Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Peluang di Saham Multifinance

Warren Buffett pernah mengatakan bahwa, ketika menghitung valuasi sebuah saham, maka kita jangan hanya melihat aset-aset berwujud milik perusahaan seperti pabrik, persediaan, piutang dst, melainkan kita juga harus melihat aset-aset tidak berwujud seperti reputasi, kekuatan merk, dan keunggulan kompetitif. Singkatnya, jika ada dua perusahaan dengan nilai buku yang persis sama, namun perusahaan A memilik reputasi yang lebih baik, dan produknya pun lebih dikenal masyarakat dibanding perusahaan B, maka Buffett akan memilih perusahaan A, bahkan meski harganya lebih tinggi.


Dan ini menjelaskan mengapa saham-saham paling populer di Indonesia seperti Bank BCA, Astra International, hingga Telkom, valuasinya jauh lebih tinggi dibanding rata-rata valuasi saham lain yang tidak begitu populer. Contohnya, anda mungkin bisa membeli saham dari perusahaan kecil yang kurang terkenal pada PBV kurang dari 1 kali, namun harga terendah yang bisa anda peroleh untuk saham Astra adalah PBV 2 koma sekian kali, itupun Astra hanya akan turun ke harga tersebut jika pasar sedang bearish.

Tapi bagaimana kalau saya beri tahu anda bahwa ada satu saham, dimana perusahaannya merupakan yang terbesar di bidangnya, memiliki reputasi baik dan merk yang kuat plus track record kinerja yang konsisten, namun valuasinya jauh lebih rendah dibanding Astra dkk?

Yup, saham itu adalah Adira Dinamika Multifinance (ADMF). Dengan total aset Rp30.7 trilyun per 30 September 2018, dan sudah berdiri dan beroperasi sebagai perusahaan pembiayaan otomotif sejak tahun 1991, Adira adalah perusahaan pembiayaan terbesar dan ter-mapan di Indonesia, dan kinerja perusahaan terbilang bagus dalam jangka panjang dimana ROE-nya mencapai 20 – 25% per tahun (hanya pernah sekali turun menjadi 15% di tahun 2014 dan 2015, ketika itu karena terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dan pengetatan penyaluran kredit oleh Bank Indonesia). Namun lebih dari itu, Adira adalah juga perusahaan pembiayaan paling terkenal di Indonesia, dengan reputasi yang juga baik (perusahaan tidak pernah terlibat masalah yang serius baik secara hukum maupun dengan para pelanggannya), dan memiliki jaringan kantor cabang yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Dan bisnis pembiayaan itu sendiri terbilang sangat menguntungkan, karena bunga pinjamannya sangat tinggi namun demikian non performing loan-nya tetap relatif rendah, atau setidaknya untuk Adira dimana NPL-nya hanya 1.6% pada akhir tahun 2017. Per 30 September 2018, rata-rata bunga kontraktual pembiayaan milik Adira mencapai 18.1% per tahun untuk mobil, 34.0% untuk sepeda motor, dan 47.7% untuk barang-barang lainnya. Maksud penulis adalah, dimana lagi anda bisa dapetin bunga sebesar itu??


Dengan semua kriteria diatas, dan juga karena perusahaan masih membukukan kenaikan laba bersih dan ekuitas pada laporan keuangan terbarunya di Kuartal III 2018, maka normalnya anda hanya akan bisa membeli sahamnya pada valuasi yang premium. Namun pada harganya saat ini yakni Rp9,000 per saham, PBV Adira hanya 1.4 kali, dan PER-nya 5.0 kali. Dan dengan mempertimbangkan dividennya sebesar Rp704.5 per saham (sebelum pajak) di tahun kemarin, maka yield-nya juga tinggi yakni 7.8%.

Jadi apa masalahnya? Well, pertama, mungkin karena Adira memang SEBAGUS ITU, maka Bank Danamon Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas memegang 92.1% saham perusahaan, dan hanya menyisakan 7.5% atau 75 juta lembar saham di pasar untuk dimiliki oleh investor publik (selebihnya dipegang oleh Asuransi Adira), dan itu menyebabkan sahamnya menjadi tidak likuid, dengan nilai transaksi hanya sekitar Rp1 milyar per hari, sehingga sahamnya kurang diminati oleh para investor dan trader. Dan karena permintaannya tidak besar, maka jadilah valuasinya menjadi tidak terlalu tinggi.

Kedua, Adira pernah membukukan penurunan laba yang signifikan mulai tahun 2012 hingga 2015, dimana seperti yang sudah disebut diatas, disebabkan oleh peraturan pengetatan penyaluran kredit oleh BI, dan memang pada periode tersebut saham Adira jatuh dari 12,000 hingga mentok di 3,000. Dan meski laba bersih perusahaan naik lagi di tahun 2016 sampai sekarang, namun kejadian ini mungkin meninggalkan pertanyaan bagi investor yang berpikir untuk membeli sahamnya untuk jangka panjang: Bagaimana jika suatu hari nanti BI kembali memperketat penyaluran kredit keuangan??

Namun untungnya, bahkan jika anda tidak berniat untuk memegang sahamnya selama 5 tahun atau lebih lama lagi, Adira tetap menawarkan profit signifikan untuk jangka yang lebih pendek, dan berikut alasannya. Pertama, meskipun sahamnya tidak likuid, namun Adira tetap naik dari 3,000 hingga 9,000, atau profit tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir (dan belum termasuk dividen!) seiring dengan kinerja fundamental perusahaan yang memang sangat bagus. Kedua, persis Agustus 2018 kemarin, BI mengeluarkan peraturan LTV (loan to value) yang pada intinya melonggarkan penyaluran kredit, yang memungkinkan perusahaan pembiayaan untuk meningkatkan omzet mereka, dan tidak atau belum ada indikasi bahwa BI akan kembali memperketat peraturan tersebut dalam waktu dekat (di tahun 2012, peraturan LTV diperketat karena adanya kekhawatiran terjadinya credit bubble di sektor properti, dimana harga unit-unit apartemen dll ketika itu bisa naik sampai 100% atau lebih hanya dalam hitungan bulan karena mudahnya mengajukan kredit properti ke bank, namun untuk saat ini sudah tidak ada lagi isu bubble tersebut). Dan ketiga, Adira terakhir kali membayar dividen Rp704.5 per saham pada April 2018, jadi kemungkinan perusahaan akan kembali membayar dividen di bulan April 2019 (tinggal beberapa bulan lagi), tentunya pada nilai dividen yang lebih tinggi karena laba perusahaan masih naik sampai tahun 2018 kemarin. Dan biasanya, sahamnya bakal naik banyak sebelum tanggal cum dividennya, karena tingginya dividend yield itu sendiri.

Kesimpulannya, kita sekarang punya satu saham yang menawarkan peluang investasi baik itu untuk jangka pendek maupun panjang, dan momentumnya juga sudah pas banget, dimana anda mungkin akan kehilangan peluang ini jika anda baru membaca analisis ini 6 atau 12 bulan dari sekarang. Karena, sebelum tahun 2012, Adira memang dihargai pada valuasi premium (karena merk ‘Adira’-nya yang terkenal, plus kinerja yang konsisten), dengan PBV lebih dari 4 kali. Jadi jika perusahaan mampu menjaga kinerjanya saat ini (yang sudah naik lagi sejak tahun 2016 lalu) sampai beberapa tahun kedepan, dan perusahaan punya peluang besar untuk itu, maka suatu hari nanti harganya akan kembali premium seperti di masa lalu. Singkatnya, it’s now or never!

Disclosure: Ketika analisa ini diposting, Avere sedang dalam posisi memegang ADMF di harga 8,175. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

***

Jadwal Seminar Value Investing: Amaris Thamrin City Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 Januari 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird untuk peserta yang mendaftar pada atau sebelum tanggal 17 Januari.

Jadwal Seminar Value Investing – Advanced: Amaris Thamrin City Hotel, Jakarta Pusat, Minggu, 20 Januari 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird untuk peserta yang mendaftar pada atau sebelum tanggal 17 Januari.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Talkshow Sharing Pengalaman Investasi Saham

Berikut ini adalah video ketika penulis memenuhi undangan BEI Kantor Perwakilan Kalimantan Selatan untuk sharing pengalaman investasi saham, dengan lokasi acara di Hotel Mercure, Kota Banjarmasin. Dalam kesempatan ini penulis berbagi cerita tentang bagaimana awalnya saya masuk ke dunia pasar saham, pengalaman ketika membuka rekening di sekuritas untuk pertama kali, hingga pengalaman membeli saham-saham tertentu, yakni pada tahun 2009 – 2010 lalu. Okay, kita langsung saja.

Penulis insya Allah akan juga memenuhi undangan dari BEI Kanwil Sumatera Barat, untuk sharing session di Kota Padang, 26 Januari mendatang (Acaranya gratis! Silahkan hubungi langsung panitianya), dan nanti acaranya juga akan divideokan.
***
Jadwal Seminar Value Investing: Amaris Thamrin City Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 Januari 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird untuk peserta yang mendaftar pada atau sebelum tanggal 17 Januari.
Jadwal Seminar Value Investing – Advanced: Amaris Thamrin City Hotel, Jakarta Pusat, Minggu, 20 Januari 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird untuk peserta yang mendaftar pada atau sebelum tanggal 17 Januari.
Jadwal Value Investing Private Class: Central Park Mall, Jakarta Barat, Jumat 18 Januari 2019 Pukul 13.30. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham di Tahun Pemilu 2019

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, topik ‘prospek atau outlook pasar saham’ di awal tahun 2019 ini mungkin menjadi topik yang sangat penting bagi banyak investor, dan ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, sebagaimana yang kita ketahui, di tahun ini di Indonesia akan ada hajatan besar yakni Pemilihan Umum (Pemilu) sekaligus Pemilihan Presiden (Pilpres). Nah, meski Indonesia pasca reformasi sudah rutin menggelar Pemilu 5 tahunan sejak tahun 1999 lalu, dan juga menggelar Pilpres sejak 2004, namun memang Pemilu tahun 2019 ini sejak awal terasa berbeda khususnya bagi investor saham.

Sebab ketika terakhir kita menggelar Pemilu di tahun 2014, jumlah investor ritel di bursa belum sebanyak sekarang. Pada tahun 2014, jumlah rekening investor ritel sekitar 400 ribuan, tapi sekarang jumlahnya melompat menjadi 1.1 juta rekening, thanks to gencarnya kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ oleh BEI sejak tahun 2015 lalu. Ini artinya lebih dari separuh pelaku pasar di bursa adalah investor pemula yang baru buka rekening tahun 2015 keatas, sehingga wajar jika mereka kemudian khawatir soal prospek saham di ‘Tahun Pemilu 2019’ ini, karena memang mereka belum pernah mengalami berinvestasi di saham di tahun pemilu sebelumnya. Yep, jangankan invest di saham, mencoba nangkep ayam untuk pertama kalinya sekalipun akan terasa menegangkan bukan? Dan pasar saham Indonesia saat ini dipenuhi oleh investor yang belum tahu gimana rasanya memegang saham di tahun 2014 lalu.
Itu pertama. Kedua, selain Pemilu untuk memilih anggota legislatif, dan Pilpres untuk memilih presiden, maka persis sejak tahun 2015 lalu, untuk pertama kalinya Indonesia menggelar Pilkada serentak, yakni untuk memilih Gubernur dan Walikota/Bupati. Sebenarnya pilkada ini sudah digelar sejak tahun 2005, namun ketika itu pelaksanaannya tidak bersamaan/tanggal pencoblosannya berbeda-beda untuk tiap daerah, sehingga ‘suasana pemilu’-nya juga hanya terasa di daerah yang bersangkutan ketika mendekati hari pemilihan. Namun karena sejak tahun 2015, pilkada ini dilakukan secara bersamaan pada satu tanggal yang sama, maka jadilah suasana pemilu-nya lebih terasa secara nasional, karena semua calon pemimpin daerah ramai-ramai berkampanye mendekati tanggal pemilihan yang sama.
Dan berbeda dengan pemilu dan piplres yang hanya digelar setiap 5 tahun sekali, pilkada serentak ini digelar hampir setiap tahun, dimana setelah pilkada tahun 2015, maka digelar pula pilkada serentak tahun 2017, dan 2018 kemarin. Alhasil tidak hanya tahun 2019 ini, namun sebenarnya di Indonesia, setiap tahun adalah tahun pemilu, dimana hampir setiap saat kita melihat baligo dan spanduk bergambar wajah politisi dan lambang partai di jalan raya. And thanks to kampanye terus menerus yang dilakukan oleh para pemburu jabatan ini, maka kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pilkada, pemilu, dan pilpres itu sendiri kemudian meningkat pesat, dimana orang kalau gak milih capres A maka ya milih capres B (jarang ada yang golput), dan topik politik kemudian menjadi pembicaraan sehari-hari di media sosial ataupun warung kopi. Pengaruh ‘suasana pemilu’ terhadap keseharian masyarakat ini sedemikian besarnya, sampai-sampai ketika ada berita artis melakukan sesuatu yang kontroversial, dimana biasanya itu menjadi topik hangat yang dibicarakan berhari-hari oleh para biang gosip (dan imbasnya menaikkan popularitas si artis itu sendiri), tapi sekarang itu tidak terjadi lagi/orang sudah tidak lagi peduli. Tapi ketika ada tokoh politisi atau kader partai tertentu yang salah ngomong sedikiiitt saja, maka hebohnya langsung kemana-mana, baik itu dari yang pro maupun yang kontra. Demikian pula ketika seorang artis ikut ‘nyaleg’, maka semua tindak tanduknya yang sebelumnya tidak diperhatikan orang, mendadak jadi bahan pembicaraan netizen kurang kerjaan.
Pemilu Aman dan Damai?
Meski semua fenomena diatas menyebabkan Indonesia menjadi negara yang ‘benar-benar demokrasi’, namun ternyata muncul efek samping: Ketika seseorang kemudian menjadi fanatik terhadap tokoh politisi atau partai tertentu, maka ia akan mulai bersikap kurang bersahabat terhadap siapapun yang tidak ‘satu perahu’ dengannya, dan ini merupakan sumber kekerasan. Yup, jadi sama saja seperti kalau Persija ketemu Persib, maka tidak hanya kedua kelompok suporternya tidak pernah akur satu sama lain, namun terkadang sampai timbul korban jiwa jika kebetulan ada pendukung Persija yang nyasar ke Bandung, atau ada pendukung Persib yang nekad ke Stadion GBK. Demikian pula tim sepakbola lain, yang kalau mereka kalah di kandangnya sendiri maka tidak jarang pendukungnya kemudian berbuat rusuh dan anarkis. Dan ini sama seperti pemilu tahun 2014 lalu, termasuk pilkada-pilkada serentak setelahnya: Setelah selesainya pemilihan itu sendiri, maka hampir pasti pihak yang kalah beserta para pendukungnya tidak akan langsung menerima kekalahan, melainkan akan mencari-cari pembenaran bahwa seharusnya mereka-lah yang menang, hingga menuduh pihak lawan (atau KPU) berbuat curang. Yang paling konyol, penulis pernah mendengar bahwa seorang calon kepala desa bersama para pendukungnya dengan sengaja merusak satu-satunya jalan besar yang menghubungkan desa mereka dengan desa-desa tetangga, cuma gara-gara ia tidak terima kalah di pilkades! Jadi apa jadinya jika pihak yang kalah di pemilu nasional nanti, siapapun itu, melakukan hal yang sama??
Dan penulis kira inilah sumber kekhawatiran semua orang: Sebenarnya gak penting hasil pemilu-nya nanti siapa yang menang, tapi yang penting adalah pelaksanaan pemilu-nya itu sendiri, apakah bisa berjalan aman dan damai, ataukah rusuh. Dan masalahnya orang Indonesia memang gak seperti orang Inggris, yang bisa anteng duduk manis di tribun stadion dan gak masuk ke lapangan meski tidak ada pagar pembatas. Jadi risiko pelaksanaan pemilu yang ‘tidak damai’ akan tetap ada, karena sejak awal pun sudah kelihatan ada banyak politisi beserta para pendukungnya yang menggunakan ‘segala cara’ agar bisa menang, tak peduli meski itu bisa bikin Indonesia jadi tidak aman atau bahkan krisis ekonomi (masih inget propaganda ‘money rush’ di tahun 2016 lalu? Kalau lupa, baca lagi ceritanya disini).
Jadi memang kalau ada pihak yang harus kerja ekstra keras sejak beberapa tahun terakhir ini, maka itu adalah Polri dan TNI, termasuk juga Intelijen. Karena sekali lagi berbeda dengan pemilu-pemilu yang lalu, saat ini risiko terjadinya tindak anarkis tidak lagi hanya bersumber dari para politisi itu sendiri, melainkan juga dari para pendukung garis keras mereka. Lalu bagaimana dengan kinerja tiga lembaga ini sejauh ini?
Untungnya sejauh yang penulis perhatikan, mereka semuanya bekerja dengan cukup baik. Yang paling diingat adalah ketika di tahun 2016 lalu terjadi Aksi Damai 212 yang dihadiri oleh buanyak sekali orang, dimana aksi tersebut bisa saja berakhir rusuh. Sebab jika anda lihat lagi aksi-aksi pengumpulan massa di negara lain, apalagi jika jumlah pesertanya sama banyaknya seperti aksi 212 tersebut, maka endingnya hampir pasti bakal rusuh, termasuk ada korban jiwa. Termasuk di Indonesia sendiri, ketika terakhir kali terjadi aksi turun ke jalan dengan jumlah massa yang sangat besar pada tahun 1998 lalu, maka hasilnya adalah kerusuhan yang menelan ratusan korban jiwa (and yep, IHSG juga wassalam di tahun tersebut).

Namun ternyata aksi di tahun 2016 tersebut berjalan aman dan lancar dan tidak ada korban sama sekali (ada satu peserta yang meninggal namun itu karena serangan jantung). Demikian pula ketika diselenggarakan ‘reuni’ aksi yang sama di tahun 2017 dan 2018 kemarin, dan juga aksi-aksi pengumpulan massa lainnya, maka semuanya aman-aman saja. Mungkin perlu ditegaskan disini bahwa tidak semudah itu bagi aparat untuk mengamankan massa sebanyak itu, apalagi seperti yang sudah disebut diatas, orang Indonesia beda dengan orang Inggris yang gampang diatur. Dengan kata lain, jika Polri dkk selama ini tidak bekerja dengan baik, maka Indonesia ini akan sudah kacau balau sejak Pemilu tahun 2014 lalu, dan berinvestasi di pasar saham juga tidak akan senyaman sekarang (awal tahun 2014, IHSG di posisi 4,274, tapi sekarang sudah 6,000-an).


Posisi IHSG di penghujung tahun 2014. Secara keseluruhan IHSG naik 22.3% di tahun 2014.

Jadi kesimpulannya, selama pihak berwenang bisa terus mempertahankan kinerja mereka saat ini, maka penulis termasuk yang optimis bahwa Indonesia akan tetap aman-aman saja, termasuk IHSG juga akan aman-aman saja. Hanya saja terkait prospek investasi saham itu sendiri, maka karena seperti yang disebut diatas, ada banyak investor yang belum berpengalaman masuk pasar di tahun pemilu 2014 lalu, dan karena adanya pilkada serentak hampir saban tahun menyebabkan ‘gonjang-ganjing’ politik sekarang ini jauh lebih terasa dibanding dulu, maka mungkin pasar saham akan cenderung sepi sampai April 2019 nanti, karena akan ada banyak investor yang memilih wait n see, dan mungkin itu akan bikin IHSG stagnan, atau tetap naik tapi dengan kenaikan yang moderat. Tapi selama tidak ada problem keamanan yang serius, dan sampai saat ini memang kelihatannya demikian, maka tentunya juga tidak ada alasan bagi kita untuk keluar dari market.
Diluar faktor pemilu sebenarnya ada banyak lagi faktor-faktor lainnya ketika kita bicara soal prospek pasar saham dalam satu tahun tertentu, tapi untuk selebihnya kita akan bahas lagi next time.

Untuk minggu depan kita akan membahas satu saham BUMN yang masih murah, yang berpeluang menjadi ‘turn around’ company.
***
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Januari 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.
Jadwal Seminar Value Investing & Advanced: Amaris Thamrin City Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu – Minggu, 19 – 20 Januari 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird untuk peserta yang mendaftar pada atau sebelum tanggal 11 Januari.
Jadwal Value Investing Private Class: Central Park Mall, Jakarta Barat, Jumat 18 Januari 2019 Pukul 13.30. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham di Tahun Pemilu

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, topik ‘prospek atau outlook pasar saham’ di awal tahun 2019 ini mungkin menjadi topik yang sangat penting bagi banyak investor, dan ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, sebagaimana yang kita ketahui, di tahun ini di Indonesia akan ada hajatan besar, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) sekaligus Pemilihan Presiden (Pilpres), keduanya dalam satu waktu. Nah, meski Indonesia pasca reformasi sudah rutin menggelar Pemilu 5 tahunan sejak tahun 1999 lalu, dan juga menggelar Pilpres sejak 2004, namun memang Pemilu tahun 2019 ini sejak awal terasa berbeda khususnya bagi investor saham.

Sebab ketika terakhir kita menggelar Pemilu di tahun 2014, jumlah investor ritel di bursa belum sebanyak sekarang. Yup, pada tahun 2014, jumlah rekening investor ritel diperkirakan sekitar 400 ribuan. Tapi sekarang, berdasarkan data dari KSEI, jumlah rekening tersebut melompat menjadi 1.1 juta rekening, thanks to gencarnya kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ oleh BEI sejak tahun 2015 lalu. Ini artinya lebih dari separuh pelaku pasar di bursa adalah investor pemula yang baru buka rekening tahun 2015 keatas, sehingga wajar jika mereka kemudian khawatir soal prospek saham di ‘Tahun Pemilu 2019’ ini, karena memang mereka belum pernah mengalami berinvestasi di saham di tahun pemilu sebelumnya. Yep, jangankan invest di saham, mencoba nangkep ayam untuk pertama kalinya sekalipun akan terasa menegangkan bukan? Dan pasar saham Indonesia saat ini dipenuhi oleh investor yang belum tahu gimana rasanya berinvestasi di tahun 2014 lalu.
Itu pertama. Kedua, selain Pemilu untuk memilih anggota legislatif, dan Pilpres untuk memilih presiden, maka persis sejak tahun 2015 lalu, untuk pertama kalinya Indonesia juga rutin menggelar Pilkada serentak, yakni untuk memilih Gubernur dan Walikota/Bupati. Sebenarnya pilkada ini sudah digelar sejak tahun 2005, namun ketika itu pelaksanaannya tidak bersamaan/tanggal pencoblosannya berbeda-beda untuk tiap daerah, sehingga ‘suasana pemilu’-nya juga hanya terasa di daerah yang bersangkutan ketika mendekati hari pemilihan. Namun karena sejak tahun 2015, pilkada ini dilakukan secara bersamaan pada satu tanggal yang sama setiap tahunnya, maka jadilah suasana pemilu-nya lebih terasa secara nasional, karena semua calon pemimpin daerah ramai-ramai berkampanye mendekati tanggal pemilihan yang sama.
Dan berbeda dengan pemilu dan piplres yang hanya digelar setiap 5 tahun sekali, pilkada serentak ini digelar hampir setiap tahun, dimana setelah pilkada tahun 2015, maka digelar pula pilkada serentak tahun 2017, dan 2018 kemarin. Alhasil tidak hanya tahun 2019 ini, namun sebenarnya di Indonesia, setiap tahun adalah tahun pemilu, dimana hampir setiap saat kita melihat baligo dan spanduk bergambar wajah politisi dan lambang partai di jalan raya. Dan thanks to kampanye terus menerus yang dilakukan oleh para pemburu jabatan ini, maka kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pilkada, pemilu, dan pilpres itu sendiri kemudian meningkat pesat, dimana orang kalau gak milih capres A maka ya milih capres B (jarang ada yang golput), dan topik politik kemudian menjadi pembicaraan sehari-hari di media sosial ataupun warung kopi. Pengaruh ‘suasana pemilu’ terhadap keseharian masyarakat ini sedemikian besarnya, sampai-sampai ketika ada berita artis melakukan sesuatu yang kontroversial, dimana biasanya itu menjadi topik hangat yang dibicarakan berhari-hari oleh para biang gosip (dan imbasnya menaikkan popularitas si artis itu sendiri), tapi sekarang itu tidak terjadi lagi/orang sudah tidak tertarik. Tapi ketika ada politisi atau kader partai tertentu yang salah ngomong sedikiiiittt saja, maka hebohnya langsung kemana-mana, baik itu dari yang pro maupun yang kontra. Demikian pula ketika seorang artis ikut ‘nyaleg’, maka semua tindak tanduknya yang sebelumnya tidak diperhatikan orang, mendadak jadi bahan pembicaraan netizen kurang kerjaan.
Pemilu Aman dan Damai?
Nah, meski semua fenomena diatas menyebabkan Indonesia menjadi negara yang ‘benar-benar demokrasi’, namun ternyata kemudian muncul efek samping: Ketika seseorang kemudian menjadi fanatik terhadap tokoh politisi atau partai tertentu, maka ia akan mulai bersikap ‘tidak ramah’ terhadap siapapun yang tidak ‘satu perahu’ dengannya, dan ini merupakan sumber kekerasan. Yup, jadi sama saja seperti kalau Persija ketemu Persib, maka tidak hanya kedua kelompok suporternya tidak bisa akur satu sama lain, namun terkadang sampai timbul korban jiwa jika kebetulan ada pendukung Persija yang nyasar ke Bandung, atau ada pendukung Persib yang nekad ke Stadion GBK. Termasuk kalau ada tim sepakbola yang kalah di kandangnya sendiri, maka tidak jarang pendukungnya kemudian berbuat rusuh dan anarkis. Yep, jadi sama seperti halnya ketika pemilu tahun 2014 lalu, termasuk pilkada-pilkada serentak setelahnya: Setelah selesainya pemilihan itu sendiri, maka selalu saja pihak yang kalah beserta para pendukungnya tidak bisa langsung menerima kekalahan, melainkan selalu mencari-cari pembenaran bahwa seharusnya mereka-lah yang menang, hingga menuduh pihak sebelah berbuat curang. Yang paling konyol, penulis pernah mendengar bahwa di sebuah desa, seorang calon kepala desa bersama para pendukungnya dengan sengaja merusak satu-satunya jalan besar yang menghubungkan desa tersebut dengan desa-desa tetangga, cuma gara-gara ia tidak terima kalah di pilkades! Jadi apa jadinya jika pihak yang kalah di pemilu nasional nanti, siapapun itu, melakukan hal yang sama??
Dan penulis kira inilah sumber kekhawatiran semua orang: Sebenarnya gak penting hasil pemilu-nya nanti bagaimana, tapi yang penting adalah pelaksanaan pemilu-nya itu sendiri, apakah bisa berjalan aman dan damai, ataukah rusuh. Dan masalahnya orang Indonesia memang gak seperti orang Inggris, yang bisa anteng duduk manis di tribun stadion dan gak masuk ke lapangan meski tidak ada pagar pembatas. Yup, jadi potensi pelaksanaan pemilu yang ‘tidak damai’ akan tetap ada, karena sejak awal pun sudah kelihatan ada banyak politisi beserta para pendukungnya yang menggunakan ‘segala cara’ agar bisa menang, tak peduli meski itu bisa bikin Indonesia jadi tidak aman atau bahkan krisis ekonomi (masih inget propaganda ‘money rush’ di tahun 2016 lalu? Kalau lupa, baca lagi ceritanya disini).
Jadi memang kalau ada pihak yang harus kerja ekstra keras sejak beberapa tahun terakhir ini, maka itu adalah Polri dan TNI, termasuk juga Intelijen. Yup, karena sekali lagi berbeda dengan pemilu-pemilu yang lalu, saat ini potensi terjadinya tindak anarkis tidak lagi hanya bersumber dari para politisi itu sendiri, melainkan juga dari para pendukung garis keras mereka. Lalu bagaimana dengan kinerja tiga lembaga ini sejauh ini?
Untungnya, sejauh yang penulis perhatikan, mereka kesemuanya bekerja dengan cukup baik. Yang paling diingat adalah ketika di tahun 2016 lalu terjadi Aksi Damai 212 yang dihadiri oleh buanyak sekali orang, dimana tentu saja bisa aksi tersebut berakhir rusuh (jika anda lihat lagi aksi-aksi pengumpulan massa di negara lain, dimana jika jumlah pesertanya sama banyaknya seperti aksi 212 tersebut, maka endingnya hampir pasti bakal rusuh, termasuk ada korban jiwa), namun ternyata semuanya aman dan lancar dan tidak ada korban sama sekali (ada satu peserta yang meninggal namun itu karena serangan jantung). Demikian pula ketika diselenggarakan ‘reuni’ aksi yang sama di tahun 2017 dan 2018 kemarin, maka semuanya juga aman-aman saja. Mungkin perlu ditegaskan disini bahwa tidak semudah itu bagi aparat untuk mengamankan massa sebanyak itu, apalagi seperti yang sudah disebut diatas, orang Indonesia beda dengan orang Inggris yang gampang diatur. Dengan kata lain, jika Polri dkk selama ini tidak bekerja dengan baik, maka Indonesia ini akan sudah kacau balau sejak Pemilu tahun 2014 lalu, dan berinvestasi di pasar saham juga tidak akan senyaman sekarang (awal tahun 2014, IHSG di posisi 4,274, tapi sekarang sudah 6,000-an).


Posisi IHSG di penghujung tahun 2014. Secara keseluruhan IHSG naik 22.3% di tahun 2014.

Jadi kesimpulannya, selama para pihak berwenang bisa terus mempertahankan kinerja mereka saat ini, maka penulis termasuk yang optimis bahwa Indonesia akan tetap aman-aman saja, termasuk IHSG juga akan aman-aman saja. Hanya saja terkait prospek investasi saham itu sendiri, maka karena seperti yang disebut diatas, ada banyak investor yang belum berpengalaman masuk pasar di tahun pemilu 2014 lalu, dan karena adanya pilkada serentak hampir saban tahun menyebabkan ‘gonjang-ganjing’ politik sekarang ini jauh lebih terasa dibanding dulu, maka mungkin pasar saham akan cenderung sepi sampai April 2019 nanti, karena akan ada banyak investor yang memilih wait n see, dan mungkin itu akan bikin IHSG stagnan, atau tetap naik tapi dengan kenaikan yang moderat. Tapi selama tidak ada problem keamanan yang serius, dan sampai saat ini memang kelihatannya demikian, maka tentunya tidak ada alasan bagi kita untuk keluar dari market.
Diluar faktor pemilu sebenarnya ada banyak lagi faktor-faktor lainnya ketika kita bicara soal prospek pasar saham dalam satu tahun tertentu, tapi untuk selebihnya kita akan bahas lagi next time.
***
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Januari 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.
Jadwal Seminar Value Investing & Advanced: Amaris Thamrin City Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu – Minggu, 19 – 20 Januari 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird untuk peserta yang mendaftar pada atau sebelum tanggal 11 Januari.
Jadwal Value Investing Private Class: Central Park Mall, Jakarta Barat, Jumat 18 Januari 2019 Pukul 13.30. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing – Advanced, Jakarta 20 Januari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 2 Desember 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, saham-saham batubara naik luar biasa hanya dalam tempo 2 tahun. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar kita ‘curi start’ membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 20 Januari 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,550,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Eden Hazard, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Early Bird Discount!
Jika anda mendaftar pada atau sebelum tanggal 11 Januari, maka biayanya jadi Rp1,200,000 per peserta.
Jika anda mendaftar pada atau sebelum tanggal 17 Januari, maka biayanya jadi Rp1,300,000 per peserta.
Bonus Gratis!

  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Suasana Seminar di Gedung BEI, dengan penulis sebagai pembicaranya

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 19 Januari 2019 (sehari sebelum seminar advanced, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham. Untuk memperoleh insight yang lengkap, anda disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced di hari minggunya. Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 19 Januari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 19 Januari 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.
Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Januari 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,350,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Early Bird Discount!
Jika anda mendaftar sebelum atau pada tanggal 11 Januari, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Jika anda mendaftar sebelum atau pada tanggal 17 Januari, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial

Penulis bersama temen-temen peserta di salah satu kelas sebelumnya
Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Advanced, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 20 Desember 2019 (sehari setelah seminar value investing ini, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang [...]

Cara Menjadi Happy Investor!

Jika penulis bertanya, apa atau dimana makanan terenak yang pernah anda makan? Maka setiap orang tentu punya jawabannya masing-masing, karena selera dan kesukaan tiap orang berbeda-beda. Namun jika penulis bertanya lagi, dalam kondisi bagaimana makanan yang kita lahap terasa sangat nikmat dan lezat? Maka kita semua akan memiliki jawaban yang sama: Dalam kondisi lapar! Yakni benar-benar lapar, apalagi jika ditambah kondisi capek setelah melakukan aktivitas fisik. Yep, sebagai penyuka kuliner, penulis bisa katakan bahwa saya sudah mencoba hampir semua rumah makan populer di Jakarta dan Bandung, dan beberapa restoran memang punya menu yang lebih enak dibanding restoran lainnya.
Tapi tahukah anda, apa makan malam terenak yang pernah saya cicipi? Jawabannya adalah semangkuk indomie rebus yang masih panas, yang dimakan di puncak Gunung Salak yang dingin dalam keadaan lapar (karena memang belum makan sejak pagi harinya), dan letih setelah mendaki seharian! Indomie rebus itu sedemikian lezatnya hingga penulis kemudian sengaja beberapa kali mendaki gunung lainnya lagi, hanya untuk makan mie rebus yang sama lagi. Pertanyaannya, apakah indomie-nya beda dengan indomie yang biasa kita masak di dapur rumah? Nggak, itu indomie yang sama kok. Dan apakah indomie itu harganya lebih mahal dibanding menu main course di restoran Italia di hotel bintang lima? Ah, nggak juga! Sekali lagi, itu cuma mie instant dengan harga gak nyampe Rp3,000 per bungkusnya, literally bisa dibeli oleh siapapun.
Jadi apa yang membuat mi rebus di puncak gunung itu terasa istimewa?? Well, kalau anda pernah naik gunung juga, maka anda tentu tahu jawabannya: Indomie-nya sih sama saja dengan yang biasa kita pesan di warung kopi, tapi yang membedakan adalah kondisi kitanya sendiri, yang pastinya sudah sangat lapar, capek, plus menggigil kedinginan, setelah berjalan kaki menanjak sejauh sekian kilometer, alias mendaki gunung. Nah sekarang bagaimana jika kondisi kita adalah sedang duduk santai dirumah, gak lagi capek dan hanya sedang lapar biasa saja (misalnya karena sudah jam makan siang), lalu anda makan mie rebus yang sama: Rasanya pasti akan biasa-biasa saja bukan?
Jadi kesimpulannya, untuk bisa mencicipi makanan yang terlezat, maka anda harus benar-benar lapar dan capek dulu, entah itu dengan cara mendaki gunung atau lainnya. Pertanyaannya, apakah merasa lapar dan capek itu menyenangkan? Jelas tidak! Tidak ada seorangpun di dunia ini yang suka merasa kelaparan, dan sebagai pendaki amatir, penulis juga selalu ingat bagaimana rasanya ‘penderitaan’ ketika kita harus terus mendaki menuju puncak tertinggi, ditambah membawa carrier yang luar biasa beratnya. Tapi justru segala penderitaan itulah yang menyebabkan makan malam di puncak gunung terasa sangat nikmat, bahkan meski hanya dengan semangkuk mie rebus.


Penulis di puncak Gunung Pangrango, Kab. Bogor, dengan latar belakang Gunung Gede

‘Semangkuk Mie Rebus’ di Pasar Saham
Kembali ke pasar modal. Sebagai investor, kita tentu menginginkan bahwa setiap keputusan jual beli saham yang dilakukan selalu membuahkan profit, tapi pertanyaannya kemudian, apakah kita bisa melakukannya? Apakah mungkin bagi seseorang untuk selalu profit dari saham, tanpa pernah rugi satu kalipun?? Meski pertanyaan ini terdengar konyol (karena anda semua tentu sudah tahu jawabannya: Nggak mungkin, karena bahkan Warren Buffett sekalipun kalau lagi rugi ya rugi saja), namun nyatanya ada banyak pelaku pasar modal yang berharap seperti itu: Saya tidak mau rugi, bahkan meski satu Rupiahpun! Kalau mereka ditanya lagi, kenapa to sampeyan gak mau rugi? Ya karena rugi itu rasanya nggak enak! Memangnya siapa yang mau kehilangan uangnya begitu saja, entah itu di saham atau lainnya?? Problemnya disini bukan kehilangan duitnya (karena terkadang, ilangnya gak seberapa), tapi timbulnya rasa kesal, jengkel, baper ketika uang itu hilang, dan itu bikin kita jadi males ngapa-ngapain.
Nah, kalau anda termasuk anggota asosiasi investor anti rugi diatas, maka penulis punya satu kabar buruk, dan dua kabar baik. Kabar buruknya, anda pasti akan merasakan rugi, kalau bukan karena salah pilih saham maka karena kondisi pasarnya yang kurang bagus. Contohnya ya tahun 2018 ini, dimana IHSG ditutup di posisi 6,194, turun 2.5%dibanding awal tahun, dan kalau kita hitung penurunan IHSG dari posisi tertingginya yakni 6,689 hingga posisi terendahnya yakni 5,634, maka IHSG sempat turun total 15.8%, alias cukup signifikan. Dalam kondisi ini maka meski sebagian investor tetap cuan, namun tentunya banyak juga yang rugi, dan itu tidak menyenangkan, mungkin juga bikin anda capek pikiran (aaand seriously, capek pikiran seperti ini seringkali malah lebih berat dibanding capek fisik karena mendaki gunung). Lebih dari itu, jika anda sudah membaca blog teguhhidayat.com ini sejak lama, maka terhitung sejak 2010 lalu kita sudah mengalami setidaknya tiga kali koreksi pasar yang berkepanjangan, yakni di tahun 2013, 2015, dan tahun 2018 ini. Dan harus saya katakan bahwa, dari tiga kali koreksi pasar tersebut, kesemuanya benar-benar menguras mental, tenaga, pikiran kita sebagai investor, dimana itu, sekali lagi, rasanya tidak menyenangkan.
Jadi suka atau tidak, anda pasti akan baper karena saham. Kabar baiknya, pasar tidak selalu turun, melainkan pada akhirnya akan naik lagi. Sehingga asalkan kita konsisten berinvestasi dengan cara-cara yang benar, maka pada tahun-tahun yang sulit kita mungkin akan rugi, tapi kita akan kembali profit ketika pasar akhirnya pulih. Yep, diluar tahun 2013, 2015, dan 2018, maka IHSG selalu naik, dan meski kedepannya IHSG tentunya akan turun lagi pada tahun-tahun tertentu, tapi di tahun-tahun lainnya pasar akan naik. In fact, jika kita lihat lagi pergerakan IHSG sejak tahun 1997, maka IHSG selalu naik dan turun silih bergantisetiap tahunnya, namun dengan urutan yang acak (jadi kadang turunnya dua tahun berturut-turut, kadang cuma setahun). Data selengkapnya sebagai berikut:
Year
Growth (%)
Year
Growth (%)
1997
-44.3
2008
-50.6
1998
-0.9
2009
87.0
1999
70.1
2010
46.1
2000
-38.5
2011
3.2
2001
-5.8
2012
12.9
2002
8.4
2013
-1.0
2003
62.8
2014
22.3
2004
44.6
2015
-12.1
2005
16.2
2016
15.3
2006
55.3
2017
20.0
2007
52.1
2018
-2.5
Itu kabar baik pertama. Kabar baik kedua-nya adalah, ketika kita akhirnya profit lagi setelah sebelumnya rugi, maka secara psikologis, rasanya akan lebih menyenangkan dibanding jika kita sebelumnya profit terus, dan penulis sendiri sudah mengalaminya berkali-kali: Itu bisa bikin kita segeeerrr secara jasmani dan rohani! ???? Yep, jadi sama seperti mie rebus yang kalau kita makan dalam kondisi tidak terlalu lapar, maka rasanya akan biasa-biasa saja, tapi beda ceritanya ketika kita makan mie rebus itu di puncak gunung setelah letih mendaki seharian: Rasanya lebih uenak dibanding masakannya Gordon Ramsay sekalipun! Demikian pula profit yang diperoleh setelah sebelumnya nyangkut, maka profit itu akan terasa lebih ‘lezat’ dibanding biasanya.
Dan penulis kira inilah salah satu alasan kenapa para value investor legendaris di seluruh dunia rata-rata berusia panjang (Note: Warren Buffett tahun ini sudah 88 tahun, dan masih sehat walafiat): Itu adalah karena mereka senantiasa happy, dan itu justru karena setiap beberapa waktu sekali, pasar saham terasa lebih ‘menantang’ dibanding biasanya. Sekarang bayangkan jika seorang investor selalu profit tanpa pernah rugi sekalipun (meski pada kenyataannya ini gak mungkin, tapi gpp bayangkan saja), maka itu sama seperti orang super-kaya yang kemana-mana naik pesawat jet pribadi dan setiap harinya menjalani gaya hidup mewah tanpa pernah sekalipun makan di warteg, namun semua kemewahan itu terkadang malah bikin dia jadi bosan dan tidak bahagia lagi bukan?? Penulis sendiri sangat happy menjalani kehidupan sehari-hari saya saat ini, dan itu adalah karena di tahun 2009 – 2010 saya pernah berada dalam kondisi harus masak sendiri di kamar kost, atau kemana-mana jalan kaki alih-alih naik kendaraan umum, agar uang gaji bulanan ketika itu masih ada sisanya untuk ditabung.
Jadi kalau saja penulis tidak pernah mengalami kondisi diatas, maka saya tidak akan menikmati kondisi sekarang ini karena saya tidak akan tahu apa bedanya. Demikian pula kalau anda gak pernah rugi atau nyangkut, maka anda tidak akan mengerti gimana nikmatnya cuan. Ingat ini: Happiness is like food: To really enjoy it, you must be hungry first. So to be happy and comfort, one must know what suffering is like.

