Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Konsultasi: Buyback Saham, Dividen, dan Pemberitaan Emiten

1. Pak Teguh, saya dengar Semen Baturaja (SMBR) melakukan aksi buyback. Itu maksudnya apa sih? Dan apa pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan?
Pada tanggal 17 September 2013, manajemen SMBR mengumumkan bahwa jika dibutuhkan, mereka siap untuk melakukan aksi buyback saham alias pembelian kembali saham perusahaan di bursa, dalam rangka menjaga harga sahamnya agar tetap stabil. Keputusan tersebut diambil setelah pada penghujung bulan Agustus 2013, IHSG terkoreksi secara sangat signifikan sementara saham SMBR sendiri turun dari 560 ke 360. Jumlah dana yang disiapkan untuk aksi buyback tersebut adalah maksimal Rp102 milyar, yang diambil dari posisi kas perusahaan (per Kuartal II 2013, SMBR memiliki cash lebih dari Rp1.5 trilyun, hasil dari IPO-nya).

Yang perlu dicatat disini adalah bahwa perusahaan hanya akan melakukan buyback tersebut jika dibutuhkan, yakni jika saham SMBR turun secara tidak terkendali. Jadi jika pergerakan SMBR masih normal, maka mereka tidak akan melakukannya buyback tersebut. Tapi jika mereka benar-benar melakukan buyback secara maksimal, maka posisi kas perusahaan akan berkurang sebesar Rp102 milyar. Jika dana cash tersebut bersifat urgent untuk operasional perusahaan, untuk membiayai kegiatan ekspansi tertentu, atau membayar utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, maka kegiatan usaha perusahaan mungkin akan terganggu. Namun dalam kasus SMBR, dana cash Rp102 milyar tersebut diambil dari ‘dana nganggur’ yang baru akan digunakan dalam beberapa waktu kedepan untuk membangun pabrik semen baru di Baturaja, dimana pabrik itu sendiri dijadwalkan baru akan beroperasi pada tahun 2016. Jadi dalam hal ini aksi buyback tersebut tidak akan berpengaruh apapun terhadap kinerja SMBR, namun diharapkan akan mampu menjaga harga sahamnya dari penurunan lebih lanjut akibat volatilitas pasar.
Kalau yang penulis perhatikan, perusahaan-perusahaan BUMN umumnya cukup sigap dalam berupaya menjaga harga sahamnya agar tidak turun terlalu rendah, termasuk tidak keberatan jika mereka harus keluar dana untuk melakukan hal itu (melalui buyback). Contohnya waktu puncak krisis global tahun 2008 lalu, konsorsium BUMN secara bersama-sama menyiapkan dana Rp4 trilyun untuk membeli kembali saham-saham BUMN di bursa. Para BUMN ini ketika itu berani untuk memborong saham-saham BBRI, SMGR, dkk pada harga bawah, karena mereka cukup yakin bahwa valuasi saham-saham tersebut ketika itu sudah sangat rendah jika dibandingkan dengan kualitas fundamental perusahaan, sehingga pada akhirnya nanti mereka akan naik juga. Dan ternyata memang benar.
Tapi disisi lain mungkin itu pula sebabnya dua perusahaan BUMN, yakni Krakatau Steel (KRAS) dan Garuda Indonesia (GIAA), tidak pernah mengumumkan bahwa mereka akan melakukan buyback, karena kinerja perusahaannya sampai sekarang masih amburadul, sehingga perusahaan belum bisa menentukan berapa sebenarnya nilai wajar sahamnya. GIAA memang pernah juga berniat melakukan buyback, tapi dibatalkan. Sementara KRAS, rencana buybacknya hanya bersifat rumor.
Diluar BUMN, grup usaha tertentu seringkali tidak mau melakukan hal yang sama (buyback). Pada tahun 2008, alih-alih menyiapkan sejumlah dana untuk keperluan buyback, Grup Bakrie meminta kepada pihak BEI untuk mensuspen saham Bumi Resources (BUMI) agar tidak anjlok lebih dalam lagi, dan BEI menurut. Namun hal ini kemudian diketahui oleh Menteri Keuangan ketika itu, Sri Mulyani, yang kemudian dengan murka memerintahkan agar suspensi itu dicabut. Alhasil BUMI benar-benar anjlok dari 8,000 sampai 400-an, dan itulah awal konflik Grup Bakrie dengan Ibu Sri Mul. Nah, menurut anda, siapa yang bersalah dalam kasus ini?
Lebih lanjut soal buyback, bisa dibaca disini.
2. Saya ingin berinvestasi jangka panjang, dan saya juga ingin bisa hidup hanya dari dividen. Jadi kalau boleh saya tahu, saham apa saja yang membagikan dividen dalam jumlah besar setiap tahun?
Kalau yang dimaksud dengan ‘dividen dalam jumlah besar’ itu adalah perusahaan membagikan dividen dalam persentase yang besar dibanding total laba bersihnya dalam satu tahun, maka jawabannya adalah saham-saham consumer, seperti UNVR, INDF, HMSP, dan semacamnya. Untuk UNVR, mereka bahkan membagikan dividen sebanyak 100% laba bersihnya setiap tahun. Perusahaan lain yang membagikan dividen dalam jumlah besar (dibanding perolehan labanya) adalah perusahaan-perusahaan BUMN, tentunya yang punya kinerja bagus seperti BBRI, BMRI, SMGR, JSMR, dan PTBA.
Hanya masalahnya jika dibandingkan dengan harga sahamnya, jarang sekali ada saham yang membagikan dividen dalam jumlah besar secara konsisten dari tahun ke tahun. Maksud penulis, terkadang beberapa perusahaan membagikan dividen dengan nilai jumbo pada tahun tertentu, katakanlah sebesar Rp200 per saham padahal harga sahamnya sendiri cuma Rp1,000 (dividend yield-nya 20%), tapi pada tahun berikutnya mereka gak bagiin dividen lagi.
Kalau ada sebuah perusahaan yang membagikan dividen sebesar 7 – 9% dibanding harga sahamnya secara rutin setiap tahun, maka itu sudah bagus sekali, tapi itupun sangat jarang.
Tapi bukankah nilai dividen yang kita terima bisa naik terus dari tahun ke tahun, seiring dengan naiknya laba perusahaan? Ya, memang. Beberapa perusahaan memang membagikan dividen dengan jumlah yang naik terus setiap tahunnya, sehingga pada tahun tertentu modal kita sudah kembali hanya dari dividennya saja, dan belum termasuk keuntungan dari kenaikan harga sahamnya. Contohnya jika anda beli saham Astra International (ASII) di tahun 1998, dan masih memegangnya sampai sekarang, maka dividen yang anda terima sudah jauuuh lebih besar dari modal yang anda keluarkan untuk membeli sahamnya. Contoh yang lebih ekstrim lagi adalah UNVR, dimana jika anda membelinya di tahun 1982 dan masih memegangnya sampai sekarang, maka keuntungan dividen yang anda peroleh bahkan jauh lebih besar dibanding jika anda memegang ASII.
Tapi jujur saja, siapa sih investor yang membeli ASII di tahun 1998 lalu, dan memegangnya sampai sekarang? Bagaimana jika pada tahun 1998 tersebut yang ia beli adalah BLTA, misalnya? Maksud penulis, di BEI memang terdapat beberapa saham seperti ASII dan UNVR, yang membagikan dividen dalam jumlah besar secara terus menerus. Tapi jika dibandingkan dengan jumlah seluruh saham di BEI, maka saham-saham super ini jumlahnya sangat sedikit, dan diperlukan lebih dari sekedar kemampuan berinvestasi dan kesabaran yang luar biasa untuk bisa menemukan saham seperti ini, kemudian tetap memegangnya selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, capital gain jauh lebih menarik ketimbang dividen, karena beberapa hal: 1. Capital gain, atau keuntungan atas kenaikan harga saham, kalau di Indonesia itu bebas pajak. Sementara jika anda menerima dividen, maka itu dipotong pajak antara 10 hingga 15%, 2. Dividen hanya dibayarkan pada waktu-waktu tertentu, sementara kita bisa merealisasikan capital gain, alias menjual saham yang kita pegang, pada waktu kapanpun selama harganya cocok, dan 3. Fakta sejarah membuktikan bahwa investor-investor sukses di seluruh dunia bisa menjadi kaya raya karena capital gain, bukan dividen. Hingga saat ini pun, Warren Buffett setiap tahunnya hanya menerima dividen dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang kenaikan nilai aset Berkshire Hathaway, kecuali tentunya pada tahun-tahun dimana pasar sedang turun, seperti tahun 2001 dan 2008.
Karena itulah, jika anda adalah seorang investor jangka panjang, namun sebaiknya jangan terlalu berharap untuk bisa living by dividend. Karena jika anda suatu hari nanti benar-benar bisa hidup hanya dari dividen, maka keuntungan yang anda peroleh dari kenaikan nilai aset dari perusahaan-perusahaan yang sahamnya yang anda pegang (capital gain), pasti jauh lebih besar ketimbang dividen yang anda terima itu sendiri. Dan ketika capital gain (yang besar) itu diperoleh, maka anda hanya perlu mengambilnya sebanyak sebagian kecil saja untuk kebutuhan sehari-hari, sementara selebihnya bisa digunakan untuk investasi lagi. Warren Buffett selama ini hanya hidup dari gaji sebesar US$ 100,000 atau sekitar Rp1 milyar saja per tahun. Jika ia memutuskan untuk mengubah gaya hidupnya dan menghabiskan katakanlah US$ 10 juta (Rp100 milyar) per tahun untuk pesta dan hura-hura, maka itu tetap saja tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap total kekayaan/asetnya, karena untuk menghabiskan seluruh kekayaannya senilai US$ 40 milyar, Buffett perlu hidup hingga 4,000 tahun lagi (which is impossible).
3. Saya baca di inilah dot com, katanya Erajaya Swasembada (ERAA) memperoleh utang sebesar Rp2 trilyun. Itu benar apa cuma rumor? Dan jika benar, bagaimana kira-kira pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan?
Ketika anda membaca berita bahwa sebuah perusahaan melakukan aksi korporasi tertentu, entah itu di surat kabar atau internet, maka untuk memastikan apakah berita itu benar atau cuma rumor, anda bisa membuka www.idx.co.id, kemudian klik IDXNet (yang warnanya merah). Di halaman berikutnya (halaman pengumuman emiten), anda masukkan kode saham yang anda cari di kotak ‘kode’, misalnya dalam hal ini ERAA, kemudian klik tombol ‘Cari’. Kemudian nanti akan muncul seluruh pengumuman resmi yang dirilis oleh ERAA, termasuk soal utang tadi, jika memang beritanya benar. Berikut adalah tampilan halaman idx.co.id setelah penulis memasukkan kode ERAA dan mengklik tombol ‘cari’, klik untuk memperbesar.
Setelah anda download file-nya (berbentuk PDF), maka anda kemudian bisa membaca pengumumannya. Berikut adalah tampilan dari pengumumannya tersebut, klik untuk memperbesar:
Kalau baca pengumumannya sih, ERAA bersama beberapa anak usahanya baru saja memperoleh plafon pinjaman dari Bank BCA sebesar maksimal Rp2 trilyun, tapi bukan berarti ERAA sudah mencairkan seluruh pinjaman tersebut, melainkan baru akan dicairkan nanti dengan jumlah sesuai kebutuhan. Sayangnya belum ada informasi soal akan dipakai untuk apa dana pinjaman tersebut, tapi biasanya informasi detailnya akan disampaikan di laporan keuangan terbarunya nanti. Nanti deh, kita akan bahas lebih detail soal bagaimana cara menganalisis utang perusahaan, apakah menguntungkan bagi perusahaan atau tidak.
Nah, terus bagaimana jika saya membaca berita tertentu tentang emiten tertentu, tapi setelah dicari pengumuman resminya malah nggak ada? Kalau begitu maka kemungkinan besar beritanya cuma rumor, sebab tidak atau belum ada konfirmasi resmi dari perusahaan yang bersangkutan, sehingga anda tidak perlu memperdulikannya. Kalau penulis sendiri setiap kali mendengar berita penting tentang emiten tertentu, maka hal pertama yang dilakukan adalah mengeceknya ke website IDX. Itu pula sebabnya penulis bisa mengatakan bahwa informasi buyback SMBR adalah benar karena ada pengumuman resminya, sementara buyback KRAS hanyalah rumor. Tindakan ‘meminta konfirmasi langsung dari perusahaan’ ini penting agar kita tidak terjebak oleh rumor-rumor yang mungkin dengan sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu.
Beberapa orang teman mengeluh bahwa berbeda dengan berinvestasi atau trading saham di negara maju seperti Amerika Serikat, investasi saham di Indonesia lebih sulit karena informasi yang tersedia jauh lebih terbatas, dan seringkali pula kita kesulitan untuk membedakan mana informasi yang benar dan yang tidak. Well, sebenarnya kalau anda mau meluangkan waktu untuk meng-explore website www.idx.co.id, maka semua informasi yang anda butuhkan terkait emiten/saham tertentu, semuanya ada disitu, dan informasinya juga valid karena bersumber langsung dari perusahaannya sendiri, bukan bersumber dari wartawan atau pihak ketiga lainnya. Anyway, berdasarkan contoh diatas, maka setidaknya kini anda sudah bisa membedakan mana berita yang sungguhan, dan mana berita yang cuma bersifat rumor.

Lebih lanjut soal cara menganalisis pemberitaan di media, baca lagi artikelnya [...]

Outlook IHSG di Tahun 2014 (Forum)

Dear investor dan juga kawan-kawan trader, berhubung sekarang sudah akhir tahun, melalui forum ini penulis mengajak anda untuk berbagi analisis, opini, serta pandangan tentang bagaimana outlook pasar di tahun 2014, baik itu dilihat dari sisi fundamental, teknikal, perkembangan ekonomi makro nasional, dan lain-lain.
Anda bisa menuliskan analisis anda melalui kolom komentar dibawah, jangan lupa sebutkan nama, atau minimal nickname anda dibawahnya. Anda juga boleh mengomentari analisis yang dibuat oleh teman yang lain, tentunya dengan bahasa yang baik. Tujuan penulis membuat forum ini adalah agar analisis yang anda paparkan bisa menjadi pencerahan bagi kawan-kawan investor/trader lainnya.
Demikian, terima kasih atas kontribusinya :)

Salam,
Teguh
December 22nd, 2013 at 4:39 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Mengenal Saham-Saham ‘Jackpot’

Sekitar dua tahun terakhir ini penulis menemukan fakta menarik di pasar, dimana ada beberapa saham yang secara fundamental bagus, valuasinya juga wajar atau bahkan murah, namun pergerakannya terkesan sangat lamban. Dalam beberapa bulan, saham-saham ini terkadang hanya mondar mandir disitu-situ saja, misalnya jika pada awal Januari dia berada di posisi 1,000, maka pada akhir Juni dia masih di posisi 1,000-an tersebut. Tapi pada waktu-waktu lainnya saham ini seringkali tiba-tiba saja naik signifikan, mungkin sampai 2,000 atau 2,500 hanya dalam satu atau dua bulan, sebelum kemudian balik lagi ke 1,000. Nah, ketika terjadi kenaikan dramatis inilah, seorang investor yang sudah memegang saham tersebut di harga 1,000 boleh dikatakan telah memperoleh jackpot.

Namun anda jangan bayangkan bahwa ‘jackpot’ tersebut bisa terjadi setiap hari. Terkadang si investor harus menunggu cukup lama, bisa sampai berbulan-bulan, hanya untuk memperoleh satu kali jackpot dalam setahun. Beberapa yang beruntung mungkin bisa memperoleh jackpot tersebut secara cepat, dimana ia membeli saham pada hari Senin, dan pada hari Selasanya saham tersebut langsung naik. Tapi beberapa lainnya mungkin harus menunggu sampai berbulan-bulan, terkadang dengan digoyang-goyang dulu selama perjalanan beberapa bulan tersebut (sahamnya sempat turun dulu).
Tapi intinya ketika jackpot itu diperoleh, maka gain yang diperoleh bisa sangat signifikan, mungkin bisa mencapai 50% atau lebih. So, katakanlah anda hanya satu kali memperoleh 50% tersebut dalam satu tahun, maka itu sudah lumayan toh? Dan juga sudah sangat jauh diatas rata-rata pasar. Sebab kenaikan IHSG sendiri kalau dirata-ratakan nggak sampai 15% per tahun.
Anyway, kunci utama dari investasi di saham-saham jackpot ini adalah bahwa anda harus tahu bahwa dia tidak akan turun lagi dibanding harga dimana anda membelinya. Atau kalaupun dia turun, maka cepat atau lambat akan naik lagi. Dan sebuah saham hanya tidak akan turun lagi jika kualitas kinerjanya minimal cukup baik serta konsisten dalam jangka panjang, sementara valuasinya pun sudah sangat rendah, baik secara relatif (dilihat dari PER), maupun absolut (PBV-nya kurang dari 1 kali).
Nah, ketika sebuah saham sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi, maka artinya apa? Artinya, sewaktu-waktu dia bisa naik. Anda tidak akan pernah tahu kapan saham itu akan naik, tapi yang penting, anda tahu bahwa saham itu akan naik.
Lho, memangnya ada saham-saham yang seperti itu? Yup, ada! Berikut adalah tiga saham ‘jackpot’ versi penulis, tapi mungkin anda sudah mengetahuinya:
1. Ekadharma International (EKAD, pernah penulis bahas disini)
2. Gema Grahasarana (GEMA)
3. Multi Indocitra (MICE)
Agar sistematis, berikut adalah poin-poin analisis dari ketiga saham diatas, dan kenapa mereka bisa disebut sebagai saham jackpot.
1. Ketiga perusahaan bermain di industri yang sederhana dan mudah. EKAD adalah perusahaan produsen pita perekat merk ‘Daimaru’, GEMA perusahaan jasa interior design dan produsen produk-produk furniture dengan merk ‘Vivere’, dan MICE adalah produsen perlengkapan bayi merk ‘Pigeon’. Khusus untuk EKAD dan MICE, penulis menilai bahwa kedua perusahaan tersebut memproduksi produk jenis consumer, yang dibutuhkan secara terus menerus oleh orang banyak, dan itu tentu bagus. Sementara untuk GEMA, meski produknya tidak dibeli orang setiap hari, perkembangan usahanya dalam beberapa tahun terakhir ini tampak cukup mengesankan, kemungkinan karena didorong oleh meningkatnya selera masyarakat perkotaan akan tampilan interior rumah, kantor, dan apartemen yang lebih baik.
2. Ketiga perusahaan memiliki brand yang cukup kuat untuk produknya masing-masing. Anda mungkin juga sudah cukup hafal dengan merk Vivere dan Pigeon. Kalau Daimaru, well penulis sendiri kalau beli lakban gak pernah liat merk-nya, tapi kalau gak salah lakban yang dijual di Ace Hardware, itu memang merk-nya Daimaru.

Koleksi produk peralatan bayi ‘Pigeon’

3. Ketiga perusahaan fokus pada industrinya masing-masing, sehingga mereka merupakan ekspertise yang sudah sangat berpengalaman di bidangnya masing-masing. Jadi EKAD ya hanya bikin lakban saja, dan gak pernah coba-coba akuisisi tambang batubara, misalnya. Untuk MICE, perusahaan juga memang sedang mencoba peruntungan di lampu hemat energi dengan merk ‘Hori’, namun sejauh ini hal itu tidak mengganggu bisnis inti perusahaan.
4. Ketiga perusahaan beroperasi dengan konservatif, running business as it is. Mereka hanya membuat produk, kemudian menjualnya, that’s it, tanpa right issue, menerbitkan obligasi, atau semacamnya. Mereka juga hampir nggak punya utang, dimana DER EKAD dan MICE masing-masing dibawah 1 kali. Tapi memang untuk GEMA utangnya agak lumayan.
5. Ketiga perusahaan dikelola oleh tim manajemen yang berpihak kepada investor, itu bisa dilihat dari: 1. Perusahaan rutin membagikan dividen setiap tahun, 2. Perusahaan rutin melakukan pengembangan kegiatan usaha dengan cara-cara yang wajar dan tidak berlebihan, misalnya mendirikan pabrik baru, membuka gerai baru, hingga menciptakan variasi produk baru, dan 3. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar berita bahwa RUPS yang diselenggarakan oleh EKAD, MICE, dan GEMA, menjadi batal gara-gara nggak kuorum, kemudian para investor yang hadir menjadi mengamuk dan rusuh macam kalah pertandingan sepakbola, if you know what I mean.
And by the way, untuk mengetahui lebih detail tentang ciri-ciri manajemen yang baik dan berpihak kepada investor, anda bisa baca artikelnya disini. Okay, lanjut!
6. Ketiga perusahaan memiliki kinerja jangka panjang yang cukup baik serta konsisten. Pada periode laporan keuangan terbaru (Kuartal III 2013), laba MICE serta GEMA memang sedikit turun. Tapi dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan mereka baik dari sisi kenaikan modal bersih, pendapatan, serta laba bersih, semuanya tampak cukup baik. Anda bisa membaca datanya di masing-masing laporan tahunan terakhir milik perusahaan.
7. Ketiga perusahaan memiliki rasio lancar yang bagus, dimana aset lancar mereka lebih besar secara signifikan dibanding aset tidak lancar. Ini artinya jika terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaan (perusahaannya bangkrut), maka aset-asetnya akan bisa dengan mudah dilikudasi. Asset turnover alias rasio perputaran aset mereka juga bagus, dimana nilai pendapatan MICE, GEMA, dan EKAD dalam satu tahun biasanya sudah lebih besar dari nilai total aset perusahaan. Sekedar catatan, dua kriteria ini biasanya hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan consumer, dan perusahaan pakan ayam (CPIN dan saudara-saudaranya).
8. Ketiga perusahaan memiliki kualitas kinerja yang secara umum cukup baik, meski tidak bisa disebut sangat baik. Kecuali MICE, baik EKAD maupun GEMA memiliki rasio profitabilitas yang lumayan, dengan ROE dikisaran 20%. Kalau diurutkan berdasarkan kualitas kinerjanya di Kuartal III 2013, maka saham dengan fundamental terbaik adalah EKAD, disusul GEMA, dan terakhir MICE. Entah kebetulan atau tidak, valuasi saham EKAD pada saat ini adalah juga yang paling tinggi diantara ketiganya, sementara MICE adalah yang terendah. Selengkapnya bisa dilihat di tabel dibawah ini:
Nah, diluar kedelapan poin diatas, faktor yang paling menarik dari EKAD, GEMA, dan juga MICE, adalah valuasinya yang rendah, atau bahkan sangat rendah jika dibandingkan dengan rata-rata valuasi dari seluruh saham di bursa. Berikut datanya, harga saham adalah harga penutupan tanggal 20 Desember 2013:
Stocks
Price (Rp)
PER (x)
PBV (x)
Dividend Yield (%)
EKAD
390
6.2
1.2
2.1
GEMA
460
4.7
0.9
6.7
MICE
400
7.9
0.7
3.8
Faktor valuasi yang rendah inilah yang membuat ketiga saham diatas, kecuali terjadi peristiwa luar biasa terkait perusahaannya, atau pasar saham itu sendiri hancur lebur seperti tahun 1998 dan 2008 lalu, sangat kecil risikonya untuk turun signifikan dibanding posisi harganya pada saat ini. Sebab ketiga perusahaan diatas masih beroperasi dengan normal, masih menghasilkan laba, dan ekuitasnya juga masih terus bertumbuh. Maksud penulis, terkadang ada beberapa kasus dimana harga dan valuasi sebuah saham bisa menjadi sangat rendah, atau bahkan jauh lebih rendah dibanding nilai riil aset-asetnya (PBV-nya jauh lebih rendah dari 1 kali, mungkin hanya 0.5 kali atau bahkan lebih rendah lagi), karena kinerja perusahaannya buruk, perusahaan sedang terlilit utang besar yang tidak mampu mereka bayar, atau sektor usahanya sendiri sedang dilanda isu negatif.
Tapi untuk ketiga perusahaan yang sahamnya sedang kita bahas disini, faktor-faktor tersebut sama sekali tidak ada. Jadi mereka memang beneran saham murah, bukan murahan.
Okay, lalu bagaimana ceritanya ketiga saham diatas bisa disebut sebagai saham jackpot? Well, itu karena kalau anda perhatikan, baik saham EKAD, GEMA, maupun MICE, pada waktu-waktu tertentu bisa saja melejit secara tiba-tiba. Jika anda tidak percaya maka lihat saja chart harganya dalam 1 – 2 tahun terakhir, bisa di Yahoo Finance ataupun software trading anda. Kasus ‘jackpot’ terakhir adalah GEMA, dimana saham ini pada Juni 2013 lalu sempat tiba-tiba saja melejit sampai posisi 790, setelah sebelumnya hanya mondar-mandir saja di rentang 450 – 500. Sementara jackpot terakhir yang dialami MICE terjadi pada April 2013, dimana sahamnya naik dari 450 ke 860, alias nyaris 100%, sebelum kemudian turun lagi ke posisi sekarang. Bagaimana dengan EKAD? Silahkan anda cek sendiri.
Namun ada satu hal menarik yang penulis perhatikan dari fenomena jackpot ini, yakni: Ketiga saham tersebut biasanya mendadak populer dan banyak dibicarakan orang setelah harganya naik. Termasuk biasanya ketika itulah orang-orang baru sadar bahwa ini barang bagus, sehingga mereka kemudian beramai-ramai masuk di harga atas. Tapi ketika harganya lagi dibawah seperti sekarang? Gak ada yang ngomongin satu pun, termasuk mungkin gak ada yang berminat untuk membelinya. Padahal kalau berdasarkan kaidah value investing, justru saat inilah waktu yang tepat untuk masuk, kemudian jualnya nanti ketika ‘jackpot’ itu terjadi. Bukan sebaliknya!
Tapi apapun itu, fenomana ini sekaligus membuktikan bahwa anda tidak perlu khawatir untuk berinvestasi di saham-saham seperti ini hanya karena volume transaksi perdagangannya tidak likuid. Sebab ketika saham-saham ini pada akhirnya naik juga, maka anda akan bisa keluar alias merealisasikan keuntungan dengan mudah, karena akan ada banyak orang yang menampung barang yang anda lempar. Kemungkinan hal ini pula yang menyebabkan Lo Kheng Hong tidak ragu untuk membeli saham Petrosea (PTRO) hingga puluhan juta lembar meski saham PTRO itu sendiri relatif tidak likuid dengan rata-rata volume transaksi hanya 1.5 juta lembar per hari. Sebab ketika nanti PTRO ini pada akhirnya naik juga, maka ia tidak akan mengalami kesulitan untuk melepas barang, karena akan ada banyak orang yang dengan suka rela menampungnya.
However, masalah terbesar dalam berinvestasi di saham-saham seperti ini, seperti yang sudah disebut diatas, adalah kita nggak tahu kapan mereka akan naik, bahkan jika anda adalah Papah Lauren atau Ki Kusumo. Kita nggak tahu kapan jackpot itu akan terjadi, bisa besok, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan. Jadi jika anda termasuk yang kurang beruntung, maka mungkin anda bakal menunggu sangat lamaaa ketika memegang salah satu dari tiga saham diatas (lama disini untuk ukuran trader ya). Dan bukan tidak mungkin pula ketika anda akhirnya menyerah dan keluar, eeeh tak lama kemudian saham itu malah beneran naik! Penulis mengatakan ini sebab jujur saja, penulis pernah mengalaminya di MICE dulu, dimana penulis tidak kebagian jackpot yang terjadi para April kemarin, padahal baru menunggu selama dua bulan. Anyway, tidak pernah ada kata terlambat untuk mencobanya lagi bukan?
Okay, I think that is enough, selanjutnya akan kita bahas lagi minggu depan. Anda punya ide saham-saham lain yang cocok untuk investasi maupun trading? Anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

NB: Penulis
menulis buku pendek berjudul ‘Superinvestor’, yang memuat seminar Warren Buffett tentang value investing. Anda bisa memperolehnya [...]

Contoh Value Stock: Petrosea

Beberapa dari anda mungkin sudah mengetahui bahwa Bapak Lo Kheng Hong, investor perorangan paling terkenal di Indonesia, memegang saham Petrosea (PTRO) pada jumlah yang cukup signifikan, yakni 65.9 juta lembar saham atau setara dengan 6.5% total saham beredar perusahaan. Jika LKH membeli PTRO pada harga yang sama dengan harga PTRO saat ini, yakni 1,290 per saham, maka beliau telah menginvestasikan sedikitnya Rp85 milyar pada anak usaha Grup Indika ini. Meski dana tersebut mungkin hanyalah sebagian kecil dari total aset LKH, tapi untuk ukuran investor retail manapun dana sebesar itu jelas tidak bisa disebut sebagai uang receh. Pertanyaannya sekarang, apa bagusnya sih PTRO ini sampai-sampai LKH cukup pede untuk membelinya sebanyak itu?

Penulis sekitar setahun yang lalu pernah membahas PTRO ini (baca disini), dan ketika itu kesimpulannya adalah bahwa perusahaan ini termasuk perusahaan yang bagus dari sisi kinerja operasional dan juga pertumbuhannya dalam jangka panjang (PTRO adalah perusahaan jasa kontraktor tambang batubara). Tapi disisi lain manajemennya agak kurang fair dengan ‘memaksa’ PTRO untuk membayar bunga utang obligasi yang diterbitkan oleh induknya, Indika Energy (INDY). Jadi jika kita mengasumsikan bahwa Grup Indika bisa saja membuat PTRO jadi merugi sewaktu-waktu, maka sahamnya pun gak akan kemana-mana.
Namun masih ada satu lagi faktor yang sangat menarik dari PTRO ini, yakni valuasinya pada saat ini, yang sangat rendah. Mari kita lihat, berdasarkan laporan keuangan terakhirnya periode Kuartal III 2013, dan berdasarkan harga sahamnya saat ini yakni 1,290, PER PTRO tercatat 5.4 kali, dan PBV 0.6 kali. Dividend yield-nya? Pada tahun 2012 lalu, PTRO membagikan dividen US$ 0.021 atau setara Rp230 per saham (menggunakan kurs Rp11,000 per US Dollar), sehingga yield-nya, berdasarkan harga sahamnya saat ini adalah 17.8 persen! Jadi kurang murah apa lagi coba?
However pada tahun 2013 ini nilai dividen yang dibayarkan PTRO berkurang menjadi hanya US$ 0.007 per saham, seiring dengan menurunnya perolehan laba bersih perusahaan. Namun dari sisi PER dan PBV, terutama PBV-nya yang cuma 0.6 kali, PTRO tetap sangat menarik. Dan bagi value investor manapun, terutama para bargain hunter seperti LKH, faktor valuasi ini menyebabkan PTRO terlalu bagus untuk diabaikan.
Nah, seperti biasa, berikut adalah beberapa poin terbaru yang perlu anda ketahui tentang PTRO ini, jika memang anda berminat untuk mengikuti jejak sang master:
1. Saham PTRO memiliki beta 0.19. Artinya pergerakan saham ini nyaris sama sekali tidak dipengaruhi oleh pergerakan IHSG, sehingga saham ini layak dikoleksi jika anda termasuk yang masih khawatir bahwa IHSG akan turun lagi. Satu-satunya saham yang memiliki beta lebih rendah, sejauh riset penulis, adalah Unilever Indonesia (UNVR) dengan beta 0.18.
2. Seperti umumnya perusahaan kontraktor tambang batubara lainnya, PTRO mencatat penurunan laba bersih 54.9% pada Kuartal III 2013, sehingga ROE-nya pun turun menjadi tinggal 11.2%. Meski kinerja PTRO tampak buruk, namun intinya perusahaan masih mampu mencetak laba, sehingga ekuitasnya masih bisa naik sebesar 5.1% dalam sembilan bulan terakhir, dan itu sudah dikurangi dividen. Jika anda termasuk yang optimis bahwa sektor batubara tidak akan selamanya tenggelam seperti sekarang, maka ketika nanti sektor batubara pada akhirnya pulih, kinerja PTRO juga seharusnya tidak akan kesulitan untuk melaju kencang kembali, dan demikian pula dengan harga sahamnya.
3. Pada Mei 2013, PTRO resmi menerima tambahan pinjaman dari Indika Capital Resources (ICR), yang merupakan sesama anak usaha dari INDY, sehingga utang PTRO ke ICR meningkat menjadi US$ 140 juta, dan ini adalah bentuk cost transfer dari INDY ke PTRO (INDY menerbitkan sejumlah obligasi di Singapura, dan menyuruh PTRO untuk membayar bunganya). Hasilnya pada Kuartal III 2013, beban bunga utang yang harus dibayar PTRO ke ICR meningkat dari US$ 10 menjadi 16 juta. Jika tidak ada kesepakatan tambahan utang ini, maka laba bersih PTRO seharusnya tercatat sekitar US$ 23 juta dan bukannya hanya US$ 17 juta.
Poin ketiga inilah yang membuat saham PTRO menjadi agak berisiko, sebab Grup Indika sebagai pemiliknya bisa saja menaikkan kembali beban bunga pinjaman tadi sehingga akhirnya menyebabkan laba bersih PTRO berkurang signifikan, bahkan mungkin hingga minus alias rugi. Tapi kabar baiknya, perusahaan berencana untuk membayar sebagian utangnya ke ICR sebesar US$ 115 juta pada November 2013, sehingga di laporan keuangannya untuk periode Kuartal IV 2013 mendatang, kemungkinan utang tersebut akan berkurang menjadi tinggal US$ 25 juta.
4. Tapi diluar faktor utangnya ke ICR, neraca PTRO terbilang wajar serta bersih dari utang (ada utang bank jangka pendek sebesar US$ 12.5 juta, tapi itu bukan jumlah yang serius). Dan yang paling menarik adalah struktur modal bersihnya, dimana dari ekuitas PTRO sebesar US$ 197 juta, sebagian besar yakni US$ 163 juta diantaranya merupakan saldo laba alias akumulasi dari laba bersih perusahaan dimasa lalu, padahal PTRO selama ini terkenal royal dalam membagikan dividen. Artinya? PTRO ini perusahaan yang bagus dengan track record jangka panjang yang mentereng, alias sudah sangat mapan dan sudah tidak memerlukan bantuan pendanaan apapun lagi! Bandingkan dengan Delta Dunia Makmur (DOID), misalnya, yang sampai sekarang masih harus berjuang untuk mengatasi utangnya yang teramat sangat besar.
Terakhir, dan ini mungkin merupakan alasan utama kenapa LKH memilih masuk ke PTRO ini, adalah karena perusahaan memiliki aset riil dengan nilai yang jauh lebih tinggi dibanding harga sahamnya pada saat ini. Pada Kuartal III 2013, PTRO memiliki dana cash sebesar US$ 52 juta, dan dana cash yang dibatasi penggunaannya sebesar US$ 117 juta. Jadi totalnya US$ 169 juta, dimana semuanya berbentuk deposito bank dengan tingkat bunga 6.25 – 8% per tahun untuk deposito Rupiah, dan 2.3% per tahun untuk deposito Dollar.
Nah, jika kita pakai kurs katakanlah Rp11,000 per US Dollar, maka PTRO memiliki aset berupa uang tunai sebesar Rp1.9 trilyun, all fresh in several bank accounts.
Lalu bagaimana dengan utang PTRO sebesar US$ 140 juta ke ICR? Jika PTRO menjual  aset-aset non tunai kemudian membayar lunas seluruh utangnya, termasuk utang ke ICR, maka masih akan ada sisa uang tunai senilai kurang lebih Rp300 milyar. Tapi untuk pendekatan konservatif, maka anggap saja bahwa Rp300 milyar ini tidak ada (aset-aset tadi semuanya dijual murah, yang penting cukup buat bayar utang), sehingga satu-satunya aset yang dimiliki PTRO adalah dana cash sebesar Rp1.9 trilyun tadi.

Dan.. berapa uang yang harus anda keluarkan untuk memperoleh deposito bank senilai Rp1.9 trilyun tersebut? Cuma Rp1.3 trilyun! Karena itulah nilai pasar PTRO pada saat ini berdasarkan harga saham Rp1,290. Jadi dengan demikian kita punya margin of safety sekitar Rp600 milyar disini, tentunya jika anda memutuskan untuk mengakuisisi 100% saham perusahaan. Bagi LKH sendiri, karena beliau hanya mengambil 6.5% saham PTRO, maka margin of safety-nya adalah sekitar Rp39 milyar.
Karena itulah, PTRO memang luar biasa menarik bagi seorang value investor. Poinnya disini adalah jika aset-aset PTRO merupakan aset tidak lancar yang sulit untuk dijual/dilikuidasi jika terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaan (misalnya perusahaannya bangkrut), maka PBV PTRO yang kurang dari 1 kali mungkin tidak terlalu menarik. Tapi jenis aset yang dipegang PTRO disini adalah aset yang bisa dicairkan sewaktu-waktu, sehingga pada skenario terburuk sekalipun (perusahaan bangkrut), PTRO masih memiliki nilai jual yang signifikan.
Tapi seperti yang sudah kita bahas diatas, PTRO ini adalah perusahaan yang mapan yang tidak sedang dililit masalah utang, jadi kenapa juga dia harus bangkrut? Dalam dua tahun terakhir ini kinerja perusahaan memang menurun seiring dengan sektornya yang lesu, tapi jika nanti sektor batubara pulih lagi, maka PTRO seharusnya juga tidak akan kesulitan untuk langsung tancap gas lagi.
Meski memang, satu hal lagi yang perlu dicatat disini adalah, aset tunai milik PTRO yang berupa deposito yang dibatasi penggunaannya sebesar US$ 117 juta tadi, itu hanya akan digunakan untuk membayar pokok dari pinjaman perusahaan terhadap ICR (makanya disebut ‘dibatasi penggunaannya’). Jadi memang dalam skenario terburuk tadi, dana US$ 117 juta ini akan langsung menguap karena digunakan untuk membayar utang ke ICR, sehingga sisanya adalah deposito senilai US$ 52 juta dan beberapa aset lainnya berupa piutang usaha, pajak dibayar dimuka, kepemilikan saham di beberapa anak usaha, serta sejumlah armada alat-alat berat. Jika dilihat dari sini, maka margin of safety PTRO ini mungkin bisa lebih kecil dari Rp600 milyar, karena perusahaan tentunya akan mengalami sedikit kesulitan untuk segera melikuidasi aset-asetnya, terutama aset yang berupa armada alat-alat berat. Tapi dua hal yang perlu dicatat disini adalah: 1. PTRO hanya perlu melikuidasi asetnya jika terjadi skenario terburuk, yakni perusahaannya bangkrut, dan 2. Margin of safety sebesar Rp600 milyar tadi mungkin akan berkurang, tapi tidak akan sampai nol sama sekali, karena angka Rp600 milyar tersebut sebelumnya juga sudah dikurangi Rp300 milyar (karena alasan konservatif seperti yang sudah kita bahas diatas). Catat pula bahwa margin of safety tersebut dihitung berdasarkan kepemilikan aset perusahaan pada saat ini, atau dengan kata lain, margin of safety tersebut dihitung berdasarkan asumsi bahwa kedepannya, PTRO tidak akan mampu meraih laba bersih sama sekali. Dan penulis kira ini adalah salah satu asumsi paling konservatif yang pernah ada.


Armada alat-alat berat milik PT Petrosea

Jadi kesimpulannya, jelas bahwa LKH masuk ke PTRO karena satu alasan sederhana: Sahamnya murah dan menawarkan keuntungan yang lumayan, bahkan jika kita mengambil skenario terburuk yang mungkin terjadi pada perusahaan. Sementara jika sektor batubara benar-benar pulih sesuai harapan, maka keuntungan yang diperoleh bisa berkali-kali lipat.
However, seperti halnya LKH memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memperoleh keuntungan signifikan dari saham-saham lainnya, maka untuk PTRO ini beliau sudah pasti tidak berharap bahwa ia akan bisa menjualnya besok sore untuk memperoleh keuntungan 100%. Dan karena LKH mengambil 65.9 juta lembar saham PTRO, padahal saham PTRO yang dipegang investor publik cuma 305 juta lembar, maka bisa dipastikan kedepannya PTRO ini bakalan jadi nggak likuid, apalagi jika para investor yang lain juga melakukan aksi hold, sehingga PTRO praktis sangat tidak cocok untuk trading. Jika anda berharap bisa menjualnya dalam waktu kurang dari 1 tahun, then this stuff is not for you.
Sementara dalam situasi pasar yang lagi down seperti sekarang, maka jujur saja ada banyak saham-saham lain yang juga menarik terutama dari kalangan blue chip, dimana saham-saham ini bisa dipastikan bakal langsung naik jika nanti indeks pada akhirnya pulih juga, sementara PTRO ini sama sekali tidak bisa diprediksi kapan dia akan naik (jika IHSG naik, dia belum tentu akan ikut naik). Tapi berhubung kita tentunya juga nggak tahu kapan IHSG bakal pulih, atau malah turun lagi, maka PTRO ini sangat cocok sebagai pilihan alternatif.
PT Petrosea, Tbk.
Rating Kinerja pada Q3 2013: BBB
Rating saham pada 1,290: [...]

Apa Itu Tapering?

Bulan Desember ini mungkin menjadi ‘bulan harap-harap cemas’ bagi para investor dan trader (meski bagi investor tertentu, mereka cemas setiap bulan, setiap hari), karena terdapat banyak isu yang dikhawatirkan bakal menyebabkan IHSG rontok lagi, padahal posisi IHSG sendiri sudah sangat rendah. Salah satu isu tersebut adalah masalah tapering, dan memang soal tapering itulah yang akan kita bahas di artikel kali ini.

Sebelum kita masuk ke pembahasan soal tapering, saya ingin terlebih dahulu mengomentari soal kenaikan BI Rate, yang terakhir sudah mencapai 7.50% (dan masih bisa naik lagi). Kenaikan BI Rate, seperti yang anda ketahui, bertujuan untuk mengurangi jumlah uang Rupiah yang beredar, dimana itu diharapkan akan mampu menekan tingkat inflasi (baca lagi penjelasannya disini) sekaligus menguatkan kembali nilai Rupiah, yang pada saat ini sudah sempat menembus level Rp12,000-an per US Dollar. Jadi jika dilihat dari sisi ini maka kenaikan BI Rate sebenarnya bagus buat perekonomian.
Tapi disisi lain kenaikan BI Rate juga bisa berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi, karena bisa menyebabkan bank-bank menjadi lebih ketat dalam menyalurkan kreditnya, termasuk juga ke sektor properti (kredit KPR). Kenaikan tingkat suku bunga karena kenaikan BI Rate juga bisa menyebabkan usaha perbankan menjadi lebih rawan terhadap risiko kredit macet, yang pada akhirnya menyebabkan bank yang bersangkutan menjadi merugi. Tapi sejauh ini hal tersebut tidak terbukti dimana secara historis, kinerja sektor perbankan dalam jangka panjang tetap saja bagus, tak peduli BI Rate naik atau turun (baca penjelasannya disini).
Karena itulah, ketika BI Rate entah itu dinaikkan, tetap, atau diturunkan, sebenarnya tidak bisa langsung ditafsirkan apakah akan berdampak baik atau buruk terhadap perekonomian. Kenaikan BI Rate bisa berarti baik jika tujuannya tercapai sementara ‘efek samping’ yang dihasilkan tidak terlalu signifikan. Disisi lain, kenaikan BI Rate juga bisa berarti buruk jika gagal mencapai tujuannya, sementara efek samping yang dihasilkan malah lebih dominan.
Tapi jika kita mengasumsikan bahwa orang-orang di BI tentunya sangat paham tentang arah kebijakan moneter, maka berapapun posisi BI Rate pada saat ini dan juga posisi BI Rate di masa yang akan datang, maka itu adalah yang terbaik bagi perekonomian nasional, atau setidaknya begitulah menurut Agus Marto dkk. Intinya adalah, mau BI Rate berada di posisi 5%, 6%, 7%, atau berapapun, maka itu adalah yang paling sesuai dengan situasi ekonomi Indonesia. I mean, anda tentu sepakat bahwa Agus Marto bukanlah tipe pengangguran banyak omong macam Farhat, atau politisi tukang debat macam Ruhut, melainkan dia memang ngerti ekonomi.
Okay, lalu apa hubungan hal ini dengan Tapering?
Istilah ‘tapering’ sebenarnya merupakan istilah dalam dunia olahraga, yaitu situasi dimana sang atlet beristirahat/mengurangi porsi latihan pada satu hari persis sebelum pertandingan. Misalnya jika Mike Tyson akan tanding tinju pada tanggal 5 Juni, maka tentu ia akan dengan disiplin berlatih jauh-jauh hari sebelumnya, bisa sampai berbulan-bulan sebelum pertandingan. Tapi persis satu hari sebelum pertandingannya, yakni pada tanggal 4 Juni, ia akan beristirahat total, mungkin dengan hanya menonton televisi seharian dirumah. Kondisi istirahat itulah yang disebut dengan tapering.
Sementara dalam dunia ekonomi khususnya moneter, tapering adalah pengurangan pembelian obligasi oleh Federal Reserve (The Fed, bank sentral Amerika). Jadi awalnya, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, The Fed mencetak uang Dollar dalam jumlah tertentu untuk kemudian disalurkan ke masayarkat, dengan cara membeli obligasi yang diterbitkan perusahaan-perusahaan. Kebijakan ini dikenal dengan istilah quantitative easing (QE). Dengan meningkatnya uang beredar di masyarakat, maka diharapkan tingkat konsumsi dll juga akan meningkat, yang pada akhirnya menumbuhkan perekonomian.
Jumlah uang baru yang dicetak dan disalurkan mencapai US$ 80 milyar setiap bulannya, atau ada juga yang bilang US$ 85 milyar. Sudah tentu, The Fed tidak bisa terus menerus menyalurkan uang sebanyak itu ke pasar, karena bisa menyebabkan inflasi dan melemahkan nilai mata uang US Dollar itu sendiri.
Jadi setelah mencapai batas tertentu, penyaluran uang tersebut harus dikurangi, dan inilah yang dimaksud dengan tapering. Kenapa disebut tapering? Ya karena tujuannya untuk ‘mengistirahatkan’ perekonomian setelah sebelumnya didorong untuk ‘berlatih’ terus menerus. Berlatih untuk apa? Untuk bisa bertumbuh. Ketika perusahaan/masyarakat Amerika menerima duit dari The Fed, maka itu bukan berarti perekonomian secara otomatis bisa langsung tumbuh lagi, melainkan masyarakat harus memutar uang tersebut untuk konsumsi, investasi dll, kemudian baru perekonomian akan tumbuh. Upaya masyarakat dalam ‘memutar’ uang itulah, seperti contohnya pengusaha yang segera membangun pabrik setelah memperoleh pinjaman bank, yang bisa dianalogikan sebagai ‘latihan’ untuk tujuan untuk meningkatkan taraf hidup mereka sendiri, dan pada akhirnya menumbuhkan perekonomian negara secara keseluruhan.
Tapi sudah tentu, seperti halnya atlet olahraga sungguhan, masyarakat juga harus beristirahat dari kegiatan ‘memutar uang’ ini setelah beberapa waktu tertentu, dan itulah kenapa tapering ini diperlukan. Sebab jika The Fed terus menerus menyalurkan uang baru ke masyarakat sementara masyarakat itu sendiri sudah ‘kecapean’, maka uang baru tersebut tidak akan membantu menumbuhkan perekonomian, melainkan hanya akan menyebabkan inflasi.
Jadi sedikit berbeda dengan kenaikan BI Rate dimana tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah uang Rupiah yang beredar, tapering ini bertujuan untuk mengurangi kenaikan dari jumlah uang Dollar yang beredar (jadi The Fed tetap menyalurkan/menambah jumlah uang Dollar yang beredar masyarakat, hanya saja jumlah penambahannya yang dikurangi). Namun kekhawatiran pasar tetap sama: Jika jumlah uang yang beredar berkurang, maka artinya tidak ada uang baru yang bisa dibelanjakan, dan itu bisa menghambat perekonomian. Alhasil ketika BI Rate bulan lalu dinaikkan, IHSG langsung jatuh. Demikian pula jika nanti tapering benar-benar jadi diberlakukan, maka Dow Jones bisa jatuh juga. Dan jika Dow udah jatuh, biasanya IHSG akan ikut terseret turun.
Tapi apakah kejatuhan/penurunan indeks saham tersebut terjadi untuk jangka waktu yang cukup panjang ataukah hanya sementara? Well, itulah yang kita nggak tahu. Kalau pake contoh IHSG, posisi BI Rate kita pada saat ini sudah sangat jauh dibanding posisi awalnya sebelum mulai dinaikkan, yakni 5.75% (sekarang sudah 7.50%), dan alhasil IHSG juga sudah turun lumayan dalam jika dibandingkan dengan posisi puncaknya yakni 5,200-an (malah sempat sampai 3,900, tapi langsung naik lagi). Meski satu hal yang juga perlu dicatat disini adalah bahwa IHSG bisa naik sampai 5,200 pada April lalu lebih karena didorong oleh euforia masuknya dana asing, ketimbang faktor fundamental.
Sementara untuk Dow Jones, karena tapering itu sendiri sampai sekarang masih belum diberlakukan, maka indeksnya masih naik terus. Tapi sejak meredanya isu ‘United States Shutdown’ beberapa waktu lalu, sudah banyak pengamat/analis yang mengingatkan akan ‘bahaya-nya’ tapering ini. Well, kalau kita baca lagi penjelasan diatas, sebenarnya tapering itu justru akan berdampak positif. Jika nanti The Fed akhirnya memberlakukan tapering, maka itu berarti Amerika sudah sampai pada kondisi dimana tapering itu diperlukan. Jika sampai sekarang The Fed belum memberlakukan tapering, maka itu berarti tapering tersebut belum dibutuhkan. As simple as that, and nothing is to worry about.
However, ini bukan berarti Dow Jones tidak akan terkoreksi sewaktu-waktu nanti, entah ketika tapering itu akhirnya diberlakukan, atau ditunda lagi. Kalau anda cek valuasi saham-saham yang menjadi komponen Dow, banyak diantaranya yang sudah mencatat PER diatas 20 kali, alias sudah mahal. Sebagai perbandingan, rata-rata PER di BEI saat ini, untuk kesepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar diluar UNVR dan HMSP (sebab dua saham ini naudzubilah mahalnya), adalah kurang dari 11 kali.
Karena itulah kalau dari sisi valuasi, Dow memang rawan untuk terkoreksi, meski tentunya kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Tapi intinya adalah, soal tapering itu sama sekali tidak menjadi masalah, dimana itu hanyalah cerita lainnya lagi setelah Euro Crisis, Greek Crisis, Debt Ceiling, Fiscal Cliff, dan United States Shutdown. Trust me, nanti setelah cerita tapering ini menghilang dengan sendirinya pasti akan ada cerita lainnya lagi, dan cerita lainnya lagi, dan begitu terus sampai.. selamanya, yakni selama pasar saham itu sendiri ada. Jika anda termasuk yang masih mudah khawatir oleh cerita-cerita seperti ini, maka tenang saja, nanti juga anda akan terbiasa kok :)

Anyway, melalui blog ini penulis akan berusaha untuk terus menyampaikan update mengenai isu-isu terbaru terkait perekonomian nasional maupun global, so just stay tune.

NB: Penulis membuat buku berjudul ‘Superinvestor’, anda bisa memperolehnya disini. Penulis juga membuat buku berisi kumpulan analisis dan rekomendasi saham berdasarkan analisis fundamental, dan anda bisa memperolehnya [...]

Seminar Lo Kheng Hong

Dear investor, berikut ini adalah rekaman suara Bapak Lo Kheng Hong ketika beliau mengisi seminar di acara Investor Summit & Capital Market Expo 2013 di Jakarta, hari Kamis tanggal 28 September 2013 kemarin. Tidak banyak yang ia sampaikan dalam kesempatan seminar tersebut, namun penulis kira apa yang beliau sampaikan tetap bermanfaat khususnya bagi kita semua para investor di pasar saham. Oke, langsung saja.

Secara umum, berikut adalah beberapa poin yang disampaikan oleh Pak LKH
  1. Pilihlah saham yang bisnisnya sederhana dan mudah, namun memiliki fundamental bagus. Sebagai contoh saham Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). Saya (LKH) membeli sahamnya pada harga 400 (harga sebelum stocksplit), sehingga kemudian meraup keuntungan sekitar 6,000% dalam waktu 3 (atau 4) tahun.
  2. Anda mau coba invest dimanapun, apakah itu deposito, emas, properti, tapi tidak ada satupun diantaranya yang mampu menghasilkan keuntungan sebesar keuntungan yang dihasilkan dari investasi di saham. Saya menjadi kaya karena 100% hanya berinvestasi di saham, dan juga nggak ada pekerjaan lain.
  3. Seluruh produk-produk dari perusahaan publik (perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa), mulai dari pasta gigi pepsodent hingga restoran KFC, semuanya sangat bermanfaat terhadap kehidupan sehari-hari orang banyak, sehingga dengan berinvestasi di pasar saham maka kita turut memajukan perekonomian nasional.
  4. Sebagian besar waktu saya digunakan untuk membaca, membaca, dan membaca. Saya nggak suka kemana-mana (kecuali keluar negeri sekalian), melainkan duduk aja di taman kecil di rumah, untuk membaca, mulai dari membaca laporan keuangan, berita-berita perusahaan, dan lain-lain yang berhubungan dengan emiten dan saham. Buffett juga kerjaannya begitu: Membaca, bahkan hingga usianya 80-an seperti sekarang, ia masih menghabiskan 6 jam sehari untuk membaca.
  5. Belilah saham yang harganya lebih rendah dibanding nilai intrinsiknya. Menghitung nilai intrinsik memang agak rumit, tapi itu bisa dipelajari.
Okay, kurang lebih gitu aja, selamat mendengarkan, semoga bermanfaat!
Catatan: Mohon maaf di videonya gak ada gambarnya sama sekali karena saya nggak ngerti juga cara mengeditnya gimana. Terus suaranya agak kecil dan juga agak kurang jelas karena saya merekamnya pake handphone, tapi itu bisa diakali dengan mendengarkannya melalui peralatan audio yang bagus, misalnya melalui speaker Simbadda/Altec Lansing yang biasa dipakai untuk mendengarkan musik di komputer.
NB: Penulis  merekam seminar yang penulis selenggarakan pada tanggal 7 Desember lalu dalam bentuk CD, dan anda bisa membeli CD-nya

Tempo Scan Pacific

Dari sisi kualitas fundamental, Tempo Scan Pacific (TSPC) sebenarnya tidak kalah bagusnya dibanding Kalbe Farma (KLBF), namun saham perusahaan milik Grup Tempo ini tidak begitu likuid. However, ketidak likuidannya tersebut turut menyebabkan valuasi TSPC ini menjadi lebih murah dari KLBF, dan saham ini mungkin menjadi menarik untuk diperhatikan setelah turun terus belakangan ini, total penurunannya hampir 30% dalam enam bulan terakhir. Meski BEI kini dipenuhi oleh cukup banyak saham-saham undervalue, namun TSPC mungkin juga menarik untuk diperhatikan mengingat jenis sektornya yang aman dari sentimen negatif, dan pergerakan sahamnya juga tidak begitu dipengaruhi oleh fluktuasi IHSG yang hingga saat ini masih bearish(beta-nya kurang dari 1).

Kebanyakan orang mengenal TSPC sebagai perusahaan farmasi, dan hal itu memang benar. TSPC adalah pemilik dari beberapa merk obat ringan/multivitamin yang cukup terkenal, seperti Bodrex, Contrexyn, Oskadon, Hemaviton, dan Neo Rheumacyl. Selain obat warung, TSPC juga memproduksi/menjadi prinsipal bagi obat-obatan yang khusus dijual di apotek, memproduksi obat-obatan yang kemudian dijual ke perusahaan farmasi lain, termasuk menjadi pemegang lisensi bagi beberapa merk obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi luar negeri.
Namun TSPC tidak hanya menjual produk-produk farmasi, melainkan juga memproduksi produk-produk kebutuhan sehari-hari dan kosmetik. Untuk produk kebutuhan sehari-hari, beberapa merk yang dimiliki perusahaan adalah Nivea, Zwitsal (keduanya diproduksi untuk Unilever/UNVR), Marina Hand & Body Lotion, My Baby, pembersih lantai dan pembersih piring SOS, pasta gigi dan obat kumur Mouthwash Total Care, dan sabun mandi Claudia. Untuk kosmetik? Ada Marina, Revlon, Estee Lauder, Aramis, hingga DKNY. Pada Kuartal III 2013, produk-produk kebutuhan sehari-hari dan kosmetik ini menyumbang pendapatan sebesar Rp1.2 trilyun, atau tidak begitu jauh dibanding pendapatan dari produk-produk farmasi sebesar Rp1.5 trilyun. Jadi dalam hal ini TSPC memang agak berbeda dengan KLBF yang fokus pada produksi obat-obatan dan makanan/minuman bernutrisi, tapi tidak memproduksi sabun mandi atau kosmetik sama sekali.
Koleksi produk-produk kebutuhan sehari-hari dan kosmetik milik PT. Tempo Scan Pacific, Tbk
Meski model bisnisnya mirip-mirip UNVR, namun kinerja TSPC dari sisi rasio profitabilitas jauh dibawah perusahaan asal Belanda tersebut, yang mungkin karena jumlah konsumen/pengguna dari produk kebutuhan sehari-hari dan kosmetik milik TSPC tidak sebanyak pengguna produk-produk yang sama milik UNVR. Tapi dari sisi konsistensi kinerja dalam jangka panjang, serta tingkat kemapanan perusahaan, maka TSPC sama bagusnya dibanding UNVR maupun KLBF (tingkat kemapanan TSPC bisa dilihat dari posisi aset lancarnya yang besar, dan jumlah utang bank/obligasinya yang nyaris nol, jadi kenaikan/penurunan BI Rate tidak berpengaruh apapun). Jika anda perhatikan, meski sektor consumer goods termasuk didalamnya industri farmasi menawarkan pertumbuhan yang konsisten dalam jangka panjang, namun bukan berarti semua perusahaan di sektor ini memiliki kinerja yang konsisten tersebut. Namun bagi TSPC, kinerjanya dalam lima tahun terakhir telah tumbuh secara moderat namun pasti, buah dari pengalaman perusahaan merintis usahanya sejak tahun 1970. Yang terbaru, kalau anda lewat di Jln. Rasuna Said, Jakarta, anda akan bisa melihat menara Tempo Scan yang berdiri dengan megahnya. Menara tersebut memang baru selesai dibangun sekitar setahun lalu.
Karena perusahaannya sudah mapan, maka praktis tidak ada yang bisa diceritakan mengenai rencana pengembangan/ekspansi perusahaan kedepannya, kecuali secara rutin meluncurkan produk-produk baru atau mengemas produk lama dengan kemasan baru yang lebih fresh di mata konsumen. Tapi terkait dengan rencana Pemerintah menyelenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BJPS) mulai tahun 2014 mendatang, dimana hal itu kemungkinan akan berdampak positif bagi perusahaan-perusahaan farmasi, maka TSPC sebagai perusahaan yang mapan berpeluang untuk secara maksimal memanfaatkan momentum BPJS tersebut. Pihak perusahaan sendiri sudah mulai me-registrasi-kan beberapa jenis produk farmasinya untuk ikut serta dalam program tersebut.
Lalu bagaimana dengan isu buruh yang terus menerus demo minta naik gaji? Nah, kalau untuk yang satu ini, TSPC sebagai perusahaan padat karya (mempekerjakan banyak pegawai blue collar) memang turut terkena imbasnya, dan hal itu pula yang menyebabkan pendapatannya pada Kuartal III 2013 hanya naik 3.7%, hasil dari adanya gangguan produksi karena sebagian pekerjanya ikut-ikutan mogok kerja. Pabrik utama milik TSPC memang terletak di salah satu Kawasan Industri di Cikarang, Jawa Barat, dimana disitulah pusat ‘pergerakan’ para kaum buruh tadi. Dan sebenarnya mungkin hal ini pula yang menyebabkan penurunan saham TSPC belakangan ini, karena kalau kita menyaksikan di televisi, para buruh itu masih ngotot minta gaji Rp3.7 juta per bulan, sementara Jokowi hanya menyetujui Rp2.4 juta.
Dan bahkan kalaupun para buruh yang bekerja di TSPC tidak ikut mogok, perusahaan tetap harus menghadapi kenaikan biaya produksi yang signifikan karena kenaikan upah buruh menjadi Rp2.4 juta tadi (tahun kemarin hanya Rp2.2 juta).
Anyway, penulis sendiri menganggap bahwa kenaikan upah buruh adalah sesuatu yang biasa dan wajar, yang secara rutin dihadapi perusahaan manapun setiap tahunnya. Dan hal itu biasanya bisa dengan mudah diatas dengan cara menaikkan harga jual produk secara pelan-pelan, terutama jika perusahaan yang bersangkutan bergerak di industri consumer goods, seperti halnya TSPC ini. Contohnya, jika sebelumnya harga satu strip Bodrex di warung kelontong adalah Rp3,000, maka ketika harganya dinaikkan menjadi Rp3,500, saya tidak berpikir bahwa orang yang sakit kepala menjadi berubah pikiran dan nggak jadi beli Bodrex ini.
Karena itulah, penurunan harga saham TSPC tetap merupakan sebuah opportunity. Sekarang, bagaimana valuasinya? Apakah benar-benar sudah murah?
Pada harga saham 3,300, PER TSPC tercatat 19.3 kali, sementara PBV-nya 3.9 kali. Untuk tahun buku 2012 lalu, perusahaan membayar dividen Rp75 per saham, yang itu berarti dividend yield-nya 2.3%. Bagi para investor tipe bargain hunter, ini bukan valuasi yang cukup murah. Tapi bagi investor yang menginginkan jenis investasi dengan risiko rendah, maka valuasi tersebut relatif sudah cukup masuk akal. You know, jika bicara investasi jangka panjang di sektor farmasi, maka orang-orang selalu menunjuk KLBF, KLBF, dan KLBF lagi (KAEF dan INAF ntar dulu deh). Tapi kalau berkaca pada valuasinya yang demikian tinggi, maka keputusan untuk membeli KLBF pada harganya saat ini adalah seperti membeli TSPC pada harga 4,500-an, alias terlalu mahal dan terdapat risiko kerugian yang bukan berasal dari perubahan fundamental atau penurunan kinerja perusahaan, melainkan dari kemungkinan berubahnya persepsi pasar bahwa valuasi KLBF memang seharusnya bisa lebih murah.
Dan berdasarkan pengalaman, saham-saham consumer memang seringkali turun signifikan bukan karena perusahaannya jadi jelek atau bangkrut, tapi memang karena harganya sebelumnya udah kelewat mahal aja. Contoh paling terbaru adalah penurunan harga Unilever (UNVR), dan Charoen Pokphand (CPIN), dimana kedua saham tersebut pada harganya masing-masing di 30,000-an dan 4,500-an memang mahal dilihat dari sisi manapun. Sementara TSPC? Ya sama juga demikian, dimana PBV 5.5 kali pada harga saham diatas 4,500 jelas tidak murah untuk ukuran perusahaan dengan ROE yang hanya 20.3%.
Tapi berhubung sekarang harganya memang sudah di level 3,300-an, maka saham ini mulai layak koleksi, minimal nyicil dulu lah. Kalau anda benar-benar pengen dapetin harga murah, maka idealnya tunggu TSPC ini di harga 2,500 – 2,800, yang mencerminkan PBV 3.0 – 3.3 kali. Ingat sekali lagi bahwa fluktuasi IHSG tidak begitu berpengaruh terhadap pergerakan saham TSPC ini, sehingga anda bisa membelinya kapanpun selama harga belinya ideal.
PT. Tempo Scan Pacific, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: AA
Rating saham pada 3,300: A
NB: Penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham dengan teman ‘Menghitung Nilai Intrinsik/Harga Wajar Saham’, sebuah tema yang penulis pikir cocok dengan kondisi pasar saat ini dimana terdapat cukup banyak saham-saham yang dijual murah. Keterangan lebih lanjut baca disini.

