Archives

Powered by CMS Forex
free counters

PP Properti

Seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2015 lalu, mayoritas perusahaan di BEI mengalami penurunan kinerja, atau bahkan menderita kerugian. However, beberapa dari mereka, seperti PT PP Properti Tbk (PPRO), masih berada dalam momentum pertumbuhan. Hingga September 2015, PPRO mencatat laba bersih Rp206 milyar, naik empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2014.

PPRO adalah anak usaha dari PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP), salah satu perusahaan konstruksi terintegrasi terbesar di Indonesia. Pada tahun 1991, PTPP, yang sebelumnya hanya bergerak di usaha konstruksi dan sektor pendukungnya, mulai mengerjakan proyek real estate-nya sendiri dengan membangun Perumahan Otorita di Purwakarta, Jawa Barat, dan berlanjut dengan proyek-proyek lainnya. Pada 2013, PPRO resmi didirikan untuk menjadi wadah bagi bisnis developer properti milik PTPP.

Antara 1991 hingga 2013, PPRO telah membangun setidaknya 24 proyek perumahan, apartemen, toko ritel, hotel, mall, dan gedung perkantoran di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Namun barulah sejak tahun 2014 lalu perusahaan meluncurkan banyak proyek properti sekaligus, dan yang terbesar adalah superblok Grand Kamala Lagoon di Bekasi, dan Grand Sungkono di Surabaya.
Sekarang, masalah umum yang dihadapi perusahaan properti adalah bahwa perolehan pendapatan serta laba mereka cenderung tidak stabil dari tahun ke tahun. Sebuah developer mungkin sukses menghasilkan laba yang besar pada tahun tertentu, tapi langsung anjlok di tahun berikutnya setelah perusahaan kehabisan unit-unit properti untuk dijual, sementara proyek properti selanjutnya masih belum siap jual, karena masih dalam tahap konstruksi atau perencanaan. Dan kalau laba bersih sebuah perusahaan properti turun, maka sahamnya juga akan turun.
Untuk mengatasi masalah diatas, beberapa developer, termasuk PPRO, berupaya untuk memiliki sumber pendapatan yang berulang (recurring income), misalnya dari sewa hotel, mall, dan kantor, namun nilai recurring income ini biasanya sangat kecil dibanding pendapatan dari penjualan unit-unit real estate. Termasuk PPRO, dimana recurring income-nya hanya sekitar 5% dari total pendapatan perusahaan (PPRO punya rencana untuk meningkatkannya menjadi 10% dalam dua atau tiga tahun kedepan, tapi itu tetap saja kecil).
Namun demikian, pendapatan PPRO dari penjualan unit-unit properti kemungkinan akan terus tumbuh pada tahun-tahun yang akan datang. Untuk dua superblok-nya yang di Bekasi dan Surabaya, perusahaan berencana untuk menyelesaikan konstruksi menara apartemen satu, menara apartemen dua, dan seterusnya, secara bertahap setiap tahun mulai dari 2014 hingga 2022 (Bekasi), dan 2035 (Surabaya). Untuk proyek-proyek lainnya juga sama: Akan dikembangkan secara bertahap hingga 2019. Jika semuanya lancar, maka perusahaan akan terus menghasilkan laba yang besar dan meningkat setiap tahunnya, minimal hingga 2019.
Pertanyaannya, bisakah PPRO menjalankan rencana jangka panjangnya diatas secara tepat waktu dan tanpa gangguan yang berarti? Bukankah ekonomi sekarang sedang tidak terlalu bagus, sehingga industri properti mau tidak mau akan ikut terpengaruh? Well, mungkin nggak juga karena, pertama, tidak seperti kebanyakan developer lainnya yang mentargetkan pembeli kelas menengah keatas, PPRO menjual sebagian besar produknya untuk kalangan menengah pada harga yang lebih terjangkau, sehingga perusahaan lebih kebal terhadap risiko perlambatan ekonomi. Kedua, seluruh proyek properti milik perusahaan berlokasi di kota besar dan didukung oleh infrastruktur yang lengkap, seperti akses jalan tol. Ketiga, meski ekonomi melambat, namun Pemerintah banyak menerapkan kebijakan ekonomi untuk kembali membuatnya melaju kencang, dan salah satu sektor yang menerima banyak perhatian adalah sektor properti. Dan sektor properti itu sendiri masih tumbuh seiring dengan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah.
Keempat, PPRO tidak memiliki utang yang besar seperti beberapa developer lainnya, sehingga laba bersihnya terbilang aman dari risiko perubahan suku bunga ataupun nilai tukar Rupiah. Dan kelima, PPRO didukung oleh perusahaan induknya, PTPP, yang merupakan perusahaan konstruksi BUMN yang mapan yang tentunya akan menerima banyak proyek infra dari Pemerintah, dimana keberadaan infrastruktur tersebut akan meningkatkan value dari unit-unit properti milik perusahaan.
Jadi, kita kesampingkan dulu perusahaan-perusahaan properti yang lain, penulis kira PPRO berpeluang untuk mempertahankan momentum pertumbuhannya yang sudah dicapai sejak 2014 lalu hingga beberapa tahun kedepan.
Lalu bagaimana dengan sahamnya? Meski PPRO menjadi satu dari sedikit perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan signifikan di tahun 2015, namun sahamnya tetap terseret oleh penurunan IHSG. PPRO pertama kali diperdagangkan pada 19 Mei 2015 ketika IHSG berada di level 5,300-an, dan sahamnya melompat dari harga perdana 185 hingga sempat menyentuh 250. Namun seiring dengan penurunan IHSG yang mencapai titik terendahnya yakni 4,100-an pada Agustus – September lalu, PPRO juga sempat turun hingga 127, atau jauh dibawah harga IPO-nya.
Namun meski sahamnya turun, perusahaannya sama sekali tidak ada masalah, sehingga penurunan sahamnya jelas sekali merupakan peluang bagi para value seekers. Pada harga 127, PBV PPRO hanya 0.9 kali, atau dengan kata lain, anda hanya perlu membayar Rp90 untuk memperoleh aset senilai Rp100, dan aset tersebut berpeluang besar untuk tumbuh signifikan di tahun-tahun mendatang. Jadi dengan mempertimbangkan nama besar perusahaan, likuiditas sahamnya, kinerjanya yang cemerlang, dan outlook-nya yang cerah, maka harga 127 tersebut tidak masuk akal. Jika IHSG mulai rebound, dan PPRO juga sukses melanjutkan kinerja positifnya, maka sahamnya juga akan naik dengan mudah.
And indeed, ketika artikel ini ditulis, IHSG mulai rebound meski masih belum kembali ke 5,300-an, namun PPRO naik cukup signifikan dan sudah berada di level 190-an kembali. Untuk kedepannya PPRO mungkin akan naik lebih lanjut atau bisa juga turun lagi, namun dengan asumsi bahwa perusahaan masih mencatatkan kinerja yang bagus dan IHSG juga minimal bertahan di kisaran posisinya saat ini, maka tidak ada alasan bagi PPRO untuk kembali ke level terendahnya bukan?
Disclosure: Artikel ini ditulis pertama kali pada Oktober 2015 untuk Majalah Forbes Indonesia edisi November 2015, dan disajikan kembali disini dengan beberapa perubahan. Pada Oktober 2015 dan pada tanggal penyajian artikel (29 Februari 2016), Avere sedang dalam posisi memegang PPRO di harga rata-rata 173. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Maret 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio untuk [...]

Penjelasan Penurunan NIM Perbankan

Kamis kemarin, tanggal 18 Februari, komisioner otoritas jasa keuangan (OJK), Muliaman Hadad, mengatakan bahwa net interest margin (NIM) perbankan di Thailand tercatat 3 – 4%, sementara NIM di Indonesia lebih tinggi. Agar lebih comparable dengan negara-negara lain dikawasan ASEAN, maka NIM bank-bank di Indonesia akan diarahkan hingga menjadi 3 – 4% juga, dimana OJK akan meminta bank untuk menurunkan bunga kreditnya. Sehari kemudian Menteri BUMN, Rini Soemarno, juga menghimbau kepada bank-bank BUMN untuk menurunkan NIM-nya menjadi sekitar 4% dengan cara melakukan konsolidasi seperrti berbagi sistem IT dan mesin ATM, sehingga menurunkan biaya operasional, dan alhasil kinerja bank-bank tersebut menjadi lebih efisien.

Terlepas dari detail pernyataan dari kedua tokoh diatas, namun judul pemberitaannya adalah bahwa ‘NIM Perbankan akan Dibatasi’, dimana oleh orang awam maka itu terdengar seperti ‘keuntungan bank akan dibatasi’. Alhasil saham-saham perbankan langsung jeblok dan itu menyebabkan IHSG turun 1.7%, Jumat lalu.
Lalu apa sih yang dimaksud dengan NIM? Bisakah NIM dibatasi? Bagaimana caranya? Kenapa dan apa tujuannya sehingga NIM bank-bank di Indonesia harus dibatasi? Dan jika NIM sebuah memang bisa diturunkan sampai dibawah 4%, maka bagaimana dampaknya terhadap kinerja bank yang bersangkutan?
Pengertian NIM
Net interest margin, atau margin bunga bersih, adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih/net interest income(pendapatan bunga/interest income dikurangi beban pokok/cost of credit), dengan nilai aset produktif. Pendapatan bunga berasal dari kredit yang disalurkan, simpanan pada obligasi pemerintah, sertifikat Bank Indonesia, dll. Sementara beban pokok merupakan biaya yang dikeluarkan bank untuk membayar bunga deposito, bunga pinjaman, dll.
Dan yang dimaksud dengan aset produktif adalah aset yang dikelola hingga menghasilkan bunga tadi, istilahnya net bearing assets. Misalnya, sebuah bank asetnya Rp100 milyar. Dari total aset tersebut, Rp80 milyar diantaranya disalurkan kesana kemari dalam bentuk kredit, surat berharga, obligasi, dll, sehingga menghasilkan pendapatan bagi bank berupa bunga. Nah, Rp80 milyar inilah yang disebut dengan aset produktif.
Jika bank tersebut mencatat pendapatan bunga Rp5 milyar dalam setahun, kemudian setelah dikurangi beban pokok hasilnya adalah Rp4 milyar, maka NIM-nya adalah 4 / 80 = 0.05 = 5%. Data terakhir dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa rata-rata NIM perbankan di Indonesia adalah 4.23%.
Nah, dari sini kita bisa melihat faktor-faktor yang menentukan NIM, yakni: 1. Nilai pendapatan bunga, 2. Nilai beban pokok, dan 3. Nilai aset produktif. Seperti halnya perusahaan manapun di seluruh dunia, bank-bank di Indonesia tentunya selalu fokus pada upaya untuk meningkatkan pendapatan hingga sebesar-besarnya, dan menekan beban pokok hingga serendah-rendahnya (sementara nilai aset seiring waktu akan meningkat dengan sendirinya). Intinya adalah menaikkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran. Dan bank yang berhasil dalam upaya tersebut akan mencatat NIM yang lebih tinggi dibanding bank lain yang kurang berhasil, dimana semakin tinggi NIM sebuah bank, maka artinya semakin efisien bank tersebut dalam beroperasi. Di Indonesia, bank dengan NIM terbesar adalah Bank BTPN dengan NIM 9.9% pada Kuartal III 2015.

Jadi kalau NIM mau diturunkan, maka caranya dibalik: Pendapatan bank ditekan hingga serendah-rendahnya, atau nilai beban pokok-nya yang dinaikkan. Tapi mungkinkah bank melakukan itu? Menaikkan pengeluarannya sendiri? Menteri Rini sendiri menghimbau kepada bank-bank BUMN untuk melakukan konsolidasi untuk menurunkan biaya operasional sehingga kinerja perusahaan menjadi lebih efisien. Tapi kalau caranya begitu, maka NIM-nya justru akan naik, sehingga dalam hal ini pernyataan Menteri Rini menjadi absurd (tapi rasanya gak mungkin kalau Menteri Rini gak ngerti apa itu NIM, jadi mungkin ini cuma karena wartawannya salah kutip).
Sementara pernyataan Muliaman Hadad bahwa OJK akan meminta bank untuk menurunkan bunga kreditnya sehingga NIM-nya akan turun, itu baru lebih masuk akal, karena jika bunga kredit turun sementara omzetnya tetap, maka pendapatan bunga bank akan turun. Dan jika beban pokoknya tetap, maka NIM-nya akan turun. Namun tetap saja: Bukan seperti itu cara untuk menurunkan NIM perbankan. Lebih lanjut akan dijelaskan dibawah.
Kenapa NIM bank harus turun? Apa tujuannya?
Dalam perekonomian suatu negara, perbankan memiliki peran sebagai ‘jembatan’ yang menghubungkan antara pemilik dana dengan orang/perusahaan yang membutuhkan dana tersebut untuk mengembangkan usaha. Dalam perannya tersebut, bank memungut bunga dari penyaluran kredit/pinjaman, dan membayar bunga ke pemilik dana, katakanlah dalam bentuk bunga deposito. Selisih antara bunga kredit yang tentu saja lebih besar dari bunga deposito, itulah yang kemudian menjadi pendapatan bank. Semakin besar selisihnya, maka semakin besar pula pendapatan bank tersebut.
Nah, terkait dengan penyaluran kredit dan pinjaman ke sektor-sektor usaha, jika bank memungut bunga terlalu besar maka itu akan membebani sektor usaha itu sendiri, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Jadi jika tujuannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka suku bunga bank bisa diturunkan. Caranya? Dengan menurunkan BI Rate, dimana itu merupakan domain dari BI (hanya BI yang bisa menurunkan BI Rate). Dengan turunnya BI Rate, maka tidak hanya bunga kredit, tapi bunga deposito juga bisa diturunkan, atau dengan kata lain, meski pendapatan bunga bank akan turun, tapi beban pokoknya juga akan turun, dan alhasil NIM-nya tetap.
Hanya memang, kalau BI Rate terus diturunkan hingga ke level yang sangat rendah, misalnya dibawah 5% (terakhir masih 7%), maka NIM perbankan akan ikut turun. Ilustrasinya sebagai berikut: Ketika BI Rate 7%, maka sebuah bank menetapkan bunga pinjaman 12%, dan bunga deposito 6%, sehingga margin-nya (NIM-nya) akan tercatat 12 – 6 = 6%. Setelah BI Rate turun menjadi 4%, maka bunga pinjaman mungkin turun menjadi 9% (dari 12 ke 9, berarti turun 25%), dan bunga deposito ikut turun tapi hanya menjadi 4.5% (dari 6 ke 4.5, berarti turun 25% juga. Ngerti nggak?), sehingga NIM-nya menjadi 9 – 4.5 = 4.5%, atau lebih rendah dari dibanding NIM 6% tadi.
Namun catat: BI Rate hanya bisa diturunkan hingga ke posisi yang serendah-rendahnya kalau perekonomian sudah sangat efisien, yang ditandai dengan rendahnya inflasi. Ini artinya jika BI Rate turun tajam dan itu menyebabkan NIM bank juga turun, maka penurunan NIM tersebut sama sekali tidak berdampak buruk bagi bank yang bersangkutan, karena disisi lain tingkat inflasi juga turun drastis. Sebab, inflasi adalah juga seperti cost dalam operasional bank, dimana jika sebuah bank mencatatkan margin bunga 6% pada tahun tertentu namun tingkat inflasi di tahun tersebut tercatat 7%, maka sejatinya bank tersebut merugi.
Jadi kenapa NIM di Thailand lebih rendah dibanding Indonesia? Karena inflasi disana cuma 0 – 1%, terakhir bahkan minus 0.5%, atau jauh lebih rendah dibanding Indonesia yakni 4.1%. Dan suku bunga bank sentral disana juga cuma 1.5%, dibanding BI Rate yakni 7%. Jadi meski NIM perbankan di Thailand lebih rendah dibanding di Indonesia, namun itu bukan berarti bahwa bank-bank disini lebih profitable dibanding di Thailand. Tapi rendahnya NIM perbankan di Thailand juga bukan berarti bahwa perbankan disana lebih baik dibanding disini, tapi bahwa perekonomian disana secara keseluruhan lebih efisien dibanding di Indonesia.
Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, kenapa NIM bank harus turun? Apa tujuannya? Jawabannya bukan NIM bank-nya yang langsung diturunkan begitu saja, katakanlah dengan memaksa bank menurunkan pendapatan dan menaikkan beban pengeluaran, tapi bank-bank di Indonesia akan diberi insentif tertentu (oleh OJK) sehingga mereka bisa menurunkan bunga kredit sesuai dengan penurunan BI Rate (BI Rate juga mulai turun dalam beberapa bulan terakhir). Dan itu diharapkan akan menstimulus sektor-sektor usaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika disisi lain tingkat inflasi juga bisa ditekan minimal di level saat ini (data inflasi terakhir, yakni 4%, itu terbilang bagus mengingat rata-rata inflasi di Indonesia tercatat 6 – 7% per tahun), maka BI Rate bisa terus turun, dan lambat laun otomatis NIM perbankan akan turun dengan sendirinya, tentunya tanpa mengganggu kinerja perbankan itu sendiri karena disisi lain tingkat inflasi memang sudah sangat rendah.

Itu sebabnya dikatakan bahwa proses ‘penurunan NIM’ ini mungkin akan makan waktu 2 – 3 tahun, karena pekerjaan utamanya adalah untuk menurunkan inflasi namun disisi lain tetap menjaga pertumbuhan ekonomi, sehingga NIM perbankan kemudian akan turun dengan sendirinya, dan itu tentu saja perlu waktu yang tidak sebentar. Lain ceritanya jika NIM sebuah bank langsung diturunkan dengan cara memaksa mereka menurunkan bunga kredit secara drastis dan menaikkan bunga deposito, misalnya, padahal inflasi masih tinggi. Kalau begitu caranya maka barulah penurunan NIM itu merupakan hal yang buruk, tapi sekali lagi, bukan begitu caranya. Sama seperti ketika Pemerintah mentargetkan penurunan harga jual gas untuk menstimulus ekonomi, maka caranya bukan dengan memaksa Perusahaan Gas Negara (PGAS) untuk langsung begitu saja menurunkan harga jual, melainkan memberikan insentif, kemudahan, dan infrastruktur agar PGAS bisa memotong jalur distribusinya, sehingga operasional PGAS menjadi lebih efisien, dan harga jual gas-nya bisa diturunkan dengan sendirinya tanpa mengurangi laba dari PGAS itu sendiri.

Kesimpulan

Turunnya rata-rata NIM perbankan adalah salah satu indikator, diluar indikator-indikator lain seperti meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan rendahnya inflasi, bahwa ekonomi Indonesia membaik. OJK atau bahkan BI sekalipun tidak bisa langsung menetapkan bahwa rata-rata NIM perbankan di Indonesia adalah maksimal sekian persen, sama seperti mereka tidak bisa menetapkan berapa persen tingkat pertumbuhan inflasi dan inflasi (hanya bisa mentargetkan), karena NIM tersebut akan secara otomatis mengikuti perkembangan fundamental ekonomi di dalam negeri, dimana kalau perkembangannya bagus maka NIM-nya akan turun, tapi kalau nggak ya nggak.
Pertanyaan terakhir, jika nanti NIM sebuah bank turun sampai dibawah 4%, maka bagaimana dampaknya terhadap kinerja bank yang bersangkutan? Well, perhatikan kata kuncinya diatas: rata-rata NIM di Indonesia akan turun kalau perekonomian sudah lebih baik/lebih efisien dibanding sebelumnya, jadi penurunan NIM tersebut tidak berdampak negatif apapun. Ibaratnya seperti gaji anda turun dari Rp10 juta menjadi Rp9 juta, tapi harga-harga beras (dan kebutuhan sehari-hari lainnya) juga turun dari Rp10,000 menjadi Rp7,000 per kilo. Nah, dengan demikian maka gaji Rp9 juta tadi sejatinya justru lebih besar bukan?
Lalu kenapa saham-saham perbankan malah turun ketika keluar statement dari OJK dan Menteri BUMN bahwa ‘NIM perbankan akan diturunkan hingga 3 – 4%’ ini? Ya sama saja ketika ada berita bahwa harga gas turun, harga semen turun, bunga KPR turun, yang langsung bikin saham PGAS, SMGR dan BBTN jeblok, karena masalahnya sebagian besar orang kalau baca berita hanya baca judulnya saja, bukan benar-benar memahami isi beritanya, dan analisa mendalam tentang berita tersebut biasanya baru akan muncul beberapa waktu kemudian. Sama seperti ketika beberapa waktu lalu heboh soal ‘Ironman’ asal Bali dimana orang-orang langsung percaya bahwa ada tukang las yang bisa bikin tangan robot hanya dengan bermodalkan barang elektronik bekas, tapi beberapa waktu kemudian barulah diketahui kalau itu cuma hoax.
Tapi yah, penulis sudah cukup hafal dengan fenomena ‘saham jeblok karena berita jelek’ seperti ini, dimana kalau yang jadi ‘korban’ adalah saham bagus, maka biasanya itu opportunity. Sejak 2009 sampai sekarang, entah sudah berapa kali saham-saham sektor perbankan dihantam sentimen miring, belum termasuk koreksi IHSG itu sendiri yang rutin menghantam hampir setiap tahunnya, tapi toh saham-saham bank yang bagus seperti BBCA, BMRI, BBRI, BBNI dst, mereka semua naik terus, dengan total kenaikan yang juga lebih tinggi dibanding IHSG. Dan apakah trend kenaikan dalam jangka panjaaaang tersebut akan terhenti hanya karena orang-orang belum paham soal NIM ini? I don’t think so!
Disclosure: Ketika artikel ini ditulis, Avere Investama sedang dalam posisi memegang BBNI, BJBR, dan BBKP. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Maret 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio untuk member.

Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Posisi Bursa Saham Indonesia di Regional Asia Tenggara

Kemarin ada berita bahwa Bank Central Asia (BBCA) telah mengambil alih posisi Development Bank of Singapore (DBS) sebagai bank terbesar di Asia Tenggara, dari sisi market cap. Dan berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan sudah memperoleh titel ‘terbesar’ entah itu dari sisi market cap, nilai aset, atau nilai ekuitas, it must mean something. Apalagi sebelumnya jarang terdengar ada perusahaan Indonesia yang mampu ‘mengalahkan’ perusahaan Singapura, dimana dalam hal perkembangan pasar modal, diakui atau tidak, kita masih kalah jauh dibanding tetangga kecil nan menjengkelkan tersebut. Dan mungkin pertanyaannya, sebenarnya bagaimana sih posisi saham-saham Indonesia di regional Asia Tenggara?

Dari sisi market cap atau kapitalisasi pasar, pada penutupan pasar tanggal 12 Februari kemarin, BBCA memiliki market cap USD 24.1 milyar, atau lebih besar dari DBS yang hanya USD 23.3 milyar. Mengingat bahwa market cap bisa berubah setiap saat tergantung naik turunnya saham, maka data diatas mungkin tidak berarti apa-apa, dimana jika besok-besok saham DBS kembali naik, maka BBCA akan kembali ke posisinya sebagai bank terbesar kedua di Asia Tenggara. Namun fakta lainnya yang menarik adalah, dalam lima tahun terakhir, saham BBCA sudah naik 115.9%, sementara DBS justru turun 10.8%. I mean, dalam jangka pendek, pergerakan harga suatu saham dan juga perubahan market cap mungkin tidak berarti apapun. Tapi jika suatu saham naik signifikan setelah lima tahun, sementara saham lainnya justru turun pada periode waktu yang sama, maka pasti terdapat perbedaan fundamental yang signifikan dari dua perusahaaan yang bersangkutan.
Dan ternyata memang benar: Antara akhir 31 Desember 2010 hingga 30 September 2015, ekuitas BBCA meningkat dari Rp34.1 menjadi 86.0 trilyun, atau naik 152%. Sementara DBS? Pada periode waktu yang sama, ekuitasnya naik dari SGD 26.6 menjadi 39.4 milyar, atau hanya naik 48%. Okay, dari sisi aset serta ekuitas, DBS masih jauh lebih besar dibanding BBCA, dan faktanya BBCA sendiri bukanlah bank terbesar di Indonesia kalau dari sisi nilai aset (yang terbesar itu Bank Mandiri, disusul Bank BRI, kemudian baru BCA).
Tapi dari sisi pertumbuhan, well, dalam beberapa tahun terakhir ini kita menang jauh, dimana tidak hanya BBCA, tapi bank-bank besar lainnya di tanah air juga rata-rata mencatat pertumbuhan sekitar 150% dalam lima tahun. Sementara pertumbuhan DBS yang terbilang moderat memang mencerminkan pertumbuhan industri perbankan di Singapura secara keseluruhan, dimana dua bank besar lainnya di Singapura yakni Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) dan United Overseas Bank (UOB), pada periode yang sama, ekuitas mereka masing-masing hanya tumbuh 79.6 dan 40.7%.
Tapi btw, balik lagi ke pertanyaan diatas: Sebenarnya bagaimana posisi saham-saham Indonesia di regional Asia Tenggara? Well, berikut ini adalah data 10 saham terbesar dari sisi market cap, yang terdaftar di bursa-bursa saham Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand:
Companies
Closing Price
Market Cap
Singapore (SGX)
SingTel
3.56
40.8
Jardine Matheson
53.23
37.9
Jardine Strategic
27.92
30.8
DBS Group
13.02
23.3
OCBC
7.46
22.0
UOB
17.56
20.2
Hongkong Land
5.62
13.2
Wilmar International
2.91
13.2
IHH Healthcare
2.11
12.4
Thai Beverage
0.68
12.1
Indonesia (IDX)
HM Sampoerna
105,700
36.5
Telkom Indonesia
3,285
24.6
BCA
13,275
24.1
Unilever Indonesia
41,100
23.3
BRI
11,800
21.4
Astra International
6,825
20.5
Bank Mandiri
9,725
16.7
Gudang Garam
60,700
8.7
BNI
5,275
7.2
Indofood CBP
14,725
6.4
Malaysia (BursaMalaysia)
Maybank
8.51
20.0
Public Bank
18.50
17.2
Petronas Chemicals
6.90
13.3
IHH Healthcare
6.49
12.9
Axiata Group
5.60
11.9
Maxis
6.06
11.0
Petronas Gas
22.24
10.6
DiGi.com
4.85
9.1
CIMB Group
4.20
8.6
IOI Corporation
4.67
7.1
Thailand (SET)
PTT
230
18.4
Siam Cement
426
14.4
Advanced Info Service
166.5
13.9
Siam Commercial Bank
130
12.4
Kasikornbank
161
10.8
CP ALL
40.3
10.2
Bangkok Bank
148
7.9
Krung Thai Bank
17.2
6.7
PTT Global Chemical
51.5
6.5
Bank of Ayudhya
30.3
6.2
Catatan:
  1. Closing price/harga penutupan adalah per 12 Februari 2016
  2. Market cap dalam milyar US Dollar.
  3. Closing price dalam mata uang di negara masing-masing, kecuali Jardine Matheson, Jardine Strategic, dan Hongkong Land dalam mata uang US Dollar
  4. IHH Healthcare bermarkas di Malaysia, namun sahamnya terdaftar di Bursa Malaysia dan Singapura sekaligus (dual listing)
  5. Thai Beverage bermarkas di Thailand, namun sahamnya terdaftar di Bursa Singapura
  6. Kurs yang digunakan untuk perhitungan market cap (per US Dollar): Singaporean Dollar 1.40, Rupiah 13,471, Malaysian Ringgit 4.15, dan Thailand Baht 35.62.
  7. Saham dengan market cap terbesar di Singapura adalah Prudential Plc., kemudian baru disusul SingTel. Namun Prudential Plc, yang juga listing di Bursa London, sahamnya yang di Singapura sama sekali tidak likuid, sehingga jarang dianggap sebagai salah satu big caps di SGX.
Dan jika dari daftar diatas diambil lima belas saham terbesar dari sisi market cap, maka berikut hasilnya (market cap dalam milyar US Dollar):
Companies
Country
Market Cap
SingTel
Singapore
40.84
Jardine Matheson
Singapore
37.89
HM Sampoerna
Indonesia
36.52
Jardine Strategic
Singapore
30.79
Telkom Indonesia
Indonesia
24.57
BCA
Indonesia
24.05
Unilever Indonesia
Indonesia
23.31
DBS Group
Singapore
23.29
OCBC
Singapore
21.96
BRI
Indonesia
21.38
Astra International
Indonesia
20.49
UOB
Singapore
20.20
Maybank
Malaysia
20.02
PTT
Thailand
18.44
Public Bank Bhd
Malaysia
17.21
Catatan: Perusahaan-perusahaan diatas bisa disebut sebagai lima belas perusahaan terbesar di Asia Tenggara (jadi gak cuma Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand), dari sisi market cap. Hal ini karena tiga perusahaan terbesar di Vietnam, yakni Vinamilk, Vietcom Bank, dan Petro Vietnam, ketiganya hanya memiliki market cap masing-masing sekitar US$ 5 milyar atau kurang dari itu. Sementara bursa-bursa saham di negara-negara lainnya di Asia Tenggara, semuanya relatif masih belum berkembang.
IDX versus SGX
Dari data diatas, maka cukup jelas bahwa posisi pasar modal kita relatif lebih baik dibanding Malaysia dan Thailand, setidaknya dari sisi market cap, namun masih kalah dari Singapura. Dan disinilah menariknya: Dengan GDP sebesar USD 889 milyar, maka Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, jauh lebih besar dibanding Singapura yang cuma punya GDP USD 308 milyar. Namun dari sisi nilai saham-sahamnya di pasar modal, per tanggal 12 Februari, seluruh saham-saham yang terdaftar di IDX memiliki market cap total Rp5,005 trilyun, atau setara USD 371 milyar. Sementara SGX? Per akhir Januari 2016, market cap-nya tercatat SGD 855 milyar, atau setara USD 612 milyar.
Tapi bagaimana mungkin nilai saham-saham di Bursa Singapura bahkan lebih besar dibanding nilai GDP negaranya sendiri? Well, jawabannya ada dua. Pertama, Singapura sejak dulu sudah dikenal sebagai tempat yang sangat uenak untuk berinvestasi, dimana Pemerintahnya sangat ramah terhadap pemilik modal baik dari dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1961, empat tahun sebelum merdeka dari Malaysia, Pemerintah Singapura bahkan sudah mendirikan badan khusus dibawah Kementerian Perdagangan dan Industri, yang dinamakan Economic Development Board (EDB), yang bertugas untuk memberikan solusi dan menciptakan value bagi investor dan perusahaan-perusahaan di Singapura. Mungkin founding father Singapura, Lee Kuan Yew, sejak awal sadar bahwa dengan luas negara yang sama sekali tidak seberapa, maka Singapura tidak mungkin bisa mengembangkan perekonomiannya sendiri tanpa bantuan modal asing, dan karena itulah para investor dimanjakan habis-habisan dengan kebijakan tax haven dll, termasuk Bursa Singapura dikembangkan sedemikian rupa sehingga ada banyak perusahaan kelas dunia yang tertarik untuk listing disana. Beberapa perusahaan besar yang listing di SGX, seperti Jardine Matheson, IHH Healthcare, dan Thai Beverage, mereka sebenarnya tidak berkantor pusat di Singapura. Tapi alih-alih listing di negara asalnya, ketiga perusahaan tersebut lebih memilih untuk listing di SGX (atau dual listing seperti IHH Healthcare, yang juga terdaftar di Bursa Malaysia). Termasuk, ada banyak juga perusahaan asal Indonesia yang sahamnya tidak terdaftar di IDX namun terdaftar di SGX.
Dan kedua, didukung oleh modal yang boleh dibilang tidak terbatas (karena investasi dari seluruh dunia masuk terus), perusahaan-perusahaan asal Singapura kemudian bisa mengembangkan usaha/investasinya tidak cuma di Singapura, tapi justru lebih banyak di negara-negara lain, paling tidak di Asia Tenggara. Misalnya DBS, OCBC, dan UOB, yang ketiganya punya operasional di Indonesia, atau SingTel yang menjadi salah satu pemegang utama di Telkomsel, perusahaan seluler terbesar di tanah air, dan Jardine Matheson juga merupakan pemegang saham mayoritas di Astra International (ASII). Boleh dibilang bahwa Singapura ini adalah seperti pengelola dana bagi investor-investor besar di seluruh dunia (termasuk dari Indonesia sendiri) yang hendak menempatkan aset/investasinya di Asia Tenggara atau bahkan di seluruh Asia.
Jadi jika ada investor besar asal Amerika yang tertarik untuk berinvestasi di Asia Tenggara, maka nama Singapura selalu muncul lebih awal, kemudian mungkin baru Jakarta. Dan meski hal ini terkesan tidak adil bagi Indonesia, namun di kawasan manapun di seluruh dunia memang selalu terdapat kota-kota (atau negara kecil) yang menjadi financial center seperti itu, seperti London di Britania Raya, Zurich di Eropa, New York di Amerika Utara, dan Hong Kong di Asia. Di Swiss, market cap bursa sahamnya tercatat USD 1,516 milyar pada tahun lalu, padahal GDP negaranya cuma USD 701 milyar.
Namun mau sekencang apapun pertumbuhan bursa saham di suatu negara, pada akhirnya pertumbuhan investasi di negara tersebut akan terhambat entah itu oleh ‘mentoknya’ pertumbuhan GDP maupun terbatasnya sumber daya manusia. Contoh paling gampang adalah Bursa Hang Seng di Hongkong, yang begitu digdaya di masa lalu, namun posisinya sebagai bursa saham terbesar di Asia (setelah Nikkei), sekarang ini sudah digantikan oleh Bursa Shanghai, yang tumbuh jauh lebih signifikan dalam dua dekade terakhir. Tidak ada perlakuan khusus dari Pemerintah China terhadap bursa sahamnya, melainkan bursa tersebut tumbuh seiring dengan kenaikan GDP China itu sendiri.
Sementara Bursa Singapura, dalam hal ini Indeks STI, meski market cap-nya hingga saat ini masih jauh diatas IHSG, namun dalam lima tahun terakhir IHSG naik 34.6%, sementra STI malah turun 17.7%. Pada akhir tahun 2009, IDX mencatat total market cap Rp801 trilyun, atau setara USD 215 milyar berdasarkan kurs ketika itu. Sementara SGX, pada waktu yang sama mencatat market cap SGD 669 milyar, atau setara USD 476 milyar. Ini artinya dalam lima tahun terakhir nilai saham-saham di BEI naik 72.9%, sementara nilai saham-saham di Singapura hanya naik 28.3%, sudah termasuk disesuaikan dengan nilai Rupiah (yang memang cenderung lebih gampang melemah dibanding SGD). Jika masa waktunya diperpanjang hingga satu atau dua dekade ke belakang, maka kesimpulannya juga tetap sama: Bursa saham di Indonesia berkembang lebih cepat dibanding Singapura.
Dan jika trend-nya begini terus, maka cuma soal waktu sebelum IDX akan mengambil alih posisi SGX sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara, dan peluang tersebut memang terbuka lebar. I mean, ketika perusahaan-perusahaan Singapura berinvestasi/membuka kantor cabang di luar negaranya, maka aktivitas operasional mereka tentu saja dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu yang tidak berlaku bagi perusahaan setempat, dan karena itulah DBS dll tidak akan pernah menjadi bank terbesar di Indonesia atau di negara-negara lainnya dimana mereka beroperasi. Sementara Bank BCA? Well, dia tidak perlu buka kantor cabang di luar negeri (meski BCA sekarang punya kantor cabang di Singapura dan Hongkong), karena di Indonesia sendiri masih ada banyak wilayah yang belum tersentuh layanan perbankan, dan perluasan layanan perbankan ini selama beberapa waktu terakhir ini memang signifikan. Di kampung halaman penulis di pinggir kota Cirebon, sepuluh tahun lalu, sangat sulit untuk menemukan mesin ATM, tapi sekarang mesin ATM itu dapat ditemukan dimana-mana.
Jadi perusahaan-perusahaan di Indonesia masih punya banyak sekali ruang untuk berkembang di negaranya sendiri sebelum kemudian baru mereka perlu ekspansi keluar negeri, sehingga praktis IDX akan lebih mudah tumbuh untuk menjadi lebih besar lagi. Jika Pemerintah atau Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sendiri bisa copy paste beberapa kebijakan SGX dalam mengembangkan pasar modal di Singapura, seperti:
  1. Mendorong perusahaan-perusahaan asing untuk listing di BEI, atau dual listing (di Indonesia dan di negaranya), dengan menawarkan kemudahan-kemudahan tertentu. Jika ini sulit dilakukan, maka minimal perusahaan-perusahaan Indonesia yang listing di Singapura bisa diarahkan untuk juga listing di BEI
  2. Membuka keran masuknya investasi asing dimana mereka bisa membeli saham-saham dari perusahaan asing tersebut (jadi asing ketemu asing).
  3. Menciptakan dan mengembangkan produk-produk investasi/trading diluar saham dan obligasi, seperti indeks futures (yang memang sudah dibikin), exchange traded funds (ETF, ini juga sudah ada, tapi belum populer), real estate investment trust (REIT), business trust, structured warrants, dll.
..Maka pasar modal di Indonesia akan tumbuh lebih kencang lagi di masa depan. Kebijakan diatas mungkin terdengar liberal, termasuk mungkin bisa menimbulkan efek samping persaingan bagi investor/perusahaan lokal dan kemungkinan berkembangnya spekulasi, namun nyatanya itulah yang dilakukan oleh beberapa negara financial center seperti Singapura, Hongkong, dan Swiss, dan alhasil tidak hanya pasar modalnya, namun ekonomi mereka maju pesat secara keseluruhan. Kalau hanya mengharapkan investor dan perusahaan domestik untuk ‘meramaikan’ pasar modal, maka untuk proses edukasinya saja mungkin perlu waktu beberapa dekade. Kalau anda perhatikan pergerakan Bursa Shanghai yang sangat ekstrim, dimana dia bisa terbang dan jeblok gila-gilaan dalam waktu singkat, kemungkinan itu karena market participant terbesarnya ya investor di dalam negerinya sendiri, yang mindsetnya masih ke gambling ketimbang investasi.
Tapi, okay, katakanlah pasar modal di Indonesia berkembang dengan sendirinya tanpa perlakukan khusus apapun dari Pemerintah maupun otoritas terkait, maka bagaimana peluangnya di masa yang akan datang? Well, seperti yang sudah disebut diatas, bahkan tanpa Pemerintah memberikan stimulus apapun, namun cuma soal waktu sebelum IDX akan menyalip SGX sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara, dan sinyal pertama akan hal itu adalah ketika market cap BBCA sudah lebih besar dari DBS.
Dan bagi fund-fund besar asal Amerika dll, ketika mereka berinvestasi di Asia Tenggara, maka sudah tentu mereka akan memilih ‘yang terbesar’ terlebih dahulu, sementara disisi lain cukup jelas bahwa Bursa Singapura sama sekali tidak menawarkan profit yang layak dalam lima tahun terakhir. Jadi dalam hal inilah, penulis kira dalam waktu dekat kita akan melihat dana asing akan ramai-ramai masuk ke saham-saham di BEI. Hingga tanggal 12 Februari, asing baru mencatatkan net buy Rp1.5 trilyun, atau masih sangat kecil dan sama sekali belum menutup net sell sebesar Rp22.6 trilyun sepanjang tahun 2015 lalu. Jika kedepannya asing belanja hingga menutup net sell yang Rp22.6 trilyun ini saja, maka IHSG tentu akan naik signifikan (actually, di website ini kita sudah mengatakan bahwa IHSG akan naik bahkan ketika dia masih terpuruk, awal Januari lalu. Anda bisa baca lagi artikelnya disini). We’ll see.
Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Tema Value Investing: Buy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 20 Februari 2016. Untuk mendaftar klik disini. Hingga Senin, 15 Februari, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Posisi Bursa Saham Indonesia di Regional Asia Tenggara

Anda mungkin sudah mendengar berita bahwa Bank Central Asia (BBCA) telah mengambil alih posisi Development Bank of Singapore (DBS) sebagai bank terbesar di Asia Tenggara, dari sisi market cap. Dan berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan sudah memperoleh titel ‘terbesar’ entah itu dari sisi market cap, nilai aset, atau nilai ekuitas, it must mean something. Apalagi sebelumnya jarang terdengar ada perusahaan Indonesia yang mampu ‘mengalahkan’ perusahaan Singapura, dimana dalam hal perkembangan pasar modal dan dunia keuangan, diakui atau tidak, kita masih kalah jauh dibanding tetangga kecil nan menjengkelkan tersebut. Dan pertanyaannya mungkin, sebenarnya bagaimana sih posisi saham-saham Indonesia di regional Asia Tenggara?

