Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Bumi Resources: Analisa Restrukturisasi Utang

Pada akhir September kemarin, Bumi Resources (BUMI), perusahaan batubara terbesar sekaligus paling keberatan utang di Indonesia, merilis informasi terbaru terkait upaya manajemen dalam me-restrukturisasi outstanding debt-nya (utang-utang yang mengandung bunga), yang mencapai hampir US$ 4 milyar per 31 Agustus 2015. Sebenarnya sejak harga batubara mulai turun pada tahun 2012 lalu, BUMI sudah kesulitan dalam membayar cicilan utangnya, hingga pada Juli 2013 lalu BUMI terpaksa melepas sebagian sahamnya di PT Kaltim Prima Coal (KPC), untuk membayar sebagian utangnya ke China Investment Corporation (CIC). Namun setelah dua tahun harga batubara ternyata masih saja turun, dan alhasil sampai sekarang manajemen BUMI masih harus terus berurusan dengan para kreditor.

Nah, meski disatu sisi kita bisa katakan bahwa BUMI ‘kena batunya’ akibat dari keserakahan manajemen di masa lalu dalam mengambil leverage gila-gilaan(rasain lu!), tapi disisi lain terus terang penulis lumayan kagum sekaligus heran juga. Karena ketika ada banyak perusahan-perusahaan lain yang jatuh dan hancur karena utang, BUMI entah bagaimana caranya masih baik-baik saja. BUMI sampai sekarang belum pernah default (gagal bayar utang) atau dituntut pailit oleh para kreditornya, dan anak-anak usahanya juga masih beroperasi dengan normal di Kalimantan sana. Ketika beberapa bulan lalu Berau Coal Energy (BRAU) di-cap default, penulis yakin kalau tim manajemennya juga sudah berupaya sekuat tenaga agar cap default tersebut tidak sampai diterima, tapi toh mereka tetap saja gagal, padahal nilai utang yang gagal dibayar ‘cuma’ US$ 500 juta.
Sementara BUMI? Total utangnya mencapai US$ 4 milyar, alias jauh lebih besar, but still, sekedar ancaman default pun sampai sekarang belum pernah terdengar.
Dan melalui proposal terbarunya, manajemen BUMI mengusulkan bahwa utang US$ 4 milyar tersebut akan direstrukturisasi menjadi sebagai berikut:
  1. US$ 1.2 milyar diperpanjang hingga lima tahun kedepan, dan dikonversi menjadi senior secured facility. Intinya manajemen BUMI minta penundaan waktu pelunasan hingga lima tahun kedepan, dengan iming-iming tambahan jaminan aset atas utang tersebut. Namun tingkat bunganya tetap, alias tidak naik.
  2. US$ 1.5 milyar dikonversi menjadi 32.5% saham BUMI. Jika poin kedua ini diterima oleh kreditor, maka artinya mereka (kreditor) setuju untuk menganggap bahwa nilai aset bersih/ekuitas BUMI adalah US$ 4.6 milyar.
  3. US$ 630 juta dikonversi menjadi sekian persen saham pada beberapa anak usaha milik BUMI.
  4. US$ 150 juta dikonversi menjadi saham BUMI pada harga Rp250 per saham, berdasarkan assessment bahwa nilai ekuitas BUMI adalah US$ 4.6 milyar. Ini berarti bahwa utang US$ 150 juta ini memperoleh perlakuan yang lebih baik dibanding utang US$ 1.5 milyar diatas (poin nomor 2), yang juga ditawari untuk dikonversi dengan saham BUMI tapi pada harga yang jauh lebih tinggi (akan dijelaskan dibawah).
  5. US$ 141 juta, dibayar lunas menggunakan dana hasil penjualan salah satu anak usaha, PT Fajar Bumi Sakti (FBS).
  6. US$ 410 juta diperpanjang hingga lima tahun kedepan, dan bisa dikonversi menjadi saham BUMI setelah lima tahun tersebut.
Nah, yang menarik adalah poin nomor 2, dimana manajemen BUMI mencoba menjual saham BUMI kepada beberapa kreditornya pada harga yang mencerminkan market cap US$ 4.6 milyar, atau Rp60.7 trilyun berdasarkan kurs Rp13,200 per US$. Berhubung jumlah saham beredar BUMI adalah 36.6 milyar lembar, maka market cap tersebut setara dengan.. Rp1,660 per saham.

Proposal selengkapnya yang diajukan manajemen BUMI, klik gambar untuk memperbesar

Pertanyaannya tentu, kreditor sinting mana yang bersedia utangnya ditukar dengan saham BUMI pada harga setinggi itu, padahal jelas-jelas harga saham BUMI di market cuma gocap??? (kemarin sempat naik sih, tapi masih belum jauh-jauh dari gocap). Selain itu, berdasarkan laporan keuangan BUMI per Semester I 2015, bukankah sudah jelas-jelas ditunjukkan bahwa ekuitas BUMI adalah minus 1.4 milyar? Jadi bagaimana mungkin tiba-tiba saja manajemen BUMI menganggap bahwa ekuitas perusahaan adalah US$ 4.6 milyar???
But maybe, just maybe, nilai aset bersih BUMI memang lebih tinggi dari apa yang tercantum di laporan keuangannya. Dan berikut penjelasannya:
Hidden Value?
Sejak manajemen BUMI mulai merestrukturisasi utang-utangnya pada Juli 2013 lalu, salah satu tindakan restrukturisasi tersebut adalah dengan melepas 19% saham di KPC ke CIC pada harga US$ 950 juta. Hal yang perlu diingat disini adalah, ketika BUMI melepas sebagian kepemilikannya di KPC ke CIC, posisi BUMI sedang berhutang US$ 1.9 milyar ke CIC dan utang itu nyaris saja gagal dibayar, atau dengan kata lain, posisi BUMI dalam transaksi jual beli saham KPC tersebut bisa dikatakan terjepit.
Namun hebatnya, manajemen sukses meyakinkan CIC bahwa BUMI hanya perlu melepas 19% sahamnya saja di KPC. Dan kalau CIC setuju untuk mengkonversi piutangnya senilai US$ 950 dengan 19% saham KPC, itu berarti manajemen CIC menganggap bahwa nilai saham KPC yang mereka terima adalah lebih besar atau minimal setara dengan US$ 950 juta plus bunganya sebesar 19% per tahun! (19% adalah bunga yang dibebankan CIC ketika mereka memberikan pinjaman ke BUMI). CIC adalah perusahaan investasi yang amat sangat besar, jadi mereka tentunya tidak asal-asalan ketika setuju untuk mengkonversi separuh piutangnya dengan saham KPC, melainkan mereka sudah melakukan perhitungan yang sangat hati-hati. KPC sendiri, sebagaimana yang kita tahu, adalah salah satu perusahaan batubara terbesar di dunia, dan merupakan aset utama milik Bumi Resources.
Dengan demikian nilai KPC, atau setidaknya dalam pandangan CIC, adalah US$ 950 juta / 19% = US$ 5 milyar! Dan itu belum termasuk tambahan nilai dari bunga yang 19% per tahun tadi. Jadi kalau Om Nirwan gak mau ambil pusing dalam mengurus utang-utang BUMI dan langsung saja melepas KPC, maka ia akan memperoleh dana tunai US$ 5 milyar atau lebih, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membayar utang-utang BUMI sebesar US$ 4 milyar tadi, dan bahkan setelah itu BUMI masih memegang Arutmin, Newmont, dan lainnya (untuk melihat aset-aset apa saja yang dipegang BUMI, baca disini). Namun sudah tentu, seorang Nirwan Bakrie tidak akan menyerah segampang itu.
Tapi kalau nilai aset-aset BUMI memang sebesar itu, lalu kenapa di laporan terakhir perusahaan hanya tercantum nilai aset total US$ 4.4 milyar? Well, itu karena BUMI, seperti juga mayoritas perusahaan tambang lain, mencatat nilai asetnya berdasarkan harga perolehan dan bukan nilainya pada saat ini. Karena BUMI mengakuisisi KPC di tahun 2003 pada harga US$ 500 juta, maka ya sudah, sampe sekarang nilai KPC di laporan keuangan BUMI dicatat dikisaran US$ 500 juta itu saja (berubah sedikit-sedikit karena adanya bagian laba/rugi, depresiasi, perubahan persentase saham yang dimiliki, dst), dan bukan US$ 5 milyar seperti yang mungkin memang nilai sesungguhnya pada saat ini.
Intinya sih, nilai riil dari aset-aset BUMI mungkin jauh lebih besar dari apa yang ditunjukkan di laporan keuangan perusahaan, dan mungkin ini pula yang dijadikan alasan oleh manajemen BUMI untuk menganggap bahwa nilai aset bersih BUMI pada saat ini adalah sejatinya US$ 4.6 milyar (setara dengan Rp1,660 per saham), dan bukannya minus US$ 1.4 milyar.
Time to buy?
Jika proposal restrukturisasi ini disetujui oleh semua pihak, maka berikut adalah beberapa hal yang akan terjadi:
  1. Utang BUMI berkurang US$ 2.4 milyar.
  2. Karena utangnya berkurang, maka di laporan keuangannya, nilai ekuitas BUMI yang terakhir tercatat minus US$ 1.4 milyar, kemungkinan akan menjadi positif kembali.
  3. Namun nilai aset BUMI secara keseluruhan juga akan berkurang, karena ada sebagian saham di anak-anak usahanya yang tidak lagi dimiliki perusahaan.
  4. Sisa utang yang sebesar US$ 1.6 milyar, jatuh temponya diperpanjang hingga lima tahun kedepan. Dengan asumsi bahwa harga batubara seharusnya pulih dalam jangka waktu tersebut, maka utang segitu harusnya gak jadi masalah, apalagi buat grup seperti Bakrie.
  5. Beban bunga utang perusahaan akan berkurang drastis, sehingga margin laba bersih BUMI kedepannya akan meningkat tajam.
  6. BUMI akan dimiliki oleh beberapa pemegang saham baru yang memegang total 32.3% sahamnya. Para pemegang saham baru ini memperoleh saham BUMI pada harga Rp1,660 per saham.
  7. Terdapat satu pemegang saham baru yang memperoleh BUMI pada harga yang lebih ‘murah’, yakni hanya Rp250 per saham.
  8. Masalah selesai! Selanjutnya, BUMI tinggal menunggu harga batubara pulih kembali.
Nah, sampai poin ini, anda mengerti kan, kalau penulis belakangan ini mulai melihat BUMI ini dengan cara yang berbeda? BUMI, pada harga 8,000, 5,000, 1,000, 500, atau bahkan 300 sekalipun, memang tidak menarik. Tapi bagaimana kalau gocap? Apalagi jika kita mempertimbangkan faktor hidden value-nya diatas. Seperti yang pernah dikatakan Opa Warren di tahun 60-an, ‘Kami suka membeli saham pada harga yang sedemikian rendahnya, sehingga bila kami menjualnya pada harga yang biasa-biasa saja sekalipun (gak perlu terlalu tinggi), kami masih memperoleh untung.’ Make it simple: Kalau BUMI sukses naik ke 250 saja (gak perlu ke 1,660 dulu deh), maka profitnya sudah lima kali lipat bukan? Risiko tentunya selalu ada, tapi kali ini peluang profitnya jauh lebih besar dibanding risiko tersebut dan, bear in mind, pada tahun 2008 lalu Gita Wirjawan juga membeli BUMI pada harga sekitar 700 hingga akhirnya dia profit gila-gilaan setelah menjualnya pada harga 2,500. Dan apakah menurut anda Mr. Gita ini, yang pernah menjabat sebagai Presdir JP Morgan Indonesia, adalah cuma trader culun yang gak ngerti apa-apa dan cuma ikut-ikutan ketika dulu ia membeli BUMI? I don’t think so!
However, kalaupun anda juga mulai tertarik dengan BUMI, maka terdapat setidaknya tiga hal yang perlu anda perhatikan. Pertama, proposal restrukturisasi utang yang sudah dibahas diatas masih sebatas proposal, alias belum tentu disetujui oleh para kreditor. Jika CIC dan kreditor lainnya menolak proposal diatas, maka semua skenario bakal bubar, dan utang BUMI tidak akan berkurang sepeserpun. Kedua, meski diatas kita sudah membahas soal ‘hidden value’ dari BUMI, namun toh tetap saja, yang dilihat orang adalah laporan keuangan, dan sampai sekarang laporan keuangan BUMI masih bisa didaulat sebagai laporan keuangan terbaik (dari bawah) yang pernah dirilis oleh perusahaan publik, dan itulah yang menyebabkan saham BUMI terdampar di posisinya saat ini. Kecuali jika nanti laporan keuangannya menunjukkan bahwa ekuitas BUMI sukses kembali positif, maka secara fundamental sahamnya belum memiliki alasan untuk naik kembali.
Dan ketiga, jangan lupa bahwa BUMI ini masih dikuasai Bakrie. Intinya sih, kalau ikan paus sekelas Nathaniel Rothschild saja pernah mereka gebuk, dan Om Samin Tan juga jadi kurus kering gara-gara kemakan omongan mereka untuk ikut masuk ke Bumi Plc hingga akhirnya harus menanggung utang US$ 1 milyar ke StanChart, maka jangan harap kalau anda, yang notabene cuma ikan teri (bahkan jika anda beli BUMI Rp100 milyar sekalipun maka anda masih masuk kategori ikan teri, atau maksimal ikan sarden lah), akan digelari karpet merah dan diberi karangan bunga ketika anda membeli BUMI. Dengan mempertimbangkan faktor Bakrie ini, maka keputusan untuk masuk ke BUMI, bahkan meski dengan pertimbangan yang sangat hati-hati sekalipun, tetap lebih dekat ke spekulasi ketimbang investasi. Jadi penulis sendiri, kalaupun nanti kita jadi masuk ke BUMI ini, maka hanya akan menggunakan dana secukupnya saja.
Okay, komentar [...]

Tips Investasi Ala Pendaki Gunung

Akhir pekan kemarin penulis bersama beberapa orang teman pergi mendaki gunung, dalam hal ini Gunung Salak di Kabupaten Sukabumi/Bogor, Jawa Barat. Berbeda dengan aktivitas liburan lainnya yang jauh lebih santai, mendaki gunung membutuhkan ketahanan fisik sehingga penulis harus meluangkan waktu untuk rutin berolahraga selama minimal seminggu sebelum hari pendakian. Karena itulah, sejak terakhir mendaki sekitar dua atau tiga tahun lalu, baru sekarang penulis punya waktu untuk melakukannya lagi. Dan setelah sempat kram, kehujanan, kedinginan, hingga kehausan selama dua hari satu malam, Alhamdulillah kami sukses mencapai puncak, dan juga sukses kembali ke rumah.

Dan, btw, kalau kita melakukan aktivitas tertentu yang bersifat menantang, maka biasanya kita akan memperoleh inspirasi tertentu. Berikut adalah tiga inspirasi yang penulis peroleh dari petualangan kemarin, yang bisa dikaitkan dengan investasi kita di saham.
Investasi itu sulit dan melelahkan pada awalnya, tapi akan menyenangkan pada akhirnya
Pertama, mendaki gunung tentu saja menguras tenaga. Dan Gunung Salak sendiri dikenal sebagai salah satu gunung dengan medan pendakian paling sulit di Pulau Jawa, dengan jalur yang terjal, panjang dan jauh (dari base camp ke puncak dan balik lagi, totalnya hampir 20 kilometer), sempit, licin dan berlumpur karena hujan, dan kanan kiri jurang. Kami beberapa kali ketemu jalur yang menurun, tapi tak lama kemudian langsung disambut oleh tebing yang nyaris vertikal yang harus dipanjat menggunakan tali. Penulis kemarin juga sempat ketemu jalur pendakian yang longsor sehingga dibuat jembatan diatas jurang, padahal ‘jembatan’ itu sejatinya cuma satu batang pohon dan dua utas tali untuk pegangan. Bagi pendaki berpengalaman, melewati jembatan seperti itu mungkin biasa saja. Tapi bagi pendaki amatir seperti penulis, itu benar-benar pengalaman yang sangat menakutkan! Apalagi kondisi penulis ketika itu sudah sangat letih, kaki gemeteran, dan mata nyaris berkunang-kunang.
Tapi toh, saya dan teman-teman berhasil melewatinya, demikian pula dengan tebing-tebing vertikal tadi, hingga akhirnya kami tiba di puncak. Disinilah menariknya: Mungkin karena sadar bahwa kami sudah dipuncak dan tidak perlu mendaki lebih jauh lagi, kami tiba-tiba saja merasa bersemangat dan tidak merasa capek lagi. Kami dengan cepat memasang tenda, ganti baju, dan masak untuk makan malam (kami tiba di puncak sekitar pukul 6 sore). Ketika akhirnya dinner siap disajikan, itu adalah makan malam terenak yang pernah penulis rasakan! Penulis juga minum Kopiko 78 degrees yang sengaja dibawa (itu minuman kesukaan penulis kalo lagi nongkrongin saham di malam hari), dan entah kenapa rasanya ketika itu jauuuuuuh lebih enak dari biasanya.
Menjelang malam sebelum tidur, pikiran penulis menerawang jauh hingga sampai pada kesimpulan bahwa, mendaki gunung itu tidak ada bedanya dengan invest di saham. Dulu ketika penulis baru masuk ke pasar modal untuk pertama kalinya, penulis entah sudah berapa berapa kali dikerjai oleh ‘bandar’ yang tidak pernah kelihatan wujudnya, dihantam koreksi IHSG, hingga digebuk oleh rumor-rumor jelek entah dari mana yang dengan gampangnya bikin saham penulis jatuh berantakan. Dan itu semua sangat melelahkan! Apalagi kondisi penulis yang ketika itu belum berpengalaman dan gak ngerti apa-apa, menyebabkan penulis gampang panik dan banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu.
Namun beberapa tahun kemudian, seiring dengan meningkatnya pengetahuan serta pengalaman, perlahan tapi pasti penulis berhasil menemukan cara-cara investasi yang baik dan benar (saya sudah sering membahasnya di website ini, sebagian besar terinspirasi oleh pengalaman penulis sendiri sebagai investor), yang mampu menghasilkan keuntungan konsisten serta meminimalisir risiko kerugian, dan penulis juga tidak lagi gampang panik ataupun greedy. Jika dulu semuanya serba gelap dan harus main tebak-tebakan nyaris tiap hari (naik apa turun?), maka kini semuanya under control. Penulis kini jauh lebih enjoydalam menyikapi portofolio, bisa tidur nyenyak di malam hari, dan semua rasa lelah yang mendera selama bertahun-tahun sebelumnya tiba-tiba saja hilang begitu saja, sama persis seperti ketika penulis sampai di puncak gunung!
Jadi bagi investor pemula, jika semuanya tampak melelahkan, sulit dan gelap (karena pengetahuan investasi yang belum memadai), atau bahkan menakutkan, maka itu sangat-sangat wajar, karena seperti halnya mendaki gunung, anda tidak bisa begitu saja tiba di puncak tanpa melalui pendakian yang melelahkan bukan? Namun asalkan anda keep going, maka suatu hari nanti anda sampai pada titik dimana: 1. You know what to do, 2. You can do it with relax, 3. You make consistent profits without significant losses (kalau rugi dikit-dikit sih ndak apa-apa, asal jangan rugi kaya di TRAM), maka itulah ‘puncak gunung’ yang baru saja anda capai, and trust me, ketika anda sudah tiba di titik tersebut, maka segala letih, lesu, dan capek akan hilang dengan sendirinya, berganti dengan rasa santai dan nyaman, pokoknya seneng deh! :)
Kemampuan tiap individu berbeda-beda, namun asalkan keep going, maka semua orang akan sampai di puncak
Kedua, penulis dan kelompok (kami pergi berenam) berangkat dari base camp pukul 7 pagi, dan selama pendakian kami beberapa kali istirahat untuk memulihkan tenaga. Ketika beristirahat itulah, kami disusul oleh kelompok-kelompok lain yang bergerak lebih gesit. However, kami juga beberapa kali menyusul kelompok tertentu yang tampak bergerak lebih lambat. Kami sampai di puncak pukul 6 sore, sehingga totalnya kami butuh waktu 11 jam untuk menyelesaikan pendakian, namun beberapa kelompok lain ada yang sudah sampai puncak lebih awal pada pukul 4 sore, dan ada juga yang baru sampai pukul 8 malam.
Pendek kata, setiap kelompok pendakian ternyata memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam mencapai puncak gunung, dimana ada yang cepat, dan ada juga yang lambat.
Tapi persamaaan dari semua kelompok adalah, mereka semua mencapai puncak! Termasuk, penulis sempat melihat beberapa orang yang secara fisik dan usia tampak mustahil untuk bisa mencapai puncak, tapi toh mereka sampai juga meski baru sampai pada malam hari. Beberapa kelompok mungkin saja ada yang menyerah di tengah jalan dan balik lagi, tapi sebagian besar pendaki yang penulis temui di tengah jalan, penulis bertemu dengan mereka lagi di puncak (dan kelompok kami dengan cepat akrab dengan kelompok lain. Suasana keakraban di Puncak Salak sangat luar biasa, dan tidak akan bisa ditemui di tempat lain manapun).
Nah, dalam berinvestasi di saham, diakui atau tidak, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menganalisa ataupun mengendalikan emosi, dimana beberapa investor mungkin perlu waktu yang lebih lama untuk menggali pengetahuan dan pengalaman, hingga pada akhirnya mampu menghasilkan profit yang konsisten, sama seperti penulis yang tentu saja tidak mampu mendaki gunung secepat anggota SAR yang katanya bisa mencapai puncak Salak hanya dalam waktu tiga jam.
Namun, asalkan anda keep going dan tidak mundur lagi ke belakang, asalkan anda terus mengikuti rute yang benar dan tidak coba-coba ambil jalan pintas (hati-hati nih, kalo di saham biasanya yang pake dana margin), maka tak peduli apapun latar belakang anda, cepat atau lambat anda akan sampai puncak! Setelah pengalaman di Gunung Salak, penulis jadi rajin baca-baca tentang gunung tertinggi di dunia, Everest, dan penulis menemukan fakta bahwa beberapa orang yang ‘aneh-aneh’ mulai dari orang pincang, orang tua berusia 70 tahun lebih, anak remaja berusia 13 tahun, hingga orang yang jelas-jelas tidak bisa melihat (buta), semuanya sukses mencapai puncak, meski tentunya dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dibanding pendaki profesional. Nah, jika siapapun bisa mencapai puncak gunung tertentu, termasuk mereka yang tampaknya mustahil bisa melakukannya, lalu apa yang membuat anda berpikir bahwa anda tidak bisa menjadi seorang investor yang sukses??? All you have to do, once again, is just keep going, follow the right path (or in this case, do the right thing), and never quit or turning back.
Jagalah perilaku, maka anda akan baik-baik saja
Kalau anda baca-baca di internet, maka Gunung Salak tidak hanya dikenal sebagai gunung yang terjal tapi juga angker, mungkin malah paling angker dibanding gunung lain manapun di Indonesia. Karena itulah, sebelum kami berangkat, pimpinan kelompok (bukan penulis) berpesan agar kami nggak ngomong kasar, nggak buang sampah sembarangan, tidak berbuat asusila, dan menjaga perilaku. Karena kalau tidak maka kami mungkin bakal dikerjai oleh ‘penghuni’ setempat.
Tapi untungnya kami berenam sukses mencapai puncak dan kembali kebawah dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, dan itu karena kami memang behave dan gak macam-macam. Hanya memang dalam perjalanan pulang ke Jakarta, kelima rekan penulis menceritakan pengalaman mistisnya masing-masing selama di gunung, mulai dari melihat penampakan, melihat pohon terguncang dengan keras, dan entah kenapa tiba-tiba bulu kuduknya berdiri sendiri. Alhamdulillah, penulis menjadi satu-satunya orang yang tidak melihat, mendengar, atau merasakan hal ganjil apapun (malah sejak pertama kali penulis naik gunung waktu masih kuliah dulu, penulis belum pernah sekalipun ketemu ‘sesuatu’. I don’t know why, tapi ya jangan sampe deh).
Nah, sebenarnya tidak hanya di gunung, namun dalam kehidupan sehari-hari kita juga dituntut untuk selalu behave jika mau selamat, termasuk juga di pasar saham. Tapi di pasar saham ada banyak sekali orang-orang yang tidak mau menjaga perilaku, dimana para trader kecil maunya main judi melulu, sementara pemodal besar juga banyak yang dengan sengaja mencoba mengambil keuntungan cepat dari investor ritel yang nggak ngerti apa-apa, dengan cara menyebar rumor sesat dan menaik turunkan saham tertentu secara tidak wajar. Akibatnya bisa ditebak: Kerugian gila-gilaan menjadi cerita yang biasa di pasar saham, dan tidak banyak investor yang mampu ‘mendaki dengan selamat’ di tahun-tahun pertama mereka sebagai investor. Dan jangan salah: Kebanyakan investor ritel mengira bahwa pemodal besar biasanya pasti untung ketika mereka membandari saham tertentu, padahal pemodal besar ini bisa saja rugi karena tindakan spekulasi yang mereka buat sendiri. Bagi anda yang paham dunia bandar-bandaran, anda tentu hafal bahwa seorang bandar harus melakukan ‘distribusi’ dengan lancar, atau ia akan terjebak memegang ‘barang busuk’ pada harga selangit, dan akhirnya menderita rugi besar.
Jadi bagaimana caranya agar kita bisa selamat dari terjalnya pasar saham? Ya dengan menjaga perilaku, dengan berinvestasi berdasarkan cara yang benar, yakni membeli saham dari perusahaan yang bagus pada harga yang wajar/murah, kemudian disimpan. Ada banyak cerita investor yang sukses besar setelah memegang saham bagus selama bertahun-tahun, jadi kenapa kita tidak melakukan hal yang sama? Sebaliknya, ada banyak juga cerita investor yang jatuh dan hancur gara-gara tergoda saham gorengan, tapi kenapa kok sampe sekarang peminat saham-saham seperti ini tidak pernah berkurang? Tapi mungkin itu karena pada prakteknya memang sangat sulit untuk bisa behave, terutama bagi investor pemula karena di saham banyak sekali godaan untuk berbuat yang nggak bener. But just try to do it, dan lihat hasilnya :)
Okay, I think that’s enough. Untuk minggu depan kita akan bahas soal restrukturisasi utang Bumi Resources (BUMI), kebetulan penulis dalam seminggu terakhir menerima cukup banyak pertanyaan terkait topik tersebut.
Galeri Foto (Klik gambar untuk memperbesar)
Sebelum berangkat selfie dulu! Penulis yang pake kaos kuning. Om-om yang pake kacamata item itu bukan anggota kelompok, tapi ia tiba-tiba saja minta ikut difoto
Di pintu gerbang pendakian
Mulai mendaki
Semakin tinggi, semakin terjal
‘Jembatan setan’. Kalau berada langsung di lokasi, itu pemandangannya serem banget, kanan kiri beneran jurang
Pemandangan Kawah Ratu, yang tampak jelas dari jalur pendakian
Akhirnya! Sampai di puncak!

Info Investor: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal III 2015 akan terbit hari Senin, tanggal 9 November mendatang. Anda bisa memperolehnya 

Metode Rahasia dalam Berinvestasi

Kamis kemarin, penulis berkesempatan untuk bertemu tatap muka dengan seorang investor bernama Joel Cohen, yang bekerja untuk sebuah perusahaan asset management di Amerika dengan dana kelolaan sekitar US$ 19 milyar. Penulis sendiri, meski sebelumnya sudah pernah ketemu beberapa kali dengan investor asal luar negeri (dimana mereka sengaja datang ke Jakarta), namun baru kali ini ketemu dengan seseorang yang mewakili institusi yang besar. So for me, it’s a brand new experience.

Nah, dalam diskusi selama persis satu jam tersebut, Mr. Cohen mengajukan banyak pertanyaan. Dan salah satu pertanyaan tersebut adalah, ‘Pak Teguh, sebagai seorang investment professional, upaya apa yang anda lakukan agar bisa menghasilkan return investasi yang secara stabil dan konsisten senantiasa memuaskan dalam jangka panjang?’
Sayangnya karena terbatasnya kemampuan penulis dalam berbicara dalam Bahasa Inggris (kalau nulis sih lancar, tapi kalau ngomong masih patah-patah), maka meski ketika itu saya punya banyak sekali jawaban atas pertanyaan tersebut di benak penulis, namun yang mampu diucapkan hanya sebagian kecil diantaranya. Karena itulah, penulis akan menjawabnya sekali lagi disini. Okay, here we go!
Kesulitan terbesar dalam berinvestasi, seperti yang sudah pernah saya sampaikan disini, bukanlah terletak pada analisis saham, money management, dll, melainkan kontrol emosi. Ketika pasar dalam suasana panik, maka sangat sulit bagi investor manapun untuk bisa greedy sendirian, dan sebaliknya ketika pasar dalam suasana euforia, akan sangat sulit bagi investor manapun untuk bisa fearful sendirian. Karena suka atau tidak, seorang investor sejatinya merupakan bagian dari pasar juga. Sejak dulu sampai sekarang, dan hingga selamanya, akan selalu ada investor-investor yang tidak mampu memanfaatkan peluang emas dari turunnya harga-harga saham, karena mereka gagal dalam mengendalikan rasa takutmereka. Sebaliknya, akan selalu ada juga investor-investor yang terjebak membeli saham tertentu pada harga yang terlalu tinggi, karena mereka larut dalam euforia pasar! Ketika seorang investor tidak lagi mampu dalam mengontrol emosinya, maka seluruh perhitungan serta analisa yang ia buat sebelumnya akan menjadi tidak berguna sama sekali.
Karena itulah, untuk bisa menghasilkan return investasi yang memuaskan dalam jangka panjang, maka kontrol emosi sangatlah penting. It’s okay kalau anda sewaktu-waktu mengalami kerugian dari pasar modal, because that’s just a part of the game! Karena even FC Barcelona sekalipun bisa saja sewaktu-waktu kalah dari FC Granada, misalnya. Tapi sekalinya anda lost control, then well, that’s probably the end of the game, karena selanjutnya anda mungkin malah akan menendang bola ke gawang sendiri.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara untuk mengontrol emosi tersebut? Terdapat mungkin seribu jawaban atas pertanyaan ini, namun inilah yang penulis lakukan: Kunci dari kontrol emosi adalah perasaan tenang tanpa beban ketika melihat posisi portofolio. Jadi agar emosi anda bisa stabil, you have to be ascalm as possible. Caranya? Do whatever you like, go whereever you want to go, and take a deep breath in the forest!
So, believe it or not, sebagai investor, penulis menghabiskan sebagian besar waktu bukan dengan duduk dibelakang meja komputer, mempelajari dokumen ini dan itu terkait perusahaan, apalagi sampai melototin pergerakan harga saham, sama sekali bukan! Yang saya lakukan adalah..
  1. Main Playstation dari pagi sampe siang (PES, Assassins Creed, GTA, Forza Motorsport, Skyrim, The Witcher, Battlefield, Tomb Raider, Call of Duty), ini hobi penulis dari jaman SD sampe sekarang
  2. Nonton discovery channel, acara masak-masak (soalnya penulis suka sekali kuliner), History Channel, konser-konser musik di Youtube, atau nonton konser itu sendiri secara langsung.
  3. Baca buku novel sejarah, terutama tentang sejarah China klasik.
  4. Pergi ke gunung atau pantai di akhir pekan, bikin api unggun dan barbeque
  5. Pergi keliling Indonesia, mengunjungi kota-kota yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
  6. Main badminton, lari sore di kompleks olahraga ragunan
  7. Makan!
  8. Tidur siang
  9. Pulang kampung ke Cirebon, mengajak neneknya anak-anak untuk jalan-jalan dan belanja kerudung, dan
  10. Pulang ke Bandung, stay disana seminggu penuh dimana setiap pagi antar jemput si teteh ke sekolah Playgroup, dan sorenya nemenin si adik naik odong-odong dan main perosotan. Di akhir pekan mengajak mereka berdua plus mamanya untuk beli sepatu dan makan es krim.
Dari semua kegiatan diatas, yang paling penulis sukai adalah pergi sendirian ke kebun teh di Ciwidey (Bandung) atau Puncak, atau hutan pinus di Lembang, untuk kemudian duduk-duduk diatas batu besar dan menarik nafas dalam-dalam. Jika anda melakukan hal yang sama, katakanlah di akhir pekan, maka tak peduli meski anda sedang menanggung beban pikiran seberat apapun (misalnya karena IHSG jeblok, dan alhasil pegangan saham nyangkut dimana-manaaa), namun anda kemudian akan merasa plong dan legaaa. Sehingga ketika anda kembali ke ‘medan perang’ pada hari Senin-nya, anda secara mental sudah siap, dan anda akan bisa menata ulang portofolio anda dengan pikiran yang jernih.

Salah satu foto pemandangan hijau yang penulis ambil ketika jalan-jalan. Setiap kali kepala mumet, saya lebih suka duduk menyendiri di tempat-tempat seperti ini ketimbang nongkrong di mall atau semacemnya.

Dalam banyak kasus, seorang investor seringkali tidak mampu berpikir jernih dalam me-manage investasinya, sebenarnya bukan karena sahamnya nyangkut atau apa, tapi karena ia memiliki masalah/beban pikiran diluar posisinya sebagai investor, entah itu masalah keluarga, masalah kantor (kalau ia masih bekerja), atau lainnya. Alhasil ia jadi gagal fokus, dan itu akan semakin memperburuk keadaan. Analoginya sama seperti kalau anda terjebak macet: Kalau misalnya anda baru pulang kerja dan capeeek banget, maka anda akan stress dan kesal setengah mati ketika mobil didepan anda nggak maju-maju. Tapi kalau anda baru pulang dari liburan yang menyenangkan, maka meski spion anda diserempet motor matic yang dikendarai anak ABG tanggung yang nggak pake helm, anda mungkin tetap akan senyum-senyum saja (actually, ini pengalaman pribadi).
So, mari kita simpulkan. Untuk bisa sukses sebagai investor maka anda harus bisa mengatasi kesulitan terbesar sebagai seorang investor itu sendiri, yakni kontrol emosi. Dan agar emosi anda bisa terkendali secara penuh, maka anda harus as calm as possible. Caranya? Enjoy your life, lepaskan semua beban pikiran, dan hiruplah udara segar di pegunungan.. Jadi, percaya atau tidak, ketika penulis pergi berlibur, maka penulis menganggap itu sebagai bagian dari pekerjaan. Sudah tentu saya tetap melakukan pekerjaan rutin seperti menganalisis saham, mempelajari kondisi makro ekonomi, hingga terus mencari ‘mutiara-mutiara terpendam’ di belantara pasar modal. Namun porsi waktu yang penulis habiskan untuk pekerjaan rutin tersebut relatif kecil, rata-rata kurang dari 4 jam dalam sehari, dibanding aktivitas bersenang-senangnya yang bisa tiga hari dua malam, kalau kebetulan saya pergi berlibur keluar kota.
Well, that’s my secret. Now what about you?
Btw, ‘kontrol emosi dalam berinvestasi’ adalah satu tema yang sebenarnya amat sangat panjang jika diulas secara lengkap. Penulis sejak setahun lalu sudah menulis buku terkait ini, yang didasarkan pada pengalaman penulis sendiri sebagai investor. Dalam waktu dekat akan saya terbitkan dalam bentuk ebook.

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & investment plan edisi Oktober sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi portofolio langsung dengan penulis bagi [...]

How to Be Greedy When Others Are Fearful

Pagi tadi, setelah IHSG dibuka longsor 2% ke posisi 4,033, penulis menerima whatsapp dari seorang alumni seminar yang bertanya soal salah satu saham yang penulis rekomendasikan (dan gak cuma rekomen, tapi saya ikut beli juga), sebut saja saham A. Ia bertanya, Pak Teguh, saham A masih masuk stock-pick? Soalnya saya lihat pagi ini dia terjun bebas nih.

Lalu penulis menjawab, ‘Denger-denger perusahaannya mau bangkrut pak..’
Dan seperti yang sudah penulis duga, dengan nada panik ia bertanya lagi, ‘Wah serius pak? Info dari mana???’
Setelah penulis katakan, ‘Just kidding :D Perusahaan A aman-aman saja kok! Sahamnya turun ya cuma karena dampak penurunan IHSG saja, bukan karena ada masalah sama fundamentalnya’, maka barulah ia menjawab, ‘Wah saya sampai sport-jantung pak, tadi udah sempet googling, khawatirnya perusahaan bener-bener terkena kasus apa gitu.’
Nah, menurut anda, seandainya kepada alumni seminar ini penulis mengatakan bahwa ‘Perusahaan A akan bangkrut’ pada April lalu, ketika IHSG masih di 5,400-an dan ketika saham A juga masih di posisi yang tinggi, maka kira-kira bagaimana reaksinya? Well, mungkin akan panik juga, tapi sudah tentu tidak akan sepanik dibanding ketika saya mengatakan bahwa Perusahaan A akan bangkrut dalam kondisi harga sahamnya yang hancur lebur seperti sekarang. In fact, jika saya mengatakan bahwa ‘Perusahaan A akan bangkrut’ pada April lalu, maka orang-orang mungkin akan langsung menanggapinya sebagai omong kosong. Tapi jika kalimat itu dikatakan pada saat ini, maka bahkan meskipun itu cuma rumor ngawur, namun seorang investor yang sebelumnya sangat yakin bahwa perusahaan A ini adalah perusahaan yang sangat bagus dan sama sekali tidak bermasalah, ia akan ragu-ragu dan mulai berpikir bahwa rumor jelek tersebut mungkin benar adanya.
So, got the point?
Dalam banyak kesempatan training soal value investing, penulis selalu menekankan bahwa kesulitan utama dalam berinvestasi dengan metode ‘to buy high-quality stocks at lowest possible price’, itu bukan soal bagaimana cara menentukan saham mana yang berfundamental bagus, dan bagaimana cara menghitung valuasi dan menentukan apakah sebuah saham sudah bisa dikatakan murah atau belum. Karena pada prakteknya, perhitungan analisa-analisa seperti itu seringkali hanya merupakan matematika sederhana.
Yang tersulit adalah, ketika anda menemukan saham bagus pada harga yang unbelievably undervalue, maka biasanya kondisi pasar ketika itu juga sedang anjlok, ekonomi memburuk atau bahkan krisis, pesimisme bertebaran dimana-mana, sehingga sedikit banyak kondisi psikologis anda pasti akan ikut terpengaruh. Alhasil, anda tidak akan segampang itu untuk langsung membeli ‘mutiara terpendam’ yang baru saja anda temukan tadi, karena pasti ada saja orang yang mengatakan bahwa saham anda tersebut aslinya jelek, makanya harganya bisa anjlok begitu. Tak peduli sedetil apapun analisa yang anda buat, atau sekokoh apapun keyakinan yang anda bangun untuk memutuskan membeli saham yang unbelievably undervalue tadi, namun anda tetap akan merasa ragu-ragu ketika saham incaran anda tersebut malah sudah turun jauh lebih rendah dibanding harga beli yang anda targetkan sebelumnya. Warren Buffett selalu mengatakan, ‘be greedy when others are fearful’, namun pada prakteknya tidaklah semudah itu karena.. hey! Sebagai investor, kita kan bagian dari pasar juga! Jadi kalau pasar lagi panik, maka gimana caranya kita malah jadi serakah sendiri?
Namuuuun, jika anda sudah cukup berpengalaman hingga akhirnya mampu untuk melawan arus pasar seperti itu, maka holaaaa.. setelah 1 atau 2 tahun, buahnya akan terasa sangat manis! Pada awal tahun 2014 lalu, atau persis setelah IHSG hancur lebur setahun sebelumnya (jeblok dari 5,250 ke 4,200-an), penulis mengatakan bahwa meski tahun 2013 meninggalkan kesan yang menyakitkan, namun tahun 2014 justru merupakan big opportunity bagi mereka yang mampu untuk fokus pada fakta bahwa valuasi saham-saham di BEI pada saat itu (awal 2014) sudah jauh lebih rendah dibanding valuasinya pada awal 2013. Anda bisa baca lagi artikelnya disini (kalau posisi anda nyangkut, silahkan dibaca artikelnya).

Posisi IHSG di akhir tahun 2014

And voila! IHSG ternyata beneran naik 22.3% sepanjang 2014. Surprisingly, beberapa hari terakhir ini IHSG malah balik lagi ke posisi pada awal tahun 2014, atau bahkan lebih rendah. So, what do you think? Just remember: Dalam jangka pendek (3 bulan atau kurang), IHSG bisa naik atau turun ke posisi berapa saja tergantung sentimen yang beredar. Jadi kalaupun anda menganggap bahwa saham-saham sekarang ini sudah sangat murah, namun itu bukan berarti IHSG gak bisa turun lebih lanjut, Namun dalam jangka panjang (diatas 1 tahun), dengan catatan bahwa ekonomi Indonesia memang membaik pada awal tahun 2016 nanti (kita akan membahas soal ini nanti), maka sudah tentu IHSG akan terbang tinggi kembali. Anyway, kita lihat saja nanti perkembangannya bagaimana :)

Info Investor: Buletin Analisis IHSG & investment plan edisi Oktober sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Panic Selling, Round 2!

Hari ini pasar dibuka anjlok 2.0% ke posisi 4,037, dan bukan tidak mungkin sore nanti IHSG bisa ditutup di posisi three years low dibawah 4,000. So it is official guys, we are in the panic selling round two! Saat ini penulis sedang membuat artikel untuk minggu ini, namun sembari menunggu, mari kita dengar apa komentar anda soal kondisi pasar dalam seminggu terakhir ini, yang dengan sangat cepat turun dari 4,400-an hingga sekarang sebentar lagi tembus dibawah 4,000. Intinya, what happen? IHSG bisa turun sampai posisi berapa? Are we in despair yet? Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.


Cara Untuk Cuan Sekalian, Atau Bangkrut Sekalian

Pada tanggal pertengahan Agustus lalu, IHSG terus saja turun dari 4,800-an di awal bulan hingga menembus level psikologis4,500, tepatnya mencapai posisi 4,484 pada tanggal 19 Agustus. Ketika itu pasar sudah mulai panik, namun yang lebih menarik adalah munculnya pemberitaan di berbagai media bahwa beberapa perusahaan, dalam hal ini bank-bank BUMN, akan mem-buyback sahamnya di publik. Dan penulis segera menerima banyak pertanyaan, apakah ini artinya saya sudah boleh masuk Bank BRI, Bank Mandiri (BMRI), atau Bank BNI (BBNI)? Karena jika pihak perusahaan sendiri sudah turun tangan membeli sahamnya di publik, bukankah seharusnya penurunan harga sahamnya akan berhenti untuk selanjutnya berbalik naik?

Penulis kemudian membaca beberapa berita yang dimaksud, salah satunya yang ini: http://keuangan.kontan.co.id/news/saham-ikut-turun-bri-juga-akan-buyback. Disitu judul beritanya jelas sekali: ‘BRI akan buyback’. Tapi jika anda baca lagi beritanya, maka sebenarnya Dirut BRI, Asmawi, tidak mengatakan bahwa management berencana untuk buy back saham BBRI dalam waktu dekat, melainkan:
Direktur Utama Bank BRI, Asmawi Sjam mengatakan, perseroan masih melihat kondisi saham BRI dalam beberapa waktu ke depan. Jika nantinya harga saham terus mengalami penurunan, maka perseroan akan melakukan buyback di harga yang ditentukan. Namun Asmawi masih belum merinci di harga berapa perseroan akan melakukan buyback.
Artinya dirut BRI sendiri menganggap bahwa saham BBRI pada saat itu masih mungkin untuk turun lebih lanjut. Jadi jika seseorang membaca berita diatas namun hanya membaca judulnya saja, maka ia akan keliru mengira bahwa BRI benar-benar akan buyback, padahal sama sekali tidak. Dan setelah penulis cek keterbukaan informasi perusahaan di website BEI, ketika itu juga belum ada pernyataan resmi dari BRI, ataupun bank-bank BUMN lainnya, bahwa mereka akan buyback saham dalam waktu dekat.

Nah, news seperti ini yg saya sebut sentimen positif kosong, karena hanya permainan kata-kata dari wartawannya saja. Jika seseorang ‘termakan’ berita kosong tersebut, maka ia kemungkinan akan merugi karena beberapa hari berikutnya ternyata IHSG masih terus turun (sehingga BBRI dan lainnya juga ikut lanjut turun), hingga akhirnya mencapai puncaknya (ditandai oleh panic selling) pada hari Senin tanggal 24 Agustus di posisi 4,164.
Namun pada hari Senin tersebut keluar lagi berita soal buyback, dan kali beritanya sungguhan. Contohnya di link yang ini: http://finance.detik.com/read/2015/08/24/181304/3000035/6/menteri-rini-bumn-siap-buyback-saham-rp-10-triliun-besok, dimana Menteri BUMN, Rini Soemarno, secara jelas mengatakan bahwa Kementerian BUMN sudah menyiapkan Rp10 trilyun untuk buyback 13 saham BUMN, terutama yang turunnya paling dalam.
Dan memang, pada keesokan harinya yaitu Selasa, 25 Agustus, IHSG mulai rebounddan hingga hari ini belum mencetak new low lagi (meski juga belum benar-benar naik kembali), melainkan masih sideways di 4,300-an.
Jadi bagi anda para investor, maka memang penting sekali untuk bisa membaca berita terkait dinamika pasar modal dengan teliti, agar anda bisa membedakan mana berita yang sungguhan, dan mana yang cuma hasil ‘pelintiran’ atau permainan kata-kata tadi. In fact, dari sekian banyak news yang bertebaran di media elektronik, internet, maupun koran setiap harinya, sebagian besar diantaranya hanya merupakan news hasil pelintiran, atau lebih buruk lagi: Hanya isu atau rumor yang tidak jelas kebenarannya.
Nah, belakangan ini mulai ada banyak rumor lagi terkait perusahaan-perusahaan tertentu yang kemudian membuat saham yang bersangkutan terbang, contohnya:
  1. Penurunan harga Avtur (bahan bakar pesawat) oleh Pertamina, yang diperkirakan (baru diperkirakan doang!) akan mendorong margin laba bagi Garuda Indonesia (GIAA), karena hampir 80% beban operasional perusahaan adalah untuk bahan bakar pesawat. Hasilnya saham GIAA terbang dari 300 hingga sempat tembus 360 (naik 20%) hanya dalam sepekan, antara tanggal 7 hingga 15 September lalu.
  2. Pemerintah mewajibkan perusahaan konstruksi dll untuk menggunakan baja produksi dalam negeri. Hasilnya saham Krakatau Steel (KRAS) naik dari 303 hingga tembus 336, juga hanya dalam sepekan.
  3. Pada 14 September, keluar berita bahwa developer mall asal Jepang, Aeon, akan mendirikan mall di superblok milik Sentul City (BKSL). Alhasil saham BKSL yang hampir saja tewas di gocapan (karena buruknya kinerja perusahaan sejak tahun 2014 lalu, terutama sejak dirutnya ditangkap KPK), tiba-tiba hidup kembali dan langsung terbang hingga ke posisi 80-an, termasuk sempat mencatat volume transaksi hingga nyaris setengah milyar lembar saham dalam sehari. Namun hanya dua atau tiga hari kemudian pihak perusahaan mengklarifikasi bahwa mereka masih dalam tahap pembicaraan dengan Aeon, atau dengan kata lain Aeon belum benar-benar akan bikin mall di Sentul, dan alhasil sahamnya turun ke 70. Ehh, hanya selang beberapa hari kemudian langsung keluar berita lagi bahwa Aeon sudah confirm, dan BKSL langsung naik lagi.
Daan seterusnya, anda mungkin bisa menambahkan saham-saham lain yang juga terbang plus beritanya masing-masing, tak peduli meski beritanya tersebut sejatinya cuma rumor kosong, atau kalaupun benar maka tetap saja tidak bisa langsung disimpulkan akan berdampak positif terhadap kinerja fundamental perusahaan. However, beberapa orang mungkin tidak peduli soal itu, karena yang penting adalah cuan! Kalau misalnya anda, entah karena dapet bisikan dari mana, sukses membeli BKSL di harga 57 dan menjualnya di 80, maka keuntungannya hampir mencapai 50% hanya dalam tempo kurang dari seminggu!
Namun masalahnya, pada kasus-kasus ‘saham terbang’ seperti ini maka terdapat lebih banyak orang yang justru baru masuk ke BKSL atau lainnya ketika harganya sudah naik tinggi. Jika kemudian beritanya ketauan cuma boongan, maka sahamnya akan kembali jeblok, dan para trader yang terlambat masuk ini akan menderita kerugian besar. Dan kondisi inilah yang kemudian menyebabkan bursa saham jadi lebih mirip seperti tempat untuk berjudi, ketimbang wadah untuk berinvestasi, dimana seseorang bisa untung besar dalam waktu singkat, namun sebaliknya juga bisa langsung bangkrut dalam waktu yang lebih singkat lagi.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar saya tidak terjebak spekulasi seperti itu? Nah, sebenarnya ini merupakan pertanyaan yang harus dilihat dari dua sisi. Kalau anda sering berspekulasi di saham-saham gorengan dan hasilnya sejauh ini lumayan profit, maka jujur saja, anda tidak akan menanyakan pertanyaan diatas bukan? Dan anda mungkin akan terus melanjutkan perburuan terhadap saham-saham yang mungkin akan terbang karena berita/rumor tertentu. Anda mungkin baru akan berhenti kalau pada akhirnya nanti sudah ‘kena batunya’.
Jadi pertanyaan diatas penulis anggap berasal dari anda yang berstatus sebagai ‘korban’ dari saham-saham gorengan. Dan jawabannya ada dua. Pertama, hati-hati dan harap teliti dalam membaca berita terkait perusahaan apapun, karena sebagian besar orang lebih suka hanya membaca judulnya saja, dan itu seringkali misleading. Penulis tidak bisa menjelaskan bagaimana cara membedakan berita sungguhan atau yang cuma merupakan ‘sentimen positif kosong’ (atau sebaliknya, ada juga ‘sentimen negatif kosong’ seperti yang melanda saham PGAS terkait wacana penurunan harga jual gas, beberapa waktu lalu). Namun seiring dengan bertambahnya pengalaman, lama-lama anda akan bisa membedakannya sendiri.
Dan yang kedua, at the end anda harus balik lagi ke kaidah value investing: Belilah saham berfundamental bagus pada harga murah, dan sebisa mungkin abaikan berita-berita seperti itu, karena keputusan untuk membeli saham hanya berdasarkan pemberitaan sesaat atau rumor adalah murni spekulasi dan bukan investasi (dan bahkan juga bukan trading, karena di trading masih ada analisisnya, dalam hal ini analisis teknikal). Ada satu metode yang sangat populer di dunia spekulasi pasar modal, yakni buy on rumor sell on news yang biasa dilakukan oleh para news trader atau trader yang membeli saham berdasarkan rumor/berita. Namun penulis sendiri sampai sekarang belum pernah mendengar orang yang sukses menjadi kaya raya dari menggunakan metode buy on rumor bla bla bla tersebut.
Anyway, sepanjang September ini maka godaan rumor itu mungkin akan terus menyerang para investor (‘godaan’ disini merupakan istilah yang tepat, karena ketika saham naik 10% hanya dalam sehari, misalnya, maka itu akan tampak menggiurkan bahkan bagi investor yang sudah sangat berpengalaman sekalipun). Sebab dalam kondisi dimana pasar kembali tenang, maka itu juga sekaligus membosankan karena IHSG, meski dia tidak turun lebih lanjut, tapi juga belum naik kembali. Para market maker atau bandar, sejak dulu sudah paham sekali psikologis pasar yang justru tidak suka kondisi tenang seperti ini (jadi maunya ribut terus). Karena itulah mereka kemudian menciptakan ‘keributan’ dengan menaik-naikkan saham yang sudah turun sangat dalam sebelumnya (karena buruknya fundamental perusahaan yang terkait), biasanya dengan volume transaksi yang besar. Dan agar para ritel mau ikutan membeli saham yang mereka mainkan, mereka juga meluncurkan berita-berita yang kemudian dijadikan sebagai ‘sentimen positif’. Baru saja pagi ini penulis mendengar cerita terkait Vale Indonesia (INCO), dan Aneka Tambang (ANTM), yang kemudian menerbangkan kedua saham tersebut.
Pertanyaannya, apakah anda mau ikut ‘bermain’? Well, kalau jawabannya adalah ya, maka ingat bahwa risiko ditanggung sendiri, termasuk anda tidak bisa berharap bahwa BEI atau OJK akan melindungi anda sebagai investor. Tapi jika anda menginginkan agar bisa tidur nyenyak malam nanti, then you know what you should do!

