ‘puasa’ selama tiga tahun terakhir, maka pada tahun 2017 tersebut kita akan kembali menyaksikan IHSG break new high. We’ll see.
Okay, lalu bagaimana strateginya? Apa yang harus saya lakukan sekarang? Well, it’s obvious, isn’t it? Kalau posisi anda masih full di saham, maka jual sebagian pegangan untuk memperoleh sejumlah cash, minimal 30% dari total nilai porto, tapi gak perlu sampai full cash juga karena toh ini cuma sementara, dimana asalkan anda memegang saham bagus pada harga murah, pada akhirnya saham-saham anda akan naik lagi. Just remember: Mau IHSG naik atau turun, yang penting fundamental ekonomi kita baik-baik saja. Pada tahun penghujung tahun 2015 lalu, ketika hampir semua orang terkapar KO di pojok ring setelah IHSG drop total 12.1% sepanjang tahun, penulis menjadi satu dari sedikit investor yang tetap optimis bahwa di tahun 2016 nanti kita akan mendulang profit besar (And indeed we did it, hehehee). Anda bisa baca lagi ulasan akhir tahun 2015 disini.
Balik lagi ke soal strategi. Namun kalau anda mau belanja full power, maka anda baru boleh melakukannya pada sekitar akhir Desember nanti, yakni ketika semua keributan soal Trump, Ahok dll ini mereda. Just remember: Seperti halnya kehebohan soal Tax Amnesty akhirnya meredup seiring dengan berjalannya waktu, maka semua kebingungan soal ‘Trump Effect’ ini juga akan dilupakan orang, dan pasar akan pulih dengan sendirinya ketika orang-orang menyadari bahwa mereka sudah bisa membeli BBRI dkk pada harga yang, well, reasonable.

Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya [...]

IHSG Drop 4%, What Happen?

Jumat kemarin IHSG ditutup anjlok 4.01% ke posisi 5,232, dimana penurunan ini bahkan sedikit lebih dalam dibanding peristiwa panic selling pada bulan Agustus 2015 (waktu itu IHSG turun 3.97%), dan asing pun jualan gila-gilaan hingga Rp3 trilyun di pasar reguler. Sebelumnya, kurs Rupiah juga terjerembab hingga sempat tembus Rp13,500-an per US Dollar setelah muncul spekulasi bahwa Ms. Yellen akan segera menaikkan Fed Rate karena ditekan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) yang beru terpilih kemarin, Donald Trump.

Sementara didalam negeri, kondisi politik pasca demo besar 411 juga belum sepenuhnya pulih, termasuk beredar rumor bahwa akan ada demo susulan. Ketika beberapa hari terakhir ini Presiden Jokowi banyak berkunjung ke markas TNI dan Polri, beberapa pihak berspekulasi bahwa mungkin negara dalam kondisi darurat atau semacamnya, dan itulah yang menyebabkan asing kemarin panik. Indikasi paniknya asing juga bisa dilihat dari indeks EIDO, yang semalem drop lagi 4.46%, atau totalnya 12.4% hanya dalam tiga hari!
So what the hell is going on???
Nah, sebelum kita akan membahas soal dinamika pasar ini lebih lanjut, mari kita dengar apa pendapat Anda tentang:
  1. Perkembangan pasar akhir-akhir ini,
  2. Bagaimana kira-kira kedepannya, dan
  3. Peluang apa yang mungkin akan timbul dan bisa kita manfaatkan.
Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar [...]

Pentingnya Menyaring Informasi dalam Berinvestasi

Pada tanggal 4 November kemarin, seperti yang kita ketahui, di Kota Jakarta terjadi demo besar-besaran yang melibatkan ratusan ribu orang, yang menuntut Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, agar diproses hukum terkait kasus dugaan penistaan agama. Dan seperti biasa, ketika terjadi peristiwa skala nasional seperti itu maka media sosial serta forum-forum internet langsung dipenuhi oleh opini serta komentar dari para pengamat dadakan, dan Facebook seketika ramai oleh debat pro – kontra soal apakah Ahok bersalah atau tidak.

Sebelum heboh cerita soal demo Ahok ini, anda mungkin masih ingat kalau beberapa bulan lalu juga pernah ada demo besar yang dilakukan para supir taksi yang menolak kehadiran taksi dan ojek online, yang juga berujung rusuh. Ketika itupun medsos dengan cepat dipenuhi oleh komentar dari para ‘ahli transportasi’ dadakan, beberapa diantaranya mungkin bahkan sengaja meluangkan waktu untuk baca-baca soal legalitas taksi online dll, agar mendukung argumen yang ia sampaikan ketika berdebat dengan temannya sendiri di FB. Sebelumnya lagi, Jakarta juga pernah dikepung oleh massa buruh yang berdemo untuk menuntut kenaikan upah, dan lagi-lagi orang banyak beropini serta berdebat soal berapa seharusnya upah buruh yang layak, dll.

Salah satu foto ketika ramai demo taksi online, beberapa waktu lalu, yang isunya sekarang sudah dilupakan sama sekali. Courtesy www.timeindonesia.co.id

Pendek kata, ketika terjadi suatu peristiwa besar dan penting yang menjadi perhatian khalayak ramai, maka akan muncul banyak sekali opini dan komentar yang beredar terkait peristiwa tersebut, baik itu yang berasal dari pengamat dadakan atau memang ahli sungguhan. Kemudian, pada kondisi tertentu seringkali tulisan yang bersifat opini, komentar, hingga rumor tersebut jumlahnya jauh lebih banyak dan jauh lebih menyebar ketimbang pemberitaan atau informasi yang sifatnya fakta dan data, dan kondisi tersebut pada akhirnya membuat semua orang menjadi punya versi informasinya masing-masing tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Contohnya ya soal demo Ahok tadi: Mau anda berpendapat sekeras apapun bahwa Ahok bersalah, atau bahwa Ahok tidak bersalah, maka akan selalu ada orang lain yang berargumen sebaliknya. Dan kalau kejadiannya begitu maka pendapat siapa yang benar? Apakah pendapat anda, atau pendapat orang lain tersebut?
Okay, lalu apa hubungannya hal ini dengan kegiatan investasi kita di saham?
Kalau anda belakangan ini banyak melihat orang gontok gontokan soal demo Ahok di medsos, maka coba anda ingat lagi di waktu-waktu yang lain ketika tidak terjadi peristiwa besar yang menjadi isu nasional: Gak banyak orang yang berdebat tentang sesuatu bukan? Singkatnya, meski pada waktu-waktu tertentu ada banyak orang yang meng-unfriend temannya sendiri hanya karena berbeda pendapat tentang suatu isu, tapi pada waktu-waktu yang lain mereka ya damai-damai saja, karena tidak ada kejadian penting yang menarik untuk diperdebatkan.
Sementara di pasar saham? Well, disini nyaris setiap hari terjadi ‘perdebatan’, karena setiap investor selalu memiliki pendapat yang berbeda dibanding investor lain terkait prospek dan valuasi saham-saham tertentu, arah pasar, perkembangan ekonomi makro, dan seterusnya. Malah, transaksi saham itu bisa terjadi karena adanya perbedaan pendapat, dimana ketika A menjual sahamnya kepada B, maka A berpendapat  bahwa saham tersebut mungkin akan turun (makanya dia menjualnya), sementara B berpendapat bahwa saham itu mungkin akan naik (makanya dia membelinya).
Jadi yang namanya pasar saham itu dari dulu sampai sekarang, dan juga sampai seterusnya, akan selalu dipenuhi oleh opini dan pendapat yang berbeda satu sama lain, dimana jumlah informasi yang bersifat opini ini akan selalu lebih banyak ketimbang informasi yang berdasarkan fakta dan data. Hanya bedanya, kalau anda sudah invest saham sejak tahun 1990-an, maka ketika itu belum ada Facebook, Whatsapp, dan bahkan telepon seluler juga masih belum banyak yang punya. Alhasil penyebaran informasi terkait saham atau IHSG, dimana mayoritas dari informasi tersebut bersifat opini (atau rumor), terbilang sangat terbatas. Sehingga kalau anda ketika itu sudah mampu menganalisis dengan benar berdasarkan laporan keuangan dll, maka informasi yang anda peroleh hampir seluruhnya bersifat data dan fakta yang valid, dan bukan sekedar ‘denger-denger’ atau ‘katanya’ (kata siapa emang?).
Sementara sekarang ini yang terjadi sebaliknya: Perkembangan teknologi membuat penyebaran informasi terjadi sangat cepat, termasuk pemberitaan atau informasi yang tidak valid/hanya bersifat rumor atau opini, dimana kalau anda kemudian lupa melakukan pekerjaan analisa karena terlalu sibuk mengikuti rumor seperti itu, maka hampir pasti porto anda bakal berantakan. Penulis sering sekali menerima curhatan dari investor yang terjebak membeli saham-saham yang gak jelas pada harga atas, hanya karena saham tersebut ‘lagi ramai diperbincangkan’, atau ‘banyak direkomendasikan oleh analis’. Dan sayangnya tidak hanya investor pemula yang memang belum mengerti cara menganalisis, investor yang sudah berpengalaman pun kadang-kadang masih suka ‘kemakan rumor’, dan alhasil mereka melakukan jual beli saham tidak berdasarkan analisa yang sudah capek-capek dibuat sebelumnya.
Jadi berbeda dengan jaman dulu dimana investor mungkin agak kesulitan dalam memperoleh informasi yang valid (kalo mau dapetin laporan keuangan juga harus cari hardcopy-nya, jadi gak bisa tinggal download seperti sekarang), pada jaman sekarang investor justru harus bisa menyaring setiap informasi yang masuk, untuk kemudian membedakan mana informasi yang valid/bersifat fakta, dan mana informasi yang hanya bersifat opini atau rumor.
Dan itulah sebabnya, seorang investor/fund manager profesional seringkali agak tertutup dan cuek, dimana ia gak mau ikut grup atau forum, sulit ditelepon, enggan berkomentar soal apapun dan jarang ngomong soal apapun, termasuk gak mau dengerin analisa dari analis/investor lain karena sudah percaya diri dengan analisisnya sendiri (kecuali mungkin analisis atau saran dari satu dua orang yang benar-benar ia percayai, misalnya seperti Warren Buffett yang selalu minta saran dari Charlie Munger). Investor seperti ini juga biasanya jarang mau membaca kabar-kabar atau sentimen yang beredar setiap hari, melainkan hanya fokus pada analisis perusahaan, analisis pasar/IHSG, dan makro ekonomi. Termasuk kalau ada isu atau peristiwa penting yang mungkin bisa berpengaruh terhadap pergerakan saham-saham tertentu atau pergerakan IHSG itu sendiri, contohnya ketika terjadi demo besar kemarin (yang dikhawatirkan bisa bikin pasar jatuh), maka ia akan fokuspada menganalisis tentang seberapa besar kira-kira pengaruh dari demo tersebut terhadap pasar, dan bukannya malah buang-buang waktu dengan membaca ‘opini pengamat’ atau menerima broadcast dengan judul ‘menurut kabar yang beredar’, yang gak jelas asal muasalnya.
Karena hanya dengan cara itulah, benak si investor hanya akan terisi oleh informasi-informasi dan analisis yang berkualitas, valid, serta akurat, dimana dengan bekal informasi valid tersebut ia akan mampu membuat keputusan jual beli saham yang paling tepat, meminimalisir risiko kerugian serta memaksimalkan potensi profit, dan yang paling penting ia gak akan mudah galau atau panik karena terpengaruh oleh kabar yang nggak-nggak.

So, wanna join this ‘nerd investor’ club? And btw, mungkin juga perlu dicatat bahwa hanya karena seorang investor agak tertutup ketika diajak diskusi soal saham, maka itu bukan berarti dia antisocial atau semacamnya. Termasuk kalau anda ketemu penulis di kedai kopi, maka saya akan dengan senang hati ngobrol tentang kuliner, travelling, video game terbaru, sepakbola, kegiatan philanthropy, hingga perkembangan makroekonomi dan dunia usaha. Tapi kalau anda cuma mau bertanya, ‘Pak Teguh, kira-kira saham apa yang bakal naik besok?’

Then I will kick your ass!

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-Saham Pilihan edisi Kuartal III 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya [...]

Peluang Investasi di Sektor Kabel

Tak terasa sekarang sudah di penghujung Oktober, dan itu artinya sudah waktunya bagi investor untuk mengecek kembali kinerja keuangan terbaru dari para emiten, dan juga mencari ‘mutiara terpendam’ alias saham-saham berfundamental bagus yang valuasinya masih murah. Nah, di artikel kali ini kita akan membahas salah satu ‘saham mutiara’ tersebut, dimana saham ini sejatinya sudah penulis discover sejak beberapa waktu lalu, dan untungnya sejauh ini kinerja fundamentalnya terbilang sangat memuaskan.

Saham tersebut adalah KMI Wire & Cable (KBLI). KBLI adalah perusahaan produsen kabel yang bermarkas di Cakung, Jakarta Timur, dan merupakan salah satu perusahaan kabel tertua, terbesar, serta paling terkenal di tanah air, sekaligus salah satu pemasok kabel utama untuk PLN. Penulis pertama kali memperhatikan KBLI ini pada tahun 2013 lalu, tepatnya di bulan April, dimana ketika itu sedang booming cerita ‘pembangunan infrastruktur’ (yang kurang lebih sama booming-nya seperti cerita tax amnesty beberapa waktu lalu), yang menyebabkan kenaikan yang luar biasa pada saham-saham infrastruktur, terutama konstruksi. Dan karena salah satu cerita infra tersebut adalah terkait megaproyek pembangunan pembangkit listrik 10,000 MW (yang blueprint-nya sudah diluncurkan sejak tahun 2011), maka beberapa orang ketika itu mulai berspekulasi: Harusnya saham-saham kabel bakalan ikut naik dong? Sementara diantara saham-saham kabel yang ada di BEI, yang fundamentalnya paling bagus (sekaligus sahamnya paling likuid) ya KBLI ini. Namun setelah penulis cek lagi, industri kabel, meski sekilas tampak prospektif karena adanya proyek 10,000 MW tadi, namun risikonya juga sangat besar terutama terkait fluktuasi harga bahan baku logam tembaga yang harus diimpor dari luar negeri, dan itu artinya laba bersih KBLI juga rentan terhadap perubahan kurs Rupiah. Anda bisa baca lagi analisisnya disini.

Sayangnya memasuki paruh kedua tahun 2013, Rupiah ternyata beneran melemah hingga ditutup di level Rp11,000-an per US Dollar, dan terus saja melemah hingga hampir saja mencapai Rp15,000 pada Agustus 2015 lalu. Jadi ya sudah, penulis kemudian melupakan KBLI ini, dimana sahamnya sendiri memang jeblok dari 290 – 300 hingga sempat dibawah 100 pada pertengahan tahun 2015.
Untungnya memasuki tahun 2016, kondisi ekonomi perlahan tapi pasti mulai pulih, Rupiah kembali menguat untuk kemudian stabil di level Rp12,500 – 13,000 per USD, dan KBLI kembali membukukan kenaikan laba. Karena itulah penulis sendiri sejak beberapa bulan lalu mulai kembali mengamati KBLI ini (sahamnya juga masuk ke daftar 30 saham yang dibahas di Ebook Kuartal II 2016), dimana penulis baru ‘sadar’ dengan KBLI ini ketika dia sudah berada di level 270-an (sudah naik banyak dari posisi 120 di awal tahun), tapi bahkan sekarang dia sudah naik lebih tinggi lagi ke level 320-an.
Pertanyaannya tentu, apakah kenaikan KBLI tersebut akan berlanjut? Well, mari kita cek KBLI ini dari sisi perusahaannya dulu. Pertama, KBLI sukses membukukan kenaikan laba pada tahun 2015 meski kurs Rupiah ketika itu sedang rendah-rendahnya, karena pendapatan perusahaan memang meningkat cukup tajam menjadi Rp2.7 trilyun (dari sebelumnya Rp2.4 trilyun di tahun 2014) seiring dengan dipercepatnya proyek pembangunan listrik oleh PLN (dibawah pemerintahan/presiden baru yang dilantik tahun 2014, semua proyek infrastruktur dipercepat pengerjaannya, termasuk proyek 10,000 MW milik PLN dkk). Kedua, tidak hanya dipercepat, proyek 10,000 MW tersebut bahkan ditingkatkan menjadi 35,000 MW, sehingga praktis omzet KBLI akan semakin bertambah. Dan ketiga, hingga saat ini KBLI memproduksi kabel tegangan rendah, kabel tegangan menengah, kabel telepon, serta kawat alumunium dan tembaga untuk bahan baku pembuatan kabel itu sendiri.
Namun sejak tahun 2013 kemarin KBLI sudah punya rencana untuk memproduksi varian produk baru yakni kabel tegangan tinggi, untuk mensuplai kebutuhan pembangunan jaringan listrik milik PLN. Untuk diketahui, kabel tegangan rendah adalah untuk kabel listrik yang ada di rumah-rumah atau gedung, kabel tegangan menengah adalah untuk gardu/tiang listrik di jalan raya atau perumahan, sementara kabel tegangan tinggi adalah untuk gardu listrik yang lebih besar, yang menyalurkan listrik dari pusat daya ke satu wilayah tertentu, misalnya perkotaan (sebenarnya masih ada satu macam kabel lagi yakni kabel tegangan ekstra tinggi, yang dipakai untuk sutet atau menara transmisi listrik yang gede banget itu, tapi KBLI tidak memproduksi kabel tegangan ekstra tinggi tersebut).
Okay, lalu bagaimana realisasi dari rencana diatas? Ini dia: Pada tahun 2015 kemarin perusahaan mulai membeli mesin-mesin untuk membuat kabel tegangan tinggi, dimana jika progress-nya lancar maka pada tahun 2016 – 2017 mendatang KBLI akan sudah mampu memproduksi kabel tegangan tinggi tersebut, dan praktis itu akan kembali meningkatkan pendapatan perusahaan.
Jadi yah, kalau bicara prospek maka KBLI ini menawarkan prospek jangka panjang yang sangat menarik, terutama karena manajemen perusahaan merupakan tipe tradisional yang hanya membuat kabel kemudian dijual, dan tidak pernah mengambil banyak utang. Karena ke-tradisional-annya tersebut, KBLI selama ini hanya tumbuh secara moderat, dimana nilai ekuitasnya hanya naik dari Rp720 milyar di tahun 2011 menjadi Rp1 trilyun pada 2015, sehingga growth rate-nya hanya 9.2% per tahun. Namun sepertinya mulai tahun 2016 ini dan seterusnya, perusahaan sedang dalam momentum untuk tumbuh lebih cepat dari biasanya. Selain akan memproduksi kabel tegangan tinggi, KBLI juga tengah meningkatkan volume produksi kabel tegangan rendah hingga 50% mulai tahun 2016 ini, sesuai dengan peningkatan permintaan dari PLN.
Lalu bagaimana dengan kinerja terbaru perusahaan? Here we go: KBLI membukukan laba bersih Rp228 milyar hingga Kuartal III 2016, yang mencerminkan annualized ROE 24.8%, atau terbilang sangat bagus untuk ukuran saham second liner. Ekuitas KBLI sendiri sudah tumbuh 19.5% sepanjang sembilan bulan pertama 2016, atau sudah lebih cepat dari biasanya, padahal perusahaan masih belum memproduksi kabel tegangan tinggi yang disebut diatas (sebenarnya sudah, tapi baru sebatas kabel tegangan tinggi untuk instalasi bawah tanah). Kalau melihat track recordnya dimasa lalu yang sebenarnya cukup stabil, dimana perolehan laba KBLI hanya turun pada tahun 2013 dan 2014 karena melemahnya Rupiah namun sejatinya pendapatannya masih naik, maka penulis optimis KBLI akan mampu mempertahankan kinerja apiknya hingga akhir tahun 2016 ini, dan demikian pula di tahun-tahun berikutnya pendapatan perusahaan akan naik terus, karena proyek pembangunan pembangkit listrik 35,000 MW juga membutuhkan waktu yang cukup lama hingga tuntas, yakni direncanakan hingga tahun 2019 (tapi pada realisasinya penulis kira bakal butuh waktu lebih lama lagi, karena 35,000 MW itu gede banget lho).
Terakhir, sahamnya? Well, meski sahamnya sudah naik banyak, namun pada harga 328 valuasi KBLI masih rendah di PBV 1.1 kali dan PER 4.3 kali, dimana dengan mempertimbangkan kinerja terbaru perusahaan serta prospek jangka panjangnya, maka normalnya kenaikan tersebut akan berlanjut (meski sahamnya tidak akan naik setiap hari, tentu saja), selain karena hingga saat ini volume transaksi KBLI masih belum begitu likuid dan sahamnya juga belum diperhatikan oleh banyak orang. Jika pada awal tahun 2017 nanti pasar kembali dipenuhi dengan cerita dan sentimen positif terkait pembangunan infrastruktur dll (kalau akhir tahun seperti sekarang pasar memang biasanya sepi dari sentimen-sentimen tertentu), maka cerita soal 35,000 MW diatas akan kembali ramai dibicarakan, dan ketika itulah KBLI mungkin akan benar-benar rally. We’ll see.
PT KMI Wire & Cable, Tbk (KBLI)
Rating Kinerja pada Q3 2016: AA
Rating Saham pada 328: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang KBLI di average 290. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi November 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.
Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihanberdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2016. Anda bisa langsung memperolehnya [...]

Bumi Resources, and The Rising Coal Price

Dalam satu sesi seminar beberapa waktu lalu, seorang peserta bertanya, ‘Pak Teguh, gimana pendapatnya soal Bumi Resources (BUMI)? Waktu itu saya baca tulisan Anda soal restrukturisasi utangnya. Jika restrukturisasi itu sukses, harusnya sahamnya bakal naik banyak dong?’ Dan penulis menjawab, ‘Soal apakah restrukturisasi utangnya bakal sukses atau tidak, soal apakah kinerja BUMI kedepannya akan improve lagi, itu kita tidak ada yang tau. Tapi yang jelas, keputusan untuk membeli BUMI pada harga gocap jelas menawarkan risk and potential gain yang sangat berbeda dibanding membeli BUMI pada harga 1,000. Saya tidak tertarik ketika BUMI ini masih di level 1,000-an, tapi bagaimana kalau di harga 50? Bukankah itu hampir sama seperti kalau kita memperoleh BUMI ini secara gratis???’

BUMI baru saja melaporkan kinerjanya untuk Semester I 2016 pada awal Oktober kemarin, dimana secara umum belum ada improvement berarti: Pendapatannya turun dari US$ 21 menjadi 12 juta, dan labanya masih minus alias rugi US$ 11.8 juta. Ekuitas perusahaan juga masih minus alias defisiensi modal sebesar US$ 2.8 milyar, dan BUMI punya utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam setahun kedepan sebesar US$ 3.6 milyar, dimana jika manajemen tidak berhasil melunasinya, mengajukan penundaan pembayaran, atau mengkonversinya menjadi saham, maka BUMI bisa dipastikan bakal pailit. Dilihat dari sini maka BUMI masih merupakan perusahaan dengan kinerja worst of the worst di jagat BEI. Actually, the company is dying.
Namun dari sisi operasional, maka perusahaan mungkin baru saja melewati masa-masa tersulitnya di tahun 2015 lalu, karena sepanjang Januari – Juni 2016 kemarin, situasinya sedikit banyak mulai ada perbaikan. Okay, mari kita lihat. Pada tahun 2015, BUMI menjual 79.3 juta ton batubara, turun 6.4% dibanding 2014, sementara harga jual batubaranya juga hanya US$ 45 per ton, anjlok dibanding US$ 53 per ton pada 2014. Namun demikian BUMI, seperti juga kebanyakan perusahaan batubara lainnya, sepanjang tahun 2015 terbilang sukses menekan biaya operasional untuk produksi batubaranya (diluar biaya finansial seperti beban bunga utang), dimana cash cost turun menjadi US$ 30 untuk setiap ton batubara yang ditambang, dari sebelumnya US$ 35.
Sementara pada Semester I 2016, volume penjualan batubara BUMI tercatat 41.9 juta ton, atau kembali meningkat 5.1% dibanding periode yang sama tahun 2015, dan cash cost-nya kembali turun jadi US$ 27 per ton. Dan meski harga jual batubara milik BUMI masih kembali turun jadi US$ 40 per ton, namun itu karena harga patokan batubara di Newcastle Australia ketika itu memang lagi rendah-rendahnya, dimana sepanjang Januari – Juni 2016, harga batubara Newcastle tercatat hanya US$ 53 – 57 per ton, dibanding periode yang sama tahun 2015 yang masih US$ 63 – 67 per ton.
Kabar baiknya, belakangan ini harga batubara Newcastle mulai naik lagi.. dimana terakhir sudah tembus US$ 78 per ton! Jadi BUMI, seperti juga perusahaan-perusahaan batubara lainnya, bisa dipastikan akan menikmati kenaikan harga jual batubara sepanjang Semester II 2016 ini, dan laba operasionalnya juga bisa dipastikan akan lebih besar dibanding tahun 2014 dan 2015, mengingat biaya produksi batubara sekarang ini jauh lebih murah dibanding tahun-tahun yang lalu.

Harga batubara dalam 6 bulan terakhir, so far sudah naik hampir 40%

However, mau sebagus apapun perkembangan kinerja BUMI dari sisi operasional, tapi jika perusahaan masih belum bisa membereskan masalah utangnya yang segunung maka laporan keuangannya bisa dipastikan bakal tetap berantakan. Jadi yang penting untuk diperhatikan adalah terkait perkembangan restrukturisasi utang-utang perusahaan. Diatas sudah disebutkan bahwa jika manajemen BUMI tidak berhasil melunasi utang-utangnya, mengajukan penundaan pembayaran, atau mengkonversinya menjadi saham, maka perusahaan bisa dipastikan bakal pailit. Dan karena opsi melunasi terbilang mustahil, maka yang bisa diupayakan adalah penundaan pembayaran atau konversi utang menjadi saham alias restrukturisasi, dimana sudah sejak setahun lalu manajemen mengajukan proposal ke para kreditornya, yang pada intinya adalah mengkonversi utang-utang senilai total US$ 2.8 milyar menjadi saham BUMI dan saham di anak-anak usaha milik BUMI, sementara sisa utang yang US$ 1.2 milyar (BUMI totalnya punya utang senilai sekitar US$ 4 milyar), jangka waktu pelunasannya diperpanjang hingga lima tahun kedepan, dengan imbalan peningkatan nilai collateral. Anda bisa baca lagi analisis detailnya disini.
BUMI akan mengkonversi utangnya dalam waktu dekat?
Nah, setelah lewat satu tahun, sekarang bagaimana perkembangannya? Here we go. Pada tanggal 27 Oktober nanti manajemen BUMI akan mengikuti sidang PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) terkait utangnya yang terancam default senilai Rp28.5 trilyun, dimana hanya ada dua kemungkinan: 1. BUMI akan dipailitkan, atau 2. Utang tersebut dikonversi menjadi saham, minimal sebagian diantaranya. Jika BUMI pailit, maka artinya the end, restrukturisasinya gagal dan Bakrie harus get out dari BUMI, which is unlikely mengingat reputasi Grup Bakrie yang selama ini selalu lolos dari lubang jarum, dan harga batubara belakangan ini (akhirnya) mulai naik.
Sementara jika utang tersebut jadi dikonversi menjadi saham, maka BUMI akan menerbitkan saham baru (right issue) yang akan diambil oleh para kreditornya, dan harga pelaksanaan right issue-nya adalah berdasarkan harga rata-rata di pasar selama 25 hari perdagangan terakhir sebelum tanggal efektif right issue-nya nanti. Nah, disinilah menariknya: Kita tahu bahwa harga rata-rata BUMI selama sebulan terakhir adalah sekitar Rp70 – 80. Jika harga right issue-nya nanti adalah di level 70 – 80 tersebut, maka BUMI harus menerbitkan saham baru dalam jumlah yang amat sangat banyaaaak, yakni hingga ratusan milyar lembar mengingat nilai right issue-nya juga sangat besar, yakni maksimalnya hingga Rp28.5 trilyun. Dan jika BUMI memang harus menerbitkan saham hingga sebanyak itu, maka kepemilikan Bakrie di BUMI akan sangat terdilusi hingga mereka sendiri malah akan jadi pemegang saham minoritas dan kehilangan kendali atas perusahaan, dan Om ARB jelas tidak mau itu terjadi.
Jadi solusinya? Ya saham BUMI di market harus dikerek hingga ke level tertentu, sehingga harga right issue-nya nanti tidak ditetapkan di level 70 – 80 melainkan lebih tinggi dari itu, sehingga jumlah saham baru yang diterbitkan nanti tidak akan terlalu banyak, dan Bakrie akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas di BUMI! Jadi kemungkinan itulah yang menyebabkan saham BUMI naik lagi dua hari terakhir ini. Tapi berbeda dengan kenaikan-kenaikan sebelumnya, kenaikan BUMI kali ini memiliki dasar analisis yang kuat, dan seharusnya akan berlanjut jika manajemen BUMI nanti benar-benar sukses memperoleh persetujuan untuk mengkonversi utang perusahaan menjadi saham.
Wah, jadi kalau gitu BUMI sekarang boleh dibeli dong? Well, I told you one year ago that BUMI is indeed interesting at the price of gocap! But sadly almost nobody listening (anda bisa baca-baca lagi komentarnya di artikel ini). Tapi sekali lagi, tetap harus diingat bahwa kinerja perusahaan masih berantakan, dan bahkan kalaupun manajemen BUMI sukses mengkonversi utangnya, maka itu tidak menjadi jaminan bahwa BUMI akan kembali profit kedepannya, sehingga keputusan untuk masuk ke BUMI saat ini masih lebih dekat ke spekulasi ketimbang investasi. Jika anda mau main aman, maka sebaiknya tunggu beberapa hal berikut: 1. BUMI dipastikan memperoleh persetujuan untuk mengkonversi utangnya, setelah sidangnya tanggal 27 Oktober nanti, 2. BUMI kembali mencatat posisi ekuitas yang positif, alias tidak lagi defisiensi modal, karena memperoleh tambahan modal dari right issue-nya plus berkurangnya nilai utang, dan 3. Perusahaan kembali membukukan laba bersih, mungkin mulai tahun depan atau tahun depannya lagi (2017, atau 2018) dengan asumsi kenaikan harga batubara terus berlanjut, atau minimal gak turun lagi ke US$ 50-an per ton.
Hanya saja, ketika tiga poin diatas akhirnya benar-benar terjadi maka hampir pasti saham BUMI bakal sudah naik duluan, mungkin malah jauh lebih tinggi dari posisinya saat ini (Rp123). Jadi kalau anda berani ambil risiko, well, here you go your ‘saham sejuta umat’, just take it now or never!

Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi November 2016 sudah terbit! Dan Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Ebook Analisis Kuartal III 2016 juga sudah terbit. Dan anda bisa memperolehnya [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 29 Oktober 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 nanti, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 29 Oktober 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama peserta seminar Jakarta
Penulis bersama peserta seminar Surabaya

Update: Kursinya sudah PENUH! Jadi sampai jumpa di jadwal [...]

Ebook Analisis Kuartal III 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal III 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing:
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 7 November 2016. Anda bisa memesannya (preorder) disini.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya), klik gambar untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – [...]

Yuk Nabung Saham!

Pada tanggal 18 dan 19 Oktober nanti, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengadakan acara Seminar Investival 2016 di Gedung BEI, Jakarta, dimana penulis (Teguh Hidayat) diundang sebagai salah satu pembicara. Dan tema diskusi yang akan penulis sampaikan nanti adalah terkait kampanye ‘Yuk Nabung Saham’ yang sudah dicanangkan oleh BEI sejak beberapa waktu lalu. Nah, bagi anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya maka boleh langsung datang aja ke BEI pada hari Selasa, 18 Oktober, pukul 14.00. Acaranya gratis kok. Namun bagi anda yang tidak bisa hadir maka disini kita akan membahas sedikit, apa sih yang dimaksud dengan ‘Yuk Nabung Saham’? Tentunya versi penulis sebagai salah seorang investor full time di pasar modal Indonesia. Okay, kita langsung aja.

Logo ‘Investival’

Kalau mendengar kata menabung, maka kita mungkin akan langsung ingat pepatah ‘hemat pangkal kaya’, and I tell you, pepatah itu memang benar adanya, dimana ‘hemat’ disini berarti menjaga pengeluaran agar kita masih punya sisa uang untuk ditabung. Sekarang begini: Setiap orang tentu punya penghasilan. Termasuk anak sekolah atau mahasiswa yang belum bekerja sekalipun, dia tetap punya penghasilan dalam bentuk kiriman uang saku dari orang tua. Nah, dalam menggunakan uang penghasilan ini, maka terdapat tiga kelompok orang.

Yang pertama adalah mereka yang menghabiskan seluruh penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari, tidak lebih dan tidak kurang. Jadi misalnya anda bekerja sebagai karyawan, dan gaji anda Rp3 juta per bulan, maka pengeluaran anda dalam satu bulan itu ya persis 3 juta juga. Alhasil duit gaji cuma numpang lewat aja di rekening setiap bulannya, nyaris tanpa menyisakan ‘jejak’ sama sekali. Kalaupun ketika akhir bulan masih ada sisa duit maka biasanya langsung dihabiskan untuk seneng-seneng, katakanlah buat belanja di ITC Mangga Dua atau makan-makan di Solaria, karena mereka tahu betul bahwa toh nanti awal bulan rekening gue bakal keisi lagi (don’t worry, be happy!)
Yang kedua adalah mereka yang menghabiskan lebih dari penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari dan gaya hidup. You see, kalau anda masih kuliah atau sudah bekerja namun gajinya masih kecil, maka anda mungkin akan terbiasa menghemat sana sini dan kemana-mana masih pake motor Vespa warisan bokap. Tapi kalau gaji anda sudah naik jadi, let say, Rp10 juta per bulan, maka anda mungkin akan mulai berpikir, nyicil mobil kayanya boleh juga nih? Nah! Ketika seseorang mulai berhutang untuk entah itu memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi sekedar lifestyle, maka sejak saat itulah dia akan berada dalam situasi besar pasak daripada tiang. Beberapa orang mungkin tertarik untuk membeli barang secara kredit karena sekilas tampak lebih murah, tanpa menyadari bahwa kedepannya ia akan ‘menabung’ tapi untuk orang lain, dalam hal ini perusahaan atau bank yang memberikan kredit tersebut.
Terakhir yang ketiga, adalah mereka yang tidak menghabiskan seluruh penghasilannya, melainkan menyisihkan sebagian diantaranya untuk disimpan sebagai aset yang bermanfaat, alias ditabung. Jadi mau gajinya 3 juta, 5 juta, 10 juta dan seterusnya, maka selalu ada sebagian dari gaji tersebut yang disimpan dan tidak diapa-apakan lagi, jadi dianggap uang ilang aja gitu. Dan untuk bisa menabung seperti ini maka sama sekali tidak perlu gaji atau penghasilan yang besar, karena yang penting niat saja. Seseorang dengan gaji 3 juta namun memiliki gaya hidup yang hemat, adalah lebih berpeluang untuk menabung katakanlah 500 ribu per bulan, dibanding orang lain yang memiliki gaji 10 juta tapi punya banyak cicilan dan hobinya nongkrong di mall.
Nah, dari tiga kelompok diatas, menurut anda kelompok manakah yang menjadi lebih makmur setelah beberapa tahun? Yang mampu menabung dan mengumpulkan aset, tentu saja! Ketika seseorang rutin menabung katakanlah Rp1 juta per bulan, maka setelah 5 tahun, ia akan lebih kaya minimal Rp60 juta dibanding mereka yang tidak pernah menabung selama 5 tahun tersebut. Penulis katakan minimal, karena ketika seseorang sudah suka menabung sejak awal, maka nilai setoran tabungannya biasanya akan naik dari waktu ke waktu seiring dengan meningkatnya penghasilan. Misalnya anda bekerja sebagai karyawan fresh graduate dan dapet gaji 3 juta per bulan, maka anda mungkin bisa saving 1 juta atau minimalnya 500 ribu. Tapi beberapa tahun kemudian, setelah gaji anda tembus dobel digit, maka masa iya sih anda masih cuma nabung 1 juta saja per bulannya?
Tapi kalau seseorang tidak pernah suka menabung, maka mau terima gaji berapapun percuma saja, karena akan selalu habis lagi dan lagi.
However, kalau sekedar menabung saja maka hasilnya tidak akan maksimal, karena uang kita akan tergerus oleh hantu bernama inflasi. Jadi jika seseorang hanya menabung saja sebesar Rp1 juta setiap bulannya, maka setelah lima tahun ia memang akan memiliki rekening bank senilai Rp60 juta, namun Rp60 juta di lima tahun kedepan nilainya jelas berbeda dengan Rp60 juta pada saat ini.
Karena itulah, selain menabung, dikenal pula istilah investasi. Dan yang disebut investor adalah mereka yang tidak sekedar mampu menabung atau mengumpulkan aset, tapi juga mampu mengembangkan aset tersebut hingga tumbuh berlipat-lipat dalam jangka panjang. Yup, jadi jika seseorang menabung sebesar Rp1 juta per bulan, maka seperti yang sudah disebut diatas, setelah lima tahun ia akan memiliki aset senilai Rp60 juta.
Namun jika ia mampu menginvestasikan tabungannya tersebut dengan return 20% saja per tahunnya, maka, coba ambil kalkulator anda dan hitung.. Yup! Setelah lima tahun, ia akan memiliki aset senilai Rp107 juta, alias hampir dua kali lipat lebih besar, dan perbedaan nilai aset ini akan lebih besar lagi jika jangka waktunya diperpanjang katakanlah hingga sepuluh, lima belas, atau dua puluh tahun. Okay, biar penulis langsung kasih angkanya saja disini: Jika anda menabung Rp1 juta per bulan selama 20 tahun, maka anda akan memperoleh Rp240 juta. Tapi jika anda menginvestasikan tabungan anda tersebut dengan return 20% per tahun, maka hasilnya adalah, well.. Rp2.7 milyar! Jika anda memang jago investasi, dimana katakanlah rata-rata return-nya mencapai 25% per tahun, maka hasilnya adalah Rp5.1 milyar. Tapi intinya disini adalah, berapapun return investasinya, tapi yang jelas dalam jangka panjang hasilnya akan jauuuuuh lebih besar dibanding jika anda cuma menabung seperti biasa di bank. Selain itu perhatikan pula bahwa ilustrasi diatas adalah dengan asumsi bahwa anda hanya menyetor Rp1 juta saja per bulannya selama 20 tahun, jadi gak pernah dinaikin jadi 2 atau 3 juta gitu. Nah, sekarang bayangkan jika setoran awal anda ke sekuritas bukanlah Rp1 juta per bulan melainkan 5 juta, dan nilai setoran tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu, dan anda juga mampu untuk secara konsisten menghasilkan return 20 – 25% tadi. Maka setelah 10 – 20 tahun, berapa hasilnya???
Jadi pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana caranya agar saya bisa mengembangkan tabungan agar menghasilkan profit 20 atau 25%, atau kalau bisa lebih besar lagi per tahunnya? Well, apakah penulis perlu menjawabnya lagi??? Ya dengan berinvestasi lah! Salah satunya di saham. Hanya tentu, untuk bisa berinvestasi maka perlu ilmu pengetahuan dan juga pengalaman, jadi anda gak bisa langsung menyebut diri sebagai ‘investor’ hanya karena anda sudah membuka rekening di sekuritas (tapi pembukaan rekening itu tetap merupakan langkah awal yang baik). Namun intinya ketika kita berinvestasi di saham, maka niat awalnya haruslah untuk menabung, yakni untuk menyimpan dan mengembangkan aset yang berguna untuk jangka panjang, agar kita menjadi kaya raya suatu hari nanti. Jadikan diri anda sebagai bagian dari kelompok nomor tiga tadi, yakni mereka yang senantiasa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung, dalam hal ini ditabung di saham. Guru besar kita semua, Warren Buffett, pernah berkata, ‘Tidak penting seberapa besar pendapatanmu. Yang penting adalah seberapa besar dari pendapatan tersebut yang gak cuma lewat di rekening bank, melainkan bisa disimpan dan menjadi aset yang bermanfaat untuk jangka panjang’.