Beruntung, dalam berinvestasi anda tidak akan selalu profit melainkan juga sesekali rugi, namun justru disitulah sumber kebahagiaan seorang investor karena perjalanan karier-nya tidak pernah ‘datar-datar’ saja, melainkan selalu penuh cerita dan drama yang terkadang lebih seru dibanding sinetron di Indosiar! So if you want to be happy, be an investor!
Selamat Tahun Baru 2019! Terima kasih sudah menjadi pembaca setia TeguhHidayat.com selama ini ????, selanjutnya bagaimana harapan anda untuk tahun 2019 nanti??
***
TeguhHidayat.com tetap online selama libur akhir tahun, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya. Dan mumpung sekarang lagi libur panjang, maka anda mungkin bisa memanfaatkan waktu santai dengan belajar investasi saham dari rekaman seminar penulis, info selengkapnya baca disini.
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Januari 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.
Jadwal Value Investing Private Class: Central Park Mall, Jakarta Barat, Jumat 18 Januari 2019 Pukul 13.30. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Dow Jones vs IHSG

Setelah turun terus hampir setiap hari selama bulan Desember ini, Dow Jones Industrial Average kemarin akhirnya rebound 1,000 point atau hampir 5% ke posisi 22,878, demikian pula S&P500 dan Nasdaq turut rebound dengan persentase kenaikan yang kurang lebih sama. Kenaikan tersebut untuk sementara mengkonfirmasi dua hal. Pertama, bahwa seperti halnya IHSG, Dow juga tidak akan turun terus menerus melainkan pasti akan ada rebound-nya, sehingga kalau misalnya anda berinvestasi di New York Stock Exchange dan termasuk yang telat jualan (atau baru kepikiran untuk jualan setelah Dow nyungsep), maka waktu terbaik untuk jualan bukanlah ketika kemarin Dow terus saja turun, melainkan harus tunggu hingga rebound ini terjadi. Ulasan strategi lengkapnya bisa dibaca disini.

Kemudian kedua, di artikel minggu lalu berjudul Amerika Resesi?, penulis mengatakan bahwa di Amerika sebenernya tidak ada resesi apapun, hanya valuasi saham-saham disana sudah pada mahal saja, sehingga Dow memang harus turun, tapi penurunan Dow karena penyebab seperti ini biasanya tidak akan terlalu dalem, melainkan maksimal sekitar 20% saja dari posisi tertingginya. And indeed, posisi terendah yang dicapai Dow kemarin adalah 21,730, atau turun 19.4% dibanding posisi tertinggi Dow yakni 26,952. Untuk kedepannya Dow tentu bisa saja turun sekali lagi, dan hingga ke posisi yang lebih rendah lagi, tapi normalnya itu hanya akan terjadi jika ada sentimen negatif kuat tertentu.  Sementara jika tidak tidak ada sentimen apa-apa, maka level 21,000-an kemarin harusnya sudah menjadi titik terendah Dow, dan selanjutnya dia akan bergerak lebih stabil/sideways.
Nah, terus terang penulis sejak Senin kemarin sudah pengen posting artikel ‘Dow Jones vs IHSG’ ini, yang pada intinya berisi analisa soal pengaruh Dow terhadap IHSG, tapi saya sengaja tunggu Dow rebound dulu lalu baru posting, karena berdasarkan pengalaman, seringkali ulasan di blog ini tidak akan memberikan pencerahan apapun bagi pembaca jika si pembaca itu sendiri sedang dalam kondisi panik (karena Dow-nya masih terus meluncur kebawah), dan kadang malah menimbulkan sikap skeptis: Prospek cerah apaan?? Lo kagak liat sekarang saham-saham pada anjlok semua!
Tapi dengan Dow kemarin akhirnya naik lagi, maka minimal anda harusnya sekarang sudah lebih tenang :D Dan bisa kembali membaca dengan kepala dingin. So here we go!
Pengaruh Dow Terhadap IHSG
Sebagai indeks saham paling populer di Amerika Serikat, sedangkan New York Stock Exchange itu sendiri pada gilirannya adalah bursa saham terbesar di dunia, maka pergerakan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) sudah seperti benchmark bagi pergerakan indeks-indeks saham lainnya di seluruh dunia termasuk IHSG, sehingga kemudian ada anggapan bahwa jika Dow naik maka IHSG akan naik, demikian sebaliknya jika Dow turun maka IHSG juga akan turun. Tapi benarkah demikian?
Nah, sebenarnya anda tidak perlu menjadi ‘pakar’ untuk menjawab pertanyaan diatas, karena anda bisa langsung cek sendiri data terbaru: Meski Dow hingga tanggal 26 Desember sudah turun 15.1% dari posisi tertingginya pada awal Oktober kemarin (dari 26,828 ke 22,878), namun pada periode yang sama, IHSG justru naik lumayan dari 5,868 ke 6,128. Sementara ketika Dow naik dari 23,533 hingga break new high di level 26,828 pada kurun waktu Maret – Oktober 2018, IHSG pada periode yang sama malah turun dari 6,175 ke 5,731. Demikian seterusnya jika anda cek data historis pergerakan kedua indeks saham, maka anda akan menemukan banyak kasus dimana Dow naik pada satu periode tertentu namun IHSG turun, atau sebaliknya Dow turun ketika IHSG naik.
However, berdasarkan pengalaman penulis sendiri, yang sering terjadi adalah jika pada satu waktu tertentu Dow turun signifikan, katakanlah 2 – 3% dalam sehari atau total 5 – 10% dalam seminggu, maka beritanya akan santer terdengar (bahwa Dow turun), dan itu bisa bikin investor di Indonesia panik minimal sesaat, dan imbasnya IHSG bisa ikut turun pada hari/minggu tersebut (meski seringkali, turunnya nggak banyak). Jadi meski pergerakan Dow dan IHSG tidak selalu seiringan, tapi benar bahwa Dow berpengaruh ke IHSG, minimal dalam jangka pendek. Simpelnya, jika seorang investor sebelumnya sudah berencana untuk membeli saham tertentu pada hari tertentu, maka bisa jadi ia akan menunda rencananya tersebut jika pada malam harinya Dow turun. Dan kalau ada banyak orang yang gak jadi beli saham karena khawatir dengan penurunan Dow, sementara yang jualan tetep banyak, maka otomatis IHSG akan ikut turun.
Tapi dari tulisan diatas maka kelihatan bahwa naik turunnya Dow ini hanyalah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG dan saham-saham didalamnya. You see, ketika seorang investor hendak membeli sebuah saham, maka tentu dalam pertimbangannya saham tersebut berfundamental bagus dst. Thus, ketika Dow turun dan penurunannya tersebut menjadi headline dimana-mana, maka si investor mungkin menunda rencana buy-nya, tapi ia hanya menunda dan bukan membatalkannya. Sehingga kalau nanti Dow naik lagi, dan Dow pasti akan naik lagi, maka ia tetap akan buy, dan alhasil saham-saham di Indonesia tetap akan naik.
Penurunan Dow = Kenaikan IHSG?
Daaaaan untungnya bisa penulis katakan bahwa diluar cerita koreksi Dow, faktor-faktor lainnya masih mendukung jika anda hendak belanja atau tetap hold saham: Kinerja para emiten hingga Kuartal III 2018 kemarin rata-rata masih bagus, valuasi saham masih banyak yang murah, Rupiah mulai stabil di 14,000-an, harga minyak turun (penurunan harga minyak akan menurunkan nilai impor), kondisi ekonomi/politik dalam negeri juga stabil, dan sekarang sudah akhir tahun (biasanya suka nongol cerita Window Dressing dan January Effect). Malah actually, penulis termasuk yang beranggapan bahwa penurunan Dow, meski dalam jangka pendek memang menimbulkan shock therapy, namun dalam jangka menengah – panjang dampaknya justru akan positif terhadap IHSG. Kenapa begitu?
Jadi begini: Sejak awal tahun 2016, Dow sudah rally dari 16,346 hingga sempat menyentuh 26,952, atau naik total 64.9% dalam waktu kurang dari tiga tahun seiring dengan kembali booming-nya ekonomi Amerika itu sendiri, setelah sebelumnya mereka krisis pada tahun 2008 – 2009 (pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi AS tercatat -4%, tapi sekarang stabil di 3 – 4% per tahun), thanks to pertumbuhan pesat industri teknologi terutama yang berhubungan dengan internet. Nah, meski kenaikan sekitar 60% dalam waktu tiga tahun mungkin terbilang biasa saja bagi indeks saham di negara berkembang termasuk IHSG di Indonesia, tapi itu adalah angka kenaikan yang sangat besar bagi Dow. Analoginya Dow ini seperti saham ASII, BBCA, atau UNVR, yang kalau dalam setahun naik 40% saja maka itu akan tampak luar biasa, sedangkan IHSG adalah seperti saham-saham kecil atau second liner gak jelas, yang bisa dengan mudah terbang 100% hanya dalam 1 – 2 bulan (meski disisi lain, bisa cepet juga turunnya).

Pergerakan Dow Jones dalam dua tahun terakhir, dimana kenaikannya paling tinggi dibanding indeks-indeks saham kelas dunia lainnya seperti Nikkei, Shanghai Composite, Euronext Amsterdam, hingga FTSE London, dan hanya bisa disamai oleh Hang Seng Hongkong.
Jadi ketika dalam tiga tahun terakhir ini Dow naik banyak, maka otomatis itu menarik perhatian investor dan para fund manager di seluruh dunia untuk invest di Amerika, karena tingkat risiko investasi disana tentunya dianggap lebih aman dibanding di Indonesia atau negara berkembang lainnya. Ditambah lagi kenaikan Fed Rate juga menyebabkan imbal hasil obligasi dll di Amerika menjadi naik (sejak 2016 sampai sekarang Fed Rate terus naik dari 0.25% sampai terakhir 2.50%). Ini pula yang salah satunya menjelaskan kenapa asing sejak 2 – 3 tahun ini terus keluar dari BEI, dan kalau kita melihat fakta bahwa mata uang di negara-negara emerging market (termasuk Rupiah) hampir semuanya melemah terhadap US Dollar, maka kemungkinan asing tidak hanya keluar dari Indonesia, tapi mereka juga keluar dari Turki, Brazil, Meksiko dst, untuk kemudian ramai-ramai pindah ke New York. Karena logikanya, jika anda menganggap bahwa ada satu saham bluechip dan satu saham second liner tertentu yang sama-sama bakal naik 20%, maka anda tentu akan memilih yang bluechip bukan? Karena risikonya biasanya lebih rendah, dan karena sahamnya lebih likuid sehingga belinya bisa banyak. Dan dengan nilai transaksi lebih dari US$ 170 milyar per hari, NYSE adalah juga bursa saham paling likuid di dunia (sebagai perbandingan, rata-rata nilai transaksi di BEI hanya Rp7 trilyun atau US$ 500 juta per hari, atau gak nyampe 0.5% nilai transaksi NYSE).
Tapi dengan Dow akhirnya turun juga, maka para fund manager global sekarang gak punya pilihan lain kecuali kembali menyebarkan investasinya ke seluruh dunia, termasuk balik lagi ke Indonesia. Yup, salah satu faktor yang bikin pasar minus sepanjang tahun 2008 ini adalah karena aksi jual asing yang, hingga ketika artikel ini ditulis, mencapai Rp51.6 trilyun sejak awal tahun, dimana itu merupakan angka net sell asing terbesar sepanjang sejarah. Sehingga meski IHSG-nya tampak nggak turun banyak (sempet drop sampai 5,600-an tapi sekarang sudah naik lagi), tapi ini menyebabkan kondisi pasar secara umum terasa tidak nyaman, dimana ada buanyak saham yang secara fundamental no problem, demikian pula valuasinya masih murah, tapi tetep aja seperti gak mau naik (atau malah turun sendiri) cuma gara-gara asingnya lepas barang terus.
Namun dengan kondisi pasar saham Amerika saat ini, maka sekali lagi terdapat harapan bahwa asing akan kembali masuk kesini. Sehingga dengan catatan faktor-faktor lainnya tetap sama, maka ini artinya pasar akan bergerak lebih stabil kedepannya. Mudah-mudahan!
Untuk artikel minggu depan penulis akan sampaikan pandangan penulis terkait outlook pasar di tahun 2019. Tapi sebelum itu, menurut anda sendiri, bagaimana pandangannya terkait arah pasar tahun 2019 nanti? Faktor-faktor penting apa saja yang harus diperhatikan? Anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

***

Selamat Natal dan Tahun Baru! TeguhHidayat.com tetap online selama libur akhir tahun, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya. Dan mumpung sekarang lagi libur panjang, maka anda mungkin bisa memanfaatkan waktu santai dengan belajar investasi saham dari rekaman seminar penulis, info selengkapnya baca disini.
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Januari 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Central Park Mall, Jakarta Barat, Jumat 18 Januari 2019 Pukul 13.30. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Amerika Resesi??

Dua bulan lalu, tepatnya pada tanggal 3 Oktober 2018, ada satu fakta peristiwa penting yang menarik perhatian penulis, tapi cenderung diabaikan oleh para pelaku pasar lainnya karena memang hampir gak ada beritanya: Dow Jones ketika itu kembali break new high ke level 26,828 (all time high Dow sebelumnya adalah di level 26,617, yang dicapai pada 26 Januari 2018), dan itu terjadi ketika valuasi AMZN dkk sudah amat sangat mahal, cerita perang dagang Amerika Serikat (AS) vs China juga masih ramai, plus adanya kekhawatiran krisis di negara-negara emerging market. Berdasarkan pengalaman, ini justru berarti bahwa Dow rawan untuk jatuh lagi sewaktu-waktu, dimana ketika itu terjadi maka barulah beritanya bakal ramai. Penulis kemudian menyampaikan soal kemungkinan penurunan Dow ini, plus faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pergerakan pasar secara umum, pada buletin analisis IHSG edisi Oktober, dimana intinya kita harus waspada/jangan dulu belanja saham.

Daaan ternyata benar: Masih di bulan Oktober, Dow dengan cepat drop sampai 24,442, pada 29 Oktober. Tapi mungkin karena penurunannya tidak terlalu signifikan (totalnya 8.8%), dan karena memasuki November Dow dengan cepat rebound lagi sampai 26,191, maka tetap belum ada cerita negatif apapun. However, setelah Dow kembali turun hingga menyentuh 23,593 pada 17 Desember, atau turun total 12.1% dibanding posisi tertingginya pada awal Oktober (secara psikologis, jika Dow turun lebih dari 10% dari posisi tertingginya, maka pasar saham Amerika ‘resmi’ memasuki periode bear market), maka barulah para investor dan analis di seluruh dunia seperti terbangun dari tidur: Ada apa ini?? Lalu entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul kabar bombastis: Amerika bakal resesi!
Tapi benarkah demikian? Bahwa Amerika akan resesi?? Nah, memang itulah yang akan kita bahas disini, okay kita langsung saja:
Terkait cerita ‘Amerika Resesi’ ini, maka penulis termasuk yang tidak kaget ketika isunya nongol, karena seperti yang disampaikan diatas, sejak Oktober kami sudah melihat kemungkinan Dow akan jatuh, dimana ketika itu terjadi maka barulah beritanya akan ramai, dan akan dibumbui banyak sentimen negatif. Yup, jadi ya sama saja seperti 2 – 3 bulan kemarin di Indonesia, yakni ketika IHSG berada di 5,600 – 5,700 dimana anda tentu masih ingat ketika itu ramai cerita Krisis Turki, pelemahan Rupiahdst, dan banyak juga yang mengatakan bahwa pasar bakal lanjut turun.
Tapi ketika sekarang IHSG naik lagi, maka seperti yang bisa anda lihat, hampir semua berita negatif menghilang dengan sendirinya. Jadi untuk Amerika juga sebenarnya sama saja: Kalau besok-besok Dow, S&P, dan Nasdaq naik lagi, maka kekhawatiran terkait resesi akan mereda, dan anda tidak akan lagi diganggu oleh broadcast aneh-aneh tentang krisis bla bla bla di grup whatsapp. Hanya saja disisi lain, jika penurunan Dow ternyata berlanjut, maka tentu saja cerita Amerika Resesi ini akan terdengar semakin kencang.
Kemana Arah Dow Jones Selanjutnya?
Pergerakan DJIA dalam dua tahun terakhir: Perhatikan bahwa meski Dow saat ini sudah turun lumayan, namun posisinya masih jauh lebih tinggi dibanding posisinya pada awal 2017 lalu
Dan sayangnya memang masih terdapat kemungkinan bahwa penurunan Dow akan berlanjut. You see, soal penurunan Dow Jones ini sebenarnya sudah kita bahas pada Februari 2018 lalu, dimana ketika itu Dow turun total 10.3% dari 26,616 ke 23,860 (baca lagi ulasannya disini), dan di artikel berikutnya penulis katakan bahwa penurunan tersebut bukanlah karena Amerika lagi krisis atau gimana, melainkan karena valuasi saham-saham disana sudah pada mahal saja, atau minimal sudah tidak bisa dikatakan murah lagi (istilahnya ‘price in’, baca penjelasannya disini), setelah pasar saham Amerika itu sendiri naik banyak dalam dua tahun sebelumnya.
Jadi pertanyaannya sekarang, apakah saham-saham di Amerika sana, atau dalam hal ini 30 saham komponen indeks Dow Jones Industrial Average sudah relatif murah setelah kemarin Dow itu sendiri turun banyak, atau masih mahal? Well, mari kita lihat saja datanya, sebagai berikut:
No.
Company
Price (US$ per share)
PER (x)
PBV (x)
Dividend Yield (%)
1
Travelers Companies
119.2
13.3
1.4
2.5
2
IBM
116.4
18.8
5.4
5.3
3
Walt Disney
109.2
13.1
3.3
1.6
4
DowDuPont
52.2
58.5
1.2
5.6
5
Microsoft
103.7
42.7
9.6
1.7
6
McDonald’s
179.2
27.2
-
2.3
7
Verizon Communications
55.9
7.1
4.2
4.3
8
Walmart
90.6
51.7
3.7
2.3
9
Merck
73.8
59.7
6.1
2.6
10
Procter & Gamble
91.8
24.0
4.5
3.0
11
Coca-Cola
47.9
72.8
11.2
3.2
12
Pfizer
42.0
10.6
3.4
3.2
13
UnitedHealth Group
250.3
19.6
4.8
1.3
14
Visa
131.3
29.7
10.2
0.7
15
JPMorgan Chase
97.3
12.1
1.4
2.5
16
Goldman Sachs Group
169.3
12.4
0.9
1.8
17
Home Depot
167.6
18.3
143.6
2.4
18
Caterpillar
122.3
19.4
4.6
2.6
19
Exxon Mobil
70.8
13.0
1.6
4.4
20
United Technologies
113.8
18.3
2.8
2.4
21
Chevron
107.8
14.5
1.3
4.1
22
Cisco Systems
43.1
164.7
4.4
2.9
23
Johnson & Johnson
127.6
224.3
5.3
2.7
24
American Express
98.8
23.8
3.9
1.4
25
3M
190.0
25.5
10.8
2.7
26
Boeing
319.6
18.8
-
2.0
27
Walgreens Boots Alliance
73.3
14.5
2.7
2.2
28
NIKE
69.0
54.7
12.2
1.1
29
Apple
160.9
13.5
7.1
1.6
30
Intel
45.6
14.2
2.9
2.5
Catatan:
  1. Data diambil dari www.finance.yahoo.com, dimana untuk PBV McDonald’s dan Boeing memang nggak ada datanya. Semua angka diatas adalah per tanggal 20 Desember 2018, ketika Dow berada di posisi 23,324. Untuk melihat valuasi Travelers Companies, misalnya, maka klik disini.
  2. Angka PER yang diambil adalah trailing PER, yakni PER yang dihitung berdasarkan angka laba bersih terbaru perusahaan. Jika laba perusahaan diasumsikan akan naik, maka PER-nya di masa yang akan datang, atau forward PER-nya juga bisa turun. Dan karena ke-30 perusahaan diatas rata-rata labanya tahun ini masih pada naik semua, maka PER-nya nanti bisa saja turun/forward PER-nya lebih rendah dibanding trailing PER-nya.
  3. Untuk dividend yield juga sama, dimana yang diambil adalah trailing dividend yield, sehingga realisasi dividen untuk tahun depan mungkin lebih besar jika laba perusahaan pada tahun ini naik.
  4. Beberapa perusahaan mencatat PER yang rendah namun PBV-nya sangat tinggi, karena memang ROE-nya juga sangat besar. Contohnya Home Depot, dimana ROE-nya mencapai 500%.

Okay, sekarang kita analisis. Dari tabel diatas dimana angka PBV rata-rata cukup tinggi dibanding PER, maka bisa kita katakan bahwa secara return on equity (ROE), ke-30 perusahaan komponen Dow mayoritas membukukan ROE yang cukup besar, yakni sekitar 20 – 30% (sebagai perbandingan, jika suatu saham PER-nya 10 kali, sedangkan PBV-nya 2 kali, maka ROE-nya adalah 20%), dan itu lebih tinggi dibanding level ROE di Indonesia dimana Astra International dkk ROE-nya terakhir hanya di kisaran 15% saja. Kinerja para emiten Amerika yang lebih baik dibanding Indonesia juga sekaligus menjelaskan kenapa Dow naik lebih banyak dibanding IHSG dalam lima tahun terakhir (antara Desember 2013 – Desember 2018, Dow naik total 48.6%, sedangkan IHSG hanya naik 38.6%).
Namun disisi lain, jika menggunakan standar valuasi yang sama dengan di Indonesia, maka saat ini valuasi IBM dkk sudah (dan masih) mahal, dimana PER-nya rata-rata mencapai 15 – 20 kali, sedangkan PBV-nya juga sudah mencapai 2, 3, atau 4 kali (kecuali PBV perusahaan minyak dan perbankan, yang mungkin karena dipengaruhi fluktuasi harga minyak, serta isu kenaikan suku bunga The Fed yang selalu diulang-ulang). Sekali lagi perlu dicatat bahwa itu adalah valuasi ketika Dow sudah turun ke level 23,000-an, dan bukan ketika kemarin masih berada di level 26,000-an. Mengingat kinerja para perusahaan yang masih bagus, maka memang tidak realistis jika kita katakanlah mau beli saham Apple pada harga yang mencerminkan PER 7 kali, tapi PER 10 – 11 kali tentunya masih sangat mungkin bukan? Karena beberapa tahun lalu PER Apple memang stabilnya disitu, dan baru naik tinggi sampai sempat tembus 19 kali (sebelum sekarang turun lagi ke 13 kali) dalam dua tahun terakhir. Demikian pula saham-saham yang lain, dimana meski valuasi mereka turun signifikan seiring dengan penurunan harga sahamnya sejak Oktober 2018 kemarin, tapi valuasi mereka saat ini mayoritas masih lebih tinggi dibanding dua atau tiga tahun yang lalu.
Karena itulah, diatas penulis sudah sampaikan bahwa Dow masih mungkin untuk lanjut turun lagi. Namun soal seberapa dalem Dow bakal turun, maka seharusnya juga tidak akan terlalu dalem, karena problemnya disini hanya terkait valuasi para emiten disana saja, dan bukan karena ada problem ekonomi. Yep, beberapa analis luar negeri mengatakan bahwa posisi bottom Dow adalah sekitar 20,000, dan penulis sependapat dengan itu, selain karena berdasarkan pengalaman, koreksi pasar yang ‘sehat’, yakni koreksi untuk mengembalikan valuasi saham-saham ke level yang seharusnya/nggak mahal lagi (jadi sekali lagi, bukan karena kinerja perusahaan lagi jelek, atau karena ada krisis), adalah jika Dow turun 20 – 25% dari posisi tertingginya, tapi nggak lebih dari itu. Karena posisi tertinggi Dow adalah 26,828, maka artinya target penurunannya adalah sampai kurang lebih 20,000 – 21,000. Well, sedikit lagi lah :D Termasuk jika ada yang bilang bahwa tahun 2019 nanti pasar saham Amerika bakal lesu, maka itu juga penulis setuju karena, well, dalam satu dekade terakhir Dow Jones dkk memang sudah naik buanyak banget sejak terakhir krisis tahun 2008 lalu, jadi ya mau naik sampai berapa lagi?? Sedangkan sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia, pertumbuhan ekonomi yang riil di Amerika juga tidak bisa terlalu tinggi (3 – 4% per tahun sudah sangat bagus, beda dengan Indonesia yang mencapai 5 – 6%). Jadi tentu sangat normal jika pasar saham Amerika ‘beristirahat’ dulu sejenak dari rally panjangnya, dimana kalau Dow nggak turun maka minimal stagnan lah, sebelum baru tahun 2020 atau 2021 nanti lanjut naik lagi.
Tapi Pak Teguh, bagaimana dengan berita bahwa Amerika katanya sedang resesi? Bukankah kalau Amerika beneran krisis maka Dow bakal turun lebih dalem lagi?? Nah, sebenarnya kalau kita baca-baca lagi data ekonomi makro Amerika (paling gampang lihat di www.tradingeconomics.com), kemudian menganalisa kinerja emiten di Amerika seperti yang sudah saya kerjakan pada tabel diatas, hingga baca tulisan-tulisan dari analis beneran (jadi bukan berita yang ditulis wartawan), maka kesimpulannya, gak ada resesi apapun. Sebelumnya perlu dipahami bahwa definisi dari ‘resesi’ adalah satu periode dalam perputaran siklus ekonomi dimana kegiatan ekonomi masyarakat (investasi dan konsumsi) secara umum melambat atau turun, dan perusahaan-perusahaan membukukan penurunan laba. Resesi berbeda dengan krisis, dimana ketika terjadi resesi maka pendapatan perusahaan-perusahaan mungkin akan stagnan atau turun, tapi mereka gak akan sampai bangkrut atau gagal bayar utang (itu hanya akan terjadi ketika krisis).
Namun karena perbedaan definisi inilah, maka hal-hal paling sepele sekalipun bisa langsung diberikan label sebagai ‘pertanda resesi’. Contohnya, ketika mall-mall di Amerika cenderung sepi dari orang yang berbelanja (padahal harusnya rame, karena ini sebentar lagi libur Natal), media dan orang-orang di medsos langsung menyebut itu sebagai ‘sinyal resesi’ atau semacamnya, yang kemudian dikatakan sebagai penyebab penurunan Dow Jones. Padahal jika kita mau telaah datanya sedikiiiit saja, maka akan langsung kelihatan bahwa mall sepi karena orang-orang sudah pindah ke toko online. Demikian pula isu perang dagang US vs China, yang sudah muncul sejak setahunan terakhir, tapi sampai sekarang belum ada dampak riil dari isu perang dagang tersebut terhadap ekonomi US.
Anyway, seperti yang sudah disebut diatas, jika besok-besok Dow lanjut turun, maka cerita soal resesi ini akan semakin ramai dibicarakan, dan masalahnya diatas juga sudah disampaikan bahwa Dow memang masih mungkin untuk lanjut turun lagi, so brace yourself. Tinggal pertanyaannya sekarang, jika nanti Dow beneran bablas jeblok sampai 20,000 atau lebih rendah lagi, maka gimana kira-kira pengaruhnya terhadap IHSG??
Namun berhubung artikelnya sudah cukup panjang, maka kita akan menjawab itu pekan depan.
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Januari 2019 akan terbit hari Rabu, 2 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal III 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental 30 saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Saat ini ebooknya sudah terbit, dan anda bisa langsung memesannya disini. Seperti juga analisa yang ditampilkan secara terbuka di website ini, semua ulasan saham di ebooknya disampaikan dengan bahasa yang lugas, to the point, detail, namun tetap mudah dipahami, bahkan bagi pemula sekalipun.

Halaman daftar isi ebooknya, salah satu edisi sebelumnya

Pekerjaan rutin investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. For professional stock investors and fund managers, this book is a must read!
Layanan gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis via email.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Anda pendatang baru di pasar modal? Atau sudah lama jadi investor saham tapi baru tau website ini sekarang? Kalau gitu maka anda mungkin tertarik dengan paket analisis saham berikut (silahkan klik linknya).

Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi Lestianto-


Petrosea.. Lagi!

Di ulasan minggu lalu, kita sudah membahas kemungkinan peluang di saham-saham batubara, yang rata-rata menjadi murah kembali setelah turun signifikan karena isu pembatasan impor batubara oleh China, namun dibagian akhir artikel penulis menyebutkan adanya sedikit masalah di sektor ini, yakni kinerja para emiten yang kurang meyakinkan/laba mereka banyak yang turun, sehingga otomatis dividen mereka di tahun 2019 nanti juga bakal turun. Sementara untuk emiten batubara yang kinerjanya bagus, valuasi sahamnya masih relatif tinggi. Jadi pilih mana?

Namun dengan melihat rasio-rasio keuangan yang ada, maka untuk menjawab pertanyaan diatas sebenarnya nggak terlalu sulit: Dengan kenaikan laba lebih dari dua kali lipat pada Kuartal III 2018, ROE 12.8% dan berpeluang untuk kembali naik di masa yang akan datang (penjelasannya dibawah), historis pembayaran dividen yang bagus, dan yang paling penting PBV-nya juga cuma 0.65 kali (pada harga 1,750), maka saham Petrosea (PTRO) mungkin bisa dipertimbangkan. Okay, mari kita telisik lagi perusahaannya dari awal.


Salah satu truk pengangkut batubara (atau lapisan tanah) milik PTRO, di lokasi tambang.

Petrosea adalah perusahaan kontraktor tambang batubara (baca: perusahaan yang menggali batubara milik perusahaan lain), jasa engineering dan konstruksi infrastruktur tambang, dan jasa pendukung kegiatan tambang migas. Namun sebagian besar pendapatan perusahaan berasal dari kontraktor tambang batubara saja, dan karena itulah kinerja PTRO hampir sepenuhnya tergantung oleh perkembangan industri batubara. PTRO dimiliki dan dikendalikan oleh Indika Energy (INDY), sekaligus merupakan bagian kecil dari jaringan usaha energi terintegrasi milik INDY (selain PTRO, INDY juga punya usaha kapal, pembangkit listrik, pelabuhan, jasa pengangkutan batubara, dan tambang batubara itu sendiri). Klien terbesar PTRO, PT Kideco Jaya Agung, adalah juga anak usaha dari INDY sejak Desember 2017 lalu (sebelum itu, INDY hanya memegang 40% saham Kideco). Dan Kideco sejak tahun 2017 lalu sudah meminta PTRO untuk meningkatkan volume produksi batubara, seiring dengan mulai naiknya harga batubara ketika itu. Sebagai perusahaan batubara terbesar ketiga di Indonesia (setelah Kaltim Prima Coal, dan Adaro Energy), Kideco sebenarnya punya beberapa kontraktor untuk menggali batubara miliknya, namun PTRO diuntungkan karena statusnya sebagai sesama anak usaha INDY.
Nah, diatas sudah disebutkan bahwa kinerja PTRO, secara historis, tergantung oleh perkembangan industri batubara, dalam hal ini naik turunnya harga batubara di pasar internasional. Tapi yang juga perlu diingat, PTRO ini perusahaan jasa tambang batubara, yang baru akan memperoleh bayaran dari klien pemilik batubaranya setelah batubara itu sendiri selesai digali dan diangkut ke pelabuhan. Ini artinya, berbeda dengan ADRO dkk yang bakal langsung cuan kalau harga batubara naik, maka pendapatan dan laba PTRO baru akan tampak naik sekitar 1 – 2 tahun setelah kenaikan harga batubara itu sendiri.
Dan itulah yang menjelaskan kenapa pada tahun 2016 lalu perusahaan masih membukukan rugi US$ 7.8 juta, meskipun di tahun tersebut harga batubara mulai naik (dari US$ 51.7 per ton pada bulan Juni, hingga sempat menyentuh US$ 102 per ton pada November), dan PTRO baru membukukan laba di tahun 2017-nya, itupun hanya US$ 8 juta, atau masih jauh lebih kecil dibanding rekor tahun 2011 lalu yang mencapai US$ 52.6 juta. Tapi yang terpenting adalah, pada tahun 2016 – 2017 tersebut PTRO mulai sibuk gali batubara lagi, dimana itu bisa dilihat dari meningkatnya capex, dan perusahaan mulai mengambil utang modal usaha dan sewa pembiayaan untuk membeli alat-alat berat (catatan: Berbeda dengan induknya/INDY yang punya banyak utang karena memang usahanya juga ada buanyak, manajemen PTRO terbilang lebih konservatif dan hanya mengambil utang untuk tambahan modal usaha jika proyek galian batubaranya memang sudah ada). Alhasil sejak November 2016 lalu penulis sendiri sudah berkesimpulan bahwa PTRO berpeluang untuk membukukan laba di tahun 2017 dan seterusnya, dan karena itulah sahamnya tetap layak buy meski labanya ketika itu masih tampak minus, terutama karena valuasinya masih super duper murah pada harga 750 (PBV-nya cuma 0.4 kali, dan PTRO menjadi salah satu saham yang dibahas di Ebook Kuartalan ketika itu).
Waktu berlalu, dan bagaimana perkembangannya sekarang? Well, ternyata PTRO beneran kembali membukukan laba US$ 8 juta di tahun 2017, dan sampai Kuartal III 2018 kemarin laba tersebut naik lagi menjadi US$ 17.8 juta, sementara capex PTRO juga kembali meningkat dari US$ 78.2 juta di tahun 2017, menjadi US$ 112.6 juta di tahun 2018. Nilai kontrak ditangan (backlog) milik PTRO per Maret 2018 juga tercatat US$ 1 milyar, meningkat signifikan dibanding tahun 2017 yang hanya US$ 696 juta, thanks to kontrak baru yang berasal dari dua pelanggan utama perusahaan, yakni Kideco dan PT Indonesia Pratama. Dan sejak tahun 2018 kemarin PTRO kembali membayar dividen, dalam hal ini Rp61 per saham, setelah dua tahun sebelumnya dividen itu tidak dibayarkan.
Jadi kesimpulannya, jika tidak ada aral melintang, maka pendapatan serta laba PTRO akan kembali naik di tahun 2019, ROE-nya yang 12.8% tadi akan naik menjadi sekitar 15 – 20%, dan para pemegang sahamnya akan kembali menikmati dividen rutin. Sebenarnya ada satu penjelasan kenapa beberapa perusahaan tambang batubara mengalami penurunan laba ketika harga batubara masih stabil: Faktor alam seperti curah hujan yang tinggi terkadang menyebabkan batubara hasil galian gak bisa langsung dikirim ke pelabuhan untuk dijual, melainkan harus dikeringkan dulu, dan itu saja bisa makan waktu berbulan-bulan. Tapi untungnya untuk perusahaan mining service seperti PTRO, faktor alam seperti itu hampir tidak ada pengaruhnya. Karena asalkan batubaranya sudah digali dan sudah ditaroh di stockpile, maka PTRO sudah bisa menagih bayaran. Sementara soal batubaranya belum bisa dijual kerana masih basah, itu ya urusan si pemiliknya lah!
Kemudian terkait harga beli sahamnya, maka dengan mempertimbangkan faktor-faktor diatas, tidak realistis jika anda berharap bisa membeli PTRO di harga yang sama dengan harganya dua tahun lalu (di 750). Tapi, hey, pada harga sekarang yakni 1,700-an, itu juga jauh lebih baik dibanding Januari lalu dimana PTRO sempat hampir menembus 3,000 bukan? Lalu dengan PBV hanya 0.65 kali, maka PTRO jelas masih sangat murah, malah merupakan salah satu yang termurah di sektor batubara pada saat ini. Kemudian terakhir, kalau kita lihat lagi pergerakan historisnya, maka saham PTRO sedang dalam trend kenaikan jangka panjang sejak akhir 2015 lalu, dimana PTRO biasanya mengalami rally tinggi pada awal tahun hingga sekitar bulan April. Yup! Pada Desember 2015, PTRO berada di level 290, dan pada April 2016 sudah naik 86% ke level 560. Pada Desember 2016, PTRO sudah di 720, tapi naik lagi hingga 95% ke 1,410 pada April 2017. Dan terakhir pada Desember 2017, PTRO berada di level 1,660, kemudian naik sampai 1,965 di bulan April 2017, tapi sempat menyentuh 2,900 di bulan Februari-nya, alias juga naik sekitar 75%.
Nah, karena sekarang sudah bulan Desember, sedangkan posisi PTRO juga hanya sedikit lebih tinggi dibanding posisinya pada Desember 2017 lalu (1,660), atau dengan kata lain sahamnya masih melanjutkan trend kenaikan jangka panjangnya, lalu apa lagi yang anda tunggu?? Jika PTRO kembali mengulang kebiasaan rally tinggi-nya pada awal tahun, maka disini kita punya peluang profit 75 – 100%, hanya dalam tempo beberapa bulan kedepan.
However, seperti halnya saham-saham lainnya, PTRO bukannya tanpa risiko, dan dalam hal ini ada dua hal yang harus anda perhatikan. Pertama, meski diatas dikatakan bahwa manajemen PTRO jarang ngambil utang kecuali sudah ada pekerjaannya, namun faktanya nilai liabilitas PTRO terakhir mencapai US$ 329.7 juta, lumayan besar dibanding ekuitasnya yang hanya US$ 185.1 juta. Namun liabilitas PTRO bisa gede gitu karena adanya utang jangka panjang senilai US$ 115.3 juta dari INDY melalui Indo Energy Capital BV, dimana PTRO harus membayar bunga 6.45% per tahun hingga utangnya jatuh tempo tahun 2023 nanti (dan bisa diperpanjang). Masalahnya, tidak jelas duit US$ 115.3 juta itu dipake buat apa, dan kelihatannya PTRO juga sama sekali gak butuh pinjaman tersebut, karena kalau perusahaan butuh tambahan modal maka manajemen bisa nyari pinjaman sendiri ke bank.
Jadi kemungkinan INDY sengaja memberikan utang itu hanya agar PTRO setor bunga saban tahun ke perusahaan, selain setor dividen. Dan memang hingga Kuartal III 2018, PTRO membayar bunga US$ 6.0 juta atas pinjaman ini (US$ 8 juta kalau disetahunkan), dimana jika beban bunga tersebut tidak ada, maka laba PTRO harusnya mencapai US$ 23.8 juta, dan bukannya hanya US$ 17.8 juta. Ini sedikit tidak adil memang, jadi kalau Pak Lo Kheng Hong baca tulisan ini, saya titip pesen sama manajemennya, kalo bisa itu utang segera dilunasi saja lah. Beban bunga US$ 8 juta setahun itu gede banget lho, termasuk pada tahun 2016 lalu PTRO mungkin harusnya masih profit kalau beban bunga ini tidak ada.
Kemudian kedua masih terkait harga batubara, dimana kalau besok-besok harga batubara turun lebih lanjut, atau ada sentimen lain lagi setelah pembatasan impor China kemarin, maka PTRO, seperti juga saham-saham batubara lainnya, akan kembali turun. Dan mengingat likuiditasnya yang seret, maka PTRO ini bisa gampang banget turunnya kalau para pemegang sahamnya panik jualan, karena yang pasang bid juga nggak ada.
Tapi yah, disisi lain kalau sentimen yang keluar nanti malah positif, maka PTRO juga bakal gampang banget naiknya. Dan diluar fluktuasi jangka pendeknya karena sentimen bla bla bla, PTRO ini dalam jangka panjang sejak awal 2016 lalu memang naik terus kok, dimana kenaikannya tersebut selaras dengan perkembangan positif fundamentalnya (dan memang PTRO ini sudah jadi salah satu favorit penulis ketika itu), jadi kita juga nggak sedang berspekulasi pada saham gorengan nggak jelas disini. Thus, your call!
PT Petrosea, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2018: A
Rating saham pada 1,750: AA
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Desember 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Peluang di Saham Batubara?