Catatan: Penulis pernah membuat artikel serupa di tahun 2011, anda bisa membacanya disini.

Pengumuman: Buletin Stockpick Saham edisi Oktober sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis bagi member.

Perlindungan Investor? Oleh Siapa?

Sekitar satu atau dua bulan lalu, seorang pria bersepeda bernama Elianto Wijoyono menghadang rombongan konvoi motor Harley Davidson di salah satu perempatan jalan di Kota Jogja, karena rombongan itu dengan sengaja hendak menerobos lampu merah. Aksi ‘Sepeda vs Moge’ tersebut memperoleh banyak komentar di media sosial, dan Elianto kemudian menjelaskan bahwa aksinya tersebut memang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya, karena ia prihatin dengan kelakukan para pengendara moge tersebut yang sering melanggar rambu-rambu lalu lintas, sehingga bikin susah pengguna jalan lainnya di Kota Jogja.

Nah, dari sekian banyak komentar yang muncul, yang menarik adalah komentar dari seorang anggota Polda Jogja yang mengatakan bahwa aksi main hakim sendiri yang dilakukan Elianto tersebut justru bisa ditindak pidana. Sebab jika ada pengendara moge yang melanggar lalu lintas atau semacamnya, maka itu merupakan kewenangan kepolisian untuk memberikan teguran atau sanksi, jadi bukan wewenang Elianto karena ia cuma warga sipil.
Well, suatu pernyataan yang naif sekali bukan? Kalau memang pelanggaran lalu lintas yang dilakukan para pengendara moge akan ditindak tegas oleh polisi, lalu kenapa ketika mereka berkali-kali menerobos lampu merah dll, polisi malah diam saja? Yang ada mereka justru mengawal konvoi dan membantu mereka menerobos lampu merah! Kalau polisi sejak awal sudah melakukan tugasnya dalam mengatur lalu lintas dan menindak semua pelanggar tanpa pandang bulu termasuk para raja jalanan tadi, maka menurut anda apakah Elianto akan buang-buang waktu untuk ‘main hakim sendiri’? Sudah jadi rahasia umum bahwa polisi di Indonesia masih belum menjalankan fungsinya yakni ‘Melindungi dan Melayani’ secara penuh kepada seluruh masyarakat, karena yang dilindungi dan dilayani hanya yang mau kasih recehan saja.
Tapi mungkin, bukan cuma kepolisian di Indonesia ini yang belum menjalankan fungsinya dengan baik.
Beberapa hari lalu, penulis ditelpon oleh wartawan untuk dimintai pendapat terkait pernyataan dari salah satu direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), bahwa ‘BEI menginginkan penambahan 100 ribu investor baru setiap tahunnya’. Sejauh ini di memang baru terdapat sekitar 400 ribu investor di pasar saham di Indonesia, atau sangat sedikit dibanding jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa. Jika penambahan 100 ribu investor baru per tahun tadi terealisasi, maka dalam beberapa tahun kedepan jumlah investor di pasar saham Indonesia akan tembus 1 juta orang, atau bahkan lebih, dan itu tentunya akan semakin meramaikan perputaran pasar saham itu sendiri.
Pertanyaannya tentu, apakah peningkatan 100 ribu investor itu realistis? Nah, jika anda adalah calon investor yang tentunya belum mengerti apa-apa, maka ketika anda ditawari untuk membuka rekening di sekuritas, sudah tentu ada banyak hal yang akan ditanyakan. Namun kalau anda jeli, maka salah satu pertanyaan yang terpenting adalah, adakah perlindungan terhadap diri saya sebagai investor, dari tindakan kejahatan pasar modal?
Karena, berinvestasi di pasar modal itu sama saja seperti mengendarai mobil/sepeda motor di jalan raya. Jika anda menyetir mobil secara ugal-ugalan, maka anda mungkin akan mengalami kecelakaan, dan itu adalah salah anda sendiri. Namun bagaimana jika anda mengendarai mobil dengan sewajaranya dan selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tapi tetap saja mengalami kecelakaan karena ditabrak oleh pengendara lain yang menerobos lampu merah, dan itu adalah karena polisi dengan sengaja membiarkan pelanggaran lalu lintas tersebut?
Demikian pula di pasar saham. Seorang investor mungkin akan mengalami kerugian karena dia belum mengerti cara menganalisis saham perusahaan, kurang pengalaman, atau simply karena IHSG lagi jeblok, dan itu adalah bagian dari risiko kerugian yang sejak awal sudah ‘satu paket’ dengan potensi keuntungan yang bisa diperoleh seorang investor.
Tapi jika investor mengalami kerugian karena dikerjai oleh bandar yang menaikkan harga saham secara tidak wajar dan kemudian menjatuhkannya tanpa ampun seperti kasus Trada Maritime (TRAM), atau perusahaan yang manajemennya kena kasus seperti Cipaganti (CPGT), atau perusahaan yang entah kenapa rugi melulu hingga ekuitasnya minus gila-gilaan seperti Bumi Resources (BUMI), atau kasus-kasus lainnya dimana saham-saham tertentu bergerak secara tidak wajar.. maka hey, OJK! Anda ngapain aja? Kenapa saham-saham yang jelas-jelas sudah makan banyak korban ini malah dibiarkan saja???

Padahal berdasarkan undang-undang, tugas sekaligus wewenang dari OJK adalah: 1. Melakukan perlindungan terhadap konsumen (atau dalam hal ini investor), dimana hal itu bisa dilakukan dengan cara: 2. Memberikan sanksi administratif terhadap pihak-pihak/perusahaan yang melanggar peraturan perundang-undangan terkait jasa keuangan. Jika OJK bersikap tegas dan selalu siap sedia untuk memberikan sanksi kepada emiten/sekuritas atau siapapun yang jelas-jelas telah berbuat sesuatu yang merugikan orang banyak, maka para emiten/sekuritas ini juga gak akan ada yang berani macam-macam, dan investor secara otomatis akan terlindungi.
Nah, sejak OJK didirikan tahun 2011 lalu, sudah tidak terhitung berapa banyak perusahaan/saham yang bermasalah, yang membuat investor publik rugi besar-besaran. Tapi pernahkah OJK memberikan sanksi tertentu kepada mereka? Tidak pernah! Paling-paling OJK hanya memberi sanksi berupa peringatan tertulis denda sebesar Rp1 juta per hari kepada perusahaan yang terlambat merilis laporan keuangannya. Berdasarkan informasi dari hukumonline.com, antara tahun 2011 hingga Agustus 2014, OJK sudah menjatuhkan total 316 sanksi yang terdiri dari 280 sanksi denda kepada emiten terlambat merilis laporan keuangan atau dokumen keterbukaan informasi lainnya, 32 sanksi teguran tertulis, dan 2 sanksi pembekuan/pencabutan izin usaha terhadap dua perusahaan jasa keuangan (bukan emiten).
Tapi bagaimana dengan kasus-kasus perusahaan Tbk atau aksi goreng saham yang melibatkan sekuritas tertentu, yang jelas-jelas telah merugikan investor? Yaaa lenggang kangkung, ga ada masalah.
Lalu bagaimana dengan BEI? Well, sami mawon.. Mau ada saham terbang atau saham jeblok, paling-paling humas perusahaan yang bersangkutan cuma ditanya, ‘Ada apa ini?’ abis itu ya sudah. Mau investor dikerjai habis-habisan oleh saham-saham gorengan, mereka malah duduk manis saja di acara talk show di hotel mahal. Kalaupun BEI memberikan sanksi, maka sanksinya ya sama seperti yang diberikan OJK: Men-suspensi saham, menetapkan status UMA, atau memberikan denda/peringatan tertulis kepada emiten yang terlambat merilis laporan keuangan, seolah-olah tindakan kejahatan di pasar modal itu ya cuma satu itu: Terlambat merilis laporan keuangan.
Jadi ketika orang BEI mengatakan bahwa ‘Kami menginginkan penambahan 100 ribu investor per tahun’, penulis jadi merasa lucu sendiri.. Bagaimana mungkin anda berharap bahwa orang-orang akan masuk pasar saham kalau pasar itu sendiri dipenuhi oleh para preman yang tidak pernah ditindak? Itu kan sama saja seperti berharap bahwa orang-orang akan dengan sukarela mempertaruhkan keselamatannya dengan berkendara di jalanan yang semrawut karena hampir semua orang melanggar rambu-rambu lalu lintas, karena polisinya diem saja!
Hanya memang, kalau berdasarkan peraturan undang-undang yang ada, maka di Indonesia belum ada sanksi hukum yang jelas untuk kasus seperti insider trading atau semacamnya (Bapepam-LK, yakni otoritas/regulator pengawas bursa sebelum adanya OJK, sebenarnya secara undang-undang punya wewenang untuk memberikan sanksi pidana bagi insider trader, tapi Bapepam itu sendiri sekarang udah gak ada). Jadi mungkin bukan salah OJK atau BEI juga jika para maling masih berkeliaran di bursa, karena bukan wewenang mereka untuk menindaknya (OJK hanya bisa memberikan sanksi administratif, bukan pidana). Tapi kalau itu bukan wewenang dua otoritas ini, lalu wewenang siapa? Dan jika itu bukan wewenang mereka, lalu apa yang dimaksud dengan kata ‘perlindungan’ yang jelas-jelas merupakan salah satu fungsi dan wewenang dari OJK???
Tulisan diatas mungkin terdengar seperti kritikan. Tapi jika seorang Elianto Wijoyono sampai harus turun tangan sendiri untuk menegur pengendara moge, termasuk secara tidak langsung menegur polisi itu sendiri, maka penulis kira juga harus ada seseorang yang menyampaikan tulisan diatas agar bisa menjadi peringatan bagi pihak-pihak yang terkait. Penulis yakin bahwa kita semua tentu menginginkan agar pasar modal bisa menjadi tempat yang bersahabat bagi semua orang, namun itu hanya bisa terwujud jika semua pihak, termasuk otoritas dan regulator bursa, melaksanakan peran, fungsi, dan tugasnya masing-masing dengan baik. Jika memang terjadi tindak kejahatan di Bursa, maka seperti di film National Treasure, seseorang harus berani mengatakan, ‘Someone’s got to go to prison, Ben’.
Jika anda punya unek-unek lainnya, boleh sampaikan melalui kolom komentar di bawah. Untuk artikel minggu depan kita akan sharing beberapa tips untuk menghindari ‘saham-saham laknat’ yang banyak berkeliaran di bursa.

Btw sekarang ini lagi rame cerita soal Fed Rate, tapi di website ini kita sudah membahasnya sejak Maret lalu. Anda bisa membacanya lagi

Peluang Investasi dari ‘Value Gap’ – 2

Di artikel sebelumnya kita sudah membahas bahwa waktu terbaik untuk membeli saham Berkshire Hathaway adalah jika pada tahun tertentu harganya turun sedemikian dalam hingga value gap-nya menjadi positif (kalau belum baca, boleh baca lagi disini). Kemudian, tahun 2015 ini adalah kali pertama dimana IHSG turun signifikan sejak 2008 lalu, dimana hingga 10 September, IHSG sudah turun 16.1% secara YTD (pada tahun 2013, IHSG secara keseluruhan hanya turun 1%). Hasilnya meski beberapa saham mungkin masih naik, tapi sebagian besar saham lainnya turun signifikan dibanding posisinya pada awal tahun lalu, tak peduli meski nilai ekuitas perusahaan sejatinya masih naik. Dalam kondisi inilah, beberapa saham kemudian menciptakan ‘value gap’ yang positif.

Berikut ini adalah data kenaikan/penurunan ekuitas dari 15 perusahaan paling likuid di BEI sepanjang Semester I 2015 (antara 31 Desember 2014 hingga 30 Juni 2015), dibandingkan dengan pergerakan harga sahamnya secara YTD (antara 31 Desember 2014 hingga 10 September 2015). Angka dalam persen, data diurutkan berdasarkan value gap-nya, dari yang terbesar hingga terkecil. Sebelumnya catat bahwa beberapa perusahaan mencatat angka pertumbuhan ekuitas yang negatif karena faktor dividen, jadi bukan karena perusahaan merugi (dari 15 perusahaan yang disebutkan dibawah, semuanya membukukan laba bersih, meski mayoritas memang turun dibanding tahun sebelumnya).
Companies
Equity
Market Price
Value Gap
PGN
(1.3)
(58.6)
57.3
Alam Sutera Realty
5.2
(37.9)
43.1
Pakuwon Jati
8.7
(29.5)
38.2
Semen Indonesia
0.2
(36.4)
36.6
Adhi Karya
(1.4)
(36.6)
35.3
Gudang Garam
2.6
(31.2)
33.8
Indofood
0.8
(26.5)
27.3
Bank BNI
(0.1)
(26.5)
26.4
Bank Mandiri
4.5
(20.2)
24.7
Bank BRI
4.6
(17.1)
21.7
Astra International
2.8
(18.5)
21.3
Bank BCA
8.0
(9.1)
17.1
Kalbe Farma
2.0
(15.0)
17.0
Indocement
(11.0)
(25.5)
14.5
Telkom
(1.9)
(3.5)
1.6
Nah, berdasarkan data diatas, dan dengan asumsi bahwa kelima belas perusahaan diatas pada akhirnya akan terus tumbuh dalam jangka panjang, maka untuk saat ini saham apakah yang paling menarik untuk dibeli? Perusahaan Gas Negara (PGAS), tentu saja! Kalau anda lihat lagi data value gap pada tabel Berkshire Hathaway di artikel sebelumnya, maka value gap terbesarnya adalah di tahun 1974, yakni 54.2%, tapi bahkan value gap PGAS lebih besar lagi, yakni 57.3%. Ini artinya jika PGAS mampu untuk kembali mencatatkan pertumbuhan ekuitas yang signifikan dalam 1 – 2 tahun mendatang, maka harga sahamnya juga akan naik lebih kencang lagi dalam 1 – 2 tahun tersebut, mungkin bisa lebih dari 100% alias dua kali lipat.
Hanya saja ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan. Pertama, PGAS memiliki track record kinerja yang sangat baik dimasa lalu dimana ekuitasnya senantiasa tumbuh diatas 25% setiap tahunnya dan itu belum termasuk memperhitungkan dividen (padahal PGAS juga termasuk perusahaan yang royal dividen), yang kemudian menyebabkan sahamnya memiliki valuasi diatas rata-rata (baca: mahal). Jadi meski pada tahun ini sahamnya turun signifikan, maka kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa dia sudah murah. Pada tahun 2015 ini PGAS juga mencatat kinerja yang relatif buruk dimana itu bisa dilihat dari ekuitasnya yang turun 1.3% (dan itu menjelaskan kenapa sahamnya jatuh). Intinya, okay, PGAS ini mencatatkan value gap yang amat besar, namun kita masih perlu menganalisis beberapa hal lagi untuk kemudian mengambil kesimpulan akhir bahwa sahamnya layak invest.
Tapi yang jelas dari data diatas bisa kita katakan bahwa valuasi PGAS pada saat ini, yakni ketika artikel ini ditulis, adalah 57.3% lebih rendah dibanding valuasinya pada akhir tahun 2014 lalu. Jika anda membeli saham PGAS pada saat ini dan kedepannya dia naik hingga valuasinya kembali sama dengan akhir tahun 2014, maka anda akan memperoleh gain sekitar 140%. However, PGAS hanya bisa naik kembali jika perusahaan mampu useperti Berkshire Hathaway, yang dengan cepat kembali mencatatkan kinerja bagus ketika kondisi perekonomian pulih. Beberapa perusahaan seringkali hancur berantakan ketika ekonomi nasional mengalami krisis, dan tidak mampu bangkit lagi ketika kondisi kembali kondusif. Tapi jika melihat manajemen PGAS yang konservatif dan prudent (utangnya sedikit), maka penulis termasuk yang optimis bahwa PGAS akan mampu mencatatkan kinerja bagus ketika nanti ekonomi pulih.
Selain PGAS, dari tabel diatas bisa dilihat bahwa saham-saham yang memiliki value gap yang besar adalah Alam Sutera Realty (ASRI), Pakuwon Jati (PWON), dan Semen Indonesia (SMGR). Untuk SMGR, kalau bukan karena kenaikannya yang sangat signifikan dalam dua minggu terakhir, maka value gap-nya mungkin lebih besar dari PGAS. Saham yang memiliki value gap terkecil adalah Telkom (TLKM), dimana meski ekuitasnya turun 1.9%, namun harga sahamnya hanya turun 3.5%. Namun entah karena alasan apa, sejauh yang penulis amati TLKM ini justru menjadi saham favorit para fund-fund manager di perusahaan reksadana (tapi mungkin itu sekaligus menjelaskan kenapa kinerja reksadana pada tahun ini cenderung berantakan).

Satu hal lagi. Dari sisi pertumbuhan ekuitas, hingga Kuartal II kemarin hanya ada dua perusahaan dalam tabel diatas yang mencatatkan pertumbuhan ekuitas yang lumayan (diatas 8%), yakni PWON dan Bank BCA (BBCA), dan itu mungkin mengindikasikan satu hal: Meski tahun 2015 ini merupakan tahun yang sulit secara ekonomi, namun nyatanya sektor properti dan perbankan masih mampu menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Dan kalau anda pelajari lebih lanjut, maka memang tidak hanya PWON dan BBCA, tapi mayoritas perusahaan di sektor properti dan perbankan, baik itu yang tergolong perusahaan besar ataupun second liner, adalah merupakan the best performer untuk tahun 2015 sejauh ini (dari sisi kinerja keuangan/fundamental, bukan kinerja sahamnya). Kalau untuk sektor perbankan, maka sejak dulu sektor ini memang merupakan sektor paling aman kedua di Indonesia, setelah sektor consumer goods. Namun untuk sektor properti, cukup jelas bahwa sektor ini masih belum ‘habis’, dan itu sekaligus menjelaskan kenapa perusahaan-perusahaan dari sektor lain belakangan ini banyak yang masuk ke properti. Anda bisa cari sendiri beritanya di google.
Okay, I think that’s enough. Any [...]

Peluang Investasi dari ‘Value Gap’

Sejak diambil alih oleh Warren Buffett pada tahun 1964, Berkshire Hathaway (BRK) telah menghasilkan keuntungan investasi sebesar total 1,826,163%bagi siapapun yang memegang sahamnya, dalam 50 tahun terakhir (hingga 2014). Ini artinya jika anda membeli saham BRK senilai Rp10 juta pada tahun 1964 dan masih meng-hold-nya sampai sekarang, maka investasi anda saat ini sudah berkembang menjadi senilai.. Rp182.6 milyar.

Meski angkanya tampak fantastis, namun jangan lupa bahwa anda perlu menunggu selama 50 tahun untuk bisa meraup keuntungan sebesar itu. Namun bukan itu yang penulis hendak bahas di artikel kali ini. Di artikel ini, kita akan fokus pada fakta bahwa meski dalam jangka panjaaaaang saham BRK cenderung naik terus, namun dia juga bisa jatuh berantakan pada satu tahun tertentu, seringkali karena pada tahun tersebut perusahaan mencatat kinerja yang tidak sebagus biasanya, entah itu labanya turun atau ekuitasnya sendiri yang turun. Warren sendiri menyebutkan bahwa dalam 50 tahun terakhir, saham Berkshire pernah anjlok hingga lebih dari 50% sebanyak tiga kali. Atau dengan kata lain, meski dalam jangka panjang saham BRK pada akhirnya akan naik terus, namun pada waktu-waktu tertentu, beberapa orang mungkin justru menderita kerugian yang amat besar dari saham Berkshire ini.
Lebih jelasnya, berikut ini adalah data persentase pertumbuhan aset bersih/ekuitas BRK, dibandingkan dengan persentase kenaikan atau penurunan harga sahamnya setiap tahun, dari 1964 hingga 2014. Data dalam persen:
Year
Equity Value
Market Value
‘Value Gap’
1965
23.8
49.5
(25.7)
1966
20.3
(3.4)
23.7
1967
11.0
13.3
(2.3)
1968
19.0
77.8
(58.8)
1969
16.2
19.4
(3.2)
1970
12.0
(4.6)
16.6
1971
16.4
80.5
(64.1)
1972
21.7
8.1
13.6
1973
4.7
(2.5)
7.2
1974
5.5
(48.7)
54.2
1975
21.9
2.5
19.4
1976
59.3
129.3
(70.0)
1977
31.9
46.8
(14.9)
1978
24.0
14.5
9.5
1979
35.7
102.5
(66.8)
1980
19.3
32.8
(13.5)
1981
31.4
31.8
(0.4)
1982
40.0
38.4
1.6
1983
32.3
69.0
(36.7)
1984
13.6
(2.7)
16.3
1985
48.2
93.7
(45.5)
1986
26.1
14.2
11.9
1987
19.5
4.6
14.9
1988
20.1
59.3
(39.2)
1989
44.4
84.6
(40.2)
1990
7.4
(23.1)
30.5
1991
39.6
35.6
4.0
1992
20.3
29.8
(9.5)
1993
14.3
38.9
(24.6)
1994
13.9
25.0
(11.1)
1995
43.1
57.4
(14.3)
1996
31.8
6.2
25.6
1997
34.1
34.9
(0.8)
1998
48.3
52.2
(3.9)
1999
0.5
(19.9)
20.4
2000
6.5
26.6
(20.1)
2001
(6.2)
6.5
(12.7)
2002
10.0
(3.8)
13.8
2003
21.0
15.8
5.2
2004
10.5
4.3
6.2
2005
6.4
0.8
5.6
2006
18.4
24.1
(5.7)
2007
11.0
28.7
(17.7)
2008
(9.6)
(31.8)
22.2
2009
19.8
2.7
17.1
2010
13.0
21.4
(8.4)
2011
4.6
(4.7)
9.3
2012
14.4
16.8
(2.4)
2013
18.2
32.7
(14.5)
2014
8.3
27.0
(18.7)
Average
19.4
21.6
(2.2)
Nah, sebelum kita membahas tabel panjang diatas, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu, apa itu yang dimaksud dengan value gap (tolong baca bagian ini pelan-pelan!). Kalau anda googling, maka ada banyak penjelasan soal value gap ini di internet, namun yang dimaksud dengan value gap disini adalah selisih antara persentase kenaikan atau penurunan nilai aset bersih/ekuitas Berkshire, atau dengan kata lain nilai riil perusahaan, dengan persentase kenaikan atau penurunan harga sahamnya di market. Jika angkanya negatif pada tahun tertentu, artinya harga saham Berkshire naik lebih tinggi dibanding nilai ekuitas perusahaan pada tahun tersebut. Dan jika angkanya positif pada tahun tertentu, maka artinya sebaliknya, nilai ekuitas Berkshire naik lebih tinggi dibanding harga sahamnya.
Jadi jika seseorang hendak berinvestasi untuk jangka panjang di Berkshire, maka dia harus membeli sahamnya pada akhir tahun tertentu dimana value gap pada tahun tersebut tercatat positif, karena itu artinya kenaikan harga saham Berkshire pada saat itu lebih rendah dibanding pertumbuhan riil perusahaan, sehingga otomatis valuasi sahamnya menjadi lebih murah (dari sisi PBV).
Contoh! Pada tabel diatas, angka value gap tertinggi tercatat pada tahun 1974, yakni 54.2%, karena harga saham Berkshire pada tahun tersebut anjlok 48.7% (karena memang Bursa Wall-Street pada tahun tersebut sedang dilanda koreksi besar, terkait krisis minyak di Timur Tengah), padahal nilai aset bersih perusahaan sejatinya masih tumbuh 5.5%. Jika seseorang berani membeli saham Berkshire pada akhir tahun 1974 (‘berani’ disini merupakan istilah yang tepat, karena ketika itu Wall Street sedang hancur lebur), maka pada akhir tahun 1976, atau hanya dua tahun kemudian, ia akan profit luar biasa karena saham Berkshire naik total hampir 150% selama dua tahun tersebut.
Harga Saham Jatuh = Peluang Langka!
Pada tabel value gap diatas, selama 50 tahun terakhir, ternyata lebih banyak menunjukkan angka yang negatif ketimbang positif. Dan itu menunjukkan bahwa anda hanya bisa membeli Berkshire ini pada tahun-tahun tertentu dimana harganya jatuh (biasanya karena koreksi pasar), katakanlah seperti tahun 1974 tadi, sekali lagi jika tujuannya untuk investasi jangka panjang.
Contoh lainnya, pada tahun 2008 lalu, indeks S&P500 anjlok 37.0% karena krisis global, dan bahkan ekuitas Berkshire juga turun 9.6% (selama 50 tahun terakhir, ekuitas Berkshire hanya turun dua kali, yakni tahun 2001 dan 2008). Namun karena harga saham Berkshire turun lebih dalam, maka jadilah value gap-nya positif. Dan ternyata benar: Ketika periode krisis akhirnya berakhir, di tahun-tahun berikutnya Berkshire kembali senantiasa mencetak pertumbuhan ekuitas yang positif, dan harga sahamnya juga terus naik nyaris setiap tahun (hanya turun sekali di tahun 2011).
Kesimpulannya, selama anda memilih saham dari perusahaan yang bagus, maka penurunan harga sahamnya pada tahun tertentu, entah itu karena koreksi pasar atau karena kinerja perusahaan tersebut sedang agak jelek, adalah selalu merupakan peluang, sekali lagi dengan catatan anda berkomitmen untuk memegangnya dalam jangka panjang (1 tahun atau lebih).

Lanjutan dari artikel ini bisa dibaca [...]

PGAS! Opportunity.. Or?

Baru saja minggu lalu kita membahas bahwa saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) sebaiknya dihindari dulu karena masih diselimuti sentimen negatif terkait kemungkinan kerugian investasinya di Blok Gas Fasken, Amerika Serikat, Senin kemarin Pemerintah melalui Kementerian ESDM mengatakan bahwa mereka mentargetkan harga gas untuk turun hingga 50% guna memperbaiki kondisi perekonomian. Alhasil, kemarin PGAS anjlok ke posisi 2,480, dan pagi inipun sepertinya dia turun lagi. Ketika postingan ini dibuat, PGAS berada di level 2,190.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Pemerintah akan menurunkan harga gas dengan cara mengurangi beban-beban yang tidak perlu dalam pendistribusian gas, misalnya dengan memangkas jalur rantai pasokan, mengurangi perantara, hingga pembangunan infrastruktur gas. Ini artinya harga gas baru akan diturunkan jika upaya pengurangan beban-beban tadi berhasil dilakukan, sehingga penurunan harga gas tidak akan berdampak serius pada laba PGAS, karena disisi lain biaya operasional perusahaan juga turun signifikan.
  2. Sayangnya kinerja PGAS sendiri terbilang buruk hingga Kuartal II 2015 kemarin, dimana labanya anjlok hampir 40%. Menurut Dirut PGAS, Hendi Prio Santoso, laba PGAS kemungkinan memang masih akan turun sampai akhir tahun, dan mungkin baru akan naik lagi tahun 2016 nanti.
  3. Secara teknikal, terdapat support kuat bagi PGAS ini di 2,200-an.
  4. Pada harga 2,190, PBV dan PER PGAS masing-masing tercatat 1.4 dan 8.9 kali, jauh dibawah level biasanya di kisaran 3.5 – 4 kali (PBV), dan 14 – 16 kali (PER).
Nah, jadi bagaimana menurut anda? Apakah ini peluang, atau?

Jadwal Seminar/Training Investasi Saham & Value Investing: Hotel NEO Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu 19 September 2015. Keterangan lebih lengkap klik [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 19 Sept 2015

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Penerapan & Hasilnya’, di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Penulis bersama para peserta investor gathering. Klik gambar untuk memperbesar

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.
  4. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
  5. Bonus Materi: Beberapa stock-pick pilihan yang sudah diseleksi menggunakan metode yang value investing, plus sharing tips & pengalaman penulis dalam menghadapi koreksi IHSG.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 September 2015
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.3WIB (seminarnya total 5 – 6 jam), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30 agar punya waktu untuk ngobrol dan diskusi santai dengan sesama peserta. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Donald Trump, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan penuh alias ditransfer balik. Jika anda sudah mentransfer namun ternyata berhalangan hadir pas acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh dengan catatan anda memberi tahukan ketidak hadiran tersebut paling lambat dua hari sebelum acaranya. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2AE8431F. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/BBM tersebut.
Foto: Foto diatas adalah foto penulis bersama para peserta di salah satu acara investor gathering di Jakarta. Untuk melihat foto-foto penyelenggaraan seminar sebelumnya, klik disini.
Contoh penerapan dari metode value investing dan hasilnya: Berikut adalah saham-saham yang pernah/masih kami pegang, atau kami berencana untuk membelinya suatu waktu nanti, yang analisisnya berdasarkan metode value investing, dan sebagian besar dari mereka sudah menghasilkan gain signifikan: Megapolitan Developments (EMDE)Surya Semesta Internusa (SSIA), Nippon Indosari Corpindo (CPIN), Sri Rejeki Isman (SRIL), dan seterusnya.

Testimonial: Beberapa peserta/alumni sudah menceritakan pengalaman mereka dalam mengikuti seminar ini di website mereka masing-masing, dan sudah tentu mereka merekomendasikan agar anda juga turut hadir :) Salah satunya anda bisa baca yang ini, ditulis oleh Elvin Enderson [...]

Pelemahan Rupiah = Krisis 1998? Maybe Not

Indonesia mengalami krisis ekonomi yang buruk di tahun 1998 lalu, dan krisis tersebut diawali oleh kejatuhan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar sejak Agustus tahun sebelumnya (1997). Berhubung saat ini kurs Rupiah juga terus saja melemah, maka wajar jika timbul pertanyaan: Apakah krisis 1998 akan terulang kembali?

Krisis 1998 yang melanda beberapa negara di Asia Tenggara plus Korea Selatan, diawali oleh penurunan nilai tukar mata uang Thailand, Baht, pada Mei 1997. Penurunan tersebut memaksa Pemerintah Thailand untuk mem-float Baht, atau dengan kata lain membiarkan kurs Baht terhadap USD ditentukan secara bebas oleh pasar, pada Juli 1997. Sebelumnya kurs Baht memang ditentukan oleh Pemerintah Thailand, dimana Baht hanya bisa naik dan turun sebesar trading band yang sudah ditentukan.
Dan tak lama kemudian, nilai tukar Baht terhadap USD turun lebih dalam lagi, hingga mencapai B56 per USD pada awal tahun 1998, atau jatuh hingga separuhnya (sebelum Mei 1997, kurs Baht stabil di B25 – 26 per USD).
Menyusul kejatuhan Baht, Rupiah juga langsung goyang tak lama kemudian, hingga Bank Indonesia (BI) terpaksa memperlebar trading band Rupiah, dari tadinya 8% menjadi 12% (sehingga nilai tukar Rupiah terhadap USD, yang tadinya maksimal hanya bisa naik atau turun 8% dalam sehari, menjadi bisa naik atau turun maksimal 12% dalam sehari), pada Juli 1997. Setelah itu kurs Rupiah tanpa ampun jeblok 12% setiap hari. Pada Agustus 1997, BI akhirnya juga melepas batasan trading band Rupiah, dan membiarkan Rupiah bergerak sesuai mekanisme pasar. Hasilnya Rupiah terjerembab lebih buruk lagi, hingga menembus Rp11,000 pada Januari 1998, atau anjlok 75% lebih.
Dan krisis yang sebenarnya justru baru dimulai pada tahun 1998 tersebut. Pada laporan keuangan untuk tahun penuh 1997, perusahaan-perusahaan Tbk yang memiliki utang dalam mata uang USD membukukan kerugian kurs gila-gilaan, karena nilai utang mereka melonjak hingga dua atau tiga kali lipat, dan banyak diantaranya yang terancam default (gagal bayar utang). Alhasil memasuki tahun 1998, para perusahaan ini berupaya membeli USD dalam jumlah besar untuk membayar utangnya, dan itulah yang menyebabkan pelemahan Rupiah terus berlanjut hingga menembus Rp17,000-an pada pertengahan tahun 1998. Pada titik inilah, puluhan perusahaan, baik Tbk maupun private, tanpa ampun langsung bangkrut, dan kebangkrutan mereka turut menyeret bank-bank yang memberikan mereka pijaman. Salah satu bank terbesar di Indonesia, Bank BCA, mengalami rush, Presiden Soeharto lengser pada bulan Mei, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 13.5% untuk tahun 1998.
Penyebab Krisis
Berbeda dengan negara-negara lainnya yang mampu untuk pulih lebih cepat (Singapura hanya mengalami krisis-nya selama kurang dari 1 tahun, atau malah boleh dibilang gak ada krisis sama sekali), Indonesia butuh waktu sekitar 5 tahun untuk pulih dari krisis, dan ekonomi baru terasa maju kencang kembali pada tahun 2003 – 2004. Termasuk IHSG, yang sempat mencatat rekor posisi terendahnya pada September 1997, tidak mampu untuk break new high lagi hingga penghujung tahun 2003. Penurunan Rupiah pun tercatat yang paling dalam dibanding mata uang lainnya yang turut terkena dampak krisis. Pertanyaannya, kenapa?
Rate vs USD
Before Crisis
Lowest Position
Change (%)
Rupiah
2,600
17,000
(84.7)
Baht
25
56
(55.4)
Ringgit
2.5
4.7
(46.8)
Filipina Peso
26
53
(50.9)
Korean Won
800
1700
(52.9)
Dan jawabannya adalah karena sebelum terjadinya krisis, Indonesia, entah itu Pemerintahnya maupun sektor swastanya, memiliki utang yang amat sangat besar. Pada tahun 1997, rasio utang Indonesia terhadap GDP tercatat lebih dari 150%. Ketika Indonesia mengalami booming pertumbuhan ekonomi sejak akhir dekade 80-an hingga pertengahan 90-an, para konglomerasi secara greedy memanfaatkan momentum tersebut untuk mengambil utang luar negeri sebesar-besarnya, dan sayangnya Pemerintah membiarkan hal tersebut. Asia Pulp & Paper, perusahaan kertas terbesar di dunia milik Grup Sinarmas, ketika itu memiliki utang obligasi dalam mata uang US$ senilai US$ 14 milyar (wow!) yang tentu saja gagal untuk dibayar setelah kurs Rupiah anjlok.
Jadi penyebab buruknya kinerja perusahaan-perusahaan di penghujung tahun 1997, awalnya memang karena penurunan nilai tukar Rupiah. Namun yang menyebabkan keadaan menjadi benar-benar buruk alias krisis di tahun berikutnya (1998), adalah karena puluhan perusahaan-perusahaan besar mendadak membutuhkan USD dalam jumlah besar untuk membayar utang-utangnya, dan itulah yang menyebabkan Rupiah melemah lebih lanjut (sehingga mereka pada akhirnya tetap saja bangkrut), dan pada akhirnya menyebabkan krisis.
Lalu bagaimana dengan tahun 2015 ini?
Berbeda dengan tahun 1998, pada tahun 2015 ini Indonesia tidak lagi ‘keberatan’ utang. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, hingga Kuartal II 2015, rasio utang Pemerintah terhadap GDP (tidak termasuk utang swasta) adalah 25%. Dan kalau ditambah utang swasta mungkin jadi 27 – 29%. Berikut adalah data rasio Debt to GDP sejak tahun 2008 hingga 2013:
Debt to GDP (%)
Total
Government Debt Only
2008
33.2
32.3
2009
30.3
28.6
2010
27.4
26.5
2011
26.6
24.5
2012
27.3
23.1
2013
28.7
23.0
Poinnya adalah, okay, Rupiah memang sedang melemah, dan dia bisa melemah sampai berapa saja. Tapi selama Pemerintah atau sektor swasta tidak memiliki utang yang besar dalam mata uang USD, then trust me, Indonesia akan baik-baik saja! Contoh riil dari hal ini adalah ketika terjadi krisis global di tahun 2008 lalu, dimana pada tahun tersebut Rupiah juga melemah dari 9,000-an hingga tembus 12,000 per USD. Tapi karena ketika itu perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak lagi keberatan utang seperti tahun 1998, maka tidak terjadi aksi beli USD dalam jumlah besar-besaran, sehingga Rupiah langsung menguat lagi setahun berikutnya. Dan seperti yang bisa anda lihat di tabel diatas, pada tahun 2008 tersebut rasio utang terhadap GDP Indonesia memang hanya 33.2%, atau jauh lebih rendah dibanding tahun 1998.
Sementara untuk tahun 2015 ini? Well, rasio utang tersebut sudah lebih baik lagi menjadi hanya 25% (government only). Dalam hal ini mungkin penulis perlu juga meluruskan komentar-komentar yang menyebutkan bahwa Indonesia krisis karena utang Pemerintah sudah menembus Rp3,000 trilyun (dan itu memang terdengar sebagai angka yang fantastis).
Tapi sekarang pakai logika saja: Kalau memang besarnya jumlah utang itu harus dilihat dari nilai nominal, maka Astra International (ASII) seharusnya sudah lama bangkrut karena total kewajibannya pada Kuartal II 2015 tercatat Rp119 trilyun, atau lebih besar dibanding kewajiban Bumi Resources (BUMI) sekalipun yang ‘hanya’ Rp75 trilyun (berdasarkan kurs Rp13,160 per USD). Tapi kenapa saham ASII masih kokoh di 5,000-an, sementara BUMI malah sudah mati di gocap? Ya karena nilai aset ASII, yakni Rp243 trilyun, masih jauh lebih besar dibanding utangnya tersebut, sementara nilai aset BUMI hanya Rp58 trilyun, atau sudah lebih kecil dibanding utangnya (sehingga perusahaan mengalami defisiensi modal), sehingga BUMI secara teknis sudah bangkrut karena aset yang tersedia tidak lagi cukup untuk membayar utang-utangnya.
Demikian pula dengan total utang Pemerintah Indonesia. Meski angkanya sudah tembus Rp3,000 trilyun, namun nilai ‘aset negara’, dalam hal ini GDP, juga naik terus dan sekarang sudah mantap di level Rp12,000 trilyun, sehingga rasio utang terhadap GDP-nya hanya sekitar 25%, dan itu adalah rasio yang sangat aman. Anda tahu kenapa Yunani mengalami krisis? Itu adalah karena rasio utangnya terhadap GDP tercatat 177%, atau dengan kata lain utang Yunani nyaris 2 kali lebih besar dibanding GDP-nya sendiri. Jadi gimana mereka nggak krisis???
Rasio utang Pemerintah Indonesia terhadap GDP. Perhatikan bahwa trend-nya turun terus sejak tahun 2001. Sumber: www.tradingeconomics.com
Jadi kesimpulannya, okay, Rupiah memang melemah, dan level Rp15,000 sepertinya cuma soal waktu untuk bisa ditembus, karena sampai sekarang Bank Indonesia (BI) kelihatannya masih santai-santai saja. Seperti halnya BEI dan OJK yang baru keliatan kerja setelah IHSG minggu kemarin mengalami panic selling, BI juga mungkin baru akan turun tangan kalau Rupiah, dalam pandangan mereka, memang sudah berada di level yang tidak lagi wajar. Faktor eksternal seperti devaluasi Yuan juga mungkin masih bisa menekan Rupiah lebih lanjut.
Tapi selama perusahaan-perusahaan tidak memiliki utang USD dalam jumlah besar, maka kita akan baik-baik saja (meski memang IHSG mau tidak mau harus turun dulu), dan pelemahan Rupiah pada akhirnya nanti akan berhenti. Saat ini beberapa perusahaan memang punya utang dalam mata uang USD dalam jumlah besar, tapi sebagian besar lainnya tidak punya utang apapun. Dan kondisi ini sangat berbeda dengan tahun 1997 – 1998 lalu, dimana semua konglomerasi nyaris tanpa terkecuali memiliki utang hingga puluhan milyar USD tanpa didukung oleh kepemilikan aset yang memadai. Tahun 2014 lalu, Perusahaan Gas Negara (PGAS) menerbitkan obligasi senilai US$ 1.35 milyar di Singapura. Dan meski nilai obligasi tersebut tidak sampai sepersepuluh dari nilai obligasi yang diterbitkan Asia Pulp & Paper di penghujung tahun 90-an (US$ 14 milyar cuy!), namun itu sudah merupakan salah satu obligasi terbesar yang diterbitkan oleh perusahaan di Indonesia, karena perusahaan-perusahaan lain paling banter hanya menerbitkan obligasi di kisaran ratusan juta USD saja. Disisi lain PGAS sendiri memang perusahaan besar dengan nilai aset US$ 5.8 milyar, jadi utang segitu masih wajar.

Hanya memang, dengan terus melemahnya Rupiah, maka anda sebagai investor dituntut untuk lebih selektif dalam memilih saham, dimana anda sebaiknya menghindari saham dari perusahaan yang punya utang dalam mata uang USD, apalagi jika utang tersebut tidak di-hedging. Tapi yah, itu nggak sulit [...]

CPIN, PTBA, PGAS, dan SSIA

Halo Pak Teguh, minta pendapat soal Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). CPIN termasuk saham LQ45 yang top pricenya pernah di sekitar 4,000 dan sempat turun ketika panic selling ke 1,300 (kurang lebih turun 67%, melebihi penurunan PGAS yang sekitar 50%) dan sekarang mantul ke 2,000 lagi. Secara awam saya melihat jika kita bisa dapat moment buy di 1,300 atau 1,400, tentu saja sekarang sudah profit 30 – 40%. Setahu saya CPIN merupakan perusahaan yang mempunyai track record bagus, mungkin lagi terimbas perekonomian global yg melemah dan USD yang melambung tinggi. Apakah CPIN termasuk saham yg layak dikoleksi?

CPIN membukukan laba bersih Rp959 milyar di Semester I 2015, turun lumayan dalam dibanding periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp1.25 trilyun. Meski kinerja tersebut masih lebih baik dibanding dua kompetitornya yakni Japfa Comfeed (JPFA) dan Malindo Feedmill (MAIN) yang sampai merugi, dan pendapatan CPIN juga sejatinya masih naik, namun penurunan laba tersebut jelas disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD. CPIN harus mengimpor sebagian bahan baku pakan ayam dari luar negeri, dan pada November 2014 lalu perusahaan memperoleh pinjaman sindikasi dalam mata uang USD dari Citigroup senilai US$ 200 juta. Pelemahan Rupiah menyebabkan perusahaan menderita kerugian selisih kurs, dan juga harus membayar bunga pinjaman USD-nya dalam jumlah yang lebih besar, dan itulah yang kemudian menekan laba perusahaan.
Masalahnya, kita nggak tahu Rupiah ini bisa melemah sampai berapa. Meski saat ini Rupiah sudah tembus Rp14,000 per USD, namun Bank Indonesia (BI) kelihatannya masih santai-santai saja, yang itu berarti mereka juga menganggap bahwa posisi Rupiah pada saat ini masih ‘aman’. Menurut BI sendiri, kurs Rupiah memang harus berada di level tertentu untuk bisa mendorong nilai ekspor (jadi tidak harus menguat). Jika besok-besok Rupiah kembali tertekan, katakanlah sampai Rp15,000 per USD, maka kinerja CPIN mau tidak mau akan turut tertekan.
Jadi meski penulis setuju bahwa CPIN ini bagus, namun untuk saat ini masih agak riskan untuk masuk. Kemarin dia memang rebound tinggi setelah event panic selling, tapi ketika itu SMGR, BBNI, ADRO, PTBA, dan masih banyak lagi, mereka juga terbang semua. Jadi kemungkinan itu hanya panic buying saja, karena investor melihat bahwa saham-saham tersebut sudah turun teramat sangat rendah.
Tapi selama fundamentalnya masih belum cukup baik, dan outlook-nya juga belum cerah, maka biasanya sahamnya akan turun lagi, karena disisi lain CPIN masih belum cukup murah untuk ukuran perusahaan yang kinerjanya lagi nggak bagus (PBV-nya masih 2.7 kali, sementara sekarang ini sudah banyak saham blue chip yang PBV-nya kurang dari 2 kali). Kalau dihitung dari all time high-nya yakni 5,200, maka CPIN sudah turun lebih dari 60%, tapi jangan lupa kalau CPIN juga sudah naik banyak sekali dari hanya 100 perak di tahun 2008. Jadi posisi CPIN pada saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding posisinya di tahun 2008 tersebut.
Bukit Asam (PTBA) apakah sudah murah? Boleh dibeli untuk disimpan long term? Denger-denger perusahaannya mau buyback?
PTBA adalah saham terbaik di sektor batubara, dimana perusahaan punya track record kinerja yang sangat solid, profitabilitas diatas rata-rata, manajemennya mampu untuk berekspansi ke hilir (pembangkit listrik), royal dalam dividen, dan konservatif dalam leverage.
Tapi bahkan perusahaan sebagus itupun, kalau harga batubara turun maka ya tetap saja labanya bakal anjlok. Dan sayangnya sampai sekarang harga batubara masih turun meski tidak lagi sedrastis tahun-tahun lalu. Penulis sebenarnya termasuk yang percaya bahwa tahun ini mungkin merupakan titik nadir dari industri batubara, sehingga tahun depan industri ini seharusnya akan bangkit lagi, apalagi jika Pemerintah mampu merealisasikan pembangunan mega proyek 35,000 MW di dalam negeri. Tapi untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanya mengamati saja dulu, dan mungkin baru akan masuk nanti kalau industri batubara memang sudah menunjukkan turning point-nya. Kita akan investasi jangka panjang di PTBA ini, tapi seperti halnya menjual saham gak perlu buru-buru, maka membelinya pun gak perlu buru-buru. Kita lihat lagi dalam beberapa bulan kedepan gimana.
Soal buyback, itu belum tentu menggaransi bahwa sahamnya tidak akan turun lebih rendah lagi. Beberapa bulan lalu Gajah Tunggal (GJTL) juga mengumumkan bahwa mereka akan buyback saham ketika GJTL berada di 1,000-an, tapi sekarang GJTL malah sudah dibawah 500.
And btw, PBV PTBA saat ini masih 1.6 kali. Meski ini sejatinya sudah sangat murah, tapi dalam kondisi pesta diskon seperti sekarang maka ada banyak saham-saham batubara lain yang tidak kalah bagusnya, yang PBV-nya malah sudah nol koma. Jadi sekali lagi kita gak perlu buru-buru, karena jika nanti waktunya sudah tepat, maka di sektor batubara ini kita gak hanya bisa ambil PTBA, tapi (mungkin) BUMI sekalipun boleh!
Perusahaan Gas Negara (PGAS), saya tertarik untuk beli karena kelihatannya sudah murah sekali, tapi saya dengar kalau perusahaan merugi dari investasinya di luar negeri. Apa benar?
Yep, sebagai salah satu emiten terbesar di BEI, dan juga merupakan BUMN, maka PGAS terlalu menarik untuk diabaikan, apalagi sahamnya sudah turun lebih dari 50% dari puncaknya. Meski kinerja perusahaan juga lagi jelek karena imbas dari lesunya perekonomian, namun kalau kita berpandangan untuk jangka panjang, maka mungkin sekarang ini justru merupakan kesempatan yang bagus untuk masuk ke PGAS ini, dan jualnya nanti 5 tahun kemudian.
Hanya saja seperti CPIN diatas, PGAS ini juga punya ‘cerita’.
Tahun 2014 lalu, PGAS melalui anak usahanya, Saka Energy, mengeluarkan US$ 172 juta untuk mengakuisisi 36% kepemilikan di Blok Gas Faskendi Texas, Amerika Serikat, milik Swift Energy (SFY), perusahaan migas asal AS.  Karena kepemilikan PGAS di Fasken hanya 36%, maka operasional Fasken tetap dipegang oleh SFY, sementara PGAS hanya ikut memperoleh bagi hasil sebesar 36% dari gas yang diproduksi.
Secara operasional, Blok Fasken ini tidak ada masalah apapun. Menurut informasi resmi yang dirilis PGAS, produksi gas di Fasken terus naik, dari 30 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada tahun 2014 lalu, menjadi 154 MMSCFD pada saat ini, dan bisa naik lagi menjadi 190 mmscfd pada akhir tahun.
Namun yang mengalami masalah adalah SFY sendiri. Pada tahun 2014 lalu perusahaan mengalami rugi US$ 283 juta, dan hingga Semester I 2015 SFY kembali mencatat rugi US$ 770 juta. Akumulasi kerugian tersebut sedemikian besarnya hingga nilai ekuitas SFY anjlok dari US$ 1.1 milyar pada akhir tahun 2013, menjadi hanya US$ 28 juta pada saat ini. Jika trend kerugian diatas berlanjut, dan kelihatannya memang demikian, maka tak lama lagi SFY akan mencatat defisiensi modal (seperti BUMI), dan itu artinya secara teknis perusahaan sudah bangkrut.
Penulis sendiri masih belum jelas soal apa yang menyebabkan SFY merugi sampai segitunya. Namun karena kerugian tersebut maka saham SFY tanpa ampun anjlok dari US$ 11.4 menjadi US$ 0.5 pada hari ini. Di AS sendiri mulai ada banyak pemberitaan yang menyebut bahwa SFY mungkin akan segera di-delisting dari bursa.
Poinnya disini adalah, meski manajemen PGAS sudah membantah bahwa mereka berinvestasi di Fasken dan bukan di saham SFY, sehingga investasi mereka masih baik-baik saja (dan itu memang benar), namun jangan lupa bahwa yang memegang kendali operasional atas Fasken itu masih SFY, bukan PGAS. Jadi kalau SFY kenapa-napa, maka Fasken mau tidak mau akan ikut kena. Jika pada Kuartal III nanti Swift Energy pada akhirnya mencatat defisiensi modal (dan kelihatannya demikian), maka sahamnya mungkin akan benar-benar ditendang keluar dari Bursa New York, dan cerita soal Blok Fasken ini akan mengemuka kembali, kecuali jika PGAS bisa menutupinya dengan kinerja yang excellent (tapi nyatanya di Kuartal II barusan labanya masih turun).
Karena itulah, mungkin untuk saat ini kita ambil saham bluechip/BUMN lainnya saja dulu, yang sama-sama sudah murah tapi perusahaannya gak lagi ada cerita jelek apapun. Sebab disisi lain, Blok Fasken ini hanyalah satu dari sepuluh blok gas (tadinya sebelas, tapi ada satu blok yang dijual) milik PGAS. Dan di laporan keuangan perusahaan sendiri disebutkan bahwa tiga dari dari sepuluh blok gas tersebut (termasuk Fasken) mengalami kerugian penurunan nilai.
Surya Semesta Internusa (SSIA), tolong analisa serta harga terbaik untuk buy.
Dengan laba yang tumbuh 35%, ROE terjaga di level 17%, sementara ekuitasnya juga naik 9.3% secara year to date (atau 12.5% jika memperhitungkan dividen), maka kinerja SSIA untuk Semester I 2015 terbilang sangat baik, apalagi jika dibandingkan dengan kinerja para emiten lainnya di BEI, yang rata-rata mengalami penurunan laba atau bahkan kerugian. SSIA mampu untuk terus mencatat pertumbuhan laba karena adanya tambahan pendapatan dari penjualan tanah kawasan industri, dalam hal ini kawasan industri di Subang, yang land bank-nya sudah diakuisisi sejak tahun 2014 lalu. Sebelumnya pada tahun 2014 laba perusahaan sempat turun dibanding 2013 karena SSIA ‘kehabisan’ tanah kawasan industri untuk dijual, setelah 1,400 hektar kompleks kawasan industri milik perusahaan di Karawang sudah laku terjual semuanya (sebenarnya masih ada, tapi tinggal sisa 100-an hektar lagi). Beruntung, SSIA masih mampu memperoleh landbank untuk dibangun kompleks kawasan industri lainnya di Subang, dan kompleks ini masih punya cukup tanah kavling untuk dijual (totalnya 2,000 hektar) hingga beberapa tahun kedepan.

