Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Krakatau Steel: Development Updates

Sekitar setahun yang lalu, penulis merilis artikel berjudul The Sleeping Giant, dimana disitu penulis mengatakan bahwa meski hingga Kuartal III 2012, Krakatau Steel (KRAS) secara operasional masih mencatatkan kerugian, namun perusahaan ini memiliki banyak sekali rencana pengembangan usaha yang jika pengembangan tersebut berjalan lancar dan sukses, maka perusahaannya juga akan untung besar. Itulah sebabnya judul artikelnya ‘the sleeping giant’, dimana penulis mengandaikan bahwa KRAS ini adalah seperti raksasa yang tertidur, yang siap untuk bangun dan ‘mengamuk’ sewaktu-waktu, karena pasar baja di Indonesia sendiri sebenarnya memiliki prospek cerah seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur dan lain-lain.

Sayangnya setelah lewat satu tahun, raksasa ini ternyata masih belum bangun juga. Hingga tahun penuh 2013, KRAS masih mencatatkan kerugian, kali ini sebesar US$ 14 juta. Nilai ekuitas KRAS sendiri terus tergerus oleh defisit yang terjadi selama dua tahun berturut-turut, sehingga kini nilainya tinggal US$ 1.1 milyar. Alhasil, jika tahun lalu penulis mengatakan bahwa saham ini masih belum bisa direkomendasikan, maka kali ini pun penulis masih harus mengatakan hal yang sama.
However, penulis menerima cukup banyak email yang menanyakan tentang perkembangan terbaru dari KRAS ini. Sebab meski sampai sekarang kinerjanya masih minus, namun dalam setahun terakhir ini manajemen KRAS telah menyelesaikan banyak sekali pekerjaan untuk memajukan perusahaan. Termasuk, kalau anda tinggal di Cilegon sana, anda akan bisa melihat langsung bahwa Krakatau Steel sedang banyak mendirikan ini dan itu. Dan kalau pada tahun 2013 kemarin KRAS masih merugi, maka mungkin itu karena sebagian besar proyek-proyeknya baru akan mulai menghasilkan pada tahun 2014 ini.
Contohnya, sejak IPO pada tahun 2010 lalu, KRAS bekerja sama dengan perusaahaan baja terkemuka asal Korea Selatan, yakni Posco Steel, untuk mendirikan PT Krakatau Posco.  Dan melalui Krakatau Posco ini, perusahaan langsung mulai membangun pabrik baja terintegrasi yang akan menghasilkan steel slab dan steel plate sebanyak total 3 juta ton per tahun, sehingga kapasitas produksi baja milik KRAS akan meningkat lebih dari dua kali lipat (karena selama ini KRAS setiap tahunnya memang memproduksi dan menjual 2.3 – 2.5 juta ton baja dalam berbagai bentuk). Dan coba tebak? Pada saat ini pabrik baja ini sudah selesai dibangun, dan sudah beroperasi sejak Desember 2013 lalu. Yap, meski progress pembangunannya memang cukup lama (sejak 2010), namun yang jelas kapasitas produksi baja milik KRAS kini sudah meningkat dua kali lipat.
Kemudian, salah satu penyebab kenapa perusahaan selama ini gagal dalam mencetak laba, adalah karena karena kinerja KRAS memang kurang efisien, dimana banyak pekerjaan, terutama yang berkaitan dengan infrastruktur, yang tidak dikerjakan sendiri melainkan diberikan kepada pihak ketiga, karena KRAS memang tidak memiliki infrastruktur tersebut.
Karena itulah, selain membangun pabrik baja, proyek lainnya yang dikebut perusahaan adalah pembangunan berbagai infrastruktur pendukung pabrik itu sendiri. Salah satunya adalah pelabuhan yang akan difungsikan untuk mengangkut baja yang diproduksi oleh Krakatau Posco, berlokasi di Cilegon. Dan seperti juga pabrik bajanya, pelabuhan ini sudah selesai dibangun dan sudah beroperasi pada Desember 2013. Dengan adanya pelabuhan milik sendiri ini, maka KRAS bisa menghemat biaya transportasi sehingga pendapatannya otomatis akan bertambah, kurang lebih sekitar US$ 28 juta per tahun.
Selain Pelabuhan, KRAS juga membangun pembangkit listrik, dimana ketika nanti pembangkit listrik ini beroperasi maka akan menurunkan biaya penggunaan listrik sampai 20% (karena kini perusahaan punya suplai listrik sendiri). Pembangkit listrik ini juga sudah selesai dibangun pada akhir tahun 2013 kemarin.
Ketiga proyek diatas adalah proyek-proyek utama milik perusahaan yang sudah selesai dan sudah siap beroperasi. Dalam hal ini manajemen KRAS mungkin boleh diapresiasi karena mereka sukses dalam menyelesaikan proyek-proyeknya secara tepat waktu (sejak awal pabrik bajanya memang dijadwalkan baru akan beroperasi pada tahun 2014). Diluar itu, saat ini KRAS juga masih mengerjakan beberapa proyek pengembangan usaha, antara lain:
  1. Membangun fasilitas penyediaan air bersih untuk kawasan industri Krakatau – Posco, belum ada jadwal soal kapan proyek ini akan selesai.
  2. Masuk ke bisnis kawasan industri dengan berencana mengakuisisi total 400 hektar lahan di Cilegon, yakni di lokasi yang tidak terlalu jauh dengan kawasan industri milik Kawasan Industi Jababeka (KIJA). KRAS bahkan juga membangun hotel di kawasan ini (sudah selesai). Pembangunan kawasan industri ini diperkirakan akan tuntas dalam waktu 2 – 3 tahun mendatang (masih lama), namun sejauh ini perusahaan sudah sukses mengakuisisi lahan seluas 75 hektar.
  3. Masuk ke bisnis pipa baja dengan mendirikan dua pabrik pipa baja dengan kapasitas 150 ribu ton per tahun. Pabrik-pabrik ini dijadwalkan akan beroperasi pada bulan Oktober 2014.
  4. Pabrik baja tipe blast furnace. Pembangunan pabrik ini sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu, tapi selesainya masih harus menunggu setahun lagi, yakni tahun 2015.
  5. Pabrik baja jenis hot strip, selesai tahun 2017.
Koleksi proyek pengembangan usaha milik PT Krakatau Steel, baik yang masih dikerjakan maupun yang sudah siap beroperasi
Nah, dengan demikian menarik untuk melihat, bagaimana kira-kira kinerja KRAS pada Kuartal I 2014 mendatang, apakah mereka pada akhirnya sukses mencatatkan laba bersih atau tidak. Sebab disisi lain, kinerja KRAS yang buruk dalam dua tahun terakhir juga bukan karena manajemennya nggak becus, melainkan karena turunnya harga baja dunia, dan melemahnya industri baja secara umum. Termasuk perusahaan baja terbesar di dunia, Arcelor Mittal, juga mencatatkan laba bersih yang minus alias rugi dalam dua tahun terakhir.
Sementara belakangan ini, meski masih terkesan ‘malu-malu’, namun harga baja sudah mulai stabil di level US$ 600 – 700 per ton (tergantung bentuk dan kegunaannya), dari sebelumnya US$ 500 – 550 per ton. Ditambah dengan sumber penghasilan baru dari pabrik baja yang dimiliki bersama dengan Posco, dan adanya efisiensi dari kepemilikan perusahaan atas pelabuhan dan pembangkit listrik milik sendiri, maka memang menarik untuk melihat bagaimana kira-kira kinerja KRAS di tahun 2014 ini.
Namun berhubung hingga kinerja terakhirnya KRAS masih menderita kerugian, maka saham ini tetap masih belum bisa direkomendasikan. Okay, pada tahun 2014 ini pendapatan KRAS hampir bisa dipastikan akan meningkat signifikan, tapi bagaimana dengan laba bersihnya? Apakah bisa dipastikan tidak akan minus alias rugi lagi? Sebab dalam mengerjakan proyek-proyek pengembangan usahanya, KRAS mengeluarkan banyak dana termasuk dana pinjaman bank, dimana bunga dari pinjaman tersebut bisa dipastikan akan menekan laba KRAS di awal-awal, padahal margin laba dari bisnis baja sendiri sejak awal sudah kecil. PBV KRAS yang hanya 0.7 kali juga belum cukup menarik karena sebagian besar aset KRAS merupakan aset tidak lancar, dan karena posisi utang KRAS cukup besar dengan DER 1.3 kali.
Karena itulah, kalau anda berminat dengan saham ini maka sebaiknya tunggu hingga Mei nanti, dimana KRAS akan merilis laporan keuangan Kuartal I 2014 (dan untungnya KRAS terbilang cepat dalam merilis LK-nya, yang menunjukkan bahwa manajemennya cukup bagus). Sementara kalau anda sudah memegang sahamnya sejak awal, maka untuk saat ini tidak ada alasan untuk keluar karena raport merah yang dialami KRAS sejauh ini terbilang masih acceptable, dan kita tahu bahwa pihak manajemen sudah bekerja keras untuk membuat perusahaan menjadi jauh lebih baik (kualitas manajemen KRAS di masa lalu kemungkinan emang dodol, tapi beberapa tahun ini sudah cukup baik lah, terutama sejak dirutnya diganti). Jadi yah, mudah-mudahan hasilnya bisa langsung kelihatan Mei nanti.
PT Krakatau Steel (Persero), Tbk
Rating Kinerja pada Q4 2013: BB
Rating Saham pada 520: BBB

Jika anda memiliki opini tersendiri tentang outlook Krakatau Steel ini kedepannya, anda bisa menulisnya melalui kolom komentar [...]

Mitrabahtera Segara Sejati

Bagi anda yang sudah hafal dengan gaya investasi penulis, anda mungkin sudah tahu alasan kenapa penulis membahas saham yang satu ini. Yup, Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) terlalu menarik untuk diabaikan mengingat valuasinya yang rendah, yakni PER 4.4 dan PBV 0.7 kali pada harga saham 1,050, sementara tidak ada yang salah kinerja perusahaan. Hingga tahun penuh 2013, MBSS mencatatkan laba bersih US$ 39 juta, yang mencerminkan return on equity (ROE) 16.3%, dan ekuitasnya sendiri bertumbuh 14.4%. Outlook kedepan? Well, juga no problem.

MBSS adalah perusahaan perkapalan yang menawarkan jasa logistik terintegrasi bagi perusahaan-perusahaan tambang batubara, dimana MBSS memiliki kapal barge (tongkang), tug boat, floating crane, hingga support vessel. MBSS juga punya satu kapal lagi yang khusus untuk mengangkut semen, dengan salah satu pelanggan tetap milik perusahaan adalah Holcim Indonesia (SMCB). MBSS sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 1994, dan sejak tahun 2011 menjadi anak usaha Indika Energy (INDY). Pada tahun 2013, 20% pendapatan perusahaan berasal dari sesama anak usaha INDY, dalam hal ini PT Kideco Jaya Agung, sementara selebihnya berasal dari pihak ketiga. MBSS adalah salah satu penyedia jasa logistik utama bagi perusahaan-perusahaan batubara terbesar di tanah air, seperti Adaro, Kaltim Prima Coal, Berau Coal, dan Borneo Indo Bara.
Poin menarik bisnis kapal pengangkutan batubara yang dijalani oleh MBSS ini adalah margin labanya yang besar. Pada tahun 2013, dari pendapatan perusahaan sebesar US$ 151 juta, beban terbesar yang harus dikeluarkan perusahaan hanyalah beban bahan bakar dan penyusutan senilai total US$ 50 juta, sementara biaya-biaya yang lainnya terbilang sangat kecil, dan alhasil bisa diperoleh laba bersih sebesar US$ 39 juta, sehingga marginnya mencapai 26.1%. Margin yang besar ini mengingatkan penulis bahwa bisnis penyewaan, entah itu penyewaan kapal atau lainnya, itu memang menguntungkan, karena kita menjual jasa, bukan produk. Sebagai contoh, jika anda perhatikan kinerja dari perusahaan-perusahaan penyewaan menara telekomunikasi seperti Tower Bersama Infrastructure (TBIG) dan lainnya, mereka juga memiliki margin laba yang besar. Disisi lain, nilai penyusutan yang terjadi pada kapalnya sama sekali tidak besar, dimana kapal-kapal milik MBSS masih bisa digunakan hingga belasan tahun kedepan.
Pertumbuhan MBSS dalam dua tahun terakhir ini juga terbilang mengesankan, terutama mengingat kondisi industri batubara yang sedang lesu. Pada akhir tahun 2011, modal bersih MBSS tercatat US$ 178 juta, dan di tahun 2013 tumbuh menjadi US$ 236 juta, atau naik total 32.6% dalam dua tahun, padahal sektor batubara justru sedang mengalami masa-masa sulitnya pada periode 2011 – 2013 tersebut. Untuk kedepannya, MBSS masih memegang kontrak logistik batubara senilai sekitar US$ 250 juta, itupun dengan asumsi bahwa perusahaan tidak memperoleh kontrak baru sepanjang tahun 2013. Alhasil, pendapatan perusahaan untuk tahun 2014 ini dipastikan masih aman.
Nah, diatas sudah disebutkan bahwa MBSS ini menarik karena valuasinya yang sangat rendah dari sisi PER dan PBV. Termasuk, jika dilihat dari besaran dividen yang dibayarkan perusahaan pada tahun 2013 lalu yakni sebesar Rp50, maka dividend yield-nya mencapai hampir 5%, padahal ketika itu MBSS hanya membagikan 22% labanya sebagai dividen. Untuk tahun ini seharusnya perusahaan akan membagikan dividen pada jumlah yang paling tidak sama, mengingat labanya masih naik.
Dan fakta lainnya yang mungkin perlu anda perhatikan adalah bahwa pada tahun 2012 lalu, INDY telah mengeluarkan Rp1.4 trilyun untuk mengakuisisi 51% saham MBSS ini, atau setara Rp1,630 per saham, alias jauh lebih tinggi dibanding harga sahamnya pada saat ini yakni 1,050. Entah apakah dengan demikian INDY bisa dikatakan nyangkut di MBSS, tapi yang jelas pada harga saham 1,630, PBV MBSS pada saat ini adalah 1.1 kali, dan itu masih relatif murah mengingat track record laba MBSS yang rata-rata mencapai 15 – 20% dari modal bersihnya setiap tahun (tahun 2009 malah sempat 35%).
Jadi dengan asumsi bahwa di tahun 2014 ini MBSS akan kembali mencatatkan laba yang paling tidak sama dengan labanya saat ini (ini adalah asumsi konservatif, dengan menganggap bahwa sektor batubara masih akan tetap lesu seperti sekarang), maka ekuitas MBSS juga akan tumbuh sekitar 15% menjadi US$ 280 juta. Alhasil nilai riil dari 51% saham MBSS yang dipegang INDY akan menjadi US$ 143 juta alias Rp1.4 trilyun, atau setara Rp1,760 per saham, sehingga bisa dikatakan bahwa INDY akan balik modal pada tahun depan. Btw ingat bahwa kita bicara soal nilai perusahaan disini, dalam hal ini nilai aset bersihnya, dan bukan soal harga sahamnya.
Dan saat ini, anda sebagai investor bisa membeli MBSS ini di pasar pada harga Rp1,050 saja! So what d’ya think?
Memang, seperti juga saudara dan induknya, yakni Petrosea (PTRO) dan INDY, saham-saham Grup Indika turun terus dalam dua tahun terakhir ini. Namun jika dibandingkan dengan kinerja INDY yang hancur lebur karena badai penurunan harga batubara plus karena besarnya beban utang, termasuk PTRO juga mengalami penurunan laba yang lumayan dalam dua tahun ini, maka kinerja MBSS ini masih lancar jaya. MBSS juga memang punya utang namun jumlahnya masih wajar, tapi menariknya bunganya cuma 5 – 6% per tahun. Entah bagaimana caranya MBSS bisa dapet pinjaman murah begitu, tapi yang jelas beban bunga yang harus dibayar perusahaan menjadi sangat kecil dan nyaris tidak mengganggu perolehan laba bersih.
Namun seperti umumnya saham-saham lain yang harganya sedang dibawah, MBSS ini terbilang tidak likuid, sehingga jika anda tertarik maka anda harus membelinya secara menyicil. Target harganya? Let see jika saham ini bisa naik hingga ke posisi 1,760 tadi, namun seperti biasa, jangan harap bahwa MBSS ini akan langsung naik ke posisi tersebut pada hari besok, minggu depan, atau bulan depan, melainkan biasanya butuh waktu yang cukup lama, termasuk mungkin akan sempat turun dulu (siapa yang tau?). Namun, percaya atau tidak, hal ini justru bagus karena jadi memberi kita cukup waktu untuk menyicil MBSS ini sebelum dia bener-bener naik. Percuma saja kan, kalau MBSS ini belum apa-apa langsung naik padahal kita baru megang 10 lot?
PT. Mitrabahtera Segara Sejati, Tbk (MBSS)
Rating Kinerja pada 2013: A
Rating Saham pada 1,050: AA

Buletin analisis saham bulanan edisi April 2014 sudah terbit tanggal 1 April kemarin. Anda masih bisa memperolehnya [...]

Menghitung Risiko Kerugian dalam Investasi Saham

Risiko mengalami kerugian dalam berinvestasi saham adalah bagian yang tidak terpisahkan dari investasi saham itu sendiri. Kebanyakan investor, baik yang masih baru maupun yang sudah berpengalaman, biasanya sudah sadar akan adanya risiko tersebut, namun jarang diantara mereka yang mau menaruh perhatian khusus terhadapnya. Setiap kali penulis bertemu dengan kawan-kawan sesama investor, biasanya mereka hanya suka membicarakan tentang seberapa besar potensi keuntungan yang bisa diraih, tanpa mau sedikitpun menyinggung tentang risiko kerugian yang bisa saja diderita. Intinya, ketika seorang investor mulai berinvestasi di saham, maka yang terbayang di benaknya adalah keuntungan sebesar sekian, tapi tidak terbayang sama sekali tentang berapa besar kerugian yang mungkin diderita, atau mungkin lebih tepatnya tidak mau membayangkan tentang hal tersebut. Dan itu wajar-wajar saja, memangnya siapa yang mau rugi?

Padahal salah satu kunci penting agar sukses dalam berinvestasi di pasar saham adalah kemampuan dalam mengukur kemungkinan atau risiko terjadinya kerugian. Kemampuan ini diperlukan, agar anda kemudian bisa mengambil langkah-langkah untuk meminimalisir risiko terjadinya kerugian tersebut.
Sebab jika anda terus fokus pada upaya untuk mencetak keuntungan sebesar-besarnya, maka berdasarkan pengalaman, hasilnya justru malah akan buruk. Ibarat bermain bola, jika strategi anda hanya fokus pada upaya untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan, tanpa pernah mengukur seberapa besar kekuatan lawan dalam mencetak gol ke gawang anda sendiri, atau dengan kata lain melupakan pertahanan, maka hasilnya tim anda justru akan kalah. Sebab, percuma saja kan kalau anda bisa mencetak dua gol, jika lawan mampu mencetak tiga gol. Sama seperti halnya dalam investasi saham: Kalau anda cuan dari dua saham, namun tiga lainnya mengalami kerugian, maka hasilnya secara keseluruhan tetap rugi bukan?
Dan pasar (baca: IHSG) adalah lawan yang tidak pernah bisa diprediksi. Kalau dia lagi baik (baca: naik terus), maka terserah anda mau beli saham apa, biasanya hasilnya akan baik pula. Tapi kalau dia sedang menggila, maka para investor yang melupakan strategi ‘pertahanan’ inilah, yang biasanya akan babak belur.
Nah, kalau penulis sendiri, dalam prakteknya, penulis selalu mempetimbangkan faktor kemungkinan terjadinya kerugian ini dalam setiap keputusan untuk membeli saham tertentu, atau dengan kata lain sebelum saya membeli saham, maka saya selalu memperhitungkan seberapa besar nilai kerugian yang mungkin diderita. However, hingga ketika artikel ini ditulis, penulis agak kesulitan untuk menjelaskan metode menghitung risiko kerugian tersebut dengan bahasa yang mudah. Tapi untungnya kemarin penulis melihat iklan sebuah produk asuransi, yang mungkin bisa digunakan sebagai acuan untuk ‘menakar’ seberapa besar tingkat kerugian yang bisa diderita oleh seorang investor saham.
Jadi begini. Agustus 2013 kemarin adalah kali kesekian penulis ‘diserang balik’ oleh pasar, dimana portofolio langsung membara tanpa ampun. Ketika itulah penulis mulai berpikir bahwa kalau saja saya punya perusahaan asuransi (sebab Mr. Buffett juga punya banyak perusahaan asuransi), maka saya akan meluncurkan produk perlindungan terhadap risiko kerugian dalam berinvestasi di saham. Sebab seperti halnya anda bisa saja mengalami kecelakaan ketika mengendarai mobil atau sepeda motor, maka di pasar modal, tak peduli sehebat apapun anda dalam berinvestasi, anda tetap saja bisa mengalami kerugian setiap saat. Benar bukan?
Tapi kemudian penulis berpikir lagi, akan seperti apa produk asuransi yang ditawarkan? Mengingat:
  1. Risiko dalam berinvestasi di saham jauh lebih besar dibanding risiko mengalami kecelakaan ketika mengendarai kendaraan bermotor. Anda bisa saja mengendarai mobil yang sama selama bertahun-tahun tanpa mengalami tabrakan sama sekali, namun anda hampir pasti akan mengalami kerugian (diluar keuntungan yang juga diperoleh) dalam investasi anda di saham, entah itu di tahun pertama, kedua, atau seterusnya, selain karena pasar saham itu sendiri selalu mengalami periode bullish dan bearish secara bergantian setiap tahunnya.
  2. Risiko tersebut akan lebih besar jika anda bukan investor profesional. Yang dimaksud investor profesional adalah mereka yang memang menjadikan kegiatan investasi saham sebagai pekerjaannya, seperti para fund manager, atau investor individual yang full time (seperti pak Lo Kheng Hong). Investor profesional biasanya mengerti benar tentang apa yang ia lakukan, entah itu ketika membeli, hold, atau menjual saham, karena itu memang pekerjaannya, dan karena ia punya waktu untuk secara fokus mempelajari fundamental dari saham-saham yang ia pegang. Sayangnya mayoritas investor ritel di pasar modal tidak termasuk investor profesional ini, melainkan hanya menjadikan investasi saham sebagai kegiatan sampingan diluar dia punya pekerjaan.
Intinya, yang namanya produk asuransi itu kan harus juga menguntungkan bagi perusahaan asuransi yang bersangkutan, karena dari situlah perusahaan memperoleh pendapatan. Jadi kalau saya sebagai pemilik perusahaan asuransi harus menanggung risiko terjadinya kerugian yang mungkin anda derita, sementara risiko itu sendiri sangat besar kemungkinannya untuk terjadi, maka jadinya mungkin malah saya yang rugi dong?
Tapi rupanya ada satu perusahaan asuransi yang mampu menangkap peluang ini, dan juga mampu mendesain satu produk asuransi yang disatu sisi akan melindungi nasabah dari risiko kerugian dalam berinvestasi saham, tapi disisi lain akan tetap memberikan keuntungan bagi perusahaan asuransi itu sendiri. Penulis tidak akan menyebutkan nama perusahaan asuransi tersebut, serta apa nama produknya, namun penjelasan dari produk yang ditawarkan adalah sebagai berikut:
Pertama. Investasi saham yang dilindungi adalah investasi saham melalui unit-link, yakni anda membeli saham melalui perusahaan asuransi. Biasanya oleh perusahaan asuransi, dana anda akan ditempatkan di reksadana, dimana barulah oleh perusahaan reksadana tersebut dana anda akan dipakai untuk belanja saham. Dengan demikian, dana anda akan dikelola oleh dua investor profesional sekaligus, yakni perusahaan asuransi itu sendiri, dan fund manager di perusahaan reksadana yang ditunjuk. Dengan cara inilah, risiko terjadinya kerugian karena ketidak profesionalan secara otomatis terhapuskan, karena dana anda dikelola oleh profesional, bukan oleh anda sendiri.
Karena investasi anda kini dikelola oleh profesional, maka risiko terbesarnya relatif terbatas pada fluktuasi pasar alias IHSG. Jika IHSG turun, maka biasanya nilai aktiva bersih (NAB) dari unit link anda juga akan turun.
Kedua. Nilai jaminan yang diberikan adalah sebesar 80% dari nilai NAB tertinggi yang pernah dicapai. Artinya jika anda membeli produk asuransi ini, maka ketika pasar anjlok 30% dari posisi puncaknya, dan NAB unit link anda juga ikut jebol sebesar 30% tersebut, maka anda memiliki opsi untuk mencairkan nilai jaminan anda, dimana penurunan yang anda derita bukan 30%, melainkan hanya 20% (100% dikurangi 80%).
Sebagai contoh, anda membeli unit link pada harga Rp2,250 per unit, ketika IHSG berada di level 4,500. Beberapa waktu kemudian, IHSG naik sampai 5,000, dan unit link anda kini bernilai Rp2,500, alias mencetak keuntungan 11.1%.
Namun beberapa waktu berikutnya, IHSG berbalik turun dari 5,000 hingga 3,800, alias turun 24.0%, dan NAB unit link anda juga turun dengan persentase yang sama, yakni turun dari 2,500 ke 1,900. Nah, ketika terjadi situasi seperti inilah, anda akan memiliki opsi untuk menjual unit link anda pada harga senilai 80% dibanding posisi NAB tertinggi yang pernah dicapai, alias 2,500 x 80% = Rp2,000.
Dengan demikian, meski sejatinya anda tetap saja rugi, namun kerugian yang anda derita tidak sebesar yang semestinya, karena anda bisa keluar dari unit link yang anda pegang pada harga 2,000, dan bukannya 1,900. Selisih harga sebesar Rp100 itulah yang kemudian ditanggung oleh perusahaan asuransi, sebagai bentuk tanggung jawab perlindungan atas premi yang sudah anda bayarkan sebelumnya.
Kesimpulan
Penulis hanya membutuhkan waktu beberapa detik ketika membaca penjelasan mengenai produk asuransi diatas, untuk bisa langsung mengambil kesimpulan bahwa produk asuransi inilah yang menjawab pertanyaan penulis sebelumnya, yakni tentang produk asuransi yang disatu sisi bisa memberikan perlindungan terhadap investor, namun disisi lain tetap memberikan keuntungan yang substansial bagi perusahaan asuransi yang bersangkutan.
Sebab, ingat bahwa meski IHSG bisa naik dan turun setiap saat, namun untuk bisa turun hingga lebih dari 20% dari puncaknya, maka itu terbilang jarang terjadi, paling sering hanya setahun sekali yakni pada periode bear market. Memang ada juga kasus dimana IHSG turun secara ekstrim seperti tahun 2008 dan 1998, tapi itu lebih jarang lagi terjadi, mungkin hanya 10 hingga 15 tahun sekali.
Karena itulah, ketika risiko dalam berinvestasi di saham bisa dibatasi hanya pada risiko pasar (dengan cara membeli saham melalui unit link), sementara nilai pertanggungannya juga hanya 80% dari nilai aset yang ditanggung (bukan 100%), maka praktis risiko yang dihadapi perusahaan asuransi menjadi jauh lebih terbatas, bahkan jika dibanding ketika mereka menjual produk asuransi konvensional. Kalau anda mengasuransikan mobil anda untuk perlindungan terhadap kasus kehilangan, dan mobil itu harganya Rp200 juta, maka ketika mobil itu benar-benar hilang, kerugian yang diderita pihak asuransi adalah juga Rp200 juta.
Sementara dalam asuransi untuk investasi saham (sekali lagi, investasi melalui unit-link), ketika NAB unit link anda turun dari Rp2,500 menjadi Rp1,900 per unit (seperti contoh diatas), maka nilai kerugian yang ditanggung pihak asuransi cuma Rp100, alias kecil sekali! Selain itu ingat pula bahwa tidak semua investor akan langsung mencairkan unit-linknya ketika NAB unit link itu sendiri anjlok, melainkan banyak pula diantara mereka yang memilih untuk hold saja, karena mereka tahu bahwa toh pada akhirnya nanti NAB tersebut akan naik lagi, yakni ketika IHSG pulih kembali.
Jadi jika si nasabah tidak mencairkan unit link-nya, maka pihak asuransi juga tidak perlu membayar Rp100 tadi bukan? Penulis yakin 100% bahwa perusahaan asuransi yang bersangkutan pasti sudah mendidik para agennya untuk membujuk para nasabah agar tidak mencairkan unit link-nya ketika pasar lagi anjlok, biasanya dengan kalimat maut berikut: ‘Tenang aja pak/bu, nanti juga akan naik lagi kok!’
Jadi anda bisa bayangkan betapa besarnya keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan asuransi ketika mereka sukses menjual produk asuransi proteksi investasi melalui unit-link ini, karena nilai pertanggungan mereka nyaris nol! Sudah tentu, mereka juga pada akhirnya bisa saja harus menanggung kerugian yang amat-sangat besar jika terjadi krisis seperti tahun 2008 atau 1998, dimana kata-kata ‘Nanti juga akan naik lagi!’ tidak mungkin lagi didengar oleh para nasabah yang sudah terlanjur panik. Tapi yah, seberapa sering sih pasar kita mengalami crash seperti itu?
Kaitannya dengan Investasi Kita di Saham
Contoh diatas mengilustrasikan seberapa besar risiko kerugian yang harus dihadapi perusahaan asuransi, ketika mereka harus berhadapan dengan ‘ketidak pastian dalam investasi saham’. Yap, memang tidak ada yang pasti dalam pasar saham, termasuk anda juga tidak akan tahu kapan IHSG akan naik atau turun, sehingga disitulah kemudian terdapat risiko terjadinya kerugian. Namun ternyata kalau bagi perusahaan asuransi, setelah melalui beberapa strategi, risiko tersebut kemudian bisa ditekan hingga serendah-rendahnya.
Tapi berdasarkan ilustrasi ‘manajemen risiko’ seperti yang sudah dibahas diatas, anda kemudian juga bisa memperkirakan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada portofolio saham anda, dan penulis akan menjelaskannya disini:
Satu. Sudah menjadi pakem umum bahwa indeks saham, entah itu IHSG atau lainnya, bisa dikatakan sedang mengalami periode koreksi, bear market, atau apapun istilahnya, jika dia turun sekitar 20% dari posisi puncaknya, dan itu secara rutin terjadi setiap satu atau dua tahun. Jika penurunan tersebut mencapai 30% atau lebih, maka itu baru bisa dikatakan krisis, namun IHSG mungkin hanya akan jatuh hingga sedalam itu setiap sepuluh hingga lima belas tahun sekali. Pada puncak bear market di tahun 2013 kemarin, penurunan IHSG tidak sampai 30% (dari posisi puncaknya yakni 5,251), melainkan hanya sekitar 25 – 27%.
Ini artinya jika anda membeli saham-saham yang bergerak sesuai dengan pergerakan indeks, yakni (biasanya, meski nggak selalu) saham-saham blue chip dengan fundamental bagus, maka separah-parahnya kerugian yang bisa anda derita adalah sekitar 20%, jika anda kebetulan masuk pasar pas posisi IHSG sedang di puncaknya.
Dan itu berarti, jika modal awal anda adalah Rp100 juta, misalnya, maka selama anda tidak menggunakan margin dan anda hanya memilih saham-saham yang pergerakannya mengikuti indeks, anda jangan bayangkan bahwa uang Rp100 juta tersebut akan habis seluruhnya. Paling parah, kerugian yang anda derita cuma sekitar Rp20 juta, sehingga sisanya masih cukup besar, yakni Rp80 juta.
Dan dalam berinvestasi, itu adalah tingkat risiko yang masih bisa diterima, sehingga sebenarnya tidak ada alasan bagi anda untuk panik ketika saham anda turun, karena uang anda tidak habis seluruhnya, melainkan hanya sekitar 20% tadi, itupun kalau pasar lagi anjlok (kecuali tentu, kalau anda main saham gorengan, gocapan, dan semacamnya).
Kedua, perusahaan asuransi yang kita bahas diatas tahu persis bahwa sedalam apapun koreksi yang terjadi pada pasar, namun toh pada akhirnya IHSG akan naik kembali. That means, ketika anda mengalami bad luck karena masuk pasar pas ketika IHSG lagi tinggi-tingginya, maka meskipun portofolio anda menjadi merah karena terseret oleh koreksi pasar yang terjadi kemudian, namun pada akhirnya harga dari saham-saham yang anda pegang akan naik kembali ketika pasar pulih kembali. Pada situasi inilah anda dituntut untuk bisa melihat penurunan pasar sebagai kesempatan untuk beli lagi di harga bawah, atau paling tidak hold, dan bukannya malah panik kemudian cut loss! Jika anda sudah bisa ‘bertahan’ ketika pasar dilanda ‘hujan badai’, maka praktis risiko kerugian yang mungkin anda alami menjadi berkurang secara sangat signifikan.
However, ingat bahwa risiko diatas belum memperhitungkan:
  1. Faktor ketidak tahuan. Sebagian besar investor di tanah air tidak mengetahui sama sekali tentang saham yang mereka beli, melainkan biasanya hanya karena ikut-ikutan, dan
  2. Faktor greed and fear. Sebagian besar investor mudah mengalami euforia (sehingga membeli lebih banyak) ketika pasar bullish, dan sebaliknya, mengalami panik (sehingga malah jualan) ketika pasar bearish.
Selain itu ingat pula bahwa risiko yang dibahas diatas hanyalah merupakan risiko pasar, tapi belum termasuk memperhitungkan risiko korporat. Yang dimaksud dengan risiko pasar adalah risiko terjadinya kerugian karena penurunan IHSG, atau penurunan dari harga saham yang anda pegang karena beredarnya sentimen negatif atau semacamnya. Sementara risiko korporat adalah risiko terjadinya kerugian karena adanya perubahan fundamental dari saham yang anda pegang. Misalnya anda pegang saham A karena fundamentalnya bagus, dimana kinerja perusahaannya mencatatkan laba bersih yang besar, dll. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perusahaan A ini ternyata mengalami penurunan laba, atau bahkan kerugian. Nah, dalam situasi itulah anda akan mengalami kerugian ketika harga saham A terjun bebas.
Untuk risiko terjadinya kerugian karena faktor ketidak tahuan, itu bisa diminimalisir dengan satu tips berikut: Jangan pernah membeli saham tanpa terlebih dahulu mempelajari perusahaannya secara mendalam. Jangan pernah, sekali lagi jangan pernah! Membeli saham hanya berdasarkan info bahwa hari ini dia akan dikerek oleh bandar atau semacamnya.
Dan untuk risiko karena faktor greed and fear, itu hanya bisa diminimalisir dengan memperbanyak pengalaman. Intinya, kalau anda masih baru di pasar dan masih sering mengalami panas dingin ketika IHSG anjlok, maka itu wajar. Namun jika anda sudah bertahun-tahun di pasar tapi masih sering mengalami hal yang sama, maka anda bisa pertimbangkan untuk membuka reksadana.
Sementara untuk risiko terjadinya kerugian karena risiko korporat seperti yang sudah dibahas diatas, satu-satunya cara untuk meminimalisirnya adalah dengan menerapkan metode value investing, yakni dengan hanya membeli saham pada harga yang secara signifikan lebih rendah dibanding nilai wajar atau nilai intrinsiknya. Penjelasan mengenai hal ini tentu saja membutuhkan tulisan yang lebih panjang lagi, namun anda bisa membaca artikel-artikel lain yang disajikan di blog ini, sudah sering saya bahas kok.
Pada akhirnya, risiko terjadinya kerugian sudah merupakan ‘makanan sehari-hari’ bagi seorang investor saham. Tak peduli semahir apapun anda dalam menganalisis, sejeli apapun anda dalam memilih saham, namun tetap saja pada akhirnya anda akan mengalami kerugian dari saham-saham tertentu. Poinnya disini adalah, anda tidak perlu berkecil hati ketika pada waktu tertentu anda mengalami kerugian, terutama bagi anda yang masih baru, karena yang penting adalah bahwa setelah jangka waktu yang cukup lama, akumulasi keuntungan yang anda peroleh lebih besar ketimbang akumulasi kerugian yang anda derita. It’s okay kalau dari sepuluh saham berbeda yang anda beli, ternyata ada satu atau dua saham yang ternyata keliru dan menyebabkan kerugian. Hanya memang, jika dari sepuluh saham yang anda beli, sembilan diantaranya ternyata menyebabkan kerugian, maka barulah anda perlu mengevaluasi cara berinvestasi anda selama ini.
Tapi yang paling penting, seperti yang sudah dibahas diatas, anda kini sudah memiliki gambaran tentang seberapa besar kerugian yang mungkin anda derita, yakni hanya sekitar 20%, itupun jika pasar mengalami koreksi. Sekali lagi, bahkan meski anda masih benar-benar awam soal investasi, namun jangan pernah membayangkan bahwa dana anda akan habis seluruhnya.
Sementara disisi lain, potensi keuntungan yang bisa anda peroleh jauh lebih besar, yakni bisa mencapai ratusan persen atau berkali-kali lipat! Meski tentunya keuntungan tersebut tidak akan bisa anda peroleh dalam waktu yang sekejap. Jika anda tidak percaya maka coba cek berapa persen kenaikan saham-saham berfundamental baik seperti ASII, BBRI, BMRI, CPIN, SMGR, dan seterusnya, dalam lima tahun terakhir ini.
So, masih takut untuk ikut berinvestasi di saham?
NB: Buletin analisis & rekomendasi saham bulanan edisi April 2014 akan terbit tanggal 1 April mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Ketika Harga Saham Tidak Lagi Berarti Apapun

Beberapa hari lalu, manajemen Bank BTPN (BTPN) mengumumkan bahwa Sumitomo Mitsui Banking Corporation (Sumitomo) kembali membeli 15.7% saham BTPN melalui pasar negosiasi, dengan harga pembelian Rp6,500 per saham, atau jauh diatas harga pasar ketika itu yakni Rp4,300 per saham. Dengan demikian, Sumitomo resmi memegang 40% saham BTPN, namun inti ceritanya bukan terletak disitu, melainkan: Kenapa kok Sumitomo mau-maunya menggelontorkan dana hingga Rp15.2 trilyun untuk mengambil alih 40% saham BTPN di harga Rp6,500, padahal harga BTPN itu sendiri di pasar cuma Rp4,300?

               

Untuk memahami hal ini, mungkin kita bisa balik lagi ke tahun 2009 dulu dimana penulis untuk pertama kalinya memulai karier investasi di pasar saham, ketika itu tentu saja dengan dana yang amat sangat kecil, yang disisihkan dari gaji penulis sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan (kalau sekarang sih saya sudah jadi pengangguran).
Nah, sebagai investor kecil, termasuk masih memiliki emosi yang labil, ada satu hal yang langsung terpatri di benak penulis ketika itu, yakni: Sepertinya kok nasib investasi kita sangat ditentukan oleh pasar, bandar, atau apapun itu namanya, dan kita nggak punya kuasa apapun untuk melawan mereka, termasuk analisis yang kita buat capek-capek sebelumnya juga nggak berarti apa-apa. Contohnya, ketika saya membeli saham Bank BRI (BBRI), saya kemudian yakin akan pilihan saya tersebut karena secara fundamental, BBRI adalah saham yang sangat bagus.

Namun ternyata kalau IHSG turun maka dia juga ikut turun, dan alhasil portofolio saya seketika dihiasi warna merah. Ketika itu, jujur saja, sangat sulit untuk bisa berkomitmen untuk investasi jangka panjang, untuk bisa melihat bahwa BBRI ini (dan juga saham-saham berfundamental baik lainnya) pada akhirnya akan naik terus setelah jangka waktu yang tidak sebentar. Yang ada kalau saham yang saya pegang turun, maka meski saham tersebut belum dijual, saya kemudian merasa bahwa kita benar-benar sudah mengalami kerugian, dan bahwa keputusan investasi yang saya buat ternyata keliru.

Itu untuk saham blue chip seperti BBRI. Sementara untuk saham-saham yang kecil-kecil, yang pergerakannya lebih ekstrim dan juga tidak terlalu dipengaruhi pasar, disitulah saya mulai merasa tidak berdaya dihadapan ‘bandar’, atau ‘asing’. Penulis pernah mengalami satu kondisi dimana penulis memasukkan seluruh dana yang ada hanya pada satu saham (karena sangat yakin akan kualitas fundamental dari saham tersebut), dan kemudian saham itu entah kenapa bukannya naik tapi malah anjlok sampai sekitar 10%, padahal IHSG justru lagi naik! Bisakah anda bayangkan bagaimana stress-nya saya ketika itu???
Namun seiring dengan berjalannya waktu, ketika dana yang dipegang mulai membesar, cara pandang penulis terhadap pergerakan harga saham di pasar mulai berubah.
Jadi ceritanya begini. Beberapa waktu lalu, sudah cukup lama sih, penulis berniat untuk membeli satu saham tertentu yang setelah dipelajari bolak-balik, saham ini memiliki fundamental yang bagus dan harganya juga murah. Saham itu adalah Ekadharma International (EKAD). Ketika itu harganya masih di 360-an, dan saya hendak membelinya dalam jumlah yang lumayan banyak.
Tapi masalahnya EKAD ini tidak likuid, dan ditambah lagi dengan kondisi pasar yang ketika itu sedang bearish, maka volume transaksi perdagangan EKAD sangatlah sepi, dimana hampir tidak ada orang yang pasang bid di EKAD ini, dan juga sebaliknya, jumlah lot di kolom offer juga sangat sedikit. Alhasil, kalau penulis berniat untuk membelanjakan semua dana yang disiapkan secara sekaligus, maka penulis harus hajar kanan beberapa fraksi harga, dan itu artinya EKAD akan langsung terbang ke harga 400-an.
Namun kalau begitu caranya maka saya nggak akan bisa dapetin EKAD ini diharga yang saya mau, yakni 360-an tadi. Jadi kemudian strategi yang dilakukan adalah membeli EKAD ini dengan cara menyicil. Hampir setiap hari, kalau ada yang pasang offer EKAD ini sebanyak 20 lot diharga 365, misalnya (ketika itu 1 lot masih 500 lembar saham), maka sebanyak itulah saya akan ambil EKAD ini. Kalau besok-besok ada yang jual EKAD di harga yang lebih rendah lagi, misalnya 350, maka ya sudah, saya sikat juga di harga segitu. Pada titik inilah, saya justru merasa beruntung ketika EKAD ini turun, karena dengan demikian saya bisa membelinya lebih banyak lagi.
Dan itu adalah perasaan yang aneh, karena biasanya kalau saham yang kita pegang turun maka kita akan stres, bingung, bahkan depresi, tapi ini malah sebaliknya!
Disisi lain, ketika penulis akhirnya sukses membeli EKAD ini pada jumlah yang lumayan di harga 360-an, maka ketika harga EKAD ini di pasar naik sampai 400-an, itu juga tidak berarti apa-apa. Kenapa? Karena kalau saya memutuskan untuk keluar dari EKAD ini, maka saya tidak akan bisa menjualnya secara sekaligus pada harga 400 tersebut, mengingat volume bid-nya juga nggak banyak. Kalau penulis memaksakan diri untuk menjual EKAD ini secara sekaligus, maka sahamnya kemungkinan akan langsung anjlok seketika, karena jumlah bid yang ada tidak akan bisa menampung semua saham yang saya jual.
Sekali lagi, pada titik inilah, penulis mulai menganggap bahwa harga saham di pasar tidak berarti apa-apa. Hanya karena saham yang saya pegang harganya naik maka bukan berarti saya langsung untung, dan demikian juga sebaliknya, hanya karena saham tersebut turun maka bukan berarti saya rugi. Padahal, terus terang, penulis juga tentu saja bukan investor yang gede-gede amat, malah terbilang masih kelas anak teri lah jika dibandingkan sama Sumitomo atau investor institusi lainnya yang dananya tidak terbatas. Tapi jika penulis saja sudah tidak peduli dengan harga saham di pasar, maka apalagi mereka, para ikan paus ini?
Nah, jadi balik lagi ke soal Sumitomo dan BTPN, jika ada pertanyaan kenapa kok Sumitomo mau beli BTPN ini di harga 6,500? Maka jawabannya adalah karena Sumitomo tentu saja nggak bisa membeli BTPN ini dengan cara membelinya di pasar, karena jumlah offer-nya sangat sedikit, sementara mereka berniat untuk membeli secara gelondongan, yakni totalnya hampir 2 milyar lembar saham. Jika Sumitomo memaksakan diri untuk membeli saham BTPN di pasar reguler pada harganya 4,000-an, maka mereka nggak akan bisa ngambil banyak (sampai puluhan juta lot), tanpa membuat harga saham BTPN langsung terbang entah sampai berapa. Jadi mendingan ambil paketan di harga 6,500 aja. Dan kenapa harganya kok 6,500? Ya karena menurut mereka, harga itulah yang cukup reasonable alias wajar, jika mempertimbangkan fundamental BTPN dll.
Disisi lain bagi pemegang saham BTPN sebelumnya, yakni TPG Capital, maka mereka juga nggak keberatan menjual 40% saham BTPN ke Sumitomo pada harga 6,500, karena mereka tidak mungkin menjual BTPN ke investor publik pada harga segitu secara sekaligus sebanyak sekian puluh juta lot. TPG Capital adalah perusahaan venture capital, dimana mereka bisa menggunakan dana hasil penjualan saham BTPN untuk ditanamkan di perusahaan kecil lainnya untuk kemudian dikembangkan menjadi besar, sama seperti yang mereka lakukan terhadap BTPN, enam tahun yang lalu.
Sementara bagi Sumitomo, langkah mereka masuk ke BTPN adalah untuk memegang bank ini untuk seterusnya, karena memang bisnis mereka di perbankan.
Tapi intinya sekali lagi, pada kasus transaksi jual beli saham antara dua investor besar diatas, maka harga BTPN di pasar sama sekali tidak berarti apapun. Kalau harga BTPN di pasar entah karena apa berada di level 10,000, misalnya, maka kemungkinan nilai transaksinya akan tetap dilakukan di harga 6,500, karena kalau lebih dari itu maka Sumitomo nggak akan mau beli. Ingat bahwa Sumitomo ini adalah value investor yang hanya mau membeli saham kalau harganya wajar atau undervalue, bukan trader yang membeli saham kalau saham itu break out.
Okay, mas Teguh. Saya mengerti sekarang. Tapi kemudian yang jadi pertanyaan saya, kalau saya beli saham A dalam jumlah banyak, kemudian saham itu naik sekian persen, lalu dari mana saya bisa dapet untung kalau saya nggak bisa menjualnya karena nggak ada yang nampung??
Nah, untuk menjawab pertanyaan ini maka anda bisa bertanya kepada pak Lo Kheng Hong. Menurut anda kenapa beliau mau mengeluarkan sampai Rp85 milyar (mungkin sudah lebih sekarang) untuk membeli saham yang tidak likuid seperti Petrosea (PTRO)? Sudah jelas bahwa ia tidak akan bisa keluar lagi dari PTRO ini karena hampir tidak mungkin ada investor publik lain yang sanggup menampung barang sebanyak itu, tapi ya ngapain juga dia keluar? Memangnya uang 85 milyar tadi mau dipake buat beli apa lagi???
Tapi dalam kasus lain, pak LKH pernah juga beli saham Panin Financial (PNLF) secara menyicil di harga 100 – 120, hingga akhirnya beliau megang PNLF tersebut cukup banyak (kalau gak salah senilai delapan puluh milyar Rupiah), sehingga beliau jadi nggak bisa keluar. Namun ketika PNLF akhirnya naik sampai 250-an, maka ketika itulah beliau keluar, meski juga harus dengan cara menyicil karena gak bisa keluar sekaligus. Tapi hasilnya? Well, cuan seratus persen!
Poinnya adalah, percaya atau tidak, jika anda membeli saham berdasarkan value-nya, dan anda sudah bisa nggak lagi peduli terhadap harga dia di pasar, maka dalam jangka panjang hasilnya akan tetap menguntungkan, bahkan keuntungannya bisa jauh lebih besar ketimbang trading. Ingat bahwa pak LKH tidak memegang PNLF ini selama sehari, seminggu, atau sebulan, melainkan sekitar dua tahun.
Selain itu kalau berdasarkan pengalaman, ketika sebuah saham sudah dihargai sangat rendah, entah itu karena IHSG lagi anjlok atau memang saham itu sendiri yang turun, maka biasanya likuiditasnya akan menjadi seret, biasanya karena pemegang saham (yang nyangkut) sudah malas jual, tapi yang mau beli pun nggak berani masuk, dan alhasil tidak terjadi transaksi. Tapi kalau saham ini pada akhirnya naik juga, maka justru ketika itulah transaksi jual belinya akan menjadi ramai, dimana orang-orang yang membeli dan yang menjual akan sama banyaknya. Kalau kita pakai contoh PNLF, coba perhatikan volume perdagangannya ketika harganya masih di 100-an dengan ketika harganya sudah di 260-an seperti sekarang ini: Jauh lebih likuid sekarang kan?
Jadi sekali lagi, anda nggak usah khawatir ketika membeli saham yang tidak begitu likuid, hanya karena anda khawatir kalau-kalau anda nggak bisa keluar. Karena ketika saham tersebut pada akhirnya naik juga, maka anda tetap akan bisa keluar karena akan banyak investor lain yang dengan senang hati menampungnya.
Selain itu, jika anda memiliki visi bahwa anda akan menjadi seorang investor besar suatu hari nanti, maka saham apapun di BEI ini pada dasarnya nggak likuid, bahkan termasuk saham-saham blue chip, jadi pada akhirnya harga saham di pasar tetap saja tidak berarti apapun. Ingat bahwa hanya karena dana kita pada hari ini hanya Rp5 juta, misalnya, maka jangan bayangkan bahwa sepuluh tahun lagi dana kita akan tetap segitu, melainkan (seharusnya) akan tumbuh entah sampai berapa. Jadi suatu hari nanti, anda juga akan sampai pada satu titik dimana anda hanya bisa membeli saham tertentu secara menyicil, dan juga sebaliknya, hanya bisa menjualnya secara menyicil pula. Jika anda benar-benar sudah menjadi investor besar, maka bahkan anda juga hanya bisa membeli saham sekelas BBRI atau Astra International (ASII) dengan cara menyicil, atau harus melalui pasar negosiasi.
Okay, lalu kalau harga tidak lagi berarti, lalu apa yang berarti dari sebuah saham? Yang berarti adalah value-nya. Anda bisa menganggap bahwa investasi anda di saham benar-benar bertumbuh jika nilai riil (aset bersih, laba bersih dll) dari perusahaan yang anda beli sahamnya tersebut memang bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu, tak peduli meski sahamnya nggak kemana-mana, atau sebaliknya, bergerak naik dan turun secara fluktuatif. Intinya, selama fundamental dari saham yang kita pegang memang bagus dan perusahaannya juga terus bertumbuh, maka sahamnya bisa terus kita hold entah sampai kapan. Dan kalau nanti sewaktu-waktu dia turun, entah itu karena IHSG anjlok atau dia turun sendiri, maka kalau ada dana kita bisa beli lagi, tapi kalau nggak ya biarin aja, termasuk kalau dia naik juga biarin aja.
Dan memang seperti itulah cara berpikir investor kakap seperti Sumitomo, dimana yang penting bagi mereka saat ini adalah bagaimana caranya agar BTPN bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi kedepannya, atau paling tidak terus mempertahankan kinerjanya pada saat ini, dan bukan soal apakah harga saham BTPN di pasar akan naik atau turun. Okay, dana yang kita miliki tentu saja hanya secuil dibandingkan dengan dana mereka. Tapi jika kita mengikuti cara berpikir mereka dan cara mereka dalam berinvestasi, maka bisa saja kita juga akan menjadi sebesar mereka suatu hari nanti, bukan begitu?
NB: Penulis membuat CD rekaman seminar dengan tema nilai intrinsik. Anda bisa memperolehnya [...]

Jokowi for President!

Jumat kemarin tanggal 14 Maret 2013, sekitar pukul 3 sore, Gubernur Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi, mengumumkan kepada media bahwa beliau telah diberi mandat oleh Ketua Umum Partai PDI-P, Megawati Soekarnoputri, untuk maju sebagai capres. Dan setelah Jokowi sendiri mengakhiri kalimatnya dengan menyatakan, ‘Bismillah, saya siap’, maka dengan demikian mantan Walikota Solo ini resmi mencalonkan diri sebagai Presiden di Pilpres tahun 2014 yang akan digelar sebentar lagi. Daaaan ternyata.. para investor pasar modal menanggapi kabar ini dengan sangat antusias! Hanya satu atau dua menit setelah pencapresan Jokowi diumumkan, IHSG melaju dengan sangat kencang hingga secara dramatis ditutup menguat 3.2 persen! Atau tertinggi sepanjang tahun 2014, padahal sebelumnya IHSG sempat turun hingga 1%.