Jadi yah, tunggu apa lagi? Yuk, kita nabung saham!

Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal III 2016 akan terbit hari Senin, tanggal 7 November 2016. Anda bisa memperolehnya

Harum Energy

Setahun lalu, tepatnya pada bulan Juli 2015, penulis memperhatikan fakta bahwa ketika IHSG mulai turun, tepatnya 7% secara year to date (YTD), ternyata saham-saham pertambangan khususnya batubara turun lebih dalam lagi, dimana indeks sektor tambang sudah anjlok 26.3%, terburuk dibanding sektor lain manapun, dan itu semakin memperparah penurunan yang sudah terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya. Ketika itu penulis bertanya pada diri sendiri, ‘Apa mungkin saham-saham batubara bakal jadi gocapan semua???’

Sebab meski harga batubara turun terus ketika itu (dan itu menyebabkan perusahaan-perusahaan batubara terus saja membukukan penurunan laba, atau bahkan kerugian), namun faktanya batubara masih menjadi pilihan utama untuk bahan bakar pembangkit listrik. Dan setelah penulis pelajari lagi, penurunan harga batubara lebih disebabkan oleh ketidak seimbangan antara supply and demand, dimana demand batubara dari China terus turun sejak tahun 2011 seiring dengan perlambatan ekonomi disana, namun supply batubara itu sendiri justru terus naik, dimana Indonesia totalnya memproduksi 458 juta ton batubara pada tahun 2014, atau naik signifikan dibanding tahun 2011 yang hanya 353 juta ton. Ketika itulah penulis berkesimpulan bahwa ketika nanti harga batubara turun hingga ke level dimana supply batubara match dengan demand-nya, maka saat itulah harga batubara akan berhenti turun. Anda bisa baca lagi artikelnya disini.
Tapi intinya ketika balik lagi ke pertanyaan diatas, apakah saham-saham batubara bakal jadi gocapan semua? Penulis bisa jawab, tidak! Kecuali untuk beberapa saham dari perusahaan batubara tertentu yang memang bermasalah seperti Bumi Resources, saham-saham batubara pada akhirnya akan mencapai titik terendah mereka masing-masing, sebelum kemudian naik lagi.
And indeed, memasuki tahun 2016 pasar mulai berbalik naik, dimana ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah naik 19% secara YTD. Sementara saham-saham batubara? Terbang hingga 47 persen! Para perusahaan batubara juga mulai melakukan buy back terhadap saham mereka masing-masing (perhatikan bahwa meski saham batubara turun terus dalam beberapa tahun terakhir, namun baru sekarang para emiten ramai-ramai melakukan buyback). Dan yang mungkin belum diperhatikan orang adalah, harga batubara belakangan ini juga mulai naik signifikan, dimana harga batubara acuan di Newcastle Australia terakhir sudah US$ 72 per ton, naik tajam dari titik terendahnya yakni US$ 53 per ton pada akhir tahun 2015 lalu.
Menyadari fakta diatas penulis segera mengecek kembali laporan-laporan keuangan dari beberapa perusahaan batubara aaaanndd.. gotcha! Ketemulah sama Harum Energy (HRUM). Hingga Kuartal II 2016, HRUM membukukan laba US$ 4.4 juta, naik signifikan dari tahun sebelumnya US$ 2.8 juta, meski pendapatan perusahaan sejatinya masih turun, thanks to penurunan harga minyak diesel, yang membuat biaya produksi perusahan turut turun. Pada harga 1,050 (harga beli penulis), PBV HRUM hanya 0.8 kali, dimana meski valuasi segitu tampak tidak terlalu murah karena profitabilitas HRUM masih sangat rendah, namun di masa jayanya di tahun 2011, HRUM pernah membukukan ROE lebih dari 60%, dan valuasinya pun ketika itu sangat tinggi pada PBV 5 kali.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah HRUM ini kedepannya bisa kembali membukukan ROE yang besar, katakanlah 20 – 30%? Well, mari kita cek. Sejak perusahaan IPO pada tahun 2010, pihak manajemen selalu mengelola perusahaan dengan cara ‘tradisional’, yakni melakukan eksplorasi tambang, gali batubaranya, lalu jual, jadi gak pernah macam-macam dengan akuisisi sana sini atau ngambil utang dalam jumlah besar, dan alhasil HRUM sama sekali tidak memiliki beban bunga utang. HRUM juga merupakan salah satu perusahaan batubara dengan biaya operasional produksi paling efisien di tanah air, yakni hanya US$ 30 per ton. Dari sini bisa kita lihat bahwa ketika nanti harga batubara mulai naik, maka margin laba HRUM akan meningkat sangat signifikan, karena biaya produksi perusahaan baik dari sisi operasional maupun finansial sama-sama rendah. Dan meski perusahaan dengan sengaja menurunkan volume produksi batubaranya dalam beberapa tahun terakhir, termasuk hingga tahun 2016 ini (dengan tujuan menurunkan supply batubara di pasar, sehingga pada akhirnya menaikkan harga jual), namun HRUM memiliki cukup infrastruktur dan sumber daya manusia untuk menaikkan kembali volume produksi batubaranya kapan saja, dimana perusahaan memang akan melakukan itu (menaikkan volume produksi) ketika nanti harga batubara sudah benar-benar pulih.
Kesimpulannya, ketika nanti harga batubara sudah stabil (manajemen perusahaan lebih suka menggunakan istilah ‘harga stabil’ ketimbang ‘naik’), maka laba HRUM akan meningkat signifikan karena dua hal yaitu peningkatan margin laba, dan juga peningkatan dari nilai pendapatan itu sendiri. All the company needs right now is a ‘stable coal price’, nothing else.
Lalu bagaimana dengan harga batubara itu sendiri? Diatas memang sudah disebutkan bahwa harga patokan Newcastle sudah naik ke US$ 72 per ton, tapi bagaimana kedepannya? Apakah harga batubara masih akan lanjut naik atau malah turun lagi? Ya mari kita lihat fakta-faktanya. Pertama, pada bulan Juni 2016 kemarin, Pemerintah China mengeluarkan peraturan agar perusahaan batubara disana mengurangi produksinya, dan itu menyebabkan impor batubara dari negeri tirai bambu meningkat lagi setelah sebelumnya turun terus. Kedua, kenaikan harga batubara tidaklah sendirian, karena harga-harga komoditas secara umum memang naik semua, setelah hampir selama lima tahun sebelumnya turun terus. Ketiga, supply batubara di kawasan Asia Pasifik telah turun dalam dua tiga tahun terakhir, dan butuh waktu paling cepat 1 – 2 tahun kedepan untuk bisa berbalik naik lagi, dimana ketatnya supply turut mendorong kenaikan harga batubara. Keempat, meski di Amerika mulai ramai isu lingkungan dimana penggunaan batubara dikurangi karena dianggap ‘kotor’ (digantikan oleh gas), namun HRUM hanya menjual batubaranya ke kawasan Asia (India, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang), dimana di negara-negara tersebut tidak ada isu serupa. Dan kelima, jika sebelumnya HRUM, seperti juga kebanyakan perusahaan batubara lainnya, hampir mengekspor seluruh produksi batubara mereka karena tidak adanya pembeli di dalam negeri, namun saat ini Pemerintah sedang gencar membangun pembangkit listrik 35,000 MW, dimana 45% diantaranya menggunakan batubara. Jika pembangunannya lancar dan selesai tepat waktu, maka permintaan batubara di dalam negeri akan meningkat tajam, sehingga harganya akan semakin ‘stabil’ lagi.
Kesimpulannya, meski kita tentunya tidak bisa memprediksi harga batubara ini bakal naik atau malah turun lagi sampai level berapa, namun, kecuali terjadi peristiwa luar biasa, no way dia bakal balik lagi ke level US$ 50-an per ton. Sementara jika rally kenaikan harga batubara sejak beberapa bulan terakhir ini berlanjut, maka laba bersih HRUM bisa dipastikan bakal naik signifikan hingga akhir tahun, dan demikian pula di tahun 2017 nanti. Sementara sahamnya? Well, menurut anda???
However, dalam value investing, akan selalu lebih aman jika kita memastikan dulu bahwa perusahaan memang sudah membukukan laba yang besar, kemudian baru kita beli sahamnya. Tapi berhubung HRUM sendiri sudah naik banyak bahkan ketika perusahaan masih membukukan kinerja yang kurang meyakinkan (dari posisi terendahnya yakni 600, berarti dia sudah naik lebih dari 70%), dan demikian pula saham-saham batubara lainnya juga sudah pada naik, maka mungkin kita harus berani ‘curi start’ disini, meski tentunya dengan tetap menggunakan analisis yang hati-hati. Dan seperti yang sudah dibahas diatas, untuk kedepannya HRUM jauh lebih berpeluang untuk kembali membukukan laba bersih yang besar, ketimbang merugi lagi seperti tahun 2015 lalu. So this is what I call ‘fair bet’, dimana peluang gain dari saham yang kita beli lebih besar (atau jauh lebih besar) dibanding risiko kerugiannya. Anyway, whether you join the train or not, it is your call.
PT Harum Energy, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2016: BBB
Rating Saham pada 1,080: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang HRUM di average 1,050. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Oktober 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow me on instagram to see my daily activities as a value [...]

Bank CIMB Niaga

Bank CIMB Niaga (BNGA) pertama kali mencuri perhatian penulis pada awal tahun 2015 ketika sahamnya turun dari 1,400-an ke 900-an, ketika itu karena perusahaan melaporkan laba bersih Rp2.3 trilyun pada tahun 2014, atau jeblok hampir separuh dibanding tahun sebelumnya, karena melonjaknya beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). However, pada harga 900, PBV BNGA sudah dibawah 1 kali, dan itu sangatlah murah mengingat BNGA bukanlah bank kecil abal-abal gak jelas, melainkan salah satu dari sepuluh bank terbesar di tanah air, dan juga dengan merk bank yang cukup populer.

Kemudian, seperti yang sudah pernah kita bahas disini, CKPN ini bisa timbul karena adanya kredit macet, dimana NPL net BNGA pada tahun 2014 mencapai hampir 2%, melonjak dari tahun sebelumnya yang hanya 1.55%. Jadi asumsinya ketika itu adalah, kalau di tahun 2015 nanti manajemen BNGA bisa mengatasi masalah kredit macet ini, maka beban CKPN-nya akan turun, labanya akan melonjak kembali, dan ketika itulah sahamnya bakal terbang. Namun sayangnya pada laporan keuangannya untuk tahun 2015, beban CKPN ini bukannya turun tapi malah melonjak lagi, sehingga laba bersihnya kembali anjlok menjadi hanya Rp428 milyar saja. Sementara sahamnya? Ya gak usah ditanya lagi lah: Bablas turun sampai mentok di 500-an.
Namun karena BNGA ini sejak awal sudah murah (dan semakin murah), maka dia tetap masuk watchlist penulis. Hingga akhirnya pada Kuartal I 2016, BNGA melaporkan laba bersih Rp269 milyar, dimana meski angkanya masih kecil (sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, normalnya laba bersih BNGA mencapai trilyunan Rupiah), namun minimal sudah lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang cuma Rp83 milyar. Dan yang terpenting adalah, pada harga 540, PBV-nya ketika itu cuma 0.4 kali, which is unbelievably undervalue untuk perusahaan yang notabene merupakan anggota ‘billionaire club’ (perusahaan di BEI dengan market cap US$ 1 milyar atau lebih). Jadi ya sudah: Terhitung sejak Mei 2016 kemarin, BNGA ini menjadi salah satu stockpick penulis (dibahas di Ebook Kuartal I 2016), and indeed dia kemudian naik sampai tembus 1,000 pada bulan Agustus, atau mencetak profit hampir 100% dalam waktu empat bulan.

Tapi kenapa kok belakangan BNGA ini malah turun lagi? Well, penjelasan yang paling logis adalah karena terjadi profit taking. Pada Kuartal II kemarin, BNGA membukukan laba bersih Rp736 milyar, dimana meski angka tersebut naik signifikan dari tahun sebelumnya yakni Rp176 milyar, namun dengan ROE hanya 5% maka kinerja BNGA sejatinya masih kurang bagus. Sehingga jika penulis sendiri sejak awal sudah membeli BNGA ini di harga 500, maka saya akan segera menjualnya di harga 1,000-an, karena dengan memeprtimbangkan kinerja BNGA yang belum sebagus itu, maka normalnya sahamnya belum akan naik lebih tinggi lagi (masih belum waktunya). In fact, dalam sebulanan terakhir ini yang turun gak cuma BNGA, tapi juga banyak lagi saham-saham lainnya, dimana mereka sebelumnya sudah naik banyak.
CIMB Holdings Membayar Dividen?
Tapi peristiwa berikut ini mungkin ada kaitannya dengan penurunan BNGA: Pada tanggal 15 Juni 2016, CIMB Holdings, sebuah perusahaan yang terdaftar di Bursa Malaysia, mengumumkan bahwa mereka akan membagikan dividen non tunai kepada para pemegang sahamnya, dalam bentuk saham BNGA. Untuk diketahui, CIMB Holdings ini adalah induk dari CIMB Group, sementara CIMB Group itu sendiri adalah pemegang saham pengendali BNGA.
Kemudian pada tanggal 26 Juli, CIMB Group menjual 1.4 milyar lembar saham BNGA ke CIMB Holdings, pada harga Rp928 per saham. Oleh CIMB Holdings, 1.4 milyar saham BNGA itu kemudian dijual lagi ke para investor pemegang sahamnya, tapi pada harga yang lebih murah yakni Rp504 per saham. Karena investor pemegang saham CIMB Holdings memperoleh saham BNGA pada harga yang lebih murah dibanding biaya yang dikeluarkan CIMB Holdings untuk membeli saham BNGA tersebut (Rp504 berbanding Rp928), maka dalam hal ini CIMB Holdings seperti membayar dividen kepada para pemegang sahamnya, dalam bentuk saham BNGA (dimana para investor tersebut memperoleh saham BNGA ini pada harga murah). Setelah transaksi ini, maka di komposisi pemegang saham BNGA akan ada 1.4 milyar lembar saham yang tidak lagi dipegang oleh CIMB Group, melainkan dipegang langsung oleh investor publik asal Malaysia sana.
Lalu apa pengaruh perubahan kepemilikan saham ini terdapat kinerja BNGA atau prospek perusahaan kedepannya? Ya nggak ada pengaruh apapun lah, karena transaksi jual beli saham yang dibahas diatas bukanlah aksi korporasi oleh BNGA, melainkan transaksi jual beli saham yang normal antar investor yang memegang saham perusahaan, dan CIMB Group hingga saat ini masih menjadi pemegang saham pengendali di BNGA. Kalau kemudian saham BNGA turun, maka itu lebih karena reaksi investor di BEI yang kebingungan dengan transaksi jual beli saham yang dilakukan oleh CIMB Holdings dan CIMB Group, dimana mereka khawatir bahwa transaksi tersebut akan merugikan BNGA, padahal tidak.
Transaksi Floating Saham
Tapi kalau anda sejak awal sudah memperhatikan BNGA ini, maka anda akan menemukan fakta menarik: Hingga Kuartal II 2016, BNGA memiliki 25.1 milyar lembar saham beredar, dimana 24.4 milyar lembar atau 96.9% diantaranya dipegang oleh CIMB Group, padahal peraturan BEI jelas menyebutkan bahwa sebagai perusahaan Tbk, minimal 7.5% saham BNGA harus dimiliki oleh publik. Karena itulah, CIMB Group memiliki kewajiban untuk melepas sebagian saham BNGA ke publik, atau istilahnya floating. Tapi jika CIMB Group langsung menjual BNGA begitu saja ke investor publik di BEI, maka sudah pasti harga sahamnya bakal tambah jeblok, dan dalam hal ini posisi CIMB Group menjadi rugi karena dia menjual saham BNGA pada harga yang jauh dibawah nilai bukunya.
Jadi kalau gitu gimana solusinya? Ya bagaimana kalau saham BNGA dijual ke ‘atas’, dalam hal ini ke CIMB Holdings? Dengan cara ini CIMB Group bisa langsung melepas saham BNGA dalam jumlah besar (sekaligus 1.4 milyar lembar), dan tidak akan rugi karena harga jualnya cukup tinggi yakni Rp928 per saham. Oleh CIMB Holdings, saham BNGA tersebut kemudian ‘dikasiin’ ke pemegang sahamnya pada harga yang lebih murah, yakni Rp504 per saham. Jadi meski disini posisi CIMB Holdings merugi (karena dia menjual saham BNGA pada harga yang lebih murah dibanding harga belinya), namun dalam hal ini perusahaan seolah-olah memberikan dividen kepada para pemegang sahamnya. Para pemegang saham CIMB Holdings yang memperoleh saham BNGA ini juga langsung berada dalam posisi profit, karena kalau mereka mau, mereka bisa langsung menjual saham BNGA pada harga pasar yakni 800-an, untuk memperoleh keuntungan sekitar 60% (karena modalnya di 504).
Nah, jadi dalam hal ini penulis melihat bahwa transaksi ‘pembayaran dividen’ yang dilakukan oleh CIMB Holdings diatas sejatinya bertujuan untuk floating, alias melepas saham BNGA ke publik namun tanpa harus membuat harga sahamnya jatuh. Pasca aksi jual beli saham ini, CIMB Group masih memegang 23.0 milyar lembar atau 91.5% saham BNGA, sementara 8.5% sisanya dipegang oleh publik, atau sudah memenuhi peraturan BEI tentang floating tadi. Dan karena kepemilikan publik di BNGA sekarang menjadi jauh lebih besar (meningkat dari 701 juta menjadi 2.1 milyar lembar), maka kedepannya transaksi perdagangan sahamnya akan menjadi lebih likuid, dimana pergerakan saham yang likuid biasanya akan lebih mencerminkan/sesuai dengan fundamental perusahaan. Sebenarnya ketika kemarin penulis sangat tertarik dengan BNGA ini, namun fakta bahwa CIMB Group memegang sahamnya terlalu banyak membuat saya menjadi ragu-ragu, karena kalau mereka jualan saham BNGA ke publik (dalam rangka floating) maka BNGA mau gak mau bakal jatuh. Namun setelah transaksi ini maka BNGA sekarang menjadi lebih menarik, karena CIMB Group sudah memenuhi kewajiban floating-nya (jadi mereka gak akan jualan BNGA lagi). Sementara kalaupun investor publik asal Malaysia yang sekarang memegang BNGA ramai-ramai melepas sahamnya, maka gak mungkin juga 1.4 milyar lembar saham itu bakal dilego sekaligus, karena toh pada harganya saat inipun, valuasi BNGA masih sangat murah.
Okay, lalu bagaimana dengan fundamental BNGA itu sendiri? Well, seperti yang sudah disebut diatas, kinerja BNGA di tahun 2016 ini mulai pulih seiring dengan membaiknya catatan kredit macet perusahaan meski, kalau boleh jujur, masih jauh kalau dibandingkan dengan catatan kinerja terbaik mereka di tahun 2012 – 2013. Pihak manajemen jelas menyebutkan bahwa kinerja buruk perusahaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh kredit macet di sektor pertambangan, karena penurunan harga batubara. Namun berhubung belakangan ini harga batubara perlahan tapi pasti mulai merangkak naik, maka mungkin masa-masa sulit bagi BNGA memang sudah lewat, jadi untuk kedepannya kita tinggal wait n see saja, apakah BNGA bisa terus mempertahankan momentum pemulihan kinerjanya sejak awal tahun 2016 kemarin, atau malah nyungsep lagi.
Sementara terkait sahamnya, cukup jelas bahwa harga 500-an sudah menjadi bottom bagi BNGA ini, dan harga sekarang yakni 800-an juga masih murah, tapi secara fundamental belum ada momentum apapun bagi BNGA ini naik lebih tinggi lagi, soalnya kinerjanya juga belum bagus-bagus amat. Jadi sekarang strateginya begini saja: Jika besok-besok BNGA ini turun lagi sampai dekat-dekat 500 – 600, maka anda bisa langsung hajar kanan tanpa perlu menunggu perusahaan untuk menyampaikan laporan keuangan yang lebih bagus, toh harga segitu udah murah buanget. Tapi jika BNGA tetap bertahan di posisinya saat ini, atau bahkan malah naik, maka akan lebih aman jika kita tunggu sampai perusahaan melaporkan catatan laba bersih yang lebih baik, mungkin awal tahun depan nanti.
PT Bank CIMB Niaga, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2016: BBB
Rating Saham pada 805: A
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Oktober 2016 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk [...]

Seminar Value Investing, Surabaya, 1 Oktober 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Surabaya. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Surabaya dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 nanti, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Amaris Embong Surabaya, Jln. Kedungdoro No.1 – 3, Kota Surabaya.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Oktober 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabayadan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama peserta seminar 18 Juni
Penulis bersama peserta seminar 30 Juli
Komentar Alumni:
Pak teguh..  Saya sudah baca smua ebook bapak. Q2 dan Q1.. Betapa saya menyesal pak dulu mei awal tidak beli ebook q1 bapak.. Pelit uang kecil. Hilang uang besar. Jujur saya 15-20an Mei panik dan kosongkan porto. Ikutan panic selling saya pak.. Bbni saya jual smua di 4400an. Padahal modal Average 4650.. Asii jual 6250. Modal 6600. Smgr jual 8900. Modal 9500

Sebuah langkah yang salah total
.

Saya barusan  TP sril di avg 291 pak.  Modal 270an.. Sehari sebelum naik 300 sebentar
terus tutup 284 ini. Saya jual krn saya liat ihsg daily kok bikin lower high. Posisi saya skrg pegang bbkp pak.. Krn saya melihat potensi mirip2 bjbr. Bisa terbang sewaktu2. Cuma juga ada ancang2 keluar klo ihsg longsor

Hmm inti nya saya mau ucapkan terima kasih pak teguh..  Saya merasa beruntung bisa mengenal pak teguh dan sudah mengambil keputusan tepat terbang ke jkt demi ikut seminar bapak
(saya org sby). Dan beli ebook bapak. Semoga pak teguh terus diberkati Tuhan dan memberikan manfaat bagi orang2 banyak ya pak.
Oh dan recomendasi di ebooknya muantab banget. pak.. Kelihatan jelas dari ebook Q1, kalo value investing works. Banyak saham e yg sudah terbang. Lipat2 bahkan.
Denny Wangsaputra – Surabaya (Alumni Seminar Jakarta, 30 Juli [...]

Jasa Marga Menjelang Right Issue: Peluang!

Jasa Marga (JSMR) melaporkan laba bersih Rp926 milyar pada Semester Pertama 2016, atau tumbuh 44% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga dengan demikian JSMR menjadi satu dari sedikit perusahaan besar di BEI yang masih membukukan kinerja yang tumbuh positif pada tahun 2016 sejauh ini. Tapi kenapa kok sahamnya malah turun?

Ketika artikel ini ditulis, JSMR sudah turun hingga ke level 4,500-an, yang merupakan posisi terendahnya dalam setahun terakhir. Dan penyebab penurunan tersebut, seperti yang mungkin sudah anda ketahui, adalah karena perusahaan akan melakukan right issue pada harga yang kemungkinan jauh lebih rendah dibanding harga pasarnya.
Jadi ceritanya, melalui program penyertaan modal negara, Pemerintah sebagai pemegang saham pengendali perusahaan akan menyetor modal sebesar Rp1.25 trilyun. JSMR sendiri akan menerbitkan saham baru senilai Rp1.8 trilyun, sehingga terdapat jatah saham senilai Rp550 milyar yang akan dilepas ke investor publik (tapi jika investor publik yang memegang JSMR tidak mengeksekusi right-nya, maka jatah Rp550 milyar tersebut akan juga diambil oleh Pemerintah).
Dan berdasarkan hasil RUPS tanggal 29 Agustus kemarin, Perusahaan akan menerbitkan 491 juta lembar saham baru. Karena nilai right issue-nya adalah Rp1.8 trilyun, maka harga right issue-nya Rp1.8 trilyun / 491 juta = Rp3,662 per saham. Nah, jadi logika sederhananya, kenapa kita harus beli JSMR pada harga 5,000-an, kalau kita bisa beli right-nya nanti kemudian menebusnya pada harga 3,662 saja? Karena itulah, JSMR kemudian turun, dan mungkin kedepannya akan turun lebih lanjut, namun cukup jelas bahwa dia tidak akan turun sampai lebih rendah dari 3,662 tersebut(atau kalaupun JSMR sampai tembus 3,600-an, misalnya kalau IHSG besok-besok nyungsep lagi, maka selanjutnya dia akan langsung naik lagi).
Dan itu karena, terlepas dari penurunan sahamnya karena right issue, namun secara fundamental JSMR masih merupakan ‘wonderful company’. Seperti yang dulu pernah kita bahas di artikel ini, JSMR bermain di bisnis jalan tol yang menawarkan income yang stabil untuk jangka panjang, memiliki popularitas dan brand equity yang kuat (siapa yang gak tahu Jasa Marga?), kualitas GCG yang baik, hingga track record pembayaran utang obligasi yang baik. Kombinasi antara kinerja fundamental yang konsisten dalam jangka panjang plus nilai kualitatif yang dimiliki perusahaan, menyebabkan saham JSMR senantiasa dihargai premium, dimana pada harga 4,500 sekalipun (itu adalah harga terendah JSMR dalam beberapa tahun terakhir, dimana JSMR hanya bisa turun ke posisi tersebut kalau IHSG lagi panic selling, atau sedang terjadi peristiwa/aksi korporasi penting, seperti right issue pada saat ini), PBV-nya masih tercatat 2.8 kali. However, jika dibandingkan dengan valuasi dari saham-saham big caps yang juga memiliki nama perusahaan yang populer seperti Bank BCA atau Astra International, maka PBV kurang dari 3 kali bagi JSMR terbilang relatif murah dan menawarkan potensi upside. Anda bisa baca lagi penjelasannya disini.
Sementara kalau kita bicara ke depan, maka JSMR juga menawarkan prospek masa depan yang cerah. Sebenarnya, meski JSMR memiliki track record kinerja yang cukup konsisten di masa lalu, namun pertumbuhan riil perusahaan terbilang lambat jika dibanding perusahaan-perusahaan besar lain seperti Perusahaan Gas Negara (PGAS), Bank BRI (BBRI), dan ASII (anda bisa lihat lagi datanya disini). Dan itu karena proses membangun jalan tol terbilang sangat sulit, sehingga di masa lalu panjang ruas konsesi jalan tol yang dipegang JSMR boleh dibilang nyaris tidak bertumbuh. Pada tahun 2008, JSMR mengelola jalan tol sepanjang total 527 kilometer, yang meningkat menjadi 555 kilometer pada tahun 2013, atau hanya tumbuh 28 kilometer dalam 5 tahun. Alhasil perusahaan hanya bisa mengandalkan kenaikan tarif pada ruas tol yang sudah ada untuk meningkatkan pendapatannya, sehingga ekuitas perusahaan hanya mampu tumbuh sekitar 10% saja per tahunnya.
Namun trend negatif tersebut mulai berubah sejak dua tahun terakhir. Mulai tahun 2014, seiring dengan pembangunan mega-proyek infrastruktur oleh Pemerintah, JSMR turut memperoleh mandat untuk membangun dan mengelola banyak ruas jalan tol baru, mulai dari tol Cinere – Serpong di Jabodetabek, hingga tol Medan – Tebing Tinggi di Sumatera Utara. Alhasil pada akhir tahun 2015, panjang jalan tol yang dikelola JSMR sudah meningkat menjadi 590 kilometer, atau tumbuh 35 kilometer hanya dalam 2 tahun, namun itu baru permulaan! Saat ini JSMR masih terus mengebut pembangunan ruas-ruas tol baru, dimana jika semuanya berjalan lancar, maka perusahaan akan mengelola jalan tol sepanjang 987 kilometer pada akhir tahun 2019 nanti. Well, sounds promising right? In fact, ketika pemerintah menyuntikkan tambahan modal senilai Rp1.25 trilyun ke perusahaan melalui right issue, maka duit sebanyak itu adalah memang untuk membiayai pembangunan jalan-jalan tol baru tadi. Yep, dalam hal ini Pemerintah tidak hanya mendukung JSMR dalam hal terjun langsung untuk mengurus pembebasan lahan (ini adalah bagian tersulit dalam membangun jalan tol), tapi juga dalam hal pembiayaan. Jika right issue-nya masih belum cukup, maka mungkin kedepannya JSMR juga bisa meng-IPO-kan salah satu anak usahanya, seperti yang memang sudah dilakukan oleh BUMN-BUMN lain.

Foto-Foto Ruas Jalan Tol Semarang – Solo, yang pembangunannya ditargetkan akan rampung seluruhnya pada tahun ini

Jadi terlepas dari penurunan sahamnya karena right issue, namun cukup jelas bahwa JSMR masih menawarkan prospek jangka panjang, malah dengan turunnya sahamnya maka itu artinya kita bisa dapat ‘posisi start’ yang bagus di harga bawah. I mean, kalau anda beli JSMR ini di harga 5,000-an dan kemudian sahamnya naik lagi ke 6,000-an, maka berapa profitnya? Tapi kalau anda beli di harga sekarang, maka ketika nanti JSMR ini naik ke posisi 5,000-an saja, anda sudah profit. Selain itu kalau kita lihat historis dari saham-saham BUMN yang juga melakukan right issue, seperti ADHI, ANTM, WSKT, mereka juga awalnya turun dulu ketika harga right issue-nya ditetapkan dibawah harga pasar, tapi tak lama kemudian naik lagi, malah dengan kenaikan yang luar biasa yakni 50% atau lebih.
Kalau begitu apakah saya sekarang boleh langsung hajar kanan JSMR ini? Well, tunggu dulu. Seperti yang tadi sudah disebut diatas, JSMR akan melakukan right issue di harga 3,600-an, sehingga besar kemungkinan bahwa sahamnya akan turun sampai dekat-dekat 3,600 tersebut, terutama karena proses right issue-nya masih agak panjang, dimana berdasarkan estimasi dari manajemen JSMR sendiri, right issue ini baru akan tuntas pada Kuartal IV 2016 (sekitar Oktober – November). Di website BEI sendiri malah belum ada pengumuman apapun terkait right issue perusahaan, kecuali pengumuman hasil RUPS-nya. Jadi berdasarkan pengalaman dari right issue BUMN-BUMN sebelumnya, maka saham JSMR kemungkinan akan turun mendekati 3,600-an dalam satu atau dua bulan kedepan, mungkin bahkan bisa lebih rendah jika IHSG-nya ikut longsor, sebelum kemudian baru akan naik lagi pada Desember atau awal tahun 2017 nanti.
Lalu seberapa besar peluang JSMR untuk naik lagi nanti? Tentunya cukup besar, terutama karena harga teoritis JSMR setelah right issue-nya terbilang jauh lebih tinggi dibanding harga right issue itu sendiri. You see, di right issue-nya JSMR menerbitkan 491 juta lembar saham baru, atau hanya sedikit dibanding jumlah saham perusahaan saat ini yakni 6.8 milyar lembar. Katakanlah harga rata-rata JSMR di pasar selama ini adalah Rp5,000, yang setelah dikali 6.8 milyar lembar saham, hasilnya adalah market cap Rp34 trilyun. Setelah right issue, jumlah saham JSMR meningkat menjadi 7.3 milyar lembar, dan market cap-nya juga meningkat 1.8 trilyun menjadi Rp35.8 trilyun. Maka harga teoritis JSMR setelah right issue adalah 35.8 trilyun / 7.3 milyar, sama dengan Rp4,909 per saham. See? Berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan melakukan right issue maka harga sahamnya akan naik atau turun mendekati harga right issue-nya. Namun setelah right issue-nya selesai, maka sahamnya akan balik lagi ke harga teoritisnya, atau bisa lebih tinggi lagi jika fundamental perusahaan masih excellent seperti sebelumnya.
Kesimpulannya JSMR ini worth to buy, namun sekarang ini masih belum merupakan waktu yang tepat untuk masuk, so hold your cash. Tapi jika saya udah masuk sejak awal gimana? Kalau gitu pilihannya ada dua: 1. Cut loss sekarang untuk masuk lagi nanti di harga bawah, atau 2. Tetap hold sambil terus cari waktu yang tepat untuk average down. Jika downtrend IHSG yang terjadi sejak semingguan kemarin berlanjut, maka penulis optimis kita bisa masuk di JSMR ini di harga 4,000 atau dibawahnya, dimana dengan sedikit keberuntungan, profit yang diperoleh mungkin akan mencapai 50% (targetnya 6,000-an), ketika JSMR ini naik kembali pada awal tahun 2017 nanti.
PT Jasa Marga (Persero), Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal II 2016: A
Rating Saham pada 4,550: AA
Jadwal Seminar Investasi Saham, Value Investing: Surabaya, Hotel Amaris Embong Surabaya, Sabtu 1 Oktober. Keterangan selengkapnya baca [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 24 September 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 nanti, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 24 September 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Investasi peserta hanya Rp750,000 per orang, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama peserta seminar 18 Juni
Penulis bersama peserta seminar 30 Juli
UPDATE: Kursinya sudah penuh! Jadi dengan ini pendaftarannya resmi ditutup. Sampai ketemu di jadwal seminar [...]

Mengapa Saya Panik?

Pernahkah anda mengendarai motor/mobil tapi lupa bawa SIM? Well, penulis pernah. Beberapa waktu lalu saya naik motor dengan santai dari rumah di Selatan menuju daerah Pluit. Tapi sorenya sebelum pulang ke rumah, pas buka dompet untuk bayar sesuatu, penulis baru sadar nggak bawa SIM C, karena waktu di rumah lupa menukarnya dengan SIM A (karena di dompet udah banyak banget kartu, penulis terbiasa hanya bawa salah satu SIM, kalau nggak SIM A ya C. Kalau naiknya busway maka gak bawa SIM sama sekali). Dan ketika itulah, penulis mulai khawatir: Gimana kalau dalam perjalanan pulang nanti ketemu razia pulisi? Karena, you know, ngurus tilang ke pengadilan itu kadang lebih ribet ketimbang ke kantor pajak, apalagi disana banyak setannya (baca: calo).