Selain bisnis kawasan industri, kedepannya SSIA masih bisa memperoleh tambahan pendapatan dari konsesi tol barunya (Tol Cikampek – Palimanan), proyek-proyek konstruksi/ pembangunan infrastruktur (melalui Nusa Raya Cipta/NRCA), hingga jaringan hotel bintang tiga yang saat ini sedang dibangun, ‘Batiqa Hotel’ (sudah selesai sebagian, jadi sudah bisa panen). Berbeda dengan beberapa perusahaan properti lainnya yang punya utang segunung atau utang dalam USD, neraca SSIA relatif bersih dari utang (DER-nya 1 kali), dan hanya ada utang obligasi dalam negeri dengan tingkat bunga yang tentu saja lebih murah dibanding utang bank.
Tapi meski fundamental serta outlook-nya sangat menarik, toh saham SSIA tetap saja ikut terseret arus penurunan IHSG, dan sekarang berada di level 700-an. But of course, this is a BIG opportunity, karena kita tahu bahwa dalam kondisi pasar yang normal, seharusnya SSIA ini berada di level 1,000-an. Another fact: Posisi SSIA saat ini (705) adalah hampir sama persis dengan posisinya pada Desember 2011 (hampir empat tahun yang lalu), padahal nilai ekuitas SSIA pada saat ini tercatat Rp2.8 trilyun, dibanding Rp1.1 trilyun pada akhir 2011 tersebut. Yep, jadi bisa dikatakan bahwa anda pada saat ini hanya perlu membayar harga yang sama untuk sebuah aset yang nilainya sudah naik dua setengah kali lipat, dan masih berpeluang untuk naik lagi di masa yang akan datang! Dan menurut anda, adakah tawaran deal yang lebih menarik dari itu?
Okay, selebihnya kita bahas minggu depan.
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Investama sedang dalam posisi memegang SSIA di harga rata-rata 680. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSGstock-pick saham bulanan edisi September2015 sudahterbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tiga edisi buletin lama (Juni, Juli, dan Agustus) bagi pelanggan baru, dan gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk [...]

Pembangunan Infrastruktur Sudah Dimulai!

Sejak beberapa tahun lalu, penulis punya hobi jalan-jalan menelusuri jalanan pedesaan yang belum pernah dilewati sebelumnya, untuk melihat pemandangan dan menghirup udara segar. Dan sore tadi, mumpung lagi nganggur, saya jalan-jalan dari rumah di Bandung ke arah Lembang hingga sampai ke Ciater (Subang), kemudian masuk jalan kecil yang, kalau berdasarkan petunjuk di Google Maps, nanti tembusnya ke Tanjungsari (Sumedang). Sekitar dua puluh kilometer kemudian, penulis menemukan pemandangan yang lumayan bikin kaget. Nih, anda lihat saja sendiri fotonya, klik untuk memperbesar.

Setelah penulis bertanya ke salah seorang pekerja disitu (sayang gak sempat foto bareng, baru kepikiran setelah jalan lagi), dia bilang kalau itu adalah proyek Jalan Tol Cisumdawu, yang akan menghubungkan Cileunyi (Bandung) dengan Kertajati (Majalengka), dan akan langsung nyambung dengan Tol Cikampek – Palimanan (Cipali). Jadi jika nanti jalan tol ini sudah jadi, maka orang-orang dari Bandung/Cileunyi akan bisa langsung ke Cirebon melalui Tol Cisumdawu hingga tembus Cipali (di Kertajati), dan keluar di Palimanan, Cirebon.
Menurut si pekerja tadi, pengerjaan tol Cisumdawu baru dikebut dalam beberapa bulan terakhir, terutama sejak Tol Cipali resmi beroperasi sebelum lebaran kemarin. Padahal setelah penulis googling kemudian, peletakkan batu pertama untuk konstruksi Tol Cisumdawu ini sebenarnya sudah dilakukan pada tahun 2011 lalu, atau pada tahun yang sama ketika Tol Cipali mulai dibangun (selain itu panjang Tol Cisumdawu ini cuma 60 km, gak seperti Cipali yang mencapai 117 km). Anyway, gak apa-apa lah agak terlambat sedikit, yang penting sekarang pembangunannya sudah jalan! Kalau semuanya lancar, maka Tol Cisumdawu ini akan beroperasi tahun 2016 mendatang.
Nah, bagaimana dengan daerah anda sendiri? Apakah disitu juga sudah mulai ada pembangunan infrastruktur?

Pengumuman: Buletin Analisis IHSG & Investment Plan edisi September sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi saham via email, dan gratis tiga edisi buletin lama (Juni, Juli, dan Agustus) bagi pelanggan [...]

Outlook IHSG Setelah Kebijakan BEI

Kamis kemarin, tanggal 27 Agustus 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menyelenggarakan konferensi pers untuk menjelaskan kepada publik terkait kondisi pasar saham Indonesia. Secara poin per poin, berikut ini adalah inti materi dari konferensi pers tersebut.
Konferensi Pers BEI, sumber: www.idx.co.id

  1. Dalam satu bulan terakhir (Agustus), terdapat beberapa isu global yang menekan tingkat kepercayaan pelaku pasar modal di dalam negeri, seperti spekulasi atas kenaikan Fed Rate, penurunan harga minyak mentah dunia, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Tiongkok.
  2. Meski kondisi ekonomi global kurang kondusif, namun 73% perusahaan/emiten yang terdaftar di BEI masih membukukan laba bersih yang positif pada semester I 2015. Dari kelompok 20 emiten terbesar berdasarkan market cap, PT Tekom Indonesia (TLKM) bahkan masih membukukan kenaikan laba komprehensif sebesar 6.0%.
  3. Terkait penurunan IHSG yang terjadi sejak Senin, 24 Agustus lalu, maka BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator bursa telah menerapkan beberapa kebijakan: 1. Emiten bisa mem-buy back saham tanpa RUPS, 2. Saham apapun hanya bisa turun maksimal 10% dalam sehari, 3. Dana Perlindungan Pemodal (DPP) ditingkatkan dari Rp25juta menjadi Rp100 juta, dan pelaksanaanya dieksekusi oleh PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI), dan 4. Kegiatan transaksi saham yang melanggar ketentuan, seperti short-selling, akan diawasi lebih ketat.
  4. Pihak BEI menganggap bahwa penurunan IHSG terbilang masih dalam batas-batas yang wajar. Dan dengan mempertimbangkan kinerja para emiten yang relatif sehat, BEI berharap agar para pelaku pasar modal tetap optimis.
Komentar Penulis
Dalam acara Investor Gathering yang penulis selenggarakan di Jakarta, 22 Agustus kemarin (ini link-nya), penulis menyampaikan bahwa salah satu tanda bahwa penurunan IHSG mungkin sudah mencapai titik terendahnya, adalah jika otoritas bursa, dalam hal ini BEI dan OJK, atau Pemerintah itu sendiri (melalui Kementerian BUMN atau lainnya) mulai turun tangan langsung. Seperti yang kita ketahui, IHSG sejatinya sudah turun dan terus saja turun sejak akhir April lalu, namun toh sampai pertengahan Agustus kemarin boleh dibilang tidak ada respon apapun dari BEI. Berdasarkan pengalaman, kalau BEI sendiri masih santai-santai saja, maka itu berarti mereka sendiri menganggap bahwa penurunan IHSG itu masih normal, atau dengan kata lain IHSG masih bisa turun lebih lanjut hingga ke fase yang tidak lagi normal, dimana investor panik dan tidak lagi rasional (ini disebut siklus pasar, penjelasannya boleh baca disini).
Namun ketika penurunan IHSG sudah sampai pada fase yang tidak lagi normal, misalnya fase panic sellingseperti yang terjadi Senin, 24 Agustus lalu, dimana semua saham anjlok tanpa peduli lagi apakah fundamentalnya bagus atau tidak, maka barulah BEI akan turun tangan. Dan kalau BEI/Pemerintah sudah turun tangan, artinya mereka sendiri menganggap bahwa posisi IHSG sudah cukup rendah, dan seharusnya akan naik kembali. Kementerian BUMN sendiri Senin kemarin sudah mengumumkan bahwa mereka akan melakukan buy back saham-saham BUMN.
Dalam hal ini bukan berarti Pemerintah sudah pasti benar bahwa IHSG sudah bottom. Namun jika Pemerintah sendiri yang bilang bahwa IHSG sudah murah, maka itu akan lebih didengar oleh khalayak ramai, dibanding jika seseorang yang bukan siapa-siapa seperti penulis mengatakan hal yang sama. Yep, jadi terdapat faktor psikologis disini. Pada Oktober 2008, ketika IHSG sedang anjlok-anjloknya (turun total 60% dari 2,800-an ke 1,100-an), Pemerintah juga mengumumkan bahwa mereka akan mengeluarkan Rp4 trilyun untuk buy back saham-saham BUMN. Dan hasilnya, pada November – Desember IHSG kembali naik dan akhirnya ditutup di posisi 1,300-an pada akhir tahun 2008, dan terus berlanjut naik di tahun berikutnya.
Nah, jadi apa yang kita tunggu-tunggu selama beberapa bulan terakhir ini (respon pemerintah), pada akhirnya memang sudah terjadi. Penulis sendiri, dalam wawancara dengan Koran Kontan sekitar sebulan lalu ketika IHSG masih di level 4,800-an, mengatakan bahwa ‘IHSG memang sudah turun lumayan, namun ‘yang terburuk masih belum terjadi’. Well, namun kalau sekarang ini, ‘yang terburuk’ itu mungkin sudah terjadi Senin lalu. Dan meski kedepannya kita masih belum tau bakal gimana, namun berinvestasi pada saat IHSG berada di level rendah seperti sekarang tentu saja lebih enteeeengg, ketimbang jika anda dipaksa mencomot saham ketika IHSG masih berada di level 5,400-an, padahal ketika itu kita sudah tahu bahwa perekonomian nasional sedang melambat.
Meski demikian ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan.
Diatas sudah disebutkan bahwa belakangan ini mulai ada banyak isu global seperti kenaikan Fed Rate, penurunan harga minyak, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, dan itu belum termasuk Krisis Yunani, atau bahkan Krisis Malaysia (baru Minggu kemarin ada demo besar di Kuala Lumpur). Berbagai isu ini bisa berdampak negatif terhadap IHSG. Terkait kenaikan Fed Rate, maka penulis kira cerita itu akan terus diulang-ulang bahkan jika besok-besok Fed Rate itu beneran naik, karena satu kali kenaikan akan membuka pintu bagi kenaikan berikutnya (baca lagi penjelasannya disini).
Disisi lain, meski orang BEI mengatakan bahwa 73% perusahaan/emiten masih membukukan laba bersih yang positif pada semester I 2015, namun itu artinya ada 27% perusahaan lainnya yang mengalami kerugian, atau dengan kata lain dari empat emiten di BEI, terdapat satu diantaranya yang merugi. Dan ketika disebutkan bahwa dari 20 emiten terbesar, TLKM masih membukukan kenaikan laba, maka itu berarti 19 emiten besar lainnya membukukan penurunan laba! Kondisi ini tentu saja tidak terlalu bagus, dan memang selaras dengan kondisi ekonomi nasional yang lesu. Jika kita strict pada kaidah value investing dimana kita hanya bisa membeli saham yang: 1. Fundamentalnya bagus, dan 2. Valuasinya murah, maka meski pada saat ini saham-saham murah bertebaran dimana-mana, namun masih relatif sulit untuk menemukan yang fundamentalnya masih benar-benar bagus.
Jadi meski BEI dan OJK sudah meluncurkan empat kebijakan terkait pasar saham, dan mungkin nanti akan ada kebijakan lainnya lagi, namun problemnya sekarang adalah fundamental dari saham-saham itu sendiri. Di catatan penulis, beberapa saham di sektor tertentu masih memiliki kinerja yang sangat baik, namun sebagian besar lainnya tidak bisa diganjar dengan predikat ‘lumayan baik’ sekalipun. Jadi kita mau tidak mau harus lebih selektif.
Dan terakhir, pada komentar BEI yang mengatakan bahwa ‘kinerja para emiten yang relatif sehat’, well penulis harus katakan bahwa kami tidak setuju. Logika saja, jika memang kinerja emiten masih relatif bagus, lalu bagaimana mungkin ada banyak saham-saham di BEI yang terus saja mencetak new low? Dan bahkan di kelompok blue chip sekalipun, ada beberapa diantaranya yang sudah turun 50% lebih dari posisi tertingginya. Kondisi ekstrim seperti ini tidak akan terjadi jika kinerja para perusahaan masih ‘relatif sehat’. You know, jika memang ada barang bagus yang harganya turun, maka meski pemegangnya ramai-ramai menjualnya, namun investor yang lain juga akan berebut untuk membelinya, dan alhasil penurunannya tidak akan terlalu dalam. Namun jika ‘barang’ tersebut tidak sedang dalam kondisi yang ‘bagus’, maka ketika orang-orang menjualnya, tidak ada orang lain yang menampung dan alhasil, sahamnya terjun bebas.
Satu hal lagi: Kelihatannya BEI tidak menaruh perhatian apapun terhadap masalah pelemahan Rupiah. Padahal masalah tersebut bisa sangat serius bagi perusahaan-perusahaan yang punya utang obligasi dalam mata uang USD. Mungkin BEI atau OJK kedepannya juga perlu menerbitkan peraturan bahwa perusahaan harus melakukan hedging terhadap utang-utang USD-nya, agar pelemahan Rupiah, yang kemungkinan masih bisa berlanjut, tidak akan terlalu berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan.
Kesimpulannya, meski kebijakan BEI dan lainnya mungkin menunjukkan bahwa ‘yang terburuk sudah terjadi’, namun IHSG mungkin masih memerlukan sentimen positif yang riil agar bisa naik kencang kembali, karena kinerja para emiten juga masih tidak terlalu baik. Disisi lain cerita soal kenaikan Fed Rate dll malah tambah kenceng akhir-akhir ini, dan itu bisa menahan IHSG untuk tidak segera naik lagi dalam waktu dekat, atau malah turun lagi. Sementara sentimen positif terkait pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur, seperti yang sudah penulis sampaikan berkali-kali, kita mungkin baru akan melihat dampak positifnya pada awal tahun depan.
Jadi yah, kalau tujuannya untuk investasi jangka panjang, maka meski posisi IHSG sejatinya sudah cukup rendah, namun kita mungkin masih harus menunggu sebentar lagi, paling tidak hingga ‘keributan’ di Mainland, US, dan lainnya mereda dengan sendirinya, atau ketika Rupiah pada akhirnya ‘menemukan’ posisinya untuk kemudian bertahan disitu, alias tidak melemah lebih lanjut.

Komentar anda?

Pengumuman: Buletin Analisis IHSG & Investment Plan edisi September sudah terbit hari ini! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi saham via email, dan gratis tiga edisi buletin lama (Juni, Juli, dan Agustus) bagi pelanggan [...]

Rupiah Sudah Tembus 14,100: Next?

Sepanjang beberapa bulan terakhir ini, Rupiah terus saja melemah nyaris setiap hari tanpa pernah sekalipun rebound. Setelah tembus angka cantik 14,000, 14,022, 14,045 (bukan nomor call center lho ini), pada penutupan kemarin dia sudah tembus Rp14,102 per US Dollar. Beberapa kalangan memperingatkan bahwa pelemahan Rupiah ini sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut Achmad Danuri, direktur Center of Banking Crisis, berdasarkan stress test yang dilakukan maka jika Rupiah tembus 15,000, akan ada satu perusahaan asuransi yang gulung tikar. Dan jika Rupiah tembus 16,000, maka akan ada tiga bank kelas menengah yang kondisinya mendekati kolaps.
Kurs Rupiah sebagaimana yang ditampilkan di website Bank Indonesia

Disisi lain, menurut humas Bank Indonesia, Tirta Segara, BI tidak akan membiarkan Rupiah melemah terlalu dalam, dan selalu siap sedia untuk melakukan operasi moneter jika nanti dibutuhkan (kapan?). Namun disisi lain BI juga masih punya hitungan sendiri soal berapa seharusnya nilai kurs Rupiah (berapa?), karena kurs Rupiah memang harus berada di level tertentu untuk bisa mendorong nilai ekspor.
Nah, minggu depan (atau minggu depannya lagi) kita akan coba bahas soal Rupiah ini. Namun sebelum itu di forum ini anda bisa mengemukakan pendapat soal pelemahan Rupiah ini, tentang apa penyebabnya, apakah posisi sekarang masih wajar atau sudah gawat, kira-kira dia bisa melemah sampai berapa, dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian nasional dll.
Dan jika anda duduk di Pemerintahan/Bank Indonesia, maka apa yang akan anda [...]

Antara Euforia dan Putus Asa

Setiap kali IHSG mengalami koreksi besar-besaran hingga pada level dimana nyaris seluruh investor dilanda kepanikan, maka penulis sejak tahun 2010 lalu sudah terbiasa membuat tulisan ‘counseling’ untuk menenangkan teman-teman investor. However, mulai tahun 2015 ini mungkin penulis akan mengubah kebiasaan tersebut dan membiarkan kepanikan itu terjadi, karena berdasarkan pengalaman, kepanikan adalah bagian dari siklus yang normal yang terjadi pada pasar saham. Maksud penulis adalah, tak peduli meski anda mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan pasar, namun orang-orang tetap akan panik karena sekali lagi, itu adalah bagian dari siklus yang normal.

Sebaliknya, dalam kondisi dimana posisi IHSG lagi tinggi, maka meski anda mengatakan bahwa IHSG akan jatuh dengan cara memaparkan data dan fakta ekonomi yang menunjukkan hal tersebut, namun orang-orang tetap akan menganggap bahwa anda cuma kelewat pesimis. Pada bulan Maret lalu, ketika IHSG masih kokoh di level 5,300-an dan terus saja break new high padahal ekonomi mulai terasa lesu dan Rupiah juga terus saja melemah, pada artikel ini penulis mulai mengingatkan investor bahwa IHSG pada akhirnya akan turun. Dan meski beberapa komentar dari teman-teman pembaca setuju dengan artikel tersebut, namun yang membantah juga tidak kalah banyak.
Pendek kata, ketika terjadi euforia maka ya sudah, biarkan saja euforia itu terjadi, because there is nothing you could do. Sebaliknya ketika terjadi kepanikan dan ke-putus asa-an, maka anda juga tidak akan bisa menenangkan orang lain, karena terkadang untuk bisa menenangkan diri sendiri saja susahnya setengah mati.
Tapi mumpung sekarang ini pasar lagi kumat lagi, maka mungkin ini sekarang adalah waktu yang pas untuk membahas soal ‘Euforia vs Putus Asa’ ini. Pengamatan penulis, meski IHSG sudah turun sejak akhir April lalu, namun baru sekarang orang-orang mulai pesimis dan kalang kabut dimana berita jelek tentang krisis dll sudah menyebar kemana-mana, dan kurs Rupiah juga sudah mirip nomor call center Bank Mandiri hingga McD. Okay, here we go!
Mengenal ‘Siklus Pasar’
Secara umum, terdapat empat kondisi yang bisa terjadi pada IHSG: 1. Bergerak naik, 2. Mencapai posisi puncak, 3. Balik arah dan bergerak turun, 4. Mencapai bottom, kemudian balik lagi ke kondisi No. 1. Penurunan IHSG biasanya terjadi lebih cepat dibanding kenaikannya. Penjelasan mengenai siklus pasar saham mungkin bisa langsung diilustrasikan lewat gambar berikut:

Okay, gambar diatas sejatinya menggambarkan siklus pasar secara keseluruhan, namun mari kita fokus pada siklus dimana IHSG mulai turun, yakni mulai dari fase ‘new paradigm’. Kalau kita lihat pengalaman di tahun 2007 lalu, yakni ketika IHSG sedang berada di posisi tinggi-tingginya setelah naik total hampir tiga kali lipat hanya dalam waktu kurang dari empat tahun, semua orang optimis dan terdapat paradigma baru bahwa ‘Indonesia akan jadi negara maju secara perekonomian’, sehingga ‘Kenaikan IHSG ini, meski tampak sebagai bubble, namun masih wajar karena mencerminkan masa depan cerah bangsa!’
Tapi setahun kemudian, IHSG langsung hancur berantakan.
Nah, untuk tahun 2015 ini, ketika IHSG berada di posisi puncaknya awal April lalu, tidak ada cerita soal ‘new paradigm’ tersebut, tapi ketika itu orang-orang juga masih belum aware bahwa ada masalah dengan perekonomian nasional. Namun ketika IHSG mulai turun dari 5,400-an ke 5,100-an dua minggu kemudian, maka barulah orang-orang sadar dengan kondisi ekonomi, tapi disisi lain ada juga orang-orang yang menolak kenyataan bahwa IHSG mulai turun (denial), dengan kekeuh mengatakan bahwa ekonomi masih baik-baik saja.
Memasuki awal Mei, IHSG ternyata rebound lagi dengan cepat (bull trap) dan sukses balik lagi ke 5,300-an, hingga para investor mulai berpikir bahwa kondisi sudah normal lagi dan gak ada masalah apapun (return to ‘normal’). Lebih jelasnya bisa lihat gambar berikut, klik gambar untuk memperbesar:
Okay, lanjut. Setelah fase return to ‘normal’, IHSG kembali turun dan ketika inilah investor mulai khawatir (fear). Dan kali ini tidak ada lagi bull trap, melainkan IHSG akan lanjut turun hingga sampai ke fase dimana investor mulai menyerah dalam mengejar keuntungan dan mulai berpikir bahwa, ‘Asal nggak rugi aja udah bagus!’ (capitulation). Puncak dari kondisi ini adalah ketika semua orang sudah putus asa (despair), dan menganggap bahwa berinvestasi di saham adalah cara berinvestasi yang sangat buruk. Pada kasus ekstrim seperti ketika IHSG hancur pada penghujung tahun 2008 lalu, maka para sales sekuritas yang ketika itu masih nekad nyari nasabah akan dicaci maki oleh orang-orang.
However, fase despair adalah titik terendah dari bear market, dimana kalau berdasarkan sejarah serta hukum siklus pasar, maka selanjutnya IHSG akan naik kembali minimal hingga mencapai kembali posisi rata-ratanya (mean). Pada grafik diatas, penulis menggunakan SMA 600 (jangka waktu 3 tahun) sebagai mean, dimana kalau berpatokan pada garis mean tersebut, maka sekarang ini adalah waktu yang sangat tepat untuk berinvestasi jangka panjang di saham, dengan catatan anda bisa ‘tahan nafas’ minimal hingga 3 tahun kedepan.
Hanya pertanyaannya memang, apakah sekarang kondisinya sudah despair, atau baru sampai pada fase capitulation? (Kalau fase fear sih seharusnya sudah ya) Karena kalau sekarang baru sampai pada fase capitulation, maka itu artinya besok-besok IHSG masih bisa turun lagi dong? Well, menurut anda?

Pengumuman: Buletin Analisis Saham & IHSG Bulanan edisi September akan Terbit Tanggal 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tiga edisi buletin lama (Juni, Juli, dan Agustus) bagi pelanggan baru.

It’s Time to Buy or.. Sell More? Bergabunglah dengan para investor lainnya untuk berdiskusi terkait hal tersebut 

Time to Buy or.. Sell More?

Menteri BUMN, Rini Soemarno, mengatakan kepada wartawan bahwa Pemerintah menyiapkan dana paling tidak Rp10 trilyun untuk membeli kembali saham-saham perusahaan BUMN di Bursa (buy back). Tidak disebutkan perusahaan BUMN yang mana yang akan di-buy back, namun terdapat tiga clue: 1. Yang akan di-buy back adalah saham dari 13 BUMN terbesar, 2. Berasal dari sektor perbankan, konstruksi, dan lainnya, dan 3. Akan dipilih yang sahamnya turun paling dalam.
Menurut Menteri Rini, buy back tersebut akan dieksekusi mulai Selasa, 25 Agustus besok.

Selain Pemerintah, BPJS Ketenagakerjaan juga dikabarkan akan ikut masuk ke pasar saham bersama BUMN-BUMN lainnya, untuk membeli saham-saham pada harga murah, atau setidaknya itulah yang dikatakan oleh direktur utamanya, Elvyn G. Masassya.
MEANWHILE..

Mainland kebakaran lagi..

Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq kembali jeblok rata-rata 3.6% lebih pada awal pekan ini. Para trader secara agresif melepas saham mereka, dan saat ini hanya terdapat bid bagi saham-saham yang dianggap mewakili perusahaan yang aman. Secara keseluruhan, Dow sudah turun 10% dari puncaknya, terburuk sejak tahun 2011, salah satunya didorong oleh penurunan Bursa Shanghai yang sudah lebih dulu mencatat rekor dengan anjlok 8.5% hanya dalam sehari.

Well, what do you think? Pilih ikut Bu de Rini dan Om Elvyn, atau mending lanjut jualan?

Update: Rabu, 26 Agustus, IHSG dibuka turun 1.5% untuk kembali ke posisi 4,100-an. Selain mendorong dilakukannya buyback, BEI sebagai otoritas bursa menurunkan batas auto reject bawah menjadi maksimal 10% dalam sehari untuk seluruh saham (sehingga saham apapun hanya bisa turun paling banyak 10% dalam sehari). Sementara OJK sebagai pengawas bursa mengumumkan bahwa mereka akan menindak tegas orang-orang/institusi yang melakukan short selling saham.

Semalam  Dow Jones ditutup turun 1.3%, sementara Indeks Shanghai masih melanjutkan sell off-nya dengan kembali jeblok 3%. Bank Sentral Tiongkok merespon hal ini dengan kembali menurunkan suku bunga acuan, dan meningkatkan likuiditas [...]

Panic Selling!

Senin pagi ini, menyusul indeks Dow Jones yang ambles lebih dari 3% pada Jumat lalu, IHSG juga tanpa ampun langsung jeblok lagi ke posisi 4,100-an. Sekarang ini penulis lagi menulis artikel mingguan seperti biasanya, tapi bagi anda yang lagi mengamati pasar maka yuk, kita bikin acara nobar (nonton bareng) IHSG disini. And here’s the big question: IHSG bisa turun sampai berapa???

Jika anda punya komentar/pertanyaan tentang situasi pasar saat ini, boleh menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

Update: IHSG Senin ditutup di posisi 4,164, turun 4.0%. Selasa besok apakah akan lanjut? Atau malah rebound?

Nippon Indosari Corpindo

Kalau pake teknik valuasi standar, maka dengan PER 22.3 dan PBV 5.2 kali pada harga 1,085, saham Nippon Indosari Corpindo (ROTI) sekilas tampak tidak menarik. However, jika kita berbicara mengenai ‘wonderful company’ seperti ROTI ini, maka kita mungkin memang tidak bisa membelinya pada ‘wonderful price’, atau dengan kata lain, kisaran harganya pada saat ini sudah terbilang wajar dan layak buy. And indeed, ROTI is a wonderful company, and I’ll tell you why.

ROTI merupakan pemilik merk ‘Sari Roti’ yang terkenal, dengan outlet berjalan-nya yang selalu memutar jingle ‘Sari roti.. roti sari roti..’ setiap kali keliling perumahan. Perusahaan didirikan pada tahun 1995 oleh Wendy Yap, ketika itu dalam bentuk penanaman modal asing asal Jepang (investor asal Jepang ini masih menjadi salah satu pemegang saham di ROTI sampai sekarang). Ms. Wendy adalah putri dari Piet Yap, salah satu pendiri sekaligus general manager dari produsen tepung terigu terbesar di Indonesia, Bogasari, sejak berdirinya perusahaan pada tahun 1969 hingga 1990-an. Jadi kelihatannya ROTI sejak awal memperoleh pasokan terigu langsung dari Bogasari, dan hingga saat inipun ROTI masih membeli terigu dari Indofood Sukses Makmur (INDF), perusahaan induk Bogasari.
ROTI mengoperasikan pabrik roti pertamanya di Kawasan Industri Jababeka pada tahun 1996, dimana pada tahun itu pula merk ‘Sari Roti’ mulai diperkenalkan ke konsumen. Meski Indonesia dihantam oleh krisis moneter setahun kemudian, namun pabrik tersebut tetap sukses, hingga pada tahun 2001 perusahaan menambah kapasitas produksinya. Tahun 2005 perusahaan membuka pabrik keduanya di Pasuruan, Jawa Timur, dilanjut dengan pendirian pabrik ketiga di Cikarang, pada tahun 2008. Hingga akhirnya pada tahun 2010, dengan statusnya sebagai market leader di industri mass-market bread di Indonesia, ROTI menggelar IPO, ketika itu dengan harga perdana 1,275, atau Rp255 per saham setelah stock-split (ROTI melakukan stock-split dengan rasio 1:5 pada tahun 2013).
(Catatan:Industri roti di Indonesia dibedakan menjadi tiga segmen, yakni roti produksi rumahan, roti produksi masal (di pabrik), dan roti butik (seperti BreadTalk, Holland Bakery, dll). Roti rumahan biasanya harganya murah, dijual di pasar tradisional dan warung-warung kelontong tidak jauh dari lokasi produksi, dan tidak memiliki merk. Sementara roti yang diproduksi secara masal, atau istilahnya mass-market bread, dijual di warung kelontong, minimarket, hingga supermarket, dengan jangkauan yang lebih jauh (bisa ratusan kilometer dari lokasi pabrik), dan memilik merk. Harganya sedikit lebih mahal dari roti rumahan, tapi setimpal dengan kualitasnya yang juga jauh lebih baik. Sementara roti butik biasanya diproduksi dan dijual ditempat yang sama, yakni di toko atau mall-mall, dan harganya paling mahal dibanding dua segemen lainnya.
Nah, ROTI bermain di segmen mass-market bread, dan di segmen ini perusahaan menjadi market leader dengan pangsa pasar lebih dari 90%. Industri roti di Indonesia secara keseluruhan memiliki nilai kurang lebih Rp23 trilyun pada tahun 2014, dan 20% diantaranya berasal dari segmen mass-market bread)
Berikut adalah poin-poin yang menyebabkan ROTI ini bisa dikategorikan sebagai ‘wonderful company’.
  1. Usaha jualan roti, seperti halnya jualan Indomie, tepung terigu, atau bahan makanan lainnya, terbilang kebal terhadap krisis, dan hal itu bisa dilihat dari fakta bahwa perusahaan mampu untuk tetap tumbuh dan berkembang pada akhir tahun 90-an ketika terjadi Krisis Moneter. Dan pada tahun 2008, ketika Indonesia sekali lagi terkena imbas dari krisis global, ROTI malah mendirikan pabrik ketiganya di Cikarang.
  2. ROTI memiliki brand equity yang boleh dibilang tidak ternilai harganya, yakni merk ‘Sari Roti’ yang sudah sangat terkenal bahkan oleh kalangan anak-anak. Jika anda memegang saham Trada Maritime (TRAM), maka anda mungkin akan bingung ketika seseorang bertanya, ‘TRAM itu perusahaan apa sih?’ Tapi kalau anda memegang ROTI ini, maka anda bisa langsung menjawab, ‘Ini yang bikin Sari Roti itu lho!’
  3. Dengan pangsa pasar hingga 90% di segmen-nya, maka ROTI bisa disebut sebagai perusahaan monopoli. Meski demikian, mengingat tingkat konsumsi roti di Indonesia masih relatif rendah, maka ROTI masih terus mengembangkan usahanya sampai sekarang (jadi prospek pertumbuhan perusahaan masih terbuka lebar), biasanya dengan cara mendirikan pabrik roti baru. Sejak IPO pada tahun 2010 hingga saat ini, perusahaan sudah mendirikan setidaknya tujuh pabrik baru yang tersebar di Medan, Palembang, Makassar, Cikande (Tangerang), Cibitung (Bekasi), Purwakarta, dan Semarang.
  4. Perusahaan memproduksi roti dengan rentang harga jual yang menjangkau seluruh kalangan konsumen, mulai dari dorayaki dengan harga Rp4,000, hingga roti lembut isi susu dengan harga Rp17,000 per bungkus.
  5. Antara tahun 2007 – 2012, laba ROTI terus meningkat rata-rata 50% setiap tahunnya. Dan pada Kuartal II 2015 kemarin, laba perusahaan masih maju pantang mundur sebesar 23.0% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, ketika perusahaan-perusahaan lain mulai megap-megap karena lesunya perekonomian.
  6. Berbeda dengan merk roti lain yang hanya dijual di toko-toko atau butik, ROTI mungkin satu-satunya perusahaan yang menjual produknya dengan cara ‘menjemput bola’, yakni dengan datang sendiri ke perumahan dengan gerobaknya yang berisik itu.
Nah, jadi tidak heran kalau Grup Salim, dalam hal ini melalui Indoritel Makmur Internasional (DNET), turut berinvestasi di ROTI dengan mengakuisisi 31.5% sahamnya pada tahun 2013 lalu. Dan dengan masuknya Grup Salim, maka itu semakin memperkokoh posisi perusahaan, karena kini ROTI bisa bersinergi dengan Bogasari (punyanya Grup Salim) untuk memperoleh suplai bahan baku tepung terigu, dan juga bersinergi dengan minimarket Indomaret (punyanya Grup Salim juga) untuk memasarkan produk rotinya. Jika semuanya lancar, maka bukan tidak mungkin ROTI bisa mengikuti jejak Indofood CBP (ICBP), another Salim Group’s company, yang sukses memasarkan Indomie hingga ke Londo dan Nigeria.
Dan untungnya Grup Salim sejak dulu dikenal memiliki reputasi yang baik, terutama jika dibandingkan dengan Lippo, Sinarmas, apalagi Bakrie. Laporan keuangan ROTI juga terbilang bersih dengan jumlah utang yang wajar (ada dua utang obligasi senilai total Rp1 trilyun yang diterbitkan pada Maret dan Juni 2015 kemarin, tapi dengan tingkat bunga yang relatir murah yakni 8 – 10% per tahun, sehingga praktis tidak mengganggu earnings perusahaan). Jadi kita bisa katakan bahwa ROTI kini berada di tangan manajemen yang tepat.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Seperti yang sudah disebut diatas, pada harga 1,085, ROTI mencetak PER 22.3 dan PBV 5.2 kali, dan itu tentu saja bukan merupakan valuasi yang atraktif, apalagi dalam kondisi pasar yang lagi lesu dimana ada banyak saham lain, termasuk sesama saham consumer goods, yang memiliki valuasi yang jauh lebih rendah. Dan ROTI sendiri memang sudah naik lebih dari 300% sejak IPO-nya. Berdasarkan pengalaman, timing terbaik untuk membeli saham mahal seperti ini adalah ketika ROTI mencatat kinerja yang tidak sebaik biasanya, misalnya  jika labanya turun, atau jika perusahaan mengalami masalah tertentu yang menyebabkan investor ramai-ramai membuang sahamnya. Ketika itulah, ROTI mungkin akan turun hingga ke level dimana PBV-nya hanya 2 atau 3 kali.
Tapi sejak tahun 2007 sampai sekarang, atau bahkan mungkin sejak lebih lama lagi, laba perusahaan selalu naik terus, demikian pula dengan ekuitasnya. Lalu sejauh yang bisa penulis amati, ROTI juga tidak pernah tersangkut masalah/kasus apapun. Dan, face it, untuk perusahaan consumer goods sebagus ROTI ini, maka sangat sulit untuk membayangkan bahwa perusahaan akan kenapa-napa dimasa yang akan datang, sama hal-nya seperti Kalbe Farma (KLBF), Unilever Indonesia (UNVR), HM Sampoerna (HMSP) atau ICBP juga akan maju terus dari waktu ke waktu.
Dan jika valuasi ROTI dibandingkan dengan saham-saham super yang sudah disebut diatas, maka PBV 5 kali masih terasa murah bukan? Sebenarnya pada tahun 2013 lalu ROTI sempat naik sampai 1,800-an tapi kemudian turun lagi meski kinerjanya masih baik-baik saja, karena memang pada harga tersebut dia sudah keterlaluan mahalnya. Tapi pada harga sekarang, maka PER 20 – 25 kali masih relatif wajar untuk saham dengan kualitas fundamental yang terbilang sangat baik, dan dalam dua tahun terakhir ini posisi terendah yang bisa dicapai ROTI adalah di kisaran harganya saat ini (950 – 1,100). Jika anda sedang mencari saham untuk bisa terus dipegang selama 2 – 3 tahun kedepan atau lebih lama lagi, then let me tell you, ROTI sangat layak untuk dipertimbangkan.
However, dalam kondisi pasar yang masih belum cukup kondusif, maka mungkin anda tidak perlu buru-buru masuk ke ROTI ini jika tujuannya memang untuk investasi jangka panjang, karena pergerakan ROTI ini terbilang mudah dipengaruhi oleh IHSG, termasuk pernah anjlok hingga hampir 50% antara Mei hingga November 2013, dimana IHSG ketika itu turun dari 5,250 sampai 3,900-an. I’m not sure, tapi jika pada akhir tahun nanti pasar mulai benar-benar pulih, maka penulis akan melirik ROTI ini sekali lagi, dan mudah-mudahan ketika itu beneran dikasih harga diskon.
PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal II 2015: AA
Rating Saham pada 1,085: A
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham-Saham Pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal II 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.

Penulis membuat acara investor gathering di Jakarta pada hari Sabtu tanggal 22 Agustus, dimana kita akan bertemu dengan teman-teman sesama investor, sharing, dan diskusi soal kondisi pasar. Biayanya hanya Rp100,000 per orang, keterangan selengkapnya baca [...]

Investor Gathering: IHSG 4,500, What’s Next?

Dear investor, penulis mengadakan acara investor gathering, yakni acara kumpul-kumpul sesama investor yang diadakan di Jakarta, dimana pada acara ini anda bisa:
  1. Ketemu dan bertanya/konsultasi soal investasi saham langsung dengan penulis (Teguh Hidayat)
  2. Bertemu, berkenalan, dan berdiskusi dengan teman-teman sesama investor
  3. Jika anda hendak berbagi pengalaman sebagai investor, analisis saham, atau topik tertentu yang menarik untuk dibicarakan, maka anda juga bisa menyampaikannya di acara gathering ini.
Acara gathering-nya akan diselenggarakan pada sore hari mulai pukul 17.00, dimana kita akan diskusi topik utama, makan malam bareng, kemudian setelahnya baru ngobrol-ngobrol bebas. Nantinya anda bisa bertanya mengenai topik tertentu dengan penulis, dan penulis akan memaparkan jawabannya kepada seluruh peserta yang hadir. Dalam acara ini anda tidak hanya boleh memberikan pertanyaan, tapi juga boleh memberikan pernyataan untuk didiskusikan dengan teman-teman yang lain. Jumlah peserta maksimal bisa sampai 60 orang.
Dan topik gathering kali ini adalah: IHSG Sudah di 4,500, What’s Next?
Berikut Keterangan Mengenai Acaranya:
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 Agustus 2015
  • Waktu: Pukul 17.00 WIB (sore hari menjelang malam)
  • Lokasi: Hotel NEO Tendean, Jln. Wolter Monginsidi No.131, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Fasilitas untuk peserta: Makan malam, dan rangkuman materi gathering.
  • Rundown acara: Pukul 17.00 penyampaian topik/materi utama, pukul 18.30 istirahat shalat Maghrib dan makan malam, pukul 19.30 lanjut diskusi/tanya jawab bebas, pukul 21.00 acara selesai.

Biaya untuk ikut acara ini adalah gratis! Namun untuk mengkonfirmasi kehadiran anda, termasuk untuk mengganti biaya hotel, maka anda tetap dikenakan biaya Rp100,000 per orang.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan mentransfer ke (pilih salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087       Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat

2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Investor Gathering’, dan isi: Nama lengkap anda, dan bank tujuan transfer. Contoh: Puan Maharani, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email bahwa pembayaran anda sudah diterima. Selanjutnya anda bisa langsung datang ke acaranya (sehari sebelum acaranya kami akan mengirim email lagi untuk mengingatkan anda soal acara gathering-nya).
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Jika anda berhalangan hadir pas tanggal acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh (tidak hangus), dengan catatan anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut (melalui email atau melalui kontak telepon dibawah), paling lambat dua hari sebelum acaranya.
Demikian, sampai ketemu di lokasi!

Penulis bersama teman-teman peserta seminar (seminar, bukan gathering) di Jakarta, tanggal 13 Juni 2015. Klik gambar untuk memperbesar
Ada pertanyaan? Silahkan hubungi Ms. Nury di nomor telepon 081220445202, atau Pin BB [...]

Devaluasi Yuan, Penyebab dan Dampaknya

Senin kemarin, tanggal 10 Agustus, Presiden Jokowi mampir ke markas BEI memperingati 38 tahun diaktifkannya kembali pasar modal di Indonesia. Dan biasanya sih, kalau Pak Dhe sudah nongol lagi di Sudirman seperti itu, maka pasar akan meresponnya secara positif dan IHSG naik. Tapi sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Senin kemarin IHSG ditutup turun 0.75% ke posisi 4,770, dan sekarang IHSG malah sudah di 4,500-an. Alhasil hampir semua saham-saham di BEI kembali longsor dalam tiga hari terakhir, dan itu semakin memperburuk penurunan yang sudah terjadi sejak akhir April lalu.

Seperti biasa, ketika IHSG turun maka selalu ada peristiwa yang dituduh sebagai penyebab penurunan tersebut. Dan kali ini kambing hitamnya adalah devaluasi Yuan (atau disebut juga Renminbi/RMB) Sebenarnya kalau berdasarkan pengalaman, ini cuma noise/keributan sementara, yang akan dilupakan orang dengan sendirinya ketika nanti IHSG rebound. Tapi berhubung perhatian semua orang tertuju pada devaluasi Yuan ini, maka ya suda untuk minggu ini kita akan bahas soal itu dulu (tadinya penulis mau bahas soal saham pilihan terbaru, apalagi sekarang harganya lagi murah-murahnya, tapi minggu depan aja deh). Okay here we go!
Selasa kemarin, the People Bank of China (PBOC) menetapkan rate RMB6.33 per USD, turun 1.6% dibanding hari sebelumnya yakni RMB6.23 per US Dollar. Meski penurunan 1.6% itu tampak kecil (di pasar uang kurs Yuan turun 1.8%, tapi itu juga masih kecil), namun selama ini Yuan hanya akan naik atau turun sebesar 0.1 – 0.2% setiap harinya, sehingga 1.6 – 1.8% itu sangatlah besar. Posisi Yuan sendiri setelah kebijakan devaluasi tersebut adalah yang terendah sejak tahun 2012.

Logo Bank Sentral Tiongkok

Pertanyaannya, kenapa bank sentral Tiongkok menurunkan nilai mata uangnya sendiri? Well, setidaknya ada dua hal, dan actually kita sudah pernah membahas keduanya di website ini.
Yang pertama adalah untuk kembali meningkatkan nilai ekspor Tiongkok, yang pada Kuartal I 2015 lalu tercatat anjlok 15% dibanding periode yang sama tahun 2014. Karena jika nilai Yuan turun terhadap USD, maka otomatis nilai ekspor Tiongkok yang dicatat dalam mata uang USD akan naik. Ketika pada Juni – Juli lalu indeks Shanghai Stock Exchange (SSE) tiba-tiba saja turun hingga total 30% hanya dalam tempo sebulan, Pemerintah Tiongkok bersama-sama dengan PBOC segera mengumumkan beberapa kebijakan untuk memulihkan kembali pasar saham disana. Dan salah satu kebijakan itu adalah dengan menurunkan nilai tukar Yuan terhadap USD, untuk tujuan meningkatkan ekspor dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya mendorong SSE untuk kembali naik. Kita sudah membahas soal itu disini.
Jadi apa yang dilakukan PBOC kemarin sejatinya memang sudah direncanakan sejak sebulan lalu.
Yang kedua, sudah sejak tahun 2010 lalu, Pemerintah Tiongkok sudah menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Yuan sebagai ‘mata uang dunia’ atau world reserve currency. Pada tahun 2010 tersebut, International Monetary Fund (IMF) melakukan review lima tahunannya terhadap mata uang yang bisa ditetapkan sebagai world reserve, dan ketika itu diputuskan bahwa hanya ada empat mata uang yang masuk daftar, yakni USD, Euro, British Pound Sterling, dan Japanese Yen. Tak lama kemudian chairman PBOC, Zhou Xiaochuan, mengeluh bahwa Yuan juga seharusnya juga bisa menjadi anggota world reserve, mengingat Tiongkok adalah juga salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia, bahkan lebih besar dari Jepang dan Inggris.
Sesuai jadwal, IMF akan kembali melakukan review lima tahunannya terhadap mata uang yang masuk daftar world reserve currency pada Oktober mendatang, dan Yuan disebut-sebut akan masuk daftar (kita sudah membahas soal itu disini). Tapi baru saja minggu lalu, IMF merilis pernyataan bahwa sebuah mata uang haruslah freely usable, atau bisa ditukar dengan mata uang lain (atau dalam hal ini dengan USD) tanpa batasan apapun, agar bisa masuk daftar world reserve. Dan PBOC selama ini memiliki kebijakan bahwa nilai tukar Yuan terhadap USD hanya boleh naik atau turun maksimal 1% dalam sehari. Nah, IMF memandang bahwa trading band sebesar 1% itu masih terlalu ketat, sehingga Yuan masih belum bisa disebut sebagai mata yang yang freely usable.
So, ketika kemarin PBOC memutuskan untuk menurunkan nilai Yuan hingga 1.6% sekaligus dalam satu hari (lebih dari 1%), maka itu adalah juga untuk mengirim pesan ke IMF bahwa trading band sebesar maksimal 1% per hari sudah tidak lagi berlaku.
Dengan demikian, devaluasi Yuan ini diharapkan akan memberikan dua dampak positif sekaligus bagi negeri Tiongkok: 1. Menaikkan nilai ekspor, yang pada akhirnya kembali meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memulihkan pasar saham disana, dan 2. Membuat IMF kembali mempertimbangkan kebijakannya terkait apakah Yuan akan dimasukkan sebagai salah satu world reserve currency atau tidak. Sebenarnya terkait nomor 2 ini, jika besok-besok IMF mengatakan bahwa ‘Yuan masih belum freely usable!’, maka mungkin Yuan akan didevaluasi secara lebih ekstrim lagi, mungkin bisa turun lebih dari 2% dalam sehari. Jadi hingga IMF nanti selesai melakukan review lima tahunannya terhadap daftar world reserve currency pada Oktober mendatang, maka kita mungkin masih akan mendengar cerita drama lainnya dari Mainland.
Okay, tapi kenapa devaluasi Yuan ini menyebabkan seluruh bursa-bursa saham di dunia anjlok, termasuk IHSG juga kenapa ini??? Well, ketika Yuan turun, maka yang jadi concern investor kemungkinan adalah hal-hal yang sifatnya spekulatif, seperti adanya kekhawatiran bahwa:
  1. PBOC mungkin akan kembali mendevaluasi Yuan.
  2. Pemerintah Tiongkok mungkin sudah mulai panik atas kondisi ekonomi di negaranya (sehingga mereka kemudian mengambil kebijakan ekstrim dengan mendevaluasi Yuan)
  3. Terkait No.2 diatas, maka harga-harga komoditas mungkin akan turun lebih lanjut karena perekonomian Tiongkok sekarang benar-benar gawat, sehingga permintaan mereka atas batubara dll akan berkurang lebih lanjut.
  4. Devaluasi Yuan mungkin akan memaksa negara lain untuk men-devaluasi mata uangnya masing-masing. Kalau begitu kejadiannya maka bakal terjadi ‘currency war’ diseluruh dunia, dan seterusnya.
Tapi, sekali lagi, seluruh concern diatas hanyalah berupa kekhawatiran yang belum tentu akan menjadi kenyataan. Sementara kalau ditanya apa pengaruh devaluasi Yuan ini terhadap kinerja perusahaan-perusahaan atau pertumbuhan ekonomi negara-negara di seluruh dunia, maka sebenarnya hampir tidak ada pengaruh apapun. Tidak ada perusahaan atau negara manapun yang menyimpan sebagian besar asetnya dalam mata uang Yuan, kecuali perusahaan-perusahaan asal Tiongkok itu sendiri, karena memang Yuan bukanlah world reserve currency. Satu-satunya pengaruh adalah bahwa nilai impor Amerika dan Eropa dari Tiongkok mungkin akan meningkat, dan itu bisa sedikit mengganggu pertumbuhan ekonomi mereka. Tapi kalaupun nilai impor Amerika dari Tiongkok beneran meningkat maka itu nggak akan sampai membuat Amerika krisis atau semacamnya, and actually terlalu jauh jika kita langsung ambil kesimpulan seperti itu.
Jadi kalau buat penulis sendiri this is just another story, another drama, and another reason why you should regularly read this blog to calm your nerves :) Terkait IHSG, maka mau ada cerita soal Yuan ini atau gak ada cerita apapun, tapi tetap saja pada akhirnya dia harus turun karena lesunya kondisi ekonomi di dalam negeri. Seperti yang sudah kita bahas disini, IHSG mungkin akan mulai pulih lagi pada akhir tahun ini atau awal tahun 2016, yakni ketika dana pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah sudah mulai kembali menyebar ke masyarakat. But hey, sekarang kan masih Agustus!
Dengan demikian, bagi anda yang sudah siap cash boleh pertimbangkan untuk mulai masuk, karena beberapa saham memang sudah berada di buying range-nya masing-masing (analisis selengkapnya diulas di Ebook Kuartalan, sudah terbit dan anda bisa memperolehnya disini). Sementara bagi anda yang masih hold saham, probably sudah terlambat kalau anda baru berpikir untuk keluar sekarang, karena di website ini kita sudah membahas soal kondisi hari ini bahkan sejak Maret lalu (boleh baca lagi artikel yang ini, dan yang ini). Jadi keputusan untuk menunggu mungkin merupakan opsi terbaik, selain karena biasanya kalau IHSG udah jeblok begini maka besok-besok dia akan rebound dulu sejenak.
Dan seperti yang sudah disebut diatas, sampai IMF selesai melakukan review-nya pada Oktober nanti, maka mungkin kita akan mendengar cerita lainnya lagi dari Negeri Tiongkok. Well, whatever the story, kita akan membahasnya lagi nanti, tapi untuk minggu depan kita akan terlebih dahulu membahas salah satu saham terbaik yang sudah kami pilih.
Pengumuman: Penulis membuat acara investor gathering di Jakarta pada hari Sabtu tanggal 22 Agustus, dimana kita akan bertemu dengan teman-teman sesama investor, sharing, dan diskusi soal kondisi pasar. Biayanya hanya Rp100,000 per orang, keterangan selengkapnya baca [...]