Kenaikan dramatis IHSG di menit-menit terakhir perdagangan, sesaat setelah Jokowi resmi nyapres
Penulis sendiri pada Jumat sore tersebut banyak menerima telepon, SMS, BBM (you name it) yang ‘melaporkan’ soal kenaikan indeks diatas, dan seperti biasa penulis tidak terlalu peduli soal itu. Namun ketika disebutkan bahwa Jokowi resmi mencalonkan (atau dicalonkan) sebagai Presiden, maka terus terang penulis merasa antusias juga.
Sebab Jokowi memang spesial, dan saya tidak mengada-ngada. Sebagai warga Jakarta, penulis merasakan banyak sekali perubahan positif sejak duet Jokowi – Ahok resmi memimpin Jakarta pada penghujung tahun 2012 lalu, dibanding ketika Jakarta dipimpin oleh Foke selama lima tahun sebelumnya. Yang paling terasa adalah sarana transportasi massal yang jauh lebih baik. Kalau dulu penulis naik busway nunggunya lama setengah mati, dan setelah naik pun rasanya seperti kambing kejepit, maka sekarang penulis sangat menikmati sarana transportasi massal tersebut, atau Kopaja AC, dan praktis hampir tidak pernah mengeluh soal kemacetan lagi. Termasuk, penulis sekarang bisa dengan mudah menemui bapak-bapak atau ibu-ibu dengan pakaian yang rapih dan berkacamata didalam bis TransJakarta, yang kalau dari penampilannya tampak jelas bahwa ia sebenarnya bisa saja bawa mobil sendiri, namun ia bersedia untuk beralih menggunakan busway.
Dan kalau anda mau perpanjang KTP di kantor kelurahan, maka sekarang ini pelayanannya telah jauh lebih profesional dan juga tanpa pungli, termasuk pada pukul 8 pagi kantor-kantor kelurahan (atau kecamatan, dan kotamadya) sudah dipenuhi para PNS yang datang tepat waktu, padahal biasanya mereka malas minta ampun, kadang-kadang malah gak masuk kerja, melainkan entah pergi kemana. Penulis kebetulan belum pernah ke kantor kelurahan disini, namun testimonial soal itu bisa dibaca di banyak forum-forum di internet.
Sementara sebagai pelaku ekonomi, dalam hal ini investor pasar saham, penulis tentu saja mengharapkan kondisi makroekonomi nasional yang stabil dimana itu hanya bisa dicapai jika negara ini dikelola oleh orang-orang yang bisa dipercaya. Yap, kurang lebih sama seperti kalau anda mau invest di saham perusahaan tertentu, maka perusahaan tersebut haruslah dikelola oleh manajemen yang jujur dan bisa dipercaya. Kualitas serta kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan tentu saja harus juga diperhatikan, namun integritas adalah hal yang paling utama.
Dan Jokowi adalah representasi dari ‘orang-orang yang bisa dipercaya’ tersebut. Melihat wajah tirus serta model tubuhnya yang kurus kering saja, hampir mustahil untuk membayangkan bahwa Jokowi akan korupsi, punya istri muda, atau pacaran dengan artis. Jokowi juga sosok sederhana yang bahkan tidak mengenakan jam tangan, dan selalu mengenakan baju kemeja yang itu-itu saja.
Sementara masyarakat, termasuk juga kaum pengusaha (yang tentu saja mampu melihat sosok pemimpin dari kemampuan serta integritasnya, bukan sekedar pencitraan belaka), juga bisa melihat hal tersebut. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun sejak beliau menjabat Gubernur DKI, berbagai bentuk kepercayaan terus berdatangan, seperti sumbangan bis TransJakarta, truk sampah, hingga bantuan untuk korban banjir. Anda tahu, kalau dengan gubernur-gubernur sebelumnya, masyarakat kelas menengah keatas ini (para pengusaha) sudah pasti malas untuk menyumbang sesuatu, karena ketika mereka bertemu secara face to face dengan sang Gubernur, mereka akan langsung bisa menyimpulkan bahwa Gubernur tersebut tidak bisa dipercaya, dimana sumbangan yang mereka berikan kemungkinan hanya akan dimakan oleh si gubernur itu sendiri serta kroni-kroninya.
Balik lagi ke soal makroekonomi. Kita tahu bahwa hingga hari ini, yakni enam belas tahun sejak peristiwa reformasi, Indonesia masih dikelola oleh segerombolan politisi yang korup dan tidak amanah, namun toh pertumbuhan ekonomi kita tetap tumbuh dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat. Indonesia adalah seperti perusahaan consumer goods yang memiliki prospek cerah karena bisnisnya memang mudah, sehingga kinerja yang dihasilkan tetap baguuuss…. namun kurang maksimal, karena perusahannya dipegang oleh manajemen yang amburadul.
Jadi jika ‘manajemen’ ini kita ganti melalui RUPS (baca: Pemilu), dimana para pemegang saham (baca: rakyat) memilih direktur utama (baca: Presiden) yang baru, yang jauh lebih kompeten dan lebih bisa dipercaya dibanding direktur sebelumnya, maka bagaimana kira-kira dampaknya terhadap perusahaan (baca: negara)?
Dan hal itulah yang kemudian menyebabkan IHSG naik sangat tinggi sesaat setelah Jokowi resmi menjadi capres, karena jika dibanding dengan capres-capres lainnya, Jokowi adalah satu-satunya capres yang memiliki kriteria ‘bisa dipercaya’ seperti yang sudah kita bahas diatas. Sebab, anda tidak mungkin mempercayakan negara ini kepada tukang goreng saham, pemain sinetron, atau penyanyi dangdut bukan? Jadi ada ekspektasi, ada harapan bahwa Indonesia akan tumbuh lebih baik, khususnya perekonomiannya, jika negara ini dipimpin oleh pemimpin berintegritas, seperti Jokowi. Dan jika suatu negara sudah memiliki iklim ekonomi dan investasi yang lebih baik, maka bagaimana dengan kinerja perusahaan-perusahaan didalamnya? Sudah tentu, kemungkinan akan menjadi lebih baik juga.
Dan sekali lagi, berbagai ekspektasi inilah yang menyebabkan IHSG seketika mengalami euforia, yang terutama didorong oleh saham-saham blue chip, ketika Jokowi resmi menjadi capres.
It’s merely an expectation!
However, ingat bahwa yang menyebabkan indeks naik adalah karena adanya ekspektasi bahwa dibawah Jokowi, perekonomian Indonesia akan membaik dan seterusnya, namun perekonomian Indonesia belum benar-benar membaik seperti yang diekspektasikan. In fact, juga tidak ada jaminan bahwa Jokowi akan sukses membawa perbaikan bagi Indonesia. Dan yang lebih penting lagi, Jokowi kan baru resmi nyapres? Bukan resmi dilantik menjadi Presiden! Tidak ada jaminan bahwa Jokowi akan dengan mudah memenangkan pilpres nanti, karena toh para capres-capres yang lain juga bukannya tanpa pendukung.
Selain itu, kita juga bisa melihat bahwa pencapresan Jokowi ini segera menimbulkan pro dan kontra. Jangan dikira semua orang di Indonesia mendukung Jokowi sebagai Presiden! Karena masih banyak juga hal-hal yang menghambat langkah beliau ke kursi nomor satu RI, seperti tugasnya di Jakarta yang sama sekali masih belum selesai, adanya tuduhan pencitraan dan ‘boneka’ konglomerat, posisi Jokowi yang masih dibayang-bayangi Megawati dan kepentingan politik partai PDI-P, dan seterusnya. Intinya sekali lagi, Jokowi belum tentu menang Pilpres, dan penulis kira tidak seperti capres lain yang berambisi ‘Saya harus menang!’, Pak Dhe Jokowi sendiri pun tidak terlalu mempemasalahkan hal tersebut (tapi justru ini yang membuat kita semakin menyukai beliau).
Jadi pada akhirnya, seperti yang sudah disebut diatas, kenaikan IHSG hanyalah didorong oleh ekspektasi, dan bukan karena value indeks itu sendiri benar-benar naik. Dan berdasarkan pengalaman, kenaikan seperti ini biasanya akan berbalik arah alias turun kalau ekspektasi tersebut menguap alias dilupakan orang seiring dengan berjalannya waktu, atau lebih buruk lagi, ekspektasi tersebut kemudian terbukti hanya merupakan ekspektasi belaka, alias tidak menjadi kenyataan. Ingat bahwa IHSG hanya bisa naik sampai ke posisi tertentu, kemudian stay di posisi tersebut alias nggak turun-turun lagi, jika kenaikannya tersebut didukung oleh faktor fundamental, alias peningkatan kinerja riil dari para emiten-emiten didalamnya.
Tapi biasanya pula, ketika indeks naik signifikan untuk pertama kalinya maka dia tidak akan langsung turun, sama seperti sebaliknya ketika indeks anjlok lebih dari 3% dalam sehari maka dia tidak akan langsung rebound. Jadi bagi anda para trader, maka kesempatan untuk ber-euforia mungkin masih terbuka hingga beberapa hari kedepan.

However, jika anda termasuk value investor, maka jika pada tanggal 22 Februari lalu penulis masih memutuskan untuk meng-hold saham-saham yang dipegang, maka untuk saat ini saya mulai mempertimbangkan untuk keluar dulu, namun tentunya sambil terus lihat-lihat kondisi pasar. Ingat bahwa hanya karena kita mencatatkan kinerja portofolio yang bagus di sepanjang bulan-bulan pertama di tahun 2014 ini, maka itu bukan berarti kita akan mencatatkan kinerja yang sama bagusnya di bulan-bulan berikutnya nanti. Anda tentu masih ingat kejadian tahun 2013 kemarin bukan?

At the end, penulis mengucapkan selamat bagi anda yang selama ini berharap bahwa Jokowi akan menjadi Presiden RI yang baru, karena kini harapan anda tersebut berpeluang untuk menjadi kenyataan. Melalui kolom komentar dibawah, anda bisa menyampaikan pandangan anda terkait pencapresan Jokowi tersebut, termasuk akan seperti apa Indonesia, khususnya IHSG, jika beliau pada akhirnya benar-benar terpilih sebagai Presiden.

Disisi lain bagi anda tidak setuju dengan majunya Jokowi sebagi capres, maka anda juga bisa menyampaikan pandangan anda melalui kolom komentar dibawah ini, kalau bisa dengan menyebutkan nama anda dalam komentar [...]

Seminar Value Investing, Pekanbaru

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar/workshop edukasi saham di Pekanbaru, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi dengan Fokus pada Harga Wajar Saham’. Dan berikut keterangan selengkapnya:


Courtesy of www.nr1a.com

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan:
  1. Penjelasan mengenai dokumen-dokumen yang harus dibaca oleh investor sebelum memilih saham (laporan keuangan dll), plus cara membacanya
  2. Penjelasan serta contoh-contoh mudah mengenai value investing, serta penjelasan tentang mengapa semua investor besar di seluruh dunia, tanpa terkecuali, adalah para value investor
  3. Cara menghitung harga wajar saham, sekaligus cara untuk menentukan apakah sebuah saham bisa dikatakan undervalue (sehingga boleh kita beli) atau tidak
  4. Lebih detail mengenai beberapa metode perhitungan/kalkulasi sederhana untuk menentukan nilai riil saham
  5. Penjelasan mengapa beberapa saham memang layak dihargai tinggi, sementara beberapa lainnya layak dihargai rendah, dan
  6. Penjelasan serta contoh metode trading saham dengan menggunakan pendekatan value.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengertiSetelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Memahami konsep dari value investing, mengetahui cara menentukan harga wajar saham, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi,
  2. Mampu meraih keuntungan investasi yang konsisten, dan
  3. Bertemu serta menjalin relasi dengan kawan-kawan sesama investor saham (we are making community here).
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel PangeranJln. Jendral Sudirman No.371 – 373, Pekanbaru
  • Hari/Tanggal: Sabtu22 Maret 2014
  • Waktu: Pukul 10.00 s/d 16.00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 09.30 pagi
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Pekanbaru, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Gareth Frank Bale, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda hubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.

Update: Berhubung sekarang sudah hari Kamis, tanggal 20 Maret 2014, maka dengan ini pendaftarannya resmi ditutup. Sampai ketemu di Kota [...]

Seminar Value Investing, Jakarta

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar/workshop edukasi saham di Jakarta, dengan tema: ‘Value Investing – Strategi Investasi dengan Fokus pada Harga Wajar Saham’. Dan berikut keterangan selengkapnya:

 
Ilustrasi Sederhana dari Value Investing, courtesy of www.nr1a.com
Kisi-kisi materi yang akan disampaikan:
  1. Penjelasan mengenai dokumen-dokumen yang harus dibaca oleh investor sebelum memilih saham (laporan keuangan dll), plus cara membacanya
  2. Penjelasan serta contoh-contoh mudah mengenai value investing, serta penjelasan tentang mengapa semua investor besar di seluruh dunia, tanpa terkecuali, adalah para value investor
  3. Cara menghitung harga wajar saham, sekaligus cara untuk menentukan apakah sebuah saham bisa dikatakan undervalue (sehingga boleh kita beli) atau tidak
  4. Lebih detail mengenai beberapa metode perhitungan/kalkulasi sederhana untuk menentukan nilai riil saham
  5. Penjelasan mengapa beberapa saham memang layak dihargai tinggi, sementara beberapa lainnya layak dihargai rendah, dan
  6. Penjelasan serta contoh metode trading saham dengan menggunakan pendekatan value.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengertiSetelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Memperoleh pencerahan mengenai konsep dari value investing, mengetahui cara menentukan harga wajar saham, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi,
  2. Mampu meraih keuntungan investasi yang konsisten, dan
  3. Bertemu serta menjalin relasi dengan kawan-kawan sesama investor saham (we are making community here).
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin CityMall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu29 Maret 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 17.00 WIB.
  •  Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi

Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Jakarta, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Gareth Frank Bale, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda hubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.

Update: Kursinya sudah penuh! Jadi dengan ini pendaftarannya resmi ditutup. Sampai ketemu di kesempatan seminar [...]

Prospek IPO Wika Beton

Industri konstruksi identik dengan beton, karena entah itu gedung bertingkat, jalan tol, jembatan, hingga infrastruktur umum lainnya hampir pasti akan membutuhkan beton. Dan jika Wijaya Karya (WIKA) adalah salah satu dari beberapa perusahaan konstruksi besar di Indonesia, maka anak usahanya yakni Wijaya Karya Beton (WTON), adalah benar-benar merupakan produsen beton terbesar di Indonesia, yang memiliki delapan unit pabrik, enam wilayah penjualan, dan dua kantor representatif yang tersebar dari Binjai, Sumatera Utara, hingga Makassar, Sulawesi Selatan. Sementara kompetitor terdekat mereka, PT Adhimix Precast (bukan anak usaha dari ADHI), hanya memiliki empat unit pabrik.

Meski WTON berstatus sebagai produsen beton terbesar di tanah air, namun peluang bagi perusahaan untuk tumbuh lebih besar lagi masih sangat terbuka seiring dengan berjalannya program pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah Indonesia melalui MP3EIyang sudah dicanangkan sejak tahun 2008 lalu, dan masih akan terus berlanjut sampai tahun 2025 mendatang. In fact, selama lima tahun terakhir, kapasitas produksi beton milik perusahaan memang terus ditingkatkan, yakni dari 1.1 juta ton di tahun 2009, menjadi 1.5 juta ton di tahun 2013, dengan rata-rata tingkat utilisasi yang mencapai 85% setiap tahunnya (yang itu berarti meski kapasitas produksi WTON tiap tahun terus ditingkatkan, namun kapasitas produksi yang baru tersebut nggak pernah nganggur alias langsung digunakan). Dan sudah pasti, pendapatan perusahaan selama lima tahun tersebut juga terus naik secara stabil, dari Rp1.4 trilyun di 2009, menjadi Rp2.6 trilyun di 2013.
Sementara kalau berdasarkan data makro, Indonesia mencatat pertumbuhan sektor infrastruktur sebesar 7.5% di tahun 2012, yang diperkirakan baru merupakan permulaan dari pertumbuhan yang lebih lanjut, seperti Tiongkok sepuluh tahun yang lalu (2004). Dan posisi WTON sebagai satu-satunya perusahaan beton di Indonesia yang memiliki kantor pemasaran yang menjangkau Aceh hingga Papua, menjadikan perusahaan sebagai pemain terdepan yang bisa menangkap peluang pertumbuhan tersebut. Contohnya, jika Pemerintah berencana bikin jembatan besar di Papua, maka kira-kira beton milik siapa yang akan dipakai? Well, sudah pasti milik WTON ini. Dalam hal ini WTON benar-benar tidak bisa ditandingi oleh produsen beton yang lain, karena ketika perusahaan A hanya punya satu pabrik beton di Cikarang, maka ia tidak mungkin menjual produknya sampai ke Papua sana, karena beton yang segede gaban itu tentu akan sangat mahal sekali biayanya kalau dikirim pake Tiki atau JNE. Tahukah anda siapa supplier beton untuk konstruksi Jembatan Suramadu? WTON, tentu saja, karena WTON merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mampu memproduksi beton untuk kontruksi jembatan diatas permukaan laut.
Dan.. oh, WTON juga menjual produknya sampai keluar negeri, dalam hal ini ke pelanggan di Pulau Barrow, Australia, dan Dili, Timor Leste, namun kontraknya sudah berakhir pada tahun 2013 kemarin. Dalam jangka panjang perusahaan juga memiliki visi untuk bisa menjadi pemain beton di kawasan regional Asia Tenggara.
Nah, meski visi diatas tentunya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk bisa terwujud, namun IPO ini bisa dikatakan sebagai langkah awal dari upaya mencapai visi tersebut, dalam hal ini dengan memperkokoh posisi perusahaan sebagai produsen beton nomor wahid di tanah air. Dari IPO-nya nanti, WTON akan meraup dana maksimal Rp1.3 trilyun, dimana hampir seluruhnya akan digunakan untuk ekspansi, yakni:
  1. Mengelola lahan tambang pasir dan batu split (untuk bahan baku pembuatan beton, selain semen tentunya) di empat lokasi berbeda,
  2. Membangun tiga pabrik beton baru di Lampung, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur (sehingga pabriknya nanti akan jadi sebelas unit, pembangunannya akan sudah dimulai pada tahun 2014 ini),
  3. Sekali lagi meningkatkan kapasitas dari kedelapan pabrik yang sudah ada, dan
  4. Membeli beberapa unit alat pancang dan post tensioning untuk disewakan. Sounds promising, eh?
Diluar data dan fakta yang sudah dipaparkan diatas, berikut ini adalah juga beberapa poin yang menjelaskan bahwa perusahaan memang menawarkan prospek pertumbuhan yang lumayan:
  1. Selain secara terus menerus meningkatkan kapasitas produksi dari pabrik-pabrik yang sudah ada, WTON juga mampu menciptakan beberapa jenis produk beton baru, seperti box grider dan hollow core slab, dan itu secara otomatis menawarkan tambahan pendapatan baru bagi perusahaan. Saat ini WTON memiliki setidaknya sembilan jenis produk beton yang berbeda, atau terbanyak diantara semua kompetitornya, dan jumlah produk ini terus meningkat seiring dengan dilakukannya inovasi produk baru secara terus menerus.
  2. Dalam dua tahun terakhir alias sebelum IPO, WTON mendirikan dua anak usaha patungan dengan pihak lain, yakni Wika Kobe dan Wika Krakatau Beton. Bagi penulis sendiri, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai terbuka untuk bekerja sama dengan pihak lain untuk sama-sama berekspansi, setelah sebelumnya hanya bekerja sama dengan perusahaan lain dibawah naungan Grup Wika.
  3. Wika Beton merupakan supplier utama untuk produk beton, bahkan nyaris satu-satunya, bagi hampir semua proyek infrastruktur milik Pemerintah dari Sabang sampai Merauke, sementara Pemerintah sendiri belakangan ini sedang giat-giatnya membangun infrastruktur mulai dari jalan tol, pembangkit listrik, pelabuhan, hingga bandara. Anda mungkin hafal dengan Jalan Tol Tanjung Benoa di Bali, atau Bandara Kuala Namu di Medan, namun itu baru segelintir diantara banyak sekali infrastruktur-infrastruktur baru yang pada saat ini tengah dikerjakan atau sudah selesai.
Satu-satunya hal yang mengganjal adalah fakta bahwa industri beton sangat dipengaruhi oleh keberlangsungan pembangunan infrastruktur maupun properti, sementara kita tahu bahwa dua sektor itu rentan terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, seperti yang terjadi setahun belakangan ini. However, kinerja WTON di tahun 2013 kemarin justru meningkat signifikan ketika pertumbuhan ekonomi tercatat melambat, dan ini menunjukkan bahwa meski industri infrastruktur seperti yang dijalani oleh WTON ini berisiko cukup tinggi, namun mungkin momentum pertumbuhannya masih terbuka lebar. Seperti yang sudah disebut diatas, MP3EI baru dimulai tahun 2008 lalu, dan sejauh ini semuanya masih merupakan ‘pemanasan’, karena seluruh project-nya baru akan berakhir tahun 2025 nanti, alias masih sangat lama. Well, mudah-mudahan Pemerintahan yang baru nanti tidak mengacaukan rencana jangka panjang tersebut, melainkan meneruskannya dan, kalau bisa, dengan lebih cekatan.
Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
Sebelum kita bicara soal valuasinya, ada satu hal menarik yang penulis temukan ketika menganalisis WTON ini, yakni: Hampir seluruh media internet membahas IPO-nya! Artikel-artikel tentang IPO WTON bisa anda baca di Antara, Tempo, Okezone, Tribunnews, Republika, Liputan6, Jakarta Post, Kompas, Neraca, termasuk yang tentunya secara rutin membahas soal saham seperti Bisnis Indonesia, Investor Daily, Kontan, dan Inilah, dengan isi artikel yang cenderung sama alias copy paste. Dan penulis kira hal ini menjelaskan kenapa kok sepertinya orang-orang penasaran sekali dengan IPO WTON ini, yakni karena IPO-nya memang dipromosikan dengan sangat baik. Termasuk, WTON menunjuk empat penjamin emisi sekaligus untuk melaksanakan IPO-nya, dan itu adalah sesuatu yang nggak biasa mengingat perusahaan lain biasanya hanya menunjuk maksimal tiga penjamin emisi saja kalau mau IPO.
Nah, meski secara fundamental WTON ini memang cukup baik dan juga menawarkan prospek jangka panjang, termasuk jika dilihat dari kinerja terakhirnya di tahun 2013 yang mencatatkan ROE 33.0%, namun promosinya yang gila-gilaan membuat penulis khawatir kalau harga sahamnya di-setting pada level yang cukup tinggi. Tapi untungnya tidak. WTON akan ditawarkan pada rentang harga Rp470 – 630 per saham. Kita ambil yang terendah, 470, maka perusahaan akan meraup dana total Rp961 milyar. Ditambah dengan modal terakhir perusahaan sebesar Rp730 milyar, maka totalnya menjadi Rp1.7 trilyun. Dengan market cap Rp4.1 trilyun, maka PBV-nya menjadi 2.4 kali, dan PER 17.0 kali (laba bersih WTON di tahun 2013 tercatat Rp241 milyar, sehingga dengan jumlah saham beredar 8.7 milyar lembar, maka EPS-nya menjadi Rp28 per saham).
Untuk ukuran saham infrastruktur, valuasi diatas tidak terlalu mahal terutama jika mengingat prospek pertumbuhan jangka panjang yang ditawarkan, termasuk PER-nya yang agak tinggi bisa menjadi lebih rendah jika di Kuartal I 2014 nanti WTON kembali mencatatkan kenaikan laba.
Namun disisi lain valuasi ini tidak bisa dikatakan murah juga, apalagi jika harga IPO-nya ternyata bukan 470 melainkan lebih dari itu (maksimalnya 630, dan kalau IHSG terus ijo seperti sekarang maka bisa saja saham perdana WTON benar-benar dilepas di harga tertinggi). Kalau melihat promosinya yang gencar sih, maka berapapun harga perdananya, kemungkinan sahamnya akan tetap melejit ketika listing tanggal 3 April nanti karena akan banyak investor yang masuk. Namun dari sisi value maka WTON ini agak berisiko terutama jika pada April nanti ternyata IHSG berbalik turun, sehingga investor kehilangan minatnya terhadap saham perusahaan.
Jika anda tertarik untuk masuk maka sebaiknya gunakan dana secukupnya saja alias nyicil dulu, sekedar untuk jaga-jaga jika dia ternyata turun agar anda masih bisa average down di harga bawah. Untuk dua hingga tiga tahun kedepan penulis kira WTON masih akan terus mencatatkan pertumbuhan laba bersih paling tidak sekitar 20% setiap tahunnya, sehingga selama itu sahamnya pun akan terus naik. Jadi masalahnya sekarang tinggal di entry point-nya saja.
PT. Wijaya Karya Beton, Tbk
Rating Kinerja pada Full Year 2013: AA
Rating saham pada 470: A

NB: Penulis punya prospektus lengkap Wika Beton dalam bentuk file PDF. Bagi anda yang membutuhkannya maka bisa kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek ‘Wika Beton’, dan prospektusnya akan saya kirim via email. Gratis! Terus kalo bisa jangan pake alamat email kantor karena attachment-nya suka diblokir, jadi pake Yahoo atau Gmail [...]

Energi Mega Persada

Beberapa hari terakhir ini, salah satu saham Grup Bakrie, Energi Mega Persada (ENRG), kembali menjadi buah bibir para pelaku pasar setelah sahamnya naik dari 70 hingga sempat menembus 100, atau naik 35% hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Penulis pribadi sebenarnya tidak peduli mau saham ini naik sampai 1,000 sekalipun, karena sejak tahun 2009 lalu penulis sudah memutuskan untuk mem-blacklist seluruh saham-saham Bakrie, termasuk juga ENRG, dan sampai sekarang keputusan tersebut belum berubah. However, mengingat ENRG mencatatkan laba US$ 214 juta di Kuartal III 2013 lalu, atau naik sekitar 10 kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, maka mungkin anda termasuk yang menganggap bahwa saham ini mulai menarik dari sisi fundamental karena disisi lain, PBV-nya pun cuma 0.4 kali alias murah sekali. Tapi benarkah demikian?

Dibanding perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama di Indonesia, ENRG termasuk perusahaan anyar yang baru berdiri pada tahun 2001 lalu, dimana ketika itu Keluarga Bakrie memutuskan untuk masuk ke sektor energi, dalam hal ini minyak dan gas alias migas (diluar batubara melalui Bumi Resources/BUMI). Berbekal kemampuan sang pemilik dalam hal mengakuisisi aset, pada tahun 2003 ENRG memperoleh aset pertamanya yakni RHI Corporation, yang secara tidak langsung memiliki 34.5% kepemilikan di Blok Minyak Selat Malaka, yang kemudian ditingkatkan menjadi 60.5%. Tahun 2004, ENRG kembali menambah portofolio blok minyak-nya, kali ini Lapindo Brantas Inc, yang memegang 50% Blok Migas Brantas, Sidoarjo. Pada tahun 2004 ini pula, ENRG untuk pertama kalinya terdaftar di bursa alias IPO.
Di tahun-tahun berikutnya, akuisisi-akuisisi tersebut terus berlanjut, termasuk juga melepas beberapa aset yang dipegang sebelumnya. Alhasil, per akhir tahun 2013, ENRG memiliki sembilan blok minyak yang tersebar dari Aceh hingga Kalimantan Timur, belum termasuk dua blok minyak lainnya yang masih dalam tahap eksplorasi (belum ketahuan apakah mengandung minyak atau tidak). Beberapa dari blok minyak tersebut dikelola oleh ENRG sendiri (ENRG yang menjadi operatornya), namun beberapa lainnya dikelola oleh Pertamina, dan ini menunjukkan hubungan kuat antara ENRG dengan BUMN minyak tersebut.
Nah, seperti yang pernah penulis bahas di artikel berjudul Heart is Only for Lovers, Bro!, kita tahu bahwa Grup Bakrie adalah spesialis akuisisi aset, dimana mereka sepertinya gampang saja akuisisi blok minyak ini dan itu, untuk kemudian diletakkan dibawah ENRG (termasuk akuisisi kebon sawit untuk UNSP, atau akuisisi tambang batubara untuk BUMI, dan seterusnya). Tapi yah, kemampuan mereka hanya sebatas itu: Mengambil alih aset. Soal itu aset mau diapakan, itu urusan belakangan!
Dan seringkali Grup Bakrie sebagai pemilik ENRG pada akhirnya hanya berfokus pada urusan jual beli aset tersebut, dimana mereka mengakuisisi Blok Minyak anu, hanya untuk dijual kembali ke perusahaan lain dengan harga yang lebih tinggi (mirip trading saham ya?). Okay, mereka tentu saja mengebor minyak juga, lalu menjual hasil minyaknya, dan kemudian dapet duit dari situ. Dan pada tahun 2012 lalu, setelah sebelumnya sibuk akuisisi kesana kemari, hasil penjualan minyak tersebut akhirnya melonjak juga, yakni dari US$ 138 juta di tahun 2010 menjadi US$ 655 juta di tahun 2012. Kemudian pada tahun 2013, atau setidaknya hingga Kuartal III, pencapaian tersebut terus berlanjut dimana pendapatan perusahaan kembali naik menjadi US$ 577 juta, berbanding US$ 435 juta di periode yang sama tahun sebelumnya, seiring meningkatnya produksi minyak di tiap-tiap blok yang dipegang perusahaan.
Namun bagaimana dengan laba bersihnya? Nah, penulis kira tidak sulit bagi siapapun untuk langsung menemukan fakta bahwa laba bersih sebesar US$ 214 juta yang diraup ENRG di Q3 2013, salah satunya adalah berkat penjualan salah satu aset perusahaan yakni Blok Masela, ke dua perusahaan minyak asing yakni Shell dan Inpex Corp. Nilai penjualannya tercatat US$ 313 juta, yang setelah dikurangi biaya ini dan itu termasuk pajak, keuntungan bersihnya bagi perusahaan tercatat US$ 164 juta. Jika tidak ada penjualan Blok Masela ini, maka laba bersih ENRG sejatinya cuma sekitar US$ 50 juta, dan ini sekali lagi menunjukkan bahwa bisnis minyak di Indonesia memang hanya menawarkan margin keuntungan yang kecil, biasanya karena mahalnya biaya eksplorasi plus, kalau dalam kasus ENRG, karena adanya biaya bunga bank/obligasi, mengingat ENRG memperoleh sebagian besar aset-aset blok minyaknya dengan cara berhutang. Pada saat ini saja, jumlah total kewajiban ENRG tercatat US$ 1.3 milyar, atau masih lebih besar dibanding total ekuitasnya yakni US$ 929 juta.
Anyway, penulis menemukan fakta menarik ketika mencoba mengestimasi berapa laba yang akan diperoleh ENRG kedepannya, jika perusahaan mampu memaksimalkan sisa cadangan dari blok-blok minyak yang masih dipegang. Sebelumnya, berikut ini adalah data volume produksi minyak, plus sisa cadangan minyak terbukti (proven reserve) di tiap-tiap blok yang dimiliki perusahaan, data per Kuartal III 2013:
Block
2013 Production
Proven Reserve
Kangean
5,891
60,081
Offshore North West Java
6,905
31,880
Bentu
1,151
26,420
Malacca Strait
1,034
9,461
Tonga
67
1,501
Sungai Gelam
207
821
Gebang
22
205
Korinci Baru
1
155
Semberah
286
82
Total
15,564
130,605
Catatan:
  1. Angka diatas adalah dalam ribuan barel.
  2. Angka diatas sudah disesuaikan dengan persentase kepemilikan ENRG atas tiap-tiap blok. Misalnya, volume produksi minyak Blok Kangean secara keseluruhan adalah 11,781 ribu barel. Namun karena ENRG hanya memegang 50% kepemilikan atas Blok Kangean, maka bagian produksi milik ENRG adalah 50% dari 11,781 ribu barel tersebut, alias 5,891 ribu barel.
  3. 2013 Production adalah data produksi antara tanggal 1 Januari hingga 30 September 2013.
  4. Provern Reserve adalah data cadangan minyak (terbukti) per tanggal 30 September 2013.
Okay, perhatikan. Berdasarkan data diatas kita tahu bahwa ENRG telah memproduksi minyak dan gas (dan juga beberapa hasil sampingan) sebanyak total 15.6 juta barel, sudah termasuk hasil sampingan tadi. Dan berapa pendapatan ENRG dari produksinya tersebut? Well, kita sebut saja US$ 577 juta karena itulah nilai pendapatan ENRG hingga Kuartal III 2013. Sebelumnya catat bahwa pendapatan ini belum tentu mencerminkan produksi tersebut karena bisa saja ada minyak hasil produksi yang belum terjual, atau adanya pendapatan yang belum terbukukan.
Meski demikian, untuk alasan kepraktisan (sekaligus konservatif), kita anggap saja bahwa pendapatan ENRG dari produksi minyaknya adalah US$ 577 juta tadi. Nah, berhubung bagian sisa cadangan di dalam blok-blok minyak yang dipegang perusahaan adalah 130.6 juta barel, maka berapa potensi pendapatan yang bisa diraup perusahaan kedepannya? Ya tinggal dihitung saja, yakni US$ 577 juta dibagi 15.6 juta barel, kemudian dikali 130.6 juta barel. Dan hasilnya adalah US$ 4.8 milyar. Kita ambil margin laba bersih sebesar 10% saja (sudah termasuk dikurangi beban bunga pinjaman), maka labanya adalah US$ 483 juta, atau sekitar Rp5.5 trilyun berdasarkan kurs saat ini yakni Rp11,500 per Dollar.
Dan berapa nilai saham ENRG saat ini? Well, cuma Rp4.2 trilyun pada harga saham 95. Murah bukan? Ingat bahwa perhitungan total laba bersih tadi adalah dengan memperhitungkan cadangan minyak yang memang sudah ada, namun belum menghitung potensi cadangan minyak yang akan ditemukan kemudian, plus kemungkinan naiknya harga minyak dimasa depan. Sebagai ilustrasi, blok minyak tertua yang dimiliki oleh perusahaan, yakni Blok Selat Malaka (malacca strait), ketika pertama kali dieksplorasi pada tahun 1970 hanyalah merupakan blok minyak kecil dengan cadangan beberapa ratus ribu barel saja, dan ketika itu harga minyak juga cuma sekitar US$ 15 per barel. Namun setelah serangkaian kegiatan eksplorasi dan produksi selama berpuluh-puluh tahun, hingga saat ini blok tersebut telah menghasilkan minyak sebanyak total 234 juta barel, tapi bahkan masih ada sisa 16 juta barel lagi! Jadi dalam hal penulis berpendapat bahwa meski beberapa blok minyak milik ENRG seperti blok Gebang, Korinci Baru, dan Semberah hanya memiliki cadangan minyak yang kecil, namun itu karena eksplorasinya masih belum tuntas saja. Dan jangan lupa pula bahwa ENRG masih punya dua blok minyak lagi yang sepenuhnya masih dalam tahap eksplorasi (jadi belum ketahuan berapa jumlah cadangan minyaknya).
But When We Talk About Bakrie, That Means..
Namun terus terang, poin diatas tetap saja tidak menjadikan ENRG ini cukup menarik untuk dikoleksi, apalagi untuk investasi jangka panjang, karena beberapa alasan. Pertama, jika kita membandingkan harga saham ENRG pada saat ini dengan nilai dari aset-aset yang dimiliki perusahaan, maka saham ini memang tampak menarik karena relatif undervalue. Tapi kalau seperti itu analisisnya, maka sebenarnya nggak cuma ENRG yang pada saat ini berstatus undervalue, melainkan Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), Bakrieland Development (ELTY), dan Bumi Resources (BUMI) juga undervalue, karena ketiga perusahaan tersebut juga memiliki banyak sekali aset di bidangnya masing-masing, dimana nilai jual serta potensi laba bersih yang bisa dihasilkan dari aset-aset tersebut, jika diakumulasikan, juga lebih besar dibanding harga saham mereka masing-masing.
Tapi apa dengan itu anda kemudian berani beli UNSP dan ELTY di harga gocap? Kalau anda beli BUMI kemudian saham itu turun, maka anda masih bisa cut loss, tapi kalau dua saham tadi? Ingat bahwa seperti yang sudah dibahas diatas, Grup Bakrie lebih ahli dalam jual beli aset yang dimiliki oleh tiap-tiap perusahaannya, ketimbang memberdayakan aset tersebut untuk menghasilkan laba. Contohnya untuk ENRG, mereka lebih suka meraup keuntungan instan dari menjual aset blok minyak yang mereka miliki pada harga yang lebih tinggi dibanding harga belinya, ketimbang capek-capek mengebor selama bertahun-tahun untuk mengambil minyak yang terkandung di dalam blok tersebut.
Kedua, kalau kita melihat Grup Bakrie-nya, maka tanpa perlu melakukan analisis apapun, anda bisa langsung menyimpulkan bahwa ENRG dan juga saham-saham Bakrie lainnya, mereka semua tidak layak koleksi! Grup Astra menjadi salah satu grup paling menonjol di bursa, termasuk saham Astra International (ASII) menjadi saham blue chip nomor wahid di BEI, itu adalah karena kualitas manajemennya yang mumpuni, dimana mereka mampu untuk tetap bertumbuh dan mencatatkan kinerja yang konsisten dalam kondisi ekonomi yang kondusif maupun krisis.
Sementara Bakrie? They are the worst management ever, with absolutely terrible track records. Tidak ada satupun perusahaan milik Grup ini yang memiliki catatan kinerja yang konsisten di masa lalu, termasuk ketika terjadi krisis pada tahun 2008 kemarin, langsung mereka semua mencatatkan kerugian yang gila-gilaan, termasuk ENRG dengan rugi Rp1.7 trilyun di tahun 2009. I mean, di ulasan diatas kita memang sudah menyebutkan bahwa ENRG mungkin akan meraup laba bersih paling tidak Rp5.5 trilyun dalam beberapa tahun kedepan, tapi bagaimana jika terjadi krisis lagi seperti tahun 2008? Atau harga minyak turun? Contoh mudah saja, saudara kandung ENRG yaitu BUMI, sudah dua tahun terakhir ini mengalami kerugian hanya gara-gara harga batubara turun, padahal perusahaan batubara yang lain rata-rata hanya mengalami penurunan laba. Lalu bagaimana kalau nanti ENRG juga mengalami masalah yang sama?
Karena itulah, ENRG mungkin tidak semurah kelihatannya, karena terdapat banyak asumsi yang harus dipenuhi agar proyeksi laba Rp5.5 trilyun tadi tercapai. Dalam hal ini juga penulis mungkin perlu juga mengingatkan anda bahwa hanya karena sebuah perusahaan mencatatkan kinerja terbaru yang bagus, maka itu bukan berarti kita bisa langsung menyimpulkan bahwa sahamnya layak koleksi, karena belum tentu dia akan mencatatkan kinerja yang sama bagusnya di masa mendatang, dan langkah pertama yang bisa anda lakukan untuk menganalisis hal tersebut (tentang bagaimana kinerja perusahaan kedepannya) adalah dengan mengecek track record kinerja perusahaan di tahun-tahun sebelumnya.
Dan ketiga, sekaligus yang paling penting, tidak ada satupun saham Bakrie yang aman dari praktek bandar-bandaran, alias semuanya gorengan! Dan mereka bisa menjadi gorengan begitu karena sulit sekali bagi para investor fundamentalis untuk mengestimasi berapa kira-kira nilai riil perusahaan (sehingga nilai riilnya boleh dikatakan tidak ada), karena memang mereka memiliki fundamental yang buruk, yang secara otomatis menyebabkan tidak adanya gambaran sama sekali tentang bagaimana kinerja mereka kedepannya, selain karena banyaknya akun-akun ‘siluman’ dalam laporan laba rugi mereka yang bisa menyebabkan mereka mencatatkan untung atau rugi setiap saat (tinggal di-setting saja).
Dalam hal ini meski anda mengasumsikan bahwa Grup Bakrie mungkin dengan sengaja membuat laporan keuangan perusahaannya tampak buruk entah karena alasan apa, padahal mungkin mereka sebenarnya masih untung besar, namun itu tetap saja tidak menjadikan sahamnya layak beli, karena dengan demikian Grup Bakrie tidak memiliki corporate governance yang baik, padahal salah satu syarat mutlak sebuah saham layak dikoleksi adalah bahwa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang jujur dan bisa dipercaya. Termasuk untuk ENRG, penulis sering menyaksikan bahwa perusahaan ini mencatatkan laba bersih yang cukup besar di kuartal tertentu, namun langsung menjadi kerugian di kuartal berikutnya, masih di tahun yang sama! Bagaimana ceritanya kok bisa begitu?
Kalau boleh jujur, penulis agak kaget ketika kemarin menerima banyak sekali pertanyaan mengenai ENRG ini, hanya karena sahamnya (entah karena apa) tiba-tiba naik sampai 30% hanya dalam waktu sebulan, dan itu menunjukkan bahwa saham-saham Bakrie ternyata memang masih memiliki pesona bagi para pelaku pasar tertentu. Jika besok-besok ENRG ini melanjutkan kenaikannya sampai katakanlah 200 atau 300, maka orang-orang akan semakin penasaran untuk membeli sahamnya, dan sekali lagi skema ponzi dalam trading saham akan dimulai, dimana investor hanya akan memperoleh keuntungan dari ENRG ini dari uang investor yang masuk belakangan, dan bukan dari peningkatan nilai perusahaan. Skema ini pada akhirnya akan runtuh ketika tidak ada lagi investor yang mau membeli sahamnya di harga yang tinggi, dan investor yang masuk belakangan tadi akan menderita kerugian yang biasanya sangat besar. Tahukah anda bahwa beberapa tahun yang lalu, saham ENRG ini pernah berada di level Rp1,000 per saham? Dan entah gimana ceritanya saham ENRG ini ketika itu bisa naik setinggi itu.
Saat ini mayoritas investor di BEI masih mengecap saham-saham Bakrie sebagai saham sampah, tapi itu karena BUMI dkk lagi pada anjlok saja. Sementara kalau nanti BUMI naik lagi ke 1,000, maka berani taruhan orang-orang pasti akan kembali memperebutkan saham laknat ini. Bukti paling sahih bisa dilihat dari kasus ENRG ini, yang mendadak populer justru setelah naik ke 100-an, sementara ketika dia masih di 70 justru nggak ada yang melirik.

Aand yep, pasar memang aneh dan tidak rasional, dan selamanya akan selalu begitu. Namun jika anda adalah seorang value investor, maka anda akan mengerti bahwa sebuah saham menjadi layak dibeli bukan karena dia naik banyak sebelumnya, atau sebaliknya karena dia turun banyak sebelumnya, melainkan karena saham tersebut menawarkan nilai yang secara signifikan lebih tinggi dibanding biaya yang kita keluarkan untuk memperolehnya. It’s that simple and.. oh, a quality and trusted management, [...]

Is It Bullish Again, or What?

Kemarin Jumat tanggal 21 Februari 2014, IHSG ditutup di posisi 4,646, sehingga secara year to date, indeks sudah naik 8.7% sepanjang tahun 2014 ini. Secara psikologis, posisi IHSG pada saat ini mungkin membuat anda bingung: Apakah dia naik terlalu cepat sehingga nanti pada akhirnya dia akan jatuh, or it’s just the beginning of another bullish period? Bagaimana kalau nanti dia sukses menembus level 5,000 lagi seperti April tahun lalu? Nah, kalau di blog ini biasanya penulis rutin memberikan semacam ‘obat penenang’ setiap kali pasar anjlok seperti yang terjadi pada Agustus lalu agar anda tidak panik, maka mulai tahun ini penulis juga mungkin akan memberikan semacam ‘shock therapy’ setiap kali pasar mengalami euforia. Intinya sih dengan mengajak anda melihat IHSG dari analisis fundamentalnya, dan bukannya dari penurunan atau kenaikannya. Okay, kita langsung saja.

Seperti yang pernah penulis sampaikan pada catatan awal tahun, seluruh indeks-indeks saham di dunia, termasuk IHSG, pada dasarnya akan terus naik dalam jangka panjang. Namun kadang-kadang dalam periode waktu tertentu kenaikan tersebut terlalu cepat, sehingga selanjutnya diperlukan penurunan sejenak untuk menetralisir kenaikan yang terlalu cepat tersebut. Makanya setiap kali IHSG turun, istilahnya disebut koreksi, alias untuk mengembalikan IHSG itu sendiri ke posisi yang seharusnya. Pada waktu-waktu tertentu, penurunan tersebut hanya sedikit sehingga tidak terasa. Namun pada waktu-waktu yang lain, IHSG bisa mengalami penurunan yang lebih curam dibanding biasanya. Biasanya semakin tinggi atau semakin cepat kenaikan yang dialami oleh IHSG sebelumnya, maka akan semakin dalam koreksi yang dialami kemudian. Kebanyakan orang hanya memperhatikan bahwa pada tahun 1998 dan 2008, IHSG jatuh berantakan, tanpa memperhatikan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, dia telah naik dengan sangat cepat hingga membuat semua orang ketika itu berpikir bahwa membeli saham adalah cara yang cepat dan mudah untuk menjadi kaya.
However, kenaikan signifikan yang dialami IHSG tidak selalu berarti dia akan segera anjlok tak lama kemudian. Pada tahun 2009, IHSG secara keseluruhan naik 87%, tertinggi sepanjang sejarah. Tapi apakah itu berarti pada tahun berikutnya dia langsung jeblok? Ternyata tidak. Pada tahun 2010 IHSG masih naik dengan cepat, kali ini 46%, demikian pula di tahun-tahun sebelumnya ia terus naik hingga akhirnya terhenti di tahun 2013 dimana pada tahun tersebut IHSG akhirnya turun, namun itupun hanya turun 1%.
Sebaliknya, penurunan ekstrim yang terjadi pada IHSG juga tidak selalu berarti bahwa selanjutnya dia akan segera memasuki periode bullish kembali. Pada tahun 1997, indeks anjlok 44.3%, dipicu oleh pelemahan Rupiah dan lain-lain. Lalu bagaimana pada tahun 1998? Ternyata masih lanjut turun, meski pada akhir tahun mulai pulih sehingga secara keseluruhan, IHSG pada tahun 1998 tersebut hanya turun 1%. Dan seterusnya.
Intinya, anda tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa IHSG akan segera naik hanya karena dia sudah turun banyak sebelumnya, atau sebaliknya, menyimpulkan bahwa IHSG akan segera turun hanya karena dia sudah naik banyak sebelumnya. Contoh diatas menggambarkan pergerakan IHSG dalam jangka panjang, yakni tahunan, dimana untuk jangka panjang sekalipun ternyata kita tidak bisa menyimpulkan bahwa ‘indeks tuh kalau sudah naik, ya turun’, apalagi dalam jangka pendek?
Kalau begitu bagaimana caranya agar kita mengetahui bahwa IHSG nantinya akan berhenti naik, atau justru akan melanjutkan kenaikannya? Well, penulis jujur harus katakan bahwa, tidak ada cara untuk mengetahui hal itu secara persis, namun ada satu pendekatan yang bisa kita pakai, yakni seperti biasa, pendekatan value. Pada bulan September 2008, saham pujaan rakyat Indonesia yakni Bumi Resources (BUMI) telah anjlok dari 8,450 hingga 3,000-an, dan ketika itu semua orang berteriak bahwa BUMI sudah murah! Alasannya? Ya sebelumnya kan BUMI di 8,000-an, dan sekarang harganya sudah kurang dari separuhnya! Masa iya sih harga segitu belum cukup murah?
Namun demikian, ada satu orang yang tidak percaya begitu saja dengan metode analisis ‘saham ini sudah turun lebih dari separuhnya, jadi dia sudah murah’. Orang itu adalah Gita Wirjawan. Ketika orang-orang mulai memborong BUMI di harga 3,500-an hingga sahamnya sempat hampir naik lagi ke 4,000-an, Mr. Gita tetap pasang posisi wait and see. Dan beberapa saat kemudian, ketika BUMI akhirnya berada dibawah level 1,000, Mr. Gita mulai membelanjakan uangnya, ketika itu dengan cara mengambil alih sekian persen saham BUMI yang dipegang oleh Bakrie & Brothers (BNBR), dan sebagai gantinya Mr. Gita menggunakan koneksinya ke Bank JP Morgan untuk me-refinancingutang BNBR yang ketika itu jatuh tempo. Tak sampai setahun kemudian, BUMI naik sampai hampir 3,000-an, dan ketika itulah Mr. Gita menuai hasil dari kesabarannya.
Nah, penulis tidak tahu berapa harga wajar BUMI ketika itu, namun yang jelas Mr. Gita tentunya memiliki perhitungan sendiri hingga ia bisa menyimpulkan bahwa BUMI belum cukup murah di harga 3,000-an, tak peduli meski ia sebelumnya sudah turun banyak. BUMI baru murah jika diharga dibawah 1,000, dan ketika itulah ia akhirnya masuk.
Contoh lainnya adalah yang dialami penulis sendiri. Pada tahun 2010, Resource Alam Indonesia (KKGI) melakukan stocksplit, dan tak lama kemudian sahamnya langsung terbang dari 950 ke 1,700-an. Seorang teman meminta penulis untuk menganalisisnya, dan hasilnya penulis menemukan bahwa perusahaan batubara kecil ini punya kinerja yang sangat bagus, namun valuasinya pada harga 1,700 tersebut masih sangat murah, sehingga penulis berani membelinya, tak peduli meski dia sebelumnya sudah naik hampir dua kali lipat. Dan ternyata, KKGI ini kemudian sukses terbang sampai 8,000 (sayang ketika itu penulis nggak punya akses pinjaman dana ke JP Morgan, kalau nggak saya mungkin sudah mencalonkan diri sebagai Presiden). Penulis pernah membahas hal ini disini.
Intinya, sekali lagi, kita tidak bisa memperkirakan pergerakan IHSG (atau saham tertentu) hanya karena ia sudah naik atau turun banyak sebelumnya. Yang penting adalah valuasi dari IHSG itu sendiri, apakah sudah wajar atau tidak. Dan anda bisa melihat valuasi tersebut di website IDX (www.idx.co.id). Caranya dihalaman muka website, klik tab ‘publikasi’ disebelah kiri, lalu klik lagi ‘statistik’. Dihalaman berikutnya, anda akan melihat angka rata-rata PER dan PBV dari seluruh saham di BEI. Saat ini, PER dan PBV IHSG adalah masing-masing 16.1 dan 2.4 kali.
Sebagian besar dari anda mungkin sudah tahu informasi diatas. Termasuk informasi bahwa posisi PER dan PBV di BEI dalam kondisi pasar yang normal adalah masing-masing 12 – 15 kali, dan 2.0 – 2.2 kali. That means? IHSG pada saat ini sedikit overvalue, sehingga kemungkinannya untuk turun lebih besar dari naik. Believe or not, the analysis is that simple! Analis sekuritas biasanya secara panjang lebar memaparkan tabel-tabel dan grafik yang memusingkan dalam menjelaskan posisi IHSG sekaligus memprediksi apakah selanjutnya ia akan naik atau turun, termasuk mencoba menjelaskan bagaimana pengaruh penyelenggaraan Pemilu terhadap IHSG. Namun dari sudut pandang seorang investor, again, the analysis is that simple.
Meski demikian, tetap ada hal lain yang harus anda perhatikan. Ingat bahwa PER adalah perbandingan harga saham dengan perolehan laba perusahaan, sementara PBV adalah adalah perbandingan harga saham dengan nilai aset bersih (modal, atau ekuitas) perusahaan. Ini artinya jika perusahaan-perusahaan di BEI sedang mengalami kemunduran kinerja, dimana banyak diantara mereka yang labanya turun atau bahkan merugi sehingga ekuitasnya juga ikut turun (karena defisit), maka PER atau PBV yang rendah tidak selalu berarti bahwa posisi saham tersebut sudah murah, dan demikian pula hal-nya dengan IHSG, PER dan PBV-nya yang rendah tidak selalu berarti bahwa posisinya sudah wajar (atau undervalue).
Namun berdasarkan pengalaman, hanya ada satu periode dimana perusahaan-perusahaan di BEI mengalami penurunan kinerja secara bersamaan, yakni ketika terjadi krisis moneter 1998 (tidak seperti Amerika, sejarah IHSG baru dimulai pada tahun 1982, jadi kita belum banyak mengalami krisis). Jadi bisa dibilang pada tahun itulah, meski rata-rata PER dan PBV di BEI sempat amat sangat rendah (IHSG sempat anjlok sampai level 200-an), namun pemulihannya memerlukan waktu yang cukup panjang, dimana IHSG baru mulai berlari lagi di tahun 2002. Sementara ketika terjadi krisis global 2008, beberapa perusahaan memang mengalami kemunduran kinerja, namun jika dirata-ratakan kinerja para emiten di BEI ketika itu masih normal dan juga masih bertumbuh, dan itu pula sebabnya pasar langsung tancap gas pada tahun berikutnya.
Dan untungnya untuk tahun 2013 kemarin, diluar sektor komoditas yang masih terpuruk, sektor-sektor lainnya no problemo, termasuk pada saat ini Rupiah juga mulai pulih ke level 11,000-an. Anda bisa cek laporan-laporan keuangan perusahaan yang lagi pada keluar, rata-rata bagus kok.
Berdasarkan analisis sederhana inilah, kita bisa mengatakan bahwa IHSG di level 4,200-an, seperti yang terjadi Agustus dan Desember 2013 lalu, terbilang murah, atau paling tidak wajar, karena ketika itu PER dan PBV-nya di posisi masing-masing 16.9 dan 2.2 kali, sehingga itulah saatnya untuk belanja saham. Okay, dari sisi PER memang tampak masih mahal, tapi penulis menganggap bahwa angka PER tersebut mungkin keliru karena terlalu tinggi untuk ukuran PBV yang hanya 2.2 kali, mengingat rata-rata ROE dari sepuluh emiten terbesar di BEI masih cukup tinggi yakni 27.1%, selain karena ketika IHSG di level 5,200-an, PER dan PBV-nya masing-masing 19 koma sekian dan 2.7 kali (jadi bagaimana mungkin PER-nya cuma turun sedikit, padahal IHSG sudah turun hampir 1,000 poin?). Sehingga dalam hal ini yang penulis perhatikan adalah PBV-nya.
Statistik IHSG di hari perdagangan saham terakhir di tahun 2013. Klik untuk memperbesar
Tapi yang terpenting adalah, ingat bahwa ketika itu, terutama di bulan Agustus, sentimen-sentimen negatif masih banyak beredar, termasuk orang-orang yang meramalkan bahwa IHSG akan ke 2,500 juga masih berkeliaran, terutama ketika indeks melanjutkan ‘teror’nya sampai 3,800-an. Namun anda tidak perlu mempedulikan suara-suara pesimis seperti itu. Kalau mau jujur, ketika itu bisa saja IHSG lanjut anjlok sampai 3,600, 3400, atau berapapun, but trust me, sedalam apapun penurunannya, pada akhirnya dia akan kembali ke posisi wajarnya. Dan pada kasus koreksi pasar kali ini, posisi wajar IHSG tersebut sukses dicapai hanya dalam waktu beberapa bulan saja.
Okaaay, tapi sekarang pertanyaannya, bagaimana kedepannya? IHSG masih akan lanjut naik atau gimana nih?
However, kalau dalam jangka pendek, terdapat beberapa komponen lain yang juga sebaiknya anda perhatikan diluar faktor value. Salah satunya, masuknya dana asing. Memang, kalau dalam jangka panjang, masuk atau keluarnya dana asing tidak berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Namun dalam jangka pendek, dalam hal ini kurang dari satu tahun, masuknya mereka bisa mendorong IHSG keatas, dan sebaliknya jika mereka keluar, maka pasar akan bubar. Contoh paling gampang lihat saja tahun 2013 kemarin.
Sementara sejauh ini, sejak awal tahun 2014, asing sudah masuk (net buy) total Rp9 trilyun ke bursa, dan ini sangat bertolak belakang dengan posisi asing sepanjang tahun 2013 kemarin yang mencatatkan net sell Rp20.6 trilyun. Adakah yang aneh dengan hal ini? Nggak, itu wajar kok. Selama kurun waktu 1997 hingga 2013, asing hanya pernah dua kali mencatatkan net sell, yakni pada tahun 2005 dan 2013 kemarin. Penulis tidak tahu apa penyebab asing keluar pada tahun 2005 tersebut, apakah karena tapering atau lainnya, tapi yang jelas di tahun-tahun berikutnya mereka tetap masuk kembali, dan demikian pula IHSG naik terus (kecuali di tahun 2008, tentu saja). Jadi kenapa sekarang ini asing masuk lagi ke bursa? Ya karena mereka perlu membelanjakan uangnya setelah kemarin mereka banyak cuci gudang, itu saja! Dan berhubung tahun 2014 masih cukup panjang, maka kedepannya mereka masih bisa belanja lagi karena jika dirata-ratakan, asing belanja saham-saham di BEI senilai Rp15 – 20 trilyun setahun. Ini artinya, IHSG masih bisa naik lagi jika mereka masih melanjutkan shopping-nya. Karena meski valuasi indeks pada saat ini sudah agak mahal, namun belum semahal ketika IHSG di level 5,200-an, dimana ketika itu PBV-nya, seperti yang sudah disebut diatas, mencapai 2.7 kali.
Tapi jika dalam beberapa waktu kedepan mereka keluar dulu sebagian maka yaaa.. IHSG juga akan rehat dulu sejenak.
Bagi anda yang berlangganan buletin bulanan, anda tentunya sudah membaca penjelasan soal asing diatas di buletin edisi Januari 2014 kemarin, termasuk penjelasan soal Rupiah yang pada saat ini mulai pulih ke level 11,000-an per US Dollar (yang oleh beberapa analis dijadikan sebagai alasan penguatan IHSG). Untuk saat ini, posisi wajar IHSG kalau menurut penulis masih di kisaran 4,400-an, sudah termasuk mempertimbangkan kinerja terbaru dari para emiten di Kuartal IV 2013 (terakhir PT Timah/TINS). IHSG mungkin bisa naik hingga diatas level tersebut (dan memang terjadi bukan?), atau sebaliknya, turun hingga dibawah level tersebut, namun pada akhirnya ekuilibriumnya akan tetap disitu, setidaknya hingga musim keluarnya laporan keuangan berikutnya.
So now, you know what to do. Kalau yang penulis lakukan sendiri adalah tetap meng-hold beberapa pegangan saham alias gak jualan, namun sisa cash yang ada juga ditahan dulu, alias nggak dipake belanja. Just remember, entah IHSG mau naik setinggi apapun, atau sebaliknya dia mau turun serendah apapun, tapi toh pada akhirnya dia akan balik lagi ke posisi wajarnya, dan pengalaman tahun 2013 kemarin memang membuktikan hal tersebut. Posisi wajar IHSG biasanya akan berubah/meningkat seiring dengan perkembangan kinerja dari para emiten didalamnya, namun itu tentu perlu waktu. Let say, suatu hari nanti IHSG akan menembus angka keramat 10,000, tapi jika itu terjadi pada minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan, maka anda akan tahu bahwa itu terlalu cepat. Simple, isn’t it?
NB: Penulis membuat buku ‘superinvestor’ dan CD rekaman seminar. Anda bisa memperolehnya [...]