Tapi untungnya penulis sukses nyampe ke rumah dengan aman sentosa. Tapi sejak itu penulis jadi lebih hati-hati: Sebelum bepergian, jangan lupa cek dompet dulu.
Nah, pengalaman diatas merupakan ilustrasi bahwa kita bisa menjadi khawatir, bingung, galau, atau panik, karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya, dalam hal ini karena tidak membawa SIM ketika berkendara, entah itu disengaja atau tidak. Dalam berinvestasi di pasar modal juga sama: Kalau anda membeli saham namun tanpa mengikuti ‘prosedur’, dalam hal ini melakukan analisis yang mendalam terhadap perusahaan sebelum kemudian ambil keputusan, maka bagaimana mungkin anda bisa tenang-tenang saja setelah membeli saham tersebut?
Tapi pada prakteknya, investor yang sudah cukup berpengalaman (kalau anda baru 1 – 2 tahun di market dan masih gampang panik, maka itu sangat wajar, karena normalnya seorang investor baru bisa mengendalikan emosinya setelah 3 tahun), dan sudah mahir menganalisis sekalipun kadang-kadang masih suka panik ketika saham yang dipegang turun (atau kalau naik juga sama panik, karena takut bakal turun lagi). Dan seringkali kepanikan itu timbul karena apa yang dilakukan oleh si investor itu sendiri.
Sebagai contoh, sejak duluu sekali, penulis sudah anti menggunakan margin, dan anda tahu kenapa? Karena megang duit sendiri aja kadang-kadang masih suka stress pas posisi nyangkut, apalagi duit hasil ngutang! Memang, kalau kita beli saham pake margin dan profit, maka profitnya bisa berlipat ganda karena modalnya lebih gede. Seorang teman pernah mengatakan, ‘Bunga margin kan cuma 18% per tahun. Jadi kalau kita nemu saham yang naik 40% dalam setahun tersebut, maka bunga segitu bakal ketutup bukan? Apalagi di BEI banyak banget saham-saham yang bahkan bisa naik sampai 100% atau lebih’. Well, tapi masalahnya gimana caranya kita bisa ketemu saham yang pasti bakal naik minimal sebanyak 40% tersebut? Karena ingat: Saham sebagus apapun bisa saja turun meski kinerja perusahaannya masih baik-baik saja, entah itu karena penurunan IHSG, adanya sentimen negatif, atau terjadi peristiwa penting tertentu. Jadi gimana kalau kita malah belinya saham yang justru turun 40%??? Sedangkan bunga yang 18% tadi sudah pasti akan dibayar beserta pokok utangnya, tak peduli meski posisi anda untung atau rugi. Alhasil, kalau saham anda benar naik maka keuntungan memang bakal lebih besar, tapi kalau saham anda malah turun, maka kerugiannya bakal lebih besar lagi.
Tapi intinya disini adalah, ketika anda menyadari bahwa risiko kerugian karena menggunakan margin ternyata lebih besar dibanding potensi profitnya, maka anda akan gampang khawatir kalau besok-besok saham anda atau IHSG turun. Actually, kalau pake contoh penulis yang lupa bawa SIM diatas, maka kalau anda gak bawa SIM, STNK, plus gak pake helm sekalipun (atau seat belt), maka itu bukan berarti anda pasti bakal ditilang, karena anda mungkin akan ketemu razia polisi di jalan, tapi mungkin juga tidak. Meski begitu anda tetap saja tidak akan bisa menyetir dengan tenang, karena anda tahu persis bakal ditilang kalau ketemu polisi. Dalam investasi saham juga sama: Setelah anda membeli saham maka saham anda/IHSG mungkin akan turun, tapi mungkin juga tidak. Tapi kalau anda sejak awal belinya pake margin, maka anda jadi lebih khawatir dan gampang panik kalau saham anda turun, karena anda sepenuhnya menyadari bahwa kerugian yang anda derita bakal lebih besar.
Selain menggunakan margin, tindakan yang dilakukan investor yang menyebabkan dia jadi sulit tidur nyenyak di malam hari, adalah dengan membeli saham yang jelas-jelas tidak jelas. Terus terang, penulis sampai sekarang masih bingung kenapa saham-saham seperti BEKS, CNKO, CPRO, DSFI, dll, malah lebih populer dibanding saham-saham mainstream (ASII dkk)? Termasuk kalau nanti BUMI ‘bangkit’ lagi pun, maka dia pasti bakal diburu lagi. Tapi diluar trader spekulan yang memang sengaja membeli saham-saham tersebut untuk ‘uji nyali’ tanpa peduli untung atau rugi, maka ada banyak juga ‘investor-investor lurus’ yang cuma coba-coba karena penasaran, misalnya membeli BEKS hanya karena kemarin saham ini ramai banget dibicarakan (padahal si investor ini sudah tau persis bahwa fundamental BEKS adalah nol besar), lalu ujung-ujungnya mereka jadi bingung sendiri. Termasuk kalau ternyata spekulasinya menghasilkan profit sekalipun, maka profit tersebut seringkali tidak sebanding dengan deg-degannya. Dalam beberapa kasus, seluruh perhatian si investor kemudian jadi terfokus pada saham blangsak ini, sehingga pegangan lainnya jadi terabaikan, dan kinerja portofolionya menjadi berantakan secara keseluruhan.

Logo CPRO. Ini saham apa bagusnya coba? Tapi anehnya penggemarnya banyak banget

Nah, sebenarnya masih ada banyak lagi contoh tindakan yang dilakukan oleh seorang investor yang kemudian menyebabkan si investor itu menjadi kehilangan fokus, bingung dan panik sendiri, dan pada akhirnya menderita kerugian. Tak peduli meski seorang investor sudah berpengalaman selama belasan tahun sekalipun, tapi kalau cara main dia seperti itu maka dia akan galau terus everyday.
Jadi kalau begitu gimana solusinya? Ya berinvestasilah dengan cara yang baik dan benar! Lakukan analisis dengan baik, buat investment plan, lalu ambil keputusan buy and sell. Jadilah investor yang ‘lurus’, intinya jangan macem-macem lah! Sebab seperti halnya anda harus bawa SIM dan pake helm kalau nyetir motor, maka di pasar saham juga terdapat banyak peraturan yang, meski tidak tertulis, namun harus dipatuhi tanpa bisa ditawar-tawar lagi, salah satunya adalah jangan berspekulasi. Jadi kalau sejak awal tujuan anda main saham adalah memang untuk memacu adrenalin, then go ahead, belilah saham-saham gorengan pake duit margin, kalau perlu gadai rumah sekalian! Tapi kalau anda mau invest di saham dengan tenang.. aman.. damai tentrem kertorahardjo, bisa tidur nyenyak di malam hari dan gak harus ngeliatin monitor seharian dari jam 9.00 sampai 16.00, then you know what to do :)
Tapi pak Teguh, saya ini newbie, masih gak ngerti apa-apa.. Jadi meski saya hanya membeli saham-saham yang saya anggap aman sekalipun tapi tetep aja selalu kegoda untuk ngeliat monitor, apalagi kalau saham saya udah tiga hari gak jalan-jalan padahal saham tetangga terbang.. galau saya pak! Well, seperti yang sudah disebut diatas, kalau anda masih baru di market maka mau tidak mau anda akan gampang panik, tak peduli meski anda belinya saham Unilever atau Bank BRI sekalipun. Namun poin penulis disini adalah, asalkan anda mampu bertahan dan tetap konsisten untuk menjadi investor yang benar-benar investor (yakni yang selalu melakukan analisis dengan hati-hati, dan gak beli saham hanya karena ikut-ikutan), dimana anda selalu mempertimbangkan faktor risk and gain sebelum membeli saham, maka setelah beberapa tahun, anda akan menikmati buahnya, dimana anda bisa mengambil setiap keputusan investasi dengan tenang dan fokus, dan tidak lagi gampang panik ketika IHSG turun atau semacamnya, dan sudah tentu: Perlahan tapi pasti, anda akan mulai menghasilkan keuntungan yang konsisten.
So, mari kita jawab pertanyaan diatas: Mengapa saya panik dan galau? Well, yang pertama mungkin karena anda belum cukup menguasai cara-cara analisis saham dll, dan juga belum cukup berpengalaman dalam menghadapi fluktuasi market. Tapi kalau saya sudah ngerti cara analisis dan juga sudah lumayan lama di market, maka kenapa kok sampe sekarang masih galau juga? Kalau gitu coba cek lagi, anda sudah investasi dengan baik dan benar belum? Kalau anda masih suka ‘icip-icip saham yang (ngarepnya) bakal terbang’, ya jelas galau lah! Apalagi kalau belinya pake margin, udah gitu beli cuma ikut-ikutan saham yang ‘lagi rame’, padahal anda tahu persis saham itu fundamentalnya jelek. Intinya jadilah investor yang lempeng, jangan macem-macem, dan selalu pertimbangkan risk and gain sebelum membeli saham tertentu (kebanyakan orang cuma liat ‘prospek’ saham, tanpa mempertimbangkan risikonya). Jadi jika anda menemukan saham yang, setelah dipelajari mendalam ternyata risikonya lebih besar ketimbang potensi profitnya, maka ya sudah jangan beli! Karena, ingat sekali lagi: Kalaupun anda beli saham itu dan ternyata hasilnya untung, maka belum tentu profit tersebut sebanding dengan deg-degannya. Sebab seperti yang sudah sering penulis sampaikan di banyak artikel: Dalam investasi saham itu yang penting bukan cuma cuan, tapi juga perasaan kalem dan santai ketika meng-hold saham tersebut, dimana hanya dengan cara itulah kita akan mampu fokus, dan pada akhirnya menghasilkan cuan yang lebih besar lagi.

Okay, I think that’s enough, minggu depan kita akan bahas sedikit soal Bank CIMB Niaga (BNGA).

Jadwal Seminar Investasi Saham: Value Investing, Jakarta, Sabtu 24 September. Peserta terbatas, hanya 30 orang. Keterangan lebih lanjut baca [...]

BEI Menghapus Batas Bawah 10%?

Semingguan ini ramai pemberitaan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali menetapkan auto rejection (AR) simetris, dari yang saat ini asimetris. Pemberitaan tersebut muncul setelah Direktur Pengawasan Transaksi BEI, Hamdi Hassyarbaini, pada tanggal 30 Agustus menyatakan kepada wartawan bahwa pasar saham Indonesia sekarang ini sudah stabil dimana IHSG telah naik signifikan, sehingga peraturan AR asimetris sudah tidak diperlukan lagi. Nah, mungkin anda bertanya-tanya, apa itu AR simetris? Apa itu AR asimetris?

Jadi begini. Setahun lalu, tepatnya pada tanggal 25 Agustus 2015, atau persis sehari setelah IHSG dilanda panic selling dan jeblok 4% dalam sehari, BEI segera bertindak dengan meluncurkan empat kebijakan baru sekaligus, yakni: 1. Emiten diperkenankan untuk membeli sahamnya di pasar (buy back) tanpa RUPS, 2. Saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, 3. Dana Perlindungan Investor dan dikelola oleh PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI) ditingkatkan dari Rp25 juta menjadi Rp100 juta, dan 4. Broker dilarang melakukan transaksi short-selling. Semua kebijakan tersebut bertujuan agar IHSG, yang ketika itu sudah crash ke posisi 4,100-an dari sebelumnya 5,500-an, bisa segera pulih kembali, atau minimal tidak turun lebih lanjut.
Nah, yang menarik adalah peraturan Nomor 2, yakni bahwa saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, dimana jika ada orang yang pasang bid atau offer pada harga yang lebih rendah dibanding batas penurunan 10% tersebut, maka akan otomatis ditolak oleh sistem (auto reject). Sebelumnya, peraturan BEI menyebutkan bahwa saham dengan harga nominal Rp50 – 200 bisa naik atau turun maksimal 35% dalam sehari, nominal 200 – 5,000 bisa naik atau turun maksimal 25% dalam sehari, dan nominal diatas 5,000 bisa naik atau turun maksimal 20% dalam sehari.
Peraturan dimana suatu saham memiliki batas kenaikan dan penurunan yang sama (misalnya saham A harganya Rp100, maka dia bisa naik maksimal hingga 35% dan sebaliknya bisa turun 35% juga, dalam sehari), itulah yang disebut dengan AR simetris. Namun setelah tanggal 25 Agustus 2015, maka suatu saham masih bisa naik maksimal hingga 35% dalam sehari, tapi hanya bisa turun maksimal 10% saja. Batas kenaikan dan penurunan yang berbeda inilah, yang disebut AR asimetris.
Catatan: Di kalangan investor dan trader, kalau ada saham jeblok hingga mentok 10% dalam sehari, maka istilahnya adalah AR kiri, atau AR bawah. Sementara kalau ada saham yang terbang hingga mentok 20%, 25%, atau 35% (tergantung nominal sahamnya), maka istilahnya AR kanan, atau AR atas.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, maka peraturan dimana saham hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari diharapkan mampu menahan IHSG agar tidak sampai turun hingga ke level yang tidak lagi mencerminkan fundamental perekonomian dan kinerja emiten, dimana jika itu terjadi (IHSG turun kelewat dalam) maka akan menimbulkan kepanikan massal. dan akan menghancurkan kepercayaan investor terhadap BEI dan investasi saham itu sendiri. Salah satu kasus terburuk adalah, pada bulan Oktober 2008, IHSG jeblok hingga lebih dari 20% hanya dalam tiga hari perdagangan, dan alhasil pasar kemudian butuh waktu yang cukup lama untuk pulih, dimana nilai transaksi perdagangan saham di BEI baru ramai kembali (baca: sama ramainya dengan sebelum IHSG mengalami crash) pada awal tahun 2012. Seandainya IHSG pada Oktober 2008 tersebut, meski turun, namun penurunannya tidak separah itu, maka pasar kemungkinan akan pulih lebih cepat, investor segera kembali masuk pasar, dan para broker tidak akan kelamaan bengong dirumah karena transaksi perdagangan kembali ramai.
However, dalam kondisi pasar yang normal dan stabil, maka peraturan penurunan maksimal 10% ini menyebabkan pergerakan saham-saham tertentu tidak lagi mencerminkan fundamental perusahaan yang bersangkutan. Sebab dalam kondisi dimana IHSG sedang naik sekalipun maka akan selalu ada saja ‘saham-saham blangsak’ yang normalnya boleh-boleh saja turun sampai 30% sekalipun, tapi itu tidak terjadi karena batas AR bawah 10% tadi. Intinya peraturan ini menimbulkan kesan konyol bahwa ‘saham apapun boleh naik, tapi gak boleh turun’. Selain itu peraturan ini, meski di satu sisi menguntungkan investor dan trader, namun kurang menguntungkan bagi para sekuritas/broker dan BEI itu sendiri, karena jika sebuah saham turun 10% dalam sehari maka ya sudah, untuk hari itu tidak akan terjadi transaksi lagi, dan alhasil pendapatan trading fee bagi para broker (dan juga BEI sebagai regulator, ingat bahwa sekuritas sebagai anggota bursa harus menyetor sebagian pendapatan trading fee-nya ke BEI, KSEI, dan KPEI) menjadi tidak maksimal.
Jadi mungkin karena itulah, pada tanggal 30 Agustus 2016 kemarin Mr. Hamdi menyatakan bahwa BEI tengah mengkaji kembali beberapa peraturan perdagangan, termasuk bahwa BEI mungkin akan kembali memberlakukan peraturan AR simetris, dimana sebuah saham bisa naik atau turun hingga35% dalam sehari. Namun entah wartawannya yang salah tulis atau gimana (yang kemudian dikutip begitu saja oleh para analis sekuritas dalam menerbitkan analisisnya, ini kacau bener dah), publik menangkap pernyataan tersebut sebagai, ‘BEI akan menghapus batas bawah 10% mulai tanggal 1 September’, padahal Mr. Hamdi tidak mengatakan apapun soal tanggal 1 September tersebut! Dan BEI juga sama sekali belum mengeluarkan peraturan baru terkait auto reject. Demikian pula ketika Mr. Hamdi mengatakan bahwa BEI tengah mengkaji untuk menghapus peraturan batas harga terendah Rp50 (sehingga sebuah saham bisa turun hingga maksimal Rp0), maka itu baru sebatas kajian saja, dan belum ada peraturan apapun yang secara resmi menghapus batas harga Rp50 tersebut.
(tapi biasanya sih kesalahan informasi ini cuma karena Mr. Hamdi keceplosan aja pas ditanya wartawan, atau dengan kata lain, Mr. Hamdi gak akan ngomong begitu kalau gak ditanya. Jadi kalau penulis adalah Pak Tito, maka saya akan mengadakan training khusus kepada para direktur BEI agar berhati-hati dalam memberikan statement ke media karena, you know, wartawan sekarang kerjaannya kejar setoran mulu)
Tapi untungnya sehari kemudian, yakni tanggal 31 Agustus, pihak BEI segera mengklarifikasi bahwa BEI belum akan kembali memberlakukan peraturan AR simetris pada tanggal 1 September, dan bahwa batas bawah 10% masih berlaku hingga waktu yang belum ditentukan.
Tapi yah, mari kita berandai-andai: Jika peraturan batas bawah 10% benar-benar dihapus, dimana sebuah saham bisa saja jeblok 35% dalam sehari, maka apa yang akan terjadi? Maka tentu, pasar saham akan ramai lagi! Terakhir kali penulis menyaksikan IHSG jeblok gila-gilaan adalah pada perdagangan pasca libur Imlek di bulan Oktober 2011, dimana IHSG turun 8.88% dalam sehari (jadi waktu IHSG panic selling Agustus 2015 lalu, trust me, itu gak ada apa-apanya). Tapi penulis tidak yakin BEI berani melakukan itu karena para investor sekarang ini lebih sensitif, kemungkinan karena informasi lebih cepat menyebar karena adanya internet, grup/forum saham, dan media sosial, dimana jika IHSG turun 2% saja dalam sehari maka orang-orang akan langsung panik, dan kepanikan ini akan dengan cepat menyebar ke investor lainnya karena adanya media sosial tadi, sehingga akan langsung terjadi kepanikan massal. Selain itu, bahkan meski dengan peraturan batas bawah 10% ini, namun itu tidak mencegah saham-saham tertentu untuk turun gila-gilaan, katakanlah seperti saham Bank Pundi (BEKS) atau Bank CIMB Niaga (BNGA), karena meski saham tersebut hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, namun toh besoknya dia bisa turun 10% lagi, demikian seterusnya. As you can see, kondisi ini bisa lebih buruk andaikan saham-saham diperkenankan turun hingga 35% dalam sehari.
Sementara soal wacana bahwa batas harga Rp50 dihapus, well, penulis no comment. Tapi memang kalau kita pakai patokan Bursa Amerika, maka saham-saham tertentu, jika memang fundamentalnya sangat buruk, bisa turun hingga level harga 1 Sen atau US$ 0.01, atau bahkan nol Dollar, dimana jika sahamnya kemudian gak naik-naik juga maka akan ditendang keluar dari bursa (delisting). Nah, meski penulis tidak tahu apakah disini juga bisa diberlakukan peraturan yang sama, yakni bahwa suatu saham bisa turun sampai harganya Rp0, namun jujur saja, penulis penasaran dengan apa yang akan terjadi jika peraturan itu benar-benar diberlakukan.. Well, what do you think?

INFO: Buletin Analisis Pergerakan IHSG & Stockpick Pilihan edisi September 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya [...]

Mengenal ‘Market Hype’, dan Pengaruhnya ke IHSG

Pertengahan Juli lalu, dunia dihebohkan dengan dirilisnya permainan ponsel Pokemon GO, yang segera menjadi hits karena berbeda dengan video game pada umumnya dimana si pemain akan duduk seharian di depan televisi, Pokemon GO mengharuskan pemain untuk pergi keluar rumah dan berjalan kaki kesana kemari. Begitu populernya permainan ini, hingga orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mendengar video game Pokemon (permainan Pokemon sudah ada sejak tahun 1990-an akhir, Pokemon GO ini merupakan versi terbarunya saja), karena penasaran akhirnya ikut men-download-nya juga, dan memainkannya di ponsel mereka masing-masing. Alhasil, kurang dari satu bulan setelah dirilis, Pokemon GO sudah dimainkan oleh 45 juta orang di seluruh dunia.

Penulis sendiri termasuk yang penasaran ikut mendownload Pokemon GO ini, dan untuk beberapa saat saya menyukainya. However, tak sampai seminggu kemudian penulis tidak lagi memainkannya karena beberapa faktor: 1. Jakarta belakangan ini hujan mulu, sehingga males keluar rumah, 2. Kalo nggak hujan maka panasnya minta ampun, belum lagi udara pengap karena asap kendaraan bermotor, kalau kebetulan kita nyari ‘monster’ di jalan raya, dan 3. Kalau kita tinggal di kota yang sepi dan gak banyak orang, maka aman-aman saja jalan kaki sambil melihat ponsel terus menerus. Tapi kalau di jalanan di Jakarta, anda bisa diserempet mobil! I mean, penulis bukannya gak suka jalan kaki, suka banget malah. Tapi tentunya jauh lebih menyenangkan berjalan kaki di gunung atau pantai sambil liat-liat pemandangan, ketimbang di jalanan kota yang macet dan sumpek sambil ngeliatin layar ponsel.
Dan.. baru hari ini penulis mendengar bahwa jumlah pemain Pokemon GO berkurang drastis, dari tadinya 45 juta menjadi sekitar 30 juta saja, dan terus berkurang. Segala kehebohan dan antusiasme tentang Pokemon GO dengan cepat menghilang, sama cepatnya dengan kemunculannya sebulan yang lalu. Namun demikian hal ini justru disyukuri oleh mereka-mereka yang sejak awal memang merupakan penggemar Pokemon, dimana dengan berkurangnya jumlah pemain maka tidak ada lagi keluhan server yang overload, failed login, dll. Bagi para ‘pokemon trainer’ sejati ini, hanya karena Pokemon GO sekarang sudah tidak populer lagi maka bukan berarti mereka akan berhenti memainkannya. Sebaliknya, bagi para pemain yang sejak awal cuma ikut-ikutan, mereka mungkin malah sudah meng-uninstall Pokemon GO dari ponselnya.
Nah, fenomena kemunculan Pokemon GO yang dengan cepat menjadi populer, namun popularitas itu segera menguap tak lama kemudian, itulah yang disebut dengan ‘hype’. Hype, atau secara harfiah bermakna ‘sensasi’, adalah situasi dimana sekelompok orang merasa tertarik dan antusias terhadap sesuatu, dan antusiasme ini dengan cepat menular ke orang-orang lainnya. Pada jaman serba internet seperti sekarang, ketika seseorang menyukai sesuatu, dalam hal ini permainan Pokemon GO, maka ia akan berbagi cerita tentang Pokemon GO ini melalui jejaring sosial dll, dan kemudian menjadi headline news di media, sehingga orang-orang akan penasaran dan akhirnya ikut bermain. Namun setelah orang-orang yang penasaran ini belakangan menyadari bahwa Pokemon GO ternyata tidak se-menyenangkan itu, maka mereka kemudian berhenti bermain, dan antusiasme mereka akan hilang begitu saja.
Okay, lalu apa hubungan antara fenomena ‘hype’ ini dengan pasar saham, khususnya IHSG?
Bersamaan dengan kemunculan Pokemon GO pada awal Juli kemarin, Pemerintah juga meluncurkan kebijakan tax amnesty, yang digadang-gadang akan mampu meningkatkan penerimaan pajak negara untuk pembangunan infrastruktur, menarik dana milik konglomerat Indonesia yang selama ini diparkir diluar negeri sehingga meningkatkan likuiditas perekonomian di tanah air, dan pada akhirnya kembali menumbuhkan perekonomian. Dan berbeda dengan kebijakan-kebijakan sebelumnya, Pemerintah kali ini sangat gencar dalam men-sosialisasi-kan tax amnesty ini, sehingga kebijakan ini menjadi sangat populer dan memicu antusiasme para pelaku pasar saham, dimana IHSG dengan cepat naik pada awal Juli lalu dari posisi 4,800-an hingga hampir saja break new high di level 5,500-an, seolah-olah kebijakan tax amnesty ini sudah berhasil dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Padahal, seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel ini, tax amnesty ini baru dimulai dan belum menghasilkan dampak riil apapun ke perekonomian. Termasuk perlu dicatat bahwa target penerimaan uang tebusan yang sebesar Rp165 trilyun itu baru sebatas target yang mungkin akan tercapai, tapi mungkin juga tidak.
Jadi ketika kemudian belakangan ini mulai muncul beberapa masalah terkait pelaksanaan tax amnesty ini, seperti penolakan sebagian masyarakat terutama karena mereka harus membayar tebusan sebesar 2% (karena memang, 2% itu sebenarnya cukup besar. Let say harta yang dilaporkan Rp1 milyar, maka 2% itu sudah setara Rp20 juta, atau cukup buat beli motor), sementara penerimaan uang tebusan juga sama sekali masih jauh dari target (hingga ketika artikel ini ditulis, penerimaan uang tebusan baru mencapai Rp2.6 trilyun, padahal ini sudah akhir Agustus), maka penulis langsung ingat dengan fenomena hype Pokemon GO tadi, dimana cerita tax amnesty ini dengan cepat menjadi populer, tapi langsung meredup tak lama kemudian. Berbagai asumsi tentang ditariknya dana ribuan trilyun dari luar negeri, hingga para pengusaha yang bersemangat ikut tax amnesty ini, pada akhirnya hanya menjadi angan-angan semata, setidaknya hingga saat ini. To be honest, jika sebulan lalu para investor di pasar saham sangat bersemangat dalam membicarakan soal tax amnesty, maka sekarang ini mereka justru khawatir karena ternyata yang harus ikut tax amnesty ini gak cuma konglomerat, tapi juga investor yang memiliki harta dalam bentuk saham, yakni jika harta tersebut belum dilaporkan di SPT, apalagi jika si investor itu tidak pernah melaporkan SPT sama sekali (kalau anda masih bingung soal pajak bagi investor saham, baca penjelasannya disini).
Kesimpulannya, fenomena tax amnesty inilah yang kita sebut dengan ‘market hype’, yakni hype yang terjadi di pasar saham karena adanya cerita atau peristiwa heboh tertentu, yang menimbulkan antusiasme investor dan mendorong kenaikan IHSG secara signifikan. However, ketika kemudian hype ini meredup dengan sendirinya, maka IHSG juga otomatis tidak punya alasan untuk naik lebih tinggi lagi, dan kemungkinan itu pula yang menyebabkan indeks belakangan ini tertahan di level 5,300 – 5,400.
Lalu bagaimana kedepannya? That, only time will tell. Namun sebagai gambaran, pada tahun 2014 lalu pasar saham Indonesia juga pernah dilanda market hype terkait Pilpres, dimana hampir semua analis mengatakan bahwa perekonomian nasional yang sempat lesu di tahun 2013 akan pulih pada tahun 2014 ini, karena perputaran uang yang sangat besar terkait Pemilu dan Pilpres, dan sentimen tersebut langsung mendorong kenaikan IHSG bahkan sejak awal tahun. Kemudian pada bulan Maret, IHSG sempat melompat hingga 3% dalam sehari, setelah Jokowi pada hari itu resmi maju sebagai Calon Presiden (sejak awal, Jokowi merupakan calon presiden yang paling disukai para pelaku pasar). Dan seiring hasil quick count pada tanggal 9 Juli yang memenangkan pasangan Jokowi – JK, dilanjutkan dengan pelantikannya pada tanggal 20 Oktober (yang diluar dugaan berjalan sangat lancar, bahkan Pak Prabowo berbesar hati untuk turut hadir), maka market hype dengan judul ‘Jokowi Effect’ ini terus saja berlanjut, hingga IHSG akhirnya menutup perjalanan di tahun 2014 dengan kenaikan yang meyakinkan, yakni 22.3%.

Kenaikan dramatis IHSG di menit-menit terakhir perdagangan tanggal 14 Maret 2014, sesaat setelah Jokowi resmi nyapres.
Namun memasuki tahun 2015, kondisi ekonomi tiba-tiba menjadi lesu, dagang apa aja nggak laku, Rupiah terus saja melemah, dan para emiten melaporkan kinerja yang hancur lebur. Jadi ketika itulah, fenomena Jokowi Effect di pasar saham (yang bertahan cukup lama, lebih dari setahun), pada akhirnya mulai meredup dan tidak pernah menjadi populer kembali (sejak tahun 2015 lalu, nobody talk about Jokowi Effect anymore), dan IHSG ditutup anjlok 12.1% sepanjang tahun 2015.
Nah, jadi terkait tax amnesty ini maka analisisnya sederhana saja: Jika kedepannya Pemerintah mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan tax amnesty ini, dan penerimaan uang tebusan sukses meningkat hingga ke level dimana target Rp165 trilyun tadi menjadi realistis untuk dicapai, maka ‘hype’ yang sudah terjadi sejak dua bulan lalu seharusnya akan terus terjaga, dan IHSG berpeluang untuk naik lebih lanjut. Tapi jika tidak? Ya otomatis ‘hype’-nya akan hilang, orang-orang gak akan peduli lagi soal tax amnesty ini, dan akan balik lagi ke faktor fundamental. So, let’s hope bahwa kalaupun nanti market hype terkait tax amnesty ini pada akhirnya meredup, namun fundamental ekonomi tetap terjaga positif, minimal tidak memburuk lagi seperti tahun 2015 lalu (dan kabar baiknya, pertumbuhan ekonomi terakhir sudah di level 5.18%, jauh lebih baik dibanding pertengahan 2015 lalu, yang hanya 4.67%).
Sebab jika nanti antusiasme investor terkait tax amnesty ini benar-benar menghilang, sementara perekonomian/kinerja emiten juga tidak improve maka.. penulis sudah gak perlu ngasih tau lagi kan, IHSG bakal kemana?
Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stock Pick Saham Pilihan edisi September 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi & tanya jawab saham untuk member, langsung dengan [...]

Menentukan Timing Buy/Sell berdasarkan ‘Quiet Market Period’

Di artikel minggu lalu tentang IPO Waskita Beton Precast (WSBP), penulis menyampaikan tentang pentingnya faktor timing dalam menentukan apakah anda ikut IPO WSBP atau tidak, dimana jika anda menganggap bahwa IHSG masih berpeluang untuk naik lebih lanjut maka anda boleh ikut. Tapi jika anda menganggap bahwa IHSG sudah mahal dan bisa turun sewaktu-waktu, maka akan lebih aman jika nanti anda beli sahamnya di market. Jadi meski terdapat dua orang investor yang sama-sama menganggap bahwa WSBP layak investasi, namun keputusan untuk ikut IPO-nya bisa berbeda, tergantung jawaban mereka terhadap pertanyaan berikut: Apakah sekarang merupakan waktu yang tepat untuk belanja saham, entah itu WSBP atau lainnya?

Jadi dalam hal inilah, market timing menjadi penting. Secara defisini, market timing adalah strategi investasi dengan melihat perkembangan pasar/IHSG, dimana kita masuk ketika IHSG akan naik, dan keluar ketika IHSG akan turun. Poinnya disini adalah, kita memang tidak bisa memprediksi kapan IHSG akan naik atau turun, namun dengan pendekatan value investing maka kita bisa menilai apakah valuasi IHSG sudah mahal atau belum, dan memiliki fundamental yang baik atau tidak (berdasarkan kinerja terbaru para emiten).
Sehingga kalau kita melihat bahwa IHSG sudah naik banyak dan valuasinya juga sudah tinggi, sementara fundamentalnya juga terlalu bagus, maka kita bisa mengatakan bahwa cepat atau lambat dia akan turun. Sebaliknya, ketika IHSG turun drastis hingga valuasi ASII dkk menjadi murah, sementara kinerja para emiten serta perkembangan ekonomi makro juga gak sejelek itu, maka kita bisa mengatakan bahwa cepat atau lambat dia akan naik. Contoh untuk kasusnya adalah, pada Januari 2016 lalu, penulis mengatakan bahwa dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini dan itu, maka IHSG, yang ketika itu berada di posisi 4,500-an, cepat atau lambat akan naik. And indeed, meski pada Januari tersebut IHSG justru sempat longsor dulu ke 4,300-an (waktu itu karena ada cerita penurunan harga minyak, dan anjloknya Bursa China), tapi pada akhirnya dia naik lagi hingga ke posisi sekarang yakni 5,400-an (meski penulis sendiri, terus terang, waktu itu saya nggak menganggap bahwa IHSG bisa naik setinggi ini). Anda bisa baca lagi artikelnya disini.
Jadi jika pada Januari tersebut anda belanja saham, maka hari ini anda harusnya sudah meraih profit signifikan, apapun pilihan sahamnya (kecuali mungkin jika anda memilih saham blangsak, seperti BUMI dkk). Sebaliknya, jika anda baru memutuskan untuk masuk ketika IHSG sudah tembus 5,000-an beberapa waktu lalu, maka saham-saham anda mungkin tidak semuanya hijau, tapi ada juga yang nyangkut. Dalam hal inilah seorang investor mungkin akan mengalami kerugian dan itu mungkin bukan karena dia membeli saham jelek, melainkan karena ia masuk di waktu yang salah.
Nah, sebenarnya kalau kita ikuti petuah guru besar Warren Buffett, maka market timing ini tidaklah penting. Karena meski pasar bisa berfluktuasi dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang pada akhirnya dia tetap naik. Jadi asalkan anda beli saham bagus di harga murah, maka kalaupun dia turun dulu sejenak karena kebetulan IHSG-nya lagi turun, namun pada akhirnya dia akan naik lagi, karena IHSG juga tidak akan selamanya turun terus (dan sebaliknya, gak akan selamanya naik terus). Contoh paling gampang, tahun lalu PP Properti (PPRO)sempat turun dari 200-an hingga mentok di 130, karena terseret panic selling IHSG di bulan Agustus 2015. Tapi karena emang dasar barangnya bagus, maka ya anda bisa lihat sendiri, berapa PPRO sekarang. Jadi jika anda ketika itu mengabaikan IHSG dan tetap beli PPRO ini di harga 200, maka meski anda kemudian bakal nyangkut cukup dalam, tapi pada akhirnya anda tetap profit.