Ketika Yuan Menggeser Dominasi Dollar

Dalam dua atau tiga hari terakhir ini, penulis menerima lumayan banyak pertanyaan/permintaan pendapat tentang isu bahwa dalam waktu dekat, dalam hal ini Oktober mendatang, International Monetary Fund (IMF) akan mengumumkan bahwa Yuan, mata uang Tiongkok, akan menjadi ‘pendamping’ US Dollar sebagai world reserve currency, atau bahasa sederhananya, mata uang utama dunia. Dan jika isu itu benar adanya, maka posisi USD sebagai mata uang utama dunia akan tidak lagi dominan. Akan terjadi pergeseran yang luar biasa dimana institusi/individu yang tadinya menyimpan aset/tabungan mereka dalam mata uang USD, akan segera mengkonversinya ke Yuan (atau disebut juga Renminbi/RMB), dan itu tentu akan menyebabkan nilai USD menjadi anjlok.
Ketika Yuan Menggebuk Dollar. Sumber: www.laowaiblog.com

Isu tersebut dilontarkan oleh Theo F. Toemion, seorang money trader terkenal yang juga pernah menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) antara tahun 2001 hingga 2005. Dan setelah penulis googling, isu Yuan vs Dollar ini juga memang sudah banyak dibicarakan oleh orang-orang di bidang pasar uang di seluruh dunia.
Tapi sebelum kita membahas soal Yuan vs USD ini, maka mungkin kita perlu pelajari dulu ceritanya dari awal. Okay, here we go:
Sejak tahun 1969, IMF memiliki mata uang khusus yang disebut ‘special drawing rights’ atau SDR, dimana IMF menyimpan asetnya dalam bentuk SDR, dan SDR ini hanya bisa ditukar/dikonversi ke empat mata uang paling penting di dunia, yakni US Dollar, Euro, British Pound Sterling,dan Japanese Yen. Karena itulah, nilai SDR juga ditentukan oleh empat mata uang tersebut. Pada review terakhir yang dilakukan tahun 2010, USD memberikan pengaruh sebesar 41.9% terhadap nilai SDR, Euro 37.4%, Pound Sterling 11.3%, dan Yen 9.4%.
Selain IMF, bank-bank sentral di negara-negara yang menjadi anggota IMF, termasuk Bank Indonesia atau BI, juga bisa menyimpan asetnya dalam bentuk SDR. Namun SDR ini tidak seperti mata uang biasa yang bisa dipegang/dimiliki oleh institusi swasta/pemerintah ataupun perorangan, melainkan hanya bisa dipegang oleh bank sentral. Ketika bank sentral hendak menyalurkan kredit ke bank-bank, maka SDR yang mereka miliki dikonversi dulu ke salah satu dari empat mata uang tadi, kemudian baru bisa digunakan.
Nah, IMF secara rutin me-review tentang mata uang mana saja yang bisa menjadi penentu nilai SDR, atau dengan kata lain menjadi world reserve currency, setiap lima tahun sekali. Ketika SDR diluncurkan untuk pertama kalinya pada tahun 1969, hanya ada satu mata uang yang menentukan nilai SDR yaitu USD, dimana nilai 1 SDR adalah setara dengan 1 USD. Lalu 15 tahun kemudian yakni tahun 1981, nilai SDR untuk pertama kalinya ditentukan oleh lima mata uang yang berbeda (tidak hanya USD), yakni USD, Deutsche Mark, French Franc, Yen, dan Pound Sterling. Lalu sejak tahun 1999 sampai sekarang, ‘komposisi’ SDR berubah lagi menjadi USD, Euro, Yen, dan Pound Sterling.
Dan inilah yang menarik: Pada review terakhirnya tahun 2010 lalu, IMF masih menetapkan USD, Euro, Yen, dan Pound Sterling sebagai mata uang yang bisa langsung dikonversi ke SDR. Namun ketika itu chairman Bank Sentral Tiongkok, Zhou Xiaouchuan, mengeluh bahwa Yuan sebagai mata uang Tiongkok seharusnya juga bisa menjadi salah satu mata uang yang menentukan nilai SDR, mengingat Tiongkok adalah juga salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia, bahkan lebih besar dari Jepang dan Inggris.
Jadi ketika IMF akan kembali me-review komposisi SDR, Oktober nanti, maka isu-nya adalah bahwa Yuan akan diumumkan sebagai mata uang baru yang turut menentukan nilai SDR, dimana SDR akan bisa langsung dikonversi ke Yuan (tanpa perlu dikonversi terlebih dahulu ke USD, Euro, Yen, atau Pound Sterling).
Namun ini bukan berarti Yuan akan seketika itu juga menjadi ‘rival’ bagi USD, malah masih jauh dari itu, menginat posisi sebagai world reserve currency tidak hanya ditempati oleh USD, melainkan juga oleh Euro, Pound Sterling, dan Yen. Cukup jelas bahwa Yuan harus terlebih dahulu menggeser posisi Yen, Pound Sterling, dan juga Euro sebagai mata uang yang paling berpengaruh terhadap nilai SDR, sebelum baru kemudian bisa head to head dengan USD.
Hanya memang, jika nanti Yuan benar-benar diumumkan sebagai world reserve currency yang baru, maka praktis institusi-institusi besar di seluruh dunia yang selama ini menyimpan asetnya dalam mata uang USD (atau Euro, Pound Sterling, dan Yen) akan mulai mengkonversinya ke dalam Yuan. Nilai Yuan akan terapresiasi signifikan, sementara nilai USD dan tiga mata uang lainnya mungkin akan turun.
Pertanyaannya, apakah IMF benar-benar akan melakukan itu? Dan jika iya, lalu bagaimana dampaknya terhadap Rupiah, perekonomian Indonesia, dan juga tentunya IHSG?
Ketika Yuan menjadi world reserve currency yang baru, maka berikut ini adalah hal-hal yang mungkin akan terjadi:
  1. Nilai USD mungkin akan turun, termasuk terhadap Rupiah, dimana itu akan berdampak negatif bagi investor/perusahaan yang menyimpan asetnya dalam mata uang USD, namun sebaliknya, akan berdampak positif bagi investor/perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang USD.
  2. Naiknya ‘status’ Yuan akan mempermudah transaksi ekspor impor antara Tiongkok dengan Indonesia, dimana eksportir dari Indonesia tidak perlu lagi mengkonversi Rupiah ke USD (kemudian oleh importir dari Tiongkok dikonversi lagi ke Yuan), melainkan bisa langsung mengkonversinya ke Yuan, demikian sebaliknya. Saat ini Tiongkok masih merupakan mitra dagang/impor terbesar bagi Indonesia.
  3. Jika nilai USD beneran turun, maka harga-harga komoditas termasuk CPO dan batubara, yang selama ini selalu ditampilkan dalam mata uang USD, mungkin akan mulai merangkak naik.
Sementara terkait bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dan juga IHSG, maka berhubung ini peristiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya (terakhir kali IMF mengubah komposisi world reserve currency, itu terjadi tahun 1999, dan ketika itu pergerakan IHSG masih lebih dipengaruhi oleh kondisi domestik pasca krisis moneter), maka terus terang penulis tidak punya bayangan apapun. Mungkin benar kata Mr. Theo bahwa akan terjadi perubahan radikal dimana ada orang-orang yang mendadak jadi miskin, dan sebaliknya, ada orang-orang yang mendadak jadi kaya, tapi bisa juga ternyata tidak terjadi apa-apa. Sejak tahun 2011 lalu kita sudah sering direcoki dengan cerita yang seram-seram kalau Yunani bangkrut. Tapi setelah Yunani barusan benar-benar bangkrut (bangkrut secara teknis, karena rakyat-nya menolak membayar utang ke IMF), nyatanya IHSG masih adem ayem saja tuh (IHSG memang turun, tapi itu lebih karena kondisi ekonomi dalam negeri yang memang nggak begitu baik).

Disisi lain, hal ini masih sebatas isu dimana IMF mungkin akan memutuskan bahwa Yuan akan menjadi anggota world reservce currency, tapi mungkin juga tidak. Jadi mungkin kita bahas nanti lagi sajalah, kalau isu-nya beneran kejadian. Namun jika anda lebih mengerti soal dinamika pasar uang, anda bisa menyampaikan opini/analisis anda terkait Yuan ini melalui kolom komentar dibawah.

Buku Kumpulan Analisis Saham-Saham Pilihan berdasarkan kinerja perusahaan di Kuartal II 2015, sudah terbit! Anda bisa memperolehnya [...]

2015: ‘Tahun Orientasi’ Investor

Hari Senin, tanggal 27 Juli 2015 lalu, adalah hari pertama bagi para siswa sekolah untuk kembali masuk kelas setelah libur panjang lebaran. Dan bagi siswa yang baru saja naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (dari SD naik ke SMP, dari SMP naik ke SMU, dan seterusnya), mereka biasanya akan mengalami ‘masa orientasi siswa’ atau MOS. Meski dalam beberapa kasus, MOS ini lebih mirip tindakan ‘bully’ atau perploncoan dimana siswa junior dikerjai habis-habisan oleh siswa senior, namun berdasarkan pengalaman penulis sendiri ketika sekolah/kuliah dulu, tradisi MOS ini terbilang bermanfaat. Yang paling terasa adalah kebersamaan antar siswa, dimana kami cepat akrab karena pernah ‘berjuang bersama’ untuk mengerjakan tugas ini dan itu. Padahal sebelum MOS, kami sama sekali tidak saling mengenal.

Singkatnya, meski masa MOS terasa melelahkan, namun setelah semuanya berakhir maka barulah MOS tersebut akan terasa manfaatnya. Pengalaman penulis, beberapa siswa yang tidak pernah ikut MOS pada akhirnya menjadi agak dikucilkan.
Nah, pada tulisan sebelumnya yang berjudul Tips & Strategi Menghadapi Penurunan IHSG, penulis menyampaikan bahwa dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang terbilang lesu pada awal tahun (Kuartal I), maka IHSG mungkin akan turun pada tahun 2015 ini. Namun demikian tidak ada yang bisa memprediksi arah pasar, dimana jika kedepannya ada perbaikan kondisi ekonomi maka pasar juga akan meresponnya dengan positif, dan IHSG juga akan naik kembali.
Namun kondisinya sekarang ini: 1. Rupiah terus melemah, mendekati Rp13,500 per USD, 2. Kinerja emiten jasa keuangan termasuk perbankan lebih buruk dibanding Kuartal sebelumnya, terutama disebabkan oleh meningkatnya rasio kredit macet, 3. Perusahaan-perusahaan terus mengalami penurunan omzet, 4. Istilah ‘PHK’ belakangan ini mulai populer lagi, dan 5. Kondisi ekonomi global juga tidak kalah lesunya, dimana Yunani masih dilanda krisis, dan Bursa Shanghai,Tiongkok, mulai anjlok besar-besaran.
Grafik pergerakan kurs Rupiah terhadap US Dollar dari awal tahun hingga akhir Juli kemarin. Sumber: Bank Indonesia
Intinya adalah, diakui atau tidak, kondisi sekarang lebih buruk dibanding beberapa bulan lalu. Dan kalau perkembangannya begini terus maka mungkin memang benar bahwa IHSG pada tahun ini akan turun. Posisi IHSG sendiri pada akhir Juli lalu ditutup di 4,802, atau lebih rendah 8.1% secara year-to-date.
Pertanyaannya, kapan ekonomi kita akan pulih lagi?
Penyebab lesunya ekonomi, diluar faktor eksternal seperti penguatan mata uang US Dollar dan lain-lain, adalah karena Pemerintah mencabut subsidi BBM, listrik, dan seterusnya, dan itu belum termasuk kenaikan atau pengenaan pajak baru. Singkatnya Pemerintah menarik dana secara besar-besaran dari masyarakat, dan inilah yang menyebabkan daya beli masyarakat menjadi turun, karena duitnya nggak ada (karena ditarik oleh Pemerintah).
Namun pada akhirnya uang tadi akan kembali lagi ke masyarakat, dalam bentuk pembangunan infrastruktur. Penulis kira relatif mudah bagi siapapun, termasuk mereka yang oposisi terhadap Pemerintah, untuk bisa melihat bahwa Pemerintah belakangan ini sangat gencar membangun ini dan itu, mulai dari Pelabuhan Kuala Tanjung di Medan, Sumatera Utara, hingga food estate di Merauke, Papua. Yang terbaru, baru saja hari Minggu kemarin Presiden meresmikan dimulainya proyek pembangunan kilang minyak dan gas senilai USD 5.8 milyar di Donggi Senoro, Sulawesi Tengah.
Nah, ketika Pemerintah membangun pelabuhan, jalan raya, pembangkit listrik, dan seterusnya, maka Pemerintah akan mengucurkan sejumlah dana ke kontraktor yang ditunjuk. Oleh si kontraktor, dana tersebut akan dibayarkan ke sub-sub kontraktor. Para sub kontraktor ini kemudian akan membeli barang ke supplier dan membayar gaji ke para pekerjanya. Para pekerja kemudian menggunakan gaji yang mereka peroleh untuk membeli kebutuhan sehari-hari, katakanlah beras, dan si pemilik toko beras kemudian membeli beras dari petani, dan seterusnya hingga uang tersebut beredar kembali ke masyarakat.
Akan tetapi proses mengalirnya dana dari Pemerintah hingga pada akhirnya kembali lagi ke seluruh masyarakat, maka itu memerlukan waktu. Logika saja: Ketika Pemerintah hendak menunjuk kontraktor untuk membangun kilang minyak, maka proses tender-nya saja bisa berminggu-minggu bukan? Demikian pula ketika perusahaan kontraktor menunjuk sub-sub kontraktornya, dan para sub kontraktor ini menunjuk supplier-nya, dan seterusnya, maka itu semua juga akan perlu waktu.
Tapi yang jelas proses pembangunan infrastruktur itu beneran sudah dimulai dan bukan sekedar wacana, sehingga selanjutnya cuma soal waktu sebelum dana yang ditarik Pemerintah dari masyarakat, pada akhirnya akan kembali lagi ke masyarakat, dan kali plus bonus: Berbagai macam infrastruktur tadi, yang tentunya akan mendorong perekonomian untuk melaju kencang kembali, bahkan lebih kencang dari sebelumnya.
Jadi mungkin, tahun 2015 ini adalah tahunnya orientasi investor. Yep, kita sedang menjalani ‘masa orientasi’ disini! Terutama bagi anda yang memang masih baru (kalau kita sih udah kenyang banget ngalamin kondisi kaya gini). Okay, IHSG mungkin memang akan turun pada tahun ini, anda sebagai investor mungkin mengalami kerugian (entah itu sudah direalisasikan ataupun masih diatas kertas), dan itu tentu menyebalkan, sama menyebalkannya seperti ketika putra putri anda diberi tugas yang aneh-aneh oleh siswa senior disekolahnya.
Akan tetapi pada akhirnya nanti, ketika seluruh dana yang ditarik Pemerintah kembali ke masyarakat, ketika roda perekonomian kembali berputar (dan kali ini lebih kencang), maka ketika itulah para emiten kembali mencatatkan kinerja yang apik, dan IHSG tentunya akan rallykembali. Tahun ini memang bukan tahun yang kondusif bagi para investor pasar modal karena memang ekonomi lagi lesu, tapi sekarang kita sudah tahu apa penyebabnya, dan mudah-mudahan itu adalah agar kita mampu melompat lebih tinggi lagi di masa yang akan datang. Kalau melihat Pemerintah sangat cepat dalam memulai pembangunan ini dan itu, maka penulis kira awal tahun depan akan sudah mulai terasa manfaatnya bagi perekonomian, yakni ketika dana pembangunan infrastruktur sedikit banyak mulai tersebar kembali ke masyarakat.

Dan ketika itulah, IHSG akan mulai merangkak naik kembali. We’ll see!
Catatan: Artikel ini juga dipublish di Harian Bisnis Indonesia edisi hari ini, Senin 3 Agustus 2015.
Pengumuman: Buletin Stockpick Saham Bulanan edisi Agustus sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis bagi member.

Punya komentar/pendapat mengenai situasi ekonomi saat ini? Silahkan menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.
August 3rd, 2015 at 12:20 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Saatnya Beli Saham Batubara?

Pada Jumat kemarin IHSG ditutup di posisi 4,857, sehingga secara year to date, IHSG sudah turun lebih dari 7%. Dalam kondisi seperti ini maka sudah tentu sebagian besar saham-saham di BEI mengalami penurunan, namun menariknya, tidak ada yang turun sedalam saham-saham pertambangan, khususnya batubara. Berdasarkan statistik BEI, indeks sektor tambang sudah anjlok 26.3% sepanjang tahun 2015, terburuk dibanding sektor manapun, padahal saham-saham di sektor ini sudah turun banyak di tahun-tahun sebelumnya. Beberapa saham batubara bahkan sudah turun lebih dari 90%, jika dihitung dari posisi puncak mereka di tahun 2011.

Disisi lain, jika melihat kinerja perusahaan-perusahaan batubara di Kuartal I 2015 yang terbilang masih buruk, maka penurunan tersebut menjadi beralasan. Sudah gitu, sampai sekarang harga batubara masih terus saja turun, sehingga outlooknya otomatis menjadi suram.
Namun, apakah keadaannya akan begini terus? Maksud penulis, sampai sekarang harga batubara memang masih turun, tapi apakah selamanya dia akan turun terus? Jika pembangkit-pembangkit listrik di seluruh dunia udah nggak pake batubara lagi, maka jawabannya mungkin iya, tapi kan faktanya sama sekali tidak demikian. Berdasarkan data dari www.worldcoal.com, saat ini sekitar 41% pembangkit-pembangkit listrik di seluruh dunia masih menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Ketika Pemerintah meresmikan dimulainya proyek pembangunan pembangkit listrik 35,000 MW, akhir Mei lalu, maka sebagian besar pembangkit listrik tersebut juga menggunakan bahan batubara. Menurut Menteri ESDM, Sudirman Said, kalau nanti pembangunan pembangkit listrik tersebut selesai dan mulai beroperasi, maka konsumsi batubara Indonesia akan melonjak dari saat ini hanya 90 juta ton per tahun, menjadi sekitar 200 juta ton per tahun (mudah-mudahan lancar, karena membangun proyek ambisius seperti itu tentu saja nggak gampang).
Tapi kalau dunia masih membutuhkan batubara, lalu kenapa harga batubara terus saja turun? Well, penyebabnya tentu ada banyak faktor, namun salah satunya yang paling berpengaruh adalah karena oversupply. Pada tahun 2012 lalu, Indonesia sempat menjadi negara terbesar kelima produsen batubara (dibawah Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Australia), namun tingkat konsumsi batubaranya justru sangat rendah, sehingga sebagian besar hasil produksi batubara tersebut diekspor Tiongkok, India, dan Jepang, terutama Tiongkok yang merupakan negara konsumen batubara terbesar di dunia (posisi kedua sebagai konsumen batubara terbesar ditempati oleh Amerika, tapi jaraknya terlalu jauh dari Indonesia).
Jadi ketika pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus saja melambat dalam beberapa tahun terakhir, maka pertumbuhan konsumsi batubaranya juga tidak lagi sekencang sebelumnya. Padahal disisi lain, perusahaan-perusahaan batubara diseluruh dunia, termasuk Indonesia, terus saja meningkatkan volume produksinya (sepanjang tahun 2014 Indonesia memproduksi 458 juta ton batubara, atau mulai turun dibanding tahun 2013 sebanyak 474 juta ton, tapi masih jauh lebih besar dibanding tahun 2011 sebanyak 353 juta ton). Ke-tidak sinkron-an antara supply dan demand inilah, yang pada akhirnya membuat harga batubara kemudian turun. Jika suatu waktu nanti posisi supply dan demand ini kembali ketemu, entah itu karena tingkat supply-nya yang turun atau demand-nya yang naik, maka ketika itulah harga batubara akan pulih kembali.
Dan penulis tidak tahu soal supply, namun demand batubara untuk pembangkit listrik seharusnya akan terus naik dalam jangka panjang, karena listrik merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh orang banyak secara terus menerus, sementara jumlah penduduk itu sendiri juga terus meningkat. Jadi pada akhirnya mungkin cuma soal waktu saja sebelum harga batubara naik kembali, meski tentu, kita tidak akan pernah tahu kapan itu akan terjadi.
Saatnya Belanja?
Dalam value investing, seperti yang sudah penulis sebutkan berkali-kali di banyak artikel di website ini, kita hanya membeli saham yang: 1. Perusahaannya mencatat kinerja terbaru yang bagus, dan 2. Valuasinya masih murah. Kalau anda menemukan dua saham yang memenuhi dua kriteria tersebut namun hanya mau membeli salah satu diantaranya, maka boleh seleksi lebih lanjut dengan kriteria ketiga: 3. Perusahaannya memiliki outlook/masa depan yang cerah, baik itu dalam jangka pendek (satu tahun atau kurang), atau panjang. Kriteria nomor 3 ini memang sedikit spekulatif karena kita tentu tidak bisa melihat masa depan. Namun berdasarkan pengalaman, perusahaan yang memiliki track record kinerja yang bagus di masa lalu, serta dikelola oleh tim manajemen yang jujur, maka biasanya akan juga memiliki kinerja yang baik di masa yang akan datang.
Sayangnya, kalau kita cek lagi kinerja terakhir perusahaan-perusahaan batubara di Kuartal I kemarin, maka praktis tidak ada emiten yang memiliki kinerja bagus, dimana perusahaan sekelas Bukit Asam (PTBA) sekalipun mencatat penurunan laba hingga 37%. Beberapa perusahaan seperti Garda Tujuh Buana (GTBO), bahkan sampai berhenti beroperasi sebagian, karena sudah tidak tahan lagi dengan penurunan harga batubara. Kalau bukan karena di-suspend, maka saham GTBO mungkin akan bernasib seperti BUMI yang sudah sangat dekat dengan level gocapan.

GTBO.. Nasibmu Kini

Jadi dalam pandangan value investor, untuk saat ini masih belum waktunya untuk masuk ke saham-saham batubara, karena belum ada diantara mereka yang memenuhi kriteria nomor 1 diatas.
Namun disisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa saham-saham batubara saat ini sudah sedemikian murahnya, dimana ada beberapa perusahaan batubara yang: 1. Mayoritas asetnya berupa dana cash atau aset lancar lainnya, 2. Hanya punya sedikit utang, atau bahkan tidak punya utang sama sekali dan 3. Punya cadangan batubara segunung yang siap ‘dipanen’ sewaktu-waktu kalau nanti harga batubara naik kembali, tapi PBV-nya sudah kurang dari 1 kali. Beberapa perusahaan batubara mungkin bermasalah dengan utang-utangnya yang amat sangat besar, sehingga kemungkin akan sulit bagi mereka untuk mencatat kinerja yang positif bahkan ketika nanti harga batubara mulai kembali naik, tapi perusahaan-perusahaan yang lainnya kan gak ada masalah apa-apa toh? Dimana kinerja mereka turun bukan karena perusahaannya jelek atau, namun karena sektornya yang lagi lesu saja.
Nah, kalau kita balik lagi ke soal kriteria diatas, maka pada saat ini anda sudah bisa menemukan saham-saham batubara yang: 1. Valuasinya murah, dan 2. Dengan mempertimbangkan kinerja apiknya di masa lalu, maka perusahaannya memiliki outlook jangka panjang yang cerah (kenapa jangka panjang? Karena dalam jangka pendek, dalam hal ini satu tahun atau kurang, maka harga batubaranya minimal harus naik dulu, dan setelah itu baru perusahaan akan profit lagi). Dengan demikian, kita hanya perlu melakukan satu hal lagi: Tunggu hingga perusahaan mencatatkan kinerja yang bagus, lalu sikat!
However, jika anda pegang dana yang besaaaaarr, maka mungkin anda tidak perlu menunggu, melainkan sudah boleh nyicil dari sekarang. Kenapa demikian? Karena seperti umumnya saham-saham yang sudah murah, maka mayoritas saham-saham batubara pada saat ini sudah tidak likuid lagi, sehingga anda tidak mungkin bisa membelinya dalam satu kali hajar kanan, melainkan perlu waktu berhari-hari, atau bahkan lebih lama lagi.
Selain itu, dalam hal ini penulis jadi ingat dengan saham-saham properti di tahun 2010. Ketika itu perusahaan-perusahaan properti juga memiliki kinerja yang buruk, imbas dari krisis global tahun 2007 – 2008 yang kebetulah penyebabnya adalah karena macetnya kredit perumahan/properti (jadi pada tahun 2007 hingga 2010, kondisi sektor properti mirip seperti kondisi sektor batubara pada saat ini). Alhasil, saham-saham properti semuanya jeblok, dimana ketika itu tidak ada satupun saham properti yang harganya diatas 1,000 perak.
Tapi siapa sangka, hanya setahun kemudian yakni pada tahun 2011, perusahaan-perusahaan properti mulai mencatat kinerja yang bagus, buah dari pertumbuhan ekonomi yang ketika itu sempat mencapai rekor 6.9%. Dan sudah tentu, saham-saham properti mulai merangkak naik.. dan terus naik.. hingga mencapai puncaknya pada tahun 2013 lalu. Jadi jika seseorang membeli saham properti di tahun 2010, maka dia akan memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat.. hanya dalam tempo tiga tahun kemudian. Salah satu perusahaan properti yang paling sukses, Alam Sutera Realty (ASRI) bahkan naik dari level 100-an di tahun 2010, hingga sempat menembus 1,000 di tahun 2013, atau naik sepuluh kali lipat!
Padahal kinerja ASRI di tahun 2010 sama sekali belum tampak bagus,sehingga keputusan untuk membelinya ketika itu mungkin tampak sebagai keputusan yang bodoh.
Jadi yah, mungkin itu sebabnya Grup Sinarmas ngebet masuk ke Berau Coal Energy (BRAU), dan bisa jadi grup-grup besar lainnya juga diam-diam mulai nyicil saham-saham batubara. Mereka mungkin tidak peduli meski dalam jangka pendek bisnis batubara masih suram, karena toh dalam jangka panjang, dan memang sudah seharusnya, pada akhirnya harga batubara akan naik kembali (penurunan harga batubara dalam beberapa tahun terakhir hanyalah bagian dari siklus yang normal). Dan jika mereka beruntung, maka profit yang diperoleh mungkin bukan lagi sekian persen, melainkan sekian kali lipat.
However, jika dana anda tidak sebesar Sinarmas, maka lebih baik tunggu dulu, ketimbang harus harap-harap cemas dengan perkembangan harga batubara. Selain itu ingat bahwa posisi anda sebagai pemegang saham minoritas tentu saja berbeda dengan pemegang saham mayoritas, dimana anda tidak punya kendali atas manajemen yang bisa ‘mengutak atik’ perusahaan. Kalau nanti harga batubara kembali naik, maka ketimbang BUMI, BRAU atau sejenisnya, maka perusahaan-perusahaan batubara yang bebas utang seperti PTBA, Harum Energy (HRUM), atau Resource Alam Indonesia (KKGI), tentu jauh lebih menarik. Tapi sekali lagi, untuk saat ini sebaiknya anda tunggu dulu.

Dan selama menunggu tersebut, perhatian bisa tetap difokuskan pada saham-saham lain yang perusahaannya jelas-jelas memiliki kinerja yang bagus. Kebetulan dalam waktu seminggu kedepan para emiten akan merilis laporan keuangan mereka untuk periode Kuartal II 2015, so let the hunt begin!

Buletin Stockpick Saham dan Analisis IHSG Bulanan edisi Agustus sudah terbit. Anda bisa memperolehnya 

Ebook Analisis Kuartal II 2015

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal II 2015. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten untuk periode Kuartal II 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, dan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan sudah terbit pada hari Senin, tanggal 10 Agustus 2015. Anda bisa memperolehnya disini.
Berikut screenshot ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).

Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu (biayanya masih tetap sama seperti tahun 2010 lalu, jadi tidak naik sama sekali).
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan selanjutnya terbit setiap kuartal sekali (setahun empat kali). Jadi edisi kali ini merupakan edisi kedua puluh. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca lagi contoh-contoh analisis saham yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini. Dan berikut ini adalah contoh tiga analisis/rekomendasi saham terbaru:
  1. Megapolitan Developments (EMDE)
  2. Sri Rejeki Isman (SRIL)
  3. PP Properti (PPRO), dan seterusnya
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com [...]

Sinarmas Akuisisi Berau Coal: Why?

Perusahaan batubara yang sahamnya sebentar lagi bakal mati di gocapan, Bumi Resources (BUMI), barusan merilis laporan keuangannya untuk periode Kuartal I 2015 (seperti biasa telat mulu). Dan hasilnya? Tambah nyungsep! BUMI melaporkan rugi bersih US$ 344 juta, yang menyebabkan defisiensi ekuitasnya kembali meningkat hingga kini sudah tembus US$ 1.2 milyar. Lebih gila lagi, dari total kewajiban perusahaan senilai US$ 5.7 milyar, US$ 3.6 milyar atau Rp48 trilyun diantaranya merupakan utang bank yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun. Jadi sekarang, dengan kondisi saat ini dimana harga batubara masih terus saja turun, lalu bagaimana caranya agar BUMI dapat membayar utang sebesar itu dalam waktu kurang dari satu tahun?

Meski tampak sangat buruk, namun hebatnya sampai sekarang belum pernah terdengar berita bahwa BUMI mengalami gagal bayar utang atau default. Memang, pada November 2014 lalu perusahaan sempat gagal membayar kupon salah satu obligasinya yang diterbitkan di Singapura, namun yang gagal dibayar adalah kupon obligasi, bukan obligasi itu sendiri (karena obligasi tersebut baru akan jatuh tempo tahun 2017). Dan ketika itupun, entah bagaimana caranya pihak manajemen bisa memperoleh perlindungan dari pengadilan di Singapura untuk melindungi perusahaan dari kemungkinan adanya tuntutan hukum dari para pemegang obligasi (karena hak mereka untuk menerima kupon/bunga obligasi telah dilanggar oleh BUMI).
Namun, nasib yang berbeda dialami oleh Berau Coal Energy (BRAU).
BRAU dulunya dimiliki oleh Grup Recapital, perusahaan investasi milik duo pengusaha muda Sandi Uno dan Rosan Roeslani. Karena Rosan adalah anak buah dari Nirwan Bakrie, yang notabene merupakan orang nomor satu di Grup Bakrie, maka otomatis BRAU memiliki hubungan langsung dengan Grup Bakrie dan juga BUMI. Ketika pada tahun 2011 lalu Grup Bakrie mengadakan kerja sama tukar guling saham BUMI dengan saham Bumi Plcmilik Nathaniel Rothschild yang terdaftar di Bursa London, maka saham BRAU juga turut dimasukkan kedalam perjanjian tukar guling saham tersebut. Alhasil pada tahun 2011 lalu Grup Bakrie dan Recapital sama-sama memegang sekian persen saham Bumi Plc, sementara Bumi Plc itu sendiri memegang 75% saham BRAU (yang kemudian ditingkatkan menjadi 85%), dan 29.2% saham BUMI.
Belakangan, seperti yang mungkin sudah anda ketahui, Bakrie pecah kongsi dengan Mr. Nathaniel. Dan setelah pertarungan berkepanjangan selama nyaris dua tahun, pada akhirnya Nathaniel kalah dimana Bumi Plc harus mengembalikan BUMI sepenuhnya ke tangan Grup Bakrie, namun mereka masih menjadi pemegang saham mayoritas di BRAU. Bagi Grup Bakrie atau Recapital sendiri, mereka sepertinya tidak terlalu ambil pusing kalau harus kehilangan BRAU, asalkan BUMI kembali ke pangkuan. Keputusan final bahwa Grup Bakrie dan Recapital putus hubungan sama sekali dengan Bumi Plc, termasuk bahwa Recapital tidak lagi memegang BRAU (tapi Bakrie tetap sepenuhnya memegang BUMI), terjadi pada Februari 2013.
Jadi terhitung sejak Februari 2013 tersebut, BRAU sudah tidak ada sangkut pautnya lagi baik itu dengan Grup Bakrie maupun Rcapital. Nama Bumi Plc sendiri (pemegang saham BRAU) kemudian berubah menjadi Asia Resource Minerals Plc (ARMS), dan masih tetap terdaftar di Bursa London, Inggris.
Nah, disinilah menariknya: Seperti halnya BUMI, Grup Recapital mengelola BRAU menggunakan metode ala ‘Bakrie style’, dimana perusahaan dibebani oleh banyak sekali utang. Dan baik itu Grup Bakrie maupun Recapital sangat hebat dalam hal men-treatmentkreditor, sehingga meskipun kondisinya sangat sulit akibat lesunya industri batubara, namun mereka berkali-kali mampu lolos dari ancaman default. Termasuk BUMI, seperti yang sudah disebut diatas, sampai sekarang masih belum benar-benar bermasalah dengan utang-utangnya.
Tapi sepertinya pemilik baru BRAU, yakni Nat Rothschild, tidak memiliki kemampuan yang sama. Jadi ketika pada awal tahun 2015 lalu BRAU terancam tidak bisa melunasi utang obligasinya sebesar US$ 450 juta yang akan jatuh tempo pada tanggal 8 Juli 2015, ternyata pihak manajemen tidak mampu melakukan lobi-lobi untuk menunda pembayaran entah itu ke pengadilan (seperti yang dilakukan manajemen BUMI) atau langsung ke pemegang obligasinya. Dan alhasil obligasi tersebut sekarang resmi default.
Status default tersebut mengharuskan Nat Rotschild sebagai pemegang saham BRAU untuk menjual aset-aset yang dimiliki oleh BRAU pada harga berapapun, atau bahkan mungkin menjual BRAU itu sendiri, dalam hal ini mayoritas sahamnya, sehingga Nat tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali di BRAU.
Dan sepertinya peluang itulah yang ditangkap oleh Grup Sinarmas. Pada keterbukaan informasi yang dirilis pada April 2015 lalu oleh United Fiber System (Unifiber), perusahaan batubara milik Grup Sinarmas yang listing di Bursa Singapura, manajemen Unifiber menyatakan bahwa perusahaan telah mencapai kesepakatan dengan Nat Rothschild untuk mengakuisisi ARMS, yang itu artinya secara tidak langsung mengakuisisi BRAU.
Logo Unifiber. Unifiber adalah anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), perusahaan batubara milik Grup Sinarmas
Pertanyaannya sekarang, kenapa Sinarmas berani mengakuisisi BRAU? Bukankah itu berarti justru mereka-lah yang sekarang harus membayar utang obligasi sebesar US$ 450 juta tadi? Dan itu bahkan termasuk obligasi lainnya senilai US$ 500 juta yang akan jatuh tempo tahun 2017 nanti. Okay, katakanlah Sinarmas punya cukup dana untuk melunasi semua utang-utang tersebut, yang jika ditambah dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi BRAU itu sendiri, maka totalnya mereka harus keluar duit lebih dari US$ 1 milyar. Lalu apakah BRAU memang se-berharga itu, sampai-sampai mereka rela mengeluarkan duit sebanyak itu?
Karena kalau melihat laporan keuangan BRAU yang terakhir yakni periode Kuartal III 2014 (sejak perusahaan mengalami default, BRAU belum merilis laporan keuangan terbarunya lagi. Dan ini berbeda dengan BUMI yang, meski masih telat seperti biasanya, tapi laporan keuangannya untuk Kuartal I 2015 sudah dirilis), ekuitas BRAU juga mulai minus alias defisiensi modal, gara-gara perusahaan terus menerus menderita kerugian. Saham BRAU sendiri terus saja turun hingga akhirnya di-suspend pada harga 82.
Sementara jika kita asumsikan bahwa Grup Sinarmas harus keluar persis US$ 1 milyar atau setara Rp13.2 trilyun untuk mengakuisisi 85% saham BRAU (melalui ARMS), maka itu artinya mereka membeli saham BRAU pada harga.. Rp450 per lembar! Masuk akal? Kalau di mata investor retail, jelas tidak! Kenapa juga anda harus membeli BRAU pada harga 450, kalau anda bisa beli pada harga 82 perak di pasar??? (meskipun untuk saat ini nggak bisa, soalnya BRAU lagi di-suspend).
Tapi pertanyaan yang sama juga mungkin akan timbul kalau anda mencermati fakta bahwa Grup Bakrie, ketika dulu mereka sukses merebut kembali 29.2% saham BUMI dari tangan Bumi Plc, maka mereka harus membayar US$ 501 juta untuk saham BUMI tersebut, yang setara dengan kurang lebih Rp1,000 untuk per lembar saham BUMI! Fakta menariknya adalah, bahkan Nat Rotschild-pun sebenarnya tidak akan melepas BUMI pada harga berapapun kalau bukan karena terpaksa. Jadi bagaimana ceritanya dua raksasa ini (Bakrie dan Rothschild) kok bisa-bisanya rebutan saham gocapan, pada harga tinggi pula?
Dan sekarang kenapa Sinarmas malah ikut-ikutan? Meski yang diakuisisi Sinarmas adalah BRAU dan bukannya BUMI, namun itu karena yang mengalami default adalah BRAU. Grup Sinarmas sendiri mungkin gak akan bisa masuk ke BRAU kalau bukan karena default tersebut. Jadi coba pikir: Kalau nanti BUMI pada akhirnya mengalami default juga (sehingga Bakrie mau tidak mau harus melepasnya), maka Sinarmas, dan mungkin juga grup-grup besar lainnya, bisa jadi akan berebut BUMI ini. Pertanyaannya sekali lagi, BUMI dan BRAU ini apa bagusnya? Atau lebih spesifiknya lagi, terlepas dari berapapun harga sahamnya, kenapa dua saham yang cenderung dihindari oleh investor ritel ini justru menjadi rebutan para pemain besar???

Dan jika Sinarmas saja berani beli BRAU, bahkan pada harga yang jauh diatas harga pasar, lalu apakah kita sebagai investor ritel juga boleh ikut masuk?
Anyway, karena artikelnya sudah cukup panjang, dan sepertinya kelanjutannya bakalan lebih panjang lagi, maka selebihnya akan kita bahas minggu depan. Namun sebelum itu, anda mungkin bisa menjawab pertanyaan diatas melalui kolom komentar dibawah. Sedikit clue, untuk bisa menjawab pertanyaan diatas, maka anda harus berpikir layaknya pemegang saham pengendali atas BUMI dan juga BRAU, dan bukan sekedar pemegang saham ritel yang untung atau ruginya ditentukan oleh kenaikan atau penurunan sahamnya di pasar.

Pengumuman: Layanan preorder untuk buku analisis saham terbaru edisi Kuartal II 2015, sudah dibuka! Keterangan selengkapnya baca [...]

Bursa Tiongkok Jatuh, What Happen?

Pada tanggal 12 Juni lalu, setelah baru saja mencetah another new high di 5,178, Indeks Shanghai Stock Exchange (SSE) tiba-tiba saja turun dengan cepat.. dan terus turun hingga sempat balik lagi ke posisi 3,383 pada tanggal 9 Juli kemarin, atau anjlok lebih dari 30% hanya dalam tempo kurang dari sebulan! Penurunan yang dialami SSE ini begitu cepat dan begitu tiba-tiba, hingga kemudian menimbulkan pertanyaan dari investor di seluruh dunia termasuk di Indonesia: Apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tiongkok? Apakah benar bahwa disana sedang terjadi krisis?

Dan kalau bukan karena kebijakan otoritas Bursa Tiongkok bahwa sebuah saham hanya bisa turun maksimal hingga 10% dalam satu hari (kalau di Indonesia istilahnya auto reject kiri), maka SSE seharusnya anjlok lebih rendah lagi. Pada hari Rabu, tanggal 8 Juli, nyaris separuh dari saham-saham yang diperdagangkan di SSE (dan juga di Shenzhen) di-suspend, karena penurunan mereka sudah mencapai 10%. Sekarang anda bayangkan: Jika tidak ada kebijakan batas maksimal penurunan ini, dimana saham-saham di SSE bisa saja turun hingga 25% dalam sehari seperti yang bisa (dan pernah) terjadi pada saham-saham tertentu di BEI, maka kira-kira bakal bagaimana jadinya?
Meski tampak mengkhawatirkan, namun jika anda sudah mengamati pola pergerakan SSE ini sejak awal, dalam hal ini sejak setahunan lalu, maka anda mungkin sudah memprediksi bahwa kejatuhan SSE ini cepat atau lambat pasti akan terjadi.
Sebab persis sejak setahun lalu (Juli 2014), SSE tiba-tiba saja naik terus dari posisi 2,000-an hingga akhirnya menembus level psikologis 5,000-an pada awal Juni 2015, atau naik lebih dari 150% hanya dalam tempo sebelas bulan. Dan menariknya kenaikan yang luar biasa tersebut dicapai justru ketika Negeri Tiongkok menunjukkan data fundamental perekonomian yang kurang bagus, dimana pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I 2015 tercatat hanya 7.0%, terendah sejak 2009, salah satunya karena penurunan nilai ekspor hingga 15%.
Dan ketika kenaikan indeks saham suatu negara, apalagi dengan kenaikan yang sangat ekstrim, sama sekali tidak ditopang oleh fundamental ekonomi negara yang bersangkutan, maka itu berarti? Bubble, tentu saja. Sejak bulan April kemarin, ketika SSE terus saja naik tanpa henti, sudah terdapat banyak tulisan di internet mengingatkan soal indikasi bubble tersebut, atau bahkan dalam hal ini tidak perlu lagi disebut ‘indikasi’, karena bubble tersebut tampak sangat nyata adanya. Maksud penulis adalah, bagaimana mungkin anda mengatakan bahwa Bursa Tiongkok berada pada level yang ‘wajar’, ketika satu dari lima saham disana di hargai pada PER.. 100 kali???
Pertanyaannya kemudian, apa yang menyebabkan bubble tersebut? Well, jawaban atas pertanyaan tersebut bisa macam-macam. Namun yang jelas, pada tanggal 11 Maret 2015 lalu, People’s Bank of China (bank sentral Tiongkok) mengumumkan setidaknya dua kebijakan stimulus bagi investor di pasar modal Tiongkok, yakni: 1. Pemotongan suku bunga acuan (sama dengan BI Rate di Indonesia) hingga 4.85%, terendah sepanjang sejarah, dan 2. Dukungan atas pemberian pinjaman dana bagi investor di pasar saham, termasuk bagi investor yang baru saja membuka rekening untuk pertama kalinya di sekuritas.

Logo Central Bank of China

Dua kebijakan tersebut menyebabkan para investor di Bursa Tiongkok bisa meminjam dana dalam jumlah besar dari bank/sekuritas pada tingkat bunga yang rendah. Dan hasilnya gampang ditebak: Investor ramai-ramai meminjam dana untuk membeli saham. Per April 2015, nilai pinjaman seluruh investor di Bursa Tiongkok mencapai US$ 269 milyar, naik tiga kali lipat dibanding setahun sebelumnya. Ketika semua orang memiliki uang yang banyak (meski sebenarnya itu bukan milik mereka), maka mereka terus saja membeli saham, sehingga alhasil, SSE terus saja naik.
Jadi sekarang anda sudah mengetahui, apa yang menyebabkan SSE langsung anjlok tanpa ampun dalam sebulanan terakhir: Margin call. Ketika harga suatu saham mulai turun hingga batas tertentu, maka investor yang membelinya menggunakan dana pinjaman/margin akan diminta oleh pihak sekuritas untuk menyetor dana tambahan, untuk menutup besarnya kerugian yang mungkin terjadi. Jika si investor tidak bisa menyetor dana, maka ia terpaksa menjual sahamnya pada harga berapapun (bahkan meski harga tersebut sangat rendah) alias force sell. Dan ketika terdapat banyak investor melakukan force sell secara bersamaan, maka ya begitulah jadinya: SSE langsung anjlok 30% dalam sebulan.
Pertanyaannya sekarang, apakah perekonomian Tiongkok memang dalam kondisi krisis? Termasuk, benarkah bahwa krisis Tiongkok ini lebih parah dari Yunani? Actually, nggak juga. Diatas memang sudah disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok sedang melambat, namun kondisinya masih jauh dari krisis. Untuk memberikan gambaran, berikut ini adalah perbandingan data ekonomi makro antara Tiongkok dengan Indonesia (yang mulai batuk-batuk), dan Yunani (yang sudah masuk UGD). Perhatikan bahwa dari sisi pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, hingga rasio jumlah utang terhadap GDP, maka berbeda dengan Yunani yang memang sedang dalam bad condition, baik Tiongkok maupun Indonesia sama sekali tidak bisa dikatakan sedang dalam kondisi krisis.
Country
GDP Growth
Interest Rate
Inflation
Jobless
Debt/GDP
Cur. Account
China
7.0
4.9
1.4
4.1
22.4
2.1
Indonesia
4.7
7.5
7.3
5.8
25.0
(3.0)
Greece
0.2
0.1
(2.1)
25.6
177.1
0.9
Jadi penurunan Bursa Tiongkok ini murni hanya merupakan dinamika pasar saja, dan tidak berkaitan langsung dengan kinerja para emiten ataupun kondisi makro ekonomi Tiongkok. Faktanya meski turun sangat signifikan dalam sebulan terakhir, namun secara year to date, SSE masih naik sekitar 8% sepanjang tahun 2015 ini.
Hanya saja karena magnitude dari penurunan SSE terbilang sangat ekstrim, maka kemungkinan terburuknya adalah, jika para investor gagal membayar utangnya bahkan setelah mereka mengalami force sell, maka itu bisa menyebabkan bank atau sekuritas yang memberikan utang juga turut mengalami gagal bayar. Kondisi ini pernah terjadi di Amerika pada tahun 1929 lalu, dimana puluhan bank tidak mampu menagih utang kepada para debitur-nya, hingga bank itu sendiri kesulitan keuangan dan akhirnya cuma bisa angkat tangan ketika para nasabah datang untuk mencairkan tabungan/deposito. Dan ketika bank-bank tersebut bangkrut, maka itulah awal dari periode great depression di Amerika Serikat pada dekade 1930-an, yang hingga saat ini masih diingat sebagai krisis ekonomi terburuk sepanjang masa.
However, meski para investor di Tiongkok mulai menderita kerugian yang sangat besar, namun hingga saat ini belum ada berita bahwa ada investor yang gagal sama sekali dalam membayar utangnya. Dan Pemerintah Tiongkok sendiri gerak cepat dengan meluncurkan sepuluh kebijakan sekaligus yang diharapkan mampu untuk kembali memulihkan kondisi pasar, yakni:
  1. Pemerintah Tiongkok, melalui China Securities Finance Corp. (CSF), akan meminjamkan setidaknya US$ 42 milyar ke dua puluh satu perusahaan sekuritas, agar mereka bisa membeli saham-saham bluechip di SSE maupun Bursa Shenzhen.
  2. CSF sendiri akan secara langsung membeli saham-saham kecil dan menengah di Bursa.
  3. Pemerintah akan memberikan stimulus tunai sebesar US$ 40 milyar, yang akan disalurkan ke wilayah-wilayah tertentu di mainland yang dianggap membutuhkan, untuk kembali mendorong pertumbuhan ekonomi.
  4. Pemerintah akan mengeluarkan anggaran lebih untuk belanja infrastruktur.
  5. Otoritas Bursa Tiongkok mengizinkan lebih dari separuh perusahaan yang terdaftar di bursa SSE dan Shenzhen untuk menghentikan perdagangan sahamnya, agar harga saham mereka tidak turun lebih jauh.
  6. Otoritas Bursa Tiongkok melarang pemegang saham mayoritas dari seluruh perusahaan di bursa untuk menjual sahamnya (untuk mencegah agar harga saham tidak turun semakin dalam), setidaknya hingga enam bulan kedepan.
  7. Otoritas Bursa Tiongkok membatalkan semua rencana IPO, setidaknya untuk saat ini.
  8. Bank Sentral Tiongkok akan sekali lagi menurunkan tingkat suku bunga, agar terdapat lebih banyak dana masuk ke bursa.
  9. Investor saham akan dipermudah untuk mengajukan pinjaman/menggunakan dana margin. Sebagai contoh, investor kini bahkan boleh menjaminkan sertifikat rumah mereka ke pihak sekuritas untuk memperoleh pinjaman. Dan
  10. Bank Sentral Tiongkok akan menurunkan nilai mata uang Yuan terhadap US Dollar, dimana itu diharapkan akan meningkatkan nilai ekspor Tiongkok, yang sebelumnya memang turun 15% atau cukup signifikan.
Nah, lalu apakah kebijakan-kebijakan tersebut akan mampu kembali menaikkan indeks SSE? Well, kita lihat saja nanti. Tapi kalau penulis boleh jujur, saya justru khawatir. Seperti yang sudah kita bahas diatas, penyebab dari kejatuhan Bursa Saham Tiongkok ini sejatinya sudah sangat jelas: Adanya kebijakan pemerintah, dalam hal ini Bank Sentral, yang menyebabkan hampir semua orang membeli saham menggunakan utang, dan seperti biasa itu kemudian menyebabkan bubble (dan bubble tersebut memang sudah mulai meletus dalam sebulanan terakhir). Lalu kenapa Pemerintah Tiongkok sekarang malah memberikan pinjaman yang lebih besar lagi? Bukankah itu berarti bahwa Pemerintah hanya menunda bubble yang terjadi untuk tidak meletus sekarang, tapi pada akhirnya justru akan menyebabkan letusan yang lebih besar, suatu hari nanti???
Tapi yah, mudah-mudahan saja para ahli ekonomi disana lebih ngerti soal ini, dan kebijakan Pemerintah tersebut memang tepat adanya. Hanya memang, kalau skenario yang terjadi adalah yang terburuk, maka mau tidak mau perekonomian Indonesia termasuk IHSG akan terkena imbasnya. Seperti yang sudah dibahas disini, jika Yunani mengalami krisis maka pengaruhnya ke Indonesia akan sangat kecil atau bahkan tidak ada pengaruh sama sekali (kecuali pengaruh secara psikologis). Namun kalau Tiongkok yang krisis? Ya wassalaaam.. Memangnya ketika harga batubara terus saja turun, dimana itu menyebabkan turunnya nilai ekspor Indonesia dan pada akhirnya menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional sejak tahun 2011 lalu, itu apa lagi penyebabnya kalau bukan menurunnya permintaan batubara dari Tiongkok, karena memang pertumbuhan ekonomi disana melambat?
However, penulis kira sekarang ini masih terlalu dini untuk menebak-nebak tentang apa yang kira-kira bakal terjadi dengan Bursa Saham dan perekonomian Tiongkok kedepannya, termasuk bagaimana pengaruhnya ke IHSG dan perekonomian Indonesia. Tapi yang jelas, kalau kita melihat kondisi ekonomi di lapangan, maka sulit untuk mengatakan bahwa periode Kuartal II tahun 2015 ini sudah lebih baik dibanding Kuartal I lalu. Maksud penulis adalah, jika pada Kuartal I lalu pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 4.7%, maka pada Kuartal II mendatang angkanya mungkin akan lebih rendah lagi. Dan itu, sudah tentu, akan menjadi sentimen negatif bagi bursa saham di dalam negeri, bahkan jika Indeks Shanghai ternyata mampu untuk pulih kembali.
Libur panjang lebaran, saatnya belajar tentang investasi saham! Jika anda masih bingung mulainya dari mana, maka anda bisa memulainya dengan membaca kumpulan pertanyaan tentang saham dan juga jawabannya, disini.