Artikel minggu depan adalah mengenai isu Tapering, another story from the United [...]

Seminar Nilai Intrinsik

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Jakarta, dengan tema menghitung nilai intrinsik/harga wajar saham. Berikut keterangan selengkapnya:

Berikut adalah rekaman suara penulis (rekaman suara, bukan video) ketika mengisi seminar sebelumnya. Durasi rekamannya 45 menit, sementara total seminarnya lebih dari 4 jam, sudah termasuk sesi tanya jawab:

Dan berikut ini adalah kisi-kisi materi untuk seminar kali ini.
A. Nilai intrinsik saham. Warren Buffett pernah mengatakan bahwa salah satu kriterianya dalam memilih saham/perusahaan untuk dibeli/diakuisisi adalah adanya harga yang jelas, dan dia tidak tertarik untuk ikut lelang. Maksudnya adalah, Buffett hanya mau membeli saham yang harganya wajar, atau kalau bisa undervalue, yaitu lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Nah, bagi investor kebanyakan, terkadang kesulitannya adalah terkait bagaimana cara untuk menentukan nilai intrinsik/harga wajar saham tersebut. Karena itulah, di seminar kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara menghitung nilai intrinsik, bagaimana cara menyeleksi saham yang bisa dihitung nilai intrinsiknya, hingga faktor-faktor eksternal yang juga harus diperhatikan. Plus, penulis juga akan meng-share beberapa saham yang menurut penulis memiliki nilai intrinsik yang menarik.
Catatan: Materi tentang nilai intrinsik ini sudah lebih diperbaiki/dilengkapi setelah beberapa waktu terakhir ini penulis banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku The Intelligent Investor dan Security Analysis karya Benjamin Graham. Anda juga bisa memperoleh bukunya disini, gratis!
BBelajar dari Annual Letter Warren Buffett. Anda mungkin sudah sering membaca tulisan tentang Warren Buffett, namun pernahkah anda membaca tulisan yang ditulis oleh Buffett sendiri? Buffett memulai karier-nya sebagai fund manager pada tahun 1956, dan sejak itu ia rutin menulis surat tahunan (Annual Letter) tentang kegiatan investasinya, termasuk bagaimana metode investasinya, kepada para partnernya minimal setahun sekali. Penulis kebetulan sudah membacanya, dan dari situ ada banyak pelajaran yang bisa dipetik seperti: 1. Filosofi investasi ala Buffett, yang menjadikannya sukses seperti sekarang ini, 2. Metode investasi dan pemilihan sahamnya, dan 3. Cara untuk mengatasi koreksi/penurunan pasar, dalam hal ini penurunan Dow Jones (kalau di Indonesia, penurunan IHSG). Dan dalam seminar kali ini, kita akan membahas paling tidak ketiga poin tersebut.

Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:

  1. Mengetahui cara menghitung nilai intrinsik, menentukan margin of safety, dan menerapkannya dalam kegiatan investasi anda.
  2. Lebih tenang dan fokus dalam setiap pengambilan keputusan karena anda mengetahui bahwa anda membeli saham yang bagus dan murah, dan
  3. Mampu meraih keuntungan jangka panjang yang konsisten.
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin CityMall Thamrin City Lantai 6, Jln. Thamrin Boulevard, Jakarta Pusat (sekitar 150 meter dari Bundaran HI)
  • Hari/Tanggal: Sabtu7 Desember 2013
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB. Jika nanti ada banyak pertanyaan setelah penyampaian materi seminarnya (di akhir acara akan diadakan sesi tanya jawab dan diskusi bebas), maka acaranya bisa diperpanjang sampai pukul 17.00.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi

Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp400,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:

1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Gareth Frank Bale, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda hubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB [...]

Prospek IPO Sido Muncul

IPO dari PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (Sido Muncul) mungkin menarik untuk diperhatikan tidak hanya karena nama besar perusahaannya, tapi juga karena sektornya yang sangat menarik yakni sektor farmasi (obat-obatan) jenis herbal, atau yang biasa disebut dengan jamu. Seperti yang kita ketahui, sektor farmasi adalah salah satu sektor yang paling menguntungkan di Indonesia, dan Sido Muncul sepertinya juga merupakan salah satu perusahaan terbaik di sektor ini. Pada tahun penuh 2012, perusahaan mencatat laba bersih Rp388 milyar, yang mencerminkan return on asset (ROA) 18.0%. Untuk perbandingan, pada periode yang sama, Kalbe Farma (KLBF) yang notabene merupakan perusahaan farmasi terbaik di BEI, juga mencatatkan ROA 18.8%.

Sementara jika kita memperhatikan data kinerja historis perusahaan setidaknya hingga lima tahun kebelakang, maka Sido Muncul ini bahkan relatif lebih bagus dibanding KLBF. Anyway, mari kita pelajari lagi Sido Muncul ini dari awal.
Sejarah Sido Muncul dimulai sejak tahun 1940 di Yogyakarta, dimana seorang pengusaha bernama Ibu Rahkmat Sulistioningsih merintis usaha jamu tradisional dari rumahnya, dengan dibantu oleh tiga orang karyawan. Usaha tersebut berjalan sukses, dan pada tahun 1951 berdirilah perusahaan dengan nama ‘Sido Muncul’ yang bermakna ‘Impian yang Terwujud’. Pabrik pertama milik perusahaan berlokasi di Semarang, dengan produk utamanya yakni jamu Tolak Angin, yang kemudian menjadi produk andalan perusahaan hingga saat ini.
Pada tahun 1972, tampuk kepemimpinan perusahaan diserahkan kepada Irwan Hidayat, yang merupakan cucu dari Ibu Rahkmat. Tiga tahun kemudian yakni pada tahun 1975, Sido Muncul resmi berbadan hukum (menjadi PT). Namun perkembangan perusahaan selanjutnya terbilang lamban, dimana kegiatan ekspansi yang dilakukan biasanya hanya berupa perluasan pabrik atau penggantian mesin-mesin yang ada dengan mesin baru yang lebih modern. Sido Muncul baru memiliki pabrik keduanya pada tahun 2000, berlokasi di Ungaran.

Logo Sido Muncul yang menggambarkan Ibu Rahkmat beserta cucunya yang ketika itu berusia 4 tahun, Pak Irwan Hidayat

Perkembangan perusahaan yang lamban tersebut kemungkinan karena perusahaan memang tidak memerlukan pengembangan apapun. Sebelum menjadi perusahaan yang bernilai trilyunan Rupiah seperti sekarang ini, Sido Muncul sejak awal sudah merupakan perusahaan yang menguntungkan karena fokus pada produk obat-obatan ringan dan makananan/minuman bernutrisi, seperti obat masuk angin, obat panas dalam, hingga minuman berenergi, dimana jenis produk tersebut dikonsumsi oleh orang banyak secara terus menerus (berbeda dengan obat diabetes, misalnya, yang tentunya hanya dikonsumsi oleh penderita diabetes). Selain itu karena perusahaan mengambil bahan baku dari jenis-jenis tanaman yang mudah diperoleh dari alam bumi nusantara, seperti kunyit, jahe, temu lawak, kayu manis, lengkuas, dan pasak bumi (kalau anda pernah mampir ke pasar tradisional, anda bisa melihat sendiri bahwa harga kunyit emang murah banget), maka biaya produksinya menjadi rendah dan alhasil margin laba bersihnya menjadi besar.
Tapi faktor jenis produk dan murahnya harga bahan baku tentunya tidak bisa menjadi jaminan kesuksesan sebuah perusahaan. Bagi Sido Muncul, kunci kesuksesan perusahaan hingga menjadi besar seperti sekarang ini adalah berkat dua merk produknya yang terkenal, yakni Jamu Tolak Angin dan Jamu Kuku Bima. Berkat dua produk itu pula, Sido Muncul sejak dulu praktis merupakan pesaing utama PT Bintang Toedjoe (anak usaha Kalbe Farma/KLBF) di industri obatan-obatan herbal alias jamu. Jika diibaratkan PT Bintang Toedjoe ini adalah Unilever, maka Sido Muncul adalah Grup Wings.
Tapi belakangan ini seperti halnya Grup Wings yang berekspansi dengan meluncurkan mie dan kecap Sedaap, Sido Muncul juga mulai menggeliat dengan mengembangkan produk-produk baru seperti Minuman Alang Sari, Kunyit Asam, Beras Kencur, hingga Jahe Wangi. Dan sejauh ini produk-produk tersebut juga cukup sukses dipasaran.
Sayangnya seperti yang sudah penulis duga sebelumnya, perusahaan bagus model gini biasanya tidak akan dilepas begitu saja oleh pemiliknya, bahkan meski melalui mekanisme IPO. Sebab dilihat dari sisi manapun, Sido Muncul sama sekali tidak membutuhkan bantuan pendanaan bahkan jika mereka berniat untuk mendirikan pabrik baru dll, karena posisi dana cash mereka yang sangat melimpah. Jadi kecuali perusahaannya bisa di-IPO-kan dengan hanya melepas sedikit saham pada harga jual yang premium, maka lebih baik tidak perlu IPO sama sekali.
Dan ternyata memang benar. Pada IPO-nya kali ini, hanya 10% saham Sido Muncul yang dilepas ke publik, itupun 1% dialokasikan untuk karyawan perusahaan (sehingga yang benar-benar dilempar ke investor publik hanya 9%). Harganya? Yang jelas tidak murah. Saham Sido Muncul direncanakan akan dilepas pada harga sekitar Rp600 per saham, sehingga mencerminkan kapitalisasi pasar (market cap) Rp9 trilyun. Karena modal bersih perusahaan pasca IPO adalah sekitar Rp2.1 trilyun, maka itu berarti PBV-nya 4.2 kali. Mahal? Secara absolut, ya, karena PBV yang wajar bagi saham perusahaan dengan kualitas fundamental seperti Sido Muncul ini adalah 2 atau 3 kali (kalau Sido Muncul nanti masuk kelompok bluchip, maka baru deh boleh lebih mahal dari itu).
Tapi secara relatif, mungkin tidak. Kalau kita pakai PBV KLBF yang saat ini tercatat 8.1 kali pada harga 1,280 sebagai perbandingan, maka harga IPO Sido Muncul terbilang masih wajar karena cuma setengahnya. Kalau kita bicara prospek jangka panjangnya pun, boleh dibilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengingat tipikal bisnis perusahaan yang tahan terhadap gejolak perekonomian. You know, kalau anda sakit jantung dan harus segera dirawat, maka sebelum masuk ruang rumah sakit anda akan dihadang oleh petugas administrasi. Tapi kalau anda sakit perut karena masuk angin, maka anda bisa langsung ke warung kelontong terdekat untuk membeli Tolak Angin seharga Rp1,500 saja per sachet-nya.
However, jika dua atau tiga tahun lalu saham-saham IPO senantiasa diburu oleh investor karena biasanya harganya langsung melejit ketika listing perdana, maka sekitar setahunan terakhir ini kondisinya berbalik, dimana terdapat banyak saham IPO yang tidak hanya tidak naik di hari pertama dia listing, tapi malah turun. Sementara yang naik malah justru saham-saham yang secara fundamental nggak jelas, dan biasanya berakhir dengan penurunan gila-gilaan, seperti kasus Gading Development (GAMA).
Karena itulah, meski Sido Muncul ini tidak diragukan lagi merupakan perusahaan yang bagus dan seharusnya juga bisa dipilih untuk investasi jangka panjang, namun sebaiknya kita lihat saja dulu, bagaimana movement-nya nanti di market (pengalaman di SMBR dan WIIM nih). Tapi yang bisa penulis katakan adalah, jika nanti Sido Muncul ternyata benar-benar turun setelah listing, maka penurunan tersebut akan berhenti pada batas tertentu, untuk selanjutnya dalam jangka panjang dia akan naik lagi. Jadi anda bisa membelinya ketika dia turun hingga mentok tersebut. Hal ini pernah terjadi pada saham ICBP yang dulu sempat turun dari harga IPO-nya (5,350) hingga mentok di 4,000-an, tapi sekarang dia sudah berada di level 10,000-an.
Sementara jika dia malah sukses naik? Ya sudah biarin aja. Karena dalam kondisi pasar yang masih linglung seperti sekarang, terdapat banyak saham-saham lain yang lebih menarik karena lebih murah, baik secara relatif maupun absolut.
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk
Rating Kinerja per Juli 2013: AA
Rating Saham pada 600: A

Bagi anda yang membutuhkan prospektus Sido Muncul serta materi presentasi perusahaan, anda bisa mengirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Sido Muncul’, dan penulis akan mengirim file-filenya ke alamat email anda (dalam bentuk file PDF). Don’t worry, it’s free [...]

Kenapa Harus Takut sama Asing?

Minggu lalu, tepatnya pada hari Selasa tanggal 12 November, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate menjadi 7.50%, dan keputusan tersebut segera direspon negatif oleh pasar. Pada hari selasa tersebut dan disusul keesokan harinya, IHSG turun hingga total kembali ke level 4,200-an, dimana tekanan terbesar dialami oleh saham-saham perbankan dan properti, yang diperkirakan akan terkena imbas langsung dari kenaikan BI Rate tersebut. Ketika artikel ini ditulis IHSG sudah mulai naik lagi ke posisi 4,366, namun masih belum kembali ke posisi sebelum turun.

Namun yang mungkin lebih menarik untuk dicermati adalah kembali keluarnya dana asing dalam jumlah gila-gilaan, yakni total sekitar Rp4 trilyun hanya sepanjang November ini saja. Sebenarnya karena keluarnya asing tersebut penulis kira IHSG seharusnya bisa turun hingga lebih rendah dari posisinya saat ini, namun ternyata dia masih mampu bertahan di level 4,300-an. Dan kalau berkaca pada fakta bahwa asing sepanjang tahun 2013 sudah keluar sebesar Rp15.4 trilyun, dimana ini adalah untuk kali pertama sejak tahun 2005 asing mencatatkan net buy negatif, bahkan hingga sebesar itu, maka harusnya IHSG berada di posisi yang jauh dibawah posisinya pada saat ini, jika benar asing ‘menguasai’ pasar saham kita.
Fakta inilah yang kemudian membuat penulis berpikir, benarkah asing menguasai pasar saham Indonesia? Benarkah naik turunnya IHSG ditentukan oleh keputusan para bule ini dalam membeli atau menjual saham, sementara investor lokal tidak berdaya sama sekali?
Atau jangan-jangan itu semua cuma mitos?
Karena itulah, penulis kemudian buka-buka lagi data statistik perdagangan saham di BEI di masa lalu, terutama bagian foreign net buy alias nilai dana asing yang masuk dalam satu tahun, dan data kenaikan/penurunan IHSG dalam satu tahun tersebut. Berikut rekap-nya:
Year
Net Foreign Buy
Composite Growth (%)
1997
0.4
(44.3)
1998
5.1
(0.9)
1999
12.1
70.1
2000
0.8
(38.5)
2001
4.5
(5.8)
2002
7.9
8.4
2003
9.9
62.8
2004
18.8
44.6
2005
(15.4)
16.2
2006
17.3
55.3
2007
32.6
52.1
2008
18.7
(50.6)
2009
13.3
87.0
2010
21.0
46.1
2011
24.3
3.2
2012
15.9
12.9
2013*)
(15.4)
1.8
Catatan:
  1. Net foreign buy dalam trilyun Rupiah. Kalau angkanya merah berarti negatif alias net sell. Sementara kenaikan/penurunan IHSG (composite growth) adalah dalam persen.
  2. Datanya dimulai dari tahun 1997 karena data untuk tahun-tahun sebelum itu tidak tersedia (mungkin ada sih kalau nyari, tapi data diatas udah cukup lah).
  3. Data untuk tahun 2013 adalah hingga penutupan pasar tanggal 18 November.
Okay, kita mulai dari tahun 1997. Seperti yang anda tahu, ketika itu IHSG sedang dilanda koreksi terbesarnya sepanjang sejarah akibat krisis moneter (IHSG mulai ada sejak tahun 1982), dan IHSG menutup tahun 1997 dengan turun 44.3% dibanding posisi pada awal tahun. Pada situasi ini mungkin para investor ketika itu berpikir bahwa asing ramai-ramai keluar dari pasar. Tapi faktanya pada tahun 1997 tersebut asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp400 milyar (0.4 trilyun). Jangan salah, meski untuk saat ini Rp400 milyar tersebut tampak kecil, namun ketika itu, itu adalah jumlah dana yang sangat besar.
Tahun 1998 pasar masih diselimuti sentimen negatif akibat krisis dan sempat melanjutkan penurunannya, namun pada empat bulan terakhir mampu bangkit sehingga secara keseluruhan hanya turun tipis 0.9%. Pada tahun ini asing lebih gencar masuk ke bursa sebesar total Rp5.1 trilyun. Tahun 1999, IHSG rebound signifikan dan menutup tahun tersebut dengan kenaikan 70.1%, sementara net buy asing tercatat Rp12.1 trilyun.
Berikutnya, pada tahun 2000 dan 2001, asing masih tetap belanja saham meski nilainya turun dibanding tahun 1999, yakni Rp0.8 trilyun di 2000, dan Rp4.5 trilyun di 2001. Namun pada dua tahun tersebut, IHSG kembali jeblok masing-masing 38.5% di tahun 2000, dan 5.8% di tahun 2001.
Jadi kalau kita pakai data tahun 1997 – 2001, bisa disimpulkan bahwa ketika asing meningkatkan nilai pembeliannya, maka indeks akan naik. Sementara ketika asing mengurangi belanjanya (jadi masih beli saham, hanya jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya), maka indeks turun signifikan.
Namun poinnya adalah, selama periode lima tahun tersebut asing sama sekali tidak keluar, malah jika diakumulasikan mereka telah membeli saham senilai total Rp22.9 trilyun. Tapi selama periode tersebut IHSG turun dari posisi 721 di awal tahun 1997, menjadi 392 pada akhir tahun 2001, atau secara keseluruhan telah turun 45.6% selama lima tahun. Jika berkaca pada ‘mitos’ bahwa net buy asing seharusnya menyebabkan indeks naik, maka penurunan IHSG ketika asing melakukan net buy tersebut menjadi tidak bisa dijelaskan.
Okay lanjut. Pada tahun 2002, 2003, dan 2004, asing masih terus belanja saham, dan kali ini IHSG beneran ikut naik sampai menembus level psikologis 1,000 di akhir tahun 2004. Namun pada tahun 2005, asing memutuskan untuk keluar sehingga pada tahun tersebut mereka tercatat melakukan net sell sebesar Rp15.4 trilyun. Sementara IHSG? Apakah ikut turun? Ternyata tidak. Pada tahun 2005 tersebut IHSG dengan pedenya terus melaju, dan ditutup di posisi 1,163 pada akhir tahun, atau menguat 16.2%.
Jadi sekali lagi, jika sebelumnya yakni pada periode 1997 – 2001, masuknya asing tidak mampu menolong IHSG untuk setidaknya tidak turun, maka pada tahun 2005 ketika asing ini keluar, IHSG tetap terus maju pantang mundur.
Pada tahun 2006 dan 2007, IHSG kembali naik signifikan masing-masing diatas 50%. Dan memang, pada periode dua tahun tersebut asing juga kembali belanja jor-joran. Tapi pada tahun 2008, kondisinya kembali berbalik, dimana indeks jeblok sampai lebih dari separuhnya hingga menghapus kenaikan yang terjadi dua tahun sebelumnya.
Dan apakaaaaah asing juga ramai-ramai keluar pada tahun 2008 tersebut? Ternyata tidak! Asing masih net buy ketika itu, bahkan cukup besar yakni Rp18.7 trilyun. Jadi siapa sebenarnya yang berbondong-bondong keluar dari pasar pada tahun 2008 tersebut? Ya investor lokal alias kita sendiri! Kemungkinan indeks pada tahun 2008 bisa turun sampai sedalam itu karena banyaknya peristiwa force sell yang dialami investor lokal yang belanja saham pake margin, sehingga mereka dipaksa menjual sahamnya dan itu turut membuat indeks turun semakin dalam. Kalau anda masih ingat, tahun 2007 – 2008 adalah tahun dimana saham-saham Bakrie sedang jaya-jayanya, dimana Bumi Resources (BUMI) sempat berada di posisi 8,000, dan ketika itu banyak investor yang memegangnya pake duit margin.
Namun berbeda dengan kasus 1998, market crash di tahun 2008 hanya berlangsung sebentar (sekitar sembilan bulan), dan pada tahun 2009 IHSG kembali melejit hingga mencatat rekor kenaikan 87.0%. Sementara posisi net buy asing ketika itu? Malah turun dibanding tahun 2008, yakni hanya Rp13.3 trilyun.
Dan seterusnya, dan seterusnya. Jika anda kembali menganalisis tabel diatas hingga periode tahun 2013, maka anda akan menemukan fakta bahwa net buy atau net sell asing tidak memiliki korelasi/hubungan dengan kenaikan atau penurunan IHSG. Jika asing jualan maka itu bukan berarti pasar akan turun, dan jika asing belanja, maka itu juga bukan berarti pasar akan naik. Dalam jangka sangat pendek memang mereka sekilas tampak mempengaruhi pasar. Namun dalam jangka panjang sangat jelas bahwa sebenarnya investor lokal-lah, yang lebih dominan terhadap pergerakan indeks.
Dan kalau kita pakai data nilai transaksi perdagangan saham berdasarkan jenis investornya, yakni asing versus lokal, maka sejak tahun 1997 sampai sekarang, investor lokal hampir selalu lebih dominan dibanding investor asing. Berikut datanya, angka dalam persentase, sebelumnya catat bahwa untuk tahun 2013 datanya adalah hingga penutupan pasar tanggal 18 November.
Year
Foreign (%)
Local (%)
1997
52
48
1998
42
58
1999
35
65
2000
20
80
2001
11
89
2002
8
92
2003
28
72
2004
41
59
2005
41
59
2006
30
70
2007
22
78
2008
27
73
2009
25
75
2010
31
69
2011
31
69
2012
43
57
2013*)
42
58
Okay, perhatikan bahwa kecuali untuk tahun 1997, setiap tahunnya nilai perdagangan saham oleh investor lokal selalu lebih besar dibanding investor asing, termasuk untuk tahun 2013 ini. Jika dirata-ratakan selama 17 tahun terakhir ini, maka dari nilai transaksi perdagangan saham sebesar katakanlah Rp3 trilyun dalam satu hari, maka hanya kurang dari Rp1 trilyun yang dilakukan oleh asing, sementara selebihnya yakni Rp2 trilyun tetap dilakukan oleh investor lokal.
Nah, jadi berikut adalah kesimpulan dari pembahasan kita kali ini:
  1. Pergerakan asing tidak berpengaruh terhadap pergerakan indeks. Dalam jangka pendek mereka mungkin berpengaruh, tapi dalam jangka waktu tahunan tetap investor lokal yang lebih dominan.
  2. Satu-satunya pengaruh yang dihasilkan oleh asing adalah reaksi berlebihan yang dilakukan oleh investor lokal dalam menanggapi pergerakan mereka. Ini bisa dilihat pada kasus tahun 1997 – 2001, dimana selama periode tersebut asing terus masuk namun sempat ‘mengerem’ di tahun 2000 dengan hanya mencatatakan net buy Rp0.8 trilyun, tapi IHSG pada tahun tersebut malah anjlok hingga hampir 40%.
  3. Kenaikan atau penurunan IHSG (termasuk juga kenaikan dan penurunan saham-saham) tidak selalu karena faktor fundamental, namun pada akhirnya faktor fundamental tersebut tetap berpengaruh signifikan. Pada tahun 2008 IHSG seharusnya tidak turun sampai sedalam itu, karena ketika itu perekonomian nasional sebenarnya masih relatif baik-baik saja (tidak seperti tahun 1998). Tapi karena banyaknya kasus force sell, dan mungkin juga penyebab lainnya, maka jadilah IHSG ketika itu turun terus sampai posisi angka cantik yakni 1,111. Namun pada tahun berikutnya yakni 2009, saham-saham segera naik kembali ke posisi wajarnya masing-masing, dan alhasil tahun 2009 menjadi tahun dengan kenaikan IHSG paling tinggi sepanjang sejarah, sebagai ‘kompensasi’ atas ‘penurunan berlebihan’ yang terjadi setahun sebelumnya.
Balik lagi ke soal asing. Kalau kita perhatikan, baik BEI maupun OJK seperti membiarkan asing keluar masuk bursa, dan ini berbeda dengan istrumen investasi lain seperti properti, surat utang negara, obligasi, hingga deposito, dimana aktivitas investor asing di instrumen-instrumen investasi tersebut dibatasi dengan berbagai peraturan. Namun hal ini mungkin bukan karena kedua otorita bursa tersebut pengangguran, melainkan justru disengaja karena nilai transaksi perdagangan saham di Indonesia masih kurang likuid. Sebagai gambaran, rata-rata nilai transaksi perdagangan di BEI untuk seluruh saham adalah Rp5 trilyun atau setara kurang lebih US$ 500 juta per hari. Dan berapa nilai transaksi perdagangan di bursa New York? I don’t know, tapi kalau kita ambil contoh saham Exxon Mobil, nilai transaksi perdagangannya adalah US$ 1.5 milyar per hari! Atau tiga kali lebih besar dibanding nilai transaksi seluruh saham di BEI (padahal itu baru satu saham doang, belum seluruh saham yang menjadi komponen Bursa New York).
Karena itulah, keberadaan asing di BEI diperlukan untuk menjaga likuiditas pasar. Diatas disebutkan bahwa dari nilai transaksi harian sebesar Rp3 trilyun, Rp1 trilyun diantaranya dilakukan oleh asing. Jika asing ini dilarang trading saham, maka nilai transaksi harian tersebut akan berkurang cukup signifikan menjadi hanya Rp2 trilyun saja, dan itu jelas seret banget. Kalau dilihat dari sisi ini maka wajar jika kemudian pergerakan asing ini ada juga pengaruhnya kalau dalam jangka pendek (trading harian, mingguan, hingga bulanan). Tapi dalam jangka panjang, tetap lokal yang lebih dominan.
Kalau menurut penulis sendiri, jika nanti jumlah investor/trader lokal di BEI sudah cukup banyak (sekarang baru kurang dari 1% dari jumlah penduduk), maka mungkin barulah ketika itu gerak gerik asing akan dibatasi. Tapi sebelum itu, ingat bahwa kita sebenarnya nggak perlu takut sama asing, sama sekali. Kalau mereka mau keluar ya silahkan, kalau mau masuk pun ya monggo. I don’t care.
NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) berisi kumpulan rekomendasi saham dari 30 saham pilihan di BEI. Anda bisa memperolehnya [...]

Gading Development

Pasar boleh saja tidak bersahabat dengan saham-saham di sektor properti dan konstruksi, beberapa bulan terakhir ini. Tapi apa yang dialami saham Gading Development (GAMA) benar-benar merupakan special case. Setelah pada Juni – Agustus lalu sama sekali tidak tersentuh oleh koreksi IHSG maupun koreksi pada sektor properti itu sendiri, namun hanya dalam hitungan dua minggu terakhir, saham ini langsung turun dari posisi 500.. sampai posisi 90! Dengan demikian bagi siapapun yang memegang GAMA ini di harga 500 dan masih memegangnya sampai sekarang, maka dia sudah mengalami potential loss 81.2%.

Pergerakan GAMA yang tidak wajar ini jelas karena ulah bandar, sebab jika sahamnya bergerak secara alamiah mengikuti gerak pasar, maka dari sisi valuasi dia juga tidak mungkin bisa naik sampai 500 (kita akan membahasnya dibawah). Anyway, mari kita cek GAMA ini dari awal.

Logo PT Gading Development, Tbk

GAMA merupakan perusahaan properti kecil yang ketika pertama kali didirikan pada tahun 2003 bergerak di bidang pembangunan apartemen dan perumahan jenis town house, yakni kompleks perumahan kecil nan eksklusif dengan jumlah unit rumah yang tidak terlalu banyak. Namun seiring berjalannya waktu perusahaan mulai masuk ke jenis properti yang lain. Saat ini GAMA memiliki setidaknya tiga unit usaha, yakni pembangunan apartemen dan perumahan town house, hotel dan resort, serta perumahan biasa dengan harga jual yang lebih terjangkau dibanding perumahan jenis town house. Proyek-proyek milik perusahaan tersebar di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Cianjur, Cirebon, hingga Solo. Selain itu GAMA juga memiliki beberapa bidang tanah kosong (landbank) di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan nilai Rp692 milyar, atau lebih dari separuh total aset perusahaan. Namun hingga saat ini perusahaan sama sekali belum memperinci, akan diapakan tanah kosong tersebut.
Hingga Kuartal III 2013, GAMA hanya mampu mencatat laba bersih sebesar Rp16 milyar, yang setelah dibagi jumlah sahamnya maka EPS-nya hanya Rp1.55, alias kecil sekali. Namun laba tersebut mungkin belum mencerminkan potensi kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Sepanjang tahun 2013, hanya ada satu proyek milik GAMA yang menuai pendapatan, yakni apartemen Gading Green Hill di Kelapa Gading, Jakarta Utara, itupun belum sepenuhnya terjual/selesai dibangun (baru sekitar 44%).
Sementara diluar apartemen Gading Green Hill tersebut, berikut adalah beberapa proyek lainnya milik perusahaan, yang rata-rata merupakan proyek perumahan atau townhouse, yang hingga laporan keuangan terbarunya terbit masih dalam tahap pembangunan. Progress-nya adalah per tanggal 30 September 2013:
Nama Proyek
Progress (%)
Villa Permata Tambun, Bekasi
55
Grand Regency, Bekasi
47
Villa Permata Cikarang
38
Sindang Panon Regency, Tangerang
44
Senopati Estate, Bekasi
26
Botanical City, Solo
0
Green Land Resort, Cianjur
0
The Dome, Jakarta Barat
0
Sayangnya selain Gading Green Hill yang disebut diatas dan juga Sindang Panon Regency, rata-rata proyek diatas diperkirakan baru akan selesai/menuai pendapatan pada tahun 2015, alias masih cukup lama. Malah untuk tiga proyek yang disebut terakhir, yakni Botanical City, Green Land Resort, dan The Dome, pembangunannya sama sekali belum dimulai alias masih sebatas perencanaan.
Sementara untuk recurring income alias pendapatan berulang, pada tahun 2013 ini GAMA mulai membangun dua buah hotel (Zest Hotel) masing-masing di Cirebon dan Solo, namun juga belum ada keterangan kapan kira-kira hotel tersebut bakal selesai di bangun, mungkin tahun 2015 atau lebih lama lagi.
Tapi intinya untuk tahun 2014 mendatang, perusahaan mungkin sepenuhnya hanya bisa mengandalkan pendapatan dari apartemen Gading Green Hill dan juga perumahan Sindang Panon, yang itu berarti labanya juga belum akan melonjak. Jadi dengan catatan proyek-proyeknya diatas berjalan lancar, sehingga pendapatannya pun melonjak, maka saham GAMA ini mungkin baru menarik untuk dikoleksi tahun 2015 mendatang. Jika dibandingkan dengan banyak perusahaan properti lainnya di bursa yang sudah menuai hasil dari proyek-proyek propertinya sejak tahun 2011 lalu, dan juga beberapa lainnya yang berpeluang untuk mulai panen laba pada tahun 2014 mendatang, maka GAMA ini boleh dibilang ketinggalan start. Kita tidak tahu bagaimana kinerjanya di tahun 2015 nanti, tapi yang jelas untuk tahun 2014 besok kinerja GAMA kemungkinan belum akan jauh-jauh dari kinerjanya saat ini.
Dan satu hal yang mungkin perlu dicermati adalah, dari sekian banyak proyek properti yang tengah dikerjakan perusahaan ataupun baru sebatas direncanakan, tidak ada satupun yang berlokasi di Sukoharjo, tempat dimana landbank milik perusahaan berada. Jadi entah apa yang akan dilakukan perusahaan dengan landbank-nya tersebut.
Kesimpulannya, kalau bicara prospek maka GAMA ini masih serba abu-abu. However, perusahaan ini relatif bersih dari utang (hanya ada utang bank sebesar Rp160 milyar), dan yang pasti posisi harganya pada saat ini mungkin mulai menarik bagi sebagian orang. Pada harga saham 90, PBV GAMA adalah 0.9 kali. Valuasi ini mungkin belum bisa dikatakan murah mengingat aset terbesar milik perusahaan, yakni landbank-nya di Sukoharjo, kemungkinan belum akan jadi apa-apa dalam waktu satu dua tahun mendatang mengingat perusahaan juga belum punya planning pengembangan apapun untuk landbank-nya tersebut. Jadi kecuali jika nanti GAMA merilis pengumuman dengan judul ‘Perusahaan akan membangun perumahan terintegrasi di Sukoharjo’, atau semacamnya, maka aset tanah kosong tersebut tidak bermakna apapun, selain karena kalau dilihat sekilas, lokasinya masih jauh dari mana-mana (Sukoharjo terletak di sisi selatan Kota Solo).
Terkait sahamnya, ketika saham GAMA ini naik sampai 500, sepertinya tidak ada yang memperhatikan. Tapi begitu dia kemarin anjlok, mungkin ada diantara anda yang ‘menangkap pisau jatuh’. Kalau dari sisi valuasi, saham GAMA sekarang ini memang sudah nggak begitu mahal lagi, meski juga belum bisa dikatakan murah karena alasan diatas. Sementara untuk bisa naik dalam jangka menengah, katakanlah hingga tahun 2014 mendatang, peluangnya juga kecil mengingat kinerja perusahaan, seperti yang sudah kita bahas, mungkin belum akan langsung melonjak kecuali jika apartemen Gading Green Hill-nya langsung sold out.
Tapi jika melihat pergerakan sahamnya yang turun dengan sangat ekstrim, maka biasanya nanti ada saja momentum dia untuk rebound, dan ketika itulah anda mungkin bisa keluar.
PT Gading Development, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: BB
Rating Saham pada 90: [...]

Pelemahan Rupiah, dan Pengaruhnya Terhadap Emiten Properti

Kalau melihat nature bisnisnya, fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, dalam hal ini US Dollar, sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan/emiten properti mengingat mereka memperoleh pendapatannya dalam mata uang Rupiah, dan membayar biaya-biaya seperti biaya kontraktor atau biaya pembelian lahan dalam mata uang Rupiah juga (beberapa perusahaan properti ada juga yang impor bahan bangunan, tapi nilainya biasanya kecil). Tapi ceritanya jadi lain jika perusahaan yang bersangkutan memiliki utang dalam mata uang Dollar, dimana nilai beban bunga yang harus dibayarkan maupun nilai pokok utang itu sendiri menjadi sangat dipengaruhi oleh naik turunnya nilai Rupiah terhadap Dollar.

Saat ini di BEI terdapat setidaknya lima perusahaan properti yang punya utang dalam mata uang Dollar. Mereka adalah Alam Sutera Realty (ASRI), Lippo Karawaci (LPKR), Kawasan Industri Jababeka (KIJA), Modernland Realty (MDLN), dan Bakrieland Development (ELTY). Kecuali ELTY yang punya utang dimana-mana, keempat perusahaan properti lainnya menerbitkan utang dengan mata uang Dollar tersebut dalam bentuk obligasi jangka panjang yang diterbitkan di Singapura. Berikut adalah detailnya:
Perusahaan
Jumlah Unit Obligasi
Total Nilai Utang
Bunga
Jatuh Tempo
(Jutaan US Dollar)
(%)
LPKR
5
653
6.12 – 9.00
2019 – 2020
ASRI
2
385
6.95 – 10.75
2017 – 2020
KIJA
1
175
11.75
2017
MDLN
1
150
11.00
2016
Catatan:
  1. Kecuali untuk MDLN (baca keterangan no 3), total nilai utang adalah per tanggal 30 September 2013. Setelah dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah dan disajikan di laporan keuangan masing-masing, angkanya menjadi cukup besar karena pada tanggal tersebut kurs Rupiah berada di salah satu level terendahnya yakni Rp11,613 per USD.
  2. KIJA berencana untuk menerbitkan obligasi baru untuk melunasi obligasi lama, senilai US$ 350 juta. Obligasi tersebut akan jatuh tempo tahun 2020 dengan tingkat bunga yang lebih rendah (sekitar 6 – 7%), namun belum ada kepastian kapan obligasi tersebut akan diterbitkan.
  3. MDLN menerbitkan obligasinya pada tanggal 25 Oktober 2013, sehingga obligasi diatas belum dimasukkan dalam laporan keuangan terbarunya. MDLN tadinya berniat menerbitkan obligasi senilai US$ 300 juta, namun yang bisa direalisasi hanya separuhnya. Pada tanggal obligasinya terbit, kurs Rupiah berada di level yang cukup rendah yakni Rp11,142, sehingga jika nanti Rupiah menguat hingga melewati level tersebut maka MDLN akan memperoleh keuntungan kurs. Saat ini Rupiah masih berada di level Rp11,486 per Dollar.
Kecuali MDLN, ketiga perusahaan properti lainnya menerbitkan obligasi ketika Rupiah masih berada di level Rp9,000-an per Dollar. Sehingga ketika saat ini Rupiah melemah ke level Rp11,000-an, maka baik LPKR, ASRI, maupun KIJA bisa dipastikan mengalami penurunan laba akibat kerugian kurs, baik yang sudah direalisasi (bunga obligasi yang sudah dibayarkan), maupun belum (bunga yang belum dibayarkan, dan juga nilai pokok utang yang belum dibayarkan). Pada laporan keuangan terbaru milik KIJA, yakni untuk periode Kuartal III 2013, kedua jenis rugi kurs tersebut (yang sudah direalisasi maupun belum) sama-sama disajikan sebagai akun beban yang mengurangi nilai laba perusahaan, dan alhasil laba KIJA tampak turun tajam dari Rp281 milyar menjadi hanya Rp97 milyar saja.
Namun penulis mungkin perlu menggaris bawahi kata ‘tampak’ disini, karena sejatinya laba KIJA tidak benar-benar turun mengingat utang obligasinya yang USD 175 juta tadi belum dibayar melainkan dibayarnya nanti tahun 2017, sehingga kerugian kurs akibat penurunan nilai obligasi tersebut (nilainya sekitar Rp300 milyar) sama sekali belum terealisasi, atau dengan kata lain perusahaan tidak benar-benar mengeluarkan dana sebesar Rp300 milyar tersebut. Hal itu juga bisa dilihat dari beban pajak KIJA yang tercatat Rp65 milyar pada Kuartal III 2013, atau masih naik dibanding pajak untuk periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp58 milyar. Jika laba KIJA benar-benar turun, maka seharusnya nilai pajaknya juga turun.
Sementara pada laporan keuangan LPKR, hanya kerugian kurs yang sudah direalisasi yang dicantumkan di laporan keuangan, sehingga laba bersihnya masih bisa tertulis naik signifikan. Setelah penulis pelajari, hal itu karena manajemen LPKR sudah melindungi nilai obligasinya menggunakan fasilitas non deliverable USD call spread option dengan beberapa bank asing, sehingga perusahaan menganggap bahwa potensi kerugian kurs akibat penurunan nilai Rupiah ketika nanti pokok obligasinya dibayarkan di tahun 2019 dan 2020, menjadi bisa dihilangkan. Alhasil pada laporan keuangan LPKR, kerugian kurs yang belum direalisasi tadi digantikan oleh beban untuk membayar jasa penggunaan fasilitas spread option tadi, yang nilainya jauh lebih kecil.
Sedangkan KIJA tidak memiliki/menggunakan fasilitas lindung nilai tersebut, sehingga kerugian kurs yang belum direalisasi tetap disajikan di laporan keuangan. Tapi perusahaan punya satu alasan khusus kenapa mereka melakukan itu (tidak menggunakan fasilitas lindung nilai untuk obligasinya), kita akan membahasnya dibawah.
Satu perusahaan lagi, yakni ASRI, hingga artikel ini ditulis belum merilis laporan keuangan terbarunya. Namun kabar baik bagi anda yang memegang sahamnya, berhubung sejak awal ASRI sudah melindungi nilai obligasinya (menggunakan fasilitas call spread option juga), maka kemungkinan besar laba perusahaan di Kuartal III nanti masih akan naik, karena kerugian kurs yang belum direalisasikan tidak akan turut dicantumkan di laporan keuangannya.
Okay, lalu apa itu yang dimaksud dengan non deliverable USD call spread option?
Jika anda mencari penjelasan tentang istilah tersebut di Google, maka anda tidak akan menemukan penjelasan dengan bahasa yang mudah. Tapi biar penulis langsung menjelaskannya dengan contoh option yang memang sudah dilakukan oleh ASRI untuk salah satu obligasinya yang jatuh tempo tahun 2017, senilai US$ 150 juta. Pada Juni 2012, ASRI menggunakan fasilitas call spread option yang disediakan oleh beberapa bank di Singapura, dimana perusahaan memiliki opsi/hak untuk membeli Dollar dari bank pada rentang harga antara Rp9,400 hingga 11,000 per Dollar, dengan nilai pembelian maksimum US$ 100 juta alias Rp9.4 hingga 11 trilyun. Fasilitas opsi ini akan berakhir (expired) pada 2017 (sama dengan ketika obligasinya jatuh tempo), dan perusahaan dibebankan biaya transaksi sebesar 1.3% per tahun dari total nilai transaksi jual beli yang dilakukan.
Kemudian pada tanggal 30 Juni 2013, alias tanggal berakhirnya laporan keuangan periode Kuartal II 2013 (soalnya ASRI belum merilis LK untuk Kuartal III), Rupiah melemah dan berada di posisi Rp9,929 per Dollar. Karena ASRI bisa mengeksekusi hak-nya untuk membeli Rupiah pada harga terendah yakni Rp9,400, maka terdapat selisih Rp529 disini (9,929 dikurangi 9,400), yang setelah dikali USD 100 juta menjadi Rp52.9 milyar, atau kita bulatkan menjadi Rp53 milyar. Dana sebesar Rp53 milyar tersebut kemudian dianggap sebagai aset keuangan, yang bisa dicairkan sewaktu-waktu jika nanti dibutuhkan.
Karena ada tambahan aset dari timbulnya aset keuangan tadi, maka di neraca perusahaan, posisi aset/aktiva menjadi meningkat sebesar Rp53 milyar, sementara posisi kewajiban/pasiva juga meningkat karena nilai utang obligasi ASRI dalam mata uang Rupiah meningkat karena pelemahan Rupiah tadi (jadi jatuhnya impas). Jika Rupiah tetap di posisi Rp9,929 per Dollar hingga berakhirnya masa kontrak option pada 27 Maret 2017, dimana obligasinya juga jatuh tempo pada tanggal tersebut, maka ASRI bisa membayar lunas obligasinya meski nilai obligasi tersebut meningkat, karena perusahaan punya dana yang sudah disiapkan berupa aset keuangan senilai Rp53 milyar tadi.
However, penulis sendiri dalam hal ini masih bingung akan dua hal. Pertama, nilai option yang dipegang ASRI cuma USD 100 juta, padahal nilai obligasinya USD 150 juta. Kalau gitu masih ada kelebihan nilai obligasi yang belum dilindungi dong? Terus tadi disebutkan bahwa spread-nya adalah antara Rp9,400 hingga 11,000 per Dollar. Tapi berhubung sekarang Rupiah sudah di level 11,400-an, jadinya gimana tuh? Anda yang ahli option mungkin bisa menjelaskan?
Tapi apapun itu, karena adanya fasilitas lindung nilai ini maka proyeksi kerugian (atau keuntungan) yang mungkin dialami ASRI karena pelemahan (atau penguatan) nilai Rupiah terkait dengan nilai utang obligasinya, menjadi tidak disertakan dalam laporan laba ruginya. Namun ASRI tetap mencantumkan biaya penggunaan fasilitas lindung nilai tadi sebesar Rp13 milyar, sebagai bagian dari pendapatan/beban lain-lain. Ini artinya ASRI tetap harus keluar biaya untuk melindungi nilai obligasinya, meski nilainya lebih kecil dari manfaat lindung nilai yang diperoleh (Rp13 versus 53 milyar).
Sementara KIJA? Karena perusahaan sama sekali tidak menggunakan fasilitas lindung nilai, maka proyeksi bahwa perusahaan harus mengeluarkan dana ekstra sebesar sekitar Rp300-an milyar untuk melunasi obligasinya pada tahun 2017 nanti (jika posisi kurs Rupiah ketika itu sama dengan kurs Rupiah tanggal 30 September 2013), langsung dibukukan pada laporan keuangannya sebagai rugi kurs. Disisi lain jika nanti Rupiah menguat hingga melewati kurs ketika obligasinya diterbitkan, yakni Rp9,493, maka rugi kurs Rp300 milyar tadi akan berbalik menjadi laba kurs, tapi sekali lagi, laba tersebut hanya bersifat pembukuan alias gak ada duitnya.
Lalu kenapa KIJA tidak meng-hedging obligasinya? Karena obligasi tersebut digunakan untuk membiayai proyek pembangkit listriknya di Kota Jababeka (atau lebih tepatnya untuk refinancing/membayar utang bank yang digunakan untuk membangun pembangkit listrik tersebut), dimana pembangkit listrik itu memperoleh pendapatannya dalam mata uang US Dollar. KIJA melalui anak usahanya, PT Bekasi Power, pada Januari 2013 kemarin sudah meneken kontrak penjualan listrik dengan PT PLN untuk 20 tahun kedepan, dengan nilai penjualan USD 105 juta per tahun, dengan EBITDA-nya (bagi anda yang belum hafal, EBITDA itu kurang lebih sama dengan laba bersih sebelum pajak) kira-kira USD 24 juta. Dan jika sebelumnya usaha pembangkit listrik KIJA ini masih menderita kerugian, maka pada Kuartal III barusan, KIJA sudah mulai meraih laba bersih meski masih kecil, yakni (setelah dirupiahkan) Rp33 milyar. But this is progressing.

Pembangkit listrik milik PT Bekasi Power, anak usaha KIJA

Karena itulah, maka tanpa menggunakan fasilitas lindung nilai-pun, obligasi KIJA sudah terlindungi dengan sendirinya karena kini perusahaan sudah punya income dalam mata uang USD, plus perusahaan sama sekali tidak perlu mengeluarkan biaya untuk hedging. Secara riil, pada Kuartal III 2013 kinerja KIJA masih sangat bertumbuh dengan pendapatan yang naik hampir dua kali lipat, dan demikian pula dengan laba bersihnya jika saja tidak ada beban rugi kurs seperti yang sudah kita bahas diatas.
Hanya memang jika nanti perusahaan jadi menerbitkan obligasi anyar senilai USD 350 juta, dimana salah satunya digunakan untuk melunasi obligasi sebelumnya, maka sudah pasti KIJA juga akan menggunakan fasilitas lindung nilai seperti hal-nya ASRI dan LPKR. Untuk perusahaan properti yang satu lagi, yakni MDLN, pihak perusahaan sudah menjelaskan di prospektus obligasinya bahwa mereka akan juga menggunakan fasilitas lindung nilai untuk melindungi nilai obligasinya dari risiko pelemahan nilai tukar Rupiah.
Anyway, yang jelas KIJA ini di laporan keuangannya tetap saja tertulis bahwa labanya jadi anjlok gara-gara rugi kurs, dan itu turut menyebabkan sahamnya jatuh belakangan ini. Dalam jangka pendek KIJA praktis hanya bisa naik jika nanti pihak perusahaan mengumumkan bahwa mereka akan mengikuti langkah ketiga emiten lainnya dalam melindungi nilai obligasinya, atau jika Rupiah kembali menguat ke setidaknya 10,000-an.
Tapi dalam jangka panjang terutama jika kita melihatnya dari sisi valuasi, maka diantara keempat emiten properti yang dibahas di artikel ini, KIJA merupakan yang termurah bahkan ketika sahamnya masih di harga 300. Jika anda baru mau masuk maka bisa tunggu sampai nanti kondisi membaik (baca: Rupiah menguat), sementara jika anda sudah pegang maka disarankan untuk hold.

NB: Buku kumpulan analisis saham (Ebook Kuartalan) edisi Kuartal III 2013 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya [...]

Ade Mau Jadi Presiden!

Cerita pendek dibawah ini sebenarnya nggak ada hubungannya sama sekali dengan investasi saham dan segala tetek bengeknya, dan cerita ini juga bukan karangan penulis, melainkan hasil nemu di internet. Namun berhubung cerita ini sangat menarik sekaligus mungkin menuai kontroversi, maka penulis sengaja menampilkannya disini. Here we go.

Suatu waktu, saya bermain ke rumah seorang teman, dan disana saya bertemu anak laki-laki dari teman saya tersebut, yang masih berusia tujuh tahun. Sekedar basa-basi, sayapun mengajak ngobrol si kecil ini, ‘Apa cita-citamu kalau nanti udah gede?’
Dan ia menjawabnya dengan sangat bersemangat, ‘Ade mau jadi presiden!’
‘Wow, bagus itu.. Nanti apa yang akan kamu lakukan kalau kamu jadi presiden?’
‘Ade akan kasih uang ke orang-orang miskin, biar mereka bisa punya rumah dan membeli makanan.’
Tiba-tiba di kepala saya timbul ide, ‘Oh, itu bagus sekali.. Tapi ade kecil tau nggak, kamu nggak perlu jadi presiden untuk melakukan itu. Gimana kalau om minta kamu untuk mencuci mobil om, memotong rumput di halaman depan rumah, dan mengelap kaca jendela. Dan sebagai gantinya om akan kasih kamu seratus ribu.’
‘Kemudian’, saya melanjutkan, ‘Om akan ajak kamu ke sebuah perkampungan kumuh dimana banyak orang miskin disana, dan kamu akan memberikan uang seratus ribu tadi ke orang-orang miskin itu.’
Si kecil ini berpikir sejenak, kemudian menjawab, ‘Kenapa om gak minta orang-orang miskin itu aja yang mencuci mobil om?’
Saya tersenyum, ‘Nah, apa kamu masih ingin jadi presiden?’
.
.
.
.

Berhubung sebentar lagi pemilu, yang itu berarti pemilihan presiden, dan belakangan ini juga sedang ramai demo buruh yang minta gaji besar, ada [...]

PGAS, dan Kebijakan Open Access

Perusahaan Gas Negara (PGAS) melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 4.0% pada periode Sembilan Bulan 2013, dan secara umum kinerjanya pada periode tersebut masih bisa dikatakan sangat baik. Namun yang menarik untuk dicermati terkait perusahaan BUMN ini mungkin bukan terkait kinerjanya tersebut. Beberapa hari lalu beredar berita di media bahwa Pemerintah melalui BPH Migas akan memberlakukan kebijakan open access, dimana seluruh infrastruktur gas, dalam hal ini pipa-pipa gas yang ada di Indonesia nantinya akan bisa digunakan oleh semua pihak, tidak hanya PGAS.

Jadi ketika nanti kebijakan open accessini diberlakukan (atau memang sudah), maka praktis PGAS akan kehilangan keistimewaannya sebagai perusahaan yang memonopoli bidang distribusi dan transmisi gas di tanah air, sehingga kinerjanya bisa jadi bakal turun. Hal inilah yang membuat saham PGAS kemudian diselimuti sentimen negatif, dan sejauh ini sudah turun 8.7% dalam tiga minggu terakhir.
Tapi benarkah open access ini akan menekan kinerja PGAS, atau seperti yang dikatakan salah seorang pengamat, PGAS bisa bangkrut? Sebelum kesana, seperti biasa mari kita pelajari lagi PGAS ini sejak awal.
PGAS, seperti yang anda ketahui, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi/perdagangan gas, dimana gas itu sendiri dibeli dari beberapa produsen, seperti Pertamina dan ConocoPhilips. Yang dimaksud dengan distribusi gas adalah penyaluran gas melalui truk tangki, tabung gas dll ke pelanggan-pelanggan di kawasan industri, kawasan komersial, dan perumahan. Distribusi gas juga bisa dilakukan melalui jaringan pipa-pipa berukuran kecil yang menghubungkan stasiun penyimpanan gas milik perusahaan, dengan pabrik, rumah dll yang menjadi konsumen gas tersebut.
Selain distribusi, PGAS juga memiliki usaha di bidang transmisi gas, atau disebut juga transportasi gas, yakni jasa penyaluran gas melalui pipa-pipa khusus berukuran besar dan bertekanan tinggi, dimana perusahaan memperoleh pendapatannya dari fee yang dibayar perusahaan produsen gas yang mengalirkan gas-nya melalui pipa-pipa tersebut. Jadi dalam hal ini PGAS mirip seperti Jasa Marga yang membangun jalan tol, kemudian memungut bayaran dari mobil-mobil yang melintasi jalan tol tersebut.
Bagan lini usaha PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk.
Berbeda dengan pipa distribusi, pipa transmisi didesain untuk mampu menyalurkan gas dalam jumlah besar secara terus menerus. Karena itulah biaya pembangunannya sangat mahal, dan alhasil PGAS sampai saat ini baru memiliki beberapa jaringan pipa transmisi saja di Indonesia, biasanya dengan bekerja sama/patungan dengan perusahaan lain. Jaringan pipa transmisi pertama milik perusahaan selesai dibangun pada tahun 1998, yang menghubungkan tambang gas milik ConocoPhillips di Grissik, Sumatera Selatan, dan pembangkit listrik di Duri, Riau. Dan untuk membangun jaringan pipa tersebut, PGAS bekerja sama dengan ConocoPhillips itu sendiri. Sementara jaringan pipa transmisi kedua selesai dibangun tahun 2007, yang menghubungkan lapangan gas milik Pertamina di Pagardewa, Sumatera Selatan, dan pembangkit listrik milik Krakatau Steel di Cilegon, Banten.
Karena perusahaan hingga saat ini belum memiliki banyak jaringan pipa transmisi, maka sekitar 80% pendapatan perusahaan masih berasal dari usaha distribusi gas, dan hanya kurang dari 20% yang berasal dari usaha transmisi. Hingga Kuartal III 2013, PGAS mencatat pendapatan US$ 2.2 milyar, dimana US$ 2.0 milyar berasal dari usaha distribusi gas, dan hanya US$ 141 juta yang berasal dari usaha transmisi (sisanya berasal dari eksplorasi minyak dan gas). Untuk kedepannya porsi pendapatan ini kemungkinan belum akan berubah, mengingat belakangan ini perusahaan lebih fokus pada upaya untuk memperoleh sumber pasokan gas milik sendiri, ketimbang membangun jaringan pipa transmisi baru.
Okay, sekarang kita ke masalah open access.
Diatas tadi disebutkan bahwa untuk bidang usaha transmisi gas, PGAS memperoleh pendapatannya dari fee yang dibayar perusahaan produsen gas yang mengalirkan gas-nya melalui pipa-pipa tersebut. Nah, inilah yang dimaksud dengan open access, dimana perusahaan produsen gas diperbolehkan menggunakan pipa transmisi milik PGAS untuk mengalirkan gas-nya, tentunya dengan membayar ‘ongkos jalan tol’. Sebelumnya, ketika peraturan soal open access ini belum diberlakukan, produsen gas boleh dibilang terpaksa menjual gas-nya ke PGAS, untuk PGAS jual lagi ke konsumen. Tapi setelah peraturan terkait open access ini berlaku, maka para produsen gas ini bisa langsung menjual gas ke konsumen, dan cukup membayar fee saja ke PGAS sebagai penyedia jasa pipa transmisi.
Selama ini peraturan open access tersebut hanya berlaku untuk pipa-pipa transmisi. Namun mulai tanggal 1 November 2013 kemarin, open access juga berlaku untuk pipa-pipa distribusi. Ini artinya produsen gas yang selama ini menjual gas-nya ke PGAS, sekarang ini bisa menjual gas langsung ke konsumen dan hanya perlu membayar fee penggunaan pipa ke PGAS.
Masalahnya adalah, jika kita pakai data dua tahun terakhir (2012 dan 2013), usaha transmisi gas yang dijalani PGAS selama ini (yang sudah menerapkan open access) ternyata mengalami kerugian, dimana pendapatan yang diperoleh lebih kecil dibanding beban penyusutan dll. Ketika PGAS selama ini selalu mencatat laba yang besar setiap tahun, maka itu adalah karena usaha distribusi gas yang dijalani perusahaan selalu mencatat keuntungan dengan margin yang signifikan, yakni hampir 50% dari pendapatan. Dan margin sebesar itu bisa dicapai karena perusahaan nyaris memonopoli pasar distribusi gas di Indonesia, dengan pangsa pasar mencapai 83% di tahun 2012.
Jadi pertanyaannya adalah, setelah kebijakan open access ini berlaku juga untuk pipa-pipa distribusi, maka apakah PGAS akan tetap mampu meraup laba besar dari usaha distribusinya? Ataukah justru juga mengalami kerugian seperti yang dialami lini usaha transmisi selama ini?
Peraturan terkait open access untuk pipa-pipa distribusi ini sebenarnya sudah diteken oleh Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, pada tahun 2009 lalu, namun pemberlakuannya ditunda hingga deadlinetanggal 31 Oktober 2013 kemarin. Kemungkinan hal ini pula yang mendorong PGAS selama beberapa tahun terakhir ini berusaha untuk memperoleh pasokan gas sendiri, agar mereka juga bisa menjadi produsen gas, tidak hanya distributor. Dan sejauh ini upaya tersebut memang mulai membuahkan hasil. Pada Juni 2013, PGAS sukses mengakuisisi 25% kepemilikan saham (atau disebut juga participating interest) pada Blok Ujung Pangkah, dengan nilai akuisisi US$ 265 juta. Blok Ujung Pangkah merupakan blok migas yang terletak di bagian timur Pulau Madura, sekitar 50 kilometer dari Kota Surabaya, dan dikelola oleh Hess Corp., yang memegang 75% sahamnya. Sejauh ini hingga Kuartal III 2013, blok migas ini baru menghasilkan pendapatan sebesar US$ 17 juta bagi PGAS, tapi tidak menutup kemungkinan kedepannya akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar lagi.
Kesimpulannya, berikut adalah beberapa poin yang perlu anda perhatikan jika anda tertarik untuk membeli, atau memang sudah memegang saham PGAS ini:
  1. Kebijakan open access hampir bisa dipastikan akan menghilangkan status PGAS sebagai perusahaan monopoli di bidang distribusi gas, dimana produsen-produsen gas tidak perlu lagi menjual gas mereka ke PGAS, melainkan bisa mendistribusikannya sendiri.
  2. Meski hal ini mungkin akan mengganggu kinerja PGAS, namun seharusnya tidak akan sampai bikin perusahaan jadi bangkrut seperti yang dikatakan beberapa orang. Sebab dari kebijakan open access ini PGAS tetap memperoleh pendapatan dari fee penggunaan pipa-pipa gas, tinggal bagaimana perusahaan mengefisienkan pengeluarannya agar tidak sampai rugi lagi.
  3. Disisi lain, PGAS sejak Juni kemarin sudah punya lini usaha baru, yakni sebagai produsen minyak dan gas dari bagian kepemilikannya atas Blok Ujung Pangkah, dan seharusnya lini usaha baru ini akan mampu berkontribusi positif terhadap laba perusahaan. Selain itu jika memang nanti ada kesempatan untuk mengakuisisi blok migas lainnya, maka PGAS tidak akan mengalami kesulitan dari sisi pembiayaan mengingat posisi cash perusahaan terbilang melimpah, yakni US$ 904 juta per Kuartal III 2013.
Satu hal lagi yang perlu anda ingat adalah, kalau terkait pergerakan sahamnya sendiri, ini bukan kali pertama saham PGAS dihantam badai berita negatif. Pada Januari 2007 lalu, saham PGAS sempat anjlok 23% dalam satu hari karena keluarnya berita bahwa manajemen perusahaan terlambat dalam melaksanakan komersialisasi salah satu pipa transmisinya yang baru selesai dibangun. Pada September 2011, saham PGAS juga sempat turun berkepanjangan hingga nyaris 50% dari posisi puncaknya, karena kabar bahwa perusahaan mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan gas untuk dijual (penulis pernah membahasnya disini).
Namun faktanya sampai saat ini PGAS masih mencatat kinerja yang bagus dan juga bertumbuh. Dan salah satu pendorong pertumbuhan tersebut, diluar akuisisi perusahaan terhadap blok minyak, adalah karena PGAS terus memperluas jaringan pipa distribusinya. Sepanjang tahun 2013 ini saja perusahaan tengah membangun jaringan pipa di setidaknya tiga wilayah yakni Batam, Semarang, dan Bitung – Cimanggis (Jawa Barat). Pada akhirnya, potensi pertumbuhan industri gas di Indonesia memang masih sangat terbuka, dimana dari ujung Sabang sampai Merauke, jumlah jaringan pipa gas entah itu yang dimiliki PGAS atau perusahaan lainnya, masih sangat sedikit. Dan PGAS sebagai perusahaan distributor gas pertama dan tertua di tanah air (PGAS didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1859), tentunya akan selalu menjadi pemimpin dalam pembangunan jaringan pipa-pipa gas tersebut.
Tapi memang, jika sentimen negatif terkait open access ini terus berkelanjutan dan tidak ‘happy ending’, maka saham PGAS bisa kembali melanjutkan penurunannya, sebab PBV PGAS pada saat ini tercatat 4.4 kali, dan kalau gak salah pada tahun 2011 PGAS sempat terus turun hingga PBV-nya tinggal 2 koma sekian kali. Tapi penulis bisa katakan bahwa dalam kondisi normal, secara fundamental PGAS ini layak dihargai pada harga yang mencerminkan PBV 5 kali, yang itu berarti valuasi sahamnya pada saat ini, terlepas dari kekhawatiran bahwa kinerjanya bakalan tertekan, terbilang murah.
Diluar itu, kalau menurut penulis sendiri, berhubung Menteri ESDM sekarang ini bukan lagi Bapak Purnomo Yus melainkan Bapak Jero Wacik, maka ada kemungkinan peraturan terkait kebijakan open access ini bisa dinegosiasikan kembali, atau bahkan dibatalkan. Terbukti kalau kita baca di media, mulai ada suara-suara bahwa BPH Migas tidak bisa memaksa PGAS untuk menerapkan open access, melainkan hanya bisa mengatur (mengatur apa ‘mengatur’ nih??) Tapi yah, ini cuma asumsi.
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
Rating kinerja pada Q3 2013: AA
Rating saham pada 4,975: A

NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis saham berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2013. Buku tersebut sudah terbit tanggal 11 November kemarin, dan anda bisa memperolehnya [...]