Namun demikian, terdapat dua perbedaan mendasar antara Opa Warren dengan kebanyakan investor-investor lainnya di seluruh dunia. Pertama, beliau punya ‘mesin cash’, yakni dari dividen Coca Cola dll, plus cash yang dihasilkan dari operasional perusahaan-perusahaan asuransi milik Berkshire. Pendek kata, jika beliau sewaktu-waktu butuh uang untuk belanja saham/nambah posisi di harga bawah, misalnya ketika terjadi market crash seperti tahun 2008 lalu, maka ia tidak perlu menjual sebagian sahamnya sebelumnya (untuk memperoleh cash tersebut), karena seiring dengan berjalannya waktu maka cash tersebut akan nongol sendiri. Kedua, secara psikologis, Opa Warren mungkin merupakan investor paling calm di dunia, bahkan sejak ketika dulu dia masih muda. Dalam 50 tahun terakhir sejak Buffett mengakuisisi Berkshire Hathaway di tahun 1964, Dow Jones beberapa kali mengalami krisis besar, dan saham Berskhire pernah anjlok lebih dari 50% sebanyak tiga kali. Ketika menghadapi situasi yang sangat sulit seperti itu, investor manapun bisa saja melakukan tindakan yang keliru (karena panik). But still, Buffett mampu melewatinya dengan baik, dan sampai sekarang beliau tetap konsisten mempraktekkan metode value investing yang sudah ia kuasai sejak tahun 1950-an.
Sementara kebanyakan investor tidak memiliki sumber cashflow (atau ada cashflow dari dividen, tapi nilainya masih kecil), sehingga ia harus menjual sebagian sahamnya untuk memperoleh cash untuk nanti beli lagi di harga bawah, jika benar bahwa pasar/IHSG kemudian turun. Dan kedua, meski penulis sendiri pernah beberapa kali memegang saham bagus yang harganya turun karena penurunan IHSG atau karena adanya sentimen negatif tertentu, dan kita ketika itu tetap santai-santai saja, tapi kebanyakan orang gak bisa santai begitu. Mau anda pegang saham sebagus Bank BRI (BBRI) sekalipun, tapi kalau nanti IHSG terkoreksi dan dia jeblok ke 8,000-an, maka tetap saja orang-orang akan panik, dan mungkin malah justru cut loss ketika seharusnya dia nambah posisi (tapi untuk nambah posisi ini juga gak bisa, karena cash sudah habis). Termasuk pada contoh PPRO diatas, bukan tidak mungkin anda justru malah cut loss di harga 130-an, hanya karena ‘Hayati lelah, Abang!’
Jadi kesimpulannya, market timing tetap penting untuk diperhatikan.
Okay, lalu bagaimana cara untuk mengetahui bahwa kita membeli dan menjual saham di waktu yang tepat, dalam hal ini berdasarkan posisi IHSG? Well, ini adalah pertanyaan semua orang dan jawabannya amat sangat panjang, dan kita  sudah berkali-kali membahas topik ‘kapan sebaiknya kita membeli/menjual saham?’ di blog ini, termasuk berdasarkan analisis IHSG (karena untuk menentukan timing untuk membeli atau menjual saham juga tidak selalu berdasarkan pergerakan IHSG, tapi juga berdasarkan kinerja fundamental dari emitennya sendiri, dll). Namun kali ini penulis akan membahasnya dari salah satu fenomena yang sering terjadi di pasar, yakni fenomena ‘Quiet Period’, here we go!
Yang dimaksud quiet period adalah periode waktu tertentu dimana saham-saham di BEI cenderung bergerak dengan volatilitas yang tipis, menurunnya volume transaksi harian, dan juga berkurangnya cerita-cerita (entah itu bernada positif atau negatif) yang biasanya ramai beredar di stock market. Contoh paling mudah adalah, pada bulan Juni kemarin, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, market cenderung sepi dimana nilai transaksi harian di BEI hanya Rp5 – 6 trilyun per hari, dan orang-orang lebih tertarik ngomongin soal siapa yang bakal juara Euro 2016, ketimbang soal tax amnesty dll. Sebenarnya cerita soal tax amnesty ini sudah ada sejak bulan April, waktu itu berbarengan dengan cerita Panama Papers, tapi baru booming di market setelah lebaran (dan itu juga yang bikin IHSG kemudian naik banyak).
Sementara IHSG, yang sudah naik ke level 4,800-an pada bulan Maret, hingga akhir Juni tersebut masih tetap berada di 4,800-an. Namun perhatikan: Sebelum bulan Juni, pasar masih ramai dengan cerita-cerita penurunan NIM perbankan, perubahan BI Rate menjadi BI 7-day Rate, ‘Sell in May and Go Away’, jatuhnya harga minyak, penurunan Bursa China, dll, dan orang-orang ketika itu masih serba bingung, apakah sekarang waktunya untuk belanja atau tidak? Jatuhnya saham-saham perbankan merupakan kesempatan atau bukan? Dan seterusnya.
Tapi memasuki bulan Juni, tiba-tiba saja market menjadi sepiiiii.. Berbagai sentimen positif ataupun negatif bukannya tidak ada, ada banyak malah, hanya saja orang-orang cenderung tidak peduli. Posisi IHSG ketika itu juga tidak terlalu mendatar, melainkan justru mulai naik dari 4,700-an di bulan Mei hingga balik lagi ke 4,800-an, namun sekali lagi, ketika itu orang-orang tidak peduli. Market baru heboh lagi setelah adanya ‘wake up call’ dari Inggris sana, ketika referendum Brexit memutuskan bahwa Inggris harus keluar dari Uni Eropa, yang sehari kemudian langsung ditutup oleh cerita Tax Amnesty (baca lagi ceritanya disini). Dan pasar baru benar-benar menggila setelah libur panjang lebaran, dimana IHSG dengan cepat naik hingga ke posisi sekarang, dan hampir semua saham menghasilkan profit extraordinary.
Nah, entah anda memperhatikan atau tidak, namun situasi ‘quiet market’ juga pernah terjadi pada tahun 2015 lalu, tepatnya juga di bulan Juni, dimana IHSG ketika itu mulai turun dari 5,500 ke posisi 4,800-an, tapi orang-orang tidak peduli (termasuk yang nyangkut juga cuek aja, gak pake marah-marah di Facebook), market cenderung sepi, kemungkinan karena ketika itu juga lagi bulan puasa. Namun setelah lebaran di bulan Juli, IHSG tanpa ampun langsung longsor hingga mencapai titik terendahnya di bulan Agustus, dan ketika itulah pasar ramai lagi, dalam hal ini ramai panic selling, plus ramai cerita-cerita yang entah nongol dari mana, bahwa Indonesia krisis bla bla bla.
Sebenarnya masih ada banyak lagi contoh di tahun-tahun lalu tentang situasi ‘pasar sepi’ ini, namun intinya adalah, situasi ‘quiet market’ seringkali merupakan awal dari kehebohan pasar yang luar biasa, entah itu IHSG-nya naik tinggi atau sebaliknya jeblok sekalian. Menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam dua minggu terakhir, pasar saham Amerika juga mengalami situasi paling tenang dalam beberapa tahun terakhir, dimana Dow Jones, S&P, dan Nasdaq cenderung gak kemana-mana setelah sebelumnya naik banyak (posisi Dow saat ini berada di all time high-nya), dan mulai ada banyak analis yang mengingatkan bahwa sebelum pasar mulai turun banyak di tahun 2008, 2011, dan 2015 lalu, maka selalu diawali dengan periode ‘quiet’ seperti ini terlebih dahulu.
Sementara di Indonesia? Well, entah anda bisa merasakannya atau tidak, namun sepanjang Agustus ini IHSG juga kembali ‘quiet’.. dimana cerita tax amnesty sudah menguap, kenaikan saham-saham BUMN serta right issuenya tidak begitu diperhatikan pasar, and nobody talk about cuan or nyangkut anymore so.. what do you think? Is it a ‘calm before storm’, or ‘calm before another bullish’?
Sudah tentu, untuk menjawab pertanyaan diatas maka anda harus menganalisis pasar lebih dalam lagi dengan melihat kinerja terbaru emiten, perkembangan ekonomi makro, kondisi market global, dll. Namun yang terpenting disini adalah, apapun pendapat anda entah itu pasar akan lanjut naik atau turun setelah ‘masa tenang’ ini, tapi pengalaman mengajarkan bahwa, jika anda hendak membuat keputusan investasi entah itu membeli atau menjual (apapun pilihan sahamnya), maka sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya, sebelum nanti pasar ramai lagi dan IHSG terlanjur naik banyak (sehingga anda terlambat belanja), atau sebaliknya terlanjur turun banyak (sehingga anda terlambat jualan). I mean, kalau anda mau naik kereta, maka anda harus naik (atau turun) ketika kereta itu sedang berhenti di stasiun bukan? Jadi jangan pas dia udah jalan lagi lalu baru anda kejar-kejar!
Info: Buletin Analisis IHSG & Stock Pick Saham Pilihan edisi September 2016 akan terbit tanggal 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi & tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Analisis IPO Waskita Beton Precast

IPO Waskita Beton Precast mungkin merupakan IPO yang paling ramai dibicarakan di market di tahun 2016 ini, karena beberapa faktor. Pertama, dia BUMN, dimana kalau melihat IPO-IPO BUMN sebelumnya yang terbilang sukses dari sisi kenaikan harga sahamnya, seperti Wijaya Karya Beton (WTON) atau PP Properti (PPRO), maka IPO Waskita Beton ini juga diprediksi akan sukses. Kedua, ketika IHSG naik banyak dalam tiga bulan terakhir ini, maka saham-saham BUMN lapis dua (yang harga sahamnya di nominal ratusan Rupiah) naiknya lebih banyak lagi, dan harga perdana Waskita Beton ini kebetulan juga akan berada di level Rp400 – 500 per saham. Dan ketiga, Waskita Beton bergerak di bidang yang berhubungan langsung dengan pembangunan infrastruktur, yakni pembuatan beton precast dan ready mix untuk konstruksi jalan raya, jembatan, dll, dimana sejak setahunan lalu, boleh dibilang tidak ada cerita lain yang lebih hot dan konsisten di market kecuali soal pembangunan infrastruktur ini.

Namun terkait perusahaannya sendiri, apakah anda mengerti apa itu beton precast dan ready mix? Lalu bagaimana prospek, risiko usaha, serta track record kinerja perusahaan baik secara historis maupun yang terbaru? Okay, kita akan membahasnya disini.
Waskita Beton adalah anak usaha dari Waskita Karya (WSKT), dimana sebagai perusahaan konstruksi, WSKT tentunya memiliki unit usaha di bidang pembuatan beton precast, yakni beton semen untuk konstruksi jalan layang, tiang listrik, gorong-gorong, bantalan rel kereta api dll, yang dicetak di pabrik lalu dikirim satu per satu ke lokasi konstruksi, untuk kemudian dipasang. Berikut adalah gambar beberapa jenis beton precast yang diproduksi perusahaan (klik gambar untuk memperbesar):

Hingga Juni 2016, Waskita Beton memiliki delapan pabrik beton precast yang berlokasi tak jauh dari proyek-proyek konstruksi milik WSKT (umumnya konstruksi jalan tol), yakni di Cibitung (Cikarang), Sadang (Subang), Kalijati (Subang), Purwadadi (Subang), Karawang, Serang, Sidoarjo, dan Palembang. Sekitar 87% pendapatan Waskita Beton berasal dari penjualan beton precast, umumnya ke sesama anak usaha WSKT, dan selebihnya berasal dari penjualan ready mix, yakni beton cor yang dicetak langsung di lokasi konstruksi (pake truk molen yang gede itu lho). Waskita Beton membukukan laba bersih Rp230 milyar per Kuartal II 2016, yang mencerminkan annualized ROE 24.7% berdasarkan nilai ekuitas Rp1.9 trilyun, atau cukup baik. Pada tahun 2014 dan 2015, ROE Waskita Beton juga stabil diatas 20% per tahun.
Nah, ketika Pemerintahan baru dibawah Presiden Jokowi resmi dilantik pada bulan Oktober 2014, PT Waskita Beton Precast juga langsung didirikan pada bulan Oktober tersebut, ketika itu dengan target untuk IPO tiga tahun kemudian (berdasarkan peraturan BEI, sebuah perusahaan/PT baru bisa IPO setelah berdiri dan beroperasi minimal tiga tahun sebelumnya). Jadi ketika pemerintah dengan cepat mengucurkan dana ke BUMN-BUMN termasuk WSKT untuk membangun infrastruktur melalui mekanisme penyertaan modal negara (atau right issue, jika BUMN tersebut berstatus sebagai perusahaan Tbk), dimana WSKT sudah melakukan right issue-nya pada tahun 2015 kemarin, maka juga terdapat opsi untuk meraup dana tambahan dari investor di pasar modal melalui mekanisme IPO.
Tapi kalau WSKT sejak awal sudah listing di BEI, lalu perusahaan apa yang akan di-IPO-kan? Ya bisa IPO anak usahanya. Kalau WSKT gak punya anak usaha gimana? Ya tinggal ke notaris, bikin PT dimana WSKT menjadi pemegang sahamnya (jadi PT baru ini berstatus sebagai anak usaha WSKT), kemudian letakkan sebagian lini usaha WSKT dibawah PT yang baru ini, lalu tunggu 3 tahun. Maka kemudian lahirlah PT Waskita Beton Precast ini. Dalam kasus IPO Waskita Beton ini memang Pemerintah tidak perlu nunggu sampai 3 tahun sejak pendirian perusahaan (Waskita Beton akan listing tanggal 20 September nanti, atau gak sampai 2 tahun sejak pendirian perusahaan), tapi sepertinya dalam hal ini BEI melakukan pengecualian, karena ini urusannya sama bos besar (baca: Pemerintha).
Jadi kalau anda ikut IPO Waskita Beton ini, maka secara tidak langsung anda turut berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur yang digalang oleh pemerintah. Dari IPO-nya, Waskita Beton akan memperoleh tambahan modal sekitar Rp4 trilyun, yang akan sepenuhnya digunakan untuk modal kerja (pembelian bahan baku, gaji karyawan, dll), investasi pembangunan pabrik beton baru, dan meningkatkan kapasitas produksi dari pabrik-pabrik yang sudah ada. Berhubung WSKT sebagai induk perusahaan sudah memperoleh banyak sekali kontrak konstruksi hingga beberapa tahun kedepan, terutama pembangunan jalan tol dan jaringan transmisi listrik di Jawa dan Sumatera (dan WSKT sendiri tahun kemarin sudah memperoleh tambahan dana Rp5 trilyun dari right issue untuk mengerjakan proyek-proyek tersebut), maka Waskita Beton sepertinya tidak perlu khawatir kekurangan pembeli untuk produk-produk beton yang akan dihasilkan nanti, karena sejak awal pembelinya sudah ada. Total nilai kontrak yang diperoleh WSKT sendiri sampai Juni 2016 tercatat Rp45.7 trilyun, atau kembali meningkat signifikan dibanding tahun 2014 dan 2015, dan ini belum termasuk tambahan kontrak yang bisa diperoleh perusahaan di masa yang akan datang. So, kalau bicara prospek maka cukup jelas bahwa Waskita Beton ini menawarkan prospek investasi jangka panjang yang menguntungkan.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Melalui IPO-nya, Waskita Beton akan melepas 10.5 milyar lembar saham baru yang mencerminkan 40% jumlah saham beredar perusahaan. Let say kita ambil harga terendah, yakni Rp400 per saham, maka Waskita Beton akan memperoleh dana Rp4.2 trilyun, sehingga nilai ekuitas perusahaan pasca IPO adalah Rp6.1 trilyun. Karena jumlah saham Waskita Beton setelah IPO adalah 26.4 milyar lembar, maka nilai bukunya adalah Rp231 per saham, sehingga PBV-nya 400 / 231 = 1.7 kali.
Dan berhubung saat ini PBV dari saham-saham konstruksi di BEI rata-rata mencapai 2 atau bahkan 3 kali, maka PBV segitu sekilas tampak murah. Namun perhatikan pula: Valuasi saham-saham konstruksi belakangan ini memang lagi tinggi-tingginya seiring dengan bullish IHSG, atau dengan kata lain valuasi saham konstruksi pada saat ini tidak mencerminkan rata-rata valuasi mereka dalam jangka panjang, karena kita tahu bahwa IHSG juga tidak selalu tinggi seperti sekarang, melainkan diwaktu-waktu yang lain pernah turun juga, dan akan turun lagi suatu waktu nanti, karena itu merupakan siklus pasar yang normal.
Contohnya, ketika IHSG berada di posisi bottom pada Agustus 2015 lalu, maka saham-saham konstruksi/properti ketika itu juga turun cukup dalam, hingga PBV Adhi Karya (ADHI) (ini salah satu saham favorit penulis di sektor konstruksi) sempat hanya 1.4 kali. Demikian pula dengan PP Properti (PPRO), yang jeblok sampai Rp130 per saham dimana PBV-nya pada harga segitu cuma 0.9 kali. Contoh lainnya, pada tahun 2013, IHSG sempat melaju kencang dari 4,300-an hingga tembus 5,250 pada pertengahan tahun (naik hampir 1,000 poin hanya dalam waktu enam bulan), dan ketika itu ADHI dkk juga naik gila-gilaan hingga PBV mereka mencapai 4 kali atau bahkan lebih. Tapi di semester dua-nya, IHSG mulai turun dan terus turun, hingga balik lagi ke 4,200-an. Sementara ADHI? Well, dari sebelumnya dia naik dari 2,500 sampai sempat menyentuh 4,000, tapi selanjutnya dia turun ke posisi yang bahkan lebih rendah dari sebelum dia naik, yakni 1,400-an. Dan pada harga bottom-nya tersebut, PBV-nya hanya 1.4 kali.
Intinya sih, kalau kita pakai rata-rata valuasi saham konstruksi dalam jangka panjaaaang, katakanlah dalam 5 tahun dimana selama itu tentunya IHSG akan mengalami periode bullish dan bearish-nya secara bergantian, maka PBV saham-saham konstruksi sebenarnya bukan 2 – 3 kali, melainkan lebih rendah dari itu, kurang lebih sama saja seperti rata-rata PBV saham lain pada umumnya. Malah justru, karena saat ini PBV saham-saham konstruksi berada di level 2 – 3 kali, maka artinya posisi IHSG sekarang ini sudah cukup tinggi, dimana meski dalam jangka pendek bukan tidak mungkin IHSG naik lebih tinggi lagi (karena dimasa lalu, PBV WSKT dkk bahkan bisa mencapai 3.5 – 4 kali), tapi dalam jangka panjang pada akhirnya IHSG akan turun untuk menyesuaikan diri. Dan itu, sekali lagi, merupakan siklus pasar yang sangat normal.
Antara Siklus Pasar dan Timing
Kemudian kalau berdasarkan pengalaman, ketika sebuah emiten IPO maka sahamnya akan mengalami semacam masa transisi, dimana keputusan investor untuk membeli atau menjual sahamnya akan lebih dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak terkait langsung dengan fundamental perusahaan, yakni (seperti yang sudah disebut diatas): 1. Sejarah IPO-IPO sebelumnya, 2. Harga nominal saham, dimana saham dengan nilai nominal ratusan Rupiah biasanya naiknya lebih tinggi dibanding saham dengan nilai nominal ribuan, dan 3. Sentimen positif/negatif yang beredar.
Dan yang paling penting dari semuanya adalah: Kondisi pasar. Anda tahu kenapa IPO Waskita Beton ini ramai dibicarakan di publik dan diprediksi bakal sukses? Well, itu bukan karena perusahaannya bagus, sahamnya murah, atau semacamnya, karena tidak semua orang bisa menganalisis hal-hal tersebut. Yang benar adalah karena parena pasarnya lagi bagus, dimana IHSG lagi naik dan hampir semua orang sedang dalam posisi cuan sehingga punya cukup duit untuk beli saham baru (baca: saham IPO), apalagi jika saham baru tersebut terkait dengan sentimen positif yang sedang beredar, dalam hal ini pembangunan infrastruktur.
Tapi jika besok-besok IHSG turun, maka ya cerita IPO-nya bakal sepi lagi, dan sahamnya boro-boro melompat seperti yang diprediksi sebelumnya, melainkan bisa saja malah langsung nyungsep. Jadi dalam hal ini faktor timing sangat mempengaruhi kesuksesan IPO. IPO Wijaya Karya Beton (WTON) pada April 2014 lalu terbilang sukses karena IHSG ketika itu lagi naik, dan di bulan-bulan selanjutnya terus saja naik. Namun cerita berbeda dialami PP Properti (PPRO), yang meski sahamnya juga sempat melompat dari 185 ke 250 dalam hitungan hari setelah listing perdana di bulan Mei 2015, tapi karena IHSG-nya ketika itu mulai longsor maka sahamnya pun turut longsor hingga mentok di 130 pada Agustus 2015. Cerita yang lebih tragis lagi dialami Garuda Indonesia (GIAA), yang juga melakukan IPO besar-besaran pada Februari 2011, tapi pas banget ketika itu IHSG-nya lagi turun. Alhasil saham IPO-nya bahkan tidak laku dijual, dan setelah listing tanpa ampun sahamnya langsung jeblok dari harga perdana 750, hingga akhirnya mentok di 200-an.
Jadi selama ‘masa transisi’ inilah, pergerakan saham-saham IPO akan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti fluktuasi IHSG, cerita yang beredar, dll. Kemudian setelah beberapa bulan atau maksimal satu tahun, maka barulah orang-orang akan balik lagi ke faktor fundamental dan prospek usaha jangka panjang. PPRO bisa naik lagi ke posisi sekarang karena memang kinerjanya bagus. Sementara GIAA, meski belakangan ini juga lagi naik seiring dengan euforia saham-saham BUMN, namun hingga 2015 lalu dia hanya mondar-mandir saja di harga bawah, karena memang kinerjanya jelek.
Kesimpulannya, untuk Waskita Beton ini juga sama: Kinerjanya bagus, prospeknya bagus, dan valuasinya cukup wajar. Tapi selama masa transisi-nya nanti, maka orang-orang tidak akan memperhatikan hal tersebut, melainkan lebih melihat kondisi IHSG dan lain-lain. Sehingga sekarang pilihannya ada dua: Jika anda berpendapat bahwa bullish IHSG masih akan berlanjut dalam jangka pendek, setidaknya sampai tanggal 20 September nanti (karena Waskita Beton akan listing perdana pada tanggal tersebut), then go ahead, anda bisa langsung join IPO-nya dari sekarang. Don’t worry, Waskita Beton ini barang bagus kok.
Tapi jika anda berpendapat bahwa posisi IHSG pada saat ini sudah berisiko dan bisa balik arah sewaktu-waktu, maka anda bisa masuk belakangan dengan cara membeli sahamnya nanti di market, kalau bisa tunggu selama beberapa bulan hingga ‘masa transisi’ saham Waskita Beton ini berakhir, sambil terus melihat perkembangan kinerja terbaru perusahaan dari kuartal ke kuartal. Intinya sekali lagi, Waskita Beton ini bagus indeed, tapi ini cuma soal timing saja.
PT Waskita Beton Precast, Tbk
Rating kinerja pada Kuartal II 2016: A
Rating Saham pada 400: A
Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Seminar Value Investing, Surabaya, 27 Agustus 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Surabaya. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Surabaya dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:


Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:

  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham (profit taking, cut loss).
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Amaris Embong Surabaya, Jln. Kedung Doro No.1 – 3, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 Agustus 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya biar rame.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp500,000 per peserta.

Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama peserta seminar Value Investing, Jakarta, 30 Juli 2016
Komentar Alumni:
Pak teguh..  Saya sudah baca smua ebook bapak. Q2 dan Q1.. Betapa saya menyesal pak dulu Mei awal tidak beli ebook q1 bapak.. Pelit uang kecil. Hilang uang besar. Jujur saya 15-20an Mei panik dan kosongkan porto. Ikutan panic selling saya pak.. Bbni saya jual smua di 4400an. Padahal modal Average 4650.. Asii jual 6250. Modal 6600. Smgr jual 8900. Modal 9500

Sebuah langkah yang salah total
.

Saya barusan  TP sril di avg 291 pak.  Modal 270an.. Sehari sebelum naik 300 sebentar
terus tutup 284 ini. Saya jual krn saya liat ihsg daily kok bikin lower high. Posisi saya skrg pegang bbkp pak.. Krn saya melihat potensi mirip2 bjbr. Bisa terbang sewaktu2. Cuma juga ada ancang2 keluar klo ihsg longsor

Hmm inti nya saya mau ucapkan terima kasih pak teguh..  Saya merasa beruntung bisa mengenal pak teguh dan sudah mengambil keputusan tepat terbang ke jkt demi ikut seminar bapak [saya org sby]
. Dan beli ebook bapak. Semoga pak teguh terus diberkati Tuhan dan memberikan manfaat bagi orang2 banyak ya pak.
Oh dan recomendasi di ebooknya muantab banget. pak.. Kelihatan jelas dari ebook Q1, kalo value investing works. Banyak saham e yg sudah terbang. Lipat2 bahkan. Saya ikutin ini bbkp ya pak..  Semoga terbang seperti bjbr.. Dari smua saya feeling bbkp. Sama pnlf. Cuma mungkin pnlf pingin di 200an. Atau sril 260an lg klo dapat. Hehe.

Denny Wangsaputra – Surabaya (Alumni Seminar Jakarta, 30 Juli [...]

Prospektus IPO Waskita Beton Precast

Belakangan ini di market sedang ramai dibicarakan tentang IPO Waskita Beton Precast, yakni salah satu anak usaha dari Waskita Karya (WSKT) yang bergerak di bidang pembuatan beton precast dan ready mix. IPO Waskita Beton ini menarik karena, jika menilik IPO-IPO anak usaha BUMN sebelumnya seperti Wijaya Karya Beton (WTON), atau PP Properti (PPRO) dimana sahamnya sukses naik banyak, apalagi saham-saham BUMN lainnya juga terus naik akhir-akhir ini, maka perkiraan kasarnya adalah bahwa saham Waskita Beton ini juga bakal naik banyak, terutama jika pada September nanti (sahamnya listing perdana tanggal 20 September) IHSG-nya gak keburu turun.

Nah, bagi anda anda belum membaca prospektusnya, maka anda bisa men-download-nya disini.

Dan berhubung penulis sendiri sudah menerima banyak request untuk analisis Waskita Beton ini, maka kita akan mempublikasikan analisisnya di blog ini, paling lambat hari Rabu nanti. Namun untuk sekarang saya mengajak temen-temen investor dan analis untuk menyampaikan analisis anda masing-masing, untuk menjadi informasi bagi teman-teman pembaca lainnya. Anda bisa menulis analisis anda melalui kolom komentar dibawah.
Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Ebook Analisis Kuartal II 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal II 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan saat ini dia sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – [...]

Value Opportunity: WOM Finance

Dalam berinvestasi di saham, ada banyak keuntungan jika anda memilih untuk menggunakan metode value investing. Yang pertama, anda bisa beli saham kemudian ditinggal tanpa perlu dilihat-lihat lagi (kecuali beberapa waktu sekali, katakanlah sebulan sekali), sehingga anda punya banyak waktu untuk melakukan apapun kegiatan yang anda sukai secara rileks dan santai. Dan kedua, anda berpeluang untuk menemukan ‘mutiara terpendam’, yakni saham yang bisa jadi menawarkan profit extraordinary hingga ratusan persen, hanya dalam waktu yang relatif singkat.

Dan meski peluang emas seperti itu tentunya tidak selalu muncul setiap hari, namun berdasarkan pengalaman selama ini, dalam satu tahun biasanya kita bisa memperoleh paling tidak dua hingga tiga ‘value opportunity’ seperti itu, dan jumlahnya bisa lebih banyak lagi kalau IHSG sedang bersahabat.
Salah satu peluang tersebut adalah WOM Finance (WOMF). Penulis pertama kali menemukan WOMF ini pada awal tahun 2016 kemarin ketika sahamnya masih berada di level 75 – 80 perak, dan fakta menarik adalah, WOMF ketika itu sudah cukup lama hanya mondar mandir di rentang 75 – 80 tersebut, yakni sejak Agustus 2015 (sudah beberapa bulan). Sementara sebelum Agustus tersebut, WOMF cenderung turun dari level 200-an di tahun 2013 – 2014, dan bahkan dari posisi yang lebih tinggi lagi di tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan pengalaman, kalau ada saham yang sebelumnya dihargai cukup tinggi namun kemudian turun terus, maka biasanya itu adalah saham dari perusahaan yang memiliki kinerja yang sedang tidak bagus (makanya sahamnya turun). Tapi ketika penurunan saham tersebut akhirnya berhenti untuk kemudian bergerak mendatar di rentang harga tertentu (plus volume transaksinya menjadi tidak likuid), maka kemungkinan valuasinya sudah sangat murah di rentang harga tersebut sehingga sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi, tapi juga belum mau naik dulu karena kinerja perusahaan juga masih jelek.

And holaaaa.. Ketika penulis mengecek WOMF ini ternyata benar: Pada tahun 2013, perusahaan mencetak laba bersih Rp67 milyar, namun di tahun berikutnya (2014) laba tersebut turun menjadi Rp37 milyar, dan turun lagi menjadi Rp25 milyar di 2015. Karena pada tahun 2015 kemarin IHSG juga lagi merah membara hingga mencapai puncaknya pada panic sellingdi bulan Agustus (coba baca lagi deh artikelnya, komentarnya lucu-lucu), maka sahamnya juga tanpa ampun jeblok sampai 80 perak di bulan Agustus tersebut, dan setelah itu gak naik-naik lagi sampai awal tahun 2016.

Tapi meski WOMF belum naik-naik lagi, tapi ternyata dia juga gak turun lebih lanjut, katakanlah sampai gocap. Disisi lain perusahaannya juga gak pernah kedengaran ada masalah seperti pada saham TRAM, SIAP, atau lainnya. Ketika itulah penulis cek valuasi WOMF ini, dan lagi-lagi benar: Pada harga Rp80 per saham, PBV WOMF hanya 0.4 kali, dan itu merupakan valuasi terendah yang mungkin bisa dicapai bagi saham-saham dari perusahaan yang sejatinya bukanlah perusahaan jelek, melainkan kinerjanya lagi lesu saja.
Jadi ketika itulah penulis berkesimpulan: Kalau nanti WOMF ini kembali membukukan kinerja bagus, katakanlah labanya naik di Kuartal I 2016, maka ketika itulah sahamnya layak buy, karena besar kemungkinan dia akan langsung terbang tak lama kemudian.

Aaaaaannd.. beruntung sekali, memang itulah yang terjadi dimana pada Kuartal I 2016 kemarin (laporan keuangannya keluar akhir Maret 2016), WOMF membukukan laba Rp21 milyar, yang jika disetahunkan sama dengan Rp84 milyar, atau sudah lebih besar dibanding laba bersih tertingginya di tahun 2013 sebesar Rp67 milyar. Dan setelah penulis pelajari lagi, kinerja WOMF bisa pulih karena memang sektor usaha yang dijalani perusahaan, yakni jasa pembiayaan atau leasing sepeda motor, belakangan ini mulai pulih setelah pada tahun 2012 lalu digencet oleh berbagai peraturan dari Bank Indonesia (BI) untuk membatasi penyaluran kredit kendaraan bermotor, seperti kebijakan loan to value (LTV) dan lainnya, untuk menghindari credit bubble. Dan itu seketika membuat bisnis leasing motor mati suri karena jumlah pembeli motor otomatis menurun drastis, setelah mereka ‘dipaksa’ membayar uang muka hingga 4 – 5 juta Rupiah, untuk membeli motor seharga Rp16 juta.

Namun meski para pembeli motor awalnya juga kaget ketika mereka harus membayar uang muka yang tinggi, tapi lama-lama mereka terbiasa juga, dan jumlah pembeli motor secara leasing kemudian kembali meningkat dengan sendirinya, terutama setelah para automaker terkemuka seperti Honda, Yahama, Suzuki, dan Kawasaki, tanpa henti-hentinya meluncurkan model-model sepeda motor terbaru, yang secara tidak langsung memaksa para bikers untuk mengganti sepeda motornya. Dan karena belakangan ini tingkat inflasi mulai terkendali, maka BI juga mulai kembali melonggarkan kebijakan penyaluran kredit, dan alhasil para sales kredit motor kembali semangat dalam memasarkan produknya (berdasarkan pengamatan penulis sendiri kalau jalan-jalan naik motor ke kampung-kampung, belakangan ini banyak banget orang yang jualan jasa kredit motor di pinggir jalan pake brosur-brosur gitu).
Kesimpulannya, WOMF ini valuasinya sangat terdiskon, kinerjanya mulai pulih, dan prospek kedepannya juga cerah, terutama karena perusahaan, meski terkesan sebagai perusahaan kecil karena sahamnya juga cuma recehan, tapi sejatinya merupakan salah satu perusahaan pembiayaan terbesar di tanah air, dengan reputasi merk yang juga cukup kuat (WOM Finance itu lumayan terkenal, hanya kalah populer dibanding Adira). Jadi ya sudah: Kami membeli WOMF dalam jumlah cukup besar (meski harus pelan-pelan masuknya, karena WOMF ini waktu itu nggak likuid), dan dia  kemudian menjadi salah satu pegangan utama penulis sampai dengan saat ini (analisisnya juga sudah dibahas di Ebook Kuartal I kemarin), terutama setelah pada Kuartal II barusan, dia masih membukukan kinerja yang cukup baik.
Tapi ngomong-ngomong WOMF sekarang sudah di 199, alias sudah naik tinggi banget. Jadi bagaimana kedepannya? Apakah dia masih bisa naik lagi? Well, mari kita cek. Pada harga 199 tersebut, PBV WOMF masih 0.9 kali, tapi PER-nya sudah 9.0 kali. Dan valuasi segitu, meski memang tidak lagi semurah ketika dia masih di 80 perak, namun masih relatif rendah dibanding saham-saham lain yang udah gila-gilaan mahalnya, seiring dengan kenaikan IHSG. Dan kalau berdasarkan pengalaman penulis di PP Properti (PPRO), maka kalau kita nemu barang bagus di harga diskonan begini maka seringkali kenaikannya bisa sampai level yang mungkin tidak pernah terbayang sebelumnya, tergantung kegilaan pasar. I mean, jika anda sudah pegang WOMF ini sejak awal, maka gak usah buru-buru keluar, just let the profit run!
Sementara jika anda baru mau masuk, maka pertama-tama anda harus bisa melihat bahwa kinerja WOMF seharusnya akan bagus terus minimal sampai akhir tahun nanti, jadi hingga akhir tahun itu pula, sahamnya berpeluang akan naik terus (kecuali mungkin jika besok-besok IHSG turun). Jadi dalam hal ini pergerakan harian WOMF tidaklah berarti apapun karena kita harus menjadikan WOMF ini minimal sebagai investasi jangka menengah, dimana kalau anda mau masuk ya tinggal langsung masuk aja, tapi bisa juga sambil nyicil, sambil mengetes bahwa kalau nanti WOMF ini turun, maka dia turunnya sampai level berapa.
PT WOM Finance, Tbk (WOMF)
Rating Kinerja pada Q2 2016: A
Rating saham pada 199: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang WOMF di average 110, posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya

Cara Lapor Pajak Bagi Investor Saham

Belakangan ini penulis banyak menerima pertanyaan soal bagaimana cara melaporkan pajak bagi investor saham, dan ini menunjukkan bahwa sepertinya masih ada banyak investor yang belum aware soal pajak ini, termasuk mungkin tidak pernah melaporkan Surat Pajak Tahunan (SPT). Padahal ketika membuka rekening di sekuritas maka salah satu syaratnya harus punya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan pemilik NPWP wajib melaporkan SPT setiap tahun. Thanks to kebijakan tax amnesty, para investor belakangan ini mulai sadar soal kewajiban pajaknya, dan jika anda termasuk yang masih bingung soal pajak ini maka disini kita akan membahasnya secara lengkap. Okey, kita langsung saja.

Secara umum, para wajib pajak (WP), entah itu WP perorangan maupun perusahaan, dikenakan dua macam pajak, yakni Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Penghasilan (PPh). Tarif PPN adalah 10% dari nilai omzet, dan itu hanya dikenakan kepada perusahaan atau perorangan yang memiliki usaha dengan omzet Rp4.8 milyar atau lebih per tahun. Sementara untuk PPh, tarifnya 25% dari nilai laba bersih untuk perusahaan, 1% dari nilai omzet untuk usaha atas nama perorangan (misalnya pemilik toko yang mengoperasikan tokonya atas nama pribadi) dengan omzet kurang dari Rp4.8 milyar per tahun, dan antara 5 hingga 30% untuk perorangan, tergantung seberapa besar penghasilan bersih orang tersebut setelah dikurangi PTKP/penghasilan tidak kena pajak dan poin-poin pengurang lainnya, dalam satu tahun.
Lalu bagaimana jika pekerjaan kita adalah investor saham?
Mungkin banyak yang belum tahu, tapi keuntungan dari investasi saham itu tidak dikenakan pajak, sebab itu bukanlah penghasilan, melainkan hasil/return investasi, atau disebut juga capital gain. Jadi kalau anda pada awal tahun menyetor dana ke sekuritas Rp100 juta, dan di akhir tahun nilai porto anda tumbuh menjadi Rp130 juta, maka profit Rp30 juta itu tidak perlu ditulis sebagai penghasilan, melainkan cukup tulis saja di daftar aset yang anda miliki, bahwa anda sekarang memiliki aset berupa saham senilai Rp130 juta.
Dan itu karena, sebagai investor saham, anda dianggap sebagai pemilik dari perusahaan yang anda beli sahamnya, sehingga dengan demikian anda sejak awal sudah membayar pajak melalui perusahaan yang anda miliki tersebut. Misalnya pada awal tahun anda beli saham A, sebuah perusahaan dengan aset bersih Rp1 trilyun, dan di tahun tersebut A menghasilkan laba bersih sebesar Rp200 milyar. Sehingga pada akhir tahun nilai aset bersih A tumbuh menjadi Rp1.2 trilyun, dan demikian pula harga sahamnya ikut naik sehingga anda memperoleh profit/capital gain.
Yang perlu dicatat disini adalah, dari laba bersih perusahaan sebesar Rp200 milyar tadi, itu sudah dipotong PPh. Jadi sekali lagi, anda sebagai pemilik perusahaan sudah membayar pajak melalui perusahaan, dan keuntungan investasi anda sudah berstatus net tanpa perlu bayar pajak lagi.
Meski demikian, investor saham justru dikenakan dua pajak tambahan diluar PPh (dimana PPh ini sudah dibayar oleh perusahaan yang anda beli sahamnya). Yang pertama adalah pajak penjualan saham, dan kedua adalah pajak dividen. Sekilas, tarif pajak penjualan saham tampak kecil, hanya 0.1% dari nilai saham yang anda jual. Tapi jika anda termasuk trader yang aktif jual beli saham, maka artinya setiap kali anda membeli saham lalu menjualnya tak lama kemudian, anda akan kena tarif 0.1% tersebut. Dan jika anda melakukan jual beli saham sebanyak 100 kali dalam setahun (setahun ya, bukan sebulan), maka artinya pajaknya 0.1% x 100 = 10%. Ini artinya kalau modal anda Rp1 milyar dan anda hobi tik tok, maka dalam setahun anda akan secara otomatis membayar pajak Rp100 juta, belum termasuk pajak dividen!
Sementara jika anda memperoleh dividen maka dividen tersebut akan otomatis dipotong pajak sebesar 10%, dan menurut penulis sendiri ini tidak adil, karena yang namanya dividen itu diambil dari laba bersih perusahaan yang sudah dipotong PPh, sehingga kita sebagai investor/pemilik perusahaan membayar pajaknya dua kali. However, bagi pemodal besar maka ada cara agar anda tidak perlu membayar pajak dividen tersebut, yakni anda buka rekening di sekuritas atas nama perusahaan/PT, kemudian anda akuisisi saham suatu perusahaan minimal sebanyak 25% dari total jumlah saham beredar. Dengan cara inilah, ketika anda menerima dividen maka pajak dividen-nya adalah 0%, tapi anda mungkin tidak akan memperoleh capital gain, karena anda akan kesulitan menjual saham sebanyak itu ke investor publik (jadi hanya bisa untuk investasi jangka panjaaaaang).
Baik itu pajak penjualan saham maupun pajak dividen, keduanya sudah secara otomatis dipotong dari nilai portofolio, setiap kali anda menjual saham dan memperoleh dividen. Karena itulah, jika sumber penghasilan anda murni hanya dari investasi saham, maka SPT anda setiap tahunnya berstatus nihil, karena anda tidak perlu membayar pajak apapun lagi. Namun demikian anda tidak perlu khawatir, karena pada kenyataannya anda justru sudah membayar pajak yang jauh lebih besar dibanding orang lain yang bukan investor.
Namun sebagai wajib pajak, anda tetap harus mengisi SPT, dan di SPT tersebut anda tinggal mencantumkan berapa nilai portofolio investasi anda (saham + dana cash, jika ada) pada akhir tahun, yakni per tanggal 31 Desember, dan datanya bisa minta ke sekuritas. Anda tidak perlu mencantumkan nilai keuntungan/kerugian dari setiap transaksi jual beli saham yang anda lakukan, ataupun berapa Rupiah dividen yang anda terima. Tapi untuk dividen ini boleh juga dicantumkan, dan sekali lagi anda bisa minta datanya ke sekuritas, dimana disitu juga sudah terdapat informasi pajaknya (yang secara otomatis sudah anda bayar).

