Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Hot Stock: CNKO

Exploitasi Energi Indonesia (CNKO), hingga artikel ini ditulis, sejatinya belum merilis laporan keuangan untuk periode Sembilan Bulan 2012 (9M12), dan kinerjanya di Semester Pertama 2012 (1H12) kemarin juga biasa-biasa saja, sehingga secara fundamental seharusnya sahamnya juga nggak kemana-mana. Namun setelah perusahaan mengumumkan rencana right issue kedua beberapa bulan lalu, sahamnya langsung terkerek naik. Saat ini CNKO sudah mantap di posisi 360 atau sudah naik sekitar 130% dalam 4 bulan, dan teori konspirasi menyebutkan bahwa sahamnya masih bisa naik lagi hingga minimal 500 dalam beberapa waktu kedepan, mengingat right issue-nya dilakukan pada harga 500 tersebut. Benarkah demikian? I don’t know. Tapi seperti biasa, mari kita lihat CNKO ini dari sisi fundamental.

CNKO, seperti pernah kita bahas sebelumnya (ini link-nya), adalah perusahaan batubara yang go downstream dengan mendirikan tiga pembangkit listrik (power plant) di tiga lokasi, yakni Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), Rengat (Riau), dan Tembilahan (Riau), dimana listrik yang dihasilkan akan dijual ke PLN. Namun hingga saat ini, baru satu pembangkit listrik yang sudah beroperasi, yakni yang di Pangkalan Bun, dan itupun kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan masih sangat kecil, yakni hanya sekitar 2%. Jadi hingga saat ini sumber pendapatan utama CNKO masih berasal dari penjualan batubara, entah itu batubara milik sendiri atau milik perusahaan lain. Pada 1H12, CNKO menjual 868 ribu ton batubara senilai Rp583 milyar.
Nah, jika mempertimbangkan bahwa CNKO sudah memperoleh biaya untuk mendirikan tiga pembangkit listriknya melalui right issue pertama mereka pada tahun 2003 lalu, maka proses go downstream yang dilakukan perusahaan terbilang sangat lambat (sudah hampir sepuluh tahun). Namun hal itu tidak menghalangi perusahaan untuk melakukan right issue berikutnya, yang kali ini bertujuan untuk menjadikan CNKO sebagai perusahaan batubara yang terintegrasi, karena uang hasil right issue-nya yang sebesar Rp2.3 trilyun akan dipakai untuk menyertakan saham pada perusahaan bernama PT Energi Batubara Indonesia (EBI), dimana EBI akan menggunakan uang tersebut untuk mengakuisisi dan menambahkan modal pada beberapa perusahaan berikut:
1. Rp890 milyar untuk menyertakan modal pada PT Dwi Guna Laksana (DGL). Oleh DGL, dana tersebut akan dipakai untuk menyertakan modal pada dua perusahaan, yakni PT Truba Dewata Guna Prasada (TDGP), dan PT Usaha Kawan Bersama (UKB). TDGP dan UKB masing-masing akan menggunakan dana yang diperoleh untuk mengembangkan terminal batubara di Kalimantan Selatan, dan untuk modal kerja pembukaan tambang batubara.
2. Rp175 milyar untuk menyertakan modal pada PT Korporindo Guna Bara (KGB), yang selanjutnya akan dipakai untuk pengembangan infrastruktur tambang.
3. Rp285 milyar untuk menyertakan modal pada PT Trans Lintas Segara (TLS), yang selanjutnya akan dipakai untuk menambah armada kapal tongkang pengangkut batubara.
4. Rp550 milyar untuk menyertakan modal pada PT Sekti Rahayu Indah (SRI), yang selanjutnya akan dipakai untuk pengembangan infrastruktur tambang.
5. Terakhir, Rp400 milyar untuk menyertakan modal pada PT Abe Jaya Perkasa (ABE), yang selanjutnya akan dipakai untuk pengembangan infrastruktur tambang.
Dan berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya anda ketahui seputar right issue yang dilakukan CNKO:
1. Perusahaan yang akan diakuisisi oleh CNKO, yakni EBI, pemiliknya adalah Tuan Andri Cahyadi, yang merupakan komisaris utama dari CNKO sendiri. Mr. Cahyadi mendirikan EBI pada September 2011 sebagai kendaraan untuk menempatkan investasi pada lima perusahaan, yakni DGL, KGB, TLS, SRI, dan ABE. Mr. Cahyadi mendirikan EBI untuk selanjutnya diakuisisi oleh CNKO, karena CNKO tidak bisa mengakuisisi perusahaan-perusahaan tersebut (DGL, dst) secara langsung, karena itu akan melanggar perjanjian jual beli listrik dengan PLN yang menyebutkan bahwa CNKO tidak boleh memiliki izin usaha diluar bidang ketenagalistrikan.
2. Seluruh perusahaan yang akan diakuisisi/diberikan penyertaan modal oleh CNKO melalui EBI merupakan perusahaan afiliasi dari CNKO, dimana Mr. Cahyadi secara langsung maupun tidak langsung memegang sekian persen saham dari sebagian perusahaan-perusahaan tersebut, sementara sisanya dipegang oleh pihak lain yang juga masih terafiliasi (rata-rata yang merupakan anggota dewan komisaris dan direksi dari CNKO)
Misalnya untuk DGL, pemegang saham utama atau induk dari DGL adalah PT Prima Samoda (PS), dimana induk dari PS adalah PT Cenko Korporindo Internasional (CKI). Dan coba tebak? CKI merupakan induk dari PT Saibatama Internasional Mandiri (SIM), yang merupakan pemegang saham utama di CNKO. Ultimate shareholder dari seluruh perusahaan tersebut adalah Tuan Andri Cahyadi.
3. Dari dana total Rp2.3 trilyun yang akan diperoleh dari right issue-nya, Rp580 milyar diantaranya akan digunakan untuk membeli sekian persen saham dari perusahaan target, sementara selebihnya digunakan untuk menambah/menyertakan modal pada perusahaan target tersebut.
4. Pemegang saham utama dari CNKO, yakni PT Saibatama Internasional Mandiri (SIM), akan melaksanakan right-nya dengan menyerap 49.7% dari saham anyar yang diterbitkan senilai Rp1.17 trilyun. Namun karena perusahaan-perusahaan yang akan diakuisisi secara langsung maupun tidak langsung dimiliki oleh pemilik yang sama dengan SIM, maka sejatinya SIM, atau dalam hal ini pemilik dari SIM, tidak perlu mengeluarkan dana sebanyak itu, melainkan hanya sekitar Rp590 milyar, karena sudah dikurangi Rp580 milyar tadi (lihat lagi poin 3 diatas).
5. Pembeli siaga dari right issue-nya adalah juga SIM. Namun jika SIM harus membeli saham baru lebih banyak dari right-nya yang sebesar 49.7% tadi, maka SIM akan menjual kelebihan saham tersebut kepada pihak ketiga.
Dari kelima poin diatas, maka bisa disimpulkan bahwa Grup Cahyadi (kita sebut saja begitu) berniat untuk mengembangkan usaha dengan menambah modal pada beberapa perusahaannya, dengan memanfaatkan right issue CNKO yang berstatus sebagai perusahaan publik. Namun jika right issue-nya tidak sukses, yaitu jika para pemegang saham publik dari CNKO tidak melaksanakan right-nya, maka barulah CNKO akan menjual saham baru yang tidak terjual tersebut ke pihak ketiga, hanya belum tahu siapa.
Nah, terkait ‘pihak ketiga’ inilah yang kemudian menjadi alat spekulasi bagi para bandar untuk menaikkan harga saham CNKO. Beberapa waktu terakhir ini, di berbagai media beredar rumor bahwa CNKO telah memperoleh kesepakatan dengan Huadian Corp., perusahaan pembangkit listrik asal Tiongkok, untuk membeli saham CNKO yang tidak diserap publik. Pihak CNKO sendiri sudah mengkonfirmasi hal tersebut, namun tidak memberikan detail kesepakatannya, kecuali disebutkan bahwa Huadian akan menjadi pembeli dari batubara yang diproduksi perusahaan.
6. Dari seluruh perusahaan yang akan diakuisisi/diberikan tambahan modal, hanya DGL dan TLS yang berstatus sebagai perusahaan besar, dengan posisi ekuitas masing-masing Rp416 dan 58 milyar pada Kuartal I 2012. Sementara perusahaan lainnya hanya memiliki ekuitas kurang dari sepuluh milyar Rupiah, termasuk EBI hanya memiliki modal disetor Rp600 juta. Dilihat dari sini, maka akan tampak bahwa total dana sebesar Rp580 milyar yang akan dipakai untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan tersebut terbilang cukup wajar.
Sayangnya, kinerja perusahaan-perusahaan tersebut juga sama sekali belum meyakinkan dengan hanya mencetak laba bersih komprehensif sebesar total Rp2 milyar. Tapi mungkin itu karena mereka memang belum beroperasi secara penuh, karena baru berdiri dan masih dalam tahap pengembangan.
7. Right issue senilai Rp2.3 trilyun ini merupakan bagian dari mega-proyek Grup Cahyadi senilai total Rp6 trilyun untuk masuk ke industri tambang batubara terintegrasi (tambang, terminal, alat transportasi batubara, hingga pembangkit listrik), dimana Rp3.7 trilyun sisanya akan diperoleh dari utang bank, dimana utang tersebut kemungkinan akan melalui CNKO juga. Tapi untuk saat ini belum ada informasi apapun terkait rencana pengajuan pinjaman bank ini.
8. Jumlah saham baru yang diterbitkan tidak terlalu banyak, yaitu 4.7 milyar lembar, sehingga dilusi yang terjadi pada saham CNKO hanya 52.6%. Hanya memang, harga eksekusi per sahamnya cukup mahal, yakni Rp500 dari nilai nominal Rp100
9. Udah sih, cuma delapan poin itu aja kok hehe.
Kesimpulannya, dilihat dari seluruh poin-poin yang bisa diperhatikan, right issue CNKO ini terbilang wajar, dimana dalam hal ini owner dari CNKO, yaitu Mr. Cahyadi, boleh dibilang sedang mengajak anda untuk bergabung dengan mega-proyek batubara yang sedang ia kerjakan. Jadi sekarang tinggal apakah anda cukup yakin dengan profil beliau, sebelum memutuskan untuk ikut right issue-nya atau nggak. Mr. Cahyadi sendiri masih sangat muda (usianya 38 tahun), dan merupakan direktur utama CNKO sejak tahun 2000 sebelum kemudian menjadi komisaris utamanya. Kemungkinan, beliau juga merupakan pendiri CNKO mengingat CNKO berdiri pada tahun 1999, dimana ketika itu Mr. Cahyadi masih bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor tambang.
Lalu, kira-kira bagaimana prospek CNKO kedepannya pasca right issue ini? Sayangnya, penulis melihat bahwa prospek CNKO mungkin tidak terlalu cerah, mengingat dua hal berikut: 1. Selama ini penjualan batubara CNKO bergantung pada hanya satu pembeli, yakni PLN (diatas memang disebutkan bahwa Huadian akan juga menjadi pembeli batubara yang diproduksi perusahaan, namun negosiasinya masih belum final), dan 2. CNKO tidak terlalu sukses dengan proyek pembangkit listriknya, yang sampai sekarang belum tuntas 100% dan juga belum berkontribusi banyak terhadap pendapatan perusahaan, padahal proyeknya sudah dikerjakan sejak lama. Jadi jika anda berminat untuk invest long term pada CNKO ini, maka anda harus menunggu progress dari pengembangan usahanya, apakah mampu memberikan hasil seperti yang diharapkan atau tidak.
Terus apakah saham CNKO beneran akan naik sampai 500 dalam waktu dekat ini? Wah, kalau itu saya nggak tau, karena itu murni spekulasi, kecuali jika anda kenal sama bandarnya. Tapi kalau anda benar-benar tertarik sama saham ini, maka anda bisa datang ke RUPSLB-nya tanggal 6 Desember mendatang, dimana anda bisa menanyakan soal itu kepada tim manajemen yang hadir disana.
NB: Buku kumpulan analisis dan rekomendasi saham edisi Kuartal III 2012 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya [...]

Perencanaan Investasi

Dear investor, mulai November 2012 ini, setiap tiga bulan sekali, yakni setiap kali para emiten merilis laporan keuangan terbaru, penulis akan menyelenggarakan seminar atau presentasi khusus untuk membahas soal perencanaan investasi, yakni membahas soal taktik dan strategi terkait kegiatan jual beli saham yang akan dilakukan kedepannya.

Berikut adalah poin-poin yang akan dibahas didalam seminarnya
  1. Daftar saham-saham yang bisa dibeli/diperhatikan, yang sudah diseleksi secara fundamental
  2. Menentukan posisi masuk (beli) dan posisi keluar (jual) untuk saham-saham yang sudah dipilih berdasarkan rencana nomer satu, terutama posisi masuk.
  3. Menentukan porsi alokasi dana untuk tiap-tiap saham
  4. Menganalisis profil risiko. Misalnya jika diperoleh keputusan untuk memegang saham A, maka harus terdapat analisis yang jelas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Jika saham A ini setelah dibeli harganya bukannya naik tapi malah turun, maka maksimalnya dia turun sampai berapa? Faktor-faktor apa saja yang bisa membuat dia turun? Apa sebaiknya kita melakukan average down, cut loss, atau biarkan saja? Dan bagaimana pengaruh dari pergerakan IHSG? Intinya, terdapat Plan B jika Plan A ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
  5. Mengevaluasi kegiatan investasi yang sudah dilakukan sebelumnya dengan tujuan untuk menemukan dan mengidentifikasi kesalahan yang mungkin dilakukan, agar selanjutnya jangan mengulanginya lagi.
  6. Analisis dan prediksi pergerakan IHSG

Dalam acara ini, anda juga bisa tanya jawab alias diskusi alias konsultasi soal saham-saham tertentu dengan penulis. Berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Kantor BNI Securities cabang Central Park, APL Tower Ground Floor, Podomoro City, Jln. Jend. S. Parman Kav. 28, Jakarta Barat.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 24 November 2012
  • Waktu: Pukul 13:00 s/d 16:30 WIB (after lunch).
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy materi seminar, dan snack
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acara dimulai.

Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp300,000. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Perencanaan Investasi’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank. Contoh: Sergio Kun Aguero, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (Sehari sebelumnya, anda akan menerima email lagi untuk mengingatkan soal acaranya. Anda bisa sertakan nomer telepon anda dalam email yang anda kirim, jika ingin peringatan tersebut disampaikan melalui SMS)
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!

NB: Acaranya sudah fully booked alias penuh, jadi sampai jumpa di kesempatan berikutnya [...]

Metrodata Electronics

Setiap tiga bulan sekali, yakni setiap para emiten merilis laporan keuangan terbaru mereka, penulis terbiasa mencari saham-saham yang memiliki kinerja perusahaan alias fundamental yang bagus, namun valuasinya masih murah. Jika nggak ketemu saham yang seperti itu, yaitu biasanya ketika IHSG lagi tinggi seperti sekarang, maka kriterianya diperlonggar menjadi 1. Saham bagus dengan valuasi yang belum begitu mahal, atau 2. Saham yang nggak jelek-jelek amat namun valuasinya cukup murah. Nah, Metrodata Electronics (MTDL) adalah salah satu saham yang kalau berdasarkan kinerjanya di Sembilan bulan 2012 (9M12), bisa digolongkan sebagai saham yang masuk kriteria kedua.

MTDL adalah perusahaan penyedia jasa dan produk-produk information and communication technology (ICT), baik dalam bentuk hardware, software, maupun jasa konsultasi, dimana penjualan hardware (komputer, printer, dll) merupakan kontributor terbesar yang menyumbang 76.2% dari total pendapatan perusahaan pada 9M12. Namun, MTDL tidak mengembangkan atau memproduksi produk-produk teknologinya sendiri, melainkan menjual produk ICT milik perusahaan lain, sehingga MTDL lebih cocok disebut sebagai perusahaan dagang alias ritel. Beberapa merk produk yang dijual oleh perusahaan adalah Adobe, Oracle, Microsoft, hingga Samsung.
Sejatinya, MTDL sudah berdiri sejak tahun 1975, namun perusahaan baru masuk penuh ke bisnis ICT pada tahun 2008 dengan mengakuisisi Soltius Asia Pte Ltd, sebuah perusahaan konsultan system application and products in data processing (SAP), yang dilanjutkan dengan akuisisi dan pendirian beberapa perusahaan ICT lainnya, seperti Xerindo, Synnex, dan MyIcon Technology. Saat ini MTDL boleh dikatakan sebagai perusahaan distributor produk-produk ICT terbesar di Indonesia.
Oleh BEI, MTDL diklasifikasikan sebagai perusahaan teknologi komputer dan jasa, atau satu kelompok dengan Astra Graphia (ASGR). Pemegang saham utama MTDL adalah Candra Ciputra, putra dari pengusaha properti terkenal, Ir. Ciputra.
Nah, karena model bisnisnya sendiri nggak terlalu umum, maka agak sulit untuk memperoleh gambaran soal prospek dari MTDL ini. Namun yang jelas untuk ukuran perusahaan retail, kinerja MTDL cukup baik dengan ROE 14.2%, dan pertumbuhannya cukup lancar dengan catatan kenaikan pendapatan dan laba bersih masing-masing 23.6 dan 51.9%. Salah satu pendukung pertumbuhan tersebut adalah penambahan jumlah toko retail dimana perusahaan bekerja sama dengan Carefour. Pada periode Januari – Juni 2012, MTDL sudah mendirikan 22 outlet baru yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, dengan target 35 outlet pada akhir tahun 2012. Produk yang dijual di outlet-outlet tersebut kebanyakan merupakan komputer PC, hardware pendukungnya, dan juga gadget, dengan portofolio merk yang cukup luas yakni Asus, Dell, Epson, Fujitsu, Panasonic, Intel, HP, Lenovo, Huawei, Sony Xperia, dan Samsung. Well, ini mengingatkan penulis dengan perusahaan dagang lainnya yaitu Erajaya Swasembada (ERAA), dimana kalau ERAA lebih fokus pada penjualan gadget, maka MTDL lebih fokus pada penjualan komputer desktop dan notebook. Namun persamaannya adalah, kedua perusahaan sama-sama tidak tergantung pada satu merk produk tertentu.
Terkait aksi korporasi, Pada Mei 2012 lalu MTDL sempat berniat melakukan right issue dengan menerbitkan saham baru sebanyak total 1.3 milyar lembar senilai Rp155 milyar, dimana dananya akan digunakan untuk menambah penyertaan modal pada dua anak usahanya, Synnex dan Mitra Integrasi Informatika. Namun rencana tersebut batal dan diganti dengan mencari pinjaman bank (tapi sampai sekarang perusahaan belum mencairkan pinjaman apapun), dimana manajemen MTDL mengatakan bahwa mereka memiliki pinjaman bank sebesar US$ 70 juta atau sekitar Rp650 milyar yang belum dicairkan. Ini agak serem sebenernya, mengingat utang bank MTDL sudah mencapai Rp400 milyar lebih, belum termasuk utang sukuk sebesar Rp73 milyar. Namun sejauh ini beban bunga yang ditanggung perusahaan masih belum terlalu besar jika dibandingkan dengan laba kotor perusahaan (laba sebelum beban usaha, beban keuangan, dan pajak), sehingga bisa dikatakan bahwa jumlah utang MTDL masih wajar. Pada 9M12, MTDL mencatat laba kotor Rp302 milyar, sementara beban bunga yang berasal dari utang bank dan utang sukuk-nya tercatat Rp18 milyar.
Terus bagaimana dengan sahamnya? Nah, disinilah menariknya. Pada harga 154, PER MTDL tercatat 5.7 kali, dan PBV-nya 0.5 kali (tapi kalau kepemilikan minoritas atas perusahaan tidak dihitung, maka PBV MTDL yang benernya adalah 0.8 kali, tapi itu masih cukup rendah juga). Sementara jika anda perhatikan valuasi dari perusahaan-perusahaan ritel lain seperti ERAA, Ace Hardware (ACES), Hero Supermarket (HERO), hingga Mitra Adiperkasa (MAPI), rata-rata PER-nya cukup tinggi yakni diatas 10 kali. Termasuk jika dibandingkan dengan ASGR, maka MTDL juga terbilang murah mengingat PER ASGR mencapai 12.6 kali pada harga 1,330.
Terus apa yang menyebabkan valuasi MTDL jadi rendah begitu? Mungkin ada dua. Pertama, kinerja MTDL dalam jangka panjang cenderung tidak konsisten, dimana perusahaan baru mencatat pertumbuhan signifikan pada tahun 2012 ini. Sebelumnya pada tahun 2011 lalu, laba bersih MTDL turun dibanding tahun 2010 meski pendapatannya naik. Kedua, sektor usaha yang digeluti MTDL tampak rumit dan sulit dimengerti terutama bagi investor yang awam soal ICT (termasuk penulis juga sih), dimana MTDL menjual layanan konsultasi cloud computing, virtualization, system and network integration, supply chain management, websphere, dan seterusnya, dimana untuk membaca dan mengingat nama-nama layanan tersebut saja sudah terbilang susah.
Padahal bisnis inti MTDL, seperti yang sudah disebut diatas, adalah penjualan komputer biasa yakni PC Desktop dan Notebook. Sementara bisnis perdagangan software dan konsultasi ICT total hanya menyumbang seperempat dari seluruh pendapatan perusahaan. Untuk penjualan software dan konsultasi ICT, prospek pendapatan perusahaan memang lebih terbatas karena kebanyakan pembelinya merupakan korporasi. Namun untuk penjualan komputer, seharusnya angkanya akan terus meningkat karena konsumennya adalah pengguna komputer dan internet secara umum, mengingat pengguna komputer dan internet di Indonesia sendiri terus meningkat dari waktu ke waktu.
Karena itulah, meski dari sisi kinerja MTDL ini nggak sebagus ERAA atau ASGR, namun valuasinya yang rendah menjadikan saham ini cukup menarik. Kalau pakai hitung-hitungan sederhana, pada harga 200 pun saham MTDL ini masih terbilang wajar. So we have a chance here.
Lalu masuknya di harga berapa? Ya kalau dilihat dari pergerakan chart-nya dalam tiga bulan terakhir sih, coba antri di sekitar 145. Terus apa saja risikonya? Untuk saat ini belum ada risiko signifikan, namun hati-hati jika nanti perusahaan mengumumkan bahwa mereka mencairkan utangnya, dimana hal itu mungkin akan ditanggapi oleh sebagian investor yang kemudian memutuskan untuk keluar, dan kemudian mengakibatkan sahamnya jatuh.
Rating Kinerja pada 9M12: A
Rating Saham pada 154: [...]

Rating Kinerja Blue Chip 9M12

Berikut adalah rating kinerja untuk dua puluh emiten terbesar di BEI dari sisi likuiditas (blue chip), berdasarkan laporan keuangan periode Sembilan Bulan 2012 (9M12). Data diurutkan berdasarkan total nilai perdagangan saham selama periode Kuartal III 2012 (Juli – September 2012), dari yang terbesar hingga yang terkecil:


No.
Ticker
Company
Rating
1
ASII
Astra International
A
2
BBRI
Bank BRI
AAA
3
BMRI
Bank Mandiri
AA
4
TLKM
Telkom
A
5
UNTR
United Tractors
BBB
6
BBCA
Bank BCA
A
7
BUMI
Bumi Resources
-
8
BBNI
Bank BNI
A
9
PGAS
Perusahaan Gas Negara
AA
10
TRAM
Trada Maritime
B
11
SMGR
Semen Gresik
AA
12
GGRM
Gudang Garam
BBB
13
ADRO
Adaro Energy
BBB
14
ITMG
Indo Tambangraya Megah
AA
15
INDF
Indofood Sukses Makmur
A
16
INTP
Indocement Tunggal Prakasa
-
17
ASRI
Alam Sutera Realty
AA
18
ENRG
Energi Mega Persada
-
19
HRUM
Harum Energy
AA
20
KLBF
Kalbe Farma
AA
Catatan: Hingga tabel diatas dibuat, keempat emiten yakni BUMI, INTP dan ENRG belum merilis laporan keuangannya masing-masing.
NB: Ebook kumpulan analisis Edisi 9M12 (Ebook 40) akan terbit tanggal 14 November mendatang. Anda bisa memperolehnya disini. Untuk sampel Ebook bisa didownload disini.

Catatan mengenai Ebook 40: Penulis sejak beberapa bulan terakhir telah menerima banyak sekali masukan yang menyebutkan bahwa jumlah saham yang dianalisis dalam Ebook tersebut sebaiknya dikurangi dan dipadatkan, sehingga hanya membahas saham-saham yang memang berfundamental baik saja (saham-saham yang jelek gak usah dibahas lagi). Karena itulah mulai Edisi 9M12 ini, penulis memutuskan untuk mengurangi jumlah saham yang dibahas dalam Ebook tersebut dari 40 menjadi 30 saham.

Karena berdasarkan pengalaman selama dua tahun terakhir sejak Ebook ini terbit pertama kali di tahun 2010 lalu, saham-saham yang bagus dan bisa direkomendasikan di BEI jumlahnya ternyata nggak mencapai empat puluh saham, melainkan antara dua puluh hingga tiga puluhan (soalnya penulis termasuk agak ketat dalam menentukan kriteria saham yang layak dikoleksi). Jadi mulai edisi kali ini, dari tiga puluh saham yang dibahas, semuanya adalah yang terpilih berdasarkan fundamentalnya. Dengan jumlah saham yang lebih sedikit, maka diharapkan pembahasan untuk tiap-tiap saham akan menjadi lebih padat dan lugas. [...]

Cowell Development

Menurut anda, ketika IHSG lagi tinggi seperti sekarang, apakah masih ada saham-saham yang valuasinya, atau dalam hal ini PER-nya masih sangat rendah, namun disisi lain kinerja perusahaannya tidak terlalu buruk? Ternyata ada. Salah satunya, Cowell Development (COWL). Berdasarkan laporan keuangan (LK) terbarunya untuk periode Sembilan Bulan 2012, saham perusahaan properti ini mencatat PER dan PBV masing-masing 2.8 dan 0.8 kali pada harga 220. Sekilas, valuasi tersebut agak sulit untuk dipercaya mengingat COWL mencatat ROE yang cukup bagus, yakni 28.6%, dan laba bersihnya juga tumbuh 9.5%. Ekuitas alias modal bersih perusahaan juga naik 24.7% dalam sembilan bulan terakhir, yang sepenuhnya ditopang oleh kenaikan saldo labanya. Lalu apa rendahnya harga saham COWL tersebut berkaitan dengan right issue yang akan dilakukan oleh perusahaan? Well, memang itulah yang akan kita bahas disini.

COWL adalah perusahaan properti skala kecil dengan total aset Rp465 milyar pada Kuartal III 2012. Perusahaan sudah berdiri sejak tahun 1981, dan proyek properti pertamanya adalah pembangunan kompleks perumahan Melati Mas Residence di Kawasan Serpong, Tangerang, pada tahun 1984. Sukses dengan Melati Mas, COWL kemudian kembali membangun dua kompleks perumahan lainnya di kawasan yang sama, yakni Serpong Park dan Serpong Terrace. Lalu sejak pertengahan tahun 2009, perusahaan mulai ‘keluar kandang’ dengan membangun kompleks perumahan dan ruko Borneo Paradiso di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Dan pada April 2012 kemarin, COWL menyelesaikan pembangunan proyek terbarunya, yakni Apartemen Westmark di Jakarta Barat (persisnya dekat Mall Taman Anggrek). Sejauh ini semua proyeknya berjalan lancar. Termasuk untuk Apartemen Westmark, proyek tersebut sepanjang Sembilan Bulan 2012 menghasilkan pendapatan sebesar Rp171 milyar bagi perusahaan.
Namun ada yang sedikit hal yang mengganjal disini. Pada Q3 2012, COWL mencatat pendapatan Rp210 milyar, dimana Rp171 milyar diantaranya, seperti sudah disebut diatas, berasal dari penjualan unit-unit apartemen Westmark. Sementara sisanya berasal dari penjualan rumah-rumah di Serpong. Nah, lalu dimana pendapatan dari penjualan rumah-rumah yang di Balikpapan? Sebab di prospektus yang diterbitkan COWL dalam rangka right issue, disitu jelas ditulis bahwa sejak pertengahan tahun 2009 hingga September 2012, perusahaan telah menjual 744 unit rumah di kompleks Borneo Paradiso, dan menghasilkan total pendapatan Rp308 milyar. Lalu kenapa pendapatan tersebut tidak tercantum di laporan keuangan perusahaan?
Setelah penulis cek lagi, itu karena dalam membangun proyek Borneo Paradiso, COWL bekerja sama dengan sebuah perusahaan bernama PT Karya Agung Putra Indonesia (KAPI), yang merupakan anak usaha COWL sendiri. Jadi berdasarkan perjanjian yang ditanda tangani pada tanggal 5 Juni 2009, kedua belah pihak yakni COWL dan KAPI, membentuk sebuah badan kerjasama yang disebut ‘Badan Kerjasama Cowell-KAPI’ (BKS), untuk mengelola proyek Borneo Paradiso. COWL akan menyetor sejumlah dana kepada BKS untuk tujuan pengembangan proyek, dan kemudian akan menerima bagian laba bersih sebesar 80% dari proyek tersebut, sementara 20%-nya untuk KAPI (tapi karena KAPI merupakan anak usaha COWL, maka seharunya 20% tersebut masuk ke kantong COWL juga). Pada sembilan bulan pertama 2012, COWL telah menerima bagian laba bersih sebesar Rp5 milyar. Bagian laba bersih ini pada laporan laba rugi COWL dicatat sebagai pendapatan lain-lain.
Masalahnya, dengan begini COWL menjadi kurang transparan terkait pendapatan dari proyek Borneo Paradiso-nya, karena yang dicantumkan di LK COWL hanyalah bagian laba bersih atas proyek tersebut, namun tidak ada informasi soal berapa pendapatan dan laba usahanya. Dan tentunya, mengingat bahwa total laba bersih COWL tercatat Rp44 milyar, maka bagian laba bersih yang cuma sebesar Rp5 milyar dari proyek Borneo Paradiso terbilang sangat kecil bukan? Apalagi COWL menanamkan investasi yang terbilang sangat besar untuk proyek tersebut, yakni Rp200 milyar, atau mencapai 40% dari total aset perusahaan.
Tapi, ya sudahlah.. Sekarang kita ke soal right issue yang dilakukan perusahaan. Jadi pada November ini, COWL akan menerbitkan 4.1 milyar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp220 per saham, sehingga perusahaan akan meraup dana Rp906 milyar. Dana tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi sebuah perusahaan bernama PT Plaza Adika Lestari (PAL), yaitu perusahaan pengelola Kawasan Niaga Atrium, Jakarta Pusat (Mall Atrium Senen dan sekitarnya), dimana kantor pusat COWL sendiri sejak awal memang terletak disana, tepatnya di Graha Atrium. Tujuan dari akuisisi tersebut adalah untuk mengembangkan portofolio usaha perusahaan, dimana nantinya COWL akan punya usaha pengelolaan pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, dan perbengkelan yang semuanya berlokasi di Atrium.
Namun memang, ada banyak hal yang harus diperhatikan terkait right issue dan akuisisi tersebut. Berikut diantaranya:
1. COWL akan mengakuisisi PAL dari perusahaan bernama Boliden Properties Ltd, sebuah perusahaan asal negara Seychelles (sejenis negara antah berantah macam British Virgin Island, Cayman Island, dll). Meski COWL menegaskan bahwa Boliden bukan merupakan pihak terafiliasi, namun tidak ada keterangan soal siapa pemilik Boliden ini (memang disebutkan bahwa nama pemilik Boliden bernama Teo Ai Lin Daphne, tapi siapa tuh?)
2. Harga akuisisinya yang Rp900-an milyar terbilang mahal, mengingat ekuitas PAL pada Juni 2012 hanya Rp210 milyar, itupun karena penambahan modal disetor. Sebelumnya pada akhir tahun 2011, PAL justru mencatat defisiensi modal (modalnya minus) sebesar Rp107 milyar. Kalau dilihat dari sini, maka sepertinya akan sulit bagi perusahaan untuk meyakinkan investor publik untuk membeli saham baru mereka.
3. Berkaitan dengan poin No.2, jika sebagian atau seluruh saham baru yang diterbitkan tidak diserap publik, maka saham tersebut akan diserap oleh PT Gama Nusapala, pemegang saham utama perusahaan. Masalahnya, karena jumlah saham baru yang diterbitkan terbilang sangat banyak (109 saham baru untuk setiap 20 saham lama), maka kepemilikan Gama atas COWL akan membengkak menjadi 94.7%, jika investor publik sama sekali tidak mengeksekusi HMETD-nya, dan kepemilikan publik atas COWL sendiri akan turun drastis menjadi hanya 5.3%. Nah, jika Gama nantinya me-refloat alias melepas saham COWL ke publik, yaitu dalam rangka meningkatkan kembali kepemilikan publik atas COWL, maka itu tentu akan menurunkan harga saham COWL.
Namun disisi lain kalau mempertimbangkan faktor bahwa Kawasan Niaga Atrium merupakan kawasan yang sangat strategis karena berlokasi persis di pusat Kota Jakarta, maka mungkin memang benar bahwa tindakan akuisisi yang dilakukan COWL akan berdampak positif pada kinerja perusahaan kedepannya. Maksud penulis, COWL sudah membuktikan bahwa mereka juga cukup sukses dengan Apartemen Westmark-nya, yang merupakan proyek high rise building, meskipun COWL sebelumnya hanya berkutat di bidang properti landed house alias perumahan. Dan sekarang, mengingat industri properti juga lagi bagus, maka COWL kemudian melebarkan sayap ke bidang properti mall dan gedung perkantoran, dalam hal ini Plaza dan Graha Atrium (dan juga Atrium Service Point, sebuah bengkel kendaraan bermotor). Mungkin pihak perusahaan berpikir daripada capek-capek membangun mall baru, kenapa gak beli yang sudah jadi aja? Mumpung lagi ada kesempatannya.
Terus duitnya dari mana? Opsinya ada dua, yakni menerbitkan obligasi atau right issue. Kemungkinan pemilik COWL yaitu Gama memilih opsi kedua (berbeda dengan perusahaan properti lainnya seperti GWSA, ASRI, atau SSIA yang semuanya menerbitkan obligasi), karena mereka memang memiliki cukup dana untuk menjadi pembeli siaga dari right issue yang dilakukan. Malah ada kemungkinan Gama berniat mengambil seluruh saham baru yang diterbitkan tersebut, mengingat saham COWL bukannya dikerek tapi justru dijatuhkan (dari 260 ke 205) begitu pengumuman soal right issue-nya keluar.
Kesimpulannya, masih banyak yang perlu dipertanyakan dari perusahaan properti yang satu ini, dimana semuanya masih serba kemungkinan (coba baca lagi artikelnya, anda akan menemukan banyak kata ‘mungkin’ disana). Tapi yang pasti, dari proyek-proyek properti yang dimiliki COWL saat ini, semuanya menuai sukses yang cukup besar. Termasuk 620 unit Apartemen Westmark juga semuanya sudah terjual. Penulis tidak tahu apakah COWL akan kembali menuai sukses di Atrium, namun kalaupun proyek Atrium tersebut tidak menghasilkan keuntungan yang signifikan bagi perusahaan, maka COWL masih bisa melanjutkan proyek landed house-nya. Di Tangerang dan Balikpapan masih banyak tanah kosong kok.
Lalu bagaimana soal faktor dilusi yang akan terjadi pada saham COWL pasca right issue? Pasca akuisisi, dengan menggunakan posisi neraca COWL per Juni 2012, ekuitas COWL akan menjadi Rp1.1 trilyun, atau tepatnya Rp1,099 milyar, sementara jumlah sahamnya juga akan naik menjadi 4.9 milyar lembar, atau tepatnya 4,871 milyar. Dengan demikian, book value (BV) COWL akan menjadi Rp226 per saham, dari saat ini Rp270 per saham, alias sedikit turun. Well, I think it is still fair, terlebih saham COWL pada saat ini juga berada di posisi harga yang kurang lebih sama, yakni 220. Jadi dalam hal ini, COWL masih layak dikoleksi mengingat perusahaannya secara historis juga cukup bagus.
Tapi yang jadi pertanyaannya sekarang, berapa kira-kira perolehan laba bersih COWL pasca akuisisinya terhadap PAL? Soalnya di laporan keuangannya, PAL hanya mencatat laba bersih Rp15 milyar pada First Half 2012. Okay, dengan asumsi bahwa kinerja COWL dan PAL pada Second Half 2012 terbilang sama dengan First Half, maka laba bersih COWL (termasuk PAL didalamnya) pada Tahun Penuh 2012 akan tercatat Rp87 milyar. Dengan jumlah saham yang mencapai 4.9 milyar lembar, maka itu berarti EPS-nya Rp18 per saham. Dengan harga saham sekarang yaitu 220, maka itu berarti PER-nya akan menjadi 12.3 kali. Nah! Itu berarti COWL tidak semurah kelihatannya bukan? Tapi memang ini hanya hitung-hitungan kasar, dan bukan tidak mungkin PAL akan menghasilkan laba bersih yang lebih besar setelah dipegang oleh COWL, atau bukan tidak mungkin pula malah justru lebih kecil, yaitu gimana kalau COWL memperlakukan PAL ini dengan cara seperti yang mereka lakukan terhadap Borneo Paradiso?
Well, whatever, kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Yang jelas, untuk saat ini sahamnya menjadi menarik lebih karena faktor bahwa dari sisi valuasi (valuasi saat ini tentunya), sehingga seharusnya dia nggak bisa turun lebih dalam lagi, dan ada kemungkinan dia akan naik jika ada investor yang berminat untuk memperoleh HMETD COWL ini (pemegang saham publik yang memperoleh HMETD adalah mereka yang memegang saham COWL pada tanggal 22 November 2012, alias masih tiga minggu lagi). Kalau anda tertarik, maka sebaiknya jangan gunakan dana terlalu banyak, karena risikonya juga lumayan yakni terkait banyaknya hal yang perlu diperhatikan soal right issue-nya, seperti yang sudah dijelaskan [...]

Brief Analysis: TLKM, MNCN, GIAA

Pada pertengahan September 2012 kemarin, beredar kabar yang agak sulit untuk dipercaya: Telkomsel bangkrut! Anak perusahaan Telekomunikasi Indonesia atau Telkom (TLKM) ini dinyatakan oleh pengadilan telah gagal dalam membayar tagihan dari mitra usahanya, PT Prima Jaya Informatika (PJI), sebesar Rp5.3 milyar. Seperti sudah diduga sebelumnya, pihak Telkomsel kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan hingga kini belum ada perkembangan terbaru lagi. Pihak TLKM sendiri sebagai induk dari Telkomsel menyatakan bahwa mereka akan mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

Ini adalah kali kedua dalam beberapa tahun terakhir TLKM terjerat kasus hukum. Sebelumnya pada Juni 2008, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan TLKM dan Telkomsel telah bersalah dalam kasus praktek kartel layanan SMS, dan kedua perusahaan dijatuhi hukuman denda masing-masing Rp18 dan 25 milyar. Pihak perusahaan tentu saja mengajukan keberatan, dan seperti kasus Telkomsel vs PJI, kasus inipun masih menunggu putusan terbaru dari pengadilan. Dalam laporan keuangan periode Kuartal III 2012, TLKM dan Telkomsel telah mencadangkan dana sebesar Rp150 milyar untuk membayar biaya-biaya yang mungkin timbul karena kasus hukum ini. Angka tersebut berpotensi bertambah mengingat urusan Telkomsel dengan PJI juga belum selesai.
Hebatnya, saham TLKM seolah tidak terpengaruh oleh kontinjensi tersebut, dan sejak September lalu hingga sekarang masih stabil di 9,500-an. Well itu bisa dimaklumi mengingat bahwa kalaupun TLKM harus menambah cadangan biaya untuk menyelesaikan berbagai kasus hukumnya, katakanlah hingga Rp200 milyar, maka itu tetap tidak akan berpengaruh banyak terhadap kinerja perusahaan, karena TLKM adalah perusahaan yang sangat besar dengan pendapatan yang mencapai puluhan trilyun setiap tahunnya. Di Kuartal III inipun, TLKM sukses membukukan laba bersih Rp14.1 trilyun, tumbuh 20.6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari sisi profitabilitas, ROE TLKM juga tumbuh dan sekarang sudah berada di level 30.0%.
Lantas apa yang dilakukan TLKM sehingga berhasil mencapai kinerja yang cukup bagus tersebut? Kalau mau jujur, sebenernya nggak ada. Dulu sempet tersiar kabar bahwa TLKM akan mengakuisisi perusahaan telekomunikasi Kamboja, tapi batal. Pernah juga dikatakan bahwa TLKM akan buyback 35% saham Telkomsel yang dipegang SingTel, tapi juga nggak ada kelanjutannya. Yang terbaru, tanggal 18 Oktober kemarin ramai beredar kabar bahwa TLKM akan berekspansi dengan mengakuisisi sebuah perusahaan kabel optik. Seperti yang sudah-sudah, kemungkinan aksi korporasi tersebut ujung-ujungnya juga cuma omong doang.
Kesuksesan TLKM dalam mencatat kenaikan laba bersih yang kembali menembus 20%, lebih karena faktor efisiensi. Pendapatan TLKM pada Q3 hanya naik 7.6%, namun kenaikan bebannya ternyata lebih kecil lagi, yakni 4.0%. Salah satu tindakan efisiensi yang cukup menonjol adalah pengurangan beban gaji karyawan sebesar total Rp169 milyar (dan memang jumlah karyawan TLKM berkurang, dari sebelumnya 26,023 orang menjadi 25,730 orang). Jika dimasa mendatang TLKM bisa kembali menghemat pengeluarannya, maka kenaikan laba bersihnya juga akan terjaga di level 20%. Namun diluar itu, kinerja TLKM terbilang masih jalan ditempat, yang mungkin karena ruang geraknya sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia juga sudah sangat terbatas. Bisa jadi, satu-satunya cara untuk bisa kembali tumbuh adalah dengan go outside, alias mengembangkan usaha diluar negeri. Mungkin itu sebabnya banyak pihak yang berharap TLKM bisa do something. Tapi sejauh ini, pihak perusahaan sepertinya cuma bisa merencanakan ini dan itu, tapi tidak atau belum ada tindakan apa-apa.
Kesimpulannya, kesuksesan TLKM untuk bertengger di posisi 9,700 seperti sekarang ini bukan karena didorong oleh faktor fundamental ataupun sentimen positif tertentu, melainkan lebih karena masuknya dana asing ke bursa (yang mungkin karena kebijakan Quantitative Easing yang dicanangkan Presiden Federal Reserve, Ben Bernanke, beberapa waktu lalu). Tapi memang kinerja TLKM di Kuartal III 2012 tetap layak diapresiasi, dan mungkin itu akan menahannya untuk tidak turun lagi sampai level 7,000-an, seperti sebelum rally-nya dulu. Hanya saja, potensi kenaikannya juga sudah terbatas. TLKM mungkin masih bisa naik sampai menembus 10,000, andaikata IHSG juga berhasil menembus new high di 4,400-an. Namun diluar itu, anda sudah tahu lah dia bakal kemana.
Media Citra Nusantara (MNCN)
Beberapa waktu lalu penulis mendengar seorang analis yang menyarankan untuk menghindari saham-saham dari grup usaha yang pemiliknya terjun ke politik, dalam hal ini Grup Bakrie (Aburizal Bakrie), dan Grup Bhakti (Hary Tanoesoedibjo). Alasannya karena terdapat kemungkinan para taipan tersebut akan ‘merampok’ perusahaannya sendiri untuk memperoleh dana untuk karier politiknya. Alasan yang masuk akal sih, dan mungkin hal itu juga bisa menjelaskan penurunan yang cukup tajam yang dialami saham-saham Grup Bakrie akhir-akhir ini. Tapi kenapa kok hal yang sama tidak berlaku untuk Grup Bhakti? Dalam setahun terakhir, saham-saham Grup Bhakti sepertinya naik terus. Salah satunya, Media Citra Nusantara (MNCN), yang dalam setahun terakhir sudah naik lebih dari 150% ke posisi 2,750.
Kalau dari fundamentalnya, dalam laporan keuangannya untuk periode Kuartal III 2012, MNCN masih bagus seperti biasanya, atau bahkan sangat bagus. Namun, valuasi sahamnya sudah boleh disebut sangat mahal. Pada harga 2,750, PER MNCN tercatat 24.6 kali. Namun jika kita mempertimbangkan bahwa saham-saham dari perusahaan media lain seperti Surya Citra Media (SCMA) dan Indosiar Karya Media (IDKM), rata-rata juga cukup mahal, maka mungkin PER MNCN tersebut masih wajar mengingat kinerja MNCN juga lebih bagus ketimbang dua pesaingnya tersebut. Tapi bagi penulis sendiri, keputusan untuk membeli saham dengan PER diatas 15.0 kali, apalagi sampe 20.0 kali, biar bagaimanapun merupakan keputusan yang berisiko.
Namun ada hal lain lagi yang menarik diluar valuasi MNCN yang selangit. Sepanjang bulan Juli 2012 lalu, saham MNCN mengalami rally dengan naik dari 1,800 hingga 2,400. Memasuki Agustus, dia mulai kehilangan tenaga dan melorot ke posisi 2,200. Ketika itulah, tepatnya pada tanggal 13 Agustus, perusahaan merilis press release terkait kinerja MNCN untuk periode tujuh bulan 2012 (Januari – Juli 2012). Dari press release-nya tersebut, tergambar prospek yang sangat cerah dari kinerja MNCN kedepannya, dimana hanya dalam hitungan bulan lagi, ketiga stasiun televisi milik MNCN yaitu RCTI, MNC-TV, dan GlobalTV, akan menyiarkan siaran olahraga yang dipastikan akan menyita perhatian para pemirsa televisi, yakni Piala AFF 2012, dan Ultimate Fighting Championship. Kemungkinan berkat press release tersebut, saham MNCN kemudian sukses melanjutkan rally-nya, sehingga ketika MNCN merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal III 2012 pada tanggal 18 Oktober kemarin, sahamnya sudah terlanjur naik ke posisi 2,775.
Disisi lain, perusahaan lain milik Om Hary, yakni Bhakti Investama (BHIT) yang notabene merupakan induk dari MNCN, juga melakukan aksi korporasi penting, yakni penambahan modal tanpa HMETD, dimana BHIT menerbitkan 2.2 milyar lembar saham baru (belum termasuk saham yang diterbitkan dalam rangka MESOP), dengan harga eksekusi Rp490 per saham, sehingga Grup Bhakti akan meraup dana segar Rp1.1 trilyun. Tidak ada keterangan akan diapakan duit sebanyak itu, namun pihak BHIT mengumumkan bahwa investor yang berminat terhadap saham baru tersebut bisa membayarnya dengan menyerahkan obligasi wajib tukar yang ia miliki. Jadi kelihatannya, aksi korporasi ini bertujuan untuk memperoleh dana dan atau mengurangi utang perusahaan, dengan memanfaatkan momentum masuknya dana asing ke bursa dan bullishIHSG. Saham BHIT ini sendiri kemudian sukses naik ke level 570, dan bertahan di posisi tersebut hingga saat ini.
Kembali ke MNCN. Dengan memperhatikan aksi korporasi yang dilakukan Om Hary melalui BHIT, maka kemungkinan press release yang dikeluarkan MNCN pada Agustus lalu bertujuan serupa: Memanfaatkan momentum bullish IHSG untuk menaikkan harga saham, yang mungkin agar nantinya bisa jualan di harga tinggi, untuk kemudian beli lagi di harga bawah ketika asing kabur dan IHSG jatuh. Soalnya gak cuma BHIT dan MNCN saja, namun saham Global Land Development, yang sekarang berubah nama menjadi MNC Land (KPIG), dan juga Indonesia Air Transport (IATA), juga ikut-ikutan terbang, padahal sebelumnya saham mereka nggak likuid sama sekali. Bagi anda yang belum tahu, kedua perusahaan tersebut juga milik Grup Bhakti.
Kesimpulannya, saham-saham Grup Bhakti sekarang ini sedang digoreng, termasuk MNCN. Apakah tujuannya buat dapet duit gratis buat politiknya Om Hary? Mungkin iya, tapi mungkin juga ini cuma bisnis, karena nyari duit dari trading saham apa salahnya toh? Untuk MNCN sendiri, mungkin dia masih bisa naik ke 2,900-an, sekali lagi kalau IHSG bisa naik sampai 4,400. Diluar itu, maka MNCN berisiko untuk jatuh lebih dalam ketimbang TLKM yang sudah kita bahas diatas.
Dan kalau bicara soal gorengan, maka bagi anda yang menyukai makanan berkolesterol ini juga bisa melirik saham Bhakti Capital Indonesia (BCAP). Seperti juga saudara-saudaranya, saham BCAP yang normalnya tidak likuid sama sekali, seringkali mendadak ramai ditransaksikan dan juga naik banyak hanya dalam sekejap. Hari ini saja jumlah saham BCAP yang ditransaksikan mencapai 22 juta lembar.
Tapi harap diingat sodara-sodara, terlalu banyak kolesterol itu sudah pasti nggak baik buat jantung.
Garuda Indonesia (GIAA)
Setelah mencatat kerugian di Kuartal II kemarin, pada Kuartal III 2012 ini GIAA sukses membukukan laba bersih US$ 56 juta, naik 51.6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sayangnya, secara umum kinerja GIAA di periode ini belum mengalami peningkatan berarti, dimana seluruh rasio profitabilitasnya (ROA, ROE, dll) masih tertahan di angka single digit, alias kurang dari 10%. Jadi untuk periode penyampaian laporan keuangan berikutnya, yakni Kuartal IV 2012 nanti, tidak ada jaminan bahwa GIAA tidak akan mengalami kerugian lagi.
Sementara terkait aksi korporasi, GIAA boleh dibilang sangat berbeda dengan saudaranya sesama BUMN, yaitu Telkom, dimana GIAA jauh lebih gencar dalam melakukan berbagai aksi ekspansi usaha. Terakhir pada tanggal 12 Oktober kemarin, GIAA melakukan penerbangan perdana bagi pesawat barunya jenis Bombardier, dengan rute pulang pergi Jakarta – Makassar. Kehadiran pesawat baru ini merupakan realisasi dari rencana GIAA untuk menghadirkan layanan penerbangan di Kawasan Indonesia Timur, dengan tidak menutup kemungkinan juga akan melayanan rute penerbangan untuk kawasan lainnya. Aksi ekspansi ini merupakan yang kali kesekian. Sebelumnya, GIAA menandatangani kerjasama sponsor dengan klub sepakbola Inggris, Liverpool FC, dan memperoleh izin terbang untuk anak usahanya, Citilink, dan masih banyak lagi.
Karena berbagai aksi korporasinya tampak menjanjikan, maka posisi saham GIAA saat ini yakni 700-an menjadi bisa dijelaskan. Tapi dari sisi kinerja riil perusahaan, tetap saja harga segitu kemahalan. Kombinasi dari prospek yang (tampak) cerah dan kinerja yang masih nggak begitu bagus, mungkin akan membuat saham GIAA kedepannya hanya mondar-mandir saja di kisaran 600 – 700. Jadi kalau anda mau trading di saham ini, sarannya adalah masuk di harga 600-an.
Terakhir, ada dua hal lagi yang sebaiknya anda catat terkait GIAA ini. Satu, saham GIAA tampaknya cukup mudah terpengaruh oleh pergerakan harga minyak mentah (crude oil), dimana jika harga minyak naik, maka sahamnya akan turun. Beberapa waktu lalu GIAA sempat tertekan ke posisi dibawah 600, dimana ketika itu harga minyak sempat naik sampai diatas US$ 95 per barrel. Sekarang harga minyak sudah turun lagi ke US$ 87 per barrel, dan saham GIAA juga berhasil naik lagi ke 700-an. Korelasi antara harga minyak dan sahm GIAA ini bisa dijelaskan, mengingat salah satu komponen beban perusahaan adalah biaya bahan bakar minyak, sehingga jika harga minyak naik maka hampir bisa dipastikan laba bersih GIAA akan tertekan.
Lalu yang kedua, sekitar Juli lalu manajemen GIAA mengumumkan soal rencana tiga aksi korporasi sekaligus terkait struktur permodalan perusahaan, yakni kuasi reorganisasi, penurunan nilai nominal modal dasar dan disetor, sekaligus right issue. Hingga kini belum ada kelanjutan mengenai rencana tersebut, tapi jika ketiganya jadi dilakukan, maka sahamnya biasanya akan bergerak liar. Kalau bergeraknya keatas alias naik sih nggak masalah, tapi bagaimana kalau bergeraknya kebawah alias turun?
Okay, segitu aja dulu, mudah-mudahan [...]

Ebook 40 Edisi 9M12

Dear investor, seperti biasa setiap tiga bulan sekali, penulis akan bikin ebook kumpulan analisis (“Ebook 40”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2012, alias Sembilan Bulan 2012 atau Nine Months 2012 (9M12). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk investasi jangka menengah dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, maka untuk kali inipun penulis akan meminta masukan dari teman-teman investor sekalian, terkait saham-saham apa saja yang akan kita bahas di edisi kali ini. Berikut kriteria dari saham-saham yang boleh diusulkan.
  1. Ukurannya perusahaannya gak terlalu kecil. Aset atau market cap-nya minimal atau mendekati Rp 1 trilyun atau US$ 100 juta.
  2. Sahamnya likuid. Jumlah transaksinya minimal 1 juta lembar per hari, atau 250 ribu lembar per hari untuk saham yang harganya diatas Rp10,000.
  3. Fundamentalnya baik, atau paling tidak kelihatannya demikian (untuk lebih detailnya nanti biar penulis yang menganalisisnya).
  4. Bukan saham gorengan. Salah satu ciri saham gorengan adalah mudah naik dan mudah turun secara drastis hingga belasan persen hanya dalam sehari, tanpa penyebab yang jelas.
  5. Bukan saham recehan apalagi gocapan. Rata-rata harganya dalam tiga bulan terakhir minimal Rp100.
Melalui komentar di bawah artikel ini, anda bisa mengusulkan antara satu hingga beberapa saham. Dan format komentarnya adalah menyebutkan kode sahamnya aja. Misalnya: AABB, CCDD, EEFF, dst. Penulis akan mencatat saham-saham yang paling banyak disarankan. Jika saham-saham tersebut memenuhi kelima kriteria diatas, penulis akan memasukannya sebagai salah satu saham yang diulas di Ebook 40 Edisi 9M12. Seperti biasa, jumlah saham yang akan dianalisis adalah 40 saham (UPDATE: Sekarang hanya 30 saham. Keterangan selengkapnya baca disini).
Jika tidak ada halangan, yaitu jika semua emiten merilis LK-nya tepat waktu, maka Ebook ini akan terbit pada hari Rabu tanggal 14 November 2012, dan anda bisa membelinya dengan cara preorder. Keterangan selengkapnya klik disini.
Jangan lupa ikutin pollingnya yak! Dan jika anda punya saran agar ebook ini menjadi lebih baik kedepannya, anda bisa mengirimnya ke alamat email penulis, teguh.idx@gmail.com, jangan melalui komentar disini. Insya Allah penulis akan menampung semua saran yang masuk.

Produk analisis ini terbit setiap tiga bulan sekali, dan terbit pertama kali pada November 2010. Edisi kali ini merupakan edisi kesembilan. Untuk mengetahui seperti apa analisis yang disajikan, penulis menyediakan sampelnya yakni Ebook 40 edisi kedua, yang terbit pada April 2010 lalu. Anda bisa mendownloadnya disini, gratis! Jika anda tidak bisa mendownloadnya, maka kirim email dengan subjek ‘Sampel Ebook 40′, ke teguh.idx@gmail.com, dan penulis akan mengirim ebook-nya ke alamat email anda. Tidak ada biaya untuk ini, tetap [...]