Bank BJB

Bank BJB (BJBR) menjadi salah satu dari beberapa emiten perbankan yang sudah merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal III 2013. Dan seperti umumnya emiten lain yang merilis LK-nya lebih awal, kinerja BJBR terbilang cukup baik (Yap, jika anda perhatikan, emiten-emiten yang merilis LK-nya lebih awal memang biasanya mencatat kinerja bagus, meski nggak selalu. Sementara yang merilis LK-nya belakangan, seperti emiten-emiten Grup Bakrie, kinerjanya hampir selalu amburadul). Namun mungkin, poin yang membuat saham ini menarik bukan hanya soal kinerjanya tersebut.


Logo PT Bank BJB, Tbk

Saham BJBR ini, sejak ia IPO pada Juli 2010 lalu (dulu penulis pernah membahasnya, ini linknya), memang sudah menarik karena valuasinya yang murah sekali pada harga IPO-nya di level Rp600 per saham (penulis lupa bagaimana hitung-hitungannya, tapi yang jelas di harga 600 dia memang super-murah). Entah karena valuasinya tersebut atau karena adanya faktor lain, tapi yang jelas ketika itu BJBR langsung tembus ke 1,000 hanya dalam beberapa hari setelah tanggal perdana listingnya, dan selanjutnya terus naik sampai menyentuh level 1,770, atau naik hampir 200% hanya dalam tempo empat bulan.
Satu poin yang perlu dicatat adalah: Ketika itu saham ini menarik hanya dari sisi valuasi. Sementara kualitas kinerjanya, meski cukup bagus, namun tidak sebagus bank-bank top seperti Bank BRI, Mandiri, dan BCA. Prospeknya? Juga hampir tidak ada, mengingat status BJBR sebagai bank daerah yang cuma bisa ‘cari makan’ di Jawa Barat dan Banten, dan ini berbeda dengan baik-bank lainnya yang listing di bursa, yang merupakan bank nasional sehingga bisa beroperasi dimana saja di seluruh wilayah Indonesia. Penulis sendiri baru mengetahui belakangan bahwa BJBR tidak hanya bisa membuka kantor cabang di Jabar dan Banten, melainkan bisa dimana saja.
Tapi yang jelas karena bank ini ketika itu tidak kedengaran gaungnya mau ngapain, maka ketika kinerjanya di tahun 2011 secara per kuartal tampak turun, maka sahamnya pun langsung turun tanpa ampun. Per Oktober 2010, BJBR masih berada di posisi 1,700-an. Tapi memasuki bulan Februari 2011, saham ini sudah balik lagi ke posisi 1,100-an. Dan setelah lewat hampir tiga tahun hingga saat ini, BJBR hampir selalu bergerak di rentang 1,000 – 1,200, alias gak kemana-mana. BJBR selama ini hanya sempat tiga kali turun hingga menyentuh posisi 800-an, dimana semuanya terjadi pada periode koreksi IHSG, yakni September – Oktober 2011, Juni 2012, dan terakhir kemarin, Agustus 2013. Disisi lain saham ini juga belum mampu untuk kembali naik hingga setidaknya menembus level 1,300-an, apalagi 1,700-an.
Fakta menariknya adalah, meski sahamnya belum kemana-mana selama tiga tahun ini, namun selama tiga tahun tersebut nilai riil perusahaan senantiasa terus bertumbuh. Jadi meski pada kuartal tertentu laba atau ekuitas BJBR ini tampak turun, namun secara keseluruhan kinerja BJBR pada tahun yang bersangkutan (2011) masih tetap tumbuh, dan demikian halnya di tahun 2012, dan juga 2013. Berikut data selengkapnya, angka dalam milyaran Rupiah.
Tahun
2010
2011
2012
2013*)
Aset
43,446
54,449
70,841
75,860
Ekuitas
4,991
5,375
6,009
6,443
Pendapatan
4,894
5,977
6,796
5,995
Laba bersih
890
963
1,193
1,096
Btw sebelumnya ingat bahwa data untuk tahun 2013 adalah untuk periode yang berakhir tanggal 30 September 2013. Dengan asumsi bahwa pada Kuartal IV di tahun 2013 BJBR mencatat pendapatan dan laba bersih yang sama dengan tiga kuartal sebelumnya, maka pendapatan dan laba bersih BJBR untuk tahun penuh 2013 adalah masing-masing Rp7,993 milyar dan Rp1,462 milyar, atau tumbuh masing-masing 17.6 dan 22.5% dibanding tahun 2012.
Okay, balik lagi ke tabel diatas. Sekarang, ingat bahwa harga saham 600 pada tahun 2010 terbilang super-murah, dan harga wajarnya katakanlah di rentang 1,000 – 1,200 (soalnya di tahun 2010 tersebut, atau tepatnya di awal tahun 2011, BJBR berhenti turun di level 1,000 – 1,200 tadi, tapi disisi lain gak mampu naik lagi). Pada akhir tahun 2010, ekuitas dan laba bersih BJBR tercatat masing-masing Rp5.0 trilyun dan Rp890 milyar.
Dan saat ini, ekuitas BJBR tercatat sudah naik menjadi Rp6.4 trilyun, dan labanya sendiri (jika disetahunkan) sudah mencapai Rp1.5 trilyun. Tapi disisi lain harga sahamnya malah berada di posisi 940! So what d’ya think??
Nah, dengan demikian anda mengerti apa yang penulis maksud dengan ‘poin menarik terkait BJBR diluar kinerjanya’, yang sudah disebutkan diatas. Yap, saham ini sekarang sedang dalam posisi undervalue. PER dan PBV BJBR sendiri pada harga 940 cuma 6.2 dan 1.4 kali. Satu hal yang juga perlu dicermati adalah perusahaannya sendiri tidak sedang dalam masalah apapun, atau sedang dilanda sentimen negatif tertentu. Seperti yang kita ketahui, harga sebuah saham bisa jatuh kalau ada kekhawatiran bahwa kinerja perusahaan yang bersangkutan menurun, atau perusahaan itu sendiri bermasalah. Tapi sejauh ini tidak ada isu apapun yang beredar terkait BJBR ini, dan yang jelas kinerjanya di LK terbarunya yakni Kuartal III 2013, masih baik-baik saja (termasuk jika memperhatikan fakta bahwa sektor perbankan merupakan salah satu sektor dengan kinerja paling stabil di BEI, maka seharusnya kedepannya BJBR pun akan tetap baik-baik saja). Rendahnya posisi BJBR pada saat ini kemungkinan lebih karena faktor belum pulihnya ‘trauma’ akibat koreksi pasar yang terjadi selama Juni – Agustus lalu. Jika anda perhatikan memang bukan hanya BJBR, beberapa saham lainnya juga masih banyak yang belum mampu naik lagi ke posisi sebelum koreksi (dan IHSG sendiri juga belum mampu balik lagi ke 5,000-an).
Itu satu poin terkait valuasi. Poin lainnya yang juga patut diperhatikan adalah terkait pengelolaan perusahaan. Jika anda perhatikan, BJBR ini meski bagus dan juga senantiasa bertumbuh, namun pertumbuhannya tergolong lambat. Termasuk hingga Kuartal III 2013 inipun, labanya cuma naik 15.9%, lebih rendah dibanding BBRI sebesar 17.3%, atau BTPN sebesar 24.2%. Jika kita perhatikan indikator-indikator kinerja lainnya, maka BJBR juga kalah telak dibanding BBRI dan BTPN.
Tapi berhubung BBRI dan BTPN sendiri memang merupakan dua saham perbankan terbaik di bursa (analisisnya bisa anda baca lagi disini), maka adalah wajar jika BJBR kesulitan menyalip mereka. Namun disinilah letak satu poin lagi yang membuat BJBR ini menarik, yakni: Berbeda dengan bank-bank lain yang hanya melakukan bisnisnya seperti biasa, pihak manajemen BJBR banyak sekali melakukan perubahan dan pengembangan usaha untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik kedepannya. Berikut ini adalah sebagian dari poin-poin ‘transformasi’ yang sedang terjadi pada perusahaan.
  1. Mengganti nama dari Bank Jabar Banten menjadi Bank BJB. Logo bank juga diganti dengan logo yang lebih terkesan modern. Status bank daerah perlahan ditinggalkan untuk menjadi bank nasional.
  2. Meluncurkan slogan baru, ‘bigger stronger better’ which is awesome, I think.
  3. Membajak direktur baru dari Bank BNI, Mr. Bien Subiantoro. Belakangan direktur yang baru ini memang lebih profesional dibanding direktur sebelumnya, itu bisa dilihat dari surat pertanggung jawabannya yang sangat lengkap dan mendetail di laporan tahunan BJBR. Selain merekrut direktur baru, jumlah pegawai Bank BJB sendiri pada tahun 2012 naik 130% alias dua kali lipat lebih dibanding tahun 2011.
  4. Membuka banyak kantor cabang hingga ke Sulawesi
  5. Aktif membangun brand dengan sering-sering menampilkan iklan entah itu di televisi, radio, media cetak, dan internet.
  6. Membentuk berbagai komite untuk menjaga kualitas kredit. Hingga saat ini salah satu masalah yang menekan kinerja BJBR adalah kualitas kreditnya yang masih rendah.
  7. Masuk ke bisnis pembiayaan UKM dengan mengembangkan ‘Waroeng BJB’
  8. Meluncurkan ‘BJB Precious’, yakni layanan perbankan untuk nasabah kelas atas.
  9. Terus mengembangkan layanan teknologi informasi perbankan. Yang terbaru, BJBR akan segera menyusul bank-bank lainnya untuk segera memiliki layanan SMS dan internet banking (masih nunggu izin dari BI), dan yang paling penting:
  10. Menetapkan visi untuk menjadi salah satu dari sepuluh bank terbesar di Indonesia di tahun 2018.
Nah, seperti biasa, namanya usaha itu bisa berhasil, bisa juga gagal. Tapi jika berbagai transformasi yang dilakukan manajemen mulai membuahkan hasil di tahun 2014 mendatang, dimana kinerja BJBR mulai melompat, maka seharusnya sahamnya juga akan mampu menembus batas 1,300, yang selama ini menjadi tembok penghalang yang sangat kokoh. Sebenarnya kalau kita bicara ‘transformasi’, maka BJBR bukanlah satu-satunya bank di BEI yang sedang giat-giatnya berekspansi, karena Bank Pundi (BEKS) pun tengah melakukan hal yang sama (dan mungkin juga beberapa bank lainnya). Hanya balik lagi kalau kita memperhatikan kinerja terbaru perusahaan, maka BJBR tetap jauh lebih menarik.
Disisi lain selama IHSG nggak kumat lagi seperti kemarin, maka tanpa perlu menunggu hasil dari kinerjanya di tahun depan, seharusnya BJBR bisa segera balik lagi ke track-nya selama ini, yakni 1,000 – 1,200. Jadi bahkan jika anda mengabaikan prospek kinerja BJBR di masa yang akan datang, maka saham ini tetap masih sangat menarik karena statusnya sebagai value stock. Selain BJBR, Bank Bukopin (BBKP) adalah juga salah satu saham perbankan yang berstatus sebagai value stock, tapi harganya saat ini memang sudah berada di track-nya, yakni 600-an.
PT Bank BJB, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2013: A
Rating saham pada 940: [...]

Program Perlindungan Investor

Di Indonesia, jumlah investor di pasar saham masih sangat sedikit, yakni belum ada 1% dari total populasi penduduk. Hal ini sangat berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, dimana 12 dan 36% penduduknya (data tahun 2011, sekarang mungkin udah naik lagi) sudah mengenal saham. Salah satu penyebab minimnya partisipasi masyarakat dalam berinvestasi di saham, kalau menurut banyak pihak, adalah karena masih kurangnya sosialisasi dan edukasi tentang saham itu sendiri. Sebenarnya diluar sana terdapat banyak orang-orang yang tertarik untuk masuk ke bursa, namun mereka enggan untuk membuka rekening karena memang masih belum mengerti.

Tapi mungkin masalahnya bukan sekedar di kurangnya sosialisasi dan edukasi. Sejak pasar saham Indonesia mulai ramai pada tahun 1990-an, dan semakin ramai dalam lima belas tahun terakhir ini, selalu ada saja cerita-cerita tentang investor yang mengalami kerugian yang besar gara-gara ‘main’ saham, dan hal ini tentu saja menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap berinvestasi di pasar saham itu sendiri.
Contohnya, katakanlah anda adalah orang yang masih awam sama sekali dengan saham, dan anda bermaksud untuk membuka rekening di sekuritas karena tertarik dengan peluang keuntungan yang mungkin bisa diperoleh. Sudah tentu, yang akan anda lakukan pertama kali adalah searching di internet tentang seperti apa sih saham itu? Apakah benar menguntungkan atau malah merugikan? Termasuk juga anda akan berusaha menghubungi teman/keluarga yang sudah pernah terjun ke dunia saham sebelumnya. Dan jika ternyata teman anda tersebut justru mengalami kerugian gara-gara saham, maka apakah anda masih tertarik untuk ikut invest di saham? Contoh simpel saja: Jika sekarang ini adalah bulan Januari 2009, dimana IHSG sudah berada di posisi 1,100-an setelah terus menerus turun dari puncaknya di posisi 2,800-an, maka apakah anda masih berani untuk buka rekening di sekuritas, sementara teman anda yang sudah lebih dulu masuk ke pasar setahun sebelumnya telah mengalami kerugian yang luar biasa?
Disisi lain bukan tidak mungkin pula teman anda tadi sukses untung besar, sehingga andapun berpikir bahwa ternyata main saham itu mudah. Tapi setelah satu atau dua bulan, anda ternyata malah rugi! Misalnya dari dana yang tadinya Rp10 juta, sekarang tinggal sisa Rp7 juta. Nah, apakah anda masih mau meneruskan kegiatan investasi anda? Kalau berdasarkan pengalaman penulis ngobrol sama teman-teman yang newbie (pemula) atau pernah menjadi newbie, rata-rata mereka terus maju pantang mundur, dan menganggap bahwa kerugian tersebut adalah semacam biaya sekolah yang mau tidak mau harus mereka keluarkan untuk belajar.
Tapi tak sedikit pula investor newbie ini yang kemudian kapok dan berhenti sama sekali, sekaligus memberi cap bahwa berinvestasi di saham merupakan tindakan spekulasi.
Pada banyak kasus, seorang investor bisa mengalami kerugian karena empat hal yakni: 1. Ketidak tahuan dalam memilih saham (jadi dia membeli saham tanpa analisis sebelumnya), 2. Masih kurangnya pengalaman (sering mengalami greed dan fear, itu bagian dari kurangnya pengalaman), 3. Faktor risiko kinerja emiten yang tidak sesuai harapan, dan 4. Faktor risiko terjadinya koreksi pasar/IHSG. Pada batas ini tidak ada yang bisa dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai otoritas bursa dalam berupaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap investasi di saham, kecuali berusaha sebisa mungkin memberikan layanan edukasi kepada para calon investor bahwa saham itu aman bla bla bla.
Tapi jika kerugian tersebut terjadi karena adanya saham-saham dengan reputasi ‘gorengan’ di bursa, yang entah dengan sengaja atau tidak menarik para investor untuk berspekulasi didalamnya sehingga kemudian para investor ini pada akhirnya mengalami kerugian, atau karena adanya perusahaan abal-abal yang ikut listing, maka saya pikir BEI punya tanggung jawab disini. Ibaratnya jika pasar saham Indonesia adalah tempat parkir, maka adalah wajar BEI sebagai pengelolanya tidak bisa bertanggung jawab jika ada mobil yang rusak atau dicuri. Akan tetapi jika BEI tidak menyediakan fasilitas keamanan yang standar termasuk mensiagakan petugas security, sehingga maling-maling bisa dengan bebas berkeliaran di dalam gedung parkir tersebut, maka akan keterlaluan jika mereka tidak mau disalahkan kalau kemudian ada kejadian mobil hilang atau semacamnya.
Jadi sekali lagi, anda sebagai investor (atau calon investor) memang tidak bisa menuntut apapun kepada BEI atau pihak otoritas bursa lainnya (KSEI, KPEI, OJK) jika anda kebetulan mengalami kerugian. Karena jika anda memperoleh keuntungan pun, orang-orang di BEI tidak akan menuntut bagian. Meski demikian anda tentu berhak untuk memperoleh perlindungan dari pihak BEI atau lainnya sebagai penyelenggara pasar, terhadap kegiatan investasi yang anda lakukan. Minimal ketika anda mengalami entah itu saham anda disuspensi, atau harganya terus turun sampai posisi dimana mau cut loss pun sudah nggak bisa, atau bahkan perusahaannya bangkrut, maka anda tahu kemana harus mengadu, termasuk memperoleh kejelasan tentang nasib dana investasi anda.
Namun sayangnya mekanisme perlindungan terhadap investor, hingga tahun 2013 ini, boleh dibilang masih belum jelas. Kasus terakhir ketika kemarin Dayaindo Resources (KARK) bangkrut, banyak sekali pemegang sahamnya yang kebingungan harus melakukan apa, atau melapor kemana, sehingga akhirnya mereka cuma bisa pasrah. Pihak OJK ataupun BEI pun tidak menyediakan hotline khusus dimana investor bisa dengan mudah melapor kemudian akan dilayani dengan baik dengan petugas yang siaga 24 jam, kecuali nomor telepon dan fax standar kantoran.
Well, apapun itu, yang jelas jika ini terus dibiarkan maka sampai kapanpun orang-orang akan tetap enggan berinvestasi di pasar saham di tanah air.
Untungnya, belakangan ini pihak otoritas mulai berbenah. Pada tanggal 11 September 2013 kemarin, OJK telah mengeluarkan izin usaha kepada PT Penyelenggara Program Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (PT P3IEI). P3IEI inilah yang nantinya berwenang untuk menyelenggarakan program perlindungan terhadap investor saham dan obligasi di Indonesia, meskipun masih belum jelas seperti apa mekanisme dari program yang dimaksud (lagian nama lembaganya kok susah banget.. P3IEI??). Namun yang jelas P3IEI ini akan mulai beroperasi pada tahun 2014 mendatang.

Rilis BEI terkait PT P3IEI

Nah, lalu apakah dengan hadirnya P3IEI ini maka para investor di pasar saham (dan obligasi) menjadi terlindungi? Kita tentu belum tahu, tapi setidaknya adanya P3IEI ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Jika anda ingin tahu lebih banyak tentang seperti apa ‘perlindungan’ yang nanti akan diterapkan, maka anda bisa menghubungi sekretaris perusahaan, Rizky Sochmaputra, di nomor telepon 021-5155904. Mohon maaf pin BB atau semacamnya belum ada, namun saya dengan ini mengusulkan kepada P3IEI ini untuk juga menyediakan kontak yang lebih mudah seperti pin BB tadi (whatsapp juga boleh lah). Mekanisme program pelindungan investor ini hanya akan berjalan dengan baik jika para investor itu sendiri diberi kemudahan untuk melapor atau mengadu.
Pada akhirnya, penulis mengapresiasi pendirian P3IEI ini. Sejak tahun 2009 sampai sekarang, penulis bisa melihat bahwa terdapat banyak sekali perkembangan yang positif di bidang per-saham-an ini, dimana para investor kini jauh lebih cerdas dalam berinvestasi itu sendiri (dulu semua orang cuma mau pake teknikal, tapi sekarang analisis fundamental juga mulai populer), sementara investor yang masih baru-baru bersedia meluangkan waktunya untuk belajar. Dan sekarang, pihak penyelenggara pasar modal juga turut andil dalam berusaha menciptakan ‘suasana pasar’ yang lebih aman dan nyaman. Jika nanti Prudential, Manulife dan semacamnya bisa ‘dipaksa’ untuk IPO, maka itu akan lebih bagus lagi.

NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis saham berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2013. Anda bisa memperolehnya [...]

Kriteria Saham yang Layak untuk Invest, dari sisi Produk Perusahaan

Empat tahun lalu, ketika penulis untuk pertama kalinya mempelajari laporan-laporan keuangan perusahaan, penulis mengira bahwa kinerja dari perusahaan-perusahaan properti akan jauh lebih bagus dibanding perusahaan-perusahaan dari sektor lainnya. Penyebabnya adalah perusahaan properti jualan produk rumah, kantor, dll yang harganya tinggi, yakni mencapai ratusan juta bahkan milyaran Rupiah per unitnya, sehingga pendapatannya pun pasti besar. Sementara untuk perusahaan seperti Indofood, misalnya, berapa sih besarnya keuntungan dari menjual Indomie seharga Rp1,000 per bungkusnya? (di tahun 2009, harga Indomie masih sekitar seribuan). Dari penampilan para penjualnya pun, bisa kita lihat bahwa agen-agen properti biasanya tampak perlente dan pake dasi, alias jauh lebih meyakinkan ketimbang penampilan ibu-ibu berdaster yang menjual Indomie di warung-warung kelontong.


Namun setelah mengecek beberapa laporan keuangan, ketika itu penulis malah menemukan bahwa laba bersih/return on equity yang dicatat Indofood ternyata jauh lebih besar ketimbang laba bersih dari beberapa perusahaan properti, seperti Bumi Serpong Damai, Lippo Karawaci, dan Summarecon. Okay, di tahun 2009 sektor properti memang belum booming seperti sekarang. Tapi saat inipun, ketika mulai banyak emiten properti yang mencatat ROE diatas 20%, namun tetap saja kinerja mereka secara umum tidak pernah lebih baik dibanding sektor perusahaan yang menjual ‘produk recehan’ seperti Unilever, Mayora, Kalbe Farma, dan Indofood CBP. Anda bisa lihat sendiri, produk termahal yang dijual Unilever hanyalah shampoo merk TRESemme dengan harga sekitar Rp16,000 per botol ukuran sedang. Sementara Bumi Serpong Damai? Produk ‘termurah’ yang mereka jual adalah rumah kecil dengan harga Rp250 – 300 jutaan, di kawasan Kota Wisata Bekasi (Kalau di BSD City-nya sendiri jangan harap ada rumah yang harganya segitu).

Tapi intinya adalah, bagaimana mungkin suatu produk yang harganya hanya beberapa ribu perak bisa lebih menguntungkan ketimbang produk seharga ratusan juta Rupiah? Dan jawabannya, dimana penulis yakin anda juga sudah mengetahuinya, adalah terletak di omzet! Sebuah perusahaan properti belum tentu bisa menjual rumah setiap hari, dan pangsa pasarnya juga terbatas pada lokasi sekitar rumah itu sendiri. Sementara perusahaan consumer goods yang menjual sabun mandi, sabun cuci piring, dan shampoo, setiap hari pasti ada saja pembelinya, dan mereka bisa menjual produknya ke mana saja dan ke siapa saja, tergantung kemampuan jaringan distribusinya. Ketika seseorang menggunakan sabun mandi merk Lifebuoy (salah satu merk sabun milik Unilever) kemudian cocok dengan sabun tersebut, misalnya, maka kedepannya ia akan kembali membelinya, secara terus menerus. Jadi meski keuntungan dari penjualan satu batang sabun terbilang kecil, namun akumulasi keuntungan yang diperoleh Unilever dari pembelian secara berulang-ulang dan terus menerus itulah, yang menyebabkan perusahaan kemudian meraup untung besar setiap tahunnya.

Sementara ketika seseorang membeli rumah, kemudian merasa nyaman tinggal di rumah tersebut, maka itu bukan berarti besok-besok dia akan beli rumah lagi. Tidak hanya rumah, ketika seseorang membeli mobil dan merasa puas dengan mobil tersebut, maka bukan berarti dia nanti akan beli lagi. Intinya adalah, untuk perusahaan yang menjual produk dengan harga jual yang tinggi, maka meski keuntungan yang dihasilkan per penjualan mungkin cukup besar, namun omzet/volume penjualan itu sendiri biasanya jauh lebih kecil ketimbang volume penjualan barang-barang jenis fast moving.

Dan berdasarkan pengalaman penulis menganalisis selama ini, kinerja dari perusahaan-perusahaan yang menjual ‘produk recehan’ nyaris selalu lebih baik ketimbang perusahaan-perusahaan yang menjual produk dengan harga tinggi. Secara umum, berikut ini adalah kriteria perusahaan/emiten yang memiliki kinerja bagus dan biasanya juga konsisten dalam jangka panjang (sehingga sahamnya layak untuk investasi), jika dilihat dari sisi produk yang dihasilkan perusahaan. Kriteria berikut diurutkan berdasarkan tingkat prioritasnya.

1. Harga produknya murah

Terkait hal ini sudah kita bahas diatas. Harga produk yang murah juga menyebabkan produk tersebut menjadi terjangkau oleh semua kalangan, sehingga pangsa pasarnya otomatis lebih luas ketimbang produk dengan harga jual yang lebih tinggi.

Namun apakah ‘produk murah’ selalu berarti barang-barang consumer goods seperti sabun mandi dan sabun cuci piring? Untungnya nggak juga. Ketika anda membuka rekening tabungan di bank, kemudian anda dibebankan biaya administrasi yang hanya sebesar Rp15,000-an per bulan, maka juga bisa dikatakan bahwa layanan perbankan termasuk produk yang harganya murah. Ketika anda menonton televisi di rumah dan memperoleh banyak sekali tayangan-tayangan film dll secara gratis, dan sebagai gantinya anda hanya perlu menyaksikan iklan, maka perusahaan stasiun televisi/media juga merupakan perusahaan dengan harga produk yang murah. Dan ketika anda membayar biaya sebesar seratus ribuan  per bulan untuk membeli pulsa telepon dan internet (untuk anak-anak sekolah, ada juga paket seharga Rp25,000 per bulan) maka perusahaan telekomunikasi juga termasuk perusahaan yang menghasilkan produk murah.

Tentunya terdapat unsur subjektivitas dalam mendeskripsikan ‘murah’ atau ‘mahal’ disini. Anda mungkin tidak akan mempermasalahkan pengeluaran sebesar seratus atau dua ratus ribu per bulan untuk biaya internet, tapi bagi orang lain bisa jadi itu adalah jumlah uang yang besar. Karena itulah ketika sebuah perusahaan menjual produk yang harganya (menurut anda) murah, maka bukan berarti perusahaan tersebut menawarkan kinerja yang bagus serta konsisten dalam jangka panjang, kecuali jika produknya tersebut memenuhi syarat berikutnya lagi:

2. Dibutuhkan orang banyak secara terus menerus

Pernahkah anda membeli lem superglue, misalnya untuk memperbaiki sandal jepit yang putus? Penulis kebetulan pernah. Harganya? Murah, cuma enam ribu Rupiah di toko bangunan. Tapi jika anda kemudian bertanya seberapa sering penulis membeli lem tersebut, maka jawabannya adalah penulis seumur-umur hanya pernah membelinya sebanyak satu kali itu saja. Malah setelah memperbaiki sandal tadi sisa lemnya masih cukup banyak, sehingga jika nanti sandalnya putus lagi, maka penulis masih bisa pake lem yang itu saja, alias gak perlu beli lagi.

So, meski harga produknya sama-sama murah, namun dalam hal ini jelas bahwa omzet penjualan produk lem diatas tidak akan selancar omzet penjualan sabun mandi atau Indomie. Semua orang tentu perlu mandi, namun tidak semua orang harus memperbaiki sesuatu dengan lem. Dan jika orang-orang perlu mandi setiap hari, maka ketika seseorang harus memperbaiki sandal menggunakan produk lem tersebut (seperti penulis tadi), namun orang tersebut tidak akan memperbaiki sandalnya setiap hari.

Poin ‘dibutuhkan orang banyak secara terus menerus’ ini, dalam beberapa kasus terkadang lebih penting dalam menentukan konsistensi kinerja perusahaan yang memproduksi produk yang bersangkutan dalam jangka panjang, ketimbang sekedar harga produk yang murah. Contohnya anda mungkin tahu bahwa investasi di pom bensin, meski membutuhkan nilai investasi yang tinggi serta juga tidak menawarkan break even point dalam waktu singkat, namun menawarkan pendapatan yang konsisten serta risiko yang rendah. Hal ini karena semua orang, baik langsung maupun tidak langsung, membutuhkan bensin dan solar secara terus menerus, tak peduli berapapun harganya. Buktinya, meski dari jaman eyang Harto sampai sekarang harga bensin secara umum naik terus, tapi toh tingkat konsumsi bensin nggak pernah turun. Jika kemarin harga bensin jenis premium dinaikkan dari Rp4,500 menjadi Rp10,000 per liter, misalnya, maka orang-orang tetap akan membelinya.

Dalam hal inilah subjektivitas terkait apakah harga bensin dianggap mahal atau murah, itu sudah tidak penting lagi. Karena tak peduli meski anda menganggap bahwa harga bensin sebesar Rp6,500 adalah mahal, namun toh anda akan tetap membelinya, karena mobil/motor anda dirumah nggak mungkin diisi air.

3. Bisa diproduksi secara massal dengan biaya yang rendah

Ketika sebuah produk memenuhi syarat harga yang terjangkau oleh semua kalangan, serta dibutuhkan orang banyak secara terus menerus, maka produk tersebut hanya membutuhkan satu syarat lagi untuk bisa menghasilkan omzet penjualan yang besar bagi perusahaan yang bersangkutan, yakni: Bisa diproduksi dalam jumlah massal. Sebab jika sebuah perusahaan tidak mampu memproduksi produknya dalam jumlah yang banyak, maka bagaimana mungkin omzet penjualannya bisa menjadi besar?

Tapi untungnya syarat yang ini mungkin tidak terlalu penting untuk diperhatikan mengingat untuk barang-barang yang sifatnya pabrikan (dibuat di pabrik), seperti barang-barang elektronik, obat-obatan, rokok, semen, dll, maka barang tersebut hampir pasti bisa diproduksi secara massal. Jika produk tersebut bersifat jasa, seperti misalnya jasa perbankan, maka jumlah produksinya bisa lebih massal lagi. Untuk menyediakan layanan perbankan di suatu kecamatan, misalnya, maka sebuah bank cukup membuka kantor cabang disitu, dan selanjutnya tinggal pintar-pintar tim marketingnya saja dalam memasarkan produk tabungan dan kredit ke masyarakat sekitar.

Namun ketika sebuah produk bisa diproduksi secara massal, sehingga omzet penjualannya menjadi besar, maka itu bukan berarti laba perusahaan otomatis menjadi besar pula. Pendapatan yang besar dari penjualan sebuah produk hanya akan menghasilkan laba yang besar jika biaya produksinya terkendali atau kalau bisa sekecil-kecilnya, sehingga kemudian diperoleh margin laba bersih yang besar.

Karena itulah, syarat terakhir dari sebuah produk yang ideal adalah, produk tersebut tidak hanya harus bisa diproduksi secara massal, namun juga bisa diproduksi dengan biaya yang rendah. Jika anda perhatikan di BEI, beberapa sektor yang selama ini biaya produksinya rendah, atau dalam hal ini dilihat dari margin laba bersihnya yang besar, adalah sektor consumer goods, perbankan, multifinance alias pembiayaan, asuransi, semen, pakan ternak, tambang termasuk batubara, perkebunan kelapa sawit, dan otomotif serta komponennya.

Sementara sektor-sektor lainnya rata-rata memiliki margin laba yang rendah, termasuk sektor properti dan konstruksi juga baru sekarang-sekarang aja marginnya cukup besar. Untuk beberapa sektor seperti industri kimia dan kabel, margin perusahaan-perusahaan di sektor tersebut terbilang kecil karena kebutuhan bahan baku mereka kebanyakan diperoleh dari impor pada harga beli yang cukup mahal, karena industri di dalam negeri belum bisa menyuplai.

Disisi lain untuk beberapa sektor tertentu, margin mereka yang besar juga bisa tertekan sewaktu-waktu jika pendapatan mereka sendiri turun ketika harga jual produknya jatuh. Dan inilah dialami oleh sektor batubara, dimana harga batubara dalam dua tahun terakhir ini terus turun hingga ke level dimana biaya produksinya sudah hampir lebih besar dari nilai jual batubara itu sendiri. Kemungkinan alasan inilah yang menyebabkan Buffett tidak menyukai saham-saham komoditas, yakni karena margin laba perusahaannya sama sekali tidak stabil dalam jangka panjang.

Okay, I think that’s all. Dengan demikian ketika anda hendak membeli sebuah saham untuk investasi jangka panjang, maka coba pelajari jenis produk yang dihasilkan perusahaannya. Apakah harganya murah dan terjangkau semua kalangan? Dibutuhkan orang banyak secara terus menerus? Dan bisa diproduksi secara massal dengan biaya yang rendah? Sebenarnya tidak hanya untuk invest jangka panjang, untuk trading pun sebaiknya kita memilih saham dengan kriteria produk yang demikian, karena biasanya fundamentalnya bagus sehingga risiko loss-nya pun rendah.

Lalu terkait contoh perusahaan yang produknya memenuhi ketiga kriteria yang tadi dibahas, anda pasti sudah mengetahuinya berdasarkan ilustrasi-ilustrasi yang digambarkan diatas. Tapi disini penulis akan memberikan satu contoh perusahaan yang tidak listing disini, melainkan di Bursa Nasdaq di Amerika, yakni Google, Inc. Check this out:

  1. Harga produk: Tidak hanya murah, tapi bahkan gratis! Lebih dari 90% produk Google bisa diperoleh/digunakan oleh orang-orang diseluruh dunia secara gratis. Dan untuk produk yang berbayarnya pun, harganya tidak pernah terlalu mahal, melainkan hanya di kisaran US$ 5 – 25 per produk.
  2. Dibutuhkan orang banyak secara terus menerus: Ketika seseorang mulai menggunakan internet, maka tidak bisa tidak, ia akan menggunakan layanan yang disediakan Google secara terus menerus, mulai dari search engine, email, Youtube, Google Map, dll. Blog yang sedang anda baca inipun merupakan salah satu layanan dari Google, yakni Blogger. Dan ya, penulis menggunakannya setiap hari, tidak bisa tidak.
  3. Bisa diproduksi secara massal dengan biaya produksi yang murah: Jika Indofood mungkin bisa pusing ketika harga gandum (bahan baku tepung terigu) naik, maka Google sama sekali tidak perlu memikirkan biaya ‘bahan baku’ dalam membuat produk-produknya, karena berbagai jenis layanannya secara otomatis bisa diperoleh/digunakan oleh semua orang diseluruh dunia selama orang tersebut tinggal di daerah yang ada sinyal internetnya. Biaya terbesar yang dikeluarkan Google hanylaha untuk pengembangan produk. Tapi sekali produk tersebut jadi dan berfungsi, maka kesananya perusahaan tinggal panen pendapatan, nyaris tanpa perlu mengeluarkan biaya produksi sama sekali.
Karena jenis produknya secara sempurna memenuhi ketiga kriteria diatas, maka tak heran jika Google kemudian menjadi salah satu perusahaan yang paling ‘sakti’ di Amerika, karena disisi lain perusahaan ini dikelola oleh tim manajemen yang super-brilian. Harga sahamnya pun, penulis ingat ketika di tahun 2009 lalu posisinya masih di US$ 400-an per lembar. Tapi sekarang? Sudah menembus US$ 1,000! Jika anda termasuk investor yang suka berinvestasi di saham-saham overseas, maka Google adalah salah satu saham bluchip yang boleh anda pertimbangkan.

Sayangnya ketika sebuah perusahaan memproduksi jenis produk yang memenuhi kriteria diatas, maka biasanya harga sahamnya pun selangit, karena perusahaannya umumnya memiliki fundamental yang bagus. Google sendiri pun pada harga saham US$ 1,011, PER-nya mencapai 27.5 kali. Malah kalau penulis perhatikan justru inilah kelemahan utama dari saham-saham yang produk perusahaannya memenuhi tiga kriteria diatas: Produknya tersebut memang murah, tapi harga sahamnya sendiri amat mahal.

Koleksi ‘produk murah’ yang diproduksi oleh ‘perusahaan mahal’. Anda tidak perlu menebak-nebak, perusahaan mana yang dimaksud


Karena itulah kalau penulis sendiri tidak terlalu ngotot dalam menerapkan ketiga kriteria diatas dalam memilih saham, melainkan memberikan toleransi. Misalnya untuk perusahaan ritel spesialis voucher pulsa, seperti yang kita bahas di artikel minggu lalu, harga produknya memang murah dan dibutuhkan orang banyak secara terus menerus. Namun disisi lain biaya produksinya sangat mahal karena perusahaan mengambil voucher pulsa tersebut dari perusahaan lain, bukan bikin sendiri. Jadi produk dari perusahaan voucher pulsa ini tidak memenuhi kriteria produk diatas secara menyeluruh.

Tapi karena harga sahamnya pun tidak terlalu mahal, maka sahamnya tetap layak invest. Malah dalam kasus ketika valuasi sebuah saham memang benar-benar murah, maka kita tidak perlu lagi memperhatikan apakah produk yang dihasilkan perusahaan memenuhi ketiga kriteria diatas atau tidak, selama profitabilitas dan lain-lainnya bagus. Disisi lain jika anda menemukan saham yang valuasinya belum begitu mahal, sementara produk yang dijual perusahaan memenuhi ketiga kriteria diatas dan fundamental perusahaannya sendiri terbilang bagus, then what are you waiting for?


Anyway, ‘kriteria produk’ ini baru merupakan salah satu poin yang harus anda perhatikan dalam memilih sebuah saham, dimana masih ada poin-poin lainnya yang juga harus anda perhatikan, salah satunya kriteria manajemen. Kebetulan penulis sudah menulis artikelnya disini. Untuk poin lainnya lagi, kita akan bahas kapan-kapan.


NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis saham berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal III 2013. Anda bisa memperolehnya [...]

Ebook Kuartalan edisi Q3 2013

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2013 (Q3 2013). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid.
  2. Memiliki fundamental yang bagus, minimal bisa dilihat dari rasio profitabilitasnya (ROA, ROE, NPM) yang besar.
  3. Kalau bisa mencatat kenaikan laba yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  4. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini akan terbit pada hari Senin tanggal 11 November 2013, dan akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan. Anda bisa memperoleh ebook-nya dengan cara preorder, keterangan selengkapnya baca disini.
Berikut adalah screenshot ebooknya, klik gambar untuk memperbesar:
Bagi anda yang belum pernah membaca ebook ini sebelumnya, penulis menyediakan sampelnya yakni Ebook Kuartalan Edisi Kuartal II 2011, yang terbit pada Agustus 2011 lalu. Anda bisa mendownloadnya disini, gratis! Jika anda tidak bisa mendownloadnya, maka kirim email dengan subjek ‘Sampel Ebook Kuartalan’, ke teguh.idx@gmail.com, dan penulis akan mengirim ebook-nya ke alamat email anda. Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.
We highly appreciate your opinion. Jadi kalau anda punya saran agar produk analisis ini menjadi lebih baik kedepannya, atau punya suggest saham tertentu yang menurut anda bagus, maka anda bisa kirim email yang berisi saran/list saham pilihan anda tersebut ke alamat email teguh.idx@gmail.com, dengan subjek saran. Jangan lupa sertakan nama lengkap anda, thanks!

Info lebih lanjut tentang produk analisis ini: Telp/SMS 081220445202 (Ms. Nury, my assistant), atau Pin BB 2850E045 (Ms. [...]

TiPhone Mobile Indonesia, dan Erajaya

Sekitar setahun lalu, tepatnya pada bulan Agustus 2012, penulis mulai mengamati saham-saham di sektor yang sebelumnya tidak begitu populer: Sektor ritel khusus produk telepon selular/ponsel dan aksesorisnya, dan voucher pulsa. Ketika itu dari beberapa saham di sektor ini, seperti Trikomsel Oke (TRIO), Erajaya Swasembada (ERAA), TiPhone Mobile (TELE), Skybee (SKYB), hingga Global Teleshop (GLOB), pilihannya jatuh pada ERAA. Dan ERAA memang tidak mengecewakan, dimana kinerjanya terus meningkat sehingga sahamnya pun terus naik dari ketika itu di 2,200, hingga sempat mencapai puncaknya di posisi 3,500, Mei lalu. Artikel selengkapnya bisa baca lagi disini.

Sayangnya memasuki tahun 2013 kinerja ERAA malah anjlok, sehingga sahamnya tidak hanya kembali lagi ke posisi 2,000-an, tapi terus bablas sampai balik lagi ke harga IPO-nya, yakni 1,000-an. Penurunan kinerja tersebut sangat jelas penyebabnya yakni pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, dimana itu menjadi salah satu risiko utama dari bisnis ERAA sebagai perusahaan distributor ponsel. Jadi praktis, sejak kuartal I lalu penulis keluar dan tidak lagi memperhatikan saham ini, begitu pula dengan sektornya.
Hingga kemarin seorang teman meminta analisis TELE, dan sepertinya saham yang tadinya tidak menarik ini, sekarang justru jadi lebih menarik ketimbang ERAA (ERAA sebenarnya masih menarik karena statusnya sebagai the largest distributor for smartphone in Indonesia. Tapi kita harus menunggu kinerjanya plus lagi dulu, termasuk nunggu Rupiah pulih lagi, mungkin tahun depan). Karena itulah kita akan membahas TELE disini, here we go!
Sejarah TELE dimulai pada tahun 1992, ketika pemiliknya, Mr. Hengky Setiawan, membuka toko pulsa dan ponsel pertamanya di Jakarta, setelah sebelumnya berbisnis jual beli ponsel bekas dari tangan ke tangan. Lima tahun kemudian yakni pada tahun 1997, Mr. Hengky memperoleh kepercayaan dari Telkomsel untuk menjadi distributor voucher pulsa dan kartu perdana Telkomsel. Kesepakatan tersebut melahirkan Telesindo Shop, dan Telesindo resmi berbadan hukum (menjadi PT Telesindo Shop) pada tahun 2001.
Selanjutnya di tahun 2006, Mr. Hengky sekali lagi memperoleh kepercayaan dari PT XL Axiata, yang ketika itu masih bernama PT Excelcom, untuk menjadi distributor voucher pulsa XL, sehingga pada tahun tersebut pengusaha yang dikenal karena memiliki kapal pesiar ini mendirikan perusahaan keduanya, PT Excel Utama. Dua tahun berselang yakni pada tahun 2008, Mr. Hengky memperoleh hak distributor untuk ponsel Tiongkok merk TiPhone di Indonesia, sehingga didirikanlah PT TiPhone Mobile Indonesia. Dan pada tahun 2010, Mr. Hengky masuk ke bisnis service ponsel dan content provider, dengan mendirikan PT Setia Utama Service dan PT Media Aplikasi.
Ekspansi terus berlanjut. Pada tahun 2011, seluruh perusahaan yang disebut diatas dikonsolidasikan dibawah PT TiPhone, untuk kemudian dibawa ke lantai bursa alias IPO pada tahun 2012, dengan kode TELE. Dan per April 2013, TELE sudah memiliki tak kurang dari 146 outlet, 92 service center, dan 180 ribu reseller aktif di seluruh Indonesia.

Logo PT TiPhone Mobile dengan slogannya, ‘time to connect’

Secara umum, berikut adalah beberapa lini bisnis yang dijalani TELE hingga saat ini:
  1. Distributor kartu perdana (starter pack) dan voucher pulsa Telkomsel, Telkom Flexi, dan XL Axiata.
  2. Distributor dan retail partner untuk produk-produk ponsel merk TiPhone, Blackberry, Samsung, LG, Nokia, HTC, dan iPhone, dengan porsi ponsel merk TiPhone masih merupakan yang terbesar.
  3. Layanan service center, dan
  4. Bisnis aplikasi serta content provider. Tapi hingga tahun 2013 ini, lini bisnis aplikasi dan content provider ini belum berhasil mencatatkan pendapatan.
Pada tahun 2012 lalu, sekitar 90% dari pendapatan TELE berasal dari penjualan kartu perdana dan voucher pulsa. Namun memasuki tahun 2013, seiring dengan meningkatnya portofolio merk ponsel yang dijual perusahaan, proporsi pendapatan perusahaan berubah menjadi 70% voucher pulsa, dan 30% ponsel (sampai saat ini pendapatan perusahaan dari bisnis service center masih sangat kecil). Nilai pendapatan perusahaan dari bisnis distribusi ponsel sangat mungkin akan kembali meningkat setelah pada Juni dan awal Oktober kemarin, TELE resmi mengakuisisi dua perusahaan yang masing-masing merupakan importir ponsel merk iPhone dan Samsung. Well, sepertinya kini TELE tidak bisa lagi dipandang sebelah mata sebagai distributor ponsel low-end seperti TiPhone, karena perusahaan kini juga mulai jualan ponsel-ponsel kelas atas. However, hingga Semester I 2013 lalu pendapatan TELE masih didominasi oleh penjualan voucher pulsa. Sementara sebagai distributor ponsel, TELE masih jauh dibanding ERAA yang merupakan perusahaan distributor ponsel terbesar di tanah air.
Namun menariknya, kita tentu tahu bahwa salah satu penyebab kenapa ERAA mencatat penurunan laba bersih di Semester I 2013 lalu adalah karena pelemahan Rupiah. Sementara TELE tidak mengalami dampak yang sama karena perusahaan lebih banyak menjual voucher pulsa (yang bukan diperoleh dari impor). Ini berarti jika suatu hari nanti TELE lebih banyak memperoleh pendapatannya dari distribusi ponsel, alias sama seperti ERAA, maka justru kinerjanya akan menjadi sangat mudah dipengaruhi oleh fluktuasi Rupiah.
Tapi terlepas dari itu, TELE menawarkan prospek pertumbuhan yang sangat menarik. Pasca akuisisinya terhadap importir iPhone dan Samsung pada tahun ini, di tahun 2014 mendatang TELE mentargetkan pendapatan dari penjualan ponsel sebesar Rp4.5 trilyun, dari hanya sekitar Rp1 trilyun pada tahun 2013 ini. Setelah ditambah pendapatan dari penjualan kartu perdana dan voucher pulsa sebesar sekitar Rp9 trilyun, maka TELE berpotensi meraup pendapatan Rp13.5 trilyun pada tahun 2014. Dengan asumsi bahwa TELE bisa mempertahankan margin laba bersihnya sebesar 3%, maka itu berarti laba bersih TELE di tahun 2014 akan menjadi Rp405 milyar. Margin laba bersih itu sendiri seharusnya akan meningkat pada tahun 2014 mendatang, katakanlah menjadi 4 – 5%, mengingat keuntungan dari jualan ponsel lebih besar ketimbang keuntungan dari jualan pulsa. Sebagai ilustrasi, pada Semester I 2013, margin laba operasional TELE dari penjualan ponsel mencapai 11.6%, sementara margin dari penjualan pulsa cuma 2.8%.
Jadi jika margin 4 – 5% tadi terealisasi, sementara TELE sendiri sukses mencatatkan pendapatan sebesar Rp13.5 trilyun sepanjang tahun 2014 mendatang, maka perusahaan akan mencetak laba bersih di kisaran Rp540 – 675 milyar. Mengingat posisi equity TELE pada saat ini hanyalah Rp1.8 trilyun, maka itu tentu saja merupakan angka laba bersih yang sangat besar untuk ukuran perusahaan distributor. Di artikel tahun lalu penulis mengatakan bahwa TELE ini hanya akan menarik jika perusahaan mampu memperoleh hak distribusi untuk merk-merk ponsel diluar TiPhone, dan ternyata mereka sukses melakukannya (kemungkinan berkat upaya dari Mr. Hengky sendiri secara personal, karena beliau ini memang dikenal nyentrik dan supel). Terakhir, ini semua masih belum termasuk potensi pendapatan dari bisnis aplikasi dan content provider, yang hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan.
Namun sudah tentu, angka-angka diatas hanyalah proyeksi kasar yang bisa saja keliru. Sementara kalau kita bertindak sebagai value investor dengan melihat valuasi sahamnya pada saat ini, maka TELE bersaing ketat dengan ERAA sebagai saham ponsel yang paling menarik di BEI (dari sisi valuasinya). Berikut adalah data PER dan PBV untuk kelima saham ritel ponsel dan pulsa di BEI, berdasarkan posisi harga terakhir mereka per tanggal 16 Oktober.
Stock
Price
PER
PBV
TELE
495
11.8
2.1
GLOB
1,320
10.3
3.4
ERAA
1,220
13.6
1.4
TRIO
1,400
12.3
3.4
SKYB
500
125.0
1.2
Nah, jika anda perhatikan, TRIO dan SKYB sejak awal tidak layak invest karena fundamentalnya tidak meyakinkan, dimana TRIO memiliki utang yang segunung, sementara SKYB gagal dalam mencatat laba yang konsisten (plus perusahaannya juga nggak pernah kedengaran akan melakukan aksi ekspansi tertentu). Jadi kandidatnya tinggal TELE, GLOB dan ERAA. Dari sisi manajemen, GLOB adalah anak usaha TRIO, sehingga meski perusahaan ini sejatinya mampu menampilkan fundamental yang bagus, namun kualitas pengelolaan perusahaannya agak meragukan.
Hal yang sepenuhnya berbeda ditampilkan oleh TELE dan ERAA, dimana keduanya merupakan grup usaha yang konservatif serta fokus pada pengembangan usaha itu sendiri, tanpa pernah menggelar right issue, menerbitkan obligasi, atau semacamnya (ERAA kemarin menerbitkan saham baru dalam rangka MESOP, tapi jumlahnya cuma 20 juta lembar). Jadi praktis, kalau anda mau berinvestasi di sektor ritel khusus produk ponsel dan voucher pulsa ini, maka pilihannya kalau nggak TELE ya ERAA. Selain itu di sektor ini memang hanya dua saham tersebut yang volume transaksi perdagangannya cukup likuid.
Kemudian kalau dari sisi prospek, seperti yang sudah kita bahas diatas, TELE pada hari ini jelas lebih menarik. Tapi kalau dari sisi valuasi maka mungkin ERAA lebih menarik dengan PBV hanya 1.4 kali (dengan ukuran kinerjanya pada saat ini, maka ERAA di harga 2,000-an memang mahal. Tapi sekarang kan dia cuma 1,000-an!). Sebab ERAA biar bagaimanapun merupakan perusahaan distributor ponsel terbesar di tanah air, dengan jaringan distribusi yang jauh lebih baik dibanding pesaing-pesaingnya, termasuk TELE. Kinerjanya yang menurun pada tahun ini lebih disebabkan karena adanya faktor risiko yang tidak terhindarkan, yakni pelemahan Rupiah tadi, sementara bisnis jualan ponsel dan pulsa (ERAA juga jualan pulsa, meski nggak banyak) yang dijalani perusahaan secara umum masih lancar dan nggak ada masalah. Jadi jika nanti Rupiah kembali bergerak stabil, mungkin tahun depan, maka seharusnya laba ERAA juga akan kembali meningkat.
However, ini bukan berarti TELE tidak bisa menyalip ERAA suatu saat nanti. ERAA, seperti yang kita ketahui, bisa menjadi perusahaan distributor ponsel nomor satu di Indonesia karena kepemilikannya terhadap PT Teletama Artha Mandiri (TAM), yang merupakan distributor Blackberry terbesar di tanah air. Sementara saat ini trend Blackberry di Indonesia mulai tergeser oleh Android (Samsung), dan itu sebabnya TELE kemarin mengakuisisi importir Samsung, bukan Blackberry. Jika ERAA, atau dalam hal ini TAM, tidak segera ‘do something’ terkait hal ini, maka bisa jadi pada tahun 2014 mendatang kinerja perusahaan tetap tidak membaik karena mulai ‘diganggu’ oleh TELE dan lainnya.
Kesimpulannya, jika cukup yakin dengan prospek yang ditawarkan TELE, maka saham ini cukup layak invest terutama jika anda bisa masuk di harga yang mencerminkan PBV kurang dari 2.0 kali, yang itu berarti 450. Target harganya? Let say 1,000 dalam setahun kedepan, tentunya dengan catatan jika target pendapatannya sukses dicapai. Penulis tentu tidak perlu lagi mengingatkan anda bahwa berinvestasi di saham seperti TELE ini lebih mengandung risiko ketimbang invest di saham-saham defensif seperti consumer goods, dimana peningkatan ataupun penurunan kinerja TELE di masa mendatang akan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.
Sementara jika anda lebih tertarik ke ERAA, maka saham ini mungkin baru akan menarik jika pada Kuartal I 2014 mendatang labanya kembali positif. Disisi lain jika anda sejak awal sudah masuk ke ERAA ini, maka menjualnya di harga sekarang praktis tidak disarankan, karena saham ini, berdasarkan harganya pada saat ini, merupakan yang paling murah di sektornya, terutama jika mempertimbangkan nama besar perusahaannya. Kalau anda bertanya kepada Warren Buffett ketika ia masih muda dulu (sebelum ia bertemu dengan Charlie Munger di tahun 1980-an), maka Buffett kemungkinan akan lebih memilih ERAA dibanding TELE. Sebab di tahun 1964 ia pernah mengatakan, ‘Berinvestasi pada saham-saham yang murah menawarkan keuntungan yang wajar setelah satu hingga tiga tahun. Seringkali alasan untuk membeli saham murah tersebut baru muncul belakangan, entah karena kinerja perusahaan yang membaik setelah beberapa waktu, adanya tawaran akuisisi, atau terjadinya perubahan psikologis pasar terhadap terhadap saham tersebut.’

Well, tapi saham manapun yang anda pilih, harap ingat selalu bahwa investasi anda tidak akan langsung menghasilkan keuntungan yang signifikan hanya dalam satu atau dua hari. Selain itu berhubung sebentar lagi kita akan memasuki musim laporan keuangan untuk periode Kuartal III 2013, maka mungkin ada baiknya jika anda menunggu hingga kedua perusahaan merilis laporan keuangan terbarunya masing-masing sebelum mengambil keputusan mau masuk kemana, just to be [...]

Ketika Amerika Mengalami Shutdown

Tanggal 1 Oktober kemarin, Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan penutupan (shutdown) kantor-kantor pemerintah setelah pihak House of Representatives (kalau di Indonesia, DPR) tidak juga menyelesaikan penyusunan anggaran untuk tahun fiskal 2014, yang memang dimulai pada tanggal 1 Oktober tersebut. Menurut Presiden Barack Obama, hal ini dikarenakan ‘perang politik’ antara dirinya dengan pihak The House. Tapi apapun itu, shutdown ini telah menyebabkan setidaknya 800 ribu pegawai negeri di lingkungan kantor Pemerintah Amerika, baik sipil maupun militer, telah dirumahkan (dirumahkan, bukan dipecat) hingga kegiatan Pemerintahan dibuka kembali. Pertanyaannya tentu saja, what’s next?