Adira Dinamika Multi Finance

Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) menjadi satu dari beberapa emiten yang pada saat ini sudah merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal IV 2013, alias Tahun Penuh 2013. Dan hasilnya? Well, quite good! Laba bersih perusahaan tumbuh signifikan yakni 20.3% sementara ekuitasnya juga naik 19.6%. Namun fakta menariknya adalah, berbeda dengan kinerja perusahaan yang masih lancar jaya sampai sekarang, saham ADMF justru terus melorot dalam dua tahun terakhir, dari puncaknya di 13,000-an hingga sekarang cuma 9,000 per saham. An opportunity for bargain hunter?

ADMF, seperti yang anda ketahui, merupakan salah satu perusahaan financing atau pembiayaan kendaraan bermotor terbesar di Indonesia, baik kendaraan bermotor roda dua maupun empat. Perusahaan didirikan oleh pengusaha bernama Theodore Permadi Rachmat pada tahun 1990, dimana kata ‘Adira’ berasal dari gabungan kata PermADI dan RAchmat. Pada tahun 2004, ADMF diakuisisi oleh Bank Danamon (BDMN), dan sejak saat itu BDMN terus menambah kepemilikannya atas ADMF hingga mencapai 95%. Karena itulah, dari persis 1 milyar lembar saham ADMF yang beredar, hanya 46 juta lembar diantaranya yang dimiliki oleh investor publik, dan alhasil sahamnya menjadi tidak likuid.

Tidak ada catatan bagaimana kinerja ADMF sebelum tahun 2004. Namun yang jelas setelah dipegang oleh BDMN, ADMF mencatat perkembangan yang signifikan. Pada tahun 2008, atau empat tahun setelah masuknya BDMN, ADMF sukses menambah jumlah outletnya dari 120 menjadi 300 outlet, alias tumbuh lebih dari 2 kali lipat. Pada tahun itu pula perusahaan untuk pertama kalinya mencatatkan laba yang menembus Rp1 trilyun, yang mentasbihkannya sebagai perusahaan pembiayaan terbesar di tanah air. Di tahun-tahun berikutnya ekspansi terus berlanjut, hingga pada hari ini, ADMF sudah memiliki lebih dari 700 outlet di seluruh Indonesia, dengan perolehan laba bersih untuk tahun 2013 kemarin sebesar Rp1.7 trilyun.
Sekilas, kenaikan laba dari Rp1 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp1.7 trilyun di tahun 2013, atau hanya naik total 70% dalam waktu 5 tahun, tentu saja bukan merupakan track record yang mengesankan. Namun itu salah satunya karena tahun 2012 kemarin merupakan tahun yang berat bagi industri pembiayaan, tak terkecuali bagi ADMF, yang labanya sempat turun. Pada tahun tersebut, penjualan sepeda motor di seluruh Indonesia turun 11%, sebagai dampak dari kebijakan Pemerintah yang memberlakukan peraturan uang muka alias DP minimum 20% untuk pembelian sepeda motor secara kredit. Disisi lain penjualan mobil justru naik hingga 25% seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia, namun sayang core bisnis ADMF masih terletak di pembiayaan sepeda motor. Alhasil laba perusahaan turun sedikit dari Rp1.58 trilyun di tahun 2011, menjadi Rp1.41 trilyun di tahun 2012.
Meski demikian, ADMF tidak perlu waktu lama untuk bangkit, karena pasar sepeda motor itu sendiri juga tidak perlu waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan peraturan DP minimum tersebut. Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), volume penjualan sepeda motor pada tahun 2013 tercatat 7.8 juta unit, tumbuh dari 7.1 juta unit di tahun 2012. Alhasil laba ADMF juga sukses kembali tumbuh menjadi Rp1.7 trilyun, seperti yang sudah disebut diatas.
Lalu bagaimana kedepannya, katakanlah untuk tahun 2014 ini?
Dalam periode waktu sepuluh tahun dari tahun 2000 hingga 2010, volume penjualan sepeda motor meningkat pesat dari 800 ribu menjadi 7 jutaan unit, dan itu terutama didorong oleh pertumbuhan pasar diluar Pulau Jawa, dalam hal ini Pulau Sumatera dan Kalimantan, karena meningkatnya daya beli masyarakat di dua pulau tersebut. Dan anda mungkin sudah tahu apa yang mendorong peningkatan daya beli tersebut: Berkembangnya bisnis kelapa sawit dan batubara. Selama periode 2000 – 2010, banyak bermunculan pengusaha sawit di Sumatera, dan juga juragan batubara di Kalimantan, dan demikian pula taraf hidup para pegawai mereka serta warga sekitar turut meningkat, sehingga mereka ramai-ramai membeli sepeda motor.
Namun pada periode tahun 2011 – 2013 kemarin kondisinya berbalik, dimana harga sawit dan batubara jatuh, ditambah lagi adanya peraturan DP minimum. Sebenarnya sempat ada kekhawatiran bahwa penjualan sepeda motor akan benar-benar tertekan untuk waktu yang lama, namun toh satu-satunya tahun dimana terjadi penurunan penjualan sepeda motor hanyalah tahun 2012 saja. Sepertinya, karena pada akhirnya sepeda motor masih merupakan sarana transportasi paling praktis bagi kebanyakan masyarakat di Indonesia, maka volume penjualannya akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Hingga saat ini harga komoditas dunia, termasuk batubara dan kelapa sawit, masih belum sepenuhnya pulih, namun juga sudah tidak turun lebih rendah lagi. Disisi lain masyarakat sudah terbiasa dengan peraturan DP minimum, dan terdapat peluang dari meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah, yang itu berarti meningkatnya volume penjualan mobil. Porsi pendapatan ADMF sendiri sudah bergeser dari sebelumnya 60% pembiayaan sepeda motor dan 40% pembiayaan mobil, menjadi 55 : 45. Posisi ADMF sendiri sebagai salah satu pemimpin pasar di industri pembiayaan di tanah air cukup menjamin bahwa kinerja perusahaan akan terus meningkat dari waktu ke waktu, dengan catatan tidak ada ‘gangguan’ seperti yang terjadi di tahun 2012. Dan berhubung untuk tahun 2014 ini sepertinya gangguan tersebut sudah tidak ada sama sekali, then what do you think?
Berikut adalah beberapa poin yang membuat ADMF ini cukup menarik untuk investasi:
  1. Bisnis pembiayaan praktis merupakan salah satu bisnis paling menguntungkan di Indonesia. Bayangkan saja, anda bisa membebankan bunga hingga 44% kepada orang yang membeli sepeda motor secara kredit! Sejak dulu, tingkat suku bunga pinjaman bank di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, dan itu sebabnya industri perbankan disini juga terbilang sangat menguntungkan, tapi bahkan industi pembiayaan ini lebih menguntungkan lagi.
  2. Salah satu problem utama perusahaan pembiayaan seperti ADMF adalah bagaimana mereka bisa memperoleh sumber pendanaan yang murah, karena percuma saja jika mereka dapet bunga 44% dari pembeli sepeda motor, namun disisi lain mereka harus bayar bunga 30% ke pemilik dana, dalam hal ini bank. Namun posisi ADMF sebagai anak usaha BDMN menyebabkannya nggak perlu kemana-mana lagi kalau mereka butuh duit, melainkan memang selama ini ADMF memperoleh pendanaan dari induknya tersebut. Selain itu, nama besar perusahaan memungkinkannya untuk memperoleh pendanaan dari penerbitan obligasi, yang bunganya lebih murah dari pinjaman bank. Hal inilah yang menyebabkan ADMF mampu menekan biaya operasionalnya sehingga perolehan labanya terbilang maksimal. Dalam lima tahun terakhir termasuk di tahun 2012, tingkat Return on Equity (ROE) ADMF senantiasa terjaga di level 25 – 30%.
  3. ADMF dikelola oleh tim manajemen yang kompeten, konservatif (bisa dilihat dari tingkat leverage-nya yang dibawah rata-rata industri pembiayaan), dan juga royal terhadap investor, dimana itu bisa dilihat dari pembagian dividennya yang mencapai 50% perolehan laba perusahaan setiap tahun.
Sedikit catatan, untuk tahun buku 2012, ADMF membagikan dividen sebesar Rp703 per saham. Berhubung pada tahun 2013 kemarin laba perusahaan bertumbuh 20.3%, maka dividennya juga kemungkinan akan naik menjadi Rp853 per saham. Dengan harga sahamnya saat ini yakni Rp9,000, maka itu berarti dividend yield-nya 9.5 persen! Menarik bukan? Dan jika melihat PER dan PBV-nya yang masing-masing hanya 5.3 dan 1.5 kali, maka saham ini memang murah. Dalam setahun terakhir ADMF telah turun 10%, dimana sepertinya itu terjadi karena investor masih berpikir bahwa industri pembiayaan sepeda motor di tahun 2013 kemarin sama beratnya seperti tahun 2012, padahal tidak. Selain itu kita tidak sedang bicara perusahaan abal-abal disini, melainkan Adira. Penulis pribadi sudah mulai penasaran dengan perusahaan ini sejak jaman kuliah dulu di Bandung, dimana papan nama ‘Adira’ bisa dengan mudah ditemukan di hampir setiap kompleks ruko di pinggir jalan.
However, berinvestasi di perusahaan ini membutuhkan komitmen dari anda untuk memegangnya dalam waktu yang cukup lama, karena jika anda memegangnya dalam jumlah yang cukup banyak, maka anda tidak akan bisa keluar di waktu-waktu tertentu karena masalah likuiditas seperti yang kita bahas diatas. Penulis tidak tahu akan berada di level berapa ADMF ini dalam waktu 2 atau 3 tahun kedepan, namun yang jelas saham ini memiliki risiko investasi yang relatif rendah, terutama jika anda bisa mengakumulasinya pada kisaran harganya saat ini.
PT Adira Dinamika Multi Finance, Tbk
Rating Kinerja pada Q4 2013: AA
Rating Saham pada 9,000: [...]

Jasa Marga

Jasa Marga (JSMR), seperti yang anda ketahui, merupakan perusahaan operator jalan tol terbesar di tanah air, dimana per akhir tahun 2012, perusahaan mengoperasikan total 73% dari seluruh panjang ruas jalan tol di Indonesia. Sebagai perusahaan pionir di industrinya, JSMR juga punya sejarah panjang sejak tahun 1978, yakni sejak perusahaan mengoperasikan jalan tol pertamanya yakni jalan tol Jagorawi, sehingga jika dibandingkan dengan beberapa perusahaan jalan tol swasta, JSMR praktis merupakan perusahaan yang paling mapan. But still, kesempatan bagi perusahaan untuk tumbuh berkembang tampak masih terbuka lebar, dimana pada tahun 2013 kemarin perusahaan baru menyelesaikan pembangunan jalan tol Tanjung Benoa, Bali, belum termasuk beberapa ruas jalan tol lainnya yang juga dijadwalkan akan selesai dibangun dalam waktu beberapa tahun kedepan. Prospek jangka panjang?

Infrastruktur bernama jalan tol, kalau boleh jujur, merupakan salah satu infrastruktur paling mewah di Indonesia. Warga Jakarta dan sekitarnya boleh dikatakan beruntung karena Kota ini dikelilingi oleh banyak ruas jalan tol, namun tidak demikian dengan kota lain. Malah faktanya, dari sekian banyak ruas jalan tol yang dioperasikan oleh JSMR, termasuk yang akan dibangun nantinya, hanya dua ruas jalan tol yang terletak diluar Pulau Jawa, yakni Belmera (Belawan – Medan – Tanjung Morawa) di Sumatera Utara, dan Tanjung Benoa di Bali. Sementara perusahaan jalan tol lainnya, mereka juga lebih banyak beroperasi di Pulau Jawa, kecuali Grup Bosowa yang mengoperasikan Jalan Tol Makassar, Sulawesi Selatan.
However, hal ini sekaligus menunjukkan bahwa potensi pertumbuhan infrastruktur jalan tol di Indonesia masih terbuka lebar, karena bahkan untuk Pulau Jawa saja, khususnya di Jakarta, keberadaan sekian banyak ruas jalan tol masih belum cukup untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas, sehingga ruas-ruas jalan tol baru terus dibangun setiap tahun, dimana hak konsesi (atau disebut juga hak pengusahaan) dari sebagian besar ruas jalan tol tersebut biasanya dipegang oleh JSMR. Sejak tahun 2009 hingga saat ini, JSMR telah memperoleh setidaknya empat hak konsesi baru termasuk jalan tol Tanjung Benoa, dan kedepannya akan menyusul delapan hak konsesi lainnya, namun kedelapan ruas jalan tol ini sampai sekarang masih dalam tahap konstruksi alias belum selesai dibangun.

Konstruksi Jalan Tol Tanjung Benoa, Bali, yang pada saat ini sudah selesai

(Catatan: Seluruh ruas jalan tol di Indonesia adalah milik pemerintah RI, namun hak pembangunan serta pengelolaannya, yang kemudian disebut sebagai ‘hak konsesi’, diberikan kepada perusahaan, entah itu BUMN atau dalam hal ini Jasa Marga, ataupun perusahaan swasta. Per Kuartal III 2013, JSMR memegang hak konsesi jalan tol senilai total Rp21 trilyun).
Seiring dengan bertambahnya jumlah hak konsesi jalan tol, maka otomatis pendapatan JSMR juga turut bertambah. Pada tahun 2008, JSMR mencatatkan pendapatan Rp3.3 trilyun, yang meningkat menjadi Rp9.1 trilyun pada tahun 2012. Selama kurun waktu lima tahun tersebut, jumlah hak konsesi yang dipegang JSMR meningkat dari 13 menjadi 17 ruas tol, dengan total panjang jalan tol meningkat dari 527 menjadi 555 kilometer, atau hanya bertambah sebanyak 28 kilometer.
Menariknya, jika kedelapan ruas jalan tol yang pada saat ini masih dalam tahap konstruksi pada akhirnya nanti selesai dibangun dan siap beroperasi pada tahun 2016 nanti, maka total panjang jalan tol yang dikelola oleh JSMR akan meningkat menjadi.. 738 kilometer! Atau bertambah 183 kilometer dari panjang saat ini. Jadi berapa kira-kira pendapatan yang akan diraup JSMR dalam beberapa tahun kedepan?
Anyway, prospek jangka panjang JSMR seperti yang kita bahas diatas mungkin tidak semenarik kelihatannya. Membangun jalan tol bukanlah pekerjaan mudah, dan masalahnya adalah JSMR tidak berada dalam posisi sebagai pengambil keputusan pembangunan jalan tol, melainkan hanya pelaksana pembangunan. Sementara posisi sebagai pengambil keputusan, itu ada di Pemerintah, dalam hal ini Kementerian PU, dan mereka sangat lamban dalam bekerja. Termasuk memperpanjang tenggat waktu penyelesaian jalan tol, itu juga merupakan hal yang biasa. Pihak manajemen JSMR sendiri mengakui bahwa kendala terbesar dalam operasional mereka adalah Pemerintah itu sendiri. Contohnya untuk pembebasan lahan saja, Kementerian PU bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun, entah apa masalahnya.
Atau bagaimana jika Kementerian PU diletakkan dibawah Kementerian BUMN saja? Biar Pak Dahlan juga bisa marah-marah ke orang-orang disitu.
Karena itulah, anda sebagai investor mungkin tidak bisa berinvestasi di JSMR ini jika hanya karena tertarik dengan prospek dari pembangunan ruas-ruas jalan tol baru milik perusahaan. Meski demikian, JSMR tetap menarik karena beberapa poin berikut:
  1. Membangun jalan tol memang sulit, namun setelah jalan tol tersebut jadi, maka kesananya JSMR tinggal panen pendapatan untuk jangka waktu yang amat lama. Dalam hal ini meski kita ambil kemungkinan terburuk bahwa proyek-proyek pembangunan jalan tol yang dikerjakan perusahaan ternyata gagal total, namun JSMR akan tetap terus menikmati pendapatan dari jalan-jalan tol yang sudah ada.
  2. Tarif jalan tol senantiasa naik dari waktu ke waktu, tanpa perusahaan perlu khawatir bahwa akan terjadi penurunan jumlah pengguna jalan tol. Dan hal ini otomatis menjamin bahwa pendapatan JSMR akan senantiasa naik dari tahun ke tahun, dengan tingkat kenaikan yang paling tidak lebih tinggi dari inflasi. Boleh dibilang JSMR bermain di sektor yang kebal terhadap krisis ekonomi, dan kinerja keuangannya sendiri dalam lima tahun terakhir memang menunjukkan hal tersebut.
  3. JSMR dikelola oleh tim manajemen yang kompeten dan bisa dipercaya. Pada akhir tahun 2012, perusahaan memperoleh skor 94.6 untuk GCG-nya, alias sangat baik. Dan kalau penulis pelajari cara penyusunan laporan keuangan perusahaan, JSMR ini juga sangat mirip dengan Astra International (ASII) dan juga Unilever (UNVR), dimana laporan keuangannya sederhana dan ‘bersih’.
  4. Nggak seperti BUMN-BUMN lain yang nyasar kesana kemari, JSMR sepenuhnya fokus hanya pada usaha jalan tol saja, dan itu tentu bagus.
  5. Untuk membiayai pembangunan jalan tol, sejak tahun 1983 JSMR secara rutin menerbitkan obligasi, dan sampai sekarang nggak pernah telat dibayar apalagi default. Obligasi itu sendiri mendapat peringkat AA dari Pefindo, alias sangat baik.
Seperti beberapa BUMN-BUMN lain seperti PLN, Pertamina, hingga Krakatau Steel, JSMR sebenarnya bermain di industri strategis, dimana kebutuhan masyarakat akan jalan tol tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jika dimasa mendatang Pemerintah sukses membangun hingga 1,000 kilometer jalan tol sekalipun, maka jalan-jalan tol tersebut tetap akan dipenuhi oleh ribuan mobil setiap harinya. Dan untungnya JSMR memang kompeten dalam bidangnya tersebut. Kalau yang bisa penulis lihat sendiri, setiap kali ada ruas jalan tol yang rusak karena tanah longsor atau semacamnya, maka JSMR selalu bergerak cepat untuk memperbaikinya. Kualitas jalan tol di Indonesia juga sangat bagus, paling tidak jika dibandingkan dengan jalan raya biasa yang selalu berlubang setelah kebanjiran ketika tiba musim hujan, dan lagi-lagi orang PU sangat lambat dalam memperbaikinya.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Pada Kuartal III 2013, laba bersih JSMR turun 16.2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun itu karena pada periode tahun sebelumnya tersebut perusahaan memperoleh pendapatan non operasional dari penjualan salah satu ruas jalan tolnya ke Citra Marga Nusaphala (CMNP), jadi bukan karena laba JSMR benar-benar turun. Dari sisi pendapatan, kinerja JSMR masih naik 31.2%, dan kenaikan ini seharusnya bisa dipertahankan mengingat mulai tahun 2014 mendatang, perusahaan bisa dipastikan akan menerima tambahan pendapatan dari Jalan Tol Tanjung Benoa.
Terkait kualitas fundamentalnya, terdapat setidaknya dua hal yang menyebabkan JSMR ini boleh dikatakan istimewa. Pertama, kinerja perusahaan hampir bisa dipastikan akan bertumbuh terus secara stabil, atau bahkan labanya akan melompat dalam dua tiga tahun kedepan, jika ruas-ruas jalan tol yang saat ini tengah dibangun pada akhirnya sukses beroperasi (dan dalam lima tahun terakhir, panjang ruas jalan tol yang dikelola JSMR juga memang terus bertambah bukan?). Dan kedua, perusahaan juga memiliki nama besar (brand equity), dimana jika anda tinggal di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, hingga Medan, maka anda akan rutin menggunakan jalan tol, sehingga anda tidak mungkin tidak tahu nama perusahaan yang satu ini.
Karena itulah, JSMR kemudian menjadi salah satu saham blue chip di bursa yang dihargai premium oleh investor, dimana JSMR senantiasa mencatatkan PER antara 15 – 20 kali (sebagai perusahaan mapan, valuasi JSMR bisa dilihat dari PER-nya). Penulis tidak ingat kalau saham ini pernah mencatatkan PER dibawah 15 kali, bahkan meski dulu (3 tahun yang lalu) sahamnya masih berada di level 3,000-an.
Sayangnya pada harga 5,000, PER JSMR ternyata masih cukup tinggi, yakni 24.9 kali. Penulis sebenarnya membahas saham ini karena tertarik dengan fakta bahwa JSMR sudah turun jauh dari puncaknya yakni 6,900, tapi bahkan pada harganya saat ini JSMR masih belum bisa dikatakan murah. Jika dibandingkan dengan beberapa blue chip kelas satu lainnya seperti ASII, BBRI, hingga PGAS, mereka semua mencatatkan PER kurang dari 15 kali, padahal kualitas kinerjanya relatif lebih baik. Jika pada tahun 2014 nanti laba JSMR melompat karena adanya tambahan pendapatan dan laba bersih dari tol Tanjung Benoa, maka mungkin barulah harga JSMR pada saat ini boleh dibilang wajar, namun itu juga cuma asumsi bukan? Karena kenaikan pendapatan tidak selalu berarti kenaikan laba bersih. Jadi kalau penulis sendiri lebih suka menunggu saham ini turun lebih rendah lagi, let say ke 4,000 – 4,300, kemudian baru masuk. Jika tidak maka yaa, masih banyak saham lain yang lebih menarik, baik dari sisi kualitas fundamental maupun valuasinya.
Tapi jika anda sukses masuk di harga 4,000-an tersebut, maka selanjutnya anda bisa duduk santai untuk waktu yang sangat lama. Plus, anda mungkin akan menjadi satu-satunya orang yang tersenyum lebar ketika nanti Jasa Marga mengumumkan bahwa tarif tol naik lagi, ketika orang lain justru marah-marah.
PT Jasa Marga (Persero), Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: A

Rating saham pada 5,000: BBB

NB: Saat ini perusahaan-perusahaan sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal IV 2013, dan penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis terhadap kinerja para emiten berdasarkan laporan keuangan terbarunya tersebut. Anda bisa memperolehnya [...]

Seminar Lo Kheng Hong – 22 Februari

Dear investor, Penulis bekerja sama dengan Bapak Lo Kheng Hong untuk menghadirkan beliau dalam seminar singkat selama dua setengah jam, di Jakarta. Dan berikut keterangan selengkapnya:

  • Topik seminar: Seputar investasi saham, dimana pak Lo Kheng Hong akan berbagi tentang pengalamannya dalam berinvestasi di pasar saham Indonesia.
  • Tempat: APL Tower Lantai 12 Suite 5 – 7, Central Park, Jakarta Barat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 Februari 2014.
  • Waktu: Pukul 13.30 – 16.00 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Snack

Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp50,000, atau Rp25,000 untuk mahasiswa. Untuk mendaftar, anda bisa telepon/sms ke nomor 08989713302 (Ms. Levia), atau kirim email ke youngprofessionalforumbcs@gmail.com.
Acara ini didukung oleh Young Professional Forum, dan BNI Securities cabang Central Park. Acara ini terbuka untuk umum. Penulis juga akan hadir, tentunya sebagai pendengar.

Update: Tempatnya sudah penuh! Sampai ketemu di kesempatan [...]

Seminar Lo Kheng Hong – 22 Februari

Dear investor, Penulis bekerja sama dengan Bapak Lo Kheng Hong untuk menghadirkan beliau dalam seminar singkat selama dua setengah jam, di Jakarta. Dan berikut keterangan selengkapnya:

  • Topik seminar: Seputar investasi saham, dimana pak Lo Kheng Hong akan berbagi tentang pengalamannya dalam berinvestasi di pasar saham Indonesia.
  • Tempat: APL Tower Lantai 12 Suite 5 – 7, Central Park, Jakarta Barat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 Februari 2014.
  • Waktu: Pukul 13.30 – 16.00 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Snack
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp50,000, atau Rp25,000 untuk mahasiswa. Untuk mendaftar, anda bisa telepon/sms ke nomor 08989713302 (Ms. Levia), atau kirim email ke youngprofessionalforumbcs@gmail.com.
Acara ini didukung oleh TeguhHidayat.com, Young Professional Forum, BNI Securities, Kalam Kudus Center, dan Indomobil. Acara ini terbuka untuk [...]

Diversifikasi: Perlu atau Tidak?

Salah satu ‘problem alamiah’ dalam berinvestasi adalah tidak adanya kepastian akan masa depan, dimana sebuah perusahaan yang amat sangat mapan sekalipun bukannya tidak bisa tersandung masalah tertentu, mengalami kemunduran kinerja, atau bahkan bangkrut. Itu sebabnya dalam berinvestasi di saham, keputusan untuk memasukkan seluruh dana yang tersedia hanya pada satu saham saja, itu sangat tidak dianjurkan, tak peduli seyakin apapun anda terhadap saham tersebut. Kebijakan untuk menempatkan investasi pada lebih dari satu saham itulah, yang kemudian disebut dengan diversifikasi. Pertanyaannya kemudian, bagaimana sebaiknya teknik atau strategi diversifikasi yang disarankan?

Diversifikasi pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya kerugian. Kalau seluruh dana yang anda miliki digunakan untuk membeli satu saham saja, maka ketika pilihan anda tersebut ternyata keliru, entah itu karena adanya perubahan fundamental atau memang keliru sejak awal, maka nilai kerugian yang terjadi bisa sangat besar. Namun jika anda menyebarkan dana anda pada sepuluh saham yang berbeda, maka masa iya sih, sepuluh saham tersebut ternyata keliru semua? Bahkan meski anda masih awam soal investasi sekalipun, minimal selalu ada saja satu atau dua saham yang sukses menghasilkan keuntungan, dan itu tentunya mengurangi risiko kerugian yang mungkin terjadi.
Sementara jika anda merupakan investor yang berpengalaman, maka dari sepuluh saham yang anda pilih, biasanya ada saja satu atau dua diantaranya yang ternyata keliru, namun itu tetap lebih baik ketimbang anda hanya memilih satu saham, kemudian satu saham tersebut ternyata keliru. Warren Buffett pernah mengatakan dalam annual letternya bahwa dari empat saham berbeda yang ia pilih, rata-rata hanya tiga diantaranya yang menghasilkan keuntungan, sementara satunya lagi menghasilkan kerugian. But still, kinerja portofolionya secara keseluruhan tidak menjadi terganggu karenanya.
Okay, lalu bagaimana sebaiknya kita dalam melakukan diversifikasi?
Kalau boleh jujur, tidak ada rumus atau strategi yang baku dalam melakukan diversifikasi. However, kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri, diversifikasi yang anda lakukan bisa dikatakan efektif (terkait fungsinya untuk menekan risiko kerugian), jika tidak ada saham tertentu dalam portofolio anda yang memiliki kontribusi terlalu signifikanterhadap kinerja portofolio secara keseluruhan, sementara disisi lain, juga tidak ada saham yang hampir tidak memiliki pengaruhsama sekali terhadap kinerja portofolio secara keseluruhan.
Sebagai contoh, anda memiliki dana Rp10 juta, dan Rp7 juta diantaranya digunakan untuk membeli hanya satu saham saja, yakni saham A, sementara selebihnya baru disebar ke saham B, C, D, dan seterusnya. Ini adalah diversifikasi yang keliru, karena saham A memiliki bobot yang terlalu besar terhadap portofolio, dimana jika pilihan anda terhadap saham A tersebut ternyata keliru, maka kerugian yang anda derita tetap akan signifikan.
Disisi lain, jika anda memiliki dana Rp10 juta, dan anda membeli saham tertentu sebanyak Rp100,000 saja, maka itu juga strategi diversifikasi yang keliru, karena mau saham tersebut naik 100% atau turun 90% sekalipun, efeknya terhadap portofolio secara keseluruhan hampir tidak akan terasa sama sekali. Anda tidak bisa dengan bangga mengatakan ‘saya beli saham A, dan sekarang dia sudah naik 100%’, kalau anda beli saham A itu cuma sebanyak 1 lot.
But that’s my opinion. Sementara kalau kita mengambil contoh Warren Buffett, ketika ia menyelenggarakan partnership-nya untuk pertama kali pada tahun 1956, ia melakukan kebijakan diversifikasi yang cukup ketat, dimana ia membeli 40-an saham yang berbeda (ketika itu di bursa saham Amerika terdapat sekitar 800-an perusahaan terdaftar/emiten). Alasannya tentu saja karena ia berniat untuk menekan risiko terjadinya kerugian hingga serendah-rendahnya, dimana peraturannya yang terkenal, yakni jangan pernah rugi, itu sudah ia terapkan sejak ia masih sangat muda (sejak ia berusia 26 tahun).
Namun sekitar lima atau enam tahun kemudian, Buffett mengubah kebijakannya, dimana ia menyatakan bahwa dalam satu kondisi tertentu, ia mungkin saja menempatkan 40% dana kelolaan hanya pada satu saham saja, meski pada prakteknya, ia tidak pernah melakukan hal itu. Pada tahun-tahun tertentu, Buffett paling banyak hanya menempatkan sekitar sepertiga alias 30 – 35% dari total dana kelolaan pada hanya satu saham (itupun jarang sekali), tapi nggak pernah sampai 40%, apalagi lebih dari itu.
Kebijakan inilah yang kemudian membuat Buffett dikenal sebagai investor yang anti diversifikasi. Beberapa orang mengira bahwa quote ‘never place all your eggs in one basket’, ini merupakan quote Buffett, padahal bukan.

Namun perhatikan bahwa meski Buffett ini anti diversifikasi, tapi bukan berarti dia benar-benar hanya membeli satu saham saja, melainkan ia tetap memiliki beberapa saham yang berbeda di portofolio-nya, hanya memang jumlahnya lebih sedikit dibanding investor profesional pada umumnya. Pada tahun 1956 hingga awal 1960-an, Buffett memegang 40 saham yang berbeda, namun sejak tahun 1962 hingga pertengahan 1980-an, ia kemudian hanya memegang antara 10 hingga 20 saham saja.

Sementara sejak tahun 1990-an hingga sekarang, Berkshire Hathaway memegang lebih dari 100 saham yang berbeda, entah itu sebagai pemegang saham mayoritas maupun minoritas, namun itu bukan karena Buffett kembali menerapkan strategi diversifikasi seperti ketika ia masih sangat muda dulu, melainkan karena ukuran aset serta dana yang dipegang Berkshire sudah kelewat besar, sehingga tidak mungkin ditempatkan hanya pada sepuluh atau dua puluh perusahaan saja. Tahukah anda berapa nilai total aset Berkshire saat ini? Per Kuartal III 2013, nilainya US$ 458 milyar, atau kalau pake kurs Rp12,000 per Dollar, itu berarti sekitar Rp5,497 trilyun! Bahkan nilai seluruh saham di BEI, jika dijumlahkan, tidak sampai sebesar itu.
Balik lagi ke soal diversifikasi. Pertanyaannya, apa yang membuat Buffett menolak diversifikasi? Ada dua hal. Pertama, berdasarkan pengalaman, ketika Buffett ‘diharuskan’ untuk membeli 40 saham yang berbeda, maka ia akan kesulitan untuk menemukan 40 saham yang layak investasi di Wall Street. Buffett senantiasa menerapkan kriteria investasi yang sangat ketat terhadap saham-saham pilihannya, sehingga ketika ia melakukan screening untuk memilih saham, maka dari ratusan hingga ribuan saham yang terdaftar di NYSE (saat ini di NYSE terdapat sekitar 6,000 emiten), paling-paling ia hanya memperoleh 10 hingga 20 saham saja yang memang layak dibeli, baik dari sisi kualitas fundamental perusahaan maupun valuasi sahamnya.
Jadi ketika Buffett sudah memperoleh katakanlah 20 buah saham yang bagus, lalu ngapain juga ia harus membeli saham ke-21, 22, dan seterusnya, padahal saham-saham nomor 21 dan seterusnya tersebut tidak layak invest?
Kedua, seperti yang kita ketahui, tujuan diversifikasi adalah untuk menekan risiko terjadinya kerugian. Sementara strategi value investing yang dijalani oleh Buffett, itu juga fokus pada upaya untuk menekan risiko terjadinya kerugian. Jadi jika tujuannya adalah untuk ‘jangan sampai rugi’, maka diversifikasi yang lebar (wide diversification) sebenarnya tidak lagi diperlukan, karena dengan catatan si investor yang bersangkutan sudah menerapkan strategi value investing dengan tepat, maka kecil kemungkinan ia akan mengalami kerugian. Lagian jika seorang investor memegang terlalu banyak saham yang berbeda, maka bisa jadi dia malah bakal pusing sendiri, karena harus secara intensif mengamati saham-saham tersebut satu per satu.
Nah, jadi balik lagi ke judul pertanyaan diatas, apakah diversifikasi itu diperlukan? Jawabannya tentu saja perlu, karena ketika anda sudah sangat yakin terhadap value atau prospek dari saham tertentu, namun saham pilihan anda tersebut tetap saja bisa keliru, sehingga anda sebaiknya menempatkan investasi anda pada beberapa saham yang berbeda.
Namun jika pertanyaannya dilanjutkan, diversifikasi seperti apakah yang diperlukan? Maka jawabannya adalah diversifikasi yang wajar, alias tidak berlebihan! Anda disarankan untuk menyebarkan dana anda pada tujuh hingga sepuluh saham yang berbeda, atau maksimal lima belas, dimana dari saham-saham yang dipegang, terdapat tiga hingga lima saham yang menjadi pegangan utama dimana sekitar 40 hingga 60% aset ditempatkan pada saham-saham utama tersebut, sementara selebihnya baru disebar di saham-saham yang lain. Sekali lagi kalau kita pakai contoh Buffett, ia mengatakan bahwa dalam kondisi tertentu ia bisa saja mengalokasikan hingga 40% aset hanya pada satu saham saja. Meskipun pada prakteknya ia tidak pernah melakukannya, namun ini menunjukkan bahwa Buffett selalu memiliki ‘pegangan utama’ dalam portofolionya, entah itu hanya satu saham atau beberapa, dimana ia mengalokasikan lebih banyak dana pada saham-saham utama ini ketimbang saham-saham lainnya di dalam portofolio Berkshire Hathaway.
Dan alasan kenapa Buffett memiliki saham-saham utama didalam portofolionya, adalah karena ia tidak pernah memiliki tingkat keyakinan yang sama untuk saham-saham yang ia pegang. Dan kita semua juga begitu bukan? Sebagai contoh, ketika anda menemukan dua saham yang layak investasi, yakni saham A dan B, maka setelah dianalisis secara mendalam, anda mungkin akan menganggap bahwa saham A memiliki valuasi dan kualitas fundamental yang lebih baik dibanding saham B, namun saham B ini juga terlalu bagus untuk diabaikan. Maka dari dua saham tersebut, saham mana yang kemudian menjadi saham utama dimana anda membelinya lebih banyak? Saham A, tentu saja.
However, untuk mencegah agar ‘pegangan utama’ ini tidak memberikan pengaruh yang terlalu besar terhadap kinerja portofolio secara keseluruhan, maka anda juga jangan hanya memiliki satu pegangan utama saja, melainkan anda sebaiknya mengambil dua, tiga, hingga maksimal lima saham yang kemudian dimasukkan kedalam kelompok ‘saham-saham utama’ ini, akan lebih baik lagi jika saham-saham tersebut berasal dari sektor yang berbeda-beda. Ingat bahwa meski pada tahun-tahun tertentu Buffett terkadang cukup berani untuk mengalokasikan hingga sepertiga aset Berkshire hanya pada satu saham, seperti Coca-Cola di awal tahun 1990-an dulu, namun di tahun-tahun lainnya Buffett sangat jarang ‘se-nekad’ itu.
Disisi lain, anda juga jangan membeli saham tertentu pada jumlah yang terlalu sedikit, kecuali jika saham tersebut sedang dalam tahap akumulasi (anda sedang mengumpulkannya sedikit demi sedikit). Alhasil, semua saham didalam portofolio anda adalah penting, baik itu merupakan pegangan utama atau bukan. Jika anda tertarik pada satu saham tertentu, namun anda tidak cukup yakin untuk membelinya dalam jumlah yang cukup signifikan, maka mendingan gak usah sama sekali.
Dengan cara inilah, anda akan memiliki portofolio yang tidak ada saham tertentu di dalamnya yang memiliki pengaruh terlalu besar terhadap kinerja investasi anda secara keseluruhan, namun disisi lain juga tidak ada saham ‘remeh-temeh’ yang tidak berpengaruh apapun terhadap portofolio saham anda. Dan ketika anda sampai pada kondisi itulah, maka bisa dikatakan bahwa strategi diversifikasi yang anda lakukan telah berjalan efektif, dan anda tidak perlu lagi khawatir jika salah satu saham pilihan anda ternyata keliru.
Well, that’s all from me about diversification. Now what about you?
NB: Saat ini perusahaan-perusahaan sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal IV 2013, dan penulis membuat buku yang berisi kumpulan analisis terhadap kinerja para emiten berdasarkan laporan keuangan terbarunya tersebut. Anda bisa memperolehnya [...]

Mengenal ‘Strategi Kontrarian’

Di artikel dua minggu lalu penulis menyebutkan bahwa Lo Kheng Hong adalah tipikal investor yang kontrarian, dimana ia melakukan apa yang justru orang lain menghindarinya, misalnya membeli saham yang orang kebanyakan menganggapnya sebagai saham sampah. Nah, kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri, memang ada yang menarik dari istilah ‘kontrarian’ ini, dan kita akan membahasnya disini.

Secara istilah, kontrarian berarti ‘melawan’. Investopedia mendefinisikan kontrarian sebagai gaya investasi yang melawan arah pasar, dengan cara membeli aset/saham yang memiliki kinerja perusahaan yang buruk, dan menjualnya nanti ketika kinerjanya menjadi baik dan biasanya sahamnya juga naik. Dasar pemikirannya adalah bahwa kita hanya bisa membeli saham pada harga yang benar-benar terdiskon, jika perusahaannya itu sendiri sedang mencatatkan kinerja yang buruk, atau jika pasar sedang turun. Namun berhubung pasar tidak turun setiap hari, maka dalam kondisi pasar yang normal atau bullish, pilihan untuk membeli saham pada harga murah cenderung terbatas pada saham-saham dengan fundamental yang buruk. Sebab jika kita hendak invest pada perusahaan yang memiliki performa cemerlang, maka kemungkinan kita harus membayar pada harga premium, yakni harga yang mencerminkan PER dan PBV yang tinggi, dan itu tentu saja tidak sejalan dengan konsep value investing.
However, hati-hati dengan kalimat ‘saham dengan fundamental yang buruk’, karena sebenarnya kalimat yang lebih tepat adalah ‘saham dengan fundamental yang sedang buruk’. Kata ‘buruk’ disini juga jangan diartikan sebagai benar-benar buruk, melainkan hanya tidak terlalu bagus saja. Contohnya, terkadang sebuah perusahaan dengan historis yang amat sangat cemerlang sekalipun bisa mengalami masa-masa dimana bisnisnya sedang sulit, dimana penjualan turun, laba turun, dan sahamnya pun ikut turun. Analogi mudahnya mungkin seperti Manchester United, yang meski di masa lalu sangat menguasai Liga Inggris dan juga sempat menjuarai Liga Champions, namun untuk tahun ini mereka lagi seret prestasi seiring dengan bergantinya tampuk kepelatihan dari Opa Alex ke Om Moyes.
Tapi apakah itu kemudian membuat MU seketika berubah menjadi klub sepakbola kelas teri? Kecuali anda adalah pendukung Arsenal, Chelsea, Liverpool, ataupun Manchester City, maka tentu saja jawabannya adalah, tidak! MU tetap merupakan klub besar, namun sekarang ini dia memang sedang mengalami masa-masa sulit.
Nah, seandainya MU ini memiliki saham yang terdaftar di bursa saham tertentu, maka tahun ini hampir pasti sahamnya tersebut akan anjlok. Namun bagi para investor kontrarian, mereka mungkin melihat bahwa ini justru merupakan kesempatan untuk masuk ke MU di harga murah, karena cepat atau lambat seharusnya prestasi MU akan pulih kembali.

Catatan: Manchester United Plc, perusahaan pemilik klub Manchester United, sejak tahun 2012 lalu memang terdaftar di NYSE. Anda bisa melihat pergerakan sahamnya di Yahoo Finance dengan kode MANU. Dalam setahun terakhir ini sahamnya sudah turun 10.3%, dengan fluktuasi yang tajam (sepertinya sahamnya akan naik jika MU menang, tapi langsung anjlok lagi begitu di pertandingan berikutnya dia kalah).

Tapi tentu saja, terdapat pertaruhan disini dimana, satu, tidak ada yang tahu kapan MU akan kembali menempati peringkat pertama di klasemen Liga Inggris, dan dua, bagaimana jika prestasi MU yang seret seperti sekarang ini berlanjut untuk seterusnya? Kita tidak pernah tahu soal itu bukan? Benar, karena itulah kita harus kembali ke faktor valuasi. Jika MU ternyata menjadi klub papan tengah untuk seterusnya, maka kalau dalam investasi saham sungguhan, itu seperti perusahaan yang setelah bisnisnya terpuruk, selanjutnya ia tetap tidak mampu untuk pulih dan mencetak laba kembali.
Tapi jika dalam sepakbola hanya terdapat satu kondisi dimana sebuah klub mengalami penurunan prestasi, dimana itu bisa langsung dilihat dari posisi mereka di tabel klasemen, maka kalau di perusahaan, terdapat setidaknya tiga macam kondisi penurunan fundamental/kinerja perusahaan yang biasanya menyebabkan harga saham yang bersangkutan ikut turun. Pertama, laba dan ekuitas perusahaan masih tumbuh, namun tidak tumbuh setinggi sebelumnya, biasanya karena masa-masa keemasan perusahaan/sektornya memang sudah lewat. Jika saham dari perusahaan yang bersangkutan sebelumnya dihargai sangat tinggi oleh pasar karena kinerja cemerlang di masa lalu, maka kondisi seperti ini akan menyebabkan saham tersebut akan turun, tapi biasanya tidak sampai menyebabkannya benar-benar murah, melainkan hanya balik lagi ke harga yang memang seharusnya.
Kedua, laba perusahaan tumbuh secara negatif alias turun, dan ini juga biasanya akan ditanggapi negatif oleh investor sehingga saham yang bersangkutan akan turun. Namun para investor yang disebut ‘kontrarian’ tadi biasanya menyukai saham yang mengalami kondisi nomor dua ini, karena meski laba perusahaannya tampak turun, namun ekuitas perusahaan masih naik karena adanya tambahan saldo laba ditahan. Jadi dalam hal ini meski harga saham yang bersangkutan menjadi turun karena valuasinya menjadi tampak mahal dari sisi PER (karena EPS-nya turun), namun dari sisi PBV valuasinya cenderung tetap, bahkan menjadi lebih murah.
Kalau yang penulis perhatikan sendiri, seringkali terjadi kasus dimana sebuah saham dihargai premium (PBV-nya tinggi, mencapai 4 atau bahkan 5 kali), karena kinerja perusahaannya sangat bagus dengan laba bersih yang besar dan naik signifikan dibanding periode sebelumnya. Contohnya? Erajaya Swasembada (ERAA). Pada tahun 2012, ERAA mencatatkan kinerja yang terbilang sangat bagus, dan alhasil sahamnya naik terus hingga sempat bertengger di posisi 3,500, yang mencerminkan PBV sekitar 4.5 kali, dimana kalau menurut penulis sendiri itu adalah valuasi yang tidak masuk akal. Namun setelah perusahaan mengalami penurunan laba pada tahun 2013 ini, sahamnya seketika anjlok hingga sempat menyentuh posisi 940, sebelum kemudian gak kemana-mana di level 1,000-an. Nah, anda tahu kenapa ERAA tidak melanjutkan penurunannya melainkan berhenti di 1,000-an? Ya karena pada harganya tersebut, valuasinya sudah sangat terdiskon untuk ukuran perusahaan yang sebenarnya masih mencetak laba signifikan (ROE ERAA pada Kuartal III 2013 tercatat 12%, masih lebih baik dibanding bunga obligasi), yakni dengan PBV hanya 1.2 kali. Jadi kecuali Rupiah melanjutkan pelemahannya sampai Rp15,000 per Dollar, sehingga ERAA juga pada akhirnya mengalami kerugian, maka sahamnya nggak akan turun lebih dalam lagi.

And by that I mean, jika anda termasuk yang percaya bahwa kinerja ERAA pada akhirnya nanti akan meningkat kembali, maka sekarang inilah saat yang tepat untuk masuk, kemudian lihat hasilnya 1 – 2 tahun kemudian. Tidak hanya ERAA, saat ini di BEI banyak terdapat perusahaan lainnya yang juga punya kinerja cemerlang di masa lalu, namun pada tahun 2013 kemarin kinerja mereka lagi agak seret, sehingga sahamnya pun turun, tapi bagi investor tertentu hal itu justru menjadi kesempatan untuk belanja pada harga diskon.
Ketiga, laba perusahaan tidak hanya turun, melainkan berbalik menjadi kerugian besar, tidak hanya pada satu tahun/satu periode tertentu tertentu melainkan berkepanjangan. sehingga ekuitas perusahaan juga pada akhirnya ikut turun karena tergerus defisit. Dan ini adalah kondisi yang paling buruk, dimana investor kemudian bisa mengasumsikan bahwa perusahaan akan habis sama sekali, tak peduli meski dia punya kinerja di masa lalu yang mengesankan sekalipun. Kondisi ketiga inilah yang hanya investor kontrarian tertentu yang berani masuk, karena meski saham yang bersangkutan turun sampai PBV-nya dibawah 1 kali sekalipun (yang itu berarti harga sahamnya sudah lebih murah dari nilai seluruh aset bersih perusahaan), namun ekuitas perusahaan juga tumbuh secara negatif alias turun, dalam kondisi tertentu bahkan hingga mengalami defisiensi modal seperti Bumi Resources (BUMI).
However, sejarah membuktikan bahwa investor kontrarian tipe ekstrim ini (yang membeli saham yang mengalami kondisi nomor tiga) seringkali tetap sukses juga pada akhirnya, meski ia harus menunggu selama bertahun-tahun. Jangan salah, beberapa investor terkenal seperti Sandiaga Uno juga termasuk kontrarian tipe ekstrim ini, dimana ia membeli banyak perusahaan yang nyaris atau bahkan bangkrut sama sekali di tahun 1998, tapi toh pada akhirnya ia sukses besar ketika kinerja perusahaan-perusahaan tersebut pulih dan ia bisa menjualnya pada harga premium.
Namun jika anda adalah tipikal investor pasif seperti layaknya penulis (yang tidak turut campur dalam pengelolaan perusahaan), maka strategi nomor tiga ini (membeli perusahaan bangkrut) tidak disarankan. Perhatikan bahwa Sandi Uno tidak membeli perusahaan kemudian selanjutnya duduk santai sepanjang hari, melainkan sibuk membenahi manajemen, atau dengan kata lain turut campur dalam pengelolaan perusahaannya. Dan terkadang pula ada perusahaan tertentu yang meski sudah diupayakan setengah mati agar bisa kembali profit, namun toh tetap saja perusahaan tersebut tidak sanggup bangkit kembali. Ini artinya pilihan strategi kontrarian nomor tiga ini memiliki risiko yang cukup tinggi, sekaligus membutuhkan keahlian dalam pengelolaan perusahaan, plus tentunya dana yang besar, karena untuk bisa mengendalikan sebuah perusahaan maka anda harus membeli sahamnya dalam jumlah yang tidak sedikit.
Strategi kontrarian, dari sisi perilaku pasar
Pembahasan tentang strategi kontrarian yang ditulis diatas adalah terkait fundamental dari perusahaan yang bersangkutan, dimana investor kontrarian membeli saham yang kinerja perusahaannya justru sedang turun, selama valuasinya masuk akal. Karena seringkali saham yang memiliki fundamental bagus dihargai terlalu tinggi oleh pasar, seiring dengan tingginya ekspektasi investor akan masa depan dari perusahaan yang bersangkutan.
Diluar itu, ada pula strategi kontrarian yang memanfaatkan fluktuasi pasar, dalam hal ini koreksi IHSG. Perhatikan bahwa dalam kondisi normal, seringkali kita harus sedikit ‘mengalah’ untuk memperoleh saham yang nggak bagus-bagus amat kalau kita fokus pada upaya untuk memperoleh saham pada valuasi yang serendah-rendahnya, karena barang-barang yang bagus semuanya dilabeli ‘best seller’, sehingga harganya pun selangit. Tapi bagaimana kalau dalam kondisi pasar yang sedang anjlok? Yaa istilahnya bahkan koleksi baju Mango pun akan dihargai sama dengan baju-baju di toko Mangga Dua bukan? Sehingga dalam kondisi seperti inilah, kita nggak perlu lagi mengalah soal kualitas fundamental dari saham yang kita beli.
Karena itulah, jika investor kebanyakan mengalami euforia-nya ketika IHSG sedang tinggi-tingginya, maka value investor mengalami euforia-nya justru ketika indeks saham anjlok, dan itu sebabnya mereka kemudian disebut ‘kontrarian’, karena perilaku mereka sepenuhnya berbeda dengan perilaku pasar pada umumnya.

Padahal, mereka bukannya dengan sengaja berperilaku berbeda dengan pasar, melainkan hanya berperilaku yang sewajarnya. Sekarang pakai logika saja: Awal tahun kemarin, Pertamina tiba-tiba saja menaikkan harga gas Elpiji ukuran 12 kg secara sepihak menjadi Rp140,000. Lalu bagaimana reaksi konsumen? Apakah mereka kemudian menjadi bersuka cita karenanya? Tentu saja tidak! Yang ada para ibu rumah tangga, para pemilik rumah makan, dan masyarakat pada umumnya memprotes keras kenaikan harga tersebut. Dan setelah diselingi dengan sedikit drama, Pertamina akhirnya mengalah dan ‘menurunkan’ kenaikan harga Elpiji tersebut menjadi Rp117,000.

Sementara di pasar saham, yang terjadi justru sebaliknya! Pada April 2013 lalu harga-harga saham terus naik, sehingga IHSG juga terus naik sampai sempat menembus 5,000. Dan bagaimana reaksi pasar ketika itu, yakni justru ketika hampir tidak ada saham yang cukup murah untuk dibeli? Apakah ketika itu ada investor yang protes bahwa saham-saham sudah pada kelewat mahal? Anda tahu sendiri jawabannya.
However, sudah tentu, menjadi berbeda itu tidaklah mudah. Kalau anda adalah satu-satunya orang waras ditengah sekumpulan orang-orang gila, maka suka atau tidak, anda-lah orang gila-nya. Tantangan dalam menjalankan strategi investasi kontrarian seperti yang sudah dibahas diatas, baik dari sisi fundamental perusahaan maupun fluktuasi pasar, adalah tidak adanya support dari siapapun disekitar anda, karena anda mungkin benar-benar sendirian. Pada tahun 2007, Gita Wirjawansempat bertengkar hebat dengan para rekan kerjanya di JP Morgan, karena ia bersikeras bahwa IHSG sudah sangat tidak rasional dan akan segera jatuh, sementara rekan-rekannya terus saja tenggelam dalam kegilaan euforia pasar ketika itu. Hal ini pula yang akhirnya menyebabkan Gita memutuskan keluar dari JP Morgan pada April 2008, untuk kemudian mendirikan perusahaan investasinya sendiri, Ancora Group, pada tahun yang sama. And yes, ia kemudian sukses besar setelah memborong banyak saham-saham murah ketika IHSG jatuh berantakan pada tahun 2008 tersebut.
Nah, jadi bagaimana? Tertarik untuk mengikuti jejak Om Gita? Well, kalau iya dan ternyata anda sukses, maka tolong jangan sia-siakan karier investasi anda yang cemerlang tersebut dengan ikut-ikutan mencalonkan diri sebagai Presiden, it’s wasting [...]

Astra International

Ada satu hal menarik ketika penulis melakukan screening saham rutin, beberapa waktu lalu, yakni munculnya saham Astra International (ASII) diantara saham-saham hasil screening tersebut. ASII tentu bukan nama asing bagi investor manapun, namun penulis sendiri sudah lupa kapan terakhir kali megang saham ini. However, berdasarkan beberapa pertimbangan, ASII pada saat ini mungkin bisa kembali menjadi pilihan investasi terutama bagi anda yang menyukai saham-saham blue chip dengan likuiditas tinggi.