The Forgotten Stocks

Salah satu kesulitan yang dialami investor ketika IHSG sedang tinggi-tingginya seperti sekarang ini, adalah menemukan saham yang secara fundamental masih murah. Well, sebenarnya solusi termudah adalah tunggu aja sampai nanti IHSG terkoreksi dengan sendirinya. But sometimes, cuma menunggu doang terkadang memang membosankan. Karena itulah penulis kemudian mengecek kembali saham-saham yang pernah dipegang di masa lalu yang pada saat ini sudah penulis ‘lupakan’. Siapa tahu ada diantara mereka yang masih bisa dikoleksi, atau setidaknya bisa diperhatikan kembali. Hasilnya, ketemu dua saham yang kelihatannya cukup menarik. Dua saham tersebut adalah Resource Alam Indonesia (KKGI), dan PP London Sumatra (LSIP).
Untuk KKGI, penulis sudah memperhatikan dan membeli sahamnya sejak November 2010, atau sekitar dua tahun yang lalu. Ketika itu kalau anda masih ingat, sahamnya baru naik banyak dari 900-an ke 1,700-an. Seorang teman meminta penulis untuk menganalisisnya, dan hasilnya, penulis menemukan bahwa perusahaan batubara kecil ini punya kinerja yang sangat bagus, namun valuasinya pada harga 1,700 tersebut masih sangat murah. KKGI sendiri sebelumnya jarang diperhatikan orang karena nggak likuid, karena memang jumlah saham KKGI yang dipegang publik sebelum stocksplit cuma 92 juta lembar. Barulah ketika perusahaan melakukan stocksplit dengan rasio 1 : 4 pada Maret 2010, saham KKGI yang dipegang publik ‘mengembang’ menjadi 368 juta lembar, dan mulai aktif diperdagangkan. Dan seiring dengan peningkatan likuiditasnya, perlahan tapi pasti KKGI pun mulai naik. Bagi anda yang rutin membaca Ebook 40, anda pasti ingat kalau penulis pernah beberapa kali merekomendasikan saham ini.
Satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada Februari 2012, penulis akhirnya keluar di harga 8,000 pas dengan membawa keuntungan yang lumayan (dalam perjalanannya selama satu setengah tahun tersebut, KKGI nggak cuma di-hold, tapi juga sempat di-trading-kan terutama ketika harganya di 5,000-an). Sesuai prediksi, meski dia sempat melanjutkan kenaikannya hingga 8,500, namun selanjutnya KKGI mulai turun hingga posisi 6,500, dimana penulis mulai masuk lagi pada harga tersebut. Sayangnya kali ini keputusan tersebut keliru, dimana KKGI malah terus saja turun, hingga akhirnya penulis cut loss di 5,700. Ketika KKGI sudah turun hingga dibawah 5,500 (kalau gak salah 5,300), penulis sebenernya mulai pengen masuk lagi, tapi nggak jadi karena melihat ada saham batubara lain yang lebih menarik, yakni Harum Energy (HRUM), yang ketika itu berada di harga 6,400-an.
(btw, kebijakan penulis selama ini memang hanya membolehkan untuk memegang satu saham saja dari satu sektor, atau maksimal dua. Jadi kalau anda sudah pegang BUMI, misalnya, maka sebaiknya anda jangan pegang ADRO.)
Karena fokus perhatian penulis beralih ke HRUM, maka KKGI boleh dibilang nggak pernah dilihat lagi. What a surprise, sekarang dia malah sudah berada di posisi 2,700. yang penulis sendiri sejujurnya tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau KKGI bakalan turun sampai sedalam itu. What happen?
Berdasarkan kinerja perusahaan di First Half 2012, KKGI mencatat penurunan laba bersih sebesar 18.2%, atau sama seperti kebanyakan perusahaan batubara lainnya yang juga mengalami penurunan laba. Namun terlepas dari penurunan labanya tersebut, kinerja KKGI sebenarnya terbilang masih sangat oke, dengan ROE yang masih terjaga di level 55.3%. Disisi lain, perusahaan masih giat berekspansi untuk menambah portofolio tambang batubaranya, dengan mengakuisisi lima tambang seluas total 33 ribu hektar di Kalimantan Timur, sehingga prospeknya juga masih menarik. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka seharusnya saham KKGI saat ini berada di posisi 3,500-an, alias harga yang mencetak PER 10.0 kali, dan stabil di posisi tersebut. Namun yang terjadi, KKGI malah terus saja turun, bahkan meski saham-saham batubara yang lain mulai pulih (BUMI, BORN, dan BRAU jangan dihitung karena mereka sedang mengalami kejadian luar biasa terkait konflik Bakrie – Rothschild).
Tapi memang penurunan KKGI bukan tanpa alasan. Pada tanggal 29 Agustus lalu, manajemen KKGI merilis pernyataan terkait revisi target produksi batubara untuk tahun 2012. Dalam pernyataannya disebutkan bahwa, altough we have been gearing up our infrastructure capacity to cater for a much higher production volume this year, we believed that it is in the company’s long term interest to take a more conservative approach right now and scale down production in a difficult market cycle such as present.
Nah, kalau anda perhatikan, pernyataan diatas agak janggal. Maksud penulis, semua orang juga tahu kalau sektor batubara sekarang ini lagi susah. Jadi kenapa juga pihak investor relation KKGI sampai harus mengatakan hal itu secara blak-blakan kepada publik? Bukannya tugas investor relation itu adalah menjelaskan hal-hal yang baik kepada publik, misalnya bahwa perusahaan masih beroperasi dengan normal, dst? Eh, ini kok malah seperti menyuruh investor untuk ramai-ramai keluar dari KKGI.
Hanya sebulan kemudian, tepatnya pada 25 September kemarin, KKGI kembali mengeluarkan pernyataan penting, kali ini terkait buyback saham. Dalam pernyataannya, dicantumkan analisa terkait pengaruh buyback tersebut terhadap kegiatan utama perusahaan. Berikut analisanya:
Pembelian kembali saham akan menurunkan aset dan ekuitas perseroan sebesar jumlah pembelian kembali saham. Jika perseroan menggunakan seluruh dana yang dicadangkan untuk pembelian kembali saham tersebut sebesar jumlah maksimum, maka jumlah aset dan ekuitas akan berkurang sebanyak-banyaknya Rp200 milyar (btw, catat bahwa ekuitas KKGI pada First Half 2012 tercatat hanya Rp632 milyar, sehingga angka Rp200 milyar tersebut terbilang besar). Besarnya potensi hilangnya pendapatan bunga akan berpengaruh kepada berkurangnya laba bersih perseroan apabila dana tersebut ditempatkan dalam bentuk deposito.
Intinya, pengumuman soal buyback saham tersebut disampaikan dengan bahasa yang mirip dengan pengumuman soal revisi target produksi batubara, yang sudah kita bahas diatas. So, I think someone is trying to kick everybody’s out from this company. Tapi apa tujuannya? Well, menurut anda?
Tapi.. bisa saja kan kalau pihak manajemen KKGI memang beneran pesimis akan masa depan usahanya? Ah, siapa bilang. Okay, sektor tambang batubara pada saat ini memang lagi lesu karena penurunan harga batubara, tapi kan kenaikan dan penurunan harga komoditas, termasuk batubara, itu cuma hal yang biasa. Dalam jangka panjang, tetap saja pembangkit listrik diseluruh dunia akan selalu membutuhkan pasokan batubara. Kalau memang industri batubara diprediksi akan mati total dan tidak akan bangkit lagi, maka nggak mungkin Grup Bakrie mati-matian mempertahankan BUMI dari upaya takeover yang dilakukan Nathaniel Rothschild.
Satu lagi, pada tanggal 8 Oktober kemarin, Perusahan Listrik Negara alias PLN, menerbitkan notes senilai US$ 2 milyar di Singapura. Dan didalam prospektusnya, disebutkan bahwa per tanggal 30 Juni 2012, perusahaan sedang membangun setidaknya 34 unit pembangkit listrik berbahan bakar batubara, dari 45 unit pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang direncanakan, untuk mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap bahan bakar minyak (kita pernah membahas ini). Alasannya jelas: Indonesia sejak tahun 2007 sudah tidak lagi menjadi negara pengekspor minyak, melainkan pengimpor. Ini berbeda dengan batubara yang jumlahnya masih melimpah, dan belum diserap sepenuhnya oleh pasar dalam negeri.
Untuk tahun penuh 2011, PLN menggunakan bahan bakar batubara dengan porsi 38.5%, dan bahan bakar minyak dengan porsi 29.3%. Kedepannya, tepatnya pada tahun 2014 mendatang, PLN berencana untuk meningkatkan porsi penggunakan bahan bakar batubara menjadi 54.1%, sementara porsi penggunaan bahan bakar minyak akan dikurangi menjadi hanya 6.1%. Selengkapnya bisa dilihat di tabel berikut.
Fuel Type (%)
2011
2014
Fuel Oil
29.3
6.1
Natural Gas
22.5
32.7
Coal
38.5
54.1
Geothermal
2.5
2.2
Hydroelectric
7.2
4.9
Total
100.0
100.0
So, untuk KKGI sendiri yang selama ini lebih banyak menjual batubaranya ke pasar ekspor, maka kedepannya mereka juga berpeluang untuk lebih banyak jualan di pasar domestik. Karena seharusnya nggak cuma PLN, industri-industri lainnya yang juga membutuhkan batubara, seperti pembuatan semen dll, juga akan berkembang jika pasokan listrik itu sendiri menjadi lebih lancar. Jadi menurut penulis, adalah aneh kalau pihak manajemen KKGI tampak seperti mengangkat bendera putih dalam menjalankan usahanya, dan menunjukkan hal itu secara terbuka kepada publik.
Tapi ya sudahlah. Jadi apakah sekarang kita langsung saja masuk ke KKGI ini? Ya berhubung pergerakan sahamnya masih nggak wajar, dan sentimen-sentimen yang beredar juga masih jelek, maka sebaiknya jangan dulu lah. Tapi jika kemarin-kemarin saham ini sempat dilupakan, maka sekarang ini kita bisa mencermatinya kembali.
Okay, lalu bagaimana dengan LSIP?
Berbeda dengan KKGI, cerita seputar LSIP ini nggak terlalu complicated, dan pergerakan sahamnya sejauh ini juga wajar. Saham ini sempat menembus posisi 3,000-an sebagai posisi tertingginya (tepatnya 3,175) pada April 2012 lalu, yang didorong oleh kinerja apiknya sepanjang tahun 2011. Setelahnya, LSIP kemudian turun dan sekarang sudah berada di posisi 2,375, karena perlambatan kinerjanya di tahun 2012 ini. Pada First Half 2012 kemarin, LSIP mencatat penurunan laba bersih 27.9%.
Penulis sudah mengkoleksi LSIP ini pada Mei 2010, atau beberapa bulan sebelum ketemu dengan KKGI. Ketika itu harganya di 7,500-an (harga sebelum stocksplit, kalau pake harga sekarang berarti 1,500-an). Ketika itu sektor perkebunan kelapa sawit memang lagi bagus-bagusnya seiring dengan kenaikan harga crude palm oil (CPO), dan saham yang bagus di sektor ini ada dua, yakni LSIP dan AALI, namun LSIP lebih menarik dari sisi valuasi. Beberapa bulan kemudian, yakni pada Maret 2011, penulis mengalihkan pegangan dari LSIP ke saham sawit ‘pendatang baru’ yang tiba-tiba saja mencatat pertumbuhan signifikan, yaitu TBLA. Sayangnya kinerja apik TBLA tidak berlanjut, sehingga pada September 2011, penulis balik lagi ke LSIP, dengan masuk di harga 2,200.
Pada April 2012, penulis akhirnya keluar lagi dari LSIP ini di harga 2,800-an, dan gak masuk-masuk lagi sampai sekarang, karena melihat bahwa sektor sawit juga lagi lesu, sama seperti batubara. Namun sekali lagi, penulis masih menilai bahwa LSIP merupakan saham terbaik di sektor perkebunan kelapa sawit. Jadi jika nanti harga CPO mulai bergerak naik lagi (saat ini harga CPO di Malaysia tercatat RM2,471 per ton, masih rendah), maka saham pertama yang bisa dilirik ya LSIP ini.
Lalu bagaimana outlook sektor sawit kedepannya? Well, kita sudah pernah membahasnya di artikel terdahulu, silahkan baca lagi. Terus apakah di harga sekarang LSIP sudah bisa dibeli? Sayangnya, belum. Kemungkinan LSIP masih bisa turun lagi, mengingat posisinya pada saat ini seharusnya lebih rendah andaikata IHSG tidak sedang berada di posisi 4,300-an. Posisi masuk yang ideal adalah di 2,000 pas atau dibawahnya, dimana LSIP mungkin akan turun ke posisi tersebut ketika nanti periode bullish IHSG berakhir.
Okay, terakhir, apakah anda cuma mengecek saham-saham yang pernah dipegang aja, atau juga saham-saham lainnya yang belum pernah diperhatikan sebelumnya, termasuk beberapa saham yang baru IPO belakangan itu? I did it too, tapi sejauh ini sepertinya belum ada saham lain yang cukup menarik untuk dikoleksi (kecuali tentu, saham-saham yang sudah dipegang sebelumnya, termasuk HRUM yang sudah penulis sebutkan diatas). But just like you do, I keep searching, and I’ll let you know if I found one.
NB: Hari ini dua emiten, yakni Bank BTPN (BTPN) dan Hero Supermarket (HERO), baru saja merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal III 2012, yang itu berarti musim laporan keuangan untuk periode Kuartal III sudah dimulai. Dan seperti biasa, penulis akan membuat rangkuman analisisnya dalam bentuk ebook. Anda bisa membelinya

Bumi Resources: What’s Inside?

Bakrie strikes back! Itulah kesan pertama yang penulis tangkap ketika mendengar berita bahwa Grup Bakrie melalui salah satu holdingnya, Bakrie & Brothers (BNBR) dan Long Haul Holdings Ltd, mengajukan proposal kepada manajemen Bumi Plc untuk membeli kembali saham Bumi Resources (BUMI) yang dipegang Bumi Plc, senilai kurang lebih US$ 278 juta. Namun, BNBR tidak akan membeli semua saham BUMI yang dipegang Bumi Plc, melainkan hanya 18.9%, sehingga nantinya Bumi Plc masih memegang 10.3% saham BUMI (karena saat ini Bumi Plc memegang 29.2% saham BUMI). Disisi lain, Bakrie juga akan melepas kepemilikannya atas Bumi Plc yang sebesar 23.8%, untuk ditukar dengan sisa saham BUMI yang masih dipegang Bumi Plc, sebesar 10.3% tadi. So, jika prosesnya berjalan lancar, maka sebelum Natal tahun ini, Bakrie akan tidak lagi memiliki kepentingan di Bumi Plc, dan Bumi Plc juga tidak lagi menjadi pemegang saham di BUMI.

Lalu bagaimana dengan Berau Coal Energy (BRAU)? Bakrie juga menawarkan untuk membeli kembali 85% saham BRAU yang dipegang Bumi Plc senilai US$ 947 juta, sehingga totalnya (jika proposalnya disetujui), Bakrie akan mengeluarkan US$ 1.2 milyar lebih untuk keluar dari jeratan Bumi Plc, atau dalam hal ini, Nathaniel Rothschild.
Pertanyaannya tentu, apa mungkin prosesnya akan segampang itu? Jelas tidak. Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Bumi Plc di London pada tanggal 11 Oktober kemarin, manajemen Bumi Plc menyatakan akan mempertimbangkan tawaran tersebut, namun belum memberikan pernyataan bahwa mereka akan menerimanya. Well, bisa dibilang bahwa mulai sekarang, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Yang jelas kalaupun Bakrie berhasil keluar dari kerjasamanya dengan Nathaniel, maka mereka tetap kalah karena harus keluar biaya US$ 1.2 milyar atau sekitar Rp11 trilyun. Ini luar biasa, mengingat selama ini Bakrie hampir selalu bisa mendapatkan segalanya tanpa harus keluar modal, dan sekaligus menunjukkan bahwa Nathaniel Rothschild memang bukan orang sembarangan.
Nah, kalau bicara soal kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa terjadi dalam beberapa waktu kedepan pasca ‘perlawanan’ dari Bakrie ini, maka seperti sudah disebut diatas, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Karena itulah, mungkin akan lebih menarik untuk memperhatikan, apa sih sebenarnya yang ada di dalam BUMI (dan juga BRAU) sehingga Bakrie mati-matian mempertahankannya? Faktanya, BUMI memang merupakan induk dari banyak aset-aset yang bagus, dimana Grup Bakrie meletakkan aset-aset sumber daya mineral yang berhasil mereka akuisisi, baik batubara maupun lainnya, dibawah BUMI ini. Okay, berikut detailnya.
1. PT Arutmin Indonesia (Arutmin)
Arutmin adalah aset pertama BUMI yang diakuisisi pada tahun 2001. Arutmin memiliki enam tambang batubara di Kalimantan Tenggara dengan total luas konsesi 70 ribu hektar, dengan nilai total aset US$ 1.4 milyar per tanggal 30 Juni 2012. Pada tahun 2011, Arutmin memproduksi 24.7 juta ton batubara, tumbuh 18.5% dibanding tahun 2010. Sementara per tanggal 30 Juni 2012, jumlah cadangan batubara terbukti yang dimiliki Arutmin tercatat 348.5 juta ton, alias masih cukup untuk 15 – 20 tahun kedepan, dan itu belum termasuk sumber daya batubara (yang berpotensi meningkat statusnya menjadi cadangan) sebanyak 2.3 milyar ton. Wow!
2. PT Kaltim Prima Coal (KPC)
KPC boleh dibilang merupakan aset terbesar yang dipegang BUMI, dengan nilai aset US$ 2.4 milyar per tanggal 30 Juni 2012. Berlokasi di Kalimantan Timur (Kaltim), pada tahun 2011, KPC memproduksi 40.5 juta ton batubara, yang menjadikannya sebagai produsen batubara terbesar di Indonesia setelah Adaro Energy (ADRO). Sisa cadangan batubara terbukti milik KPC tercatat 1.1 milyar ton per tanggal 30 Juni 2012, sementara sumber daya batubaranya tercatat lebih dari 3.5 milyar ton.
Btw, penulis punya seorang teman yang kebetulan punya usaha tambang batubara di Kaltim, dan dia bilang, konsesi tambang batubara milik KPC yang seluas 90 ribu hektar itu terletak persis di tengah-tengah ‘lautan’ batubara terbesar yang ada di Pulau Kalimantan. Sementara perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang juga beroperasi di lokasi yang berdekatan seperti Harum Energy (HRUM), Indo Tambangraya (ITMG), Bayan Resources (BYAN), dll, itu cuma dapet pinggiran-pinggirannya saja. Jadi nggak heran ketika KPC didivestasi oleh Beyond Petroleum dan Rio Tinto pada tahun 2003 lalu, banyak konglomerat yang langsung berebut mengakuisisinya. Dan memang kemenangan Bakrie dalam pertarungan perebutan KPC tersebut-lah, yang menyebabkan Bakrie menjadi besar hingga saat ini.
3. PT Fajar Bumi Sakti (FBS)
FBS adalah perusahaan tambang batubara lainnya Kalimantan Timur yang dimiliki BUMI. Jika dibandingkan dengan KPC, FBS terbilang sangat kecil dengan sumber daya batubara ‘cuma’ 335 juta ton pada akhir tahun 2011. Mungkin itu sebabnya ketika Bakrie dikabarkan dilanda kesulitan keuangan, salah satu rumor yang sering muncul adalah bahwa mereka akan melego asetnya yang satu ini. Termasuk ketika pada tanggal 9 Oktober kemarin, di portal BeritaSatu.com keluar kabar bahwa BUMI akan menjual FBS ke Grup Sampoerna senilai Rp2 trilyun, yang kemudian dibantah pihak manajemen BUMI.
Meski kecil dan terkesan remeh, sebenarnya FBS memiliki potensi untuk menjadi besar di masa mendatang, meski memang tetap saja tidak akan sebesar KPC. Pada tahun 2012 ini, FBS diperkirakan hanya akan memproduksi maksimal 1 juta ton batubara. Namun di tahun 2017 nanti, perusahaan diproyeksikan akan bisa memproduksi 10 juta ton batubara per tahun, seiring dengan pengembangan infrastruktur pertambangan yang pada saat ini sudah mulai dikerjakan.
4. PT Pendopo Energi Batubara (PEB)
PEB adalah aset batubara BUMI yang paling baru, yang diakuisisi pada tahun 2009 kemarin. Berlokasi di Muara Enim, Sumatera Selatan, PEB memiliki sumber daya batubara sebanyak hampir 2 milyar ton. Namun berhubung hingga saat ini PEB masih belum berproduksi karena masih dalam tahap eksplorasi dll, maka belum ada data pasti soal berapa cadangan batubara terbukti yang dimiliki perusahaan. Tapi memang, jika benar bahwa sumber daya batubara milik PEB mencapai 2 milyar ton, maka PEB ini berpotensi menjadi The Next KPC. Kabupaten Muara Enim sendiri sejak dulu memang dikenal sebagai gudangnya batubara di Pulau Sumatera, dimana salah satu perusahaan batubara terbesar lainnya di Indonesia, yakni PT Bukit Asam (PTBA), juga beroperasi disitu.
5. PT Gorontalo Minerals (Gomin)
Indonesia tidak hanya kaya akan batubara, tapi juga kaya akan emas dan mineral pengikutnya seperti tembaga, perak, dan molybdenum. Karena itulah, Bakrie tidak mau ketinggalan untuk juga memiliki aset di sektor ini. Pada Desember 2010, Bakrie melalui Bumi Resources Minerals (BRMS), yang merupakan anak usaha dari BUMI, memperoleh izin eksplorasi untuk konsesi tambang emas seluas 36 ribu hektar di Kabupaten Bone Balongo, Provinsi Gorontalo. Per tanggal 30 Juni 2012, tambang tersebut dinyatakan sudah selesai dieksplorasi, dan selanjutnya memasuki proses studi kelayakan, sebelum kemudian baru berproduksi. Dan dalam laporan hasil eksplorasi yang dirilis BRMS pada tanggal 12 September 2012 kemarin, Gomin dinyatakan memiliki estimasi cadangan emas sebanyak 137.2 ton. Ini emas lho, bukan batubara.
6. PT Citra Palu Minerals (Cipam)
Cipam adalah perusahaan tambang emas lainnya yang dimiliki oleh BUMI melalui BRMS, yang memiliki lima konsesi tambang seluas total 139 ribu hektar di Sulawesi Tengah dan Selatan, atau hampir empat kali lebih luas dibanding konsesi tambang milik Gomin. Seperti Gomin, Cipam juga sudah selesai dieksplorasi dan saat ini sedang dalam proses studi kelayakan. Namun sejauh ini belum ada laporan soal berapa cadangan emas yang dimiliki perusahaan.
7. PT Dairi Prima Mineral (Daprim)
Daprim adalah perusahaan tambang timah hitam (lead), seng (zinc), dan bijih besi, yang berlokasi di Sumatera Utara. Untuk Daprim, kegiatan yang dilakukan masih dalam tahap eksplorasi. Namun berdasarkan perkiraan awal yang informasinya dirilis pada Februari 2011, Daprim diperkirakan memiliki cadangan bijih besi sebanyak 25 juta ton, yang diperkirakan baru akan habis dalam jangka waktu 30 tahun.
8. PT Newmont Nusa Tenggara (NNT)
NNT mungkin merupakan aset kedua terbesar di BUMI setelah KPC. Pada tahun 2010, BUMI berhasil mengakuisisi 24% saham NNT, sebuah perusahaan tambang emas skala besar yang berlokasi di Sumbawa, Nusa Tenggara. Saat ini NNT memiliki tiga lokasi tambang, yakni Batu Hijau, Elang, dan Rinti, yang kesemuanya masih berlokasi di Sumbawa. Pada akhir tahun 2011, untuk tambang Batu Hijau saja diperkirakan terdapat cadangan emas sebanyak 790 ton!, dan itu belum termasuk cadangan logam bawaannya seperti tembaga dll. So, boleh dibilang bahwa Newmont ini merupakan tambang emas terbesar kedua di Indonesia, setelah Grasberg, Papua, yang dimiliki oleh Freeport. Dan berbeda dengan Gomin, Cipam, dan Daprim yang masih belum berproduksi, NNT sudah berproduksi dan juga sudah menghasilkan pendapatan.
Namun, Bakrie baru memegang 24% saham NNT, sehingga belum bisa disebut sebagai pemilik dari perusahaan tambang emas tersebut. Karena itulah sampai saat ini Bakrie melalui BUMI masih berupaya untuk mengakuisisi 7% saham NNT yang akan didivestasi oleh pemiliknya, Newmont Corp., sehingga nantinya BUMI akan memegang total 31% saham NNT. Nah, kalau nanti Bakrie sukses memegang 31% saham Newmont, maka kesananya akan lebih gampang. Tinggal taruh saja satu orang direktur untuk menempati posisi HRD, misalnya, kemudian suruh dia untuk mendorong para pekerja untuk mogok kerja, ataupun ‘kekacauan-kekacauan’ lainnya. Dijamin pihak Newmont Corp. akan gerah juga, dan pada akhirnya memilih untuk keluar sepenuhnya dari NNT, alias menjual sisa sahamnya atas NNT ke Bakrie.
Tapi hingga saat ini, upaya Bakrie melalui BUMI untuk memperoleh 7% saham NNT tersebut masih menemui jalan terjal. Well, malah mungkin untuk saat ini mereka tidak bisa fokus pada upaya tersebut, mengingat ada pihak lain yang lebih kuat lagi, yakni Nathaniel Rothschild, yang sedang berupaya untuk mengambil alih BUMI itu sendiri.
Lain-Lain
Nah, bagi banyak konglomerat, BUMI sejatinya sangat seksi dan padat berisi, karena BUMI ini berisi setidaknya delapan perusahaan yang sudah dibahas diatas. Diluar itu, BUMI juga masih punya beberapa aset lagi yang berlokasi diluar negeri, seperti Bumi Mauritania SA (Mauritania, Afrika Barat), Konblo Bumi Inc (Liberia), dan Gallo Oil (Republik Yaman). Ketiga perusahaan tersebut masing-masing bergerak di bidang tambang bijih besi, emas, dan minyak. Namun, ketiganya hingga saat ini masih dalam tahap eksplorasi, dan juga tidak ada kejelasan soal berapa cadangan resourcesyang dimiliki, dan kapan mereka akan berproduksi. Sehingga kalau penulis sendiri sih cenderung menganggap bahwa kepemilikan BUMI atas tiga aset diatas tidaklah berarti (anggap aja nggak ada).
Diluar aset-asetnya yang diluar negeri tersebut, dari kedelapan perusahaan yang sudah dibahas diatas juga memang hanya KPC dan Arutmin yang sudah berkontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan (dan juga NNT. Namun karena BUMI hanya memegang 24% sahamnya, maka pendapatan dari NNT tidak dikonsolidasikan, melainkan dianggap sebagai pendapatan dari entitas asosiasi). But still, keberadaan KPC dan Arutmin tetap membuat BUMI padat berisi, mengingat cadangan batubara yang dimiliki oleh kedua perusahaan tersebut terbilang cukup untuk digali hingga sekitar 30 tahun kedepan. Dan itu sebabnya, Bakrie mati-matian mempertahankan BUMI ini dari siapapun yang mencoba merebutnya, termasuk Nathaniel. Mungkin pimpinan Grup Bakrie, Mr. Nirwan, berpikir begini: ‘Gue udah capek-capek ngumpulin aset dari sana-sini, eh elu anak orang kaya tiba-tiba dateng begitu saja buat ngambil semuanya??? Sorry bro, nggak semudah itu!’
Sayangnya, BUMI hanya menarik bagi para pemodal besar. Sementara bagi para investor retail di market, anda tidak bisa menjadi pemilik BUMI dengan cara membeli sekian lot sahamnya di market, karena posisi anda biar bagaimanapun lebih rendah dari bandar (kecuali mungkin, jika anda beli saham BUMI senilai Rp1 trilyun atau lebih). Malah yang ada, Bakrie juga menjadikan para investor retail sebagai ‘komoditas’ dan sumber dana, dengan cara memain-mainkan sahamnya. Termasuk, istilah ‘saham sejuta umat’ bagi BUMI juga diciptakan oleh mereka sendiri (melalui pihak BEI), karena mereka tahu betul bahwa sebagian besar investor retail di Indonesia menyukai untuk berspekulasi pada saham gorengan.
Oke, lalu bagaimana dengan BRAU? BRAU hanya memiliki satu aset saja, yakni PT Berau Coal, yang menjadi induk dari tiga tambang batubara yang kesemuanya berlokasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Per tanggal 30 Juni 2012, BRAU memiliki cadangan batubara sebanyak total 316.6 juta ton, atau kurang lebih setara dengan Arutmin. So, BRAU ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan BUMI, yang berisi Arutmin dll. Namun pihak Bakrie sengaja menempatkan BRAU diluar BUMI, karena bukan mereka yang bekerja keras untuk mengambil alih BRAU ini dari pemilik sebelumnya (pengusaha Ibrahim Risjad), melainkan Grup Recapital, sementara pihak Bakrie tinggal menyediakan dananya. Salah satu petinggi Recapital, Mr. Rosan Roeslani, merupakan tangan kanan langsung dari Nirwan Bakrie.

Terkait kisruh Bakrie vs Rothschild, mungkin pihak Recapital cuma bisa nonton. Namun yang menarik untuk diperhatikan adalah posisi dari Samin Tan, dimana pertanyaannya,  akan ada dimana posisi pemilik dari Borneo Lumbung Energ (BORN) tersebut, andaikata Bakrie berhasil keluar dari Bumi Plc? Soalnya Mr. Tan kan juga memegang 23.8% saham Bumi Plc. Masa dia mau ditinggalin begitu aja? Dalam pengumuman yang dirilis BORN pada tanggal 11 Oktober kemarin, manajemen BORN memang menyatakan bahwa mereka sedang berdiskusi dengan pihak Bakrie terkaitdissolution atau pemutusan hubungan kerja mereka dengan Nathaniel. Tapi ya, sejauh ini belum ada keputusan apa-apa. Mari kita tunggu episode [...]

Indomobil Sukses Internasional

Industri penjualan kendaraan bermotor roda empat alias mobil di Indonesia selalu menarik untuk dicermati, mengingat gaya hidup kalangan menengah keatas yang hampir pasti memiliki minimal satu unit mobil di garasi rumahnya, dan mereka secara rutin mengganti mobilnya tersebut setiap beberapa waktu sekali (beli lagi yang baru). Sejak dulu, merk mobil yang paling umum digunakan di Indonesia adalah Toyota, dan sampai sekarang juga masih demikian. Namun belakangan ini beberapa merk mobil yang sebelumnya kurang dikenal masyarakat, kini bisa dengan mudah ditemui di jalan raya. Salah satunya, Nissan, dengan type unggulannya Nissan Juke, March, dan Grand Livina. Siapa pemegang merk Nissan di Indonesia? Bukan, bukan Astra International (ASII) ataupun salah satu anak usahanya, melainkan Indomobil (IMAS).

IMAS adalah salah satu unit usaha Grup Salim di bidang penjualan kendaraan bermotor roda empat atau lebih (mobil, truk, dll). Beberapa merk yang dipegang perusahaan adalah Nissan, Audi, Hino, Renault, Suzuki, SsangYong, Volvo, Volkswagen, dan yang terbaru, Infiniti (merk premium dari Nissan, seperti Lexus-nya Toyota). Untuk merk Volvo, IMAS juga menjual berbagai macam alat-alat berat (sehingga IMAS merupakan kompetitor untuk Intraco Penta/INTA yang menjual alat-alat berat dengan merk yang sama). Selain jualan mobil dan alat-alat berat, IMAS juga memiliki perusahaan pembiayaan kredit kendaraan, penjualan sepeda motor (Suzuki), rental kendaraan, dan perusahaan penjualan suku cadang Indoparts, selain juga memiliki perusahaan kontraktor tambang skala kecil.
Meski IMAS menjual berbagai merk mobil dan juga memiliki beberapa jenis usaha diluar usaha penjualan mobil, namun lebih dari separuh pendapatan perusahaan berasal dari penjualan satu merk mobil saja, yaitu Nissan. Pada First Half 2012, IMAS mencatat pendapatan Rp9.8 trilyun, dimana sekitar 54.5% atau Rp5.4 trilyun diantaranya berasal dari penjualan mobil merk Nissan. Thanks to beberapa type unggulannya, terutama Nissan Grand Livina. Hingga akhir Agustus 2012, Grand Livina merupakan type terlaris dari Nissan dengan kontribusi mencapai 50 – 60% dari seluruh volume penjualan. Berkat Livina pula, Nissan sukses meraup 9.6% pangsa pasar mobil di Indonesia di Kuartal I 2012, atau sudah lebih besar ketimbang Honda, tapi masih dibawah Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, dan Suzuki. Kelebihan Livina cukup jelas, yakni image-nya sebagai mobil keluarga yang nyaman, aman, dan stylish, namun dengan harga yang tetap terjangkau, yakni mulai dari Rp160 jutaan.
Kedepannya, Nissan masih akan terus mengembangkan dan meluncurkan type-type baru, termasuk Nissan Evalia yang, menurut klaim perusahaan, angka penjualannya sudah mencapai 5,200 unit hanya dalam periode Mei – Juli 2012.
Sukses dengan Nissan, pendapatan IMAS juga sukses tumbuh hingga 41.6% pada First Half 2012 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun laba bersihnya hanya tumbuh 25.0%. Penyebabnya? Karena perusahaan membelanjakan Rp8.2 trilyun untuk membeli mobil yang selanjutnya dijual (IMAS kan perusahaan dagang, bukan produsen), naik 67.2% dibanding tahun lalu, atau kenaikannya lebih besar ketimbang penjualan. Biasanya ini terjadi karena pelemahan nilai Rupiah belakangan ini, mengingat sebagian besar mobil yang dijual IMAS, baik built up maupun komponennya, berasal dari impor.
Anyway, yang jelas kesuksesan Nissan sepanjang tahun 2010 hingga sekarang tentunya tidak akan dibiarkan begitu saja oleh para kompetitornya, terutama Honda yang baru saja ‘disalip’. Itu sebabnya pihak Honda pun, dalam hal ini PT Honda Prospect Motor, langsung meluncurkan type baru, yakni Honda Brio dan New Civic. Lalu para pemimpin pasar di industri otomotif Indonesia, yakni Toyota dan Daihatsu, juga tidak mau ketinggalan dengan merilis Toyota Agya dan Daihatsu Ayla, yang dipastikan akan menjadi penantang serius bagi Nissan March di segmen mobil murah. Dan jangan lupakan pendatang baru asal India, Tata Motors, dengan type andalannya yakni Tata Nano. The battle has just begin!
Lalu apa strategi IMAS untuk paling tidak mempertahankan posisinya saat ini? Ya dengan juga merilis type baru, seperti Nissan Evalia seperti yang sudah disebut diatas, dan dengan memperluas jaringan penjualan terutama untuk pasar diluar Jakarta. Pada tahun 2012 ini, IMAS setidaknya sudah membuka satu dealer anyar untuk Nissan yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. Diluar Nissan, IMAS juga tetap memberdayakan merk-merk lain yang mereka pegang, dengan meluncurkan type-type baru seperti Audi Q3, Volkswagen New Caravelle, dan Volkswagen New Touareg.
Tapi memang pertanyaan terbesarnya adalah terkait peraturan DP minimum 30% untuk pembelian mobil pribadi, yang secara resmi dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada Maret 2012 lalu, dan mulai berlaku efektif pada Juni kemarin. Dalam public expose yang diselenggarakan perusahaan pada April 2012 lalu, direktur utama IMAS, Jusak Kertowidjojo, mengakui bahwa peraturan soal DP tersebut akan berdampak terhadap kinerja perusahaan, hanya beliau tidak memperinci seberapa besar dampaknya. Lalu bagaimana strategi perusahaan terkait hal tersebut? Well, juga tidak ada perincian soal itu. Tapi memang, ini adalah masalah bersama bagi seluruh pelaku industri otomotif di Indonesia, nggak cuma IMAS.
Btw, kalo ada yang nanya kenapa saham ASII seperti gak terpengaruh masalah DP ini dan malah terus saja naik, itu karena dua hal. Satu, ASII merupakan perusahaan yang bergerak di banyak sekali bidang, gak cuma jualan mobil, dimana bidang lain yang juga berkontribusi besar terhadap perusahaan adalah penjualan alat-alat berat dan usaha pertambangan melalui anak usahanya, United Tractors (UNTR), dengan kontribusi lebih dari 30% dari nilai total pendapatan ASII. IMAS memang juga punya usaha penjualan alat-alat berat merk Volvo, namun porsinya cuma sekitar 5% dari nilai total pendapatan perusahaan. Dua, ASII memiliki citra sebagai perusahaan blue chip favorit investor asing di BEI, dan saat ini investor asing lagi giat-giatnya masuk ke bursa. Citra ini tidak dimiliki oleh IMAS, yang oleh sebagian investor masih dianggap sebagai saham second liner.
Oke, sekarang gimana sahamnya?
Sepanjang tahun 2011 lalu, IMAS sukses menanjak dari posisi 4,075 pada awal tahun 2011, hingga mencapai puncaknya di posisi 9,325 pada Mei 2012, yang terutama karena kinerja ciamik perusahaan sepanjang periode waktu tersebut. Namun begitu keluar pengumuman soal DP minimum, saham IMAS terus terperosok, hingga sekarang sudah balik lagi ke 5,200. Sayangnya secara teknikal, belum ada tanda-tanda bahwa penurunannya tersebut akan berhenti.
Secara valuasi, saham IMAS pada harga 5,200 mencetak PER 9.0 kali, sudah tidak mahal sebenarnya, mengingat ROE IMAS mencapai 18.8%, dan pertumbuhan laba bersihnya juga masih terjaga di atas 20%, tepatnya 25.0%. Namun jika kita mempertimbangkan bahwa IMAS belum tentu bisa ‘deal’ dengan masalah DP tadi, dan juga belum ada strategi yang jelas dari perusahaan terkait kompetisi mereka dengan para pesaingnya, terutama dengan Agya dan Ayla (karena katanya dua mobil tersebut harganya cuma Rp100 jutaan, sementara Nissan March sebenarnya nggak murah-murah amat, melainkan Rp150 jutaan), maka memang menjadi tidak ada jaminan bagi IMAS untuk bisa meneruskan kinerja bagusnya di masa mendatang. Jika anda termasuk yang mempertimbangkan hal ini, maka saham IMAS di harga sekarang masih agak mahal.
Disisi lain, IMAS masih punya segudang rencana pengembangan usaha diluar sekedar jualan mobil merk Nissan. Ketika perusahaan menyelenggarakan right issue senilai Rp2.5 trilyun pada pertengahan tahun 2011 lalu, 40% dana tersebut dipakai untuk mengembangkan usaha jasa pembiayaan, usaha pembuatan dan penjualan suku cadang kendaraan bermotor, dan usaha penjualan truk dan alat-alat berat. Termasuk pada tanggal 28 September kemarin, IMAS mengumumkan pendirian perusahaan patungan (joint venture) dengan Kyokuto, perusahaan asal Jepang yang bergerak di bidang pembuatan dan penjualan truck body. Kerjasama ini menghasilkan sebuah pabrik truck body di Cikampek, Jawa Barat, yang akan akan mulai berproduksi pada tahun 2013. Bagaimana hasilnya? Kita lihat nanti.
Kesimpulannya, kalau bagi penulis IMAS ini masih menarik mengingat Nissan Grand Livina hingga saat ini masih merupakan mobil favorit kedua di Indonesia untuk jenis multi purpose vehicle (MPV), setelah Avanza (atau Xenia). Disisi lain, beberapa hal yang berpotensi menghambat kinerja IMAS di masa depan, mau tidak mau membuat para investor lebih memilih untuk wait and see, dan penulis juga memilih sikap yang sama. Untuk saat ini, coba anda lihat dulu saham IMAS mentoknya sampai di berapa, sekaligus amati perkembangan kinerjanya di Kuartal III nanti, apakah masih tumbuh signifikan atau tidak.
PT Indomobil Sukses Internasional, Tbk.
Rating Kinerja pada 1H12: A
Rating saham pada 5,200: BBB
NB: Penulis membuat buletin yang berisi rekomendasi saham bulanan, anda bisa memperolehnya

Bakrie vs Rothschild, Part 2

Pada tanggal 24 September 2012 lalu, Bumi Plc, perusahaan patungan antara Grup Bakrie dan Nathaniel Rothschild yang terdaftar di Bursa London, Inggris, yang juga merupakan pemegang 29.2% saham Bumi Resources (BUMI) dan juga 85% saham Berau Coal Energy (BRAU), merilis pengumuman terkait pembentukan ‘komisi investigasi independen’, dimana komisi ini akan menginvestigasi penempatan dana pengembangan (development funds) yang dilakukan oleh perusahaan. Tak butuh waktu lama, pengumuman tersebut seketika langsung mengguncang dunia persilatan, termasuk memunculkan banyak sekali spekulasi terkait hubungan Bakrie – Rothschild, sampai-sampai pihak manajemen BUMI dan BRAU akhirnya menyelenggarakan public expose insidentil untuk meluruskan semua rumor yang beredar.

Dalam keterbukaan informasinya di Bursa London, Nick von Schirnding, investor relation Bumi Plc, mengatakan bahwa, An area of focus of the investigation will be the development funds of PT Bumi Resources Tbk.  The extensive development funds in PT Bumi Resources Tbk and the one development asset in PT Berau Coal Energy Tbk were marked down to zero in the accounts of Bumi plc as at 31 December 2011, except for one investment with a carrying value of $39 million in the consolidated financial statements.’ Dari kalimat tersebut, jelas bahwa inti utama investigasinya adalah terkait keberadaan akun development fundssebesar US$ 39 juta di laporan keuangan Bumi Plc untuk tahun penuh 2011. Dan memang pada tahun penuh 2011, Bumi Plc mencatat rugi bersih US$ 282 juta, dimana salah satunya merupakan bagian rugi bersih dari pihak asosiasi, dalam hal ini BUMI, sebesar US$ 39 juta.
Masalahnya, pada tahun penuh 2011, BUMI tidak mencatatkan kerugian, melainkan laba bersih US$ 221 juta. Nah, bagaimana mungkin Bumi Plc sebagai pemegang saham BUMI malah menerima bagian rugi bersih dan bukannya laba bersih?
Jadi yang dituduh melakukan financial irregularities adalah Bumi Plc, bukan BUMI (dan juga bukan BRAU). Bumi Plc dituduh, entah oleh siapa, telah tidak transparan mengenai kerugian sebesar US$ 39 juta tadi. Dan sebagai respon atas tuduhan tersebut, manajemen Bumi Plc kemudian membentuk tim komisi investigasi, dimana pengumuman soal pembentukan tim tersebut disampaikan pada 24 September lalu. Menarik untuk melihat fakta bahwa Bumi Plc baru merilis pengumuman tersebut ketika saham Bumi Plc sudah turun lebih dari 40% dalam sebulan sebelumnya, dari posisi £293 ke £146 per saham. Disisi lain, menarik pula bahwa yang menjadi inti investigasinya adalah akun ‘aneh’ di laporan keuangan mereka untuk periode yang berakhir 31 Desember 2011 lalu.. Eh, kemaren-kemaren kemana aja mas? Sekarang udah bulan Oktober!
Sebenarnya secara logika, sulit untuk mempercayai bahwa ada orang atau kelompok tertentu, entah di Inggris sana ataupun di tempat lainnya di seluruh dunia, yang berani menuduh bahwa perusahaannya Nathaniel Rothschild ini telah melakukan manipulasi keuangan. Maksud penulis, keberadaan Rothschild di Inggris itu sama seperti Bakrie disini, dimana mereka bisa berbuat apa saja dan tidak ada yang bisa melawan ataupun menuduh macam-macam, bahkan otoritas bursa sekalipun. Masih ingat dengan cerita dua tahun lalu soal dana cash sekian trilyun yang disimpan oleh Grup Bakrie di Bank Capital, yang kemudian dipertanyakan apakah dana tersebut beneran ada atau tidak? Ketika itu Bapepam hanya menjatuhkan sanksi denda sebesar masing-masing Rp500 juta bagi tiga perusahaan yang terlibat, yakni BNBR, BIPI dan UNSP, sebuah sanksi yang tentu saja kelewat ringan.
Jadi dalam hal ini, ‘orang’ yang menuduh Bumi Plc melakukan manipulasi, kemungkinan adalah mereka sendiri, apalagi jika mengingat bahwa jumlah uang yang dipermasalahkan terbilang recehan, yaitu ‘hanya’ US$ 39 juta. Tujuannya? I don’t know. Tapi terakit timing dari dikeluarkannya pengumuman soal pembentukan komisi investigasi tadi, maka seharusnya itu juga bukan suatu kebetulan, melainkan disengaja. Hanya saja sekali lagi, kita tidak tahu apa tujuannya.
Lalu apa tanggapan dari pihak BUMI? Melalui corporate secretary-nya, Dileep Srivastava, manajemen BUMI mengatakan bahwa mereka tidak menerima pemberitahuan terkait pembentukan komisi investigasi oleh Bumi Plc. Well, ini adalah pernyataan yang aneh mengingat beberapa key person di Bumi Plc juga merupakan anggota dewan komisaris dan/atau direksi di BUMI, seperti Samin Tan, Ari Hudaya, Nalin Rathod, hingga Andrew Beckham. Jadi bagaimana bisa pihak manajemen BUMI tidak mengetahui soal pengumuman yang dirilis oleh manajemen Bumi Plc, padahal mereka adalah orang-orang yang sama?
Tapi memang, ada satu nama yang memiliki jabatan di Bumi Plc namun tidak menempati posisi tertentu di BUMI ataupun BRAU. Nama tersebut adalah Nathaniel Rothschild.
Sayangnya dalam acara public expose yang diselenggarakan BUMI, pihak manajemen BUMI yang diwakili oleh Mr. Ari Hudaya tidak memperinci apapun terkait what’s going on among Bakrie, Nathaniel, and Samin Tan, dan juga terkait soal pembentukan komisi investigasi oleh Bumi Plc, meskipun para audience berkali-kali menanyakan soal itu. Tapi sayangnya kita juga memang tidak bisa memaksa Mr. Ari untuk ‘bercerita’, karena beliau juga bukanlah owner di BUMI ataupun Bumi Plc, melainkan hanya direktur. Akan lebih seru jika yang hadir dalam public expose-nya adalah Mr. Nirwan Bakrie atau Samin Tan langsung, tapi ya nggak mungkin lah, secara mereka berdua sudah seperti dewa yang nggak akan bisa ditemui oleh investor retail biasa atau bahkan otoritas bursa sekalipun.
Lalu bagaimana dengan public expose-nya BRAU? Sama saja, tidak ada informasi apapun yang diberikan oleh pihak manajemen, yang dalam hal ini diwakili oleh Mr. Rosan Roeslani, kecuali hanya meminta investor untuk menunggu perkembangan selanjutnya . Diluar itu, manajemen BRAU hanya memperinci soal kondisi hutang, kinerja keuangan, dan kinerja operasional perusahaan, yang tentu saja tidak terlalu menarik untuk diperhatikan.
Satu lagi, bagaimana dengan Bumi Resources Minerals (BRMS)? Bukankah BRMS juga merupakan salah satu unit usaha Bumi Plc, mengingat bahwa BRMS merupakan anak usaha dari BUMI? Betul, namun BRMS tidak menyelenggarakan public expose, yang mungkin karena dalam pengumumannya, Bumi Plc hanya menyebut soal BUMI dan BRAU, dan sama sekali tidak menyinggung soal BRMS, sehingga media pun tidak mengutik-utik soal BRMS. Kemungkinan sekali lagi, ini bukanlah kebetulan, melainkan suatu kesengajaan. Termasuk juga bukan suatu kebetulan ketika BRMS pada tanggal 13 September lalu merilis informasi soal potensi cadangan emas di salah satu tambangnya di Gorontalo, Sulawesi Utara, dimana di tambang tersebut terdapat cadangan 292 juta ton bijih emas, dengan rata-rata kadar emas 0.47 gram per ton bijih, sehingga terdapat cadangan sekitar 137.2 ton emas di tambang tersebut. Okay, tidak sebanyak Grasberg-nya Freeport memang, tapi lumayan kan?
Terakhir, nyaris bersamaan dengan keluarnya pengumuman pembentukan komisi investigasi oleh Bumi Plc, dua lembaga rating terkemuka yakni Moody’s dan S&P, juga menurunkan outlook rating utang dari BUMI maupun BRAU. Kebetulan? I don’t think so.. Tapi yang jelas, tindakan Bumi Plc yang merilis pengumuman ‘investigasi’ yang kemudian membuat manajemen BUMI dan BRAU kalang kabut, sekaligus penurunan rating utang yang dialami kedua perusahaan, membuat cerita soal Bakrie vs Rothschild ini semakin seru saja, dan tidak kalah serunya dibanding sinetron perseteruan antara Polri vs KPK. Well, selamat para pemirsa sekalian, satu episode baru saja ditayangkan, sekarang kita tunggu episode [...]

Daftar Indeks Saham Dunia

Salah satu cara untuk menganalisis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah dengan melihat bagaimana pergerakan indeks saham di negara-negara lain. Karena itulah anda pasti familiar dengan beberapa indeks terkenal seperti Dow Jones, Nikkei, Hang Seng, dll. Di seluruh dunia, indeks-indeks saham seperti ini jumlahnya sangat banyak, mungkin mencapai ribuan, karena satu negara biasanya memiliki lebih dari satu indeks saham (termasuk di Indonesia, selain IHSG ada juga indeks LQ45, indeks IDX 30, dll), sehingga anda tidak mungkin mengamati mereka semuanya secara satu per satu. So, berikut adalah beberapa daftar indeks saham dunia yang penting untuk anda perhatikan.


Code
Name
Country
^JKSE
Jakarta Composite Index (JCI)
Indonesia
^KLSE
Kuala Lumpur CI
Malaysia
^STI
Strait Times
Singapore
^AORD
All Ordinaries
Australia
000001.SS
Shanghai CI
China
^HSI
Hang Seng
Hong Kong
^BSESN
Bombay Stock Exchange
India
^N225
Nikkei 225
Japan
^KS11
Kospi
South Korea
^DJI
Dow Jones
United States
^GSPC
S&P 500
United States
^IXIC
NASDAQ
United States
^FTSE
FTSE 100
England
^GDAXI
DAX
Germany
^FCHI
CAC 40
France
^BVSP
Bovespa Sao Paolo
Brazil
^MERV
Merval Buenos Aires
Argentina
Catatan: Kode yang dimaksud adalah kode/quote di Yahoo Finance (www.finance.yahoo.com)
Kita mulai dari regional Asia Tenggara dan Australia. Disini yang kita perhatikan adalah JCI alias IHSG (tentu saja), KLSE Malaysia, Straits Times Index (STI) Singapura, dan All Ordinaries Australia. Khusus untuk STI, itu adalah semacam ‘Dow Jones-nya’ Asia Tenggara, dimana indeks tersebut mencerminkan pergerakan dari 30 saham blue chip yang terdaftar di Singapura, seperti Jardine Cycle & Carriage (induk dari Astra International), SingTel, dan Wilmar International. Demikian pula dengan KLSE, yang hanya mencerminkan pergerakan dari 30 saham blue chip Malaysia, seperti CIMB Group (induk dari Bank CIMB Niaga), Air Asia, dan Petronas.
Sementara IHSG dan All Ordinaries, pergerakan kedua indeks tersebut mencerminkan pergerakan dari seluruh saham di Indonesia dan Australia. Kalau berdasarkan data di Yahoo Finance, jumlah saham yang menjadi komponen penggerak IHSG adalah 347 saham (nggak mencapai 400), sementara All Ordinaries 398 saham.
Untuk kawasan Asia, beberapa indeks yang bisa kita perhatikan adalah Shanghai Composite Index (SCI) Tiongkok, Hang Seng Hong Kong, Bombay Stock Exchange (BSE) India,  Nikkei Jepang, dan Kospi Korea. Di Tiongkok sebenarnya ada satu indeks lagi yang cukup penting, yakni Indeks Shenzen, namun yang lebih diperhatikan adalah Indeks Shanghai.
Menyeberang ke Amerika, di bursa saham New York terdapat setidaknya 6,000 perusahaan yang terdaftar, jauh lebih banyak ketimbang negara manapun. Mungkin karena itulah kemudian dibuat indeks-indeks yang lebih fokus pada saham-saham tertentu. Dan diantara indeks-indeks tersebut, yang penting untuk diperhatikan adalah Dow Jones dan Standard & Poors 500 (SP500). Dow Jones adalah indeks untuk 30 saham blue chio di Amerika, seperti Exxon, Microsoft, dan JP Morgan, sementara SP500 adalah indeks untuk 500 saham yang sudah dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Investor paling terkenal di dunia, Warren Buffett, menggunakan kenaikan/penurunan indeks SP500 sebagai perbandingan untuk pertumbuhan/penurunan dari investasi yang ia lakukan.
Lalu bagaimana dengan NASDAQ? Well, meski indeks ini juga cukup populer, namun penulis sendiri jarang memperhatikannya karena indeks tersebut sebenarnya merupakan indeks sektoral, dalam hal ini sektor teknologi. Tapi memang, berhubung Amerika merupakan gudangnya jenius teknologi yang menghasilkan banyak perusahaan seperti Microsoft, Apple, Facebook dll, dan kebanyakan dari perusahaan tersebut beroperasi di seluruh dunia, maka indeks NASDAQ kemudian menjadi penting. Masalahnya, indeks NASDAQ tidak hanya mencakup perusahaan-perusahaan teknologi yang besar-besar, melainkan seluruh perusahaan teknologi yang terdaftar di bursa saham Amerika, yang jumlahnya lebih dari 2,000 saham.
Sementara di Eropa, beberapa bursa saham yang bisa diperhatikan adalah FTSE “Footsie” Inggris, DAX Jerman, dan CAC Perancis. Kenapa tiga negara tersebut yang dipilih? Ya karena di seantero Eropa, adalah tiga negara tersebut yang secara perekonomian paling maju. Jika anda tidak mau memperhatikan DAX dan CAC, maka Footsie relatif sudah cukup. Indeks ini mencakup 100 saham di Inggris yang sudah dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Sementara London Stock Exchange (LSE) sendiri memiliki setidaknya 2,500 perusahaan terdaftar, termasuk Bumi Plc (kodenya BUMI.L), namun saham dari perusahaan milik Bakrie – Rothschild ini tidak termasuk dalam 100 saham komponen Footsie.
Satu region lagi yaitu Amerika Latin, disana terdapat dua indeks penting, yakni Bovespa Brazil, dan Merval Argentina. Sebenarnya dua indeks ini nggak terlalu penting untuk diperhatikan, tapi tidak ada salahnya jika anda turut memasukkannya ke dalam index watchlist yang anda buat.
Terus di Indonesia sendiri, apakah hanya terdapat indeks IHSG saja? Untungnya, Yahoo Finance juga menyediakan chart untuk indeks-indeks lokal seperti LQ45 dst, termasuk juga indeks sektoral untuk sektor-sektor tertentu. Berikut selengkapnya:
Code
Name
^JKLQ45
LQ45 Index
^JKII
Jakarta Islamic Index
I:BISNIS27.JK
Bisnis 27
I:PEFINDO25.JK
Pefindo 25
I:IDX30.JK
IDX 30
I:SRI-KEHATI.JK
Sri Kehati
I:KOMPAS100.JK
Kompas 100
^JKDBX
Development Board
^JKMBX
Main Board
^JKINFA
Infrastructure
^JKFINA
Finance
^JKCONS
Consumer Goods
^JKTRAD
Trade & Service
^JKBIND
Basic Industries
^JKPROP
Property
^JKMING
Mining
^JKAGRI
Agriculture
^JKMISC
Miscellaneous
Dari indeks-indeks diatas, yang biasa penulis perhatikan adalah indeks sektoral, tujuannya untuk menganalisis perkembangan suatu sektor. Misalnya indeks properti (^JKPROP), dalam setahun terakhir dia sudah naik sebanyak 61.5%, dari posisi 192 hingga terakhir 311, dan hal ini selaras dengan booming properti yang sedang terjadi belakangan ini. Sementara indeks tambang (^JKMING), dalam setahun terakhir sudah terkoreksi sebanyak 16.1%, dan hal ini juga selaras dengan penurunan kinerja dari banyak emiten tambang dalam setahun terakhir ini, terutama batubara. Dan seterusnya.
Okay, mudah-mudahan bermanfaat. Bagi anda yang mungkin masih bingung cara menggunakan Yahoo Finance, termasuk untuk membuat index watchlist seperti yang sudah disebut diatas, anda bisa minta tolong sama orang sekuritas di tempat anda membuka rekening, biasanya mereka udah [...]

Provident Agro & Outlook Sektor Sawit

Sektor perkebunan kelapa sawit mengalami masa jayanya pada awal tahun 2011 lalu, dimana ketika itu rata-rata ROE di sektor ini mencapai lebih dari 25%. Namun terhitung sejak awal tahun 2012 hingga sekarang, hampir seluruh emiten sawit di BEI mengalami kemunduran kinerja, terutama dilihat dari laba bersihnya yang turun. Penyebabnya? Penurunan harga crude palm oil atau CPO, yang hingga kini belum rebound kembali. Harga CPO di Bursa Malaysia sempat hampir mencapai rekor RM4,000 per ton pada tahun 2011 lalu, tapi sekarang, terakhir tercatat RM2,750 per ton. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari KPB PTPN, harga CPO pada lelang hari ini tercatat Rp7,375 per kg, cukup jauh dibawah rata-rata harga tahun 2011 yang sempat diatas Rp10,000 per kg.