Contoh dokumen perolehan dividen yang dikirim sekuritas, termasuk informasi pajaknya.

Tapi kalau anda masih punya penghasilan diluar investasi saham, misalnya seperti penulis yang dapet penghasilan dari seminar dan konsultasi, maka itu harus dilaporkan di SPT, dan dibayar pajaknya.
Cara Ikut Tax Amnesty?
Melalui program tax amnesty, maka setiap orang, baik itu investor saham maupun bukan, memiliki kesempatan untuk memutihkan tunggakan pajaknya, termasuk jika mereka tidak pernah melaporkan SPT selama bertahun-tahun, hanya dengan membayar tarif tebusan sebesar 2% dari nilai aset bersih yang dilaporkan.
Jadi jika anda selama ini sudah melaporkan SPT setiap tahun, namun di SPT tersebut tidak pernah mencantumkan bahwa anda punya investasi di saham, maka anda bisa langsung ke kantor pajak untuk mengisi surat pernyataan bahwa anda punya portofolio saham senilai sekian pada tanggal 31 Desember 2015 lalu (jadi bukan per hari ini), kemudian bayar tarif tebusannya. Jadi kalau nilai portofolio anda adalah Rp100 juta, maka anda harus transfer Rp2 juta, kemudian tunggu surat konfirmasi dari Dirjen Pajak bahwa anda sudah ikut tax amnesty, yang akan dikirim ke alamat anda (sesuai alamat di NPWP) dalam 10 hari kerja. Selesai! Kemudian untuk tahun-tahun selanjutnya anda tinggal melaporkan SPT seperti biasa, dan jangan lupa mencantumkan update nilai porto anda (per akhir tahun tersebut).
Sementara jika anda tidak pernah mengisi SPT, maka pertama-tama anda bisa mengisi SPT untuk tahun 2015 (jadi untuk tahun-tahun sebelumnya tidak usah), dan angka pajaknya dibuat nihil saja (dan pada prakteknya, kalau anda belum berkeluarga dan memiliki penghasilan kurang atau sama dengan Rp4.5 juta per bulan, atau Rp9 juta bagi profesi konsultan/tenaga ahli, maka pajaknya memang nihil. Jika anda sudah berkeluarga dan memiliki penghasilan kurang dari Rp10 juta per bulan, maka kemungkinan pajaknya juga nihil, atau hanya beberapa ratus ribu Rupiah). Tapi kemudian anda langsung melapor lagi/mengisi surat pernyataan bahwa anda punya aset saham senilai sekian, lalu bayar uang tebusannya. Karena judulnya adalah tax amnesty, maka meskipun di SPT di tahun 2015 (yang baru saja anda isi) sebenarnya anda masih harus bayar pajak sekian (jadi SPT-nya seharusnya tidak nihil), namun pajak tersebut sudah secara otomatis diputihkan/dihapus, karena anda sudah mengikuti tax amnesty, atau dengan kata lain anda sudah memperoleh pengampunan pajak.
Dan untuk tahun-tahun berikutnya, anda tinggal lapor SPT seperti biasa, plus jangan lupa bayar pajaknya. However, kemudahan ini mungkin hanya berlaku untuk wajib pajak perorangan. Sementara untuk WP badan/perusahaan atau pemilik usaha, mungkin SPT-nya gak bisa dibuat nihil begitu, tapi untuk lebih detilnya anda bisa datang langsung ke kantor pajak, kemudian tanya ke orang disana. Pengalaman penulis sendiri, mereka ramah-ramah kok! I mean, kita sudah meluangkan waktu untuk datang dalam rangka memenuhi kewajiban kita ke negara, jadi masa iya sih mereka malah kasar ke kita?
Pengumuman: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
August 3rd, 2016 at 9:41 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Investor Tukang Jalan-Jalan

Bulan Ramadhan kemarin terbilang istimewa bagi keluarga penulis dirumah, karena putri kami, yang sudah menginjak usia 4 tahun, untuk pertama kalinya mulai belajar berpuasa. Sudah tentu, kami tidak menyuruhnya untuk puasa penuh dari imsak sampai maghrib, melainkan mulai dari yang menurut kami paling mudah dulu: Pada pagi hari sebelum berangkat ke Playgroup, si kecil tetap makan roti dan minum susu seperti biasa, namun ia berangkat ke sekolah tanpa diberi bekal, dan diberi tahu untuk tidak makan, minum, atau ngemil sampai nanti pulang lagi ke rumah sekitar pukul 11.00 siang. Setelah sampai dirumah, ia tetap tidak akan dikasih makan kecuali kalau ia sendiri yang bilang ‘Teteh lapar!’

Dan setelah beberapa hari ini, si kecil biasanya akan bilang lapar pada pukul 12 siang. Jadi ya sudah, pada pukul 12 itulah dia boleh ‘buka puasa’. Namun demikian, ia tetap diberi tahu bahwa berpuasa yang benar itu adalah dari subuh sampai terdengar bunyi adzan maghrib, dimana kami sebagai orang tuanya menunjukkan/mencontohkan bahwa kami tidak makan dan minum apapun di siang hari. Dan kami mengatakan pula, ‘Nanti tahun depan kamu mulai belajar sahur yaaa’.
Nah, ketika kami hanya menyuruh si kecil untuk berpuasa setengah hari, itupun ‘sahurnya’ pada pukul 7 pagi, maka anda pasti mengerti alasannya: Tidak mungkin bagi anak usia 4 tahun untuk bisa berpuasa secara penuh. Penulis masih ingat, ketika saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak, maka saya selalu berbuka puasa pukul 12 siang, dan baru bisa berpuasa secara penuh setelah duduk di bangku sekolah dasar (usia 7 atau 8 tahun). Namun ketika itupun kalau kebetulan ibu penulis bangun kesiangan sehingga kami tidak sempat untuk makan sahur, maka saya buka puasa pukul 12 siang juga. Penulis baru benar-benar mampu untuk berpuasa secara penuh, entah itu dengan makan sahur atau tidak, setelah duduk di bangku SMU, tapi ketika itupun kalau kebetulan kita nggak sahur maka puasanya akan sedikit pake perjuangan, dan badan akan terasa lemes minta ampun.
Tapi sejak jaman kuliah sampai sekarang, maka mau sahur atau nggak, saya tetap bisa berpuasa seharian tanpa hambatan berarti, boleh dibilang nyaris tanpa merasa lapar dan haus, dan juga bisa kuliah/bekerja seperti biasa. Goal seorang muslim setiap memasuki bulan Ramadan adalah untuk berpuasa penuh selama 30 hari berturut-turut tanpa batal sama sekali dan juga tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari, dan penulis baru bisa melakukan itu kurang lebih sekitar 10 tahun setelah belajar berpuasa untuk pertama kalinya, pada usia 4 – 5 tahun. However, jika terjadi force majeure dimana kita terpaksa tidak berpuasa pada hari-hari tertentu, misalnya karena sakit atau datang bulan bagi perempuan, maka itu juga gak jadi masalah, karena kita bisa menggantinya dengan berpuasa di bulan yang lain.
Okay, lalu apa hubungannya hal ini dengan investasi saham?
Ketika anda membeli saham untuk pertama kalinya, maka suka atau tidak, anda adalah seperti putri penulis yang berusia 4 tahun tadi, yang tidak mungkin bisa langsung berpuasa seharian penuh. Meski demikian, jika anak anda yang berusia 4 – 5 tahun sudah mengerti bahwa berpuasa yang benar itu adalah dari imsak/subuh sampai maghrib, maka itu sudah cukup! Karena itu artinya dia sudah mengerti peraturan dasar dari berpuasa itu sendiri, dan selanjutnya ia tinggal diarahkan secara bertahap untuk mencapai goal-nya, yakni untuk bisa berpuasa seharian selama sebulan penuh, meski tentunya itu akan butuh waktu beberapa tahun.
Kembali ke masalah investasi saham. Dalam berinvestasi, goal-nya, atau lebih tepatnya ultimate goal-nya, adalah untuk bisa menghasilkan kinerja investasi yang secara konsisten diatas rata-rata kinerja IHSG setiap tahunnya, atau istilahnya beat the market. Dan sudah tentu, perjalanan untuk mencapai goal tersebut, dihitung dari ketika anda membeli saham untuk pertama kalinya, akan cukup panjang. Akan ada banyak tahapan yang harus anda lalui hingga akhirnya anda akan mencapai goal diatas, mulai dari belajar menganalisa fundamental, teknikal, belajar untuk tidak melihat harga saham setiap hari (ini yang paling sulit), belajar makroekonomi dan industri, menganalisa arah pasar/IHSG, menentukan batas profit taking dan cut loss, menentukan kapan waktu beli dan kapan waktu jual, cara membedakan berita yang valid dan yang sekedar rumor, dan seterusnya. Nah sekarang pake logika saja: Dengan ‘materi kuliah’ sebanyak itu, maka apakah anda akan bisa langsung menguasai semuanya dan juga mempraktekkannya secara penuh, tak lama setelah anda membuka rekening di sekuritas???
Jadi untuk satu atau dua tahun pertama, maka investor pemula jangan dulu mentargetkan untuk profit sekian persen, beat the market, trading for living atau apapun itu istilahnya, karena itu seperti menyuruh seorang anak berusia 4 tahun untuk berpuasa seharian selama sebulan penuh, which is impossible. Yang terpenting, pada tahap-tahap awal anda harus memahami konsep dasar dari investasi, tentang apa itu analisis fundamental, serta bagaimana cara menganalisis saham, membedakan saham yang bagus dengan yang jelek. Selain itu, lakukan juga trial and error, plus belajar untuk mengendalikan emosi, baik itu ketika dalam posisi cuan maupun nyangkut.
Dan ‘tahap-tahap awal’ ini akan juga sekaligus menjadi masa-masa sulit bagi seorang investor, termasuk anda mungkin akan menderita kerugian. Just remember: Ketika seorang anak belajar puasa pada usia dini, maka sudah tentu ia akan merasa lapar, haus, dan bahkan lemas, tak peduli meski ia cuma berpuasa setengah hari. Beberapa tahun kemudian, setelah dia duduk di bangku SD atau SMP, maka ia akan sudah mampu berpuasa sehari penuh, tapi ia tetap akan merasa lapar dan haus, dan mungkin akan menggerutu kalau seorang temannya makan dan minum didepannya. Namun beberapa tahun berikutnya, yakni setelah ia beranjak dewasa, maka ia akan bisa berpuasa nyaris tanpa merasa lapar dan haus sama sekali, dan bisa berangkat kuliah/kerja dengan normal seperti biasa. Pada titik inilah, seseorang yang berpuasa akan sudah melewati masa-masa sulitnya, dan dia tidak akan lagi malas-malasan di kantor, apalagi menyuruh orang lain untuk tidak makan dan minum di depannya hanya karena ‘Saya lagi puasa!’
Nah, di market juga sama. Sebagai pemula, anda akan menghadapi masa-masa sulit dimana anda akan gampang merasa panik, serakah, bingung (kenapa saham gue turun sih???), dan stress sampai gak bisa tidur, dan itu sangat normal. Tapi setelah dua atau tiga tahun, seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan kemampuan anda dalam berinvestasi, maka pelan-pelan anda tidak akan gampang panik lagi, dan akan memahami sepenuhnya apapun yang anda lakukan (entah itu buy, hold, atau sell saham tertentu). Kemudian pada akhirnya, anda akan mencapai ultimate goal-nya, yakni menghasilkan kinerja investasi yang secara konsisten beat the market, dan ketika itulah anda akan bisa ongkang-ongkang kaki ketika orang lain masih tetap saja kalang kabut dalam menghadapi fluktuasi pasar.
And.. trust me. Ketika anda sudah bisa ‘ongkang-ongkang kaki’ seperti itu, atau dengan kata lain anda sudah melewati masa-masa sulit, maka kesananya akan enaaaak sekali :) Terutama karena anda bisa jalan-jalan, makan, tidur, atau terserah deh mau ngapain aja, while your money works for you!
Penulis (pake jaket merah – hitam) bersama teman-teman pendaki di Puncak Gunung Pangrango (3,019 meter), Jawa Barat. Kalau anda mau menguji adrenalin maka ketimbang main saham-saham gorengan, cobalah naik gunung.

Namun seperti halnya anda tidak bisa menikmati pemandangan indah di puncak gunung tanpa mendakinya terlebih dahulu, maka demikian halnya dalam berinvestasi di saham, anda tidak akan bisa mencapai posisi dimana anda mampu berinvestasi dengan santai dan menghasilkan profit yang konsisten, tanpa pernah mengalami masa-masa sulit sebelumnya. Tapi kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri, masa-masa sulit ini gak akan terlalu lama kok, cuma dua atau tiga tahun, atau paling lama lima tahun. Dan kalau menurut anda lima tahun itu terlalu lama, maka coba deh anda ingat-ingat lagi: Tahun 2011 itu rasanya seperti kemarin bukan?

Info: Buletin Analisis IHSG & Stock Pick Saham Pilihan edisi Agustus 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi & tanya jawab saham untuk member, langsung dengan [...]

Ebook Analisis Kuartal II 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal II 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 8 Agustus 2016. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

(Masih) Soal Tax Amnesty, dan Prospek IHSG

Tadinya untuk minggu ini penulis hendak membahas analisa dari satu saham bagus dan murah yang kita temukan, namun kalau melihat perkembangan market belakangan ini maka sepertinya tidak ada topik lain yang lebih menarik ketimbang cerita tax amnesty dan juga kaitannya dengan IHSG, yang terus saja melaju hingga terakhir sudah di posisi 5,173. Dalam kondisi dimana IHSG bisa naik secepat itu hanya karena satu sentimen positif bernama ‘tax amnesty’, maka tentunya kemudian timbul beberapa pertanyaan: Apa dan bagaimana sih sebenarnya tax amnesty itu? Seperti apa dan seberapa besar pengaruhnya terhadap perekonomian dan IHSG? Dan yang paling penting, apakah posisi IHSG sekarang sudah cukup tinggi, ataukah masih bisa naik lebih tinggi lagi?

Okay, kita mulai dari pertanyaan pertama dulu: Apa itu tax amnesty/pengampunan pajak? Dan bagaimana penerapannya?
Tax amnesty adalah kebijakan pemerintah untuk meningkatan penerimaan pajak bagi negara, dan juga untuk mendorong masuknya investasi ke dalam negeri. Meningkatnya penerimaan pajak akan memudahkan pembangunan infrastruktur yang memang sedang digenjot habis-habisan, dan jika pembangunan infra berjalan lancar maka artinya belanja pemerintah meningkat, dan itu pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara jika investasi di dalam negeri meningkat, maka itu juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi (ingat bahwa rumus pertumbuhan ekonomi = konsumsi + investasi + belanja pemerintah + ekspor – impor). Pendek kata, tujuan akhir dari tax amnesty ini adalah untuk meningkatkan kembali angka pertumbuhan ekonomi, yang sudah beberapa tahun terakhir ini tertahan di level dibawah 5% per tahun.
Okay, lalu bagaimana penerapannya? Here we go: Para wajib pajak (WP), entah itu perusahaan ataupun perorangan yang tidak sedang dalam kasus hukum dan sudah melaporkan surat pajak tahunan (SPT), namun mungkin belum melaporkan kepemilikan harta kekayaan/aset-aset tertentu pada SPT tersebut, maka sekarang bisa datang ke kantor pajak untuk mengisi surat pernyataan untuk melaporkan kepemilikan aset-aset tadi. Normalnya, untuk aset yang baru dilaporkan ini maka WP akan ditanya, dari mana asal aset tersebut, dimana jika asalnya dari penghasilan maka akan dikenakan pajak penghasilan (PPh) sesuai tarif yang berlaku, plus dendanya (karena kepemilikan aset tersebut baru dilaporkan sekarang dan bukan dilaporkan di SPT, sehingga pajaknya dianggap sebagai tunggakan/utang pajak).
Namun melalui kebijakan tax amnesty ini, maka WP hanya perlu membayar uang tebusan sebesar 2%dari nilai aset bersih yang dilaporkan tersebut, dimana aset bersih adalah total aset dikurang utang, dengan catatan si WP sudah melaporkan kepemilikan aset-asetnya paling lambat tanggal 30 September 2016 (sementara jika lewat September maka tarif tebusannya jadi 3%, dan jika lewat tanggal 31 Desember 2016 maka tarifnya jadi 5%). Contoh, anda punya rumah senilai Rp500 juta, yang sepenuhnya milik anda sendiri (bukan KPR), dan di SPT kemarin rumah ini tidak dilaporkan. Maka setelah mengisi surat pernyataan kepemilikan aset di kantor pajak, anda akan menyetor Rp500 juta x 2% =  Rp10 juta.
Sementara bagi pemilik usaha dengan omzet kurang dari Rp4.8 milyar per tahun, maka tarif tebusannya hanya 0.5% saja jika total aset yang dilaporkan memiliki nilai kurang dari Rp10 milyar, tapi kalau diatas Rp10 milyar maka tetap 2%.
Kemudian disinilah menariknya: Tarif penebusan sebesar 2%, 3%, dan 5% tadi hanya berlaku untuk aset-aset yang ditempatkan di dalam negeri. Sementara jika WP melaporkan aset yang ditempatkan di Singapura, Hongkong, Swiss dst, maka tarifnya adalah 4%, 6%, dan 10%, alias lebih mahal dua kali lipat.
Jadi jika WP yang memiliki aset diluar negeri hendak membayar uang tebusan yang lebih murah, maka pertama-tama ia harus menarik asetnya terlebih dahulu kedalam negeri. Jika WP melaporkan aset yang ditempatkan diluar negeri sebelum tanggal 30 September, namun ia berkomitmen untuk menarik aset tersebut kedalam negeri sebelum tanggal 31 Desember, maka ia hanya kena tarif 2%. Sementara jika ia baru bisa menarik asetnya pada tahun 2017, maka ia kena tarif 5%, namun itu lebih baik ketimbang kena tarif 10% jika aset tersebut tetap ditempatkan diluar negeri. Untuk aset yang ditarik kedalam negeri ini, maka harus tetap ditempatkan/diinvestasikan di Indonesia hingga minimal 3 tahun kedepan (jadi gak boleh langsung ditarik keluar negeri lagi).
Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar para WP bersedia secara suka rela melaporkan seluruh harta kekayaan mereka, baik itu yang ditempatkan didalam maupun luar negeri? Here we are: Masa pengampunan pajak ini adalah sampai tanggal 31 Maret 2017. Jika lewat tanggal tersebut masih ada WP yang belum melaporkan seluruh harta kekayaannya, dan pihak dirjen pajak menemukan harta yang belum dilaporkan, maka harta tersebut akan dianggap sebagai penghasilan, dan akan dikenakan pajak PPh plus denda. Namun memang, kata kuncinya disini adalah jika dirjen pajak menemukan (jadi kalau gak menemukan ya aman-aman saja). However, saat ini Pemerintah juga sedang mengusahakan revisi Undang-Undang Kerahasiaan Perbankan, dimana jika revisi ini disahkan, maka arus keluar masuk dana di rekening bank milik para WP akan bisa dilacak, sehingga para WP tidak bisa lagi menyembunyikan harta kekayaan mereka, kecuali jika mereka tidak menggunakan jasa perbankan sama sekali. Pada tahun 2018 nanti juga akan mulai diberlakukan automatic exchange of information (AEOI, detilnya googling aja), yang pada intinya mendorong transparansi informasi wajib pajak untuk tujuan perpajakan.
Pengaruhnya Terhadap IHSG
Melalui tax amnesty, Pemerintah memperkirakan (atau lebih tepatnya mentargetkan) bahwa akan ada kepemilikan aset senilai total Rp4,000 trilyun, baik itu yang ditempatkan didalam maupun luar negeri, yang dilaporkan oleh para WP. Sementara uang tebusan yang akan diterima negara adalah sekitar Rp165 trilyun, atau setara kurang lebih 5% pendapatan pemerintah dalam satu tahun, dan itu tentunya lumayan lah buat nambahin ongkos bikin pelabuhan, jalan tol, rel kereta api dll.
Nah, sekarang kita asumsikan saja bahwa target tersebut tercapai, dimana dari aset senilai Rp4,000 trilyun yang dilaporkan tadi, setengahnya atau Rp2,000 trilyun ditempatkan diluar negeri. Dari Rp2,000 trilyun ini, setengahnya lagi atau Rp1,000 trilyun ditarik kedalam negeri (istilahnya ‘repatriasi’ atau ‘pemulangan’). Lalu mau ditaruh dimana duit sebanyak itu? Well, pemerintah sudah menyiapkan beberapa instrumen, seperti surat utang negara (SUN), obligasi BUMN, obligasi lembaga keuangan milik pemerintah, investasi infrastruktur dengan bekerja sama dengan pemerintah, investasi sektor riil, dan lain-lain. Meski memang tidak disebutkan ‘investasi saham’ sebagai salah satu instrumen tersebut (yang mungkin karena investasi saham dianggap sangat berisiko, terutama jika dibanding investasi obligasi atau sektor riil), namun pasar saham sedikit banyak pasti bakal kecipratan juga. Let say, dari Rp1,000 trilyun ini hanya 5% saja yang masuk ke market. Itu artinya ada ‘dana asing’ yang masuk sebesar Rp50 trilyun! (‘dana asing’ disini pake tanda kutip, karena sejatinya itu duit milik orang Indonesia juga).
Dan.. Tahukah anda, seberapa besar pengaruh Rp50 trilyun itu terhadap pergerakan IHSG? Biar penulis kasih gambaran: Awal Juni kemarin, ketika IHSG masih di level 4,800-an, posisi net buy asing ketika itu kurang lebih Rp4 trilyun, dihitung sejak awal tahun 2016. Ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah berada di level 5,173, sementara posisi net buy asing tercatat Rp20.5 trilyun. Ini berarti, masuknya dana asing ke BEI sebesar Rp16 trilyun telah mendorong kenaikan IHSG sebesar kurang lebih 350 poin(dari 4,800 ke 5,173).
So, jika ada dana sebesar Rp50 trilyun yang masuk ke bursa, maka dengan catatan investor lokalnya tidak jualan (itu pernah terjadi di tahun 2008, dimana meski asing membukukan net buy cukup besar yakni Rp18 trilyun, tapi IHSG-nya tetap jeblok karena investor lokalnya kena margin call semua), maka berapa poin kira-kira kenaikan IHSG? Meski memang, kenaikan IHSG sebesar 350 poin diatas kemungkinan tidak hanya karena didorong oleh belanja investor asing, tapi juga belanja investor lokal, soalnya pasar belakangan rame lagi, itu bisa dilihat dari total nilai transaksi saham-saham di BEI yang totalnya bisa mencapai Rp9 trilyun per hari, dibanding hanya Rp4 trilyun waktu bulan puasa kemarin. Tapi bahkan kalaupun investor domestik membukukan net buy yang sama dengan investor asing, yakni Rp16 trilyun (sehingga totalnya jadi Rp32 trilyun), maka itu tetap saja masih lebih kecil dibanding Rp50 trilyun tadi bukan?

Keseriusan Pemerintah dalam program Tax Amnesty ini bisa dilihat dari sosialisasinya yang sangat gencar, termasuk dengan menggandeng BEI dan IDX Channel.

Jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Seperti apa dan seberapa besar pengaruh tax amnesty ini terhadap perekonomian dan IHSG? Jawabannya, dari sisi penerimaan uang tebusan, maka pemerintah akan dapet tambahan dana untuk melanjutkan pembangunan infra, yang kemarin sempat mandek karena defisit anggaran. Dan kalau pembangunan infra kembali jalan, maka multiplier effect-nya akan kembali terasa ke perekonomian.
Sementara dari sisi penarikan dana dari luar ke dalam negeri, maka itu akan meningkatkan likuiditas perbankan, turut membantu pembangunan infrastruktur (karena sebagian dana tersebut diinvestasikan di infra), membantu pembiayaan perusahaan-perusahaan, menggerakkan sektor riil, dan menaikkan nilai investasi di dalam negeri secara keseluruhan. Kombinasi dari lancarnya pembangunan infras plus meningkatnya investasi di dalam negeri pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi makro. Dan kalau nanti angka pertumbuhan ekonomi sukses tembus diatas 5% lagi, maka tentu saja kenaikan IHSG juga gak akan berhenti sampai disini, melainkan lanjut lagi.
Lalu apakah itu artinya IHSG bisa naik lebih tinggi lagi? Well, dalam jangka panjang, tentunya dengan asumsi bahwa pelaksanaan tax amnesty ini berjalan lancar dan pertumbuhan ekonomi benar-benar melaju kencang kembali, maka tentu saja IHSG masih akan lanjut naik. Di artikel ini penulis mengatakan bahwa, paling lambat pertengahan tahun 2017 nanti, IHSG akan break new high kembali, dan sepertinya sejauh ini proyeksi tersebut masih on track.
Namun demikian, dalam jangka waktu yang lebih pendek maka IHSG tetap bisa bergerak kemana saja, termasuk turun lagi. Just remember: Tax amnesty ini baru dimulai, sehingga belum ada dampak riil apapun ke perekonomian, dan kita masih belum mengetahui tentang seberapa besar dana repatriasi yang berhasil ditarik pulang ke tanah air (dana Rp50 trilyun yang masuk ke bursa tadi, itu hanya perkiraan kasar). Jadi kenaikan IHSG yang luar biasa dalam beberapa minggu terakhir ini bukan disebabkan oleh dampak riil dari tax amnesty ini, melainkan hanya karena sentimen sesaat saja, dimana sentimen tersebut bisa dilupakan seiring berjalannya waktu dan digantikan oleh sentimen lain, entah itu negatif atau positif. Masih ingat tahun 2014 lalu ketika saham-saham perkapalan pada terbang karena cerita ‘Tol Laut’? Sayangnya meski pembangunan tol laut/jaringan pelabuhan tersebut memang benar-benar direalisasikan, namun perusahaan-perusahaan perkapalan tetap mencatatkan kinerja buruk seperti biasanya, dan alhasil sahamnya jeblok lagi. Untuk cerita tax amnesty ini juga sama: Dalam jangka pendek memang sukses bikin saham-saham, terutama banking, berterbangan. Namun dalam jangka panjang orang-orang tetap akan balik lagi ke faktor fundamental, dimana kalau kinerja perusahaan dan kondisi makroekonomi ternyata masih suram setelah beberapa waktu, maka IHSG tetap bakal longsor lagi, tak peduli meski kebijakan tax amnesty ini tetap dilaksanakan.

Anyway, poin utama dari tax amnesty ini, seperti yang juga sudah penulis sampaikan beberapa waktu lalu, adalah bahwa Pemerintah really do something untuk perekonomian, termasuk Bank Indonesia (BI) juga mulai melonggarkan aturan penyaluran kredit untuk memfasilitasi masuknya dana repatriasi, dimana jika trend ‘kerja keras’ ini terus berlanjut maka dampak jangka panjangnya terhadap pasar saham akan luar biasa. Mei kemarin, ketika mengisi kelas investasi di Kampus Prasetiya Mulya, Jakarta Selatan, penulis mengatakan bahwa pada akhir tahun 2025nanti, IHSG kira-kira akan berada di posisi 14,000. Sudah tentu, posisi IHSG yang setinggi itu tampak mustahil untuk dicapai jika patokannya adalah posisi IHSG pada saat ini, tapi yah, kita lihat saja 10 tahun dari sekarang, ok?
Jadwal Training/Seminar Investasi Saham: dengan Tema Value Investing: Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 30 Juli 2016. Keterangan selengkapnya baca disini. Hingga tanggal 20 Juli, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 30 Juli 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 30 Juli 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya (biar rame).
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp500,000 per peserta.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama peserta seminar tanggal 20 Februari
Penulis bersama peserta seminar tanggal 18 Juni
Komentar Alumni:
Pa kabar pak? Sejak saya mengikuti Imvestor Gathering tahun lalu, dan belajar tentang value investing, ditambah kondisi market yang sedang sakit tahun lalu. Sekarang (tahun ini) saya sedang memandang portofolio saya dengan tersenyum hehehe.. Terima kasih pak atas bantuan sharing elmunya, really appreciate it.
Ramdhan Iskandar – Prudential Jakarta

UPDATE: Kursinya sudah penuh! Jadi dengan ini pendaftaran resmi [...]

Saham Perbankan + Tax Amnesty = ???

IHSG memulai perjalanan pasca liburan Idul Fitri dengan kenaikan yang awesome hingga nyaris 2 persen! And while sebagian besar investor domestik yang ketiduran abis nonton Cristiano Ronaldo mengangkat trophy Euro 2016 masih belum ‘ngeh kalo IHSG sudah diatas 5,000 lagi (terlihat dari perdagangan Senin kemarin yang sangat didominasi asing), sebagian lainnya sudah bisa melihat bahwa kenaikan IHSG, termasuk sejak sebelum liburan kemarin, didorong oleh saham-saham perbankan. Soo, kita kembali lagi ke pertanyaan klasik: Apakah masih tepat jika saya beli saham-saham bank sekarang?

Kenaikan saham-saham perbankan, seperti yang anda ketahui, didorong oleh sentimen positif terkait undang-undang tax amnesty, yang sudah disahkan oleh DPR beberapa waktu lalu, dimana itu diharapkan akan menarik dana milik para konglomerat Indonesia, yang selama ini ‘diparkir’ diluar negeri, untuk balik lagi ke tanah air. Dan kalau ada dana besar masuk kesini maka akan ditaruh dimana dana tersebut? Ya paling gampang ditaruh di bank, tentu saja. Sebenarnya, masuknya sejumlah dana ke bank tidak secara otomatis membuat bank tersebut akan menghasilkan kinerja yang bagus/kenaikan profit, karena pihak bank masih harus menyalurkan kembali kembali dana tersebut dalam bentuk kredit, dimana jika penyaluran kreditnya lancar maka barulah bank menghasilkan profit (sementara kalo kreditnya macet, maka justru sebaliknya bank akan rugi). Lebih dari itu, penerapan tax amnesty-nya sendiri belum tentu akan seketika menyebabkan masuknya aliran dana dalam jumlah besar ke tanah air, karena itu masih tergantung dari respon para konglomerat pemilik dana dalam menyikapi tax amnesty tersebut. Karena, ingat bahwa meski judulnya ‘pengampunan pajak’, tapi ujung-ujungnya tetap bahwa si konglomerat harus membayar pajak dengan benar, meski dengan penghapusan sanksi.
Namun demikian, sudah sejak jaman kompeni dulu, dalam jangka yang sangat pendek, pergerakan saham-saham selalu lebih dipengaruhi oleh reaksi berlebihan investor/trader dalam menyikapi suatu berita dan peristiwa terkait saham tersebut, ketimbang analisa mendalam tentang apakah berita/peristiwa tersebut benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan yang bersangkutan. Anda tentu masih ingat, baru saja beberapa bulan kemarin, saham-saham perbankan dihantam habis-habisan karena cerita pembatasan NIM, plus cerita perubahan sistem BI Rate, tak lama kemudian. Jika dipelajari secara mendalam, kedua hal tersebut sejatinya tidak berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan (anda boleh baca lagi artikelnya), namun tetap investor ketika itu panik dan ramai-ramai melepas saham BBRI dkk, hanya karena sejak awal kedua peristiwa tersebut dianggap berpengaruh negatif.
However, investor berpengalaman tentunya tahu persis bahwa ketika terjadi situasi dimana saham bagus turun hanya karena cerita jelek tertentu yang sebenarnya tidak memiliki pengaruh signifikan apapun, maka itu artinya opportunity. Dan kalaupun seorang investor yang sudah kadung nyangkut di saham perbankan ini, maka selama yang dia pegang adalah saham bank yang bagus, maka sebenarnya ia tidak perlu menunggu terlalu lama, dan profit yang dihasilkan akan tetap memuaskan. You see, jika anda beli saham BBNI di harga 5,000 pada awal tahun kemarin, maka pada Februari, saham anda mulai turun karena cerita pembatasan NIM, yang kemudian benar-benar jeblok hingga dibawah 4,500 pada April dan Mei karena cerita perubahan BI Rate. Namun sekarang, atau baru di awal Juli, BBNI sudah berada di level 5,475, atau menghasilkan profit hampir 10% dalam waktu enam bulan, belum termasuk dividen sebesar Rp122 per saham.
Sementara jika anda bisa beli lagi/average down BBNI di harga 4,500 (normalnya investor manapun bisa melakukan ini, kecuali jika dia tidak melakukan diversifikasi dimana ia sekaligus menghabiskan seluruh dana yang tersedia untuk membeli satu saham saja), atau malah baru masuk di harga 4,500 tersebut, maka otomatis profitnya menjadi lebih besar, minimal 20%. And still, posisi BBNI saat ini baru sekedar kembali ke level normalnya saja, atau dengan kata lain, jika besok-besok pasar melanjutkan kenaikannya dan tidak ada sentimen negatif lagi seperti awal tahun kemarin, maka BBNI bisa terus melanjutkan kenaikannya hingga anda meraup profit 30% atau lebih, clearly beat the market!
Dan sekali lagi, anda sama sekali tidak perlu menunggu sampai bertahun-tahun untuk memperoleh profit segitu, melainkan paling lama hanya beberapa bulan saja (meski memang, bagi trader tipe Rio Haryanto, hold saham selama satu minggu saja seringkali sudah dianggap sebagai ‘jangka panjang’). Pada Mei kemarin, ketika penulis mengisi kelas investasi di salah satu kampus di Jogja, seorang peserta bertanya, atau lebih tepatnya mengeluh, kalau dia sedang nyangkut di salah satu saham bank blue chip. Dan penulis menjawab, trust me, nanti juga bakal naik lagi, dan ‘nanti’ itu biasanya gak akan terlalu lama. Sejak jaman duluuu sekali, sektor perbankan sejak sudah merupakan sektor yang kinerjanya paling bagus dan konsisten di tanah air, tapi disisi lain itu bukan berarti saham-saham perbankan akan naik terus tanpa mengalami penurunan sama sekali, dimana perbankan bisa turun sesekali karena adanya sentimen negatif, perlambatan ekonomi, atau sekedar koreksi pasar. Namun demikian, asalkan bank yang bersangkutan masih tetap beroperasi dengan normal dan tetap menghasilkan pertumbuhan ekuitas dan laba bersih yang stabil, maka setiap kali sahamnya turun, itu merupakan opportunity.
And indeed, hanya dalam waktu sebulan kemudian, saham-saham bank sekarang sudah berada di zona hijau lagi. Jadi dalam hal ini mungkin perlu penulis ingatkan lagi bahwa konsep dasar dari value investing itu bukanlah ‘Beli saham hari ini, jualnya lima tahun kemudian’, melainkan ‘Beli saham bagus di harga murah, dan jualnya nanti kalau harganya sudah tidak murah lagi (dimana nanti ini bisa sebentar, tapi bisa juga cukup lama, tapi biasanya sih gak terlalu lama)’.
Okay, tapi sekarang kan saham-saham perbankan udah naik banyak, dan IHSG-nya juga udah mahal banget kayanya, di 5,100-an. Jadi apakah peluangnya masih ada? Saham-saham bank apakah sudah mahal? Well, itu tergantung. Jika anda bisa hold dalam jangka waktu yang sedikit lebih lama lagi, katakanlah sampai awal tahun depan, maka profitnya mungkin akan lebih besar. Tahun 2011 lalu, saham-saham perbankan secara umum tidak naik banyak ketika IHSG-nya juga hanya naik 3.2%, tapi di tahun 2012-nya, BBRI dkk mencetak profit sekitar 50% belum termasuk dividen, karena memang sejak awal kinerja mereka masih sangat baik.
Dan di tahun 2016 ini, ketika mayoritas perusahaan di BEI masih belum menghasilkan kinerja yang bagus karena kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, rata-rata emiten perbankan tetap sukses membukukan kenaikan laba, sementara valuasi mereka juga masih relatif rendah dimana dalam setahun terakhir, pergerakan saham BBRI dkk sebenarnya masih disitu-situ saja (padahal dalam satu tahun tersebut, ekuitas mereka tumbuh terus). Jika di Kuartal II nanti emiten perbankan masih membukukan kenaikan laba, dan penulis cukup yakin akan hal itu (laporan keuangannya keluar 30 Juli nanti), maka rally yang terjadi dalam sebulan terakhir masih bisa berlanjut bahkan meski cerita soal tax amnesty sudah dilupakan dengan sendirinya. Yang juga perlu dicermati, Bank Indonesia (BI) belakangan ini mulai melonggarkan beberapa kebijakan perbankan seperti menurunkan batas minimum DP untuk kredit KPR, agar penyaluran kredit properti kembali meningkat setelah beberapa tahun lalu sempat dibatasi (karena khawatir ‘bubble’). Dalam situasi sekarang dimana inflasi sudah aman terkendali namun pertumbuhan ekonomi masih terbatas, maka itu adalah keputusan yang tepat, dan akan lebih berpengaruh secara signifikan terhadap sektor perbankan dibanding cerita tax amnesty atau lainnya. So, meski penulis tidak tahu apakah di tahun 2017 nanti emiten perbankan akan kembali mencetak profit jumbo seperti tahun 2012 lalu, tapi asalkan tidak terjadi perubahan drastis pada fundamental ekonomi makro (dan memang sampai sekarang ekonomi nasional masih aman terkendali), maka BBRI dkk seharusnya akan bisa menghasilkan profit yang jauh lebih besar pada tahun 2017 tersebut, dibanding tahun 2016 ini.
Hanya memang, kalau anda tidak bisa mengabaikan fluktuasi jangka pendek yang bisa terjadi kapan saja, plus karena tahun 2017 itu masih enam bulan lagi, maka mungkin sebaiknya profit taking dulu. Atau kalau baru mau masuk/nambah barang, maka jangan sekarang. Diatas kita sudah mengatakan bahwa saham-saham perbankan yang bagus-bagus, meski dalam jangka panjang cenderung naik terus, namun bisa turun sewaktu-waktu karena koreksi IHSG atau sentimen negatif tertentu. Sementara situasinya sekarang adalah, kita sudah berada di Semester II tahun 2016, dimana berdasarkan pengalaman, terdapat kemungkinan bahwa IHSG akan mengalami setidaknya satu kali koreksi tajam sebelum akhir tahun nanti, apalagi jika sebelumnya dia sudah naik banyak. Kemudian kalau ngeliat cara main saham-saham BUMN yang belakangan ini sering dikerjai, maka bukan tidak mungkin besok-besok akan keluar cerita negatif yang bikin BBRI, BMRI, BBNI, dan BBTN terkapar sekali lagi.
Jadi jika anda hendak beli saham-saham bank untuk dipegang dalam jangka menengah antara 3 hingga 12 bulan, maka sekarang bukanlah waktu yang tepat. Tapi lalu kapan ‘waktu yang tepat’ tersebut? Well, trust me again, jika anda sudah sering membaca-baca artikel di blog ini, maka nanti anda akan mengetahuinya sendiri. Dan sambil menunggu, anda bisa hunting saham-saham di sektor lain yang masih murah. Ada banyak kok.