ASII adalah perusahaan tipe konglomerasi terbesar di Indonesia, dengan 178 anak perusahaan dan total 191,000 karyawan per September 2013. Sebagai konglomerasi, ASII bergerak di beragam sektor usaha, yakni otomotif, layanan jasa keuangan, alat-alat berat dan pertambangan batubara, perkebunan kelapa sawit, teknologi informasi, dan infrastruktur dan logistik. Untuk jenis unit usaha yang disebut terakhir mungkin masih asing, namun ASII memang juga memiliki anak usaha di bidang operator jalan tol, penyewaan mobil, jasa pengolahan air minum, terminal bahan bakar, hingga pelabuhan. Hingga kuartal III 2013, ASII meraup pendapatan Rp5.6 trilyun dari bisnis infrastruktur dan logistik, atau lebih besar dibanding pendapatan dari bisnis teknologi informasi sebesar Rp1.5 trilyun (melalui Astra Graphia/ASGR).
Berikut adalah rincian pendapatan serta laba bersih ASII per Kuartal III 2013, berdasarkan jenis usahanya, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012:
Pendapatan
Q3 2013
Q3 2012
Growth (%)
Otomotif
80,648
76,063
6.0
Jasa Keuangan
10,416
9,717
7.2
Alat-Alat Berat dan Tambang Batubara
37,305
44,137
(15.5)
Perkebunan Kelapa Sawit
8,324
8,575
(2.9)
Infrastruktur dan Logistik
5,648
5,498
2.7
Teknologi Informasi
1,460
1,301
12.2
Eliminasi
(1,961)
(2,153)
Total
141,840
143,138
(0.9)
Laba Bersih
Q3 2013
Q3 2012
Growth (%)
Otomotif
7,029
7,384
(4.8)
Jasa Keuangan
3,433
2,945
16.6
Alat-Alat Berat dan Tambang Batubara
3,445
4,499
(23.4)
Perkebunan Kelapa Sawit
965
1,748
(44.8)
Infrastruktur dan Logistik
383
515
(25.6)
Teknologi Informasi
131
107
22.4
Eliminasi
 -
 -
Total
15,386
17,198
(10.5)
Nah, perhatikan bahwa ASII masih mengalami penurunan kinerja terutama dari bisnis alat-alat berat, tambang batubara serta perkebunan kelapa sawit. Namun dari bisnis jasa keuangan, termasuk didalamnya perbankan dan asuransi, pertumbuhannya masih cukup baik. Menariknya jika dibanding unit-unit usaha ASII lainnya, jasa keuangan juga merupakan unit usaha yang memiliki margin laba tertinggi, yakni 33.0%, sementara margin laba ASII secara keseluruhan hanya 10.8%. Bisa dikatakan bahwa unit usaha inilah yang menyebabkan kinerja ASII, meskipun turun, namun masih cukup baik dengan ROE yang masih terjaga di level 20.8%.
Sementara untuk unit-unit usaha lainnya, boleh dibilang semuanya mengalami tahun yang berat sepanjang 2013 kemarin. Untuk bisnis otomotif, perrmintaan akan produk-produk otomotif, baik roda empat maupun dua masih tinggi seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, namun ASII harus menghadapi persaingan yang semakin ketat plus kenaikan biaya tenaga kerja. Sementara untuk bisnis alat-alat berat, tambang batubara, serta perkebunan kelapa sawit, problemnya masih sama: Penurunan harga batubara dan crude palm oil/CPO, yang menyebabkan penurunan permintaan alat-alat berat dan berkurangnya margin laba. However, volume penjualan CPO masih meningkat signifikan, yang ini berarti jika nanti harga CPO kembali pulih maka ASII seharusnya tidak akan mengalami kesulitan untuk kembali meningkatkan perolehan labanya dari unit bisnis perkebunannya.
Untuk mengatasi masalah persaingan di unit bisnis otomotif, sejak September 2013 lalu ASII meluncurkan Toyota Agya dan Daihatsu Ayla, yang kemudian boleh dibilang sukses di pasaran. Langkah ini sebenarnya ditiru oleh salah satu pesaing utama ASII, yakni Indomobil (IMAS) yang meluncurkan Karimun Wagon-R, namun diluar itu boleh dibilang tidak ada pesaing berarti. Untuk unit bisnis alat-alat berat dan batubara boleh dibilang tidak ada aksi korporasi apa-apa selain menunggu harga batubara pulih kembali, namun untuk unit bisnis perkebunan kelapa sawit, ASII melalui Astra Agro Lestari (AALI) menjalin kerjasama dengan KL Kepong Plantation Holdings, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit asal Malaysia, untuk mendirikan KLK Pte Ltd di Singapura, untuk memperluas pasar penjualan produk CPO.
Yang menarik adalah, untuk tahun 2014 ini ASII berencana untuk masuk ke bisnis properti, meskipun masih kecil-kecilan. Langkah yang dilakukan adalah dengan membeli lahan seluas 2.4 hektar di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, dimana diatas lahan tersebut akan dibangun Menara Astra, sebuah gedung perkantoran setinggi 47 lantai, dan tiga buah menara apartemen. Saat ini lahannya sudah diakuisisi, namun pembangunan gedung-gedungnya masih belum dimulai. Dalam hal ini ASII bekerja sama dengan pihak berelasi, Hong Kong Land (HKL), dimana baik ASII maupun HKL sama-sama merupakan anak usaha dari Grup Jardine Matheson.
Okay, lalu apa yang membuat ASII ini, seperti yang penulis katakan diatas, kembali menarik untuk investasi? Well, itu karena beberapa poin berikut:
1.     ASII adalah perusahaan terbesar di BEI dari sisi aset bersih, dan terbesar kedua dari sisi market cap (setelah HM Sampoerna/HMSP). Namun karena HMSP memiliki likuiditas yang seret, maka tetap saja ASII merupakan yang terbesar. Ada banyak sekali investor retail maupun institusi, baik asing maupun lokal, yang memegang ASII ini, jadi kalau bagi penulis inilah ‘saham sejuta umat’ yang sesungguhnya.
2.    ASII merupakan perusahaan yang mapan, memiliki nama besar, serta reputasi yang sangat baik. Siapa di Indonesia yang tidak tahu nama Grup Astra? Ada banyak grup konglomerasi besar di Indonesia, namun hanya Astra yang memiliki reputasi yang sangat baik dimana perusahaan memiliki sejarah yang panjang, track record kinerja yang baik, dan secara nyata turut mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
3.      Manajemen ASII sangat fair terhadap investor, dimana mereka terus menjalankan bisnis dengan apa adanya, dan rutin membagikan dividen dalam jumlah besar setiap tahun. Perusahaan juga tidak pernah bermasalah dengan hutang ataupun pajak, sehingga diluar faktor-faktor eksternal seperti penurunan harga komoditas, manajemen ASII tidak pernah benar-benar menghadapi masalah serius dalam menjalankan operasional perusahaan.
Kalau yang penulis perhatikan, pada awal tahun 2000-an lalu, ASII dikenal sebagai perusahaan otomotif semata. Namun dalam lima tahun terakhir kontribusi segmen otomotif turun menjadi hanya sekitar 50% pendapatan, dan itu bukan karena penjualan mobil dan motor menurun, melainkan karena Indonesia sempat mengalami booming batubara dan CPO, beberapa tahun lalu, sehingga pendapatan ASII dari bisnis alat-alat berat, tambang batubara, dan perkebunan kelapa sawit, meningkat tajam. However seiring dengan berjalannya waktu, harga-harga komoditas kembali turun, atau dalam bahasa penulis, ‘kembali normal’. Dalam dua tahun terakhir, pendapatan serta laba ASII dari bisnis komoditas memang tampak turun, namun sebenarnya hanya kembali ke level normalnya, karena memang tahun 2010 dan 2011 merupakan masa-masa keemasan bagi batubara dan CPO.
Nah, kita memang nggak tahu kapan batubara dan CPO akan booming kembali. Namun yang jelas, berbeda dengan perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang langsung kelimpungan dalam membayar utang-utangnya gara-gara harga batubara turun, ASII sama sekali tidak mengalami masalah tersebut, sehingga jika nanti dua sektor komoditas ini kembali pulih, maka ASII, atau dalam hal ini United Tractors (UNTR) dan AALI, akan menjadi perusahaan pertama yang kembali menikmati pertumbuhan pendapatan serta laba bersih yang signifikan.
Dan yang menarik dari saham ini tentu saja valuasinya. Ketika artikel ini ditulis, ASII berada di level 6,800, dan itu mencerminkan PER dan PBV masing-masing 15.3 dan 2.8 kali. Sebenarnya, valuasi ini belum bisa dikatakan undervalue, namun pada masa jayanya, ASII sempat berada pada level premium dimana PBV-nya mencapai 3 – 4 kali, sehingga harganya pada saat ini boleh dibilang merupakan harga wajarnya. Jika anda bisa masuk pada level yang sedikit kurang dari harganya saat ini, let say 6,000 pas atau bawahnya, maka itu sudah bagus sekali. Seperti yang sudah kita bahas diatas, kualitas manajemen ASII yang sangat mumpuni menyebabkan sahamnya praktis hampir tidak memiliki risiko korporasi yang berarti, sehingga satu-satunya risiko penurunannya adalah jika IHSG turun. Tapi seperti biasa, jika nanti IHSG turun dan ASII ini juga turun ke 6,000 tadi, maka itu selalu merupakan kesempatan untuk beli lagi di harga bawah.
Ada banyak pemegang saham ASII yang sudah memegang saham ini sejak tahun 2009, 2007, 2002, atau bahkan lebih lama lagi. Dan para pemegang saham lama ini kemungkinan tidak akan melepas sahamnya hanya karena bisnis yang dijalan ASII sedang lesu, karena biasanya mereka sudah memiliki chemistry yang positif dengan perusahaan dan juga orang-orang didalamnya, sehingga mereka benar-benar merasa memiliki perusahaan. Dan chemistry seperti itu, jujur saja, sangat sulit diperoleh jika anda berinvestasi pada perusahaan milik grup-grup konglomerasi lainnya di Indonesia, seperti Bakrie, Lippo, Sinarmas, hingga MNC Group.
PT Astra International, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: A
Rating saham pada 6,800: [...]

Seminar Value Investing, Surabaya

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Surabaya, dengan tema kali ini: Value Investing for Beginners, alias Investasi Menggunakan Metode Value/Nilai, untuk Pemula. Berikut keterangan selengkapnya:

Berikut ini adalah kisi-kisi materi untuk training kali ini.
  1. Sejarah, pengertian, serta konsep dasar dari value investing, yang diekstrak dari buku The Intelligent Investor dan Security Analisis karya Ben Graham, dan juga beberapa literatur lainnya.
  2. Alasan-alasan serta logika mendasar mengapa investor-investor besar seperti Warren Buffett, Joel Greenblatt, Carlos Slim Helu, Seth Klarman, Lo Kheng Hong, dan masih banyak lagi, semuanya tanpa terkecuali merupakan value investor, serta alasan mengapa anda pun bisa seperti mereka.
  3. Cara-cara serta tips untuk menentukan value/nilai sesungguhnya dari sebuah saham, sehingga kemudian kita bisa mengetahui apakah harga saham tersebut terbilang murah, wajar, atau mahal.
  4. Beberapa contoh saham di Indonesia yang berstatus undervalue alias murah
  5. Tips-tips untuk trading saham jangka pendek menggunakan pendekatan value, dan
  6. Share pengalaman berinvestasi, baik pengalaman penulis sendiri maupun pengalaman dari kawan-kawan value investor lainnya yang pernah diceritakan ke penulis.
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel ZodiakJln. Kedungsari No.29, Surabaya. Detail lokasinya bisa dilihat di www.zodiak-hotel.com
  • Hari/Tanggal: Sabtu25 Januari 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB. Jika nanti ada banyak pertanyaan setelah penyampaian materi seminarnya (di akhir acara akan diadakan sesi tanya jawab dan diskusi bebas), maka acaranya bisa diperpanjang sampai pukul 17.00.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi

Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp
500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: David Moyes, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di Kota Pahlawan!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa hubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.
Atau anda juga bisa kontak langsung penulis melalui Pin BB 7556E6B4 (saya [...]

Lo Kheng Hong, dan Bumi Resources

Bagi anda yang sudah membaca blog ini sejak lama, anda mungkin hafal bahwa jika ada saham yang penulis seperti punya ‘dendam pribadi’ terhadapnya, maka saham itu adalah Bumi Resources (BUMI). Alasannya? Bukan, bukan karena saya pernah cut loss di BUMI ini, karena saya nggak pernah memegangnya. Melainkan karena, ketika dulu penulis mulai masuk ke saham di tahun 2009, BUMI adalah saham dengan fundamental yang nol besar tapi anehnya dipegang oleh banyak sekali investor, tidak hanya investor retail lokal melainkan juga para fund manager asing, dan ketika itu praktis merupakan saham paling populer di Indonesia. Dan ini jelas aneh: Bagaimana mungkin saham dengan pengelolaan perusahaan yang paling amburadul yang pernah ada, justru menjadi saham favorit semua orang???

However, seiring dengan berjalannya waktu, para investor akhirnya menyadari bahwa mereka tidak akan memperoleh apa-apa dari BUMI ini, dan BUMI perlahan tapi pasti terus turun. Pada tahun 2009 lalu, IHSG ditutup di posisi 2,534, sementara BUMI ditutup di 2,425. Dan sekarang? Ketika artikel ini ditulis, IHSG berada di posisi 4,391, atau telah naik 73.3% dalam empat tahun. Sementara BUMI? Terpuruk sangat dalam, bukan ke 1,000, bukan ke 500, melainkan.. sudah 300-an! Jika di tahun lalu orang-orang masih dengan pede mengatakan bahwa BUMI tidak akan menyusul jejak saudara-saudaranya untuk menjadi anggota ‘Klub Gocap’, maka sekarang mereka mulai ragu-ragu. Istilah ‘saham sejuta umat’ pun sudah lama hilang, dimana kalaupun ada investor yang masih nyangkut di BUMI ini, maka mereka kemungkinan sudah tidak berharap banyak, melainkan cenderung pasrah. Karena toh pada akhirnya, mereka seharusnya masih bisa cuan di saham-saham yang lain.
Namun, bukan itu yang akan kita bahas disini.
Anda mungkin sudah mengetahui bahwa pak Lo Kheng Hong, investor perorangan paling terkenal di Indonesia, saat ini sedang dalam posisi yang nyangkut parah di BUMI. Dan penulis sudah menerima cukup banyak email dari teman-teman yang menanyakan hal ini, karena pak LKH notabene salah satu mentor saya juga. Kebanyakan dari email tersebut bertanya apa alasan LKH membeli BUMI, namun ada juga yang cenderung mengkritik, dengan mengatakan bahwa LKH kali ini keliru besar telah membeli BUMI. Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang penulis bisa sampaikan, terkait apa yang penulis bisa pahami dari jalan pikiran seorang LKH, sehingga beliau akhirnya memutuskan untuk membeli BUMI. Here we go:
Pertama, LKH membeli BUMI, termasuk juga membeli beberapa saham-saham Bakrie lainnya, bukan karena ikut-ikutan apalagi karena memperoleh bisikan bandar, melainkan karena pertimbangannya sendiri, yang dibuat secara mendetail, hati-hati, dan menggunakan asumsi-asumsi yang konservatif. Bagi seorang value investor seperti beliau, pertimbangan utamanya selalu sederhana: Sebuah saham, entah itu saham perusahaan batubara atau lainnya, menjadi layak beli jika harganya jauh lebih rendah dibanding nilai riil/nilai intrinsik perusahaannya. BUMI pada harga 8,000, 5,000, atau 3,000 mungkin tidak menarik. Tapi bagaimana kalau 1,000? Nah, mungkin ceritanya baru berbeda. Tapi setelah dibeli di harga 1,000, selanjutnya dia malah turun lagi sampai 300, gimana tuh? Ya biarin aja. Pada tahun 1972, Warren Buffett pernah membeli saham The Washington Post pada harga tertentu yang ia anggap sudah sangat terdiskon. Namun bukannya naik, setahun kemudian saham tersebut malah anjlok hingga lebih dari separuhnya, but still, Buffett tetap meng-hold-nya. Hingga akhirnya, sekitar dua belas tahun kemudian, saham The Washington Post naik dua puluh lima kali lipat! Kemungkinan LKH juga belajar dari pengalaman Buffett tersebut, dimana beliau tidak peduli meski harus menunggu selama dua belas tahun sekalipun, termasuk harus nyangkut gila-gilaan, asalkan pada akhirnya bisa memperoleh keuntungan sebesar sekian kali lipat, dan bukan lagi sekedar sepuluh atau dua puluh persen.
Sekedar catatan, LKH nggak pernah bilang beliau beli BUMI di average berapa, tapi kemungkinan sekitar 1,000-an. Dan jika average beliau memang di 1,000-an, maka di harga itulah beliau menganggap bahwa BUMI ini cukup murah, namun harap catat pula bahwa anggapan tersebut tentunya bisa saja keliru. LKH sendiri pernah bilang ke saya bahwa dia juga bukannya nggak bisa salah dalam memilih saham.
Kedua, LKH membeli BUMI bukan ketika saham ini sedang populer-populernya, melainkan justru ketika ia kehilangan gelarnya sebagai saham sejuta umat, sekitar akhir tahun 2012 lalu, termasuk ketika semua orang (pada akhirnya) menganggap bahwa saham-saham Bakrie itu sampah. Hal ini juga sejalan dengan apa yang dicontohkan oleh Buffet. Tahun 1964, saham American Express (AXP) jatuh berantakan setelah perusahaan tersangkut sebuah skandal yang menyebabkannya merugi sekitar US$ 150 juta, atau sekitar US$ 1 milyar pada saat ini. Yap, ketika itu AXP tidak sekedar jatuh sahamnya, melainkan perusahannya juga merugi dan AXP seketika berubah status dari saham pujaan para investor, menjadi sebuah saham yang mewakili sebuah perusahaan yang diprediksi bakal segera bangkrut. But you know what? Ketika AXP sudah turun sampai pada harga tertentu, justru ketika itulah Buffett masuk secara besar-besaran! Sudah tentu, AXP tidak langsung naik, melainkan sempat juga melanjutkan penurunannya. Namun pada akhirnya dia naik juga, dan AXP kemudian menjadi salah satu saham paling sukses di portofolio Berkshire Hathaway, hingga saat ini.
Dan jika anda perhatikan, perilaku value investor itu memang begitu: Dia masuk justru ketika orang lain keluar. Dia membeli saham bagus yang orang lain menganggapnya sampah, dan dia menyukai saham-saham yang justru tak seorangpun mau menyentuhnya. Tapi percaya atau tidak, justru strategi ‘kontrarian’ seperti inilah yang terbukti sukses bagi banyak investor kenamaan, termasuk LKH itu sendiri.
Nah, dalam hal ini penulis tidak mengatakan bahwa BUMI pada akhirnya akan naik juga, karena kita nggak akan tahu soal itu. Namun jika dibandingkan dengan Berlian Laju Tanker (BLTA), misalnya, yang perusahaannya memang bermasalah dengan hutang-hutangnya sehingga harus melego aset-asetnya, bahkan memang nyaris bangkrut (atau memang sudah?), atau jika dibanding Dayaindo Resources (KARK), maka BUMI ini masih beroperasi dengan normal sampai sekarang, termasuk produksi batubaranya masih meningkat terus. Yap, di laporan keuangannya, BUMI memang tampak amat sangat buruk dengan posisi ekuitas yang bahkan sudah minus, alias defisiensi modal (jumlah utangnya sudah lebih besar dibanding total aset perusahaan). Tapi faktanya di lapangan, perusahaan masih beroperasi dengan normal, dan tidak ada masalah apapun juga dengan para kreditor, sehingga bisa jadi justru laporan keuangannya-lah, yang dengan sengaja dibuat agar tampak jelek. Kemungkinan hal inilah yang dilihat oleh pak LKH.
Terakhir, ketiga, masalah terbesar di BUMI tentu saja terletak di manajemennya, dalam hal ini Grup Bakrie, yang tidak pernah fair terhadap investor publik. However, posisi LKH sebagai investor besar menyebabkannya berbeda dengan investor ritel biasa. Jika mau, LKH juga bisa saja mengajukan diri sebagai komisaris perusahaan, meski itu tidak beliau lakukan. Jadi dalam hal ini faktor valuasi lebih diperhatikan oleh LKH ketimbang faktor manajemen, karena tidak seperti investor ritel pada umumnya, ia berada dalam posisi yang memungkinkannya untuk turut aktif dalam menentukan arah kebijakan perusahaan. LKH juga berkawan baik dengan Samin Tan dan beberapa petinggi BUMI, dan penulis kira jika kita sudah sampai pada posisi ‘ring satu’ seperti itu, maka mau saham yang bersangkutan jatuh sampai gocap sekalipun gak akan jadi masalah, selama kita bisa melihat bahwa partner-partner kita di perusahaan masih bersedia untuk bekerja sama dalam mengelola perusahaan, dan perusahaannya sendiri memang masih berjalan tanpa ada masalah berarti.
Pada akhirnya, penulis sendiri sampai detik ini tetap tidak berminat untuk masuk ke BUMI. Alasannya pertama, karena saya sudah punya planning investasi sendiri, dan kedua, penulis tidak memiliki cukup aset untuk bisa mengajak Nirwan Bakrie makan siang, sehingga dalam hal ini posisi penulis, dan mungkin juga anda, berbeda dengan LKH. Sementara soal apakah BUMI memang sudah murah dan layak investasi pada harganya saat ini, itu kita tidak tahu karena BUMI sangat sulit untuk dipelajari mengingat laporan keuangannya penuh dengan intrik, tapi yang jelas membeli BUMI di harga 300 tentu lebih murah ketimbang membelinya di harga 8,000 bukan?
Dan faktanya hingga saat ini LKH masih dalam posisi meng-hold BUMI, sehingga ia tidak atau belum menganggap bahwa keputusannya keliru bahkan meski saham BUMI itu sendiri sudah turun sangat dalam. Sekedar catatan, bagi investor yang sudah terlanjur dikenal oleh banyak orang seperti LKH, tekanan psikologis yang dialami seringkali tidak hanya ketika saham yang dipegangnya turun, namun juga karena adanya banyak kritikan atau bahkan hujatan dari investor-investor lainnya, yang menganggap bahwa ia kali ini salah besar. Namun toh, LKH tetap tidak bergeming, dan penulis kira kekuatan mental seperti inilah, sekali lagi, yang menjadikan LKH besar seperti sekarang.

Jika anda punya pendapat tersendiri tentang ‘mantan saham sejuta umat’ ini, anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar [...]

Antara Wismilak dan Sido Muncul

Dalam analisis fundamental, salah satu indikator yang biasa penulis pakai untuk mengetahui apakah perusahaan sudah cukup mapan atau tidak, adalah dengan melihat posisi saldo laba perusahaan, atau disebut juga laba ditahan (retained earnings). Simpelnya jika sebuah perusahaan memiliki saldo laba yang besar, yang merupakan akumulasi dari perolehan laba dimasa lalu, maka perusahaan tersebut sudah mapan, terbukti dengan adanya akumulasi laba tersebut. Contohnya? Kalbe Farma (KLBF). Pada Kuartal III 2013, KLBF mencatat posisi saldo laba Rp7.6 trilyun, berbanding modal disetornya yang hanya sebesar Rp508 milyar. Ini artinya nilai modal yang disetor pemegang saham KLBF hanya Rp508 milyar, namun akumulasi keuntungan yang dikumpulkan perusahaan selama ini sudah jauh lebih besar dibanding modal disetor itu sendiri.

Itu sebabnya jika anda perhatikan-perusahaan yang sahamnya masuk kategori blue chip, yang rata-rata memang sudah mapan dan settle, biasanya saldo labanya juga besar. Berikut data posisi saldo laba dibandingkan dengan modal disetor perusahaan, dari 10 emiten terbesar di BEI. Sebelumnya harap catat bahwa jika selama ini perusahaan-perusahaan dibawah ini tidak pernah membagikan dividen, maka nilai saldo laba mereka akan jauh lebih besar lagi.
Saham
Saldo Laba (A)
Modal Disetor (B)
Rasio (A/B)
(Rp milyar)
(Rp milyar)
(x)
ASII
70,921
3,163
22.4
HMSP
9,718
544
17.9
BBCA
54,144
7,116
7.6
TLKM
55,477
7,343
7.6
UNVR
5,338
172
31.0
BMRI
54,229
28,869
1.9
BBRI
64,968
8,941
7.3
PGAS
1,878 (US$ juta)
501
3.7
SMGR
16,995
2,051
8.3
GGRM
27,169
1,016
26.7
Catatan: Modal disetor BMRI menjadi yang paling besar diantara semuanya karena sekitar dua tahun lalu perusahaan menggelar right issue untuk memperkuat posisi CAR.
Semakin mapan sebuah perusahaan, maka semakin besar peluang bahwa perusahaan akan terus maju pantang mundur kedepannya (akan terus beroperasi dengan lancar), sekaligus semakin kecil risikonya untuk kolaps alias bangkrut. Karena itulah jika anda menyukai saham-saham yang berisiko rendah, maka pilihannya ya saham-saham blue chip diatas, tinggal tentukan saja idealnya masuk di harga berapa. Jika anda berinvestasi pada saham-saham bluechip, maka boleh dibilang faktor risikonya hanya terkait risiko pasar, dimana jika IHSG turun maka dia akan turun, namun disisi lain hampir tidak ada risiko korporasi sama sekali, dimana kinerja perusahaannya hampir pasti akan aman-aman saja sepanjang tahun. Itu pula sebabnya dalam kondisi pasar yang sedang turun, maka pilihan terbaik akan selalu ada di saham-saham blue chip, karena ketika pada akhirnya nanti IHSG pulih kembali, maka biasanya (meski nggak selalu) saham-saham blue chip inilah yang akan lebih dahulu naik, kemudian baru disusul oleh saham-saham second liner.
Anyway, sebenarnya bukan itu yang hendak penulis bahas disini, tapi balik lagi ke masalah ‘kemapanan perusahaan’ tadi. Jadi intinya, belakangan ini penulis baru sadar bahwa masalah saldo laba ini nggak selalu bisa dijadikan sebagai satu-satunya patokan dalam menilai apakah sebuah perusahaan sudah mapan atau belum. Sebuah perusahaan bisa saja memiliki saldo laba yang nol, dan itu tidak selalu karena dia belum pernah menghasilkan laba bersih sebelumnya, melainkan bisa saja karena perusahaan selalu membagikan seluruh laba bersihnya tersebut sebagai dividen, jadi nggak ada yang disimpan sebagai saldo laba.
Dan kecenderungan seperti ini biasanya terjadi pada perusahaan yang bisnisnya fokus hanya pada satu bidang usaha, terkadang juga hanya pada satu atau beberapa jenis produk, dengan ukuran perusahaan yang cukup besar tapi tidak sebesar Astra International dkk. Pihak pemegang saham memang sengaja menarik seluruh laba bersih yang diperoleh perusahaan setiap tahunnya, karena mereka tidak memiliki niatan lebih lanjut untuk mengembangkan perusahaan. Sebab sebuah perusahaan hanya akan menyimpan labanya sebagai saldo laba (menggunakan hanya sebagian labanya untuk membayar dividen, atau bahkan tidak membayar dividen sama sekali), jika mereka membutuhkan dananya untuk menambah modal, untuk ekspansi dan memperluas usaha.
Lalu apa saja contohnya perusahaan yang mungkin sudah mapan, meskipun saldo labanya kecil? Sejauh ini yang penulis temukan baru ada dua: Wismilak Inti Makmur (WIIM), dan Sido Muncul (SIDO). Pada Kuartal III 2013, posisi saldo laba WIIM adalah Rp243 milyar, berbanding modal disetor perusahaan sebesar Rp515 milyar, sudah termasuk tambahan modal dari IPO-nya kemarin (modal disetor WIIM sebelum IPO-nya hanyalah Rp210 milyar).
Nah, jika melihat saldo laba WIIM yang hanya sedikit lebih besar dibanding modal disetornya (modal sebelum IPO), maka tampak bahwa WIIM ini masih merupakan perusahaan baru, yang akumulasi labanya masih kecil.
Logo PT Wismilak
Tapi benarkah demikian? Mungkin nggak juga. Dalam lima tahun terakhir, yakni sejak tahun 2008, pendapatan serta laba bersih perusahaan senantiasa naik terus. Tapi selama itu pula, posisi saldo laba WIIM hanya naik dan turun di kisaran Rp100 – 150 milyar (jadi kalau naik, kesininya turun lagi). Pada tahun 2011, laba WIIM melonjak dari Rp27 milyar di tahun 2010, menjadi Rp130 milyar. Namun pada tahun 2011 tersebut, saldo laba WIIM justru turun dari Rp147 menjadi 137 milyar. Nah, menurut anda apalagi penyebabnya jika bukan karena perusahaan membagikan dividen dalam jumlah besar? Sebab ketika itu posisi utang WIIM sama sekali tidak berkurang, melainkan justru bertambah.
Oh iya, saya lupa menyebutkan bahwa posisi saldo laba sebuah perusahaan bisa saja tidak meningkat meskipun perusahaan memperoleh laba besar dalam satu tahun, karena perusahaan tersebut harus membayar pokok hutangnya (dalam laporan laba rugi, beban yang disertakan dalam laporan adalah beban bunga utang, jika perusahaan memiliki utang bank atau obligasi). Tapi dalam kasus WIIM di tahun 2011, hal itu tidak terjadi.
Dan kalau mengingat sejarah perusahaan yang sudah beroperasi selama 50 tahun, termasuk sudah memiliki merk rokok yang terkenal di seantero nusantara, maka rasa-rasanya tidak mungkin jika selama 50 tahun tersebut, saldo laba yang dikumpulkan WIIM ternyata hanya sebesar modal pokoknya. Yang lebih mungkin adalah, selama ini WIIM selalu menghabiskan labanya untuk dividen, sehingga posisi saldo labanya kemudian hanya menjadi segitu-gitu saja. Hal ini juga bisa dilihat dari posisi saldo laba WIIM di Kuartal III 2013, yang melonjak menjadi Rp243 milyar dibanding periode yang sama tahun 2012, yang hanya Rp142 milyar. Penyebabnya? Karena dari saldo labanya di tahun 2012, para pemegang saham WIIM hanya mengambil Rp7.6 milyar untuk dividen, atau hanya mengambil sedikit sekali, sementara selebihnya tetap disimpan. Sepertinya pihak manajemen mulai mengambil kebijakan pengelolaan perusahaan yang ekspansif setelah perusahannya sendiri go public. Jika pada tahun 2013 ini WIIM kembali tidak membagikan dividen kecuali sedikit, maka pada tahun 2014 nanti saldo labanya akan melonjak kembali.
Dalam hal ini penulis kemudian berandai-andai: Jika selama 50 tahun ini para pemegang saham di WIIM tidak pernah mengambil dividen, atau mengambil dividen namun tidak sampai 100% perolehan laba bersih setiap tahunnya, maka berapa kira-kira posisi ekuitas WIIM pada saat ini?
Karena itulah, WIIM mungkin tidak bisa dikategorikan sebagai perusahaan start-up, melainkan perusahaan yang sudah mapan, dimana jika dalam lima dekade sebelumnya (sejak tahun 1963) perusahaan mampu mencetak laba dan menghasilkan dividen yang terus meningkat bagi pemegang sahamnya, maka seharusnya perusahaan juga tidak akan mengalami kesulitan untuk melakukan hal yang sama setidaknya dalam satu dekade kedepan. Jika ada faktor risiko yang bisa membatalkan asumsi ini adalah bahwa tim manajemen WIIM pada saat ini berbeda dengan sebelumnya, sehingga mereka juga belum tentu bisa bekerja sebaik pendahulunya (kepemilikan atas WIIM telah berpindah tangan sejak awal tahun 2000-an). However, kalau melihat perkembangan kinerja perusahaan dalam tiga tahun terakhir, maka track record dari orang-orang baru ini terbilang cukup baik.
Lalu bagaimana dengan SIDO?
Seperti halnya WIIM, SIDO juga memiliki historis yang cukup panjang, yakni berdiri dan beroperasi sejak tahun 1970, sehingga usianya kini mencapai 43 tahun (pada akhir tahun 2013). Bahkan jika dihitung sejak pendiri perusahaan, Ibu Rahkmat Sulistio, membuka usaha pembuatan jamu dirumahnya sejak tahun 1940, maka usia SIDO adalah 73 tahun. Dengan track record kinerja yang panjang, serta kualitas produk yang bahkan sudah menembus pasar mancanegara, maka seharusnya SIDO sudah merupakan perusahaan berukuran besar dengan posisi saldo laba yang juga besar.
Namun pada laporan keuangan terakhirnya per tanggal 31 Juli 2013, posisi saldo laba SIDO hanyalah Rp228 milyar, sangat kecil dibanding nilai modal disetor (belum termasuk tambahan modal disetor dari IPO) sebesar Rp1.4 trilyun. Namun tidak sulit untuk langsung menemukan bahwa akumulasi laba bersih yang dikumpulkan SIDO selama 43 tahun ini sebenarnya jauh lebih besar dari Rp228 milyar tersebut. Pada tahun 2011, posisi saldo laba SIDO adalah Rp440 milyar, sementara modal disetornya hanya Rp36 milyar. Namun pada tahun 2012, pemilik perusahaan yakni Keluarga Sulistio mengambil dividen dalam jumlah besar dari perusahaan, kemudian menyetornya kembali ke perusahaan dalam bentuk modal disetor sebesar Rp1.1 trilyun (sehingga modal disetor SIDO melonjak menjadi Rp1.4 trilyun).
Lalu dari mana pihak pemilik memiliki dana sebesar Rp1.1 trilyun tersebut? Ya kemungkinan besar dari akumulasi perolehan dividen atas SIDO itu sendiri di masa lalu. Sejauh yang penulis amati, Keluarga Sulistio tidak memiliki usaha lain diluar SIDO (atau mungkin ada, tapi yang paling besar ya SIDO ini), dan mereka juga bukan tipikal grup usaha yang sering melakukan leverage (mengambil utang, atau membentuk equity partnership, seperti yang biasa dilakukan grup-grup konglomerasi besar di Indonesia), melainkan hanya mengelola perusahaan dengan biasanya saja, yakni bikin jamu Tolak Angin, kemudian menjualnya, that’s it.
Karena itulah, jika SIDO bisa mencetak rata-rata pertumbuhan laba sebesar 20% saja dalam satu dekade kedepan, seperti track recordnya dalam lima tahun terakhir, maka nilai riil SIDO bisa jadi jauh lebih besar dibanding nilai buku alias aset bersihnya pada saat ini (baca lagi soal nilai intrinsik). Sebenarnya, CAGR laba bersih SIDO sejak tahun 2009 hingga 2012 adalah 60%, alias sangat luar biasa, namun penulis tidak menganggap bahwa SIDO akan bisa mempertahankan pencapaian tersebut dalam satu dekade kedepan, karena akan ada banyak peristiwa yang terjadi dalam sepuluh tahun tersebut, sehingga angka rata-rata pertumbuhan sebesar 20 persen-lah, yang lebih realistis.
Jika dibanding dengan WIIM, SIDO juga lebih mapan dimana itu bisa dilihat dari kebijakan dividen perusahaan, dimana SIDO akan membagikan dividen sebesar minimal 20% laba bersihnya setiap tahun, sementara WIIM akan membagikan dividen maksimal 30% laba bersihnya. Ini artinya jika anda menyukai dividen, maka boleh pilih SIDO. Sementara jika anda menyukai perusahaan yang lebih berpeluang untuk tumbuh secara signifikan, maka WIIM lebih cocok. Dan yap, WIIM memang lagi banyak proyek untuk menjadi perusahaan rokok yang lebih besar dari sebelumnya. Paling mudah, hal itu bisa dilihat dari kapasitas produksi rokoknya yang pada saat ini sudah mencapai 3.5 milyar batang per tahun dan masih terus meningkat, dari sebelumnya (sebelum IPO) sebanyak 2.5 milyar batang per tahun. Sebenarnya, SIDO juga tidak mau kalah dimana perusahaan berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi Jamu Tolak Angin hingga 100% alias dua kali lipat pada tahun 2015, namun belum ada informasi soal kapasitas produksi dari produk-produk lainnya, apakah akan turut ditingkatkan atau tidak (SIDO juga memproduksi minuman energi Kuku Bima, minuman kesehatan termasuk esteemje, permen kunyit asam, susu jahe dll).
Anyway, jika kita lebih melihat faktor tingkat kemapanan perusahaan sebagai pertimbangan utama pengambilan keputusan, maka SIDO jelas lebih baik, selain karena perusahaan juga tidak memiliki pesaing yang berarti jika mereka hendak memperluas usahanya, dan ini berbeda dengan WIIM yang notabene hanya pemain kecil jika dibanding trio HM Sampoerna, Gudang Garam, hingga Djarum.
Tapi bagaimana dengan valuasi sahamnya? Nah, dalam hal ini justru WIIM yang lebih baik. Pada Kuartal III 2013, posisi ekuitas WIIM tercatat Rp760 milyar. Sementara pada harga saham 650, market cap WIIM adalah Rp1.3 trilyun, dan itu artinya PBV-nya 1.8 kali. Angka ini terbilang sangat murah untuk ukuran saham consumer goods, dan hanya bisa dikalahkan oleh Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), tapi WIIM jelas lebih memiliki sejarah dibanding AISA yang benar-benar masih merupakan start-up company (sejarah AISA sebagai perusahaan bihun sudah dimulai sejak tahun 1959, namun langkah perusahaan sebagai perusahaan makanan yang besar dan terintegrasi baru mulai dirintis pada tahun 2008).
Sedangkan SIDO? Posisi ekuitas SIDO pasca IPO-nya adalah kurang lebih Rp2.5 trilyun. Dengan harga saham 760, maka market cap SIDO adalah Rp11.4 trilyun, dan itu berarti PBV-nya 4.6 kali. Okay, seperti yang pernah penulis sampaikan sebelumnya, valuasi SIDO ini mungkin tidak bisa dijustifikasi sebagai ‘mahal’, karena toh Kalbe Farma (KLBF) lebih mahal lagi, dan valuasi SIDO juga tidak bisa disetarakan dengan WIIM karena fundamentalnya secara keseluruhan lebih bagus. But still, based on my experince, saham dengan harga premium seperti SIDO ini akan lebih mudah jatuh dibanding saham lain yang valuasinya lebih rendah, jika sewaktu-waktu nanti kinerjanya ternyata tidak sesuai harapan, atau jika ada bad news tertentu. I think, SIDO baru akan atraktif jika PBV-nya sudah di kepala tiga (tiga koma sekian kali), yang itu berarti di harga 550 – 650.
At the end, both stocks are good selections which represent well-regarded consumer goods companies. Baik WIIM maupun SIDO sangat menarik untuk pilihan investasi tidak hanya karena keduanya merupakan perusahaan consumer, tetapi juga karena keduanya memiliki nama besar, dan karena kalau berdasarkan kinerja historis maupun terbarunya, kedua perusahaan memiliki performance yang sangat baik. Jika anda termasuk yang concern pada faktor value, maka WIIM lebih menarik. Namun jika dibandingkan dengan KLBF, maka jelas, SIDO lebih menarik.
PT Wismilak Inti Makmur, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2013: AA
Rating saham pada 650: AA
PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul, Tbk
Rating Kinerja pada 31 Juli 2013: AA
Rating saham pada 760: [...]

Seminar Surabaya

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Surabaya, dengan tema kali ini: Value Investing for Beginners, alias Investasi Menggunakan Metode Value/Nilai, untuk Pemula. Berikut keterangan selengkapnya:

Sebelumnya, dibawah ini adalah potongan rekaman suara penulis (rekaman suara, bukan video) ketika mengisi seminar/training tanggal 12 Oktober 2013 di Jakarta:

Berikut ini adalah kisi-kisi materi untuk seminar kali ini.
  1. Sejarah, pengertian, serta konsep dasar dari value investing, yang diekstrak dari buku The Intelligent Investor dan Security Analisis karya Ben Graham, dan juga beberapa literatur lainnya.
  2. Alasan-alasan serta logika mendasar mengapa investor-investor besar seperti Warren Buffett, Joel Greenblatt, Carlos Slim Helu, Seth Klarman, Lo Kheng Hong, dan masih banyak lagi, semuanya tanpa terkecuali merupakan value investor, serta alasan mengapa anda pun bisa seperti mereka.
  3. Cara-cara serta tips untuk menentukan value/nilai sesungguhnya dari sebuah saham, sehingga kemudian kita bisa mengetahui apakah harga saham tersebut terbilang murah, wajar, atau mahal.
  4. Beberapa contoh saham di Indonesia yang berstatus undervalue alias murah
  5. Tips-tips untuk trading saham jangka pendek menggunakan pendekatan value, dan
  6. Share pengalaman berinvestasi, baik pengalaman penulis sendiri maupun pengalaman dari kawan-kawan value investor lainnya yang pernah diceritakan ke penulis.
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Hotel ZodiakJln. Kedungsari No.29, Surabaya. Detail lokasinya bisa dilihat di www.zodiak-hotel.com
  • Hari/Tanggal: Sabtu25 Januari 2014
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB. Jika nanti ada banyak pertanyaan setelah penyampaian materi seminarnya (di akhir acara akan diadakan sesi tanya jawab dan diskusi bebas), maka acaranya bisa diperpanjang sampai pukul 17.00.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi

Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp500,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: David Moyes, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Sedikit testimonial dari acara sebelumnya:
Menurut saya, seminar ini sangat bagus. Saya belajar banyak dari seminar ini tentang bagaimana memilih saham yang bagus. Selain itu pentingnya mengetahui nilai instrinsik, kapan saat yang tepat untuk membeli saham. Saya juga dapat bertukar pengalaman dengan sesama peserta seminar. Dan kalau misalkan pak Teguh mengadakan seminar lagi, saya tertarik untuk mengikutinya dan akan merekomendasikannya ke teman-teman saya :)
Best Regards,
-Elvin Enderson-
Mas Teguh Hidayat terimakasih atas session yang sangat mencerahkan sabtu kemarin.
-Fajar Wibisono-
Seminar analisis fundamental ini berguna bagi saya karena memberikan masukan mengenai pengambilan keputusan akan stock-picking (alasan dan atas dasar apa membeli sebuah saham emiten). Yang biasa nya hanya membaca research report mengenai saham rekomendasi, sekarang saya bisa mencoba untuk memilih saham emiten sesuai analisis saya. Thank you pak Teguh atas seminarnya, benar sangat memberi masukan. Seminar-seminar seperti ini sangat diperlukan kedepannya berkenaan dengan keputusan IDX untuk memperkecil jumlah lot, yang diharapkan akan meningkatkan jumlah investor retail kecil-menengah di Indonesia.
Regards,
-Tjhang Very Sebastian-
Demikian, sampai jumpa di Kota Pahlawan!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa hubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Investasi Saham untuk Mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga

Pak Teguh, saya adalah mahasiswa semester 4 yang baru saja memulai investasi saham. Ada saran? Saya sengaja ikut investasi karena sadar betul bahwa jika saya menyimpan tabungan saya di bank, maka nilai dari tabungan saya tersebut akan tergerus inflasi.

Masa-masa perkuliahan adalah masa-masa dimana seseorang sedang mencari jati diri, saya tahu persis hal itu karena pernah mengalaminya juga (rasanya seperti kemarin). Karena itulah, ketika seorang mahasiswa memutuskan untuk berinvestasi di pasar saham, maka biasanya motif dan tujuannya bisa berbeda-beda, seringkali karena mahasiswa tersebut belum mengetahui secara persis apa yang sebenarnya ia inginkan. Beberapa tujuan tersebut misalnya: 1. Ingin memiliki penghasilan sampingan setiap bulan, 2. Ingin belajar tentang dunia pasar saham itu sendiri, karena saya sangat tertarik dengan dunia tersebut, 3. Ingin menjadi terkenal seperti Warren Buffett, 4. Ingin menjadi kaya raya, punya mobil mewah dan kapal pesiar, dan 5. Ingin memiliki tabungan yang aman dari ‘hantu’ inflasi, seperti yang disebutkan diatas.
Namun kalau kita bertanya kepada investor profesional, termasuk juga para fund manager di perusahaan reksadana, maka motif serta tujuan mereka setiap kali membeli saham tertenu hanya ada satu: Mencatatkan kinerja tahunan yang lebih tinggi dibanding kinerja rata-rata pasar. So, katakanlah dalam setahun IHSG naik 5%, maka anda boleh dikatakan telah berhasil mencapai tujuan anda jika keuntungan yang anda peroleh adalah 15%, alias 10% diatas rata-rata pasar.
Diluar motif tersebut, tidak ada motif lainnya lagi. Investor profesional biasanya tidak pernah memikirkan bahwa jika nanti investasinya menghasilkan keuntungan besar, maka duitnya akan dipakai buat apa. Meski anda mungkin bisa melihat bahwa beberapa investor yang sukses memiliki gaya hidup yang glamor, tapi untuk investor yang benar-benar sukses, biasanya mereka memiliki gaya hidup yang sederhana.
However, motif investasi yang disebutkan terakhir diatas, yakni untuk memiliki tabungan yang tidak akan tergerus oleh inflasi, itu juga merupakan motif yang tentu saja sangat baik, dan juga sangat disarankan bagi anda yang memiliki ‘uang nganggur’, yang anda tidak memiliki rencana untuk menggunakannya untuk keperluan tertentu. Penulis sendiri memiliki dua buah rekening bank yang saldonya cuma cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara selebihnya? Ya ditaroh di saham, dan juga sebagian kecil asuransi.
Nah, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Jika saya memiliki saran untuk teman-teman mahasiswa yang hendak berinvestasi di saham, maka pertama-tama adalah tentukan apa tujuan anda, kemudian fokus pada tujuan tersebut. Mungkin perlu penulis katakan disini bahwa bagian ‘fokus’ inilah yang paling sulit, karena ketika anda bertujuan untuk memiliki tabungan yang aman dari inflasi, misalnya, maka anda tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menyadari bahwa meski tabungan anda kini aman dari risiko inflasi, namun tidak aman dari risiko fluktuasi pasar maupun fluktuasi harga saham itu sendiri, dimana risikonya jauh lebih besar. Dan ketika anda menyadari hal itulah, maka biasanya fokus anda akan menjadi berantakan, dimana anda akan mulai berpikir bagaimana caranya untuk survive ketika pasar turun, dan sebaliknya bagaimana caranya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya ketika pasar naik.
Lalu bagaimana soal ‘melindungi tabungan dari inflasi’? Well, itu cerita lama, saya sudah lupa!
Jadi pada akhirnya, motif yang paling ideal bagi seorang mahasiswa ketika ia memulai investasinya di pasar saham, adalah untuk belajar tentang dunia pasar saham itu sendiri. Trust me, mau anda baca buku setebal 10 ribu halaman sekalipun tentang investasi, namun anda tetap tidak akan memahami apapun selama anda tidak mempraktekkan investasi itu sendiri! Jadi jangan dulu berpikir tentang keuntungan milyaran, kapal pesiar, atau semacamnya, yang penting learning by doing saja dulu.
Saya pikir anda sangat beruntung jika anda sudah menyadari pentingnya investasi ini ketika masih duduk di bangku kuliah, alias masih berusia awal 20-an. Karena meskipun anda akan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk belajar hingga pada akhirnya mampu menghasilkan kinerja yang konsisten, namun anda memiliki ‘waktu’ tersebut. Bagi investor manapun, ‘waktu’ adalah aset yang amat sangat berharga, dan pepatah bahwa ‘waktu adalah uang’ bisa jadi benar adanya jika anda bisa menggunakan waktu yang anda miliki untuk (belajar) berinvestasi dengan baik dan benar. Jangan berkecil hati hanya karena modal yang anda miliki cuma Rp5 juta atau bahkan kurang dari itu, karena anda memiliki kelebihan dibanding investor lain berupa ‘waktu’ itu tadi! Selain itu ingat pula bahwa investor besar manapun tidak ada yang langsung memulai kegiatan investasinya dengan dana trilyunan, melainkan tetap saja pake uang kecil dulu (jika anda nggak percaya, tanya saja LKH).
Apakah perlu saya membeli emas atau instrumen lindung nilai lainnya?
Saya nggak tahu kalau orang lain bagaimana, tapi saya tidak melakukannya dimana seluruh aset saya (kecuali rumah dan sejumlah uang untuk kebutuhan sehari-hari, tentu saja) ditempatkan di saham. Jadi jika pasar nanti sewaktu-waktu anjlok seperti tahun 2008, maka paling nggak saya masih punya tempat untuk berteduh dan bertahan sampai pada akhirnya nanti pasar pulih kembali. Karena pada akhirnya, indeks-indeks saham termasuk IHSG akan senantiasa terus naik dalam jangka panjang. Ada banyak investor terkenal yang sudah pernah melewati berbagai periode krisis, tapi toh mereka sehat-sehat aja tuh, malah rata-rata panjang umur.
Bagaimana pandangan anda tentang investasi menggunakan metode Dollar Cost Averaging (DCA)?
Penulis kurang setuju dengan metode investasi seperti itu karena mengabaikan faktor valuasi, dimana anda disarankan untuk membeli saham setiap kali anda memiliki uangnya, bukan ketika saham yang anda incar tersebut berada pada posisi layak beli. Selain itu metode DCA ini hanya efektif bagi saham-saham yang secara fundamental sudah sangat mapan, tapi biasanya saham model begini harganya nggak pernah murah kecuali pasar saham itu sendiri lagi drop.
However, hingga batas tertentu, metode DCA ini memang terbukti sukses dimana keuntungan yang dihasilkan bisa lebih tinggi dari rata-rata pasar. Jadi jika anda hendak menerapkan metode ini, maka pilihlah saham-saham yang sudah mapan dan memiliki fundamental bagus, yang memiliki nilai intrinsik lebih tinggi dibanding nilai buku perusahaannya sendiri. Misalnya Bank BRI (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Astra International (ASII), Semen Indonesia (SMGR), Indofood (INDF), hingga Perusahaan Gas Negara (PGAS).
Saya seorang ibu rumah tangga, dan saya baru saja mengalihkan asuransi/unit link pendidikan anak saya ke saham (saya baru membuka rekening di sekuritas). Tapi jujur, saya masih bingung apakah saya harus beli saham BBRI, JSMR, UNVR, PGAS, KLBF, atau yang mana? Karena kalau terlalu banyak ntar malah pusing jadinya. Tapi yang jelas anak saya baru akan kuliah 7 tahun lagi, jadi saya berniat investasi jangka panjang saja. Ada saran?
Ketika seseorang mengalihkan asetnya, entah itu dari sebelumnya berbentuk asuransi unit link, reksadana, aset tetap berupa tanah dll, ke dalam investasi saham, maka sudah tentu tujuannya adalah agar aset tersebut menjadi lebih produktif, alias mampu menghasilkan keuntungan atau kenaikan nilai yang lebih besar dari sebelumnya. However, ingat pula bahwa ketika sebuah investasi mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar, maka biasanya risikonya untuk menderita kerugian (atau penurunan nilai) juga menjadi lebih besar. Hal ini perlu anda perhatikan dengan serius terutama jika dana yang anda gunakan untuk investasi saham bukanlah dana nganggur, melainkan dana yang memang sudah ada rencana penggunaannya (untuk dana pendidikan tadi).
Karena itulah, anda sebaiknya menempatkan investasi anda pada saham-saham tipe low risk, dan itu berarti kalau nggak saham-saham perbankan ya saham-saham consumer, plus beberapa perusahaan di sektor lainnya yang memiliki track record jangka panjang yang baik. Keuntungan yang anda peroleh dari saham-saham ini mungkin akan sangat kecil setiap tahunnya, tapi jika keuntungan tersebut diakumulasikan dalam tujuh tahun kedepan, maka sangat mungkin bahwa nilainya bisa menjadi jauh lebih besar dari yang anda bayangkan.
Penulis sendiri untuk tahun ini lebih prefer saham-saham perbankan ketimbang consumer, karena sepanjang tahun 2013 lalu saham-saham consumer sudah naik cukup banyak, sementara perbankan cenderung jalan ditempat (sehingga valuasinya pada saat ini lebih rendah ketimbang setahun lalu, karena selama setahun terakhir ini kinerja para emiten perbankan terus melaju tanpa hambatan). Jadi anda mungkin bisa mengikuti langkah yang sama. Soal komposisi portofolio, sebaiknya sebar dana anda pada 7 hingga 10 saham yang berbeda, atau maksimal 12 saham. Berdasarkan pengalaman selama ini, strategi diversifikasi seperti itu cukup efektif dimana tidak ada satu saham tertentu yang memiliki bobot terlalu besar terhadap kinerja portofolio secara keseluruhan, sementara kita bisa mengawasi seluruh saham secara efektif, satu per satu.
Tapi pak Teguh, sudah hampir setahun ini saya buka rekening, dan sudah setor juga. Tapi masih belum berani untuk beli saham sendiri, saya masih takut! Apa yang harus saya lakukan?
Ehm, begini bu.. Waktu saya kecil saya paling takut masuk ke kolam renang karena saya pikir ada hiu besar yang sedang berenang didalamnya. Menjelang usia enam tahun, ketika untuk pertama kalinya masuk sekolah, saya sangat takut untuk masuk ruang kelas, entah karena alasan apa. Ketika saya belajar naik sepeda, saya takut saya akan jatuh, dan ternyata saya benar-benar jatuh. Menjelang usia remaja, saya takut ketika untuk pertama kalinya harus naik bis sendirian ke Kota Bandung untuk melanjutkan kuliah (saya asli Cirebon). Lulus kuliah, saya takut ketika harus berhadapan dengan HRD sebuah perusahaan dimana saya melamar pekerjaan disitu. Ketika saya sudah punya pekerjaan, saya takut ketika untuk pertama kalinya duduk dihadapan calon mertua untuk ditanya, ‘Kamu sudah siap?’
Dan terakhir, beberapa tahun yang lalu ketika saya untuk pertama kalinya harus pergi cukup jauh, saya takut sampai keringat dingin ketika saya sampai di bandara, naik pesawat, pesawat tersebut tinggal landas, hingga ketika saya sudah berada di udara. Pikiran saya ketika itu cuma satu: Bagaimana jika pesawat ini jatuh??? Dan ketakutan saya baru mereda ketika pesawat tersebut akhirnya mendarat dengan selamat.
Kemudian barulah di penerbangan-penerbangan selanjutnya, saya nggak pernah takut lagi.
Intinya, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, rasa takut ketika untuk pertama kalinya melakukan sesuatu yang sama sekali baru, itu adalah hal yang amat sangat wajar. Dan satu-satunya cara untuk mengatasi rasa takut seperti itu adalah dengan.. segera melakukannya! Just do it! Jika anda tahun ini berniat untuk mulai berinvestasi di saham, namun kemudian anda menundanya hingga tahun depan karena takut, then trust me, di tahun depan juga anda bakal sama saja takutnya! Lain halnya jika anda pada saat ini segera berdiri tegap dan terjun ke pasar, maka lambat laun rasa takut itu akan hilang dengan sendirinya, dan di tahun depan anda akan lebih percaya diri dalam melakukan kegiatan investasi.
By the way, sekitar beberapa bulan terakhir ini penulis banyak menerima email dari teman-teman investor yang baru masuk pasar, yang mengeluh bahwa baru juga mulai belajar saham sudah harus menderita kerugian yang gede banget, seiring dengan turunnya IHSG dalam enam bulan terakhir. Namun, meskipun sulit untuk mengatakannya, penulis kira lebih baik menderita kerugian diawal sehingga anda sadar bahwa anda perlu belajar, daripada belum apa-apa sudah langsung memperoleh untung besar sehingga kita merasa hebat dan nggak mau belajar lagi, kadang-kadang sampai meremehkan orang lain. Pada akhirnya, pasar mau naik atau turun, itu soal biasa. Tapi kalau kita sudah kehilangan mental sebagai seorang investor, maka itu berarti sudah salah untuk seterusnya.

NB: Penulis membuat CD rekaman seminar dengan tema ‘nilai intrinsik saham’. Anda bisa memperolehnya [...]

Catatan Awal Tahun 2014

Senin kemarin, tanggal 30 Desember 2013, IHSG ditutup di posisi 4,274. Mengingat pada tanggal yang sama tahun sebelumnya, IHSG ditutup di posisi 4,317, maka secara keseluruhan sepanjang tahun 2013 ini IHSG telah turun sebesar 1.0%. Penurunan tersebut memang tampak kecil, hanya satu persen. Namun jika dihitung dari posisi puncaknya yakni 5,251 yang dicapai pada Mei lalu, maka IHSG sudah turun 18.6%, alias sudah turun lumayan signifikan.