Ketika disebutkan bahwa Amerika ‘shutdown’, maka bukan berarti negara adidaya ini bubar, melainkan hanya kantor-kantor pemerintahannya saja yang ditutup, itupun terbatas di kantor pemerintah pusat (jadi pemerintah di negara-negara bagian tetap berjalan). Misalnya jika di hari-hari biasa, kantor Small Business Administration/SBA (kalau di Indonesia, Kementerian Koperasi dan UKM) melayani pemberian pinjaman kepada usaha kecil, maka selama masa shutdown ini kegiatan pemberian pinjaman itu dihentikan, seiring dengan dirumahkannya 62% pegawai di departemen SBA tersebut.
Demikian pula untuk kantor-kantor departemen lainnya, rata-rata 60 – 90% pegawainya dirumahkan, tentunya tanpa menerima gaji. Dan dari sekitar 1.3 juta pegawai yang masih bekerja di seluruh departemen, mereka juga bisa dipastikan akan menerima pengurangan atau penundaan pembayaran gaji, setidaknya sampai pihak The House menyelesaikan penyusunan anggaran.
Lalu bagaimana efek dari shutdown ini terhadap perekonomian Amerika? Nah, sekarang bayangkan anda adalah seorang PNS di Amerika. Anda, tiap bulannya menerima gaji sekian US Dollar, dan uang itu dipakai untuk pengeluaran rutin seperti kebutuhan sehari-hari dan cicilan rumah, serta sisanya untuk asuransi dan ditabung. Jika dalam satu bulan ternyata gaji tersebut tidak dibayar, maka otomatis pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari harus dihemat, cicilan rumah ada kemungkinan ditunda dulu pembayarannya, dan tabungan di bank harus dicairkan. Jika ini terjadi pada 800 ribu pegawai negeri sekaligus, maka bisa dibayangkan berapa penurunan omzet yang dialami toko sembako, berapa jumlah tagihan KPR yang macet, dan berapa jumlah dana tabungan yang di­-rush dari bank dan perusahaan asuransi.
Paragraf diatas menggambarkan potensi terhambatnya perputaran ekonomi karena menurunnya konsumsi dari para pegawai negeri. Sementara di pihak swasta, juga terdapat banyak perusahaan yang turut merumahkan sejumlah pegawainya, karena perusahaan-perusahaan ini sebelumnya menerima pesanan/order dari Pemerintah, tapi shutdown ini secara otomatis membatalkan hampir seluruh order-order tersebut. United Technologies, Sikorsky Aircraft, dan Pratt & Whitney adalah beberapa perusahaan yang merumahkan sebagian pegawainya, karena mereka tidak bisa lagi menyuplai pesawat terbang dan kebutuhan militer lainnya ke Departemen Pertahanan AS, setelah Departemen itu sendiri sekarang ditutup.
Berbagai efek domino yang disebabkan oleh shutdown ini tentu saja mempengaruhi perekonomian Amerika Serikat secara keseluruhan. Jumlah gaji yang seharusnya diterima oleh para pegawai negeri, tapi mereka tidak menerimanya karena adanya shutdown ini, mencapai lebih dari US$ 1 milyar per pekan. Ditambah dengan ‘hilangnya’ gaji pegawai swasta dan lain-lain, menurut Moody’s Analytics, dalam sebulan kedepan perekonomian Amerika akan menderita kerugian sekitar US$ 55 milyar. Goldman Sach’s memperkirakan bahwa PDB Amerika akan turun 0.9% karena shutdown ini, dan pertumbuhan ekonomi Amerika, menurut koran Los Angeles Times, akan tertekan menjadi 1.2 – 1.3%, dari 1.6% pada saat ini.
Namun potensi terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut mungkin tidak terlalu menarik untuk diperhatikan. Sebab jika pertumbuhan ekonomi Amerika benar-benar turun menjadi 1.2%, misalnya, maka angka tersebut masih dikisaran rata-rata pertumbuhan ekonomi Amerika selama 5 tahun terakhir ini. Pada tahun 2008, pertumbuhan ekonomi Amerika sempat minus/negatif karena efek dari krisis mortgage, dan ketika itu barulah terjadi krisis global. Tapi di tahun-tahun lainnya, pertumbuhan ekonomi Amerika selalu positif dengan rentang 0.9 – 3.3% per tahun. Jadi ketika pertumbuhan tersebut diproyeksi turun menjadi 1.2 – 1.3% karena adanya shutdown ini, maka sepertinya tidak ada yang menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Karena itulah, pada tanggal 1 Oktober ketika shutdown ini diumumkan, para investor di pasar saham Amerika tetap tenang-tenang saja, dan Dow Jones cs ketika itu malah naik.
However, ini bukan berarti ceritanya sudah selesai.
‘United States Shutdown’ yang terjadi kemarin merupakan salah satu klimaks dari perseteruan politik antara Presiden Barack Obama, yang merupakan kader Partai Demokrat, dengan House of Representatives, yang dipimpin oleh Partai Republik. Perseteruan politik antara kedua kubu ini, yakni Demokrat dan Republik, memang sudah terjadi sejak awal sejarah Amerika Serikat pada tahun 1700-an. Namun khusus untuk era Pemerintahan Obama, perseteruan itu mulai memanas sejak tahun 2011 (Obama menjabat Presiden sejak tahun 2009), yang ditandai dengan perdebatan di kongres terkait debt ceiling. Debt ceiling adalah batas maksimum jumlah utang Pemerintah Amerika Serikat, dimana batas maksimum tersebut ditentukan oleh kongres (gabungan antara The House dan Senat). Jika jumlah utang Pemerintah terus naik hingga mencapai batas maksimumnya, maka pihak kongres harus menaikkan batas tersebut (menaikkan debt ceiling), atau Pemerintah Amerika akan mengalami default (gagal bayar).
Nah, sebelum kita masuk ke bagian perseteruan politik antara Obama dan The House, pertama-tama kita bahas dulu tentang debt ceiling itu sendiri.
Pertama-tama, posisi utang Pemerintah Amerika per Oktober 2013 adalah US$ 16.7 trilyun. Tentunya akan timbul pertanyaan, Amerika sebenarnya berhutang kepada siapa? Jawabannya adalah utang sebesar US$ 16.7 trilyun tersebut mencerminkan jumlah mata uang US Dollar yang beredar di seluruh Amerika, dan juga seluruh dunia, pada saat ini. Uang tersebut tidak dicetak oleh Pemerintah Amerika sendiri, melainkan dicetak oleh Federal Reserve/The Fed. Sehingga secara teknis bisa dikatakan bahwa uang sebesar US$ 16.7 trilyun tersebut adalah utang Amerika terhadap bank sentralnya sendiri.
Kemudian, anggaran belanja Pemerintah Amerika, setiap tahunnya dibiayai oleh dua hal, yakni pajak yang ditarik dari warganya, dan ‘utang’. Jika anggaran belanja Pemerintah pada satu tahun tertentu adalah US$ 1 trilyun, sementara penerimaan pajak untuk tahun yang sama adalah juga US$ 1 trilyun, maka Amerika tidak perlu berhutang. Tapi jika dalam satu tahun tertentu anggaran belanja Pemerintah lebih besar dari penerimaan pajaknya, maka Pemerintah harus mengambil utang, dalam hal ini meminta The Fed untuk mencetak uang baru. Jika uang baru yang dicetak tersebut bernilai US$ 100 milyar, misalnya, maka dikatakan bahwa Pemerintah Amerika mengambil pinjaman/utang (tapi tidak disebutkan sebagai ‘utang kepada The Fed’) sebesar US$ 100 milyar. Nah, ketika Pemerintah hendak mengajukan kepada The Fed untuk ‘meminjam’ dana sebesar sekian, maka mereka harus memperoleh persetujuan dari kongres.
Yang dimaksud dengan kongres adalah rapat yang digelar di Washington, dimana peserta rapatnya adalah para anggota dewan dan senator, dari The House dan Senat (kalau di Indonesia seperti DPR dan MPR, sementara kongres itu sendiri kurang lebih seperti rapat paripurna). Kongres ini memiliki wewenang penuh untuk menentukan batas maksimum (debt ceiling) jumlah utang yang boleh dimiliki Pemerintah Amerika. Jadi ketika saat ini utang Pemerintah sudah mencapai batas maksimalnya, yakni US$ 16.7 trilyun, maka apakah batas tersebut dinaikkan kembali menjadi US$ 18 trilyun, atau US$ 20 trilyun, atau malah tidak dinaikkan sama sekali, itu terserah keputusan yang dihasilkan oleh kongres, biasanya melalui jajak pendapat alias voting.
Setiap kali jumlah utang Pemerintah menyentuh batas debt ceiling-nya, sementara disisi lain anggaran belanja yang ada tidak bisa sepenuhnya dibiayai oleh pajak, maka Pemerintah harus ‘setor muka’ ke The House dan Senat, untuk mengajukan agar debt ceiling tersebut dinaikkan, sehingga mereka melalui Department of Treasury bisa meminta The Fed untuk mencetak uang baru. Nah, ketika Pemerintah berada dalam posisi ‘memohon’ kepada The House dan Senat inilah, yang kemudian menjadi lobi-lobi politik diantara semua pihak. Biasanya pihak The House, terutama jika mereka kebetulan dipimpin oleh Partai yang berseberangan dengan Partai pemerintah, akan meminta syarat yang macam-macam kepada Presiden, jika Presiden sebagai pimpinan Pemerintah menginginkan agar debt ceiling tersebut dinaikkan.
Dan memang itulah yang terjadi pada masa Pemerintahan Obama. Obama, yang berasal dari Partai Demokrat, secara otomatis berseberangan secara politik dengan pihak The House, yang dipimpin oleh Partai Republik. Perseteruan antara Obama dan The House pertama kali mencuat pada tahun 2011 lalu, dimana jumlah utang Amerika ketika itu sudah mencapai batas debt ceiling-nya, yakni US$ 14.3 trilyun, tapi disisi lain Pemerintah sedang butuh utang karena anggaran belanja negara hanya 60% yang dibayai oleh pajak. Biasanya pihak The House melalui kongres tanpa ba bi bu akan langsung menaikkan batas debt ceiling tersebut, sehingga Pemerintah seperti biasa bisa nyamperin kantor The Fed lagi. Namun ketika itu, The House, karena alasan tertentu, menunda keputusan untuk menaikan debt ceiling. Deadline untuk menaikkan batas maksimum utang, yang sebelumnya tanggal 31 Mei 2011, menjadi molor hingga waktu yang belum ditentukan. Dan ketika itulah pasar saham dunia mulai wanti-wanti tentang kemungkinan bahwa Amerika akan default atau semacamnya, padahal sebenarnya itu semua cuma politik.
Pada saat itu Presiden Obama harus bekerja keras untuk melobi pihak The House, termasuk untuk ‘sungkem’ ke juru bicaranya (‘juru bicara’ disini mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai ketua DPR), John Boehner. Dan akhirnya, pada tanggal 2 Agustus 2011, Pemerintah dan kongres memperoleh kesepakatan tentang kenaikan debt ceiling. Berikut adalah poin-poin kesepakatan tersebut.
  1. Debt ceiling langsung dinaikkan sebesar US$ 400 milyar, dan Presiden Obama bisa meminta tambahan kenaikan sebesar maksimum US$ 2 trilyun dalam beberapa wakyu berikutnya.
  2. Jumlah total pengeluaran Pemerintah dalam sepuluh tahun kedepan akan dikurangi, dimana nilai pengurangan tersebut lebih besar dari kenaikan debt ceiling itu sendiri. Beberapa departemen yang akan dipotong anggarannya adalah Departemen Pertahanan, Department of Homeland Security, Department of Veteran Affairs, dan National Nuclear Security Administration.
Tiga hari kemudian, pada tanggal 5 Agustus 2011, Standard & Poor’s (S&P), salah satu dari tiga lembaga rating paling terkemuka di dunia (dua lainnya adalah Fitch dan Moody’s), untuk pertama kalinya dalam sejarah menurunkan rating utang Amerika dari AAA menjadi AA+. Penurunan rating inilah yang ketika itu seketika mengguncang pasar saham, dimana Dow Jones jeblok 5.6% dalam sehari, dan langsung diikuti oleh penurunan bursa-bursa saham lainnya di seluruh dunia, termasuk IHSG.
However, penurunan rating yang dilakukan S&P tidak berkaitan langsung dengan kenaikan debt ceiling. Pada April 2011, atau beberapa bulan sebelum debt ceiling dinaikkan, S&P sebenarnya sudah mengumumkan bahwa mereka kemungkinan akan menurunkan rating Amerika Serikat, dengan pertimbangan bahwa Amerika mengalami defisit sebesar 11% dibanding PDB-nya, dan jumlah utangnya kini mencapai lebih dari 80% PDB, dimana dua indikator tersebut relatif buruk jika dibandingkan dengan negara-negara lain dengan rating AAA.
Situasi Debt Ceiling, pada Saat Ini
Setelah debt ceiling dinaikkan pada tanggal 2 Agustus 2011, Presiden Obama bisa kembali dengan leluasa menjalankan roda pemerintahan. Namun pada akhir tahun 2012, jumlah utang Pemerintah kembali mentok di batas maksimum-nya, sehingga debt ceiling harus segera dinaikkan kembali sebelum deadline tanggal 31 Desember, atau Pemerintah harus melakukan pemotongan anggaran serta menaikkan pajak secara besar-besaran, yang dikenal dengan fiscal cliff. Untungnya setelah kembali melewati perdebatan alot dengan para anggota dewan, akhirnya keluar keputusan ‘darurat’ yang menyebutkan bahwa deadline yang tadinya tanggal 31 Desember 2012 menjadi ditunda hingga waktu yang belum ditentukan, dan debt ceiling itu sendiri dinaikkan dari US$ 16.4 menjadi 16.7 trilyun (naik sebesar US$ 300 milyar).
(Btw mungkin ada pertanyaan, kenapa selama Pemerintahan Obama pengeluaran negara selalu lebih besar dari penerimaan pajak, sehingga debt ceiling lagi-lagi harus dinaikkan? Jawabannya adalah karena pada tahun 2001 dan 2003, pada masa Pemerintahan Presiden Bush, terdapat Undang-Undang terkait pemotongan pajak, yang dikenal dengan istilah ‘Bush Tax Cuts’. Pemotongan pajak inilah, yang setelah terakumulasi selama bertahun-tahun, menyebabkan penerimaan pajak Pemerintah Amerika terus turun, sementara disisi lain anggaran belanja cenderung tetap bahkan naik.)
Setelah fiscal cliff teratasi, Obama secara intensif terus menghubungi pihak The House untuk menaikkan debt ceiling kembali (karena kenaikan US$ 300 milyar tadi masih terlalu kecil), namun pihak The House juga terus meminta syarat-syarat tertentu. Pada Mei 2013 lalu, Presiden Obama dengan tegas mengajukan syarat-syarat yang akan ia penuhi jika pihak kongres mau menaikkan debt ceiling, yakni: Nothing! Dan pihak The House meresponnya dengan memberikan tiga opsi berikut:
  1. Debt ceiling akan dinaikkan dalam jangka panjang, dalam artian Pemerintah Amerika boleh mengambil utang dalam jumlah berapapun hingga masa jabatan Obama berakhir. Tapi syaratnya adalah proyek pemerintah terkait jaminan sosial dan jaminan kesehatan (medicare dan medicaid) harus diprivatisasi, alias diserahkan kepada pihak swasta.
  2. Debt ceiling akan dinaikkan dalam jangka menengah, yakni Pemerintah Amerika boleh mengambil utang hingga tahun 2015. Syaratnya adalah Pemerintah harus memotong subsidi makanan, menekan inflasi, mereformasi perpajakan, dan membatasi pemberian jaminan kesehatan bagi masyarakat.
  3. Debt ceiling akan dinaikkan dalam jangka pendek, yakni hingga pertengahan tahun 2014. Syaratnya adalah Pemerintah harus mengurangi pengeluaran negara untuk jaminan sosial, menaikkan batas usia pensiun, dan menghapuskan subsidi pertanian.
Waktu berlalu, Obama tetap bertahan pada pendiriannya, sementara The House juga ngotot terkait syarat-syarat diatas. Hingga akhirnya pada tanggal 1 Oktober 2013, setelah Department of Treasury sudah hampir kehabisan duit karena mereka belum bisa mengajukan utang baru, Obama memutuskan untuk ‘shutdown’. Sekitar 800 ribu pegawai negeri dirumahkan, dan karenanya Pemerintah bisa menghemat anggaran untuk gaji pegawai, namun Pemerintah Amerika masih harus menggaji sekitar 1.3 juta pegawai lainnya yang masih bekerja (meski dengan penundaan, atau pemotongan). Ini artinya jika pihak Obama hingga satu atau dua bulan kedepan tidak juga mampu melobi The House untuk menaikkan debt ceiling, maka hampir bisa dipastikan akan ada shutdown lanjutan.
Dan jika ‘shutdown perdana’ yang saat ini sudah berlaku, seperti sudah dibahas diatas, diperkirakan tidak akan berdampak terlalu buruk terhadap perekonomian Amerika, maka shutdown kedua nanti, jika terjadi, hampir bisa dipastikan akan ditanggapi lebih serius oleh pasar saham. Fitch Ratings juga sudah mengingatkan bahwa jika debt ceiling ini terus menerus ditunda kenaikannya, maka mereka juga bisa saja menurunkan rating utang Amerika, seperti yang pernah dilakukan oleh S&P di tahun 2011.
So, What’s Next?
Tentunya tidak pernah ada yang tahu apakah pihak The House pada akhirnya akan menaikkan debt ceiling, termasuk Presiden Obama sendiri. Tapi bahkan jika debt ceiling tersebut jadi dinaikkan, dan Amerika terhindar dari shutdown lanjutan, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah Fitch akan tetap mempertahankan rating utang Amerika di level tertinggi, atau mengikuti jejak S&P untuk menurunkan rating tersebut? Sebab pada saat ini jumlah utang Amerika sudah melebih PDB-nya dengan rasio 101%, dan rasio utang terhadap PDB tersebut bisa menjadi lebih besar lagi, mungkin menjadi 110 – 120%, andaikata debt ceiling dinaikkan. Seperti yang dikatakan S&P, ketika jumlah utang suatu negara sudah mencapai lebih dari 80% PDB-nya, maka tidak seharusnya negara yang bersangkutan memiliki rating AAA sebagai rating tertinggi.
Tapi yang penting sekarang kita sudah mengetahui poin-poin utama yang akan menentukan arah pasar, yakni: 1. Kelanjutan negosiasi anggaran/debt ceiling antara Obama dan The House, apakah akan berakhir baik atau buruk, dan 2. Rating terbaru dari Fitch, apakah tetap tinggi atau turun. Skenario terbaiknya adalah The House akhirnya menaikkan debt ceiling tanpa syarat, dan Fitch tidak jadi menurunkan rating Amerika. Sementara skenario terburuknya, tentu saja, pihak The House berhasil memaksa Obama untuk memotong anggaran belanja negara disana-sini (termasuk medicaid), terjadi shutdown tahap dua, dan Fitch menurunkan rating Amerika.
Nah, jadi menurut anda sendiri, kira-kira skenario mana yang terjadi? Sekedar untuk mengingatkan, pada konflik Obama vs The House di bulan Agustus 2011 lalu, yang terjadi adalah skenario terburuk, sehingga pasar saham anjlok besar-besaran ketika itu, termasuk IHSG sempat drop 8.88% dalam sehari. Tapi untuk konflik di bulan Desember 2012 kemarin (fiscal cliff), yang terjadi adalah skenario terbaik, dan IHSG malah rally terus hingga mencapai puncaknya di bulan Mei 2013.
Well, tapi skenario manapun yang terjadi, yang jelas posisi IHSG sendiri pada saat ini masih cukup mahal dengan rata-rata PER 20.5 kali pada harga 4,419. IHSG pada periode Januari – Mei 2013 kemarin bisa terus naik hingga tembus 5,200-an hanya karena didorong oleh banyaknya dana asing yang masuk, dan bukan karena faktor fundamental (dalam jangka pendek, fundamental kita sekarang ini sedang sedikit goyah, baca lagi gambaran pekonomian Indonesia). Sementara pada saat ini dana asing tersebut sudah keluar dan belum mau masuk lagi (karena isu tapering dll). Disisi lain Dow Jones juga belum mengalami periode koreksi tahunannya setelah terakhir terkoreksi pada November 2012 lalu. Beberapa poin analisa diatas mengindikasikan bahwa pasar kemungkinan masih akan turun, dan tahun 2013 mungkin akan menjadi tahun pertama sejak tahun 2008 lalu, dimana posisi IHSG di akhir tahun ditutup lebih rendah dibanding awal tahun.
Namun kalau ada poin yang mungkin bisa mengubah skenario diatas (bahwa IHSG akan turun lagi), maka itu adalah potensi masuknya dana dari investor-investor lokal. Ketika artikel ini ditulis, posisi net foreign buy di BEI sepanjang tahun 2013 tercatat minus Rp9.8 trilyun, yang itu berarti jumlah dana asing yang masuk sepanjang tahun 2013 sudah keluar lagi hingga habis, dan dana asing yang masuk di tahun 2012 telah turut berkurang sebesar Rp9.8 trilyun. Pada akhir tahun 2012, posisi IHSG adalah 4,317, dan posisi tersebut bisa dicapai salah satunya karena ada sekian trilyun dana asing yang masuk (tepatnya Rp15.8 trilyun). Dan sekarang, mengingat dana asing tersebut sudah berkurang sebesar Rp9.8 trilyun, maka posisi IHSG pada saat ini seharusnya lebih rendah dibanding posisi 4,317 tadi bukan?
Tapi nyatanya IHSG masih stabil berada di posisi 4,418. Artinya, posisi dana asing yang keluar telah digantikan oleh masuknya dana lokal. Jika kita nonton televisi, sekarang ini BEI mulai sering menayangkan iklan untuk mendorong masyarakat untuk berinvestasi di saham. Jadi ada kemungkinan bahwa jumlah investor lokal di pasar, termasuk jumlah dana lokal itu sendiri, telah meningkat signifikan. Jika kondisi ini terus berlanjut (investor lokal terus masuk) maka bukan tidak mungkin kita akan sampai pada situasi dimana posisi asing tidak lagi begitu berpengaruh terhadap naik turunnya indeks, karena posisi investor lokal menjadi lebih dominan, dan IHSG bisa naik kembali ke posisi 5,000-an tanpa perlu menunggu asing masuk lagi ke pasar. We’ll see.
NB: Penulis menyelenggarakan seminar investasi saham di Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 12 Oktober 2013. Keterangan selengkapnya baca [...]

Surat Barack Obama Terkait ‘Shutdown’

Gedung Putih, Washington, 1 Oktober 2013
Kepada seluruh pegawai berdedikasi yang senantiasa bekerja keras, di lingkungan Kantor Pemerintahan Amerika Serikat.

Pemerintah Amerika Serikat adalah ‘perusahaan’ terbesar di Amerika, yang mempekerjakan lebih dari 2 juta pegawai negeri sipil, dan 1.4 juta pegawai militer aktif, yang melayani 50 negara bagian dan juga seluruh dunia.
Namun pihak kongres telah gagal dalam memenuhi kewajibannya terkait pembuatan anggaran belanja negara untuk tahun fiskal yang dimulai hari ini. Seharusnya mereka menyelesaikan anggaran tersebut sebelum tanggal 1 Oktober, namun mereka tidak melakukannya. Dan itu berarti bahwa Kantor Pemerintah beserta seluruh kegiatan didalamnya harus ditutup (shutdown), efektif mulai hari ini.
Saya ingin anda semua mengetahui bahwa saya akan terus bekerja dan mengupayakan agar pihak kongres segera menyelesaikan pembuatan anggaran, sehingga kegiatan pemerintahan bisa kembali dibuka, agar kegiatan layanan publik kembali berjalan, dan agar anda semua, para pegawai negeri, bisa kembali bekerja. Sekarang ini, berdasarkan arahan langsung dari saya sendiri, kami sudah menunjuk orang-orang untuk menjelaskan secara mendetail kepada anda tentang apa yang kami maksud dengan shutdown ini, dan seperti apa dampaknya terhadap anda dan keluarga.
Hari ini, biarkan saya mengambil waktu sejenak untuk mengatakan kepada anda, tentang bagaimana pentingnya peran anda bagi saya pribadi, dan juga bagi negara ini.
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh kerja keras yang anda lakukan setiap hari – itu adalah sesuatu yang sangat penting dan vital bagi kelangsungan perekonomian negara Amerika Serikat dan seluruh keluarga yang hidup didalamnya. Bagi anda yang berada di dinas militer, anda telah mempertahankan posisi Amerika di dunia internasional, dan meyakinkan para tentara kita bahwa mereka akan memperoleh benefit yang setimpal ketika mereka pulang kerumah. Anda telah menjaga lingkungan perbatasan Amerika dengan negara lain, dan melindungi hak-hak warga sipil. Bagi anda para pegawai negeri sipil, anda telah membantu usaha-usaha kecil untuk memperluas bisnisnya hingga menjadi besar, bahkan hingga menembus pasar internasional. Anda telah membimbing ratusan ribu orang setiap harinya untuk menyaksikan kejayaan Bangsa Amerika melalui pemandangan di taman-taman nasional, museum, dan monumen, mulai dari Yosemite hingga ke Patung Liberty. Dan masih banyak lagi.
Anda mengerjakan itu semua dalam situasi politik yang telah memperlakukan anda seperti samsak (kantong pasir) untuk latihan tinju. Anda telah mengalami, setidaknya selama tiga tahun terakhir ini, penundaan pembayaran gaji, pemotongan upah, dan sekarang, penutupan kantor-kantor pemerintah. Meski begitu anda tetap mengerjakan tugas-tugas anda, untuk melayani seluruh warga Amerika, dengan sangat antusias, secara profesional, dan penuh skill.
Ini semua tentu tidak adil bagi anda. Dan jika ini terus berlanjut, maka akan sangat sulit untuk memberikan alasan kepada anda, para pegawai negeri, untuk tetap bekerja dengan sangat baik, untuk senantiasa memenuhi kebutuhan masyarakat, dan juga memenuhi kebutuhan Pemerintah itu sendiri.
Layanan publik adalah sesuatu yang mulia. Layanan publik itu sangatlah penting. Dan dengan memilih profesi sebagai pegawai negeri, anda telah menjadi bagian dari tradisi pencapaian terbesar yang pernah dicapai negara ini. Faktanya, terdapat lebih dari 50 orang pegawai negeri, entah yang masih aktif atau sudah pensiun, yang telah memperoleh Penghargaan Nobel untuk prestasi-prestasi yang telah mereka capai. Departemen Energi telah membantu perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan sumber daya energi terbarukan. National Science Foundation juga telah membantu pengusaha-pengusaha seperti pendiri Google, untuk mengubah dunia. Seluruh upaya dan pekerjaan yang anda lakukan telah membantu negara ini untuk berkembang pesat – membangun perekonomian dimana semua orang yang bekerja keras bisa terus maju kedepan.
Jadi meski debat pembuatan anggaran di Washington seringkali disusupi oleh agenda kepentingan partai politik, anda tidak seharusnya demikian dalam tugas anda sebagai seorang public servant. Seperti yang dikatakan oleh pendahulu saya, Presiden George H. W. Bush, ‘Tidak ada yang lebih memenuhi hidup seorang penduduk Amerika selain melayani negeri ini, melayani para warganya, dan melakukan itu semua dengan baik. Dan itu adalah sesuatu yang sistem pemerintahan di Amerika bergantung terhadapnya.’
Penutupan pemerintah yang terjadi sekarang ini sepenuhnya bisa dihindari. Penutupan ini tidak seharusnya terjadi. Dan pihak House of Representatives (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) bisa mengakhiri ini dengan segera jika mereka mengikuti arahan dari pihak Senat, untuk segera mencairkan anggaran untuk membayar gaji para pegawai negeri, tanpa mencoba untuk menyertakan kepentingan politik dalam proses pencairan anggaran tersebut.
Saya berharap bahwa kami akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tapi untuk sementara ini, saya ingin anda tahu bahwa, entah anda adalah seorang yang masih muda nan idealis, yang dengan sengaja menjadi pegawai negeri untuk membuat perubahan, ataukah seorang pekerja yang telah mendedikasikan hidup anda untuk negeri ini, anda dan keluarga anda tetap menjadi prioritas utama kami. Saya dan para pimpinan di tiap-tiap departemen akan terus mempertahankan status pekerjaan anda, dan kami akan terus terhubung dengan anda dan keluarga untuk mengabarkan semua perkembangan yang terjadi.
Dan saya akan terus berupaya sekuat tenaga, melakukan apapun yang bisa saya lakukan, untuk mendorong penyelesaian anggaran di DPR agar kegiatan Pemerintahaan bisa kembali dibuka secepatnya, termasuk untuk memastikan agar anda memperoleh gaji dengan semestinya.
Terima kasih, sekali lagi, untuk semua pekerjaan, pengorbanan, dan semua yang anda telah lakukan setiap hari untuk negara Amerika Serikat, yang sangat kita cintai.
Sincerely,
Barack H. Obama
Komentar anda, [...]

Seminar Oktober

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Jakarta, yang kali ini akan membahas lebih dalam soal nilai intrinsik saham, alias masih sama seperti materi di seminar sebelumnya pada bulan Juli lalu, hanya saja ditambah materi terkait fluktuasi dan koreksi IHSG, yang belakangan ini sedang terjadi.

Berikut adalah sedikit dokumentasi dari acara sebelumnya waktu bulan puasa kemarin di Bandung. Mohon maaf kualitas gambarnya seadanya karena ngefotonya cuma pake hape doang.


Dan berikut ini adalah kisi-kisi materi untuk seminar kali ini.

A. Nilai intrinsik saham. Warren Buffett pernah mengatakan bahwa salah satu kriterianya dalam memilih saham/perusahaan untuk dibeli/diakuisisi adalah adanya harga yang jelas, dan dia tidak tertarik untuk ikut lelang. Maksudnya adalah, Buffett hanya mau membeli saham yang harganya wajar, atau kalau bisa undervalue, yaitu lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Nah, bagi investor kebanyakan, terkadang kesulitannya adalah terkait bagaimana cara untuk menentukan nilai intrinsik/harga wajar saham tersebut. Karena itulah, di seminar kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara menghitung nilai intrinsik, bagaimana cara menyeleksi saham yang bisa dihitung nilai intrinsiknya, hingga faktor-faktor eksternal yang juga harus diperhatikan. Plus, penulis juga akan meng-share beberapa saham yang menurut penulis memiliki nilai intrinsik yang menarik.
B. Setelah saya mengetahui harga wajar sebuah saham adalah sekian, selanjutnya apa? Yap, pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat ketika kita mengetahui bahwa nilai intrinsik dari saham A adalah sekian, dan harganya pada saat ini ternyata lebih rendah dari nilai intrinsiknya tersebut, maka itu bukan berarti saham A tersebut akan langsung naik keesokan harinya. Menghitung valuasi intrinsik saham adalah salah satu metode dasar dalam berinvestasi jangka panjang, sehingga di sesi ini kita akan membahas mengenai tips-tips dan cara-cara untuk berinvestasi jangka panjang.
C. Belajar dari Annual Letter Warren Buffett. Anda mungkin sudah sering membaca tulisan tentang Warren Buffett, namun pernahkah anda membaca tulisan yang ditulis oleh Buffett sendiri? Buffett memulai karier-nya sebagai fund manager pada tahun 1956, dan sejak itu ia rutin menulis surat tahunan (Annual Letter) tentang kegiatan investasinya, termasuk bagaimana metode investasinya, kepada para partnernya minimal setahun sekali. Penulis kebetulan sudah membacanya, dan dari situ ada banyak pelajaran yang bisa dipetik seperti: 1. Filosofi investasi ala Buffett, yang menjadikannya sukses seperti sekarang ini, 2. Metode investasi dan pemilihan sahamnya, dan 3. Cara untuk mengatasi koreksi/penurunan pasar, dalam hal ini penurunan Dow Jones (kalau di Indonesia, penurunan IHSG). Dan dalam seminar kali ini, kita akan membahas paling tidak ketiga poin tersebut.
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 12 Oktober 2013
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16.00 WIB. Jika nanti ada banyak pertanyaan setelah penyampaian materi seminarnya (di akhir acara akan diadakan sesi tanya jawab dan diskusi bebas), maka acaranya bisa diperpanjang sampai pukul 17.00.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar, makan siang plus satu kali coffee break
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acaranya dimulai, yang itu berarti pukul 10.30 pagi

Keterangan mengenai lokasi: Amaris Hotel menawarkan lokasi yang strategis, ruang seminar yang nyaman, lega, dan adem, menu makan siang dan coffee break standar hotel, serta biaya sewa ruang yang terjangkau (saya sudah survey, hotel yang lain rata-rata cukup mahal). Jadi kemungkinan kedepannya saya akan pakai tempat ini terus. Lokasinya di Mall Thamrin City, sekitar 150 meter dari Bundaran HI. Jika anda hafal dengan Mall Grand Indonesia, maka Mall Thamrin City ini persis dibelakangnya. Amaris Hotel sendiri terletak di lantai 6, dan anda bisa parkir langsung di lantai 6 tersebut (Begitu memasuki gedung Thamrin City, bilang aja ke petugasnya mau ke Hotel Amaris). Keterangan selengkapnya klik http://amarishotel.com/amaris-thamrincity/meeting.php.


Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp400,000 per orang. Dan berikut cara daftarnya:


1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Gareth Frank Bale, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, saya akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!

Bonus: Untuk gambaran lebih lanjut tentang materi seminarnya nanti, terutama yang poin C, anda bisa mendownload Annual Letter Warren Buffett dalam Bahasa Indonesia (saya sendiri yang menterjemahkan) di link ini. Gratis! Jika anda tidak bisa mendownloadnya, anda bisa kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Buffett Annual Letter’, dan saya akan mengirim file-nya ke alamat email anda. Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.
Keterangan lebih lanjut mengenai acara ini bisa hubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 dan Pin BB 2850E045. Untuk saat ini saya belum memiliki rencana untuk menyelenggarakan acara serupa di luar Jakarta.

Update: Berhubung sekarang sudah hari Jumat, maka pendaftarannya resmi [...]

Nipress

Saham Nipress (NIPS) tiba-tiba melejit pada Jumat kemarin, dan ditutup menguat 19.6% ke posisi 10,700. Yang membuat saham ini menarik tentu saja bukan kenaikannya yang tampak mengesankan tersebut, melainkan karena pada hari yang sama, perusahaan merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal II 2013. Berdasarkan LK terbarunya tersebut, laba bersih NIPS melompat 155.3%, sementara PER NIPS pada harganya setelah naik (10,700) ternyata masih 4.3 kali. A hidden jewel?

Nipress (selanjutnya disebut NIPS) adalah perusahaan produsen aki kendaraan bermotor yang memulai usahanya pada tahun 1973, dengan pabrik pertamanya di Cimanggis, Bogor, Jawa Barat, ketika itu dengan bekerja sama dengan perusahaan Jepang, dan kapasitas produksi perdananya adalah 58 ribu unit aki per tahun. Di tahun-tahun selanjutnya perusahaan terus mengembangkan teknologi baru untuk pembuatan aki, sekaligus terus meningkatkan produksi. Pada tahun 1995 perusahaan memindahkan pabriknya ke Cileungsi, masih di Bogor juga, dan pada saat ini volume produksinya sudah mencapai 6 juta unit aki per tahun. NIPS sudah listing di BEI sejak tahun 1991, dan sejauh ini merupakan perusahaan aki satu-satunya yang terdaftar di bursa (kecuali jika Astra Otoparts/AUTO dianggap sebagai perusahaan aki juga).

Kantor PT Nipress, Tbk. di jalan Narogong, Bogor

Meski NIPS merupakan satu-satunya perusahaan aki yang terdaftar di bursa, namun NIPS adalah satu dari sekian banyak perusahaan aki di tanah air, dan juga bukan merupakan yang terbesar. Akan tetapi NIPS memiliki keunikan dibanding perusahaan aki lainnya karena dua hal. Pertama, perusahaan lebih banyak menggunakan bahan baku/komponen lokal dalam produksi akinya. Per akhir tahun 2012, NIPS mencatat angka TKDN (tingkat komponen dalam negeri) sebesar antara 52 – 82%. Dan kedua, perusahaan mengekspor 40 – 60% produksi akinya.
Dua poin diatas menyebabkan kinerja NIPS tidak begitu dipengaruhi oleh pelemahan Rupiah. Salah satu masalah utama yang sering dihadapi perusahaan-perusahaan industri manufaktur seperti NIPS ini adalah pelemahan Rupiah, karena mereka biasanya tergantung pada impor bahan baku, sementara mereka menjual produknya ke pasar dalam negeri. Namun untuk kasus NIPS, faktor pelemahan Rupiah tersebut tidak terlalu berdampak serius, meski dampak tersebut tetap ada karena sebagian dari bahan baku yang dibutuhkan tetap berasal dari impor.
Terlepas dari masalah pelemahan Rupiah, kinerja perusahaan pada Semester I 2013 ini terbilang cukup baik dengan pendapatan yang meningkat 53.7%, terutama karena meningkatnya volume penjualan untuk aki jenis industri. Selama ini NIPS lebih banyak menjual aki untuk mobil dan sebagian kecil aki motor, namun sejak tahun 2012 dan berlanjut pada tahun 2013, perusahaan memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan aki jenis industri. Pelanggan utama NIPS di segmen aki industri adalah PT Telkom.
However, NIPS masih tetap mengalami masalah yang sama seperti perusahaan manufaktur lainnya dalam hal margin laba bersihnya yang tipis. Pada Semester I 2013, NIPS mencatat laba bersih Rp25 milyar, sangat kecil dibanding total pendapatannya sebesar Rp462 milyar. Seperti biasa, margin yang tipis berarti bahwa laba bersih perusahaan sewaktu-waktu bisa berbalik menjadi kerugian andaikata pendapatannya turun, sementara beban pokok dan beban operasionalnya tetap.
Kabar baiknya, kinerja NIPS yang terbilang apik pada saat ini masih mungkin akan berlanjut hingga beberapa waktu kedepan, karena beberapa hal. Pertama, perusahaan memiliki varian jenis aki baru dengan komponen lithium, yang ditujukan untuk sepeda motor, dan hal ini tentunya bisa meningkatkan pendapatan perusahaan dari segmen aki motor. Kedua, pendapatan NIPS dari produk aki industrinya bisa kembali meningkat jika perusahaan bisa memperoleh pelanggan baru diluar Telkom, karena sekarang ini industri di Indonesia sedang berkembang lumayan pesat seiring dengan berdirinya pabrik-pabrik di kawasan industri. Dan ketiga, NIPS masih punya satu kategori produk lagi yang sejauh ini belum menghasilkan pendapatan, yakni aki untuk golf cart. Jika kita memperhatikan bahwa belakangan ini ada banyak perusahaan properti yang membuat lapangan golf, biasanya sebagai tambahan fasilitas di di township-township di Serpong, Sentul, dan Cikarang, maka ini tentu merupakan peluang.
Sementara sebagai perusahaan aki yang tidak terlalu besar, katakanlah jika dibanding perusahaan aki lainnya yang memproduksi merk GS Astra atau Yuasa, maka NIPS menghadapi persaingan yang ketat di industri aki tanah air, belum lagi karena banyaknya aki impor dari Tiongkok. Namun perusahaan mengklaim bahwa hal ini tidak jadi masalah mengingat NIPS adalah satu-satunya perusahaan aki yang menerima sertifikat TKDN tadi, dan itu sebabnya produk aki milik perusahaan dipilih oleh Telkom. NIPS juga telah ditunjuk oleh Kementerian BUMN untuk menjadi pemasok aki bagi proyek Mobil Listrik Nasional. Sayangnya proyek tersebut belum ada kabar beritanya lagi, tapi paling tidak kita tahu bahwa jika proyek tersebut, atau proyek-proyek pemerintah lainnya, berjalan lancar, maka NIPS akan diuntungkan.
Terkait Sahamnya
Penulis sejatinya sudah mulai melirik NIPS ini pada Kuartal I 2013 lalu, karena valuasinya yang sangat rendah ketika itu yakni PER-nya kurang dari 5 kali, dan PBV-nya juga kurang dari 1 kali, pada harga 7,000-an. Tapi kemudian penulis tidak memperhatikannya lagi karena sahamnya sangat tidak likuid. Ketika Jumat kemarin NIPS ini melejit hingga hampir 20%, nilai transaksi perdagangannya bahkan tidak sampai Rp1 milyar.
However, dengan memperhatikan bahwa: 1. Perusahaannya punya prospek yang lumayan, 2. Secara historis kinerjanya cukup stabil, 3. Bisnisnya relatif sederhana, yakni bikin aki kemudian menjualnya, that’s it, 4. Manajemennya tipe konservatif, 4. Valuasinya masih cukup murah untuk ukuran kinerjanya, termasuk jika dibandingkan dengan AUTO sebagai sesama produsen aki (PBV AUTO pada harga 4,400 tercatat 2.3 kali. AUTO memang wajar jika dihargai lebih tinggi ketimbang NIPS yang bukan ‘siapa-siapa’, namun catat pula bahwa trend laba bersih AUTO belakangan ini lagi turun terus), maka saham ini masih layak invest, meski mungkin gak bisa sampai disebut ‘a hidden jewel’ juga. NIPS sejauh ini sudah naik 174% dalam setahun terakhir, dan justru karena ketidak likuidannya tersebut, sahamnya tidak dipengaruhi oleh pergerakan IHSG yang hingga saat ini masih bearish.
Namun tetap saja, karena barangnya sangat langka di pasar (NIPS memiliki 20 juta saham beredar, dan hanya 8.8 juta yang beredar di publik), maka anda akan kesulitan untuk membeli NIPS ini bahkan meski dengan cara menyicil. Untungnya, perusahaan mulai menanggapi hal tersebut dengan membagikan saham bonus bagi para pemegang saham, dengan rasio 10 : 8 (pemegang 10 lembar saham NIPS akan memperoleh 8 lembar saham baru). Dengan adanya pembagian saham bonus ini pula, modal disetor NIPS akan meningkat sebesar Rp16 milyar, namun modal tersebut akan diambil dari agio saham yang tercatat ketika NIPS IPO pada tahun 1991 lalu. Jadi intinya NIPS hanya mengubah pembukuan agio saham yang sebesar Rp16 milyar tadi menjadi modal disetor, sehingga perusahaan tidak memperoleh tambahan modal, dan karenanya jumlah modalnya tidak meningkat.
Karena modal perusahaan tetap, sementara jumlah sahamnya bertambah, maka nilai dari saham itu sendiri tentunya akan terdilusi, tapi disisi lain likuiditasnya akan meningkat. Sayangnya karena peningkatan jumlah sahamnya masih terlalu kecil, yakni dari total 20 menjadi 36 juta lembar saham, maka penulis ragu jika langkah ini bisa membuat NIPS menjadi cukup likuid untuk dibeli oleh investor ritel. But at least it better than nothing. Bagi anda yang berminat dengan NIPS ini bisa masuk sekarang juga, atau sebaiknya tunggu hingga tanggal 24 Oktober nanti ketika saham bonusnya sudah terdaftar di bursa.
Sebab jika anda memaksakan untuk langsung masuk pada saat ini, kemungkinan anda akan ‘dipaksa’ membeli pada harga yang cukup tinggi karena faktor seretnya likuiditas tadi (saham model begini yang pasang offer biasanya pelit, masang harga jualnya tinggi banget). Jadi setelah lewat tanggal 24 Oktober itulah, harga NIPS ini kemungkinan akan bergerak lebih normal (gak pake naik sampe hampir 20% sehari seperti Jumat kemarin), termasuk kita juga akan melihat bagaimana kira-kira dampak dari dilusi sahamnya.
PT Nipress, Tbk
Rating Kinerja pada 1H 2013: A
Rating Saham pada 10,700: A

NB: Buletin analisis saham bulanan edisi Oktober 2013 sudah terbit tanggal 1 Oktober kemarin. Anda masih bisa memperolehnya [...]

Analisis & Outlook Sektor Properti

Beberapa waktu lalu ketika IHSG dihantam koreksi hingga turun signifikan ke posisi 3,900-an, tepatnya hingga posisi 3,968, saham-saham di sektor properti merupakan salah satu yang paling terpukul, dimana banyak dari mereka yang terkoreksi hingga 50 – 60% dari puncaknya, padahal IHSG sendiri ketika itu hanya turun 24.4% dari puncaknya. Dan sekarang ini, setelah IHSG mulai berangsur-angsur pulih, saham-saham properti memang juga ikut kembali naik, namun rata-rata masih berada di posisi 40% dibawah level puncaknya. Alhasil bagi siapapun yang membeli saham-saham properti ini di harga atas, dan tidak melakukan average down, kemungkinan besar mereka masih nyangkut.

Disisi lain, jika pada awal tahun 2013 lalu orang-orang sangat optimis terhadap prospek sektor properti ini, maka sekarang kondisinya sudah sedikit berbeda. Berbagai kebijakan pemerintah seperti penetapan LTV, termasuk kebijakan kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia (BI) yang otomatis menaikkan bunga KPR, sedikit banyak diperkirakan akan menekan laju pertumbuhan bisnis properti di Indonesia, sehingga bisnis properti tidak akan semenarik tahun-tahun yang dulu lagi, atau bahkan bisa mengalami kemunduran. Meski sampai sejauh ini belum ada yang mengatakan bahwa properti sudah tamat, namun tetap saja, hal ini bisa dipastikan akan membuat nervous para investor yang sudah terlanjur masuk di saham-saham sektor ini pada harga yang tinggi. Jika anda memegang LPCK di harga 10,000, misalnya, maka bukan tidak mungkin anda segera cut loss karena khawatir terhadap masalah BI Rate dan lain-lain.
Lalu benarkah sektor properti pada saat ini sudah tidak semenarik satu dua tahun lalu? Sebelum membahas itu, kita analisis lagi posisi dari saham-saham properti pada saat ini. Tabel berikut ini menggambarkan posisi dari empat belas saham properti yang paling likuid pada penutupan pasar tanggal 20 September kemarin dibandingkan dengan posisi puncaknya, serta berapa persen kenaikan/penurunannya sepanjang tahun 2013 ini (kenaikan secara YTD, alias Year to Date). Data diurutkan berdasarkan angka YTD-nya.
Stock
Peak
20-Sep
Peak to 20-Sep (%)
YTD (%)
LPCK
11,000
5,750
(47.7)
81.1
CTRP
1,510
910
(39.7)
49.2
BSDE
2,200
1,600
(27.3)
44.1
CTRA
1,660
1,120
(32.5)
40.0
KIJA
410
270
(34.1)
33.7
PWON
430
300
(30.2)
33.3
LPKR
1,850
1,310
(29.2)
31.0
APLN
530
310
(41.5)
18.4
MDLN
1,220
710
(41.8)
16.4
SMRA
1,525
1,030
(32.5)
10.8
BKSL
340
210
(38.2)
10.5
ASRI
1,160
660
(43.1)
8.2
GWSA
315
184
(41.6)
(18.2)
BEST
1,050
530
(49.5)
(25.4)
Property Index
565
414
(26.8)
26.7
IHSG
5,251
4,584
(12.7)
6.2
Okay perhatikan. Dari tabel diatas tampak bahwa IHSG sepanjang tahun 2013, dalam hal ini dari awal Januari hingga penutupan tanggal 20 September, telah naik 6.2%. Meski demikian jika dibandingkan dengan posisi puncaknya yang sempat dicapai pada bulan Mei lalu, IHSG sudah terkoreksi 12.7%. Dalam hal terkoreksi dari posisi puncaknya, penurunan yang dialami IHSG jauh lebih baik dibanding penurunan yang dialami saham-saham properti. Seperti yang bisa anda lihat diatas, penurunan saham-saham properti jika dibandingkan dengan posisi puncaknya masing-masing, bervariasi antara 27.5% (BSDE) hingga 49.5% (BEST). Indeks properti sendiri telah turun 26.8% dibanding puncaknya. Alhasil seperti yang tadi sudah penulis katakan diatas, jika anda membeli salah satu dari saham-saham properti diatas pada harga atas, maka kemungkinan posisi anda saat ini adalah nyangkut, karena penurunan saham-saham properti lebih besar dibanding penurunan IHSG sendiri.
Akan tetapi bagaimana kalau anda membeli saham-saham properti tersebut pada awal tahun 2013 lalu, dan masih memegangnya sampai sekarang? Faktanya, meski sektor properti mengalami koreksi yang paling serius dibanding sektor-sektor lainnya pada periode bear market kali ini, namun secara keseluruhan, ternyata kinerja sektor ini sepanjang tahun 2013 masih lebih baik ketimbang IHSG. Perhatikan bahwa meski IHSG hanya naik 6.2%, namun indeks properti masih tumbuh jauh lebih baik, yakni 26.7%. Dari saham-saham properti diatas, bisa anda lihat bahwa secara year to date, mereka masih tumbuh antara 30 – 40%. Bahkan saham ASRI yang dihantam isu pelemahan Rupiah dikarenakan utang luar negerinya yang segunung, tetap saja masih naik 8.2%. Hanya terdapat dua saham properti di tabel diatas yang kinerjanya sepanjang tahun 2013 ini kalah dibanding IHSG, dan mereka adalah BEST dan GWSA. I don’t know what’s wrong with BEST, tapi kalau untuk GWSA kinerjanya memang sedang sedikit bermasalah.
Okay, jadi apa kesimpulannya?
Secara YTD, saham-saham di sektor properti sejauh ini merupakan saham-saham dengan kenaikan tertinggi di bursa. Kenaikan sektor properti ini bahkan diatas sektor consumer goods yang hanya naik 25.6%. Namun kenaikan tersebut tidak terjadi secara linier mengikuti garis lurus, melainkan berfluktuasi dengan sangat tajam dimana saham-saham properti sempat dikerek naik teruuus sejak awal tahun lalu sampai akhir bulan Mei, sebelum kemudian dibanting turun hingga ke posisinya saat ini. But still, penurunan yang terjadi sejak akhir Mei tersebut tidak sebanyak kenaikan yang terjadi sebelumnya, sehingga secara keseluruhan sektor properti ini masih tumbuh signifikan dibanding sektor-sektor lainnya di BEI. Contoh paling ekstrim mungkin ditunjukkan oleh LPCK. Saham ini, jika dibanding dengan posisi puncaknya, telah turun sangat dalam yakni 47.7%. Tapi bagi mereka yang memegang LPCK ini sejak awal tahun, maka bahkan pada posisinya saat ini, mereka masih cuan 81.1%.
Fakta diatas menunjukkan bahwa meski pada saat ini sektor properti tampak dihajar habis-habisan, namun secara umum dalam jangka panjang mereka masih bertumbuh, seiring dengan kinerja para emitennya yang rata-rata masih cukup bagus, jika tidak mau dikatakan sangat bagus, pada tahun 2013 ini. Yup, kalau penulis sendiri menilai bahwa keterpurukan sektor properti belakangan ini lebih karena mereka sudah naik banyak sebelumnya, sehingga sekarang waktunya untuk menyesuaikan diri, untuk balik lagi ke harga wajarnya masing-masing. Sebab suka atau tidak, faktanya adalah ketika kemarin IHSG di posisi 5,200-an, saham-saham properti emang udah pada mahal-mahal banget bukan?
Lalu bagaimana kalau dengan posisi harganya saat ini? Ya sekarang sih mereka tentunya sudah pada murah, tinggal pilih saja anda sukanya yang mana. Penulis gak akan menampilkan datanya disini, soalnya repot juga menyusunnya, namun sekarang ini sudah banyak saham properti dengan PBV kurang dari 2 kali, bahkan kurang dari 1 kali.
BI Rate, LTV, dan Pelemahan Rupiah
Lalu BI Rate dan lain-lain? Nah, kalau ini baru persoalannya lain lagi. However, penulis melihat hal ini dari perspektif yang agak berbeda.
Jadi begini. Permasalahan yang terjadi di sektor properti belakangan adalah karena terdapat banyak developer yang membangun properti, atau investor yang membeli properti, kemudian dengan seenaknya menaik-naikkan harganya, seringkali hingga ke level yang tidak masuk akal. Ambil contoh, harga space kantor di ********** Office Tower pada tahun  2009 lalu, ketika itu gedungnya belum jadi, masih di kisaran Rp20 juta per meter. Sekarang? Rp60 juta per meter! Kenaikan hingga 3 kali lipat dalam tempo hanya 4 tahun inilah, yang kemudian menjadi jualan utama para developer, dimana mereka mengklaim bahwa membeli properti itu ‘pasti untung’ tak peduli meski anda membelinya pada harga selangit, karena nantinya pasti akan ada orang yang bersedia membeli pada harga yang lebih tinggi lagi.
Nah kalau begitu jadinya, maka apa itu bukan goreng menggoreng harga namanya? Sebab harga yang katanya Rp60 juta per meter tersebut biasanya ditentukan sendiri oleh developernya, bukan oleh transaksi yang terjadi pada harga Rp60 juta tersebut. Maksud penulis begini. Kalau di saham, sebuah saham hanya akan naik dari harga 1,000 ke 1,100, misalnya, kalau memang terjadi transaksi jual beli saham di harga 1,100 tersebut. Jadi sebuah saham akan naik (atau turun) ke posisi 1,100, jika ada orang yang pasang jual (offer) di harga 1,100, dan ada orang yang pasang beli (bid) di harga 1,100 juga, sehingga transaksinya terjadi (match).
Sementara di properti? Mekanismenya nggak begitu. Developer/pemilik properti bisa menaikkan harga jual propertinya dari Rp1 milyar ke Rp1.2 milyar, kemudian mengumumkannya ke publik bahwa harga properti mereka naik 20%, bahkan meski mereka sebenarnya tidak menjual satu pun unit propertinya di harga Rp1.2 milyar tersebut. Lucunya banyak pembeli yang justru baru tertarik untuk membeli properti tersebut di harga Rp1.2 milyar, ketimbang harga sebelumnya yakni Rp1 milyar, karena mereka berpikir bahwa nantinya mereka bisa menjualnya pada harga yang lebih tinggi lagi. Jadi intinya para pembeli ini tidak membeli properti tersebut untuk ditempati/dijadikan tempat tinggal, melainkan untuk menjualnya lagi untuk memperoleh keuntungan jangka pendek.
Karena itulah, belakangan ini orang-orang membeli properti bukan lagi untuk tujuan memiliki properti itu sendiri, melainkan untuk menjualnya kembali pada harga yang lebih tinggi. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka akan menyebabkan bubble, karena orang tidak lagi membeli properti untuk tujuan investasi, melainkan lebih ke spekulasi. Mirip-mirip seperti kalau anda beli saham TMPI dan sebangsanya lah.
Namun, hal ini bukan berarti bahwa semua kenaikan harga yang dialami oleh produk-produk properti, itu adalah karena dinaikkan oleh developernya sendiri. Ada banyak juga produk-produk properti yang harganya naik secara wajar, karena supplydan demand-nya memang ada.
Sebagai contoh, jika anda mencari tanah kavling di township Alam Sutera, atau BSD City, maka jangan harap bisa dapet yang harganya kurang dari Rp10 juta per meter. Jika dibandingkan dengan harga tanah kavling perumahan di Bandung, misalnya, maka banyak tanah disini yang harganya cuma Rp2 juta per meter, atau bahkan kurang dari itu, padahal lokasinya sama-sama di lingkungan perumahan.
Tapi apa itu berarti harga tanah kavling di Alam Sutera dan BSD City kemahalan dan bisa dikatakan mengalami bubble? Jelas tidak. Dua kawasan pemukiman tersebut, harus diakui, memang bukan perumahan biasa, melainkan itu tadi: Township terintegrasi, yang terdiri dari rumah-rumah yang besar dengan arsitektur yang unik nan mewah, jalan yang lebar serta terawat, lingkungan yang asri dan penuh pepohonan, akses pintu tol langsung menuju Jakarta, petugas security yang stand by 24 jam, fasilitas umum yang lengkap, dan sebagainya. Tentunya tidak mudah untuk membangun kawasan pemukiman sebagus dan selengkap itu, dan itu sebabnya harga jual properti disana tidak mungkin murah. Jadi jika di BSD City ada tanah kavling yang dijual Rp15 juta per meter, atau bahkan Rp20 juta, maka ya memang segitulah harganya. Namun harga yang cukup tinggi tersebut setimpal dengan segala fasilitas serta kenyamanan hunian yang akan anda peroleh nantinya.
Salah satu kluster perumahan di BSD City
Sementara harga tanah kavling di perumahan biasa pada umumnya, dengan lokasi yang tidak se-strategis Serpong, Sentul, atau Cikarang, dan fasilitasnya juga tidak selengkap township, rata-rata memang jauh lebih rendah tapi tidak bisa dikatakan lebih murah karena sekali lagi, memang segitulah harganya. Jika anda beli rumah di kawasan perumahan biasa (bukan township) di Bogor, misalnya, maka harganya akan jauh lebih bersahabat. But of course, selain lokasinya yang lebih jauh dari pusat Kota Jakarta, fasilitas serta kualitas hunian yang ditawarkan tidak akan sebagus serta selengkap di BSD City.
Btw terkait hal ini pula penulis harus merevusu opini yang pernah penulis sampaikan sebelumnya kepada beberapa orang teman, yakni bahwa harga tanah kavling sebesar Rp20 juta itu tidak masuk akal. Karena setelah penulis jalan-jalan sendiri ke beberapa township seperti Alam Sutera, BSD City, Lippo Karawaci, Lippo Cikarang, Jababeka, dan Sentul City, maka yaaa.. sepertinya memang segitulah harga yang harus anda bayar kalau mau punya rumah disitu. Jakarta adalah kota yang sumpek, rumah-rumah saling berhimpitan, jalan-jalan yang sempit penuh dengan mobil diparkir sembarangan, udaranya pengap, dan itu tidak hanya di Jakarta tapi juga di kota-kota padat penduduk lainnya penulis yakin seperti itu juga. Tapi ketika penulis mampir ke Sentul (the recent township I’ve visited), kesan pertama yang penulis dapatkan adalah.. legaaa… Dan itu adalah kesan yang penulis kira anda harus membayar mahal untuk bisa merasakannya setiap pagi. Kalau sekedar rumah gede dan bagus di tengah-tengah perumahan elit, itu dimanapun juga ada. Tapi kalau rumah yang bagus dengan lingkungan ‘kota’ yang juga nyaman dan tertata rapih, maka anda cuma bisa menemukannya di township-township seperti ini.
Nah, jika dulu kawasan township di Indonesia tidak begitu berkembang, dimana masyarakat lebih suka tinggal di perumahan yang biasa-biasa saja asalkan harganya terjangkau, maka seiring dengan pertumbuhan ekonomi dll selama beberapa tahun ini, selera masyarakat Indonesia akan hunian yang berkualitas mulai meningkat. Dan hal inilah yang kemudian membawa keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan properti spesialis pembangunan kawasan pemukiman terintegrasi, seperti ASRI, SMRA, CTRA, BSDE, hingga LPCK. Kota township sendiri sekarang ini menjadi semacam trend, dimulai dari Serpong, Cikarang, Sentul, dan berlanjut hingga ke Balikpapan dan Samarinda. Untuk kota-kota lainnya sepertinya belum ada township semacam ini, namun jika permintaan akan hunian berkelas seperti ini tetap tinggi, maka mungkin Surabaya, Bandung, Medan, Pekanbaru, dan Makassar akan segera menyusul (atau memang sudah?).
Kesimpulannya, meski memang sebagian industri properti di Indonesia mulai dihiasi oleh bubble-bubble disana-sini, namun tidak semuanya demikian. Masih banyak, bahkan mungkin sebenarnya lebih banyak, jenis-jenis properti yang kenaikan harganya memang disebabkan oleh faktor supply dan demand sesuai dengan kualitas properti yang ditawarkan, dan bukan karena adanya unsur spekulasi.
Nah, ketika BI mengeluarkan kebijakan pengetatan LTV (loan to value, selengkapnya bisa search di google), maka itu tujuannya bukan untuk menekan industri properti secara umum, melainkan untuk mengurangi terjadinya unsur-unsur spekulasi tadi, yang pada akhirnya menekan bubble karena kenaikan harga yang semu. Dan itu tentu bagus bukan? Para spekulator akan jadi mikir-mikir kalau mau beli rumah pake utang bank untuk langsung dijual lagi pada harga yang lebih tinggi, karena sekarang syaratnya lebih sulit, dan hal itu dengan sendirinya akan mengurangi kemungkinan adanya goreng menggoreng harga properti. Nantinya, hanya orang-orang yang berniat membeli rumah untuk benar-benar dijadikan tempat tinggal, yang akan memperoleh pinjaman dari bank. Sementara orang yang membeli properti untuk memperoleh ‘Keuntungan 130% dalam 6 bulan’, mereka tidak akan diladeni oleh bank.
Sementara terkait kenaikan BI Rate, sudah tentu sedikit banyak akan mempengaruhi penjualan properti, terutama properti jenis KPR. Namun hal ini juga masih sebatas teori, dalam artian belum tentu juga hal ini (kenaikan BI Rate) akan menurunkan penjualan properti. Jika keinginan masyarakat untuk memiliki hunian yang berkualitas lebih besar ketimbang efek yang ditimbulkan oleh kenaikan BI Rate, maka faktor BI Rate ini seharusnya tidak berpengaruh negatif. Sebab ketika BI Rate kita berada di level 5.75%, beberapa waktu lalu, maka level tersebut sebenarnya merupakan level yang terendah sejak tahun 2005. Termasuk posisi BI Rate pada saat inipun, yakni 7.25%, sebenarnya masih relatif rendah.
Faktor lainnya adalah pelemahan Rupiah, yang bisa dipastikan akan meningkatkan jumlah kewajiban perusahaan-perusahaan properti yang memiliki utang dalam mata uang US Dollar. Sejauh ini di BEI terdapat setidaknya lima perusahaan yang memiliki utang cukup besar dalam mata uang US Dollar, biasanya dalam bentuk obligasi. Mereka adalah ELTY, ASRI, LPKR, KIJA, dan MDLN. Beberapa waktu lalu sebenarnya Agus Marto, yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Keuangan, pernah mengingatkan perusahaan-perusahaan properti untuk jangan mengambil utang dalam bentuk mata uang US Dollar, karena jumlah utang mereka bisa membengkak andaikata Rupiah melemah (ketika itu Rupiah masih di 9,000-an per US Dollar). Ketika itu hanya ELTY dan LPKR yang punya utang US Dollar tersebut, tapi sekarang ketiga emiten properti lainnya malah ikut-ikutan juga.
Pelemahan Rupiah bisa dipastikan akan menyebabkan beban bunga obligasi yang harus dibayar perusahaan meningkat, sehingga akhirnya menekan laba bersih. Nilai utang obligasi itu sendiri tentunya akan meningkat meski hal ini seharusnya tidak jadi masalah karena utang tersebut rata-rata merupakan utang jangka panjang yang tidak akan dilunasi sekarang. Risiko yang dihadapi perusahaan yang memiliki utang ini adalah jika Rupiah terus saja melemah, maka mungkin obligasi tersebut harus di-call lebih awal, dan perusahaan harus menjual sebagian asetnya untuk membayar obligasi tersebut.
Jika dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya, pelemahan Rupiah ini merupakan faktor yang kemungkinan akan lebih berpengaruh terhadap kinerja emiten properti, khususnya bagi kelima emiten dengan utang obligasi diatas. Tapi perhatikan pula hal ini: Ketika perusahaan memperoleh uang dari penerbitan obligasi, maka uangnya dipakai untuk membeli lahan bukan? Biasanya lahan kosong (landbank). Jika karena satu dan lain hal, misalnya karena pelemahan Rupiah ini, utang tersebut harus dibayar lebih awal, maka ya tinggal jual lagi aja landbank-nya, meski mungkin harga jualnya jadi rendah (karena jualnya buru-buru, seperti orang lagi butuh uang). Jadi bisa dikatakan bahwa jika terjadi kemungkinan terburuk, maka solusinya ya tinggal gitu aja. Equity perusahaan tidak berkurang karena yang dilepas adalah aset yang diperoleh dari penerbitan utang, dan itu sebabnya akan lebih aman kalau anda memilih saham di sektor ini yang PBV-nya rendah.
However, sampai sekarang kecuali ELTY, belum ada satupun emiten properti yang kedengaran berniat melego aset-asetnya karena masalah pelemahan Rupiah ini (ELTY pun menjual asetnya bukan karena pelemahan Rupiah, tapi karena apa gitu). Tapi terkait hal ini pula kalau penulis sendiri nggak begitu tertarik dengan saham-saham konstruksi, karena perusahaannya tidak memiliki aset seperti landbank dan semacamnya. Tapi untungnya, perusahaan-perusahaan konstruksi jarang yang memiliki utang yang mengandung bunga (utang bank atau obligasi).
Properti = No Outlook, but hopefully this is just the Beginning
At the end, berbeda dengan sektor perbankan yang sudah kita bahas minggu lalu, sektor properti merupakan sektor yang rentan terhadap perubahan dalam perekonomian, sebab mereka menjual produk yang pembelinya tidak selalu ada setiap saat (berbeda dengan perusahaan perbankan, atau perusahaan makanan, yang produknya selalu ada yang menggunakan setiap saat), apalagi jika produknya tersebut berharga milyaran Rupiah per unitnya. Untuk perusahaan properti jenis kawasan industri, harga produk mereka biasanya bebas dari unsur spekulasi, karena pembelinya adalah perusahaan-perusahaan besar yang mau bikin pabrik, alias untuk invest sungguhan dan bukan untuk dijual kembali. Tapi ini bukan berarti sektor ini tidak berisiko. Jika iklim investasi disini memburuk, dan perusahaan-perusahaan gak mau buka pabrik lagi, maka KIJA, BEST, SSIA dan lainnya juga akan kehilangan pembeli.
Berdasarkan hal inilah, jika kita bersikap konservatif, maka sektor properti sejatinya merupakan investasi yang high risk, tapi juga high return jika timing-nya tepat. Penulis katakan sektor ini no outlook, karena kita tidak akan pernah bisa memprediksi bagaimana pendapatan serta laba bersih dari emiten-emiten properti dalam jangka panjang, katakanlah 5 – 10 tahun kedepan, karena terdapat banyak sekali faktor yang bisa entah menyebabkan sektor ini semakin menjulang tinggi, atau justru tersungkur jatuh ke jurang. Kalau anda masih ingat, properti kita juga pernah booming tahun 1995 lalu, tapi hanya dalam dua tahun berikutnya langsung jatuh berantakan karena krisis moneter. Orang-orang boleh ngomong apa saja soal prospek properti dalam beberapa tahun kedepan, namun tetap saja, berbagai prospek tersebut memerlukan banyak sekali asumsi yang harus dipenuhi untuk bisa terealisasi.
Disisi lain, at some point I think this is just the beginning. Jika anda ke Singapura, maka anda akan bisa melihat kualitas properti disana memang luar biasa, dengan infrastruktur jalan raya dll yang juga luar biasa. Sementara di Jakarta, suka atau tidak, pada saat sebagian besar lokasinya terbilang masih kumuh dan tidak tertata rapih (jika anda selama ini lebih sering nongkrong di Senayan, Kuningan, dan Sudirman, maka sekali-kali coba deh jalan-jalan keluar dari kawasan tersebut). Namun Jakarta belakangan ini mulai cantik, dimana banyak superblok-superblok yang dibangun, dan di sekitar kotanya sendiri banyak dibangun township. Maksud penulis adalah, dulupun tahun 1960-an, Singapura juga merupakan kota pelabuhan yang becek dan kotor (coba lihat foto-fotonya, banyak kok di google), dan pastinya ketika itu harga properti disana adalah harga standar properti yang kumuh. Tapi sekarang? Anda bisa lihat Hotel Marina Bay Sands berdiri dengan megahnya disana.
Nah, di Jakarta pun, meski tentunya akan membutuhkan banyak waktu, namun someday bisa pula menuju ke arah sana. Intinya adalah, peluang pertumbuhan itu masih terbuka! Karena Jakarta ini juga masih merupakan kota yang minim infrastruktur (jika dibandingkan kota besar lainnya di dunia), namun berbagai jenis infrastruktur tersebut terus dibangun sehingga akan meningkatkan nilai properti itu sendiri. Dan jika suatu hari nanti Jakarta menjadi kota yang ada ‘Orchard Road’-nya, maka kota-kota besar lainnya akan segera menyusul. Jika kita melihat dari sisi ini, termasuk jika melihat fakta bahwa pertumbuhan industri di tanah air juga baru dimulai, maka sektor properti, entah itu jenis residensial, komersial, maupun kawasan industri, masih menawarkan pertumbuhan yang menarik. Sektor batubara mengalami masa-masa jayanya selama sekitar 10 tahun, sebelum kemudian mulai melambat sejak tahun 2012 lalu. Sementara sektor properti baru mulai ramai sejak tahun 2011 kemarin, dan saya tidak menganggap bahwa sektor ini akan langsung stop secepat itu.
Okay, sebagai penutup, meski penulis memberi judul artikel ini ‘Analisis & Outlook Sektor Properti’, tapi mungkin judul itu nggak cocok karena penulis nggak memaparkan outlook apapun. Tapi judul tersebut tetap penulis pakai karena judul ‘Analisis Sektor Properti’ tampak kurang menarik. Jika anda hendak membaca lebih lanjut mengenai outlook sektor properti ini, maka anda bisa membaca prospektus dari perusahaan-perusahaan properti yang menerbitkan obligasi di Singapura (prospektusnya dalam bahasa Inggris, tapi bacanya gampang kok). Berikut cara untuk memperoleh prospektusnya:
Anda buka website Bursa Singapura, www.sgx.com. Di halaman muka lihat bagian paling bawah, ada bagian ‘Company Disclosure’, anda klik tulisan ‘Prospectus/Circulars’. Di halaman berikutnya, di kotak ‘Select Company Name’, cari dan pilih nama perusahaan Alam Synery Pte. Ltd. Dan di kotak ‘Select Type’, pilih Prospectus. Lalu klik tombol ‘Go’ (tombolnya berwarna hijau). Nanti keluar link dengan tulisan ‘US$235,000,000 6.95% Senior Notes Due 2020’. Anda klik link tersebut, itulah prospektusnya dalam bentuk file PDF, ukurannya 6.83 MB.
Di prospektus yang sudah anda download, silahkan baca bab ‘Industry Overview’. Selain propektus milik ASRI tersebut, anda juga bisa baca prospektus milik KIJA dan LPKR. Caranya di kotak ‘Select Company Name’ tadi, cari dan pilih nama perusahaan Jababeka International BV, dan Theta Capital Pte. Ltd. Di dua prospektus tersebut, silahkan baca juga bagian ‘Industry Overview’, semuanya lengkap disitu, dan kalau anda membacanya dengan baik maka anda mungkin bisa juga menjadi konsultan properti :p Sedikit tips, kalau saya sendiri lebih suka menghabiskan waktu untuk baca-baca dokumen seperti itu ketimbang baca koran atau baca berita tentang saham di internet.
Semoga bermanfaat!
NB: Buletin rekomendasi saham bulanan edisi Oktober akan terbit tanggal 1 Oktober mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Saham-Saham Terbaik di Sektor Perbankan