Minggu kemarin, tepatnya pada hari Senin, 26 November, saham-saham batubara secara bersamaan turun tajam hingga 3 – 4% dalam satu hari tersebut, dan penulis sendiri ketika itu baru sadar bahwa sepanjang bulan November saham batubara cenderung turun banyak, justru ketika saham-saham di sektor lain mulai naik. Penyebabnya? Ada dua faktor: Penurunan harga batubara, yang menyusul penurunan harga minyak sebelumnya, dan sentimen negatif pembatasan impor batubara oleh China, dimana China memang salah satu konsumen batubara terbesar didunia, termasuk dari Indonesia.

Ilustrasi truk  yang tengah mengangkut batubara di lokasi tambang

Disisi lain, beberapa saham batubara turun sedemikian dalamnya hingga valuasi mereka menjadi terdiskon lagi, dimana PBV mereka tinggal nol koma sekian, sementara sekarang sudah akhir tahun, yang artinya tidak terlalu lama lagi, yakni pada April – Mei tahun depan, para emiten batubara ini rata-rata akan membayar dividen dalam jumlah yang cukup besar. Sebelumnya mungkin perlu diketahui bahwa karena model bisnisnya yang sangat simpel, yakni tinggal gali batubaranya lalu jual, maka perusahaan-perusahaan batubara umumnya tidak menginvestasikan kembali laba bersih mereka, melainkan ditarik dalam bentuk dividen untuk kemudian diinvestasikan di usaha lain, karena untuk menggali batubara itu memang nyaris gak butuh modal apapun kecuali untuk membeli alat-alat berat dan bahan bakar. Beberapa perusahaan memang juga membangun pembangkit listrik dll sebagai hilirisasi usaha batubaranya, tapi kebalikannya dengan usaha batubara itu sendiri, membangun infrastruktur seperti itu justu butuh investasi yang amat besar dan biasanya baru balik modal dalam jangka panjang 5 – 10 tahun, itupun kalau pembangunannya selesai tepat waktu. Jadi, sekali lagi, mayoritas emiten lebih suka membayar dividen saja, dimana rasio pembayaran dividen PTBA dkk mencapai lebih dari 50% laba bersih mereka setiap tahunnya.
Nah, jadi ketika saham-saham batubara turun banyak pada November kemarin, sementara saat ini sudah akhir tahun, maka valuasi mereka tidak hanya menjadi menarik dari sisi PBV, tapi juga dari sisi dividend yield. Jadi dalam hal ini kita gak cuma punya saham yang valuasinya murah, tapi juga menghasilkan keuntungan tunai (berupa dividen) yang lumayan.
Untuk informasi selengkapnya, berikut adalah daftar saham-saham tambang batubara dan jasa tambang batubara yang terbilang royal dividen. Sebelumnya mungkin perlu dicatat bahwa selain emiten-emiten yang disebut dibawah ini, ada dua emiten batubara yang juga royal dividen yakni Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Mitrabara Adiperdana (MBAP), dimana dividend yield mereka totalnya bisa lebih dari 10%. Namun karena kedua perusahaan membayar dividennya dua kali dalam setahun, maka jadilah dividen yang besar tersebut menjadi tampak kecil karena dibagi dua, dan alhasil faktor dividen tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap pergerakan sahamnya pada awal tahun.
Ticker
Net Earnings
EPS
DPR
Dividend
Price
Dividend Yield
PTBA
5,240
455
82.0
373
3,870
9.6
ADRO
6,254
196
26.6
52
1,220
4.3
HRUM
346
128
101.0
129
1,395
9.3
PTRO
261
259
54.7
141
1,635
8.7
UNTR
12,096
3,243
30.8
998
29,950
3.3
MYOH
327
148
139.6
207
1,010
20.5
Catatan:
  1. Net earnings 2018: Laba bersih hingga Kuartal III 2018 yang sudah disetahunkan, angka dalam milyaran Rupiah. Laba dalam Dollar dikonversi ke Rupiah menggunakan kurs Rp14,700 per USD.
  2. EPS: earnings per share, angka dalam Rupiah per lembar saham.
  3. DPR: dividend payout ratio, atau rasio jumlah dividen dibandingkan nilai laba bersih perusahaan dalam setahun pada tahun 2017 kemarin. Angka dalam persen. Mungkin perlu dicatat bahwa DPR untuk PTBA dan MYOH untuk tahun depan kemungkinan akan turun.
  4. Dividend: Perkiraan nilai dividen yang akan dibayar pada April atau Mei 2019 nanti, berdasarkan net earnings 2018 dan DPR-nya, angka dalam Rupiah per lembar saham, belum dipotong pajak. Dalam hal ini realisasi dividen PTBA dan MYOH mungkin lebih kecil dari angka pada tabel diatas.
  5. Price: Harga terendah saham pada penghujung November kemarin, angka dalam Rupiah.
  6. Dividend yield: Nilai perkiraan dividen dibagi harga saham, angka dalam persen.
  7. Selain emiten yang disebut diatas, ada beberapa emiten batubara lainnya yang juga royal dividen seperti Bayan Resources (BYAN) dan Toba Bara Sejahtra (TOBA), tapi karena alasan sahamnya tidak likuid maka penulis menganggap sentimen dividen tidak akan terlalu berpengaruh.
Okay, kelihatannya menarik, tapi bagaimana dengan penurunan harga batubara tadi? Well, kalau kita cek lagi harga monthly Newcastle di Indexmundi.com, maka akan langsung kelihatan bahwa, yep, batubara memang turun dari posisi tertingginya di US$120 per ton, Juli 2018 lalu, hingga sempat tembus dibawah level psikologis $100 per ton setelah ramai cerita pembatasan impor batubara oleh China, tapi harga $90 – 100 per ton tersebut jelas terbilang masih tinggi. Malah kalau melihat chart dibawah maka kita bisa pula katakan bahwa, adalah normal jika harga batubara turun dulu sejenak karena sebelumnya memang sudah naik banyak dari $93 ke $120 per ton, hanya dalam tiga bulan. Namun jika melihat trend jangka panjangnya sejak tahun 2016 lalu, maka cukup jelas bahwa harga batubara masih dalam trend naik, atau minimal belum ada tanda-tanda bahwa dia akan balik arah menjadi trend turun. Dan asalkan harga batubara bertahan di level sekarang yakni $90 – 100 per ton, maka secara teori itu sudah sangat menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan batubara di Indonesia, karena ongkos kas produksi disini cuma sekitar $30 per ton batubara yang dihasilkan (baca lagi penjelasannya disini).
Pergerakan harga batubara dalam lima tahun terakhir. Perhatikan meski harga batubara turun sejak Juli 2018, tapi posisinya saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding titik terendahnya pada tahun 2016 lalu. Sumber: Indexmundi.com

Tapi bagaimana dengan cerita China tadi? Bukankah dengan pembatasan impornya maka harga batubara bisa turun drastis? Nah, pertama, cerita pembatasan impor itu sudah sering diulang-ulang sejak dulu, mirip seperti cerita wacana penurunan harga gas bla bla bla yang bikin saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun, tapi ketika ceritanya hilang maka ya sahamnya naik lagi. Dengan kata lain, kalau nanti sentimen China ini mereda seiring dengan waktu, maka saham-saham batubara gak punya alasan lagi untuk turun lebih lanjut.
Kemudian kedua, kata kuncinya disini adalah pembatasan impor. Nah, kebanyakan orang mengetahui bahwa China adalah memang konsumen batubara terbesar di dunia, dimana pada tahun 2017, konsumsi batubara China mencapai 51% atau lebih dari separuh total konsumsi batubara dunia, namun China bukanlah berarti importir batubara terbesar. Faktanya, importir batubara terbesar di dunia adalah Jepang, kemudian baru disusul oleh China, dan China juga hanya mengimpor 14% dari total nilai impor batubara di seluruh dunia pada tahun 2017. Dan kenapa kok China impornya gak sebanyak konsumsi batubaranya? Karena tidak hanya berstatus sebagai konsumen terbesar, China adalah juga produsen batubara terbesar di dunia, dimana pada tahun 2016, produksi batubara China mencapai 46% dari total produksi batubara dunia. Yup, jadi sebagian besar kebutuhan batubara China dipasok oleh supplier dari dalam negerinya sendiri.
Jadi sebenarnya kurang relevan jika dikatakan bahwa pembatasan impor oleh China berpengaruh negatif terhadap harga batubara. Di Indonesia sendiri, rata-rata produsen batubara disini hanya mengekspor 15 – 20% produksinya ke China, sementara selebihnya dilempar ke Jepang, Korea Selatan, dan India. Fakta menarik lainnya adalah, volume konsumsi batubara China justru mulai naik lagi pada tahun 2017 lalu, setelah sebelumnya turun pada tahun 2015 dan 2016, ketika itu karena perlambatan pertumbuhan ekonomi disana, sehingga penulis ragu bahwa kalaupun benar Pemerintah China membatasi impor batubaranya, maka kebijakan itu akan bertahan lama. Kemudian meski pertumbuhan angka konsumsi batubara di negara-negara konsumen batubara terbesar seperti China, Amerika Serikat, India, dan Jepang memang cenderung stagnan, tapi pertumbuhan konsumsi batubara tertinggi justru dialami oleh negara-negara emerging market termasuk Indonesia itu sendiri. Yep, pada tahun 2017 kemarin, untuk pertama kalinya Indonesia masuk 10 besar konsumen batubara terbesar di dunia, dimana salah satu pemicunya adalah karena adanya megaproyek pembangkit listrik 35,000 MW yang sudah dicanangkan sejak Mei 2015 lalu, dimana hingga akhir tahun 2017 kemarin, kapasitas pembangkit listrik PLN telah meningkat sekitar 7,000 MW. Well, bagi anda yang terutama tinggal di kota-kota besar, anda sendiri juga mungkin bisa merasakan kalau belakangan ini sudah jarang mati lampu bukan?
However, kalau ada yang mengganjal terkait prospek saham-saham batubara, maka itu adalah kinerja para emitennya yang kurang bagus di tahun 2018 ini, dimana laba bersih mereka banyak yang turun. Penulis sendiri nggak ngerti apa masalahnya, karena nyatanya harga Newcastle masih stabil di level $90 – 100 per ton sejak tahun 2017 lalu, tapi yang jelas itu menyebabkan ADRO dkk turun lumayan sepanjang tahun 2018 ini, beberapa diantaranya bahkan balik lagi ke level rendah mereka di tahun 2016. Dalam hal ini kita sebagai investor jadi punya dua opsi, jika memang tertarik untuk masuk: Tetap mengambil saham-saham yang menawarkan dividend yield tinggi namun ada risiko sahamnya tidak bergerak naik karena orang tetap melihat penurunan laba perusahaan, atau ambil saham dengan kinerja positif namun valuasinya belum bisa dikatakan murah sehingga risikonya downside-nya pun lebih besar, seperti katakanlah PTBA atau UNTR.

Okay Pak Teguh, jadi kalau anda sendiri ambilnya saham yang mana? Nah, itu nanti kita bahas minggu depan :)

Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Desember 2018 juga sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Tahapan Karier Investor

Tak lama setelah buka rekening di sekuritas


Setelah mengikuti rekomendasi saham A, rekomendasi saham B, beberapa bulan kemudian..

Kemudian cut loss, atau pertama kali melihat saham yang dipegang/IHSG jatuh

Setelah rugi sana sini, sebagian orang mungkin menutup rekeningnya sama sekali. Namun sebagian lagi kembali belajar, baca-baca lagi dari awal tentang analisis fundamental dst.

Kemudian mulai praktek menyusun investment planning miliknya sendiri, menyeleksi saham-saham apa yang akan dibeli, menerapkan diversifikasi dll, berdasarkan ilmu yang sudah diperoleh.

Mulai profit. Terkadang masih suka rugi, tapi lebih sering profit. Nilai porto pelan-pelan mulai naik

Menyetor modal lagi ke sekuritas, sehingga sekarang ‘pelurunya’ lebih banyak. Selanjutnya rutin menyetor setiap beberapa waktu sekali, dan alhasil nilai porto meningkat lebih cepat lagi.

Profit mulai konsisten, cuek dengan naik turunnya saham, dan lebih santai dalam melakukan analisa serta eksekusi jual/beli saham. Termasuk mau untung atau rugi, udah biasa aja.

And eventually, everyday is a holiday!

Pertanyaannya, anda sekarang berada di tahap yang mana? :D

Sumber gambar: Google Images.

Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Desember 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk [...]

Prospek HM Sampoerna Setelah Peraturan Free Float

Saham Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP), seperti yang kita ketahui, menjadi saham yang paling terpukul oleh rencana penerapan bobot free float terhadap indeks LQ45, karena memang bobot HMSP yang turun paling signifikan (baca lagi ceritanya disini), dan alhasil HMSP kemarin drop dari 3,950 hingga sempet menyentuh level 3,290, sebelum kemudian naik lagi ke level 3,400-an. However, penulis sendiri tetap melihat penurunan HMSP ini dari sudut pandang value investing: Kita tahu bahwa HMSP ini barang bagus, hanya saja sejak awal valuasinya kelewat premium, dan makanya penulis sendiri nggak tertarik. Tapi kerana saat ini harganya sudah jauh lebih rendah dibanding sebelumnya (HMSP pada Januari 2018 kemarin malah sempat berada di level 5,200), maka apakah valuasinya sudah murah?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita pelajari lagi HMSP ini dari awal.
HMSP adalah perusahaan rokok tertua (berdiri sejak tahun 1913) sekaligus terbesar di Indonesia baik dari sisi nilai aset, pangsa pasar (sekitar 33% per tahun 2017), power of brand, nilai pendapatan dan laba, hingga market cap. Perusahaan adalah pemegang merk rokok kretek paling populer di Indonesia, ‘Dji Sam Soe’, dan sejak tahun 1989 juga sukses meluncurkan merk ‘A Mild’, yang sekarang menjadi ‘Sampoerna A’. HMSP listing di bursa pada tahun 1990 dengan harga perdana Rp12,600, yang setelah beberapa kali perubahan nilai nominal dan stocksplit, itu setara dengan Rp50.4 per saham (bandingkan dengan harganya saat ini yakni 3,400). Kenaikan sahamnya sebanyak total 6,600% dalam waktu hampir 30 tahun terakhir, belum termasuk dividen, kemungkinan adalah yang terbaik kedua di Bursa Efek Indonesia, setelah Unilever Indonesia (UNVR), dan itu selaras dengan kinerja fundamental HMSP dalam jangka panjang yang, meski amat sangat baik dibanding rata-rata emiten lainnya di BEI, tapi masih terhitung No.2 jika dibandingkan dengan UNVR. HMSP dulunya dimiliki dan dikendalikan oleh Keluarga Sampoerna asal Surabaya, Jawa Timur, namun sejak tahun 2005 perusahaan diakuisisi oleh Philip Morris, perusahaan rokok terbesar di dunia asal Amerika Serikat, yang juga sukses menjadi besar karena merk legendaris ‘Marlboro’. Dan sejak dipegang oleh Philip Morris, HMSP juga menjadi distributor rokok Marlboro di Indonesia.
Okay, sekarang kita gali kinerja keuangan HMSP. Ketika perusahaan diambil alih oleh Philip Morris, sempat ada kekhawatiran bahwa gaya manajemen yang sebelumnya sangat tradisional dan konservatif (mengembangkan merk, bikin rokoknya, lalu jual, that’s it) akan berubah, tapi untungnya itu tidak terjadi: Hingga Kuartal III 2018 kemarin, HMSP tetap menjadi perusahaan rokok dengan neraca yang bersih (perusahaan tidak punya aset aneh-aneh kecuali yang berhubungan dengan usaha rokoknya), zero liabilities (HMSP hampir gak punya utang bank, obligasi, atau utang lainnya yang mengandung bunga), dan nilai aset lancar terutama kas yang besar (yang biasanya akan dibayarkan sebagai dividen). Pendapatan HMSP juga konsisten naik terus dalam 5 – 10 tahun terakhir, dimana meski ini bisa kita katakan karena memang jumlah penduduk Indonesia selalu meningkat, termasuk harga rokok juga selalu naik karena inflasi (dan anehnya orang-orang tetep beli), tapi faktor lainnya adalah karena HMSP sukses menjaga posisinya sebagai market leader. Perusahaan juga terbilang sukses dalam meluncurkan merk-merk baru (U Mild atau Sampoerna U, Sampoerna Hijau, Magnum Mild), dan sukses beradaptasi dengan selera pasar dimana meski pada tahun 2014 sempat harus menutup pabriknya di Jember dan Lumajang yang memproduksi rokok sigaret kretek tangan (SKT), tapi pendapatan HMSP tetap naik karena perusahaan mampu dengan cepat berpindah ke produksi rokok sigaret kretek mesin (SKM). Beberapa problem seperti kenaikan tarif cukai rokok juga sempat menyebabkan pertumbuhan laba HMSP menjadi stagnan pada tahun 2013 – 2015, but still, secara keseluruhan perusahaan terus bertumbuh bahkan meski manajemen selalu membayar dividen sebesar 99 – 100% laba bersih HMSP setiap tahunnya (jadi hampir tidak ada dari laba bersih tersebut yang diinvestasikan kembali).
Kalau ada kelemahan, maka itu adalah kebijakan dari pihak Philip Morris yang hanya menjadikan HMSP ini sebagai cash cow dengan mengambil seluruh laba bersih sebagai dividen dan tidak menginvestasikannya kembali, jadi nggak pernah kedengeran kalau HMSP akan misalnya mengakuisisi perusahaan rokok lain, demikian pula HMSP hanya memfokuskan pasarnya di Indonesia saja (beda dengan Djarum yang juga mengekspor rokoknya), karena untuk pasar diluar negeri, Philip Morris sudah punya anak usaha yang lainnya lagi. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekuitas HMSP terbilang stagnan, dimana ketika ekuitasnya melompat menjadi Rp32.0 trilyun di tahun 2015 (dibanding Rp13.5 trilyun di tahun 2014), maka itu karena perusahaan memperoleh tambahan modal sebesar Rp20.8 trilyun dari right issue-nya di harga Rp3,080 per saham. Dalam hal ini kita bisa katakan bahwa perusahaan sudah mature, dan anda tidak bisa berharap bahwa perusahaan tumbuh pesat di masa yang akan datang. However, karena nilai dividen HMSP terus bertumbuh, hasil dari laba bersihnya yang juga terus naik, maka sahamnya tetap punya alasan untuk terus naik dalam jangka panjang, sehingga tetap layak invest.
Okay, lalu bagaimana dengan valuasinya?
Aset terbesar HMSP, seperti yang sudah disebut diatas, adalah power of brand-nya, dimana setelah dikombinasikan dengan merk Marlboro milik Philip Morris itu sendiri, maka meminjam quote dari presdir-nya, posisi HMSP sebagai market leader industri rokok di Indonesia menjadi tidak terbantahkan (di Indonesia, HMSP jualan merk rokok paling populer di Indonesia, dan sekaligus merk rokok paling populer di dunia). Sebelum tahun 2015, ROE HMSP konsisten di angka 90 – 100% per tahun, atau sama dengan UNVR, namun valuasinya kira-kira hanya dua per tiganya UNVR (jadi jika PBV UNVR 30 kali, maka PBV HMSP 20 kali), yang mungkin itu karena biar gimana, investor lebih nyaman berinvestasi pada perusahaan sabun mandi dan pasta gigi ketimbang perusahaan rokok. Nevertheless, diluar perbedaan bisnisnya antara rokok dengan barang kebutuhan sehari-hari, maka sebelum tahun 2015, fundamental HMSP sebenarnya tidak kalah dibanding UNVR sekalipun.
However, dalam rangka memenuhi kewajiban free float sebesar minimum 7.5% (apa itu free float? Baca lagi penjelasannya disini), maka pada tahun 2015, HMSP menggelar right issue dengan menerbitkan 6.7 milyar saham baru (sudah disesuaikan stocksplit) pada harga Rp3,080, yang kesemuanya diambil oleh investor publik (individual dan institusional), tapi HMSP kemudian memperoleh tambahan modal Rp20.8 trilyun. Penulis katakan ‘tapi’, karena HMSP sebenarnya sama sekali gak butuh tambahan modal tersebut, karena cashflow-nya sudah sangat lebih dari cukup untuk memenuhi modal kerja maupun capital expenditure-nya. Alhasil boleh dikatakan bahwa dana hasil right issue-nya tersebut menjadi duit nganggur, dimana sampai Kuartal III 2018, posisi kas HMSP juga masih tercatat Rp20 trilyun sekian. Keberadaan dana nganggur ini menyebabkan ekuitas HMSP meningkat signifikan, tapi karena labanya tetap atau hanya naik sedikit, maka jadilah ROE-nya turun ke level 40 – 50%. Tapi disisi lain, valuasi PBV HMSP juga turun menjadi hanya 12 – 14 kali, atau jauh lebih kecil dibanding UNVR, meski mungkin perlu juga dicatat bahwa karena lebih dari separuh nilai buku HMSP adalah uang kas yang tidak produktif, maka valuasi HMSP sejatinya masih tetap mahal.
Faktor keberadaan uang kas ini menyebabkan valuasi HMSP menjadi sulit dihitung dari sisi PBV. Namun dari sisi PER, dan valuasi HMSP bisa dilihat dari PER-nya karena perolehan laba bersih perusahaan nyaris pasti bakal stabil terus saban tahun, maka pada harga 3,400, PER HMSP tercatat 30.6 kali, masih rada mahal dibanding PER dari beberapa saham consumer goods besar dan terkemuka lainnya seperti Kalbe Farma (KLBF), Indofood CBP (ICBP) hingga Mayora Indah (MYOR), tapi jangan lupa bahwa ROE atau profitabilitas HMSP juga jauh lebih tinggi, dan setelah stocksplit-nya kemarin maka sekarang sahamnya juga sudah tidak kalah likuid dibanding saham-saham tersebut. Thus, meski penulis sendiri akan lebih suka membeli saham HMSP pada harga yang mencerminkan PER 20 – 25 kali, tapi mungkin tidak realistis untuk mengharapkan HMSP akan turun serendah itu, karena toh sampai sekarang perusahaannya masih fine-fine aja. Disisi lain, dengan dividend yield 3.1% (HMSP membayar dividen Rp107.3 per saham tahun kemarin), maka HMSP memang sudah murah, atau minimal tidak bisa disebut mahal lagi. Karena pada saat ini, yield HMSP sudah lebih tinggi dibanding rata-rata emiten bluechip lainnya.
Okay Pak Teguh, tapi bagaimana dengan rencana penerapan bobot free float terhadap indeks LQ45 yang kemarin dibahas? Bukankah dengan demikian maka HMSP tidak akan lagi disukai oleh investor institusi/para fund manager, karena pergerakan saham HMSP akan tidak lagi terlalu berpengaruh terhadap naik turunnya indeks LQ45? Well, jika rencana tersebut memang jadi dilakukan (sampai sekarang masih wacana), maka memang akan ada dampaknya dalam jangka pendek, tapi bagaimana dalam jangka panjang? Sekarang coba anda lihat lagi KLBF, ICBP, dan MYOR; Saham-saham ini mungkin tidak terlalu disukai oleh para fund manager karena alasan itu tadi, yakni bobot pengaruhnya terhadap indeks LQ45 (dan juga IHSG) tidak terlalu besar, dan makanya seringkali sahamnya tampak stagnan atau bahkan turun dalam jangka waktu yang cukup lama, tapi bagaimana jika kita melihatnya 5 – 10 tahun ke belakang? Tetap naik banyak bukan? Intinya, yang berpengaruh terhadap prospek long term sebuah saham ya tetap saja fundamentalnya, dan sebuah saham yang ‘tidak terlalu diminati fund manager’, entah itu karena alasan free float atau lainnya, tetap akan naik banyak dalam jangka panjang selama fundamentalnya mendukung. Selain saham-saham yang sudah disebut diatas, ada banyak juga saham kecil tidak likuid yang tetap profit bahkan meski likuiditasnya, atau market cap-nya, jauh lebih kecil dibanding saham-saham bluechip ‘favorit’ fund manager.
Dan HMSP ini sejak awal juga memang hanya ideal untuk investasi jangka panjaaaang diatas 5 tahun, dimana kalau horizon waktunya lebih pendek dari itu, maka anda juga mungkin gak bakal dapet apa-apa kecuali dividen. Namun jika anda bisa komitmen memegangnya as long as possible, maka faktor-faktor jangka pendek seperti rencana peraturan BEI diatas bisa diabaikan, malah justru menjadi peluang untuk membeli/tambah posisi di harga bagus. Seperti yang sudah dibahas diatas, penulis sendiri awalnya gak tertarik sama HMSP ini kerana valuasinya premium, tapi kalau di harga sekarang maka sahamnya minimal sudah bisa dipertimbangkan. Yang terpenting tentu saja, HMSP ini barang bagus, sampai sekarang masih bagus, dan keliatannya juga tidak akan ada faktor-faktor tertentu yang bisa bikin fundamentalnya menjadi buruk, entah itu dalam waktu dekat ini atau nanti. Nah, bagaimana menurut anda?
PT. HM Sampoerna, Tbk
Rating Kinerja Sembilan Bulan 2018: S
Rating Saham pada 3,400: A
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 Sudah Terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing – Advanced, Jakarta, Minggu 2 Desember

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 2 Desember 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam tempo 2 tahun. Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?

Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 2 Desember 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Eden Hazard, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Promo!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
Bonus Gratis!
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special Bonus: Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Salah satu testimonial yang masuk ke inbox Instagram penulis

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 1 Desember 2018 (sehari sebelum seminar advanced, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya 

Seminar Value Investing, Jakarta, Sabtu 1 Desember

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 1 Desember 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.

Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Desember 2018
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Special Promo!
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta seminar bulan Oktober 2018

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Advanced, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 2 Desember 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Anjloknya HMSP, dan Peraturan Free Float?

Pada hari Jumat, 9 November kemarin, IHSG drop 1.7% setelah dua saham yang pergerakannya selama ini berpengaruh besar terhadap naik turunnya indeks, yakni HM Sampoerna (HMSP) dan Unilever Indonesia (UNVR), jeblok masing-masing 10.3% dan 4.7%, dan demikian pula sebagian besar saham lainnya turun, namun ada beberapa saham bluechip yang malah naik. Tak lama kemudian barulah muncul penyebabnya: Penurunan IHSG, yang terutama disebabkan oleh jatuhnya saham HMSP dan UNVR, adalah karena adanya rencana dari BEI untuk menyesuaikan perhitungan bobot pengaruh dari pergerakan tiap-tiap saham anggota LQ45 terhadap naik turunnya indeks LQ45 itu sendiri, dimana memang bobot HMSP dan UNVR adalah yang turunnya paling signifikan. Lebih jelasnya sebagai berikut.

Jadi begini. Selain Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG, dimana naik turunnya IHSG merupakan cerminan atau rata-rata dari pergerakan semua saham yang diperdagangkan di BEI, maka ada juga indeks LQ45, yang merupakan cerminan dari pergerakan 45 saham anggota LQ45, yang sudah diseleksi oleh tim dari BEI berdasarkan kriteria tertentu, terutama karena likuiditas perdagangannya. Jadi bisa dibilang bahwa 45 saham anggota LQ45 adalah saham-saham paling likuid di bursa. Pihak BEI sendiri melakukan evaluasi setiap enam bulan sekali dimana saham-saham yang tidak lagi memenuhi kriteria sebagai ‘saham LQ45’ akan dikeluarkan dari daftar, dan digantikan oleh saham lain sehingga jumlahnya tetap 45 saham. Anda bisa baca lagi penjelasan lebih lanjut di artikel berikut.
Kemudian, selama ini bobot pengaruh dari tiap-tiap saham terhadap indeks IHSG, dan juga indeks LQ45, itu dihitung berdasarkan kapitalisasi pasar atau market capitalization, atau market cap, dimana pergerakan saham dengan market cap besar akan lebih berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG, dibanding pergerakan saham dengan market cap yang lebih kecil. Contohnya, dengan market cap Rp400-an trilyun, maka pergerakan HMSP memberikan bobot pengaruh sekitar 6.0% terhadap pergerakan IHSG secara keseluruhan. Jadi ketika saham HMSP kemarin turun 10.3%, itu ikut menurunkan IHSG hingga 40.1 point, tapi ketika saham Transcoal Pacific (TCPI) auto reject atas sampai 20.0%, maka itu hanya menaikkan IHSG sebesar 4.6 point, karena market cap TCPI memang hanya Rp32 trilyun.
Masalahnya adalah, beberapa saham dengan market cap jumbo, termasuk HMSP, itu sahamnya tidak se-likuid saham-saham big caps lainnya seperti Bank BCA (BBCA), Astra International (ASII), hingga Bank BRI (BBRI). Atau dengan kata lain, pergerakan HMSP sebenarnya tidak benar-benar mencerminkan arah pasar, karena investor/trader yang memperjual belikan sahamnya tidak sebanyak trader yang memperjual belikan saham BBCA dan lainnya, sehingga tidak adil jika saham HMSP justru lebih berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG/indeks LQ45.
Karena itulah, kemudian diusulkan peraturan baru: Bobot pengaruh dari pergerakan tiap-tiap saham LQ45 terhadap naik turunnya indeks LQ45 itu sendiri, itu tidak lagi dihitung berdasarkan market cap perusahaan secara keseluruhan, melainkan hanya market cap free float. Jadi begini: Rumus market cap adalah harga saham dikali jumlah saham beredar. Kita ambil contoh HMSP, harga sahamnya Rp3,400, dan jumlah sahamnya 116.3 milyar lembar. Maka market capnya Rp3,400 x 116.3 milyar = Rp395.5 trilyun.
Sedangkan rumus market cap free float, atau kita singkat saja market cap FF, adalah harga saham dikali jumlah saham beredar yang dimiliki oleh investor publik, alias saham free float (disebut ‘free float’, karena saham yang dimiliki publik inilah yang bebas diperdagangkan di bursa, sedangkan saham yang dimiliki oleh pemegang saham pengendali biasanya hanya di-hold saja). Yang dimaksud ‘investor publik’ disini adalah investor yang memegang suatu saham kurang dari 5% dari total jumlah saham beredar, sehingga bukan termasuk investor pengendali perusahaan.
Nah, balik lagi ke HMSP, jumlah saham free float-nya adalah 8.7 milyar lembar. Maka market cap FF-nya adalah Rp3,400 x 8.7 milyar = Rp29.6 trilyun, atau jauh lebih kecil dari market cap-nya diatas yang Rp395.5 trilyun.
Karena itulah, berdasarkan aturan baru dimana bobot pengaruh saham terhadap indeks LQ45 tidak lagi dihitung berdasarkan market cap-nya, melainkan hanya berdasarkan market cap FF-nya, maka saham-saham dengan porsi kepemilikan publik alias free float yang kecil, itu bobot pengaruhnya terhadap pergerakan indeks LQ45 akan turun.
Sementara untuk saham-saham dengan free float yang besar, pengaruhnya akan naik. Perubahan selengkapnya sebagai berikut. Catatan: Saham yang ditampilkan adalah saham anggota indeks IDX30, yakni saham-saham anggota LQ45 yang sudah diseleksi lebih lanjut berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, sehingga jumlahnya berkurang dari 45 menjadi 30 saham:
Saham
Bobot Penuh (%)
Bobot FF (%)
Perubahan (%)
HMSP
11.12
2.36
-8.76
UNVR
8.45
3.43
-5.02
GGRM
3.56
1.75
-1.81
ICBP
2.67
1.52
-1.15
PTBA
1.25
0.90
-0.35
BRPT
0.88
0.68
-0.20
JSMR
0.77
0.66
-0.11
WSKT
0.50
0.49
-0.01
WSBP
0.21
0.20
-0.01
ANTM
0.42
0.42
-0.00
SRIL
0.19
0.22
0.03
MEDC
0.37
0.42
0.05
BBTN
0.57
0.65
0.08
PTPP
0.21
0.30
0.09
INKP
1.78
2.07
0.29
PGAS
1.38
1.69
0.31
BSDE
0.54
0.89
0.35
BBCA
14.79
15.15
0.36
BBNI
3.47
3.96
0.49
UNTR
3.20
3.70
0.50
LPPF
0.36
0.88
0.52
SMGR
1.37
1.91
0.54
INDF
1.34
1.90
0.56
INTP
1.63
2.27
0.64
BMRI
8.11
9.26
1.15
KLBF
1.65
2.96
1.31
ADRO
1.35
2.81
1.46
BBRI
9.86
12.17
2.31
ASII
8.20
10.55
2.35
TLKM
9.77
13.84
4.07
Total
99.97
100.01
0.04
Sebelumnya perlu dicatat bahwa meski pada tabel diatas total persentasenya tidak bulat 100%, tapi itu adalah karena faktor pembulatan dari persentase bobot tiap-tiap saham. Sedangkan total yang sebenarnya adalah 100% untuk bobot penuh, dan juga 100% untuk bobot free float, sehingga perubahannya adalah 0%.
Nah, dari tabel diatas tampak jelas bahwa saham yang bobot pengaruhnya turun paling signifikan adalah HMSP dan UNVR, sedangkan saham yang bobotnya naik paling banyak adalah TLKM, ASII, dan BBRI. Ini artinya, setelah nanti peraturan free float ini diberlakukan pada Februari 2019, maka pengaruh pergerakan HMSP dan UNVR tidak akan lagi se-signifikan sebelumnya terhadap naik turunnya indeks LQ45. Sedangkan sebaliknya, pergerakan TLKM, ASII, dan BBRI akan menjadi lebih berpengaruh terhadap indeks LQ45.
Efeknya Terhadap OutlookTiap-tiap Saham
Bagi investor profesional, mereka memiliki patokan ukuran atau benchmark untuk menilai apakah kinerja portofolio mereka, dalam satu waktu periode tertentu (biasanya 1 tahun) terbilang memuaskan atau tidak. Dan patokan tersebut adalah IHSG. Yup, jadi kalau anda profit 20% dalam satu tahun tertentu, tapi pada tahun yang sama IHSG naik 25%, maka kinerja porto anda tidak bisa dikatakan bagus. Demikian pula jika anda rugi 5% ketika IHSG turun 15%, maka anda sejatinya masih beat the market.
Namun diluar IHSG, maka beberapa fund manager di perusahaan asset management, asuransi, hingga dana pensiun, terkadang juga menggunakan indeks LQ45 sebagai benchmark tadi, dimana target profit mereka adalah ‘lebih tinggi, atau minimal sama dengan naik atau turunnya indeks LQ45’. Konsekuensinya, mereka kemudian akan lebih banyak membeli saham-saham yang paling berpengaruh terhadap naik turunnya indeks LQ45, dan alhasil saham-saham big capsseperti BBCA, HMSP, dan UNVR hampir selalu menjadi pilihan utama mereka.
Tapi dengan adanya peraturan baru ini, maka otomatis HMSP dan UNVR, dan mungkin juga GGRM serta ICBP (selebihnya harusnya tidak akan berpengaruh, karena perubahan bobotnya sangat kecil), akan mulai ditinggalkan para fund manager ini, dan mereka beralih ke TLKM, ASII, dan BBRI. However, ada beberapa hal yang kemudian menjadi perhatian:
Pertama, fund manager yang lebih menggunakan indeks LQ45 sebagai patokan kinerja ketimbang IHSG, itu jumlahnya berapa banyak sih? Well, penulis sudah diskusi dengan temen-temen di reksadana, jawabannya tidak banyak. Sebagian besar fund manager ya tetep pake IHSG sebagai patokan, dan fund manager yang pake indeks LQ45 biasanya hanya karena mereka kesulitan mengalahkan IHSG itu sendiri (karena memang, hingga ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah turun 7.6% YTD, sedangkan LQ45 turun lebih signifikan yakni 13.8%, sehingga indeks LQ45 ini ‘lebih mudah untuk dikalahkan’). Sementara di kelompok investor ritel, malah boleh dibilang hampir gak ada satupun yang melihat indeks LQ45, karena mereka semua ngeliatnya ya IHSG. Untuk mudahnya biar penulis tes: Tahukah anda, berapa posisi IHSG saat ini? Anda mungkin bisa langsung menjawab: 5,800 sekian! Tapi jika saya tanya lagi, berapa posisi indeks LQ45 saat ini? Well, ada yang bisa jawab?
Nah, karena perubahan perhitungan bobot diatas hanya berlaku untuk indeks LQ45 (dan juga indeks IDX30), namun tidak atau belum berlaku untuk IHSG, maka artinya sebagian besar fund manager akan tetap membeli HMSP dan UNVR. Yep, karena ketika peraturan diatas diberlakukan, maka ketika HMSP dan UNVR ini turun, itu memang tidak akan lagi terlalu berpengaruh terhadap indeks LQ45, tapi IHSG akan tetap jatuh. Demikian pula kalau dua saham itu naik, maka IHSG akan tetap naik. Jadi bagi para fund manager yang menggunakan IHSG sebagai benchmark, maka mau tidak mau mereka tetap harus memegang dua saham consumer ini, kecuali jika nanti perubahan bobot pengaruh ini juga diberlakukan terhadap IHSG, tapi jujur saja, itu akan sulit dilakukan. Penjelasannya sebagai berikut:
Kedua, diatas disebutkan bahwa definisi ‘saham free float’ adalah saham dari suatu emiten yang dimiliki/dipegang oleh ‘investor publik’, yakni investor dengan kepemilikan kurang dari 5% dari total jumlah saham beredar, sehingga bukan termasuk investor pengendali perusahaan.
Tapi masalahnya, ketika saham free float suatu emiten katakanlah mencapai 49% (51% selebihnya dimiliki oleh pemegang saham pengendali), maka benarkah 49% saham tersebut semuanya dimiliki oleh investor publik? Belum tentu. Karena faktanya, pemegang saham pengendali pun bisa juga memiliki/membeli saham perusahaannya sendiri menggunakan banyak rekening terpisah, dimana persentase kepemilikan untuk tiap-tiap rekening tersebut dibuat kurang dari 5%, sehingga dicatat sebagai ‘investor publik’. Ini juga menjelaskan kenapa pada beberapa emiten, kepemilikan publiknya mencapai lebih dari 50%, bahkan ada yang 70%. Contohnya? Bumi Resources (BUMI), dimana ‘kepemilikan publik’-nya mencapai 77%. Sekarang pake logika saja: Jika benar saham BUMI mayoritas dimiliki oleh investor publik, maka kenapa perusahaannya masih dikendalikan oleh Grup Bakrie??
Komposisi Pemegang Saham BUMI, dimana pemilik perusahaan adalah ‘masyarakat’, alias kita-kita semua. Congrats!
Jadi intinya, ketika data pemegang saham suatu emiten menyebutkan bahwa saham free float-nya mencapai katakanlah 1 milyar lembar, maka belum tentu saham yang beredar di publik adalah sebanyak 1 milyar juga, melainkan sebagian diantaranya tetap dikuasai oleh pemegang saham pengendali. Karena itulah, kecuali pihak BEI punya cara yang akurat untuk menghitung berapa jumlah riil saham free float dari 600-an emiten di bursa, maka penulis menganggap bahwa peraturan perubahan bobot diatas mungkin bisa berlaku untuk indeks LQ45, tapi tidak akan bisa diberlakukan untuk IHSG. Karena kalau gitu caranya maka saham model BUMI akan tiba-tiba naik kelas, menjadi saham dengan ‘fundamental yang lebih bagus’ dibanding UNVR sekalipun.
Dan karena para fund manager masih lebih banyak yang menggunakan IHSG sebagai patokan kinerja ketimbang indeks LQ45, maka yo wis, perubahan peraturan diatas tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap outlook jangka panjang dari tiap-tiap saham anggota LQ45 itu sendiri. Actually ketika pada Jumat 9 November kemarin IHSG tiba-tiba drop, maka itu lebih karena investor masih bingung saja dengan rencana peraturan baru ini. Sebab yang turun gak cuma HMSP dan UNVR, tapi TLKM yang jelas-jelas bobotnya naik pun juga malah ikut turun 2.0%. Penulis sendiri juga perlu waktu seharian untuk mempelajarinya, sebelum baru kemudian saya bisa menulis artikel ini.
Tapi setelah pasar nanti pada akhirnya mengerti soal peraturan baru ini, dan harusnya itu gak akan butuh waktu lama, maka ya sudah, saham-saham yang kemarin ‘kena hantam’ cerita bobot free float bla bla bla ini akan kembali ke posisi normalnya masing-masing.
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 Sudah Terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rupiah Menguat??