Berikut adalah rangkuman kinerja emiten-emiten sawit di First Half 2012, angka dalam persentase.
Company
ROA
ROE
Operating Profit Growth
Net Profit Growth
Astra Agro Lestari
16.3
22.5
(21.3)
(30.0)
Salim Ivomas Pratama
6.8
11.4
(16.1)
(28.1)
PP London Sumatra
18.5
22.0
(29.7)
(27.9)
BW Plantation
7.2
20.0
(9.0)
(9.8)
Gozco Plantations
3.2
6.1
(48.4)
(45.6)
Tunas Baru Lampung
8.5
20.6
(42.0)
(41.2)
Sampoerna Agro
8.5
12.4
(53.4)
(57.3)
SMART
13.8
26.7
17.6
(1.4)
Average
10.9
18.2
(16.9)
(25.4)
Catatan:
1. Dua emiten yakni Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) dan Jaya Agra Wattie (JAWA), hingga ketika analisis ini ditulis belum merilis LK-nya.
2. Data diurutkan berdasarkan ukuran aset perusahaan, dari yang terbesar sampai yang terkecil.
3. Angka ‘average’ mungkin tidak akurat, mengingat PP London Sumatra (LSIP) berstatus sebagai anak usaha dari Salim Ivomas Pratama (SIMP), sehingga seharusnya LSIP tidak ikut dihitung. Namun untuk tujuan memperoleh angka rata-rata untuk sektor perkebunan secara keseluruhan, maka LSIP tetap dihitung.
Perhatikan, dari data diatas, tampak bahwa seluruh emiten sawit mengalami penurunan laba bersih rata-rata 25.4%. Namun jika dilihat dari ROA dan ROE-nya yang masing-masing tercatat 10.9 dan 18.2%, maka sektor sawit terbilang masih merupakan sektor yang menguntungkan. Jika mempertimbangkan bahwa harga CPO seharusnya sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi, maka kedepannya kinerja para emiten sawit diatas bisa kembali pulih, minimal kembali mencatatkan kenaikan laba, karena volume produksi dan penjualan CPO rata-rata tetap meningkat. Kalau kita pake data milik Astra Agro Lestari (AALI), perusahaan sawit milik Grup Astra tersebut mencatat volume penjualan CPO sebesar 644 ribu ton pada First Half 2012, naik 13.7% dibanding periode yang sama tahun 2011. Secara keseluruhan menurut manajemen AALI, volume produksi CPO Indonesia di tahun 2012 akan tumbuh 6.2% dibanding tahun 2011.
Btw, tadi dikatakan bahwa harga CPO seharusnya sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi? Taunya dari mana? Ya simpel saja, CPO itu kan bahan baku utama untuk pembuatan salah satu kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia, dan juga masyarakat di seluruh dunia, yaitu minyak goreng, sehingga permintaannya terus meningkat setiap tahun seiring bertambahnya jumlah penduduk, dan itu berimbas pada harganya yang tidak mungkin turun lagi setelah mencapai batas tertentu. Memang, terdapat beberapa substitusi/pengganti CPO untuk membuat minyak goreng, seperti minyak jagung, minyak kedelai, minyak kelapa, dan minyak biji bunga matahari, dan keberadaan substitusi ini berpotensi menurunkan permintaan akan CPO. Namun penulis kira argumen substitusi tersebut lemah, karena diantara semua jenis minyak nabati, CPO-lah yang paling ekonomis (anda bisa lihat sendiri di supermarket, bandingkan harga minyak goreng biasa dengan minyak goreng kelapa). Dan saat ini, harga minyak goreng di pasar tradisional adalah sekitar Rp12,000 per liter, turun dari sebelumnya Rp14,000 per liter. Nah, apakah menurut anda harga minyak goreng bisa diturunkan lagi menjadi cuma Rp9,000 per liter misalnya? Jika itu bisa membuat harga gorengan ikut turun menjadi seribu tiga, penulis sih seneng-seneng aja, tapi ya nggak mungkin lah.
Kemungkinan, harga CPO pada saat ini sedang menjadi korban spekulasi saja, karena CPO memang diperdagangkan di pasar derivatif. Saat ini para trader komoditas di seluruh dunia sedang mengalihkan portofolionya ke kedelai dan jagung, sehingga harga kedua komoditas tersebut naik, sementara imbasnya CPO turun. Kita tidak tahu kapan harga CPO akan naik lagi, tapi yang jelas, kecuali terjadi peristiwa yang luar biasa, harga CPO pada saat ini penulis kira sudah cukup rendah. Harga tandan buah sawit di kalangan petani tradisional sudah mentok di Rp650 per kilo, yang jika turun lebih rendah lagi dari itu, maka kata pak tani-nya, mendingan gak usah nanem sawit lagi.
Lalu bagaimana dengan outlook sawit kedepannya? Dalam jangka waktu empat tahun terakhir, yakni dari tahun 2008 hingga 2011, baik volume produksi, konsumsi domestik, maupun ekspor CPO Indonesia, semuanya terus meningkat. Demikian pula pada tahun 2012 ini, data sementara juga menunjukkan bahwa produksi, konsumsi domestik, dan ekspor tetap meningkat dibanding tahun 2011. Selengkapnya bisa dilihat di tabel berikut:
Year
2008
2009
2010
2011
2012E
Production
19.4
21.0
22.1
24.1
25.6
Sales
19.1
21.8
21.9
23.4
25.2
     Domestic
4.4
4.8
5.4
6.3
7.1
     Export
14.6
16.9
16.5
17.1
18.2
Catatan: Angka dalam jutaan ton. Data untuk tahun 2012 adalah estimasi berdasarkan data hingga First Half
Hanya memang, seperti yang bisa anda lihat diatas, setiap tahunnya volume produksi nyaris selalu lebih tinggi dibanding volume total penjualan. Termasuk untuk tahun 2012 ini, volume penjualan juga diperkirakan hanya akan mencapai 25.2 juta ton, lebih rendah dari produksi 25.6 juta ton. So, apakah hal ini yang kemudian dijadikan pembenaran atas turunnya harga CPO? Bisa jadi, dan mungkin ini pula yang menyebabkan beberapa perusahaan menekan volume produksi CPO-nya. Kalau kita pake data terbaru dari AALI (karena hanya AALI saja yang merilis data produksinya secara bulanan), sepanjang Januari – Agustus 2012, perusahaan masih mencatat kenaikan volume produksi CPO sebesar 9.9%, namun angka tersebut lebih rendah dibanding kenaikan volume penjualan sebesar 10.7%. Sementara terkait porsi penjualan untuk domestik dan ekspor, volume penjualan domestik tumbuh 14.5%, namun volume penjualan ekspor turun drastis hingga 64.8%. Sepertinya AALI memilih untuk lebih banyak menjual CPO-nya ke pasar domestik, karena harganya relatif lebih mudah dikendalikan ketimbang kalau harus ekspor. Btw, hal ini sekaligus menunjukkan bahwa meski permintaan CPO dari Tiongkok, India, dll mungkin memang menurun, namun permintaan CPO dari pasar domestik tetap tinggi.
Kalau ada masalah yang perlu ditanggapi secara serius terkait prospek sawit, itu bukan soal penurunan harga CPO, melainkan masalah lingkungan, dimana perusahaan-perusahaan sawit tentunya tidak bisa secara terus menerus membabat hutan untuk kemudian dijadikan kebon sawit. Sebetulnya sejak Mei 2011 lalu, Pemerintah telah menetapkan moratorium (pemberhentian sementara) kegiatan pembukaan lahan sawit selama dua tahun kedepan, alias hingga Mei 2013. Masalahnya, ada kemungkinan moratorium tersebut bakal diperpanjang, mengingat banyaknya kasus kebakaran hutan akhir-akhir ini, itu salah satunya adalah karena aktivitas perusahaan sawit (jangan salahkan kemarau ya, itu sih sama saja seperti Foke yang menyalahkan hujan sebagai penyebab banjir di Jakarta).
Oke, lalu bagaimana dengan perusahaan sawit yang akan IPO awal Oktober mendatang, Provident Agro?
Provident Agro (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja PGRO) adalah perusahaan sawit yang dimiliki secara fifty-fifty oleh Grup Provident dan Grup Saratoga. Saratoga, seperti yang anda ketahui, adalah pemilik dari Adaro Energy (ADRO) dan juga Tower Bersama Infrastructure (TBIG). Nah, PGRO ini merupakan investasi mereka di bidang sawit. Sementara Provident adalah sebuah fund yang didirikan oleh tiga mantan investment banker jebolan Citigroup, dan PGRO adalah salah satu portofolio investasi mereka. Terkait partnership-nya dengan Saratoga, Provident juga merupakan salah satu pemegang saham utama di TBIG.
Mungkin karena pemiliknya sama, cara kerja PGRO ini juga mirip dengan TBIG, yakni didirikan, kemudian dijadikan sebagai induk dari beberapa perusahaan atau perkebunan kelapa sawit yang diakuisisi kemudian. Pada tahun 2007, atau setahun setelah perusahaan didirikan tahun 2006, PGRO mencatat aset Rp283 milyar, dimana Rp211 milyar diantaranya berasal dari pinjaman bank. Dan saat ini yakni hingga Kuartal I 2012, PGRO mencatat aset Rp1.8 trilyun, dan menjadi induk dari setidaknya 11 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan.
Pada Kuartal I 2012, PGRO mencatat pendapatan Rp107 milyar, naik 82.4% dibanding periode yang sama tahun 2011, yang terutama disebabkan karena tambahan pendapatan dari akuisisi perkebunan kelapa sawit. Namun meski pendapatannya naik, PGRO justru mencatat rugi bersih Rp77 milyar. Penyebabnya? Karena dua jenis beban non operasional yang besarannya cukup signifikan, yakni beban biaya hukum, dan beban keuangan. Saat ini, PGRO sedang menghadapi sengketa hukum atas sekian hektar lahan di salah satu perkebunannya di Kabupaten Agam, Provinsi Aceh, dan itu menimbulkan biaya setidaknya Rp55 milyar. Sementara untuk beban keuangan, PGRO melakukan investasi pada instrumen derivatif valuta asing, dan pada Kuartal I 2012, investasi tersebut mengalami penurunan nilai yang kemudian dicatat sebagai beban, sebesar Rp23 milyar.
Soal beban karena masalah hukum, dengan mengasumsikan bahwa masalahnya akan segera selesai, maka beban tersebut kedepannya tidak akan ada lagi. Tapi bagaimana dengan beban karena derivatif? Mengingat bahwa para pemilik Grup Provident adalah mantan investment banker, maka investasi derivatif seperti itu terbilang merupakan hal yang biasa dilakukan. Masalahnya, hal itu bisa mem-bias-kan data laba bersih perusahaan yang sesungguhnya, jadi mirip-mirip sama Bumi Resources lah. So, dalam hal ini, ada kemungkinan kinerja PGRO kedepannya akan dengan mudah diutak atik.
Menariknya, meski laba bersihnya minus Rp77 milyar alias rugi, namun laba bersih komprehensif PGRO di Kuartal I 2012 tercatat Rp69 milyar, yang disebabkan oleh surplus revaluasi sebesar Rp147 milyar. Lalu, di neracanya, PGRO mencatat ekuitas Rp739 milyar, atau cukup besar, sehingga DER-nya terbilang masih wajar di angka 2.4 kali. Namun ekuitas yang cukup besar tersebut terdiri dari surplus revaluasi sebesar Rp633 milyar. Tanpa surplus revaluasi tersebut, ekuitas PGRO seharusnya hanya Rp105 milyar, karena perusahaannya sendiri hanya mencatat modal disetor Rp142 milyar, dan saldo laba minus alias defisit sebesar Rp37 milyar.
Btw, berikut adalah rangkuman kinerja PGRO dalam lima tahun terakhir, perhatikan terutama perbandingan antara tahun 2011 dan 2010:
Year
2007
2008
2009
2010
2011
2012*)
Asset
283
569
726
894
1,614
1,798
Equity
34
66
120
155
669
739
   Earnings
(1)
(47)
(12)
13
40
(37)
Revenue
136
182
169
205
318
107
Net Profit
(0)
(46)
35
25
27
(77)
Comprehensive Net Profit
(0)
(46)
35
25
514
69
Catatan: Angka dalam milyar Rupiah, angka tahun 2012 adalah untuk Kuartal I.
So, jika dilihat dari financial engineering-nya, PGRO ini bisa disebut sebagai ‘The Next UNSP’, dan itu praktis membuatnya menjadi tidak bisa dijadikan pilihan investasi, tak peduli secerah apapun prospeknya (misalnya karena perusahaan akan akuisisi lagi, dll). Katakanlah mungkin laporan keuangannya yang berantakan tersebut adalah karena perusahaan masih fokus pada kegiatan leveragedan pengembangan kepemilikan aset, sehingga kedepannya jika semuanya sudah beres, maka perusahaan kemudian bisa fokus pada kegiatan operasional kebon sawit, dan laporan keuangannya pun akan menjadi bagus. Akan tetapi kalau berdasarkan pengamatan penulis selama ini, jarang sekali terdapat kelompok usaha yang sebelumnya terbiasa dengan leverage, kemudian kesananya menjadi pure operasional. Biasanya kalau udah sekali ngutang, kedepannya ya terus saja ngutang lagi dan lagi.
Terkait prospek, dalam prospektusnya PGRO menekankan bahwa permintaan CPO kedepannya akan kembali meningkat signifikan seiring dengan berkembangnya penggunaan CPO sebagai bahan baku pembuatan biodiesel (kalau di Indonesia, seperti biosolar yang ada di pom bensin itu lho). Sayangnya penggunaan biodiesel di Indonesia masih belum berkembang pesat, dan PGRO lebih menunjuk kebijakan energi yang saat ini diberlakukan di Amerika Latin dan Eropa sana sebagai pemicu dari peningkatan permintaan biodiesel, padahal PGRO sama sekali tidak mengekspor CPO-nya (ini yang bikin prospektusnya siapa sih?). Tapi memang, manajemen juga mengatakan bahwa mereka berkeyakinan bahwa tingkat konsumsi CPO di pasar domestik akan terus meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk, dan kalau soal ini sih penulis setuju, namun itu tetap saja tidak membuat PGRO menjadi menarik. Masih lebih bagusan AALI atau LSIP kemana-mana.
Kesimpulannya, tanpa perlu lagi melihat valuasi sahamnya, PGRO ini cenderung hanya bisa dipakai untuk berspekulasi, dan tentu saja penulis tidak merekomendasikannya. Jika anda tertarik untuk masuk ke sektor sawit, maka masih banyak saham lain yang secara fundamental jauh lebih bagus.
Namun, terlepas dari fundamentalnya dan segala macem, PGRO bukan tidak mungkin pula akan sukses di listing perdananya, atau minimal harganya akan ditahan bandar agar tidak turun. Kita lihat perusahaan lainnya yang juga dipegang oleh pemilik yang sama, TBIG, valuasi sahamnya juga muahal setengah mati, namun itu tidak menahannya untuk terus saja naik dalam setahun terakhir. Setahun lalu, TBIG masih berada di posisi 1,820, dan hari ini sudah mantap di posisi 4,400, atau sudah naik 142%.
Masalahnya, bukan tidak mungkin pula saham TBIG memang sengaja dinaikkan agar banyak investor yang berasumsi bahwa saham PROG akan juga dinaikkan, sehingga akhirnya IPO-nya tetap laris meski perusahaannya sendiri nggak bagus. So, wanna bet? If so, then be ready to face the risk.
NB: Mulai Oktober 2012, penulis menyediakan layanan informasi jual/beli saham harian yang satu paket dengan investor buletin yang terbit setiap bulan, dengan biaya tetap. Keterangan selengkapnya lihat 

ICTSI Jasa Prima

ICTSI Jasa Prima (KARW) yang sebelumnya bernama Maharlika Indonesia, dan sebelumnya lagi bernama Karwell Indonesia, berubah nama menjadi ICTSI Jasa Prima, setelah pada tanggal 3 Mei 2012 lalu perusahaan diambil alih oleh International Container Terminal Services, Inc (ICTSI), sebuah perusahaan jasa pelabuhan asal Filipina. Kegiatan usaha KARW juga berubah dari tadinya garment menjadi jasa pelabuhan. Aksi korporasi ini menarik, karena kita tahu bahwa saat ini banyak yang memprediksi bahwa sektor yang akan booming dalam beberapa waktu ke depan adalah infrastruktur, dan pelabuhan adalah bagian dari infrastruktur tersebut. So, apakah dalam hal ini ICTSI juga menangkap peluang tersebut, sehingga mereka kemudian masuk ke Indonesia?

ICTSI mengakuisisi KARW pada tanggal 3 Mei 2012 melalui anak usahanya di Singapura, ICTSI Far East (IFE), dimana IFE membeli 469.7 juta lembar saham atau mewakili 80% saham KARW, dengan harga beli antara Rp74 – 77 per saham. Kemudian, berdasarkan peraturan Bapepam, IFE sebagai pemegang saham pengendali yang baru di KARW harus melakukan mandatory tender offer alias membeli sisa saham KARW yang masih dimiliki publik, dan inilah yang menyebabkan saham KARW terus naik sejak tanggal 24 Agustus lalu. Tapi yang agak aneh adalah, kenapa naiknya baru pada tanggal 24 Agustus? Bukannya KARW sudah diakuisisi oleh IFE sejak awal Mei?
Kemudian, dalam keterbukaan informasi yang dirilis oleh HD Capital (HADE) selaku broker yang ditunjuk IFE untuk mengambil alih KARW, tidak ada informasi soal tender offer tersebut, kecuali bahwa perusahaan akan mengumumkan akuisisi IFE atas KARW tersebut di koran. Juga, tidak ada informasi soal berapa jumlah saham yang harus diambil alih IFE dalam rangka tender offer tersebut, dan juga berapa jumlah saham yang sudah dibeli IFE hingga saat ini. Kalau menurut penulis, selama tender offer-nya masih berlangsung, maka selama itu pula KARW akan terus naik. Tapi memang masalahnya, karena informasinya serba tertutup, kita jadi tidak pernah tahu kapan tender offer tersebut akan selesai, sehingga keputusan untuk masuk ke KARW pada saat ini berbau spekulasi. Namun kalau udah megang sejak awal tentu boleh hold.

Sekarang, bagaimana prospek terkait perusahaannya?

Ketika ICTSI mengakuisisi KARW, tujuannya adalah untuk backdoor listing. Melalui KARW, ICTSI kemudian membeli enam unit crane, yakni alat derek untuk mengangkat kontainer (yang segede gaban itu) dari kapal ke darat atau sebaliknya. Keenam crane ini kemudian akan ditempatkan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, sehingga sekarang ICTSI memiliki unit bisnis di Tanjung Priok. Ini adalah kali kedua ICTSI masuk ke bisnis pelabuhan di Indonesia. Sebelumnya, ICTSI juga memiliki perusahaan bernama PT Makassar Terminal Services (MTS), yang bergerak di bidang pengangkutan kontainer di Terminal Peti Kemas Makassar, Sulawesi Selatan. Untuk saat ini MTS tidak diletakkan dibawah KARW, tapi ada kemungkinan kedepannya unit bisnis ICTSI yang di Makassar tersebut akan diletakkan dibawah KARW dengan cara diakuisisi.
Selain membeli crane, ICTSI melalui KARW juga mengakuisisi 100% saham PT PBM Olah Jasa Andal (OJA), sebuah perusahaan pemegang kontrak dari Pelindo II (BUMN operator Pelabuhan Tanjung Priok), untuk menyediakan jasa bongkar muat kontainer di beberapa dermaga. Sekali lagi, ini sangat menarik, karena seperti yang kita ketahui, Pelindo II sedang mengembangkan proyek raksasa Pelabuhan Kalibaru, yang berlokasi persis di sebelah timur Pelabuhan Tanjung Priok, dengan nilai investasi US$ 4 milyar atau setara Rp36 trilyun! Nah, ketika nanti Pabuhan Kalibaru yang dijuluki sebagai ‘The New Tanjung Priok’ ini mulai beroperasi, maka OJA sebagai partner lama dari Pelindo II tentunya akan ketiban rezeki kontrak baru.
Tapi memang, itu masih lama. Pelindo II sendiri baru mulai membangun Pelabuhan Kalibaru pada September 2012 ini, dan pelabuhan tersebut diperkirakan baru akan beroperasi mulai tahun 2014 nanti, itu pun kalau progress-nya lancar. Meski begitu, bisnis OJA di Pelabuhan Tanjung Priok tetap prospektif, karena arus lalu lintas kontainer di pelabuhan tersebut mencatat rata-rata peningkatan sebesar 26% per tahun, dan karena suplai infrastruktur pelabuhan di Tanjung Priok masih minim, bahkan jika dibanding dengan negara tetangga Malaysia, sehingga masih terdapat banyak ruang untuk ekspansi. So, penulis kira inilah yang menyebabkan ICTSI masuk ke Tanjung Priok, yaitu karena selain prospek dari Tanjung Priok itu sendiri masih bagus, terdapat prospek tambahan jika Pelabuhan Kalibaru benar-benar bisa beroperasi di dua – tiga tahun mendatang.
Total biaya yang dikeluarkan ICTSI untuk membeli enam crane dan mengakuisisi OJA adalah Rp334 milyar. Uang itu dalam neraca KARW akan dicatat sebagai utang yang diperoleh dari ICTSI Limited, induk dari IFE, dimana IFE adalah induk dari KARW. Jadi struktur perusahaannya dari yang tertinggi hingga terendah adalah sebagai berikut:
ICTSI Filipina
I
ICTSI Limited
I
ICTSI Far East (IFE)
I
ICTSI Jasa Prima (KARW)
I
PBM Olah Jasa Andal (OJA)
So, setelah aksi korporasi ini, pendapatan serta laba bersih perusahaan akan meningkat berkali-kali lipat, yang berasal dari pendapatan dan laba bersih OJA yang dikonsolidasikan. Manajemen memperkirakan bahwa pendapatan KARW sebagai induk dari OJA akan mencapai Rp239 milyar pada tahun penuh 2012, meningkat hampir sepuluh kali lipat dibanding tahun 2011 sebesar Rp25 milyar. Total aset KARW juga akan meningkat menjadi sekitar Rp500 – 600 milyar, dari sebelumnya hanya Rp13 milyar di tahun 2011. Namun, sebagian besar dari aset tersebut akan dicatat sebagai utang (yang diperoleh dari ICTSI Limited) dan bukannya ekuitas. So, penulis bisa membayangkan bahwa laporan keuangan KARW ini di Kuartal III nanti akan mencatat angka return on equity (ROE) yang sangat besar, namun DER-nya juga akan sangat besar. ICTSI Limited sendiri akan secara bertahap memberikan pinjaman senilai total US$ 70 juta atau setara Rp640 milyar kepada KARW, yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan investasi (jadi setelah membeli crane dan mengakuisisi OJA, ada kemungkinan kedepannya KARW bakal mengakuisisi lagi, mungkin perusahaan yang di Makassar tadi).
Masalahnya disini adalah, berapa bunga dari pinjaman tersebut? Karena jika bunganya terlalu besar, maka itu berarti laba bersih yang diperoleh KARW dipindahkan ke ICTSI Limited, sehingga KARW boleh dibilang gak dapet apa-apa. Atau, apakah KARW berencana untuk menggelar right issue, dimana uangnya akan dipakai untuk membayar utang ke induknya tersebut?
Kesimpulannya, penulis menilai bahwa prospek KARW ini menarik, terutama karena penulis juga termasuk yang percaya, atau mungkin lebih tepatnya berharap, bahwa sektor infrastruktur termasuk pelabuhan akan menjadi sektor yang booming di Indonesia dalam beberapa waktu kedepan. Selain itu, ICTSI yang masuk ke Tanjung Priok melalui KARW ini merupakan perusahaan jasa layanan pelabuhan yang cukup terkemuka di dunia, dan juga telah memiliki operasional di 17 negara, sehingga seharusnya mereka tidak akan kesulitan dalam mengembangkan infrastruktur di Tanjung Priok, dan mungkin juga nantinya di Pelabuhan Kalibaru.
Namun disisi lain, terdapat setidaknya dua poin yang dipertanyakan dari masuknya ICTSI ke KARW, yakni: 1. Proses tender offer yang menurut penulis kurang transparan, dan 2. Kenapa ICTSI Limited memberikan dana kepada KARW dalam bentuk utang, dan bukannya penyertaan modal? Tapi mudah-mudahan ini hanya kekhawatiran penulis saja, dan tidak berpotensi menjadi masalah apapun.
Lalu gimana soal analisis sahamnya dari sisi fundamental? Berhubung laporan keuangan KARW untuk periode Kuartal II 2012 kemarin masih belum memasukkan pendapatan dan laba bersih konsolidasi dari akuisisi OJA (datanya masih data sebelum akuisisi), maka tentunya analisisnya juga belum bisa dilakukan. Kita lihat bagaimana kinerjanya di di Kuartal III nanti. Yang jelas hingga Juli 2012, dimana ketika itu OJA sudah dikonsolidasikan, KARW mencatat pendapatan Rp122 milyar, dan laba usaha (bukan laba bersih) Rp5 milyar. Quite good, but it had to be [...]

A Tribute to Jokowi

Joko Widodo atau biasa disapa Jokowi, akhirnya berhasil melaju sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012 – 2017, mengalahkan calon incumbent Fauzi Bowo atau biasa disapa Foke, atau setidaknya begitulah yang ditunjukkan oleh hasil quick count. Sebagai salah satu warga Jakarta (meski KTP-nya masih Bandung), tentu penulis merasa senang, karena penulis pun mendukung Jokowi. Tapi sejujurnya, penulis sempat ragu kalau Jokowi bakal menang, karena posisi Foke sebagai incumbent sangatlah kuat, salah satunya dari sisi dana kampanyenya yang extraordinary. But thank God, Tuhan masih memberi kesempatan bagi Jakarta untuk berbenah dibawah pimpinan gubernur yang baru.

Jokowi berlatar belakang sebagai pengusaha ekspor meubel yang cukup sukses. Pada tahun 2005, Jokowi terjun ke politik dengan mencalonkan diri sebagai Walikota Solo, dan ia berhasil memperoleh jabatan tersebut. Di awal-awal masa jabatannya sebagai walikota, tidak banyak yang berharap bahwa Jokowi akan membawa perubahan yang berarti bagi Kota Solo, hingga akhirnya beliau melakukan satu gebrakan yang tidak hanya belum pernah dilakukan oleh walikota Solo sebelumnya, tapi juga belum pernah dilakukan oleh kepala daerah manapun di Indonesia.
Jadi begini ceritanya. Ketika Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo, salah satu permasalahan yang masih belum bisa diatasi oleh walikota sebelumnya adalah relokasi pedagang kaki lima (PKL) di pasar Banjarsari. Pasar tersebut sejatinya merupakan pasar yang cukup elit, namun keberadaan PKL membuatnya semrawut dan kumuh, dan hal ini sudah lama dikeluhkan oleh masyarakat Solo. Berbagai cara sudah dilakukan oleh walikota sebelumnya untuk menggusur dan merelokasi PKL di kawasan tersebut, namun selalu berakhir dengan bentrokan antara Satpol PP dan para pedagang, alias gagal.
Mungkin, karena berpengalaman dalam berhubungan dan bernegosiasi dengan para pelanggan meubelnya, Jokowi tahu bahwa ia harus melakukan pendekatan yang berbeda: Para PKL tersebut harus didekati secara halus dan pelan-pelan, dan bukannya dengan cara kekerasan. Seberapa halus? Dengan menjalin pertemanan dengan mereka, tentu saja. Jokowi secara pribadi mengundang para pimpinan pedagang untuk makan-makan di rumah dinasnya. Awalnya, para pedagang ini berpikir bahwa acara makan-makan tersebut hanyalah kamuflase bagi tujuan sebenarnya: Sang walikota baru berniat untuk mencoba menggusur mereka lagi, seperti yang sudah-sudah. Alhasil, mereka menolak ajakan tersebut, dan malah menyiapkan bambu runcing sebagai tanda pertahanan.
Jokowi sudah tahu sejak awal bahwa ia akan menerima penolakan seperti itu. Karena itulah, di lain waktu ia mengajak pedagang untuk makan siang lagi. Dan kali ini, para pedagang setuju. Sambil makan-makan, ia mengajak ngobrol para pedagang tentang hal-hal umum, tanpa menyinggung soal relokasi sama sekali. Selesai makan, salah seorang pedagang bertanya, ‘Lho, jadi cuma makan-makan begini aja pak?’ Dan Jokowi menjawabnya sambil tersenyum, ‘Iya mas. Minggu depan kita makan lagi ya, saya traktir!’
Di acara lunch berikutnya, semuanya masih sama: Hanya makan-makan saja tanpa pembicaraan soal relokasi sama sekali. Dan begitu juga di lunch berikutnya, dan berikutnya lagi. Para pedagang tentu senang bisa makan gratis di rumah dinas pak Walikota. Tapi yang lebih penting lagi, mereka merasa dihargai oleh Jokowi yang mau bergaul dan meluangkan waktu untuk diskusi santai dengan mereka dalam setiap acara makan siang tersebut, sesuatu yang tidak pernah mau dilakukan oleh walikota sebelumnya.
Pertemuan rutin tersebut terus berlangsung hingga sekitar 30 kali. Setelahnya, barulah salah seorang pedagang bertanya secara serius, apa sebenarnya tujuan dari acara makan-makan ini? Jika memang tujuannya soal relokasi, maka kami siap untuk membicarakannya. Tanpa mengiyakan ‘tuduhan’ pedagang tersebut, Jokowi bertanya, ‘Bapak-bapak butuh apa? Dan juga khawatir soal apa jika lokasi jualannya pindah?’ Para pedagang meminta lokasi jualan yang baru diberi jalan yang lebar, dan juga dilalui oleh angkutan umum. Jokowi setuju, dan ia segera mengerjakan request dari para pedagang tersebut.
Beberapa waktu kemudian, di acara makan-makan seperti biasanya, Jokowi berkata kepada para pedagang, ‘Gimana bapak-bapak? Kami sudah menyiapkan lokasi yang baru. Jalannya lebar, dan juga dilalui angkot.’
Perwakilan pedagang menjawab, ‘Pak Jokowi bisa menjamin, kalau omzet kami di tempat baru tersebut akan sama seperti di tempat yang lama?’
‘Soal rezeki, itu udah diatur sama yang Diatas Pak. Tapi gini deh, selama empat bulan, saya akan iklankan tempat baru tersebut di koran dan tv lokal, dan saya juga akan pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Mudah-mudahan itu akan bisa mempopulerkan lokasi baru tersebut. Kalau berdasarkan pengalaman saya dalam berdagang meubel, iklan terbukti efektif dalam meningkatkan omzet.’
Akhirnya, setelah meeting rutin sebanyak 54 kali selama tujuh bulan, Jokowi berhasil merelokasi para PKL dari pasar Banjarsari secara baik-baik, tanpa kekerasan, tanpa acara gebuk gebukan. Tentunya bukan pekerjaan yang mudah untuk bernegosiasi selama berbulan-bulan lamanya, dan juga berusaha memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan para PKL. Namun, Jokowi mau bersusah payah untuk mengerjakan semua itu, karena memang itulah tugasnya sebagai seorang pemimpin: Mengatur rakyatnya agar hidup tertib dan sejahtera, dan bukannya menindas mereka atas nama ketertiban. Di lokasi baru, para PKL tidak hanya berhasil mempertahankan omzetnya, namun juga meningkatkannya hingga 2 atau 3 kali lipat. Disisi lain, warga kota kini senang karena lokasi lama yang ditinggalkan para PKL kemudian disulap menjadi ruang terbuka hijau. Semua senang, semua menang!
Prestasi Jokowi di Solo tidak hanya relokasi PKL pasar Banjarsari, melainkan terdapat banyak lagi lainnya. Namun dari salah satu contoh kesuksesannya yang sudah kita bahas tersebut, kita bisa belajar beberapa hal:
Pertama, Jokowi adalah salah satu dari sedikit sekali pemimpin di negeri ini, atau bahkan di seluruh dunia, yang mau dekat dengan rakyatnya, bahkan mengobrol santai dengan mereka layaknya teman. Ketika meeting dengan para PKL dalam acara makan-makan, Jokowi tidak menyuruh orang untuk mewakilinya, melainkan ia sendiri yang menemui para PKL tersebut. Yah, jujur saja, ada berapa banyak sih, walikota yang mau ngobrol langsung dengan rakyat jelata seperti PKL? Jangankan walikota, seorang pejabat kelurahan saja terkadang bersikap arogan, karena merasa dirinya pejabat. Para anggota dewan juga biasanya hanya mau dekat dengan rakyat ketika Pemilu. Diluar itu, mereka bersikap seolah-olah mereka adalah dewa. Jokowi tidak seperti itu. He making friends with everyone, and that’s why he is loved by everyone.
Kedua, Jokowi tahu bahwa kerja keras saja tidaklah cukup untuk bisa merelokasi PKL, tapi juga harus kerja dengan sabar. Itu sebabnya ia tidak mau tergesa-gesa, dan lebih memilih menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan untuk berdiskusi dengan para PKL, karena ia tahu bahwa yang penting disini bukan relokasinya, melainkan bagaimana agar para PKL setuju dengan relokasi tersebut. Dan memenangkan hati seseorang memang tidaklah mudah, apalagi banyak orang sekaligus, melainkan memerlukan waktu. Anda pun tidak serta merta menikah begitu saja dengan pasangan anda bukan? Melainkan dengan penjajakan dulu sebelumnya.
Btw, soal kerja sabar ini juga bisa diaplikasikan dalam berinvestasi di saham. Dan sejauh pengalaman penulis, kerja sabar ini jauh lebih penting ketimbang kerja keras dalam menganalisis pasar ataupun pergerakan saham itu sendiri, trust me :)
Ketiga, apa yang diperlukan seorang walikota/gubernur agar terpilih kembali jika ia kembali mengikuti pilkada? Well, anda bisa tanya konsultan politik manapun, jawabannya hanya satu: Pencitraan. Itu sebabnya setiap kali menjelang pilkada, poster-poster dan spanduk bergambar foto sang calon bertebaran hampir disetiap sudut jalan, termasuk poster yang berisikan kata-kata seperti ‘berjuang untuk kesejahteraan rakyat’, atau bertuliskan janji-janji yang gitu-gitu aja, seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, dll. Si calon juga jadi sering muncul di muka publik, kadang-kadang dengan bernyanyi, atau memberi sumbangan ke rumah-rumah ibadah. Dan bagi para pengangguran, siap-siap ketiban rezeki nasi bungkus jika sewaktu-waktu diajak untuk kampanye.
Namun, bukan itu yang dilakukan Jokowi. Menjelang akhir masa jabatannya di tahun 2010, dia tidak berkampanye, tidak juga menyebar poster, melainkan terus mengerjakan tugas-tugasnya sebagai walikota. Hasilnya? Ia malah menang telak di pilkada keduanya di Solo, dengan persentase suara 91%. Sekarang ini, anda bisa bertanya kepada warga Solo manapun tentang Jokowi, dan mereka akan serempak menjawab, ‘He is our beloved Mayor!’
Kepada para pemimpin daerah, ataupun anda yang hendak mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah, entah bupati, walikota, atau gubernur, penulis ingin mengatakan satu hal: Rakyat tidaklah bodoh. Sebagian kecil rakyat mungkin bersikap pragmatis dan hanya mengharapkan nasi bungkus dan serangan fajar setiap kali diadakan pilkada. Namun, sebagian besar rakyat menginginkan pemimpin yang bisa mengayomi mereka. Rakyat menginginkan pemimpin yang bisa membawa daerah yang ia pimpin menjadi lebih baik, dan yang mau bekerja keras untuk mewujudkannya. So, please, jangan buang-buang waktu dan fulus anda untuk memasang poster bergambar foto anda dimana-mana, atau sibuk mengatur strategi agar menang di pilkada. Melainkan, cobalah gunakan waktu anda dengan berbuat karya dan prestasi yang nyata, yang memang membawa manfaat bagi orang banyak. Selanjutnya, biarkan simpati rakyat datang dengan sendirinya. Jokowi sudah membuktikan hal itu, jadi mengapa anda tidak bisa melakukannya?
Untuk Bapak Jokowi, kami ucapkan selamat bekerja kembali, dan kali ini mungkin anda harus bekerja lebih keras lagi, karena Jakarta biar bagaimanapun lebih complicatedketimbang Solo. Tapi jika anda berhasil mengubah Jakarta ini menjadi lebih baik, maka mungkin kami akan memberi anda tanggung jawab yang lebih besar lagi, katakanlah sebagai Presiden. Don’t let us down, Sir! Dan untuk Bapak Fauzi Bowo, percayalah, kami juga mengapresiasi kerja keras anda sebagai gubernur. Namun, kami memandang bahwa Jokowi bisa bekerja dengan lebih baik lagi. Kami mungkin keliru, tapi setidaknya kami sekarang memiliki harapan bahwa Jakarta akan menjadi lebih baik di tangan pemimpin yang baru.

Seminar!

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan seminar, yang kali ini dengan tema ‘What if Warren Buffett Invests in Indonesia’ (masih sama seperti seminar pada bulan puasa kemarin). Seminar ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 22 September 2012. Biayanya? Gratis!

Tema seminar kali ini difokuskan pada pembelajaran dari Warren Buffett, sang investor guru. Buffett, seperti kita ketahui, sangat sukses sebagai seorang investor saham. Namun beliau berinvestasi di pasar saham Amerika, dimana kondisi perekonomian dan sebagainya disana tentu berbeda dengan disini, di Indonesia. Nah, seminar ini akan mengupas tips-tips investasi ala Warren Buffett, yang sudah dimodifikasi dan disesuaikan dengan karakteristik pasar saham Indonesia.
Seminar ini terdiri dari pemaparan materi yang diselingi dengan tanya jawab dengan penulis sebagai pengisi materi. Yah intinya sih, ntar kita ngobrol-ngobrol santai aja lah, ga usah dibawa terlalu seriuuss. Anggap saja seperti investor gathering.
Berikut Informasi terkait acaranya, kurang lebih sama saja seperti seminar-seminar sebelumnya:
  • Tempat: Kantor BNI Securities cabang Central Park, APL Tower Ground Floor, Podomoro City, Jln. Jend. S. Parman Kav. 28, Jakarta Barat.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 September 2012
  • Waktu: Pukul 11:00 s/d 16:00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Makan siang
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acara dimulai.
Seminar ini tidak dipungut biaya, alias gratis! Namun untuk pengganti biaya makan siang, anda tetap dipungut Rp50,000. Anda bisa membayarnya langsung di lokasi, sebelum acaranya dimulai.
Oke, anda bisa mendaftar melalui contact person berikut:
  • Retno, 021 – 29034215
  • Farid, 021 – 70207015
  • Daftar via SMS, 081586624777
Btw bagi anda yang sudah pernah ikut seminar sebelumnya, diharapkan untuk tidak ikut lagi agar memberi tempat kepada temen-temen yang lain, karena beberapa materinya kurang lebih sama aja kok. Dan sekedar catatan, penulis nggak kerja di BNI Securities, melainkan pihak BNIS memang cukup sering memfasilitasi tempat untuk orang-orang yang hendak bikin acara seminar (BNIS juga suka meng-organize acara seminar untuk pembicara lainnya).
Demikian, sampai jumpa di [...]

Vale Indonesia

International Nickel Indonesia, atau yang sekarang berubah nama menjadi Vale Indonesia (INCO), mencatat penurunan laba bersih yang signifikan pada semester pertama 2012, dari US$ 238 juta menjadi hanya US$ 6 juta, atau turun 97.7%. Nilai pendapatan perusahaan juga turun 40.5%. Praktis, kalau pake kinerjanya pada saat ini, valuasi saham INCO menjadi sangat-sangat mahal kalau dari sisi PER, dan mungkin itu pula yang menyebabkan INCO terus turun dalam enam bulan terakhir, dari posisi 4,000 di Februari lalu hingga 2,250 di awal September kemarin atau telah terkoreksi hingga hampir separuhnya. Namun hanya dalam dua minggu, INCO naik dengan cepat dan sekarang sudah berada di posisi 2,750 kembali. What happen?

INCO, seperti yang anda ketahui, adalah perusahaan produsen logam nikel. Dan berhubung harga nikel di London Metal Exchange (LME)memang lagi naik dalam sebulan terakhir, dari US$ 16,000-an per ton hingga terakhir US$ 17,525 per ton, maka kenaikan saham INCO menjadi bisa dijelaskan, demikian pula kenaikan yang dialami saham dari dua perusahaan nikel lainnya, Aneka Tambang (ANTM) dan Central Omega Resources (DKFT). Tapi, mari coba kita telaah INCO ini lebih lanjut.

INCO menggali dan memperoleh bijih nikel-nya dari beberapa lokasi di Pulau Sulawesi, terutama Kabupaten Sorowako, Sulawesi Selatan, kemudian mengolahnya menjadi bentuk matte, yakni campuran logam yang terdiri dari 78% nikel, 20% sulfur, dan 1.2% cobalt(sisanya yang 0.8% tidak diketahui merupakan apa). Matte ini lalu seluruhnya diekspor ke Jepang. Karena INCO mengekspor produknya dalam bentuk matte dan bukannya bijih mentah, maka INCO tidak dikenakan bea ekspor bijih mineral seperti halnya ANTM dan DKFT (ANTM menjual nikelnya dalam bentuk bijih dan ferronickel, sementara DKFT hanya bijih).

Namun, pendapatan INCO tetap tertekan cukup tajam karena penurunan dari harga nikel dalam setahun terakhir, dari US$ 20,000-an per ton menjadi US$ 14,500-an per ton, dan juga karena penurunan volume produksi serta penjualan. Pada semester pertama 2012, INCO hanya memproduksi dan menjual matte sebanyak 29 ribu ton, turun 18% dibanding periode yang sama tahun 2011. Penyebab dari penurunan volume produksi tersebut adalah karena dua dari empat tanur listrik milik perusahaan, yakni Tanur 1 dan Tanur 2, berhenti beroperasi sejak Kuartal IV 2011 (tanur-tanur tersebut digunakan untuk mengolah bijih nikel menjadi matte). Tanur 1 berhenti beroperasi karena rusak, sementara Tanur 2 berhenti beroperasi karena sedang di-upgrade agar memiliki kapasitas output yang lebih besar. Namun pihak manajemen mengatakan bahwa terhitung sejak akhir Kuartal II 2012, keempat tanurnya sudah beroperasi kembali, sehingga perusahaan tetap mentargetkan volume produksi matte sebanyak 71 – 72 ribu ton pada akhir tahun 2012.

Disisi lain, manajemen tetap bersikap realistis terhadap proyeksi perolehan laba bersih pada tahun penuh 2012, karena penurunan dari harga jual nikel dan kenaikan biaya produksi, terutama biaya bahan bakar yang mewakili sekitar 40% biaya produksi. Well, entahlah, tapi kalau yang penulis tangkap, pihak perusahaan sepertinya hanya peduli pada produksi nikel, namun kurang menaruh perhatian terhadap apakah nilai pendapatan dan laba bersih perusahaan akan naik atau turun, melainkan biarkan saja bergantung pada harga nikel di LME. Mungkin itu juga yang menyebabkan laba INCO hanya naik dan turun dalam lima tahun terakhir. Berikut datanya:

Year
2007
2008
2009
2010
2011
Production (thousand tons)
77
72
67
76
67
Nickel Price (US$ per ton)
29,881
17,724
11,227
16,568
18,296
Sales (million US$)
2,326
1,312
761
1,276
1,243
Net Profit (million US$)
1,173
359
170
437
334

Perhatikan, laba bersih INCO di tahun 2007 sempat mencapai US$ 1.2 milyar, atau setara Rp10 trilyun, yang disebabkan karena harga nikel ketika itu mencapai nyaris US$ 30,000 per ton, tepatnya US$ 29,881 per ton. Namun seiring dengan penurunan harga nikel yang drastis hingga mencapai US$ 11,000-an per ton pada tahun 2009, maka laba bersih INCO di tahun yang bersangkutan juga turun menjadi hanya US$ 170 juta. Pada tahun 2011, nilai laba bersih perusahaan tetap belum mampu kembali mencapai angka tahun 2007, karena harga nikel masih terpaku di US$ 18,000-an per ton.

Tapi yang penulis perhatikan lagi adalah, kenapa volume produksi nikel INCO sejak tahun 2007 hanya di kisaran 60 – 70 ribu ton per tahun? Termasuk untuk tahun 2012 ini, targetnya juga hanya 71 – 72 ribu ton. Kenapa kok gak ada peningkatan sama sekali? Bukannya cadangan nikel yang mereka miliki masih sangat banyak?

Nah, untuk memahami ini, mari kita lihat lagi sejarah dari INCO. INCO didirikan pada tanggal 25 Juli 1968, oleh perusahaan tambang aneka jenis logam asal Brazil, Vale SA atau kita singkat saja Vale. Dua hari kemudian, yaitu tanggal 27 Juli 1968, INCO memperoleh kontrak karya pertambangan untuk lahan tambang nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, yang setelah ditambah lahan-lahan tambang lainnya di beberapa lokasi lain di Pulau Sulawesi, pada saat ini total luas konsesinya mencapai 190 ribu hektar. Kontrak karya tersebut akan berakhir pada tahun 2025.

Saat ini, pemegang saham mayoritas INCO adalah Vale Canada Ltd, anak usaha Vale di Kanada, dengan kepemilikan saham 58.7%. Pemegang saham utama lainnya adalah Sumitomo Metal Mining Co., dengan kepemilikan saham 20.1%.

Terkait cadangan nikel, pada Semester Pertama 2012, INCO memiliki cadangan bijih nikel terbukti sebanyak 72.1 juta ton. Rata-rata kandungan logam nikel untuk setiap ton bijih mencapai 1.84%, sehingga INCO memiliki cadangan nikel terbukti sebanyak 1.3 juta ton. Mengingat bahwa setiap ton matte terdiri dari 78% nikel, yang itu berarti untuk membuat 1 ton matte diperlukan 780 kg nikel, maka INCO memiliki cadangan nikel yang cukup untuk membuat matte sebanyak 1.7 juta ton. Itu adalah angka yang terbilang sangat besar jika memperhatikan bahwa volume produksi INCO hanyalah 70 ribu tonmatte per tahun. Dan ingat pula bahwa diluar cadangan terbukti, INCO masih memiliki cadangan terduga dan terkira yang bisa ‘naik kelas’ menjadi cadangan terbukti sewaktu-waktu, sehingga sekali lagi, INCO masih memiliki buanyak cadangan nikel. Jadi kembali ke pertanyaan keatas, kenapa INCO tidak meningkatkan volume produksi dan penjualannya? (Btw, sekedar catatan, volume produksi dan penjualan INCO setiap tahunnya tidak pernah persis sama, namun selisih angkanya tidak berbeda jauh, melainkan kurang dari seribu ton).

Jawabannya mungkin, karena INCO menjual seluruh matte-nya hanya kepada dua perusahaan, yaitu Vale Canada Ltd dan Sumitomo Metal Mining, dengan porsi 80 : 20. Fakta menariknya, seperti yang sudah disebut diatas, baik Vale Canada maupun Sumitomo merupakan pemegang saham utama dari INCO. Jadi bisa dibilang bahwa INCO menjual matte-nya kepada induknya sendiri. Oleh Vale Canada dan Sumitomo, matte tersebut kemudian diolah lebih lanjut menjadi logam nikel siap pakai, seperti pelat nikel, bubuk nikel, nikel untuk peleburan logam, dan nikel untuk campuran baja antikarat. Kalau dilihat dari sini, maka tidak heran kalau volume produksi INCO tidak pernah naik, karena kemungkinan kontrak penjualannya sejak awal memang hanya untuk penjualan sebanyak 60 – 70 ribu ton matte per tahun (yang mungkin disesuaikan dengan kapasitas pengolahan matte milik Vale Canada dan Sumitomo). INCO juga tidak pernah berupaya mencari pembeli lain, karena mereka terikat perjanjian untuk hanya menjual matte-nya kepada kedua induknya tersebut. Kontrak penjualan itu sendiri baru akan berakhir pada tahun 2025, atau di tahun yang sama ketika kontrak karya pertambangan milik INCO di Sorowako berakhir.

Jadi, dalam hal ini, there is no way that this company is eligible for investment, because it would never grow up. INCO hanyalah kepanjangan tangan dari Grup Vale dan Sumitomo untuk mengeruk cadangan nikel di Indonesia, sementara yang menikmati keuntungannya adalah perusahaan mereka yang di Jepang (Vale Canada adalah induk dari Vale Japan, sementara Sumitomo memang bermarkas di Jepang). Maksud penulis, kenapa Vale dan Sumitomo gak sekalian mendirikan pabrik pengolahan nikel yang terintegrasi disini, di Indonesia? Kenapa INCO hanya disuruh membuat ‘logam nikel setengah matang’ dalam bentuk matte saja? Dan kenapa INCO nggak boleh menjual produknya ke pihak lain yang tidak terafiliasi?

Kalau penulis ingat-ingat lagi, pada Mei lalu sempat tersiar rumor bahwa Sumitomo berniat menambah kepemilikannya di INCO, sehingga INCO akan dikerek hingga 4,000 (ketika itu INCO berada di posisi 3,000). Disebutkan pula, motif dari Sumitomo adalah agar mereka bisa mendorong INCO untuk lebih agresif dalam meningkatkan volume produksi dan penjualan yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan dan laba bersih. Bagi investor yang sudah paham cara kerja INCO, maka rumor tersebut jelas super duper ngawur, karena Sumitomo menjadi pemegang saham utama di INCO bukan untuk memperoleh bagian laba bersih alias dividen, melainkan agar mereka bisa memperoleh jatah matte yang diproduksi INCO. Jadi mau INCO untung atau rugi, itu sama sekali gak jadi soal, yang penting pasokan matte jalan terus. Seperti Vale yang merupakan perusahaan pembuat berbagai jenis logam siap pakai, Sumitomo Metal Mining adalah juga perusahaan peleburan dan pembuatan berbagai jenis logam siap pakai, termasuk nikel.

Anyway, jadi dalam hal ini, maka proyeksi INCO kedepannya menjadi tidak menarik untuk dibahas lagi, karena memang tidak ada proyeksi apapun. Di Ebook 40 edisi tahun 2011 lalu penulis sempat merekomendasikan INCO ini karena berpendapat bahwa laba bersihnya akan segera pulih ketika Tanur 1 dan 2-nya beroperasi kembali. Namun rekomendasi itu kemudian keliru, karena ternyata yang diperhatikan investor/trader terkait INCO ini bukan soal tanurnya, melainkan fluktuasi harga nikel. Mungkin itu karena harga jual nikel pada kontrak penjualan antara INCO terhadap Vale Canada dan Sumitomo didasarkan pada harga yang berlaku di LME, sehingga angka pendapatan dan laba bersih INCO juga menjadi naik turun sesuai fluktuasi harga nikel (anda bisa melihatnya di www.lme.co.uk). Alhasil, saham INCO sejak dulu terbilang sangat mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga nikel. So, anda bisa memperoleh keuntungan dari trading saham INCO jika anda mampu menjawab pertanyaan berikut: Pada hari besok, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan, kira-kira harga nikel akan naik atau turun? Dan ke posisi berapa?

Masalahnya, ada yang tahu bagaimana cara untuk memprediksi pergerakan harga komoditas seperti nikel ini? Karena setahu penulis, analisis dari sisi supply dan demand saja masih belum cukup.

NB: Link untuk mendownload Ebook MAF, Ebook 40 edisi perdana, dan buletin perdana, semuanya sudah diperbaiki. Anda bisa mendownload-nya pada tab Ebook 40 dan Monthly Investor Bulletin diatas.

Heart is Only for Lovers, Bro!

Koran Bisnis Indonesia pernah mewawancarai Aburizal ‘Ical’ Bakrie, mantan pimpinan Grup Bakrie (Sekarang Grup Bakrie dipimpin oleh Nirwan, adik dari Ical), pada tahun 2010 lalu dalam rangka HUT Bisnis Indonesia yang ke-25. Dalam wawancara tersebut, wartawan Bisnis mengajukan pertanyaan berikut, ‘Banyak orang tidak percaya bahwa Bakrie melalui Bumi Resources (BUMI) berhasil membeli Arutmin dan Kaltim Prima Coal (KPC). Bagaimana caranya?’ Dan Ical menjawab, ‘Waktu itu memang ada opportunity-nya, sehingga langsung kami grab. Soal duitnya dari mana, kami cari belakangan.’

Seperti yang anda ketahui, BUMI mengambil alih 80% saham Arutmin dari tangan BHP Billiton, perusahaan tambang asal Australia, senilai US$ 148 juta, pada tahun 2001. Dua tahun berikutnya yaitu pada tahun 2003, BUMI kembali mengakuisisi sebuah perusahaan batubara bernama KPC dari tangan Beyond Petroleum (BP) dan Rio Tinto, senilai US$ 500 juta. Dalam wawancaranya dengan Bisnis, Ical mengatakan, ‘Kami membeli Arutmin dan KPC nggak pake duit, karena pada tahun 2001 kami lagi bangkrut dan gak punya uang sama sekali, gara-gara krisis 1998.’

Kalau nggak pake duit, terus pake apa? Ya pake duit orang, alias utang. Menurut Ical, pada tahun 2001, setelah menyelesaikan restrukturisasi utang di Bakrie & Brothers (BNBR), ia berdiskusi dengan kedua adiknya, Nirwan dan Indra, untuk memikirkan langkah perusahaan selanjutnya, dan mereka bertiga setuju untuk masuk ke sektor energi. Ketika itu perusahaan yang bisa diakuisisi ada dua, yaitu Arco dan Arutmin. Arutmin tampak lebih mudah untuk diakuisisi mengingat harganya ‘hanya’ US$ 180 juta, sementara Arco mencapai US$ 600 juta. Grup Bakrie kemudian memperoleh uang US$ 180 juta tersebut dari Bank Mandiri dan Jamsostek, dan setelah negosiasi kesana kemari, disepakati bahwa harga 80% saham Arutmin adalah US$ 148 juta. Dengan memegang Arutmin (yang kemudian diletakkan dibawah BUMI), Grup Bakrie perlahan tapi pasti mulai menggeliat kembali.

Dalam hal ini terdapat tiga hal luar biasa yang dilakukan Grup Bakrie. Pertama, mereka mampu ‘menemukan’ dua perusahaan yang seolah-olah menyerahkan diri untuk diakuisisi, padahal Ical dkk jelas-jelas nggak punya dana sama sekali. Kedua, mereka mampu memperoleh pinjaman lagi dengan jumlah yang tidak main-main, yaitu US$ 180 juta atau sekitar Rp2 trilyun, justru persis setelah mereka dengan susah payah menyelesaikan proses restrukturisasi utang. Dan ketiga, mereka mampu memaksa pemilik Arutmin sebelumnya, BHP Billiton, untuk menyerahkan asetnya tersebut dengan harga yang lebih murah.

Hanya selang dua tahun berikutnya, Grup Bakrie kembali berekspansi, kali ini targetnya mengakuisisi KPC, yang ketika itu akan didivestasi oleh pemiliknya, BP dan Rio Tinto. Dalam upayanya mengambil alih KPC, Bakrie tidak sendirian, karena konglomerat lainnya seperti Prabowo dan Grup Salim juga berminat terhadap KPC. Posisi Bakrie ketika itu sebenarnya sulit, mengingat mereka masih belum memiliki uang, dan kali ini Pemerintah juga menolak memberi pinjaman (waktu mengakuisisi Arutmin, Bakrie memperoleh pinjaman dari Bank Mandiri dan Jamsostek, yang notabene merupakan BUMN). 

Namun Ical pantang menyerah. Pemilik KPC meminta harga US$ 700 juta, dan Ical sendiri yang kemudian terbang ke markas BP di London untuk bernegosiasi. Entah gimana caranya, Ical berhasil menawar untuk membeli KPC seharga US$ 500 juta saja. Menurut Ical, ketika itu banyak konglomerat lainnya yang juga menyatakan berminat terhadap KPC, namun cuma ia sendiri yang mau capek-capek bernegosiasi dengan pihak BP dan Rio Tinto sebagai pemilik KPC, sementara orang lain tidak melakukan apa-apa kecuali merengek kepada Pemerintah: ‘Kenapa KPC dijualnya mahal banget? Murahin dikit dong!’ Sebelumnya, Pemerintah memang meminta BP dan Rio Tinto untuk menetapkan harga paling tinggi US$ 800 juta untuk melepas KPC, namun harga tersebut tetap dinilai terlalu mahal oleh para konglomerat lokal (dan lucunya para konglomerat ini kemudian marah-marah setelah mengetahui bahwa Bakrie bisa membeli KPC dengan harga yang jauh lebih rendah dari US$ 800 juta tersebut).

Selesai dengan urusannya di London, Ical kemudian menemui Nirwan, ‘Wan, gue udah deal sama owner KPC, gope aja katanya. Sekarang, duitnya dari mana?’
Nirwan balik bertanya, ‘Mandiri sama Jamsostek masih mau ngasih lagi nggak?’
‘Nggak.’
‘Ya udah, kalo gitu gue coba ke Singapura dulu, siapa tahu bank disana mau ngasih.’

Nirwan kemudian berangkat ke Singapura, dan setelah berkeliling dan bernegosiasi kesana kemari, ia berhasil memperoleh pinjaman dari empat bank investasi, hanya saja dengan bunga yang cukup tinggi (Ical tidak memperinci berapa persen bunganya, atau siapa saja keempat bank investasi tersebut). Namun setelah memperoleh pinjaman tersebut, masih terdapat kekurangan dana sekitar US$ 300 juta. Disinilah Nirwan kembali menunjukkan keahliannya dalam bernegosiasi: Ia menghubungi para perusahaan yang menjadi pelanggan KPC, dan meminta mereka membayar di muka untuk batubara yang mereka beli, dengan imbalan bahwa mereka akan diberi diskon ataupun keuntungan lainnya. Untuk melakukan hal ini, Nirwan sampai berkeliling Jepang, Tiongkok, dan Eropa, dan sekali lagi ia berhasil. Grup Bakrie kemudian memperoleh uang tunai senilai sekitar US$ 300 juta yang merupakan uang muka pembelian batubara dari KPC (yang tentunya merupakan utang juga), padahal KPC-nya sendiri masih belum menjadi milik mereka. Amazing, isn’t it?

Namun setelah memperoleh pinjaman dan uang muka pembelian batubara sebesar US$ 300 juta tersebut, ternyata masih ada kekurangan lagi sebesar US$ 4 juta, dan itu tetap merupakan jumlah yang sangat besar karena ketika itu biar bagaimanapun Grup Bakrie bener-bener gak punya duit. Akhirnya Nirwan menemui pihak bank lagi di Singapura, dan beberapa saat kemudian ia menelpon Ical.

‘Bro, bank setuju ngasih tambahan US$ 4 juta lagi. Tapi mereka minta bagian keuntungan sebesar US$ 20 juta. Gimane?’
‘Apa?? Serius mereka minta segitu??’
‘Iya.’
Ical berpikir sejenak, ‘Wan, hati kecil gue bilang jangan.. Kalo gitu jangan lah.’
‘Hati kecil? Heart is only for lovers bro. Ini bisnis, dan elo harus tough sedikit.’
Ical kaget mendengar kalimat adiknya tersebut, sebelum kemudian berkata ‘Ya udah, terserah lo aja deh.’

Maka akhirnya, KPC pun resmi menjadi milik Grup Bakrie.

Mungkin karena sejak awal Arutmin dan KPC diambil alih Bakrie dengan cara berhutang, maka hal itu kemudian menjadi kebiasaan sampai sekarang. Termasuk ketika Bakrie mengambil alih 24% saham Newmont Nusa Tenggara, duitnya juga dari utang ke China Investment Corp (CIC). Dan memang keahlian Grup Bakrie adalah di bidang tersebut: Bernegosiasi dan memperoleh utang. Masih dalam wawancaranya dengan Bisnis, Ical mengatakan bahwa di masa lalu ia pernah memperbesar salah satu perusahaannya, Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), dengan cara mengakuisisi beberapa lahan perkebunan kelapa sawit senilai total US$ 55 juta. Ketika itu ayah Ical, Achmad Bakrie, bertanya, duitnya dari mana? Setau ayah kamu gak punya duit sebanyak itu? Dan Ical menjawab, nanti kita cari. Untuk sekarang, akuisisi aja dulu.

Seorang teman penulis pernah ngobrol langsung dengan Nirwan Bakrie, ‘Mas, ente kok rajin amat akuisisi sana-sini. Apa gak kasian sama kelompok usaha laen? Bagi-bagi dong.’
Dan Nirwan menjawab, ‘Ya gimana ya.. Soalnya peluang-peluangnya udah kaya wuss.. wuss.. berseliweran aja gitu, persis didepan muka gue. Ya sayang lah kalo nggak gue ambil!’

Jadi sepertinya, kebijakan Grup Bakrie dalam berekspansi adalah, yang penting ambil barangnya (perusahaannya) aja dulu. Soal duitnya dari mana, atau akan diapakan itu barang setelah diambil alih, itu urusan belakangan! Daaann… mungkin inilah yang menyebabkan BUMI, dan juga perusahaan-perusahaan Grup Bakrie lainnya, lebih sibuk mengakuisisi, mendivestasi, menerbitkan utang, melakukan refinancing, dll, ketimbang mengurus operasional perusahaannya sendiri. Tak heran, karena sejak awal keahlian Keluarga Bakrie adalah di bidang negosiasi dan financing, bukan di pengelolaan perusahaannya sendiri. Mungkin mereka berpendapat bahwa asalkan mereka merekrut CEO atau Presiden Direktur yang kompeten di bidangnya masing-masing, maka perusahaan apapun yang mereka miliki akan bisa beroperasi dengan baik. Sementara yang perlu mereka lakukan hanyalah terus dan terus mencari peluang bisnis baru.

Satu hal yang pasti, meski berbagai pemberitaan belakangan ini ramai membicarakan kemungkinan bahwa Bakrie bisa jadi bakal gagal bayar utang alias default, karena utang-utangnya yang sudah kelewat membludak (yang kemudian dijadikan justifikasi dari penurunan harga saham-saham Grup Bakrie), namun itu tidak mencegah para bank untuk terus menyalurkan pinjaman. Pada tanggal 10 Agustus 2012 kemarin, Visi Media Asia (VIVA), perusahaan Bakrie di bidang media, memperoleh pinjaman US$ 80 juta dari Deutsche Bank cabang Singapura. Kenapa kok pihak Deutsche Bank masih berani untuk memberikan pinjaman terhadap Bakrie? Well, ask them! Tapi yang jelas, jika anda adalah direktur dari Deutsche Bank tersebut, maka apakah anda bersedia ngutangin Bakrie jika memang kelompok usaha pemilik BUMI tersebut berpotensi default?

Terus bagaimana dengan kerjasama Grup Bakrie dengan seorang pengusaha asal Inggris, Nathaniel Rothschild, seperti yang sudah kita bahas di artikel minggu kemarin? Sayangnya hingga kini belum ada pihak yang berhasil mewawancarai Ical atau Nirwan terkait kerjasama tersebut. Tapi kita bisa mengatakan bahwa, meski Bakrie merupakan master of dealmaker nomor wahid di Indonesia, namun diluar sana masih terdapat beberapa master of dealmaker kelas dunia, dan Nathaniel adalah salah satu diantaranya.

Bakrie vs Rothschild

Bumi Resources (BUMI) terus saja turun akhir-akhir ini, namun itu tidak menjadikannya tidak menarik lagi di mata sebagian para pelaku pasar. Malah, beberapa investor justru mulai melirik lagi saham yang pernah menyandang gelar sebagai saham sejuta umat ini, dengan berbagai alasannya. Disisi lain, para ‘nyangkut-ers’ masih dilanda kebingungan hebat untuk menentukan pilihan yang sama-sama sulit: Apakah saya harus bertahan, ataukah lebih baik keluar saja, yang itu berarti merealisasikan potensi kerugian yang terjadi?