Minggu lalu, beberapa saat setelah penulis mempublikasikan artikel berjudul Bank Bukopin, dan Bosowa, seorang teman bertanya, ‘Mas Teguh, jika dikatakan bahwa di BEI ada banyak saham perbankan lain yang lebih bagus dibanding Bukopin, bisa tolong sebutkan saham-saham perbankan mana saja yang lebih bagus tersebut?’ Karena itulah penulis kemudian membuat artikel analisis ini, yang mudah-mudahan bisa menjadi referensi bagi anda yang tertarik untuk berinvestasi di sektor perbankan.
Secara fundamental, terdapat banyak syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah bank agar bisa dikatakan sebagai ‘bank bagus’, sehingga sahamnya kemudian layak dikoleksi. Namun dalam artikel ini syarat-syarat tersebut akan kita batasi berdasarkan kualitas kinerja terakhir dari bank yang bersangkutan, dalam hal ini berdasarkan laporan keuangan periode Semester I 2013.
Sebelumnya, berikut ini adalah beberapa poin yang menjadi ukuran kualitas fundamental dari bank-bank yang akan kita analisis, yang sudah diurutkan berdasarkan prioritasnya (jadi poin nomor 1 lebih diutamakan untuk menilai fundamental dibanding poin nomor 2, dan seterusnya).
1. Tingkat profitabilitas, biasa disebut juga ‘rentabilitas’. Simpelnya, semakin tinggi kemampuan sebuah bank dalam mencetak laba, maka sudah tentu semakin bagus bank-nya. Tingkat profitabilitas ini diukur berdasarkan tiga rasio, yakni net interest margin (NIM), return on asset (ROA), dan return on equity (ROE). Semakin tinggi ketiga rasio tersebut, maka semakin tinggi pula kemampuan bank yang bersangkutan dalam mencetak laba.
2. Tingkat Kekuatan Modal. Ukurannya cuma satu yakni capital adequacy ratio (CAR). Semakin tinggi CAR, maka semakin kuat modal bank yang bersangkutan. Kuat tidaknya posisi modal sebuah bank menentukan kemampuan bank yang bersangkutan dalam berekspansi dan memperluas jaringan usahanya. Contoh sederhananya, jika CAR sebuah bank masih tinggi, katakanlah diatas 20%, maka bank tersebut bisa terus menarik dana dari masyarakat dalam bentuk dana pihak ketiga (DPK), untuk kemudian disalurkan kembali dalam bentuk kredit. Tapi jika CAR tersebut sudah mepet-mepet dengan batas minimum yang ditentukan Bank Indonesia (BI), yakni 8%, maka bank tersebut boleh dibilang sudah tidak bisa meningkatkan DPK-nya, atau dengan kata lain sudah tidak bisa berkembang/berekspansi, kecuali jika pemiliknya menambah modal sehingga CAR-nya naik kembali.
3. Pertumbuhan. Seperti juga emiten-emiten yang lain di BEI, bank yang bagus tentunya adalah yang bertumbuh, yakni yang modal serta laba bersihnya naik. Semakin besar persentase kenaikannya, maka semakin bagus.
4. Kualitas Kredit. Pendapatan utama bank berasal dari bunga kredit/pinjaman yang mereka salurkan, namun pinjaman itu sendiri memiliki risiko tidak dibayar oleh peminjamnya. Makanya kemudian ada istilah kredit macet. Di laporan keuangan, terdapat rasio yang menggambarkan jumlah kredit macet dibanding total kredit yang disalurkan, yakni non performing loan (NPL), dalam hal ini net NPL. Semakin besar NPL ini, maka semakin jelek bank-nya karena itu berarti jumlah kredit macetnya semakin besar. Selain net NPL, gross NPL juga layak diperhatikan karena gross NPL tersebut sudah termasuk memperhitungkan kredit yang statusnya hampir macet.
Satu lagi rasio yang harus diperhatikan adalah loan to deposit (LDR). LDR ini menggambarkan jumlah kredit yang disalurkan dibanding DPK yang diterima bank. LDR ini sejatinya semakin besar angkanya maka semakin bagus, karena itu berarti bank yang bersangkutan memiliki kemampuan dalam menyalurkan kreditnya secara maksimal. Tapi disisi lain jika kredit yang disalurkan terlalu besar hingga lebih besari dibanding DPK-nya, maka akan timbul risiko likuiditas, dimana para nasabah yang menaruh tabungan/deposito pada waktu-waktu tertentu mungkin tidak bisa menarik dananya karena bank-nya sedang kehabisan duit (karena duitnya disalurkan semua sebagai pinjaman). Jadi dalam hal ini jika LDR suatu bank lebih besar dari DPK-nya, alias angkanya diatas 100%, maka itu nggak bagus. Disisi lain jika LDR tersebut terlalu rendah, katakanlah dibawah 70%, maka itu nggak bagus juga, karena itu berarti bank yang bersangkutan terbilang malas dalam menyalurkan kredit. Jadi dalam hal ini kita ambil tengah-tengahnya saja, yakni LDR terbaik bagi bank adalah di kisaran 80 – 90%.
Nah, tentunya diluar keempat poin diatas, masih terdapat ukuran-ukuran lain yang bisa kita ambil dari laporan keuangan untuk menilai fundamental sebuah bank. Namun penulis berpendapat bahwa keempat poin tersebut relatif sudah cukup untuk dijadikan patokan apakah sebuah bank memiliki kinerja yang bagus atau tidak. Lebih jelasnya tentang apa itu CAR, NIM, dan NPL, bisa dibaca disini. Untuk istilah-istilah lainnya, jika anda belum mengerti, boleh cari di google atau bisa tanyakan itu kepada broker anda (Seharusnya mereka tau. Kalau mereka nggak tau, anda harus pindah sekuritas, seriously).
Okay, sekarang kita menuju daftar bank-nya. Hingga ketika artikel ini ditulis, di BEI terdapat setidaknya 36 saham perbankan. Berikut daftar selengkapnya, diurutkan berdasarkan tingkat likuiditas sahamnya, dari yang paling likuid (BBRI) hingga yang paling tidak likuid (BCIC).
1
BBRI
Bank BRI
19
MAYA
Bank Mayapada
2
BMRI
Bank Mandiri
20
BVIC
Bank Victoria
3
BBCA
Bank BCA
21
BBNP
Bank BNP
4
BBNI
Bank BNI
22
BACA
Bank Capital
5
BTPN
Bank BTPN
23
INPC
Bank Artha Graha
6
BBKP
Bank Bukopin
24
BEKS
Bank Pundi
7
BBTN
Bank Tabungan Negara
25
NISP
Bank OCBC NISP
8
BDMN
Bank Danamon
26
BKSW
Bank QNB Kesawan
9
BJBR
Bank BJB
27
MCOR
Bank Windu Kentjana
10
BJTM
Bank BPD Jawa Timur
28
BNBA
Bank Bumi Arta
11
PNBN
Bank Panin
29
MEGA
Bank Mega
12
BNII
Bank BII
30
AGRO
Bank BRI Agroniaga
13
NOBU
Bank Nationalnobu
31
BAEK
Bank Ekonomi
14
BABP
Bank ICB Bumiputera
32
BSWD
Bank of India
15
SDRA
Bank Saudara
33
BCIC
Bank Mutiara
16
BNLI
Bank Permata
34
BMAS
Bank Maspion
17
BNGA
Bank CIMB Niaga
35
NAGA
Bank Mitraniaga
18
BSIM
Bank Sinarmas
36
BBMD
Bank Mestika Dharma
Catatan:
  1. Saham-saham diatas diurutkan berdasarkan likuiditasnya, yakni berdasarkan nilai transaksi perdagangan saham yang bersangkutan selama Kuartal II 2013, diurutkan dari yang tertinggi (BBRI, Rp40.6 trilyun), hingga yang terendah (BCIC, Rp0). Data tersebut diambil dari statistik BEI untuk periode Kuartal II 2013.
  2. Saham BMAS, NAGA, dan BBMD ditempatkan diurutan terakhir karena ketiga saham ini listing pada bulan Juli 2013, jadi data likuiditas sahamnya belum tersedia.
  3. Empat bank yang disebut pertama, yakni BBRI, BMRI, BBCA, BBNI, memiliki tingkat likuiditas yang jauuuh lebih besar dibanding bank-bank lainnya, dan itu sebabnya saham keempat bank tersebut boleh disebut sebagai saham blue chip.
  4. BTPN bisa ‘menyodok’ ke posisi lima karena adanya transaksi penjualan sahamnya ke Sumitomo senilai Rp9 trilyun. Jika transaksi tersebut tidak ada, posisi BTPN (berdasarkan likuiditasnya) kira-kira dibawah PNBN.
And now, the analysis
Kabar baiknya, hingga artikel ini ditulis ketiga puluh enam emiten perbankan diatas sudah merilis laporan keuangannya masing-masing. Tabel berikut ini berisi angka-angka NIM, ROA, dan seterusnya hingga terakhir LDR, dari tiap-tiap bank. Seluruh angka dalam persentase, datanya masih diurutkan berdasarkan likuiditas sahamnya.
No.
Bank
NIM
ROA
ROE
CAR
Equity Growth
Net Profit Growth
Net NPL
Gross NPL
LDR
1
BBRI
8.1
4.6
33.1
17.4
5.8
16.7
0.4
1.8
89.3
2
BMRI
5.4
3.5
25.6
15.6
3.8
16.3
0.4
1.8
82.8
3
BBCA
6.0
3.4
24.6
16.0
11.0
19.4
0.2
0.4
73.2
4
BBNI
6.2
3.4
21.8
16.3
1.3
30.1
0.7
2.6
84.0
5
BTPN
12.8
4.8
29.9
22.7
15.4
27.9
0.4
0.7
91.4
6
BBKP
3.6
1.9
20.6
15.7
4.7
21.8
1.7
2.5
78.2
7
BBTN
5.4
1.6
13.9
16.4
3.9
2.2
3.7
4.6
110.6
8
BDMN
9.9
3.5
14.3
18.7
2.6
-1.0
0.0
2.4
105.4
9
BJBR
8.2
2.8
28.9
16.4
1.3
24.5
0.6
2.3
80.8
10
BJTM
6.6
3.6
18.5
22.8
-3.0
28.1
2.1
3.3
74.5
11
PNBN
4.0
1.9
15.3
16.8
7.7
3.2
0.3
1.5
89.0
12
BNII
5.3
1.6
15.7
13.0
3.9
22.0
0.7
1.4
91.5
13
NOBU
2.6
0.5
1.3
129.2
302.5
185.7
0.0
0.0
41.2
14
BABP
4.9
0.0
-0.4
13.1
10.8
NM
4.1
5.9
87.7
15
SDRA
7.6
2.1
23.3
13.1
-4.1
21.2
2.1
2.9
97.3
16
BNLI
4.4
1.6
15.3
15.6
5.9
14.9
0.4
1.2
91.8
17
BNGA
5.3
2.8
19.5
15.9
6.6
7.5
1.5
2.3
99.2
18
BSIM
5.5
1.8
10.2
24.0
44.9
-2.3
3.2
3.9
80.2
19
MAYA
5.8
3.0
29.2
10.3
7.2
27.6
1.0
1.5

Bank Bukopin, dan Bosowa

Sekitar awal bulan April 2013 lalu, saham Bank Bukopin (BBKP) mendadak naik daun setelah beredar berita bahwa Grup Bosowa masuk ke bank ini dengan membeli sekian persen sahamnya.. pada harga Rp1,050 per lembar, atau lebih tinggi dibanding harga pasar BBKP ketika itu yakni 900. However, harga 900 tersebut sebenarnya sudah lumayan tinggi mengingat pada awal tahun 2013, dan juga selama setahun penuh sebelumnya, saham BBKP hampir tidak pernah jauh-jauh di level 600-an. Tapi dalam jangka waktu Januari – April 2013, tanpa adanya berita apapun yang mengawalinya, BBKP tiba-tiba saja naik terus hingga ke posisi 900, sebelum kemudian barulah news soal Bosowa keluar. Jadi dalam hal ini sepertinya seseorang mengetahui berita masuknya Bosowa tersebut lebih awal.

Namun pada bulan April tersebut, pihak manajemen BBKP masih belum mau mengkonfirmasi soal Bosowa, dan hanya mengatakan bahwa mereka nggak tahu apa-apa. Tapi hal ini juga tidak bisa dikatakan janggal karena memang terkadang, pembicaraan mengenai peralihan kepemilikan saham sebuah perusahaan hanya dilakukan oleh para pemegang saham yang bersangkutan, tanpa melibatkan personel perusahaan (pihak manajemen). Contoh simpel, jika anda memegang saham BBKP kemudian menjualnya kepada investor lain, apakah direktur BBKP harus mengetahuinya? Nggak kan. Alhasil sepanjang bulan April tersebut, berita soal masuknya Bosowa ke BBKP masih simpang siur, dan sebagian orang hanya menganggapnya sebagai rumor.
Tapi akhirnya, pihak manajemen mengkonfirmasi masuknya Bosowa tersebut sehari setelah transaksinya dilakukan, yakni pada tanggal 13 Juni 2014, dan memang benar pada harga 1,050 per lembar saham. Jadi sekarang semuanya sudah jelas: Bosowa Corporindo mengakuisisi 14% saham BBKP pada harga Rp1,050 per saham, atau setara Rp1.17 trilyun. Bosowa mengakuisisi saham tersebut dari tangan dua pemegang saham BBKP sebelumnya, yakni Yabinstra dan Kopelindo.
Ketika konfirmasi soal Bosowa tersebut akhirnya keluar, saham BBKP di pasar sudah turun lagi ke posisi 800. Sayangnya karena pada Juni tersebut pasar mulai memasuki periode bearish dimana IHSG mulai terseret turun, BBKP tidak mampu naik lagi melainkan kembali turun hingga sekarang mentok di posisi 560. And here we go. Kalau saja tidak pernah ada gosip infotainment soal Bosowa tadi, seharusnya tidak banyak investor yang nyangkut di BBKP ini di harga atas, namun itulah yang terjadi. Jika para investor yang memegang saham BBKP memegangnya di harga rata-ratanya selama ini, yakni 600-an, maka dalam periode bear market seperti sekarang mereka bisa lebih happy ketimbang investor yang memegang saham-saham lainnya, karena sejauh ini BBKP cuma turun 6.7% dari posisi 600. Tapi sayangnya, banyak diantara mereka yang memegang BBKP ini di harga 800-an, bahkan 900-an.
Menariknya, ini bukan kali pertama BBKP ‘menjebak’ investor gara-gara berita akuisisi. Pada Desember 2010 lalu, alias sudah cukup lama, BBKP juga pernah naik dari 640 hingga sempat menyentuh 740, karena beredarnya berita bahwa sahamnya akan diakuisisi oleh, kalau bukan Bank BRI, ya Jamsostek (masih ‘akan’). Ketika itupun tidak sedikit investor yang masuk di BBKP ini di harga 700-an. Tapi karena tak lama kemudian pihak manajemen BBKP menegaskan bahwa mereka tidak akan diakuisisi apapun, maka jadilah sahamnya melorot lagi ke 640. Kita pernah membahasnya di blog ini, ini linknya.
Tapi yah, baiklah, yang jelas BBKP sekarang sudah nyungsep lagi. Jadi bagaimana dengan fundamental BBKP ini? Karena berbeda dengan kejadian tahun 2010 lalu, kali ini memang beneran ada yang masuk ke BBKP, yakni Bosowa. Dan Bosowa tentu tidak main-main ketika menggelontorkan lebih dari Rp1 tilyun untuk masuk ke bank koperasi ini bukan?
Secara umum, termasuk jika kita menggunakan laporan keuangan terbarunya per periode Semester Pertama 2013, kinerja BBKP sama sekali tidak bisa dikatakan istimewa, meski disisi lain nggak bisa disebut jelek juga. Namun sejak dulu, dalam hal ini sejak dua tahun yang lalu ketika penulis mulai mengamatinya, poin menarik yang ditawarkan BBKP ini adalah valuasinya yang murah, dengan PBV hanya sekitar 1 koma sekian kali pada harga 600-an, dan itu jauh lebih rendah dibanding saham bank-bank lain yang meski memiliki kinerja yang lebih baik, namun dari sisi nama besar tidak terlalu jauh dari BBKP. Yep, merk Bank Bukopin, biar bagaimanapun, terbilang familiar di telinga masyarakat, dan iklannya pun cukup sering nongol di televisi. Dalam hal popularitas-nya, BBKP relatif setara dengan Bank BTPN, Bank Mega, OCBC NISP, dan beberapa bank kelas menengah lainnya, namun lebih unggul dibanding bank-bank kecil seperti Bank Victoria, Bank BNP, atau Bank ICB Bumiputera.

Logo PT Bank Bukopin, Tbk

Namun karena fundamentalnya, termasuk secara historis, tidak begitu menarik (‘tidak begitu menarik’ disini karena masih ada banyak bank lain yang lebih bagus), sementara prospek pertumbuhan kedepannya juga kurang jelas mengingat perusahaan tampaknya lebih banyak beroperasi seperti biasanya saja ketimbang ekspansi (setahun lalu BBKP menerbitkan obligasi untuk memperkuat permodalan, tapi bahkan untuk aksi korporasi yang begitu doang kelihatannya pihak manajemen sudah repot setengah mati), maka pada akhirnya BBKP lebih menarik untuk trading tik tok, tentunya jika anda bisa masuk di harga dibawah rata-ratanya selama ini, yakni 600-an.
Lalu, jualnya? Ya di 600-an tersebut. Dulu penulis sempat untung beberapa kali dari BBKP ini dengan cara tersebut, sebelum kemudian melepasnya sama sekali mengingat keuntungan yang diperoleh nggak sebanding dengan waktu yang diperlukan untuk mengawasi pergerakan sahamnya.
Tapi jika sekarang BBKP sudah di harga 560 lagi, maka sudah tentu sahamnya direkomendasikan karena secara fundamental, harga tersebut sudah bargain, alias terdiskon dibanding nilai perusahaannya, sehingga cuma soal waktu sebelum BBKP akan naik lagi minimal ke posisi 600-an kembali. Jadi jika anda sudah memegangnya, cut loss tidak disarankan.
Tapi bagaimana kalau saya belinya di 800-an atau 900-an? Bisakah BBKP naik lagi ke harga tersebut, katakanlah kalau tidak dalam waktu dekat ini, maka dalam jangka panjang? Well, I don’t know.. Karena sebuah saham hanya akan bisa naik dalam jangka panjang jika perusahaannya bertumbuh, sementara kalau melihat track record-nya, pertumbuhan BBKP selama 2 – 3 tahun terakhir ini nggak begitu bagus, belum lagi perusahaannya memang tidak menawarkan prospek pertumbuhan apapun.
Namun mungkin pertanyaannya sekarang adalah, apakah masuknya Bosowa bisa membuat kinerja BBKP menjadi lebih baik kedepannya? Kalau menurut Sadikin Aksa, managing director Bosowa, Bosowa memang akan kembali menambah kepemilikannya di BBKP dengan cara menyerap saham baru yang diterbitkan BBKP (right issue) pada tahun ini, meski belum jelas apakah nantinya Bosowa akan menjadi pemegang saham mayoritas di BBKP atau tidak. Namun bahkan kalau Bosowa melakukan itu (menambah kepemilikannya di BBKP), maka belum tentu mereka bisa ‘do something’ di dalam manajemen. Sebab khusus untuk perusahaan-perusahaan perbankan, masuknya suatu investor dalam jumlah besar ke sebuah bank tidak lantas menyebabkan investor tersebut bisa turut berkontribusi terhadap kinerja perusahaan (baca: menempatkan orang sebagai direktur atau komisaris), melainkan harus minta izin ke Bank Indonesia (BI) dulu, dan juga harus memenuhi regulasi-regulasi lainnya yang lumayan ribet. Termasuk kalau mau jadi pemegang saham mayoritas, juga harus minta persetujuan dari BI. Ketika kemarin Sumitomo masuk ke BTPN, salah satu syarat yang ditetapkan oleh BI adalah bahwa Sumitomo tidak boleh turut campur terhadap manajemen perusahaan. Hingga saat ini belum ada kejelasan soal apakah hal yang sama juga berlaku bagi Bosowa yang masuk ke BBKP.
Kesimpulannya, penulis agak ragu jika BBKP bisa naik lagi ke 900-an. Karena kalaupun kita mengasumsikan bahwa Bosowa bisa turut campur di manajemen dan sukses memperbaiki kinerja BBKP, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu (memperbaiki kinerja BBKP) dalam waktu sekejap, melainkan butuh waktu, bisa satu tahun, dua tahun, atau lebih lama lagi.
Meski demikian BBKP bukannya tidak bisa naik dalam waktu dekat. Seperti sudah disebut diatas, BBKP kemungkinan akan menggelar right issue. Katakanlah jika right issue tersebut dilaksanakan pada harga yang sama dengan harga beli Bosowa, yakni 1,050 per saham, maka biasanya sahamnya juga akan dikerek naik hingga lebih tinggi dari harga tersebut, agar right issue-nya terkesan dilakukan pada harga diskon. Namun mengingat hingga sekarang belum ada kejelasan soal kapan right issue tersebut akan dilaksanakan, maka anda mungkin harus sedikit menunggu.
Jadi mungkin strateginya adalah, jika anda terlanjur nyangkut di saham ini, maka anda bisa average down pada harga berapapun asalkan dibawah 600, lebih rendah tentunya lebih baik. Jika setelah average down tersebut rata-rata harga belinya menjadi dibawah 600, maka pekerjaannya sudah selesai, dan anda bisa keluar nanti di harga 600-an, tinggal nunggu IHSG pulih saja, mungkin akhir tahun ini.
Sementara jika averagenya masih tetap tinggi, maka cut loss hanya bisa dilakukan jika anda menemukan saham lain yang anda cukup yakin untuk membelinya (jadi dananya di-switch). Jika tidak? Yaa sekali-kali jadi investor jangka panjang gak ada salahnya lah. Seperti yang tadi disebutkan, jika BBKP jadi menggelar right issue, maka sahamnya berpeluang untuk naik. Disisi lain BBKP seharusnya sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi karena sudah murah (kalaupun IHSG turun lebih dalam dan dia kembali terseret, maka seharusnya gak butuh waktu lama buat langsung naik lagi). Jadi kalau anda cut loss, maka itu sama seperti ngasih barang murah ke orang lain.
Anyway, kasus BBKP ini sekali lagi membuktikan bahwa kita nggak bisa membeli saham semata hanya berdasarkan informasi bahwa perusahaannya akan diakuisisi oleh siapa, atau perusahaannya akan mengakuisisi siapa, melainkan tetap harus melihat fundamentalnya, prospeknya, dll. Istilah ‘buy on rumors, sell on news’ tidak selamanya benar, karena seringkali sebuah saham sudah naik duluan bahkan sebelum rumornya keluar, dan ketika news-nya keluar dia justru sudah nyungsep lagi. Tapi kabar baiknya BBKP juga bukan barang jelek dan harganya pada saat ini sudah murah, sehingga sekali lagi, cut loss tidak disarankan.
PT Bank Bukopin, Tbk
Rating Kinerja pada 1H13: BBB
Rating Saham pada 560: [...]

Siloam Hospital

Siloam International Hospitals (SILO) adalah anak usaha tidak langsung dari Lippo Karawaci (LPKR), yang secara khusus bergerak di industri rumah sakit. Jadi pada awalnya LPKR, entah secara langsung ataupun melalui anak-anak usahanya (termasuk Lippo Cikarang/LPCK), membangun kawasan-kawasan pemukiman yang terintegrasi (township) dengan berbagai fasilitas umum didalamnya, seperti universitas, sekolah, mall, gedung-gedung perkantoran, rumah sakit, bahkan hingga taman pemakaman (San Diego itu punyanya LPKR juga, lokasinya gak jauh dari township milik LPCK di Cikarang). Tujuannya adalah agar para penghuni township tersebut tercukupi semua kebutuhannya, sehingga mereka nggak perlu kemana-mana lagi.

Kemudian lambat laun, Grup Lippo sebagai pemilik LPKR tidak hanya sukses dalam membangun kawasan-kawasan pemukiman tadi, tetapi juga sukses dalam menonjolkan brand dari fasilitas-fasilitas umum didalamnya. Salah satu fasilitas umum tersebut adalah Universitas Pelita Harapan (UPH), yang kini menjadi salah satu universitas swasta paling elit di Indonesia. Sementara satunya lagi adalah fasilitas umum yang akan kita bahas di artikel ini, yakni Rumah Sakit Siloam atau lebih sering disebut Siloam Hospital. Siloam pada saat ini sudah boleh dinobatkan sebagai rumah sakit swasta terbesar di Indonesia, dengan jaringannya yang tersebar dari Jambi hingga Manado. Meski RS Siloam lebih banyak ditemukan di dalam township-township milik LPKR, namun beberapa diantaranya berlokasi di wilayah umum seperti pusat kota, dan sudah tentu, Siloam terbuka untuk menerima pasien dari mana saja, nggak harus dari penghuni Lippo Karawaci atau Lippo Cikarang.
Salah satu gedung Rumah Sakit Siloam di Semanggi, Jakarta

Mungkin karena branding-nya yang kuat, maka ketika perusahaan pengelola Siloam Hospital, PT Siloam International Hospitals (SILO), menggelar IPO, banyak investor yang menanyakan soal prospeknya ke penulis. Well, penulis sendiri kebetulan belum pernah dirawat disana. Malah, saya seumur-umur belum pernah dirawat di RS manapun, kalau pusing cuma minum bodrex aja. Tapi kalau denger cerita dari temen-temen, emang katanya di Siloam bagus meski agak mahal. But at least gak usah jauh-jauh ke Singapur lah, ntar repot jenguknya.

Balik lagi ke prospek SILO. Selain karena brandingnya, investor mungkin tertarik dengan saham ini karena kelihatannya dia bergerak di industri farmasi dan kesehatan, jadi mungkin prospeknya mirip-mirip sama Kalbe Farma (KLBF) gitu. Tapi benarkah demikian?
Sayangnya tidak. Kalau dari model usahanya yakni membangun dan mengelola rumah sakit, maka SILO ini lebih merupakan perusahaan properti jenis sewa ketimbang farmasi, dimana perusahaan memperoleh pendapatannya dari sewa ruangan rawat inap, sewa ruangan operasi dll, dan bukan dari jualan obat (jualan obat juga sih, tapi keuntungannya kecil karena obatnya ngambil dari distributor farmasi, bukan bikin sendiri). Jadi mirip seperti hotel atau mall, hanya fokus pada menyediakan tempat bagi pasien, dokter, perawat dll untuk bertemu dan melakukan transaksi (kalau hotel kan nyedian kamar tidur dan ruang meeting, sementara mall nyediain tempat belanja, nongkrong, dan rekreasi). Dikatakan sebagai ‘perusahaan properti jenis sewa’, karena SILO tidak pernah membangun rumah sakit untuk kemudian dijual, melainkan untuk mereka gunakan sendiri untuk disewakan ke pasien dll, dalam bentuk sewa ruangan.
Karena itulah, meski merk ‘Siloam’ sudah lumayan dikenal sebagai merk rumah sakit swasta nomer satu di Indonesia, namun anda jangan membayangkan bahwa kinerja SILO ini sama bagusnya seperti perusahaan-perusahaan farmasi, melainkan lebih mirip perusahaan properti jenis sewa (mall, hotel, sewa apartemen) dalam hal margin labanya yang kecil dibanding ekuitas (ROE-nya kecil). Sebelumnya sekedar informasi, kalau anda perhatikan kinerja dan laba dari perusahaan-perusahaan properti yang meningkat signifikan satu dua tahun belakangan ini, mereka labanya bisa gede begitu karena menjual berbagai jenis properti, mulai dari perumahan, kawasan industri, apartemen, hingga gedung-gedung perkantoran, pada harga jual yang tinggi. Alhasil mereka untung besar.
Sementara laba dari sewa properti? Kecil. Seperti sewa mall (sewa unit-unit toko di dalam mall-nya), sewa kantor, hingga sewa apartemen, itu semuanya kecil, namun bersifat recurring alias berulang (ini berbeda dengan jualan rumah yang kalau rumah tersebut udah laku, maka si developer harus bikin rumah yang lainnya lagi kalau pengen tetep dapet pendapatan). Jika anda punya toko baju dan menyewa ruangan toko di sebuah mall, misalnya, maka anda setiap tahun akan secara rutin membayar sewa ke pengelola mall-nya, belum termasuk biaya maintenance dan service setiap bulan. Sekilas pendapatan dari sewa tersebut tampak besar karena selain sewa per unit tokonya cukup mahal, sebuah mall tentunya gak hanya berisi satu toko. Namun karena pemilik mall juga harus mengeluarkan biaya yang tidak kalah besarnya untuk operasional (listrik untuk AC dan lampu-lampu yang dinyalakan secara terus menerus, itu aja udah berapa coba?), maka pada akhirnya keuntungannya menjadi kecil.
Lalu bagaimana dengan rumah sakit? Sama saja. Kalau kita ambil contoh SILO, pada tahun 2012 perusahaan mencatat pendapatan masing-masing Rp1.8 trilyun. Sementara labanya? Cuma Rp52 milyar, sehingga margin laba bersihnya (laba bersih dibandingkan pendapatan) hanya 2.9%. Di tahun 2011 dan 2010 pun, margin laba bersih tersebut masing-masing cuma 3.0 dan 7.0%. Margin SILO bisa menjadi kecil begitu karena perusahaan mengeluarkan banyak sekali biaya, yang terbesar tentunya untuk membayar jasa tenaga medis (dokter dll), dan untuk membayar supplier obat-obatan. Plus, SILO juga ternyata membayar sewa penggunaan properti rumah sakit ke induknya, LPKR, karena sebelas dari tiga belas unit rumah sakit yang dikelola SILO dimiliki oleh LPKR, bukan oleh mereka sendiri.
So, agak sulit untuk memperkirakan bagaimana perolehan laba bersih SILO kedepannya, karena jika pendapatan mereka turun sedikit saja maka laba bersihnya bisa langsung berbalik minus alias rugi. Kalau penulis sendiri lebih melihat SILO ini sebagai unit usaha Grup Lippo yang meski tidak begitu menghasilkan keuntungan, namun keberadaannya sebagai fasilitas umum akan melengkapi township-township milik LPKR, dan tentunya akan meningkatkan nilai jual dari properti-properti di dalamnya.
However, poin menarik dari SILO ini mungkin bukan terletak pada fundamentalnya.
Anda mungkin hafal dengan saham Sarana Meditama Metropolitan (SAME), yang  juga merupakan saham rumah sakit, karena SAME ini adalah perusahaan pengelola Rumah Sakit Omni. Sejak IPO-nya pada Januari 2013 lalu, SAME terus naik dari harga perdananya 400 hingga sekarang sudah mencapai.. 3,000-an! Ini berarti SAME sudah naik lebih dari tujuh kali lipat hanya dalam waktu delapan bulan! Koreksi IHSG juga sama sekali tidak berpengaruh dimana kalau dihitung sejak Juni lalu, SAME malah naik 50%.
Tidak ada faktor fundamental yang bisa menjelaskan kenaikan SAME ini. Valuasi sahamnya pun, pada harganya saat ini, terbilang tidak masuk akal dengan PER 96 kali. Namun mungkin hal ini juga yang membuat beberapa orang berpikir bahwa SILO mungkin bisa seperti SAME. Poin menarik dari IPO SILO adalah bahwa perusahaan, atau dalam hal ini salah satu pemegang saham utamanya, akan menunjuk Ciptadana Sekuritas sebagai agen stabilisasi untuk menjaga harga SILO di market. Salah satu pemegang saham SILO juga akan meminjamkan sahamnya kepada Ciptadana untuk keperluan stabilisasi tersebut. Nah, bagi beberapa orang, ‘stabilisasi’ ini bisa bermakna bahwa sahamnya akan dijaga agar tidak turun, atau bahkan akan terus dikerek naik. Yap, stabilisasi, atau istilahnya bandar-bandaran saham tersebut, memang diperlukan mengingat IPO SILO ini amat sangat mahal. Pasca IPO, jika harga sahamnya sukses bertahan di 9,000-an (harga IPO SILO 9,000), maka SILO akan memiliki market cap sekitar Rp10.4 trilyun. Padahal ekuitas bersih perusahaan, sudah termasuk ditambah dana hasil IPO-nya,  hanya Rp1.7 trilyun.
Diluar itu, persis Selasa kemarin, LPKR sebagai induk SILO mengumumkan bahwa mereka sukses dalam menawarkan saham SILO ke investor global di Singapura, Hong Kong, dan London, dimana investor global tersebut setuju untuk membeli 49.1 juta lembar saham SILO, atau setara dengan 31.5% saham SILO yang dilepas dalam rangka IPO-nya. Sekilas, hal ini juga semakin menguatkan sentimen ‘stabilisasi’ tadi. Gak mungkin lah para investor global ini, yang tentunya merupakan para investor kelas kakap, mau beli saham SILO pada harga segitu mahalnya kalau Lippo sebagai pemilik SILO tidak menjamin bahwa sahamnya tidak akan turun.
Tapi yah, jika anda membeli SILO ini berdasarkan asumsi-asumsi diatas, maka itu lebih mirip spekulasi, karena kita jadi nggak tau akan dibawa kemana saham SILO ini, kecuali jika anda kenal sama bandarnya. So at the end, I don’t recommend this stock, tapi kalau sekedar nonton sih bolehlah. Jika tidak ada halangan, SILO akan tayang perdana pada hari Kamis, tanggal 12 September [...]

Gambaran Perekonomian Indonesia Saat Ini

Jumat kemarin, tanggal 23 Agustus 2013, Pemerintah melalui Presiden dan Kementerian terkait mengumumkan paket kebijakan penyelamatan ekonomi, termasuk didalamnya kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter, untuk mengatasi gejolak pelemahan Rupiah yang sempat menembus level Rp11,000 per US Dollar. Jika dilihat dari nama paket kebijakannya, yakni ‘penyelamatan ekonomi’, maka tujuan akhir dari paket kebijakan tersebut tentunya bukan sekedar untuk mencegah Rupiah agar tidak terperosok lagi, atau untuk mengatasi penurunan bursa saham (IHSG) yang terjadi akhir-akhir ini, melainkan menyelamatkan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Tapi hal ini mungkin sekaligus menimbulkan pertanyaan, memangnya ada apa dengan perekonomian kita?

Jawaban atas pertanyaan ini mungkin mengarah pada flashback perekonomian Indonesia sekitar sepuluh hingga lima belas tahun kebelakang, tepatnya pasca krisis moneter 1998. Pasca krisis, ekonomi nasional bergerak stagnan selama dua hingga tiga tahun berikutnya, hingga pada awal tahun 2000-an terdapat satu peristiwa global penting yang tampak sebagai peluang bagi Indonesia: Kebangkitan Tiongkok. Sejak awal tahun 2000-an, Tiongkok mencatat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa tinggi, yang terutama didorong oleh kemajuan berbagai macam industri manufakturnya. Negara ini mampu membuat apa saja, semuanya! Mulai dari jepitan rambut, baut sepeda motor, hingga smartphone yang tidak kalah canggihnya dengan iPhone maupun Android. Produk-produk buatan Tiongkok ini kemudian dijual tersebar keseluruh dunia, dan bisa dengan mudah ditemukan di negara manapun.
Saking banyaknya jenis produk yang dibuat oleh Tiongkok ini, termasuk produk-produk imitasi dari merk-merk terkenal, sampai-sampai ada anekdot ‘God made Heaven and Earth, and the rest was made in China.’
Pertumbuhan industri di Tiongkok hanya bisa ditopang oleh dua hal: pasokan besi dan baja, dan pasokan bahan bakar, dalam hal ini batubara. Besi dan baja dan produk turunannya diperlukan untuk membuat mesin-mesin industri, konstruksi bangunan, hingga untuk bahan baku pembuatan barang-barang elektronik dan otomotif. Sementara batubara? Untuk bahan bakar pembangkit listrik, dimana listrik itu sendiri tentunya sangat dibutuhkan bagi segala jenis industri. Tiongkok sebenarnya memiliki batubaranya sendiri, namun karena berbagai macam industrinya berkembang lebih cepat dari kemampuan perusahaan-perusahaan tambang setempat dalam menggali batubara, maka jadilah Tiongkok perlu juga mengimpor batubara dari luar, salah satunya tentu saja, dari Indonesia.
Karena itulah, di Indonesia pada awal tahun 2000-an mulai booming bisnis batubara, dimana kemudian banyak orang yang menjadi sangat sukses dari bisnis ini. Beberapa grup usaha kakap, seperti Grup Bakrie dan Saratoga, bisa kembali menjadi konglomerat seperti sekarang ini karena kejelian mereka pada awal tahun 2000-an untuk segera masuk ke bisnis batubara, dimana Bakrie masuk ke Arutmin dan Kaltim Prima Coal/KPC, yang kemudian diletakkan dibawah Bumi Resources (BUMI), sementara Saratoga masuk ke Adaro Energy (ADRO).
Logo PT Adaro Energy, Tbk

Booming batubara segera membawa pengaruh positif terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Pada tahun 2000 Indonesia mencatat rekor surplus perdagangan (ekspor impor) sebesar nyaris US$ 3 milyar, yang terutama karena meningkatnya nilai ekspor batubara, dimana surplus tersebut kemudian berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya.

Sebenarnya selain batubara, peluang lainnya yang juga dihasilkan oleh kemajuan perekonomian Tiongkok adalah meningkatnya permintaan akan besi dan baja. Sayangnya karena belum ada perusahaan di Indonesia yang mampu memproduksi besi dan baja dalam jumlah besar, maka peluang tersebut kemudian ditangkap oleh India, salah satunya oleh perusahaan yang kemudian tumbuh menjadi perusahaan baja terbesar di dunia, Arcelor Mittal. Berkat industri besi dan baja ini pula, India kemudian sukses mencatat pertumbuhan ekonomi signifikan.
Kembali ke Indonesia. Jika anda perhatikan, meski Indonesia dan India sama-sama mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam sepuluh tahun terakhir ini, namun tidak pernah sampai menyentuh rekor 13% per tahun seperti yang pernah dicapai Tiongkok. Wajar, karena Indonesia dan India sebenarnya hanya kecipratan rezeki dari negaranya Yao Ming tersebut, dimana industri di dua negara ini sejatinya belum benar-benar berkembang, terutama di Indonesia yang para pelaku ekonominya justru terlena dengan mudahnya mengambil keuntungan dari mengeruk batubara, sehingga lupa untuk mengembangkan industri.
Sebenarnya, ketika Indonesia sempat dihantam efek krisis global pada tahun 2008, mulai timbul kesadaran bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa selamanya bergantung pada ekspor sumber daya alam, dalam hal ini batubara, melainkan para pelaku ekonominya harus pula mendorong pengembangan industri untuk menciptakan hilirisasi, untuk menciptakan produk yang memiliki nilai tambah. Kesadaran ini pula yang kemudian melahirkan Masterplan Percepatan & Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), dengan tujuan utamanya yaitu untuk mengembangkan infrastruktur, dimana infrastruktur tersebut, baik dalam bentuk fisik maupun kebijakan pemerintah, memang sangat diperlukan untuk mengembangkan industri dan pada akhirnya menumbuhkan ekonomi. Ide mengenai MP3EI ini pertama kali dicetuskan oleh Presiden SBY pada tahun 2008, ketika krisis global mencapai puncaknya.
Sayangnya, sebelum MP3EI tersebut benar-benar dikerjakan, minimal dalam hal ini perencanaannya (gak usah praktek pembangunannya, yang penting blue print-nya aja dulu), Indonesia keburu ‘ketiban rezeki’ lagi. Pada awal tahun 2010, harga crude palm oil (CPO) alias minyak sawit mentah mulai melejit, dan hal ini segera memberikan peningkatan keuntungan yang besar bagi perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit. Karena bisnis batubara sendiri pada saat itu juga belum meredup, maka jadilah pertumbuhan ekonomi Indonesia melaju kencang lagi, bahkan ketika Pemerintah maupun para pelaku ekonominya almost do nothing.
Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sempat drop menjadi 4.1% pada tahun 2009 karena pengaruh krisis global, pada tahun 2010 langsung tancap gas lagi, dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2011 dimana pertumbuhan ekonomi nasional sempat menyentuh rekor 6.9% secara year on year, berkat booming dua komoditas sekaligus, yakni batubara dan CPO. Pada tahun 2011 ini pula, Indonesia sempat mencatat surplus ekspor impor hingga lebih dari US$ 3 milyar, berkat tingginya nilai ekspor batubara dan CPO.
Namun pasca tahun 2011 tersebut, seperti yang sudah anda ketahui, keadaan seketika berbalik arah ketika harga-harga komoditas dunia, termasuk CPO dan batubara sebagai andalan utama ekspor Indonesia, menurun. Nilai ekspor Indonesia kemudian tertekan, dan karena ditambah oleh meningkatnya arus impor, neraca pedagangan nasional akhirnya menjadi defisit, dan hal ini perlahan tapi pasti menggerus pertumbuhan ekonomi hingga terakhir menjadi hanya 5.8% pada Kuartal I 2013. Sebenarnya sejak tahun 2011, draft MP3EI resmi disahkan sekaligus menjadi penanda bahwa Pemerintah bersama-sama BUMN dan pihak swasta mulai membangun infrastruktur dan lain-lain. Namun sebelum beberapa infrastruktur tersebut selesai dibangun dan mulai memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan industri dan perekonomian itu sendiri, ekonomi kita keburu woles duluan.
Nah, jadi mari kita urutkan kejadiannya. Pertama, neraca perdagangan kita defisit karena harga batubara dan CPO turun. Kedua, defisit tersebut pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi. Dan ketiga, mata uang Rupiah dengan sendirinya melemah sebagai refleksi atas perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut.
Jadi ketika Rupiah melemah, maka itu tidak memberikan dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi ataupun masalah lainnya, melainkan justru perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut-lah, yang kemudian menyebabkan Rupiah melemah. Di negara manapun, pelemahan mata uangnya terhadap ‘mata uang dunia’, yakni US Dollar, memang menjadi semacam pertanda bahwa perekonomian negara yang bersangkutan sedang bermasalah. Tahun 2011 lalu, ketika terjadi Krisis Yunani dan Uni Eropa secara umum, mata uang Euro juga melemah terhadap US Dollar.
Jadi ketika kemarin Pemerintah meluncurkan paket kebijakan, maka judulnya adalah paket kebijakan penyelamatan ekonomi, bukan paket kebijakan penyelamatan Rupiah. Karena jika kita ingin agar nilai Rupiah kembali menguat, maka yang harus dibenahi adalah perekonomiannya. Ibaratnya jika saya adalah Sandiaga Uno, pemilik ADRO, dan saya ingin agar saham ADRO kembali naik, maka caranya bukan dengan menggoreng sahamnya di market (meski itu bisa saja sih), melainkan harus dengan cara meningkatkan kinerja perusahaaan, dan nantinya harga saham ADRO akan naik dengan sendirinya.
Hal yang juga perlu diingat disini adalah, pelemahan Rupiah secara otomatis akan membuat harga barang-barang impor menjadi mahal, sehingga masyarakat akan mengurangi membeli barang-barang impor tersebut. Alhasil nilai impor Indonesia akan turun, dan jika nilai ekspornya tetap, maka kita akan sampai pada satu titik tertentu neraca perdagangan kita akan menjadi surplus kembali. So, pelemahan Rupiah bisa juga dianggap sebagai balancing (penyeimbang) yang dalam jangka panjang justru bermanfaat untuk menumbuhkan perekonomian kembali. Meski memang kalau dalam jangka pendek, pelemahan Rupiah akan lebih memberikan efek negatif ketimbang positif, karena naiknya harga barang-barang impor tadi sudah jelas akan menyulitkan beberapa pelaku ekonomi, terutama perusahaan-perusahaan berbasis impor seperti distributor ponsel, farmasi, pakan ternak (karena mereka harus impor jagung dan kacang kedelai), hingga industri umum.
Lalu Bagaimana Kedepannya?
Seperti yang sudah disebut diatas, pelemahan Rupiah yang terjadi pada hari ini diawali dari turunnya harga dua komoditas, yakni CPO dan batubara, sehingga Indonesia tiba-tiba saja kehabisan sesuatu untuk dijual keluar. Karena disaat yang bersamaan, berbagai jenis infrastruktur dan industri yang tengah dibangun belum siap untuk berkontribusi terhadap perekonomian, termasuk belum siap untuk menghasilkan barang berkualitas untuk diekspor, untuk menjaga agar nilai ekspor tetap tinggi.
Disisi lain, barang-barang impor terus masuk ke Indonesia, sehingga akhirnya neraca kita menjadi defisit. Defisit inilah yang kemudian menekan pertumbuhan ekonomi kita, karena ibaratnya pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Defisit ini tampak buruk mengingat sejak tahun 70-an, neraca ekspor impor kita selalu surplus dan hanya mengalami defisit signifikan sebanyak tiga kali yakni pada tahun 1983, 2008, dan sekarang. Yup, percaya atau tidak, meski kelihatannya rumah kita dikepung barang-barang impor, namun ekspor kita selama ini hampir selalu lebih besar, terutama karena ekspor sumber daya alam/SDA. Jika dulu SDA unggulan kita adalah migas, maka sejak tahun 2000-an SDA tersebut adalah batubara dan aneka bijih logam. Kita juga merupakan salah satu produsen CPO, kertas, kakao (coklat), dan karet terbesar di dunia.
Balik lagi ke soal defisit. Yang perlu digaris bawahi disini adalah, defisit perdagangan terjadi karena meningkatnya volume impor, yang belakangan ini tidak lagi mampu diimbangi kenaikan ekspor. Sepuluh tahun yang lalu, yakni di tahun 2003, nilai impor kita masih di kisaran US$ 3 – 3.5 milyar per bulan. Sekarang? Data terakhir US$ 15.6 milyar pada bulan Juli 2013, turun dari puncaknya di angka US$ 17.2 milyar pada Oktober 2012. Let say kita ambil angka yang US$ 15 milyar ini saja, maka dalam sepuluh tahun terakhir nilai impor kita telah meningkat antara 4 – 5 kali lipat.
Sementara dalam kurun waktu yang sama, ekspor kita juga meningkat dari rata-rata US$ 5.0 milyar per bulan di tahun 2003 hingga sempat mencatat rekor lebih dari US$ 18.6 milyar di tahun 2011 (ketika booming batubara dan CPO mencapai puncaknya), sebelum kemudian turun ke level sekarang yakni US$ 14.7 milyar. Sekarang kita berandai-andai, jika selama sepuluh tahun ini yang naik hanya ekspor, sementara impor kita stagnan, maka berapa pertumbuhan ekonomi kita sekarang ini? Mungkin bisa lebih tinggi dari Tiongkok.
Lalu apa yang menyebabkan jumlah impor kita seperti meledak? Orang awam mungkin akan menunjuk impor daging sapi, kedelai, bawang, hingga produk-produk smartphone dan tablet PC, karena impor barang-barang itulah yang sering diberitakan di media, dan barangnya juga sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sebenarnya nilai impor dari barang-barang yang disebut diatas terbilang kecil. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), impor terbesar kita saat ini (diluar impor migas, karena migas akan selalu menjadi impor terbesar Indonesia) adalah impor mesin-mesin dan peralatan mekanik. Bukan, mesin disini bukan perkakas seperti yang biasa anda beli di Ace Hardware, melainkan mesin-mesin berat dan peralatan teknik untuk industri. Dibawah mesin mekanik, impor terbesar kita adalah mesin-mesin listrik, besi dan baja, kendaraan bermotor dan bagiannya, plastik, bahan kimia organik, dan barang-barang dari besi dan baja, dengan nilai impor sepanjang Semester I 2013 sebesar antara US$ 2.5 milyar (barang-barang dari besi dan baja), hingga US$ 13.3 milyar (mesin mekanik). Setelah barang-barang dari besi dan baja, tidak ada impor barang lain yang nilainya lebih dari US$ 2 milyar.
Ketujuh kategori barang diatas, mulai dari mesin mekanik hingga barang-barang dari besi dan baja, menyumbang nilai impor sebesar total 58.7% dari impor non migas, dan sisanya baru berasal impor barang-barang yang ecek-ecek, seperti daging sapi dan semacamnya.
Nah, jika anda jeli, maka anda akan bisa melihat bahwa impor kita terutama adalah besi dan baja. Sebab mesin-mesin mekanik pun, itu dibuat dari besi atau baja toh? Demikian pula dengan mesin-mesin listrik, yang rata-rata dibuat dari produk turunan baja, yakni stainless steel. Ini karena mesin-mesin tersebut memang dibutuhkan untuk industri. Ketika ada banyak perusahaan-perusahaan yang bikin pabrik di Cikarang dan Kawasan Industri lainnya, mereka kemudian segera mengimpor mesin-mesin karena belum banyak perusahaan teknik di Indonesia yang bisa membuat mesin serupa (atau mungkin memang belum ada sama sekali kalau untuk mesin tertentu). Termasuk karena produksi besi dan baja kita juga masih megap-megap, maka kebutuhan akan besi dan baja kita lagi-lagi harus impor.
Logo PT Krakatau Steel, Tbk

Namun seperti juga halnya Tiongkok yang membutuhkan banyak sekali besi dan baja untuk membangun industrinya di awal tahun 2000-an (sampai-sampai harus impor dari India, padahal mereka punya banyak perusahaan baja sendiri), yang akhirnya berujung pada pertumbuhan ekonominya yang luar biasa terutama sejak tahun 2004, maka mungkin kita juga sedang menuju kesana. Jika upaya Indonesia saat ini untuk naik kelas dari negara berkembang menjadi negara industri ini sukses, termasuk Krakatau Steel dan sejawatnya juga mampu memproduksi besi dan baja dalam jumlah besar-besaran sehingga kita nggak harus impor lagi, maka kita akan menyusul Tiongkok sebagai negara yang mampu membuat apa saja, atau minimal bikin jarum pentul dulu deh, soalnya itu juga masih diimpor dari Tiongkok sana.

Sementara kalau kita melihat historis sejarah yang lebih jauh lagi ke belakang, negara adidaya seperti Amerika Serikat pun bisa menjadi negara yang amat sangat maju seperti sekarang ini, karena diawali dari perkembangan industrinya yang luar biasa pada awal abad ke 20, dimana mereka bikin mobil, barang-barang elektronik, gedung-gedung pencakar langit di New York, jalur transportasi kereta api, peralatan militer, hingga pesawat terbang. Dan seluruh industri tersebut menjadi mungkin untuk dibangun setelah sebelumnya, yakni pada tahun 1901, seorang pengusaha terkenal bernama Andrew Carnegie mendirikan US Steel, perusahaan besi dan baja yang luar biasa besar, dan dikenal sebagai perusahaan pertama di dunia yang memiliki nilai lebih dari US$ 1 milyar. US Steel inilah, yang kemudian menyuplai kebutuhan besi dan baja untuk segala jenis industri yang berkembang di Amerika.
Balik lagi ke Indonesia. Kesimpulannya, meski kita pada saat ini, hari ini, mengalami defisit perdagangan, perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga pelemahan Rupiah, namun mudah-mudahan itu semua justru merupakan ancang-ancang agar kita melompat lebih tinggi lagi kedepannya. Suatu hari nanti, kita nggak perlu lagi mengekspor batubara karena PLN sudah cukup besar untuk menyerap semua batubara tersebut, dan mengkonversinya menjadi listrik yang sangat dibutuhkan oleh industri, lalu industri tersebut-lah yang akan menghasilkan barang-barang kualitas ekspor. Suatu hari nanti pula, kita nggak perlu lagi mengekspor CPO, melainkan mengekspor produk turunannya seperti margarin, oleochemical, hingga bahan baku kosmetik dan farmasi, dengan nilai jual yang tentunya jauh lebih tinggi. Dan seterusnya.
However, semua visi tersebut memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk dicapai, dan yang jelas faktanya pada saat ini perekonomian dalam negeri kita sedang sedikit bermasalah, dimana banyak yang memperkirakan bahwa dalam jangka pendek Rupiah masih akan melemah lagi. Artikel ini juga masih belum menjawab banyak sekali pertanyaan, seperti bagaimana kontribusi sektor properti terhadap perekonomian, bagaimana progress dari pembangunan infrastruktur, bagaimana pengaruh BI Rate jika nanti dinaikkan lagi, bagaimana kira-kira manfaat yang bisa dihasilkan dari paket kebijakan pemerintah yang diumumkan kemarin, seperti apa tepatnya pengaruh negatif yang diberikan oleh pelemahan Rupiah terhadap kinerja-kinerja perusahaan yang berbasis impor, apakah saham KRAS boleh dikoleksi, hingga yang terpenting tentunya, IHSG gimana kelanjutannya nih?
Well, tapi berhubung artikel ini sudah lumayan panjang, maka selebihnya akan kita bahas minggu depan. Atau jika anda memiliki analisis atau informasi penting untuk disampaikan kepada teman-teman investor yang lain, anda bisa menuliskannya melalui kolom komentar [...]

Prediksi Pergerakan IHSG (Forum)

Dear investor dan juga kawan-kawan trader, melalui forum ini penulis mengajak anda untuk berbagi pandangan anda terkait bagaimana kira-kira pergerakan IHSG kedepannya, baik dalam jangka pendek (1 – 2 bulan kedepan) maupun jangka panjang (1 tahun kedepan), baik itu dilihat dari sisi fundamental, teknikal, ataupun perkembangan ekonomi makro nasional, atau sesuai spesialisasi anda saja. Misalnya jika anda adalah seorang technicalist, maka anda bisa memaparkan prediksi dan analisis anda dari sisi teknikal.

Anda bisa menuliskan analisis anda melalui kolom komentar dibawah, jangan lupa sebutkan nama atau minimal nickname anda dibawahnya. Anda juga boleh mengomentari analisis yang dibuat oleh teman yang lain, tentunya dengan bahasa yang baik. Tujuan penulis membuat forum ini adalah agar analisis yang anda paparkan bisa menjadi pencerahan bagi kawan-kawan investor/trader lainnya.
Demikian, terima kasih atas kontribusinya :)
Salam,
August 23rd, 2013 at 1:32 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Tips Menghadapi Koreksi IHSG

Tadinya untuk minggu ini penulis berniat untuk membahas tema yang lain. Namun berhubung pada Senin, tanggal 19 Agustus 2013 ini IHSG anjlok sampai 5.6% dalam sehari, maka tentunya tidak ada yang lebih menarik untuk dibahas selain IHSG itu sendiri. You know, IHSG kadang naik, kadang turun, setiap hari. Tapi jika turun sampai diatas lima koma sekian persen? Well, itu tidak terjadi setiap hari.

Dalam kondisi seperti ini, meski sulit untuk mengatakannya, namun adalah wajar jika anda nyangkut, karena memang, hari ini semua orang pun nyangkut. Kalau bagi penulis pribadi, terakhir mengalami kejadian seperti hari ini adalah persis dua tahun lalu, ketika IHSG dilandaAgustus – September 2011 mini-crash. Jika pada hari ini IHSG jebol sampai lima persen lebih, maka ketika itu IHSG jatuh dengan angka cantik, yakni 8.88%. Bagi anda yang berpengalaman di tahun 2008, maka anda pasti sudah pernah mengalami hari yang lebih buruk lagi dari hari ini, yakni hari ketika saham-saham bluchip pada AR kiri semua..
Nah, bagi anda para pelaku pasar yang masih newbie, maka mungkin hari ini seperti kiamat. But for those who has experience, maka ini bukan akhir dari segalanya. Ketika Barcelona keok tujuh gol tanpa balas melawan Bayern Munchen di Liga Champions, maka bukan berarti klub sepakbola asal Spanyol tersebut kemudian langsung dibubarkan, melainkan tetap jalan terus.

Hanya bedanya, jika Barcelona juga sudah biasa menang 7 – 0 atau bahkan lebih dalam satu kali pertandingan (seperti semalam melawan Levante), maka sepanjang pengetahuan penulis, IHSG belum pernah mencetak skor (baca: naik) hingga lebih dari 5% dalam sehari (atau mungkin pernah, tapi sangat jarang).

Namun ketika gilirannya kebobolan (baca: turun), maka ini bukan pertama kalinya IHSG jeblok sampai lebih dari 5% dalam sehari. Malah, pada tahun 2008 lalu IHSG pernah turun 20% sekaligus hanya dalam tiga hari berturut-turut! Dan kemungkinan pada tahun 1998 IHSG pernah turun lebih gila lagi dari itu.
Sementara dalam jangka menengah atau panjang pun, penurunan IHSG selalu lebih cepat dari kenaikannya. Kalau anda ingat-ingat lagi, IHSG perlu waktu lima bulan untuk naik dari 4,300-an pada awal tahun lalu hingga menyentuh puncaknya di 5,200 pada akhir Mei. Sementara ketika gilirannya turun, ternyata IHSG hanya perlu waktu dua setengah bulan saja untuk balik lagi ke 4,300-an. Sedangkan di tahun 2008 lalu, IHSG hanya perlu waktu sembilan bulan untuk menjatuhkan diri dari posisi 2,800-an ke posisi 1,100-an, setelah sebelumnya membutuhkan waktu dua tahun lebih untuk bergerak sebaliknya (naik dari 1,100-an ke 2,800-an).
Dan jika kita ingat lagi kata-kata Warren Buffett, yaitu, ‘Butuh waktu 20 tahun untuk membangun reputasi, namun hanya butuh waktu 5 menit untuk mengacaukannya,’ maka mungkin memang seperti itulah pasar modal, dari dulu sudah begitu. Buffett kemungkinan mengatakan kalimat tersebut berdasarkan pengalamannya ketika ia dengan susah payah mengumpulkan cuan dan menumbuhkan portofolionya dalam waktu yang lama, namun semua cuan tersebut menguap dalam sekejap atau bahkan berbalik menjadi kerugian, ketika bursa saham anjlok.