Setelah sebelumnya melemah terus, dalam seminggu terakhir Rupiah tiba-tiba saja menguat terhadap US Dollar dimana hingga ketika artikel ini ditulis, posisinya sudah dibawah level psikologis Rp15,000, tepatnya Rp14,632. Praktis, pasar pun segera meresponnya dengan positif dimana kemarin IHSG kembali naik hingga hampir saja tembus 6,000 lagi. Pertanyaannya tentu, penguatan Rupiah ini cuma sementara atau untuk seterusnya? Dan sebenarnya faktor-faktor apa saja sih yang membuat Rupiah menguat atau melemah?

Pergerakan Rupiah sejak 1 Sept 2018 sampai sekarang. Sumber: Bank Indonesia

Seperti halnya saham, secara umum ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap USD, yakni faktor jangka panjang, dan faktor jangka pendek. Untuk faktor-faktor jangka panjang, seperti dikutip dari Wikipedia, adalah sebagai berikut:
Pertama, neraca pembayaran, alias transaksi jual beli yang dilakukan orang-orang, organisasi dan perusahaan, hingga Pemerintah di Indonesia dengan negara-negara lainnya di seluruh dunia, termasuk didalamnya neraca ekspor impor. Simpelnya jika Indonesia lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor produk dan jasa, maka Rupiah akan melemah. However, defisit neraca ekspor impor tidak selalu melemahkan Rupiah, karena itu baru satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi neraca pembayaran. Contohnya, jika jumlah wisatawan mancanegara di Indonesia meningkat, maka itu akan meningkatkan permintaan terhadap mata uang Rupiah (karena wisatawan ini ya harus transaksi jual beli pake Rupiah ketika mereka berada di Indonesia), dan itu bisa mendorong neraca pembayaran menjadi surplus.
Kedua, tingkat suku bunga, atau dalam hal ini BI Rate, dimana jika BI Rate naik maka tingkat bunga di Indonesia secara umum akan naik, termasuk bunga obligasi, deposito dll juga ikut naik, dan itu bisa menarik minat investor dari luar negeri untuk menginvestasikan dana mereka disini, yang otomatis meningkatkan permintaan terhadap Rupiah.
Ketiga, inflasi. Ketika terjadi inflasi maka itu menunjukkan bahwa purchasing power Rupiah melemah, dimana harga-harga barang didalam negeri akan tampak naik, padahal sebenarnya itu karena nilai Rupiah yang turun. Dan jika pada satu waktu inflasi di Indonesia lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat (AS), maka Rupiah otomatis akan melemah. Di artikel ini penulis sudah jelaskan bahwa salah satu penyebab Rupiah dalam jangka panjang terus turun terhadap USD, adalah karena inflasi disini hampir selalu jauh lebih tinggi dibanding di AS, setiap tahunnya.
Keempat, kebijakan fiskal dan moneter, alias tingkat pendapatan serta belanja pemerintah, dimana jika angkanya defisit (pengeluaran lebih besar dibanding penerimaan pajak) maka itu juga bisa melemahkan Rupiah. Tapi disisi lain jika Pemerintah mengetatkan/menurunkan anggaran belanja, atau menaikkan tarif pajak dalam rangka agar APBN menjadi surplus, maka itu bisa melambatkan perputaran roda ekonomi, dan ujungnya bisa melemahkan Rupiah juga. Jadi dalam hal ini yang penting bukan surplus atau defisitnya, melainkan bagaimana agar kebijakan fiskal ini bisa seimbang dalam jangka panjang, alias gak defisit terus menerus, dan sebaliknya gak surplus terus menerus.
Kelima, intervensi pemerintah. Seperti halnya saham, Rupiah bisa juga fluktuatif, alias naik atau turun secara tajam dalam waktu singkat karena faktor-faktor non fundamental seperti adanya aksi spekulan domestik yang memborong USD, sehingga Rupiah melemah meski ekonomi dalam negeri sejatinya baik-baik saja. Dalam hal ini Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) atau organisasi lainnya bisa melakukan intervensi dengan membeli kembali Rupiah di pasar, sehingga harapannya Rupiah kembali menguat. Pada negara tertentu, termasuk di Indonesia, intervensi pemerintah ini bisa dilakukan secara terus menerus dalam jangka panjang.
Dan keenam, sekaligus yang paling penting, adalah kondisi fundamental ekonomi dalam negeri. Simpelnya kalau terjadi krisis maka Rupiah otomatis akan melemah, dan sebaliknya kalau ekonomi lagi bagus-bagusnya dimana usaha lancar, orang-orang mudah memperoleh pekerjaan dst, maka Rupiah juga akan menguat.
Faktor Jangka Pendek
Nah, itu diatas adalah faktor-faktor jangka panjang. Terus bagaimana dengan faktor-faktor jangka pendeknya? Ya simply berdasarkan hukum supply and demand, dimana Rupiah bisa menguat kalau permintaan terhadap Rupiah meningkat, demikian sebaliknya, dimana faktor supply and demand ini bisa berubah setiap saat. Contohnya itu tadi: Jika ada spekulan yang memborong USD, maka Rupiah bisa melemah untuk sesaat, tapi sebesar apapun modal si spekulan ini maka tetap saja dia tidak bisa terus menerus membeli USD, sehingga Rupiah bisa langsung menguat lagi. Ketika mata uang negara lain seperti Turki, Argentina dst melemah terhadap USD, maka secara psikologis itu juga bisa membuat investor yang memegang Rupiah menjadi khawatir (karena Indonesia adalah juga emerging market), sehingga mereka buru-buru menukarnya dengan USD, dan nilai Rupiah turun. Tapi ketika mata uang negara lain tersebut kembali menguat, maka rupiah juga akan ikut menguat.
Dan ketika terjadi perubahan cepat antara supply and demand, maka Rupiah bisa menjadi sangat fluktuatif: Tiba-tiba melemah, tapi tapi tak lama kemudian menguat lagi. Nah, seperti halnya saham, maka ketika harga suatu saham fluktuatif maka itu disukai akan oleh para trader/spekulan (yang berharap bisa dapet profit cepat) tapi tidak disukai oleh investor jangka panjang, maka demikian pula jika nilai tukar Rupiah fluktuatif, itu tidak akan disukai oleh pengusaha, karena mereka jadinya pusing ketika menghitung harga jual produk dan biaya produksi, terutama jika bisnisnya berhubungan dengan ekspor impor. Dalam hal inilah intervensi kemudian Pemerintah menjadi penting agar Rupiah menjadi stabil, tapi terkadang dengan adanya intervensi sekalipun, fluktuasi itu tetap terjadi.
Proyeksi Kurs Rupiah Kedepannya
Tapi mau Rupiah naik atau turun kaya gimana, pada akhirnya dia akan mengikuti fundamental ekonomi makro. Dan kabar baiknya, dari faktor-faktor jangka panjang yang mempengaruhi nilai tukar Rupiah, kesemuanya menunjukkan bahwa, yes, Rupiah memang normalnya melemah terhadap USD, tapi seharusnya tidak akan sampai bernasib seperti Turkish Lira yang nilai tukarnya terhadap Dollar jeblok hingga separuhnya (sedangkan pelemahan Rupiah sepanjang 2018 ini baru sekitar 10%). You see, ‘current account’ atau transaksi berjalan Indonesia, yang merupakan komponen dari neraca pembayaran, memang defisit sejak tahun 2012 lalu, salah satunya karena defisit neraca ekspor impor, namun angkanya hanya -1.7%, dibanding -5.5% milik negara Turki. Untuk BI Rate, angkanya juga turun terus sejak tahun 2009 hingga mencapai titik terendahnya dalam sejarah yakni 4.25% di tahun 2017, tapi belakangan dinaikkan lagi ke level 5.75% agar investor asing kembali tertarik investasi disini, dan sejauh ini dampaknya cukup terasa: Asing mulai masuk lagi, dan Rupiah turut menguat. Kenaikan suku bunga biasanya bisa berdampak negatif terhadap inflasi (baca lagi hubungan antara BI Rate, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi di artikel ini), sehingga ujungnya Rupiah bisa tetap melemah lagi, namun inflasi Indonesia sampai saat ini masih stabil di angka 3.16%, lebih rendah dibanding rata-rata inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir yang mencapai 6 – 7%, dan juga jauh lebih rendah dibanding inflasi Turki yang mencapai 25.2% (jadi kenaikan BI Rate masih aman).
Lalu soal kebijakan fiskal, APBN Indonesia sudah defisit lebih dari -2% sejak tahun 2013 (sebelumnya defisit juga, tapi rata-rata hanya 0 – 1%), dan ini mungkin turut melemahkan Rupiah karena untuk menutup defisit tersebut, Pemerintah mengambil utang luar negeri sehingga otomatis membeli Dollar (rasio debt to GDP Indonesia naik dari 23.0% di tahun 2012, menjadi 28.7% di tahun 2017). Kemudian soal intervensi Pemerintah, maka beberapa waktu lalu ketika Rupiah untuk pertama kalinya kembali tembus diatas Rp15,000 per USD, maka Kementerian Keuangan dll terbilang cepat tanggap dengan segera meluncurkan paket kebijakan pembatasan impor dll, dan itu juga berpengaruh positif terhadap Rupiah. Dan terakhir, kondisi ekonomi dalam negeri, dimana itu bisa dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi, juga stabil di kisaran 5 – 5.2%. Angka 5% ini mungkin tampak kurang mengesankan, mengingat pada tahun 2011 lalu Indonesia pernah mencatat pertumbuhan ekonomi sampai 6%, tapi perlu dilihat pula bahwa GDP nasional ketika itu masih US$ 750-an milyar, sedangkan saat ini GDP nasional sudah tembus US$ 1 trilyun. Yang itu berarti, ketika saat ini pertumbuhan ekonomi tercatat 5%, maka GDP bertambah US$ 50 milyar, atau masih sedikit lebih besar dibanding ketika pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi tercatat 6%, dimana GDP hanya bertambah US$ 45 milyar.
Kesimpulannya, beberapa faktor seperti defisit APBN dan defisit current account memang berpengaruh negatif terhadap Rupiah, namun faktor-faktor lainnya menunjukkan bahwa ekonomi kita masih aman. Sehingga sekali lagi, yep, Rupiah normalnya harus melemah, tapi pelemahannya tidak akan signifikan, apalagi sampai kejadian seperti tahun 1998. Dan itu berarti, jika sewaktu-waktu Rupiah kumat lagi dengan terjun bebas ke 15,000 atau bahkan 16,000 sekalipun (karena faktor jangka pendek supply and demand tadi), tapi pada akhirnya ya dia akan menguat lagi. Untuk bisa balik lagi ke level 12,000 – 13,000 mungkin agak berat karena diatas kita sudah menyebutkan beberapa faktor yang membuat Rupiah melemah, tapi jika kita katakan bahwa Rupiah kedepannya akan stabil di 14,000-an, maka itu adalah proyeksi yang realistis.
Nah, jadi ketika semingguan ini Rupiah menguat lagi, maka itu seperti mengkonfirmasi bahwa, yep, posisi Rupiah saat ini sudah cukup rendah, dan seharusnya gak akan melemah lebih lanjut. Rupiah tentunya masih bisa melemah lagi sesekali karena fluktuasi jangka pendek, salah satunya jika nanti ramai lagi isu perang dagang bla bla bla, tapi selama tidak ada perubahan berarti terhadap fundamental ekonomi makro, maka seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel bulan September 2018, seharusnya tidak sulit bagi Pemerintah untuk menjaga agar Rupiah, dalam jangka panjang, tetap bertahan di level sekarang.
Okay Pak Teguh, jadi saham-saham apa saja yang diuntungkan oleh penguatan atau pelemahan Rupiah ini? Lalu bagaimana juga pengaruhnya ke IHSG? Well, karena artikelnya sudah cukup panjang, maka silahkan temen-temen yang lain bantu menjawab.

Untuk artikel minggu depan kita akan membahas rencana BEI untuk menyesuaikan bobot pengaruh dari pergerakan tiap-tiap saham anggota LQ45 terhadap naik turunnya indeks LQ45 itu sendiri, dan apa pengaruhnya terhadap saham yang bobotnya dinaikkan, ataupun diturunkan.
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal seminar Value Investing, Jakarta, Sabtu & Minggu, 1 – 2 Desember 2018. Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Diskusi Investasi Saham: Pak Joeliardi Sunendar

Dear investor, penulis beberapa waktu lalu membuat video diskusi investasi saham dengan Pak Joeliardi Sunendar, dan videonya sekarang sudah jadi, bisa langsung anda lihat di Youtube. Selengkapnya sebagai berikut (ada sampai part 7, tapi yang saya tampilkan disini hanya part 5).

Soal siapa itu Pak Joel, anda bisa baca lagi profil beliau disini.
Dalam waktu dekat ini penulis juga akan membuat video-video lainnya seputar edukasi saham, market outlook dll, dan akan di posting di Youtube. Untuk informasi selengkapnya boleh langsung kunjungi channel Youtube penulis di link berikut. Semoga bermanfaat!

Ebook Kuartalan Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan Edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Nippon Indosari Corpindo (ROTI)

Penulis pertama kali membahas Nippon Indosari Corpindo (ROTI) pada Agustus 2015 (3 tahun lalu, baca lagi ulasan lengkapnya disini), ketika itu dengan kesimpulan bahwa emitennya masuk kategori wonderful company yang cocok untuk investasi jangka panjang, dan sahamnya pada harga 1,085, yang ketika itu mencerminkan PER 22.3 dan PBV 5.2 kali terbilang murah untuk ukuran saham consumer goods dengan intangiable asset berupa merk ‘Sari Roti’ yang sangat terkenal. Dan memang, ROTI kemudian naik banyak hingga sempat tembus 1,700 pada September 2016, atau mencetak profit 60% dalam waktu setahun lebih sedikit (belum termasuk dividen), dan sahamnya juga rutin menjadi salah satu dari 30 saham pilihan yang dibahas di ebook kuartalan.

However, sebenarnya ketika ROTI sudah berada diatas level 1,500-an, penulis ketika itu menganggap bahwa valuasinya sudah tidak murah lagi, sehingga kita kemudian melepasnya dan tidak lirik-lirik lagi sahamnya (ROTI tidak lagi masuk ebook kuartalan, dia lanjut naik pun kita biarken saja). Sampai tiba-tiba saja, pada Juni 2017, ROTI sudah berada di 1,200-an lagi. Namun karena perusahaan ternyata membukukan penurunan laba pada tahun 2017 tersebut, maka sahamnya tetap absen dari stockpick penulis.
Hingga akhirnya pada Kuartal III 2018 barusan, laba ROTI tercatat Rp103 milyar, naik tipis dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp97 milyar. Sebenarnya, mengingat kenaikan laba tersebut lebih karena pendapatan keuangan (laba usaha ROTI masih turun), maka ini tidak bisa dijadikan sinyal bahwa kinerja ROTI sudah kembali bertumbuh. Namun yang juga penulis perhatikan, setelah kemarin sempat drop lagi sampai 900-an, ROTI kemudian naik lagi hingga sekarang sudah di 1,080 lagi, dan kenaikannya tersebut tampak normal/bukan karena ada bandar yang mainin. Jadi apakah ini karena investor menganggap bahwa sahamnya sudah sangat murah, sehingga mereka tetap masuk meskipun kinerja ROTI masih belum meyakinkan? Atau bagaimana?
Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk melihat lagi contoh-contoh saham consumer goodslain, yang rata-rata memang cocok untuk investasi jangka panjang: Ketika Warren Buffett mulai membeli saham Coca Cola (KO), akhir dekade 1980-an lalu, kemudian di-hold saja sampai sekarang, maka apakah KO selalu membukukan kenaikan laba setiap tahunnya? Ternyata tidak. Malah antara tahun 2000 – 2010, KO membukukan laba yang cenderung stagnan, atau turun. Demikian pula di Indonesia, apakah perusahaan-perusahaan consumer yang populer seperti Unilever Indonesia (UNVR), Kalbe Farma (KLBF), Indofood CBP (ICBP), laba mereka naik terus tiap tahun? Ternyata tidak juga. Malah kalau perusahaan-perusahaan tersebut katakanlah labanya naik terus dalam lima tahun terakhir, maka ada kemungkinan bahwa dalam lima tahun berikutnya, laba mereka akan stagnan atau turun. Intinya, memang idealnya perusahaan membukukan kenaikan ekuitas serta laba setiap tahunnya dalam jangka panjang, tapi pada prakteknya itu nyaris mustahil. Termasuk laba bersihnya Berkshire Hathaway juga sering turun pada tahun-tahun tertentu (dibanding tahun sebelumnya).
Namun demikian, khusus untuk perusahaan consumer goods, ada satu faktor yang menjadi semacam garansi bahwa meskipun kinerja perusahaan tampak kurang bagus pada tahun-tahun tertentu, tapi kedepannya kinerja tersebut tetap berpeluang besar untuk naik lagi. Faktor tersebut adalah power of brand, alias kekuatan merk. Jadi intinya gini: Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dalam jangka pendek, katakanlah 1 – 2 tahun, dimana perolehan laba perusahaan dalam jangka waktu tersebut bisa saja stagnan atau turun, tak peduli meski manajemen perusahaan dll masih baik-baik saja. Tapi selama perusahaan mampu mempertahankan kekuatan merk yang dimiliki, atau dalam kasus ROTI, mempertahankan posisi perusahaan sebagai market leader di industri mass-market bread, maka dalam jangka panjang 5 – 10 tahun, kinerja perusahaan pada akhirnya tetap akan bertumbuh. Contoh riil-nya ya UNVR tadi, atau Mayora Indah (MYOR), dimana meski laba MYOR bahkan pernah turun sampai separohnya, dan sahamnya pun ikut turun, tapi tak lama kemudian laba tersebut naik lagi, dan sahamnya juga naik lagi. Bahasa kerennya, kinerja itu temporary, kadang naik kadang turun. Tapi kekuatan merk, itu abadi.
Jadi kalau ROTI membukukan penurunan laba, dan sahamnya ikut turun hingga valuasinya menjadi murah, maka justru itulah saat terbaik untuk masuk, dan actually di artikel ROTI di tahun 2015, penulis juga sudah sampaikan soal ini (bahwa waktu terbaik untuk invest di ROTI adalah ketika kinerja perusahaan turun). Hipotesa ini baru akan berubah jika katakanlah ada merk roti baru yang sukses menggeser posisi Sari Roti sebagai market leader, atau perusahaan terkena kasus hukum yang serius dll, tapi itu tidak terjadi toh?
Dan setelah penulis cek lagi, ternyata benar bahwa pada harga 900, PBV ROTI adalah persis 2.0 kali, relatif murah dibanding saham consumer goods dengan reputasi baik lainnya, dan juga lebih murah dibanding valuasi ROTI itu sendiri di tahun 2015 lalu. Jadi, yap, tidak mengherankan jika kemudian sahamnya rebound. Untuk pergerakan ROTI kedepannya tentunya masih akan tergantung pada perkembangan kinerja perusahaan, tapi penulis kira kinerja terbarunya di Kuartal III 2018 juga sudah cukup untuk mengkonfirmasi bahwa sahamnya, dengan catatan tidak terjadi force majeure, tidak akan balik lagi ke 900-an.
Jadi pilihan strateginya sekarang ada dua: Jika anda cukup yakin bahwa laba ROTI akan naik signifikan lagi, katakanlah di tahun 2019 nanti, maka boleh mulai nyicil masuk lagi dari sekarang. Tapi jika anda nggak yakin, maka boleh tunggu sampai April 2019 nanti, yakni ketika perusahaan merilis LK Kuartal I 2019, just to make sure. Manapun yang anda pilih, maka seperti saham BTPS yang dibahas kemarin, ingat bahwa ROTI ini juga hanya cocok untuk jangka panjang minimal 1 tahun. Dan sedikit catatan penting: Pada tahun 2017 kemarin ROTI menggelar right issue pada harga Rp1,275 per saham, dimana perusahaan memperoleh modal Rp1.4 trilyun yang seluruhnya digunakan untuk membangun 4 hingga 6 pabrik roti baru di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Jadi jika semuanya lancar, maka dalam 2 – 3 tahun kedepan pendapatan ROTI akan meningkat signifikan, demikian pula dengan laba bersihnya. We’ll see.
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi November 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bank BTPN Syariah (BTPS)

Sejak dulu, kalau kita hendak investasi jangka panjang di Bursa Saham Indonesia untuk simpanan pensiun atau tujuan lainnya, maka pilihan sektornya hanya ada dua: Consumer goods dan perbankan. However, bagi anda pemilik rekening syariah maka anda tentunya gak bisa membeli saham-saham perbankan, sehingga pilihannya terbatas pada saham consumer saja. Pilihan lainnya adalah saham bank syariah, namun seperti yang sudah disampaikan di artikel ini, kinerja fundamental bank syariah umumnya tidak sebagus kinerja bank konvensional. Beruntung, untuk Bank BTPN Syariah (BTPS), kalau berdasarkan kinerjanya di Kuartal III 2018 yang terbilang sangat baik, maka sahamnya mungkin bisa anda pertimbangkan. Okay, kita langsung saja.

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk, atau disingkat BTPN Syariah (BTPS), awalnya merupakan unit usaha syariah dari Bank BTPN (BTPN)yang mulai dirintis pada tahun 2010, sebelum kemudian di­-spin off (dipisahkan dari perusahaan induknya) menjadi sebuah perusahaan tersendiri dengan nama BTPN Syariah pada tahun 2014. BTPS saat ini dipegang dan dikendalikan oleh dua entitas yakni BTPN, dan pengusaha Arif Rachmat (putra dari konglomerat Theodore P. Rachmat), dengan BTPN sebagai pemegang saham mayoritas.
Nah, sejak awal penulis tertarik dengan BTPS ini karena kalau perusahaan menjalankan bisnis yang sama dengan BTPN sebagai induknya, yakni pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah alias UKM (hanya saja bedanya dengan metode syariah), maka perusahaan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi dibanding induknya tersebut. Perhatikan: BTPN mampu bertumbuh dari tadinya bank kecil menjadi bank kelas menengah (nilai aset BTPN saat ini sudah hampir tembus Rp100 trilyun), karena perusahaan sukses menjadi pionir di industri perbankan mikro yang menjangkau pelosok pedesaan di seluruh penjuru tanah air (sekali lagi, baca ulasannya disini), dimana dengan teknologi electronic data capture (EDC), maka alih-alih meminta nasabah dan konsumen untuk ke kantor bank, justru BTPN-lah yang mendatangi mereka. Yup, BTPN adalah seperti bank keliling dengan para klien seperti pemilik toko kelontong, pedagang sayur di pasar, tukang gorengan, hingga pemilik usaha home industry yang kemana-mana cuma pake sendal jepit. Dalam hal ‘menjemput bola’ seperti ini, maka BTPN bahkan lebih unggul dibanding Bank BRI (BBRI) sekalipun. Dan kabar baiknya, bunga kredit mikro umumnya jauh lebih besar dibanding bunga kredit korporasi (20 – 24% berbanding 12 – 16% per tahun), dan itulah yang kemudian menyebabkan BTPN sukses menjadi besar (demikian pula dengan BBRI, yang dulu adalah bank terbesar ketiga setelah Bank Mandiri dan Bank BCA, tapi sekarang sudah menjadi nomer satu).
However, kalau kita menyebut istilah ‘bank keliling’, maka itu identik dengan kegiatan rentenir atau lintah darat, dimana debitur biasanya dibebani bunga pinjaman yang sangat tinggi, dan BTPN tidak terhindar dari citra negatif tersebut. Dan meskipun bunga yang dibebankan oleh BTPN sejatinya jauh lebih kecil dibanding bunga dari bank/koperasi keliling tidak resmi, tapi tetap saja judulnya bunga atau ‘riba’. Sementara belakangan ini semakin banyak warga negara Indonesia yang ‘alergi’ dengan sistem bunga perbankan yang dianggap merugikan.
Jadi solusinya bagaimana? Ya dengan mengganti sistem bunga tersebut dengan sistem syariah, namun dengan tetap menggunakan infrastruktur ‘bank keliling’ tadi, dimana para agen BTPS bisa terus berkeliling ke lingkungan pedesaan (BTPS bahkan bisa mempekerjakan lulusan SMA, yang masuk ke kampung-kampung di tengah sawah menggunakan sepeda onthel), tapi kali ini yang ditawarkan bukan lagi pinjaman, melainkan modal usaha berbasis syariah. Nah! Sekarang bayangkan jika anda adalah seorang petani yang butuh modal Rp2 juta untuk membeli pupuk, tapi rumah anda terlalu jauh dari kantor bank di pusat kota (udah gitu ribet pula prosedurnya), sementara para rentenir yang tiap hari mondar mandir di kampung anda menawarkan pinjaman Rp2 juta tersebut, namun bayarnya harus Rp4 juta setelah 3 bulan. Tapi kemudian datang seorang agen dengan tanda pengenal resmi dari Bank BTPN Syariah, yang menawarkan modal usaha syariah yang tidak lagi menuntut anda untuk membayar bunga, melainkan pakai sistem bagi hasil dimana anda hanya perlu membayar sesuai dengan hasil panen, sudah gitu anda diberikan pelatihan gratis pula. Kira-kira bagaimana reaksi anda?
Karena itulah, penulis kira tidak mengherankan jika kehadiran BTPS diterima dengan sangat baik oleh masyarakat, dan perusahaan kemudian membukukan kinerja yang bahkan lebih bagus dibanding induknya: Pada tahun 2015, BTPS membukukan laba bersih Rp174 milyar, yang naik menjadi Rp422 milyar di tahun 2016, naik lagi menjadi Rp670 milyar di 2017, dan terakhir sudah mencapai Rp698 milyar untuk periode sembilan bulan di tahun 2018. Ekuitas BTPS sendiri tumbuh pesat dari tadinya Rp1.2 trilyun menjadi saat ini Rp3.7 trilyun, hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun, dimana diluar dari dana IPO-nya sebesar Rp751 milyar, seluruh peningkatan ekuitas tersebut berasal dari akumulasi laba bersih perusahaan. Bisa dikatakan bahwa BTPS memiliki dua keunggulan sekaligus, yang tidak dimiliki oleh bank lain: 1. Sistem syariah yang lebih diterima masyarakat, dan tentunya memiliki citra yang jauh lebih baik dibanding bank keliling, 2. Infrastruktur perbankan yang menjangkau pelosok pedesaan yang sudah dirintis sebelumnya oleh BTPN sebagai induk perusahaan. Fakta-fakta menarik lainnya adalah:
  1. 100% debitur BTPS adalah perempuan pra-sejahtera, dimana BTPS tidak hanya memberikan mereka modal usaha, tapi juga melakukan program pendampingan melalui bankir pemberdaya yang melatih nasabah untuk mengelola keuangan, menabung, dan membuka usaha/berdagang. Dalam hal ini BTPS menjadi satu dari sedikit bank yang benar-benar fokus pada ‘meningkatkan kesejahteraan masyarakat’, dimana debitur mereka justru berasal dari kelompok wong cilik semua.
  2. Saat ini diperkirakan terdapat 23 juta perempuan pra-sejahtera di Indonesia, sedangkan BTPS baru memiliki 3.2 juta nasabah aktif, sehingga peluang pertumbuhannya masih terbuka lebar.
  3. Dalam eksistensinya yang belum genap 10 tahun, BTPS sudah menjangkau 23 provinsi dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, dan mempekerjakan 12 ribu bankir pemberdaya. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang.
  4. Selain modal usaha, BTPS juga memberikan pinjaman syariah untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan perbaikan tempat tinggal (jadi inget acara ‘bedah rumah’), dimana sebelumnya kredit jenis ini hanya dijangkau oleh bank keliling rentenir tadi.
  5. Kelemahan kredit mikro adalah besarnya risiko gagal bayar oleh debitur, apalagi jika debitur tersebut termasuk kategori pra-sejahtera. Namun dengan program pemberdayaan yang mengiringi setiap pemberian modal/kredit konsumsi (intinya nasabah tidak hanya dikasih pinjaman modal, tapi juga dilatih/dibimbing secara intens agar bisa mengembalikan pinjaman tersebut), maka NPF gross BTPS per Kuartal III 2018 hanya 1.6%, lebih rendah dibanding rata-rata NPF gross bank syariah di Indonesia yang mencapai 3 – 4%.
Catatan: NPF atau non performing financing, adalah istilah bank syariah untuk NPL atau non performing loan, mengingat kredit yang mereka berikan ke debitur bukanlah pinjaman/loan yang menggunakan sistem bunga, melainkan pembiayaan/financing yang menggunakan sistem bagi hasil.
Selain mempekerjakan ‘bankir pemberdaya’, maka melalui ‘program daya’ dengan konsep sesama nasabah membantu satu sama lain, BTPS juga bekerjasama dengan nasabah pemilik dana yang memiliki keahlian khusus tertentu untuk memberikan pelatihan bagi ibu-ibu pra-sejahtera. This is amazing!
Kesimpulannya, well, sepertinya kita baru saja menemukan wonderful company disini, dimana cara kerja BTPS juga sangat mirip dengan Grameen Bank milik Muhammad Yunus yang terkenal itu. Tapi kemudian bagaimana dengan sahamnya?
Sayangnya pada harga 1,680, BTPS mencatat PBV 3.5 kali, dan PER 13.9 kali, lumayan tinggi terutama dalam kondisi pasar saat ini dimana ada banyak saham dari bank lain yang lebih besar, dan juga lebih terkenal, yang valuasinya lebih rendah. Selain itu, meskipun BTPS punya kinerja yang luar biasa baik dalam 3 tahun terakhir, tapi track record 3 tahun tersebut tentunya masih terlalu pendek untuk dijadikan dasar pernyataan bahwa kinerja BTPS akan tetap bagus untuk seterusnya. Sehingga sekali lagi, PBV diatas 3 kali terbilang sudah tinggi, atau minimal sudah tidak bisa dikatakan murah lagi.
Tapi berhubung di kinerja terbarunya, laba BTPS masih naik signifikan, termasuk ROE-nya juga masih sangat tinggi (disetahunkan 25.1%), maka gak realistis juga kalau mengharapkan sahamnya untuk turun dalam waktu dekat ini. Jadi dalam hal ini anda punya dua opsi: 1. Mulai beli dari sekarang untuk tujuan investasi jangka panjang, tapi nyicil saja dulu alias jangan sekaligus banyak, 2. Tunggu dulu barang 1 – 2 tahun, dimana jika BTPS tetap membukukan kinerja yang bagus, sedangkan harganya tidak berubah, maka valuasinya tetap akan turun (karena ekuitas dan laba bersih BTPS naik), dan ketika itulah anda bisa langsung beli sahamnya dalam jumlah besar. Yang perlu diingat, BTPS ini hanya cocok untuk jangka panjang. Jadi kalau anda beli sahamnya untuk nanti dijual lagi, maka boleh pertimbangkan saham lain saja.
Untuk minggu depan kita akan bahas saham lainnya sesuai laporan keuangan Kuartal III 2018, mudah-mudahan ketemu saham bagus lagi yang masih murah.
PT Bank BTPN Syariah, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2018: AAA
Rating saham pada 1,680: BBB
Ebook Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 akan terbit hari Kamis, 8 Novembermendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning – Kuartal III 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Saat ini ebooknya sudah terbit, dan anda bisa langsung memesannya disini.
Halaman daftar isi ebooknya, salah satu edisi sebelumnya
Pekerjaan rutin investor profesional adalah mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.

Layanan gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 

Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

-Renaldi [...]

Geliat Investor Muda di Pasar Saham Indonesia

Ada yang menarik ketika penulis memenuhi undangan BEI Kantor Perwakilan Kalimantan Selatan untuk mengisi sharing session (talkshow berbagi pengalaman dan tanya jawab seputar investasi saham) di Banjarmasin, Sabtu 13 Oktober kemarin: Dari 150-an peserta yang hadir, hampir semuanya merupakan mahasiswa atau karyawan berusia 20-an atau 30-an, dan hanya sedikit yang berusia diatas 40-an. Dan ini sangat berbeda dibanding ketika penulis terakhir kali mengisi acara seperti ini sebelumnya, dimana pesertanya rata-rata sudah senior secara usia. Tidak hanya para peserta talkshow, tapi para karyawan BEI Kalsel itu sendiri rata-rata masih berusia 20-an, bahkan ada yang masih fresh graduate.

Dan memang, melalui salah satunya kampanye Yuk Nabung Saham! (YNS) sejak tahun 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan juga self regulatory organization lainnya di lingkungan pasar modal seperti OJK, KPEI, dan KSEI, seperti mengubah paradigma sebelumnya bahwa pasar saham hanyalah untuk ‘orang kaya dan mapan dengan modal minimal puluhan atau bahkan ratusan juta Rupiah’, melainkan sekarang mahasiswa atau karyawan dengan modal terbatas pun bisa menjadi pemilik perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI. Jika dulu pada tahun 2002, seseorang harus menyetor minimal Rp25 juta untuk membuka rekening di sekuritas, dan di tahun 2009 turun menjadi Rp5 juta, maka sekarang setoran minimal itu turun lagi menjadi hanya Rp1 juta, relatif terjangkau bagi siapapun, sehingga ‘investasi saham’ kini tidak lagi menjadi privilege bagi kelompok masyarakat menengah keatas, melainkan sekali lagi, semua orang sekarang bisa invest di saham. Bahasa kampanye YNS di medsos juga lebih banyak ditujukan untuk investor generasi muda, dan tidak lagi kaku dan formal seperti sebelumnya.