Dari sisi market cap atau kapitalisasi pasar, pada penutupan pasar tanggal 12 Februari kemarin, BBCA tercatat memiliki market cap USD 24.1 milyar, atau diatas DBS yang hanya USD 23.3 milyar. Mengingat bahwa market cap bisa berubah setiap saat tergantung naik turunnya harga saham, maka data diatas mungkin tidak berarti apa-apa, dimana jika besok-besok sahamnya kembali naik, maka DBS bisa kembali merebut posisinya sebagai bank terbesar di Asia Tenggara. Namun fakta lainnya yang menarik adalah, dalam lima tahun terakhir, saham BBCA sudah naik 115.9%, sementara DBS justru turun 10.8%. I mean, dalam jangka pendek, pergerakan harga suatu saham dan juga perubahan market cap mungkin tidak berarti apapun. Tapi jika suatu saham naik signifikan setelah lima tahun, sementara saham lainnya justru turun pada periode waktu yang sama, maka pasti terdapat perbedaan fundamental yang signifikan dari dua perusahaaan yang bersangkutan.
Dan ternyata memang benar: Antara akhir 31 Desember 2010 hingga 30 September 2015, ekuitas BBCA meningkat dari Rp34.1 menjadi 86.0 trilyun, atau naik 152%. Sementara DBS? Pada periode waktu yang sama, ekuitasnya naik dari SGD 26.6 menjadi 39.4 milyar, atau hanya naik 48%. Okay, dari sisi aset serta ekuitas, DBS masih jauh lebih besar dibanding BBCA, dan faktanya BBCA sendiri bukanlah bank terbesar di Indonesia kalau dari sisi nilai aset (yang terbesar itu Bank Mandiri, disusul Bank BRI, kemudian baru BCA).
Tapi dari sisi pertumbuhan, well, dalam beberapa tahun terakhir ini kita menang jauh, dimana tidak hanya BBCA, tapi bank-bank besar lainnya di tanah air juga rata-rata mencatat pertumbuhan sekitar 150% dalam lima tahun. Sementara pertumbuhan DBS yang terbilang moderat memang mencerminkan pertumbuhan industri perbankan di Singapura secara keseluruhan, dimana dua bank besar lainnya di Singapura yakni Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) dan United Overseas Bank (UOB), pada periode yang sama, ekuitas mereka masing-masing hanya tumbuh 79.6 dan 40.7%.
Tapi btw, balik lagi ke pertanyaan diatas: Sebenarnya bagaimana posisi saham-saham Indonesia di regional Asia Tenggara? Well, berikut ini adalah data 10 saham terbesar dari sisi market cap, yang terdaftar di bursa-bursa saham Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand:
Companies
Closing Price
Market Cap
Singapore (SGX)
SingTel
3.56
40.8
Jardine Matheson
53.23
37.9
Jardine Strategic
27.92
30.8
DBS Group
13.02
23.3
OCBC
7.46
22.0
UOB
17.56
20.2
Hongkong Land
5.62
13.2
Wilmar International
2.91
13.2
IHH Healthcare
2.11
12.4
Thai Beverage
0.68
12.1
Indonesia (IDX)
HM Sampoerna
105,700
36.5
Telkom Indonesia
3,285
24.6
BCA
13,275
24.1
Unilever Indonesia
41,100
23.3
BRI
11,800
21.4
Astra International
6,825
20.5
Bank Mandiri
9,725
16.7
Gudang Garam
60,700
8.7
BNI
5,275
7.2
Indofood CBP
14,725
6.4
Malaysia (BursaMalaysia)
Maybank
8.51
20.0
Public Bank
18.50
17.2
Petronas Chemicals
6.90
13.3
IHH Healthcare
6.49
12.9
Axiata Group
5.60
11.9
Maxis
6.06
11.0
Petronas Gas
22.24
10.6
DiGi.com
4.85
9.1
CIMB Group
4.20
8.6
IOI Corporation
4.67
7.1
Thailand (SET)
PTT
230
18.4
Siam Cement
426
14.4
Advanced Info Service
166.5
13.9
Siam Commercial Bank
130
12.4
Kasikornbank
161
10.8
CP ALL
40.3
10.2
Bangkok Bank
148
7.9
Krung Thai Bank
17.2
6.7
PTT Global Chemical
51.5
6.5
Bank of Ayudhya
30.3
6.2
Catatan:
  1. Closing price/harga penutupan adalah per 12 Februari 2016
  2. Market cap dalam milyar US Dollar.
  3. Closing price dalam mata uang di negara masing-masing, kecuali Jardine Matheson, Jardine Strategic, dan Hongkong Land dalam mata uang US Dollar
  4. IHH Healthcare bermarkas di Malaysia, namun sahamnya terdaftar di Bursa Malaysia dan Singapura sekaligus (dual listing)
  5. Thai Beverage bermarkas di Thailand, namun sahamnya terdaftar di Bursa Singapura
  6. Kurs yang digunakan untuk perhitungan market cap (per US Dollar): Singaporean Dollar 1.40, Rupiah 13,471, Malaysian Ringgit 4.15, dan Thailand Baht 35.62.
  7. Saham dengan market cap terbesar di Singapura adalah Prudential Plc., kemudian baru disusul SingTel. Namun Prudential Plc, yang juga listing di Bursa London, sahamnya yang di Singapura sama sekali tidak likuid, sehingga jarang dianggap sebagai salah satu big caps di SGX.
Dan jika dari daftar diatas diambil lima belas saham terbesar dari sisi market cap, maka berikut hasilnya (market cap dalam milyar US Dollar):
Companies
Country
Market Cap
SingTel
Singapore
40.84
Jardine Matheson
Singapore
37.89
HM Sampoerna
Indonesia
36.52
Jardine Strategic
Singapore
30.79
Telkom Indonesia
Indonesia
24.57
BCA
Indonesia
24.05
Unilever Indonesia
Indonesia
23.31
DBS Group
Singapore
23.29
OCBC
Singapore
21.96
BRI
Indonesia
21.38
Astra International
Indonesia
20.49
UOB
Singapore
20.20
Maybank
Malaysia
20.02
PTT
Thailand
18.44
Public Bank Bhd
Malaysia
17.21
Catatan: Perusahaan-perusahaan diatas bisa disebut sebagai lima belas perusahaan terbesar di Asia Tenggara (jadi gak cuma Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand), dari sisi market cap. Hal ini karena tiga perusahaan terbesar di Vietnam, yakni Vinamilk, Vietcom Bank, dan Petro Vietnam, ketiganya hanya memiliki market cap masing-masing sekitar US$ 5 milyar atau kurang dari itu. Sementara bursa-bursa saham di negara-negara lainnya di Asia Tenggara, semuanya relatif masih belum berkembang.
IDX versus SGX
Dari data diatas, maka cukup jelas bahwa posisi pasar modal kita relatif lebih baik dibanding Malaysia dan Thailand, setidaknya dari sisi market cap, namun masih kalah dari Singapura. Dan disinilah menariknya: Dengan GDP sebesar USD 889 milyar, maka Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, jauh lebih besar dibanding Singapura yang cuma punya GDP USD 308 milyar. Namun dari sisi nilai saham-sahamnya di pasar modal, per tanggal 12 Februari, seluruh saham-saham yang terdaftar di IDX memiliki market cap total Rp5,005 trilyun, atau setara USD 371 milyar. Sementara SGX? Per akhir Januari 2016, market cap-nya tercatat SGD 855 milyar, atau setara USD 612 milyar.
Tapi bagaimana mungkin nilai saham-saham di Bursa Singapura bahkan lebih besar dibanding nilai GDP negaranya sendiri? Well, jawabannya ada dua. Pertama, Singapura sejak dulu sudah dikenal sebagai tempat yang sangat uenak untuk berinvestasi, dimana Pemerintahnya sangat ramah terhadap pemilik modal baik dari dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1961, empat tahun sebelum merdeka dari Malaysia, Pemerintah Singapura bahkan sudah mendirikan badan khusus dibawah Kementerian Perdagangan dan Industri, yang dinamakan Economic Development Board (EDB), yang bertugas untuk memberikan solusi dan menciptakan value bagi investor dan perusahaan-perusahaan di Singapura. Mungkin founding father Singapura, Lee Kuan Yew, sejak awal sadar bahwa dengan luas negara yang sama sekali tidak seberapa, maka Singapura tidak mungkin bisa mengembangkan perekonomiannya sendiri tanpa bantuan modal asing, dan karena itulah para investor dimanjakan habis-habisan dengan kebijakan tax haven dll, termasuk Bursa Singapura dikembangkan sedemikian rupa sehingga ada banyak perusahaan kelas dunia yang tertarik untuk listing disana. Beberapa perusahaan besar yang listing di SGX, seperti Jardine Matheson, IHH Healthcare, dan Thai Beverage, mereka sebenarnya tidak berkantor pusat di Singapura. Tapi alih-alih listing di negara asalnya, ketiga perusahaan tersebut lebih memilih untuk listing di SGX (atau dual listing seperti IHH Healthcare, yang juga terdaftar di Bursa Malaysia). Termasuk, ada banyak juga perusahaan asal Indonesia yang sahamnya tidak terdaftar di IDX namun terdaftar di SGX.
Dan kedua, didukung oleh modal yang boleh dibilang tidak terbatas (karena investasi dari seluruh dunia masuk terus), perusahaan-perusahaan asal Singapura kemudian bisa mengembangkan usaha/investasinya tidak cuma di Singapura, tapi justru lebih banyak di negara-negara lain, paling tidak di Asia Tenggara. Misalnya DBS, OCBC, dan UOB, yang ketiganya punya operasional di Indonesia, atau SingTel yang menjadi salah satu pemegang utama di Telkomsel, perusahaan seluler terbesar di tanah air, dan Jardine Matheson juga merupakan pemegang saham mayoritas di Astra International (ASII). Boleh dibilang bahwa Singapura ini adalah seperti pengelola dana bagi investor-investor besar di seluruh dunia (termasuk dari Indonesia sendiri) yang hendak menempatkan aset/investasinya di Asia Tenggara atau bahkan di seluruh Asia.
Jadi jika ada investor besar asal Amerika yang tertarik untuk berinvestasi di Asia Tenggara, maka nama Singapura selalu muncul lebih awal, kemudian mungkin baru Jakarta. Dan meski hal ini terkesan tidak adil bagi Indonesia, namun di kawasan manapun di seluruh dunia memang selalu terdapat kota-kota (atau negara kecil) yang menjadi financial center seperti itu, seperti London di Britania Raya, Zurich di Eropa, New York di Amerika Utara, dan Hong Kong di Asia. Di Swiss, market cap bursa sahamnya tercatat USD 1,516 milyar pada tahun lalu, padahal GDP negaranya cuma USD 701 milyar.
Namun mau sekencang apapun pertumbuhan bursa saham di suatu negara, pada akhirnya pertumbuhan investasi di negara tersebut akan terhambat entah itu oleh ‘mentoknya’ pertumbuhan GDP maupun terbatasnya sumber daya manusia. Contoh paling gampang adalah Bursa Hang Seng di Hongkong, yang begitu digdaya di masa lalu, namun posisinya sebagai bursa saham terbesar di Asia (setelah Nikkei), sekarang ini sudah digantikan oleh Bursa Shanghai, yang tumbuh jauh lebih signifikan dalam dua dekade terakhir. Tidak ada perlakuan khusus dari Pemerintah China terhadap bursa sahamnya, melainkan bursa tersebut tumbuh seiring dengan kenaikan GDP China itu sendiri.
Sementara Bursa Singapura, dalam hal ini Indeks STI, meski market cap-nya hingga saat ini masih jauh diatas IHSG, namun dalam lima tahun terakhir IHSG naik 34.6%, sementra STI malah turun 17.7%. Pada akhir tahun 2009, IDX mencatat total market cap Rp801 trilyun, atau setara USD 215 milyar berdasarkan kurs ketika itu. Sementara SGX, pada waktu yang sama mencatat market cap SGD 669 milyar, atau setara USD 476 milyar. Ini artinya dalam lima tahun terakhir nilai saham-saham di BEI naik 72.9%, sementara nilai saham-saham di Singapura hanya naik 28.3%, sudah termasuk disesuaikan dengan nilai Rupiah (yang memang cenderung lebih gampang melemah dibanding SGD). Jika masa waktunya diperpanjang hingga satu atau dua dekade ke belakang, maka kesimpulannya juga tetap sama: Bursa saham di Indonesia berkembang lebih cepat dibanding Singapura.
Dan jika trend-nya begini terus, maka cuma soal waktu sebelum IDX akan mengambil alih posisi SGX sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara, dan peluang tersebut memang terbuka lebar. I mean, ketika perusahaan-perusahaan Singapura berinvestasi/membuka kantor cabang di luar negaranya, maka aktivitas operasional mereka tentu saja dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu yang tidak berlaku bagi perusahaan setempat, dan karena itulah DBS dll tidak akan pernah menjadi bank terbesar di Indonesia atau di negara-negara lainnya dimana mereka beroperasi. Sementara Bank BCA? Well, dia tidak perlu buka kantor cabang di luar negeri (meski BCA sekarang punya kantor cabang di Singapura dan Hongkong), karena di Indonesia sendiri masih ada banyak wilayah yang belum tersentuh layanan perbankan, dan perluasan layanan perbankan ini selama beberapa waktu terakhir ini memang signifikan. Di kampung halaman penulis di pinggir kota Cirebon, sepuluh tahun lalu, sangat sulit untuk menemukan mesin ATM, tapi sekarang mesin ATM itu dapat ditemukan dimana-mana.
Jadi perusahaan-perusahaan di Indonesia masih punya banyak sekali ruang untuk berkembang di negaranya sendiri sebelum kemudian baru mereka perlu ekspansi keluar negeri, sehingga praktis IDX akan lebih mudah tumbuh untuk menjadi lebih besar lagi. Jika Pemerintah atau Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sendiri bisa copy paste beberapa kebijakan SGX dalam mengembangkan pasar modal di Singapura, seperti:
  1. Mendorong perusahaan-perusahaan asing untuk listing di BEI, atau dual listing (di Indonesia dan di negaranya), dengan menawarkan kemudahan-kemudahan tertentu. Jika ini sulit dilakukan, maka minimal perusahaan-perusahaan Indonesia yang listing di Singapura bisa diarahkan untuk juga listing di BEI
  2. Membuka keran masuknya investasi asing dimana mereka bisa membeli saham-saham dari perusahaan asing tersebut (jadi asing ketemu asing).
  3. Menciptakan dan mengembangkan produk-produk investasi/trading diluar saham dan obligasi, seperti indeks futures (yang memang sudah dibikin), exchange traded funds (ETF, ini juga sudah ada tapi masih belum populer), real estate investment trust (REIT), business trust, structured warrants, dll.
..Maka pasar modal di Indonesia akan tumbuh lebih kencang lagi di masa depan. Kebijakan diatas mungkin terdengar liberal, termasuk mungkin bisa menimbulkan efek samping persaingan bagi investor/perusahaan lokal dan kemungkinan berkembangnya spekulasi, namun nyatanya itulah yang dilakukan oleh beberapa negara financial center seperti Singapura, Hongkong, dan Swiss, dan alhasil tidak hanya pasar modalnya, namun ekonomi mereka maju pesat secara keseluruhan. Kalau hanya mengharapkan investor dan perusahaan domestik untuk ‘meramaikan’ pasar modal, maka untuk proses edukasinya dan sosialisasinya saja mungkin perlu waktu beberapa dekade. Kalau anda perhatikan pergerakan Bursa Shanghai yang sangat ekstrim, dimana dia bisa terbang dan jeblok gila-gilaan dalam waktu singkat, kemungkinan itu karena market participant terbesarnya ya investor di dalam negerinya sendiri, yang mindsetnya masih ke gambling ketimbang investasi.
Tapi, okay, katakanlah pasar modal di Indonesia berkembang dengan sendirinya tanpa perlakukan khusus apapun dari Pemerintah maupun otoritas terkait, maka bagaimana peluangnya di masa yang akan datang? Well, seperti yang sudah disebut diatas, bahkan tanpa Pemerintah memberikan stimulus apapun, namun cuma soal waktu sebelum IDX akan menyalip SGX sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara, dan sinyal pertama akan hal itu adalah ketika market cap BBCA sudah lebih besar dari DBS.
Dan bagi fund-fund besar asal Amerika dll, ketika mereka berinvestasi di Asia Tenggara, maka sudah tentu mereka akan memilih ‘yang terbesar’ terlebih dahulu, sementara disisi lain cukup jelas bahwa Bursa Singapura sama sekali tidak menawarkan profit yang layak dalam lima tahun terakhir. Jadi dalam hal inilah, penulis kira dalam waktu dekat kita akan melihat dana asing akan ramai-ramai masuk ke saham-saham di BEI. Hingga tanggal 12 Februari, asing baru mencatatkan net buy Rp1.5 trilyun, atau masih sangat kecil dan sama sekali belum menutup net sell sebesar Rp22.6 trilyun sepanjang tahun 2015 lalu. Jika kedepannya asing belanja hingga menutup net sell yang Rp22.6 trilyun ini saja, maka IHSG tentu akan naik signifikan (actually, di website ini kita sudah mengatakan bahwa IHSG akan naik bahkan ketika dia masih terpuruk, awal Januari lalu. Anda bisa baca lagi artikelnya disini). We’ll see.
Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Tema Value Investing: Buy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 20 Februari 2016. Untuk mendaftar klik disini. Hingga Senin, 15 Februari, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Mengenal LQ45 Futures

Tanggal 1 Februari kemarin, BEI bersama dengan KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia) mengaktifkan kembali perdagangan LQ45 Futures. Perdagangan LQ45 Futures sebenarnya sudah ada sejak tahun 2001 lalu, namun dihentikan pada tahun 2009 karena berbagai alasan, dan sekarang diaktifkan lagi dengan beberapa penyempurnaan regulasi. Namun pertanyaannya, apa sih yang dimaksud dengan LQ45 Futures ini? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap IHSG?

Sebelum kita membahas LQ45 Futures secara spesifik, kita pelajari dulu, apa yang dimaksud dengan ‘futures’ dalam dunia keuangan. Futures, atau disebut juga kontrak berjangka, adalah perjanjian yang dibuat oleh dua belah pihak dimana satu pihak akan menjual suatu aset kepada pihak lainnya pada harga yang sudah ditentukan, pada waktu mendatang. Misalnya, sekarang ini harga minyak adalah US$ 30 per barel, dan A membuat perjanjian dengan B untuk membeli minyak dari B pada harga US$ 30 per barel, dan minyak tersebut akan diserah terimakan (termasuk uangnya akan dibayarkan) pada tiga bulan mendatang setelah perjanjiannya dibuat. Maka tiga bulan kemudian, A tetap harus membayar US$ 30 per barel, tak peduli meski harga minyak setelah tiga bulan tersebut sudah naik menjadi US$ 33, atau turun menjadi US$ 27 per barel.
Tujuan dari dibuatnya kontrak futures adalah untuk melindungi si pembeli atau penjual dari kemungkinan fluktuasi harga dari aset/komoditas yang diperjual belikan. Jadi kalau anda bekerja di Pertamina dan berencana untuk membeli minyak dalam jumlah besar, misalnya enam bulan dari sekarang, maka berhubung kita tentu saja tidak tahu bagaimana perkembangan harga minyak setelah enam bulan tersebut, anda bisa datang ke bursa berjangka (futures exchange) untuk membuat perjanjian/kontrak dengan si penjual minyak untuk membeli minyak tersebut enam bulan lagi, tapi pada harga yang sudah ditentukan/disepakati pada saat ini.
Pada prakteknya, dalam jual beli kontrak futures ini, terdapat peluang spekulasi bagi para trader untuk meraup keuntungan, meski mereka sejatinya tidak berniat untuk membeli atau menjual minyak,, karena biasanya harga aset/komoditas di bursa futures lebih rendah di pasar spot (bursa spot adalah pasar dimana kalau anda beli minyak, maka anda akan menerima minyaknya saat itu juga). Misalnya anda membeli minyak pada harga US$ 30 per barel untuk pengiriman tiga bulan dari sekarang, dan harga tersebut lebih rendah dari harga di pasar spot yakni US$ 35 per barel. Beberapa waktu kemudian, ketika mendekati deadline tiga bulan tadi, harga minyak di pasar spot tetap US$ 35 per barel, sehingga harga minyak di bursa futures tentunya naik (karena sudah dekat waktu delivery-nya), katakanlah menjadi US$ 33. Dengan demikian anda memperoleh keuntungan sebesar US$ 3 per barel alias 10%, dalam jangka waktu yang relatif singkat.
However, kalau harga di pasar spot turun, maka demikian pula harga di bursa futures akan ikut turun, dan alhasil seorang trader (orang yang membeli kontrak berjangka untuk tujuan dijual kembali) akan menderita kerugian. Dibanding dengan investasi di bursa saham, risiko kerugian di bursa futures ini terbilang sangat besar. Karena berbeda dengan harga saham yang, dalam jangka panjang, akan naik sesuai dengan kualitas fundamental perusahaan, harga suatu komoditas atau apapun bisa naik dan turun ke posisi berapa saja dan kapan saja tanpa benar-benar bisa diprediksi, dan itulah kenapa dikatakan bahwa bursa berjangka menawarkan peluang spekulasi (bukan investasi). Ketika harga minyak masih di level US$ 100-an per barel, dua tahun lalu, tidak ada seorangpun yang berani membayangkan bahwa harganya akan jeblok sampai dibawah level US$ 30 per barel seperti sekarang.
Karena jual beli kontrak futures ini tidak (atau belum) menyebabkan suatu aset benar-benar berpindah tangan, maka dalam dunia keuangan, dia termasuk produk derivatif. Instrumen derivatif lainnya yang mirip-mirip dengan futures ini adalah options, swaps, dan forwards, tapi kita tidak akan membahas itu lebih lanjut.
Okay, lalu apa yang dimaksud dengan LQ45 Futures?
Seperti halnya komoditas, saham, obligasi dll, indeks saham seperti Indeks LQ45juga bisa diperdagangkan di bursa berjangka, dimana kalau anda memperkirakan bahwa LQ45 akan naik dalam beberapa waktu kedepan, maka anda bisa membeli ‘kontrak LQ45’ pada harga berdasarkan nilainya pada hari ini, untuk nanti dijual ketika nilainya sudah naik. Risikonya adalah jika indeks LQ45 malah turun, maka anda mungkin harus menjual kontrak futures anda dalam posisi rugi.
Berdasarkan info dari BEI, anda akan membayar Rp500 ribu untuk setiap poin indeks. Jadi kalau anda membeli 1 unit LQ45 futures pada harga 834 (posisi penutupan LQ45 futures pada hari ini), maka anda akan keluar duit Rp417 juta. Tapi, seperti halnya perdagangan futures lainnya, anda hanya perlu menyediakan modal sebesar 4% saja dari Rp417 juta tersebut, alias Rp17 juta, karena selebihnya merupakan dana margin yang dibayarkan oleh sekuritas.
(catatan: untuk melihat posisi LQ45 futures, anda bisa buka www.idx.co.id, disebelah kiri klik ‘Informasi Pasar’, klik lagi ‘Derivatif’, dan terakhir klik ‘Kontrak Berjangka Indeks Efek’. Sejauh ini baru ada dua sekuritas yang sudah memperdagangkan kontrak indeks ini, dengan nilai transaksi beberapa milyar Rupiah)
Faktor margin inilah yang menyebabkan transaksi LQ45 futures menawarkan profit yang extraordinary, tapi risikonya juga gila-gilaan. Jika nilai LQ45 futures yang anda beli hari ini naik 10 poin menjadi 844 di keesokan harinya (naik 1.1%), maka profitnya adalah 10 dikali Rp500,000, sama dengan Rp5 juta, padahal modalnya cuma Rp17 juta (profitnya 30% dalam sehari, belum dipotong biaya margin). Sebaliknya, kalau futures nilainya turun 10 poin, maka modal Rp17 juta anda tinggal tersisa Rp12 juta. Kalau penurunannya lebih besar lagi, maka modal anda bisa habis sama sekali.
Namun karena untuk trading LQ45 futures ini sama sekali gak butuh modal besar, maka biasanya trader yang membeli LQ45 futures ini bukan berniat mencari untung, melainkan untuk melakukan perlindungan atau hedging terhadap investasi mereka sendiri di pasar saham, dari risiko fluktuasi bursa global.
Dan itu karena, sesuai namanya, LQ45 futures ini adalah seolah-olah merupakan posisi indeks LQ45 di masa depan, dalam hal ini satu hari kedepan. Jadi kalau LQ45 futures naik dalam satu hari tertentu, maka indeks LQ45 itu sendiri kemungkinan akan ikut naik keesokan harinya (meski mungkin juga tidak). Keberadaan LQ45 futures ini diharapkan bisa menjadi patokan baru bagi para trader dalam melihat bagaimana kira-kira pergerakan indeks saham dalam satu hari tertentu, dalam hal ini indeks LQ45 dan tentunya IHSG (karena pergerakan indeks LQ45 boleh dibilang 99.9% identik dengan IHSG, selama bertahun-tahun saya gak pernah melihat indeks LQ45 naik tapi IHSG-nya malah turun), diluar patokan-patokan lain seperti Dow Jones, EIDO, EEM, dll. Biasanya kan kalau EIDO semalem turun, maka investor berpikir bahwa pada paginya IHSG bakal turun juga. Dan kalau semua orang berpikir bahwa IHSG bakal turun, maka bisa jadi IHSG benar-benar akan turun.
Nah, dengan adanya LQ45 futures ini, maka perhatian orang-orang tidak hanya akan fokus pada EIDO dan lainnya, tapi juga LQ45 futures tersebut, dimana kalau nilainya naik, maka orang-orang mungkin tetap akan optimis dalam melihat IHSG, bahkan meski EIDO ditutup turun pada malam harinya.
Hanya memang timbul pula kekhawatiran bahwa LQ45 futures ini mungkin malah akan jadi ‘mainan’ para bandar yang dengan sengaja menaikkan atau menurunkannya dengan mudah (karena memang cuma perlu modal kecil), dan itu kemudian berpengaruh terhadap pergerakan IHSG itu sendiri. Tapi penulis kira untuk saat ini kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan, karena nilai transaksi LQ45 futures masih sangat-sangat kecil, cuma beberapa milyar Rupiah per hari (bandingkan dengan nilai transaksi seluruh saham di BEI, yang mencapai Rp6 trilyun per hari), sehingga berapapun posisi LQ45 futures maka itu belum akan mempengaruhi IHSG secara signifikan. Selain itu kontrak LQ45 futures ini gak cuma satu, tapi ada beberapa, dan nilai tiap-tiap kontrak bisa berbeda-beda. Perdagangan LQ45 futures ini masih perlu waktu, mungkin setidaknya satu tahun, agar nantinya mulai diperhatikan oleh para trader dan turut mempengaruhi keputusan mereka dalam membeli atau menjual saham.
Tapi untuk mengetes ‘kekuatan’ LQ45 futures ini, maka anda bisa mengeceknya sendiri: Ketika artikel ini ditulis, posisi penutupan LQ45 futures untuk hari Kamis, 11 Februari, adalah 834, atau lebih rendah dibanding indeks LQ45 itu sendiri yakni 839. Ini artinya para trader yang membeli LQ45 futures sepanjang Kamis siang tadi memperkirakan bahwa indeks LQ45 mungkin akan turun. Nah, mari kita lihat, apakah besok Jumat indeks LQ45, dan tentunya juga IHSG, akan benar-benar turun?
Posisi LQ45 Futures, bisa dilihat di www.idx.co.id. Klik gambar untuk memperbesar

Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit
! Anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar:Tema Value Investing: Buy at Lowest Price, Sell at Highest. Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 20 Februari 2016. Untuk mendaftar klik disini. Hingga Kamis, 11 Februari, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 20 Februari 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, money management, and how to buy at lowest price, then sell it later at an unbelievable price.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pickpilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Sharing pengalaman penulis ketika menghadapi panic sellingpada Agustus – September 2015 kemarin, dimana kita sukses membeli banyak saham-saham bagus pada harga super duper diskon.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 20 Februari 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Diskon Tambahan: Bagi anda yang masih kuliah alias mahasiwa, maka biayanya hanya Rp500,000. Syaratnya cukup dengan menyertakan foto/scan Kartu Tanda Mahasiswa ketika anda mengirim email konfirmasi pembayaran.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Donald Trump, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Untuk melihat foto-foto penyelenggaraan seminar sebelumnya, klik [...]

Apa itu Indeks LQ45?

Tanggal 25 Januari kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar terbaru dari saham-saham yang menjadi komponen Indeks LQ45. Dalam daftar tersebut ada tiga saham baru yang menjadi komponen indeks, yakni Aneka Tambang (ANTM), HM Sampoerna (HMSP), dan Hanson International (MYRX), dimana mereka menggantikan tiga saham yang keluar yakni XL Axiata (EXCL), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Wika Beton (WTON). Tak lama kemudian penulis menerima banyak email pertanyaan: Bukannya ANTM di Kuartal III 2015 kemarin menderita rugi Rp1 trilyun, atau dengan kata lain fundamentalnya jelek? Bagaimana bisa dia masuk indeks LQ45?

Nah, dalam hal ini penulis jadi sadar bahwa masih ada banyak investor yang belum paham soal LQ45 ini. Okay kita langsung saja.
Indeks LQ45 merupakan indeks saham alternatif selain IHSG, yang pergerakannya dipengaruhi oleh 45 saham yang menjadi komponennya, dimana ke-45 saham tersebut harus memenuhi kriteria berikut:
  1. Termasuk salah satu dari 60 saham dengan market cap terbesar di BEI, selama 1 tahun terakhir
  2. Termasuk salah satu dari 60 saham dengan nilai transaksi perdagangan terbesar di pasar reguler (jadi nilai transaksi di pasar nego dan pasar tunai tidak dihitung), atau dengan kata lain termasuk dari 60 saham paling likuid di BEI, selama 1 tahun terakhir (pada akhirnya diambil 45 saham yang paling likuid sekaligus memiliki market cap paling besar).
  3. Sudah listingdi BEI setidaknya 3 bulan terakhir (jadi saham-saham yang baru IPO tidak bisa langsung masuk indeks LQ45), dan
  4. Memiliki kinerja fundamental yang baik serta prospek yang cerah.
Setiap enam bulan sekali, pihak BEI melakukan evaluasi terhadap ke-45 saham yang menjadi komponen indeks, dimana saham-saham yang tidak lagi memenuhi keempat kriteria diatas akan dikeluarkan dari daftar, digantikan oleh saham lain yang lebih memenuhi kriteria. Namun pada prakteknya, kriteria yang lebih diperhatikan adalah likuiditas sahamnya saja, dimana 45 saham yang masuk indeks LQ45 adalah saham-saham paling likuid di BEI dari sisi nilai transaksi (bukan volume/jumlah saham, atau frekuensi transaksi).

Sementara soal ‘kinerja fundamental’, itu tidak terlalu diperhatikan. Beberapa tahun lalu ketika Grup Bakrie masih menguasai bursa, dimana nilai transaksi dari saham Bumi Resources dkk masih mencapai ratusan milyar atau bahkan trilyunan Rupiah per harinya, maka saham-saham seperti BUMI, Bakrie & Brothers (BNBR), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), hingga Bakrieland Development (ELTY), ketika itu mereka semua merupakan penghuni tetap indeks LQ45. Bahkan saham blangsak seperti Trada Maritime (TRAM) juga pernah masuk indeks LQ45, hanya karena nilai transaksi harian TRAM terbilang sangat besar.

Namun setelah saham-saham diatas terus turun dan nilai transaksi sahamnya otomatis mengecil, maka mereka kemudian ditendang keluar dari indeks. Maksud penulis adalah, kalau misalnya nilai transaksi TRAM hingga hari ini masih merupakan salah satu yang terbesar di BEI, maka dia tetap akan masuk indeks LQ45, tak peduli meski fundamentalnya amburadul.
Pemilihan saham yang hanya memperhatikan faktor likuiditas itulah, yang pada akhirnya membuat indeks LQ45 tidak pernah sepopuler IHSG, dimana orang lebih tertarik untuk melihat berapa posisi IHSG hari ini, dibanding berapa posisi indeks LQ45. Sebagai investor, anda pasti tahu berapa posisi IHSG selama beberapa waktu terakhir, tapi anda mungkin tidak tahu berapa posisi indeks LQ45. Benar tidak? Jika anda belum tahu, anda bisa melihatnya di www.finance.yahoo.com, masukkan kodenya ^JKLQ45. Ketika artikel ini ditulis, indeks LQ45 berada di posisi 794.
Meski demikian, dibanding indeks-indeks saham lainnya di Indonesia seperti Bisnis 27, IDX30, Pefindo 25, ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia), Kompas 100, hingga Sri-Kehati, maka indeks LQ45 adalah yang paling penting setelah IHSG, karena indeks LQ45 lebih mencerminkan arah pasar dibanding IHSG. Dan itu karena pergerakan indeks LQ45 ini hanya dipengaruhi oleh 45 saham yang paling likuid saja, sementara pergerakan IHSG dipengaruhi oleh semua saham yang terdaftar di BEI, termasuk saham gocapan atau saham yang gak pernah ada transaksi sekalipun (meski memang bobot pengaruh dari tiap-tiap saham terhadap IHSG berbeda-beda). Perhatikan gambar berikut, dimana jelas sekali bahwa dalam kondisi pasar yang turun, indeks LQ45 turun lebih dalam dibanding IHSG. Sementara dalam kondisi pasar naik, indeks LQ45 naik lebih tinggi dibanding IHSG.
Pergerakan IHSG (merah) dan Indeks LQ45 (biru) sejak tanggal 11 Maret 2013 hingga hari ini. Klik gambar untuk memperbesar
Selain itu, bagi investor/fund manager profesional, likuiditas saham sangat penting dimana saham yang likuid bisa diprioritaskan/dibeli lebih banyak ketimbang yang tidak likuid, sehingga daftar saham-saham yang menjadi komponen indeks LQ45 tetap perlu untuk diperhatikan. Pihak sekuritas juga perlu memperhatikan komponen LQ45, sehingga mereka tahu saham-saham apa saja yang paling ramai diperjual belikan, kemudian merekomendasikan saham tersebut kepada nasabahnya. Sekuritas/broker biasanya hanya merekomendasikan saham likuid yang masuk komponen indeks LQ45 kepada nasabahnya dan jarang merekomendasikan saham diluar indeks, apalagi jika saham tersebut benar-benar tidak likuid, karena saham seperti itu kalau sudah dibeli maka akan sulit untuk dijual lagi, apalagi jika belinya banyak. Dan kalau investor kemudian hanya meng-hold saja saham tersebut, maka sekuritas tentunya nggak akan dapet trading fee. Dan mungkin karena faktor sering direkomendasikan inilah, maka timbul kesan bahwa saham-saham LQ45 merupakan saham-saham terbaik di BEI, padahal belum tentu.

Anyway, dengan ini maka anda sudah mengetahui bahwa kalau ada saham tertentu yang masuk indeks LQ45, maka bukan berarti dia layak invest, melainkan anda tetap harus menganalisanya terlebih dahulu. Namun demikian kalau ada dua saham yang fundamentalnya sama-sama bagus dan valuasinya juga sama-sama rendah, tapi saham pertama masuk indeks LQ45, sementara saham kedua tidak, maka penulis sendiri juga akan lebih memilih saham yang pertama.

Okay, I think that’s enough. Jika ada yang mau menambahkan, silahkan.
Info: Buletin Analisa IHSG, investment plan, dan stock pick bulanan edisi Februari sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi dan buletin edisi Januari untuk member baru.
Ebook Analisis Kuartal IV 2015 juga sudah terbit. Anda bisa memperolehnya

Investor Fun Gathering & Seminar, 20 – 21 Februari

Dear investor, selama beberapa bulan terakhir, penulis punya hobi baru yang bisa membuat saya merasa muda lagi yaitu adventure travelling, seperti naik gunung, berkemah, snorkling, rafting, hingga naik motor/mobil keliling Pulau Jawa/Bali/Nusa Tenggara, biasanya dengan ikut grup tour. Yang paling menyenangkan dari kegiatan jalan-jalan ini adalah keakrabanyang sangat erat antar sesama peserta tour, bahkan meski saya belum mengenal mereka sebelumnya.

Karena itulah, saya jadi punya ide untuk bikin acara ‘Investor Fun Gathering & Seminar’, yakni acara seminar seperti biasa (dengan saya sebagai pembicaranya), plus kegiatan adventure, totalnya selama dua hari satu malam (pergi sabtu pagi, pulang minggu sore), sehingga akan terjalin keakraban antar sesama peserta dan terbentuk komunitas investor. Pada akhir acara akan dibuat Grup Whatsapp khusus untuk peserta gathering, sehingga para peserta akan tetap bisa saling berkomunikasi setelah acaranya berakhir.
Dan setelah diskusi dengan seorang teman yang memang spesialis membuat acara gathering seperti ini, diputuskan untuk membuat acara gatheringnya di Off Road Lembang, Bandung. Berikut susunan kegiatannya (itinerary):

Day 1: Sabtu.
06.00 – 07.00: Kumpul di meeting point di Plaza Semanggi, Jakarta, berangkat ke Bandung menggunakan bus pariwisata. Bagi peserta yang berasal dari Bandung, bisa langsung ke lokasi villa-nya
11.00 – 12.00: Sampai di Lembang, check in di villa, istirahat, makan siang
12.00: Ke lokasi off road di Lembang, muter-muter kawasan hutan Tangkuban Parahu pake mobil jeep, dan kegiatan outbound lainnya.
18.00: Pulang ke villa, mandi, istirahat
19.30: Makan malam di dekat api unggun di halaman villa, ngobrol santai & tanya jawab saham dengan penulis, acara bebas, tidurr
Day 2: Minggu.
05.00: Bangun pagi, menghirup udara segar, sarapan
07.30 – 11.00: Acara seminar value investingdi ruang meeting di villa-nya.
11.00 – 12.00: Beres-beres, check out, mampir ke D’Ranchdan Tahu Susu Lembang (belanja oleh-oleh)
16.00: Pulang ke Jakarta, acara selesai.
Tema Seminar: Investasi Saham Tanpa Harus Melihat Harga Saham Setiap Saat.Dan kisi-kisi materi:
  1. Cara cepat dalam menyeleksi saham berdasarkan fundamentalnya,
  2. Cara menentukan harga beli saham yang murah/wajar untuk saham-saham hasil seleksi, dan juga harga jual/target harganya.
  3. Cara mengatur komposisi portofolio yang memaksimalkan potensi keuntungan sekaligus meminimalisir kerugian,
  4. Cara menemukan saham yang bisa naik 100% atau lebih dalam waktu 1 tahun atau kurang, dan
  5. Cara untuk mengevaluasi portofolio secara rutin dan terjadwal, tanpa perlu melihat pergerakan harga saham setiap saat.
Biaya: Rp1,350,000 per orang, sudah termasuk: Transport pulang pergi dan selama di Lembang, makan tiga kali, snack, biaya masuk ke kawasan off road, penginapan villa, air mineral, foto-foto dokumentasi, tour leader, team off road, tiket masuk D’Ranch, perlengkapan P3K, dan tentu saja seminar value investingnya. Biaya tidak termasuk pengeluaran pribadi dan belanja oleh-oleh.
Diskon: Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp1,250,000 per orang. Karena acara ini adalah sekaligus rekreasi, maka anda juga bisa mengajak keluarga.
Keterangan Villa: Standar hotel bintang 3 dengan kamar yang besar, tiap kamar berisi 3 – 4 tempat tidur. Peserta wanita akan mendapat kamar khusus. Berikut penampakannya, klik gambar untuk memperbesar:

Tanggal Acara: Hari Sabtu dan Minggu, tanggal 20 – 21 Februari.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan pembayaran uang muka/DP sebesar minimum Rp500,000 dengan transfer ke (pilih salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Investor Gathering, dan isi: Nama lengkap anda, jumlah transfer, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, 500,000, BCA, Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta gathering.
4. Jika pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan. Jika anda ternyata berhalangan hadir pas tanggal acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh (tidak hangus), dengan catatan anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut melalui email teguh.idx@gmail.com (atau melalui kontak telepon dibawah), paling lambat tiga hari sebelum acaranya. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.

5. Pelunasan dilakukan paling lambat satu minggu sebelum acaranya (akan diingatkan melalui email/Whatsapp).

Demikian,  we will have fun & make friends, sampai jumpa di lokasi!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui telepon atau pin BB tersebut.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

Penurunan Harga Minyak, dan IHSG

Selama hampir satu dekade terakhir, kita terbiasa melihat harga minyak di kisaran US$ 100 per barel, dengan hanya sekali turun ke level US$ 45 pada tahun 2008 lalu, tapi tak lama kemudian langsung naik lagi untuk kemudian bertahan di rentang US$ 100 – 120 per barel. Memasuki tahun 2015 barulah harga minyak mulai turun dan.. tiba-tiba saja, sekarang dia sudah berada di bawah level US$ 30 per barel. Pertanyaannya, what happen? Dan apakah ini ada hubungannya dengan penurunan bursa China, Amerika, dan juga IHSG pada awal tahun 2016 ini?

Meski harga minyak terus merangkak naik dari US$ 30 pada awal dekade 2000-an hingga sempat menembus US$ 145 per barel pada tahun 2007, namun kalau kita lihat sejarahnya sejak tahun 1860-an, maka dengan memasukkan faktor inflasi, harga minyak lebih sering berada di rentang US$ 15 – 30 per barel. Dan faktanya, selama lebih dari 150 tahun terakhir, maka dengan memasukkan faktor inflasi, harga minyak hanya pernah empat kali berada pada level diatas US$ 100 per barel, yakni pada tahun 1864 (lima tahun setelah ditemukannya internal combustion engine, yakni cikal bakal mesin kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin), lalu pada tahun 1979 (ketika terjadi Revolusi di Iran, sehingga produksi minyak disana berhenti total, padahal Iran adalah salah satu eksportir minyak terbesar di dunia), tahun 2007 (ketika para spekulan di pasar futures terus membeli minyak hingga harganya melambung), dan pada tahun 2011 – 2014.
Jadi ketika harga minyak sekarang sudah dibawah US$ 30 per barel, maka secara historis itu wajar saja, karena seperti yang sudah disebut diatas, dari dulu juga harga minyak memang lebih sering berada di rentang US$ 15 – 30 per barel, dan hanya akan naik secara signifikan kalau ada penyebab yang spesifik. Ketika harga minyak mulai merangkak naik pada awal dekade 2000-an, penyebab spesifik tersebut adalah booming ekonomi di China, dimana permintaan (demand) minyak dunia melonjak tajam. Namun karena belakangan ini perekonomian China melambat, dan akan terus melambat (dengan statusnya sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia, maka tentu sangat sulit bagi China untuk kembali mencatat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa seperti beberapa tahun lalu), maka ya sudah: Cepat atau lambat harga minyak akan balik lagi ke level yang memang seharusnya. Tidak perlu menjadi analis yang canggih untuk menebak bahwa harga minyak mungkin akan lanjut turun sampai dibawah US$ 20 per barel, karena memang disitulah dia seharusnya berada, yakni pada rentang US$ 15 – 30 per barel.
Okay, tapi dengan penurunan harga minyak ini, lalu bagaimana dampaknya terhadap ekonomi dunia?
Kenaikan harga minyak sejak awal tahun 2000-an hingga 2014 kemarin, itu juga pernah terjadi pada dekade 70-an, dimana pada tahun 1973 – 1974 harga minyak melonjak dari sebelumnya dibawah US$ 20 per barel (sesudah inflasi), hingga menembus US$ 55 per barel, ketika itu karena negara-negara Arab melakukan embargo minyak ke Amerika dan Inggris, sebagai bentuk protes atas dukungan Amerika terhadap Israel yang menyerang Mesir dan Suriah. Setelah tahun 1974, harga minyak tidak serta merta turun kembali, melainkan lanjut naik hingga mencapai puncaknya yakni sekitar US$ 105 per barel pada tahun 1979, yakni ketika terjadi Revolusi Iran. Nah, tingginya harga minyak, atau lebih tepatnya kelangkaan supply minyak sepanjang dekade 70-an, pada akhirnya membuat perekonomian di Amerika dan dunia secara keseluruhan, menjadi lesu, karena kegiatan ekonomi yang membutuhkan pasokan minyak praktis terhenti. Pada tahun 1973 – 1974, pasar saham Amerika mengalami crash dimana Indeks S&P500 turun total lebih dari 40% selama dua tahun berturut-turut, dan kenaikan S&P500 di tahun-tahun berikutnya sepanjang dekade 70-an juga terbilang tidak signifikan (malah sempat turun sekali lagi pada tahun 1977).
Memasuki dekade 80-an, keributan di Timur Tengah mulai mereda, sehingga supply minyak dunia kembali lancar.. hingga tiba-tiba saja pada tahun 1982, harga minyak sudah berada di level US$ 30-an per barel lagi, dan terus turun. Alhasil mulai tahun 1982 ini dan seterusnya, beberapa negara produsen minyak seperti Venezuela, Brazil, dan Meksiko mengalami krisis, Arab Saudi mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan Uni Soviet bahkan sampai bubar (menjadi Rusia, Ukraina, Kazakhstan, dst) pada tahun 1991. Pada kasus Brazil dan Meksiko, mereka sampai mengalami krisis karena masalah klasik: Utang. Ketika dua negara tersebut mengalami booming ekonomi berkat kenaikan harga minyak pada awal dekade 1970-an, Pemerintah dan sektor swasta dengan cepat mengambil utang besar-besaran untuk membangun ini dan itu, yang kemudian tidak mampu dibayar setelah harga minyak itu sendiri turun. Di Meksiko, krisis ekonomi yang terjadi baru benar-benar pulih pada tahun 1984.
However, pada dekade 1980-an tersebut, beberapa negara konsumen minyak terbesar seperti Amerika Serikat, Jepang, hingga banyak negara-negara berkembang, justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibanding ketika terjadi krisis energi pada dekade 1970-an, dan alhasil perekonomian dunia secara keseluruhan tetap tumbuh dengan lancar. Kalau kita membandingkan pergerakan indeks Dow Jones pada dekade 70-an dengan 80-an, maka cukup jelas bahwa periode tahun 80-an, yakni ketika harga minyak turun (atau lebih tepatnya kembali ke level harga yang seharusnya), adalah lebih baik dibanding periode tahun 70-an. Perhatikan gambar berikut, dimana tampak jelas bahwa pergerakan Dow antara tahun 1970 – 1980 cenderung mendatar/sideways dengan beberapa kali penurunan ekstrim. Namun antara tahun 1980 – 1990, Dow sukses naik dari 900-an hingga 2,800, atau naik lebih dari tiga kali lipat (klik gambar untuk memperbesar).
 
Dow Jones 1970 – 1990. Perhatikan bahwa Dow cenderung mendatar pada tahun 1970 hingga awal 1980-an dengan beberapa kali koreksi besar (pada area berwarna abu-abu). Tapi memasuki tahun 1982, kesananya naik terus. Sumber: www.macrotrends.net
Antara Supply dan Demand
Nah, setelah harga minyak sempat relatif stabil selama hampir dua dekade, memasuki tahun 2000-an dia mulai naik lagi, tapi kali ini penyebabnya bukan karena menurunnya supply seperti ketika pada tahun 1973 negara-negara Arab menghentikan ekspor minyak, melainkan karena meningkatnya demand, yang berasal dari pertumbuhan ekonomi di China. Karena disisi lain supply minyak masih aman, maka kenaikan harga minyak tersebut tidak sampai menyebabkan krisis seperti tahun 1970-an, dimana pertumbuhan ekonomi di Amerika dll masih tetap lancar.
Lebih jelasnya sebagai berikut: Dalam perekonomian terdapat dua faktor fundamental yang sangat penting, yakni supply and demand. Namun kalau disuruh memilih yang paling penting diantara keduanya, maka supply/pasokan adalah yang terpenting. Malahan, asalkan ada supply, maka demand/permintaan akan muncul dengan sendirinya. Ketika orang-orang menemukan minyak pada awal abad ke-19, ketika itu mereka belum tahu, apa kegunaan minyak ini. Tapi kemudian diciptakan mesin kendaraan bermotor, sehingga timbul permintaan akan minyak. Seandainya minyak tidak pernah ditemukan, maka mesin mobil dan motor yang ada sekarang ini juga tidak akan pernah ada. Analogi yang sama juga ketika internet ditemukan pada tahun 1980-an, dimana ketika itu belum ada yang bisa melihat manfaatnya (belum ada demand terhadap internet). Tapi sekarang, coba bayangkan kalau internet tiba-tiba tidak lagi tersedia mulai hari ini: Mungkin tak lama kemudian IHSG langsung jeblok ke 2,500, karena orang-orang yang biasa pake online trading tiba-tiba harus pake cara dulu lagi, yakni telpon broker atau datang langsung ke lantai bursa di Gedung BEI di Jakarta, dimana penulis sendiri gak bisa ngebayangin kalau kita harus kaya gitu (mungkin harus tanya Om Lo Kheng Hong).
Balik lagi soal minyak. Ketika pasokan minyak berkurang, maka segala jenis industri yang membutuhkan minyak, termasuk industri transportasi yang tentu saja sangat vital bagi negara manapun, akan mandek semuanya, dan ekonomi praktis akan terganggu secara keseluruhan. Tapi ketika gilirannya permintaan minyak yang berkurang, maka yang akan terkena dampak negatifnya hanyalah para perusahaan minyak dan juga negara-negara produsen minyak. Sementara kegiatan ekonomi lainnya? Ya berjalan seperti biasa.
Karena itulah, meski harga minyak terus merangkak naik sepanjang dekade 2000-an, namun ekonomi dunia tidak mengalami perlambatan/krisis seperti tahun 1970-an, karena tidak ada problem dari sisi supply.
Dan ketika sekarang gilirannya harga minyak turun lagi, maka apakah akan terjadi krisis? Well, sebenarnya pertanyaan ‘apakah akan terjadi krisis’, itu merupakan pertanyaan yang tricky, karena krisis bisa disebabkan oleh apa saja, tidak harus karena naik turunnya harga minyak. Ketika Indonesia dihantam krisis moneter 1998, harga minyak ketika itu adem ayem saja tuh.
Tapi kalau kita fokus pada penurunan harga minyak, maka ya lihat saja tahun 1980-an: Terjadi krisis tidak? Yang terjadi perekonomian dunia secara umum justru membaik, Dow Jones naik terus, meski beberapa negara eksportir minyak memang mengalami krisis. Khusus untuk Indonesia, penurunan harga minyak sama sekali gak jadi soal, malah justru bagus, mengingat kita ini sejak tahun 2007 sudah berstatus sebagai importir minyak, bukan lagi eksportir. Okay, industri pertambangan termasuk tambang batubara, yang sempat menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia di tahun 2000-an, mungkin akan semakin tenggelam dengan turunnya harga minyak, tapi jangan lupa bahwa kontribusi sektor tambang, termasuk tambang minyak dan gas terhadap GDP nasional hanya 7.3% (per Kuartal III 2015), dan ini sangat berbeda dengan beberapa ‘raja minyak’ seperti Venezuela, yang 55% GDP-nya berasal dari ekspor minyak, atau Qatar, yang 60% GDP-nya berasal dari ekspor gas.

Hanya memang, untuk tahun 2016 ini, yang dikhawatirkan bukan soal penurunan harga minyaknya, tapi penyebab dari penurunan harga minyak itu sendiri, yakni perlambatan pertumbuhan ekonomi di China, yang sebagian menyebutnya dengan istilah yang lebih dramatis: Krisis. Anyway, berhubung pembahasan selanjutnya akan fokus pada bagaimana outlookperkembangan ekonomi Indonesia kedepan, salah satunya jika kondisi China terus memburuk (jadi tidak lagi ngomongin soal minyak), maka kita akan bahas itu minggu depan. Tapi sebelum nanti artikelnya dipublikasikan, maka silahkan anda tulis analisa anda masing-masing terkait perkembangan ekonomi nasional (dan juga global) melalui kolom komentar dibawah.

Info Investor: Buletin Analisa IHSG, investment plan, dan stock pick bulanan edisi Februari sudah terbit! Anda bisa memperolehnya

Ebook Analisis Kuartal IV 2015

Dear investor, setiap tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal IV 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.
Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Selasa, tanggal 9 Februari 2015. Anda bisa memperolehnya disini, dan ebooknya nanti akan langsung dikirim via email.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.
Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Berikut ini adalah contoh tiga analisis/rekomendasi saham terbaru:
  1. Bank BNI (BBNI)
  2. Surya Semesta Internusa (SSIA)
  3. Nippon Indosari Corpindo (ROTI), dan seterusnya
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 5BDF54F4.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

Mengenal ‘Nilai Kualitatif’ Saham

Sebagai investor, penulis rutin membaca annual letter Berkshire Hathway yang ditulis sendiri oleh Warren Buffett, yang biasanya terbit pada bulan Januari atau Februari setiap tahunnya, karena dari situ ada banyak sekali wisdom tentang investasi yang bisa kita peroleh. Nah, Pada annual letter-nya yang terakhir yakni edisi tahun 2014, Buffett menceritakan pengalamannya membeli saham dari See’s Candies, perusahaan pembuat cokelat dalam kotak dan cemilan manis lainnya, pada tahun 1972. Dan setelah beberapa dekade kemudian investasi tersebut sukses menghasilkan keuntungan yang sangat besar bagi Berkshire.

Buffett membeli See’s atas saran dari partner-nya, Charlie Munger, yang memperkenalkan strategi investasi yang baru yang belum pernah diterapkan oleh Buffett sebelumnya, yakni: Belilah saham dari perusahaan yang luar biasa bagus pada harga yang wajar. Sebelumnya, sejak tahun 1950-an, Buffett hampir selalu membeli saham-saham pada valuasi serendah mungkin, misalnya PBV kurang dari 1 kali, hampir tanpa memperhatikan apakah perusahaan memiliki fundamental kinerja yang sangat baik atau tidak. Dan meski strategi ‘buy at lowest possible price’ itu kebanyakan berhasil, tapi seringkali Buffett terjebak dalam posisi sebagai pemilik dari perusahaan yang ternyata terus merugi, yang meski sudah diupayakan habis-habisan untuk bisa kembali menghasilkan keuntungan, namun tetap saja gagal.
Sementara ketika Buffett memiliki peluang untuk mengakuisisi 100% saham See’s Candies, sebuah perusahaan yang tampak sangat bagus dan menjanjikan keuntungan jangka panjang, namun peluang itu harus ditebus pada harga yang relatif mahal, dimana Berkshire harus membayar US$ 25 juta padahal nilai aset bersih See’s hanya US$ 8 juta, atau dengan kata lain PBV-nya mencapai 3.1 kali. Sekedar perbandingan, ketika Buffett pertama kali membeli saham Berkshire Hathaway pada tahun 1962, PBV-nya hanya 0.4 kali.
Namun ternyata investasi Buffett di Berkshire malah gagal total, dimana Buffett pada akhirnya harus menutup pabrik tekstil terakhir milik Berkshire di tahun 1986 (dan status Berkshire Hathaway kemudian berubah menjadi perusahaan holding). Sementara investasinya yang di See’s? Sukses besar, dan See’s Candies sampai sekarang masih menjadi salah satu perusahaan paling menguntungkan yang dimiliki oleh Warren dan Charlie.
Dan inilah yang menarik: Pada annual letter-nya, Buffett menyebutkan bahwa dari See’s Candies, ia belajar bahwa aset tak berwujud berupa reputasi, kekuatan merk, hingga keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh perusahaan, adalah lebih berharga dibanding aset-aset berwujud seperti pabrik, persediaan, dll. Yup, pada laporan keuangan See’s, aset-aset berupa reputasi dll, tentu saja tidak tampak, karena aset seperti itu tidak bisa diukur berapa nilainya dalam mata uang Dollar. Jadi meski harga beli See’s yang mencapai PBV 3.1 kali sekilas tampak mahal, namun ingat bahwa harga tersebut hanya didasarkan pada aset-aset berwujud milik perusahaan alias nilai bukunya, dan belum memperhitungkan nilai dari aset-aset yang tidak berwujud tadi. Jika Buffett menemukan perusahaan coklat lain yang dijual pada harga yang lebih rendah, misalnya PBV 1.0 kali, namun perusahaan tersebut reputasinya jelek, merk produknya sama sekali tidak dikenal, dan tidak memiliki keunggulan kompetitif apapun, maka Charlie tetap akan merekomendasikan untuk membeli See’s.
Nilai dari Aset-Aset Tak Berwujud: Nilai Kualitatif
Dalam value investing, seperti yang sudah penulis sampaikan berkali-kali sebelumnya, tugas seorang value investor ada dua: 1. Menyeleksi saham-saham/perusahaan berdasarkan fundamentalnya, dan 2. Menentukan harga belinya. Untuk poin pertama, terkadang investor hanya menilai fundamental suatu perusahaan hanya dari indikator-indikator yang bisa dihitung/ada angkanya, alias nilai kuantitatif, seperti nilai ekuitas, persentase kenaikan laba bersih, return on equity, margin laba, dan seterusnya. Padahal indikator yang tidak bisa dihitung/tidak ada angkanya, alias nilai kualitatif seperti kekuatan merk dll, itu seringkali memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap nilai fundamental perusahaan secara keseluruhan, karena itu lebih sulit untuk diperoleh.
Contohnya, untuk membangun kekuatan merk, maka perusahaan manapun harus mengeluarkan biaya untuk iklan. Tapi apakah dengan semakin besarnya anggaran belanja iklan maka akan semakin meningkat pula popularitas merk tadi di mata masyarakat? Belum tentu. Kita lihat, Wings Food, produsen mie instan merk ‘Mie Sedaap’, yang iklannya nongol hampir setiap hari di televisi, tapi tetap saja popularitas Mie Sedaap masih belum bisa mengalahkan Indomie, yang sudah mengakar kuat di masyarakat.
Dari tulisan Buffett tentang See’s, penulis jadi mengerti kenapa saham-saham dari perusahaan tertentu seperti Unilever (UNVR), Bank BCA (BBCA), Indofood CBP (ICBP), hingga Kalbe Farma (KLBF), mereka memiliki valuasi yang sangat tinggi dibanding valuasi saham-saham kebanyakan, karena ketiga perusahaan tersebut memiliki segalanya diluar aset-aset berwujud, seperti reputasi, kekuatan merk, manajemen yang kredibel, hingga status sahamnya sebagai blue chip. Meski memang, kalau sewaktu-waktu perusahaan tersebut mengalami penurunan kinerja yang drastis maka sahamnya juga akan turun, contohnya seperti Multi Bintang Indonesia (MLBI), yang di tahun 2015 kemarin labanya untuk pertama kali turun, dan demikian pula dengan sahamnya.
Tapi disisi lain, selama kinerja perusahaan-perusahaan diatas masih bertumbuh, maka selama itu pula sahamnya akan naik terus, atau minimal tidak turun, tak peduli meski PER atau PBV-nya sudah sangat tinggi. Sebenarnya sejak awal, sejak sebelum penulis membaca annual letter-nya Buffett diatas, penulis sudah tahu bahwa kita tentu saja tidak bisa menyamakan valuasi BBCA dengan Bank Victoria (BVIC), misalnya, bahkan andaikata kedua perusahaan tersebut memiliki kinerja keuangan yang sama. Tapi setelah mempelajari tulisan Buffett, penulis menyimpulkan bahwa ketika kita menganalisa fundamental sebuah saham, maka selain melihat poin-poin yang tampak di laporan keuangan (kuantitatif), kita juga harus melihat poin-poin yang tidak tampak di laporan keuangan (kualitatif).
Problemnya adalah, karena nilai kualitatif ini tentu saja gak ada angkanya, maka relatif sulit untuk menentukan besarnya nilai kualitatif tersebut. Contohnya, kalau anda tinggal di perkotaan, maka Bank BCA mungkin memiliki kekuatan merk yang lebih baik, karena mesin ATM-nya bisa ditemukan dimana-mana. Tapi bagi orang-orang di kampung, mungkin Bank BRI jauh lebih populer, karena disana adanya Bank BRI, bukan BCA. Dan ini berbeda dengan nilai kuantitatif seperti return on equity (ROE), dimana jika sebuah perusahaan memiliki ROE 20%, maka jelas bahwa sahamnya lebih layak koleksi, atau valuasinya layak lebih tinggi, dibanding saham lain yang ROE-nya hanya 10%. Dalam hal ini nilai kualitatif menjadi sesuatu yang subjektif, dimana pendapat anda tentang reputasi baik suatu perusahaan bisa saja keliru, jika ternyata mayoritas investor justru menganggap bahwa perusahaan tersebut punya reputasi buruk.
Namun dalam penerapannya, maka sebenarnya untuk menghitung nilai kualitatif ini tidak sesulit itu juga. Contohnya, ketika kita mempertimbangkan soal ‘kualitas manajemen’, maka anda pilih yang mana? Saham-saham Grup Astra, atau saham-saham Grup Bakrie? You surely know the answer.. Dan berikut ini adalah contoh lainnya yang lebih riil.
Contoh Penerapan
Setelah membaca annual letter-nya Berkshire diatas, penulis kemudian sedikit mengubah strategi: Jika sebelumnya penulis hampir tidak pernah mau melirik saham-saham dengan PBV diatas 2.5 kali, maka batasan PBV tersebut dinaikkan menjadi 4 atau maksimal 5 kali, tapi dengan catatan saham yang dibeli pada ‘harga tinggi’ tersebut memang memiliki nilai kualitatif yang extraordinary, tentunya diluar nilai-nilai kuantitatif seperti ROE dll.
Dan setelah melihat-lihat ikan yang ada di kolam, pilihan penulis jatuh pada Jasa Marga (JSMR). Sebelumnya, penulis tidak pernah melirik JSMR ini karena PER-nya yang selalu diatas 20 – 25 kali, atau lebih mahal dibanding BBCA sekalipun. Namun setelah membaca lagi tulisan tentang JSMR disini (jadi salah satu alasan kenapa saya menulis disini adalah agar nanti tulisan tersebut bisa saya baca lagi. Jika suatu ide investasi/analisa tidak pernah ditulis, maka ide tersebut akan hilang begitu saja), penulis baru sadar kalau JSMR ini memiliki banyak nilai kualitatif yang tidak ada pada perusahaan-perusahaan lain, seperti popularitas perusahaan (siapa yang gak tahu Jasa Marga?), model bisnis yang aman untuk jangka panjang (jalan tol), kualitas GCG yang baik, hingga track record pembayaran utang obligasi yang baik.
Ketika artikel itu ditulis pada Februari 2014, JSMR berada di posisi 5,000 pas, atau sudah turun lumayan jauh dari puncaknya yakni 6,900. Tapi setelah melihat bahwa pada harga segitupun JSMR tampak masih mahal, maka ya sudah, penulis gak jadi membelinya. Tapi yak lama kemudian, JSMR ternyata terus merangkak naik hingga tembus 7,000 pada Januari 2015, atau mencetak gain 40% hanya dalam tempo kurang dari setahun, dan meninggalkan penulis yang cuma bisa melongo kebingungan (tapi kemudian saya menemukan jawabannya di annual letter Berkshire tadi).
Memasuki April 2015, IHSG mulai turun, dan demikian pula dengan JSMR, yang pada September 2015 lalu akhirnya balik lagi ke harga 5,000 pas. Dan kali ini penulis tidak membuang-buang waktu: JSMR langsung tak beli! Termasuk saham ini juga menjadi salah satu yang dibahas di ebook kuartalan. Hasilnya, meski JSMR sempat turun dulu sampai 4,500 pada Desember lalu, tapi belakangan naik lagi dan, ketika artikel ini ditulis, sudah berada di level 5,800. Meski kita tentu tidak bisa memprediksi akan bergerak kemana JSMR ini (dan juga saham lain manapun) dalam jangka pendek, dimana besok-besok bisa aja dia turun lagi, namun satu hal yang jelas: This company has qualitative values, dan karena itulah ia layak dihargai lebih tinggi dibanding saham dari perusahaan dengan ROE dll yang sama, atau dibanding saham lain di sektor yang sama seperti Citra Marga Nusaphala (CMNP), dan Nusantara Infrastructure (META). Prinsip yang sama juga penulis terapkan ketika pada Agustus 2015 lalu membahas saham Nippon Indosari Corpindo (ROTI), dimana meski PBV-nya 5.2 kali dan PER-nya 22.3 kali pada harga saham 1,085, namun penulis tetap mengatakan bahwa harga segitu sudah cukup wajar. And indeed, sampai sekarang ROTI masih belum bergerak kemana-mana melainkan di kisaran 1,100 – 1,200.
Jadi mulai sekarang, diluar faktor-faktor yang bisa dihitung seperti nilai ekuitas, ROE, margin laba dll, anda juga bisa mulai mempertimbangkan faktor kualitatif ini dalam menilai fundamental suatu perusahaan, dan juga berapa valuasi/harga yang layak untuk sahamnya. Termasuk, kalau anda menemukan saham yang tampak amat sangat murah, maka coba cek sekali lagi: Apakah perusahaannya memiliki nilai kualitatif? Karena jika perusahaan ternyata tidak memiliki nilai kualitatif sama sekali, maka hati-hati, mungkin valuasinya tidak semurah kelihatannya karena, sekali lagi, nilai kualitatif ini lebih valuable dibandingkan dengan apa yang tampak di laporan keuangan. Dan hati-hati: Seperti halnya kinerja keuangan, ‘kinerja merk’ atau reputasi sebuah perusahaan juga bisa turun sewaktu-waktu, misalnya ketika muncul kompetitor yang lebih populer. Jadi seperti halnya kita perlu mengecek kinerja keuangan perusahaan dari kuartal ke kuartal, kita juga perlu mengevaluasi nilai-nilai kualitatif dari sebuah saham setiap beberapa waktu sekali.
Okay, I think that’s enough. Minggu depan kita akan membahas sedikit soal harga minyak, dan pengaruhnya terhadap IHSG.

Info Investor: Layanan preorder Ebook analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal IV 2015 sudah dibuka. Keterangan lebih lanjut klik disini

Elnusa

IHSG memulai perjalanannya di tahun 2016 ini dengan kurang mulus. Ketika artikel ini ditulis, IHSG masih turun 2% secara year to date. Meski penurunan tersebut masih jauh lebih baik dibanding penurunan Bursa China dan juga Amerika, dimana Indeks Shanghai dan Dow Jones  masing-masing turun 16.7 dan 6.2%, namun beberapa saham di sektor migas dan tambang sudah jatuh lebih dalam. Salah satunya, Elnusa (ELSA), yang terakhir ditutup di posisi 200 atau sudah turun hampir 20% sejak awal tahun, dan cukup jelas bahwa penyebabnya adalah penurunan harga minyak yang sekarang sudah menyentuh US$ 30 per barel.

Dan tidak hanya di dalam negeri, tapi saham-saham perusahaan migas skala global seperti Royal Dutch Shell, Exxon Mobil, BP, Chevron, Total SA, semuanya juga tumbang. Tapi yang menarik, kemarin Berkshire Hathaway merilis keterbukaan informasi bahwa mereka menambah kepemilikan di saham Phillips 66, sebuah perusahaan minyak kelas menengah yang bermarkas di Texas, Amerika Serikat. Nah, kita tentu sudah hafal kebiasaan Opa Warren yang suka membeli saham suatu perusahaan justru ketika orang-orang menghindarinya, dan dalam hal ini membeli saham perusahaan minyak justru ketika harga minyak terus meluncur turun. Tapi mungkin pertanyaannya, apakah ini merupakan sinyal bahwa smart money sudah mulai masuk ketika mayoritas investor sudah desperate dengan bisnis perminyakan? Lalu terkait Elnusa tadi, apakah penurunan harganya adalah sebuah opportunity?

Sekilas Elnusa

ELSA merupakan anak usaha dari BUMN paling mengesalkan di Indonesia, Pertamina, yang bergerak di bidang jasa perminyakan. Yup, ELSA tidak memproduksi minyak, namun menyediakan layanan land seismic, drilling, fabrication dll bagi perusahaan-perusahaan minyak. Beberapa pelanggan ELSA adalah Pertamina Hulu Energi, Pertamina EP, Medco, Pertagas, Total Indonesie, hingga Chevron Pacific Indonesia. Khusus untuk jasa land seismic, ELSA merupakan salah satu pionir yang sudah berpengalaman sejak tahun 1974, dan saat ini berstatus sebagai market leader di tanah air.
Nah, sejak dulu entah kenapa sektor perminyakan di BEI tidak pernah mencatatkan kinerja fundamental yang bagus, bahkan ketika dulu harga minyak masih diatas US$ 100 per barel, dan alhasil penulis sendiri hampir gak pernah melirik peluang investasi di sektor ini (tapi sebenarnya itu ada penjelasannya, anda bisa membacanya disini). And btw, Perusahaan Gas Negara (PGAS) tidak bisa dikelompokkan sebagai perusahaan migas atau jasa migas, karena dia cuma distributor.
Namun dibanding beberapa emiten sejenis seperti Ratu Prabu Energi (ARTI), Benakat Integra (BIPI), Energi Mega Persada (ENRG), hingga Medco (MEDC), maka ELSA memiliki kinerja fundamental yang relatif baik, meski tetap saja masih dibawah standar ‘baik’ versi penulis. However, dengan terus menurunnya harga minyak yang diiringi oleh penurunan harga saham dari perusahaan-perusahaan terkait, maka jika anda tertarik untuk mengikuti langkah Buffett yang justru masuk ke sektor perminyakan, pilihan saham yang paling masuk akal ya ELSA ini. Dan dengan PBV 0.6 kali pada harga 200, maka jika nanti harga minyak rebound sedikit saja, harusnya dia bisa dengan mudah membal keatas.
Hanya saja, kalau untuk investasi serius untuk jangka panjang, maka ELSA terbilang meragukan. Sejak 2010 sampai sekarang, pendapatan perusahaan stagnan di Rp4 trilyunan per tahun, alias gak naik-naik, dan kenaikan laba ELSA lebih didorong oleh efisiensi kinerja, tapi bahkan sampai sekarang margin labanya masih dibawah 10%, dan itu terbilang sangat rendah untuk ukuran perusahaan jasa. Lalu seiring dengan penurunan harga minyak sejak awal tahun 2015 lalu, pendapatan ELSA juga ikut tertekan dimana hingga Kuartal III kemarin, angkanya baru tercatat Rp2.6 trilyun, sehingga ada kemungkinan bahwa untuk sepanjang tahun 2015 ini pendapatan ELSA akan tercatat dibawah Rp4 trilyun, dan memang dari pihak manajemen sendiri memperkirakan bahwa laba ELSA hanya akan mencapai Rp350 milyar untuk tahun 2015, atau turun signifikan dibanding tahun 2014 sebesar Rp412 milyar. Dalam materi public expose yang diselenggarakan perusahaan ketika harga minyak masih US$ 45 per barel, manajemen sudah mengatakan bahwa kinerja perusahaan, meski turun, tapi penurunannya tidak sedalam industri migas secara umum, karena berbeda dengan mayoritas perusahaan migas lain di tanah air, ELSA relatif tidak memiliki utang.
Penurunan Kinerja
Tapi kata kuncinya disini adalah bahwa ‘kinerja perusahaan ikut turun seiring dengan penurunan harga minyak’. Dan berhubung harga minyak sekarang tinggal US$ 30 per barel, maka ya wassalaaaam… Terkait sahamnya sendiri, pada tahun 2011 lalu, yakni ketika harga minyak lagi tinggi-tingginya di level US$ 120 per barel, ELSA justru menderita kerugian Rp43 milyar, dan itu menyebabkan sahamnya jeblok dari 350-an hingga 160-an. Namun memasuki tahun 2012 hingga 2014, perolehan laba perusahaan terus membaik hingga mencapai Rp420 milyar pada akhir tahun 2014, dan alhasil sahamnya juga terus naik sampai sempat menyentuh posisi 700, alias mencetak gain lebih dari tiga kali lipat.
Memasuki tahun 2015, secara efisiensi kinerja ELSA mungkin sudah lebih baik (jadi perusahaan gak akan sampai menderita rugi lagi), namun problemnya masih terletak di ketidakmampuan perusahaan untuk meningkatkan pendapatan. Dan berhubung harga minyak juga tinggal seperempat dari harganya di tahun 2011 maka pendapatan ELSA ikut turun, dan investor biasanya gak mau tau: Kalau pendapatan dan laba perusahaan turun tajam maka gue gak akan beli sahamnya, dan sebenarnya itulah yang menyebabkan sahamnya terpuruk. Ingat bahwa penuruan harga minyak, yang sampai awal tahun 2016 ini masih terus terjadi, bisa berarti bahwa kinerja ELSA untuk awal tahun 2016 ini juga akan kembali turun dibanding 2015.
Jadi agar saham ELSA bisa naik maka caranya ada dua: 1. Harga minyak rebound, dan 2. Kinerja perusahaan menunjukkan perbaikan. Untuk poin pertama, itu bisa terjadi kapan saja dan kalau itu terjadi maka saham ELSA bakal naik sangat tajam, mungkin bisa sampai beberapa puluh persen hanya dalam satu dua hari, tapi hanya untuk sesaat sebelum kemudian turun lagi (karena pada akhirnya orang akan lihat laporan keuangan lagi). Untuk poin kedua, itu paling cepat baru akan kelihatan di laporan keuangan Kuartal I 2016 nanti, yang akan dirilis sekitar akhir April, dan itupun dengan catatan harga minyak sudah rebound sebelumnya.
Kesimpulannya, I don’t know with others, namun kalau untuk penulis ELSA ini hanya masuk watchlist saja dulu. Ketika Opa Buffett beli Phillips 66, mungkin pertimbangannya adalah karena perusahaan oil refinery ini hingga Kuartal III 2015 masih membukukan laba US$ 3.6 milyar, atau hampir sama dengan periode yang sama tahun 2014, sementara kinerja perusahaan-perusahaan minyak lain sudah pada bertumbangan bahkan sejak tahun 2013. Jadi kalau nanti harga minyak pulih lagi maka kinerja Phillips 66 juga akan melaju kencan lagi. Sementara ELSA? We’ll, he’s not that good, setidaknya untuk saat ini, so it’s better to wait, kecuali jika anda hendak berspekulasi pada harga minyak yang bisa saja membal sewaktu-waktu. Tapi yah, penulis tentu saja tidak menyarankan untuk ‘investasi saham’ dengan cara seperti itu.
PT. Elnusa, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2015: BBB
Rating Saham pada 200: A

Btw, hingga Rabu, 13 Januari, IHSG masih turun 1.2% secara year to date, namun sektor properti/konstruksi dan finance/perbankan masing-masing hanya turun 0.7%, dan sektor infrastruktur/transportasi malah naik 1.2%. Sementara sektor pertambangan, termasuk ELSA di dalamnya, sudah turun 2.5%. Hal ini menunjukkan bahwa meski IHSG masih dipengaruhi fluktuasi bursa global dan juga turunnya harga minyak, namun beberapa saham di tiga sektor yang lagi ‘hot’ diatas tetap menanjak karena, sekali lagi, fundamental ekonomi kita mulai pulih dengan sektor-sektor tersebut sebagai pendorongnya. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Info Investor: Layanan pre-order ebook analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal IV 2015 sudah dibuka. Keterangan lebih lanjut klik [...]

Fase Putus Asa Sudah Lewat, Lalu?

Agustus lalu, tepatnya 24 Agustus 2015 ketika IHSG anjlok 4% dalam sehari dan ditutup di posisi 4,164, dan sudah tentu ketika itu dengan diiringi oleh teriakan panik para investor (panic selling), penulis membuat artikel berjudul Antara Euforia dan Putus Asa. Pada artikel tersebut dipaparkan beberapa fase pada periode bear market, yakni denial, bull trap, return to ‘normal’, fear, capitulation, dan terakhir, despair. Dan dengan merujuk pada fakta bahwa IHSG sudah turun banyak dari puncaknya yakni 5,500-an hingga ketika itu sudah mencapai 4,100-an, dan juga sudah melalui beberapa fase mulai dari denial hingga kepanikan (fear, atau capitulation), maka pada bagian akhir artikel penulis bertanya, apakah posisi IHSG saat itu sudah despair alias putus asa?

Karena, mengingat bahwa fase despair merupakan bottom atau titik terendah dari periode bear market, maka jika IHSG sudah mencapai fase tersebut maka selanjutnya dia, perlahan tapi pasti, akan naik kembali.
Dan setelah beberapa bulan, IHSG ternyata naik lagi dan sekarang sudah berada di posisi 4,500-an. Jadi mungkin pertanyaannya masih sama: Apakah ketika IHSG pada Agustus lalu berada di 4,100-an, itu sudah bottom? Dan jika jawabannya adalah ya, lalu bagaimana selanjutnya? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka anda bisa lihat lagi gambar dibawah ini, yang mengambarkan fase-fase pada periode bear market, dan juga bull market (klik untuk memperbesar).

Perhatikan bagian paling kanan dari gambar diatas: Salah satu ciri bahwa pasar/IHSG sudah ketemu fase despair-nya, adalah jika IHSG itu sendiri naik signifikan hingga balik lagi ke mean atau posisi rata-ratanya, setelah sebelumnya turun terus. Yup, jadi jika kita hendak mengetahui kapan IHSG sudah mencapai fase despair hanya dengan cara melihat chart-nya saja, alias murni pake analisa teknikal, maka anda baru akan mengetahuinya setelah fase despair tersebut terjadi, yakni setelah IHSG naik lagi keatas hingga kembali ke posisi ­mean-nya. Maksud penulis, jika pada hari ini IHSG justru berada pada posisi yang lebih rendah lagi dibanding level 4,164 yang sudah dicapai pada Agustus lalu, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa ‘Sekarang ini sudah fase despair!’.

Contohnya, pada 28 September 2015 lalu, atau sebulan setelah panic selling Agustus, IHSG ternyata sempat jeblok sekali lagi hingga ke ditutup di posisi 4,120 (panic selling round 2), atau lebih rendah dibanding posisi 4,164 di bulan Agustus. Jadi hingga penghujung bulan September tersebut, kita masih belum bisa mengatakan bahwa pasar sudah mencapai titik terendahnya, karena nyatanya IHSG masih bisa turun ke posisi yang lebih rendah dibanding posisi 4,164 pada peristiwa panic selling di bulan Agustus.

Namun berhubung setelah September IHSG tidak mencetak new low lagi, dan sekarang ini dia justru sudah berada di posisi 4,500-an alias sudah naik lumayan tapi juga belum berada diatas mean-nya (jika kita menggunakan garis MA200, alias moving average 1 tahun sebagai mean), maka itu artinya? Yup, secara teknikal dasar, IHSG mungkin sudah mencapai fase despair-nya pada September lalu, dan sekarang ini IHSG sedang dalam fase konsolidasi. Disebut konsolidasi karena penurunan IHSG mulai melandai (IHSG masih bisa turun sewaktu-waktu, tapi gak pake acara jeblok lagi), dan tekanan jual juga mulai mereda, tapi disisi lain IHSG juga belum benar-benar naik secara signifikan.
Fase konsolidasi ini bukanlah bagian dari periode bear maupun bull market, dan karenanya bisa berujung pada dua kemungkinan: IHSG ternyata kembali jeblok hingga mencetak new low lagi, yang itu artinya September kemarin kita masih belum mencapai fase despair, atau sebaliknya, IHSG ternyata terus naik hingga menembus garis mean-nya, yang itu artinya periode bear market pada IHSG resmi berakhir (Btw kita pakai moving average 1 tahun sebagai mean, karena asumsinya adalah jika periode bear market sudah confirm berakhir, maka kita bisa beli saham kemudian disimpan untuk minimal setahun kedepan). Ketika artikel ini ditulis, IHSG baru bisa disebut berada diatas mean-nya jika sudah naik hingga posisi 4,785 atau lebih.
Analisa Fundamental IHSG
Tapi kalau kita baru mulai belanja setelah IHSG berada di level 4,785, maka apa itu bukan ketinggalan kereta namanya? Nah, pada titik inilah kita harus kembali ke analisa fundamental, dalam hal ini analisa makro ekonomi dalam negeri. Dan berikut adalah beberapa data serta fakta sederhana: Pertama, setelah Rupiah stabil di Rp13,500 – 14,000 per USD, nobody talks about crisis, karena memang disisi lain kondisi ekonomi di lapangan juga mulai membaik. Kalau anda masih ingat, pada September lalu semua orang bilang bahwa pelemahan Rupiah mungkin bisa berujung pada Krisis Moneter seperti di tahun 1998, namun pada artikel ini penulis sudah mengatakan bahwa tidak akan terjadi krisis apapun. And indeed, there was no crisis, termasuk angka pertumbuhan ekonomi di Kuartal III kemarin tercatat 4.73%, atau mulai membaik dibanding Kuartal sebelumnya yang hanya 4.67%.
Kedua, dalam dua tahun terakhir, dalam rangka menekan inflasi yang timbul karena kenaikan harga BBM dll, Bank Indonesia (BI) terus menaikkan BI Rate hingga terakhir mencapai 7.50%, dan itu tidak disukai oleh mayoritas pelaku pasar yang menginginkan agar BI Rate tetap berada di level yang rendah, karena itu diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi (soal kaitan antara BI Rate, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi, boleh baca disini). Kabar baiknya, data terakhir menunjukkan bahwa inflasi untuk bulan Desember 2015 tercatat hanya 3.5% year on year, alias sudah sangat baik, dan ini membuka peluang bagi BI untuk menurunkan BI Rate cepat atau lambat. Dan ketika BI Rate turun maka itu akan direspon positif oleh pasar.
Dan ketiga, sekaligus yang terpenting, kinerja emiten perbankan pada Kuartal III 2015 kemarin secara umum sudah lebih baik dibanding kuartal sebelumnya (Kuartal II), dan ini merupakan sinyal recovery perekonomian. Dan kalau ekonomi mulai bergerak pulih, maka IHSG otomatis akan mengikuti.
Jadi dengan mempertimbangkan faktor-faktor diatas, maka fase konsolidasi yang saat ini sedang terjadi pada IHSG kemungkinan akan berujung pada.. kenaikan, tentu saja. Perhatikan lagi gambar fase pasar diatas: Jauh sebelum IHSG memasuki periode bull market (yang ditandai oleh fase media attention), dan bahkan ketika IHSG itu sendiri masih dibawah garis mean-nya, beberapa investor tipe smart money sudah curi start dengan belanja lebih awal, dan tentunya pada harga beli yang lebih rendah. Investor tipe smart money ini, meski mereka boleh dibilang mengambil risiko karena sudah belanja saham ketika IHSG masih dalam fase konsolidasi (yang itu artinya bisa saja IHSG turun lagi), namun mereka berani untuk masuk ke pasar karena mereka bisa melihat bahwa, dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan, kondisi sektoral, dan juga makroekonomi nasional dimana kesemuanya menunjukkan perbaikan, maka no way IHSG akan mencetak new low lagi. Pada kondisi inilah, investor yang ngerti fundamental akan profit jauh lebih besar, ketimbang mereka yang hanya mengandalkan analisa teknikal dan hanya menunggu IHSG untuk break out dulu, kemudian baru belanja.
(Dan, btw, kondisi yang sama juga berlaku ketika pasar akan turun. Pada Maret 2015 lalu, ketika IHSG masih berada di level 5,400-an dan terus saja naik, penulis sudah mengatakan di artikel ini bahwa ada masalah dengan perekonomian kita, dan bahwa IHSG pada akhirnya nanti akan turun untuk menyesuaikan dengan fundamental ekonomi nasional. Tapi karena ketika itu teknikal IHSG masih menunjukkan pola uptrend, maka cerita-cerita yang keluar juga masih optimis terkait percepatan infrastruktur bla bla bla, dan hampir tidak ada seorangpun yang berpikir untuk jualan kecuali sebagian kecil investor yang aware soal memburuknya fundamental ekonomi. Ketika IHSG akhirnya drop pada penghujung April, maka barulah ketika itu semua orang berhamburan keluar pasar, dan alhasil mereka menderita kerugian yang tidak dialami oleh sebagian kecil investor lainnya, yang sudah keluar lebih awal).
Nah, balik lagi ke tahun 2016 ini. Jadi, okay, ceritanya IHSG bakal naik nih? Tapi bagaimana dengan kejatuhan bursa saham di China? Devaluasi Yuan bla bla bla? Well, itu kan cerita lama bray! Di China sebenarnya gak ada krisis apa-apa, dan kita sudah pernah membahasnya disini, dan disini. Kuncinya disini adalah, selama keributan di China atau Amerika sana tidak sampai berdampak buruk pada fundamental ekonomi dalam negeri, dan memang belum ada dampak buruk apapun, maka IHSG juga akan baik-baik saja. I mean, kalau kondisi ekonomi saat ini adalah seperti krisis tahun 1998 atau 2008 lalu, maka penulis juga tidak akan seoptimis ini (Krisis 1998 diawali oleh Thailand, dan krisis 2008 diawali Amerika. Sementara pada tahun 2011, giliran Yunani yang kena krisis, tapi gak sampai berdampak apapun ke Indonesia). Tapi yah, coba anda lihat lagi sekitar anda: Krisis apanya? Hellooo crisis, where are you??? Jadi apa yang harus dipusingkan sih?
Dan kalau IHSG beneran naik cepat atau lambat, maka seperti yang sudah penulis sampaikan disini, saham-saham yang akan menjadi pendorongnya adalah saham-saham perbankan, infrastruktur, dan properti, karena memang sektor-sektor itulah yang punya sentimen bagus untuk 2016 terkait kelanjutan pembangunan infra dll, plus kinerja mereka juga tidak bisa dibilang buruk. Kalau anda perhatikan, beberapa saham di sektor-sektor diatas sudah mulai bergerak naik dalam beberapa waktu terakhir, namun kalau melihat kinerja fundamental serta valuasi sahamnya yang masih murah, maka mereka masih bisa naik lebih lanjut.
Nevertheless, nobody could predict the market precisely. Jadi kalau nanti terjadi perubahan yang fundamental pada ekonomi dan pasar, maka analisa diatas akan segera di-update kembali, just stay tune.

Info Investor: Penulis membuat buletin berisi koleksi saham-saham pilihan berfundamental bagus yang valuasinya masih murah, dan anda bisa memperolehnya

Masyarakat Ekonomi ASEAN: Good or Bad?

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), atau ASEAN Economic Society, adalah suatu integrasi/penyatuan kegiatan ekonomi dari negara-negara anggota ASEAN, dimana kegiatan perdagangan dan ekspor impor antar negara, termasuk keluar masuknya tenaga kerja dan penanaman modal/investasi, tidak lagi dibatasi oleh peraturan-peraturan tertentu (atau masih dibatasi, tapi dengan peraturan yang jauh lebih longgar dari sebelumnya). Contoh, kalau anda pergi ke Singapura dan pulang membawa oleh-oleh, maka anda mungkin harus membayar bea masuk di imigrasi bandara di tanah air, dan karena itulah beberapa orang mungkin jadi malas bawa oleh-oleh dari luar negeri. Tapi setelah berlakunya MEA ini maka tarif bea masuk tersebut bisa diturunkan, atau bahkan dihapus sama sekali.

Dan ketika barang-barang dari Singapura dkk bisa masuk wilayah Indonesia tanpa hambatan, maka itu dikhawatirkan akan mematikan produk dalam negeri yang tidak mampu bersaing dengan produk luar tersebut. Pun ketika tenaga kerja dari Vietnam bisa dengan bebas masuk ke Indonesia, maka dikhawatirkan bahwa tenaga kerja asal Indonesia itu sendiri akan tersingkirkan. Berbagai kekhawatiran tersebut pada akhirnya membuat para pelaku ekonomi tidak begitu antusias dalam menyambut MEA, meski sejatinya MEA ini justru bertujuan untuk mendorong perkembangan ekonomi di kawasan ASEAN secara keseluruhan, termasuk tentu saja, Indonesia.
Pertanyaannya sekarang, apakah kekhawatiran diatas cukup beralasan? Disisi lain, bagi Indonesia sendiri, apakah MEA ini tidak ada dampak positifnya sama sekali? Untuk menjawab pertanyaan ini maka mari kita pelajari dulu MEA ini secara lebih detail.
Berdasarkan ASEAN Economic Community Blueprint, MEA dijadwalkan untuk mulai berlaku pada awal 2016, alias sekarang, dan setelah pemberlakuan MEA maka ASEAN diharapkan akan menjadi kawasan yang: 1. Memiliki daya saing yang tinggi terhadap kawasan besar lainnya seperti China, India, atau Uni Eropa, 2. Memiliki pembangunan ekonomi yang merata, dan 3. Terintegrasi langsung dengan ekonomi global. Dengan bebasnya tenaga kerja, investasi, barang, dan jasa untuk berpindah dari satu negara ke negara lain di kawasan ASEAN, maka diharapkan bahwa tiap-tiap negara akan saling melengkapi dan memperkuat ekonominya satu sama lain, dan pada akhirnya meningkatkan pembangunan ekonomi di kawasan ASEAN secara keseluruhan.
Nah, kalimat tebal diatas yang menarik: Penerapan MEA akan membuat setiap negara berpeluang untuk memaksimalkan potensi ekonominya dengan cara mengambil barang/tenaga kerja/investasi dari luar negeri, dan sebaliknya, memberdayakan barang/tenaga kerja/investasi yang mereka miliki dengan mengirimnya keluar negeri. Pendek kata, tiap-tiap negara akan bisa mengisi satu sama lain.
Jadi yang perlu disadari disini adalah bahwa dengan diberlakukannya MEA, maka itu bukan berarti para pelaku ekonomi di tiap-tiap negera harus berkompetisi, bersaing, atau saling sikut satu sama lain, tapi justru sebaliknya: Saling bekerja sama untuk memaksimalkan potensi-potensi ekonomi yang ada di tiap-tiap negara.
Contohnya, di Kota Batu, Jawa Timur, kalau bagi warga aslinya sendiri, buah apel mungkin tidak memiliki nilai karena saking banyaknya dan juga sangat mudah diperoleh. Tapi setelah investor asal Singapura masuk dan, dengan mempekerjakan tenaga ahli asal Malaysia, mengolah apel tersebut menjadi keripik, kemudian keripiknya diekspor ke Thailand, maka barulah buah apel itu memiliki nilai jual yang tinggi. Seandainya investor asal Singapura dan tenaga kerja asal Malaysia ini tidak bisa masuk ke Batu karena dihambat oleh peraturan ini dan itu, atau keripik apel yang dihasilkan juga tidak bisa diekspor ke Thailand karena adanya peraturan bea masuk disana, maka buah apel tadi pada akhirnya tidak menjadi apa-apa. Tapi karena diberlakukannya MEA, maka investor asal Singapura bisa berinvestasi di Kota Batu dan meraup keuntungan, ahli keripik asal Malaysia punya kesempatan untuk menggunakan keahliannya, petani apel asal Indonesia bisa menjual hasil panennya, dan importir makanan di Thailand punya produk baru (keripik apel) untuk dijual. Semua senang, semua menang! Plus, tidak ada satu pihak pun yang harus berkompetisi, karena semua pihak memperoleh bagian pekerjaannya masing-masing. Maka tidak heran jika diatas disebutkan bahwa MEA ini bertujuan untuk mendorong perkembangan ekonomi di kawasan ASEAN secara keseluruhan, termasuk Indonesia.

Foto Alun-Alun Kota Batu, Jawa Timur (kemarin penulis jalan-jalan kesana). Kalau anda punya anak usia sekolah, anda harus mengajak mereka main kesini

Dengan demikian, meski tetap saja terdapat risiko meningkatnya persaingan antar produk dan juga tenaga kerja karena diterapkannya MEA ini, namun dampak positif yang dihasilkan akan lebih besar. Jauh sebelum MEA ini diterapkan, negara-negara di kawasan ASEAN sudah memberlakukan ASEAN Free Trade Area (AFTA), atau perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN sejak tahun 1992 lalu, dan hasilnya perekonomian di Kawasan ASEAN dengan segera meningkat pesat (sebelum kemudian dihantam krisis pada tahun 1997). Ketika AFTA ini ditingkatkan menjadi ASEAN China Free Trade Area dan ASEAN India Free Trade Area (perdagangan bebas antara ASEAN dengan China dan India) pada tahun 2010, dampaknya juga positif dimana Indonesia jadi bebas mengekspor batubara dan CPO ke China dan India, dan pertumbuhan ekonomi nasional sempat mencetak rekor 6.9% YoY pada tahun 2011.
Jadi dengan diberlakukannya MEA ini, meski mungkin agak mengkhawatirkan pada awalnya, namun kerjasama ekonomi antar negara yang dilakukan di masa lalu sudah membuktikan bahwa MEA ini pada akhirnya akan berdampak positif bagi negara-negara yang terlibat di dalamnya. Dan mungkin itu pula sebabnya Presiden Jokowi, dalam pidatonya tadi pagi di BEI terkait MEA ini, mengatakan bahwa Pemerintah tidak akan memberikan proteksi atau subsidi bagi perusahaan-perusahaan di dalam negeri karena.. kenapa juga perusahaan harus diproteksi? Tidak ada kompetisi apapun di MEA, yang ada justru peluang kerjasama yang terbuka semakin lebar. Pihak yang pesimistis dengan MEA biasanya menyebutkan bahwa Indonesia, karena kekurangan tenaga kerja ahli dan juga belum bisa membuat produk hilir untuk dijual, hanya akan jadi pasar bagi barang dan jasa asal Singapura dll, tanpa bisa menjadi produsen. Dan ini pemikiran yang konyol: Indonesia memang belum bisa bikin apa-apa, tapi memangnya Thailand, Malaysia, dst, mereka bisa bikin apa? Sama saja gak bisanya! Selama ini kan kalau kita pake mobil, komputer, ponsel, dll, itu belinya kalo gak dari China, Jepang, atau Korea, ya dari Amerika (Malaysia punya mobil Proton sih, tapi pasarnya masih kecil banget kalo dibanding Toyota, Honda, dll). Selain itu berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari – November 2015, Indonesia mengekspor barang-barang non migas senilai US$ 25.1 milyar ke negara-negara ASEAN, atau lebih tinggidibanding nilai impornya (dari negara-negara ASEAN) sebesar US$ 23.7 milyar. Atau dengan kata lain, ketika berdagang dengan negara-negara tetangganya, Indonesia lebih banyak jualan ketimbang membeli. Nah, jadi kenapa juga kita mesti takut dengan MEA?
Okey, Mas Teguh, lalu apa hubungannya MEA ini dengan IHSG? Oh, come on! Jangan apa-apa selalu dihubungkan IHSG.. Tapi yang jelas MEA ini semestinya bukanlah sesuatu yang berdampak negatif pada perekonomian nasional, melainkan justru positif. Dan kalau dampaknya memang beneran positif seperti yang diharapkan, maka pergerakan pasar modal kedepannya tentu akan positif juga. However, entah itu dampaknya akan positif atau malah negatif, namun dampak tersebut tidak akan langsung kelihatan dalam waktu dekat. Dalam beberapa bulan dari sekarang cerita soal MEA ini akan kembali ramai dibicarakan di media, dan ketika itulah anda bisa baca artikel ini sekali lagi.

Info Investor: Buletin Analisa IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Januari 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi untuk member.

Untuk memperoleh info jadwal seminar/training value investing di Jakarta, bisa telepon/SMS Ms. Nury di nomor [...]

A ‘Grown Up’ Stock Market

Dalam mengevaluasi kinerja investasi di tahun 2015, mayoritas analis dan investor di pasar saham biasanya hanya fokus pada fakta bahwa IHSG turun signifikan, dalam hal ini sekitar 13%, dan itu membuat 2015 tampak sebagai tahun yang buruk dan sulit. However, terdapat beberapa alasan bahwa tahun 2015 ini sejatinya merupakan salah satu tahun terbaik dalam sejarah perkembangan pasar modal di Indonesia. Terkait hal ini, penulis sengaja membandingkan tahun 2015 dengan 2008, yakni tahun dimana IHSG juga turun signifikan (IHSG juga turun di tahun 2013, namun penurunannya hanya 1%).

Yang pertama, pada tahun 2008, IHSG sempat anjlok hingga 60% dari posisi tertingginya, padahal kondisi ekonomi serta kinerja emiten ketika itu hanya sedikit melambat, dimana pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4.2% pada awal 2009 karena imbas krisis global, tapi tidak sampai minus seperti ketika terjadi krisis moneter di tahun 1997 – 1998. Lalu kenapa kok IHSG sampai hancur lebur begitu?
Dan jawabannya adalah karena ketika itu belum ada aturan yang ketat dari otoritas bursa terkait margin dan short selling, dimana investor bisa membeli saham menggunakan dana pinjaman yang sangat besar (margin), atau menjual saham tanpa perlu memilikinya (short selling). Dua jenis transaksi tersebut menyebabkan harga-harga saham seringkali naik secara ekstrim, dan sebaliknya jatuh berantakan hanya dalam hitungan hari. Pada Oktober 2008 IHSG sempat turun 20% hanya dalam tiga hari, gara-gara ada banyak investor yang mengalami force sell karena mereka membeli saham pakai dana margin. Kondisi ini pada akhirnya membuat pasar saham di Indonesia lebih mirip tempat judi ketimbang wadah untuk berinvestasi.
Kedua, di tahun 2008, otoritas pengawas bursa ketika itu nyaris tidak berkutik menghadapi para ‘bandar’, dimana kasus-kasus ‘goreng saham’ seperti saham AGIS (TMPI), yang sangat merugikan investor ritel, dibiarkan begitu saja. Atau kasus penggelapan dana nasabah oleh Sarijaya Sekuritas, yang sampai sekarang tidak jelas penyelesaiannya. Dan ketiga, ketika itu sedikit sekali investor saham yang benar-benar merupakan investor, karena mayoritas justru spekulan yang membeli saham tanpa analisa apapun. Penulis masih ingat seorang teman yang berkata, ‘Peduli amat soal fundamental atau saham-saham lurus kaya Astra, Bank Mandiri, Bank BCA.. Pokoknya kalau BUMI hari itu naik, maka yang lain juga bakal naik!’ Lah, logikanya dimana coba???
Logo PT AGIS, Tbk, yang sekarang bernama PT Sigmagold Inti Perkasa (TMPI), perusahaan paling legendaris di kalangan spekulan pencinta saham gorengan
Lalu bagaimana untuk tahun 2015 ini? Well, sejak market crash 2008, aturan bursa terkait margin dan short selling diperketat, dan alhasil meski pertumbuhan ekonomi juga melambat seperti tahun 2008, tapi IHSG hanya turun belasan persen saja. Beberapa aturan lain seperti perubahan fraksi harga saham dan batas auto-reject, meski tentunya belum sempurna, tapi juga mampu menekan tingkat fluktuasi pasar. Pada tahun-tahun sebelum 2015, anda mungkin terbiasa melihat IHSG naik atau turun sebesar 7 – 8% dalam sehari, tapi sepanjang 2015 ini IHSG hanya pernah sekali turun sebesar 4% dalam sehari di bulan Agustus, sementara selebihnya dia bergerak normal. Setelah kasus Sarijaya, kemudian diberlakukan sistem rekening dana investor (RDI), dimana dana milik investor tidak lagi dipegang oleh sekuritas melainkan ditempatkan di bank, dan hasilnya hingga saat ini belum pernah terjadi lagi kasus yang serupa.
Sementara soal saham-saham gorengan, hingga tahun 2015 ini memang masih ada saja beberapa kasus seperti saham Trada Maritime (TRAM), Inovisi Infracom (INVS), atau Sekawan Intipratama (SIAP), dan penulis kira sampai kapanpun akan selalu ada saham-saham seperti itu. Namun dalam kasus terakhir yakni saham SIAP, pihak OJK dan BEI sudah mulai menerapkan sanksi kepada pihak yang terlibat, dalam hal ini sekuritas, meski hanya dalam bentuk suspensi sesaat. Tapi jika trend ini berlanjut maka penulis optimis bahwa kedepannya investor publik akan lebih terlindungi.
Dan ketiga, jika dulu semua orang hanya swing, swing, dan swing, beli pagi jual sore, dan saham dari perusahaan kecil gak jelas yang terbang 20% dalam sehari jauh lebih diminati ketimbang saham blue chip berfundamental bagus yang menawarkan profit konsisten dalam jangka panjang, maka belakangan ini para investor sudah lebih ter-edukasi, dimana penggunaan analisa fundamental, yang merupakan inti terpenting dari investasi, juga mulai populer (meski belum sepopuler analisa teknikal). Lima tahun lalu nyaris tidak ada seorangpun yang berbicara soal ‘membaca laporan keuangan’, atau ‘menghitung valuasi saham’, tapi sekarang dua hal tersebut sudah mulai umum dikalangan pelaku pasar.
Singkatnya, kalau melihat ‘aturan main’ pasar modal yang lebih tertata, mulai terdapat proteksi terhadap investor publik, dan meningkatnya kesadaran dari investor itu sendiri untuk benar-benar berinvestasi dan bukan malah terjebak dalam permainan spekulasi, maka jelas bahwa pasar modal Indonesia di tahun 2015 ini sudah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Soal IHSG yang turun, itu hanyalah bagian dari siklus yang normal. Di Amerika Serikat, dalam 50 tahun terakhir (1965 – 2014), indeks S&P500 tercatat turun 15 kali pada tahun-tahun tertentu, sementara di tahun-tahun selebihnya dia naik. Dengan kata lain, indeks S&P500 rata-rata turun sekali setiap tiga tahun. Dan tahukah anda bahwa dalam 20 tahun terakhir (1996 – 2015), IHSG totalnya turun 7 kali termasuk di tahun 2015 ini, dan naik di 13 tahun lainnya?
Jadi berdasarkan statistik sederhana diatas, plus dengan mempertimbangkan beberapa faktor fundamental seperti Fed Rate, naiknya status mata uang Yuan menjadi world currency, kondisi ekonomi makro dalam negeri, kondisi ekonomi di lapangan, realisasi pembangunan infrastruktur, kinerja terbaru emiten, posisi kurs Rupiah, harga komoditas, daaan seterusnya (silahkan anda baca-baca lagi artikel sepanjang tahun 2015 ini), maka di tahun 2016 mendatang IHSG berpeluang untuk naik, karena memang ‘sudah gilirannya’ bagi dia untuk naik. Namun mau IHSG naik atau turun, yang terpenting disini adalah bahwa pasar saham di Indonesia, baik itu otoritasnya maupun para investor didalamnya, sekarang ini sudah lebih dewasa, dan akan semakin dewasa seiring dengan berjalannya waktu, karena seringkali proses pendewasaan itu memang cuma soal waktu saja. Jadi dalam 10 atau 20 tahun kedepan kita akan menyaksikan banyak billionaire yang terlahir dari lantai bursa dan.. pertanyaannya, sudah siapkah anda untuk menjadi salah satu diantaranya? :)
Info Investor: Buletin Analisa IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Januari 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disinigratis konsultasi untuk [...]

Menyambut ‘January Effect’

Dalam dunia pasar modal, ‘January Effect’ adalah situasi dimana harga-harga saham meningkat signifikan pada bulan Januari. Ada beberapa hal yang bisa menjelaskan fenomena ini, seperti bahwa investor biasanya lebih fresh dan lebih bersemangat untuk belanja saham setelah libur panjang (natal dan tahun baru), periode awal tahun hampir selalu identik dengan optimisme, dan karena perusahaan-perusahaan biasanya membayar dividen di semester pertama, tepatnya sekitar April – Juni, jadi para investor akan sudah ambil posisi di saham yang bersangkutan jauh hari sebelumnya, tepatnya mulai bulan Januari.

Jika dibandingkan dengan fenomena ‘Window Dressing’ yang sering disebut-sebut menjelang akhir tahun, maka January Effect ini benar adanya, atau paling tidak lebih berpeluang untuk terjadi. Pada event Window Dressing di bulan November – Desember, dikatakan bahwa saham-saham tertentu mungkin akan naik karena kerjaan para fund manager yang dengan sengaja menaikkan saham-saham tersebut agar kinerja porto mereka tampak bagus. Jika teori itu benar, maka seharusnya IHSG akan naik pada bulan November – Desember, namun faktanya, anda boleh cek sendiri, IHSG selama ini justru lebih sering turun pada bulan-bulan tersebut. Mungkin benar bahwa fund manager tertentu yang mengelola dana trilyunan dengan sengaja ‘mempercantik’ porto mereka dengan menaik-naikkan saham tertentu yang mereka pegang, namun tetap saja mereka tidak akan bisa mengalahkan arus pasar, dimana jika mayoritas investor males belanja di bulan Desember maka ya sudah, IHSG juga akan turun.
Sementara untuk January Effect, yang terlibat dalam aktivitas belanja saham nggak cuma fund-fund manager tertentu, tapi investor secara keseluruhan, dan hasilnya IHSG memang naik. Sepanjang pengalaman penulis sejak 2009 hingga 2015 kemarin, IHSG lebih sering naik signifikan di bulan Januari, dan hanya turun pada tahun 2009 dan 2011.
Pertanyaannya, bagaimana dengan Januari 2016 nanti? Apakah IHSG juga akan naik?
Secara statistik, IHSG biasanya akan naik pada tahun tertentu jika pada tahun sebelumnya dia turun. Kecuali terjadi krisis besar yang berkepanjangan, maka barulah IHSG bisa turun dua tahun berturut-turut, seperti tahun 1997 – 1998 dan 2000 – 2001. Tapi karena ekonomi nasional untuk tahun 2015 ini, meski lesu, namun tidak bisa disebut krisis juga, maka untuk tahun 2016 nanti secara keseluruhan, IHSG berpeluang untuk naik. However, untuk bulan Januari-nya sendiri maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, pada tahun 2008 lalu, ekonomi nasional juga sempat terkena imbas dari krisis global di Amerika, dimana tidak hanya IHSG yang ketika itu drop lebih dari 50%, tapi pertumbuhan ekonomi juga turun hingga tinggal 4.2%, dan kinerja emiten ketika itu mau tidak mau jadi ikut jelek. IHSG sendiri, setelah hancur lebur hingga mencapai titik terendahnya pada November 2008, dalam beberapa bulan berikutnya dia masih cenderung sideways hingga Februari 2009, termasuk sempat turun pada Januari 2009. Memasuki bulan Maret 2009, barulah IHSG naik kencang.. dan terus naik hingga akhirnya sepanjang tahun 2009 tersebut IHSG mencatat rekor kenaikan 87.0%, yang belum terpecahkan sampai saat ini.
Pertanyaannya, kenapa IHSG masih lesu di awal tahun 2009, dan baru naik kencang pas bulan Maret? Well, teori yang paling masuk akal adalah, kemungkinan karena pada Maret tersebut, beberapa emiten di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan mereka untuk Kuartal IV 2008, dan ada banyak diantara mereka yang mencatat kinerja yang lebih baik dari ekspektasi, terutama sektor properti, tambang batubara, dan perkebunan kelapa sawit. Khusus untuk batubara dan sawit, kinerja apik tersebut terus berlanjut di kuartal-kuartal berikutnya, seiring dengan kenaikan harga batubara dan CPO. Antara tahun 2009 – 2011, saham-saham batubara dan CPO menjadi penggerak utama kenaikan IHSG.
Nah, kondisi untuk tahun 2015 ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan 2008, dimana pertumbuhan ekonomi melambat, dan kinerja emiten hingga Kuartal III kemarin rata-rata masih jelek (tahun 2013, IHSG memang juga turun, tapi kondisi ekonomi ketika itu belum se-lesu sekarang). Dan jika investor juga lebih memilih wait and see pada awal tahun 2016 nanti, yakni setidaknya sampai para emiten merilis laporan keuangan terbaru mereka pada Maret 2016, maka fenomena ‘January Effect’ mungkin tidak akan terjadi, dan IHSG baru akan naik pada Maret, itupun jika kinerja para emiten benar menunjukkan perbaikan.
Kabar baiknya adalah, kinerja sektor perbankan di Kuartal III 2015 kemarin secara umum sudah lebih baik dibanding kuartal sebelumnya (Kuartal II), dan ini merupakan sinyal recovery perekonomian (kalau ekonomi Indonesia kenapa-napa, maka perbankan akan menjadi sektor yang terkena duluan. Sebaliknya, kalau ekonomi pulih, maka perbankan pula yang akan profit duluan). Jadi terlepas dari pertanyaan apakah pada Januari nanti IHSG akan naik atau tidak, namun pada bulan Maret dan seterusnya, IHSG berpeluang untuk naik.
Kedua, pada awal tahun 2009, investor masih banyak disuguhi oleh cerita-cerita negatif tentang krisis mortgage di Amerika yang belum benar-benar kembali pulih, termasuk Krisis Yunani (anda boleh baca artikel-artikel lawas di blog ini, kita sudah sering membahasnya). Jadi meski IHSG pada akhirnya naik banyak sepanjang 2009, namun pada Januari – Februari dia cenderung turun,dan itu mungkin karena investor juga masih ragu-ragu terkait perkembangan isu global ketika itu.
Sementara untuk tahun 2016 mendatang, kondisinya sangat berbeda: Silahkan anda cek negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Jerman, termasuk China: Nobody talks about crisis. Ekonomi global secara umum mengalami slowdown, itu benar, tapi sekali lagi, tidak ada yang membicarakan soal krisis. Ketika The Fed menaikkan Fed Rate, itu juga karena Ms. Yellen menganggap bahwa ekonomi Amerika sudah pulih, dan sudah siap untuk menerima tingkat suku bunga perbankan yang lebih tinggi (lebih detil soal Fed Rate, baca artikel ini).
Kesimpulannya, kalau mempertimbangkan faktor isu global ini, maka IHSG berpeluang naik pada Januari nanti, karena ‘optimisme awal tahun’ yang menghampiri para investor tidak akan terlalu terganggu oleh cerita yang jelek-jelek dari luar negeri (kecuali cerita atau rumor jelek yang dibuat-buat, yang selalu nongol tiap kali IHSG turun). Untuk saham-saham pendorongnya kemungkinan perbankan, infrastruktur, dan properti, karena memang sektor-sektor itulah yang punya sentimen bagus untuk 2016 mendatang terkait pembangunan infra dll, plus kinerja mereka juga tidak bisa dibilang buruk.
Logo Bank BRI (BBRI). Dengan ROE yang mencapai hampir 30% pada Kuartal III, BBRI menjadi satu dari sedikit perusahaan besar di BEI yang masih mencatatkan kinerja apik sepanjang 2015

Tapi kalaupun pada Januari nanti IHSG ternyata tidak naik, maka jangan khawatir, karena jika laporan keuangan terbaru para emiten memang menunjukkan kinerja yang sesuai ekspektasi, maka kita sebagai investor akan mengalami periode ‘honey moon’ mulai Maret nanti, mudah-mudahan.
Info Investor: Buletin Analisa IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Januari 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi untuk [...]

Buy on Weakness, Sell on Strength? Really?

Kalau ada suka travelling dan sering bepergian menggunakan pesawat terbang, maka anda tentunya hafal dengan maskapai Lion Air yang sangat terkenal.. tapi bukan terkenal dalam artian yang positif, melainkan justru terkenal sebagai maskapai ‘kelas angkot’ yang sering delay. Karena reputasinya yang buruk itu pula, ketika beberapa tahun lalu penulis mulai sering naik pesawat terbang, penulis sengaja menghindari maskapai yang satu ini dan lebih memilih Garuda, Air Asia, Citilink, dan Sriwijaya Air. Dan memang, saya tidak pernah bermasalah dengan maskapai-maskapai tersebut, apalagi Garuda yang benar-benar jaminan mutu (tapi harga tiketnya kadang bikin kesel..)

Namun sekitar dua tahun lalu, penulis mau tidak mau harus menggunakan jasa Lion Air untuk pertama kalinya, karena memang ketika itu di rute penerbangan yang akan penulis lalui (Bandung – Jogja) cuma ada Lion doang. Sempat khawatir sejenak, namun pengalaman pertama itu berjalan sangat mulus: Pesawat sama sekali tidak delay, penerbangannya cukup nyaman (meski memang jarak antara kursi dengan kursi didepannya sedikit terlalu dekat, sehingga bikin dengkul mentok), dan para flight attendant-nya juga sangat ramah.

Sejak saat itu penulis jadi pelanggan setia Lion. Dan entah kebetulan atau tidak, selama ini belum pernah sekalipun penulis merasa tidak puas dengan Lion Air ini, entah itu karena dia delay atau masalah lainnya (selalu tepat waktu). Termasuk, semalem penulis baru saja pulang dari acara Market Outlook di Surabaya menuju Jakarta pake Lion, dan sekali lagi dia tepat waktu, plus sepertinya pesawatnya masih sangat baru, sehingga penerbangannya terasa sangat mulus (pesawat sempat mengalami turbulensi karena melewati awan hujan, tapi getarannya tidak terlalu terasa). Dan para flight attendant-nya sangat-sangat sopan, dimana mereka dengan sabar mengingatkan beberapa penumpang bandel yang masih menelpon pakai handphone, padahal pesawat sudah akan tinggal landas (sumpah, penumpang model gini bikin kesel banget!)
Intinya sih, kalau pihak Lion minta testimoni, maka penulis akan dengan senang hati mengatakan bahwa, dengan mempertimbangkan value for money, maka Lion adalah salah satu maskapai terbaik di Indonesia. Kalau ada beberapa pesawatnya yang delay ataupun mengalami masalah lainnya, maka sebagai maskapai dengan rute dan jumlah pesawat paling banyak di tanah air, ya pasti ada saja pesawatnya yang tidak bisa melayani penumpang secara maksimal. Tapi yah, berapa banyak sih jumlah penerbangan yang delay ini dibanding penerbangan lainnya yang tepat waktu? Dan kalau Lion memang seburuk itu, maka kenapa pesawatnya selalu penuh?
Dalam hal ini penulis juga jadi ingat dengan restoran murah meriah, Solaria, yang sepertinya juga ‘bernasib’ sama seperti Lion Air: Punya reputasi yang buruk di mata masyarakat. Kalau anda baca-baca di internet, ada banyak sekali cerita tentang pengunjung restoran Solaria yang entah itu menemukan kecoa di makanan yang disajikan, sudah menunggu lama tapi tidak juga dilayani, makanan yang disajikan ternyata belum matang, dan seterusnya. Tapi entah kebetulan atau gimana, seperti hal-nya Lion Air, penulis juga tidak pernah mengalami masalah kalau makan di Solaria, melainkan justru selalu puas karena, coba anda bayangkan: Nasi goreng kepiting, porsinya besaaar dan rasanya pun lumayan, tapi harganya cuma Rp35,000, dan tempat restorannya pun cozy banget! Jadi kurang puas gimana coba?
Pendek kata, kalau bukan karena penulis berani mengabaikan opini-opini jelek yang beredar tentang Lion dan Solaria ini, melainkan memutuskan untuk mencobanya sendiri, maka mungkin penulis harus keluar biaya yang lebih besar untuk jalan-jalan karena terus pake Garuda, dan juga kelaparan di bandara karena gak mau makan di Solaria. Seperti halnya Lion, Solaria juga selalu penuh, dan itu tidak mungkin terjadi kalau restoran tersebut benar-benar bermasalah bukan?
Okay, lalu apa hubungannya ini dengan investasi kita di saham?
Sebagian besar investor, entah karena dia masih pemula atau memang belum benar-benar bisa melakukan menganalisis saham, dalam membuat keputusan untuk membeli atau menjual saham biasanya mereka lebih mengandalkan analisis atau opini dari orang lain, entah itu analis sekuritas, analis/investor independen (seperti penulis), atau pendapat-pendapat para ‘pakar’ yang diposting di media sosial.
Problemnya bukan terletak pada apakah opini tersebut tepat atau tidak, karena analis/investor manapun bisa saja benar sewaktu-waktu, tapi juga bisa keliru di waktu yang lain. Yang jadi masalah adalah, kebanyakan dari opini tersebut disampaikan bukan berdasarkan fundamental dari saham yang bersangkutan, melainkan berdasarkan kondisi pasar pada saat itu. Jadi kalau IHSG lagi naik nih, maka semua orang tiba-tiba saja menjadi optimis dan berani belanja besar-besaran, dan para analis sekuritas juga sangat bersemangat merekomendasikan saham ini dan itu kepada para nasabahnya. Termasuk saham abal-abal macam SIAP sekalipun, kalau dia lagi naik maka pasti ada saja analis yang rekomen.
Tapi gilirannya IHSG jeblok, ketika saham-saham pada jatuh, maka ketika itulah para analis tiba-tiba saja diam dan menghilang. Semua cerita optimis, katakanlah seperti Window Dressing yang sering disebut-sebut menjelang akhir tahun, tiba-tiba saja menguap, digantikan oleh cerita horor seperti kenaikan Fed Rate lah, pelemahan Rupiah lah, bla bla bla. Jadi kalau anda tidak mengerjakan analisa saham anda sendiri dan lebih mengikuti opini-opini yang nggak konsisten seperti itu (hari ini optimis karena IHSG sedang terbang, tapi besok atau besok lusanya langsung bilang bahwa Indonesia lagi krisis), maka anda akan bingung sendiri. Ada terlalu banyak kasus dimana seorang investor membeli saham ketika seharusnya menjual, dan menjual ketika seharusnya membeli, gara-gara pas IHSG naik dia dikomporin buat belanja, tapi ketika IHSG turun dia ditakut-takutin sehingga malah cut loss.
Padahal kalau anda sudah bisa menganalisa dengan baik, kalau anda sudah mengecek sendiri fundamental dari saham-saham yang akan anda beli dan kemudian diperoleh kesimpulan bahwa dia bagus, maka tidak peduli meski orang-orang bilang bahwa saham A jelek, tidak peduli meski saham A terseret turun karena penurunan IHSG sehingga semua orang menakut-nakuti anda, anda akan santai-santai saja! Jadi seperti cerita Lion Air dan Solaria diatas, dimana kalau anda terlalu percaya pada cerita-cerita jelek yang beredar dan tidak pernah mencobanya sendiri, maka anda mungkin tidak akan pernah tahu bahwa dua perusahaan tersebut sejatinya punya service yang bagus. Dan demikian pula di saham: Kalau anda terlalu denger omongan orang tapi gak pernah menganalisa sendiri, maka anda mungkin menjual saham yang semestinya anda beli, dan sebaliknya membeli saham yang semestinya tidak pernah anda sentuh.
Dalam hal ini mendengar atau membaca analisa/opini tentang saham tertentu dari orang lain, termasuk analisa yang disajikan di website ini, itu boleh-boleh saja, tapi jadikan analisa tersebut sebagai second opinion saja, untuk menguatkan analisa yang sudah anda buat sendiri sebelumnya. Selain itu, hindari opini-opini atau rekomendasi yang bersifat harian, karena biasanya rekomendasi seperti itu sangat labil, dimana hari ini sarannya buy (soalnya IHSG naik), tapi besoknya langsung suruh cut loss. Contohnya, ketika artikel ini ditulis, IHSG lagi longsor lagi ke posisi 4,300-an, dan semua cerita yang jelek-jelek langsung keluar dan jumlahnya akan semakin banyak setiap kali IHSG turun lebih dalam. Tapiii, liat deh kalau besok-besok IHSG naik lagi, maka ceritanya akan beda lagi!
Jadi berbeda dengan opini tentang Lion Air yang ada benarnya, bahwa memang maskapai ini kadang-kadang memang delay, opini harian tentang pasar modal seringkali ngawur sama sekali, dimana rekomendasi buy baru keluar setelah IHSG naik, dan sebaliknya, rekomendasi sell baru keluar setelah IHSG turun. Lah kalau gitu caranya gimana anda bisa untung? Bukankah katanya kita harusnya buy on weakness dan sell on strength? Kenapa ini malah sebaliknya???
Hanya memang, tidak segampang itu untuk bisa percaya diri terhadap analisis yang anda buat sendiri, untuk tetap meng-hold saham bagus yang anda pegang ketika IHSG dihantam koreksi, atau sebaliknya untuk menahan diri untuk tidak belanja ketika IHSG naik tinggi dan valuasi saham-saham sudah kelewat mahal. But trust me, selama anda bisa cuek terhadap naik turunnya pasar modal serta kehebohan orang-orang dalam menyikapinya, selama anda bisa tetap fokus pada fundamental serta valuasi dari saham-saham yang anda pegang, maka seiring dengan berjalannya waktu, hasilnya akan sangat luar biasa :)
Pengumuman: Penulis menyelenggarakan acara ‘Market Outlook – Peluang Investasi di Tahun 2016’ di Bandung. Untuk bergabung, keterangan selengkapnya klik [...]

Market Outlook 2016: Bandung

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2015 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2015 tidaklah terlalu bersahabat bagi investor pasar modal dimana IHSG turun cukup dalam, namun berdasarkan pengalaman ini justru merupakan kesempatan karena IHSG, pada akhirnya, akan naik kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan tahun 2016 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Bandung, penulis mengajak anda untuk berdiskusi soal ‘Market Outlook 2016’, tentunya dari sudut pandang value investing.

Dalam forum diskusinya nanti, saya akan menyampaikan tentang:
  1. Proyeksi IHSG untuk tahun 2016 berdasarkan analisa fundamental ekonomi makro, kinerja para emiten, dan kondisi ekonomi global, dan juga lebih dalam tentang ‘infrastructure project’ milik pemerintah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi nasional dan juga tentunya pasar saham.
  2. Koleksi saham-saham pilihan berfundamental bagus yang valuasinya sudah murah (dan mumpung masih murah!), dan
  3. Sharing pengalaman serta tips-tips/strategi investasi yang penulis peroleh/pelajari selama enam tahun terakhir (2009 – 2015), khususnya dalam kondisi dimana pasar turun di tahun 2013, dan tentunya 2015 ini.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, gak usah dibawa serius :) Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor. Anda juga nanti bisa bebas bertanya/konsultasi soal apapun terkait dunia investasi saham langsung dengan penulis.
Okay, berikut detail acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Cihampelas, Jln. Cihampelas No.171, Bandung
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Desember 2015

Acaranya akan dimulai pukul 16.00 sore, dan setiap peserta akan memperoleh fasilitas makan malam serta rangkuman materi outlook. Rundown acara: Pukul 16.00 penyampaian materi utama, pukul 17.30 istirahat shalat Maghrib dan makan malam, pukul 18.15 lanjut diskusi/tanya jawab bebas, pukul 20.00 acara selesai.
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp350,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (pilih salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087       Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Market Outlook Bandung’, dan isi: Nama lengkap anda, dan bank tujuan transfer. Contoh: Sudirman Said, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email bahwa pembayaran anda sudah diterima. Selanjutnya anda bisa langsung datang ke acaranya (sehari sebelum acaranya kami akan mengirim email lagi untuk mengingatkan anda soal acara gathering-nya).
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai ketemu di lokasi!

Penulis bersama para peserta di salah satu event investor gathering di Jakarta
Foto kemarin di Surabaya
Ada pertanyaan? Silahkan hubungi Ms. Nury di nomor telepon 081220445202, atau Pin BB 5BDF54F4

Mesin Baru Perekonomian: Internet!

Ketika mempelajari data pertumbuhan ekonomi Kuartal III 2015, penulis agak bingung dengan fakta bahwa tingkat konsumsi nasional masih tumbuh 4.96%, atau diatas pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan sebesar 4.73%, padahal di lapangan jelas sekali harga barang-barang semuanya melambung tinggi (termasuk, harga gorengan di Jakarta sekarang sudah mencapai Rp1,000 per potong, padahal rasanya baru kemarin Rp2,000 masih dapet 3 potong), dan itu seharusnya menurunkan daya beli masyarakat. Tapi sejauh yang bisa penulis amati, almost everybody still happy, dan bahkan buruh juga masih berani berdemo menuntut kenaikan upah. Pertanyaannya, bagaimana bisa?

Dan baru beberapa hari lalu penulis menyadari sesuatu yang mungkin menjadi jawabannya. Jadi ceritanya penulis kehabisan kuota internet ketika sedang browsing di laptop, namun ketika itu sudah larut malam jadi penulis males juga kalau harus keluar rumah untuk ke tukang pulsa. Jadi saya browsing lagi pake hape untuk cari orang yang jualan voucher kuota internet, dan ternyata memang banyak yang jualan, termasuk ada juga yang harganya miring. Penulis akhirnya menghubungi seorang penjual, dia menyebut nomor rekening, saya transfer pake e-banking, dan vouchernya dikirim via Whatsapp. Seluruh proses transaksi terjadi dalam waktu kurang dari 10 menit, dan penulis hanya membayar Rp125,000, dari harga normal Rp150,000 kalau beli voucher-nya di tukang pulsa biasa.
Nah, dari peristiwa diatas, tiba-tiba saja penulis menyadari akan peran internet yang menyebabkan transaksi jual beli menjadi jauh lebih mudah dari sebelumnya, dan hasilnya jumlah transaksi jual beli itu sendiri menjadi meningkat signifikan, dan pada akhirnya turut mempercepat perputaran roda perekonomian. Keberadaan internet paling tidak memungkinkan terjadinya tiga hal dalam hal yang sebelumnya boleh dibilang mustahil untuk terjadi, yakni:
  1. Mempercepat terjadinya transaksi
  2. Transaksi jual beli menjadi jauh lebih efisien
  3. Kapan saja, dan dimana saja
Pada contoh dimana penulis membeli voucher kuota internet diatas, coba bayangkan seandainya tidak ada internet (atau sudah ada, tapi harus ke warnet dan gak bisa lewat hape seperti sekarang). Maka penulis harus menunggu sampai besok pagi untuk ke tukang pulsa, dan alhasil ada jeda waktu selama beberapa jam dimana transaksi jual beli menjadi tertunda. Penulis kemudian membeli voucher tersebut pada harga normal atau bahkan mahal, yang seharusnya bisa lebih murah andaikata si tukang pulsa tidak keluar biaya untuk sewa kios, dll, dimana biaya tersebut dibebankan ke pembeli (tidak efisien). Dan ketiga, penulis harus meluangkan waktu untuk berpindah tempat ke suatu lokasi, yakni ke kios pulsa tadi terus pulang lagi.
Namun karena adanya internet, maka inilah yang terjadi: Transaksi jual beli terjadi hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, penulis membayar lebih murah namun tidak ada yang dirugikan (penjual tetap untung), dan penulis bisa membeli saat itu juga (meski malam-malam), dan juga tanpa perlu kemana-mana! Alias masih duduk manis didepan meja kerja.
Dan, bisakah anda bayangkan ada berapa buaanyak transaksi jual beli berbagai macam barang dan jasa yang terjadi malam itu di seluruh Indonesia, dan itu adalah berkat adanya internet???
Keberadaan internet juga sangat membantu untuk mempertemukan calon penjual dan pembeli, yang pada akhirnya memungkinkan transaksi jual beli untuk terjadi. Let say, anda mau beli rumah di lokasi tertentu, dan tidak ada internet. Maka bisakah anda bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang harus dihabiskan untuk survey langsung ke tiap-tiap lokasi, dan bahkan setelah itupun belum tentu anda bakal ketemu penjual yang cocok? Demikian sebaliknya, anda mau jual rumah, dan tidak ada internet. Maka entah berapa lama waktu yang terbuang untuk menunggu rumah tersebut hingga laku, dan berapa besar biaya yang keluar untuk pasang iklan di koran, jasa perantara, dll.
Tapi dengan adanya internet maka.. holaaa.. anda yang mau beli rumah tinggal browsing di google dengan kata kunci ‘jual rumah di Jakarta’, maka akan ada ribuan rumah yang ditawarkan yang bisa anda cek satu-satu, sekali lagi, tanpa perlu anda meninggalkan kursi anda. Demikian pula kalau anda mau jual rumah, maka anda tinggal pasang iklan gratis di banyak sekali website e-commerce di internet, kemudian tinggal duduk santai menunggu ditelpon oleh calon pembeli. Saking mudahnya transaksi jual beli di internet, bahkan kalau anda mau beli helikopter sekalipun, di internet ada yang jual!
Pendek kata kegiatan perekonomian di Indonesia, atau juga diseluruh dunia, sudah pasti tidak akan semudah sekarang ini kalau bukan karena adanya internet, dan sudah tentu itu turut mendorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Ada banyak orang yang tiba-tiba saja jadi pinter jualankarena adanya internet. Dan kabar baiknya, bisnis e-commerce di Indonesia pada saat ini masih berada pada tahap-tahap awal alias baru tumbuh, dimana jumlah pengguna internet di Indonesia masih sekitar 80 juta orang dari 270 juta penduduk. However perkembangan yang terjadi terbilang sangat pesat, dan semakin kesini semakin pesat. Sepuluh tahun yang lalu, nobody thinks about ‘jualan di internet’, tapi belakangan ini berbagai website e-commerce seperti FJB Kaskus, OLX, Lazada, Tokopedia, Traveloka, dst, mulai menjamur. Dan asalkan anda bisa meluangkan waktu untuk menulis tentang investasi saham atau apapun bidang yang anda kuasai, maka anda juga bisa bikin website tipe blog seperti TeguhHidayat.com yang sedang anda baca sekarang ini. So the opportunity is open for everyone.
Logo Kaskus.co.id, website e-commerce paling populer di Indonesia
Okay, lalu apa hubungannya hal ini dengan saham?
Kalau penulis banyak diskusi dengan beberapa investor/analis, maka mereka punya pandangannya masing-masing tentang bagaimana prospek ekonomi/IHSG di tahun 2016 mendatang, dimana banyak yang optimis tapi gak sedikit pula yang pesimis. However, entah karena lupa atau memang nggak ‘ngeh, tidak ada satupun yang menyinggung soal peran internet terhadap perekonomian, padahal peran tersebut terasa amat sangat nyata. Tapi mungkin itu karena para analis biasanya hanya fokus pada saham-saham yang ada di BEI, dan masalahnya di BEI belum ada perusahaan seperti Alibaba.com, Facebook.com, atau Amazon.com yang sudah listing di Amerika sana.
Tapi yang hendak penulis sampaikan adalah, dengan semakin mudahnya transaksi jual beli karena adanya internet, maka perekonomian nasional akan sangat terdorong untuk tumbuh pesat di masa yang akan datang, dan peran internet ini suatu hari nanti akan mampu menutup economic gap yang terjadi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini karena anjloknya harga komoditas batubara dan CPO sejak 2012 lalu. Dan jika ekonomi makro terus membaik secara umum, maka para emiten di Bursa juga akan terkena imbas positifnya dimana kinerja mereka akan membaik, dan sudah tentu, IHSG akan merangkak naik kembali.
Jadi meski kita tentu saja tidak bisa memprediksi secara persis soal bagaimana kira-kira arah perkembangan ekonomi/IHSG kedepannya, termasuk entah kapan harga batubara dan CPO akan naik lagi, namun yang jelas kita punya ‘mesin pendorong perekonomian’ yang baru yang bernama internet. Prediksi penulis, dalam waktu 2 – 3 tahun kedepan kita akan mulai melihat satu atau dua perusahaan lokal berbasis e-commerce yang melantai di Bursa dan.. mari kita berharap bahwa ujungnya tidak akan seperti dot com bubble di Amerika pada tahun 1999 lalu.

Pengumuman: Penulis menyelenggarakan acara ‘Market Outlook – Peluang Investasi di Tahun 2016’ di tiga kota yakni Surabaya, dan Bandung. Untuk bergabung, keterangan selengkapnya klik [...]

Market Outlook 2016: Jakarta, Surabaya, Bandung

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2015 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2015 tidaklah terlalu bersahabat bagi investor pasar modal dimana IHSG turun cukup dalam, namun berdasarkan pengalaman ini justru merupakan kesempatan karena IHSG, pada akhirnya, akan naik kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan tahun 2016 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Jakarta, Surabaya, dan Bandung, penulis mengajak anda untuk berdiskusi soal ‘Market Outlook’ untuk tahun 2016, tentunya dari sudut pandang value investing.

Dalam forum diskusinya nanti, saya akan menyampaikan tentang:
  1. Proyeksi IHSG untuk tahun 2016 berdasarkan analisa fundamental ekonomi makro, kinerja para emiten, dan kondisi ekonomi global, dan juga lebih dalam tentang ‘infrastructure project’ milik pemerintah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi nasional dan juga tentunya pasar saham.
  2. Koleksi saham-saham pilihan berfundamental bagus yang valuasinya sudah murah (dan mumpung masih murah!), dan
  3. Sharing pengalaman serta tips-tips/strategi investasi yang penulis pelajari selama enam tahun terakhir (2009 – 2015), khususnya dalam kondisi dimana pasar turun di tahun 2013, dan tentunya 2015 ini.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, gak usah dibawa serius :) Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor. Anda juga nanti bisa bebas bertanya/konsultasi soal apapun terkait dunia investasi saham langsung dengan penulis.
Okay, berikut detail acaranya:
Jakarta
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 5 Desember 2015
Surabaya
  • Tempat: Favehotel MEX, Jln. Pregolan No.1 – 3, Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 12 Desember 2015
Bandung
  • Tempat: Amaris Hotel Cihampelas, Jln. Cihampelas No.171, Bandung
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Desember 2015
Acaranya akan dimulai pukul 17.00 sore, dan setiap peserta akan memperoleh fasilitas makan malam serta rangkuman materi outlook. Rundown acara: Pukul 17.00 penyampaian materi utama, pukul 18.30 istirahat shalat Maghrib dan makan malam, pukul 19.15 lanjut diskusi/tanya jawab bebas, pukul 21.00 acara selesai.
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp350,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (pilih salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087       Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Market Outlook Jakarta/Surabaya/Bandung’, dan isi: Nama lengkap anda, dan bank tujuan transfer. Contoh: Sudirman Said, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email bahwa pembayaran anda sudah diterima. Selanjutnya anda bisa langsung datang ke acaranya (sehari sebelum acaranya kami akan mengirim email lagi untuk mengingatkan anda soal acara market outlook-nya).
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik.
Demikian, sampai ketemu di lokasi!
Salah satu event investor gathering yang kita adakan di Jakarta (penulis disebelah kanan atas)

Ada pertanyaan? Silahkan hubungi Ms. Nury di nomor telepon 081220445202, atau Pin BB 

Yuan Ditetapkan Sebagai World Currency, Next?

Semalam, rapat umum direktur eksekutif International Monetary Fund (IMF) memutuskan bahwa mata uang China, Yuan (disebut juga Renminbi), ditetapkan salah satu world reserve currency, berlaku efektif mulai 1 Oktober 2016. Dalam perhitungan special drawing rights atau SDR, Yuan memiliki bobot 10.9%, atau lebih besar dibanding bobot Japanese Yen atau Britain Pound Sterling, tapi masih lebih lebih rendah dibanding bobot US Dollar dan Euro. Penjelasan mengenai apa itu SDR, bisa dibaca lagi disini.

Berikut adalah bobot baru perhitungan SDR, setelah masuknya Yuan.
Currency
Before (%)
After (%)
US Dollar
41.9
41.7
Euro
37.4
30.9
Chinese Yuan
-
10.9
Japanese Yen
9.4
8.3
Pound Sterling
11.3
8.1
Total
100.0
100.0
Pertanyaannya,  bagaimana dampak dari keputusan IMF ini terhadap perekonomian Indonesia (jika memang ada dampaknya), termasuk IHSG? Apakah ketika Senin kemarin IHSG jeblok 2.5%, itu ada hubungannya dengan hal ini?
Senin kemarin pada sesi pre-closing, asing tiba-tiba saja jualan hingga akhirnya IHSG ditutup di posisi 4,446, atau turun 2.5%, padahal sepanjang hari tersebut IHSG tampak cukup stabil di posisi 4,520. Penjual terbesar adalah sekuritas Merrill Lynch, yang melepas pegangan senilai sekitar Rp2.3 trilyun, tapi sebagian diantaranya diserap oleh investor asing juga (sehingga net sell asing untuk Senin kemarin hanya Rp1.5 trilyun).
Lalu kenapa Merrill jualan? Nobody knows, namun penjelasan yang masuk akal adalah bahwa mereka kemungkinan mengubah komposisi portofolio agar kembali sesuai dengan bobot-bobot saham Indonesia di indeks MSCI Indonesia Index (MSCI = Morgan Stanley Capital International). Sebelumnya pada 11 November lalu, saham HM Sampoerna (HMSP) masuk kedalam perhitungan indeks MSCI Indonesia Index dengan bobot 3.2% (jadi naik turunnya HMSP berpengaruh sebesar 3.2% terhadap pergerakan indeks MSCI), dan masuknya HMSP ini otomatis mengurangi bobot saham lain terhadap perhitungan MSCI, contohnya Bank Mandiri (BMRI), yang bobotnya terhadap indeks MSCI turun dari 7.4 menjadi 6.8%. However, beberapa saham seperti Astra International (ASII), bobotnya masih naik dari 10.8 menjadi 11.4%.

Berikut adalah bobot baru dari tiap-tiap saham yang menjadi komponen MSCI Indonesia Index (ada 31 saham termasuk HMSP). Saham yang berwarna biru adalah yang bobotnya naik.

Stocks
Before (%)
After (%)
Bank BCA
14.0
13.8
Telkom
11.7
11.8
Astra International
10.8
11.4
Bank BRI
10.5
10.1
Bank Mandiri
7.4
6.8
Unilever Indonesia
5.0
4.7
HM Sampoerna
-
3.3
Bank BNI
3.3
3.1
Matahari Dept. Store
3.2
3.1
United Tractors
2.9
2.6
Semen Indonesia
2.7
2.6
PGN
2.8
2.6
Kalbe Farma
2.6
2.5
Indocement
2.6
2.3
Indofood Sukses Makmur
2.3
2.1
Lippo Karawaci
2.2
2.0
Gudang Garam
1.9
1.9
Surya Citra Media
1.6
1.6
Charoen Pokphand
1.6
1.6
Indofood CBP
1.3
1.3
Summarecon
1.4
1.2
Bumi Serpong Damai
1.1
1.1
Tower Bersama
1.2
1.1
Jasa Marga
0.9
0.9
Bank Danamon
0.9
0.8
XL Axiata
0.8
0.8
Adaro
0.8
0.8
Media Citra Nusantara
0.7
0.7
Astra Agro
0.7
0.6
Global Mediacom
0.6
0.5
TB Bukit Asam
0.5
0.5
Total
100.0
100.0
Dan MSCI Indonesia Index merupakan patokan yang paling banyak digunakan oleh investor internasional dalam menempatkan investasi mereka disini. Jadi ketika susunan saham-saham yang menjadi komponen indeks-nya berubah, maka praktis para fund manager asing juga akan mengubah komposisi portofolio mereka, dimana mereka banyak membeli HMSP atau menambah posisi pada ASII, dan sebaliknya, mengurangi posisi pada saham-saham yang bobotnya turun, atau menjual habis saham-saham yang tidak lagi masuk indeks MSCI. Dan itulah yang dilakukan Merrill Lynch kemarin dimana mereka menjual BMRI dll, hanya saja mereka melakukannya sekaligus dalam sehari sehingga IHSG jadi jeblok begitu.
Jadi kalau teori diatas benar, maka penurunan IHSG Senin kemarin gak ada hubungannya dengan hasil rapat IMF terkait Yuan. Namun demikian, apa yang dilakukan Merrill kemarin menjelaskan tentang apa yang kemungkinan akan terjadi setelah Yuan ditetapkan sebagai world currency, dan berikut penjelasannya:
Investor di seluruh dunia melihat mata uang yang menjadi komponen SDR dengan cara yang sama seperti mereka melihat saham-saham yang menjadi komponen MSCI Indonesia Index. Jadi dengan masuknya Yuan sebagai komponen baru yang turut menentukan nilai SDR, maka lembaga-lembaga keuangan di seluruh dunia akan mulai menyimpan aset mereka dalam mata uang Yuan, sama seperti Merrill Lynch (dan mungkin juga investor asing lainnya) yang mulai membeli saham HMSP setelah HMSP masuk indeks MSCI. Disisi lain para lembaga keuangan ini juga akan mengurangi pegangan aset dalam mata uang US Dollar, Euro, Yen, dan Pound, karena memang bobot keempat mata uang ini terhadap SDR turun. Alhasil, mulai hari ini dan seterusnya, kemungkinan nilai tukar Yuan terhadap USD akan merangkak naik, sementara nilai tukar Euro, Yen, Pound, dan USD sendiri terhadap mata-mata uang lainnya di seluruh dunia, akan turun. Dan memang, pada hari Selasa ini, USD melemah terhadap IDR (Rupiah), namun IDR sendiri melemah terhadap RMB (Renminbi).
Logo mata uang Yuan, yang sangat mirip dengan logo Yen
Namun berbeda dengan perkiraan sebelumnya yang menyebutkan bahwa akan terjadi perpindahan aset besar-besaran dari aset dalam mata uang USD, menjadi aset dalam mata uang Yuan, maka sepertinya hal itu tidak akan terjadi karena bobot USD terhadap perhitungan SDR, seperti yang bisa anda lihat ditabel diatas, hanya turun sedikit dari 41.9 menjadi 41.7%. Yang bobotnya turun paling besar adalah Euro, dari 37.4% menjadi 30.9%, dan hal itu memang bisa dijelaskan mengingat dalam lima tahun terakhir (sejak IMF mengubah komposisi SDR di tahun 2010), perekonomian China masih maju cukup pesat, sementara ekonomi Eropa tidak lagi dominan seperti biasanya, malah dihantui oleh Krisis Yunani dll. Sementara Amerika? Masih strong sampai sekarang, dan ukuran PDB-nya masih yang terbesar di dunia termasuk lebih besar dibanding PDB zona Euro maupun China, jadi belum ada alasan bagi investor di seluruh dunia untuk mengkonversi aset mereka dari USD ke Yuan. Tapi bagi investor di Jepang dan Inggris, mereka mungkin akan mulai kurang pede dengan mata uang mereka sendiri (yang sekarang bobotnya lebih rendah dari Yuan), dan mungkin akan mulai mengumpulkan Yuan sambil tetap memegang US Dollar.
Okay, namun itu belum menjawab pertanyaannya: Kira-kira apa dampak masuknya Yuan ini sebagai world currency terhadap Indonesia? Well, karena bobot USD terhadap perhitungan SDR hanya turun sedikit, maka investor-investor asing yang menempatkan investasinya disini seharusnya gak akan kabur kalau alasannya cuma karena mereka harus mengkonversi Dollar mereka ke Yuan (sehingga mereka harus jual saham dulu), meski mungkin beberapa dari mereka tetap melakukannya. Tapi yang jelas dampaknya terhadap IHSG seharusnya akan minimal, kecuali jika terdapat banyak investor asing asal Uni Eropa, Inggris, atau Jepang yang juga turut berinvestasi disini. Sayangnya tidak ada data pasti soal investor dari negara apa saja yang ikut beli saham di Indonesia.

However, dari sisi ekonomi makro, Tiongkok selama ini merupakan mitra dagang terbesar di Indonesia, dimana sepanjang tahun 2014 lalu, Indonesia mengekspor barang-barang non migas senilai US$ 16.5 milyar ke Tiongkok, terbesar dibanding ekspor ke negara lain manapun, dan sebaliknya, mengimpor barang-barang non migas senilai US$ 30.4 milyar dari Tiongkok, juga terbesar dibanding impor dari negara lain manapun. Nah, dengan naiknya ‘status’ Yuan, maka itu akan mempermudah transaksi ekspor impor antara Tiongkok dengan Indonesia, dimana eksportir dari Indonesia tidak perlu lagi mengkonversi Rupiah ke USD (kemudian oleh importir dari Tiongkok dikonversi lagi ke Yuan), melainkan bisa langsung mengkonversinya ke Yuan, demikian sebaliknya.

Jadi kedepannya besar kemungkinan bahwa nilai ekspor impor antar kedua negara akan meningkat, dan itu bisa berarti dua hal yang saling berkebalikan: Jika Indonesia bisa mengekspor ke Tiongkok lebih banyak ketimbang menerima impor, maka perekonomian Indonesia akan diuntungkan. Tapi jika Indonesia justru kebanjiran impor, maka pertumbuhan ekonomi akan kembali tertekan (baca penjelasannya disini).
Dan sayangnya selama ini nilai impor Indonesia dari Tiongkok selalu lebih besar ketimbang nilai ekspornya, sehingga dengan naiknya status Yuan, maka kemungkinan Tiongkok-lah yang lebih diuntungkan ketimbang Indonesia. Namun disisi lain jika ekonomi Tiongkok mulai melaju kencang lagi karena mereka kini lebih mudah berbisnis dengan negara lain (karena mereka sekarang bisa beli barang diluar negeri pake Yuan, jadi gak perlu dituker ke Dollar dulu), maka kebutuhan mereka atas batubara dan CPO kemungkinan akan kembali meningkat, dan itu artinya kabar bagus bagi sektor tambang dan perkebunan di Indonesia yang pada tahun ini sudah mulai mati suri. Manapun yang terjadi, kita lihat nanti.
Buletin Analisis IHSG & Stock-Pick bulanan edisi Desember 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio bagi [...]