Terjadi setiap tahun, dan selalu makan korban

So, like it or not, that’s how the stock market works, so you have to get used to it. But how?
Jika Warren Buffett atau Lo Kheng Hong yang ditanya pertanyaan seperti itu, maka anda pasti sudah hafal jawabannya: ‘Saya tidak pernah memprediksi kapan market akan bearish, karena saya tidak bisa melakukannya, dan tidak akan pernah bisa. Jadi ketika market terkoreksi, saya akan berbelanja saham lebih banyak lagi. Itu saja’.
Sekedar informasi, jika Buffett pernah kehilangan lebih dari separuh kekayaannya ketika pasar saham Amerika mengalami crash di tahun 1974, maka LKH juga pernah menderita loss sampai 90% di tahun 1998. Tapi apa kemudian mereka cut loss? Ternyata tidak, melainkan hold aja terus, malah jika ada dana mereka akan belanja lagi. Ketika pasar saham mengalami koreksi besar pada tahun 1970-an, Buffett melalui Berkshire Hathaway-nya justru menerbitkan notes (utang) dengan bunga 8% dimana dananya dipakai buat belanja saham. Warren Buffett sebenarnya tipikal investor yang anti pakai utang/margin buat beli saham, tapi ketika itu ia mungkin cukup yakin bahwa penerbitan notes itu diperlukan karena ada banyak saham yang lagi diobral, dengan potensi upside lebih dari 8% per tahun. Yup, dari kacamata investor, periode koreksi pada market bukanlah bencana, melainkan justru merupakan kesempatan untuk belanja saham lebih banyak lagi, tak peduli meski mereka sedang dalam posisi nyangkut sekalipun.
Tapi sayangnya, cara yang sama tidak selalu bisa dilakukan oleh investor/trader kebanyakan, karena memangnya siapa yang bisa tahan melihat portofolio membara tanpa kejelasan kapan bakal balik modal? Jadi kita butuh saran yang berbeda disini.  Dan kalau berdasarkan pengalaman penulis, maka inilah tahapan yang bisa kita lakukan.
Pertama, jika IHSG sudah dalam periode bullish, ditanda dengan rata-rata PER-nya yang sudah tinggi yakni 19atau bahkan 20 kali (angkanya bisa dilihat di IDX.co.id, di bagian statistik. Jika anda bingung liatnya dimana, boleh bertanya pada broker anda, seharusnya mereka tau), maka anda harus mulai mengurangi portofolio anda di saham, alias melepas beberapa pegangan saham untuk tujuan mengumpulkan cash.
Namun ingat bahwa meski ini kelihatannya gampang untuk dilakukan, tapi pada prakteknya sama sekali tidak mudah. Seringkali ketika market sebenarnya sudah bullish, tapi IHSG terus saja breaking new high, dan itu pasti akan terus menggoda anda untuk masuk lagi. Jadi dalam hal ini anda harus sabar.
Kedua, jika IHSG mulai mengalami penurunan signifikan, yakni turun lebih besar dari 2% dalam sehari, atau turun lebih dari 5% dalam tiga hari berturut-turut, maka biasanya itulah tanda bahwa periode bullish akan segera berakhir, dan akan diganti oleh periode bearish. Pada saat inilah sebaiknya anda segera cuci gudang, sebelum IHSG benar-benar anjlok.
Ketiga, ingat bahwa seperti periode bullish tidak terjadi dalam sehari kemudian selesai, maka demikian pula dengan periode bearish. Sepanjang pengamatan penulis, setiap kali IHSG memasuki masa terkoreksi yang signifikan, dalam hal ini turun 20% atau lebih, maka IHSG tidak akan turun sebanyak 20% itu hanya dalam sehari (tentu saja!) melainkan akan butuh waktu minimal sebulan. Penulis katakan minimal, karena dalam waktu-waktu tertentu, contohnya seperti sekarang ini, periode market bearish terjadi dalam waktu yang agak lama, yakni dua, tiga, hingga empat bulan. Pada tahun 2008, periode bear market tersebut bahkan terjadi selama sembilan bulan penuh.
Jadi dalam hal ini ketika anda melakukan sukses cuci gudang sebelum IHSG benar-benar jatuh, maka selanjutnya jangan langsung masuk lagi ketika akhirnya kejatuhan IHSG tersebut terjadi, melainkan tunggu dulu sampai periode bearish-nya reda, minimal sebulan, atau mungkin lebih. Ketika itulah maka anda harus bisa bersabar lagi.
Kemudian, apa tandanya bahwa periode bearish sudah berakhir, dan kita sudah boleh belanja? Bisa macam-macam, tapi yang paling sederhana adalah jika IHSG minimal sudah turun 20% dari puncaknya, dan sudah ada rebound (IHSG berbalik naik) yang signifikan, maka barulah anda bisa menyicil untuk belanja lagi (posisi IHSG pada penutupan hari ini, jika dihitung dari puncaknya yakni 5,251, baru terkoreksi 17.9%). Ketika itu biasanya rata-rata PER saham-saham di BEI sudah di kisaran wajarnya, yakni 12 – 14 kali. Saham-saham yang bisa diincar pertama kali adalah saham-saham bluchip karena mereka biasanya sangat responsif terhadap kenaikan IHSG, jika IHSG memasuki fase bullish kembali.
Namun tips diatas hanya berlaku jika yang terjadi adalah koreksi musiman biasa tanpa penyebab yang bersifat fundamental. Sementara dalam kasus khusus seperti tahun 1998 dan 2008, maka koreksi tersebut bisa mencapai 50%, atau bahkan lebih, yang bisanya ditandai oleh perubahan yang dramatis pada perekonomian, entah itu perekonomian dalam negeri maupun global. Penulis katakan ‘dramatis’, karena pada tahun 1998 dan 2008 sama-sama diwarnai oleh cerita-cerita kebangkrutan perusahaan, bank rush, PHK massal, dan semacamnya. Sedangkan ketika terjadi koreksi musiman biasa, maka cerita yang beredar di media biasanya hanya bad newsbiasa yang cenderung dibesar-besarkan.
Nah, untuk koreksi tahun 2013 ini, kalau dari kacamata penulis sendiri (eh, tapi saya gak pake kacamata ding), kejadiannya nggak akan sampai seperti tahun 2008, karena sejauh ini aktivitas bisnis orang-orang masih berjalan dengan lancar, dan sepertinya belum ada seorangpun yang dengan panik menyerbu Bank BCA untuk mencairkan depositonya. Koreksi kali ini lebih mirip koreksi tahun 2011, dimana penyebabnya cukup jelas yaitu kinerja para emiten yang rata-rata tidak terlalu bagus pada Semester I 2013 ini, pertumbuhan ekonomi kita melambat menjadi tinggal 5.81%, dan Rupiah juga melemah menjadi sekitar Rp10,450 per US Dollar, sebagai imbas dari perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut.

Jadi target pelemahan IHSG-nya adalah hingga 20% dari puncaknya, mungkin tidak akan sama persis, tapi juga tidak akan terlalu jauh. Untuk turun lebih dalam dari itu, katakanlah hingga 30% atau bahkan 40% dari puncaknya, maka diperlukan sentimen yang lebih dramatis lagi, misalnya jika Rupiah down hingga Rp12,300 seperti tahun 2008 lalu, dan ada sebuah perusahaan besar yang bangkrut (KARK itu bukan perusahaan besar). Tapi untuk sementara ini penulis kira kecil kemungkinannya itu akan terjadi, karena pertumbuhan ekonomi kita hanya melambat, bukan mandek apalagi sampai krisis.

Sementara pada koreksi tahun 2011 lalu, penyebabnya adalah krisis Eropa (Yunani, masih ingat?) plus debt ceiling Amerika, alias mirip-mirip dengan krisis global tahun 2008 hanya saja dengan skala yang lebih kecil. Ketika itupun IHSG terkoreksi sekitar 20%. Pada saat ini perekonomian global tampak mulai pulih, ditandai dengan kemungkinan dikuranginya kebijakan quantitative easing oleh Federal Reserve, namun sebagai gantinya, Indonesia akhirnya menyusul India dan Tiongkok sebagai negara mencatat perlambatan pertumbuhan ekonomi, terutama karena menurunnya harga-harga komoditas, dan hal itulah yang kemudian dijadikan justifikasi oleh Mr. Market untuk memasuki periode bearish kembali.
Okay, I think that’s enough. Terakhir, seperti yang sudah penulis katakan sebelumnya, meski tips-tips diatas tampak sederhana dan mudah untuk dilakukan, namun pada prakteknya tidak pernah sesederhana dan semudah itu, termasuk penulis sendiri nyatanya tetep aja kena nyangkut juga. Tapi mungkin satu poin lainnya yang juga penting adalah, jika anda sudah pernah mengalami kondisi koreksi seperti ini sebelumnya, maka seharusnya pada periode bear market kali ini anda akan lebih tenang dan tidak mudah panik dalam menata ulang portofolio anda, dimana seringkali justru ketenangan itulah yang lebih diperlukan dalam kondisi bear market seperti sekarang. Just remember, bahwa sama seperti halnya IHSG tidak akan selalu bullish terus, maka bearish market-pun pada waktunya nanti akan berakhir juga, dan berganti menjadi bullish kembali.
Jadi istilahnya, untuk saat ini yang penting asal anda tetap mampu ‘bertahan hidup’ saja dulu. Karena ingat pula, whatever doesn’t kill you, it will try to kill you again (oops sorry, this is the correct one: it will make you stronger!). Good luck!

Catatan: Khusus untuk artikel kali ini, penulis mengajak anda para investor, untuk berbagi pengalaman serta tips-tips tentang bagaimana cara anda dalam menghadapi bear market seperti sekarang ini, plus (jika ada) analisa anda tentang bagaimana kira-kira IHSG kedepannya. Dan mudah-mudahan itu bisa membantu memberikan pencerahan bagi teman-teman investor yang lain. Caranya cukup dengan langsung menulisnya pada kolom komentar dibawah artikel ini, jangan lupa cantumkan nama nickname anda dibawahnya. Okay, thanks for contributing :)

August 19th, 2013 at 11:08 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Ace Hardware Indonesia

Ngomong-ngomong soal Ace Hardware, apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar ‘Ace Hardware’ tersebut? Kalau penulis yang ditanya demikian, penulis akan menjawabnya: ‘Itu adalah nama toko, atau lebih tepatnya supermarket, yang saya sering mampir untuk melihat-lihat apa saja yang dijual disitu, tapi ya cuma liat-liat doang, alias hampir nggak pernah membeli sesuatu’. Alasannya adalah, meski harus diakui bahwa toko Ace Hardware menjual barang-barang unik dan berkualitas bagus yang tidak ada di toko lain, namun sebagian besar dari barang-barang tersebut tidak begitu dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagai contoh, apakah anda membutuhkan satu set alat panggangan barbeque untuk backyard party di rumah? Well, jika rumah anda memang ada backyard-nya, maka mungkin anda memang butuh. Tapi yah, berapa banyak sih rumah di Jakarta yang punya halaman luas di belakangnya?

Disisi lain, jika anda punya rumah gede di Menteng, Pondok Indah, atau Pantai Indah Kapuk, maka alat panggangan barbeque tadi mungkin merupakan must have item, dan demikian pula dengan produk-produk lainnya yang dijual di Ace Hardware. Yup, Ace Hardware, memang bukan toko retail biasa. Produk-produk yang dijual disitu merupakan produk home improvement, alias produk khusus yang sengaja didesain untuk meningkatkan kualitas rumah sebagai tempat tinggal anda dan keluarga. Contohnya, selain alat panggangan barbeque tadi, anda akan menemukan jam dinding dengan desain yang sangat-sangat cantik di Ace Hardware, yang tidak dijual di toko lain, meski memang harganya pun jauh lebih mahal. But for some people, harga yang lebih mahal tersebut setimpal dengan efek ‘cantik’ yang diberikan jam dinding tersebut terhadap penampilan rumah secara keseluruhan.
Karena itulah, meski bagi sebagian besar orang memiliki rumah yang layak huni saja sudah cukup baik, namun bagi orang-orang tertentu dari kalangan menengah keatas, mereka baru akan merasa betah jika rumahnya dilengkapi oleh produk-produk home improvement tersebut. Dan di Indonesia, Ace Hardware adalah satu-satunya toko yang menyediakan produk-produk seperti itu, sehingga perusahaannya boleh dibilang memonopoli bisnis ini. Sebenarnya ada juga toko-toko lain yang serupa, seperti Super Home atau IKEA, namun sejauh ini belum ada dari mereka yang menjadi pesaing berarti bagi ACES di bidang ini.
Tentang Perusahaan
Ace Hardware Corporation (AHC) merupakan perusahaan ritel global yang berdiri pertama kali pada tahun 1924 di Chicago, Amerika Serikat, dengan pendirinya bernama Richard Hesse. Dan sejak saat itu, AHC terus berkembang pesat. Pada tahun 1968, Ace Hardware untuk pertama kalinya membuka toko diluar Amerika, ketika itu di Kepulauan Guam. Dan pada tahun 1990, AHC mulai bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lokal di tiap-tiap negara untuk membuka toko (setelah sebelumnya hanya membuka toko miliknya sendiri), dengan konsepnya yang kurang lebih sama dengan sistem franchise Alfamart atau Indomaret.
Kemudian pada tahun 1995, AHC masuk ke Indonesia dengan bekerja sama dengan Grup Kawan Lama, dimana kedua belah pihak sepakat untuk mendirikan PT Ace Hardware Indonesia (ACES), namun 100% saham ACES sepenuhnya dipegang pihak Kawan Lama (menjadi 60% setelah perusahaan go public pada tahun 2007, dimana 40%-nya dipegang investor publik). Dalam kontraknya, ACES diharuskan untuk membayar royalti kepada AHC, namun nilai royaltinya nggak besar, cuma Rp17 milyar pada Semester I 2013 (bandingkan dengan pendapatan perusahaan yang mencapai Rp1.8 trilyun). Dan sebagai gantinya ACES memperoleh hak eksklusif untuk menggunakan merk ‘Ace Hardware’, dan juga hak eksklusif untuk membeli produk-produk home improvement dari AHC, dimana kontak hak eksklusif tersebut baru akan selesai pada tahun 2024.


Logo Ace Hardware dengan slogannya, ‘The Helpful Place’


Dalam perkembangannya sejak membuka gerai pertama di Karawaci, Tangerang, pada tahun 1996, ACES terus berkembang pesat dan menjadi salah satu anak usaha Grup Kawan Lama yang paling sukses sejauh ini. Hingga hari ini, atau 18 tahun sejak didirikan, ACES sudah memiliki total 85 toko/gerai di seluruh Indonesia, dan masih akan terus bertambah. Pihak manajemen sendiri, terutama sejak perusahaan go public pada tahun 2007, mentargetkan akan membuka setidaknya 15 gerai anyar setiap tahunnya, thanks to meningkatnya jumlah penduduk kalangan menengah di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini.
Dan sejak tahun 2010 lalu, ACES membuka unit usaha baru, yaitu Toys Kingdom, yaitu toko yang secara khusus menjual mainan, tidak hanya mainan anak-anak tapi juga orang dewasa, hingga perlengkapan bayi. Seperti juga toko Ace Hardware-nya, di Toys Kingdom ini anda akan menemukan mainan-mainan berkualitas bagus yang tidak ada di toko lain. Sejauh ini ACES sudah memiliki 16 gerai Toys Kingdom dengan lokasi yang masih terkonsentrasi di Jakarta, yang ditargetkan akan tumbuh menjadi 21 gerai pada akhir tahun 2013. Sehingga secara keseluruhan, ACES menawarkan prospek pertumbuhan yang menarik.
Kinerja Perusahaan & Sahamnya
Penulis sudah mengamati ACES ini sejak lama, sejak harga sahamnya masih di 4,000-an (sebelum stocksplit, setara dengan 400 pada saat ini). Ketika itu penulis sampai pada kesimpulan bahwa meski kinerja perusahaannya bagus, namun harga sahamnya nggak affordable alias kelewat mahal, dengan PER ketika itu mencapai lebih dari 25 kali. Selain itu, kalau berdasarkan pengalaman penulis sendiri, penulis sangat jarang membeli sesuatu di Ace Hardware, kecuali jam dinding yang sudah diceritakan diatas, kurang lebih setahun yang lalu. Hal ini berbeda dengan toko retail biasa seperti Carrefour, Hero, Ramayana, Hypermart, hingga minimarket seperti Alfamart, dimana penulis lumayan sering belanja disitu. Jadilah ketika itu penulis berkesimpulan bahwa ACES akan mengalami kesulitan jika Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Karena memang, barang-barang yang dijual Ace Hardware rata-rata harganya kelewat mahal sih..
Namun faktanya hingga laporan keuangan terakhir perusahaan per Kuartal II 2013, kinerja ACES sejauh ini malah merupakan salah satu yang terbaik di sektor ritel, dengan ROE yang mencapai 22.3%. Sementara catatan pertumbuhannya dalam tiga tahun terakhir (sejak 2010) juga luar biasa, dengan laba bersih yang hampir berlipat dua setiap tahunnya. Kalau yang penulis perhatikan, pertumbuhan ACES yang cepat tersebut turut terdorong oleh booming properti di Indonesia dalam 3 tahun terakhir ini, dimana banyak mall-mall baru yang didirikan di Jakarta dan sekitarnya, belum termasuk mall-mall yang didirikan di daerah lainnya di Pulau Jawa, sehingga ACES jadi punya banyak tambahan tempat untuk membuka gerai baru. Intinya, jika sektor properti masih seperti sekarang ini hingga dua tiga tahun kedepan, maka ACES juga masih berpeluang untuk mencatat pertumbuhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Terakhir, ACES membuka gerai ke-85-nya di Kota Solo, Jawa Tengah, sekaligus merupakan gerai keduanya di kotanya Jokowi tersebut. Dan coba tebak? Gerai anyar tersebut bisa berdiri karena adanya mall baru di Solo, yakni Hartono Mall, yang baru beroperasi pada tahun ini. Sementara gerai milik ACES sebelumnya berlokasi di Solo Square Mall.
Tapi jika nanti pembangunan mall-mall anyar berhenti, maka bagaimana pertumbuhan ACES kedepannya? Ya tentunya masih akan tumbuh, hanya saja tidak akan sekencang sebelumnya. Namun mengingat ACES juga punya Toys Kingdom, yang sejauh ini jumlah gerainya masih sedikit, maka angka pertumbuhan yang tercatat dalam tiga tahun terakhir kemarin berpeluang untuk dipertahankan, atau bahkan tumbuh lebih tinggi lagi, jika Toys Kingdom tersebut sukses (sekarang masih dirintis). Dari pendapatan ACES sebesar Rp1.8 trilyun di Semester I 2013, Toys Kingdom baru berkontribusi sebesar Rp73 milyar saja, namun angka tersebut tumbuh signifikan (55.7%) dibanding periode yang sama tahun 2012, yang hanya Rp47 milyar.
Kesimpulannya, berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan justifikasi kenapa ACES ini mahal (PER dan PBV masing-masing 34.3 dan 7.8 kali pada harga 740), yakni:
  1. Sektornya unik, dan perusahaan berstatus sebagai market leader di sektornya tersebut. Nama dan brand perusahaan juga cukup dikenal oleh publik.
  2. Kinerjanya sangat baik untuk ukuran perusahaan ritel.
  3. Nama besar Grup Kawan Lama sebagai pengelola perusahaan. Kawan Lama sejak dulu memang sudah sangat terkenal sebagai perusahaan distributor barang-barang perkakas terbesar di Indonesia.
  4. Sementara merk ‘Ace Hardware’ sendiri merupakan merk ritel global yang cukup terkenal, hampir sama terkenalnya dibanding Walmart, The Home Depot, atau IKEA. Ace Hardware Corporation secara total memiliki 4,077 gerai diseluruh dunia per akhir tahun 2012, termasuk melalui ACES di Indonesia
  5. Perusahaannya punya peluang untuk me-maintain momentum pertumbuhannya, seiring dengan masih berkembangnya sektor properti, masih meningkatnya jumlah penduduk kalangan menengah, dan karena adanya venture baru di bidang ritel produk mainan (Toys Kingdom), dan
  6. ACES merupakan satu-satunya perusahaan ritel khusus produk-produk home improvement di BEI, sehingga anda tidak bisa invest di saham lain kalau tertarik untuk masuk ke sektor ini.
Disisi lain, berikut adalah beberapa hal yang patut pula anda pertimbangkan sebelum memutuskan untuk invest di ACES ini:
  1. Valuasi ACES biar bagaimanapun memang mahal, bahkan meski dia sudah turun lumayan dalam dari puncaknya (1,120) karena melemahnya IHSG. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan saham Mitra Adiperkasa (MAPI), yang meski perusahaannya bagus, namun sahamnya sejak awal juga memang sudah mahal (MAPI ini perusahaan ritel juga). Dan entah karena faktor valuasi tersebut atau lainnya, faktanya MAPI menjadi salah satu saham yang paling terpukul seiring terkoreksinya IHSG akhir-akhir ini, dimana MAPI sudah turun hampir 40% dari posisi puncaknya.
  2. Meski kinerja ACES sejauh ini masih bagus, namun kinerja Ace Hardware Corporation (AHC) justru terus turun sejak mengalami puncaknya pada tahun 2007 lalu. Meski itu mungkin karena perekonomian Amerika dan Eropa sedang melambat, berbeda dengan perekonomian Indonesia justru sedang bagus-bagusnya, namun tidak ada salahnya jika hal ini kemudian anda jadikan catatan.
  3. Besaran royalti yang dibayarkan ACES ke AHC selama ini terbilang sangat kecil. Jika nanti sewaktu-waktu royalti tersebut dinaikkan, maka bukan tidak mungkin saham ACES akan mengalami nasib seperti saham Unilever Indonesia (UNVR), atau Holcim Indonesia (SMCB), yang langsung jatuh begitu keluar pengumuman soal royalti tersebut. Meski disisi lain itu justru merupakan peluang untuk buy di harga murah meriah (karena faktanya UNVR dan SMCB langsung naik lagi), tapi hal itu akan jadi risiko jika anda membeli ACES di harga saat ini.
  4. Pertumbuhan gerai-gerai baru ACES nyaris sepenuhnya bergantung pada pembangunan mall-mall baru. Kalau kita perhatikan Jakarta dan sekitarnya sih, memang mall-mall baru tersebut terus bermunculan seperti jamur di musim hujan. But honestly, penulis tidak pernah tahu kapan ‘musim hujan’ tersebut akan berakhir, karena mall bukanlah jenis properti yang bisa dibangun dalam jumlah massal, seperti perumahan, apartemen, gedung perkantoran, atau kawasan industri. Adalah aneh jika dalam satu lokasi, terdapat banyak mall sekaligus.
Jadi rekomendasinya? Well, penulis sudah menyampaikan semua hal yang penulis pikir perlu anda ketahui tentang ACES ini, jadi kesimpulan rekomendasinya terserah anda saja. Kalau menurut penulis sendiri, agak terlambat kalau anda masuk di saham ini pada harga sekarang, kalau tujuannya untuk investasi. Kecuali tentu saja, jika anda bisa masuk di harga yang lebih rendah, let say 550 – 650.
PT Ace Hardware Indonesia, Tbk
Rating kinerja pada Q2 2013: AA
Rating saham pada 740: BB

NB: Buku kumpulan analisis saham berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal II 2013 sudah selesai dikerjakan. Anda bisa memperolehnya disiniAugust 12th, 2013 at 4:24 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Ebook Kuartalan edisi Kuartal II 2013

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal II 2013. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Sejak ebook edisi sebelumnya, penulis sudah bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid.
  2. Memiliki fundamental yang bagus, minimal bisa dilihat dari rasio profitabilitasnya (ROA, ROE, NPM) yang besar.
  3. Kalau bisa mencatat kenaikan laba yang signifikan, serta miliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  4. Harganya wajar, atau paling tidak belum terlalu mahal.
Ebook ini akan terbit pada hari Senin tanggal 19 Agustus 2013, dan akan berisi analisis terhadap 30 buah saham. Normalnya ebook ini terbit pada tanggal 12 Agustus, namun penulis kemungkinan tidak akan bisa menyelesaikan ebooknya pada tanggal tersebut karena dekat sekali dengan libur lebaran, jadi penulis minta waktu ekstra selama seminggu. Anda bisa memperoleh ebook-nya dengan cara preorder, keterangan selengkapnya baca disini.
Berikut adalah screenshot ebooknya, klik gambar untuk memperbesar:

Bagi anda yang belum pernah membaca ebook ini sebelumnya, penulis menyediakan sampelnya yakni Ebook Kuartalan Edisi Kuartal I 2011, yang terbit pada Mei 2011 lalu. Anda bisa mendownloadnya disini, gratis! Jika anda tidak bisa mendownloadnya, maka kirim email dengan subjek ‘Sampel Ebook Kuartalan’, ke teguh.idx@gmail.com, dan penulis akan mengirim ebook-nya ke alamat email anda. Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.

We highly appreciate your opinion. Jadi kalau anda punya saran agar produk analisis ini menjadi lebih baik kedepannya, atau punya suggest saham tertentu yang menurut anda bagus, maka anda bisa kirim email yang berisi saran/list saham pilihan anda tersebut ke alamat email teguh.idx@gmail.com, dengan subjek saran. Jangan lupa sertakan nama lengkap anda, thanks!

Update: Berikut ini adalah daftar sementara dari saham-saham yang akan dibahas di Ebook Kuartalan edisi kali ini. Catat bahwa daftar ini masih bisa berubah lagi hingga ebooknya nanti terbit.

TLKM BSDE AISA
UNVR KIJA MITI
PGAS SSIA EKAD
BBRI APLN MTDL
BTPN CTRP GEMA
BJBR BKSL ISSP
BJTM NRCA KIAS
AGRO CASS MBSS
BBKP MAIN ASGR
MFIN WIIM GLOB

Info lebih lanjut tentang Ebook ini: Telp/SMS 081220445202 (Ms. Nury, my assistant), atau Pin BB 2850E045 (Ms. Nury)

Penulis membuat ‘kalkulator intrinsik’ yang diharapkan bisa membantu anda untuk menghitung valuasi harga saham, apakah masih murah atau sudah mahal. Anda bisa memperolehnya secara gratis

Adi Sarana Armada

Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di perkotaan, katakanlah seperti di Jakarta, ada dua hal yang sudah dianggap sebagai kebutuhan primer. Yang pertama tentunya rumah (atau apartemen), dan yang kedua adalah kendaraan bermotor, entah itu mobil ataupun sepeda motor. Dan itu sebabnya, rata-rata warga Jakarta memiliki keduanya (rumah dan mobil, atau minimal motor). Dari sisi manfaat, maka kedua barang tersebut memiliki kegunaan yang sama besarnya, dimana rumah adalah tempat untuk tidur, mandi, dan nyuci piring, sementara mobil adalah alat transportasi untuk bolak balik rumah dan kantor, termasuk untuk mengajak keluarga menghabiskan akhir pekan di Taman Buah Mekarsari.

Itu dari sisi manfaat. Sementara dari sisi investasi, maka rumah adalah investasi yang baik, namun tidak demikian halnya dengan mobil. Alasannya adalah karena seperti yang pasti anda sudah hafal, harga rumah dalam jangka panjang biasanya naik terus, sementara harga mobil justru turun.
Bagi masyarakat kebanyakan, turunnya harga mobil dalam jangka panjang biasanya tidak jadi masalah, karena toh yang mereka cari adalah manfaatnya. Namun bagi perusahaan, pembelian aset berupa mobil dan kendaraan bermotor lainnya untuk kegiatan operasional terkadang bisa menjadi masalah, dimana penurunan/penyusutan nilai mobil tersebut bisa menyebabkan penurunan aset perusahaan secara keseluruhan, mengingat harga mobil tidaklah murah (beda dengan harga komputer, misalnya). Padahal yang namanya perusahaan, mereka harus terus bertumbuh setiap tahun, yang salah satunya bisa dilihat dari pertumbuhan asetnya.
Karena itulah, kalau di negara-negara maju, pada saat ini sudah banyak perusahaan yang lebih memilih untuk menyewa mobil ketimbang membelinya. Kalau di Indonesia, trend penyewaan mobil oleh perusahaan ini belum begitu populer. Namun khusus untuk industri telekomunikasi, sejak beberapa tahun ini sudah berkembang bisnis penyewaan menara telekomunikasi, dengan dua pemain utamanya yakni Sarana Menara Nusantara (TOWR), dan Tower Bersama Infrastructure (TBIG). Dengan adanya bisnis penyewaan menara telekomunikasi ini, maka kedua belah pihak, yakni perusahaan telekomunikasi (Telkom dll) dan perusahaan pemilik menara, sama-sama diuntungkan, dimana Telkom gak perlu keluar duit buat bangun menara baru, sementara perusahaan pemilik menara bisa memperoleh untung ganda karena adanya dua atau tiga penyewa yang menggunakan menara yang sama.
Namun, perusahaan yang menyediakan jasa penyewaan menara telekomunikasi tentunya hanya dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Sementara perusahaan penyewaan mobil? Well, mengingat bahwa sepertinya hampir semua perusahaan di Indonesia membutuhkan mobil untuk operasionalnya, mulai dari mobil pick up, minibus, truk, mobil travel, hingga bus besar, maka peluang pasarnya otomatis menjadi sangat luas.
Dan mungkin hal inilah yang ditangkap oleh Grup Triputra, yang sejak tahun 2003 lalu masuk ke bisnis penyewaan kendaraan untuk pelanggan institusi/korporat melalui salah satu anak perusahaannya, Adira Rent, yang di tahun 2010 berubah nama menjadi Adi Sarana Armada (ASSA). ASSA ini kemudian menggelar IPO pada November 2012 kemarin, dan sejauh ini merupakan satu dari hanya dua perusahaan penyewaan mobil yang sahamnya terdaftar di BEI (satunya lagi Cipaganti/CPGT). Seperti halnya CPGT yang tidak melulu memperoleh pendapatannya dari bisnis sewa kendaraan, ASSA juga memiliki bisnis jual beli kendaraan bekas, dan jasa pengangkutan barang. Pada Semester I 2013, bisnis jual beli kendaraan bekas menyumbang 23% pendapatan ASSA, sedangkan jasa pengangkutan barang 13%, sehingga kalau dijumlah menjadi 36%, alias cukup signifikan.
Logo PT Adi Sarana Armada, Tbk
Nah, meski diatas disebutkan bahwa industri penyewaan mobil untuk pelanggan korporat belum menjadi trend di Indonesia, sehingga prospek pertumbuhan pasarnya masih terbuka lebar, namun pemain di industri ini sejatinya sudah sangat banyak. Meski demikian, ASSA memiliki keunggulan dibanding perusahaan-perusahaan lainnya yang sejenis (termasuk CPGT), berkat posisinya yang sudah cukup mapan sebagai perusahaan terbesar kedua di Indonesia di bidang penyewaan mobil, dibelakang PT Serasi Auto Raya, atau yang lebih dikenal dengan nama TRAC. Jumlah armada kendaraan milik ASSA sendiri telah meningkat dengan pesat dari hanya 800 unit di tahun 2003, menjadi lebih dari 11,000 unit pada saat ini (dan masih akan bertambah lagi). Pertumbuhan ASSA yang cepat tersebut kemungkinan karena pemilik Grup Triputra, yakni Theodore Permadi Rachmat (TPR), memang merupakan pengusaha spesialis industri kendaraan bermotor. TPR merupakan direktur utama PT Astra International (ASII) selama 18 tahun, yakni dari tahun 1984 hingga 2002, dan juga merupakan kerabat dari pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya. TRAC sendiri, yang notabene menjadi pesaing utama ASSA, merupakan anak usaha dari ASII, sehingga boleh dibilang bahwa penguasa industri otomotif di Indonesia merupakan orang-orang yang itu-itu saja.
Cara Kerja Perusahaan
Meski perusahaannya tergolong mapan, namun pada laporan keuangan terakhirnya untuk periode semester I 2013, ASSA mencatat total kewajiban Rp1.2 trilyun, yang menjadikannya mencatat DER 1.6 kali, karena total ekuitasnya hanya Rp776 milyar, itupun setelah mendapat Rp500 milyar lebih dari IPO-nya. Point pentingnya disini adalah, dari kewajibannya sebesar Rp1.2 trilyun tersebut, lebih dari Rp1 trilyun diantaranya merupakan utang bank jangka panjang. Kemungkinan, sampai kapanpun ASSA tidak akan pernah bisa mengurangi utang banknya tersebut, karena untuk membeli mobil dari dealer, perusahaan selalu membutuhkan utang dari bank tersebut. Jadi sistem kerjanya begini:
  1. Pertama, ASSA membeli mobil dari dealer, menggunakan dana yang dipinjam dari bank. Kenapa harus pake pinjaman bank? Karena kalau pake duit sendiri, dapet mobilnya cuma sedikit. ASSA juga harus membayar asuransi dalam jumlah yang lumayan untuk manajemen risiko (sama seperti kalau anda beli mobil).
  2. Mobil tersebut kemudian disewakan, atau digunakan sebagai kendaraan untuk mengangkut barang, sehingga perusahaan memperoleh pendapatan. Pendapatan tersebut kemudian akan langsung dikurangi beban penyusutan, bunga pinjaman, dan asuransi, belum termasuk beban-beban umum lainnya. Alhasil, margin keuntungan ASSA menjadi sangat kecil. Dalam lima tahun terakhir, ASSA rata-rata hanya mampu mencatat net profit margin (laba bersih dibandingkan pendapatan), sebesar 1 atau 2% saja, termasuk mencatat laba bersih minus alias rugi pada tahun 2007 dan 2009. Pada Semester I 2013 ini, margin tersebut membaik menjadi 8.7%, namun belum ada jaminan bahwa itu akan berlanjut di masa-masa yang akan datang.
  3. Setelah periode waktu tertentu, mobil-mobil yang sudah berumur akan dikirim ke showroom untuk dijual sebagai mobil bekas, sehingga perusahaan memperoleh pendapatan lagi. Menariknya, bisnis jual beli mobil bekas ini ternyata malah lebih menguntungkan ketimbang bisnis sewa mobil. Pada Semester I 2013, ASSA meraup laba bersih Rp20 milyar dari jual beli mobil bekas, atau sedikit lebih tinggi dibanding laba dari sewa mobil sebesar Rp19 milyar. Padahal, pendapatan ASSA dari sewa mobil mencapai Rp330 milyar, atau jauh lebih besar dibanding pendapatan dari jual beli mobil bekas sebesar Rp113 milyar. In fact, margin laba bersih ASSA yang sebesar 8.7% tadi adalah karena tertolong oleh bisnis jual beli mobil bekas, sementara margin dari bisnis sewa mobilnya tetap sangat kecil.
  4. Setelah mobil lama dijual, perusahaan beli mobil baru lagi menggunakan pinjaman bank, dan prosesnya balik lagi dari nomor 1 diatas.
Kesimpulannya, meski prospek bisnisnya mungkin menarik mengingat belum semua perusahaan di Indonesia meng-outsourcing-kan mobil untuk operasionalnya, seperti yang saat ini sudah menjadi trend di negara maju, namun bisnis sewa mobil ini praktis cukup berisiko. Ketika terjadi suku bunga naik, maka bunga pinjaman akan naik, dan beban perusahaan untuk membayar bunga pinjaman bank akan meningkat. Skenario terburuknya adalah beban bunga tersebut cukup besar hingga menggerus laba hingga habis bahkan minus, dan mungkin itu sebabnya ASSA sempat mengalami kerugian di masa lalu. Masalahnya adalah, sampai kapanpun ASSA kemungkinan akan tetap memiliki utang bank dalam jumlah besar di neracanya, mengingat itu tadi: Perusahaan nggak mungkin belanja mobil pake duit sendiri, atau cuma bisa dapet sedikit. Termasuk TRAC sendiri, perusahaan penyewaan mobil yang lebih mapan dengan ukuran aset tiga kali lebih besar dari ASSA, namun utang banknya tetep aja segunung.
Risiko lainnya adalah terkait beban penyusutan mobil yang nilanya bisa jadi lebih besar dari pendapatan, terutama jika perusahaan tidak mampu mengutilisasi armadanya secara maksimal (banyak mobilnya yang nganggur karena gak ada penyewa, padahal penyusutan tadi jalan terus). Plus, beban premi asuransi juga bisa naik sewaktu-waktu jika Indonesia berada dalam kondisi sosial/ekonomi/politik yang kurang kondusif. Alhasil, dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa bisnis penyewaan mobil merupakan bisnis dengan margin yang kecil, dan berisiko tinggi pula. Well, doesn’t sounds too good, right?
Mungkin itu pula sebabnya, sepanjang semester pertama tahun 2013 ini ASSA menggenjot bisnis jual beli mobil bekas, yang ternyata lebih menguntungkan ketimbang bisnis sewa mobil. Nilai pendapatan ASSA dari bisnis jual beli mobil bekas pada semester I 2013 meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2012. Kalau kata seorang temen penulis sendiri yang kebetulan punya usaha showroom mobil, bisnis jual beli mobil bekas memang lebih hot ketimbang jual beli mobil baru, ataupun sewa mobil. Alasannya adalah karena sebuah mobil bekas yang sama bisa berpindah-pindah tangan beberapa kali dengan harga jual yang tidak terlalu jauh berbeda. Sementara ketika mobil baru dijual kembali oleh pemiliknya sebagai mobil bekas, maka biasanya harganya langsung jatuh. Sementara bisnis sewa kendaraan? Masalahnya ya itu tadi: Kalau lagi masa-masa sulit dimana jumlah penyewanya nggak banyak, maka pendapatan perusahaan jadi seret, tapi penyusutan jalan terus. Padahal disisi lain kita dituntut untuk memperbaharui armada setiap beberapa waktu sekali (jual mobil lama, lalu beli lagi yang baru, bukan yang bekas), karena konsumen tentunya lebih seneng menyewa Kijang Innova yang masih gress, ketimbang menyewa Kijang Kapsul, apalagi Kijang doyok.
Terkait Sahamnya
Pada Semester I 2013 barusan, ASSA melaporkan kenaikan laba bersih hingga lebih dari 300%, dan mungkin hal ini menarik minat banyak investor untuk membelinya, termasuk karena sahamnya sendiri sudah turun banyak setelah sebelumnya stabil di rentang 475 – 500. Pada harganya saat ini yaitu 305, ASSA hanya mencetak PER 11.7 kali, dan PBV 1.3 kali, tampak sangat murah untuk perusahaan yang baru saja mencetak kenaikan laba bersih hingga empat kali lipat. Secara teknikal, ASSA juga tampak sudah rebound setelah sebelumnya menyentuh posisi terendahnya di 260. Dan jika nanti dia berhasil tembus 315, maka saham ini berpeluang untuk melanjutkan kenaikannya, sehingga pada saat ini ASSA cukup cocok untuk trading.
Namun jika untuk invest, well, I prefer other stocks. Diatas dikatakan bahwa menyewa kendaraan sudah merupakan trend bagi perusahaan-perusahaan di negara maju, tapi yang perlu digaris bawahi disini adalah kata ‘maju’-nya. Bisnis sewa mobil mungkin bisa sukses di negara seperti Amerika, Inggris, hingga Kanada, karena disana suku bunga kredit bank tergolong rendah, dan harga mobilnya juga rendah karena pajaknya nggak semahal disini. Sementara di Indonesia, yang terjadi adalah kebalikannya, dimana bunga bank masih mahal, dan harga mobil baru juga mahal. Karena, suka atau tidak, kita disini masih merupakan negara berkembang.
Meski demikian, terlepas dari prospek jangka panjangnya yang masih abu-abu, jika nanti di periode laporan keuangan berikutnya ASSA kembali mencatat lompatan laba, entah itu karena perusahaan kembali memperbesar porsi pendapatannya dari bisnis jual beli mobil bekas, atau karena bisnis sewa mobil mulai mencatat margin yang bagus karena perusahaan berhasil memaksimalkan armada anyarnya hasil belanja pake duit hasil IPO-nya dulu (per tanggal 15 Juli 2013, ASSA sudah menghabiskan dana hasil IPO-nya sebesar Rp511 milyar, terutama untuk menambah armada), maka barulah saham ini bisa anda lirik. Sementara kalau berdasarkan laporan keuangannya yang sudah dirilis untuk periode Kuartal II 2013 (atau Semester I 2013) barusan, maka ASSA belum cukup menarik. Karena, ROE ASSA yang sebesar 11.1% tentu saja tidak cukup atraktif bagi saham yang memiliki risiko bisnis yang cukup tinggi.
PT Adi Sarana Armada, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2013: BBB
Rating Saham pada 305: A
NB: Penulis membuat buku kumpulan analisis saham berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal II 2013. Anda bisa memperolehnya [...]

Kalkulator untuk Menghitung Nilai Intrinsik

Beberapa waktu lalu penulis menyajikan artikel tentang cara menghitung nilai intrinsik saham. Dan tak lama kemudian, penulis menerima banyak usulan dari teman-teman agar penulis membuatkan semacam alat atau kalkulator agar para investor bisa menghitung nilai intrinsik tersebut secara praktis. Karena itulah, penulis kemudian membuat ‘kalkulator’ dalam bentuk Microsoft Excel, dimana dengan kalkulator ini anda tinggal memasukkan angka-angka yang diperlukan, kemudian nanti hasilnya (nilai intrinsiknya) akan keluar dengan sendirinya.

Anda bisa mendownload kalkulator tersebut disini, gratis! Jangan lupa untuk menghilangkan tanda centang pada kotak ‘download with ziddu accelerator’, kalau nggak nanti anda download-nya file .exe. Jika anda tidak bisa mendownloadnya, maka anda bisa mengirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘kalkulator intrinsik’, dan penulis akan mengirim kalkulatornya ke alamat email anda (file-nya kecil, cuma 20 KB). Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.
Dan karena kalkulator ini bersifat free, maka anda juga diperbolehkan meng-sharing-nya kepada teman-teman anda sesama investor. Berikut screenshot/tampilan kalkulatornya, klik gambar untuk memperbesar.

Btw, berikut adalah beberapa hal yang perlu dicatat sebelum anda menggunakan kalkulator diatas:
  1. Ingat bahwa tidak semua saham bisa dihitung nilai intrinsiknya. Malah, dari sekitar 400-an saham di BEI, hanya sebagian kecil diantaranya yang memenuhi syarat agar nilai intrinsiknya bisa dihitung. Untuk mengetahui syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi sebuah saham agar nilai intrinsiknya bisa dihitung, baca lagi artikel tentang nilai intrinsik disini.
  2. Nilai intrinsik merupakan angka yang subjektif, dimana hasil perhitungannya bisa berbeda-beda tergantung asumsi-asumsi yang digunakan. Karena itulah, ketika anda menggunakan kalkulator ini dan memperoleh hasil bahwa nilai intrinsik saham A adalah 1,000, misalnya, maka bukan berarti nilai intrinsik saham A tersebut sudah pasti 1,000 juga, melainkan bisa lebih tinggi atau lebih rendah. Sehingga dalam hal ini, maka seperti biasa, disclaimer is on.
  3. Gunakan data-data dari laporan keuangan tahun penuh, bukan laporan keuangan kuartalan. Ketika artikel ini ditulis, laporan tahun penuh yang terakhir adalah yang untuk tahun 2012.
  4. Jika laporan keuangan perusahaan dalam mata uang US Dollar, maka angkanya bisa dikonversi dulu ke Rupiah dengan cara dikali kurs (Rp10,200 per US$).
Sementara cara menggunakan kalkulatornya bisa anda baca di kalkulator itu sendiri. Penulis berupaya mendesain kalkulator ini se-user friendly mungkin. Namun bila anda menemui kesulitan, maka anda bisa bertanya kepada teman anda sesama investor/trader, yang mungkin lebih mengerti.
Berikut ini adalah contoh penggunaan kalkulatornya, dalam hal ini untuk menghitung saham Bank BRI (BBRI). Sebelumnya, kita cek dulu apakah BBRI ini memenuhi syarat untuk bisa dihitung nilai intrinsiknya:
  1. Punya kinerja konsisten, setidaknya dalam lima tahun terakhir? Ya. Dalam kurun waktu 2008 – 2012, BBRI selalu mencatat kenaikan ekuitas dan juga laba bersih, dan tidak pernah mencatat laba minus alias rugi (Catat bahwa untuk saham-saham yang lain, terkadang laba perusahaannya mengalami naik turun dalam lima tahun terakhir. Tapi selama perusahaan tersebut tidak sampai mencatat kerugian, maka dia juga boleh dibilang memenuhi syarat pertama ini, meski tentu, anda sebaiknya memilih saham yang kinerja/labanya naik terus tanpa pernah turun).
  2. Memiliki Return on Equity (ROE) yang besar, dalam hal ini 10% atau lebih? Ya. Terakhir pada tahun 2012, ROE BBRI tercatat 38.7%. Pada tahun-tahun sebelumnya, ROE BBRI juga rata-rata segitu.
  3. Utangnya kecil, atau dalam hal ini struktur permodalannya kuat? Ya. Pada tahun 2012 BBRI mencatat CAR (capital adequacy ratio) sebesar 17.0%, jauh diatas batas minimum CAR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia/BI sebesar 11%, yang itu berarti jumlah modal BBRI masih cukup tinggi dibanding jumlah utang/kewajibannya.
Dengan demikian, BBRI memenuhi syarat.
Sekarang kita masukkan angka-angkanya. Pada kolom equity, masukkan angka ekuitas/modal bersih BBRI per akhir tahun 2012, yakni Rp64,882 milyar (jangan lupa, angkanya harus dalam milyar Rupiah, sehingga angka yang dimasukkan ke kalkulatornya adalah 64,882). Di kolom shares volume, masukkan angka jumlah saham BBRI (modal ditempatkan dan disetor penuh), yakni 24,669 juta lembar (angkanya harus dalam jutaan lembar). Di kolom EPS, masukkan EPS BBRI, yakni 779.
Kemudian kita hitung CAGR (compounded annual growth rate), interest rate, dan MOS (margin of safety). Pada kolom laba awal (2008), masukkan angka laba bersih BBRI di tahun 2008, yakni Rp5,958 milyar (angkanya jangan lupa harus dimasukkan dalam milyar Rupiah, jadi yang anda ketik di kalkulatornya adalah 5,958). Sedangkan pada kolom laba akhir (2012), masukkan angka laba bersih BBRI di tahun 2012, yakni 18,687.
Lalu pada kolom BI Rate, masukkan angka BI Rate yang terakhir, misalnya 6.50. Dan pada kolom current price (untuk menghitung MOS), masukkan angka posisi terakhir saham BBRI, katakanlah 8,150.
Dengan demikian semua kolom sudah terisi, dan kolom nilai intrinsik serta MOS-nya akan sudah terisi secara otomatis, dimana kita akan memperoleh nilai intrinsik BBRI adalah 28,426, dan MOS-nya adalah 248.8%. Silahkan dicek.
However, jika anda perhatikan cara perhitungan di kalkulatornya, nilai intrinsik BBRI bisa menjadi sangat besar begitu karena growth rate-nya sangat tinggi, yakni mencapai 33.1% per tahun (berdasarkan CAGR-nya dalam lima tahun terakhir) berturut-turut selama sepuluh tahun kedepan, dan itu adalah angka yang sangat optimis. Warren Buffett sendiri dalam menghitung nilai intrinsik saham menyarankan agar kita bersikap realistis, dimana meskipun sebuah perusahaan mencatat kinerja dan pertumbuhan yang luar biasa di masa lalu, namun untuk kedepannya kita jangan mengasumsikan begitu saja bahwa perusahaan tersebut akan kembali mencatat prestasi yang sama. Bagi Buffett, growth 15 – 20% per tahun sudah cukup baik.
Karena itulah, jika kita menganggap bahwa growth rate yang konservatif bagi BBRI ini adalah 15%, atau maksimal 20% per tahun, maka nilai intrinsik yang dihasilkan juga akan menjadi lebih realistis. Sekarang kita coba, silahkan anda masukkan angka 15 atau 20 di kolom CAGR (angka laba awal dan laba akhirnya bisa dikosongkan dulu). Hasilnya nilai intrinsik BBRI akan menjadi masing-masing 11,747 dan 14,793, sementara MOS-nya akan menjadi masing-masing 44.1 dan 81.5%. Dengan demikian, kita bisa bisa katakan bahwa nilai intrinsik BBRI berdasarkan asumsi konservatif, adalah somewhere between 11,747 and 14,793.
Lalu bagaimana kalau CAGR perusahaan dalam lima tahun terakhir kurang dari 15%? Ya gak papa, berarti growth rate-nya bisa pakai angka CAGR tersebut (gak usah dikurangi lagi).
Demikian, untuk saham-saham lainnya bisa anda coba sendiri. Semoga bermanfaat!
July 30th, 2013 at 4:14 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Prospek AISA Pasca Masuknya KKR

Tanggal 22 Juli kemarin, Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) melaporkan bahwa pada dua hari sebelumnya yaitu yanggal 20 Juli, beberapa main shareholder setuju untuk menjual sahamnya ke Kohlberg Kravis Roberts (KKR), salah satu perusahaan private equity terbesar di dunia, sebanyak 9.5% dari total jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Nilainya? Tidak disebutkan, namun ada yang bilang US$ 40 juta. Bagi AISA, masuknya KKR akan membantu perusahaan untuk berkembang lebih maju lagi, dimana KKR akan menempatkan satu orang perwakilannya di dewan komisaris perusahaan. Sementara bagi KKR, akuisisi ini adalah langkah kecil mereka untuk masuk ke industri consumer goods di Indonesia.

Seperti yang sudah dibahas di artikel minggu kemarin, jika menilik cara bisnis perusahaan private equity (PE) seperti KKR ini, maka tidak heran jika mereka memilih masuk ke AISA dalam rangka menjajal bisnis consumer goods di Indonesia, dan bukannya masuk ke Unilever Indonesia (UNVR) atau Mayora (MYOR). Karena, sebuah PE akan selalu lebih tertarik untuk masuk pada perusahaan start-up (perusahaan yang baru dirintis, dengan pengalaman kurang dari 5 tahun) yang mengandung risiko tinggi, namun sekaligus menawarkan pertumbuhan luar biasa (jika bisnisnya sukses), ketimbang masuk ke perusahaan yang sudah mapan dan ‘aman’. Yup, jika dibandingkan dengan banyak perusahaan consumer lainnya di Indonesia, AISA memang tergolong masih baru. Kalau melirik sejarah awalnya sebagai perusahaan produsen bihun jagung, maka AISA sudah berpengalaman sejak penghujung tahun 1950-an. Tapi kalau kita melihat kiprah perusahaan di industri makanan yang terintegrasi (bihun jagung, mie kering, makanan ringan/snack, minyak goreng, hingga beras), maka AISA baru merintisnya sejak tahun 2008, termasuk AISA juga baru masuk ke bisnis perdagangan beras pada tahun 2010 kemarin.
Namun fakta menariknya ada dua. Satu, sejauh ini AISA merupakan satu-satunya perusahaan di BEI yang bermain di bisnis beras, sehingga saham ini terbilang limited edition, alias anda nggak bisa beli saham lain kalau anda tertarik dengan bisnis beras ini. Dan dua, AISA juga tidak main-main dengan bisnis barunya tersebut, dimana perusahaan merencanakan untuk memiliki setidaknya delapan belas pabrik penggilingan beras di sentra-sentra padi di Indonesia pada tahun 2016, dari hanya dua pabrik pada tahun 2012 lalu. Dari sisi brand development, AISA juga banyak meluncurkan merk beras baru, termasuk memperkuat merk beras ‘Ayam Jago’ sebagai flagship product perusahaan. Kalau yang penulis perhatikan sendiri, beras ayam jago ini sudah banyak beredar di warung-warung kelontong rumahan di Jakarta, dan iklannya juga sudah cukup sering nongol di televisi.
Sedangkan untuk bisnis makanan ringannya, perusahaan juga banyak melakukan ekspansi dengan cara yang sama, yaitu meluncurkan banyak merk-merk baru untuk produk mie kering, bihun, dan snack-nya, diluar meningkatkan distribusi untuk merk-merk snack yang sudah ada seperti snack Taro, dan permen Gulas.

Snack ‘Taro’, salah satu merk snack andalan PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk

Dan ngomong-ngomong, persis setahun yang lalu, penulis sudah pernah membahas AISA ini (ini link artikelnya), dimana ketika itu kesimpulannya adalah bahwa kita masih harus menunggu kalau mau invest di perusahaan ini, karena ketika itu AISA ini benar-benar masih start-up banget, alias belum ada track recordnya. Sekarang ini, setelah lewat setahun, bagaimana perkembangannya? Well, so far so good! Setahun lalu, AISA membajak seorang eksekutif Orang Tua Grup yang bernama Jo Tjong Seng, untuk dijadikan direktur branding dan marketing perusahaan. Dan hasilnya? Kalau yang bisa penulis lihat sendiri, produk-produk snack AISA sekarang sudah mulai banyak variasinya, dan cukup sukses bersaing dengan pemain lama seperti Garuda Food dan Siantar Top, dimana itu bisa dilihat dari banyaknya produk snack AISA di toko-toko kelontong rumahan di Jakarta, Bandung, dan Cirebon.
Sementara dari sisi kinerja keuangan, AISA mencatat laba bersih Rp75 milyar pada Q1 2013, tumbuh 39.3% dibanding periode sebelumnya. Honestly, ini belum bisa dijadikan justifikasi bahwa AISA telah tumbuh dengan cepat dalam setahun terakhir, melainkan masih tumbuh dengan biasa-biasa saja. Namun dengan PBV yang dibawah 2 kali pada harga 1,310, maka valuasinya pun belum begitu mahal, terutama jika dibandingkan dengan consumer goods lainnya yang lebih mapan. Jadi jika nanti AISA bisa kembali mencetak laba yang lebih tinggi, dan perusahaan memang cukup berpeluang untuk mencapai hal tersebut, maka dengan sendirinya sahamnya akan naik signifikan dan tidak akan turun lagi.
So, pertanyaannya sekarang, jika AISA ini ‘cukup berpeluang untuk mencapai hal tersebut’, maka seberapa besar peluangnya?
Jika hal ini ditanyakan kepada KKR, maka mereka sudah menjawabnya dalam rilisnya: ‘Indonesia berpeluang untuk masuk ke dalam daftar sepuluh negara dengan ukuran perekonomian/GDP terbesar di dunia pada tahun 2030, dan sektor consumer-nya bisa menjadi terbesar ketiga di dunia pada tahun 2050. Ini adalah peluang yang atraktif. Sementara terkait AISA-nya sendiri, kami memandang bahwa ini adalah perusahaan yang bagus dengan ambisi untuk tumbuh. Dan kami senang untuk bermitra dengan tim manajemen yang kompeten untuk membantu mendorong pertumbuhan tersebut.’
Simpelnya, KKR memandang bahwa AISA: 1. Beroperasi di Indonesia, negara dengan potensi pertumbuhan yang menarik, 2. Bermain di sektor yang menawarkan pertumbuhan paling tinggi, yaitu consumer goods, 3. Perusahaannya cukup bagus, minimal punya ambisi untuk tumbuh menjadi besar, dan 4. Manajemennya juga bagus. Dengan kriteria yang tampaknya cukup lengkap, maka seberapa besar peluang AISA untuk menjadi perusahaan consumer goods yang mapan suatu saat nanti? Well, berapapun itu, yang jelas peluang tersebut tidaklah kecil, setidaknya menurut KKR.
Secara khusus, KKR sendiri melalui salah seorang eksekutifnya, Henry McVey, memaparkan analisis terkait mengapa Indonesia menarik untuk investasi, melalui artikel yang dipublikasikan di halaman muka website perusahaan, www.kkr.com. Intinya, McVey menganggap bahwa Indonesia, dilihat dari perkembangan makronya, menawarkan prospek investasi yang menarik, setidaknya hingga 5 – 7 tahun kedepan, dengan sektor pendorongnya apalagi kalau bukan consumer goods.
However, kalau melihat fakta bahwa investasi KKR di Indonesia masih sangat sedikit, dalam hal ini melalui AISA (US$ 40 juta tentu kecil sekali dibanding dana kelolaan KKR yang hampir mencapai US$ 80 milyar), maka mungkin KKR juga masih sekedar testing aja dulu, dan belum berani guyur terlalu banyak. Sebelumnya dikabarkan bahwa investasi KKR di perusahaan consumer goods di India tidak begitu sukses, dimana GDP growth di India ternyata tidak kencang seperti sebelumnya, melainkan justru melambat, sama seperti halnya Tiongkok belakangan ini.
Okay, lalu Mas Teguh, bagaimana dengan pendapat anda sendiri tentang AISA ini? Well, kalau bagi penulis sendiri, investasi di consumer goods merupakan investasi tradisional yang menawarkan keuntungan stabil dalam jangka panjang dengan risiko yang terbatas. Masalah terbesarnya adalah, di market anda akan kesulitan menemukan saham consumer bagus dengan harga yang wajar, karena rata-rata mereka udah selangit semua harganya (UNVR gak usah ditanya lagi deh). Penulis menjadi tertarik dengan AISA ini karena sahamnya relatif masih murah, paling tidak jika dibanding saham consumer goods lainnya, meski memang kinerja perusahaannya belum sebaik MYOR, apalagi UNVR. Perusahaannya pun masih tergolong ‘kemarin sore’, yang masih harus strugglingdengan utang yang berjibun untuk menjaga momentum pertumbuhannya. Berdasarkan informasi terakhir yang dirilis perusahaan, AISA berencana untuk menerbitkan obligasi Rp1 trilyun untuk refinancing utang-utang jangka panjangnya.
Meski demikian, sejauh ini (sejak 2010) AISA sudah cukup mampu mencatat pertumbuhan yang stabil, sehingga dengan demikian kita sudah boleh sedikit berasumsi bahwa pertumbuhan tersebut akan berlanjut di tahun-tahun yang akan datang, terlebih setelah adanya campur tangan KKR dalam tim manajemen. Dan jika asumsi tersebut kemudian menjadi kenyataan, maka dengan sendirinya nilai perusahaan akan meningkat signifikan dalam jangka panjang, demikian pula sahamnya akan naik terus.
Kesimpulannya, jika anda masuk ke AISA, maka anda adalah seperti KKR tadi: Lebih suka masuk ke perusahaan start up, memiliki risiko yang relatif tinggi (salah satu risiko AISA terkait dengan utangnya yang cukup besar), namun disisi lain menawarkan potensi pertumbuhan yang tinggi pula. Sekedar catatan, cara berinvestasi tersebut berkebalikan dengan policy-nya Berkshire Hathaway, yaitu: Hanya membeli perusahaan yang mapan, memiliki risiko rendah, dan menawarkan potensi pertumbuhan yang stabil (yang penting stabil aja, gak usah terlalu tinggi).
Namun faktanya adalah, jika Berkshire merupakan salah satu perusahaan investasi terbesar dan tersukses di dunia, maka demikian pula hal-nya dengan KKR. Tapi disisi lain, jangan lupakan juga fakta bahwa hanya karena Berkshire dan KKR ini perusahaan investasi super-besar, bukan berarti mereka tidak bisa melakukan kesalahan investasi, seperti yang dilaporkan kemarin di India. So, wanna join the [...]

Nusa Raya Cipta

Awal bulan Ramadhan kemarin penulis pulang kampung ke Cirebon, dan disana penulis sempat melihat kegiatan perataan tanah di jalur yang akan dijadikan jalan tol Cikampek – Palimanan atau Cipali (Palimanan adalah nama salah satu kecamatan di Cirebon). Dan ketika itulah, penulis langsung ingat dengan saham Nusa Raya Cipta (NRCA) ini, karena NRCA memang merupakan perusahaan konstruksi yang menjadi kontraktor utama proyek jalan tol sepanjang 116 kilometer tersebut (yang itu berarti jalan tol Cipali akan memiliki panjang dua kali lipat jalan tol Cipularang).

Meski tidak ada pengumuman apapun sebelumnya, konstruksi jalan tol Cipali ternyata sudah dimulai sejak tanggal 1 Februari 2013 kemarin, dimana NRCA sebagai salah satu konstruktor-nya (konstruktor lainnya PT Karabha Gryamandiri) sudah mulai mengerjakan land clearing dan pembentukan badan jalan. Proyek ini dijadwalkan akan selesai dalam 30 bulan berikutnya. Artinya? Kecuali terdapat kejadian luar biasa yang menyebabkan konstruksi jalan tol Cipali tidak bisa dilanjutkan, maka NRCA sudah mengamankan satu sumber pendapatannya hingga tahun 2015. Nilai kontrak untuk jalan tol Cipali ini mencapai Rp7.7 trilyun untuk masa kerja selama dua setengah tahun.
Logo PT Nusa Raya Cipta, Tbk
Diluar jalan tol Cipali, beberapa proyek yang sudah dipegang NRCA adalah pembangunan superblok Ciputra World II di Jakarta (milik Ciputra Property/CTRP, dan apartemen Parahyangan Residence di Bandung. Kedua proyek tersebut juga sudah mulai dikerjakan, dimana biaya dan modal kerjanya diambil dari dana IPO-nya kemarin, sebesar Rp260 milyar. Satu lagi proyek yang sudah dipegang perusahaan, meski pembiayaannya bukan mengambil dari dana hasil IPO, adalah pembangunan satu menara perkantoran di Sudirman, tentunya diluar proyek-proyek lain yang lebih kecil.
Namun kalau hanya melihat kepemilikan kontrak-kontrak konstruksinya, maka perusahaan konstruksi yang lain juga rata-rata sudah punya segudang kontrak untuk jangka panjang. Jadi apa istimewanya NRCA ini? Well, seperti juga induknya yaitu Surya Semesta Internusa (SSIA), NRCA memiliki komposisi neraca yang sehat, dengan jumlah interest bearing debt yang sedikit, serta nilai ekuitas yang hampir sepenuhnya berasal dari akumulasi saldo labanya. Return on Equity-nya? 34.3% pada akhir tahun 2012, dan angka itu bahkan lebih besar dari ROE-nya Total Bangun Persada (TOTL) untuk periode waktu yang sama.
Dan karena NRCA tergolong merupakan perusahaan konstruksi kecil dengan aset hanya sekitar Rp1.1 trilyun setelah IPO, maka prospek pertumbuhannya praktis lebih terbuka ketimbang perusahaan-perusahaan konstruksi lainnya seperti ADHI, WIKA, atau WSKT, yang rata-rata sudah berukuran lumayan besar. Mungkin itu pula yang menyebabkan Saratoga masuk ke NRCA ini dengan membeli 7% sahamnya di harga IPO senilai Rp105 milyar, karena ciri khas perusahaan private equity adalah mereka selalu masuk ke perusahaan start-up yang masih kecil, memiliki risiko tinggi, tapi juga memiliki potensi growth yang besar. Risiko NRCA terletak di nama dan reputasi perusahaannya yang belum banyak dikenal publik, termasuk perusahaannya sendiri belum memiliki banyak pengalaman di bidang konstruksi infrastruktur seperti jalan tol, dimana 90% pendapatan NRCA sejak tahun 2009 berasal dari konstruksi gedung dan bangunan, dan hanya 10% yang berasal dari konstruksi infrastruktur. Disisi lain jika NRCA sukses dengan jalan tol Cipali-nya, maka itu bisa menjadi batu loncatan bagi perusahaan untuk menjadi perusahaan konstruksi raksasa, dan itu sebabnya NRCA ini boleh dikatakan memiliki potensi growth yang besar tadi. Potensi tersebut juga didukung oleh posisi perusahaan sebagai anak usaha dari SSIA, yang juga bergerak di bidang properti dan kawasan industri, sehingga NRCA bisa bersinergi dengan anak-anak usaha SSIA lainnya untuk memaksimalkan pendapatan.
Sementara Saratoga sendiri bisa memperoleh jatah besar dalam IPO NRCA, kemungkinan karena perusahaan investasi milik selebriti-preneur Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya ini masih memiliki relasi dengan SSIA sebagai induk dari NRCA, dimana salah seorang pemilik SSIA adalah Theodore P. Rachmat, sepupu dari Edwin. In fact, Edwin sendiri merupakan pemilik lainnya dari SSIA.
Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
Sayangnya, seperti juga perusahaan-perusahaan lain milik Keluarga Soeryadjaya, NRCA dilepas di pasar pada harga yang lumayan mahal. Pasca IPO, modal bersih NRCA akan menjadi minimal Rp528 milyar, so let say modal NRCA saat ini adalah Rp600 milyar. Jadi dengan harganya saat ini yaitu 1,040, maka saham NRCA akan mencetak PBV 4.3 kali (perusahaan konstruksi nggak bisa di-valuasi menggunakan PER, karena pendapatannya biasanya menumpuk di Kuartal IV). Apakah angka tersebut belum terlalu mahal mengingat saham konstruksi lainnya juga mencatat PBV 4 – 6 kali? Maybe, namun NRCA juga tidak bisa dikatakan murah, sehingga kalau bicara jangka pendek, maka perusahaan tidak memiliki alasan untuk naik signifikan, kecuali mungkin kalau Saratoga iseng. Maksud penulis, itu TBIG emang kurang mahal apa coba??? Tapi toh dia naik terus.
Tapi bagaimana kalau untuk jangka panjang? Dengan catatan bahwa NRCA mampu memaksimalkan proyek-proyeknya termasuk jalan tol Cipali untuk mencetak kenaikan laba secara signifikan, yang itu berarti kenaikan ekuitasnya (karena NRCA tidak akan membagikan dividen, kecuali maksimal 20% dari perolehan laba), maka NRCA tentu berpotensi untuk naik hingga setidaknya posisi 1,400 – 1,500. Kalau melihat track record kinerjanya dalam 5 tahun terakhir sih, seharusnya NRCA bisa melakukan itu.
Terus, pada Kuartal I (Q1) 2013 kemarin SSIA mencatat penurunan laba bersih dari Rp229 menjadi 209 milyar, alias turun 9.1%, dan sepertinya itu menjadi penyebab sahamnya agak loyo belakangan ini. Lalu apakah NRCA juga akan mengalami penurunan laba juga di laporan keuangannya untuk periode Q1 atau Q2 2013 nanti? Nggak. Laba SSIA bisa turun karena laba kotor dari penjualan lahan kawasan industrinya turun dari Rp240 menjadi 211 milyar, sementara laba dari bisnis konstruksi masih naik dari Rp44 menjadi 69 milyar. But let just wait the statement for sure.
Jadi, rekomendasinya? Well, kalau penulis sendiri mungkin baru akan mempertimbangkan NRCA ini kalau harganya cocok, yang itu berarti dibawah seribuan. Kalau nggak dapet? Ya mending ambil saham lain aja dulu. Tapi kalau anda cukup yakin dengan prospek jangka panjang dari saham ini, maka tentu boleh mulai menyicil dari [...]