Atau anda bisa membeli CD rekaman seminar investasi saham,

Ketika Cuan Bukanlah Segalanya

Dalam value investing, terdapat istilah yang sangat populer yakni nilai intrinsik saham, dimana menurut Mbah Warren, nilai intrinsik dari suatu saham/perusahaan adalah nilai aset bersih/ekuitas perusahaan tersebut plus akumulasi laba bersih yang akan dikumpulkan kedepannya, yaitu selama perusahaan beroperasi. Ini artinya, ketika anda melihat bahwa nilai ekuitas dari PT A adalah Rp1 trilyun, misalnya, dan terdapat asumsi yang kuat bahwa PT A tersebut akan mampu untuk menghasilkan laba bersih sebesar sekian secara konsisten dalam jangka panjang, maka nilai intrinsiknya biasanya lebih besar dari ekuitasnya tersebut.
‘Asumsi yang kuat’ tersebut hanya akan diperoleh jika perusahaan yang bersangkutan memang sudah memiliki track record kinerja yang solid dalam jangka panjang, katakanlah 5 – 10 tahun ke belakang atau lebih, dimana selama itu perusahaan terbukti mampu untuk terus menghasilkan laba bersih secara konsisten dari tahun ke tahun. Jadi jika ada asumsi bahwa perusahaan ‘kemarin sore’, atau perusahaan yang sebelumnya rugi melulu, bahwa mereka akan mampu menghasilkan laba bersih kedepannya, maka itu adalah asumsi yang ngawur.
Dan itu sebabnya, perhitungan nilai intrinsik biasanya hanya berlaku untuk saham-saham bluechip, yang perusahaannya sudah beroperasi selama berpuluh-puluh tahun, dan selama itu pula mereka memiliki track record kinerja keuangan yang solid. Penjelasan selengkapnya baca lagi disini.
Belakangan, penulis baru sadar bahwa tidak hanya saham yang memiliki nilai intrinsik, melainkan investor juga. Jadi selain ‘nilai intrinsik saham’, maka melalui artikel ini penulis juga hendak memperkenalkan istilah ‘nilai intrinsik investor’, dan berikut penjelasannya.
Seorang investor, entah itu investor individu maupun institusi, sebenarnya tidak ada ubahnya dengan perusahaan. Maksudnya begini: Jika perusahaan memiliki aset bersih/ekuitas di neraca keuangannya, maka demikian halnya pula dengan investor yang memiliki aset di portofolio investasinya. Dan jika nilai intrinsik suatu saham/perusahaan biasanya lebih tinggi dari nilai ekuitasnya, maka, pernahkah anda berpikir bahwa nilai intrinsik anda sebagai investor, seharusnya juga lebih tinggi dibanding nilai aset/dana yang sudah ada dalam rekening sekuritas anda?
Jadi katakanlah anda memegang aset, entah itu berupa saham atau cash, senilai Rp100 juta di portofolio, dan itu seluruhnya merupakan aset milik anda sendiri (bukan dana pinjaman). Maka apakah nilai anda sebagai investor adalah Rp100 juta juga? Well, jika anda cukup yakin bahwa anda mampu mengelola aset tersebut untuk menghasilkan keuntungan sebesar sekian secara konsisten dalam jangka panjang, maka sudah tentu: Nilai intrinsik anda sebagai investor lebih besar dibanding nilai aset yang anda pegang saat ini, karena Rp100 juta tadi akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.
Namun kata kuncinya ya itu tadi: Apakah anda mampu mengelola aset tersebut? Sebab jika tidak, maka bukannya dapet untung, yang ada malah rugi, sehingga Rp100 juta tersebut jangankan bertambah, yang ada malah berkurang.
Dan kalau begitu kejadiannya, maka anda tidak memiliki nilai intrinsik sebagai investor.
Aset Paling Berharga
Dalam beberapa kali kesempatan seminar, penulis selalu menyampaikan bahwa seorang investor memiliki tiga aset utama: 1. Aset saham/dana cash, 2. Waktu, dan 3. Dia sendiri sebagai investor. Sebagian besar orang mengira bahwa aset yang paling utama bagi seorang investor adalah yang nomor 1, yakni aset yang ada di portofolio. Jadi jika anda pegang portofolio yang berisi saham/cash senilai Rp1 milyar, misalnya, maka nilai anda secara keseluruhan lebih tinggi dibanding investor lain yang pegang portofolio Rp100 juta.
Padahal, kalau anda sebagai investor sama sekali belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tentu saja mutlak diperlukan agar bisa mengelola portofolio dengan baik, maka jangankan Rp1 milyar, Rp10 milyar sekalipun tidak akan ada artinya sama sekali karena anda akan mengalami kerugian secara terus menerus.
Disisi lain, tak peduli seorang investor memulai karier investasinya hanya dengan modal Rp5 juta sekalipun, namun jika ia mampu untuk juga menginvestasikan waktunya untuk terus belajar dan menimba pengalaman, maka setelah beberapa waktu, pada akhirnya ia akan menjadi investor yang handal, dan modal Rp5 juta tadi akan bertumbuh dengan sendirinya.. dan terus bertumbuh entah hingga menjadi berapa, kecuali jika suatu hari nanti ia memutuskan berhenti berinvestasi sama sekali.
As an investor, what is your greatest asset? Yourself!
Tingkatkan Kualitas Diri
Sebagian besar investor/trader di Indonesia, dan mungkin juga di seluruh dunia, biasanya hanya fokus pada upaya untuk memperoleh keuntungan, dimana ‘cuan’ adalah segalanya. Seorang investor biasanya akan merasa senang jika ia memperoleh untung besar dari saham tertentu. Disisi lain, ia mungkin akan merasa biasa-biasa saja jika setelah beberapa waktu, ia tidak mempelajari apapun selama selama periode waktu tersebut.
Padahal, just think about it: Sebaik apapun anda dalam berinvestasi, namun anda bisa mengalami untung dan rugi setiap saat, sehingga nilai portofolio anda juga bisa naik dan turun sepanjang waktu. Namun jika anda keep learning, maka kualitas diri anda sebagai seorang investor tidak akan pernah berkurang sedikitpun, melainkan akan senantiasa meningkat dari waktu ke waktu.
Dan tidak peduli seberapa dalam kerugian yang bisa dialami oleh seorang investor yang high quality, namun pada akhirnya ia akan meraih untung besar kembali. Pada krisis global tahun 2008 lalu, semua investor tanpa terkecuali mengalami kerugian di pasar saham Indonesia. Namun hanya mereka yang berpengalaman-lah, dan juga memiliki visi kedepan, yang mampu untuk bertahan dan sukses untuk langsung cuan besar lagi di tahun berikutnya (2009). Opa Warren juga udah sangat sering rugi besar setiap kali Wall-Street dilanda krisis. Namun karena emang dasarnya beliau investor sejati, maka ia selalu berhasil menjadi kaya raya lagi ketika perekonomian dan bursa-bursa saham pulih kembali.
Karena itulah, ketimbang berusaha untuk meraih cuan setiap hari (because you can’t!), melalui artikel ini penulis hendak mengajak anda untuk fokus mengembangkan aset yang sesungguhnya jauh lebih berharga: Diri anda sendiri. Because, trust me, ketika anda sudah menjadi investor yang handal, the money will follow by itself.

Dan untuk meningkatkan kualitas diri anda sendiri, maka anda bisa menggunakan aset berikutnya: Waktu. Masalahnya adalah, sebagian besar investor lebih suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sebenarnya kurang bermanfaat, seperti ngerumpi soal saham apa yang cuan besok, mengamati pergerakan saham setiap saat pada jam trading, baca-baca rumor yang gak jelas, dan seterusnya. Tidak banyak investor yang mau meluangkan waktunya untuk belajar dan baca-baca artikel atau buku (tentang value investing ya, jangan yang lain), menganalisis fundamental perusahaan secara menyeluruh, mengevaluasi portofolio dan memperbaiki cara-cara investasi/trading yang sebelumnya keliru, dan seterusnya.

Padahal hanya dengan cara itulah anda bisa meningkatkan kualitas diri anda sebagai investor. Tak peduli meski seorang investor sudah malang melintang selama bertahun-tahun di pasar modal, namun jika selama itu ia masih belum mengerti apa-apa, maka ia tetap tidak ada bedanya dengan seorang pemula.
Namun jika anda bisa melakukan itu, then that’s it, anda sudah memiliki nilai intrinsik sebagai seorang investor, dan selanjutnya tinggal soal waktu sebelum nilai portofolio anda akan menjadi besar.
Baiklah, Pak Teguh, lalu bagaimana caranya agar saya tahu bahwa saya sudah berinvestasi dengan cara yang benar, dan sudah memiliki nilai intrinsik tersebut? Well, it’s so simple, anda hanya perlu menanyakan ini kepada diri anda sendiri: ‘Dalam sepuluh tahun kedepan, kira-kira bagaimana nilai portofolio saya? Apakah akan naik sekian kali lipat, segitu-gitu saja, atau malah turun?’ Jika jawabannya adalah akan naik, dan anda yakin dengan jawaban tersebut (karena jika selama ini anda lebih sering rugi ketimbang untung, maka anda tidak akan memiliki keyakinan tersebut), maka selamat: Anda sudah memiliki nilai intrinsik sebagai investor!
Tapi jika tidak? Then you know what to do :) Pesan penulis adalah, jangan pernah tunda-tunda lagi, do it now. Terus asah kemampuan anda dalam berinvestasi, hingga pada akhirnya nanti anda akan sampai pada satu titik dimana tidak hanya nilai porto anda sukses meningkat sekian kali lipat, namun anda juga akan bisa melihat bahwa apa yang anda miliki sesungguhnya jauh lebih besar dibanding sekedar apa yang sudah ada dalam portofolio. Good luck!

Buletin analisis IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Juli 2015 sudah terbit tanggal 1 Juli kemarin. Anda masih bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk [...]

Megapolitan Developments

Beberapa hari lalu, Pemerintah mengeluarkan setidaknya dua peraturan yang diharapkan akan berdampak positif terhadap industri properti di tanah air, yang sebelumnya mulai meredup seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Yang pertama adalah penurunan batas minimum nilai uang muka pembelian properti, dari tadinya 30% menjadi 20% saja. Dan kedua, investor dan warga negara asing kini diperbolehkan untuk membeli aset properti/real estate di Indonesia. Keluarnya dua peraturan ini segera direspon positif oleh para investor di BEI, dimana saham-saham properti melonjak cukup signifikan dalam dua tiga hari terakhir.

However, seperti biasa harus penulis ingatkan bahwa hanya karena Pemerintah mengeluarkan kebijakan tertentu yang diharapkan akan berdampak positif terhadap saham atau sektor tertentu, maka itu bukan berarti harapan tersebut sudah pasti akan jadi kenyataan. In the end, orang-orang tetap akan melihat kinerja keuangan untuk menentukan apakah saham dari sebuah perusahaan layak dibeli atau tidak. Dan harus diakui bahwa untuk tahun 2015 ini, sektor properti mulai agak lesu dimana beberapa pemain besar seperti Alam Sutera Realty (ASRI), Pakuwon Jati (PWON), dan Summarecon Agung (SMRA), semuanya mengalami penurunan laba pada Kuartal I. Beberapa perusahaan besar lainnya seperti Lippo Karawaci (LPKR), Bumi Serpong Damai (BSDE), dan Ciputra Development (CTRA), mereka memang masih mencatat kenaikan laba, namun dengan outlook yang juga kurang prospektif seiring dengan lesunya perekonomian, karena sektor properti itu sendiri memang sangat rentan terhadap risiko perubahan ekonomi makro. Pada tahun 2008 lalu industri properti di Indonesia juga hampir habis sama sekali karena imbas krisis global, dan bahkan saham ASRI ketika itu juga sempat mati di level gocapan.
But, okay, mari kita mencoba bersikap lebih optimis disini, dimana peraturan Pemerintah ini mungkin akan mampu menggairahkan kembali industri properti di tanah air, atau minimal mempertahankan momentum pertumbuhannya yang sudah terjadi sejak tahun 2011 lalu. Pertanyaannya sekarang, kira-kira saham properti apa yang paling menarik? Nah, kalau kita balik lagi ke kaidah value investing dimana saham yang bagus adalah yang: 1. Kinerja keuangan/fundamentalnya bagus, dan 2. Valuasi sahamnya masih rendah, maka agak sulit untuk menemukan kedua kriteria tersebut pada enam saham properti yang sudah disebut diatas. Karena sebagai perusahaan properti yang sudah punya track record kinerja yang excellent serta dan reputasi yang mentereng, maka jangan harap anda bisa beli ASRI pada PBV 1.0 kali, misalnya.
Thus, perhatian mungkin bisa diarahkan pada saham-saham dari perusahaan properti yang lebih kecil. In fact, beberapa perusahaan properti kecil mungkin bisa menjadi alternatif pilihan investasi jangka panjang karena mereka masih dalam tahap tumbuh dan berkembang (enam perusahaan properti yang sudah disebut diatas, mereka semua sudah tumbuh besar dan sudah menikmati masa jayanya sejak tahun 2011), sehingga otomatis prospek pertumbuhannya masih terbuka lebar. Jadi selain kita bisa memperoleh harga yang lebih murah, maka jika anda beruntung, anda juga mungkin bisa memperoleh gain 2 – 3 lipat dalam 2 – 3 tahun, sama seperti jika anda membeli saham ASRI, PWON, atau Lippo Cikarang (LPCK) pada tahun 2011 lalu.
Salah satu small player itu adalah Megapolitan Developments (EMDE). Sebagai value investor, penulis tertarik dengan EMDE ini bukan karena prospeknya, tapi karena valuasinya yang sangat terdiskon setelah sahamnya terus saja turun dari harga IPO-nya yakni 250, hingga pada April kemarin sempat menyentuh 84, padahal kinerja perusahaannya baik-baik saja. Berdasarkan pengalaman di Sri Rejeki Isman (SRIL) dimana sahamnya juga sempat terus turun dari 300-an hingga mentok di 120, tapi toh kemudian naik lagi karena memang tidak ada yang salah dengan fundamentalnya, maka penulis kemudian menganggap bahwa mungkin ada opportunity di EMDE ini. Apalagi, pada harga 84 tersebut PBV-nya cuma 0.5 kali, atau jauh lebih murah dibanding saham properti manapun di BEI.
Anyway, mari kita pelajari EMDE ini sejak awal.
EMDE didirikan oleh dua orang pengusaha bernama Sudjono Barak Rimba dan Lora Melani Rowas, yang sebelumnya berprofesi sebagai agen properti, pada tahun 1976. Pada tahun 1979, perusahaan mengembangkan proyek properti pertamanya di Kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, berupa perumahan diatas lahan seluas 55 hektar. Proyek tersebut sukses besar, sehingga di tahun-tahun berikutnya perusahaan terus membangun perumahan-perumahan baru plus sebuah mall (Mall Cinere) di kawasan yang sama. Alhasil, pada akhir tahun 2014, dengan total luas lahan pengembangan lebih dari 300 hektar (sementara luas Cinere sendiri hanya 1,100 hektar), maka EMDE bisa dinobatkan sebagai perusahaan properti nomor 1 di Cinere.

But still, hingga saat ini perusahaan masih mengembangkan Kawasan Cinere. Namun karena luas lahannya kini mulai terbatas, maka EMDE memfokuskan pengembangan propertinya pada satu kawasan superblok dengan nama Centro Cinere. Di Centro Cinere ini terdapat Mall Cinere Bellevue, kompleks pertokoan dan restoran Cinere Terrace, apartemen Cinere Suites, kompleks ruko Cinere One Commercial Park, dan perumahan Cinere One Residence. The good news is, sebagian besar dari proyek-proyek properti tersebut sudah selesai dibangun, dan akan mulai menghasilkan pendapatan bagi perusahaan pada tahun 2015 ini.
Kedepannya, masih di superblok Centro Cinere, EMDE juga akan membangun kompleks kondominium Cinere Mansion, menara perkantoran The Block, dan menara perkantoran The Marche. However, beberapa proyek tersebut masih dalam tahap perencanaan, dan baru akan bisa menghasilkan pendapatan paling cepat dalam waktu 2 – 3 tahun mendatang.
Dan jika seluruh proyek properti di superblok Centro Cinere ditujukan untuk konsumen kelas menengah keatas, maka EMDE juga masih punya dua kompleks perumahan di Cinere yakni Cinere Parkview dan Graha Cinere, dimana unit-unit rumah di dua kompleks tersebut dijual pada harga yang lebih terjangkau. Untuk Cinere Parkview, sebagian kompleks perumahannya sudah selesai dibangun dan sudah bisa dipasarkan, sementara Graha Cinere sejauh ini masih berupa perencanaan (masih berupa landbank).
Diluar Kawasan Cinere, perusahaan mulai ‘keluar kandang’ pertama kali pada tahun 2002, ketika itu dengan membangun ‘Bellagio Residence & Mansion’, sebuah kompleks gedung perkantoran, apartemen, kondominium, dan mall di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Dan proyek Bellagio ini juga sukses besar. Namun karena keterbatasan lahan di Mega Kuningan, maka proyek Bellagio ini pada akhirnya selesai dibangun dan tidak bisa dikembangkan lebih lanjut lagi.
Karena itulah, pada tahun 2005, perusahaan merambah Kawasan Sentul, Bogor, dengan membangun superblok ‘Vivo Sentul’. So far, beberapa proyek properti yang sudah mulai digarap disini adalah Galleria Kiosk Mall (sudah selesai dan sudah siap beroperasi), kompleks pertokoan Vivo Walk, dan kompleks ruko Bizpark. Jika proyek-proyek tersebut sukses dan laris manis, maka selanjutnya akan dibangun shopping mall, hotel, kompleks apartemen, dan perumahan. EMDE sudah menguasai lahan seluas 200 hektar disini, sehingga jika semuanya berjalan lancar, Sentul bisa menjadi ‘Cinere berikutnya’ dalam beberapa tahun kedepan.
Sudah cukup? Belum, satu lagi: Sejak tahun 2008 lalu, EMDE ikut masuk ke Kawasan Karawaci, Tangerang, dengan membangun superblok ‘The Habitat’, yang berisi kompleks apartemen khusus mahasiswa, hotel, dan apartemen untuk umum. Sejauh ini beberapa gedung apartemen untuk mahasiswa sudah selesai dibangun, alias sudah siap jual, sementara pembangunan hotel dan apartemen untuk umum akan menyusul dalam 1 – 2 tahun mendatang.
Siap Panen
Dengan demikian, pada tahun 2015 ini perusahaan memiliki tiga lokasi properti yang sedang dikembangkan yakni di Cinere, Sentul, dan Karawaci. Namun yang terpenting adalah, pada tiga lokasi tersebut sudah terdapat beberapa proyek properti yang ‘siap panen’, alias sudah selesai dikerjakan dan siap dipasarkan. Terus terang, penulis sebelumnya sudah sering ketemu dengan perusahaan properti di BEI yang punya rencana besar untuk mengembangkan properti disini dan disitu, namun semuanya masih sebatas rencana saja, sementara propertinya belum benar-benar dibangun. Poinnya disini adalah, bahkan kalaupun pengerjaan proyeknya berjalan lancar, maka hasilnya (laba bersihnya) baru akan dinikmati 2 – 3 tahun kemudian, karena untuk membangun banyak properti di satu kawasan yang luas, itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Dan bagi kami investor di pasar saham, prinsipnya sederhana saja: Selama perusahaan belum benar-benar membukukan laba bersih yang besar di laporan keuangannya, maka jangan harap sahamnya akan naik.
However, EMDE berbeda. Actually, pada tahun 2011 lalu, perusahaan juga hanya ‘bermodalkan’ rencana untuk bangun ini dan itu, namun belum ada yang benar-benar dikerjakan. Tapi sekarang, atau 3 tahun kemudian, sebagian besar dari rencana tersebut sudah terealisasi. Pendapatan serta laba bersih EMDE sendiri terus naik sejak tahun 2011 lalu, hingga terakhir tercatat Rp26 milyar untuk Kuartal I 2015, dimana itu mencerminkan annualized ROE 17.2%.
Dan pihak manajemen sendiri, untuk tahun 2015 ini berani mentargetkan pendapatan Rp700 milyar, naik lebih dari dua kali lipat dibanding 2014, karena ya itu tadi: Dalam waktu dekat ini perusahaan akan panen pendapatan dari unit-unit rumah, apartemen, kios, hingga sewa mall yang sudah selesai di bangun, baik itu di Cinere, Sentul, ataupun Karawaci. Jika target tersebut tercapai, maka dengan asumsi margin labanya tetap terjaga di level 25% (margin laba EMDE terbilang besar karena utang perusahaan relatif kecil), maka laba EMDE akan mencapai Rp175 milyar pada tahun penuh 2015 ini, dan ROE-nya akan mencapai 30%. Well, sounds good eh?
Valuasi yang sangat rendah
Terlepas dari kemungkinan adanya lompatan laba tersebut (selain karena, pada akhirnya, seorang value investor gak boleh membeli saham hanya karena ‘prospek’), yang paling menarik dari EMDE ini adalah valuasi sahamnya yang sangat rendah. Diatas sudah disebutkan bahwa pada harga 84, PBV EMDE ini hanya 0.5 kali. Dan pada harganya saat ini yakin 124, PBV-nya masih 0.7 kali, dan PER-nya 3.9 kali. Rendahnya valuasi EMDE karena memang sahamnya secara umum terus turun sejak dia listing pada harga 250, pada Januari 2011 lalu.
Dan awalnya penulis juga bingung, apa yang menyebabkan EMDE turun. Namun kemudian penulis menemukan jawabannya: Pada Kuartal I 2011 lalu (laporan keuangan pertama yang dirilis perusahaan setelah sahamnya IPO), EMDE mencatat rugi bersih Rp3 milyar karena penurunan pendapatan. Dan hingga akhir tahun 2011, laba EMDE untuk tahun 2011 tersebut tercatat hanya Rp3 milyar, atau anjlok dibanding Rp24 milyar di tahun sebelumnya (2010). Penurunan tersebut bukan karena perusahaan sedang bermasalah atau apa, tapi karena memang pada tahun 2011 tersebut EMDE baru saja menjual habis unit-unit propertinya, sementara unit-unit properti berikutnya masih dalam tahap dibangun alias belum siap dijual.
Tapi apapun itu, kinerja perusahaan yang tampak buruk tersebut menyebabkan sahamnya langsung turun tak lama setelah IPO. Memasuki tahun 2012 hingga 2014, laba EMDE sebenarnya mulai kembali merangkak naik. Namun karena ROE-nya masih tetap saja rendah (pada tahun 2014, ROE EMDE tercatat 7.5%, atau jauh dibawah ASRI dkk), maka investor tetap saja membuang sahamnya dan alhasil EMDE terus saja turun hingga valuasinya menjadi unbelievably undervalue. Nah, jadi dalam hal ini kita sepertinya ketemu lagi dengan saham korban ‘drama queen’ disini. Bagi anda yang belum mengerti apa itu drama queen, silahkan baca lagi artikelnya disini.
Kabar baiknya, pada tahun 2015 ini ROE EMDE tampak mulai tumbuh signifikan (sudah diatas 17%). Dan dengan mempertimbangkan faktor ‘siap panen’ diatas, maka pencapaian ini seharusnya akan kembali meningkat hingga akhir tahun nanti, dan mungkin akan meningkat lagi pada tahun-tahun selanjutnya.
Jadi yah, mau bilang apa lagi? This is our opportunity!
However, dibalik peluang maka selalu ada faktor risiko. Dan risiko bagi EMDE ini adalah terkait track record manajemennya yang beberapa kali tersangkut masalah hukum. Pada tahun 2012, perusahaan digugat Rp50 milyar oleh mantan komisarisnya, Charles Dulles Marpaung, karena yang bersangkutan merasa dipecat secara sepihak oleh perusahaan. Dan pada saat inipun perusahaan sedang terlibat sengketa tanah dengan beberapa pihak terkait lahan untuk perumahan Graha Cinere (dan itu pula sebabnya perumahannya masih belum dibangun). Belum ada kejelasan soal kapan sengketa ini akan selesai. Selain itu faktanya adalah bahwa sektor properti belakangan ini memang mulai agak lesu.
Namun diluar masalah hukum diatas, penulis tidak melihat masalah lainnya terkait perusahaan (dan untungnya Graha Cinere ini hanya sebagian kecil dari proyek-proyek EMDE secara keseluruhan). Sementara terkait risiko lesunya sektor properti, pemerintah juga sudah mulai mengeluarkan kebijakan yang meringankan, dan pihak manajemen sendiri tidak merevisi target penjualannya yang Rp700 milyar tadi. So let see, apakah hingga akhir tahun nanti perusahaan bisa memenuhi target penjualannya atau tidak, dimana jika target tersebut tercapai, maka sahamnya akan terbang entah sampai berapa (dan dengan mempertimbangkan pengalaman perusahaan sebagai developer properti selama 35 tahun terakhir dengan track record yang excellent, maka dengan catatan tidak ada peristiwa force majeure, target tersebut terbilang realistis).
Tapi jika tidak? Well, asalkan labanya masih naik dan tidak ada kejadian luar biasa, maka tetap saja sahamnya tidak punya alasan untuk turun karena valuasinya sudah sangat murah (fluktuasi IHSG seharusnya tidak akan terlalu berpengaruh karena EMDE ini tidak likuid. Dia baru akan likuid nanti kalau harganya sudah diatas). Jadi kalau bagi penulis sendiri, EMDE ini adalah investasi yang sangat menarik karena dia tidak hanya menawarkan peluang lompatan dalam waktu relatif dekat, namun disisi lain risikonya juga terbatas. Faktor risiko inilah yang seringkali dilupakan investor karena terlalu fokus pada faktor ‘potensi’ dan ‘prospek’ saja dari sebuah saham (terus terang, penulis juga dulu begitu). Namun untuk EMDE ini, penulis bisa katakan bahwa you’ve got your back covered.
PT Megapolitan Developments, Tbk (EMDE)
Rating Kinerja pada Kuartal I 2015: A
Rating Saham pada 124: AA
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Investama sedang dalam posisi memegang EMDE di harga rata-rata 97. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin analisis IHSG & stock-pick saham bulanan edisi Juli 2015 sudah terbit tanggal 1 Juli kemarin. Anda masih bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab langsung dengan penulis untuk [...]

History & Future of Indonesia Stock Exchange

Dengan market cap senilai Rp5,070 trilyun atau setara US$ 381 milyar pada 19 Juni kemarin, Bursa Efek Indonesia atau BEI sama sekali bukan merupakan salah satu bursa saham terbesar di dunia. However, kalau kita bicara sejarah, maka BEI memiliki latar belakang sejarah yang ternyata lebih kompleks dari yang mungkin anda bayangkan. Termasuk, believe it or not, perusahaan pertama di dunia yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Saham, mereka bukan berkantor di London, New York, ataupun Tokyo, melainkan.. Jakarta!

Perusahaan tersebut adalah Vereenigde Oostindische Compagnie, atau disingkat VOC (kalo orang jaman dulu bilang: kompeni). VOC adalah perusahaan milik Pemerintah Kerajaan Belanda yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah asal ‘India Timur’, alias Indonesia. VOC didirikan pada tahun 1602 di Amsterdam, dan menjadi perusahaan pertama di dunia yang menerbitkan saham dan obligasi. Pada tahun 1602 itu pula, Bursa Efek Amsterdam didirikan sebagai wadah untuk perdagangan saham dan obligasi tersebut. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1619, VOC membuka kantor (atau lebih tepatnya markas) di Jayakarta alias Jakarta, dan selanjutnya lebih banyak beroperasi di kota tersebut ketimbang Amsterdam itu sendiri.
So, meski BEI hingga saat ini masih berstatus sebagai ‘anak bawang’ bahkan jika dibanding Bursa Tokyo, Shanghai, atau Australia (kalau dibanding Wall-Street kayanya kejauhan), namun markas BEI, yakni Jakarta, merupakan saksi dari kegiatan operasional perusahaan ‘tbk’ pertama di dunia, pada hampir empat abad yang lalu.
Namun demikian, terkait pasar modal itu sendiri, maka sejarah pasar modal di Indonesia baru dimulai pada tahun 1912 dengan berdirinya Bursa Efek Batavia (BEB) di Batavia, alias Jakarta (pada tahun 1600-an, meski perusahaannya beroperasi disini, namun saham VOC diperdagangkan di Amsterdam, bukan Jakarta). BEB ini kemudian menjadi wadah transaksi jual beli saham dan obligasi perusahaan-perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, dan juga obligasi pemerintah. Seiring dengan perkembangannya yang pesat, pada tahun 1925, BEB membuka cabang di Semarang dan Surabaya.
Sayangnya pada tahun 1929, Bursa Wall-Street di Amerika jatuh dan hancur berantakan, disusul oleh great depression yang melanda seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Karena keadaan ekonomi tidak juga kembali membaik setelah beberapa tahun, plus adanya peristiwa perang dunia kedua dimana Negeri Belanda dicaplok oleh Nazi Jerman pada tahun 1939, membuat seluruh kantor cabang BEB akhirnya ditutup pada tahun 1940. Tahun 1945, Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan setelah perang revolusi selama 5 tahun, Pemerintah Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun 1952, BEB kembali dibuka namun kali ini dengan nama Bursa Efek Jakartaalias BEJ.
Sayangnya karena berbagai masalah nasional seperti kasus sengketa Irian Barat, inflasi yang sangat tinggi, hingga krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1960-an, pada akhirnya menyebabkan BEJ sama sekali tidak beroperasi layaknya sebuah Bursa Saham, selain karena perusahaan-perusahaan yang tadinya sahamnya diperdagangkan di BEJ, semuanya ‘pulang kampung’ ke Belanda atau bubar sama sekali. Barulah ketika tampuk kekuasaan berpindah ke tangan Presiden Soeharto pada tahun 1967, dan perekonomian mulai pulih pada tahun 1970-an, BEJ di-restart lagi. Dan kali ini BEJ benar-benar beroperasi seperti layaknya Bursa Saham pada umumnya, ditandai dengan IPO PT Semen Cibinong (SMCB) pada tahun 1977. Dengan demikian, SMCB, yang sekarang bernama PT Holcim Indonesia, adalah perusahaan pertama yang melantai di Bursa Saham Jakarta. Lima tahun kemudian, yakni tahun 1982, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diluncurkan dengan posisi awal 100, sebagai patokan kenaikan atau penurunan harga dari saham-saham yang diperdagangkan di BEJ.
Jadi Pasar Modal Indonesia yang ada saat ini, secara resmi dibuka sejak tahun 1977.
Pad tahun-tahun berikutnya, BEJ berkembang dengan sangat lambat dimana pada tahun 1987 baru terdapat 24 perusahaan Tbk di Indonesia. Hingga akhirnya pada tahun 1987 tersebut Pemerintah mengeluarkan banyak regulasi baru yang pada intinya 1. Mempermudah perusahaan untuk go public, 2. Mempermudah masyarakat untuk turut berinvestasi di pasar modal, dan 3. Pembentukan lembaga-lembaga pendukung pasar modal, seperti Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), hingga perusahaan-perusahaan reksadana.
Berbagai regulasi baru tersebut sukses membuat BEJ berkembang sangat cepat, dimana pada tahun 1989 terdapat tidak kurang dari 37 perusahaan melantai di bursa. Pada tahun ini pula PT Bursa Efek Surabaya berdiri, disusul dengan berdirinya PT Bursa Efek Jakarta (sebelumnya BEJ tidak berbentuk sebagai PT) pada tahun 1992. Paruh pertama dekade 1990-an menjadi masa keemasan kedua sepanjang sejarah Pasar Modal Indonesia (masa keemasan pertama terjadi pada tahun 1912 hingga 1920-an, ketika BEJ masih bernama BEB), dimana IHSG terus naik hingga ditutup di level 637 pada akhir tahun 1996 (dan pada awal tahun 1997 masih terus naik hingga tembus 700-an). Pada masa inilah orang-orang mulai mengenal ‘saham’ sebagai instrumen investasi yang menguntungkan. Hingga tahun 1996, puluhan ribu orang mulai dari pengusaha, karyawan, hingga ibu rumah tangga rama-ramai membuka rekening di sekuritas. Pada tahun 1996 pula, investor legendaris, Lo Kheng Hong, memutuskan untuk keluar dari pekerjaan beliau sebagai kepala kantor cabang di Bank Ekonomi (BAEK), untuk selanjutnya fokus sebagai investor saham full time.
Sayangnya pada tahun 1997, Indonesia mulai dilanda krisis ekonomi, dan IHSG sendiri jatuh dari 700-an hingga sempat menyentuh 250-an pada tahun berikutnya (1998). Namun hebatnya BEJ tetap beroperasi seperti biasa (meski memang sempat ditutup pada hari-hari tertentu). Dan IHSG sendiri, meski sempat menyentuh level terendahnya pada tahun 1998, namun lima tahun kemudian (2003) akhirnya sukses mencatatkan new high-nya kembali. Setahun kemudian, pada tahun 2004, IHSG menembus level psikologis 1,000 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.
Dan pada tahun-tahun berikutnya, IHSG nyaris terus naik kecuali pada tahun 2008 dan 2013. Sementara pada tahun 2007, BEJ dan Bursa Efek Surabaya di-merger untuk menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga pada akhir 2014 lalu, IHSG ditutup di posisi 5,226, dengan jumlah emiten 512 perusahaan, market cap Rp5,228 trilyun atau US$ 420 milyar, dan nilai transaksi saham rata-rata Rp6 trilyun atau US$ 483 juta per hari.

Logo Indonesia Stock Exchange

Okay, Pak Teguh, lalu kenapa anda tiba-tiba membahas soal sejarah BEI ini?
Beberapa waktu lalu penulis bertemu dengan Bapak M. Noor Rachman. Beliau adalah salah satu petinggi OJK, tepatnya menduduki posisi sebagai deputi komisioner pengawas pasar modal. Dalam pertemuan tersebut beliau bertanya begini, ‘Menurut pandangan Pak Teguh sebagai pelaku investor, apa saja yang perlu dilakukan oleh OJK untuk memajukan pasar modal di Indonesia?’
Dan penulis menjawab, ‘Sebenarnya, banyak sekali pak. Ada banyak sekali yang perlu dan harus dilakukan oleh OJK dan seluruh instansi yang terkait, termasuk oleh para emiten, sekuritas, dan pelaku investasi itu sendiri, agar pasar modal Indonesia menjadi lebih maju kedepannya.’
‘Namun,’ penulis melanjutkan, ‘Yang perlu diingat disini adalah bahwa usia pasar modal di Indonesia masih sangat belia, dimana BEI baru benar-benar beroperasi (dan dimulai lagi dari awal) pada tahun 1977. Kalau dibandingkan dengan New York Stock Exchange, misalnya, maka bursa saham terbesar di dunia itu sudah dibuka dan beroperasi sejak tahun 1792, atau lebih dari dua abad yang lalu. Jumlah emiten di BEI baru ada 500-an, jauh lebih sedikit dibanding NYSE yang mencapai 7,000-an. Namun pada tahun 1950-an, jumlah saham yang diperdagangkan di NYSE juga cuma 500-an. Dan jika nilai market cap BEI pada saat ini hanya US$ 400-an milyar, atau jauuuuh lebih kecil dibanding nilai market cap NYSE, maka ingat bahwa pada tahun 1970, market cap NYSE juga hanya US$ 700-an milyar.’
‘Maksud saya adalah, pada akhirnya yang perlu kita lakukan hanyalah tetap menjalankan pekerjaan-pekerjaan kita sebagaimana mestinya, dan selanjutnya biarkan pasar modal Indonesia untuk maju dan bertumbuh dengan sendirinya. Karena tidak peduli seperti apapun regulasi yang diterapkan, segencar apapun promosi yang dibuat untuk menarik minat investor untuk membuka rekening (atau minat perusahaan untuk menggelar IPO), namun tetap saja BEI membutuhkan waktu untuk bisa maju dan berkembang. Dan dalam banyak hal, berbagai kemajuan tersebut tidak bisa dipaksakan untuk bisa dicapai lebih cepat. Sebagai contoh, kita semua tentu sepakat bahwa suatu hari nanti IHSG akan tembus 10,000. Tapi jika posisi 10,000 itu dicapai dalam waktu, let say, beberapa bulan kedepan, maka jadinya justru agak menakutkan bukan?
‘Disisi lain, Indonesia is a great country. Kita adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, dengan nilai GDP yang termasuk sepuluh besar dunia, dan juga dengan luas area yang membentang hingga 5,428 kilometer dari Sabang (Aceh), hingga Merauke (Papua), atau jauh lebih panjang dibanding jarak antara Lisbon di Portugal dan Moskow di Rusia! Kita juga merupakan salah satu negara dengan wilayah perairan terluas di dunia, dengan sumber daya perikanan dan kelautan yang sama sekali belum terjamah.’
‘Dan semua itu merupakan bekal yang tidak terbantahkan yang akan mendorong pasar modal Indonesia, cepat atau lambat, untuk menjadi besar suatu hari nanti. Karena bahkan sejarah juga membuktikan bahwa VOC (yang tadi sudah dibahas diatas) sukses menjadi perusahaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (yap, anda tidak salah baca), termasuk sukses membawa Amsterdam Stock Exchange sebagai Bursa Saham terbesar di dunia di abad ke-17, juga karena mereka beroperasi di remarkable Indonesia!’
‘So after all, it’s all about time. Sebagai perbandingan, Tiongkok adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, dan juga negara terluas ketiga di dunia. Dan memang saat ini Tiongkok adalah negara dengan GDP terbesar di dunia, termasuk Shanghai dan Hong Kong Stock Exchange masing-masing merupakan bursa saham terbesar kelima dan keenam di dunia. Namun pada tahun 1952, dengan GDP hanya US$ 68 milyar, Tiongkok justru termasuk sebagai salah satu negara termiskin di dunia, dan kondisi tersebut bertahan hingga beberapa dekade berikutnya. Hingga barulah pada awal tahun 1990-an, dibawah pimpinan paramount leader, Deng Xiaoping, perekonomian Tiongkok maju dengan sangat pesat hingga akhirnya menjadi sebesar sekarang, dan demikian pula dengan pasar modalnya.’
Nah, kembali lagi soal sejarah. Jika dihitung sejak tahun 1977, maka sejarah perkembangan pasar modal Indonesia memang masih sangat singkat, sehingga disini sama sekali belum banyak yang bisa diceritakan, dan juga belum banyak trilyuner yang terlahir dari lantai bursa. Meski demikian, perkembangan yang terjadi selama hampir empat dekade ini juga sejatinya cukup menggembirakan. Maksud penulis adalah, jika anda sudah berinvestasi di saham sejak tahun 1990, maka ketika itu anda juga pastinya akan sulit untuk membayangkan bahwa BEI, dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, akan memiliki market cap lebih dari Rp5,000 trilyun bukan?

Hanya memang, Rp5,000 trilyun itu masih sangat kecil dibanding bursa-bursa saham lainnya di seluruh dunia. Tapi disisi lain itu berarti bahwa BEI masih bisa berkembang untuk menjadi lebih besar lagi, dan kita pada saat ini masih merupakan bagian dari sejarah perkembangan tersebut. Dan kesempatan untuk menjadi trilyuner adalah milik mereka yang melakukan investasinya sekarang! Dalam dua atau tiga dekade kedepan, pasar saham Indonesia akan menjadi lebih ramai lagi, lebih likuid, dan juga akan lebih diperhitungkan di jagat finansial dunia. Sudah tentu, perjalanannya tidak akan mulus dimana peristiwa tahun 2008 lalu bisa saja kembali terjadi sewaktu-waktu, but hey, that’s just part of the game, right?

Buletin analisis IHSG & rekomendasi saham bulanan edisi Juli 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis konsultasi/tanya jawab saham langsung dengan penulis untuk [...]

‘Drama Queen’ of Stock Market

Beberapa hari lalu penulis mengalami peristiwa yang cukup unik dengan keluarga di rumah. Jadi ceritanya si teteh (panggilan untuk kakak perempuan, urang Bandung pasti ngerti), yang berusia 3 tahun, lari-lari dan terjatuh hingga lututnya lecet dan harus dipasang plester. Besok paginya, si teteh menolak untuk mandi karena takut lututnya yang lecet tersebut akan terasa perih kalau terkena air. Mamanya berkali-kali menjelaskan bahwa itu cuma lecet kecil jadi gak apa-apa kena air juga, tapi si teteh berkali-kali juga berteriak ‘gak mau!’. Kehilangan kesabaran, si mama juga ikutan teriak. Alhasil jadilah pagi itu rumah gempar hanya gara-gara lecet kecil di lutut, dan si papa (penulis) harus intervensi. Setelah pendekatan persuasif dengan mengajaknya makan-makan di HokBen (meniru caranya Presiden Jokowi) dan main perosotan, si teteh akhirnya bersedia mandi, tapi dengan syarat lututnya yang lecet itu harus dibungkus dulu pake plastik wrapping biar gak kena air.

Contoh kasus diatas menjelaskan bagaimana sebuah peristiwa yang kecil dan cenderung sepele menjadi tampak serius, hanya karena orang-orang yang terlibat didalamnya menanggapi peristiwa tersebut secara berlebihan. Si mama sempat menyebut si teteh sebagai ‘drama queen’, karena si kecil ini kelewat khawatir akan luka lecetnya, padahal itu cuma lecet kecil. Dan setelah penulis googling, menurut urbandictionary.com, drama queen is ‘someone who turns something unimportant into a major deal’, atau secara harfiah bermakna sebagai seseorang yang memandang sesuatu yang sebenarnya tidak penting, sebagai masalah yang serius.
Istilah drama queen biasanya merujuk pada perempuan, entah itu anak kecil ataupun orang dewasa (makanya istilahnya queen, bukan king). Tapi pada prakteknya, siapapun itu entah dia laki-laki atau perempuan, entah dia anak-anak ataupun orang dewasa, entah itu investor saham atau bukan, terkadang (atau malah seringkali) suka bersikap berlebihan dalam menanggapi suatu masalah.
Dan di pasar saham, salah satu masalah itu adalah terkait kinerja keuangan perusahaan. Berdasarkan pengalaman, ketika sebuah perusahaan mencatat kinerja yang tampak buruk sedikit saja, misalnya laba bersihnya turun dibanding tahun sebelumnya, maka investor seringkali akan menanggapinya secara berlebihan, seolah-olah perusahaan itu jelek sama sekali (sama seperti putri penulis yang menganggap bahwa lecet kecil dilututnya merupakan luka yang parah). Dan alhasil sahamnya bisa turun sangat dalam, terkadang bisa anjlok 50% atau lebih dari harga tertingginya. Padahal selama perusahaan masih mencetak laba, maka nilai aset bersih perusahaan sejatinya masih bertumbuh bukan? Dan selama perusahaan tidak terkena force majeure tertentu (tersangkut kasus hukum, dll), maka mereka akan tetap beroperasi dengan normal tanpa adanya masalah apapun, dan seharusnya akan tetap menghasilkan keuntungan dari tahun ke tahun.
But still, karena kinerja perusahaan tampak buruk, maka orang-orang jadi males megang sahamnya, termasuk yang tadinya berniat membelinya juga nggak jadi, dan alhasil harganya terjun bebas terkadang sampai sedemikian murahnya. Contoh yang penulis perhatikan baru-baru ini adalah Erajaya (ERAA), Wismilak (WIIM), dan Semen Baturaja (SMBR). Dilihat dari sisi manapun, ketiga perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang baik, punya track record kinerja yang oke dan outlook jangka panjang yang bagus, utangnya kecil, dan juga dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya. Tapi hanya gara-gara laba mereka turun sedikit di Kuartal I 2015 kemarin, maka ketiga saham ini terus saja mencetak new low padahal IHSG sejatinya baru turun sekitar 10 – 12% dari puncaknya.
Logo PT Erajaya Swasembada, perusahaan distributor telepon selular terbesar di tanah air
Awalnya penulis mengira bahwa ini hanya fenomena di Pasar Saham Indonesia, dan juga hanya terbatas pada saham-saham kecil atau second liner (saham bluechip biasanya hanya akan turun kalau IHSG turun, bahkan  meski kinerja mereka tampak tidak terlalu bagus). Tapi ternyata diluar negeri juga sama begitu, dan itu juga bisa terjadi pada saham dari perusahaan sekelas Berkshire Hathaway sekalipun. Jika pada tahun tertentu laba bersih Berkshire turun dibanding tahun sebelumnya, maka sahamnya biasanya ikut turun pada tahun tersebut, tak peduli meski nilai aset bersih perusahaan sejatinya masih naik. Berikut adalah data sepuluh tahun terakhir (2004 – 2014) dari 1. Laba bersih Berkshire Hathaway (dalam jutaan USD), 2. Persentase kenaikan/penurunan nilai aset bersih perusahaan, 3. Persentase enaikan/penurunan harga sahamnya dalam satu tahun.
Sebelumnya catat bahwa di website perusahaan (www.berkshirehathaway.com), sebenarnya tersedia juga data hingga tahun 1964, yakni sejak Berkshire diambil alih oleh Mbah Buffett. Namun kalau kita tampilkan semua datanya disini maka tabelnya akan jadi sangat panjang. Jadi penulis kira data sepuluh tahun terakhir sudah cukup mewakili.
Year
Net Earnings
Book Value
Market Value
(US$ million)
(%)
(%)
2004
7,308
10.5
4.3
2005
8,528
6.4
0.8
2006
11,015
18.4
24.1
2007
13,213
11.0
28.7
2008
4,994
(9.6)
(31.8)
2009
8,055
19.8
2.7
2010
12,967
13.0
21.4
2011
10,254
4.6
(4.7)
2012
14,824
14.4
16.8
2013
19,476
18.2
32.7
2014
19,872
8.3
27.0
Nah, perhatikan bahwa antara tahun 2004 hingga 2007, laba bersih Berkshire selalu naik, dan demikian pula dengan nilai aset bersih/nilai bukunya. Dan alhasil harga sahamnya (market value) juga terus naik selama kurun waktu tersebut. Namun pada tahun 2008, laba perusahaan tercatat hanya US$ 5.0 milyar, atau anjlok signifikan dibanding tahun sebelumnya yakni US$ 13.2 milyar. Karena harga dari beberapa saham yang dipegang Berkshire juga anjlok pada tahun 2008 tersebut, maka jadilah nilai aset bersih perusahaan ikut turun sebesar 9.6%.
Dan meski Warren sendiri mengatakan bahwa tahun 2008 memang merupakan tahun yang buruk bagi Berkshire, namun investor menanggapi buruknya kinerja Berkshire tersebut secara berlebihan, dimana saham Berkshire anjlok hingga 31.8%, atau turun lebih dalam dibanding penurunan nilai riil perusahaan. Pada tahun 2009 dan 2010, laba Berkshire kembali naik, dan demikian pula nilai aset bersih perusahaan sukses naik selama dua tahun berturut-turut. Namun pada tahun 2011, laba Berkshire turun lagi dari US$ 13.0 milyar menjadi US$ 10.3 milyar. Dan lagi-lagi investor menanggapi hal tersebut secara berlebihan, dimana saham Berkshire pada tahun 2011 tersebut turun 4.7%, padahal nilai aset bersih perusahaan masih tumbuh 4.6%.
Namun disisi lain, respon investor terhadap kinerja Berkshire (yang tercermin pada kenaikan atau penurunan harga sahamnya di pasar) juga akan berlebihan ketika perusahaan menghasilkan kinerja yang bagus. Perhatikan lagi tabel diatas, pada tahun 2006 laba Berkshire tercatat US$ 11.0 milyar, tumbuh cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya US$ 8.5 milyar. Dan nilai aset bersih perusahaan juga naik 18.4% pada tahun tersebut, atau jauh lebih baik dibanding tahun 2005 yang hanya 6.4%. Dan hasilnya, saham Berkshire di tahun 2006 naik 24.1%, atau lebih tinggi dibanding kenaikan nilai riil perusahaan. Pada tahun 2013, harga saham Berkshire juga naik 32.7%, atau lebih tinggi dibanding kenaikan nilai riil perusahaan yang hanya 18.2%.
And, believe it or not, kalau kita cek lagi data yang lebih lama, maka sejak dulu ceritanya juga sama begitu: Kenaikan atau penurunan harga saham Berkshire di market selalu lebih signifikan dibanding kenaikan atau penurunan nilai riil perusahaan. Pada tahun 1991, nilai aset bersih Berkshire sukses naik 7.4%. Tapi masalahnya, kenaikan nilai aset bersih tersebut lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yakni 1990, yang mencapai 44.4%, sehingga jelas pada tahun 1991 tersebut Berkshire mengalami penurunan laba bersih. Dan alhasil, sahamnya turun 23.1%. Kemudian pada tahun 1976, Berkshire mencatat kenaikan nilai aset bersih 59.3%, atau jauh lebih tinggi dibanding kenaikan tahun sebelumnya yang hanya 21.9% (jadi laba bersih Berkshire di tahun 1976 tersebut melejit dibanding tahun sebelumnya). Dan alhasil, sahamnya juga sukses terbang bahkan dengan kenaikan yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 129.3%.
Okay, Pak Teguh, so what’s your point?
Contoh diatas membuktikan bahwa salah satu sifat dasar investor di pasar modal adalah selalu bereaksi secara berlebihan terhadap baik atau buruknya kinerja sebuah perusahaan. Yep, pasar modal adalah gudangnya drama queen! Jadi kalau sebuah perusahaan kinerjanya tampak bagus banget, dimana labanya melejit, dan ROE-nya juga sangat besar, maka orang-orang akan memburu sahamnya sehingga harganya bisa naik secara sangat signifikan, katakanlah hingga lebih dari 100% dalam tempo yang relatif singkat. Tapi sebaliknya, ketika perusahaan mencatat penurunan laba sedikiiit saja, maka sahamnya bisa turun gila-gilaan, apalagi jika IHSG-nya juga lagi turun. Pada tahun 2011 lalu ketika sektor batubara lagi jaya-jayanya, harga-harga saham perusahaan seperti Bukit Asam (PTBA), Adaro Energy (ADRO), Indika Energy (INDY), Bumi Resources (BUMI), Resource Alam Indonesia (KKGI), hingga Garda Tujuh Buana (GTBO), semuanya naik gila-gilaan (naik lebih tinggi dibanding kenaikan nilai riil perusahaan) hingga PBV-nya bisa mencapai 7, 8, atau bahkan 10 kali, alias amat sangat muahal.
Tapi di tahun-tahun berikutnya, setelah harga batubara kemudian turun dan perusahaan-perusahaan tersebut mengalami penurunan laba atau bahkan kerugian, maka anda bisa lihat sendiri bukan, seperti apa nasib saham-saham batubara saat ini? Pada tahun 2011 lalu saham GTBO sukses naik dari 109 hingga 6,000-an (naik berapa persen tuh? Silahkan hitung sendiri) hanya dalam tempo setahunan. Tapi seiring meredupnya bisnis batubara, kesininya dia anjlok tanpa ampun dan sekarang mati di 260 (di-suspend. Kalo gak disuspend mungkin bisa turun sampe gocap karena perusahaannya sendiri berhenti beroperasi).
Nah, kalau untuk sektor komoditas seperti batubara, maka memang sulit sekali untuk berharap kapan perusahaan-perusahaan di sektor ini akan kembali menunjukkan kinerja yang positif, karena kita tidak pernah kapan harga batubara akan naik kembali.
Namun untuk perusahaan di sektor-sektor lain yang lebih sustainable seperti consumer goods, semen, perdagangan, perbankan, ataupun konglomerasi (bergerak di banyak bidang usaha, contohnya Astra International/ASII), maka dengan catatan manajemennya jujur dan kompeten, biasanya kinerja mereka secara keseluruhan akan bagus dalam jangka panjang. Tapi seperti halnya Berkshire Hathaway, pada tahun-tahun tertentu mungkin saja laba bersih mereka sedikit turun, dan alhasil pertumbuhan aset bersih mereka pada tahun tersebut menjadi lebih lambat dibanding sebelumnya. Dan ketika itulah, apalagi jika IHSG-nya mendukung (baca: turun), maka harga saham dari perusahaan-perusahaan tersebut akan turun gila-gilaan, mungkin hingga pada level yang unbelievably undervalue.
And maybe, that’s our opportunity!
Karena, jika kinerja perusahaan pada akhirnya akan kembali baik suatu waktu nanti, maka harga sahamnya juga sudah pasti akan kembali naik kencang! Ada banyak kasus dimana harga sebuah saham turun drastis ketika kinerja perusahaannya tampak buruk, tapi kemudian naik sangat tinggi ketika kinerja tersebut kembali positif. Pada tahun 2011, Elnusa (ELSA) menderita kerugian Rp43 milyar, sehingga ekuitasnya juga turun tipis dari Rp1.96 trilyun menjadi Rp1.91 trilyun. Tapi sahamnya? Tenggelam tanpa ampun dari 350-an hingga mentok di 170-an (turun hampir 50%), dimana pada harga 170 itu PBV ELSA hanya 0.6 kali. Namun pada tahun 2012 dan 2013, ELSA kembali membukukan laba bersih selama dua tahun berturut-turut, dan alhasil sahamnya juga kembali terbang hingga sempat menembus 700 pada Agustus 2014 lalu.
Jadi jika seseorang membeli ELSA di harga 170 – 200, karena ia mampu melihat penurunan saham ELSA sebagai suatu peluang (bahkan meski penurunan tersebut memang disebabkan oleh kinerja perusahaan yang buruk), dan ia kemudian sukses menjualnya di harga 700, sekitar satu setengah tahun kemudian, maka berapa persen keuntungannya?
Jadi apa kesimpulannya?
Seperti yang anda ketahui, pada tahun 2015 ini ada banyak perusahaan yang mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan. Jika tahun 2013 dan 2014 lalu hanya perusahaan-perusahan batubara dan CPO yang mengalami penurunan laba bersih, maka tahun ini bahkan perusahaan sekelas Astra sekalipun mengalami penurunan laba bersih (sementara Bumi Resources malah udah kelaut). However, jika anda mampu mengidentifikasi saham-saham yang 1. Meski kinerja perusahaannya pada saat ini tampak buruk, namun pada akhirnya nanti akan bagus kembali, 2. Sahamnya sudah jatuh sedemikian parahnya, sehingga valuasinya benar-benar sudah sangat murah, maka anda selanjutnya tinggal tunggu sampai perusahaan yang bersangkutan merilis kinerja yang lebih baik di laporan keuangannya, kemudian sikaaat! Sebab, ketika itulah sahamnya kemungkinan besar akan terbang. Diatas penulis sudah menyebutkan ERAA, WIIM, dan SMBR, yang belakangan ini sahamnya terus turun karena kinerja perusahaannya memang kurang oke (diluar tiga itu, anda mungkin punya pilihan anda sendiri). Tapi ketika pada akhirnya nanti mereka kembali membukukan kenaikan laba bersih yang signifikan, then you know what to do!
Lalu bagaimana dengan IHSG yang belakangan ini lagi turun? Well, kalau IHSG turun maka mungkin saham yang sudah anda beli tersebut akan tetap terseret turun, tapi mungkin juga tidak. Antara Juni hingga Desember 2013, IHSG turun dari 5,250 hingga 4,200. Namun saham ELSA pada periode yang sama justru tetap naik dari 250 sampai 350, karena kinerja perusahaan memang memuaskan. Ketika koreksi pasar akhirnya selesai pada awal tahun 2014 dan IHSG kembali merangkak naik, kenaikan ELSA tidak terbendung lagi, dan dia sukses mencapai 700-an hanya dalam waktu beberapa bulan berikutnya (meski belakangan turun lagi karena biar bagaimanapun, harga 700-an itu sudah kelewatan mahalnya).
Dalam hal ini penulis jadi paham kata-kata Mbah Warren: ‘Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful’. Ketika sebuah perusahaan bagus mengalami kinerja yang tidak memuaskan pada satu waktu tertentu, maka investor biasanya akan khawatir dengan masa depan perusahaan, dan alhasil sahamnya akan terjun bebas. Tapi bagi value investor yang cukup jeli, maka mungkin justru disitulah ada kesempatan. Sebaliknya, ketika sebuah perusahaan mencatat kinerja yang sangat baik pada satu waktu tertentu, maka investor akan optimis terhadap ramai-ramai memburu sahamnya dan alhasil sahamnya akan naik tinggi hingga valuasinya menjadi sangat mahal. Tapi jika seorang value investor sudah memegang saham tersebut sejak awal, maka mungkin justru itulah saatnya untuk keluar.

Jadi di pasar modal itu, sebuah saham kalau gak terbang sekalian ya jeblok sekalian. Mayoritas investor tidak pernah bersikap biasa-biasa saja terhadap suatu saham ketika kinerja perusahaannya tampak bagus atau buruk (apalagi jika IHSG-nya juga sedang bullish atau bearish), because almost everybody is a drama queen in the stock market. However, sebagai value investor, maka anda hanya perlu menggunakan sedikit logika saja: Ketika harga sebuah saham sudah sedemikian murahnya, sementara perusahaannya masih beroperasi dengan normal dan masih menghasilkan keuntungan, tidak sedang tersangkut masalah/kasus apapun, dan manajemennya juga jujur serta kompeten, maka apa yang perlu dikhawatirkan? Seorang anak kecil berusia 3 tahun mungkin harus diberi tahu oleh ibunya bahwa lecet kecil di lututnya itu tidak akan terasa perih kalau terkena air. But hey, anda sudah dewasa bukan?

Pasar turun: Saatnya belanja! Dapatkan informasi mengenai menu belanja pilihan (baca: saham-saham berfundamental bagus)

Tips & Strategi Menghadapi Penurunan IHSG

Setelah sempat ‘absen’ dari peristiwa koreksi yang signifikan sepanjang tahun 2014 lalu, pada pertengahan tahun 2015 ini IHSG kembali membara. Ketika artikel ini ditulis, posisi IHSG tercatat 5,055, atau turun total 3.2% dibanding posisi awal tahun yakni 5,227. Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dll yang memang tidak begitu bagus (kita sudah berkali-kali membahasnya di website ini, coba baca lagi artikel-artikel sejak Maret lalu), maka penurunan ini sama sekali tidak mengejutkan dan sejak awal memang sudah diantisipasi. Jika tidak ada perubahan fundamental kedepannya, kemungkinan kondisi ini akan terus berlanjut, dan alhasil IHSG pada tahun 2015 ini bisa kembali ditutup turun dibanding tahun sebelumnya. Pertanyaannya, what should we do?

IHSG sebenarnya ‘secara resmi’ sudah memulai periode koreksinya sejak akhir April lalu, dimana ia tiba-tiba saja turun terus menerus dari puncaknya 5,512 hingga 5,086, yang kemungkinan karena dipicu oleh buruknya kinerja pada emiten di Kuartal I 2015. Karena penurunannya sangat signifikan (lebih dari 8% hanya dalam tempo seminggu), maka tak lama kemudian dia rebound cepat hingga sempat naik 5,300-an lagi. Tapi yah.. karena memang belum ada peristiwa apapun yang secara fundamental bisa mengubah outlook perekonomian Indonesia kedepannya (kemarin ada perubahan outlook rating dari S&P, tapi rating itu sendiri masih belum berubah), maka sangat wajar jika kemudian IHSG longsor kembali.
Dalam acara investor meeting dan gathering dengan tema ‘Strategi Investasi Menghadapi Bear Market’ yang penulis selenggarakan di Jakarta, tanggal 23 Juni lalu (ketika IHSG mengalami rebound-nya dengan naik lagi ke 5,300-an), penulis menyampaikan setidaknya tiga point utama terkait perekonomian nasional.
  1. Pertumbuhan ekonomi mulai slow down, dimana bisnis terasa lesu di segala sektor, para emiten di BEI mengalami penurunan laba, inflasi masih tinggi di level 6.9%, dan Rupiah masih lemah di level Rp13,000-an per USD.
  2. Namun demikian, kondisi ekonomi masih jauh dari krisis. Tapi jika tidak ada perubahan terkait kebijakan pemerintah dll, maka bukan tidak mungkin krisis tersebut pada akhirnya akan terjadi.
  3. Berdasarkan pengalaman, ketika perekonomian mulai menunjukkan trend slow down, maka kalaupun nantinya ada perubahan yang positif, trend tersebut tetap tidak akan langsung berbalik arah lagi dalam waktu dekat melainkan butuh waktu minimal setahunan.

Nah, penulis tidak tahu apakah saya sudah pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi saya akan menyampaikannya lagi disini: Dalam jangka pendek (kurang dari tiga bulan), harga sebuah saham bisa naik atau turun terlepas dari apakah fundamentalnya bagus atau jelek, juga tak peduli valuasinya mahal atau murah. Namun dalam jangka menengah hingga panjang (diatas 3 bulan, atau diatas satu tahun), maka harga saham akan selalu mengikuti fundamental serta valuasinya. Dalam tempo kurang dari 3 bulan, saham Bank BRI (BBRI) atau Bumi Resources (BUMI) bisa saja bergerak saja naik atau turun, sehingga dalam jangka pendek tersebut seseorang mungkin akan mengalami kerugian dari BBRI, dan malah meraup keuntungan dari BUMI. Namun dalam jangka panjang, dalam hal ini beberapa tahun terakhir, saham BBRI mampu untuk naik terus, sementara BUMI sebaliknya turun terus, dan itu tentu bukan tanpa alasan: Ketika BBRI mampu untuk mencetak laba bersih secara konsisten dari kuartal ke kuartal, BUMI justru terus mengalami kerugian yang pada akhirnya membuat ekuitasnya menjadi negatif alias defisiensi modal (jadi secara pembukuan, BUMI ini gak ada nilainya sama sekali).

Logo Bank BRI, perusahaan dengan track record pertumbuhan aset bersih tertinggi di BEI dalam 5 tahun terakhir

Cara kerja yang sama juga berlaku untuk IHSG: Dalam jangka pendek, IHSG bisa naik atau turun terlepas dari dari apakah kinerja perusahaan-perusahaan didalamnya terbilang bagus atau jelek, juga tak peduli valuasinya mahal atau murah. Namun dalam jangka panjang (atau minimal menengah), pergerakan IHSG pada akhirnya akan mengikuti fundamental perekonomian nasional. Pertanyaannya sekarang, berdasarkan pengamatan anda sendiri di lapangan, perkembangan bisnis di Indonesia pada saat ini masih lancar-lancar saja, atau memang lagi agak seret?
Okay, Mas Teguh, jadi apakah itu berarti anda mengatakan bahwa IHSG secara keseluruhan akan turun pada tahun 2015 ini? Ya belum tentu juga. Seperti yang sudah penulis sampaikan di artikel ini, perekonomian akan improve kedepannya jika 1. Pemerintah bersedia melonggarkan beberapa kebijakannya terkait perekonomian (terutama terkait subsidi dan pajak), 2. Harga komoditas terutama CPO dan batubara kembali naik, atau 3. Pembangunan infrastruktur segera direalisasikan. Jika salah satu saja dari tiga point tersebut terjadi, maka ekonomi bisa tumbuh diatas 5% kembali, dan demikian pula IHSG akan punya alasan untuk melaju kencang kembali seperti tahun 2014 lalu.
Tapi mari kita ambil skenario terburuknya: Jika sama sekali tidak ada perubahan, dan IHSG pada tahun 2015 ini benar-benar tumbuh secara negatif, maka apa yang harus kita lakukan?
Sebelum kita bicara soal strategi, penulis akan mengajak anda untuk lihat-lihat lagi pergerakan IHSG di masa lalu, dan poin utamanya adalah ini: Meski indeks-indeks saham di seluruh dunia, termasuk IHSG pada akhirnya akan terus naik dalam jangka puanjaaaanng, namun pada tahun-tahun tertentu mereka bisa saja turun. Antara tahun 1997 hingga 2014, IHSG mengalami penurunan 6 kali, yakni tahun 1997, 1998, 2000, 2001, 2008, dan 2013. Antara tahun 1997 hingga 2001, IHSG mengalami penurunan hampir setiap tahunnya karena memang Indonesia ketika itu sedang dilanda krisis moneter. Pada tahun 2008, IHSG sekali lagi turun karena efek dari krisis global, dan tahun 2013 IHSG turun karena perekonomian nasional mulai mengalami slow down setelah terus menerus ekspansi selama hampir 10 tahun sebelumnya. Kita pernah membahas soal itu disini.
Sementara pada tahun-tahun lainnya, IHSG naik terus. Namun intinya adalah, selama 18 tahun terakhir (dari akhir tahun 1996 hingga akhir tahun 2014), IHSG secara keseluruhan mencatat kenaikan pada 12 tahun tertentu, dan turun pada 6 tahun sisanya. Jadi kalau dirata-ratakan, dengan tidak menyertakan dividen, IHSG mengalami penurunan rata-rata setiap tiga tahun sekali. Namun pola pergantian antara kenaikan dan penurunan IHSG tersebut bersifat random. Jadi IHSG bisa saja naik terus selama lima tahun berturut-turut, dan baru turun lagi pada tahun keenam, atau sebaliknya, IHSG turun dua tahun berturut-turut, dan baru naik lagi pada tahun ketiga.
Dan percaya atau tidak, kalau kita ambil contoh pergerakan indeks S&P 500 di Amerika yang ditampilkan di Annual Letter-nya Berkshire Hathaway, maka polanya juga hampir sama begitu. Selama 50 tahun terakhir, yakni antara tahun 1964 – 2014, S&P secara keseluruhan turun pada 10 tahun tertentu, dan naik pada 40 tahun lainnya, dengan pola yang random. Longest streak bagi S&P terjadi antara tahun 1990 – 1999, dimana ia naik terus selama 9 tahun berturut-turut, tapi pada akhirnya ‘dibayar lunas’ oleh penurunan selama 3 tahun berikutnya.
Jadi bisa disimpulkan bahwa S&P mengalami koreksi rata-rata lima tahun sekali. However, data kenaikan/penurunan S&P diatas sudah termasuk menyertakan dividen. Jika dividen ini dianggap tidak ada, maka mengingat pada tahun-tahun tertentu kenaikannya hanya 1 – 3%, S&P sejatinya turun lebih dari 10 kali dalam 50 tahun terakhir, totalnya mungkin sekitar 15 kali. Dengan demikian, dengan tidak menyertakan dividen, maka S&P 500 juga mengalami penurunan rata-rata tiga tahun sekali, atau sama dengan IHSG.
Intinya sih, penulis hendak menyampaikan bahwa kalaupun benar IHSG akan turun pada tahun 2015 ini, maka itu hal yang biasaaaa… Karena memang sudah sewajarnya bagi IHSG untuk turun, rata-rata setiap tiga tahun sekali. Malah justru, dengan penurunan tersebut maka ruang gerak IHSG akan menjadi lebih terbuka kedepannya. Pada tahun 2013 lalu penulis juga sempat kalang kabut setelah IHSG anjlok dari 5,250 sampai 4,000, tapi ketika itu saya menyakinkan diri sendiri bahwa kalaupun pada tahun 2013 tersebut IHSG turun, maka itu justru bagus untuk kedepannya. Dan memang benar, IHSG turun 1% saja pada 2013 tersebut, namun langsung naik 22.3% di tahun berikutnya yakni 2014. Terkait perekonomian yang melambat akhir-akhir ini, meski memang menyebalkan, namun itu juga sesuatu yang biasa-biasa saja karena itu hanyalah bagian dari siklus. Maksud penulis adalah, ketika perekonomian terus berlari kencang hingga mencapai puncaknya pada tahun 2011 lalu, anda bersikap biasa-biasa saja bukan? Jadi kenapa juga sekarang kita harus mengeluh ketika gilirannya ekonomi mengalami perlambatan?
Okay, tapi itu belum menjawab pertanyaannya: Sebagai investor, apa yang harus saya lakukan dalam kondisi sekarang?
Dalam acara gathering dua minggu lalu, ada tiga poin strategi yang penulis share: 1. Trading cepat memanfaatkan rebound IHSG, 2. Tetap membeli saham-saham berfundamental bagus, dan 3. Just hold your cash and wait, until the stock prices are really discounted. Kalau penulis sendiri, kami sudah cuci gudang pada minggu ketiga April lalu, atau persis sesaat sebelum IHSG jatuh pada akhir April (kami sudah menginformasikan hal ini ke member buletin bulanan), sehingga kami pada saat ini berada dalam posisi free untuk menerapkan salah satu dari tiga strategi diatas, atau kombinasi dari ketiganya.
Okay, sekarang coba kita bahas satu per satu, mulai dari trading cepat memanfaatkan rebound IHSG. Kuncinya ini: Ketika IHSG mengalami penurunan selama periode waktu tertentu, let say selama beberapa bulan, maka penurunannya tidak akan terjadi secara terus menerus melainkan juga akan diselingi rebound-rebound, seperti yang memang terjadi sepanjang Mei kemarin dimana IHSG naik hingga 5,300-an (setelah sebelumnya anjlok sampai 5,086). Nah, Kita bisa memanfaatkan rebound tersebut untuk trading saham-saham bluechip berfundamental bagus. Caranya, anda hold posisi cash, dan tunggu pasar ‘kebakaran’ lagi seperti pada akhir April lalu. Jika pada akhir April lalu IHSG turun sampai 5,000-an, maka pada koreksi berikutnya IHSG mungkin akan turun sampai 4,900-an.
Dan kebetulan, ketika artikel ini ditulis, IHSG memang sedang kebakaran lagi, jadi mungkin anda bisa menerapkan strategi hit and run diatas. Bagi anda yang masih dalam posisi pegang barang, maka anda juga bisa memanfaatkan moment rebound IHSG untuk keluar dulu (jadi jangan keluar pas IHSG anjlok lagi seperti sekarang)
Meski demikian strategi ini memiliki kelemahan: Kita tentu tidak bisa memprediksi kapan persisnya IHSG akan rebound. Jadi jika timing-nya ternyata meleset, maka anda mungkin tetap harus cut loss jika ternyata IHSG tetap melanjutkan penurunannya ketika anda sudah terlanjur masuk. Beberapa saham juga mungkin tidak akan serta merta naik ketika IHSG benar-benar mengalami rebound, melainkan tetap lanjut turun. Karena itulah, anda mungkin bisa menerapkan strategi berikutnya, yakni tetap koleksi saham-saham berfundamental bagus.
Seperti yang sudah penulis sampaikan sebelumnya, ketika kinerja para emiten di BEI terbilang buruk, maka selalu ada saja perusahaan yang kinerjanya masih oke, dan valuasi sahamnya juga masih rendah. Ketika IHSG turun, maka saham-saham yang turun duluan adalah yang fundamentalnya buruk, atau fundamentalnya bagus tapi valuasinya sejak awal sudah mahal.

Sementara untuk saham-saham berfundamental bagus dan valuasinya murah, mereka dalam jangka pendek mungkin akan ikut terseret turun, tapi mungkin juga mereka tetap mampu untuk naik atau minimal bertahan di posisinya. Dan kalaupun mereka ikut terseret turun, namun pada akhirnya mereka akan naik lagi dengan cepat, yakni ketika masa koreksi IHSG berakhir (IHSG boleh turun sampai berapa saja, tapi pada akhirnya dia akan naik lagi). Contoh yang penulis ingat adalah saham Metrodata Electronics (MTDL). Antara Mei – September 2013, saham MTDL ikut terseret oleh penurunan IHSG yang ketika itu anjlok ke level 4,000-an, dengan turun dari 330-an hingga 200 pas. Namun ketika koreksi IHSG berakhir, MTDL juga dengan cepat naik lagi karena memang tidak ada masalah dengan fundamentalnya.

Untuk strategi nomor dua ini, anda nyaris tidak perlu memperhatikan pergerakan IHSG sama sekali (fokus pada sahamnya saja). However, problemnya adalah, dalam kondisi dimana sebagian besar emiten mencatatkan kinerja yang buruk, maka untuk saat ini tidaklah mudah untuk bisa menemukan saham seperti MTDL ini. Okay, beberapa emiten memiliki kinerja yang bagus pada Kuartal I 2015 lalu. Tapi jika perlambatan pertumbuhan ekonomi belakangan ini terus berlanjut, maka siapa yang bisa menjamin bahwa mereka masih akan mencatatkan kinerja yang sama bagusnya pada Kuartal II nanti?
Karena itulah, anda juga bisa pilih strategi nomor tiga: Just hold your cash and wait, tentunya sambil terus memperhatikan perkembangan ekonomi di lapangan.
Karena kalau berdasarkan pengalaman, ketika IHSG turun karena penyebab yang jelas (penyebab kali ini adalah terkait perkembangan ekonomi dalam negeri yang memang tidak menggembirakan), maka penurunan tersebut tidak akan langsung selesai dalam waktu dekat. Pada tahun 2013 lalu, IHSG butuh waktu tiga bulan untuk turun dari 5,200 sampai 3,900. Pada tahun 2008, IHSG juga butuh waktu sembilan bulan untuk turun dari 2,800-an hingga 1,300-an.
Sementara untuk koreksi ini, dihitung sejak akhir April lalu, maka koreksinya baru berjalan selama satu setengah bulan. Penulis tidak tahu IHSG akan turun sampai berapa (actually we have our own estimates, but not to be openly published). Tapi kalau melihat saham-saham bagus di BEI yang valuasinya, setelah dihitung, belum begitu murah, sementara yang sudah murah tapi barangnya memang gak bagus, maka IHSG kemungkinan besar melanjutkan penurunannya minimal dalam beberapa bulan kedepan, sekali lagi, jika tidak terjadi peristiwa tertentu yang secara signifikan bisa mengubah outlook perekonomian menjadi lebih positif.
Strategi ketiga ini adalah yang paling aman, tapi sekaligus paling membosankan serta butuh kekuatan mental, even we cannot do it. Selain itu strategi ini tetap saja ada kekurangannya: Bagaimana jika kita ternyata hanya terlalu pesimis terhadap perkembangan pasar? Bagaimana jika IHSG ternyata langsung pulih lagi besok? Karena pada akhirnya, tidak ada seorangpun yang bisa memprediksi arah pergerakan IHSG maupun saham-saham didalamnya, bukan begitu?

Jadi kami sendiri lebih suka mengkombinasikan strategi ketiga ini dengan strategi pertama dan kedua diatas, contohnya dengan tetap memegang Sri Rejeki Isman (SRIL) (strategi nomor dua) yang, ketika artikel ini ditulis, ternyata mampu untuk bertahan di posisinya meski IHSG turun.

Sudah tentu, ketika pasar sedang tidak bersahabat, maka tetap saja sangat sulit bagi siapapun untuk bisa mencetak keuntungan, tidak peduli seperti apa strategi yang diterapkan. Namun demikian, jika pada tahun ini porto anda minus 5% tapi disisi lain IHSG turun 10%, maka anda sejatinya masih mencatatkan kinerja investasi yang lebih baik dibanding kinerja rata-rata investor di seluruh jagat BEI, dan nilai porto anda tetap berpeluang untuk kembali tumbuh signifikan di tahun berikutnya. Just remember, kita tidak invest di saham untuk sekali ini saja, melainkan untuk seterusnya. Dan jika pada tahun ini IHSG tidak menghasilkan kinerja yang memuaskan, maka secara statistik itu justru bagus karena IHSG akan lebih ‘enteng’ untuk menanjak naik pada tahun berikutnya. At the end, we’ve done this before, so why [...]

Trada Maritime

Pada Kuartal I 2015, Trada Maritime membukukan laba bersih (yang dapat diatribusikan kepada entitas induk) sebesar US$ 0.4 juta, dimana meski angka tersebut naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun tetap saja sangat kecil dibandingkan dengan nilai ekuitas perusahaan sebesar US$ 86.7 juta. Namun demikian, cerita menarik tentang TRAM ini mungkin bukan terkait dengan kinerjanya tersebut, melainkan terkait sahamnya yang pada saat ini terpuruk di level 50-an, padahal tidak sampai setahun yang lalu dia sempat berada di level 1,800-an. Kalau melihat laporan keuangannya yang, meski memang tidak bagus, tapi juga tidak jelek-jelek amat (perusahaannya masih menghasilkan keuntungan, dan ekuitasnya juga masih positif), dan PBV-nya pada harga sekarang tinggal 0.5 kali, maka mungkin timbul pertanyaan: Apakah ada opportunity disini?

TRAM adalah salah satu perusahaan penyewaan kapal dan jasa transportasi laut yang tergolong baru di Indonesia. Perusahaan berdiri pada tahun 1998 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2000, ketika itu dengan memperoleh kontrak dari PT Exspan Nusantara untuk pekerjaan floating storage & offloading (FSO). Tahun 2003, perusahaan membeli kapal tanker untuk mengangkut muatan cair (liquid cargo), dalam hal ini aspal cair. Pada tahun 2008 perusahaan kembali menambah armadanya yakni beberapa unit kapal motor dan tongkang untuk mengangkut muatan kering (dry cargo) seperti batubara dll. Pada tahun 2008 itu pula perusahaan untuk pertama kalinya terdaftar di BEI. Pada akhir tahun 2014, TRAM secara keseluruhan mengoperasikan total 20 kapal yang terdiri dari 5 kapal FSO, 5 kapal pendukung untuk FSO, 3 kapal liquid cargo, 5 bulk carrier, 1 kapal penumpang, dan 1 kapal pengangkut LNG. TRAM hingga saat ini memiliki beberapa pelanggan jangka panjang yang kebanyakan merupakan perusahaan minyak dan gas, dan batubara.
Nah, setelah sampai pada paragraf diatas, maka anda mungkin tidak melihat sesuatu yang istimewa dari TRAM ini. Namun satu hal yang membedakan TRAM dengan banyak perusahaan kapal lainnya di Indonesia adalah, belakangan ini TRAM dilanda oleh setidaknya dua peristiwa luar biasa yang mengganggu operasional perusahaan, yang pada akhirnya menyebabkan kinerja perusahaan mengalami penurunan dalam setahunan terakhir. Berikut adalah penjelasan dari peristiwa luar biasa tersebut.
                                   
1. Musibah kebakaran kapal ‘Lentera Bangsa’
Pada bulan Juni dan Juli 2010, TRAM memperoleh pinjaman dari International Finance Corporation (IFC) dan Bank of Tokyo – Mitsubishi UFJ senilai total US$ 50 juta, yang digunakan untuk membiayai modifikasi kapal FSO ‘Lentera Bangsa’ milik perusahaan. Perusahaan selanjutnya akan membayar utang tersebut dengan cara menyicil setiap tiga bulan. Namun pada September 2011, kapal Lentera Bangsa terbakar hingga terpaksa berhenti beroperasi sama sekali. Alhasil sejak September 2011 tersebut, perusahaan gagal untuk memenuhi kewajibannya untuk menyicil pembayaran utang kepada IFC maupun Bank of Tokyo.
Sebelum mengalami musibah kebakaran, kapal Lentera Bangsa sudah diasuransikan ke PT Asuransi Dayin Mitra, Tbk (ASDM) dan PT Asuransi Purna Artanugraha, dengan broker asuransi PT Marsh Indonesia, dengan nilai total pertanggungan maksimal hingga US$ 75 juta. Namun sejak kapal Lentera Bangsa terbakar sampai dengan saat ini, nilai pertanggungan tersebut masih belum dibayarkan oleh perusahaan asuransi. Permasalahan menjadi rumit setelah pihak IFC dan Bank of Tokyo, pada Mei 2014, sempat hendak melakukan ‘segala cara’ agar TRAM segera membayar utangnya, namun untungnya itu tidak dilakukan karena manajemen TRAM berhasil meyakinkan mereka bahwa perusahaan bukannya tidak mau membayar utang, namun masalahnya terletak di klaim asuransi yang belum dibayar. Hingga saat ini pihak TRAM bersama-sama dengan IFC dan Bank of Tokyo masih dalam posisi berdiskusi dengan pihak perusahaan asuransi untuk sesegera mungkin menyelesaikan klaim yang sudah diajukan (TRAM sudah mengajukan klaim tersebut pada Juni 2014).
2. Kasus penyelundupan minyak mentah, yang melibatkan kapal ‘Jelita Bangsa’
Pada Juni 2014, kapal FSO ‘Jelita Bangsa’ milik perusahaan ditangkap oleh petugas bea dan cukai di Perairan Kepulauan Riau, karena diduga telah memindahkan muatan minyak ke kapal lain secara ilegal. Akibat kasus ini, kapal Jelita Bangsa ditahan oleh pihak berwajib dan praktis berhenti beroperasi.
Investigasi serta penyidikan segera dilakukan oleh pihak berwenang. Dan pada akhir Maret 2015, penyidikan terhadap kasus ini sudah selesai dilakukan, dan hasilnya adalah pihak penyidik menetapkan status tersangka kepada nahkoda dan dua orang awak kapal, namun pihak TRAM sebagai pemilik kapal tidak turut menjadi tersangka karena tiga orang tersangka tersebut bertindak diluar wewenang perusahaan. Meski demikian, hingga saat ini kapal Jelita Bangsa masih tetap ditahan oleh pihak berwajib sebagai barang bukti.
Okay. Kalau anda jeli, maka anda akan menemukan beberapa hal yang mengganjal terkait dua peristiwa diatas. Yang pertama, kapal Lentera Bangsa terbakar pada September 2011, atau hampir empat tahun yang lalu, dan sejak saat itu pula perusahaan berhenti membayar cicilan utangnya ke IFC dan Bank of Tokyo. Lalu kenapa manajemen TRAM pada saat itu tidak langsung mengajukan klaim ke pihak asuransi, melainkan baru melakukannya pada bulan Juni 2014? Dan itupun setelah perusahaan menerima protes dari IFC dan Bank of Tokyo sebulan sebelumnya (Mei 2014), gara-gara mereka kelamaan menunggak cicilan pembayaran utang. Seharusnya kalau pihak TRAM sudah mengajukan klaim ke perusahaan asuransi pada bulan September 2011, maka pada saat ini klaim tersebut sudah dibayarkan. Namun karena TRAM baru mengajukan klaim tersebut pada bulan Juni 2014, maka pihak perusahaan asuransi hingga saat ini kemungkinan masih melakukan investigasi/pemeriksaan terhadap klaim tersebut, karena nilai pertanggungan sebesar US$ 75 juta tentu saja bukan jumlah yang kecil untuk bisa langsung dibayarkan begitu saja.
Anyway, karena sampai saat ini TRAM masih belum menerima pembayaran klaim dari perusahaan asuransi, maka di laporan keuangannya sejak tahun 2012 lalu, TRAM dua kali membukukan kerugian non operasional karena taksiran penurunan nilai aset (‘aset’ disini adalah kapal Lentera Bangsa), yakni sebesar US$ 12 juta pada tahun 2012, dan US$ 23 juta pada tahun 2014, sehingga totalnya adalah US$ 35 juta. Ditambah dengan biaya-biaya yang harus keluar karena berurusan dengan IFC dan Bank of Tokyo, maka perusahaan membukukan kerugian (mayoritas hanya kerugian diatas kertas, bukan kerugian operasional) yang nyaris beruntun selama tiga tahun terakhir, sehingga nilai ekuitas TRAM menyusut tajam dari US$ 152 juta di akhir tahun 2011, menjadi hanya US$ 86 juta pada Kuartal I 2015.
Nah, dari sini tampak jelas bahwa ketika pada akhirnya nanti klaim asuransinya dibayarkan (US$ 75 juta tadi adalah maksimalnya, jadi realisasinya kemungkinan akan kurang dari itu), maka nilai ekuitas TRAM akan melejit kembali, dan valuasi sahamnya yang tampak murah pada saat ini (PBV-nya hanya 0.5 pada harga Rp55 per saham) akan menjadi jauh lebih murah lagi. Namun sekali lagi pertanyaannya, kenapa pihak TRAM baru mengajukan klaim pada bulan Juni 2014, atau nyaris tiga tahun setelah peristiwa kebakarannya?
Yang kedua, terkait kasus penyelundupan minyak yang melibatkan kapal Jelita Bangsa. Ketika dikatakan bahwa perusahaan tidak terlibat penyelundupan tersebut, maka kenapa kok kapal Jelita Bangsa-nya sampai sekarang masih ditahan oleh pihak yang berwajib? Dalam materi public expose insidentil yang digelar perusahaan untuk menjelaskan masalah tersebut, juga tidak disebutkan adanya upaya tertentu yang dilakukan perusahaan agar kapal Jelita Bangsa bisa dibebaskan seceparnya, agar kapal tersebut kemudian bisa kembali beroperasi dan kembali memberikan kontribusi pendapatan terhadap perusahaan, melainkan hanya akan menunggu proses hukum. Perusahaan lebih menekankan kepada poin bahwa meski kapal Jelita Bangsa masih belum bisa beroperasi kembali, namun kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan hanya sekitar 5% alias tidak terlalu besar, sehingga kegiatan operasional TRAM tidak akan terlalu terganggu. However, faktanya adalah pendapatan TRAM pada Kuartal I 2015 anjlok 44.2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan itu tentu saja bisa dijelaskan: Kalau penulis adalah salah satu pelanggan TRAM, maka sebelum TRAM bisa benar-benar menyelesaikan kasus hukumnya terkait kapal Jelita Bangsa, saya juga mendingan pilih perusahaan kapal lainnya dulu lah. Saya tentu gak mau ambil risiko dianggap turut ‘terlibat’ dengan kasus penyelundupan atau apapun yang dituduhkan kepada perusahaan.
Diluar dua masalah yang sudah dibahas diatas, maka cerita yang lebih seru terkait TRAM ini adalah mengenai sahamnya. Seperti yang sudah disebut diatas, pada September 2011 TRAM mengalami force majeure yakni kebakaran kapal Lentera Bangsa, yang notabene merupakan salah satu armada utama (dan termahal) milik perusahaan. Biasanya kalau ada peristiwa yang bersifat musibah seperti ini, maka saham dari perusahaan yang bersangkutan akan anjlok (karena investor pada kabur). Namun pada TRAM, yang terjadi justru sebaliknya. Pada September 2011 tersebut, saham TRAM yang sebelumnya sideways cukup lama di rentang 550 – 600, tiba-tiba saja terbang hingga menembus 1,000 pada Januari 2012, dengan volume transaksi yang sangat besar. Dengan PBV yang sudah menembus 6 kali ketika itu, sementara perusahaannya baru saja mengalami musibah, dan kinerja TRAM juga sama sekali tidak bisa dikatakan istimewa, maka jelas bahwa kenaikannya tidak wajar. Apalagi disisi lain volume transaksinya kelewat besar (mencapai 100 juta lembar saham per hari) untuk ukuran saham yang sama sekali tidak pernah masuk radar investor sebagai ‘saham yang mewakili perusahaan dengan fundamental yang cukup baik, sehingga bisa dijadikan pilihan investasi’. Sejak tahun 2010 sampai sekarang, setiap kali penulis membaca-baca laporan keuangan terbaru para emiten di BEI setiap kuartalnya, TRAM ini memang sama sekali tidak pernah lolos screening untuk dijadikan pilihan investasi.
However, TRAM selanjutnya tetap stay di rentang harga 800 – 1,000. Ketika perusahaan akhirnya membukukan rugi bersih pada akhir tahun 2012, saham TRAM sekali lagi bukannya turun tapi malah naik kembali hingga menembus 1,400-an (gak masuk akal!). Karena disisi lain volume transaksinya masih sangat besar, maka akhirnya saham ini masuk indeks LQ45 pada awal tahun 2013. Pada tahun 2013 kinerja perusahaan masih belum membaik, dan valuasi sahamnya sudah tidak masuk akal saking mahalnya. But still, TRAM masih melanjutkan kenaikannya hingga sempat menyentuh 1,800-an. Karena volume transaksi hariannya yang sangat besar, maka biaya trading fee yang harus dibayar oleh siapapun yang memperjual belikan TRAM ini mencapai total Rp500 juta per hari, atau Rp100 milyar per tahun! (dengan asumsi bahwa dalam satu tahun terdapat 200 trading day). Pertanyaannya: Investor/trader mana yang mau mengeluarkan biaya trading fee hingga sebesar itu hanya untuk memperjual belikan saham dari perusahaan kecil seperti TRAM, padahal TRAM ini fundamentalnya buruk dan valuasinya juga amat sangat mahal? Apa untungnya buat dia?
Dan akhirnya, pada bulan Juni 2014, ketika saham TRAM sudah berada di level 1,800-an, perusahaan mengalami peristiwa kedua yakni ditangkapnya kapal Jelita Bangsa oleh petugas bea dan cukai di Perairan Kepulauan Riau (dilanjut dengan pemutusan kontrak sewa dari Pertamina, yang merupakan pengguna jasa kapal Jelita Bangsa tersebut), dan manajemen TRAM juga menerima surat tuntutan dari IFC untuk segera melunasi tunggakan utangnya. Merespon kejadian ini, pihak BEI kemudian segera menghentikan/men-suspensi perdagangan saham TRAM di market. Ketika suspensi tersebut akhirnya dicabut pada November 2014, mulailah TRAM longsor tanpa ampun! Nyaris dengan mengalami auto reject kiri setiap hari.
Namun ketika sebuah saham longsor gila-gilaan, maka berdasarkan pengalaman, terlepas dari faktor fundamental maupun valuasinya, pada waktu tertentu dia biasanya akan mengalami technical rebound. Dan memang itulah yang terjadi pada saham TRAM, dimana ketika penurunannya sampai pada harga 400-an, dia sempat naik signifikan pada hari-hari tertentu. Salahnya adalah, ketika itu ada banyak investor (atau lebih tepatnya spekulan) yang ikut masuk ke TRAM ini hanya karena tertarik dengan kenaikannya tersebut, padahal mereka mengetahui secara persis masalah apa yang sedang terjadi pada perusahaan. Selain itu pada harga 400-an tersebut, valuasi saham TRAM juga sama sekali belum bisa disebut murah karena PER dan PBV-nya masih sangat tinggi. Ada banyak investor ketika itu yang menyangka bahwa TRAM ini sudah murah, hanya karena harganya sudah turun banyak (dari 1,800 ke 400, berarti sudah turun lebih dari 75%).
Tapi yah.. nasi sudah jadi bubur, dan sekarang TRAM sepertinya tinggal sesaat lagi menuju level kematian alias gocap. Pertanyaannya, okay, kalau di harga 400 TRAM ini mungkin masih mahal. Tapi di harganya saat ini yaitu 55, maka harusnya dia udah murah dong? PBV-nya aja cuma 0.5 kali bukan? Selain itu, seperti yang tadi sudah dibahas diatas, kalau nanti perusahaan pada akhirnya menerima klaim asuransinya, maka ekuitasnya akan meningkat dan valuasi sahamnya akan menjadi lebih murah lagi.
Jadi kesimpulannya saya boleh average down dong? Well, ya nggak sesimpel itu juga lah, Kalau anda baca lagi pembahasannya diatas, masalah yang dihadapi TRAM ini bukan sekedar masalah kebakaran kapal Lentera Bangsa, atau soal ditahannya kapal Jelita Bangsa oleh pihak yang berwajib, melainkan terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti: 1. Kenapa manajemen TRAM baru mengajukan klaim asuransi ke perusahaan asuransi, hampir tiga tahun setelah kejadian kebakarannya? 2. Kenapa manajemen TRAM seperti membiarkan masalah tunggakan utangnya ke IFC dan Bank of Tokyo, hingga akhirnya IFC terpaksa mengajukan surat tuntutan? 3. Kapan klaim asuransi itu akan dibayarkan? 4. Bagaimana sebenarnya detail dari kasus penyelundupan minyak yang melibatkan kapal Jelita Bangsa? Lalu kapan kapal tersebut akan dibebaskan dan mulai kembali beroperasi? 5. Sebelum mencuatnya kasus kapal Jelita Bangsa dan surat tuntutan dari IFC, bagaimana mungkin saham TRAM bisa terus bergerak naik secara tidak wajar, dan dengan volume transaksi yang tidak wajar pula? Dan 6. Berdasarkan data registrasi pemegang efek, pada akhir April 2015, PT Trada Resources dan PT Trada International hanya memegang total 36% saham TRAM, atau kurang dari 51%, sementara selebihnya dipegang oleh publik. Jadi sebenarnya yang jadi pemegang saham pengendali di TRAM ini siapa???
Nah, sekarang kita pakai logika saja: Berinvestasi di saham itu tak ubahnya seperti mempercayakan dana ke seorang pengusaha/perusahaan. Kalau anda hendak mempercayakan dana sebesar katakanlah Rp100 juta ke seorang pengusaha untuk nantinya diinvestasikan ke bidang usaha tertentu, maka sudah tentu anda akan menginterogasi orang tersebut dengan berbagai pertanyaan bukan? Dan jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka apakah anda masih akan mempercayakan dana anda kepadanya?
Tapi bahkan kalau kita mengabaikan faktor kepercayaan ini, maka dengan track record kinerja yang amburadul, rasio profitabilitas yang sangat rendah, jumlah utangnya yang cukup tinggi (dan juga bermasalah), dan tidak ada kepastian soal masa depan perusahaan, maka tetap saja TRAM ini tidak bagus untuk pilihan investasi. I mean, untuk apa anda membeli saham dari perusahaan perkapalan yang baru saja kehilangan mayoritas sumber pendapatannya, karena para pelanggannya sudah tentu tidak mau turut terlibat dengan.. well.. kasus apapun itu yang sedang dihadapi perusahaan?
Jadi seperti yang sudah pernah penulis sampaikan pada salah satu artikel di website ini, kami tidak tertarik dengan TRAM ini. Sementara jika anda sudah terlanjur masuk, maka pilihannya ada dua: 1. Get out while you can, atau 2. Tunggu saja hingga akhirnya perusahaan merilis dua kabar positif, yakni bahwa perusahaan akhirnya menerima pembayaran klaim asuransi, dan kapal Jelita Bangsa juga dibebaskan dan kembali beroperasi. Ketika itulah saham TRAM akan memiliki alasan yang sangat bagus untuk bisa naik kembali.

However, penulis sendiri terus terang tidak tahu kapan itu akan terjadi, mungkin bisa sangat lama dari sekarang atau malah tidak terjadi sama sekali. Jadi mungkin opsi pertama tetap merupakan pilihan terbaik. Nevertheless, the choice is yours.
Penulis menyelenggarakan Seminar Investasi Saham: Value Investing, di Ibis Styles HotelJakarta, hari Sabtu tanggal 13 Juni 2015. Biayanya hanya Rp750,000 per peserta. Keterangan mengenai materi seminarnya dll bisa dibaca disini.
Buletin Analisis IHSG dan stock-pick saham bulanan edisi Juni 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya 

Seminar Value Investing – Jakarta, 13 Juni 2015

Dear investor, penulis menyelenggarakan training/seminar/workshop investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Penerapan & Hasilnya’, kali ini di Jakarta. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk kumpul alias gathering bagi teman-teman sesama investor saham asal Kota Jakarta dan sekitarnya. Dan berikut keterangan selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Kisi-kisi materi yang akan disampaikan untuk seminar kali ini:
  1. Belajar mengenai konsep serta dasar dari Value Investing, yakni metode paling santai namun sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana cara agar anda bisa meraup keuntungan besar tanpa perlu lagi duduk di depan monitor setiap hari, atau seperti kata Om Lo Kheng Hong: Menjadi kaya sambil tidur.
  2. Cara untuk mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, strategi diversifikasi yang efektif untuk menekan risiko kerugian, dan money management.
  3. Hanya dengan tiga indikator mudah dalam menghitung valuasi saham, yakni semudah menghitung tambah, kurang, kali, dan bagi, anda akan bisa menemukan saham-saham berfundamental bagus dan undervalue.  Dan terakhir:
  4. Bagaimana cara menggunakan teknik trading saham yang menawarkan risiko yang serendah-rendahnya dengan menggunakan pendekatan value, sehingga pada akhirnya memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang.
  5. Contoh-contoh saham yang dipilih menggunakan metode value investing dan terbukti cuan di masa lalu, dan contoh-contoh saham lainnya yang dipilih menggunakan metode yang sama, yang diharapkan bisa menghasilkan cuan di masa yang akan datang.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Setelah mengikuti acara ini, anda diharapkan:
  1. Menguasai konsep dari value investing, serta menerapkannya dalam kegiatan investasi
  2. Mampu mencetak keuntungan yang konsisten dalam jangka panjang, dan
  3. Bertemu, menjalin relasi, serta bertukar pengalaman dengan teman-teman sesama investor saham. Yup, we are making a value investor community here!
Okay, berikut keterangan mengenai lokasi dan jadwal acaranya:
  • Tempat: Ibis Styles Hotel – Mangga Dua Square, Jln. Gunung Sahari Raya No.1, Jakarta
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 13 Juni 2015.
Acaranya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.3WIB (seminarnya total 5 – 6 jam termasuk istirahat makan siang dan coffee break), namun anda diharapkan untuk sudah hadir setengah jam sebelumnya, yakni pukul 10.30 agar punya waktu untuk ngobrol dan diskusi santai dengan sesama peserta. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas hardcopy/softcopy materi seminar, makan siang, dan coffee break.
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000 per peserta. Gratis souvenir gantungan kunci dengan logo Bursa Efek Indonesia dan quote pilihan dari Warren Buffett. Bonus buku ‘Warren Buffett Annual Letter – 50 Years of Berkshire Hathaway’ dalam Bahasa Indonesia (buku fisik, untuk ebooknya bisa didownload disini).
Diskon Khusus! Bagi anda yang masih kuliah alias mahasiwa, biayanya boleh didiskon menjadi hanya Rp500,000. Syaratnya cukup dengan menyertakan gambar/scan Kartu Tanda Mahasiswa ketika anda mengirim email konfirmasi pembayaran.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminardan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Cristiano Ronaldo, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Jika anda ternyata berhalangan hadir pas tanggal acaranya, maka uang anda juga akan dikembalikan penuh (uang anda tidak akan hangus), dengan catatan anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut (melalui email atau melalui kontak telepon dibawah), paling lambat dua hari sebelum acaranya. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus lagi:
  1. Jika setelah acaranya masih ada materi yang belum anda pahami sepenuhnya, maka anda bebas bertanya atau berkonsultasi langsung kepada penulis melalui email, dan akan kami balas secepatnya. It’s free!
  2. Layanan konsultasi diatas juga bisa anda peroleh sebelum acara seminarnya, dimana setelah anda mendaftar maka anda boleh bertanya apa saja langsung dengan penulis melalui email.
  3. Bonus dari pihak hotel: Voucher diskon 10% untuk belanja di ‘Fifth Avenue’ factory outlet, Mall Mangga Dua Square.
Terakhir, ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2AE8431F. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB tersebut.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 52596BDA, office hour only. Untuk melihat foto-foto penyelenggaraan seminar sebelumnya, klik disini.
Contoh penerapan dari metode value investing: Berikut adalah saham-saham yang pernah/masih kami pegang, yang keputusan untuk membelinya didasarkan pada metode value investing: Sri Rejeki Isman (SRIL), Bank BTN (BBTN), Mandala Multifinance (MFIN), dan masih banyak lagi.

UPDATE: Hingga hari Senin, tanggal 8 Juni, masih tersedia kursi untuk 9 peserta [...]

Indonesia Meraih Investment Grade?

Pada hari Kamis, tanggal 21 Mei kemarin, salah satu dari tiga lembaga pemeringkat terbesar di dunia, Standard & Poor’s (S&P), merilis perubahan credit rating bagi Indonesia, dari tadinya BB+ dengan outlook stabil, menjadi BB+ dengan outlook positif. Jadi sebenarnya ratingnya masih tetap sama, hanya outlook-nya saja yang berubah menjadi lebih baik. Meski demikian kabar ini tetap direspon oleh investor di pasar saham, dimana pada hari kamis tersebut IHSG ditutup naik meski pada pagi harinya sempat tertekan. Dan pada hari kamis itu pula, asing untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir kembali mencatatkan net buy (tapi pada hari jumatnya langsung net sell lagi). Pertanyaannya mungkin, apa itu yang dimaksud dengan credit rating? Dan bagaimana itu mempengaruhi perekonomian di Indonesia, khususnya IHSG itu sendiri?

Bagi anda yang belum mengerti apa itu yang dimaksud dengan credit rating, coba baca lagi penjelasannya disini. Kalau berdasarkan rating yang dirilis oleh Moody’s dan Fitch (dua lembaga pemeringkat terbesar di dunia, selain S&P), Indonesia pada saat ini memiliki status investment grade, atau dengan kata lain dianggap sebagai negara yang layak untuk tujuan investasi bagi para investor global, meskipun perlu dicatat disini bahwa rating yang diberikan oleh Moody’s dan Fitch merupakan rating terendah di kelas investment grade, yakni Baa3 dan BBB-. Ini artinya jika kedepannya Moody’s dan Fitch menurunkan rating Indonesia sebanyak satu peringkat saja, maka Indonesia akan tidak lagi memiliki status investment grade. However, hingga saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa kedua lembaga pemeringkat tersebut akan menurunkan rating Indonesia.
Sementara S&P, hingga saat ini masih belum memberikan status investment grade bagi Indonesia. Meski demikian, rating BB+ yang diberikan S&P merupakan rating tertinggi di kelas non-investment grade. Atau dengan kata lain, Indonesia hanya perlu memperoleh kenaikan satu peringkat saja agar juga dianggap sebagai negara investment grade oleh S&P. Dan pada Kamis kemarin, dengan mengubah outlook ratingnya dari stabil menjadi positif, maka S&P memberikan indikasi bahwa dalam beberapa waktu kedepan, paling lambat mungkin setahun dari sekarang (dengan catatan tidak ada kejadian luar biasa terkait perekonomian Indonesia), mereka akan juga mengganjar Indonesia dengan status investment grade.
Logo Standard & Poor’s
Dan ketika itu terjadi (ingat bahwa S&P belum benar-benar menaikkan rating Indonesia), maka investor asing seharusnya akan lebih banyak lagi masuk kesini, entah itu melalui instrumen keuangan termasuk pasar modal, atau melalui investasi langsung dengan mendirikan pabrik dll. Karena ketika seorang fund manager dari perusahaan asset management global berencana untuk berinvestasi di negara-negara di seluruh dunia, maka yang pertama-tama ia pilih adalah negara yang memperoleh status investment grade secara penuh (dari tiga lembaga pemeringkat tadi). Jadi dalam hal ini, berhubung masih ada satu lembaga pemeringkat yang belum memberikan status investment grade, maka Indonesia masih dianggap sebagai pilihan kedua bagi para investor asing untuk menanamkan modalnya disini, apalagi jika dibandingkan dengan Singapura, misalnya, yang ratingnya bahkan lebih tinggi dibanding Amerika Serikat.
Balik lagi ke soal kenaikan outlook rating yang diberikan oleh S&P. Pertanyaannya, dengan kondisi perekonomian Indonesia yang, jujur saja, tidak terlalu baik belakangan ini, lalu kenapa kok S&P malah memberikan indikasi bahwa mereka mungkin akan menaikkan rating Indonesia? Well, sebelum menjawab pertanyaan itu, maka kita perlu pelajari dulu secara lebih lanjut, apa yang dimaksud dengan credit rating ini dan bagaimana cara kerjanya.
Jadi begini. Pada dasarnya ketika seorang investor meminta pendapat dari penasihat investasi mengenai saham apa (atau instrumen investasi lainnya) yang terbaik untuk dibeli,  maka si penasihat investasi tersebut akan balik bertanya: ‘Seberapa besar risiko kerugian yang bisa anda tanggung?’ Karena kalau yang ditanyakan adalah, ‘Seberapa besar potensi keuntungan yang ingin anda peroleh?’ Maka sudah pasti jawaban si investor adalah ‘Sebesar-besarnya!’ Tapi ketika yang ditanyakan adalah risiko kerugian, maka jawaban si investor akan berbeda-beda. Beberapa investor mungkin berani mengambil investasi dengan risiko yang tinggi jika memang itu menawarkan potensi gain yang juga lebih, namun beberapa investor lainnya mungkin lebih memilih konservatif dengan mengambil investasi dengan risiko yang rendah.
Karena dalam berinvestasi, risiko kerugian serta potensi keuntungan adalah seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pada perkembangannya, investor profesional senantiasa fokus pada upaya untuk menekan risiko kerugian hingga serendah-rendahnya, kemudian baru bicara soal potensi keuntungan. Seperti quote Warren Buffett yang terkenal: ‘Rule No.1, never lose money. Rule No.2, don’t forget rule No.1’. Ini artinya, alih-alih mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya, Warren lebih suka berupaya untuk minimal tidak sampai menderita kerugian. Analoginya seperti dalam pertandingan sepakbola: Kalau tim anda bisa dengan sekuat tenaga menjaga agar gawangnya tidak kebobolan, maka cukup dengan mencetak 1 gol saja ke gawang lawan, tim anda tetap menang bukan?
Nah, posisi Moody’s, Fitch, dan S&P adalah seperti penasihat investasi tadi. Mereka tidak ikut berinvestasi pada saham atau instrumen apapun, melainkan hanya memberikan rekomendasi kepada para investor di seluruh dunia dalam bentuk rating tadi, dimana rating tersebut bukan didasarkan pada seberapa besar potensi keuntungan yang ditawarkan oleh instrumen investasi yang memperoleh rating tersebut, melainkan didasarkan pada seberapa rendah risiko kerugian yang mungkin akan diderita investor, jika ia memilih instrumen investasi tadi.
Ini artinya, ketika sebuah negara memperoleh rating cukup tinggi hingga statusnya menjadi investment grade, maka negara tersebut dianggap aman untuk investasi (hanya dianggap aman saja, dan bukan berarti bahwa negara tersebut memiliki potensi return investasi yang tinggi). Semakin tinggi ratingnya, maka semakin aman negara tersebut. Jika Pemerintah Singapura menerbitkan surat utang, misalnya, maka surat utang tersebut dianggap memiliki risiko yang amat sangat rendah untuk mengalami default alias gagal bayar. Sementara jika Pemerintah Indonesia menerbitkan surat utang, maka surat utang tersebut dianggap memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gagal bayar, dibanding surat utang Singapura.
Padahal jika kita bicara soal prospek atau potensi keuntungan yang bisa diperoleh investor, maka bisa jadi Indonesia justru lebih menawarkan potensi keuntungan dibanding Singapura. Contoh simpel saja: Dalam lima tahun terakhir, IHSG sudah naik total 90.0%, belum termasuk dividen. Sementara Straits Times of Singapore? Hanya naik 25.3% selama periode waktu yang sama. However, sekali lagi, baik itu Moody’s, Fitch, dan S&P sama sekali tidak memperhatikan potensi keuntungan tersebut, melainkan hanya fokus pada faktor risiko.
Lalu bagaimana cara lembaga pemeringkat mengukur tingkat risiko investasi di suatu negara?
Pada dasarnya risiko investasi di sebuah negara dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni risiko politik dan risiko ekonomi. Negara dengan perpolitikan yang stabil akan dianggap lebih aman untuk investasi dibanding negara yang perang saudara melulu, misalnya. Dan negara dengan perekonomian yang maju juga akan dianggap lebih aman dibanding negara berkembang. Untuk masalah politik, Indonesia relatif stabil sejak Pak Jokowi menjadi Presiden menggantikan Sir Beye. Sementara untuk ekonomi, pertumbuhan ekonomi kita terakhir tercatat hanya 4.7%, atau terendah dalam lima tahun terakhir dan ini tentu saja merupakan sinyal yang buruk, terutama ketika inflasi serta nilai tukar Rupiah juga tidak menunjukkan angka yang menggembirakan.
Namun berbagai kebijakan Pemerintah terkait perekonomian seperti mencabut subsidi BBM, kemungkinan dilihat oleh S&P sebagai satu langkah yang, dalam jangka panjang, akan mampu mengurangi risiko terjadinya masalah tertentu pada kondisi keuangan negara. Selama ini, setiap kali harga minyak dunia melambung tinggi maka demikian pula beban subsidi negara untuk BBM turut naik, sehingga negara tidak punya cukup ruang fiskal untuk pengeluaran lain yang lebih bermanfaat seperti pembangunan infrastruktur. Ketika subsidi tersebut sekarang sudah dihapuskan sama sekali, maka negara kini memiliki lebih banyak uang untuk keperluan lain, termasuk untuk membayar utang-utang luar negeri tertentu (plus bunganya) ketika nanti utang tersebut jatuh tempo.
Jadi dalam hal ini, atau setidaknya dalam pandangan S&P, risiko gagal bayar utang yang mungkin bisa dialami Indonesia, entah itu utang perusahaan-perusahaan asal Indonesia atau utang Pemerintah Indonesia itu sendiri, bisa menjadi lebih rendah kedepannya, jika memang penghapusan subsidi BBM dll mampu untuk secara efektif berpengaruh positif terhadap APBN, dan tentunya perekonomian secara keseluruhan.
Namun sekali lagi, yang diubah S&P hanya outlook ratingnya, bukan rating itu sendiri. Dalam pandangan S&P, Indonesia belum menjadi negara yang cukup maju secara ekonomi, dan praktis masih belum benar-benar layak untuk memperoleh status investment grade, dan risiko investasi disini masih dianggap tinggi (risiko tersebut belum berkurang). Jika berbagai kebijakan Pemerintah memang benar-benar berdampak positif terhadap perekonomian nasional dalam waktu, let say, 1 – 2 tahun dari sekarang, maka barulah setelah 1 atau 2 tahun tersebut, S&P mungkin akan memberikan kenaikan rating bagi Indonesia.
Okay, tapi mari kita bersikap sedikit optimis disini: Jika S&P pada akhirnya nanti memberikan status investment grade bagi Indonesia? Lalu apa dampaknya terhadap IHSG? Well, tentu saja tidak ada dampaknya secara langsung. Kemarin kamis IHSG memang sempat naik dan asing mencatatkan net buy, tapi pada Jumatnya dia langsung turun lagi (dan asing net sell lagi). Sementara dalam jangka panjang pun, diatas tadi sudah disebutkan bahwa kenaikan Straits Times dalam lima tahun terakhir justru lebih rendah dibanding IHSG, padahal rating Singapura jauh lebih tinggi dibanding Indonesia.
Tapi yang jelas, ketika S&P pada akhirnya nanti memberikan status investment grade bagi Indonesia, maka itu akan meningkatkan posisi tawar perusahaan-perusahaan asal Indonesia dihadapan investor asing. Let say, jika sebelumnya perusahaan-perusahaan di Indonesia harus menawarkan bunga 10 – 12% per tahun ketika mereka menerbitkan obligasi di Singapura (bunga tersebut terbilang tinggi, dan itu karena obligasi asal Indonesia dianggap berisiko tinggi), maka kedepannya bunga tersebut bisa diturunkan menjadi hanya 7 – 9% saja. Karena bunganya lebih rendah, maka otomatis beban keuangan perusahaan menjadi lebih ringan, sehingga laba bersihnya bisa menjadi lebih besar. Jika kondisi tersebut terjadi pada banyak perusahaan sekaligus, maka fundamental perekonomian nasional akan menjadi lebih baik. Dana investasi asing juga akan lebih banyak masuk kesini, entah itu dalam bentuk FDI (foreign direct investment) atau melalui pasar saham dan obligasi, dan itu akan meningkatkan likuiditas keuangan, meningkatkan volume transaksi jual beli, dan pada akhirnya bisa membantu menumbuhkan perekonomian.
But still, pada saat ini kondisi diatas belum terjadi, melainkan mungkin baru akan terjadi setahunan dari sekarang, itupun jika S&P benar-benar menaikkan ratingnya bagi Indonesia (dan Moody’s dan Fitch, dalam waktu yang bersamaan, juga mempertahankan ratingnya bagi Indonesia dan tidak menurunkannya). Sementara untuk saat ini, let’s face it: Our economy is not in a very good shape.

Untuk artikel minggu depan, karena banyaknya permintaan, maka kita akan bahas sedikit soal Trada Maritime (TRAM).

Pengumuman: Buletin Analisis IHSG dan informasi stock-pick saham bulanan edisi Juni 2015 sudah terbit hari ini.Anda bisa memperolehnya 

Mengenal Waran: Peluang Serta Risikonya

Pada November 2014 kemarin penulis memutuskan untuk membeli saham di sektor konstruksi, dalam hal ini Nusa Raya Cipta (NRCA) pada harga rata-rata 910, karena saya melihat bahwa sektor ini mungkin akan diuntungkan dengan rencana pembangunan infrastruktur jangka panjang oleh Presiden Jokowi yang baru saja dilantik sebulan sebelumnya. Lalu kenapa NRCA yang dipilih? Well, itu karena, setelah mempertimbangkan 1. Kualitas fundamental perusahaan, baik secara historis maupun kinerja terbarunya, serta 2. Valuasi sahamnya (dalam value investing, cuma dua itu saja yang kita lihat, abis itu baru liat prospeknya jika ada), maka NRCA memang merupakan pilihan yang paling masuk akal dibanding tujuh saham konstruksi lainnya yang tersedia di pasar. Lebih detail terkait NRCA, baca lagi analisisnya disini.

Tak disangka, NRCA sama sekali tidak butuh ‘jangka panjang’ untuk bisa naik signifikan, dimana hanya dalam tempo dua atau tiga bulan berikutnya dia naik hingga sempat tembus 1,600, atau jauh diatas level 1,200 yang penulis targetkan sebelumnya (meski memang yang perlu dicatat disini adalah, ketika itu tidak cuma NRCA yang naik, tapi semua saham konstruksi termasuk Adhi Karya dkk juga turut naik). However, setelah mempertimbangkan bahwa kenaikan tersebut terlalu cepat dan juga bukan karena benar-benar ditopang oleh faktor fundamental melainkan lebih karena faktor euforia dan berbagai sentimen positif (popularitas serta harapan terhadap Presiden Jokowi ketika itu lagi tinggi-tingginya), maka penulis memutuskan untuk keluar saja dulu.
Nah, meski keuntungan yang dihasilkan NRCA ketika itu terbilang lumayan, namun seorang teman kemudian mengirim email yang isinya kurang lebih sebagai berikut: ‘Pak Teguh gak ngambil waran NRCA? Soalnya saya lihat kenaikannya jauh lebih tinggi dibanding kenaikan saham NRCA itu sendiri. Terus waran itu apa sih?’ Setelah penulis cek, ketika NRCA naik banyak, ternyata waran-nya (kodenya NRCA-W) memang naik lebih banyak lagi, dalam hal ini dari 200-an hingga sempat menembus 500, atau dengan kata lain kenaikannya mencapai 150% (meski belakangan NRCA-W turun lagi dan sekarang berada di posisi 185). Sementara NRCA, dalam waktu yang bersamaan, kenaikannya ‘hanya’ sekitar 70% (dari 900-an ke 1,600-an). Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan: Jika kita menemukan bahwa sebuah saham menarik untuk dibeli, sementara saham tersebut memiliki waran (tidak semua saham memiliki waran), maka kenapa gak ambil waran-nya saja? Karena siapa tahu keuntungan yang dihasilkan bisa lebih besar!
Dari sinilah penulis baru ingat bahwa kita belum pernah membahas soal waran di website ini, padahal mungkin anda juga masih belum mengerti, apa itu yang dimaksud dengan waran? Dan benarkah waran dari sebuah saham menawarkan potensi keuntungan yang lebih besar dibanding saham itu sendiri? Okay, kita langsung saja.
Waran adalah semacam kupon, dimana pemilik satu lembar waran bisa menggunakan waran tersebut untuk membeli satu lembar saham baru yang akan diterbitkan kemudian (saham baru tersebut hanya akan diterbitkan jika waran tersebut benar-benar digunakan), pada harga yang sudah ditentukan sebelumnya atau biasa disebut harga exercise, jadi bukan berdasarkan harga pasar. Analoginya seperti jika Pemerintah menggelar operasi pasar dengan menjual beras langsung ke masyarakat, dimana Pemerintah akan membagikan kupon kepada orang-orang tertentu yang sudah dipilih, dan orang-orang ini akan bisa menggunakan kupon tersebut untuk membeli beras dari Pemerintah pada harga yang sudah ditentukan, yang biasanya lebih rendah dibanding harga beras di pasar. Operasi pasar ini biasanya bertujuan untuk menurunkan harga beras di pasar, jika sebelumnya harga beras tersebut telah naik terlalu tinggi.
Waran biasanya diterbitkan oleh perusahaan secara bersamaan ketika perusahaan tersebut menerbitkan saham baru, entah itu melalui IPO atau right issue, dimana waran tersebut akan diberikan secara cuma-cuma kepada investor yang membeli saham baru yang diterbitkan. Tujuannya tentu, agar investor menjadi lebih tertarik untuk ikut dalam IPO/right issue-nya. Pada contoh NRCA, ketika perusahaan menggelar IPO pada Juni 2013 di harga perdana Rp850 per saham, para investor yang ikut IPO-nya juga menerima 1 lembar waran secara gratis untuk setiap 3 lembar saham NRCA yang mereka beli. Let say, seorang investor membeli 300,000 lembar saham NRCA, sehingga ia memperoleh NRCA-W sebanyak 100,000 lembar. Segera setelah NRCA listing dan mulai diperdagangkan di bursa, maka demikian pula hal-nya dengan NRCA-W turut diperdagangkan. Jika harga NRCA-W ini naik dari Rp0 (karena NRCA-W ini kan diperoleh investor secara gratis, sehingga nilai awalnya adalah nol), menjadi katakanlah Rp100, dan si investor tadi menjual waran-nya pada harga Rp100 tersebut, maka praktis ia bakal memperoleh keuntungan sebesar 100,000 x Rp100, alias Rp10 juta, boleh dibilang secara cuma-cuma karena ia tidak mengeluarkan biaya sama sekali untuk memperoleh NRCA-W tersebut.

Logo PT Nusa Raya Cipta, Tbk

Sementara ketika seorang investor membeli NRCA-W di pasar pada harga Rp100 per waran, misalnya, maka selanjutnya ia memiliki dua opsi. Yang pertama, menjualnya kembali sebelum masa berlaku waran tersebut habis, atau yang kedua, benar-benar menggunakan waran tersebut untuk membeli saham NRCA pada harga exercise-nya, sekali lagi, sebelum masa berlaku waran tersebut habis.
Karena seperti halnya kupon pada umumnya, waran ini juga ada masa berlakunya, dimana jika waran tersebut belum juga digunakan untuk membeli saham hingga lewat tanggal kadaluarsa/expire-nya, maka dia akan dianggap hangus. Kalau pake contoh NRCA-W, maka tanggal expire-nya adalah 27 Juni 2016 (masih agak lama). Jika anda memegang NRCA-W dan sampai tanggal tersebut anda belum menggunakannya untuk membeli saham NRCA pada exercise-nya, yakni Rp1,050, maka waran anda akan hangus dengan sendirinya. Yang dimaksud dengan hangus disini adalah, jika anda membeli waran tersebut senilai Rp100 juta, misalnya, maka uang Rp100 juta tersebut akan benar-benar habis sama sekali, atau dengan kata lain kerugian anda mencapai 100%, jika anda gagal untuk menjualnya sebelum masa berlakunya habis, atau menggunakannya untuk membeli saham NRCA pada harga 1,050 tadi.
Nah, dari sini anda akan bisa melihat apa penyebab naik turunnya harga sebuah waran, dalam hal ini NRCA-W: Ketika harga saham NRCA di pasar terus saja naik hingga lebih dari 1,600, maka praktis investor yang memegang NRCA-W akan memperoleh keuntungan yang substansial jika menggunakan NRCA-W tersebut untuk membeli NRCA pada harga exercise-nya yakni 1,050, kemudian menjualnya pada harga pasar yakni 1,600 (keuntungannya mencapai Rp550 per saham). Karena adanya potensi keuntungan tersebut, maka investor akan ramai-ramai memburu NRCA-W di pasar, dan alhasil harganya akan naik signifikan. Ketika beberapa waktu lalu NRCA-W sempat naik dari 200-an hingga menembus 500-an, maka itu karena investor yang membeli NRCA-W pada harga 500 tersebut berpikir bahwa uang yang ia keluarkan akan balik modal ketika nanti ia menggunakan waran tersebut untuk membeli saham NRCA pada harga 1,050, dan menjualnya pada harga 1,600 (jadi total modalnya Rp500 untuk membeli waran, plus Rp1,050 untuk membeli/menebus saham baru, sehingga totalnya Rp1,550 per saham. Karena saham NRCA kemudian dijual pada harga pasar yakni Rp1,600, maka keuntungannya adalah Rp50 per saham).
Dari sini bisa disimpulkan bahwa, ketika sebuah saham naik atau turun sebesar katakanlah Rp500, maka waran-nya kemungkinan juga akan naik (atau turun) sebesar kurang lebih Rp500 juga. Pada contoh kasus NRCA, ketika sahamnya naik dari 900 menjadi 1,600, maka waran-nya ternyata juga naik dari 200 hingga 500 (atau jika dihitung dari harga awal-nya yakni Rp0, maka nominal kenaikan NRCA-W mencapai Rp500). Let say, jika anda membeli NRCA di harga 900 dan menjualnya tepat di 1,600, maka keuntungan anda adalah lebih dari 70%. Tapi jika anda membeli NRCA-W di 200 dan menjualnya di 500, maka keuntungannya adalah 150%, atau lebih dari dua kali lipatnya!
Jadi sekali lagi pertanyaannya, ketimbang membeli sebuah saham sementara saham tersebut ada waran-nya, maka kenapa gak ambil waran-nya saja?
Meski demikian, perhatikan pula risikonya: Jika NRCA ini bukannya naik tapi malah turun (kita tidak pernah benar-benar bisa menebak apakah sebuah saham akan naik atau turun bukan?), katakanlah dari 900 dia turun ke 800 alias turun Rp100, maka demikian pula NRCA-W bisa turun sebesar Rp100, dari 200 menjadi sisa 100 perak. Ini berarti kerugian yang anda derita kalau memegang NRCA hanya skitar 10%. Tapi jika yang anda pegang adalah NRCA-W, then well, kerugiannya mencapai 50%. Selain itu, seperti yang sudah disampaikan diatas, jika sampai tanggal expire-nya anda tidak juga menggunakan NRCA-W yang anda pegang untuk membeli saham NRCA (dan itu sangat mungkin terjadi. Jika mendekati tanggal 27 Juni 2016, harga NRCA di pasar ternyata masih dibawah harga exercise waran-nya yakni 1,050, maka para pemegang NRCA-W tentunya tidak punya alasan sama sekali untuk menggunakan waran yang mereka pegang untuk membeli saham NRCA), maka waran tersebut akan hangus, dan kerugian anda mencapai 100%.
Karena itulah, atau setidaknya sampai dengan saat ini, penulis belum pernah membeli waran. Karena dalam berinvestasi, kita tidak melulu hanya melihat soal seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh, tapi juga seberapa besar kerugian yang mungkin diderita. Dan potensi keuntungan sebesar sekian puluh persen dari sebuah saham adalah sudah cukup baik terutama jika disisi lain risikonya juga terbatas, dibanding waran yang, meski ia mungkin menawarkan keuntungan hingga 100%, tapi disisi lain risikonya juga sangat besar. Selama berinvestasi di saham, saya pernah beberapa kali menderita kerugian yang signifikan (diatas 10%) dari saham-saham tertentu, dan risiko kerugian tersebut sudah diperhitungkan sebelumnya. Tapi kalau mengambil risiko menderita kerugian hingga 100%, kayanya mending nggak usah deh.

Selain itu ketika anda memegang saham dari sebuah perusahaan yang sangat bagus, maka anda mungkin bisa memegang saham tersebut untuk seterusnya (selama harganya belum naik terlalu tinggi, dan selama fundamental perusahaan masih sangat bagus, maka ngapain dijual?), sehingga anda bisa memegangnya dengan santai tanpa adanya tekanan harus cepat-cepat menjualnya. Sementara waran, cepat atau lambat anda tetap harus menjualnya karena ia bukanlah aset keuangan yang riil seperti halnya saham, melainkan hanya selembar kupon yang tidak akan memiliki nilai lagi ketika masa berlakunya sudah habis.

Waran adalah salah satu dari sekian banyak instrumen derivatif yang diperdagangkan di Bursa Saham diluar saham itu sendiri. Waran merupakan salah satu bentuk dari options, yakni instrumen derivatif yang memberikan pemiliknya pilihan/opsi (opsi, bukan kewajiban) untuk membeli atau menjual saham atau aset keuangan lainnya pada harga yang sudah ditentukan sebelumnya, sebelum masa berlaku options tersebut berakhir. Selain options, terdapat juga futures dan swaps. Dan seperti halnya waran, berbagai instrumen derivatif tersebut biasanya juga menawarkan potensi keuntungan yang besar, tapi disisi lain risikonya juga sangat besar. Penulis tidak tahu apakah setelah waran ini, kita akan membahas lebih lanjut soal derivatif ini kedepannya, karena terus terang saya tidak tertarik sama sekali (mending invest biasa-biasa saja lah, gak usah macem-macem. Yang penting masih bisa makan enak, tidur nyenyak, dan tetep cuan). Tapi sebelum itu, silahkan anda pelajari sendiri berbagai istilah diatas dengan konsul ke Mbah Google atau Wikipedia, gampang kok.
Penulis mengadakan acara temu investor, diskusi, serta gathering di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 23 Mei 2015. Untuk ikut bergabung (masih ada kursi tersedia), keterangan selengkapnya baca disini.
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) sudah terbit dan sudah bisa anda baca. Anda bisa memperolehnya [...]

Situasi Ekonomi Saat Ini dan Kedepannya

Dalam beberapa bulan terakhir, perekonomian Indonesia di tingkat sektor riil, baik itu usaha kecil, menengah, maupun besar, mengalami kelesuan yang luar biasa. Beberapa perusahaan besar seperti Astra International (ASII), Perusahaan Gas Negara, Gudang Garam (GGRM), Semen Indonesia (SMGR), hingga Jasa Marga (JSMR), semuanya mencatat penurunan laba bersih pada Kuartal I 2015. Sementara di bidang usaha yang lebih kecil, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Berikut adalah beberapa ‘testimoni’ yang penulis kumpulkan dari teman-teman pelaku usaha di beberapa kota di Indonesia.

(Andri Tan – Jakarta) Saya wiraswasta di bidang furniture, dan sekarang ini sedang mengalami masa-masa sulit. Sejak Januari sampai sekarang, omzet perusahaan makin lama makin turun. Beberapa teman saya di bidang bangunan, ban, sembako juga mengalami kesulitan yang sama. Ditambah lagi sekarang beban operasional makin tinggi, jadi sekarang benar-benar waktu yang luar biasa menantang bagi pengusaha, apalagi sekarang pemerintah bukannya memberi insentif ke pengusaha malah lebih terkesan memberatkan misalnya dengan menaikan listrik, pajak dll.. Demikian pengalaman yang ingin saya share terima kasih.
(Budi Kusuma – Jakarta) Saya punya usaha di bidang pembuatan besi kawat dan produk turunannya. Kami membeli bahan baku dari pabrik baja di tanah air seperti Krakatau Steel (KS), Gunung Garuda, dan juga impor dari Tiongkok. Belakangan ini usaha kami mengalami penurunan omzet. Kami punya beberapa pelanggan seperti pabrik pakan ayam (Charoen Pokphand), pabrik kertas (Fajar Surya Wisesa), hingga perusahaan-perusahaan konstruksi. Tapi sejak akhir tahun 2014 kemarin permintaan besi kawat turun dari semua sektor.  Jadi kalo dulu konstruksi sepi, maka sektor pakan ayam masih rame, jadi saling menutupi. Tapi kalo sekarang, semuanya sepi.
Akibatnya pabrik rekanan kami yang produksi kawat mengurangi jam kerja pegawai, dan ujung-ujungnya mengurangi tenaga kerja alias PHK. Keadaan tambah runyam karena di Tiongkok sana, para pabrik baja juga lagi sepi order, sehingga  harga jual besi impor dari Tiongkok diturunkan rata-rata 10 – 20%.  Karena pabrik baja Tiongkok kasih diskon gede, maka pabrik kawat disini gak mau beli dari pabrikan lokal seperti KS. Kami lebih milih impor agar hemat harga bahan baku 10%, tapi saya dengar pihak KS udah protes ke pemerintah agar pemerintah mengeluarkan peraturan bea masuk. Jika kami dipaksa beli dari KS maka bakal tambah repot lagi urusannya.
Kami semua berharap proyek-proyek konstruksi dari bumn (WIKA cs), dan swasta (NRCA TOTL ACST) bisa beneran jalan. Karena dari awal tahun udah dijanjikan bahwa tahun ini bakalan rame order, tapi yang kejadian malah sebaliknya: Tambah sepi.
(Yulianto Tanaya – Surabaya) Saya bergerak dalam bidang tekstil, dalam hal ini jualan seprei, bedcover, dan juga bahan baku bahan baku untuk membuat seprei/bedcover tersebut. Sejak tahun baru Imlek kemarin omzet penjualan saya terus turun, bahkan sampai anjlok 50% pada bulan Maret kemarin. Pada bulan April ini juga masih tidak ada perbaikan.
Beberapa hal yang bikin bisnis saya sepi:
  1. Harga bahan baku kain yang terus naik karena harus impor, sementara Rupiah terus melemah hingga sekarang udah tembus Rp13,000 per Dollar.
  2. Karena harga-harga kebutuhan pokok belakangan ini terus naik, maka upah minimum regional (UMR) di wilayah Surabaya ikut naik, sehingga kita harus keluar biaya ekstra untuk gaji pegawai. Karena disisi lain biaya listrik naik, harga bensin naik, maka terpaksa harga jual kain juga saya naikkan. Tapi mungkin ini yang bikin pelanggan jadi kaget, karena kok naiknya banyak sekali (kenaikan harga kain di wilayah Surabaya kira-kira 5 10%), sehingga mereka mengerem untuk beli bahan kain ini.
Kondisinya sekarang seperti ini: Jika dulu para pelanggan selalu membelanjakan lebih dari Rp3 juta setiap kali mereka mengambil bahan baku kain, maka sekarang mereka paling-paling hanya belanja Rp1 juta saja. Beberapa pelanggan malah menghilang sama sekali. Saya sempat tanya kenapa kok mereka nggak lagi belanja kain, dan semuanya komplain bahwa belakangan ini pembeli sprei sangat sepi. Bahkan ada perusahaan kompetitor yang sudah mulai mengurangi pegawainya sejak bulan Februari kemarin karena nggak ada order.

Yang jadi  pertanyaan saya sekarang, kita ini salah pilih Presiden tidak sih? Pada jaman SBY dulu, terutama tahun 2008, juga pernah sepi tapi tidak separah sekarang.. Untuk kali ini bener-bener luar biasa sepinya.. Sekedar info:
  1. Kakak saya di Lombok buka toko emas, omzetnya drop.
  2. Temen saya dagang oli di Solo juga drop, sampai tidak berani beli barang lagi karena takut ndak bisa bayar. Jadi cuma habisin sisa stok di gudangnya.
  3. Adik mama saya jualan rokok dan Nutrisari partai besar, omzetnya juga drop.
  4. Temen saya punya usaha truk ekspedisi di Jalan Slompretan, Surabaya, sampengelus dada saking sepinya. Selain itu dia juga bingung nentuin harga jual ke customernyagara-gara harga BBM yang naik turun nggak jelas. Dia sempet bilang gini, ‘Harga BBM naik ndak masalah lah, tapi mbok ya jangan naik turun gak jelas begini!’
(Hermawan Honggo – Semarang) Sekarang saya mau sharing apa yang dialami di Semarang. Karena berhubung trading saham juga lagi sepi, saya siangnya banyakin jalan-jalan sekalian dolan-dolan ke tempat teman.. hehe
  1. Pengusaha angkutan di daerah Pecinan Semarang, biasanya saya lihat barangnya overload sampai teras, lah sekarang kok sepi.. Akhirnya ngobrol sekilas dengan salah seorang owner angkutan, dan dia bilang kalau biasanya sehari dapat 1.5 – 2 juta, ini hari dapet 900 ribu aja sudah untung bener.
  2. Jalan Pekojan, Semarang, yang ada banyak toko bangunan dan keramik, biasanya selalu ramai dan macet sehingga jalan yang panjangnya nggak nyampe 2 km ini harus ditempuh selama lebih dari 20 menit. Makanya saya biasanya selalu menghindari jalan ini. Tapi karena kemaren perlu ke pasar ikan, dan jalan pulang tercepatnya lewat sini, akhirnya ya sudahlah.. Ehhh ternyata lancar car car karena sepiiiii.. Nggak ada 5 menit sudah lewat.
  3. Ditelpon sama sales mobil Toyota Nasmoco, ‘Pak, mau upgrade mobil nggak.. Innova-nya faktur 2014 diskon 25 juta neh.’ Saya iseng aja jawab, ‘Diskon 50 juta boleh nggaaak?’ Tapi dia bilang gak boleh. Tetapi kemudian saya diundang datang ke pamerannya di Paragon, dan disitu salesnya curhat.. sepi Pak, sepiiii… Temen-temen yang berada di marketing Nissan, Datsun Madukoro, Toyota Pemuda Semarang, Honda, semuanya satu suara: ‘SEEPIIIII…!’ Lo kira kuburan sepi!
Yahh kalau optimisnya, mungkin karena sekarang mau masuk masa panen, tanaman padi sudah mulai banyak yang ditutupin plastik (biar gak dimakan burung). Jadi sekarang ini adalah masa terjauh dari panen sebelumnya, dimana tabungan duit dari pedesaan sudah berada di titik nadir.. Ini juga upload gambar spiderman-nya temen saya, menggambarkan curhatnya 3 bulan ini… sepibenermann… hahahaha..

Nah, entah itu posisi anda sebagai karyawan ataupun pemilik perusahaan, bagaimana dengan bisnis anda sendiri? Apakah sepi juga, biasa-biasa aja, atau malah maju?
Lalu bagaimana kedepannya?
Penulis kira relatif mudah bagi siapapun untuk bisa melihat bahwa situasi ekonomi saat ini merupakan buah dari kebijakan Pemerintahan baru yang, dengan sangat cepat, menghapus subsidi disana sini (yang menyebabkan harga-harga naik), dan menaikkan tarif pajak atau mengenakan banyak pajak baru bagi para pelaku usaha maupun masyarakat umum, padahal sejak awal kondisi ekonomi nasional sudah cukup lesu karena pelemahan Rupiah dan penurunan harga komoditas yang berkepanjangan sejak tahun 2011 lalu. Disisi lain berbagai rencana pembangunan infrastruktur yang digadang-gadang sejak Jokowi dilantik sebagai Presiden pada Oktober lalu, sampai sekarang realisasinya masih belum begitu kelihatan. Alhasil, seperti yang sudah diinformasikan oleh BPS beberapa waktu lalu, perekonomian nasional hanya tumbuh 4.7% pada awal tahun 2015, atau jauh dibawah rekor 6.9% pada tahun 2011 lalu.
Meski kondisinya tampak buruk, however, kalau kita ambil contoh kinerja para emiten yang besar-besar di BEI, maka mereka hanya mengalami penurunan laba saja, dan tidak sampai menderita kerugian apalagi bangkrut. Juga, sama sekali tidak terdengar adanya bank yang harus dilikuidasi seperti pada tahun 1998 dan 2008 lalu. Kalau anda pengusaha, maka jujur saja, omzet anda mungkin memang berkurang, tapi secara umum usaha anda tersebut masih bisa jalan bukan? Jadi kalau ada yang bilang bahwa tahun ini bisa saja krisis moneter terulang, maka penulis kira itu terlalu berlebihan. Perekonomian kita belakangan ini memburuk, dan itu memang benar, tapi kita sudah pernah mengalami situasi yang jauh lebih buruk dari kondisi sekarang.
Hanya memang pertanyaannya sekarang, apakah kondisinya akan terus begini, atau ataukah kedepannya bisa ada perbaikan? Well, karena penyebabnya sudah cukup jelas, maka perekonomian nasional akan bisa membaik kedepannya jika Pemerintah bersedia mengubah atau melonggarkan kebijakannya terkait subsidi dan pajak, dan juga segera merealisasikan pembangunan infrastuktur yang pastinya akan kembali menggerakkan roda perekonomian. Diluar faktor Pemerintah, jika kedepannya harga komoditas seperti batubara dan CPO kembali naik, maka nilai ekspor Indonesia akan dengan sendirinya meningkat, Rupiah akan menguat, dan perekonomian akan kembali tumbuh kencang. Kalau anda ingat-ingat lagi, pada awal tahun 2009 lalu perekonomian Indonesia juga tercatat hanya tumbuh 4.1% gara-gara krisis global setahun sebelumnya. Namun berkat berbagai kebijakan Pemerintah (salah satunya menggelontorkan Rp4 trilyun untuk buyback saham-saham BUMN) plus adanya ‘anugerah’ berupa booming harga CPO, maka hanya dalam setahun berikutnya perekonomian tersebut dengan cepat tumbuh lagi hingga menembus 6.2%.
Karena itulah, kalau ada yang bertanya, mungkinkah kedepannya ekonomi kita tumbuh 5% lagi? Maka penulis jawab, jangankan 5%, 6% sekalipun mungkin saja, kita pernah mengalaminya kok! Tapi apakah ekonomi kita akan membaik kedepannya atau malah tambah buruk, maka itu tergantung oleh banyak faktor. Let say, jika Pemerintah tidak kunjung memberikan insentif tertentu bagi dunia usaha dan tidak segera merealisasikan pembangunan infrastruktur, sementara disisi lain harga-harga komoditas masih terus melemah dan nilai Rupiah juga masih tetap terpuruk, maka ya apa boleh buat: Jangankan membaik, angka pertumbuhan ekonomi yang hanya 4.7% tadi bisa saja kembali turun hingga menjadi lebih rendah lagi.
Namun sedikit pencerahan, baru-baru ini Presiden Jokowi berkunjung ke Kawasan Indonesia Timur termasuk Provinsi Papua, untuk meresmikan dimulainya pembangunan beberapa proyek besar seperti pembangunan Jalan Trans Papua, food estate di Merauke, hingga jaringan kabel optik milik PT Telkom di Manokwari. Jadi apakah ini merupakan tanda bahwa Pemerintah sudah mulai merealisasikan pembangunan infrastruktur? Let’s hope so!
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) sudah terbit dan sudah bisa anda baca. Anda bisa memperolehnya disini.
Penulis mengadakan acara temu investor, diskusi, serta gathering di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 23 Mei 2015. Untuk ikut bergabung, keterangan selengkapnya baca [...]

Investor Meeting: Strategi Investasi Menghadapi Bear Market

Dear investor, beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi nasional, dan hasilnya memang mengecewakan dimana perekonomian Indonesia hanya tumbuh 4.7% secara year on year, dan inflasi masih tinggi di level 6.8%. Sebelumnya Rupiah juga terus melemah hingga menembus Rp13,000 per USD, dan para emiten termasuk yang besar-besar mencatatkan kinerja yang mengecewakan di Kuartal I 2015. Melihat kondisi tersebut maka tak heran jika IHSG turun signifikan dalam seminggu terakhir, dimana jika kondisi ini tidak ada perbaikan maka kemungkinan penurunan tersebut masih akan berlanjut kedepannya. Pertanyaannya sekarang, sebagai investor pasar modal, what should we do?

Meski kondisinya tampak tidak bagus, however, peluang untuk meraup keuntungan dari pasar modal bukannya tidak ada sama sekali melainkan justru masih sangat terbuka, mengingat:
  1. Meski mayoritas perusahaan mencatatkan kinerja yang kurang bagus di Kuartal I 2015, tapi selalu ada saja beberapa perusahaan yang kinerjanya masih sangat bagus dan valuasinya juga masih murah, salah satunya seperti Sri Rejeki Isman (SRIL) yang sudah kita bahas kemarin. Jadi jika anda bisa memfokuskan investasi anda pada saham-saham berfundamental bagus tersebut, maka anda seharusnya masih bisa meraup keuntungan yang signifikan tak peduli meski IHSG lanjut turun.
  2. Pada kondisi bear market, pasar tidak selalu turun setiap hari melainkan terkadang mengalami rebound, seperti yang terjadi beberapa hari terakhir. Dan dengan sedikit trik, kita bisa memanfaatkan pola pergerakan tersebut untuk meraup keuntungan jangka pendek.
  3. Jika Pemerintah bisa segera merealisasikan pembangunan infrastruktur, maka dampaknya perekonomian akan tumbuh kembali, investor asing balik lagi kesini, dan IHSG juga tentunya akan naik kembali.
Sooo, dalam forum meeting-nya nanti, saya akan menyampaikan tentang:
  1. Analisis lengkapterkait ekonomi makro, kebijakan pemerintah, dan IHSG, plus outlook IHSG itu sendiri hingga akhir tahun
  2. Tips dan strategi untuk trading jangka pendek memanfaatkan moment rebound jika pasar melanjutkan penurunannya, plus pilihan saham-saham yang bisa digunakan untuk trading tersebut, dan
  3. Daftar saham pilihan yang bisa dipegang minimal untuk jangka menengah (3 – 12 bulan) yang sudah diseleksi berdasarkan fundamental serta valuasinya.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, gak usah dibawa serius :) Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor saham. Selain penyampaian materi diatas nantinya juga akan ada forum diskusi & konsultasi selama 1 jam penuh dimana anda boleh bertanya apa saja soal investasi saham, dan penulis akan menjawabnya.
Okay, berikut detail acaranya:
  • TempatRuang Meeting BNI Securities, APL Tower Lantai Dasar, Podomoro City Central Park, Jln. Letjend. S. Parman Kav.28, Jakarta Barat
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 23 Mei 2015
  • Waktu: Pukul 13.00 (after lunch) s/d 17.30 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: harcopy & softcopy materi meeting, snack dan minuman kopi biar nggak ngantuk
Nah, jika untuk seminar anda dikenakan biaya Rp750,000, maka untuk acara ini biayanya hanya Rp350,000 saja. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.7062.087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Investor Meeting, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Sri Mulyani Indrawati, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta meeting. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan alias ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya untuk 30 orang peserta.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Miss Nury di no telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045. Sekedar catatan, konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui pin BB diatas.
Atau anda bisa menghubungi penulis langsung melalui pin BB 52596BDA, office hour only!

Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) akan terbit tanggal 11 Mei mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Sri Rejeki Isman (Sritex)

Seperti yang anda ketahui, pada saat ini sekitar 90% emiten di BEI sudah merilis laporan keuangannya masing-masing untuk periode Kuartal I 2015. Kabar buruknya, sebagian besar dari mereka mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan. Bahkan perusahaan sekelas Astra International (ASII) sekalipun mencatat penurunan laba hingga 15%, terburuk dalam 10 tahun terakhir. Melihat fakta tersebut maka tidak heran jika dalam semingguan terakhir ini IHSG anjlok hingga hampir 7% (meski belakangan rebound kembali), karena memang penulis sendiri, kalau saya memegang ASII atau saham-saham lainnya yang perusahaannya mencatatkan kinerja yang kurang oke, sudah tentu akan memilih untuk keluar dulu.

Kabar baiknya, dari 500-an perusahaan di BEI sudah tentu tidak semuanya mencatatkan kinerja yang buruk. Jika anda jeli, maka anda akan tetap bisa menemukan beberapa saham yang valuasinya masih cukup rendah, dan kinerja perusahaannya juga tidak ada masalah.
Dan salah satu saham tersebut adalah Sri Rejeki Isman (SRIL). SRIL mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 12.3% pada Kuartal I 2015, dan ROE 24.0%. Dengan PER hanya 7.3 kali pada harga 296, maka tentu saja saham ini relatif murah terutama ketika investor seperti tidak punya pilihan lain kecuali mengalokasikan dana mereka pada saham-saham yang masih mencatatkan kinerja yang bagus di awal tahun 2015 ini, salah satunya SRIL. Anyway, mari kita pelajari SRIL ini sejak awal.

SRIL pada saat ini merupakan perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, atau bahkan di Asia Tenggara (dari sisi omzet penjualan), yang bermarkas di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sejarah perusahaan dimulai pada tahun 1966 dimana pendiri perusahaan, Almarhum Haji Muhammad Lukminto, ketika itu membuka toko produk-produk tekstil di Pasar Klewer, Kota Solo. Dua tahun kemudian, HM Lukminto sukses mendirikan pabrik kain pertamanya di Jalan Baturono No.81A, Solo. Sepuluh tahun kemudian, yakni pada tahun 1978, PT Sri Rejeki Isman, atau disingkat Sritex,resmi berdiri.
Tahun-tahun berikutnya, perusahaan terus berkembang. Tahun 1982, Sritex membuka pabrik tenun pertamanya. Pada tahun 1992, Sritex mencapai salah satu milestone-nya dengan menjadi perusahaan tekstil yang terintegrasi, dengan menguasai empat lini produksi yakni pemintalan, penenunan, pencelupan, dan garmen. Pada tahun 1994, Sritex untuk pertama kalinya memperoleh kepercayaan dari Pemerintah Jerman untuk memproduksi seragam militer bagi Tentara Jerman, dan dari situlah Sritex kemudian membangun reputasinya sebagai salah satu produsen seragam militer paling terkemuka di dunia.
Tahun 2006, HM Lukminto pensiun, dan posisinya sebagai chairman Sritex digantikan oleh putra pertamanya, Iwan Setiawan Lukminto. Di tangan generasi kedua perusahaan, perkembangan bisnis Sritex bahkan melaju lebih kencang lagi dalam waktu yang relatif singkat, dimana pada tahun 2013 Sritex resmi listing di BEI, mengakuisisi salah satu kompetitornya, PT Sinar Pantja Djaja (sehingga memperbesar kapasitas produksi perusahaan), dan melipat gandakan kapasitas produksi garmen-nya menjadi 12 juta pakaian per tahun. Pada saat ini Sritex menjadi supplier tetap seragam militer bagi lebih dari 30 negara di seluruh dunia, membuat seragam bagi karyawan di perusahaan-perusahaan di Indonesia, membuat baju dan produk-produk fashion lainnya untuk dijual ke toko ritel, memproduksi benang, kain mentahan, dan fabric. Dari tadinya hanya memiliki toko tekstil di Pasar Klewer, Solo, Sritex kini memiliki sentra produksi berupa kompleks pabrik seluas 52 hektar di Sukoharjo, belum termasuk kompleks pabrik kedua di Semarang, Jawa Tengah, seluas 18 hektar, dan pada akhir tahun 2014 mempekerjakan total 16,800 karyawan.
Nah, kalau anda mempelajari bisnis tekstil di Indonesia, maka anda akan menemukan beberapa fakta berikut:
Yang pertama, diluar komoditas seperti batubara dan CPO yang sempat booming beberapa tahun lalu, Indonesia juga memiliki produk tekstil sebagai salah satu produk andalan untuk ekspor. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2013 lalu Indonesia mengekspor pakaian jadi bukan rajutan (jadi belum termasuk produk-produk tekstil lainnya) senilai US$ 3.9 milyar. Nilai ekspor ini, meski jauh lebih kecil dibanding nilai ekspor batubara dan CPO senilai total lebih dari US$ 40 milyar, tapi masih lebih besar dibanding nilai ekspor dari produk andalan ekspor lainnya, seperti sepatu dan plastik. Pada tahun 2013 tersebut, berdasarkan data dari Statista.com, Indonesia juga termasuk salah satu dari sepuluh negara eksportir tekstil terbesar di dunia.
Kedua, seperti halnya industri minyak dan gas, mayoritas industri tekstil di Indonesia dikuasai asing, terutama asal Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan, atau setidaknya demikilanlah jika kita melihat komposisi pemegang saham dari 19 perusahaan tekstil yang listing di BEI (sementara secara keseluruhan, Indonesia memiliki 500-an perusahaan tekstil). SRIL adalah salah satu dari sedikit perusahaan tekstil di Indonesia yang masih dikuasai oleh pemilik lokal, tapi untungnya dia justru berstatus sebagai perusahaan tekstil terbesar.
Dan ketiga, entah itu karena adanya transfer pricing, kesulitan dalam memperoleh bahan baku produksi, atau lainnya, perusahaan-perusahaan tekstil yang listing di BEI kebanyakan mencatatkan kinerja yang buruk dalam jangka panjang. Kalau kita ambil contoh dua kompetitor utama SRIL, yakni Pan Brothers (PBRX), dan Apac Citra Centertex (MYTX), maka PBRX memiliki margin laba yang sangat tipis (kurang dari 3%) sehingga ROE-nya nggak nyampe 10%. Untuk MYTX malah lebih parah lagi, dimana perusahaan terus saja merugi sejak tahun 2008 sampai sekarang. Kalau melihat fakta bahwa Indonesia adalah salah satu produsen tekstil terbesar di dunia, termasuk kalau di Bandung sendiri penulis bisa melihat ada banyak pengusaha pemilik pabrik tekstil atau toko pakaian yang kaya raya, maka hal ini menjadi aneh: Ngapain aja para perusahaan tekstil itu sampe rugi melulu?
However, hal yang berbeda terjadi pada SRIL. Antara tahun 2010 – 2014, perusahaan selalu mencatatkan margin laba antara 5 – 8%, dan perolehan laba itu sendiri senantiasa naik dari tahun ke tahun. Dan pada awal tahun 2015 ini, trend kenaikan tersebut masih berlanjut dimana seperti yang sudah disebut diatas, pada Kuartal I 2015 laba bersih perusahaan naik 12.3% dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ROE tercatat 24.0%. Karena disisi lain nilai ekuitas SRIL sebenarnya melonjak karena adanya tambahan modal sebesar Rp1.3 trilyun dari IPO-nya pada tahun 2013, maka ROE sebesar 24.0% tersebut terbilang sangat baik, karena itu berarti bahwa perusahaan bisa dengan cepat menggunakan dana hasil IPO-nya (hanya butuh waktu setahun) untuk melakukan pengembangan usaha.
Lalu bagaimana dengan prospek perusahaan kedepan?
Sebagai sebuah perusahaan, SRIL boleh dibilang mengalami masa-masa keemasannya terutama sejak tampuk kepemimpinan perusahaan diambil alih oleh Iwan Setiawan Lukminto, dan juga adiknya, Iwan Kurniawan Lukminto (Iwan S. menjadi komisaris, sementara Iwan K. menjadi direktur), dimana sejak tahun 2006 lalu SRIL melakukan banyak pembangunan pabrik baru untuk memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, memperluas diversifikasi produk, hingga menambah jaringan pelanggan. And so far, berbagai ekspansi tersebut sukses besar hingga SRIL sekarang ini menjadi perusahaan tekstil terbesar di Indonesia (pada tahun 2006, SRIL sama sekali belum sebesar sekarang).
Namun proses ekspansi itu sendiri masih jauh dari kata berhenti. In fact, perusahaan masih punya rencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga tahun 2016 nanti (dihitung sejak 2006, berarti proses ekspansinya membutuhkan waktu total 10 tahun), salah satunya produksi pakaian jadi yang ditargetkan akan mencapai 30 juta potong pada tahun 2016, meningkat 150% dibanding 2013.
Lalu dari mana kebutuhan modalnya? Well, setelah sukses meraup Rp1.3 trilyun dari IPO-nya di BEI pada tahun 2013 lalu (yang langsung habis untuk membangun ini dan itu), setahun kemudian SRIL menerbitkan obligasi senilai US$ 270 juta di Singapura, dimana US$ 110 juta diantaranya digunakan untuk melunasi utang bank (refinancing, utang bank dengan bunga 11 – 12% per tahun diganti dengan utang obligasi dengan bunga yang lebih murah, yakni 9% per tahun), sementara selebihnya dipakai untuk belanja modal.
Karena adanya utang obligasi ini maka nilai kewajiban SRIL tercatat total  US$ 433 juta pada Kuartal I 2015, atau mencapai 1.7 kali nilai ekuitasnya sebesar US$ 247 juta, dan menurut penulis sendiri ini DER sebesar itu agak berisiko. Wujud utangnya yang dalam mata uang USD juga membuat kinerja SRIL menjadi rentan terhadap risiko pelemahan nilai tukar Rupiah yang terjadi akhir-akhir ini. However, karena proses ekspansi yang dilakukan SRIL sudah lebih dari separuh jalan (dan sejauh ini semuanya lancar-lancar saja), maka penulis optimis bahwa manajemen akan mampu menggunakan dana hasil penerbitan obligasinya secara optimal. Pelemahan nilai tukar Rupiah juga seharusnya tidak akan berdampak negatif karena toh mayoritas pendapatan SRIL juga dalam mata uang USD. In fact, jika ada perusahaan-perusahaan di BEI yang diuntungkan karena pelemahan Rupiah, maka SRIL adalah salah satu perusahaan tersebut mengingat SRIL membayar biaya bahan baku dan tenaga kerja dalam mata uang Rupiah (posisi SRIL sebagai perusahaan tekstil yang terintegrasi dari hulu ke hilir menyebabkan perusahaan tidak tergantung pada impor bahan baku), namun memperoleh pendapatannya dalam mata uang USD. Dan tidak seperti harga CPO atau batubara yang terus saja turun dalam tiga tahun terakhir, harga produk-produk tekstil yang dihasilkan perusahaan terbilang sangat stabil.
Jadi jika tidak ada aral melintang ataupun kejadian luar biasa (force majeure) terentu, maka kinerja positif serta pertumbuhan aset yang signifikan yang dihasilkan oleh SRIL sejauh ini seharusnya bisa dipertahankan paling tidak hingga tahun 2016 nanti. And by that I pointed to you, private equity guys, ‘coz you do like prospect, eh?
Kemudian bagaimana dengan sahamnya?
Sejak listing perdana di BEI pada bulan Juni 2013 di harga 240, pergerakan SRIL terbilang fluktuatif dimana meski ia sempat naik sampai 300 pada Januari 2014, tapi selanjutnya  ia malah turun, dan terus saja turun hingga sempat menyentuh 120 pada Oktober 2014, atau anjlok persis 60% dibanding harga puncaknya, yang mungkin itu karena investor khawatir dengan utang obligasi perusahaan sebesar US$ 270 juta, dimana nilainya dalam mata uang Rupiah tentu akan meningkat jika Rupiah itu sendiri melemah.
However, seperti yang sudah dibahas diatas, pelemahan Rupiah seharusnya tidak akan berdampak negatif terhadap perusahaan. Penulis sendiri mulai tertarik dengan saham ini ketika ia berada di posisi 150-an, karena ketika itu PBV-nya cuma 1.1 kali sementara kinerja perusahaan terbilang no problemo (saya ketika itu sudah membahas dan merekomendasikan sahamnya di ebook kuartalan edisi Kuartal III 2014). Plus, SRIL berstatus sebagai leader di bidangnya, dan juga menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang seperti yang sudah dibahas diatas. Meski ketika itu sahamnya masih downtrend berat sampai tinggal sisa 120-an perak, namun setelah penulis pertimbangkan, no way sahamnya bisa sampai ke gocap. Malahan jika perusahaan sukses membukukan kenaikan laba pada Kuartal I 2015 nanti, maka sahamnya seharusnya bakal sukses naik kembali.
Dan kabar baiknya, SRIL memang sukses mencatatkan kinerja positif di Kuartal I 2015. Tapi kabar buruknya, sahamnya juga sudah terbang duluan. Setelah sideways cukup lama di rentang harga 150 – 160 dari November 2014 hingga Februari 2015, sejak awal Maret lalu SRIL mulai merangkak naik dan teruuus saja naik hingga sekarang sebentar lagi mencetak new high. Tapi dari sisi valuasi dimana harga 296 masih mencerminkan PER 7.6 kali dan PBV 1.7 kali, serta dengan memperhatikan outlook perusahaan yang cukup cerah, maka peluang kenaikan lebih lanjut bagi SRIL mungkin masih terbuka. Secara konservatif saja, dengan mempertimbangkan bahwa PBV yang wajar bagi SRIL ini adalah 2.0 kali, maka targetnya sekitar 350. Fluktuasi IHSG sepertinya tidak berpengaruh dimana meski semingguan ini IHSG turun tajam, namun SRIL malah terus saja naik, dan kenaikannya tersebut memang ditopang oleh fundamentalnya yang juga bagus.
Hanya saja, berdasarkan pola pergerakan saham ini di masa lalu, SRIL memang cenderung fluktuatif dimana dia bisa cepat naik, tapi juga bisa dengan cepat turun. Kenaikan hingga nyaris 2 kali lipat (dari 150-an hingga sebentar lagi tembus 300) hanya dalam tempo dua bulan juga tentu saja terlalu cepat, dimana kedepannya mungkin akan ada investor yang profit taking dari SRIL ini sehingga menyebabkan sahamnya turun kembali. Secara teknikal, support kuat hingga beberapa bulan kedepan bagi SRIL ini adalah di level 225-an, atau cukup jauh dibawah posisi harganya saat ini (jadi secara teknikal pula, anda baru boleh akumulasi SRIL di harga 225-an tersebut).
Karena itulah, jika anda tertarik dengan saham ini maka strateginya adalah sebagai berikut: 1. Jadikan SRIL ini sebagai investasi untuk jangka minimal menengah (3 – 12 bulan), dimana target 350 tadi mungkin baru bisa dicapai, dengan catatan tidak terjadi force majeure, dalam waktu hingga setahun dari sekarang. Lupakan soal trading jangka pendek apalagi swing, karena SRIL ini terlalu bagus untuk itu, dan 2. Sebelum waktu setahun tersebut ada kemungkinan SRIL ini bisa turun dulu, mungkin mentoknya sampai 225 tadi. Karena itulah anda sebaiknya membeli SRIL ini secara sedikit demi sedikit sambil ‘testing the ground’, yakni untuk mengetahui bahwa kalau saham ini nantinya turun lagi maka dia mentoknya sampai berapa. Jangan beli sekaligus terutama karena posisi IHSG juga masih rentan koreksi lanjutan, dimana kalau ada orang yang beli SRIL ini pake duit margin dan dia kena force sell, maka SRIL tetap akan terseret turun meski fundamentalnya nggak kenapa-napa.
Okay, I think that’s all. Any comments? :)
PT. Sri Rejeki Isman, Tbk (SRIL)
Rating Kinerja pada Kuartal I 2015: A
Rating Harga Saham pada 296: A
Disclosure: Ketika artikel ini dipublikasikan, Avere Investama sedang dalam posisi memegang SRIL di harga beli rata-rata 274. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Pengumuman: Buletin Bulanan Special Edition yang berisi: 1. Analisis lengkap posisi IHSG, 2. Tips & strategi investasi/trading disaat pasar turun, dan 3. Stockpick Saham, sudah terbit hari Senin, tanggal 4 Mei kemarin. Anda masih bisa memperolehnya disini. Gratis ebook kuartalan edisi Kuartal II 2014 bagi member baru.
Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) sudah terbit tanggal 11 Mei kemarin. Anda bisa memperolehnya [...]

Prospek IPO PP Properti

Pada bulan April 2014 lalu, Wijaya Karya (WIKA), salah satu perusahaan BUMN di bidang konstruksi di Indonesia, meng-IPO-kan salah satu anak usahanya yaitu Wijaya Karya Beton (WTON), dimana WTON sukses meraup tambahan modal senilai Rp1.2 trilyun hasil dari menerbitkan 2 milyar lembar saham baru (dan menjualnya ke publik) pada harga Rp590 per saham. Mengingat nilai ekuitas WTON sebelum IPO hanya Rp680 milyar, dimana setelah dibagi 6.7 milyar lembar saham (jumlah saham WTON sebelum IPO) maka hasilnya adalah Rp102 per saham, maka cukup jelas bahwa investor publik telah membayar saham baru WTON pada harga yang sangat mahal, yakni nyaris 6 kali lipat lebih tinggi (590 berbanding 102) dibanding harga yang dibayar WIKA sebagai pemegang saham mayoritas dari WTON.

Meski demikian, mungkin karena kinerja WTON terbilang cukup baik sepanjang tahun 2014 lalu (laba perusahaan naik 33.6% dibanding tahun 2013), plus didorong oleh adanya sentimen positif terkait banyaknya rencana pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah sepanjang tahun 2014 tersebut, maka WTON tetap naik signifikan hingga sempat menembus 1,400, atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding harga perdananya (meskipun belakangan mulai longsor lagi, karena memang udah gak ketulungan mahalnya).
Nah, jadi ketika BUMN konstruksi lainnya, Pembangunan Perumahan (PTPP), mengikuti jejak WIKA dengan meng-IPO-kan salah satu anak usahanya, dalam hal ini PP Properti (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja PPRO), maka perhatian investor mungkin fokus pada pertanyaan berikut: Apakah PPRO bisa mengikuti jejak WTON yang sukses mencetak gain dua kali lipat?
Karena seperti halnya WTON yang pelaksanaan IPO-nya diurus oleh empat sekuritas sekaligus (jadi tukang jualan saham IPO-nya ada banyak), maka IPO PPRO kali ini bahkan diurus oleh lima sekuritas sekaligus. Penulis awalnya heran, kenapa kok saya menerima banyak sekali email pertanyaan dari teman-teman investor soal prospek dari IPO PP Properti ini? Tapi ternyata itu karena para investor tersebut memperoleh tawaran dari sekuritasnya masing-masing untuk ikut IPO-nya. Termasuk, iklan IPO PPRO ini juga ada dimana-mana, biasanya dalam bentuk artikel ulasan ‘prospeknya’ yang ditulis para analis sekuritas di media, baik itu media cetak maupun internet (but don’t worry, penulis bisa menjamin bahwa ulasan yang sedang anda baca disini adalah sepenuhnya independen sesuai pemikiran penulis sendiri).
Pendek kata, PPRO tampak menarik karena banyak yang mempromosikan, sementara perusahaannya sendiri belum tentu beneran bagus. Jika IPO PPRO hanya dipegang oleh satu sekuritas, maka mungkin IPO-nya juga tidak akan seheboh sekarang. Disisi lain, karena proses kelahiran PPRO ke Bursa Efek ini ‘dibidani’ oleh lima sekuritas sekaligus, maka peluangnya untuk sukses (baca: sahamnya naik) tetap terbilang besar kecuali jika fundamentanya memang sangat buruk, katakanlah seperti IPO GarudaIndonesia (GIAA) dulu.
Anyway, mari kita coba pelajari dulu PP Properti ini sejak awal.
Pada tahun 1991, PTPP yang sebelumnya hanya bergerak di bidang konstruksi, mulai melebarkan sayapnya dengan juga masuk ke bisnis developer properti, ketika itu dengan membangun Perumahan Otorita di Jatiluhur, Jawa Barat, kali ini dengan kapasitasnya sebagai developer pemilik proyek, bukan kontraktor. Seiring dengan berjalannya waktu, PTPP kemudian lebih banyak lagi mengerjakan proyek-proyek properti lainnya. Hingga pada tahun 2010, PTPP menjadikan portofolio properti-nya sebagai salah satu lini bisnis utama diluar konstruksi sebagai bisnis asli perusahaan. Dan pada tahun 2013, PT PP Properti (PPRO) secara resmi didirikan sebagai wadah dari unit-unit bisnis properti yang dimiliki PTPP.
Kalau melihat usia perusahaannya yang terbilang ‘kemarin sore’ maka praktis PPRO belum memiliki track record yang solid dalam jangka panjang, dimana laporan keuangannya hanya hanya ada sampai tahun 2013 karena perusahaan baru berdiri pada tahun 2013 tersebut (kalau dihitung dari tahun 1991 sejak PTPP masuk ke bisnis properti, maka PPRO ini juga baru berusia 24 tahun). Dengan nilai aset Rp2.7 trilyun pada akhir tahun 2014, maka ukuran perusahaan juga relatif kecil terutama jika dibandingkan dengan developer-developer papan atas di Indonesia. Terkait prospek pertumbuhan perusahaan kedepannya, PPRO juga tidak menawarkan prospek yang terbilang ‘wah’. Pada akhir tahun 2014, PPRO hanya memiliki landbank seluas 54 hektar yang akan dikembangkan dalam waktu 15 – 20 tahun kedepan (salah satunya dengan menggunakan dana hasil IPO-nya). Jika dibandingkan dengan landbank dari Bumi Serpong Damai (BSDE) yang mencapai lebih dari 7,000 hektar, misalnya, maka PPRO jelas gak ada apa-apanya, bahkan jika nanti perusahaan sukses menambah cadangan landbank-nya tersebut (PPRO berencana menggunakan sebagian dana hasil IPO-nya untuk membeli beberapa bidang tanah).
Meski demikian PPRO tetap memiliki keunggulan dalam posisinya sebagai anak usaha dari PTPP yang tentunya sudah cukup mapan sebagai perusahaan konstruksi, dan saham PTPP sendiri sukses naik banyak sejak IPO-nya pada tahun 2010 lalu di harga 560. Alhasil PTPP menjadi salah satu perusahaan konstruksi paling populer di Indonesia (atau minimal di tingkat investor di BEI), sehingga PPRO dengan sendirinya turut menjadi populer. Selain itu, kecilnya jumlah landbank milik perusahaan adalah karena PPRO belakangan ini lebih fokus pada pembangunan superblock, yang memang tidak membutuhkan tanah yang luas.
Dan mungkin faktor terpentingnya adalah, pada saat ini kinerja PPRO sedang dalam momentum pertumbuhan yang luar biasa karena kebetulan ada banyak proyek-proyek properti yang sudah digarap sejak tahun 2012 (ketika itu PPRO masih berstatus sebagai salah satu divisi dibawah PTPP), yang pada tahun 2014 kemarin mulai membuahkan hasil dimana laba perusahaan melonjak dibanding 2013 (persentase kenaikan secara persisnya tidak bisa dihitung karena laporan keuangan PPRO untuk tahun 2013 hanya untuk periode dua bulan, yakni November – Desember), dan seharusnya trend pertumbuhan tersebut masih akan berlanjut pada tahun 2015 ini. Per akhir tahun 2014, PPRO memiliki setidaknya 21 proyek pengembangan properti mulai dari Patria Park Hotel hingga Grand Slipi Tower, dimana ada banyak diantaranya yang sudah mulai ‘berbuah’ tapi ‘belum habis dipanen’.
Jadi berkaca pada pengalaman di WTON, maka jika pada Kuartal II 2015 nanti (PPRO akan listing perdana di BEI pada tanggal 19 Mei, sehingga perusahaan nggak akan sempat merilis LK Kuartal I 2015) PPRO kembali membukukan lonjakan laba bersih, maka sahamnya juga mungkin akan naik signifikan tak peduli meski valuasinya sudah mahal. Dalam hal ini kita tidak perlu berharap pada prospek terkait penggunaan dana hasil IPO yang diperoleh perusahaan, karena PPRO juga tentunya akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar (minimal 2 – 3 tahun) untuk memberdayakan dana hasil IPO tersebut hingga menghasilkan tambahan keuntungan bagi perusahaan.
Lalu bagaimana dengan valuasi sahamnya? Apakah juga mahal seperti WTON dulu?
Bagi anda yang masih awam value investing, anda mungkin bingung bagaimana caranya menentukan apakah saham PP Properti ini mahal, wajar, atau murah, padahal sebenarnya sederhana saja kok. Pada IPO-nya nanti, PPRO akan melepas saham baru ke publik pada rentang harga Rp185 – 350 per saham. Sebelum IPO, nilai ekuitas PPRO tercatat Rp1.0 trilyun, sementara jumlah sahamnya adalah 9.1 milyar lembar. Maka, nilai saham PPRO adalah 1 trilyun dibagi 9.1 milyar, sama dengan Rp113 per saham. Jika saham baru PP Properti dilepas pada harga terendah yakni 185 per saham, maka itu artinya anda sebagai pemegang saham baru di perusahaan hanya perlu mengeluarkan dana dalam jumlah yang sedikit lebih besar (Rp185 berbanding Rp113, berarti 1.6 kalinya) dibanding modal yang disetor PTPP sebagai pemilik asli sekaligus penanggung jawab atas jalannya operasional perusahaan.
Dan menurut penulis itu adalah harga yang relatif murah, atau bahkan sangat murah jika dibanding IPO WTON setahun yang lalu. Jika PP Properti benar-benar dijual pada harga 185, dan jika pada Mei nanti IHSG paling tidak masih stabil di posisinya saat ini (5,400-an), maka saham PPRO berpeluang untuk naik signifikan sejak listing perdananya, dan kenaikannya tersebut akan berlanjut jika pada laporan keuangan terbarunya (Kuartal II 2015, akan terbit akhir Juli nanti) perusahaan masih sukses membukukan kinerja yang bertumbuh.
Namun jika PP Properti dilepas pada harga 350, maka tentunya dia tidak bisa dikatakan murah lagi. Selain itu peningkatan ekuitas dalam jumlah yang kelewat besar (karena besarnya dana perolehan hasil IPO-nya) juga akan menyebabkan ROE PPRO nantinya akan tampak sangat kecil, dan itu bisa membuat kinerja fundamental perusahaan menjadi tampak buruk sehingga malah menjadi katalis negatif bagi sahamnya. But well, mari kita berharap bahwa mudah-mudahan PP Properti ini akan dilepas pada harga yang 185, syukur-syukur bisa lebih rendah lagi (ya gak mungkin lah, just kidding!)
PT PP Properti, Tbk
Rating Kinerja Pada 2014: A
Rating Saham pada 185: AA
Pengumuman: Buku Kumpulan Analisis Saham edisi Kuartal I 2015 (ebook kuartalan) akan terbit tanggal 11 Mei mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Ebook Analisis Kuartal I 2015

Dear investor, seperti yang anda ketahui, para emiten/perusahaan di BEI sudah mulai merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2015. Dan seperti biasa, penulis akan membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten untuk periode Kuartal I 2015. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan untuk memilih saham-saham yang akan dibahas di ebook ini.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki fundamental yang bagus, dan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue (murah), atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini akan berisi analisis terhadap 30 buah saham pilihan, dan akan terbit pada hari Senin, tanggal 11 Mei 2015. Anda bisa memperoleh ebook-nya dengan cara preorder, keterangan selengkapnya baca disini.
Berikut screening ebooknya (salah satu edisi sebelumnya, klik untuk memperbesar).
Pekerjaan rutin seorang investor adalah mempelajari pergerakan IHSG, melakukan screening saham, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli, dan sebaiknya beli di harga berapa. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja. Dan sudah tentu, anda sama sekali tidak perlu membayar mahal untuk itu (biayanya masih tetap sama seperti tahun 2010 lalu, alias tidak naik sama sekali).
Ebook ini terbit pertama kali pada September 2010, dan selanjutnya terbit setiap kuartal sekali (setahun empat kali). Jadi edisi kali ini merupakan edisi kesembilan belas. Bagi anda yang belum pernah berlangganan ebook ini sebelumnya, atau baru pertama kali mengunjungi TeguhHidayat.com, boleh baca lagi contoh-contoh analisis saham yang sudah pernah disajikan secara terbuka di website ini. Dan berikut ini adalah contoh tiga analisis terbaru:
  1. Mandala Multifinance (MFIN)
  2. Bank BTN (BBTN)
  3. Perusahaan Gas Negara (PGAS), dan seterusnya
Sekali lagi, untuk keterangan lebih lanjut baca disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Ms. Nury melalui Telp/SMS 081220445202 atau Pin BB 2850E045.

Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) di pin BB 52596BDA (office hour [...]

PGAS, Bluechip at Bargain Price

Warren Buffett pernah mengatakan dalam salah satu annual letter-nya, ‘Kami menyukai untuk berinvestasi pada perusahaan yang sudah berdiri dan beroperasi selama lebih dari 100 tahun. Kami tidak mau ambil risiko dengan berinvestasi pada perusahaan start-up yang belum memiliki track-record kinerja yang panjang.’ Pendek kata, Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang sudah mapan ketimbang perusahaan yang baru berdiri ‘kemarin sore’. However, ketika prinsip ini diterapkan di Indonesia maka investor mungkin akan mengalami kesulitan. Sebab, berapa banyak sih perusahaan yang listing di BEI yang sudah berusia lebih dari 100 tahun? Lha wong Republik Indonesia sendiri baru berdiri pada tahun 1945 bukan?

Tapi untungnya, Indonesia bukannya tidak memiliki perusahaan yang sudah berusia lebih dari satu abad, meski memang jumlahnya sangat sedikit. Salah dari perusahaan tersebut adalah Perusahaan Gas Negara (PGAS). Secara formal, PGAS memang baru berdiri pada tahun 1965, dan juga baru listing di BEI pada tahun 2003. Namun sebagai perusahaan gas, PGAS sudah berdiri dan beroperasi jauh sebelum itu, yakni sejak tahun 1859 dengan nama LJN Eindhoven & Co., ketika itu merupakan perusahaan pertama di Indonesia (bahkan mungkin salah satu yang pertama di dunia) yang memperkenalkan penggunaan gas untuk masyarakat umum dan industri, dimana bisnis utama perusahaan perusahaan adalah mendistribusikan gas (yang terbuat dari batubara) dari lokasi tambang batubara ke kawasan perkotaan.
Hingga hari ini bisnis utama perusahaan masih sama, yakni distribusi gas, meski bukan lagi gas yang dibuat dari batubara melainkan gas alam, karena biayanya lebih ekonomis. Kemungkinan karena berstatus sebagai perusahaan pertama di bidangnya, selain karena bisnis distribusi gas merupakan bisnis yang sulit dimasuki pemain lain, maka PGAS hingga hari ini praktis merupakan penguasa tunggal di bisnis distribusi gas di Indonesia, dengan pangsa pasar 81% pada akhir tahun 2014. Kombinasi antara penguasaan pasar yang cenderung monopoli tersebut plus pengalaman selama lebih dari seratus lima puluh tahun (karena kalau cuma monopoli, toh sejatinya Pertamina, PLN, dan PT Kereta Api juga monopoli, tapi entah kenapa mereka rugi melulu), menyebabkan PGAS senantiasa mencetak keuntungan yang besar setiap tahunnya, dengan rata-rata ROE lebih dari 30% selama sembilan tahun terakhir (2006 – 2014). Alhasil, nilai aset bersih perusahaan meningkat dari US$ 569 juta pada akhir tahun 2006, menjadi US$ 2.8 milyar pada akhir tahun 2014. Ini artinya jika seseorang membeli saham PGAS pada tahun 2006 dan masih memegangnya sampai sekarang, maka terlepas dari fluktuasi harga sahamnya di market, ia secara riil telah memperoleh capital gain sebesar rata-rata 21.9% per tahun, belum termasuk perolehan dividen. Sebagai perusahaan BUMN yang sudah mapan, PGAS membayar dividen rata-rata 30 – 50% dari laba bersihnya setiap tahun kepada para pemegang saham.
Pendek kata, kalau memperhatikan track record-nya yang excellent diatas, maka PGAS ini sangat menarik untuk investasi jangka panjang. Apalagi belakangan ini perusahaan juga mulai sukses menuai pendapatan yang signifikan dari investasinya di sektor hulu migas, yang sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu dimana perusahaan ketika itu mendirikan PT Saka Energi Indonesia sebagai kendaraan untuk mengakuisisi blok-blok migas di tanah air, entah itu secara keseluruhan ataupun sebagian, dan akuisisi-akuisisi tersebut masih dilakukan sampai sekarang. Yang terbaru, pada tanggal 15 April kemarin PGAS menambah portofolio blok migas-nya dengan mengakuisisi 11.7% participating interest di Muara Bakau PSC, Provinsi Kalimantan Timur, yang dijadwalkan akan memproduksi gas pada tahun 2017.

Logo PT Saka Energi Indonesia

Dan hasilnya, dari laba kotor perusahaan sebesar US$ 1.04 milyar di tahun 2014, terdapat US$ 115 juta atau 11% diantaranya yang berasal dari bisnis minyak dan gas. Yang perlu dicatat disini adalah, perolehan laba tersebut diperoleh ketika harga minyak dan gas sedang turun dalam beberapa bulan terakhir. Jadi jika nanti harga minyak dan gas kembali naik, maka seharusnya laba tersebut bisa lebih besar lagi. Bisnis hulu migas milik PGAS ini tampak lebih sukses dalam menghasilkan alternatif income bagi perusahaan ketimbang bisnis transmisi gas yang, meski sudah dirintis sejak tahun 1998, namun sampai sekarang hanya mampu menghasilkan laba kotor US$ 5 juta bagi perusahaan pada tahun 2014, atau sama sekali tidak signifikan. Penjelasan mengenai transmisi gas tersebut bisa dibaca lagi disini.
Kemungkinan karena kesuksesan PGAS dalam memperoleh sumber pendapatan baru dari blok-blok migas milik perusahaan, pihak manajemen kemudian lebih bersemangat untuk mengakuisisi lebih banyak lagi blok migas, dan itu sebabnya pada tahun 2014 kemarin PGAS menerbitkan obligasi senilai US$ 1.3 milyar di Singapura, dimana dananya akan digunakan untuk modal kerja termasuk akuisisi blok migas. Obligasi tersebut baru akan jatuh tempo pada tahun 2024, dengan tingkat suku bunga yang terbilang sangat murah yakni hanya 5.1% per tahun (jadi PGAS seperti dapat duit gratis, karena bahkan kalau dana hasil obligasi tersebut disimpan begitu saja di deposito bank atau surat utang negara, maka keuntungan yang diperoleh sudah lebih dari cukup untuk membayar bunga tersebut). Rendahnya tingkat suku bunga serta lamanya jangka waktu obligasi tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan para investor di Singapura sana bahwa PGAS merupakan perusahaan yang sangat baik dan akan terus bertumbuh dalam jangka panjang, karena kalaupun perusahaan ternyata gagal dalam venture blok migas-nya, namun pendapatan perusahaan secara umum tetap tidak akan terganggu karena bisnis inti perusahaan, yakni distribusi gas, sudah memang sudah sangat settle. Karena nilai obligasinya besar (US$ 1.3 milyar itu sama dengan Rp16 trilyun, kalau pake kurs sekarang), maka tentu saja PGAS menerapkan hedging dimana nilai obligasi tersebut tidak akan terpengaruh terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar.
Lalu bagaimana dengan sahamnya?
Bagi anda yang sudah hafal dengan gaya investasi penulis, maka anda pasti sudah tahu kenapa saya tiba-tiba saja membahas PGAS ini. Yup, itu karena sahamnya tiba-tiba saja turun signifikan dalam beberapa minggu terakhir, dan seperti biasa dengan ‘dibumbui’ oleh banyak sentimen negatif. Ketika artikel ini ditulis, saham PGAS berada di posisi 4,340, yang merupakan posisi terendahnya dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan untuk tahun penuh 2014, dan dengan menggunakan posisi kurs Rupiah pada tanggal 31 Desember 2014 yakni Rp12,501 per US Dollar, maka harga tersebut mencerminkan PBV 3.0 kali dan PER 11.6 kali. Pertanyaannya tentu, apakah harga tersebut sudah cukup murah? Dalam hal ini maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Yang pertama, sebagai salah satu perusahaan paling mapan, paling konsisten, dan paling menguntungkan di BEI, maka adalah wajar jika PGAS senantiasa dihargai pada valuasi yang cukup tinggi, bisa dilihat dari PER-nya yang selalu berkisar antara 14 hingga 16 kali, terkadang bahkan lebih tinggi dari itu. However, itu bukan berarti PGAS tidak pernah dihargai pada valuasi yang rendah. Dalam lima tahun terakhir, PGAS pernah tiga kali turun hingga mendekati 30% dari posisi tertingginya, yakni pada September 2011, Desember 2013, dan sekarang. Berikut data selengkapnya:
Date
Lowest
Highest (before drop)
Change (%)
Sep-11
2,350
4,475
(47.5)
Dec-13
4,435
6,250
(29.0)
Apr-15
4,370
6,150
(28.9)
Nah, kalau berkaca pada pengalaman di bulan September 2011 dan Desember 2013, maka tidak peduli sedalam apapun penurunan PGAS, namun toh pada akhirnya dia akan naik lagi. Namun berbeda dengan dua kali koreksi sebelumnya (dan mungkin juga koreksi-koreksi sebelumnya lagi) dimana penurunan PGAS ketika itu selaras dengan pergerakan IHSG yang juga turun (pada bulan September 2011 dan Desember 2013, IHSG telah turun masing-masing 17 dan 19% dari posisi puncaknya), maka penurunan PGAS kali ini terjadi ketika pergerakan IHSG masih relatif stabil. Selain itu kalau melihat kasus koreksi di bulan September 2011, PGAS sempat turun hingga PER-nya tercatat hanya 8.5 kali. Sementara pada harganya saat ini, PER PGAS masih tercatat 11.6 kali.
Itu yang pertama. Yang kedua, setiap kali saham-saham besar (termasuk PGAS) turun maka di media selalu beredar banyak pemberitaan yang ‘menjelaskan’ penyebab penurunan tersebut, atau dengan kata lain sentimen negatif. Berdasarkan catatan penulis saja, untuk penurunan PGAS kali ini terdapat beberapa ‘bad news’ terkait perusahaan, yakni: 1. Menteri Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan kepada pers bahwa Kemenperin mengusulkan penurunan harga jual gas sebesar 10 – 20%, dimana jika itu direalisasikan maka margin laba PGAS tentunya akan tertekan (Sebenarnyaaaa, harga jual gas dari PGAS adalah yang termurah sejagat nusantara, bahkan lebih murah dibanding gas melon. Jadi mau diturunin sampe berapa lagi?), 2. Pendapatan PGAS di tahun 2015 diprediksi turun 6% karena penyerapan gas oleh PLN berkurang (isu ini tidak valid, karena pada tahun 2014, pendapatan PGAS dari PLN tercatat US$ 624 juta, masih naik dibanding tahun sebelumnya sebesar US$ 575 juta. Lagipula kalau benar pendapatan dari PLN berkurang, maka itu tidak bepengaruh signifikan terhadap kinerja PGAS karena pendapatan dari PLN tersebut tidak sampai 20% dari pendapatan PGAS secara keseluruhan), 3. Blok-blok migas yang dimiliki PGAS harus diserahkan ke Pertamina (Ini siapa yang ngomong coba? Ngaco banget!), dan 4. PGAS mengalami kesulitan memperoleh pasokan gas (meski yang ini memang bener, tapi itu cuma cerita lama yang diungkit-ungkit lagi).
Tapi terus terang, kalau penulis sendiri sudah cukup hafal bahwa isu-isu negatif seperti itu pada akhirnya nanti akan menguap dengan sendirinya. Faktanya, ada banyak dari isu-isu negatif tersebut yang justru baru keluar setelah PGAS turun (jadi ketika PGAS masih diatas, tidak ada isu negatif apapun). Dan sebagai investor, disitulah tantangannya: Ketika anda sedang mengincar (atau memang sudah membeli) saham blue chip yang harganya sedang turun, maka anda harus bisa memilah-milah, berita yang mana yang memang berita sungguhan dan berita mana yang sekedar rumor. Penjelasan selengkapnya boleh dibaca disini. Selebihnya, anda harus tetap fokus pada fundamental perusahaan serta valuasi sahamnya.
Dan yang ketiga, adalah terkait dengan fundamental perusahaan. Meski sampai hari ini PGAS masih mendominasi bisnis distribusi gas di Indonesia, namun pangsa pasar perusahaan terus turun dari 93% pada akhir tahun 2010, menjadi hanya 81% pada akhir tahun 2014. Penurunan tersebut terjadi karena dari sisi volume, jumlah gas yang didistribusikan perusahaan memang cenderung stagnan karena, seperti yang sudah disebut diatas, PGAS kesulitan untuk memperoleh pasokan gas dari pihak produsen, dan kondisi tersebut sudah terjadi sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pada tahun 2014 kemarin PGAS telah menyalurkan gas sebanyak 1,717 MMScfd, atau hanya naik sedikit sekali dibanding 1,661 MMScfd pada tahun 2010. Alhasil, meski nilai aset bersih PGAS masih terus tumbuh secara signifikan setiap tahunnya (karena tingginya rasio profitabilitas perusahaan), namun rate pertumbuhan laba bersih PGAS cenderung stagnan, Pada tahun 2014 perusahaan mencatatkan laba bersih US$ 748 juta, atau hanya tumbuh sedikit dibanding US$ 696 juta pada tahun 2010. Seretnya pasokan gas ini juga menyebabkan PGAS agak ‘malas’ dalam membangun jaringan pipa gas baru dan infrastruktur gas lainnya, karena buat apa repot-repot menambah jaringan pipa gas, kalau perusahaan tidak memperoleh pasokan gas untuk didistribusikan?
Untuk mengatasi masalah sulitnya pasokan gas, sejak tahun 2011 perusahaan berupaya untuk memiliki pasokan gas-nya sendiri dengan cara mengakuisisi blok-blok migas. Dan kabar baiknya, seperti yang sudah disebutkan diatas, upaya tersebut sejauh ini terbilang berhasil dimana PGAS kini memiliki sumber pendapatan baru dari penjualan minyak dan gas, kali ini dalam posisinya sebagai produsen, bukan distributor. Pada akhir tahun 2014, dari delapan blok migas yang dimiliki perusahaan, baik seluruhnya maupun sebagian (belum termasuk Blok Muara Bakau yang baru diakuisisi pada tahun 2015), tiga diantaranya memang sudah berproduksi. Malah, kalau bukan karena adanya pendapatan baru tersebut, maka laba bersih PGAS pada tahun 2014 tidak akan turun sebesar 10.1% dibanding tahun 2013, melainkan lebih dari itu.
However, faktanya tetap saja: Laba bersih PGAS di tahun 2014 kemarin tercatat turun dibanding tahun sebelumnya. Jika pada Kuartal I 2015 mendatang perusahaan kembali mencatatkan penurunan laba, maka sentimen-sentimen negatif yang sudah disebutkan diatas akan kembali ramai dibicarakan orang, dan saham PGAS akan kembali tertekan. Tapi jika pada Kuartal I tersebut perusahaan sukses membukukan kenaikan laba, maka sentimen negatif tadi akan menguap lebih cepat, dan seharusnya PGAS akan mampu naik kembali.
Kesimpulannya, meski PGAS pada saat ini sangat menarik dari sisi valuasi, sementara outlook jangka panjangnya juga terbilang cerah dimana perusahaan terbilang sukses masuk ke bisnis hulu migas, namun penulis sendiri lebih memilih wait and see, terutama karena melihat IHSG yang belakangan ini seperti kehabisan bensin untuk naik lebih lanjut (jika IHSG turun maka PGAS tetap akan lanjut turun), dan ada baiknya kita menunggu laporan keuangan berikutnya, just to be sure. Penulis tidak tahu penurunan PGAS ini bakal mentoknya sampai level berapa, tapi seperti yang sudah disebutkan diatas: Serendah apapun penurunannya, namun pada akhirnya PGAS ini akan naik lagi. Jadi semakin rendah penurunannya maka itu semakin bagus! Karena itu artinya potensi keuntungannya menjadi semakin besar.
Tapi Pak Teguh, saya sudah terlanjur beli sahamnya nih? What should I do? Well, kalau anda belinya di harga 4,750 atau dibawahnya, maka sebenarnya itu sudah cukup murahsehingga seharusnya, meski mungkin perlu menunggu cukup lama, pada akhirnya anda tetap akan memperoleh keuntungan. Selain itu PGAS hanya bisa turun lebih rendah lagi dari posisinya saat ini kalau: 1. IHSG mengalami koreksi, 2. Terdapat sentimen negatif yang serius (sentimen-sentimen negatif terkait PGAS yang beredar sejauh ini rata-rata cuma ‘bercanda’), atau 3. Perusahaan kembali membukukan penurunan labanya di tahun 2015. Jadi saran penulis adalah, jika tiga kondisi diatas tidak terjadi, maka anda bisa tetap hold saham anda, termasuk boleh juga beli lagi di harga bawah alias average down. Tapi jika salah satu dari tiga kondisi diatas terjadi, maka sebaiknya keluar dulu, paling tidak separuhnya. Jadi kalau anda pegang PGAS 100 lot maka boleh jual 50 lot, sementara selebihnya tetap di-hold.
Dengan cara ini maka kalau PGAS beneran lanjut turun, anda bisa menggunakan dana hasil penjualan PGAS tadi untuk nanti beli lagi di harga bawah. Tapi jika PGAS ternyata tidak lanjut turun dan rebound, maka kerugian anda hanya separuh dari yang seharusnya. Good luck!

PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk
Rating Kinerja pada 2014: A
Rating Saham pada 4,340: [...]

Terjemahan Buffett Annual Letter, Special Edition!

Tahun 2014 kemarin adalah tepat 50 tahun sejak Warren Buffett, guru besar dari investor saham di seluruh dunia, mengambil alih kepemilikan sekaligus kepemimpinan di Berkshire Hathaway. Mungkin dalam rangka merayakan 50 tahun tersebut, Buffett kemudian secara pribadi menulis ‘surat’ khusus di Berkshire Hathaway Annual Letter untuk tahun 2014, yang berisi tentang pengalaman serta kebijaksanaannya dalam berinvestasi, yang telah sukses ‘menyulap’ Berkshire dari sebuah perusahaan tekstil yang hampir bangkrut, menjadi sebuah perusahaan konglomerasi yang amat sangat besar.

Selain tulisan khusus oleh Buffett diatas, vice-chairman Berkshire, Charlie Munger, juga menulis artikel yang juga menjelaskan tentang strategi-strategi serta kebijakan Berkshire Hathaway, atau Warren Buffett khususnya, dalam berinvestasi, dan pelajaran apa yang kemudian bisa diambil dari situ.
Nah, kalau anda sudah membaca tulisannya, maka anda akan memperoleh banyak sekali wisdom dan pencerahan yang disajikan, tidak hanya tentang investasi tapi juga tentang bagaimana mengelola perusahaan, bagaimana membentuk karakter seorang investor/CEO, serta tips-tips berharga lainnya dalam berinvestasi.
Sayangnya karena Buffett dan Munger bukan orang Indonesia melainkan Amerika, maka mereka tentu saja menulis suratnya dalam bahasa Inggris, dan juga dengan banyak memasukkan istilah-istilah/peribahasa yang mungkin tidak familiar bagi orang Indonesia kebanyakan. Karena itulah, penulis kemudian membuat versi terjemahan dari annual letter tersebut dalam Bahasa Indonesia, tentunya dengan hasil terjemahan yang enak dibaca. Selain menterjemahkan, penulis juga menyelipkan beberapa komentar penulis sendiri didalam annual letter tersebut, agar keseluruhan tulisannya menjadi lebih mudah dimengerti bahkan untuk investor/calon investor yang masih awam sekalipun.

Warren Buffett bersama seluruh anggota keluarga besarnya. Looks like he’s a family man.

Anda bisa memperoleh hasil terjemahan tersebut dalam bentuk ebook (file PDF) dengan cara mendownload-nya disini, gratis! Catatan: Setelah anda membuka link-nya, klik kotak ‘download’ yang berwarna merah muda dan akan muncul iklan tapi abaikan saja (langsung tutup iklannya). Kemudian klik lagi kotak download tadi, masukkan verification code, dan klik ‘download’ sekali lagi.
Tapi jika anda tidak bisa mendownload-nya, maka boleh kirim email dengan subjek ‘Buffett Annual Letter’ ke teguh.idx@gmail.com, dan kami akan mengirim file-nya ke anda melalui email. Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.
Okay lads, I think that’s all. Untuk artikel selanjutnya akan ditulis minggu [...]

Ketika Perusahaan Mengendalikan Harga Sahamnya

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan dari seorang teman (damn I have a lot of friends, thanks to this blog) yang intinya kira-kira begini, ‘Pak Teguh, di BEI ada beberapa perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan kinerja yang konsisten, valuasi sahamnya murah, dan manajemennya menerapkan GCG dengan baik. Namun sahamnya tetap saja tidak mau bergerak atau tidak likuid, salah satunya mungkin Mandala Multifinance (MFIN) yang Pak Teguh rekomendasikan.’

‘Sementara ada juga perusahaan yang kinerjanya tidak bagus, valuasi sahamnya mahal, dan manajemennya juga kurang baik. Tapi sahamnya banyak diperdagangkan alias likuid, dan juga mampu untuk terus naik karena pihak perusahaan, atau dalam hal ini investor relation-nya, rajin melakukan roadshow atau semacamnya untuk mempromosikan sahamnya ke investor, rutin melakukan presentasi di media, termasuk mereka sendiri juga turut mengendalikan harga sahamnya di pasar agar naik terus, atau minimal nggak turun.’
‘Dari sini kemudian timbul kesan bahwa percuma saja membeli saham dari perusahaan yang hanya fokus pada kegiatan operasional namun tidak peduli soal apakah sahamnya naik atau turun tanpa pernah berusaha mengendalikannya, termasuk juga jarang mempromosikan sahamnya ke investor. Karena, tak peduli sebagus apapun kinerja sebuah perusahaan tapi kalau tidak ada investor yang membeli sahamnya, maka harga sahamnya juga tidak akan naik bukan? Tapi bagaimana seorang investor akan membeli suatu saham kalau saham tersebut jarang dipromosikan?’
Nah, meski pertanyaannya cukup masuk akal, dan penulis sebelumnya sudah pernah juga menerima keluhan dari seorang teman yang menolak untuk membeli saham yang saya rekomendasikan karena dia bilang, ‘Saya lihat pihak manajemen perusahaan sama sekali gak peduli jika sahamnya naik atau turun’, namun setidaknya terdapat dua poin yang bisa langsung kita lihat bahwa hal tersebut tidaklah relevan.
Yang pertama, dikatakan bahwa ada beberapa saham di BEI yang perusahannya yang mencatatkan pertumbuhan kinerja yang konsisten, valuasi sahamnya murah, dan manajemennya menerapkan GCG dengan baik, akan tetap sahamnya tetap saja tidak mau bergerak atau tidak likuid. Contohnya mungkin MFIN. Selama ini MFIN memang gak pernah kedengaran melakukan roadshow atau promosi ke investor. Yang mereka kerjakan ya cuma sesuai bidangnya saja yakni menjalankan bisnis pembiayaan sepeda motor, dan mereka sama sekali tidak pernah mencoba mengendalikan harga sahamnya di pasar.
Pertanyaannya, kalau kita pakai contoh MFIN tersebut, maka benarkah MFIN tidak mau bergerak alias naik? Well, anda bisa melihatnya sendiri. Ketika artikel ini ditulis, MFIN berada di posisi 950, atau 27.5% lebih tinggi dibanding posisinya persis setahun yang lalu. Jadi bagaimana bisa dikatakan bahwa MFIN ini tidak bergerak naik?
However, penulis paham dengan istilah ‘tidak bergerak’ yang dimaksud oleh teman penulis tersebut. Memang, dalam jangka panjang (1 tahun atau lebih) MFIN ini senantiasa naik dan itu selaras dengan peningkatan nilai riil perusahannya. Namun dalam jangka yang lebih pendek, katakanlah beberapa bulan, maka seringkali saham ini gak mau kemana-mana. Contohnya kalau anda beli MFIN pada harga 710 di bulan April 2013, maka pada bulan Maret 2014, atau hampir setahun kemudian, saham MFIN anda ternyata tetap stay di harga 700, alias malah turun 10 perak. Bagi beberapa investor terutama yang masih pemula, tidak ada yang lebih membosankan ketimbang menunggui saham yang sama selama berbulan-bulan (jangankan berbulan-bulan, seminggu aja kadang-kadang udah gak tahan) dan ternyata dia malah gak naik-naik (kalau ditungguin tapi naik terus sih gpp lah, malah bagus). Mereka pengennya saham tersebut kalau ndak naik ya turun, sehingga mereka bisa melakukan profit taking ataupun cut loss. Para broker di sekuritas juga bakal bete kalau nasabahnya bengong aja dan nggak trading, karena kalau begitu caranya maka darimana mereka memperoleh penghasilan?

Logo PT Mandala Multifinance, Tbk

Namun intinya adalah, meski saham dari perusahaan tertentu terkadang tampak gak bergerak kemana-mana dalam kurun waktu yang tidak sebentar, namun pada akhirnya dia akan bergerak mengikuti fundamental perusahaan. Jika nilai riil atau nilai aset bersih/ekuitas meningkat, maka harga sahamnya juga akan meningkat. Jika perusahaannya mengalami rugi sehingga nilai ekuitasnya turun, maka sahamnya juga akan turun. Selama 5 tahun terakhir penulis belum pernah, sekali lagi lagi belum pernah, ketemu perusahaan yang menghasilkan laba bersih yang besar secara selama dua atau tiga tahun berturut-turut sehingga nilai ekuitasnya naik tajam, namun sahamnya tetap saja gak kemana-mana selama kurun waktu tersebut. Kalau anda ketemu dan membeli saham yang menurut anda bagus namun setelah ditunggu selama lebih dari setahun dia tetap saja nggak kemana-mana (sementara disisi lain IHSG bergerak normal dan tidak mengalami koreksi), maka coba evaluasi lagi: Apakah saham yang anda beli beneran sebagus itu?
Okay, tapi MFIN tetap saja nggak likuid kan? Yahh, itu sih karena memang harga sahamnya belum terlalu tinggi saja. Sekarang coba lihat Lippo Cikarang (LPCK) (ini saham favorit penulis di sektor properti, yang meski belum pernah dibahas secara terbuka di website ini, namun sudah sering dibahas di ebook kuartalan). Pada awal tahun 2011 lalu, ketika di BEI masih belum booming saham-saham properti, saham LPCK yang ketika itu masih berada di level 400-an, nilai transaksi perdagangannya hanya sekitar Rp100 juta per hari, bahkan seringkali kurang dari itu. Posisi bid dan offer-nya juga banyak yang bolong-bolong. Tapi sekarang? Sudah belasan milyar Rupiah per hari, alias sudah cukup likuid, karena disisi lain harga sahamnya juga sudah jauh lebih tinggi dibanding tahun 2011 tersebut.
Kalau mau contoh yang lebih ekstrim lagi, saham Astra International sempat tidak likuid sama sekali di tahun 1998 – 1999, karena ketika itu juga perusahaan sempat mengalami defisiensi modal. Tapi sekarang berapa nilai transaksi perdagangan saham ASII setiap harinya? Lebih dari Rp250 milyar!
Jadi sekali lagi, kalau sebuah perusahaan memiliki kinerja yang bagus dan senantiasa bertumbuh dari tahun ke tahun, maka jangan khawatir: Sahamnya tetap akan naik dan pada akhirnya juga akan likuid. Memang ada beberapa pengecualian, seperti saham HM Sampoerna (HMSP) dan Multi Bintang Indonesia (MLBI), yang meski mereka terus naik dalam jangka panjang karena fundamentalnya yang memang moncer, tapi sampe sekarang likuiditasnya tetep aja seret. Namun berdasarkan pengalaman, hal itu seharusnya tidak jadi masalah. Kalau anda bisa masuk (membeli) sebuah saham meskipun mungkin harus dengan cara nyicil karena likuiditasnya yang seret, maka anda juga seharusnya bisa keluar meski harus dengan cara nyicil juga. Balik lagi ke contoh MFIN, kalau sahamnya benar-benar tidak likuid sama sekali maka saya juga tidak akan membelinya (nilai transaksi MFIN mencapai lebih dari Rp100 juta per hari, masih cukup lah). Sementara ada satu lagi saham yang sebenarnya penulis suka, yakni Siantar Top (STTP), namun saya nggak pernah membelinya (meskipun faktanya STTP ini sudah naik lebih dari 10 kali lipat dalam 5 tahun terakhir). Karena dengan nilai transaksi saham yang bahkan gak nyampe Rp10 juta per hari, maka bagaimana penulis bisa membelinya?
Itu yang pertama. Yang kedua, ketika ada pertanyaan, bagaimana seorang investor akan membeli suatu saham kalau saham tersebut jarang dipromosikan oleh manajemen perusahaan? Maka jawabannya adalah pertanyaan juga: Memangnya penulis tau dari mana soal saham MFIN, padahal manajemen MFIN ini gak pernah woro-woro soal sahamnya? Sebuah perusahaan sama sekali tidak perlu melakukan promosi apapun kepada investor hanya agar sahamnya naik. Karena kalau fundamental perusahaan memang beneran bagus, maka para investor pasti akan mengetahui dengan sendirinya, sehingga sahamnya di pasar juga akan naik dengan sendirinya.
Sebab seorang investor sungguhan (baca: investor yang mengetahui cara untuk menganalisis saham/perusahaan), yang dia lakukan bukan baca-baca koran atau ngeliatin iklan/promosi yang dilakukan perusahaan atau ikut roadshow, melainkan baca-baca laporan keuangan perusahaan. Jadi kalau ada barang bagus, maka mereka akan mengetahuinya. Buktinya ya LPCK dan MFIN tadi, yang karena kinerjanya bagus maka sahamnya terus naik dalam jangka panjang, tak peduli meski perusahaan jarang atau bahkan tidak pernah peduli dengan harga sahamnya di market, dan tidak peduli meski nama perusahaan belum terlalu terkenal (MFIN sama sekali tidak seterkenal Adira). Selain itu, tiga perusahaan terbesar di BEI dari sisi market cap, yakni Bank BCA (BBCA), Unilever (UNVR) dan ASII, mereka juga hampir tidak pernah terdengar melakukan roadshow atau semacamnya (atau memang tidak pernah sama sekali?), namun tetap saja sahamnya ramai diperdagangkan karena perusahaannya punya fundamental dan reputasi yang baik. Plus, ketiga perusahaan juga tidak pernah terdengar mencoba mengendalikan harga sahamnya di pasar. Yang mereka lakukan hanyalah melakukan buy back jika dalam kondisi tertentu (misalnya krisis) saham mereka benar-benar anjlok.
Sebaliknya, ketika sebuah perusahaan memiliki fundamental yang buruk, maka nggak peduli sesering apapun pihak manajemen melakukan roadshow, atau sehebat apapun investor relation perusahaan dalam hal cuap-cuap untuk memaparkan ‘prospek saham’ hingga berbusa-busa, namun tetap saja sahamnya bakal jeblok. Bumi Resources (BUMI) mungkin bisa dinobatkan sebagai perusahaan publik yang paling sering menggelar roadshow di dalam maupun luar negeri, analyst meeting, press conference, hingga promosi-promosi lainnya agar investor tertarik untuk membeli saham BUMI. Tapi yah, karena perusahaannya juga terus merugi dalam beberapa tahun terakhir, maka berapa harga BUMI sekarang???
However, penulis juga tetap menghargai perusahaan yang mau memberikan sedikit perhatian terhadap harga sahamnya di pasar. Kalau kita pakai contoh perusahaan investasi milik Opa Warren, Berkshire Hathaway, perusahaan memiliki kebijakan untuk melakukan buy back sahamnya sendiri di pasar, jika saham Berkshire telah turun pada level tertentu yang dianggap jauh lebih rendah dibanding nilai intrinsiknya. Dan ketika perusahaan melakukan buy back, maka penurunannya akan berhenti untuk kemudian perlahan tapi pasti berbalik naik.

Namun cukup itu saja yang perlu dilakukan perusahaan, dan tidak perlu sampai berusaha menaik-naikkan sahamnya sendiri di pasar. Dan memang Berkshire tidak pernah mencoba mengendalikan harga sahamnya apalagi menaik-naikkannya.

Sementara di BEI, ada banyak perusahaan yang meski mereka juga tidak pernah mencoba mengendalikan harga sahamnya di pasar, namun mereka selalu siap sedia untuk melakukan buy back jika sahamnya turun terlalu rendah. Contohnya Semen Baturaja (SMBR), dimana manajemen sejak awal sudah menyiapkan dana maksimal hingga Rp100 milyar, untuk membeli sendiri sahamnya di pasar jika sewaktu-waktu SMBR turun hingga, katakanlah, lebih rendah dari 300. Pada puncak krisis global di tahun 2008, Pemerintah RI dalam kapasitasnya sebagai pemegang saham pengendali dari perusahaan-perusahaan BUMN, juga dengan sengaja mengucurkan dana sebesar Rp4 trilyun untuk membeli saham-saham seperti BBRI, BMRI, SMGR dll untuk mencegah agar saham-saham tersebut tidak turun lebih rendah lagi. Kebijakan buy back ini, ketika disatu sisi kembali menghadirkan kepercayaan investor (karena pemerintah berani masuk ketika terjadi krisis), namun juga memberikan keuntungan bagi Pemerintah itu sendiri, karena mereka membeli saham-saham tersebut pada harga yang sebenarnya harga diskon.
But still, Pemerintah juga tidak pernah mencoba menaik-naikkan atau menggoreng saham-saham BUMN di BEI.
Sementara ketika sebuah perusahaan menggoreng sahamnya sendiri hingga dia naik tinggi, entah itu sambil promosi/roadshow atau tidak, maka seringkali ending-nya menjadi sangat tidak enak. Anda mungkin bertanya-tanya, kenapa kok saham Trada Maritime (TRAM) terus saja turun hingga sekarang tinggal 60 perak, padahal sebelumnya dia sempat gagah di harga 1,800-an. Namun pernahkah anda bertanya, bagaimana caranya TRAM bisa terus naik dari 500-an pada empat tahun lalu hingga menyentuh 1,800-an, juga dengan volume transaksi yang sangat besar, padahal fundamentalnya gak ada bagus-bagusnya? Ya itu berarti sudah pasti ada bandar besar yang bermain [...]