Prospek IPO Kino Indonesia

Sebagai salah satu perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang cukup terkemuka di Indonesia, IPO Kino Indonesia (KINO) mungkin menarik perhatian investor, karena kita tahu bahwa industri FMCG biasanya menawarkan kinerja jangka panjang yang stabil. Dan KINO sendiri selama ini memiliki reputasi yang bagus sebagai perusahaan inovatif yang mampu meng­-create produk-produk baru, sementara pendirinya, Harry Sanusi, juga sudah sangat dikenal sebagai pengusaha inspiratif yang sukses mendirikan dan membesarkan KINO dari nol. Anyway, kita langsung saja.

Sejarah KINO dimulai pada tahun 1991, ketika Mr. Harry, yang baru saja lulus kuliah, memperoleh kepercayaan untuk mendistribusikan produk Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga milik PT Sinde Budi Sentosa. Mr. Harry kemudian segera menerapkan berbagai strategi marketing seperti memasang iklan, menawarkan produk dari toko ke toko, membuka cabang distribusi dll, dan hasilnya produk Larutan Penyegar milik PT Sinde menjadi populer di masyarakat. Lima tahun kemudian, yakni pada 1996, Mr. Harry mulai berpikir untuk juga menjadi distributor bagi produk lain, namun PT Sinde menginginkan agar Mr. Harry tetap fokus untuk mendistribusikan Larutan Penyegar. Ketidak cocokan ini pada akhirnya justru menyebabkan Mr. Harry putus kontrak dengan PT Sinde.
Setelah sempat menganggur hampir setahun, pada 1997 Mr. Harry memutuskan untuk tidak lagi hanya menjadi distributor, melainkan juga membuat produknya sendiri. Dan setelah melakukan riset selama berbulan-bulan, diputuskan untuk membuat produk permen jenis soft candy dengan rasa kopi, karena 1. Permen harga jualnya murah, sehingga pasarnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat, 2. Berbeda dengan produk consumer lainnya seperti rokok, mie instan dll dimana loyalitas konsumen terhadap merk yang sudah ada sangat besar (sehingga akan sulit bagi pemain baru untuk memperkenalkan merk rokok atau mie instan yang baru), di segmen permen tidak ada loyalitas merk seperti itu, dan 3. Di Indonesia belum ada permen jenis soft candy rasa kopi, sehingga praktis tidak ada kompetitor.
Dan berbekal jaringan distribusinya yang sudah dibangun sejak 1991, produk permen yang diberi merk ‘Kino’ tersebut kemudian sukses besar. Masih di tahun 1997, Mr. Harry juga meluncurkan produk minuman bubuk dengan merk ‘Segar Sari’, dan makanan ringan ‘Snack It’. Karena ketiga produk tersebut memiliki harga jual yang murah dan terjangkau oleh kelompok menengah kebawah sekalipun, maka bisnis perusahaan justru melejit ketika Indonesia dilanda krisis moneter setahun kemudian. Pada tahun 1999, masih dengan semangat inovasi untuk menciptakan produk baru, Mr. Harry masuk ke bisnis toiletries dengan meluncurkan merk ‘Ovale’, sebuah produk pembersih wajah sekaligus pelembab dalam satu kemasan (sebelumnya, produk pembersih wajah dan pelembab biasanya dibuat terpisah). Ovale juga sukses besar, sehingga di tahun-tahun berikutnya diluncurkan juga merk-merk lain yang memiliki segmen pasarnya masing-masing, seperti Eskulin (parfum), Master (parfum pria), Eskulin Disney & Master Kids (parfum anak-anak), Sleek (pembersih bayi), Resik V (pembersih daerah kewanitaan), dan Ellips (perawatan rambut). Pada tahun 1999 ini pula, Mr. Harry mendirikan PT Kinocare Era Kosmetindo (sekarang PT Kino Indonesia), yang kemudian menjadi induk dari anak-anak usaha Grup Kino.
But the innovation never stops. Pada tahun 2004, Grup Kino masuk ke bisnis beverages dengan meluncurkan produk minuman penyegar ‘Cap Kaki Tiga’ (merk Cap Kaki Tiga sudah diakuisisi dari PT Sinde, sekarang PT Sinde memproduksi larutan penyegar cap badak), minuman energi ‘Panther’, minuman herbal ‘Panda’, dan jus ‘Tampico’. Terakhir, pada tahun 2012 lalu, Grup Kino juga masuk industri farmasi dengan meluncurkan obat batuk herbal dan balsem, keduanya dengan merk ‘Cap Kaki Tiga’.
Jadi selama KINO terus berinovasi dalam menciptakan produk-produk baru, ditambah skill Mr. Harry secara pribadi di dunia pemasaran dan pengembangan merk, maka selama itu pula kita akan melihat KINO terus berekspansi. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Apple Inc., yang menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia karena inovasi perusahaan dalam menciptakan produk-produk yang unik dan eksklusif, plus mereka juga sangat jago di bidang marketing. Dibanding raksasa consumer tanah air seperti Unilever, Indofood, atau Kalbe Farma, maka dengan aset Rp2.2 trilyun pada 30 Juni 2015, KINO terbilang masih relatif kecil, sehingga peluangnya untuk tumbuh lebih lanjut masih terbuka lebar. Dan kalau melihat track record kinerja perusahaan dalam lima tahun terakhir, dimana pendapatan serta labanya naik terus secara konsisten (just as expected), maka sahamnya bisa dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Pada IPO-nya, KINO melepas 229 juta lembar saham ke publik pada harga Rp3,800 per saham, sehingga akan diperoleh dana Rp869 milyar. Nilai ekuitas KINO sebelum IPO adalah Rp823 milyar (per Kuartal II 2015), sehingga setelah IPO, ekuitas perusahaan akan menjadi kurang lebih Rp1.7 trilyun. Karena jumlah saham KINO setelah IPO adalah 1,429 juta lembar, maka market cap-nya pada harga saham Rp3,800 adalah Rp5.4 trilyun. Dengan demikian PBV-nya = 5.4 / 1.7 = 3.2 kali. Sementara dari sisi PER, hingga Kuartal II 2015, KINO membukukan laba Rp141 milyar, yang setelah dibagi dengan jumlah sahamnya setelah IPO, diperoleh annualized EPS Rp198 per saham. Maka PER-nya 3,800 / 198 = 19.2 kali.
Nah, dengan PBV dan PER yang jelas sekali diatas rata-rata pasar (dalam kondisi pasar yang normal, sebuah saham berfundamental baik biasanya dihargai pada PBV kurang lebih 2 kali dan PER 10 kali), maka IPO KINO ini sekilas tampak mahal. However, mengingat beberapa saham consumer juga dihargai pada PBV 5 kali atau PER 20 kali, sementara fundamental KINO sendiri memang sangat bagus, dan kalau kita ambil contoh IPO perusahaan consumer top lainnya yaitu Sido Muncul (SIDO), dimana sahamnya sempat naik dari harga perdana 580 hingga hampir saja tembus 1,000 bahkan meskipun valuasinya juga mahal sejak awal, maka mungkin harga 3,800 masih terbilang wajar bagi KINO.

Namun satu hal yang perlu diperhatikan: Penetapan harga nominal saham yang cukup tinggi (3,800) serta sedikitnya jumlah saham yang dilepas ke publik (hanya 229 juta lembar), kemungkinan akan menyebabkan saham KINO menjadi tidak likuid, sehingga praktis tidak akan begitu disukai oleh investor/trader. Jadi berbeda dengan IPO SIDO yang sahamnya sukses naik (meski toh pada akhirnya turun lagi), KINO mungkin tidak akan mengalami hal yang sama karena, dari sisi volume, jumlah saham KINO yang akan wara wiri di market tidak sampai seperlima saham SIDO.

Dan kalau bicara kekuatan merk, anda mungkin memperhatikan bahwa produk-produk KINO belakangan ini sering nongol di televisi, dan mungkin itu salah satu strategi agar IPO-nya laku, karena seingat penulis dulu SIDO juga sama begitu: Iklan Jamu Tolak Angin mendadak rame di tivi menjelang IPO. Nevertheless, meski perusahaan sangat kompeten dalam hal branding, namun pada akhirnya KINO masih merupakan pemain yang relatif baru di industri consumer di Indonesia, sehingga merk-merk milik KINO belum ada yang sepopuler ‘Tolak Angin’ milik Sido Muncul, ‘Lifebuoy’ milik Unilever, atau Indomie-nya Indofood. Dalam hal ini KINO mungkin lebih cocok dibandingkan dengan Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), yang juga merupakan perusahaan consumer kelas menengah, namun PBV AISA, ketika artikel ini ditulis, cuma 1.5 kali.
Kesimpulannya, meski mungkin KINO ini cocok untuk investasi jangka panjang, namun penulis lebih suka membeli sahamnya nanti di market, tentunya jika dikasih harga yang lebih affordable, sama seperti SIDO yang ketika artikel ini ditulis, harganya sudah dibawah harga IPO-nya. Sementara untuk saat ini, seiring dengan masih rendahnya posisi IHSG, maka pasar masih menawarkan banyak pilihan saham lain yang valuasinya jauh lebih terdiskon. All you have to do is to choose carefully, karena fundamental dari sebagian besar saham-saham tersebut memang lagi tidak terlalu baik, tapi yah, yang bagus-bagus ada aja kok :)
PT Kino Indonesia, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal II 2015: AA
Rating Saham pada 3,800: BBB

Belakangan ini lagi rame lagi cerita soal Yuan, mata uang negeri China, yang katanya akan ditetapkan sebagai ‘world currency’ oleh IMF, tapi kita sudah membahasnya Agustus lalu, anda bisa membacanya lagi disini.

Buletin Analisis IHSG & Stock-Pick bulanan edisi Desember 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio bagi [...]

Analisa Pertumbuhan Ekonomi: Not As Bad as It Looks

Pada tanggal 5 November lalu, Badan Pusat Statistik (BPS), merilis angka pertumbuhan ekonomi/PDB untuk Kuartal III 2015 sebesar 4.73% secara year on year. Angka 4.73% tersebut, meski masih dibawah ekspektasi Menteri Keuangan dan Bank Indonesia yakni sebesar 4.8 – 4.9%, namun sudah lebih baik dibanding Kuartal II lalu, yang hanya 4.67%. Dan jika kita mempelajari komponen dari pertumbuhan ekonomi tersebut maka akan diperoleh beberapa fakta menarik.

Yang pertama, seperti yang anda ketahui, rumus PDB (produk domestik bruto) adalah Konsumsi + Investasi + Belanja Pemerintah + Ekspor – Impor. Dan di Indonesia, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dari PDB, namun persentasenya sedikit turun dari 55.3% di Kuartal III 2014, menjadi 55.0% pada Kuartal III 2015. Sementara itu komponen investasi naik dari 31.8 menjadi 32.8%, demikian pula dengan komponen belanja pemerintah naik dari 9.5 menjadi 9.8%. Seiring dengan masih rendahnya harga dua komoditas andalan ekspor Indonesia, yakni batubara dan crude palm oil (CPO), komponen ekspor masih turun dari 22.5 menjadi 20.7%. Namun entah karena pelemahan Rupiah atau lainnya, komponen impor turun lebih dalam dari 23.2 menjadi 19.9%, dan hal ini turut membantu laju pertumbuhan ekonomi untuk kembali meningkat (karena dalam rumus perhitungan PDB, impor merupakan komponen yang berpengaruh negatif).
Jadi tampak bahwa komposisi ekonomi kita dalam setahunan ini sedikit bergeser dari konsumsi rumah tangga ke investasi dan belanja pemerintah, dan cukup jelas bahwa ini merupakan dampak dari pengalihan subsidi yang dilakukan pemerintah. Disisi lain, sejatinya tingkat konsumsi di Indonesia masih tumbuh 4.96%, atau lebih tinggi dibanding total pertumbuhan ekonomi sebesar 4.73%, namun tingkat belanja pemerintah mengalami pertumbuhan yang lebih besar, yakni 6.56%. Dari sini kelihatan bahwa pencabutan subsidi/kenaikan pajak yang dilakukan pemerintah sebenarnya tidak sampai menekan tingkat konsumsi masyarakat (harga-harga memang naik tapi masih terkendali, sehingga orang-orang masih bisa berbelanja), sementara rencana belanja infrastruktur sudah mulai dieksekusi, sehingga tingkat belanja pemerintah tumbuh signifikan. However, pertumbuhan investasi yang hanya 4.62%, atau lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi, menunjukkan bahwa pihak swasta masih menahan diri untuk ekspansi/berinvestasi karena menganggap bahwa ekonomi masih lesu. Tapi kalau kedepannya mereka bisa melihat bahwa tingkat konsumsi dalam negeri ternyata masih tetap tumbuh signifikan dalam kondisi ekonomi yang katanya ‘lesu’, maka seharusnya mereka akan agresif kembali. At the end, melambatnya laju perekonomian sejak beberapa tahun terakhir ini, tepatnya sejak 2011, sebenarnya lebih karena penurunan harga komoditas yang menyebabkan anjloknya nilai ekspor, dan bukan karena ada masalah tertentu di dalam negeri.
Yang juga menarik, meski laju pertumbuhan ekspor masih negatif (turun 0.69%), namun impor mengalami penurunan yang jauh lebih dalam yakni 6.11%, sehingga laju pertumbuhan ekonomi tidak sampai terganggu. Dalam hal ini penulis jadi mengerti kenapa Bank Indonesia (BI) adem ayem saja meski Rupiah terus saja melemah, dan baru turun tangan setelah kurs Rupiah sempat hampir saja menembus level psikologis Rp15,000 per USD, beberapa waktu lalu. Karena untuk menyeimbangkan neraca ekspor impor ini maka nilai tukar Rupiah memang harus berada di level tertentu (tidak harus menguat). BI sendiri sempat menyatakan bahwa secara fundamental, kurs Rupiah seharusnya berada di level Rp13,700 per USD. Dan ketika artikel ini ditulis, kurs Rupiah memang berada di level Rp13,700-an.
Kedua, berdasarkan sektor usaha, maka dalam setahun terakhir sektor tambang masih mengalami pertumbuhan negatif, tepatnya minus 5.64%. However, sektor tambang menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh negatif. Sementara beberapa sektor yang tumbuh diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 4.73%, adalah sektor informasi dan telekomunikasi (IT) 10.83%, jasa keuangan dan asuransi 10.35%, jasa pendidikan 8.25%, jasa perusahaan 7.61%, jasa konstruksi 6.82%, dan jasa kesehatan 6.49%. Dari sini tampak bahwa perlambatan atau penurunan dari sektor sumber daya alam/komoditas diimbangi oleh pertumbuhan dari sektor jasa/service, namun sektor industri/manufaktur masih belum bertumbuh (hanya tumbuh 3%). Jika kedepannya sektor tambang mencapai satu titik dimana ia minimal tidak turun lebih rendah lagi, sementara sektor jasa tetap bertumbuh, dan sektor manufaktur pada akhirnya juga ikut bertumbuh karena sudah di­-support oleh infrastruktur, then, well, ketika itu kita mungkin akan menyaksikan pertumbuhan ekonomi nasional sukses mencetak rekor diatas 7% secara year on year.
Dan yang ketiga, sejak Indonesia merdeka tahun 1945, salah satu problem terbesar dalam perekonomian nasional adalah bahwa ekonomi masih sangat terpusat di Pulau Jawa, dan sampai sekarang kondisinya juga masih sama, dimana dari PDB senilai nyaris Rp3,000 trilyun pada Kuartal III 2015, 58.3% diantaranya berasal dari Pulau Jawa. Sebenarnya sejak tahun 2000-an, perekonomian diluar Jawa, terutama Sumatera dan Kalimantan, juga turut berkembang pesat karena booming batubara dan CPO. Namun sejak 2011, seiring dengan turunnya harga dua komoditas tersebut, pertumbuhan ekonomi di dua Pulau ini melambat lagi. Untuk Kalimantan, angka pertumbuhan ekonominya bahkan tercatat minus 0.41% pada Kuartal III 2015.
Peta penyebaran/distribusi perekonmian di Indonesia, angka dalam persen. Sumber: BPS
However, dalam setahun terakhir, Pemerintah banyak membangun infrastruktur (pembangkit listrik, pelabuhan, rumah sakit, bendungan), baik itu yang pada saat ini sudah beroperasi maupun masih dalam tahap konstruksi, di Bali dan Nusa Tenggara, dan itu turut mendorong perekonomian di kawasan tersebut untuk tumbuh signifikan yakni 11.75%. Demikian pula dengan Sulawesi, dimana disana dibangun jalur rel kereta api, smelter nikel, kilang minyak, hingga jaringan kabel optik, dan hasilnya ekonomi Sulawesi tumbuh 8.2%. Actually, pemerintah tidak hanya membangun ini dan itu di Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi saja, melainkan di seluruh Indonesia termasuk di Pulau Jawa, dan faktanya ekonomi Pulau Jawa masih tumbuh 5.39% (jadi yang paling terkena dampak ‘krisis’ setahunan ini adalah Kalimantan, yang ekonominya tumbuh negatif). Tapi intinya jika trend pemerataan pembangunan ini terus berlanjut, maka dalam jangka panjang seluruh wilayah di Indonesia akan menikmati pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena pembangunan infrastruktur di satu wilayah tidak hanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut ketika infrastrukturnya dibangun, tapi juga setelah infra tersebut jadi dan beroperasi. Jadi ini berbeda dengan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh booming komoditas seperti beberapa tahun lalu, dimana ketika periode booming-nya sudah selesai, maka ekonomi akan langsung terasa lesu kembali.
Kesimpulannya, I don’t know with you guys, namun penulis melihat bahwa perkembangan ekonomi kita setahunan ini sama sekali tidak seburuk kelihatannya, melainkan hanya sedikit melambat untuk ancang-ancang agar kedepannya bisa melaju kencang lagi, atau bahkan lebih kencang. Malah kalau boleh jujur, it’s amazing bahwa ekonomi Indonesia, yang notabene merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, masih bisa tumbuh 4.73% alias lebih tinggi dibanding beberapa tetangganya seperti Malaysia 4.70%, Thailand 2.90%, hingga Singapura 1.40%, dan hanya kalah dibanding Filipina 5.60%, tapi ingat bahwa PDB Filipina juga hanya sepertiga PDB Indonesia (sehingga perekonomian negaranya Manny Pacquiao ini lebih mudah untuk tumbuh lebih lanjut ketimbang Indonesia), padahal sampai sekarang nilai ekspor Indonesia masih anjlok! Yakni gara-gara penurunan harga batubara dan CPO, yang entah sampai kapan akan berakhir.
Nah, dalam hal inilah penulis jadi paham ketika beberapa waktu lalu penulis mengatakan kepada seorang teman pengusaha bahwa saya suatu hari nanti pengen pindah ke Singapura, karena sebagai negara yang (kelihatannya) lebih maju, maka sepertinya peluang investasi disana lebih menarik ketimbang disini di Jakarta. Tapi teman penulis ini bilang, ‘Kata siapa invest di Singapura lebih enak? Coba ente beli saham SingTel atau DBS, bisa profit 25% dalam lima tahun juga udah bagus bener. Bandingin sama kalo ente disini beli Telkom atau Bank BRI, lebih cuan mana coba?’ Well, bener juga ya [...]

Market Outlook 2016: Jakarta, Surabaya, Bandung

Dear investor, tak terasa kita sudah memasuki bulan November, yang itu artinya sebentar lagi tahun 2015 ini akan berakhir. Sejauh ini, tahun 2015 tidaklah terlalu bersahabat bagi investor pasar modal dimana IHSG turun cukup dalam, namun berdasarkan pengalaman ini justru merupakan kesempatan karena IHSG, pada akhirnya, akan naik kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan tahun 2016 mendatang? Nah, bagi anda investor yang tinggal di Jakarta, Surabaya, dan Bandung, penulis mengajak anda untuk ketemu dan diskusi soal Market Outlook 2016, tentunya dari sudut pandang value investing.

Dalam forum diskusinya nanti, saya akan menyampaikan tentang:
  1. Proyeksi IHSG untuk tahun 2016 berdasarkan analisa fundamental ekonomi makro, kinerja para emiten, dan kondisi ekonomi global, dan juga lebih dalam tentang ‘infrastructure project’ milik pemerintah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi nasional dan juga tentunya pasar saham.
  2. Koleksi saham-saham pilihan berfundamental bagus yang valuasinya sudah murah (dan mumpung masih murah!), dan
  3. Sharing pengalaman serta tips-tips/strategi investasi yang penulis peroleh/pelajari selama enam tahun terakhir (2009 – 2015), khususnya dalam kondisi dimana pasar turun di tahun 2013, dan tentunya 2015 ini.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, gak usah dibawa serius :) Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor. Anda juga nanti bisa bebas bertanya/konsultasi soal apapun terkait dunia investasi saham langsung dengan penulis.
Okay, berikut detail acaranya:
Jakarta
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 5 Desember 2015
Surabaya
  • Tempat: Favehotel MEX, Jln. Pregolan No.1 – 3, Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 12 Desember 2015
Bandung
  • Tempat: Amaris Hotel Cihampelas, Jln. Cihampelas No.171, Bandung
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Desember 2015

Acaranya akan dimulai pukul 17.00 sore, dan setiap peserta akan memperoleh fasilitas makan malam serta rangkuman materi outlook. Rundown acara: Pukul 17.00 penyampaian materi utama, pukul 18.30 istirahat shalat Maghrib dan makan malam, pukul 19.15 lanjut diskusi/tanya jawab bebas, pukul 21.00 acara selesai.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp350,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (pilih salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087       Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Market Outlook Jakarta/Surabaya/Bandung’, dan isi: Nama lengkap anda, dan bank tujuan transfer. Contoh: Sudirman Said, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email bahwa pembayaran anda sudah diterima. Selanjutnya anda bisa langsung datang ke acaranya (sehari sebelum acaranya kami akan mengirim email lagi untuk mengingatkan anda soal acaranya). Peserta terbatas, hanya untuk 30 orang di tiap-tiap kota.
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Jika anda berhalangan hadir pas tanggal acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh/tidak hangus, dengan catatan anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut (melalui email atau melalui kontak telepon dibawah), paling lambat dua hari sebelum acaranya.
Demikian, sampai ketemu di lokasi!
Suasana salah satu event investor gathering yang kita adakan di Jakarta (penulis di sebelah kanan atas)

Ada pertanyaan? Silahkan hubungi Ms. Nury di nomor telepon 081220445202, atau Pin BB 
5BDF54F4.

Kalbe Farma

Sebagian besar orang menganggap bahwa industri farmasi, seperti industri consumer goods pada umumnya, merupakan industri yang kebal terhadap risiko perlambatan ekonomi, sehingga perusahaan-perusahaan di bidang ini seharusnya memiliki kinerja yang konsisten dari tahun ke tahun, dan saham-saham farmasi juga ideal untuk investasi jangka panjang. Karena logikanya kalau anda sakit, maka mau tidak mau anda harus minum/mengkonsumsi obat tertentu bukan? Tak peduli meski mungkin harganya mahal.

Padahal bisnis farmasi sejatinya sangat berbeda dengan bisnis consumer goods lainnya, katakanlah consumer goods jenis kebutuhan sehari-hari (sabun mandi, shampoo, pasta gigi, dll). Contoh simpel saja: Setiap orang, tanpa terkecuali, harus mandi dan menggunakan sabun mandi setiap hari, tapi tidak setiap orang harus meminum obat batuk/pilek/demam dst, apalagi sampai harus masuk rumah sakit. Dan bagi mereka yang mengkonsumsi obat inipun, kalau nanti mereka sudah sembuh maka mereka tidak perlu lagi membeli obat yang sama, kecuali kalo nanti sakitnya kambuh lagi.
Disisi lain, biaya produksi obat-obatan tidaklah murah. Biaya terbesar dari industri farmasi meliputi biaya tenaga kerja (karena biasanya padat karya), biaya bahan baku (karena mayoritas masih harus impor), biaya penelitian dan teknologi, dan biaya untuk pihak ketiga seperti profit sharing dengan apotek, rumah sakit, dan dokter. Dan kalau anda pikir bahwa perusahaan farmasi semestinya untung besar karena menjual obat resep seharga ratusan ribu Rupiah hanya untuk beberapa strip obat saja, maka jangan lupa kalau mereka juga memproduksi obat-obatan generik yang harganya ada yang cuma Rp1,000 per strip isi 12 tablet!
Dan alhasil, dari sisi profitabilitas, maka kinerja Kalbe Farma (KLBF) dkk jauh lebih rendah dibanding Unilever Indonesia (UNVR) dkk, dimana ROE KLBF rata-rata hanya 20 – 25% per tahun (atau kurang dari itu), berbanding UNVR yang bisa mencapai 100%.
Nevertheless, ROE 20 – 25% itu tentunya sudah cukup baik, apalagi jika itu bisa dicapai setiap tahun, dan beberapa perusahaan farmasi yang besar-besar seperti Kalbe Farma (KLBF), Sido Muncul (SIDO), hingga Kimia Farma (KAEF), perolehan laba bersihnya juga naik terus dari tahun ke tahun. Berikut ini adalah data laba bersih dari sembilan perusahaan farmasi di BEI antara 2010 hingga 2014, angka dalam milyaran Rupiah, data diurutkan berdasarkan likuiditas saham dari perusahaan yang bersangkutan.

Company 2010 2011 2012 2013 2014
Kalbe Farma (KLBF) 1,286 1,482 1,734 1,920 2,065
Tempo Scan Pacific (TSPC) 489 566 628 635 579
Sido Muncul (SIDO) 237 340 388 406 415
Kimia Farma (KAEF) 139 172 205 215 235
Indofarma (INAF) 13 37 42 (54) 1
Pyridam Farma (PYFA) 4 5 5 6 3
Merck (MERK) 119 231 108 175 181
Taisho Pharmaceutical (SQBB) 93 120 135 150 165
Darya-Varia (DVLA) 111 121 149 126 81
Namun disinilah problemnya: Mungkin karena mayoritas investor menganggap bahwa bisnis farmasi memiliki risiko yang rendah sehingga kinerja KLBF dkk semestinya akan naik terus dalam jangka panjang, dan bahwa profitabilitas mereka sama baiknya dengan UNVR (padahal tidak), maka valuasi saham-saham di sektor farmasi menjadi sangat mahal, termasuk PBV KLBF pernah sampai diatas 8 kali, dan PER-nya diatas 40 kali. Dan actually, dulu juga penulis mikirnya sama begitu: Saham-saham farmasi layak dihargai premium karena mereka merupakan wonderful company yang prospeknya selalu cerah untuk jangka panjang.
Tapi setelah melihat bahwa perusahaan farmasi terbesar kedua setelah KLBF, yakni TSPC, mengalami penurunan laba sejak tahun 2014 lalu (dan hingga tahun 2015 ini laba mereka masih turun), maka barulah penulis sadar bahwa risiko bisnis farmasi lebih besar dibanding risiko bisnis consumer goods lainnya, entah itu terkait kenaikan upah buruh, pelemahan nilai tukar Rupiah yang praktis menaikkan harga bahan baku impor, hingga risiko karena ketatnya persaingan (coba anda sebut merk-merk obat sakit kepala, demam, dan batuk, banyak banget kan?). Saham TSPC sendiri, setelah sebelumnya sempat dihargai pada PBV 7 – 8 kali pada harga 5,000-an, dua tahun lalu, selanjutnya dia turun terus hingga sekarang PBV-nya sudah kurang dari 2 kali, alias sudah sama dengan valuasi saham-saham lain pada umumnya.
Valuasi KLBF saat ini = Mahal
KLBF merupakan salah satu jagoan penulis di masa lalu, tepatnya tahun 2010 dimana saya membelinya pada harga 2,200 (atau 440 kalau sesudah stocksplit), dan dia kemudian sukses naik. Saham ini rutin direkomendasikan di ebook kuartalan pada periode 2010 – 2012, hingga akhirnya penulis sudah keluar beberapa bulan sebelum ia mencapai harga 7,500-an (1,500 kalau sesudah stocksplit) pada tahun 2013. Namun, pada harga 1,500 tersebut penulis sudah tidak mau masuk lagi bahkan meski KLBF terus menanjak hingga tembus 1,900 pada awal tahun 2015 kemarin. Dan itu karena, saya masih ingat, pada harga 440 di tahun 2010, PBV KLBF masih 4 koma sekian, atau relatif wajar/murah jika mempertimbangkan nama besar perusahaan, likuiditas sahamnya, track record kinerjanya, ROE-nya yang ketika itu diatas 25%, dan juga rata-rata PBV saham consumer yang diatas 5 kali. Penulis pernah membahas KLBF ini di tahun 2010 (ini artikelnya), dan ketika itu kesimpulannya adalah bahwa dia cocok untuk jangka panjang.

Sementara pada tahun 2013, ketika KLBF sudah berada di level 1,500-an, PBV-nya sudah mencapai 6 – 7 kali, padahal ROE-nya justru turun ke level 20%-an. Let say, anda masih menganggap bahwa KLBF masih murah pada harga segitu, dan memang faktanya KLBF masih mampu naik hingga tembus 1,900-an dan PBV-nya tercatat diatas 8 kali, dua tahun kemudian. Namun tetap saja: Dengan valuasi setinggi itu, nyaris mustahil bagi KLBF untuk kembali mencetak gain hingga 3 kali lipat seperti yang pernah terjadi antara tahun 2010 – 2013, tak peduli meski anda menunggu selama bertahun-tahun sekalipun.
Sementara risikonya, kalau nanti KLBF mengalami penurunan laba seperti yang sudah dialami TSPC, maka bukan tidak mungkin sahamnya akan turun hingga valuasinya menjadi sama dengan saham kebanyakan, yakni PBV 2 – 3 kali.
Karena itulah, meski KLBF beberapa bulan terakhir ini terus turun dari 1,900 hingga sekarang tinggal 1,300-an, namun berhubung PBV-nya masih 6.5 kali, maka penulis belum menganggap bahwa dia sudah cukup murah untuk dibeli. Hanya memang, dalam value investing itu yang perlu dilihat pertama kali adalah kinerja perusahaan, kemudian baru valuasi sahamnya. Pada koreksi besar IHSG di tahun 2013, KLBF juga sempat turun dari 1,540 hingga menyentuh 1,180 pada bulan Desember, dan pada harga 1,180 tersebut PBV-nya masih 6 – 7 kali. Tapi kemungkinan karena kinerja KLBF pada tahun 2013 tersebut masih bagus dimana labanya masih tumbuh signifikan dibanding 2012 (lihat lagi tabel diatas), maka ketika pada tahun 2014 IHSG kembali merangkak naik, KLBF juga ikut naik hingga tembus 1,900 pada Mei 2015, atau menghasilkan profit lebih dari 50% dalam waktu satu setengah tahun.
Lalu bagaimana untuk tahun 2015 ini? Well, pada Kuartal III kemarin laba KLBF masih naik tapi tipis sekali, yakni hanya 0.8%, jadi kondisinya untuk sekarang agak berbeda dengan 2013 lalu. Jika pada tahun 2016 nanti IHSG kembali naik seperti tahun 2014 lalu, maka KLBF mungkin akan ikut naik, tapi mungkin tidak akan sampai 50% seperti setahun lalu. Disisi lain kalau kinerjanya pada Kuartal IV nanti ternyata tidak sesuai harapan, misalnya labanya ternyata turun, maka ya sudah, sahamnya bisa saja bernasib seperti TSPC.
Kesimpulannya, meski KLBF mungkin menawarkan peluang profit dalam jangka menengah, tapi risikonya terbilang tinggi terutama terkait valuasinya yang (ternyata) belum cukup murah. Jadi kalau buat penulis sendiri, kecuali kalo nanti dikasih harga yang lebih rendah lagi, maka di pasar masih ada banyak pilihan saham lain yang lebih menarik. Beberapa orang mengatakan bahwa, berhubung KLBF ini belakangan ini mulai invest ke segmen FMCG (fast moving consumer goods) dengan memproduksi minuman, makanan bernutrisi, dan kebutuhan sehari-hari lainnya, maka dia sudah mirip-mirip dengan UNVR, sehingga wajar lah kalau valuasinya agak mahal, dan Grup Kalbe-nya sendiri sudah mulai ekspansi kesana kemari termasuk bikin rumah sakit (Mitra Keluarga/MIKA). However, kalau bagi penulis tetap saja: Selama kinerja KLBF masih belum terlalu istimewa seperti sekarang, maka mau dia ikut bikin sabun mandi atau indomie sekalipun, saya tetap tidak akan menghargai sahamnya terlalu tinggi.
PT. Kalbe Farma, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2015: A
Rating Saham pada 1,355: BBB

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal III 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Sekawan Intipratama: Another Stock Fraud

Rabu kemarin, tanggal 11 November 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) men-suspend (menghentikan sementara) aktivitas perdagangan saham yang dilakukan oleh tiga sekuritas yakni Danareksa, Millenium Danatama, dan Reliance, karena tiga sekuritas tersebut diduga ‘tidak menjalankan prosedur pengendalian internal yang memadai’. BEI melakukan suspensi tersebut setelah menerima laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menyatakan bahwa tiga sekuritas diatas terlibat dengan aksi goreng saham Sekawan Intipratama (SIAP), yang telah banyak merugikan investor ritel di pasar modal.

Sebenarnya bukan kali ini saja BEI melakukan suspensi pada sekuritas, karena gak sampai dua minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 29 Oktober, BEI juga men-suspend Trust Securities. However, karena untuk kali ini terdapat tiga sekuritas sekaligus yang di-suspend, dan dua diantaranya merupakan sekuritas yang lumayan besar (Danareksa dan Millenium Danatama), plus saham yang dipermasalahkan memang sudah makan banyak korban (SIAP), maka suspensi ini menjadi perhatian banyak media, analis, dan investor itu sendiri.
Dan terkait SIAP-nya sendiri, ini merupakan kali kesekian dimana sebuah saham dari perusahaan yang tidak jelas entah kenapa naik gila-gilaan dan juga dengan volume transaksi yang tidak masuk akal (SIAP naik dari 80 di awal tahun 2014 hingga tembus 450 pada awal 2015, atau naik lebih dari lima kali lipat waktu setahun, dan setiap harinya jumlah saham yang ditransaksikan mencapai ratusan juta lembar), namun selanjutnya jatuh berantakan dan, sudah tentu, dengan menyeret banyak korban.
Nah, terdapat setidaknya tiga hal yang penulis perhatikan disini. Pertama, BEI dan OJK finally do something to protect the investor. Baru saja pertengahan September lalu, penulis sempat mengkritik dua otoritas tersebut yang seperti membiarkan terjadinya pelanggaran di pasar saham, sama seperti polisi yang membiarkan Konvoy Harley Davidson melanggar lampu merah (anda bisa baca lagi artikelnya disini). Memang, yang dilakukan BEI baru sebatas men-suspend tiga sekuritas yang diduga terlibat, dan hari inipun suspensi tersebut sudah dicabut lagi, namun setidaknya tindakan suspensi ini sedikit banyak telah merusak reputasi dari Danareksa, Millenium Danatama, dan juga Reliance, dimana investor akan mikir-mikir lagi kalo mau buka rekening di tiga sekuritas tersebut. Dalam hal ini tindakan Direktur BEI, Tito Sulistio, patut diacungi jempol karena, coba anda pikir: Kalau anda yang jadi Direktur BEI, maka apakah akan segampang itu untuk men-suspend tiga sekuritas diatas? Karena sudah pasti anda akan ditentang oleh pihak-pihak yang merasa ‘periuk nasi’ mereka terganggu, apalagi mereka sekuritas besar.
Namun kalau suatu institusi melakukan kesalahan, maka mereka tetap harus dihukum tak peduli sebesar apapun institusi tersebut. Penulis harap apa yang dilakukan BEI ini bisa menjadi sinyal bahwa mereka benar-benar berpihak kepada semua pelaku pasar modal termasuk investor ritel, dan tidak hanya berpihak pada pemain-pemain besar saja.
Yang kedua, kejadian ini tentunya menjadi pengingat bahwa sebagai investor, anda harus hati-hati dalam memilih sekuritas, dan penulis serius soal ini: Anda harus hati-hati.
Karena, secara teori, sekuritas seharusnya mendukung investor/nasabahnya untuk bisa sukses dan meraup keuntungan di pasar modal. Namun pada prakteknya, mayoritas perusahaan sekuritas hanya peduli soal trading fee, dan mereka tidak peduli apakah anda untung atau rugi. Atau lebih buruk lagi: Tidak sedikit oknum-oknum pekerja sekuritas yang dengan sengaja mencoba meraup keuntungan yang berasal kerugian investor. Jika di Amerika sana sudah ada Jordan Belfort, seorang pemilik perusahaan sekuritas yang ditangkap dan dipenjara karena kasus ini (dan mungkin ada banyak lagi pemilik sekuritas yang lain yang juga dipenjara), maka di Indonesia penulis belum pernah mendengar pemilik atau karyawan sekuritas yang sampai dipenjara karena kasus insider trading, padahal sekali lagi, kasus SIAP ini sama sekali bukan yang pertama kali (jadi ini adalah tantangan besar bagi anda, Pak Tito Sulistio dan juga temen-temen lainnya di BEI, namun kita akan sangat apresiasi kalau anda bisa berbuat lebih banyak lagi).
Lalu terkait tips-tips untuk memilih sekuritas, anda bisa membacanya disini.
Dan ketiga, kasus SIAP ini seharusnya bisa jadi pelajaran bagi anda, entah itu yang jadi korban atau tidak, untuk tidak lagi berurusan dengan saham-saham gorengan. Sebenarnya gak sesulit itu untuk bisa melihat kalau SIAP ini emang gak beres. Pada Juni 2014, SIAP dijadikan objek backdoor listing untuk PT Indo Wana Bara (IWB), sebuah perusahaan batubara, dimana SIAP menerbitkan saham baru sebanyak 23.4 milyar lembar pada harga Rp200 per saham (sehingga diperoleh dana Rp4.7 trilyun) untuk mengakuisisi IWB. Problemnya adalah, IWB ini sama sekali belum berproduksi dan lebih buruk lagi, IWB masih belum memiliki alat-alat berat dll yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas pertambangan, dan pemegang saham SIAP juga sama sekali gak punya duit untuk membeli alat-alat berat tersebut. Jadi ketika SIAP melakukan right issue senilai Rp4.7 trilyun, maka SIAP sama sekali tidak menerima setoran modal/dana sebanyak itu, dimana pada laporan keuangan perusahaan hanya terdapat aset berupa goodwill senilai Rp4.7 trilyun tersebut.
Nah, dari sini saja sudah keliatan kalau proses right issue SIAP ini gak beres sejak awal, karena bagaimana mungkin sebuah perusahaan batubara yang masih gak berproduksi dan bahkan belum ada apa-apanya sama sekali, bisa-bisanya dihargai sampai Rp4.7 trilyun??? Selanjutnya bisa ditebak: Owner SIAP, entah karena serakah atau apa, me-repo-kan sahamnya yang sebanyak 23.4 milyar lembar tadi, yang sejatinya gak ada nilainya sama sekali (karena itu cuma saham dari sebuah perusahaan yang belum beroperasi), untuk memperoleh dana ratusan milyar Rupiah, biasanya dari dana pensiun atau investor institusi lainnya, dan biasanya pula dengan iming-iming bahwa ‘sahamnya akan dijaga’. Itu sebabnya saham SIAP kemudian dinaik-naikkan untuk memberikan keuntungan pada pemegang repo tadi, dan alhasil pergerakan SIAP jadi nggak wajar sama sekali, dimana dia bisa dengan gampang naik secara ekstrim, tapi juga gampang jebloknya, dan transaksi sahamnya juga kelewat besar untuk sebuah saham kelas third-liner.
Jadi ketika kemudian SIAP akhirnya kolaps, maka terus terang, penulis tidak kaget sama sekali, karena kalau melihat pergerakan serta volume transaksi sahamnya saja sudah sangat jelas kalau ini cuma saham gorengan (masih ingat kasus TRAM kemarin? Baca lagi disini). Fundamental SIAP juga totally bad, dimana ia perusahaan sampai sekarang masih menderita kerugian. Sementara kalau sekarang terdapat beberapa sekuritas yang disebut-sebut terlibat, maka ini memang cerita baru, tapi paling tidak ini bisa jadi pelajaran bagi para sekuritas itu sendiri untuk gak lagi macam-macam. I mean, cari duit di saham emang gak gampang, apalagi dalam kondisi pasar kaya sekarang, tapi mbok ya caranya jangan gitu juga lah!
Anyway, pasar modal bukan hanya tempat bagi para investor, tapi juga tempat bagi para spekulan dan juga mereka-mereka yang menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan. Jadi suka atau tidak, kedepannya akan ada lagi SIAP-SIAP yang lain. Bagi anda yang telah menjadi korban, penulis terus terang tidak tahu apakah anda bisa memperoleh uang anda kembali atau tidak, but at least kerugian tersebut bisa menjadi pelajaran agar anda lebih hati-hati lagi kedepannya (boleh baca lagi artikel yang ini untuk inspirasi). Just remember: Selama anda mainnya lurus-lurus aja dan tidak coba-coba berspekulasi dengan saham-saham gorengan seperti SIAP ini, then trust me, your portfolio will be just fine.
Minggu depan kita akan bahas soal Kalbe Farma (KLBF), and don’t worry guys, karena saham yang satu ini sih jelas bukan gorengan.

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya

Ebook Analisis Kuartal III 2015

Dear investor, setiap tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal III 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin, tanggal 9 November 2015. Anda bisa memperolehnya disini, dan ebooknya nanti akan langsung dikirim via email.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu (biayanya masih tetap sama seperti tahun 2010 lalu, alias tidak naik sama sekali).
Berikut ini adalah contoh tiga analisis/rekomendasi saham terbaru:
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

‘Investasi Untuk Mencari Rugi’

Tadi malam sebelum tidur, seperti biasa penulis browsing-browsing internet di hape, dan entah gimana ceritanya saya nyasar ke website terkait lowongan pekerjaan dan forum seputar dunia kerja. Yang menarik adalah, ketika penulis masuk ke forum lowongan pekerjaan untuk entry level (fresh graduate atau pengalaman 1 – 2 tahun), yang paling banyak didiskusikan adalah: Berapa sih gaji di perusahaan A? Kalau nanti sudah diangkat sebagai karyawan tetap, take home pay-nya berapa? Dapet tunjangan apa saja?