Seminar Bandung, 28 Juli 2013

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar edukasi saham di Bandung, kali ini akan membahas lebih dalam soal nilai intrinsik saham. Seminar ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 28 Juli 2013. Berikut keterangan selengkapnya:

Btw, berikut ini adalah beberapa foto dari seminar sebelumnya yang diselenggarakan di Surabaya, klik untuk memperbesar.
Dan berikut ini adalah kisi-kisi materi untuk seminar kali ini.
A. Nilai intrinsik saham. Warren Buffett pernah mengatakan bahwa salah satu kriterianya dalam memilih saham/perusahaan untuk dibeli/diakuisisi adalah adanya harga yang jelas, dan dia tidak tertarik untuk ikut lelang. Maksudnya adalah, Buffett hanya mau membeli saham yang harganya wajar, atau kalau bisa undervalue, yaitu lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Nah, bagi investor kebanyakan, terkadang kesulitannya adalah terkait bagaimana cara untuk menentukan nilai intrinsik/harga wajar saham tersebut. Karena itulah, di seminar kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara menghitung nilai intrinsik, bagaimana cara menyeleksi saham yang bisa dihitung nilai intrinsiknya, hingga faktor-faktor eksternal yang juga harus diperhatikan. Plus, penulis juga akan meng-share beberapa saham yang menurut penulis memiliki nilai intrinsik yang menarik.
B. Setelah saya mengetahui harga wajar sebuah saham adalah sekian, selanjutnya apa? Yap, pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat ketika kita mengetahui bahwa nilai intrinsik dari saham A adalah sekian, dan harganya pada saat ini ternyata lebih rendah dari nilai intrinsiknya tersebut, maka itu bukan berarti saham A tersebut akan langsung naik keesokan harinya. Menghitung valuasi intrinsik saham adalah salah satu metode dasar dalam berinvestasi jangka panjang, sehingga di sesi ini kita akan membahas mengenai tips-tips dan cara-cara untuk berinvestasi jangka panjang. Karena, bagi anda yang seorang trader sekalipun, penulis tetap menyarankan untuk menyisihkan setidaknya sepertiga dari portofolio anda untuk investasi.
C. Tanya jawab bebas dan sharing pengalaman investasi. Di sesi terakhir acaranya, kita juga akan diskusi tanya jawab soal apa saja tentang investasi saham (gak harus terkait materi yang dibahas diatas, asalkan masih dalam lingkup investasi saham), termasuk sharing pengalaman selama berinvestasi di saham, baik dari penulis sendiri maupun dari anda sebagai peserta seminarnya.
Okay, berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Brick & Wood Cafe, Jln. Cihampelas No. 96 (dekat jalan layang Pasoepati), Bandung.
  • Hari/Tanggal: Minggu, 28 Juli 2013
  • Waktu: Sore Pukul 16.00 s/d 20.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Softcopy materi seminar,  makan malam pukul 18.00, plus ta’jil bagi anda yang berbuka puasa.
Sekedar catatan, harap hadir setengah jam sebelum acara dimulai, yang itu berarti pukul 15.30. Bagi anda yang tinggalnya jauh, bisa berangkat lebih awal karena jalan Cihampelas sering macet kalo sore. Penulis sendiri akan sudah berada di lokasi pada pukul 15.00 WIB.
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp300,000 per orang, sudah termasuk biaya makan malam-nya. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Gareth Frank Bale, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan.
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!

Info acara: Telp/SMS 081220445202 (Ms. Nury), dan Pin BB 2850E045 (Ms. Nury)

Update: Oke, pas banget satu hari sebelum acaranya, tempatnya sudah penuh :) See you next time!

Strategi Investasi Buffett – When He was Young

Warren Buffett, seperti yang mungkin sudah anda ketahui, memulai kegiatan pengelolaan dana-nya (partnership) pada tahun 1956, ketika ia berusia 26 tahun. Sejak saat itu ia rutin menulis surat kepada para partnernya minimal setahun sekali, mengenai kegiatan investasi yang sudah dan akan ia lakukan, serta tentunya pandangannya terhadap perkembangan market. ‘Letter to Partners’ inilah yang kemudian menjadi cikal bakal ‘Buffett’s Annual Letter’ yang terkenal itu, yaitu surat yang ditulis Buffett setahun sekali kepada para pemegang saham Berkshire Hathaway, dimana letter yang terakhir adalah letter untuk tahun 2012, ditulis sendiri oleh Buffett pada tanggal 1 Maret 2013.

Nah, jika kita membaca Buffett’s Annual Letter yang terakhir, maka Buffett sama sekali tidak membicarakan soal ‘uang receh’ disana, melainkan selalu billion, billion, dan billion US Dollar, atau minimal hundreds of million US Dollar, mulai dari nilai perusahaan yang diakuisisi, nilai market saham, pendapatan dari tiap-tiap anak usaha Berkshire, hingga jumlah dana yang disiapkan untuk memburu perusahaan baru. Contohnya, berikut ini adalah isi dari paragraf pertama dari Buffet’s Annual Letter tahun 2012.

In 2012, Berkshire achieved a total gain for its shareholders of $24.1 billion. We used $1.3 billion of that to repurchase our stock, which left us with an increase in net worth of $22.8 billion for the year.

Sekedar catatan, ingat bahwa kalau pake kurs saat ini, 1 milyar US Dollar itu setara dengan lebih dari Rp10 trilyun, yang itu berarti Buffett membicarakan jumlah uang yang sangat buesssaaarrr di annual letter-nya. Nilai pasar dari portofolio Berkshire sendiri, pada akhir tahun 2012 tercatat US$ 87.7 milyar, atau setara Rp880 trilyun. Geez, bisakah anda bayangkan seberapa banyak uang tersebut?

Namun, ketika Buffett memulai partnershipnya untuk pertama kali, 57 tahun yang lalu, ia sama sekali tidak pernah menyebut angka ‘One Billion Dollar’ di Letternya. Wajar, karena dana kelolaan awal Buffett ketika itu hanya sekitar US$ 100 ribu. Namun bukan itu yang akan kita bahas disini, melainkan: Bagaimana strategi awal Buffett dalam mengelola fund-nya? Saham-saham apa saja yang ia beli ketika itu, dan apa alasannya?

Okay, kita mulai dari letter yang ditulis Buffett pada tahun 1958. Di letter tersebut, Buffett menyebutkan bahwa ia tertarik, atau mungkin ia sudah membeli, saham Commonwealth Trust Co. of Union City, sebuah perusahaan jasa keuangan di New Jersey, Amerika Serikat. Berikut adalah catatan Buffett terkait saham tersebut:

  1. Nilai intrinsiknya, setelah dihitung menggunakan asumsi-asumsi yang paling konservatif, mencapai US$ 125 per saham, padahal harga sahamnya cuma US$ 50. Dengan demikian, margin of safety-nya (MOS) sangat besar.
  2. Earning per share-nya (EPS) US$ 10, artinya PER-nya (pada harga US$ 50) adalah 5 kali.
  3. Manajemen bersikap friendly terhadap pemegang saham, dan risiko bisnisnya tampak rendah.
  4. Perusahaannya tipe defensif, tanpa utang yang berlebihan.
  5. Track record pertumbuhan perusahaan yang stabil dan memuaskan (maksudnya persentase pertumbuhannya cukup besar setiap tahunnya, namun tidak disebutkan berapa persen).
  6. Perusahaan akan melakukan aksi korporasi merger untuk meningkatkan ukuran aset perusahaan, yang itu berarti nilai perusahaan akan meningkat. Sehingga target harganya, entah itu akan dicapai setahun atau sepuluh tahun kedepan, adalah US$ 250.
  7. Selama setahun terakhir, saya (Buffett) sudah membeli saham ini dengan cara menyicil, dengan average buy US$ 51.
  8. Sayangnya, beberapa investor lain turut tertarik dengan saham ini, sehingga harganya belakangan mulai naik ke level US$ 65. Jadi untuk sementara ini saya nggak bisa membelinya lebih banyak lagi.
  9. Saya tidak tertarik dengan diversifikasi. Selain saham ini, saya juga menemukan saham lain dengan nilai intrinsik US$ 135, sementara harganya di market cuma US$ 80. Namun saya memutuskan untuk fokus pada saham Commonwealth, karena MOS yang ditawarkan lebih besar (US$ 125 berbanding US$ 50).
  10. Meski demikian, bukan berarti seluruh dana yang dimiliki akan dialokasikan pada saham Commonwealth ini, melainkan saya juga membeli saham-saham lain, hanya dengan porsi yang lebih kecil.
Kemudian pada letter tahun 1960, Buffett kembali menjelaskan tentang saham incaran berikutnya, yaitu Sanborn Map Co., perusahaan penyedia layanan peta yang sangat detail untuk seluruh wilayah Amerika Serikat, dimana peta tersebut secara rutin diperbaharui setiap beberapa waktu sekali. Berikut adalah catatan Buffett terkait Sanborn tersebut.

  1. Saya membeli Sanborn dalam jumlah besar, bahkan lebih besar dari biasanya, yaitu mencapai 35% dari seluruh nilai portofolio. Penyebabnya adalah karena saya mengetahui secara detil bagaimana perusahaan ini beroperasi dan memperoleh pendapatan (di letternya, Buffett secara gamblang menjelaskan tentang Sanborn tersebut, lebih gamblang ketimbang ketika ia menjelaskan tentang Commonwealth).
  2. Sanborn, hingga saat ini sudah beroperasi selama 75 tahun, dengan model bisnis yang nyaris monopoli, dengan kinerja jangka panjang yang hampir sama sekali tidak pernah terganggu oleh krisis dan resesi.
  3. Selain berbisnis peta, Sanborn juga merupakan perusahaan investasi dengan track record investasi yang bagus. Sepanjang tahun 1938 – 1958, nilai portofolio Sanborn tumbuh dari US$ 20 menjadi US$ 65 per saham.
  4. Perusahaan memiliki pendapatan ekstra yang bagus dari investasinya, tidak memiliki masalah dalam keuangannya, memiliki konsumen setia yang puas dengan layanan peta yang disajikan perusahaan, dan perusahaan rutin  membayar dividen ke pemegang saham.
  5. Saya mengenal baik keempat belas direktur di Sanborn, dan saya juga kini menjadi salah satu direktur disitu.
Logo Sanborn Map Company, courtesy of Annyas.com


Terakhir, pada letter tahun 1961, saham Buffett berikutnya adalah Dempster Mill Manufacturing Company. Berikut penjelasan Buffett terkait saham tersebut.


  1. Saya mulai membeli saham ini lima tahun lalu, dan sejak saat itu saya terus membelinya setiap kali harganya cocok, hingga saat ini saya resmi memegang 70% saham Dempster, plus 10% lagi dipegang oleh beberapa associates, sehingga Buffett Partnership menjadi pemegang saham mayoritas.
  2. Perusahaan ini sejatinya punya manajemen yang buruk dalam satu dan dua tahun terakhir, dengan jenis usaha yang juga tidak mudah (industri pengelolaan lahan pertanian dan water treatment). Namun, harga sahamnya sangat menarik. Setelah akumulasi dalam lima tahun terakhir, kami memperoleh average buy US$ 28, padahal book value Dempster mencapai US$ 75 per saham. Jika nanti kinerja perusahaan pulih kembali, maka dengan sendirinya harga sahamnya akan terapresiasi kembali. Tapi jika tidak pun, maka harganya pada saat ini tetap saja murah.
Nah, dengan demikian maka berikut ini adalah beberapa strategi Buffett yang bisa disimpulkan dari kebijakan pemilihan sahamnya diatas. Pertama, Buffett tidak pernah asal beli saham. Sepanjang lima tahun dari 1956 hingga 1961, tercatat hanya ada tiga saham yang ia beli dalam jumlah besar (meski tentunya, diluar saham-saham lain yang dibeli dalam jumlah sedikit). Hal ini menunjukkan bahwa, jika kita hendak berinvestasi serius (investasi jangka panjang), maka jangan kompromi dalam hal kualitas ‘barang’, melainkan carilah saham yang benar-benar memiliki fundamental yang bagus. Juga, nggak apa-apa meski dapetnya cuma dua atau tiga saham saja gara-gara kita terlalu ketat soal kualitas fundamental tersebut, karena menurut Buffett, diversifikasiitu tidak begitu penting. Jangan pernah, sekali lagi jangan pernah, membeli saham yang berfundamental buruk.

Kedua, Buffett sangat menaruh perhatian pada valuasi saham, dimana dia hanya akan mau membeli saham yang undervalue. Pada saham Commonwealth, Buffett menemukan saham ini memiliki kinerja yang stabil dalam jangka panjang, sehingga dia bisa dihitung nilai intrinsiknya, dan ternyata harga sahamnya yaitu US$ 50, masih jauh lebih rendah ketimbang nilai intrinsiknya di level US$ 125. Sementara untuk saham Dempster, meski kinerjanya cenderung tidak stabil, namun valuasinya yang benar-benar terdiskon, yaitu harga saham US$ 28 berbanding book value-nya (book value, bukan nilai intrinsik) sebesar US$ 75, menyebabkan saham ini tetap menarik untuk diambil.

Ketiga, biasakan untuk membeli saham secara menyicil, dengan target untuk menjadi pemilik perusahaannya, kalau perlu pemilik mayoritas, dimana Buffett tidak hanya memperhatikan soal harga, tapi juga jumlah saham yang bisa dibeli, dimana semakin banyak semakin baik. Ketika Buffett membeli saham Commonwealth, dana kelolaannya masih kecil sehingga ia tidak bisa turut menjadi pemegang saham yang prominentdi perusahaan tersebut. Namun ketika ia membeli Sanborn, Buffett bisa menjadi salah satu direkturnya, dan ketika ia membeli Dempster, Buffett malah mengakuisisinya, hampir secara penuh (total 80%).

Keempat… Hmm.. untuk poin keempat, kelima, dan seterusnya, penulis kira bisa anda simpulkan sendiri deh, dengan cara membaca poin-poin alasan Buffett dalam membeli ketiga sahamnya diatas, baik itu Commonwealth, Sanborn, maupun Dempster. Yang jelas, ingat bahwa ketika ia memulai partnershipnya, Buffett hanya memegang dana kelolaan yang sama sekali nggak besar, alias nggak lebih besar dari investor retail kebanyakan, namun toh ketika itu prinsip-prinsip investasinya sudah seperti layaknya investor kawakan yang memegang dana milyaran Dollar. Maksud penulis disini, anda nggak perlu berkecil hati jika anda hanyalah investor retail dengan jumlah dana yang kecil, karena selama anda berinvestasi dengan baik dan benar, maka lambat laun anda akan menjadi besar juga, meski patut diingat pula bahwa ‘lambat laun’ itu seringkali tidaklah sebentar. Salah satu kalimat Buffett yang menarik terkait akuisisinya terhadap Dempster adalah, ‘many of our operations are not exactly of the overnight variety’. Atau dengan kata lain, Buffett menyampaikan kepada para partnernya bahwa jika mereka mempercayakan dana kepadanya, maka jangan harap bisa memperoleh keuntungan dalam semalam, melainkan mungkin harus menunggu selama bertahun-tahun, namun toh hasil yang diperoleh akan setimpal dengan waktu yang dihabiskan untuk menunggu tersebut.

Okay, sekarang kita balik lagi ke masa kini, ketika Buffett sudah menjadi seorang billionaire. Hampir dua tahun lalu, tepatnya November 2011, Berkshire Hathaway mengumumkan telah dan akan terus membeli saham IBM, sebuah perusahaan komputer, hingga totalnya Berkshire memegang 6% saham IBM. Pemilihan saham ini mengundang pertanyaan sekaligus kritik dari banyak orang, terutama karena Buffett sendiri pernah mengatakan bahwa ia akan menghindari saham-saham berbasis teknologi. Faktanya, nilai investasi Buffett di saham IBM ini naik turun seiring dengan fluktuasi harga sahamnya di pasar, dan hingga akhir tahun 2012, nilai pasar dari 6% saham IBM yang dipegang Berkshire tercatat US$ 13.0 milyar, hanya naik sedikit dibanding nilai pembeliannya sebesar US$ 11.7 milyar. Tapi apakah Buffett kemudian menjadi gelisah karenanya? Sama sekali tidak, karena yang ada dalam kepalanya adalah bahwa IBM ini akan naik hingga berkali-kali lipat dalam satu atau dua dekade dari sekarang ini, sama seperti investasi-investasi lainnya yang telah sukses lebih dahulu.

Well, penulis sendiri jujur saja nggak atau belum bisa membayangkan memegang saham sampai ‘satu atau dua dekade’ kedepan seperti itu, karena pengalaman penulis sendiri di market belum ada setengah dekade. Tapi kalau untuk memegang saham selama dua atau tiga tahun, maka itu masih kebayang. Bagaimana dengan anda? Anda yang investor senior mohon sharing pengalamannya, please?

NB: Mohon maaf saya telat posting artikel untuk minggu ini, kemarin agak sibuk karena banyak acara keluarga di kampung halaman di Cirebon.July 17th, 2013 at 1:41 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Mengenal MP3EI: Seperti Apa Indonesia di Tahun 2025?

Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, hingga selesainya perang revolusi pada awal tahun 1950-an, negara muda nan kaya sumber daya alam ini belum memiliki blue print rencana pembangunan ekonominya sendiri, sehingga perkembangan ekonomi di Indonesia pada saat itu boleh dibilang tanpa arah dan tidak terkendali. Pemerintah Indonesia baru memiliki rencana pembangunan ekonomi untuk pertama kalinya pada tahun 1969, yaitu pada zaman Pak Harto, dengan diluncurkannya Repelita I, alias rencana pembangunan lima tahun, ketika itu dengan fokus pembangunan di bidang infrastruktur pertanian.

Seiring dengan masih berkuasanya pak Harto, Repelita I ini kemudian dilanjutkan dengan Repelita II pada tahun 1974, dengan fokus pembangunan diluar Jawa, Bali, dan Madura, melalui program transmigrasi. Dan demikian seterusnya, Repelita tersebut diperbaharui setiap lima tahun sekali dengan fokus pembangunannya masing-masing, hingga yang terakhir adalah Repelita VI, yaitu Repelita untuk periode tahun 1994 – 1999. Sayang, pelaksanaan dari Repelita terakhir di era Orde Baru ini tidak pernah selesai seluruhnya, karena di tahun 1997 – 1998 Indonesia dilanda krisis moneter, termasuk Pak Harto sendiri turun dari jabatannya sebagai presiden. Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia yang baru belum memiliki rencana pembangunan lagi, kecuali yang sifatnya hanya protokoler (seperti APBN, RPJM).
Namun semuanya berubah di tahun 2008, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, beserta tokoh-tokoh nasional lainnya, mulai mencetuskan ide tentang rencana pembangunan ekonomi jangka panjang Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yaitu sebuah rencana pembangunan dengan visi bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor sepuluh di dunia pada tahun 2025, dengan pendapatan perkapita yang mencapai US$ 15,000, dari saat ini yang hanya US$ 3,000. Caranya? Dengan meningkatkan pembangunan infrastruktur, pembentukan regulasi yang memudahkan investasi, pemberian insentif bagi para pelaku kegiatan ekonomi, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait untuk tiap-tiap jenis industri.  Secara umum, upaya-upaya tersebut dikenal dengan istilah debottlenecking, yaitu upaya untuk ‘memecah leher botol’ agar pembangunan di Indonesia bisa mengalir dengan lancar dan tidak lagi terhambat oleh birokrasi tetek bengek, dan semacamnya.

Peta Koridor Ekonomi Indonesia, klik untuk memperbesar

Kemudian, setelah melalui serangkaian penyempurnaan, draft MP3EI akhirnya rampung pada April 2011. Isinya? Secara umum menyebutkan fokus pembangunan terhadap delapan sektor ekonomi, yakni pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, telematika, dan pengembangan kawasan strategis. Sementara alokasi pembangunan itu sendiri dikelompokkan kedalam enam zona, atau dalam hal ini disebut ‘koridor’, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, dan Papua dan Kepulauan Maluku. Berikut detailnya.
1. Sumatera
Untuk koridor Sumatera, Pemerintah memiliki visi untuk menjadikan kawasan ini sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi, dalam hal ini sawit dan karet, serta lumbung energi nasional, dalam hal ini batubara. Beberapa infrastruktur yang akan dibangun guna mewujudkan visi tersebut adalah:
  1. Jalur kereta api yang menghubungkan Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, hingga Bandar Lampung. Jalur kereta api ini sangat penting untuk transportasi batubara.
  2. Kawasan Strategis Nasional Selat Sunda, termasuk didalamnya Jembatan Selat Sunda.
  3. Jalan raya Trans – Sumatera yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung.
  4. Pelabuhan Internasional Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
  5. Kawasan Perdagangan Bebas Batam.
  6. Jalur Pelayaran Domestik yang menghubungkan Banda Aceh, Kuala Tanjung, Dumai, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, hingga ke Jakarta.
  7. Kawasan-kawasan industri (industrial park), dalam hal ini industri pengolahan CPO menjadi oleochemical dan produk hilir lainnya, di sentra-sentra perkebunan kelapa sawit.
Guna mendukung transportasi laut, di koridor Sumatera ini juga akan dibangun galangan kapal, terutama di kawasan sekitar Selat Malaka, dan Selat Sunda. Sementara untuk memenuhi kebutuhan besi dan baja untuk pembangunan rel kereta api dan berbagai jenis infrastruktur lainnya, maka Pemerintah juga akan membangun fasilitas pabrik besi dan baja, dengan memulainya dari sentra besi dan baja yang sudah ada, yakni di Cilegon, Banten (Krakatau Steel), kemudian menyusul di Kawasan Strategis Nasional Selat Sunda di Provinsi Lampung. Selesai dengan pembangunan di koridor Sumatera ini, selanjutnya akan juga dibangun minimal satu pabrik besi dan baja di tiap-tiap pulau besar di Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan besi dan baja untuk pembangunan infrastruktur di tiap-tiap pulau tersebut. Terkait industri besi dan baja ini, maka targetnya adalah meningkatkan konsumsi baja Indonesia menjadi 100 kilogram per kapita di tahun 2025, dari saat ini yang hanya 35 kilogram per kapita.
2. Jawa
Pulau Jawa sebagai pulau dengan ketersediaan infrastruktur yang paling baik di Indonesia pada saat ini, akan dijadikan sebagai kawasan pengembangan industri dan jasa. Beberapa industri yang akan dikembangkan adalah industri makanan dan minuman, tekstil, kendaraan bermotor, perkapalan, telekomunikasi dan internet, hingga peralatan militer (termasuk industri dirgantara). Berikut adalah infrastruktur yang akan dibangun/dioptimalkan:
  1. Pelabuhan Internasional Tanjung Priok, Jakarta, dan Pelabuhan Internasional Tanjung Perak, Surabaya. Tanjung Priok akan dijadikan ‘pintu gerbang’ koridor Jawa dengan Sumatera Bagian Barat, Batam, dan Pontianak, sementara Tanjung Perak akan mengubungkan koridor Jawa dengan Balikpapan, Samarinda, Sulawesi, dan Indonesia Timur.
  2. Jalur jalan raya, jalan tol, hingga kereta api yang akan menghubungkan Kota Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.
  3. Kawasan-kawasan industri, terutama di Cilegon, Cikarang (Bekasi, Jawa Barat), Bandung, dan Surabaya.
  4. Sentra industri mesin dan kendaraan bermotor di Bogor dan Bekasi.
  5. Sentra industri makanan di Semarang dan Surabaya.
  6. Sentra industri tekstil dan kedirgantaraan di Bandung.
Di koridor Jawa ini, terdapat satu wilayah khusus yakni wilayah Jabodetabek, dimana wilayah ini mengendalikan sekitar 60% arus ekspor impor di seluruh Indonesia, serta mengendalikan sekitar 85% industri jasa dan keuangan nasional (termasuk BEI juga kan adanya disini, di Jakarta). Karenanya, di wilayah ini akan dibangun berbagai infrastruktur khusus seperti bandara, pelabuhan, rel kereta dan lainnya. Well, mungkin bukan dibangun ya, tapi mengembangkan infrastruktur yang sudah ada, seperti kapasitas Bandara Internasional Soekarno – Hatta, yang kemarin baru saja ditingkatkan dengan selesainya pembangunan Terminal 3.
3. Kalimantan
Seperti koridor Sumatera, Kalimantan juga akan dijadikan sebagai lumbung energi nasional, dalam hal ini batubara, minyak dan gas (migas), serta sentra produksi dan pengolahan bijih besi, dan bauksit/alumina. Selain itu, Kalimantan juga akan dijadikan sentra perkebunan kelapa sawit dan industri perkayuan. Namun berbeda dengan Sumatera yang perkebunan kelapa sawitnya sangat luas, yang lebih menonjol di Kalimantan adalah industri batubara, plus jangan lupa migas. Berikut infrastruktur yang akan dibangun.
  1. Jalan raya Trans – Kalimantan yang menghubungkan Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, dan Samarinda.
  2. Pelabuhan di Pontianak, Banjarmasin, dan Balikpapan.
  3. Jalur Kereta Api yang menghubungkan Samarinda dan Banjarmasin.
  4. Sentra Industri Besi dan Baja di Banjarmasin.
  5. Pusat kegiatan industri & tambang migas di Samarinda.
  6. Sentra industri bauksit/alumina, dan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat.
  7. Sentra industri perkayuan di Kalimantan Tengah
  8. Sentra batubara di Banjarmasin dan Balikpapan.
Hal yang paling dicermati terkait koridor Kalimantan ini adalah adanya trend penurunan produksi migas, yang sepertinya belum dapat diatasi karena kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber migas baru membutuhkan biaya besar dan waktu yang sangat lama, sehingga perlu adanya pengembangan sektor ekonomi lain agar pertumbuhan ekonomi Kalimantan tetap terjaga. Dan sektor ekonomi tersebut adalah batubara, dimana sejauh ini industri tambang batubara di Kalimantan sudah berjalan cukup baik, tinggal pengelolaan hasil tambangnya yang masih perlu dikembangkan, agar para produsen batubara tidak melulu mengekspor hasil tambangnya keluar negeri, melainkan mengelolanya terlebih dahulu menjadi produk bernilai tambah, seperti pembangkit listrik, bahan bakar, gas, atau kokas.
Sektor lainnya yang juga akan mendapat perhatian adalah bauksit. Indonesia, mungkin anda belum banyak yang tahu, merupakan produsen bauksit terbesar keempat di dunia, dengan pusatnya di Kalimantan Barat. Bauksit adalah bahan baku pembuatan logam alumunium. Sejauh ini produksi bauksit di Indonesia 100% langsung diekspor, dan kedepannya akan dibangun smelter di Mempawah, Ketapang, dan Sanggau (semuanya di Kalimantan Barat), untuk mengolah bauksit ini menjadi alumina (yang nantinya bisa diolah lagi menjadi alumunium), kemudian baru diekspor. Nilai jual alumina ini adalah sepuluh kali lipat dibanding nilai jual bauksit mentah, sehingga seharusnya investasi di sektor ini akan sangat menarik.
4. Sulawesi
Sulawesi sejak dulu dikenal sebagai pusat produksi bijih nikel, bahkan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan karena itulah, melalui MP3EI ini, Pemerintah akan menjadikan koridor Sulawesi sebagai sentra industri nikel dan olahannya (feronikel). Selain itu, di Sulawesi juga akan dikembangkan industri tanaman padi, jagung, kedelai, ubi kayu, hingga kakao, selain juga industri perikanan, dan tentunya migas. Berikut daftar infrastrukturnya.
  1. Dua pelabuhan internasional, yaitu di Bitung dan Makassar.
  2. Dua kawasan industri di Palu dan Makassar.
  3. Empat sentra perikanan di Manado, Mamuju, Makassar, dan Kendari.
  4. Jalan raya Trans – Sulawesi yang menghubungkan Manado, Gorontalo, Palu, Mamuju, Makassar, dan Kendari
  5. Sentra perkebunan kakao, terutama di Palu
  6. Sentra perkebunan padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu, di Gorontalo dan Sulawesi Selatan
  7. Kompleks industri gas alam (LNG), di Sulawesi Tengah
Meski Sulawesi memiliki berbagai jenis sektor ekonomi yang berpotensi untuk dikembangkan, namun tetap saja fokus pembangunannya adalah di industri nikel, dengan alokasi investasi yang mencapai Rp100 trilyun, dari rencana investasi sebesar Rp240 trilyun untuk koridor Sulawesi secara keseluruhan. Indonesia, dengan Sulawesi sebagai pusatnya, merupakan produsen bijih nikel terbesar keempat di dunia. Beberapa kota yang dikenal merupakan lumbung nikel di Sulawesi adalah Sorowako, Morowali, Pomalaa, dan Konawe. Sayangnya, seperti juga jenis barang tambang lainnya, Sulawesi belum memiliki fasilitas pengolahan bijih nikel yang memadai, sehingga sebagian besar produksi bijih nikel langsung diekspor keluar negeri. Jadi kedepannya pembangunan di sektor ini akan difokuskan pada pendirian smelter-smelter untuk mengolah bijih nikel menjadi feronikel atau matte, sebelum kemudian baru diekspor. Jika nantinya smelter-smelter tersebut beroperasi, maka koridor Sulawesi berpotensi memperoleh tambahan pendapatan hingga lebih dari US$ 200 juta per tahun, hasil dari selisih nilai jual antara bijih nikel dan feronikel.
5. Bali & Nusa Tenggara
Bicara soal Bali, maka tidak lain dan tidak bukan, kita akan bicara soal industri pariwisata. Sementara untuk Nusa Tenggara, baik Timur maupun Barat, potensi perekonomian yang bisa dikembangkan adalah perikanan dan peternakan, meski tentunya dalam skala investasi yang jauh lebih kecil ketimbang industri pariwisata di Bali (dan tentunya Lombok). Berikut infrastruktur untuk koridor ini.
  1. Sentra pariwisata di Denpasar, Lombok, dan Sumbawa
  2. Sentra perikanan di Kupang, dan Nagekeo
  3. Sentra peternakan sapi dan hewan ternak lainnya, di Sumbawa, Nagekeo, dan Flores Timur
  4. Pelabuhan di Lombok
Salah satu poin utama dalam pengembangan pariwisata di koridor Bali adalah dengan menjadikan Bali sebagai pintu gerbang bagi wisatawan untuk berwisata ke daerah pariwisata lainnya di sekitar Bali, seperti ke Surabaya, Yogyakarta (candi Borobudur dan lainnya), Malang (Gunung Bromo, kawasan wisata Batu), Mataram (Gunung Rinjani), hingga Bima dan Pulau Komodo. Caranya? Dengan menyediakan akses dan membuka rute penerbangan dari Bandara Ngurah Rai ke destinasi-destinasi wisata tersebut. Di koridor Bali ini juga akan dikembangkan jenis wisata bahari yaitu wisata kapal pesiar dan kapal yacht (wah, asyik neh!). Karena, berbeda dengan destinasi wisata terkenal lainnya di seluruh dunia, seperti Phuket, Florida, hingga Southampton, jumlah layanan wisata kapal pesiar di Bali masih sangat sedikit, padahal peminatnya cukup banyak.
6. Papua & Kepulauan Maluku
Koridor nomor enam ini, khususnya Pulau Papua, menawarkan tembaga sebagai sumber daya alam yang jumlahnya paling melimpah (sebenarnya emas juga, namun emas Papua sudah dipegang oleh Freeport), selain juga nikel dan migas dalam jumlah yang lebih sedikit. Pusat tembaga terbesar di Papua adalah di Kota Timika, sehingga di kota ini pula akan dibangun kawasan industri berbasis tembaga. Berikut daftar infrastruktur selengkapnya
  1. Sentra tambang tembaga dan kawasan industri, di Timika
  2. Sentra pertanian tanaman pangan (food estate), plus kawasan industri di Merauke.
  3. Sentra tambang migas di Sorong, dan Teluk Bintuni
  4. Sentra kegiatan perikanan di Ambon dan Halmahera Utara
  5. Jalur Trans – Papua yang menghubungkan Sorong, Timika, Jayapura, dan Merauke
  6. Pelabuhan di Ambon, Manokwari, dan Jayapura
  7. Sentra tambang nikel di Halmahera 
Terkait tembaga, Papua menghasilkan sekitar 45% dari seluruh produksi tembaga nasional. Berbeda dengan nikel, Indonesia sudah bisa mengolah tembaga menjadi produk setengah jadi, yaitu copper catoda, sehingga tidak harus mengekspornya dalam bentuk bijih tembaga mentah, namun satu-satunya smelter tembaga yang dimiliki Indonesia hanya ada di Gresik, Jawa Timur. Jadi kedepannya, beberapa smelter tembaga akan dibangun di Maros (Sulawesi Selatan), Bontang (Kalimantan Timur), dan Timika.
Selain tembaga, potensi yang sedang dikembangkan di koridor ini adalah food estate di Merauke, dengan nama proyeknya yaitu MIFEE, kependekan dari Merauke Integrated Food & Energy Estate, seluas tak kurang dari 1.2 juta hektar. Jika pembangunannya berjalan lancar, maka di masa depan Merauke akan menjadi sentra pangan Indonesia, dengan komoditas utamanya yakni padi, jagung, kedelai, gandum, tebu, dan sawit, dan belum termasuk peternakan ayam, sapi, kambing, dan kelinci. Khusus untuk tebu, Merauke juga berpotensi menjadi pusat produksi gula di Indonesia, mengingat jumlah lahan yang disiapkan untuk kebon tebu di MIFEE mencapai 500 ribu hektar, paling besar diantara tanaman lainnya.
Nilai Investasi
Berdasarkan revisi MP3EI terakhir pada tahun 2011, hingga tahun 2025 nanti Indonesia akan menginvestasikan tidak kurang dari Rp3,941 trilyun, untuk berbagai pembangunan di enam koridor yang sudah dibahas diatas. Dana tersebut terutama berasal dari pihak swasta, disusul BUMN, dan Pemerintah melalui APBN. Berikut detail alokasi investasinya, angka dalam trilyunan Rupiah. Catat bahwa S = Sumatera, J = Jawa, K = Kalimantan, SW = Sulawesi, BNT = Bali & Nusa Tenggara, dan PM = Papua & Maluku.
Koridor
S
J
K
SW
BNT
PM
Total
Infrastruktur Umum
414
856
167
111
67
171
1,786
Minyak & Gas
-
-
344
-
-
50
394
Jabodetabek Area
-
352
-
-
-
-
352
Batubara
32
-
181
-
-
-
213
Tembaga
-
-
-
-
-
197
197
Nikel & Olahannya
-
-
-
100
-
83
183
Jembatan Selat Sunda
150
-
-
-
-
-
150
Bauksit
-
-
137
-
-
-
137
Tanaman Pangan
-
-
-
19
-
89
108
Besi & Baja
64
-
37
-
-
-
101
Kelapa Sawit
44
-
48
-
-
-
92
Pariwisata
-
-
-
-
58
-
58
Perikanan
-
-
-
9
1
31
41
Perkayuan
-
-
32
-
-
-
32
Kendaraan Bermotor
-
32
-
-
-
-
32
Makanan & Minuman
-
25
-
-
-
-
25
Perkapalan
7
9
-
-
-
-
16
Tekstil
-
9
-
-
-
-
9
Peternakan
-
-
-
-
7
-
7
Telekomunikasi & Internet
-
4
-
-
-
-
4
Karet
3
-
-
-
-
-
3
Kakao (Cokelat)
-
-
-
1
-
-
1
Total
714
1,287
946
240
133
621
3,941
Perhatikan, sektor yang mendapat prioritas pembangunan, setelah infrastruktur umum, ternyata adalah sektor migas, disusul kawasan khusus Jabodetabek, batubara, tembaga, dan nikel. Untuk migas, pembangunannya fokus pada kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber migas baru, sementara pembangunan di batubara lebih banyak ke penyediaan infrastruktur jalan kereta api, dan tentunya pelabuhan. Sedangkan untuk tembaga dan nikel, fokus pembangunannya adalah mendirikan smelter-smelter untuk menciptakan produk hilir yang memiliki nilai tambah.
Sementara berdasarkan alokasi investasi per koridor, koridor Jawa tetap memperoleh investasi terbesar, yakni mencapai 32.7% dari seluruh investasi yang direncanakan, namun pembangunan infrastruktur di koridor Sumatera juga akan ditingkatkan, termasuk diantaranya Jembatan Selat Sunda, yang diperkirakan akan selesai tahun 2025 (masih lama banget, pembangunannya sendiri emang belum dimulai). Sementara untuk koridor lainnya, masing-masing memiliki fokus pembangunannya sendiri-sendiri, seperti migas dan batubara di Kalimantan, nikel di Sulawesi, Pariwisata di Bali & Nusa Tenggara, dan Tembaga di Papua & Maluku. Mau lihat bagaimana hasilnya? Tunggu beberapa tahun lagi dari sekarang, maksimal hingga tahun 2025.
However, berbagai rencana pembangunan jangka panjang yang sudah diuraikan diatas tentunya memerlukan kerja keras yang luar biasa untuk mewujudkannya, baik dari pihak swasta maupun Pemerintah, termasuk Pemerintah juga harus bisa ‘membereskan’ orang-orang yang mengganggu seperti para politisi korup yang doyan minta jatah preman. Tapi, bolehlah untuk sekarang ini kita berandai-andai: Katakanlah dari pembangunan yang menelan investasi sekian ribu trilyun Rupiah diatas, paling tidak yang sukses adalah separuhnya saja. Maka, akan seperti apa Indonesia nantinya, termasuk kira-kira akan berada di posisi berapa IHSG di tahun 2025 nanti???
Kalau bagi penulis sendiri, pemaparan terkait MP3EI ini adalah seperti prospektus yang diterbitkan Pemerintah sebagai ‘manajemen’ negara, untuk kita para rakyat sebagai ‘pemegang saham’ negara. Well, I apreciate that, thanks! Tapi kalau bisa, Pihak Pemerintah entah melalui Kemenkominfo atau Kemenkeu, secara rutin, katakanlah setiap kuartal sekali, mempublikasikan laporan perkembangan/progress dari implementasi MP3EI tersebut, agar kami sebagai rakyat bisa mengetahui bahwa MP3EI yang luar biasa ini tidak sekedar wacana, melainkan memang berjalan seperti yang [...]

Menghitung Margin of Safety, dan Nilai Intrinsik Saham

Konsep Margin of Safety (MOS), dalam hubungannya dengan investasi saham, sebenarnya sangat sederhana, yaitu: MOS adalah selisih dari harga sahamdengan nilai intrinsik (intrinsic value) saham tersebut. So, katakanlah saham A memiliki nilai intrinsik Rp1,500. Jika anda membeli saham A tersebut pada harga Rp1,000, maka diskon atau MOS-nya adalah sebesar Rp500. Berdasarkan konsep MOS ini, maka seorang investor baru boleh dikatakan telah melakukan keputusan investasi yang tepat, jika ia membeli saham pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsik saham tersebut, semakin rendah tentunya semakin baik. Namun tentu hal ini menimbulkan pertanyaan baru: Apa itu yang dimaksud dengan nilai intrinsik? Dan bagaimana cara menghitungnya?

Konsep MOS pertama kali diperkenalkan oleh investor guru, Benjamin Graham, dan partnernya, David Dodd, pada tahun 1928, dengan poin utamanya adalah menentukan nilai intrinsik tadi. Anak didik Graham yang paling terkenal, Warren Buffett, bisa menjadi sangat sukses sebagai investor saham karena keahliannya yang luar biasa dalam menentukan nilai intrinsik dari suatu saham. Simpelnya, ketika Buffett bisa dengan akurat menentukan bahwa nilai intrinsik dari saham A, B, dan C, masing-masing adalah 100, 150, dan 200, sementara harga dari ketiga saham tersebut di market masing-masing adalah 80, 70, dan 250, maka saham yang akan dipilih Buffett adalah? Sudah tentu, saham B, karena diskonnya paling besar (harga saham B di pasar cuma 70, padahal nilai intrinsiknya mencapai 150). Buffett tidak peduli jika saham B ini harganya dari sisi PER atau PBV cukup mahal, asalkan perusahaannya benar-benar bagus yang ditunjukkan dengan nilai intrinsiknya yang tinggi. Bagi chairman Berkshire Hathaway ini, lebih baik berinvestasi pada perusahaan yang luar biasa bagus (baca: nilai intrinsiknya sangat tinggi) dengan harga saham yang masuk akal (gak harus murah), ketimbang berinvestasi pada perusahaan yang biasa-biasa saja, meski harga sahamnya murah. Karena logikanya, barang yang bagus tentunya tidak mungkin bisa didapat pada harga yang terlalu murah, bukan begitu?
Okay, lalu bagaimana cara Buffett dalam menghitung nilai intrinsik suatu saham? Sebelum ke bagian tersebut, mari kita sepakati dulu, apa yang dimaksud dengan ‘nilai intrinsik’ disini. Berdasarkan berbagai definisi yang penulis kumpulkan dari berbagai sumber, nilai intrinsik adalah nilai yang sesungguhnya dari suatu saham, dan itu berbeda dengan nilai pasar (harga saham) atau nilai buku (book value, atau ekuitas). Nilai intrinsik ini sudah termasuk memperhitungkan aset yang terlihat (ekuitas tadi) dan yang tidak terlihat (prospek, nama besar perusahaan, kekuatan merek produk, dll). Karena aset yang tidak terlihat ini seringkali sulit untuk dikalkulasi (karena di laporan keuangan juga nggak ada angka Rupiah/Dollar-nya), maka dua orang investor kemungkinan akan menjawab berbeda jika ditanya berapa nilai intrinsik dari satu saham yang sama, tergantung dari sisi mana mereka menghitung nilai intrinsik tersebut. Yup, nilai intrinsik adalah suatu ukuran yang sangat subjektif, dan karenanya tidak pernah ada nilai intrinsik yang benar-benar tepat untuk sebuah saham.
However, jika melihat track record dari Warren Buffett yang sangat sangat sukses di pasar saham dengan berbekal kemampuan spesialnya dalam mengitung nilai intrinsik, maka jika ada rumus cara menghitung nilai intrinsik, rumus Buffett-lah yang bisa kita pakai. Dan berikut berikut ini adalah langkah-langkah menghitung nilai intrinsik ala Warren Buffett, dan trust me, cara mengitungnya jauh lebih sederhana dari yang anda kira :)
Pertama-tama, sebelum menghitung nilai intrinsik sebuah saham, kita harus memilih dulu sahamnya. Pastikan bahwa anda memilih saham yang perusahaannya secara historis memiliki kinerja yang bagus, stabil, dan senantiasa bertumbuh dalam jangka panjang, katakanlah selama 10 atau minimal 5 tahun kebelakang. Indikator yang paling mudah bisa dilihat dari ekuitas dan laba bersihnya, apakah besar, dan naik terus atau tidak. Dan contoh paling gampang dari perusahaan yang kinerjanya bagus dan stabil dalam jangka panjang, siapa lagi kalau bukan Unilever Indonesia (UNVR), Charoen Pokphand (CPIN), atau Semen Indonesia (SMGR).
Logo PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk, perusahaan poultry terbesar di  tanah air

Kinerja perusahaan yang stabil dalam jangka panjang ini sangat penting untuk diperhatikan, karena salah satu elemen dari menghitung nilai intrinsik ala Warren Buffett adalah dengan memperkirakan berapa kira-kira pertumbuhan ekuitas dan laba bersih perusahaan kedepannya, dimana perusahaan dengan track record kinerja yang bagus tentunya akan lebih berpeluang untuk mencatat kinerja yang sama bagusnya di masa yang akan datang. Meski tentunya tidak ada jaminan bahwa perusahaan dengan kinerja yang stabil akan tetap mencatat kinerja yang stabil kedepannya, sama halnya dengan perusahaan yang baru berdiri atau punya kinerja amburadul di masa lalu bisa saja menjadi perusahaan yang bagus suatu hari nanti, namun tetap saja: Sebuah perusahaan dengan track record kinerja yang bagus tentunya bisa lebih dipercaya ketimbang perusahaan yang sebelumnya rugi melulu. Analoginya jika sebuah perusahaan membutuhkan seorang karyawan untuk posisi manager atau direktur, maka mungkinkah perusahaan tersebut merekrut karyawan fresh graduate yang belum berpengalaman, atau karyawan berpengalaman namun punya catatan buruk, katakanlah pernah tersangkut masalah hukum? Anda tahu jawabannya.
Selain punya kinerja yang stabil di masa lalu, anda juga harus mengerti benar tentang perusahaan serta jenis usaha/bisnisnya, sehingga dalam hal ini anda harus mempelajari tentang perusahaannya dulu sebelum kemudian baru masuk ke langkah berikutnya. Analoginya balik lagi ke perusahaan yang merekrut pegawai tadi: Apakah sebuah perusahaan akan langsung mempekerjakan seorang karyawan hanya karena CV-nya (baca: track record pengalamannya) bagus? Jelas tidak. Minimal ia harus melalui proses wawancara dengan pemilik perusahaan, atau pegawai yang posisinya lebih tinggi, atau HRD, dan jika cocok barulah ia akan diterima bekerja.
Selanjutnya, menurut Buffett, yang disebut dengan nilai intrinsik adalah jumlah uang cash yang bisa ditarik dari perusahaan selama perusahaan tersebut masih beroperasi. Dan yang disebut dengan ‘uang cash’ tersebut adalah angka ekuitas terakhir perusahaan (atau disebut juga nilai buku/book value), plus akumulasi dari laba bersih yang akan perusahaan peroleh/kumpulkan kedepannya, yaitu selama perusahaan tersebut terus beroperasi.
Contohnya kalau kita pakai CPIN, berikut adalah data laporan keuangan perusahaan untuk tahun penuh 2012 (kita pakai laporan keuangan untuk tahun penuh, bukan yang kuartalan).
  1. Jumlah saham CPIN adalah 16.4 milyar lembar
  2. Nilai ekuitas CPIN adalah Rp8.2 trilyun, sehingga setiap lembar saham CPIN mewakili ekuitas sebesar Rp499.
  3. Laba bersih per saham (EPS) CPIN untuk tahun 2012 tercatat Rp164.
Nah, jika kita asumsikan bahwa CPIN masih akan beroperasi hingga 10 tahun mendatang, dan bahwa selama 10 tersebut perusahaan berhasil mencetak EPS Rp164 per tahunnya, maka akumulasi dari EPS tersebut selama sepuluh tahun adalah Rp1,640. Ditambah ekuitas sebesar Rp499 tadi, maka kita memperoleh angka Rp2,139. Angka Rp2,139 per saham inilah, yang kemudian menjadi nilai intrinsik awal bagi saham CPIN.
Namun, perhitungannya belum selesai. Diatas disebutkan bahwa ‘nilai intrinsik’ sebesar Rp2,139 tersebut adalah dengan mengasumsikan bahwa CPIN masih akan beroperasi hingga 10 tahun mendatang, dan bahwa selama 10 tersebut perusahaan berhasil mencetak EPS Rp164 per tahunnya. Jadi pertanyaannya sekarang ada dua: Pertama, apakah anda cukup yakin bahwa CPIN bisa beroperasi selama lebih dari 10 tahun, katakanlah 20 tahun? Untuk pertanyaan ini misalnya kita jawab saja: Ya.
Kemudian pertanyaan kedua, apakah selama 20 tahun tersebut EPS CPIN akan tetap Rp164 per tahunnya? Tentu tidak, melainkan kemungkinan bakal naik terus setiap tahunnya, karena dalam  lima tahun terakhir, rata-rata kenaikan laba bersih CPIN mencapai lebih dari 50% per tahun. Okay, kita ambil angka konservatif saja, yaitu bahwa setiap tahunnya laba bersih CPIN hanya akan naik 20%. Itu berarti EPS CPIN pada tahun 2013 akan menjadi Rp197, pada tahun 2014 menjadi Rp236, dan demikian seterusnya hingga di tahun 2032 (selama 20 tahun) CPIN akan mencetak EPS Rp6,287. Maka, jumlah akumulasi EPS selama 20 tahun tersebut, yaitu antara tahun 2013 – 2032, akan mencapai Rp36,740.

Sekedar catatan, EPS untuk tahun 2012 yang sebesar Rp164 nggak ikut dihitung, karena EPS tersebut sudah termasuk dalam ekuitas perusahaan di tahun yang sama (dalam bentuk saldo laba). Sekali lagi, ingat bahwa dalam menghitung nilai intrinsik, yang dihitung adalah akumulasi dari laba bersih yang akan perusahaan kumpulkan kedepannya, jadi nggak termasuk laba bersih yang sudah diperoleh di tahun 2012.

Sekarang, ingat bahwa uang sebesar Rp1,000 pada sepuluh tahun yang lalu, nilainya berbeda dengan Rp1,000 pada saat ini (jaman penulis kuliah dulu, seribu perak masih bisa dapet sebungkus nasi putih di warteg, tapi sekarang buat bayar parkir aja masih kurang). Dan pada sepuluh tahun kedepan, sangat mungkin bahwa uang Rp1,000 tersebut akan semakin tidak bernilai lagi. Itu artinya, ketika kita mengatakan bahwa akumulasi laba bersih CPIN adalah 36,740 pada tahun 2032, dan mengingat bahwa nilai dari duit sebesar 35 ribu perak di tahun segitu tentunya akan berbeda dengan 35 ribu perak pada saat ini, maka angkanya kemudian harus disesuaikan. Caranya? Dengan membaginya dengan angka bunga per tahun yang ditawarkan oleh instrumen investasi yang paling aman, dalam hal ini (menurut Buffett) bunga dari obligasi yang diterbitkan Pemerintah.
Kalau di Indonesia sendiri, ada beberapa jenis obligasi Pemerintah seperti itu, seperti SUN, ORI, hingga sukuk. Katakanlah kita ambil suku bunga sukuk, yang angkanya 6.25% per tahun. Maka, uang sebesar Rp36,740 di tahun 2032 adalah setara dengan Rp34,579 di tahun 2031, dan setara dengan Rp32,544 di tahun 2030, dan demikian seterusnya hingga menjadi.. Rp10,928, di tahun 2012. Ditambah dengan posisi ekuitas terakhir perusahaan, yaitu Rp499, maka totalnya menjadi Rp11,427. Maka bisa disimpulkan bahwa nilai intrinsik saham CPIN pada saat ini adalah kurang lebih 11,427, masih jauh lebih tinggi ketimbang harga sahamnya, yang cuma 4,950. Kesimpulannya, saham CPIN masih murah! Karena margin of safety-nya mencapai 130% (11,427 berbanding 4,950). Buffett sendiri menganggap bahwa MOS yang cukup safe alias aman untuk sebuah saham adalah minimal 25%.
However, angka 11,427 tadi bisa keluar sebagai nilai intrinsik untuk CPIN, kalau kita mengasumsikan bahwa CPIN ini cukup tangguh untuk secara stabil terus beroperasi hingga setidaknya 20 tahun kedepan. Sementara jika asumsi kita tidak seoptimis itu, yaitu bahwa CPIN hanya akan beroperasi hingga 10 tahun kedepan, maka nilai intrinsik CPIN, setelah penulis hitung, cuma Rp3,285per saham, yang dengan demikian bisa dikatakan bahwa harga saham CPIN pada saat ini sudah overvalue. Buffett sendiri biasa menggunakan angka 10 tahun kedepan untuk menghitung akumulasi laba bersih yang bisa dikumpulkan sebuah perusahaan.

Dengan demikian, berikut adalah beberapa hal yang bisa disimpulkan dari ilustrasi perhitungan nilai intrinsik dan margin of safety diatas.
1. Nilai intrinsik biasanya lebih tinggi dari nilai buku
Konsep dasar dari nilai intrinsik adalah, ketika misalnya sebuah perusahaan memiliki modal bersih Rp500 milyar di neracanya (yang disebut juga nilai buku), maka itu bukan berarti nilai intrinsik perusahaannya adalah sama persis Rp500 milyar juga, melainkan seharusnya lebih dari itu. Kenapa? Karena dari modal tersebut perusahaan bisa mencetak laba, katakanlah jika ROE-nya 20% maka labanya Rp100 milyar setahun. Laba sebesar Rp100 milyar tersebut kemudian menjadi milik si pemegang saham, entah dalam bentuk dividen ataupun peningkatan modal, sehingga jumlah ‘uang’ yang dimiliki si pemegang saham, setelah setahun, akan menjadi Rp600 milyar (modal awal Rp500 plus laba bersih 100 milyar), dan demikian di tahun-tahun berikutnya akan meningkat terus seiring dengan meningkatnya jumlah laba perusahaan. Jadi ketika ada investor yang membeli sebuah perusahaan bagus dengan nilai ekuitas sebesar Rp500 milyar, pada harga Rp500 milyar juga (atau jika jumlah sahamnya 1 milyar lembar, maka itu berarti Rp500 per saham),  atau dengan kata lain pada PBV 1 kali, maka dia boleh dibilang baru dapet rejeki nomplok. Rata-rata PBV dari saham-saham di BEI sendiri, dalam kondisi market normal alias tidak bullish ataupun bearish, adalah 2.0 – 2.2 kali. Untuk contoh CPIN diatas, PBV-nya pada harga saham 4,950 adalah 9.1 kali.
Meski demikian, harap diingat untuk menggaris bawahi kata ‘perusahaan bagus’ tadi. Karena beberapa perusahaan yang PBV-nya rendah, katakanlah kurang dari 2 kali, itu bisa saja bukan karena sahamnya murah, melainkan karena perusahaannya emang nggak bagus, katakanlah laba bersihnya minus alias rugi, yang itu berarti modal perusahaan kedepannya bukannya naik tapi malah turun karena tergerus kerugian. Atau, perusahaan masih mampu mencetak laba, namun persentase kenaikan labanya masih kalah dibanding laju inflasi (baca: penurunan nilai uang).

Dan kalau yang penulis perhatikan sendiri, dalam kondisi market yang normal, di BEI memang ada beberapa saham yang PBV-nya persis atau kurang dari 1 kali, tapi biasanya mereka tidak memenuhi kriteria saham yang bisa dihitung nilai intrinsiknya, yaitu kinerja perusahaan yang konsisten dalam jangka panjang, dan utang yang manageable (akan dijelaskan dibawah). Sementara saham yang memenuhi kriteria tersebut, seperti UNVR, CPIN, dan SMGR diatas, penulis kira sampai kapanpun kita nggak akan bisa beli sahamnya pada harga yang mencerminkan PBV 1 kali.

2. Perhatikan Utang Perusahaan
Seperti yang dikatakan Buffett, nilai intrinsik adalah modal awal plus akumulasi laba yang dikumpulkan perusahaan di masa depan (yang kemudian didiskon dengan persentase laju inflasi/suku bunga obligasi pemerintah, untuk memperoleh nilainya pada saat ini). Tapi bagaimana jika perusahaan memiliki utang? Ya itu berarti, perusahaan menanggung beban bunga yang akan mengurangi potensi laba. Meski demikian, mengingat bahwa ketika sebuah perusahaan mengambil utang, tujuannya adalah untuk menambah modal kerja yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan dan laba, maka jika utang (atau tambahan modal kerja) ini bisa dikelola/dimanfaatkan dengan baik, maka jumlah peningkatan laba yang dihasilkan akan lebih besar dari beban bunga yang harus dibayar.
Karena itulah ketika kita mencari saham yang akan dihitung nilai intrinsiknya, salah satu kriteria yang juga tidak boleh dilewatkan adalah bahwa perusahaan yang bersangkutan harus memiliki jumlah utang yang tidak hanya tidak terlalu banyak, tetapi juga dikelola dengan baik, sehingga kemudian kita boleh mengasumsikan bahwa utang tersebut tidak akan mengganggu jumlah laba. Yang dimaksud dengan ‘dikelola dengan baik’ itu adalah jumlah utangnya wajar (sebaiknya jangan terlalu tinggi dibandingkan ekuitasnya, maksimal DER 2 kali), jumlah bunganya wajar (9 – 16% per tahun, lebih kecil lebih baik), dan perusahaan memiliki cukup aset untuk membayarnya hingga lunas.

Dan terkait hal ini maka kita tidak bisa memilih saham-saham yang jumlah utangnya tidak terkendali, yang dari waktu ke waktu tidak pernah dilunasi melainkan gali lobang tutup lobang. Misalnya saham-saham Grup Bakrie.