Pola pergerakan IHSG sepanjang tahun 2013 ini mengingatkan penulis akan situasi yang kurang lebih sama yang terjadi pada indeks saham Dow Jones pada tahun 1987, yang kemudian dikenang sebagai crash of 1987 (penulis baru masuk pasar tahun 2009, tapi saya sudah lumayan hafal dengan sejarah krisis ekonomi dan stock market crash sejak kasus Tulip Mania di abad ke-17). Ketika itu, di awal tahun, Dow dibuka di posisi 1,897, kemudian secara perlahan tapi pasti dia terus naik hingga mencapai puncaknya pada bulan Agustus di posisi 2,722, atau naik 43.5% hanya dalam waktu kurang dari sepuluh bulan.
However, setelah lewat Agustus, Dow mulai bergerak turun, namun masih dengan persentase penurunan yang wajar. Hingga akhirnya pada bulan Oktober 1987, dipicu oleh berita bahwa tentara Iran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Dow mulai turun secara terus menerus, hingga puncaknya terjadi pada hari Senin tanggal 19 Oktober 1987, dimana Dow anjlok sebanyak 22.6% hanya dalam satu hari. Tanggal 19 Oktober itulah yang kemudian dikenal sebagai ‘black monday’. Penurunan indeks sebesar 22.6% tersebut meninggalkan ‘kesan psikologis’ yang sangat signifikan di benak para investor, karena bahkan pada koreksi besar pada Dow Jones di tahun 1929 sekalipun, yang kemudian memicu great depression di tahun 1930-an, Dow Jones belum pernah turun sebanyak itu dalam satu hari.
Pergerakan Dow Jones ketika terjadi Black Monday of 1987
Mungkin itu pula sebabnya, pada bulan Desember 1987, sebanyak 33 ekonom terkenal dari seluruh dunia berkumpul di Washington DC, untuk membahas ‘krisis’ tersebut. Dan kesimpulannya, mereka memprediksi bahwa perekonomian Amerika dan juga dunia akan mengalami masa-masa yang amat sulit dalam beberapa tahun kedepan, mungkin sama sulitnya seperti krisis besar yang terjadi di tahun 1930-an.
Tapi apakah prediksi tersebut menjadi kenyataan? Ternyata tidak. Masih di bulan Desember 1987, Dow malah justru merangkak naik, hingga akhirnya menutup tahun 1987 di posisi 1,939, atau masih naik sebesar 2.2% dibanding posisi awal tahun. Kemudian sepanjang tahun 1988 dan 1989, sama sekali tidak terjadi gejolak perekonomian yang sebelumnya dikhawatirkan. Malah yang ada, Dow terus saja naik secara perlahan hingga akhirnya mencatat new high lagi pada akhir tahun 1989. Ini artinya, jika ada investor yang membeli saham tertentu di bursa Amerika pada bulan Agustus 1987, yakni ketika posisi Dow Jones sedang tinggi-tingginya, maka dengan catatan saham tersebut bergerak seiring pergerakan indeks, investor tersebut akan mengalami potential loss sebesar hampir 30% pada akhir tahun 1987. Namun jika ia tetap meng-hold sahamnya, maka investor tadi akan kembali mencatatkan kinerja portofolio yang positif, hanya dalam waktu tak sampai dua tahun kemudian.
Studi Kasus
Jika dibandingkan dengan kondisi pasar saham Indonesia di tahun 2013, maka koreksi Dow Jones di tahun 1987 tersebut tampak jauh lebih buruk karena Dow, pada akhir tahun, ditutup turun 28.8% dibanding posisi puncaknya, sementara IHSG di akhir tahun 2013 ‘hanya’ turun 18.6%. Selain itu seperti yang sudah disebut diatas, koreksi Dow di tahun 1987 juga sangat meninggalkan ‘kesan psikologis’ karena adanya penurunan sebesar lebih dari 20% sekaligus hanya dalam satu hari, yang merupakan penurunan terbesar sepanjang sejarah indeks Dow Jones (bahkan hingga saat ini). Sementara IHSG? Pada tahun 2013 ini, penurunan terbesar (dalam satu hari) tercatat hanya 5.6% pada tanggal 16 Agustus 2013, alias masih belum ada apa-apanya dibanding rekor 8.9% pada tahun 2011, dan juga penurunan-penurunan ekstrim lainnya yang pernah terjadi di tahun 2008 dan 1998.
Maksud penulis adalah, jika pada tahun 2013 ini IHSG sempat teruuuuss naik sampai lebih tinggi dari 5,250, katakanlah sampai menyentuh level 6,100 (naik 40% dibanding posisi awal tahun), kemudian entah itu di bulan September, Oktober, atau November, IHSG akhirnya jatuh dan balik lagi ke posisi 4,200, termasuk sempat jeblok 20% dalam satu hari, maka bagaimana kira-kira reaksi para investor???
Tapi berhubung IHSG tidak sempat naik sampai 6,100 tadi, melainkan langsung turun setelah menyentuh level 5,250, dan juga tidak terdapat penurunan yang amat dramatis dalam satu hari, maka reaksi para investor ketika IHSG balik lagi ke posisi 4,200-an pada akhir tahun, relatif masih normal. Suara-suara pesimis yang mengatakan bahwa IHSG akan turun lebih dalam lagi tentu saja akan tetap ada, namun tidak sampai ada sekumpulan ekonom yang memprediksi bahwa ‘Tahun 2014 dan selanjutnya akan menjadi tahun-tahun yang berat bagi perekonomian nasional, mungkin sama beratnya seperti krisis 1998’.
Jadi poinnya disini adalah, jika IHSG sempat naik sampai 6,100 dan bukannya hanya 5,250, maka meskipun pada akhirnya IHSG turun ke posisi yang sama, yakni 4,200-an, namun reaksi pasar, koran dan media, investor, hingga pemerintah, pasti akan jauh lebih dramatis, termasuk anda sendiri mungkin akan mulai berpikir bahwa Indonesia benar-benar sedang dilanda krisis. Dan orang-orang yang mengatakan bahwa indeks akan turun sampai 2,500 akan lebih bersemangat dalam menebar ‘terornya’, tentunya dengan argumennya masing-masing.
Nah, sekarang gantian skenarionya dibalik. Jika sepanjang tahun 2013 ini IHSG hanya sempat naik sampai posisi 4,500 sebagai posisi tertingginya, kemudian turun hingga ke posisi sekarang, maka bagaimana kira-kira reaksi pasar?
Contoh diatas membuktikan bahwa para investor seringkali lebih melihat posisi indeks saham dari sisi psikologis, dari sisi emosional! Dan bukan dari sisi valuasi. Ketika IHSG jeblok sampai posisi 1,111 pada Oktober 2008, sangat sedikit investor yang mampu untuk tetep berpikir jernih, yang mampu melihat bahwa posisi tersebut sudah sangat rendah sehingga justru merupakan kesempatan untuk memborong saham di harga diskon! Kenapa demikian? Karena sebelum terjadinya koreksi, IHSG sempat terus naik sampai posisi 2,810, sehingga ketika IHSG turun sampai posisi 1,111, maka penurunannya sudah mencapai lebih dari 60%, dan itu tentu saja penurunan yang luar biasa ekstrim. Jika saja ketika itu IHSG hanya naik sampai katakanlah posisi 2,000, dan bukannya sampai 2,810, maka mungkin istilah ‘Krisis 2008’ juga tidak akan pernah ada.
Kesimpulannya, kita bisa mengatakan bahwa jika IHSG naik terlalu tinggi, maka itu justru jadi nggak bagus buat IHSG itu sendiri kedepannya. Sementara sebaliknya, jika IHSG turun dan terus turun, entah karena krisis atau apapun, maka itu justru bagus karena potensi keuntungan yang bisa diperoleh ketika pada akhirnya dia naik lagi, menjadi jauh lebih besar!
Karena sekali lagi pada akhirnya, indeks-indeks saham di seluruh dunia akan terus naik. Pada tahun 1987 lalu Dow Jones sempat menyentuh posisi 2,722 sebagai posisi all time high-nya, sebelum kemudian terkoreksi besar-besaran sekaligus menimbulkan prediksi bahwa akan terjadi another great depression. Tapi berapa posisi Dow Jones sekarang???
Karena itulah, meski tahun 2013 ini adalah untuk kali pertama IHSG kembali turun sejak krisis 2008, namun tidak usah khawatir karena itu bukan akhir dari segalanya. Malah justru, ini adalah restart yang sangat baik untuk tahun 2014 dan selanjutnya! Just remember, kinerja pada emiten di BEI telah terus meningkat baik dari sisi laba maupun ekuitas sepanjang tahun 2013 ini, dimana nilai ekuitas dari 10 emiten terbesar di BEI telah naik rata-rata 10.9% hingga Kuartal III kemarin, atau 14.5% jika disetahunkan. Dan mengingat bahwa pada akhir tahun 2013 ini IHSG ditutup di posisi yang justru lebih rendah dibanding posisinya pada awal tahun, maka itu berarti valuasi saham-saham di BEI pada saat ini sudah lebih rendah dibanding valuasinya pada setahun yang lalu. Bagi para investor yang mampu untuk tetap fokus pada sisi value, maka hal inilah yang penting, dan bukan soal apakah sebelumnya IHSG sempat naik sampai 4,500, 5,250, atau 6,100 sekalipun, atau soal apakah nantinya IHSG akan kembali turun atau naik lagi. So, tetap optimis, gak usah khawatir akan apapun, just let it flow!
Happy new year! Keep the spirit, it’s [...]

Konsultasi: Buyback Saham, Dividen, dan Pemberitaan Emiten

1. Pak Teguh, saya dengar Semen Baturaja (SMBR) melakukan aksi buyback. Itu maksudnya apa sih? Dan apa pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan?
Pada tanggal 17 September 2013, manajemen SMBR mengumumkan bahwa jika dibutuhkan, mereka siap untuk melakukan aksi buyback saham alias pembelian kembali saham perusahaan di bursa, dalam rangka menjaga harga sahamnya agar tetap stabil. Keputusan tersebut diambil setelah pada penghujung bulan Agustus 2013, IHSG terkoreksi secara sangat signifikan sementara saham SMBR sendiri turun dari 560 ke 360. Jumlah dana yang disiapkan untuk aksi buyback tersebut adalah maksimal Rp102 milyar, yang diambil dari posisi kas perusahaan (per Kuartal II 2013, SMBR memiliki cash lebih dari Rp1.5 trilyun, hasil dari IPO-nya).

Yang perlu dicatat disini adalah bahwa perusahaan hanya akan melakukan buyback tersebut jika dibutuhkan, yakni jika saham SMBR turun secara tidak terkendali. Jadi jika pergerakan SMBR masih normal, maka mereka tidak akan melakukannya buyback tersebut. Tapi jika mereka benar-benar melakukan buyback secara maksimal, maka posisi kas perusahaan akan berkurang sebesar Rp102 milyar. Jika dana cash tersebut bersifat urgent untuk operasional perusahaan, untuk membiayai kegiatan ekspansi tertentu, atau membayar utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, maka kegiatan usaha perusahaan mungkin akan terganggu. Namun dalam kasus SMBR, dana cash Rp102 milyar tersebut diambil dari ‘dana nganggur’ yang baru akan digunakan dalam beberapa waktu kedepan untuk membangun pabrik semen baru di Baturaja, dimana pabrik itu sendiri dijadwalkan baru akan beroperasi pada tahun 2016. Jadi dalam hal ini aksi buyback tersebut tidak akan berpengaruh apapun terhadap kinerja SMBR, namun diharapkan akan mampu menjaga harga sahamnya dari penurunan lebih lanjut akibat volatilitas pasar.
Kalau yang penulis perhatikan, perusahaan-perusahaan BUMN umumnya cukup sigap dalam berupaya menjaga harga sahamnya agar tidak turun terlalu rendah, termasuk tidak keberatan jika mereka harus keluar dana untuk melakukan hal itu (melalui buyback). Contohnya waktu puncak krisis global tahun 2008 lalu, konsorsium BUMN secara bersama-sama menyiapkan dana Rp4 trilyun untuk membeli kembali saham-saham BUMN di bursa. Para BUMN ini ketika itu berani untuk memborong saham-saham BBRI, SMGR, dkk pada harga bawah, karena mereka cukup yakin bahwa valuasi saham-saham tersebut ketika itu sudah sangat rendah jika dibandingkan dengan kualitas fundamental perusahaan, sehingga pada akhirnya nanti mereka akan naik juga. Dan ternyata memang benar.
Tapi disisi lain mungkin itu pula sebabnya dua perusahaan BUMN, yakni Krakatau Steel (KRAS) dan Garuda Indonesia (GIAA), tidak pernah mengumumkan bahwa mereka akan melakukan buyback, karena kinerja perusahaannya sampai sekarang masih amburadul, sehingga perusahaan belum bisa menentukan berapa sebenarnya nilai wajar sahamnya. GIAA memang pernah juga berniat melakukan buyback, tapi dibatalkan. Sementara KRAS, rencana buybacknya hanya bersifat rumor.
Diluar BUMN, grup usaha tertentu seringkali tidak mau melakukan hal yang sama (buyback). Pada tahun 2008, alih-alih menyiapkan sejumlah dana untuk keperluan buyback, Grup Bakrie meminta kepada pihak BEI untuk mensuspen saham Bumi Resources (BUMI) agar tidak anjlok lebih dalam lagi, dan BEI menurut. Namun hal ini kemudian diketahui oleh Menteri Keuangan ketika itu, Sri Mulyani, yang kemudian dengan murka memerintahkan agar suspensi itu dicabut. Alhasil BUMI benar-benar anjlok dari 8,000 sampai 400-an, dan itulah awal konflik Grup Bakrie dengan Ibu Sri Mul. Nah, menurut anda, siapa yang bersalah dalam kasus ini?
Lebih lanjut soal buyback, bisa dibaca disini.
2. Saya ingin berinvestasi jangka panjang, dan saya juga ingin bisa hidup hanya dari dividen. Jadi kalau boleh saya tahu, saham apa saja yang membagikan dividen dalam jumlah besar setiap tahun?
Kalau yang dimaksud dengan ‘dividen dalam jumlah besar’ itu adalah perusahaan membagikan dividen dalam persentase yang besar dibanding total laba bersihnya dalam satu tahun, maka jawabannya adalah saham-saham consumer, seperti UNVR, INDF, HMSP, dan semacamnya. Untuk UNVR, mereka bahkan membagikan dividen sebanyak 100% laba bersihnya setiap tahun. Perusahaan lain yang membagikan dividen dalam jumlah besar (dibanding perolehan labanya) adalah perusahaan-perusahaan BUMN, tentunya yang punya kinerja bagus seperti BBRI, BMRI, SMGR, JSMR, dan PTBA.
Hanya masalahnya jika dibandingkan dengan harga sahamnya, jarang sekali ada saham yang membagikan dividen dalam jumlah besar secara konsisten dari tahun ke tahun. Maksud penulis, terkadang beberapa perusahaan membagikan dividen dengan nilai jumbo pada tahun tertentu, katakanlah sebesar Rp200 per saham padahal harga sahamnya sendiri cuma Rp1,000 (dividend yield-nya 20%), tapi pada tahun berikutnya mereka gak bagiin dividen lagi.
Kalau ada sebuah perusahaan yang membagikan dividen sebesar 7 – 9% dibanding harga sahamnya secara rutin setiap tahun, maka itu sudah bagus sekali, tapi itupun sangat jarang.
Tapi bukankah nilai dividen yang kita terima bisa naik terus dari tahun ke tahun, seiring dengan naiknya laba perusahaan? Ya, memang. Beberapa perusahaan memang membagikan dividen dengan jumlah yang naik terus setiap tahunnya, sehingga pada tahun tertentu modal kita sudah kembali hanya dari dividennya saja, dan belum termasuk keuntungan dari kenaikan harga sahamnya. Contohnya jika anda beli saham Astra International (ASII) di tahun 1998, dan masih memegangnya sampai sekarang, maka dividen yang anda terima sudah jauuuh lebih besar dari modal yang anda keluarkan untuk membeli sahamnya. Contoh yang lebih ekstrim lagi adalah UNVR, dimana jika anda membelinya di tahun 1982 dan masih memegangnya sampai sekarang, maka keuntungan dividen yang anda peroleh bahkan jauh lebih besar dibanding jika anda memegang ASII.
Tapi jujur saja, siapa sih investor yang membeli ASII di tahun 1998 lalu, dan memegangnya sampai sekarang? Bagaimana jika pada tahun 1998 tersebut yang ia beli adalah BLTA, misalnya? Maksud penulis, di BEI memang terdapat beberapa saham seperti ASII dan UNVR, yang membagikan dividen dalam jumlah besar secara terus menerus. Tapi jika dibandingkan dengan jumlah seluruh saham di BEI, maka saham-saham super ini jumlahnya sangat sedikit, dan diperlukan lebih dari sekedar kemampuan berinvestasi dan kesabaran yang luar biasa untuk bisa menemukan saham seperti ini, kemudian tetap memegangnya selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, capital gain jauh lebih menarik ketimbang dividen, karena beberapa hal: 1. Capital gain, atau keuntungan atas kenaikan harga saham, kalau di Indonesia itu bebas pajak. Sementara jika anda menerima dividen, maka itu dipotong pajak antara 10 hingga 15%, 2. Dividen hanya dibayarkan pada waktu-waktu tertentu, sementara kita bisa merealisasikan capital gain, alias menjual saham yang kita pegang, pada waktu kapanpun selama harganya cocok, dan 3. Fakta sejarah membuktikan bahwa investor-investor sukses di seluruh dunia bisa menjadi kaya raya karena capital gain, bukan dividen. Hingga saat ini pun, Warren Buffett setiap tahunnya hanya menerima dividen dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang kenaikan nilai aset Berkshire Hathaway, kecuali tentunya pada tahun-tahun dimana pasar sedang turun, seperti tahun 2001 dan 2008.
Karena itulah, jika anda adalah seorang investor jangka panjang, namun sebaiknya jangan terlalu berharap untuk bisa living by dividend. Karena jika anda suatu hari nanti benar-benar bisa hidup hanya dari dividen, maka keuntungan yang anda peroleh dari kenaikan nilai aset dari perusahaan-perusahaan yang sahamnya yang anda pegang (capital gain), pasti jauh lebih besar ketimbang dividen yang anda terima itu sendiri. Dan ketika capital gain (yang besar) itu diperoleh, maka anda hanya perlu mengambilnya sebanyak sebagian kecil saja untuk kebutuhan sehari-hari, sementara selebihnya bisa digunakan untuk investasi lagi. Warren Buffett selama ini hanya hidup dari gaji sebesar US$ 100,000 atau sekitar Rp1 milyar saja per tahun. Jika ia memutuskan untuk mengubah gaya hidupnya dan menghabiskan katakanlah US$ 10 juta (Rp100 milyar) per tahun untuk pesta dan hura-hura, maka itu tetap saja tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap total kekayaan/asetnya, karena untuk menghabiskan seluruh kekayaannya senilai US$ 40 milyar, Buffett perlu hidup hingga 4,000 tahun lagi (which is impossible).
3. Saya baca di inilah dot com, katanya Erajaya Swasembada (ERAA) memperoleh utang sebesar Rp2 trilyun. Itu benar apa cuma rumor? Dan jika benar, bagaimana kira-kira pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan?
Ketika anda membaca berita bahwa sebuah perusahaan melakukan aksi korporasi tertentu, entah itu di surat kabar atau internet, maka untuk memastikan apakah berita itu benar atau cuma rumor, anda bisa membuka www.idx.co.id, kemudian klik IDXNet (yang warnanya merah). Di halaman berikutnya (halaman pengumuman emiten), anda masukkan kode saham yang anda cari di kotak ‘kode’, misalnya dalam hal ini ERAA, kemudian klik tombol ‘Cari’. Kemudian nanti akan muncul seluruh pengumuman resmi yang dirilis oleh ERAA, termasuk soal utang tadi, jika memang beritanya benar. Berikut adalah tampilan halaman idx.co.id setelah penulis memasukkan kode ERAA dan mengklik tombol ‘cari’, klik untuk memperbesar.
Setelah anda download file-nya (berbentuk PDF), maka anda kemudian bisa membaca pengumumannya. Berikut adalah tampilan dari pengumumannya tersebut, klik untuk memperbesar:
Kalau baca pengumumannya sih, ERAA bersama beberapa anak usahanya baru saja memperoleh plafon pinjaman dari Bank BCA sebesar maksimal Rp2 trilyun, tapi bukan berarti ERAA sudah mencairkan seluruh pinjaman tersebut, melainkan baru akan dicairkan nanti dengan jumlah sesuai kebutuhan. Sayangnya belum ada informasi soal akan dipakai untuk apa dana pinjaman tersebut, tapi biasanya informasi detailnya akan disampaikan di laporan keuangan terbarunya nanti. Nanti deh, kita akan bahas lebih detail soal bagaimana cara menganalisis utang perusahaan, apakah menguntungkan bagi perusahaan atau tidak.
Nah, terus bagaimana jika saya membaca berita tertentu tentang emiten tertentu, tapi setelah dicari pengumuman resminya malah nggak ada? Kalau begitu maka kemungkinan besar beritanya cuma rumor, sebab tidak atau belum ada konfirmasi resmi dari perusahaan yang bersangkutan, sehingga anda tidak perlu memperdulikannya. Kalau penulis sendiri setiap kali mendengar berita penting tentang emiten tertentu, maka hal pertama yang dilakukan adalah mengeceknya ke website IDX. Itu pula sebabnya penulis bisa mengatakan bahwa informasi buyback SMBR adalah benar karena ada pengumuman resminya, sementara buyback KRAS hanyalah rumor. Tindakan ‘meminta konfirmasi langsung dari perusahaan’ ini penting agar kita tidak terjebak oleh rumor-rumor yang mungkin dengan sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu.
Beberapa orang teman mengeluh bahwa berbeda dengan berinvestasi atau trading saham di negara maju seperti Amerika Serikat, investasi saham di Indonesia lebih sulit karena informasi yang tersedia jauh lebih terbatas, dan seringkali pula kita kesulitan untuk membedakan mana informasi yang benar dan yang tidak. Well, sebenarnya kalau anda mau meluangkan waktu untuk meng-explore website www.idx.co.id, maka semua informasi yang anda butuhkan terkait emiten/saham tertentu, semuanya ada disitu, dan informasinya juga valid karena bersumber langsung dari perusahaannya sendiri, bukan bersumber dari wartawan atau pihak ketiga lainnya. Anyway, berdasarkan contoh diatas, maka setidaknya kini anda sudah bisa membedakan mana berita yang sungguhan, dan mana berita yang cuma bersifat rumor.

Lebih lanjut soal cara menganalisis pemberitaan di media, baca lagi artikelnya [...]

Outlook IHSG di Tahun 2014 (Forum)

Dear investor dan juga kawan-kawan trader, berhubung sekarang sudah akhir tahun, melalui forum ini penulis mengajak anda untuk berbagi analisis, opini, serta pandangan tentang bagaimana outlook pasar di tahun 2014, baik itu dilihat dari sisi fundamental, teknikal, perkembangan ekonomi makro nasional, dan lain-lain.
Anda bisa menuliskan analisis anda melalui kolom komentar dibawah, jangan lupa sebutkan nama, atau minimal nickname anda dibawahnya. Anda juga boleh mengomentari analisis yang dibuat oleh teman yang lain, tentunya dengan bahasa yang baik. Tujuan penulis membuat forum ini adalah agar analisis yang anda paparkan bisa menjadi pencerahan bagi kawan-kawan investor/trader lainnya.
Demikian, terima kasih atas kontribusinya :)

Salam,
Teguh
December 22nd, 2013 at 4:39 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Mengenal Saham-Saham ‘Jackpot’

Sekitar dua tahun terakhir ini penulis menemukan fakta menarik di pasar, dimana ada beberapa saham yang secara fundamental bagus, valuasinya juga wajar atau bahkan murah, namun pergerakannya terkesan sangat lamban. Dalam beberapa bulan, saham-saham ini terkadang hanya mondar mandir disitu-situ saja, misalnya jika pada awal Januari dia berada di posisi 1,000, maka pada akhir Juni dia masih di posisi 1,000-an tersebut. Tapi pada waktu-waktu lainnya saham ini seringkali tiba-tiba saja naik signifikan, mungkin sampai 2,000 atau 2,500 hanya dalam satu atau dua bulan, sebelum kemudian balik lagi ke 1,000. Nah, ketika terjadi kenaikan dramatis inilah, seorang investor yang sudah memegang saham tersebut di harga 1,000 boleh dikatakan telah memperoleh jackpot.

Namun anda jangan bayangkan bahwa ‘jackpot’ tersebut bisa terjadi setiap hari. Terkadang si investor harus menunggu cukup lama, bisa sampai berbulan-bulan, hanya untuk memperoleh satu kali jackpot dalam setahun. Beberapa yang beruntung mungkin bisa memperoleh jackpot tersebut secara cepat, dimana ia membeli saham pada hari Senin, dan pada hari Selasanya saham tersebut langsung naik. Tapi beberapa lainnya mungkin harus menunggu sampai berbulan-bulan, terkadang dengan digoyang-goyang dulu selama perjalanan beberapa bulan tersebut (sahamnya sempat turun dulu).
Tapi intinya ketika jackpot itu diperoleh, maka gain yang diperoleh bisa sangat signifikan, mungkin bisa mencapai 50% atau lebih. So, katakanlah anda hanya satu kali memperoleh 50% tersebut dalam satu tahun, maka itu sudah lumayan toh? Dan juga sudah sangat jauh diatas rata-rata pasar. Sebab kenaikan IHSG sendiri kalau dirata-ratakan nggak sampai 15% per tahun.
Anyway, kunci utama dari investasi di saham-saham jackpot ini adalah bahwa anda harus tahu bahwa dia tidak akan turun lagi dibanding harga dimana anda membelinya. Atau kalaupun dia turun, maka cepat atau lambat akan naik lagi. Dan sebuah saham hanya tidak akan turun lagi jika kualitas kinerjanya minimal cukup baik serta konsisten dalam jangka panjang, sementara valuasinya pun sudah sangat rendah, baik secara relatif (dilihat dari PER), maupun absolut (PBV-nya kurang dari 1 kali).
Nah, ketika sebuah saham sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi, maka artinya apa? Artinya, sewaktu-waktu dia bisa naik. Anda tidak akan pernah tahu kapan saham itu akan naik, tapi yang penting, anda tahu bahwa saham itu akan naik.
Lho, memangnya ada saham-saham yang seperti itu? Yup, ada! Berikut adalah tiga saham ‘jackpot’ versi penulis, tapi mungkin anda sudah mengetahuinya:
1. Ekadharma International (EKAD, pernah penulis bahas disini)
2. Gema Grahasarana (GEMA)
3. Multi Indocitra (MICE)
Agar sistematis, berikut adalah poin-poin analisis dari ketiga saham diatas, dan kenapa mereka bisa disebut sebagai saham jackpot.
1. Ketiga perusahaan bermain di industri yang sederhana dan mudah. EKAD adalah perusahaan produsen pita perekat merk ‘Daimaru’, GEMA perusahaan jasa interior design dan produsen produk-produk furniture dengan merk ‘Vivere’, dan MICE adalah produsen perlengkapan bayi merk ‘Pigeon’. Khusus untuk EKAD dan MICE, penulis menilai bahwa kedua perusahaan tersebut memproduksi produk jenis consumer, yang dibutuhkan secara terus menerus oleh orang banyak, dan itu tentu bagus. Sementara untuk GEMA, meski produknya tidak dibeli orang setiap hari, perkembangan usahanya dalam beberapa tahun terakhir ini tampak cukup mengesankan, kemungkinan karena didorong oleh meningkatnya selera masyarakat perkotaan akan tampilan interior rumah, kantor, dan apartemen yang lebih baik.
2. Ketiga perusahaan memiliki brand yang cukup kuat untuk produknya masing-masing. Anda mungkin juga sudah cukup hafal dengan merk Vivere dan Pigeon. Kalau Daimaru, well penulis sendiri kalau beli lakban gak pernah liat merk-nya, tapi kalau gak salah lakban yang dijual di Ace Hardware, itu memang merk-nya Daimaru.

Koleksi produk peralatan bayi ‘Pigeon’

3. Ketiga perusahaan fokus pada industrinya masing-masing, sehingga mereka merupakan ekspertise yang sudah sangat berpengalaman di bidangnya masing-masing. Jadi EKAD ya hanya bikin lakban saja, dan gak pernah coba-coba akuisisi tambang batubara, misalnya. Untuk MICE, perusahaan juga memang sedang mencoba peruntungan di lampu hemat energi dengan merk ‘Hori’, namun sejauh ini hal itu tidak mengganggu bisnis inti perusahaan.
4. Ketiga perusahaan beroperasi dengan konservatif, running business as it is. Mereka hanya membuat produk, kemudian menjualnya, that’s it, tanpa right issue, menerbitkan obligasi, atau semacamnya. Mereka juga hampir nggak punya utang, dimana DER EKAD dan MICE masing-masing dibawah 1 kali. Tapi memang untuk GEMA utangnya agak lumayan.
5. Ketiga perusahaan dikelola oleh tim manajemen yang berpihak kepada investor, itu bisa dilihat dari: 1. Perusahaan rutin membagikan dividen setiap tahun, 2. Perusahaan rutin melakukan pengembangan kegiatan usaha dengan cara-cara yang wajar dan tidak berlebihan, misalnya mendirikan pabrik baru, membuka gerai baru, hingga menciptakan variasi produk baru, dan 3. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar berita bahwa RUPS yang diselenggarakan oleh EKAD, MICE, dan GEMA, menjadi batal gara-gara nggak kuorum, kemudian para investor yang hadir menjadi mengamuk dan rusuh macam kalah pertandingan sepakbola, if you know what I mean.
And by the way, untuk mengetahui lebih detail tentang ciri-ciri manajemen yang baik dan berpihak kepada investor, anda bisa baca artikelnya disini. Okay, lanjut!
6. Ketiga perusahaan memiliki kinerja jangka panjang yang cukup baik serta konsisten. Pada periode laporan keuangan terbaru (Kuartal III 2013), laba MICE serta GEMA memang sedikit turun. Tapi dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan mereka baik dari sisi kenaikan modal bersih, pendapatan, serta laba bersih, semuanya tampak cukup baik. Anda bisa membaca datanya di masing-masing laporan tahunan terakhir milik perusahaan.
7. Ketiga perusahaan memiliki rasio lancar yang bagus, dimana aset lancar mereka lebih besar secara signifikan dibanding aset tidak lancar. Ini artinya jika terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaan (perusahaannya bangkrut), maka aset-asetnya akan bisa dengan mudah dilikudasi. Asset turnover alias rasio perputaran aset mereka juga bagus, dimana nilai pendapatan MICE, GEMA, dan EKAD dalam satu tahun biasanya sudah lebih besar dari nilai total aset perusahaan. Sekedar catatan, dua kriteria ini biasanya hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan consumer, dan perusahaan pakan ayam (CPIN dan saudara-saudaranya).
8. Ketiga perusahaan memiliki kualitas kinerja yang secara umum cukup baik, meski tidak bisa disebut sangat baik. Kecuali MICE, baik EKAD maupun GEMA memiliki rasio profitabilitas yang lumayan, dengan ROE dikisaran 20%. Kalau diurutkan berdasarkan kualitas kinerjanya di Kuartal III 2013, maka saham dengan fundamental terbaik adalah EKAD, disusul GEMA, dan terakhir MICE. Entah kebetulan atau tidak, valuasi saham EKAD pada saat ini adalah juga yang paling tinggi diantara ketiganya, sementara MICE adalah yang terendah. Selengkapnya bisa dilihat di tabel dibawah ini:
Nah, diluar kedelapan poin diatas, faktor yang paling menarik dari EKAD, GEMA, dan juga MICE, adalah valuasinya yang rendah, atau bahkan sangat rendah jika dibandingkan dengan rata-rata valuasi dari seluruh saham di bursa. Berikut datanya, harga saham adalah harga penutupan tanggal 20 Desember 2013:
Stocks
Price (Rp)
PER (x)
PBV (x)
Dividend Yield (%)
EKAD
390
6.2
1.2
2.1
GEMA
460
4.7
0.9
6.7
MICE
400
7.9
0.7
3.8
Faktor valuasi yang rendah inilah yang membuat ketiga saham diatas, kecuali terjadi peristiwa luar biasa terkait perusahaannya, atau pasar saham itu sendiri hancur lebur seperti tahun 1998 dan 2008 lalu, sangat kecil risikonya untuk turun signifikan dibanding posisi harganya pada saat ini. Sebab ketiga perusahaan diatas masih beroperasi dengan normal, masih menghasilkan laba, dan ekuitasnya juga masih terus bertumbuh. Maksud penulis, terkadang ada beberapa kasus dimana harga dan valuasi sebuah saham bisa menjadi sangat rendah, atau bahkan jauh lebih rendah dibanding nilai riil aset-asetnya (PBV-nya jauh lebih rendah dari 1 kali, mungkin hanya 0.5 kali atau bahkan lebih rendah lagi), karena kinerja perusahaannya buruk, perusahaan sedang terlilit utang besar yang tidak mampu mereka bayar, atau sektor usahanya sendiri sedang dilanda isu negatif.
Tapi untuk ketiga perusahaan yang sahamnya sedang kita bahas disini, faktor-faktor tersebut sama sekali tidak ada. Jadi mereka memang beneran saham murah, bukan murahan.
Okay, lalu bagaimana ceritanya ketiga saham diatas bisa disebut sebagai saham jackpot? Well, itu karena kalau anda perhatikan, baik saham EKAD, GEMA, maupun MICE, pada waktu-waktu tertentu bisa saja melejit secara tiba-tiba. Jika anda tidak percaya maka lihat saja chart harganya dalam 1 – 2 tahun terakhir, bisa di Yahoo Finance ataupun software trading anda. Kasus ‘jackpot’ terakhir adalah GEMA, dimana saham ini pada Juni 2013 lalu sempat tiba-tiba saja melejit sampai posisi 790, setelah sebelumnya hanya mondar-mandir saja di rentang 450 – 500. Sementara jackpot terakhir yang dialami MICE terjadi pada April 2013, dimana sahamnya naik dari 450 ke 860, alias nyaris 100%, sebelum kemudian turun lagi ke posisi sekarang. Bagaimana dengan EKAD? Silahkan anda cek sendiri.
Namun ada satu hal menarik yang penulis perhatikan dari fenomena jackpot ini, yakni: Ketiga saham tersebut biasanya mendadak populer dan banyak dibicarakan orang setelah harganya naik. Termasuk biasanya ketika itulah orang-orang baru sadar bahwa ini barang bagus, sehingga mereka kemudian beramai-ramai masuk di harga atas. Tapi ketika harganya lagi dibawah seperti sekarang? Gak ada yang ngomongin satu pun, termasuk mungkin gak ada yang berminat untuk membelinya. Padahal kalau berdasarkan kaidah value investing, justru saat inilah waktu yang tepat untuk masuk, kemudian jualnya nanti ketika ‘jackpot’ itu terjadi. Bukan sebaliknya!
Tapi apapun itu, fenomana ini sekaligus membuktikan bahwa anda tidak perlu khawatir untuk berinvestasi di saham-saham seperti ini hanya karena volume transaksi perdagangannya tidak likuid. Sebab ketika saham-saham ini pada akhirnya naik juga, maka anda akan bisa keluar alias merealisasikan keuntungan dengan mudah, karena akan ada banyak orang yang menampung barang yang anda lempar. Kemungkinan hal ini pula yang menyebabkan Lo Kheng Hong tidak ragu untuk membeli saham Petrosea (PTRO) hingga puluhan juta lembar meski saham PTRO itu sendiri relatif tidak likuid dengan rata-rata volume transaksi hanya 1.5 juta lembar per hari. Sebab ketika nanti PTRO ini pada akhirnya naik juga, maka ia tidak akan mengalami kesulitan untuk melepas barang, karena akan ada banyak orang yang dengan suka rela menampungnya.
However, masalah terbesar dalam berinvestasi di saham-saham seperti ini, seperti yang sudah disebut diatas, adalah kita nggak tahu kapan mereka akan naik, bahkan jika anda adalah Papah Lauren atau Ki Kusumo. Kita nggak tahu kapan jackpot itu akan terjadi, bisa besok, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan. Jadi jika anda termasuk yang kurang beruntung, maka mungkin anda bakal menunggu sangat lamaaa ketika memegang salah satu dari tiga saham diatas (lama disini untuk ukuran trader ya). Dan bukan tidak mungkin pula ketika anda akhirnya menyerah dan keluar, eeeh tak lama kemudian saham itu malah beneran naik! Penulis mengatakan ini sebab jujur saja, penulis pernah mengalaminya di MICE dulu, dimana penulis tidak kebagian jackpot yang terjadi para April kemarin, padahal baru menunggu selama dua bulan. Anyway, tidak pernah ada kata terlambat untuk mencobanya lagi bukan?
Okay, I think that is enough, selanjutnya akan kita bahas lagi minggu depan. Anda punya ide saham-saham lain yang cocok untuk investasi maupun trading? Anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

NB: Penulis
menulis buku pendek berjudul ‘Superinvestor’, yang memuat seminar Warren Buffett tentang value investing. Anda bisa memperolehnya [...]

Contoh Value Stock: Petrosea

Beberapa dari anda mungkin sudah mengetahui bahwa Bapak Lo Kheng Hong, investor perorangan paling terkenal di Indonesia, memegang saham Petrosea (PTRO) pada jumlah yang cukup signifikan, yakni 65.9 juta lembar saham atau setara dengan 6.5% total saham beredar perusahaan. Jika LKH membeli PTRO pada harga yang sama dengan harga PTRO saat ini, yakni 1,290 per saham, maka beliau telah menginvestasikan sedikitnya Rp85 milyar pada anak usaha Grup Indika ini. Meski dana tersebut mungkin hanyalah sebagian kecil dari total aset LKH, tapi untuk ukuran investor retail manapun dana sebesar itu jelas tidak bisa disebut sebagai uang receh. Pertanyaannya sekarang, apa bagusnya sih PTRO ini sampai-sampai LKH cukup pede untuk membelinya sebanyak itu?

Penulis sekitar setahun yang lalu pernah membahas PTRO ini (baca disini), dan ketika itu kesimpulannya adalah bahwa perusahaan ini termasuk perusahaan yang bagus dari sisi kinerja operasional dan juga pertumbuhannya dalam jangka panjang (PTRO adalah perusahaan jasa kontraktor tambang batubara). Tapi disisi lain manajemennya agak kurang fair dengan ‘memaksa’ PTRO untuk membayar bunga utang obligasi yang diterbitkan oleh induknya, Indika Energy (INDY). Jadi jika kita mengasumsikan bahwa Grup Indika bisa saja membuat PTRO jadi merugi sewaktu-waktu, maka sahamnya pun gak akan kemana-mana.
Namun masih ada satu lagi faktor yang sangat menarik dari PTRO ini, yakni valuasinya pada saat ini, yang sangat rendah. Mari kita lihat, berdasarkan laporan keuangan terakhirnya periode Kuartal III 2013, dan berdasarkan harga sahamnya saat ini yakni 1,290, PER PTRO tercatat 5.4 kali, dan PBV 0.6 kali. Dividend yield-nya? Pada tahun 2012 lalu, PTRO membagikan dividen US$ 0.021 atau setara Rp230 per saham (menggunakan kurs Rp11,000 per US Dollar), sehingga yield-nya, berdasarkan harga sahamnya saat ini adalah 17.8 persen! Jadi kurang murah apa lagi coba?
However pada tahun 2013 ini nilai dividen yang dibayarkan PTRO berkurang menjadi hanya US$ 0.007 per saham, seiring dengan menurunnya perolehan laba bersih perusahaan. Namun dari sisi PER dan PBV, terutama PBV-nya yang cuma 0.6 kali, PTRO tetap sangat menarik. Dan bagi value investor manapun, terutama para bargain hunter seperti LKH, faktor valuasi ini menyebabkan PTRO terlalu bagus untuk diabaikan.
Nah, seperti biasa, berikut adalah beberapa poin terbaru yang perlu anda ketahui tentang PTRO ini, jika memang anda berminat untuk mengikuti jejak sang master:
1. Saham PTRO memiliki beta 0.19. Artinya pergerakan saham ini nyaris sama sekali tidak dipengaruhi oleh pergerakan IHSG, sehingga saham ini layak dikoleksi jika anda termasuk yang masih khawatir bahwa IHSG akan turun lagi. Satu-satunya saham yang memiliki beta lebih rendah, sejauh riset penulis, adalah Unilever Indonesia (UNVR) dengan beta 0.18.
2. Seperti umumnya perusahaan kontraktor tambang batubara lainnya, PTRO mencatat penurunan laba bersih 54.9% pada Kuartal III 2013, sehingga ROE-nya pun turun menjadi tinggal 11.2%. Meski kinerja PTRO tampak buruk, namun intinya perusahaan masih mampu mencetak laba, sehingga ekuitasnya masih bisa naik sebesar 5.1% dalam sembilan bulan terakhir, dan itu sudah dikurangi dividen. Jika anda termasuk yang optimis bahwa sektor batubara tidak akan selamanya tenggelam seperti sekarang, maka ketika nanti sektor batubara pada akhirnya pulih, kinerja PTRO juga seharusnya tidak akan kesulitan untuk melaju kencang kembali, dan demikian pula dengan harga sahamnya.
3. Pada Mei 2013, PTRO resmi menerima tambahan pinjaman dari Indika Capital Resources (ICR), yang merupakan sesama anak usaha dari INDY, sehingga utang PTRO ke ICR meningkat menjadi US$ 140 juta, dan ini adalah bentuk cost transfer dari INDY ke PTRO (INDY menerbitkan sejumlah obligasi di Singapura, dan menyuruh PTRO untuk membayar bunganya). Hasilnya pada Kuartal III 2013, beban bunga utang yang harus dibayar PTRO ke ICR meningkat dari US$ 10 menjadi 16 juta. Jika tidak ada kesepakatan tambahan utang ini, maka laba bersih PTRO seharusnya tercatat sekitar US$ 23 juta dan bukannya hanya US$ 17 juta.
Poin ketiga inilah yang membuat saham PTRO menjadi agak berisiko, sebab Grup Indika sebagai pemiliknya bisa saja menaikkan kembali beban bunga pinjaman tadi sehingga akhirnya menyebabkan laba bersih PTRO berkurang signifikan, bahkan mungkin hingga minus alias rugi. Tapi kabar baiknya, perusahaan berencana untuk membayar sebagian utangnya ke ICR sebesar US$ 115 juta pada November 2013, sehingga di laporan keuangannya untuk periode Kuartal IV 2013 mendatang, kemungkinan utang tersebut akan berkurang menjadi tinggal US$ 25 juta.
4. Tapi diluar faktor utangnya ke ICR, neraca PTRO terbilang wajar serta bersih dari utang (ada utang bank jangka pendek sebesar US$ 12.5 juta, tapi itu bukan jumlah yang serius). Dan yang paling menarik adalah struktur modal bersihnya, dimana dari ekuitas PTRO sebesar US$ 197 juta, sebagian besar yakni US$ 163 juta diantaranya merupakan saldo laba alias akumulasi dari laba bersih perusahaan dimasa lalu, padahal PTRO selama ini terkenal royal dalam membagikan dividen. Artinya? PTRO ini perusahaan yang bagus dengan track record jangka panjang yang mentereng, alias sudah sangat mapan dan sudah tidak memerlukan bantuan pendanaan apapun lagi! Bandingkan dengan Delta Dunia Makmur (DOID), misalnya, yang sampai sekarang masih harus berjuang untuk mengatasi utangnya yang teramat sangat besar.
Terakhir, dan ini mungkin merupakan alasan utama kenapa LKH memilih masuk ke PTRO ini, adalah karena perusahaan memiliki aset riil dengan nilai yang jauh lebih tinggi dibanding harga sahamnya pada saat ini. Pada Kuartal III 2013, PTRO memiliki dana cash sebesar US$ 52 juta, dan dana cash yang dibatasi penggunaannya sebesar US$ 117 juta. Jadi totalnya US$ 169 juta, dimana semuanya berbentuk deposito bank dengan tingkat bunga 6.25 – 8% per tahun untuk deposito Rupiah, dan 2.3% per tahun untuk deposito Dollar.
Nah, jika kita pakai kurs katakanlah Rp11,000 per US Dollar, maka PTRO memiliki aset berupa uang tunai sebesar Rp1.9 trilyun, all fresh in several bank accounts.
Lalu bagaimana dengan utang PTRO sebesar US$ 140 juta ke ICR? Jika PTRO menjual  aset-aset non tunai kemudian membayar lunas seluruh utangnya, termasuk utang ke ICR, maka masih akan ada sisa uang tunai senilai kurang lebih Rp300 milyar. Tapi untuk pendekatan konservatif, maka anggap saja bahwa Rp300 milyar ini tidak ada (aset-aset tadi semuanya dijual murah, yang penting cukup buat bayar utang), sehingga satu-satunya aset yang dimiliki PTRO adalah dana cash sebesar Rp1.9 trilyun tadi.

Dan.. berapa uang yang harus anda keluarkan untuk memperoleh deposito bank senilai Rp1.9 trilyun tersebut? Cuma Rp1.3 trilyun! Karena itulah nilai pasar PTRO pada saat ini berdasarkan harga saham Rp1,290. Jadi dengan demikian kita punya margin of safety sekitar Rp600 milyar disini, tentunya jika anda memutuskan untuk mengakuisisi 100% saham perusahaan. Bagi LKH sendiri, karena beliau hanya mengambil 6.5% saham PTRO, maka margin of safety-nya adalah sekitar Rp39 milyar.
Karena itulah, PTRO memang luar biasa menarik bagi seorang value investor. Poinnya disini adalah jika aset-aset PTRO merupakan aset tidak lancar yang sulit untuk dijual/dilikuidasi jika terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaan (misalnya perusahaannya bangkrut), maka PBV PTRO yang kurang dari 1 kali mungkin tidak terlalu menarik. Tapi jenis aset yang dipegang PTRO disini adalah aset yang bisa dicairkan sewaktu-waktu, sehingga pada skenario terburuk sekalipun (perusahaan bangkrut), PTRO masih memiliki nilai jual yang signifikan.
Tapi seperti yang sudah kita bahas diatas, PTRO ini adalah perusahaan yang mapan yang tidak sedang dililit masalah utang, jadi kenapa juga dia harus bangkrut? Dalam dua tahun terakhir ini kinerja perusahaan memang menurun seiring dengan sektornya yang lesu, tapi jika nanti sektor batubara pulih lagi, maka PTRO seharusnya juga tidak akan kesulitan untuk langsung tancap gas lagi.
Meski memang, satu hal lagi yang perlu dicatat disini adalah, aset tunai milik PTRO yang berupa deposito yang dibatasi penggunaannya sebesar US$ 117 juta tadi, itu hanya akan digunakan untuk membayar pokok dari pinjaman perusahaan terhadap ICR (makanya disebut ‘dibatasi penggunaannya’). Jadi memang dalam skenario terburuk tadi, dana US$ 117 juta ini akan langsung menguap karena digunakan untuk membayar utang ke ICR, sehingga sisanya adalah deposito senilai US$ 52 juta dan beberapa aset lainnya berupa piutang usaha, pajak dibayar dimuka, kepemilikan saham di beberapa anak usaha, serta sejumlah armada alat-alat berat. Jika dilihat dari sini, maka margin of safety PTRO ini mungkin bisa lebih kecil dari Rp600 milyar, karena perusahaan tentunya akan mengalami sedikit kesulitan untuk segera melikuidasi aset-asetnya, terutama aset yang berupa armada alat-alat berat. Tapi dua hal yang perlu dicatat disini adalah: 1. PTRO hanya perlu melikuidasi asetnya jika terjadi skenario terburuk, yakni perusahaannya bangkrut, dan 2. Margin of safety sebesar Rp600 milyar tadi mungkin akan berkurang, tapi tidak akan sampai nol sama sekali, karena angka Rp600 milyar tersebut sebelumnya juga sudah dikurangi Rp300 milyar (karena alasan konservatif seperti yang sudah kita bahas diatas). Catat pula bahwa margin of safety tersebut dihitung berdasarkan kepemilikan aset perusahaan pada saat ini, atau dengan kata lain, margin of safety tersebut dihitung berdasarkan asumsi bahwa kedepannya, PTRO tidak akan mampu meraih laba bersih sama sekali. Dan penulis kira ini adalah salah satu asumsi paling konservatif yang pernah ada.


Armada alat-alat berat milik PT Petrosea

Jadi kesimpulannya, jelas bahwa LKH masuk ke PTRO karena satu alasan sederhana: Sahamnya murah dan menawarkan keuntungan yang lumayan, bahkan jika kita mengambil skenario terburuk yang mungkin terjadi pada perusahaan. Sementara jika sektor batubara benar-benar pulih sesuai harapan, maka keuntungan yang diperoleh bisa berkali-kali lipat.
However, seperti halnya LKH memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memperoleh keuntungan signifikan dari saham-saham lainnya, maka untuk PTRO ini beliau sudah pasti tidak berharap bahwa ia akan bisa menjualnya besok sore untuk memperoleh keuntungan 100%. Dan karena LKH mengambil 65.9 juta lembar saham PTRO, padahal saham PTRO yang dipegang investor publik cuma 305 juta lembar, maka bisa dipastikan kedepannya PTRO ini bakalan jadi nggak likuid, apalagi jika para investor yang lain juga melakukan aksi hold, sehingga PTRO praktis sangat tidak cocok untuk trading. Jika anda berharap bisa menjualnya dalam waktu kurang dari 1 tahun, then this stuff is not for you.
Sementara dalam situasi pasar yang lagi down seperti sekarang, maka jujur saja ada banyak saham-saham lain yang juga menarik terutama dari kalangan blue chip, dimana saham-saham ini bisa dipastikan bakal langsung naik jika nanti indeks pada akhirnya pulih juga, sementara PTRO ini sama sekali tidak bisa diprediksi kapan dia akan naik (jika IHSG naik, dia belum tentu akan ikut naik). Tapi berhubung kita tentunya juga nggak tahu kapan IHSG bakal pulih, atau malah turun lagi, maka PTRO ini sangat cocok sebagai pilihan alternatif.
PT Petrosea, Tbk.
Rating Kinerja pada Q3 2013: BBB
Rating saham pada 1,290: [...]

Apa Itu Tapering?

Bulan Desember ini mungkin menjadi ‘bulan harap-harap cemas’ bagi para investor dan trader (meski bagi investor tertentu, mereka cemas setiap bulan, setiap hari), karena terdapat banyak isu yang dikhawatirkan bakal menyebabkan IHSG rontok lagi, padahal posisi IHSG sendiri sudah sangat rendah. Salah satu isu tersebut adalah masalah tapering, dan memang soal tapering itulah yang akan kita bahas di artikel kali ini.

Sebelum kita masuk ke pembahasan soal tapering, saya ingin terlebih dahulu mengomentari soal kenaikan BI Rate, yang terakhir sudah mencapai 7.50% (dan masih bisa naik lagi). Kenaikan BI Rate, seperti yang anda ketahui, bertujuan untuk mengurangi jumlah uang Rupiah yang beredar, dimana itu diharapkan akan mampu menekan tingkat inflasi (baca lagi penjelasannya disini) sekaligus menguatkan kembali nilai Rupiah, yang pada saat ini sudah sempat menembus level Rp12,000-an per US Dollar. Jadi jika dilihat dari sisi ini maka kenaikan BI Rate sebenarnya bagus buat perekonomian.
Tapi disisi lain kenaikan BI Rate juga bisa berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi, karena bisa menyebabkan bank-bank menjadi lebih ketat dalam menyalurkan kreditnya, termasuk juga ke sektor properti (kredit KPR). Kenaikan tingkat suku bunga karena kenaikan BI Rate juga bisa menyebabkan usaha perbankan menjadi lebih rawan terhadap risiko kredit macet, yang pada akhirnya menyebabkan bank yang bersangkutan menjadi merugi. Tapi sejauh ini hal tersebut tidak terbukti dimana secara historis, kinerja sektor perbankan dalam jangka panjang tetap saja bagus, tak peduli BI Rate naik atau turun (baca penjelasannya disini).
Karena itulah, ketika BI Rate entah itu dinaikkan, tetap, atau diturunkan, sebenarnya tidak bisa langsung ditafsirkan apakah akan berdampak baik atau buruk terhadap perekonomian. Kenaikan BI Rate bisa berarti baik jika tujuannya tercapai sementara ‘efek samping’ yang dihasilkan tidak terlalu signifikan. Disisi lain, kenaikan BI Rate juga bisa berarti buruk jika gagal mencapai tujuannya, sementara efek samping yang dihasilkan malah lebih dominan.
Tapi jika kita mengasumsikan bahwa orang-orang di BI tentunya sangat paham tentang arah kebijakan moneter, maka berapapun posisi BI Rate pada saat ini dan juga posisi BI Rate di masa yang akan datang, maka itu adalah yang terbaik bagi perekonomian nasional, atau setidaknya begitulah menurut Agus Marto dkk. Intinya adalah, mau BI Rate berada di posisi 5%, 6%, 7%, atau berapapun, maka itu adalah yang paling sesuai dengan situasi ekonomi Indonesia. I mean, anda tentu sepakat bahwa Agus Marto bukanlah tipe pengangguran banyak omong macam Farhat, atau politisi tukang debat macam Ruhut, melainkan dia memang ngerti ekonomi.
Okay, lalu apa hubungan hal ini dengan Tapering?
Istilah ‘tapering’ sebenarnya merupakan istilah dalam dunia olahraga, yaitu situasi dimana sang atlet beristirahat/mengurangi porsi latihan pada satu hari persis sebelum pertandingan. Misalnya jika Mike Tyson akan tanding tinju pada tanggal 5 Juni, maka tentu ia akan dengan disiplin berlatih jauh-jauh hari sebelumnya, bisa sampai berbulan-bulan sebelum pertandingan. Tapi persis satu hari sebelum pertandingannya, yakni pada tanggal 4 Juni, ia akan beristirahat total, mungkin dengan hanya menonton televisi seharian dirumah. Kondisi istirahat itulah yang disebut dengan tapering.
Sementara dalam dunia ekonomi khususnya moneter, tapering adalah pengurangan pembelian obligasi oleh Federal Reserve (The Fed, bank sentral Amerika). Jadi awalnya, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, The Fed mencetak uang Dollar dalam jumlah tertentu untuk kemudian disalurkan ke masayarkat, dengan cara membeli obligasi yang diterbitkan perusahaan-perusahaan. Kebijakan ini dikenal dengan istilah quantitative easing (QE). Dengan meningkatnya uang beredar di masyarakat, maka diharapkan tingkat konsumsi dll juga akan meningkat, yang pada akhirnya menumbuhkan perekonomian.
Jumlah uang baru yang dicetak dan disalurkan mencapai US$ 80 milyar setiap bulannya, atau ada juga yang bilang US$ 85 milyar. Sudah tentu, The Fed tidak bisa terus menerus menyalurkan uang sebanyak itu ke pasar, karena bisa menyebabkan inflasi dan melemahkan nilai mata uang US Dollar itu sendiri.
Jadi setelah mencapai batas tertentu, penyaluran uang tersebut harus dikurangi, dan inilah yang dimaksud dengan tapering. Kenapa disebut tapering? Ya karena tujuannya untuk ‘mengistirahatkan’ perekonomian setelah sebelumnya didorong untuk ‘berlatih’ terus menerus. Berlatih untuk apa? Untuk bisa bertumbuh. Ketika perusahaan/masyarakat Amerika menerima duit dari The Fed, maka itu bukan berarti perekonomian secara otomatis bisa langsung tumbuh lagi, melainkan masyarakat harus memutar uang tersebut untuk konsumsi, investasi dll, kemudian baru perekonomian akan tumbuh. Upaya masyarakat dalam ‘memutar’ uang itulah, seperti contohnya pengusaha yang segera membangun pabrik setelah memperoleh pinjaman bank, yang bisa dianalogikan sebagai ‘latihan’ untuk tujuan untuk meningkatkan taraf hidup mereka sendiri, dan pada akhirnya menumbuhkan perekonomian negara secara keseluruhan.
Tapi sudah tentu, seperti halnya atlet olahraga sungguhan, masyarakat juga harus beristirahat dari kegiatan ‘memutar uang’ ini setelah beberapa waktu tertentu, dan itulah kenapa tapering ini diperlukan. Sebab jika The Fed terus menerus menyalurkan uang baru ke masyarakat sementara masyarakat itu sendiri sudah ‘kecapean’, maka uang baru tersebut tidak akan membantu menumbuhkan perekonomian, melainkan hanya akan menyebabkan inflasi.
Jadi sedikit berbeda dengan kenaikan BI Rate dimana tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah uang Rupiah yang beredar, tapering ini bertujuan untuk mengurangi kenaikan dari jumlah uang Dollar yang beredar (jadi The Fed tetap menyalurkan/menambah jumlah uang Dollar yang beredar masyarakat, hanya saja jumlah penambahannya yang dikurangi). Namun kekhawatiran pasar tetap sama: Jika jumlah uang yang beredar berkurang, maka artinya tidak ada uang baru yang bisa dibelanjakan, dan itu bisa menghambat perekonomian. Alhasil ketika BI Rate bulan lalu dinaikkan, IHSG langsung jatuh. Demikian pula jika nanti tapering benar-benar jadi diberlakukan, maka Dow Jones bisa jatuh juga. Dan jika Dow udah jatuh, biasanya IHSG akan ikut terseret turun.
Tapi apakah kejatuhan/penurunan indeks saham tersebut terjadi untuk jangka waktu yang cukup panjang ataukah hanya sementara? Well, itulah yang kita nggak tahu. Kalau pake contoh IHSG, posisi BI Rate kita pada saat ini sudah sangat jauh dibanding posisi awalnya sebelum mulai dinaikkan, yakni 5.75% (sekarang sudah 7.50%), dan alhasil IHSG juga sudah turun lumayan dalam jika dibandingkan dengan posisi puncaknya yakni 5,200-an (malah sempat sampai 3,900, tapi langsung naik lagi). Meski satu hal yang juga perlu dicatat disini adalah bahwa IHSG bisa naik sampai 5,200 pada April lalu lebih karena didorong oleh euforia masuknya dana asing, ketimbang faktor fundamental.
Sementara untuk Dow Jones, karena tapering itu sendiri sampai sekarang masih belum diberlakukan, maka indeksnya masih naik terus. Tapi sejak meredanya isu ‘United States Shutdown’ beberapa waktu lalu, sudah banyak pengamat/analis yang mengingatkan akan ‘bahaya-nya’ tapering ini. Well, kalau kita baca lagi penjelasan diatas, sebenarnya tapering itu justru akan berdampak positif. Jika nanti The Fed akhirnya memberlakukan tapering, maka itu berarti Amerika sudah sampai pada kondisi dimana tapering itu diperlukan. Jika sampai sekarang The Fed belum memberlakukan tapering, maka itu berarti tapering tersebut belum dibutuhkan. As simple as that, and nothing is to worry about.
However, ini bukan berarti Dow Jones tidak akan terkoreksi sewaktu-waktu nanti, entah ketika tapering itu akhirnya diberlakukan, atau ditunda lagi. Kalau anda cek valuasi saham-saham yang menjadi komponen Dow, banyak diantaranya yang sudah mencatat PER diatas 20 kali, alias sudah mahal. Sebagai perbandingan, rata-rata PER di BEI saat ini, untuk kesepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar diluar UNVR dan HMSP (sebab dua saham ini naudzubilah mahalnya), adalah kurang dari 11 kali.
Karena itulah kalau dari sisi valuasi, Dow memang rawan untuk terkoreksi, meski tentunya kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Tapi intinya adalah, soal tapering itu sama sekali tidak menjadi masalah, dimana itu hanyalah cerita lainnya lagi setelah Euro Crisis, Greek Crisis, Debt Ceiling, Fiscal Cliff, dan United States Shutdown. Trust me, nanti setelah cerita tapering ini menghilang dengan sendirinya pasti akan ada cerita lainnya lagi, dan cerita lainnya lagi, dan begitu terus sampai.. selamanya, yakni selama pasar saham itu sendiri ada. Jika anda termasuk yang masih mudah khawatir oleh cerita-cerita seperti ini, maka tenang saja, nanti juga anda akan terbiasa kok :)

Anyway, melalui blog ini penulis akan berusaha untuk terus menyampaikan update mengenai isu-isu terbaru terkait perekonomian nasional maupun global, so just stay tune.