Penulis bersama Kepala OJK Kalimantan Selatan, Bpk. Ali Ridwan, memberikan penghargaan bagi temen-temen mahasiswa pemenang kompetisi investor D-Vlog yang diselenggarakan BEI Kalsel

Dan alhasil, berdasarkan data single investor identification (SID) dari KSEI (Kustodian Sentra Efek Indonesia), saat ini sudah terdapat 1.3 juta rekening dana investor di Indonesia, meningkat sekitar 3 kali lipat dibanding tahun 2013 dimana hanya terdapat 400 ribu rekening, tapi tidak hanya itu: Saat ini sekitar 35% pemilik rekening sekuritas adalah berusia dibawah 30 tahun, dan 25% lainnya berusia 30 – 40 tahun. Sehingga bisa dikatakan bahwa mayoritas atau 60% investor ritel di pasar saham Indonesia merupakan generasi muda.
Peningkatan signifikan jumlah investor ritel ini di satu sisi menimbulkan dua problem. Pertama, saat ini dua pertiga investor domestik di market adalah investor pemula dengan pengalaman kurang dari 3 tahun, sehingga SRO dan sekuritas harus bekerja keras untuk mengedukasi mereka untuk berinvestasi itu sendiri dengan baik dan benar (ini kalau sekuritasnya bener/gak melulu orientasi ke trading), dan terutama menjaga mereka agar tidak keluar lagi dari pasar/berhenti berinvestasi ketika terjadi market bearish seperti yang memang sedang terjadi di tahun 2018 ini. Kedua, meski jumlah investor meningkat signifikan, namun sebagian besar merupakan investor dengan ‘dana coba-coba’ dimana nilai dana ini bisa jadi lebih kecil lagi dibanding dulu, karena itu tadi: Sekarang investor dengan modal Rp1 juta sekalipun sudah bisa buka rekening. Kondisi ini menyebabkan para equity sales di sekuritas memang menerima banyak nasabah baru, sehingga mereka jadi sangat sibuk dibanding sebelumnya, tapi trading fee yang mereka peroleh tidak benar-benar meningkat signifikan karena para nasabah ini berinvestasi menggunakan dana yang kecil saja.
Namun disisi lain, belakangan saya baru kepikiran bahwa meningkatnya jumlah investor secara signifikan dimana mereka mayoritas berusia muda, maka itu adalah awal yang sangat baik bagi perkembangan pasar saham Indonesia itu sendiri, dalam beberapa dekade ke depan.
Jadi begini. Yup, investor karyawan atau mahasiswa memang rata-rata modalnya kecil, tapi mereka punya aset yang sebenarnya lebih berharga dibanding modal itu sendiri: Waktu yang lebih panjang untuk menggali pengalaman dan untuk mengumpulkan modal investasi itu sendiri, dan terutama antusiasme yang lebih besar untuk belajar. Di masa lalu, tingginya minimum setoran awal untuk membuka rekening menyebabkan pasar saham menjadi eksklusif hanya untuk pengusaha sukses atau karyawan/manajer senior sebuah perusahaan, yang rata-rata sudah mapan secara usia, alias berusia 40 tahun keatas. Termasuk investor ritel paling sukses di Indonesia, Pak Lo Kheng Hong, juga baru mulai investasi saham di usia 30-an.
Tapi masalahnya adalah, kalau anda sudah senior secara usia, maka terus terang saja, anda sedikit banyak akan males kalo disuruh membaca laporan tahunan setebal ratusan halaman bukan? Atau kalau disuruh menghitung formula PER PBV bla bla bla, bahkan meskipun sudah menggunakan alat bantu Excel. Penulis sendiri sering bertemu (calon) investor yang masih bingung cara menghitung kalau saham A hari ini harganya 955, lalu besoknya naik jadi 975, maka itu naiknya berapa persen? (padahal itu cuma matematika sederhana). Kurangnya semangat dan antusiasme untuk belajar menganalisa, atau untuk melakukan pekerjaan analisa itu sendiri, menyebabkan banyak investor tidak benar-benar berinvestasi di saham, melainkan hanya gambling saja. Sudah tentu, investor pemula manapun kalau baru pertama kali buka rekening maka pasti mereka belum ngerti apa-apa/belum punya cukup pengetahuan. Tapi maksud penulis disini adalah, ketika seorang calon investor yang masih kuliah, atau baru berusia 20-an membuka rekening, maka biasanya ia akan semangat dan antusias untuk belajar, untuk menggali pengalaman, dan untuk melakukan eksperimen yang berisiko (karena nothing to lose juga toh? Kan modalnya masih kecil). Sehingga setelah 5 – 10 tahun, ia akan menjadi investor handal sarat pengalaman, plus bekal mental yang jauh lebih kuat, dan tentunya dengan modal yang lebih besar dibanding ketika ia dulu pertama kali membuka rekening.
Dan karena mayoritas investor di bursa adalah generasi muda yang sedang semangat-semangatnya untuk belajar, maka bisakah anda bayangkan bagaimana dampaknya terhadap pasar saham Indonesia itu sendiri dalam beberapa dekade kedepan? Just remember, ketika Warren Buffett mulai serius berinvestasi di saham pada tahun 1950-an, maka tidak hanya Buffett ketika itu masih berusia 20-an dengan modal yang juga kecil, tapi Bursa Wall Street juga sama sekali belum sebesar hari ini. Jadi jika anda termasuk investor generasi muda ini, maka perkenankan penulis untuk mengucapkan, congratulations! Karena anda saat ini adalah seperti Warren Buffett di tahun 1950-an, dimana yang perlu anda lakukan selanjutnya adalah keep moving forward, dan mari kita lihat lagi bagaimana hasilnya, beberapa tahun dari sekarang.
Problemnya bukan di Usia, Tapi Semangat untuk Belajar
Tapi Pak Teguh, apa itu artinya kalau saya sudah berusia 40-an atau lebih senior lagi, berarti saya sudah terlambat untuk invest di saham? Kabar baiknya, tidak juga. Sebab kata kuncinya disini bukanlah di usia kita berapa, melainkan seberapa besar semangat yang kita miliki untuk menggali pengetahuan serta pengalaman yang memang mutlak diperlukan dalam berinvestasi itu sendiri. Jadi bahkan kalaupun anda adalah seorang pensiunan berusia 60 tahun, tapi jika anda mampu dan memang seneng mengutak atik angka-angka yang ada di laporan keuangan emiten, maka anda tetap lebih baik dibanding investor usia 20-an yang kerjaannya cuma ngeliatin naik turun sahamnya setiap hari. Selain itu kalau anda bukan lagi seorang karyawan fresh graduate, maka harusnya modalnya juga lebih gede dong (sehingga hasil profitnya juga lebih gede). Kalau kita pake contoh W. Buffett sendiri, ketika ia mencapai US$ 1 billion pertamanya pada usia 55, tapi bahkan setelah itu ia tetap semangat berinvestasi dan melakukan pekerjaan analisa hingga hari ini, pada usia 88 tahun, ia menjadi jauh lebih kaya lagi. Nah, jadi dalam hal ini penulis juga perlu ingatkan kepada anda yang merasa ‘menang’ hanya karena anda masih berusia 30-an, 20-an, atau lebih muda lagi: Usia muda bukan jaminan bahwa anda pasti akan sukses sebagai investor, karena itu akan sepenuhnya bergantung pada seberapa baik anda dalam memanfaatkan waktu yang anda miliki.
Hanya memang, seperti yang sudah disebut diatas, investor yang baru mulai invest ketika ia sudah berusia mapan biasanya kurang semangat belajarnya, dibanding mereka yang sudah mulai lebih awal. Dalam hal ini pun anda tetap tidak perlu berkecil hati, karena kalaupun anda termasuk yang ‘capek’ untuk belajar ini, maka kata capek itu tidak berlaku bagi putra putri anda, dimana yang mereka butuhkan selanjutnya hanyalah mentor yang bisa diandalkan, yakni anda sendiri sebagai orang tuanya. Thus, jika anda baru pertama kali baca blog ini, maka ajaklah putra putri anda untuk ikut membacanya. Dan jika mereka tertarik, maka tinggal sisihkan saja barang beberapa juta Rupiah untuk membuka rekening di sekuritas untuk mereka (anak anda) kelola sendiri (kalau dia belum punya KTP, maka bisa rekeningnya pake nama anda sendiri dulu), lalu lihat hasilnya beberapa waktu kemudian ????
Dan mudah-mudahan dengan cara inilah, pasar saham Indonesia benar-benar akan menjadi besar suatu hari nanti, lebih besar dari pasar saham China dan Jepang sekalipun. Amin!

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Pension Class: Surabaya, Sabtu 27 Oktober

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension’. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividend serta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investor yang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.


Pembicara: Teguh Hidayat

Materi Utama:
  1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
  2. Cara memaksimalkan profit dengan cara meminimalisir risiko-risiko kerugian, sehingga investasi kita di saham menjadi sama aman-nya dengan katakanlah punya rumah kontrakan (atau bahkan lebih aman), dan pertumbuhan nilainya menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang.
  3. Cara menyusun portofolio untuk investasi jangka panjang berdasarkan dua kategori saham: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, dengan tujuan memperoleh dividend, 2. Saham-saham berfundamental amat sangat bagus yang analisanya sebatas ‘Belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dengan tujuan memperoleh capital gain, berdasarkan kaidah value investing.
  4. Ciri-ciri ‘wonderful company’, serta apa bedanya dengan saham cyclical, yakni saham yang akan di-hold paling lama 1 – 2 tahun saja (tapi jika timing-nya tepat, maka capital gain-nya justru lebih besar/bisa lebih dari 100%).
  5. Cara memanfaatkan fluktuasi pasar untuk membeli saham-saham terbaik pada harga terbaik.
  6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
  7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskan mengelola portofolio kita di saham.
Perkembangan nilai aset Warren Buffett ketika ia berusia 14 hingga 83 tahun, tapi hey, kita gak usah punya aset US$ 50 billion untuk bisa pensiun bukan?
Bonus Materi:
  1. Ciri-ciri investor berpengalaman/profesional, yang sudah siap untuk investasi jangka panjang dengan target pensiun: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
  2. Sharing pengalaman penulis ketika menemukan saham-saham untuk jangka panjang, 5 – 7 tahun lalu (dan bagaimana perkembangan perusahaannya sekarang), dan apa bedanya dengan saham-saham yang sempat populer pada masanya, namun bukan untuk jangka panjang. 
  3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, dan sudah bisa diakumulasi sejak sekarang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
Surabaya
  • Tempat: Amaris Hotel Embong Malang, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 Oktober 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mauro Icardi, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif, maka jumlah kursi dibatasi hanya untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat Kamis, 25 Oktober, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi no telp/SMS/Whatsapp 0811-1168-885 (Mira) atau 0812-2044-5202 (Nury). Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut (jika salah satu nomor slow respon, maka hubungi nomer satunya).
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama temen-temen peserta ‘Value Investing Advanced Class’, Jakarta 7 Oktober 2018
    Untuk rekaman ‘Value Investing Pension Class’, untuk saat ini belum ada, tapi nanti akan dibuatkan dan dijual, tentunya dengan harga lebih murah dibanding ikut kelasnya itu [...]

    Prospek IPO Duck King

    Kalau penulis menyebut nama PT Jaya Bersama Indo, mungkin anda tidak tahu itu perusahaan apa. Tapi kalau kita sebut Restoran Duck King, maka kemungkinan anda ‘ngeh nama tersebut, apalagi jika anda adalah pecinta kuliner seperti penulis. Yup, Restoran Duck King adalah jaringan rumah makan spesialis menu oriental yang cukup populer di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya, karena mereka memiliki gerai di banyak mall-mall besar di kota-kota tersebut. Dan kenapa mereka bisa punya banyak gerai sekaligus? Ya karena memang makanan disitu enak, sehingga pelanggan setianya ada banyak. Penulis sendiri bisa katakan bahwa, sebagai penyuka dimsum dan nasi hainan, saya sudah mencoba hampir semua restoran chinese di mall-mall di Jakarta, tapi hanya di Duck King yang saya kemudian jadi langganan.

    Dan karena perusahaan pemilik jaringan restoran Duck King ini kemudian melantai di bursa, maka jadilah sahamnya menarik untuk dianalisa. Okay, kita coba pelajari lagi perusahaannya dari awal.
    PT Jaya Bersama Indo (DUCK) baru didirikan pada tahun 2013 sebagai perusahaan holding dari beberapa anak usaha di bidang usaha pengelolaan restoran Duck King, namun restoran Duck King itu sendiri pertama kali dibuka di Senayan Trade Center, Jakarta, pada tahun 2003. Restoran pertama itu sukses besar hingga pemiliknya, masih di tahun yang sama, segera membuka restoran kedua, ketiga, dan seterusnya di wilayah Jabodetabek, termasuk membuka satu gerai restoran di Surabaya pada tahun 2004. Di tahun-tahun selanjutnya Grup Duck King terus membuka gerai baru di banyak lokasi berbeda, hingga akhirnya perusahaan memiliki lima nama/merk gerai berdasarkan jenis menu dan tingkat kemewahan restorannya, yakni 1. The Duck King, 2. The Grand Duck King, 3. The Grand Duck King Signatures, 4. Imperial Chef, dan 5. The Duck King Noodle. Terakhir pada tahun 2017, DUCK mengakuisisi 4 gerai restoran Fook Yew di Jakarta. Saat ini DUCK totalnya memiliki dan mengoperasikan 31 gerai restoran di 9 kota di Indonesia, belum termasuk jaringan restoran Fook Yew diatas, dimana itu mengukuhkan perusahaan sebagai grup restoran chinese food untuk konsumen menengah keatas terbesar di Indonesia. Dan dari dana hasil IPO-nya, perusahaan berencana untuk menambah beberapa gerai baru termasuk membuka restoran di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Dengan asumsi selera orang disana terhadap masakan chinese kurang lebih sama seperti disini, maka seharusnya DUCK juga bakal sukses besar dengan gerai-gerai barunya tersebut.
    Salah satu kunci kesuksesan DUCK dalam mengembangkan jaringan restorannya adalah kemampuan perusahaan dalam menyajikan masakan chinese tanpa menyertakan menu non-halal/babi (untuk The Duck King dan The Grand Duck King) namun dengan citarasa yang tetap otentik. Hal ini berbeda dengan restoran chinese food lainnya yang rata-rata masih menyediakan menu non-halal, sedangkan kita tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah mayoritas muslim, sehingga isu halal ini menjadi penting. Meski demikian DUCK tetap melakukan diversifikasi: Untuk restoran Imperial Chef juga menyediakan menu non-halal, dan gerainya berlokasi di daerah yang terdapat banyak warga nonmuslim.
    Nah, setelah membaca prospektusnya, berikut adalah beberapa keunggulan DUCK yang membuat sahamnya bisa dipertimbangkan.
    1.     Sejak dulu, bisnis kuliner adalah salah satu bisnis yang paling menguntungkan terutama untuk negara dengan penduduk besar seperti Indonesia, dimana syarat sukses sebuah restoran hanya satu: Citarasa menu yang enak dan disukai masyarakat. Dan DUCK memiliki syarat tersebut.
    2.     Posisi DUCK saat ini sudah merupakan market leader di Indonesia di bidang restoran chinese food, dimana jumlah gerai yang dimiliki perusahaan juga meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
    3.     Merk ‘Duck King’ sudah sangat dikenal di masyarakat perkotaan sebagai jaringan restoran chinese, lebih terkenal dibanding katakanlah Ta Wan, Din Tai Fung, Crystal Jade, Paradise Dynasty, dst.
    4.     Berbeda dengan jaringan restoran chinese food lainnya, DUCK dengan slogannya ‘no pork, no lard’ (tidak menggunakan daging dan lemak babi, kecuali untuk Imperial Chef) sukses membuat restorannya selalu dipenuhi pengunjung, yang 70% merupakan muslim.
    5.     Dengan 5 merk restorannya, plus Fook Yew yang baru diakuisisi, kini DUCK menjangkau semua lapisan konsumen mulai dari menengah kebawah, menengah keatas, hingga VVIP. Ini berbeda dengan jaringan restoran lainnya yang kalau nggak menyasar segmen menengah kebawah, ya menengah keatas.
    6.     Perkembangan teknologi termasuk munculnya aplikasi pengiriman makanan seperti Go-Food, Grab-Food dst semakin memperluas pangsa pasar perusahaan, dimana kini konsumen yang hendak makan bebek peking panggang namun males datang ke restoran (misalnya karena macet), tetap bisa memesan menu bebek tersebut dari rumah atau kantor.
    7.     DUCK benar-benar menggunakan dana hasil IPO-nya untuk ekspansi hingga keluar negeri. Dan karena saat ini DUCK baru memiliki restoran di 9 kota besar di Indonesia, maka perusahaan masih memiliki ruang yang lebar untuk membuka gerai-gerai baru, entah itu stand-alone atau di mall.
    Namun diluar ketujuh point diatas, berikut adalah beberapa poin yang juga harus anda pertimbangkan. Pertama, meski jaringan restoran Duck King sudah ada sejak tahun 2003, namun karena PT Jaya Bersama Indo itu sendiri baru berdiri tahun 2013, maka perusahaan belum memiliki track record kinerja yang cukup panjang (di prospektusnya hanya ada catatan kinerja tahun 2015 – 2017, dan bahkan belum ada laporan keuangan untuk Kuartal II 2018), dan itupun kinerjanya kurang bagus: Laba DUCK di tahun 2017 tercatat Rp72 milyar, turun dari tahun 2016 sebesar Rp89 milyar.
    Kemudian kedua, meski memiliki citarasa menu yang enak sehingga perusahaan memiliki banyak pelanggan setia, namun sebagian besar konsumen DUCK adalah dari segmen menengah keatas, karena memang harga makanan disitu nggak murah, minimal Rp100 – 150,000 per orang sekali makan. Hal ini menyebabkan DUCK tidak akan bisa se-ekspansif katakanlah Solaria, KFC, Pizza Hut, atau jaringan restoran lainnya yang harga menunya lebih terjangkau, melainkan hanya bisa buka cabang di mall besar di kota besar. Kinerja keuangan DUCK juga praktis lebih rentan terhadap risiko penurunan daya beli masyarakat, dimana kalau ekonomi melambat maka orang tentunya bakal tetep makan di warteg, tapi mungkin bakal mikir-mikir kalau mau makan disana. Terkait hal ini DUCK memang sudah mengakuisisi restoran Fook Yew untuk menjangkau konsumen menengah kebawah, tapi so far kontribusinya baru 6% dari total pendapatan perusahaan.
    Nevertheless, dengan kembali mempertimbangkan poin-poin analisa diatas yang menyebabkan DUCK ini prospektif, maka sahamnya secara umum tetap menarik, terutama karena penulis tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan seperti IPO Garudafood yang sudah kita bahas sebelumnya (baca lagi ulasannya disini), dan terutama karena penulis beranggapan bahwa, asalkan perusahaan bisa konsisten menjaga citarasa menu restorannya selama ini (karena kadang ada juga restoran yang dulunya enak, eh kesininya jadi gak enak lagi), dan Indonesia tidak mengalami konstraksi ekonomi yang serius, maka gerai-gerai baru yang akan dibangun nanti juga bakal ramai dipenuhi pengunjung, sehingga DUCK memiliki prospek jangka panjang yang cerah.
    Lalu bagaimana dengan valuasi sahamnya?
    Di IPO-nya, DUCK melepas 403 juta lembar saham baru untuk publik, yang mencerminkan 34.4% modal ditempatkan dan disetor perusahaan, pada harga Rp505 per saham, sehingga perusahaan akan memperoleh tambahan ekuitas Rp259 milyar. Karena ekuitas DUCK sebelum IPO (per akhir 2017) adalah Rp318 milyar, maka setelah IPO angkanya naik menjadi Rp577 milyar. Karena jumlah saham DUCK setelah IPO (termasuk menghitung saham employee stock allocation) adalah 1,173.8 juta lembar, maka book value-nya adalah Rp577 milyar / 1.2 milyar lembar saham, sama dengan Rp491 per saham. Maka PBV-nya 505 / 491 = 1.02 kali. Well, surprise sodara-sodara, ternyata harga IPO-nya terbilang murah, malah murah banget kalau mempertimbangkan power of brand ‘Duck King’ yang dimiliki perusahaan. Dan dalam hal ini juga penulis agak bingung: Bukannya sebelumnya dikatakan bahwa DUCK menetapkan harga IPO-nya di rentang 1,550 – 1,950 per saham? Kenapa sekarang malah turun drastis jadi cuma 505 per saham? Ini penjamin emisinya kagak pinter jualan apa gimana?
    Tapi apapun itu, sayangnya DUCK sudah akan melantai di bursa pada tanggal 10 Oktober ini, jadi sudah telat kalau anda mau ikut book building-nya sekarang. Dan dengan jumlah saham untuk publik hanya 403 juta lembar, maka penulis juga ragu kalau ada banyak investor publik yang kebagian jatah; kemungkinan yang makan masih owner-nya juga. Thus, ada kemungkinan sahamnya bakal digoreng seperti saham-saham IPO sebelumnya. Tapi kalau anda, entah gimana caranya, bisa beli DUCK ini pada harga yang tidak terlalu berbeda dengan harga perdananya yakni 505, maka anda berpeluang untuk cuan lumayan. Satu hal lagi: Selain menerbitkan saham baru untuk publik melalui IPO, DUCK juga akan menerbitkan saham baru untuk management-nya sendiri (EMSOP) secara bertahap hingga dua tahun kedepan setelah tanggal IPO-nya, dalam jumlah yang cukup besar yakni 117 juta lembar. Yang itu artinya, saham DUCK di pasar normalnya akan naik lumayan dalam dua tahun tersebut, sehingga saham baru yang diterbitkan nanti untuk diambil para direksinya bakal langsung membuat si direktur cuan, minimal diatas kertas.
    Anyway, seperti yang disebut diatas, penetapan harga IPO yang kelewat murah ini justru bikin penulis jadi bingung; Apa ada sesuatu yang kelewat dalam hitung-hitungan diatas? Dan apakah ini karena saham Sarimelati Kencana (PZZA), yang juga perusahaan restoran dalam hal ini restoran Pizza Hut, belakangan cenderung turun lagi? Ataukah harga murah itu karena pasarnya memang lagi bearish? Well, apapun itu, mari kita lihat saja bagaimana perkembangan harga sahamnya mulai hari Rabu ini, tanggal 10 Oktober.
    PT Jaya Bersama Indo, Tbk (DUCK)
    Rating Kinerja pada 2017: A
    Rating saham pada 505: AA
    Buletin Analisis Pasar/IHSG dan stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

    Jadwal Kelas Investasi SahamValue Investing Pension Class, Cara Investasi Saham Berdasarkan Metode Value Investing u/ Persiapan Dana Pensiun. Surabaya, Sabtu 27 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Surya Toto Indonesia (TOTO)

    Saham PT Surya Toto Indonesia, Tbk (TOTO) mungkin tidak termasuk saham yang diminati oleh para pelaku pasar karena likuiditasnya yang seret, namun nama perusahaan terbilang populer sebagai produsen barang-barang sanitary seperti toilet, bak kamar mandi, wastafel, dan semacamnya, sementara merk ‘Toto’ sendiri sudah seperti jaminan mutu untuk produk-produk yang berhubungan dengan kamar kecil. Perusahaan dengan intangiable asset berupa strong power of brand seperti TOTO ini biasanya cocok untuk investasi jangka panjang. Jadi ketika dalam tiga tahun terakhir sahamnya malah terus saja turun dari 700-an hingga Agustus 2018 kemarin mentok di 264, maka penulis jadi penasaran: Apa yang salah?

    Sejarah TOTO dimulai pada pada tahun 1968 ketika perusahaan, yang ketika itu masih bernama CV Surya, menjadi agen penjualan resmi untuk produk-produk sanitasi milik Toto Limited Japan (TLJ), yang merupakan produsen sanitary wares kelas dunia asal Jepang, di Indonesia. Pada tahun 1977, TOTO memperoleh lisensi dari TLJ untuk membuat produk sanitasi-nya sendiri dengan tetap menggunakan merk ‘Toto’, dan nama perusahaan berubah menjadi PT Surya Toto Indonesia. Pabrik pertama perusahaan, yang merupakan hasil joint venture antara TOTO dan TLJ, berdiri pada tahun 1978 dengan 65 orang karyawan. Hanya dua tahun kemudian yakni di tahun 1980, TOTO sudah mampu mengekspor produknya ke mancanegara. Tahun 1985, TOTO membangun satu lagi pabrik yang khusus memproduksi barang-barang fitting seperti keran air dan shower. Dan pada tahun 2006, TOTO membangun pabrik ketiganya yang memproduksi perlengkapan dapur dan produk kebutuhan rumah tangga, sekaligus merupakan upaya perusahaan untuk melakukan diversifikasi usaha. Ketiga pabrik milik TOTO kesemuanya berlokasi di Tangerang, Banten.


    Nah, entah karena pengaruh dari TLJ sebagai salah satu pemegang saham perusahaan (saat ini TLJ masih memegang 37.9% saham TOTO), atau karena faktor lainnya, namun manajemen TOTO ini type tradisional: Bikin produk lalu jual, gak mengambil utang yang berlebihan, dan selama ini perusahaan hampir gak melakukan ekspansi apapun kecuali terus mengembangkan jenis produk-produknya. Termasuk untuk pabrik yang memproduksi perlengkapan dapur, hingga Kuartal II 2018 kemarin kontribusinya masih kecil, yakni kurang dari 5% dari total pendapatan perusahaan. Sebenarnya di tahun 2018 ini TOTO sudah selesai membangun pabrik keempatnya yang berlokasi di Surabaya, yang juga memproduksi barang-barang sanitasi, tapi kita belum tahu seberapa besar nanti kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan.
    Kemudian terkait kinerja perusahaan, lesunya industri properti sejak tahun 2013 menyebabkan pendapatan TOTO menjadi stagnan, dan laba perusahaan sempat turun signifkan pada tahun 2016 (meski di tahun 2017-nya naik lagi, tapi angkanya masih lebih rendah dibanding laba tahun 2014 dan 2015). Namun sejak tahun 2017 lalu manajemen TOTO sudah memprediksi bahwa, dengan mempertimbangkan penjualan apartemen serta rumah untuk kelas menengah yang ketika itu sudah mulai naik lagi, maka pendapatan dan laba perusahaan di tahun 2018 ini berpeluang untuk meningkat. Dan memang, hingga Kuartal II 2018, TOTO membukukan laba bersih Rp145 milyar, naik 32.1% dibanding periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp109 milyar, dan terdapat peluang bahwa laba TOTO di tahun 2018 ini akan tumbuh signifikan untuk pertama kalinya sejak tahun 2013 lalu (antara tahun 2013 – 2017, laba tertinggi TOTO adalah Rp295 milyar di tahun 2014, sedangkan untuk tahun ini perusahaan berpeluang membukukan laba diatas Rp300 milyar). Jika proyeksi ini benar adanya, maka TOTO menawarkan handsome profit jika kita bisa hold sahamnya katakanlah selama 2 – 3 tahun kedepan.
    Lalu bagaimana sahamnya? Jika benar bahwa TOTO ini bagus, maka kenapa sejak November 2015 lalu sahamnya turun terus?
    Untuk menjawab pertanyaan diatas maka pertama-tama kita lihat valuasi sahamnya dulu: Lima tahun yang lalu, yakni pada Oktober 2013, saham TOTO berada pada level 380, dimana berdasarkan jumlah sahamnya ketika itu (9.9 juta lembar, sudah disesuaikan dengan stocksplit) dan juga nilai ekuitas perusahaan (Rp1,036 milyar), maka PBV-nya adalah 3.6 kali. Dengan mempertimbangkan ROE-nya ketika itu yang sangat bagus yakni 22%, sedangkan merk TOTO juga sangat populer sebagai merk toilet dll, tapi disisi lain sahamnya gak likuid (hanya 7% saham TOTO yang dimiliki investor publik), maka PBV segitu terbilang wajar: Nggak murah, tapi juga gak bisa disebut mahal. Tapi yang jelas karena TOTO sebelumnya sudah naik cukup banyak dimana pada tahun 2010, atau 3 tahun sebelumnya, saham TOTO masih berada di level 100-an, maka normalnya dia gak akan naik lebih lanjut alias ‘istirahat’ dulu, setidaknya sampai beberapa tahun berikutnya.
    Namun setelah perusahaan secara mengejutkan membukukan laba Rp296 milyar di tahun 2014, atau naik signifikan dibanding Rp236 milyar di tahun 2013 (mengejutkan, karena di tahun 2014 itu sebenernya sektor properti mulai lesu), dan ROE TOTO juga melonjak ke level 26%, maka jadilah investor berebut sahamnya, dan alhasil TOTO lanjut naik hingga sempat menyentuh 715 di bulan November 2015. Pada titik ini valuasi sahamnya sudah overvalue (PBV 5 – 6 kali), sehingga selanjutnya bisa ditebak: Jika kemudian laba TOTO turun sedikit saja, maka sahamnya bakal gampang banget turunnya. And indeed, di tahun 2015 tersebut laba perusahaan turun menjadi Rp285 milyar, dan berlanjut menjadi hanya Rp169 milyar di tahun 2016. Alhasil sahamnya terus saja turun hingga akhirnya mentok di 264, Agustus 2018 lalu.
    Tapi menariknya, setelah mentok di 264 di bulan Agustus tersebut, TOTO kemudian dengan cepat naik lagi, dan sekarang sudah di level 328. Apa penyebabnya? Well, pertama-tama itu mungkin karena investor menyadari bahwa di tahun 2018 ini, kinerja perusahaan mulai naik signifikan lagi, dan yang terpenting valuasi TOTO juga sudah mulai wajar lagi, atau bahkan undervalue. Yup, pada harga terendahnya kemarin yakni 264, maka PBV dan PER TOTO tercatat hanya 1.5 dan 9.4 kali, relatif murah jika mempertimbangkan kekuatan merk ‘Toto’ yang dimiliki perusahaan, sementara kinerja perusahaan sendiri memang mulai tumbuh lagi. Posisi saham TOTO pada hari ini juga tidak jauh berbeda dengan lima tahun lalu, yang artinya ketika diatas penulis mengatakan bahwa ‘TOTO ini normalnya bakal istirahat dulu sampai beberapa tahun kedepan’, maka statement itu benar adanya. Tapi karena dalam 5 tahun terakhir ini TOTO sudah melewati masa-masa ‘istirahat’-nya, maka artinya dalam 5 tahun berikutnya sahamnya berpeluang untuk melaju lagi, tentunya dengan asumsi bahwa kinerja bagusnya di tahun 2018 ini akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
    Kesimpulannya, jika anda sedang mencari saham untuk investasi jangka panjang yang aman/tidak terlalu dipengaruhi oleh naik turunnya IHSG, termasuk menginginkan ‘bonus’ dividen yang lumayan, maka TOTO ini bisa dipertimbangkan (TOTO membagikan sekitar 40 – 50% laba bersih tahunannya sebagai dividen), terutama karena kenaikannya dalam dua bulan terakhir adalah juga mengkonfirmasi bahwa long term downtrend-nya sudah berakhir, dimana dengan asumsi bahwa perusahaan mampu mempertahankan kenaikan labanya, maka no way sahamnya bakal mencetak new low lagi. Disisi lain, PBV TOTO pada harga 328 sudah 1.9 kali, alias gak semurah kemarin ketika dia masih di 264, dan kalau ada saham sudah naik lebih dari 30% dalam waktu kurang dari 3 bulan, maka biasanya akan ada cooling down-nya. Jadi untuk mengurangi risiko maka anda bisa membeli sahamnya secara menyicil dengan membagi dana anda menjadi tiga bagian, dimana bagian pertama bisa langsung dipake untuk beli TOTO di harga sekarang, sedangkan bagian kedua adalah untuk average down jika nanti sahamnya melandai ke kisaran 290 – 300.
    Dan bagian ketiga adalah untuk nanti beli lagi pada sekitar awal tahun 2019, yakni jika perusahaan confirm tetap membukukan kenaikan laba yang signifikan, dan selanjutnya ya sudah hold saja terus. Semoga beruntung!
    Untuk minggu depan kita akan bahas prospek IPO Duck King.
    Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Breaking News: Jumlah Emiten di BEI Tembus 600!

    Pada 28 September kemarin, Saham PT Natura City Developments Tbk (CITY), yang merupakan anak usaha dari Sentul City (BKSL), resmi melantai di bursa pada harga perdana 120. Nah, yang menarik disini bukanlah fakta bahwa harga sahamnya langsung melesat 70.0% ke posisi 204, melainkan dengan listing-nya CITY, maka di Bursa Efek Indonesia (BEI) genap sudah terdaftar 600perusahaan Tbk. Suatu prestasi membanggakan bagi BEI itu sendiri? Well, maybe not.

    Ketika penulis mulai belajar saham pada tahun 2009 lalu, saya masih ingat, di BEI hanya ada sekitar 350-an emiten. Dan sampai tahun 2015, jumlahnya hanya meningkat sedikit menjadi 400-an emiten. Lonjakan jumlah emiten di BEI memang baru terjadi dalam 2 – 3 tahun terakhir seiring dengan gencarnya sosialisasi dan ‘ajakan’ dari BEI itu sendiri kepada perusahaan-perusahaan untuk menggelar IPO. Sekilas, ini kabar bagus, karena dengan begitu maka investor menjadi punya lebih banyak pilihan saham untuk investasi, ditambah lagi ada banyak perusahaan-perusahaan populer yang akhirnya ikut go public. Namun benarkah demikian?
    Sayangnya dalam 2 – 3 tahun terakhir ini pula, anda sendiri mungkin bisa memperhatikan: Jumlah IPO memang melonjak signifikan, tapi kualitas dari penyelenggaraan IPO itu sendiri turun drastis. Kualitas yang dimaksud disini mulai dari perusahaannya (ada banyak perusahaan kecil gak jelas, yang baru berdiri tiga empat tahun lalu, tapi sudah bisa ikut IPO), nilai IPO-nya (dulu, nilai IPO itu trilyunan atau minimal ratusan milyar Rupiah, tapi kemarin sempat ada IPO senilai Rp30 milyar saja, dan jumlah saham yang ditawarkan ke publik sangat sedikit), hingga valuasi dari saham-saham yang di-IPO-kan (rata-rata muahal semua). Tapi yang paling bikin jengkel dari semuanya adalah, meski sekarang ini banyak diselenggarakan IPO, tapi sangat sulit bagi investor publik manapun untuk bisa memperoleh jatah saham IPO-nya, biasanya karena itu tadi: Jumlah saham yang ditawarkan ke publik sangat sedikit, dan bahkan saham yang sedikit ini sejak awal sudah diborong oleh entah siapa. Sehingga di beberapa emiten, investor publik sama sekali tidak memperoleh jatah saham IPO-nya.
    Dan anehnya, hampir semua saham IPO yang kecil-kecil ini langsung terbang gila-gilaan di hari-hari perdana perdagangan, bahkan ada saham yang terbang sampai 30 kali lipat hanya dalam sebulan! Tapi anehnya lagi, saham-saham tersebut langsung melesat hampir tanpa volume transaksi sama sekali. Contohnya saham CITY tadi: Begitu perdagangannya dibuka, sahamnya langsung melesat ke batas auto reject atas-nya, yakni 204. Dan berapa volume saham yang diperdagangkan hari itu? Cuma 47,500 saham alias 475 lot, semuanya pada harga 204. Atau dengan kata lain, nilai transaksinya bahkan gak nyampe 10 juta Rupiah! Sekarang pake logika saja: Jika benar bahwa dari 2.6 milyar lembar saham yang dilepas CITY itu dibeli/dimiliki oleh investor publik, maka masa iya sih gak ada sekian juta lembar saham yang langsung dilepas oleh para investor publik tadi pada harga 204? Itu profit 70% loh!
    Tapi CITY tidak sendirian. Silahkan anda cek lagi saham-saham IPO sebelum CITY ini, rata-rata ceritanya sama saja: Investor publik sulit memperoleh jatah IPO-nya, kemudian begitu listing sahamnya langsung terbang tapi nyaris tanpa volume transaksi, dan barulah setelah harganya diatas maka volumenya mulai ramai. Makanya wajar jika kemudian muncul tuduhan bahwa ketika sebuah perusahaan go public, sebenarnya yang membeli saham anyar yang diterbitkan adalah pihak owner perusahaan itu sendiri. Kemudian mereka akan melakukan transaksi kecil-kecil agar harganya dipasar naik terus (yang beli dan yang jual adalah orang yang sama, meski tentunya pake beberapa rekening berbeda), dan setelah harganya diatas maka barulah Mr. Bandar ini mulai jualan ke investor publik, sehingga mereka memperoleh keuntungan substansial yang, ironisnya, berasal dari kerugian investor. Salah satu contohnya adalah saham Campina Ice Cream Industry (CAMP), yang begitu listing pada Desember 2017 lalu langsung dikerek gila-gilaan dari harga perdana 330 hingga ke level 1,833 (sekali lagi, nyaris tanpa volume transaksi sama sekali), dan barulah setelah itu sahamnya mulai cukup ramai diperdagangkan/besar kemungkinan investor publik mulai masuk, tapi CAMP ini pelan-pelan turun hingga sekarang sudah di level 300-an lagi.
    Terus bagaimana nasib investor yang udah kadung beli CAMP ini di harga 900, 1,200, atau 1,500?? Unfortunately, CAMP bukanlah satu-satunya saham IPO yang sudah makan korban, padahal secara fundamental perusahaan terbilang bagus, dengan kinerja yang profitable serta punya merk produk yang populer (siapa yang gak tau merk es krim Campina?)
    Dilema Ketika Mengajak Perusahaan Untuk IPO
    Ketika BEI meluncurkan kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’, tahun 2015 lalu, maka yang didorong untuk ikut meramaikan pasar saham tidak hanya para investor publik pemilik dana, melainkan para perusahaan juga diajak untuk go public. Nah, untuk mengajak investor publik membuka rekening di sekuritas, maka itu relatif mudah, misalnya dengan menurunkan batas minimum setoran di sekuritas. Jaman penulis nubie tahun 2009 – 2010 dulu, kalau kita buka rekening maka harus setor minimal Rp5 juta. Tapi sekarang beberapa sekuritas mensyaratkan setoran minimal Rp1 juta saja, bahkan ada yang cuma Rp100,000. Harapannya adalah, kalaupun para investor baru ini kemudian dikepret rugi bolak balik karena belum ngerti apa-apa, maka ruginya gak akan besar karena sejak awal setorannya juga kecil, dan secara psikologis gak akan sampe bikin si investor kapok. In the end, hari gini duit seratus ribu cuma cukup buat sekali makan di Solaria buat dua orang.
    Tapi bagaimana ketika BEI mengajak perusahaan untuk IPO? Nah, seperti halnya investor publik, pemilik perusahaan juga akan mengajukan pertanyaan yang sama: Apa untungnya kalau perusahaan saya menggelar IPO? Pihak BEI normalnya akan menyebut beberapa benefit seperti, 1. Perusahaan memperoleh sumber pendanaan baru, 2. Membuat perusahaan lebih dikenal publik, 3. Meningkatkan citra serta nilai perusahan. Tapi tetap saja si pemilik perusahaan akan bertanya lagi: Saya gak peduli soal citra bla bla bla, lo kira citra itu bisa dimakan? Sekarang to the point saja lah! Berapa besar jumlah uang yang bisa kita peroleh kalau perusahaan go public?? Yep, jadi kurang lebih sama saja seperti ketika orang-orang diajak untuk buka rekening di sekuritas, dimana meski BEI mengatakan bahwa keuntungan menjadi investor adalah kita akan menjadi pemilik perusahaan bla bla bla, tapi tetap saja yang mereka tanyakan adalah, berapa besar keuntungan yang bisa kami peroleh setiap tahunnya? Setiap bulannya? Bisa gak dapetnya minimal 100% gitu per tahun? Terus bisa gak keuntungan itu ditarik sebulan sekali untuk kebutuhan sehari-hari? Saya gak mau rugi, gimana caranya agar kita invest di saham tanpa pernah rugi sedikitpun?? Dan banyak lagi pertanyaan ala pemula lainnya.
    Dan masalahnya adalah, berbeda dengan orang-orang yang diajak ‘nabung saham’ dimana mereka adalah bagian dari masyarakat umum, maka pemilik perusahaan sedikit berbeda dimana mereka rata-rata sudah sangat mapan secara finansial, sehingga mereka gak akan mau kalau diajak menggelar IPO jika hanya dengan iming-iming perusahaan bakal dapet duit sekian, melainkan mereka baru akan tertarik kalau bisa dapet duit lebih besar dari itu. Nah, bener kan? Let say anda adalah pemilik perusahaan besar dengan aset Rp5 trilyun, dan laba bersih per tahun Rp500 milyar. Kemudian anda diajak IPO dimana perusahaan anda akan dapet tambahan modal Rp300 milyar saja.. Dan setelah itupun perusahaan anda harus merilis laporan keuangan setiap kuartal, termasuk harus mematuhi peraturan ini itu yang ditetapkan oleh BEI dan OJK. Kira-kira bagaimana reaksi anda??
    Inilah yang mungkin menjelaskan kenapa saham-saham IPO sekarang ini rata-rata ‘berperilaku aneh’, karena tujuannya adalah agar pemilik perusahaan memperoleh ‘profit lebih besar’ dari yang seharusnya (meski, sekali lagi, profit ekstra itu berasal dari kerugian investor publik), dan pihak otoritas juga seperti mengabaikan hal ini karena itu tadi: Kalau cara-cara seperti ini dilarang (actually secara undang-undang, insider trading atau perdagangan saham yang dilakukan oleh dua pihak yang sama memang dilarang, tapi penerapannya sangat tidak tegas, karena insider trading ini juga sulit dibuktikan), maka juga tidak ada alasan yang cukup menarik bagi para pemilik perusahaan tadi untuk go public. Sedangkan dalam rangka mengejar ketertinggalan dibanding negara-negara tetangga (misalnya, di Bursa Malaysia terdapat 900-an emiten, dan di Singapore Exchange terdapat 1,500-an emiten), maka para perusahaan di Indonesia memang harus diberi semacam ‘insentif’ agar mereka mau menggelar IPO.
    Jadi, yap, ini seperti polisi yang mempermudah proses penerbitan SIM bagi para pemilik kendaraan bermotor, meski itu menimbulkan risiko bakal banyak terjadi kecelakaan di jalan raya. Tapi jika proses penerbitan SIM ini dipersulit, maka akan timbul protes dari perusahaan-perusahan otomotif yang kesulitan jualan. Serba salah kan?
    Lalu Bagaimana Sikap Kita Sebagai Investor?
    Sebenarnya, meski mayoritas IPO dalam beberapa tahun terakhir terbilang ‘bikin kesel’, tapi beberapa saham IPO memang layak invest, dan tidak kelihatan kalau sahamnya digoreng. Sebut saja Buyung Poetra Sembada (HOKI), Kirana Megatara (KMTR), hingga Panca Budi Idaman (PBID). Tapi memang, dibanding IPO-IPO yang terjadi sebelum tahun 2015, maka IPO-IPO jaman now seringkali langsung bikin males penulis tak lama setelah saya membaca prospektusnya. Salah satunya IPO Garudafood, yang sejatinya sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang, tapi ternyata IPO-nya ya gitu deh.