3. Perhatikan seberapa lama perusahaan beroperasi
Dalam contoh perhitungan nilai intrinsik diatas, tampak jelas bahwa dua asumsi yang berbeda, yaitu asumsi pertama bahwa perusahaan akan beroperasi selama 20 tahun, dan asumsi kedua bahwa perusahaan hanya akan beroperasi selama 10 tahun, ternyata menghasilkan nilai intrinsik yang juga jauh berbeda, yakni 11,427 dan 3,285. Jika pada saat ini CPIN berada di posisi 5,000-an, dan stabil di posisi tersebut (yang itu berarti boleh dikatakan bahwa para pelaku pasar ‘sepakat’ bahwa nilai intrinsik/harga wajar dari CPIN adalah 5,000-an), maka apa itu artinya? Artinya, mayoritas pelaku pasar cukup optimis bahwa CPIN masih bisa membuat pakan ayam dan nugget hingga 10 tahun kedepan, namun tidak cukup optimis bahwa CPIN bisa melakukan itu hingga 20 tahun kedepan. Faktanya, CPIN sendiri berdiri dan beroperasi di Indonesia sudah cukup lama, yaitu sejak tahun 1972, dan penulis tidak tahu bagaimana track record kinerjanya sejak tahun 1972 tersebut, tapi yang jelas sejak tahun 2005 CPIN ini untung terus. Dan kalau dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lainnya di Indonesia, yang rata-rata memiliki kinerja jangka panjang yang tidak stabil, maka track record cemerlang sejak tahun 2005 tersebut tentunya sudah relatif cukup untuk mengatakan bahwa ‘Saya optimis bahwa CPIN akan bisa terus beroperasi hingga lebih dari 10 tahun mendatang, tapi mungkin nggak sampai 20 tahun juga.’
Contoh lainnya, jika kita pakai UNVR, penulis belum menghitung nilai intrinsik UNVR ini menggunakan rumus diatas, namun dilihat dari PBV-nya yang mencapai 40-an kali, maka UNVR ini jelas sangat-sangat mahal ketimbang CPIN, yang PBV-nya cuma 9.1 kali. Namun tahukah anda kenapa UNVR dihargai jauh lebih mahal? Yap, benar sekali, itu karena perusahaan memiliki rekam jejak yang jauuh lebih lama ketimbang CPIN, yaitu sejak tahun 1933, dan rasio profitabilitasnya juga lebih besar. Artinya, jika untuk CPIN orang masih agak ragu ketika dikatakan bahwa perusahaannya akan bertahan hingga 20 tahun kedepan, maka untuk UNVR, jangankan 20 tahun, hingga 40 tahun kedepan juga orang masih akan percaya bahwa perusahaan ini masih akan tetap beroperasi dengan baik.
Karena itulah, seperti yang sudah disebut diatas, track record kinerja perusahaan dalam jangka panjang di masa lalu sangatlah penting dalam mengukur nilai intrinsik ini. Buffett sendiri lebih suka berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri dan beroperasi sejak lama, ketimbang perusahaan ‘kemarin sore’, dan itu sebabnya ia juga tidak suka saham-saham IPO. Forbes pernah mengeluarkan daftar ‘100 Perusahaan dari Seluruh Dunia yang akan bertahan hingga 100 Tahun Mendatang’, dan sebagian besar penghuni daftar tersebut merupakan perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi sejak sangaaat lama, seperti Coca Cola, Prudential, Unilever NV, Walt Disney, hingga L’Oreal.
4. Sebaiknya hindari saham komoditas
Dalam menghitung nilai intrinsik, stabilitas kinerja perusahaan sangatlah penting. Itu sebabnya Buffett, meski tidak selalu, berusaha menghindari saham-saham yang laba perusahaannya bergantung pada fluktuasi harga komoditas yang mereka produksi/jual. Contohnya, perusahaan-perusahaan batubara bisa mencetak laba bersih yang besar di satu tahun tertentu ketika harga batubara naik, tapi di tahun berikutnya bisa turun ketika harga batubara turun. Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan menganalisis pergerakan harga komoditas tersebut, apakah kedepannya akan naik atau turun, tapi bahkan Buffett-pun tidak bisa melakukannya. Alhasil, ia lebih suka mengambil saham-saham yang harga produknya senantiasa naik terus dari waktu ke waktu seiring inflasi, tanpa fluktuasi yang berarti. Contohnya? Coca Cola. Coba anda cek di supermarket, harga sekaleng Coca Cola, Sprite, dan Fanta memang naik terus bukan?
However, dalam hal ini penulis punya pandangan yang sedikit berbeda. Yang disebut dengan komoditas, seperti emas, minyak, aneka jenis logam, batubara, hingga crude palm oil (CPO), harganya memang berfluktuasi setiap tahun, seperti batubara dan CPO yang pernah mahal di tahun 2010 dan 2011, sekarang menjadi murah meriah, dan pada akhirnya menyebabkan kinerja buruk bagi perusahaan yang memproduksi dua jenis komoditas ini. Namun dalam jangka yang benar-benar panjang, harga dari berbagai jenis komoditas ini akan senantiasa naik karena inflasi dan meningkatnya permintaan seiring bertambahnya jumlah penduduk dunia. Artinya? Jika sewaktu-waktu ada saham yang jatuh karena turunnya harga komoditasnya, contohnya seperti saham-saham batubara dan CPO yang sudah disebut diatas, maka itu justru merupakan buying opportunity, karena nanti kedepannya harga dua komoditas itu akan naik lagi. Dan itu sebabnya, Lo Kheng Hong melalui Kontan.co.id mengatakan bahwa ia pada saat ini justru sedang tertarik untuk membeli saham-saham batubara, dan juga saham perkebunan kelapa sawit, ketimbang saham lainnya.
5. Ambil nilai intrinsik yang terendah, dan belilah saham pada harga maksimal 25% dibawahnya. Lebih dari itu, berarti sahamnya mahal.
Seperti sudah disebut diatas, Buffett hanya memilih saham yang punya track record kinerja puluhan, bahkan ratusan tahun (salah satu saham Buffett, yaitu Coca Cola tadi, pertama kali beroperasi pada tahun 1888, persis 100 tahun ketika Buffett mulai mengkoleksinya tahun 1988). Meski demikian, dalam menghitung nilai intrinsik, Buffett hanya melihat akumulasi laba perusahaan dalam 10 tahun kedepan saja, tidak lebih. Dan entah ada hubungannya atau tidak, namun dalam kaitannya menghitung harga wajar saham menggunakan PER, maka sebuah saham bagus bisa disebut murah kalau PER-nya 10 kali (yang itu berarti, harga sahamnya sama dengan jumlah laba dikali sepuluh tahun), atau kurang dari itu. However, ketika Buffett pertama kali melirik Coca Cola, PER-nya ketika itu mencapai lebih dari 20 kali, yang itu berarti kemungkinan Buffett menyadari bahwa perusahaan ini punya potensi untuk bertahan jauh lebih lama dari sekedar 10 tahun. Dan faktanya hingga hari ini, atau 25 tahun sejak Buffett pertama kali membelinya, Coca Cola masih nongkrong di portofolio Berkshire Hathaway.
Nah, sekarang bagaimana jika saya menemukan saham bagus dengan nilai intrinsik (setelah saya hitung) 1,000, tapi harganya di market 1,500. Apa yang harus saya lakukan? Menurut Buffett, ‘harga saham di pasar seringkali berbeda dengan harga/nilai intrinsiknya, dan seringkali pula hal itu terjadi dalam waktu yang cukup lama. Namun pada akhirnya, harga suatu saham akan bertemu (menjadi sama) dengan nilai intrinsiknya tersebut.’ Artinya, jika anda menemukan bahwa nilai intrinsik saham A adalah 1,000, sementara harganya di market 1,250, maka dengan catatan anda telah menghitung nilai intrinsik tersebut dengan baik, itu berarti hanya ada satu kemungkinan: Market, atau saham itu sendiri, sedang bubble. Dan jika itu terjadi, maka opsi yang terbaik adalah menunggu terjadinya ‘mekanisme alam’, dimana cepat atau lambat bursa saham (IHSG) akan terkoreksi, dan harga-harga saham akan turun hingga mencapai harga wajar/nilai intrinsiknya masing-masing. Dan ketika koreksi tersebut sudah cukup dalam, dimana saham A tadi sudah turun ke katakanlah 750, maka itulah saatnya untuk belanja.
Disisi lain, jika anda menemukan saham B dengan nilai intrinsik 2,000, sementara harganya di market cuma 1,000, maka meski IHSG sedang tinggi-tingginya sekalipun, langsung saja beli saham B tersebut. Buffett, seperti juga value investor lainnya (kalau di Indonesia, Lo Kheng Hong), tidak begitu memperhatikan posisi indeks ketika mengincar suatu saham. Yang mereka perhatikan hanyalah nilai intrinsik dari saham yang mereka incar saja, apakah masih mahal atau sudah cukup murah.
Satu hal lagi, seiring dengan pertumbuhan perusahaan, maka nilai intrinsiknya juga akan terus naik, dan demikian pula halnya dengan harga sahamnya. So, jika anda sewaktu-waktu sudah membeli saham pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya, yaitu ketika terjadi momentum koreksi pasar, maka selanjutnya tinggal duduk saja untuk menonton perusahaan anda bertumbuh, dan juga harga sahamnya.
6. Perhatikan ekonomi makro
Dari contoh perhitungan nilai intrinsik diatas, disebutkan bahwa ketika kita hendak mendiskon nilai saham di masa yang akan datang agar diperoleh nilainya pada saat ini, maka kita bisa menggunakan tingkat suku bunga sukuk sebagai patokan, yang sebesar 6.25% tadi. However, bunga sukuk tidak selalu 6.25% per tahun, melainkan berubah-ubah setiap saat tergantung inflasi, dimana jika inflasi meningkat, maka bunga sukuk juga akan meningkat. Dan jika bunga sukuk meningkat, maka harga saham akan semakin terdiskon, alias semakin rendah, atau dengan kata lain: Nilai intrinsik suatu saham akan semakin rendah ketika inflasi meninggi.
Dalam kondisi perekonomian negara yang normal, tingkat inflasi memang berubah setiap saat, namun pada akhirnya akan menemui titik keseimbangan di level tertentu. Contohnya untuk Indonesia, rata-rata inflasinya sejak selesainya krismon 1998 adalah 7% per tahun (atau tepatnya 6%, jika mengabaikan perubahan kenaikan inflasi yang signifikan di tahun 2008), dengan inflasi pada saat ini 5.5% (atau 5.9%, barusan udah berubah lagi). Tapi tahukah anda, berapa tingkat inflasi kita di tahun 1998 dan 2008? Percaya atau tidak, inflasi kita di tahun 1998 pernah mencapai 82.4%, dan 12.1% di tahun 2008. Dan menurut anda, bagaimana nasib saham-saham di BEI ketika itu?
However, bagi investor jangka panjang, yang patut diwaspadai disini adalah jika terjadi perubahan signifikandalam perekonomian makro, dimana inflasi, dan juga indikator perekonomian lainnya, berubah jauh lebih besar dari biasanya, seperti yang terjadi pada 1998 dan 2008 lalu. Sementara perubahan kecil-kecil yang terjadi hampir setiap saat, misalnya seperti inflasi yang bisa dipastikan akan naik karena kenaikan harga BBM, itu tidak begitu penting. Sama halnya seperti harga saham yang naik turun setiap saat, itu juga tidak penting selama laba perusahaan serta nilai intrinsik sahamnya terus bertumbuh. Tapi jika anda lebih condong sebagai trader, maka hal ini jelas penting.
Kesimpulan
Okay, sebenarnya selain 6 poin diatas, di kepala penulis masih ada banyak lagi pembahasan soal ‘menghitung nilai intrinsik’ ini, sehingga artikel ini sejatinya belum selesai, karena ternyata hal ini memang merupakan inti utama dari berinvestasi di saham secara keseluruhan. Namun berhubung artikelnya sudah cukup panjang, maka untuk sekarang ini kita simpulkan saja dulu artikel diatas. Kesimpulannya, jika kita berniat untuk berinvestasi jangka panjang, maka jangan kompromi dengan saham ‘abal-abal’, melainkan pastikan bahwa saham yang anda pilih benar-benar bagus. Dan kriteria dari saham bagus tersebut minimal ada tiga:
  1. Punya track record kinerja yang bagus, dan senantiasa bertumbuh secara stabil dalam jangka panjang, minimal 5 tahun ke belakang, namun lebih lama lebih baik.
  2. Perusahaan memiliki utang dalam jumlah yang wajar, atau sebaiknya tidak punya utang sama sekali.
  3. Sebaiknya pilih saham yang kinerja perusahaannya tidak tergantung pada fluktuasi harga komoditas, tapi juga jangan menutup diri jika ada saham komoditas yang memang menarik.
Selanjutnya terkait timing untuk masuk/membeli sahamnya, adalah ketika harga suatu saham turun hingga lebih rendah minimal 25% dibanding nilai intrinsiknya (selisih 25% ini kemudian disebut margin of safety), dan itu biasanya baru terjadi ketika market atau IHSG dilanda koreksi, entah besar atau kecil. Karena dalam kondisi normal, harga saham biasanya mengikuti/sama dengan nilai intrinsiknya masing-masing, atau bahkan lebih tinggi jika market sedang bullish.
Disisi lain, jangan lupa untuk memperhatikan perubahan signifikan dalam perekonomian makro, seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Karena jika kejadiannya seperti tahun 1998, atau 2008, maka tak peduli sebagus apapun fundamental sebuah saham, semurah apapun harganya, maka tetap saja dia akan turun, hingga ke posisi yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya.
Hufft.. Okay, dengan demikian artikel ini resmi menjadi artikel terpanjang di blog ini. Btw kalau penulis bikin artikel ‘mata kuliah’ seperti ini, maka besok-besoknya seringkali banyak email yang masuk dari temen-temen mahasiswa, biasanya untuk minta bantuan buat bikin skripsi atau tesis. Well, penulis bukannya nggak mau membalasnya, tapi memang nggak sempet aja. Tapi jika anda, temen-temen mahasiswa, hendak mengundang penulis untuk menjadi pembicara tentang investasi saham di kampus, maka penulis dengan senang hati akan datang, just contact me by email teguh.idx@gmail.com. Penulis nggak memungut bayaran, yang penting ada makanannya aja..
July 2nd, 2013 at 1:30 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Modernland Realty

Modernland Realty (MDLN) adalah satu dari sekian banyak perusahaan yang menikmati booming industri properti dalam dua tahun terakhir ini, dengan mencetak laba bersih Rp323 milyar pada Kuartal I 2013, yang menjadikannya masuk dalam ‘Club 40’, yakni perusahaan dengan ROE lebih dari 40%. Malah, ROE MDLN pada Kuartal I 2013 sejatinya mencapai 50.6%, meski tentunya dengan asumsi bahwa perolehan laba bersihnya yang super-besar pada periode Kuartal I 2013 tersebut berlanjut hingga setidaknya akhir tahun 2013 ini. However, beberapa investor dan analis cukup yakin bahwa kinerja terbaru MDLN yang sangat bagus tersebut masih bisa berlanjut, mengingat jumlah laba bersih yang diperoleh perusahaan belum termasuk laba dari pendapatan dari penjualan tanah ke perusahaan properti lainnya, Alam Sutera Realty (ASRI), senilai Rp3 trilyun.


MDLN adalah perusahaan properti spesialis pengembang township (kota pemukiman terpadu) dan kawasan residensial/perumahan cluster. Hingga akhir tahun 2012, perusahaan memiliki setidaknya tiga township di empat lokasi berbeda, yakni Kota Modern Tangerang (Cipondoh, Tangerang), Jakarta Garden City (Cakung, Jakarta Timur), dan Modern Green Residences (Cakung juga). Berbeda dengan township lainnya seperti Alam Sutera dan BSD City yang dikenal sebagai kawasan perumahan untuk kalangan menengah keatas, MDLN menawarkan harga yang lebih terjangkau untuk unit-unit rumah yang mereka jual di township-townshipnya, sehingga otomatis pangsa pasarnya lebih terbuka lebar. Sebagai contoh, jika anda searching rumah di Kota Modern Tangerang, maka anda masih bisa menemukan rumah dengan harga kurang dari Rp1 milyar. Sementara di BSD City? Well, jangan harap, karena kalaupun ada rumah murah disana, maka pasti ada ‘apa-apanya’.

Meski demikian untuk township Jakarta Gardern City, MDLN bekerja sama dengan Keppel Land, sebuah perusahaan properti asal Singapura, untuk mengembangkan kawasan perumahan untuk kalangan menengah keatas, yang ditujukan bagi konsumen yang mencari tempat tinggal di perbatasan Jakarta Timur – Bekasi, alias Cakung. Tapi bagi konsumen yang juga hendak mencari tempat tinggal di daerah yang sama namun dana mereka lebih terbatas, maka mereka bisa memilih Modern Green Residences. Bagi penulis sendiri dua township ini sangat menarik karena terletak di Kawasan Cakung, yang sejak dulu dikenal sebagai kawasan industri yang terletak persis di sebelah Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga tentunya banyak sekali orang yang bekerja di kawasan ini. Namun di Kawasan Cakung ini sampai sekarang belum ada kawasan perumahan yang cukup ideal untuk tempat tinggal, karena perusahaan-perusahaan properti lebih tertarik untuk mengembangkan Kawasan Serpong atau Cikarang. Dengan demikian khusus untuk Kawasan Cakung, MDLN boleh dibilang hampir tidak punya pesaing.

Itu untuk township. Sementara untuk kawasan residensial, beberapa proyek milik MDLN adalah Modern Hill Pondok Cabe (Pamulang, Tangerang Selatan), dan Modern Park (Cakung lagi). Lalu sejak tahun 2012 kemarin, MDLN turut masuk ke bisnis kawasan industri (industrial estate) dengan mengembangkan Kawasan Industri Cikande (Tangerang dan Serang, Banten) dengan sisa landbank 295 hektar per akhir 2012, namun perusahaan punya opsi untuk menambah sekitar 1,000 hektar lagi. Sementara untuk recurring income, perusahaan mendirikan Hotel Novotel Gajah Mada (Jakarta Pusat), dan Modern Golf (di kawasan Kota Modern Tangerang).

Hingga Kuartal I 2013, MDLN baru meraup pendapatan dari proyek-proyeknya yang di Tangerang, Tangerang Selatan, Serang, dan Jakarta Pusat. Sementara untuk proyek-proyek yang terletak di Cakung, belum ada pendapatan yang masuk karena proyeknya belum dikerjakan, termasuk pembangunan township Jakarta Garden City juga masih on progress dimana untuk tahap awal perusahaan berencana membangun 7,000 unit rumah. Menariknya, perusahaan mengklaim bahwa unit-unit rumah yang mereka jual di township dan kawasan residensial mereka di Cakung sudah laku keras, sehingga perusahaan berpeluang untuk kembali mencatat tambahan pendapatan yang signifikan jika proyek Cakung mereka pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Well then, we’ll see in the next quarters.

Okay, itu saja? Ternyata belum. Dalam jangka panjang antara 3 hingga 5 tahun kedepan, MDLN masih punya beberapa proyek lagi, diantaranya satu lagi township dengan nama Modern Bekasi (Bekasi), Kawasan Pergudangan Modern Biz Park (Cakung), Perumahan Puri Teratai (Cikande), Puri Mas (Cikande juga), Bukit Cibadak Indah (Cibadak, Sukabumi), dan Kawasan Wisata Heritage Walk. Khusus untuk township Modern Bekasi, MDLN berencana mengintegrasikannya dengan kawasan industri, sehingga jika proyeknya berjalan lancar, Modern Bekasi ini nantinya akan mirip-mirip dengan Kota Jababeka. However, berbeda dengan proyek-proyek lainnya yang sudah on progress, proyek Modern Bekasi dan proyek lainnya yang disebut di paragraf ini merupakan rencana jangka panjang perusahaan, dimana hingga kini belum ada implementasi apapun dari rencana-rencana tersebut. Jadi untuk beberapa waktu kedepan, yang lebih menarik untuk dicermati adalah kelanjutan dari proyek-proyek yang di Cakung saja, plus tentunya Kawasan Industri Cikande-nya.

Lalu bagaimana dengan transaksi penjualan tanah kepada ASRI? Nah, berikut kronologisnya. Pada tanggal 21 Desember 2012, MDLN sepakat untuk menjual tanah kosongnya (landbank) seluas 20 hektar yang terletak di Kecamatan Pinang, Tangerang, kepada PT Tangerang Matra Real Estate, anak usaha dari ASRI, dengan harga jual Rp2 juta per meter persegi, sehingga MDLN akan memperoleh pembayaran sebesar Rp400 milyar. Lalu persis sebulan kemudian yakni pada tanggal 21 Januari 2013, MDLN menerima pembayaran tersebut secara tunai, yang kemudian dibukukan sebagai pendapatan di Kuartal I 2013. Pendapatan sebesar Rp400 milyar inilah yang kemudian membuat pendapatan MDL di Kuartal I 2013 tiba-tiba melompat menjadi Rp568 milyar, yang pada akhirnya turut menaikkan laba bersihnya menjadi Rp323 milyar. Sebenarnya kalau saja tidak ada transaksi penjualan tanah sebesar Rp400 milyar ini, maka pendapatan MDLN akan menjadi hanya Rp168 milyar, alias turun dibanding Kuartal I 2012 sebesar Rp270 milyar.

However, MDLN bisa dipastikan akan kembali memperoleh tambahan pendapatan atas penjualan landbank-nya, karena pada tanggal 19 Maret 2013, RUPS MDLN menyetujui perusahaan untuk kembali menjual landbanknya seluas total 150 hektar kepada ASRI, dengan harga yang sama yakni Rp2 juta per meter persegi, sehingga MDLN akan memperoleh pendapatan sebesar total Rp3 trilyun. Penjualan landbank tersebut akan dilakukan secara bertahap, dimana MDLN akan menerima pembayaran pertamanya pada tanggal 30 April 2013 (sudah dilakukan) sebesar Rp300 milyar, sehingga pendapatan MDLN di laporan keuangan periode Kuartal II 2013 mendatang bisa dipastikan akan memperoleh tambahan sebesar Rp300 milyar tersebut. Secara keseluruhan, MDLN akan mencatat pendapatan dari penjualan landbank-nya ke ASRI dengan perincian sebagai berikut:

Di tahun 2013: Rp900 milyar (diluar Rp400 milyar yang sudah dibukukan di Kuartal I 2013)
Di tahun 2014: Rp1.2 trilyun
Di tahun 2015: Rp900 milyar
Jadi totalnya: Rp3 trilyun

Thus, pada akhir tahun 2013 mendatang MDLN bisa dipastikan akan mencatat tambahan pendapatan sebesar Rp900 milyar hasil dari penjualan tanahnya, sekali lagi diluar Rp400 milyar yang sudah dibukukan di Kuartal I, dan juga diluar pendapatan operasionalnya yang rutin. Berdasarkan informasi yang dirilis perusahaan, setelah dikurangi beban pokok penjualan dan pajak, maka laba bersih dari hasil penjualan tanah tersebut akan mencapai Rp742 milyar. Ditambah dengan laba bersih sepanjang Kuartal I sebesar Rp323 milyar, maka MDLN akan mencatat laba bersih minimal Rp1.06 trilyun pada Tahun Penuh 2013. Penulis katakan minimal, karena laba bersih sebesar satu koma sekian trilyun Rupiah tersebut belum menyertakan laba bersih dari operasional rutin perusahaan sepanjang sembilan bulan, yaitu periode April – Desember 2013. Katakanlah dari operasional rutinnya sepanjang sembilan bulan tersebut, MDLN meraup laba bersih Rp40 milyar (estimasi pesimis, dengan mengasumsikan bahwa hingga akhir tahun, proyek Cakung milik perusahaan masih belum berkontribusi terhadap pendapatan), maka laba bersih MDLN di akhir tahun 2013 akan persis Rp1.1 trilyun.

Okay, karena jumlah saham MDLN adalah 6.3 milyar lembar, maka EPS MDLN untuk tahun penuh 2013 akan tercatat Rp176 per saham. Sehingga PER MDLN pada harga 980 adalah 980 / 176 = 5.6 kali, sedikit lebih tinggi dibanding jika PER-nya dihitung berdasarkan laba bersih Kuartal I 2013 yang disetahunkan, yaitu 4.8 kali. Tapi angka PER tersebut tetap saja menarik bukan? Karena dari sisi PBV, dengan asumsi bahwa MDLN kembali tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2013, maka ekuitas MDLN juga akan bertambah sebesar Rp1.1 trilyun, menjadi Rp3.6 trilyun(karena pada Kuartal I 2013, ekuitas MDLN tercatat Rp2.5 trilyun). Itu berarti PBV MDLN pada harga 980 akan tercatat (Rp980 x 6.3 milyar lembar saham) / Rp3.6 trilyun = 1.7 kali. Considering that PBV sektor properti pada saat ini berkisar di angka 3 – 4 kali, maka saham MDLN pada harganya saat ini tentu saja boleh dikatakan masih murah. Jika kita mengatakan bahwa PBV yang wajar bagi MDLN ini adalah 3.0 kali, dan bahwa skenario terburuknya adalah proyek Cakung milik perusahaan tetap belum bisa menghasilkan pendapatan hingga akhir tahun 2013 ini, maka target konservatif bagi saham MDLN ini adalah 1,700.

Lalu bagaimana untuk tahun 2014 dan seterusnya? Untuk tahun 2014, MDLN akan kembali menerima pembayaran sebesar Rp1.2 trilyun dari ASRI untuk penjualan landbank-nya, dimana dari pendapatan Rp1.2 trilyun tersebut akan diperoleh laba bersih Rp989 milyar. Sementara untuk tahun 2015, MDLN akan sekali lagi mencatat pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp900 dan 742 milyar. Dan yap! Itu adalah pendapatan dan laba bersih yang sama sekali masih diluar pendapatan dan laba bersih dari operasional rutin perusahaan, yaitu penjualan rumah-rumah, kawasan industri, penyewaan lapangan golf, hingga hotel, belum termasuk proyek-proyek properti yang di Cakung (tentunya dengan asumsi bahwa ‘Cakung Project’ tersebut berjalan lancar). Jika anda termasuk yang berpendapat bahwa MDLN akan mencetak sukses di Cakung, maka saham ini jelas cukup menarik untuk disimpan setidaknya hingga akhir tahun 2015 mendatang.

Btw, hal yang paling menarik dari transaksi penjualan tanah landbank dari MDLN ke ASRI ini adalah harganya yang premium, yakni Rp3.4 trilyun untuk lahan seluas 170 hektar. Padahal, nilai buku tanah 170 hektar tersebut hanyalah Rp430 milyar, sehingga wajar jika kemudian MDLN meraup untung yang luar biasa besar dari transaksinya tersebut. Tapi yang kemudian jadi pertanyaan, kenapa ASRI berani membayar sedemikian mahal? Dari keterangan yang dirilis perusahaan, hanya disebutkan bahwa ASRI berniat mengakuisisi lahan tersebut untuk pengembangan usaha, tanpa menjelaskan terkait harganya yang premium.

Tapi ya sudahlah, toh yang kita bahas disini adalah MDLN. Okay, lalu apa rencana MDLN dengan dana hasil penjualan landbanknya tersebut? Here it is. Pasca pelepasan landbank-nya yang terletak di Pinang, Tangerang, sisa landbank perusahaan adalah 559 hektar (belum termasuk yang masih dalam proses sertifikasi), terutama terletak di Kawasan Industri Cikande, dan tentunya Cakung. Berdasarkan keterangan dari perusahaan, dari dana hasil penjualan landbanknya, MDLN akan menambah landbank di Kawasan Timur Jakarta (mungkin maksudnya di Cakung, atau bisa juga untuk township MDLN selanjutnya yaitu Modern Bekasi), untuk dikembangkan menjadi perumahan dan kawasan industri. Lalu yang katanya perusahaan bisa menambah landbank hingga 1,000 hektar untuk Kawasan Industri Cikande-nya, duitnya dari mana? Dari penerbitan obligasi di Singapura sebesar US$ 300 juta, dimana duitnya selain untuk akuisisi landbank anyar, juga untuk membayar utang-utang sebelumnya. Well, sepertinya MDLN juga turut mengikuti jejak ASRI dan KIJA, yang sukses meraup dana dari luar negeri. Tapi jika mempertimbangkan bahwa ekuitas MDLN juga nantinya akan meningkat pasca memperoleh saldo laba hasil penjualan landbank ke ASRI, maka kemungkinan DER MDLN nantinya akan tetap kurang dari 1 kali, alias masih cukup aman (DER MDLN saat ini 0.8 kali).

Kesimpulannya, berikut adalah beberapa poin yang menyebabkan MDLN ini cukup menarik.

  1. Transaksi penjualan tanah dari MDLN terhadap ASRI bisa dipastikan akan memberikan laba dan peningkatan ekuitas bagi MDLN hingga tahun 2015 mendatang, sehingga valuasi sahamnya juga bisa dipastikan akan menjadi lebih murah.
  2. Kawasan Industri Cikande, yang sejauh ini masih dalam tahap pengembangan dan belum berkontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan (karena proyeknya juga baru jalan tahun 2012 kemarin). Salah satu keunggulan KI Cikande ini adalah lokasinya yang berada di koridor MP3EI, dimana KI Cikande akan memperoleh prioritas pembangunan infrastruktur oleh pemerintah, plus akses tol langsung yang direncanakan akan selesai sepenuhnya pada akhir tahun 2013.
  3. Prospek tambahan pendapatan dari Jakarta Garden City, dan juga dari proyek-proyek properti lainnya di Cakung yang sejauh ini sudah on progress.
  4. Untuk jangka panjang hingga 3 – 5 tahun kedepan, MDLN masih punya segudang proyek pengembangan, diantaranya township Modern Bekasi yang direncanakan akan seperti Kota Jababeka. Perusahaan juga punya visi yang lumayan bagus, yaitu hendak menjadi pengembang properti lima besar di Indonesia. Saat ini, MDLN memang bahkan belum masuk sepuluh besar pengembang properti di Indonesia (dari sisi aset).
  5. Berbeda dengan perusahaan properti lainnya yang biasanya hanya mengembangkan properti jenis high end, beberapa proyek properti milik MDLN menawarkan harga produk perumahan yang lebih terjangkau, sehingga pangsa pasarnya otomatis lebih luas.

Beberapa unit rumah untuk kalangan mid end di salah satu kluster di Modernhill, Pondok Cabe

Terakhir, diluar keempat poin menariknya diatas, berikut ini adalah hal-hal yang juga harus anda perhatikan jika anda berminat dengan MDLN ini.

  1. Kenaikan harga BBM prediksi akan menyebabkan inflasi, sementara kenaikan BI Rate kemungkinan akan menekan pertumbuhan industri properti. Meski ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa harga properti justru akan semakin naik ketika terjadi inflasi, karena masyarakat akan semakin berminat terhadap properti untuk melindungi tabungannya dari inflasi, namun pendapat yang lebih kuat pada saat ini adalah kenaikan BI Rate biar bagaimanapun akan berimbas pada kenaikan suku bunga KPR, dan itu akan berdampak negatif terhadap permintaan properti khususnya jenis perumahan.
  2. MDLN menerbitkan obligasinya di Singapura pada kurs yang lumayan bagus, yakni Rp9,670 per US$, sehingga perusahaan memperoleh dana cukup besar dalam mata uang Rupiah yakni Rp2.9 trilyun. However, berlanjutnya pelemahan Rupiah akhir-akhir ini (terakhir sudah menembus psikologis 10,000) tentunya bisa menjadi sinyal negatif bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang USD, seperti MDLN ini.
  3. Jika dua poin diatas lebih berpengaruh terhadap industri properti secara keseluruhan (tidak hanya MDLN saja), maka poin ketiga ini terkait MDLN sendiri. Untuk township Kota Modern Tangerang, MDLN memang sudah cukup sukses. Namun untuk township Jakarta Garden City, township ini sejatinya sudah dibangun sejak tahun 2005, namun sampai sekarang belum bisa menghasilkan pendapatan juga.
  4. MDLN aslinya merupakan pengembang perumahan. Untuk kawasan industri, mereka masih belum berpengalaman alias hanya ikut-ikutan (berbeda dengan KIJA yang sejak awal sudah merupakan perusahaan kawasan industri).
Okay, jadi apa rekomendasinya? Kalau bagi penulis sendiri, poin menarik dari MDLN ini tetap harga sahamnya yang masih murah pasca perusahaan memastikan pendapatan dari penjualan tanahnya ke ASRI, plus mudah-mudahan perusahaan sukses dengan Cakung Project-nya. Harga sahamnya sendiri pada saat ini yaitu 980, dengan mengabaikan faktor fluktuasi IHSG, tentunya sudah cukup ideal untuk dibeli, dan targetnya dalam setahun kedepan adalah 1,700.

PT Modernland Realty, Tbk
Rating kinerja pada 1Q13: A
Rating saham pada 980: AA

NB: Buletin rekomendasi saham bulanan edisi Juli 2013 akan terbit tanggal 1 Juli mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

IHSG: Analisis Pergerakan

Senin ini, tanggal 17 Juni 2013, IHSG melanjutkan rebound-nya dan ditutup naik tipis 0.3% ke posisi 4,774. Jika dihitung dari posisi bottomnya yaitu 4,608 pada hari Kamis lalu, maka IHSG sudah rebound 3.6%. However, kalau dihitung dari posisi puncaknya yakni 5,251, maka IHSG pada saat ini masih terkoreksi sebesar 9.1%, alias masih cukup dalam. Hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: Apakah koreksi market yang terjadi sejak awal Juni lalu sudah selesai, ataukah masih bakal terjadi koreksi lanjutan?

Terkait akan kemana arah IHSG dalam beberapa waktu kedepan, hal ini tidak hanya penting bagi investor yang sudah terlanjur membeli saham di harga atas, yakni ketika IHSG masih di puncak, melainkan juga penting bagi mereka yang pada saat ini sudah memegang cash. Jika IHSG kembali naik, maka para nyangkuters akan memperoleh uangnya kembali atau bahkan berbalik memperoleh keuntungan, namun mereka yang memutuskan untuk defensif alias memegang cash bisa jadi akan ketinggalan kereta dan kehilangan peluang. Sementara jika IHSG melanjutkan penurunannya, maka para ‘cashier’ mungkin akan tertawa lebar, namun para nyangkuters akan semakin menderita kerugian yang lebih dalam lagi. Jadi sekali lagi, akan bergerak kemana IHSG dalam beberapa waktu kedepan?
Nah, jika anda menanyakan pertanyaan diatas kepada dua orang berbeda, maka jawabannya kemungkinan besar akan berbeda pula. Beberapa investor yang optimis mengatakan bahwa koreksi market sudah selesai, setidaknya untuk sementara ini, dan IHSG cukup berpeluang untuk melanjutkan reboundnya hingga posisi 5,000. Beberapa orang lainnya lagi mengatakan bahwa dalam long run, kenaikan IHSG masih on track dan bisa mencapai new high 5,600 di akhir tahun 2013 nanti. Disisi lain, para pelaku pasar yang pesimis mengatakan bahwa rebound market yang terjadi sejak seminggu terakhir hanyalah faktor teknikal, sehingga IHSG masih bisa turun lagi, mungkin bisa sampai 4,400 atau bahkan 4,100. Sementara mereka yang lebih pesimis lagi, mengatakan bahwa masa-masa bulan madu IHSG sejak setahun terakhir ini sudah selesai, dan kedepannya IHSG akan bergerak down trend hingga bisa mencapai 3,500 pada akhir tahun. Well, bagaimana kalau menurut anda sendiri?
Seperti biasa, adanya perbedaan pendapat dari para analis dan investor mengenai akan kemana arah IHSG, adalah karena tiap-tiap analis dan investor ini melihat IHSG dari sudut pandangnya masing-masing. Dan jika anda perhatikan, ‘sudut pandang’ tersebut kebanyakan didasarkan pada faktor-faktor eksternal, baik lokal maupun global. Faktor eksternal yang penulis maksud disini adalah faktor diluar fundamental dasar dari IHSG itu sendiri, yakni faktor kinerja perusahaan dan valuasi saham dari para emiten anggota bursa. Beberapa faktor eksternal tersebut contohnya perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, pemulihan perekonomian Amerika, pidato Ben Bernanke soal Quantitative Easing, kenaikan harga BBM, masalah inflasi, pelemahan Rupiah, hingga kenaikan BI Rate. Sudut pandang yang berbeda dari tiap-tiap faktor eksternal inilah, yang menyebabkan analisis terhadap IHSG juga menjadi berbeda-beda.
Sebagai contoh, terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, pelaku pasar yang optimis mengatakan bahwa hal itu justru akan memberikan keuntungan bagi Indonesia karena akan menyebabkan banyak perusahaan disana yang pindah kesini, termasuk dana asing asal Tiongkok juga akan kembali membanjiri bursa. Sementara pelaku pasar yang pesimis melihat perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tersebut sebagai tekanan lanjutan bagi ekspor berbagai macam komoditas andalan Indonesia seperti CPO dan batubara, yang akan menyebabkan neraca ekspor – impor menjadi semakin defisit, dan pada akhirnya turut memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Okay, lalu bagaimana kalau analisis IHSG ini didasarkan pada faktor internal, yakni kinerja perusahaan dan valuasi saham-saham di BEI pada saat ini? Sebenarnya seperti juga analisis berdasarkan faktor eksternal diatas, analisis terhadap hal ini bisa berbeda-beda pula. However, disini penulis akan menyampaikan pandangan penulis terkait IHSG berdasarkan analisis faktor internal tersebut. Berikut ini adalah posisi saham terakhir dari 15 saham terbesar di BEI dari sisi market cap, dibandingkan dengan posisi puncaknya masing-masing, kecuali HMSP karena dia nggak likuid (diganti dengan posisi ke-16, yakni KLBF). Keenam belas saham berikut ini (termasuk HMSP) mewakili sekitar 55 – 60% dari market cap seluruh saham-saham di BEI, yang itu berarti naik turunnya saham-saham ini (sekali lagi termasuk HMSP, namun saham rokok ini jarang bergerak secara signifikan) akan berpengaruh sebesar 55 – 60% terhadap pergerakan IHSG.
Stocks
Price
Peak
from Peak (%)
PER
PBV
ASII
6,950
8,300
(16.3)
16.4
3.0
BBCA
9,950
11,400
(12.7)
21.1
4.3
BMRI
9,100
10,750
(15.3)
12.3
2.6
TLKM
10,400
12,900
(19.4)
14.3
2.9
BBRI
7,850
9,950
(21.1)
9.3
3.0
UNVR
28,900
34,500
(16.2)
38.4
40.8
PGAS
5,400
6,450
(16.3)
12.4
5.1
SMGR
17,950
19,150
(6.3)
21.6
5.5
GGRM
50,300
63,800
(21.2)
23.1
3.5
BBNI
4,775
5,600
(14.7)
10.8
2.0
INTP
23,900
27,400
(12.8)
19.2
4.3
CPIN
5,100
5,550
(8.1)
29.0
9.4
UNTR
17,150
24,100
(28.8)
14.2
2.0
INDF
6,850
8,000
(14.4)
20.9
1.7
KLBF
1,340
1,560
(14.1)
33.5
8.7
IHSG
4,775
5,251
(9.1)
15.0
2.4
Perhatikan. Jika dibandingkan dengan IHSG-nya sendiri yang baru terkoreksi 9.1%, saham-saham bluchip diatas sudah terkoreksi cukup dalam yaitu rata-rata 15 – 17%. Apakah ini berarti bisa dianggap sebagai ‘pesta diskon’, karena saham-saham bluchip ini sudah pada murah? Well, tergantung. Sekarang kita cek satu-satu. Untuk ASII, dengan PBV 3.0 kali sebenarnya cukup murah mengingat di masa lalu, jika market lagi bergerak normal, ASII seringkali mencetak PBV 4 koma sekian kali, dan terkadang bisa menyentuh 5 kali ketika market sedang bullish. Namun pada saat ini ASII tidak secantik biasanya mengingat dua unit usahanya, yakni perkebunan kelapa sawit (melalui AALI) dan batubara (melalui UNTR), sedang suram, dan kalaupun dua sektor tersebut akan pulih lagi namun itu akan membutuhkan waktu. So, jika ada pendapat bahwa saham ASII pada saat ini sedang terdiskon, maka pendapat tersebut masih bisa diperdebatkan. Terkait kebijakan soal low cost green car pun, hal itu tentunya belum akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan dalam waktu dekat ini.
Sementara kwartet BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI, kinerja mereka masih bagus seperti biasanya, dan valuasinya pun masih wajar seperti biasanya pula meski harga sahamnya rata-rata sudah naik signifikan dalam setahun terakhir, sehingga jika asing kembali masuk ke bursa maka mereka kemungkinan akan masuk ke keempat saham ini lebih dulu. Untuk BBRI, misalnya, kalaupun IHSG turun lebih rendah lagi, rasa-rasanya kita tetap nggak akan bisa membelinya di harga dibawah 6,000, seperti ketika terjadi koreksi Mei 2012 lalu. Tapi jika pasar kembali bullish, maka saham ini adalah salah satu yang paling berpeluang untuk naik mendekati posisi peak-nya lagi. Satu-satunya faktor yang mungkin menghambat adalah soal inflasi jika BBM jadi dinaikkan (paripurna DPR sudah menyetujui). Namun kalau berkaca pada kejadian inflasi 6%-an sekitar setahun yang lalu, yang langsung turun kembali ketika BI Rate dinaikkan, maka kenaikan BI Rate yang baru saja dilakukan dari 5.75% menjadi 6.00% mungkin akan juga bisa meredam inflasi, atau paling tidak meminimalisir.
Untuk consumer seperti UNVR, GGRM, CPIN, INDF, dan KLBF, kalau boleh jujur, kinerja para emiten di sektor ini tidak semulus biasanya jika kita melihat bahwa GGRM, INDF, dan bahkan CPIN mengalami penurunan laba bersih pada Kuartal I 2013. Yang mencatat kinerja bagus justru UNVR yang beberapa waktu lalu mengalami kenaikan beban royalti. Namun saham-saham di sektor ini tetap dihargai tinggi karena sentimen bahwa jika terjadi inflasi, maka perusahaan consumer akan diuntungkan karena mereka bisa dengan mudah menaikkan harga jual produk mereka. Sebagai contoh, tadi siang penulis mampir ke mini market untuk membeli Indomie Mi Goreng, dan harganya sudah naik dari Rp1,500 menjadi Rp1,650 per bungkus, namun toh penulis tetap membelinya.
Untuk saham-saham bluchip lainnya seperti TLKM, PGAS, SMGR, dan INTP, kinerja mereka masih oke, termasuk laba TLKM juga kembali naik meski sedikit, namun sayang valuasinya masih agak mahal dari biasanya. Kalau penulis ingat-ingat lagi, berikut adalah rata-rata valuasi/PER (kurang lebih) dari keempat saham diatas di masa lalu, dibandingkan dengan PER-nya pada saat ini:
Stocks
Recent PER
Past PER
TLKM
14.3
12.0
PGAS
12.4
15.0
SMGR
21.6
17.0
INTP
19.2
15.0
Nah, jadi yang menarik dari keempat saham diatas adalah PGAS, yang PER-nya pada saat ini lebih rendah dari historisnya. PGAS sendiri pada Kuartal I 2013 masih mencatat ROE yang luar biasa, yakni 41.4%. However, laba bersihnya yang sedikit turun (3.8%), plus kabar buruk tentang pipa gas yang bocor beberapa waktu lalu tentunya membuat sahamnya menjadi tidak semenarik SMGR atau INTP, yang terus kokoh di posisi puncak meski IHSG dilanda koreksi, karena adanya sentimen bahwa Pemerintah akan mengalihkan sebagian dana subsidi BBM-nya untuk membangun jembatan, bandara dll, yang tentunya membutuhkan banyak semen.
Sementara UNTR? Well, penulis nggak tahu bagaimana pendapat orang lain, tapi untuk sementara ini batubara jangan dulu deh, masih banyak saham lain yang lebih menarik.
Okay, berarti sudah semua. Sekarang balik lagi ke IHSG, apakah dia akan naik atau turun? Jawabannya mungkin bisa menggunakan pertanyaan berikut: Jika anda pada saat ini memegang cash, maka dengan mempertimbangkan prospek kenaikan sahamnya sekaligus risikonya jika ternyata anda masuk di harga yang masih terlalu tinggi, apakah anda akan masuk ke saham-saham diatas pada harganya saat ini? Jika jawabannya adalah iya, maka tentu IHSG akan naik. However, berikut ini adalah jawaban penulis jika ditanya pertanyaan diatas:
Stocks
Price
Buy Now?
ASII
6,950
No
BBCA
9,950
Yes
BMRI
9,100
Yes
TLKM
10,400
No
BBRI
7,850
Yes
UNVR
28,900
Yes
PGAS
5,400
Yes
SMGR
17,950
Yes
GGRM
50,300
No
BBNI
4,775
No
INTP
23,900
No
CPIN
5,100
No
UNTR
17,150
No
INDF
6,850
No
KLBF
1,340
Yes
Btw sebelumnya sekedar info, penulis sendiri nggak ada rencana untuk mengambil saham-saham yang ditandai ‘Yes’ diatas, kecuali UNVR, karena duitnya udah dipake (atau sudah direncanakan untuk dipakai) buat beli saham-saham properti. Namun jika disuruh memilih, maka saham-saham yang ditandai ‘Yes’ diataslah, yang akan penulis ambil.
Okay, kita balik lagi ke tabel diatas. Sekarang kita asumsikan saja bahwa stockpick diatas tepat, yaitu bahwa BBCA, BMRI, BBRI, UNVR, PGAS, SMGR, hingga KLBF semuanya naik. Maka IHSG pun akan? Naik, tentu saja. Karena diluar KLBF, keenam saham lainnya merupakan top cap yang sangat berpengaruh terhadap naik turunnya IHSG. Untuk ASII dan TLKM pun, meski peluangnya untuk naik terbilang kecil, namun kalau melihat penurunannya yang sudah mencapai masing-masing 16 dan 19% dari puncaknya, dan valuasi ASII yang sudah tidak terlalu mahal (kalau TLKM kayanya masih agak mahal), maka mereka juga kecil kemungkinannya untuk turun lagi.
Namun satu hal lagi. Kalau kita lihat valusi IHSG sendiri yakni PER 15.0 kali, maka posisi IHSG di 4,775 meski sudah tidak lagi semahal sebelumnya, namun juga belum bisa dikatakan murah. Kalau berdasarkan koreksi yang sudah-sudah (tahun 2008 nggak dihitung, karena itu crash, bukan koreksi), IHSG biasanya baru akan berhenti turun dan membal ketika PER-nya sudah berada di angka 11 – 12 kali. Termasuk kalau kita lihat valuasi dari saham-saham diatas, beberapa diantaranya seperti TLKM masih cukup mahal (atau setidaknya begitulah menurut pendapat penulis pribadi). Jadi kalau dilihat dari sisi ini, maka cukup beralasan jika ada yang mengatakan bahwa IHSG masih bisa turun lagi, selain  karena koreksi IHSG biasanya butuh waktu minimal sebulanan (IHSG mulai turun sejak awal Juni lalu, dan sekarang baru tanggal 17). Tapi jika kita turut mempertimbangkan salah satu faktor eksternal yang paling penting, yaitu konfirmasi kenaikan harga BBM yang diprediksi akan menyebabkan dana asing kembali masuk ke bursa, maka IHSG berpeluang untuk melanjutkan kenaikannya yang sudah terjadi dalam dua hari terakhir. Sementara penurunan lanjutan terhadap IHSG, jika itu benar-benar bakal terjadi, maka itu baru akan terjadi nanti setelah sentimen terkait kenaikan harga BBM ini mereda.

Well, I think that’s all from me. Sekarang apa pendapat [...]

Semen Baturaja

IPO Semen Baturaja (kodenya belum ditentukan, jadi kita sebut saja ‘Baturaja’) di akhir Juni mendatang menjadi menarik untuk diperhatikan karena setidaknya dua hal. Yang pertama adalah kesuksesan dari IPO BUMN sebelumnya, Waskita Karya (WSKT), yang terus saja naik dari harga perdananya di 380 hingga sempat menyentuh 1,080 sebagai posisi tertingginya, sehingga ada ekspektasi bahwa Baturaja pun mungkin akan mengalami hal yang sama. Dan yang kedua adalah karena timing IPO-nya bertepatan dengan momentum kenaikan saham-saham infrastruktur, termasuk duo saham semen yakni INTP dan SMGR, sehingga Baturaja sebagai saham semen juga memiliki peluang untuk langsung menyusul dua seniornya tersebut. Benarkah demikian? Well, memang itulah yang akan kita bahas disini. Here we go!


Logo PT Semen Baturaja, Tbk

PT Semen Baturaja adalah BUMN semen yang berdiri pertama kali pada tahun 1974, ketika itu merupakan perusahaan patungan antara Semen Padang dan Semen Gresik, dengan komposisi pemegang saham 55 : 45 (Semen Padang menjadi pemegang saham pengendali), meski pada perkembangannya kemudian Baturaja menjadi dimiliki sepenuhnya oleh Pemerintah Indonesia (tidak melalui Semen Padang dan Semen Gresik lagi). Pabrik semen pertama milik perusahaan di bangun di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan, ketika itu berkapasitas 100 ribu ton semen per tahun. Pembangunan pabrik semen ini selesai pada tahun 1981, sehingga sejak tahun 1981 itulah perusahaan mulai beroperasi secara komersial.
Seiring berjalannya waktu, Baturaja terus meningkatkan kapasitas produksi semennya, termasuk membangun dua pabrik semen baru yang berlokasi di Palembang (Sumatera Selatan), dan Panjang (Bandar Lampung, Provinsi Lampung), sehingga pada saat ini Baturaja memiliki tiga pabrik semen dengan total kapasitas produksi 1.25 juta tonsemen per tahun. Proyek peningkatan kapasitas produksi terakhir dikerjakan pada tahun 2000 lalu, dimana ketika itu kapasitas produksi semen perusahaan ditingkatkan dari 550 ribu ton per tahun menjadi 1.25 juta ton pada saat ini. Dan kedepannya, kapasitas tersebut akan meningkat kembali menjadi 2 juta ton per tahun pada Kuartal II 2013 (sebentar lagi), setelah proyek penambahan kapasitas pabrik semen yang di Baturaja, yang sudah dikerjakan sejak tahun 2010 lalu, dijadwalkan akan selesai sepenuhnya pada Kuartal II 2013 tersebut.
Kemudian dalam jangka panjang, tepatnya hingga tahun 2016 mendatang, kapasitas produksi semen Baturaja berpeluang untuk kembali naik menjadi 3.85 juta ton, mengingat perusahaan berencana untuk menggunakan dana hasil IPO-nya, yang kurang lebih sebesar Rp1.3 trilyun (jika harga IPO-nya ditetapkan Rp560 per saham), untuk membangun pabrik semen baru dengan kapasitas 1.85 juta ton, sehingga nantinya perusahaan akan memiliki total empat pabrik semen dengan total kapasitas produksi 3.85 juta ton semen per tahun. Lokasi pabrik baru ini akan persis di sebelah pabrik semen yang lama di Baturaja, dan konstruksinya akan mulai dikerjakan pada pertengahan tahun 2014.
Namun meski kapasitas produksi semen Baturaja akan meningkat (yang paling dekat, di tahun 2013 ini kapasitas tersebut akan naik dari 1.25 menjadi 2 juta ton per tahun), bukan berarti produksi semen perusahaan juga akan serta merta meningkat dari 1.25 menjadi 2 juta ton per tahun, melainkan biasanya akan butuh waktu hingga kapasitas anyar yang sebesar 2 juta ton tersebut akan ter-utilisasi (terpakai) seluruhnya. Berikut adalah data produksi semen perusahaan dalam lima tahun terakhir ini.
Tahun
2012
2011
2010
2009
2008
Kapasitas (ribuan ton)
1,250
1,250
1,250
1,250
1,250
produksi (ribuan ton)
1,234
1,250
1,131
1,047
1,071
harga jual (ribuan Rp)
890
838
777
784
748
HPP (ribuan Rp)
493
496
493
464
497
Perhatikan. Pada tahun 2012, volume produksi semen Baturaja sudah mencapai hampir 100% dari kapasitas produksinya (1,234 berbanding 1,250), sehingga wajar jika kemudian perusahaan meningkatkan kapasitas produksinya di tahun 2013 ini menjadi 2 juta ton. Namun jika berkaca pada pertumbuhan produksi semen perusahaan yang hanya meningkat total 163 ribu ton dalam kurun waktu lima tahun terakhir (1,071 menjadi 1,234), maka di tahun 2013 ini kemungkinan volume produksi Baturaja juga hanya akan meningkat menjadi sekitar 1,300 ribu ton. Pertumbuhan yang cenderung lambat ini kemungkinan disebabkan karena Baturaja merupakan perusahaan semen nomor dua di wilayah operasionalnya yakni Sumatera Bagian Selatan (yang terdiri dari Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, dan Jambi), setelah Semen Padang (yang kini merupakan anak usaha dari SMGR).
Meski terbilang lambat, namun pertumbuhan volume produksi tersebut cenderung stabil dimana angkanya naik terus dalam lima tahun terakhir, dan perusahaan diuntungkan oleh harga jual semen yang juga secara stabil naik terus, dari rata-rata Rp748,000 per ton di tahun 2008, menjadi Rp890,000 per ton di tahun 2012. Alhasil, pendapatan dan laba bersih Baturaja juga naik terus. Berikut datanya, angka dalam milyaran Rupiah.
Tahun
2012
2011
2010
2009
2008
Ekuitas
954
716
512
385
296
Pendapatan
1,098
1,050
886
817
794
Laba Bersih
299
252
222
177
136
ROE (%)
31.3
35.1
43.3
46.1
46.0
Secara keseluruhan, dalam lima tahun terakhir Baturaja mencatat CAGR laba bersih sebesar 21.7%, dan ROE antara 30 – 45%. Angka ini tentu saja cukup baik, dan tidak kalah baiknya dibanding INTP maupun SMGR. So, berdasarkan track record historisnya diatas, Baturaja terbilang menarik untuk investasi jangka panjang, terlebih mengingat pertumbuhan permintaan semen di Sumatera Bagian Selatan terbilang cukup tinggi dengan CAGR 10.2% (dalam lima tahun terakhir), lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 9.6%. Plus, Pemerintah juga masih punya segudang rencana pembangunan infrastruktur di Pulau Sumatera (jalan tol Trans-Sumatera, Jembatan Selat Sunda, dll).
Jadi pertanyaannya sekarang, mampukah perusahaan mengoptimalkan penambahan kapasitas produksinya yang dari 1.25 menjadi 2 juta ton, dan juga menyelesaikan pembangunan pabrik barunya tepat waktu di tahun 2016? Jika jawabannya adalah iya, maka Baturaja berpeluang untuk bertransformasi dari perusahaan semen kecil menjadi perusahaan semen kelas menengah. Yup, jika dibandingkan dengan perusahaan semen terbesar di tanah air, yakni Indocement dengan kapasitas produksinya sebesar 18.6 juta ton (per tahun 2012), maka Baturaja memang cuma perusahaan semen kelas teri. Namun teri ini berpeluang untuk menjadi kakap dalam tiga atau empat tahun mendatang.
Terkait sahamnya, pemberitaan terbaru menyebutkan bahwa Pemerintah akan melepas saham Baturaja di harga Rp560per saham, sehingga Baturaja akan memperoleh dana segar sebesar Rp1.3 trilyun. Jika ditambahkan dengan posisi ekuitas terakhir perusahaan, yakni Rp954 milyar pada akhir tahun 2012, maka modal Baturaja akan meningkat menjadi Rp2.2 trilyun pasca IPO. Dan dengan jumlah saham pasca IPO sebanyak 9.8 milyar lembar, maka harga tersebut akan mencetak market cap Rp5.5 trilyun. Itu berarti, PBV-nya 5.5 / 2.2 = 2.4 kali.
Kemudian, sepanjang tahun 2012, Baturaja mencetak laba bersih Rp299 milyar, yang jika dibagi jumlah saham sebanyak 9.8 milyar, EPS-nya menjadi Rp30 per saham. So, harga 560 akan mencetak PER 560 / 30 = 18.5 kali. Angka PER ini sejatinya masih bias karena belum memperhitungkan ekspektasi bahwa laba bersih Baturaja di Kuartal I 2013 akan tumbuh sekitar 20% menjadi kurang lebih Rp358 milyar (sudah disetahunkan). Jika angka laba bersih itu yang dipakai, maka PER Baturaja akan menjadi 15.4 kali. So let say, kita pakai PER yang yang sebesar 15.4 kali ini saja.
Lalu, berikut adalah beberapa indikator fundamental penting Baturaja berdasarkan kinerjanya per tahun 2012:
DER: 0.26 kali
ROE: 31.3%
Net Profit Growth: 18.6%
Dan berikut ini adalah komparasi fundamental berdasarkan laporan keuangan Kuartal I 2013, dari tiga perusahaan semen yang sudah listing di bursa, yakni Indocement Tunggal Prakasa (INTP), Semen Indonesia (SMGR), dan Holcim Indonesia (SMCB). Price disini adalah berdasarkan penutupan harga saham pada hari Senin, tanggal 10 Juni 2013 kemarin, dan catat bahwa harga tersebut sudah termasuk efek tekanan penurunan IHSG yang terjadi akhir-akhir ini:
Stocks
Price
PER
PBV
DER
ROE (%)
net profit growth (%)
INTP
22,200
17.8
4.0
0.14
22.3
14.6
SMGR
16,300
19.6
5.0
0.42
25.3
21.0
SMCB
2,775
28.9
2.5
0.55
8.6
(26.1)
Okay, setelah melihat data diatas, maka harga 560 untuk Semen Baturaja terbilang? Murah, tentu saja. PBV 2.4 kali masih rendah dibanding tiga emiten semen lainnya di bursa, termasuk lebih rendah dibanding SMCB, dan PER 15.4 kali juga masih lebih rendah. Padahal, ROE Baturaja yang mencapai 31.3% lebih besar dari ROE SMGR sekalipun, yang hanya 25.3%. Disisi lain, Baturaja mungkin memang tidak bisa disamakan (harganya) dengan SMGR, mengingat dari sisi nama besar perusahaan dan kekuatan brand-nya, Baturaja kalah jauh. Bagi anda yang tinggal di Pulau Jawa, anda tidak akan pernah menemukan Semen Baturaja di toko bangunan, kecuali mungkin di beberapa toko di daerah Banten.
Meski demikian, Baturaja tetap saja terbilang murah jika harga perdananya benar-benar ditetapkan pada level 560, sehingga dia berpeluang untuk langsung melejit naik ketika listing pada tanggal 28 Juni nanti, mungkin hingga 700 – 800, terutama jika ketika itu market sudah mulai pulih kembali dari kondisinya saat ini. Tapi jika ketika itu market masih berdarah seperti sekarang, maka mungkin sahamnya tidak akan melejit, tapi seharusnya tidak ikut turun juga.
Tapi yah, barang bagus dan murah begini jangan harap anda bisa memperoleh jatah di harga IPO-nya, karena kalau anda pesan 100 lot, misalnya, maka paling-paling dikasihnya cuma 2 lot. Beberapa media mengatakan bahwa dari 2.3 milyar lembar saham Baturaja yang dilempar ke publik, sebagian besar diantaranya sudah diserap investor asing, sehingga retailer kemungkinan hanya akan dapat jatah sedikit. Tapi kita tentu sudah hafal, siapa sebenarnya ‘asing’ tersebut.
PT Semen Baturaja, Tbk
Rating Kinerja pada 2012: AAA
Rating saham pada 560: AA

NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis saham dari sisi fundamental. Anda bisa memperolehnya [...]

My Interview with Warren Buffett

Hello Sir, my name is Teguh Hidayat, I am a stock investor from Indonesia. Can I have your time for just a minute? I would ask some questions which I am sure you have the answer.


Hello too, Teguh. Okay, what do you want to know?

Well, first, what is your main advice to be a successful investor?

Here is my advice. Rule number one, never lose money. Rule number two, don’t forget rule number one. I never spend time to think about how much profit I would get, just don’t lose.

And about not to losing money in the market, then it’s all about risk. And risk comes from not knowing what you’re doing, or in this case, not knowing about the stock you want to buy. Stocks, or shares, are not mere pieces of paper. They represent part ownership of a business or company. So, when contemplating an investment, think like a prospective owner. And by that I mean, before you decide to buy stocks, first you have to learn about the company. Never invest in a company you do not understand.


You said you never think about the profit. Are you sure?

Yes. I never attempt to make money on the stock market. I buy on the assumption that the authorities could close the market the next day and not reopen it for five years.


But how you could do that? Buy a stock and see the results in the next five years? Most of people cannot hold his stock even just for a day!

That’s because I don’t look to jump over 7-foot bars. I look around for 1-foot bars that I can step over. Most people always expect that if they are buying a stock, then in the next day the stock would soar 5% or more. While me, I understand enough that consistent profit in the long run is far better than big profit in short time. If you’re trying to jump every day, then sometime you may fall on the ground. But if you just step over and keep walking, then it is always easier to do.


What is the difference between investor and speculator?

If you are an investor, you are looking on what the company is going to do. If you are a speculator, you are commonly focusing on what the price of the stock is going to do.


So how if we want to become investor?

Our game is focus on the asset, or the company, not the price of the stocks. I suggest you to play the same game.


What would you do if the stock market is bearish?

We’ll buy morestocks, haha.. I know this is not easyfor you, but that’s what we’re doing. We simply attempt to be fearful when others are greedy, and to be greedy only when others are fearful.


Being greedy when the others are fearful? How?

Well, why would I feel fear when there are so many cheap and good stocks we could buy? Once again, I don’t see the price, I see the value of the company. And when the price is fair enough, then it is the time to spend the cash.


So, you sell your stock when the market is bullish?

Not really. I’m picking good stocks at good times and staying with them as long as they remain good companies. So I only sell them when they’re turned bad. But our point is, we also sell our stocks, but only when it is no longer ideal for investment.

All right lemme review again.. Don’t think about profit, just don’t lose, learn the company not the stock, don’t jump but just keep walking, be greedy when the others are fearful.. And how’s the result Sir?


Well, I’ve made my first billion US Dollar in the early 90′s, about twenty three years ago, and it become around 40 billion US Dollar right now. Not bad, eh?

Not bad? It’s marvelous! Anyway Sir, thank you very much for the conversation. It’s been a minute and I know you’re very busy, so I would say goodbye, hope we can see you again in the future!


Okay son, take care!

NB: My special thanks for any sources who provide the images. The above conversation is fiction, but the words are based on real quotes by Warren [...]

My Interview with Warren Buffett

Hello Sir, my name is Teguh Hidayat, I am a stock investor from Indonesia. Can I have your time for just a minute? I would ask some questions which I am sure you have the answer.

Hello too, Teguh. Okay, what do you want to know?
Well, first, what is your main advice to be a successful investor?
Here is my advice. Rule number one, never lose money. Rule number two, don’t forget rule number one. I never spend time to think about how much profit I would get, just don’t lose.
And about not to losing money in the market, then it’s all about risk. And risk comes from not knowing what you’re doing, or in this case, not knowing about the stock you want to buy. Stocks, or shares, are not mere pieces of paper. They represent part ownership of a business or company. So, when contemplating an investment, think like a prospective owner. And by that I mean, before you decide to buy stocks, first you have to learn about the company. Never invest in the company you do not understand.
You said you never think about the profit. Are you sure?
Yes. I never attempt to make money on the stock market. I buy on the assumption that the authorities could close the market the next day and not reopen it for five years.
But how you could do that? Buy a stock and see the results in the next five years? Most of people cannot hold his stock even just for a day!
That’s because I don’t look to jump over 7-foot bars. I look around for 1-foot bars that I can step over. Most people always expect that if they are buying a stock, then in the next day the stock would soar 5% or more. While me, I understand enough that consistent profit in the long run is far more important than big profit in short time. If you’re trying to jump every day, then sometime you may fall on the ground. But if you just step over and keep walking, then it is always easier to do.
What is the difference between investors and speculators?
If you are an investor, you are looking on what the company is going to do. If you are a speculator, you are commonly focusing on what the price of the stock is going to do.
So how if we want to become investor?
Our game is focus on the asset, or the company, not the price of the stocks. I suggest you to play the same game.
What would you do if the stock market is crashes?
We’ll buy more stocks, haha.. I know this is not easyfor you, but that’s what we’re doing. We simply attempt to be fearful when others are greedy, and to be greedy only when others are fearful.
Being greedy when the others are fearful? How?
Well, why would I feel fear when there are so many cheap and good stocks we could buy? Once again, I don’t see the price, I see the value of the company. And when the price is fair enough, then it is the time to spend the cash.
So, you sell your stock when the market is bullish?
Not really. I’m picking good stocks at good times and staying with them as long as they remain good companies. So I only sell them when they’re turned bad. But our point is, we also sell our stocks, but only when it is no longer ideal for investment.
All right Sir, thank you very much for the conversation. It’s been a minute and I know you’re very busy, so I would say goodbye, hope we can see you again in the future!
Okay son, take care!
NB: My special thanks for any sources who provide the images. The above conversation is fiction, but the words is based on real quotes by Warren [...]

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Sekolah Internet Indonesia

Rahasia Flip Klik Disini

Panduan Rahasia Dropshipping

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.