NB: Penulis membuat buku berjudul ‘Superinvestor’, anda bisa memperolehnya disini. Penulis juga membuat buku berisi kumpulan analisis dan rekomendasi saham berdasarkan analisis fundamental, dan anda bisa memperolehnya [...]

Seminar Lo Kheng Hong

Dear investor, berikut ini adalah rekaman suara Bapak Lo Kheng Hong ketika beliau mengisi seminar di acara Investor Summit & Capital Market Expo 2013 di Jakarta, hari Kamis tanggal 28 September 2013 kemarin. Tidak banyak yang ia sampaikan dalam kesempatan seminar tersebut, namun penulis kira apa yang beliau sampaikan tetap bermanfaat khususnya bagi kita semua para investor di pasar saham. Oke, langsung saja.

Secara umum, berikut adalah beberapa poin yang disampaikan oleh Pak LKH
  1. Pilihlah saham yang bisnisnya sederhana dan mudah, namun memiliki fundamental bagus. Sebagai contoh saham Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). Saya (LKH) membeli sahamnya pada harga 400 (harga sebelum stocksplit), sehingga kemudian meraup keuntungan sekitar 6,000% dalam waktu 3 (atau 4) tahun.
  2. Anda mau coba invest dimanapun, apakah itu deposito, emas, properti, tapi tidak ada satupun diantaranya yang mampu menghasilkan keuntungan sebesar keuntungan yang dihasilkan dari investasi di saham. Saya menjadi kaya karena 100% hanya berinvestasi di saham, dan juga nggak ada pekerjaan lain.
  3. Seluruh produk-produk dari perusahaan publik (perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa), mulai dari pasta gigi pepsodent hingga restoran KFC, semuanya sangat bermanfaat terhadap kehidupan sehari-hari orang banyak, sehingga dengan berinvestasi di pasar saham maka kita turut memajukan perekonomian nasional.
  4. Sebagian besar waktu saya digunakan untuk membaca, membaca, dan membaca. Saya nggak suka kemana-mana (kecuali keluar negeri sekalian), melainkan duduk aja di taman kecil di rumah, untuk membaca, mulai dari membaca laporan keuangan, berita-berita perusahaan, dan lain-lain yang berhubungan dengan emiten dan saham. Buffett juga kerjaannya begitu: Membaca, bahkan hingga usianya 80-an seperti sekarang, ia masih menghabiskan 6 jam sehari untuk membaca.
  5. Belilah saham yang harganya lebih rendah dibanding nilai intrinsiknya. Menghitung nilai intrinsik memang agak rumit, tapi itu bisa dipelajari.
Okay, kurang lebih gitu aja, selamat mendengarkan, semoga bermanfaat!
Catatan: Mohon maaf di videonya gak ada gambarnya sama sekali karena saya nggak ngerti juga cara mengeditnya gimana. Terus suaranya agak kecil dan juga agak kurang jelas karena saya merekamnya pake handphone, tapi itu bisa diakali dengan mendengarkannya melalui peralatan audio yang bagus, misalnya melalui speaker Simbadda/Altec Lansing yang biasa dipakai untuk mendengarkan musik di komputer.
NB: Penulis  merekam seminar yang penulis selenggarakan pada tanggal 7 Desember lalu dalam bentuk CD, dan anda bisa membeli CD-nya

Tempo Scan Pacific

Dari sisi kualitas fundamental, Tempo Scan Pacific (TSPC) sebenarnya tidak kalah bagusnya dibanding Kalbe Farma (KLBF), namun saham perusahaan milik Grup Tempo ini tidak begitu likuid. However, ketidak likuidannya tersebut turut menyebabkan valuasi TSPC ini menjadi lebih murah dari KLBF, dan saham ini mungkin menjadi menarik untuk diperhatikan setelah turun terus belakangan ini, total penurunannya hampir 30% dalam enam bulan terakhir. Meski BEI kini dipenuhi oleh cukup banyak saham-saham undervalue, namun TSPC mungkin juga menarik untuk diperhatikan mengingat jenis sektornya yang aman dari sentimen negatif, dan pergerakan sahamnya juga tidak begitu dipengaruhi oleh fluktuasi IHSG yang hingga saat ini masih bearish(beta-nya kurang dari 1).

Kebanyakan orang mengenal TSPC sebagai perusahaan farmasi, dan hal itu memang benar. TSPC adalah pemilik dari beberapa merk obat ringan/multivitamin yang cukup terkenal, seperti Bodrex, Contrexyn, Oskadon, Hemaviton, dan Neo Rheumacyl. Selain obat warung, TSPC juga memproduksi/menjadi prinsipal bagi obat-obatan yang khusus dijual di apotek, memproduksi obat-obatan yang kemudian dijual ke perusahaan farmasi lain, termasuk menjadi pemegang lisensi bagi beberapa merk obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi luar negeri.
Namun TSPC tidak hanya menjual produk-produk farmasi, melainkan juga memproduksi produk-produk kebutuhan sehari-hari dan kosmetik. Untuk produk kebutuhan sehari-hari, beberapa merk yang dimiliki perusahaan adalah Nivea, Zwitsal (keduanya diproduksi untuk Unilever/UNVR), Marina Hand & Body Lotion, My Baby, pembersih lantai dan pembersih piring SOS, pasta gigi dan obat kumur Mouthwash Total Care, dan sabun mandi Claudia. Untuk kosmetik? Ada Marina, Revlon, Estee Lauder, Aramis, hingga DKNY. Pada Kuartal III 2013, produk-produk kebutuhan sehari-hari dan kosmetik ini menyumbang pendapatan sebesar Rp1.2 trilyun, atau tidak begitu jauh dibanding pendapatan dari produk-produk farmasi sebesar Rp1.5 trilyun. Jadi dalam hal ini TSPC memang agak berbeda dengan KLBF yang fokus pada produksi obat-obatan dan makanan/minuman bernutrisi, tapi tidak memproduksi sabun mandi atau kosmetik sama sekali.
Koleksi produk-produk kebutuhan sehari-hari dan kosmetik milik PT. Tempo Scan Pacific, Tbk
Meski model bisnisnya mirip-mirip UNVR, namun kinerja TSPC dari sisi rasio profitabilitas jauh dibawah perusahaan asal Belanda tersebut, yang mungkin karena jumlah konsumen/pengguna dari produk kebutuhan sehari-hari dan kosmetik milik TSPC tidak sebanyak pengguna produk-produk yang sama milik UNVR. Tapi dari sisi konsistensi kinerja dalam jangka panjang, serta tingkat kemapanan perusahaan, maka TSPC sama bagusnya dibanding UNVR maupun KLBF (tingkat kemapanan TSPC bisa dilihat dari posisi aset lancarnya yang besar, dan jumlah utang bank/obligasinya yang nyaris nol, jadi kenaikan/penurunan BI Rate tidak berpengaruh apapun). Jika anda perhatikan, meski sektor consumer goods termasuk didalamnya industri farmasi menawarkan pertumbuhan yang konsisten dalam jangka panjang, namun bukan berarti semua perusahaan di sektor ini memiliki kinerja yang konsisten tersebut. Namun bagi TSPC, kinerjanya dalam lima tahun terakhir telah tumbuh secara moderat namun pasti, buah dari pengalaman perusahaan merintis usahanya sejak tahun 1970. Yang terbaru, kalau anda lewat di Jln. Rasuna Said, Jakarta, anda akan bisa melihat menara Tempo Scan yang berdiri dengan megahnya. Menara tersebut memang baru selesai dibangun sekitar setahun lalu.
Karena perusahaannya sudah mapan, maka praktis tidak ada yang bisa diceritakan mengenai rencana pengembangan/ekspansi perusahaan kedepannya, kecuali secara rutin meluncurkan produk-produk baru atau mengemas produk lama dengan kemasan baru yang lebih fresh di mata konsumen. Tapi terkait dengan rencana Pemerintah menyelenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BJPS) mulai tahun 2014 mendatang, dimana hal itu kemungkinan akan berdampak positif bagi perusahaan-perusahaan farmasi, maka TSPC sebagai perusahaan yang mapan berpeluang untuk secara maksimal memanfaatkan momentum BPJS tersebut. Pihak perusahaan sendiri sudah mulai me-registrasi-kan beberapa jenis produk farmasinya untuk ikut serta dalam program tersebut.
Lalu bagaimana dengan isu buruh yang terus menerus demo minta naik gaji? Nah, kalau untuk yang satu ini, TSPC sebagai perusahaan padat karya (mempekerjakan banyak pegawai blue collar) memang turut terkena imbasnya, dan hal itu pula yang menyebabkan pendapatannya pada Kuartal III 2013 hanya naik 3.7%, hasil dari adanya gangguan produksi karena sebagian pekerjanya ikut-ikutan mogok kerja. Pabrik utama milik TSPC memang terletak di salah satu Kawasan Industri di Cikarang, Jawa Barat, dimana disitulah pusat ‘pergerakan’ para kaum buruh tadi. Dan sebenarnya mungkin hal ini pula yang menyebabkan penurunan saham TSPC belakangan ini, karena kalau kita menyaksikan di televisi, para buruh itu masih ngotot minta gaji Rp3.7 juta per bulan, sementara Jokowi hanya menyetujui Rp2.4 juta.
Dan bahkan kalaupun para buruh yang bekerja di TSPC tidak ikut mogok, perusahaan tetap harus menghadapi kenaikan biaya produksi yang signifikan karena kenaikan upah buruh menjadi Rp2.4 juta tadi (tahun kemarin hanya Rp2.2 juta).
Anyway, penulis sendiri menganggap bahwa kenaikan upah buruh adalah sesuatu yang biasa dan wajar, yang secara rutin dihadapi perusahaan manapun setiap tahunnya. Dan hal itu biasanya bisa dengan mudah diatas dengan cara menaikkan harga jual produk secara pelan-pelan, terutama jika perusahaan yang bersangkutan bergerak di industri consumer goods, seperti halnya TSPC ini. Contohnya, jika sebelumnya harga satu strip Bodrex di warung kelontong adalah Rp3,000, maka ketika harganya dinaikkan menjadi Rp3,500, saya tidak berpikir bahwa orang yang sakit kepala menjadi berubah pikiran dan nggak jadi beli Bodrex ini.
Karena itulah, penurunan harga saham TSPC tetap merupakan sebuah opportunity. Sekarang, bagaimana valuasinya? Apakah benar-benar sudah murah?
Pada harga saham 3,300, PER TSPC tercatat 19.3 kali, sementara PBV-nya 3.9 kali. Untuk tahun buku 2012 lalu, perusahaan membayar dividen Rp75 per saham, yang itu berarti dividend yield-nya 2.3%. Bagi para investor tipe bargain hunter, ini bukan valuasi yang cukup murah. Tapi bagi investor yang menginginkan jenis investasi dengan risiko rendah, maka valuasi tersebut relatif sudah cukup masuk akal. You know, jika bicara investasi jangka panjang di sektor farmasi, maka orang-orang selalu menunjuk KLBF, KLBF, dan KLBF lagi (KAEF dan INAF ntar dulu deh). Tapi kalau berkaca pada valuasinya yang demikian tinggi, maka keputusan untuk membeli KLBF pada harganya saat ini adalah seperti membeli TSPC pada harga 4,500-an, alias terlalu mahal dan terdapat risiko kerugian yang bukan berasal dari perubahan fundamental atau penurunan kinerja perusahaan, melainkan dari kemungkinan berubahnya persepsi pasar bahwa valuasi KLBF memang seharusnya bisa lebih murah.
Dan berdasarkan pengalaman, saham-saham consumer memang seringkali turun signifikan bukan karena perusahaannya jadi jelek atau bangkrut, tapi memang karena harganya sebelumnya udah kelewat mahal aja. Contoh paling terbaru adalah penurunan harga Unilever (UNVR), dan Charoen Pokphand (CPIN), dimana kedua saham tersebut pada harganya masing-masing di 30,000-an dan 4,500-an memang mahal dilihat dari sisi manapun. Sementara TSPC? Ya sama juga demikian, dimana PBV 5.5 kali pada harga saham diatas 4,500 jelas tidak murah untuk ukuran perusahaan dengan ROE yang hanya 20.3%.
Tapi berhubung sekarang harganya memang sudah di level 3,300-an, maka saham ini mulai layak koleksi, minimal nyicil dulu lah. Kalau anda benar-benar pengen dapetin harga murah, maka idealnya tunggu TSPC ini di harga 2,500 – 2,800, yang mencerminkan PBV 3.0 – 3.3 kali. Ingat sekali lagi bahwa fluktuasi IHSG tidak begitu berpengaruh terhadap pergerakan saham TSPC ini, sehingga anda bisa membelinya kapanpun selama harga belinya ideal.
PT. Tempo Scan Pacific, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: AA
Rating saham pada 3,300: A
NB: Penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham dengan teman ‘Menghitung Nilai Intrinsik/Harga Wajar Saham’, sebuah tema yang penulis pikir cocok dengan kondisi pasar saat ini dimana terdapat cukup banyak saham-saham yang dijual murah. Keterangan lebih lanjut baca disini.

Artikel minggu depan adalah mengenai isu Tapering, another story from the United [...]

Seminar Nilai Intrinsik

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Jakarta, dengan tema menghitung nilai intrinsik/harga wajar saham. Berikut keterangan selengkapnya:

Berikut adalah rekaman suara penulis (rekaman suara, bukan video) ketika mengisi seminar sebelumnya. Durasi rekamannya 45 menit, sementara total seminarnya lebih dari 4 jam, sudah termasuk sesi tanya jawab:

Dan berikut ini adalah kisi-kisi materi untuk seminar kali ini.
A. Nilai intrinsik saham. Warren Buffett pernah mengatakan bahwa salah satu kriterianya dalam memilih saham/perusahaan untuk dibeli/diakuisisi adalah adanya harga yang jelas, dan dia tidak tertarik untuk ikut lelang. Maksudnya adalah, Buffett hanya mau membeli saham yang harganya wajar, atau kalau bisa undervalue, yaitu lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Nah, bagi investor kebanyakan, terkadang kesulitannya adalah terkait bagaimana cara untuk menentukan nilai intrinsik/harga wajar saham tersebut. Karena itulah, di seminar kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara menghitung nilai intrinsik, bagaimana cara menyeleksi saham yang bisa dihitung nilai intrinsiknya, hingga faktor-faktor eksternal yang juga harus diperhatikan. Plus, penulis juga akan meng-share beberapa saham yang menurut penulis memiliki nilai intrinsik yang menarik.
Catatan: Materi tentang nilai intrinsik ini sudah lebih diperbaiki/dilengkapi setelah beberapa waktu terakhir ini penulis banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku The Intelligent Investor dan Security Analysis karya Benjamin Graham. Anda juga bisa memperoleh bukunya disini, gratis!
BBelajar dari Annual Letter Warren Buffett. Anda mungkin sudah sering membaca tulisan tentang Warren Buffett, namun pernahkah anda membaca tulisan yang ditulis oleh Buffett sendiri? Buffett memulai karier-nya sebagai fund manager pada tahun 1956, dan sejak itu ia rutin menulis surat tahunan (Annual Letter) tentang kegiatan investasinya, termasuk bagaimana metode investasinya, kepada para partnernya minimal setahun sekali. Penulis kebetulan sudah membacanya, dan dari situ ada banyak pelajaran yang bisa dipetik seperti: 1. Filosofi investasi ala Buffett, yang menjadikannya sukses seperti sekarang ini, 2. Metode investasi dan pemilihan sahamnya, dan 3. Cara untuk mengatasi koreksi/penurunan pasar, dalam hal ini penurunan Dow Jones (kalau di Indonesia, penurunan IHSG). Dan dalam seminar kali ini, kita akan membahas paling tidak ketiga poin tersebut.

Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:

  1. Mengetahui cara menghitung nilai intrinsik, menentukan margin of safety, dan menerapkannya dalam kegiatan investasi anda.
  2. Lebih tenang dan fokus dalam setiap pengambilan keputusan karena anda mengetahui bahwa anda membeli saham yang bagus dan murah, dan
  3. Mampu meraih keuntungan jangka panjang yang konsisten.
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin CityMall Thamrin City Lantai 6, Jln. Thamrin Boulevard, Jakarta Pusat (sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu7 Desember 2013
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB. Jika nanti ada banyak pertanyaan setelah penyampaian materi seminarnya (di akhir acara akan diadakan sesi tanya jawab dan diskusi bebas), maka acaranya bisa diperpanjang sampai pukul 17.00.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi

Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp400,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Gareth Frank Bale, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda hubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Prospek IPO Sido Muncul

IPO dari PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (Sido Muncul) mungkin menarik untuk diperhatikan tidak hanya karena nama besar perusahaannya, tapi juga karena sektornya yang sangat menarik yakni sektor farmasi (obat-obatan) jenis herbal, atau yang biasa disebut dengan jamu. Seperti yang kita ketahui, sektor farmasi adalah salah satu sektor yang paling menguntungkan di Indonesia, dan Sido Muncul sepertinya juga merupakan salah satu perusahaan terbaik di sektor ini. Pada tahun penuh 2012, perusahaan mencatat laba bersih Rp388 milyar, yang mencerminkan return on asset (ROA) 18.0%. Untuk perbandingan, pada periode yang sama, Kalbe Farma (KLBF) yang notabene merupakan perusahaan farmasi terbaik di BEI, juga mencatatkan ROA 18.8%.

Sementara jika kita memperhatikan data kinerja historis perusahaan setidaknya hingga lima tahun kebelakang, maka Sido Muncul ini bahkan relatif lebih bagus dibanding KLBF. Anyway, mari kita pelajari lagi Sido Muncul ini dari awal.
Sejarah Sido Muncul dimulai sejak tahun 1940 di Yogyakarta, dimana seorang pengusaha bernama Ibu Rahkmat Sulistioningsih merintis usaha jamu tradisional dari rumahnya, dengan dibantu oleh tiga orang karyawan. Usaha tersebut berjalan sukses, dan pada tahun 1951 berdirilah perusahaan dengan nama ‘Sido Muncul’ yang bermakna ‘Impian yang Terwujud’. Pabrik pertama milik perusahaan berlokasi di Semarang, dengan produk utamanya yakni jamu Tolak Angin, yang kemudian menjadi produk andalan perusahaan hingga saat ini.
Pada tahun 1972, tampuk kepemimpinan perusahaan diserahkan kepada Irwan Hidayat, yang merupakan cucu dari Ibu Rahkmat. Tiga tahun kemudian yakni pada tahun 1975, Sido Muncul resmi berbadan hukum (menjadi PT). Namun perkembangan perusahaan selanjutnya terbilang lamban, dimana kegiatan ekspansi yang dilakukan biasanya hanya berupa perluasan pabrik atau penggantian mesin-mesin yang ada dengan mesin baru yang lebih modern. Sido Muncul baru memiliki pabrik keduanya pada tahun 2000, berlokasi di Ungaran.

Logo Sido Muncul yang menggambarkan Ibu Rahkmat beserta cucunya yang ketika itu berusia 4 tahun, Pak Irwan Hidayat

Perkembangan perusahaan yang lamban tersebut kemungkinan karena perusahaan memang tidak memerlukan pengembangan apapun. Sebelum menjadi perusahaan yang bernilai trilyunan Rupiah seperti sekarang ini, Sido Muncul sejak awal sudah merupakan perusahaan yang menguntungkan karena fokus pada produk obat-obatan ringan dan makananan/minuman bernutrisi, seperti obat masuk angin, obat panas dalam, hingga minuman berenergi, dimana jenis produk tersebut dikonsumsi oleh orang banyak secara terus menerus (berbeda dengan obat diabetes, misalnya, yang tentunya hanya dikonsumsi oleh penderita diabetes). Selain itu karena perusahaan mengambil bahan baku dari jenis-jenis tanaman yang mudah diperoleh dari alam bumi nusantara, seperti kunyit, jahe, temu lawak, kayu manis, lengkuas, dan pasak bumi (kalau anda pernah mampir ke pasar tradisional, anda bisa melihat sendiri bahwa harga kunyit emang murah banget), maka biaya produksinya menjadi rendah dan alhasil margin laba bersihnya menjadi besar.
Tapi faktor jenis produk dan murahnya harga bahan baku tentunya tidak bisa menjadi jaminan kesuksesan sebuah perusahaan. Bagi Sido Muncul, kunci kesuksesan perusahaan hingga menjadi besar seperti sekarang ini adalah berkat dua merk produknya yang terkenal, yakni Jamu Tolak Angin dan Jamu Kuku Bima. Berkat dua produk itu pula, Sido Muncul sejak dulu praktis merupakan pesaing utama PT Bintang Toedjoe (anak usaha Kalbe Farma/KLBF) di industri obatan-obatan herbal alias jamu. Jika diibaratkan PT Bintang Toedjoe ini adalah Unilever, maka Sido Muncul adalah Grup Wings.
Tapi belakangan ini seperti halnya Grup Wings yang berekspansi dengan meluncurkan mie dan kecap Sedaap, Sido Muncul juga mulai menggeliat dengan mengembangkan produk-produk baru seperti Minuman Alang Sari, Kunyit Asam, Beras Kencur, hingga Jahe Wangi. Dan sejauh ini produk-produk tersebut juga cukup sukses dipasaran.
Sayangnya seperti yang sudah penulis duga sebelumnya, perusahaan bagus model gini biasanya tidak akan dilepas begitu saja oleh pemiliknya, bahkan meski melalui mekanisme IPO. Sebab dilihat dari sisi manapun, Sido Muncul sama sekali tidak membutuhkan bantuan pendanaan bahkan jika mereka berniat untuk mendirikan pabrik baru dll, karena posisi dana cash mereka yang sangat melimpah. Jadi kecuali perusahaannya bisa di-IPO-kan dengan hanya melepas sedikit saham pada harga jual yang premium, maka lebih baik tidak perlu IPO sama sekali.
Dan ternyata memang benar. Pada IPO-nya kali ini, hanya 10% saham Sido Muncul yang dilepas ke publik, itupun 1% dialokasikan untuk karyawan perusahaan (sehingga yang benar-benar dilempar ke investor publik hanya 9%). Harganya? Yang jelas tidak murah. Saham Sido Muncul direncanakan akan dilepas pada harga sekitar Rp600 per saham, sehingga mencerminkan kapitalisasi pasar (market cap) Rp9 trilyun. Karena modal bersih perusahaan pasca IPO adalah sekitar Rp2.1 trilyun, maka itu berarti PBV-nya 4.2 kali. Mahal? Secara absolut, ya, karena PBV yang wajar bagi saham perusahaan dengan kualitas fundamental seperti Sido Muncul ini adalah 2 atau 3 kali (kalau Sido Muncul nanti masuk kelompok bluchip, maka baru deh boleh lebih mahal dari itu).
Tapi secara relatif, mungkin tidak. Kalau kita pakai PBV KLBF yang saat ini tercatat 8.1 kali pada harga 1,280 sebagai perbandingan, maka harga IPO Sido Muncul terbilang masih wajar karena cuma setengahnya. Kalau kita bicara prospek jangka panjangnya pun, boleh dibilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengingat tipikal bisnis perusahaan yang tahan terhadap gejolak perekonomian. You know, kalau anda sakit jantung dan harus segera dirawat, maka sebelum masuk ruang rumah sakit anda akan dihadang oleh petugas administrasi. Tapi kalau anda sakit perut karena masuk angin, maka anda bisa langsung ke warung kelontong terdekat untuk membeli Tolak Angin seharga Rp1,500 saja per sachet-nya.
However, jika dua atau tiga tahun lalu saham-saham IPO senantiasa diburu oleh investor karena biasanya harganya langsung melejit ketika listing perdana, maka sekitar setahunan terakhir ini kondisinya berbalik, dimana terdapat banyak saham IPO yang tidak hanya tidak naik di hari pertama dia listing, tapi malah turun. Sementara yang naik malah justru saham-saham yang secara fundamental nggak jelas, dan biasanya berakhir dengan penurunan gila-gilaan, seperti kasus Gading Development (GAMA).
Karena itulah, meski Sido Muncul ini tidak diragukan lagi merupakan perusahaan yang bagus dan seharusnya juga bisa dipilih untuk investasi jangka panjang, namun sebaiknya kita lihat saja dulu, bagaimana movement-nya nanti di market (pengalaman di SMBR dan WIIM nih). Tapi yang bisa penulis katakan adalah, jika nanti Sido Muncul ternyata benar-benar turun setelah listing, maka penurunan tersebut akan berhenti pada batas tertentu, untuk selanjutnya dalam jangka panjang dia akan naik lagi. Jadi anda bisa membelinya ketika dia turun hingga mentok tersebut. Hal ini pernah terjadi pada saham ICBP yang dulu sempat turun dari harga IPO-nya (5,350) hingga mentok di 4,000-an, tapi sekarang dia sudah berada di level 10,000-an.
Sementara jika dia malah sukses naik? Ya sudah biarin aja. Karena dalam kondisi pasar yang masih linglung seperti sekarang, terdapat banyak saham-saham lain yang lebih menarik karena lebih murah, baik secara relatif maupun absolut.
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk
Rating Kinerja per Juli 2013: AA
Rating Saham pada 600: A

Bagi anda yang membutuhkan prospektus Sido Muncul serta materi presentasi perusahaan, anda bisa mengirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Sido Muncul’, dan penulis akan mengirim file-filenya ke alamat email anda (dalam bentuk file PDF). Don’t worry, it’s free [...]

Kenapa Harus Takut sama Asing?

Minggu lalu, tepatnya pada hari Selasa tanggal 12 November, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate menjadi 7.50%, dan keputusan tersebut segera direspon negatif oleh pasar. Pada hari selasa tersebut dan disusul keesokan harinya, IHSG turun hingga total kembali ke level 4,200-an, dimana tekanan terbesar dialami oleh saham-saham perbankan dan properti, yang diperkirakan akan terkena imbas langsung dari kenaikan BI Rate tersebut. Ketika artikel ini ditulis IHSG sudah mulai naik lagi ke posisi 4,366, namun masih belum kembali ke posisi sebelum turun.

Namun yang mungkin lebih menarik untuk dicermati adalah kembali keluarnya dana asing dalam jumlah gila-gilaan, yakni total sekitar Rp4 trilyun hanya sepanjang November ini saja. Sebenarnya karena keluarnya asing tersebut penulis kira IHSG seharusnya bisa turun hingga lebih rendah dari posisinya saat ini, namun ternyata dia masih mampu bertahan di level 4,300-an. Dan kalau berkaca pada fakta bahwa asing sepanjang tahun 2013 sudah keluar sebesar Rp15.4 trilyun, dimana ini adalah untuk kali pertama sejak tahun 2005 asing mencatatkan net buy negatif, bahkan hingga sebesar itu, maka harusnya IHSG berada di posisi yang jauh dibawah posisinya pada saat ini, jika benar asing ‘menguasai’ pasar saham kita.
Fakta inilah yang kemudian membuat penulis berpikir, benarkah asing menguasai pasar saham Indonesia? Benarkah naik turunnya IHSG ditentukan oleh keputusan para bule ini dalam membeli atau menjual saham, sementara investor lokal tidak berdaya sama sekali?
Atau jangan-jangan itu semua cuma mitos?
Karena itulah, penulis kemudian buka-buka lagi data statistik perdagangan saham di BEI di masa lalu, terutama bagian foreign net buy alias nilai dana asing yang masuk dalam satu tahun, dan data kenaikan/penurunan IHSG dalam satu tahun tersebut. Berikut rekap-nya:
Year
Net Foreign Buy
Composite Growth (%)
1997
0.4
(44.3)
1998
5.1
(0.9)
1999
12.1
70.1
2000
0.8
(38.5)
2001
4.5
(5.8)
2002
7.9
8.4
2003
9.9
62.8
2004
18.8
44.6
2005
(15.4)
16.2
2006
17.3
55.3
2007
32.6
52.1
2008
18.7
(50.6)
2009
13.3
87.0
2010
21.0
46.1
2011
24.3
3.2
2012
15.9
12.9
2013*)
(15.4)
1.8
Catatan:
  1. Net foreign buy dalam trilyun Rupiah. Kalau angkanya merah berarti negatif alias net sell. Sementara kenaikan/penurunan IHSG (composite growth) adalah dalam persen.
  2. Datanya dimulai dari tahun 1997 karena data untuk tahun-tahun sebelum itu tidak tersedia (mungkin ada sih kalau nyari, tapi data diatas udah cukup lah).
  3. Data untuk tahun 2013 adalah hingga penutupan pasar tanggal 18 November.
Okay, kita mulai dari tahun 1997. Seperti yang anda tahu, ketika itu IHSG sedang dilanda koreksi terbesarnya sepanjang sejarah akibat krisis moneter (IHSG mulai ada sejak tahun 1982), dan IHSG menutup tahun 1997 dengan turun 44.3% dibanding posisi pada awal tahun. Pada situasi ini mungkin para investor ketika itu berpikir bahwa asing ramai-ramai keluar dari pasar. Tapi faktanya pada tahun 1997 tersebut asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp400 milyar (0.4 trilyun). Jangan salah, meski untuk saat ini Rp400 milyar tersebut tampak kecil, namun ketika itu, itu adalah jumlah dana yang sangat besar.
Tahun 1998 pasar masih diselimuti sentimen negatif akibat krisis dan sempat melanjutkan penurunannya, namun pada empat bulan terakhir mampu bangkit sehingga secara keseluruhan hanya turun tipis 0.9%. Pada tahun ini asing lebih gencar masuk ke bursa sebesar total Rp5.1 trilyun. Tahun 1999, IHSG rebound signifikan dan menutup tahun tersebut dengan kenaikan 70.1%, sementara net buy asing tercatat Rp12.1 trilyun.
Berikutnya, pada tahun 2000 dan 2001, asing masih tetap belanja saham meski nilainya turun dibanding tahun 1999, yakni Rp0.8 trilyun di 2000, dan Rp4.5 trilyun di 2001. Namun pada dua tahun tersebut, IHSG kembali jeblok masing-masing 38.5% di tahun 2000, dan 5.8% di tahun 2001.
Jadi kalau kita pakai data tahun 1997 – 2001, bisa disimpulkan bahwa ketika asing meningkatkan nilai pembeliannya, maka indeks akan naik. Sementara ketika asing mengurangi belanjanya (jadi masih beli saham, hanya jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya), maka indeks turun signifikan.
Namun poinnya adalah, selama periode lima tahun tersebut asing sama sekali tidak keluar, malah jika diakumulasikan mereka telah membeli saham senilai total Rp22.9 trilyun. Tapi selama periode tersebut IHSG turun dari posisi 721 di awal tahun 1997, menjadi 392 pada akhir tahun 2001, atau secara keseluruhan telah turun 45.6% selama lima tahun. Jika berkaca pada ‘mitos’ bahwa net buy asing seharusnya menyebabkan indeks naik, maka penurunan IHSG ketika asing melakukan net buy tersebut menjadi tidak bisa dijelaskan.
Okay lanjut. Pada tahun 2002, 2003, dan 2004, asing masih terus belanja saham, dan kali ini IHSG beneran ikut naik sampai menembus level psikologis 1,000 di akhir tahun 2004. Namun pada tahun 2005, asing memutuskan untuk keluar sehingga pada tahun tersebut mereka tercatat melakukan net sell sebesar Rp15.4 trilyun. Sementara IHSG? Apakah ikut turun? Ternyata tidak. Pada tahun 2005 tersebut IHSG dengan pedenya terus melaju, dan ditutup di posisi 1,163 pada akhir tahun, atau menguat 16.2%.
Jadi sekali lagi, jika sebelumnya yakni pada periode 1997 – 2001, masuknya asing tidak mampu menolong IHSG untuk setidaknya tidak turun, maka pada tahun 2005 ketika asing ini keluar, IHSG tetap terus maju pantang mundur.
Pada tahun 2006 dan 2007, IHSG kembali naik signifikan masing-masing diatas 50%. Dan memang, pada periode dua tahun tersebut asing juga kembali belanja jor-joran. Tapi pada tahun 2008, kondisinya kembali berbalik, dimana indeks jeblok sampai lebih dari separuhnya hingga menghapus kenaikan yang terjadi dua tahun sebelumnya.
Dan apakaaaaah asing juga ramai-ramai keluar pada tahun 2008 tersebut? Ternyata tidak! Asing masih net buy ketika itu, bahkan cukup besar yakni Rp18.7 trilyun. Jadi siapa sebenarnya yang berbondong-bondong keluar dari pasar pada tahun 2008 tersebut? Ya investor lokal alias kita sendiri! Kemungkinan indeks pada tahun 2008 bisa turun sampai sedalam itu karena banyaknya peristiwa force sell yang dialami investor lokal yang belanja saham pake margin, sehingga mereka dipaksa menjual sahamnya dan itu turut membuat indeks turun semakin dalam. Kalau anda masih ingat, tahun 2007 – 2008 adalah tahun dimana saham-saham Bakrie sedang jaya-jayanya, dimana Bumi Resources (BUMI) sempat berada di posisi 8,000, dan ketika itu banyak investor yang memegangnya pake duit margin.
Namun berbeda dengan kasus 1998, market crash di tahun 2008 hanya berlangsung sebentar (sekitar sembilan bulan), dan pada tahun 2009 IHSG kembali melejit hingga mencatat rekor kenaikan 87.0%. Sementara posisi net buy asing ketika itu? Malah turun dibanding tahun 2008, yakni hanya Rp13.3 trilyun.
Dan seterusnya, dan seterusnya. Jika anda kembali menganalisis tabel diatas hingga periode tahun 2013, maka anda akan menemukan fakta bahwa net buy atau net sell asing tidak memiliki korelasi/hubungan dengan kenaikan atau penurunan IHSG. Jika asing jualan maka itu bukan berarti pasar akan turun, dan jika asing belanja, maka itu juga bukan berarti pasar akan naik. Dalam jangka sangat pendek memang mereka sekilas tampak mempengaruhi pasar. Namun dalam jangka panjang sangat jelas bahwa sebenarnya investor lokal-lah, yang lebih dominan terhadap pergerakan indeks.
Dan kalau kita pakai data nilai transaksi perdagangan saham berdasarkan jenis investornya, yakni asing versus lokal, maka sejak tahun 1997 sampai sekarang, investor lokal hampir selalu lebih dominan dibanding investor asing. Berikut datanya, angka dalam persentase, sebelumnya catat bahwa untuk tahun 2013 datanya adalah hingga penutupan pasar tanggal 18 November.
Year
Foreign (%)
Local (%)
1997
52
48
1998
42
58
1999
35
65
2000
20
80
2001
11
89
2002
8
92
2003
28
72
2004
41
59
2005
41
59
2006
30
70
2007
22
78
2008
27
73
2009
25
75
2010
31
69
2011
31
69
2012
43
57
2013*)
42
58
Okay, perhatikan bahwa kecuali untuk tahun 1997, setiap tahunnya nilai perdagangan saham oleh investor lokal selalu lebih besar dibanding investor asing, termasuk untuk tahun 2013 ini. Jika dirata-ratakan selama 17 tahun terakhir ini, maka dari nilai transaksi perdagangan saham sebesar katakanlah Rp3 trilyun dalam satu hari, maka hanya kurang dari Rp1 trilyun yang dilakukan oleh asing, sementara selebihnya yakni Rp2 trilyun tetap dilakukan oleh investor lokal.
Nah, jadi berikut adalah kesimpulan dari pembahasan kita kali ini:
  1. Pergerakan asing tidak berpengaruh terhadap pergerakan indeks. Dalam jangka pendek mereka mungkin berpengaruh, tapi dalam jangka waktu tahunan tetap investor lokal yang lebih dominan.
  2. Satu-satunya pengaruh yang dihasilkan oleh asing adalah reaksi berlebihan yang dilakukan oleh investor lokal dalam menanggapi pergerakan mereka. Ini bisa dilihat pada kasus tahun 1997 – 2001, dimana selama periode tersebut asing terus masuk namun sempat ‘mengerem’ di tahun 2000 dengan hanya mencatatakan net buy Rp0.8 trilyun, tapi IHSG pada tahun tersebut malah anjlok hingga hampir 40%.
  3. Kenaikan atau penurunan IHSG (termasuk juga kenaikan dan penurunan saham-saham) tidak selalu karena faktor fundamental, namun pada akhirnya faktor fundamental tersebut tetap berpengaruh signifikan. Pada tahun 2008 IHSG seharusnya tidak turun sampai sedalam itu, karena ketika itu perekonomian nasional sebenarnya masih relatif baik-baik saja (tidak seperti tahun 1998). Tapi karena banyaknya kasus force sell, dan mungkin juga penyebab lainnya, maka jadilah IHSG ketika itu turun terus sampai posisi angka cantik yakni 1,111. Namun pada tahun berikutnya yakni 2009, saham-saham segera naik kembali ke posisi wajarnya masing-masing, dan alhasil tahun 2009 menjadi tahun dengan kenaikan IHSG paling tinggi sepanjang sejarah, sebagai ‘kompensasi’ atas ‘penurunan berlebihan’ yang terjadi setahun sebelumnya.
Balik lagi ke soal asing. Kalau kita perhatikan, baik BEI maupun OJK seperti membiarkan asing keluar masuk bursa, dan ini berbeda dengan istrumen investasi lain seperti properti, surat utang negara, obligasi, hingga deposito, dimana aktivitas investor asing di instrumen-instrumen investasi tersebut dibatasi dengan berbagai peraturan. Namun hal ini mungkin bukan karena kedua otorita bursa tersebut pengangguran, melainkan justru disengaja karena nilai transaksi perdagangan saham di Indonesia masih kurang likuid. Sebagai gambaran, rata-rata nilai transaksi perdagangan di BEI untuk seluruh saham adalah Rp5 trilyun atau setara kurang lebih US$ 500 juta per hari. Dan berapa nilai transaksi perdagangan di bursa New York? I don’t know, tapi kalau kita ambil contoh saham Exxon Mobil, nilai transaksi perdagangannya adalah US$ 1.5 milyar per hari! Atau tiga kali lebih besar dibanding nilai transaksi seluruh saham di BEI (padahal itu baru satu saham doang, belum seluruh saham yang menjadi komponen Bursa New York).
Karena itulah, keberadaan asing di BEI diperlukan untuk menjaga likuiditas pasar. Diatas disebutkan bahwa dari nilai transaksi harian sebesar Rp3 trilyun, Rp1 trilyun diantaranya dilakukan oleh asing. Jika asing ini dilarang trading saham, maka nilai transaksi harian tersebut akan berkurang cukup signifikan menjadi hanya Rp2 trilyun saja, dan itu jelas seret banget. Kalau dilihat dari sisi ini maka wajar jika kemudian pergerakan asing ini ada juga pengaruhnya kalau dalam jangka pendek (trading harian, mingguan, hingga bulanan). Tapi dalam jangka panjang, tetap lokal yang lebih dominan.
Kalau menurut penulis sendiri, jika nanti jumlah investor/trader lokal di BEI sudah cukup banyak (sekarang baru kurang dari 1% dari jumlah penduduk), maka mungkin barulah ketika itu gerak gerik asing akan dibatasi. Tapi sebelum itu, ingat bahwa kita sebenarnya nggak perlu takut sama asing, sama sekali. Kalau mereka mau keluar ya silahkan, kalau mau masuk pun ya monggo. I don’t care.
NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) berisi kumpulan rekomendasi saham dari 30 saham pilihan di BEI. Anda bisa memperolehnya [...]

Gading Development

Pasar boleh saja tidak bersahabat dengan saham-saham di sektor properti dan konstruksi, beberapa bulan terakhir ini. Tapi apa yang dialami saham Gading Development (GAMA) benar-benar merupakan special case. Setelah pada Juni – Agustus lalu sama sekali tidak tersentuh oleh koreksi IHSG maupun koreksi pada sektor properti itu sendiri, namun hanya dalam hitungan dua minggu terakhir, saham ini langsung turun dari posisi 500.. sampai posisi 90! Dengan demikian bagi siapapun yang memegang GAMA ini di harga 500 dan masih memegangnya sampai sekarang, maka dia sudah mengalami potential loss 81.2%.

Pergerakan GAMA yang tidak wajar ini jelas karena ulah bandar, sebab jika sahamnya bergerak secara alamiah mengikuti gerak pasar, maka dari sisi valuasi dia juga tidak mungkin bisa naik sampai 500 (kita akan membahasnya dibawah). Anyway, mari kita cek GAMA ini dari awal.

Logo PT Gading Development, Tbk

GAMA merupakan perusahaan properti kecil yang ketika pertama kali didirikan pada tahun 2003 bergerak di bidang pembangunan apartemen dan perumahan jenis town house, yakni kompleks perumahan kecil nan eksklusif dengan jumlah unit rumah yang tidak terlalu banyak. Namun seiring berjalannya waktu perusahaan mulai masuk ke jenis properti yang lain. Saat ini GAMA memiliki setidaknya tiga unit usaha, yakni pembangunan apartemen dan perumahan town house, hotel dan resort, serta perumahan biasa dengan harga jual yang lebih terjangkau dibanding perumahan jenis town house. Proyek-proyek milik perusahaan tersebar di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Cianjur, Cirebon, hingga Solo. Selain itu GAMA juga memiliki beberapa bidang tanah kosong (landbank) di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan nilai Rp692 milyar, atau lebih dari separuh total aset perusahaan. Namun hingga saat ini perusahaan sama sekali belum memperinci, akan diapakan tanah kosong tersebut.
Hingga Kuartal III 2013, GAMA hanya mampu mencatat laba bersih sebesar Rp16 milyar, yang setelah dibagi jumlah sahamnya maka EPS-nya hanya Rp1.55, alias kecil sekali. Namun laba tersebut mungkin belum mencerminkan potensi kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Sepanjang tahun 2013, hanya ada satu proyek milik GAMA yang menuai pendapatan, yakni apartemen Gading Green Hill di Kelapa Gading, Jakarta Utara, itupun belum sepenuhnya terjual/selesai dibangun (baru sekitar 44%).
Sementara diluar apartemen Gading Green Hill tersebut, berikut adalah beberapa proyek lainnya milik perusahaan, yang rata-rata merupakan proyek perumahan atau townhouse, yang hingga laporan keuangan terbarunya terbit masih dalam tahap pembangunan. Progress-nya adalah per tanggal 30 September 2013:
Nama Proyek
Progress (%)
Villa Permata Tambun, Bekasi
55
Grand Regency, Bekasi
47
Villa Permata Cikarang
38
Sindang Panon Regency, Tangerang
44
Senopati Estate, Bekasi
26
Botanical City, Solo
0
Green Land Resort, Cianjur
0
The Dome, Jakarta Barat
0
Sayangnya selain Gading Green Hill yang disebut diatas dan juga Sindang Panon Regency, rata-rata proyek diatas diperkirakan baru akan selesai/menuai pendapatan pada tahun 2015, alias masih cukup lama. Malah untuk tiga proyek yang disebut terakhir, yakni Botanical City, Green Land Resort, dan The Dome, pembangunannya sama sekali belum dimulai alias masih sebatas perencanaan.
Sementara untuk recurring income alias pendapatan berulang, pada tahun 2013 ini GAMA mulai membangun dua buah hotel (Zest Hotel) masing-masing di Cirebon dan Solo, namun juga belum ada keterangan kapan kira-kira hotel tersebut bakal selesai di bangun, mungkin tahun 2015 atau lebih lama lagi.
Tapi intinya untuk tahun 2014 mendatang, perusahaan mungkin sepenuhnya hanya bisa mengandalkan pendapatan dari apartemen Gading Green Hill dan juga perumahan Sindang Panon, yang itu berarti labanya juga belum akan melonjak. Jadi dengan catatan proyek-proyeknya diatas berjalan lancar, sehingga pendapatannya pun melonjak, maka saham GAMA ini mungkin baru menarik untuk dikoleksi tahun 2015 mendatang. Jika dibandingkan dengan banyak perusahaan properti lainnya di bursa yang sudah menuai hasil dari proyek-proyek propertinya sejak tahun 2011 lalu, dan juga beberapa lainnya yang berpeluang untuk mulai panen laba pada tahun 2014 mendatang, maka GAMA ini boleh dibilang ketinggalan start. Kita tidak tahu bagaimana kinerjanya di tahun 2015 nanti, tapi yang jelas untuk tahun 2014 besok kinerja GAMA kemungkinan belum akan jauh-jauh dari kinerjanya saat ini.
Dan satu hal yang mungkin perlu dicermati adalah, dari sekian banyak proyek properti yang tengah dikerjakan perusahaan ataupun baru sebatas direncanakan, tidak ada satupun yang berlokasi di Sukoharjo, tempat dimana landbank milik perusahaan berada. Jadi entah apa yang akan dilakukan perusahaan dengan landbank-nya tersebut.
Kesimpulannya, kalau bicara prospek maka GAMA ini masih serba abu-abu. However, perusahaan ini relatif bersih dari utang (hanya ada utang bank sebesar Rp160 milyar), dan yang pasti posisi harganya pada saat ini mungkin mulai menarik bagi sebagian orang. Pada harga saham 90, PBV GAMA adalah 0.9 kali. Valuasi ini mungkin belum bisa dikatakan murah mengingat aset terbesar milik perusahaan, yakni landbank-nya di Sukoharjo, kemungkinan belum akan jadi apa-apa dalam waktu satu dua tahun mendatang mengingat perusahaan juga belum punya planning pengembangan apapun untuk landbank-nya tersebut. Jadi kecuali jika nanti GAMA merilis pengumuman dengan judul ‘Perusahaan akan membangun perumahan terintegrasi di Sukoharjo’, atau semacamnya, maka aset tanah kosong tersebut tidak bermakna apapun, selain karena kalau dilihat sekilas, lokasinya masih jauh dari mana-mana (Sukoharjo terletak di sisi selatan Kota Solo).
Terkait sahamnya, ketika saham GAMA ini naik sampai 500, sepertinya tidak ada yang memperhatikan. Tapi begitu dia kemarin anjlok, mungkin ada diantara anda yang ‘menangkap pisau jatuh’. Kalau dari sisi valuasi, saham GAMA sekarang ini memang sudah nggak begitu mahal lagi, meski juga belum bisa dikatakan murah karena alasan diatas. Sementara untuk bisa naik dalam jangka menengah, katakanlah hingga tahun 2014 mendatang, peluangnya juga kecil mengingat kinerja perusahaan, seperti yang sudah kita bahas, mungkin belum akan langsung melonjak kecuali jika apartemen Gading Green Hill-nya langsung sold out.
Tapi jika melihat pergerakan sahamnya yang turun dengan sangat ekstrim, maka biasanya nanti ada saja momentum dia untuk rebound, dan ketika itulah anda mungkin bisa keluar.
PT Gading Development, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: BB
Rating Saham pada 90: [...]

Pelemahan Rupiah, dan Pengaruhnya Terhadap Emiten Properti

Kalau melihat nature bisnisnya, fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, dalam hal ini US Dollar, sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan/emiten properti mengingat mereka memperoleh pendapatannya dalam mata uang Rupiah, dan membayar biaya-biaya seperti biaya kontraktor atau biaya pembelian lahan dalam mata uang Rupiah juga (beberapa perusahaan properti ada juga yang impor bahan bangunan, tapi nilainya biasanya kecil). Tapi ceritanya jadi lain jika perusahaan yang bersangkutan memiliki utang dalam mata uang Dollar, dimana nilai beban bunga yang harus dibayarkan maupun nilai pokok utang itu sendiri menjadi sangat dipengaruhi oleh naik turunnya nilai Rupiah terhadap Dollar.