Jadwal Seminar/Training Investasi Saham dengan tema Value Investing: Jakarta, Sabtu 30 Juli 2016. Keterangan selengkapnya baca [...]

Antara Medco, Newmont, dan Bumi Resources

Pada hari Jumat, tanggal 1 Juli kemarin, manajemen Medco Energi Internasional (MEDC) mengumumkan bahwa perusahaan akan mengakuisisi PT Amman Mineral Internasional (AMI), dimana AMI sebelumnya telah mengakuisisi 82.2% saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) senilai US$ 2.6 milyar atau setara Rp34.3 trilyun berdasarkan kurs Rp13,200 per USD, sehingga dengan demikian MEDC nantinya akan menjadi pemegang saham tidak langsung di NNT. Tak lama kemudian saham MEDC langsung naik hingga ditutup di posisi 1,870, atau terbang 24.7% hanya dalam sehari. Nah, anda mungkin tertarik dengan kenaikan MEDC yang luar biasa tersebut, namun disini penulis akan mengajak anda untuk menggali lebih dalam lagi soal aksi korporasi MEDC ini, plus peluang investasi yang mungkin timbul. Okay, here we go!

Bagi anda yang belum tahu, Newmont Nusa Tenggara dulunya dimiliki oleh tiga pemegang saham yakni Newmont Corp (Amerika Serikat) sebanyak 45%, Sumitomo Corp (Jepang) 35%, dan perusahaan lokal bernama PT Pukuafu Indah sebanyak 20%. Kemudian, berdasarkan peraturan Pemerintah Indonesia, Newmont Corp dan Sumitomo sebagai perusahaan asing harus menjual/divestasi sebagian saham mereka hingga mereka maksimal memegang saham NNT sebanyak total 49% saja, alias tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas. Karena Newmont dan Sumitomo totalnya memegang 80% saham NNT, maka terdapat 31% saham NNT yang akan dilepas. Tadinya 31% saham NNT ini akan dibeli oleh Pemerintah, namun Pemerintah menyatakan tidak memiliki dana, sehingga 31% saham ini ditawarkan kepada (atau lebih tepatnya menjadi rebutan) beberapa grup konglomerasi di tanah air.
Dan yang sukses masuk adalah Grup Bakrie, dimana mereka bersama dengan Pemprov Nusa Tenggara Barat mendirikan perusahaan patungan dengan nama PT Multi Daerah Bersaing (MDB), dimana Grup Bakrie melalui Bumi Resources Minerals (BRMS) memegang 75% saham MDB, sementara 25% sisanya dipegang oleh Pemprov NTB. MDB kemudian mengakuisisi 24% saham NNT senilai US$ 850 juta, pada tahun 2009. Dengan demikian, BRMS secara tidak langsung memegang 18% saham di NNT.
Kemudian disinilah bagian yang ramenya: Sejak awal, Grup Bakrie sudah berniat untuk menguasai NNT secara penuh alias mengakuisisi 100% sahamnya, atau paling tidak sebanyak 51% sehingga mereka menjadi pemegang saham pengendali perusahaan, sama seperti ketika dulu mereka sukses mengakuisisi kepemilikan mayoritas di Arutmin, Kaltim Prima Coal (KPC), dan lainnya. Setelah MDB sukses mengakuisisi 24% saham NNT, maka masih terdapat sisa 7% saham NNT yang harus dilepas oleh Newmont Corp dan Sumitomo, namun lagi-lagi Pemerintah Pusat tetap tidak mau mengambil jatah sahamnya. MDB sebenarnya sudah menawarkan untuk juga mengakuisisi sisa saham yang 7% tersebut, tapi kali ini Newmont Corp dengan tegas menolak untuk melepas sahamnya ke Bakrie, karena mereka tahu persis bahwa dengan demikian mereka akan kehilangan kontrol atas NNT. Meski Newmont Corp dan Sumitomo memang diharuskan untuk melakukan divestasi sehingga mereka maksimal hanya memegang 49% saham saja di NNT, namun mereka tetap menginginkan kontrol penuh atas perusahaan, dengan cara membuat pemegang saham lain memiliki saham NNT dalam jumlah yang lebih sedikit dari yang mereka miliki.
Jadi kuncinya sekarang terletak di pemegang saham NNT yang satunya lagi: PT Pukuafu Indah, yang dimiliki oleh pengusaha lokal bernama Jusuf Merukh. Mr. Merukh tidak memiliki keinginan untuk menjadi pemegang saham pengendali di NNT, namun posisi tawarnya menjadi sangat tinggi setelah Grup Bakrie mendekati beliau untuk mengakuisisi 20% saham NNT, sementara Newmont Corp juga terus mendekati Mr. Merukh agar jangan sampai menjual sahamnya ke Bakrie.
Dan sepertinya kali ini Newmont Corp-lah yang menang. Pada tahun 2010, sebuah perusahaan lokal bernama PT Indonesia Masbaga Investama (IMI)membeli 2.2% saham NNT senilai US$ 71.3 juta dari PT Pukuafu, sehingga PT Pukuafu tinggal memegang 17.8% saham NNT. Menariknya, IMI memperoleh dana US$ 71.3 juta tadi dari Newmont Corp dalam bentuk pinjaman, sehingga boleh dikatakan bahwa Newmont Corp-lah yang membeli 2.2% saham NNT tersebut. Jadi skenarionya, bahkan jika Grup Bakrie melalui MDB sukses menyapu habis 17.8% saham milik PT Pukuafu plus 7% saham yang menjadi jatah pemerintah, maka mereka totalnya hanya akan memegang 48.8% saham di NNT, sehingga Newmont Corp bersama dengan Sumitomo tetap akan memegang saham di NNT dalam jumlah yang lebih besar yakni 49%, jadi otomatis mereka tetap akan memegang kendali atas NNT. Grup Bakrie sendiri tidak mungkin mengakuisisi 2.2% saham NNT yang dipegang oleh IMI, karena sejak awal IMI diback-up oleh Newmont Corp.
Jadi sejak saat itulah, Grup Bakrie berhenti ‘mengejar’ Newmont.
Waktu berlalu. Selepas tahun 2011, harga-harga komoditas termasuk batubara, emas, dan tembaga mulai turun, dan terus turun hingga Newmont Corp sendiri mulai kesulitan keuangan, demikian pula dengan Grup Bakrie. Kinerja keuangan NNT sendiri terus turun, dimana pada tahun 2014 perusahaan merugi US$ 114 juta (NNT merupakan perusahaan private, tapi kinerja keuangannya bisa dilihat di laporan keuangan BRMS), dan pada tahun 2014 itu pula, Bumi Resources (BUMI) sebagai induk dari BRMS mulai bermasalah dengan utang-utangnya, dimana mereka mau tidak mau harus melepas beberapa asetnya untuk membayar utang. Dan karena Grup Bakrie sejak awal sudah tidak mungkin menguasai NNT secara penuh, maka 24% saham NNT yang mereka miliki menjadi salah satu aset yang dipertimbangkan untuk dijual. Dijual ke siapa? Ya ke siapapun yang menawar pada harga terbaik.
Hingga akhirnya pada tanggal 30 Juni 2016 kemarin, BRMS melalui MDB sebagai anak usahanya setuju untuk menjual 24% saham NNT ke perusahaan bernama PT Amman Mineral Internasional (AMI), dimana AMI sebelumnya juga sudah mengakuisisi saham NNT yang dimiliki oleh Newmont Corp., Sumitomo, dan IMI, dan AMI ini pada gilirannya akan diakuisisi oleh MEDC. Namun berdasarkan pengumuman dari manajemen BRMS, penjualan saham NNT tersebut baru akan efektif setelah nanti memperoleh persetujuan dari Pemerintah, kreditur MDB (karena MDB membeli Newmont pake utang), dan persetujuan lain yang dipersyaratkan dalam peraturan pasar modal. Intinya, BRMS baru berada pada tahap setuju untuk menjual saham NNT ke Grup Medco, namun soal harganya berapa dll, itu masih dalam tahap negosiasi.
Sementara kalau kita pakai pengumuman dari Grup Medco sebagai acuan, dimana MEDC akan mengakuisisi AMI yang memegang 82.2% saham NNT senilai US$ 2.6 milyar, dan kita asumsikan bahwa AMI membeli saham NNT dari Newmont Corp, Sumitomo, IMI, dan MDB pada harga yang sama, maka BRMS sebagai pemegang efektif 18% saham NNT akan memperoleh dana US$ 570 juta.
Peluang di saham MEDC? Atau Malah BRMS?

Jika benar bahwa Medco membeli NNT dari BRMS pada harga US$ 570 juta, maka artinya BRMS menjual NNT dalam posisi rugi, karena seperti yang sudah disebut diatas, BRMS melalui MDB membeli 24% saham NNT dengan nilai US$ 850 juta pada tahun 2009, dimana BRMS sebagai pemegang 75% saham di MDB harus keluar dana US$ 637.5 juta (850 juta x 3/4). Di lap keu BRMS sendiri jelas disebutkan bahwa nilai saham mereka di Newmont sudah tumbuh karena akumulasi laba bersih menjadi US$ 1 milyar.

Jadi jika BRMS hanya menerima pembayaran US$ 570 juta, maka di laporan laba ruginya akan terdapat akun ‘rugi atas pelepasan investasi’, yang menyebabkan BRMS bukannya mencatat profit dari penjualan NNT ini, melainkan justru rugi, dimana meski BRMS memperoleh dana kas senilai US$ 570 juta, namun perusahaan juga kehilangan asetnya senilai US$ 1 milyar. However, sebelum menjual sahamnya di Newmont, Grup Bakrie juga pernah beberapa kali menjual asetnya untuk membayar utang, biasanya pada posisi untung, dimana harga jual asetnya lebih tinggi dibanding harga ketika dulu mereka membeli aset tersebut. Jadi dalam hal ini penulis ragu jika Grup Bakrie benar-benar melepas sahamnya di Newmont pada harga obralan, meski disisi lain bukan tidak mungkin pula BRMS melepas Newmont pada harga ‘berapa sajalah, yang penting laku!’, mengingat perusahaan punya utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari setahun, senilai hampir US$ 500 juta.
Tapi entah itu BRMS menjual NNT pada harga diskon atau harga premium, yang jelas MEDC mengakuisisi 82.2% saham NNT pada harga US$ 2.6 milyar. Nilai ekuitas NNT sendiri tercatat US$ 3.12 milyar pada Kuartal I 2016, yang itu artinya MEDC membeli NNT pada PBV 1.01 kali saja, alias sangat murah mengingat NNT mulai kembali membukukan profit sejak tahun 2015 kemarin yang kemudian berlanjut pada tahun 2016 ini, dan nilai profit itu bisa lebih besar lagi jika kedepannya harga emas terus melanjutkan trend kenaikannya yang sudah terjadi sejak enam bulan lalu. Jadi meski MEDC mengakuisisi Newmont menggunakan dana pinjaman (tentu saja) dari tiga bank yakni Bank Mandiri, BNI, dan BRI, namun keuntungan yang dihasilkan akan jauh lebih besar dibanding bunga yang harus dibayar perusahaan.
So, berdasarkan analisa diatas, maka cukup jelas bahwa peluangnya terdapat di saham MEDC, bukan BRMS apalagi BUMI. MEDC sendiri pada harga 1,870 masih mencatat PBV 0.7 kali, jelas masih murah, meski juga perlu dicatat bahwa sejak jaman baheula MEDC ini tidak pernah cocok untuk investasi long term karena profitabilitasnya yang amat sangat kecil sebagai perusahaan minyak, bahkan ketika dulu harga minyak sedang tinggi-tingginya di level US$ 100 per barel (kita pernah membahasnya di tahun 2010 di artikel ini, waktu itu sahamnya berada di level 3,000). Anyway, MEDC gak bisa disebut sebagai perusahaan jelek juga, sehingga kalau ada berita bagus seperti ini maka biasanya sahamnya menawarkan peluang untuk trading jangka menengah, terutama karena berita soal akuisisi Newmont ini biasanya bakalan ‘awet’ dalam beberapa bulan kedepan, mengingat MEDC baru sebatas menyatakan setuju untuk mengakuisisi Newmont, sementara penyelesaian akuisisinya masih harus menunggu proses persetujuan Pemerintah dan RUPS (jadi kedepannya akan keluar lagi berita dengan judul ‘Medco resmi menuntaskan akuisisi Newmont’ atau semacamnya).

Namun mengingat MEDC ini kurang cocok untuk long term (kecuali jika nanti laba MEDC melompat karena tambahan laba dari Newmont, tapi bahkan kalaupun itu terjadi, maka terjadinya masih lama), maka anda harus tetap hati-hati, apalagi belakangan ini harga minyak dunia mulai turun lagi. Lalu bagaimana dengan BRMS? Well, meski penulis tidak melihat bahwa kinerja keuangan perusahaan akan improve bahkan setelah nanti proses akuisisi Newmont ini tuntas, namun sahamnya kemungkinan tetap akan ‘main’ karena cerita soal Newmont ini, dimana kalau dia terbang maka kenaikannya bisa jauh lebih tinggi dibanding ketika kemarin MEDC naik 24% sekalipun (ingat waktu kemarin BUMI naik dari 50 ke 82, alias naik 64%, hanya dalam dua hari???). Tapi yah, kalau MEDC ternyata malah turun sampai 1,580 (itu support teknikalnya), maka paling tidak anda masih bisa cut loss. Sedangkan kalau BRMS mati di gocap? Ya wassalaaaam! Jadi dalam hal ini, meski BRMS mungkin menawarkan potensi profit yang lebih tinggi, namun risiko kerugiannya juga lebih tinggi lagi. So, your call!

Info: Buletin Analisis IHSG & Stock Pick Saham Pilihan edisi Juli 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi saham via email untuk member, langsung dengan [...]

Habis Brexit, Terbitlah Tax Amnesty!

Pada Kamis, tanggl 23 Juni kemarin, rakyat Inggris alias United Kingdom (UK) resmi menyelenggarakan referendum untuk menentukan apakah mereka akan tetap menjadi anggota European Union (EU), atau keluar. Dan diluar ekspektasi banyak pihak, ternyata kubu ‘exit’ menang tipis 51.9%, berbanding kubu ‘stay’ 48.1%. Alhasil selanjutnya gampang ditebak: Pada hari Jumatnya bursa-bursa saham di Eropa seketika berjatuhan, dimana DAX Jerman, FTSE Inggris, dan CAC Perancis, semuanya turun antara 3 – 8% dalam sehari. Diluar Eropa, Dow Jones juga ambruk 3%, dan IHSG pada Jumat kemarin sempat turun 2.4% ke posisi 4,758, namun pada sesi kedua naik lagi hingga akhirnya ditutup diposisi 4,835, sehingga secara keseluruhan IHSG hanya turun 0.8% pada Jumat tersebut.

Dan ketika pada Senin harinya bursa Eropa dan Dow kembali melanjutkan penurunan, tapi tidak demikian halnya dengan IHSG, yang meski sempat tertekan pada awalnya, namun pada akhirnya ditutup di zona hijau meski dengan kenaikan yang sangat tipis, yakni 0.03%. Nevertheless, kenaikan ini sudah mampu meredakan kepanikan sesaat yang terjadi pada Jumat lalu terkait Brexit ini, dimana cerita soal Brexit dengan sendirinya tertutup oleh ‘cerita heboh selanjutnya’, yakni soal Tax Amnesty, yang sukses mendorong IHSG untuk naik 0.95% di hari Selasa-nya.
Nah, dalam hal ini penulis jadi ingat ketika pada Jumat kemarin saya membuka internet di ponsel sekitar pukul 8.00 pagi, dan lumayan kaget ketika hasil polling sementara ternyata menunjukkan bahwa UK harus keluar dari EU. Penulis katakan kaget, karena seperti yang sudah pernah kita bahas disini, berbagai hasil polling sebelum referendum menunjukkan bahwa hasil referendum-nya kemungkinan besar adalah bahwa UK tetap menjadi anggota EU. Tapi berhubung ternyata kubu ‘exit’ yang menang, maka IHSG hampir pasti bakal jeblok pada Jumat tersebut.
And indeed, pada pukul 09.00 pagi, pasar langsung dibuka di zona merah, dan penulis langsung menerima banyak pertanyaan (dari temen-temen member buletin bulanan) tentang ‘Bagaimana pengaruh Brexit ini terhadap fundamental ekonomi Indonesia?’ Dan saya harus sekali lagi menyampaikan apa yang sudah penulis sebutkan di artikel minggu lalu: ‘Brexit tidak memiliki pengaruh apapun terhadap IHSG/perekonomian Indonesia. Jika hasil referendumnya adalah bahwa Inggris harus keluar dari Uni Eropa, maka IHSG memang kemungkinan akan turun cukup dalam, tapi setelah itu semuanya akan balik lagi ke fundamental ekonomi dalam negeri, dan juga isu-isu lainnya yang berkembang setelah Brexit ini.
Namun disinilah menariknya: Ketika IHSG lanjut turun hingga sempat ke posisi 4,700-an (turun 2.4%), penulis kembali menerima beberapa pertanyaan bernada panik, yang kurang lebih isinya sebagai berikut: ‘Pak Teguh, memang Brexit tidak berpengaruh langsung terhadap Indonesia, tapi bagaimana dengan efek domino-nya? Bagaimana jika negara-negara lain ikut keluar dari EU? Bagaimana jika EU akhirnya bubar? Bagaimana jika ini? Bagaimana jika itu?’ Dan penulis jawab, ‘Kalau UK mau keluar dari EU ya sudah biarkan saja, bukan berarti habis itu bakal terjadi krisis ekonomi atau gimana. Dulu tahun 2011 juga rame banget cerita soal Krisis Yunani, yang ditengarai bakal bikin Eropa krisis secara keseluruhan, dan IHSG waktu itu juga pernah drop 8.88% dalam sehari ke level 3,200-an. Tapi nyatanya gak ada krisis apapun, dan IHSG tetap naik hingga ke posisi sekarang’.
Penulis kemudian melanjutkan, ‘Kalau IHSG Senin besok lanjut turun lagi, maka iya, kekhawatiran tentang efek domino Brexit itu akan jadi headline di koran-koran, dan orang-orang bakal tambah panik. Tapi kalo IHSG-nya gak turun lebih lanjut, maka ya sudah, cerita Brexit-nya selesai dan dilupakan, karena memang gak ada pengaruh apapun ke indo.
Dan ternyata IHSG pada hari Jumat tersebut hanya turun 0.8%, bahkan di hari Senin-nya sukses berbalik naik meski hanya 0.03%. And here’s the plot twist: Pada hari Selasa-nya, DPR secara resmi mengesahkan Undang-Undang Tax Amnesty, yang seketika mendorong IHSG untuk naik cukup tinggi pada hari Selasa tersebut (hampir 1%), karena memang seperti yang sudah pernah kita bahas disini, kebijakan tax amnesty ini diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Tak lama kemudian, penulis langsung menerima banyak pertanyaan lagi, tentang apakah ini saatnya untuk belanja saham, mengingat ekonomi Indonesia akan maju setelah tax amnesty??? Yup! Hanya dalam tempo tiga hari perdagangan, semua kekhawatiran tentang pengaruh Brexit bla bla bla seketika menguap, dan digantikan oleh optimisme bahwa ekonomi Indonesia akan maju bla bla bla! Hanya karena cerita tax amnesty.
Nah, jadi anda sudah mengerti bukan, apa yang hendak penulis sampaikan disini? Yep, benar sekali: Kalau besok-besok ada cerita jelek lagi, entah itu Nexit (karena pasca Brexit, Belanda alias the Netherlands juga mulai ada wacana untuk melakukan referendum) atau semacamnya, maka IHSG akan jeblok lagi! Cerita soal tax amnesty langsung dilupakan, dan orang-orang akan panik lagi. Lalu demikian seterusnya, sentimen negatif dan positif akan datang silih berganti dan orang-orang akan mondar mandir berteriak sell! Tapi sejurus kemudian langsung teriak lagi, buy!
Sementara sebagian kecil investor lainnya yang sudah berpengalaman cuma duduk dipojokan untuk menonton kehebohan market sambil ketawa-ketawa, hahaha :D
Analisis Tax Amnesty
Tapi Pak Teguh, berbeda dengan Brexit yang tidak memiliki hubungan langsung dengan Indonesia, tax amnesty jelas ada pengaruhnya terhadap ekonomi kita bukan? Yup, benar, tapi juga kita gak bisa langsung menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi kita akan langsung tumbuh diatas 5% hanya karena tax amnesty ini. Seperti yang sudah dibahas disini, dengan disahkannya UU Tax Amnesty, maka harapannya adalah: 1. Penerimaan pajak Indonesia akan meningkat, sehingga pembangunan infrastruktur, yang memang sedang gencar-gencarnya, kedepannya akan lebih gencar lagi, 2. Indonesia kebanjiran ‘dana asing’ yang sejatinya merupakan dana milik warga Indonesia sendiri, dimana sebagian diantaranya pasti ikut masuk ke stock market, dan itu akan mendorong kenaikan IHSG, dan 3. Proses pendirian perusahaan dan investasi akan terus dipermudah untuk mengakomodir masuknya dana dari luar negeri, dan pendirian usaha tentunya akan menarik tenaga kerja, sehingga ekonomi akan berputar secara keseluruhan, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Namun bahkan jika semua ekspektasi diatas menjadi kenyataan, maka tetap saja prosesnya butuh waktu. Setelah melewati hadangan DPR, maka selanjutnya Pemerintah harus ‘berperang’ melawan beberapa negara financial center seperti Singapura, Swiss, dan Hongkong, agar dana milik konglomerat Indonesia yang selama ini diparkir disana benar-benar bisa ditarik kesini, plus menyiapkan beberapa kebijakan tambahan untuk mengakomodasi masuknya dana tersebut. Intinya sih, seperti halnya kemarin kita jangan berlebihan dalam menanggapi Brexit, maka kali ini penulis harus mengingatkan agar kita juga tidak berlebihan dalam menanggapi Tax Amnesty. Just remember: Sentimen apapun yang ramai dibicarakan di market hari ini, entah itu negatif atau positif, bisa langsung dilupakan keesokan harinya. At the end, investor akan kembali melihat kinerja emiten dan juga indikator-indikator ekonomi makro, dan itulah yang akan benar-benar mempengaruhi IHSG dalam jangka panjang.
Hanya memang, terkait tax amnesty ini penulis melihatnya dari sisi lain. Dulu, sempat berpikir bahwa pembahasan UU tax amnesty ini kemungkinan besar bakal berkepanjangan di DPR, karena sekilas hanya menguntungkan konglomerat dan merugikan negara, dan ini sudah tentu target serangan yang empuk bagi para politisi di senayan. Tapi nyatanya DPR sama sekali tidak berkutik, dan ini adalah kesekian kalinya dimana Pemerintah mampu meluncurkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang revolusioner tanpa adanya resisten dari pihak legislatif. Hal ini berbeda dengan jaman SBY dulu, dimana setiap kali Pemerintah hendak sekedar menaikkan harga BBM saja, maka langsung terjadi tawar menawar politik yang alot, yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan para anggota dewan itu sendiri. Bahkan jika kita bandingkan dengan Pemerintah Inggris, dimana Perdana Menteri David Cameron sampai harus melakukan referendum untuk membungkam partai oposisi (tapi yang terjadi malah senjata makan tuan, dan Mr. Cameron mau tidak mau harus mundur dari jabatannya), maka cukup jelas bahwa Pemerintah Indonesia yang sekarang ini terbilang sangat leluasa dalam mengelola negara tanpa harus ‘menservis’ pihak oposisi.

Dan berdasarkan pengalaman, jika kondisi politik dalam negeri sudah aman dan stabil, maka biasanya akan berujung pada pertumbuhan ekonomi yang kencang pula. Setelah Indonesia hampir saja mengalami krisis pada tahun 2015 kemarin, harus penulis katakan bahwa sampai dengan bulan keenam tahun 2016 ini, ekonomi masih belum mengalami improvement yang berarti, meski juga tidak menjadi lebih buruk. Namun jika Pemerintah bisa terus bekerja keras untuk memajukan kembali perekonomian tanpa adanya hambatan berarti dari pihak oposisi, maka penulis kira paling lambat di pertengahan tahun 2017 nanti, kita akan menyaksikan IHSG break new high kembali. Mudah-mudahan!
Info: Buletin Analisis IHSG & Stock Pick Saham Pilihan edisi Juli 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Antara ‘Brexit’ dan IHSG

Salah satu hot news yang beredar di market sekarang ini adalah terkait ‘Brexit’, yang merupakan kependekan dari ‘British Exit’, dan itu merujuk pada referendum di Inggris pada tanggal 23 Juni nanti (dua hari lagi), dimana rakyat Britania Raya alias United Kingdom (UK) akan memilih, apakah mereka tetap akan masuk keanggotaan Uni Eropa, atau keluar. Problemnya, salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Uni Eropa itu justru UK. Sehingga jika Inggris keluar dari Uni Eropa maka itu adalah seperti Lionel Messi keluar dari FC Barcelona: Itu nyaris tidak mungkin terjadi, tapi jika itu sampai terjadi maka bakal gawat jadinya.

Pertanyaannya mungkin, yang dimaksud ‘gawat’ itu seperti apa? Nah, disini kita akan membahasnya dari awal. Okay, langsung saja.
Ketika Uni Eropa atau European Union (EU) dibentuk pada tahun 1957, ketika itu dengan nama European Economic Community (EEC), tujuannya adalah untuk membuat suatu perekonomian yang terintegrasi, a single market, dimana setiap negara anggota EEC akan bekerja sama, saling melengkapi, dan saling memperkuat ekonominya satu sama lain, hingga pada akhirnya meningkatkan pembangunan ekonomi di kawasan Eropa secara keseluruhan. Jadi tujuannya sama seperti ketika Indonesia bersama-sama dengan negara-negara Asia Tenggara membentuk Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), yang kemudian dilanjut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2016 (baca lagi selengkapnya disini). Ketika EEC berdiri, anggotanya hanya ada enam negara, yakni Belgia, Perancis, Italia, Luxembourg, dan Jerman Barat, sementara UK baru bergabung tahun 1973. Pada tahun 1993, EEC berganti nama menjadi European Community, dan tahun 2007 berubah lagi menjadi European Union.
Nah, seperti yang sudah disebut diatas, ketika EU ini dibentuk maka tujuannya adalah agar setiap negara saling memperkuat perekonomiannya satu sama lain. Namun pada perkembangannya, partai-partai politik di negara tertentu, termasuk di UK, justru melihat bahwa keberadaan EU ini justru merugikan, terutama dari sisi kedaulatan politik dimana dikatakan bahwa ‘Uni Eropa memiliki kendali yang terlalu besar terhadap kehidupan sehari-hari rakyat Inggris’. Sebenarnya Perdana Menteri UK, David Cameron, tidak pernah mempermasalahkan keanggotaan UK di EU. Namun ketika ia terpilih kembali sebagai PM pada Pemilu 2015 lalu, ia sudah berjanji untuk menggelar referendum untuk ‘bertanya’ kepada rakyat Inggris, apakah mereka ingin tetap masuk EU atau keluar. Harapannya adalah, ketika hasil referendum-nya ternyata mendukung UK untuk tetap di EU, maka pihak partai oposisi yang selama ini menginginkan UK untuk keluar dari EU akan bungkam dengan sendirinya. Disisi lain, dengan menggelar referendum ini, maka UK akan memiliki posisi tawar yang lebih tinggi terhadap EU, dimana Mr. Cameron bisa mengatakan kepada Jean-Claude Juncker (Presiden European Commission) bahwa, ‘Jangan paksa rakyat Inggris untuk menerima imigran asing, dan biarkan kami mengurus urusan dalam negeri kami sendiri. Jika tidak, maka kami akan keluar dari EU’.
Namun demikian, jika hasil referendumnya justru bahwa UK harus keluar dari EU, maka akan terdapat beberapa konsekuensi ekonomi, diantaranya: 1. Inggris akan melepas mata uang Euro untuk kembali sepenuhnya menggunakan mata uang Pound-Sterling. Ini artinya arus ekspor impor dari Inggris ke Eropa akan menjadi terhambat karena perbedaan penggunaan mata uang, 2. Turunnya nilai ekspor impor akan berdampak langsung terhadap penurunan lapangan pekerjaan, 3. Tenaga kerja di UK tidak bisa pindah kerja begitu saja ke negara lain di Eropa, demikian sebaliknya, 4. Arus keluar masuknya investasi dari dan ke Inggris akan turun tajam, dan 5. EU akan kehilangan salah satu pilar ekonomi terbesarnya. Termasuk London Stock Exchange (LSE), yang notabene merupakan bursa saham terbesar ketiga di dunia (setelah NYSE dan Nasdaq) dan bahkan lebih besar dari Euronext (bursa saham European Union), akan ‘putus hubungan’ dengan bursa-bursa saham lainnya di Eropa.

Intinya sih, jika referendum tanggal 23 Juni nanti menghasilkan keputusan bahwa UK harus keluar dari EU, maka bursa saham Eropa hampir bisa dipastikan akan berjatuhan, dan mau tidak mau IHSG juga akan ikut turun, kemungkinan bisa cukup dalam mengingat IHSG sama sekali belum turun banyak dalam beberapa bulan terakhir.
Jadi pertanyaannya sekarang, apakah hasil referendumnya nanti adalah bahwa UK tetap menjadi anggota EU, atau justru keluar? Well, kalau berdasarkan beberapa polling yang sudah digelar, salah satunya oleh koran The Mail, 45% rakyat Inggris memilih ‘stay’, yakni bahwa UK tetap menjadi anggota EU, dan hanya 42% yang memilih ‘exit’. Beberapa bandar judi, seperti Betfair dan Ladbrokes, juga lebih menjagokan stay dengan peluang 73%, ketimbang exit dengan peluang 27%. Jika melihat bahwa David Cameron dengan Partai Konservatif-nya, yang berstatus sebagai partai pemerintah, juga mendukung vote stay, maka kemungkinan hasil referendumnya adalah stay. Dan itu artinya, kemungkinan bahwa bursa-bursa Eropa akan jeblok karena UK benar-benar keluar dari EU, terbilang kecil. Seperti yang sudah disebut diatas, Mr. Cameron sendiri juga sudah paham tentang kekhawatiran partai oposisi terkait keanggotaan UK di EU, seperti masalah imigran asing dan lainnya, dan dia sudah mengusahakan agar EU tidak lagi terlalu ikut campur masalah dalam negeri di Inggris. Intinya, UK akan tetap menjadi anggota EU, sehingga konsekuensi ekonomi yang dikhawatirkan tidak akan terjadi, namun disisi lain kedaulatan politik Inggris tetap akan terjaga.
Namun memang, untuk lebih pastinya maka sebaiknya kita tunggu sampai tanggal 23 Juni mendatang. However, jika ada pertanyaan, jika UK benar-benar keluar dari EU, apakah ekonomi Indonesia akan terkena dampak signifikan? Penulis bisa katakan, tidak. Berdasarkan data ekspor impor, mitra dagang terbesar Indonesia dikawasan Uni Eropa adalah Jerman, disusul Belanda, dan Italia, sementara nilai ekspor impor Indonesia dari dan ke EU juga tidak sampai 10% dari total nilai ekspor impor Indonesia secara keseluruhan. Inggris juga sama sekali bukan investor terbesar di Indonesia, karena investasi asing disini masih sangat didominasi oleh China, Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Dan jika UK keluar dari EU, maka seharusnya kita akan tetap bisa menonton Liga Inggris seperti biasa, jadi gak ada masalah toh?
Dengan demikian, jika hasil referendumnya adalah bahwa Inggris harus keluar dari Uni Eropa, maka IHSG memang kemungkinan akan turun cukup dalam, tapi setelah itu semuanya akan balik lagi ke fundamental ekonomi dalam negeri, dan juga isu-isu lainnya yang berkembang setelah Brexit ini. So, jika anda sedang berencana untuk membeli saham tertentu, maka tetap yang paling pertama harus diperhatikan adalah fundamental perusahaan yang bersangkutan, plus kondisi ekonomi nasional, dan setelah itu baru soal Brexit ini atau lainnya. Anyway, keputusan tetap ada di tangan anda.
Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal I 2016 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memesannya disini.

Agung Podomoro Land, dan Kasus Reklamasi

Pada tanggal 1 April lalu, Direktur Utama Agung Podomoro Land (APLN), Ariesman Widjaja, ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus reklamasi Teluk Jakarta. Selanjutnya mudah ditebak: Pada hari Senin-nya, tanggal 4 April, saham APLN langsung AR kiri dari posisi 300 ke 270, dan lanjut turun hingga mentok di 232 pada pertengahan Mei lalu. Namun belakangan APLN perlahan tapi pasti mulai pulih kembali, dan ketika artikel ini ditulis dia sudah berada di posisi 248, dimana secara teknikal tampak bahwa dia akan lanjut naik, sementara disisi lain PBV-nya di harga sekarang cuma 0.7 kali. An opportunity?