Disisi lain tidak banyak calon pelamar kerja yang bertanya soal: Apa jobdesk di perusahaan A? Kalau saya diterima kerja disitu, pengalaman kerja seperti apa yang bisa diperoleh? Kalau saya diterima kerja disitu, apa saja kesulitan, tantangan, serta peluang yang bisa dicapai? Kalaupun ada, maka tetap saja yang ditanyakan pertama kali adalah soal gajinya dulu, kemudian baru soal kerjaannya.
Intinya, kalau kita ketemu calon karyawan yang masih fresh grad, maka biasanya mereka lebih antusias untuk berbicara tentang apa yang akan mereka dapatkan, dan bukan apa yang akan mereka kerjakan.
However, untuk lowongan pekerjaan di tingkat lebih tinggi, seperti untuk posisi manajer atau direktur dimana si kandidat tentu saja harus berpengalaman selama minimal 5, 10, atau bahkan 15 tahun di bidang yang sama, maka ceritanya sama sekali berbeda. Kalau anda baca iklan lowongan pekerjaan di koran untuk posisi manajer atau direktur, maka disitu jelas tertulis jobdesk plus kriteria kandidat yang diharapkan, tapi tidak pernah disebut soal gaji.
Dan itu karena, untuk posisi yang membutuhkan tanggung jawab yang sangat besar seperti direktur atau CEO, maka gajinya gak usah ditanya lah, yang jelas jauh lebih besar dibanding gaji karyawan biasa. Beberapa orang yang pernah mencicipi posisi manajer/direktur juga biasanya kondisi keuangannya sudah mapan, sehingga ketika ia melamar untuk posisi direktur di perusahaan lain, maka yang ia cari adalah tantangan yang baru, suasana kerja yang baru, hingga peluang untuk meraih prestasi/pencapaian yang lebih tinggi lagi, jadi sama sekali bukan soal gaji (meski tentu, kalau seorang direktur pindah dari perusahaan kecil ke perusahaan yang lebih besar, maka gajinya otomatis naik). Contoh gampang, ketika Jose Mourinho pada tahun 2010 lalu sukses mencetak sejarah dengan membawa Inter meraih gelar treble, maka di tahun itu pula ia langsung pindah ke Real Madrid. Lalu apa yang memotivasi-nya untuk pindah? Ya untuk memperoleh tantangan baru, mencetak prestasi baru, atau jika memungkinkan, untuk kembali mengukir sejarah! Yakni untuk menjadi manager pertama dalam sejarah sepakbola yang menjuarai Liga Champions di tiga klub berbeda (Mou sudah dua kali menjuarai Liga Champions, masing-masing bersama Porto dan Inter). Sementara kalo cuma soal gaji atau duit, Mr. Jose sudah kaya raya bahkan sejak ia masih me-manage Porto, delapan tahun sebelumnya.
Nah, terus apa hubungan hal ini dengan investasi kita di saham?
Setiap kali penulis ketemu atau menerima pertanyaan dari nvestor pemula/calon investor, biasanya mereka antusias soal bagaimana seorang investor yang sukses bisa punya duit banyak, cuan, bisa trading for living, financial freedom, punya banyak waktu luang untuk keluarga, kaya sambil tidur.. Pokoknya yang enak-enak deh! Tapi gilirannya mereka diajak diskusi soal tugas seorang investor, yakni baca-baca laporan keuangan, baca laporan tahunan atau prospektus yang tebelnya minta ampun, harus belajar/memahami sektor-sektor ekonomi, harus banyak-banyak belajar cara menganalisa, harus belajar mengendalikan emosi dan.. yang paling penting, harus pernah merasakan rugi/cut loss serta mengalami situasi market crash, maka semua antusiasme tersebut hilang begitu saja. Pendek kata, seperti halnya mahasiswa fresh graduate yang ketika melamar pekerjaan lebih tertarik soal berapa gaji yang akan diterima ketimbang jobdesk dari pekerjaan itu sendiri, investor pemula juga lebih tertarik soal berapa besar keuntungan yang bisa ia peroleh, ketimbang apa-apa saja yang harus ia dikerjakan. Padahal, seperti kata Pak Lo Kheng Hong, anda memang bisa kaya sambil tidur dari saham, tapi itu bukan berarti anda tinggal beli saham saja secara acak tanpa analisa serta strategi apapun, kemudian tidur!
However, investor yang berpengalaman ngomongnya beda lagi. Mereka sadar betul bahwa kesuksesan di saham, seperti halnya kesuksesan di bidang lain, tidak bisa dicapai tanpa kerja keras dan juga sedikit pengorbanan, dalam hal ini kerja keras untuk menggali pengetahuan serta pengalaman, dan pengorbanan untuk sesekali menderita kerugian. Tidak ada investor besar dimanapun di belahan dunia ini, yang sukses menjadi kaya raya tanpa pernah sekalipun mengalami kondisi market crash. Tidak ada seorangpun investor besar yang bisa langsung memiliki ‘mental baja’ tanpa pernah mengalami kondisi panik dan bingung sebelumnya.
Jadi setiap kali penulis kumpul dengan partner/investor yang lebih senior (bukan kumpul di Grup WA atau BBM ya, tapi ketemu langsung sambil ngopi-ngopi), kita selalu diskusi soal economic outlook, prospek serta risiko saham tertentu (jadi gak ngomong soal prospek-prospek mulu), peluang serta tantangan pasar kedepannya, perkembangan sektor-sektor usaha tertentu di Indonesia, dan seterusnya. Kita juga banyak tukar pikiran soal strategi investasi apa yang harus diterapkan kedepan.
Lalu bagaimana soal cuan dll? Well, kami sudah cukup paham bahwa selama kami fokus pada what to do, maka kami tidak perlu khawatir soal what we’ll get. Logika sederhana: Kalau anda adalah pelatih sebuah tim sepakbola yang akan bertanding di final, dimana jika tim anda menang maka akan juara, maka anda akan fokus kemana? Apakah fokus untuk melatih pemain, menerapkan strategi, mengamati taktik lawan dan seterusnya.. Atau fokus soal berapa bonus yang akan diterima kalau tim anda nanti memenangkan pertandingan dan jadi juara? Nah, kalau anda hanya fokus soal bonus tadi dan melupakan soal strateginya, maka kira-kira tim anda bakal menang atau kalah???
Dengan demikian, jika anda mau sukses sebagai investor, maka pertama-tama ubah fokus anda dari hasil ke proses dari investasi itu sendiri. I will not lie to you guys: Pasar saham sangat kejam terhadap mereka yang tidak mau bekerja keras dan mengharapkan hasil instant. However, pasar saham juga sangat bersahabat terhadap mereka yang bisa melihat bahwa investasi itu merupakan petualangan tanpa akhir, yang dengan suka cita membaca-baca laporan keuangan setiap tiga bulan sekali, yang menyukai untuk menganalisa/menggali informasi perusahaan hingga sedalam-dalamnya, yang fokus pada strategi kedepan ketimbang setiap baca-baca berita dan rumor gak jelas, dan yang tidak menggerutu kalau menderita kerugian melainkan justru memanfaatkannya sebagai bahan evaluasi! So class, as an investor, what shouldyou do?
Penulis bersama Almarhum Om Bob Sadino di tahun 2008. Salah satu kata mutiara beliau yang jadi favorit penulis adalah, ‘Saya berbisnis untuk mencari rugi’, yang kemudian penulis terjemahkan , ‘Saya berinvestasi untuk mencari rugi, karena dari rugi itu saya bisa melakukan evaluasi untuk menghasilkan strategi investasi yang lebih baik lagi kedepannya.’
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal III 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya

Mengenal ‘Penyertaan Modal Negara’ pada BUMN

Setelah melalui perdebatan alot, DPR akhirnya menyetujui usulan Pemerintah terkait penyertaan modal negara (PMN) terhadap 23 BUMN senilai total Rp34.3 trilyun, dimana dananya diambil dari APBN 2016. Yang mungkin menjadi perhatian investor pasar saham, dari ke-23 BUMN penerima PMN tersebut, empat diantaranya merupakan perusahaan Tbk, yakni Krakatau Steel (KRAS), Jasa Marga (JSMR), Wijaya Karya (WIKA), dan Pembangunan Perumahan (PTPP). Saatnya akumulasi keempat saham tersebut? Well, seperti biasa gak usah buru-buru, melainkan mari kita pelajari dulu.

Dibawah pimpinan Jokowi, yang dilantik sebagai Presiden pada Oktober 2014, pada awal tahun 2015 lalu pemerintah segera membuat terobosan dengan menambahkan pos PMN pada R-APBN tahun 2015. Dikatakan terobosan, karena ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah RI dimana Pemerintah menyuntikkan modal ke BUMN untuk tujuan pembangunan. Biasanya kalau Pemerintah mau bikin jembatan, jalan raya dll, mereka akan membuatnya sendiri melalui departemen dan dinas-dinas terkait, nyaris tanpa melibatkan BUMN kecuali sebagai pihak ketiga (misalnya WIKA sebagai kontraktor dalam proyek pembagunan jalan tol). Tapi sekarang BUMN dilibatkan langsung dalam pembangunan, dan untuk itu mereka memperoleh tambahan modal dari Pemerintah sebagai pemegang saham pengendali. Itu sebabnya kemarin kita melihat bahwa beberapa BUMN seperti Waskita Karya (WSKT), Adhi Karya (ADHI), hingga Aneka Tambang (ANTM), semuanya menggelar right issue dengan Pemerintah sebagai pembeli siaga-nya.
Nah, pada PMN tahap pertama untuk tahun 2015, Pemerintah, dengan persetujuan dari DPR, menyertakan modal senilai total Rp37.3 trilyun untuk 27 BUMN, dan tiga diantaranya adalah perusahaan Tbk yakni WSKT, ADHI, dan ANTM, dimana untuk tiga BUMN ini PMN tersebut disertakan dalam bentuk right issue. Berdasarkan informasi rencana penggunaan dana di prospektus yang diterbitkan, jelas sekali bahwa Pemerintah melalui WSKT, ADHI, dan ANTM, berencana untuk membangun ini dan itu sesuai dengan kompetensi BUMN yang terkait, yakni:
  1. WSKT: Membangun jalan tol di Sumatera dan Jawa, plus jaringan transmisi listrik di Sumatera.
  2. ADHI: Membangun jaringan rel kereta api di seluruh Indonesia beserta stasiun dan properti pendukungnya.
  3. ANTM: Melanjutkan proyek pembangunan Pabrik Feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara. Proyek ini sejatinya sudah dimulai sejak tahun 2011, sebagai bagian dari MP3EI, tapi mandek karena ANTM kekurangan dana. Pabrik feronikel ini ditargetkan mulai beroperasi tahun 2018, dan akan memberikan nilai tambah bagi ANTM karena perusahaan bisa mengolah lebih banyak cadangan nikel mentahnya menjadi feronikel, sebelum kemudian baru dijual.
Sementara untuk PMN tahap dua untuk tahun 2016 mendatang, PT PLN menjadi penerima setoran modal terbesar yakni Rp10 trilyun, dimana dananya akan digunakan untuk membiayai mega proyek pembangkit listrik 35,000 MW, yang memang sudah on progress. Dalam waktu dekat ini kita juga akan melihat KRAS, JSMR, WIKA, dan PTPP menggelar right issue. Pemerintah sendiri berencana untuk terus menyertakanan modal ke BUMN setiap tahun, jadi untuk tahun-tahun berikutnya (2017 dan seterusnya), BUMN yang lain kemungkinan juga akan menyusul untuk menggelar right issue.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana kira-kira dampak PMN ini terhadap saham dari BUMN-BUMN yang terkait, IHSG, dan ekonomi nasional secara keseluruhan? Well, ada beberapa poin yang penulis perhatikan. Pertama, kalau kita ambil contoh right issue WSKT, ADHI, dan ANTM, yang harga right issue-nya semua ditetapkan dibawah harga pasar, maka Pemerintah sepertinya sengaja membuat agar momentum PMN ini tidak dimanfaatkan oleh investor tertentu untuk meraup keuntungan jangka pendek, karena tujuannya murni untuk pembangunan infra melalui tangan BUMN. Jika WSKT, ADHI, dan ANTM mampu menggunakan dana setoran pemerintah untuk menjalankan proyek-proyek infra secara maksimal hingga pada akhirnya meningkatkan kinerja perusahaan, dan otomatis sahamnya naik, maka barulah para pemegang sahamnya akan diuntungkan. Namun sudah tentu, para BUMN ini perlu waktu yang tidak sebentar, minimal 1 – 2 tahun atau bahkan lebih, untuk menginvestasikan tambahan modal yang mereka terima hingga menghasilkan kinerja keuangan yang baik, sehingga yang (mungkin) akan diuntungkan hanyalah investor yang memegang sahamnya untuk jangka panjang.
Kedua, terdapat multiplier effect dari PMN ini. Dengan struktur modal yang lebih kuat, maka para BUMN akan bisa mengajukan pinjaman ke bank atau menerbitkan obligasi untuk menambah modal kerja, sehingga bank akan kebanjiran omzet kredit lagi. Dana PMN plus pinjaman yang diterima para BUMN ini, contohnya oleh ADHI sebagai perusahaan kontraktor, akan digunakan untuk membayar sub-kontraktor, membeli bahan bangunan dari supplier, merekrut pegawai baru, dan seterusnya. Para pegawai ini menerima gaji, dan mereka akan membeli beras dari pedagang, dan pedagang akan membeli hasil panen dari pertani. Pendek kata uang yang disalurkan Pemerintah ke BUMN pada akhirnya akan menyebar ke seluruh masyarakat, dan akan kembali menggerakkan roda perekonomian yang sempat mandek setahunan terakhir ini karena dicabutnya subsidi BBM dan lain-lain (kita pernah membahas soal itu disini). Plus, karena Pemerintah membangun infra dari Aceh hingga Papua, maka perputaran roda perekonomian tersebut akan tersebar secara merata di seluruh penjuru negeri, dan tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa seperti biasanya. Jika semuanya lancar, maka pertumbuhan ekonomi yang melambat sepanjang tahun 2015 ini akan segera melaju kencang kembali, karena dana sekian trilyun yang disalurkan melalui BUMN tersebut hanyalah sebagian kecil dari dana pembangunan infrastruktur secara keseluruhan. Dan seperti yang bisa kita lihat dilapangan, salah satunya di artikel ini, pembangunan infra tersebut memang sudah jalan kok!
Ketiga, dan yang ini terkait IHSG, dengan meningkatnya nilai modal/aset bersih perusahan-perusahaan BUMN, maka market cap perusahaan akan turut meningkat, dan itu akan menarik minat investor dari luar (investor asing) untuk kembali menempatkan investasinya disini. Karena untuk fund yang benar-benar besar, biasanya mereka hanya mau invest di saham big caps, katakanlah diatas US$ 1 milyar. Dan pasca right issue, market cap WSKT sekarang sudah diatas US$ 1 milyar, sehingga sahamnya praktis masuk watch-list para fund manager global. Jika peningkatan market cap ini terjadi pada banyak BUMN sekaligus, maka mungkin kita akan melihat para investor asing, yang belakangan ini banyak keluar dari pasar saham Indonesia, akan berbondong-bondong masuk kembali.
Intinya penulis memandang PMN ini sebagai sesuatu yang baik, yang bisa memberikan dampak positif bagi para BUMN terkait, bagi perekonomian nasional dari multiplier effect yang dihasilkan, dan juga bagi IHSG. Meski memang terdapat risiko bahwa BUMN yang disuntik modal ternyata tidak mampu memanfaatkan setoran dana dengan baik sehingga kinerjanya malah jadi jelek (dan sahamnya jatuh), namun multiplier effect tadi tetap akan berdampak positif terhadap perekonomian karena mengalirnya uang dalam jumlah besar dari Pemerintah ke masyarakat, dan yang jelas nilai aset bersih/market cap para BUMN ini tetap akan naik. Sementara kalau melihat bahwa Pemerintah secara sengaja mensinergikan BUMN satu sama lain, maka seharusnya para BUMN ini bisa menghasilkan kinerja sesuai harapan. Contohnya, melalui PMN tahun 2015 dan 2016, Pemerintah sudah memutuskan untuk memberikan tambahan modal ke KRAS, PT Industri Kereta Api (INKA, tidak listing), ADHI, dan PT Kereta Api Indonesia, dimana KRAS memproduksi baja, baja itu akan dibeli oleh INKA untuk membuat gerbong dan rel, rel itu akan dibeli oleh ADHI untuk membangun jaringan rel kereta api, dan PT Kereta Api Indonesia akan mengoperasikan jaringan rel baru tersebut. Pendek kata, karena semua BUMN memperoleh ‘jatah pekerjaan’ sesuai kompetensinya masing-masing, maka semua BUMN akan memperoleh pembeli untuk produk/jasa yang mereka hasilkan. Dan kalau sudah demikian, maka apa lagi alasan bagi para BUMN ini untuk tidak mencatatkan kinerja yang memuaskan?


Logo PT Krakatau Steel, Tbk (KRAS). Setelah melakukan revaluasi aset hingga nilai ekuitasnya meningkat sekitar Rp10 trilyun, dalam waktu dekat perusahaan juga akan right issue dengan nilai minimal Rp2.5 trilyun

Namun, sudah tentu, seperti halnya kita kemarin harus ‘puasa’ dulu setelah ekonomi babak belur gara-gara Pemerintah mencabut subsidi ini dan itu (karena dananya dipindahkan ke pos-pos yang lebih produktif, salah satunya PMN ini), maka penyaluran PMN ini juga memerlukan waktu yang tidak sebentar agar dampak positif yang dihasilkan bisa benar-benar dirasakan. Disisi lain, karena Pemerintah juga tampaknya tidak memiliki hambatan berarti dalam merealisasikan PMN ini dan juga tindakan lainnya terkait pembangunan infra (soalnya di DPR juga tinggal sisa Fadli Zon dan Fahri Hamzah doang, yang lainnya udah jinak semua), maka penulis percaya bahwa dalam jangka panjang, Indonesia will eventually be prosperous. So guys, will you join the train? :)
Pengumuman: Buletin monthly investment plan & stock-pick saham edisi November sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi langsung dengan penulis untuk [...]

Revaluasi Aset, dan Pengaruhnya pada Fundamental Perusahaan

Ketika Pemerintah kemarin meluncurkan Paket Kebijakan Jilid V, salah satu poin kebijakan tersebut adalah insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan revaluasi aset, dimana jika sebelumnya perusahaan dikenakan pajak PPh 10% untuk kenaikan nilai aset karena revaluasi (selisih antara nilai aset sebelum dan sesudah revaluasi dianggap sebagai incomeperusahaan), maka sekarang pajak tersebut dipangkas menjadi hanya 3 – 6% saja. Kebijakan ini diharapkan akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk menghitung kembali nilai aset-asetnya seperti tanah, bangunan dll (revaluasi), dimana nilai aset-aset tersebut biasanya akan naik setelah revaluasi, hingga pada akhirnya menaikkan nilai aset bersih/ekuitas perusahaan itu sendiri secara keseluruhan.

Dan kalau nilai aset bersih sebuah perusahaan naik, maka otomatis valuasi sahamnya dari sisi PBV akan turun alias menjadi lebih murah, sehingga sahamnya secara fundamental punya alasan untuk naik. Kenaikan nilai aset bersih juga menyebabkan rasio debt to equity perusahaan akan turun, sehingga perusahaan bisa mengajukan pinjaman yang lebih besar ke bank untuk keperluan ekspansi, dan bagi bank itu sendiri itu berarti penyaluran kredit-nya akan tumbuh, demikian pula dengan pendapatan dan laba bersihnya. Semua senang, semua menang!
Tapi, itu teori optimisnya, dan sejatinya teori tersebut diyakini oleh banyak orang hanya karena IHSG juga dalam kondisi yang sangat optimis setelah rally lebih dari 10% sepanjang Oktober ini. Maksud penulis, andaikata IHSG pada saat ini masih nyungsep seperti penghujung September lalu, maka kebijakan pemerintah soal revaluasi aset ini juga tidak akan terlalu diperhatikan investor (jadi ada faktor psikologis disini). Karena kalau anda perhatikan lagi, insentif yang diberikan sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena hanya berupa pemotongan pajak PPh dari 10% hingga maksimal menjadi 3% (diskon 7%), itupun dengan catatan perusahaan sudah mengajukan revaluasi aset sebelum tanggal 31 Desember 2015. Sementara jika revaluasi aset tersebut diajukan sebelum tanggal 31 Desember 2016, maka PPh-nya jadi 6%, atau dengan kata lain diskonnya hanya 4%. Jika saya adalah pemilik perusahaan Tbk, maka terus terang insentif ini tidak terlalu menarik karena disisi lain proses revaluasi itu sendiri juga tidak murah (untuk membayar jasa penilai, dll). Seandainya PPh itu dihapus sama sekali, dan ada tambahan insentif berupa diskon tertentu untuk proses revaluasi-nya, maka itu baru menarik. Tapi kalau insentifnya cuma gitu doang, maka itu seperti anda dapet voucher Rp50ribu buat belanja di Carrefour tapi voucher itu hanya berlaku jika anda belanja minimal Rp1 juta, anda harus belanja antara pukul 21.00 sampai maksimal pukul 24.00 tengah malam, dan anda harus belanja malam ini juga! Males banget kan?
Tapi ngomong-ngomong, apa sih yang dimaksud dengan revaluasi aset?
Secara akuntansi, ketika perusahaan membeli/mengakuisisi sebuah aset, misalnya sebidang tanah, maka nilai tanah tersebut di laporan keuangan akan dicatat sesuai harga pembeliannya. Jadi kalau Ciputra Development (CTRA) beli tanah seluas 100 hektar di Kota Surabaya seharga Rp100 milyar pada tahun 2005, dan sampai sekarang tanah itu belum diapa-apakan, maka ya sudah, di laporan keuangan perusahaan nilai tanah tersebut tetap akan ditulis Rp100 milyar (kurang lebih), meski nilai jual tanah tersebut pada tahun 2015 ini kemungkinan sudah melonjak beberapa kali lipat. Nah, jika manajemen CTRA melakukan revaluasi aset, maka nilai wajar atau nilai pasar tanah tersebut akan dihitung kembali hingga diperoleh kesimpulan bahwa nilainya naik menjadi katakanlah Rp300 milyar, dan nilai aset yang baru pasca revaluasi ini kemudian dimasukkan ke laporan keuangan, sehingga dengan sendirinya ekuitas CTRA akan meningkat Rp200 milyar (belum dipotong PPh, biaya penilai, dll).
Pertanyaannya, kalau memang revaluasi bisa segampang itu menaikkan nilai aset bersih/ekuitas perusahaan, lalu ketimbang capek-capek beroperasi dan ngumpulin laba bersih agar nilai ekuitasnya bertumbuh, kenapa perusahaan tidak merevaluasi asetnya saja setiap tahun? Well, itu karena ada banyak hal. Pertama, proses revaluasi itu ribet (syarat dan ketentuannya banyak) dan lama, sehingga kecuali benar-benar diperlukan maka manajemen tidak akan melakukannya.
Kedua, umumnya perusahaan hanya akan merevaluasi aset-asetnya jika, A. Perusahaan akan dimerger atau diakuisisi oleh perusahaan lain, B. Perusahaan terlilit utang hingga harus melepas salah satu asetnya, dan untuk tujuan negosiasi dengan calon pembeli, maka aset tersebut sebelum dijual dihitung dulu nilai wajarnya pada saat ini berapa, dan C. Perusahaan akan menjaminkan asetnya untuk memperoleh pinjaman dari bank.
Singkatnya, jika pemilik perusahaan tidak pernah berniat untuk menjual atau me-merger perusahaannya, entah sebagian atau seluruhnya dengan perusahaan lain, tidak sedang bermasalah dengan utang, dan juga tidak sedang mencoba mengajukan pinjaman ke bank, maka tidak ada alasan untuk melakukan revaluasi. Logikanya, jika perusahaan merevaluasi salah satu asetnya, katakanlah sebidang tanah hingga nilainya naik dari Rp100 milyar menjadi Rp200 milyar, namun selama tanah tersebut tidak benar-benar dijual pada harga Rp200 milyar tadi, maka perusahaan juga tidak benar-benar memperoleh keuntungan/kenaikan nilai aset yang riil, tapi disisi lain perusahaan tetap harus keluar duit untuk bayar pajak dll. Jadi dalam hal ini perusahaan justru akan rugi.
Dan ketiga, terdapat risiko adanya kesalahan pada proses revaluasi itu sendiri, dimana jika nilai aset sudah terlanjur dicatat naik tapi kedepannya ternyata ditemukan kesalahan dan nilai aset harus diturunkan lagi, maka reputasi perusahaan akan dipertaruhkan.
Tapi, okelah, katakanlah sebuah perusahaan melakukan revaluasi aset sehingga nilai asetnya naik, maka praktis valuasi sahamnya jadi lebih murah, dan seharusnya dia akan naik dong? Well, belum tentu. Ketika nilai ekuitas perusahaan naik pasca revaluasi sementara nilai labanya tetap, maka otomatis ROE-nya akan turun, dan ini akan tampak buruk di mata investor. At the end, yang penting bagi investor adalah jika perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang besar dan bertumbuh. Adalah aneh jika nilai aset perusahaan tiba-tiba saja melonjak naik karena revaluasi padahal laba perusahaan tersebut biasa-biasa saja. Contohnya paling gampang Indospring (INDS), yang melakukan revaluasi aset di tahun 2012 dan alhasil nilai ekuitasnya melompat tajam, tapi sahamnya malah nyungsep karena kinerja laba ruginya sangat buruk, hingga orang tidak peduli lagi meski dari sisi PBV, INDS sudah sangat murah.

Logo PT. Indospring, Tbk. Pada harga 400-an, PBV-nya cuma 0.1 kali lho

Kesimpulannya, meski mungkin ini berlawanan dengan pendapat mayoritas investor yang menyambut kebijakan pemerintah terkait revaluasi aset ini dengan suka cita dan karenanya optimis bahwa IHSG akan segera tembus 5,000 lagi dalam waktu dekat, namun penulis tidak menganggap bahwa kebijakan pemerintah yang satu ini bakal berpengaruh banyak terhadap stock market secara keseluruhan, dan akan segera dilupakan orang jika besok-besok IHSG turun lagi. IHSG kedepannya bisa naik atau turun ke posisi berapa saja, tapi untuk bisa naik tinggi dalam waktu dekat maka diperlukan sentimen/faktor fundamental yang lebih riil dibanding sekedar cerita soal revaluasi aset ini.
Actually, bukan kali ini saja kebijakan/tindakan Pemerintah ditanggai secara berlebihan oleh investor. Ketika kemarin-kemarin Pemerintah merilis kebijakan tentang penurunan harga semen, harga gas, penurunan bunga KPR bersubsidi dan seterusnya, maka saham-saham dari perusahaan yang terkait dengan cepat turun, padahal kebijakan tersebut belum tentu berdampak negatif. Pun ketika beredar isu bahwa Pemerintah melalui Aneka Tambang (ANTM) bakal mengakuisisi saham divestasi Freeport, saham ANTM segera terbang meski kemudian jeblos lagi ke bawah. But well, dalam hal ini investor yang jeli mungkin akan memperoleh keuntungan ketika ia membeli saham yang jatuh karena kebijakan pemerintah yang ditengarai berdampak negatif (penulis sendiri lumayan sering melakukan ini, misalnya pada saham Bank BTN), atau sebaliknya, menjual saham yang ia pegang pada harga tinggi karena adanya kebijakan yang ditengarai berdampak positif. Dan untuk bisa melakukan itu maka caranya simpel saja kok: Jangan terburu-buru, pelajari dulu setiap kebijakan pemerintah secara detail dan hati-hati, sebelum kemudian baru ambil kesimpulan/keputusan. Terdengar ribet? Ah, nggak juga kok [...]

Ebook Analisis Kuartal III 2015

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal III 2015. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten untuk periode Kuartal III 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.
Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin, tanggal 9 November 2015. Anda bisa memperolehnya dengan cara disini, dan ebooknya nanti akan langsung dikirim via email.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).
Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu (biayanya masih tetap sama seperti tahun 2010 lalu, alias tidak naik sama sekali).
Berikut ini adalah contoh tiga analisis/rekomendasi saham terbaru:
  1. Bank BNI (BBNI)
  2. Surya Semesta Internusa (SSIA)
  3. Nippon Indosari Corpindo (ROTI), dan seterusnya
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

Bank BNI

Hingga Kuartal III 2015, Bank BNI (BNI) membukukan laba Rp6.0 trilyun, turun 21.2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan ROE-nya tercatat hanya 16.1%, juga turun dibanding periode sebelumnya 22.7%. Meski sekilas tampak buruk, namun ketika laporan keuangan perusahaan keluar pada tanggal 16 Oktober lalu, saham BBNI tetap bertahan di posisinya yakni 5,100, dan sekarang malah sudah di 5,250. Dan meski BBNI sempat digebuk sampai terkapar dibawah 4,000 pada event panic selling round two, 28 September lalu, namun ia dengan cepat naik lagi hingga tembus 5,000 hanya dalam tempo dua minggu kemudian. Jadi sebenarnya BBNI ini bagus apa jelek?

Dibanding bank-bank besar lainnya seperti Bank BRI (BBRI), Bank BCA (BBCA), hingga Bank Mandiri (BMRI), maka fundamental BBNI memang bisa disebut standar, meski tidak bisa dikatakan jelek juga, tapi disisi lain valuasinya juga murah. Dengan PBV hanya 1.6 kali pada harga 5,250, maka BBNI bisa disebut sebagai salah satu saham bluechip paling murah di BEI, karena bluechip-bluechip lain biasanya dihargai pada PBV minimal 2 koma sekian kali.
However, yang mungkin jadi concern investor ketika melihat BBNI ini adalah ketika pada Kuartal II lalu perusahaan hanya membukukan laba Rp2.4 trilyun, anjlok hingga 50.8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, padahal pendapatan BBNI sejatinya masih naik 13.8%. Laba BBNI bisa jatuh seperti itu karena adanya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp6.0 trilyun, naik tajam dari sebelumnya Rp2.2 trilyun. Seandainya CKPN ini masih berada di level yang wajar, katakanlah Rp2 atau 3 trilyun, maka laba BBNI seharusnya tercatat Rp5.5 – 6 trilyun, atau masih naik signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Pertanyaannya, apa sih yang dimaksud dengan CKPN?
CKPN, atau Bahasa Inggris-nya impairment loss, adalah catatan kerugian yang harus dilaporkan oleh sebuah perusahaan jika terdapat bukti kuat bahwa nilai aset perusahaan tersebut di masa yang akan datang mungkin akan turun dibanding nilainya pada saat ini (kalau pake bahasa akuntansi maka definisi CKPN ini lumayan bikin pusing terutama bagi investor awam, namun defisini diatas menurut penulis sudah cukup mendekati). Pada kasus Bank BNI, jika ada debiturnya yang berisiko untuk gagal membayar utangnya (kredit macet), maka nilai aset BBNI di masa yang akan datang mungkin akan turun jika kredit tersebut ternyata benar-benar macet. Selisih antara proyeksi nilai aset BBNI di masa depan dengan nilai aset BBNI pada saat ini, itulah yang dilaporkan di laporan keuangan sebagai CKPN.
Dan kalau kita lihat angka non performing loan (NPL) gross BBNI yang mencapai 3.0% di Kuartal II 2015, atau sangat tinggi untuk ukuran bank sebesar dan semapan BBNI, maka wajar jika manajemen kemudian melaporkan CKPN yang juga besar. Menurut manajemen, NPL BBNI bisa setinggi itu karena lesunya perekonomian nasional, dimana ada beberapa debitur yang kesulitan dalam mencicil utangnya ke Bank BNI. Namun jika kedepannya kondisi ekonomi membaik hingga angka NPL ini bisa ditekan, maka BBNI akan memiliki proyeksi nilai aset/arus kas yang lebih baik di masa depan, dan angka CKPN tadi dengan sendirinya bisa diturunkan.
Nah, jadi berbeda dengan kerugian atau beban-beban yang memang sudah direalisasikan/dibayarkan, CKPN ini hanyalah sebuah proyeksi, atau dengan kata lain BBNI tidak benar-benar keluar duit sebanyak itu, dan angka CKPN ini bisa turun dengan sendirinya jika manajemen BBNI nantinya mampu untuk membenahi penyaluran kreditnya.
Untungnya, hingga Kuartal III barusan, CKPN BBNI tercatat Rp6.4 trilyun, atau masih naik sedikit dibanding Kuartal II namun tidak lagi sampai melompat, sementara NPL gross-nya mulai turun kembali menjadi 2.8%. Dan hasilnya, laba BBNI tercatat Rp6.0 trilyun, yang meski masih turun secara year on year, namun jauh lebih baik dibanding Kuartal II lalu. Dengan asumsi bahwa BBNI baru saja mengalami periode terburuknya pada Kuartal II lalu, maka pada akhir tahun nanti BBNI masih berpeluang untuk setidaknya mencatatkan laba yang sama besarnya dibanding tahun 2014 lalu.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Seperti yang sudah disebut diatas, valuasi BBNI terbilang rendah untuk ukuran saham big caps, tapi disisi lain kualitas fundamentalnya juga biasa-biasa saja jika dibanding BCA, Mandiri, apalagi BRI. However, BBNI juga bukan bank ecek-ecek yang gak jelas, dan dia merupakan salah satu bank tertua di Indonesia dengan track record kinerja yang konsisten di masa lalu, jadi dia tidak mungkin juga dihargai terlalu rendah.
Nah, ketika IHSG dilanda dua kali panic seling pada akhir Agustus dan akhir September lalu, BBNI sempat turun hingga PBV-nya as low as 1.2 kali pada harga 4,000 – 4,250, dan menurut penulis itulah harga terendah yang mungkin bisa anda peroleh (catat: PBV 1.2 kali itu artinya anda membayar Rp12 juta untuk memperoleh bagian aset BBNI senilai Rp10 juta, padahal dengan mempertimbangkan fundamental serta reputasi BBNI, aset Rp10 juta tersebut bisa meningkat minimal dua kali lipat setelah beberapa tahun). Actually, BBNI mungkin tidak akan pernah turun sampai serendah itu kalau bukan karena masalah CKPN tadi, jadi sejatinya ini merupakan opportunity, karena dengan mempertimbangkan nama besarnya dan lain-lain maka penulis menganggap bahwa kinerja BBNI kedepannya akan bagus kembali. Dan karena itulah sahamnya sangat boleh dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang (di ebook kuartalan, BBNI ini sudah jadi favorit penulis sejak 2013 lalu).
Tapi masalahnya BBNI sekarang sudah naik ke 5,250, apakah harga segitu masih murah? Well, kalau tujuannya untuk invest jangka panjang, maka ya, dia masih lumayan murah karena PBV-nya masih 1.6 kali. However, sebagai saham blue chip, pergerakan BBNI sangat mudah dipengaruhi IHSG, dan masalahnya IHSG dalam beberapa bulan terakhir ini masih belum benar-benar stabil (gampang naik, tapi gampang juga turunnya).
Jadi jika anda tertarik dengan BBNI, maka berikut strateginya: 1. Jadikan BBNI ini sebagai pegangan jangka panjang, 2. Bagi dana anda menjadi dua atau tiga bagian, dimana bagian pertama bisa langsung dipakai buat beli BBNI pada harganya saat ini, dan sisanya buat jaga-jaga kalau harus average down. Berdasarkan pengalaman di tahun 2008 dan 2013 (tahun dimana IHSG turun, sama seperti tahun 2015 ini), IHSG mengalami puncak koreksinya pada Agustus – September (atau sampai Oktober pada tahun 2008), kemudian naik sejenak, dan turun lagi pada November – Desember. Jika pada penghujung tahun 2015 ini IHSG kembali mengalami pola yang sama, maka IHSG masih mungkin untuk turun sekali lagi sebelum tutup tahun, meski tidak akan sampai menimbulkan panic selling lagi (gak akan sedalam Agustus atau September lalu, apalagi setelah penulis cek, kinerja para emiten boleh dikatakan ada perbaikan/cukup bagus pada Kuartal III ini). Dan jika IHSG beneran turun, maka BBNI biasanya akan ikut turun, tapi seharusnya gak akan sampai 4,000 – 4,250 seperti September kemarin, melainkan mungkin mentoknya di kisaran 4,500-an. Benar atau tidak, kita lihat nanti.
PT. Bank BNI, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2015: A
Rating Saham pada 5,250: BBB

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal III 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Bumi Resources: Analisa Restrukturisasi Utang

Pada akhir September kemarin, Bumi Resources (BUMI), perusahaan batubara terbesar sekaligus paling keberatan utang di Indonesia, merilis informasi terbaru terkait upaya manajemen dalam me-restrukturisasi outstanding debt-nya (utang-utang yang mengandung bunga), yang mencapai hampir US$ 4 milyar per 31 Agustus 2015. Sebenarnya sejak harga batubara mulai turun pada tahun 2012 lalu, BUMI sudah kesulitan dalam membayar cicilan utangnya, hingga pada Juli 2013 lalu BUMI terpaksa melepas sebagian sahamnya di PT Kaltim Prima Coal (KPC), untuk membayar sebagian utangnya ke China Investment Corporation (CIC). Namun setelah dua tahun harga batubara ternyata masih saja turun, dan alhasil sampai sekarang manajemen BUMI masih harus terus berurusan dengan para kreditor.

Nah, meski disatu sisi kita bisa katakan bahwa BUMI ‘kena batunya’ akibat dari keserakahan manajemen di masa lalu dalam mengambil leverage gila-gilaan(rasain lu!), tapi disisi lain terus terang penulis lumayan kagum sekaligus heran juga. Karena ketika ada banyak perusahan-perusahaan lain yang jatuh dan hancur karena utang, BUMI entah bagaimana caranya masih baik-baik saja. BUMI sampai sekarang belum pernah default (gagal bayar utang) atau dituntut pailit oleh para kreditornya, dan anak-anak usahanya juga masih beroperasi dengan normal di Kalimantan sana. Ketika beberapa bulan lalu Berau Coal Energy (BRAU) di-cap default, penulis yakin kalau tim manajemennya juga sudah berupaya sekuat tenaga agar cap default tersebut tidak sampai diterima, tapi toh mereka tetap saja gagal, padahal nilai utang yang gagal dibayar ‘cuma’ US$ 500 juta.
Sementara BUMI? Total utangnya mencapai US$ 4 milyar, alias jauh lebih besar, but still, sekedar ancaman default pun sampai sekarang belum pernah terdengar.
Dan melalui proposal terbarunya, manajemen BUMI mengusulkan bahwa utang US$ 4 milyar tersebut akan direstrukturisasi menjadi sebagai berikut:
  1. US$ 1.2 milyar diperpanjang hingga lima tahun kedepan, dan dikonversi menjadi senior secured facility. Intinya manajemen BUMI minta penundaan waktu pelunasan hingga lima tahun kedepan, dengan iming-iming tambahan jaminan aset atas utang tersebut. Namun tingkat bunganya tetap, alias tidak naik.
  2. US$ 1.5 milyar dikonversi menjadi 32.5% saham BUMI. Jika poin kedua ini diterima oleh kreditor, maka artinya mereka (kreditor) setuju untuk menganggap bahwa nilai aset bersih/ekuitas BUMI adalah US$ 4.6 milyar.
  3. US$ 630 juta dikonversi menjadi sekian persen saham pada beberapa anak usaha milik BUMI.
  4. US$ 150 juta dikonversi menjadi saham BUMI pada harga Rp250 per saham, berdasarkan assessment bahwa nilai ekuitas BUMI adalah US$ 4.6 milyar. Ini berarti bahwa utang US$ 150 juta ini memperoleh perlakuan yang lebih baik dibanding utang US$ 1.5 milyar diatas (poin nomor 2), yang juga ditawari untuk dikonversi dengan saham BUMI tapi pada harga yang jauh lebih tinggi (akan dijelaskan dibawah).
  5. US$ 141 juta, dibayar lunas menggunakan dana hasil penjualan salah satu anak usaha, PT Fajar Bumi Sakti (FBS).
  6. US$ 410 juta diperpanjang hingga lima tahun kedepan, dan bisa dikonversi menjadi saham BUMI setelah lima tahun tersebut.
Nah, yang menarik adalah poin nomor 2, dimana manajemen BUMI mencoba menjual saham BUMI kepada beberapa kreditornya pada harga yang mencerminkan market cap US$ 4.6 milyar, atau Rp60.7 trilyun berdasarkan kurs Rp13,200 per US$. Berhubung jumlah saham beredar BUMI adalah 36.6 milyar lembar, maka market cap tersebut setara dengan.. Rp1,660 per saham.

Proposal selengkapnya yang diajukan manajemen BUMI, klik gambar untuk memperbesar

Pertanyaannya tentu, kreditor sinting mana yang bersedia utangnya ditukar dengan saham BUMI pada harga setinggi itu, padahal jelas-jelas harga saham BUMI di market cuma gocap??? (kemarin sempat naik sih, tapi masih belum jauh-jauh dari gocap). Selain itu, berdasarkan laporan keuangan BUMI per Semester I 2015, bukankah sudah jelas-jelas ditunjukkan bahwa ekuitas BUMI adalah minus 1.4 milyar? Jadi bagaimana mungkin tiba-tiba saja manajemen BUMI menganggap bahwa ekuitas perusahaan adalah US$ 4.6 milyar???
But maybe, just maybe, nilai aset bersih BUMI memang lebih tinggi dari apa yang tercantum di laporan keuangannya. Dan berikut penjelasannya:
Hidden Value?
Sejak manajemen BUMI mulai merestrukturisasi utang-utangnya pada Juli 2013 lalu, salah satu tindakan restrukturisasi tersebut adalah dengan melepas 19% saham di KPC ke CIC pada harga US$ 950 juta. Hal yang perlu diingat disini adalah, ketika BUMI melepas sebagian kepemilikannya di KPC ke CIC, posisi BUMI sedang berhutang US$ 1.9 milyar ke CIC dan utang itu nyaris saja gagal dibayar, atau dengan kata lain, posisi BUMI dalam transaksi jual beli saham KPC tersebut bisa dikatakan terjepit.
Namun hebatnya, manajemen sukses meyakinkan CIC bahwa BUMI hanya perlu melepas 19% sahamnya saja di KPC. Dan kalau CIC setuju untuk mengkonversi piutangnya senilai US$ 950 dengan 19% saham KPC, itu berarti manajemen CIC menganggap bahwa nilai saham KPC yang mereka terima adalah lebih besar atau minimal setara dengan US$ 950 juta plus bunganya sebesar 19% per tahun! (19% adalah bunga yang dibebankan CIC ketika mereka memberikan pinjaman ke BUMI). CIC adalah perusahaan investasi yang amat sangat besar, jadi mereka tentunya tidak asal-asalan ketika setuju untuk mengkonversi separuh piutangnya dengan saham KPC, melainkan mereka sudah melakukan perhitungan yang sangat hati-hati. KPC sendiri, sebagaimana yang kita tahu, adalah salah satu perusahaan batubara terbesar di dunia, dan merupakan aset utama milik Bumi Resources.
Dengan demikian nilai KPC, atau setidaknya dalam pandangan CIC, adalah US$ 950 juta / 19% = US$ 5 milyar! Dan itu belum termasuk tambahan nilai dari bunga yang 19% per tahun tadi. Jadi kalau Om Nirwan gak mau ambil pusing dalam mengurus utang-utang BUMI dan langsung saja melepas KPC, maka ia akan memperoleh dana tunai US$ 5 milyar atau lebih, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membayar utang-utang BUMI sebesar US$ 4 milyar tadi, dan bahkan setelah itu BUMI masih memegang Arutmin, Newmont, dan lainnya (untuk melihat aset-aset apa saja yang dipegang BUMI, baca disini). Namun sudah tentu, seorang Nirwan Bakrie tidak akan menyerah segampang itu.
Tapi kalau nilai aset-aset BUMI memang sebesar itu, lalu kenapa di laporan terakhir perusahaan hanya tercantum nilai aset total US$ 4.4 milyar? Well, itu karena BUMI, seperti juga mayoritas perusahaan tambang lain, mencatat nilai asetnya berdasarkan harga perolehan dan bukan nilainya pada saat ini. Karena BUMI mengakuisisi KPC di tahun 2003 pada harga US$ 500 juta, maka ya sudah, sampe sekarang nilai KPC di laporan keuangan BUMI dicatat dikisaran US$ 500 juta itu saja (berubah sedikit-sedikit karena adanya bagian laba/rugi, depresiasi, perubahan persentase saham yang dimiliki, dst), dan bukan US$ 5 milyar seperti yang mungkin memang nilai sesungguhnya pada saat ini.
Intinya sih, nilai riil dari aset-aset BUMI mungkin jauh lebih besar dari apa yang ditunjukkan di laporan keuangan perusahaan, dan mungkin ini pula yang dijadikan alasan oleh manajemen BUMI untuk menganggap bahwa nilai aset bersih BUMI pada saat ini adalah sejatinya US$ 4.6 milyar (setara dengan Rp1,660 per saham), dan bukannya minus US$ 1.4 milyar.
Time to buy?
Jika proposal restrukturisasi ini disetujui oleh semua pihak, maka berikut adalah beberapa hal yang akan terjadi:
  1. Utang BUMI berkurang US$ 2.4 milyar.
  2. Karena utangnya berkurang, maka di laporan keuangannya, nilai ekuitas BUMI yang terakhir tercatat minus US$ 1.4 milyar, kemungkinan akan menjadi positif kembali.
  3. Namun nilai aset BUMI secara keseluruhan juga akan berkurang, karena ada sebagian saham di anak-anak usahanya yang tidak lagi dimiliki perusahaan.
  4. Sisa utang yang sebesar US$ 1.6 milyar, jatuh temponya diperpanjang hingga lima tahun kedepan. Dengan asumsi bahwa harga batubara seharusnya pulih dalam jangka waktu tersebut, maka utang segitu harusnya gak jadi masalah, apalagi buat grup seperti Bakrie.
  5. Beban bunga utang perusahaan akan berkurang drastis, sehingga margin laba bersih BUMI kedepannya akan meningkat tajam.
  6. BUMI akan dimiliki oleh beberapa pemegang saham baru yang memegang total 32.3% sahamnya. Para pemegang saham baru ini memperoleh saham BUMI pada harga Rp1,660 per saham.
  7. Terdapat satu pemegang saham baru yang memperoleh BUMI pada harga yang lebih ‘murah’, yakni hanya Rp250 per saham.
  8. Masalah selesai! Selanjutnya, BUMI tinggal menunggu harga batubara pulih kembali.
Nah, sampai poin ini, anda mengerti kan, kalau penulis belakangan ini mulai melihat BUMI ini dengan cara yang berbeda? BUMI, pada harga 8,000, 5,000, 1,000, 500, atau bahkan 300 sekalipun, memang tidak menarik. Tapi bagaimana kalau gocap? Apalagi jika kita mempertimbangkan faktor hidden value-nya diatas. Seperti yang pernah dikatakan Opa Warren di tahun 60-an, ‘Kami suka membeli saham pada harga yang sedemikian rendahnya, sehingga bila kami menjualnya pada harga yang biasa-biasa saja sekalipun (gak perlu terlalu tinggi), kami masih memperoleh untung.’ Make it simple: Kalau BUMI sukses naik ke 250 saja (gak perlu ke 1,660 dulu deh), maka profitnya sudah lima kali lipat bukan? Risiko tentunya selalu ada, tapi kali ini peluang profitnya jauh lebih besar dibanding risiko tersebut dan, bear in mind, pada tahun 2008 lalu Gita Wirjawan juga membeli BUMI pada harga sekitar 700 hingga akhirnya dia profit gila-gilaan setelah menjualnya pada harga 2,500. Dan apakah menurut anda Mr. Gita ini, yang pernah menjabat sebagai Presdir JP Morgan Indonesia, adalah cuma trader culun yang gak ngerti apa-apa dan cuma ikut-ikutan ketika dulu ia membeli BUMI? I don’t think so!
However, kalaupun anda juga mulai tertarik dengan BUMI, maka terdapat setidaknya tiga hal yang perlu anda perhatikan. Pertama, proposal restrukturisasi utang yang sudah dibahas diatas masih sebatas proposal, alias belum tentu disetujui oleh para kreditor. Jika CIC dan kreditor lainnya menolak proposal diatas, maka semua skenario bakal bubar, dan utang BUMI tidak akan berkurang sepeserpun. Kedua, meski diatas kita sudah membahas soal ‘hidden value’ dari BUMI, namun toh tetap saja, yang dilihat orang adalah laporan keuangan, dan sampai sekarang laporan keuangan BUMI masih bisa didaulat sebagai laporan keuangan terbaik (dari bawah) yang pernah dirilis oleh perusahaan publik, dan itulah yang menyebabkan saham BUMI terdampar di posisinya saat ini. Kecuali jika nanti laporan keuangannya menunjukkan bahwa ekuitas BUMI sukses kembali positif, maka secara fundamental sahamnya belum memiliki alasan untuk naik kembali.
Dan ketiga, jangan lupa bahwa BUMI ini masih dikuasai Bakrie. Intinya sih, kalau ikan paus sekelas Nathaniel Rothschild saja pernah mereka gebuk, dan Om Samin Tan juga jadi kurus kering gara-gara kemakan omongan mereka untuk ikut masuk ke Bumi Plc hingga akhirnya harus menanggung utang US$ 1 milyar ke StanChart, maka jangan harap kalau anda, yang notabene cuma ikan teri (bahkan jika anda beli BUMI Rp100 milyar sekalipun maka anda masih masuk kategori ikan teri, atau maksimal ikan sarden lah), akan digelari karpet merah dan diberi karangan bunga ketika anda membeli BUMI. Dengan mempertimbangkan faktor Bakrie ini, maka keputusan untuk masuk ke BUMI, bahkan meski dengan pertimbangan yang sangat hati-hati sekalipun, tetap lebih dekat ke spekulasi ketimbang investasi. Jadi penulis sendiri, kalaupun nanti kita jadi masuk ke BUMI ini, maka hanya akan menggunakan dana secukupnya saja.
Okay, komentar [...]