Saat ini di BEI terdapat setidaknya lima perusahaan properti yang punya utang dalam mata uang Dollar. Mereka adalah Alam Sutera Realty (ASRI), Lippo Karawaci (LPKR), Kawasan Industri Jababeka (KIJA), Modernland Realty (MDLN), dan Bakrieland Development (ELTY). Kecuali ELTY yang punya utang dimana-mana, keempat perusahaan properti lainnya menerbitkan utang dengan mata uang Dollar tersebut dalam bentuk obligasi jangka panjang yang diterbitkan di Singapura. Berikut adalah detailnya:
Perusahaan
Jumlah Unit Obligasi
Total Nilai Utang
Bunga
Jatuh Tempo
(Jutaan US Dollar)
(%)
LPKR
5
653
6.12 – 9.00
2019 – 2020
ASRI
2
385
6.95 – 10.75
2017 – 2020
KIJA
1
175
11.75
2017
MDLN
1
150
11.00
2016
Catatan:
  1. Kecuali untuk MDLN (baca keterangan no 3), total nilai utang adalah per tanggal 30 September 2013. Setelah dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah dan disajikan di laporan keuangan masing-masing, angkanya menjadi cukup besar karena pada tanggal tersebut kurs Rupiah berada di salah satu level terendahnya yakni Rp11,613 per USD.
  2. KIJA berencana untuk menerbitkan obligasi baru untuk melunasi obligasi lama, senilai US$ 350 juta. Obligasi tersebut akan jatuh tempo tahun 2020 dengan tingkat bunga yang lebih rendah (sekitar 6 – 7%), namun belum ada kepastian kapan obligasi tersebut akan diterbitkan.
  3. MDLN menerbitkan obligasinya pada tanggal 25 Oktober 2013, sehingga obligasi diatas belum dimasukkan dalam laporan keuangan terbarunya. MDLN tadinya berniat menerbitkan obligasi senilai US$ 300 juta, namun yang bisa direalisasi hanya separuhnya. Pada tanggal obligasinya terbit, kurs Rupiah berada di level yang cukup rendah yakni Rp11,142, sehingga jika nanti Rupiah menguat hingga melewati level tersebut maka MDLN akan memperoleh keuntungan kurs. Saat ini Rupiah masih berada di level Rp11,486 per Dollar.
Kecuali MDLN, ketiga perusahaan properti lainnya menerbitkan obligasi ketika Rupiah masih berada di level Rp9,000-an per Dollar. Sehingga ketika saat ini Rupiah melemah ke level Rp11,000-an, maka baik LPKR, ASRI, maupun KIJA bisa dipastikan mengalami penurunan laba akibat kerugian kurs, baik yang sudah direalisasi (bunga obligasi yang sudah dibayarkan), maupun belum (bunga yang belum dibayarkan, dan juga nilai pokok utang yang belum dibayarkan). Pada laporan keuangan terbaru milik KIJA, yakni untuk periode Kuartal III 2013, kedua jenis rugi kurs tersebut (yang sudah direalisasi maupun belum) sama-sama disajikan sebagai akun beban yang mengurangi nilai laba perusahaan, dan alhasil laba KIJA tampak turun tajam dari Rp281 milyar menjadi hanya Rp97 milyar saja.
Namun penulis mungkin perlu menggaris bawahi kata ‘tampak’ disini, karena sejatinya laba KIJA tidak benar-benar turun mengingat utang obligasinya yang USD 175 juta tadi belum dibayar melainkan dibayarnya nanti tahun 2017, sehingga kerugian kurs akibat penurunan nilai obligasi tersebut (nilainya sekitar Rp300 milyar) sama sekali belum terealisasi, atau dengan kata lain perusahaan tidak benar-benar mengeluarkan dana sebesar Rp300 milyar tersebut. Hal itu juga bisa dilihat dari beban pajak KIJA yang tercatat Rp65 milyar pada Kuartal III 2013, atau masih naik dibanding pajak untuk periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp58 milyar. Jika laba KIJA benar-benar turun, maka seharusnya nilai pajaknya juga turun.
Sementara pada laporan keuangan LPKR, hanya kerugian kurs yang sudah direalisasi yang dicantumkan di laporan keuangan, sehingga laba bersihnya masih bisa tertulis naik signifikan. Setelah penulis pelajari, hal itu karena manajemen LPKR sudah melindungi nilai obligasinya menggunakan fasilitas non deliverable USD call spread option dengan beberapa bank asing, sehingga perusahaan menganggap bahwa potensi kerugian kurs akibat penurunan nilai Rupiah ketika nanti pokok obligasinya dibayarkan di tahun 2019 dan 2020, menjadi bisa dihilangkan. Alhasil pada laporan keuangan LPKR, kerugian kurs yang belum direalisasi tadi digantikan oleh beban untuk membayar jasa penggunaan fasilitas spread option tadi, yang nilainya jauh lebih kecil.
Sedangkan KIJA tidak memiliki/menggunakan fasilitas lindung nilai tersebut, sehingga kerugian kurs yang belum direalisasi tetap disajikan di laporan keuangan. Tapi perusahaan punya satu alasan khusus kenapa mereka melakukan itu (tidak menggunakan fasilitas lindung nilai untuk obligasinya), kita akan membahasnya dibawah.
Satu perusahaan lagi, yakni ASRI, hingga artikel ini ditulis belum merilis laporan keuangan terbarunya. Namun kabar baik bagi anda yang memegang sahamnya, berhubung sejak awal ASRI sudah melindungi nilai obligasinya (menggunakan fasilitas call spread option juga), maka kemungkinan besar laba perusahaan di Kuartal III nanti masih akan naik, karena kerugian kurs yang belum direalisasikan tidak akan turut dicantumkan di laporan keuangannya.
Okay, lalu apa itu yang dimaksud dengan non deliverable USD call spread option?
Jika anda mencari penjelasan tentang istilah tersebut di Google, maka anda tidak akan menemukan penjelasan dengan bahasa yang mudah. Tapi biar penulis langsung menjelaskannya dengan contoh option yang memang sudah dilakukan oleh ASRI untuk salah satu obligasinya yang jatuh tempo tahun 2017, senilai US$ 150 juta. Pada Juni 2012, ASRI menggunakan fasilitas call spread option yang disediakan oleh beberapa bank di Singapura, dimana perusahaan memiliki opsi/hak untuk membeli Dollar dari bank pada rentang harga antara Rp9,400 hingga 11,000 per Dollar, dengan nilai pembelian maksimum US$ 100 juta alias Rp9.4 hingga 11 trilyun. Fasilitas opsi ini akan berakhir (expired) pada 2017 (sama dengan ketika obligasinya jatuh tempo), dan perusahaan dibebankan biaya transaksi sebesar 1.3% per tahun dari total nilai transaksi jual beli yang dilakukan.
Kemudian pada tanggal 30 Juni 2013, alias tanggal berakhirnya laporan keuangan periode Kuartal II 2013 (soalnya ASRI belum merilis LK untuk Kuartal III), Rupiah melemah dan berada di posisi Rp9,929 per Dollar. Karena ASRI bisa mengeksekusi hak-nya untuk membeli Rupiah pada harga terendah yakni Rp9,400, maka terdapat selisih Rp529 disini (9,929 dikurangi 9,400), yang setelah dikali USD 100 juta menjadi Rp52.9 milyar, atau kita bulatkan menjadi Rp53 milyar. Dana sebesar Rp53 milyar tersebut kemudian dianggap sebagai aset keuangan, yang bisa dicairkan sewaktu-waktu jika nanti dibutuhkan.
Karena ada tambahan aset dari timbulnya aset keuangan tadi, maka di neraca perusahaan, posisi aset/aktiva menjadi meningkat sebesar Rp53 milyar, sementara posisi kewajiban/pasiva juga meningkat karena nilai utang obligasi ASRI dalam mata uang Rupiah meningkat karena pelemahan Rupiah tadi (jadi jatuhnya impas). Jika Rupiah tetap di posisi Rp9,929 per Dollar hingga berakhirnya masa kontrak option pada 27 Maret 2017, dimana obligasinya juga jatuh tempo pada tanggal tersebut, maka ASRI bisa membayar lunas obligasinya meski nilai obligasi tersebut meningkat, karena perusahaan punya dana yang sudah disiapkan berupa aset keuangan senilai Rp53 milyar tadi.
However, penulis sendiri dalam hal ini masih bingung akan dua hal. Pertama, nilai option yang dipegang ASRI cuma USD 100 juta, padahal nilai obligasinya USD 150 juta. Kalau gitu masih ada kelebihan nilai obligasi yang belum dilindungi dong? Terus tadi disebutkan bahwa spread-nya adalah antara Rp9,400 hingga 11,000 per Dollar. Tapi berhubung sekarang Rupiah sudah di level 11,400-an, jadinya gimana tuh? Anda yang ahli option mungkin bisa menjelaskan?
Tapi apapun itu, karena adanya fasilitas lindung nilai ini maka proyeksi kerugian (atau keuntungan) yang mungkin dialami ASRI karena pelemahan (atau penguatan) nilai Rupiah terkait dengan nilai utang obligasinya, menjadi tidak disertakan dalam laporan laba ruginya. Namun ASRI tetap mencantumkan biaya penggunaan fasilitas lindung nilai tadi sebesar Rp13 milyar, sebagai bagian dari pendapatan/beban lain-lain. Ini artinya ASRI tetap harus keluar biaya untuk melindungi nilai obligasinya, meski nilainya lebih kecil dari manfaat lindung nilai yang diperoleh (Rp13 versus 53 milyar).
Sementara KIJA? Karena perusahaan sama sekali tidak menggunakan fasilitas lindung nilai, maka proyeksi bahwa perusahaan harus mengeluarkan dana ekstra sebesar sekitar Rp300-an milyar untuk melunasi obligasinya pada tahun 2017 nanti (jika posisi kurs Rupiah ketika itu sama dengan kurs Rupiah tanggal 30 September 2013), langsung dibukukan pada laporan keuangannya sebagai rugi kurs. Disisi lain jika nanti Rupiah menguat hingga melewati kurs ketika obligasinya diterbitkan, yakni Rp9,493, maka rugi kurs Rp300 milyar tadi akan berbalik menjadi laba kurs, tapi sekali lagi, laba tersebut hanya bersifat pembukuan alias gak ada duitnya.
Lalu kenapa KIJA tidak meng-hedging obligasinya? Karena obligasi tersebut digunakan untuk membiayai proyek pembangkit listriknya di Kota Jababeka (atau lebih tepatnya untuk refinancing/membayar utang bank yang digunakan untuk membangun pembangkit listrik tersebut), dimana pembangkit listrik itu memperoleh pendapatannya dalam mata uang US Dollar. KIJA melalui anak usahanya, PT Bekasi Power, pada Januari 2013 kemarin sudah meneken kontrak penjualan listrik dengan PT PLN untuk 20 tahun kedepan, dengan nilai penjualan USD 105 juta per tahun, dengan EBITDA-nya (bagi anda yang belum hafal, EBITDA itu kurang lebih sama dengan laba bersih sebelum pajak) kira-kira USD 24 juta. Dan jika sebelumnya usaha pembangkit listrik KIJA ini masih menderita kerugian, maka pada Kuartal III barusan, KIJA sudah mulai meraih laba bersih meski masih kecil, yakni (setelah dirupiahkan) Rp33 milyar. But this is progressing.

Pembangkit listrik milik PT Bekasi Power, anak usaha KIJA

Karena itulah, maka tanpa menggunakan fasilitas lindung nilai-pun, obligasi KIJA sudah terlindungi dengan sendirinya karena kini perusahaan sudah punya income dalam mata uang USD, plus perusahaan sama sekali tidak perlu mengeluarkan biaya untuk hedging. Secara riil, pada Kuartal III 2013 kinerja KIJA masih sangat bertumbuh dengan pendapatan yang naik hampir dua kali lipat, dan demikian pula dengan laba bersihnya jika saja tidak ada beban rugi kurs seperti yang sudah kita bahas diatas.
Hanya memang jika nanti perusahaan jadi menerbitkan obligasi anyar senilai USD 350 juta, dimana salah satunya digunakan untuk melunasi obligasi sebelumnya, maka sudah pasti KIJA juga akan menggunakan fasilitas lindung nilai seperti hal-nya ASRI dan LPKR. Untuk perusahaan properti yang satu lagi, yakni MDLN, pihak perusahaan sudah menjelaskan di prospektus obligasinya bahwa mereka akan juga menggunakan fasilitas lindung nilai untuk melindungi nilai obligasinya dari risiko pelemahan nilai tukar Rupiah.
Anyway, yang jelas KIJA ini di laporan keuangannya tetap saja tertulis bahwa labanya jadi anjlok gara-gara rugi kurs, dan itu turut menyebabkan sahamnya jatuh belakangan ini. Dalam jangka pendek KIJA praktis hanya bisa naik jika nanti pihak perusahaan mengumumkan bahwa mereka akan mengikuti langkah ketiga emiten lainnya dalam melindungi nilai obligasinya, atau jika Rupiah kembali menguat ke setidaknya 10,000-an.
Tapi dalam jangka panjang terutama jika kita melihatnya dari sisi valuasi, maka diantara keempat emiten properti yang dibahas di artikel ini, KIJA merupakan yang termurah bahkan ketika sahamnya masih di harga 300. Jika anda baru mau masuk maka bisa tunggu sampai nanti kondisi membaik (baca: Rupiah menguat), sementara jika anda sudah pegang maka disarankan untuk hold.

NB: Buku kumpulan analisis saham (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2013 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya [...]

Ade Mau Jadi Presiden!

Cerita pendek dibawah ini sebenarnya nggak ada hubungannya sama sekali dengan investasi saham dan segala tetek bengeknya, dan cerita ini juga bukan karangan penulis, melainkan hasil nemu di internet. Namun berhubung cerita ini sangat menarik sekaligus mungkin menuai kontroversi, maka penulis sengaja menampilkannya disini. Here we go.

Suatu waktu, saya bermain ke rumah seorang teman, dan disana saya bertemu anak laki-laki dari teman saya tersebut, yang masih berusia tujuh tahun. Sekedar basa-basi, sayapun mengajak ngobrol si kecil ini, ‘Apa cita-citamu kalau nanti udah gede?’
Dan ia menjawabnya dengan sangat bersemangat, ‘Ade mau jadi presiden!’
‘Wow, bagus itu.. Nanti apa yang akan kamu lakukan kalau kamu jadi presiden?’
‘Ade akan kasih uang ke orang-orang miskin, biar mereka bisa punya rumah dan membeli makanan.’
Tiba-tiba di kepala saya timbul ide, ‘Oh, itu bagus sekali.. Tapi ade kecil tau nggak, kamu nggak perlu jadi presiden untuk melakukan itu. Gimana kalau om minta kamu untuk mencuci mobil om, memotong rumput di halaman depan rumah, dan mengelap kaca jendela. Dan sebagai gantinya om akan kasih kamu seratus ribu.’
‘Kemudian’, saya melanjutkan, ‘Om akan ajak kamu ke sebuah perkampungan kumuh dimana banyak orang miskin disana, dan kamu akan memberikan uang seratus ribu tadi ke orang-orang miskin itu.’
Si kecil ini berpikir sejenak, kemudian menjawab, ‘Kenapa om gak minta orang-orang miskin itu aja yang mencuci mobil om?’
Saya tersenyum, ‘Nah, apa kamu masih ingin jadi presiden?’
.
.
.
.

Berhubung sebentar lagi pemilu, yang itu berarti pemilihan presiden, dan belakangan ini juga sedang ramai demo buruh yang minta gaji besar, ada [...]

PGAS, dan Kebijakan Open Access

Perusahaan Gas Negara (PGAS) melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 4.0% pada periode Sembilan Bulan 2013, dan secara umum kinerjanya pada periode tersebut masih bisa dikatakan sangat baik. Namun yang menarik untuk dicermati terkait perusahaan BUMN ini mungkin bukan terkait kinerjanya tersebut. Beberapa hari lalu beredar berita di media bahwa Pemerintah melalui BPH Migas akan memberlakukan kebijakan open access, dimana seluruh infrastruktur gas, dalam hal ini pipa-pipa gas yang ada di Indonesia nantinya akan bisa digunakan oleh semua pihak, tidak hanya PGAS.

Jadi ketika nanti kebijakan open accessini diberlakukan (atau memang sudah), maka praktis PGAS akan kehilangan keistimewaannya sebagai perusahaan yang memonopoli bidang distribusi dan transmisi gas di tanah air, sehingga kinerjanya bisa jadi bakal turun. Hal inilah yang membuat saham PGAS kemudian diselimuti sentimen negatif, dan sejauh ini sudah turun 8.7% dalam tiga minggu terakhir.
Tapi benarkah open access ini akan menekan kinerja PGAS, atau seperti yang dikatakan salah seorang pengamat, PGAS bisa bangkrut? Sebelum kesana, seperti biasa mari kita pelajari lagi PGAS ini sejak awal.
PGAS, seperti yang anda ketahui, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi/perdagangan gas, dimana gas itu sendiri dibeli dari beberapa produsen, seperti Pertamina dan ConocoPhilips. Yang dimaksud dengan distribusi gas adalah penyaluran gas melalui truk tangki, tabung gas dll ke pelanggan-pelanggan di kawasan industri, kawasan komersial, dan perumahan. Distribusi gas juga bisa dilakukan melalui jaringan pipa-pipa berukuran kecil yang menghubungkan stasiun penyimpanan gas milik perusahaan, dengan pabrik, rumah dll yang menjadi konsumen gas tersebut.
Selain distribusi, PGAS juga memiliki usaha di bidang transmisi gas, atau disebut juga transportasi gas, yakni jasa penyaluran gas melalui pipa-pipa khusus berukuran besar dan bertekanan tinggi, dimana perusahaan memperoleh pendapatannya dari fee yang dibayar perusahaan produsen gas yang mengalirkan gas-nya melalui pipa-pipa tersebut. Jadi dalam hal ini PGAS mirip seperti Jasa Marga yang membangun jalan tol, kemudian memungut bayaran dari mobil-mobil yang melintasi jalan tol tersebut.
Bagan lini usaha PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk.
Berbeda dengan pipa distribusi, pipa transmisi didesain untuk mampu menyalurkan gas dalam jumlah besar secara terus menerus. Karena itulah biaya pembangunannya sangat mahal, dan alhasil PGAS sampai saat ini baru memiliki beberapa jaringan pipa transmisi saja di Indonesia, biasanya dengan bekerja sama/patungan dengan perusahaan lain. Jaringan pipa transmisi pertama milik perusahaan selesai dibangun pada tahun 1998, yang menghubungkan tambang gas milik ConocoPhillips di Grissik, Sumatera Selatan, dan pembangkit listrik di Duri, Riau. Dan untuk membangun jaringan pipa tersebut, PGAS bekerja sama dengan ConocoPhillips itu sendiri. Sementara jaringan pipa transmisi kedua selesai dibangun tahun 2007, yang menghubungkan lapangan gas milik Pertamina di Pagardewa, Sumatera Selatan, dan pembangkit listrik milik Krakatau Steel di Cilegon, Banten.
Karena perusahaan hingga saat ini belum memiliki banyak jaringan pipa transmisi, maka sekitar 80% pendapatan perusahaan masih berasal dari usaha distribusi gas, dan hanya kurang dari 20% yang berasal dari usaha transmisi. Hingga Kuartal III 2013, PGAS mencatat pendapatan US$ 2.2 milyar, dimana US$ 2.0 milyar berasal dari usaha distribusi gas, dan hanya US$ 141 juta yang berasal dari usaha transmisi (sisanya berasal dari eksplorasi minyak dan gas). Untuk kedepannya porsi pendapatan ini kemungkinan belum akan berubah, mengingat belakangan ini perusahaan lebih fokus pada upaya untuk memperoleh sumber pasokan gas milik sendiri, ketimbang membangun jaringan pipa transmisi baru.
Okay, sekarang kita ke masalah open access.
Diatas tadi disebutkan bahwa untuk bidang usaha transmisi gas, PGAS memperoleh pendapatannya dari fee yang dibayar perusahaan produsen gas yang mengalirkan gas-nya melalui pipa-pipa tersebut. Nah, inilah yang dimaksud dengan open access, dimana perusahaan produsen gas diperbolehkan menggunakan pipa transmisi milik PGAS untuk mengalirkan gas-nya, tentunya dengan membayar ‘ongkos jalan tol’. Sebelumnya, ketika peraturan soal open access ini belum diberlakukan, produsen gas boleh dibilang terpaksa menjual gas-nya ke PGAS, untuk PGAS jual lagi ke konsumen. Tapi setelah peraturan terkait open access ini berlaku, maka para produsen gas ini bisa langsung menjual gas ke konsumen, dan cukup membayar fee saja ke PGAS sebagai penyedia jasa pipa transmisi.
Selama ini peraturan open access tersebut hanya berlaku untuk pipa-pipa transmisi. Namun mulai tanggal 1 November 2013 kemarin, open access juga berlaku untuk pipa-pipa distribusi. Ini artinya produsen gas yang selama ini menjual gas-nya ke PGAS, sekarang ini bisa menjual gas langsung ke konsumen dan hanya perlu membayar fee penggunaan pipa ke PGAS.
Masalahnya adalah, jika kita pakai data dua tahun terakhir (2012 dan 2013), usaha transmisi gas yang dijalani PGAS selama ini (yang sudah menerapkan open access) ternyata mengalami kerugian, dimana pendapatan yang diperoleh lebih kecil dibanding beban penyusutan dll. Ketika PGAS selama ini selalu mencatat laba yang besar setiap tahun, maka itu adalah karena usaha distribusi gas yang dijalani perusahaan selalu mencatat keuntungan dengan margin yang signifikan, yakni hampir 50% dari pendapatan. Dan margin sebesar itu bisa dicapai karena perusahaan nyaris memonopoli pasar distribusi gas di Indonesia, dengan pangsa pasar mencapai 83% di tahun 2012.
Jadi pertanyaannya adalah, setelah kebijakan open access ini berlaku juga untuk pipa-pipa distribusi, maka apakah PGAS akan tetap mampu meraup laba besar dari usaha distribusinya? Ataukah justru juga mengalami kerugian seperti yang dialami lini usaha transmisi selama ini?
Peraturan terkait open access untuk pipa-pipa distribusi ini sebenarnya sudah diteken oleh Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, pada tahun 2009 lalu, namun pemberlakuannya ditunda hingga deadlinetanggal 31 Oktober 2013 kemarin. Kemungkinan hal ini pula yang mendorong PGAS selama beberapa tahun terakhir ini berusaha untuk memperoleh pasokan gas sendiri, agar mereka juga bisa menjadi produsen gas, tidak hanya distributor. Dan sejauh ini upaya tersebut memang mulai membuahkan hasil. Pada Juni 2013, PGAS sukses mengakuisisi 25% kepemilikan saham (atau disebut juga participating interest) pada Blok Ujung Pangkah, dengan nilai akuisisi US$ 265 juta. Blok Ujung Pangkah merupakan blok migas yang terletak di bagian timur Pulau Madura, sekitar 50 kilometer dari Kota Surabaya, dan dikelola oleh Hess Corp., yang memegang 75% sahamnya. Sejauh ini hingga Kuartal III 2013, blok migas ini baru menghasilkan pendapatan sebesar US$ 17 juta bagi PGAS, tapi tidak menutup kemungkinan kedepannya akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar lagi.
Kesimpulannya, berikut adalah beberapa poin yang perlu anda perhatikan jika anda tertarik untuk membeli, atau memang sudah memegang saham PGAS ini:
  1. Kebijakan open access hampir bisa dipastikan akan menghilangkan status PGAS sebagai perusahaan monopoli di bidang distribusi gas, dimana produsen-produsen gas tidak perlu lagi menjual gas mereka ke PGAS, melainkan bisa mendistribusikannya sendiri.
  2. Meski hal ini mungkin akan mengganggu kinerja PGAS, namun seharusnya tidak akan sampai bikin perusahaan jadi bangkrut seperti yang dikatakan beberapa orang. Sebab dari kebijakan open access ini PGAS tetap memperoleh pendapatan dari fee penggunaan pipa-pipa gas, tinggal bagaimana perusahaan mengefisienkan pengeluarannya agar tidak sampai rugi lagi.
  3. Disisi lain, PGAS sejak Juni kemarin sudah punya lini usaha baru, yakni sebagai produsen minyak dan gas dari bagian kepemilikannya atas Blok Ujung Pangkah, dan seharusnya lini usaha baru ini akan mampu berkontribusi positif terhadap laba perusahaan. Selain itu jika memang nanti ada kesempatan untuk mengakuisisi blok migas lainnya, maka PGAS tidak akan mengalami kesulitan dari sisi pembiayaan mengingat posisi cash perusahaan terbilang melimpah, yakni US$ 904 juta per Kuartal III 2013.
Satu hal lagi yang perlu anda ingat adalah, kalau terkait pergerakan sahamnya sendiri, ini bukan kali pertama saham PGAS dihantam badai berita negatif. Pada Januari 2007 lalu, saham PGAS sempat anjlok 23% dalam satu hari karena keluarnya berita bahwa manajemen perusahaan terlambat dalam melaksanakan komersialisasi salah satu pipa transmisinya yang baru selesai dibangun. Pada September 2011, saham PGAS juga sempat turun berkepanjangan hingga nyaris 50% dari posisi puncaknya, karena kabar bahwa perusahaan mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan gas untuk dijual (penulis pernah membahasnya disini).
Namun faktanya sampai saat ini PGAS masih mencatat kinerja yang bagus dan juga bertumbuh. Dan salah satu pendorong pertumbuhan tersebut, diluar akuisisi perusahaan terhadap blok minyak, adalah karena PGAS terus memperluas jaringan pipa distribusinya. Sepanjang tahun 2013 ini saja perusahaan tengah membangun jaringan pipa di setidaknya tiga wilayah yakni Batam, Semarang, dan Bitung – Cimanggis (Jawa Barat). Pada akhirnya, potensi pertumbuhan industri gas di Indonesia memang masih sangat terbuka, dimana dari ujung Sabang sampai Merauke, jumlah jaringan pipa gas entah itu yang dimiliki PGAS atau perusahaan lainnya, masih sangat sedikit. Dan PGAS sebagai perusahaan distributor gas pertama dan tertua di tanah air (PGAS didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1859), tentunya akan selalu menjadi pemimpin dalam pembangunan jaringan pipa-pipa gas tersebut.
Tapi memang, jika sentimen negatif terkait open access ini terus berkelanjutan dan tidak ‘happy ending’, maka saham PGAS bisa kembali melanjutkan penurunannya, sebab PBV PGAS pada saat ini tercatat 4.4 kali, dan kalau gak salah pada tahun 2011 PGAS sempat terus turun hingga PBV-nya tinggal 2 koma sekian kali. Tapi penulis bisa katakan bahwa dalam kondisi normal, secara fundamental PGAS ini layak dihargai pada harga yang mencerminkan PBV 5 kali, yang itu berarti valuasi sahamnya pada saat ini, terlepas dari kekhawatiran bahwa kinerjanya bakalan tertekan, terbilang murah.
Diluar itu, kalau menurut penulis sendiri, berhubung Menteri ESDM sekarang ini bukan lagi Bapak Purnomo Yus melainkan Bapak Jero Wacik, maka ada kemungkinan peraturan terkait kebijakan open access ini bisa dinegosiasikan kembali, atau bahkan dibatalkan. Terbukti kalau kita baca di media, mulai ada suara-suara bahwa BPH Migas tidak bisa memaksa PGAS untuk menerapkan open access, melainkan hanya bisa mengatur (mengatur apa ‘mengatur’ nih??) Tapi yah, ini cuma asumsi.
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
Rating kinerja pada Q3 2013: AA
Rating saham pada 4,975: A

NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis saham berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2013. Buku tersebut sudah terbit tanggal 11 November kemarin, dan anda bisa memperolehnya [...]

Bank BJB

Bank BJB (BJBR) menjadi salah satu dari beberapa emiten perbankan yang sudah merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal III 2013. Dan seperti umumnya emiten lain yang merilis LK-nya lebih awal, kinerja BJBR terbilang cukup baik (Yap, jika anda perhatikan, emiten-emiten yang merilis LK-nya lebih awal memang biasanya mencatat kinerja bagus, meski nggak selalu. Sementara yang merilis LK-nya belakangan, seperti emiten-emiten Grup Bakrie, kinerjanya hampir selalu amburadul). Namun mungkin, poin yang membuat saham ini menarik bukan hanya soal kinerjanya tersebut.


Logo PT Bank BJB, Tbk

Saham BJBR ini, sejak ia IPO pada Juli 2010 lalu (dulu penulis pernah membahasnya, ini linknya), memang sudah menarik karena valuasinya yang murah sekali pada harga IPO-nya di level Rp600 per saham (penulis lupa bagaimana hitung-hitungannya, tapi yang jelas di harga 600 dia memang super-murah). Entah karena valuasinya tersebut atau karena adanya faktor lain, tapi yang jelas ketika itu BJBR langsung tembus ke 1,000 hanya dalam beberapa hari setelah tanggal perdana listingnya, dan selanjutnya terus naik sampai menyentuh level 1,770, atau naik hampir 200% hanya dalam tempo empat bulan.
Satu poin yang perlu dicatat adalah: Ketika itu saham ini menarik hanya dari sisi valuasi. Sementara kualitas kinerjanya, meski cukup bagus, namun tidak sebagus bank-bank top seperti Bank BRI, Mandiri, dan BCA. Prospeknya? Juga hampir tidak ada, mengingat status BJBR sebagai bank daerah yang cuma bisa ‘cari makan’ di Jawa Barat dan Banten, dan ini berbeda dengan baik-bank lainnya yang listing di bursa, yang merupakan bank nasional sehingga bisa beroperasi dimana saja di seluruh wilayah Indonesia. Penulis sendiri baru mengetahui belakangan bahwa BJBR tidak hanya bisa membuka kantor cabang di Jabar dan Banten, melainkan bisa dimana saja.
Tapi yang jelas karena bank ini ketika itu tidak kedengaran gaungnya mau ngapain, maka ketika kinerjanya di tahun 2011 secara per kuartal tampak turun, maka sahamnya pun langsung turun tanpa ampun. Per Oktober 2010, BJBR masih berada di posisi 1,700-an. Tapi memasuki bulan Februari 2011, saham ini sudah balik lagi ke posisi 1,100-an. Dan setelah lewat hampir tiga tahun hingga saat ini, BJBR hampir selalu bergerak di rentang 1,000 – 1,200, alias gak kemana-mana. BJBR selama ini hanya sempat tiga kali turun hingga menyentuh posisi 800-an, dimana semuanya terjadi pada periode koreksi IHSG, yakni September – Oktober 2011, Juni 2012, dan terakhir kemarin, Agustus 2013. Disisi lain saham ini juga belum mampu untuk kembali naik hingga setidaknya menembus level 1,300-an, apalagi 1,700-an.
Fakta menariknya adalah, meski sahamnya belum kemana-mana selama tiga tahun ini, namun selama tiga tahun tersebut nilai riil perusahaan senantiasa terus bertumbuh. Jadi meski pada kuartal tertentu laba atau ekuitas BJBR ini tampak turun, namun secara keseluruhan kinerja BJBR pada tahun yang bersangkutan (2011) masih tetap tumbuh, dan demikian halnya di tahun 2012, dan juga 2013. Berikut data selengkapnya, angka dalam milyaran Rupiah.
Tahun
2010
2011
2012
2013*)
Aset
43,446
54,449
70,841
75,860
Ekuitas
4,991
5,375
6,009
6,443
Pendapatan
4,894
5,977
6,796
5,995
Laba bersih
890
963
1,193
1,096
Btw sebelumnya ingat bahwa data untuk tahun 2013 adalah untuk periode yang berakhir tanggal 30 September 2013. Dengan asumsi bahwa pada Kuartal IV di tahun 2013 BJBR mencatat pendapatan dan laba bersih yang sama dengan tiga kuartal sebelumnya, maka pendapatan dan laba bersih BJBR untuk tahun penuh 2013 adalah masing-masing Rp7,993 milyar dan Rp1,462 milyar, atau tumbuh masing-masing 17.6 dan 22.5% dibanding tahun 2012.
Okay, balik lagi ke tabel diatas. Sekarang, ingat bahwa harga saham 600 pada tahun 2010 terbilang super-murah, dan harga wajarnya katakanlah di rentang 1,000 – 1,200 (soalnya di tahun 2010 tersebut, atau tepatnya di awal tahun 2011, BJBR berhenti turun di level 1,000 – 1,200 tadi, tapi disisi lain gak mampu naik lagi). Pada akhir tahun 2010, ekuitas dan laba bersih BJBR tercatat masing-masing Rp5.0 trilyun dan Rp890 milyar.
Dan saat ini, ekuitas BJBR tercatat sudah naik menjadi Rp6.4 trilyun, dan labanya sendiri (jika disetahunkan) sudah mencapai Rp1.5 trilyun. Tapi disisi lain harga sahamnya malah berada di posisi 940! So what d’ya think??
Nah, dengan demikian anda mengerti apa yang penulis maksud dengan ‘poin menarik terkait BJBR diluar kinerjanya’, yang sudah disebutkan diatas. Yap, saham ini sekarang sedang dalam posisi undervalue. PER dan PBV BJBR sendiri pada harga 940 cuma 6.2 dan 1.4 kali. Satu hal yang juga perlu dicermati adalah perusahaannya sendiri tidak sedang dalam masalah apapun, atau sedang dilanda sentimen negatif tertentu. Seperti yang kita ketahui, harga sebuah saham bisa jatuh kalau ada kekhawatiran bahwa kinerja perusahaan yang bersangkutan menurun, atau perusahaan itu sendiri bermasalah. Tapi sejauh ini tidak ada isu apapun yang beredar terkait BJBR ini, dan yang jelas kinerjanya di LK terbarunya yakni Kuartal III 2013, masih baik-baik saja (termasuk jika memperhatikan fakta bahwa sektor perbankan merupakan salah satu sektor dengan kinerja paling stabil di BEI, maka seharusnya kedepannya BJBR pun akan tetap baik-baik saja). Rendahnya posisi BJBR pada saat ini kemungkinan lebih karena faktor belum pulihnya ‘trauma’ akibat koreksi pasar yang terjadi selama Juni – Agustus lalu. Jika anda perhatikan memang bukan hanya BJBR, beberapa saham lainnya juga masih banyak yang belum mampu naik lagi ke posisi sebelum koreksi (dan IHSG sendiri juga belum mampu balik lagi ke 5,000-an).
Itu satu poin terkait valuasi. Poin lainnya yang juga patut diperhatikan adalah terkait pengelolaan perusahaan. Jika anda perhatikan, BJBR ini meski bagus dan juga senantiasa bertumbuh, namun pertumbuhannya tergolong lambat. Termasuk hingga Kuartal III 2013 inipun, labanya cuma naik 15.9%, lebih rendah dibanding BBRI sebesar 17.3%, atau BTPN sebesar 24.2%. Jika kita perhatikan indikator-indikator kinerja lainnya, maka BJBR juga kalah telak dibanding BBRI dan BTPN.
Tapi berhubung BBRI dan BTPN sendiri memang merupakan dua saham perbankan terbaik di bursa (analisisnya bisa anda baca lagi disini), maka adalah wajar jika BJBR kesulitan menyalip mereka. Namun disinilah letak satu poin lagi yang membuat BJBR ini menarik, yakni: Berbeda dengan bank-bank lain yang hanya melakukan bisnisnya seperti biasa, pihak manajemen BJBR banyak sekali melakukan perubahan dan pengembangan usaha untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik kedepannya. Berikut ini adalah sebagian dari poin-poin ‘transformasi’ yang sedang terjadi pada perusahaan.
  1. Mengganti nama dari Bank Jabar Banten menjadi Bank BJB. Logo bank juga diganti dengan logo yang lebih terkesan modern. Status bank daerah perlahan ditinggalkan untuk menjadi bank nasional.
  2. Meluncurkan slogan baru, ‘bigger stronger better’ which is awesome, I think.
  3. Membajak direktur baru dari Bank BNI, Mr. Bien Subiantoro. Belakangan direktur yang baru ini memang lebih profesional dibanding direktur sebelumnya, itu bisa dilihat dari surat pertanggung jawabannya yang sangat lengkap dan mendetail di laporan tahunan BJBR. Selain merekrut direktur baru, jumlah pegawai Bank BJB sendiri pada tahun 2012 naik 130% alias dua kali lipat lebih dibanding tahun 2011.
  4. Membuka banyak kantor cabang hingga ke Sulawesi
  5. Aktif membangun brand dengan sering-sering menampilkan iklan entah itu di televisi, radio, media cetak, dan internet.
  6. Membentuk berbagai komite untuk menjaga kualitas kredit. Hingga saat ini salah satu masalah yang menekan kinerja BJBR adalah kualitas kreditnya yang masih rendah.
  7. Masuk ke bisnis pembiayaan UKM dengan mengembangkan ‘Waroeng BJB’
  8. Meluncurkan ‘BJB Precious’, yakni layanan perbankan untuk nasabah kelas atas.
  9. Terus mengembangkan layanan teknologi informasi perbankan. Yang terbaru, BJBR akan segera menyusul bank-bank lainnya untuk segera memiliki layanan SMS dan internet banking (masih nunggu izin dari BI), dan yang paling penting:
  10. Menetapkan visi untuk menjadi salah satu dari sepuluh bank terbesar di Indonesia di tahun 2018.
Nah, seperti biasa, namanya usaha itu bisa berhasil, bisa juga gagal. Tapi jika berbagai transformasi yang dilakukan manajemen mulai membuahkan hasil di tahun 2014 mendatang, dimana kinerja BJBR mulai melompat, maka seharusnya sahamnya juga akan mampu menembus batas 1,300, yang selama ini menjadi tembok penghalang yang sangat kokoh. Sebenarnya kalau kita bicara ‘transformasi’, maka BJBR bukanlah satu-satunya bank di BEI yang sedang giat-giatnya berekspansi, karena Bank Pundi (BEKS) pun tengah melakukan hal yang sama (dan mungkin juga beberapa bank lainnya). Hanya balik lagi kalau kita memperhatikan kinerja terbaru perusahaan, maka BJBR tetap jauh lebih menarik.
Disisi lain selama IHSG nggak kumat lagi seperti kemarin, maka tanpa perlu menunggu hasil dari kinerjanya di tahun depan, seharusnya BJBR bisa segera balik lagi ke track-nya selama ini, yakni 1,000 – 1,200. Jadi bahkan jika anda mengabaikan prospek kinerja BJBR di masa yang akan datang, maka saham ini tetap masih sangat menarik karena statusnya sebagai value stock. Selain BJBR, Bank Bukopin (BBKP) adalah juga salah satu saham perbankan yang berstatus sebagai value stock, tapi harganya saat ini memang sudah berada di track-nya, yakni 600-an.
PT Bank BJB, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: A
Rating saham pada 940: [...]

Program Perlindungan Investor

Di Indonesia, jumlah investor di pasar saham masih sangat sedikit, yakni belum ada 1% dari total populasi penduduk. Hal ini sangat berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, dimana 12 dan 36% penduduknya (data tahun 2011, sekarang mungkin udah naik lagi) sudah mengenal saham. Salah satu penyebab minimnya partisipasi masyarakat dalam berinvestasi di saham, kalau menurut banyak pihak, adalah karena masih kurangnya sosialisasi dan edukasi tentang saham itu sendiri. Sebenarnya diluar sana terdapat banyak orang-orang yang tertarik untuk masuk ke bursa, namun mereka enggan untuk membuka rekening karena memang masih belum mengerti.

Tapi mungkin masalahnya bukan sekedar di kurangnya sosialisasi dan edukasi. Sejak pasar saham Indonesia mulai ramai pada tahun 1990-an, dan semakin ramai dalam lima belas tahun terakhir ini, selalu ada saja cerita-cerita tentang investor yang mengalami kerugian yang besar gara-gara ‘main’ saham, dan hal ini tentu saja menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap berinvestasi di pasar saham itu sendiri.
Contohnya, katakanlah anda adalah orang yang masih awam sama sekali dengan saham, dan anda bermaksud untuk membuka rekening di sekuritas karena tertarik dengan peluang keuntungan yang mungkin bisa diperoleh. Sudah tentu, yang akan anda lakukan pertama kali adalah searching di internet tentang seperti apa sih saham itu? Apakah benar menguntungkan atau malah merugikan? Termasuk juga anda akan berusaha menghubungi teman/keluarga yang sudah pernah terjun ke dunia saham sebelumnya. Dan jika ternyata teman anda tersebut justru mengalami kerugian gara-gara saham, maka apakah anda masih tertarik untuk ikut invest di saham? Contoh simpel saja: Jika sekarang ini adalah bulan Januari 2009, dimana IHSG sudah berada di posisi 1,100-an setelah terus menerus turun dari puncaknya di posisi 2,800-an, maka apakah anda masih berani untuk buka rekening di sekuritas, sementara teman anda yang sudah lebih dulu masuk ke pasar setahun sebelumnya telah mengalami kerugian yang luar biasa?
Disisi lain bukan tidak mungkin pula teman anda tadi sukses untung besar, sehingga andapun berpikir bahwa ternyata main saham itu mudah. Tapi setelah satu atau dua bulan, anda ternyata malah rugi! Misalnya dari dana yang tadinya Rp10 juta, sekarang tinggal sisa Rp7 juta. Nah, apakah anda masih mau meneruskan kegiatan investasi anda? Kalau berdasarkan pengalaman penulis ngobrol sama teman-teman yang newbie (pemula) atau pernah menjadi newbie, rata-rata mereka terus maju pantang mundur, dan menganggap bahwa kerugian tersebut adalah semacam biaya sekolah yang mau tidak mau harus mereka keluarkan untuk belajar.
Tapi tak sedikit pula investor newbie ini yang kemudian kapok dan berhenti sama sekali, sekaligus memberi cap bahwa berinvestasi di saham merupakan tindakan spekulasi.
Pada banyak kasus, seorang investor bisa mengalami kerugian karena empat hal yakni: 1. Ketidak tahuan dalam memilih saham (jadi dia membeli saham tanpa analisis sebelumnya), 2. Masih kurangnya pengalaman (sering mengalami greed dan fear, itu bagian dari kurangnya pengalaman), 3. Faktor risiko kinerja emiten yang tidak sesuai harapan, dan 4. Faktor risiko terjadinya koreksi pasar/IHSG. Pada batas ini tidak ada yang bisa dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai otoritas bursa dalam berupaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap investasi di saham, kecuali berusaha sebisa mungkin memberikan layanan edukasi kepada para calon investor bahwa saham itu aman bla bla bla.
Tapi jika kerugian tersebut terjadi karena adanya saham-saham dengan reputasi ‘gorengan’ di bursa, yang entah dengan sengaja atau tidak menarik para investor untuk berspekulasi didalamnya sehingga kemudian para investor ini pada akhirnya mengalami kerugian, atau karena adanya perusahaan abal-abal yang ikut listing, maka saya pikir BEI punya tanggung jawab disini. Ibaratnya jika pasar saham Indonesia adalah tempat parkir, maka adalah wajar BEI sebagai pengelolanya tidak bisa bertanggung jawab jika ada mobil yang rusak atau dicuri. Akan tetapi jika BEI tidak menyediakan fasilitas keamanan yang standar termasuk mensiagakan petugas security, sehingga maling-maling bisa dengan bebas berkeliaran di dalam gedung parkir tersebut, maka akan keterlaluan jika mereka tidak mau disalahkan kalau kemudian ada kejadian mobil hilang atau semacamnya.
Jadi sekali lagi, anda sebagai investor (atau calon investor) memang tidak bisa menuntut apapun kepada BEI atau pihak otoritas bursa lainnya (KSEI, KPEI, OJK) jika anda kebetulan mengalami kerugian. Karena jika anda memperoleh keuntungan pun, orang-orang di BEI tidak akan menuntut bagian. Meski demikian anda tentu berhak untuk memperoleh perlindungan dari pihak BEI atau lainnya sebagai penyelenggara pasar, terhadap kegiatan investasi yang anda lakukan. Minimal ketika anda mengalami entah itu saham anda disuspensi, atau harganya terus turun sampai posisi dimana mau cut loss pun sudah nggak bisa, atau bahkan perusahaannya bangkrut, maka anda tahu kemana harus mengadu, termasuk memperoleh kejelasan tentang nasib dana investasi anda.
Namun sayangnya mekanisme perlindungan terhadap investor, hingga tahun 2013 ini, boleh dibilang masih belum jelas. Kasus terakhir ketika kemarin Dayaindo Resources (KARK) bangkrut, banyak sekali pemegang sahamnya yang kebingungan harus melakukan apa, atau melapor kemana, sehingga akhirnya mereka cuma bisa pasrah. Pihak OJK ataupun BEI pun tidak menyediakan hotline khusus dimana investor bisa dengan mudah melapor kemudian akan dilayani dengan baik dengan petugas yang siaga 24 jam, kecuali nomor telepon dan fax standar kantoran.
Well, apapun itu, yang jelas jika ini terus dibiarkan maka sampai kapanpun orang-orang akan tetap enggan berinvestasi di pasar saham di tanah air.
Untungnya, belakangan ini pihak otoritas mulai berbenah. Pada tanggal 11 September 2013 kemarin, OJK telah mengeluarkan izin usaha kepada PT Penyelenggara Program Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (PT P3IEI). P3IEI inilah yang nantinya berwenang untuk menyelenggarakan program perlindungan terhadap investor saham dan obligasi di Indonesia, meskipun masih belum jelas seperti apa mekanisme dari program yang dimaksud (lagian nama lembaganya kok susah banget.. P3IEI??). Namun yang jelas P3IEI ini akan mulai beroperasi pada tahun 2014 mendatang.

Rilis BEI terkait PT P3IEI

Nah, lalu apakah dengan hadirnya P3IEI ini maka para investor di pasar saham (dan obligasi) menjadi terlindungi? Kita tentu belum tahu, tapi setidaknya adanya P3IEI ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Jika anda ingin tahu lebih banyak tentang seperti apa ‘perlindungan’ yang nanti akan diterapkan, maka anda bisa menghubungi sekretaris perusahaan, Rizky Sochmaputra, di nomor telepon 021-5155904. Mohon maaf pin BB atau semacamnya belum ada, namun saya dengan ini mengusulkan kepada P3IEI ini untuk juga menyediakan kontak yang lebih mudah seperti pin BB tadi (whatsapp juga boleh lah). Mekanisme program pelindungan investor ini hanya akan berjalan dengan baik jika para investor itu sendiri diberi kemudahan untuk melapor atau mengadu.
Pada akhirnya, penulis mengapresiasi pendirian P3IEI ini. Sejak tahun 2009 sampai sekarang, penulis bisa melihat bahwa terdapat banyak sekali perkembangan yang positif di bidang per-saham-an ini, dimana para investor kini jauh lebih cerdas dalam berinvestasi itu sendiri (dulu semua orang cuma mau pake teknikal, tapi sekarang analisis fundamental juga mulai populer), sementara investor yang masih baru-baru bersedia meluangkan waktunya untuk belajar. Dan sekarang, pihak penyelenggara pasar modal juga turut andil dalam berusaha menciptakan ‘suasana pasar’ yang lebih aman dan nyaman. Jika nanti Prudential, Manulife dan semacamnya bisa ‘dipaksa’ untuk IPO, maka itu akan lebih bagus lagi.

NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis saham berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2013. Anda bisa memperolehnya [...]

Kriteria Saham yang Layak untuk Invest, dari sisi Produk Perusahaan

Empat tahun lalu, ketika penulis untuk pertama kalinya mempelajari laporan-laporan keuangan perusahaan, penulis mengira bahwa kinerja dari perusahaan-perusahaan properti akan jauh lebih bagus dibanding perusahaan-perusahaan dari sektor lainnya. Penyebabnya adalah perusahaan properti jualan produk rumah, kantor, dll yang harganya tinggi, yakni mencapai ratusan juta bahkan milyaran Rupiah per unitnya, sehingga pendapatannya pun pasti besar. Sementara untuk perusahaan seperti Indofood, misalnya, berapa sih besarnya keuntungan dari menjual Indomie seharga Rp1,000 per bungkusnya? (di tahun 2009, harga Indomie masih sekitar seribuan). Dari penampilan para penjualnya pun, bisa kita lihat bahwa agen-agen properti biasanya tampak perlente dan pake dasi, alias jauh lebih meyakinkan ketimbang penampilan ibu-ibu berdaster yang menjual Indomie di warung-warung kelontong.


Namun setelah mengecek beberapa laporan keuangan, ketika itu penulis malah menemukan bahwa laba bersih/return on equity yang dicatat Indofood ternyata jauh lebih besar ketimbang laba bersih dari beberapa perusahaan properti, seperti Bumi Serpong Damai, Lippo Karawaci, dan Summarecon. Okay, di tahun 2009 sektor properti memang belum booming seperti sekarang. Tapi saat inipun, ketika mulai banyak emiten properti yang mencatat ROE diatas 20%, namun tetap saja kinerja mereka secara umum tidak pernah lebih baik dibanding sektor perusahaan yang menjual ‘produk recehan’ seperti Unilever, Mayora, Kalbe Farma, dan Indofood CBP. Anda bisa lihat sendiri, produk termahal yang dijual Unilever hanyalah shampoo merk TRESemme dengan harga sekitar Rp16,000 per botol ukuran sedang. Sementara Bumi Serpong Damai? Produk ‘termurah’ yang mereka jual adalah rumah kecil dengan harga Rp250 – 300 jutaan, di kawasan Kota Wisata Bekasi (Kalau di BSD City-nya sendiri jangan harap ada rumah yang harganya segitu).

Tapi intinya adalah, bagaimana mungkin suatu produk yang harganya hanya beberapa ribu perak bisa lebih menguntungkan ketimbang produk seharga ratusan juta Rupiah? Dan jawabannya, dimana penulis yakin anda juga sudah mengetahuinya, adalah terletak di omzet! Sebuah perusahaan properti belum tentu bisa menjual rumah setiap hari, dan pangsa pasarnya juga terbatas pada lokasi sekitar rumah itu sendiri. Sementara perusahaan consumer goods yang menjual sabun mandi, sabun cuci piring, dan shampoo, setiap hari pasti ada saja pembelinya, dan mereka bisa menjual produknya ke mana saja dan ke siapa saja, tergantung kemampuan jaringan distribusinya. Ketika seseorang menggunakan sabun mandi merk Lifebuoy (salah satu merk sabun milik Unilever) kemudian cocok dengan sabun tersebut, misalnya, maka kedepannya ia akan kembali membelinya, secara terus menerus. Jadi meski keuntungan dari penjualan satu batang sabun terbilang kecil, namun akumulasi keuntungan yang diperoleh Unilever dari pembelian secara berulang-ulang dan terus menerus itulah, yang menyebabkan perusahaan kemudian meraup untung besar setiap tahunnya.

Sementara ketika seseorang membeli rumah, kemudian merasa nyaman tinggal di rumah tersebut, maka itu bukan berarti besok-besok dia akan beli rumah lagi. Tidak hanya rumah, ketika seseorang membeli mobil dan merasa puas dengan mobil tersebut, maka bukan berarti dia nanti akan beli lagi. Intinya adalah, untuk perusahaan yang menjual produk dengan harga jual yang tinggi, maka meski keuntungan yang dihasilkan per penjualan mungkin cukup besar, namun omzet/volume penjualan itu sendiri biasanya jauh lebih kecil ketimbang volume penjualan barang-barang jenis fast moving.

Dan berdasarkan pengalaman penulis menganalisis selama ini, kinerja dari perusahaan-perusahaan yang menjual ‘produk recehan’ nyaris selalu lebih baik ketimbang perusahaan-perusahaan yang menjual produk dengan harga tinggi. Secara umum, berikut ini adalah kriteria perusahaan/emiten yang memiliki kinerja bagus dan biasanya juga konsisten dalam jangka panjang (sehingga sahamnya layak untuk investasi), jika dilihat dari sisi produk yang dihasilkan perusahaan. Kriteria berikut diurutkan berdasarkan tingkat prioritasnya.

1. Harga produknya murah

Terkait hal ini sudah kita bahas diatas. Harga produk yang murah juga menyebabkan produk tersebut menjadi terjangkau oleh semua kalangan, sehingga pangsa pasarnya otomatis lebih luas ketimbang produk dengan harga jual yang lebih tinggi.

Namun apakah ‘produk murah’ selalu berarti barang-barang consumer goods seperti sabun mandi dan sabun cuci piring? Untungnya nggak juga. Ketika anda membuka rekening tabungan di bank, kemudian anda dibebankan biaya administrasi yang hanya sebesar Rp15,000-an per bulan, maka juga bisa dikatakan bahwa layanan perbankan termasuk produk yang harganya murah. Ketika anda menonton televisi di rumah dan memperoleh banyak sekali tayangan-tayangan film dll secara gratis, dan sebagai gantinya anda hanya perlu menyaksikan iklan, maka perusahaan stasiun televisi/media juga merupakan perusahaan dengan harga produk yang murah. Dan ketika anda membayar biaya sebesar seratus ribuan  per bulan untuk membeli pulsa telepon dan internet (untuk anak-anak sekolah, ada juga paket seharga Rp25,000 per bulan) maka perusahaan telekomunikasi juga termasuk perusahaan yang menghasilkan produk murah.

Tentunya terdapat unsur subjektivitas dalam mendeskripsikan ‘murah’ atau ‘mahal’ disini. Anda mungkin tidak akan mempermasalahkan pengeluaran sebesar seratus atau dua ratus ribu per bulan untuk biaya internet, tapi bagi orang lain bisa jadi itu adalah jumlah uang yang besar. Karena itulah ketika sebuah perusahaan menjual produk yang harganya (menurut anda) murah, maka bukan berarti perusahaan tersebut menawarkan kinerja yang bagus serta konsisten dalam jangka panjang, kecuali jika produknya tersebut memenuhi syarat berikutnya lagi:

2. Dibutuhkan orang banyak secara terus menerus

Pernahkah anda membeli lem superglue, misalnya untuk memperbaiki sandal jepit yang putus? Penulis kebetulan pernah. Harganya? Murah, cuma enam ribu Rupiah di toko bangunan. Tapi jika anda kemudian bertanya seberapa sering penulis membeli lem tersebut, maka jawabannya adalah penulis seumur-umur hanya pernah membelinya sebanyak satu kali itu saja. Malah setelah memperbaiki sandal tadi sisa lemnya masih cukup banyak, sehingga jika nanti sandalnya putus lagi, maka penulis masih bisa pake lem yang itu saja, alias gak perlu beli lagi.

So, meski harga produknya sama-sama murah, namun dalam hal ini jelas bahwa omzet penjualan produk lem diatas tidak akan selancar omzet penjualan sabun mandi atau Indomie. Semua orang tentu perlu mandi, namun tidak semua orang harus memperbaiki sesuatu dengan lem. Dan jika orang-orang perlu mandi setiap hari, maka ketika seseorang harus memperbaiki sandal menggunakan produk lem tersebut (seperti penulis tadi), namun orang tersebut tidak akan memperbaiki sandalnya setiap hari.

Poin ‘dibutuhkan orang banyak secara terus menerus’ ini, dalam beberapa kasus terkadang lebih penting dalam menentukan konsistensi kinerja perusahaan yang memproduksi produk yang bersangkutan dalam jangka panjang, ketimbang sekedar harga produk yang murah. Contohnya anda mungkin tahu bahwa investasi di pom bensin, meski membutuhkan nilai investasi yang tinggi serta juga tidak menawarkan break even point dalam waktu singkat, namun menawarkan pendapatan yang konsisten serta risiko yang rendah. Hal ini karena semua orang, baik langsung maupun tidak langsung, membutuhkan bensin dan solar secara terus menerus, tak peduli berapapun harganya. Buktinya, meski dari jaman eyang Harto sampai sekarang harga bensin secara umum naik terus, tapi toh tingkat konsumsi bensin nggak pernah turun. Jika kemarin harga bensin jenis premium dinaikkan dari Rp4,500 menjadi Rp10,000 per liter, misalnya, maka orang-orang tetap akan membelinya.

Dalam hal inilah subjektivitas terkait apakah harga bensin dianggap mahal atau murah, itu sudah tidak penting lagi. Karena tak peduli meski anda menganggap bahwa harga bensin sebesar Rp6,500 adalah mahal, namun toh anda akan tetap membelinya, karena mobil/motor anda dirumah nggak mungkin diisi air.

3. Bisa diproduksi secara massal dengan biaya yang rendah

Ketika sebuah produk memenuhi syarat harga yang terjangkau oleh semua kalangan, serta dibutuhkan orang banyak secara terus menerus, maka produk tersebut hanya membutuhkan satu syarat lagi untuk bisa menghasilkan omzet penjualan yang besar bagi perusahaan yang bersangkutan, yakni: Bisa diproduksi dalam jumlah massal. Sebab jika sebuah perusahaan tidak mampu memproduksi produknya dalam jumlah yang banyak, maka bagaimana mungkin omzet penjualannya bisa menjadi besar?

Tapi untungnya syarat yang ini mungkin tidak terlalu penting untuk diperhatikan mengingat untuk barang-barang yang sifatnya pabrikan (dibuat di pabrik), seperti barang-barang elektronik, obat-obatan, rokok, semen, dll, maka barang tersebut hampir pasti bisa diproduksi secara massal. Jika produk tersebut bersifat jasa, seperti misalnya jasa perbankan, maka jumlah produksinya bisa lebih massal lagi. Untuk menyediakan layanan perbankan di suatu kecamatan, misalnya, maka sebuah bank cukup membuka kantor cabang disitu, dan selanjutnya tinggal pintar-pintar tim marketingnya saja dalam memasarkan produk tabungan dan kredit ke masyarakat sekitar.

Namun ketika sebuah produk bisa diproduksi secara massal, sehingga omzet penjualannya menjadi besar, maka itu bukan berarti laba perusahaan otomatis menjadi besar pula. Pendapatan yang besar dari penjualan sebuah produk hanya akan menghasilkan laba yang besar jika biaya produksinya terkendali atau kalau bisa sekecil-kecilnya, sehingga kemudian diperoleh margin laba bersih yang besar.

Karena itulah, syarat terakhir dari sebuah produk yang ideal adalah, produk tersebut tidak hanya harus bisa diproduksi secara massal, namun juga bisa diproduksi dengan biaya yang rendah. Jika anda perhatikan di BEI, beberapa sektor yang selama ini biaya produksinya rendah, atau dalam hal ini dilihat dari margin laba bersihnya yang besar, adalah sektor consumer goods, perbankan, multifinance alias pembiayaan, asuransi, semen, pakan ternak, tambang termasuk batubara, perkebunan kelapa sawit, dan otomotif serta komponennya.

Sementara sektor-sektor lainnya rata-rata memiliki margin laba yang rendah, termasuk sektor properti dan konstruksi juga baru sekarang-sekarang aja marginnya cukup besar. Untuk beberapa sektor seperti industri kimia dan kabel, margin perusahaan-perusahaan di sektor tersebut terbilang kecil karena kebutuhan bahan baku mereka kebanyakan diperoleh dari impor pada harga beli yang cukup mahal, karena industri di dalam negeri belum bisa menyuplai.

Disisi lain untuk beberapa sektor tertentu, margin mereka yang besar juga bisa tertekan sewaktu-waktu jika pendapatan mereka sendiri turun ketika harga jual produknya jatuh. Dan inilah dialami oleh sektor batubara, dimana harga batubara dalam dua tahun terakhir ini terus turun hingga ke level dimana biaya produksinya sudah hampir lebih besar dari nilai jual batubara itu sendiri. Kemungkinan alasan inilah yang menyebabkan Buffett tidak menyukai saham-saham komoditas, yakni karena margin laba perusahaannya sama sekali tidak stabil dalam jangka panjang.

Okay, I think that’s all. Dengan demikian ketika anda hendak membeli sebuah saham untuk investasi jangka panjang, maka coba pelajari jenis produk yang dihasilkan perusahaannya. Apakah harganya murah dan terjangkau semua kalangan? Dibutuhkan orang banyak secara terus menerus? Dan bisa diproduksi secara massal dengan biaya yang rendah? Sebenarnya tidak hanya untuk invest jangka panjang, untuk trading pun sebaiknya kita memilih saham dengan kriteria produk yang demikian, karena biasanya fundamentalnya bagus sehingga risiko loss-nya pun rendah.

Lalu terkait contoh perusahaan yang produknya memenuhi ketiga kriteria yang tadi dibahas, anda pasti sudah mengetahuinya berdasarkan ilustrasi-ilustrasi yang digambarkan diatas. Tapi disini penulis akan memberikan satu contoh perusahaan yang tidak listing disini, melainkan di Bursa Nasdaq di Amerika, yakni Google, Inc. Check this out:

  1. Harga produk: Tidak hanya murah, tapi bahkan gratis! Lebih dari 90% produk Google bisa diperoleh/digunakan oleh orang-orang diseluruh dunia secara gratis. Dan untuk produk yang berbayarnya pun, harganya tidak pernah terlalu mahal, melainkan hanya di kisaran US$ 5 – 25 per produk.
  2. Dibutuhkan orang banyak secara terus menerus: Ketika seseorang mulai menggunakan internet, maka tidak bisa tidak, ia akan menggunakan layanan yang disediakan Google secara terus menerus, mulai dari search engine, email, Youtube, Google Map, dll. Blog yang sedang anda baca inipun merupakan salah satu layanan dari Google, yakni Blogger. Dan ya, penulis menggunakannya setiap hari, tidak bisa tidak.
  3. Bisa diproduksi secara massal dengan biaya produksi yang murah: Jika Indofood mungkin bisa pusing ketika harga gandum (bahan baku tepung terigu) naik, maka Google sama sekali tidak perlu memikirkan biaya ‘bahan baku’ dalam membuat produk-produknya, karena berbagai jenis layanannya secara otomatis bisa diperoleh/digunakan oleh semua orang diseluruh dunia selama orang tersebut tinggal di daerah yang ada sinyal internetnya. Biaya terbesar yang dikeluarkan Google hanylaha untuk pengembangan produk. Tapi sekali produk tersebut jadi dan berfungsi, maka kesananya perusahaan tinggal panen pendapatan, nyaris tanpa perlu mengeluarkan biaya produksi sama sekali.
Karena jenis produknya secara sempurna memenuhi ketiga kriteria diatas, maka tak heran jika Google kemudian menjadi salah satu perusahaan yang paling ‘sakti’ di Amerika, karena disisi lain perusahaan ini dikelola oleh tim manajemen yang super-brilian. Harga sahamnya pun, penulis ingat ketika di tahun 2009 lalu posisinya masih di US$ 400-an per lembar. Tapi sekarang? Sudah menembus US$ 1,000! Jika anda termasuk investor yang suka berinvestasi di saham-saham overseas, maka Google adalah salah satu saham bluchip yang boleh anda pertimbangkan.

Sayangnya ketika sebuah perusahaan memproduksi jenis produk yang memenuhi kriteria diatas, maka biasanya harga sahamnya pun selangit, karena perusahaannya umumnya memiliki fundamental yang bagus. Google sendiri pun pada harga saham US$ 1,011, PER-nya mencapai 27.5 kali. Malah kalau penulis perhatikan justru inilah kelemahan utama dari saham-saham yang produk perusahaannya memenuhi tiga kriteria diatas: Produknya tersebut memang murah, tapi harga sahamnya sendiri amat mahal.

Koleksi ‘produk murah’ yang diproduksi oleh ‘perusahaan mahal’. Anda tidak perlu menebak-nebak, perusahaan mana yang dimaksud


Karena itulah kalau penulis sendiri tidak terlalu ngotot dalam menerapkan ketiga kriteria diatas dalam memilih saham, melainkan memberikan toleransi. Misalnya untuk perusahaan ritel spesialis voucher pulsa, seperti yang kita bahas di artikel minggu lalu, harga produknya memang murah dan dibutuhkan orang banyak secara terus menerus. Namun disisi lain biaya produksinya sangat mahal karena perusahaan mengambil voucher pulsa tersebut dari perusahaan lain, bukan bikin sendiri. Jadi produk dari perusahaan voucher pulsa ini tidak memenuhi kriteria produk diatas secara menyeluruh.

Tapi karena harga sahamnya pun tidak terlalu mahal, maka sahamnya tetap layak invest. Malah dalam kasus ketika valuasi sebuah saham memang benar-benar murah, maka kita tidak perlu lagi memperhatikan apakah produk yang dihasilkan perusahaan memenuhi ketiga kriteria diatas atau tidak, selama profitabilitas dan lain-lainnya bagus. Disisi lain jika anda menemukan saham yang valuasinya belum begitu mahal, sementara produk yang dijual perusahaan memenuhi ketiga kriteria diatas dan fundamental perusahaannya sendiri terbilang bagus, then what are you waiting for?


Anyway, ‘kriteria produk’ ini baru merupakan salah satu poin yang harus anda perhatikan dalam memilih sebuah saham, dimana masih ada poin-poin lainnya yang juga harus anda perhatikan, salah satunya kriteria manajemen. Kebetulan penulis sudah menulis artikelnya disini. Untuk poin lainnya lagi, kita akan bahas kapan-kapan.


NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis saham berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2013. Anda bisa memperolehnya [...]

Ebook Kuartalan edisi Q3 2013

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2013 (Q3 2013). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid.
  2. Memiliki fundamental yang bagus, minimal bisa dilihat dari rasio profitabilitasnya (ROA, ROE, NPM) yang besar.
  3. Kalau bisa mencatat kenaikan laba yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  4. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini akan terbit pada hari Senin tanggal 11 November 2013, dan akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan. Anda bisa memperoleh ebook-nya dengan cara preorder, keterangan selengkapnya baca disini.
Berikut adalah screenshot ebooknya, klik gambar untuk memperbesar:
Bagi anda yang belum pernah membaca ebook ini sebelumnya, penulis menyediakan sampelnya yakni Ebook Kuartalan Edisi Kuartal II 2011, yang terbit pada Agustus 2011 lalu. Anda bisa mendownloadnya disini, gratis! Jika anda tidak bisa mendownloadnya, maka kirim email dengan subjek ‘Sampel Ebook Kuartalan’, ke teguh.idx@gmail.com, dan penulis akan mengirim ebook-nya ke alamat email anda. Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.
We highly appreciate your opinion. Jadi kalau anda punya saran agar produk analisis ini menjadi lebih baik kedepannya, atau punya suggest saham tertentu yang menurut anda bagus, maka anda bisa kirim email yang berisi saran/list saham pilihan anda tersebut ke alamat email teguh.idx@gmail.com, dengan subjek saran. Jangan lupa sertakan nama lengkap anda, thanks!

Info lebih lanjut tentang produk analisis ini: Telp/SMS 081220445202 (Ms. Nury, my assistant), atau Pin BB 2850E045 (Ms. [...]

TiPhone Mobile Indonesia, dan Erajaya

Sekitar setahun lalu, tepatnya pada bulan Agustus 2012, penulis mulai mengamati saham-saham di sektor yang sebelumnya tidak begitu populer: Sektor ritel khusus produk telepon selular/ponsel dan aksesorisnya, dan voucher pulsa. Ketika itu dari beberapa saham di sektor ini, seperti Trikomsel Oke (TRIO), Erajaya Swasembada (ERAA), TiPhone Mobile (TELE), Skybee (SKYB), hingga Global Teleshop (GLOB), pilihannya jatuh pada ERAA. Dan ERAA memang tidak mengecewakan, dimana kinerjanya terus meningkat sehingga sahamnya pun terus naik dari ketika itu di 2,200, hingga sempat mencapai puncaknya di posisi 3,500, Mei lalu. Artikel selengkapnya bisa baca lagi disini.

Sayangnya memasuki tahun 2013 kinerja ERAA malah anjlok, sehingga sahamnya tidak hanya kembali lagi ke posisi 2,000-an, tapi terus bablas sampai balik lagi ke harga IPO-nya, yakni 1,000-an. Penurunan kinerja tersebut sangat jelas penyebabnya yakni pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, dimana itu menjadi salah satu risiko utama dari bisnis ERAA sebagai perusahaan distributor ponsel. Jadi praktis, sejak kuartal I lalu penulis keluar dan tidak lagi memperhatikan saham ini, begitu pula dengan sektornya.
Hingga kemarin seorang teman meminta analisis TELE, dan sepertinya saham yang tadinya tidak menarik ini, sekarang justru jadi lebih menarik ketimbang ERAA (ERAA sebenarnya masih menarik karena statusnya sebagai the largest distributor for smartphone in Indonesia. Tapi kita harus menunggu kinerjanya plus lagi dulu, termasuk nunggu Rupiah pulih lagi, mungkin tahun depan). Karena itulah kita akan membahas TELE disini, here we go!
Sejarah TELE dimulai pada tahun 1992, ketika pemiliknya, Mr. Hengky Setiawan, membuka toko pulsa dan ponsel pertamanya di Jakarta, setelah sebelumnya berbisnis jual beli ponsel bekas dari tangan ke tangan. Lima tahun kemudian yakni pada tahun 1997, Mr. Hengky memperoleh kepercayaan dari Telkomsel untuk menjadi distributor voucher pulsa dan kartu perdana Telkomsel. Kesepakatan tersebut melahirkan Telesindo Shop, dan Telesindo resmi berbadan hukum (menjadi PT Telesindo Shop) pada tahun 2001.
Selanjutnya di tahun 2006, Mr. Hengky sekali lagi memperoleh kepercayaan dari PT XL Axiata, yang ketika itu masih bernama PT Excelcom, untuk menjadi distributor voucher pulsa XL, sehingga pada tahun tersebut pengusaha yang dikenal karena memiliki kapal pesiar ini mendirikan perusahaan keduanya, PT Excel Utama. Dua tahun berselang yakni pada tahun 2008, Mr. Hengky memperoleh hak distributor untuk ponsel Tiongkok merk TiPhone di Indonesia, sehingga didirikanlah PT TiPhone Mobile Indonesia. Dan pada tahun 2010, Mr. Hengky masuk ke bisnis service ponsel dan content provider, dengan mendirikan PT Setia Utama Service dan PT Media Aplikasi.
Ekspansi terus berlanjut. Pada tahun 2011, seluruh perusahaan yang disebut diatas dikonsolidasikan dibawah PT TiPhone, untuk kemudian dibawa ke lantai bursa alias IPO pada tahun 2012, dengan kode TELE. Dan per April 2013, TELE sudah memiliki tak kurang dari 146 outlet, 92 service center, dan 180 ribu reseller aktif di seluruh Indonesia.

Logo PT TiPhone Mobile dengan slogannya, ‘time to connect’

Secara umum, berikut adalah beberapa lini bisnis yang dijalani TELE hingga saat ini:
  1. Distributor kartu perdana (starter pack) dan voucher pulsa Telkomsel, Telkom Flexi, dan XL Axiata.
  2. Distributor dan retail partner untuk produk-produk ponsel merk TiPhone, Blackberry, Samsung, LG, Nokia, HTC, dan iPhone, dengan porsi ponsel merk TiPhone masih merupakan yang terbesar.
  3. Layanan service center, dan
  4. Bisnis aplikasi serta content provider. Tapi hingga tahun 2013 ini, lini bisnis aplikasi dan content provider ini belum berhasil mencatatkan pendapatan.
Pada tahun 2012 lalu, sekitar 90% dari pendapatan TELE berasal dari penjualan kartu perdana dan voucher pulsa. Namun memasuki tahun 2013, seiring dengan meningkatnya portofolio merk ponsel yang dijual perusahaan, proporsi pendapatan perusahaan berubah menjadi 70% voucher pulsa, dan 30% ponsel (sampai saat ini pendapatan perusahaan dari bisnis service center masih sangat kecil). Nilai pendapatan perusahaan dari bisnis distribusi ponsel sangat mungkin akan kembali meningkat setelah pada Juni dan awal Oktober kemarin, TELE resmi mengakuisisi dua perusahaan yang masing-masing merupakan importir ponsel merk iPhone dan Samsung. Well, sepertinya kini TELE tidak bisa lagi dipandang sebelah mata sebagai distributor ponsel low-end seperti TiPhone, karena perusahaan kini juga mulai jualan ponsel-ponsel kelas atas. However, hingga Semester I 2013 lalu pendapatan TELE masih didominasi oleh penjualan voucher pulsa. Sementara sebagai distributor ponsel, TELE masih jauh dibanding ERAA yang merupakan perusahaan distributor ponsel terbesar di tanah air.
Namun menariknya, kita tentu tahu bahwa salah satu penyebab kenapa ERAA mencatat penurunan laba bersih di Semester I 2013 lalu adalah karena pelemahan Rupiah. Sementara TELE tidak mengalami dampak yang sama karena perusahaan lebih banyak menjual voucher pulsa (yang bukan diperoleh dari impor). Ini berarti jika suatu hari nanti TELE lebih banyak memperoleh pendapatannya dari distribusi ponsel, alias sama seperti ERAA, maka justru kinerjanya akan menjadi sangat mudah dipengaruhi oleh fluktuasi Rupiah.
Tapi terlepas dari itu, TELE menawarkan prospek pertumbuhan yang sangat menarik. Pasca akuisisinya terhadap importir iPhone dan Samsung pada tahun ini, di tahun 2014 mendatang TELE mentargetkan pendapatan dari penjualan ponsel sebesar Rp4.5 trilyun, dari hanya sekitar Rp1 trilyun pada tahun 2013 ini. Setelah ditambah pendapatan dari penjualan kartu perdana dan voucher pulsa sebesar sekitar Rp9 trilyun, maka TELE berpotensi meraup pendapatan Rp13.5 trilyun pada tahun 2014. Dengan asumsi bahwa TELE bisa mempertahankan margin laba bersihnya sebesar 3%, maka itu berarti laba bersih TELE di tahun 2014 akan menjadi Rp405 milyar. Margin laba bersih itu sendiri seharusnya akan meningkat pada tahun 2014 mendatang, katakanlah menjadi 4 – 5%, mengingat keuntungan dari jualan ponsel lebih besar ketimbang keuntungan dari jualan pulsa. Sebagai ilustrasi, pada Semester I 2013, margin laba operasional TELE dari penjualan ponsel mencapai 11.6%, sementara margin dari penjualan pulsa cuma 2.8%.
Jadi jika margin 4 – 5% tadi terealisasi, sementara TELE sendiri sukses mencatatkan pendapatan sebesar Rp13.5 trilyun sepanjang tahun 2014 mendatang, maka perusahaan akan mencetak laba bersih di kisaran Rp540 – 675 milyar. Mengingat posisi equity TELE pada saat ini hanyalah Rp1.8 trilyun, maka itu tentu saja merupakan angka laba bersih yang sangat besar untuk ukuran perusahaan distributor. Di artikel tahun lalu penulis mengatakan bahwa TELE ini hanya akan menarik jika perusahaan mampu memperoleh hak distribusi untuk merk-merk ponsel diluar TiPhone, dan ternyata mereka sukses melakukannya (kemungkinan berkat upaya dari Mr. Hengky sendiri secara personal, karena beliau ini memang dikenal nyentrik dan supel). Terakhir, ini semua masih belum termasuk potensi pendapatan dari bisnis aplikasi dan content provider, yang hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan.
Namun sudah tentu, angka-angka diatas hanyalah proyeksi kasar yang bisa saja keliru. Sementara kalau kita bertindak sebagai value investor dengan melihat valuasi sahamnya pada saat ini, maka TELE bersaing ketat dengan ERAA sebagai saham ponsel yang paling menarik di BEI (dari sisi valuasinya). Berikut adalah data PER dan PBV untuk kelima saham ritel ponsel dan pulsa di BEI, berdasarkan posisi harga terakhir mereka per tanggal 16 Oktober.
Stock
Price
PER
PBV
TELE
495
11.8
2.1
GLOB
1,320
10.3
3.4
ERAA
1,220
13.6
1.4
TRIO
1,400
12.3
3.4
SKYB
500
125.0
1.2
Nah, jika anda perhatikan, TRIO dan SKYB sejak awal tidak layak invest karena fundamentalnya tidak meyakinkan, dimana TRIO memiliki utang yang segunung, sementara SKYB gagal dalam mencatat laba yang konsisten (plus perusahaannya juga nggak pernah kedengaran akan melakukan aksi ekspansi tertentu). Jadi kandidatnya tinggal TELE, GLOB dan ERAA. Dari sisi manajemen, GLOB adalah anak usaha TRIO, sehingga meski perusahaan ini sejatinya mampu menampilkan fundamental yang bagus, namun kualitas pengelolaan perusahaannya agak meragukan.
Hal yang sepenuhnya berbeda ditampilkan oleh TELE dan ERAA, dimana keduanya merupakan grup usaha yang konservatif serta fokus pada pengembangan usaha itu sendiri, tanpa pernah menggelar right issue, menerbitkan obligasi, atau semacamnya (ERAA kemarin menerbitkan saham baru dalam rangka MESOP, tapi jumlahnya cuma 20 juta lembar). Jadi praktis, kalau anda mau berinvestasi di sektor ritel khusus produk ponsel dan voucher pulsa ini, maka pilihannya kalau nggak TELE ya ERAA. Selain itu di sektor ini memang hanya dua saham tersebut yang volume transaksi perdagangannya cukup likuid.
Kemudian kalau dari sisi prospek, seperti yang sudah kita bahas diatas, TELE pada hari ini jelas lebih menarik. Tapi kalau dari sisi valuasi maka mungkin ERAA lebih menarik dengan PBV hanya 1.4 kali (dengan ukuran kinerjanya pada saat ini, maka ERAA di harga 2,000-an memang mahal. Tapi sekarang kan dia cuma 1,000-an!). Sebab ERAA biar bagaimanapun merupakan perusahaan distributor ponsel terbesar di tanah air, dengan jaringan distribusi yang jauh lebih baik dibanding pesaing-pesaingnya, termasuk TELE. Kinerjanya yang menurun pada tahun ini lebih disebabkan karena adanya faktor risiko yang tidak terhindarkan, yakni pelemahan Rupiah tadi, sementara bisnis jualan ponsel dan pulsa (ERAA juga jualan pulsa, meski nggak banyak) yang dijalani perusahaan secara umum masih lancar dan nggak ada masalah. Jadi jika nanti Rupiah kembali bergerak stabil, mungkin tahun depan, maka seharusnya laba ERAA juga akan kembali meningkat.
However, ini bukan berarti TELE tidak bisa menyalip ERAA suatu saat nanti. ERAA, seperti yang kita ketahui, bisa menjadi perusahaan distributor ponsel nomor satu di Indonesia karena kepemilikannya terhadap PT Teletama Artha Mandiri (TAM), yang merupakan distributor Blackberry terbesar di tanah air. Sementara saat ini trend Blackberry di Indonesia mulai tergeser oleh Android (Samsung), dan itu sebabnya TELE kemarin mengakuisisi importir Samsung, bukan Blackberry. Jika ERAA, atau dalam hal ini TAM, tidak segera ‘do something’ terkait hal ini, maka bisa jadi pada tahun 2014 mendatang kinerja perusahaan tetap tidak membaik karena mulai ‘diganggu’ oleh TELE dan lainnya.
Kesimpulannya, jika cukup yakin dengan prospek yang ditawarkan TELE, maka saham ini cukup layak invest terutama jika anda bisa masuk di harga yang mencerminkan PBV kurang dari 2.0 kali, yang itu berarti 450. Target harganya? Let say 1,000 dalam setahun kedepan, tentunya dengan catatan jika target pendapatannya sukses dicapai. Penulis tentu tidak perlu lagi mengingatkan anda bahwa berinvestasi di saham seperti TELE ini lebih mengandung risiko ketimbang invest di saham-saham defensif seperti consumer goods, dimana peningkatan ataupun penurunan kinerja TELE di masa mendatang akan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.
Sementara jika anda lebih tertarik ke ERAA, maka saham ini mungkin baru akan menarik jika pada Kuartal I 2014 mendatang labanya kembali positif. Disisi lain jika anda sejak awal sudah masuk ke ERAA ini, maka menjualnya di harga sekarang praktis tidak disarankan, karena saham ini, berdasarkan harganya pada saat ini, merupakan yang paling murah di sektornya, terutama jika mempertimbangkan nama besar perusahaannya. Kalau anda bertanya kepada Warren Buffett ketika ia masih muda dulu (sebelum ia bertemu dengan Charlie Munger di tahun 1980-an), maka Buffett kemungkinan akan lebih memilih ERAA dibanding TELE. Sebab di tahun 1964 ia pernah mengatakan, ‘Berinvestasi pada saham-saham yang murah menawarkan keuntungan yang wajar setelah satu hingga tiga tahun. Seringkali alasan untuk membeli saham murah tersebut baru muncul belakangan, entah karena kinerja perusahaan yang membaik setelah beberapa waktu, adanya tawaran akuisisi, atau terjadinya perubahan psikologis pasar terhadap terhadap saham tersebut.’

Well, tapi saham manapun yang anda pilih, harap ingat selalu bahwa investasi anda tidak akan langsung menghasilkan keuntungan yang signifikan hanya dalam satu atau dua hari. Selain itu berhubung sebentar lagi kita akan memasuki musim laporan keuangan untuk periode Kuartal III 2013, maka mungkin ada baiknya jika anda menunggu hingga kedua perusahaan merilis laporan keuangan terbarunya masing-masing sebelum mengambil keputusan mau masuk kemana, just to be [...]

Ketika Amerika Mengalami Shutdown

Tanggal 1 Oktober kemarin, Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan penutupan (shutdown) kantor-kantor pemerintah setelah pihak House of Representatives (kalau di Indonesia, DPR) tidak juga menyelesaikan penyusunan anggaran untuk tahun fiskal 2014, yang memang dimulai pada tanggal 1 Oktober tersebut. Menurut Presiden Barack Obama, hal ini dikarenakan ‘perang politik’ antara dirinya dengan pihak The House. Tapi apapun itu, shutdown ini telah menyebabkan setidaknya 800 ribu pegawai negeri di lingkungan kantor Pemerintah Amerika, baik sipil maupun militer, telah dirumahkan (dirumahkan, bukan dipecat) hingga kegiatan Pemerintahan dibuka kembali. Pertanyaannya tentu saja, what’s next?

Ketika disebutkan bahwa Amerika ‘shutdown’, maka bukan berarti negara adidaya ini bubar, melainkan hanya kantor-kantor pemerintahannya saja yang ditutup, itupun terbatas di kantor pemerintah pusat (jadi pemerintah di negara-negara bagian tetap berjalan). Misalnya jika di hari-hari biasa, kantor Small Business Administration/SBA (kalau di Indonesia, Kementerian Koperasi dan UKM) melayani pemberian pinjaman kepada usaha kecil, maka selama masa shutdown ini kegiatan pemberian pinjaman itu dihentikan, seiring dengan dirumahkannya 62% pegawai di departemen SBA tersebut.
Demikian pula untuk kantor-kantor departemen lainnya, rata-rata 60 – 90% pegawainya dirumahkan, tentunya tanpa menerima gaji. Dan dari sekitar 1.3 juta pegawai yang masih bekerja di seluruh departemen, mereka juga bisa dipastikan akan menerima pengurangan atau penundaan pembayaran gaji, setidaknya sampai pihak The House menyelesaikan penyusunan anggaran.
Lalu bagaimana efek dari shutdown ini terhadap perekonomian Amerika? Nah, sekarang bayangkan anda adalah seorang PNS di Amerika. Anda, tiap bulannya menerima gaji sekian US Dollar, dan uang itu dipakai untuk pengeluaran rutin seperti kebutuhan sehari-hari dan cicilan rumah, serta sisanya untuk asuransi dan ditabung. Jika dalam satu bulan ternyata gaji tersebut tidak dibayar, maka otomatis pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari harus dihemat, cicilan rumah ada kemungkinan ditunda dulu pembayarannya, dan tabungan di bank harus dicairkan. Jika ini terjadi pada 800 ribu pegawai negeri sekaligus, maka bisa dibayangkan berapa penurunan omzet yang dialami toko sembako, berapa jumlah tagihan KPR yang macet, dan berapa jumlah dana tabungan yang di­-rush dari bank dan perusahaan asuransi.
Paragraf diatas menggambarkan potensi terhambatnya perputaran ekonomi karena menurunnya konsumsi dari para pegawai negeri. Sementara di pihak swasta, juga terdapat banyak perusahaan yang turut merumahkan sejumlah pegawainya, karena perusahaan-perusahaan ini sebelumnya menerima pesanan/order dari Pemerintah, tapi shutdown ini secara otomatis membatalkan hampir seluruh order-order tersebut. United Technologies, Sikorsky Aircraft, dan Pratt & Whitney adalah beberapa perusahaan yang merumahkan sebagian pegawainya, karena mereka tidak bisa lagi menyuplai pesawat terbang dan kebutuhan militer lainnya ke Departemen Pertahanan AS, setelah Departemen itu sendiri sekarang ditutup.
Berbagai efek domino yang disebabkan oleh shutdown ini tentu saja mempengaruhi perekonomian Amerika Serikat secara keseluruhan. Jumlah gaji yang seharusnya diterima oleh para pegawai negeri, tapi mereka tidak menerimanya karena adanya shutdown ini, mencapai lebih dari US$ 1 milyar per pekan. Ditambah dengan ‘hilangnya’ gaji pegawai swasta dan lain-lain, menurut Moody’s Analytics, dalam sebulan kedepan perekonomian Amerika akan menderita kerugian sekitar US$ 55 milyar. Goldman Sach’s memperkirakan bahwa PDB Amerika akan turun 0.9% karena shutdown ini, dan pertumbuhan ekonomi Amerika, menurut koran Los Angeles Times, akan tertekan menjadi 1.2 – 1.3%, dari 1.6% pada saat ini.
Namun potensi terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut mungkin tidak terlalu menarik untuk diperhatikan. Sebab jika pertumbuhan ekonomi Amerika benar-benar turun menjadi 1.2%, misalnya, maka angka tersebut masih dikisaran rata-rata pertumbuhan ekonomi Amerika selama 5 tahun terakhir ini. Pada tahun 2008, pertumbuhan ekonomi Amerika sempat minus/negatif karena efek dari krisis mortgage, dan ketika itu barulah terjadi krisis global. Tapi di tahun-tahun lainnya, pertumbuhan ekonomi Amerika selalu positif dengan rentang 0.9 – 3.3% per tahun. Jadi ketika pertumbuhan tersebut diproyeksi turun menjadi 1.2 – 1.3% karena adanya shutdown ini, maka sepertinya tidak ada yang menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Karena itulah, pada tanggal 1 Oktober ketika shutdown ini diumumkan, para investor di pasar saham Amerika tetap tenang-tenang saja, dan Dow Jones cs ketika itu malah naik.
However, ini bukan berarti ceritanya sudah selesai.
‘United States Shutdown’ yang terjadi kemarin merupakan salah satu klimaks dari perseteruan politik antara Presiden Barack Obama, yang merupakan kader Partai Demokrat, dengan House of Representatives, yang dipimpin oleh Partai Republik. Perseteruan politik antara kedua kubu ini, yakni Demokrat dan Republik, memang sudah terjadi sejak awal sejarah Amerika Serikat pada tahun 1700-an. Namun khusus untuk era Pemerintahan Obama, perseteruan itu mulai memanas sejak tahun 2011 (Obama menjabat Presiden sejak tahun 2009), yang ditandai dengan perdebatan di kongres terkait debt ceiling. Debt ceiling adalah batas maksimum jumlah utang Pemerintah Amerika Serikat, dimana batas maksimum tersebut ditentukan oleh kongres (gabungan antara The House dan Senat). Jika jumlah utang Pemerintah terus naik hingga mencapai batas maksimumnya, maka pihak kongres harus menaikkan batas tersebut (menaikkan debt ceiling), atau Pemerintah Amerika akan mengalami default (gagal bayar).
Nah, sebelum kita masuk ke bagian perseteruan politik antara Obama dan The House, pertama-tama kita bahas dulu tentang debt ceiling itu sendiri.
Pertama-tama, posisi utang Pemerintah Amerika per Oktober 2013 adalah US$ 16.7 trilyun. Tentunya akan timbul pertanyaan, Amerika sebenarnya berhutang kepada siapa? Jawabannya adalah utang sebesar US$ 16.7 trilyun tersebut mencerminkan jumlah mata uang US Dollar yang beredar di seluruh Amerika, dan juga seluruh dunia, pada saat ini. Uang tersebut tidak dicetak oleh Pemerintah Amerika sendiri, melainkan dicetak oleh Federal Reserve/The Fed. Sehingga secara teknis bisa dikatakan bahwa uang sebesar US$ 16.7 trilyun tersebut adalah utang Amerika terhadap bank sentralnya sendiri.
Kemudian, anggaran belanja Pemerintah Amerika, setiap tahunnya dibiayai oleh dua hal, yakni pajak yang ditarik dari warganya, dan ‘utang’. Jika anggaran belanja Pemerintah pada satu tahun tertentu adalah US$ 1 trilyun, sementara penerimaan pajak untuk tahun yang sama adalah juga US$ 1 trilyun, maka Amerika tidak perlu berhutang. Tapi jika dalam satu tahun tertentu anggaran belanja Pemerintah lebih besar dari penerimaan pajaknya, maka Pemerintah harus mengambil utang, dalam hal ini meminta The Fed untuk mencetak uang baru. Jika uang baru yang dicetak tersebut bernilai US$ 100 milyar, misalnya, maka dikatakan bahwa Pemerintah Amerika mengambil pinjaman/utang (tapi tidak disebutkan sebagai ‘utang kepada The Fed’) sebesar US$ 100 milyar. Nah, ketika Pemerintah hendak mengajukan kepada The Fed untuk ‘meminjam’ dana sebesar sekian, maka mereka harus memperoleh persetujuan dari kongres.
Yang dimaksud dengan kongres adalah rapat yang digelar di Washington, dimana peserta rapatnya adalah para anggota dewan dan senator, dari The House dan Senat (kalau di Indonesia seperti DPR dan MPR, sementara kongres itu sendiri kurang lebih seperti rapat paripurna). Kongres ini memiliki wewenang penuh untuk menentukan batas maksimum (debt ceiling) jumlah utang yang boleh dimiliki Pemerintah Amerika. Jadi ketika saat ini utang Pemerintah sudah mencapai batas maksimalnya, yakni US$ 16.7 trilyun, maka apakah batas tersebut dinaikkan kembali menjadi US$ 18 trilyun, atau US$ 20 trilyun, atau malah tidak dinaikkan sama sekali, itu terserah keputusan yang dihasilkan oleh kongres, biasanya melalui jajak pendapat alias voting.
Setiap kali jumlah utang Pemerintah menyentuh batas debt ceiling-nya, sementara disisi lain anggaran belanja yang ada tidak bisa sepenuhnya dibiayai oleh pajak, maka Pemerintah harus ‘setor muka’ ke The House dan Senat, untuk mengajukan agar debt ceiling tersebut dinaikkan, sehingga mereka melalui Department of Treasury bisa meminta The Fed untuk mencetak uang baru. Nah, ketika Pemerintah berada dalam posisi ‘memohon’ kepada The House dan Senat inilah, yang kemudian menjadi lobi-lobi politik diantara semua pihak. Biasanya pihak The House, terutama jika mereka kebetulan dipimpin oleh Partai yang berseberangan dengan Partai pemerintah, akan meminta syarat yang macam-macam kepada Presiden, jika Presiden sebagai pimpinan Pemerintah menginginkan agar debt ceiling tersebut dinaikkan.
Dan memang itulah yang terjadi pada masa Pemerintahan Obama. Obama, yang berasal dari Partai Demokrat, secara otomatis berseberangan secara politik dengan pihak The House, yang dipimpin oleh Partai Republik. Perseteruan antara Obama dan The House pertama kali mencuat pada tahun 2011 lalu, dimana jumlah utang Amerika ketika itu sudah mencapai batas debt ceiling-nya, yakni US$ 14.3 trilyun, tapi disisi lain Pemerintah sedang butuh utang karena anggaran belanja negara hanya 60% yang dibayai oleh pajak. Biasanya pihak The House melalui kongres tanpa ba bi bu akan langsung menaikkan batas debt ceiling tersebut, sehingga Pemerintah seperti biasa bisa nyamperin kantor The Fed lagi. Namun ketika itu, The House, karena alasan tertentu, menunda keputusan untuk menaikan debt ceiling. Deadline untuk menaikkan batas maksimum utang, yang sebelumnya tanggal 31 Mei 2011, menjadi molor hingga waktu yang belum ditentukan. Dan ketika itulah pasar saham dunia mulai wanti-wanti tentang kemungkinan bahwa Amerika akan default atau semacamnya, padahal sebenarnya itu semua cuma politik.
Pada saat itu Presiden Obama harus bekerja keras untuk melobi pihak The House, termasuk untuk ‘sungkem’ ke juru bicaranya (‘juru bicara’ disini mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai ketua DPR), John Boehner. Dan akhirnya, pada tanggal 2 Agustus 2011, Pemerintah dan kongres memperoleh kesepakatan tentang kenaikan debt ceiling. Berikut adalah poin-poin kesepakatan tersebut.
  1. Debt ceiling langsung dinaikkan sebesar US$ 400 milyar, dan Presiden Obama bisa meminta tambahan kenaikan sebesar maksimum US$ 2 trilyun dalam beberapa wakyu berikutnya.
  2. Jumlah total pengeluaran Pemerintah dalam sepuluh tahun kedepan akan dikurangi, dimana nilai pengurangan tersebut lebih besar dari kenaikan debt ceiling itu sendiri. Beberapa departemen yang akan dipotong anggarannya adalah Departemen Pertahanan, Department of Homeland Security, Department of Veteran Affairs, dan National Nuclear Security Administration.
Tiga hari kemudian, pada tanggal 5 Agustus 2011, Standard & Poor’s (S&P), salah satu dari tiga lembaga rating paling terkemuka di dunia (dua lainnya adalah Fitch dan Moody’s), untuk pertama kalinya dalam sejarah menurunkan rating utang Amerika dari AAA menjadi AA+. Penurunan rating inilah yang ketika itu seketika mengguncang pasar saham, dimana Dow Jones jeblok 5.6% dalam sehari, dan langsung diikuti oleh penurunan bursa-bursa saham lainnya di seluruh dunia, termasuk IHSG.
However, penurunan rating yang dilakukan S&P tidak berkaitan langsung dengan kenaikan debt ceiling. Pada April 2011, atau beberapa bulan sebelum debt ceiling dinaikkan, S&P sebenarnya sudah mengumumkan bahwa mereka kemungkinan akan menurunkan rating Amerika Serikat, dengan pertimbangan bahwa Amerika mengalami defisit sebesar 11% dibanding PDB-nya, dan jumlah utangnya kini mencapai lebih dari 80% PDB, dimana dua indikator tersebut relatif buruk jika dibandingkan dengan negara-negara lain dengan rating AAA.
Situasi Debt Ceiling, pada Saat Ini
Setelah debt ceiling dinaikkan pada tanggal 2 Agustus 2011, Presiden Obama bisa kembali dengan leluasa menjalankan roda pemerintahan. Namun pada akhir tahun 2012, jumlah utang Pemerintah kembali mentok di batas maksimum-nya, sehingga debt ceiling harus segera dinaikkan kembali sebelum deadline tanggal 31 Desember, atau Pemerintah harus melakukan pemotongan anggaran serta menaikkan pajak secara besar-besaran, yang dikenal dengan fiscal cliff. Untungnya setelah kembali melewati perdebatan alot dengan para anggota dewan, akhirnya keluar keputusan ‘darurat’ yang menyebutkan bahwa deadline yang tadinya tanggal 31 Desember 2012 menjadi ditunda hingga waktu yang belum ditentukan, dan debt ceiling itu sendiri dinaikkan dari US$ 16.4 menjadi 16.7 trilyun (naik sebesar US$ 300 milyar).
(Btw mungkin ada pertanyaan, kenapa selama Pemerintahan Obama pengeluaran negara selalu lebih besar dari penerimaan pajak, sehingga debt ceiling lagi-lagi harus dinaikkan? Jawabannya adalah karena pada tahun 2001 dan 2003, pada masa Pemerintahan Presiden Bush, terdapat Undang-Undang terkait pemotongan pajak, yang dikenal dengan istilah ‘Bush Tax Cuts’. Pemotongan pajak inilah, yang setelah terakumulasi selama bertahun-tahun, menyebabkan penerimaan pajak Pemerintah Amerika terus turun, sementara disisi lain anggaran belanja cenderung tetap bahkan naik.)
Setelah fiscal cliff teratasi, Obama secara intensif terus menghubungi pihak The House untuk menaikkan debt ceiling kembali (karena kenaikan US$ 300 milyar tadi masih terlalu kecil), namun pihak The House juga terus meminta syarat-syarat tertentu. Pada Mei 2013 lalu, Presiden Obama dengan tegas mengajukan syarat-syarat yang akan ia penuhi jika pihak kongres mau menaikkan debt ceiling, yakni: Nothing! Dan pihak The House meresponnya dengan memberikan tiga opsi berikut:
  1. Debt ceiling akan dinaikkan dalam jangka panjang, dalam artian Pemerintah Amerika boleh mengambil utang dalam jumlah berapapun hingga masa jabatan Obama berakhir. Tapi syaratnya adalah proyek pemerintah terkait jaminan sosial dan jaminan kesehatan (medicare dan medicaid) harus diprivatisasi, alias diserahkan kepada pihak swasta.
  2. Debt ceiling akan dinaikkan dalam jangka menengah, yakni Pemerintah Amerika boleh mengambil utang hingga tahun 2015. Syaratnya adalah Pemerintah harus memotong subsidi makanan, menekan inflasi, mereformasi perpajakan, dan membatasi pemberian jaminan kesehatan bagi masyarakat.
  3. Debt ceiling akan dinaikkan dalam jangka pendek, yakni hingga pertengahan tahun 2014. Syaratnya adalah Pemerintah harus mengurangi pengeluaran negara untuk jaminan sosial, menaikkan batas usia pensiun, dan menghapuskan subsidi pertanian.
Waktu berlalu, Obama tetap bertahan pada pendiriannya, sementara The House juga ngotot terkait syarat-syarat diatas. Hingga akhirnya pada tanggal 1 Oktober 2013, setelah Department of Treasury sudah hampir kehabisan duit karena mereka belum bisa mengajukan utang baru, Obama memutuskan untuk ‘shutdown’. Sekitar 800 ribu pegawai negeri dirumahkan, dan karenanya Pemerintah bisa menghemat anggaran untuk gaji pegawai, namun Pemerintah Amerika masih harus menggaji sekitar 1.3 juta pegawai lainnya yang masih bekerja (meski dengan penundaan, atau pemotongan). Ini artinya jika pihak Obama hingga satu atau dua bulan kedepan tidak juga mampu melobi The House untuk menaikkan debt ceiling, maka hampir bisa dipastikan akan ada shutdown lanjutan.
Dan jika ‘shutdown perdana’ yang saat ini sudah berlaku, seperti sudah dibahas diatas, diperkirakan tidak akan berdampak terlalu buruk terhadap perekonomian Amerika, maka shutdown kedua nanti, jika terjadi, hampir bisa dipastikan akan ditanggapi lebih serius oleh pasar saham. Fitch Ratings juga sudah mengingatkan bahwa jika debt ceiling ini terus menerus ditunda kenaikannya, maka mereka juga bisa saja menurunkan rating utang Amerika, seperti yang pernah dilakukan oleh S&P di tahun 2011.
So, What’s Next?
Tentunya tidak pernah ada yang tahu apakah pihak The House pada akhirnya akan menaikkan debt ceiling, termasuk Presiden Obama sendiri. Tapi bahkan jika debt ceiling tersebut jadi dinaikkan, dan Amerika terhindar dari shutdown lanjutan, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah Fitch akan tetap mempertahankan rating utang Amerika di level tertinggi, atau mengikuti jejak S&P untuk menurunkan rating tersebut? Sebab pada saat ini jumlah utang Amerika sudah melebih PDB-nya dengan rasio 101%, dan rasio utang terhadap PDB tersebut bisa menjadi lebih besar lagi, mungkin menjadi 110 – 120%, andaikata debt ceiling dinaikkan. Seperti yang dikatakan S&P, ketika jumlah utang suatu negara sudah mencapai lebih dari 80% PDB-nya, maka tidak seharusnya negara yang bersangkutan memiliki rating AAA sebagai rating tertinggi.
Tapi yang penting sekarang kita sudah mengetahui poin-poin utama yang akan menentukan arah pasar, yakni: 1. Kelanjutan negosiasi anggaran/debt ceiling antara Obama dan The House, apakah akan berakhir baik atau buruk, dan 2. Rating terbaru dari Fitch, apakah tetap tinggi atau turun. Skenario terbaiknya adalah The House akhirnya menaikkan debt ceiling tanpa syarat, dan Fitch tidak jadi menurunkan rating Amerika. Sementara skenario terburuknya, tentu saja, pihak The House berhasil memaksa Obama untuk memotong anggaran belanja negara disana-sini (termasuk medicaid), terjadi shutdown tahap dua, dan Fitch menurunkan rating Amerika.
Nah, jadi menurut anda sendiri, kira-kira skenario mana yang terjadi? Sekedar untuk mengingatkan, pada konflik Obama vs The House di bulan Agustus 2011 lalu, yang terjadi adalah skenario terburuk, sehingga pasar saham anjlok besar-besaran ketika itu, termasuk IHSG sempat drop 8.88% dalam sehari. Tapi untuk konflik di bulan Desember 2012 kemarin (fiscal cliff), yang terjadi adalah skenario terbaik, dan IHSG malah rally terus hingga mencapai puncaknya di bulan Mei 2013.
Well, tapi skenario manapun yang terjadi, yang jelas posisi IHSG sendiri pada saat ini masih cukup mahal dengan rata-rata PER 20.5 kali pada harga 4,419. IHSG pada periode Januari – Mei 2013 kemarin bisa terus naik hingga tembus 5,200-an hanya karena didorong oleh banyaknya dana asing yang masuk, dan bukan karena faktor fundamental (dalam jangka pendek, fundamental kita sekarang ini sedang sedikit goyah, baca lagi gambaran pekonomian Indonesia). Sementara pada saat ini dana asing tersebut sudah keluar dan belum mau masuk lagi (karena isu tapering dll). Disisi lain Dow Jones juga belum mengalami periode koreksi tahunannya setelah terakhir terkoreksi pada November 2012 lalu. Beberapa poin analisa diatas mengindikasikan bahwa pasar kemungkinan masih akan turun, dan tahun 2013 mungkin akan menjadi tahun pertama sejak tahun 2008 lalu, dimana posisi IHSG di akhir tahun ditutup lebih rendah dibanding awal tahun.
Namun kalau ada poin yang mungkin bisa mengubah skenario diatas (bahwa IHSG akan turun lagi), maka itu adalah potensi masuknya dana dari investor-investor lokal. Ketika artikel ini ditulis, posisi net foreign buy di BEI sepanjang tahun 2013 tercatat minus Rp9.8 trilyun, yang itu berarti jumlah dana asing yang masuk sepanjang tahun 2013 sudah keluar lagi hingga habis, dan dana asing yang masuk di tahun 2012 telah turut berkurang sebesar Rp9.8 trilyun. Pada akhir tahun 2012, posisi IHSG adalah 4,317, dan posisi tersebut bisa dicapai salah satunya karena ada sekian trilyun dana asing yang masuk (tepatnya Rp15.8 trilyun). Dan sekarang, mengingat dana asing tersebut sudah berkurang sebesar Rp9.8 trilyun, maka posisi IHSG pada saat ini seharusnya lebih rendah dibanding posisi 4,317 tadi bukan?
Tapi nyatanya IHSG masih stabil berada di posisi 4,418. Artinya, posisi dana asing yang keluar telah digantikan oleh masuknya dana lokal. Jika kita nonton televisi, sekarang ini BEI mulai sering menayangkan iklan untuk mendorong masyarakat untuk berinvestasi di saham. Jadi ada kemungkinan bahwa jumlah investor lokal di pasar, termasuk jumlah dana lokal itu sendiri, telah meningkat signifikan. Jika kondisi ini terus berlanjut (investor lokal terus masuk) maka bukan tidak mungkin kita akan sampai pada situasi dimana posisi asing tidak lagi begitu berpengaruh terhadap naik turunnya indeks, karena posisi investor lokal menjadi lebih dominan, dan IHSG bisa naik kembali ke posisi 5,000-an tanpa perlu menunggu asing masuk lagi ke pasar. We’ll see.
NB: Penulis menyelenggarakan seminar investasi saham di Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 12 Oktober 2013. Keterangan selengkapnya baca [...]

Surat Barack Obama Terkait ‘Shutdown’

Gedung Putih, Washington, 1 Oktober 2013
Kepada seluruh pegawai berdedikasi yang senantiasa bekerja keras, di lingkungan Kantor Pemerintahan Amerika Serikat.

Pemerintah Amerika Serikat adalah ‘perusahaan’ terbesar di Amerika, yang mempekerjakan lebih dari 2 juta pegawai negeri sipil, dan 1.4 juta pegawai militer aktif, yang melayani 50 negara bagian dan juga seluruh dunia.
Namun pihak kongres telah gagal dalam memenuhi kewajibannya terkait pembuatan anggaran belanja negara untuk tahun fiskal yang dimulai hari ini. Seharusnya mereka menyelesaikan anggaran tersebut sebelum tanggal 1 Oktober, namun mereka tidak melakukannya. Dan itu berarti bahwa Kantor Pemerintah beserta seluruh kegiatan didalamnya harus ditutup (shutdown), efektif mulai hari ini.
Saya ingin anda semua mengetahui bahwa saya akan terus bekerja dan mengupayakan agar pihak kongres segera menyelesaikan pembuatan anggaran, sehingga kegiatan pemerintahan bisa kembali dibuka, agar kegiatan layanan publik kembali berjalan, dan agar anda semua, para pegawai negeri, bisa kembali bekerja. Sekarang ini, berdasarkan arahan langsung dari saya sendiri, kami sudah menunjuk orang-orang untuk menjelaskan secara mendetail kepada anda tentang apa yang kami maksud dengan shutdown ini, dan seperti apa dampaknya terhadap anda dan keluarga.
Hari ini, biarkan saya mengambil waktu sejenak untuk mengatakan kepada anda, tentang bagaimana pentingnya peran anda bagi saya pribadi, dan juga bagi negara ini.
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh kerja keras yang anda lakukan setiap hari – itu adalah sesuatu yang sangat penting dan vital bagi kelangsungan perekonomian negara Amerika Serikat dan seluruh keluarga yang hidup didalamnya. Bagi anda yang berada di dinas militer, anda telah mempertahankan posisi Amerika di dunia internasional, dan meyakinkan para tentara kita bahwa mereka akan memperoleh benefit yang setimpal ketika mereka pulang kerumah. Anda telah menjaga lingkungan perbatasan Amerika dengan negara lain, dan melindungi hak-hak warga sipil. Bagi anda para pegawai negeri sipil, anda telah membantu usaha-usaha kecil untuk memperluas bisnisnya hingga menjadi besar, bahkan hingga menembus pasar internasional. Anda telah membimbing ratusan ribu orang setiap harinya untuk menyaksikan kejayaan Bangsa Amerika melalui pemandangan di taman-taman nasional, museum, dan monumen, mulai dari Yosemite hingga ke Patung Liberty. Dan masih banyak lagi.
Anda mengerjakan itu semua dalam situasi politik yang telah memperlakukan anda seperti samsak (kantong pasir) untuk latihan tinju. Anda telah mengalami, setidaknya selama tiga tahun terakhir ini, penundaan pembayaran gaji, pemotongan upah, dan sekarang, penutupan kantor-kantor pemerintah. Meski begitu anda tetap mengerjakan tugas-tugas anda, untuk melayani seluruh warga Amerika, dengan sangat antusias, secara profesional, dan penuh skill.
Ini semua tentu tidak adil bagi anda. Dan jika ini terus berlanjut, maka akan sangat sulit untuk memberikan alasan kepada anda, para pegawai negeri, untuk tetap bekerja dengan sangat baik, untuk senantiasa memenuhi kebutuhan masyarakat, dan juga memenuhi kebutuhan Pemerintah itu sendiri.
Layanan publik adalah sesuatu yang mulia. Layanan publik itu sangatlah penting. Dan dengan memilih profesi sebagai pegawai negeri, anda telah menjadi bagian dari tradisi pencapaian terbesar yang pernah dicapai negara ini. Faktanya, terdapat lebih dari 50 orang pegawai negeri, entah yang masih aktif atau sudah pensiun, yang telah memperoleh Penghargaan Nobel untuk prestasi-prestasi yang telah mereka capai. Departemen Energi telah membantu perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan sumber daya energi terbarukan. National Science Foundation juga telah membantu pengusaha-pengusaha seperti pendiri Google, untuk mengubah dunia. Seluruh upaya dan pekerjaan yang anda lakukan telah membantu negara ini untuk berkembang pesat – membangun perekonomian dimana semua orang yang bekerja keras bisa terus maju kedepan.
Jadi meski debat pembuatan anggaran di Washington seringkali disusupi oleh agenda kepentingan partai politik, anda tidak seharusnya demikian dalam tugas anda sebagai seorang public servant. Seperti yang dikatakan oleh pendahulu saya, Presiden George H. W. Bush, ‘Tidak ada yang lebih memenuhi hidup seorang penduduk Amerika selain melayani negeri ini, melayani para warganya, dan melakukan itu semua dengan baik. Dan itu adalah sesuatu yang sistem pemerintahan di Amerika bergantung terhadapnya.’
Penutupan pemerintah yang terjadi sekarang ini sepenuhnya bisa dihindari. Penutupan ini tidak seharusnya terjadi. Dan pihak House of Representatives (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) bisa mengakhiri ini dengan segera jika mereka mengikuti arahan dari pihak Senat, untuk segera mencairkan anggaran untuk membayar gaji para pegawai negeri, tanpa mencoba untuk menyertakan kepentingan politik dalam proses pencairan anggaran tersebut.
Saya berharap bahwa kami akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tapi untuk sementara ini, saya ingin anda tahu bahwa, entah anda adalah seorang yang masih muda nan idealis, yang dengan sengaja menjadi pegawai negeri untuk membuat perubahan, ataukah seorang pekerja yang telah mendedikasikan hidup anda untuk negeri ini, anda dan keluarga anda tetap menjadi prioritas utama kami. Saya dan para pimpinan di tiap-tiap departemen akan terus mempertahankan status pekerjaan anda, dan kami akan terus terhubung dengan anda dan keluarga untuk mengabarkan semua perkembangan yang terjadi.
Dan saya akan terus berupaya sekuat tenaga, melakukan apapun yang bisa saya lakukan, untuk mendorong penyelesaian anggaran di DPR agar kegiatan Pemerintahaan bisa kembali dibuka secepatnya, termasuk untuk memastikan agar anda memperoleh gaji dengan semestinya.
Terima kasih, sekali lagi, untuk semua pekerjaan, pengorbanan, dan semua yang anda telah lakukan setiap hari untuk negara Amerika Serikat, yang sangat kita cintai.
Sincerely,
Barack H. Obama
Komentar anda, [...]

Seminar Oktober

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Jakarta, yang kali ini akan membahas lebih dalam soal nilai intrinsik saham, alias masih sama seperti materi di seminar sebelumnya pada bulan Juli lalu, hanya saja ditambah materi terkait fluktuasi dan koreksi IHSG, yang belakangan ini sedang terjadi.

Berikut adalah sedikit dokumentasi dari acara sebelumnya waktu bulan puasa kemarin di Bandung. Mohon maaf kualitas gambarnya seadanya karena ngefotonya cuma pake hape doang.


Dan berikut ini adalah kisi-kisi materi untuk seminar kali ini.

A. Nilai intrinsik saham. Warren Buffett pernah mengatakan bahwa salah satu kriterianya dalam memilih saham/perusahaan untuk dibeli/diakuisisi adalah adanya harga yang jelas, dan dia tidak tertarik untuk ikut lelang. Maksudnya adalah, Buffett hanya mau membeli saham yang harganya wajar, atau kalau bisa undervalue, yaitu lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Nah, bagi investor kebanyakan, terkadang kesulitannya adalah terkait bagaimana cara untuk menentukan nilai intrinsik/harga wajar saham tersebut. Karena itulah, di seminar kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara menghitung nilai intrinsik, bagaimana cara menyeleksi saham yang bisa dihitung nilai intrinsiknya, hingga faktor-faktor eksternal yang juga harus diperhatikan. Plus, penulis juga akan meng-share beberapa saham yang menurut penulis memiliki nilai intrinsik yang menarik.
B. Setelah saya mengetahui harga wajar sebuah saham adalah sekian, selanjutnya apa? Yap, pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat ketika kita mengetahui bahwa nilai intrinsik dari saham A adalah sekian, dan harganya pada saat ini ternyata lebih rendah dari nilai intrinsiknya tersebut, maka itu bukan berarti saham A tersebut akan langsung naik keesokan harinya. Menghitung valuasi intrinsik saham adalah salah satu metode dasar dalam berinvestasi jangka panjang, sehingga di sesi ini kita akan membahas mengenai tips-tips dan cara-cara untuk berinvestasi jangka panjang.
C. Belajar dari Annual Letter Warren Buffett. Anda mungkin sudah sering membaca tulisan tentang Warren Buffett, namun pernahkah anda membaca tulisan yang ditulis oleh Buffett sendiri? Buffett memulai karier-nya sebagai fund manager pada tahun 1956, dan sejak itu ia rutin menulis surat tahunan (Annual Letter) tentang kegiatan investasinya, termasuk bagaimana metode investasinya, kepada para partnernya minimal setahun sekali. Penulis kebetulan sudah membacanya, dan dari situ ada banyak pelajaran yang bisa dipetik seperti: 1. Filosofi investasi ala Buffett, yang menjadikannya sukses seperti sekarang ini, 2. Metode investasi dan pemilihan sahamnya, dan 3. Cara untuk mengatasi koreksi/penurunan pasar, dalam hal ini penurunan Dow Jones (kalau di Indonesia, penurunan IHSG). Dan dalam seminar kali ini, kita akan membahas paling tidak ketiga poin tersebut.
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 12 Oktober 2013
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB. Jika nanti ada banyak pertanyaan setelah penyampaian materi seminarnya (di akhir acara akan diadakan sesi tanya jawab dan diskusi bebas), maka acaranya bisa diperpanjang sampai pukul 17.00.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi

Keterangan mengenai lokasi: Amaris Hotel menawarkan lokasi yang strategis, ruang seminar yang nyaman, lega, dan adem, menu makan siang dan coffee break standar hotel, serta biaya sewa ruang yang terjangkau (saya sudah survey, hotel yang lain rata-rata cukup mahal). Jadi kemungkinan kedepannya saya akan pakai tempat ini terus. Lokasinya di Mall Thamrin City, sekitar 150 meter dari Bundaran HI. Jika anda hafal dengan Mall Grand Indonesia, maka Mall Thamrin City ini persis dibelakangnya. Amaris Hotel sendiri terletak di lantai 6, dan anda bisa parkir langsung di lantai 6 tersebut (Begitu memasuki gedung Thamrin City, bilang aja ke petugasnya mau ke Hotel Amaris). Keterangan selengkapnya klik http://amarishotel.com/amaris-thamrincity/meeting.php.


Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp400,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:


1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Gareth Frank Bale, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!

Bonus: Untuk gambaran lebih lanjut tentang materi seminarnya nanti, terutama yang poin C, anda bisa mendownload Annual Letter Warren Buffett dalam Bahasa Indonesia (saya sendiri yang menterjemahkan) di link ini. Gratis! Jika anda tidak bisa mendownloadnya, anda bisa kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Buffett Annual Letter’, dan saya akan mengirim file-nya ke alamat email anda. Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.
Keterangan lebih lanjut mengenai acara ini bisa hubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 dan Pin BB 2850E045. Untuk saat ini saya belum memiliki rencana untuk menyelenggarakan acara serupa di luar Jakarta.

Update: Berhubung sekarang sudah hari Jumat, maka pendaftarannya resmi [...]

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Sekolah Internet Indonesia

Rahasia Flip Klik Disini

Panduan Rahasia Dropshipping

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.