Hingga Kuartal I 2016, APLN mencatat pendapatan Rp1.18 trilyun, atau tumbuh dari sebelumnya Rp995, demikian pula labanya naik tipis menjadi Rp110 milyar. Berhubung mayoritas beberapa perusahaan properti lainnya mencatat penurunan pendapatan serta laba pada periode yang sama, atau kalau labanya naik maka kenaikannya berasal dari pendapatan non operasional (misalnya keuntungan kurs), maka catatan kinerja APLN ini terbilang cukup baik. Secara historis pun, perolehan laba APLN selalu naik sejak tahun 2013, dimana EPS-nya konsisten di angka Rp41 – 42 per saham (sehingga PER-nya pada harga saham 250 tercatat hanya 6 kali), dan ekuitas perusahaan sudah mendekati Rp7 trilyun. Mengingat industri properti justru mulai slowdown sejak 2013 tersebut, maka pencapaian tersebut, sekali lagi, terbilang cukup bagus.
Dan kalau kita amati neracanya maka akan terdapat fakta menarik: Dari total kewajiban APLN sebesar Rp16.0 trilyun, Rp7.4 trilyun diantaranya merupakan uang muka pelanggan yang akan diakui sebagai pendapatan, yakni ketika nanti propertinya sudah selesai dibangun dan diserah terimakan, dan sekitar separuh dari jumlah tersebut akan direalisasikan (sebagai pendapatan) dalam waktu setahun kedepan. Di materi public expose-nya sendiri, APLN secara gamblang memaparkan proyek-proyek terbarunya yang sedang dalam tahap pembangunan, plus progress penjualan unit-unit properti di tiap proyek-proyek tersebut (per November 2015), dimana datanya cukup meyakinkan. Berikut data selengkapnya:
No.
Proyek
Lokasi
Progress Penjualan
1
SOHO @Podomoro City
Jakarta
Apartment sold out, Office 77%
2
Madison Park
Jakarta
Apartment & Ruko sold out, Kiosk 95%
3
Grand Madison
Jakarta
Apartment 35%
4
SOHO @Pancoran
Jakarta
Apartment 45%
5
The Pakubuwono Spring
Jakarta
Apartment 51%
6
Metro Park Residences
Jakarta
Apartment sold out
7
Harco Glodok
Jakarta
Kiosk 38%
8
Plaza Kenari Mas
Jakarta
Kiosk 49%
9
Pluit City
Jakarta
-
10
Podomoro Golf View
Depok
-
11
Grand Taruma
Karawang
Rumah 83%, Ruko 91%
12
Podomoro Industrial Park
Karawang
-
13
Vimala Hills
Bogor
Villa 85%
14
Parahyangan Residences
Bandung
Apartment sold out
15
Bandung International
Bandung
-
16
Indigo Hotel Seminyak
Bali
-
17
Borneo Bay Residences
Balikpapan
Apartment 51%
18
Orchard Park
Batam
Rumah 59%, Ruko 78%, Apartment 0%
19
Podomoro City Deli
Medan
Apartment 61%, Condo 41%, Office 8%
Nah, dilihat dari sini maka pendapatan APLN untuk tahun 2016 ini kemungkinan besar akan kembali meningkat, dan memang di Kuartal I kemarin pendapatan perusahaan naik 18.9%. Seperti halnya mayoritas perusahaan properti lainnya, APLN juga punya utang obligasi, namun obligasinya tersebut dalam mata uang Rupiah, dan kuponnya pun terbilang murah di angka 9.75%. Alhasil perolehan laba perusahaan tidak terganggu oleh fluktuasi kurs Rupiah ataupun beban bunga utang, dimana kalau pendapatannya naik maka labanya juga ikut naik.
Jadi meski ROE APLN relatif rendah yakni 12 – 13%, dan itu menyebabkan sahamnya kurang ideal untuk investasi serius (baca: long term), namun disisi lain ROE tersebut terbilang konsisten dari tahun ke tahun, dan yang jelas nilai aset bersih perusahaan juga terus naik. Jadi kalau kita bisa dapet sahamnya di harga murah, contohnya seperti sekarang dimana PBV 0.7 kali terbilang murah kalau mempertimbangkan aspek fundamental, likuiditas saham, serta reputasi perusahaan sebagai salah satu developer properti paling terkemuka di tanah air, maka itu artinya? Peluang, tentu saja.

Kasus Reklamasi Pluit City?
Akan tetapi kalau bicara soal ‘reputasi’, maka bukankah kemarin baru saja reputasi APLN ini tercoreng karena direkturnya melakukan suap? Yup, namun pihak perusahaan langsung gerak cepat dimana Mr. Ariesman sudah mengundurkan diri sebagai dirut APLN pada 25 Mei lalu. Berhubung Mr. Ariesman sejatinya bukanlah orang nomor satu di Grup Agung Podomoro (orang nomor satunya ya Pak Trihatma), maka kegiatan usaha APLN tetap berjalan seperti biasa. Dalam hal ini penulis jadi ingat kasus Sentul City (BKSL), dimana dirut sekaligus owner perusahaan, Cahyadi Kumala, juga ditangkap KPK pada tahun 2014. Dan sejak itu kinerja BKSL langsung drop, karena perusahaan kehilangan nakhoda-nya sama sekali.
Sementara ketika anak usaha APLN yakni PT Muara Wisesa Samudera (MWS) menghentikan kegiatan reklamasi di Pulau G, yang merupakan bagian dari proyek Pluit City (lihat lagi tabel diatas), maka itu tidak ada hubungannya dengan kasus suap M. Sanusi, melainkan karena proyek reklamasi tersebut masih belum memperoleh ‘sertifikat layak bangun’ dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK). Sebelumnya MWS sudah mengantongi izin reklamasi dari Pemprov DKI pada November 2015, sehingga pekerjaan reklamasi tersebut sudah bisa dimulai, namun ternyata Pemerintah pusat, dalam hal ini Kemen LHK, menyatakan bahwa proyek reklamasi tersebut masih belum layak. Tapi sekarang ini Kemen LHK sedang mempelajari kembali dampak-dampak yang akan timbul jika proyek reklamasinya dilanjutkan, dimana jika hasilnya positif, maka pekerjaan reklamasinya akan dilanjutkan.

Sementara ketika Mr. Ariesman ditangkap KPK karena menyuap M. Sanusi, maka suap tersebut bukan untuk meng-gol-kan izin reklamasi-nya (karena sejak awal proyek reklamasi tersebut sudah memperoleh izin dari Pemprov DKI), melainkan untuk ‘menitip pesan’ kepada M. Sanusi sebagai anggota DPRD DKI, agar DPRD menerbitkan peraturan daerah yang pada intinya menurunkan kewajiban APLN sebagai pengembang dari sebelumnya menyediakan 15% kawasan reklamasi sebagai milik Pemprov, menjadi 5% saja. Sebelumnya Pemprov DKI, dalam hal ini Gubernur Ahok, sudah mensyaratkan jatah 15% tersebut sebelum menerbitkan izin reklamasinya, dimana kawasan milik Pemprov tersebut akan digunakan untuk membangun taman, rusun dll, untuk warga Jakarta yang bekerja sebagai pembantu, supir dll di Pluit City.

Tapi untuk kelanjutan proyek reklamasinya, sekali lagi, gak ada masalah apapun kecuali belum memperoleh izin dari Kemen LHK (atau bisa disebut juga: Karena kurangnya koordinasi antara Pemprov DKI dan Pemerintah pusat), dan bahkan Pak Ahok masih mendukung agar reklamasi tersebut dilanjutkan, meski tentunya dengan catatan APLN memenuhi kewajibannya yang 15% tadi.

Tapi mari kita ambil skenario terburuk: Bagaimana jika proyek reklamasinya berhenti sama sekali? Well, coba anda lihat lagi tabel diatas: APLN masih punya delapan belas proyek lainnya diluar Pluit City. Jadi permasalahan reklamasi ini sejatinya tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, kecuali sebatas mengganggu reputasi perusahaan dalam jangka pendek. Penulis katakan jangka pendek, karena APLN sejak awal sudah dikenal sebagai salah satu developer paling kredibel se-Indonesia dengan produk-produk propertinya yang berkualitas premium, sehingga ketika cerita soal reklamasi ini belakangan mulai dilupakan, maka reputasi APLN pulih lagi dengan sendirinya. Hal ini berbeda dengan BKSL, misalnya, yang jauh sebelum owner-nya ditangkap KPK, perusahaan sudah punya banyak cerita jelek, termasuk pernah berurusan hukum dengan pelanggannya sendiri.

Okay lalu bagaimana dengan sahamnya? Well, pada Mei 2013 lalu, seiring dengan jebloknya IHSG ketika itu, APLN juga turun dari 500-an hingga mentok di 270-an pada September di tahun yang sama. Namun APLN baru benar-benar menarik perhatian penulis setelah pada Januari 2014, dia entah kenapa lanjut turun lagi sampai 207, dimana PBV-nya tercatat 0.7 kali, padahal kinerja perusahaan masih baik-baik saja. And indeed, ketika IHSG mulai naik banyak di tahun 2014 tersebut, APLN juga terus naik hingga tembus 470 pada Februari 2015, atau mencetak gain lebih dari dua kali lipat hanya dalam waktu setahunan. Nah, berhubung APLN sekarang balik lagi ke posisi dimana PBV-nya 0.7 kali, dan fundamentalnya secara umum masih oke, then what do you think?
PT Agung Podomoro Land, Tbk
Rating Kinerja Pada Kuartal I 2016: A
Rating Saham pada 248: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang APLN di average 248. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal I 2016 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memesannya 

Sudahkah Anda Bersyukur Hari Ini?

Setiap beberapa waktu sekali, penulis biasa mengajak si kecil yang berusia 4 tahun ke salah satu restoran cepat saji di dekat rumah, untuk sekedar makan berdua dan juga menemaninya main perosotan (karena di restoran itu ada tempat bermain anak-anak). Termasuk kemarin sore sambil buka puasa, kami ke restoran ala Jepang dan memesan nasi putih, chicken teriyaki, sup miso dengan tahu, dan teh kotak. Harganya? 40 ribu saja, dan itu sudah cukup untuk kami berdua.

Penulis kemudian menyuapi si kecil, yang tampak sangat menyukai setiap sendok nasi beserta lauknya yang ia telan. Ketika ia melompat dari tempat duduknya untuk kembali bermain perosotan, saya sendiripun ikut makan.
Dan.. entah kenapa, saya baru menyadari kalau nasi yang saya makan terasa enak sekali. Nasi itu begitu pulen, begitu harum, dan rasa lauknya pun sangat pas, meski mungkin karena memang lagi laper aja. Namun ketika itulah, tiba-tiba saja penulis teringat jaman kuliah dulu ketika harus makan nasi yang dimasak dari beras pemberian orang tua di kampung, yang baunya terkadang apek, tapi nasi itu tetap dimakan karena tidak ada pilihan lain. Untuk lauknya pun, jangankan ayam goreng atau chicken teriyaki atau apapun itu namanya, sekedar pake telor ceplok saja mewahnya bukan main. Pada saat ini pula, penulis teringat dengan kisah ayahanda Gubernur Jakarta, Ahok, yang pada tahun 1960-an harus berbagi beras kepada tetangganya di Belitung, karena ketika itu Indonesia benar-benar sedang dalam masa sulit, dimana harga-harga melambung tinggi dan tidak terjangkau masyarakat, dan beras dengan kualitas paling rendah sekalipun tetap merupakan makanan mewah yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang.
Tapi sekarang, penulis bisa duduk di sebuah tempat yang nyaman, aman, dan sejuk, dan sedang makan nasi kualitas terbaik.. seolah-olah itu adalah sesuatu yang biasa saja. Ketika penulis kemudian melihat si kecil yang sangat lincah, mengenakan pakaian bagus (dibandingkan dengan pakaian saya waktu seumur dia dulu), dan ia dengan ceria bermain dengan teman-teman seusianya.. Oh God.. This is priceles..
Detik itu pula saya menundukkan wajah dan mengucap puji dan syukur kepada Yang Maha Kuasa, Alhamdulillah.. Kami telah diberikan kehidupan yang begitu baik. Saya juga jadi malu dengan diri sendiri, yang seringkali hanya fokus pada target-target yang harus saya capai setiap kali berurusan dengan stock market, kemudian menggerutu jika ada target yang tidak tercapai, namun hampir selalu menyepelekan hal-hal kecil seperti ini, seolah-olah itu tidak berarti apa-apa.
Padahal, coba anda bayangkan kalau tiba-tiba saja Indonesia dilanda krisis dimana beras tiba-tiba menjadi langka atau harganya naik tidak terkendali.. Ketika itu terjadi, masihkah kita menganggap bahwa makan nasi yang pulen dan wangi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja? Entah mengapa kebanyakan orang tidak mau mensyukuri hal-hal kecil yang bisa saja merupakan sesuatu yang sangat mewah di tempat lain. Kita terlalu sering mengkritik, terlalu sering mengeluh dan menggerutu tentang apa saja, termasuk ketika nyangkut atau cut loss di saham. Tapi terhadap hal-hal sederhana seperti sepiring nasi di meja makan, atau anak-anak yang sehat dan tidak kurang suatu apa, kita tidak melihat itu sebagai anugerah dan malah menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.
Tapi pengalaman hari ini menyadarkan penulis bahwa ada begitu banyak hal-hal baik di sekeliling kita, yang patut untuk disyukuri (makanya, jangan nongkrong didepan monitor mulu). Nah, kalau anda sendiri, sudahkah anda juga bersyukur hari ini?

Jadwal Seminar: Tema Value Investing: Buy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta SelatanSabtu 18 Juni 2016. Untuk mendaftar klik disini, tersedia diskon khusus bagi peserta yang mendaftar untuk 2 atau 3 orang [...]

Pentingnya Visi Seorang Investor, Part 2

Okay, itu satu. Yang kedua, kemampuan untuk melihat jauh kedepan akan sangat berguna ketika kita menerapkan metode value investing itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, pekerjaan seorang value investor sangatlah sederhana: Cari saham bagus dan murah, lalu beli, lalu tunggu sampai dia naik sendiri. Sementara jika anda tidak menemukan saham yang memenuhi dua kriteria tersebut (bagus dan murah, karena kadang-kadang kita berada dalam situasi pasar dimana saham-saham bagus udah pada mahal semua), maka anda harus tunggu diluar, alias pegang cash.

Catatan: Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya, yang bisa anda baca lagi disini.
Jadi pekerjaan value investor itu sebenarnya lebih banyak menunggu saja, entah itu menunggu untuk membeli, atau menunggu untuk menjual. Namun ketika menunggu inilah, investor yang tidak memiliki visi, alias tidak mampu melihat bahwa harga suatu saham pada akhirnya akan naik atau turun ke posisi tertentu dan hanya terpaku pada harga sahamnya saat ini, biasanya akan gelisah, dan ujung-ujungnya ia akan melakukan kesalahan, entah itu menjual sahamnya terlalu cepat padahal saham tersebut masih bisa naik lagi, atau sebaliknya membeli terlalu cepat, yakni pada harga yang sebenarnya masih bisa lebih rendah lagi.
Contoh riil-nya, dan ini sudah beberapa  penulis sampaikan di kelas seminar, pada awal tahun 2015 lalu seorang teman bertanya, ‘Pak Teguh, BBRI bagus nggak buat long term?’
Penulis jawab, ‘Iya BBRI tentu saja bagus pak.’
Ia bertanya lagi, ‘Di harga sekarang (12,000-an) apa boleh masuk?’
‘Jangan dulu. PBV BBRI sekarang 3.0 kali, dan kalau berdasarkan pengalaman, itu mahal banget.’
‘Jadi beli di harga berapa bagusnya?’
‘Sekitar 9,000 pak. Di harga segitu PBV-nya 2.3 kali, dan memang batas harga terendah yang mungkin dicapai BBRI, terutama kalau IHSG terkoreksi, adalah sekitar PBV 2.3 kali tersebut. Malah pernah juga sampai 1.7 – 2.0 kali’
‘Dari 12,000 ke 9,000, berarti turun sekitar 30%. Apa mungkin BBRI bisa turun sampai serendah itu?’
‘Iya mungkin saja pak. Lebih dari itu juga mungkin kok.’
‘Tapi bukannya tadi pak Teguh bilang BBRI ini bagus? Kalau saham bagus gimana bisa turun?’
‘Iya BBRI memang bagus, tapi di harga sekarang dia mahal. Dalam value investing, sebagus apapun sebuah saham, bukan berarti kita bisa membelinya pada harga berapapun.’
Namun beberapa waktu kemudian, BBRI justru naik lagi hingga sempat menembus 13,000 pada April 2015, dan ketika itulah teman penulis bertanya lagi soal BBRI ini, dan penulis tetap menjawab bahwa kecuali dikasih harga 9,000, saya tetap tidak akan membeli BBRI ini. However, mungkin karena khawatir ketinggalan kereta, teman penulis akhirnya tetap membeli BBRI di 13,000-an.

Logo BBRI, yang sahamnya hampir selalu menjadi menu wajib untuk dibeli, setiap kali IHSG terkoreksi

Tapi masih di bulan April itu juga, IHSG mulai longsor, dan BBRI turut terkoreksi hingga 11,000-an dan terus turun.. hingga mencapai 9,000 pas pada Agustus. Ketika itulah penulis sendiri masuk, dimana meski BBRI sempat bablas sekali lagi sampai 8,000-an, namun pada akhirnya dia tetap naik hingga tembus 12,000-an, pada Februari 2016 kemarin.
Bagian yang menariknya adalah, ketika di bulan Februari 2015, yakni ketika BBRI berada di posisi 12,000-an dan penulis mengatakan bahwa ‘BBRI akan turun ke 9,000’, maka tidak ada seorangpun yang percaya, apalagi sebulan kemudian BBRI malah naik lagi sampai 13,000-an. Sebaliknya, ketika BBRI drop sampai 9,000 di bulan Agustus dan saya mengatakan bahwa ‘Tenang saja, ntar juga naik lagi’, maka sekali lagi, tidak ada seorangpun yang percaya! Apalagi ketika itu pasar dalam situasi serba panik, dan BBRI sendiri sempat drop lebih dalam lagi sampai 8,000-an.
Intinya, ketika sebagian besar investor di pasar modal hanya bisa melihat harga suatu saham pada saat ini saja, tanpa memiliki gambaran sama sekali bahwa kedepannya saham tersebut akan bergerak kemana (termasuk tidak akan percaya jika anda bilang bahwa saham A yang sekarang berada di posisi 500 akan naik ke 1,000, demikian sebaliknya), maka sebagian kecil investor lainnya mampu menganalisa bahwa saham tersebut undervalue, atau sebaliknya overvalue. Lalu berdasarkan analisa itulah, ia menciptakan visi bahwa saham tersebut pada akhirnya nanti akan naik atau turun ke posisi sekian. Jadi kenapa penulis di bulan Februari 2015 mengatakan bahwa BBRI, yang ketika itu berada di level 12,000, cepat atau lambat akan turun ke kurang lebih 9,000? Ya karena BBRI di harga 12,000, berdasarkan nilai ekuitas perusahaan ketika itu, jelas overvalue. Udah gitu doang!
Jadi itulah, ladies and gentlemen, pentingnya seorang investor untuk memiliki visi, untuk bisa melihat jauh ke depan! Yakni untuk bisa melihat saham bukan berdasarkan harganya pada saat ini, tapi berdasarkan harganya yang seharusnya, dan poin inilah yang membedakan value investor dengan pelaku pasar lainnya (growth investor, trader, spekulan, dll). Contoh lain, seperti yang sudah kita bahas di artikel minggu lalu, sekarang ini ada banyak saham-saham BUMN yang bergerak tidak wajar, dimana beberapa diantaranya naik terus, dan sebaliknya beberapa lainnya turun terus. Dan seperti biasa, sebagian besar pelaku pasar hanya melihat saham-saham tersebut pada harganya saat ini, dimana saham BUMN yang lagi naik terus diburu tak peduli meski fundamentalnya nol, sementara saham BUMN yang lagi turun malah dianggap jelek dan prospeknya suram (biasanya karena banyak berita jelek juga), tak peduli meski fundamentalnya bagus, dan valuasinya sudah undervalue.
Well, namun mudah-mudahan setelah membaca artikel ini, you know what to do. Sedikit tips, diatas penulis menyebut ‘untuk bisa melihat jauh ke depan’. Namun seringkali ‘jauh kedepan’ itu sebenarnya tidak terlalu jauh, melainkan hanya beberapa minggu hingga beberapa bulan saja. Berdasarkan pengalaman, ketika anda membeli saham bagus pada harga murah, maka anda tidak perlu menunggu sampai bertahun-tahun seperti kisah penulis ketika kuliah dulu, agar visi anda (bahwa saham tersebut pada akhirnya akan naik) menjadi kenyataan, melainkan paling lama hanya beberapa bulan saja. And trust me, kalau anda minimal sudah 2 – 3 tahun di market, maka ‘beberapa bulan’ itu sama sekali gak lama kok. Kalau gak percaya, coba lihat kalender: Sekarang udah bulan Juni lagi lho! Atau sudah lewat enam bulan sejak awal tahun kemarin.
Yang juga perlu dicatat, beberapa visi (bahwa saham akan naik atau turun ke harga tertentu) terkadang menjadi kenyataan, namun beberapa lagi tidak, namun itu tidak jadi masalah. Seperti contoh BBRI diatas, penulis hanya mengatakan bahwa ‘Kecuali dikasih harga 9,000, saya tidak akan membeli BBRI ini’. Ini artinya jika setelah beberapa waktu BBRI ternyata tidak turun dari 12,000 ke 9,000 tapi malah terus saja naik (dan memang pernah juga terjadi sebuah saham yang sudah mahal ternyata masih naik terus, atau sebaliknya sudah murah tapi turun terus), maka ya sudah, kita gak akan beli BBRI dan cari saham lain saja, yang fundamentalnya sama-sama bagus tapi valuasinya jauh lebih murah. Seperti kata pepatah: Ketika satu pintu tidak terbuka, dan setelah ditunggu-tunggu tetap saja tidak terbuka, maka carilah pintu yang lain.
Namun memang, khusus untuk saham-saham blue chip yang likuid, maka jarang terjadi sebuah saham naik teruusss, atau sebaliknya turun terus, melainkan bergantian naik dan turun dalam hitungan bulan. Atau dengan kata lain, ‘visi’ yang anda buat biasanya akan akurat, sehingga risikonya lebih kecil dibanding kalau anda beli saham-saham second liner. Pada tahun 2011 lalu, saham-saham perbankan seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI, secara keseluruhan bergerak stagnan atau bahkan sedikit turun, seiring dengan IHSG-nya yang di tahun tersebut hanya naik 3.2%, malahan sempat jeblok gila-gilaan ketika IHSG pada bulan Oktober sempat turun 8.88% dalam sehari (tapi sebelum Desember langsung naik lagi). Namun karena sejak awal kinerja emiten-emiten perbankan tersebut masih oke, maka hanya beberapa bulan kemudian yakni di tahun 2012-nya, mereka langsung naik rata-rata 40 – 50%, ketika IHSG-nya hanya naik 12.9%.
Menariknya, di tahun 2016 ini, saham-saham perbankan secara keseluruhan bergerak turun sejak awal tahun ketika IHSG-nya masih naik sekitar 5%, padahal kinerja mereka masih aman-aman saja. Soo, what do you think???
Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Juni 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio/tanya jawab saham untuk member.

Jadwal Seminar Value InvestingBuy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 18 Juni 2016 (sekaligus gathering & buka puasa bersama). Keterangan lebih lanjut klik disini.

Follow penulis (Teguh Hidayat) di [...]

Pentingnya Visi Seorang Investor

Tahun 2005, penulis yang ketika itu masih kuliah tingkat tiga di kampus Jurusan Statistika, Unpad Jatinangor, diajak oleh teman satu angkatan di kampus, Ivan namanya, untuk bergabung dengan organisasi Himpunan Mahasiswa Statistika (Himasta) Unpad. Sebelumnya Ivan ini terpilih sebagai wakil ketua Himasta tersebut, dan ia sedang mencoba membangun timnya dengan merekrut beberapa mahasiswa lainnya, termasuk penulis, untuk juga masuk ke Himpunan. Ketika itu penulis hanya bertanya, ‘Gue ntar ngapain di Himasta? Gue gak begitu suka ber-organisasi’.

Lalu Ivan menjawab, ‘Elu suka dagang gitu kan Guh? Gue punya ide, gimana kalau di Himasta ini kita bikin satu departemen baru, namanya Departemen Kewirausahaan. Kerjaannya ya mencoba jualan, berbisnis, atau apapun itu yang ada kaitannya dengan dunia usaha, tapi atas nama Himasta. Departemen ini belum ada sebelumnya, dan gue pikir gak ada salahnya kalau kita bikin satu, siapa tau bisa membantu menyebar virus wirausaha di kalangan anak-anak Stat juga.’ Ketika itu penulis memang sudah dikenal di lingkungan kampus sebagai pengusaha kecil-kecilan, mungkin malah satu-satunya mahasiswa yang masih sempet-sempetnya jualan ini dan itu, ketika mahasiswa yang lain lebih sibuk ngutak ngatik angka, membuat riset, dan menggambar chart.
Dan meski sebelumnya penulis juga sempat berpikir untuk masuk organisasi kampus (karena banyak yang mengatakan bahwa kemampuan berorganisasi nantinya akan diperlukan di dunia kerja), namun penulis menganggap bahwa berorganisasi itu cuma buang-buang waktu, karena kerjaannya cuma rapat melulu di sekre tanpa kegiatan lapangan yang riil, sementara saya sukanya kelayapan. However, karena Ivan ini merupakan salah satu kawan dekat penulis dimana kita sering pergi ke rental PS bareng, maka penulis akhirnya setuju untuk masuk Himasta, dengan titel sebagai Ketua Departemen Kewirausahaan. Penulis kemudian merekrut beberapa adik kelas untuk menjadi anggota di Departemen yang baru tersebut.
Sayangnya karena penulis lebih sibuk dengan kegiatan usaha milik penulis sendiri, maka setelah beberapa bulan, Departemen Kewirausahaan boleh dibilang tidak melakukan kegiatan sama sekali. Hingga akhirnya pada satu waktu, penulis mengumpulkan para anak buah untuk berdiskusi, dan di diskusi tersebut saya bilang begini: ‘Beberapa bulan lagi kepengurusan kita di Himasta akan berakhir (akan digantikan oleh angkatan yang lebih muda), tapi Dept. Kewirausahaan belum melakukan kegiatan apapun. Tapi terus terang, saya juga tidak punya ide untuk membuat kegiatan apa, karena tidak ada contoh kegiatan dari angkatan himpunan yang sebelumnya, karena memang di angkatan sebelum kita, Dept. Kewirausahaan ini belum ada.’
‘Meski demikian, saya ingin agar departemen ini tetap ada di kepengurusan himpunan yang berikutnya, untuk menyebarkan semangat wirausaha itu sendiri. Karena sejauh yang saya amati, ‘menjadi pengusaha’ sama sekali belum menjadi trend yang populer di kampus statistika, dimana masih sedikit sekali mahasiswa disini yang mau berjualan. Dan alumni-alumni yang sukses pun, kebanyakan merupakan profesional atau birokrat, tapi belum banyak yang bertitel pengusaha.’
Penulis kemudian melanjutkan, ‘Saya punya visi bahwa departemen ini akan menjadi tempat bagi anak-anak Stat Unpad untuk belajar bisnis, dan dari departemen ini nantinya akan lahir pengusaha-pengusaha, dimana mereka akan datang ke reuni alumni atau seminar kampus dengan titel sebagai pengusaha, untuk memberikan motivasi ke temen-temen mahasiswa untuk juga menjadi seorang pedagang atau pebisnis. Karena Indonesia sudah memiliki terlalu banyak pencari kerja, namun baru memiliki sedikit pembuat lapangan pekerjaan.’
Diskusi tersebut akhirnya menyimpulkan satu kegiatan: Dept. Kewirausahaan akan membeli sebuah rak counter yang terbuat dari kaca, seperti yang biasa dipakai orang untuk jualan pulsa, untuk diletakkan di lobby kampus statistik dan kemudian dipakai oleh Himasta untuk berjualan pernak pernik kampus, minimal ke anak-anak Stat itu sendiri. Sayangnya hingga masa kepengurusan berakhir, penulis dan tim masih belum sanggup mengumpulkan dana sebesar Rp600,000 untuk membeli counter tersebut. Tapi sebelum penulis lengser, saya menitip pesan kepada salah satu anggota departemen untuk menjadi ketua selanjutnya (saya lupa siapa namanya), dan untuk merealisasikan pembelian counter tersebut. Untungnya saya bisa merasakan bahwa adik kelas penulis ini tampak bersemangat ketika saya berbicara soal bagaimana counter itu bisa menjadi suatu legacy yang akan selalu diingat oleh adik-adik kelas kita nanti, bahwa counter itu bisa ada berkat kepengurusan Himasta di tahun 2006.
Tak lama kemudian, counter tersebut akhirnya benar-benar hadir di kampus, dan menjadi tempat bagi anak-anak himpunan untuk berjualan gantungan kunci, stiker, mug, dll.
Waktu berlalu. Beberapa tahun kemudian yakni di tahun 2014, penulis diundang oleh.. Departemen Kewirausahaan Himasta, untuk memberikan kelas singkat dan motivasi tentang dunia usaha ke anak-anak Stat Unpad di Jatinangor. Sudah tentu, saya dengan senang hati datang, dan disitu penulis sama sekali tidak ngomong soal pasar modal, melainkan tentang bagaimana saya menjalani karier sebagai pengusaha kecil-kecilan selama saya kuliah. Dan, baru bulan April kemarin, Ikatan Alumni Stat Unpad mengadakan reuni akbar di Bumi Sangkuriang, Bandung, dimana penulis turut hadir. Disitulah penulis melihat ada counter kaca dengan papan nama ‘Dept. Kewirausahaan Himasta’, yang menjual berbagai aksesoris kampus.

Sebuah mug dengan logo Himasta. Harganya cuma Rp20,000. Rada dongkol juga, karena 50,000 juga harusnya masih laku, toh yang beli masih kakak kelas sendiri

Dengan demikian visi penulis bahwa Dept. Kewirausahaan tersebut harus tetap ada, dan menjadi tempat bagi anak-anak Stat untuk belajar bisnis, pada akhirnya menjadi kenyataan. Dan entah ada hubungannya dengan dept. tersebut atau tidak, meski di angkatan penulis sendiri (saya angkatan tahun 2003) hanya ada tiga atau empat orang alumni yang jadi pengusaha (selebihnya pada jadi PNS), namun di angkatan-angkatan yang lebih muda, jumlah pengusaha tersebut jauh lebih banyak. Di salah satu Kelas Value Investing yang saya selenggarakan beberapa waktu lalu, turut hadir seorang anak Stat Unpad angkatan 2005 yang sukses sebagai pemilik toko kebutuhan bayi dan balita, dimana ia tertarik untuk menginvestasikan sebagian hasil usahanya ke instrumen saham.
Okay, lalu apa inti dari pembahasan kita kali ini?
Sesuai judul diatas, kita disini bukan membahas soal wirausaha-nya, melainkan membahas soal pentingnya sebuah visi. Cerita diatas merupakan contoh bagaimana suatu visi yang dibuat bertahun-tahun lalu, pada akhirnya menjadi kenyataan. Jauh sebelum penulis terjun ke dunia pasar modal di tahun 2009, saya sudah diajarkan bahwa sangat penting untuk memiliki visi jangka panjang, untuk memiliki gambaran tentang akan jadi seperti apa diri anda bertahun-tahun dari sekarang, serta kontribusi apa yang bisa anda berikan untuk orang banyak.
Dan dalam kaitannya dengan dunia investasi saham, jika anda bisa membangun visi, dalam artian mampu melihat jauh kedepan, maka akan terdapat dua manfaat. Pertama, anda akan bisa melihat diri anda sendiri jauh kedepan, dan ini sangatlah penting. Dengan memiliki gambaran atau goal tentang ‘akan menjadi siapa’ diri anda katakanlah dalam 10 tahun ke depan, maka segala aktivitasyang anda lakukan akan mengarah untuk mencapai goal tersebut (dan inilah yang disebut dengan ‘misi’). Jadi jika anda ingin menjadi investor saham yang sukses, maka tentu anda tahu apa yang harus anda lakukan: Mulailah berinvestasi dari sekarang, gali terus pengalaman, keep learning, sempatkan menulis & mencatat hal-hal penting yang anda alami selama berinvestasi (untuk anda baca dan pelajari sendiri nanti, anda pikir ngapain Opa Warren menulis annual letter setiap tahunnya?), dan fokus pelajari tehnik dan metode investasi yang sudah anda pilih, entah itu value investing atau lainnya. Selengkapnya bisa baca lagi artikel berikut: Nilai Intrinsik Investor.
Namun jika anda tidak memiliki visi seperti contoh diatas, maka artinya anda tidak memiliki tujuan alias goal. Dan jika anda tidak memiliki goal, maka anda tidak akan tahu apa yang harus anda lakukan. Sekarang bayangkan jika anda main sepakbola, tapi anda tidak tahu dimana lokasi gawang lawan berada: Anda bakal menendang bola kemana kalau begitu?
Catatan: Lanjutan artikel ini (Pentingnya Visi Seorang Investor, Part 2), bisa dibaca disini.

Jadwal SeminarValue InvestingBuy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 18 Juni 2016 (sekaligus gathering & buka puasa bersama). Keterangan lebih lanjut klik disini

Seminar Value Investing, Jakarta, 18 Juni 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya, sambil buka puasa bersama. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah pergerakan IHSG hingga akhir tahun 2016, serta investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.

Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan akan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  1. Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  2. Hari/Tanggal: Sabtu, 18 Juni 2016
  3. Waktu: Pukul 16.00 s/d 21.00 WIB (mulai sore hari)
  4. Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, audiobook (penjelasannya dibawah), makan malam (sekalian buka puasa) plus ta’jil.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik). Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp500,000 per peserta,
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Foto penulis ketika memberi kelas investasi untuk mahasiswa
Penulis bersama para peserta seminar value investing

Komentar Alumni:
Pa kabar pak? Sejak saya mengikuti Imvestor Gathering tahun lalu, dan belajar tentang value investing, ditambah kondisi market yang sedang sakit tahun lalu. Sekarang (tahun ini) saya sedang memandang portofolio saya dengan tersenyum hehehe.. Terima kasih pak atas bantuan sharing elmunya, really appreciate it.
Ramdhan Iskandar – Prudential [...]

Pergerakan Saham-Saham BUMN: What Happen?

Pada jaman dahulu kala, pada masa-masa kegelapan ketika IHSG bisa terbang atau sebaliknya nyungsep hingga 5 – 7% dalam sehari, dan hampir semua orang lebih suka tik tok saham gorengan ketimbang beli saham bagus kemudian disimpan, Grup Bakrie menguasai pasar dengan Bakrie Seven Brothers-nya (B7), dimana pergerakan Bumi Resources (BUMI) bahkan lebih diperhatikan pelaku pasar ketimbang IHSG itu sendiri. Begitu berkuasanya Grup Bakrie ketika itu, sampai-sampai ketika Sri Mulyani menolak men-suspend saham BUMI yang terus meluncur ke dasar jurang pada market crash tahun 2008, maka posisi beliau sebagai Menteri Keuangan langsung digoyang melalui kasus Bank Century. Nobody mess up with us! Kata orang-orang Grup Bakrie ketika itu.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, dan seiring dengan ketidak mampuan anak-anak usaha Grup Bakrie dalam mencatatkan kinerja keuangan yang positif plus meningkatnya kesadaran investor akan pentingnya analisis fundamental, maka power B7 dengan sendirinya meredup. Sudah sejak sekitar dua tahun lalu, tujuh anggota B7 yakni Bakrie Telecom (BTEL), Bakrie & Brothers (BNBR), BUMI, Bakrieland Development (ELTY), Energi Mega Persada (ENRG), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), dan Darma Henwa (DEWA), semuanya sepakat untuk tiarap di level gocapan. Jika dulu hampir semua analis dan wartawan sudah seperti kecanduan dalam membahas aksi-aksi korporasi ajaib yang dilakukan BUMI dkk setiap hari (plus pergerakan sahamnya yang tidak kalah ajaibnya), dan Mr. Dileep (direktur humas BUMI) sudah seperti artis infotainment, maka sekarang sudah tidak ada yang peduli lagi mereka mau ngapain. Bandar terbesar sepanjang sejarah BEI itu akhirnya pergi dan tak bisa kembali lagi, dan penduduk pasar modal bisa kembali berinvestasi dengan tenang dan damai, atau setidaknya begitulah kelihatannya. Selepas runtuhnya Dinasti Bakrie, belum ada lagi grup konglomerasi yang mampu membuat heboh pasar modal, seiring dengan IHSG-nya yang juga belum kemana-mana lagi sejak 2013 lalu. Grup MNC sebenarnya sudah mencoba melakukan hal itu dengan sesekali menggoreng saham-saham seperti BHIT, MNCN, BMTR, KPIG, hingga BABP, tapi sepertinya mereka belum berhasil menarik perhatian pasar.