Tips Investasi Ala Pendaki Gunung

Akhir pekan kemarin penulis bersama beberapa orang teman pergi mendaki gunung, dalam hal ini Gunung Salak di Kabupaten Sukabumi/Bogor, Jawa Barat. Berbeda dengan aktivitas liburan lainnya yang jauh lebih santai, mendaki gunung membutuhkan ketahanan fisik sehingga penulis harus meluangkan waktu untuk rutin berolahraga selama minimal seminggu sebelum hari pendakian. Karena itulah, sejak terakhir mendaki sekitar dua atau tiga tahun lalu, baru sekarang penulis punya waktu untuk melakukannya lagi. Dan setelah sempat kram, kehujanan, kedinginan, hingga kehausan selama dua hari satu malam, Alhamdulillah kami sukses mencapai puncak, dan juga sukses kembali ke rumah.

Dan, btw, kalau kita melakukan aktivitas tertentu yang bersifat menantang, maka biasanya kita akan memperoleh inspirasi tertentu. Berikut adalah tiga inspirasi yang penulis peroleh dari petualangan kemarin, yang bisa dikaitkan dengan investasi kita di saham.
Investasi itu sulit dan melelahkan pada awalnya, tapi akan menyenangkan pada akhirnya
Pertama, mendaki gunung tentu saja menguras tenaga. Dan Gunung Salak sendiri dikenal sebagai salah satu gunung dengan medan pendakian paling sulit di Pulau Jawa, dengan jalur yang terjal, panjang dan jauh (dari base camp ke puncak dan balik lagi, totalnya hampir 20 kilometer), sempit, licin dan berlumpur karena hujan, dan kanan kiri jurang. Kami beberapa kali ketemu jalur yang menurun, tapi tak lama kemudian langsung disambut oleh tebing yang nyaris vertikal yang harus dipanjat menggunakan tali. Penulis kemarin juga sempat ketemu jalur pendakian yang longsor sehingga dibuat jembatan diatas jurang, padahal ‘jembatan’ itu sejatinya cuma satu batang pohon dan dua utas tali untuk pegangan. Bagi pendaki berpengalaman, melewati jembatan seperti itu mungkin biasa saja. Tapi bagi pendaki amatir seperti penulis, itu benar-benar pengalaman yang sangat menakutkan! Apalagi kondisi penulis ketika itu sudah sangat letih, kaki gemeteran, dan mata nyaris berkunang-kunang.
Tapi toh, saya dan teman-teman berhasil melewatinya, demikian pula dengan tebing-tebing vertikal tadi, hingga akhirnya kami tiba di puncak. Disinilah menariknya: Mungkin karena sadar bahwa kami sudah dipuncak dan tidak perlu mendaki lebih jauh lagi, kami tiba-tiba saja merasa bersemangat dan tidak merasa capek lagi. Kami dengan cepat memasang tenda, ganti baju, dan masak untuk makan malam (kami tiba di puncak sekitar pukul 6 sore). Ketika akhirnya dinner siap disajikan, itu adalah makan malam terenak yang pernah penulis rasakan! Penulis juga minum Kopiko 78 degrees yang sengaja dibawa (itu minuman kesukaan penulis kalo lagi nongkrongin saham di malam hari), dan entah kenapa rasanya ketika itu jauuuuuuh lebih enak dari biasanya.
Menjelang malam sebelum tidur, pikiran penulis menerawang jauh hingga sampai pada kesimpulan bahwa, mendaki gunung itu tidak ada bedanya dengan invest di saham. Dulu ketika penulis baru masuk ke pasar modal untuk pertama kalinya, penulis entah sudah berapa berapa kali dikerjai oleh ‘bandar’ yang tidak pernah kelihatan wujudnya, dihantam koreksi IHSG, hingga digebuk oleh rumor-rumor jelek entah dari mana yang dengan gampangnya bikin saham penulis jatuh berantakan. Dan itu semua sangat melelahkan! Apalagi kondisi penulis yang ketika itu belum berpengalaman dan gak ngerti apa-apa, menyebabkan penulis gampang panik dan banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu.
Namun beberapa tahun kemudian, seiring dengan meningkatnya pengetahuan serta pengalaman, perlahan tapi pasti penulis berhasil menemukan cara-cara investasi yang baik dan benar (saya sudah sering membahasnya di website ini, sebagian besar terinspirasi oleh pengalaman penulis sendiri sebagai investor), yang mampu menghasilkan keuntungan konsisten serta meminimalisir risiko kerugian, dan penulis juga tidak lagi gampang panik ataupun greedy. Jika dulu semuanya serba gelap dan harus main tebak-tebakan nyaris tiap hari (naik apa turun?), maka kini semuanya under control. Penulis kini jauh lebih enjoydalam menyikapi portofolio, bisa tidur nyenyak di malam hari, dan semua rasa lelah yang mendera selama bertahun-tahun sebelumnya tiba-tiba saja hilang begitu saja, sama persis seperti ketika penulis sampai di puncak gunung!
Jadi bagi investor pemula, jika semuanya tampak melelahkan, sulit dan gelap (karena pengetahuan investasi yang belum memadai), atau bahkan menakutkan, maka itu sangat-sangat wajar, karena seperti halnya mendaki gunung, anda tidak bisa begitu saja tiba di puncak tanpa melalui pendakian yang melelahkan bukan? Namun asalkan anda keep going, maka suatu hari nanti anda sampai pada titik dimana: 1. You know what to do, 2. You can do it with relax, 3. You make consistent profits without significant losses (kalau rugi dikit-dikit sih ndak apa-apa, asal jangan rugi kaya di TRAM), maka itulah ‘puncak gunung’ yang baru saja anda capai, and trust me, ketika anda sudah tiba di titik tersebut, maka segala letih, lesu, dan capek akan hilang dengan sendirinya, berganti dengan rasa santai dan nyaman, pokoknya seneng deh! :)
Kemampuan tiap individu berbeda-beda, namun asalkan keep going, maka semua orang akan sampai di puncak
Kedua, penulis dan kelompok (kami pergi berenam) berangkat dari base camp pukul 7 pagi, dan selama pendakian kami beberapa kali istirahat untuk memulihkan tenaga. Ketika beristirahat itulah, kami disusul oleh kelompok-kelompok lain yang bergerak lebih gesit. However, kami juga beberapa kali menyusul kelompok tertentu yang tampak bergerak lebih lambat. Kami sampai di puncak pukul 6 sore, sehingga totalnya kami butuh waktu 11 jam untuk menyelesaikan pendakian, namun beberapa kelompok lain ada yang sudah sampai puncak lebih awal pada pukul 4 sore, dan ada juga yang baru sampai pukul 8 malam.
Pendek kata, setiap kelompok pendakian ternyata memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam mencapai puncak gunung, dimana ada yang cepat, dan ada juga yang lambat.
Tapi persamaaan dari semua kelompok adalah, mereka semua mencapai puncak! Termasuk, penulis sempat melihat beberapa orang yang secara fisik dan usia tampak mustahil untuk bisa mencapai puncak, tapi toh mereka sampai juga meski baru sampai pada malam hari. Beberapa kelompok mungkin saja ada yang menyerah di tengah jalan dan balik lagi, tapi sebagian besar pendaki yang penulis temui di tengah jalan, penulis bertemu dengan mereka lagi di puncak (dan kelompok kami dengan cepat akrab dengan kelompok lain. Suasana keakraban di Puncak Salak sangat luar biasa, dan tidak akan bisa ditemui di tempat lain manapun).
Nah, dalam berinvestasi di saham, diakui atau tidak, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menganalisa ataupun mengendalikan emosi, dimana beberapa investor mungkin perlu waktu yang lebih lama untuk menggali pengetahuan dan pengalaman, hingga pada akhirnya mampu menghasilkan profit yang konsisten, sama seperti penulis yang tentu saja tidak mampu mendaki gunung secepat anggota SAR yang katanya bisa mencapai puncak Salak hanya dalam waktu tiga jam.
Namun, asalkan anda keep going dan tidak mundur lagi ke belakang, asalkan anda terus mengikuti rute yang benar dan tidak coba-coba ambil jalan pintas (hati-hati nih, kalo di saham biasanya yang pake dana margin), maka tak peduli apapun latar belakang anda, cepat atau lambat anda akan sampai puncak! Setelah pengalaman di Gunung Salak, penulis jadi rajin baca-baca tentang gunung tertinggi di dunia, Everest, dan penulis menemukan fakta bahwa beberapa orang yang ‘aneh-aneh’ mulai dari orang pincang, orang tua berusia 70 tahun lebih, anak remaja berusia 13 tahun, hingga orang yang jelas-jelas tidak bisa melihat (buta), semuanya sukses mencapai puncak, meski tentunya dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dibanding pendaki profesional. Nah, jika siapapun bisa mencapai puncak gunung tertentu, termasuk mereka yang tampaknya mustahil bisa melakukannya, lalu apa yang membuat anda berpikir bahwa anda tidak bisa menjadi seorang investor yang sukses??? All you have to do, once again, is just keep going, follow the right path (or in this case, do the right thing), and never quit or turning back.
Jagalah perilaku, maka anda akan baik-baik saja
Kalau anda baca-baca di internet, maka Gunung Salak tidak hanya dikenal sebagai gunung yang terjal tapi juga angker, mungkin malah paling angker dibanding gunung lain manapun di Indonesia. Karena itulah, sebelum kami berangkat, pimpinan kelompok (bukan penulis) berpesan agar kami nggak ngomong kasar, nggak buang sampah sembarangan, tidak berbuat asusila, dan menjaga perilaku. Karena kalau tidak maka kami mungkin bakal dikerjai oleh ‘penghuni’ setempat.
Tapi untungnya kami berenam sukses mencapai puncak dan kembali kebawah dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, dan itu karena kami memang behave dan gak macam-macam. Hanya memang dalam perjalanan pulang ke Jakarta, kelima rekan penulis menceritakan pengalaman mistisnya masing-masing selama di gunung, mulai dari melihat penampakan, melihat pohon terguncang dengan keras, dan entah kenapa tiba-tiba bulu kuduknya berdiri sendiri. Alhamdulillah, penulis menjadi satu-satunya orang yang tidak melihat, mendengar, atau merasakan hal ganjil apapun (malah sejak pertama kali penulis naik gunung waktu masih kuliah dulu, penulis belum pernah sekalipun ketemu ‘sesuatu’. I don’t know why, tapi ya jangan sampe deh).
Nah, sebenarnya tidak hanya di gunung, namun dalam kehidupan sehari-hari kita juga dituntut untuk selalu behave jika mau selamat, termasuk juga di pasar saham. Tapi di pasar saham ada banyak sekali orang-orang yang tidak mau menjaga perilaku, dimana para trader kecil maunya main judi melulu, sementara pemodal besar juga banyak yang dengan sengaja mencoba mengambil keuntungan cepat dari investor ritel yang nggak ngerti apa-apa, dengan cara menyebar rumor sesat dan menaik turunkan saham tertentu secara tidak wajar. Akibatnya bisa ditebak: Kerugian gila-gilaan menjadi cerita yang biasa di pasar saham, dan tidak banyak investor yang mampu ‘mendaki dengan selamat’ di tahun-tahun pertama mereka sebagai investor. Dan jangan salah: Kebanyakan investor ritel mengira bahwa pemodal besar biasanya pasti untung ketika mereka membandari saham tertentu, padahal pemodal besar ini bisa saja rugi karena tindakan spekulasi yang mereka buat sendiri. Bagi anda yang paham dunia bandar-bandaran, anda tentu hafal bahwa seorang bandar harus melakukan ‘distribusi’ dengan lancar, atau ia akan terjebak memegang ‘barang busuk’ pada harga selangit, dan akhirnya menderita rugi besar.
Jadi bagaimana caranya agar kita bisa selamat dari terjalnya pasar saham? Ya dengan menjaga perilaku, dengan berinvestasi berdasarkan cara yang benar, yakni membeli saham dari perusahaan yang bagus pada harga yang wajar/murah, kemudian disimpan. Ada banyak cerita investor yang sukses besar setelah memegang saham bagus selama bertahun-tahun, jadi kenapa kita tidak melakukan hal yang sama? Sebaliknya, ada banyak juga cerita investor yang jatuh dan hancur gara-gara tergoda saham gorengan, tapi kenapa kok sampe sekarang peminat saham-saham seperti ini tidak pernah berkurang? Tapi mungkin itu karena pada prakteknya memang sangat sulit untuk bisa behave, terutama bagi investor pemula karena di saham banyak sekali godaan untuk berbuat yang nggak bener. But just try to do it, dan lihat hasilnya :)
Okay, I think that’s enough. Untuk minggu depan kita akan bahas soal restrukturisasi utang Bumi Resources (BUMI), kebetulan penulis dalam seminggu terakhir menerima cukup banyak pertanyaan terkait topik tersebut.
Galeri Foto (Klik gambar untuk memperbesar)
Sebelum berangkat selfie dulu! Penulis yang pake kaos kuning. Om-om yang pake kacamata item itu bukan anggota kelompok, tapi ia tiba-tiba saja minta ikut difoto
Di pintu gerbang pendakian
Mulai mendaki
Semakin tinggi, semakin terjal
‘Jembatan setan’. Kalau berada langsung di lokasi, itu pemandangannya serem banget, kanan kiri beneran jurang
Pemandangan Kawah Ratu, yang tampak jelas dari jalur pendakian
Akhirnya! Sampai di puncak!

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal III 2015 akan terbit hari Senin, tanggal 9 November mendatang. Anda bisa memperolehnya 

Metode Rahasia dalam Berinvestasi

Kamis kemarin, penulis berkesempatan untuk bertemu tatap muka dengan seorang investor bernama Joel Cohen, yang bekerja untuk sebuah perusahaan asset management di Amerika dengan dana kelolaan sekitar US$ 19 milyar. Penulis sendiri, meski sebelumnya sudah pernah ketemu beberapa kali dengan investor asal luar negeri (dimana mereka sengaja datang ke Jakarta), namun baru kali ini ketemu dengan seseorang yang mewakili institusi yang besar. So for me, it’s a brand new experience.

Nah, dalam diskusi selama persis satu jam tersebut, Mr. Cohen mengajukan banyak pertanyaan. Dan salah satu pertanyaan tersebut adalah, ‘Pak Teguh, sebagai seorang investment professional, upaya apa yang anda lakukan agar bisa menghasilkan return investasi yang secara stabil dan konsisten senantiasa memuaskan dalam jangka panjang?’
Sayangnya karena terbatasnya kemampuan penulis dalam berbicara dalam Bahasa Inggris (kalau nulis sih lancar, tapi kalau ngomong masih patah-patah), maka meski ketika itu saya punya banyak sekali jawaban atas pertanyaan tersebut di benak penulis, namun yang mampu diucapkan hanya sebagian kecil diantaranya. Karena itulah, penulis akan menjawabnya sekali lagi disini. Okay, here we go!
Kesulitan terbesar dalam berinvestasi, seperti yang sudah pernah saya sampaikan disini, bukanlah terletak pada analisis saham, money management, dll, melainkan kontrol emosi. Ketika pasar dalam suasana panik, maka sangat sulit bagi investor manapun untuk bisa greedy sendirian, dan sebaliknya ketika pasar dalam suasana euforia, akan sangat sulit bagi investor manapun untuk bisa fearful sendirian. Karena suka atau tidak, seorang investor sejatinya merupakan bagian dari pasar juga. Sejak dulu sampai sekarang, dan hingga selamanya, akan selalu ada investor-investor yang tidak mampu memanfaatkan peluang emas dari turunnya harga-harga saham, karena mereka gagal dalam mengendalikan rasa takutmereka. Sebaliknya, akan selalu ada juga investor-investor yang terjebak membeli saham tertentu pada harga yang terlalu tinggi, karena mereka larut dalam euforia pasar! Ketika seorang investor tidak lagi mampu dalam mengontrol emosinya, maka seluruh perhitungan serta analisa yang ia buat sebelumnya akan menjadi tidak berguna sama sekali.
Karena itulah, untuk bisa menghasilkan return investasi yang memuaskan dalam jangka panjang, maka kontrol emosi sangatlah penting. It’s okay kalau anda sewaktu-waktu mengalami kerugian dari pasar modal, because that’s just a part of the game! Karena even FC Barcelona sekalipun bisa saja sewaktu-waktu kalah dari FC Granada, misalnya. Tapi sekalinya anda lost control, then well, that’s probably the end of the game, karena selanjutnya anda mungkin malah akan menendang bola ke gawang sendiri.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara untuk mengontrol emosi tersebut? Terdapat mungkin seribu jawaban atas pertanyaan ini, namun inilah yang penulis lakukan: Kunci dari kontrol emosi adalah perasaan tenang tanpa beban ketika melihat posisi portofolio. Jadi agar emosi anda bisa stabil, you have to be ascalm as possible. Caranya? Do whatever you like, go whereever you want to go, and take a deep breath in the forest!
So, believe it or not, sebagai investor, penulis menghabiskan sebagian besar waktu bukan dengan duduk dibelakang meja komputer, mempelajari dokumen ini dan itu terkait perusahaan, apalagi sampai melototin pergerakan harga saham, sama sekali bukan! Yang saya lakukan adalah..
  1. Main Playstation dari pagi sampe siang (PES, Assassins Creed, GTA, Forza Motorsport, Skyrim, The Witcher, Battlefield, Tomb Raider, Call of Duty), ini hobi penulis dari jaman SD sampe sekarang
  2. Nonton discovery channel, acara masak-masak (soalnya penulis suka sekali kuliner), History Channel, konser-konser musik di Youtube, atau nonton konser itu sendiri secara langsung.
  3. Baca buku novel sejarah, terutama tentang sejarah China klasik.
  4. Pergi ke gunung atau pantai di akhir pekan, bikin api unggun dan barbeque
  5. Pergi keliling Indonesia, mengunjungi kota-kota yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
  6. Main badminton, lari sore di kompleks olahraga ragunan
  7. Makan!
  8. Tidur siang
  9. Pulang kampung ke Cirebon, mengajak neneknya anak-anak untuk jalan-jalan dan belanja kerudung, dan
  10. Pulang ke Bandung, stay disana seminggu penuh dimana setiap pagi antar jemput si teteh ke sekolah Playgroup, dan sorenya nemenin si adik naik odong-odong dan main perosotan. Di akhir pekan mengajak mereka berdua plus mamanya untuk beli sepatu dan makan es krim.
Dari semua kegiatan diatas, yang paling penulis sukai adalah pergi sendirian ke kebun teh di Ciwidey (Bandung) atau Puncak, atau hutan pinus di Lembang, untuk kemudian duduk-duduk diatas batu besar dan menarik nafas dalam-dalam. Jika anda melakukan hal yang sama, katakanlah di akhir pekan, maka tak peduli meski anda sedang menanggung beban pikiran seberat apapun (misalnya karena IHSG jeblok, dan alhasil pegangan saham nyangkut dimana-manaaa), namun anda kemudian akan merasa plong dan legaaa. Sehingga ketika anda kembali ke ‘medan perang’ pada hari Senin-nya, anda secara mental sudah siap, dan anda akan bisa menata ulang portofolio anda dengan pikiran yang jernih.

Salah satu foto pemandangan hijau yang penulis ambil ketika jalan-jalan. Setiap kali kepala mumet, saya lebih suka duduk menyendiri di tempat-tempat seperti ini ketimbang nongkrong di mall atau semacemnya.

Dalam banyak kasus, seorang investor seringkali tidak mampu berpikir jernih dalam me-manage investasinya, sebenarnya bukan karena sahamnya nyangkut atau apa, tapi karena ia memiliki masalah/beban pikiran diluar posisinya sebagai investor, entah itu masalah keluarga, masalah kantor (kalau ia masih bekerja), atau lainnya. Alhasil ia jadi gagal fokus, dan itu akan semakin memperburuk keadaan. Analoginya sama seperti kalau anda terjebak macet: Kalau misalnya anda baru pulang kerja dan capeeek banget, maka anda akan stress dan kesal setengah mati ketika mobil didepan anda nggak maju-maju. Tapi kalau anda baru pulang dari liburan yang menyenangkan, maka meski spion anda diserempet motor matic yang dikendarai anak ABG tanggung yang nggak pake helm, anda mungkin tetap akan senyum-senyum saja (actually, ini pengalaman pribadi).
So, mari kita simpulkan. Untuk bisa sukses sebagai investor maka anda harus bisa mengatasi kesulitan terbesar sebagai seorang investor itu sendiri, yakni kontrol emosi. Dan agar emosi anda bisa terkendali secara penuh, maka anda harus as calm as possible. Caranya? Enjoy your life, lepaskan semua beban pikiran, dan hiruplah udara segar di pegunungan.. Jadi, percaya atau tidak, ketika penulis pergi berlibur, maka penulis menganggap itu sebagai bagian dari pekerjaan. Sudah tentu saya tetap melakukan pekerjaan rutin seperti menganalisis saham, mempelajari kondisi makro ekonomi, hingga terus mencari ‘mutiara-mutiara terpendam’ di belantara pasar modal. Namun porsi waktu yang penulis habiskan untuk pekerjaan rutin tersebut relatif kecil, rata-rata kurang dari 4 jam dalam sehari, dibanding aktivitas bersenang-senangnya yang bisa tiga hari dua malam, kalau kebetulan saya pergi berlibur keluar kota.
Well, that’s my secret. Now what about you?
Btw, ‘kontrol emosi dalam berinvestasi’ adalah satu tema yang sebenarnya amat sangat panjang jika diulas secara lengkap. Penulis sejak setahun lalu sudah menulis buku terkait ini, yang didasarkan pada pengalaman penulis sendiri sebagai investor. Dalam waktu dekat akan saya terbitkan dalam bentuk ebook.

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & investment plan edisi Oktober sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi portofolio langsung dengan penulis bagi [...]

How to Be Greedy When Others Are Fearful

Pagi tadi, setelah IHSG dibuka longsor 2% ke posisi 4,033, penulis menerima whatsapp dari seorang alumni seminar yang bertanya soal salah satu saham yang penulis rekomendasikan (dan gak cuma rekomen, tapi saya ikut beli juga), sebut saja saham A. Ia bertanya, Pak Teguh, saham A masih masuk stock-pick? Soalnya saya lihat pagi ini dia terjun bebas nih.

Lalu penulis menjawab, ‘Denger-denger perusahaannya mau bangkrut pak..’
Dan seperti yang sudah penulis duga, dengan nada panik ia bertanya lagi, ‘Wah serius pak? Info dari mana???’
Setelah penulis katakan, ‘Just kidding :D Perusahaan A aman-aman saja kok! Sahamnya turun ya cuma karena dampak penurunan IHSG saja, bukan karena ada masalah sama fundamentalnya’, maka barulah ia menjawab, ‘Wah saya sampai sport-jantung pak, tadi udah sempet googling, khawatirnya perusahaan bener-bener terkena kasus apa gitu.’
Nah, menurut anda, seandainya kepada alumni seminar ini penulis mengatakan bahwa ‘Perusahaan A akan bangkrut’ pada April lalu, ketika IHSG masih di 5,400-an dan ketika saham A juga masih di posisi yang tinggi, maka kira-kira bagaimana reaksinya? Well, mungkin akan panik juga, tapi sudah tentu tidak akan sepanik dibanding ketika saya mengatakan bahwa Perusahaan A akan bangkrut dalam kondisi harga sahamnya yang hancur lebur seperti sekarang. In fact, jika saya mengatakan bahwa ‘Perusahaan A akan bangkrut’ pada April lalu, maka orang-orang mungkin akan langsung menanggapinya sebagai omong kosong. Tapi jika kalimat itu dikatakan pada saat ini, maka bahkan meskipun itu cuma rumor ngawur, namun seorang investor yang sebelumnya sangat yakin bahwa perusahaan A ini adalah perusahaan yang sangat bagus dan sama sekali tidak bermasalah, ia akan ragu-ragu dan mulai berpikir bahwa rumor jelek tersebut mungkin benar adanya.
So, got the point?
Dalam banyak kesempatan training soal value investing, penulis selalu menekankan bahwa kesulitan utama dalam berinvestasi dengan metode ‘to buy high-quality stocks at lowest possible price’, itu bukan soal bagaimana cara menentukan saham mana yang berfundamental bagus, dan bagaimana cara menghitung valuasi dan menentukan apakah sebuah saham sudah bisa dikatakan murah atau belum. Karena pada prakteknya, perhitungan analisa-analisa seperti itu seringkali hanya merupakan matematika sederhana.
Yang tersulit adalah, ketika anda menemukan saham bagus pada harga yang unbelievably undervalue, maka biasanya kondisi pasar ketika itu juga sedang anjlok, ekonomi memburuk atau bahkan krisis, pesimisme bertebaran dimana-mana, sehingga sedikit banyak kondisi psikologis anda pasti akan ikut terpengaruh. Alhasil, anda tidak akan segampang itu untuk langsung membeli ‘mutiara terpendam’ yang baru saja anda temukan tadi, karena pasti ada saja orang yang mengatakan bahwa saham anda tersebut aslinya jelek, makanya harganya bisa anjlok begitu. Tak peduli sedetil apapun analisa yang anda buat, atau sekokoh apapun keyakinan yang anda bangun untuk memutuskan membeli saham yang unbelievably undervalue tadi, namun anda tetap akan merasa ragu-ragu ketika saham incaran anda tersebut malah sudah turun jauh lebih rendah dibanding harga beli yang anda targetkan sebelumnya. Warren Buffett selalu mengatakan, ‘be greedy when others are fearful’, namun pada prakteknya tidaklah semudah itu karena.. hey! Sebagai investor, kita kan bagian dari pasar juga! Jadi kalau pasar lagi panik, maka gimana caranya kita malah jadi serakah sendiri?
Namuuuun, jika anda sudah cukup berpengalaman hingga akhirnya mampu untuk melawan arus pasar seperti itu, maka holaaaa.. setelah 1 atau 2 tahun, buahnya akan terasa sangat manis! Pada awal tahun 2014 lalu, atau persis setelah IHSG hancur lebur setahun sebelumnya (jeblok dari 5,250 ke 4,200-an), penulis mengatakan bahwa meski tahun 2013 meninggalkan kesan yang menyakitkan, namun tahun 2014 justru merupakan big opportunity bagi mereka yang mampu untuk fokus pada fakta bahwa valuasi saham-saham di BEI pada saat itu (awal 2014) sudah jauh lebih rendah dibanding valuasinya pada awal 2013. Anda bisa baca lagi artikelnya disini (kalau posisi anda nyangkut, silahkan dibaca artikelnya).

Posisi IHSG di akhir tahun 2014

And voila! IHSG ternyata beneran naik 22.3% sepanjang 2014. Surprisingly, beberapa hari terakhir ini IHSG malah balik lagi ke posisi pada awal tahun 2014, atau bahkan lebih rendah. So, what do you think? Just remember: Dalam jangka pendek (3 bulan atau kurang), IHSG bisa naik atau turun ke posisi berapa saja tergantung sentimen yang beredar. Jadi kalaupun anda menganggap bahwa saham-saham sekarang ini sudah sangat murah, namun itu bukan berarti IHSG gak bisa turun lebih lanjut, Namun dalam jangka panjang (diatas 1 tahun), dengan catatan bahwa ekonomi Indonesia memang membaik pada awal tahun 2016 nanti (kita akan membahas soal ini nanti), maka sudah tentu IHSG akan terbang tinggi kembali. Anyway, kita lihat saja nanti perkembangannya bagaimana :)

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & investment plan edisi Oktober sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Panic Selling, Round 2!

Hari ini pasar dibuka anjlok 2.0% ke posisi 4,037, dan bukan tidak mungkin sore nanti IHSG bisa ditutup di posisi three years low dibawah 4,000. So it is official guys, we are in the panic selling round two! Saat ini penulis sedang membuat artikel untuk minggu ini, namun sembari menunggu, mari kita dengar apa komentar anda soal kondisi pasar dalam seminggu terakhir ini, yang dengan sangat cepat turun dari 4,400-an hingga sekarang sebentar lagi tembus dibawah 4,000. Intinya, what happen? IHSG bisa turun sampai posisi berapa? Are we in despair yet? Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.


Cara Untuk Cuan Sekalian, Atau Bangkrut Sekalian

Pada tanggal pertengahan Agustus lalu, IHSG terus saja turun dari 4,800-an di awal bulan hingga menembus level psikologis4,500, tepatnya mencapai posisi 4,484 pada tanggal 19 Agustus. Ketika itu pasar sudah mulai panik, namun yang lebih menarik adalah munculnya pemberitaan di berbagai media bahwa beberapa perusahaan, dalam hal ini bank-bank BUMN, akan mem-buyback sahamnya di publik. Dan penulis segera menerima banyak pertanyaan, apakah ini artinya saya sudah boleh masuk Bank BRI, Bank Mandiri (BMRI), atau Bank BNI (BBNI)? Karena jika pihak perusahaan sendiri sudah turun tangan membeli sahamnya di publik, bukankah seharusnya penurunan harga sahamnya akan berhenti untuk selanjutnya berbalik naik?

Penulis kemudian membaca beberapa berita yang dimaksud, salah satunya yang ini: http://keuangan.kontan.co.id/news/saham-ikut-turun-bri-juga-akan-buyback. Disitu judul beritanya jelas sekali: ‘BRI akan buyback’. Tapi jika anda baca lagi beritanya, maka sebenarnya Dirut BRI, Asmawi, tidak mengatakan bahwa management berencana untuk buy back saham BBRI dalam waktu dekat, melainkan:
Direktur Utama Bank BRI, Asmawi Sjam mengatakan, perseroan masih melihat kondisi saham BRI dalam beberapa waktu ke depan. Jika nantinya harga saham terus mengalami penurunan, maka perseroan akan melakukan buyback di harga yang ditentukan. Namun Asmawi masih belum merinci di harga berapa perseroan akan melakukan buyback.
Artinya dirut BRI sendiri menganggap bahwa saham BBRI pada saat itu masih mungkin untuk turun lebih lanjut. Jadi jika seseorang membaca berita diatas namun hanya membaca judulnya saja, maka ia akan keliru mengira bahwa BRI benar-benar akan buyback, padahal sama sekali tidak. Dan setelah penulis cek keterbukaan informasi perusahaan di website BEI, ketika itu juga belum ada pernyataan resmi dari BRI, ataupun bank-bank BUMN lainnya, bahwa mereka akan buyback saham dalam waktu dekat.

Nah, news seperti ini yg saya sebut sentimen positif kosong, karena hanya permainan kata-kata dari wartawannya saja. Jika seseorang ‘termakan’ berita kosong tersebut, maka ia kemungkinan akan merugi karena beberapa hari berikutnya ternyata IHSG masih terus turun (sehingga BBRI dan lainnya juga ikut lanjut turun), hingga akhirnya mencapai puncaknya (ditandai oleh panic selling) pada hari Senin tanggal 24 Agustus di posisi 4,164.
Namun pada hari Senin tersebut keluar lagi berita soal buyback, dan kali beritanya sungguhan. Contohnya di link yang ini: http://finance.detik.com/read/2015/08/24/181304/3000035/6/menteri-rini-bumn-siap-buyback-saham-rp-10-triliun-besok, dimana Menteri BUMN, Rini Soemarno, secara jelas mengatakan bahwa Kementerian BUMN sudah menyiapkan Rp10 trilyun untuk buyback 13 saham BUMN, terutama yang turunnya paling dalam.
Dan memang, pada keesokan harinya yaitu Selasa, 25 Agustus, IHSG mulai rebounddan hingga hari ini belum mencetak new low lagi (meski juga belum benar-benar naik kembali), melainkan masih sideways di 4,300-an.
Jadi bagi anda para investor, maka memang penting sekali untuk bisa membaca berita terkait dinamika pasar modal dengan teliti, agar anda bisa membedakan mana berita yang sungguhan, dan mana yang cuma hasil ‘pelintiran’ atau permainan kata-kata tadi. In fact, dari sekian banyak news yang bertebaran di media elektronik, internet, maupun koran setiap harinya, sebagian besar diantaranya hanya merupakan news hasil pelintiran, atau lebih buruk lagi: Hanya isu atau rumor yang tidak jelas kebenarannya.
Nah, belakangan ini mulai ada banyak rumor lagi terkait perusahaan-perusahaan tertentu yang kemudian membuat saham yang bersangkutan terbang, contohnya:
  1. Penurunan harga Avtur (bahan bakar pesawat) oleh Pertamina, yang diperkirakan (baru diperkirakan doang!) akan mendorong margin laba bagi Garuda Indonesia (GIAA), karena hampir 80% beban operasional perusahaan adalah untuk bahan bakar pesawat. Hasilnya saham GIAA terbang dari 300 hingga sempat tembus 360 (naik 20%) hanya dalam sepekan, antara tanggal 7 hingga 15 September lalu.
  2. Pemerintah mewajibkan perusahaan konstruksi dll untuk menggunakan baja produksi dalam negeri. Hasilnya saham Krakatau Steel (KRAS) naik dari 303 hingga tembus 336, juga hanya dalam sepekan.
  3. Pada 14 September, keluar berita bahwa developer mall asal Jepang, Aeon, akan mendirikan mall di superblok milik Sentul City (BKSL). Alhasil saham BKSL yang hampir saja tewas di gocapan (karena buruknya kinerja perusahaan sejak tahun 2014 lalu, terutama sejak dirutnya ditangkap KPK), tiba-tiba hidup kembali dan langsung terbang hingga ke posisi 80-an, termasuk sempat mencatat volume transaksi hingga nyaris setengah milyar lembar saham dalam sehari. Namun hanya dua atau tiga hari kemudian pihak perusahaan mengklarifikasi bahwa mereka masih dalam tahap pembicaraan dengan Aeon, atau dengan kata lain Aeon belum benar-benar akan bikin mall di Sentul, dan alhasil sahamnya turun ke 70. Ehh, hanya selang beberapa hari kemudian langsung keluar berita lagi bahwa Aeon sudah confirm, dan BKSL langsung naik lagi.
Daan seterusnya, anda mungkin bisa menambahkan saham-saham lain yang juga terbang plus beritanya masing-masing, tak peduli meski beritanya tersebut sejatinya cuma rumor kosong, atau kalaupun benar maka tetap saja tidak bisa langsung disimpulkan akan berdampak positif terhadap kinerja fundamental perusahaan. However, beberapa orang mungkin tidak peduli soal itu, karena yang penting adalah cuan! Kalau misalnya anda, entah karena dapet bisikan dari mana, sukses membeli BKSL di harga 57 dan menjualnya di 80, maka keuntungannya hampir mencapai 50% hanya dalam tempo kurang dari seminggu!
Namun masalahnya, pada kasus-kasus ‘saham terbang’ seperti ini maka terdapat lebih banyak orang yang justru baru masuk ke BKSL atau lainnya ketika harganya sudah naik tinggi. Jika kemudian beritanya ketauan cuma boongan, maka sahamnya akan kembali jeblok, dan para trader yang terlambat masuk ini akan menderita kerugian besar. Dan kondisi inilah yang kemudian menyebabkan bursa saham jadi lebih mirip seperti tempat untuk berjudi, ketimbang wadah untuk berinvestasi, dimana seseorang bisa untung besar dalam waktu singkat, namun sebaliknya juga bisa langsung bangkrut dalam waktu yang lebih singkat lagi.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar saya tidak terjebak spekulasi seperti itu? Nah, sebenarnya ini merupakan pertanyaan yang harus dilihat dari dua sisi. Kalau anda sering berspekulasi di saham-saham gorengan dan hasilnya sejauh ini lumayan profit, maka jujur saja, anda tidak akan menanyakan pertanyaan diatas bukan? Dan anda mungkin akan terus melanjutkan perburuan terhadap saham-saham yang mungkin akan terbang karena berita/rumor tertentu. Anda mungkin baru akan berhenti kalau pada akhirnya nanti sudah ‘kena batunya’.
Jadi pertanyaan diatas penulis anggap berasal dari anda yang berstatus sebagai ‘korban’ dari saham-saham gorengan. Dan jawabannya ada dua. Pertama, hati-hati dan harap teliti dalam membaca berita terkait perusahaan apapun, karena sebagian besar orang lebih suka hanya membaca judulnya saja, dan itu seringkali misleading. Penulis tidak bisa menjelaskan bagaimana cara membedakan berita sungguhan atau yang cuma merupakan ‘sentimen positif kosong’ (atau sebaliknya, ada juga ‘sentimen negatif kosong’ seperti yang melanda saham PGAS terkait wacana penurunan harga jual gas, beberapa waktu lalu). Namun seiring dengan bertambahnya pengalaman, lama-lama anda akan bisa membedakannya sendiri.
Dan yang kedua, at the end anda harus balik lagi ke kaidah value investing: Belilah saham berfundamental bagus pada harga murah, dan sebisa mungkin abaikan berita-berita seperti itu, karena keputusan untuk membeli saham hanya berdasarkan pemberitaan sesaat atau rumor adalah murni spekulasi dan bukan investasi (dan bahkan juga bukan trading, karena di trading masih ada analisisnya, dalam hal ini analisis teknikal). Ada satu metode yang sangat populer di dunia spekulasi pasar modal, yakni buy on rumor sell on news yang biasa dilakukan oleh para news trader atau trader yang membeli saham berdasarkan rumor/berita. Namun penulis sendiri sampai sekarang belum pernah mendengar orang yang sukses menjadi kaya raya dari menggunakan metode buy on rumor bla bla bla tersebut.
Anyway, sepanjang September ini maka godaan rumor itu mungkin akan terus menyerang para investor (‘godaan’ disini merupakan istilah yang tepat, karena ketika saham naik 10% hanya dalam sehari, misalnya, maka itu akan tampak menggiurkan bahkan bagi investor yang sudah sangat berpengalaman sekalipun). Sebab dalam kondisi dimana pasar kembali tenang, maka itu juga sekaligus membosankan karena IHSG, meski dia tidak turun lebih lanjut, tapi juga belum naik kembali. Para market maker atau bandar, sejak dulu sudah paham sekali psikologis pasar yang justru tidak suka kondisi tenang seperti ini (jadi maunya ribut terus). Karena itulah mereka kemudian menciptakan ‘keributan’ dengan menaik-naikkan saham yang sudah turun sangat dalam sebelumnya (karena buruknya fundamental perusahaan yang terkait), biasanya dengan volume transaksi yang besar. Dan agar para ritel mau ikutan membeli saham yang mereka mainkan, mereka juga meluncurkan berita-berita yang kemudian dijadikan sebagai ‘sentimen positif’. Baru saja pagi ini penulis mendengar cerita terkait Vale Indonesia (INCO), dan Aneka Tambang (ANTM), yang kemudian menerbangkan kedua saham tersebut.
Pertanyaannya, apakah anda mau ikut ‘bermain’? Well, kalau jawabannya adalah ya, maka ingat bahwa risiko ditanggung sendiri, termasuk anda tidak bisa berharap bahwa BEI atau OJK akan melindungi anda sebagai investor. Tapi jika anda menginginkan agar bisa tidur nyenyak malam nanti, then you know what you should do!

Catatan: Penulis pernah membuat artikel serupa di tahun 2011, anda bisa membacanya disini.

Pengumuman: Buletin Stockpick Saham edisi Oktober sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis bagi member.

Perlindungan Investor? Oleh Siapa?

Sekitar satu atau dua bulan lalu, seorang pria bersepeda bernama Elianto Wijoyono menghadang rombongan konvoi motor Harley Davidson di salah satu perempatan jalan di Kota Jogja, karena rombongan itu dengan sengaja hendak menerobos lampu merah. Aksi ‘Sepeda vs Moge’ tersebut memperoleh banyak komentar di media sosial, dan Elianto kemudian menjelaskan bahwa aksinya tersebut memang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya, karena ia prihatin dengan kelakukan para pengendara moge tersebut yang sering melanggar rambu-rambu lalu lintas, sehingga bikin susah pengguna jalan lainnya di Kota Jogja.

Nah, dari sekian banyak komentar yang muncul, yang menarik adalah komentar dari seorang anggota Polda Jogja yang mengatakan bahwa aksi main hakim sendiri yang dilakukan Elianto tersebut justru bisa ditindak pidana. Sebab jika ada pengendara moge yang melanggar lalu lintas atau semacamnya, maka itu merupakan kewenangan kepolisian untuk memberikan teguran atau sanksi, jadi bukan wewenang Elianto karena ia cuma warga sipil.
Well, suatu pernyataan yang naif sekali bukan? Kalau memang pelanggaran lalu lintas yang dilakukan para pengendara moge akan ditindak tegas oleh polisi, lalu kenapa ketika mereka berkali-kali menerobos lampu merah dll, polisi malah diam saja? Yang ada mereka justru mengawal konvoi dan membantu mereka menerobos lampu merah! Kalau polisi sejak awal sudah melakukan tugasnya dalam mengatur lalu lintas dan menindak semua pelanggar tanpa pandang bulu termasuk para raja jalanan tadi, maka menurut anda apakah Elianto akan buang-buang waktu untuk ‘main hakim sendiri’? Sudah jadi rahasia umum bahwa polisi di Indonesia masih belum menjalankan fungsinya yakni ‘Melindungi dan Melayani’ secara penuh kepada seluruh masyarakat, karena yang dilindungi dan dilayani hanya yang mau kasih recehan saja.
Tapi mungkin, bukan cuma kepolisian di Indonesia ini yang belum menjalankan fungsinya dengan baik.
Beberapa hari lalu, penulis ditelpon oleh wartawan untuk dimintai pendapat terkait pernyataan dari salah satu direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), bahwa ‘BEI menginginkan penambahan 100 ribu investor baru setiap tahunnya’. Sejauh ini di memang baru terdapat sekitar 400 ribu investor di pasar saham di Indonesia, atau sangat sedikit dibanding jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa. Jika penambahan 100 ribu investor baru per tahun tadi terealisasi, maka dalam beberapa tahun kedepan jumlah investor di pasar saham Indonesia akan tembus 1 juta orang, atau bahkan lebih, dan itu tentunya akan semakin meramaikan perputaran pasar saham itu sendiri.
Pertanyaannya tentu, apakah peningkatan 100 ribu investor itu realistis? Nah, jika anda adalah calon investor yang tentunya belum mengerti apa-apa, maka ketika anda ditawari untuk membuka rekening di sekuritas, sudah tentu ada banyak hal yang akan ditanyakan. Namun kalau anda jeli, maka salah satu pertanyaan yang terpenting adalah, adakah perlindungan terhadap diri saya sebagai investor, dari tindakan kejahatan pasar modal?
Karena, berinvestasi di pasar modal itu sama saja seperti mengendarai mobil/sepeda motor di jalan raya. Jika anda menyetir mobil secara ugal-ugalan, maka anda mungkin akan mengalami kecelakaan, dan itu adalah salah anda sendiri. Namun bagaimana jika anda mengendarai mobil dengan sewajaranya dan selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tapi tetap saja mengalami kecelakaan karena ditabrak oleh pengendara lain yang menerobos lampu merah, dan itu adalah karena polisi dengan sengaja membiarkan pelanggaran lalu lintas tersebut?
Demikian pula di pasar saham. Seorang investor mungkin akan mengalami kerugian karena dia belum mengerti cara menganalisis saham perusahaan, kurang pengalaman, atau simply karena IHSG lagi jeblok, dan itu adalah bagian dari risiko kerugian yang sejak awal sudah ‘satu paket’ dengan potensi keuntungan yang bisa diperoleh seorang investor.
Tapi jika investor mengalami kerugian karena dikerjai oleh bandar yang menaikkan harga saham secara tidak wajar dan kemudian menjatuhkannya tanpa ampun seperti kasus Trada Maritime (TRAM), atau perusahaan yang manajemennya kena kasus seperti Cipaganti (CPGT), atau perusahaan yang entah kenapa rugi melulu hingga ekuitasnya minus gila-gilaan seperti Bumi Resources (BUMI), atau kasus-kasus lainnya dimana saham-saham tertentu bergerak secara tidak wajar.. maka hey, OJK! Anda ngapain aja? Kenapa saham-saham yang jelas-jelas sudah makan banyak korban ini malah dibiarkan saja???