BUMI mencatat pendapatan US$ 1.95 milyar di 1H12, naik 8.6% dari US$ 1.79 milyar di 1H11. Namun seperti juga perusahaan batubara lainnya, BUMI mencatatkan kenaikan beban yang lebih tinggi ketimbang kenaikan pendapatannya, sehingga laba usahanya pun turun dari US$ 461 menjadi 239 juta. Sampai disini, semuanya masih normal. Namun kerugian yang dialami perusahaan akibat transaksi derivatif, selisih kurs, dan pelepasan investasi pada entitas asosiasi, menyebabkan BUMI akhirnya mencatat laba minus alias rugi bersih komprehensif US$ 327 juta. Ini menarik, sebab di catatan cash flow-nya, BUMI mencatat perolehan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar US$ 144 juta, naik nyaris tiga kali lipat dari US$ 53 juta di periode yang sama tahun sebelumnya. Jadi, apakah dalam hal ini kinerja BUMI sengaja dibuat minus? I don’t know, karena pertanyaannya kalaupun kinerja BUMI dibikin tampak jelek, apa tujuannya?
Tapi mungkin, yang menarik untuk diperhatikan dari BUMI bukanlah soal kinerjanya yang minus tersebut.
Anda mungkin masih ingat dengan aksi korporasi penting yang dilakukan Grup Bakrie sebagai pemilik BUMI dengan mitra baru mereka asal Inggris, Nathaniel Rothschild, dimana perusahaan investasi milik Nathaniel yang terdaftar di Bursa London, Vallar Plc, mengambil alih sejumlah kepemilikan pada BUMI dan Berau Coal Energy (BRAU). Sebagai gantinya, Grup Bakrie kemudian menjadi salah satu pemegang saham utama Vallar Plc, dengan persentase kepemilikan 47.6%. Vallar Plc sendiri kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Proses dari transaksi barter saham tersebut selesai sepenuhnya pada April 2011, dan Nathaniel kemudian menjadi salah satu pemegang saham BUMI.
Beberapa waktu kemudian, sepertinya Nathaniel mulai menemukan hal-hal yang ‘tidak biasa’ dalam kegiatan finansial yang dilakukan manajemen BUMI. Dan pada tanggal 8 November 2011, Nathaniel akhirnya menulis surat kepada Ari Hudaya (Saptari Hoedaja), Presiden Direktur BUMI. Dalam surat tersebut, Nathaniel secara gamblang meminta penjelasan dari Mr. Ari terkait empat hal berikut:
1. Jadwal yang jelas terkait monetisasi dari aset-aset pengembangan bisnis.
2. Repatriasi (pemulangan/pengembalian) dana yang ditempatkan pada pihak berelasi, yaitu Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau Asean fund I.
3. Penjelasan tertulis terkait progress dari tindakan no. 2
4. Penjelasan lebih detail dan transparan terkait semua ‘transaksi non-batubara’ yang dilakukan oleh BUMI dan BRAU.
Nathaniel menulis surat tersebut setelah mengetahui bahwa BUMI memiliki akun ‘investasi dan aset lain-lain’ pada neracanya, sebesar US$ 867 juta, dimana akun tersebut tidak berhubungan dengan bisnis batubara dan logam yang dijalani BUMI, melainkan merupakan piutang kepada pihak berelasi, dalam hal ini Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau Asean Fund I, dan aset-aset pengembangan bisnis yang cenderung ‘tidak jelas’. Menurut Nathaniel, aset sebesar US$ 867 juta tersebut seharusnya bisa di-monetisasi (dicairkan menjadi uang cash), untuk kemudian digunakan untuk membayar utang kepada China Investment Corporation (CIC). Dengan demikian, BUMI bisa menghemat beban bunga pinjaman sebesar US$ 104 juta per tahun. Sebelumnya pada tahun 2009, BUMI memang memperoleh pinjaman sebesar US$ 1.9 milyar dari CIC, dan utang tersebut mengandung bunga yang sangat tinggi, yakni 19% secara keseluruhan. BUMI sebenarnya sudah membayar sebagian utang tersebut pada tahun 2011, yakni US$ 600 juta. Namun Nathaniel memandang bahwa seharusnya BUMI memiliki cukup aset untuk bisa melunasi pinjaman dari CIC secara penuh.
Nathaniel menulis dalam suratnya, ‘I want to see you initiate a radical cleaning up of BUMI’s balance sheet. I want an immediate transformation of the way you are choosing to manage BUMI.’
Tidak ada keterangan soal apakah pihak manajemen BUMI kemudian membalas surat tersebut, namun Nathaniel jelas tampak tidak nyaman dengan kebijakan pengelolaan investasi yang dilakukan BUMI. Mr. Ari sebagai Presiden Direktur BUMI sendiri sepertinya beranggapan bahwa ia tidak perlu terlalu mendengarkan keluhan Nathaniel, mengingat Nathaniel bukanlah pemegang saham mayoritas dari BUMI, melainkan hanya 29.2%.
Hanya selang dua bulan kemudian, pada akhir Desember 2011, Grup Bakrie menjual separuh kepemilikannya atas Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), senilai US$ 1 milyar, sehingga kemudian Grup Bakrie dan BORN masing-masing memegang 23.8% saham Bumi Plc. Grup Bakrie sendiri menggunakan sebagian dari uang US$ 1 milyar tersebut untuk membayar utang-utangnya yang akan jatuh tempo di tahun 2012.
Karena BORN kemudian menjadi salah satu pemegang saham utama di Bumi Plc, maka pemilik BORN, Samin Tan, diangkat menjadi chairman Bumi Plc, menggantikan Indra Bakrie yang kemudian menjadi co-chairman. Nathaniel sendiri, yang sebelumnya menempati posisi sebagai co-chairman, kemudian ‘turun derajat’ menjadi direktur non-eksekutif.
Nah sekarang, jika anda adalah Nathaniel Rothschild, apa perasaan anda setelah dikerjai dua kali berturut-turut seperti itu?
Hingga saat ini, belum ada kelanjutan lagi soal kisah persahabatan antara Bakrie dan Nathaniel. Nathaniel sendiri dalam wawancaranya dengan FT.com mengatakan bahwa hubungannya dengan Bakrie masih baik-baik saja. Namun yang menarik adalah, setelah menyelesaikan transaksi tukar guling saham Vallar dengan BUMI dan BRAU, Nathaniel kemudian mendirikan sebuah perusahaan investasi lagi, kali ini dengan nama Vallares Plc, dengan minat di bidang minyak dan gas (migas). Perusahaan ini kemudian listing di Bursa London, dan pada September 2011 berubah nama menjadi Genel Energy Plc.
Jika dirunut lagi kebelakang, Nathaniel mendirikan Vallar Plc sebagai ‘kendaraan investasi’ yang akan digunakan untuk mengakuisisi perusahaan lain, dalam hal ini perusahaan batubara dan bijih logam. Dalam perusahaan barunya ini, Nathaniel merekrut James Campbell, mantan CEO Anglo American Plc, sebuah perusahaan batubara asal Inggris, sebagai partner. Tidak ada keterangan soal kapan Vallar Plc didirikan, namun Vallar listing di Bursa London pada Juli 2010, dengan nilai IPO US$ 1.1 milyar. Itu adalah sebuah nilai IPO yang sangat-sangat besar, mengingat Vallar Plc sebenarnya tidak memiliki aset.
Beberapa bulan setelah IPO-nya, tepatnya pada November 2011, Vallar mengumumkan akan mengakuisisi sebagian kepemilikan di dua perusahaan batubara asal Indonesia, yakni BUMI dan BRAU (dan juga Bumi Resources Minerals/BRMS sebagai anak usaha BUMI), dengan nilai akuisisi senilai total US$ 3 milyar. Vallar akan membayar sebagian biaya akuisisi tersebut secara tunai menggunakan dana hasil IPO-nya, dan sebagian lagi dengan cara barter 47.6% sahamnya. Dengan cara ini barulah Vallar kemudian menjadi memiliki aset, yakni 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU. Disisi lain, 47.6% saham Vallar Plc kemudian menjadi milik Grup Bakrie, sehingga Vallar kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Meski demikian, Nathaniel tetap memegang sebagian kepemilikan saham di Bumi Plc.
So, jika Mr. Hary Tanoesoedibjo dengan luar biasanya bisa meraup Rp2.1 trilyun dari IPO MNC Sky Vision (MSKY), yang sebenarnya sudah listing di bursa melalui induknya, Global Mediacom (BMTR), sehingga bisa dikatakan bahwa Mr. Hary making Rp2.1 trillion out from nothing, maka Nathaniel Rothschild ini ternyata lebih hebat lagi: Ia bisa mencetak US$ 3 milyar atau sekitar Rp27 trilyun dalam bentuk kepemilikan saham di BUMI dan BRAU, nyaris tanpa mengeluarkan modal sepeserpun!
Transaksi tukar guling saham Vallar dengan BUMI dan BRAU, seperti disebut diatas, selesai pada April 2011. Hanya dalam waktu dua bulan kemudian, yaitu pada Juni 2011, Nathaniel meng-IPO-kan sebuah perusahaan lagi ke Bursa London, yakni Vallares Plc, dengan nilai IPO yang lebih gila lagi, yakni US$ 2.2 milyar. Vallares, seperti juga Vallar, awalnya tidak memiliki aset. Bedanya, jika Vallar dipakai untuk masuk ke sektor batubara, maka Vallares digunakan untuk masuk ke sektor migas. Di Vallares, Nathaniel merekrut Tony Hayward, mantan CEO BP Plc, sebuah perusahaan minyak terkemuka asal Inggris, sebagai partner. Pada September 2011, Vallares melakukan tukar guling saham dengan perusahaan migas asal Turki, Genel Energy, dan Vallares seketika berubah nama menjadi Genel Energy Plc, dengan Tony Hayward menjadi CEO-nya. Model transaksi antara Vallares dengan Genel Energy ini bisa dikatakan 99% identik dengan transaksi antara Vallar dengan BUMI dan BRAU.
Namun, berbeda dengan Vallares yang berhasil memegang 50% saham Genel, Vallar hanya berhasil memegang 29.2% saham BUMI. Entahlah, tapi penulis kira Grup Bakrie paham betul bahwa Vallar jangan sampai menjadi pemegang saham utama di BUMI (lebih dari 40%), karena jika begitu kejadiannya, maka BUMI bisa saja terlepas seluruhnya ke tangan Nathaniel. Mungkin itu sebabnya Grup Bakrie akhirnya menyertakan BRAU dalam transaksinya dengan Rothschild, dimana Nathaniel kemudian memperoleh 85% saham BRAU. Istilahnya, gak apa-apa kehilangan BRAU, yang penting BUMI tetap di tangan. BRAU sendiri, meski bukan dimiliki oleh Bakrie melainkan oleh Grup Recapital, namun Recapital memperoleh dana untuk mengakuisisi BRAU dari Bakrie, sehingga sebenarnya pemilik BRAU adalah Bakrie melalui Recapital.

Tapi, hanya karena sekarang Vallar memegang 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU, bukan berarti Nathaniel memegang BUMI dan BRAU sebanyak itu bukan? Karena Vallar sendiri, yang sekarang bernama Bumi Plc, sebagian sahamnya dipegang oleh Bakrie dan Samin Tan, sehingga Bakrie (dan Mr. Samin) masih menjadi salah satu pemegang dari 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU tersebut, hanya saja melalui Bumi Plc. Yup, benar, tapi jangan lupa bahwa Bakrie bersama Samin Tan hanya memegang total 47.6% saham Bumi Plc, dan selebihnya tidak diketahui secara jelas dipegang oleh siapa. Nathaniel sendiri tidak memperinci berapa persen kepemilikannya di Bumi Plc, melainkan ada yang bilang 11%, tapi penulis kira bisa saja lebih dari itu. Intinya disini, Nathaniel melalui Bumi Plc berhasil masuk menjadi salah satu pemegang saham yang cukup substansial di BUMI, sesuatu yang belum pernah bisa dilakukan oleh pihak lain sebelumnya (saham BUMI memang pernah dipegang oleh Credit Suisse, kreditornya sendiri, tapi bank gak boleh pegang aset lama-lama, sehingga harus dijual kembali. Ini berbeda dengan Vallar/Bumi Plc yang bukan merupakan bank), dan itu bisa jadi merupakan pintu gerbang bagi Nathaniel untuk bisa masuk lebih dalam lagi. Istilahnya, untuk sekarang yang penting tembus benteng aja dulu.
Tapi lalu kenapa Grup Bakrie mau menukar sahamnya di BUMI dengan Vallar, jika itu berisiko membuat BUMI terlepas sepenuhnya ke tangan Nathaniel? I don’t know, tapi mungkin Grup Bakrie melihat terdapat keuntungan jika mereka bisa listing di Bursa London melalui Vallar yang kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Disisi lain, bukan tidak mungkin pula Grup Bakrie menyetujui keinginan Nathaniel untuk masuk ke BUMI karena terpaksa, mengingat bahwa Nathaniel sebagai anggota dari Keluarga Rothschild memiliki cukup power untuk melakukan itu (menekan Bakrie untuk menyerahkan sebagian saham BUMI). Namun Grup Bakrie tentunya juga bukan kelompok usaha biasa, sehingga mereka tidak segampang itu juga melepas BUMI meski ke tangan Rothschild sekalipun. Bisa jadi pula, dalam hal ini Grup Bakrie akhirnya meminta ‘bantuan’ kepada Samin Tan.
So, dalam hal ini, sepertinya kita sedang menonton seorang pengusaha asing yang luar-biasa-kaya sedang mencoba mengambil alih salah satu aset paling berharga dari salah satu Grup usaha terkaya di Indonesia. Terkait surat yang ditulis Nathaniel kepada Ari Hudaya, seperti yang sudah kita bahas diatas, sepertinya itu cuma pengalih perhatian, atau untuk menimbulkan kesan bahwa Nathaniel bisa dengan mudah dikerjai oleh Bakrie. Dan terkait kejadian berikutnya, yaitu turunnya jabatan Nathaniel di Bumi Plc dari co-chairman menjadi hanya direktur non-eksekutif, itu semakin mempertegas ‘ketidak berdayaan’ Nathaniel di hadapan Bakrie. Well, kita tahu bahwa Grup Bakrie bisa dengan mudahnya mengerjai investor publik di market dengan berbagai aksi korporasinya, tapi apakah mereka juga bisa melakukan hal yang sama ke seseorang sekelas Nathaniel Philip Rothschild? I don’t think so! Ingat bahwa meski BUMI adalah aset terbesar dari Grup Bakrie, namun bagi Nathaniel, BUMI cuma salah satu dari sekian banyak investasinya di seluruh dunia.
Jadi jika kita balik lagi ke pertanyaan diatas, apa perasaan anda setelah dikerjai dua kali berturut-turut oleh Bakrie? Maka Mr. Nathaniel mungkin akan menjawabnya sambil tersenyum, ‘What makes you think that anybody in this world could do tricks on me?’
Lalu apa kaitan ini semua dengan penurunan saham BUMI belakangan ini? Jika dikatakan bahwa Nathaniel sengaja menyuruh para bandarnya untuk menjatuhkan saham BUMI, agar nanti dia bisa masuk di harga murah dan pada akhirnya meningkatkan kepemilikannya atas BUMI, maka mungkin caranya nggak bisa semudah itu juga, karena meski sebagian besar saham BUMI tercatat sebagai milik publik, namun sebagian dari ‘publik’ tersebut kemungkinan adalah Bakrie juga, dan mereka gak akan menjual sahamnya. Disisi lain jika tujuan Nathaniel adalah untuk masuk ke BUMI di harga bawah, lalu kenapa saham BRAU juga ikutan turun? Bukannya Vallar sudah memegang 85% sahamnya?
Tapi jika dikatakan bahwa saham BUMI terus turun karena utangnya yang sudah kelewat besar hingga berpotensi default, maka itu cuma rumor, sama dengan rumor penjualan Fajar Bumi Sakti yang dikutip Reuters dari ‘sumber yang tidak mau disebutkan namanya’ (kirain media lokal aja yang suka kaya gini, gak taunya Reuters juga sama aja). Sebab meski utang BUMI segunung, namun Grup Bakrie paling jago soal urusan men-treatment kreditor. Dan berbeda dengan perusahaan-perusahaan Grup Bakrie lainnya yang mungkin memang beneran ‘kosong’, BUMI sejatinya merupakan perusahaan yang sangat-sangat ‘berisi’ karena terdapat KPC dan Arutmin didalamnya, sehingga wajar jika para bankir tetap setia berhubungan dengan Bakrie sebagai pemilik BUMI.
Yang jelas, kalau bagi penulis sendiri, yang menarik untuk dicermati disini bukan soal saham BUMI akan turun sampai berapa, atau apakah nanti dia akan menguat lagi, karena itu adalah pertanyaan yang sama sekali tidak akan bisa dijawab oleh siapapun. Melainkan, kira-kira akan ada cerita apa lagi terkait hubungan Bakrie dan Rothschild? Dan jika BUMI akhirnya benar-benar lepas dari tangan Bakrie, maka apa yang akan terjadi selanjutnya?

Petrosea

BUMI (Bumi Resources) gonjang ganjing lagi? Peduli amat! Untuk pekan ini penulis lebih memperhatikan Petrosea (PTRO), yang menjadi menarik untuk diperhatikan pasca penurunannya yang sangat tajam akhir-akhir ini, justru setelah dia di-stocksplit dengan rasio 1 : 10 pada Maret lalu. Ketika artikel ini ditulis, PTRO kembali tertekan 3.49% ke posisi 2,075, sehingga jika dihitung sejak enam bulan terakhir, PTRO sudah terkoreksi lebih dari setengahnya, yakni 52.02%. Secara fundamental, penurunan PTRO sulit dijelaskan mengingat kinerjanya pada First Half 2012 (1H12) kemarin cukup bagus dengan mencatat laba bersih US$ 21 juta, naik 8.6% dibanding 1H11, dan itu mencerminkan ROE 26.2%. So, what happen?

PTRO dulunya merupakan perusahaan kontraktor tambang migas yang berdiri pada tahun 1972, dan listing di BEI sejak tahun 1990. Pada tahun 2009, Grup Indika melalui Indika Energy (INDY) mengakuisisi PTRO, dan PTRO secara resmi menjadi salah satu anak perusahaan INDY. PTRO kemudian dialih fungsikan menjadi kontraktor tambang dan penyedia jasa engineeringbagi tiga perusahaan tambang batubara yang dimiliki oleh INDY, yakni PT Kideco Jaya Agung, PT Santan Batubara, dan PT Mitra Energi Agung, namun dengan tetap menerima orderan dari perusahaan tambang batubara lainnya (yang tidak dimiliki oleh INDY). Pada 1H12, PTRO mencatat pendapatan US$ 174 juta, dimana US$ 65 juta diantaranya berasal dari Kideco, Santan, dan Mitra Energi, dan selebihnya dari pihak ketiga.
Terkait kepemilikan INDY atas Santan, INDY memegang 50% saham Santan melalui PTRO, sehingga Santan adalah juga merupakan unit usaha dari PTRO. Pemilik lain dari Santan adalah Harum Energy (HRUM), yang juga memegang 50% sahamnya.
Kembali ke Petrosea. Terkait penurunan sahamnya belakangan ini, ceritanya ternyata lumayan panjang. Jadi ketika proses akuisisi INDY terhadap PTRO selesai sepenuhnya pada Agustus 2009, total jumlah saham yang diambil alih (termasuk yang melalui proses tender offer) terbilang sangat besar, yakni 98.55% atau nyaris 100%. Mengingat bahwa PTRO adalah perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa, maka BEI memerintahkan INDY untuk refloat alias menjual saham PTRO ke publik, minimal sebanyak 16.6% dari total modal disetor PTRO. Dan INDY melakukan refloat tersebut secara bertahap, hingga akhirnya pada tanggal 24 Februari 2012, INDY selesai me-refloat saham PTRO dengan melepas total 28.75% saham PTRO ke publik, sehingga kini INDY hanya memegang 69.8% saham PTRO. Secara keseluruhan, INDY telah melepas total hampir 29 juta lembar saham PTRO (tepatnya 28,997,000 lembar saham, ini adalah jumlah saham sebelum stocksplit), termasuk saham opsi sebanyak 3.8 juta lembar yang dibeli oleh dua fund asing, yakni Citigroup dan Macquaire Capital.
Hebatnya, berdasarkan keterbukaan informasinya di Bursa Singapura, INDY bisa meraup gross cash US$ 116 juta dari proses refloat saham PTRO tersebut, yang setelah dipotong fee broker, bersihnya sekitar US$ 113.6 juta. Yap, INDY meraup US$ 113.6 juta untuk melepas 28.75% saham PTRO. Padahal ketika INDY mengakuisisi saham PTRO, biaya yang dikeluarkan cuma US$ 83.8 juta untuk memperoleh 81.95% saham PTRO. So, kira-kira INDY cuan berapa dari trading saham PTRO ini? Silahkan anda hitung sendiri. Yang jelas, hal ini menunjukkan bahwa INDY adalah bandar ulung yang mampu meraup ‘bonus tambahan’ dari kegiatan investasinya, dalam hal ini akuisisinya terhadap PTRO.
Anyway, karena terdapat sekian juta lembar saham PTRO yang dibuang ke publik, maka penurunan saham PTRO belakangan ini menjadi bisa dijelaskan. Termasuk, aksi stocksplit kemarin juga kemungkinan salah satunya bertujuan untuk memancing para trader dan investor untuk membeli saham PTRO ini, namun itu tetap tidak mencegahnya untuk terus terkoreksi, hingga akhirnya valuasinya mulai menjadi tampak murah (PER PTRO cuma 5.6 kali pada harga 2,075).
Mungkin anda bertanya, apakah hal yang sama (refloating saham) juga terjadi, atau akan terjadi pada anak usaha INDY lainnya yang juga terdaftar di bursa, yakni PT Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)? Penulis belum mengeceknya, namun kemungkinan sih nggak ya, soalnya INDY saat ini memegang 51% saham MBSS, yang jika dikurangi lagi maka itu bisa menyebabkan INDY tidak lagi menjadi pemegang mayoritas MBSS. Sementara kepemilikan publik atas saham MBSS juga sudah cukup besar, yakni 23.9%, sehingga INDY tidak memiliki kewajiban untuk me-refloat saham MBSS ke publik.
Kembali lagi ke Petrosea. Sekarang, bagaimana prospeknya? Agar sistematis, penulis akan menjelaskan hal-hal yang sebaiknya perlu anda ketahui terkait PTRO ini secara poin per poin. Okay, here we go.
1. Secara keseluruhan, PTRO memiliki tiga unit usaha, yakni 1. Kontraktor pertambangan batubara, 2. Jasa logistik pelabuhan, engineering, dan pengolahan air bersih, dan 3. Jasa engineering dan konstruksi untuk tambang minyak dan gas. Pada 1H12, unit usaha kontraktor tambang batubara menyumbang 92.4% dari total pendapatan perusahaan, alias sangat dominan, sehingga praktis PTRO tidak memiliki banyak cerita untuk unit usaha diluar kontraktor tambang batubara.
2. PTRO memiliki penempatan investasi pada dua perusahaan, yakni 50% saham Santan Batubara (seperti yang sudah dibahas diatas), dan 47% saham PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri, sebuah perusahaan air minum. Pada 1H12, PTRO memperoleh bagian laba bersih sebesar total US$ 3.6 juta dari kedua perusahaan tersebut.
3. Terkait pertumbuhan perusahaan, pada akhir tahun 2011 lalu PTRO memiliki (atau menyewa) total 29 fleet (armada) alat-alat berat untuk operasional tambang batubara. Angka tersebut tumbuh sekitar 50% dibanding jumlah fleet pada akhir tahun 2010, yakni 19 fleet (catatan: satu fleet alat-alat berat terdiri dari satu unit excavator, lima hingga delapan unit dam truk, dan beberapa alat berat pembantu lainnya). Dari sisi volume overburden, sepanjang tahun 2011, PTRO telah memindahkan overburden sebanyak 116 juta BCM, tumbuh 43% dibanding tahun 2010. Untuk tahun 2012 ini, perusahaan berencana menambah sekitar 10 – 15 fleet alat-alat berat, dan mentargetkan kenaikan volume overburden sebesar 40 – 50% dibanding tahun 2011.
Btw sekedar catatan, salah satu perbedaan mendasar antara perusahaan tambang batubara dengan perusahaan kontraktor tambang batubara adalah dilihat dari indikator pertumbuhannya. Pertumbuhan perusahaan tambang batubara bisa dilihat dari kenaikan jumlah batubara yang diproduksi. Sementara pertumbuhan perusahaan kontraktor tambang batubara bisa dilihat dari kenaikan volume overburden, yaitu lapisan tanah yang digali agar batubara yang terletak dibawahnya bisa diambil. Jika jumlah batubara biasa dihitung menggunakan satuan ton, maka volume overburden dihitung menggunakan satuan bank cubic meter (BCM). Kalau pake data dari salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia, yaitu Kaltim Prima Coal, maka kontraktor tambang harus menggali rata-rata 9 BCM overburden untuk memperoleh 1 ton batubara.
4. Terkait kontrak yang diperoleh perusahaan, sepanjang enam bulan pertama 2012, PTRO telah menandatangani setidaknya dua kontrak anyar senilai masing-masing US$ 188 dan 471 juta, dengan Santan Batubara dan PT Gunung Bayan Pratama Coal, dimana keduanya merupakan pelanggan lama perusahaan (dan Santan sendiri memang separuhnya dimiliki oleh PTRO). Kalau dilihat dari sini, maka target kenaikan volume overburden sebesar 40 – 50% yang dicanangkan PTRO terbilang realistis. Hingga First Half 2012, PTRO sendiri sudah mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 55.2%.
5. Sayangnya meski pendapatan perusahaan naik signifikan, namun laba bersih PTRO hanya naik 8.7%, dan laba operasionalnya juga hanya naik 11.2%, sehingga jelas bahwa masalahnya terletak di beban operasional. Dan memang, beban operasional PTRO meningkat tajam dari US$ 4.6 menjadi 19.1 juta, yang terutama disebabkan oleh penurunan bagian laba bersih dari perusahaan asosiasi (Santan dan Tirta), kenaikan beban bunga, dan kenaikan kerugian akibat pelepasan aset. Kalau dilihat dari sisi ini, maka sepertinya Grup Indika sebagai pemilik PTRO tidak begitu peduli soal apakah laba PTRO akan naik atau turun, karena yang lebih penting adalah peningkatan laba bersih dari INDY, yang merupakan induk dari seluruh unit usaha Grup Indika di bidang tambang.
6.  Salah satu penyebab kenaikan beban operasional PTRO adalah karena kenaikan beban bunga, yang disebabkan oleh pinjaman jangka panjang sebesar US$ 85 juta dari pihak berelasi, dalam hal ini Indika Capital Resources (ICR) yang merupakan anak usaha lainnya dari INDY. Ini adalah bentuk cost transfer dari INDY kepada PTRO, mengingat bahwa ICR menggunakan bunga yang dibayarkan oleh PTRO untuk menjamin/membayar bunga obligasi yang diterbitkan oleh INDY. Simpelnya, PTRO harus membayar beban bunga yang ditanggung induknya tersebut. Pada 1H12, INDY mencatat nilai utang dari tiga kali penerbitan obligasi sebesar total US$ 495 juta.
7. PTRO membayar bunga sebesar 9.85% per tahun kepada ICR, dan jumlah pinjaman yang diberikan ICR kepada kepada PTRO akan dinaikkan pada tahun-tahun mendatang hingga mencapai US$ 140 juta. Artinya? Bunga yang harus dibayarkan oleh PTRO kepada ICR akan meningkat kembali. Pada 1H12, PTRO membayar beban bunga US$ 6 juta. Dan jika beban bunga yang harus dibayar PTRO ini terus naik hingga mencapai angka yang substansial, katakanlah US$ 10 – 20 juta, maka itu berpotensi menurunkan laba bersih PTRO, mengingat laba bersih PTRO sendiri hanya US$ 21 juta.
8. DER PTRO tercatat 2.0 kali, dan ini memang tidak begitu bagus, sehingga meski ROE PTRO mencapai 26.2%, namun ROA-nya cuma 8.8%. Akan tetapi perlu diingat bahwa utang PTRO seharusnya jauh lebih kecil jika tidak ada utang dari ICR. Diluar utang dari ICR, sebagian besar utang PTRO adalah utang usaha dan utang sewa alat-alat berat, yang tidak mengandung bunga sehingga tidak berpengaruh negatif pada laba bersih perusahaan. Jadi dalam hal ini, penulis tetap menganggap bahwa PTRO merupakan perusahaan kontraktor tambang yang cukup profitable.
9. Penurunan harga batubara belakangan ini tidak atau belum berpengaruh terhadap kinerja PTRO sebagai perusahaan kontraktor tambang batubara, setidaknya jika dilihat dari sisi pendapatan yang masih mampu naik signifikan. Namun bagian laba bersih PTRO dari PT Santan Batubara memang berkurang sekitar 50%, dan ini sedikit banyak turut berpengaruh terhadap perolehan laba bersih PTRO.
10. Dari sisi ukuran, PTRO bukanlah perusahaan kontraktor tambang besar. Empat besar perusahaan kontraktor tambang di Indonesia adalah Pamapersada (anak usaha United Tractors/UNTR), Bukit Makmur (anak usaha Delta Dunia Makmur/DOID), Thiess, dan Darma Henwa (DEWA). Namun posisi PTRO sebagai anak usaha dari INDY terbilang menguntungkan bagi perusahaan, mengingat bahwa INDY merupakan one of the largest integrated mining service company in Indonesia.
11. Dari sisi kualitas kinerja dan valuasi, saham PTRO pada harganya saat ini adalah yang paling menarik dibanding UNTR, DOID, dan DEWA. Tapi dari sisi manajemen, UNTR masih merupakan yang terbaik (Astra punya bro!). Namun jika dibanding Northstar (pemilik DOID) atau Bakrie (pemilik DEWA), maka cara kerjanya Grup Indika sebagai pemilik PTRO masih lebih fair terhadap investor retail.
Kesimpulannya, PTRO boleh disebut sebagai perusahaan kontraktor tambang batubara yang konservatif dari sisi operasional, namun agak complicated dari sisi finansial, yang terutama karena dikerjai oleh induknya sendiri, INDY. Tidak hanya dari sisi kinerja keuangan, INDY bahkan juga meraup keuntungan dari transaksi jual beli saham PTRO, seperti yang sudah kita bahas diatas. Tapi untungnya financial engineering-nya Grup Indika tidak separah grup usaha lainnya yang sudah disebut diatas. Dan kendali INDY atas PTRO otomatis secara membuatnya menjadi perusahaan yang memiliki akses lebih kepada banyak perusahaan tambang batubara, sehingga PTRO seharusnya tidak kesulitan dalam memperoleh klien ataupun kontrak baru untuk terus meningkatkan pendapatan. Tapi sekali lagi seperti yang sudah dibahas diatas, kenaikan pendapatan bagi PTRO tidak selalu berarti kenaikan laba bersih. Disisi lain, saham PTRO pada saat ini merupakan yang paling menarik dibanding semua saham perusahaan kontraktor tambang batubara lainnya di bursa, baik dilihat dari sisi kinerja perusahaan maupun valuasi sahamnya.
So, bagaimana rekomendasi atas sahamnya? Ya kalau menurut penulis sih, coba tunggu sampai PTRO ketemu rebound-nya lah. Mengingat bahwa belakangan ini harga minyak mulai naik lagi, dan biasanya harga batubara juga akan menyusul, maka itu akan menjadi sentimen positif bagi PTRO. Tapi bagi penulis sendiri yang kurang sreg dengan gaya pengelolaan perusahaan dari Grup Indika, maka PTRO ini nggak cocok buat dikoleksi kalau tujuannya untuk investasi long term.

PT Petrosea Tbk (PTRO)
Rating kinerja pada 1H12: A
Rating saham pada 2,075: A
NB: Monthly Investor Bulletin edisi September 2012 akan terbit tanggal 1 September mendatang, anda bisa membelinya disini.

Blue Chip Edition: Gudang Garam

Jika anda adalah seorang trader dengan jumlah dana diatas rata-rata, katakanlah Rp20 – 30 milyar atau bahkan diatas Rp100 milyar, maka terkadang agak sulit jika anda hendak trading pada saham-saham second liner apalagi gorengan gak jelas yang likuditasnya kembang kempis. Karena ketika membeli atau menjual saham second liner senilai Rp1 milyar, misalnya, maka anda mungkin harus menyicilnya sedikit demi sedikit, katakanlah 100 juta dulu, kemudian tambah lagi 100 juta, begitu seterusnya, dan itu terkadang memang menyebalkan karena ribet. Nah, bagi anda para ‘trader semi-grosir’ seperti ini, maka pilihannya tetap berada pada saham-saham big caps alias bluchip. So, berikut ini adalah analisis untuk salah satu saham big caps yang penulis nilai memiliki fundamental yang cukup bagus dan juga valuasi yang wajar, kalau berdasarkan kinerja perusahannya di First Half 2012 (1H12) kemarin, yakni Gudang Garam (GGRM).

GGRM, seperti juga seterunya yang berwarna hijau, HM Sampoerna (HMSP), mencatat kinerja yang bagus dan relatif stabil dari sisi profitabilitas, namun kurang menarik dari sisi growth, yang lebih banyak karena faktor pasarnya yang sudah jenuh, sehingga kenaikan pendapatan hanya bisa didorong oleh peningkatan jumlah penduduk, yang itu berarti peningkatan jumlah perokok, dan juga kenaikan harga jual produk. Dua perusahaan rokok ini, bersama dengan Grup Djarum, pada akhir tahun 2011 menguasai lebih dari 70% pasar rokok Indonesia, dan produk mereka sudah menjangkau nyaris seluruh pelosok negeri dan juga pasar ekspor (HMSP merupakan pemimpin industri rokok di Indonesia, disusul GGRM, Djarum, dan BAT Indonesia), sehingga mereka bisa dibilang sudah tidak perlu melakukan ekspansi apapun lagi. Alhasil, perusahaan rokok di Indonesia biasanya hanya mampu mencatat kenaikan pendapatan yang standar di kisaran 20-an persen, sehingga laba bersih mereka bisa tertekan jika beban pengeluaran mengalami kenaikan yang lebih tinggi.

Dan GGRM juga mengalami hal yang serupa. Pada 1H12, pendapatan GGRM tercatat Rp23.6 trilyun, tumbuh 18.7% dibanding periode yang sama tahun 2011. Namun karena kenaikan beban pokok, terutama karena kenaikan harga bahan baku cengkeh (harga cengkeh di awal tahun 2012 disebutkan sempat naik menjadi Rp200,000-an per kg karena masalah gagal panen, meski belakangan ini mulai turun lagi ke harga normalnya yaitu Rp80,000-an per kg), dan kenaikan tarif cukai (per 1 Januari 2012, Kemenkeu menaikkan tarif cukai rokok sebesar rata-rata 16%), maka akhirnya laba bersih komprehensif GGRM turun 8.4% menjadi Rp2.1 trilyun.

Kemungkinan karena penurunan laba bersihnya tersebut, dan juga karena cum dividennya kemarin, saham GGRM dalam tiga bulan terakhir telah terkoreksi dari puncaknya 63,000 pada 3 Juli kemarin hingga menjadi 50,650 pada 8 Agustus, sebelum sekarang naik lagi ke posisi 52,150. Kalau dilihat dari historis pergerakannya selama setahun terakhir, penurunan GGRM memang bisa dikatakan terhenti di level psikologis 50,000, sebelum kemudian rebound kembali. Sekarang, bagaimana kedepannya?

Pada harga 52,150, GGRM mencetak PER 23.8 kali, agak mahal kalau mempertimbangkan bahwa growth-nya minus. Namun kalau juga mempertimbangkan bahwa: 1. GGRM adalah perusahaan yang well-established dengan power of brand yang juga mentereng, 2. GGRM merupakan satu-satunya saham rokok yang bisa dipakai trading di bursa, mengingat saham HMSP tidak likuid, sementara Bentoel (RMBA) kinerja perusahaannya kurang bagus, dan 3. GGRM bermain di sektor konsumsi yang ‘sangat konsumsi’ (beberapa orang lebih memilih nggak makan daripada nggak merokok), sehingga kinerjanya tidak akan terlalu terpengaruh oleh perubahan pada perekonomian, bahkan meski aktivis anti-rokok terus berkampanye bahwa rokok itu berbahaya bla bla bla, maka: Valuasi GGRM pada saat ini masih terbilang wajar, hanya memang memerlukan sentimen positif untuk bisa naik ke, katakanlah, 60,000-an kembali. Disisi lain, berbeda dengan ‘bluchip kawakan’ macam Astra International (ASII) atau Bank BRI (BBRI), yang pergerakannya mudah dipengaruhi IHSG, saham GGRM cenderung tidak terlalu dipengaruhi kontraksi market, sehingga sepertinya agak susah kalau mengharapkan untuk bisa masuk di harga dibawah 50,000, bahkan meski nanti market memasuki musim diskon lagi. Jadi mungkin tips untuk GGRM ini sederhana saja: Usahakan untuk masuk di harga yang paling mendekati 50,000. Keluarnya? Di sekitar 57,000-an.

Terkait kinerja kedepannya, GGRM kini memiliki brand positioning yang bagus hasil dari sponsorship beberapa program acara sepakbola yang dimulai sejak Piala Dunia 2010 lalu. GGRM juga mengikuti trend pasar yang mulai mengarah pada produk rokok jenis light dan mild, dengan ‘mempatenkan’ merk-merk seperti Surya Pro Mild dan Surya Slims, yang sejauh ini cukup mampu bersaing dengan merk-merk lain seperti Djarum Super Mild dan A-Mild. Jadi bisa dibilang, GGRM tidak memiliki masalah terkait upaya untuk meningkatan penjualan. Lalu bagaimana dengan laba bersih? Nah, dalam hal ini ceritanya mungkin berbeda, karena perusahaan masih terus berkutat pada masalah kenaikan tarif cukai, dan itu mungkin masih akan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba GGRM (karena itulah penulis agak pesimis kalau GGRM ini dipasang TP 60,000). Meski demikian, kenaikan tarif cukai sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun, dan pihak perusahaan biasanya mengatasinya dengan menaikkan harga jual produk (anda-anda yang perokok pasti tahu persis kenaikan harga rokok belakangan ini), hanya memang hasilnya tidak langsung kelihatan karena ada jeda dari proses distribusi produk. So, kita lihat hasilnya di Q3 nanti.

Lalu bagaimana dengan rencana Pemerintah yang akan membatasi produksi rokok menjadi hanya 260 milyar batang per tahun pada tahun 2015 nanti? Kalau menurut penulis sih, itu gak akan berpengaruh ya, karena ketika volume produksi dibatasi, maka harga jualnya yang akan dinaikkan. Dan setau penulis, ketika harga rokok naik, maka para perokok akan tetep aja ngebul seperti biasanya. Ketika penulis kecil dulu, harga sebungkus Gudang Garam Surya 16 (rokoknya Ayah) cuma Rp1,000 sebungkus, dan Ayah menghabiskan satu bungkus sehari. Sekarang? Terakhir penulis cek Rp10,500 alias sudah naik lebih dari 10 kali lipat, tapi Ayah tetap saja menghabiskan satu bungkus sehari, malah kadang-kadang satu setengah.

Oke, mungkin segitu aja dulu untuk GGRM, selebihnya mungkin tinggal dilihat teknikalnya aja. Diluar GGRM, saham-saham bluchip yang juga menarik untuk diperhatikan, dan juga belum dibahas di blog ini (termasuk juga tidak dibahas di Ebook 40) adalah Unilever Indonesia (UNVR), Telkom (TLKM), dan Perusahaan Gas Negara (PGAS). Sayangnya UNVR dan TLKM sedang mahal-mahalnya, sementara PGAS LK-nya belum keluar. Seperti yang sudah penulis utarakan di artikel We’re Still Walking, not Running, kinerja para perusahaan raksasa pada periode 1H12 ini memang tidak sebagus tahun 2010 atau 2009 dulu. Tapi yah sudahlah.

Btw, mungkin agar lebih simpelnya, berikut adalah saham-saham kategori bluchip yang menurut penulis layak untuk dicermati untuk periode Kuartal II 2012 ini: ASII, UNTR, BBRI, ITMG, INTP, GGRM, UNVR, TLKM, PTBA, dan PGAS. Untuk PGAS, meski memang LK-nya untuk 1H12 belum keluar, tapi berdasarkan kinerjanya yang sudah-sudah dan juga jika mempertimbangkan status perusahaannya yang sudah sangat mapan, maka biasanya kinerjanya akan gitu-gitu aja, yakni: Cukup baik.

Terakhir, sedikit tips, seperti yang anda ketahui bahwa pergerakan saham-saham big caps biasanya sangat dipengaruhi oleh IHSG. Sehingga jika anda hendak memperoleh keuntungan maksimal dari saham-saham seperti ini, maka posisi masuk yang ideal tentunya adalah ketika IHSG sedang terkoreksi, seperti Mei kemarin. Jadi jika anda tetap berbelanja saham pada saat IHSG normal seperti sekarang, maka itu boleh-boleh saja, namun ada baiknya jika anda juga tetap menyisakan cash dalam jumlah yang substansial untuk persiapan memborong barang ketika pesta diskon nanti.

NB: Ebook 40 rekomendasi saham edisi Semester Pertama 2012 (1H12) sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini.

Makna Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Hari ini, 17 Agustus 2012, adalah hari dimana 67 tahun yang lalu, para proklamator kita memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka! Namun seperti juga tahun-tahun yang lalu, masyarakat kini secara kritis mempertanyakan makna proklamasi: Benarkah kita sekarang ini telah merdeka? Bukannya Indonesia masih dijajah hanya saja tidak secara fisik, melainkan ekonomi? Ada pula yang mengatakan, Indonesia belum merdeka karena masih dijajah oleh bangsa sendiri, dan seterusnya.


Kalau penulis perhatikan di jejaring sosial, banyak warga negara yang mempertanyakan kemerdekaan Indonesia, karena masih banyak rakyat Indonesia yang belum memperoleh kemerdekaan di bidang kesejahteraan ekonomi, pelayanan publik, keamanan, hingga keadilan hukum. Untuk mendapatkan ‘kemerdekaan’ tersebut, nyaris semuanya harus selalu melalui prosedur ‘wani piro?’ Tak jarang ada pula warga yang mencaci maki Pemerintah, dalam hal ini rezim SBY, sebagai pemimpin yang tidak nasionalis, doyan korupsi, dan bahkan menjual negara. Dikatakan, berbeda dengan Bung Karno yang secara tulus berjuang demi kemerdekaan bangsa, SBY dan antek-anteknya malah sibuk dengan berbagai macam kasus korupsi. Tidak hanya Presiden, para anggota DPR dan juga banyak pejabat penyelenggara negara juga kerjaannya sama begitu. Cerita tentang veteran pejuang 45 yang hidup sengsara di hari tuanya karena tidak mendapat perhatian dari Pemerintah, adalah lagu lama yang selalu diulang-ulang setiap tanggal 17 Agustus, namun tetap saja ‘Pemerintah’ yang disindir tersebut tutup telinga.

Karena itulah, masyarakat Indonesia kini cenderung tidak lagi antusias dalam menyambut peringatan hari kemerdekaan, melainkan justru bertanya-tanya, benarkah kita sudah merdeka? Minimal dari jajahan bangsa sendiri?

Nah, berkaitan dengan hal ini, penulis jadi ingat dengan pidato di upacara hari kemerdakaan oleh Kepala Sekolah, ketika penulis masih SMP dulu, tahun 1998. Kebetulan, ketika itu momennya bertepatan dengan kejadian krisis moneter, sehingga entah ada hubungannya atau tidak, pidato Pak Kepala Sekolah ketika itu terbilang menggebu-gebu dan cukup berbekas di benak para pendengarnya, bahkan termasuk penulis yang notabene cuma bocah ingusan berusia dua belas tahun. Isi pidato tersebut kira-kira begini,

‘Kita memang sudah merdeka, namun itu bukan berarti perjuangan telah usai! Para pendahulu kita telah dengan susah payah berjuang mengusir penjajah dari bumi pertiwi, dan kita harus melanjutkan perjuangan tersebut dengan cara mengisi kemerdekaan ini dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, kegiatan yang berguna bagi sesama, dan kegiatan yang membawa Indonesia tampil di kancah dunia! Indonesia jangan lagi hanya menjadi negara miskin, dengan penduduknya yang juga miskin, tapi harus bangkit dan kembali menjadi macan Asia. Dan itu adalah tanggung jawab kita semua untuk memperjuangkannya secara bersama-sama, dimana kita tidak boleh berhenti, bahkan ketika nanti Indonesia sudah menjadi negara yang maju nan adidaya.’

‘Wahai anak-anakku, kamu sekarang ini tidak perlu lagi berjuang dengan mengangkat bambu runcing. Yang harus kamu lakukan adalah berjuang dengan pensil dan pena-mu, belajar lah dengan baik, jangan tawuran, dan jadilah orang yang memiliki cita-cita. Masa depan negeri ini ada di tanganmu. Dan apakah masa depan itu akan menjadi cerah atau suram, itu sepenuhnya tergantung dari seberapa keras perjuangan yang kamu lakukan!’

Sekarang, setelah berlalu empat belas tahun, penulis sudah lupa wajah Bapak Kepala Sekolah tersebut, lupa juga nama beliau, dan tidak tahu dimana beliau sekarang, apakah masih hidup atau sudah meninggal. Namun pidatonya di hari itu masih penulis ingat sampai sekarang. Intinya, dengan diproklamirkannya kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, maka itu bukan berarti perjuangan sudah selesai. Perjuangan tetap akan dilanjutkan, meski dengan cara yang berbeda, dan setiap orang bertanggung jawab atas kemerdekaannya sendiri. Karena faktanya, hidup itu sendiri adalah perjuangan tiada akhir. Anda tidak bisa hanya duduk manis dan tidak melakukan apapun, dan kemudian memperoleh segalanya, hanya karena Indonesia sudah merdeka. Karena, sekali lagi, setiap orang bertanggung jawab atas kemerdekaannya sendiri, dan itu berarti merdeka atau tidaknya seseorang bergantung sepenuhnya pada seberapa keras dia berjuang untuk meraihnya.

Btw, mungkin memang benar bahwa Pemerintah kita bobrok, ekonomi kita masih dijajah asing, dan alhasil masih banyak rakyat Indonesia yang kesulitan dalam meraih kemerdekaannya. Tapi mengeluh atau menyalahkan saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah: Anda harus berbuat sesuatu. Sesuatu apa? Ya apa saja yang anda bisa. Kalau anda bisa berdagang, jadilah pedagang. Kalau anda mengerti ilmu kedokteran, jadilah dokter. Dengan cara itulah anda bisa mencapai kemerdekaan, minimal untuk anda sendiri. Penulis sendiri, karena entah bagaimana ceritanya ternyata bisa menulis, maka jadilah penulis menjadi seorang penulis. Dan karena materi yang penulis kuasai hanyalah tentang investasi saham, maka jadilah penulis hanya menulis soal investasi saham.

Terakhir, mengutip kata-kata dari Ben Parker, Paman dari Peter Parker dalam film Spider-Man, With great power, comes great responsibility. Artinya, ketika anda dianugrahi oleh Tuhan kemampuan khusus yang tidak semua orang memilikinya, maka anda bertanggung jawab untuk menggunakan kemampuan tersebut untuk sekuat tenaga membantu orang lain, dan jangan memikirkan soal imbalannya! ‘Karena ketika anda sudah bisa membantu orang, maka rezeki akan datang dengan sendirinya tanpa perlu dicari lagi’ (Chairul Tanjung). Dengan cara inilah maka anda tidak hanya bisa mencapai kemerdekaan bagi diri anda sendiri, tapi juga orang lain, dan pada akhirnya kita semua memperoleh makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

Dirgahayu Indonesiaku! Merdeka!

Melirik Saham di Sektor Telepon Selular

Dulu, telepon selular alias handphone alias HP, adalah alat untuk menelpon dan mengirim SMS, that’s it. Tapi seiring dengan perkembangan teknologi, HP kemudian bisa dipakai untuk memotret, memainkan klip video, mengirim gambar, browsing internet, hingga fungsi-fungsi lainnya layaknya komputer. HP kini tidak lagi sekedar alat komunikasi, melainkan gadget yang bentuk serta fungsinya menjadi beraneka ragam. Dan bagi sebagian orang, terutama anak-anak remaja, adalah suatu kebanggaan untuk bisa memiliki gadget terbaru yang sedang nge-trend, sehingga HP kemudian menjadi barang fashion yang harus di-update setiap beberapa waktu sekali. Sementara bagi kita para investor atau pebisnis, maka behaviour masyarakat yang seperti itu adalah peluang.

Di Indonesia, perubahan trend atas merk HP tertentu terbilang cukup sering terjadi. Dulu Nokia, Ericsson, dan Motorola adalah penguasa pasar, sebelum kemudian dipukul mundur oleh pendatang baru, Blackberry (BB), yang merupakan salah satu perintis dari HP generasi baru yang disebut smartphone. Dan kini, BB pun mulai mendapat perlawanan ketat dari iPhone, Android, dan Samsung. Kedepannya, banyak pihak yang meramalkan bahwa Samsung akan menjadi penguasa selanjutnya di industri telepon dan gadget selular, dimana pada saat ini Samsung telah berhasil mempopulerkan gadget berikutnya setelah smartphone: PC Tablet. Pada semester I 2011, merk Samsung Galaxy Tab memimpin pasar PC tablet dengan market share sebesar 60%, disusul Apple iPad.
Diluar merk-merk besar tersebut, perubahan trend juga cukup sering terjadi di merk-merk yang lebih kecil. Contohnya Nexian yang dulu sempat jaya, sekarang mulai tergeser oleh Cross dan Mito. Jadi dalam hal ini, mengingat bahwa perkembangan teknologi dan trend gadget termasuk HP tidak pernah akan ada habisnya, maka orang-orang juga akan terus membelanjakan uangnya untuk membeli HP terbaru, dan juga berbagai macam aksesorisnya. Alhasil, perusahaan yang bermain di industri perdagangan produk selular (perdagangan, bukan produsen) akan meraup untung yang besar dan juga (seharusnya) konsisten. Karena ketika satu merk HP mulai kurang laku, maka mereka bisa dengan mudah beralih menjual merk HP lain yang lebih diminati konsumen.
Dan di BEI, terdapat setidaknya empat emiten yang bergerak di bidang perdagangan dan distribusi produk-produk telepon selular, termasuk juga aksesoris, konten multimedia, kartu perdana, dan voucher pulsa. Mereka adalah, diurutkan berdasarkan ukuran asetnya dari yang terbesar sampai terkecil: Trikomsel Oke (TRIO), Erajaya Swasembada (ERAA), TiPhone Mobile Indonesia (TELE), dan Skybee (SKYB). Mengingat bahwa perusahaan di industri selular ini seharusnya memiliki kinerja yang tumbuh secara konsisten, maka berikut adalah track record pertumbuhan laba bersih keempat perusahaan diatas dalam lima tahun terakhir plus semester pertama 2012, angka dalam milyar Rupiah.
Company
2007
2008
2009
2010
2011
2012*)
TRIO
80
103
118
204
303
304
ERAA
28
79
203
218
255
425
TELE
-
0
51
115
153
-
SKYB
1
3
3
19
23
31
Catatan:
1. PT TiPhone Mobile Indonesia (TELE) baru berdiri dan beroperasi tahun 2008
2. Data tahun 2012 adalah hingga semester pertama (first half 2012/1H12), yang di-annualized-kan dengan cara dikali dua.
3. Hingga artikel ini ditulis, TELE belum merilis LK untuk periode 1H12.
Perhatikan. Dari data diatas, maka bisa kita simpulkan bahwa keempat perusahaan di sektor perdagangan produk selular memang memiliki catatan pertumbuhan yang cukup konsisten (kalau pake kinerjanya di Q1, TELE mencatat annualized net profit untuk tahun 2012 sebesar Rp156 milyar). Termasuk ketika terjadi krisis global di tahun 2008, laba TRIO, ERAA, dan SKYB tetap saja naik (TELE jangan dihitung karena perusahaannya baru berdiri). Well, sepertinya kita menemukan sektor yang cukup prospektif disini, setidaknya jika dilihat dari sisi kinerja para perusahaannya secara historis.
Sayangnya kalau kita mempertimbangkan likuiditas sahamnya, maka hanya ERAA dan TELE yang bisa dilirik, karena saham TRIO dan SKYB boleh dibilang tidak likuid sama sekali. Jadi di paragraf-paragraf berikutnya akan kita fokuskan pada pembahasan ERAA dan TELE, kita mulai dari ERAA dulu.
ERAA adalah salah satu perusahaan distributor produk selular terbesar di Indonesia, dengan market share 24% pada tahun 2010. Khusus untuk Blackberry, perusahaan memegang market share sekitar 50% pasca mengakuisisi salah satu anak usahanya, PT Teletama Artha Mandiri (TAM) pada Agustus 2011 lalu, dimana TAM adalah distributor ponsel Blackberry, Sony Ericsson, dan Samsung. Per akhir tahun 2011, ERAA memegang hak distribusi untuk setidaknya sembilan merk ponsel, yakni Acer, Dell, Huawei, LG, Motorola, Nokia, Blackberry, Sony Ericsson, dan Samsung. Selain menjual ponsel punya orang, ERAA juga memiliki merk ponsel sendiri melalui TAM, yaitu Venera. ERAA juga memiliki bisnis sampingan berupa jualan voucher pulsa dan lain-lain, yang pada 1H12 menyumbang 6.4% dari total pendapatan perusahaan.
Meski notabene sudah merupakan salah satu market leader di bidangnya, namun ERAA terbilang masih giat berekspansi. Sepanjang enam bulan pertama 2012, perusahaan melakukan beberapa kegiatan perluasan usaha, yakni: 1. Membuka outlet ‘Erafone Megastore’ di dua tempat, yaitu Jakarta (Mall Taman Anggrek) dan Makassar, 2. Mengakuisisi outlet ‘iBox’, distributor ponsel merk Apple iPhone, sehingga ERAA secara otomatis menambah merk ponsel iPhone dalam portofolionya, dan 3. Menjadi distributor untuk ponsel HTC. Kedepannya hingga akhir tahun 2012 ini, ERAA akan menambah lagi setidaknya empat outlet Erafone Megastore, sehingga totalnya menjadi delapan outlet. ERAA juga akan menambah tiga outlet iBox, sehingga totalnya menjadi dua puluh dua outlet, dan mendirikan empat outlet ‘AndroidNation’ di Jakarta, yang akan secara khusus menjual ponsel-ponsel dengan sistem operasi Android. ERAA mengklaim bahwa AndroidNation tersebut akan menjadi outlet khusus Android pertama di dunia.
Berdasarkan LK terbaru yaitu semester pertama 2012, ERAA menunjukkan kinerja dan pertumbuhan yang paling bagus jika dibanding TRIO dan SKYB. Berikut ringkasannya:
Company
ROA
ROE
NPM
Net Profit Growth
Earnings Growth
ERAA
12.8
18.0
6.6
213.5
80.2
TRIO
7.7
26.2
8.2
24.2
8.7
SKYB
2.8
15.2
2.8
-8.8
9.3
Catatan: Seluruh angka dalam persentase, semakin besar berarti semakin bagus. Net Profit Growth dihitung dalam setahun, sementara Earnings Growth dihitung dari tanggal 31 Desember 2011.
Perhatikan. Dalam hal ROA, ROE, dan NPM, kinerja ERAA dan TRIO cenderung hampir setara, sementara SKYB boleh kita kesampingkan. Namun dalam hal growth, ERAA lebih unggul, yang mungkin karena pada tahun 2012 ini TRIO lebih fokus pada upaya penggalangan dana melalui right issue dan penerbitan obligasi yang dilakukan secara sekaligus. Seperti yang anda ketahui, TRIO menerbitkan 311.5 juta lembar saham anyar yang akan mulai diperdagangkan di bursa pada tanggal 2 Juli kemarin, dan obligasi senilai Rp808 milyar. Namun seperti yang sudah disebut diatas, ketidak likuidan saham TRIO membuatnya secara otomatis tidak perlu kita perhatikan lagi.
Kalau dilihat dari ROA, ROE, dan NPM-nya, kinerja ERAA terbilang standar, alias gak bisa dibandingkan dengan perusahaan consumer goods. Namun hal itu tidak mencegah sahamnya untuk terus naik sejak listing pada 14 Desember lalu, hingga sekarang ini sudah mencapai posisi new high di 2,250, yang mencerminkan PER 15.2 kali. Mahal? Mungkin nggak juga, mengingat valuasi saham-saham perusahaan retail (ingat bahwa ERAA adalah perusahaan perdagangan ponsel secara eceran, bukan produsen) rata-rata emang segitu. Penulis sendiri belakangan ini baru sadar kalau saham perusahaan retail memang nggak bisa dihargai pada PER 7 atau 10 kali, bahkan meski mereka secara naturetidak memiliki margin atau rasio profitabilitas yang bagus. Penyebabnya adalah karena perusahaan retail setiap saat bisa mengganti barang dagangannya dengan barang lain yang lebih diminati konsumen, sehingga bisnisnya bisa terus berjalan, dan alhasil risiko usahanya relatif rendah. Hal ini berbeda dengan perusahaan produsen, yang harus menciptakan produk baru jika produk lama mereka tidak lagi diminati konsumen, dan ‘menciptakan’ itu tidaklah mudah, terutama jika berhubungan dengan inovasi teknologi. Itu sebabnya perusahaan produsen ponsel yang pernah jaya di masa lalu, Nokia, sekarang ini mulai mengalami kemunduran besar dan diprediksi akan segera bangkrut, setelah mereka gagal menciptakan produk baru untuk bersaing dengan iPhone dan Android.
Oke, sekarang kita bahas TELE.
Berbeda dengan ERAA yang menjual berbagai macam merk ponsel, TELE adalah distributor untuk satu merk ponsel saja, yaitu TiPhone, meski perusahaan juga menjual ponsel merk lain dalam jumlah yang jauh lebih sedikit. Kalau dari sisi brand, TiPhone tidaklah sepopuler Blackberry ataupun iPhone, namun merk ponsel asal Tiongkok ini memiliki harga jual yang relatif murah, sehingga memiliki pangsa pasarnya sendiri. Selain HP biasa, TiPhone juga memiliki varian produk smartphone dan PC Tablet.
Akan tetapi, sumber pendapatan utama TELE bukan berasal dari penjualan ponsel TiPhone, melainkan voucher pulsa. Yup, TELE adalah salah satu distributor utama untuk voucher pulsa dari tiga operator telekomunikasi, yakni Telkomsel, Flexi, dan XL Axiata. Pada Kuartal I 2012, TELE mencatat pendapatan Rp1.62 trilyun, dimana Rp1.47 trilyun diantaranya berasal dari penjualan voucher pulsa, dan hanya Rp149 milyar yang berasal dari penjualan ponsel. Jadi dalam hal ini, TELE lebih layak disebut sebagai perusahaan pulsa untuk ponsel, bukan ponsel itu sendiri. Kalau menurut penulis, sepertinya TELE sengaja menjalani bisnis distributor voucher pulsa, dan lebih banyak bergelut di bisnis ini ketimbang menjual ponsel, adalah untuk jaga-jaga jika produk TiPhone tidak terlalu sukses di pasaran, mengingat persaingan merk ponsel di segmen low end juga tidak kalah sengitnya dibanding segmen high end, dan masalahnya TELE hanya memegang satu merk TiPhone saja (berbeda dengan ERAA yang memegang banyak merk). Di Indonesia sendiri, terdapat setidaknya tujuh merk ponsel low end yang menjadi pesaing serius TiPhone, yaitu Nexian, Mito, Cross, CSL Blueberry, Maxtron, Micxon, dan HT Mobile.
Sementara bisnis jualan pulsa, biar bagaimanapun lebih aman dan lebih mudah dibanding dibanding menjual ponsel, meski memang marginnya lebih kecil. Pada Kuartal I 2012, operating profit margin (OPM) untuk produk ponsel yang dijual TELE tercatat 8.5%, sementara OPM untuk produk voucher pulsa hanya 2.8%.
Anyway, karena jenis bisnisnya berbeda, maka TELE mungkin kurang tepat jika dibandingkan dengan ERAA. Tapi, mari kita coba membandingkan kelebihan dan kekurangan dari kedua perusahaan ritel produk selular ini:
1. Variasi produk ponsel: ERAA menjual berbagai atau bahkan boleh dibilang semua merk ponsel high end di Indonesia. Sementara TELE hanya menjual TiPhone. Jadi dalam hal ini, ERAA tidak memiliki ketergantungan terhadap merk ponsel tertentu, dan bisa mengganti isi etalase tokonya setiap saat dengan produk ponsel lain yang lebih laku. Sementara TELE tidak bisa melakukan hal yang sama, kecuali jika nanti di masa depan perusahaan mampu memperoleh hak distribusi untuk merk ponsel lainnya.
2. Pangsa pasar: ERAA memiliki pangsa pasar yang lebih sempit, karena rata-rata produknya dijual pada harga yang lumayan mahal sehingga hanya bisa dibeli oleh kalangan menengah keatas, yang populasinya tentu lebih sedikit ketimbang kalangan menengah kebawah. Meski demikian, karena perubahan trend di pasar ponsel high end pada saat ini terbilang tinggi, dimana merk-merk seperti Blackberry, iPhone, iPad dan Samsung GTab secara rutin merilis varian produk baru setiap beberapa waktu sekali, maka konsumen pun seperti dipaksa untuk kembali membeli produk baru tersebut. Dan keinginan konsumen untuk selalu up to date terhadap produk ponsel terbaru ternyata tidak dipengaruhi oleh gejolak ekonomi, setidaknya kalau pakai pengalaman tahun 2008 lalu dimana pendapatan dan laba bersih ERAA dan juga lainnya bisa tetap tumbuh (kalau kejadiannya seperti tahun 1998, mungkin baru ceritanya akan berbeda).
Sementara TELE memiliki pangsa pasar yang lebih luas karena menyasar segmen low end, dan pangsa pasar seperti ini hampir bisa dipastikan akan selalu aman dari perubahan dalam perekonomian. Sayangnya, TELE hanya memegang hak distribusi untuk satu merk ponsel saja, sehingga TELE memiliki banyak pesaing. Dan sejauh ini, merk ponsel TiPhone juga tampaknya bukan merupakan pemimpin pasar di segmen low end.
3. Fokus produk: ERAA lebih banyak menjual ponsel, sehingga marginnya terbilang lumayan. Pada Semester I 2012, ERAA mencatat OPM 4.8%. Sementara TELE lebih banyak menjual voucher pulsa, sehingga marginnya relatif kecil. Pada Kuartal I 2012, TELE mencatat OPM 3.3%. Untuk produk voucher pulsa, kembali TELE bergantung pada tiga operator selular, yakni Telkomsel, Flexi, dan XL Axiata. TELE tidak menjual voucher pulsa dari Indosat, Esia,  Tri, ataupun Axis.
4. Prospek kedepan: ERAA berpeluang untuk menikmati masa keemasan dari produk ponsel high end dalam beberapa tahun kedepan, dan itu sebabnya perusahaan rajin membuka outlet baru di berbagai kota, termasuk mengakuisisi iBox. Karena tidak hanya anak muda, saat ini orang dewasa pun senang menggunakan produk-produk smartphone dan PC Tablet keluaran Research in Motion/RIM (Blackberry), Apple, dan Samsung. Sementara TELE kemungkinan hanya akan menikmati pertumbuhan yang cenderung biasa-biasa saja, kecuali, sekali lagi, jika perusahaan mampu menambah portofolio merk ponsel atau jenis voucher pulsanya.
5. Risiko: Meski ERAA memegang banyak merk ponsel dalam portofolionya, namun hak untuk melanjutkan atau memberhentikan kerjasama dengan perusahaan produsen sepenuhnya dipegang oleh pihak perusahaan produsen sebagai prinsipal merk, sehingga ERAA sewaktu-waktu bisa kehilangan hak-nya sebagai distributor untuk beberapa merk ponsel. Lalu, mengingat bahwa sebagian besar ponsel yang dijual ERAA adalah produk impor, maka pendapatan dan laba perusahaan sangat tergantung pada fluktuasi Rupiah. Dan karena ponsel pada saat ini merupakan produk fashion, maka pendapatan perusahaan akan mengikuti trend minat konsumen dan bergantung pada faktor musiman. Terakhir, produk-produk gadget seperti Blackberry, Apple, dan Samsung, adalah sasaran empuk dari para penjual di pasar gelap alias black market. Mungkin anda sendiri bisa melihatnya di internet, banyak yang menawarkan produk Blackberry yang masuk ke Indonesia dengan tidak melalui bea cukai, sehingga harganya lebih murah. Meski hal ini tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan ERAA, karena konsumen juga biasanya lebih suka membeli produk smartphone dan PC Tablet di toko resmi (karena bergaransi dan juga relatif tidak berisiko terkena tipu), namun hal ini tetap berpotensi mengganggu kinerja perusahaan.
Untuk TELE, risiko terbesarnya adalah jika terjadi pemutakhiran teknologi yang signifikan, karena produk TiPhone sendiri tidak bisa dijamin akan selalu compatible dengan perkembangan sistem operasi Android terbaru (mayoritas produk smartphone dan tablet TiPhone menggunakan sistem operasi Android), karena Android bukan dimiliki oleh TiPhone, melainkan Google. Berkaitan dengan hal ini, maka penjualan produk TiPhone juga sangat rentan pada perubahan selera konsumen. Sementara untuk produk voucher pulsa, perusahaan relatif tidak menghadapi risiko berarti, kecuali risiko persaingan karena TELE hanya menjual voucher pulsa Telkomsel, Flexi, dan XL Axiata. Tapi untungnya, ketiga merk operator selular tersebut, terutama Telkomsel, merupakan pemimpin pasar. Dan untungnya pula, TELE lebih banyak menjual voucher pulsa ketimbang ponsel.
Kesimpulannya, dengan mempertimbangkan seluruh aspek yang bisa diperhatikan, maka saham ERAA lebih menarik ketimbang TELE jika tujuannya adalah untuk investasi jangka panjang. Dalam setahun ke depan, ERAA mungkin akan mencapai posisi 4,000. Tapi masalahnya disini adalah, saham ERAA sudah naik banyak dalam beberapa bulan terakhir, hasil dari kinerja apik-nya di Kuartal I dan II 2012, dan pada saat ini valuasinya relatif mahal. Alhasil, akan cukup berisiko jika anda masuk di harga sekarang, karena kalau berdasarkan historisnya, biasanya saham ERAA akan turun sekitar 10% dari new high-nya untuk kembali ke pola teknikalnya. Tapi jika anda berminat pada saham ini, maka tidak ada salahnya untuk mulai menyicil dari sekarang.
Satu hal lagi. Meski prospeknya cerah, dan risikonya juga relatif rendah, namun ERAA memiliki satu risiko lagi yang berpotensi menurunkan kinerja perusahaan secara signifikan, yakni: Kebijakan pemerintah.Mungkin anda masih ingat kalau beberapa waktu lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, sempat menyatakan akan memboikot produk-produk Blackberry di Indonesia, karena prinsipal Blackberry, RIM, menolak untuk mendirikan server disini. Meski akhirnya Mr. Tifatul nggak jadi memboikot Blackberry, namun tidak ada jaminan bahwa kedepannya Pemerintah tidak akan memboikot produk ponsel tertentu, tidak cuma Blackberry tapi juga lainnya. Dan jika pemboikotan tersebut atau semacamnya benar-benar terjadi, maka tentunya itu akan berdampak luar biasa terhadap kelangsungan bisnis ERAA, jadi anda tetap harus hati-hati.