Logo sebuah perusahaan yang pada masanya dulu pernah jadi perusahaan nomor enam terbesar di BEI dari sisi market cap

However, jika dikatakan bahwa pasar modal sekarang sudah aman tentrem kertorahardjo, maka mungkin itu tidak sepenuhnya tepat.
Dalam dua tahunan terakhir, istilah ‘saham gorengan’ atau ‘saham sejuta umat’ sudah tidak lagi populer setelah BUMI sebagai rajanya saham gorengan terkapar di gocap. Namun itu bukan berarti tidak ada lagi saham lain yang dipermainkan bandar, dan kali ini saham-saham gorengan tersebut tidak lagi punya hubungan dengan Grup Bakrie ataupun grup-grup konglomerasi lainnya, melainkan.. Pemerintah.
Yup, entah anda memperhatikan atau tidak, belakangan ini saham-saham BUMN seringkali bergerak liar dengan fluktuasi yang tidak kalah ekstrim-nya dibanding BUMI dkk dulu. Dan pemberitaan, analisis, serta komentar tokoh-tokoh penting tentang perusahaan-perusahaan terkait, entah itu bersifat positif atau negatif, juga tidak kalah massive-nya dalam menghiasi media, sehingga menanamkan perspektif jangka pendek dalam benak para investor. Jadi jika ada berita jelek tentang perusahaan tertentu, maka sahamnya akan turun, dan orang akan panik dan cut loss. Sebaliknya, jika beritanya bagus maka sahamnya akan terbang, dan orang akan ramai-ramai masuk di harga atas. Seringkali sebuah saham BUMN dijatuhkan sedemikian rupa, atau turun sendiri seiring dengan penurunan IHSG, namun kemudian langsung naik lagi setelah pejabat mengeluarkan statement positif tertentu terkait perusahaan.
Dan kasus pertama yang penulis ingat adalah, pada awal tahun 2014 lalu, Menteri BUMN ketika itu, Dahlan Iskan, mengatakan bahwa Bank BTN (BBTN) akan diakuisisi oleh Bank Mandiri (BMRI). Alhasil, BBTN yang sebelumnya berada di level rendah 900-an (karena pada awal 2014 tersebut, posisi IHSG masih rendah karena koreksi pasar sejak bulan Juni tahun sebelumnya), dengan cepat naik hingga menyentuh 1,400 pada bulan April, atau menghasilkan profit 50%. Tapi setelah kenaikan yang luar biasa itulah, tiba-tiba saja dikatakan lagi bahwa akuisisinya batal! Dan alhasil BBTN balik ke 1,000 hanya dalam sebulan kemudian, menyisakan investor yang kebingungan karena nyangkut di harga atas.
Lalu persis setahun kemudian yakni pada awal 2015, BBTN kembali under attack setelah keluar berita bahwa Pemerintah akan menurunkan bunga kredit KPR, dimana itu ditengarai akan merugikan BBTN, dan BBTN yang sempat stabil di 1,200 tanpa ampun balik lagi ke level dibawah 1,000, padahal IHSG-nya justru lagi naik! Siapapun bandar yang mempermainkan BBTN ini, namun jelas mereka memanfaatkan ketidak pahaman investor tentang apa itu bunga KPR bersubsidi, dan mampu membuat kesan bahwa BBTN memang akan merugi. Sehingga ketika BBTN turun lagi sampai 900-an, semua orang justru menghindari sahamnya.
Tapi tak lama kemudian, BBTN sudah di level 1,200-an lagi! Dan.. seperti yang bisa anda lihat sendiri, berapa posisi BBTN sekarang???
Setelah kasus BBTN tersebut, kesininya trend pergerakan ekstrim saham-saham BUMN justru semakin menjadi-jadi, dimana saham-saham trio bank besar (BBRI, BBNI, BMRI) dibikin jeblok pake cerita pembatasan NIM, ADHI sempat naik dan turun setelah direkturnya sendiri ngomong ngelantur tentang harga right issue-nya, dan PGAS dihantam habis-habisan pake cerita penurunan harga gas dan isu diakuisisi oleh Pertamina. Para pejabat yang ngomong aneh-aneh di media, dimana itu mempengaruhi pergerakan saham BUMN terkait, juga tambah banyak, mulai dari petinggi perusahaan, petinggi OJK, hingga pejabat di Kementerian BUMN itu sendiri. Jika itu belum cukup, maka saham-saham BUMN yang tergolong second liner seperti ANTM, SMBR, GIAA, PPRO, hingga KRAS, entah bagaimana ceritanya bisa terbang sampai ke langit! Padahal sebagian besar dari saham-saham kecil tersebut memiliki fundamental yang buruk.
Pendek kata, ketika penulis dulu pernah mengatakan bahwa selepas jamannya saham-saham Bakrie, nanti akan ada saham-saham lain yang menggantikan posisi mereka (sebagai ‘saham gorengan’), maka terawangan tersebut sepertinya benar adanya, karena sebagai pasar modal yang relatif masih muda dan nilai total market cap-nya masih kecil, maka relatif mudah bagi pemain besar untuk membandari saham-saham tertentu. Namun demikian, saya sendiri gak pernah mengira bahwa yang sekarang menjadi saham gorengan adalah saham-saham BUMN, termasuk yang berstatus blue chip.
Contoh terakhir, baru saja dua atau tiga minggu lalu PGAS digebuk dari 2,700 sampai 2,200, tapi ketika artikel ini ditulis sudah di level 2,500-an lagi. Jadi bukan tidak mungkin sebagian investor yang memegang PGAS ini kemarin cut loss karena panik dan bingung (karena seminggu lalu, pemberitaan tentang PGAS sangat simpang siur, mulai dari buyback saham, diakuisi Pertamina, direkturnya dicekal, perusahaan menyiapkan capex US$ 500 juta, dst), dan sahamnya kemudian dibeli entah oleh siapa pada harga murah, yang sekarang meraup keuntungan setelah cerita-cerita jelek tentang PGAS menghilang begitu saja, sehingga PGAS kemudian naik dengan sendirinya.
Jadi bagaimana nih?
Okay, lalu sebagai investor, apa yang harus kita lakukan? Well, berbeda dengan saham-saham Grup Bakrie yang sejak awal memiliki fundamental buruk, saham-saham BUMN sejatinya rata-rata memiliki fundamental bagus, dan hanya sebagian kecil diantaranya yang jelek. Jadi kalau kita menghindari sama sekali saham-saham BUMN termasuk  yang fundamentalnya bagus hanya karena permainan bandar seperti ini, maka sepertinya itu bukan strategi yang tepat.
Karena beberapa saham BUMN, terlepas dari fluktuasinya dalam jangka pendek, namun pada akhirnya dia tetap akan naik signifikan selama perusahaannya no problemo. Contoh paling gampang ya BBTN tadi, dimana meski dia butuh waktu setahun lebih dan mungkin sempat bikin pemegang sahamnya jantungan, tapi sekarang dia sudah di 1,700-an, atau mencetak gain sekitar 70% (dan dulu kita pernah membeli BBTN di harga bottom, baca lagi artikelnya disini).
Jadi inilah yang bisa anda lakukan: Jika anda menemukan berita jelek tentang perusahaan BUMN tertentu hingga bikin sahamnya jeblok ke posisi dimana orang-orang mulai panik, dan setelah dipelajari lebih lanjut ternyata perusahaannya baik-baik saja, sementara isu jelek yang dikhawatirkan ternyata tidaklah seburuk kelihatannya/tidak ada dampak negatif apapun ke perusahaan, maka disitulah kita punya opportunity.
However, untuk bisa mengikuti ‘permainan bandar’ seperti itu maka dibutuhkan pengalaman, untuk bisa tetap tenang ketika memutuskan untuk beli saham di harga bottom, dan kemampuan untuk mempelajari isu-isu yang beredar, agar bisa menilai apakah isu-isu tersebut beneran berdampak positif/negatif terhadap perusahaan atau tidak. Sebenarnya karena itu juga, di website ini penulis beberapa kali membahas tentang isu-isu terkait saham BUMN seperti penurunan harga semen, penurunan harga gas, hingga perubahan BI Rate menjadi BI 7-day Repo. Kalau anda perhatikan, modusnya semuanya sama: Sahamnya bagus sehingga harganya gak turun-turun, tapi setelah keluar berita jelek maka barulah sahamnya turun, dan naik lagi tak lama kemudian setelah berita jelek tadi menguap dengan sendirinya. Modus ini sangat mirip dengan cara main saham-saham Bakrie dulu, meski dengan arah kebalikannya: Saham jelek sehingga harganya gak naik-naik, tapi setelah keluar berita bagus maka barulah sahamnya naik. Dan setelah para penggemar saham terbang masuk, itulah saatnya distribusi barang.
Namun sayangnya, sebagian besar investor biasanya tidak punya cukup waktu untuk mempelajari isu-isu yang beredar, dan seringkali mereka bahkan hanya membaca judul beritanya saja, lalu langsung panik. Well, jika anda juga demikian, maka untuk sementara ini sebaiknya hindari saja dulu saham-saham BUMN. Namun jika anda bisa fokus pada fundamental perusahaan dan melihat jauh kedepan, maka anda tetap bisa masuk sedikit-sedikit ke BBRI, PGAS, ADHI, SMGR dan sebangsanya (jadi jangan sekaligus). Pokoknya tiap mereka turun banyak maka ketika itulah anda nambah posisi, udah gitu aja!
Karena, kebalikannya dengan saham-saham Bakrie yang cepat atau lambat bakal ke gocap (dan memang itu sudah terjadi, tapi waktu saya ngomong begini di tahun 2012 lalu, gak ada seorangpun yang percaya), maka saham-saham BUMN yang berfundamental bagus cepat atau lambat akan pulih dan break new high lagi. Seperti kaya pepatah: Time cure everything, termasuk jika anda nyangkut, asalkan nyangkutnya di saham bagus, tentu saja. So, semangat!


Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Juni 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio/tanya jawab saham untuk member.

Follow Teguh Hidayat on Twitter & [...]

Strategi Investasi untuk Saat Ini

Anda mungkin memperhatikan bahwa IHSG bergerak membosankan akhir-akhir ini, dalam artian dia tidak naik melainkan cenderung turun, tapi penurunannya juga pelaaaan sekali. Akhir April kemarin IHSG ditutup di posisi 4,839, dan ketika artikel ini ditulis, dia berada di posisi 4,753, atau hanya minus 1.7%. Jika posisi ini bertahan sampai akhir bulan nanti, maka bulan Mei ini menjadi bulan pertama sepanjang tahun 2016 dimana IHSG turun, namun kalau penurunannya hanya 1 – 2% maka nggak bisa disebut sebagai ‘Sell in May and Go Away’ juga, karena penurunan segitu tentu saja gak signifikan, dan memang penulis sendiri bisa melihat bahwa tidak terjadi kepanikan di pasar (normalnya, pasar hanya akan panik kalau IHSG sudah main perosotan).

Tapi kondisi ‘tidak jelas’ ini mungkin tetap menimbulkan pertanyaan bagi investor: What should I do? Apalagi, meski IHSG turunnya pelan-pelan, tapi beberapa saham sudah longsor duluan, salah satunya Perusahaan Gas Negara (PGAS), sementara disisi lain beberapa saham kecil tetap naik. Bagi investor yang memegang posisi cash, anda mungkin bingung kapan waktunya belanja. Sementara bagi investor yang masih memegang saham, anda mungkin bingung apakah sekarang harus keluar dulu apa gimana. Karena meski saham-saham yang anda pegang turunnya pelan-pelan (jika anda memegang saham yang pergerakannya mengikuti IHSG), namun dia tetap saja turun toh? Jadi ngapain juga tetap dihold?
Nah, untuk menjawab pertanyaan ini maka pertama-tama kita harus balik lagi dulu ke faktor fundamental. Seperti yang sudah kita bahas disini, kinerja emiten di Kuartal I 2016 ternyata belum begitu bagus, sehingga suka atau tidak, IHSG tidak akan naik terlalu banyak pada tahun 2016 ini, dan anda untuk sementara harus melupakan proyeksi bahwa IHSG akan tembus 5,000 dalam waktu dekat. Berdasarkan analisa laporan keuangan secara general ini saja, dan berdasarkan fakta bahwa ada banyak saham yang sudah naik tinggi dihitung sejak IHSG mengalami panic selling-nya pada Agustus – September 2015 lalu sehingga valuasi mereka juga sudah tidak terlalu murah lagi, maka kemungkinan terbaik bagi IHSG hanyalah bahwa dia akan sideways dalam beberapa bulan kedepan, dalam artian tidak turun, tapi tidak naik juga.

Sementara kemungkinan terburuknya? Well, tentu dia akan turun. Tapi kapan dia akan turun? Ya bisa kapan saja. Kalau lihat pengalaman tahun 2011, 2013, dan 2015, IHSG biasanya akan mencapai titik terendah koreksinya pada sekitar bulan Agustus – September.

‘Panic selling’ itu kalo penurunan IHSG sudah seperti gambar diatas.

Jadi jika posisi anda sudah diluar alias megang cash, maka strategi termudahnya adalah anda pergi saja ke gunung, pantai, atau gua sekalian yang tidak ada koneksi internet, lalu diem disitu paling lama sampai bulan Agustus – September (penulis katakan paling lama, karena koreksi pasar bisa saja terjadi sebelumnya. Disisi lain kalaupun IHSG tetap naik sedikit sebelum Agustus – September, maka ujungnya dia tetap akan turun). Dan sambil menunggu itu, anda jangan belanja saham apapun. Pengalaman telah mengajarkan bahwa waktu terbaik untuk ‘turun gunung’ dan belanjar besar-besaran adalah ketika orang-orang sudah berteriak panik. Sementara jika pasar masih adem ayem saja, maka tutup laptop anda, pergilah berlibur, dan terserah anda mau ngapain asal jangan ngutak atik portofolio.
However, tentunya tidak semudah itu pula untuk bisa hold cash sampai berbulan-bulan begitu, apalagi jika anda masih pemula yang gampang ‘gatel’. Dan faktanya meski IHSG cenderung turun, namun beberapa saham tetap akan naik. Jadi jika anda bisa menemukan saham murah yang kinerjanya masih oke pada Kuartal I 2016 kemarin, maka anda mungkin masih bisa memperoleh profit signifikan meski IHSG-nya turun, dimana saham-saham ini kalau IHSG turun 0.5% pada hari tertentu, maka dia cuma akan turun 1%, sementara ketika IHSG naik 0.5% di hari yang lainnya (karena ketika IHSG cenderung turun/downtrend, maka itu bukan berarti IHSG akan turun setiap hari), maka dia akan naik 2 – 3% pada hari tersebut. Alhasil setelah dua atau tiga bulan, IHSG mungkin totalnya turun 5 – 7%, namun saham anda tetap naik total 20 – 25%.
Dan contoh dari kasus diatas adalah, persis setahun lalu yakni pada Mei 2015, kondisi pasar juga tidak jauh beda dengan saat ini dimana para emiten melaporkan kinerja yang tidak bagus pada Kuartal I 2015, sehingga penulis menyimpulkan bahwa IHSG cepat atau lambat akan turun besar-besaran (dan memang ketika itu dia mulai turun dari 5,500-an hingga 5,200-an). Namun ternyata ada beberapa emiten yang kinerjanya bagus dan prospeknya pun cerah, salah satunya adalah Sri Rejeki Isman (SRIL), dimana setelah dianalisa secara mendalam, penulis membelinya pada harga 274. Dan memang, ketika beberapa bulan kemudian IHSG terus saja longsor hingga mentok di 4,200-an, SRIL justru naik hingga sempat tembus 400. Maka jadilah pada koreksi pasar di pertengahan tahun 2015 tersebut, kami masih mampu menghasilkan profit ketika pasar secara umum justru harus struggle untuk sekedar tidak menderita kerugian.
Jadi jika pada tahun ini anda menemukan saham-saham model SRIL tersebut (biasanya saham second liner dengan nominal harga saham yang kecil, yakni ratusan Rupiah), maka mungkin anda masih bisa mencetak profit, sekali lagi, ketika IHSG cenderung turun. Penulis punya daftar beberapa saham yang mungkin bisa menjadi ‘the next SRIL’, tapi disini biar saya kasih satu saja diantaranya: Coba anda perhatikan Alam Sutera Realty (ASRI).
However, keputusan untuk ‘tetap pergi melaut ketika cuaca sedang buruk’, tentunya tetap sangat berisiko dimana anda mungkin bisa pulang membawa ikan (baca: profit), tapi mungkin pula kapal anda malah tenggelam! Ketika anda membeli saham tertentu yang fundamentalnya bagus dan memang dia sukses naik, maka tetap saja tidak ada jaminan bahwa saham tersebut tidak akan terseret turun ketika pasar pada akhirnya nanti dilanda panic selling. Sepanjang akhir 2015 hingga Kuartal I 2016 kemarin, kita sudah melewati masa-masa dimana kondisi pasar sangat bersahabat, jadi mungkin sekarang gilirannya kita harus beristirahat dulu dirumah sampai cuaca badai berlalu. Dengan asumsi bahwa anda sudah meraih profit signifikan sepanjang beberapa bulan lalu, maka asalkan kedepannya anda tidak menderita rugi saja, maka pada akhir tahun nanti kinerja investasi anda tetap akan jauh lebih baik diatas rata-rata kenaikan/penurunan IHSG. Dan satu-satunya cara untuk ‘tidak menderita rugi’ tersebut adalah dengan hold cash, agak lama memang, tapi sabar saja.
Okay, jadi sekarang kita punya dua opsi strategi: 1. Stay out of the sea until people screaming out ‘here goes the tsunamiiii!’, atau, 2. Lakukan pembelian saham secara selektif, dengan fokus pada saham-saham nominal kecil yang berfundamental bagus. Sebenarnya karena kita juga tentunya tidak bisa mengetahui secara persis bahwa IHSG akan kemana, dimana bisa saja panic selling yang beberapa kali disebut diatas ternyata tidak pernah terjadi, maka anda bisa mengkombinasikan dua strategi diatas, dimana anda bisa belanja beberapa saham tapi jangan habiskan seluruh dana yang tersedia, melainkan sisakan sebagian cash untuk jaga-jaga jika pasar nanti benar-benar longsor. Well, the choice is yours.
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang ASRI di average 384. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Juni 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio/tanya jawab saham untuk [...]

Ebook Analisis Kuartal I 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal I 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada pada pertengahan Mei 2016. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Btw, pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukanscreening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Jadi sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa klik disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email 

Cara Mendidik Anak untuk Investasi Saham

Di buku ‘The Calm Investor’, penulis mengatakan bahwa seorang anak sudah bisa diajari untuk investasi di saham sejak usia 6 tahun. Dan seorang teman kemudian bertanya, bagaimana caranya? Orang dewasa aja kalau belajar saham kadang susahnya setengah mati, apalagi anak kecil? Well, tapi bagaimana kalau penulis katakan bahwa justru anak kecil bisa belajar saham lebih cepat dari orang dewasa, dan berpeluang lebih besar untuk menghasilkan profit?

Pertama, menganalisa saham itu sebenarnya tidak rumit, karena hanya menggunakan matematika sederhana seperti tambah, kurang, kali, bagi, dan persen. Dan bagi anak-anak, mereka justru sangat mahir matematika sederhana seperti itu. Sebagai contoh, penulis punya keponakan usia 9 tahun, yang kalau saya bertanya, berapa 8 kali 9? Dia bisa dengan cepat menjawab, 72!
Sementara orang dewasa? Coba deh anda bertanya kepada diri anda sendiri, berapa 7 kali 8? Bisakah anda menjawabnya dengan cepat tanpa bantuan kalkulator? Belum tentu. Penulis sering ketemu dengan calon investor yang, meski sudah dijelaskan, tapi tetap saja bingung soal bagaimana menghitung price to earning ratio (PER), padahal rumusnya sangat sederhana, yakni harga saham dibagi earning per share (EPS), sementara EPS itu sendiri adalah laba bersih dalam satu tahun, dibagi jumlah saham yang beredar.
Tapi kalau penulis menjelaskan soal rumus PER itu ke mahasiswa, maka biasanya mereka bisa dengan mudah memahaminya.
Kedua, orang dewasa itu gampang panik. Kalau dia beli saham senilai Rp100 juta, lalu saham tersebut turun 5%, atau dengan kata lain dia rugi Rp5 juta (meski baru rugi diatas kertas, alias belum direalisasikan), maka dia akan langsung panik, seolah-olah Rp5 juta itu jumlah yang luar biasa besarnya (padahal investor ini punya duit 100 juta, jadi harusnya 5 juta itu jumlah yang kecil toh?). Demikian pula kalau saham tersebut naik 5%, maka biasanya dia akan buru-buru menjualnya untuk merealisasikan keuntungan, karena takut sahamnya akan turun lagi. Dan seterusnya.
Dan perilaku seperti itu sangat bisa dimaklumi. Seorang investor, siapapun dia, ketika ia menyetor sejumlah uang ke sekuritas, maka uang tersebut adalah hasil jerih payahnya, hasil bekerja dan menabung selama berbulan-bulan atau bahkan mungkin bertahun-tahun. Jadi bagaimana kalau uang tersebut kemudian berkurang begitu saja gara-gara saham? Rasanya nyesek banget bukan?

Bagi orang dewasa, tidak ada yang lebih menakutkan ketimbang harus kehilangan uang, dan ketakutan inilah yang seringkali menyebabkan mereka bertindak secara irasional (misalnya membeli saham gorengan, jual saham hanya karena ada rumor jelek, dll). Penulis masih ingat, dulu di Jakarta pernah ada razia dimana polisi menghentikan sepeda motor yang masuk jalur busway, dan menyuruh mereka membayar denda Rp500,000. Dan saking gak mau bayar denda tersebut, puluhan pengendara motor yang masuk jalur busway sampai bela-belain mengangkat motor mereka keluar jalur begitu mereka melihat ada polisi yang menunggu di depan, tak peduli meski tindakan itu membahayakan keselamatan mereka sendiri.
Tapi itu orang dewasa. Sementara anak kecil? Well, mereka lebih takut cicak atau tokek ketimbang kehilangan duit. Karena, apa yang harus ditakutkan dari kehilangan sejumlah uang? Toh mereka masih bisa minta jajan lagi ke orang tuanya. Ini artinya ketika mereka diarahkan untuk berinvestasi di saham, maka mereka akan tidak mudah panik ketika IHSG atau saham yang ia pegang bergerak fluktuatif, melainkan cuek saja. Dan alhasil mereka akan melakukan jual beli saham secara rasional berdasarkan analisis logis yang sudah dibuat sebelumnya, dimana itu pada akhirnya akan menghasilkan profit yang konsisten.
Pendek kata, jika si anak memiliki mentor yang kompeten untuk membimbing dia dalam berinvestasi, maka ia berpeluang jauh lebih besar untuk menjadi investor besar suatu hari nanti, ketimbang orang dewasa yang kalau mau bisa menganalisis saham maka harus balik lagi ke bangku SD kelas 5 untuk belajar perkalian. Di buku The Calm Investor, penulis mengatakan bahwa seorang anak bisa diajari investasi saham mulai usia 6 tahun, karena pada usia itulah seorang anak biasanya sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hanya memang, pada prakteknya beberapa anak mungkin baru bisa diajari pada usia 9, 10, atau 12 tahun, but it’s okay, karena pada usia tersebut mereka masih bisa disebut sebagai anak-anak.
Okay, lalu bagaimana cara mendidik anak untuk berinvestasi sejak dini? Here we go!
Pertama, untuk awal-awal ajarkan mereka untuk membeli dan memiliki barang yang berguna untuk waktu yang lama, bukan sekedar membeli barang yang sekali habis, katakanlah makanan. Ini adalah konsep dasar dari investasi. Contoh sederhana dari hal ini saja, biasanya ibu-ibu suka membeli baju yang agak besar untuk anak mereka yang masih balita, dengan harapan baju tersebut masih akan cukup hingga anak mereka tumbuh besar 2 – 3 tahun lagi. Nah, dalam hal ini penulis sering praktek dimana kalau saya pergi jalan-jalan berdua dengan si kecil yang cewek (usia 4 tahun), misalnya ke mall, maka sudah pasti dia minta dibeliin ini itu, dan penulis kemudian menawarkan: Mau pilih mana? Permen lolipop yang habis kalau dimakan dan mungkin bisa bikin gigi kamu sakit, naik kereta-keretaan tapi cuma sekali, beli balon warna warni yang lama-lama bakal kempes atau meletus, atau boneka Elsa yang bisa kamu mainin tiap hari dirumah? Fortunately, she always chose the latter.

Sebuah taman bermain anak di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Setiap satu atau dua pekan sekali, penulis rutin mengajak anak-anak main ke tempat seperti ini. We call this quality time investment.

Kedua, setelah anak-anak anda sudah paham pentingnya ‘memiliki’ barang (baca: aset) yang bermanfaat untuk jangka panjang, maka selanjutnya ajari mereka tentang nilai barang tersebut, kemudian arahkan mereka untuk membelinya pada harga yang sesuai nilainya, atau lebih rendah lagi. Dan ini adalah konsep dasar dari value investing. Ketika Carlos Slim Helu masih berusia 9 tahun, ayahnya mulai memberinya sejumlah uang secara rutin setiap akhir pekan, lalu di pekan selanjutnya ia akan ditanya, uang itu dipakai untuk beli apa saja. Jika Carlos membeli sesuatu yang ternyata nilainya lebih rendah dari harga yang dibayarkan, misalnya beli sebotol minuman pada harga sekian peso dari sebuah toko padahal di toko lain harganya lebih murah, maka ayahnya akan menegurnya. Dua tahun kemudian, pada usia 11, Carlos melakukan investasi pertamanya dengan membeli obligasi pemerintah Meksiko, dimana obligasi tersebut nilainya naik terus dari tahun ke tahun (karena memperoleh bunga), sehingga dengan demikian ia memenuhi tugas dari ayahnya: Membeli barang yang nilainya lebih tinggi dari harga yang dibayarkan.
Nah, ketika anak anda sudah paham sejak awal tentang konsep ‘harga vs nilai’ ini, maka ia akan mampu menguasai kaidah-kaidah value investing dengan mudah, dan akan mampu menemukan saham-saham bagus yang dijual pada harga diskon. Pada usia 12 tahun, Carlos Slim membeli saham pertamanya, yakni saham sebuah bank besar di Meksiko, setelah melihat fakta bahwa ekuitas bank tersebut naik terus secara konsisten dari tahun ke tahun, sehingga ia mampu melihat bahwa nilai investasinya akan naik signifikan dalam beberapa tahun kedepan. Carlos terus membeli saham bank tersebut setiap beberapa waktu sekali, dan 3 tahun kemudian, pada usia 15, ia sudah menjadi salah satu pemegang saham minoritas terbesar di bank tersebut.
Okay, lalu mengapa mendidik anak untuk berinvestasi ini penting? Well, tentunya ada sejuta alasan untuk itu, tapi penulis hanya akan menyebutkan salah satu diantaranya saja: Berinvestasi di saham adalah sebuah karier seumur hidup tanpa pensiun, atau bahkan bisa lebih lama lagi jika anda mampu mendelegasikan tugas berinvestasi tersebut kepada seorang penerus, dalam hal ini putra-putri anda. Seperti halnya Carlos Slim, sebenarnya yang memulai pekerjaan investasinya adalah ayahnya Julian Slim, namun Carlos Slim-lah yang ‘menuntaskan’ pekerjaan investasi tersebut hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia.
Namun sudah tentu, beberapa anak mungkin memiliki passion-nya sendiri, termasuk penulis juga akan pasrah jika anak-anak ternyata lebih suka menjadi pelukis, misalnya. Termasuk Warren Buffett sendiri sudah memutuskan bahwa kelak ia tidak akan menyerahkan posisi CIO Berkshire Hathaway ke putranya Howard, melainkan ke salah satu protege-nya, Todd Combs. Meski demikian beberapa kemampuan dasar diatas yakni 1. Memiliki aset, dan 2. Membeli aset tersebut pada harga yang setara nilainya atau lebih rendah, pada akhirnya tetap akan membuat putra putri anda hidup berkecukupan, apapun profesi yang mereka pilih. Karena seperti yang dikatakan Buffett, ‘Tidak penting berapa besar pendapatanmu, yang penting adalah seberapa besar dari pendapatan tersebut yang tidak cuma sekedar lewat di rekening bank, melainkan menjadi aset yang bermanfaat untuk jangka panjang’.
Nah, jadi sekarang, sudah siapkah anda untuk berinvestasi pada aset anda yang paliiing berharga, yakni putra putri anda sendiri?

Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal I 2016 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memesannya 

Central Omega Resources – Update

Pada April 2012, penulis menemukan ‘mutiara terpendam’ di saham Central Omega Resources (DKFT), yang ketika itu berada pada posisi 1,670 (sebelum stocksplit. Setelah DKFT melakukan stocksplit pada bulan Agustus dengan rasio 1:5, 1,670 itu menjadi setara dengan 334), dan analisisnya sederhana: DKFT ini membukukan laba Rp177 milyar di tahun 2011, yang sepenuhnya berasal dari ekspor bijih nikel dari dua tambangnya di Morowali (Sulawesi Tengah) dan Konawe (Sulawesi Tenggara), dimana dua tambang tersebut masih dalam tahap eksplorasi awal. Jadi jika nanti dilakukan eksplorasi lebih lanjut, maka DKFT akan memproduksi lebih banyak bijih nikel, dan otomatis pendapatan perusahaan akan meningkat signifikan. Pihak manajemen sendiri mentargetkan laba bersih Rp475 milyar di tahun 2012, dan Rp792 milyar di tahun 2013, dan itu tentu saja target yang sangat atraktif. Kita pernah membahasnya di artikel ini.

However, pada artikel itu pula, penulis sudah menyampaikan satu risiko investasi di DKFT ini, yaitu: Pemerintah ketika itu sudah mengharuskan perusahaan-perusahaan tambang, termasuk DKFT, untuk membuat smelter untuk mengolah bijih nikel menjadi produk hilir dengan nilai tambah, selambat-lambatnya tahun 2014. Jika pada tahun 2014 perusahaan belum juga menyelesaikan smelter tersebut, maka perusahaan mau tidak mau harus berhenti beroperasi, karena pemerintah akan melarang ekspor bijih nikel sama sekali. Masalahnya, perusahaan harus mengumpulkan dana sebesar Rp4.5 trilyun untuk membangun smelter tersebut, dan tentu saja bukan perkara mudah untuk mengumpulkan dana sebesar itu, dan dalam waktu sesingkat itu (hanya 2 tahun, dari tahun 2012 ke 2014).
Jadi jika sampai tahun 2014 DKFT masih belum bisa menyelesaikan pembangunan smelter-nya, maka pendapatannya akan menjadi nol. Dan sayangnya memang itulah yang terjadi: Hingga tahun 2014, jangankan menyelesaikan pembangunan smelter-nya, DKFT bahkan masih belum memulai pembangunan smelter tersebut. Tapi sayangnya Pemerintah sama sekali tidak memberi toleransi: Terserah ente mau alasan apa, pokoknya you mulai tahun 2014 ini gak boleh ekspor bijih nikel lagi! Alhasil DKFT membukukan pendapatan Rp0 di tahun 2014. Sahamnya sendiri, yang pada tahun 2013 sempat naik hingga 600-an (sehingga tetap menghasilkan profit signifikan bagi investor yang membelinya pada tahun 2012, belum termasuk dividen), seketika langsung jeblok di awal tahun 2014, dan untuk mencegah penurunan lebih lanjut, BEI kemudian men-suspend saham DKFT.
Namun pada Maret 2016 kemarin, suspensi DKFT dibuka. Dan berhubung DKFT masih membukukan pendapatan Rp0 hingga Kuartal I 2016, maka tentu saja sahamnya langsung jeblok hingga ke posisi sekarang yakni 200-an. Namun jika anda jeli, maka anda tentu bertanya, apa alasan suspensi DKFT dibuka? Sebab jika pendapatan DKFT masih akan tercatat Rp0 untuk seterusnya, maka jangankan di-suspen, kenapa DKFT ini gak di-delisting aja sekalian? Sebab gak mungkin investor mau masuk ke DKFT ini kalau memang perusahaan gak menghasilkan pendapatan serta laba bersih sama sekali.
Dan jawabannya adalah, benar sekali, DKFT tidak akan membukukan pendapatan Rp0 untuk selamanya, karena sekarang perusahaan sudah on track untuk menyelesaikan pembangunan smelter-nya. Yup, meski terlambat beberapa tahun, namun DKFT pada akhirnya tetap akan memiliki smelter tersebut, dan akan mengekspor bijih nikel yang sudah diolah menjadi produk dengan nilai tambah.
Jadi begini ceritanya. Sejak tahun 2012, manajemen sudah berusaha untuk memulai pembangunan smelter, dimana pada tahun 2012 tersebut, DKFT memperoleh komitmen dari E-United Group asal Taiwan, untuk mendirikan perusahaan patungan untuk membangun smelter di Indonesia. Namun sayangnya setelah beberapa waktu, pihak E-United mundur daari perjanjian, dan smelter itu gak jadi dibangun. Jika saja pada tahun 2012 tersebut DKFT bersama E-United jadi membangun smelter, maka pada tahun 2014 seharusnya DKFT sudah bisa mengekspor produk hilir nikel, namun itu tidak terjadi.
Manajemen DKFT butuh waktu cukup lama untuk memperoleh mitra strategis lainnya, namun mitra strategis tersebut akhirnya diperoleh. Pada tahun 2015, DKFT bekerja sama dengan Macrolink Group asal China, untuk mendirikan perusahaan patungan PT Macrolink Omega Adiperkasa (MOA), dimana MOA ini akan membangun smelter di Morowali yang akan mengolah bijih nikel menjadi nickel pig iron (NPI), dimana NPI ini akan diekspor ke China. NPI adalah mirip seperti ferronickel yang diproduksi oleh Antam dan INCO, dan sama-sama digunakan untuk bahan baku pembuatan stainless steel, namun harga jualnya jauh lebih murah. Untuk tahun 2017, harga NPI diperkirakan US$ 880 per ton.
Dan per akhir tahun 2015, pembangunan smelter tersebut akhirnya sudah dimulai, dimana setelah resmi bekerja sama dengan Macrolink Group, manajemen DKFT sudah melakukan: 1. Menunjuk kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC), 2. Menunjuk kontraktor piling dan civil engineering, 3. Ground breaking smelter, 4. Membangun pondasi bangunan smelter, 5. Membangun fasilitas pendukung seperti mess pekerja, dll, dan 6. Mengimpor mesin-mesin dan suku cadang smelter dari China (impornya bebas bea masuk dan pajak, thanks Government!). Seluruh pekerjaan diharapkan akan tuntas pada Kuartal III 2016, dan smelternya akan sudah beroperasi secara komersial pada awal tahun 2017. Jadi, yap, jika semuanya lancar, maka DKFT akan kembali membukukan pendapatan mulai tahun 2017 mendatang. Perusahaan sendiri akan mulai menggali bijih nikel lagi pada pertengahan tahun 2016 ini, untuk mensuplai kebutuhan bijih nikel ke smelternya nanti.

Pemandangan konstruksi pembangunan smelter milik DKFT di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Klik gambar untuk memperbesar
Pertanyaannya sekarang, berapa kira-kira pendapatan yang akan diperoleh DKFT setelah nanti smelter-nya beroperasi? Well, di materi public expose-nya, manajemen DKFT jelas sekali menyampaikan proyeksi kinerja keuangan perusahaan untuk tahun 2017, dimana jika perusahaan bisa mengekspor 72,500 ton NPI (kapasitas produksi smelternya sendiri 100,000 ton per tahun), maka pendapatannya akan mencapai US$ 63.8 juta, dengan laba bersih US$ 11.2 juta, atau setara Rp149 milyar, sehingga ROE DKFT untuk tahun 2017 akan tercatat sekitar 15%.
Yang perlu dicatat disini adalah, untuk smelter yang beroperasi tahun 2017, itu baru smelter tahap I. Secara keseluruhan hingga tahun 2019, perusahaan akan membangun tiga smelter dengan total kapasitas produksi 300,000 ton NPI. Jadi pada tahun 2019, dengan asumsi harga jual NPI tetap, kurs Rupiah tetap, dan DKFT sukses mengekspor 250 – 300 ribu NPI, maka laba DKFT akan mencapai.. Rp500 – 600 milyar, atau lebih besar lagi! Poin lainnya yang menarik adalah, harga nikel sekarang ini sedang rendah-rendahnya yakni hanya US$ 8,500 per ton, turun drastis dibanding tahun 2012 yakni US$ 16,000 per ton, namun untuk tahun 2017 nanti diperkirakan harga nikel akan naik menjadi US$ 10,000 per ton. Dan jika harga nikel naik, maka praktis harga NPI juga akan ikut naik, sehingga laba bersih yang dihasilkan DKFT bisa lebih besar dari proyeksi diatas. Another point, DKFT akan menjadi satu dari sedikit perusahaan tambang bijih nikel di Sulawesi yang memiliki smelternya sendiri, sehingga perusahaan mungkin bisa membeli bijih nikel dari perusahaan tambang lain pada harga diskon (dan bagi perusahaan tambang lain tersebut, itu masih mending lah, daripada gak dapet duit sama sekali), dan itu akan menurunkan biaya pokok produksi NPI-nya.
Dan jika DKFT benar-benar sukses mencetak laba jumbo pada tahun 2017 – 2019 nanti, maka bagaimana dengan sahamnya? You know the answer.
Meski demikian, masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, smelter milik DKFT masih dalam proses pembangunan/konstruksi, dan tidak ada jaminan bahwa konstruksinya akan selesai tepat waktu. Kedua, kalaupun nanti smelternya beroperasi tepat waktu pada awal tahun 2017, maka biasanya volume produksinya tidak akan langsung mencapai 100,000 ton ataupun 72,500 ton seperti proyeksi diatas, melainkan akan tumbuh secara bertahap hingga seluruh kapasitas produksi yang 100,000 ton tersebut terutilisasi seluruhnya (untuk awal-awal, volume produksinya mungkin cuma 20 – 30 ribu ton dulu). Dan ketiga, harga jual nikel, seperti halnya komoditas lainnya, bisa turun tajam belakangan ini seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi di China, sementara China masih menjadi satu-satunya tujuan ekspor NPI-nya nanti. Jadi meski diatas terdapat proyeksi bahwa harga nikel akan naik (dan demikian pula dengan harga NPI), namun bukan tidak mungkin kedepannya harga jual NPI justru akan turun hingga keuntungan yang diperoleh DKFT menjadi tidak sebesar yang diharapkan.
Intinya sih, meski DKFT ini memang sangat menarik jika nanti smelter-nya sudah beroperasi, namun untuk sekarang ini sebaiknya kita wait and see saja dulu, apalagi untuk tahun 2016 ini bisa dipastikan pendapatan perusahaan masih Rp0, sehingga bisa saja sahamnya turun lebih lanjut. Tapi dalam setahun kedepan, maka jangan lupa untuk melihat lagi DKFT ini.
PT. Central Omega Resources, Tbk (DKFT)
Rating Kinerja pada Kuartal I 2016: B
Rating saham pada 208: B
Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal I 2016 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memesannya