Padahal berdasarkan undang-undang, tugas sekaligus wewenang dari OJK adalah: 1. Melakukan perlindungan terhadap konsumen (atau dalam hal ini investor), dimana hal itu bisa dilakukan dengan cara: 2. Memberikan sanksi administratif terhadap pihak-pihak/perusahaan yang melanggar peraturan perundang-undangan terkait jasa keuangan. Jika OJK bersikap tegas dan selalu siap sedia untuk memberikan sanksi kepada emiten/sekuritas atau siapapun yang jelas-jelas telah berbuat sesuatu yang merugikan orang banyak, maka para emiten/sekuritas ini juga gak akan ada yang berani macam-macam, dan investor secara otomatis akan terlindungi.
Nah, sejak OJK didirikan tahun 2011 lalu, sudah tidak terhitung berapa banyak perusahaan/saham yang bermasalah, yang membuat investor publik rugi besar-besaran. Tapi pernahkah OJK memberikan sanksi tertentu kepada mereka? Tidak pernah! Paling-paling OJK hanya memberi sanksi berupa peringatan tertulis denda sebesar Rp1 juta per hari kepada perusahaan yang terlambat merilis laporan keuangannya. Berdasarkan informasi dari hukumonline.com, antara tahun 2011 hingga Agustus 2014, OJK sudah menjatuhkan total 316 sanksi yang terdiri dari 280 sanksi denda kepada emiten terlambat merilis laporan keuangan atau dokumen keterbukaan informasi lainnya, 32 sanksi teguran tertulis, dan 2 sanksi pembekuan/pencabutan izin usaha terhadap dua perusahaan jasa keuangan (bukan emiten).
Tapi bagaimana dengan kasus-kasus perusahaan Tbk atau aksi goreng saham yang melibatkan sekuritas tertentu, yang jelas-jelas telah merugikan investor? Yaaa lenggang kangkung, ga ada masalah.
Lalu bagaimana dengan BEI? Well, sami mawon.. Mau ada saham terbang atau saham jeblok, paling-paling humas perusahaan yang bersangkutan cuma ditanya, ‘Ada apa ini?’ abis itu ya sudah. Mau investor dikerjai habis-habisan oleh saham-saham gorengan, mereka malah duduk manis saja di acara talk show di hotel mahal. Kalaupun BEI memberikan sanksi, maka sanksinya ya sama seperti yang diberikan OJK: Men-suspensi saham, menetapkan status UMA, atau memberikan denda/peringatan tertulis kepada emiten yang terlambat merilis laporan keuangan, seolah-olah tindakan kejahatan di pasar modal itu ya cuma satu itu: Terlambat merilis laporan keuangan.
Jadi ketika orang BEI mengatakan bahwa ‘Kami menginginkan penambahan 100 ribu investor per tahun’, penulis jadi merasa lucu sendiri.. Bagaimana mungkin anda berharap bahwa orang-orang akan masuk pasar saham kalau pasar itu sendiri dipenuhi oleh para preman yang tidak pernah ditindak? Itu kan sama saja seperti berharap bahwa orang-orang akan dengan sukarela mempertaruhkan keselamatannya dengan berkendara di jalanan yang semrawut karena hampir semua orang melanggar rambu-rambu lalu lintas, karena polisinya diem saja!
Hanya memang, kalau berdasarkan peraturan undang-undang yang ada, maka di Indonesia belum ada sanksi hukum yang jelas untuk kasus seperti insider trading atau semacamnya (Bapepam-LK, yakni otoritas/regulator pengawas bursa sebelum adanya OJK, sebenarnya secara undang-undang punya wewenang untuk memberikan sanksi pidana bagi insider trader, tapi Bapepam itu sendiri sekarang udah gak ada). Jadi mungkin bukan salah OJK atau BEI juga jika para maling masih berkeliaran di bursa, karena bukan wewenang mereka untuk menindaknya (OJK hanya bisa memberikan sanksi administratif, bukan pidana). Tapi kalau itu bukan wewenang dua otoritas ini, lalu wewenang siapa? Dan jika itu bukan wewenang mereka, lalu apa yang dimaksud dengan kata ‘perlindungan’ yang jelas-jelas merupakan salah satu fungsi dan wewenang dari OJK???
Tulisan diatas mungkin terdengar seperti kritikan. Tapi jika seorang Elianto Wijoyono sampai harus turun tangan sendiri untuk menegur pengendara moge, termasuk secara tidak langsung menegur polisi itu sendiri, maka penulis kira juga harus ada seseorang yang menyampaikan tulisan diatas agar bisa menjadi peringatan bagi pihak-pihak yang terkait. Penulis yakin bahwa kita semua tentu menginginkan agar pasar modal bisa menjadi tempat yang bersahabat bagi semua orang, namun itu hanya bisa terwujud jika semua pihak, termasuk otoritas dan regulator bursa, melaksanakan peran, fungsi, dan tugasnya masing-masing dengan baik. Jika memang terjadi tindak kejahatan di Bursa, maka seperti di film National Treasure, seseorang harus berani mengatakan, ‘Someone’s got to go to prison, Ben’.
Jika anda punya unek-unek lainnya, boleh sampaikan melalui kolom komentar di bawah. Untuk artikel minggu depan kita akan sharing beberapa tips untuk menghindari ‘saham-saham laknat’ yang banyak berkeliaran di bursa.

Btw sekarang ini lagi rame cerita soal Fed Rate, tapi di website ini kita sudah membahasnya sejak Maret lalu. Anda bisa membacanya lagi

Peluang Investasi dari ‘Value Gap’ – 2

Di artikel sebelumnya kita sudah membahas bahwa waktu terbaik untuk membeli saham Berkshire Hathaway adalah jika pada tahun tertentu harganya turun sedemikian dalam hingga value gap-nya menjadi positif (kalau belum baca, boleh baca lagi disini). Kemudian, tahun 2015 ini adalah kali pertama dimana IHSG turun signifikan sejak 2008 lalu, dimana hingga 10 September, IHSG sudah turun 16.1% secara YTD (pada tahun 2013, IHSG secara keseluruhan hanya turun 1%). Hasilnya meski beberapa saham mungkin masih naik, tapi sebagian besar saham lainnya turun signifikan dibanding posisinya pada awal tahun lalu, tak peduli meski nilai ekuitas perusahaan sejatinya masih naik. Dalam kondisi inilah, beberapa saham kemudian menciptakan ‘value gap’ yang positif.

Berikut ini adalah data kenaikan/penurunan ekuitas dari 15 perusahaan paling likuid di BEI sepanjang Semester I 2015 (antara 31 Desember 2014 hingga 30 Juni 2015), dibandingkan dengan pergerakan harga sahamnya secara YTD (antara 31 Desember 2014 hingga 10 September 2015). Angka dalam persen, data diurutkan berdasarkan value gap-nya, dari yang terbesar hingga terkecil. Sebelumnya catat bahwa beberapa perusahaan mencatat angka pertumbuhan ekuitas yang negatif karena faktor dividen, jadi bukan karena perusahaan merugi (dari 15 perusahaan yang disebutkan dibawah, semuanya membukukan laba bersih, meski mayoritas memang turun dibanding tahun sebelumnya).
Companies
Equity
Market Price
Value Gap
PGN
(1.3)
(58.6)
57.3
Alam Sutera Realty
5.2
(37.9)
43.1
Pakuwon Jati
8.7
(29.5)
38.2
Semen Indonesia
0.2
(36.4)
36.6
Adhi Karya
(1.4)
(36.6)
35.3
Gudang Garam
2.6
(31.2)
33.8
Indofood
0.8
(26.5)
27.3
Bank BNI
(0.1)
(26.5)
26.4
Bank Mandiri
4.5
(20.2)
24.7
Bank BRI
4.6
(17.1)
21.7
Astra International
2.8
(18.5)
21.3
Bank BCA
8.0
(9.1)
17.1
Kalbe Farma
2.0
(15.0)
17.0
Indocement
(11.0)
(25.5)
14.5
Telkom
(1.9)
(3.5)
1.6
Nah, berdasarkan data diatas, dan dengan asumsi bahwa kelima belas perusahaan diatas pada akhirnya akan terus tumbuh dalam jangka panjang, maka untuk saat ini saham apakah yang paling menarik untuk dibeli? Perusahaan Gas Negara (PGAS), tentu saja! Kalau anda lihat lagi data value gap pada tabel Berkshire Hathaway di artikel sebelumnya, maka value gap terbesarnya adalah di tahun 1974, yakni 54.2%, tapi bahkan value gap PGAS lebih besar lagi, yakni 57.3%. Ini artinya jika PGAS mampu untuk kembali mencatatkan pertumbuhan ekuitas yang signifikan dalam 1 – 2 tahun mendatang, maka harga sahamnya juga akan naik lebih kencang lagi dalam 1 – 2 tahun tersebut, mungkin bisa lebih dari 100% alias dua kali lipat.
Hanya saja ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan. Pertama, PGAS memiliki track record kinerja yang sangat baik dimasa lalu dimana ekuitasnya senantiasa tumbuh diatas 25% setiap tahunnya dan itu belum termasuk memperhitungkan dividen (padahal PGAS juga termasuk perusahaan yang royal dividen), yang kemudian menyebabkan sahamnya memiliki valuasi diatas rata-rata (baca: mahal). Jadi meski pada tahun ini sahamnya turun signifikan, maka kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa dia sudah murah. Pada tahun 2015 ini PGAS juga mencatat kinerja yang relatif buruk dimana itu bisa dilihat dari ekuitasnya yang turun 1.3% (dan itu menjelaskan kenapa sahamnya jatuh). Intinya, okay, PGAS ini mencatatkan value gap yang amat besar, namun kita masih perlu menganalisis beberapa hal lagi untuk kemudian mengambil kesimpulan akhir bahwa sahamnya layak invest.
Tapi yang jelas dari data diatas bisa kita katakan bahwa valuasi PGAS pada saat ini, yakni ketika artikel ini ditulis, adalah 57.3% lebih rendah dibanding valuasinya pada akhir tahun 2014 lalu. Jika anda membeli saham PGAS pada saat ini dan kedepannya dia naik hingga valuasinya kembali sama dengan akhir tahun 2014, maka anda akan memperoleh gain sekitar 140%. However, PGAS hanya bisa naik kembali jika perusahaan mampu useperti Berkshire Hathaway, yang dengan cepat kembali mencatatkan kinerja bagus ketika kondisi perekonomian pulih. Beberapa perusahaan seringkali hancur berantakan ketika ekonomi nasional mengalami krisis, dan tidak mampu bangkit lagi ketika kondisi kembali kondusif. Tapi jika melihat manajemen PGAS yang konservatif dan prudent (utangnya sedikit), maka penulis termasuk yang optimis bahwa PGAS akan mampu mencatatkan kinerja bagus ketika nanti ekonomi pulih.
Selain PGAS, dari tabel diatas bisa dilihat bahwa saham-saham yang memiliki value gap yang besar adalah Alam Sutera Realty (ASRI), Pakuwon Jati (PWON), dan Semen Indonesia (SMGR). Untuk SMGR, kalau bukan karena kenaikannya yang sangat signifikan dalam dua minggu terakhir, maka value gap-nya mungkin lebih besar dari PGAS. Saham yang memiliki value gap terkecil adalah Telkom (TLKM), dimana meski ekuitasnya turun 1.9%, namun harga sahamnya hanya turun 3.5%. Namun entah karena alasan apa, sejauh yang penulis amati TLKM ini justru menjadi saham favorit para fund-fund manager di perusahaan reksadana (tapi mungkin itu sekaligus menjelaskan kenapa kinerja reksadana pada tahun ini cenderung berantakan).

Satu hal lagi. Dari sisi pertumbuhan ekuitas, hingga Kuartal II kemarin hanya ada dua perusahaan dalam tabel diatas yang mencatatkan pertumbuhan ekuitas yang lumayan (diatas 8%), yakni PWON dan Bank BCA (BBCA), dan itu mungkin mengindikasikan satu hal: Meski tahun 2015 ini merupakan tahun yang sulit secara ekonomi, namun nyatanya sektor properti dan perbankan masih mampu menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Dan kalau anda pelajari lebih lanjut, maka memang tidak hanya PWON dan BBCA, tapi mayoritas perusahaan di sektor properti dan perbankan, baik itu yang tergolong perusahaan besar ataupun second liner, adalah merupakan the best performer untuk tahun 2015 sejauh ini (dari sisi kinerja keuangan/fundamental, bukan kinerja sahamnya). Kalau untuk sektor perbankan, maka sejak dulu sektor ini memang merupakan sektor paling aman kedua di Indonesia, setelah sektor consumer goods. Namun untuk sektor properti, cukup jelas bahwa sektor ini masih belum ‘habis’, dan itu sekaligus menjelaskan kenapa perusahaan-perusahaan dari sektor lain belakangan ini banyak yang masuk ke properti. Anda bisa cari sendiri beritanya di google.
Okay, I think that’s enough. Any [...]

Peluang Investasi dari ‘Value Gap’

Sejak diambil alih oleh Warren Buffett pada tahun 1964, Berkshire Hathaway (BRK) telah menghasilkan keuntungan investasi sebesar total 1,826,163%bagi siapapun yang memegang sahamnya, dalam 50 tahun terakhir (hingga 2014). Ini artinya jika anda membeli saham BRK senilai Rp10 juta pada tahun 1964 dan masih meng-hold-nya sampai sekarang, maka investasi anda saat ini sudah berkembang menjadi senilai.. Rp182.6 milyar.

Meski angkanya tampak fantastis, namun jangan lupa bahwa anda perlu menunggu selama 50 tahun untuk bisa meraup keuntungan sebesar itu. Namun bukan itu yang penulis hendak bahas di artikel kali ini. Di artikel ini, kita akan fokus pada fakta bahwa meski dalam jangka panjaaaaang saham BRK cenderung naik terus, namun dia juga bisa jatuh berantakan pada satu tahun tertentu, seringkali karena pada tahun tersebut perusahaan mencatat kinerja yang tidak sebagus biasanya, entah itu labanya turun atau ekuitasnya sendiri yang turun. Warren sendiri menyebutkan bahwa dalam 50 tahun terakhir, saham Berkshire pernah anjlok hingga lebih dari 50% sebanyak tiga kali. Atau dengan kata lain, meski dalam jangka panjang saham BRK pada akhirnya akan naik terus, namun pada waktu-waktu tertentu, beberapa orang mungkin justru menderita kerugian yang amat besar dari saham Berkshire ini.
Lebih jelasnya, berikut ini adalah data persentase pertumbuhan aset bersih/ekuitas BRK, dibandingkan dengan persentase kenaikan atau penurunan harga sahamnya setiap tahun, dari 1964 hingga 2014. Data dalam persen:
Year
Equity Value
Market Value
‘Value Gap’
1965
23.8
49.5
(25.7)
1966
20.3
(3.4)
23.7
1967
11.0
13.3
(2.3)
1968
19.0
77.8
(58.8)
1969
16.2
19.4
(3.2)
1970
12.0
(4.6)
16.6
1971
16.4
80.5
(64.1)
1972
21.7
8.1
13.6
1973
4.7
(2.5)
7.2
1974
5.5
(48.7)
54.2
1975
21.9
2.5
19.4
1976
59.3
129.3
(70.0)
1977
31.9
46.8
(14.9)
1978
24.0
14.5
9.5
1979
35.7
102.5
(66.8)
1980
19.3
32.8
(13.5)
1981
31.4
31.8
(0.4)
1982
40.0
38.4
1.6
1983
32.3
69.0
(36.7)
1984
13.6
(2.7)
16.3
1985
48.2
93.7
(45.5)
1986
26.1
14.2
11.9
1987
19.5
4.6
14.9
1988
20.1
59.3
(39.2)
1989
44.4
84.6
(40.2)
1990
7.4
(23.1)
30.5
1991
39.6
35.6
4.0
1992
20.3
29.8
(9.5)
1993
14.3
38.9
(24.6)
1994
13.9
25.0
(11.1)
1995
43.1
57.4
(14.3)
1996
31.8
6.2
25.6
1997
34.1
34.9
(0.8)
1998
48.3
52.2
(3.9)
1999
0.5
(19.9)
20.4
2000
6.5
26.6
(20.1)
2001
(6.2)
6.5
(12.7)
2002
10.0
(3.8)
13.8
2003
21.0
15.8
5.2
2004
10.5
4.3
6.2
2005
6.4
0.8
5.6
2006
18.4
24.1
(5.7)
2007
11.0
28.7
(17.7)
2008
(9.6)
(31.8)
22.2
2009
19.8
2.7
17.1
2010
13.0
21.4
(8.4)
2011
4.6
(4.7)
9.3
2012
14.4
16.8
(2.4)
2013
18.2
32.7
(14.5)
2014
8.3
27.0
(18.7)
Average
19.4
21.6
(2.2)
Nah, sebelum kita membahas tabel panjang diatas, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu, apa itu yang dimaksud dengan value gap (tolong baca bagian ini pelan-pelan!). Kalau anda googling, maka ada banyak penjelasan soal value gap ini di internet, namun yang dimaksud dengan value gap disini adalah selisih antara persentase kenaikan atau penurunan nilai aset bersih/ekuitas Berkshire, atau dengan kata lain nilai riil perusahaan, dengan persentase kenaikan atau penurunan harga sahamnya di market. Jika angkanya negatif pada tahun tertentu, artinya harga saham Berkshire naik lebih tinggi dibanding nilai ekuitas perusahaan pada tahun tersebut. Dan jika angkanya positif pada tahun tertentu, maka artinya sebaliknya, nilai ekuitas Berkshire naik lebih tinggi dibanding harga sahamnya.
Jadi jika seseorang hendak berinvestasi untuk jangka panjang di Berkshire, maka dia harus membeli sahamnya pada akhir tahun tertentu dimana value gap pada tahun tersebut tercatat positif, karena itu artinya kenaikan harga saham Berkshire pada saat itu lebih rendah dibanding pertumbuhan riil perusahaan, sehingga otomatis valuasi sahamnya menjadi lebih murah (dari sisi PBV).
Contoh! Pada tabel diatas, angka value gap tertinggi tercatat pada tahun 1974, yakni 54.2%, karena harga saham Berkshire pada tahun tersebut anjlok 48.7% (karena memang Bursa Wall-Street pada tahun tersebut sedang dilanda koreksi besar, terkait krisis minyak di Timur Tengah), padahal nilai aset bersih perusahaan sejatinya masih tumbuh 5.5%. Jika seseorang berani membeli saham Berkshire pada akhir tahun 1974 (‘berani’ disini merupakan istilah yang tepat, karena ketika itu Wall Street sedang hancur lebur), maka pada akhir tahun 1976, atau hanya dua tahun kemudian, ia akan profit luar biasa karena saham Berkshire naik total hampir 150% selama dua tahun tersebut.
Harga Saham Jatuh = Peluang Langka!
Pada tabel value gap diatas, selama 50 tahun terakhir, ternyata lebih banyak menunjukkan angka yang negatif ketimbang positif. Dan itu menunjukkan bahwa anda hanya bisa membeli Berkshire ini pada tahun-tahun tertentu dimana harganya jatuh (biasanya karena koreksi pasar), katakanlah seperti tahun 1974 tadi, sekali lagi jika tujuannya untuk investasi jangka panjang.
Contoh lainnya, pada tahun 2008 lalu, indeks S&P500 anjlok 37.0% karena krisis global, dan bahkan ekuitas Berkshire juga turun 9.6% (selama 50 tahun terakhir, ekuitas Berkshire hanya turun dua kali, yakni tahun 2001 dan 2008). Namun karena harga saham Berkshire turun lebih dalam, maka jadilah value gap-nya positif. Dan ternyata benar: Ketika periode krisis akhirnya berakhir, di tahun-tahun berikutnya Berkshire kembali senantiasa mencetak pertumbuhan ekuitas yang positif, dan harga sahamnya juga terus naik nyaris setiap tahun (hanya turun sekali di tahun 2011).
Kesimpulannya, selama anda memilih saham dari perusahaan yang bagus, maka penurunan harga sahamnya pada tahun tertentu, entah itu karena koreksi pasar atau karena kinerja perusahaan tersebut sedang agak jelek, adalah selalu merupakan peluang, sekali lagi dengan catatan anda berkomitmen untuk memegangnya dalam jangka panjang (1 tahun atau lebih).

Lanjutan dari artikel ini bisa dibaca [...]

PGAS! Opportunity.. Or?

Baru saja minggu lalu kita membahas bahwa saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) sebaiknya dihindari dulu karena masih diselimuti sentimen negatif terkait kemungkinan kerugian investasinya di Blok Gas Fasken, Amerika Serikat, Senin kemarin Pemerintah melalui Kementerian ESDM mengatakan bahwa mereka mentargetkan harga gas untuk turun hingga 50% guna memperbaiki kondisi perekonomian. Alhasil, kemarin PGAS anjlok ke posisi 2,480, dan pagi inipun sepertinya dia turun lagi. Ketika postingan ini dibuat, PGAS berada di level 2,190.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Pemerintah akan menurunkan harga gas dengan cara mengurangi beban-beban yang tidak perlu dalam pendistribusian gas, misalnya dengan memangkas jalur rantai pasokan, mengurangi perantara, hingga pembangunan infrastruktur gas. Ini artinya harga gas baru akan diturunkan jika upaya pengurangan beban-beban tadi berhasil dilakukan, sehingga penurunan harga gas tidak akan berdampak serius pada laba PGAS, karena disisi lain biaya operasional perusahaan juga turun signifikan.
  2. Sayangnya kinerja PGAS sendiri terbilang buruk hingga Kuartal II 2015 kemarin, dimana labanya anjlok hampir 40%. Menurut Dirut PGAS, Hendi Prio Santoso, laba PGAS kemungkinan memang masih akan turun sampai akhir tahun, dan mungkin baru akan naik lagi tahun 2016 nanti.
  3. Secara teknikal, terdapat support kuat bagi PGAS ini di 2,200-an.
  4. Pada harga 2,190, PBV dan PER PGAS masing-masing tercatat 1.4 dan 8.9 kali, jauh dibawah level biasanya di kisaran 3.5 – 4 kali (PBV), dan 14 – 16 kali (PER).
Nah, jadi bagaimana menurut anda? Apakah ini peluang, atau?

Jadwal Seminar/Training Investasi Saham & Value Investing: Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 19 September 2015. Keterangan lebih lengkap klik [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 19 Sept 2015

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Penerapan & Hasilnya’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Penulis bersama para peserta investor gathering. Klik gambar untuk memperbesar

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
  4. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
  5. Bonus Materi: Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing, plus sharing tips & pengalaman penulis dalam menghadapi koreksi IHSG.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 September 2015
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.3WIB (seminarnya total 5 – 6 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30 agar punya waktu untuk ngobrol dan diskusi santai dengan sesama peserta. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Donald Trump, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan penuh alias ditransfer balik. Jika anda sudah mentransfer namun ternyata berhalangan hadir pas acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh dengan catatan anda memberi tahukan ketidak hadiran tersebut paling lambat dua hari sebelum acaranya. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2AE8431F. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Foto: Foto diatas adalah foto penulis bersama para peserta di salah satu acara investor gathering di Jakarta. Untuk melihat foto-foto penyelenggaraan seminar sebelumnya, klik disini.
Contoh penerapan dari metode value investing dan hasilnya: Berikut adalah saham-saham yang pernah/masih kami pegang, atau kami berencana untuk membelinya suatu waktu nanti, yang analisisnya berdasarkan metode value investing, dan sebagian besar dari mereka sudah menghasilkan gain signifikan: Megapolitan Developments (EMDE)Surya Semesta Internusa (SSIA), Nippon Indosari Corpindo (CPIN), Sri Rejeki Isman (SRIL), dan seterusnya.

Testimonial: Beberapa peserta/alumni sudah menceritakan pengalaman mereka dalam mengikuti seminar ini di website mereka masing-masing, dan sudah tentu mereka merekomendasikan agar anda juga turut hadir :) Salah satunya anda bisa baca yang ini, ditulis oleh Elvin Enderson [...]

Pelemahan Rupiah = Krisis 1998? Maybe Not

Indonesia mengalami krisis ekonomi yang buruk di tahun 1998 lalu, dan krisis tersebut diawali oleh kejatuhan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar sejak Agustus tahun sebelumnya (1997). Berhubung saat ini kurs Rupiah juga terus saja melemah, maka wajar jika timbul pertanyaan: Apakah krisis 1998 akan terulang kembali?

Krisis 1998 yang melanda beberapa negara di Asia Tenggara plus Korea Selatan, diawali oleh penurunan nilai tukar mata uang Thailand, Baht, pada Mei 1997. Penurunan tersebut memaksa Pemerintah Thailand untuk mem-float Baht, atau dengan kata lain membiarkan kurs Baht terhadap USD ditentukan secara bebas oleh pasar, pada Juli 1997. Sebelumnya kurs Baht memang ditentukan oleh Pemerintah Thailand, dimana Baht hanya bisa naik dan turun sebesar trading band yang sudah ditentukan.
Dan tak lama kemudian, nilai tukar Baht terhadap USD turun lebih dalam lagi, hingga mencapai B56 per USD pada awal tahun 1998, atau jatuh hingga separuhnya (sebelum Mei 1997, kurs Baht stabil di B25 – 26 per USD).
Menyusul kejatuhan Baht, Rupiah juga langsung goyang tak lama kemudian, hingga Bank Indonesia (BI) terpaksa memperlebar trading band Rupiah, dari tadinya 8% menjadi 12% (sehingga nilai tukar Rupiah terhadap USD, yang tadinya maksimal hanya bisa naik atau turun 8% dalam sehari, menjadi bisa naik atau turun maksimal 12% dalam sehari), pada Juli 1997. Setelah itu kurs Rupiah tanpa ampun jeblok 12% setiap hari. Pada Agustus 1997, BI akhirnya juga melepas batasan trading band Rupiah, dan membiarkan Rupiah bergerak sesuai mekanisme pasar. Hasilnya Rupiah terjerembab lebih buruk lagi, hingga menembus Rp11,000 pada Januari 1998, atau anjlok 75% lebih.
Dan krisis yang sebenarnya justru baru dimulai pada tahun 1998 tersebut. Pada laporan keuangan untuk tahun penuh 1997, perusahaan-perusahaan Tbk yang memiliki utang dalam mata uang USD membukukan kerugian kurs gila-gilaan, karena nilai utang mereka melonjak hingga dua atau tiga kali lipat, dan banyak diantaranya yang terancam default (gagal bayar utang). Alhasil memasuki tahun 1998, para perusahaan ini berupaya membeli USD dalam jumlah besar untuk membayar utangnya, dan itulah yang menyebabkan pelemahan Rupiah terus berlanjut hingga menembus Rp17,000-an pada pertengahan tahun 1998. Pada titik inilah, puluhan perusahaan, baik Tbk maupun private, tanpa ampun langsung bangkrut, dan kebangkrutan mereka turut menyeret bank-bank yang memberikan mereka pijaman. Salah satu bank terbesar di Indonesia, Bank BCA, mengalami rush, Presiden Soeharto lengser pada bulan Mei, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 13.5% untuk tahun 1998.
Penyebab Krisis
Berbeda dengan negara-negara lainnya yang mampu untuk pulih lebih cepat (Singapura hanya mengalami krisis-nya selama kurang dari 1 tahun, atau malah boleh dibilang gak ada krisis sama sekali), Indonesia butuh waktu sekitar 5 tahun untuk pulih dari krisis, dan ekonomi baru terasa maju kencang kembali pada tahun 2003 – 2004. Termasuk IHSG, yang sempat mencatat rekor posisi terendahnya pada September 1997, tidak mampu untuk break new high lagi hingga penghujung tahun 2003. Penurunan Rupiah pun tercatat yang paling dalam dibanding mata uang lainnya yang turut terkena dampak krisis. Pertanyaannya, kenapa?
Rate vs USD
Before Crisis
Lowest Position
Change (%)
Rupiah
2,600
17,000
(84.7)
Baht
25
56
(55.4)
Ringgit
2.5
4.7
(46.8)
Filipina Peso
26
53
(50.9)
Korean Won
800
1700
(52.9)
Dan jawabannya adalah karena sebelum terjadinya krisis, Indonesia, entah itu Pemerintahnya maupun sektor swastanya, memiliki utang yang amat sangat besar. Pada tahun 1997, rasio utang Indonesia terhadap GDP tercatat lebih dari 150%. Ketika Indonesia mengalami booming pertumbuhan ekonomi sejak akhir dekade 80-an hingga pertengahan 90-an, para konglomerasi secara greedy memanfaatkan momentum tersebut untuk mengambil utang luar negeri sebesar-besarnya, dan sayangnya Pemerintah membiarkan hal tersebut. Asia Pulp & Paper, perusahaan kertas terbesar di dunia milik Grup Sinarmas, ketika itu memiliki utang obligasi dalam mata uang US$ senilai US$ 14 milyar (wow!) yang tentu saja gagal untuk dibayar setelah kurs Rupiah anjlok.
Jadi penyebab buruknya kinerja perusahaan-perusahaan di penghujung tahun 1997, awalnya memang karena penurunan nilai tukar Rupiah. Namun yang menyebabkan keadaan menjadi benar-benar buruk alias krisis di tahun berikutnya (1998), adalah karena puluhan perusahaan-perusahaan besar mendadak membutuhkan USD dalam jumlah besar untuk membayar utang-utangnya, dan itulah yang menyebabkan Rupiah melemah lebih lanjut (sehingga mereka pada akhirnya tetap saja bangkrut), dan pada akhirnya menyebabkan krisis.
Lalu bagaimana dengan tahun 2015 ini?
Berbeda dengan tahun 1998, pada tahun 2015 ini Indonesia tidak lagi ‘keberatan’ utang. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, hingga Kuartal II 2015, rasio utang Pemerintah terhadap GDP (tidak termasuk utang swasta) adalah 25%. Dan kalau ditambah utang swasta mungkin jadi 27 – 29%. Berikut adalah data rasio Debt to GDP sejak tahun 2008 hingga 2013:
Debt to GDP (%)
Total
Government Debt Only
2008
33.2
32.3
2009
30.3
28.6
2010
27.4
26.5
2011
26.6
24.5
2012
27.3
23.1
2013
28.7
23.0
Poinnya adalah, okay, Rupiah memang sedang melemah, dan dia bisa melemah sampai berapa saja. Tapi selama Pemerintah atau sektor swasta tidak memiliki utang yang besar dalam mata uang USD, then trust me, Indonesia akan baik-baik saja! Contoh riil dari hal ini adalah ketika terjadi krisis global di tahun 2008 lalu, dimana pada tahun tersebut Rupiah juga melemah dari 9,000-an hingga tembus 12,000 per USD. Tapi karena ketika itu perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak lagi keberatan utang seperti tahun 1998, maka tidak terjadi aksi beli USD dalam jumlah besar-besaran, sehingga Rupiah langsung menguat lagi setahun berikutnya. Dan seperti yang bisa anda lihat di tabel diatas, pada tahun 2008 tersebut rasio utang terhadap GDP Indonesia memang hanya 33.2%, atau jauh lebih rendah dibanding tahun 1998.
Sementara untuk tahun 2015 ini? Well, rasio utang tersebut sudah lebih baik lagi menjadi hanya 25% (government only). Dalam hal ini mungkin penulis perlu juga meluruskan komentar-komentar yang menyebutkan bahwa Indonesia krisis karena utang Pemerintah sudah menembus Rp3,000 trilyun (dan itu memang terdengar sebagai angka yang fantastis).
Tapi sekarang pakai logika saja: Kalau memang besarnya jumlah utang itu harus dilihat dari nilai nominal, maka Astra International (ASII) seharusnya sudah lama bangkrut karena total kewajibannya pada Kuartal II 2015 tercatat Rp119 trilyun, atau lebih besar dibanding kewajiban Bumi Resources (BUMI) sekalipun yang ‘hanya’ Rp75 trilyun (berdasarkan kurs Rp13,160 per USD). Tapi kenapa saham ASII masih kokoh di 5,000-an, sementara BUMI malah sudah mati di gocap? Ya karena nilai aset ASII, yakni Rp243 trilyun, masih jauh lebih besar dibanding utangnya tersebut, sementara nilai aset BUMI hanya Rp58 trilyun, atau sudah lebih kecil dibanding utangnya (sehingga perusahaan mengalami defisiensi modal), sehingga BUMI secara teknis sudah bangkrut karena aset yang tersedia tidak lagi cukup untuk membayar utang-utangnya.
Demikian pula dengan total utang Pemerintah Indonesia. Meski angkanya sudah tembus Rp3,000 trilyun, namun nilai ‘aset negara’, dalam hal ini GDP, juga naik terus dan sekarang sudah mantap di level Rp12,000 trilyun, sehingga rasio utang terhadap GDP-nya hanya sekitar 25%, dan itu adalah rasio yang sangat aman. Anda tahu kenapa Yunani mengalami krisis? Itu adalah karena rasio utangnya terhadap GDP tercatat 177%, atau dengan kata lain utang Yunani nyaris 2 kali lebih besar dibanding GDP-nya sendiri. Jadi gimana mereka nggak krisis???
Rasio utang Pemerintah Indonesia terhadap GDP. Perhatikan bahwa trend-nya turun terus sejak tahun 2001. Sumber: www.tradingeconomics.com
Jadi kesimpulannya, okay, Rupiah memang melemah, dan level Rp15,000 sepertinya cuma soal waktu untuk bisa ditembus, karena sampai sekarang Bank Indonesia (BI) kelihatannya masih santai-santai saja. Seperti halnya BEI dan OJK yang baru keliatan kerja setelah IHSG minggu kemarin mengalami panic selling, BI juga mungkin baru akan turun tangan kalau Rupiah, dalam pandangan mereka, memang sudah berada di level yang tidak lagi wajar. Faktor eksternal seperti devaluasi Yuan juga mungkin masih bisa menekan Rupiah lebih lanjut.
Tapi selama perusahaan-perusahaan tidak memiliki utang USD dalam jumlah besar, maka kita akan baik-baik saja (meski memang IHSG mau tidak mau harus turun dulu), dan pelemahan Rupiah pada akhirnya nanti akan berhenti. Saat ini beberapa perusahaan memang punya utang dalam mata uang USD dalam jumlah besar, tapi sebagian besar lainnya tidak punya utang apapun. Dan kondisi ini sangat berbeda dengan tahun 1997 – 1998 lalu, dimana semua konglomerasi nyaris tanpa terkecuali memiliki utang hingga puluhan milyar USD tanpa didukung oleh kepemilikan aset yang memadai. Tahun 2014 lalu, Perusahaan Gas Negara (PGAS) menerbitkan obligasi senilai US$ 1.35 milyar di Singapura. Dan meski nilai obligasi tersebut tidak sampai sepersepuluh dari nilai obligasi yang diterbitkan Asia Pulp & Paper di penghujung tahun 90-an (US$ 14 milyar cuy!), namun itu sudah merupakan salah satu obligasi terbesar yang diterbitkan oleh perusahaan di Indonesia, karena perusahaan-perusahaan lain paling banter hanya menerbitkan obligasi di kisaran ratusan juta USD saja. Disisi lain PGAS sendiri memang perusahaan besar dengan nilai aset US$ 5.8 milyar, jadi utang segitu masih wajar.

Hanya memang, dengan terus melemahnya Rupiah, maka anda sebagai investor dituntut untuk lebih selektif dalam memilih saham, dimana anda sebaiknya menghindari saham dari perusahaan yang punya utang dalam mata uang USD, apalagi jika utang tersebut tidak di-hedging. Tapi yah, itu nggak sulit [...]

CPIN, PTBA, PGAS, dan SSIA

Halo Pak Teguh, minta pendapat soal Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). CPIN termasuk saham LQ45 yang top pricenya pernah di sekitar 4,000 dan sempat turun ketika panic selling ke 1,300 (kurang lebih turun 67%, melebihi penurunan PGAS yang sekitar 50%) dan sekarang mantul ke 2,000 lagi. Secara awam saya melihat jika kita bisa dapat moment buy di 1,300 atau 1,400, tentu saja sekarang sudah profit 30 – 40%. Setahu saya CPIN merupakan perusahaan yang mempunyai track record bagus, mungkin lagi terimbas perekonomian global yg melemah dan USD yang melambung tinggi. Apakah CPIN termasuk saham yg layak dikoleksi?

CPIN membukukan laba bersih Rp959 milyar di Semester I 2015, turun lumayan dalam dibanding periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp1.25 trilyun. Meski kinerja tersebut masih lebih baik dibanding dua kompetitornya yakni Japfa Comfeed (JPFA) dan Malindo Feedmill (MAIN) yang sampai merugi, dan pendapatan CPIN juga sejatinya masih naik, namun penurunan laba tersebut jelas disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD. CPIN harus mengimpor sebagian bahan baku pakan ayam dari luar negeri, dan pada November 2014 lalu perusahaan memperoleh pinjaman sindikasi dalam mata uang USD dari Citigroup senilai US$ 200 juta. Pelemahan Rupiah menyebabkan perusahaan menderita kerugian selisih kurs, dan juga harus membayar bunga pinjaman USD-nya dalam jumlah yang lebih besar, dan itulah yang kemudian menekan laba perusahaan.
Masalahnya, kita nggak tahu Rupiah ini bisa melemah sampai berapa. Meski saat ini Rupiah sudah tembus Rp14,000 per USD, namun Bank Indonesia (BI) kelihatannya masih santai-santai saja, yang itu berarti mereka juga menganggap bahwa posisi Rupiah pada saat ini masih ‘aman’. Menurut BI sendiri, kurs Rupiah memang harus berada di level tertentu untuk bisa mendorong nilai ekspor (jadi tidak harus menguat). Jika besok-besok Rupiah kembali tertekan, katakanlah sampai Rp15,000 per USD, maka kinerja CPIN mau tidak mau akan turut tertekan.
Jadi meski penulis setuju bahwa CPIN ini bagus, namun untuk saat ini masih agak riskan untuk masuk. Kemarin dia memang rebound tinggi setelah event panic selling, tapi ketika itu SMGR, BBNI, ADRO, PTBA, dan masih banyak lagi, mereka juga terbang semua. Jadi kemungkinan itu hanya panic buying saja, karena investor melihat bahwa saham-saham tersebut sudah turun teramat sangat rendah.
Tapi selama fundamentalnya masih belum cukup baik, dan outlook-nya juga belum cerah, maka biasanya sahamnya akan turun lagi, karena disisi lain CPIN masih belum cukup murah untuk ukuran perusahaan yang kinerjanya lagi nggak bagus (PBV-nya masih 2.7 kali, sementara sekarang ini sudah banyak saham blue chip yang PBV-nya kurang dari 2 kali). Kalau dihitung dari all time high-nya yakni 5,200, maka CPIN sudah turun lebih dari 60%, tapi jangan lupa kalau CPIN juga sudah naik banyak sekali dari hanya 100 perak di tahun 2008. Jadi posisi CPIN pada saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding posisinya di tahun 2008 tersebut.
Bukit Asam (PTBA) apakah sudah murah? Boleh dibeli untuk disimpan long term? Denger-denger perusahaannya mau buyback?
PTBA adalah saham terbaik di sektor batubara, dimana perusahaan punya track record kinerja yang sangat solid, profitabilitas diatas rata-rata, manajemennya mampu untuk berekspansi ke hilir (pembangkit listrik), royal dalam dividen, dan konservatif dalam leverage.
Tapi bahkan perusahaan sebagus itupun, kalau harga batubara turun maka ya tetap saja labanya bakal anjlok. Dan sayangnya sampai sekarang harga batubara masih turun meski tidak lagi sedrastis tahun-tahun lalu. Penulis sebenarnya termasuk yang percaya bahwa tahun ini mungkin merupakan titik nadir dari industri batubara, sehingga tahun depan industri ini seharusnya akan bangkit lagi, apalagi jika Pemerintah mampu merealisasikan pembangunan mega proyek 35,000 MW di dalam negeri. Tapi untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanya mengamati saja dulu, dan mungkin baru akan masuk nanti kalau industri batubara memang sudah menunjukkan turning point-nya. Kita akan investasi jangka panjang di PTBA ini, tapi seperti halnya menjual saham gak perlu buru-buru, maka membelinya pun gak perlu buru-buru. Kita lihat lagi dalam beberapa bulan kedepan gimana.
Soal buyback, itu belum tentu menggaransi bahwa sahamnya tidak akan turun lebih rendah lagi. Beberapa bulan lalu Gajah Tunggal (GJTL) juga mengumumkan bahwa mereka akan buyback saham ketika GJTL berada di 1,000-an, tapi sekarang GJTL malah sudah dibawah 500.
And btw, PBV PTBA saat ini masih 1.6 kali. Meski ini sejatinya sudah sangat murah, tapi dalam kondisi pesta diskon seperti sekarang maka ada banyak saham-saham batubara lain yang tidak kalah bagusnya, yang PBV-nya malah sudah nol koma. Jadi sekali lagi kita gak perlu buru-buru, karena jika nanti waktunya sudah tepat, maka di sektor batubara ini kita gak hanya bisa ambil PTBA, tapi (mungkin) BUMI sekalipun boleh!
Perusahaan Gas Negara (PGAS), saya tertarik untuk beli karena kelihatannya sudah murah sekali, tapi saya dengar kalau perusahaan merugi dari investasinya di luar negeri. Apa benar?
Yep, sebagai salah satu emiten terbesar di BEI, dan juga merupakan BUMN, maka PGAS terlalu menarik untuk diabaikan, apalagi sahamnya sudah turun lebih dari 50% dari puncaknya. Meski kinerja perusahaan juga lagi jelek karena imbas dari lesunya perekonomian, namun kalau kita berpandangan untuk jangka panjang, maka mungkin sekarang ini justru merupakan kesempatan yang bagus untuk masuk ke PGAS ini, dan jualnya nanti 5 tahun kemudian.
Hanya saja seperti CPIN diatas, PGAS ini juga punya ‘cerita’.
Tahun 2014 lalu, PGAS melalui anak usahanya, Saka Energy, mengeluarkan US$ 172 juta untuk mengakuisisi 36% kepemilikan di Blok Gas Faskendi Texas, Amerika Serikat, milik Swift Energy (SFY), perusahaan migas asal AS.  Karena kepemilikan PGAS di Fasken hanya 36%, maka operasional Fasken tetap dipegang oleh SFY, sementara PGAS hanya ikut memperoleh bagi hasil sebesar 36% dari gas yang diproduksi.
Secara operasional, Blok Fasken ini tidak ada masalah apapun. Menurut informasi resmi yang dirilis PGAS, produksi gas di Fasken terus naik, dari 30 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada tahun 2014 lalu, menjadi 154 MMSCFD pada saat ini, dan bisa naik lagi menjadi 190 mmscfd pada akhir tahun.
Namun yang mengalami masalah adalah SFY sendiri. Pada tahun 2014 lalu perusahaan mengalami rugi US$ 283 juta, dan hingga Semester I 2015 SFY kembali mencatat rugi US$ 770 juta. Akumulasi kerugian tersebut sedemikian besarnya hingga nilai ekuitas SFY anjlok dari US$ 1.1 milyar pada akhir tahun 2013, menjadi hanya US$ 28 juta pada saat ini. Jika trend kerugian diatas berlanjut, dan kelihatannya memang demikian, maka tak lama lagi SFY akan mencatat defisiensi modal (seperti BUMI), dan itu artinya secara teknis perusahaan sudah bangkrut.
Penulis sendiri masih belum jelas soal apa yang menyebabkan SFY merugi sampai segitunya. Namun karena kerugian tersebut maka saham SFY tanpa ampun anjlok dari US$ 11.4 menjadi US$ 0.5 pada hari ini. Di AS sendiri mulai ada banyak pemberitaan yang menyebut bahwa SFY mungkin akan segera di-delisting dari bursa.
Poinnya disini adalah, meski manajemen PGAS sudah membantah bahwa mereka berinvestasi di Fasken dan bukan di saham SFY, sehingga investasi mereka masih baik-baik saja (dan itu memang benar), namun jangan lupa bahwa yang memegang kendali operasional atas Fasken itu masih SFY, bukan PGAS. Jadi kalau SFY kenapa-napa, maka Fasken mau tidak mau akan ikut kena. Jika pada Kuartal III nanti Swift Energy pada akhirnya mencatat defisiensi modal (dan kelihatannya demikian), maka sahamnya mungkin akan benar-benar ditendang keluar dari Bursa New York, dan cerita soal Blok Fasken ini akan mengemuka kembali, kecuali jika PGAS bisa menutupinya dengan kinerja yang excellent (tapi nyatanya di Kuartal II barusan labanya masih turun).
Karena itulah, mungkin untuk saat ini kita ambil saham bluechip/BUMN lainnya saja dulu, yang sama-sama sudah murah tapi perusahaannya gak lagi ada cerita jelek apapun. Sebab disisi lain, Blok Fasken ini hanyalah satu dari sepuluh blok gas (tadinya sebelas, tapi ada satu blok yang dijual) milik PGAS. Dan di laporan keuangan perusahaan sendiri disebutkan bahwa tiga dari dari sepuluh blok gas tersebut (termasuk Fasken) mengalami kerugian penurunan nilai.
Surya Semesta Internusa (SSIA), tolong analisa serta harga terbaik untuk buy.
Dengan laba yang tumbuh 35%, ROE terjaga di level 17%, sementara ekuitasnya juga naik 9.3% secara year to date (atau 12.5% jika memperhitungkan dividen), maka kinerja SSIA untuk Semester I 2015 terbilang sangat baik, apalagi jika dibandingkan dengan kinerja para emiten lainnya di BEI, yang rata-rata mengalami penurunan laba atau bahkan kerugian. SSIA mampu untuk terus mencatat pertumbuhan laba karena adanya tambahan pendapatan dari penjualan tanah kawasan industri, dalam hal ini kawasan industri di Subang, yang land bank-nya sudah diakuisisi sejak tahun 2014 lalu. Sebelumnya pada tahun 2014 laba perusahaan sempat turun dibanding 2013 karena SSIA ‘kehabisan’ tanah kawasan industri untuk dijual, setelah 1,400 hektar kompleks kawasan industri milik perusahaan di Karawang sudah laku terjual semuanya (sebenarnya masih ada, tapi tinggal sisa 100-an hektar lagi). Beruntung, SSIA masih mampu memperoleh landbank untuk dibangun kompleks kawasan industri lainnya di Subang, dan kompleks ini masih punya cukup tanah kavling untuk dijual (totalnya 2,000 hektar) hingga beberapa tahun kedepan.

Selain bisnis kawasan industri, kedepannya SSIA masih bisa memperoleh tambahan pendapatan dari konsesi tol barunya (Tol Cikampek – Palimanan), proyek-proyek konstruksi/ pembangunan infrastruktur (melalui Nusa Raya Cipta/NRCA), hingga jaringan hotel bintang tiga yang saat ini sedang dibangun, ‘Batiqa Hotel’ (sudah selesai sebagian, jadi sudah bisa panen). Berbeda dengan beberapa perusahaan properti lainnya yang punya utang segunung atau utang dalam USD, neraca SSIA relatif bersih dari utang (DER-nya 1 kali), dan hanya ada utang obligasi dalam negeri dengan tingkat bunga yang tentu saja lebih murah dibanding utang bank.
Tapi meski fundamental serta outlook-nya sangat menarik, toh saham SSIA tetap saja ikut terseret arus penurunan IHSG, dan sekarang berada di level 700-an. But of course, this is a BIG opportunity, karena kita tahu bahwa dalam kondisi pasar yang normal, seharusnya SSIA ini berada di level 1,000-an. Another fact: Posisi SSIA saat ini (705) adalah hampir sama persis dengan posisinya pada Desember 2011 (hampir empat tahun yang lalu), padahal nilai ekuitas SSIA pada saat ini tercatat Rp2.8 trilyun, dibanding Rp1.1 trilyun pada akhir 2011 tersebut. Yep, jadi bisa dikatakan bahwa anda pada saat ini hanya perlu membayar harga yang sama untuk sebuah aset yang nilainya sudah naik dua setengah kali lipat, dan masih berpeluang untuk naik lagi di masa yang akan datang! Dan menurut anda, adakah tawaran deal yang lebih menarik dari itu?
Okay, selebihnya kita bahas minggu depan.
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Investama sedang dalam posisi memegang SSIA di harga rata-rata 680. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSGstock-pick saham bulanan edisi September2015 sudahterbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tiga edisi buletin lama (Juni, Juli, dan Agustus) bagi pelanggan baru, dan gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk [...]