Terus bagaimana dengan satu lagi perusahaan telepon selular, yaitu Global Teleshop (GLOB)? Kenapa kok nggak ikut dianalisis? Well, mengingat GLOB baru listing kemarin banget, yaitu tanggal 10 Juli 2012, maka emiten yang satu ini belum merilis banyak dokumen kecuali laporan keuangan (LK), sehingga belum bisa dianalisis secara komprehensif, meski memang LK-nya sekilas cukup bagus. Tapi kalau kita perhatikan likuiditas sahamnya sih, GLOB termasuk kurang likuid ya, sama seperti TRIO dan SKYB. Tapi mungkin nanti akan kita bahas lagi di lain kesempatan.
Oke, penulis kira segitu aja dulu. Dan oh ya, dalam kesempatan ini penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada anda, teman-teman investor dan pembaca setia blog Analisis Saham Independen, atas kebersaman yang telah terjalin selama ini, karena blog ini tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa dukungan yang sangat berharga dari anda sekalian :) Tak terasa kebersamaan ini telah berjalan selama lebih dari dua tahun, dan penulis sangat berharap bahwa kebersamaan kita ini akan terus berlanjut hingga tahun-tahun atau bahkan puluhan tahun kedepan. Sekalian, mumpung lagi dalam suasana lebaran, penulis mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk berbagai kekurangan dan kesalahan yang dilakukan selama ini, baik yang disengaja maupun tidak, dan semoga kedepannya kesalahan-kesalahan tersebut bisa diperbaiki sehingga anda bisa semakin memperoleh manfaat dari berbagai artikel yang disajikan di blog sederhana ini, amiiiinn..
IKLAN: Ebook 40 rekomendasi saham edisi Semester Pertama 2012 (1H12) sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini.

Perbandingan Bank Mandiri, BRI, dan BCA

Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), dan Bank BCA (BBCA) sejak dulu merupakan tiga bank terbesar di Indonesia dari sisi nilai aset, dan sampai sekarang juga masih demikian. Pada akhir Kuartal II 2012, total aset dari ketiga bank tersebut tercatat Rp1,454 trilyun, atau mewakili sekitar 38.0% total aset perbankan di Indonesia per akhir Mei 2012. Bagi para pelaku pasar, saham dari ketiga bank tersebut selalu menarik untuk dipakai trading, karena likuiditasnya yang sangat bagus. Sekarang, bagaimana fundamentalnya?

Secara umum baik BMRI, BBRI, maupun BBCA, tiga-tiganya memiliki fundamental yang cukup baik. Berikut adalah rangkuman rasio keuangan penting dari ketiga bank tersebut untuk periode First Half 2012 (1H12). Sebelumnya bagi anda yang belum tahu, catat bahwa untuk rasio CAR, ROA, ROE, dan NIM, semakin besar angkanya berarti semakin bagus. Sementara untuk rasio NPL Gross dan BOPO, berlaku sebaliknya, yakni semakin kecil angkanya berarti semakin bagus.
Ratios (%)
CAR
ROA
ROE
NIM
NPL Gross
BOPO
BMRI
16.2
3.4
25.2
5.4
2.0
64.6
BBRI
16.0
4.9
36.9
8.5
2.4
61.8
BBCA
14.7
3.5
29.0
5.3
0.5
65.4
Kita mulai dari Capital Adequacy Ratio (CAR) alias Rasio kecukupan modal. Dalam hal ini, BMRI merupakan bank dengan struktur permodalan yang paling kuat diantara ketiganya, dengan CAR mencapai 16.2%. Thanks to right issue-nya beberapa waktu lalu. Tapi yang juga menarik untuk dicermati adalah CAR dari BBRI, yang tercatat 16.0%. Angka tersebut naik cukup signifikan dibanding First Half 2011 sebesar 14.9%, dan itu bukan karena right issue, melainkan karena manajemen menerapkan strategi pengurangan dana pihak ketiga (DPK), terutama deposito yang berstatus sebagai dana mahal, sembari terus meningkatkan posisi equity (modal bersih). Good job, I think.
Tiga rasio berikutnya, yaitu ROA, ROE, dan NIM, merupakan rasio profitabilitas dari bank yang bersangkutan, dimana semakin besar angkanya berarti semakin baik kemampuan si bank dalam hal mencetak laba. Dalam hal ini BBRI unggul jauh dibanding dua pesaingnya, dengan ROA 4.9%, ROE 36.9%, dan NIM 8.5%. Sementara rasio profitabilitas BMRI dan BBCA cenderung setara, namun BBCA sedikit lebih baik.
Sementara terkait NPL Gross, alias rasio kredit macet, BBCA yang menjadi jawaranya dengan rasio yang sangat kecil, yaitu hanya 0.5%. Sementara BMRI dan BBRI, keduanya mencatat NPL Gross yang agak jelek, yaitu 2.0 dan 2.4%, yang berarti BBRI merupakan bank yang relatif berisiko terkena likuidasi dibanding kedua pesaingnya, namun itu setara dengan profitabilitas BBRI yang juga lebih tinggi ketimbang BMRI dan BBCA.
Terakhir, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), dimana ketiga bank besar ini sama-sama mencatat rasio BOPO di angka 60-an persen, namun BBRI boleh mengklaim sebagai bank dengan kinerja paling efisien diantara ketiganya, dengan BOPO terkecil yakni 61.8%.
Terus, bagaimana dengan pertumbuhan alias growth dari ketiga raksasa perbankan ini? Okay, berikut adalah persentase pertumbuhan dari laba bersih, modal bersih, dan nilai kredit yang disalurkan secara Year on Year (First Half 2012 berbanding First Half 2011):
Growths (%)
Net Profit
Equity
Credit Portfolio
BMRI
13.7
18.5
27.6
BBRI
28.2
33.5
16.0
BBCA
10.5
22.6
42.2
Total
18.3
24.2
26.6
Okay, kalau dilihat dari sisi pertumbuhan laba bersih, rata-rata 18.3% terbilang melambat jika dibandingkan puncaknya pada tahun penuh 2010 lalu (Full Year 2010 atau FY10), dimana ketika itu rata-rata pertumbuhan laba bersih dari ketiga bank diatas mencapai 37.4%. Berikut detailnya, angka dalam milyaran Rupiah:
Net Profit
FY10
FY09
Growth (%)
BMRI
9,278
7,155
29.7
BBRI
11,472
7,308
57.0
BBCA
8,479
6,807
24.6
Total
29,229
21,270
37.4
Equity
FY10
FY09
Growth (%)
BMRI
41,543
35,109
18.3
BBRI
36,673
27,257
34.5
BBCA
34,108
27,857
22.4
Total
112,324
90,223
24.5
Tapi memang, kalau dari sisi pertumbuhan modal bersih, rata-rata pertumbuhan 24.2% pada saat ini masih sama dengan tahun 2010 lalu, yaitu 24.5%. Secara keseluruhan bisa dibilang kalau pertumbuhan trio BMRI, BBRI, dan BBCA pada saat ini masih oke, hanya saja tidak sekencang satu setengah tahun lalu. Dalam hal pertumbuhan laba dan modal bersih ini, BBRI masih merupakan yang terbaik.
Sementara kalau dari nilai kredit yang disalurkan, BBCA merupakan bank yang paling jor-joran dalam menyalurkan pinjaman dalam setahun terakhir ini, sehingga portofolio kreditnya pun melesat 42.2%. Namun mungkin karena BBCA menetapkan suku bunga dasar kredit (SBDK) yang relatif rendah, yaitu hanya 9.0% untuk kredit korporasi (bandingkan dengan 9.75% milik BBRI, dan 10.0% milik BMRI), maka pertumbuhan laba bersihnya pun hanya 10.5%. Tapi kalau BBCA bisa mempertahankan pertumbuhan kreditnya, maka mungkin kedepannya laba bersihnya akan tumbuh pesat lagi.
Lalu apa saja aksi korporasi dan peristiwa penting yang dilakukan dan dialami ketiga bank ini dalam setahun terakhir? Here we go:
Bank Mandiri: Pada tanggal 13 Oktober 2011, BMRI mengumumkan bahwa perseroan menyertakan modal pada PT Asuransi Dharma Bangsa (ADB), sebuah perusahaan asuransi, dengan nilai penyertaan Rp60 milyar. Pasca transaksi, BMRI menjadi memegang 62.1% saham ADB, dan sisanya sebesar 36.4 dan 1.5%, masing-masing dipegang oleh Dana Pensiun Bank Mandiri I (DPBM I), dan PT Estika Yasakelola. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk masuk ke bisnis asuransi.
Pada tanggal 18 Oktober 2011, BMRI menerima gugatan hukum dari sebuah perusahaan bernama PT Jakarta International Mandiri Centre (JICM), dimana BMRI diminta untuk melepas aset berupa dua bidang tanah seluas total 17 ribu meter persegi di Tegalsari, Surabaya, dan Menteng, Jakarta Pusat. Menurut JICM, Pengadilan Negeri Surabaya telah menerbitkan penetapan sita yang berkekuatan hukum tetap, yang memerintahkan BMRI untuk menyerahkan dua bidang tanah tadi kepada JICM. Hanya sehari kemudian, BMRI melalui kuasa hukumnya menolak gugatan tersebut dengan alasan bahwa kasusnya masih dalam proses peninjauan kembali. Hingga saat ini belum ada kelanjutan dari sengketa tersebut.
Pada tanggal 22 November 2011, BMRI menandatangani perjanjian penyediaan fasilitas perbankan bagi Perum Pegadaian. Bagi BMRI, kerjasama ini bertujuan untuk memperkuat posisi perseroan di segmen e-transaction banking.
Pada tanggal 29 Desember 2011, BMRI menambah modal pada Bank Syariah Mandiri (BSM) sebesar Rp300 milyar, sehingga BMRI menjadi memegang total 232 juta lembar saham BSM dengan nilai nominal Rp1.16 trilyun. Dengan demikian, BMRI menjadi masuk lebih dalam ke bisnis perbankan syariah.
Bank BRI: Pada tanggal 6 Februari 2012, BBRI mengumumkan transaksi afiliasi dimana perseroan mengakuisisi BRIngin Remittance Co. Ltd. (BRC), dengan nilai transaksi HK$ 1.9 juta, dari PT BRIngin Jiwa Sejahtera (BJS), dimana BJS merupakan anak usaha dari BBRI di bidang asuransi jiwa. BRC sendiri merupakan perusahaan remittance (pengiriman uang) yang bermarkas di Hong Kong, dimana disana terdapat sekitar 140 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang rutin mengirim uang ke Indonesia. Tujuan dari transaksi ini adalah agar BBRI bisa memegang dan mengendalikan BRC secara langsung, dan tidak lagi melalui BJS.
Pada tanggal 18 April 2012, BBRI mengumumkan perkembangan terbaru dari proses pengambil alihan Bank Agro (AGRO), dimana hingga akhir Maret 2012, BBRI telah memegang 79.8% saham AGRO. Dengan demikian BBRI masih akan terus melakukan proses tender offer saham AGRO, hingga kepemilikannya di AGRO menjadi sesuai dengan perjanjian akuisisi, yakni 83.7%.
Bank BCA: Pada tanggal 24 Juni 2011, BBCA menandatangani perjanjian sewa untuk lantai 32 dari gedung Menara BCA, dengan masa sewa selama 24 tahun plus 1 bulan, dimulai sejak tanggal 1 September 2011, dengan harga sewa US$ 13.5 per meter persegi per bulan, belum termasuk PPN. Gedung Menara BCA sendiri dimiliki oleh PT Grand Indonesia (GI). Baik BBCA maupun GI sama-sama berada dibawah naungan Grup Djarum, sehingga transaksinya merupakan transaksi afiliasi. Bagi BBCA, tujuan dari transaksi ini adalah untuk menyediakan tambahan ruang bagi pemekaran unit kerja di kantor pusat perseroan, dimana sebelumnya BBCA hanya menyewa basement, ground floor, lower ground, lantai 12 – 29, dan lantai 30 – 31 dari Menara BCA (Btw, dari transaksi ini penulis baru tahu kalau Menara BCA yang di Bundaran HI itu ternyata tidak dimiliki oleh Bank BCA, melainkan dimiliki oleh perusahaan lain yang masih berada dibawah Grup Djarum).
Pada tanggal 15 September 2011, BBCA mengakuisisi 75% saham PT Dinamika Usaha Jaya (DUJ), sebuah perusahaan sekuritas, dari PT Poly Kapitalindo (PK). PK merupakan perusahaan dibawah naungan Grup Djarum, sehingga transaksi akuisisinya merupakan transaksi afiliasi. Tujuan dari akuisisi tersebut adalah untuk meletakkan DUJ dibawah BBCA, dimana Grup Djarum berencana mengubah nama DUJ menjadi PT BCA Securities, pada tahun 2013 nanti.
Nah, selanjutkan silahkan anda nilai sendiri bagaimana prospek dari aksi-aksi korporasi diatas. Terakhir, kita lihat valuasi saham dari tiga emiten perbankan ini, berdasarkan posisi penutupan tanggal 3 Agustus 2012:
Valuation
Price (Rp)
PER (x)
PBV (x)
BMRI
8,300
13.5
2.9
BBRI
7,000
9.7
3.1
BBCA
7,700
17.7
4.2
Berdasarkan LK terbaru per 1H12, valuasi PER dan PBV bagi ketiga saham diatas masih relatif sama seperti sebelumnya, dimana BBRI masih merupakan saham termurah, sementara BBCA termahal. Mahalnya saham BBCA bisa dipahami mengingat statusnya sebagai bank terpopuler di Indonesia, sehingga meskipun nilai asetnya lebih kecil ketimbang BMRI dan BBRI, dan kinerjanya relatif biasa-biasa saja, namun Bank yang didirikan oleh Om Liem ini memiliki nilai lebih berupa nama besar.
Namun kalau berdasarkan fundamentalnya seperti yang sudah kita bahas diatas, maka saham BBRI tentu saja tetap lebih menarik, baik untuk tujuan trading maupun investasi long term. Hanya saja, berdasarkan LK terbarunya ternyata PBV BBRI masih berada diatas 3.0 kali kalau pada harga 7,000, tepatnya 3.1 kali. Nggak mahal sih, tapi seharusnya anda bisa masuk di harga yang lebih murah. Jika nanti IHSG terkoreksi, maka seperti biasa, BBRI bisa turun ke 6,000 – 6,400, atau lebih rendah lagi. Saat itulah anda bisa masuk untuk kemudian duduk santai menunggu dia naik ke 7,000-an kembali. Tapi jika anda sudah megang BBRI sejak awal, yaitu sejak di harga 6,000-an, maka tentu boleh hold.
Lalu bagaimana dengan BMRI dan BBCA? Well, penulis kebetulan jarang mengamati pergerakan kedua saham tersebut, jadi tips trading-nya terserah anda saja.

We’re Still Walking, not Running

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca ekspor impor untuk periode semester pertama 2012. Hasilnya, total nilai ekspor Indonesia untuk semester pertama 2012 turun 1.8% dibanding periode yang sama tahun 2011, dari US$ 98.6 milyar menjadi hanya US$ 96.9 milyar. Kalau anda perhatikan, nilai ekspor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir jarang sekali mencatat pertumbuhan minus, alias nyaris selalu naik pada setiap bulannya. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi. Jika dulu neraca ekspor impor kita juga senantiasa surplus (nilai ekspor lebih besar dari impor) dengan selisih yang besar, maka sekarang selisih tersebut tidak lagi besar, sehingga bisa berbalik menjadi defisit sewaktu-waktu. Pada semester pertama 2012, Indonesia hanya mencatat surplus perdagangan US$ 476 juta.


Penyebab dari tertekannya surplus tersebut adalah karena nilai impor telah tumbuh cukup kencang, tepatnya mencapai 15.3%, sementara nilai ekspor, seperti sudah disebut diatas, malah sedikit turun. Dari sepuluh komoditas utama untuk ekspor (diluar migas), yang nilai ekspornya turun adalah crude palm oil (CPO), karet, bijih logam, kertas, dan pakaian jadi. Untuk CPO, penurunan tersebut kemungkinan disebabkan karena perusahaan-perusahaan CPO mulai lebih banyak menjual produknya ke pasar domestik, seiring dengan terus meningkatnya permintaan. Sementara untuk bijih logam, ketentuan pajak ekspor yang berlaku sejak bulan lalu sepertinya mulai memaksa para perusahaan tambang bijih nikel, timah, emas, dan sebagainya, untuk mengerem produksi dan lebih fokus pada upaya pembangunan smelter.

Sementara ekspor batubara, barang-barang elektronik, mesin-mesin, dan sparepart kendaraan, masih naik dengan persentasenya masing-masing. Ekspor batubara masih bisa naik karena tidak dikenai pajak seperti bijih logam. Hanya saja, pertumbuhannya kini hanya 14.5% (dari US$ 12.2 menjadi 14.0 milyar), yang mungkin disebabkan karena penurunan harga jual batubara  belakangan ini. Berdasarkan data dari GlobalCoal, harga batubara jenis Australian Thermal Coal pada saat ini hanya US$ 89 per ton, jauh dibawah puncaknya beberapa waktu lalu yaitu US$ 127 per ton. Sementara harga batubara asal Indonesia biasanya lebih murah lagi, karena kadar airnya cenderung lebih banyak.

Lalu apa pentingnya mencermati data ekspor impor tersebut? Nah, anda tentu masih hafal dengan isu kenaikan harga kedelai impor, yang berujung pada kelangkaan tempe dan tahu, atau setidaknya begitulah yang diberitakan di televisi. Bagi penulis, pemberitaan tersebut mengingatkan bahwa kita, Indonesia, mau tidak mau memang harus mengimpor berbagai jenis barang untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk bahan pangan, karena kita tidak mampu memproduksinya sendiri. Dan tidak cuma bahan pangan (termasuk kedelai), tapi untuk barang-barang lainnya juga kita mengimpor. Mungkin contohnya simpel saja: Penulis mengetik artikel ini menggunakan laptop dengan tulisan ‘Made in China’ dibelakangnya. Dan setahu penulis, dari sekian banyak mobil dan motor yang memenuhi jalanan Jakarta setiap harinya, tidak ada satupun diantaranya yang dibuat disini, kecuali hanya dirakit. Bersyukurlah anda kalau masih bisa beli beras Pandanwangi di supermarket, karena bagi rakyat kecil yang hanya bisa membeli beras di pasar tradisional, mereka terpaksa mengkonsumsi beras impor asal Thailand yang kualitasnya ‘asal bisa dimakan’. Sayangnya beras impor ini seringkali lebih banyak beredar di pasar ketimbang beras lokal, karena harganya lebih murah.

Indonesia bukannya tidak punya komoditas andalan untuk diekspor, karena kita memiliki setidaknya tiga jenis komoditas utama untuk diekspor, yaitu migas, CPO, dan batubara. Namun untuk migas, sejak tahun 2007 nilai ekspornya sudah lebih kecil ketimbang impor, sehingga Indonesia sudah tidak bisa lagi disebut sebagai negara pengekspor migas. Untuk CPO, cepat atau lambat peningkatan konsumsi minyak goreng dkk di dalam negeri akan menyebabkan kita tidak bisa mengekspor CPO lagi. Satu-satunya yang masih jadi andalan ekspor adalah batubara, dan itupun karena PLN masih belum mampu secara penuh untuk menghadirkan listrik di seluruh penjuru nusantara.

Kita tahu bahwa neraca ekspor impor yang surplus akan mendorong keseimbangan pertumbuhan GDP, atau disebut juga pertumbuhan ekonomi. Sementara neraca yang defisit bisa mengganggu keseimbangan tersebut. Pada tahun 2011 lalu, kita baru saja mencapai pertumbuhan ekonomi 6.5%, atau salah satu yang tertinggi sejak krisis 1998, dan itu boleh dikatakan sebagai sebuah prestasi. Namun, apakah prestasi tersebut hanya sampai disitu saja? Maksud penulis, okelah angka 6.5% tersebut mungkin cukup baik, tapi dimana letak akselerasinya? Dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia seringkali digadang-gadang akan menjadi kekuatan ekonomi baru Asia, menyusul ‘kesuksesan’ Tiongkok dan India. Akan tetapi dua negara tersebut, Tiongkok dan India, pernah mencatat pertumbuhan ekonomi tertingginya masing-masing 13.0 dan 9.7%. Sementara Indonesia? Baru saja mencapai ‘prestasi’ 6.5%, sekarang sudah turun lagi menjadi hanya 6.3%. Penyebabnya, seperti yang bisa anda lihat diatas, karena kita memang kekurangan barang untuk dijual keluar negeri. Sementara masyarakat di dalam negeri terus menerus berbelanja produk-produk impor, bukan karena mereka tidak cinta produk Indonesia, tapi lebih karena terpaksa.

Tahukah anda, bahwa Unilever Indonesia (UNVR) tidak membuat produk-produknya disini, melainkan mengimpornya dari Thailand? Tapi penulis yakin dalam hal ini UNVR tidak sendirian.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, seperti yang anda ketahui, lebih banyak atau bahkan memang hanya ditopang oleh konsumsi domestik. Tapi setinggi apapun level konsumsi domestik tersebut, jika tidak dibarengi dengan catatan surplus perdagangan yang signifikan, maka hanya akan mendorong kenaikan GDP hingga segitu-gitu saja, dalam hal ini 6 – 7%. Dan ‘prestasi’ tersebut tentunya tidak perlu dicapai dengan kerja keras Pemerintah, karena seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, maka level konsumsi akan meningkat dengan sendirinya. Negara autopilot, kalau para politisi BSH bilang.

Lalu apa inti dari artikel ini?

Barusan, penulis selesai mengecek sekitar empat ratusan laporan keuangan untuk periode first half 2012 yang dirilis para emiten di BEI. Hasilnya, hanya sebagian kecil saja yang mencatat kinerja menonjol. Selebihnya, mengecewakan. Bisa dibilang rata-rata emiten besar di BEI mulai mengikuti jejak Telkom (TLKM) selama ini, yaitu mencatat kinerja yang stagnan, atau masih tumbuh namun tidak lagi dengan angka pertumbuhan yang signifikan. Kalau penulis ingat-ingat lagi tahun 2009 dan 2010 lalu, ketika itu banyak sekali emiten yang mencatat kinerja istimewa, sehingga di market terdapat banyak pilihan saham yang bisa dikoleksi untuk invest jangka panjang. Istilahnya ketika itu asalkan anda nggak pegang saham-saham Bakrie, maka anda sudah hampir pasti bakal untung. Tapi kalau untuk sekarang ini, maka anda harus lebih jeli dalam memilih saham, termasuk untuk tujuan trading.

Dan kalau hal ini dikaitkan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dialami Indonesia, maka kinerja para emiten yang stagnan tersebut memang bisa dijelaskan. Lalu apa itu karena ruang tumbuh para perusahaan sudah mulai terbatas? Oh, jelas tidak. Anda bisa tanya pakar ekonomi manapun di dunia, mereka akan sepakat bahwa Asia Tenggara, termasuk Indonesia di dalamnya, masih menjanjikan peluang pertumbuhan yang signifikan, dengan peluang sektornya masing-masing.

Satu-satunya penyebab kita masih saja nggak bisa menyusul Tiongkok dan lainnya, atau setidaknya yang penulis amati, adalah karena Pemerintahnya juga cenderung do nothing. Mereka maunya yang gampang-gampang saja, misalnya mengatur kebijakan fiskal seperti pajak, bea, dan cukai. Contohnya yang baru saja diberlakukan kemarin: Untuk mendorong hilirisasi produk tambang di dalam negeri, kebijakan yang  diberlakukan adalah pajak ekspor untuk bijih logam. Ketika Indonesia krisis kedelai, kebijakan yang dilakukan juga hanya menghapus bea masuk. Pemerintah memang mengatakan bahwa mereka juga akan mendorong produksi kedelai dalam negeri. Tapi seingat penulis, bukannya dulu juga di Indonesia pernah terjadi kenaikan harga kedelai impor? Kalau ketika itu produksi kedelai lokal sudah dinaikkan, lalu kenapa sekarang kita masih ngimpor?

Anyway, dalam hal ini penulis juga nggak ada bedanya dengan ‘komentator’ lainnya, yang cuma bisa mengeluh tanpa bisa membantu apa-apa. Penulis sendiri kalau berada di posisi para Menteri yang hebat-hebat itu, belum tentu juga bisa do something. Tapi yang ingin penulis katakan disini adalah, setelah lewat enam bulan, sepertinya di tahun 2012 ini perekonomian Indonesia masih belum akan kemana-mana, termasuk IHSG juga belum akan kemana-mana, persis seperti yang kita prediksikan di akhir tahun 2011 lalu. Ketika artikel ini ditulis, IHSG dengan gagahnya berada di posisi 4,100-an, tapi itu hanya karena didorong oleh masuknya asing, sehingga cuma soal waktu saja ia akan turun kembali.

Kalau bicara jangka panjang, penulis masih percaya bahwa kita semua (Indonesia) masih bisa terus tumbuh hingga menjadi besar, dan IHSG juga bukannya tidak mungkin akan mencapai posisi 5,000, suatu hari nanti. Tapi semua itu memerlukan waktu, dan kalau melihat progress-nya dalam 1 – 2 tahun terakhir ini, maka sepertinya kita masih harus menunggu lebih lama. We’re still walking, not running, tapi mudah-mudahan nggak sampai ‘going nowhere’.

NB: Ebook analisis kuartalan edisi semester pertama 2012 akan terbit tanggal 13 Agustus mendatang. Anda bisa membelinya disini.

Astra Group, First Half Results

Grup Astra adalah salah satu grup usaha yang terbilang cepat dalam merilis laporan keuangan (LK) mereka, setiap kuartalnya. Per hari ini, tanggal 27 Juli 2012, hampir seluruh emiten Grup Astra yang terdaftar di BEI sudah merilis LK-nya masing-masing untuk periode semester pertama 2012 (1H12), kecuali Bank Permata (BNLI). Mengingat bahwa Grup Astra juga merupakan salah satu grup usaha terbesar di Indonesia, dengan total market cap yang mencapai Rp412 trilyun, maka tentunya selalu menarik untuk mencermati kinerja mereka dari waktu ke waktu. Berikut adalah rangkuman kinerja lima emiten Grup Astra untuk periode 1H12.


Stocks
Price
Trading Value
Net Profit Growth
EAR
ROE
PBV
PER
EAR + ROE
(Rp)
(billion Rp)
(%)
(%)
(%)
(x)
(x)
(%)
ASII
6,650
111.1
12.7
47.1
28.2
3.3
13.9
13.3
UNTR
21,150
155.5
21.4
57.9
20.8
2.7
12.8
12.0
AALI
22,550
24.6
(24.4)
72.4
24.3
4.3
18.5
17.6
AUTO
3,650
0.8
9.4
62.7
23.1
2.8
13.3
14.5
ASGR
1,380
2.8
32.2
44.1
25.3
3.3
13.2
11.1
Average
55,380
10.8
51.0
25.9
3.2
14.8
13.2
Catatan:
1. Posisi IHSG ketika tabel diatas dibuat adalah 4,068
2. Angka ‘Average’ mungkin tidak akurat, mengingat kinerja ASII tidak bisa diakumulasikan dengan kinerja keempat emiten lainnya, karena ASII berstatus sebagai perusahaan induk dari keempat emiten lainnya tersebut. Namun angka average tersebut tetap berguna untuk melihat kinerja Grup Astra secara keseluruhan, minus BNLI.
Oke, kita mulai analisisnya dari pertumbuhan laba bersih. Secara keseluruhan, Grup Astra mencatat pertumbuhan laba bersih 10.8%, sementara ASII sendiri mencatat angka 12.7% untuk indikator yang sama. Ini angka yang mengecewakan sebetulnya, mengingat bahwa standar sebuah perusahaan bisa dikatakan tumbuh jika laba bersihnya naik minimal 20%. Namun dua emiten Astra masih mencatat kenaikan laba bersih diatas 20% tersebut, mereka adalah United Tractors (UNTR), dan Astra Graphia (ASGR). Saham ASGR sendiri telah naik cukup signifikan dalam enam bulan terakhir, tepatnya 33%. Sementara UNTR justru sebaliknya, yaitu telah terkoreksi sekitar 24% dalam enam bulan terakhir. Jika dilihat dari valuasinya, maka praktis UNTR pada saat ini lebih menarik ketimbang ASGR. UNTR mungkin masih tertekan belakangan ini, karena selain sentimen di sektor batubara yang masih jelek, beberapa waktu lalu juga perusahaannya baru saja menggelar right issue.
Astra Agro Lestari (AALI) menjadi satu-satunya anggota Grup Astra yang mencatat pertumbuhan laba bersih yang minus, tepanya 24.4%. Meski demikian, AALI masih berstatus sebagai unit usaha yang paling menguntungkan di Grup Astra, dengan EAR dan ROE masing-masing 72.4% dan 24.3%. AALI sendiri sebenarnya mencatat kenaikan volume penjualan CPO dan Kernel masing-masing 13.7% dan 37.6% sepanjang semester pertama 2012. Namun karena harga jual CPO dan Kernel turun masing-masing 1.6% dan 34.2%, maka jadilah pendapatan AALI hanya tumbuh 6.6%. Karena beban pokok perusahaan naiknya lebih tinggi, maka kemudian laba bersih AALI menjadi turun.
Saat ini di Bursa Malaysia, harga CPO tercatat masih dibawah level RM3,000 per ton, tepatnya RM2,905 per ton. Sejak mencapai puncaknya pada level RM3,900-an per ton, awal tahun 2011 lalu, hingga kini harga CPO memang masih stagnan, bahkan cenderung tertekan (beberapa waktu lalu sempat stabil di level RM3,200 per ton). Ini sebenarnya agak anomali, mengingat volume produksi CPO Indonesia, produsen CPO terbesar di dunia, pada tahun 2011 lalu hanya tumbuh 9% dibanding 2010, yang salah satunya karena moratorium pembukaan lahan. Sementara tingkat konsumsi CPO di pasar domestik, kenaikannya lebih tinggi, yaitu mencapai 16.2%.
Tapi seperti yang kita ketahui, harga suatu komoditas tidak selalu hanya dipengaruhi oleh supply dan demand, tetapi juga ekspektasi, rumor, dan sebagainya. Bersamaan dengan tertekannya harga CPO belakangan ini, harga komoditas lainnya yang bisa dijadikan substitusi bagi CPO, seperti minyak biji bunga matahari, jagung, dan kedelai, semuanya naik. Kalau menurut penulis, nanti akan ada gilirannya bagi CPO untuk kembali ‘naik panggung’ untuk menyingkirkan para pesaingnya tersebut. Mungkin itu juga yang kemudian menyebabkan saham AALI tetap stabil diatas level 20,000-an, dan PER-nya tetap cenderung mahal, yaitu 18.5 kali.
Yang mungkin juga menarik untuk diperhatikan adalah ASII dan Astra Otoparts (AUTO). Dua saham ini, seperti yang kita ketahui, melakukan stocksplit beberapa waktu lalu. ASII dengan rasio stocksplit 1 : 10, sementara AUTO 1 : 5. Harapannya, agar sahamnya lebih likuid. Tapi kenyataannya? Nilai trading value ASII sekarang ini malah lebih rendah dari UNTR. Sementar AUTO juga masih saja tidak likuid sama sekali. Penulis belum mengecek apakah saham-saham lainnya yang di-stockplit juga mengalami hal yang sama, tapi yang jelas kalau kita pake sampel dua saham diatas, maka kelihatannya aksi stocksplit tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan likuiditas sebuah saham.
Secara keseluruhan, saham-saham Grup Astra masih merupakan saham-saham termahal di bursa, dengan PBV dan PER dikisaran 3 dan 15 kali. Wajar, karena selain reputasinya yang mentereng, kinerja mereka juga masih oke dengan mencatat ROE 26%. Hanya memang, pertumbuhannya mulai melambat, seiring juga dengan IHSG yang sejak setahun terakhir masih terpaku di level 4,000-an.
Btw, dalam bukunya yang berjudul ‘Chairul Tanjung si Anak Singkong’, Mr. Chairul mengatakan bahwa ia pernah tertarik untuk membeli saham ASII di tahun 1999, setahun setelah terjadinya krisis moneter. Ketika itu saham ASII cuma dihargai Rp175, dan Mr. Chairul punya dana segar Rp240 milyar, hasil keuntungan dari operasional Bank Mega. Namun setelah berkonsultasi dengan Dirut ASII ketika itu, Rini Soewandi, Mr. Chairul nggak jadi beli ASII karena Ibu Rini masih pesimis dengan keadaan ekonomi saat itu.
Padahal kalau saja ketika itu uang Rp240 milyar milik Mr. Chairul dibelikan saham ASII di harga Rp175, maka sekarang uang itu sudah bernilai Rp91.2 trilyun! Dan itu bahkan belum termasuk dividen trilyunan Rupiah yang sudah dibagikan dalam tiga belas tahun terakhir ini. Tapi penulis yakin Mr. Chairul bukan satu-satunya pengusaha yang menyesal tidak membeli ASII ketika itu.
Anyway, ASII kini sudah mature, sehingga potensi pertumbuhannya sudah lebih terbatas. But it’s okay. Masih banyak calon-calon ASII lainnya yang terdapat di BEI, dan tugas kita hanya mencari dan menemukannya saja.

Indonesia, IMF, and US$ 1 Billion Loan

Tanggal 10 Juli kemarin, Christine Lagarde, Managing Director dari International Monetary Fund (IMF), datang ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden SBY dan beberapa petinggi negara. Di akhir pertemuan, diperoleh kesepakatan bahwa Bank Indonesia (BI) akan membeli obligasi yang diterbitkan oleh IMF, senilai US$ 1 milyar. Atau dengan kata lain, BI akan memberi hutang kepada IMF. Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Radjasa, mengatakan bahwa BI akan meminjamkan US$ 1 milyar kepada IMF menggunakan dananya sendiri, bukan mengambilnya dari APBN.

Mengingat bahwa BI bukanlah BUMN dan juga tidak terletak dibawah otoritas Pemerintah Republik Indonesia (RI), maka sebenarnya kurang tepat kalau kemudian dikatakan bahwa Indonesia akan memberikan utang kepada IMF. Adalah BI yang akan memberikan utang tersebut menggunakan dana miliknya sendiri, bukan Pemerintah dengan menggunakan APBN. Lalu siapa pemilik BI? Sebenarnya tidak jelas, mengingat BI bukanlah korporasi sehingga tidak menerbitkan saham yang kemudian dipegang oleh pihak tertentu. Namun karena BI tidak dimiliki oleh Pemerintah, maka BI tidak bertanggung jawab kepada Pemerintah. Yup, BI adalah lembaga independen, termasuk Gubernur BI juga bukan merupakan anggota kabinet. Meski demikian dalam melakukan berbagai kegiatannya, termasuk dalam menentukan Gubernur sebagai pimpinan tertinggi di BI, maka BI tetap harus meminta persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dalam hal ini Komisi XI.
Kembali ke topik pinjaman US$ 1 milyar tadi. Gubernur BI, Darmin Nasution, mengatakan bahwa BI hanya akan memberikan pinjaman tersebut, jika dana atau fund yang dimiliki IMF turun menjadi dibawah US$ 100 milyar. Sementara pada saat ini, posisi fund yang dimiliki IMF adalah US$ 436 milyar, jauh diatas batas minimum US$ 100 milyar tadi, yang itu berarti kecil kemungkinannya BI akan memberikan pinjaman. Oleh IMF sendiri, pinjaman dari BI tersebut akan ditempatkan sebagai ‘second line defense’, yang hanya akan digunakan jika ‘first line defense’ jebol. Jebol oleh apa? Tidak hanya oleh Krisis Eropa, tapi juga kemungkinan krisis dari benua lainnya.
Jadi kesepakatan ini adalah sekedar untuk jaga-jaga alias just in case. BI belum tentu akan memberi pinjaman kepada IMF, kecuali dalam kondisi yang benar-benar gawat, dimana kemungkinan terjadinya kondisi tersebut terbilang kecil.
Tapi mungkin, ada pesan yang lebih mendalam ketimbang sekedar ‘just in case’. Sebab tidak hanya Indonesia, IMF juga meminta ‘bantuan’ yang kurang lebih serupa dari dua tetangga kita, Malaysia dan Thailand. Dalam press release yang dikeluarkan IMF disebutkan bahwa: The ASEAN region has a strong interest and stake in stable global growth.  We support the broad-based international cooperative effort to increase the resources of the IMF for precautionary and crisis resolution purposes.  Indonesia, Malaysiaand Thailandwill undertake the necessary domestic consultations to join this international effort.’
Intinya, IMF memandang bahwa kawasan ASEAN, terutama Indonesia, Malaysia, dan Thailand, pada saat ini sedang mengalami pertumbuhan perekonomian yang stabil, yang diharapkan dapat berkontribusi terhadap perekonomian global. Oleh karenanya, ketiga negara tersebut akan ambil bagian dalam kerjasama internasional yang diselenggarakan oleh IMF, untuk melakukan tindakan pencegahan atau resolusi krisis.
Lalu apakah Indonesia, Malaysia, dan Thailand memiliki cukup kapasitas untuk membantu IMF, jika kondisi terburuk benar-benar terjadi? Mungkin, tidak juga. Misalnya, katakanlah fund yang dimiliki IMF kemudian benar-benar menurun hingga kurang dari US$ 100 milyar, sehingga BI kemudian jadi memberikan pinjaman US$ 1 milyar tadi. Nah, apakah dana sebesar US$ 1 milyar tersebut bisa menolong IMF? Jelas tidak, karena dana US$ 1 milyar tersebut tentunya kelewat kecil kalau dibandingkan minimum dana yang harus dimiliki oleh IMF, yang sebesar US$ 100 milyar tadi. Begitu juga jika Malaysia dan Thailand menyumbang masing-masing US$ 1 milyar, maka hanya akan terkumpul US$ 3 milyar. Memang sih, duit US$ 3 milyar jelas gede banget, itu setara dengan Rp27 trilyun lho. Tapi apalah artinya uang segitu bagi IMF, yang pada saat ini memegang dana US$ 436 milyar? IMF terlalu besar untuk bisa dibantu dengan ‘recehan’ seperti itu. Jika trio Indo-Malay-Thai benar-benar berniat untuk membantu IMF, maka mereka seharusnya memberi pinjaman yang lebih besar dari itu, katakanlah masing-masing US$ 10 milyar.
Kesimpulannya, penulis lebih melihat kalau kesepakatan pemberian pinjaman oleh BI kepada IMF ini lebih merupakan upaya untuk melahirkan opini bahwa ‘Indonesia is now in great economy’, mengingat bahwa BI sendiri kecil kemungkinannya akan memberikan pinjaman tersebut. Dalam hal ini, IMF mungkin sengaja menempatkan ASEAN, termasuk Indonesia didalamnya, di ‘posisi yang tinggi’. Pertanyaannya, untuk apa?
2012 versus 1998
Kalau di tahun 2012 ini kita ditempatkan di posisi yang tinggi, maka dulu di tahun 1998, kita berada di posisi yang rendah. Oke, kita runut kronologisnya. Pada Juni 1997, perekonomian Indonesia tampak masih baik-baik saja, dengan surplus perdagangan lebih dari US$ 900 juta, cadangan mata uang asing senilai US$ 20 milyar, pertumbuhan ekonomi diatas 7%, dan seterusnya.
Kemudian pada Juli 1997, BI sebagai otoritas moneter di Indonesia, memperlebar rentang perdagangan Rupiah dari 8% menjadi 12%, dan itu membuat pergerakan Rupiah terhadap US Dollar menjadi lebih fluktuatif. Sebelum diberlakukannya kebijakan tersebut, Rupiah berada di posisi Rp2,380 per US$, dan setelahnya mulai jatuh ke Rp3,000 – 4,000 per US$. Agustus 1997, BI sekali lagi mengeluarkan kebijakan, kali ini mengganti sistem pertukaran mata uang yang sebelumnya dikendalikan oleh otoritas berwenang, menjadi sistem pertukaran mata uang secara bebas sesuai mekanisme pasar. Intinya, BI lepas tangan terhadap pergerakan Rupiah, dan Rupiah pun anjlok lebih dalam.
Masih di tahun yang sama, tepatnya November 1997, para perusahaan merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal III 1997. Dan ketika itu barulah efek dari penurunan nilai Rupiah yang terjadi sejak Juli tampak dengan jelas, dimana puluhan bahkan ratusan perusahaan, terutama mereka yang memiliki utang dalam mata uang US$, mengalami kerugian besar akibat tingginya beban utang beserta bunganya yang harus mereka bayar. Para pelaku pasar yang mengetahui hal ini menjadi panik, dan mulai menjual saham secara besar-besaran, lalu duitnya dipakai untuk membeli mata uang US$. IHSG seketika hancur berantakan, dan Rupiah pun jatuh semakin dalam. Krisis moneter pun resmi dimulai. Pada Februari 1998, Presiden Soeharto memecat Gubernur BI, Soedrajad Djiwandono, namun semuanya sudah terlambat. Rupiah terus turun, hingga akhirnya Pak Harto sendiri mengundurkan diri sebagai Presiden pada Mei 1998. Pada Juli 1998, Rupiah rata-rata berada di posisi Rp14,150 per US$.
Pertanyaannya, apa yang menyebabkan pelemahan Rupiah, yang kemudian berlanjut pada krisis, padahal kondisi perekonomian Indonesia di bulan Juni 1997 relatif baik-baik saja? Lemme answer: I do NOT know! Tapi yang jelas, Rupiah ketika itu tidak sendirian. Beberapa mata uang lainnya seperti Baht (Thailand), Peso (Filipina), dan Ringgit (Malaysia), juga melemah terhadap US$, meski memang Rupiah yang paling parah. Baht, contohnya, mulai dihantam pelemahan pada Mei 1997, setelah terjadi serangkaian aksi spekulasi yang menaikkan nilai mata uang US$ di dalam negeri Thailand. Di Malaysia, hal yang sama terjadi namun dengan cara yang berbeda, dimana overnight rate mendadak naik dari 8% menjadi 40%, hanya beberapa hari setelah Baht mulai melemah. Kenaikan overnight rate tersebut memicu aksi penjualan saham di bursa Kuala Lumpur (KLSE) dan mata uang Ringgit secara besar-besaran. Di Filipina, Bangko Sentral ng Pilipinas (BI-nya Filipina) juga menaikkan overnight rate dari 15% menjadi 35%, dan hasilnya Peso langsung jatuh.
Kesimpulannya, krisis moneter ASEAN dipicu oleh penyebab yang nyaris serupa untuk tiap negara: Pelemahan mata uang lokal terhadap US Dollar. Pertanyaannya sekali lagi, apa atau siapa yang jadi penyebabnya? Kalau dari uraian diatas, maka untuk Indonesia dan Filipina, penyebabnya adalah kebijakan dari Bank Sentral di negara yang bersangkutan. Tapi kalau itu benar, kenapa BI melakukannya?
Apapun itu, yang jelas ketika terjadi krismon, IMF masuk untuk memberikan paket bailout ke Indonesia dan Thailand, sebesar masing-masing US$ 23 dan 17 milyar. Dari keempat negara diatas, memang Indonesia dan Thailand-lah yang krisisnya paling parah. Thailand cenderung pulih lebih cepat, dimana pada tahun 2003, Thailand melunasi pinjamannya ke IMF. Sementara Indonesia baru melunasi pinjaman IMF pada tahun 2006.
Sekarang ini, ASEAN termasuk Indonesia sedang dalam kondisi ekonomi prima. Rupiah pun stabil di Rp9,000-an per US$. Namun di Eropa sana, terutama sejak tahun 2010 lalu, mata uang Euro (€) terus melemah terhadap US$. Ketika artikel ini ditulis, Euro berada di posisi €1.20 per US$, padahal normalnya 1.55 per US$. Dan yap, seperti yang anda ketahui, saat ini Eropa sedang dilanda krisis. Kabar terakhir, IMF memberikan paket bailout untuk Spanyol, dengan nilai US$ 46 milyar.
IMF, Central Bank, and Monetary Policy
Krisis 1998 dikenal dengan istilah krisis moneter atau krismon. Apa itu moneter? Simpelnya, moneter adalah pengendalian terhadap jumlah uang yang beredar (money supply), yang juga berarti pengendalian terhadap nilai tukar mata uang, dan pengendalian terhadap nilai suku bunga pinjaman dan simpanan. Hampir di setiap negara di dunia, kebijakan terkait moneter dipegang penuh oleh bank sentral-nya masing-masing. Krisis 1998 disebut krisis moneter, karena ketika itu jumlah uang yang beredar di masyarakat, baik dalam bentuk Rupiah maupun US Dollar, terbilang tidak terkendali, dimana Rupiah bertebaran dimana-mana sementara US$ sangat sulit ditemukan (masih ingat dengan lagu Aku Cinta Rupiah oleh artis cilik Cindy Cenora?). Demikian pula dengan suku bunga, yang naik turun secara liar dan cenderung spekulatif. Mengingat bahwa kebijakan moneter merupakan tanggung jawab dari Bank Sentral, maka yang bertanggung jawab atas krisis moneter, tidak lain dan tidak bukan adalah Bank Sentral, dalam hal ini BI.
Dan ketika itu, IMF tiba-tiba saja muncul entah dari mana untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis yang kemungkinan terjadi karena ulah dari Bank Sentral-nya sendiri.
Saat ini Pemerintah Indonesia tidak lagi memiliki utang kepada IMF. Namun Indonesia memiliki utang kepada World Bank alias Bank Dunia, dimana pada tanggal 31 Desember 2010, posisi utang Indonesia kepada WB adalah US$ 1.7 milyar, belum termasuk pinjaman multilateral (pinjaman yang diberikan WB secara sindikasi bersama dengan lembaga keuangan lainnya). World Bank, seperti yang kita ketahui, adalah twin sister dari IMF.
IMF sendiri, setelah cukup lama menghilang, kemarin kembali berhubungan dengan Indonesia (baca: BI), kali ini dalam kapasitas sebagai ‘pemohon dana’, sehingga otomatis menempatkan Indonesia ‘di posisi yang tinggi’. Kita tidak pernah tahu apa tujuan IMF melakukan hal tersebut, tapi yang jelas kedua lembaga ini yaitu IMF dan BI, suka atau tidak, memiliki kuasa penuh dalam menentukan arah ekonomi Indonesia. Angka-angka yang bagus pada indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dll, tidak akan berarti sama sekali kalau Rupiah mulai diutak atik.
Contoh simpel saja: Berdasarkan data dari BPS, pada akhir tahun 2011 pendapatan per kapita Indonesia adalah Rp31.8 juta, atau setara US$ 3,542 kalau pake kurs Rp8,978 per US$, naik 17.7% dibanding tahun 2010 sebesar US$ 3,010. Nah, kalau kurs Rupiah pada akhir tahun 2011 bukanlah Rp8,978 per US$, melainkan dibuat melemah hingga Rp15,000 per US$, maka hasilnya? Pendapatan per kapita Indonesia akan tetap Rp31.8 juta, tapi tidak lagi setara dengan US$ 3,542, melainkan hanya US$ 2,120, atau turun hampir 30% dibanding tahun 2010. Pendapatan per kapita tersebut kalau dalam Rupiah memang naik, namun karena Rupiah itu sendiri nilainya turun terhadap mata uang dunia, yaitu US Dollar, maka pendapatan per kapita Indonesia tetap dianggap turun. Dan itulah yang terjadi pada tahun 1998, dimana GDP kita terkoreksi hingga 13.7%.
Jadi, kunci dari pengendalian atas perekonomian suatu negara terletak pada nilai tukar mata uangnya, dimana hal itu menjadi otoritas Bank Sentral. Tapi, bukankah BI dikontrol oleh DPR RI Komisi XI? Yup, benar. Tapi dengan profil para anggota dewan yang ‘kaya gitu’, penulis ragu kalau sistem kontrol tersebut berjalan dengan baik. 
Nah, dengan mengasumsikan bahwa IMF sekarang ini tengah sibuk berurusan dengan Eropa, maka mudah-mudahan kesepakatan pemberian pinjaman dari BI bagi IMF itu berarti bagus, alias ‘kita nggak akan diapa-apain’, setidaknya untuk saat ini. Sebelumnya salah satu orang Indonesia juga memperoleh kehormatan untuk menempati posisi bagus di World Bank sebagai Managing Director. Dia adalah Ibu Sri Mulyani Indrawati.
Hanya saja belakangan ini kalau penulis perhatikan, perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai rajin lagi dalam mencari pinjaman dari luar negeri, yang tentu saja dalam mata uang US$. Sementara mereka memperoleh pendapatannya dalam mata uang Rupiah. Ini tentu saja nggak bagus, dimana kalau Rupiah kumat sedikit saja, maka pendapatan para perusahaan tersebut akan langsung rontok. Krisis moneter 1998 sebenarnya tidak perlu terjadi andaikata para perusahaan tidak memiliki terlalu banyak utang dalam mata uang asing.
Namun meminjam ke bank lokal dalam mata uang Rupiah juga tidak dianjurkan, karena bunga pinjaman disini kelewat tinggi. Jadi bagaimana? Ask the policy maker!
NB: Rekomendasi saham bulanan edisi Agustus akan terbit tanggal 1 Agustus mendatang, anda bisa memperolehnya disini.

Seminar!

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan seminar, yang kali ini dengan tema ‘What if WarrenBuffett Invests in Indonesia’. Seminar ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 28 Juli 2012.


Tema seminar kali ini difokuskan pada pembelajaran dari Warren Buffett, sang investor guru. Buffett, seperti kita ketahui, sangat sukses sebagai seorang investor saham. Namun beliau berinvestasi di pasar saham Amerika, dimana kondisi perekonomian dan sebagainya disana tentu berbeda dengan disini, di Indonesia. Nah, seminar ini akan mengupas tips-tips investasi ala Warren Buffett, yang sudah dimodifikasi dan disesuaikan dengan karakteristik pasar saham Indonesia.

Seminar ini terdiri dari pemaparan materi yang diselingin dengan tanya jawab dengan penulis sebagai pengisi materi. Yah intinya sih, ntar kita ngobrol-ngobrol santai aja, ga usah dibawa terlalu seriuuss.
Berikut Informasi terkait acaranya, kurang lebih sama saja seperti seminar-seminar sebelumnya:
  • Tempat: Kantor BNI Securities cabang Central Park, APL Tower Ground Floor, Podomoro City, Jln. Jend. S. Parman Kav. 28, Jakarta Barat.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 28 Juli 2012
  • Waktu: Pukul 11:00 s/d 16:30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Minuman ringan.
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acara dimulai.
Seminar ini tidak dipungut biaya, alias gratis! Termasuk juga anda tidak dipungut biaya makan siang, karena panitia memang tidak menyediakan, soalnya bulan puasa. Namun anda tetap bisa makan siang di foodcourt dekat lokasi acara, pada jam istirahat yaitu pukul 12.15 – 13.00. Diluar itu, panitia tetap menyediakan minuman ringan.
Oke, anda bisa mendaftar melalui contact person berikut:
  • Retno, 021 – 29034215
  • Farid, 021 – 70207015
  • Daftar via SMS, 081586624777
Bagi anda yang sudah pernah ikut seminar sebelumnya, diharapkan untuk tidak ikut lagi agar memberi tempat kepada temen-temen yang lain, karena beberapa materinya kurang lebih sama aja kok. Dan sekedar catatan, penulis nggak kerja di BNI Securities, melainkan pihak BNIS memang cukup sering memfasilitasi tempat untuk orang-orang yang hendak bikin acara seminar seperti penulis (BNIS juga suka meng-organize acara seminar untuk pembicara lainnya).
Okay, demikian, sampai jumpa di lokasi!

Btw, berhubung seminar untuk tanggal 28 Juli udah fully booked alias penuh, maka akan diselenggarakan lagi seminar yang sama di minggu berikutnya, pada hari Sabtu tanggal 4 Agustus. Materi, waktu, dan tempatnya tetap sama, dan anda masih bisa mendaftar untuk seminar tanggal tersebut. Revisi, untuk tanggal 4 agustus juga sudah penuh, jadi seminar berikutnya akan diadakan setelah Lebaran (tanggalnya belum ditentukan).

Ebook 40 edisi 1H12

Dear investor, seperti biasa setiap tiga bulan sekali, penulis akan bikin ebook kumpulan analisis (“Ebook 40”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2012, alias Semester Pertama 2012 atau First Half 2012 (1H12). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk investasi jangka menengah dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, maka untuk kali inipun penulis akan meminta masukan dari teman-teman investor, saham-saham apa saja yang akan kita bahas di edisi kali ini. Berikut kriteria dari saham-saham yang boleh diusulkan.
  1. Ukurannya perusahaannya gak terlalu kecil. Aset atau market cap-nya minimal atau mendekati Rp 1 trilyun atau US$ 100 juta.
  2. Sahamnya likuid. Jumlah transaksinya minimal 1 juta lembar per hari, atau 250 ribu lembar per hari untuk saham yang harganya diatas Rp10,000.
  3. Fundamentalnya baik, atau paling tidak kelihatannya demikian (untuk lebih detailnya nanti biar penulis yang menganalisisnya).
  4. Bukan saham gorengan. Salah satu ciri saham gorengan adalah mudah naik dan mudah turun secara drastis hingga belasan persen hanya dalam sehari, tanpa penyebab yang jelas.
  5. Bukan saham recehan apalagi gocapan. Rata-rata harganya dalam tiga bulan terakhir minimal Rp100.
Melalui komentar di bawah artikel ini, anda bisa mengusulkan antara satu hingga beberapa saham. Dan format komentarnya adalah menyebutkan kode sahamnya aja. Misalnya: AABB, CCDD, EEFF, dst. Penulis akan mencatat saham-saham yang paling banyak disarankan. Jika saham-saham tersebut memenuhi kelima kriteria diatas, penulis akan memasukannya sebagai salah satu saham yang diulas di Ebook 40 Edisi 1H12. Seperti biasa, jumlah saham yang akan dianalisis adalah 40 saham.
Jika tidak ada halangan, yaitu jika semua emiten merilis LK-nya tepat waktu, maka Ebook ini akan terbit pada hari Senin tanggal 13 Agustus 2012.
Dan mulai edisi kali ini, harga produk ebook ini diturunkan. Penjelasan selengkapnya bisa dilihat disini.
Untuk sekarang ini, jangan lupa ikutin pollingnya yak! Dan jika anda punya saran agar ebook ini menjadi lebih baik kedepannya, anda bisa mengirimnya ke alamat email penulis, teguh.idx@gmail.com, jangan melalui komentar disini. Insya Allah penulis akan menampung semua saran yang masuk.

Tiga Pilar Sejahtera Food

Industri apa yang paling kebal terhadap gejolak perekenomian baik dalam skala nasional maupun global? Jawabannya tentu, industri consumer goods, salah satunya industri makanan dan minuman. Rupiah boleh anjlok, IHSG boleh terpuruk, tapi orang-orang akan tetap butuh makan. Karena itulah bagi sebagian investor di BEI, mereka memiliki kebijakan untuk harus memegang minimal satu saham perusahaan consumer goods, dimana biasanya saham tersebut akan tetap stabil meski saham-saham yang lainnya berjatuhan. Nah, Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) adalah salah satu saham yang mungkin bisa dipertimbangkan sebagai saham yang harus dipegang tersebut.

AISA merupakan perusahaan makanan dengan sejarah yang cukup panjang. Awalnya pada tahun 1959, seorang pengusaha bernama Tan Pia Sioe mendirikan pabrik bihun jagung di Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan merk ‘Cap Cangak Ular’. Pada tahun 1978, Tan Pia Sioe wafat, dan usahanya diteruskan oleh putranya, Priyo Hadi Susanto. Tahun 1992, PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) secara resmi didirikan, dan tampuk pimpinan perusahaan diserahkan kepada Stefanus Joko Mogoginta, sementara Mr. Priyo tetap berada di belakang layar sebagai komisaris. Tidak ada informasi soal apakah Mr. Stefanus adalah putra ataukah keponakan dari Mr. Priyo, namun yang jelas direktur utama TPS tersebut adalah cucu dari Tan Pia Sioe.
Tahun 2001, TPS mulai masuk ke industri mie kering, dengan mendirikan pabrik mie kering di Sragen, Jawa Tengah, namun dengan tetap mempertahankan usaha produksi bihun jagung. Dua tahun berikutnya yaitu pada tahun 2003, TPS masuk lebih dalam ke industri mie kering ini dengan mengakuisisi PT Asia Inti Selera Tbk (AISA), sebuah perusahaan produsen mie kering dengan merk ‘Ayam 2 Telor’. Karena AISA merupakan perusahaan yang listing di BEI, maka akuisisi ini secara otomatis memasukkan TPS ke dalam bursa saham (backdoor listing). Nama PT Asia Inti Selera kemudian diubah menjadi PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA). AISA kemudian melakukan right issue pertamanya (PUT I), dimana saham hasil right issue tersebut resmi terdaftar di bursa pada tanggal 7 November 2003.
Hingga beberapa tahun berikutnya, AISA menjalankan bisnisnya dengan biasa-biasa saja, yaitu hanya memproduksi bihun jagung dan mie kering. Kemudian barulah pada tahun 2007, AISA mulai berekspansi, ditandai dengan perubahan logo perusahaan. Setahun berikutnya yaitu pada tahun 2008, perusahaan melakukan right issue keduanya (PUT II), dan meraup dana Rp327 milyar. Dana tersebut kemudian digunakan untuk mengakuisisi tiga perusahaan yaitu PT Poly Meditra Indonesia (PMI), PT Bumi Raya Investindo (BRI), dan PT Patra Power Nusantara (PPN). PMI adalah produsen makanan ringan seperti biskuit, mie snack, wafer, dan permen, sehingga kini AISA memiliki usaha di bidang makanan ringan. Sementara BRI dan PPN masing-masing adalah perusahaan produsen minyak goreng dan pembangkit listrik. Dengan memegang pasokan minyak goreng dan listrik milik sendiri untuk kebutuhan produksi berbagai jenis makanan, maka diharapkan bahwa kinerja AISA ke depannya akan menjadi lebih efisien, karena perusahaan berhasil menekan biaya produksi.
Ekspansi tersebut terus berlanjut. Tahun 2010, AISA mengakuisisi lima perusahaan perkebunan kelapa sawit, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku crude palm oil (CPO) bagi BRI. AISA juga masuk ke industri beras dengan mengakuisisi satu perusahaan perdagangan beras, dan satu perusahaan penggilingan gabah hasil panen menjadi beras. Dan pada tahun 2011, AISA kembali menyelenggarakan right issue (PUT III) untuk memperoleh dana bersih Rp690 milyar, dimana dana tersebut digunakan untuk mengembangkan kegiatan usaha, dan melunasi utang-utang karena akuisisi diatas. Pada tahun ini pula, AISA meluncurkan cukup banyak produk makanan ringan dengan berbagai merk, termasuk mengakuisisi merk makanan ringan ‘Taro’, dari Unilever Indonesia (UNVR).
Kedepannya, AISA masih punya segudang rencana pengembangan usaha. Di tahun 2012 ini, AISA fokus pada pengembangkan produk-produk makanan ringan dengan harga jual yang murah (Rp1,000 per bungkus), terutama di kategori biskuit dan cracker. Thanks to ketersediaan pasokan minyak goreng dan tenaga listrik milik perusahaan sendiri, sehingga biaya produksi menjadi rendah dan pada akhirnya harga jual produk juga bisa ditekan menjadi murah. Alhasil AISA memiliki pangsa pasar yang luas untuk produk-produk makanan ringannya, karena konsumen dari kalangan menengah ke bawah juga bisa membeli produk-produk tersebut.
Sementara di bidang perkebunan kelapa sawit, AISA tengah menanam pohon sawit pada lahan seluas 5 – 8 ribu hektar per tahun, sehingga perusahaan akan memiliki lahan tertanam sawit seluas total 45 ribu hektar pada tahun 2015. Perusahaan juga sedang membangun pabrik pengolahan CPO dengan kapasitas 30 ton fresh fruit bunch (FFB) per jam, dengan jumlah pabrik satu buah untuk setiap 6,000 hektar perkebunan. Jika prosesnya lancar, maka kedepannya tidak menutup kemungkinan AISA akan bisa menjual CPO atau minyak goreng dengan merk tersendiri. Namun untuk saat ini, AISA tidak menjual minyak gorengnya ke masyarakat, melainkan menggunakannya sebagai bahan baku produksi makanan ringan. AISA sebenarnya menjual sebagian FFB-nya ke perusahaan lain, namun nilai penjualannya terbilang kecil dibanding pendapatan perusahaan secara keseluruhan.
Terakhir, di bidang pengolahan beras, saat ini AISA tengah mengembangkan bisnis beras dengan target bisa memegang 5% pangsa pasar beras di seluruh Indonesia di tahun 2016. AISA akan mendirikan pabrik penggilingan gabah di sentra-sentra padi di Indonesia, hingga totalnya berjumlah delapan belas pada tahun 2016, dari hanya dua pabrik pada saat ini. Selain itu, saat ini AISA juga tengah bekerja sama dengan universitas-universitas untuk mengembangkan beras bervitamin, yang akan menjadikan beras yang diproduksi perusahaan memiliki nilai lebih dibanding beras biasa.
Well, sounds promising, right? Dengan demikian maka AISA akan punya bisnis di tiga bidang usaha sekaligus, yakni makanan ringan, minyak goreng, dan beras alias nasi. Lalu bagaimana dengan bisnis asli perusahaan, yaitu produksi bihun jagung dan mie kering? Sepertinya manajemen tidak punya rencana ekspansi untuk bisnis tersebut, kecuali tetap menjalankannya seperti biasa.
Oke, sekarang kita ke laporan keuangan. Pada Kuartal I 2012, AISA mencatat pendapatan Rp599 milyar (setelah dikurangi diskon, bersihnya Rp577 milyar), dengan perincian sebagai berikut: Rp106 milyar atau 17.8% berasal dari penjualan bihun dan mie kering, Rp162 milyar atau 27.1% berasal dari penjualan makanan ringan, Rp7 milyar atau 1.1% berasal dari penjualan buah sawit alias FFB, dan Rp324 milyar atau 54.0% berasal dari penjualan beras. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa pada saat ini dagangan utama AISA bukan lagi bihun dan mie kering, melainkan beras. Nilai penjualan beras tersebut juga telah tumbuh pesat dibanding periode setahun sebelumnya, yang hanya Rp109 milyar (kenaikannya hampir tiga kali lipat, sementara kenaikan pendapatan AISA sendiri secara keseluruhan hanya 64%). Itu adalah peningkatan yang sangat menjanjikan, mengingat AISA sendiri baru masuk ke industri beras pada tahun 2010. Apalagi, kita semua tentu tahu bahwa beras atau nasi adalah makanan pokok orang Indonesia, sehingga konsumennya akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Saat ini AISA praktis merupakan perusahaan penggilingan dan perdagangan beras terbesar di Indonesia, diluar Bulog milik Pemerintah.
Kesimpulannya, dengan profil industri dan rencana ekspansi perusahaan yang sudah dibahas diatas, maka AISA ini tidak diragukan lagi merupakan perusahaan yang sahamnya sangat-sangat menjanjikan, terutama untuk koleksi long term. Saat ini sektor properti sedang booming, tapi kita tidak pernah tahu kapan booming tersebut akan berakhir. Demikian juga dengan sektor perbankan yang sempat jaya di tahun 2010 lalu, sekarang juga pertumbuhannya mulai melambat. Sementara beras? Sampai kiamat juga orang-orang akan tetap makan nasi. Begitu pula dengan bihun, mie kering, jajanan anak-anak, hingga minyak goreng, akan terus dikonsumsi oleh banyak orang, sehingga semuanya menawarkan pendapatan dan laba bersih yang konsisten untuk jangka panjang. So, what are you waiting for?
Namun, tetap terdapat beberapa hal yang perlu dicatat disini. Pertama, margin dari bisnis perdagangan beras ternyata kecil, sebab AISA tidak memiliki sawah sendiri, melainkan membeli gabah dari petani. Dalam public expose yang diadakan perusahaan pada 12 Juni lalu, manajemen mengakui bahwa jualan beras adalah kegiatan usaha yang aman kalau dari sisi volume (volume beras yang dijual tidak akan pernah turun), namun kurang menguntungkan kalau dari sisi margin. Manajemen sebenarnya sempat menyebutkan pula bahwa perusahaan telah memperoleh izin lokasi untuk lahan konsesi seluas 5,000 hektar di Kalimantan Barat, namun tidak dijelaskan apakah lahan itu akan dijadikan sawah atau apa.
Selain itu, AISA hanya menjual beras ber-merk, yaitu beras dalam kemasan 5 – 10 kg yang biasa kita temui di supermarket. Harga dari beras ber-merk ini cenderung lebih mahal ketimbang beras biasa, sehingga otomatis pangsa pasarnya menjadi terbatas. AISA tidak atau belum memiliki rencana untuk menjual beras biasa yang harganya tujuh ribu sekilo, yang mungkin karena memang tidak segampang itu juga kalau perusahaan mau jualan beras biasa. Beras, biar bagaimanapun merupakan kebutuhan utama masyarakat, dan menempati posisi pertama dalam daftar sembako. Artinya? Suplai-nya diatur oleh Pemerintah, dan itu berarti politik. Jadi dalam hal ini, AISA tidak mungkin bisa bersaing melawan Bulog.
Kedua, AISA boleh dikatakan telah mengambil keputusan tepat dengan masuk ke industri makanan ringan, karena ini juga merupakan industri yang tidak akan ada matinya. Namun, AISA akan berhadapan dengan banyak perusahaan yang jauh lebih mapan di bidang ini, sebut saja Garuda Food, Nabati, Kraft Foods, Wings Food, Nestle, Unilever, Siantar Top, Orang Tua, hingga Indofood. AISA boleh jadi sudah sangat kuat sebagai produsen bihun dan mie kering. Namun di bidang makanan ringan, perusahaan masih berstatus sebagai pemain baru. Merk-merk makanan ringan yang diproduksi AISA belum banyak dikenal masyarakat, dan mungkin itu pula yang menyebabkan perusahaan mengakuisisi merk snack ‘Taro’ dari Unilever, tapi kan AISA gak bisa sering-sering mengakuisisi merk snack dari perusahaan lain.
Tapi memang, AISA sudah mencoba mengatasi masalah ini dengan membajak salah satu petinggi Orang Tua Grup, Jo Tjong Seng, yang ditempatkan sebagai direktur branding dan marketing perusahaan. Keberadaan Mr. Jo diharapkan mampu membantu perusahaan dalam memperkenalkan merk-merk snack yang diproduksi perusahaan kepada masyarakat (brand campaign). Kita lihat bagaimana hasilnya nanti.
Ketiga, dan ini yang terpenting, berhubung hingga saat ini AISA masih dalam proses pengembangan usaha, maka hasilnya belum akan bisa dilihat dalam waktu dekat ini. Seperti sudah disebut diatas, target-target AISA untuk usaha perkebunan kelapa sawit dan perdagangan beras diperkirakan baru akan dicapai masing-masing pada tahun 2015 dan 2016. Perusahaan sendiri hanya mentargetkan laba bersih Rp200 – 250 milyar untuk tahun penuh 2012 ini. Katakanlah equity AISA pada akhir tahun 2012 mencapai Rp2 trilyun (pada Kuartal I 2012, equity AISA tercatat Rp1,886 milyar), maka itu berarti ROE-nya hanya 10% – 12.5%, sangat kecil untuk ukuran perusahaan consumer goods. Dari sisi pertumbuhan sebenarnya AISA mencatat track record yang cukup baik, terutama sejak perusahaan memulai ekspansinya pada tahun 2007. Termasuk di Kuartal I 2012, AISA juga mencatat kenaikan laba bersih 115.1% dibanding Kuartal I 2011, cukup signifikan. But still, pertumbuhan tersebut belum mampu mendorong AISA hingga menjadi perusahaan yang menguntungkan.
Lalu, masih terkait proses pengembangan usaha perseroan, sejak tahun 2007, AISA sudah melakukan dua kali right issue untuk memperoleh dana untuk akuisisi, yaitu pada Mei 2008 dan Desember 2011. Harga eksekusi right-nya hampir sama, yaitu Rp522 di 2008, dan Rp560 di 2011. Berapa harga saham AISA sekarang? Juga belum banyak berubah, yaitu 760. Masalahnya, berhubung kedepannya perusahaan masih membutuhkan banyak dana untuk memperluas jaringan distribusi produk makanan ringan, untuk menanam lebih banyak pohon sawit, dan untuk membangun pabrik-pabrik penggilingan gabah, maka bukan tidak mungkin perusahaan akan menggelar right issue lagi. Dulu juga perusahaan pernah mengkonversi utangnya menjadi saham, yaitu di tahun 2003, beberapa hari setelah AISA melakukan backdoor listing. Jika nanti perusahaan melakukannya lagi, maka itu tentunya akan mendilusi kepemilikan anda sebagai investor retail.
Kesimpulan akhirnya, prospek AISA ini sangat menarik, dimana perusahaan berpeluang untuk menjadi perusahaan makanan besar sekelas Indofood, suatu hari nanti. Namun proses ke arah sana masih memerlukan waktu, dan mungkin juga sedikit perjuangan ekstra dari tim manajemennya. Tapi satu hal yang cukup jelas, hingga saat ini AISA belum bisa disebut sebagai perusahaan dengan fundamental yang ‘berisi’. Termasuk dari total asetnya yang mencapai Rp3.5 trilyun, hanya Rp156 milyar yang merupakan saldo laba ditahan. So we’ll see next quarter, dan mudah-mudahan kita nggak perlu nunggu sampai tahun 2015.
Jadi, kembali ke pertanyaan diatas, apakah AISA bisa dipertimbangkan sebagai saham pegangan di sektor consumer goods? Penulis katakan, mungkin belum bisa, setidaknya kalau untuk saat ini. Kecuali jika nanti sewaktu-waktu AISA ini turun hingga dibawah 600, maka barulah dia bisa diambil. Pada posisi 600, PBV AISA sudah dibawah 1 kali, dan itu terbilang murah kalau kita mempertimbangkan track record of growth serta prospek dari perusahaan.

MNC Sky Vision

Dulu, layanan televisi berbayar (pay tv, atau disebut juga tv kabel) adalah layanan yang, bagi kebanyakan orang, sama sekali tidak menarik. Di Indonesia terdapat lebih dari sepuluh stasiun televisi swasta yang menyajikan berbagai macam tayangan secara gratis, jadi kenapa juga saya harus membayar hanya untuk menonton televisi? Namun sekarang ini, menonton acara stasiun televisi swasta adalah kegiatan yang membosankan bagi sebagian orang, karena acaranya kebanyakan nggak mutu, yakni kalau bukan acara gosip ya debat politik yang konyol. Alhasil, bagi orang-orang yang menginginkan tayangan yang berkualitas, maka pay tv bisa menjadi pilihan. Dan Mr. Hary Tanoesoedibjo, pemilik Grup Bhakti, sudah melihat peluang itu sejak tahun 1994, dimana ketika itu beliau mendirikan perusahaan penyedia layanan pay tv dengan merk Indovision.

Indovision adalah merk pay tv pertama di Indonesia, dan pada saat ini praktis merupakan pemimpin pasar di industri pay tv. Selain memegang Indovision, Grup Bhakti adalah juga pemilik pay tv dengan merk ‘Top TV’, dan ‘Okevision’, dimana kedua merk pay tv tersebut, dan juga Indovision, diletakkan dibawah satu perusahaan dengan nama MNC Sky Vision (MSKY). Dalam struktur perusahaan Grup Bhakti, MSKY diletakkan dibawah Global Mediacom (BMTR), sehingga MSKY boleh disebut sebagai saudara kembar dari Media Nusantara Citra (MNCN). Jika MNCN bergerak di industri media berbasis iklan, maka MSKY bergerak di industri media berbasis pelanggan (subscribers). MSKY sejatinya sudah didirikan sejak tahun 1988, namun baru beroperasi sebagai pemegang merk Indovision pada tahun 1994.
Sejak awal dirintisnya, Indovision sudah merupakan layanan pay tv untuk kalangan menengah keatas, sehingga industri ini cenderung rawan krisis. Setahun setelah diluncurkan, yaitu pada tahun 1995, Indovision mampu meraih 9 ribu pelanggan, dan meningkat menjadi 28 ribu pada tahun 1997. Tahun 1998, Indonesia dilanda krisis moneter, dan industri pay tv seketika mati suri. Barulah pada tahun 2002, jumlah pelanggan Indovision mulai meningkat kembali menjadi 30 ribu, dan pada tahun 2005 sudah menjadi 109 ribu. Sejak periode inilah, Indovision mulai ditantang oleh beberapa pesaing yang bermunculan, seperti Telkom Vision, First Media, dan Aora TV, namun Indovision tetap melaju sebagai pemimpin pasar.
Hingga barulah pada tahun 2008, setelah tekanan dari para pesaing tersebut semakin meningkat, MSKY meluncurkan merk pay tv baru untuk kalangan menengah kebawah dengan tarif berlangganan yang lebih murah, yaitu Top TV. Dan peluncuran Top TV ini terbilang sukses. Pada akhir tahun 2011, Top TV menguasai 17.8% pangsa pasar pay tv di Indonesia, atau merupakan pangsa pasar terbesar kedua setelah kakaknya, Indovision, yang menjadi pemimpin pasar dengan market share 53.3%. Selain Top TV, MSKY juga meluncurkan merk Okevision, namun Okevision sejauh ini baru mampu meraih pangsa pasar 2.6%, atau hanya lebih baik dibanding Aora TV.
Hingga akhir Januari 2012, trio Indovision, Top TV, dan Okevision, memiliki total 1.2 juta pelanggan, atau telah tumbuh lebih dari sepuluh kali lipat sejak tahun 2005. Namun pertumbuhan yang signifikan tersebut masih berpotensi untuk berlanjut, mengingat penetrasi layanan pay tv di Indonesia masih sangat rendah, yaitu hanya 4.8% dari jumlah penduduk Indonesia pada akhir tahun 2011 (dari seribu rumah tangga, hanya empat puluh delapan diantaranya yang berlangganan pay tv). Angka penetrasi tersebut merupakan salah satu yang terendah di Asia Pasifik, sehingga peluang pertumbuhannya masih terbuka lebar. Media Partner Asia, perusahaan konsultan riset media, memperkirakan bahwa pertumbuhan jumlah pelanggan pay tv di Indonesia hingga tahun 2016 nanti akan mencapai rata-rata 27% per tahun, dimana Indovision sebagai pemimpin pasar seharusnya bisa mencapai angka pertumbuhan yang lebih besar dari itu.
Sayangnya, terkait kinerja keuangan, pada akhir tahun 2011, MSKY hanya mencatat laba bersih komprehensif Rp65 milyar, cenderung kecil jika dibandingkan ekuitasnya yaitu Rp958 milyar (ROE-nya hanya 6.8%). Bandingkan dengan saudaranya, MNCN, yang mencatat ROE 16.5% di periode yang sama. Sementara dalam jangka panjang, MSKY juga mencatat kinerja yang kurang stabil, termasuk menderita kerugian Rp33 milyar di tahun 2008. Hal ini sekali lagi berbeda dengan kinerja MNCN yang cenderung stabil, dimana meski laba bersihnya juga sempat turun pada tahun 2008, tapi nggak sampai merugi.
Kesimpulannya, MSKY memiliki prospek yang cerah, dan keunggulannya dibanding para pesaingnya adalah pengalamannya sebagai perintis pertama di industri pay tv di Indonesia. Terbukti hingga kini merk Indovision dan Top TV merupakan pemimpin pasar di industri pay tv. Akan tetapi industri ini ternyata memiliki margin yang kecil, dan juga rentan terhadap krisis, yang mungkin karena layanan pay tv biar bagaimanapun bukan merupakan kebutuhan utama masyarakat, melainkan hanya sebatas menyajikan hiburan. Pay tv berbeda dengan stasiun televisi biasa, yang akan tetap ditonton orang-orang meski krisis sekalipun.
Penulis sendiri secara pribadi, pernah juga tertarik untuk berlangganan pay tv, karena sumpek dengan tayangan stasiun televisi biasa yang gitu-gitu melulu. Dan merk pertama yang terlintas di kepala adalah Indovision. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, manfaatnya apa sih? Toh saya juga lebih sering nongkrong di depan monitor laptop ketimbang televisi. Kalau cuma mau nonton film box office, di Youtube juga bisa kok!
Satu lagi, anda sebagai investor sebenarnya tidak perlu mengkoleksi saham MSKY jika anda tertarik untuk berinvestasi di sektor pay tv, melainkan bisa mengambil saham BMTR, karena MSKY sejatinya sudah terdaftar di bursa melalui induknya tersebut. Malah, penulis lebih merekomendasikan BMTR ini ketimbang MSKY, mengingat kinerja BMTR turut didukung oleh kinerja dari unit usaha utama Grup Bhakti, MNCN. Sepanjang tahun 2011, MNCN menyumbang 74% pendapatan BMTR, sementara MSKY hanya 24% (2% sisanya dikontribusikan oleh satu lagi anak usaha BMTR, yaitu PT Infokom Elektrindo).
Tapi, mungkinkah suatu hari nanti pendapatan dan profit margin MSKY akan setara atau bahkan lebih besar dibanding MNCN? Itu sih mungkin saja. Dulupun MNCN sempat diprediksi akan melempem di bursa, karena industri media termasuk televisi adalah industri yang susah. Gak gampang lho cari iklan buat acara televisi. Tapi kenyataannya kinerja MNCN terus melaju dalam beberapa tahun terakhir, dan demikian pula dengan sahamnya. Dan saham MNCN tidaklah sendirian, karena dua koleganya, Surya Citra Media (SCMA), dan Indosiar Karya Mandiri (IDKM), juga telah naik cukup banyak.
So, meski bisnis pay tv kelihatannya belum begitu menguntungkan kalau untuk saat ini, tapi di masa depan ceritanya bisa berbeda. Apalagi, kini MSKY punya dana segar Rp2.1 trilyun hasil dari IPO-nya, dimana 70% diantaranya juga memang akan digunakan untuk belanja modal dalam rangka mendukung kegiatan ekspansi perusahaan. Mr. Hary sudah terbukti sukses dalam memimpin trio RCTI, MNC-TV, dan Global TV hingga menjadi kelompok media televisi terbesar di Indonesia, dibawah bendera MNCN. Dan kalau melihat kemampuannya dalam membangun visi, maka bukan tidak mungkin beliau juga akan sukses dengan Indovision dan kawan-kawan, we’ll see.
Namun, Mr. Hary tidak hanya brilian dalam industri media, tapi beliau juga sangat hebat dalam hal mencetak uang dari pasar modal. Maklum, beliau mantan investment banker. Setelah dulu pada tahun 2007 beliau sukses meng-IPO-kan MNCN dengan perolehan dana yang ajib, yaitu Rp2.5 trilyun, kali ini beliau pun tanpa kesulitan mampu meraup Rp2.1 trilyun dari IPO MSKY (padahal ekuitas MSKY gak nyampe Rp1 trilyun). Harga IPO MSKY bisa-bisanya disetel pada level Rp1,520 per saham, padahal nilai nominalnya cuma Rp100 (selisihnya jauh banget!). Demikian pula ketika dulu MNCN IPO, harganya mencapai Rp900 per saham, padahal nilai nominalnya juga sama Rp100. Alhasil karena sejak awal valuasi sahamnya sudah sangat mahal, maka MNCN tidak mampu untuk langsung naik, melainkan terpaksa ‘menyesuaikan diri’ terlebih dahulu hingga ke posisi 300-an, atau 65% lebih rendah dari harga IPO-nya, sebelum kemudian baru naik terus hingga posisinya saat ini.
Jadi untuk MSKY, kemungkinan ceritanya juga akan sama: Terkoreksi terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan harga wajarnya, kemudian baru naik lagi, itupun dengan catatan kinerjanya meningkat pesat seperti yang diharapkan. Kalau penulis hitung, harga wajar MSKY cuma di sekitar 600 – 700 perak. MSKY tentunya bukan tidak mungkin bisa naik dalam waktu dekat, katakanlah hingga menembus level 2,000. Tapi kalaupun itu terjadi, maka cuma soal waktu saja sebelum dia akan turun kembali, sehingga keputusan untuk mengambil MSKY pada saat ini akan menjadi keputusan yang berisiko secara fundamental.
Kalau gitu, Mas Teguh, apa itu berarti sebaiknya saya ngambil saham MNCN saja? Mungkin, nggak juga, karena kalau penulis lihat sekilas sih, saham MNCN juga udah mulai mahal. Tapi detilnya akan kita bahas lagi kapan-kapan.

Alam Sutera Realty, Now & Future

Pada tanggal 2 Juli kemarin, Alam Sutera Realty (ASRI), perusahaan pengembang properti di wilayah Alam Sutera, Tangerang, Banten, mengumumkan bahwa perusahaan telah mengakuisisi sebuah perusahaan pengelola kawasan pariwisata Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, dengan nilai akuisisi Rp738 milyar (yang belakangan naik menjadi Rp813 milyar). Bagi ASRI, tujuan dari aksi korporasi ini adalah untuk mendiversifikasikan kegiatan usaha perusahaan, dimana ASRI kini punya usaha di bidang pariwisata. Namun masuknya ASRI ke GWK tersebut ditanggapi negatif oleh investor, dimana saham ASRI sempat merosot hingga posisi 455, meski sekarang sudah naik lagi ke posisi 480.

GWK adalah kawasan cultural park alias taman kebudayaan, yang terletak di Tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali. Objek wisata utama yang menjadi daya tarik taman tersebut adalah patung Dewa Wisnu yang sedang mengendarai Burung Garuda, dengan ukuran patung yang super-besar, yakni tinggi 145 meter dan lebar 64 meter. Namun meski pembangunan patung tersebut sudah dimulai cukup lama yaitu sejak tahun 1997, hingga kini patung tersebut belum selesai dibangun, kecuali hanya bagian-bagiannya saja yaitu kepala dan dada Dewa Wisnu, kepala Burung Garuda, dan tangan Dewa Wisnu, dan juga belum ada kejelasan soal kapan tepatnya patung tersebut akan selesai 100%. Mungkin inilah yang menyebabkan sebagian investor berpendapat bahwa ASRI keliru jika masuk menjadi pengelola kawasan GWK, karena GWK ini sejatinya belum siap beroperasi sebagai kawasan wisata.
Di keterbukaan informasinya, manajemen ASRI tidak memperinci manfaat dari pengambil alihan hak pengelolaan kawasan GWK, serta apa rencana perusahaan pasca akuisisi hak pengelolaan tersebut. Namun di prospektus perusahaan ketika menerbitkan notes senilai US$ 150 juta di Singapura, perusahaan mengatakan akan mengembangkan kawasan GWK dalam dua tahap. Tahap pertama, perusahaan akan melanjutkan pembangunan patung GWK hingga tuntas. Tahap kedua, perusahaan akan mengembangkan kawasan komersial di sekitar patung tersebut. Untuk biayanya, perusahaan sudah memperoleh pinjaman Rp900 milyar dari Bank BII, dimana Rp600 milyar diantaranya digunakan untuk akuisisi hak pengelolaan kawasan GWK, dan Rp300 milyar sisanya untuk pembangunan dua tahap tadi.
Yang penting untuk dicermati disini adalah, mungkin manajemen sedikit berspekulasi pada masalah penyelesaian patung GWK ini, dalam artian jika patung tersebut tidak pernah selesai, maka perusahaan akan tetap untung karena kawasan taman budaya GWK pada saat ini memang sudah menghasilkan pendapatan, minimal dalam bentuk tiket masuk pengunjung sebesar Rp30,000 per orang (dan Rp60,000 untuk turis asing). Yap, meski patung GWK belum selesai sepenuhnya, namun para wisatawan tetap akan tertarik untuk menyaksikan patung kepala Dewa Wisnu berukuran besar dengan tinggi 12 meter, dan juga patung Garuda dan patung tangan Dewa Wisnu.
Disisi lain, jika ASRI ternyata sanggup menyelesaikan patung GWK hingga berdiri sempurna setinggi 145 meter, katakanlah 7 atau 10 tahun dari sekarang, maka pendapatan perusahaan dari kawasan GWK ini bisa dipastikan akan melonjak hingga berkali-kali lipat, karena patung tersebut akan menjadi maha-monumen yang setara dengan objek wisata kelas dunia lainnya seperti Menara Eiffel, Piramida Mesir, ataupun Patung Liberty, terlebih Pulau Bali sendiri sejak dulu sudah sangat terkenal sebagai kawasan wisata populer di dunia. Harga tiket masuk GWK bisa dinaikkan hingga Rp300,000 bagi para turis asing, dan mereka akan tetap tidak keberatan untuk membayarnya.
Jadi dalam hal ini, meski tentunya akan sangat berat bagi ASRI untuk bisa meneruskan pembangunan patung GWK hingga berdiri sempurna, but it worth a try, because the prize is extraordinary. Bagi ASRI, hal ini juga nothing to lose, karena kalaupun pembangunan patung GWK tersebut terlalu sulit untuk dituntaskan, maka paling tidak mereka bisa mengembangkan kawasan komersial di kompleks GWK tersebut, dan itu tetap akan menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.
Satu hal yang perlu dicatat disini adalah, pengembangan GWK ini merupakan rencana jangka panjang perusahaan, sehingga mungkin karena itulah ASRI belum mau memperinci soal pengembangan apa saja yang akan dikerjakan di GWK ini, dan bagaimana prospek pendapatan dan laba bersih perusahaan pasca pengembangan tersebut. Yup, untuk saat ini ASRI hanya ‘menaruh deposito’ saja di GWK. Selain GWK, ASRI juga membeli beberapa bidang tanah di Sanur (Bali), Cianjur (Jawa Barat), Cibitung (Bekasi), dan Tanjung Pinang (Riau), yang juga tidak akan dikembangkan dalam waktu dekat ini.
Tapi kalau GWK tersebut merupakan rencana jangka panjang perusahaan, lalu apa yang akan dikerjakan ASRI dalam waktu dekat ini? Nah, ketika perusahaan menerbitkan notes senilai US$ 150 juta di Singapura (setelah dikurangi biaya ini itu, bersihnya sekitar US$ 142.2 juta), sebagian kecil dari uang tersebut (sekitar 20%) akan dipakai untuk meneruskan pengembangan properti di township (kawasan kota kecil terpadu) Alam Sutera.
Sementara sebagian besar dana hasil penerbitan notes (sekitar 80%), akan dipakai untuk mengakuisisi landbank (tanah kosong yang akan dikembangkan kemudian), di kawasan Pasar Kemis, Tangerang (plus sebagian kawasan Serpong, tapi lebih banyak ke Pasar Kemis). Yap, ASRI punya rencana besar di Kawasan Pasar Kemis, dimana perusahaan akan membangun township keduanya (setelah township Alam Sutera) di kawasan tersebut. Pasar Kemis sendiri terletak 15 kilometer seberah barat kawasan Alam Sutera. Per tanggal 31 Desember 2011, ASRI sudah memiliki landbank seluas 926 hektar di kawasan Pasar Kemis, yang bisa dipastikan akan bertambah setelah perusahaan memperoleh dana hasil dari penerbitan notes-nya. Perusahaan sengaja memilih kawasan Pasar Kemis ini, karena kawasan tersebut akan menjadi kawasan yang sangat strategis pada tahun 2015, seiring dengan selesainya pembangunan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road II (JORR II), dan Tangerang Outer Ring Road. Kawasan tersebut juga akan memiliki akses tol langsung ke Bandara Soekarno-Hatta dan Jalan Tol Jakarta – Merak.
Dan township Pasar Kemis itulah yang menjadi rencana utama pengembangan perusahaan, sementara GWK baru akan dikelola nanti. Yup, hingga saat ini ASRI masih fokus pada pengembangan kota satelit di tepi Ibukota Jakarta (sementara GWK, sekali lagi, akan dikembangkan nanti). Saat ini perusahaan tengah sibuk mengakuisisi banyak landbank di Kawasan Pasar Kemis (soalnya duit hasil penerbitan notes-nya sudah ditangan). Kedepannya mungkin ASRI akan mencari sumber pendanaan lagi untuk mulai membangun residential, apartemen, gedung perkantoran, hingga mall di kawasan Pasar Kemis tersebut. Kalau melihat track record perusahaan yang cukup sukses di kawasan Alam Sutera, maka kita boleh mengharapkan bahwa ASRI juga akan sukses di Pasar Kemis.
Nah, berikut adalah skenario terbaik yang mungkin dicapai ASRI dalam 10 tahun ke depan:
1. Setelah 3 tahun, township Alam Sutera menjadi salah satu township terbesar dan terlengkap di Indonesia
2. Setelah 5 – 7 tahun, township Pasar Kemis juga tumbuh menjadi kawasan township elit nan terkemuka di barat Jakarta, yang dikelilingi berbagai akses jalan tol, termasuk direct access ke bandara Soekarno-Hatta.
3. Setelah 7 – 10 tahun, Garuda Wisnu Kencana Cultural Park menjadi kawasan pariwisata kelas dunia, dengan objek wisata utamanya yaitu patung raksasa Dewa Wisnu yang sedang mengendarai Burung Garuda, setinggi 145 meter.
4. Sukses dengan proyek-proyeknya diatas, ASRI kemudian mulai melirik kembali ‘tabungan’ landbank mereka di Sanur, Cianjur, Cibitung, dan Tanjung Pinang. Jika ada peluang, maka mungkin perusahaan akan mulai membangun township ketiganya (paling dekat mungkin Cibitung).
Sementara skenario terburuknya? Well, penulis tidak mau membicarakannya, karena kalau perekonomian Indonesia terguncang sedikit saja, maka skenario diatas akan bubar seluruhnya. Soalnya industri properti adalah industri yang sangat rentan terhadap perubahan dalam ekonomi makro. Dulu pun ketika terjadi krisis moneter di tahun 1998, mau tidak mau kegiatan usaha ASRI harus berhenti, nyaris seluruhnya. Pasca krisis, perusahaan perlu waktu sembilan tahun untuk bisa bangkit kembali, dimana barulah pada tahun 2007, ASRI mulai membangun sejumlah perumahan dan ruko, sekaligus listing di BEI.
Tapi itu kalau kita bicara masa depan dalam jangka yang sangat panjang. Yang jelas untuk saat ini, kinerja terakhir ASRI per kuartal I 2012 masih sangat oke, dan pasca penurunannya setelah beredar cerita soal GWK kemarin, saat ini saham ASRI boleh dibilang sedang diobral. Lalu, prospeknya? Juga masih cerah, terutama terkait pembangunan sisa lahan di township Alam Sutera. Saat ini perusahaan tengah menyelesaikan pembangunan dan memasarkan Mall @ Alam Sutera, pusat makanan dan hiburan keluarga ‘Flavor Bliss’, Apartemen Silkwood Residences, Gedung Perkantoran 20 lantai, Kompleks Pasar Modern, dan Kawasan Pergudangan. Berbagai properti tersebut akan melengkapi fasilitas yang sudah ada di Township Alam Sutera, seperti sport center, club house, Rumah Sakit Omni, Masjid Nur Asmaa Husna, Gereja St. Laurensius, Sekolah St. Laurensia, Universitas Binus, hingga lapangan futsal dan paintball. What a lovely town!
Sementara untuk kawasan Pasar Kemis, perusahaan sudah mulai membangun dan memasarkan beberapa clusterperumahan, diantaranya cluster ‘Sutera Sitara’ dan ‘Suvarna Padi Golf Estate’. Bagaimana hasilnya? Kita lihat di laporan keuangan kuartal II nanti.

PT Alam Sutera Realty, Tbk.
Rating Kinerja pada 1Q12: AAA
Rating Saham pada 480: AA

Exploitasi Energi Indonesia

Jika anda memiliki sebuah perusahaan batubara dan hendak menambah penghasilan, apa yang bisa anda lakukan? Ada dua opsi. Pertama, mendirikan unit usaha kontraktor tambang batubara, dan juga usaha alat-alat berat (biar gak perlu nyewa lagi sehingga pengeluaran akan berkurang dan laba bersih meningkat). Dan kedua, mendirikan pembangkit listrik, jika batubara yang anda produksi adalah jenis thermal coal. Nah, Exploitasi Energi Indonesia (CNKO) adalah perusahaan batubara yang memilih opsi kedua. Meski demikian hingga sejauh ini, usaha pembangkit listrik yang dimiliki CNKO masih belum memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan perusahaan.

CNKO dulunya bernama PT Central Korporindo Internasional, dan bergerak di industri tambang batubara. Terhitung sejak tanggal 22 Maret 2010, perusahaan memperoleh Izin Usaha Pertambangan (IUP) berdurasi 5 tahun untuk satu lokasi tambang batubara seluas 498.7 hektar di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sepanjang tahun 2010, perusahaan telah menjual batubara sebanyak 1.5 juta ton. Tidak seperti perusahaan batubara lainnya yang menjual batubara ke pasar luar negeri, CNKO menjual seluruh batubaranya ke pasar domestik, terutama pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN yang tersebar di berbagai daerah.
Lalu terkait usaha pembangkit listrik, sebetulnya sejak tahun 2003, dimana ketika itu perusahaan melakukan right issue (CNKO listing di BEI tahun 2001), perusahaan sudah menyatakan bahwa mereka akan masuk ke industri pembangkit listrik. Namun perusahaan, seperti sudah disebut diatas, baru memperoleh IUP batubara pada tahun 2010, dan juga baru memulai pembangunan proyek pembangkit listriknya pada tahun yang sama. Saat ini CNKO memiliki tiga unit pembangkit listrik dengan kapasitas masing-masing 2×7 MW, di tiga lokasi, yaitu Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), Rengat (Riau), dan Tembilahan(Riau). Per tanggal 14 Oktober 2011, pembangkit listrik yang berlokasi di Pangkalan Bun secara resmi sudah beroperasi secara komersial, namun dua pembangkit listrik lainnya hingga saat ini masih dalam proses pembangunan, dan perkiraan selesainya masih cukup lama. Berdasarkan laporan perusahaan, pembangkit listrik yang di Rengat diperkirakan baru akan mulai beroperasi pada bulan Maret 2013, sementara yang di Tembilahan diperkirakan akan beroperasi dua bulan berikutnya alias Mei 2013.
Mungkin karena CNKO sengaja menyimpan cadangan batubaranya untuk pembangkit listriknya nanti, atau karena perusahaan lebih fokus pada progress pembangunan unit-unit pembangkit listriknya ketimbang menggali batubara, dan karena hingga saat ini pembangkit listrik milik perusahaan yang sudah beroperasi hanyalah pembangkit listrik Pangkalan Bun, maka pendapatan CNKO secara keseluruhan terbilang kecil. Pada Kuartal I 2012, CNKO mencatat pendapatan Rp392 milyar, dimana Rp369 milyar berasal dari penjualan batubara, dan sisanya penjualan tenaga listrik. Setelah dikurangi biaya ini itu, diperolehlah laba bersih Rp25 milyar, terbilang kecil mengingat aset CNKO mencapai Rp1.8 trilyun. Karena itulah meski pada harga saham 147, PER dan PBV CNKO masing-masing hanya 6.1 dan 0.7 kali, namun perusahaan ini belum cukup ‘berisi’ untuk bisa dikoleksi.
Tapi lalu bagaimana dengan prospek dari CNKO ini, setelah nanti pembangunan pembangkit listriknya rampung seluruhnya? Ya tentunya pendapatan perusahaan akan meningkat signifikan. CNKO tidak perlu khawatir akan kesulitan menjual tenaga listrik, mengingat perusahaan sudah mengikat kontrak dengan PLN dan banyak perusahaan lainnya. Tapi yang perlu dicatat disini adalah, margin dari bisnis penjualan tenaga listrik ternyata kecil. Semenjak pembangkit listrik Pangkalan Bun beroperasi, CNKO sudah meraup pendapatan Rp39 milyar (hingga akhir kuartal I 2012), namun dengan perolehan laba usaha hanya Rp4 milyar, sehingga OPM-nya (operating profit margin) hanya 9%. Sementara dari bisnis penjualan batubaranya, pada Kuartal I 2012 CNKO mencatat pendapatan Rp369 milyar, dengan laba usaha Rp43 milyar, sehingga OPM-nya mencapai 12%.
Tapi mungkin margin usaha penjualan tenaga listrik yang kecil tersebut adalah karena nilai penjualannya yang masih kecil, sehingga belum sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Jika nanti ketiga pembangkit listrik milik CNKO sudah beroperasi semuanya secara penuh, maka margin tersebut kemungkinan akan meningkat, hingga lebih tinggi daripada margin batubara (gak mungkin lah CNKO capek-capek bikin pembangkit listrik kalau ternyata marginnya lebih kecil ketimbang jualan batubara). Namun sekali lagi, progress kearah sana masih cukup lama. Untuk saat ini perusahaan akan lebih banyak mengeluarkan uang untuk melanjutkan pembangunan pembangkit listriknya di Rengat dan Tembilahan, ketimbang memperoleh pendapatan dari pembangkit listrik yang sudah beroperasi di Pangkalan Bun. Total perkiraan biaya yang masih akan dikeluarkan perusahaan hingga Mei 2013 nanti mencapai Rp174 milyar, tidak terlalu besar untuk ukuran aset perusahaan, namun tetap akan membutuhkan waktu untuk balik modal.
Kesimpulannya, CNKO ini bagus, terutama karena progress usahanya berjalan sesuai rencana dan juga karena laba bersih perusahaan senantiasa naik dari kuartal ke kuartal. Namun CNKO mungkin baru akan menjadi perusahaan yang menguntungkan pada pertengahan tahun 2013 nanti, alias setahun lagi dari sekarang. Kalau anda mau beli sahamnya dari sekarang juga nggak masalah sih, tapi ya secara fundamental dia baru akan mulai merangkak naik pada pertengahan tahun 2013 itu tadi, itupun jika rasio profitabilitasnya di laporan keuangannya nanti beneran meningkat signifikan seperti yang diharapkan. Ada yang bilang kalau CNKO ini berpotensi untuk menjadi the next GTBO (Garda Tujuh Buana), tapi sekali lagi, itu perlu dikonfirmasi oleh peningkatan kinerjanya. Untuk sekarang penulis lebih melihat kalau saham CNKO gak akan kemana-mana, melainkan hanya akan mondar mandir saja di level 140 – 160.
Lalu pada tanggal 26 Juni kemarin kan CNKO mengumumkan bahwa perusahaan akan mengakuisisi lima perusahaan pembangkit listrik tenaga hydro senilai total Rp93 milyar, gimana prospeknya? Well, ada dua hal yang perlu dicatat dari aksi korporasi tersebut. Pertama, akuisisinya belum dilakukan, alias masih dalam proses due dilligence. Dan kedua, pembangkit listrik yang dimiliki oleh kelima perusahaan yang diakuisisi tersebut masih dalam proses pembangunan dan belum beroperasi. Jadi mungkin terlalu dini kalau kita sudah berbicara soal prospek dari aksi korporasi CNKO ini. Bisa jadi setelah nanti proses akuisisinya selesai, CNKO justru malah harus keluar duit lagi untuk meneruskan pembangunan pembangkit listriknya.
Jadi sekali lagi, CNKO belum bisa dilirik. Tapi jika nanti sewaktu-waktu anda melihat CNKO ini turun sampai 130-an, maka bolehlah diambil. Pada harga tersebut, PER-nya 5.4 kali, dan itu udah murah banget.
PT Exploitasi Energi Indonesia (CNKO)
Rating kinerja pada 1Q12: BBB
Rating saham pada 147: BBB

Saham Sejuta Umat? No More!

Beberapa hari ini kalau penulis perhatikan, di banyak media berkali-kali ditampilkan pemberitaan soal jumlah utang Grup Bakrie, yang disebut-sebut sudah berada dalam tahap yang mengkhawatirkan. Ada juga artikel yang menyebutkan bahwa pencalonan Aburizal ‘Ical’ Bakrie sebagai Presiden ditengarai sebagai upaya untuk menyelamatkan Grup Bakrie dari kebangkrutan akibat utang. Sebuah upaya untuk menjatuhkan saham-saham Grup Bakrie di market? Sepertinya bukan, soalnya saham BUMI dan kawan-kawan sejak awal juga udah jeblok banget.

Kalau mengingat bahwa sejak dulu juga kita semua udah tahu banget kalau Bakrie ini emang kerjaannya ngutang melulu, dan entah kenapa masalah utang ini tiba-tiba saja dikait-kaitkan dengan pencalonan Ical sebagai Presiden, maka cerita soal utang Bakrie tersebut mungkin tidak terlalu terkait dengan dunia bisnis dan saham, melainkan lebih ke politik. Sepertinya, ada yang sakit hati karena diberitakan terlibat dalam kasus dugaan penggelapan pajak sebuah perusahaan, dan juga sempat diperiksa KPK meski hanya sebagai saksi. Yap, anda pasti sudah tahu siapa orang tersebut: Hary Tanoesoedibjo, pemilik Grup Bhakti. Beberapa waktu lalu salah satu perusahaan Grup Bhakti, Bhakti Investama (BHIT), ga ada angin ga ada hujan tiba-tiba saja ramai diberitakan di televisi telah menggelapkan pajak (penulis gak hafal detil kasusnya, tapi intinya soal pajak). Bahkan bagi orang yang awam politik seperti penulis, jelas sekali bahwa pemberitaan soal kasus pajak tersebut adalah terkait bergabungnya Mr. Hary ke Partai Nasdem, sebab pemberitaannya hanya gencar ditiupkan oleh satu stasiun televisi saja: TvOne. Sekarang, setelah pemberitaan soal kasus pajak BHIT tersebut mulai menguap dengan sendirinya, giliran Mr. Hary yang melakukan counter attack.
Jadi sepertinya dalam beberapa waktu kedepan kita akan melihat dua kelompok media saling serang dan saling menjatuhkan. Yah lumayanlah buat tontonan, mengingat pertunjukkan pesta sepakbola Eropa juga baru saja berakhir.
Namun kita tidak akan membahas soal politik disini, ataupun soal perang media-nya. Melainkan, berapa sih sebenarnya jumlah utang Bakrie saat ini? Dan apakah jumlah utang tersebut masih dalam batas wajar, atau beneran mengkhawatirkan seperti yang diberitakan? Karena kalau kita liat angkanya yang ada di artikel-artikel berita, datanya cenderung simpang siur. Karena itulah penulis kemudian merangkum data neraca dari LK emiten-emiten Grup Bakrie untuk periode 1Q12, dan berikut hasilnya:
Company
Currency
Equity
Earnings
EER (%)
Liabilities
DER (x)
Bumi Resources
(million US$)
980
261
26.7
6,411
6.5
Darma Henwa
(million US$)
311
(9)
(2.9)
431
1.4
Energi Mega Persada
(million US$)
668
(203)
(30.4)
1,241
1.9
Visi Media Asia
(billion Rp)
1,595
(372)
(23.3)
919
0.6
Bakrie Telecom
(billion Rp)
4,032
(1,740)
(43.1)
7,997
2.0
Bakrieland Development
(billion Rp)
10,726
939
8.8
7,095
0.7
Bakrie Sumatera Plantations
(billion Rp)
9,164
2,297
25.1
9,936
1.1
Bakrie & Brothers
(billion Rp)
12,278
376
3.1
11,007
0.9
Catatan:
1. EER = Earnings to Equity Ratio, semakin besar angkanya berarti semakin bagus. Kalau minus, tandanya perusahaan mengalami defisit (saldo labanya minus). Idealnya EER mencapai minimal 50% untuk perusahaan lawas (yang sudah berdiri dan beroperasi selama 10 tahun lebih), atau 25% untuk perusahaan anyar.
2. DER = Debt to Equity Ratio, semakin besar angkanya berarti semakin jelek. Idealnya DER kurang dari 1 kali (nol koma sekian). Tapi kalau lebih dari 1 kali, maka angka yang masih bisa ditoleransi adalah 3 kali, kalau lebih dari itu berarti gawat.
3. Satu lagi emiten Grup Bakrie yaitu Bumi Resources Minerals (BRMS), hingga ketika artikel ini ditulis belum merilis LK periode 1Q12.
Oke, perhatikan. Perusahaan terbesar di Grup Bakrie yaitu Bumi Resources (BUMI), memiliki modal bersih US$ 980 juta atau sekitar Rp9 trilyun. Tapi total kewajibannya? US$ 6.4 milyar, atau sekitar Rp60 trilyun! Jika digabung dengan Darma Henwa (DEWA) dan Energi Mega Persada (ENRG) yang sama-sama mencantumkan LK-nya dalam mata uang US$, maka Grup Bakrie memiliki modal bersih US$ 2 milyar, dan kewajiban US$ 8 milyar dari ketiga perusahaannya tersebut, dengan saldo laba cuma… US$ 49 juta. Wajar? Sama sekali tidak! Seperti yang sudah disebut diatas, idealnya sebuah perusahaan atau gabungan dari beberapa perusahaan memiliki rata-rata EER minimal 50%, dan DER yang kurang dari 1 kali, atau maksimalnya 3 kali. Namun dari ketiga perusahaannya tersebut, Grup Bakrie memiliki rata-rata EER 2.5%, dan DER 4.1 kali, jauh dari kata wajar.
Sementara DER dari DEWA dan ENRG, memang masing-masing hanya 1.4 dan 1.9 kali. Namun itu karena kedua perusahaan tersebut sempat menambah modal dari right issue-nya beberapa waktu lalu, bukan karena pengurangan utang ataupun peningkatan saldo laba hasil dari akumulasi laba bersih. Sementara dari saldo labanya sendiri, dua-duanya mencatat angka minus alias defisit.
Berikutnya kita cek Visi Media Asia (VIVA), Bakrie Telecom (BTEL), Bakrieland Development (ELTY), dan Bakrie Sumatera Plantations (UNSP). Total modal bersih dan kewajiban dari keempat perusahaan tersebut masing-masing adalah Rp25.5 trilyun dan Rp25.9 kali, sehingga DER-nya tercatat 1.0 kali, masih wajar sih, tapi EER-nya? Dengan total saldo laba cuma Rp1.1 trilyun, maka EER keempat perusahaan tersebut adalah 4.4%, lagi-lagi sangat kecil. Dan sekali lagi, DER yang kecil tersebut adalah karena ketiga perusahaan diatas, kecuali BTEL, memperoleh modal tambahan dari right issue ataupun IPO, dan bukan karena perusahaan memperoleh peningkatan atas saldo labanya. BTEL sendiri mencatat defisit yang cukup besar, yaitu Rp1.7 trilyun.
Terakhir, Bakrie & Brothers. Btw sebelumnya catat bahwa perhitungan aset dan modal bersih BNBR harus dipisah dengan emiten-emiten Grup Bakrie lainnya, karena BNBR ini berstatus sebagai induk dari BUMI dkk, sehingga sebagian dari aset BNBR adalah juga merupakan aset BUMI dkk. Untuk BNBR, kinerja Grup Bakrie terbilang lumayan dengan kewajiban ‘hanya’ Rp11.0 trilyun dan saldo laba Rp376 milyar, namun lagi-lagi jangan lupa bahwa itu adalah berkat kuasi reorganisasi yang dilakukan perusahaan pada akhir tahun 2011 lalu. Pada Kuartal III 2010, BNBR tercatat memiliki kewajiban Rp20.4 trilyun dan defisit Rp28.2 trilyun. Itu adalah angka yang terlalu besar untuk bisa dihapus begitu saja melalui proses kuasi reorganisasi, tapi begitulah faktanya: Kuasi Reorganisasi yang dilakukan BNBR kemarin ‘berhasil’ menghapus defisit sebesar total Rp34.9 trilyun. Amazing, isn’t it?
Lalu bagaimana dengan perolehan laba bersih kedelapan emiten diatas pada 1Q12 kemarin? Well, anda bisa lihat sendiri datanya di tabel dibawah ini, karena penulis juga bingung harus komentar apa.
Company
Currency
1Q12
1Q11
Growth (%)
Bumi Resources
(million US$)
(107)
111
NM
Darma Henwa
(million US$)
(3)
8
NM
Energi Mega Persada
(million US$)
5
3
49.5
Visi Media Asia
(billion Rp)
0
(4)
NM
Bakrie Telecom
(billion Rp)
(356)
(41)
764.7
Bakrieland Development
(billion Rp)
(88)
48
NM
Bakrie Sumatera Plantations
(billion Rp)
84
231
(63.7)
Bakrie & Brothers
(billion Rp)
89
(281)
NM
Back to 2010. Dalam sebuah acara seminar, penulis mendengar seorang pembicara ngomong kira-kira begini: ‘Saat ini, orang-orang di market selalu berpatokan pada saham-saham B7 (kependekan dari Bakrie Seven Brothers, ketika itu BRMS dan VIVA masih belum listing). Jadi ibaratnya kalau mau liat apakah IHSG akan naik atau turun, maka liat aja BUMI, apakah dia naik atau turun. Hampir pasti saham-saham yang lain akan ikut pergerakan BUMI, bahkan termasuk saham sekelas Astra International (ASII) sekalipun.’
‘Tapi nanti, 3 – 5 tahun lagi dari sekarang, kalau kinerja B7 ini masih aja nggak jelas seperti sekarang ini, kalau mereka masih aja lebih sibuk mengurus refinancing utang ketimbang beroperasi dan mencetak laba, maka saham-saham mereka nggak akan laku lagi. Suatu hari nanti akan tiba masa dimana tidak ada lagi seorangpun yang peduli terhadap saham BUMI, entah dia mau naik ataupun turun.’
‘Karena pada akhirnya, investor akan sadar kalau mereka gak mungkin invest di B7, mengingat kinerja B7 ini sama sekali amburadul dan tidak transparan. Beberapa investor mungkin suka berspekulasi di saham-saham B7, tapi cepat atau lambat mereka akan belajar bahwa hal itu tidak menghasilkan apa-apa kecuali memupuk sifat serakah mereka. Dulupun di awal abad ke 20, para investor di Wall Street lebih suka berspekulasi ketimbang berinvestasi di saham, yang mengakibatkan resesi besar di tahun 1930-an. Tapi kemudian mereka mau belajar, dan sekarang Dow Jones dkk sudah menjadi salah satu Bursa Saham terbesar di dunia. Bursa saham di Indonesia pun suatu hari nanti akan mencapai posisi yang tinggi tersebut, meski itu tentunya akan membutuhkan waktu. Tapi yang jelas ketika masa itu tiba, maka sudah tidak akan ada tempat lagi bagi B7, terutama jika para perusahaan ini tidak juga mau berubah.’
So, kembali ke pertanyaan diatas, berapa sih jumlah utang Grup Bakrie saat ini? Entahlah, tapi yang jelas sangat besar. Apakah cukup besar hingga berpotensi default? Mungkin nggak juga, karena Grup Bakrie sejak dulu dikenal piawai dalam men-treat para kreditornya. Kepiawaian mereka dalam menjalin hubungan dengan banyak pihak termasuk penguasa juga menyebabkan posisi mereka jauh lebih baik ketimbang grup-grup usaha lain yang juga punya utang segunung (contohnya Grup Hadi Surya yang harus pontang panting dalam menghadapi restrukturisasi utang Berlian Laju Tanker/BLTA). Sampai saat ini belum pernah terdengar cerita bahwa Grup Bakrie mengalami gagal bayar utang (kalau kasus Bakrie Life, itu bukan gagal bayar utang, melainkan emang perusahaannya aja yang semena-mena terhadap nasabah). Selain itu meskipun neraca perusahaan-perusahaan Grup Bakrie yang terdaftar di bursa semuanya diguyur oleh utang, tapi bisa jadi perusahaan yang diluar bursa masih sehat-sehat saja, dan Grup Bakrie memang masih punya banyak sekali perusahaan diluar kesembilan perusahaannya yang terdaftar di BEI. We never know.
Lalu apakah pencalonan Tuan Ical sebagai RI 1 adalah untuk menyelamatkan perusahaannya dari default dan kebangkrutan? Wah, kalau soal itu saya nggak ngerti. Tapi kalau anda masih bertanya apakah saham-saham Grup Bakrie boleh dilirik, maka jawaban penulis masih sama dengan dua tahun lalu: Tidak! Masih ada buanyak sekali saham-saham lain yang jauh lebih bagus di bursa. Jadi ngapain juga kita harus ngabisin waktu, tenaga, dan duit untuk invest di BUMI dkk yang jelas-jelas nggak jelas tersebut?
Tapi kan bisa aja saham-saham Bakrie ini digoreng menjelang 2014 nanti, terkait Pilpres? Bisa aja kan, ENRG atau ELTY atau lainnya tiba-tiba saja mencatat laba bersih yang gede di Q2 atau Q3 nanti? Benar, namun itu tetap saja merupakan spekulasi karena tidak ada clue sama sekali ke arah sana. Dalam artian, syukur-syukur kalau mereka beneran mencatat peningkatan kinerja yang bagus, tapi bagaimana kalau tidak?
Tapi saya udah terlanjur masuk nih, gimana dong? Apa cut loss aja? Kalau cut loss di harga sekarang sih sayang juga, soalnya saham-saham Bakrie semuanya lagi rendah banget. Jadi kalau anda udah terlanjur megang, maka paling tidak tunggu hingga musim terbitnya laporan keuangan periode Q2 nanti, mudah-mudahan dibikin bagus. Karena kalau kita ingat-ingat lagi pada April tahun 2011 lalu, ketika itu DEWA melaporkan laba bersih US$ 7.8 juta untuk periode Q1 2011, dari sebelumnya rugi US$ 3.5 juta. Dan hasilnya, sahamnya langsung terbang dari posisi 60 hingga sempat menyentuh 122 alias naik 100% dalam waktu empat bulan (hingga Juli 2011), dan demikian pula saham-saham Bakrie lainnya ketika itu juga ikutan terbang. Mengingat bahwa Pilpres 2014 semakin dekat, maka seperti sudah disebut diatas, peluang ke arah sana masih terbuka. Dan meski peluang tersebut hanya sebatas spekulasi, tapi itu lebih baik ketimbang harus cut loss di harga sekarang, dimana itu justru merealisasikan potensi kerugian yang anda alami. So, for now, just be patient.
Sebenarnya kalau kita compare kebiasaan Grup Bakrie dengan Grup usaha dari lawan politiknya di Partai Nasdem, maka Grup Bhakti-nya Tuan Hary Tanoe juga rada-rada nggak beres dalam hal menggoreng saham-sahamnya, misalnya terhadap saham Bhakti Investama (BHIT). Tapi paling tidak, beberapa saham Grup Bhakti seperti Media Citra Nusantara (MNCN) dan Global Mediacom (BMTR), secara fundamental memang bagus dan layak untuk investasi. Jadi seandainya Tuan Hary juga ikut mencalonkan diri sebagai Presiden, maka mungkin investor pasar modal akan lebih memilih beliau ketimbang Tuan Ical.
Tapi peduli amat mereka berdua mau jadi presiden kek, jadi raja kek, yang jelas anda sebagai investor boleh mengingat lagi kalimat yang sudah ditulis diatas: ‘Suatu hari nanti akan tiba masa dimana tidak ada lagi seorangpun yang peduli terhadap saham BUMI, entah dia mau naik ataupun turun, terutama jika si perusahaan tidak juga mau berubah.’
Dan kalau penulis boleh tambahkan: ‘Demikian pula dengan saham-saham gorengan lainnya!’

Sekilas Sektor Asuransi

Industri apa yang belakangan ini berkembang pesat di Indonesia, namun agak luput dari pengamatan para investor? Jawabannya mungkin, industri asuransi. Kalau anda perhatikan, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak sekali perusahaan asuransi global yang buka ‘lapak’ di Indonesia, dan mereka cukup sukses disini. Sebut saja Prudential (Inggris), AIA (Hongkong), Manulife (Kanada), Commlife (Australia), AXA (Perancis), hingga Allianz (Jerman). Lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan asuransi yang terdaftar di BEI?

Industri asuransi memang menarik, karena disitu anda menjual suatu ‘barang’ yang boleh jadi tidak perlu anda berikan kepada pembelinya, yaitu: perlindungan terhadap kerugian. Jadi jika si nasabah tidak mengalami kerugian, maka anda juga tidak perlu memberikan atau membayar apapun, tapi anda akan tetap memperoleh keuntungan dari premi yang dibayarkan si nasabah. Selain itu, uang hasil premi yang dibayarkan nasabah bisa diputar ke instrumen-instrumen investasi, termasuk saham (istilahnya di-float), sehingga perusahaan asuransi bisa memperoleh pendapatan tambahan jika investasi tersebut menghasilkan keuntungan berupa bunga, dividen, ataupun capital gain.
Dan tahukah anda, kalau Warren Buffett juga menggunakan dana premi asuransi untuk membiayai sebagian besar investasinya? Yup, mungkin belum banyak yang tahu kalau Berkshire Hathaway memiliki saham di setidaknya sepuluh perusahaan asuransi Amerika, dimana yang terbesar adalah GEICO dan General Re. Pada Kuartal I 2012, total aset Berkshire di kesepuluh perusahaan asuransi tersebut mencapai US$ 266 milyar, atau lebih dari separuh total aset Berkshire sebesar US$ 411 milyar (what a money!). Menurut Buffett, daripada minjem duit ke bank untuk membiayai investasinya, mendingan beli perusahaan asuransi. Nantinya premi yang dibayarkan para nasabah di perusahaan asuransi tersebut bisa dipakai untuk beli saham dan.. dijamin bebas debt collector!
Tapi, bukankah perusahaan asuransi bisa saja mengalami kerugian jika harus membayar klaim nasabah? Benar, namun risiko tersebut bisa dihitung dan diminimalisir melalui teknik aktuaria dan teknik-teknik manajemen risiko lainnya. Contoh simpelnya, kalau anda pernah punya riwayat sakit diabetes, maka perusahaan asuransi juga gak akan mau menerima anda sebagai nasabah asuransi kesehatan untuk pengobatan diabetes. Demikian pula jika anda beli rumah di lokasi yang rawan gempa, misalnya, maka perusahaan asuransi gak akan mau menanggung risiko kerugian yang mungkin anda alami akibat gempa.
Tapi kalau saya gak pernah sakit diabetes, atau rumah saya hampir gak mungkin rubuh terkena gempa, lalu ngapain juga saya harus ikut asuransi? Nah, biasanya perusahan asuransi melalui para agennya menawarkan keuntungan lain bagi si nasabah, diluar penggantian biaya rumah sakit atau perbaikan rumah yang rusak. Misalnya keuntungan dari unit linkinvestasi, dimana premi yang anda bayarkan akan di-float di instrumen investasi tertentu, kemudian anda akan turut memperoleh bagian keuntungannya. Kalau sudah ditawari begitu, maka biasanya barulah para calon nasabah akan tertarik. Dengan cara inilah para perusahaan asuransi kemudian bisa menjaga agar mereka hanya membayar klaim yang sekecil-kecilnya, namun dengan tetap meraup premi yang sebesar-besarnya.
Jadi bisa dibilang terdapat setidaknya tiga elemen yang menentukan kesuksesan sebuah perusahaan asuransi, yaitu: 1. Manajemen risiko, 2. Kemampuan untuk mem-float dana yang ada ke instrumen-instrumen investasi, 3. Para agen asuransi yang telaten dalam mengajak nasabah untuk membuka rekening. Untuk poin yang ketiga, boleh dibilang Prudential adalah juaranya. Miss Merry Riana, penulis buku ‘Mimpi Sejuta Dollar’ yang terkenal itu, juga memperoleh kekayaannya dari menjadi agen asuransi untuk Prudential. Dan di Indonesia sendiri, industri asuransi terus berkembang dengan pesat seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya berasuransi dan berinvestasi. Boleh jadi, para perusahaan asuransi asing ramai-ramai menggelar lapak disini karena mereka menangkap peluang tersebut.
Okay, kembali ke BEI. Di bursa saham kita tercinta ini, sebenarnya terdapat cukup banyak emiten asuransi, yaitu berjumlah sebelas emiten. Namun sayangnya, mayoritas merupakan perusahaan asuransi kecil atau menengah, yang namanya kurang populer di masyarakat. Tidak ada satupun dari perusahaan-perusahaan asuransi besar yang sudah disebutkan diatas, yang listing di bursa. Dan dari perusahaan asuransi yang listing, rata-rata sahamnya tidak likuid, sehingga pergerakan sahamnya sulit diprediksi secara teknikal.
Tapi kalau dilihat dari sisi fundamental, tetap terdapat peluang gain di sektor ini, karena sebagian besar dari para emiten asuransi tersebut memiliki kinerja yang cukup bagus. Berikut adalah perbandingan kinerja para perusahaan asuransi di BEI, berdasarkan laporan keuangan mereka untuk periode kuartal I 2012.
Stocks
Price
ADTV
Net Profit Growth
EAR
ROE
PBV
PER
EAR + ROE
(Rp)
(billion Rp)
(%)
(%)
(%)
(x)
(x)
(%)
PNLF
120
7.3
38.3
68.3
15.3
0.4
2.9
10.5
PNIN
495
0.4
26.1
69.5
15.5
0.2
2.5
10.8
ABDA
1,180
0.1
39.0
39.9
48.9
1.5
2.8
19.5
AMAG
155
0.9
(9.6)
59.5
11.8
0.7
5.7
7.0
LPGI
1,400
0.1
(69.4)
73.5
3.6
0.3
7.8
2.6
ASRM
1,030
0.0
4.5
23.8
20.8
1.0
4.6
5.0
MREI
1,620
0.0
174.7
42.2
25.8
2.5
9.6
10.9
ASBI
475
1.1
1,755.5
31.8
20.1
0.8
4.1
6.4
ASDM
800
0.0
71.0
49.3
16.1
1.0
6.3
8.0
ASJT
460
0.0
19.1
44.9
65.2
1.4
2.2
29.3
AHAP
200
0.0
26.8
50.7
15.3
1.4
8.9
7.7
Average
23.3
62.7
16.7
0.4
2.5
10.5
Catatan:
1. Data diurutkan berdasarkan ukuran aset perusahaan, dari yang terbesar hingga terkecil. Harga saham adalah per tanggal 28 Juni 2012
2. ADTV = Average Daily Trading Value, alias rata-rata nilai transaksi saham harian, dalam Milyar Rupiah. Semakin besar angkanya maka semakin likuid saham yang bersangkutan
3. EAR = Equity to Asset Ratio, mirip dengan Debt to Equity Ratio, namun lebih melihat dari sisi equity alias modal bersih, bukan utangnya. Penulis lebih seneng pake EAR ini daripada DER, karena bisa di-combine dengan ROE (kolom paling kanan)
4. Net Profit Growth = Persentase kenaikan laba bersih, bukan laba bersih komprehensif.
5. Lainnya anda tahu sendiri lah
Oke, sekarang kita analisis. Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan asuransi di BEI mencatat ROE 16.7%, dengan pertumbuhan laba bersih 23.3%. Well, tidak terlalu mengesankan memang, namun masih diatas standar minimum untuk bisa disebut sebagai perusahaan dengan fundamental baik (ROE 15% dan net profit growth 20%). Yang perlu dicatat disini adalah, para perusahaan asuransi diatas boleh dikatakan hanya memperoleh ‘remah-remah’ dari industri asuransi di Indonesia, mengingat industri ini dikuasai, atau bahkan nyaris dimonopoli, oleh perusahaan-perusahaan asuransi raksasa macam Prudential dan kawan-kawan. But still, para pejuang lokal ini tetap mampu memperoleh bagiannya, dan itu menunjukkan bahwa industri asuransi di Indonesia tetap mampu memberikan keuntungan bagi para pemain di dalamnya, baik besar maupun kecil.
Lalu perusahaan asuransi mana yang paling bagus? Berdasarkan ROE-nya, perusahaan asuransi yang paling menguntungkan adalah Asuransi Jasa Tania (ASJT), disusul kemudian oleh Asuransi Bina Dana Arta (ABDA), dengan annualizedROE masing-masing 65.2% dan 48.9%. Sementara berdasarkan EAR-nya, ASJT juga lebih bagus ketimbang ABDA. Namun dari sisi likuiditas saham dan pertumbuhan laba bersih, ABDA lebih unggul. Tapi sebenarnya, likuiditas transaksi saham ABDA juga terbilang seret, yaitu rata-rata hanya senilai Rp100 juta per hari. Saham yang likuiditasnya agak encer hanyalah Asuransi Bintang (ASBI), Asuransi Multi Artha Guna (AMAG), dan Panin Insurance (PNIN). Namun ketiga saham tersebut, seperti yang bisa anda lihat diatas, secara fundamental kurang menarik, setidaknya untuk saat ini.
Satu-satunya saham asuransi yang sahamnya sangat likuid, adalah Panin Financial (PNLF). Dan kinerjanya? Well, cukup baik dengan ROE 15.3% dan EAR 68.3%. Tapi yang lebih menarik lagi adalah valuasinya, yaitu PBV-nya yang cuma 0.4 kali. Apa nggak salah? Kok murah bener? Nggak, itu bener kok. Mungkin, PNLF bisa dihargai murah oleh para investor, karena salah satu penempatan investasi utama perusahaan ini adalah di saham Bank Panin (PNBN). Sementara kita tahu bahwa saham PNBN telah turun banyak dalam dua tahun terakhir, yaitu dari puncaknya 1,350 hingga sempat menyentuh 600 pada Oktober 2011 lalu, sebelum sekarang cenderung stagnan di 700-an.
Tapi yang mungkin juga lupa diperhatikan investor adalah, PNLF tidak men-trading-kan saham PNBN ini untuk memperoleh capital gain, melainkan disimpan dalam jangka panjang untuk memperoleh keuntungan berupa bagian laba bersih dari perusahaan asosiasinya tersebut. Dan sejauh ini bagian laba bersih tersebut masih meningkat dengan stabil. Pada 1Q12, PNFL mencatat bagian laba bersih dari PNBN sebesar Rp256 milyar, meningkat dibanding periode sebelumnya sebesar Rp186 milyar.
So, pilihan yang bisa dipertimbangkan di sektor asuransi, berdasarkan versi blog Analisis Saham Independen ini, adalah ABDA dan PNLF. ABDA mungkin lebih cocok untuk investasi jangka panjang, mengingat sahamnya tidak likuid. Tapi mengingat sahamnya tidak likuid pula, maka jika anda berminat, jangan gunakan dana terlalu banyak. ABDA mungkin akan naik ke posisi 2,750 – 3,000 dalam setahun ke depan, sementara target bagi PNLF adalah 160.
Lalu bagaimana kinerja para emiten asuransi ini dalam secara historis? Nah, tabel berikut adalah data laba bersih sebelas emiten asuransi di bursa, dalam kurun tahun 2007 – 2011, angka dalam milyar Rupiah.
Company
2007
2008
2009
2010
2011
PNLF
503
351
488
745
925
PNIN
355
315
400
595
680
ABDA
13
14
26
45
88
AMAG
19
30
49
59
95
LPGI
15
12
23
54
42
ASRM
16
17
22
24
37
MREI
13
21
32
46
62
ASBI
(12)
7
4
3
9
ASDM
3
5
8
14
22
ASJT
(6)
4
9
12
12
AHAP
1
3
7
9
14
Total
921
778
1,068
1,607
1,986
Berdasarkan tabel diatas, maka akan kelihatan mengapa ABDA bisa dipertimbangkan untuk investasi long term: Total pertumbuhan laba bersihnya paling menonjol diantara semua perusahaan asuransi yang terdaftar di bursa, yaitu 577.1%, dengan kenaikan yang konsisten setiap tahunnya. Memang, masih ada dua perusahaan yang mencatat total pertumbuhan yang lebih besar, yaitu Asuransi Dayin Mitra (ASDM), dan Asuransi Harta Aman Pratama (AHAP). Namun likuiditas dari kedua saham tersebut yang nyaris nol menyebabkan keduanya tidak bisa dipakai untuk investasi. Dan lagi, valuasi mereka juga jauh lebih mahal.
Akan tetapi kalau anda termasuk investor yang memiliki peraturan ketat soal likuiditas, maka tetap saja satu-satunya saham yang bisa dilirik di sektor ini hanya PNLF, dan itulah yang menyebabkan sektor asuransi di BEI sepi peminat. Sayang, karena selain industri ini di Indonesia mulai berkembang pesat, peluang pasarnya juga masih terbuka lebar mengingat tingkat penetrasi kepemilikan asuransi di Indonesia baru sekitar 1 – 2% dari jumlah penduduk. Mau tahu apa yang dikatakan Prudential tentang Indonesia? Here it is:
In South East Asia, our ‘sweet spot’, our growth has been largely led by the rising market of Indonesia as well as the more developed economies of Hong Kong, Singapore and Malaysia. These operations are generating sustainable growth and value, supporting our investments in more emerging markets such as the Philippines, Vietnam and Thailand.
Prudential Indonesiais now our largest business in Asia across virtually all metrics and is the clear market leader in a country where the opportunities for continued growth are significant. It is a market that has low insurance penetration, of just 1 per cent. It is the world’s fourth most populous country and a member of the G20. Indonesia has the largest Muslim population in the world; in Syariah products, which are compliant with Islamic law, we have a 54 per cent market share. With 142,000 licensed agents, we have  the largest agency network in the country. We believe that the opportunities to further  enhance our distribution scale there are significant.
Yap, bahkan Prudential menyebut pasar Asia Tenggara sebagai ‘sweet spot’ mereka, dengan Indonesia sebagai pusatnya. So, see how big the cake is? But [...]

Prospek IPO Bank Jatim

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, atau disingkat BPD Jatim (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja BJTM), akan menyusul BPD Jabar Banten atau Bank BJB (BJBR) sebagai bank daerah yang terdaftar di bursa saham Indonesia. Namun tidak seperti BJBR yang menyelenggarakan IPO di saat yang cukup tepat, yaitu ketika kinerja perusahaan sedang cukup bagus, underwriter BJTM terbilang agak memaksakan diri kalau mereka kekeuhuntuk me-listing-kan BJTM pada Juli ini. Yup, BJTM mencatat penurunan laba bersih sebesar 10.8% pada Kuartal I 2012, yang tentu saja menjadikannya tidak cukup cantik di mata para investor.

Sebelum membahas BJTM, pertama-tama kita lihat dulu, apa sih yang dimaksud dengan Bank Pembangunan Daerah alias BPD? Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 13 Tahun 1962, BPD adalah (kalimatnya penulis ubah sedikit agar lebih enak dibaca) bank yang didirikan dengan tujuan khusus untuk menyediakan pembiayaan bagi pembangunan di daerah, dalam rangka mendukung percepatan pembangunan nasional secara menyeluruh dan merata di semua daerah di seluruh Indonesia.
Jadi sebelum adanya BPD, kemampuan untuk membiayai pembangunan di Indonesia terkonsentrasi pada bank-bank nasional milik Pemerintah (BRI, Mandiri, BNI, dan BTN). Dan karena semua bank Pemerintah tersebut berkantor pusat di Ibukota Jakarta, maka layanan mereka juga hanya terbatas di Jakarta dan sekitarnya, atau paling banter Pulau Jawa, dan tidak mampu menjangkau daerah yang jauh dari pusat, katakanlah Pulau Sabang atau Kabupaten Merauke. Bank-bank nasional ini tentunya bisa saja membuka kantor cabang hingga ke daerah terpencil, namun kantor-kantor cabang tersebut belum tentu sanggup menyediakan fasilitas kredit dalam jumlah besar untuk mendukung pelaksanaan pembangunan setempat (karena status mereka cuma kantor cabang, bukan pusat), kecuali sebatas menyediakan kredit usaha mikro.
Nah, dengan adanya BPD, maka para pelaksana pembangunan di daerah bisa meminta fasilitas pembiayaan kepada BPD setempat, dan nggak perlu jauh-jauh terbang ke Jakarta. Misalnya ketika Bupati Merauke membutuhkan dana untuk membangun infrastruktur jalan raya, maka dia bisa berangkat ke Jayapura untuk minta pinjaman ke Bank BPD Papua.
Saat ini semua provinsi di Indonesia memiliki BPD-nya masing-masing, atau minimal dua provinsi yang lokasinya berdekatan memiliki satu BPD (misalnya Bank Jabar-Banten, Bank Sumsel-Babel, dll). Sehingga teorinya, pembangunan di Indonesia kemudian berjalan secara merata. Semua orang di semua provinsi kemudian bisa menikmati pembangunan yang maju, fasilitas hidup yang lengkap, dan pekerjaan serta penghasilan yang layak. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk mengadu nasib ke Jakarta.
Tapi, apakah pada prakteknya memang demikian?
Sayangnya pada prakteknya, kebanyakan BPD hanya sedikit sekali menjalankan peran mereka sebagai penyedia pembiayaan bagi pembangunan di daerahnya. Yang ada, mereka lebih suka ‘main aman’ dengan menempatkan dana yang mereka peroleh ke Bank Indonesia (BI), atau bank-bank lainnya, untuk kemudian duduk manis dan memperoleh bunga secara rutin. Mereka enggan menyalurkan kredit ke perusahaan-perusahaan atau pemerintah di daerahnya, karena itu akan membutuhkan kerja keras untuk menganalisis risiko kredit dan lain-lain. Ironis, karena para BPD ini memperoleh sebagian besar dana pihak ketiganya dari Pemerintah Pusat dalam bentuk giro (plus sebagian kecil dalam bentuk deposito dan tabungan dari nasabah), dimana Pemerintah Pusat memperoleh dana tersebut dari BI. Terus masa sama para BPD ini, duit itu kemudian ditaroh di BI lagi? Jadi mereka ini sebenernya ngapain aja?
Btw, berikut adalah catatan porsi kredit yang disalurkan oleh bank nasional, dibandingkan dengan total aset yang mereka miliki, berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2012. Angka dalam milyar Rupiah:
Bank
Asset
Loans
Portion (%)
Bank BTN
91,317
61,294
67.1
Bank BRI
439,339
269,181
61.3
Bank Mandiri
546,852
310,519
56.8
Bank BNI
289,373
159,356
55.1
Total
1,366,881
800,350
58.6
Sementara berikut ini adalah data yang sama untuk BPD seluruh Indonesia:
Bank
Asset
Loans
Portion (%)
BPD NTB
4,110

2,764

67.2
BPD Bali
11,635

7,506

64.5
BPD Sumbar (Nagari)
13,880

8,776

63.2
BPD Sulut
6,376

3,880

60.9
BPD Sumut
20,525

11,554

56.3
BPD Jatim
29,340
16,361
55.8
BPD Kalbar
8,641

4,708

54.5
BPD Sumsel Babel
16,336

8,882

54.4
BPD Sulsel Sulbar
9,995

5,284

52.9
BPD DI Yogyakarta
5,173

2,709

52.4
BPD Jateng
26,663

13,880

52.1
BPD NTT
7,618

3,937

51.7
BPD Bengkulu
2,958

1,494

50.5
BPD Maluku
4,814

2,118

44.0
BPD Riau Kepri
19,936

8,766

44.0
BPD Sultra
2,966

1,296

43.7
BPD Jabar Banten
63,680
27,339
42.9
BPD Kalsel
8,796

3,650

41.5
BPD Kaltim
29,803

11,598

38.9
BPD Papua
14,389

5,506

38.3
BPD Sulteng
1,911

576

30.1
BPD Jambi
6,292

1,702

27.0
Total
315,838
154,286
48.8

Catatan: Data untuk BPD Jabar Banten dan BPD Jatim diperoleh dari laporan keuangannya masing-masing, sisanya diperoleh dari publikasi BI. Sementara Bank DKI Jakarta, Lampung, Aceh, dan Kalteng, statusnya bukan merupakan bank BPD.

Dari data diatas, tampak bahwa rata-rata porsi kredit yang disalurkan oleh bank-bank nasional mencapai 58.6% dari total aset yang mereka pegang. Angka tersebut lebih besar ketimbang rata-rata porsi kredit yang disalurkan bank-bank BPD, yaitu hanya 48.8%. Sebenarnya, bank nasional juga bukannya nggak naroh duit di BI, kemudian duduk manis dan menerima bunga. Hanya saja porsinya tidak sebesar bank-bank BPD.
Dan dalam kaitannya dengan pendapatan dan laba bersih yang diperoleh bank yang bersangkutan, tindakan ‘cari aman’ dengan menempatkan dana di BI dan institusi keuangan lainnya, memang mampu memberikan peningkatan laba yang konsisten bagi bank-bank BPD (karena bunga dari BI ibarat gaji yang sudah pasti akan diterima setiap bulannya). Ambil contoh BPD Jatim (BJTM), laba tahun berjalannya naik terus dari tahun 2007 sebesar Rp403 milyar, menjadi Rp860 milyar pada tahun 2011, atau totalnya telah tumbuh 113.2% dalam empat tahun. Demikian juga dengan BJBR, yang laba bersihnya terus naik secara konsisten hingga total telah tumbuh 159.7% dalam kurun waktu 2007 – 2011. Well, lumayan bagus bukan? Tapi sekarang coba kita bandingkan pertumbuhan laba bersih dalam jangka panjang tersebut dengan bank-bank nasional, berikut datanya:
Net Profit
2011
2007
Growth (%)
Bank BTN
1,119
402
178.4
Bank BRI
15,088
4,838
211.9
Bank Mandiri
12,246
4,346
181.8
Bank BNI
5,808
902
543.9
Total
34,261
10,488
226.7
Kita lihat, bank-bank nasional mencatat persentase pertumbuhan yang jauh lebih baik ketimbang BPD, yaitu dengan rata-rata 226.7%. Dan itu memang masuk akal. Para bank nasional ini, mereka berani menyalurkan kredit dalam jumlah besar ke perusahaan ataupun masyarakat, dimana disitu terdapat risiko gagal bayar. Namun, risiko tersebut sebanding dengan pendapatan bunga yang juga jauh lebih besar ketimbang bunga simpanan di BI. Dengan sedikit kerja keras, risiko tersebut kemudian bisa diminimalisir, sementara pendapatan bunga yang diperoleh tetap tinggi. Well, analoginya mungkin mirip dengan seorang pengusaha yang pendapatannya tidak tetap alias bisa naik dan turun setiap saat, termasuk berisiko mengalami kerugian, namun memiliki peluang untuk meraih kenaikan pendapatan yang tinggi, tergantung seberapa giat dia dalam mengelola perusahaannya. Ini berbeda dengan seorang karyawan yang meskipun sudah pasti akan menerima gaji setiap bulannya, tapi gajinya ya segitu-gitu aja, peduli amat dia mau kerja sampai jungkir balik sekalipun.
So, dalam hal ini BPD menjadi tidak cocok untuk investasi long term, karena potensi pertumbuhannya (ternyata) terbatas, disamping karena mereka juga tidak berkontribusi banyak ke pembangunan di daerahnya. Sehingga lagi-lagi, pembangunan hanya terkonsentrasi di pusat (Jakarta dan Pulau Jawa). Mungkin ada juga BPD yang mau terjun untuk membiayai proyek tertentu milik Pemda, tapi itu jarang terjadi (BPD biasanya cuma mau ngasih kredit konsumsi ke PNS saja). And sorry to say, BPD Jatim juga termasuk didalamnya, kecuali jika nanti pihak manajemen mau mengubah kebijakan penyaluran kreditnya, kemudian mempraktekkannya (gak cuma omong doang).
Tapi, bukankah katanya BJTM mau menggunakan dana IPO-nya untuk ekspansi kredit? Yup, benar. BJTM akan melepas 2.98 milyar lembar saham pada harga Rp430 – 670 per saham. Tarohlah kita pakai harga jual yang terendah yaitu Rp430, maka BJTM akan meraup dana Rp1.3 trilyun. Dari dana tersebut, 80% diantaranya atau sekitar Rp1 trilyun akan dipakai untuk mendukung ekspansi kredit perseroan. Tapi tahukah anda, bahwa ketika BJBR melaksanakan IPO dua tahun yang lalu, 80% dari dana hasil IPO juga rencananya akan dipakai untuk ekspansi kredit? Lalu bagaimana hasilnya? Pada Kuartal I 2011, BJBR mencatat penyaluran kredit Rp27.3 trilyun, hanya meningkat 47.2% dibanding kuartal yang sama di dua tahun sebelumnya (tahun 2010). Untuk ukuran Bank BPD yang lokasinya dekat dengan pusat, itu adalah pertumbuhan yang mengecewakan. Kemana aja BJBR ini ketika banyak peluang pembiayaan untuk industri yang ramai-ramai masuk ke wilayah Bekasi, Tangerang, Cikarang, Depok, Bogor, dan Bandung?
Terus bagaimana dengan BJTM? Sama saja. Manajemen hanya mentargetkan peningkatan nilai kredit sebesar 23% pada tahun 2012 ini, dimana kalau bagi penulis sebagai seorang investor, itu adalah target pertumbuhan yang sama sekali tidak atraktif. Terlebih, seperti yang sudah disebut diatas, entah kenapa laba bersih BJTM di 1Q12 ini turun, padahal pendapatannya sebenarnya naik (Rp666 berbanding 622 milyar). Setelah penulis cek lagi, itu salah satunya karena perusahaan menderita kerugian dari penurunan aset kredit (impairment) senilai Rp60 milyar, dari sebelumnya hanya 19 milyar. Well, ini sebetulnya sangat disayangkan, karena kalau anda baca lagi tabel diatas, BJTM sebenarnya nggak pelit-pelit amat dalam menyalurkan kredit. Pada 1Q12, porsi kredit BJTM mencapai 55.8% dibanding total asetnya, atau sedikit lebih baik dibanding Bank BNI di periode yang sama. Tapi ternyata kualitas dari kredit itu sendiri nggak bagus dan malah menyebabkan kerugian. So, this stock is not an option for long term investments, at least for now.
Okay, mungkin BJTM ini memang nggak oke kalau buat invest. Tapi bagaimana kalau dipakai untuk simpanan jangka pendek? Bisakah dia naik banyak seperti ketika dulu ketika IPO BJBR? Untuk menjawab itu, bisa kita mulai dengan menghitung valuasi sahamnya.
Seperti disebut diatas, BJTM akan dilepas di range harga Rp430 – 670 per saham. Kita ambil yang terendah yaitu Rp430, maka BJTM akan meraup dana Rp1.3 trilyun, atau tepatnya Rp1,283 milyar. Setelah dikurangi biaya emisi dan lain-lain, bersihnya mungkin sekitar Rp1.25 trilyun. Ditambah ekuitas BJTM pada 1Q12 sebesar Rp3.7 trilyun, maka totalnya menjadi Rp5 trilyun. Pada harga saham 430, BJTM akan mencetak market cap Rp6.5 trilyun, sehingga PBV-nya akan menjadi Rp5 / 6.5 trilyun = 1.3 kali. Sementara PER-nya, dengan laba bersih Rp218 milyar pada 1Q12, maka annualized EPS BJTM adalah Rp58 per saham, sehingga PER-nya pada harga 430 adalah 7.4 kali. Binggo! Kabar baik saudara-saudara, IPO Bank Jatim ini ternyata murah! Jika sahamnya dilepas pada harga tertinggi, yaitu Rp670, maka PBV dan PER-nya masing-masing adalah 1.7 dan 11.5 kali, sudah tidak bisa dikatakan murah lagi, tapi juga belum bisa disebut mahal (masih wajar). Sepertinya, underwriter dari IPO Bank Jatim ini memilih untuk melepas saham BJTM di harga yang ‘sedapetnya aja’, mengingat kondisi market yang belum benar-benar pulih.
Terakhir, ingat bahwa meski saham IPO BJTM terbilang murah, namun kinerja BJTM pada 1Q12 ini cenderung menurun dibanding periode sebelumnya. Dan yang menurun tidak hanya laba bersihnya. Beberapa rasio keuangannya seperti aset produktif bermasalah, NPL, ROA, ROE, NIM, BOPO, hingga LDR, semuanya mengalami kemunduran kinerja yang cukup signifikan. Dalam kondisi market yang belum benar-benar pulih seperti sekarang, penurunan kinerja tersebut akan ditanggapi secara sensitif oleh para investor, atau trader sekalipun, sehingga mereka akan menjadi kurang berminat untuk bergabung dalam IPO BJTM. Jadi kalaupun BJTM ini berhasil naik banyak pada pembukaan perdagangan perdananya di tanggal 11 Juli nanti, namun kenaikannya kemungkinan tidak akan sebesar BJBR dulu. Jika anda tetap berminat, maka saran penulis, jangan gunakan dana terlalu banyak.

NB: 
Buletin rekomendasi saham edisi Juli akan terbit tanggal 1 Juli mendatang, anda bisa membelinya disini.

Ilustrasi Cara Kerja Paket Bailout Yunani

Bagaimana cara kerja Bailout Yunani? Berikut ilustrasinya. Tulisan ini bukanlah milik penulis, melainkan hasil nemu di internet (entah siapa yang nulis). Namun berhubung tulisan ini sangat menarik untuk dibaca, maka penulis jadi pengen juga meng-share-nya disini. Okay, here we go!

Hari itu adalah hari yang lesu bagi hampir semua orang di sebuah kota kecil di Yunani. Hujan turun dengan deras, dan jalan-jalan sepi dari penduduk. Itu adalah saat-saat yang sulit, semua orang terlilit hutang yang tidak mampu mereka bayar.
Kemudian, seorang turis kaya asal Jerman mengendarai mobilnya melewati kota tersebut, dan memutuskan untuk bermalam disana. Dia mampir ke hotel setempat, dan mengatakan kepada pemilik hotel bahwa dia akan mengecek kondisi kamar di lantai atas sebelum memutuskan apakah dia akan bermalam disitu atau tidak. Untuk membuktikan bahwa dia sanggup membayar sewa kamar, turis Jerman tersebut meletakkan selembar uang senilai 100 Euro di meja resepsionis.
Pemilik hotel memberikan kunci kamar kepada sang turis. Dan segera setelah si turis menaiki tangga ke lantai dua, dia mengambil uang 100 Euro tersebut, kemudian bergegas ke tukang daging sebelah untuk membayar hutangnya ke tukang daging tersebut.
Si tukang daging lalu menggunakan uang 100 Euro tersebut untuk membayar hutangnya ke peternak babi. Peternak babi menggunakan uang 100 Euro tersebut untuk membayar hutangnya ke petani yang menyediakan pakan ternak.
Si petani menggunakan uang 100 Euro tersebut untuk membayar hutangnya ke sebuah warung tempat dia biasa makan dan minum bir. Pemilik warung menggunakan uang 100 Euro tersebut untuk membayar hutangnya ke seorang pekerja seks komersial langganannya. Dan si PSK kemudian segera berlari ke sebuah hotel yang biasa dia gunakan untuk melayani tamunya, untuk membayar hutangnya sebesar 100 Euro kepada pemilik hotel. Hotel tersebut adalah hotel yang dikunjungi oleh turis Jerman tadi.
Pemilik hotel kemudian meletakkan kembali uang 100 Euro tersebut di meja resepsionis. Beberapa saat kemudian, si turis turun dari tangga dan mengatakan bahwa dia tidak jadi menginap karena kondisi kamar hotelnya tidak cukup layak. Dia mengambil kembali uang 100 Euro tersebut, dan segera pergi meninggalkan kota.
Nah, tidak ada seorangpun di kota itu yang memproduksi atau menjual sesuatu. Tidak ada seorangpun yang meraup sejumlah uang. Namun, seluruh penduduk kota kini terbebas dari hutang, dan mereka kemudian menjadi lebih optimis dalam menatap masa depan.
Dan begitulah, saudara-saudara, cara kerja dari paket bailout Yunani, and it works!
Well, apa komentar anda? Kalau di Indonesia sendiri, apakah pernah juga terjadi hal yang sama?

Tips Agar Tetap ‘Calm’ Ketika IHSG Turun

Setelah terkoreksi selama satu setengah bulan kemarin, IHSG akhirnya mulai menunjukkan indikasi pulih dan sekarang sudah kembali berada di level 3,900-an. Bagi anda yang sudah berpengalaman terjun ke market minimal 1 – 2 tahun, koreksi kemarin adalah hal yang biasa terjadi dan (seharusnya) tidak perlu dikhawatirkan sama sekali. Termasuk jika kemarin sempat nyangkut, maka tidak perlu dilakukan cut loss karena cepat atau lambat harga-harga saham yang anda pegang akan naik kembali (tentunya jika sejak awal anda tidak keliru dalam memilih saham). Tapi bagi anda yang tergolong masih newbie, maka bukan tidak mungkin ketika kemarin IHSG terjun bebas ke posisi 3,600-an, anda malah cut loss yang itu berarti justru merealisasikan potensi kerugian yang terjadi.



Penyebab utama seorang investor/trader melakukan cuci gudang justru ketika market sudah jatuh cukup dalam, biasanya adalah karena mereka khawatir kalau-kalau IHSG bisa jeblok lebih rendah lagi. Terkadang, mereka malah sebenarnya sudah tahu persis bahwa berdasarkan hitung-hitungan teknikal, fundamental, dan lain sebagainya, market sebenarnya sudah terdiskon cukup dalam sehingga berikutnya cuma soal waktu saja sebelum market akan pulih kembali. Akan tetapi kekhawatiran yang timbul alias fear kemudian ‘membunuh’ semua hitung-hitungan tadi. Dan meski hal ini biasanya hanya terjadi pada investor new comers, namun investor yang sudah berpengalaman bertahun-tahun pun terkadang masih mengalaminya juga.
Jadi, bagaimana solusinya? Tentunya, ada banyak cara, termasuk anda mungkin punya cara sendiri. Tapi disini kita akan membahas salah satu diantaranya saja yang baru saja penulis dapatkan baru-baru ini. Okay, here it is.
Beberapa waktu lalu, penulis bertemu dengan seorang pengusaha, yang merupakan pemilik alias pemegang saham mayoritas dari salah satu emiten kecil di BEI, sebut saja namanya Pak Budi. Kami lalu ngobrol ngalor ngidul. Disela-sela obrolan, penulis bertanya, ‘Apa pendapat Pak Budi soal koreksi IHSG belakangan ini?’
‘Wah, saya kan bukan trader mas, jadi nggak pernah memperhatikan IHSG juga.’
‘Iya, saya tau. Tapi kan saham perusahaannya Pak Budi ikut turun juga. Apa nggak khawatir?’
‘Oh, itu. Ya nggak lah. Kan saya tau persis kalau perusahaan saya masih beroperasi dengan lancar dan juga masih menghasilkan laba yang meningkat. Saya nggak peduli saham saya akan naik atau turun, toh nggak akan saya jual juga. Yang penting saya tetap lancar menerima dividen setiap tahunnya.’
Dari sini ada kalimat penting yang penulis tangkap: ‘Kan saya tau persis kalau perusahaan saya masih beroperasi dengan lancar dan juga masih menghasilkan laba yang meningkat.’ Karena itulah penulis kemudian bertanya lagi,
‘Pak Budi bisa tau persis kalau perusahannya baik-baik aja, karena Pak Budi kan pemiliknya. Punya tips nggak pak, bagaimana caranya agar kami yang cuma investor recehan ini bisa juga mengetahui kalau perusahaan yang sahamnya kami pegang masih beroperasi dengan baik-baik saja?’
Pak Budi tertawa,
‘Lho, saya memang pemilik dari perusahaan. Tapi kalau mas Teguh sebagai investor retail ikut memegang saham perusahaan saya, maka mas Teguh juga berstatus sebagai pemiliknya bukan? Bedanya anda cuma pegang sahamnya sedikit, sementara saya megang banyak. Tapi sebagai sesama pemilik, anda dan saya menerima informasi yang sama tentang kinerja dan operasional perusahaan. Paling simpel, anda bisa baca LK (laporan keuangan). Kalau LK-nya oke, berarti perusahaannya masih beroperasi dengan baik. Tapi kalau LK-nya jelek, ya silahkan keluar (jual sahamnya). Anda juga nggak perlu nunggu sampai setahun sekali untuk mengetahui kinerja terbaru perusahaan, seperti kalau menunggu perolehan dividen, melainkan cukup menunggu setiap tiga bulan sekali. Kalau saya sebenarnya menerima laporan kinerja setiap bulan, tapi jarang saya baca juga. Yang saya baca ya yang tiga bulanan itu.’
‘Kalau kinerja perusahaan kurang sesuai harapan, saya biasanya minta ketemu direksi untuk meminta penjelasan, sekaligus ngasih masukan agar kinerja perusahaan kedepannya meningkat kembali. Dan jangan salah, anda juga bisa melakukan itu kok (minta penjelasan dari direksi), caranya tinggal datang aja ke RUPS.’
Obrolan diatas sebenarnya masih panjang. Tapi anda sudah menangkap poinnya bukan? Intinya kalau bagi para pemilik mayoritas perusahaan (penulis katakan ‘mayoritas’ karena kita yang kecil-kecil ini juga merupakan pemilik lho, ingat itu!), yang seringkali disebut sebagai pihak emiten, tujuan utama mereka adalah bagian laba bersih perusahaan alias dividen. Sementara capital gain dalam bentuk kenaikan harga saham, it means nothing karena mereka gak akan menjual sahamnya (kecuali kalau mereka berniat divestasi). Demikian pula jika harga saham turun, mereka akan cuek saja. Ceritanya mungkin baru akan berbeda jika mereka melakukan financial engineering, misalnya transaksi repo saham, atau menjaminkan saham untuk memperoleh pinjaman bank, seperti yang dilakukan Grup Bakrie. Makanya beberapa emiten terkadang berusaha mengendalikan pergerakan saham mereka sendiri, sehingga kemudian muncul istilah ‘saham gorengan’. Tapi bagi para pengusaha konservatif, tetap yang terpenting adalah laba yang dihasilkan perusahaan, bukan harga sahamnya, sehingga mereka akan membiarkan saham perusahaan bergerak sesuai arah pasar.
Tapi berhubung nilai dividen biasanya kelewat kecil dibanding modal yang dikeluarkan buat beli sahamnya, maka kita sebagai investor kecil nggak mungkin hanya mengandalkan dividen sebagai sumber pendapatan toh? Jadi biar bagaimanapun kita nggak bisa disamakan dengan pihak emiten. Yup, itu benar. Tapi jangan lupa bahwa kita sebagai investor retail juga punya kelebihan dibanding pemilik mayoritas/pengendali perusahaan, yaitu: Kita bisa keluar (jual sahamnya) kapanpun kita mau. Jadi kapanpun kinerja perusahaan menurun, maka kita bisa keluar untuk kemudian merealisasikan capital gain yang diperoleh, lalu pindah ke saham lain yang lebih punya potensi untuk menguat. Ini tidak bisa dilakukan oleh pemilik mayoritas, kecuali dengan proses yang rumit (harus menggelar RUPS dulu, dst).
Sementara kalau IHSG lagi jeblok kaya kemarin, gimana tuh? Ya anda bisa pakai moment itu untuk beli lagi sahamnya di harga yang (mumpung) murah. Kalau ga ada duitnya gimana? Ya biarin aja sampai dia naik lagi. Yang penting disini, cobalah berpikir bahwa anda adalah pemilik perusahaan (because you are!), yaitu: Memang kalau di market, saham yang saya pegang bisa naik turun setiap saat. Namun ditempat beroperasinya, perusahaan yang sahamnya saya pegang masih tetap mendulang pendapatan dan laba seperti biasa, yang pada akhirnya meningkatkan nilai perusahaan (equity-nya). Harga saham boleh naik dan turun, tapi itu cuma harga. Yang penting nilai perusahaan tetap naik terus. Jika nanti di laporan keuangannya kenaikan nilai tersebut berhenti, maka barulah ketika itu saya bisa mempertimbangkan untuk keluar.
Btw, ingat bahwa naik turunnya IHSG tidak berpengaruh terhadap kinerja emiten, kecuali jika kinerja emiten tersebut memang berkaitan langsung dengan pasar saham (misalnya emiten sekuritas). Jadi jika anda sejak awal sudah memegang saham dengan fundamental yang oke dan memiliki rencana ekspansi yang jelas, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kejadiannya mungkin baru akan berbeda jika yang mengalami koreksi adalah perekonomian makro,seperti krisis moneter di tahun 1998 lalu. Ketika krisis global tahun 2008 kemarin, kinerja beberapa emiten memang menurun dan itu turut menjustifikasi penurunan harga sahamnya. Tapi banyak juga kok emiten-emiten yang kinerjanya tetap meningkat seperti biasa, silahkan anda cek sendiri.
Tapi bagaimana kalau yang menurunkan harga saham bukanlah koreksi IHSG, melainkan karena terjadi peristiwayang mungkin akan berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan atau sektor yang bersangkutan? Bukankah kalau begitu kejadiannya, maka akan terlambat kalau kita baru keluar setelah LK terbarunya terbit? Yup, benar. Contoh kasus ini adalah seperti penurunan saham-saham batubara seperti yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya. Jika itu yang terjadi, maka peristiwa tadi perlu anda analisis terlebih dahulu sebelum kemudian baru mengambil keputusan, apakah harus keluar atau tetap hold. Tapi poinnya tetap sama: Jangan khawatir, jangan panik, lakukanlah analisisnya dengan santai, kemudian baru ambil keputusan.

Sektor Batubara: Antara Rumor, Fakta, dan Konspirasi

Saham-saham batubara, jika anda perhatikan, hingga saat ini masih berada dalam event big sale, alias masih terdiskon besar-besaran. Termasuk saham yang fundamentalnya amburadul macam Bumi Resources (BUMI), pada harga sekarang juga sudah boleh dikatakan murah. Jadi apakah sekarang sudah saatnya untuk akumulasi, ataukah kita justru harus menghindari sektor ini dulu? Bagaimana dengan berbagai sentimen negatif yang menyelimuti saham-saham batubara belakangan ini?

Penurunan saham-saham di satu sektor biasanya nggak lengkap kalau gak dibumbui berbagai sentimen negatif. Kalau kita mengkerucutkan sentimen-sentimen yang beredar terkait sektor batubara, maka akan diperoleh setidaknya tiga sentimen: Pertama, harga minyak mentah dunia pada saat ini sedang terpuruk di level US$ 80-an per barel, setelah sebelumnya gagah di level US$ 110-an per barel. Sejak dulu penurunan harga minyak biasanya diasosiasikan dengan penurunan harga batubara, dan faktanya harga batubara acuan (HBA) jenis thermal coal pada saat ini adalah US$ 95-an per ton, terendah sejak Agustus 2010. Kedua, ada yang mengatakan bahwa suplai gas alam (natural gas) di Amerika telah meningkat drastis belakangan ini, seiring dengan ditemukannya teknologi oleh perusahaan-perusahaan gas untuk meningkatkan volume produksi. Mengingat bahwa gas alam dianggap lebih bersih dan relatif lebih ekonomis dibanding batubara (dalam hal digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik), maka peningkatan suplai gas alam menyebabkan harganya menjadi turun, dan itu menyebabkan pembangkit-pembangkit listrik di Amerika beralih dari batubara ke gas.
Ketiga, harga batubara yang pada saat ini sudah rendah, diperkirakan akan lebih rendah lagi pada waktu-waktu mendatang, mungkin bisa mencapai US$ 80 per ton pada tahun 2014. khususnya untuk batubara asal Indonesia. Alasannya? Karena terdapat kemungkinan penurunan permintaan batubara dari Tiongkok, salah satu pasar utama batubara asal Indonesia, yang selain disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara yang bersangkutan, juga karena baru selesainya pembangunan jalur jalan tol untuk pengangkutan batubara yang menghubungkan Tiongkok dan Mongol. Bagi para perusahaan baja dan pembangkit listrik di Tiongkok, tentunya akan lebih mudah mengimpor batubara dari Mongol ketimbang dari Indonesia, karena jaraknya lebih dekat sehingga biaya pengirimannya lebih ekonomis. Dan ini akan menurunkan permintaan akan batubara dari Indonesia, yang pada akhirnya menurunkan harga jual dari batubara yang dihasilkan.
Oke, sekarang coba kita analisis. Sentimen pertama soal harga minyak mentah, sebenarnya itu tidak perlu dikhawatirkan. Harga minyak, kalau kita pakai trend pergerakan harganya selama lima tahun terakhir, median-nya berada di posisi US$ 90-an per barel. Harga minyak pada saat ini memang lebih rendah dibanding posisi median-nya tersebut. Tapi kalau berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, maka cepat atau lambat harga minyak akan kembali naik ke posisi US$ 90 – 100 per barel (dan kalau sudah menembus US$ 100, maka selanjutnya turun lagi, gitu aja terus). Sentimen kedua soal gas alam sebagai substitusi batubara, itu adalah cerita lama yang meski udah diomongin sejak kapan, tapi nyatanya perusahaan-perusahaan pembangkit listrik di Asia (termasuk Tiongkok) sampai sekarang masih tetap menggunakan batubara. Okelah mungkin pembangkit listrik di Amerika sana mulai beralih dari batubara ke gas, tapi perusahaan batubara di Indonesia gak ada yang mengekspor produknya sampai ke Amerika (kejauhan), jadi itu gak ngaruh.
Sentimen yang mungkin perlu ditanggapi secara serius adalah soal kemungkinan penurunan permintaan batubara dari Tiongkok. Kita tahu bahwa adalah benar pertumbuhan ekonomi disana telah melambat, dari 13% menjadi tinggal 8%, dan juga benar bahwa telah dibuka jalur tambahan untuk transportasi batubara ke Tiongkok. SouthGobi Resources, salah satu perusahaan batubara terbesar di Mongol, melaporkan bahwa pada tanggal 28 Mei 2012, pemerintah Mongol dan Tiongkok secara resmi membuka delapan gerbang jalan tol khusus untuk transportasi batubara di perbatasan Shivee Khuren (Mongol) dan Ceke (Tiongkok). Itu belum termasuk pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan perbatasan Gashuun Sukhait (Mongol) dan Ganqimaodao (Tiongkok), yang diperkirakan akan selesai tahun 2014 mendatang. A real threat for Indonesian Coal Miners?
Mongolian vs Indonesian Coal
Sejak penulis masuk ke dunia saham pada tahun 2009, penulis sudah mendengar julukan ‘Saudi Arabia of Coal’ bagi Mongol, karena dikabarkan bahwa negaranya Genghis Khan tersebut memiliki cadangan batubara yang sangat besar. Seberapa besar? Pada akhir tahun 2011, Mongol diperkirakan memiliki cadangan batubara terbukti (proven) sebanyak 17.6 milyar ton. Sebagai perbandingan, pada akhir tahun 2010, Indonesia memiliki cadangan batubara terduga (probable) sebanyak total 21.1 milyar ton, alias lebih besar ketimbang Mongol. Namun ingat bahwa status cadangan milik Indonesia tersebut masih terduga, dimana jika cadangan tersebut dikompress lagi menjadi cadangan terbukti, maka angkanya akan menjadi lebih kecil, bisa jadi lebih kecil dari 17.6 milyar ton.
Jadi terlepas dari istilah Saudi Arabia yang agak kurang tepat (karena produsen terbesar batubara di dunia adalah Tiongkok), tapi adalah benar bahwa Mongol memiliki lebih banyak cadangan batubara ketimbang Indonesia, atau setidaknya setara. Kabar baiknya kalau dilihat dari angka cadangan terkira (estimated), Indonesia unggul dengan cadangan lebih dari 200 milyar ton pada akhir tahun 2011, berbanding 164.2 milyar ton milik Mongol. Angka-angka cadangan tersebut bisa meningkat jika ditemukan cadangan baru, atau menurun jika jumlah batubara yang digali lebih banyak daripada jumlah cadangan baru yang ditemukan.
Btw sekedar catatan, urutan status cadangan batubara itu, dimulai dari yang terendah, adalah estimated, probable, kemudian baru proven. Cadangan proven ini terkadang dibedakan lagi menjadi economically mineable (bisa digali dengan biaya yang lebih rendah dibanding hasil yang diperoleh), mineable only, dan non-mineable. Tapi biasanya cadangan dengan status proven sudah berarti economically mineable juga.
Balik lagi ke Mongol. Dari sisi produksi, Mongol hanya memproduksi total 30.4 juta ton batubara pada tahun penuh 2011, sangatlah kecil dibanding 223.3 juta ton batubara yang diproduksi Indonesia hingga akhir kuartal III 2011. Kecilnya volume produksi tersebut adalah karena Mongol hanya memiliki 2.8 juta penduduk di seantero negeri (bandingkan dengan 230 juta penduduk di Indonesia), sehingga Mongol bukanlah negara konsumen yang potensial bagi batubara (jadi ngapain gali batubara kalau gak ada yang beli?). Industri batubara di Mongol baru mulai menggeliat sejak tahun 2006, setelah didorong oleh meningkatnya permintaan batubara jenis coking coal (batubara untuk peleburan baja) dari Tiongkok. Dari volume produksi sebanyak 30.4 juta ton pada tahun 2011, 22.4 juta ton diantaranya memang merupakan coking coal. Para perusahaan baja di Tiongkok sendiri lebih suka mengambil coking coal dari Mongol ketimbang dari negara lainnya, karena harganya lebih murah dengan selisih sekitar US$ 25 per ton.
Lima besar perusahaan batubara di Mongol, dilihat dari volume produksi, adalah (diurutkan dari yang terbesar) 1. Mongolian Mining Corp., 2. Mongolyn Alt – Qinhua Joint Company, 3. Tavan Tolgoi Joint Company, 4. SouthGobi Resources, dan 5. Erdenes. Masing-masing dari kelima perusahaan tersebut memproduksi rata-rata 4.5 juta ton batubara di tahun 2011. Kecil? Memang. Bandingkan dengan volume produksi perusahaan batubara terbesar di Indonesia, Adaro Energy (ADRO), yang mencapai 47.7 juta ton pada tahun 2011 (ADRO adalah produsen batubara terbesar di Indonesia, sebab BUMI terdiri dari dua perusahaan batubara yang terpisah, yaitu Kaltim Prima Coal, dan Arutmin). Jadi bisa dikatakan bahwa Mongol masih terlalu kecil untuk bisa menggantikan Indonesia sebagai salah satu eksportir batubara terbesar ke Tiongkok, bahkan meski banyak dibangun jalur transportasi batubara yang menghubungkan kedua negara.
Tapi bukankah volume produksi yang kecil itu berpotensi untuk meningkat seiring dengan berkembangnya pembangunan berbagai infrastruktur pendukung disana? Yup, benar. Menurut konsultan tambang batubara terkemuka di Tiongkok, Shanxi Fenwei, total produksi batubara Mongol yang hanya 30.4 juta ton pada tahun 2011 akan meningkat menjadi 56.9 juta ton pada tahun 2015 mendatang, dimana 42.8 juta ton diantarnya merupakan coking coal. But hey, angka segitu tetep saja kecil dibanding volume produksi batubara asal Indonesia bukan? Kalau kita bicara jangka yang sangaaat panjang, katakanlah 20 – 30 tahun mendatang, maka mungkin barulah industri batubara di Mongol akan maju seperti disini. Kesulitan utama dalam industri batubara (dan juga industri tambang lainnya) di Mongol adalah kondisi geografisnya yang sulit untuk dieksplorasi (perpaduan antara gurun, pegunungan, hutan belantara, hingga padang rumput), dan jumlah penduduknya yang kelewat sedikit. Dari penduduk Mongol yang cuma 2.8 juta itu, 45% diantaranya tinggal di Ibukota Ulaanbaatar, sehingga sebagian besar area Mongol adalah tanah perawan alias no man’s land yang memerlukan upaya ekstra untuk dieksplorasi.
Oke, tarohlah Mongol kemudian berhasil maju pada 20 tahun mendatang. Namun ketika itu seharusnya Indonesia juga sudah jauh lebih maju dibanding saat ini (karena penduduk Indonesia jauuuh lebih banyak ketimbang Mongol), termasuk berbagai industrinya yang membutuhkan bahan bakar batubara. Sehingga seharusnya pada saat itu perusahaan-perusahaan batubara Indonesia tidak perlu lagi mengekspor produknya keluar negeri, melainkan bisa ke pasar domestik. Dan seharusnya hal ini juga bisa meminimalisir kekhawatiran karena perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, karena cepat atau lambat, perusahaan-perusahaan batubara di Indonesia akan menjadi tidak tergantung oleh pasar Tiongkok lagi.
Lalu, dari mana kita tahu bahwa para perusahaan batubara di Indonesia nantinya bisa menjual produknya ke pasar domestik? Salah satunya, kita bisa melihatnya dari progress proyek pembangunan pembangkit listrik 10,000 Megawatt (MW) milik PLN, yang belakangan direvisi menjadi 10,047 MW. Sepanjang tahun 2011 lalu, PLN sudah menyelesaikan pembangunan beberapa unit pembangkit dengan total kapasitas 3,274 MW, sehingga totalnya PLN sudah menyelesaikan 37 unit pembangkit listrik dengan total kapasitas 9,975 MW dari rencana 10,047 MW (lho, sedikit lagi selesai toh?). Sekitar 50% dari pembangkit-pembangkit listrik anyar tersebut akan menggunakan bahan bakar geothermal (panas bumi), sementara 30% lainnya menggunakan bahan bakar batubara. Sisanya menggunakan bahan bakar minyak solar, tenaga air, tenaga surya, dan gas.
Jadi dengan ini, penulis mengkoreksi komentar penulis di artikel sebelumnya (kalau gak salah yang berjudul Kobexindo Tractors), yang mengatakan bahwa PLN lelet. I’m sorry sir, ketika itu saya belum membaca report perusahaan anda.
Pasca proyek 10,000 MW diatas, PLN akan mengerjakan proyek yang sama, dengan judul proyek 10,000 MW tahap dua. Namun proyek ini masih sebatas rencana alias belum dikerjakan. Kalau dari perusahaan pembangkit listrik swasta yang sudah teken kontrak penjualan listrik dengan PLN, terdapat setidaknya 15 pembangkit listrik yang akan mulai beroperasi dalam beberapa waktu yang akan datang, dengan total kapasitas 4,110 MW, dimana 2,890 MW alias 70% diantaranya menggunakan bahan bakar batubara. Tapi berani taruhan, informasi diatas gak akan muncul di koran dalam waktu dekat ini, karena itu akan menjadi nggak nyambung dengan kondisi saham-saham batubara yang sedang terpuruk pada saat ini.
Kesimpulannya, penulis termasuk yang masih optimis dengan prospek saham-saham batubara di Indonesia. Kalaupun ada saham yang harus dihindari, mungkin itu adalah Borneo Lumbung Energi (BORN), karena BORN memproduksi coking coal, sementara emiten batubara lainnya memproduksi thermal coal. Diatas sudah disebutkan bahwa selain Mongol memproduksi coking coal cukup banyak, harga coking coal disana juga lebih murah rata-rata US$ 25 per ton dibanding harga coking coal di pasar global, termasuk Indonesia. Namun sejauh analisis penulis, tidak terdapat data yang menyebutkan bahwa harga thermal coal asal Mongol lebih murah ketimbang harga thermal coal asal Indonesia. Kemungkinan harga thermal coal asal Mongol masih mahal karena biaya eksplorasi disana juga lebih mahal ketimbang disini. Untuk kasus harga coking coal, ceritanya bisa beda karena harga coking coal di pasar global memang jauh lebih mahal dibanding thermal coal. Jadi sekali lagi, nothing to worry about.
Teori Konspirasi Rothschild
Anda mungkin sudah mendengar cerita perseteruan antara Grup Bakrie dengan mantan rekan bisnisnya dari Inggris, Nathaniel ‘Nat’ Rothschild, dimana Nat berang karena ditendang dari jajaran direksi Bumi Plc, digantikan oleh Samin Tan, pemilik BORN. Beberapa orang mengatakan bahwa Bakrie melakukan itu untuk mencegah BUMI, yang sebagian sahamnya dipegang oleh Bumi Plc, lepas ke tangan Nat. Namun langkah Bakrie tersebut terbilang ceroboh, karena Nat ini bukan orang sembarangan. Dia adalah anggota dari Keluarga Rothschild, yang oleh sebagian orang, dipercaya sebagai dinasti keluarga terkaya dan paling berpengaruh di muka bumi (ada juga yang bilang kalau Rothschild ini sudah mengendalikan dunia termasuk Amerika, sejak abad ke-18 hingga sekarang). Mereka lebih kaya dibanding Bill Gates, Carlos Slim Helu, Warren Buffett, ataupun Aburizal Bakrie. Mereka juga lebih berkuasa dibanding Barack Obama, Hu Jintao, Angela Merkel, Benjamin Netanyahu, ataupun Susilo Bambang Yudhoyono.
Jadi kalau cerita soal Rothschild itu benar, maka bagi Mr. Nathaniel, adalah sangat mudah baginya untuk mengendalikan arah market. Terkait ‘masalah pribadinya’ dengan Bakrie, Nat kemudian menyuruh para bandarnya untuk menjatuhkan saham-saham yang berkaitan dengan Bumi Plc, yaitu BUMI, BORN, Berau Coal Energy (BRAU), dan Bumi Resources Minerals (BRMS). Nat juga menyebarkan berbagai rumor yang tak sedap untuk memuluskan proses penjatuhan saham tersebut, sehingga imbasnya gak cuma keempat saham diatas saja yang jatuh, tapi hampir seluruh saham-saham tambang di BEI ikut jatuh. Lebih jauh, Nat bahkan bisa saja menyuruh perusahaan-perusahaan pembangkit listrik di Tiongkok untuk tidak lagi membeli batubara asal Indonesia. Just remember, his family rule the world!
Namun, cerita diatas hanyalah teori konspirasi. Tidak ada bukti yang secara tegas menunjukkan keterlibatan Rothschild dengan penurunan saham-saham tambang, khususnya batubara. Tapi jika cerita diatas memang benar, maka arah pergerakan saham batubara menjadi tidak bisa diprediksi, karena soal apakah saham-saham batubara akan dinaikkan atau diturunkan, itu akan sepenuhnya tergantung oleh keinginan si bandar saja. Untuk saat ini mari kita berharap mudah-mudahan teori konspirasi itu cuma teori saja, bukan sungguhan.
Satu hal lagi, Warren Buffett pernah memberi tips, ‘The best time to buy a stock is when nobody wants to buy it’. Tips yang terdengar sederhana, namun sangat sulit untuk dipraktekkan. Bagaimana bisa kita membeli sebuah saham yang orang lain justru berlomba-lomba untuk menjualnya? But trust me, Buffett is right :)

Sektor Batubara: Antara Rumor, Fakta, dan Konspirasi

Saham-saham batubara, jika anda perhatikan, hingga saat ini masih berada dalam event big sale, alias masih terdiskon besar-besaran. Termasuk saham yang fundamentalnya amburadul macam Bumi Resources (BUMI), pada harga sekarang juga sudah boleh dikatakan murah. Jadi apakah sekarang sudah saatnya untuk akumulasi, ataukah kita justru harus menghindari sektor ini dulu? Bagaimana dengan berbagai sentimen negatif yang menyelimuti saham-saham batubara belakangan ini?


Penurunan saham-saham di satu sektor biasanya nggak lengkap kalau gak dibumbui berbagai sentimen negatif. Kalau kita mengkerucutkan sentimen-sentimen yang beredar terkait sektor batubara, maka akan diperoleh setidaknya tiga sentimen: Pertama, harga minyak mentah dunia pada saat ini sedang terpuruk di level US$ 80-an per barel, setelah sebelumnya gagah di level US$ 110-an per barel. Sejak dulu penurunan harga minyak biasanya diasosiasikan dengan penurunan harga batubara, dan faktanya harga batubara acuan (HBA) jenis thermal coal pada saat ini adalah US$ 95-an per ton, terendah sejak Agustus 2010. Kedua, ada yang mengatakan bahwa suplai gas alam (natural gas) di Amerika telah meningkat drastis belakangan ini, seiring dengan ditemukannya teknologi oleh perusahaan-perusahaan gas untuk meningkatkan volume produksi. Mengingat bahwa gas alam dianggap lebih bersih dan relatif lebih ekonomis dibanding batubara (dalam hal digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik), maka peningkatan suplai gas alam menyebabkan harganya menjadi turun, dan itu menyebabkan pembangkit-pembangkit listrik di Amerika beralih dari batubara ke gas.
Ketiga, harga batubara yang pada saat ini sudah rendah, diperkirakan akan lebih rendah lagi pada waktu-waktu mendatang, mungkin bisa mencapai US$ 80 per ton pada tahun 2014. khususnya untuk batubara asal Indonesia. Alasannya? Karena terdapat kemungkinan penurunan permintaan batubara dari Tiongkok, salah satu pasar utama batubara asal Indonesia, yang selain disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara yang bersangkutan, juga karena baru selesainya pembangunan jalur jalan tol untuk pengangkutan batubara yang menghubungkan Tiongkok dan Mongol. Bagi para perusahaan baja dan pembangkit listrik di Tiongkok, tentunya akan lebih mudah mengimpor batubara dari Mongol ketimbang dari Indonesia, karena jaraknya lebih dekat sehingga biaya pengirimannya lebih ekonomis. Dan ini akan menurunkan permintaan akan batubara dari Indonesia, yang pada akhirnya menurunkan harga jual dari batubara yang dihasilkan.
Oke, sekarang coba kita analisis. Sentimen pertama soal harga minyak mentah, sebenarnya itu tidak perlu dikhawatirkan. Harga minyak, kalau kita pakai trend pergerakan harganya selama lima tahun terakhir, median-nya berada di posisi US$ 90-an per barel. Harga minyak pada saat ini memang lebih rendah dibanding posisi median-nya tersebut. Tapi kalau berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, maka cepat atau lambat harga minyak akan kembali naik ke posisi US$ 90 – 100 per barel (dan kalau sudah menembus US$ 100, maka selanjutnya turun lagi, gitu aja terus). Sentimen kedua soal gas alam sebagai substitusi batubara, itu adalah cerita lama yang meski udah diomongin sejak kapan, tapi nyatanya perusahaan-perusahaan pembangkit listrik di Asia (termasuk Tiongkok) sampai sekarang masih tetap menggunakan batubara. Okelah mungkin pembangkit listrik di Amerika sana mulai beralih dari batubara ke gas, tapi perusahaan batubara di Indonesia gak ada yang mengekspor produknya sampai ke Amerika (kejauhan), jadi itu gak ngaruh.
Sentimen yang mungkin perlu ditanggapi secara serius adalah soal kemungkinan penurunan permintaan batubara dari Tiongkok. Kita tahu bahwa adalah benar pertumbuhan ekonomi disana telah melambat, dari 13% menjadi tinggal 8%, dan juga benar bahwa telah dibuka jalur tambahan untuk transportasi batubara ke Tiongkok. SouthGobi Resources, salah satu perusahaan batubara terbesar di Mongol, melaporkan bahwa pada tanggal 28 Mei 2012, pemerintah Mongol dan Tiongkok secara resmi membuka delapan gerbang jalan tol khusus untuk transportasi batubara di perbatasan Shivee Khuren (Mongol) dan Ceke (Tiongkok). Itu belum termasuk pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan perbatasan Gashuun Sukhait (Mongol) dan Ganqimaodao (Tiongkok), yang diperkirakan akan selesai tahun 2014 mendatang. A real threat for Indonesian Coal Miners?
Mongolian vs Indonesian Coal
Sejak penulis masuk ke dunia saham pada tahun 2009, penulis sudah mendengar julukan ‘Saudi Arabia of Coal’ bagi Mongol, karena dikabarkan bahwa negaranya Genghis Khan tersebut memiliki cadangan batubara yang sangat besar. Seberapa besar? Pada akhir tahun 2011, Mongol diperkirakan memiliki cadangan batubara terbukti (proven) sebanyak 17.6 milyar ton. Sebagai perbandingan, pada akhir tahun 2010, Indonesia memiliki cadangan batubara terduga (probable) sebanyak total 21.1 milyar ton, alias lebih besar ketimbang Mongol. Namun ingat bahwa status cadangan milik Indonesia tersebut masih terduga, dimana jika cadangan tersebut dikompress lagi menjadi cadangan terbukti, maka angkanya akan menjadi lebih kecil, bisa jadi lebih kecil dari 17.6 milyar ton.
Jadi terlepas dari istilah Saudi Arabia yang agak kurang tepat (karena produsen terbesar batubara di dunia adalah Tiongkok), tapi adalah benar bahwa Mongol memiliki lebih banyak cadangan batubara ketimbang Indonesia, atau setidaknya setara. Kabar baiknya kalau dilihat dari angka cadangan terkira (estimated), Indonesia unggul dengan cadangan lebih dari 200 milyar ton pada akhir tahun 2011, berbanding 164.2 milyar ton milik Mongol. Angka-angka cadangan tersebut bisa meningkat jika ditemukan cadangan baru, atau menurun jika jumlah batubara yang digali lebih banyak daripada jumlah cadangan baru yang ditemukan.
Btw sekedar catatan, urutan status cadangan batubara itu, dimulai dari yang terendah, adalah estimated, probable, kemudian baru proven. Cadangan proven ini terkadang dibedakan lagi menjadi economically mineable (bisa digali dengan biaya yang lebih rendah dibanding hasil yang diperoleh), mineable only, dan non-mineable. Tapi biasanya cadangan dengan status proven sudah berarti economically mineable juga.
Balik lagi ke Mongol. Dari sisi produksi, Mongol hanya memproduksi total 30.4 juta ton batubara pada tahun penuh 2011, sangatlah kecil dibanding 223.3 juta ton batubara yang diproduksi Indonesia hingga akhir kuartal III 2011. Kecilnya volume produksi tersebut adalah karena Mongol hanya memiliki 2.8 juta penduduk di seantero negeri (bandingkan dengan 230 juta penduduk di Indonesia), sehingga Mongol bukanlah negara konsumen yang potensial bagi batubara (jadi ngapain gali batubara kalau gak ada yang beli?). Industri batubara di Mongol baru mulai menggeliat sejak tahun 2006, setelah didorong oleh meningkatnya permintaan batubara jenis coking coal (batubara untuk peleburan baja) dari Tiongkok. Dari volume produksi sebanyak 30.4 juta ton pada tahun 2011, 22.4 juta ton diantaranya memang merupakan coking coal. Para perusahaan baja di Tiongkok sendiri lebih suka mengambil coking coal dari Tiongkok ketimbang dari negara lainnya, karena harganya lebih murah dengan selisih sekitar US$ 25 per ton.
Lima besar perusahaan batubara di Mongol, dilihat dari volume produksi, adalah (diurutkan dari yang terbesar) 1. Mongolian Mining Corp. (MMC), 2. Mongolyn Alt – Qinhua Joint Company, 3. Tavan Tolgoi Joint Company, 4. SouthGobi Resources, dan 5. Erdenes. Masing-masing dari kelima perusahaan tersebut memproduksi rata-rata 4.5 juta ton batubara di tahun 2011. Kecil? Memang. Bandingkan dengan volume produksi perusahaan batubara terbesar di Indonesia, Adaro Energy (ADRO), yang mencapai 47.7 juta ton pada tahun 2011 (ADRO adalah produsen batubara terbesar di Indonesia, sebab BUMI terdiri dari dua perusahaan batubara yang terpisah, yaitu Kaltim Prima Coal, dan Arutmin). Jadi bisa dibilang bahwa Mongol masih terlalu kecil untuk bisa menggantikan Indonesia sebagai salah satu eksportir batubara terbesar ke Tiongkok, bahkan meski banyak dibangun jalur transportasi batubara yang menghubungkan kedua negara.
Tapi bukankah volume produksi yang kecil itu berpotensi untuk meningkat seiring dengan berkembangnya pembangunan berbagai infrastruktur pendukung disana? Yup, benar. Menurut konsultan tambang batubara terkemuka di Tiongkok, Shanxi Fenwei, total produksi batubara Mongol yang hanya 30.4 juta ton pada tahun 2011 akan meningkat menjadi 56.9 juta ton pada tahun 2015 mendatang, dimana 42.8 juta ton diantarnya merupakan coking coal. But hey, angka segitu tetep saja kecil dibanding volume produksi batubara asal Indonesia bukan? Kalau kita bicara jangka yang sangaaat panjang, katakanlah 20 – 30 tahun mendatang, maka mungkin barulah industri batubara di Mongol akan maju seperti disini. Kesulitan utama dalam industri batubara (dan juga industri tambang lainnya) di Mongol adalah kondisi geografisnya yang sulit untuk dieksplorasi (perpaduan antara gurun, pegunungan, hutan belantara, hingga padang rumput), dan jumlah penduduknya yang kelewat sedikit. Dari penduduk Mongol yang cuma 2.8 juta itu, 45% diantaranya tinggal di Ibukota Ulaanbaatar, sehingga sebagian besar area Mongol adalah tanah perawan alias no man’s land yang memerlukan upaya ekstra untuk dieksplorasi.
Oke, tarohlah Mongol kemudian berhasil maju pada 20 tahun mendatang, namun ketika itu seharusnya Indonesia juga sudah jauh lebih maju dibanding saat ini (karena penduduk Indonesia jauuuh lebih banyak ketimbang Mongol), termasuk berbagai industrinya yang membutuhkan bahan bakar batubara. Sehingga seharusnya pada saat itu perusahaan-perusahaan batubara Indonesia tidak perlu lagi mengekspor produknya keluar negeri, melainkan bisa ke pasar domestik.
Dan progress ke arah sana memang berjalan. Sebagai contoh, progress proyek pembangunan pembangkit listrik 10,000 MW milik PLN (yang belakangan direvisi menjadi 10,047 MW), meski agak lambat, namun terus melaju. Sepanjang tahun 2011 lalu, PLN menyelesaikan pembangunan beberapa pembangkit dengan total kapasitas 3,274 MW, sehingga totalnya PLN sudah menyelesaikan 37 pembangkit listrik dengan total kapasitas 9,975 MW dari rencana 10,047 MW (lho, sedikit lagi selesai toh?). Sekitar 30% dari pembangkit-pembangkit listrik anyar tersebut akan menggunakan bahan bakar batubara, sementara sisanya menggunakan minyak solar, tenaga air, tenaga surya, dan geothermal (panas bumi).
Jadi dengan ini, penulis mengkoreksi komentar penulis di artikel sebelumnya (kalau gak salah yang berjudul Kobexindo Tractors), yang mengatakan bahwa PLN lelet. I’m sorry sir, ketika itu saya belum membaca report perusahaan anda.
Pasca proyek 10,000 MW diatas, PLN akan mengerjakan proyek yang sama, dengan judul proyek 10,000 MW tahap dua. Namun proyek ini masih sebatas rencana alias belum dikerjakan. Kalau dari perusahaan pembangkit listrik swasta yang sudah teken kontrak penjualan listrik dengan PLN, terdapat setidaknya 15 pembangkit listrik yang akan mulai beroperasi dalam beberapa waktu yang akan datang, dengan total kapasitas 4,110 MW, dimana 2,890 MW alias 70% diantaranya menggunakan bahan bakar batubara. Tapi berani taruhan, informasi ini gak akan muncul di koran dalam waktu dekat ini, karena itu akan menjadi nggak nyambung dengan kondisi saham-saham batubara yang sedang terpuruk pada saat ini.
Kesimpulannya, penulis termasuk yang masih optimis dengan prospek saham-saham batubara di Indonesia. Kalaupun ada saham yang harus dihindari, mungkin itu adalah Borneo Lumbung Energi (BORN), karena BORN memproduksi coking coal, sementara emiten batubara lainnya memproduksi thermal coal. Diatas sudah disebutkan bahwa selain Mongol memproduksi coking coal cukup banyak, harga coking coal disana juga lebih murah rata-rata US$ 25 per ton dibanding harga coking coal di pasar global, termasuk Indonesia. Namun sejauh analisis penulis, tidak terdapat data yang menyebutkan bahwa harga thermal coal asal Mongol lebih murah ketimbang harga thermal coal asal Indonesia. Kemungkinan harga thermal coal asal Mongol masih mahal karena biaya eksplorasi disana juga lebih mahal ketimbang disini. Untuk kasus harga coking coal, ceritanya bisa beda karena harga coking coal di pasar global memang jauh lebih mahal dibanding thermal coal. Jadi sekali lagi, nothing to worry about.
Teori Konspirasi Rothschild
Anda mungkin sudah mendengar cerita perseteruan antara Grup Bakrie dengan mantan rekan bisnisnya dari Inggris, Nathaniel ‘Nat’ Rothschild, dimana Nat berang karena ditendang dari jajaran direksi Bumi Plc, digantikan oleh Samin Tan, pemilik BORN. Beberapa orang mengatakan bahwa Bakrie melakukan itu untuk mencegah BUMI, yang sebagian sahamnya dipegang oleh Bumi Plc, lepas ke tangan Nat. Namun langkah Bakrie tersebut disebut ceroboh, karena Nat ini bukan orang sembarangan. Dia adalah anggota dari Keluarga Rothschild, yang oleh sebagian orang, dipercaya sebagai dinasti keluarga terkaya dan paling berpengaruh di muka bumi (ada juga yang bilang kalau Rothschild ini sudah mengendalikan dunia termasuk Amerika, sejak abad ke-18 hingga sekarang). Mereka lebih kaya dibanding Bill Gates, Carlos Slim Helu, ataupun Warren Buffett. Mereka juga lebih berkuasa dibanding Barack Obama, Hu Jintao, Angela Merkel, ataupun Benjamin Netanyahu.
Jadi kalau cerita soal Rothschild itu benar, maka bagi Mr. Nathaniel, adalah sangat mudah baginya untuk mengendalikan arah market. Terkait ‘masalah pribadinya’ dengan Bakrie, Nat kemudian menyuruh para bandarnya untuk menjatuhkan saham-saham yang berkaitan dengan Bumi Plc, yaitu BUMI, BORN, Berau Coal Energy (BRAU), dan Bumi Resources Minerals (BRMS). Nat juga menyebarkan berbagai rumor yang tak sedap untuk memuluskan proses penjatuhan saham tersebut, sehingga imbasnya gak cuma keempat saham diatas yang jatuh, tapi hampir seluruh saham-saham tambang di BEI ikut jatuh. Lebih jauh, Nat bahkan bisa saja menyuruh perusahaan-perusahaan pembangkit listrik di Tiongkok untuk tidak lagi membeli batubara asal Indonesia. Just remember, his family rule the world!
Namun, cerita diatas hanyalah teori konspirasi. Tidak ada bukti yang secara tegas menunjukkan keterlibatan Rothschild dengan penurunan saham-saham tambang, khususnya batubara. Tapi jika cerita diatas memang benar, maka arah pergerakan saham batubara menjadi tidak bisa diprediksi, karena soal apakah saham-saham batubara akan dinaikkan atau diturunkan, itu akan sepenuhnya tergantung oleh keinginan si bandar saja. Untuk saat ini mari kita berharap mudah-mudahan teori konspirasi itu cuma teori saja, bukan sungguhan.
Satu hal lagi, Warren Buffett pernah memberi tips, ‘The best time to buy a stock is when nobody wants to buy it’. Tips yang terdengar sederhana, namun sangat sulit untuk dipraktekkan. Bagaimana bisa kita membeli sebuah saham yang orang lain justru berlomba-lomba untuk menjualnya? But trust me, Buffett is right :)
NB: Penulis membuat buletin yang berisi rekomendasi saham bulanan, anda bisa membelinya disini.

Belajar dari Liem Sioe Liong

Liem Sioe Liong alias Sudono Salim, seperti yang anda ketahui, telah wafat pada tanggal 10 Juni 2012 kemarin, pada usia 95 tahun (atau tepatnya 96 tahun kurang 1 bulan). Meski telah tiada, namun Om Liem, demikian beliau biasa disapa, akan selalu dikenang sebagai pendiri dari salah satu grup usaha terbesar dalam sejarah Republik Indonesia, Grup Salim. Sebagai seorang taipan, maka tentu banyak hal yang bisa dipelajari dari sosok Om Liem. Seorang teman penulis pernah berkata, ‘Semua orang juga tahu bagaimana Om Liem merangkak susah payah dalam membangun imperium bisnisnya. Beliau adalah contoh sempurna bagi siapapun yang hendak sukses dalam merintis usaha dari titik nol.’
Om Liem (kita singkat saja Liem) lahir di Distrik Fuqing, Provinsi Fujian, Tiongkok, pada tahun 1916. Pada masa itu negeri Tiongkok sedang dilanda konflik dan perang berkepanjangan dengan bangsa Jepang, sehingga Liem kecil dan keluarganya tidak pernah merasa tentram untuk hidup sebagai keluarga petani. Hal ini mendorong kakak Liem, Liem Sioe Hie, untuk mencari penghidupan yang lebih baik diluar negeri, dan tujuannya adalah ke arah selatan, ke sebuah kota bernama Kudus. Pada tahun 1938, pada usia 22 tahun, Liem kemudian menyusul kakaknya. Kapal layar yang membawa Liem mendarat di Surabaya, dan empat hari kemudian kakaknya berhasil menemuinya untuk kemudian membawanya ke Kota Kudus, Jawa Tengah.
Di Kudus, Liem bekerja di sebuah pabrik tahu dan kerupuk. Tidak seperti pekerja pabrik lainnya yang hanya bekerja rutin saja seperti biasa, Liem memperhatikan bahwa di Kota Kudus terdapat banyak industri rokok kretek, dan industri tersebut membutuhkan tembakau dan cengkeh dalam jumlah besar setiap tahunnya. Liem menangkap peluang tersebut, dan ia segera mencoba usaha perdagangan tembakau dan cengkeh, kemungkinan berbekal modal dari mertuanya yang kebetulan saudagar terpandang (Liem menikah dengan istrinya, Liliani, pada usia 24 tahun). Dan ternyata peruntungannya lebih ke cengkeh. Pada awal tahun 1940-an, pada usia 25 tahun, Liem sudah menjadi salah satu bandar cengkeh yang cukup besar di Kudus. Pada usia semuda itu, koneksinya sudah tersebar hingga ke perkebunan-perkebunan cengkeh di Sumatera dan Sulawesi.
Namun kejayaan usahanya hanya seumur jagung. Pada tahun 1942, Jepang mendarat di Indonesia, dan menghentikan hampir seluruh kegiatan ekonomi masyarakat. Bisnis perdagangan cengkeh milik Liem seketika bangkrut, dan seluruh kegiatan usaha Liem berhenti sama sekali selama kurang lebih tiga tahun. Hingga akhirnya pada tahun 1945, setelah Jepang meninggalkan Indonesia, Liem melihat peluang bisnis yang lebih besar ketimbang kembali berdagang cengkeh, yaitu bisnis penyediaan logistik, obat-obatan, hingga persenjataan bagi para tentara revolusi, yang mempertahankan RI dari upaya Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Setelah mencari koneksi kesana kemari, Liem akhirnya bertemu dengan seseorang yang ternyata merupakan ayah dari Fatmawati, istri Bung Karno. Bisnis penyediaan logistik tentara milik Liem pun dimulai. Di ketentaraan, Liem berkenalan dengan banyak perwira TNI (Tentara Nasional Indonesia), terutama Mayor Kemal Idris, dan Letkol Soeharto.
Pada tahun 1950, Liem pindah ke Jakarta. Pada tahun-tahun ini Liem masih setia dengan bisnis penyediaan logistik untuk tentara, terutama Angkatan Darat. Pada awal tahun 1950-an pula, Liem mendirikan pabrik sabun untuk memenuhi kebutuhan tentara, dan juga pabrik-pabrik lainnya. Bisnisnya semakin maju seiring dengan menanjaknya karier rekan bisnisnya, Soeharto, di ketentaraan.
Cerita bisnis Liem terus berlanjut. Pada pertengahan 50-an, Liem melihat peluang di bisnis perbankan, setelah melihat banyak pelanggan usahanya yang tidak mampu membayar tunai dalam membeli barang yang ia jual, kecuali dengan cara kredit. Alhasil pada tahun 1957, Liem bersama pegawai kepercayaannya, Mochtar Riady, mendirikan Central Bank Asia, yang di tahun 1960 berubah nama menjadi Bank Central Asia (Bank BCA). Lalu, Liem juga melihat bahwa orang Indonesia sangat tergantung kepada nasi sebagai bahan pangan, padahal sumber pangan tidak hanya nasi. Visinya yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia membutuhkan alternatif sumber pangan, mengantarkannya pada pendirian perusahaan perdagangan tepung terigu, PT Bogasari, pada tahun 1968.
Pada tahun yang sama ketika Bogasari berdiri, yaitu tahun 1968, Liem diperkenalkan oleh Pak Harto dengan sesama pengusaha asal Fujian, Djuhar Sutanto. Ketika itu Pak Harto sudah menjadi Presiden. Kedua pengusaha ini ternyata cocok, terlebih Djuhar juga pernah tinggal cukup lama di Kudus. Setahun kemudian, duet Liem-Djuhar mendirikan CV Waringin Kentjana (WK), perusahaan yang bergerak dalam bisnis ekspor impor komoditas, termasuk komoditas gandum (bahan baku tepung terigu). Melalui WK, Liem kemudian memperoleh izin impor gandum dari luar negeri untuk kemudian diolah menjadi tepung terigu di Indonesia. Bogasari kemudian berubah dari perusahaan perdagangan menjadi perusahaan produsen tepung terigu, dan berhasil mendirikan pabrik tepung terigu pertamanya pada tahun 1972, berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta.
Di WK, Liem yang menempati posisi sebagai chairman, menemukan anak muda berbakat yang sebelumnya hanya merupakan karyawan dari mitra bisnis Djuhar, Lim Chin Song, bernama Ibrahim Risjad. Risjad kemudian diangkat sebagai direktur keuangan. Belakangan, sepupu Pak Harto yang bernama Sudwikatmono, juga bergabung sebagai direktur perizininan ekspor impor. Kwartet Liem-Djuhar-Risjad-Sudwi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Grup Salim.Setelah sukses membangun pabrik tepung terigu untuk Bogasari, pada tahun 1974, Grup Salim mendirikan perusahaan semen, PT Indocement. Pada tahun 70-an ini, diluar trio BCA-Bogasari-Indocement, Grup Salim juga mendirikan banyak perusahaan dengan ukuran yang lebih kecil, yang bergerak di berbagai bidang. Diluar mengembangkan usaha milik sendiri, Grup Salim juga membantu seorang insinyur muda nan brilian, Ciputra, untuk mendirikan PT Metropolitan Kentjana, sebuah perusahaan properti.
Lalu dimana posisi Indofood? Indofood sebenarnya baru didirikan belakangan. Jadi ceritanya, setelah sukses dengan Bogasari, pada awal tahun 1980-an Liem mulai berpikir untuk membuat produk turunan dari tepung terigu, tentunya untuk menghasilkan nilai tambah yang pada akhirnya meningkatkan keuntungan perusahaan. Setelah mencoba membuat berbagai jenis produk, akhirnya pada tahun 1982, Liem menciptakan produk mie instan dengan merk Indomie. Tidak ada keterangan soal apakah ketika itu produk Indomie diletakkan dibawah Bogasari atau tidak, tapi yang jelas, nama ‘Indofood’ ketika itu belum ada. Selain Indomie, Grup Salim juga memproduksi berbagai jenis makanan lainnya.
Kemudian pada tahun 1990, Grup Salim mendirikan perusahaan makanan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma, yang di tahun 1994 berubah nama menjadi PT Indofood Sukses Makmur. Seluruh usaha makanan milik Grup Salim termasuk Indomie kemudian diletakkan dibawah perusahaan baru ini, termasuk juga Bogasari yang diakuisisi pada tahun 1996. Pada masa itu Indofood hanya bermain di bisnis tepung terigu dan berbagai jenis makanan, dan belum masuk ke industri agribisnis seperti sekarang (CPO, tebu, karet, dll).
Puncak kejayaan bisnis Grup Salim boleh dikatakan terjadi pada awal tahun 1990-an. Pada tahun 1998, krisis moneter melanda Indonesia, dan Pak Harto lengser. Bisnis Grup Salim pun seketika hancur lebur, termasuk harus kehilangan dua aset utamanya, Bank BCA (ke Grup Djarum) dan Indocement (ke Heidelberg). Diluar itu beberapa aset lainnya yang juga terpaksa dilepas adalah Darya Varia Laboratoria, Indo Tambangraya Megah, dan Indosiar (tapi Indosiar berhasil diambil kembali), serta masih banyak lagi. Beruntung, Grup Salim berhasil mempertahankan Indofood. Pada momen ini Om Liem memutuskan untuk pensiun, dan kendali atas seluruh usaha Grup Salim diserahkan kepada putra bungsunya, Anthoni Salim (Anthoni, bukan Anthony).
Pasca krisis 1998, Grup Salim dibawah pimpinan Mr. Anthoni fokus untuk mengembangkan Indofood. Dalam sepuluh tahun terakhir, Indofood telah masuk ke bidang usaha produksi minyak goreng, margarin, susu, makanan bernutrisi, gula, kecap, dan penyedap makanan. Diluar Indofood, Grup Salim juga tetap berbisnis seperti biasanya, termasuk mengembangkan beberapa aset diluar Indonesia. Tapi kita tidak akan membahas ini lebih lanjut, karena ini adalah artikel tentang Om Liem, bukan Grup Salim-nya.
Pada tanggal 10 Juni 2012, empat belas tahun setelah hidup damai dalam masa pensiunnya, Om Liem akhirnya meninggal dunia. Bagi banyak anak muda seperti penulis, selalu menarik untuk mempelajari bagaimana cara Om Liem dalam merintis berbagai macam usaha hingga akhirnya sukses menjadi seorang konglomerat. Well, kita akan sharing sebagian diantaranya disini.
Rahasia Sukses Om Liem
Pertama, Om Liem adalah penganut kuat falsafah bisnis orang Tionghoa: Anda butuh apa, saya bisa sediakan. Ketika masih jadi pekerja pabrik tahu dan kerupuk, naluri dagang Om Liem langsung terbentuk ketika melihat banyak pabrik rokok yang membutuhkan cengkeh dan tembakau. Sehingga pada saat itu juga, beliau langsung berusaha untuk menjadi supplier cengkeh atau tembakau, yang kemudian sukses di cengkeh. Kemudian ketika pecah perang revolusi kemerdekaan antara RI – Belanda, Om Liem melihat bahwa tentara RI membutuhkan sabun, obat-obatan, dan persenjataan, dan seketika itu pula beliau berusaha menjadi supplier untuk barang-barang tersebut.
Poinnya disini adalah, jika anda mau punya usaha, maka jangan mencoba untuk memproduksi produk tertentu kemudian berusaha menjualnya, melainkan: Pertama-tama cari tahu terlebih dahulu, barang apa yang dibutuhkan oleh orang-orang disekitar anda, kemudian berusahalah untuk menyediakan dan menjual barang tersebut. Dijamin jualan anda akan laku karena sejak awal memang sudah ada pembelinya.
Kedua, Om Liem percaya, sangat percaya, bahwa dirinya beruntung dan bernasib baik. Dan faktanya Om Liem memang sangat beruntung. Oke, mari coba kita runut keberuntungan tersebut. Ketika masih sangat muda dan masih tinggal di Tiongkok, Liem lolos dari perekrutan paksa untuk menjadi tentara oleh Penjajah Jepang, dan berhasil naik ke kapal yang menuju ke Surabaya, dan kapal tersebut ternyata memang benar-benar berhasil mendarat di Surabaya. Ketika itu banyak sekali cerita-cerita yang menyebutkan bahwa banyak pemuda Tiongkok yang dibuang ke laut, kapalnya tenggelam disergap tentara Jepang, atau berhasil mendarat namun bukan di kota tujuan. Liem muda sangat beruntung bisa mendarat dengan selamat di Surabaya, yang memang merupakan kota tujuannya.
Tapi dengan mendaratnya Liem di Surabaya, bukan berarti tantangannya sudah selesai. Liem sempat menjadi gelandangan selama empat hari di pelabuhan, sebelum akhirnya kakaknya berhasil menjemputnya. Anda jangan berpikir bahwa ketika itu Liem bisa dengan mudah mengangkat Blackberry-nya kemudian berkata, ‘Kakak! Saya sudah sampai di Surabaya!’ (woi, di tahun 1938 belum ada BB!) Apalagi ketika itu kondisi Nusantara masih semrawut dibawah jajahan Belanda. Andai saja ketika itu Liem tidak berhasil bertemu kakaknya, maka mungkin Grup Salim juga tidak akan pernah ada.
Di Kudus, keberuntungan Liem berlanjut. Liem menikah dengan anak orang kaya, yang mengantarnya pada kesuksesan dalam merintis usaha perdagangan cengkeh (banyak literatur yang menyebutkan bahwa usaha Om Liem menjadi sangat maju setelah menikah). Terakhir, ketika dirinya dan ketiga temannya mengalami kecelakaan mobil pada tahun 1942, Liem dengan ajaibnya berhasil bertahan hidup, padahal ketiga temannya meninggal. Banyak yang mengatakan bahwa pasca kecelakaan itulah, Om Liem sadar bahwa dirinya selalu dinaungi nasib baik. Keyakinan akan nasib baik itulah yang kemudian membuatnya agresif dan tak kenal lelah dalam berbisnis.
Kata orang, jika anda percaya bahwa anda beruntung, maka anda akan beruntung. Jika anda percaya bahwa anda akan sukses, maka anda akan sukses. Yup, as simple as that. Pokoknya percaya saja dulu bahwa anda akan sukses, selanjutnya biarkan waktu yang menunjukkan jalannya. Om Liem adalah contoh nyata dari orang yang berhasil menerapkan tips motivasi tersebut.
Ketiga, Om Liem tahu persis bahwa koneksi adalah modal utama dalam berbisnis, yang bahkan lebih penting daripada modal dana. Sejak merintis bisnis cengkehnya, Om Liem sudah piawai dalam menjalin pertemanan dan relasi dengan siapa saja.
Saat ini, banyak orang yang mengira bahwa kesuksesan imperium bisnis Grup Salim adalah berkat koneksi langsung Om Liem dengan Presiden RI, Pak Harto. Hal itu mungkin memang benar. Tapi yang jarang diingat orang ialah, Om Liem sudah kenal dan menjalin hubungan baik dengan Pak Harto sejak awal tahun 50-an, atau jauh sebelum Pak Harto menjadi Presiden! Om Liem bukanlah orang picik ataupun politisi kutu loncat yang hanya mau berteman dengan penguasa. Dan faktanya, sejak pertama kali merintis usaha penyediaan logistik untuk tentara, Om Liem tidak hanya berteman dengan Pak Harto saja, melainkan juga dengan banyak tokoh-tokoh di jaman perang revolusi kemerdekaan (termasuk Mayor Kemal Idris yang sudah disebut diatas).
Seorang teman pernah berkata seperti ini kepada penulis: ‘Jika anda hendak sukses, maka jangan pilih-pilih teman. Bertemanlah secara tulus dengan siapa saja, jalinlah relasi dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang bukan siapa-siapa. Jangan pernah meremehkan dan menyepelekan seseorang hanya karena dia bukan siapa-siapa. Anda tidak pernah tahu akan jadi apa orang yang bukan siapa-siapa tersebut, suatu hati nanti.’
Keempat, dan ini sebenarnya hanya tebakan penulis, sepertinya Om Liem memiliki prinsip bahwa untuk menjadi sukses, anda harus bisa membuat orang lain sukses. Kenapa begitu, karena bisa dibilang hampir semua anak didik dan partner bisnis Om Liem telah sukses menjadi konglomerat, tidak hanya di Grup Salim tapi juga di grup usaha milik mereka masing-masing. Diatas sudah disebutkan nama-nama seperti Mochtar Riady (Grup Lippo), Ibrahim Risjad (Grup Risjadson), Sudwikatmono (Grup Indika), dan Ciputra (Grup Ciputra). Sementara Djuhar Sutanto, meski tidak membangun grup usahanya sendiri hingga besar, namun juga menjadi konglomerat di dalam Grup Salim. Diluar nama-nama tersebut, pastinya Om Liem masih punya banyak ‘anak didik’ lainnya yang juga sukses. Di kalangan pengusaha muda terdapat nama pemilik CT Corp, Chairul Tanjung, dan pemilik Grup Bhakti, Hary Tanoesoedibjo.
Di Indonesia, yang namanya konglomerat memang banyak. Tapi konglomerat yang bisa mencetak konglomerat lainnya seperti Om Liem ini, ya mungkin cuma Om Liem saja. Yup, Om Liem tidak pernah mengekang anak buah dan partner bisnisnya dalam membangun perusahaan, melainkan justru senang jika melihat mereka bisa maju dan sukses. Prinsip yang sama juga diterapkan oleh salah satu bank investasi kenamaan Amerika, Goldman Sachs. Salah satu prinsip manajemen sumber daya manusia di Goldman adalah, perusahaan akan memberi kesempatan kepada karyawannya untuk berkembang lebih cepat, dibanding jika mereka bekerja di perusahaan lain. Bisa jadi prinsip inilah yang mengantarkan Grup Salim sukses menjadi konglomerasi terbesar di Indonesia, dan juga mengantarkan Goldman menjadi bank investasi terbesar di dunia, karena sebetulnya logikanya sederhana saja: Jika anda sanggup membuat karyawan anda menjadi kaya raya, apalagi anda sebagai bos-nya?
Terakhir kelima, Om Liem adalah pengusaha yang konservatif. Beliau tidak pernah mengincar kesuksesan instan dalam berbisnis, misalnya dengan cara leverage besar-besaran, atau financial engineering. Beliau hanyalah seorang pedagang, yang membuat produk, kemudian menjualnya, that’s it. Dan beliau sangat jenius dalam hal penciptaan produk yang bagus dan diterima konsumen. Bank BCA menjadi besar karena kualitas pelayanannya yang sangat baik terhadap nasabah (silahkan anda temui nasabah BCA yang sudah senior, dan tanyakan mana yang memberikan pelayanan perbankan yang lebih baik: BCA di tangan Om Liem dulu, atau BCA di tangan Grup Djarum sekarang?). Dan siapa yang meragukan Indomie sebagai produk makanan yang enak, mudah dimasak, mengenyangkan, dan murah?
Konsep berusaha dengan cara konservatif inilah, yang juga berhasil mempertahankan Grup Salim dari kebangkrutan karena krisis 1998. Yup, satu-satunya perusahaan yang tidak dijaminkan oleh Grup Salim dalam memperoleh pinjaman untuk ekspansi usaha, adalah Indofood. Sejak awal Om Liem tahu benar bahwa dalam kondisi terburuk yang bisa terjadi sewaktu-waktu, seluruh asetnya bisa lenyap seketika karena disita bank atau negara, namun Indofood sebagai perusahaan consumer goods tidak boleh menjadi bagian dari aset yang berisiko disita tersebut. Itu sebabnya meski Grup Salim akhirnya kehilangan BCA dan Indocement, namun Indofood berhasil dipertahankan.
Jadi pelajarannya disini adalah, sebaik dan sepercaya diri apapun anda dalam membangun perusahaan, namun ada baiknya jika anda tetap jaga-jaga untuk kemungkinan terburuk, bukan begitu?
Tentunya, masih terdapat banyak hal yang bisa dipelajari dari almarhum Om Liem, namun berhubung artikel ini sudah kelewat panjang, selebihnya silahkan anda tambahkan sendiri.
Dan oh ya, sebelum anda protes, penulis akui bahwa artikel ini tidak berkaitan dengan investasi saham sama sekali. Artikel ini penulis dedikasikan untuk menghormati Om Liem, atas jasa-jasanya dalam membangun perekonomian negeri. Terlepas dari segala kontroversi yang mengkait-kaitkan beliau dengan rezim Orde Baru, namun di mata penulis, Om Liem adalah salah satu partner utama dari Bapak Pembangunan, Pak Harto, dalam kapasitasnya sebagai pengusaha yang menggerakkan roda perekonomian. Sebagai negara berkembang, Indonesia tidak memiliki banyak merk produk yang go international dan dikenal baik di pasar global. Kita patut berbangga dengan Indomie, yang menjadi salah satu dari sedikit produk mampu go international tersebut. Kedepannya mudah-mudahan akan lebih banyak lagi pengusaha Indonesia yang mampu membuat produk inovatif dan go international, seperti mie instan merk Indomie tersebut, amin!

Daftar Sepuluh IPO Terbesar di Indonesia

Pertengahan Mei lalu, Facebook resmi IPO untuk kemudian listing di Nasdaq dengan kode FB. IPO FB ini disebut-sebut sebagai IPO terbesar dalam sejarah, mengingat nilai IPO-nya sangat besar, yaitu US$ 16 milyar atau sekitar Rp150 trilyun. Pernyataan ‘IPO terbesar dalam sejarah’ ini mungkin membuat anda penasaran, benarkah demikian? Bahwa IPO FB adalah IPO terbesar sepanjang masa? Karena itulah penulis kemudian mencoba search tentang IPO-IPO terbesar yang pernah dilakukan, dan berikut adalah hasilnya.

Berdasarkan data dari Renaissance Capital, IPO FB bukanlah IPO terbesar. Terdapat setidaknya enam IPO dengan nilai yang lebih besar dari IPO FB. Yang mengejutkan, tidak semua IPO terbesar tersebut berasal dari Amerika, melainkan kebanyakan justru dari Tiongkok dan Jepang. Berikut adalah daftar lima belas IPO terbesar dalam sejarah, dengan nilai saham yang dilepas lebih dari US$ 10 milyar. Value adalah dalam jutaan US$.
No.
Company
Company (full name)
Exchange
IPO Year
Value
1
ABC
Agricultural Bank of China
Hong Kong and Shanghai
2010
19,228
2
ICBC
Industrial and Commercial Bank of China
Hong Kong and Shanghai
2006
19,092
3
NTT
Nippon Telegraph and Telephone Mobile
Tokyo
1998
18,099
4
Visa
Visa Credit Card Company
New York
2008
17,864
5
AIA
AIA Life Insurance
Hong Kong and Shanghai
2010
17,816
6
ENEL
Ente Nazionale per l’energia Elettrica
New York
1999
16,452
7
FB
Facebook
NASDAQ
2011
16,007
8
GM
General Motors
New York
2010
15,774
9
Nippon Tel
Nippon Telecom
Tokyo
1987
15,301
10
Deutsche Tel
Deutsche Telekom
New York
1996
13,034
11
BofC
Bank of China
Hong Kong and Shanghai
2006
11,186
12
Dai-ichi
Dai-ichi Mutual Life Insurance
Tokyo
2010
10,986
13
AT&T
American Telephone and Telegraph
New York
2000
10,620
14
Rosneft
Rosneft Oil Company
Russian Trading System
2006
10,421
15
Glencore
Glencore International Plc
Hong Kong and London
2011
10,316
(data selengkapnya bisa dilihat di www.renaissancecapital.com. IPO Year adalah ketika saham yang bersangkutan secara resmi mulai ditawarkan ke publik, bukan ketika listing perdana)
Dari data diatas, tampak bahwa IPO terbesar dalam sejarah dunia adalah IPO Agriculture Bank of China (ABC). ABC melepas 25.4 milyar lembar saham ketika IPO, untuk kemudian listing untuk pertama kalinya di Bursa Hongkong pada tanggal 16 Juli 2010. Dengan harga IPO HK$ 3.48 per saham, perusahaan kemudian meraup HK$ 88.4 milyar, atau setara US$ 19.2 milyar, atau setara Rp182 trilyun. ABC sendiri merupakan bank terbesar keempat di Tiongkok, setelah Bank of China, China Construction Bank, dan Industrial and Commercial Bank of China. Berbeda dengan Indonesia dan juga negara-negara lainnya, bank-bank di Tiongkok memang ‘diklasifikasikan’ berdasarkan spesialisasi sektornya, dan nggak campur aduk (mungkin itu juga yang bikin mereka cepat maju).
Menariknya seperti hal-nya IPO FB, IPO ABC juga terbilang gagal. Ketika artikel ini ditulis, ABC berada di posisi 3.11, atau lebih rendah 10.6% dibanding harga IPO-nya, padahal sudah lewat hampir dua tahun. Saham ABC bukannya tidak pernah naik, namun posisi tertingginya semenjak listing hanya 4.38, atau hanya lebih tinggi 25.9% dibanding harga IPO-nya, sebelum kemudian dia turun lagi.
Dan kalau kita perhatikan lagi, IPO terbesar biasanya memang tidak selalu merupakan yang tersukses (dari kacamata investor yang ikut IPO-nya), malah kebanyakan justru cenderung gagal. Berikut adalah daftar harga saham ketika IPO dibandingkan dengan harga terakhirnya (per 5 Juni 2012), dari tujuh perusahaan diatas yang IPO di rentang tahun 2008 – 2011 (kalau lebih lama dari tahun 2008 gak ada datanya).
No.
Company
IPO Year
IPO Price
Current Price
Change (%)
1
FB
2011
38.00
26.90
(29.2)
2
Glencore
2011
530.00
334.35
(36.9)
3
ABC
2010
3.48
3.11
(10.6)
4
AIA
2010
19.68
25.20
28.0
5
GM
2010
33.00
21.11
(36.0)
6
Dai-ichi
2010
140,000
79,900
(42.9)
7
Visa
2008
44.00
114.16
159.5
Seperti yang anda lihat diatas, IPO yang terbilang sukses hanya AIA dan Visa. Meski demikian perlu anda catat bahwa current price diatas tentunya dipengaruhi juga oleh kondisi market yang sedang kurang kondusif belakangan ini.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Nah, berikut ini adalah sepuluh IPO terbesar di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2007 – 2011). Anda bisa cek sendiri berapa harga terbaru dari saham-saham berikut ini, kemudian bandingkan dengan harga perdananya, apakah lebih tinggi atau lebih rendah. Value adalah dalam milyar Rupiah.
No.
Ticker
Company
Listing Month
Value
IPO Price
1
ADRO
Adaro Energy
Jul-08
12,253
1,100
2
ICBP
Indofood CBP
Oct-10
6,292
5,395
3
BYAN
Bayan Resources
Aug-08
5,558
5,800
4
BORN
Borneo Lumbung Energy
Nov-10
5,175
1,170
5
GIAA
Garuda Indonesia
Feb-11
4,752
750
6
SIMP
Salim Ivomas Pratama
Jun-11
3,480
1,100
7
JSMR
Jasa Marga
Nov-07
3,468
1,700
8
ITMG
Indo Tambangraya Megah
Dec-07
3,164
14,000
9
INDY
Indika Energy
Jun-08
2,765
2,950
10
KRAS
Krakatau Steel
Nov-10
2,682
850
Berdasarkan data diatas, maka cerita ‘IPO Besar’ di Indonesia juga ternyata sama: Hanya ITMG dan JSMR yang mencetak gain substansial. Sementara sebagian lainnya hanya mencetak gain minim, dan sebagian lainnya lagi malah turun.

Mungkin anda akan bertanya: Bagaimana caranya para perusahaan-perusahaan diatas menyelenggarakan IPO dengan nilai yang sangat besar? Kok bisa-bisanya mereka meyakinkan banyak orang sekaligus (investor retail) untuk membeli saham mereka dalam jumlah besar, padahal bisa jadi saham tersebut dijual dengan harga yang sangat mahal, atau saham tersebut mewakili perusahaan yang sama sekali jelek, terbukti kemudian harganya malah turun?

Jadi begini. Yang bertanggung jawab atas pelaksanaan IPO bukanlah si perusahaan itu sendiri, melainkan perusahaan sekuritas atau bank investasi yang ditunjuk sebagai underwriter alias penjamin emisi. Besar atau kecilnya nilai IPO, dan sukses atau tidaknya pelaksanaan IPO tersebut, sepenuhnya bergantung pada kepiawaian para underwriter tadi. Underwriter ini ibarat salesman sebuah barang, dan perusahaan adalah pemilik barang tersebut. Sebagai pemilik barang, maka tentunya si perusahaan menginginkan hasil penjualan yang sebanyak-banyaknya, tak peduli meski mungkin ‘barang’ tersebut gak ada bagus-bagusnya. Dan itu adalah tugas dari underwriter. Jadi jika si underwriter-nya jago, maka tong kosong pun bisa dijual dengan harga selangit untuk kemudian meraup dana segunung. Tapi jika si underwriter ini biasa-biasa saja, maka sebagus apapun barangnya (perusahaannya), biasanya nilai IPO-nya kecil saja.
Contoh ‘tong kosong dengan harga selangit’ yang penulis ingat adalah ketika dulu Benakat Petroleum (BIPI) menyelenggarakan IPO pada Februari 2010, dan sukses meraup dana segar hingga Rp1.6 trilyun. Itu adalah jumlah perolehan dana yang sangat besar untuk sebuah perusahaan yang nggak pernah untung, alias rugi terus dari tahun ke tahun (bahkan hingga 1Q12, BIPI masih mengalami rugi komprehensif Rp59 milyar). Sementara ‘barang bagus yang dijual dengan harga murah’, contohnya Surya Esa Perkasa (ESSA). ESSA hanya meraup Rp153 milyar dari IPO-nya pada Januari 2012 kemarin, padahal kinerja perusahaannya sangat bagus dengan ROE yang bahkan lebih dari 100% pada Juli 2011 (periode laporan keuangan terakhirnya sebelum perusahaan listing).
Tapi itu belum menjawab pertanyaannya, bagaimana cara salesman (underwriter) tadi bisa menjual saham dan meraup dana yang sangat besar? Jawabannya ya sama saja seperti salesman pada umumnya: Mereka harus pintar-pintar berpromosi. Poinnya disini adalah sama seperti iklan-iklan yang biasa ditampilkan di televisi: Yang penting bukanlah sebaik apa kualitas dari barang yang dijual, melainkan sebaik apa ‘tampilan’ barang tersebut dimata pembeli. Sebenarnya, ‘kualitas barang’ dari saham yang dijual melalui IPO bisa dilihat dari prospektusnya, dimana disitu ditampilkan informasi komprehensif dari saham dan perusahaan yang bersangkutan. Namun tidak semua investor bisa membaca prospektus tersebut, karena tebalnya saja bisa ratusan halaman, sehingga kemudian jalan yang lebih praktis adalah dengan membaca pemberitaan di media atau analisis dari pihak ketiga terkait IPO yang bersangkutan. Terkadang, atau bahkan biasanya, penyebaran informasi melalui pihak ketiga inilah yang lebih menentukan apakah sebuah IPO akan sukses atau tidak (sementara prospektusnya gak ada yang baca).
Masalahnya, sulit untuk menemukan pihak ketiga yang netral dalam hal ini, karena bisa jadi mereka cuma membantu si underwriter dalam berpromosi. Beberapa waktu lalu sebelum Facebook (FB) menggelar IPO, salah satu media global terkemuka, Reuters, mengangkat berita bahwa IPO FB kelebihan peminat (oversubscribe). Sementara diwaktu yang hampir sama, media global lainnya, Bloomberg, mengangkat berita yang persis sebaliknya, yaitu bahwa IPO FB kekurangan peminat. Mana yang benar? Nobody knows.
Anyway kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri, sangat sulit untuk menemukan IPO yang ideal jika tujuannya adalah untuk investasi, dimana kalau masalahnya bukan terletak di kinerja perusahaannya yang jelek, maka harga IPO-nya yang kelewat tinggi. Warren Buffett juga menyarankan semua investor untuk menjauhi IPO. Tapi kalau anda tetap tertarik untuk hunting IPO, maka paling tidak sekarang anda sudah tahu salah satu tips-nya, termasuk jika anda mengincar keuntungan jangka pendek: IPO dengan nilai yang besar tidak selalu merupakan IPO yang menjanjikan keuntungan, malah cenderung sebaliknya. Pemberitaan tentang oversubscribe dan lain-lain yang ramai dibicarakan orang, juga bukan jaminan sama sekali bahwa IPO yang bersangkutan akan sukses (kita pernah membahas ini). Seringkali, IPO yang bagus adalah yang nilainya kecil dan proses IPO-nya tidak terlalu diperhatikan publik.
Btw, anda tahu kenapa Buffett menghindari IPO? Pertama, karena dia tidak pernah mengincar keuntungan jangka pendek. Dan kedua, karena dalam IPO, penjualnya hanyalah satu pihak (si perusahaan, melalui para sekuritas agen penjualan), dimana si perusahaan ini tentu saja lebih banyak mengetahui tentang diri mereka sendiri, ketimbang para investor yang membeli sahamnya. Jadi dalam hal ini posisi investor sebagai pembeli mau tidak mau menjadi kurang menguntungkan. Berbeda halnya ketika investor beli saham sebuah perusahaan di market (bukan dalam IPO), penjualnya adalah investor juga, sehingga posisi si pembeli dan si penjual adalah sederajat. Dan yap, anda benar, hal yang sama juga berlaku ketika sebuah emiten menggelar right issue.
Next article if the market is still reeling: Berkshire Hathaway vs Bakrie & Brothers.

Kobexindo Tractors

Kobexindo Tractors (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja KOBE) adalah perusahaan yang tergolong baru dan masih berukuran kecil di sektor penjualan dan penyewaan alat-alat berat (heavy equipment). Jika dibanding tiga perusahaan alat-alat berat lainnya yang sudah lebih dulu listing di bursa, yaitu United Tractors (UNTR), Intraco Penta (INTA), dan Hexindo Adiperkasa (HEXA), maka KOBE adalah ‘anak muda yang masih belum punya apa-apa’. Namun dalam lima tahun terakhir, KOBE cukup mampu menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Pada tahun penuh 2011, KOBE mencatat laba bersih Rp80 milyar, dibanding Rp7 milyar pada tahun 2006. Lalu kira-kira bagaimana prospekya? Here we go.
Seperti juga perusahaan alat-alat berat lainnya, KOBE menjual dan menyewakan alat-alat berat yang diambil dari produsen luar negeri. Beberapa merk alat-alat berat yang dipegang KOBE adalah Doosan (Korea Selatan), Daewoo (Korea Selatan), NHL (Tiongkok), dan Jungheinrich (Jerman). Di Indonesia, merk-merk alat berat yang lebih dikenal adalah Komatsu (dijual oleh UNTR), Caterpillar (Trakindo, gak listing), Hitachi (HEXA), dan Kobelco (Daya Kobelco Indonesia, gak listing), sehingga bisa dikatakan bahwa KOBE hanya menjual produk-produk kelas dua, setidaknya kalau dari sisi brand (kalau dari sisi kualitas mungkin sama saja). Namun sepertinya itu tidak jadi masalah, dimana KOBE tetap mencatat penjualan yang terus meningkat. Kalau kita perhatikan perusahaan alat berat lainnya yaitu Intraco Penta, mereka juga hanya menjual alat berat merk Volvo, namun kinerjanya tetap boleh dibilang tokcer. Hal ini mungkin karena para pembeli dan penyewa alat-alat berat tidak begitu fanatik terhadap merk. Mereka lebih memperhatikan soal apakah alat berat yang dibeli memiliki spesifikasi sesuai kebutuhan atau tidak. Dan salah satu merk alat berat yang dijual KOBE, Jungheinrich, memiliki kelebihan khusus yaitu spesifikasinya dapat diutak atik (customized) agar sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Namun tetap saja, tantangan terbesar bagi KOBE adalah bagaimana cara memperluas pangsa pasar dari produk-produknya. Dan strategi untuk itu adalah dengan ‘menjemput bola’, dengan membuka kantor-kantor cabang baru di lokasi yang dekat dengan lokasi pertambangan batubara (dimana biasanya para perusahaan tambang batubara tentunya membutuhkan alat-alat berat), yaitu Samarinda dan Balikpapan (Kalimantan Timur), dan Palembang (Sumatera Selatan). Khusus untuk kantor cabang di Palembang, perusahaan melihat adanya peluang yang cukup besar karena disana terdapat beberapa perusahaan yang sedang mengembangkan industri coal bed methane, yaitu industri yang mengubah batubara menjadi gas alam metana. KOBE juga akan mendirikan kantor cabang di wilayah Sulawesi dan Pulau Halmahera (belum ditentukan di kota apa), karena adanya prospek pasar dari banyak perusahaan tambang tembaga, emas dan nikel disana. Sementara untuk memperluas area distribusi di Pulau Jawa, KOBE akan mendirikan dua kantor cabang masing-masing di Semarang, dan Surabaya. Duitnya dari mana? Ya dari IPO lah.
Tapi apakah pendapatan KOBE tergantung hanya dari perusahaan-perusahaan tambang? Untungnya nggak. KOBE juga punya banyak pelanggan dari kelompok perusahaan consumer goods, terutama untuk produk lift-truck. KOBE juga berencana untuk masuk ke pasar penjualan alat-alat berat untuk perusahaan perkebunan kelapa sawit dan infrastruktur. Dan ini adalah kelebihan KOBE dibanding perusahaan alat-alat berat lainnya, yang kebanyakan menggantungkan pendapatannya hanya dari sektor tambang.
Sayangnya tidak seperti perusahaan alat-alat berat lain yang biasanya juga punya unit-unit usaha yang terintegrasi seperti pembiayaan alat-alat berat, kontraktor tambang, atau perusahaan tambang itu sendiri, KOBE sepenuhnya hanya bermain di sektor penjualan dan penyewaan alat-alat berat (termasuk spare part dan maintenance), dan juga tidak memiliki rencana untuk pengembangan usaha untuk menjadi perusahaan alat-alat berat yang terintegrasi (contohnya seperti UNTR). Mengingat bahwa terkadang perusahaan yang membeli alat berat juga membutuhkan layanan tambahan, misalnya layanan pembiayaan (soalnya harga alat-alat berat itu mahal gan!), layanan engineering, hingga kontraktor tambang, maka boleh dikatakan bahwa KOBE belum bisa disebut sebagai one stop solutions company. Dalam hal ini KOBE kalah jauh dibanding INTA atau UNTR. KOBE memang menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan pembiayaan dalam menjual produk-produknya, namun mereka nggak punya perusahaan pembiayaan sendiri. Tapi sekali lagi, hal ini juga ternyata tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Kompetitor KOBE lainnya, HEXA, juga hanya menjual dan menyewakan alat-alat berat tanpa memiliki unit-unit usaha di bidang lainnya yang berkaitan, tapi kinerjanya tetep aja lancar jaya.
Terus bagaimana dengan outlook-nya? Kalau untuk industri alat-alat berat-nya sendiri, sejak tahun 2010 Pemerintah RI telah membebaskan bea impor untuk alat-alat berat (yang berdampak positif pada peningkatan pendapatan perusahaan), dan pada saat ini Pemerintah sedang menyusun peraturan terkait pengadaan lahan, barang, dan jasa, dalam rangka mempermudah masuknya investasi terutama di bidang infrastruktur (dan pembangunan infrastruktur tentunya membutuhkan alat berat). Sementara untuk sektor batubara dimana banyak perusahaan tambang yang menjadi pelanggan KOBE disana, Pemerintah baru saja mengkonfirmasi bahwa tidak ada bea ekspor untuk batubara. Sounds good! IPO KOBE ini juga karena perusahaan tampaknya memang membutuhkan banyak dana untuk menggarap berbagai peluang ekspansi, itu terlihat dari jumlah utang meningkat dua kali lipat di tahun 2011, peningkatan tertinggi dalam lima tahun terakhir, dan sebagian besar utang tersebut merupakan utang usaha (pengambilan unit-unit alat berat dari produsen yang masih belum dibayar).
Itu outlook dari sisi optimisme-nya. Terkait risikonya, di prospektusnya KOBE menekankan bahwa permintaan pasar domestik akan batubara akan meningkat pesat hingga tahun 2015 nanti, seiring dengan selesainya proyek pembangunan PLTU 10,000 MW, sehingga seharusnya para perusahaan batubara akan tetap menggenjot produksinya, meskipun permintaan batubara dari Tiongkok dan India bisa menurun sewaktu-waktu. Soal proyek PLTU 10,000 MW ini kita pernah membahasnya, dan kalau penulis sih cenderung pesimis karena seharunya proyek tersebut sudah kelar tahun 2010 lalu (PLN oh PLN..). Jadi mungkin agak riskan juga kalau KOBE terlalu ‘mengharapkan’ proyek tersebut. Mungkin yang nantinya patut diperhatikan adalah, seberapa gigih perusahaan dalam berupaya memasuki pasar penyediaan alat-alat berat untuk sektor perkebunan kelapa sawit dan infrastruktur, terutama infrastruktur yang pada saat ini sendang tumbuh pesat, dengan tetap mempertahankan para pelanggannya di sektor consumer goods. Jika KOBE sukses dalam upayanya tersebut, maka there is nothing to worry about. Tapi jika tidak? Ya kita berharap saja semoga PLN segera menyelesaikan proyek PLTU-nya, pertumbuhan ekonomi di Tiongkok tetap meningkat pesat (soalnya India katanya mulai melambat), dan para perusahaan tambang bijih logam bisa segera menyelesaikan pembangunan smelter-nya sebelum deadline tahun 2014. Jika anda berminat untuk berinvestasi di KOBE ini, dan juga perusahaan alat-alat berat lainnya, maka itu semua patut diperhatikan.
Sebenarnya untuk sektor batubaranya sendiri, penulis melihat bahwa outlook-nya masih bagus, mengingat sifat dari batubaranya sendiri yang merupakan bahan bakar paling ekonomis untuk pembangkit listrik, sehingga permintaannya gak akan pernah habis (kecuali kalau umat manusia balik lagi ke jaman batu dimana nggak ada listrik), dan karena para perusahaan batubara terutama yang besar-besar, biasanya punya akses yang bagus ke banyak pembeli internasional, sehingga jika satu pembeli berhenti berlangganan, mereka bisa menjualnya ke pembeli yang lain.
Namun, outlook yang bagus tersebut belum tentu akan berimbas positif pada KOBE, mengingat para pembeli alat-alat berat yang dijual KOBE bukanlah perusahaan tambang batubara, melainkan perusahaan kontraktor tambang batubara. Dan disinilah tantangannya: Dari empat perusahaan kontraktor tambang terbesar di Indonesia, yaitu (diurutkan dari yang terbesar) Pamapersada, Bukit Makmur, Thiess, dan Darma Henwa, hanya Bukit Makmur dan Thiess yang menjadi pelanggan KOBE. Mengingat bahwa Pamapersada sebagai perusahaan kontraktor terbesar nyaris gak mungkin beli alat berat dari KOBE (soalnya Pamapersada adalah anak usahanya UNTR), maka pangsa pasar KOBE terbatas hanya pada perusahaan kontraktor yang lebih kecil, dimana para perusahaan kontraktor ini juga hanya punya pelanggan perusahaan batubara kelas kecil dan menengah. Keterbatasan inilah yang menyebabkan KOBE bisa ‘kena duluan’ jika terjadi sesuatu yang nggak bagus pada sektor batubara, apalagi mereka nggak punya perusahaan kontraktor sendiri.
Kesimpulannya KOBE ini barangnya bagus, punya potensi untuk menjadi besar dengan cepat mengingat pertumbuhan di sektornya sedang bagus-bagusnya (UNTR meski besar namun pertumbuhannya sudah mulai mentok), namun jenis usahanya memiliki cukup banyak risiko usaha. KOBE memang punya ‘plan B’ jika sumber pendapatannya di sektor tambang mandek, yaitu dengan masuk ke sektor lain, tapi itu belum dilakukan (kecuali produk Jungheinrich yang sudah punya banyak pelanggan di sektor consumer goods). Untuk saat ini kalau berdasarkan historisnya, KOBE layak dijadikan pegangan long term, but with cautions. KOBE mungkin tidak bisa dipakai untuk trading, mengingat KOBE hanya melepas 858 juta lembar saham ketika IPO-nya, sehingga kemungkinan sahamnya nggak akan likuid.
Soal sahamnya, KOBE dikabarkan akan melepas saham di harga Rp380 – 520 per saham. Kita ambil yang terendah, yaitu Rp380 per saham, yang akan mencerminkan market cap Rp1.2 trilyun. Posisi equity KOBE per akhir tahun 2011 adalah Rp208 milyar. Ditambah hasil IPO sebesar Rp380 x 858 juta = Rp326 milyar (setelah dikurangi biaya emisi, mungkin bersihnya Rp310 milyar), maka equity KOBE akan menjadi Rp208 + 310 = Rp518 milyar, sehingga PBV-nya Rp1.2 trilyun / Rp518 milyar = 2.3 kali (kita pakai PBV sebagai patokan valuasi karena utang KOBE lumayan banyak). Dengan ROA yang mencapai 7.1% kalau berdasarkan laporan keuangan tahun penuh 2011, maka harga tersebut terbilang wajar, meski gak bisa dikatakan murah juga. Pada hari listing perdananya, penulis cukup optimis bahwa KOBE bisa naik ke posisi 420, dengan catatan ketika itu IHSG sudah pulih, atau setidaknya gak turun-turun lagi kaya sekarang.
Tapi bagaimana kalau KOBE dijual di harga Rp500 atau bahkan 520? Ya kalau underwriter-nya maksa gitu sih, mendingan gak usah ikutan dulu deh. Kita liat dulu bagaimana pergerakan sahamnya di market, apakah beneran naik atau nggak.

Blue Chips on Sale!

Jika anda adalah investor konservatif, maka masa-masa terkoreksinya IHSG adalah seperti pesta diskon di pusat perbelanjaan, yang hanya terjadi 2 – 3 kali dalam satu tahun. Pada saat-saat seperti inilah anda bisa berbelanja saham lebih banyak dari [...]

JP Morgan, Dow Jones, & IHSG

Beberapa hari terakhir, media massa global gencar memberitakan soal kerugian yang dialami oleh salah satu bank investasi paling terkemuka di Amerika Serikat (AS) dan juga dunia, yaitu JP Morgan Chase & Co., sebesar US$ 2 milyar (sekitar Rp18 [...]

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Sekolah Internet Indonesia

Rahasia Flip Klik Disini

Panduan Rahasia Dropshipping

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.