    Ini perusahaan bagus lho, baru listing Desember 2017 kemarin

    However, kalau kita balik lagi ke kaidah value investing, maka sebenarnya fenomena ‘maraknya IPO liar’ ini tidak usah dibuat pusing, karena yang perlu kita lakukan adalah cukup ignore saja saham-saham IPO tersebut (baca lagi soal cara ignore/mengabaikan saham di artikel ini), apalagi jika belum apa-apa sahamnya langsung terbang hingga valuasinya menjadi gak masuk akal, dan kita bisa tetap fokus hunting saham-saham bagus pada harga murah. Kemudian ingat bahwa, tak peduli segigih apapun Mr. Bandar dalam memain-mainkan harga suatu saham, tapi pada akhirnya harga saham tersebut akan mengikuti fundamentalnya. Yang itu artinya, kalau sebelumnya dia terbang hingga valuasinya ridiculously overvalue, maka cepat atau lambat akan turun lagi, dan sebaliknya mau dia turun kaya apa tapi kalo barangnya no problemo, maka nanti juga akan naik lagi.
    Dengan kata lain, meski saham-saham anyar yang nongol bak jamur di musim hujan ini rata-rata gorengan semua, tapi pada akhirnya mereka akan bergerak normal sesuai dengan mekanisme pasar, biasanya setelah 2 – 3 tahun sejak tanggal IPO-nya. Thus, adalah benar bahwa dengan kehadiran 600 emiten di bursa, maka kita jadi lebih punya banyak pilihan investasi, tapi khusus untuk saham-saham yang baru IPO ini maka kita gak usah buru-buru, melainkan wait n see saja dulu (termasuk melihat perkembangan kinerja perusahaan setiap kuartalnya), hingga akhirnya pergerakan sahamnya menjadi normal dengan sendirinya. Contohnya ya saham CAMP tadi, dimana meski kenaikannya kemarin mungkin memakan sejumlah korban, tapi pada kisaran harganya saat ini maka sahamnya sudah bisa dipertimbangkan kembali (tapi masih rada mahal sih, tunggu dikit lagi deh).
    Sementara bagi saham tertentu yang gak juga turun setelah beberapa waktu, maka ya sudah abaikan saja. Actually beberapa orang, dengan strategi tertentu mungkin justru bisa memperoleh keuntungan instan dari saham-saham IPO ini, dan jika anda termasuk yang profit tersebut then go ahead. Tapi jika anda termasuk yang sempat terkena jebakan betmen disini, maka anda tahu apa yang harus dilakukan.

    Mingdep kita akan bahas IPO Restoran Raja Bebek.
    ***

    Penulis menyampaikan turut berduka cita atas peristiwa gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah. Semoga amal ibadah para korban diterima disisi-Nya, semoga anggota keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan semoga rumah-rumah hingga jalan yang rusak bisa segera diperbaiki kembali.. Aamiin. Dan bagi temen-temen sesama investor, setelah kemarin Lombok, maka sekarang kita punya satu kesempatan lagi untuk berbagi manfaat untuk saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah, yang memang tengah membutuhkan. Silahkan berkunjung ke www.kitabisa.com atau website charity lainnya.

    Buletin Analisis IHSG& stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Persib vs Persija

    Pagi ini, sekitar pukul 08.00 WIB, penulis menerima pesan Whatsapp (WA) dari seorang kerabat, yang ternyata merupakan pesan terusan dari sebuah grup, dengan isi sebagai berikut: ‘Hati-hati warga Bandung dan sekitarnya yang sedang berada di Jakarta atau menuju Jakarta menggunakan mobil dengan plat D. Saat ini di semua ruas tol Jakarta – Bandung sedang ada sweeping plat D oleh suporter Persija.’

    ‘Hal ini karena kejadian 1 orang suporter Persija meninggal dunia, saat pertandingan Persib vs Persija kemarin’. Pesan berantai tersebut disertai juga dengan foto buram sebuah ruas jalan tol yang dipenuhi orang-orang yang mengenakan kaos oranye khas Persija, seolah-olah menjadi ‘bukti’ bahwa memang benar ada sweeping tersebut (tapi jelas kelihatan bahwa itu foto editan). Kebetulan mobil penulis memang plat D, sedangkan saya bekerja dan beraktivitas di Jakarta, sehingga mungkin kerabat penulis tadi jadi khawatir dan karena itulah ia kemudian mem-forward pesan WA tersebut. Penasaran, penulis langsung cek di mbah google, dan memang ternyata benar bahwa pada hari Minggu kemarin, terjadi peristiwa pengeroyokan oleh oknum supporter Persib terhadap satu orang suporter Persija diluar stadion GBLA, Bandung, yang mengakibatkan tewasnya suporter Persija tersebut.

    Sumber ilustrasi: Indosport.com
    Tapi apakah benar bahwa terjadi sweeping? Ternyata tidak, bahkan pihak Jakmania sudah menyebut bahwa itu hoax, termasuk gambar-gambar yang beredar juga hoax. Nevertheless, berita sweeping plat D tersebut sudah terlanjur menyebar, termasuk mungkin anda yang tinggal di Bandung juga menerima pesan berantai yang sama. Thus, besar kemungkinan karena adanya pesan berantai tersebut, maka ada banyak warga Bandung yang tadinya berniat ke Jakarta untuk bekerja atau keperluan lainnya tapi nggak jadi, atau sebaliknya, ada warga Jakarta yang membatalkan trip-nya ke Bandung karena khawatir pendukung Persib melakukan sweeping yang sama.
    Namun dari sini kita bisa lihat bahwa ketika terjadi satu peristiwa penting tertentu yang ramai dibicarakan orang, maka biasanya akan muncul berita atau info lanjutan tentang satu atau beberapa peristiwa yang terkait dengan peristiwa pertama tadi, tak peduli meski peristiwa lanjutan tersebut sebenarnya tidak terjadi, atau terjadi namun tidak se-menakutkan seperti yang diinformasikan. Tapi apapun itu, informasi-informasi seperti ini akan langsung menimbulkan kekhawatiran, dan itu pada akhirnya mengganggu aktivitas ekonomi sekelompok masyarakat. Contohnya, jika ada pengusaha warga Bandung yang berniat ke Jakarta untuk keperluan usaha tertentu, tapi karena pesan terusan ini maka ia membatalkan rencananya tersebut, dan otomatis usahanya gagal. Dalam hal ini bukan peristiwa sweeping plat D-nya yang menggagalkan rencana si pengusaha tadi (karena nyatanya tidak ada sweeping tersebut, atau kalaupun ada maka bukan ‘di semua ruas jalan tol’ seperti yang disebutkan di pesannya), melainkan justru karena munculnya berita sweeping itu sendiri.

    Lalu bagaimana bisa pesan berantai tentang sweeping itu muncul? Dari mana asalnya?
    Mengenal Pola ‘Sebab – Akibat’
    Secara psikologis, otak manusia selalu berpikir berdasarkan pola sebab – akibat. Contohnya, kalau misalnya terjadi peristiwa kecelakaan bus di jalan raya, maka yang pertama kali diinvestigasi oleh polisi adalah apa penyebabnya, apakah ban meletus, supir mengantuk, atau lainnya. Demikian pula setelah peristiwa kecelakaan itu terjadi, maka hampir semua orang bisa berasumsi bahwa biasanya setelah itu akan terjadi peristiwa-peristiwa lanjutan yang merupakan akibat, misalnya si pengemudi ditahan sebagai tersangka, ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, dan izin trayek bus tadi bakal dicabut.
    Jadi ketika seseorang mengetahui, melihat, atau mendengar kejadian atau peristiwa tertentu, maka ia akan langsung berasumsi tentang peristiwa apa yang kemungkinan bakal terjadi setelah peristiwa tersebut. Thus, adalah normal jika setelah peristiwa meninggalnya pendukung Persija diatas (sebab), tak lama kemudian timbul kekhawatiran bakal terjadi sweeping mobil plat D di Jakarta (akibat), karena hal ini pernah terjadi sebelumnya. Masalahnya adalah, keberadaan media sosial dimana orang-orang sangat mudah bertukar informasi dan cerita, menyebabkan kekhawatiran bahwa akan terjadi sweeping tersebut dengan cepat berpindah dari satu ponsel ke ponsel lainnya, dan kemudian ‘berevolusi’ menjadi informasi bahwa sweeping itu benar-benar terjadi! Padahal, sekali lagi, tidak ada sweeping apapun, melainkan itu hanya kekhawatiran saja.
    Lalu apa hubungannya semua ini dengan pasar saham? Well, peristiwa menyebarnya berita ‘sweeping mobil plat D’ diatas merupakan contoh riil dari apa yang terjadi setiap hari di pasar saham. You see, disini kita setiap hari disuguhi oleh berita tentang peristiwa ini itu, mulai dari perang dagang, kenaikan Fed Rate, melemahnya Rupiah, defisit neraca ekspor bla bla bla bla. Bahkan dalam kondisi dimana tidak ada peristiwa penting apapun di pasar, maka tetap saja nongol berita berjudul ‘IHSG Jeblok, Ini Penyebabnya’, atau semacamnya.
    Nah, sampai titik ini, semuanya masih no problemo. Tapi ketika wartawan mulai kejar setorandengan menulis banyak artikel berita tentang peristiwa-peristiwa ini itu yang merupakan akibat dari peristiwa sebelumnya, termasuk si investor sendiri menulis ini itu di medsos bahwa dia khawatir suatu peristiwa akan menyebabkan bla bla bla, maka disinilah dampak negatifnya mulai terasa. Contohnya, kita tahu bahwa Rupiah tengah melemah hingga kemarin sempat menyentuh Rp15,000 per USD, dan itu adalah peristiwa yang benar terjadi. However, berita-berita yang kemudian muncul, bahkan jika dibaca dari judulnya saja, lebih merupakan asumsiatas ‘peristiwa lanjutan yang mungkin akan terjadi’ setelah Rupiah melemah, jadi bukan karena peristiwa lanjutan itu benar-benar terjadi. Tapi bahkan itu saja sudah cukup membuat investor menjadi kalang kabut, termasuk malah cut loss justru ketika ia seharusnya beli saham bagus di harga terbaik (jadi seperti ilustrasi pengusaha asal Bandung diatas, yang gagal melakukan deal bisnis di Jakarta cuma karena adanya isu sweeping plat D). Contohnya, anda pasti sering baca berita dengan judul panjang seperti ini: ‘Rupiah Anjlok, Indonesia Dikhawatirkan Krisis Finansial’, ‘Inilah Daftar Emiten yang Ditengarai Terimbas Amukan Dollar’, ‘Pelemahan Rupiah Diprediksi Mengganggu Industri’, dst. Tapi setelah baca beritanya, ternyata isinya cuma hasil wawancara wartawan dengan seorang pengamat yang entah dari mana asalnya, atau kadang malah tidak lebih dari cuplikan statement seorang tokoh tertentu di akun instagram-nya (berita macam apa ini??). Jadi sekali lagi, bukan merupakan informasi tentang peristiwa ‘krisis’ atau apapun itu yang bener-benar terjadi.

    Catatan: Karena cara kerja media yang seperti ini pula, belakangan ini saya jadi males kalo di-wawancara sama jurnalis media online, kecuali jika wawancaranya adalah terkait analisa mendalam sebuah perusahaan/bukan untuk mengomentari peristiwa ini itu.
    Cara Investor Menyaring Informasi
    Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal ini? Nah, penulis sudah banyak menulis di blog ini bahwa kita sebagai investor harus bisa menyaring informasi dan pemberitaan, dan jangan sampai berita yang kita baca justru menyebabkan kita sell ketika seharusnya buy (atau sebaliknya, menyebabkan kita buy saham yang harganya sudah naik tinggi). Dan salah satu cara untuk menyaring informasi tersebut adalah dengan memahami psikologis sebab – akibat tadi. Yup, ketika anda mendengar info tentang peristiwa tertentu, maka coba cari tahu dulu, peristiwa apa yang sejak awal menyebabkan munculnya peristiwa yang diberitakan tersebut. Seperti penulis tadi, yang ketika mendengar isu bahwa terjadi sweeping plat D, maka yang saya cari tahu pertama kali adalah apa penyebab munculnya isu tersebut (yang ternyata karena meninggalnya seorang pendukung Persija). Setelah mengerti penyebabnya, barulah kemudian saya bisa menganalisa terkait apakah berita sweeping itu beneran adanya, ataukah cuma kekhawatiran atau rumor yang nanti juga akan langsung dilupakan orang. Dalam banyak kasus, seringkali berita-berita tertentu tentang suatu saham ternyata hanya berupa kekhawatiran atas kemungkinan imbas, dampak, atau akibat (anda boleh ingat 3 kata tersebut baik-baik) dari peristiwa lain yang terjadi sebelumnya.
    Jika disingkat, ketika anda membaca berita tertentu maka coba cek dulu, apa latar belakang peristiwa hingga kemudian muncul berita tersebut. Ini mungkin akan sulit untuk dilakukan pada awalnya, karena seperti jika kita menonton film drama, kadang-kadang kita bisa hanyut oleh jalan cerita film tersebut, hingga lupa menyadari bahwa tangisan si aktor itu cuma akting. Tapi jika anda bisa melakukannya, maka anda tidak akan lagi terjebak dalam situasi dimana anda jual saham ketika seharusnya beli. Untuk contoh-contoh aplikasi dari ‘analisa sebab – akibat’ ini, maka anda boleh baca-baca artikel lama di blog ini yang membahas peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di pasar (misalnya dua bulan lalu kita membahas soal Krisis Turki, yang ternyata cuma kekhawatiran karena imbas pelemahan Turkish Lira).
    Kemudian, kita juga harus mengerti bahwa meskipun kita bisa memahami bahwa berita tertentu itu cuma rumor, atau cuma kekhawatiran, tapi orang lain tidak bisa melihat sejauh itu. Atau dengan kata lain, meskipun kita tahu bahwa sentimen negatif terkait saham A itu cuma rumor, tapi saham A tetap akan turun. Tapi jika kita kemudian bisa melihat bahwa penurunan itu hanya disebabkan oleh sentimen sesaat, dan bukan karena terjadi perubahan fundamental terhadap emiten yang bersangkutan, maka kita akan tetap bersikap tenang, dan menunggu saja sampai sentimen negatif tadi menguap dengan sendirinya (because, in the end, pasar akan balik lagi ke faktor fundamental).
    Btw Pak Teguh, kenapa kok judul artikel kali ini gak nyambung sama isinya? Well, ini sekalian menjadi contoh bahwa ada buanyak orang diluar sana yang dengan sengaja membuat judul yang se-menarik mungkin dari sebuah tulisan (agar mendorong orang untuk membaca tulisan tersebut), tak peduli meski judulnya jaka sembung bawa golok, dan nyatanya orang-orang lebih seneng baca judulnya saja ketimbang isinya, sehingga informasi yang ia peroleh juga menjadi sangat misleading. Anyway, setelah membaca artikel diatas, maka anda tentu sudah memperoleh pesannya.
    Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Value Investing Advanced Class, Jakarta, 7 Okt

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 7 Oktober 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

    Pembicara: Teguh Hidayat
    Materi Utama:
    1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
    2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
    3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
    4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
    5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
    6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
    7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
    8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
    Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam waktu 2 tahun. Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
    Bonus Materi Tambahan:
    1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
    2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
    3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Okay, berikut jadwal selengkapnya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    • Hari/Tanggal: Minggu, 7 Oktober 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.

    Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com

    Penulis bersama teman-teman peserta di salah satu kelas seminar sebelumnya
    Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Basic Class (sangat disarankan jika anda masih pemula), maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 6 Oktober 2018 (sehari sebelum seminar advanced class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya 

    Value Investing Basic Class, Jakarta, Sabtu 6 Okt

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’ di Jakarta, hari Sabtu, 6 Oktober 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

    Ilustrasi value investing

    Pembicara: Teguh Hidayat
    Materi Utama:

    1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
    2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
    3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
    4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
    5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
    6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
    7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
    8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.
    Bonus Materi Tambahan:

    1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
    2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
    3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:

    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 6 Oktober 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Basic Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Luka Modric, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Layanan Gratis:

    1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
    2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang sudah berisi member ratusan orang.
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama teman-teman peserta salah satu seminar sebelumnya
    Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Advanced Class, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 7 Oktober 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

    Prospek IPO Garudafood

    IPO dari perusahaan consumer goods dengan brand produk yang kuat tentunya selalu menarik perhatian investor, karena perusahaan dengan ciri-ciri demikian umumnya memiliki fundamental yang bagus serta cocok untuk investasi jangka panjang. Jadi ketika PT Garudafood Putra Putri Jaya mengumumkan bahwa perusahaan akan go public, maka penulis sendiri langsung meluangkan waktu untuk menganalisanya. However, setelah membaca prospektusnya, saya malah jadi bingung sendiri. Ada apa?

    Sejarah Garudafood dimulai pada tahun 1958, ketika Bapak Darmo Putro beserta keluarga memulai usaha produksi tepung tapioka di Pati, Jawa Tengah, dan pada tahun 1979 usaha tersebut ditempatkan dibawah bendera PT Tudung Putra Jaya. Namun lompatan besar perusahaan terjadi pada tahun 1987, yakni ketika TPJ memproduksi kacang tanah kemasan dengan merk ‘Kacang Garing Garuda’, yang kemudian lebih dikenal sebagai ‘Kacang Garuda’, dan sukses besar di pasaran. Hingga pada tahun 1994, didirikanlah PT Garudafood Putra Putri Jaya, dimana TPJ digabung kedalamnya. Dibawah pimpinan Bapak Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, yang merupakan generasi kedua pemilik perusahaan (Pak Sudhamek adalah putra dari Pak Darmo), Garudafood kemudian berekspansi dengan meluncurkan produk-produk makanan dan minuman diluar kacang, seperti biskuit, pilus, keripik, confectionery, minuman susu, dan serbuk coklat, dengan merk-nya masing-masing seperti Gery, Chocolatos, Leo, dan Clevo, dan kesemuanya sukses besar. Thus, saat ini Garudafood tidak lagi hanya dikenal sebagai produsen kacang garing merk Garuda, tapi juga sebagai salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar dan paling terkemuka di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa keunggulan perusahaan dibanding perusahaan lain yang sejenis, adalah kemampuan manajemen dalam menciptakan dan mempopulerkan merk-merk produknya, dan saat ini produk makanan dan minuman dengan merk ‘Garuda’ dan ‘Chocolatos’ sudah menjadi pemimpin pasar di segmennya masing-masing. Jika dibanding dengan sesama produsen makanan ringan seperti Kino Indonesia (KINO), atau Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), maka cukup jelas bahwa Garudafood menang telak dalam hal kepemilikan intangiable asset berupa power of brand.
    However, setelah membaca prospektusnya, penulis sempat bingung dengan IPO Garudafood ini, tapi ya sekarang sih saya udah ngerti. Okay, berikut penjelasannya.
    MCB Pelican?
    Kalau anda baca-baca berita soal IPO Garudafood ini di internet, maka disebutkan bahwa perusahaan akan menerbitkan 766 juta lembar saham, atau setara 10.34% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan nilai IPO yang cukup besar yakni US$ 200 juta, atau sekitar Rp2.8 trilyun. Namun hampir tidak ada wartawan yang menulis lebih rinci lagi, yakni bahwa dari 766 juta lembar saham anyar tersebut, hanya sebagian kecil diantaranya yang benar-benar ‘dikasiin’ ke investor ritel. Yup, jadi pada hajatan IPO-nya kali ini, Garudafood memang menerbitkan 766 juta lembar saham baru, namun dengan rincian sebagai berikut:
    Jatah Untuk:
    Jumlah Saham (lembar)
    Konversi MCB Pelican
    727,841,290
    Investor Publik
    35,000,000
    Karyawan Perusahaan
    3,500,000
    Total Saham Baru
    766,341,290
    Jadi dari sekian ratus juta lembar saham baru yang diterbitkan, yang bisa dibeli oleh investor ritel hanya 35 juta lembar saja. Sementara sebagian besar lainnya yakni sebanyak 728 juta lembar, adalah hasil konversi mandatory convertible bonds (MCB), alias obligasi wajib konversi (baca lagi penjelasan soal OWK ini disini) dari perusahaan bernama Pelican Company Ltd, yang otomatis merupakan jatah dari pemegang MCB Pelican tersebut, sehingga tidak bisa diambil oleh investor publik. Nah, bingung kan? Tapi biar kita jelaskan lagi:
    Jadi pada tanggal 28 Maret 2018 (baru beberapa bulan lalu), Garudafood menerbitkan obligasi MCB senilai Rp935 milyar di Singapura, yang kesemuanya diambil oleh perusahaan bernama Pelican Company Limited, dan uangnya dipakai untuk keperluan umum perusahaan. Tidak ada penjelasan lebih detil soal Pelican ini siapa, dan apa yang dimaksud dengan ‘keperluan umum’ diatas. Namun yang jelas obligasi yang kemudian diberi nama ‘MCB Pelican’ ini diterbitkan tanpa bunga, tanpa jatuh tempo, dan tidak bisa ditagih kembali ke perusahaan. Dengan kata lain, Garudafood tidak memiliki kewajiban untuk membayar kembali Rp935 milyar diatas. Namun pihak pemegang obligasi bisa mengkonversi obligasi tersebut menjadi saham sebanyak total 723 juta lembar, pada harga konversi Rp1,285 per saham, sehingga total nilai saham baru hasil konversi adalah Rp935 milyar, atau sama dengan nilai obligasinya diatas. Thus, jika Pelican Company menginginkan uangnya kembali, maka mereka bisa menjual saham hasil konversi tersebut ke investor publik di pasar, normalnya tentu saja pada harga yang lebih tinggi dari Rp1,285 tadi, atau bahkan sangat tinggi.
    Sebab mengingat saham yang dilepas ke publik hanya 35 juta lembar (Seriously? Itu kan berarti cuma 350 ribu lot!), sementara peminatnya membludak, maka harga saham Garudafood di market bisa langsung terbang menggapai langit, bahkan tanpa perlu digoreng sama sekali. Nah, ketika itulah, ‘investor’ Garudafood yang memperoleh sahamnya dari konversi MCB Pelican diatas bisa pelan-pelan melepas saham mereka ke publik, dan memperoleh keuntungan substansial. Yang penulis khawatirkan adalah tentu saja, jika para pemegang MCB Pelican tadi akhirnya selesai jualan dan sudah memperoleh keuntungan yang mereka inginkan, maka tidak ada alasan lagi bagi saham Garudafood untuk lanjut naik, melainkan selanjutnya dia akan turun pelan-pelan, terutama jika valuasinya sejak awal overvalue.
    Dan memang valuasi saham Garudafood itu sendiri sejak awal sudah overvalue, atau paling tidak, tidak bisa disebut murah. Informasi terakhir, saham Garudafood akan dilepas pada harga perdana Rp1,100 – 1,400, dan itu adalah range harga yang masuk akal, mengingat diatas sudah disebutkan bahwa harga konversi MCB Pelican adalah Rp1,285 per saham. Let say, harga IPO Garudafood adalah sama dengan harga konversi MCB-nya: 1,285. Maka perusahaan akan memperoleh dana Rp985 milyar, namun itu sudah termasuk Rp935 milyar hasil penerbitan MCB Pelican diatas, sehingga dana yang benar-benar diperoleh dari investor publik (dan juga karyawan perusahaan sendiri) adalah hanya Rp50 milyar. Per tanggal 30 April 2018, ekuitas Garudafood tercatat Rp2,138 milyar, yang setelah IPO menjadi Rp2,188 milyar. Karena jumlah saham Garudafood setelah IPO adalah 7.4 milyar lembar, maka book value Garudafood adalah Rp2,188 / 7.4 = Rp296 per saham. Karena harga sahamnya adalah Rp1,285, maka PBV-nya 1,285 / 296 = 4.3 kali.
    Kesimpulannya, jika pihak owner Garudafood menggelar IPO dengan cara yang ‘normal’ dimana perusahaan menerbitkan sekian ratus juta lembar saham baru pada harga 1,285, yang kesemuanya dilempar ke publik, maka sebenarnya itu saja sudah sangat menguntungkan, dimana nilai pasar/market cap Garudafood akan melonjak menjadi sekitar Rp10 trilyun, dan nama Pak Sudhamek di daftar Majalah Forbes akan langsung naik beberapa peringkat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. However, pemilik perusahaan mungkin tetap saja nggak puas kalo ‘cuma dapet segitu’, sehingga kemudian dibuat sedikit akal-akalan dengan MCB Pelican ini, dan memang dengan cara inilah mereka bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar, yang ironisnya bisa saja berasal dari kerugian investor publik, yakni jika investor membeli saham Garudafood di market pada harga 2,000 – 3,000 atau lebih tinggi lagi, tapi setelah itu sahamnya turun lagi, yakni ketika pemegang MCB Pelican selesai jualan.
    Tapi dari sini penulis bisa katakan bahwa, diluar fundamental perusahaannya yang luar biasa serta prospek jangka panjangnya yang cerah (bisnis makanan ringan, selama perusahaannya dikelola secara normal dan tanpa leverage yang berlebihan, akan terus menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang tak peduli meski terjadi krisis sekalipun, apalagi jika sudah punya merk-merk yang kuat), namun sayangnya manajemen Garudafood tidak berpihak kepada investor, dimana mereka tidak menganggap kita investor publik sebagai mitra pemegang saham dengan posisi setara, melainkan tidak lebih dari komoditas yang mereka bisa mengambil keuntungan darinya. Actually, di prospektus sudah disebutkan bahwa Pelican Company Ltd tidak memiliki hubungan afiliasi apapun dengan perusahaan, sehingga memang gak ada buktinya kalau penulis katakan bahwa Pelican itu sebenarnya juga dimiliki oleh owner-nya Garudafood. Namun entah Pelican itu adalah ada hubungannya dengan perusahaan atau tidak, tapi tetap saja: Dengan investor publik hanya memperoleh jatah saham 350 ribu lot saja, maka itu sangat sangat ridiculous: Elu niat IPO apa kagak sih? Gimana gua bisa dapet jatah IPO-nya kalau saham yang dilepas cuma segitu?? Lu kira Garudafood ini cuma tukang jualan kacang rebus di Istora Senayan waktu Asian Games kemarin? Ini perusahaan gede dan beken cuy! Dan hey, BEI dan OJK! Kenapa kok IPO model gini dikasih pernyataan efektif juga? Ente kira ini tahun 2000-an dimana orang-orang di market cuma trading tik tok gak jelas tanpa membaca dokumen prospektus sama sekali? Ini sudah tahun 2018!
    Kesimpulan akhirnya.. ya sutralah, penulis juga bisa ngomong apa lagi. Karena sejak awal almost impossible untuk bisa dapet jatah saham IPO-nya, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah biarken saja saham Garudafood melantai di bursa, tanggal 10 Oktober nanti, termasuk biarkan saja kalau kemudian sahamnya benar-benar terbang. Sebab mau dia naik setinggi apapun, pada akhirnya akan turun lagi. Dan setelah itu tunggu saja barang 2 – 3 tahun, sambil tentunya tetap melihat perkembangan kinerja perusahaan. Jika berkaca pada pengalaman IPO Sido Muncul tahun 2013 lalu, dimana ketika itu sahamnya juga sempat naik banyak dari 400-an sampai 900-an, tapi beberapa tahun kemudian turun lagi ke 400-an (dan setelah itu naik lagi), dan kita harus tunggu sampai sekitar 4 tahun sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa SIDO ini memang layak invest (penulis baru merekomendasikan lagi SIDO ini tahun 2017 kemarin, di artikel ini), maka mungkin untuk Garudafood ini juga sama begitu: Untuk saat ini kita ignore saja dulu sahamnya, dan nanti kita lihat lagi sekitar tahun 2022.
    Dan mudah-mudahan ketika itu kita tidak akan lagi menemukan nama-nama Eagle, Dove, Penguin, Seagull Company Ltd atau semacamnya di laporan keuangan perusahan.

    Penulis membuat buku kumpulan analisa saham-saham pilihan, lengkap dengan harga beli yang disarankan, target harga, hingga tingkat risiko untuk tiap-tiap saham. Anda bisa memperolehnya disini.

    Jadwal Seminar Value Investing: Basic & Advanced, Jakarta, 6 – 7 Oktober 2018. Pembicara Teguh Hidayat. Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda dari perusahaan atau institusi tertentu, maka anda bisa mengundang penulis langsung (Teguh Hidayat) ke kantor anda untuk ‘sharing session’, yakni sesi dimana saya akan berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang investasi saham, termasuk menjadi narasumber untuk tanya jawab saham. Caranya kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Sharing session. Jangan lupa untuk menyebutkan nama anda, nama perusahaan/institusi, serta kapan jadwal yang anda inginkan (sebaiknya jangan mendadak, minimal dua minggu sebelumnya). Untuk sharing session ini penulis tidak memungut biaya, kecuali untuk akomodasi.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Value Investing Advanced Class: Jakarta, Minggu 30 Sept

    Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 30 September 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar dll. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

    Pembicara: Indonesia Value Investing Certified Trainer, Zomi Wijaya. Profil Pak Zomi bisa dibaca disini.
    Materi Utama:
    1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
    2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
    3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
    4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
    5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’dalam laporan keuangan,
    6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
    7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
    8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
    Setelah sebelumnya turun terus, indeks sektor tambang batubara naik luar biasa hanya dalam waktu 2 tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’, alias membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
    Bonus Materi Tambahan:
    1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
    2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
    3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman Teguh Hidayat sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Okay, berikut jadwal selengkapnya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    • Hari/Tanggal: Minggu, 30 September 2018

    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
    Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Special Bonus!
    Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
    Penulis bersama peserta salah satu kelas seminar sebelumnya
    Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Basic Class (sangat disarankan jika anda masih pemula), maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 29 September 2018 (sehari sebelum seminar advanced class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya

    Value Investing Basic Class: Jakarta, Sabtu 29 Sept

    Dear investor, penulis menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’ di Jakarta, hari Sabtu, 29 September 2018. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:


    Pembicara: Indonesia Value Investing Certified Trainer, Zomi Wijaya. Profil Pak Zomi bisa dibaca disini.
    Materi Utama:
    1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
    2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
    3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
    4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
    5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
    6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
    7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
    8. Daftar sumber website penting dan terpercayauntuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.

    Bonus Materi Tambahan:
    1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
    2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
    3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman Teguh Hidayat sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 29 September 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Basic Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Luka Modric, BCA. Anda boleh kirim bukti transfer tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, jumlah peserta dibatasi 30 orang.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
    Layanan Gratis
    1. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang sudah berisi member ratusan orang.
    2. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama teman-teman alumni salah satu kelas seminar sebelumnya
    Bagi anda yang ingin mengikuti Value Investing – Advanced Class, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 30 September 2018 (sehari setelah seminar basic class, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya [...]

    Rupiah 15,000??

    Beberapa waktu lalu ketika penulis bepergian, di pesawat saya membaca sebuah artikel di majalah yang ada di kabin, yang intinya menjelaskan bahwa jika terjadi turbulensi/getaran pada badan pesawat, maka itu adalah sesuatu yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Tak butuh waktu lama, saya langsung memahami maksud dari artikel tersebut: Penumpang yang sudah sering naik pesawat sekalipun seringkali khawatir jika pesawat mengalami turbulensi, dan beberapa orang mungkin langsung kapok naik pesawat jika pesawatnya kebetulan mengalami goncangan keras. Jadi dengan membaca artikel tersebut maka diharapkan bahwa para penumpang, termasuk penulis, untuk tidak lagi menganggap kejadian turbulensi sebagai sesuatu yang menakutkan.

    However, setelah membaca artikel tersebut penulis malah mikir begini: Saya gak yakin orang-orang bakal jadi lebih rileks ketika terjadi turbulensi setelah membaca artikel tersebut, jadi sebenarnya tulisan itu sia-sia saja. Alih-alih menulis artikel untuk menenangkan para penumpang, pihak maskapai seharusnya lebih fokus pada upaya untuk membuat pesawat lebih kuat/tidak gampang mengalami turbulensi lagi. Sebab pada akhirnya, para penumpang ini awam cara kerja pesawat, sehingga satu-satunya cara untuk menenangkan mereka adalah dengan mengurangi kemungkinan terjadinya turbulensi itu sendiri.
    Hanya memang, sebelum penulis mengetik tulisan diatas, para perusahaan maskapai sepertinya sudah mengerti soal itu. Dibanding ketika dulu penulis pertama kali naik pesawat, sekarang ini pesawat apapun sudah lebih tenang/jarang terjadi getaran, dan dalam kondisi cuaca cerah maka terkadang pesawat itu seperti diam di udara saking tenangnya. Sementara soal artikel di majalah tadi? Well, seorang insinyur mungkin bisa membuat sebuah pesawat lebih kuat terhadap turbulensi, tapi sehebat apapun dia, tentunya tidak mungkin untuk menghilangkan turbulensi itu sama sekali. Jadi diluar mendesain pesawat agar lebih kuat, maka artikel itu pada akhirnya tetap diperlukan.
    Okay, lalu apa hubungannya ini dengan kurs Rupiah, yang kemarin sempat menyentuh level psikologis Rp15,000 per US$?


    Pergerakan Rupiah sepanjang tahun 2018, melemah sekitar 10%

    Isu pelemahan Rupiah sebenarnya sudah bergulir sejak awal tahun 2018 ini, dimana Rupiah mulai drop dari 13,000-an ke 14,000-an, dan actually di artikel ini pada bulan Juli kemarin, kita sudah membahas bahwa bahkan kalaupun nanti Rupiah drop sampai 15,000, maka tetap tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena dari tiga faktor yang menyebabkan pelemahan Rupiah, yakni: 1. Menguatnya US Dollar terhadap mata uang semua negara emerging market termasuk Indonesia, 2. Kenaikan harga minyak, yang otomatis menaikkan nilai impor, dan 3. Capital outflow, kesemuanya merupakan faktor eksternal. Jadi ini berbeda dengan tahun 2015 lalu, dimana Rupiah juga sempat menyentuh level Rp15,000-an per USD, dan penyebabnya adalah economic slowdown dimana kegiatan ekonomi dalam negeri mengalami kelesuan yang luar biasa (anda bisa baca lagi ceritanya disini).
    Namun setelah membaca tulisan tentang turbulensi pesawat diatas, penulis jadi sadar bahwa tulisan soal Rupiah di bulan Juli kemarin sebenarnya sia-sia saja, alias tidak akan bisa meng-convince para pelaku pasar bahwa ekonomi kita masih baik-baik saja. Termasuk kalau saya katakan bahwa penurunan Rupiah saat ini sama sekali tidak separah tahun 2015, 2018, atau 1998 (dari 13,600 ke 15,000, berarti kan cuma turun 9.3%, bandingkan dengan tahun 2015 dimana Rupiah sempat drop dari 12,400 ke 15,100, atau drop 17.9%), maka tetap saja: Yang dilihat semua orang bukan soal penurunan Rupiah berapa persen, atau bahwa pertumbuhan ekonomi kita masih tinggi bla bla bla, melainkan Rupiah sekarang sudah 15,000. Jadi Indonesia bakal krisis ini, itu sudah!
    Jadi ketika di artikel Juli lalu penulis katakan bahwa, selama Pemerintah (melalui Kementerian Keuangan dan institusi lainnya yang terkait), Bank Indonesia (BI), BEI, hingga OJK belum ‘do something’, maka artinya situasi masih aman terkendali (para institusi tersebut baru akan mengeluarkan kebijakan tertentu jika memang diperlukan), maka dalam hal ini penulis harus melontarkan sedikit kritik: Bahkan meskipun dalam pandangan mereka, ekonomi masih baik-baik saja, tapi masyarakat awam punya pandangan berbeda, dan sejak awal kita semua tahu bahwa kalau Rupiah sampai tembus 15,000, maka dampak psikologisnya akan sangat terasa. Masalahnya, sekarang ini kita berada pada jaman dimana informasi sangat cepat tersebar, biasanya pula dengan dibumbui kalimat-kalimat hiperbola, dan alhasil tukang sayur sekalipun sekarang juga sudah tahu bahwa Rupiah sudah 15,000, dan bahwa (itu artinya) Indonesia krisis.
    Thus, alih-alih kekeuh bahwa ekonomi masih baik-baik saja bla bla bla, termasuk harus menunggu Rupiah jebol 15,000 dulu lalu baru mereka do something, maka seharusnya ‘something’ itu sudah dikerjakan ketika Rupiah masih di 14,000-an.
    Tapi seperti halnya cerita turbulensi diatas, para pejabat berwenang juga sepertinya sudah memahami soal ini, dimana Kementerian Keuangan dkk sejak semingguan lalu segera mengeluarkan kebijakan ini dan itu (detilnya bisa anda baca sendiri di internet), hanya saja mungkin timing-nya yang sedikit terlambat, dimana kemarin Rupiah akhirnya mencolek level psikologis Rp15,000. Alhasil orang-orang sempat panik, pasar saham drop, dan cerita pelemahan Rupiah ini menjadi headline dimana-mana. Pertanyaannya, bagaimana kedepannya? Dan IHSG mau dibawa kemana ini??
    Antara Psikologis vs Logika Analisis
    Pasca kebijakan pemerintah, maka ketika artikel ini ditulis, Rupiah sedikit menguat ke level Rp14,835 per USD. Untuk kedepannya kita belum tahu apakah penguatan Rupiah akan berlanjut atau cuma sementara, namun yang pasti jika nanti Rupiah kumat lagi, maka sekarang kita tahu bahwa Pemerintah (akhirnya) tidak tinggal diam. Atau, sebenarnya mereka juga sudah kerja keras/sejak awal sudah banyak mengeluarkan kebijakan, hanya saja kurang dipublikasikan sehingga masyarakat taunya para pejabat santai-santai saja. Sementara untuk saat ini publikasinya terbilang luar biasa, hingga kita bisa katakan bahwa selain menjaga Rupiah itu sendiri, Pemerintah juga bekerja keras menjaga psikologis masyarakat. Jadi ibarat turbulensi pesawat diatas, maka selain menyuruh para insinyur membuat badan pesawat agar lebih tahan goncangan, pihak maskapai juga menyuruh humas-nya untuk membuat artikel-artikel yang menjelaskan soal turbulensi tersebut.
    Lalu apakah semua upaya diatas bisa membuat Rupiah kembali stabil, dan juga membuat masyarakat kembali optimis? Well, soal itu hanya waktu yang bisa menjawabnya, namun balik lagi: Karena sejak awal penyebab pelemahan Rupiah adalah mayoritas faktor eksternal, alias bukan karena Indonesia beneran krisis atau semacamnya, maka seharusnya sedikit kebijakan ini dan itu sudah cukup untuk membuat Rupiah stabil kembali. Actually, kalau bukan karena adanya faktor psikologis dimana sejak awal sudah ada anggapan bahwa kalau Rupiah tembus 15,000 maka itu artinya krisis (dan bisa jadi isu politik juga), maka Rupiah mungkin akan dibiarkan melemah hingga ke level tertentu. Karena, coba pikir lagi: Kalau Rupiah menguat maka itu juga bisa menurunkan ekspor, sehingga berdampak negatif ke pertumbuhan ekonomi. Intinya pelemahan atau penguatan Rupiah itu seperti pisau bermata dua, dimana pelemahan Rupiah tidak selalu berarti jelek, demikian pula penguatan Rupiah tidak selalu berarti bagus.
    Namun karena sejak awal seperti sudah ada ‘kesepakatan’ bahwa Rupiah boleh turun tapi gak boleh sampai 15,000, maka ya sudah: Kalaupun Rupiah gak sampai dibawa menguat lagi, maka minimal dia bakal stabil di level 14,000-an, dan secara teori harusnya tidak sulit untuk menjaga agar Rupiah stabil disitu. Dan satu hal lagi: Karena penyebab pelemahan Rupiah terhadap Dollar adalah faktor eksternal, maka dalam hal ini kebijakan luar negeri Pemerintah juga menjadi penting. Sebab jika kita lihat lagi negara-negara emerging market yang mata uang mereka juga anjlok dibanding USD, yakni Turki, Argentina, Iran, hingga Venezuela(dibanding mata uang di empat negara ini, kinerja Rupiah terbilang sangat baik), maka rata-rata pemerintahnya punya ‘urusan’ dengan negeri Paman Sam, yang sekarang ini memang agak ‘koboy’ dibawah pimpinan Presiden Trump. Beruntung, Indonesia sejauh ini mampu menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat dan juga negara-negara lainnya (ketika artikel ini ditulis, Presiden Jokowi tengah melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan), jadi seharusnya ekonomi kita tidak akan sampai di-Turki-kan atau semacamnya.
    Okay, lalu bagaimana dengan IHSG? Nah, berbeda dengan psikologis masyarakat awam yang baru kepikiran kalau Indonesia ‘krisis’ setelah Rupiah kemarin mencolek level 15,000, psikologis investor di pasar modal sudah under pressure sejak cukup lama, tepatnya sejak Mei 2017 lalu setelah investor asing terus menerus jualan, dimana itu masih terjadi sampai sekarang (asing hanya stop jualan 1 kali di bulan Januari 2018), dan alhasil ada banyak saham-saham di BEI yang anjlok gila-gilaan dan belum naik lagi, demikian pula IHSG itu sendiri masih minus sepanjang tahun 2018 ini. Menariknya, kondisi pasar yang carut marut karena foreign outflow ini sudah terjadi sejak sebelum ada isu negatif tertentu terkait perekonomian nasional, baik itu dari dalam maupun luar negeri (isu perang dagang dst baru nongol beberapa bulan lalu, sedangkan asing sudah jualan jauh sebelum itu).
    Jadi ketika beberapa waktu lalu muncul cerita krisis Turki, dan gak sampai sebulan kemudian nongol lagi cerita pelemahan Rupiah, maka seperti yang bisa anda lihat sendiri, IHSG gampang banget jatuhnya. Bisa kita katakan bahwa kondisi psikologis investor pada saat ini sangat berbeda dengan psikologis masyarakat umum: Ketika Rupiah menyentuh 15,000, orang-orang mungkin mulai berpikir bahwa Indonesia krisis, tapi setelah mereka melihat bahwa harga sembako masih aman-aman saja, toko-toko masih laku, dan Rupiah itu sendiri menguat lagi, maka ya sudah, mereka akan kembali berpikir bahwa Indonesia masih aman. Sedangkan investor? Well, jauh sebelum cerita pelemahan Rupiah ini ramai dibicarakan, portofolio mereka sudah babak belur duluan, sehingga otomatis secara psikologis, mereka juga sudah kadung males dan capek. Thus, ketika muncul isu negatif sedikiiiit saja, maka IHSG langsung anjlok tanpa ampun.
    Kesimpulannya, yep, meski berdasarkan data ekonomi dll penulis masih bisa katakan bahwa pasar saham masih baik-baik saja, tapi secara psikologis pasar, IHSG untuk saat ini masih belum aman, terutama karena kita belum tahu apakah Rupiah akan mampu stabil di 14,000-an, dan karena isu-isu lain seperti utang pemerintah, krisis Turki, perang dagang dst belum benar-benar mereda, dan bisa kembali ramai dibicarakan sewaktu-waktu.
    Namun untungnya kita tahu bahwa fluktuasi pasar karena faktor sentimen, itu hanya bersifat jangka pendek, dimana jika nanti sentimennya hilang maka ya sudah, pasar juga bakal stabil lagi. Sedangkan untuk jangka panjangnya ya tetap balik lagi ke fundamental ekonomi, kinerja emiten, serta valuasi saham-saham di bursa, dan untungnya untuk faktor-faktor tersebut bisa penulis katakan bahwa: 1. Ekonomi kita secara umum masih cukup baik, tidak bisa disebut booming tapi juga jauh dari kata krisis, 2. Kinerja para emiten, meski tidak sebagus tahun 2011 lalu, tapi masih lebih baik dibanding 2015, dan 3. Valuasi saham-saham sudah sangat banyak yang terdiskon, terutama di kelompok second and third liner (bluechip masih tanggung/belum bener-bener murah). Jadi kecuali nanti ada force majeure tertentu, maka asalkan kita bisa melihatnya katakanlah sampai setahun kedepan, maka sekarang-sekarang ini justru merupakan waktu terbaik untuk belanja. What? Duit anda sudah masuk semua? Ya sudah kalau gitu tunggu saja, tahun 2018 juga tinggal kurang dari empat bulan lagi kok.
    Untuk minggu depan kita akan bahas soal cerita Krisis Turki, Argentina, Iran, hingga Venezuela, serta bagaimana perbandingan kondisi makroekonomi antara keempat negara tersebut dengan Indonesia. Minggu depannya lagi kita bahas IPO Garuda Food.
    Jadwal Value Investing Private Class: Hotel Hilton Bandung, Sabtu 15 September. Keterangan selengkapnya baca disini.
    Penulis membuat buku kumpulan analisa saham-saham pilihan, lengkap dengan harga beli yang disarankan, target harga, hingga tingkat risiko untuk tiap-tiap saham. Anda bisa memperolehnya disini.

    Bagi anda dari perusahaan atau institusi tertentu, maka anda bisa mengundang penulis langsung (Teguh Hidayat) ke kantor anda untuk ‘sharing session’, yakni sesi dimana saya akan berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang investasi saham, termasuk menjadi narasumber untuk tanya jawab saham. Caranya kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Sharing session. Jangan lupa untuk menyebutkan nama anda, nama perusahaan/institusi, serta kapan jadwal yang anda inginkan (sebaiknya jangan mendadak, minimal 2 minggu sebelumnya). Untuk sharing session ini penulis tidak memungut biaya, kecuali untuk akomodasi.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Sharing Pengalaman: Pak Joeliardi Sunendar

    Sebagai investor, ada satu ‘aset’ yang menurut penulis sangat berharga untuk dimiliki, namun sekaligus sangat sulit untuk diperoleh: Kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan investor yang lebih senior. Berharga, karena dari mereka-lah kita bisa memperoleh sharing pengalaman, pencerahan, dan nasihat-nasihat penting, dimana itu semua sangat dibutuhkan dalam kegiatan berinvestasi itu sendiri. Namun kesempatan ini juga sulit untuk diperoleh, mengingat investor senior yang sudah berinvestasi di pasar saham sejak tahun 80-an atau 90-an (BEI itu sendiri baru buka lagi tahun 1977), dan masih aktif berinvestasi sampai sekarang, itu jumlahnya tidak banyak. Dan kalaupun ada maka biasanya mereka low profile dan cenderung tertutup, yang jangankan ditemui, untuk ditelpon saja susahnya setengah mati (dan actually penulis sendiri juga begitu, karena untuk bisa berinvestasi dengan baik dan benar, maka anda harus menghindari hiruk pikuk pasar, alias pergi menyendiri ke satu tempat yang tidak ada sinyal internet).

    Jadi ketika penulis memperoleh jadwal makan siang dengan Bapak Joeliardi Sunendar, seorang (value) investor aktif yang sudah berpengalaman sejak awal tahun 90-an, maka penulis tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dan saya juga akan men-sharing kembali hasil diskusinya disini. Tapi sebelum itu mari kita lihat dulu profil dari Pak Joel.
    Joeliardi Sunendar merupakan alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, lulus pada tahun 1981, dan semasa kuliah sudah aktif mengajar sebagai asisten dosen. Kemudian beliau bekerja di Ernst & Young sebagai auditor, lanjut ke PT Total Indonesie sebagai supervisor, Johnson & Johnson Indonesia sebagai chief accountant, dan Intercon Enterprise sebagai finance manager. Sukses meniti karier sebagai profesional di bidang keuangan, karier Pak Joel sebagai entrepreneur dan investor dimulai pada tahun 1988, ketika ia bersama rekan-rekannya mengakuisisi perusahaan leasing dengan nama PT Perdana Finance, dan menempati posisi komisaris. Di tahun yang sama Pak Joel mengakuisisi PT Bank Putera, dan menempati posisi presdir, dan juga mulai berinvestasi di pasar saham, terutama di Amerika Serikat. Tahun 1994, Pak Joel menjual Bank Putera ke Grup Texmaco, dan setelah itu beliau lebih banyak berinvestasi di saham saja. Selain menjadi investor, Pak Joel juga banyak menerbitkan tulisan-tulisan tentang investasi saham, dan aktif menjadi pembicara di banyak forum investasi diluar negeri. Pak Joel saat ini berstatus sebagai salah satu pemegang saham Berkshire Hathaway (BRK), perusahaan investasi milik Warren Buffett.


    Penulis bersama Pak Joeliardi

    Nah, karena Pak Joel sejak awal memiliki passion untuk menulis dan memberikan edukasi (beliau sudah mengajar sejak semasa kuliah), maka beliau adalah satu dari sedikit investor senior di Indonesia yang tidak hanya sarat pengalaman, tapi juga mampu menuangkan pengalamannya tersebut dalam bentuk tulisan maupun speech yang enak dibaca dan didengar, dan juga mudah dipahami. Sejak beberapa tahun terakhir Pak Joel banyak menulis di forum Stockbit.com, dan juga mengisi seminar yang dipromosikan melalui Sahamku.id. Dalam waktu dekat beliau juga akan menerbitkan buku, yang merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya di Stockbit.
    Okay, lalu Pak Teguh, jadi sharing apa saja yang kemarin panjenengan dapet dari Pak Joel? Well, actually banyak banget yang beliau sampaikan, dimana kita diskusi beberapa saham mulai dari yang populer seperti Bank BRI, Ultrajaya, Unilever, hingga yang aneh-aneh seperti Indika Energy, Polychem, dan Modern Internasional. Karena, you know, kalau penulis sendiri sharing pengalaman dengan investor junior dimana ia antusias mendengarkan, serta mampu memahami apa yang disampaikan dengan baik, maka penulis juga jadi enjoy ngobrolnya. Nah, dalam hal ngobrol dengan Pak Joel, maka penulis-lah yang menjadi ‘junior’ tersebut.
    Namun jika disimpulkan, ada tiga point penting yang disampaikan oleh Pak Joel, yang surprisingly seperti mengajak kita semua, para investor newbie, untuk lebih bersemangat berinvestasi karena sebenarnya, kita punya peluang memperoleh profit yang justru lebih baik dibanding investor kelas kakap. Okay, langsung saja.
    Kelebihan Investor Ritel, Analisa Sederhana, dan Pengalaman Ketika Terjadi Krisis
    Pertama, tentang bagaimana investor ritel dengan dana terbatas, mereka justru memiliki banyak keistimewaanyang tidak dimiliki oleh investor institusi. Contoh, tidak hanya mereka bisa lebih ‘lincah’ dalam melakukan jual beli saham, mereka juga tidak dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu yang menyebabkan kinerja portofolio menjadi tidak optimal. Misalnya, kita tahu bahwa BRK memegang saham Coca Cola (KO) senilai lebih dari US$ 15 milyar. Nah, karena BRK merupakan perusahaan publik, maka jika Buffett mulai keluar dari KO, itu harus diumumkan. Dan bisakah anda bayangkan bagaimana dampaknya terhadap saham KO itu sendiri di market, ketika keluar pengumuman bahwa BRK menjual sahamnya? Sedangkan BRK sendiri memegang KO dalam jumlah yang amat sangat besar, yang tidak mungkin bisa langsung habis dijual bahkan dalam waktu beberapa bulan. In this case, meski Buffett sebenarnya melihat banyak peluang investasi yang mungkin lebih baik dibanding KO, namun ia mau tidak mau harus menggunakan dana yang lain, karena ia tidak mungkin keluar dari KO. Lebih detil soal ini sudah disampaikan disini.
    Karena itulah, dalam annual letter-nya di tahun 2015, Buffett mengatakan bahwa kinerja BRK dalam persentase profit tahunan (bukan dalam Dollar) di masa yang akan datang tidak akan sama dengan apa yang sudah dicapai sejak 50 tahun sebelumnya, yakni sekitar 19.0% per tahun, melainkan kemungkinan bakal kurang dari itu. Hal ini karena, dengan semakin membesarnya aset yang dipegang BRK, maka semakin sulit pula untuk ‘memutarnya’ sehingga bisa dihasilkan profit yang optimal. FYI, per 30 Juni 2018, BRK memegang aset total US$ 711.9 milyar, atau sekitar 6 kali lipat nilai APBN Indonesia di tahun 2018. Jadi jangankan 15 – 20%, untuk bisa mencatat profit 1 – 2% saja maka artinya BRK harus menghasilkan belasan milyar Dollar bukan?
    Jadi percaya atau tidak, beruntunglah kita yang hanya mengelola dana ‘ala kadarnya’, dimana secara teori, harusnya lebih mudah bagi kita untuk menghasilkan kinerja yang satisfactory. Memang, investor institusi yang besar-besar juga punya beberapa kemudahan yang tidak dimiliki investor ritel, seperti akses informasi yang lebih baik, dan akses untuk mengelola perusahaan (jika si investor membeli sebuah saham secara mayoritas). However, kemudahan yang dimiliki investor ritel tetap lebih banyak, termasuk keputusan-keputusan investasi terbaik yang pernah dibuat oleh Warren Buffet adalah justru ketika ia hanya membeli saham sebuah perusahaan secara minoritas, alias sama sepertiyang dilakukan investor ritel, dan bukannya investasi lainnya dimana ia mengakuisisi sebuah perusahaan.
    Kedua, investasi saham itu jauh lebih simpel/sederhanadibanding kelihatannya, dimana cara menghitung untuk menentukan apakah sebuah saham berfundamental bagus atau tidak, dan apakah harga belinya murah atau mahal, itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perhitungan yang diajarkan di matematika sekolah dasar! Yep, Pak Joel memberikan ilustrasi, di Amerika Serikat pernah diadakan suatu penelitian dimana anak-anak sekolah dasar diberikan rekening virtual/simulasi, kemudian mereka diminta untuk memilih saham-saham yang mereka sukai, dan mereka memilih saham Walt Disney, Nike, dst, yang rata-rata merupakan perusahaan populer, kemudian didiamkan saja selama beberapa tahun. Hasilnya, kinerja investasi dari anak-anak ini justru secara signifikan lebih baik dibanding para fund manager profesional di perusahaan-perusahaan asset management terkemuka. Padahal, berbeda dengan para fund manager ini yang menggunakan banyak sekali perhitungan rumit dalam memilih saham mereka, anak-anak tadi hanya diberikan pengetahuan dasar analisa fundamental seperti cara menghitung ROE, debt to equity ratio, PER, dan PBV (dan kalau anda baca lagi buku penulis yang berjudul Value Investing: Beat The Market in Five Minutes!, maka ya memang cuma angka-angka itu saja yang penulis bahas disitu, dan kita sama sekali gak pernah pake DCF, WACC, dividend discount model bla bla bla).
    Pak Joel menambahkan, ‘Investasi saham itu sebenarnya sangat sederhana, namun ada banyak profesional di bidang ini yang dengan sengaja membuatnya tampak rumit untuk orang awam. Tujuannya adalah agar mereka menjadi tampak pintar, dan alhasil orang mau membayar mahal hanya untuk mendengarkan nasihat mereka.’ Well said Sir!
    However, pertanyaan yang kemudian timbul adalah, kalau memang investasi saham itu (harusnya) lebih mudah bagi investor ritel, dan untuk menganalisanya juga tidak serumit yang digambarkan oleh para analis, maka kenapa banyak sekali investor ritel yang merugi? Jika memang benar bahwa investasi saham, jika berdasarkan kaidah value investing, adalah dengan memilih saham dengan ROE tinggi, DER rendah, PER rendah, dan PBV rendah, maka kenapa saham-saham yang saya pikir sudah memenuhi semua kriteria tersebut, ternyata tetap saja malah turun setelah saya membelinya? Dan bagaimana dengan krisis ekonomi, market crash, Rupiah anjlok bla bla bla??
    Nah, dalam hal ini Pak Joel kemudian menambahkan, ‘Cara menganalisis saham, seperti yang sudah disebut diatas, sebenarnya mudah saja. Tapi ketika harga saham mengalami naik turun, terjadi volatilitas pasar, hingga adanya peristiwa pasang surut ekonomi, maka barulah kemampuan setiap investor berbeda-beda dalam menghadapinya. Dan biasanya mereka yang sudah pernah mengalami kondisi terburuk-lah, yang kemudian mampu berinvestasi dengan lebih baik lagi. Saya pribadi sudah pernah mengalami krisis 1998, dan mampu bertahan, dan itu saja perbedaansaya dengan investor-investor lain yang lebih junior. Bagi saya, fluktuasi pasar yang terjadi setelah tahun 1998 itu sama sekali tidak ada apa-apanya/bisa kita abaikan, jadi saya bisa tetap katakan bahwa investasi saham itu mudah dan sederhana.’
    Jadi kesimpulannya untuk poin ketiga adalah, yep, investasi saham itu relatif lebih mudah bagi investor ritel, dan cara menganalisanya pun sebenarnya sangat sederhana. Namun untuk bisa menghasilkan kinerja portofolio yang memuaskan, maka yang selanjutnya dibutuhkan adalah pengalaman, lebih spesifik-nya lagi adalah pengalaman ketika terjadi market crash! Atau bahkan pengalaman ketika terjadi krisis ekonomi. Soal pentingnya pengalaman, penulis sudah banyak mengulasnya di artikel-artikel di blog ini. Namun tentang ‘pengalaman ketika terjadi market crash’, maka penulis belum pernah mengulasnya secara spesifik, karena terus terang saja, saya baru ngalamin koreksi pasar tahun 2013 dan 2015, yang tentunya tidak separah market crash di tahun 2008 dan 1998 (di tahun 2008 penulis masih pusing revisi skripsi, dan di tahun 1998 saya masih SMP kelas satu dan belum ngerti apa itu ‘emiten’).
    Anyway, mudah-mudahan next time Pak Joel bisa berbagi pengalaman beliau ketika terjadi krisis 1998 dulu, dimana terjadi bank rush, Rupiah jatuh, hingga pecah kerusuhan yang memakan korban jiwa. Beruntung, karena seperti yang disampaikan diatas, Pak Joel memiliki passion dalam hal mengajar, maka dalam waktu dekat ini beliau bersama penulis akan menyelenggarakan seminar, termasuk seminar melalui video Youtube yang bisa anda tonton kapan saja dan dimana saja, dan tentunya secara gratis. Well, mudah-mudahan semuanya lancar, karena memang nulis itu gampang, tapi kalo bikin video maka itu agak ribet. Just stay tune.
    Okay, untuk minggu depan kita akan update soal kurs Rupiah.
    Buletin analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi September 2018 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab analisa saham dan konsultasi portofolio untuk member.
    Penulis membuat rekaman seminar value investing: Basic and Advanced, yang bisa anda dengarkan sendiri dirumah, masing-masing berdurasi 4.5 jam. Dan anda bisa memperolehnya disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Saham-Saham Yang Aman u/ Pensiun?

    Ketika penulis lulus SMU, tahun 2003 lalu, ibu di rumah berpesan bahwa kalau bisa kamu masuk STPDN (yang sekarang berubah menjadi IPDN, atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri), atau masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Alasannya adalah, pertama, sekolah disitu katanya gratis, dan itu sangat menarik mengingat orang tua penulis ketika itu tidak cukup mampu untuk mengkuliahkan putra mereka ke universitas. Dan kedua, lulusan IPDN dan STAN juga dikatakan dijamin akan memperoleh pekerjaan sebagai abdi negara, alias PNS. Dan apa menariknya kalau kita jadi PNS? Well, dengan menjadi PNS maka kita otomatis menerima jaminan keamanan finansial, termasuk kita akan tetap menerima tunjangan dari negara, bahkan ketika nanti kita sudah tidak bekerja lagi, alias pensiun.

    Sayangnya penulis tidak cukup qualified untuk diterima di kedua perguruan tinggi tersebut (saya langsung gagal di tes awal), namun beruntung saya masih diterima di Unpad, yang ternyata biayanya gak semahal yang diperkirakan sebelumnya (waktu itu SPP-nya cuma Rp375,000 per semester, thanks to government!). Namun ketika penulis lulus kuliah tahun 2008, maka sekali lagi ibu mendorong penulis untuk ikut CPNS, dan saya pun mematuhinya. Tapi lagi-lagi, saya langsung gagal di tes-tes awal. I don’t know, tapi ketika beberapa orang mungkin sangat baik dalam hal menghafal dan kemudian mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas kertas, maka penulis sama sekali tidak punya kemampuan tersebut.
    Pada akhirnya, penulis justru masuk ke dunia yang sama sekali tidak menawarkan financial security seperti halnya kalau kita menjadi PNS, melainkan malah sebaliknya: Di dunia yang katanya ‘kejam’ ini, seseorang bisa dengan mudah kehilangan tabungan yang sudah mereka kumpulkan dengan susah payah, hasil dari bekerja keras selama bertahun-tahun, karena merugi besar-besaran. Bagi kebanyakan orang, dunia yang disebut diatas tidak lebih dari arena judi, dimana mereka yang meraup keuntungan hanya sekedar lebih beruntung dibanding mereka yang menderita kerugian. Yup, dunia tersebut adalah dunia pasar modal, atau pasar saham. Sepanjang sekian tahun karier penulis di belantara pasar saham ini, sudah tidak terhitung berapa banyak orang yang coba-coba masuk kesini, tapi hanya sedikit dari mereka yang bertahan. Sementara selebihnya terpaksa keluar lagi, tidak hanya dengan tangan hampa, tapi juga dengan kehilangan sebagian dari harta yang mereka miliki.
    Jadi jika dikatakan bahwa kita bisa invest di saham untuk tujuan persiapan dana pensiun, maka sebagian dari anda mungkin mengernyitkan dahi: Apa gak salah? Kalau tujuannya sekedar untuk punya cukup uang untuk kebutuhan hari tua, maka ya jangan invest di saham. Beli tanah saja! Atau taroh deposito, emas, sawah, dan sejenisnya yang terbilang aman. Sebab kalau di saham itu, kalau sampeyan gak jadi horang kayah sekalian, ya jadi blangsak sekalian!
    However, fakta lainnya adalah, diluar dari mereka yang hanya datang dan pergi, ada banyak juga investor yang tidak hanya sukses bertahan, tapi benar-benar making money dari saham, dan beberapa diantaranya bahkan mencapai target yang lebih tinggi dari sekedar memiliki tabungan pensiun, dimana mereka sukses punya duit yang lebih dari cukup untuk jalan-jalan keliling dunia atau semacamnya. Jadi balik lagi: Kalau tujuan kita invest di saham adalah untuk memiliki tabungan pensiun, dan untuk itu maka kita gak harus sampai sama kaya-nya dengan Gayus Tambunan, maka seharusnya itu akan lebih mudah dicapai. Karena nyatanya, ada banyak investor yang mencapai lebih dari itu.
    Thus, pertanyaannya sekarang adalah, kalau saya mau invest di saham dengan target ‘yang penting untung’ saja, tapi asalkan disisi lain risikonya juga amat sangat rendah, maka adakah caranya untuk bisa seperti itu? Okay, mari kita mulai pembahasannya dari salah satu quote gurunya Warren Buffett.
    Tips Dari Benjamin Graham
    Benjamin Graham, guru besar value investor di seluruh dunia, pernah ngomong begini: ‘Untuk mencapai hasil investasi yang memuaskan, itu lebih mudah dari yang disadari kebanyakan orang. Namun untuk menghasilkan profit yang unggul/superior, maka itu lebih sulit dari kelihatannya.’ Sekilas, kalimat ini terdengar membingungkan: Apa maksudnya? Tapi biar penulis jelaskan disini.
    Jadi begini. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, ketika dulu saya untuk pertama kalinya coba-coba beli saham, maka ada satu fakta yang menarik perhatian saya: Di BEI, setiap harinya selalu ada saja saham yang naik sampai 10%, 15%, 20%, hingga auto reject, tak peduli pada hari tersebut IHSG naik atau turun. Ketika itu penulis langsung berpikir bahwa, seandainya saya bisa mengidentifikasikan saham-saham apa saja yang bakal terbang dalam satu hari, dan membeli saham tersebut, maka saya bisa profit 10 – 20% dalam sehari. Kemudian, diluar saham-saham yang terbang pada hari-hari tertentu, penulis juga menemukan fakta bahwa setiap tahunnya, selalu ada saja beberapa saham yang terbang sampai 100 – 200% atau lebih tinggi lagi, hanya dalam hitungan bulan/gak sampai setahun. Dan otak penulis ketika itu juga langsung berpikir bahwa kalau saya beli saham tersebut, maka kita bisa profit ratusan persen sambil ongkang-ongkang saja, alias beli sekarang, lalu jualnya nanti tahun depan.
    However, setelah berusaha menggali ilmu ‘memburu saham ARA’, ‘swing trading harian ala Jesse Livermore’ atau semacamnya, hasilnya nol besar, malah nyangkut dimana-mana. Kemudian untuk ‘saham-saham jangka panjang’ yang naik ratusan persen hanya dalam hitungan bulan, yang sering terjadi adalah saya telat masuk, yakni baru beli setelah saham itu naik banyak (ketika itu penulis belum mengerti value investing), dan justru setelah itu sahamnya turun lagi. Tapi intinya setelah sekitar 1 – 2 tahun trading tik tok gak jelas, maka barulah penulis mengerti bahwa, benar apa yang dikatakan Ben Graham: Untuk bisa menghasilkan profit jumbo dalam waktu singkat, itu lebih sulit dari kelihatannya. Yep, hanya karena di BEI selalu ada saham yang terbang 20% dalam sehari, setiap harinya, maka bukan berarti anda bisa profit 20% juga setiap harinya. Demikian pula, untuk bisa mengidentifikasikan saham yang naik katakanlah 100% dalam setahun, maka diperlukan kemampuan analisa yang luar biasa untuk menemukan ‘satu berlian diantara tumpukan sampah’, plus keberuntungan. Yup, karena analisa seakurat apapun bisa menjadi mentah jika di kemudian hari terjadi force majeure, atau pasar/IHSG mengalami koreksi signifikan. Disisi lain, jika ada saham berpeluang untuk naik banyak dalam jangka waktu tertentu, maka biasanya risikonya juga lebih besar dibanding saham-saham lain yang type ‘alon-alon asal kelakon’. Faktanya, ketika sebuah saham naik dari katakanlah 500 ke 2,500 dalam waktu singkat, maka selain mereka yang profit besar karena membelinya di harga 500 – 1,000, maka ada juga investor yang rugi besar karena mereka justru baru masuk di harga 2,500 tersebut, dan setelah itu sahamnya turun lagi.
    Jadi dalam banyak kasus, ketika seorang investor berusaha menghasilkan profit yang superior, maka hasilnya justru minus alias rugi. Masalahnya, kebanyakan orang di pasar modal ya seperti itu: Mereka selalu berusaha meraup profit sebesar-besarnya, seringkali tanpa peduli risikonya, karena mereka berpikir bahwa gampang saja untuk bisa menemukan saham terbang seperti itu. Dan sangat sering terjadi sebuah saham baru ramai ‘dikunjungi’ justru setelah harganya naik tinggi, karena orang-orang penasaran apakah saham tersebut bakal naik lebih tinggi lagi (tapi ketika saham tersebut turun, maka korban langsung berjatuhan). Dalam hal inilah timbul kesan bahwa, investasi saham itu sulit. Karena jangankan meraup profit 10 – 15% per tahun, yang ada orang-orang malah rugi semua.
    Namun balik lagi: Seandainya target seorang investor adalah kinerja profit yang memuaskan, maka sebenarnya itu lebih mudah dari yang kebanyakan orang sadari. Contohnya? Well, masih ingatkah anda ketika pada Oktober 2017 lalu, beredar cerita tentang pernikahan dengan mas kawin bukan berupa emas, ataupun seperangkat alat sholat, melainkan saham? Dan saham apa yang dijadikan mas kawin tersebut? Jawabannya saham Sido Muncul (SIDO) (baca lagi ceritanya disini). Yup, SIDO bukanlah type saham yang bakal terbang 20% dalam sehari, termasuk juga belum pernah naik sampai 100% dalam setahun, namun dalam jangka panjang ia tetap menawarkan profit yang cukup baik, terutama dari dividen-nya. Jadi maksud penulis adalah, ketika seorang investor memutuskan untuk membeli saham seperti SIDO ini untuk investasi jangka panjang, termasuk berani menggunakannya untuk mas kawin, maka cukup jelas bahwa ia tidak mengincar profit superior, melainkan profit yang memuaskan saja, let say 15 – 25% per tahun. Dan hasilnya, ketika orang-orang lain kena rugi di saham ini itu, namun para investor yang memegang saham-saham seperti SIDO inilah, yang bisa tetap duduk santai sepanjang hari. Para ‘investor tradisional’ ini tahu persis bahwa mereka tidak akan meraih profit extraordinaryseperti investor lainnya yang membeli saham Indika Energy (INDY), setahun lalu, tapi disisi lain mereka juga tidak perlu khawatir bahwa sahamnya bakal di-suspen atau semacamnya. Sehingga meski target profitnya tampak kecil, tapi peluangnya lebih besar, alias profit tersebut lebih mudah untuk dicapai, tanpa perlu terlalu khawatir bakal menderita kerugian.

    Kesimpulannya, yep, untuk mencapai hasil investasi yang memuaskan, itu lebih mudah dari yang disadari kebanyakan orang. Namun untuk menghasilkan profit yang unggul/superior, maka itu lebih sulit dari kelihatannya. Nah, karena dalam investasi saham untuk tujuan menghasilkan dana pensiun maka anda tidak harus menghasilkan profit superior (karena, sekali lagi, anda tidak harus sekaya Setya Novanto untuk bisa pensiun), maka anda bisa mengubah target anda menjadi menghasilkan ‘profit yang memuaskan’ saja, alias target profitnya harus konservatif dan realistis. Dan untuk bisa menghasilkan profit yang memuaskan tersebut, maka itu sebenarnya mudah saja, dimana anda tinggal memilih saham-saham type low risk, bisnisnya sederhana, membayar dividen, dan satu lagi: Berhenti mendengarkan ‘kisah sukses’ investor di saham INKP, TKIM, dst, karena ingat sekali lagi bahqa, gak segampang itu untuk bisa dapet jackpot seperti itu.
    Okay Pak Teguh, kalau jenengan sendiri bagaimana? Apakah pilihnya hanya saham-saham yang aman, atau ada kejar saham terbang juga? Well, seperti yang bisa anda lihat sendiri di blog ini, saya mengkombinasikan keduanya, dimana kami banyak mengulas saham-saham mainstream yang target profitnya hanya 15 – 25% dalam setahun tapi risikonya pun rendah, sementara di lain waktu kami juga membahas saham-saham yang diharapkan menjadi ‘mutiara terpendam’, meski risikonya pun lumayan. Dan itu karena, sebagai investor full time, penulis dibantu dengan tim punya banyak waktu untuk mengerjakan analisa, sehingga kami punya peluang lebih besar untuk menemukan saham-saham jackpot, tapi disisi lain kami juga sepenuhnya sadar bahwa saham-saham tersebut risikonya besar, sehingga kami mengimbanginya dengan juga membeli saham-saham yang lebih aman. Kombinasi portofolio seperti ini, pada akhirnya menghasilkan kinerja yang ‘lebih dari sekedar memuaskan’ dalam jangka panjang.
    Anyway, jika anda terlalu sibuk untuk mengerjakan analisa, maka boleh pilih cara yang lebih mudah: Silahkan beli/akumulasi ‘saham-saham mas kawin’ bagi diri anda sendiri (gak harus SIDO, karena SIDO sendiri sudah naik lumayan). Dengan cara inilah, meski anda mungkin tidak akan lagi melihat saham anda auto reject atas atau semacamnya, tapi investasi anda di saham akan menjadi jauh lebih aman, dan anda tetap akan memperoleh handsome profit dalam jangka panjang. Satu-satunya syarat yang dibutuhkan adalah, anda jangan lagi gampang tersepona dengan saham-saham terbang, yang selalu berseliweran di market setiap hari. Dan, yap, setelah katakanlah 15 – 20 tahun, maka dengan catatan anda rutin nyetor ‘iuran pensiun’ katakanlah setiap bulannya ke sekuritas, maka hasilnya tetap akan luar biasa, dan anda akan memiliki sejumlah aset yang lebih dari cukup untuk dana pensiun bagi diri anda dan keluarga. Good luck!
    Okay, minggu depan baru kita akan bahas tentang Pak Joel.
    Buletin Analisa IHSG & Stockpick saham bulanan edisi September sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Value Investing: Advanced Class, Jakarta, 8 Sept 2018

    Dear investor, penulis menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

    Pembicara: Zomi Wijaya (profil Pak Zomi bisa dibaca disini).
    Materi Utama:
    1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
    2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
    3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
    4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
    5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’dalam laporan keuangan,
    6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
    7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
    8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaikuntuk buy dan sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.

    Setelah sebelumnya turun terus, indeks saham tambang batubara naik luar biasa hanya dalam dua tahun: Bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ alias membeli saham-saham batubara di tahun 2016 lalu, yakni ketika harganya masih dibawah?

    Bonus Materi Tambahan:
    1. Sharing pengalaman Teguh Hidayat sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
    2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
    3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman Teguh Hidayat sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Okay, berikut jadwal selengkapnya:
    Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
    Hari/Tanggal: Sabtu, 8 September 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Advanced Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100%(uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!

    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,350,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis/Teguh Hidayat melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Special Bonus! Gratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
    ***
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

    Penulis bersama temen-temen peserta salah satu seminar sebelumnya
    Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnyasaja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

    Jadwal seminar lainnya: Value Investing Pension Class: Cara mempersiapkan dana pensiun melalui investasi saham, menggunakan kaidah value investing. Jakarta, Sabtu, 1 Sept 2018. Info selengkapnya baca [...]

    Certified Trainer: Zomi Wijaya

    Indonesia Value Investing welcomes our new trainer and mentor, Zomi Wijaya! ‘Zomi is one of the most brilliant individuals in Indonesian stock market. His in depth knowledge and experience related to stock investing, especially value investing, will help many people to achieve their investment goals.’ -Teguh Hidayat-

    Profil Singkat
    Nama: Zomi Wijaya
    Tempat/Tahun Lahir: Sukabumi, 1993
    Pendidikan: S1 Jurusan Manajemen, Universitas Pelita Harapan (UPH), dan S2 Master of Management, UPH.
    Setifikat pasar modal: WPPE, dan WMI.
    Pengalaman di pasar modal: Sejak Tahun 2015.
    Pekerjaan diluar bidang pasar modal: Tidak ada.
    Seperti yang sudah penulis (Teguh Hidayat) sampaikan sebelumnya, seiring dengan semakin banyaknya jumlah investor di pasar modal, dan juga semakin populernya metode value investing itu sendiri, maka saya belakangan ini menerima banyak sekali permintaan untuk mengisi kelas kampus, pelatihan, dan workshop, baik itu secara private maupun kelas seminar. However, karena disisi lain saya juga harus fokus jagain portofolio milik Avere, dan itu juga bukan pekerjaan yang mudah, maka tidak semua request pelatihan tersebut bisa saya penuhi. Pada tahun 2016 lalu penulis banyak mengisi kelas di kampus-kampus, tapi belakangan ini hampir semua request dari universitas terpaksa saya tolak karena, sekali lagi, sulit ngatur waktunya (jadi dalam hal ini saya mohon maaf, dan harap maklum).
    Karena itulah, penulis kemudian merekrut trainer untuk mengisi kelas-kelas seminar, baik itu di Jakarta maupun di daerah. However, ‘trainer’ yang dimaksud disini haruslah memenuhi setidaknya dua kriteria: 1. Mampu berbicara di depan publik, dan tentunya 2. Memiliki pengalaman yang cukup dan wawasan yang luas tentang investasi saham, khususnya tentang metode value investing itu sendiri. Dan ada satu lagi kriteria tambahan: Trainer tersebut sebaiknya sudah pernah membaca semua tulisan di blog TeguhHidayat.com ini, termasuk sudah membaca buku-buku yang saya tulis, mengikuti seminar yang pernah saya selenggarakan, dan seterusnya. Ini agar dia bisa memaparkan materi seminar dengan sama baiknyadengan yang penulis lakukan selama ini, atau bahkan lebih baik lagi.
    Dan setelah proses seleksi, wawancara, dan training yang melelahkan, akhirnya penulis memperoleh satu nama: Zomi Wijaya. Pak Zomi memenuhi semua kriteria yang kami butuhkan: Pengalaman, pengetahuan, kemampuan menyampaikan materi, dan ia sudah hafal diluar kepala semua tulisan di teguhhidayat.com. Dan setelah penulis training sendiri untuk menjadi pembicara, Pak Zomi lulus training tersebut. Thus, dengan ini Indonesia Value Investing memberikan sertifikat kepada Zomi Wijaya sebagai trainer and mentor untuk kelas value investing yang kami selenggarakan, baik untuk materi basic maupun advanced.
    Catatan: Penulis (Teguh Hidayat) masih tetap mengisi seminar atau kelas private, namun dengan adanya Pak Zomi ini maka jadwal seminar kedepannya akan lebih banyak, dan kami juga akan mulai bikin kelas-kelas seminar di daerah sesuai permintaan, jadi gak cuma di Jakarta atau Surabaya saja.

    Dalam waktu dekat kita akan umumkan jadwal seminar, dengan Pak Zomi sebagai pembicaranya.
    Jakarta, 22 Agustus 2018
    Teguh Hidayat
    Galeri Foto
    Pak Zomi di Jepang
    Ketika mengisi kelas investasi saham di Gedung BEI
    Mr. Mentor and his protege
    Salah satu seminar yang penulis adakan, pak Zomi paling kanan
    Pak Zomi di kelas private
    Terakhir, ‘Indonesia Value Investing’ masih membuka lowongan untuk posisi trainer, dan junior partner. Bagi yang tertarik maka boleh baca info selengkapnya [...]

    Perusahaan Gas Negara

    Hingga hari ini, Selasa, 21 Agustus, Perusahaan Gas Negara (PGAS)masih belum merilis laporan keuangan untuk Kuartal II 2018, namun kinerjanya di Kuartal I terbilang kurang bagus dimana labanya kembali turun dari US$ 98 menjadi 81 juta, dan ROE-nya masih tertahan di level 9.9%. Jika pada tahun 2018 ini laba PGAS kembali turun dibanding 2017, maka genap lima tahun sudah laba perusahaan turun terus, dan ini menjelaskan kenapa sahamnya, meski sempat gagah di level 6,000-an pada tahun 2014 lalu, sampai sekarang masih belum bangkit lagi.

    Namun inilah menariknya: Dalam setahun terakhir, setelah penurunannya mentok di level 1,400 pada Oktober 2017 lalu, kesininya PGAS cenderung naik lagi, bahkan sempat mencapai 2,700 pada Januari 2018 (sebelum kemudian turun lagi karena terseret penurunan IHSG). Kemudian ketika penurunan PGAS mencapai level 1,525, Juli 2018 kemarin, kesininya dia naik cenderung naik lagi. Secara teknikal, ini mengkonfirmasi bahwa level 1,400 yang dicapai PGAS pada Oktober 2017 lalu sudah merupakan bottom-nya.
    Catatan: Dalam menganalisa saham, seorang value investor juga memperhatikan faktor teknikal. Namun jika kebanyakan trader hanya melihat pergerakan saham dalam jangka waktu bulanan, mingguan, harian, atau bahkan jam-jaman, termasuk heboh sendiri jika saham tersebut naik atau turun katakanlah 5 – 10% dalam sehari, maka kita mengabaikan fluktuasi jangka pendek seperti itu, dan hanya melihat pergerakan saham dalam beberapa bulan atau setahun terakhir, atau lebih lama lagi. Selengkapnya baca disini: https://www.teguhhidayat.com/2014/12/follow-trend-dalam-analisis-fundamental.html
    Nah, actually penulis sendiri sebenarnya sudah tertarik ketika PGAS berada di level 1,400, delapan bulan lalu, karena PBV-nya pada harga segitu cuma 0.7 kali, clearly undervalue untuk ukuran saham dari perusahaan besar dan terkemuka, yang di masa lalu pernah konsisten membukukan kinerja extraordinary dari tahun ke tahun (sebelum tahun 2014, ROE PGAS stabil di level 30 – 40%), dan PGAS selama ini tidak pernah terkena masalah hukum atau semacamnya. Namun karena kinerja perusahaan masih belum kembali pulih, dan tidak ada kejelasan soal outlook-nya kedepan bagaimana (meski rame soal akuisisi Pertagas, Pertamina bla bla bla, tapi gak ada informasi soal ekspansi usaha tertentu), maka penulis putuskan untuk wait n see saja dulu.
    Dan setelah hampir satu tahun, sepertinya sekarang sudah waktunya untuk melirik sahamnya lagi. Tapi sebelum itu mari kita lihat lagi PGAS ini dari awal, apa saja bidang usaha yang dikerjakan perusahaan saat ini, termasuk bagaimana update terakhir soal akuisisi PGAS terhadap PT Pertamina Gas (Pertagas).
    PGAS adalah perusahaan kedua tertua di Indonesia (setelah Kimia Farma/KAEF, yang berdiri tahun 1817), yang berdiri pada tahun 1859 dengan nama LJN Eindhoven & Co. sebagai perusahaan distributor gas swasta di Batavia, yang pada tahun 1863 diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1958, perusahaan dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia (sehingga menjadi BUMN), dan go public pada tahun 2003. Pada perkembangannya, usaha PGAS terbagi menjadi dua jenis: Distribusi gas, yakni penyaluran gas melalui truk tangki, tabung gas, hingga pipa-pipa gas berukuran kecil ke pelanggan-pelanggan di kawasan industri, kawasan komersial, dan perumahan, dan transmisi gas, yakni jasa penyaluran gas melalui pipa-pipa khusus berukuran besar, dimana perusahaan menerima fee dari produsen gas yang mengalirkan gas-nya melalui pipa-pipa tersebut. Pada tahun 2011, PGAS mulai masuk ke bidang hulu dan hilir bisnis gas alam, dengan mendirikan PT Saka Energi Indonesia, dan PT Gagas Energi Indonesia. Melalui Saka Energi, PGAS mengakuisisi kepemilikan saham, baik mayoritas maupun minoritas, di 11 lapangan migas (10 di Indonesia, 1 di Amerika Serikat), dan pada saat ini sebagian besar diantaranya sudah berproduksi. Sementara melalui Gagas Energi, PGAS mengelola hasil produksi gas dari Blok West Madura Offshore milik Pertamina, menjadi liquefied natural gas siap pakai yang langsung disalurkan ke sektor transportasi (melalui SPBG dan Mobile Refueling Unit), sektor industri, dan komersial.
    Nah, jika pada tahun-tahun sebelumnya pendapatan PGAS nyaris sepenuhnya berasal dari usaha distribusi dan transmisi gas-nya, maka pada Kuartal I 2018 kemarin, dari pendapatannya sebesar total US$ 872 juta, US$ 219 juta atau 25% diantaranya berasal dari usaha produksi gas (hulu), pengolahan gas (hilir), dan lain-lain. However, meski pendapatan PGAS dari usaha diluar distribusi gas terbilang cukup besar, namun labanya dari unit-unit usaha baru ini justru minus alias rugi. Penulis tidak tahu apa masalahnya, namun ini berarti laba bersih PGAS pada hari ini akan lebih besar andaikan perusahaan tetap fokus pada bidang usaha aslinya, yakni distribusi gas. Sebenarnya diluar keputusan manajemen untuk masuk ke hulu, hilir, dan lainnya (dalam rangka membangun PGAS menjadi perusahaan gas yang lengkap serta terintegrasi), maka PGAS juga terus membangun jaringan pipa gas baru untuk memperluas usaha distribusi gas-nya, dimana update terakhir menyebutkan bahwa perusahaan tengah menyelesaikan pipa transmisi gas Duri – Dumai di Riau, yang akan disambungkan dengan jaringan pipa gas di Kota Medan dan Deli Serdang. However, pemerintah sebenarnya sudah memerintahkan PGAS untuk membangun jaringan pipa gas di Sumatera Bagian Utara sejak tahun 2014 lalu, sehingga entah ada hubungannya atau tidak dengan kesibukan baru manajemen PGAS diluar usaha distribusi gas, bisa dikatakan bahwa progress pembangunan jaringan pipa barunya sangat lambat.
    Kesimpulannya, meski pihak manajemen selalu mengatakan bahwa kinerja perusahaan, yang sampai sekarang belum profitable lagi seperti sebelum tahun 2014 lalu, adalah karena perlambatan ekonomi makro bla bla bla, tapi sebenarnya ada faktor lain, yakni cara kerja perusahaan yang tidak lagi efisien. Bagi anda investor berpengalaman, kita semua tahu bahwa PGAS merupakan salah satu big caps paling profitable di bursa di masa lalu, bahkan lebih profitable dibanding emiten-emiten perbankan dan sebagian emiten consumer goods, adalah karena dua hal:
    PGAS membeli gas dari produsen (Conoco Phillips, Pertamina, dst) pada harga fix yang nyaris tidak berubah dalam jangka panjang, namun harga jual PGAS ke konsumen cenderung naik dari waktu ke waktu karena mengikuti inflasi dan faktor-faktor lain.
    Dengan jaringan pipa gas-nya yang terbesar di Indonesia, maka PGAS nyaris me-monopoli usaha distribusi gas di tanah air, termasuk bisa menekan produsen untuk menjual gas mereka pada harga rendah (jadi balik lagi ke point 1 diatas).
    However, karena PGAS terbilang lambat dalam hal menambah jaringan pipa-pipa gas-nya, sementara kompetitor juga mulai bermunculan (salah satunya Rukun Raharja/RAJA), maka PGAS tidak lagi monopoli seperti dulu, dimana pangsa pasarnya turun dari tadinya 92% se-Indonesia, menjadi hanya 81% pada akhir tahun 2014 lalu, dan kalau melihat pendapatannya yang jalan di tempat sejak tahun 2014 tersebut, maka kemungkinan pangsa pasarnya sekarang sudah turun lagi. Jika kondisi ini tidak juga berubah, maka sulit untuk membayangkan bahwa PGAS akan kembali mencetak ROE 30 – 40% seperti di masa lalu.
    Sinergis PGAS – Pertamina
    Diluar perkembangan kinerja fundamental perusahaan, ada satu lagi cerita menarik terkait PGAS: Dalam rangka pembentukan holding migas, maka saham Pemerintah di PGAS diambil alih oleh PT Pertamina, dimana proses pengambil alihannya akhirnya selesai pada tanggal 11 April 2018 kemarin, sehingga PGAS saat ini berstatus sebagai anak usaha dari Pertamina. Langkah selanjutnya, Pertamina akan meng-integrasi-kan anak usahanya dibidang gas, yakni PT Pertamina Gas atau Pertagas, menjadi anak usaha dari PGAS. In this way, PGAS menjadi sub-holding bagi Pertamina untuk unit-unit usaha gas-nya, dan dari sinergi yang kemudian timbul maka diharapkan akan berdampak positif bagi kinerja Pertamina, PGAS, dan Pertagas itu sendiri.
    Nah, rencana pemerintah untuk menempatkan PGAS dibawah Pertamina, itu sebenarnya sudah dicanangkan sejak 2 – 3 tahun lalu, tapi lagi-lagi prosesnya sangat lambat, dimana dalam perjalanannya maka investor selalu dibuat bingung soal apakah pembentukan holding migas ini akan berdampak positif atau tidak terhadap fundamental perusahaan. Sementara untuk proses penempatan Pertagas dibawah PGAS, ini juga belum ada kepastian kapan selesainya, sehingga bisa dikatakan bahwa proses pembentukan holding migas ini baru separuh jalan. Thus, jangankan mencoba menganalisa soal bagaimana dampak integrasi Pertamina – PGAS – Pertagas ini terhadap kinerja ketiga perusahaan, untuk saat ini kita bahkan belum punya gambaran soal kapan proses integrasi tersebut selesai dilakukan. In short, saham PGAS bisa saja terbang lagi sewaktu-waktu kalau nanti muncul lagi cerita (positif) terkait akuisisi Pertagas, tapi abis itu ya turun lagi, karena kinerja PGAS sampai sekarang masih gitu-gitu saja.
    PGAS: Sudah murah?
    Anyway, balik lagi ke pergerakan sahamnya dalam setahun terakhir dimana PGAS ternyata tidak turun lebih rendah lagi, sementara disisi lain perusahaan masih membukukan laba, ekuitasnya masih naik, masih membayar dividen, dan tidak ada masalah tertentu, dan brand ‘PGN’ dengan slogannya ‘energy for life’ juga sekarang mulai strong seiring dengan inisiatif manajemen untuk memasang iklan (in the end, kualitas brand ini pada akhirnya akan lebih kelihatan dibanding kinerja perusahaan itu sendiri, karena semua orang bisa nonton televisi/liatin medsos, tapi tidak semua orang bisa baca laporan keuangan).
    Dan fakta kuantitatifnya adalah, dengan PBV kurang dari 1.0 kali, maka PGAS bisa dinobatkan sebagai saham blue chip paling murah di jagat BEI pada saat ini. Kemudian meski prospek kinerja kedepannya masih belum terlalu cerah, tapi cerita fairytale ‘akuisisi Pertagas’ diatas akan menjaga sahamnya untuk tetap ‘hidup’, baik itu di pemberitaan media maupun dilihat dari volume transaksinya di market. Dan terakhir, pada tahun 2017, laba bersih PGAS totalnya hanya US$ 148 juta, yang itu artinya, masih ada peluang bagi PGAS untuk mencatat kenaikan laba pada tahun 2018 ini, karena perolehan labanya di Kuartal I sudah mencapai US$ 81 juta.
    Nah, jadi selanjutnya kita tinggal tunggu satu hal lagi: Jika benar bahwa level 1,400 (yang dicapai Oktober 2017) dan 1,525 (yang dicapai Juli 2018) sudah merupakan bottom bagi sahamnya, atau dengan kata lain jika besok-besok PGAS turun lagi (misalnya karena IHSG turun) tapi penurunannya gak sampai tembus 1,525, maka fix, sahamnya sudah tidak akan turun lebih rendah lagi, dimana jika nanti perusahaan akhirnya merilis LK Kuartal II, dan labanya ternyata naik, maka pada saat itulah sahamnya bakal naik pelan-pelan, minimal ke 2,400 dulu. We’ll see.

    Minggu depan kita akan membahas profil  dan success story dari Pak Joeliardi Sunandar, value investor senior yang sudah berinvestasi di saham sejak tahun 1990an.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Seminar Value Investing: Mempersiapkan Dana Pensiun, Jakarta, 1 Sept

    Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension’. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividendserta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investoryang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.


    Pembicara: Teguh Hidayat

    Materi Utama:
    1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
    2. Cara memaksimalkan profit dengan cara meminimalisir risiko-risiko kerugian, sehingga investasi kita di saham menjadi sama aman-nya dengan katakanlah punya rumah kontrakan (atau bahkan lebih aman), dan pertumbuhan nilainya menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang.
    3. Cara menyusun portofolio untuk investasi jangka panjang berdasarkan dua kategori saham: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, dengan tujuan memperoleh dividend, 2. Saham-saham berfundamental amat sangat bagus yang analisanya sebatas ‘Belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dengan tujuan memperoleh capital gain, berdasarkan kaidah value investing.
    4. Ciri-ciri ‘wonderful company’, serta apa bedanya dengan saham cyclical, yakni saham yang akan di-hold paling lama 1 – 2 tahun saja (tapi jika timing-nya tepat, maka capital gain-nya justru lebih besar/bisa lebih dari 100%).
    5. Cara memanfaatkan fluktuasi pasar untuk membeli saham-saham terbaik pada harga terbaik.
    6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
    7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskanmengelola portofolio kita di saham.
    Perkembangan nilai aset Buffett dari tahun ke tahun, yang sangat sulit untuk bisa disamai oleh investor manapun. Tapi, hey, kita tidak harus punya aset US$ 1 billion untuk bisa pensiun bukan?
    Bonus Materi:
    1. Ciri-ciri investor berpengalaman/profesional: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
    2. Sharing pengalaman penulis ketika menemukan saham-saham untuk jangka panjang, 5 – 7 tahun lalu (dan bagaimana perkembangan perusahaannya sekarang), dan apa bedanya dengan saham-saham yang sempat populer pada masanya, namun bukan untuk jangka panjang. 
    3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, dan sudah bisa diakumulasi sejak sekarang.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Okay, berikut jadwal selengkapnya:
    Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
    Hari/Tanggal: Sabtu, 1 September 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,750,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif, maka jumlah kursi dibatasi hanya untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat Kamis, 30 Agustus, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,650,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,500,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    4. Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D76DFC5C. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


    Penulis (duduk ditengah, mengenakan kemeja biru) bersama temen-temen dari salah satu kelas seminar [...]

    Ebook Investment Planning

    Apa pekerjaan paling penting dalam berinvestasi di saham? Yep, jawabannya adalah menyusun perencanaan alias PLANNING, yang terdiri dari 1. Daftar saham pilihan yang akan dibeli, termasuk informasi prospek perusahaannya 2. Harga beli terbaik untuk saham-saham tersebut, dan 3. Strateginya baik itu untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.
    Daftar isi dari ebook edisi sebelumnya (Kuartal I 2018), lengkap beserta harga beli terbaik yang disarankan, rating/tingkat rekomendasi, strategi, dan tingkat risiko untuk tiap-tiap saham

    Dan semua itu terangkum dalam Ebook Kuartalan (by Teguh Hidayat) edisi Kuartal II 2018, yang sudah terbit pada Agustus 2018, dan anda bisa langsung memperolehnya disini.
    For professional investors and fund managers, this book is a must-read! Seperti biasa, analisa dalam ebook ini dibuat berdasarkan metode yang sangat efektif dalam investasi saham, yakni value investing (Gambar adalah daftar isi dari ebook kuartalan edisi sebelumnya yakni Kuartal I [...]

    Seminar Value Investing: Mempersiapkan Dana Pensiun, Jakarta, 1 Sept

    Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing: Preparing the Pension. Pada kelas kali ini kita akan berdiskusi lebih spesifik lagi mengenai goal atau tujuan utama seorang investor, yakni untuk memiliki aset yang cukup besar hingga dari aset tersebut bisa dihasilkan dividend serta capital gain yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan alhasil kita tidak perlu bekerja lagi alias pensiun, atau menjadi full time investor yang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, atau untuk melakukan apapun yang kita sukai. Berikut materi selengkapnya.

    Materi Utama:
    1. Cara untuk menyisihkan/menabung sebagian dari pendapatan sebagai ‘iuran pensiun’, berapapun penghasilan anda setiap bulannya, berdasarkan pengalaman penulis selama ini (sebelum tahun 2012, penulis masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji ala kadarnya)
    2. Mengenal risiko-risiko dalam investasi saham, dan cara meminimalisirnya, sehingga pertumbuhan aset kita menjadi lebih sustainable/berkelanjutan dalam jangka panjang (ingat tugas investor itu bukan untuk meraih profit sebesar-besarnya, melainkan untuk meraih profit se-konsisten mungkin).
    3. Cara menyusun portofolio pegangan saham berdasarkan tiga kategori: 1. Wonderful company, yang sekali dibeli maka jangan pernah dijual lagi, 2. Saham-saham berfundamental bagus yang analisanya sebatas ‘belinya di harga berapa? Jualnya di harga berapa?’, dan 3. Saham-saham agresif yang diharapkan profit 100% atau lebih dalam waktu setahun atau kurang.
    4. Ciri-ciri ‘wonderful company’: Apakah ada saham wonderful selain UNVR? Banyak!
    5. Lebih detail tentang strategi untuk ‘menabung saham’ pada wonderful company untuk di-hold forever untuk meraih dividend,dan juga strategi membeli saham untuk nanti dijual lagi pada harga yang lebih tinggi untuk meraih capital gain,berdasarkan kaidah value investing.
    6. Cara menyusun roadmap investasi jangka panjang: Apa-apa saja yang harus dikerjakan, serta target apa saja yang harus dicapai setelah 5, 10, dan 15 tahun, dan
    7. Cara mempersiapkan generasi muda/anak-anak untuk meneruskan mengelola portofolio kita di saham.
    Perkembangan nilai aset Buffett dari tahun ke tahun, yang sangat sulit untuk disamai oleh investor manapun. Tapi, hey, kita tidak harus punya aset US$ 1 billion untuk bisa pensiun bukan?
    Bonus Materi:
    1. Ciri-ciri investor berpengalaman: Apa saja yang membedakan mereka dengan investor newbie, dan bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka.
    2. Belajar dari Warren Buffett di tahun 1950 dan 1960-an: Apa-apa saja yang dilakukan oleh Oracle of Omaha hingga meraih US$ 1 juta pertamanya? Dan apa yang ia lakukan selanjutnya hingga aset tersebut kembali tumbuh berlipat-lipat di tahun-tahun berikutnya? Dan
    3. Beberapa pilihan saham wonderful company yang sudah penulis seleksi, baik itu dari kategori perusahaan besar/bluechip, maupun perusahaan menengah dan kecil/second liner.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    Okay, berikut jadwal selengkapnya:
    • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 September 2018
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

    Pembicara: Teguh Hidayat.

    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,750,000, dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNIno rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Pension Class, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!
    Special Discount!
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,650,000 per peserta.
    Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp1,500,000 per peserta.
    Layanan Gratis!
    1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya,
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email

    Donasi Gempa Lombok

    Dear investor, seperti yang kita ketahui, beberapa hari lalu Pulau Lombok diguncang gempa hingga 7.0 skala richter, yang disusul gempa-gempa yang lebih kecil hingga ratusan kali. Update terakhir menyebutkan bahwa korban jiwa mencapai 400 orang, sementara jumlah pengungsi juga mencapai 300 ribu orang. Mereka tentunya membutuhkan uluran tangan kita semua, baik itu kecil maupun besar.
    Sumber ilustrasi: www.kitabisa.com

    Karena itulah, penulis mengajak temen-temen sesama investor untuk turut membantu meringankan beban saudara-saudara kita disana, salah satunya melalui kampanye berikut: https://kitabisa.com/korbangempalombok, atau anda bisa pilih kampanye lainnya, terserah yang mana saja. Berapapun yang kita donasikan, itu sama sekali tidak penting, yang penting kita turut memberikan peran dan manfaat bagi sesama. Bagi penulis pribadi, ini juga sebagai ungkapan syukur bahwa, Alhamdulillah, saya dan anda semua masih sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun, jadi mari kita sisihkan setidaknya sebagian kecil dari apa yang kita punya bagi saudara-saudara kita di Lombok, yang memang tengah membutuhkan bantuan kita semua.
    Dan semoga kondisi di Lombok segera pulih kembali seperti sediakala.. [...]

    Krisis Turki, dan IHSG

    Dalam sebulan terakhir, mata uang Negara Turki, Turkish Lira (TL), terjun bebas dari ?4.8 ke ?7.0 per US Dollar, atau drop lebih dari 30%, dan kejatuhan tersebut memperparah devaluasi TL yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dimana pada tahun 2014 lalu, TL masih berada di level ?2.0 per USD. Atau dengan kata lain, mata uang Negara Turki telah kehilangan lebih dari dua per tiga nilainyahanya dalam empat tahun terakhir, dan ini otomatis menimbulkan pertanyaan: Apa yang terjadi? Apakah Turki sedang krisis atau semacamnya? Dan khususnya apa yang terjadi dalam sebulan terakhir hingga TL jatuh sangat cepat? Sebagai perbandingan, meskipun Indonesian Rupiah (IDR) juga cenderung melemah terhadap US Dollar, namun pada tahun 2014 lalu IDR berada di level Rp12,700, berbanding hari ini sekitar Rp14,500 per USD, yang artinya penurunannya total hanya 12% dalam empat tahun terakhir (tapi bahkan itupun sudah bikin kita khawatir, jadi bagaimana dengan Turki ini?)

    Posisi real time Turkish Lira per hari Senin, 13 Agustus 2018, pukul 12.00 WIB, dimana TL sempat drop sampai ?7.0 per USD, sebelum kemudian menguat sedikit ke ?6.7 per USD. Sumber: www.tradingeconomics.com

    Pelemahan TL yang terjadi sejak 2014 sebenarnya in line dengan pelemahan hampir semua mata uang negara lainnya di seluruh dunia terhadap USD (sehingga dalam hal ini lebih tepat jika dikatakan bahwa USD-lah yang menguat, bukan Rupiah dll yang melemah), namun kejatuhannya dalam sebulan terakhir dipicu oleh dua faktor yang bisa dikatakan faktor eksternal. Pertama, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menaikkan tarif impor baja dan alumunium dari Turki sebesar masing-masing 50% dan 20%, yang tentu saja dikhawatirkan akan menurunkan nilai impor Turki ke AS. Kedua, sebelumnya pada tanggal 26 Juli 2018, Wakil Presiden AS, Michael Pence, mengirim pesan langsung kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk membebaskan Pdt. Andrew Brunson, seorang pendeta katolik asal AS di Turki, yang pada tahun 2016 lalu ditangkap dan dipenjara karena dianggap terlibat dengan upaya kudeta militer terhadap Presiden Erdogan. Dan ancamannya adalah, jika Pdt. Brunson tidak segera dibebaskan, maka Turki akan menerima sanksi serius dari AS. Thus, muncul spekulasi bahwa kenaikan tarif impor diatas adalah bentuk dari sanksi tersebut, dan akan ada sanksi berikutnya jika masalah ini kemudian berkepanjangan.
    Tapi diluar kemungkinan sanksi tambahan dari AS, maka kejatuhan TL ini sudah mulai membuka problem-problem lainnya terkait ekonomi Turki. Pertama, seiring dengan pesatnya pertumbuhan GDP/ekonomi Turki dalam beberapa tahun terakhir (GDP Turki terakhir tercatat USD 851 milyar di tahun 2017, naik hampir empat kali lipat dibanding tahun 2003, yakni ketika Presiden Erdogan mulai menjabat sebagai Perdana Menteri), itu menimbulkan efek samping berupa lonjakan inflasi, yang terakhir mencapai 17.5%, jauh diatas rata-rata inflasi Turki dalam sepuluh tahun terakhir yang hanya 6 – 7% per tahun, dan tingkat inflasi ini diprediksi akan semakin besar seiring dengan kejatuhan TL. Kedua, dalam rangka menekan inflasi dan menghambat pelemahan TL, tingkat suku bunga Bank Sentral Turki juga dinaikkan dari 4.75% di tahun 2014, menjadi sekarang sudah tembus 17.75%. Dengan suku bunga setinggi ini maka tentu saja dikhawatirkan bahwa economic growth yang dialami Turki bisa berbalik setiap saat menjadi pertumbuhan ekonomi minus, alias krisis, karena tingkat suku bunga di Turki sekarang ini sudah merupakan yang tertinggi dibanding negara-negara lain sesama anggota G20, termasuk inflasinya juga sangat tinggi. Sebagai perbandingan, tingkat suku bunga di Indonesia atau BI Rate, sekarang hanya 5.25%, sementara inflasi Indonesia juga cuma 3.2% per tahun.
    However, kalau kita lihat indikator-indikator makro lainnya seperti Government Debt to GDP, tingkat pengangguran, dst, maka Turki tidak bisa dikatakan sedang krisis, melainkan baru sebatas dikhawatirkan akan jatuh krisis, yakni jika kejatuhan TL yang terjadi sekarang ini berlanjut. Dengan kata lain, jika besok-besok TL naik lagi maka ya sudah, masalahnya selesai. Malah, diluar cerita kejatuhan mata uangnya, maka ekonomi Turki dalam sepuluh tahun terakhir ini justru sedang bagus-bagusnya (dan makanya Presiden Erdogan juga kemudian menjadi sangat populer).
    Jadi pertanyaannya sekarang, apakah pelemahan TL akan berlanjut, ataukah posisi TL terhadap USD pada saat ini sudah cukup rendah sehingga selanjutnya dia akan rebound? Dan jika Turki kemudian beneran krisis, maka kira-kira bagaimana dampaknya terhadap Indonesia? Nah, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita coba lihat dulu ceritanya dari awal.
    Fluktuasi Market Global vs IHSG
    Sepanjang tahun 2018 ini, sejak awal tahun sudah muncul beberapa cerita dari luar negeri yang kemudian menyebabkan pasar saham Indonesia tertekan. Yang pertama adalah ketika Dow Jones Industrial Average (DJIA), yang sebelumnya naik terus, tiba-tiba drop 10.3% dari 26,616 ke 23,860 pada bulan Februari 2018, yang tentu saja memunculkan isu Amerika krisis bla bla bla. Tapi setelah kita bahas lagi di artikel ini, maka justru tidak ada krisis apapun disana, malah ekonomi Amerika sedang bagus-bagusnya setelah terakhir kali mereka krisis di tahun 2008, dan sekarang inipun pun DJIA sudah stabil lagi. Kemudian pada Juli 2018, Pemerintah AS menerapkan tarif 25% untuk impor barang-barang dari China senilai US$ 34 milyar, yang segera dibalas oleh Beijing dengan juga menerapkan tarif untuk beberapa impor barang dari AS. Peristiwa ini kemudian memunculkan istilah perang dagang, antara AS dan China, yang lagi-lagi dikhawatirkan akan menimbulkan krisis (karena dua negara ini notabene berstatus sebagai penguasa ekonomi dunia saat ini) dan ceritanya semakin memanas karena ditambah dengan pernyataan-pernyataan Trump di media.
    But still, cerita perang dagang itu baru sebatas ‘dikhawatirkan akan menimbulkan krisis’, dan sampai saat ini belum ada indikasi krisis yang serius karena imbas dari ‘trade war’, baik itu di AS, China, ataupun negara-negara lainnya. Dan IHSG sendiri, meski kemudian turun lumayan banyak dari puncaknya di level 6,600-an, Februari 2018 lalu, tapi penyebabnya lebih karena isu-isu dalam negeri seperti pelemahan Rupiah dll, selain tentunya karena sejak awal valuasi saham-saham, terutama blue chip, sudah pada mahal.
    Nah, cerita selanjutnya adalah Krisis Turki ini, dan penulis bisa katakan bahwa cerita ini lebih serius dibanding perang dagang kemarin, dan juga mengingatkan penulis dengan Krisis Yunani di tahun 2011 lalu, dimana meski GDP Yunani terbilang kecil, namun krisis disana dikhawatirkan akan merembet ke negara-negara Uni Eropa lainnya, termasuk sampai ke Indonesia. Dan meski pada akhirnya tidak terjadi krisis besar apapun (Ekonomi Yunani sampai sekarang masih belum benar-benar pulih, tapi sudah tidak ada lagi kekhawatiran bahwa kondisi ekonomi disana akan merembet ke negara lain), namun sentimen krisis Yunani ini tetap berpengaruh ke pasar saham Indonesia, dimana IHSG sepanjang tahun 2011 hanya naik 3.2%, padahal GDP growth kita ketika itu lagi bagus-bagusnya di level diatas 6% (sekarang cuma 5%).
    Sementara untuk Turki ini, maka kalau dia beneran krisis maka pengaruhnya ke perekonomian dunia bakal lebih signifikan, karena ukuran ekonomi Turki sebagai negara anggota G20 terbilang cukup besar, dan statusnya sebagai emerging market menimbulkan kekhawatiran investor global bahwa negara-negara emerging market lainnya, termasuk Indonesia, juga bisa saja mengalami kondisi yang sama. Namun demikian kata kuncinya itu tadi: Kalau Turki beneran krisis.
    Sementara untuk saat ini, maka diluar kejatuhan mata uangnya, Turki belum mengalami krisis apapun, masih jauh lah kalau dibandingkan dengan Yunani di tahun 2011, malah disana justru lagi booming industri pariwisata dll (coba googling, Istanbul and Cappadocia). Dan kalau kita baca lagi ceritanya diatas, maka kejatuhan TL ini sepertinya lebih disebabkan oleh faktor politik ketimbang ekonomi, yakni terkait Trump vs Erdogan. Mungkin, seiring dengan kesuksesannya membangun ekonomi Turki, popularitas Erdogan juga meningkat pesat tidak hanya di Turki tapi juga seluruh dunia, tapi disisi lain itu membuat negara-negara adidaya justru khawatir kalau kedepannya Turki ini bakal jadi ‘sulit dikendalikan’.
    Jadi kecuali kedepannya nanti ada isu lainnya lagi, atau pelemahan TL terus berlanjut, maka jangankan pengaruh secara fundamental terhadap makroekonomi nasional, pengaruh cerita krisis Turki ini terhadap indeks-indeks saham di seluruh dunia, termasuk Indonesia, juga masih akan sebatas sentimen jangka pendek, yang bisa langsung dilupakan lagi dalam beberapa waktu kedepan, dan IHSG akan kembali bergerak stabil sesuai dengan perkembangan ekonomi dalam negeri. Dengan kata lain, jika nanti peristiwa penurunan Turkish Lira ini berlanjut maka artikel ini juga akan ada lanjutannya, tapi jika tidak maka yo wis, kita hanya akan membahas peristiwa penting yang lainnya lagi. So let us just sit, and wait. Actually, kalau kita lebih teliti maka sebenarnya ada isu lain yang lebih serius, yakni kejatuhan Bursa Shanghai di China, dimana SSE Composite Index sudah drop 3,558 pada Januari 2018 lalu, ke posisi 2,746 pada saat ini, dan kalau lihat chart-nya maka sepertinya penurunannya masih akan berlanjut. Tapi entah kenapa hal ini tidak begitu diperhatikan publik, dan perhatian kita malah tertuju pada Turki yang ukuran negaranya jauh lebih kecil, dan hubungan ekonominya dengan Indonesia juga tidak terlalu dekat.
    Anyway, welcome to the stock market, dimana seringkali perhatian investor lebih tertuju pada apa yang sedang ramai diberitakan di media, ketimbang peristiwa atau fakta apa yang benar-benar tengah terjadi di Indonesia atau diluar sana.
    Untuk minggu depan, kecuali ada isu lain yang lebih rame, kita akan analisa Perusahaan Gas Negara (PGAS).

    Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

    Krakatau Steel

    Krakatau Steel (KRAS) kembali melaporkan rugi US$ 16 juta di Kuartal II 2018, sehingga dari sini saja sahamnya sudah tidak layak invest, terutama karena dalam lima tahun terakhir, atau bahkan lebih lama lagi, KRAS selalu merugi. Hanya memang valuasi sahamnya yang sudah sangat murah, yakni PBV 0.3 kali, sementara perusahaannya sendiri punya segudang proyek pengembangan yang, kalau nanti sudah beroperasi, diperkirakan akan meningkatkan pendapatan KRAS secara signifikan, menyebabkan sahamnya mulai banyak dilirik investor. Jadi mungkin pertanyaannya sekarang simpel saja: Apakah KRAS akan menjadi The Next INDY? Atau justru malah menjadi The Next AISA?? Okay, kita langsung saja.

    Sejak sahamnya listing di BEI, tahun 2011 lalu, KRAS nyaris tidak pernah menarik minat investor karena itu tadi: Perusahaannya tiap tahun rugi mulu, dan ini sebenarnya aneh mengingat KRAS sudah ekspansi membangun pabrik ini dan itu beserta infrastruktur pendukungnya bahkan sejak tahun 2010 lalu. Contohnya, seperti yang dulu kita bahas disini, pada akhir tahun 2013 lalu KRAS menyelesaikan pembangunan pabrik slab steel dan steel plate lengkap dengan fasilitas pelabuhan serta pembangkit listrik di Cilegon, Banten, dengan bekerja sama dengan Posco Steel asal Korea Selatan, dan pabrik tersebut sudah beroperasi sejak tahun 2014. Kemudian di tahun 2014 tersebut, KRAS juga tengah membangun pabrik baja blast furnace, pabrik baja hot strip, pabrik pipa baja, hingga kawasan industri, semuanya berlokasi di Cilegon. Karena sekarang sudah tahun 2018, maka secara teori seharusnya pabrik-pabrik tersebut sudah selesai dibangun dan juga sudah menghasilkan pendapatan.
    Okay, lalu berapa pendapatan KRAS sekarang? US$ 854 juta di Semester I 2018, yang kalau disetahunkan menjadi US$ 1.7 milyar, dimana meski itu meningkat lumayan dibanding tahun 2015, 2016, dan 2017, tapi masih lebih kecil dibanding pendapatan KRAS di tahun 2013 yang mencapai US$ 2.1 milyar. Aneh? Yep, jelas aneh. Karena diatas sudah dikatakan bahwa pabrik baja milik Krakatau – Posco mulai beroperasi tahun 2014, yang artinya pendapatan KRAS harusnya mulai melonjak di tahun 2014 tersebut, tapi kenapa pendapatan KRAS sampai sekarang malah lebih kecil dibanding pendapatannya di tahun 2013?
    Tapi apapun itu, yang jelas investor pada akhirnya hanya melihat perolehan laba bersih perusahaan (yang sayangnya selalu minus), dan alhasil saham KRAS terus turun pelan-pelan hingga menyentuh 260-an, akhir tahun 2015 lalu. Memasuki tahun 2016, KRAS dengan cepat naik hingga menyundul level 800-an, tapi penyebabnya bukan faktor fundamental, melainkan karena perusahaan menggelar right issue yang kemudian ditetapkan pada level Rp525 per saham. Ketika itupun lagi-lagi KRAS ini heboh karena dikatakan bahwa perusahaannya bakal profit besar kalau pabriknya nanti sudah jadi (karena memang dana hasil right issue-nya digunakan untuk membangun satu lagi pabrik baja hot strip, yang dijadwalkan selesai tahun 2019). However, karena pada tahun 2016 tersebut, dan berlanjut sampai hari ini, KRAS masih tetap merugi, maka jadilah sahamnya turun lagi.
    Lalu untuk kedepannya bagaimana? Nah, sebelum bicara prospek, penulis sebenarnya sudah mengidentifikasikan beberapa problem menahun yang dialami KRAS (yang sampai sekarang belum ada solusinya), dan inilah yang menyebabkan perusahaan terus saja merugi. Pertama, perusahaan sejak dulu tidak efisien dalam kegiatan operasionalnya dimana ada banyak biaya-biaya yang sebenarnya bisa ditekan. Contohnya, KRAS membeli gas dari PT Pertamina sebanyak 8,942.5 MSCF (million standard cubic feet) per tahun, pada harga US$ 6.75 per MMBTU, dimana dalam perjanjiannya yang terakhir di-amandemen pada tahun 2016, KRAS diwajibkan untuk membayar penuh harga beli gas sebanyak 8,942.5 MSCF tersebut, baik itu gasnya diambil semuanya atau tidak. Dan harga beli yang US$ 6.75 itu juga lebih tinggi dari instruksi Kementerian ESDM di tahun 2017, yang menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan distributor gas, termasuk Pertamina, harus menjual gasnya maksimal pada harga US$ 6 per MMBTU kepada pelanggan industri.
    Lalu kenapa kok KRAS seperti gak bisa meng-amandemen perjanjiannya dengan Pertamina agar lebih menguntungkan buat perusahaan? Well, tanya direktur utamanya!
    Kemudian kedua, seperti yang disebut diatas, KRAS punya banyak planning pengembangan usaha dimana perusahaan banyak membangun pabrik baja ini itu, lengkap beserta infrastruktur pendukungnya, tapi sayangnya progress-nya tidak secepat pembangunan Simpang Susun Semanggi di Jakarta, dimana sebagian dari pabrik-pabrik itu harusnya sudah selesai beberapa waktu lalu, tapi sampai sekarang masih on progress. Contohnya kompleks pabrik baja blast furnace, yang sudah digarap sejak tahun 2011 dan dijadwalkan sudah selesai dan beroperasi pada tahun 2015, tapi sampai penghujung tahun 2017 kemarin masih belum selesai juga. Kemudian, pada bulan November 2016 lalu KRAS memperoleh dana Rp1.9 trilyun dari right issue, yang rencananya akan dipakai untuk membangun pabrik hot strip mill keduanya. Lalu bagaimana progress-nya? Well, setelah hampir lewat dua tahun, maka berdasarkan laporan penggunaan dana hasil right issue per tanggal 30 Juni 2018, ternyata sisa dana right issue tersebut masih tercatat Rp1.9 trilyun juga.. alias belum digunakan sepeser pun! (Jadi bisa dipastikan bahwa pembangunan pabrik hot strip ini gak bakal selesai sesuai jadwal, yakni 2019, melainkan bakal molor lagi).
    Jadi sepertinya masalah KRAS ini sejak awal di manajemennya, yang memang tidak kompeten, dan kondisi KRAS ini mengingatkan penulis dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang dulu juga rugi melulu karena manajemennya amburadul setengah mati. Tapi setelah direktur lamanya ditendang dan digantikan Ignasius Jonan, maka barulah PT KAI sekarang menjadi perusahaan yang profesional dan menguntungkan, dan sampai sekarang penulis sendiri tetap nyaman pake kereta api meski Pak Jonan sudah resign (karena jadi Menteri). Nah, jadi kecuali nanti ada figur tertentu yang masuk menjadi direktur utama KRAS dan kemudian mentransformasi perusahaan secara besar-besaran, maka untuk saat ini penulis tidak tertarik untuk menjadi pemegang saham di KRAS. Okay, kalau denger-denger cerita bahwa pabrik blast furnace-nya sebentar lagi bakal jadi (sebentar lagi itu artinya belum jadi kan?), dermaganya sudah jadi bla bla bla, maka sekilas memang KRAS ini menarik. Tapi, hey, bukankah KRAS ini juga sudah menjanjikan prospek begini begitu sejak 2014 lalu? Tapi mana hasilnya?

    Anyway, kalau nanti, entah gimana caranya, susunan direksi KRAS digantikan oleh orang-orang baru yang lebih kompeten, maka barulah KRAS ini menarik, possibly bahkan bisa dipertimbangkan untuk investasi serius untuk jangka panjang. Sebab sejatinya prospek bisnis baja di Indonesia itu sangat menarik karena tingkat konsumsi baja nasional masih sangat rendah (data dari Worldsteel.org menunjukkan bahwa konsumsi baja di negara-negara Asia termasuk Indonesia tapi diluar China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, rata-rata hanya 87.3 kilogram per kapita, atau jauh dibawah rata-rata konsumsi baja dunia yang mencapai 214.5 kg per kapita, di tahun 2017), sementara sekarang sedang dikebut pembangunan infrastruktur, dan KRAS sejak awal sudah merupakan salah satu market leader di pasar baja tanah air. Dan ingat pula bahwa pemilik perusahaan baja terbesar di dunia Arcellor Mittal, yakni Lakshmi Mittal, ia juga dulu memulai usaha pabrik bajanya di Indonesia, tepatnya di Sidoarjo! Dan menariknya Chaacha Mittal ini juga memulai pabrik bajanya di Sidoarjo pada tahun 1970, atau hanya setahun sebelum Krakatau Steel berdiri dan beroperasi pada tahun 1971.
    Nah, kalau ada dua pabrik baja yang usianya kurang lebih sama, dan juga memulai usahanya di negara yang sama, tapi yang satu kemudian tumbuh menjadi perusahaan raksasa, sementara yang satunya lagi malah bikin kesel karena rugi melulu, maka dimana letak masalahnya? Sudah pasti, pada orang-orang yang bertanggung jawab atas operasional perusahaan. Actually, soal manajemen ini juga sepertinya sudah menjadi perhatian serius dari pemilik KRAS itu sendiri (baca: Pemerintah), dimana pada Maret 2017 lalu kembali dilakukan penggantian dewan direksi, setelah sebelumnya juga terjadi pergantian dewan direksi pada April 2015. However, hingga Kuartal II 2018 kemarin hasilnya belum kelihatan, jadi mari kita lihat lagi gimana perkembangannya dalam beberapa waktu kedepan.
    PT Krakatau Steel, Tbk
    Rating Kinerja pada Q2 2018: BB
    Rating Saham pada 400: A
    Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
    Jadwal Value Investing Private Class, Jakarta, Minggu 12 Agustus (sisa 1 seat lagi). Keterangan selengkapnya baca disini.

    Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram