Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Prospek Batubara dibanding CPO, Minyak, Nikel dll

Beberapa waktu lalu seorang temen komplain, ‘Pak Teguh tanya dong, itu saham Elnusa (ELSA) kenapa turun terus yak? Padahal saya denger katanya harga minyak naik, tapi kenapa kok ELSA malah turun???’ Nah kalau dapet pertanyaan seperti itu maka biasanya penulis jawabnya normatif saja, ‘Soal kenapa sahamnya turun, saya gak tau pak, tapi sejak awal fundamental ELSA gak begitu bagus. Kenaikan harga minyak juga mungkin gak begitu ngaruh, karena waktu harga minyak sedang tinggi-tingginya di tahun 2011 sekalipun, ELSA waktu itu malah merugi.’

Nah, selama ini memang ada satu rumus sederhana terkait saham-saham komoditas: Kalau harga suatu komoditas naik, maka saham dari perusahaan komoditas yang bersangkutan biasanya akan naik juga. Contoh paling gampang ya saham-saham batubara, yang sudah naik banyak sejak tahun 2016 lalu setelah harga batubara itu sendiri naik dari US$ 50-an hingga sekarang sudah sekitar US$ 87 – 90 per ton.
Tapi kalau kita perhatikan lagi, maka rumus diatas’ternyata tidak berlaku untuk semua jenis komoditas. Contohnya ya ELSA tadi, dimana meski harga minyak sudah naik dari US$ 27 di awal tahun 2016 lalu hingga sekarang sudah tembus US$ 53 per barel, namun sahamnya cenderung gak kemana-mana, tapi itupun masih lebih baik dibanding saham Ratu Prabu Energi (ARTI), yang malah jeblok dari 200-an hingga mati di gocap. Lalu ketika harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga naik dari RM2,000 hingga kemarin sempat tembus RM3,000 per ton, namun saham dari salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di BEI, Astra Agro Lestari (AALI),  malah disitu-situ saja (14,000 – 15,000) dalam setahun terakhir.
Lalu apa yang membedakan saham batubara dengan saham komoditas lainnya? Well, sebenarnya jawabannya cukup simpel: Ketika pada dekade 2000-an lalu terjadi booming komoditas dimana harga-harga minyak, batubara, CPO dll naik semua, maka yang paling menikmatinya (baca: laporan keuangannya mencatat laba bersih paling besar) adalah perusahaan-perusahaan batubara, kemudian disusul perusahaan sawit, dan terakhir mungkin baru perusahaan minyak, tapi itupun hanya perusahaan minyak asing yang beroperasi disini seperti Chevron, Exxon, dst, sementara perusahaan minyak lokal boleh dibilang gak dapet apa-apa. Diluar tiga komoditas diatas, Indonesia juga masih punya beberapa komoditas lainnya seperti emas, perak, tembaga, timah, lead (timah hitam), bijih besi, nikel, dan bauksit. Namun lagi-lagi, kinerja dari perusahaan-perusahaan tambang emas dkk juga cenderung angin-anginan, kadang untung tapi lebih sering rugi, tak peduli meski harga emas dulu pernah sampai US$ 2,000 per oz sekalipun.
Jadi ketika harga batubara mulai naik lagi setahunan ini, maka pelaku pasar sudah cukup hafal bahwa hal itu akan berdampak positif pada kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan batubara, dan itulah yang kemudian bikin sahamnya pada naik. Tapi ketika harga minyak naik, maka belum tentu perusahaan-perusahaan minyak akan menghasilkan profit yang besar.
Dan itu karena, jika dibanding bisnis komoditas lainnya, maka bisnis batubara adalah yang paling mudah untuk dikerjakan. You see, kalau anda sudah pegang KP (kuasa pertambangan) untuk satu lahan tambang tertentu di Kalimantan atau Sumatera, maka selanjutnya tinggal buka lahannya, gali tanahnya, ambil batubara yang ada dibawah lapisan tanah tersebut, angkut batubaranya ke pelabuhan, lalu jual. Kadang-kadang untuk satu lahan tertentu, anda bahkan tidak perlu lagi menggali tanahnya (atau galinya hanya 10 – 20 meter kebawah saja), karena batubaranya sudah langsung keliatan dari permukaan tanah. Begitu mudahnya bisnis batubara ini, sampai-sampai seorang teman pernah mengatakan bahwa bisnis batubara ini adalah seperti mengambil duit gratis dari dalam tanah. Memang, ketika harga batubara sedang turun seperti beberapa waktu lalu, maka kita gak bisa menyebut batubara sebagai ‘duit’ lagi, karena bisa jadi ongkos menggalinya lebih mahal dibanding harga jual batubara itu sendiri. Tapi ketika harga batubara sekarang sudah naik lagi, maka artinya kita bisa langsung panen lagi!
(klik gambar untuk memperbesar) Foto Tambang Batubara Bengalon milik Kaltim Prima Coal, anak usaha dari Bumi Resources. Anda lihat permukaan tanah yang berwarna hitam?? Itu batubara semuanya!

Tapi itu batubara.. Kalau sawit bagaimana? Nah, kalau anda menanam pohon sawit, maka pohon itu baru bisa menghasilkan CPO sekitar tiga tahun kemudian. Masalahnya, bagaimana kalau harga CPO sedang turun justru ketika pohonnya sudah siap dipanen? I mean, kalau kita punya tambang batubara dan harga batubara sedang turun, maka ya sudah kita stop dulu saja pekerjaan tambangnya sampai nanti harganya naik lagi, atau minimal volume produksinya dikurangi, toh batubaranya juga bakal tetap ada di dalam tanah dan gak akan kemana-mana. Tapi ketika pohon sawit sudah siap panen, maka anda tetap harus panen saat itu juga, tak peduli meski harga CPO sedang turun. Sementara ketika nanti harga CPO sudah naik lagi, maka perusahaan sawit mungkin tetap tidak meraup keuntungan karena kebun sawit yang mereka miliki masih belum siap untuk panen lagi.
Demikian pula dengan minyak dan gas. Berbeda dengan batubara, minyak hanya bisa diperoleh dengan cara mengebor jauuuhh kedalam perut bumi, sekitar 4,000 – 6,000 meter atau lebih dalam lagi, sehingga biayanya sangat mahal. Kalau lokasi tambangnya di lepas pantai, maka biayanya lebih mahal lagi. Sejak dulu bisnis minyak sudah dikenal sebagai ‘bisnis untung-untungan’, karena sebuah perusahaan bisa saja menghabiskan puluhan jutaan Dollar untuk kegiatan eksplorasi di satu lokasi yang diperkirakan mengandung cadangan minyak, tapi setelah mengebor sana sini selama beberapa tahun ternyata tetap tidak ditemukan apa-apa. Tapi jika beruntung, maka bisa saja ditemukan cadangan minyak yang amat sangat besar, dan itulah yang terjadi pada perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di Timur Tengah (dua ladang minyak terbesar di dunia, yakni Ghawar dan Safaniya Oil Field, keduanya berlokasi di Arab Saudi). Tapi sayangnya hal yang sama tidak terjadi di Indonesia.
Lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan yang memproduksi logam mulia emas? Ya sama saja dengan minyak: Biaya eksplorasi dan produksi untuk menghasilkan emas terbilang sangat mahal, belum termasuk kegiatan refinery-nya (pemurnian). Sebab berbeda dengan batubara yang hanya perlu sedikit dibersihkan, diremukkan (crushing), dan dikeringkan setelah digali, anda tidak akan menemukan emas yang sudah berbentuk batangan dari dalam tanah, melainkan emas itu masih bercampur dengan tanah, batuan, dan mineral-mineral lainnya, dan tanah itu sendiri harus digali sangat dalam hingga akhirnya ketemu emasnya. Alhasil ketika sebuah perusahaan menemukan satu lokasi tambang emas, maka prosesnya mulai dari eksplorasi hingga akhirnya dihasilkan logam emas murni seperti yang kita lihat di toko-toko perhiasan, itu membutuhkan waktu yang sangat panjang, minimal beberapa tahun.
Untuk tambang mineral lainnya seperti tembaga, timah, dan nikel, juga sama begitu. Malahan sekarang ini kalau ada perusahaan yang memproduksi bijih nikel, maka berdasarkan peraturan pemerintah, bijih nikel itu harus diolah dulu di smelter hingga menjadi produk hilir, katakanlah nickel pig iron atau ferronickel, kemudian baru bisa diekspor. Dan itu artinya perusahaan yang bersangkutan harus mengeluarkan investasi besar untuk membangun smelter, sebelum kemudian baru bisa membukukan pendapatan. Namun hal yang sama tidak berlaku untuk perusahaan batubara, dimana meski mereka bisa saja membangun pembangkit listriknya sendiri (jadi yang mereka jual adalah listrik, bukan batubara lagi), tapi kalau mau langsung mengekspor batubara yang dihasilkan maka itu juga boleh-boleh saja, paling cuma harus bayar royalti doang.
Karena itulah, kalau anda baca-baca lagi artikel-artikel di teguhhidayat.com dalam setahun terakhir, maka penulis hanya membahas sektor batubara saja, karena saya sendiri hanya berminat dengan sektor ini dan tidak/belum tertarik untuk masuk ke sektor komoditas yang lain. Termasuk ketika harga-harga komoditas mencapai titik terendahnya pada pertengahan 2015 lalu, maka yang penulis lirik ketika itu juga hanya saham batubara saja, bukan saham komoditas yang lain (anda bisa baca lagi artikelnya disini).

And indeed, hanya satu setengah tahun kemudian, ketika saham-saham komoditas mulai menggeliat lagi, namun saham batubara-lah yang naiknya paling tinggi. Tapi berhubung kenaikan mereka juga belum sampai setinggi tahun 2011 lalu, maka mungkin itu berarti peluangnya masih terbuka, apalagi valuasi saham-saham batubara sejauh ini juga masih belum bisa dikatakan mahal. Well, mari kita lihat nanti kedepannya bagaimana.

Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Maret 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.
Tertarik untuk belajar saham sambil sekaligus beramal? Baca keterangannya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Charity Dinner with Teguh Hidayat

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan program charity dinner, dimana anda bisa bertemu dan berdiskusi santai secara private tentang dunia investasi saham langsung dengan penulis sambil makan malam, termasuk anda juga bisa berkonsultasi, bertanya, dan meminta ‘pencerahan’ entah itu tentang analisa saham tertentu, analisis IHSG, saran untuk portofolio dll. Pendek kata, nanti kita bisa makan-makan sambil ngobrol santai aja gitu. Berikut keterangan selengkapnya:

Untuk ikut program charity dinner ini maka anda tidak dipungut biaya, dimana dalam program ini penulis memang tidak mengenakan biaya sepeserpun. Namun demikian anda tetap harus mentransfer sejumlah uang, bukan ke rekening penulis melainkan ke lembaga donasi, yakni melalui kitabisa.com.

Lalu berapa jumlah transfernya? Well, tergantung hasil lelangnya. Yup, untuk mengikuti program charity dinner ini maka anda akan bergabung dalam acara lelang dengan harga pembukaan Rp1,000,000 alias satu juta rupiah, dan selanjutnya naik dengan kelipatan Rp100,000 alias seratus ribu Rupiah (jadi harga penawarannya adalah 1.1 juta, 1.2 juta, dan seterusnya). Dua orang penawar tertinggi akan berhak untuk bergabung dalam acara charity dinner bersama penulis (jadi nanti dinner-nya bertiga) pada waktu dan tempat yang akan ditentukan kemudian.
Sedikit catatan: Meski judulnya dinner, tapi tidak menutup kemungkinan acara makannya dilakukan di siang hari, intinya kita fleksibel aja. Penulis dalam hal ini tidak memiliki hubungan apapun dengan kitabisa.com ataupun orang-orang didalamnya, kecuali pernah menjadi salah satu donaturnya saja.
Berikut adalah jadwal dinner terdekat: Sabtu, 4 Maret 2017, di Plaza Indonesia, Jakarta.
Okay, berikut cara untuk bergabung:
1. Kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Charity Dinner’ dan isi: Nama lengkap anda, nomor telepon/Whatsapp. Contoh: Cristiano Ronaldo, 0811223344.
2. Anda akan menerima email balasan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta program. Selanjutnya nomor telepon anda akan diinvite untuk masuk grup Whatsapp (admin dari grup tersebut adalah penulis sendiri), kemudian di grup tersebut anda bisa mulai menawar harga. Misalnya jika harga penawaran tertinggi ketika anda masuk grup adalah 1.5 juta, maka anda harus menawar minimal 1.6 juta.
3. Lelang akan ditutup pada hari Jumat, 3 Maret 2017, pukul 16.00 WIB, ditandai dengan pengumuman dua orang pemenang lelang dan hasil akhir (harga penawaran tertinggi) lelangnya. Penulis kemudian akan menghubungi pemenang lewat chat pribadi untuk menentukan waktu dinnernya (pilihan waktunya adalah jam 11.00 siang, atau 16.00 sore, atau 19.00 malam).
4. Para pemenang kemudian melakukan donasi di kitabisa.com, kemudian menunjukkan bukti transfernya, bisa via Whatsapp atau bawa langsung bukti transfer tersebut ketika ketemu penulis.
Catatan Penting:
1. Grup Whatsapp-nya nanti adalah hanya untuk lelang saja, jadi tidak ada diskusi analisa atau bertanya tentang saham atau apapun. Tapi kalau sekedar memperkenalkan diri atau ngobrol santai antar anggota grup, maka itu diperbolehkan.
2. Setelah acara lelangnya, grup Whatsapp-nya akan langsung ditutup. Namun demikian para anggota grup akan menerima undangan via email untuk kembali ikut acara lelang selanjutnya, dan harga penawarannya akan kembali dibuka mulai dari satu juta Rupiah. Penulis berencana untuk mengadakan acara charity dinner ini setiap satu atau dua bulan sekali.
3. Untuk melakukan donasi, pertama anda buka kitabisa.com, klik ‘DONASI’ dibagian atas, lalu klik salah satu campaign yang ditampilkan (campaign-nya mulai dari pembangunan rumah ibadah, santunan bagi yatim piatu, membantu biaya rumah sakit bagi penderita kanker, dan seterusnya. Jadi anda tinggal pilih saja mau nyumbang yang mana). Di halaman berikutnya, klik ‘DONASI SEKARANG’, lalu tinggal ikuti saja langkah-langkah selanjutnya.

4. Beberapa hal yang nanti bisa didiskusikan/konsultasi secara private dengan penulis di acara dinner-nya: A. Analisis untuk saham-saham tertentu, termasuk (jika ada) harga beli terbaik, target harga, dan perkiraan waktu terbaik untuk beli dan jual, B. Pilihan saham-saham terbaik untuk tujuan investasi jangka menengah dan panjang, dan juga pilihan saham terbaik untuk trading jangka pendek (3 bulan atau kurang) berdasarkan kaidah value investing, C. Analisis & outlook sektor usaha tertentu, arah IHSG dalam jangka menengah dan panjang, hingga analisis makroekonomi, D. Penjelasan mengenai istilah-istilah tertentu dalam dunia investasi saham, E. Konsultasi mengenai susunan portofolio anda saat ini, dan seterusnya.

Ada pertanyaan? Silahkan kontak Ms. Nury di nomor telepon/SMS/Whatsapp 081220445202.

Update: Terima kasih dan Selamat kepada Pak Jimmy Setiawan dan Pak Polyman Tjia, pemenang lelang perdana ‘charity dinner’ dengan total nilai donasi Rp12,200,000. Sampai ketemu di acara dinner [...]

Samindo Resources

Pada akhir November 2016 lalu, penulis memperhatikan fakta bahwa seiring dengan kenaikan harga batubara yang dengan cepat menembus US$ 100 per ton, maka saham-saham batubara juga mengalami kenaikan luar biasa sejak dua bulan sebelumnya (awal Oktober). Masalahnya ketika sebuah saham naik signifikan dalam waktu singkat, katakanlah 100% hanya dalam 2 – 3 minggu, maka turunnya juga bisa sangat dalam, contohnya ya liat aja saham-saham Bakrie. Disisi lain kita juga tentu gak bisa mengharapkan harga batubara akan naik terus, melainkan pasti akan ada turunnya.
Namun setelah melakukan analisis secara detail, bisa penulis simpulkan bahwa sektor batubara belum mengalami euforia, sehingga masih menawarkan kenaikan lebih lanjut dalam jangka panjang. Meski demikian untuk periode November 2016 tersebut sampai awal tahun 2017 nanti, saham-saham batubara kemungkinan akan mengalami cooling down terlebih dahulu, alias bergerak mendatar atau turun sedikit (gak akan sampai balik lagi ke harga sebelum mereka naik), sebelum nanti siap-siap untuk lepas landas lagi, mungkin pada bulan April 2017. Sementara harga batubara itu sendiri mungkin akan turun dulu, tapi mentok-mentoknya cuma sampai US$ 80-an per ton saja. Anda bisa baca lagi ulasan analisisnya disini.
Waktu berlalu, dan ternyata apa yang terjadi kemudian memang hampir persis seperti yang diperkirakan: Saham-saham batubara mulai turun, tapi gak banyak turunnya, sementara harga batubara juga sudah turun ke level US$ 87 – 90 per ton. Namun meski sekarang baru menjelang Maret, tapi penulis perhatikan sektor batubara sudah mulai hot lagi, jadi mungkin kita gak perlu nunggu sampai April juga. However, keputusan untuk masuk ke saham-saham batubara mungkin kurang tepat untuk saat ini mengingat valuasi mereka tentunya sudah tidak semurah setahunan lalu, tapi bagaimana dengan saham-saham dari perusahaan mining service? Sebab meski mereka juga naik banyak dalam setahunan terakhir, tapi kenaikannya belum setinggi Bukit Asam (PTBA) dkk, sehingga valuasinya rata-rata masih murah, dan otomatis peluangnya masih terbuka. Jadi yang perlu kita kerjakan sekarang adalah men-screening saham-saham mining service tersebut, untuk menemukan saham yang fundamentalnya paling bagus, sekaligus (kalau bisa) valuasinya paling murah.
Dan opsi saham yang bisa dipertimbangkan adalah Samindo Resources (MYOH). Okay, kita langsung aja.
MYOH adalah perusahaan kontraktor batubara dengan layanan terintegrasi mulai dari eksplorasi tambang, studi kelayakan, penggalian batubara, pengiriman ke stockpile, dan pengangkutan batubara dari stockpile menuju pelabuhan. Dalam beberapa tahun terakhir seluruh pendapatan perusahaan berasal dari satu klien saja, yakni PT Kideco Jaya Agung, yang merupakan perusahaan batubara terbesar ketiga di Indonesia (setelah KPC milik Bumi Resources, dan Adaro). MYOH sendiri dipegang oleh Samtan Group, perusahaan asal Korea Selatan yang dimiliki oleh beberapa warga negara Korea yang dulunya merupakan karyawan senior di Kideco, jadi mungkin wajar jika Kideco kemudian menjadi pelanggan MYOH, karena koneksi langsung antara para direktur perusahaan dengan manajemen Kideco itu sendiri.
Sayangnya sampai sekarang klien MYOH ya cuma Kideco saja, sementara Kideco sendiri tidak menyerahkankan seluruh pekerjaan tambangnya ke MYOH, melainkan hanya sekitar 20% diantaranya. Jadi kalau Kideco mengeluarkan biaya US$ 1 milyar dalam setahun untuk pekerjaan tambangnya, misalnya, maka hanya sekitar US$ 200 juta yang masuk ke kantong MYOH sebagai pendapatan.
Namun entah karena MYOH ini dikelola oleh orang Korea atau faktor lainnya, track record kinerja perusahaan, kalau penulis boleh bilang, mirip-mirip perusahaan-perusahaan big caps. Pertama, utangnya kecil, hanya sekitar separuh nilai ekuitasnya. Kedua, pendapatan perusahaan dalam satu tahun sudah lebih besar total aset perusahaan, dan itu terjadi bahkan ketika harga batubara sedang terpuruk beberapa tahun lalu. Ketiga, margin laba bersihnya terbilang besar, sekitar 15% dari nilai pendapatan, dan tidak pernah ada biaya-biaya yang aneh-aneh yang menekan perolehan labanya (jadi ngga kaya Darma Henwa). Keempat, perusahaan rutin membayar dividen dalam jumlah yang wajar setiap tahunnya, yakni sekitar 30% dari nilai laba bersih perusahaan di tahun sebelumnya. Dan kelima, ketika industri tambang batubara secara umum mengalami penurunan, maka manajemen MYOH menyiasatinya dengan melakukan efisiensi yang kemudian berhasil, sehingga laba bersihnya tetap naik hingga tahun 2015 lalu, dan hanya turun di tahun 2016, tapi itupun ROE-nya tetap terjaga di level diatas 20%.
Jadi ketika pada tahun 2015 lalu penulis menemukan saham ini di harga 400-an, dan PBV-nya waktu itu cuma 0.8 kali, maka tentu saja penulis sudah mulai tertarik, apalagi dividend yield-nya juga gede banget, mencapai 10% dari harga sahamnya. Namun karena pada tahun tersebut harga batubara juga turun, tepatnya hingga mencapai titik terendahnya pada awal tahun 2016, maka MYOH, seperti juga saham-saham batubara lainnya, tidak memiliki sentimen untuk naik. Tapi karena disisi lain fundamentalnya juga masih jauh lebih baik dibanding kebanyakan perusahaan batubara dan mining servce yang lain, maka MYOH juga gak sampai jeblok, dan penurunannya tetap tertahan di 430 – 450. Sekedar pengingat, pada Januari – Februari 2016 lalu saham-saham batubara anjlok gak karu-karuan hingga 20 – 30% hanya dalam dua bulan tersebut (ketika itu karena sentimen turunnya harga minyak), padahal mereka sudah turun banyak banget sebelumnya. Tapi MYOH, sekali lagi, ketika itu tetap tidak bergeming.
Kemudian pada pertengahan 2016, harga batubara perlahan tapi pasti mulai merangkak naik, dan MYOH juga ikut naik meski gak sekenceng saham-saham batubara lainnya, ketika itu dari melompat dari 450 ke 550, dan kemudian bertahan disitu. Dan ketika artikel ini ditulis, MYOH sudah berada di level 680, tapi kabar baiknya pada harga segitu PBV-nya masih 1.1 kali, sehingga masih terbilang murah mengingat kinerjanya yang bagus, dan jangan lupa: Meski di tahun 2016 ini laba MYOH masih turun, tapi di tahun 2017 nanti hampir pasti pendapatan serta laba bersih perusahaan akan naik lagi karena imbas dari kenaikan harga batubara, sementara perusahaan juga sudah mengamankan kontrak dari Kideco hingga setidaknya tahun 2019, dan bisa diperpanjang. Sekitar dua tahun lalu waktu penulis pertama kali menemukan MYOH ini, asumsi harga wajarnya yang paling konservatif adalah sekitar 800. Namun dengan momentum rise of coal, maka tentu kita bisa sedikit lebih optimis lagi: MYOH bisa saja naik lebih tinggi lagi dari 800 tersebut, meski mungkin waktunya agak lama dari sekarang. Tapi untuk jangka pendeknya sekalipun, jangan lupa bahwa sekitar April – Mei nanti perusahaan akan bagi dividen, biasanya cukup besar, dan itu tentu bisa jadi sentimen positif buat sahamnya.
Kesimpulannya, jika saham Darma Henwa (DEWA) yang kita bahas minggu kemarin mungkin tidak bisa dipakai untuk investasi mengingat swing-swing sahamnya yang sangat ekstrim, maka MYOH merupakan pilihan yang jauh lebih aman, tapi tetap menawarkan profit lumayan (belum termasuk dividen) mengingat dia belum naik banyak jika dibanding saham-saham batubara lainnya, tentunya jika anda bisa memegangnya minimal untuk jangka menengah, alias 6 – 12 bulan kedepan.
PT. Samindo Resources, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2016: A
Rating saham pada 680: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang MYOH di harga 660. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stockpick saham pilihan edisi Maret 2017 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini. Gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing: Jakarta & Bandung

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta dan Bandung. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan Bandung (atau dari luar kota juga boleh hadir). Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi danjadwal acaranya:
Jakarta
Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
Hari/Tanggal: Sabtu, 4 Maret 2017
Bandung
Tempat: Amaris Hotel Cihampelas, Jln. Cihampelas No.171, Kota Bandung, Jawa Barat
Hari/Tanggal: Sabtu, 11 Maret 2017
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 sampai dengan 16.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas gardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).

Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Jakarta/Bandung (pilih salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, di tiap-tiap kota hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama temen-temen peserta kelas value investing, Jakarta, 21 Januari
Komentar Alumni:
Pak teguh, saya mau bertanya dan curhat, ^_^
Ditahun ketiga saya mengenal dunia saham, alhamdulilah saya sudah balik modal dan sejak mengikuti seminar dan buletin bapak, sungguh banyak sekali ilmu yang saya dapat, dan saya juga sudah mendapatkan profit hampir 100 persen dari total modal saya, meskipun saya dapat nya penuh dengan perjuangan,
Saya ingin menanyakan, selain mengikuti seminar, baca buku, googling dan belajar sendiri, ada kah buku rekomendasi untuk pemula seperti saya pak..? Atau audio atau apapun itu yang kira2 bisa menunjang dan lebih membantu dalam proses trading dan belajar saya.. atau kalo boleh, dulu cara bapak belajar itu seperti apa hingga bisa mencapai posisi seperti sekarang ini..?
Saya sudah membaca buku the intelligent investor (dan beberapa buku warren buffet lainnya). Dan untuk seminar/pelatihan saya sudah muter2 ke tetangga sebelah berkali2 dari yang mahal sampe murah, tapi saya merasa di seminar bapak yang paling cocok untuk saya (bukan memuji, tapi memang yang saya rasakan seperti itu) karena cara bertransaksi bapak yang tidak grasa grusu dan logis sekali penjelasan nya,..
Dan untuk belajar, saya belajar pagi siang malam subuh, dan kalo bisa pun itu buku dan komputer saya bawak ke dalam mimpi di tidur saya, hikss   :( :(
Mohon saran dan petunjuk nya ya pak,
Terimakasih 
Best Regards
Widya Olivia – Alumni Seminar [...]

Bumi Resources: Investasi atau Spekulasi?

Beberapa bulan terakhir ini penulis menerima banyak sekali pertanyaan terkait saham-saham Grup Bakrie, belum termasuk komplain dan curhat dari mereka yang posisinya nyangkut (Bakrie gitu loh). Tapi ada satu pertanyaan yang menarik: ‘Pak Teguh, di artikel anda berkali-kali mengatakan bahwa keputusan untuk membeli saham-saham Bakrie sangatlah berisiko dan lebih dekat ke spekulasi. Kalau begitu kenapa seorang investor yang sudah sarat pengalaman seperti Pak Lo Kheng Hong melakukan spekulasi dengan membeli Bumi Resources (BUMI)?’

Untuk menjawab pertanyaan diatas biar penulis kasih analogi sederhana: Jika seorang Michael Schumacher mengendarai mobil Formula 1 (F1), maka ia akan bisa ngebut hingga kecepatan 300 km per jam, dan dia akan baik-baik saja. Tapi jika penulis yang nyetir mobil F1 tersebut maka hampir pasti bakal nabrak dan masuk rumah sakit. Tidak ada yang salah dengan mobil F1-nya, yang salah adalah di pengemudinya.
Dalam investasi saham juga sama: Beberapa saham bisa dianalisa dengan analisis fundamental sederhana sehingga cocok bagi siapa saja (asalkan dia ngerti indikator-indikator sederhana seperti laba bersih, ROE, PBV, PER dll), namun beberapa lagi memerlukan analisis yang lebih mendalam, contohnya ya seperti BUMI ini. Jadi ketika Pak LKH membeli BUMI, maka itu bukan spekulasi, karena beliau tahu persis bagaimana analisisnya, sudah mengerti bagaimana risikonya, dan beliau juga memiliki mental yang sangat kuathasil dari pengalaman selama puluhan tahun di stock market, sehingga mampu untuk bersikap tidak peduli terhadap naik turun sahamnya.
Tapi ketika seseorang yang baru saja buka rekening di sekuritas sebulan lalu langsung beli BUMI, padahal dia bahkan belum tau dimana nyari laporan keuangan, maka menurut anda itu spekulasi apa bukan???
Jadi ketika anda membeli saham entah itu BUMI atau lainnya dan ternyata malah rugi, maka bisa jadi masalahnya bukan di sahamnya, melainkan di diri anda sendiri. Ketika penulis mengatakan bahwa ‘Keputusan untuk membeli saham-saham Bakrie itu lebih dekat ke spekulasi’, maka itu karena penulis asumsikan bahwa mayoritas pembaca blog ini belum se-berpengalaman Pak LKH, karena penulis sendiri juga itungannya masih anak TK kalo dibanding beliau. Kalau anda bertanya kepada Pak LKH, ‘Kenapa beli BUMI?’, maka itu sama seperti anda bertanya ke Schumacher tentang bagaimana caranya untuk nyetir mobil F1, dimana mau dia jelasin panjang lebar sampai subuh sekalipun, tetep aja anda gak akan bisa langsung jadi pembalap F1 keesokan harinya.
Kalau gitu bagaimana caranya agar saya bisa jadi pembalap Formula 1? Ya dengan menjalani karier sebagai pembalap secara step by step, tentu saja! Pertama anda coba balapan gokart, lalu naik ke Formula Vauxhall/Opel/Ford, lalu GP3, Formula 3, GP2, dan akhirnya F1. Proses dari mulai balapan gokart hingga akhirnya menjadi pembalap F1, itu tentu saja membutuhkan waktu bertahun-tahun. Max Verstappen, misalnya, yang dikenal sebagai pembalap F1 termuda yang pernah menjuarai Grand Prix pada usia 18 tahun, ia sudah menjadi pembalap gokart pada usia 4.5 tahun! Dengan kata lain Verstappen membutuhkan waktu sekitar 14 tahun sejak ia pertama kali memegang setir mobil balap, hingga akhirnya menjadi seorang juara.
Dalam investasi saham juga sama: Di BEI ada banyak saham dengan karakter alon-alon asal kelakon, alias naiknya pelan-pelan tapi aman/risikonya rendah, biasanya merupakan blue chip, misalnya (yang pernah dibahas/direkomendasikan diblog ini, anda bisa klik link-nya) Astra International (ASII), Bank BNI (BBNI), dan Jasa Marga (JSMR). Kemudian ada juga yang second & third liner yang menawarkan potensi profit lebih tinggi tapi risikonya pun agak lebih besar dibanding blue chip, katakanlah PP Properti (PPRO), KMI Wire & Cable (KBLI), dan WOM Finance (WOMF). Terakhir, saham-saham ‘ajaib’ yang sangat sulit dianalisa secara fundamental, sementara pergerakan harian sahamnya juga sangat ekstrim, sehingga bagi sebagian besar orang maka saham-saham tersebut tergolong spekulasi: Bumi Resources (BUMI), Darma Henwa (DEWA), dst.
Ini saham gak pake ribut-ribut udah naik 11.3% sepanjang Februari

Nah, jadi kalau anda baru mulai di saham, maka seperti yang sudah sering penulis sarankan di blog ini, anda bisa mulai dari balapan gokart alias membeli saham-saham blue chip terlebih dahulu. Berdasarkan pengalaman, beberapa saham blue chip bahkan begitu aman-nya sehingga meski anda membelinya tanpa analisis fundamental teknikal sekalipun (karena memang belum menguasai), namun dalam jangka panjang ternyata hasil profitnya tetap memuaskan.
Kemudian jika setelah 1 – 2 tahun hasilnya cukup baik, maka anda bisa naik kelas ke Formula 3, alias membeli saham-saham second & third liner, tentunya dengan asumsi bahwa anda sudah menguasai analisis fundamental minimal secara dasar. Karena berbeda dengan blue chip yang mayoritas bagus-bagus, sebagian besar saham second liner justru tidak cukup layak untuk investasi. Jika beberapa tahun kemudian hasilnya cukup baik juga, maka barulah anda bisa naik lagi ke Formula 1, alias membeli saham-saham ‘ajaib’ tadi, tapi bahkan pada titik inipun tetap tidak ada jaminan bahwa anda bakal cuan, apalagi kalau anda masih belum mampu untuk bersabar. Hari ini kita bisa lihat bahwa keputusan Pak LKH untuk masuk ke BUMI mungkin memang tepat, tapi 3 tahun lalu sebagian besar orang beranggapan sebaliknya. Anda bisa baca lagi ceritanya disini (coba baca komentar-komentarnya).
Sayangnya kalau penulis perhatikan, investor pemula manapun biasanya gak mau mulai dari gokart dulu karena mobilnya terlalu pelan, katanya (baca: sahamnya naiknya kelamaan!). Maka jadilah belum apa-apa langsung ngambil mobil F1, dan tak lama kemudian tabrakan dan masuk rumah sakit (baca: rugi gila-gilaan), beberapa malah langsung tewas ditempat (baca: menutup rekeningnya, plus dongkol karena berantem sama si broker/analis sekuritas, kemudian gak pernah main-main saham lagi).
Nah, kalau anda termasuk yang coba-coba ‘lompat kelas’ diatas dan hasilnya ternyata gak bagus, maka setelah keluar dari rumah sakit (baca: cut loss) anda bisa mulai balapan lagi, tapi kali ini mulai dari balapan gokart dulu, dan anda bisa mulai baca-baca tentang teknik membalap dll (baca: belajar analisis fundamental dll). Kemudian, normalnya beberapa tahun dari sekarang, tanpa disadari anda akan sudah menjadi seorang pembalap profesional, dan anda mungkin akhirnya akan mampu menembus ajang balap Formula 1. Ciri-ciri ‘pembalap F1′ di saham adalah: 1. Pilihan sahamnya aneh-aneh dan sulit dimengerti investor awam, tapi tetap berdasarkan kaidah value investing yakni: Kalau gak bagus banget, maka valuasinya murah banget, 2. Horizon investasinya panjaaaang banget, bisa sampe lima tahun atau lebih, dan 3. Biasanya merupakan investor full time.

Namun kalau anda masih belum memiliki setidaknya salah satu ciri diatas, maka jangan khawatir karena saham-saham mainstream sekalipun tetep menawarkan profit jumbo kok, asal anda bisa sedikit sabar aja. Contohnya, kalau anda beberapa bulan lalu ambil saham Medco Energi (MEDC), maka sekarang profitnya sudah sekitar 100%, padahal pergerakan sahamnya adem ayem saja, dan gak pernah pake acara jeblok 20% dalam sehari sehingga risiko terkait fluktuasi sahamnya jadi jauh lebih kecil dibanding saham-saham seperti BUMI. Jadi siapa bilang saham yang high gain itu juga harus high risk???

Jadwal Kelas Investasi Saham: Value Investing: Jakarta 4 Maret, Bandung 11 Maret. Keterangan selengkapnya baca disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal IV 2016

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan ebooknya sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, dan akhirnya mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL paling gokil
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – Jakarta
TESTIMONIAL paling jujur
Terima kasih pak Teguh untuk sarannya. Maaf, saya belajar pak, fundamental dan tehnik analisis walau masih sekulit. Untuk trading model tehnik analisis kayanya ga cocok sama sekali, ga ada waktu nongkrongin computer terus2an. Jadi saya lebih baik mempelajari saham2 pilihan pak Teguh saja. Dan dari pertengahan bulan kemarin, hasilnya sangat baik.
Terima kasih pak Teguh.
Cynthia Santoso – [...]

Darma Henwa

Sebenarnya penulis sudah hendak membahas saham Darma Henwa (DEWA) ini sejak beberapa hari lalu. Tapi berhubung kemarin gak ada yang lebih menarik untuk diperhatikan ketimbang detik-detik menjelang Pilkada DKI hingga Pilkada itu sendiri digelar hari Rabu, sementara saham-saham Bakrie juga keliatannya mulai tertekan sehingga bisa saja mereka jeblok (dan memang akhirnya itu terjadi!), maka sengaja pembahasan DEWA baru penulis tampilkan hari ini, setelah kemarin DEWA, seperti juga saham-saham Bakrie lainnya, ‘sukses’ digebuk habis-habisan, gak tanggung-tanggung sampai ada yang diatas 20 persen! Okayy, kita langsung saja.

Darma Henwa adalah perusahaan mining service alias jasa tambang batubara, yakni perusahaan yang menggali tambang batubara milik perusahaan lain. Pekerjaan jasa yang dilakukan perusahaan meliputi penyediaan infrastruktur tambang termasuk alat-alat berat (heavy equipments), pembukaan lahan, penggalian batubara atau mineral lainnya, pengangkutan batubara dari lokasi tambang menuju pelabuhan, aktivitas bongkar muat batubara di pelabuhan, hingga merehabilitasi lahan tambang yang sudah selesai digali agar menjadi hutan kembali. DEWA didirikan pada tahun 1991 oleh BHP Billiton Group, dan merupakan kontraktor untuk tambang batubara Petangis di Kalimantan Timur. Tahun 1996 perusahaan diakuisisi oleh Henry Walker Group asal Australia, dan di tahun-tahun selanjutnya perusahaan memperoleh beberapa kontrak penting dari Newmont Nusa Tenggara, Tanito Harum, dan tambang Bengalon milik Kaltim Prima Coal (KPC). Tahun 2005 perusahaan diakuisisi oleh Grup Bakrie, kemudian memperoleh kontrak dari tambang batubara Asam-Asam milik PT Arutmin di Kalimantan Selatan pada tahun 2007, dan juga melantai di bursa pada tahun yang sama.

Namun justru setelah IPO-nya di tahun 2007, kesininya DEWA boleh dibilang tidak mengalami perkembangan usaha yang berarti, dimana tambang Bengalon sampai sekarang masih menjadi klien terbesar perusahaan, padahal tambang Bengalon hanya memproduksi batubara dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibanding tambang utama milik KPC yakni Sangatta, itupun tidak semua produksi Bengalon ditangani oleh DEWA. Alhasil jika dibanding perusahaan sejenis yang lebih terkemuka seperti Pamapersada (anak usaha United Tractors/UNTR), atau Bukit Makmur Mandiri Utama (anak usaha Delta Dunia Makmur/DOID), maka DEWA terbilang kecil dengan aset hanya US$ 400 juta pada Kuartal III 2016. Tadinya penulis sendiri termasuk yang berpikir bahwa karena DEWA ini dimiliki oleh Grup Bakrie, termasuk sekitar 33% saham DEWA juga dipegang oleh Bumi Resources (BUMI) langsung, sementara kita tahu bahwa BUMI merupakan induk dari KPC dan Arutmin, maka DEWA mungkin akan didahulukan dalam memperoleh kontrak-kontrak pekerjaan tambang dari KPC dan Arutmin, tapi ternyata tidak. Pada tahun 2015, DEWA hanya menggali batubara sebanyak total 12.3 juta ton, atau tidak sampai seperlima total produksi BUMI yang mencapai 81.2 juta ton. Dan berbeda dengan BUMI yang terus bertumbuh karena ekspansi dan akuisisi kesana kemari termasuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan tambang non-batubara (yang kemudian ditempatkan di Bumi Resources Minerals (BRMS)), maka DEWA dari dulu cuma ya segitu-gitu aja, dimana nilai aset DEWA saat ini justru lebih kecil dibanding tahun 2009 lalu, yang mencapai US$ 462 juta.
Entah karena faktor ‘anak tiri’ diatas atau lainnya, tapi yang jelas kinerja DEWA jadi tidak memuaskan, dimana dalam tujuh tahun terakhir perusahaan lebih sering rugi ketimbang untung, termasuk merugi pada tahun 2011, 2012, dan 2013 berturut-turut, padahal ketika itu harga jual batubara sedang tinggi-tingginya. Dan alhasil ketika saham dari perusahaan Bakrie lainnya mungkin bisa naik sangat tinggi, maka DEWA ini paling tinggi pernah naik sampai 680 saja, yakni di tahun 2007 alias tak lama setelah IPO-nya (harga perdananya 335), tapi kemudian langsung anjlok hingga mati di gocap di tahun 2008, karena kejatuhan IHSG ketika itu karena krisis global. Di tahun 2009 IHSG mulai naik, dan DEWA juga naik sampai 200-an, tapi setelah itu turun lagi hingga akhirnya kembali mati di gocap pada tahun 2012. Yup, dibanding para pemain Grup Bakrie lainnya yang memang satu per satu tewas di gocapan sejak tahun 2012, maka DEWA ini adalah seperti pemain figuran yang mati duluan, dan baru dapat peran lagi pada awal 2017 ini.
Kinerja Fundamental DEWA
Nah, ketika saham DEWA mulai menggeliat sejak Januari kemarin, maka semua orang bisa melihat bahwa itu hanya karena mengikuti kenaikan BUMI sebagai aktor utama di sinetron Bakrie, jadi bukan karena faktor fundamental, karena memang kinerja DEWA sampai sekarang juga masih belum bisa dikatakan bagus. Hingga Kuartal III 2016 kemarin, DEWA hanya membukukan laba US$ 84 ribu (ribu, bukan juta), atau amat sangat kecil dibanding ekuitasnya yang mencapai US$ 225 juta (sehingga bisa dikatakan bahwa laba bersih DEWA adalah nol).
Meski demikian jika dibanding anak-anak usaha Bakrie lainnya, maka DEWA adalah yang paling berpeluang untuk menghasilkan kinerja bagus di tahun 2017 ini. I mean, jika patokannya adalah kinerja terakhir, maka BUMI justru jauh lebih buruk dengan mencatatkan ekuitas negatif/defisiensi modal sebesar US$ 2.7 milyar pada Kuartal III 2016, tapi toh sahamnya terbang tinggi karena adanya ekspektasi yang sangat kuat bahwa di tahun 2017 nanti perusahaan akan menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik setelah restrukturisasi utangnya sukses, dan juga karena kenaikan harga jual batubara. Mungkin juga perlu dicatat bahwa meski BUMI sekarang ini memiliki prospek yang menarik, tapi dalam upaya untuk melunasi utang-utangnya maka perusahaan kemarin terpaksa melepas paling tidak dua asetnya yang terbilang cukup besar, yakni 18% saham di Newmont Nusa Tenggara (NNT, yang sudah dijual ke Grup Medco), dan Pendopo Energi Batubara. Actually, hampir semua anak-anak usaha Grup Bakrie terpaksa melego sebagian aset-aset mereka untuk membayar utang meski, dalam kasus BUMI, perusahaan sukses mempertahankan KPC sebagai aset terbesarnya.
Sementara DEWA? Well, aset-aset perusahaan sampai sekarang masih lengkap (dulu sempat ada wacana bahwa DEWA akan menjual sebagian alat-alat beratnya, tapi itu tidak jadi dilakukan). Kebijakan perusahaan yang terlalu ekspansif menyebabkan DEWA nyaris tidak memiliki utang kecuali utang usaha dan utang sewa pembiayaan (karena perusahaan membeli alat-alat berat dengan cara kredit, atau menyewa). Sehingga ketika nanti harga batubara kembali pulih dan permintaan jasa tambang kembali meningkat, maka pendapatan DEWA hampir bisa dipastikan akan meningkat signifikan.
Dan karena sekarang ini harga batubara memang sudah mulai pulih, maka DEWA sukses memperoleh setidaknya dua kontrak baru penggalian batubara yakni untuk tambang Mulia dan Satui di Kalimantan Selatan, keduanya milik PT Cakrawala Langit Sejahtera yang juga merupakan anak usaha dari Grup Bakrie, belum termasuk kontrak perencanaan teknis dan pengawasan untuk tambang Muara Teweh, Kalimantan Tengah, milik PT Asmin Koalindo Tuhup (anak usaha dari Borneo Lumbung Energi & Metal/BORN). Ditambah dengan peningkatan produksi yang signifikan di tambang Bengalon dan Asam-Asam,  maka di tahun 2017 ini DEWA ditargetkan untuk menggali total 29.1 juta ton batubara, atau meningkat hampir dua kali lipatdibanding 15.1 juta ton (estimasi) pada tahun 2016. Well, cukup menarik bukan?
However, dari sisi perkiraan perolehan laba bersihnya yang hanya US$ 9.7 juta untuk tahun 2017, atau hanya 4.4% dibanding nilai ekuitas perusahaan, maka prospek DEWA tentu saja tidak semenarik BUMI, misalnya, apalagi selama beberapa tahun ini DEWA memang kesulitan untuk sekedar membukukan angka laba yang positif, tak peduli meski pendapatannya naik signifikan. Namun jika dibanding anak-anak usaha Bakrie yang lain maka DEWA merupakan satu-satunya perusahaan, diluar BUMI, yang menawarkan prospek lumayan mulai tahun 2017 ini dan seterusnya. Termasuk, setelah kemarin perusahaan mengumumkan bahwa mereka memperoleh kontrak dari Asmin Koalindo, maka selama selama harga jual batubara minimal bertahan di kisaran US$ 80 per ton seperti sekarang ini, kedepannya DEWA berpeluang untuk memperoleh kontrak lainnya lagi.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Jika kita review lagi pembahasan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa DEWA memiliki prospek yang menarik, aset-asetnya masih lengkap, dan jumlah utangnya juga relatif kecil atau malah sangat kecil jika dibanding jumlah utang yang dimiliki anak-anak usaha Bakrie yang lain, sehingga tidak ada keharusan bagi perusahaan untuk melakukan refinancing atau restrukturisasi utang seperti yang dilakukan BUMI kemarin (sementara Bakrieland Development (ELTY), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), hingga Energi Mega Persada (ENRG), semuanya memiliki utang yang besar, sehingga kemarin ada usulan dari manajemen UNSP dan ENRG untuk juga melakukan restrukturisasi utang/right issue, yang diawali dengan reverse stocksplit terlebih dahulu). Yep, karena Grup Bakrie sejak dulu dikenal hobi ngutang, maka terdapat kesan bahwa semua anak usahanya dibebani utang yang besar, padahal untuk DEWA sama sekali nggak begitu, sehingga sahamnya relatif lebih aman dibanding saham-saham Bakrie yang lain.
Sementara valuasi sahamnya? Nah, pada harga 66, DEWA mencatat PBV 0.5 kali alias cukup murah, sehingga kalau nanti saham-saham Bakrie ‘main’ lagi, atau sekedar keluar cerita/sentimen positif terkait bisnis batubara, maka sahamnya akan lebih gampang naik dibanding saham-saham Bakrie yang lain (dan memang kemarin DEWA sempat naik sampai tembus 100). Sudah tentu, dengan mempertimbangkan proyeksi kinerjanya di 2017 maka DEWA tidak akan naik setinggi BUMI, tapi let say dia naik ke 100 saja, maka profitnya sudah hampir 50% bukan? Dan selama BUMI-nya masih gerak, maka DEWA juga tidak punya alasan untuk mati lagi digocapan seperti tahun-tahun yang lalu.
Hanya memang balik lagi: Ketika kita diskusi tentang saham-saham Bakrie, maka analisis fundamental mau kaya gimana mungkin tidaklah berarti apapun, karena semua orang lebih tertarik dengan swing-swing sahamnya yang sangat ekstrim, bisa mencapai puluhan persen hanya dalam satu atau dua hari. Pertengahan Januari lalu DEWA ini terbang dari 50 sampai tembus 100 pada akhir bulan, atau naik 100% hanya dalam dua minggu.. tapi kemudian turun lagi ke level saat ini, padahal sekarang masih pertengahan Februari. Jadi kalau ada dua orang yang membeli DEWA ini maka hasil profit atau ruginya bisa sangat bertolak belakang, tergantung mereka belinya diharga berapa. Dan jangankan DEWA: Kalau anda beli BUMI yang sudah dikatakan memiliki prospek menarik sekalipun (anda bisa baca lagi ulasannya disini, dan disini) tapi belinya telat di 500-an, maka posisi anda sekarang bukannya profit tapi malah loss hampir 30%, hanya dalam hitungan hari! Untuk saham-saham Bakrie yang lain, ceritanya bisa lebih tragis lagi. Make no mistake: Ketika artikel ini ditulis, DEWA berada di level 66, tapi ketika anda membaca artikel ini maka DEWA bisa berada di posisi yang jauh lebih tinggi ataupun lebih rendah dari 66 tersebut.
Karena itulah, jika anda gak mau ambil risiko rugi, lupakan saja apa yang sudah anda baca diatas, dan carilah saham-saham lain yang lebih aman. Bagi sebagian besar investor, terutama yang masih pemula, maka keputusan untuk untuk masuk ke saham-saham Bakrie adalah seperti belajar berenang di laut yang penuh dengan ikan hiu, dimana kalaupun anda berhasil kembali ke darat dengan selamat, maka anda mungkin tetap akan berakhir di rumah sakit karena gagal jantung (ngerti maksudnya kan???)
Tapi, okay, mari kita anggap bahwa anda sudah jago berenang, atau lebih baik lagi: Anda sudah mengikuti analisa yang disajikan di blog ini sejak Oktober 2016 lalu, yakni ketika kita membahas BUMI ketika sahamnya masih di harga 100-an, sehingga posisinya sekarang sudah lumayan profit. Nah, kalau anda tertarik untuk mencoba keberuntungan di saham Bakrie yang lain, maka DEWA merupakan pilihan yang paling masuk akal, setidaknya untuk saat ini.
Okay, I think it’s enough. Di artikel selanjutnya kita akan membahas sedikit tips untuk meraup profit dari saham-saham seperti saham Bakrie ini, tentunya dengan tetap memperhatikan kaidah value investing.
Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal IV 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

‘News Framing’, dan Pengaruhnya Terhadap Harga Saham

Dalam bidang jurnalistik, yang dimaksud dengan ‘news framing’ atau secara harfiah bermakna ‘pembingkaian berita’, adalah cara media dalam menyampaikan/membingkai sebuah berita, informasi, atau fakta peristiwa tertentu agar menimbulkan persepsi atau kesan tertentu dari masyarakat yang membaca berita tersebut. Dengan kata lain, framing adalah metode penggiringan opini, dimana satu berita yang sama bisa menimbulkan persepsi berbeda dari para pembacanya, tergantung cara media/wartawan dalam menyampaikan berita tersebut.

Contoh sederhana dari framing adalah seperti cerita berikut, yang mungkin juga sudah pernah anda baca. Jadi ceritanya ada seorang wartawan yang mewawancarai seorang menteri:
Wartawan (W): Pak, lebih suka ayam goreng apa gulai kambing?
Menteri (M): Ayam goreng
W: Pakai tepung atau tidak?
M: Pakai tepung
W: Model ayam KFC gitu ya pak?
M: Ya kurang lebih begitulah.
Besoknya di koran muncul headline: ‘Menteri M lebih suka ayam goreng KFC model Amerika dan tidak suka gulai kambing tradisional Indonesia’.
Di sebuah media online, muncul berita dengan judul: ‘Terlalu! Gaya hidup Menteri M kebarat-baratan’.
Di media online lainnya, ‘Astaghfirullah! Menteri M benci daging kambing makanan kesukaan Rasulullah SAW’.
Seseorang menulis di status Facebook-nya, ‘Antek Asing! Menteri M lebih mendukung KFC ketimbang pedagang kecil’.
Tak lama kemudian muncul kelompok A yang berunjuk rasa di Jakarta dengan tema ‘Menolak Penyesatan Ahlak oleh Menteri M’, Kemudian muncul lagi kelompok B yang berunjuk rasa dengan tema ‘Tolak Antek Kapitalis! Dukung Usaha Kecil’.
News Framing di Dunia Pasar Saham
Setelah membaca contoh cerita diatas, anda mungkin bisa langsung menyimpulkan bahwa news framing biasanya terjadi pada pemberitaan politik, biasanya terkait pernyataan pejabat tertentu yang kemudian dipelintir sana-sini hingga timbul kesan bahwa si pejabat ngomong apa, padahal maksudnya bukan begitu. Actually, kalau anda amati, dewasa ini pemberitaan apapun yang terkait dunia politik tidak pernah lepas dari teknik framing ini, dan alhasil opini yang berkembang di masyarakat terkait isu politik tertentu selalu tergantung dari bagaimana cara media dalam mengemas suatu berita.
Tapi tahukah anda, bahwa belakangan ini pemberitaaan di dunia investasi saham juga mulai terkontaminasi virus framing ini?
Mari kita lihat contoh terbaru. Baru saja dua hari lalu, Menteri Koordinator Luhut Pandjaitan bersama beberapa menteri lainnya mengatakan kepada wartawan bahwa, agar proyek pembangunan light rail transit (LRT) bisa selesai tepat waktu, maka mekanisme pendanaan dari proyek tersebut akan dibuat lebih fleksibel, dimana jika sebelumnya proyek itu akan sepenuhnya menggunakan dana dari APBN, maka sekarang Pemerintah membuka opsi-opsi lain seperti public service obligation, penjaminan, kerja sama dengan pihak swasta maupun BUMN, dan seterusnya.
Tapi entah bagaimana, cerita yang muncul adalah ‘Proyek LRT yang dikerjakan oleh kontraktor Adhi Karya (ADHI), terancam mangkrak karena tidak lagi dibiayai APBN’.
Padahal kalau kita cermati pernyataan dari Pak Luhut, misalnya seperti yang bisa anda baca disini:
Beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa proyek LRT tidak lagi dibiayai oleh APBN. Bahkan menyatakan bahwa APBN tidak sanggup menanggung seluruh biaya proyek pun tidak! (yang menulis kalimat itu cuma wartawannya aja). Yang Pak Luhut tekankan adalah, karena Pemerintah berkeinginan agar proyek LRT itu bisa selesai tepat waktu, maka kita jangan lagi terlalu kaku dengan hanya mengandalkan APBN semata, melainkan bisa mempertimbangkan banyak opsi lain termasuk menunjuk ADHI untuk juga sekaligus sebagai investor (jadi tidak hanya sebagai kontraktor, melainkan pemilik LRT tersebut), tentunya jika perusahaan sanggup menyediakan dananya (jadi kalau gak sanggup ya gpp, LRT-nya tetap jadi milik Pemerintah). Perhatikan bahwa Pak Luhut hanya mengatakan bahwa ‘ADHI bisa juga menjadi investor pemilik proyek, jadi tidak sekedar menjadi kontraktor’, dan bukannya mengatakan ‘Kami telah menunjuk ADHI sebagai pemilik proyek, jadi mulai sekarang masalah pembiayaan LRT adalah sepenuhnya tanggung jawab perusahaan’. Perhatikan pula bahwa beliau sama sekali tidak mengatakan kata-kata seperti ‘LRT harus disetop’, ‘duitnya tidak cukup’, ‘proyeknya bakal mangkrak’, atau semacamnya. Malahan beliau menekankan bahwa ‘Kita tetap ingin proyek LRT selesai pada first quarter 2019, sepertinya tercapai’.
Tapi apapun itu, berita yang sudah tersebar luas adalah bahwa proyek LRT yang dikerjakan oleh ADHI terancam mangkrak. Dan hasilnya seperti yang bisa anda tebak: Dua hari ini saham ADHI nyungsep hingga tembus dibawah level psikologis Rp2,000 per saham, and of course, everybody went panic.
Tapi cerita ADHI ini bukanlah yang pertama. Beberapa bulan lalu, ketika saham Jasa Marga (JSMR) anjlok hingga tembus dibawah 4,000, muncul berita bahwa karena perusahaan dalam waktu dekat akan mengoperasikan banyak ruas tol baru, maka JSMR mungkin akan merugi karena ruas tol tersebut akan memakan banyak biaya operasional, sementara pendapatannya belum tentu meningkat (ini analisis yang totally ngawur, tapi tetep aja banyak orang yang percaya). Kemudian Desember 2016 lalu pernah juga ada berita bahwa terkait tax amnesty, maka bank-bank di tanah air akan kebanjiran dana repatriasi milik orang Indonesia dari luar negeri, dimana jika pihak bank tidak bisa menyalurkannya kembali maka akan menimbulkan kerugian (dan alhasil saham BBRI dkk ketika itu langsung turun). Pernah juga rame berita bahwa ‘Pemerintah akan menaikkan harga rokok jadi Rp100,000 per bungkus’, padahal itu cuma wacana sebuah LSM! Tapi efeknya lumayan dahsyat untuk menjatuhkan saham Gudang Garam (GGRM) dkk. Dan yang paling mudah diingat adalah ketika beberapa waktu lalu muncul boikot terhadap roti merk ‘Sari Roti’ milik Nippon Indosari Corpindo (ROTI), dimana entah dari mana asalnya muncul berita yang bercerita tentang pedagang Sari Roti yang menangis (‘menangis’, bukan ‘mengeluh’, biar dramatis aja gituuu) karena dagangannya gak laku-laku, sehingga timbul kesan bahwa ROTI bangkrut.
Merk roti favorit penulis, paling enak makannya sambil minum Equil (bukan minuman keras loh yaaa)
Padahal ketika penulis sorenya mampir ke warung depan rumah untuk beli cemilan, saya bertanya sama kasir, hari ini ada yang beli Sari Roti nggak? Dan dia jawab, ada kok pak, sama aja kaya hari-hari biasa.
Namun tidak semua news framing ini bikin saham jeblok, tapi juga sebaliknya bisa bikin saham gak jelas terbang. Ketika Bank Pundi, yang sekarang berubah nama menjadi Bank Banten (BEKS) menggelar right issue, maka muncul berita dimana-mana yang mengatakan bahwa kinerja BEKS akan jadi bagus seperti BJBR bla bla bla, dan alhasil sahamnya terbang. Lalu ketika kemarin Donald Trump memenangkan Pilpres Amerika Serikat versi real count, tiba-tiba saja ada media yang ‘mengingatkan’ masyarakat bahwa Trump pernah bekerja sama membangun sebuah resort dengan perusahaan properti milik Hary Tanoe, dan alhasil saham MNC Investama (BHIT), yang merupakan perusahaan investasi milik Mr. Hary, langsung terbang.
Tapi entah itu sahamnya terbang ataupun jeblok, namun seperti yang bisa anda perhatikan: Tak lama setelah beritanya dilupakan orang, maka saham tersebut akan kembali lagi ke posisi harganya semula. Jadi saham yang sebelumnya jeblok akan naik lagi, dan saham yang sebelumnya terbang akan turun lagi. Yup, jadi bahkan dalam contoh kasus ‘news framing’ yang efeknya berkepanjangan sekalipun, contohnya seperti ketika awal tahun 2016 lalu rame isu soal pembatasan NIM perbankan yang menyebabkan saham-saham bank jeblok, namun tetap saja, pada akhirnya saham yang menjadi ‘korban’ akan naik kembali.
Jadi dalam hal inilah, ketika kita menemukan saham bagus yang sedang ‘diserang’ oleh pemberitaan negatif tertentu, atau kebetulan saham yang diserang tersebut sudah kita pegang (sehingga posisinya jadi nyangkut), maka apakah situasi ini bisa menimbulkan profit atau malah kerugian, itu sepenuhnya tergantung dari cara kita dalam menyikapi ‘serangan’ tersebut: Jika anda meniru kebiasaan para ‘komentator politik’ di Facebook yang selalu membaca judul beritanya saja tanpa sekalipun membaca isi dari berita itu sendiri (padahal bisa jadi itu cuma hoax), maka ya sudah: Anda bakal langsung panik ketika saham anda under attack, lalu cut loss, lalu beberapa saat kemudian menyesal karena ternyata saham itu naik lagi.
Namun jika kita sejak awal hanya membeli saham-saham berfundamental bagus, dan meluangkan waktu untuk membaca pemberitaan yang beredar secara menyeluruh hingga memahami esensi dari berita tersebut (dimana seringkali esensi beritanya tidaklah seburuk judul headline-nya), maka penurunan saham artinya opportunity, dimana kita bisa average down, atau ya hold aja kalau memang sudah gak punya cash lagi, karena toh kita tahu bahwa nanti juga itu saham bakal naik lagi. Sebenarnya kalau anda sudah cukup pengalaman di market, maka anda akan mengerti bahwa faktor news framing terhadap pemberitaan ini merupakan salah satu risiko yang bisa menyerang saham manapun yang anda pegang, tak peduli sebagus apapun fundamental saham tersebut. Namun asalkan anda bisa menelaah kembali pemberitaan tersebut dengan seksama dan bukannya hanya mendengar ‘katanya katanya katanya’, dan kemudian menyimpulkan bahwa ternyata tidak ada peristiwa tertentu yang secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja operasional perusahaan, maka ya sudah: Anda bisa kembali duduk santai dirumah dan ngopi-ngopi lagi, coz there is nothing to worry about!
Okay, I think that’s enough. Minggu depan kita akan membahas satu saham tambang, yang mungkin akan melaporkan kinerja keuangan yang bagus di Kuartal IV 2016.

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham-saham Pilihan edisi Kuartal IV 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bumi Resources Minerals

Pada Oktober 2016 lalu, di blog ini kita sudah membahas tentang salah satu saham paling fenomenal dalam sejarah Pasar Modal di Indonesia, Bumi Resources (BUMI), yang ketika itu tiba-tiba saja melompat dari Rp82 ke Rp123 per saham, hanya dalam tiga hari perdagangan. Namun setelah mempertimbangkan kenaikan harga batubara, plus adanya rencana dari perusahaan untuk mengkonversi utangnya menjadi saham (yang kemudian disetujui oleh kreditor), maka ketika itu kesimpulannya adalah bahwa BUMI sangat menarik karena masih berpeluang untuk naik lebih tinggi lagi. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Waktu berlalu.. dan sekarang tiba-tiba saja BUMI sudah berada di level psikologis Rp500 per saham! Karena sepanjang Januari ini pasar juga sangat sepi dari sentimen, maka praktis tidak ada saham yang lebih menarik perhatian para investor dan trader dibanding BUMI ini, dimana orang-orang yang sebelumnya mengklaim bahwa mereka ‘Tidak akan menyentuh BUMI!’, mau tidak mau jadi penasaran juga: Jangan-jangan BUMI ini beneran bagus?
Tapi bahkan kalaupun BUMI ini bagus, masalahnya dia sekarang sudah bukan 50 lagi, melainkan udah nambah nolnya satu jadi 500.. Jadi bagaimana kalau kita ambil ‘saudara-saudaranya’ saja? Dan mungkin karena itulah, beberapa saham Bakrie seperti Bumi Resources Minerals (BRMS), Darma Henwa (DEWA), Energi Mega Persada (ENRG), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), hingga Bakrieland Development (ELTY), belakangan ini semuanya bangkit dari kubur. Namun bagi investor yang berpengalaman, maka cukup jelas bahwa kebangkitan saham-saham zombie diatas hanya karena mengikuti kenaikan BUMI saja, jadi belum tentu karena faktor fundamental dari perusahaan terkait.
Okay, tapi bagaimana dengan BRMS? Berbeda dengan saham-saham Grup Bakrie lainnya yang baru ‘jalan’ pada Januari ini, BRMS sudah mulai menggeliat sejak Oktober tahun lalu, atau hampir bersamaan dengan naiknya BUMI. Kemudian meski kenaikannya belum setinggi BUMI, tapi kalau dibandingkan dengan saham-saham Bakrie lainnya maka dia yang naiknya paling tinggi sejauh ini. Selain itu secara struktur perusahaan, BRMS ini 87% sahamnya dipegang oleh BUMI, jadi kalau nanti BUMI ini kembali mencatat kinerja bagus dan profit jumbo karena kenaikan harga batubara, maka harusnya demikian pula dengan BRMS, karena BUMI dan BRMS ini sejatinya merupakan perusahaan yang sama bukan? Well, mungkin nggak juga, dan berikut penjelasannya.
Analisis BRMS
Sejarah BRMS dimulai pada tahun 2009, ketika Grup Bakrie bersama dengan Pemprov Nusa Tenggara Barat sukses mengakuisisi 24% saham Newmont Nusa Tenggara (NNT), sebuah perusahaan tambang emas. Di tahun yang sama, Grup Bakrie juga sukses mengakuisisi tiga perusahaan tambang lainnya, yakni PT Gorontalo Minerals (emas dan tembaga), PT Citra Palu Minerals (emas), dan PT Dairi Prima Mineral (zinc dan timah hitam). Keempat perusahaan ini kemudian ditempatkan dibawah BUMI. Namun karena aset-aset BUMI yang lain hampir semuanya bergerak di bidang tambang batubara, sementara empat perusahaan diatas, meski juga merupakan perusahaan tambang namun bukan batubara, maka timbul ide untuk mendirikan perusahaan holding dibawah BUMI yang khusus untuk menampung NNT dan kawan-kawan. Maka kemudian lahirlah Bumi Resources Minerals. Hanya setahun kemudian yakni tahun 2010, BRMS sukses melantai di bursa dengan harga perdana Rp635 per saham. Peraturan BEI sebenarnya mensyaratkan sebuah perusahaan untuk sudah berdiri dan beroperasi minimal selama tiga tahun sebelum kemudian baru bisa IPO, tapi Grup Bakrie bisa mengakali peraturan tersebut dengan cara mengakuisisi perusahaan kecil bernama PT Panorama Timur Abadi yang sudah berdiri sejak tahun 2007 (akuisisinya dilakukan tahun 2009), kemudian mengubah nama perusahaan menjadi Bumi Resources Minerals, dan langsung meng-IPO-kannya setahun kemudian. Genius, isn’t it?

However, berbeda dengan aset-aset batubara milik BUMI yang sebagian besar sudah beroperasi, dari keempat aset yang ditempatkan dibawah BRMS, hanya NNT yang sudah beroperasi. Ketika BRMS melakukan IPO di tahun 2010, maka rencana awalnya adalah bahwa perusahaan akan melakukan kegiatan eksplorasi hingga ketiga anak perusahaan, yakni Gorontalo Minerals, Citra Palu, dan Dairi Prima, kesemuanya akan sudah beroperasi dan menghasilkan pendapatan pada tahun 2013.
Namun seperti yang kita ketahui, memasuki tahun 2012 harga batubara mulai turun, kinerja BUMI sebagai induk dari BRMS mulai tersendat-sendat, dan para direkturnya kemudian lebih sibuk berurusan dengan utang-utang perusahaan yang segunung ketimbang mengerjakan operasional tambang seperti biasanya. Dan alhasil kegiatan eksplorasi di tiga tambang milik BRMS nyaris berhenti total, sehingga tidak ada kejelasan tentang kapan Gorontalo Minerals dan lainnya akan bisa mulai beroperasi. Untuk beberapa saat, kondisi ini tidak terlalu jadi soal, karena toh BRMS masih punya sumber income dari bagian laba bersihnya di NNT.
Tapi pada tahun 2016 kemarin, setelah Grup Bakrie terus berjuang untuk melepaskan diri dari jeratan hutang-hutangnya, pada akhirnya mau tidak mau mereka harus melepas NNT ke Grup Medco, itupun pada harga murah sehingga di laporan laba rugi BRMS, tercantum kerugian investasi yang cukup besar yakni US$ 660 juta karena BRMS melepas NNT pada harga yang jauh lebih rendah dibanding yang seharusnya, istilahnya forced sell lah. Namun problem terbesarnya mungkin bukan di kerugian itu, melainkan: Setelah tidak lagi memegang NNT, maka mulai tahun 2017 ini dan seterusnya, BRMS bisa dipastikan tidak memiliki sumber pendapatan lagi.
Sebab dari tiga perusahaan tambang yang masih dipegang BRMS, diperkirakan mereka baru akan mulai beroperasi pada tahun.. 2019, itupun tentunya dengan catatan kegiatan eksplorasinya lancar (jadi realisasinya bisa lebih lama lagi). BRMS sebenarnya masih punya satu sumber pendapatan, yakni dari jasa pemasaran produk-produk tambang, namun nilainya sangat kecil, hanya US$ 2 – 3 juta per tahun. Karena disisi lain kegiatan eksplorasinya akan memakan biaya besar hingga ratusan juta Dollar, maka BRMS hampir bisa dipastikan akan kembali menderita kerugian di tahun 2017 ini, dan juga tahun 2018 nanti.
Jadi berbeda dengan BUMI yang berpeluang untuk kembali mendulang profit di tahun 2017 ini berkat naiknya harga jual batubara, plus ekuitasnya juga akan kembali positif karena restrukturisasinya sukses, atau dengan kata lain kenaikan saham BUMI selama tiga bulan kemarin memiliki dasar fundamental, maka untuk BRMS ini penulis terus terang gak punya gambaran kedepannya bakal gimana. Sebenarnya ada dua kondisi yang bisa membuat BRMS membukukan laba, yakni: 1. Perusahaan menjual salah satu dari tiga aset tambangnya pada harga tinggi, atau 2. Grup Bakrie sukses mengakuisisi perusahaan tambang yang sudah beroperasi, kemudian ditempatkan dibawah BRMS. Dan mungkin karena itu pula, setelah saham BRMS terbang hingga sekarang berada di level 130-an, kemudian nongol rumor bahwa perusahaan akan menjual Citra Palu Minerals ke investor asal China.
Tapi kalo misalnya besok-besok BRMS ini merosot lagi, maka tentu rumor-rumor seperti ini akan menguap dengan sendirinya.
Okay Pak Teguh, lalu bagaimana dengan DEWA? ENRG? UNSP? ELTY? Atau malah Bakrie & Brothers (BNBR)?? Ya santai saja lahh, nanti kita bahas mereka satu-satu. Sebenarnya sih kalo berani spekulasi, maka selama BUMI-nya naik, adek-adeknya termasuk BRMS juga bakal tetap naik, tak peduli meski laporan keuangan mereka masih amburadul. Tapi seperti halnya tiga bulan lalu kita menganalisis BUMI berdasarkan pendekatan fundamental dan value investing dan hasilnya terbukti sangat baik, maka tentu akan jauh lebih safe jika kita membeli (atau tidak membeli) saham-saham Bakrie yang lain berdasarkan kaidah value investing juga, dan bukannya malah ‘Kalo break harga segini maka buy! Kalo turun sampe tembus harga segitu maka stop loss!’ (Lah jadi maksute kalo udah naik baru beli? Kalo udah turun baru jual? Sampeyan ngajarin saya biar dapet untung atau malah rugi sih???)
Tapi ngomong-ngomong, selama Om ARB masih belum nongol lagi di daftar orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes, dan istilah ‘Saham Sejuta Umat’ belum kembali populer, maka biasanya sih itu berarti peluangnya masih terbuka, entah itu di BUMI ataupun saham-saham Grup Bakrie lainnya. Just stay tune!

Buletin Analisis IHSG & Stockpick bulanan edisi Februari 2017 sudah terbit! With special report: BAKRIE IS BACK! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal IV 2016

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, 13 Februari 2017. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya), klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL paling gokil
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – Jakarta

TESTIMONIAL paling jujur
Terima kasih pak Teguh untuk sarannya. Maaf, saya belajar pak, fundamental dan tehnik analisis walau masih sekulit. Untuk trading model tehnik analisis kayanya ga cocok sama sekali, ga ada waktu nongkrongin computer terus2an. Jadi saya lebih baik mempelajari saham2 pilihan pak Teguh saja. Dan dari pertengahan bulan kemarin, hasilnya sangat baik.
Terima kasih pak Teguh
Cynthia Santoso – [...]

Investor Lokal + Investor Asing = IHSG??

Kalau anda membuka website IDX hari ini, maka akan muncul berita bahwa per akhir tahun 2016 kemarin, kepemilikan investor domestik terhadap saham-saham di BEI tercatat 45.5%, berbanding asing sebesar 54.5%. Meski dari data ini bisa dilihat bahwa ternyata Bursa Saham Indonesia masih didominasi investor asing, namun kepemilikan investor domestik yang 45.5% tadi merupakan yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Sebelumnya, antara tahun 2007 hingga 2015, kepemilikan domestik atas saham-saham di BEI hanya berkisar antara 33 – 41%, dimana kalau kita lihat beberapa perusahaan terbesar di Bursa yang majority shareholder-nya merupakan investor asing, katakanlah seperti HM Sampoerna yang dimiliki Philip Morris (Amerika), Astra International yang dipegang Jardine Matheson (Hong Kong), atau Unilever Indonesia yang dikuasai Unilever BV (Inggris – Belanda), maka sepertinya memang cukup jelas bahwa kita masih belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

However, sejak tahun 2016 kemarin keberadaan investor domestik sedikit demi sedikit mulai menggeser dominasi asing di bursa, dimana jika trend ini berlanjut maka bukan tidak mungkin pada tahun 2017 ini kepemilikan investor domestik di BEI akan sudah lebih besar dibanding asing. Nah, terkait hal ini ada beberapa poin yang penulis perhatikan, tapi sebelum itu ada dua hal yang perlu anda ketahui terkait ‘Asing vs Lokal’ ini:
Pertama, hingga saat ini Indonesia masih belum sepenuhnya dikategorikan sebagai ‘negara layak investasi’ atau investment grade. Hingga awal tahun 2017 ini, dari tiga lembaga pemeringkat terbesar di dunia yakni Fitch Ratings, Moody’s, dan S&P, hanya Fitch dan Moody’s yang sudah memberikan cap investment grade bagi Indonesia, itupun baru diberikan pada tahun 2011 dan 2012 lalu. Di kawasan Asia Tenggara saja, dalam hal status investment grade ini, Indonesia masih dibawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan bahkan Filipina.
Kondisi diatas menyebabkan Indonesia masih belum menjadi destinasi utama bagi para fund manager global untuk menempatkan investasi mereka, dimana berinvestasi disini dianggap sangat berisiko/lebih dekat ke spekulasi. Jadi kalau anda mengelola dana US$ 1 milyar untuk ditempatkan di bursa-bursa saham di seluruh dunia, misalnya, maka mungkin anda hanya akan menempatkan total US$ 1 juta saja disini, itupun hanya dipake buat beli saham-saham yang mainstream seperti Astra International (ASII), Bank BRI (BBRI), dst.
Jadi diluar perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia dengan cara mengakuisisi perusahaan lokal, maka perusahaan asset management cenderung ogah untuk invest/trading saham di BEI, dan alhasil sampai sekarang posisi beli/jual asing di BEI tidak pernah terlalu besar. Rekor net buy asing terbesar terjadi pada tahun 2014, yakni senilai Rp42.6 trilyun atau sekitar US$ 3 milyar, dan itu merupakan nilai total pembelian yang dilakukan oleh seluruh investor asing di BEI, yang jumlahnya bisa mencapai ribuan individu dan ratusan institusi.
Padahal menurut data dari Investment & Pensions Europe, per akhir tahun 2016, 400 perusahaan asset management terbesar di dunia memiliki dana kelolaan senilai total US$ 56.3 trilyun! Alias US$ 56,300 milyar, tapi ternyata hanya sedikiiiit sekali dari dana tersebut yang diputer di Indonesia, dimana dari 400 perusahaan asset management diatas, sebagian besar diantaranya mungkin malah sama sekali tidak pernah membeli saham disini.
Tapi menariknya, keberadaan asing yang sejatinya sangat minim ini tetap berpengaruh terhadap fluktuasi IHSG selama ini terutama dalam jangka pendek, dimana kalau mereka belanja maka IHSG cenderung naik, sementara kalau mereka jualan maka IHSG cenderung turun. Pada bulan Juni – Agustus 2016 lalu, ketika booming sentimen tax amnesty, asing belanja besar-besaran hingga posisi net buy asing meningkat dari hanya Rp4 trilyun pada bulan Mei menjadi Rp38 trilyun pada bulan Agustus, dan IHSG melompat dari 4,700-an hingga mentok di 5,470. Tapi selepas Agustus tersebut, asing kemudian terus jualan hingga sekarang, dan alhasil IHSG juga seperti kehilangan tenaga untuk naik lebih tinggi lagi. Sebenarnya kalau berdasarkan data historis yang ditampilkan di artikel ini, maka aksi jual atau beli yang dilakukan asing tidaklah berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG dalam jangka panjang/tahunan (karena kalau dalam jangka panjang, yang paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG tentunya fundamental ekonomi makro dan kinerja para emiten). Namun kalau dalam jangka pendek, dalam hal ini bulanan atau mingguan, maka keluar masuknya asing di bursa tetap berpengaruh signifikan terhadap fluktuasi IHSG, padahal sekali lagi, jumlah asing yang wara wiri di BEI sebenarnya sama sekali tidak besar.
Dalam hal ini penulis jadi mikir: Seandainya besok-besok asing belanja saham besar-besaran di BEI, katakanlah sampai US$ 5 milyar saja, maka kira-kira apa yang bakal terjadi terhadap IHSG? Dan sebaliknya, jika mereka jualan besar-besaran, maka IHSG bisa jeblok sampai berapa?
Itu yang pertama. Kedua, selama ini penulis sering mendengar pendapat analis yang menyebutkan bahwa kalau misalnya Fed Rate naik, atau kemarin ada ramai cerita pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, maka asing akan ramai-ramai keluar dari sini untuk balik lagi ke AS, dan itu akan bikin IHSG jatuh. Pendek kata, setiap kali ada isu global tertentu maka itu akan menyebabkan asing keluar dari Indonesia, sementara isu-isu dalam negeri malah tidak dianggap berpengaruh.
Padahal kalau kita lihat data historis dalam jangka panjang, yang terjadi justru sebaliknya: Isu-isu yang terjadi diluar negeri tidaklah berpengaruh terhadap keluar masuknya asing di BEI, karena yang berpengaruh adalah isu-isu domestik. You see, dalam 20 tahun terakhir (antara tahun 1997 hingga 2016), asing hanya pernah tiga kali membukukan net sell, yakni tahun 2005, 2013, dan 2015. Dan apa yang terjadi pada tahun-tahun tersebut? Here we go: Pada tahun 2005, Indonesia mengalami inflasi tinggi dan perekonomian sempat terguncang, setelah Pemerintah ketika itu dengan cepat menaikkan harga BBM bersubsidi (pada Maret 2015, harga premium naik dari Rp1,810 menjadi 2,400, lalu pada Oktober 2015 naik lagi menjadi Rp4,500 per liter). Sementara pada tahun 2013, Indonesia mulai mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi karena penurunan harga komoditas (batubara dan CPO), dan puncak perlambatan tersebut terjadi pada tahun 2015, yang ditandai dengan lesunya aktivitas ekonomi di segala bidang dan merosotnya nilai tukar Rupiah (pada tahun 2014, perlambatan ekonomi untuk sesaat tertutup oleh euforia Pemilu dan Pilpres).
Sementara pada tahun 2008, yakni ketika terjadi krisis global, asing tetap belanja saham cukup besar di Indonesia. Pun ketika pada tahun 2011 terjadi Krisis Yunani, asing tetap membukukan net buy. Yang paling baru tentu saja pada pertengahan tahun 2015 kemarin dimana asing belanja besar-besaran karena sentimen tax amnesty. Tapi setelah sentimen tersebut meredup, plus adanya kekhawatiran terkait situasi keamanan dalam negeri menjelang Pilkada DKI Jakarta, maka asing perlahan tapi pasti terus jualan sampai sekarang.
Trend Meningkatnya Jumlah Investor Domestik
Ketika asing mulai keluar dari market sejak akhir Agustus 2016 lalu, maka normalnya IHSG akan turun. Namun hingga ketika buletin ini ditulis IHSG ternyata masih disitu-situ saja yakni 5,250-an, jadi gak sampe balik lagi ke 4,800-an seperti awal tahun 2016 lalu (yaitu ketika cerita tax amnesty belum ramai, dan asing belum masuk ke pasar). Pertanyaannya, apa yang menahan penurunan IHSG?
Dan mungkin jawabannya adalah, ketika beberapa bulan terakhir ini asing terus keluar, namun di waktu yang bersamaan investor lokal terus masuk. Terdapat dua data yang menunjukkan hal tersebut. Yang pertama, sepanjang tahun 2016 lalu, nilai transaksi jual beli saham (trading value) yang dilakukan investor lokal tercatat menembus Rp1,164 trilyun atau 63% dari total trading value di BEI, dan itu meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya yang stagnan di level Rp800-an trilyun, atau hanya 57 – 59% dari total trading value. Yang kedua, ya seperti yang sudah disebut diatas: Meningkatnya kepemilikan investor domestik terhadap saham-saham di BEI, dari tadinya 33 – 41% menjadi 45.5%. Berhubung kita tahu bahwa Philip Morris dkk masih belum menjual kepemilikan mereka di HM Sampoerna dan lainnya, maka peningkatan kepemilikan investor domestik itu bukan disebabkan karena keluarnya asing, melainkan karena meningkatnya jumlah investor lokal yang masuk ke bursa.
  
Pada tahun 2016 lalu, investor domestik untuk pertama kalinya mendominasi hampir dua per tiga total nilai transaksi perdagangan di BEI.
Lalu apa yang menyebabkan bursa belakangan ini dibanjiri investor lokal? Well, sudah cukup jelas bukan? Dalam 1 – 2 tahun terakhir, BEI sebagai penyelenggara Bursa Saham di Indonesia banyak melakukan kegiatan yang pada intinya mengedukasi dan menarik minat masyarakat awam untuk berinvestasi di saham, mulai dari mendirikan kantor-kantor cabang hingga ke Papua, menyelenggarakan seminar-seminar pasar modal di kampus-kampus dan kantor perusahaan (termasuk penulis juga pernah beberapa kali diundang sebagai pembicara), meluncurkan kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ termasuk mengiklankannya di televisi, hingga mengundang tokoh pasar modal, komunitas, dan perusahaan-perusahaan sekuritas untuk membuka bel perdagangan saham di Gedung BEI itu sendiri. Pendek kata, jika dulu penulis gak tau orang-orang di BEI itu kerjanya ngapain aja, maka sekarang ini tampak jelas bahwa mereka sangat bekerja keras, dan alhasil kalau berdasarkan data dari BEI sendiri, jumlah investor ritel lokal meningkat dari hanya 300 ribuan pada tahun 2013, menjadi 550 ribuan pada akhir tahun 2016, dan terus meningkat sampai sekarang.
Namun ketika investor domestik ramai-ramai masuk bursa, jumlah investor asing disini justru stagnan. Antara tahun 2012 – 2016, asing totalnya hanya membukukan net buy Rp31.5 trilyun dalam lima tahun terakhir (terutama karena posisi asing justru negatif/net sell pada tahun 2013 dan 2015), dan angka tersebut sangat kecil dibandingkan periode lima tahun sebelumnya (2007 – 2011), yang mencapai total Rp109.6 trilyun. Tapi kalau kita melihat lagi data makroekonomi nasional sejak tahun 2007, maka nilai belanja investor asing diatas menjadi bisa dijelaskan: Antara tahun 2007 – 2011, Indonesia sedang dalam masa puncak pertumbuhan ekonomi berkat booming komoditas (sempat ‘diinterupsi’ oleh krisis global 2008, tapi fundamental ekonomi dalam negeri ketika itu tetap stabil). Namun memasuki tahun 2012 sampai sekarang, seiring dengan penurunan harga komoditas maka berakhir pula masa kejayaan ekonomi di tanah air, meski juga (untungnya) gak sampai jatuh krisis.
However, kalau anda memperhatikan data fundamental perekonomian, maka seperti yang sudah penulis bahas disini, sebenarnya cukup jelas bahwa kondisi ekonomi sekarang, meski memang belum sebagus tahun 2007 – 2011 lalu, tapi perlahan tapi pasti mulai pulih, dan terdapat prospek bahwa angka pertumbuhan GDP nasional akan tumbuh kencang lagi dalam beberapa tahun kedepan. Ini artinya, terlepas dari isu-isu jangka pendek seperti Pilkada dll yang menyebabkan investor asing tahan posisi cash, namun dalam jangka panjang mereka akan kembali memborong saham-saham di BEI.
Dan karena disisi lain jumlah investor domestik juga terus meningkat, maka bagaimana kira-kira dampaknya terhadap IHSG???
Kabar baiknya adalah, meski belakangan ini jumlah investor domestik di bursa meningkat signifikan, namun jumlah investor domestik ini masih belum ada 1% dibanding total populasi Indonesia, alias masih keciiiil sekali, yang artinya potensi peningkatan jumlah investor lokal ini masih sangat terbuka lebar. Disisi lain, meski sampai sekarang S&P masih belum memberikan cap investment grade bagi Indonesia, namun penulis kira itu cuma soal waktu saja, karena toh pembangunan ekonomi di tanah air sampai sekarang masih berjalan lancar, belum lagi belakangan ini harga-harga batubara dan CPO, yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional, mulai naik lagi.
Dan ketika nanti S&P akhirnya memberikan cap investment grade, maka ya sudah: Indonesia resmi menjadi negara layak investasi, karena dua lembaga pemeringkat lainnya yakni Fitch dan Moody’s sudah lebih dulu memberikan cap investment grade tersebut. Dan mulai sejak saat itulah, Indonesia tidak akan lagi dipandang sebelah mata oleh para fund manager besar, dimana mereka akan ramai-ramai belanja saham dimari. At the end, it is just a matter of time. Someday, bursa saham di Indonesia akan menjadi cukup besar dan diperhitungkan di dunia, dan itu akan terjadi cepat atau lambat dari sekarang.
Jadi seperti yang sering penulis sampaikan ke orang-orang, ‘Pasar Saham di Indonesia itu adalah seperti di Amerika namun 50 atau bahkan 100 tahun yang lalu, dan kita-kita ini adalah seperti Warren Buffett di tahun 60-an dulu. Bisa penulis katakan bahwa, kita beruntung karena kita merupakan generasi-generasi awal di dunia investasi saham di Indonesia, namun keberuntungan tersebut akan sia-sia kalau kita tidak segera berinvestasi dari sekarang!’ So, are you join us or not???

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stockpick edisi Februari 2017 akan terbit hari Rabu, 1 Februari mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kenapa Kita Harus Nabung Saham?

Di artikel minggu lalu tentang outlook IHSG untuk tahun 2017, di bagian akhir artikel penulis menyampaikan bahwa kalau Anda masih ragu-ragu dengan arah pasar, terutama karena pasar sampai sekarang masih sepi dari sentimen (sehingga IHSG bergerak stagnan), maka boleh juga tunggu diluar alias pegang cash, dimana dengan demikian porto Anda aman dari kemungkinan munculnya sentimen negatif tertentu dalam satu dua bulan kedepan yang bisa menyebabkan IHSG drop (dan saham anda ikut drop). Tapi disisi lain kalau anda hanya pegang cash saja, maka anda mungkin akan ketinggalan kereta kalau ternyata IHSG langsung naik. At the end, nobody could predict the market, right? Apalagi dalam jangka pendek seperti itu.

However, yang akan kita bahas disini bukan soal IHSG-nya.
Sekarang perhatikan lagi kalimat diatas: Kalau anda dalam posisi memegang saham, maka anda mungkin akan menderita kerugian kalau IHSG drop, dan saham-saham anda turun. Tapi kalau anda memegang cash, maka anda tetap bisa menderita kerugian, yakni kalau saham-saham yang anda incar ternyata naik duluan dan alhasil Anda kehilangan sejumlah keuntungan yang harusnya anda peroleh andaikan anda membeli saham tersebut. Intinya apapun posisi yang anda ambil, entah itu memegang saham ataupun cash, itu sama-sama mengandung risiko. Kalau anda memegang saham senilai Rp10 juta, misalnya, maka anda bisa menderita rugi Rp1 juta kalau saham tersebut turun 10%.
Tapi kalau anda memegang cash senilai Rp10 juta, maka anda bisa rugi juga! Yakni kalau ternyata saham yang anda incar naik 10% dan anda seharusnya meraup profit sebesar Rp1 juta, tapi kenyataannya anda tidak memperoleh profit apapun karena sudah memutuskan untuk memegang cash saja.
Dalam hal ini penulis jadi ingat, saya sering menerima pertanyaan kurang lebih seperti ini, ‘Pak Teguh, saya sangat tertarik untuk berinvestasi di saham, dan saya udah baca-baca blog sampeyan sejak setahun lalu. Tapi sampe sekarang saya belum buka rekening, karena saya takut rugi. Saya gak mau rugi Pak, jadi mohon sarannya.’
Bagi penulis, kalimat yang di-bold diatas terdengar seperti, ‘Pak Teguh, saya mau jadi petinju, tapi saya gak mau dipukul. Kalau bisa lawan tanding saya diem aja gitu, biar saya saja yang pukulin dia…’ Pertanyaannya, ente mau jadi petinju apa jadi anggota ormas???
Sekarang denger ya: Yang namanya rugi itu sudah makanan sehari-hari investor saham, siapapun dia termasuk penulis, atau Warren Buffett sekalipun. Bohong kalau ada orang yang mengaku untung terus dari saham. Seorang fund manager profesional yang sudah pengalaman puluhan tahun mungkin mampu menghasilkan profit yang konsisten dari tahun ke tahun, tapi pasti ada saja saham-saham yang ia jual dalam posisi rugi, entah itu karena force majeure, IHSG-nya turun, atau memang karena salah analisis, tapi itu tidak jadi masalah selama saham-saham yang lainnya bergerak naik sesuai planning.
Sementara bagi investor pemula maka ceritanya beda lagi: Anda masih belajar menganalisis. Anda masih memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab karena kurang pengalaman. Dan anda masih belum bisa mengendalikan emosi, masih gampang panik dan gak bisa lepas dari layar ponsel setiap menitnya dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore untuk melototin pergerakan saham yang anda pegang (dan kemudian kesel sendiri ketika saham anda gak naik-naik atau malah turun, padahal saham tetangga udah pada terbang). Nah, dalam kondisi seperti itu anda kemudian beli saham, kira-kira bagaimana hasilnya? You know the answer: Sangat besar kemungkinan anda akan menderita kerugian. Dan memang, investor manapun hampir pasti bakal rugi pada 1 – 2 tahun pertama. Tapi asalkan ia mau bertahan, belajar, dan menggali pengalaman, maka ia akan bisa profit pada tahun ketiga atau keempat, dan akhirnya bisa profit konsisten pada tahun kelima dan seterusnya.
Jadi kalau anda mau invest di saham tapi ‘Saya gak mau rugi’, maka ya sudah jangan invest. Karena kalau anda invest maka mau gak mau anda bakal rugi. Tapi harap diingat pula: Ketika anda tetap menyimpan uang anda di bank, maka anda mungkin akan menertawakan teman anda yang coba-coba invest saham tapi setelah setahun hasilnya malah hancur-hancuran, sementara uang anda tetap utuh tak berkurang seperakpun. Namun setelah dua, tiga, empat, lima tahun.. tanpa anda sadari ternyata teman anda itu sudah profit berlipat-lipat dari kegiatan investasinya, sementara nilai tabungan anda ya cuma segitu-gitu saja, malahan sejatinya berkurang karena tergerus inflasi.
Terus kalau gitu yang rugi siapa???
Nah, jadi kenapa kita harus nabung saham? Ya biar nggak rugi seperti contoh ‘Anda vs Teman Anda’ diatas. Agar kita bisa meraup keuntungan, dimana keuntungan tersebut tidak akan pernah kita peroleh andaikata kita terus saja naroh duit dibawah bantal. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari menderita kerugian di saham. Yang harus ditakutkan adalah jika kita tidak pernah meraih keuntungan dan aset kita tidak pernah bertumbuh, karena memang tidak pernah berinvestasi. Yes, memang benar bahwa anda akan perlu waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun untuk belajar analisis dll, dan anda juga bakal menderita sejumlah kerugian pada awalnya.
Tapi ketika ilmu pengetahuan serta pengalaman itu akhirnya diperoleh, maka kesananya bakal uenak tenan! Pada titik ini anda mungkin tetap akan menderita rugi dari saham-saham tertentu, tapi untuk saham-saham lainnya akan naik dengan sendirinya tanpa perlu diapa-apain lagi. Penulis sendiri terus terang kalau bukan karena harus nulis di blog ini, maka saya juga gak tau apa lagi yang harus dikerjakan, karena toh invest saham ya cuma gitu-gitu aja, beli kemudian ditinggal, sementara kalo pergi main atau jalan-jalan keluar kota tentunya gak bisa setiap hari. Atau saya nyalon gubernur aja kali ya??

Jadi jika anda memang tertarik untuk berinvestasi di saham, then go ahead, segera buka rekening lalu mulailah menabung, jangan ditunda-tunda lagi. Dengan mulai berinvestasi, anda mungkin (atau malah pasti) akan menderita rugi pada awalnya, tapi disisi lain anda akan memiliki peluang untuk meraup profit fantastis, dan untuk menjadi investor besar suatu hari nanti. Sementara jika cuma menonton terus dari luar, maka meski kelihatannya gak akan rugi, tapi sebenarnya anda justru sudah rugi besar karena gak akan pernah meraih profit apapun. Seperti yang pernah dikatakan seorang mafioso Italia di New York (yang penulis baca dari video game Mafia II di Playstation), ‘He who take too much risks will lose everything. But he who never take risks will achieve nothing.’
Dan kalau penulis boleh menambahkan, ‘And he who take risks with careful analysis and wisdom, will achieve everything!’


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kemana Arah IHSG di Tahun 2017??

Hingga Senin, 9 Januari kemarin, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang sepi dengan nilai transaksi rata-rata hanya Rp5.25 trilyun per hari sejak awal tahun, atau jauh dibawah biasanya yang mencapai Rp6 – 7 trilyun per hari, itupun karena ditopang oleh peningkatan nilai transaksi yang sangat signifikan dari dua saham yang sebelumnya sepi-sepi saja, yakni Bumi Resources (BUMI) dan Bumi Resources Minerals (BRMS), yang total nilai transaksi keduanya mencapai lebih dari Rp500 milyar atau 10% dari seluruh nilai transaksi di bursa setiap harinya. Kondisi ini mungkin menimbulkan pertanyaan: Ada apa ini sebenarnya? Bukannya pasar saham itu biasanya rame kalo awal tahun? Lalu bagaimana kira-kira pergerakan IHSG untuk tahun 2017 ini? Okay, kita langsung saja.

Bagi anda yang bingung dengan sepinya pasar dan arah IHSG sepanjang awal tahun 2017 ini, maka ingat ini: Dalam jangka menengah dan panjang, pergerakan IHSG dan saham-saham didalamnya akan dipengaruhi oleh kualitas kinerja para emiten dan juga fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Sementara dalam jangka pendek, dalam hal ini tiga bulan atau kurang, maka pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh pemberitaan/sentimen yang beredar. Jika sentimennya positif maka IHSG akan naik, tapi jika jelek maka IHSG akan turun.
Tapi jika tidak ada sentimen apapun seperti sekarang ini, bagaimana? Ya IHSG gak akan kemana-mana, alias gak naik tapi juga gak turun, sementara nilai transaksi perdagangan saham juga akan sepi karena orang-orang yang megang barang nggak jualan, dan sebaliknya mereka yang masih megang cash juga masih wait n see alias gak mau buru-buru masuk. Dan IHSG sendiri ketika artikel ini ditulis masih bertahan di 5,300-an, atau relatif belum kemana-mana lagi sejak Agustus 2016 lalu. Berbagai pemberitaan yang beredar juga lebih banyak yang bermuatan politik (termasuk kemarin rame lelucon ‘Fitsa Hats’) ketimbang ekonomi, sehingga news terkait pembangunan infrastruktur dll masih belum mendapat tempat di media, setidaknya hingga saat ini.
Itu pertama terkait minimnya sentimen. Yang kedua, berdasarkan pengalaman, terlepas dari apakah IHSG akan naik atau turun berapa persen pada tahun tertentu, namun para pelaku pasar biasanya hanya akan bersemangat melakukan aktivitas investasi/trading saham pada awal tahun jika IHSG mengalami kenaikan yang signifikan di tahun sebelumnya, dan secara psikologis itu bisa dijelaskan: Kalau di tahun 2016 kemarin anda cuan gede, maka anda tentu akan bersemangat untuk meraup cuan yang lebih besar lagi di tahun 2017 ini.
Tapi kalau anda di tahun kemarin nyangkut dimana-mana, gimana tuh? Ya tentu saja jadinya bakal kurang bersemangat untuk belanja. Emangnya mau belanja apaan? Lha wong duitnya masih nyangkut kok.. Sebenarnya IHSG sepanjang tahun 2016 kemarin membukukan returnyang lumayan, yakni 15.3%, tapi sayangnya mayoritas investor kemungkinan hanya menghasilkan profit yang lebih rendah dari itu, karena mereka baru masuk pada pertengahan tahun ketika IHSG sudah naik ke level 5,000-an, yakni ketika cerita tax amnesty mulai ramai dibicarakan. Sementara pada awal tahun 2016, yakni ketika pasar masih belum sepenuhnya pulih dari mini crash di tahun 2015 plus jatuhnya Bursa Shanghai, belum lagi beredar sentimen negatif terkait penurunan harga minyak hingga isu pembatasan NIM perbankan, maka keputusan untuk masuk ke pasar akan tampak sebagai keputusan yang ngawur, dan analisis yang menyebutkan bahwa IHSG akan naik ke 5,000 akan dianggap sebagai analisis yang tidak masuk akal.
Intinya, meski sebagian dari anda mungkin sukses meraup profit jumbo dari euforia tax amnesty, kenaikan saham-saham BUMN, hingga booming batubara, atau memang karena anda mampu untuk masuk ke pasar sejak awal tahun 2016 alias curi start, maka kinerja sebagian besar investor di tahun 2016 kemarin terbilang kurang bagus (itu bisa dilihat dari kinerja reksadana yang rata-rata dibawah IHSG), dan secara psikologis itu berpengaruh terhadap sepinya pasar di awal tahun 2017 ini, sama seperti sepinya pasar di awal tahun 2009 lalu, yakni setelah semua orang menderita kerugian gila-gilaan pada tahun sebelumnya alias 2008.
Menunggu Sentimen Positif
However, kita tahu bahwa di tahun 2009 itu pula, IHSG justru mencatat rekor dengan naik total 87.0% sepanjang tahun, yang itu berarti bahwa sepinya atau lesunya pasar di awal tahun bukan berarti bahwa IHSG akan lesu seterusnya di tahun tersebut. Malahan pada beberapa kasus seperti tahun 2009 dan juga 2016 kemarin, sepinya pasar di awal tahun justru merupakan big opportunity bagi para smart money, yakni mereka yang mampu menganalisis lebih dalam ke faktor-faktor fundamental ketimbang hanya memperhatikan naik turunnya IHSG, sehingga mereka bisa masuk/belanja lebih awal ketika saham-saham masih pada murah, dan tentunya profitnya pun lebih besar.
Lalu bagaimana untuk awal tahun 2017 ini? Apakah sepinya pasar juga merupakan opportunity untuk curi start, sama seperti tahun 2009 dan 2016 lalu? Bagaimana kalau untuk tahun 2017 ini ternyata pasar malah sepi untuk seterusnya, atau bahkan turun lagi? Nah, sebenarnya ada buanyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, namun untuk kali ini penulis akan mengajak anda untuk melihat dua diantaranya saja.
Pertama, dalam sepuluh tahun terakhir, terlepas dari bagaimana pergerakannya di awal tahun, namun IHSG cenderung akan naik banyak pada tahun tertentu jika pada tahun sebelumnya dia ditutup minus. Selain tahun 2009 dan 2016, IHSG juga naik lumayan banyak di tahun 2014 (22.3%) karena pada tahun 2013-nya IHSG minus tipis 1.0%. Berdasarkan hipotesa ini maka IHSG mungkin gak akan naik banyak di tahun 2017 ini, atau bisa saja malah turun, karena di tahun sebelumnya (2016) IHSG ditutup naik.
Namun demikian perhatikan: Kenaikan IHSG sepanjang 2016 kemarin hanya ditopang oleh Astra International (ASII) dan Telkom (TLKM) alias saham-saham big caps, itupun gak semuanya karena beberapa blue chips seperti PGAS, SMGR, BBNI, relatif belum kemana-mana lagi (JSMR malahan turun). Sementara saham second liner-nya, yang notabene merupakan penghuni mayoritas di bursa (saham-saham big caps/blue chips jumlahnya cuma 20-an, sisanya ya second liner) juga cenderung belum kemana-mana, dan beberapa diantaranya malah masih berada di posisi bottom-nya dalam lima tahun terakhir. Dan meski saham-saham batubara mengalami kenaikan yang luar biasa sepanjang tahun 2016 lalu, tapi jangan lupa bahwa mereka sebelumnya sudah turun berkepanjangan sejak tahun 2012 lalu, sehingga posisi mereka hingga saat ini sejatinya masih rendah.
Pendek kata, meski terdapat pengecualian untuk saham-saham tertentu yang naik banyak entah itu karena dikerek (terakhir yang rame itu BJBR) atau murni karena mekanisme pasar, namun sekarang ini sebagian besar saham di BEI masih berada di kisaran harganya seperti awal tahun 2016 lalu, dimana saham-saham ini sempat naik banyak ketika kemarin rame tax amnesty, tapi kesininya mereka turun lagi. Alhasil posisi pasar sekarang ini kurang lebih sama seperti awal tahun 2016 lalu, dan penulis bisa katakan bahwa saat ini ada cukup banyak saham-saham yang dijual pada harga diskon! Jadi tugas kita tinggal memilah-milahnya saja, yang mana yang berfundamental bagus dan yang tidak.
Kemudian kedua, kalau anda sudah cukup lama di market, maka sense alias insting anda akan terbentuk dengan baik, dan alhasil anda akan bisa merasakan kalau ada something wrong with the market. Contohnya pada tahun 2013 lalu, kejatuhan harga batubara dan komoditas lainnya menyebabkan perekonomian nasional, yang sebelumnya terus tumbuh kencang, mulai tersendat-sendat, dan pada bulan Agustus-nya penulis sudah bisa melihat hal itu akan berpengaruh negatif terhadap IHSG, setidaknya untuk tahun 2013 tersebut (anda bisa baca lagi analisisnya disini). Kemudian pada tahun 2015, perekonomian nasional sekali lagi berada dalam kondisi tertekan dimana salah satunya tampak dari Rupiah yang terus saja melemah, sehingga di bulan Maret penulis sudah bisa berkesimpulan bahwa IHSG mungkin akan turun untuk tahun 2015 tersebut, anda bisa baca lagi analisisnya disini. Sedikit pengingat, pada bulan Maret tersebut (dan juga bulan April-nya), IHSG justru terus saja break new high alias mencetak rekor kenaikan tertinggi hingga level 5,500-an. Jadi kalau anda ketika itu sekonyong-konyong mengatakan bahwa IHSG akan crash ke 4,000-an, maka anda akan dituduh sebagai ‘penebar kebencian’.
But later, IHSG ternyata benar-benar turun di tahun 2013, dan juga turun sekali lagi di 2015.
Baiklah, lalu bagaimana untuk tahun 2017 ini? Apakah juga ada something wrong? Gladly, there isn’t, setidaknya hingga saat ini. You see, tahun 2013 IHSG turun karena ekonomi mulai benar-benar melambat, terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas, dan turun sekali lagi di 2015 ketika perlambatan tersebut (mungkin) mencapai puncaknya, dimana bisnis apapun terasa lesu, dan Indonesia hampir saja jatuh krisis. Memasuki 2016 ekonomi perlahan tapi pasti mulai pulih, tapi sayangnya para emiten juga masih belum membukukan kinerja yang improve, sehingga IHSG hanya naik secara moderat.
Kemudian pada awal tahun 2017, alias saat ini, maka entah anda menyadarinya atau tidak, tapi kondisinya nyaris berkebalikan dengan tahun 2013 dan 2015 lalu. Coba perhatikan: Harga komoditas mulai naik, Rupiah stabil, pertumbuhan ekonomi stabil di 5%, ekspor impor surplus, tingkat suku bunga rendah, inflasi rendah, daaaan seterusnya.. Actually, ekonomi kita saat ini berada pada titik yang sedemikian stabilnya hingga kenaikan harga Pertamax yang cuma Rp300 per liter, atau melonjaknya harga cabai, itu seketika tampak sebagai peristiwa yang luar biasa! (Dan coba tebak siapa yang salah?? Ya pemerintah lageee…). Untuk kedepannya penulis nggak tau bakal gimana, tapi kalau melihat belanja pemerintah yang masih massive di bidang pembangunan infra, serta kembali stabilnya harga batubara serta CPO yang notabene merupakan tulang punggung perekonomian, maka penulis termasuk yang optimis bahwa kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun 2017 nanti, dan sudah tentu IHSG-nya juga akan bergerak di zona positif.
However, tulisan diatas merupakan analisis untuk jangka panjang. Terus bagaimana untuk jangka pendeknya? Sentimen apa yang nanti bakal muncul? Sebab, seperti yang sudah disebut diatas, kalau nanti tiba-tiba saja keluar sentimen negatif tertentu maka IHSG tetap akan drop bukan?? Demikian pula kalau gak ada sentimen apa-apa seperti sekarang, maka pasar tetep bakal sepi, bisa-bisa malah begini terus sampai akhir tahun?? Pak Teguh ini kenapa saham A pegangan saya kok gak mau naik-naik juga??? Hey hey.. Sabar!
Okay, dalam waktu dekat penulis atau siapapun tentu saja gak bisa menebak, sentimen apa yang bakal nongol. Tapi sekarang gini deh: Kita tahu harga batubara sudah mulai naik sejak pertengahan tahun 2016 lalu, tapi tentu itu bukan berarti perusahaan-perusahaan batubara langsung membukukan kenaikan profit pada pertengahan tahun tersebut. Lalu kapan PTBA dkk akan profit? Ya mulai tahun 2017 ini, mungkin pada Kuartal I 2017 nanti (laporan keuangannya akan keluar akhir April nanti) atau setelahnya. Dan kalau para emiten batubara kembali membukukan kenaikan profit, maka itu bakal menjadi sentimen positif bagi sahamnya, yang belakangan ini mulai cooling down setelah sebelumnya naik terus. Disisi lain kalau melihat data-data makro, penulis juga optimis bahwa para emiten di sektor lainnya juga akan membukukan kinerja bagus di awal tahun 2017 ini, dimana ketika itu terjadi maka itulah sentimen positif yang kita tunggu-tunggu!

Hingga Kuartal III 2016 kemarin, PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) masih membukukan penurunan laba. Kita lihat bagaimana untuk tahun 2017 ini.

Jadi kalau anda termasuk yang mulai bosan dengan sepinya pasar di awal tahun ini, then don’t worry, karena toh pasar gak akan selamanya sepi terus (demikian sebaliknya, gak akan selamanya rame terus). All you have to do is to put your investments, then wait. However, kalau anda lebih memilih untuk menunggu diluar dan baru masuk pada Maret atau April nanti, maka itu juga boleh-boleh saja, toh biar gimana itu lebih aman dari kemungkinan munculnya sentimen negatif, tapi risikonya anda bisa saja bakal ketinggalan kereta lagi. Anyway, the choice is yours.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing, Jakarta, 21 Januari 2017

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 21 Januari 2017
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp950,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp850,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp800,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama para peserta seminar sebelumnya

Update:  Pesertanya sudah PENUH! Jadi dengan ini pendaftarannya resmi ditutup. Sampai jumpa di jadwal seminar [...]

Dampak Peraturan Auto Reject 35% Terhadap IHSG

IHSG membuka tahun 2017 dengan turun 0.4% ke posisi 5,276 pada perdagangan perdana di hari Selasa, 3 Januari kemarin. Namun yang mungkin menarik untuk diperhatikan adalah, pada tanggal 3 Januari tersebut terdapat beberapa saham yang turun lebih dari 10%, katakanlah Atlas Resources (ARII) yang tak tanggung-tanggung jeblok 25% dari 520 ke 390, hanya dalam sehari! Kemudian besoknya, Rabu 4 Januari, giliran Semen Baturaja (SMBR) yang digebuk 24.8%. Sebelumnya kita tentu tahu bahwa berdasarkan peraturan BEI, saham apapun maksimal hanya bisa turun 10% dalam sehari. Jadi apakah mulai tahun 2017 ini peraturan tersebut telah berubah? Dan jika iya, lalu bagaimana dampaknya terhadap IHSG?

Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) per tanggal 13 Desember 2016, yang sepertinya luput dari pengamatan para wartawan sehingga tidak menjadi berita besar di media, memang disebutkan bahwa mulai tanggal 3 Januari 2017, BEI kembali memberlakukan peraturan auto rejection (AR) simetris, dari yang sebelumnya AR asimetris. Okay, lalu apa itu AR simetris? AR asimetris? Nah, dalam hal ini mungkin penulis perlu menyajikan lagi tulisan berikut, yang dikutip dari artikel bulan September 2016 lalu:
Jadi begini. Pada tanggal 25 Agustus 2015, atau persis sehari setelah IHSG dilanda panic selling, BEI segera bertindak dengan meluncurkan empat kebijakan baru sekaligus, yakni: 1. Emiten diperkenankan untuk membeli sahamnya di pasar (buy back) tanpa RUPS, 2. Saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, 3. Dana Perlindungan Investor dan dikelola oleh PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI) ditingkatkan dari Rp25 juta menjadi Rp100 juta, dan 4. Broker dilarang melakukan transaksi short-selling. Semua kebijakan tersebut bertujuan agar IHSG, yang ketika itu sudah crash ke posisi 4,100-an dari sebelumnya 5,500-an, bisa segera pulih kembali, atau minimal tidak turun lebih lanjut.
Nah, yang menarik adalah peraturan Nomor 2, yakni bahwa saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari. Jadi misalnya saham A harganya 1,000, maka dalam satu hari saham A ini maksimal hanya bisa turun sampai 900 saja (turun 10%). Kalau kemudian ada orang yang pasang bid atau offer pada harga yang lebih rendah dari 900, katakanlah pada harga 890, maka akan otomatis ditolak oleh sistem (auto reject), sehingga tidak terjadi transaksi pada harga 890 tersebut, dan alhasil harga saham A di pasar tetap 900. Jika seseorang tetap ngotot hendak membeli atau menjual saham A pada harga 890, maka dia baru bisa melakukannya pada keesokan harinya.
Sebelumnya, peraturan BEI menyebutkan bahwa saham dengan harga nominal Rp50 – 200 bisa naik atau turun maksimal 35% dalam sehari, nominal 200 – 5,000 bisa naik atau turun maksimal 25% dalam sehari, dan nominal diatas 5,000 bisa naik atau turun maksimal 20% dalam sehari. Peraturan dimana suatu saham memiliki batas kenaikan dan penurunan yang sama (misalnya saham A harganya Rp100, maka dia bisa naik maksimal hingga 35% dan sebaliknya bisa turun 35% juga, dalam sehari), itulah yang disebut dengan AR simetris. Namun setelah tanggal 25 Agustus 2015, maka suatu saham masih bisa naik maksimal hingga 35% dalam sehari, tapi hanya bisa turun maksimal 10% saja. Batas kenaikan dan penurunan yang berbeda inilah, yang disebut AR asimetris.
Namun terhitung mulai 3 Januari kemarin, BEI kembali memberlakukan peraturan AR simetris, yang artinya kalau anda memegang saham dengan harga nominal Rp200 atau dibawahnya, maka sekarang saham anda tersebut bisa saja turun 35% dalam sehari! Termasuk kalau anda memegang saham dengan nominal diatas Rp5,000, maka saham itu juga bisa saja jeblok 20%, hanya dalam satu hari. Terdengar horor? Well, nggak juga kok.
Karena, perhatikan: Ketika BEI pada Agustus 2015 lalu memberlakukan peraturan bahwa saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, maka pertimbangannya adalah karena ketika itu pasar sedang bergejolak, dimana saham sebagus apapun bisa saja anjlok hingga ke level yang teramat dalam, yang tidak lagi mencerminkan fundamental perusahaan. Dan jika kondisi tersebut terjadi pada banyak saham sekaligus, maka IHSG juga akan ikut-ikutan anjlok, akan terjadi kepanikan massal, dan itu semua pada akhirnya akan menghancurkan kepercayaan investor terhadap BEI dan prospek dari investasi saham itu sendiri. Nah, dengan adanya peraturan bahwa sebuah saham hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, maka IHSG, meskipun mungkin tetap akan turun, tapi turunnya tidak akan terlalu dalam. Dan peristiwa dimana IHSG jeblok hingga lebih dari 20% hanya dalam tiga hari di bulan Oktober 2008, yang kemudian menimbulkan trauma mendalam bahkan bagi investor yang paling berpengalaman sekalipun, itu tidak akan terjadi lagi.
Tapi itu kalau kondisi pasarnya lagi bergejolak, katakanlah seperti tahun 2015 lalu dimana fundamental ekonomi nasional memang lagi nggak bagus. Sementara kalau pasar sahamnya lagi aman damai seperti sekarang, bagaimana? Ya kalau gitu maka peraturan penurunan maksimal 10% itu tidak lagi diperlukan. Dan kalau dari BEI-nya sendiri sudah mencabut peraturan tersebut dan mengembalikan peraturan semula (dimana sebuah saham bisa naik atau turun maksimal 35%, 25%, atau 20% dalam sehari, tergantung nominalnya), maka artinya pihak BEI sendiri menilai bahwa kondisi pasar sudah aman kembali, setidaknya untuk saat ini, dimana pergerakan sebagian besar saham-saham sudah mengikuti fundamental mereka masing-masing, tanpa diwarnai lagi oleh fluktuasi yang ekstrim seperti yang terjadi pada tahun 2015 lalu. Dalam hal ini meski BEI kembali ‘mengizinkan’ saham Bank BRI (BBRI) untuk bisa turun maksimal 20% dalam sehari, misalnya, tapi sangat kecil kemungkinan bagi BBRI untuk bisa langsung turun sedalam itu dalam sehari, karena selain sekarang ini kondisi pasarnya sudah cukup stabil, BBRI ini masih memiliki fundamental yang sangat kuat.

(Catatan: Dalam 10 tahun terakhir, atau mungkin lebih lama lagi, BBRI hanya pernah sekali turun hingga 20% dalam sehari, yakni pada bulan Oktober 2008).
Sementara disisi lain, pemberlakuan kembali peraturan AR simetris akan menyebabkan saham-saham blangsak, yang sudah satu setengah tahun terakhir ini naik gila-gilaan tanpa ditopang oleh fundamental, tapi terkesan sulit turun karena peraturan BEI hanya mengizinkan saham tersebut untuk turun maksimal 10% saja dalam sehari, maka untuk kedepannya mereka akan kembali ke ‘kodratnya’ masing-masing, yakni: Kalau emang harus jeblok ya jeblok aja sekalian! Dan itulah sebabnya, sudah dua hari ini mulai ada beberapa saham yang turun hingga 20-an % dalam sehari, dimana kalau anda amati, saham-saham tersebut kalau fundamentalnya nggak jelek maka valuasinya gila-gilaan mahalnya, biasanya karena sebelumnya sudah dikerek setinggi langit, atau volume perdagangannya sama sekali gak likuid sehingga sahamnya gampang naik dan juga gampang turun.

Tapi kalau anda selama ini hanya memegang saham dari perusahaan berfundamental bagus, yang dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya, yang pergerakan sahamnya normal mengikuti mekanisme pasar yang wajar, dan yang harga belinya wajar atau murah, then of course, you have nothing to worry. Just relax, saham anda akan baik-baik saja, dan anda boleh pergi mancing atau main catur seperti biasa.
Nevertheless, pembahasan diatas masih belum menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana dampak dari pemberlakuan kembali peraturan AR simetris ini terhadap IHSG? Well, seperti yang sudah penulis bahas di artikel September 2016 lalu, ketika peraturan penurunan maksimum 10% dihilangkan, maka pasar akan kembali rame karena volume transaksi saham tidak lagi dibatasi oleh peraturan AR 10% tersebut. Disisi lain kita setiap harinya akan kembali melihat saham-saham tertentu yang jeblok hingga 15, 20, atau bahkan 25%, tapi tidak usah khawatir karena itu tidak akan terjadi pada saham-saham yang ‘normal’. However, terhadap IHSG-nya sendiri harusnya gak akan ada pengaruh apa-apa/tidak akan jadi fluktuatif lagi seperti tahun 2015 lalu, karena meski BEI mencabut peraturan penurunan 10% tersebut, namun BEI masih melarang praktek short selling, dan juga masih memperketat peraturan penggunaan dana margin, dimana dua hal inilah yang menjadi salah satu biang kerok kejatuhan bursa di tahun 2008 lalu. So in the end, still, there is nothing to worry about.
Minggu depan kita akan membahas sedikit soal outlook pasar saham di tahun 2017 and.. Hey! Keep the spirit guys! It’s January!
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Januari 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Sudahkah Anda Melakukan Evaluasi?

Li Ka-shing, konglomerat asal Hong Kong yang juga pernah menjadi orang terkaya di Asia, pernah mengalami musibah pada tahun 1996 dimana putra tertuanya, Victor Li, diculik oleh gangster Hong Kong bernama Cheung Tze-keung, yang kemudian meminta uang tebusan senilai HK$ 2 milyar. Alih-alih menghubungi polisi, Mr. Li justru memenuhi tuntutan si penculik dengan memberikan uang tebusan seperti yang diminta.

Mr. Li bertemu dengan Cheung dirumahnya, ‘Aku hanya memegang uang tunai sebesar HK$ 1 milyar. Kalau kau mau, aku bisa pergi ke bank dan mengambil sisanya.’
Setelah berdiskusi dengan teman-temannya, Cheung memutuskan untuk menerima uang HK$ 1 milyar itu saja (setara Rp1.7 trilyun). Sebelum Cheung beranjak pergi, Mr. Li berkata sekali lagi, ‘Kau telah memperoleh sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk kau habiskan hingga sisa hidupmu. Selagi masih ada kesempatan, sebaiknya kau pergi jauh dan jangan pernah kembali lagi, carilah pekerjaan yang jujur dan jadilah orang yang baik.’
Mr. Li melanjutkan, ‘Sebab jika kau berbuat seperti ini lagi, maka tidak akan ada seorangpun yang bisa menolongmu.’
Cheung, keheranan, bertanya, ‘Bagaimana Anda bisa tetap bersikap tenang? Padahal putra Anda diculik, dan Anda baru saja kehilangan HK$ 1 milyar.’
‘Karena ini adalah kesalahanku’, Mr. Li menjawab. ‘Aku adalah seorang tokoh yang cukup terpandang di Hong Kong, sehingga bisa dengan mudah menjadi sasaran kejahatan, namun aku tidak berhati-hati. Ini akan menjadi pelajaran bagiku untuk lebih menjaga diri, dan juga keluargaku.’
Cheung, terpukau dengan jawaban Mr. Li, kemudian pamit baik-baik dan pergi, dan tak lama kemudian Victor Li kembali dengan selamat. Namun sayangnya Cheung tidak bisa melakukan apa yang disarankan oleh Mr. Li. Hanya beberapa bulan kemudian, Cheung kembali menculik tokoh-tokoh penting di Hong Kong dan juga mainland China untuk memperoleh uang tebusan. Hingga akhirnya pada tahun 1998 ia ditangkap di Guangdong, China, dan dijatuhi hukuman mati.
Pentingnya Evaluasi
Okay, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah diatas? Well, perhatikan kalimat Mr. Li yang di-bold: Ketika anda terpaksa kehilangan uang dalam jumlah yang sangat besar gara-gara perbuatan orang lain, maka apakah anda cukup bijaksana untuk tetap menyalahkan diri sendiri alias introspeksi? Penulis kira jika orang lain yang berada dalam posisi Mr. Li maka ia akan mengutuk keras si penculik, dan mungkin juga menyalahkan aparat hukum di Hong Kong karena membiarkan Cheung dan komplotannya berkeliaran (sebelum menculik Victor Li, Cheung adalah seorang resedivis kasus perampokan dan penculikan, yang sudah sering keluar masuk penjara).
Namun Mr. Li tidak melakukan itu. Ia sama sekali tidak menyalahkan si penculik, dan malah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berhati-hati, dan kemudian mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.
Tapi itu Li Ka-shing. Lalu bagaimana dengan diri kita sendiri? Ketika kita menderita kerugian di pasar saham, maka siapa yang kita salahkan? Apakah bandar, BEI dan OJK, ataukah equity sales di perusahaan sekuritas? Sudah terlalu sering penulis mendengar seorang investor saham bertengkar dengan salesnya sendiri ketika IHSG drop, hanya karena si sales tidak bisa memberikan penjelasan tentang ‘kenapa saham A turun?’. Ada lagi mereka yang mengeluh ‘dikerjai bandar’ karena membeli saham-saham yang terbang tinggi tapi kemudian jeblok gak karu-karuan. Bahkan ketika seorang investor membeli saham tanpa analisis sekalipun (sehingga itu merupakan spekulasi) dan kemudian menderita rugi, maka selalu ada saja kambing hitam yang bisa disalahkan. Pendek kata, semua orang salah kecuali saya!

Masalahnya adalah, ketika kita menyalahkan ‘bandar’ karena mengerjai investor ritel, maka apakah dengan demikian si bandar itu akan berhenti menggoreng saham? Jelas tidak. Atau kita menyalahkan IHSG karena jeblok, maka apakah besok-besok si IHSG ini akan ‘menyadari kesalahannya’ lalu kemudian naik?? Ya nggak juga lah! Ngawur sampeyan..
Tapi ketika kita hanya menunjuk diri sendiri sebagai pihak yang harus introspeksi, maka dari situlah kita kemudian bisa memperbaiki diri. Seperti Li Ka-shing, dia tidak mungkin meminta kepada seluruh gangster di Hong Kong untuk ‘jangan lagi menculik keluarga saya’. Yang bisa ia lakukan selanjutnya adalah lebih berhati-hati, mungkin dengan menyewa bodyguard atau semacamnya. Sementara soal uang HK$ 1 milyar itu? Well, biarkan saja, toh nanti juga balik lagi. Anggap itu sebagai ‘ongkos’ dari pelajaran untuk berhati-hati tersebut.
Dan penulis kira, kemampuan Li Ka-shing untuk selalu hanya menyalahkan dirinya sendiri setiap kali mengalami kerugian atau kehilangan uang itulah, yang menyebabkan dirinya senantiasa melakukan evaluasi dan memperbaiki diri.. yang menyebabkan dirinya terus menjadi seseorang yang lebih bijaksana dari waktu ke waktu, hingga akhirnya sukses mengantarnya menjadi salah satu orang terkaya di Asia.
Nah, jadi mumpung sekarang sudah akhir tahun, maka sudahkah anda me-review dan melakukan evaluasi tentang kinerja investasi anda sepanjang tahun 2016 ini, agar menjadi bekal pengalaman bagi anda sendiri untuk kedepannya?
Jika belum, well, melalui artikel ini penulis mengajak anda untuk me-review lagi bagaimana aktivitas jual beli saham yang anda lakukan sepanjang tahun 2016 ini, serta poin-poin apa saja yang mungkin bisa diperbaiki, agar di tahun 2017 nanti dan seterusnya kita bisa menghasilkan kinerja investasi yang lebih baik lagi. Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.
(Catatan: Kalau anda masih bingung mau nulis apa, maka biar penulis kasih contoh. Ketika penulis pertama kali masuk ke dunia investasi saham tahun 2009 lalu, penulis sudah mendengar istilah window dressing, dimana dikatakan bahwa para fund manager reksadana akan dengan sengaja menaikkan saham-saham tertentu sehingga kinerja investasi mereka akan tampak bagus di akhir tahun, dan alhasil IHSG akan naik. Tapi setelah beberapa tahun, penulis mempelajari bahwa window dressing itu nyatanya cuma mitos, karena secara statistik, IHSG lebih sering turun pada akhir tahun ketimbang naik. Berdasarkan hal inilah, penulis kemudian berinvestasi secara lebih hati-hati/lebih banyak memegang cash pada bulan-bulan terakhir dalam satu tahun tertentu, dan baru agresif lagi pada awal tahun berikutnya, atau sesaat sebelum awal tahun, alias antara libur Natal dan Tahun Baru).
Farewell 2016, thanks for all the lessons and memories! (and also the profit, wkwkwk!) Happy New Year!
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Januari 2017 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi dan tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham-Saham Konstruksi di 2017

Tahun 2016 akan segera berakhir, dan sepanjang tahun ini terdapat beberapa sektor di BEI yang ‘tidak kebagian panggung’, biasanya karena kinerja para emiten di sektor tersebut memang lagi jelek, tidak terdapat sentimen positif atau malah tertekan oleh sentimen negatif, atau sekedar tertutup oleh euforia di sektor lain. Nah, pada kondisi inilah seorang value investor berpeluang untuk menemukan mutiara terpendam, yakni saham-saham dari perusahaan yang sejatinya no problemo tapi dijual pada harga obralan, sehingga bisa menghasilkan profit puluhan hingga ratusan persen dalam waktu 1 – 2 tahun, atau bahkan hanya dalam hitungan bulan.

Namun tentu saja tidak semudah itu untuk masuk ke saham-saham yang lagi sepi, yang hampir semua orang justru menghindarinya. Contoh paling gampang, sudah sejak Juli 2015 lalu penulis melirik saham-saham batubara karena alasan sederhana: Valuasi saham-saham di sektor ini sudah sangat murah/unbelievably undervalue, dimana market cap dari beberapa perusahaan batubara bahkan sudah lebih rendah dibanding jumlah cash bersih milik perusahaan! (Anda bisa baca lagi ulasannya disini). Tapi berhubung ketika itu harga jual batubara masih anjlok, dan kinerja para emiten juga masih amburadul gak karuan, maka keputusan untuk membeli saham Adaro dkk akan tampak seperti keputusan yang tidak masuk akal.
Tapi yah, setelah satu setengah tahun kemudian, berapa harga saham-saham batubara sekarang???
Tapi intinya pengalaman di diatas menunjukkan bahwa kalau anda mampu untuk melawan arus, yakni masuk ke sektor yang orang lain tidak berminat, maka anda berpeluang untuk menjadi investor berikutnya yang meraih jackpot profit ratusan persen. Just remember: Sektor apapun tidak akan nyungsep selamanya, dan juga sebaliknya gak akan euforia selamanya. Yang terjadi adalah, seiring dengan berjalannya waktu, setiap sektor akan memperoleh gilirannya untuk ‘naik panggung’ di BEI.
Jadi ketika kita masuk ke saham-saham yang lagi sepi, maka mungkin kita baru saja curi start pada saham yang orang lain baru akan masuk belakangan ketika nanti saham tersebut sudah euforia! (soal ‘curi start’, baca lagi artikelnya disini). Dan sudah tentu, profit yang kita peroleh akan jauh lebih besar.
Okay, Pak Teguh, jadi sektor apa nih yang kelihatannya belum dapet panggung sepanjang tahun 2016 ini? Well, anda gak perlu jadi fund manager dengan dana kelolaan Rp1 trilyun untuk mengetahui hal tersebut, karena anda tinggal melihat data pergerakan sektoral di BEI saja (di website IDX.co.id, sebelah kiri klik ‘publikasi’, lalu klik ‘statistik’). Oke mari kita cek: Hingga penutupan pasar tanggal 19 Desember, IHSG sudah naik 13.0% secara YTD, dan salah satu indeks sektoral yang kenaikannya lebih rendah dibanding IHSG adalah.. indeks properti dan konstruksi, yang hanya naik 5.0% secara YTD. Nah, coba anda ingat-ingat lagi deh: Memang sepanjang tahun 2016 ini saham-saham properti dan konstruksi terbilang sepi banget bukan? Padahal tahun 2013 lalu, penulis masih ingat, saham-saham properti banyak yang naik ratusan persen, dan tahun berikutnya (2014) giliran konstruksi yang beterbangan.
Jadi pertanyaannya sekarang, untuk tahun 2017 nanti apakah dua sektor ini (properti dan konstruksi) akan kembali hot? Okay, mari kita cek, tapi pertama-tama harus diingat bahwa ketika saham-saham di sektor tertentu nggak naik banyak (atau malah turun) pada tahun tertentu, maka itu bukan berarti di tahun berikutnya mereka bakal langsung naik. Contoh saham-saham batubara, mereka sudah mulai turun (dan terus turuuuuun) sejak tahun 2012 hingga 2015, dan baru bener-bener dapet panggung lagi di tahun 2016 ini, ditopang oleh kenaikan harga jual batubara yang praktis membuat investor optimis bahwa para perusahaan batubara akan mulai mendulang profit lagi.
Tapi antara tahun 2012 – 2015, karena ketika itu para emiten batubara masih membukukan penurunan laba atau bahkan kerugian, plus valuasi sahamnya juga belum benar-benar murah (PBV saham-saham batubara baru banyak yang berada di level nol koma sekian pada tahun 2015), dan belum ada tanda-tanda bahwa trend penurunan harga batubara akan berbalik arah, maka ya sudah: Siapapun yang berminat masuk ke sektor ini harus bersabar dan alihkan perhatian ke sektor lain saja dulu.
Okay, lalu untuk sekarang ini bagaimana dengan sektor properti? Well, sejak mencapai masa jayanya pada tahun 2013 lalu, yakni pada jaman-jaman dimana Feni Rose selalu bilang ‘Senin harga naik!’, kesininya kinerja sektor properti masih belum begitu bagus lagi, meski juga gak sampai terpuruk seperti batubara. Disisi lain, kecuali pada event panic selling pada Agustus 2015 lalu, maka valuasi saham-saham properti juga belum sampai bisa disebut unbelievably undervalue seperti saham-saham batubara pada awal tahun 2016 lalu.
Sementara konstruksi? Nah, ini baru ceritanya berbeda. Perhatikan deh: Mayoritas emiten konstruksi masih membukukan kenaikan laba hingga Kuartal III 2016 kemarin, dan perolehan kontrak karya untuk tahun-tahun yang akan datang juga masih terus bertumbuh seiring dengan semakin gencarnya pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah. Kalau anda lihat di lapangan pun, berbagai pembangunan jalan tol, jalan layang, LRT, MRT, semuanya dikebut siang dan malam. Minggu lalu penulis keliling Kalimantan Timur (Berau, Samarinda, Balikpapan), dan penulis memperoleh testimoni dari teman-teman disana bahwa pembangunan infra di Kalimantan juga sedang dikebut, termasuk sedang dibangun bandara baru berstandar internasional yang berlokasi antara Kota Samarinda dan Bontang (saat ini Samarinda cuma punya bandara kecil). Nah, anda yang tinggal di kota-kota lain di Indonesia mungkin juga bisa share soal pembangunan infrastruktur di daerah anda masing-masing.
Foto pembangunan Jalan Tol ‘Cisumdawu’, di Sumedang, Jawa Barat

Tapi kalau kinerja emiten konstruksi masih bagus, perolehan kontrak mereka masih naik banyak, dan progress pembangunan di lapangan juga masih sangat kelihatan, lalu kenapa kok ADHI dkk malah nyungsep? Well, it’s obvious, isn’t it? Sekarang gini deh: Terlepas dari faktor fundamental, apa sih yang menyebabkan saham-saham konstruksi naik banyak pada tahun 2014 lalu? Jawabannya jelas: Adanya optimisme bahwa pembangunan infra akan semakin kencang dibawah Presiden Jokowi, yang ketika itu baru terpilih (masih ingat ‘Jokowi Effect’?). Mungkin perlu penulis ingatkan lagi bahwa yang muncul ketika itu hanyalah optimisme bahwa pembangunan infrastruktur akan dikebut, padahal pembangunan itu sendiri masih belum dimulai (ya iya lah! Secara Presiden baru aja dilantik, dan kabinet juga belum dibentuk, masa langsung disuruh gunting pita proyek???).
Sementara sekarang ini yang terjadi sebaliknya: Pembangunan infrastruktur benar-benar dikebut sesuai harapan, tapi tidak ada optimisme apapun karena, seperti yang anda tahu, Pemerintah sekarang ini lebih sibuk menjaga aksi-aksi unjuk rasa agar tidak sampai rusuh, termasuk Presiden juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk bertemu tokoh-tokoh politik ketimbang meresmikan proyek-proyek infrastruktur seperti biasanya. Alhasil timbul kesan bahwa Pembangunan infrastruktur untuk sementara waktu berhenti, padahal tidak. Pembangunan jalan tol dll masih tetap berjalan seperti biasanya, hanya saja tidak begitu kelihatan karena tidak ter-cover oleh media.
Dan karena belakangan ini nyaris tidak ada wartawan koran ekonomi ataupun analis sekuritas yang menulis apapun tentang sektor konstruksi, maka jadilah sektor ini sepi peminat, apalagi di waktu yang bersamaan ada sektor lain yang lebih hot: Komoditas, termasuk batubara. Jadi ya sudah: Ketika sebuah saham jarang diperjual belikan, maka harganya akan cenderung turun atau minimal stagnan, dan itulah yang terjadi pada saham-saham konstruksi sekarang ini.
Tapi ketika nanti gonjang ganjing politik di tanah air pada akhirnya mereda dengan sendirinya (analisisnya baca disini), Pak Dhe bisa kembali keliling Indonesia untuk meresmikan pembangunan ini dan itu, plus mulai ramai berita bahwa ‘PT Nusantara Karya memperoleh kontrak senilai sekian trilyun untuk membangun pembangkit listrik’, maka sudah tentu sektor konstruksi akan kembali ramai. Lalu bagaimana dengan harga sahamnya? Ya itu sih gak usah ditanya lagi lah! Dan inilah yang penulis maksud dengan ‘daripada mengejar-ngejar kereta yang udah jalan terus malah kesandung dan jatoh, mendingan kita naik kereta yang masih ngetem di stasiun’.
Baiklah, jadi saham-sahamnya apa saja nih, yang boleh dilirik di sektor konstruksi ini? Well, penulis sudah memberikan hint sektornya, jadi untuk pilihan sahamnya silahkan anda analisis sendiri.
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Januari 2017 akan terbit tanggal 2 Januari mendatang, dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

TeguhHidayat.com tetap online selama libur Natal dan Tahun Baru, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

.ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Saya Ketinggalan Kereta! Gimana Nih?

Pertengahan September lalu, salah satu saham bluechip yang cukup populer di kalangan investor yakni Jasa Marga (JSMR), tiba-tiba saja anjlok ke level 4,500-an, yang merupakan posisi terendahnya dalam setahun terakhir, padahal fundamental perusahaannya keliatannya tidak ada masalah sama sekali (pada Semester I 2016, laba JSMR masih tumbuh 44%). Tapi kemudian diketahui bahwa JSMR bisa jeblok gitu cuma karena right issue saja. Pertanyaannya kemudian, apakah ini merupakan value opportunity alias peluang? Dan jika jawabannya adalah iya, maka pada harga berapa kita boleh beli JSMR ini?

Nah, setelah mengerjakan sedikit analisis, penulis kemudian menyimpulkan bahwa, yap, terdapat peluang di JSMR ini, dan harga beli yang disarankan adalah 4,000 atau dibawahnya. Anda bisa baca lagi analisisnya disini, dimana analisisnya terbit pada tanggal 19 September lalu, yakni ketika JSMR berada di posisi 4,550. Sejurus kemudian JSMR bukannya turun ke harga 4,000 tadi tapi malah naik hingga hampir saja balik lagi ke 5,000-an, sehingga pada titik ini wajar saja jika beberapa orang berujar sinis: Dibawah 4,000 apaan? Turun ke harga dibawah 4,500 aja susah!
Namun tak berapa lama kemudian ternyata JSMR benar-benar turun sampai.. dibawah 4,000! Tepatnya mentok di 3,900 pada akhir November kemarin, sebelum baru kemudian naik lagi ke posisi sekarang yakni 4,360. Ketika JSMR berada di level 4,000 itulah, penulis kemudian masuk, dan ketika artikel ini ditulis, kami masih hold JSMR.
Pertanyaannya, ketika penulis mengatakan bahwa JSMR mungkin akan turun sampai 4,000 atau dibawahnya, dan ternyata benar bahwa JSMR sempat turun sampai serendah itu, maka apakah itu berarti penulis mampu melihat atau memprediksi masa depan? Well, tentu saja tidak, dan sebenarnya sejak beberapa tahun terakhir ini penulis sudah tidak pernah lagi berusaha memprediksi apakah suatu saham akan naik atau turun.
Yang kami lakukan hanyalah menilai berapa kira-kira harga terbaik untuk membeli sebuah saham, kemudian menunggu. Jika saham yang diincar benar-benar turun hingga ke level ‘harga terbaik’ tersebut, maka barulah penulis akan masuk. Tapi jika tidak? Ya sudah, kalau ada pilihan saham lain yang lebih baik, maka kita ambil saham lain itu saja dulu. Balik lagi ke contoh JSMR diatas, kalau dia gak pernah turun sampai 4,000, melainkan katakanlah mentok di 4,500, maka mungkin penulis gak mau ambil risiko masuk di harga tinggi dan lebih memilih saham lain. Tapi karena kebetulan dia benar-benar turun sampai level 4,000 tersebut, maka barulah kita masuk. Actually, selain JSMR, juga ada beberapa saham yang penulis berharap bahwa harganya akan turun sampai level tertentu yang merupakan buying range-nya, contohnya seperti Adhi Karya (ADHI) yang boleh dibeli di harga dibawah 2,000, atau Gajah Tunggal (GJTL) yang sangat atraktif di harga 1,000 pas (analisisnya bisa dibaca di ebook kuartalan). And indeed, baik ADHI maupun GJTL kemarin sempat turun sampai ke level harga terbaik mereka masing-masing, sebelum kemudian naik ke posisi sekarang.
However, tidak semua saham yang penulis incar ‘sukses’ turun hingga ke level yang kami anggap ideal untuk dibeli. Contohnya Bank Jatim (BJTM), yang penulis udah siap-siap ‘menghadangnya’ di harga 450 atau dibawahnya, karena berdasarkan pengalaman, BJTM ini biasanya bakal naik banyak di awal tahun karena pembagian dividennya yang sangat besar (yield-nya bisa mencapai 10%).


Logo BJTM, salah satu ‘dividend stock’ paling bagus di BEI

Tapi kemarin BJTM ini turunnya cuma sampe 480, sebelum kemudian naik ke posisi sekarang (580). Tapi mungkin yang paling mengesalkan adalah ketika awal tahun 2016 lalu penulis sudah mengincar Bukit Asam (PTBA), yang ketika itu sudah sangat rendah di level dibawah 4,500, tapi saya ngotot antri beli di harga 4,000 saja. Sayangnya posisi terendah yang pernah dicapai PTBA hanyalah 4,165, sehingga kami gak pernah dapet barang.
Dan kemudian.. berapa posisi PTBA sekarang???
Nah, jadi apakah dalam hal ini analisis penulis atas JSMR, ADHI, dan GJTL terbilang tepat, sementara di BJTM dan PTBA analisisnya keliru? Well, nggak juga, karena toh sekali lagi, tak peduli sejago apapun anda dalam menganalisa, namun anda tidak akan pernah bisa memprediksi secara persis naik turunnya sebuah saham. Hati-hati kalau ada orang yang mengklaim bisa meramal harga saham di masa depan, malah anda harus periksa, mungkin dia masih muridnya Dimas Kanjeng.
Namun dengan menggunakan metode value investing, maka kita bisa menilai berapa harga wajar, mahal/overvalue, dan murah/undervalue bagi sebuah saham, dimana best price bagi sebuah saham adalah ketika harganya sudah undervalue. Jadi ya sudah, inilah yang kita lakukan: Ketika kita sudah punya kesimpulan bahwa sebuah saham memiliki fundamental bagus dan layak untuk dibeli, maka selanjutnya tentukan berapa kira-kira harga belinya. Dan jika harga pasarnya masih lebih tinggi dari harga beli yang sudah kita tentukan tadi, alias masih mahal/belum undervalue, maka kita tinggal duduk dan tunggu.
Sebab, saham apapun tidak akan selamanya dihargai mahal, melainkan akan selalu ada waktu-waktu dimana dia dihargai wajar atau murah, entah itu karena IHSG turun, atau ada peristiwa penting tertentu (contohnya seperti right issue JSMR tadi). However, karena penilaian ‘mahal’, ‘wajar’, atau ‘murah’ adalah penilaian yang subjektif, dimana seorang investor bisa jadi menganggap bahwa saham A di harga 1,000 masih mahal, tapi investor lainnya menganggap harga segitu sudah murah, maka sering juga terjadi kondisi dimana meski sudah ditunggu cukup lama, tapi saham yang kita incar tidak pernah turun sampai ke harga yang kita anggap ideal.
Dan jika kejadiannya seperti itu maka ya sudah, artinya peluang di saham yang kita incar tersebut sudah tertutup, tapi itu nggak jadi masalah, karena kita bisa alihkan perhatian ke saham lain yang peluangnya masih terbuka. Yup! Jadi kalau JSMR gak pernah turun sampe 4,000, sementara BJTM turun sampai dibawah 450, maka penulis tentu ambilnya BJTM saja. Dan meski penulis ketinggalan kereta di PTBA, namun kita menemukan ‘kereta yang belum berangkat’ di Harum Energy (HRUM), ketika itu pada harga 1,050, dan HRUM inipun sukses memberikan keuntungan lumayan.
Kabar baiknya, asalkan anda cukup jeli dalam menyaring ‘mutiara terpendam’ di jagat BEI, maka akan selalu ada peluang untuk memperoleh saham bagus di harga murah. Jadi anda gak perlu menggerutu ketinggalan kereta ketika saham yang anda incar sudah keburu terbang sebelum anda sempat membelinya, karena toh anda masih bisa cari dan beli saham lain yang ‘belum berangkat’. Sementara kalau anda berada dalam kondisi dimana semua saham bagus dihargai mahal tanpa kecuali, maka itu artinya IHSG sudah naik sangat tinggi hingga bubble, jadi kita tinggal tunggu dia drop aja dulu, dan ketika itulah kita bisa panen saham-saham bagus di harga obralan.
Hanya memang, seringkali kesulitan terbesarnya adalah di bagian menunggu-nya ini. Meski diatas disebutkan bahwa selalu ada peluang untuk memperoleh saham bagus di harga murah, tapi peluang itu tentu saja tidak akan muncul setiap hari, melainkan hanya beberapa waktu sekali saja. Dan ketika tidak ada peluang inilah, maka seorang investor dituntut untuk bersabar, tapi yaa gitu deh.. Setelah wara wiri di market selama beberapa tahun ini, bisa penulis simpulkan bahwa mayoritas trader saham di BEI itu lebih gak sabaran dibanding para pengendara sepeda motor di lampu merah Kota Jakarta pada jam pulang kantor.
Tapi ketika anda bisa bersabar inilah, ketika anda bisa duduk santai menunggu ‘jadwal kereta selanjutnya’ dan bukannya malah ngejar-ngejar kereta yang udah jalan duluan (tapi kebanyakan orang ya seperti itu: Saham murah gak dilirik hanya karena ‘gak gerak-gerak’, sementara saham yang udah terbang malah dikejar), then trust me, hasilnya tidak akan mengecewakan!
Okay, untuk minggu depan, kecuali ada tema lain yang lebih menarik, kita akan membahas sedikit soal sektor konstruksi. Dan, setelah membaca tulisan diatas, anda mengerti kan kenapa yang kita bahas nanti adalah konstruksi dan bukannya sektor lain?
Info Investor: Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan fundamental dan valuasi sahamnya. Dan anda bisa memperolehnya disini.

.ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Outlook IHSG Setelah Aksi Damai 212

Pada Jumat, 2 Desember kemarin, IHSG ditutup naik 0.9% seiring dengan optimisme investor bahwa ‘Aksi Damai 212’ yang digelar pada hari tersebut, yang merupakan lanjutan dari demo besar tanggal 4 November lalu, akan berjalan lancar tanpa hambatan berarti (dan memang benar event besar tersebut berakhir aman dan damai, bahkan Presiden Jokowi turut menyempatkan diri shalat jumat bersama para peserta aksi). Namun demikian investor asing ketika itu masih jualan, tepatnya sebesar Rp181 milyar, dimana jika diakumulasikan sejak September lalu maka posisi investor asing di BEI sudah berkurang sekitar Rp20 trilyun, dan itu pula yang menyebabkan pergerakan IHSG cenderung tersendat-sendat hingga sekarang ini.

Nah, ketika asing terus keluar dari Bursa, maka penyebabnya bisa macam-macam, namun penyebab yang paling mencolok adalah terkait memanasnya situasi politik dan keamanandalam negeri dalam beberapa bulan terakhir ini. Karena, logika saja: Jika kita memegang saham sebuah perusahaan di suatu negara dimana sering terjadi unjuk rasa yang bisa saja berakhir bentrok atau rusuh, maka tentu kita akan khawatir bukan? Karena pembangunan ekonomi di negara manapun tidak akan bisa berjalan jika masyarakatnya terus terlibat konflik dengan Pemerintah.
Namun demikian, situasi politik di Indonesia mungkin tidaklah seburuk yang dikhawatirkan. Okay, sekarang kita pakai analogi pasar modal: Ketika anda beli sebuah saham, maka gak peduli meski perusahaannya bagus, valuasinya murah dll, namun tetap saja saham tersebut tidak akan naik terus setiap hari, melainkan pasti ada waktu-waktu dimana dia turun dulu, katakanlah karena penurunan IHSG, dan itu, sekali lagi, bukan karena perusahaannya jadi jelek atau apa, hanya lagi waktunya untuk turun saja. Yang terpenting disini adalah kita sebagai investor harus selalu memiliki strategi terkait kapan harus buy, sell, atau hold, entah itu ketika saham yang kita pegang/incar sedang dalam trend naik, stagnan, atau turun. Dalam beberapa situasi kita mungkin harus menjual saham dalam posisi rugi alias cut loss, namun itu tetap merupakan keputusan terbaik karena kita mungkin justru akan menderita kerugian yang lebih besar, jika cut loss tersebut tidak dilakukan.
Tapi intinya ketika kita masih mengetahui apa-apa saja yang harus dilakukan kedepannya dalam rangka menata ulang pegangan saham, maka itu artinya investasi kita masih under control, dan anda akan kembali profit ketika nanti IHSG naik lagi. Situasinya baru bakal gawat jika anda malah bingung dan sama sekali ndak tau harus ngapain ketika saham-saham anda nyangkut semua, dimana barulah pada titik tersebut, apapun yang anda lakukan hanya akan memperburuk keadaan.
Demikian pula dengan perkembangan politik dalam negeri: Tak peduli sebaik apapun Pemerintah dalam mengelola perekonomian dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, namun tetap saja akan ada waktu-waktu dimana rakyat merasa tidak puas dengan kinerja Pemerintah, jika itu bukan terkait perekonomian maka bisa terkait hal lain, misalnya terkait upaya penegakan hukum terhadap pejabat yang terlibat kasus korupsi atau lainnya, dan sebagian dari rakyat ini akan turun ke jalan. Dan ketika itu terjadi maka kondisi politik yang sebelumnya stabil akan mulai goyang lagi, dimana orang-orang yang sejak awal menentang Pemerintah akan kembali lantang berteriak ‘Turunkan Presiden!’ atau semacamnya.
Nah, menurunnya stabilitas politik seperti yang dicontohkan diatas, itu adalah sama seperti penurunan IHSG: Bisa terjadi kapan saja, tak peduli meski fundamental ekonomi dalam negeri masih aman-aman saja. Namun yang terpenting disini adalah Pemerintah sebagai ‘political manager’ harus mampu mengambil keputusan politik yang paling tepat, yang sebisa mungkin memuaskan semua belah pihak. Kalaupun ada satu atau dua hal yang harus ‘dikorbankan’, katakanlah seperti ketika investor harus jual saham dalam posisi rugi/cut loss, maka itu adalah demi kebaikan yang lebih besar yang akan diperoleh di masa yang akan datang.
Dan selama Pemerintah tetap dalam posisi know what to do seperti itu, maka lambat laun ‘koreksi politik’ yang terjadi akan pulih dengan sendirinya, semua demonstrasi akan berakhir damai, dan Pemerintah bersama-sama dengan rakyat akan bisa kembali bekerja membangun perekonomian. Yep, jadi seringkali ini hanya soal waktu saja, karena seperti halnya IHSG yang gak akan langsung bullish lagi setelah mengalami koreksi, kondisi politik juga gak akan serta merta stabil lagi pasca mengalami goncangan, melainkan perlu waktu. Situasinya baru akan berbeda jika Pemerintah, entah itu pejabat eksekutif, kepolisian, atau militernya, semuanya sudah dalam posisi lost control dimana aksi-aksi unjuk rasa berakhir dengan kekerasan dan huru hara, atau bahkan hingga menimbulkan korban jiwa.
But hey, seperti yang bisa anda lihat kemarin, semua aksi unjuk rasa berakhir damai bukan? Dalam hal ini kita harus mengapresiasi tidak hanya para peserta aksi yang benar-benar komitmen untuk aksi damai, tapi juga seluruh petugas kepolisian dan militer yang mampu mencegah kemungkinan munculnya provokator untuk berbuat rusuh (masih ingat kemarin ada cawabup Bekasi yang mengajak peserta demo untuk membawa bambu runcing?), dan petugas-petugas lainnya yang melayani semua keperluan para peserta aksi dengan sangat baik, padahal jumlah peserta aksi ini mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang! Nah, sekarang bayangkan jika kemarin muncul oknum provokator, yang memaksa aparat bertindak represif, dan alhasil Presiden dengan tegas menolak untuk menemui para peserta aksi karena alasan keamanan: Kira-kira apa yang bakal terjadi???

Presiden bersama beberapa petinggi negara ketika hadir di Aksi Damai 2 Desember kemarin. Payungnya itu lhooo… Source: www.bbc.com

Jadi dalam hal ini, okay, kondisi politik dalam negeri sedang ‘terkoreksi’, dan itu biar bagaimana akan berpengaruh terhadap IHSG, dan investor asing mungkin belum akan masuk lagi ke pasar selama masih terjadi aksi-aksi pengumpulan massa seperti kemarin. Namun selama Pemerintah masih mengetahui apa yang harus dilakukan, then we have nothing to worry. Actually, kalau dibandingkan dengan ketidak stabilan politik di beberapa negara tetangga, misalnya seperti krisis politik di Thailand di tahun 2013 – 2014 akibat ketidak puasan rakyat disana terhadap pemerintahan yang didominasi Keluarga Shinawatra (waktu itu banyak juga demonstran yang ditembak mati aparat), atau juga unjuk rasa besar di Malaysia pada tahun 2015 lalu yang menuntut Perdana Menteri Najib Razak untuk mundur karena diduga terlibat kasus korupsi, maka apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini terbilang masih aman terkendali. Yep, entah kita menyadarinya atau tidak, namun secara politik, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling stabil di Kawasan Asia Tenggara. Bagi Pemerintah, tantangan-tantangan politik seperti yang terjadi belakangan ini akan terus datang silih berganti, tapi sebagai investor sekaligus bagian dari rakyat, penulis kira kita tetap bisa tetap berinvestasi dengan tenang dan rileks karena sekali lagi, semuanya masih aman terkendali.
Pertanyaannya sekarang, lalu kapan kita boleh belanja lagi? Dan apa saja pilihan sahamnya? Bagaimana dengan isu Fed Rate dll? Well, kita akan diskusi soal itu another time, just stay tune.

Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan [...]

Prospek Saham-Saham Batubara: Update

Dua bulan lalu, tepatnya pada minggu pertama di bulan Oktober, penulis memperhatikan fakta bahwa harga batubara, dalam hal ini harga batubara acuan di Newcastle Australia, yang sebelumnya turun terus hingga mentok di US$ 53 per ton pada awal tahun 2016, ketika itu sudah mulai naik kembali hingga ke level US$ 72 per ton. Kemudian setelah mempertimbangkan beberapa faktor, penulis ketika itu menyimpulkan bahwa harga batubara mungkin masih akan terus naik dalam jangka panjang, dan alhasil saya mengambil salah satu saham batubara yang menurut kami cukup bagus, yakni Harum Energy (HRUM), ketika itu pada harga 1,050 (anda bisa baca lagi analisisnya disini).
Dan beberapa waktu kemudian memang benar bahwa harga batubara lanjut naik, tapi mungkin tak ada seorangpun yang menyangka bahwa kenaikannya akan sangat cepat, dimana saat ini harga batubara Newcastle sudah tembus level psikologis US$ 100 per ton! Akibatnya bisa ditebak: Sejak awal Oktober lalu, saham-saham batubara melonjak sangat tinggi hingga puluhan bahkan ratusan persen hanya dalam hitungan minggu, padahal mereka sudah naik banyak sebelumnya (saham-saham batubara sudah naik sejak awal tahun 2016, tapi volume transaksinya baru ramai setelah Oktober). Ambil contoh HRUM, dimana jika kita ambil harga tertingginya yakni 2,640, maka artinya dia sudah naik 300% secara YTD, tapi HRUM tidak sendirian, karena mayoritas saham batubara lainnya juga naik ratusan persen dihitung sejak awal tahun. Jadi ketika pada Oktober kemarin kenaikan IHSG mulai mentok seiring dengan meredupnya euforia tax amnesty, namun pasar tidak serta merta menjadi sepi karena para trader menemukan mainan baru: Saham-saham komoditas, terutama batubara.
Namun seperti biasa, ketika saham atau sektor tertentu mengalami kenaikan maka beberapa investor mungkin sudah masuk sejak awal di harga bawah, tapi beberapa lainnya terlambat masuk di harga atas, dan masalahnya tentu saja kita gak bisa mengharapkan bahwa sebuah saham akan naik terus setiap hari, melainkan pasti ada turunnya. Dan itu pula yang terjadi pada saham-saham batubara, dimana sudah dua mingguan terakhir ini beberapa saham batubara, meski tidak semua, mulai turun. Jika anda sudah masuk di saham-saham batubara sejak Oktober lalu, atau lebih awal lagi, maka posisi anda masih sangat aman. Tapi bagaimana kalau anda baru masuk belakangan? Nah, kalau gitu maka kita perlu me-review outlook sektor batubara sekali lagi, and here we go!
Pertama, harga batubara Newcastle yang sekarang sudah di level US$ 100 per ton, itu sudah lebih tinggi dibanding prediksi dari pihak perusahaan batubara itu sendiri. Yang penulis ingat adalah, pada April 2016 kemarin, manajemen United Tractors (UNTR) mengatakan bahwa harga batubara di level US$ 50-an per ton sudah sangat rendah, dan dalam lima tahun kedepan (terhitung mulai tahun 2016 ini) harga batubara akan naik ke kisaran US$ 52 – 72 per ton. Report dari manajemen HRUM juga memprediksi hal yang sama, yakni bahwa dalam jangka panjang harga batubara akan stabil di rata-rata US$ 75 per ton. Yang terbaru, ketika manajemen Bumi Resources (BUMI) membuat kesepakatan penyelesaian masalah utangnya dengan para kreditor, salah satu poin asumsi yang digunakan adalah bahwa harga batubara, meski mungkin bisa fluktuatif dalam jangka pendek, namun seharusnya tidak akan turun hingga lebih rendah dari US$ 70 per ton.
Namun tidak ada satupun dari tiga perusahaan diatas yang menyebutkan bahwa harga batubara akan stabil di level US$ 100 per ton. Jadi kalaupun dalam jangka pendek harga batubara bisa naik atau turun ke level berapa saja, termasuk naik hingga tembus level US$ 100 per ton seperti sekarang, namun pada akhirnya dia akan terkoreksi untuk kemudian stabil di kisaran US$ 70 – 75 per ton, atau setidaknya itulah perkiraan dari pihak perusahaan. Tapi mungkin bisa juga begini: Ketika manajemen memprediksi bahwa harga batubara akan stabil di US$ 70 – 75 per ton, maka itu sebenarnya bukan prediksi, melainkan asumsi terendah yang diharapkan akan terjadi, dimana jika harga batubara masih lebih rendah dari US$ 70 per ton seperti beberapa waktu lalu, maka volume produksi batubara akan terus diturunkan untuk mengurangi supply batubara di pasar (dan memang itulah yang dilakukan UNTR dkk pada tahun 2015 – 2016 ini). Tapi asalkan harga batubara naik sampai US$ 70 per ton saja, sukur-sukur lebih tinggi lagi, maka volume produksi bisa dinaikkan kembali.
However, itu tetap bukan berarti bahwa harga batubara akan naik terus, dan masalahnya kondisi saat ini tentu saja berbeda dengan tahun 2011 lalu, dimana harga batubara naik sampai level US$ 142 per ton karena melonjaknya permintaan dari China karena tingginya pertumbuhan ekonomi disana, tapi sekarang ini perekonomian China sudah (dan masih) slowing down. Ketika kemarin harga batubara naik dengan sangat cepat, yakni hampir dua kali lipat hanya dalam hitungan bulan, kemungkinan itu lebih karena faktor technical rebound setelah downtrend berkepanjangan selama lima tahun (sejak tahun 2011), dimana rebound ini memang menandakan bahwa long term downtrend bagi harga batubara sudah berakhir, tapi untuk bisa naik lagi ke level seperti tahun 2011 lalu maka itu tentu perlu waktu, mungkin tidak sampai lima tahun, tapi juga gak akan secepat dua bulan kemarin.
Jadi kecuali nanti ada sentimen positif entah itu dari China, Jepang, atau dari dalam negeri, penulis kira cepat atau lambat harga batubara akan turun dulu sejenak, tapi gak akan sampai ke level US$ 50-an, melainkan level US$ 70-an sudah mentok banget. Setelah itu barulah perlahan tapi pasti harga batubara akan naik kembali, namun kenaikannya tidak akan sekencang dua bulan lalu, melainkan mungkin malah akan stabil/stagnan pada level harga tertentu. Sebab ketika harga nanti batubara sudah ‘confirm’ diatas US$ 70 per ton hinga seterusnya, maka ketika itulah BUMI dkk akan kembali meningkatkan volume produksi batubara mereka masing-masing sehingga meningkatkan supply batubara di pasar, dan pada akhirnya membuat harga batubara stuck di level tertentu.
Kedua, jika benar bahwa harga batubara dalam beberapa waktu kedepan bakal turun sejenak, maka saham-saham batubara yang sudah overheat kemarin juga akan ikut turun. Kenapa penulis katakan overheat? Karena beberapa saham batubara yang tadinya murah, katakanlah PBV-nya hanya 1 kali atau kurang dari itu, sekarang malah sudah lebih mahal dibanding saham kebanyakan termasuk blue chips sekalipun.
Tapi seperti halnya harga batubara gak akan balik lagi ke level US$ 50-an per ton, maka HRUM dkk juga gak akan balik lagi ke posisi bottom mereka di awal tahun 2016 lalu. Fase cooling down ini mungkin akan terjadi sampai April 2017 nanti, yakni ketika para emiten merilis laporan keuangan untuk Kuartal I 2017, dimana jika hasilnya bagus maka ketika itulah saham-saham batubara akan punya alasan fundamental untuk naik lagi.

Belum Euforia

Terakhir, ketiga, pertanyaan besarnya sekarang adalah, berapa sih valuasi yang wajar bagi saham-saham batubara? Terkait hal ini kita bisa lihat lagi tahun 2011 lalu, yakni ketika sektor ini sedang jaya-jayanya: Pada tahun 2011 tersebut, penulis masih ingat, PBV terendah dari sebuah saham batubara adalah 4 koma sekian kali. Ketika itu saham-saham batubara memang dihargai sangat mahal, bahkan lebih mahal dibanding saham-saham consumer goods, karena investor mem-valuasi ekuitas berdasarkan jumlah cadangan batubara terbukti (proven reserves) yang dimiliki perusahaan. Jadi misalnya PT A ekuitasnya Rp1 trilyun, tapi market capnya Rp5 trilyun (PBV 5 kali), tapi bahkan valuasi segitu dianggap masih murah, karena PT A ini punya cadangan batubara sebanyak sekian puluh juta ton yang kalau digali semuanya terus dijual, maka akan diperoleh laba bersih sekian puluh trilyun! Jadi sekali lagi market cap PT A yang sampai 5 kali ekuitasnya, itu masih murah, karena ekuitas tersebut belum menghitung ‘ekuitas’ berbentuk batubara yang sudah terbukti ada didalam tanah, tapi belum dijadiin duit. Beberapa perusahaan yang dianggap memiliki cadangan batubara yang sangat besar (dibanding volume produksi tahunannya), sahamnya bahkan dihargai pada PBV 7, 9, hingga 11 kali.
(tapi memang, kesalahan mendasar para analis yang merekomendasikan saham-saham batubara ketika itu adalah mereka menyangka bahwa harga jual batubara saat itu, yakni US$ 140-an per ton, akan selamanya stabil di level tersebut dan gak akan pernah turun)
Okay, tapi itu di tahun 2011. Kalau sekarang bagaimana? Well, meski kemarin saham-saham batubara pada terbang semua, tapi PBV yang paling tinggi baru mencapai tiga koma sekian kali (saham PTBA), tapi itu tetap sudah lebih tinggi dibanding valuasi saham-saham di BEI, yang belakangan ini jadi murah lagi seiring lesunya IHSG. Dan kalau dibandingkan dengan kinerja para emiten batubara hingga Kuartal III 2016 kemarin, dimana pendapatan serta laba bersih mereka sama sekali belum improve dan ROE-nya masih pada kecil, maka jelas valuasi saham-saham batubara pada saat ini sudah tidak bisa disebut murah lagi, dimana jika nanti harga batubara mulai konsolidasi, maka saham-saham batubara juga akan turun sejenak untuk menemukan titik keseimbangan mereka masing-masing.
Namun ketika fase konsolidasi/cooling down ini berakhir, maka barulah saham-saham batubara kemudian akan naik lagi, dan kali ini kenaikannya akan berdasarkan pada bagus tidaknya kinerja laporan keuangan mereka di awal tahun 2017 nanti (jadi nggak lagi naik rame-rame hanya karena mengikuti kenaikan harga batubara). Sebagai contoh, tahun 2011 lalu ada dua saham batubara milik penulis yang naik gila-gilaan: Resource Alam Indonesia (KKGI), ketika itu dari 1,700-an sampai 8,000-an, dan Garda Tujuh Buana (GTBO), dari 100-an sampai 1,500-an, dan bahkan pada tahun 2012 lanjut naik lagi sampai 5,000-an (sadly, kita udah keluar lama sebelum GTBO ke 5,000).
Dan.. anda tahu kenapa dua saham itu bisa naik sebanyak itu? Well, it’s simple, karena keduanya sempat membukukan annualized ROE hingga 60 persen! Atau jauh lebih tinggi dari emiten batubara lainnya. Plus, ketika saham-saham batubara yang gede-gede seperti BUMI dan Adaro Energy (ADRO) sudah dihargai pada PBV 4 kali, PBV KKGI dan GTBO, berdasarkan harga mereka ketika masih belum naik (KKGI di 1,000-an, sementara GTBO di 100-an), hanya satu koma sekian kali, yang mungkin karena status mereka sebagai saham kecil sehingga tidak dilirik orang, dan baru dilirik setelah laporan keuangannya tampak extraordinary.
Kalau menurut anda kenaikan saham-saham batubara kemarin terbilang luar biasa, berarti anda belum pernah megang GTBO.

So, trust me, mau sebuah saham naik banyak atau sebaliknya turun banyak dalam jangka pendek, namun pada akhirnya orang akan melihat laporan keuangan perusahaan, dan juga valuasi sahamnya. Jadi tugas kita sangat sederhana: Pada April 2017 nanti, fokuskan diri anda untuk menggali laporan keuangan semuaemiten batubara, cari yang kinerjanya paling bagus, sekaligus sahamnya paling murah! Then buy it for mid or long term.
Tapi kalau sekarang ini saya udah pegang saham batubara gimana? Well, entah itu anda sudah masuk sejak awal sehingga posisinya sudah profit, atau baru masuk belakangan sehingga posisinya nyangkut, tapi asalkan anda bisa berpandangan sedikit jauh ke depan, dalam hal ini minimal hingga April 2017, maka sebenarnya gak ada alasan untuk buru-buru keluar. Karena meski harga batubara mungkin memang akan turun dulu, tapi asalkan turunnya gak sampe dibawah US$ 70 per ton maka para emiten batubara tetap akan meningkatkan volume produksi mereka, dan itu artinya pendapatan serta laba bersih mereka akan naik lagi, dan profitabilitas mereka akan ‘gemuk’ lagi, mungkin gak akan sampai seperti tahun 2011 lalu, tapi proyeksi ROE 20 – 25% di tahun 2017 untuk perusahaan batubara yang sehat tentunya sangat realistis, dan itu akan jadi alasan yang bagus untuk memvaluasi sahamnya pada PBV 2 – 3 kali, atau lebih tinggi lagi.
Kemudian, terakhir, ingat bahwa pada tahun 2011 lalu, semua orang mem-valuasi saham-saham batubara berdasarkan cadangan terbukti yang dimiliki perusahaan, tapi sejauh ini belum ada seorang analispun yang menyebut-nyebut soal ‘cadangan batubara’, yang itu artinya sektor batubara ini masih belum mencapai puncak euforia-nya. Kalau mau contoh yang lebih dekat, pada awal hingga pertengahan tahun 2013 lalu, saham-saham konstruksi naik gila-gilaan hingga sampai pada satu titik dimana para analis mengatakan bahwa PBV 4 – 5 kali bagi Adhi Karya (ADHI) dkk adalah wajar, mengingat perusahaan sudah mengantongi kontrak konstruksi jangka panjang senilai sekian trilyun yang masih belum tercermin dalam ekuitasnya (ketika itu ADHI sudah berada di level 4,000. Coba lihat berapa ADHI sekarang?). Kontrak konstruksi disini adalah mirip seperti cadangan batubara.
Intinya, ketika orang-orang mulai tidak realistis dalam menghitung valuasi sebuah saham, maka itulah puncak euforia-nya, dan selanjutnya saham tersebut mungkin akan jatuh. Tapi sejauh ini pada sektor batubara belum terjadi euforia semacam itu, dan valuasi saham-saham di sektor ini juga memang belum terlalu tinggi. And that means, dengan asumsi bahwa anda bisa melihat saham-saham batubara ini minimal untuk jangka menengah (antara 3 hingga 12 bulan kedepan), then the opportunity is still there!

Buletin Analisis IHSG & stockpick saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

.ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing, Jakarta, 3 Desember 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir), dan merupakan acara seminar terakhir di tahun 2016 ini. Berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisis singkat terkait Market Outlook 2017.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Desember 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email hingga sebulan kedepan, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama teman-teman peserta di seminar 29 Oktober kemarin

Dari Mana Asalnya Sentimen Negatif?

Kemarin, Jumat 18 Nopember, IHSG kembali turun sebesar 0.44%, dimana meski itu tidak tergolong sebagai penurunan yang ekstrim, katakanlah seperti Jumat minggu lalu dimana IHSG drop 4.01%, namun yang menarik adalah santernya berita, atau lebih tepatnya rumor, bahwa pada tanggal 25 November nanti akan terjadi bank rush (atau money rush) dimana dikatakan bahwa orang-orang akan menarik uang dari rekening tabungan mereka sehingga bank-bank akan mengalami kesulitan likuiditas karena jumlah uang cash berkurang drastis, dan itu pada akhirnya akan mengganggu perekonomian nasional.

Nah, sebenarnya isu rush ini sudah beredar di media sosial sejak sekitar semingguan lalu, dimana nongol propaganda entah dari mana asalnya, yang mengajak orang banyak untuk membawa Indonesia kembali ke krisis 1998 dalam rangka ‘memberi pelajaran’ kepada Pemerintah, dalam hal ini Presiden Jokowi, agar tidak lagi ‘melindungi’ Ahok, yang sebelumnya dituduh telah melakukan penistaan agama. Tapi setelah IHSG kemudian jatuh, dan pada Jumat ini IHSG kembali turun setelah dua hari kemarin rebound, maka isunya kemudian menjadi santer, dan beberapa investor mulai khawatir kalau Indonesia mungkin beneran bakal jatuh ke lembah krisis, jika ‘bank rush’ itu benar-benar terjadi.
Lalu apakah pada tanggal 25 November nanti beneran bakal terjadi rush, yang pada akhirnya menyebabkan krisis ekonomi? Well, bisa saja sih, tapi harusnya nggak lah. I mean, meski beberapa orang mungkin sukses terprovokasi, tapi sebagian besar lainnya tentu menyadari bahwa kalau mereka mengikut ajakan tersebut dan Indonesia benar-benar jatuh krisis, maka yang kena batunya ya mereka sendiri. At the end, tidak ada seorangpun yang bersedia untuk di-PHK dari pekerjaannya lalu terpaksa ngantri sembako lagi seperti delapan belas tahun lalu, apapun alasannya.
However, yang akan kita bahas disini bukanlah soal isu bank rush diatas.
Sekarang, perhatikan: Isu bank rush ini sebenarnya sudah nongol dan masuk pemberitaan sejak beberapa hari lalu, tapi baru benar-benar diperhatikan oleh pelaku pasar pada satu atau dua hari terakhir ini saja. Pertanyaannya, kenapa kok para investor dan trader terkesan cuek waktu isunya pertama kali nongol, dan mereka baru khawatir sekarang? Dan jawabannya bisa dilihat lagi diatas: Setelah pada Jumat 18 November IHSG kembali turun, maka isunya kemudian menjadi santer, dan beberapa investor mulai khawatir kalau Indonesia mungkin beneran bakal jatuh ke lembah krisis, jika ‘bank rush’ itu benar-benar terjadi.
Jadi begini urutan kejadiannya: Pertama-tama, IHSG bergerak turun, dimana pada hari Jumat kemarin IHSG sebenarnya sempat turun cukup dalam hingga tembus 1%, sebelum kemudian naik lagi pas pre-closing (sehingga secara keseluruhan hanya turun 0.44%). Ketika IHSG turun maka investor tentu menjadi khawatir dan juga bingung sehingga mereka kemudian menelpon brokernya masing-masing, untuk bertanyakenapa kok IHSG turun? Apa penyebabnya? Intinya para investor ini meminta kejelasan dari pihak sekuritas tentang apa yang sedang terjadi sehingga IHSG turun, agar mereka tidak lagi kebingungan.
Sekarang, coba bayangkan ketika seorang broker/pialang saham diserbu telepon oleh nasabahnya, lalu ia hanya menjawab, ‘Gak apa-apa pak/bu, ini cuma koreksi wajar, nanti juga IHSG naik lagi.’ Maka bagaimana kira-kira reaksi si nasabah? Bakal tambah bingung bukan? Karena jawaban si broker tidak menjelaskan apapun. Seorang broker atau analis sekuritas sebenarnya bisa saja memberikan jawaban yang lebih masuk akal tentang penyebab IHSG turun, seperti naiknya sudah terlalu tinggi, kinerja fundamental emiten belum begitu bagus, ini cuma fluktuasi biasa, dan seterusnya. Tapi biasanya jawaban yang diminta si nasabah adalah terkait sentimen, peristiwa, atau berita apa yang sedang beredar, karena itu adalah jawaban yang jauh lebih simpel dibanding kalau dijelaskan bahwa valuasi IHSG udah mahal bla bla bla.
Karena itulah, seorang pialang saham mau tidak mau harus menemukan semacam alasan sentimen untuk menjelaskan penyebab penurunan IHSG kepada nasabahnya. Dan karena kebetulan lagi ada rumor bank rush diatas, maka si broker akan menjawab, ‘Ada rumor bahwa tanggal 25 November nanti bakal ada bank rush, makanya IHSG turun’. Dalam hal ini si pialang tidak lagi peduli soal apakah rumor tersebut benar adanya ataukah cuma isu murahan, karena yang terpentingadalah si nasabah memperoleh penjelasan! Karena dalam banyak kasus,  ketika nasabah bertanya ‘Kenapa kok IHSG/saham saya turun?’, dan pialang hanya menjawab ‘Ga apa-apa, nanti juga naik lagi’, atau malah ‘Saya juga gak tau kenapa’, maka itu hanya akan bikin nasabah merasa kesal, dan mungkin akan menutup akunnya/pindah ke sekuritas lain.
Tapi setelah para nasabah memperoleh penjelasan bahwa rumor rush itulah yang bikin IHSG turun, maka itulah yang kemudian menyebabkan rumor/beritanya menjadi santer, karena biasanya si nasabah akan laporan ke temen-temennya sesama investor dan trader (biasanya di grup-grup Whatsapp gitu) tentang ‘informasi penyebab penurunan IHSG’ yang ia peroleh. Dan ketika informasinya sudah menyebar luas, maka informasi tersebut kemudian dipercaya sebagai kebenaran, tak peduli meski informasi tersebut sejatinya ngawur atau hoax.
Okay, jadi mari kita runut lagi: Seandainya IHSG masih naik/tidak turun, maka tidak akan ada investor yang menelpon brokernya, dan tidak ada broker yang ‘dipaksa’ untuk menjelaskan bahwa ‘IHSG turun karena anu’, dan alhasil tidak akan beredar sentimen negatif apapun, termasuk investor yang sudah mendengar isu bank rush sejak awal juga akan cuek saja, karena toh nyatanya IHSG masih naik kok.
Tapi ketika IHSG turun, apalagi turunnya dalem, maka seketika itulah bakal nongol cerita jelek/sentimen negatif yang macem-macem. Memang dalam banyak kasus, yang pertama keluar adalah sentimen negatifnya, kemudian baru sahamnya atau IHSG-nya turun. Tapi di waktu-waktu yang lain, sering juga terjadi sahamnya atau IHSG-nya yang turun duluan, kemudian baru sentimen negatifnya nongol belakangan. Terkait hal ini penulis jadi ingat dimana pada awal tahun 2016 lalu saham-saham perbankan dihantam oleh sentimen negatif tentang pembatasan NIM, dan kemudian disusul perubahan sistem BI Rate menjadi BI 7-day Rate. Alhasil saham-saham banking blue chips seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI semuanya bertumbangan. Tapi yang paling dalam ketika itu adalah BBNI, yang anjlok dari 5,300 sampai 4,300 di bulan Mei. Ketika itulah kemudian santer berita jelek lainnya, yakni bahwa Bank BNI terseret oleh kasus kredit macet Trikomsel Oke (TRIO) senilai Rp1 trilyun (padahal itu sebenarnya berita lama di tahun 2015, dimana efek negatifnya, jika memang ada, sudah terefleksi pada kinerja BBNI di tahun 2015 tersebut).
Tapi ketika akhirnya BBNI naik lagi di bulan Juni – Agustus, maka seperti yang bisa anda tebak, cerita soal kredit macet TRIO diatas menghilang begitu saja, termasuk juga soal pembatasan NIM dll, karena memang sejatinya itu tidak berpengaruh buruk apapun ke perbankan. Tapi yah, percaya deh, kalau besok-besok BBRI dkk jeblok lagi, maka cerita soal bank rush diatas bakal lebih rame lagi dibicarakan, dan mungkin malah bakal keluar isu jelek yang lainnya lagi.
Logo dari salah satu saham blue chip favorit penulis, dimana meski BBNI ini fundamentalnya bagus dan valuasinya juga murah, tapi kalau ada sentimen jelek/IHSG lagi turun maka dia gampang banget turunnya, dan juga gampang banget naiknya ketika kemudian IHSG pulih, sehingga kita tinggal ‘pasang ember’ untuk nampung sahamnya di harga bawah

Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas: Dari mana asalnya berita atau sentimen negatif? Jawabannya adalah, seringkali dari kekhawatiran kita sendiri sebagai investor. Sekarang jujur aja deh: Kalau IHSG jeblok, maka anda akan langsung panik nyari informasi dan bertanya kesana kemari bukan? Yakni untuk memperoleh jawaban, ini sebenarnya ada apa? Seorang investor biasanya hanya akan tetap tenang (ketika IHSG jeblok) jika ia sudah cukup berpengalaman atau merupakan fund manager/analis profesional, yang mampu menganalisa serta menjelaskan naik turunnya IHSG/saham-saham tertentu dari sisi analisis fundamental, teknikal, atau lainnya, sehingga tidak perlu lagi memperoleh jawaban dari broker atau siapapun tentang apa yang sedang terjadi. Analoginya seperti ketika seorang anak balita sakit demam, maka seringkali orang tuanya panik dan menganggap bahwa anaknya mungkin tidak hanya sekedar demam biasa, melainkan lebih parah dari itu, entah itu kena typhus, demam berdarah, atau lainnya. Kadang-kadang bahkan setelah diperiksa ke dokter dan hasilnya si anak cuma demam ringan, tapi tetap saja orang tuanya khawatir. Tapi setelah demam si anak mereda dengan sendirinya, maka ketika itulah kekhawatiran orang tuanya juga ikut reda, dan berbagai ‘sentimen negatif’ bahwa si anak mungkin menderita demam berdarah dll, kemudian dilupakan begitu saja.
Tapi jika si orang tua sejak awal merupakan dokter, perawat, atau cukup mengerti ilmu kesehatan, atau bukan dokter namun sudah berpengalaman sebelumnya melihat anaknya sakit, maka mereka akan lebih tenang dan tidak akan khawatir yang macam-macam.
Fenomena dimana muncul sentimen negatif yang berlebihan ketika IHSG atau saham-saham tertentu turun drastis inilah yang menyebabkan saham-saham yang sebelumnya sudah turun cukup dalam menjadi turun lebih dalam lagi (we call this panic selling), hingga valuasinya menjadi unbelievably undervalue. Namun bagi sebagian investor lainnya yang mampu fokus pada aspek fundamental serta mampu melihat bahwa keberadaan sentimen negatif tersebut hanyalah sementara, maka ketika terjadi panic selling maka itu merupakan peluang emas, dimana seorang investor bisa memperoleh profit ekstra hingga ratusan persen jika mampu memanfaatkan peluang tersebut. Pertanyaannya, menurut anda sendiri, sekarang ini sudah terjadi panic selling apa belum???
Btw, untuk minggu depan kita akan bahas lagi soal prospek dan outlook saham-saham batubara, yang belakangan ini mulai cooling down setelah sebelumnya naik terus.
Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2016, dan bukunya sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

.ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Analisis Kuartal III 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus baik secara historis maupun berdasarkan laporan keuangan terbaru, memiliki reputasi yang baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG), dan
  5. Sahamnya sedang dalam momentum kenaikan/memiliki sentimen positif serta prospek yang menarik.
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan saat ini ebooknya sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email

Antara Trump, Kondisi Politik dalam Negeri, dan Penurunan IHSG

Jumat kemarin IHSG drop hingga 4% dalam sehari, dimana itu adalah peristiwa yang sangat jarang terjadi bahkan dalam kondisi market bearish seperti tahun 2015 sekalipun. Sebenarnya karena posisi IHSG sendiri masih relatif tinggi, yakni dikisaran 5,200-an, maka penurunan kemarin tidak sampai menimbulkan kondisi panik. Karena jika anda sudah belanja saham-saham bagus sejak awal tahun 2016 lalu, maka posisi anda pada saat ini seharusnya masih profit, hanya mungkin nilai profitnya tidak lagi sebesar sebelumnya.

However, karena penurunan kemarin berbarengan dengan terjadinya beberapa peristiwa penting baik dari dalam maupun luar negeri, maka kemudian timbul spekulasi yang mengkait-kaitkan kejatuhan IHSG dengan entah itu terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, atau dengan ribut-ribut soal Ahok yang belum sepenuhnya clear. Pada kondisi inilah, dalam rangka untuk menyusun kembali strategi investasi kedepannya, seorang investor dituntut untuk mampu memilah-milah informasi yang beredar, untuk membedakan mana informasi yang valid berdasarkan fakta dan data, dan mana informasi yang hanya bersifat opini atau rumor, yang sejatinya tidak berpengaruh apapun pergerakan IHSG maupun saham-saham tertentu (terkait hal ini, anda bisa baca lagi tips-tipsnya disini).
Kabar baiknya, berhubung posisi IHSG saat ini masih cukup tinggi, maka sama sekali masih belum terlambat jika kita hendak cuci gudang, jika memang itu yang harus dilakukan. Lalu apa saja data dan fakta yang harus kita perhatikan? Well then, here we go:
Pertama, dan ini adalah poin yang paling mudah untuk dilihat, IHSG pada posisi 5,232, jika dihitung sejak awal tahun maka sudah naik 13.9%, dan itu adalah kenaikan yang sangat tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks saham di negara-negara besar seperti Amerika Serikat (6.8%), Inggris (8.8%), China (minus 9.7%), dan Jepang (minus 8.7%). Termasuk jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, maka kenaikan IHSG juga tetap tergolong tinggi dibanding Malaysia (minus 3.4%), Singapura (minus 2.4%), Australia (1.9%), dan hanya kalah dibanding Thailand (16.4%). Dengan mempertimbangkan fakta bahwa pasar modal di seluruh dunia sebenarnya masih lesu di tahun 2016 ini, termasuk masih banyak indeks saham yang bukannya naik tapi malah turun (Indeks Straits Times Singapura malah sudah minus selama dua tahun berturut-turut) maka kenaikan IHSG terbilang terlalu cepat. Karena fakta lainnya adalah, kinerja para emiten besar di BEI pada tahun ini masih belum sepenuhnya pulih dibanding tahun 2015 lalu, dimana laba bersih mereka masih pada turun. I mean, jika ASII dkk kembali membukukan kenaikan laba yang signifikan pada tahun ini, maka kenaikan 13.9% bagi IHSG memiliki dasar fundamental yang kuat dan bisa berlanjut, sama seperti tahun 2009 lalu dimana IHSG naik kenceng pasca market crash 2008, karena pada tahun 2009 tersebut para emiten kembali (atau masih) membukukan kinerja yang sangat baik.
Tapi sayangnya bukan itu yang terjadi, sehingga suka atau tidak, IHSG cepat atau lambat akan terkoreksi untuk kembali ke track-nya.
Kedua, sepanjang paruh pertama 2016, tepatnya hingga awal Juni 2016, pasar sebenarnya masih bergerak secara moderat sesuai dengan perkembangan fundamental ekonomi dalam negeri, dimana IHSG, meski naik dari posisi awal tahun yakni 4,593, namun kenaikannya berhenti di level 4,800-an.
Namun masih di bulan Juni, terjadi satu peristiwa penting yang menyebabkan optimisme pasar meningkat signifikan: Kebijakan pemerintah dengan judul Tax Amnesty (TA), yang diharapkan akan: 1. Meningkatkan penerimaan pajak negara untuk membiayai pembangunan infrastruktur, 2. Menarik dana milik konglomerat yang selama ini ‘diparkir’ diluar negeri untuk balik lagi ke tanah air (repatriasi), dimana sebagian diantaranya akan masuk ke pasar modal, dan 3. Proses pendirian perusahaan dan investasi akan dipermudah untuk mengakomodir dana repatriasi, dan itu pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Anda bisa baca lagi cerita lengkapnya disini, disini, dan disini.
Dan berbeda dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang lainnya, cerita tentang TA ini sangat populer dan ramai dibicarakan oleh banyak kalangan mulai dari konglomerat, pemilik toko kelontong, PNS, karyawan swasta, termasuk tentunya oleh para pelaku pasar saham. Booming TA kemudian menarik minat investor asing untuk belanja saham besar-besaran. Pada pertengahan Agustus 2016, asing sudah membukukan net buy Rp38 trilyun, atau dengan kata lain mereka belanja saham senilai Rp34 trilyun hanya dalam tempo dua bulan (karena pada pertengahan Juni, sebelum booming TA, net buy asing cuma Rp4 trilyun). Dan alhasil IHSG lompat kodok dari 4,800-an hingga 5,450-an.
Namun, seperti juga sentimen-sentimen positif lainnya yang ramai dibicarakan pada satu waktu tapi tak berapa lama kemudian dilupakan, maka demikian pula dengan TA, yang pada penghujung Agustus sudah tidak lagi ramai dibicarakan, dan pasar sempat berada dalam kondisi ‘quiet’, dimana tidak ada sentimen positif maupun negatif apapun, dan IHSG hanya muter-muter disitu-situ saja (baca lagi analisisnya disini). Nevertheless, beberapa saham terutama dari kelompok second liner yang sebelumnya naik banyak pada Juni – Agustus, memasuki bulan September mereka mulai turun kembali. Namun karena para big caps masih kokoh di posisi mereka masing-masing, maka IHSG juga tetap bertahan di 5,400-an, meski juga sulit untuk naik. Pada titik inilah kita bisa menyimpulkan bahwa kalau nanti pasar ‘rame’ lagi entah itu karena sentimen positif atau negatif, maka IHSG bisa dengan mudah jatuh, jika sentimennya ternyata negatif. Actually, pada awal September kemarin, yakni ketika sentimen TA sudah meredup sama sekali, IHSG juga sempat drop sejenak ke posisi 5,146. Tapi kemudian keluar berita bahwa perolehan dana tebusan TA, yang sempat jalan ditempat pada awal-awal pelaksanaannya, ternyata sukses naik hingga hampir tembus Rp100 trilyun pada batas akhir TA Tahap I di tanggal 30 September. Alhasil IHSG langsung naik lagi, tapi kembali kenaikannya tertahan di resisten 5,450-an.
Jadi ketika sekarang IHSG drop, maka sebenarnya itu cuma mengulang penurunan yang terjadi pada awal September lalu, dimana seperti halnya pada awal September, pada saat inipun nobody talk about tax amnesty.
Ketiga, terkait cerita soal Donald Trump, sekarang ini semua orang punya pendapat dan analisisnya masing-masing tentang bagaimana pengaruh terpilihnya Trump sebagai Presiden AS terhadap perekonomian global termasuk Indonesia, dimana sebagian orang menganggap bahwa pengaruhnya bakal bagus, sebagian lagi menganggap bakal jelek, dan selebihnya malah bingung sama sekali. Kemudian terkait demo Ahok, setelah demo besar tanggal 4 November lalu, juga ada rumor bahwa akan terjadi demo susulan pada tanggal 25 November nanti, dan ketidak pastian situasi politik di dalam negeri terkait Ahok ini mungkin akan terus berlanjut sampai Pilkada DKI itu sendiri digelar pada Februari 2017 nanti.
Nah, kalau pasar saham sudah diselimuti oleh ‘ketidak pastian’ seperti itu, dimana semua orang kebingungan tentang bagaimana kalau Trump begini, bagaimana kalau Ahok begitu, maka menurut anda apa yang akan terjadi terhadap IHSG? Ya turun lebih lanjut, tentu saja, dan itu bukan karena pertumbuhan ekonomi kita drop atau apa, tetapi karena investor akan memilih untuk minggir dulu sampai semuanya clear. Termasuk kurs Rupiah juga bisa anjlok begitu hanya karena para trader forex memilih untuk keluar dulu, jadi bukan karena Fed Rate bakal naik bla bla bla. Ditambah lagi, sekarang sudah akhir tahun, dimana orang-orang (termasuk penulis) lebih sibuk mikirin mau berlibur tahun baruan kemana ketimbang ngurusin saham terus setiap hari. I mean, come on man! We need to rest our eyes and fingers!
The Bright Side
Sampai pada poin ketiga diatas, semuanya menunjukkan bahwa IHSG mungkin akan turun lebih lanjut, dan bahwa penurunan 4% kemarin mungkin baru permulaan. Namun demikian tunggu sampai anda membaca poin keempat, kelima, dan keenam. Okay, kita langsung saja.
Keempat, selepas booming TA, sebenarnya pasar kembali ketiban booming yang lain, yakni kenaikan harga-harga komoditas, terutama batubara, dimana saham-saham batubara naik kenceng dan mulai menarik perhatian investor sejak Oktober lalu. Sebenarnya ketika IHSG mulai dilanda euforia tax amnesty pada Juni, ketika itu saham-saham batubara juga sudah mulai naik, tapi kenaikannya belum banyak diperhatikan investor. Tapi setelah investor mulai banyak menaruh perhatian ke sektor ini sejak Oktober kemarin, dan sebagian diantaranya juga sudah mulai meraup profit besar, maka artinya optimisme pasar akan tetap terjaga, dan itu akan mencegah IHSG agar tidak turun terlalu dalam (karena IHSG hanya akan benar-benar jeblok jika semua orang berteriak panik dan putus asa, remember that).
Kabar baiknya, dampak dari kenaikan harga batubara yang sudah terjadi sejak pertengahan tahun lalu harusnya baru akan kelihatan di laporan keuangan mereka pada akhir tahun ini, dan awal tahun 2017 nanti. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan tahun 2011 lalu, dimana meski rally kenaikan harga batubara sudah terjadi sejak tahun 2009, namun saham-saham batubara baru benar-benar rame dan mendominasi pasar saham pada tahun 2011 tersebut (yang saya ingat betul adalah KKGI, yang meroket dari 1,700 ke 8,000). Intinya, terlepas dari kemungkinan fluktuasi jangka pendek (karena gak mungkin juga suatu saham, entah itu saham batubara atau lainnya, bakal naik terus tiap hari, melainkan pasti ada turunnya), namun yang jelas kita sudah tahu saham apa yang layak diburu pada awal tahun 2017 nanti, dimana itu, sekali lagi, akan menjaga optimisme para pelaku pasar.
Kelima, kita tahu bahwa sejak tahun 2015 lalu sampai sekarang, Pemerintah sebagai ‘grup konglomerasi’ terbesar di BEI banyak melakukan aksi korporasi mulai dari IPO BUMN, IPO anak usaha BUMN, right issue BUMN, dan yang terbaru wacana sekuritisasi aset-aset BUMN, dalam rangka membiayai pembangunan infrastruktur. Nah, agar berbagai aksi korporasi tersebut sukses, maka apa syarat yang mutlak diperlukan? Kondisi pasar yang stabil, tentu saja! Contohnya, kalau pada satu waktu Pemerintah hendak meng-IPO-kan sebuah BUMN, tapi di waktu yang bersamaan IHSG jeblok sampai 4,500, misalnya, maka kira-kira IPO-nya bakal laku nggak? You know the answer. Jadi agar kondisi pasar tetap stabil dan optimisme investor tetap terjaga, maka pemerintah punya kepentingan untuk menjaga agar IHSG, kalaupun nanti turun maka penurunannya tidak akan sampai bikin orang-orang desperate, dan actually gampang saja bagi mereka untuk melakukan itu. Maksud penulis, anda pikir gimana caranya PPRO, SMBR, INAF, hingga TLKM bisa naik sampai setinggi itu, dan dalam waktu yang gak nyampe satu tahun?
So, believe me, kalau nanti IHSG drop hingga ke level dimana Pemerintah menganggap bahwa level tersebut sudah terlalu dalam, maka mereka akan langsung take action, entah itu melalui BEI, OJK, atau lainnya, dan seketika itu pula pasar akan dengan cepat pulih. Masih ingat ketika IHSG dilanda panic selling di bulan Agustus 2015 lalu? Ketika itu Menteri Rini juga langsung instruksi ke BBRI dkk untuk melakukan buy back saham, dan tak lama kemudian di bulan November-nya IHSG naik tajam, dan alhasil IHSG secara keseluruhan tidak turun terlalu dalam sepanjang tahun 2015.
Dan terakhir, keenam, setelah hampir saja jatuh ke lembah krisis pada tahun 2015 lalu, pada tahun 2016 ini fundamental makroekonomi Indonesia perlahan tapi pasti mulai pulih, thanks to gencarnya pembangunan infra oleh pemerintah, belum termasuk banyaknya paket kebijakan ekonomi untuk menstimulus sektor swasta (sejauh ini sudah ada 14 paket kebijakan), dan mulai berkembangnya industri e-commerce. Pada tahun 2015 lalu pertumbuhan ekonomi sempat tercatat hanya 4.67%, Rupiah anjlok sampai hampir tembus Rp15,000, inflasi 8% (waktu itu karena kenaikan harga BBM, setelah subsidi BBM dicabut sama sekali), pengangguran 6.2%, dan neraca ekspor impor juga sempat defisit (meski kemudian surplus lagi pada akhir tahun).
Sementara sekarang? Well, pertumbuhan ekonomi terakhir 5.02%, Rupiah stabil di Rp13,000, inflasi sangat bagus di level 3.3%, pengangguran 5.6%, dan neraca ekspor kembali surplus secara konsisten sejak awal tahun. Sementara faktanya di lapangan, anda mungkin bisa merasakan sendiri kalau jualan apapun pada tahun ini sudah lebih laku dibanding tahun 2015 lalu (sekedar mengingat lagi gimana sepinya iklim usaha pada tahun 2015 lalu, anda bisa baca lagi artikel ini). Kalaupun ada perkembangan yang tampak kurang bagus, maka itu adalah meningkatnya rasio utang Pemerintah terhadap PDB, dari 25% menjadi 27%, karena Pemerintah memang banyak mengambil utang untuk keperluan infrastruktur, namun tentu juga harus diingat bahwa rasio 27% tersebut masih sangat aman. Sebagai perbandingan, pada tahun 2004 – 2007 lalu rasio utang kita mencapai 35 – 52%, tapi toh perekonomian ketika itu baik-baik saja, dan IHSG malah naik kenceng.
And you know what? Semua perkembangan positif diatas dicapai ketika harga-harga komoditas terutama batubara dan CPO, yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia selama ini, sejatinya masih belum sepenuhnya pulih! Actually, ketika perekonomian di tanah air mulai terasa lesu selepas tahun 2011 lalu, yang jadi penyebabnya ya penurunan harga batubara dan CPO, yang notabene merupakan andalan utama ekspor Indonesia. Nah, berhubung kita tahu bahwa sekarang ini harga-harga komoditas mulai naik lagi, maka menurut anda bagaimana kira-kira outlook makroekonomi Indonesia untuk tahun 2017 mendatang???
Biji sawit dan batubara, dua komoditas utama Indonesia
Kesimpulan
Kesimpulannya IHSG mungkin akan lanjut turun, dan itu sangat normal, tapi penurunannya tidak akan terlalu dalam, apalagi sampai ke posisi panic selling seperti tahun 2015 lalu, dan penulis termasuk yang optimis bahwa IHSG akan menutup tahun 2016 pada posisi naik (dibanding posisinya awal tahun lalu, yakni 4,593). Kemudian, terlepas dari berapapun posisi IHSG pada akhir tahun nanti, maka kecuali terjadi peristiwa penting yang benar-benar berdampak serius terhadap iklim investasi di pasar modal, kita akan memulai tahun 2017 dengan optimisme tinggi, dimana jika para emiten kembali membukukan kenaikan laba setelah ‘puasa’ selama tiga tahun terakhir, maka pada tahun 2017 tersebut kita akan kembali menyaksikan IHSG break new high. We’ll see.
Okay, lalu bagaimana strateginya? Apa yang harus saya lakukan sekarang? Well, it’s obvious, isn’t it? Kalau posisi anda masih full di saham, maka jual sebagian pegangan untuk memperoleh sejumlah cash, minimal 30% dari total nilai porto, tapi gak perlu sampai full cash juga karena toh ini cuma sementara, dimana asalkan anda memegang saham bagus pada harga murah, pada akhirnya saham-saham anda akan naik lagi. Just remember: Mau IHSG naik atau turun, yang penting fundamental ekonomi kita baik-baik saja. Pada tahun penghujung tahun 2015 lalu, ketika hampir semua orang terkapar KO di pojok ring setelah IHSG drop total 12.1% sepanjang tahun, penulis menjadi satu dari sedikit investor yang tetap optimis bahwa di tahun 2016 nanti kita akan mendulang profit besar (And indeed we did it, hehehee). Anda bisa baca lagi ulasan akhir tahun 2015 disini.
Balik lagi ke soal strategi. Namun kalau anda mau belanja full power, maka anda baru boleh melakukannya pada sekitar akhir Desember nanti, yakni ketika semua keributan soal Trump, Ahok dll ini mereda. Just remember: Seperti halnya kehebohan soal Tax Amnesty akhirnya meredup seiring dengan berjalannya waktu, maka semua kebingungan soal ‘Trump Effect’ ini juga akan dilupakan orang, dan pasar akan pulih dengan sendirinya ketika orang-orang menyadari bahwa mereka sudah bisa membeli BBRI dkk pada harga yang, well, reasonable.

Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

.ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

IHSG Drop 4%, What Happen?

Jumat kemarin IHSG ditutup anjlok 4.01% ke posisi 5,232, dimana penurunan ini bahkan sedikit lebih dalam dibanding peristiwa panic selling pada bulan Agustus 2015 (waktu itu IHSG turun 3.97%), dan asing pun jualan gila-gilaan hingga Rp3 trilyun di pasar reguler. Sebelumnya, kurs Rupiah juga terjerembab hingga sempat tembus Rp13,500-an per US Dollar setelah muncul spekulasi bahwa Ms. Yellen akan segera menaikkan Fed Rate karena ditekan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) yang beru terpilih kemarin, Donald Trump.

Sementara didalam negeri, kondisi politik pasca demo besar 411 juga belum sepenuhnya pulih, termasuk beredar rumor bahwa akan ada demo susulan. Ketika beberapa hari terakhir ini Presiden Jokowi banyak berkunjung ke markas TNI dan Polri, beberapa pihak berspekulasi bahwa mungkin negara dalam kondisi darurat atau semacamnya, dan itulah yang menyebabkan asing kemarin panik. Indikasi paniknya asing juga bisa dilihat dari indeks EIDO, yang semalem drop lagi 4.46%, atau totalnya 12.4% hanya dalam tiga hari!
So what the hell is going on???
Nah, sebelum kita akan membahas soal dinamika pasar ini lebih lanjut, mari kita dengar apa pendapat Anda tentang:
  1. Perkembangan pasar akhir-akhir ini,
  2. Bagaimana kira-kira kedepannya, dan
  3. Peluang apa yang mungkin akan timbul dan bisa kita manfaatkan.
Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar [...]

Pentingnya Menyaring Informasi dalam Berinvestasi

Pada tanggal 4 November kemarin, seperti yang kita ketahui, di Kota Jakarta terjadi demo besar-besaran yang melibatkan ratusan ribu orang, yang menuntut Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, agar diproses hukum terkait kasus dugaan penistaan agama. Dan seperti biasa, ketika terjadi peristiwa skala nasional seperti itu maka media sosial serta forum-forum internet langsung dipenuhi oleh opini serta komentar dari para pengamat dadakan, dan Facebook seketika ramai oleh debat pro – kontra soal apakah Ahok bersalah atau tidak.

Sebelum heboh cerita soal demo Ahok ini, anda mungkin masih ingat kalau beberapa bulan lalu juga pernah ada demo besar yang dilakukan para supir taksi yang menolak kehadiran taksi dan ojek online, yang juga berujung rusuh. Ketika itupun medsos dengan cepat dipenuhi oleh komentar dari para ‘ahli transportasi’ dadakan, beberapa diantaranya mungkin bahkan sengaja meluangkan waktu untuk baca-baca soal legalitas taksi online dll, agar mendukung argumen yang ia sampaikan ketika berdebat dengan temannya sendiri di FB. Sebelumnya lagi, Jakarta juga pernah dikepung oleh massa buruh yang berdemo untuk menuntut kenaikan upah, dan lagi-lagi orang banyak beropini serta berdebat soal berapa seharusnya upah buruh yang layak, dll.

Salah satu foto ketika ramai demo taksi online, beberapa waktu lalu, yang isunya sekarang sudah dilupakan sama sekali. Courtesy www.timeindonesia.co.id

Pendek kata, ketika terjadi suatu peristiwa besar dan penting yang menjadi perhatian khalayak ramai, maka akan muncul banyak sekali opini dan komentar yang beredar terkait peristiwa tersebut, baik itu yang berasal dari pengamat dadakan atau memang ahli sungguhan. Kemudian, pada kondisi tertentu seringkali tulisan yang bersifat opini, komentar, hingga rumor tersebut jumlahnya jauh lebih banyak dan jauh lebih menyebar ketimbang pemberitaan atau informasi yang sifatnya fakta dan data, dan kondisi tersebut pada akhirnya membuat semua orang menjadi punya versi informasinya masing-masing tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Contohnya ya soal demo Ahok tadi: Mau anda berpendapat sekeras apapun bahwa Ahok bersalah, atau bahwa Ahok tidak bersalah, maka akan selalu ada orang lain yang berargumen sebaliknya. Dan kalau kejadiannya begitu maka pendapat siapa yang benar? Apakah pendapat anda, atau pendapat orang lain tersebut?
Okay, lalu apa hubungannya hal ini dengan kegiatan investasi kita di saham?
Kalau anda belakangan ini banyak melihat orang gontok gontokan soal demo Ahok di medsos, maka coba anda ingat lagi di waktu-waktu yang lain ketika tidak terjadi peristiwa besar yang menjadi isu nasional: Gak banyak orang yang berdebat tentang sesuatu bukan? Singkatnya, meski pada waktu-waktu tertentu ada banyak orang yang meng-unfriend temannya sendiri hanya karena berbeda pendapat tentang suatu isu, tapi pada waktu-waktu yang lain mereka ya damai-damai saja, karena tidak ada kejadian penting yang menarik untuk diperdebatkan.
Sementara di pasar saham? Well, disini nyaris setiap hari terjadi ‘perdebatan’, karena setiap investor selalu memiliki pendapat yang berbeda dibanding investor lain terkait prospek dan valuasi saham-saham tertentu, arah pasar, perkembangan ekonomi makro, dan seterusnya. Malah, transaksi saham itu bisa terjadi karena adanya perbedaan pendapat, dimana ketika A menjual sahamnya kepada B, maka A berpendapat  bahwa saham tersebut mungkin akan turun (makanya dia menjualnya), sementara B berpendapat bahwa saham itu mungkin akan naik (makanya dia membelinya).
Jadi yang namanya pasar saham itu dari dulu sampai sekarang, dan juga sampai seterusnya, akan selalu dipenuhi oleh opini dan pendapat yang berbeda satu sama lain, dimana jumlah informasi yang bersifat opini ini akan selalu lebih banyak ketimbang informasi yang berdasarkan fakta dan data. Hanya bedanya, kalau anda sudah invest saham sejak tahun 1990-an, maka ketika itu belum ada Facebook, Whatsapp, dan bahkan telepon seluler juga masih belum banyak yang punya. Alhasil penyebaran informasi terkait saham atau IHSG, dimana mayoritas dari informasi tersebut bersifat opini (atau rumor), terbilang sangat terbatas. Sehingga kalau anda ketika itu sudah mampu menganalisis dengan benar berdasarkan laporan keuangan dll, maka informasi yang anda peroleh hampir seluruhnya bersifat data dan fakta yang valid, dan bukan sekedar ‘denger-denger’ atau ‘katanya’ (kata siapa emang?).
Sementara sekarang ini yang terjadi sebaliknya: Perkembangan teknologi membuat penyebaran informasi terjadi sangat cepat, termasuk pemberitaan atau informasi yang tidak valid/hanya bersifat rumor atau opini, dimana kalau anda kemudian lupa melakukan pekerjaan analisa karena terlalu sibuk mengikuti rumor seperti itu, maka hampir pasti porto anda bakal berantakan. Penulis sering sekali menerima curhatan dari investor yang terjebak membeli saham-saham yang gak jelas pada harga atas, hanya karena saham tersebut ‘lagi ramai diperbincangkan’, atau ‘banyak direkomendasikan oleh analis’. Dan sayangnya tidak hanya investor pemula yang memang belum mengerti cara menganalisis, investor yang sudah berpengalaman pun kadang-kadang masih suka ‘kemakan rumor’, dan alhasil mereka melakukan jual beli saham tidak berdasarkan analisa yang sudah capek-capek dibuat sebelumnya.
Jadi berbeda dengan jaman dulu dimana investor mungkin agak kesulitan dalam memperoleh informasi yang valid (kalo mau dapetin laporan keuangan juga harus cari hardcopy-nya, jadi gak bisa tinggal download seperti sekarang), pada jaman sekarang investor justru harus bisa menyaring setiap informasi yang masuk, untuk kemudian membedakan mana informasi yang valid/bersifat fakta, dan mana informasi yang hanya bersifat opini atau rumor.
Dan itulah sebabnya, seorang investor/fund manager profesional seringkali agak tertutup dan cuek, dimana ia gak mau ikut grup atau forum, sulit ditelepon, enggan berkomentar soal apapun dan jarang ngomong soal apapun, termasuk gak mau dengerin analisa dari analis/investor lain karena sudah percaya diri dengan analisisnya sendiri (kecuali mungkin analisis atau saran dari satu dua orang yang benar-benar ia percayai, misalnya seperti Warren Buffett yang selalu minta saran dari Charlie Munger). Investor seperti ini juga biasanya jarang mau membaca kabar-kabar atau sentimen yang beredar setiap hari, melainkan hanya fokus pada analisis perusahaan, analisis pasar/IHSG, dan makro ekonomi. Termasuk kalau ada isu atau peristiwa penting yang mungkin bisa berpengaruh terhadap pergerakan saham-saham tertentu atau pergerakan IHSG itu sendiri, contohnya ketika terjadi demo besar kemarin (yang dikhawatirkan bisa bikin pasar jatuh), maka ia akan fokuspada menganalisis tentang seberapa besar kira-kira pengaruh dari demo tersebut terhadap pasar, dan bukannya malah buang-buang waktu dengan membaca ‘opini pengamat’ atau menerima broadcast dengan judul ‘menurut kabar yang beredar’, yang gak jelas asal muasalnya.
Karena hanya dengan cara itulah, benak si investor hanya akan terisi oleh informasi-informasi dan analisis yang berkualitas, valid, serta akurat, dimana dengan bekal informasi valid tersebut ia akan mampu membuat keputusan jual beli saham yang paling tepat, meminimalisir risiko kerugian serta memaksimalkan potensi profit, dan yang paling penting ia gak akan mudah galau atau panik karena terpengaruh oleh kabar yang nggak-nggak.

So, wanna join this ‘nerd investor’ club? And btw, mungkin juga perlu dicatat bahwa hanya karena seorang investor agak tertutup ketika diajak diskusi soal saham, maka itu bukan berarti dia antisocial atau semacamnya. Termasuk kalau anda ketemu penulis di kedai kopi, maka saya akan dengan senang hati ngobrol tentang kuliner, travelling, video game terbaru, sepakbola, kegiatan philanthropy, hingga perkembangan makroekonomi dan dunia usaha. Tapi kalau anda cuma mau bertanya, ‘Pak Teguh, kira-kira saham apa yang bakal naik besok?’

Then I will kick your ass!

Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-Saham Pilihan edisi Kuartal III 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya [...]

Peluang Investasi di Sektor Kabel

Tak terasa sekarang sudah di penghujung Oktober, dan itu artinya sudah waktunya bagi investor untuk mengecek kembali kinerja keuangan terbaru dari para emiten, dan juga mencari ‘mutiara terpendam’ alias saham-saham berfundamental bagus yang valuasinya masih murah. Nah, di artikel kali ini kita akan membahas salah satu ‘saham mutiara’ tersebut, dimana saham ini sejatinya sudah penulis discover sejak beberapa waktu lalu, dan untungnya sejauh ini kinerja fundamentalnya terbilang sangat memuaskan.

Saham tersebut adalah KMI Wire & Cable (KBLI). KBLI adalah perusahaan produsen kabel yang bermarkas di Cakung, Jakarta Timur, dan merupakan salah satu perusahaan kabel tertua, terbesar, serta paling terkenal di tanah air, sekaligus salah satu pemasok kabel utama untuk PLN. Penulis pertama kali memperhatikan KBLI ini pada tahun 2013 lalu, tepatnya di bulan April, dimana ketika itu sedang booming cerita ‘pembangunan infrastruktur’ (yang kurang lebih sama booming-nya seperti cerita tax amnesty beberapa waktu lalu), yang menyebabkan kenaikan yang luar biasa pada saham-saham infrastruktur, terutama konstruksi. Dan karena salah satu cerita infra tersebut adalah terkait megaproyek pembangunan pembangkit listrik 10,000 MW (yang blueprint-nya sudah diluncurkan sejak tahun 2011), maka beberapa orang ketika itu mulai berspekulasi: Harusnya saham-saham kabel bakalan ikut naik dong? Sementara diantara saham-saham kabel yang ada di BEI, yang fundamentalnya paling bagus (sekaligus sahamnya paling likuid) ya KBLI ini. Namun setelah penulis cek lagi, industri kabel, meski sekilas tampak prospektif karena adanya proyek 10,000 MW tadi, namun risikonya juga sangat besar terutama terkait fluktuasi harga bahan baku logam tembaga yang harus diimpor dari luar negeri, dan itu artinya laba bersih KBLI juga rentan terhadap perubahan kurs Rupiah. Anda bisa baca lagi analisisnya disini.

Sayangnya memasuki paruh kedua tahun 2013, Rupiah ternyata beneran melemah hingga ditutup di level Rp11,000-an per US Dollar, dan terus saja melemah hingga hampir saja mencapai Rp15,000 pada Agustus 2015 lalu. Jadi ya sudah, penulis kemudian melupakan KBLI ini, dimana sahamnya sendiri memang jeblok dari 290 – 300 hingga sempat dibawah 100 pada pertengahan tahun 2015.
Untungnya memasuki tahun 2016, kondisi ekonomi perlahan tapi pasti mulai pulih, Rupiah kembali menguat untuk kemudian stabil di level Rp12,500 – 13,000 per USD, dan KBLI kembali membukukan kenaikan laba. Karena itulah penulis sendiri sejak beberapa bulan lalu mulai kembali mengamati KBLI ini (sahamnya juga masuk ke daftar 30 saham yang dibahas di Ebook Kuartal II 2016), dimana penulis baru ‘sadar’ dengan KBLI ini ketika dia sudah berada di level 270-an (sudah naik banyak dari posisi 120 di awal tahun), tapi bahkan sekarang dia sudah naik lebih tinggi lagi ke level 320-an.
Pertanyaannya tentu, apakah kenaikan KBLI tersebut akan berlanjut? Well, mari kita cek KBLI ini dari sisi perusahaannya dulu. Pertama, KBLI sukses membukukan kenaikan laba pada tahun 2015 meski kurs Rupiah ketika itu sedang rendah-rendahnya, karena pendapatan perusahaan memang meningkat cukup tajam menjadi Rp2.7 trilyun (dari sebelumnya Rp2.4 trilyun di tahun 2014) seiring dengan dipercepatnya proyek pembangunan listrik oleh PLN (dibawah pemerintahan/presiden baru yang dilantik tahun 2014, semua proyek infrastruktur dipercepat pengerjaannya, termasuk proyek 10,000 MW milik PLN dkk). Kedua, tidak hanya dipercepat, proyek 10,000 MW tersebut bahkan ditingkatkan menjadi 35,000 MW, sehingga praktis omzet KBLI akan semakin bertambah. Dan ketiga, hingga saat ini KBLI memproduksi kabel tegangan rendah, kabel tegangan menengah, kabel telepon, serta kawat alumunium dan tembaga untuk bahan baku pembuatan kabel itu sendiri.
Namun sejak tahun 2013 kemarin KBLI sudah punya rencana untuk memproduksi varian produk baru yakni kabel tegangan tinggi, untuk mensuplai kebutuhan pembangunan jaringan listrik milik PLN. Untuk diketahui, kabel tegangan rendah adalah untuk kabel listrik yang ada di rumah-rumah atau gedung, kabel tegangan menengah adalah untuk gardu/tiang listrik di jalan raya atau perumahan, sementara kabel tegangan tinggi adalah untuk gardu listrik yang lebih besar, yang menyalurkan listrik dari pusat daya ke satu wilayah tertentu, misalnya perkotaan (sebenarnya masih ada satu macam kabel lagi yakni kabel tegangan ekstra tinggi, yang dipakai untuk sutet atau menara transmisi listrik yang gede banget itu, tapi KBLI tidak memproduksi kabel tegangan ekstra tinggi tersebut).
Okay, lalu bagaimana realisasi dari rencana diatas? Ini dia: Pada tahun 2015 kemarin perusahaan mulai membeli mesin-mesin untuk membuat kabel tegangan tinggi, dimana jika progress-nya lancar maka pada tahun 2016 – 2017 mendatang KBLI akan sudah mampu memproduksi kabel tegangan tinggi tersebut, dan praktis itu akan kembali meningkatkan pendapatan perusahaan.
Jadi yah, kalau bicara prospek maka KBLI ini menawarkan prospek jangka panjang yang sangat menarik, terutama karena manajemen perusahaan merupakan tipe tradisional yang hanya membuat kabel kemudian dijual, dan tidak pernah mengambil banyak utang. Karena ke-tradisional-annya tersebut, KBLI selama ini hanya tumbuh secara moderat, dimana nilai ekuitasnya hanya naik dari Rp720 milyar di tahun 2011 menjadi Rp1 trilyun pada 2015, sehingga growth rate-nya hanya 9.2% per tahun. Namun sepertinya mulai tahun 2016 ini dan seterusnya, perusahaan sedang dalam momentum untuk tumbuh lebih cepat dari biasanya. Selain akan memproduksi kabel tegangan tinggi, KBLI juga tengah meningkatkan volume produksi kabel tegangan rendah hingga 50% mulai tahun 2016 ini, sesuai dengan peningkatan permintaan dari PLN.
Lalu bagaimana dengan kinerja terbaru perusahaan? Here we go: KBLI membukukan laba bersih Rp228 milyar hingga Kuartal III 2016, yang mencerminkan annualized ROE 24.8%, atau terbilang sangat bagus untuk ukuran saham second liner. Ekuitas KBLI sendiri sudah tumbuh 19.5% sepanjang sembilan bulan pertama 2016, atau sudah lebih cepat dari biasanya, padahal perusahaan masih belum memproduksi kabel tegangan tinggi yang disebut diatas (sebenarnya sudah, tapi baru sebatas kabel tegangan tinggi untuk instalasi bawah tanah). Kalau melihat track recordnya dimasa lalu yang sebenarnya cukup stabil, dimana perolehan laba KBLI hanya turun pada tahun 2013 dan 2014 karena melemahnya Rupiah namun sejatinya pendapatannya masih naik, maka penulis optimis KBLI akan mampu mempertahankan kinerja apiknya hingga akhir tahun 2016 ini, dan demikian pula di tahun-tahun berikutnya pendapatan perusahaan akan naik terus, karena proyek pembangunan pembangkit listrik 35,000 MW juga membutuhkan waktu yang cukup lama hingga tuntas, yakni direncanakan hingga tahun 2019 (tapi pada realisasinya penulis kira bakal butuh waktu lebih lama lagi, karena 35,000 MW itu gede banget lho).
Terakhir, sahamnya? Well, meski sahamnya sudah naik banyak, namun pada harga 328 valuasi KBLI masih rendah di PBV 1.1 kali dan PER 4.3 kali, dimana dengan mempertimbangkan kinerja terbaru perusahaan serta prospek jangka panjangnya, maka normalnya kenaikan tersebut akan berlanjut (meski sahamnya tidak akan naik setiap hari, tentu saja), selain karena hingga saat ini volume transaksi KBLI masih belum begitu likuid dan sahamnya juga belum diperhatikan oleh banyak orang. Jika pada awal tahun 2017 nanti pasar kembali dipenuhi dengan cerita dan sentimen positif terkait pembangunan infrastruktur dll (kalau akhir tahun seperti sekarang pasar memang biasanya sepi dari sentimen-sentimen tertentu), maka cerita soal 35,000 MW diatas akan kembali ramai dibicarakan, dan ketika itulah KBLI mungkin akan benar-benar rally. We’ll see.
PT KMI Wire & Cable, Tbk (KBLI)
Rating Kinerja pada Q3 2016: AA
Rating Saham pada 328: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang KBLI di average 290. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi November 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.
Penulis membuat buku kumpulan analisis saham-saham pilihanberdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2016. Anda bisa langsung memperolehnya [...]

Bumi Resources, and The Rising Coal Price

Dalam satu sesi seminar beberapa waktu lalu, seorang peserta bertanya, ‘Pak Teguh, gimana pendapatnya soal Bumi Resources (BUMI)? Waktu itu saya baca tulisan Anda soal restrukturisasi utangnya. Jika restrukturisasi itu sukses, harusnya sahamnya bakal naik banyak dong?’ Dan penulis menjawab, ‘Soal apakah restrukturisasi utangnya bakal sukses atau tidak, soal apakah kinerja BUMI kedepannya akan improve lagi, itu kita tidak ada yang tau. Tapi yang jelas, keputusan untuk membeli BUMI pada harga gocap jelas menawarkan risk and potential gain yang sangat berbeda dibanding membeli BUMI pada harga 1,000. Saya tidak tertarik ketika BUMI ini masih di level 1,000-an, tapi bagaimana kalau di harga 50? Bukankah itu hampir sama seperti kalau kita memperoleh BUMI ini secara gratis???’

BUMI baru saja melaporkan kinerjanya untuk Semester I 2016 pada awal Oktober kemarin, dimana secara umum belum ada improvement berarti: Pendapatannya turun dari US$ 21 menjadi 12 juta, dan labanya masih minus alias rugi US$ 11.8 juta. Ekuitas perusahaan juga masih minus alias defisiensi modal sebesar US$ 2.8 milyar, dan BUMI punya utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam setahun kedepan sebesar US$ 3.6 milyar, dimana jika manajemen tidak berhasil melunasinya, mengajukan penundaan pembayaran, atau mengkonversinya menjadi saham, maka BUMI bisa dipastikan bakal pailit. Dilihat dari sini maka BUMI masih merupakan perusahaan dengan kinerja worst of the worst di jagat BEI. Actually, the company is dying.
Namun dari sisi operasional, maka perusahaan mungkin baru saja melewati masa-masa tersulitnya di tahun 2015 lalu, karena sepanjang Januari – Juni 2016 kemarin, situasinya sedikit banyak mulai ada perbaikan. Okay, mari kita lihat. Pada tahun 2015, BUMI menjual 79.3 juta ton batubara, turun 6.4% dibanding 2014, sementara harga jual batubaranya juga hanya US$ 45 per ton, anjlok dibanding US$ 53 per ton pada 2014. Namun demikian BUMI, seperti juga kebanyakan perusahaan batubara lainnya, sepanjang tahun 2015 terbilang sukses menekan biaya operasional untuk produksi batubaranya (diluar biaya finansial seperti beban bunga utang), dimana cash cost turun menjadi US$ 30 untuk setiap ton batubara yang ditambang, dari sebelumnya US$ 35.
Sementara pada Semester I 2016, volume penjualan batubara BUMI tercatat 41.9 juta ton, atau kembali meningkat 5.1% dibanding periode yang sama tahun 2015, dan cash cost-nya kembali turun jadi US$ 27 per ton. Dan meski harga jual batubara milik BUMI masih kembali turun jadi US$ 40 per ton, namun itu karena harga patokan batubara di Newcastle Australia ketika itu memang lagi rendah-rendahnya, dimana sepanjang Januari – Juni 2016, harga batubara Newcastle tercatat hanya US$ 53 – 57 per ton, dibanding periode yang sama tahun 2015 yang masih US$ 63 – 67 per ton.
Kabar baiknya, belakangan ini harga batubara Newcastle mulai naik lagi.. dimana terakhir sudah tembus US$ 78 per ton! Jadi BUMI, seperti juga perusahaan-perusahaan batubara lainnya, bisa dipastikan akan menikmati kenaikan harga jual batubara sepanjang Semester II 2016 ini, dan laba operasionalnya juga bisa dipastikan akan lebih besar dibanding tahun 2014 dan 2015, mengingat biaya produksi batubara sekarang ini jauh lebih murah dibanding tahun-tahun yang lalu.

Harga batubara dalam 6 bulan terakhir, so far sudah naik hampir 40%

However, mau sebagus apapun perkembangan kinerja BUMI dari sisi operasional, tapi jika perusahaan masih belum bisa membereskan masalah utangnya yang segunung maka laporan keuangannya bisa dipastikan bakal tetap berantakan. Jadi yang penting untuk diperhatikan adalah terkait perkembangan restrukturisasi utang-utang perusahaan. Diatas sudah disebutkan bahwa jika manajemen BUMI tidak berhasil melunasi utang-utangnya, mengajukan penundaan pembayaran, atau mengkonversinya menjadi saham, maka perusahaan bisa dipastikan bakal pailit. Dan karena opsi melunasi terbilang mustahil, maka yang bisa diupayakan adalah penundaan pembayaran atau konversi utang menjadi saham alias restrukturisasi, dimana sudah sejak setahun lalu manajemen mengajukan proposal ke para kreditornya, yang pada intinya adalah mengkonversi utang-utang senilai total US$ 2.8 milyar menjadi saham BUMI dan saham di anak-anak usaha milik BUMI, sementara sisa utang yang US$ 1.2 milyar (BUMI totalnya punya utang senilai sekitar US$ 4 milyar), jangka waktu pelunasannya diperpanjang hingga lima tahun kedepan, dengan imbalan peningkatan nilai collateral. Anda bisa baca lagi analisis detailnya disini.
BUMI akan mengkonversi utangnya dalam waktu dekat?
Nah, setelah lewat satu tahun, sekarang bagaimana perkembangannya? Here we go. Pada tanggal 27 Oktober nanti manajemen BUMI akan mengikuti sidang PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) terkait utangnya yang terancam default senilai Rp28.5 trilyun, dimana hanya ada dua kemungkinan: 1. BUMI akan dipailitkan, atau 2. Utang tersebut dikonversi menjadi saham, minimal sebagian diantaranya. Jika BUMI pailit, maka artinya the end, restrukturisasinya gagal dan Bakrie harus get out dari BUMI, which is unlikely mengingat reputasi Grup Bakrie yang selama ini selalu lolos dari lubang jarum, dan harga batubara belakangan ini (akhirnya) mulai naik.
Sementara jika utang tersebut jadi dikonversi menjadi saham, maka BUMI akan menerbitkan saham baru (right issue) yang akan diambil oleh para kreditornya, dan harga pelaksanaan right issue-nya adalah berdasarkan harga rata-rata di pasar selama 25 hari perdagangan terakhir sebelum tanggal efektif right issue-nya nanti. Nah, disinilah menariknya: Kita tahu bahwa harga rata-rata BUMI selama sebulan terakhir adalah sekitar Rp70 – 80. Jika harga right issue-nya nanti adalah di level 70 – 80 tersebut, maka BUMI harus menerbitkan saham baru dalam jumlah yang amat sangat banyaaaak, yakni hingga ratusan milyar lembar mengingat nilai right issue-nya juga sangat besar, yakni maksimalnya hingga Rp28.5 trilyun. Dan jika BUMI memang harus menerbitkan saham hingga sebanyak itu, maka kepemilikan Bakrie di BUMI akan sangat terdilusi hingga mereka sendiri malah akan jadi pemegang saham minoritas dan kehilangan kendali atas perusahaan, dan Om ARB jelas tidak mau itu terjadi.
Jadi solusinya? Ya saham BUMI di market harus dikerek hingga ke level tertentu, sehingga harga right issue-nya nanti tidak ditetapkan di level 70 – 80 melainkan lebih tinggi dari itu, sehingga jumlah saham baru yang diterbitkan nanti tidak akan terlalu banyak, dan Bakrie akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas di BUMI! Jadi kemungkinan itulah yang menyebabkan saham BUMI naik lagi dua hari terakhir ini. Tapi berbeda dengan kenaikan-kenaikan sebelumnya, kenaikan BUMI kali ini memiliki dasar analisis yang kuat, dan seharusnya akan berlanjut jika manajemen BUMI nanti benar-benar sukses memperoleh persetujuan untuk mengkonversi utang perusahaan menjadi saham.
Wah, jadi kalau gitu BUMI sekarang boleh dibeli dong? Well, I told you one year ago that BUMI is indeed interesting at the price of gocap! But sadly almost nobody listening (anda bisa baca-baca lagi komentarnya di artikel ini). Tapi sekali lagi, tetap harus diingat bahwa kinerja perusahaan masih berantakan, dan bahkan kalaupun manajemen BUMI sukses mengkonversi utangnya, maka itu tidak menjadi jaminan bahwa BUMI akan kembali profit kedepannya, sehingga keputusan untuk masuk ke BUMI saat ini masih lebih dekat ke spekulasi ketimbang investasi. Jika anda mau main aman, maka sebaiknya tunggu beberapa hal berikut: 1. BUMI dipastikan memperoleh persetujuan untuk mengkonversi utangnya, setelah sidangnya tanggal 27 Oktober nanti, 2. BUMI kembali mencatat posisi ekuitas yang positif, alias tidak lagi defisiensi modal, karena memperoleh tambahan modal dari right issue-nya plus berkurangnya nilai utang, dan 3. Perusahaan kembali membukukan laba bersih, mungkin mulai tahun depan atau tahun depannya lagi (2017, atau 2018) dengan asumsi kenaikan harga batubara terus berlanjut, atau minimal gak turun lagi ke US$ 50-an per ton.
Hanya saja, ketika tiga poin diatas akhirnya benar-benar terjadi maka hampir pasti saham BUMI bakal sudah naik duluan, mungkin malah jauh lebih tinggi dari posisinya saat ini (Rp123). Jadi kalau anda berani ambil risiko, well, here you go your ‘saham sejuta umat’, just take it now or never!

Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi November 2016 sudah terbit! Dan Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Ebook Analisis Kuartal III 2016 juga sudah terbit. Dan anda bisa memperolehnya [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 29 Oktober 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 nanti, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 29 Oktober 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, coffee break, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama peserta seminar Jakarta
Penulis bersama peserta seminar Surabaya

Update: Kursinya sudah PENUH! Jadi sampai jumpa di jadwal [...]

Ebook Analisis Kuartal III 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal III 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing:
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 7 November 2016. Anda bisa memesannya (preorder) disini.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya), klik gambar untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – [...]

Yuk Nabung Saham!

Pada tanggal 18 dan 19 Oktober nanti, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengadakan acara Seminar Investival 2016 di Gedung BEI, Jakarta, dimana penulis (Teguh Hidayat) diundang sebagai salah satu pembicara. Dan tema diskusi yang akan penulis sampaikan nanti adalah terkait kampanye ‘Yuk Nabung Saham’ yang sudah dicanangkan oleh BEI sejak beberapa waktu lalu. Nah, bagi anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya maka boleh langsung datang aja ke BEI pada hari Selasa, 18 Oktober, pukul 14.00. Acaranya gratis kok. Namun bagi anda yang tidak bisa hadir maka disini kita akan membahas sedikit, apa sih yang dimaksud dengan ‘Yuk Nabung Saham’? Tentunya versi penulis sebagai salah seorang investor full time di pasar modal Indonesia. Okay, kita langsung aja.

Logo ‘Investival’

Kalau mendengar kata menabung, maka kita mungkin akan langsung ingat pepatah ‘hemat pangkal kaya’, and I tell you, pepatah itu memang benar adanya, dimana ‘hemat’ disini berarti menjaga pengeluaran agar kita masih punya sisa uang untuk ditabung. Sekarang begini: Setiap orang tentu punya penghasilan. Termasuk anak sekolah atau mahasiswa yang belum bekerja sekalipun, dia tetap punya penghasilan dalam bentuk kiriman uang saku dari orang tua. Nah, dalam menggunakan uang penghasilan ini, maka terdapat tiga kelompok orang.

Yang pertama adalah mereka yang menghabiskan seluruh penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari, tidak lebih dan tidak kurang. Jadi misalnya anda bekerja sebagai karyawan, dan gaji anda Rp3 juta per bulan, maka pengeluaran anda dalam satu bulan itu ya persis 3 juta juga. Alhasil duit gaji cuma numpang lewat aja di rekening setiap bulannya, nyaris tanpa menyisakan ‘jejak’ sama sekali. Kalaupun ketika akhir bulan masih ada sisa duit maka biasanya langsung dihabiskan untuk seneng-seneng, katakanlah buat belanja di ITC Mangga Dua atau makan-makan di Solaria, karena mereka tahu betul bahwa toh nanti awal bulan rekening gue bakal keisi lagi (don’t worry, be happy!)
Yang kedua adalah mereka yang menghabiskan lebih dari penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari dan gaya hidup. You see, kalau anda masih kuliah atau sudah bekerja namun gajinya masih kecil, maka anda mungkin akan terbiasa menghemat sana sini dan kemana-mana masih pake motor Vespa warisan bokap. Tapi kalau gaji anda sudah naik jadi, let say, Rp10 juta per bulan, maka anda mungkin akan mulai berpikir, nyicil mobil kayanya boleh juga nih? Nah! Ketika seseorang mulai berhutang untuk entah itu memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi sekedar lifestyle, maka sejak saat itulah dia akan berada dalam situasi besar pasak daripada tiang. Beberapa orang mungkin tertarik untuk membeli barang secara kredit karena sekilas tampak lebih murah, tanpa menyadari bahwa kedepannya ia akan ‘menabung’ tapi untuk orang lain, dalam hal ini perusahaan atau bank yang memberikan kredit tersebut.
Terakhir yang ketiga, adalah mereka yang tidak menghabiskan seluruh penghasilannya, melainkan menyisihkan sebagian diantaranya untuk disimpan sebagai aset yang bermanfaat, alias ditabung. Jadi mau gajinya 3 juta, 5 juta, 10 juta dan seterusnya, maka selalu ada sebagian dari gaji tersebut yang disimpan dan tidak diapa-apakan lagi, jadi dianggap uang ilang aja gitu. Dan untuk bisa menabung seperti ini maka sama sekali tidak perlu gaji atau penghasilan yang besar, karena yang penting niat saja. Seseorang dengan gaji 3 juta namun memiliki gaya hidup yang hemat, adalah lebih berpeluang untuk menabung katakanlah 500 ribu per bulan, dibanding orang lain yang memiliki gaji 10 juta tapi punya banyak cicilan dan hobinya nongkrong di mall.
Nah, dari tiga kelompok diatas, menurut anda kelompok manakah yang menjadi lebih makmur setelah beberapa tahun? Yang mampu menabung dan mengumpulkan aset, tentu saja! Ketika seseorang rutin menabung katakanlah Rp1 juta per bulan, maka setelah 5 tahun, ia akan lebih kaya minimal Rp60 juta dibanding mereka yang tidak pernah menabung selama 5 tahun tersebut. Penulis katakan minimal, karena ketika seseorang sudah suka menabung sejak awal, maka nilai setoran tabungannya biasanya akan naik dari waktu ke waktu seiring dengan meningkatnya penghasilan. Misalnya anda bekerja sebagai karyawan fresh graduate dan dapet gaji 3 juta per bulan, maka anda mungkin bisa saving 1 juta atau minimalnya 500 ribu. Tapi beberapa tahun kemudian, setelah gaji anda tembus dobel digit, maka masa iya sih anda masih cuma nabung 1 juta saja per bulannya?
Tapi kalau seseorang tidak pernah suka menabung, maka mau terima gaji berapapun percuma saja, karena akan selalu habis lagi dan lagi.
However, kalau sekedar menabung saja maka hasilnya tidak akan maksimal, karena uang kita akan tergerus oleh hantu bernama inflasi. Jadi jika seseorang hanya menabung saja sebesar Rp1 juta setiap bulannya, maka setelah lima tahun ia memang akan memiliki rekening bank senilai Rp60 juta, namun Rp60 juta di lima tahun kedepan nilainya jelas berbeda dengan Rp60 juta pada saat ini.
Karena itulah, selain menabung, dikenal pula istilah investasi. Dan yang disebut investor adalah mereka yang tidak sekedar mampu menabung atau mengumpulkan aset, tapi juga mampu mengembangkan aset tersebut hingga tumbuh berlipat-lipat dalam jangka panjang. Yup, jadi jika seseorang menabung sebesar Rp1 juta per bulan, maka seperti yang sudah disebut diatas, setelah lima tahun ia akan memiliki aset senilai Rp60 juta.
Namun jika ia mampu menginvestasikan tabungannya tersebut dengan return 20% saja per tahunnya, maka, coba ambil kalkulator anda dan hitung.. Yup! Setelah lima tahun, ia akan memiliki aset senilai Rp107 juta, alias hampir dua kali lipat lebih besar, dan perbedaan nilai aset ini akan lebih besar lagi jika jangka waktunya diperpanjang katakanlah hingga sepuluh, lima belas, atau dua puluh tahun. Okay, biar penulis langsung kasih angkanya saja disini: Jika anda menabung Rp1 juta per bulan selama 20 tahun, maka anda akan memperoleh Rp240 juta. Tapi jika anda menginvestasikan tabungan anda tersebut dengan return 20% per tahun, maka hasilnya adalah, well.. Rp2.7 milyar! Jika anda memang jago investasi, dimana katakanlah rata-rata return-nya mencapai 25% per tahun, maka hasilnya adalah Rp5.1 milyar. Tapi intinya disini adalah, berapapun return investasinya, tapi yang jelas dalam jangka panjang hasilnya akan jauuuuuh lebih besar dibanding jika anda cuma menabung seperti biasa di bank. Selain itu perhatikan pula bahwa ilustrasi diatas adalah dengan asumsi bahwa anda hanya menyetor Rp1 juta saja per bulannya selama 20 tahun, jadi gak pernah dinaikin jadi 2 atau 3 juta gitu. Nah, sekarang bayangkan jika setoran awal anda ke sekuritas bukanlah Rp1 juta per bulan melainkan 5 juta, dan nilai setoran tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu, dan anda juga mampu untuk secara konsisten menghasilkan return 20 – 25% tadi. Maka setelah 10 – 20 tahun, berapa hasilnya???
Jadi pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana caranya agar saya bisa mengembangkan tabungan agar menghasilkan profit 20 atau 25%, atau kalau bisa lebih besar lagi per tahunnya? Well, apakah penulis perlu menjawabnya lagi??? Ya dengan berinvestasi lah! Salah satunya di saham. Hanya tentu, untuk bisa berinvestasi maka perlu ilmu pengetahuan dan juga pengalaman, jadi anda gak bisa langsung menyebut diri sebagai ‘investor’ hanya karena anda sudah membuka rekening di sekuritas (tapi pembukaan rekening itu tetap merupakan langkah awal yang baik). Namun intinya ketika kita berinvestasi di saham, maka niat awalnya haruslah untuk menabung, yakni untuk menyimpan dan mengembangkan aset yang berguna untuk jangka panjang, agar kita menjadi kaya raya suatu hari nanti. Jadikan diri anda sebagai bagian dari kelompok nomor tiga tadi, yakni mereka yang senantiasa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung, dalam hal ini ditabung di saham. Guru besar kita semua, Warren Buffett, pernah berkata, ‘Tidak penting seberapa besar pendapatanmu. Yang penting adalah seberapa besar dari pendapatan tersebut yang gak cuma lewat di rekening bank, melainkan bisa disimpan dan menjadi aset yang bermanfaat untuk jangka panjang’.

Jadi yah, tunggu apa lagi? Yuk, kita nabung saham!

Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal III 2016 akan terbit hari Senin, tanggal 7 November 2016. Anda bisa memperolehnya

Harum Energy

Setahun lalu, tepatnya pada bulan Juli 2015, penulis memperhatikan fakta bahwa ketika IHSG mulai turun, tepatnya 7% secara year to date (YTD), ternyata saham-saham pertambangan khususnya batubara turun lebih dalam lagi, dimana indeks sektor tambang sudah anjlok 26.3%, terburuk dibanding sektor lain manapun, dan itu semakin memperparah penurunan yang sudah terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya. Ketika itu penulis bertanya pada diri sendiri, ‘Apa mungkin saham-saham batubara bakal jadi gocapan semua???’

Sebab meski harga batubara turun terus ketika itu (dan itu menyebabkan perusahaan-perusahaan batubara terus saja membukukan penurunan laba, atau bahkan kerugian), namun faktanya batubara masih menjadi pilihan utama untuk bahan bakar pembangkit listrik. Dan setelah penulis pelajari lagi, penurunan harga batubara lebih disebabkan oleh ketidak seimbangan antara supply and demand, dimana demand batubara dari China terus turun sejak tahun 2011 seiring dengan perlambatan ekonomi disana, namun supply batubara itu sendiri justru terus naik, dimana Indonesia totalnya memproduksi 458 juta ton batubara pada tahun 2014, atau naik signifikan dibanding tahun 2011 yang hanya 353 juta ton. Ketika itulah penulis berkesimpulan bahwa ketika nanti harga batubara turun hingga ke level dimana supply batubara match dengan demand-nya, maka saat itulah harga batubara akan berhenti turun. Anda bisa baca lagi artikelnya disini.
Tapi intinya ketika balik lagi ke pertanyaan diatas, apakah saham-saham batubara bakal jadi gocapan semua? Penulis bisa jawab, tidak! Kecuali untuk beberapa saham dari perusahaan batubara tertentu yang memang bermasalah seperti Bumi Resources, saham-saham batubara pada akhirnya akan mencapai titik terendah mereka masing-masing, sebelum kemudian naik lagi.
And indeed, memasuki tahun 2016 pasar mulai berbalik naik, dimana ketika artikel ini ditulis, IHSG sudah naik 19% secara YTD. Sementara saham-saham batubara? Terbang hingga 47 persen! Para perusahaan batubara juga mulai melakukan buy back terhadap saham mereka masing-masing (perhatikan bahwa meski saham batubara turun terus dalam beberapa tahun terakhir, namun baru sekarang para emiten ramai-ramai melakukan buyback). Dan yang mungkin belum diperhatikan orang adalah, harga batubara belakangan ini juga mulai naik signifikan, dimana harga batubara acuan di Newcastle Australia terakhir sudah US$ 72 per ton, naik tajam dari titik terendahnya yakni US$ 53 per ton pada akhir tahun 2015 lalu.
Menyadari fakta diatas penulis segera mengecek kembali laporan-laporan keuangan dari beberapa perusahaan batubara aaaanndd.. gotcha! Ketemulah sama Harum Energy (HRUM). Hingga Kuartal II 2016, HRUM membukukan laba US$ 4.4 juta, naik signifikan dari tahun sebelumnya US$ 2.8 juta, meski pendapatan perusahaan sejatinya masih turun, thanks to penurunan harga minyak diesel, yang membuat biaya produksi perusahan turut turun. Pada harga 1,050 (harga beli penulis), PBV HRUM hanya 0.8 kali, dimana meski valuasi segitu tampak tidak terlalu murah karena profitabilitas HRUM masih sangat rendah, namun di masa jayanya di tahun 2011, HRUM pernah membukukan ROE lebih dari 60%, dan valuasinya pun ketika itu sangat tinggi pada PBV 5 kali.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah HRUM ini kedepannya bisa kembali membukukan ROE yang besar, katakanlah 20 – 30%? Well, mari kita cek. Sejak perusahaan IPO pada tahun 2010, pihak manajemen selalu mengelola perusahaan dengan cara ‘tradisional’, yakni melakukan eksplorasi tambang, gali batubaranya, lalu jual, jadi gak pernah macam-macam dengan akuisisi sana sini atau ngambil utang dalam jumlah besar, dan alhasil HRUM sama sekali tidak memiliki beban bunga utang. HRUM juga merupakan salah satu perusahaan batubara dengan biaya operasional produksi paling efisien di tanah air, yakni hanya US$ 30 per ton. Dari sini bisa kita lihat bahwa ketika nanti harga batubara mulai naik, maka margin laba HRUM akan meningkat sangat signifikan, karena biaya produksi perusahaan baik dari sisi operasional maupun finansial sama-sama rendah. Dan meski perusahaan dengan sengaja menurunkan volume produksi batubaranya dalam beberapa tahun terakhir, termasuk hingga tahun 2016 ini (dengan tujuan menurunkan supply batubara di pasar, sehingga pada akhirnya menaikkan harga jual), namun HRUM memiliki cukup infrastruktur dan sumber daya manusia untuk menaikkan kembali volume produksi batubaranya kapan saja, dimana perusahaan memang akan melakukan itu (menaikkan volume produksi) ketika nanti harga batubara sudah benar-benar pulih.
Kesimpulannya, ketika nanti harga batubara sudah stabil (manajemen perusahaan lebih suka menggunakan istilah ‘harga stabil’ ketimbang ‘naik’), maka laba HRUM akan meningkat signifikan karena dua hal yaitu peningkatan margin laba, dan juga peningkatan dari nilai pendapatan itu sendiri. All the company needs right now is a ‘stable coal price’, nothing else.
Lalu bagaimana dengan harga batubara itu sendiri? Diatas memang sudah disebutkan bahwa harga patokan Newcastle sudah naik ke US$ 72 per ton, tapi bagaimana kedepannya? Apakah harga batubara masih akan lanjut naik atau malah turun lagi? Ya mari kita lihat fakta-faktanya. Pertama, pada bulan Juni 2016 kemarin, Pemerintah China mengeluarkan peraturan agar perusahaan batubara disana mengurangi produksinya, dan itu menyebabkan impor batubara dari negeri tirai bambu meningkat lagi setelah sebelumnya turun terus. Kedua, kenaikan harga batubara tidaklah sendirian, karena harga-harga komoditas secara umum memang naik semua, setelah hampir selama lima tahun sebelumnya turun terus. Ketiga, supply batubara di kawasan Asia Pasifik telah turun dalam dua tiga tahun terakhir, dan butuh waktu paling cepat 1 – 2 tahun kedepan untuk bisa berbalik naik lagi, dimana ketatnya supply turut mendorong kenaikan harga batubara. Keempat, meski di Amerika mulai ramai isu lingkungan dimana penggunaan batubara dikurangi karena dianggap ‘kotor’ (digantikan oleh gas), namun HRUM hanya menjual batubaranya ke kawasan Asia (India, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang), dimana di negara-negara tersebut tidak ada isu serupa. Dan kelima, jika sebelumnya HRUM, seperti juga kebanyakan perusahaan batubara lainnya, hampir mengekspor seluruh produksi batubara mereka karena tidak adanya pembeli di dalam negeri, namun saat ini Pemerintah sedang gencar membangun pembangkit listrik 35,000 MW, dimana 45% diantaranya menggunakan batubara. Jika pembangunannya lancar dan selesai tepat waktu, maka permintaan batubara di dalam negeri akan meningkat tajam, sehingga harganya akan semakin ‘stabil’ lagi.
Kesimpulannya, meski kita tentunya tidak bisa memprediksi harga batubara ini bakal naik atau malah turun lagi sampai level berapa, namun, kecuali terjadi peristiwa luar biasa, no way dia bakal balik lagi ke level US$ 50-an per ton. Sementara jika rally kenaikan harga batubara sejak beberapa bulan terakhir ini berlanjut, maka laba bersih HRUM bisa dipastikan bakal naik signifikan hingga akhir tahun, dan demikian pula di tahun 2017 nanti. Sementara sahamnya? Well, menurut anda???
However, dalam value investing, akan selalu lebih aman jika kita memastikan dulu bahwa perusahaan memang sudah membukukan laba yang besar, kemudian baru kita beli sahamnya. Tapi berhubung HRUM sendiri sudah naik banyak bahkan ketika perusahaan masih membukukan kinerja yang kurang meyakinkan (dari posisi terendahnya yakni 600, berarti dia sudah naik lebih dari 70%), dan demikian pula saham-saham batubara lainnya juga sudah pada naik, maka mungkin kita harus berani ‘curi start’ disini, meski tentunya dengan tetap menggunakan analisis yang hati-hati. Dan seperti yang sudah dibahas diatas, untuk kedepannya HRUM jauh lebih berpeluang untuk kembali membukukan laba bersih yang besar, ketimbang merugi lagi seperti tahun 2015 lalu. So this is what I call ‘fair bet’, dimana peluang gain dari saham yang kita beli lebih besar (atau jauh lebih besar) dibanding risiko kerugiannya. Anyway, whether you join the train or not, it is your call.
PT Harum Energy, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2016: BBB
Rating Saham pada 1,080: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang HRUM di average 1,050. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Oktober 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow me on instagram to see my daily activities as a value [...]

Bank CIMB Niaga

Bank CIMB Niaga (BNGA) pertama kali mencuri perhatian penulis pada awal tahun 2015 ketika sahamnya turun dari 1,400-an ke 900-an, ketika itu karena perusahaan melaporkan laba bersih Rp2.3 trilyun pada tahun 2014, atau jeblok hampir separuh dibanding tahun sebelumnya, karena melonjaknya beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). However, pada harga 900, PBV BNGA sudah dibawah 1 kali, dan itu sangatlah murah mengingat BNGA bukanlah bank kecil abal-abal gak jelas, melainkan salah satu dari sepuluh bank terbesar di tanah air, dan juga dengan merk bank yang cukup populer.

Kemudian, seperti yang sudah pernah kita bahas disini, CKPN ini bisa timbul karena adanya kredit macet, dimana NPL net BNGA pada tahun 2014 mencapai hampir 2%, melonjak dari tahun sebelumnya yang hanya 1.55%. Jadi asumsinya ketika itu adalah, kalau di tahun 2015 nanti manajemen BNGA bisa mengatasi masalah kredit macet ini, maka beban CKPN-nya akan turun, labanya akan melonjak kembali, dan ketika itulah sahamnya bakal terbang. Namun sayangnya pada laporan keuangannya untuk tahun 2015, beban CKPN ini bukannya turun tapi malah melonjak lagi, sehingga laba bersihnya kembali anjlok menjadi hanya Rp428 milyar saja. Sementara sahamnya? Ya gak usah ditanya lagi lah: Bablas turun sampai mentok di 500-an.
Namun karena BNGA ini sejak awal sudah murah (dan semakin murah), maka dia tetap masuk watchlist penulis. Hingga akhirnya pada Kuartal I 2016, BNGA melaporkan laba bersih Rp269 milyar, dimana meski angkanya masih kecil (sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, normalnya laba bersih BNGA mencapai trilyunan Rupiah), namun minimal sudah lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang cuma Rp83 milyar. Dan yang terpenting adalah, pada harga 540, PBV-nya ketika itu cuma 0.4 kali, which is unbelievably undervalue untuk perusahaan yang notabene merupakan anggota ‘billionaire club’ (perusahaan di BEI dengan market cap US$ 1 milyar atau lebih). Jadi ya sudah: Terhitung sejak Mei 2016 kemarin, BNGA ini menjadi salah satu stockpick penulis (dibahas di Ebook Kuartal I 2016), and indeed dia kemudian naik sampai tembus 1,000 pada bulan Agustus, atau mencetak profit hampir 100% dalam waktu empat bulan.

Tapi kenapa kok belakangan BNGA ini malah turun lagi? Well, penjelasan yang paling logis adalah karena terjadi profit taking. Pada Kuartal II kemarin, BNGA membukukan laba bersih Rp736 milyar, dimana meski angka tersebut naik signifikan dari tahun sebelumnya yakni Rp176 milyar, namun dengan ROE hanya 5% maka kinerja BNGA sejatinya masih kurang bagus. Sehingga jika penulis sendiri sejak awal sudah membeli BNGA ini di harga 500, maka saya akan segera menjualnya di harga 1,000-an, karena dengan memeprtimbangkan kinerja BNGA yang belum sebagus itu, maka normalnya sahamnya belum akan naik lebih tinggi lagi (masih belum waktunya). In fact, dalam sebulanan terakhir ini yang turun gak cuma BNGA, tapi juga banyak lagi saham-saham lainnya, dimana mereka sebelumnya sudah naik banyak.
CIMB Holdings Membayar Dividen?
Tapi peristiwa berikut ini mungkin ada kaitannya dengan penurunan BNGA: Pada tanggal 15 Juni 2016, CIMB Holdings, sebuah perusahaan yang terdaftar di Bursa Malaysia, mengumumkan bahwa mereka akan membagikan dividen non tunai kepada para pemegang sahamnya, dalam bentuk saham BNGA. Untuk diketahui, CIMB Holdings ini adalah induk dari CIMB Group, sementara CIMB Group itu sendiri adalah pemegang saham pengendali BNGA.
Kemudian pada tanggal 26 Juli, CIMB Group menjual 1.4 milyar lembar saham BNGA ke CIMB Holdings, pada harga Rp928 per saham. Oleh CIMB Holdings, 1.4 milyar saham BNGA itu kemudian dijual lagi ke para investor pemegang sahamnya, tapi pada harga yang lebih murah yakni Rp504 per saham. Karena investor pemegang saham CIMB Holdings memperoleh saham BNGA pada harga yang lebih murah dibanding biaya yang dikeluarkan CIMB Holdings untuk membeli saham BNGA tersebut (Rp504 berbanding Rp928), maka dalam hal ini CIMB Holdings seperti membayar dividen kepada para pemegang sahamnya, dalam bentuk saham BNGA (dimana para investor tersebut memperoleh saham BNGA ini pada harga murah). Setelah transaksi ini, maka di komposisi pemegang saham BNGA akan ada 1.4 milyar lembar saham yang tidak lagi dipegang oleh CIMB Group, melainkan dipegang langsung oleh investor publik asal Malaysia sana.
Lalu apa pengaruh perubahan kepemilikan saham ini terdapat kinerja BNGA atau prospek perusahaan kedepannya? Ya nggak ada pengaruh apapun lah, karena transaksi jual beli saham yang dibahas diatas bukanlah aksi korporasi oleh BNGA, melainkan transaksi jual beli saham yang normal antar investor yang memegang saham perusahaan, dan CIMB Group hingga saat ini masih menjadi pemegang saham pengendali di BNGA. Kalau kemudian saham BNGA turun, maka itu lebih karena reaksi investor di BEI yang kebingungan dengan transaksi jual beli saham yang dilakukan oleh CIMB Holdings dan CIMB Group, dimana mereka khawatir bahwa transaksi tersebut akan merugikan BNGA, padahal tidak.
Transaksi Floating Saham
Tapi kalau anda sejak awal sudah memperhatikan BNGA ini, maka anda akan menemukan fakta menarik: Hingga Kuartal II 2016, BNGA memiliki 25.1 milyar lembar saham beredar, dimana 24.4 milyar lembar atau 96.9% diantaranya dipegang oleh CIMB Group, padahal peraturan BEI jelas menyebutkan bahwa sebagai perusahaan Tbk, minimal 7.5% saham BNGA harus dimiliki oleh publik. Karena itulah, CIMB Group memiliki kewajiban untuk melepas sebagian saham BNGA ke publik, atau istilahnya floating. Tapi jika CIMB Group langsung menjual BNGA begitu saja ke investor publik di BEI, maka sudah pasti harga sahamnya bakal tambah jeblok, dan dalam hal ini posisi CIMB Group menjadi rugi karena dia menjual saham BNGA pada harga yang jauh dibawah nilai bukunya.
Jadi kalau gitu gimana solusinya? Ya bagaimana kalau saham BNGA dijual ke ‘atas’, dalam hal ini ke CIMB Holdings? Dengan cara ini CIMB Group bisa langsung melepas saham BNGA dalam jumlah besar (sekaligus 1.4 milyar lembar), dan tidak akan rugi karena harga jualnya cukup tinggi yakni Rp928 per saham. Oleh CIMB Holdings, saham BNGA tersebut kemudian ‘dikasiin’ ke pemegang sahamnya pada harga yang lebih murah, yakni Rp504 per saham. Jadi meski disini posisi CIMB Holdings merugi (karena dia menjual saham BNGA pada harga yang lebih murah dibanding harga belinya), namun dalam hal ini perusahaan seolah-olah memberikan dividen kepada para pemegang sahamnya. Para pemegang saham CIMB Holdings yang memperoleh saham BNGA ini juga langsung berada dalam posisi profit, karena kalau mereka mau, mereka bisa langsung menjual saham BNGA pada harga pasar yakni 800-an, untuk memperoleh keuntungan sekitar 60% (karena modalnya di 504).
Nah, jadi dalam hal ini penulis melihat bahwa transaksi ‘pembayaran dividen’ yang dilakukan oleh CIMB Holdings diatas sejatinya bertujuan untuk floating, alias melepas saham BNGA ke publik namun tanpa harus membuat harga sahamnya jatuh. Pasca aksi jual beli saham ini, CIMB Group masih memegang 23.0 milyar lembar atau 91.5% saham BNGA, sementara 8.5% sisanya dipegang oleh publik, atau sudah memenuhi peraturan BEI tentang floating tadi. Dan karena kepemilikan publik di BNGA sekarang menjadi jauh lebih besar (meningkat dari 701 juta menjadi 2.1 milyar lembar), maka kedepannya transaksi perdagangan sahamnya akan menjadi lebih likuid, dimana pergerakan saham yang likuid biasanya akan lebih mencerminkan/sesuai dengan fundamental perusahaan. Sebenarnya ketika kemarin penulis sangat tertarik dengan BNGA ini, namun fakta bahwa CIMB Group memegang sahamnya terlalu banyak membuat saya menjadi ragu-ragu, karena kalau mereka jualan saham BNGA ke publik (dalam rangka floating) maka BNGA mau gak mau bakal jatuh. Namun setelah transaksi ini maka BNGA sekarang menjadi lebih menarik, karena CIMB Group sudah memenuhi kewajiban floating-nya (jadi mereka gak akan jualan BNGA lagi). Sementara kalaupun investor publik asal Malaysia yang sekarang memegang BNGA ramai-ramai melepas sahamnya, maka gak mungkin juga 1.4 milyar lembar saham itu bakal dilego sekaligus, karena toh pada harganya saat inipun, valuasi BNGA masih sangat murah.
Okay, lalu bagaimana dengan fundamental BNGA itu sendiri? Well, seperti yang sudah disebut diatas, kinerja BNGA di tahun 2016 ini mulai pulih seiring dengan membaiknya catatan kredit macet perusahaan meski, kalau boleh jujur, masih jauh kalau dibandingkan dengan catatan kinerja terbaik mereka di tahun 2012 – 2013. Pihak manajemen jelas menyebutkan bahwa kinerja buruk perusahaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh kredit macet di sektor pertambangan, karena penurunan harga batubara. Namun berhubung belakangan ini harga batubara perlahan tapi pasti mulai merangkak naik, maka mungkin masa-masa sulit bagi BNGA memang sudah lewat, jadi untuk kedepannya kita tinggal wait n see saja, apakah BNGA bisa terus mempertahankan momentum pemulihan kinerjanya sejak awal tahun 2016 kemarin, atau malah nyungsep lagi.
Sementara terkait sahamnya, cukup jelas bahwa harga 500-an sudah menjadi bottom bagi BNGA ini, dan harga sekarang yakni 800-an juga masih murah, tapi secara fundamental belum ada momentum apapun bagi BNGA ini naik lebih tinggi lagi, soalnya kinerjanya juga belum bagus-bagus amat. Jadi sekarang strateginya begini saja: Jika besok-besok BNGA ini turun lagi sampai dekat-dekat 500 – 600, maka anda bisa langsung hajar kanan tanpa perlu menunggu perusahaan untuk menyampaikan laporan keuangan yang lebih bagus, toh harga segitu udah murah buanget. Tapi jika BNGA tetap bertahan di posisinya saat ini, atau bahkan malah naik, maka akan lebih aman jika kita tunggu sampai perusahaan melaporkan catatan laba bersih yang lebih baik, mungkin awal tahun depan nanti.
PT Bank CIMB Niaga, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2016: BBB
Rating Saham pada 805: A
Buletin Analisis IHSG & Stockpick Edisi Oktober 2016 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk [...]

Seminar Value Investing, Surabaya, 1 Oktober 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Surabaya. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Surabaya dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 nanti, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Amaris Embong Surabaya, Jln. Kedungdoro No.1 – 3, Kota Surabaya.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Oktober 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabayadan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama peserta seminar 18 Juni
Penulis bersama peserta seminar 30 Juli
Komentar Alumni:
Pak teguh..  Saya sudah baca smua ebook bapak. Q2 dan Q1.. Betapa saya menyesal pak dulu mei awal tidak beli ebook q1 bapak.. Pelit uang kecil. Hilang uang besar. Jujur saya 15-20an Mei panik dan kosongkan porto. Ikutan panic selling saya pak.. Bbni saya jual smua di 4400an. Padahal modal Average 4650.. Asii jual 6250. Modal 6600. Smgr jual 8900. Modal 9500

Sebuah langkah yang salah total
.

Saya barusan  TP sril di avg 291 pak.  Modal 270an.. Sehari sebelum naik 300 sebentar
terus tutup 284 ini. Saya jual krn saya liat ihsg daily kok bikin lower high. Posisi saya skrg pegang bbkp pak.. Krn saya melihat potensi mirip2 bjbr. Bisa terbang sewaktu2. Cuma juga ada ancang2 keluar klo ihsg longsor

Hmm inti nya saya mau ucapkan terima kasih pak teguh..  Saya merasa beruntung bisa mengenal pak teguh dan sudah mengambil keputusan tepat terbang ke jkt demi ikut seminar bapak
(saya org sby). Dan beli ebook bapak. Semoga pak teguh terus diberkati Tuhan dan memberikan manfaat bagi orang2 banyak ya pak.
Oh dan recomendasi di ebooknya muantab banget. pak.. Kelihatan jelas dari ebook Q1, kalo value investing works. Banyak saham e yg sudah terbang. Lipat2 bahkan.
Denny Wangsaputra – Surabaya (Alumni Seminar Jakarta, 30 Juli [...]

Jasa Marga Menjelang Right Issue: Peluang!

Jasa Marga (JSMR) melaporkan laba bersih Rp926 milyar pada Semester Pertama 2016, atau tumbuh 44% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga dengan demikian JSMR menjadi satu dari sedikit perusahaan besar di BEI yang masih membukukan kinerja yang tumbuh positif pada tahun 2016 sejauh ini. Tapi kenapa kok sahamnya malah turun?

Ketika artikel ini ditulis, JSMR sudah turun hingga ke level 4,500-an, yang merupakan posisi terendahnya dalam setahun terakhir. Dan penyebab penurunan tersebut, seperti yang mungkin sudah anda ketahui, adalah karena perusahaan akan melakukan right issue pada harga yang kemungkinan jauh lebih rendah dibanding harga pasarnya.
Jadi ceritanya, melalui program penyertaan modal negara, Pemerintah sebagai pemegang saham pengendali perusahaan akan menyetor modal sebesar Rp1.25 trilyun. JSMR sendiri akan menerbitkan saham baru senilai Rp1.8 trilyun, sehingga terdapat jatah saham senilai Rp550 milyar yang akan dilepas ke investor publik (tapi jika investor publik yang memegang JSMR tidak mengeksekusi right-nya, maka jatah Rp550 milyar tersebut akan juga diambil oleh Pemerintah).
Dan berdasarkan hasil RUPS tanggal 29 Agustus kemarin, Perusahaan akan menerbitkan 491 juta lembar saham baru. Karena nilai right issue-nya adalah Rp1.8 trilyun, maka harga right issue-nya Rp1.8 trilyun / 491 juta = Rp3,662 per saham. Nah, jadi logika sederhananya, kenapa kita harus beli JSMR pada harga 5,000-an, kalau kita bisa beli right-nya nanti kemudian menebusnya pada harga 3,662 saja? Karena itulah, JSMR kemudian turun, dan mungkin kedepannya akan turun lebih lanjut, namun cukup jelas bahwa dia tidak akan turun sampai lebih rendah dari 3,662 tersebut(atau kalaupun JSMR sampai tembus 3,600-an, misalnya kalau IHSG besok-besok nyungsep lagi, maka selanjutnya dia akan langsung naik lagi).
Dan itu karena, terlepas dari penurunan sahamnya karena right issue, namun secara fundamental JSMR masih merupakan ‘wonderful company’. Seperti yang dulu pernah kita bahas di artikel ini, JSMR bermain di bisnis jalan tol yang menawarkan income yang stabil untuk jangka panjang, memiliki popularitas dan brand equity yang kuat (siapa yang gak tahu Jasa Marga?), kualitas GCG yang baik, hingga track record pembayaran utang obligasi yang baik. Kombinasi antara kinerja fundamental yang konsisten dalam jangka panjang plus nilai kualitatif yang dimiliki perusahaan, menyebabkan saham JSMR senantiasa dihargai premium, dimana pada harga 4,500 sekalipun (itu adalah harga terendah JSMR dalam beberapa tahun terakhir, dimana JSMR hanya bisa turun ke posisi tersebut kalau IHSG lagi panic selling, atau sedang terjadi peristiwa/aksi korporasi penting, seperti right issue pada saat ini), PBV-nya masih tercatat 2.8 kali. However, jika dibandingkan dengan valuasi dari saham-saham big caps yang juga memiliki nama perusahaan yang populer seperti Bank BCA atau Astra International, maka PBV kurang dari 3 kali bagi JSMR terbilang relatif murah dan menawarkan potensi upside. Anda bisa baca lagi penjelasannya disini.
Sementara kalau kita bicara ke depan, maka JSMR juga menawarkan prospek masa depan yang cerah. Sebenarnya, meski JSMR memiliki track record kinerja yang cukup konsisten di masa lalu, namun pertumbuhan riil perusahaan terbilang lambat jika dibanding perusahaan-perusahaan besar lain seperti Perusahaan Gas Negara (PGAS), Bank BRI (BBRI), dan ASII (anda bisa lihat lagi datanya disini). Dan itu karena proses membangun jalan tol terbilang sangat sulit, sehingga di masa lalu panjang ruas konsesi jalan tol yang dipegang JSMR boleh dibilang nyaris tidak bertumbuh. Pada tahun 2008, JSMR mengelola jalan tol sepanjang total 527 kilometer, yang meningkat menjadi 555 kilometer pada tahun 2013, atau hanya tumbuh 28 kilometer dalam 5 tahun. Alhasil perusahaan hanya bisa mengandalkan kenaikan tarif pada ruas tol yang sudah ada untuk meningkatkan pendapatannya, sehingga ekuitas perusahaan hanya mampu tumbuh sekitar 10% saja per tahunnya.
Namun trend negatif tersebut mulai berubah sejak dua tahun terakhir. Mulai tahun 2014, seiring dengan pembangunan mega-proyek infrastruktur oleh Pemerintah, JSMR turut memperoleh mandat untuk membangun dan mengelola banyak ruas jalan tol baru, mulai dari tol Cinere – Serpong di Jabodetabek, hingga tol Medan – Tebing Tinggi di Sumatera Utara. Alhasil pada akhir tahun 2015, panjang jalan tol yang dikelola JSMR sudah meningkat menjadi 590 kilometer, atau tumbuh 35 kilometer hanya dalam 2 tahun, namun itu baru permulaan! Saat ini JSMR masih terus mengebut pembangunan ruas-ruas tol baru, dimana jika semuanya berjalan lancar, maka perusahaan akan mengelola jalan tol sepanjang 987 kilometer pada akhir tahun 2019 nanti. Well, sounds promising right? In fact, ketika pemerintah menyuntikkan tambahan modal senilai Rp1.25 trilyun ke perusahaan melalui right issue, maka duit sebanyak itu adalah memang untuk membiayai pembangunan jalan-jalan tol baru tadi. Yep, dalam hal ini Pemerintah tidak hanya mendukung JSMR dalam hal terjun langsung untuk mengurus pembebasan lahan (ini adalah bagian tersulit dalam membangun jalan tol), tapi juga dalam hal pembiayaan. Jika right issue-nya masih belum cukup, maka mungkin kedepannya JSMR juga bisa meng-IPO-kan salah satu anak usahanya, seperti yang memang sudah dilakukan oleh BUMN-BUMN lain.

Foto-Foto Ruas Jalan Tol Semarang – Solo, yang pembangunannya ditargetkan akan rampung seluruhnya pada tahun ini

Jadi terlepas dari penurunan sahamnya karena right issue, namun cukup jelas bahwa JSMR masih menawarkan prospek jangka panjang, malah dengan turunnya sahamnya maka itu artinya kita bisa dapat ‘posisi start’ yang bagus di harga bawah. I mean, kalau anda beli JSMR ini di harga 5,000-an dan kemudian sahamnya naik lagi ke 6,000-an, maka berapa profitnya? Tapi kalau anda beli di harga sekarang, maka ketika nanti JSMR ini naik ke posisi 5,000-an saja, anda sudah profit. Selain itu kalau kita lihat historis dari saham-saham BUMN yang juga melakukan right issue, seperti ADHI, ANTM, WSKT, mereka juga awalnya turun dulu ketika harga right issue-nya ditetapkan dibawah harga pasar, tapi tak lama kemudian naik lagi, malah dengan kenaikan yang luar biasa yakni 50% atau lebih.
Kalau begitu apakah saya sekarang boleh langsung hajar kanan JSMR ini? Well, tunggu dulu. Seperti yang tadi sudah disebut diatas, JSMR akan melakukan right issue di harga 3,600-an, sehingga besar kemungkinan bahwa sahamnya akan turun sampai dekat-dekat 3,600 tersebut, terutama karena proses right issue-nya masih agak panjang, dimana berdasarkan estimasi dari manajemen JSMR sendiri, right issue ini baru akan tuntas pada Kuartal IV 2016 (sekitar Oktober – November). Di website BEI sendiri malah belum ada pengumuman apapun terkait right issue perusahaan, kecuali pengumuman hasil RUPS-nya. Jadi berdasarkan pengalaman dari right issue BUMN-BUMN sebelumnya, maka saham JSMR kemungkinan akan turun mendekati 3,600-an dalam satu atau dua bulan kedepan, mungkin bahkan bisa lebih rendah jika IHSG-nya ikut longsor, sebelum kemudian baru akan naik lagi pada Desember atau awal tahun 2017 nanti.
Lalu seberapa besar peluang JSMR untuk naik lagi nanti? Tentunya cukup besar, terutama karena harga teoritis JSMR setelah right issue-nya terbilang jauh lebih tinggi dibanding harga right issue itu sendiri. You see, di right issue-nya JSMR menerbitkan 491 juta lembar saham baru, atau hanya sedikit dibanding jumlah saham perusahaan saat ini yakni 6.8 milyar lembar. Katakanlah harga rata-rata JSMR di pasar selama ini adalah Rp5,000, yang setelah dikali 6.8 milyar lembar saham, hasilnya adalah market cap Rp34 trilyun. Setelah right issue, jumlah saham JSMR meningkat menjadi 7.3 milyar lembar, dan market cap-nya juga meningkat 1.8 trilyun menjadi Rp35.8 trilyun. Maka harga teoritis JSMR setelah right issue adalah 35.8 trilyun / 7.3 milyar, sama dengan Rp4,909 per saham. See? Berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan melakukan right issue maka harga sahamnya akan naik atau turun mendekati harga right issue-nya. Namun setelah right issue-nya selesai, maka sahamnya akan balik lagi ke harga teoritisnya, atau bisa lebih tinggi lagi jika fundamental perusahaan masih excellent seperti sebelumnya.
Kesimpulannya JSMR ini worth to buy, namun sekarang ini masih belum merupakan waktu yang tepat untuk masuk, so hold your cash. Tapi jika saya udah masuk sejak awal gimana? Kalau gitu pilihannya ada dua: 1. Cut loss sekarang untuk masuk lagi nanti di harga bawah, atau 2. Tetap hold sambil terus cari waktu yang tepat untuk average down. Jika downtrend IHSG yang terjadi sejak semingguan kemarin berlanjut, maka penulis optimis kita bisa masuk di JSMR ini di harga 4,000 atau dibawahnya, dimana dengan sedikit keberuntungan, profit yang diperoleh mungkin akan mencapai 50% (targetnya 6,000-an), ketika JSMR ini naik kembali pada awal tahun 2017 nanti.
PT Jasa Marga (Persero), Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal II 2016: A
Rating Saham pada 4,550: AA
Jadwal Seminar Investasi Saham, Value Investing: Surabaya, Hotel Amaris Embong Surabaya, Sabtu 1 Oktober. Keterangan selengkapnya baca [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 24 September 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham di Jakarta dan sekitarnya (atau dari luar kota juga boleh hadir). Dan berikut keterangan selengkapnya:

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 nanti, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Amaris Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia, sekitar 100 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 24 September 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Investasi peserta hanya Rp750,000 per orang, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama peserta seminar 18 Juni
Penulis bersama peserta seminar 30 Juli
UPDATE: Kursinya sudah penuh! Jadi dengan ini pendaftarannya resmi ditutup. Sampai ketemu di jadwal seminar [...]

Mengapa Saya Panik?

Pernahkah anda mengendarai motor/mobil tapi lupa bawa SIM? Well, penulis pernah. Beberapa waktu lalu saya naik motor dengan santai dari rumah di Selatan menuju daerah Pluit. Tapi sorenya sebelum pulang ke rumah, pas buka dompet untuk bayar sesuatu, penulis baru sadar nggak bawa SIM C, karena waktu di rumah lupa menukarnya dengan SIM A (karena di dompet udah banyak banget kartu, penulis terbiasa hanya bawa salah satu SIM, kalau nggak SIM A ya C. Kalau naiknya busway maka gak bawa SIM sama sekali). Dan ketika itulah, penulis mulai khawatir: Gimana kalau dalam perjalanan pulang nanti ketemu razia pulisi? Karena, you know, ngurus tilang ke pengadilan itu kadang lebih ribet ketimbang ke kantor pajak, apalagi disana banyak setannya (baca: calo).

Tapi untungnya penulis sukses nyampe ke rumah dengan aman sentosa. Tapi sejak itu penulis jadi lebih hati-hati: Sebelum bepergian, jangan lupa cek dompet dulu.
Nah, pengalaman diatas merupakan ilustrasi bahwa kita bisa menjadi khawatir, bingung, galau, atau panik, karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya, dalam hal ini karena tidak membawa SIM ketika berkendara, entah itu disengaja atau tidak. Dalam berinvestasi di pasar modal juga sama: Kalau anda membeli saham namun tanpa mengikuti ‘prosedur’, dalam hal ini melakukan analisis yang mendalam terhadap perusahaan sebelum kemudian ambil keputusan, maka bagaimana mungkin anda bisa tenang-tenang saja setelah membeli saham tersebut?
Tapi pada prakteknya, investor yang sudah cukup berpengalaman (kalau anda baru 1 – 2 tahun di market dan masih gampang panik, maka itu sangat wajar, karena normalnya seorang investor baru bisa mengendalikan emosinya setelah 3 tahun), dan sudah mahir menganalisis sekalipun kadang-kadang masih suka panik ketika saham yang dipegang turun (atau kalau naik juga sama panik, karena takut bakal turun lagi). Dan seringkali kepanikan itu timbul karena apa yang dilakukan oleh si investor itu sendiri.
Sebagai contoh, sejak duluu sekali, penulis sudah anti menggunakan margin, dan anda tahu kenapa? Karena megang duit sendiri aja kadang-kadang masih suka stress pas posisi nyangkut, apalagi duit hasil ngutang! Memang, kalau kita beli saham pake margin dan profit, maka profitnya bisa berlipat ganda karena modalnya lebih gede. Seorang teman pernah mengatakan, ‘Bunga margin kan cuma 18% per tahun. Jadi kalau kita nemu saham yang naik 40% dalam setahun tersebut, maka bunga segitu bakal ketutup bukan? Apalagi di BEI banyak banget saham-saham yang bahkan bisa naik sampai 100% atau lebih’. Well, tapi masalahnya gimana caranya kita bisa ketemu saham yang pasti bakal naik minimal sebanyak 40% tersebut? Karena ingat: Saham sebagus apapun bisa saja turun meski kinerja perusahaannya masih baik-baik saja, entah itu karena penurunan IHSG, adanya sentimen negatif, atau terjadi peristiwa penting tertentu. Jadi gimana kalau kita malah belinya saham yang justru turun 40%??? Sedangkan bunga yang 18% tadi sudah pasti akan dibayar beserta pokok utangnya, tak peduli meski posisi anda untung atau rugi. Alhasil, kalau saham anda benar naik maka keuntungan memang bakal lebih besar, tapi kalau saham anda malah turun, maka kerugiannya bakal lebih besar lagi.
Tapi intinya disini adalah, ketika anda menyadari bahwa risiko kerugian karena menggunakan margin ternyata lebih besar dibanding potensi profitnya, maka anda akan gampang khawatir kalau besok-besok saham anda atau IHSG turun. Actually, kalau pake contoh penulis yang lupa bawa SIM diatas, maka kalau anda gak bawa SIM, STNK, plus gak pake helm sekalipun (atau seat belt), maka itu bukan berarti anda pasti bakal ditilang, karena anda mungkin akan ketemu razia polisi di jalan, tapi mungkin juga tidak. Meski begitu anda tetap saja tidak akan bisa menyetir dengan tenang, karena anda tahu persis bakal ditilang kalau ketemu polisi. Dalam investasi saham juga sama: Setelah anda membeli saham maka saham anda/IHSG mungkin akan turun, tapi mungkin juga tidak. Tapi kalau anda sejak awal belinya pake margin, maka anda jadi lebih khawatir dan gampang panik kalau saham anda turun, karena anda sepenuhnya menyadari bahwa kerugian yang anda derita bakal lebih besar.
Selain menggunakan margin, tindakan yang dilakukan investor yang menyebabkan dia jadi sulit tidur nyenyak di malam hari, adalah dengan membeli saham yang jelas-jelas tidak jelas. Terus terang, penulis sampai sekarang masih bingung kenapa saham-saham seperti BEKS, CNKO, CPRO, DSFI, dll, malah lebih populer dibanding saham-saham mainstream (ASII dkk)? Termasuk kalau nanti BUMI ‘bangkit’ lagi pun, maka dia pasti bakal diburu lagi. Tapi diluar trader spekulan yang memang sengaja membeli saham-saham tersebut untuk ‘uji nyali’ tanpa peduli untung atau rugi, maka ada banyak juga ‘investor-investor lurus’ yang cuma coba-coba karena penasaran, misalnya membeli BEKS hanya karena kemarin saham ini ramai banget dibicarakan (padahal si investor ini sudah tau persis bahwa fundamental BEKS adalah nol besar), lalu ujung-ujungnya mereka jadi bingung sendiri. Termasuk kalau ternyata spekulasinya menghasilkan profit sekalipun, maka profit tersebut seringkali tidak sebanding dengan deg-degannya. Dalam beberapa kasus, seluruh perhatian si investor kemudian jadi terfokus pada saham blangsak ini, sehingga pegangan lainnya jadi terabaikan, dan kinerja portofolionya menjadi berantakan secara keseluruhan.

Logo CPRO. Ini saham apa bagusnya coba? Tapi anehnya penggemarnya banyak banget

Nah, sebenarnya masih ada banyak lagi contoh tindakan yang dilakukan oleh seorang investor yang kemudian menyebabkan si investor itu menjadi kehilangan fokus, bingung dan panik sendiri, dan pada akhirnya menderita kerugian. Tak peduli meski seorang investor sudah berpengalaman selama belasan tahun sekalipun, tapi kalau cara main dia seperti itu maka dia akan galau terus everyday.
Jadi kalau begitu gimana solusinya? Ya berinvestasilah dengan cara yang baik dan benar! Lakukan analisis dengan baik, buat investment plan, lalu ambil keputusan buy and sell. Jadilah investor yang ‘lurus’, intinya jangan macem-macem lah! Sebab seperti halnya anda harus bawa SIM dan pake helm kalau nyetir motor, maka di pasar saham juga terdapat banyak peraturan yang, meski tidak tertulis, namun harus dipatuhi tanpa bisa ditawar-tawar lagi, salah satunya adalah jangan berspekulasi. Jadi kalau sejak awal tujuan anda main saham adalah memang untuk memacu adrenalin, then go ahead, belilah saham-saham gorengan pake duit margin, kalau perlu gadai rumah sekalian! Tapi kalau anda mau invest di saham dengan tenang.. aman.. damai tentrem kertorahardjo, bisa tidur nyenyak di malam hari dan gak harus ngeliatin monitor seharian dari jam 9.00 sampai 16.00, then you know what to do :)
Tapi pak Teguh, saya ini newbie, masih gak ngerti apa-apa.. Jadi meski saya hanya membeli saham-saham yang saya anggap aman sekalipun tapi tetep aja selalu kegoda untuk ngeliat monitor, apalagi kalau saham saya udah tiga hari gak jalan-jalan padahal saham tetangga terbang.. galau saya pak! Well, seperti yang sudah disebut diatas, kalau anda masih baru di market maka mau tidak mau anda akan gampang panik, tak peduli meski anda belinya saham Unilever atau Bank BRI sekalipun. Namun poin penulis disini adalah, asalkan anda mampu bertahan dan tetap konsisten untuk menjadi investor yang benar-benar investor (yakni yang selalu melakukan analisis dengan hati-hati, dan gak beli saham hanya karena ikut-ikutan), dimana anda selalu mempertimbangkan faktor risk and gain sebelum membeli saham, maka setelah beberapa tahun, anda akan menikmati buahnya, dimana anda bisa mengambil setiap keputusan investasi dengan tenang dan fokus, dan tidak lagi gampang panik ketika IHSG turun atau semacamnya, dan sudah tentu: Perlahan tapi pasti, anda akan mulai menghasilkan keuntungan yang konsisten.
So, mari kita jawab pertanyaan diatas: Mengapa saya panik dan galau? Well, yang pertama mungkin karena anda belum cukup menguasai cara-cara analisis saham dll, dan juga belum cukup berpengalaman dalam menghadapi fluktuasi market. Tapi kalau saya sudah ngerti cara analisis dan juga sudah lumayan lama di market, maka kenapa kok sampe sekarang masih galau juga? Kalau gitu coba cek lagi, anda sudah investasi dengan baik dan benar belum? Kalau anda masih suka ‘icip-icip saham yang (ngarepnya) bakal terbang’, ya jelas galau lah! Apalagi kalau belinya pake margin, udah gitu beli cuma ikut-ikutan saham yang ‘lagi rame’, padahal anda tahu persis saham itu fundamentalnya jelek. Intinya jadilah investor yang lempeng, jangan macem-macem, dan selalu pertimbangkan risk and gain sebelum membeli saham tertentu (kebanyakan orang cuma liat ‘prospek’ saham, tanpa mempertimbangkan risikonya). Jadi jika anda menemukan saham yang, setelah dipelajari mendalam ternyata risikonya lebih besar ketimbang potensi profitnya, maka ya sudah jangan beli! Karena, ingat sekali lagi: Kalaupun anda beli saham itu dan ternyata hasilnya untung, maka belum tentu profit tersebut sebanding dengan deg-degannya. Sebab seperti yang sudah sering penulis sampaikan di banyak artikel: Dalam investasi saham itu yang penting bukan cuma cuan, tapi juga perasaan kalem dan santai ketika meng-hold saham tersebut, dimana hanya dengan cara itulah kita akan mampu fokus, dan pada akhirnya menghasilkan cuan yang lebih besar lagi.

Okay, I think that’s enough, minggu depan kita akan bahas sedikit soal Bank CIMB Niaga (BNGA).

Jadwal Seminar Investasi Saham: Value Investing, Jakarta, Sabtu 24 September. Peserta terbatas, hanya 30 orang. Keterangan lebih lanjut baca [...]

BEI Menghapus Batas Bawah 10%?

Semingguan ini ramai pemberitaan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali menetapkan auto rejection (AR) simetris, dari yang saat ini asimetris. Pemberitaan tersebut muncul setelah Direktur Pengawasan Transaksi BEI, Hamdi Hassyarbaini, pada tanggal 30 Agustus menyatakan kepada wartawan bahwa pasar saham Indonesia sekarang ini sudah stabil dimana IHSG telah naik signifikan, sehingga peraturan AR asimetris sudah tidak diperlukan lagi. Nah, mungkin anda bertanya-tanya, apa itu AR simetris? Apa itu AR asimetris?

Jadi begini. Setahun lalu, tepatnya pada tanggal 25 Agustus 2015, atau persis sehari setelah IHSG dilanda panic selling dan jeblok 4% dalam sehari, BEI segera bertindak dengan meluncurkan empat kebijakan baru sekaligus, yakni: 1. Emiten diperkenankan untuk membeli sahamnya di pasar (buy back) tanpa RUPS, 2. Saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, 3. Dana Perlindungan Investor dan dikelola oleh PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI) ditingkatkan dari Rp25 juta menjadi Rp100 juta, dan 4. Broker dilarang melakukan transaksi short-selling. Semua kebijakan tersebut bertujuan agar IHSG, yang ketika itu sudah crash ke posisi 4,100-an dari sebelumnya 5,500-an, bisa segera pulih kembali, atau minimal tidak turun lebih lanjut.
Nah, yang menarik adalah peraturan Nomor 2, yakni bahwa saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, dimana jika ada orang yang pasang bid atau offer pada harga yang lebih rendah dibanding batas penurunan 10% tersebut, maka akan otomatis ditolak oleh sistem (auto reject). Sebelumnya, peraturan BEI menyebutkan bahwa saham dengan harga nominal Rp50 – 200 bisa naik atau turun maksimal 35% dalam sehari, nominal 200 – 5,000 bisa naik atau turun maksimal 25% dalam sehari, dan nominal diatas 5,000 bisa naik atau turun maksimal 20% dalam sehari.
Peraturan dimana suatu saham memiliki batas kenaikan dan penurunan yang sama (misalnya saham A harganya Rp100, maka dia bisa naik maksimal hingga 35% dan sebaliknya bisa turun 35% juga, dalam sehari), itulah yang disebut dengan AR simetris. Namun setelah tanggal 25 Agustus 2015, maka suatu saham masih bisa naik maksimal hingga 35% dalam sehari, tapi hanya bisa turun maksimal 10% saja. Batas kenaikan dan penurunan yang berbeda inilah, yang disebut AR asimetris.
Catatan: Di kalangan investor dan trader, kalau ada saham jeblok hingga mentok 10% dalam sehari, maka istilahnya adalah AR kiri, atau AR bawah. Sementara kalau ada saham yang terbang hingga mentok 20%, 25%, atau 35% (tergantung nominal sahamnya), maka istilahnya AR kanan, atau AR atas.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, maka peraturan dimana saham hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari diharapkan mampu menahan IHSG agar tidak sampai turun hingga ke level yang tidak lagi mencerminkan fundamental perekonomian dan kinerja emiten, dimana jika itu terjadi (IHSG turun kelewat dalam) maka akan menimbulkan kepanikan massal. dan akan menghancurkan kepercayaan investor terhadap BEI dan investasi saham itu sendiri. Salah satu kasus terburuk adalah, pada bulan Oktober 2008, IHSG jeblok hingga lebih dari 20% hanya dalam tiga hari perdagangan, dan alhasil pasar kemudian butuh waktu yang cukup lama untuk pulih, dimana nilai transaksi perdagangan saham di BEI baru ramai kembali (baca: sama ramainya dengan sebelum IHSG mengalami crash) pada awal tahun 2012. Seandainya IHSG pada Oktober 2008 tersebut, meski turun, namun penurunannya tidak separah itu, maka pasar kemungkinan akan pulih lebih cepat, investor segera kembali masuk pasar, dan para broker tidak akan kelamaan bengong dirumah karena transaksi perdagangan kembali ramai.
However, dalam kondisi pasar yang normal dan stabil, maka peraturan penurunan maksimal 10% ini menyebabkan pergerakan saham-saham tertentu tidak lagi mencerminkan fundamental perusahaan yang bersangkutan. Sebab dalam kondisi dimana IHSG sedang naik sekalipun maka akan selalu ada saja ‘saham-saham blangsak’ yang normalnya boleh-boleh saja turun sampai 30% sekalipun, tapi itu tidak terjadi karena batas AR bawah 10% tadi. Intinya peraturan ini menimbulkan kesan konyol bahwa ‘saham apapun boleh naik, tapi gak boleh turun’. Selain itu peraturan ini, meski di satu sisi menguntungkan investor dan trader, namun kurang menguntungkan bagi para sekuritas/broker dan BEI itu sendiri, karena jika sebuah saham turun 10% dalam sehari maka ya sudah, untuk hari itu tidak akan terjadi transaksi lagi, dan alhasil pendapatan trading fee bagi para broker (dan juga BEI sebagai regulator, ingat bahwa sekuritas sebagai anggota bursa harus menyetor sebagian pendapatan trading fee-nya ke BEI, KSEI, dan KPEI) menjadi tidak maksimal.
Jadi mungkin karena itulah, pada tanggal 30 Agustus 2016 kemarin Mr. Hamdi menyatakan bahwa BEI tengah mengkaji kembali beberapa peraturan perdagangan, termasuk bahwa BEI mungkin akan kembali memberlakukan peraturan AR simetris, dimana sebuah saham bisa naik atau turun hingga35% dalam sehari. Namun entah wartawannya yang salah tulis atau gimana (yang kemudian dikutip begitu saja oleh para analis sekuritas dalam menerbitkan analisisnya, ini kacau bener dah), publik menangkap pernyataan tersebut sebagai, ‘BEI akan menghapus batas bawah 10% mulai tanggal 1 September’, padahal Mr. Hamdi tidak mengatakan apapun soal tanggal 1 September tersebut! Dan BEI juga sama sekali belum mengeluarkan peraturan baru terkait auto reject. Demikian pula ketika Mr. Hamdi mengatakan bahwa BEI tengah mengkaji untuk menghapus peraturan batas harga terendah Rp50 (sehingga sebuah saham bisa turun hingga maksimal Rp0), maka itu baru sebatas kajian saja, dan belum ada peraturan apapun yang secara resmi menghapus batas harga Rp50 tersebut.
(tapi biasanya sih kesalahan informasi ini cuma karena Mr. Hamdi keceplosan aja pas ditanya wartawan, atau dengan kata lain, Mr. Hamdi gak akan ngomong begitu kalau gak ditanya. Jadi kalau penulis adalah Pak Tito, maka saya akan mengadakan training khusus kepada para direktur BEI agar berhati-hati dalam memberikan statement ke media karena, you know, wartawan sekarang kerjaannya kejar setoran mulu)
Tapi untungnya sehari kemudian, yakni tanggal 31 Agustus, pihak BEI segera mengklarifikasi bahwa BEI belum akan kembali memberlakukan peraturan AR simetris pada tanggal 1 September, dan bahwa batas bawah 10% masih berlaku hingga waktu yang belum ditentukan.
Tapi yah, mari kita berandai-andai: Jika peraturan batas bawah 10% benar-benar dihapus, dimana sebuah saham bisa saja jeblok 35% dalam sehari, maka apa yang akan terjadi? Maka tentu, pasar saham akan ramai lagi! Terakhir kali penulis menyaksikan IHSG jeblok gila-gilaan adalah pada perdagangan pasca libur Imlek di bulan Oktober 2011, dimana IHSG turun 8.88% dalam sehari (jadi waktu IHSG panic selling Agustus 2015 lalu, trust me, itu gak ada apa-apanya). Tapi penulis tidak yakin BEI berani melakukan itu karena para investor sekarang ini lebih sensitif, kemungkinan karena informasi lebih cepat menyebar karena adanya internet, grup/forum saham, dan media sosial, dimana jika IHSG turun 2% saja dalam sehari maka orang-orang akan langsung panik, dan kepanikan ini akan dengan cepat menyebar ke investor lainnya karena adanya media sosial tadi, sehingga akan langsung terjadi kepanikan massal. Selain itu, bahkan meski dengan peraturan batas bawah 10% ini, namun itu tidak mencegah saham-saham tertentu untuk turun gila-gilaan, katakanlah seperti saham Bank Pundi (BEKS) atau Bank CIMB Niaga (BNGA), karena meski saham tersebut hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, namun toh besoknya dia bisa turun 10% lagi, demikian seterusnya. As you can see, kondisi ini bisa lebih buruk andaikan saham-saham diperkenankan turun hingga 35% dalam sehari.
Sementara soal wacana bahwa batas harga Rp50 dihapus, well, penulis no comment. Tapi memang kalau kita pakai patokan Bursa Amerika, maka saham-saham tertentu, jika memang fundamentalnya sangat buruk, bisa turun hingga level harga 1 Sen atau US$ 0.01, atau bahkan nol Dollar, dimana jika sahamnya kemudian gak naik-naik juga maka akan ditendang keluar dari bursa (delisting). Nah, meski penulis tidak tahu apakah disini juga bisa diberlakukan peraturan yang sama, yakni bahwa suatu saham bisa turun sampai harganya Rp0, namun jujur saja, penulis penasaran dengan apa yang akan terjadi jika peraturan itu benar-benar diberlakukan.. Well, what do you think?

INFO: Buletin Analisis Pergerakan IHSG & Stockpick Pilihan edisi September 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya [...]

Mengenal ‘Market Hype’, dan Pengaruhnya ke IHSG

Pertengahan Juli lalu, dunia dihebohkan dengan dirilisnya permainan ponsel Pokemon GO, yang segera menjadi hits karena berbeda dengan video game pada umumnya dimana si pemain akan duduk seharian di depan televisi, Pokemon GO mengharuskan pemain untuk pergi keluar rumah dan berjalan kaki kesana kemari. Begitu populernya permainan ini, hingga orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mendengar video game Pokemon (permainan Pokemon sudah ada sejak tahun 1990-an akhir, Pokemon GO ini merupakan versi terbarunya saja), karena penasaran akhirnya ikut men-download-nya juga, dan memainkannya di ponsel mereka masing-masing. Alhasil, kurang dari satu bulan setelah dirilis, Pokemon GO sudah dimainkan oleh 45 juta orang di seluruh dunia.

Penulis sendiri termasuk yang penasaran ikut mendownload Pokemon GO ini, dan untuk beberapa saat saya menyukainya. However, tak sampai seminggu kemudian penulis tidak lagi memainkannya karena beberapa faktor: 1. Jakarta belakangan ini hujan mulu, sehingga males keluar rumah, 2. Kalo nggak hujan maka panasnya minta ampun, belum lagi udara pengap karena asap kendaraan bermotor, kalau kebetulan kita nyari ‘monster’ di jalan raya, dan 3. Kalau kita tinggal di kota yang sepi dan gak banyak orang, maka aman-aman saja jalan kaki sambil melihat ponsel terus menerus. Tapi kalau di jalanan di Jakarta, anda bisa diserempet mobil! I mean, penulis bukannya gak suka jalan kaki, suka banget malah. Tapi tentunya jauh lebih menyenangkan berjalan kaki di gunung atau pantai sambil liat-liat pemandangan, ketimbang di jalanan kota yang macet dan sumpek sambil ngeliatin layar ponsel.
Dan.. baru hari ini penulis mendengar bahwa jumlah pemain Pokemon GO berkurang drastis, dari tadinya 45 juta menjadi sekitar 30 juta saja, dan terus berkurang. Segala kehebohan dan antusiasme tentang Pokemon GO dengan cepat menghilang, sama cepatnya dengan kemunculannya sebulan yang lalu. Namun demikian hal ini justru disyukuri oleh mereka-mereka yang sejak awal memang merupakan penggemar Pokemon, dimana dengan berkurangnya jumlah pemain maka tidak ada lagi keluhan server yang overload, failed login, dll. Bagi para ‘pokemon trainer’ sejati ini, hanya karena Pokemon GO sekarang sudah tidak populer lagi maka bukan berarti mereka akan berhenti memainkannya. Sebaliknya, bagi para pemain yang sejak awal cuma ikut-ikutan, mereka mungkin malah sudah meng-uninstall Pokemon GO dari ponselnya.
Nah, fenomena kemunculan Pokemon GO yang dengan cepat menjadi populer, namun popularitas itu segera menguap tak lama kemudian, itulah yang disebut dengan ‘hype’. Hype, atau secara harfiah bermakna ‘sensasi’, adalah situasi dimana sekelompok orang merasa tertarik dan antusias terhadap sesuatu, dan antusiasme ini dengan cepat menular ke orang-orang lainnya. Pada jaman serba internet seperti sekarang, ketika seseorang menyukai sesuatu, dalam hal ini permainan Pokemon GO, maka ia akan berbagi cerita tentang Pokemon GO ini melalui jejaring sosial dll, dan kemudian menjadi headline news di media, sehingga orang-orang akan penasaran dan akhirnya ikut bermain. Namun setelah orang-orang yang penasaran ini belakangan menyadari bahwa Pokemon GO ternyata tidak se-menyenangkan itu, maka mereka kemudian berhenti bermain, dan antusiasme mereka akan hilang begitu saja.
Okay, lalu apa hubungan antara fenomena ‘hype’ ini dengan pasar saham, khususnya IHSG?
Bersamaan dengan kemunculan Pokemon GO pada awal Juli kemarin, Pemerintah juga meluncurkan kebijakan tax amnesty, yang digadang-gadang akan mampu meningkatkan penerimaan pajak negara untuk pembangunan infrastruktur, menarik dana milik konglomerat Indonesia yang selama ini diparkir diluar negeri sehingga meningkatkan likuiditas perekonomian di tanah air, dan pada akhirnya kembali menumbuhkan perekonomian. Dan berbeda dengan kebijakan-kebijakan sebelumnya, Pemerintah kali ini sangat gencar dalam men-sosialisasi-kan tax amnesty ini, sehingga kebijakan ini menjadi sangat populer dan memicu antusiasme para pelaku pasar saham, dimana IHSG dengan cepat naik pada awal Juli lalu dari posisi 4,800-an hingga hampir saja break new high di level 5,500-an, seolah-olah kebijakan tax amnesty ini sudah berhasil dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Padahal, seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel ini, tax amnesty ini baru dimulai dan belum menghasilkan dampak riil apapun ke perekonomian. Termasuk perlu dicatat bahwa target penerimaan uang tebusan yang sebesar Rp165 trilyun itu baru sebatas target yang mungkin akan tercapai, tapi mungkin juga tidak.
Jadi ketika kemudian belakangan ini mulai muncul beberapa masalah terkait pelaksanaan tax amnesty ini, seperti penolakan sebagian masyarakat terutama karena mereka harus membayar tebusan sebesar 2% (karena memang, 2% itu sebenarnya cukup besar. Let say harta yang dilaporkan Rp1 milyar, maka 2% itu sudah setara Rp20 juta, atau cukup buat beli motor), sementara penerimaan uang tebusan juga sama sekali masih jauh dari target (hingga ketika artikel ini ditulis, penerimaan uang tebusan baru mencapai Rp2.6 trilyun, padahal ini sudah akhir Agustus), maka penulis langsung ingat dengan fenomena hype Pokemon GO tadi, dimana cerita tax amnesty ini dengan cepat menjadi populer, tapi langsung meredup tak lama kemudian. Berbagai asumsi tentang ditariknya dana ribuan trilyun dari luar negeri, hingga para pengusaha yang bersemangat ikut tax amnesty ini, pada akhirnya hanya menjadi angan-angan semata, setidaknya hingga saat ini. To be honest, jika sebulan lalu para investor di pasar saham sangat bersemangat dalam membicarakan soal tax amnesty, maka sekarang ini mereka justru khawatir karena ternyata yang harus ikut tax amnesty ini gak cuma konglomerat, tapi juga investor yang memiliki harta dalam bentuk saham, yakni jika harta tersebut belum dilaporkan di SPT, apalagi jika si investor itu tidak pernah melaporkan SPT sama sekali (kalau anda masih bingung soal pajak bagi investor saham, baca penjelasannya disini).
Kesimpulannya, fenomena tax amnesty inilah yang kita sebut dengan ‘market hype’, yakni hype yang terjadi di pasar saham karena adanya cerita atau peristiwa heboh tertentu, yang menimbulkan antusiasme investor dan mendorong kenaikan IHSG secara signifikan. However, ketika kemudian hype ini meredup dengan sendirinya, maka IHSG juga otomatis tidak punya alasan untuk naik lebih tinggi lagi, dan kemungkinan itu pula yang menyebabkan indeks belakangan ini tertahan di level 5,300 – 5,400.
Lalu bagaimana kedepannya? That, only time will tell. Namun sebagai gambaran, pada tahun 2014 lalu pasar saham Indonesia juga pernah dilanda market hype terkait Pilpres, dimana hampir semua analis mengatakan bahwa perekonomian nasional yang sempat lesu di tahun 2013 akan pulih pada tahun 2014 ini, karena perputaran uang yang sangat besar terkait Pemilu dan Pilpres, dan sentimen tersebut langsung mendorong kenaikan IHSG bahkan sejak awal tahun. Kemudian pada bulan Maret, IHSG sempat melompat hingga 3% dalam sehari, setelah Jokowi pada hari itu resmi maju sebagai Calon Presiden (sejak awal, Jokowi merupakan calon presiden yang paling disukai para pelaku pasar). Dan seiring hasil quick count pada tanggal 9 Juli yang memenangkan pasangan Jokowi – JK, dilanjutkan dengan pelantikannya pada tanggal 20 Oktober (yang diluar dugaan berjalan sangat lancar, bahkan Pak Prabowo berbesar hati untuk turut hadir), maka market hype dengan judul ‘Jokowi Effect’ ini terus saja berlanjut, hingga IHSG akhirnya menutup perjalanan di tahun 2014 dengan kenaikan yang meyakinkan, yakni 22.3%.

Kenaikan dramatis IHSG di menit-menit terakhir perdagangan tanggal 14 Maret 2014, sesaat setelah Jokowi resmi nyapres.
Namun memasuki tahun 2015, kondisi ekonomi tiba-tiba menjadi lesu, dagang apa aja nggak laku, Rupiah terus saja melemah, dan para emiten melaporkan kinerja yang hancur lebur. Jadi ketika itulah, fenomena Jokowi Effect di pasar saham (yang bertahan cukup lama, lebih dari setahun), pada akhirnya mulai meredup dan tidak pernah menjadi populer kembali (sejak tahun 2015 lalu, nobody talk about Jokowi Effect anymore), dan IHSG ditutup anjlok 12.1% sepanjang tahun 2015.
Nah, jadi terkait tax amnesty ini maka analisisnya sederhana saja: Jika kedepannya Pemerintah mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan tax amnesty ini, dan penerimaan uang tebusan sukses meningkat hingga ke level dimana target Rp165 trilyun tadi menjadi realistis untuk dicapai, maka ‘hype’ yang sudah terjadi sejak dua bulan lalu seharusnya akan terus terjaga, dan IHSG berpeluang untuk naik lebih lanjut. Tapi jika tidak? Ya otomatis ‘hype’-nya akan hilang, orang-orang gak akan peduli lagi soal tax amnesty ini, dan akan balik lagi ke faktor fundamental. So, let’s hope bahwa kalaupun nanti market hype terkait tax amnesty ini pada akhirnya meredup, namun fundamental ekonomi tetap terjaga positif, minimal tidak memburuk lagi seperti tahun 2015 lalu (dan kabar baiknya, pertumbuhan ekonomi terakhir sudah di level 5.18%, jauh lebih baik dibanding pertengahan 2015 lalu, yang hanya 4.67%).
Sebab jika nanti antusiasme investor terkait tax amnesty ini benar-benar menghilang, sementara perekonomian/kinerja emiten juga tidak improve maka.. penulis sudah gak perlu ngasih tau lagi kan, IHSG bakal kemana?
Info Investor: Buletin Analisis IHSG & Stock Pick Saham Pilihan edisi September 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi & tanya jawab saham untuk member, langsung dengan [...]

Menentukan Timing Buy/Sell berdasarkan ‘Quiet Market Period’

Di artikel minggu lalu tentang IPO Waskita Beton Precast (WSBP), penulis menyampaikan tentang pentingnya faktor timing dalam menentukan apakah anda ikut IPO WSBP atau tidak, dimana jika anda menganggap bahwa IHSG masih berpeluang untuk naik lebih lanjut maka anda boleh ikut. Tapi jika anda menganggap bahwa IHSG sudah mahal dan bisa turun sewaktu-waktu, maka akan lebih aman jika nanti anda beli sahamnya di market. Jadi meski terdapat dua orang investor yang sama-sama menganggap bahwa WSBP layak investasi, namun keputusan untuk ikut IPO-nya bisa berbeda, tergantung jawaban mereka terhadap pertanyaan berikut: Apakah sekarang merupakan waktu yang tepat untuk belanja saham, entah itu WSBP atau lainnya?

Jadi dalam hal inilah, market timing menjadi penting. Secara defisini, market timing adalah strategi investasi dengan melihat perkembangan pasar/IHSG, dimana kita masuk ketika IHSG akan naik, dan keluar ketika IHSG akan turun. Poinnya disini adalah, kita memang tidak bisa memprediksi kapan IHSG akan naik atau turun, namun dengan pendekatan value investing maka kita bisa menilai apakah valuasi IHSG sudah mahal atau belum, dan memiliki fundamental yang baik atau tidak (berdasarkan kinerja terbaru para emiten).
Sehingga kalau kita melihat bahwa IHSG sudah naik banyak dan valuasinya juga sudah tinggi, sementara fundamentalnya juga terlalu bagus, maka kita bisa mengatakan bahwa cepat atau lambat dia akan turun. Sebaliknya, ketika IHSG turun drastis hingga valuasi ASII dkk menjadi murah, sementara kinerja para emiten serta perkembangan ekonomi makro juga gak sejelek itu, maka kita bisa mengatakan bahwa cepat atau lambat dia akan naik. Contoh untuk kasusnya adalah, pada Januari 2016 lalu, penulis mengatakan bahwa dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini dan itu, maka IHSG, yang ketika itu berada di posisi 4,500-an, cepat atau lambat akan naik. And indeed, meski pada Januari tersebut IHSG justru sempat longsor dulu ke 4,300-an (waktu itu karena ada cerita penurunan harga minyak, dan anjloknya Bursa China), tapi pada akhirnya dia naik lagi hingga ke posisi sekarang yakni 5,400-an (meski penulis sendiri, terus terang, waktu itu saya nggak menganggap bahwa IHSG bisa naik setinggi ini). Anda bisa baca lagi artikelnya disini.
Jadi jika pada Januari tersebut anda belanja saham, maka hari ini anda harusnya sudah meraih profit signifikan, apapun pilihan sahamnya (kecuali mungkin jika anda memilih saham blangsak, seperti BUMI dkk). Sebaliknya, jika anda baru memutuskan untuk masuk ketika IHSG sudah tembus 5,000-an beberapa waktu lalu, maka saham-saham anda mungkin tidak semuanya hijau, tapi ada juga yang nyangkut. Dalam hal inilah seorang investor mungkin akan mengalami kerugian dan itu mungkin bukan karena dia membeli saham jelek, melainkan karena ia masuk di waktu yang salah.
Nah, sebenarnya kalau kita ikuti petuah guru besar Warren Buffett, maka market timing ini tidaklah penting. Karena meski pasar bisa berfluktuasi dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang pada akhirnya dia tetap naik. Jadi asalkan anda beli saham bagus di harga murah, maka kalaupun dia turun dulu sejenak karena kebetulan IHSG-nya lagi turun, namun pada akhirnya dia akan naik lagi, karena IHSG juga tidak akan selamanya turun terus (dan sebaliknya, gak akan selamanya naik terus). Contoh paling gampang, tahun lalu PP Properti (PPRO)sempat turun dari 200-an hingga mentok di 130, karena terseret panic selling IHSG di bulan Agustus 2015. Tapi karena emang dasar barangnya bagus, maka ya anda bisa lihat sendiri, berapa PPRO sekarang. Jadi jika anda ketika itu mengabaikan IHSG dan tetap beli PPRO ini di harga 200, maka meski anda kemudian bakal nyangkut cukup dalam, tapi pada akhirnya anda tetap profit.

Namun demikian, terdapat dua perbedaan mendasar antara Opa Warren dengan kebanyakan investor-investor lainnya di seluruh dunia. Pertama, beliau punya ‘mesin cash’, yakni dari dividen Coca Cola dll, plus cash yang dihasilkan dari operasional perusahaan-perusahaan asuransi milik Berkshire. Pendek kata, jika beliau sewaktu-waktu butuh uang untuk belanja saham/nambah posisi di harga bawah, misalnya ketika terjadi market crash seperti tahun 2008 lalu, maka ia tidak perlu menjual sebagian sahamnya sebelumnya (untuk memperoleh cash tersebut), karena seiring dengan berjalannya waktu maka cash tersebut akan nongol sendiri. Kedua, secara psikologis, Opa Warren mungkin merupakan investor paling calm di dunia, bahkan sejak ketika dulu dia masih muda. Dalam 50 tahun terakhir sejak Buffett mengakuisisi Berkshire Hathaway di tahun 1964, Dow Jones beberapa kali mengalami krisis besar, dan saham Berskhire pernah anjlok lebih dari 50% sebanyak tiga kali. Ketika menghadapi situasi yang sangat sulit seperti itu, investor manapun bisa saja melakukan tindakan yang keliru (karena panik). But still, Buffett mampu melewatinya dengan baik, dan sampai sekarang beliau tetap konsisten mempraktekkan metode value investing yang sudah ia kuasai sejak tahun 1950-an.
Sementara kebanyakan investor tidak memiliki sumber cashflow (atau ada cashflow dari dividen, tapi nilainya masih kecil), sehingga ia harus menjual sebagian sahamnya untuk memperoleh cash untuk nanti beli lagi di harga bawah, jika benar bahwa pasar/IHSG kemudian turun. Dan kedua, meski penulis sendiri pernah beberapa kali memegang saham bagus yang harganya turun karena penurunan IHSG atau karena adanya sentimen negatif tertentu, dan kita ketika itu tetap santai-santai saja, tapi kebanyakan orang gak bisa santai begitu. Mau anda pegang saham sebagus Bank BRI (BBRI) sekalipun, tapi kalau nanti IHSG terkoreksi dan dia jeblok ke 8,000-an, maka tetap saja orang-orang akan panik, dan mungkin malah justru cut loss ketika seharusnya dia nambah posisi (tapi untuk nambah posisi ini juga gak bisa, karena cash sudah habis). Termasuk pada contoh PPRO diatas, bukan tidak mungkin anda justru malah cut loss di harga 130-an, hanya karena ‘Hayati lelah, Abang!’
Jadi kesimpulannya, market timing tetap penting untuk diperhatikan.
Okay, lalu bagaimana cara untuk mengetahui bahwa kita membeli dan menjual saham di waktu yang tepat, dalam hal ini berdasarkan posisi IHSG? Well, ini adalah pertanyaan semua orang dan jawabannya amat sangat panjang, dan kita  sudah berkali-kali membahas topik ‘kapan sebaiknya kita membeli/menjual saham?’ di blog ini, termasuk berdasarkan analisis IHSG (karena untuk menentukan timing untuk membeli atau menjual saham juga tidak selalu berdasarkan pergerakan IHSG, tapi juga berdasarkan kinerja fundamental dari emitennya sendiri, dll). Namun kali ini penulis akan membahasnya dari salah satu fenomena yang sering terjadi di pasar, yakni fenomena ‘Quiet Period’, here we go!
Yang dimaksud quiet period adalah periode waktu tertentu dimana saham-saham di BEI cenderung bergerak dengan volatilitas yang tipis, menurunnya volume transaksi harian, dan juga berkurangnya cerita-cerita (entah itu bernada positif atau negatif) yang biasanya ramai beredar di stock market. Contoh paling mudah adalah, pada bulan Juni kemarin, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, market cenderung sepi dimana nilai transaksi harian di BEI hanya Rp5 – 6 trilyun per hari, dan orang-orang lebih tertarik ngomongin soal siapa yang bakal juara Euro 2016, ketimbang soal tax amnesty dll. Sebenarnya cerita soal tax amnesty ini sudah ada sejak bulan April, waktu itu berbarengan dengan cerita Panama Papers, tapi baru booming di market setelah lebaran (dan itu juga yang bikin IHSG kemudian naik banyak).
Sementara IHSG, yang sudah naik ke level 4,800-an pada bulan Maret, hingga akhir Juni tersebut masih tetap berada di 4,800-an. Namun perhatikan: Sebelum bulan Juni, pasar masih ramai dengan cerita-cerita penurunan NIM perbankan, perubahan BI Rate menjadi BI 7-day Rate, ‘Sell in May and Go Away’, jatuhnya harga minyak, penurunan Bursa China, dll, dan orang-orang ketika itu masih serba bingung, apakah sekarang waktunya untuk belanja atau tidak? Jatuhnya saham-saham perbankan merupakan kesempatan atau bukan? Dan seterusnya.
Tapi memasuki bulan Juni, tiba-tiba saja market menjadi sepiiiii.. Berbagai sentimen positif ataupun negatif bukannya tidak ada, ada banyak malah, hanya saja orang-orang cenderung tidak peduli. Posisi IHSG ketika itu juga tidak terlalu mendatar, melainkan justru mulai naik dari 4,700-an di bulan Mei hingga balik lagi ke 4,800-an, namun sekali lagi, ketika itu orang-orang tidak peduli. Market baru heboh lagi setelah adanya ‘wake up call’ dari Inggris sana, ketika referendum Brexit memutuskan bahwa Inggris harus keluar dari Uni Eropa, yang sehari kemudian langsung ditutup oleh cerita Tax Amnesty (baca lagi ceritanya disini). Dan pasar baru benar-benar menggila setelah libur panjang lebaran, dimana IHSG dengan cepat naik hingga ke posisi sekarang, dan hampir semua saham menghasilkan profit extraordinary.
Nah, entah anda memperhatikan atau tidak, namun situasi ‘quiet market’ juga pernah terjadi pada tahun 2015 lalu, tepatnya juga di bulan Juni, dimana IHSG ketika itu mulai turun dari 5,500 ke posisi 4,800-an, tapi orang-orang tidak peduli (termasuk yang nyangkut juga cuek aja, gak pake marah-marah di Facebook), market cenderung sepi, kemungkinan karena ketika itu juga lagi bulan puasa. Namun setelah lebaran di bulan Juli, IHSG tanpa ampun langsung longsor hingga mencapai titik terendahnya di bulan Agustus, dan ketika itulah pasar ramai lagi, dalam hal ini ramai panic selling, plus ramai cerita-cerita yang entah nongol dari mana, bahwa Indonesia krisis bla bla bla.
Sebenarnya masih ada banyak lagi contoh di tahun-tahun lalu tentang situasi ‘pasar sepi’ ini, namun intinya adalah, situasi ‘quiet market’ seringkali merupakan awal dari kehebohan pasar yang luar biasa, entah itu IHSG-nya naik tinggi atau sebaliknya jeblok sekalian. Menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam dua minggu terakhir, pasar saham Amerika juga mengalami situasi paling tenang dalam beberapa tahun terakhir, dimana Dow Jones, S&P, dan Nasdaq cenderung gak kemana-mana setelah sebelumnya naik banyak (posisi Dow saat ini berada di all time high-nya), dan mulai ada banyak analis yang mengingatkan bahwa sebelum pasar mulai turun banyak di tahun 2008, 2011, dan 2015 lalu, maka selalu diawali dengan periode ‘quiet’ seperti ini terlebih dahulu.
Sementara di Indonesia? Well, entah anda bisa merasakannya atau tidak, namun sepanjang Agustus ini IHSG juga kembali ‘quiet’.. dimana cerita tax amnesty sudah menguap, kenaikan saham-saham BUMN serta right issuenya tidak begitu diperhatikan pasar, and nobody talk about cuan or nyangkut anymore so.. what do you think? Is it a ‘calm before storm’, or ‘calm before another bullish’?
Sudah tentu, untuk menjawab pertanyaan diatas maka anda harus menganalisis pasar lebih dalam lagi dengan melihat kinerja terbaru emiten, perkembangan ekonomi makro, kondisi market global, dll. Namun yang terpenting disini adalah, apapun pendapat anda entah itu pasar akan lanjut naik atau turun setelah ‘masa tenang’ ini, tapi pengalaman mengajarkan bahwa, jika anda hendak membuat keputusan investasi entah itu membeli atau menjual (apapun pilihan sahamnya), maka sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya, sebelum nanti pasar ramai lagi dan IHSG terlanjur naik banyak (sehingga anda terlambat belanja), atau sebaliknya terlanjur turun banyak (sehingga anda terlambat jualan). I mean, kalau anda mau naik kereta, maka anda harus naik (atau turun) ketika kereta itu sedang berhenti di stasiun bukan? Jadi jangan pas dia udah jalan lagi lalu baru anda kejar-kejar!
Info: Buletin Analisis IHSG & Stock Pick Saham Pilihan edisi September 2016 akan terbit tanggal 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi & tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Analisis IPO Waskita Beton Precast

IPO Waskita Beton Precast mungkin merupakan IPO yang paling ramai dibicarakan di market di tahun 2016 ini, karena beberapa faktor. Pertama, dia BUMN, dimana kalau melihat IPO-IPO BUMN sebelumnya yang terbilang sukses dari sisi kenaikan harga sahamnya, seperti Wijaya Karya Beton (WTON) atau PP Properti (PPRO), maka IPO Waskita Beton ini juga diprediksi akan sukses. Kedua, ketika IHSG naik banyak dalam tiga bulan terakhir ini, maka saham-saham BUMN lapis dua (yang harga sahamnya di nominal ratusan Rupiah) naiknya lebih banyak lagi, dan harga perdana Waskita Beton ini kebetulan juga akan berada di level Rp400 – 500 per saham. Dan ketiga, Waskita Beton bergerak di bidang yang berhubungan langsung dengan pembangunan infrastruktur, yakni pembuatan beton precast dan ready mix untuk konstruksi jalan raya, jembatan, dll, dimana sejak setahunan lalu, boleh dibilang tidak ada cerita lain yang lebih hot dan konsisten di market kecuali soal pembangunan infrastruktur ini.

Namun terkait perusahaannya sendiri, apakah anda mengerti apa itu beton precast dan ready mix? Lalu bagaimana prospek, risiko usaha, serta track record kinerja perusahaan baik secara historis maupun yang terbaru? Okay, kita akan membahasnya disini.
Waskita Beton adalah anak usaha dari Waskita Karya (WSKT), dimana sebagai perusahaan konstruksi, WSKT tentunya memiliki unit usaha di bidang pembuatan beton precast, yakni beton semen untuk konstruksi jalan layang, tiang listrik, gorong-gorong, bantalan rel kereta api dll, yang dicetak di pabrik lalu dikirim satu per satu ke lokasi konstruksi, untuk kemudian dipasang. Berikut adalah gambar beberapa jenis beton precast yang diproduksi perusahaan (klik gambar untuk memperbesar):

Hingga Juni 2016, Waskita Beton memiliki delapan pabrik beton precast yang berlokasi tak jauh dari proyek-proyek konstruksi milik WSKT (umumnya konstruksi jalan tol), yakni di Cibitung (Cikarang), Sadang (Subang), Kalijati (Subang), Purwadadi (Subang), Karawang, Serang, Sidoarjo, dan Palembang. Sekitar 87% pendapatan Waskita Beton berasal dari penjualan beton precast, umumnya ke sesama anak usaha WSKT, dan selebihnya berasal dari penjualan ready mix, yakni beton cor yang dicetak langsung di lokasi konstruksi (pake truk molen yang gede itu lho). Waskita Beton membukukan laba bersih Rp230 milyar per Kuartal II 2016, yang mencerminkan annualized ROE 24.7% berdasarkan nilai ekuitas Rp1.9 trilyun, atau cukup baik. Pada tahun 2014 dan 2015, ROE Waskita Beton juga stabil diatas 20% per tahun.
Nah, ketika Pemerintahan baru dibawah Presiden Jokowi resmi dilantik pada bulan Oktober 2014, PT Waskita Beton Precast juga langsung didirikan pada bulan Oktober tersebut, ketika itu dengan target untuk IPO tiga tahun kemudian (berdasarkan peraturan BEI, sebuah perusahaan/PT baru bisa IPO setelah berdiri dan beroperasi minimal tiga tahun sebelumnya). Jadi ketika pemerintah dengan cepat mengucurkan dana ke BUMN-BUMN termasuk WSKT untuk membangun infrastruktur melalui mekanisme penyertaan modal negara (atau right issue, jika BUMN tersebut berstatus sebagai perusahaan Tbk), dimana WSKT sudah melakukan right issue-nya pada tahun 2015 kemarin, maka juga terdapat opsi untuk meraup dana tambahan dari investor di pasar modal melalui mekanisme IPO.
Tapi kalau WSKT sejak awal sudah listing di BEI, lalu perusahaan apa yang akan di-IPO-kan? Ya bisa IPO anak usahanya. Kalau WSKT gak punya anak usaha gimana? Ya tinggal ke notaris, bikin PT dimana WSKT menjadi pemegang sahamnya (jadi PT baru ini berstatus sebagai anak usaha WSKT), kemudian letakkan sebagian lini usaha WSKT dibawah PT yang baru ini, lalu tunggu 3 tahun. Maka kemudian lahirlah PT Waskita Beton Precast ini. Dalam kasus IPO Waskita Beton ini memang Pemerintah tidak perlu nunggu sampai 3 tahun sejak pendirian perusahaan (Waskita Beton akan listing tanggal 20 September nanti, atau gak sampai 2 tahun sejak pendirian perusahaan), tapi sepertinya dalam hal ini BEI melakukan pengecualian, karena ini urusannya sama bos besar (baca: Pemerintha).
Jadi kalau anda ikut IPO Waskita Beton ini, maka secara tidak langsung anda turut berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur yang digalang oleh pemerintah. Dari IPO-nya, Waskita Beton akan memperoleh tambahan modal sekitar Rp4 trilyun, yang akan sepenuhnya digunakan untuk modal kerja (pembelian bahan baku, gaji karyawan, dll), investasi pembangunan pabrik beton baru, dan meningkatkan kapasitas produksi dari pabrik-pabrik yang sudah ada. Berhubung WSKT sebagai induk perusahaan sudah memperoleh banyak sekali kontrak konstruksi hingga beberapa tahun kedepan, terutama pembangunan jalan tol dan jaringan transmisi listrik di Jawa dan Sumatera (dan WSKT sendiri tahun kemarin sudah memperoleh tambahan dana Rp5 trilyun dari right issue untuk mengerjakan proyek-proyek tersebut), maka Waskita Beton sepertinya tidak perlu khawatir kekurangan pembeli untuk produk-produk beton yang akan dihasilkan nanti, karena sejak awal pembelinya sudah ada. Total nilai kontrak yang diperoleh WSKT sendiri sampai Juni 2016 tercatat Rp45.7 trilyun, atau kembali meningkat signifikan dibanding tahun 2014 dan 2015, dan ini belum termasuk tambahan kontrak yang bisa diperoleh perusahaan di masa yang akan datang. So, kalau bicara prospek maka cukup jelas bahwa Waskita Beton ini menawarkan prospek investasi jangka panjang yang menguntungkan.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Melalui IPO-nya, Waskita Beton akan melepas 10.5 milyar lembar saham baru yang mencerminkan 40% jumlah saham beredar perusahaan. Let say kita ambil harga terendah, yakni Rp400 per saham, maka Waskita Beton akan memperoleh dana Rp4.2 trilyun, sehingga nilai ekuitas perusahaan pasca IPO adalah Rp6.1 trilyun. Karena jumlah saham Waskita Beton setelah IPO adalah 26.4 milyar lembar, maka nilai bukunya adalah Rp231 per saham, sehingga PBV-nya 400 / 231 = 1.7 kali.
Dan berhubung saat ini PBV dari saham-saham konstruksi di BEI rata-rata mencapai 2 atau bahkan 3 kali, maka PBV segitu sekilas tampak murah. Namun perhatikan pula: Valuasi saham-saham konstruksi belakangan ini memang lagi tinggi-tingginya seiring dengan bullish IHSG, atau dengan kata lain valuasi saham konstruksi pada saat ini tidak mencerminkan rata-rata valuasi mereka dalam jangka panjang, karena kita tahu bahwa IHSG juga tidak selalu tinggi seperti sekarang, melainkan diwaktu-waktu yang lain pernah turun juga, dan akan turun lagi suatu waktu nanti, karena itu merupakan siklus pasar yang normal.
Contohnya, ketika IHSG berada di posisi bottom pada Agustus 2015 lalu, maka saham-saham konstruksi/properti ketika itu juga turun cukup dalam, hingga PBV Adhi Karya (ADHI) (ini salah satu saham favorit penulis di sektor konstruksi) sempat hanya 1.4 kali. Demikian pula dengan PP Properti (PPRO), yang jeblok sampai Rp130 per saham dimana PBV-nya pada harga segitu cuma 0.9 kali. Contoh lainnya, pada tahun 2013, IHSG sempat melaju kencang dari 4,300-an hingga tembus 5,250 pada pertengahan tahun (naik hampir 1,000 poin hanya dalam waktu enam bulan), dan ketika itu ADHI dkk juga naik gila-gilaan hingga PBV mereka mencapai 4 kali atau bahkan lebih. Tapi di semester dua-nya, IHSG mulai turun dan terus turun, hingga balik lagi ke 4,200-an. Sementara ADHI? Well, dari sebelumnya dia naik dari 2,500 sampai sempat menyentuh 4,000, tapi selanjutnya dia turun ke posisi yang bahkan lebih rendah dari sebelum dia naik, yakni 1,400-an. Dan pada harga bottom-nya tersebut, PBV-nya hanya 1.4 kali.
Intinya sih, kalau kita pakai rata-rata valuasi saham konstruksi dalam jangka panjaaaang, katakanlah dalam 5 tahun dimana selama itu tentunya IHSG akan mengalami periode bullish dan bearish-nya secara bergantian, maka PBV saham-saham konstruksi sebenarnya bukan 2 – 3 kali, melainkan lebih rendah dari itu, kurang lebih sama saja seperti rata-rata PBV saham lain pada umumnya. Malah justru, karena saat ini PBV saham-saham konstruksi berada di level 2 – 3 kali, maka artinya posisi IHSG sekarang ini sudah cukup tinggi, dimana meski dalam jangka pendek bukan tidak mungkin IHSG naik lebih tinggi lagi (karena dimasa lalu, PBV WSKT dkk bahkan bisa mencapai 3.5 – 4 kali), tapi dalam jangka panjang pada akhirnya IHSG akan turun untuk menyesuaikan diri. Dan itu, sekali lagi, merupakan siklus pasar yang sangat normal.
Antara Siklus Pasar dan Timing
Kemudian kalau berdasarkan pengalaman, ketika sebuah emiten IPO maka sahamnya akan mengalami semacam masa transisi, dimana keputusan investor untuk membeli atau menjual sahamnya akan lebih dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak terkait langsung dengan fundamental perusahaan, yakni (seperti yang sudah disebut diatas): 1. Sejarah IPO-IPO sebelumnya, 2. Harga nominal saham, dimana saham dengan nilai nominal ratusan Rupiah biasanya naiknya lebih tinggi dibanding saham dengan nilai nominal ribuan, dan 3. Sentimen positif/negatif yang beredar.
Dan yang paling penting dari semuanya adalah: Kondisi pasar. Anda tahu kenapa IPO Waskita Beton ini ramai dibicarakan di publik dan diprediksi bakal sukses? Well, itu bukan karena perusahaannya bagus, sahamnya murah, atau semacamnya, karena tidak semua orang bisa menganalisis hal-hal tersebut. Yang benar adalah karena parena pasarnya lagi bagus, dimana IHSG lagi naik dan hampir semua orang sedang dalam posisi cuan sehingga punya cukup duit untuk beli saham baru (baca: saham IPO), apalagi jika saham baru tersebut terkait dengan sentimen positif yang sedang beredar, dalam hal ini pembangunan infrastruktur.
Tapi jika besok-besok IHSG turun, maka ya cerita IPO-nya bakal sepi lagi, dan sahamnya boro-boro melompat seperti yang diprediksi sebelumnya, melainkan bisa saja malah langsung nyungsep. Jadi dalam hal ini faktor timing sangat mempengaruhi kesuksesan IPO. IPO Wijaya Karya Beton (WTON) pada April 2014 lalu terbilang sukses karena IHSG ketika itu lagi naik, dan di bulan-bulan selanjutnya terus saja naik. Namun cerita berbeda dialami PP Properti (PPRO), yang meski sahamnya juga sempat melompat dari 185 ke 250 dalam hitungan hari setelah listing perdana di bulan Mei 2015, tapi karena IHSG-nya ketika itu mulai longsor maka sahamnya pun turut longsor hingga mentok di 130 pada Agustus 2015. Cerita yang lebih tragis lagi dialami Garuda Indonesia (GIAA), yang juga melakukan IPO besar-besaran pada Februari 2011, tapi pas banget ketika itu IHSG-nya lagi turun. Alhasil saham IPO-nya bahkan tidak laku dijual, dan setelah listing tanpa ampun sahamnya langsung jeblok dari harga perdana 750, hingga akhirnya mentok di 200-an.
Jadi selama ‘masa transisi’ inilah, pergerakan saham-saham IPO akan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti fluktuasi IHSG, cerita yang beredar, dll. Kemudian setelah beberapa bulan atau maksimal satu tahun, maka barulah orang-orang akan balik lagi ke faktor fundamental dan prospek usaha jangka panjang. PPRO bisa naik lagi ke posisi sekarang karena memang kinerjanya bagus. Sementara GIAA, meski belakangan ini juga lagi naik seiring dengan euforia saham-saham BUMN, namun hingga 2015 lalu dia hanya mondar-mandir saja di harga bawah, karena memang kinerjanya jelek.
Kesimpulannya, untuk Waskita Beton ini juga sama: Kinerjanya bagus, prospeknya bagus, dan valuasinya cukup wajar. Tapi selama masa transisi-nya nanti, maka orang-orang tidak akan memperhatikan hal tersebut, melainkan lebih melihat kondisi IHSG dan lain-lain. Sehingga sekarang pilihannya ada dua: Jika anda berpendapat bahwa bullish IHSG masih akan berlanjut dalam jangka pendek, setidaknya sampai tanggal 20 September nanti (karena Waskita Beton akan listing perdana pada tanggal tersebut), then go ahead, anda bisa langsung join IPO-nya dari sekarang. Don’t worry, Waskita Beton ini barang bagus kok.
Tapi jika anda berpendapat bahwa posisi IHSG pada saat ini sudah berisiko dan bisa balik arah sewaktu-waktu, maka anda bisa masuk belakangan dengan cara membeli sahamnya nanti di market, kalau bisa tunggu selama beberapa bulan hingga ‘masa transisi’ saham Waskita Beton ini berakhir, sambil terus melihat perkembangan kinerja terbaru perusahaan dari kuartal ke kuartal. Intinya sekali lagi, Waskita Beton ini bagus indeed, tapi ini cuma soal timing saja.
PT Waskita Beton Precast, Tbk
Rating kinerja pada Kuartal II 2016: A
Rating Saham pada 400: A
Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Seminar Value Investing, Surabaya, 27 Agustus 2016

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema ‘Value Investing – Buy at Lowest Price, Sell at Highest’, di Surabaya. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Surabaya dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:


Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:

  1. Belajar konsep Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham (profit taking, cut loss).
  3. Strategi diversifikasi yang efektif untuk memaksimalkan potensi profit dan menekan risiko loss, sekaligus money management
  4. Cara untuk melihat tanda-tanda bahwa IHSG akan bullish/bearish (sehingga kita bisa beli saham sebelum IHSG naik, dan jual sebelum IHSG turun)
  5. Terkait poin 4 diatas, how to buy stocks at lowest price, then sell it later at an unbelievably high price.
  6. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
Bonus Materi:
  1. Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing.
  2. Analisa situasi dan arah IHSG hingga akhir tahun 2016, serta bagaimana cara membuat investment planning yang efektif berdasarkan analisa tersebut.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak  profit yang konsisten dan beat the market dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel Amaris Embong Surabaya, Jln. Kedung Doro No.1 – 3, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 27 Agustus 2016
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.30 WIB
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, audiobook (penjelasannya dibawah).
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Basuki Tjahaja Purnama, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika nanti setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan Grup-nya akan digabung dengan alumni seminar-seminar sebelumnya biar rame.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Diskon Grup! Jika anda mendaftar untuk 2 peserta sekaligus, maka biayanya jadi Rp650,000 per peserta. Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, maka biayanya jadi Rp500,000 per peserta.

Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis bersama peserta seminar Value Investing, Jakarta, 30 Juli 2016
Komentar Alumni:
Pak teguh..  Saya sudah baca smua ebook bapak. Q2 dan Q1.. Betapa saya menyesal pak dulu Mei awal tidak beli ebook q1 bapak.. Pelit uang kecil. Hilang uang besar. Jujur saya 15-20an Mei panik dan kosongkan porto. Ikutan panic selling saya pak.. Bbni saya jual smua di 4400an. Padahal modal Average 4650.. Asii jual 6250. Modal 6600. Smgr jual 8900. Modal 9500

Sebuah langkah yang salah total
.

Saya barusan  TP sril di avg 291 pak.  Modal 270an.. Sehari sebelum naik 300 sebentar
terus tutup 284 ini. Saya jual krn saya liat ihsg daily kok bikin lower high. Posisi saya skrg pegang bbkp pak.. Krn saya melihat potensi mirip2 bjbr. Bisa terbang sewaktu2. Cuma juga ada ancang2 keluar klo ihsg longsor

Hmm inti nya saya mau ucapkan terima kasih pak teguh..  Saya merasa beruntung bisa mengenal pak teguh dan sudah mengambil keputusan tepat terbang ke jkt demi ikut seminar bapak [saya org sby]
. Dan beli ebook bapak. Semoga pak teguh terus diberkati Tuhan dan memberikan manfaat bagi orang2 banyak ya pak.
Oh dan recomendasi di ebooknya muantab banget. pak.. Kelihatan jelas dari ebook Q1, kalo value investing works. Banyak saham e yg sudah terbang. Lipat2 bahkan. Saya ikutin ini bbkp ya pak..  Semoga terbang seperti bjbr.. Dari smua saya feeling bbkp. Sama pnlf. Cuma mungkin pnlf pingin di 200an. Atau sril 260an lg klo dapat. Hehe.

Denny Wangsaputra – Surabaya (Alumni Seminar Jakarta, 30 Juli [...]

Prospektus IPO Waskita Beton Precast

Belakangan ini di market sedang ramai dibicarakan tentang IPO Waskita Beton Precast, yakni salah satu anak usaha dari Waskita Karya (WSKT) yang bergerak di bidang pembuatan beton precast dan ready mix. IPO Waskita Beton ini menarik karena, jika menilik IPO-IPO anak usaha BUMN sebelumnya seperti Wijaya Karya Beton (WTON), atau PP Properti (PPRO) dimana sahamnya sukses naik banyak, apalagi saham-saham BUMN lainnya juga terus naik akhir-akhir ini, maka perkiraan kasarnya adalah bahwa saham Waskita Beton ini juga bakal naik banyak, terutama jika pada September nanti (sahamnya listing perdana tanggal 20 September) IHSG-nya gak keburu turun.

Nah, bagi anda anda belum membaca prospektusnya, maka anda bisa men-download-nya disini.

Dan berhubung penulis sendiri sudah menerima banyak request untuk analisis Waskita Beton ini, maka kita akan mempublikasikan analisisnya di blog ini, paling lambat hari Rabu nanti. Namun untuk sekarang saya mengajak temen-temen investor dan analis untuk menyampaikan analisis anda masing-masing, untuk menjadi informasi bagi teman-teman pembaca lainnya. Anda bisa menulis analisis anda melalui kolom komentar dibawah.
Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Ebook Analisis Kuartal II 2016

Dear investor, setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuanga para emiten untuk periode Kuartal II 2016. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, reputasi baik, perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, dan saat ini dia sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya, klik untuk memperbesar.

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya bisa baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB D0E5C05A.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com
TESTIMONIAL
Selamat pagi Pak teguh… Saya mau mengucapkan terimakasih banyak pak… Curhat lagi saya Pak.. Pertama email Pak teguh itu saya mines 150 juta dari modal 300 juta, agak kecewa juga pak teguh suruh cut loss BWPT dan saham apa gitu saya lupa waktu itu, kemudian saya ikutin Porto Bapak, beli IMJS di 344 dan INDS di 840.  Kemaren saya lepas IMJS di 498 dan INDS tadi di 1280 an tadi, karena saya parno mines terus pak.. alhamdulilah.. total gain tadi sekitar 73 juta lebih.. Mkasih banyak ya Pak.. Harga ebook dan Buletin bulanannya bener2 gak sebanding ama hasilnya Pak.. Saya hanya bisa mendoakan bapak dan Team sehat terus..  Biar analisa nya lebih bagus lagi, hihiiiiii.. Makasih yah Pak…
Widya Olivia – [...]

Value Opportunity: WOM Finance

Dalam berinvestasi di saham, ada banyak keuntungan jika anda memilih untuk menggunakan metode value investing. Yang pertama, anda bisa beli saham kemudian ditinggal tanpa perlu dilihat-lihat lagi (kecuali beberapa waktu sekali, katakanlah sebulan sekali), sehingga anda punya banyak waktu untuk melakukan apapun kegiatan yang anda sukai secara rileks dan santai. Dan kedua, anda berpeluang untuk menemukan ‘mutiara terpendam’, yakni saham yang bisa jadi menawarkan profit extraordinary hingga ratusan persen, hanya dalam waktu yang relatif singkat.

Dan meski peluang emas seperti itu tentunya tidak selalu muncul setiap hari, namun berdasarkan pengalaman selama ini, dalam satu tahun biasanya kita bisa memperoleh paling tidak dua hingga tiga ‘value opportunity’ seperti itu, dan jumlahnya bisa lebih banyak lagi kalau IHSG sedang bersahabat.
Salah satu peluang tersebut adalah WOM Finance (WOMF). Penulis pertama kali menemukan WOMF ini pada awal tahun 2016 kemarin ketika sahamnya masih berada di level 75 – 80 perak, dan fakta menarik adalah, WOMF ketika itu sudah cukup lama hanya mondar mandir di rentang 75 – 80 tersebut, yakni sejak Agustus 2015 (sudah beberapa bulan). Sementara sebelum Agustus tersebut, WOMF cenderung turun dari level 200-an di tahun 2013 – 2014, dan bahkan dari posisi yang lebih tinggi lagi di tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan pengalaman, kalau ada saham yang sebelumnya dihargai cukup tinggi namun kemudian turun terus, maka biasanya itu adalah saham dari perusahaan yang memiliki kinerja yang sedang tidak bagus (makanya sahamnya turun). Tapi ketika penurunan saham tersebut akhirnya berhenti untuk kemudian bergerak mendatar di rentang harga tertentu (plus volume transaksinya menjadi tidak likuid), maka kemungkinan valuasinya sudah sangat murah di rentang harga tersebut sehingga sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi, tapi juga belum mau naik dulu karena kinerja perusahaan juga masih jelek.

And holaaaa.. Ketika penulis mengecek WOMF ini ternyata benar: Pada tahun 2013, perusahaan mencetak laba bersih Rp67 milyar, namun di tahun berikutnya (2014) laba tersebut turun menjadi Rp37 milyar, dan turun lagi menjadi Rp25 milyar di 2015. Karena pada tahun 2015 kemarin IHSG juga lagi merah membara hingga mencapai puncaknya pada panic sellingdi bulan Agustus (coba baca lagi deh artikelnya, komentarnya lucu-lucu), maka sahamnya juga tanpa ampun jeblok sampai 80 perak di bulan Agustus tersebut, dan setelah itu gak naik-naik lagi sampai awal tahun 2016.

Tapi meski WOMF belum naik-naik lagi, tapi ternyata dia juga gak turun lebih lanjut, katakanlah sampai gocap. Disisi lain perusahaannya juga gak pernah kedengaran ada masalah seperti pada saham TRAM, SIAP, atau lainnya. Ketika itulah penulis cek valuasi WOMF ini, dan lagi-lagi benar: Pada harga Rp80 per saham, PBV WOMF hanya 0.4 kali, dan itu merupakan valuasi terendah yang mungkin bisa dicapai bagi saham-saham dari perusahaan yang sejatinya bukanlah perusahaan jelek, melainkan kinerjanya lagi lesu saja.
Jadi ketika itulah penulis berkesimpulan: Kalau nanti WOMF ini kembali membukukan kinerja bagus, katakanlah labanya naik di Kuartal I 2016, maka ketika itulah sahamnya layak buy, karena besar kemungkinan dia akan langsung terbang tak lama kemudian.

Aaaaaannd.. beruntung sekali, memang itulah yang terjadi dimana pada Kuartal I 2016 kemarin (laporan keuangannya keluar akhir Maret 2016), WOMF membukukan laba Rp21 milyar, yang jika disetahunkan sama dengan Rp84 milyar, atau sudah lebih besar dibanding laba bersih tertingginya di tahun 2013 sebesar Rp67 milyar. Dan setelah penulis pelajari lagi, kinerja WOMF bisa pulih karena memang sektor usaha yang dijalani perusahaan, yakni jasa pembiayaan atau leasing sepeda motor, belakangan ini mulai pulih setelah pada tahun 2012 lalu digencet oleh berbagai peraturan dari Bank Indonesia (BI) untuk membatasi penyaluran kredit kendaraan bermotor, seperti kebijakan loan to value (LTV) dan lainnya, untuk menghindari credit bubble. Dan itu seketika membuat bisnis leasing motor mati suri karena jumlah pembeli motor otomatis menurun drastis, setelah mereka ‘dipaksa’ membayar uang muka hingga 4 – 5 juta Rupiah, untuk membeli motor seharga Rp16 juta.

Namun meski para pembeli motor awalnya juga kaget ketika mereka harus membayar uang muka yang tinggi, tapi lama-lama mereka terbiasa juga, dan jumlah pembeli motor secara leasing kemudian kembali meningkat dengan sendirinya, terutama setelah para automaker terkemuka seperti Honda, Yahama, Suzuki, dan Kawasaki, tanpa henti-hentinya meluncurkan model-model sepeda motor terbaru, yang secara tidak langsung memaksa para bikers untuk mengganti sepeda motornya. Dan karena belakangan ini tingkat inflasi mulai terkendali, maka BI juga mulai kembali melonggarkan kebijakan penyaluran kredit, dan alhasil para sales kredit motor kembali semangat dalam memasarkan produknya (berdasarkan pengamatan penulis sendiri kalau jalan-jalan naik motor ke kampung-kampung, belakangan ini banyak banget orang yang jualan jasa kredit motor di pinggir jalan pake brosur-brosur gitu).
Kesimpulannya, WOMF ini valuasinya sangat terdiskon, kinerjanya mulai pulih, dan prospek kedepannya juga cerah, terutama karena perusahaan, meski terkesan sebagai perusahaan kecil karena sahamnya juga cuma recehan, tapi sejatinya merupakan salah satu perusahaan pembiayaan terbesar di tanah air, dengan reputasi merk yang juga cukup kuat (WOM Finance itu lumayan terkenal, hanya kalah populer dibanding Adira). Jadi ya sudah: Kami membeli WOMF dalam jumlah cukup besar (meski harus pelan-pelan masuknya, karena WOMF ini waktu itu nggak likuid), dan dia  kemudian menjadi salah satu pegangan utama penulis sampai dengan saat ini (analisisnya juga sudah dibahas di Ebook Kuartal I kemarin), terutama setelah pada Kuartal II barusan, dia masih membukukan kinerja yang cukup baik.
Tapi ngomong-ngomong WOMF sekarang sudah di 199, alias sudah naik tinggi banget. Jadi bagaimana kedepannya? Apakah dia masih bisa naik lagi? Well, mari kita cek. Pada harga 199 tersebut, PBV WOMF masih 0.9 kali, tapi PER-nya sudah 9.0 kali. Dan valuasi segitu, meski memang tidak lagi semurah ketika dia masih di 80 perak, namun masih relatif rendah dibanding saham-saham lain yang udah gila-gilaan mahalnya, seiring dengan kenaikan IHSG. Dan kalau berdasarkan pengalaman penulis di PP Properti (PPRO), maka kalau kita nemu barang bagus di harga diskonan begini maka seringkali kenaikannya bisa sampai level yang mungkin tidak pernah terbayang sebelumnya, tergantung kegilaan pasar. I mean, jika anda sudah pegang WOMF ini sejak awal, maka gak usah buru-buru keluar, just let the profit run!
Sementara jika anda baru mau masuk, maka pertama-tama anda harus bisa melihat bahwa kinerja WOMF seharusnya akan bagus terus minimal sampai akhir tahun nanti, jadi hingga akhir tahun itu pula, sahamnya berpeluang akan naik terus (kecuali mungkin jika besok-besok IHSG turun). Jadi dalam hal ini pergerakan harian WOMF tidaklah berarti apapun karena kita harus menjadikan WOMF ini minimal sebagai investasi jangka menengah, dimana kalau anda mau masuk ya tinggal langsung masuk aja, tapi bisa juga sambil nyicil, sambil mengetes bahwa kalau nanti WOMF ini turun, maka dia turunnya sampai level berapa.
PT WOM Finance, Tbk (WOMF)
Rating Kinerja pada Q2 2016: A
Rating saham pada 199: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere sedang dalam posisi memegang WOMF di average 110, posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Info Investor: Buku kumpulan analisis saham-saham pilihan edisi Kuartal II 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya