Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Keuntungan 130% Dalam 6 Bulan

Kemarin penulis jalan-jalan ke Kawasan Pluit, Jakarta Utara, dan disana penulis menemukan baligho besar yang isinya benar-benar bikin kaget. Nih, anda lihat sendiri fotonya, klik gambar untuk memperbesar:

Prospek keuntungan hingga 130% hanya dalam waktu 6 bulan? Apa komentar anda? Atau barangkali ada diantara anda yang ahli di bidang properti, mohon pendapatnya [...]

Dyandra Media International

Dyandra Media International, atau disebut juga Dyandra & Co. (DYAN), merupakan perusahaan penyedia jasa event organizer (EO), event supporting, venue and hall, dan jasa perhotelan. DYAN merupakan bagian dari grup media terkemuka, Kompas Gramedia, dan 30% sahamnya (menjadi 21% pasca IPO) dipegang langsung oleh pimpinan grup, Tuan Jakob Oetama. Sebagai anak perusahaan dari grup usaha yang sudah sangat terkenal, ditambah statusnya sebagai pemimpin pasar di industri EO (DYAN melalui anak usahanya yakni Dyandra Promosindo, merupakan pemimpin pasar di industri EO Indonesia, dengan market share sekitar 80%), menyebabkan perusahaan ini banyak diperbincangkan ketika akan IPO. Dan sejauh ini, DYAN sukses naik 11.4% ke posisi 390, dari harga perdananya yakni 350. Lalu bagaimana kedepannya?


Logo Dyandra & Co.

Sejarah Dyandra bermula ketika pada tahun 1994, Grup Kompas Gramedia mendirikan perusahaan EO dengan nama Dyandra Promosindo. Seiring dengan perkembangan perusahaan, grup Kompas Gramedia sebagai pemilik Dyandra kemudian mendirikan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang supporting layanan EO, seperti jasa pendukung event, jasa penyedia venue, hall, dan convention centre, dan tentunya jasa perhotelan (karena sebagian besar event yang diselenggarakan Dyandra mengambil tempat di hotel, dan karena untuk event-event besar yang dihadiri pengunjung dari jauh atau bahkan mancanegara, sudah tentu para pengunjung ini butuh hotel untuk menginap). Kemudian pada tahun 2007, Kompas Gramedia mendirikan PT Dyandra Media International (DYAN) untuk dijadikan holding/induk dari perusahaan-perusahaan tadi, termasuk Dyandra Promosindo. DYAN inilah yang kemudian listing di bursa.
Berdasarkan laporan keuangan terakhirnya yaitu periode Sembilan Bulan 2012, sebagian besar pendapatan DYAN (66%) berasal dari jasa EO. Sementara jasa pendukung event, penyedia venue dan hall, dan jasa perhotelan masing-masing berkontribusi sebesar 16, 12, dan 6%. Dari sini tampak jelas bahwa bisnis EO merupakan urat nadi perusahaan, bahkan kalaupun kita menganggap bahwa tiga jenis bisnis lainnya yang juga dijalani perusahaan, tidak berkaitan dengan bisnis EO.
Okay, lalu seperti apa sih bisnis EO di Indonesia?
Dari sudut pandang perusahaan penyedia jasa EO, yang dimaksud dengan penyelenggaraan event adalah sarana bagi perusahaan atau institusi lainnya untuk mengumpulkan orang-orang, untuk mempromosikan produk dan lain-lain. Ketika diselenggarakan event pameran otomotif roda empat, misalnya, maka tujuannya adalah untuk memperkenalkan mobil-mobil baru ke calon konsumen. Promosi dengan cara ini dipercaya lebih efektif ketimbang promosi melalui iklan biasa, karena konsumen bisa melihat atau mencoba produk yang ditawarkan secara langsung.
Sementara jenis event lainnya seperti meeting, conference, dan convention, merupakan sarana untuk mengumpulkan orang-orang untuk berdiskusi tentang suatu topik tertentu, atau untuk mendengarkan satu atau beberapa orang narasumber yang dianggap kompeten dalam topik tersebut (seminar, atau konser jika ‘narasumber’nya adalah penyanyi atau grup band), selain juga untuk merayakan hal tertentu (pesta pernikahan, dll). Dalam event seperti ini tidak ada produk yang dijual, namun peserta acaranya biasanya dipungut biaya (termasuk kalau anda kondangan ke pernikahan juga tetep harus bawa amplop kan?).
Berdasarkan ukuran event-nya, perusahaan EO bisa dibedakan menjadi dua, yakni EO biasa, yang menyediakan layanan EO untuk pernikahan dll, dan EO besar, yang menjadi panitia untuk event besar berskala nasional atau bahkan internasional. Nah, DYAN bermain di penyelenggaraan event skala besar, entah itu pameran, konferensi, konvensi, dan semacamnya, yang biasa digelar di tempat-tempat yang besar, misalnya seperti di JCC (Jakarta Convention Center) yang terkenal itu. Malah sekitar 65% penyelenggaraan event yang digelar di JCC, EO-nya adalah DYAN.
Tidak seperti event-event kecil yang jumlahnya bisa ribuan, event-event besar ini jumlahnya lebih terbatas dan bisa di-data. Berdasarkan data per Juli 2011 dari International Congress and Convention Association (ICCA), terdapat tiga wilayah di Indonesia yang cukup sering mengadakan convention dan pameran berskala internasional, yakni Bali (Nusa Dua), Jakarta, dan Bandung, dengan total jumlah event sebanyak 49 kali pada tahun 2010. Jumlah tersebut masih lebih kecil jika dibanding beberapa kota di negara tetangga, seperti Bangkok (55 kali), Kuala Lumpur (79), dan Singapura (139).
Sedikitnya jumlah event besar yang diselenggarakan di Indonesia disebabkan oleh minimnya fasilitas dan infrastruktur, seperti masih minimnya jumlah venue (tempat) untuk penyelenggaraan event, dan infrastruktur disekitar venue tersebut (hotel, bandara, dll). Termasuk di Jakarta sendiri pun hanya terdapat beberapa lokasi yang  biasa digunakan untuk penyelenggaraan event besar, seperti JCC, Jakarta International Expo (JIEX), Balai Kartini, Balai Sudirman, dan SMESCO Hall. Untuk lokasi diluar Jakarta, cuma ada satu venue yang benar-benar bagus, yakni Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Kebetulan, BNDCC ini dimiliki dan dikelola oleh DYAN.
Namun untungnya dalam waktu dekat ini (hingga tahun 2014 nanti), Indonesia akan memiliki beberapa venue baru untuk penyelenggaraan event, yang terbesar adalah Pusat Pameran dan Kongres Internasional Jakarta (JIECC) di Kawasan Alam Sutera, Serpong. Termasuk DYAN sendiri, sebagian dana hasil dari IPO-nya akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan (memperluas) BNDCC, membangun Hotel Gramedia Expo Surabaya, membangun Makassar Hotel and Convention Center, dan membangun Convention Center di Bumi Serpong Damai.
Lalu apakah peningkatan jumlah venue tersebut bisa mendorong peningkatan jumlah event? Bisa iya, tapi bisa juga tidak. Kalau kita perhatikan event-event pameran di Indonesia, atau setidaknya di Jakarta, biasanya hanya memamerkan produk-produk untuk kalangan menengah keatas. Makanya jenis pameran yang sering diadakan adalah adalah pameran properti, pameran produk-produk investasi dan keuangan (asuransi, reksadana, dll), pameran perhiasan, pameran lukisan dan barang-barang seni lainnya, hingga pameran otomotif. Bahkan kalau ada pameran batik pun, biasanya harga batik-nya mahal-mahal (pengalaman penulis pribadi nih), dan kalau Guns n Roses konser disini, harga tiketnya mahal bukan kepalang. Sangat jarang, atau memang tidak pernah ada sama sekali, event pameran yang menampilkan barang kebutuhan sehari-hari, seperti pameran beras dan tepung terigu, pameran baju biasa (yang bukan desain perancang terkenal), atau pameran obat sakit kepala yang harga per tablet-nya lima ratus perak.
Karena itulah, bisnis atau pekerjaan EO khususnya EO pameran (exhibition) sejak dulu dikenal sebagai pekerjaan yang cool, karena ada kesan bahwa orang-orang EO bergaulnya sama orang-orang kalangan menengah keatas. Penulis masih ingat waktu jaman kuliah dulu, pekerjaan sebagai event organizer adalah salah satu pekerjaan yang paling banyak diimpikan oleh anak-anak kampus, terutama dari Fakultas Komunikasi.
Namun dalam pandangan seorang investor, bisnis yang hanya menyasar konsumen yang terbatas (dalam hal ini konsumen dari kalangan menengah keatas) seperti bisnis EO ini, tentunya bukan bisnis yang ideal untuk investasi jangka panjang, karena sangat rentan terhadap perubahan dalam perekonomian. Contoh simpel saja, jika sewaktu-waktu IHSG jeblok seperti tahun 2008 lalu, beranikah para perusahaan sekuritas dan reksadana menyelenggarakan pameran produk-produk investasi? Jika harga bensin premium naik dan bunga kredit leasing mobil dinaikkan, apakah perusahaan otomotif akan tetap optimis terhadap pasar dengan menyelenggarakan pameran mobil-mobil terbaru?
Lalu bagaimana dengan EO untuk event meeting, konferensi, dan konvensi? Sama saja. Kalau anda datang ke acara Konferensi Kadin, misalnya, maka anda akan memperoleh kesan acara yang mewah, dengan makanan khas hotel bintang lima. Untuk event-event kenegaraan, seperti misalnya Konferensi Asia Afrika yang terkenal itu, sudah pasti acaranya akan mewah karena yang hadir adalah para kepala negara. Dan event super-besar seperti itu tentunya tidak terlalu sering diadakan bukan?
Tapi memang untuk event-event yang skalanya lebih kecil, katakanlah pameran biasa, acara seminar, acara wisuda, pernikahan, job fair, konser musisi lokal, dan seterusnya, itu cukup sering diselenggarakan, dan pengunjungnya berasal dari semua kalangan (tidak hanya kalangan menengah keatas). Sayangnya tidak ada data terkait apakah DYAN juga menggarap event-event kecil semacam ini atau tidak, dan kalau iya, seberapa besar porsinya terhadap pendapatan perusahaan. Tapi kalau menilik jenis layanan EO yang dipromosikan perusahaan di website-nya, yakni www.dyandra.com dan www.dyandramedia.com, maka DYAN lebih banyak menjual layanan EO untuk event pameran dan promosi produk-produk perusahaan, entah itu berskala lokal, nasional, maupun internasional.
Jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, apakah peningkatan jumlah venue bisa mendorong peningkatan jumlah event? Jawabannya, hal yang lebih berpengaruh terhadap jumlah event adalah kondisi ekonomi Indonesia, dan bukan dari jumlah venue itu sendiri. Berdasarkan data internal perusahaan, jumlah event yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2008 turun 10% dibanding tahun 2007, dan kembali turun 11% pada tahun 2009, karena efek dari krisis global. Kondisi baru membaik pada tahun 2010 dan 2011, dimana jumlah event kembali meningkat masing-masing 27 dan 20%. DYAN sendiri kemudian menyelenggarakan IPO dan berniat untuk mengembangkan usaha dengan membangun venue-venue pameran di Indonesia, karena adanya momentum kondisi perekonomian Indonesia yang cukup baik, yang diprediksi (atau setidaknya menurut prediksi mereka sendiri) akan terus berlanjut di masa yang akan datang.
Lalu bagaimana dengan bisnis perhotelan yang juga dimiliki oleh DYAN? Dari dana hasil IPO-nya, sebagian juga memang akan digunakan untuk pengembangan dua jaringan hotel milik perusahaan, yakni Hotel Amaris dan Santika. Namun karena bisnis perhotelan terakhir hanya menyumbang 6% dari pendapatan DYAN secara keseluruhan, serta jumlah dana yang dipakai untuk pengembangan hotel juga cuma 13% dari dana perolehan IPO, maka tidak banyak yang bisa diceritakan.
Okay, sekarang kita ke kinerja perusahaan.
Pada Kuartal III 2012, DYAN mencatat laba bersih Rp36 milyar, yang kalau disetahunkan menjadi Rp49 milyar. Dengan ekuitas sebesar Rp512 milyar, maka itu berarti ROE-nya hanya 9.5%. Meski angka ini sekilas tampak kurang menarik, namun itu bukan karena kecilnya laba, melainkan karena peningkatan modal yang dilakukan Grup Kompas Gramedia terhadap perusahaan sebesar Rp300 milyar sejak tahun 2011. Pada tahun 2010 lalu, DYAN mampu mencetak laba bersih Rp8 milyar, ketika ekuitasnya tercatat hanya Rp20 milyar, dan itu berarti ROE-nya 34.5%. Tapi memang pertanyaannya sekarang, apakah perusahaan dapat memanfaatkan tambahan modal tersebut, termasuk tambahan modal dari IPO-nya barusan, untuk menaikkan pendapatan serta laba?
Terkait pertumbuhan, laba DYAN pada tahun 2008 dan 2009 tercatat turun signifikan karena krisis global, dan baru pulih lagi pada tahun 2010. Namun yang menarik adalah catatan labanya pada tahun 2011. Pada periode Sembilan Bulan 2011, DYAN mencatat laba bersih komprehensif Rp27 milyar. Namun di periode tahun penuh 2011, laba tersebut justru turun menjadi Rp14 milyar. Dari sini bisa disimpulkan bahwa pendapataan perusahaan tidak diperoleh secara merata sepanjang tahun, melainkan bisa jadi dalam satu kuartal DYAN memperoleh banyak orderan penyelenggaraan event, namun di kuartal berikutnya justru nggak ada event sama sekali (no days without event? really?). Jadi dalam hal ini, saham DYAN mungkin bisa naik signifikan jika sewaktu-waktu perusahaan mengumumkan bahwa mereka memperoleh order penyelenggaraan event penting. Salah satu event besar yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini adalah event APEC 2013 di Nusa Dua, Bali.
Sekarang kita ke saham. Jumlah saham DYAN setelah IPO adalah 4.3 milyar lembar. Dengan laba bersih disetahunkan Rp49 milyar, maka EPS-nya menjadi Rp11.3 per saham. Dengan harga saham 385, maka PER-nya 33.8 kali. Yap, memang cukup mahal ternyata, dan itu belum mempertimbangkan faktor dilusi yang akan terjadi  nanti karena DYAN akan menerbitkan saham dalam rangka MESOP sebanyak 2.5% dari total jumlah saham setelah IPO. Namun jika kita mempertimbangkan bahwa DYAN bisa secara signifikan meningkatkan laba bersihnya ketika berbagai pengembangan usahanya mulai membuahkan hasil, termasuk hasil dari pengurangan utangnya yang berujung pada pengurangan beban bunga (sebagian dana IPO dipakai untuk bayar utang ke Bank CIMB Niaga), maka mungkin DYAN tidak semahal itu. Disisi lain kita mungkin nggak bisa seoptimis itu juga, karena seperti yang sudah disebut diatas, pengembangan usaha yang dilakukan perusahaan bisa menjadi sia-sia jika kondisi ekonomi ternyata tidak mendukung.
Jadi, sahamnya? Ya kalau penulis sendiri sih nggak tertarik, kecuali jika saham DYAN ini bisa dijual pada harga yang lebih murah, mungkin sekitar 270 – 300. Penulis setuju jika dikatakan bahwa sektor usaha DYAN ini cukup bagus dan menarik, terutama karena ditopang oleh kondisi ekonomi yang kondusif, mungkin sama menariknya dengan saham-saham properti dan konstruksi yang terus naik dua tahun terakhir ini. Jadi masalahnya sekarang tinggal di harganya saja.
PT Dyandra Media International, Tbk.
Rating Kinerja pada 9M12: A
Rating saham pada 385: BB
NB: Rekomendasi saham bulanan edisi April akan terbit tanggal 1 April 2013 mendatang. Anda bisa memperolehnya

Saratoga: IPO?

Jika anda mengetik kata ‘Saratoga’ di Google, maka yang akan keluar adalah nama sebuah county di negara bagian New York, Amerika Serikat. Namun di Indonesia, Saratoga lebih dikenal sebagai nama dari salah satu perusahaan investasi terbesar di tanah air, yang dimiliki oleh pengusaha terkenal Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga S. Uno. Sejak awal tahun lalu, perusahaan dengan nama lengkap PT Saratoga Investama Sedaya ini dikabarkan akan menggelar IPO pada tahun 2013. Pengumuman mengenai IPO ini bahkan sudah keluar lebih awal di website perusahaan yang bersangkutan, yaitu pada September 2012 lalu. Jika prosesnya lancar, Saratoga akan meraup dana US$ 200 juta dari IPO-nya tersebut, tapi ada juga yang bilang US$ 500 juta.

IPO Saratoga ini jelas menarik untuk dicermati, karena mereka akan menjadi perusahaan private equity (private equity firm) pertama yang melantai di bursa, selain karena mereka merupakan perusahaan investasi yang cukup besar, dengan asset under management (AUM) sekitar US$ 2 milyar. Saratoga merupakan induk dari beberapa perusahaan besar yang sudah listing lebih dahulu di bursa, seperti Adaro Energy (ADRO),Tower Bersama Infrastructure (TBIG) dan Provident Agro (PALM), selain beberapa perusahaan yang tidak listing, diantaranya:
  1. PT Bonecom Industri Pangan, perusahaan makanan olahan sea food di Makassar, Sulawesi Selatan
  2. FRP Products, Pte. Ltd., perusahaan petrokimia di Singapura
  3. PT Global Kalimantan Makmur, perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan kepemilikan lahan terutama di Sanggau, Kalimantan Barat
  4. PT iForte Solusi Infotek, perusahaan teknologi informasi
  5. PT Mandala Airlines, perusahaan maskapai penerbangan
  6. PT Medco Power, perusahaan pembangkit listrik, patungan dengan Medco Energi
  7. PT Mitra Pinasthika Mustika, perusahaan otomotif, terutama sepeda motor.
  8. PT Pelayaran Antarbuwana Pertala, perusahaan perkapalan
  9. Seroja Investments, perusahaan jasa transportasi batubara
  10. Sihayo Gold, perusahaan tambang emas, patungan dengan Provident Capital Partners, listing di Australia (Provident juga merupakan partner Saratoga di PALM)
  11. Sumatra Copper, perusahaan tambang tembaga, juga listing di Australia.
Jika IPO Saratoga masih belum jelas akan digelar kapan, maka salah satu anak usahanya diatas, yakni Mitra Pinasthika Mustika (MPM), sudah dijadwalkan akan menggelar IPO pada Juni tahun ini, dengan target perolehan dana Rp1 – 1.5 trilyun. MPM sendiri bukan perusahaan kecil, melainkan memiliki aset sekitar Rp7 trilyun. Anyway, dalam artikel ini kita tidak akan membahas MPM, melainkan Saratoga-nya.
So, katakanlah Saratoga serius dengan rencana IPO-nya. Lalu bagaimana prospeknya? Dan apa itu yang dimaksud dengan private equity firm?
Private equity (PE) secara harfiah bermakna ‘modal milik sendiri/pribadi’, sehingga PE firm adalah perusahaan yang menanamkan modal pada perusahaan milik pribadi (private) yang tidak/belum terdaftar di bursa saham (jika sebuah perusahaan sudah listing di bursa saham, maka perusahaan tersebut menjadi perusahaan terbuka/public). Modal yang ditanamkan biasanya berasal dari investor yang mempercayakan dananya untuk dikelola oleh PE firm yang bersangkutan. Jadi dalam hal ini, PE firm kurang lebih sama seperti perusahaan manajemen aset (asset management) atau reksadana. Hanya bedanya, jika perusahaan reksadana menawarkan produk investasinya kepada pemodal dari semua kalangan, maka sebuah PE firm biasanya hanya menarik dana dari investor besar, seperti high net worth individuals atau investor institusi. PE firm juga tidak akan berinvestasi secara pasif pada perusahaan-perusahaan (hanya menjadi pemegang saham, sementara pengelolaan perusahaan diserahkan kepada manajemen), melainkan ambil bagian dalam tim manajemennya, atau mereka secara aktif menunjuk orang-orang tertentu untuk ditempatkan sebagai direktur dan komisaris di perusahaan yang bersangkutan. PE firm terbesar di dunia pada saat ini adalah TPG Capital, dengan AUM lebih dari US$ 70 milyar.
Ketika sebuah perusahaan (biasanya perusahaan kecil) diambil alih atau disuntik modal oleh PE firm, maka goal-nya adalah membangun/mengelola perusahaan tersebut hingga menjadi besar, dan pada akhirnya menggelar IPO di bursa saham. Hal inilah yang dilakukan oleh Saratoga terhadap TBIG. Perusahaan penyewaan menara telekomunikasi ini ketika berdiri pertama kali pada tahun 2004 hanya memiliki 5 unit menara, dengan nilai aset tak lebih dari Rp7 milyar. Namun segelintir akuisisi yang dilakukan TBIG terhadap banyak perusahaan-perusahaan penyewaan menara telekomunikasi membuat portofolio menara milik TBIG terus meningkat, dari 57 menara di tahun 2005 menjadi 3,104 menara di awal tahun 2011, dan menjadi 7,368 menara di tahun 2012 (mungkin sekarang sudah bertambah lagi). Duit untuk akuisisinya dari mana? Dari dana investor yang ditempatkan di Saratoga, plus kombinasi pinjaman bank. TBIG sendiri sudah sukses melantai di bursa pada Oktober 2010, dan saat ini sudah menjadi perusahaan dengan nilai pasar (market cap) sekitar Rp28 trilyun, jika berdasarkan harga sahamnya saat ini yakni 5,850.
Nah, jadi jika anda ingin tahu bagaimana caranya membangun perusahaan dengan nilai aset awal hanya Rp7 milyar, menjadi perusahaan super-besar dengan nilai pasar Rp28 trilyun hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun, maka silahkan bertanya kepada Sandiaga Uno. Tapi yang jelas kurang lebih seperti itulah kerjaan Saratoga, dan juga PE firm lainnya, dan itu sebabnya orang-orang yang bekerja di PE firm biasanya kaya raya, karena mereka memang jenius dalam bidang investasi dan pengelolaan perusahaan.
Kembali ke masalah PE firm. Selain membeli perusahaan private, PE firm juga bisa membeli saham dari perusahaan terbuka, tapi biasanya bukan dengan cara membeli saham perusahaan yang bersangkutan di market, melainkan melalui private placement, yaitu membeli saham dalam jumlah besar dari penawaran yang dilakukan secara tertutup (tidak terbuka melalui market) oleh pemegang saham sebelumnya. Karena transaksinya dilakukan secara tertutup, maka harga per lembar sahamnya juga tidak mengikuti harga pasar, melainkan tergantung kesepakatan dari kedua belah pihak (penjual dan pembeli). Transaksi private placement ini sangat disukai oleh investor-investor besar, termasuk juga PE firm, karena dengan cara ini mereka bisa menjadi pemegang saham utama/mayoritas dari perusahaan yang bersangkutan, dan karenanya mereka bisa turut mengelola dan mengendalikan arah perusahaan.
Sebagian besar PE firm di dunia, termasuk TPG Capital dan juga Saratoga, merupakan perusahaan private yang sahamnya tidak diperjual belikan di bursa saham. Namun ada juga beberapa PE firm besar yang berstatus sebagai perusahaan terbuka, sehingga investor publik bisa membeli saham mereka. Beberapa diantaranya adalah:
  1. The Carlyle Group (kodenya di Yahoo Finance: CG, listing di Nasdaq)
  2. Kohlberg Kravis Roberts (KKR, NYSE)
  3. The Blackstone Group (BX, NYSE)
  4. Apollo Management (APO, NYSE)
  5. Oaktree Capital Group (OAK, NYSE)
Nah, berbeda dengan saham dari perusahaan biasa, menganalisis saham dari PE firm terbilang rumit, karena PE firm ini sejatinya investor juga (jadi kita sebagai investor berinvestasi pada perusahaan investasi, bingung kan?), termasuk PE firm biasanya tidak hanya berinvestasi pada satu perusahaan saja, melainkan pada banyak perusahaan yang bergerak di sektor-sektor usaha yang berbeda-beda, dan tidak mungkin kita bisa menganalisis perusahaan-perusahaan tersebut satu per satu.
Demikian pula dengan Saratoga. Kalau anda invest di ADRO, misalnya, maka anda cukup mengerti soal batubara. Sementara kalau anda invest di TBIG, anda bisa mempelajari soal bisnis penyewaan menara telekomunikasi. Tapi kalau anda invest di Saratoga-nya langsung? Maka anda harus mempelajari seluruh perusahaan yang dipegang oleh Saratoga, tidak hanya ADRO dan TBIG tetap juga perusahaan-perusahaan lainnya yang tidak listing di bursa.
Karena itulah, ketika sebuah PE firm menggelar IPO dan masuk ke bursa, daya tarik yang ditawarkan biasanya bukan portofolio investasi mereka, melainkan kualitas figur dari pemilik PE firm tersebut. Ketika seseorang membeli saham Berkshire Hathaway, misalnya, maka yang dia lihat bukan kinerja dari portofolio Berkshire seperti GEICO, Coca Cola, American Express, dll, melainkan sosok Warren Buffett sebagai pimpinan perusahaan (Berkshire Hathaway memang bukan sepenuhnya PE firm, karena Buffett kebanyakan hanya beli saham sebuah perusahaan tanpa ikut campur ke dalam manajemennya. Tapi untuk beberapa perusahaan tertentu, Buffett menempatkan orang-orangnya untuk menjadi CEO dll). Demikian pula dengan Saratoga, yang menjadi menarik karena keberadaan Sandiaga S. Uno didalamnya. Mr. Sandy sendiri harus diakui merupakan seorang investor hebat, dan itu sebabnya ia sudah menjadi kaya raya di usia muda (40-an) dengan nilai aset sekitar US$ 400 juta, dan masih sangat mungkin untuk meningkat lagi di masa depan.
Sandiaga S. Uno, sang atlet lari marathon. Photo courtesy of Tribunnews.com

Masalahnya, Mr. Sandy tidak sendirian di Saratoga, melainkan bersama mentornya yakni Mr. Edwin, sehingga kalaupun anda percaya sepenuhnya pada kualitas dari seorang Sandiaga Uno, maka anda tetap harus mempertimbangkan keberadaan Mr. Edwin. Faktanya, saham Saratoga sendiri hanya 32.5% yang dipegang Mr. Sandy, sementara selebihnya dipegang oleh Mr. Edwin dan saudara perempuannya, Joyce. Selain itu Mr. Sandy tidak hanya aktif di Saratoga saja, melainkan juga di Recapital, bersama dengan pengusaha muda lainnya, Rosan P. Roeslani. Jika Saratoga disokong oleh Keluarga Soeryadjaya, maka Recapital berkaitan dengan Keluarga Bakrie.

Dan jika pekerjaan Mr. Sandy di Saratoga selama ini tampak lancar-lancar saja, namun tidak demikian halnya di Recapital, dimana ia masih pontang-panting dalam mengurus perusahaan-perusahaan yang dipegang Recapital. Terakhir, Recapital harus berjuang hingga detik-detik terakhir untuk menyelamatkan Bumi Resources (BUMI), dan Berau Coal (BRAU) dari tangan Nathaniel Rothschild. Seperti yang anda ketahui, BUMI akhirnya terselamatkan, namun BRAU? Well, sepertinya terpaksa terlepas dari genggaman. Nah, hal-hal semacam ini, jujur saja, sulit untuk bisa dimengerti oleh investor retail (termasuk juga penulis), sehingga kalau nanti Recapital mau menggelar IPO juga, kemungkinan saya nggak akan ikutan.
Tapi mas Teguh, yang mau IPO kan Saratoga, bukan Recapital? Jadi gimana prospeknya? Well, berhubung perusahaannya belum jelas kapan akan menggelar IPO-nya, dan juga belum ada prospektusnya, maka nanti deh kita bahas lagi soal itu [...]

Gajah Tunggal

Penulis sudah mengamati saham Gajah Tunggal (GJTL) ini sejak lama, yaitu sejak sekitar 3.5 tahun lalu ketika harganya masih di 400-an. Ketika itu kinerja perusahaan ban yang masih satu grup dengan Mitra Adiperkasa (MAPI) ini mulai pulih kembali pasca babak belur dihajar krisis global 2008, dengan mencatat laba bersih Rp905 milyar di tahun 2009, dibanding rugi bersih Rp625 milyar di tahun sebelumnya. Kinerja yang apik tersebut kemudian berlanjut di periode-periode berikutnya, hingga saham GJTL juga terus naik hingga sempat menembus 3,400 di pertengahan tahun 2011 lalu. Namun sejak saat itu GJTL terus saja turun, dan sekarang sudah berada di posisi 2,150. Apakah itu karena kinerjanya sudah tidak bagus lagi? Mungkin nggak juga ya, soalnya hingga Kuartal III 2012, GJTL masih mencatatkan kenaikan laba bersih 31.4%, atau masih cukup baik, dan ROE-nya juga masih terjaga di level 20.4%.

PER GJTL pada harganya saat ini, kalau pake laporan keuangan terakhirnya tercatat 7.2 kali, alias relatif rendah, sehingga tentu saja cukup menarik apalagi trend-nya dalam sebulan terakhir tampak mulai naik lagi. Jadi bagaimana prospeknya? Dan yang paling penting sebelumnya, apa kira-kira yang menyebabkan GJTL ini turun terus sebelumnya? Jawabannya mungkin terkait policy perusahaan dalam mengelola utangnya.
Jadi begini ceritanya. Kalau kita pakai data tahun 2008 dimana ketika itu GJTL mengalami kerugian cukup besar, penyebabnya adalah beban bunga pinjaman yang membengkak seiring dengan pelemahan Rupiah terhadap US Dollar ketika itu, mengingat utang GJTL adalah dalam mata uang US$. Sejak dulu jumlah utang GJTL memang cukup besar, dan hingga kini pun masih demikian. Pada Kuartal III 2012, GJTL mencatat total kewajiban sebesar Rp7.2 trilyun, yang menjadikannya mencatat DER 1.4 kali. Lebih dari setengah total kewajibannya tersebut berasal dari utang obligasi euro bond senilai US$ 412.5 juta atau setara Rp4.0 trilyun. Obligasi tersebut diterbitkan pada Juli 2009, dan merupakan perpanjangan dari obligasi lama yang diterbitkan sebelumnya. Jadi simpelnya bisa dikatakan bahwa perusahaan lebih memilih untuk membayar utang lama dengan utang baru ketimbang melunasinya. Obligasi tahun 2009 tersebut dijadwalkan akan jatuh tempo pada Juli 2014 mendatang.
Tapi diluar utang obligasi, GJTL tidak memiliki utang lain yang mengandung bunga. GJTL memang sebelumnya punya utang ke Bank HSBC sebesar US$ 2 juta, namun utang tersebut sudah dilunasi pada Maret 2012 lalu.
Kembali ke utang obligasi. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, GJTL membayar obligasi tahun 2009 tersebut dengan utang lagi. Pada Desember 2012 lalu, manajemen mengumumkan bahwa perusahaan menerbitkan obligasi baru senilai US$ 500 juta di Singapura, dimana dananya dipakai untuk membayar obligasi tahun 2009. Dari sisi efisiensi, tujuan dari penerbitan obligasi anyar tersebut cukup baik, yaitu untuk menekan biaya bunga. Kalau GJTL masih mempertahankan obligasi lamanya, maka perusahaan harus membayar bunga sebesar 8 – 10.25% per tahun hingga tahun 2014 mendatang. Sementara obligasi yang baru diterbitkan tadi, bunganya cuma 7.5% per tahun. Jadi dengan cara ini maka catatan laba bersih perusahaan di tahun 2013 nanti bisa menjadi lebih baik. Namun tetap saja, hal ini sepertinya direspon negatif oleh pasar.
Tapi jika GJTL baru mengumumkan soal penerbitan obligasi barunya pada Desember 2012, lalu kenapa sahamnya sudah merosot jauh sebelumnya? Kemungkinan itu karena pelemahan Rupiah terhadap US Dollar. Seperti yang anda ketahui, kurs Rupiah terus turun dalam setahun terakhir ini, dari sekitar Rp8,700 menjadi terakhir Rp9,703 per US$. Mengingat bahwa utang obligasi GJTL adalah dalam mata uang US$, maka pelemahan Rupiah tersebut bisa berarti bahwa nilai utang obligasi tersebut termasuk bunganya akan membengkak, sehingga laba bersih perusahaan bisa tertekan, mengingat GJTL memperoleh pendapatannya dalam mata uang Rupiah.
Kabar baiknya, GJTL tidak sepenuhnya memperoleh pendapatannya dalam Rupiah, melainkan 37% diantaranya dalam mata uang US$ (karena berasal dari penjualan ekspor). Selain itu peningkatan laba bersih GJTL masih cukup baik kok, yakni seperti yang sudah disebut diatas, 31.4%.
Terlepas dari polemik terkait utang obligasinya, GJTL merupakan perusahaan yang cukup bagus. Hingga Mei 2012, GJTL merupakan pemimpin di pasar ban bias dan ban sepeda motor, dengan pangsa pasar masing-masing 51 dan 50%. Untuk ban radial, GJTL adalah penguasa pasar ketiga setelah Bridgestone dan Dunlop. Tidak hanya sebagai produsen, GJTL juga memiliki unit usaha di bidang distribusi retail, yakni gerai ‘TireZone’, yang jumlahnya mencapai 56 gerai di seluruh Indonesia. Untuk pasar ekspor, produk ban GJTL sejauh ini sudah mampu menjangkau hingga 80 negara di seluruh dunia.

Logo TireZone, toko ban retail milik PT Gajah Tunggal, Tbk

Dan tahukah anda bahwa Sjamsul Nursalim, pemilik GJTL, juga memiliki perusahaan ban di Tiongkok sana dengan nama yang mirip-mirip dengan Gajah Tunggal? Perusahaan itu adalah GITI Tire, dengan lokasi pabriknya di Provinsi Fujian, Tiongkok, namun berkantor di Singapura (ini website-nya, www.giti.com). GITI ini masuk ke dalam daftar sepuluh besar perusahaan ban terbesar di dunia, dengan produk andalannya yang hampir sama persis dengan milik GJTL, yakni GT Radial. Sayangnya GITI tidak ditempatkan oleh sang pemilik dibawah GJTL, melainkan menjadi perusahaan yang sepenuhnya terpisah dengan GJTL. GJTL sendiri kalau pake data tahun 2008 lalu merupakan perusahaan ban terbesar nomor 28 di dunia, atau jauh lebih kecil dibanding dibanding saudaranya yang di Fujian tersebut.
Anyway, dalam hal ini penulis bisa katakan bahwa GJTL dikelola oleh juragan ban kelas dunia, dan makanya perusahaannya lumayan bagus dan punya nama besar. Saham GJTL sendiri 10% diantaranya dipegang oleh Michelin, produsen ban terkemuka asal Perancis, dan GJTL memang menjual sekitar 13% produk ban-nya kepada Michelin, dalam hal ini Michelin North America, Inc.
Lalu terkait pengembangan usaha, pada tahun 2012 lalu GJTL melakukan aksi korporasi penting dengan membeli lahan seluas 100 hektar di kawasan industri di Karawang, Jawa Barat, senilai US$ 108 juta. Sekitar 60% dari lahan tersebut digunakan untuk sirkuit uji coba ban (proving ground), dan sisanya untuk didirikan pabrik baru. Seluruh proyek tersebut direncanakan akan selesai tahun 2014 mendatang. Diluar itu, GJTL secara bertahap meluncurkan dua produk anyar yaitu ban sepeda motor merk ‘Zeneos’, dan ban TBR (Truck and Bus Radial), sehingga GJTL nantinya akan memiliki produk ban yang lebih terdiversifikasi.
Jadi kesimpulannya? Yap, GJTL ini menarik terutama karena harganya yang lagi diobral. Terkait penerbitan obligasinya, kalau kita mempertimbangkan tujuannya yaitu untuk menghemat biaya bunga, maka sebenarnya itu justru bagus dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mengingat DER GJTL yang tercatat 1.4 kali tadi tentunya juga tidak terlalu buruk. Dan dengan mempertimbangkan nama besarnya sebagai produsen ban lokal nomer satu di Indonesia, PBV yang wajar bagi GJTL adalah 2.0 kali, dan itu berarti harga 2,900. Well, mungkin GJTL tidak akan bisa langsung naik ke posisi tersebut dalam waktu dekat ini, apalagi IHSG juga kelihatannya mulai batuk batuk. Tapi kalau posisi 2,400 – 2,500, maka itu masih masuk akal.
Hanya saja waktu yang tepat untuk masuk ke saham ini adalah jika nanti laporan keuangan perusahaan untuk Tahun Penuh 2012 sudah keluar, terutama jika kinerjanya terbarunya tersebut masih bagus seperti kuartal sebelumnya. Kalau mau masuk dari sekarang? Well, gunakan dana kecil saja dulu, dan jangan lupa untuk cut loss jika GJTL ini turun lebih rendah dari 2,000. Secara fundamental, sebenarnya GJTL kecil kemungkinannya untuk turun menembus 2,000, tapi tidak ada salahnya kita jaga-jaga, mengingat kurs Rupiah juga masih belum stabil.

NB: Penulis membuat buku elektronik (ebook) yang berisi kumpulan analisis saham. Anda bisa memperolehnya

Hary Tanoe: Where are You Going?

Beberapa tahun lalu, tepatnya awal tahun 2010, Grup MNC yang kala itu masih bernama Grup Bhakti, menggemparkan bursa saham dengan mengumumkan bahwa mereka, melalui salah satu perusahaannya yakni Bhakti Investama (BHIT), berencana untuk masuk ke sektor natural resources, dengan cara mengakuisisi tambang minyak di Papua. Karena pengumuman tersebut, saham BHIT seketika melejit dari posisi 200 hingga sempat menembus level 1,000, hanya dalam tempo dua bulan (Januari – Maret 2012). Dalam tempo dua bulan itulah, hampir semua orang di market membicarakan tentang fenomena saham BHIT, dan sebagian lagi merayakan euforia karena untung besar dari saham tersebut. Sayang, seiring dengan tidak adanya kelanjutan dari proses dari akuisisi tambang minyak tersebut, saham BHIT kemudian anjlok besar-besaran, dan terus anjlok hingga sempat menyentuh level 105, atau sudah jauh lebih rendah ketimbang posisi sebelum kenaikannya (200). Meski saat ini BHIT memang sudah berada di posisi 500-an, namun ketika itu tidak sedikit investor yang pada akhirnya melontarkan sumpah serapah terhadap saham ajaib ini.

Namun disini kita tidak akan membicarakan mengenai pergerakan saham BHIT ketika itu, melainkan manuver dari sang Tsar: Hary Tanoesoedibjo. Pada waktu itu, ketika dikatakan bahwa BHIT berniat untuk masuk ke sektor tambang, maka hal itu memang bukan isapan jempol, melainkan Mr. Hary memang punya rencana pengembangan usaha ke arah sana, setelah sebelumnya cukup sukses di bisnis media melalui Media Citra Nusantara (MNCN) dkk, dan bisnis finance melalui Bhakti Capital (BCAP). Sayang, sepertinya rencana tersebut gagal, dimana Grup MNC tidak berhasil mengakuisisi tambang minyak yang dimaksud. BHIT kemudian hanya berhasil mengakuisisi dua buah tambang batubara, masing-masing berlokasi di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. Namun hingga saat ini, atau sudah lewat lebih dari 3 tahun, tambang batubara tersebut sama sekali masih belum menghasilkan pendapatan. Hingga Kuartal III 2012, BHIT mencatat pendapatan Rp7.0 trilyun, dimana dari jumlah tersebut tidak ada sepeserpun yang berasal dari usaha tambang batubara.
Meski cerita soal tambang minyak BHIT diatas, yang kemudian diganti dengan tambang batubara, berakhir dengan sad ending, namun itu tidak mencegah Grup MNC untuk berekspansi lagi, atau setidaknya itulah yang diperhatikan oleh publik. Setelah sempat vakum sepanjang tahun 2011 – 2012 lalu, akhir-akhir ini Grup MNC (melalui BHIT) banyak dikabarkan akan melakukan beberapa aksi korporasi penting. Berikut diantaranya:
  1. Akuisisi bank. Manajemen BHIT mengklaim bahwa mereka sedang dalam tahap negosiasi dengan pemilik sebuah bank devisa berukuran menengah. Akuisisi ini merupakan kelanjutan dari ekspansi Grup MNC di bidang finance, setelah sebelumnya mereka berhasil mengakuisisi sebuah perusahaan asuransi. Namun mereka belum bersedia menyebutkan nama bank tersebut.
  2. Melanjutkan akuisisi tambang-tambang batubara, tidak hanya di Kalimantan namun juga di daerah-daerah lainnya jika ada kesempatan.
  3. Di bidang media, saat ini yang sedang digenjot adalah layanan televisi berbayar (Indovision, dll), yang ditempatkan dibawah MNC Sky Vision (MSKY). MSKY sendiri sudah sukses melantai di bursa sejak Juli 2012 lalu.
Diluar itu, Mr. Hary juga melakukan banyak kegiatan yang tidak dilakukannya melalui perusahaan-perusahaannya yang listing di bursa, entah itu BHIT ataupun lainnya. Diantaranya:
  1. Terjun ke politik. Awalnya Mr. Hary gabung ke Nasdem, tapi kemudian pindah ke Hanura. Belakangan konglomerat muda ini mendirikan ormas-nya sendiri, yakni Persatuan Indonesia atau Perindo. Ormas ini direncanakan akan menjadi partai politik dan bisa ikut Pemilu tahun 2019 mendatang.
  2. Menjalin kerjasama dengan Grup Bakrie. Mr. Hary merupakan aktor yang sangat berperan ketika Bakrie berhasil mengalahkan Nathaniel Rothschild pada RUPS Bumi Plc di London, 21 Februari lalu. Berkat kemenangan tersebut, Bakrie berhasil mengambil kembali Bumi Resources (BUMI), meski belakangan Nathaniel kembali mendeklarasikan bahwa perang perebutan BUMI masih belum selesai.
  3. Masih dengan Grup Bakrie, Mr. Hary mengambil alih salah satu aset strategis milik Grup Bakrie, yakni Bakrie Toll Road (BTR), senilai kurang lebih Rp3 trilyun. Namun belum jelas akan diletakkan dimana BTR ini, atau malah mungkin akan IPO sendiri.
  4. Setelah BTR, isu yang berkembang menyebutkan bahwa Mr. Hary juga akan mengambil alih Visi Media Asia (VIVA), perusahaan media-nya Grup Bakrie. Jika akuisisi ini terealisasi, maka Mr. Hary bisa menjadi Rupert Murdoch-nya Indonesia.
Nah, yang menarik untuk disimak adalah keputusan dari eks anak didik Anthoni Salim ini untuk terjun ke politik: Kira-kira apa tujuannya? Tapi apapun itu, manuver Mr. Hary di bidang politik ini terbilang sangat cepat. Belum genap setahun sejak ia masuk ke Nasdem, eh sekarang malah sudah bisa bikin ormas sendiri. Disisi lain, seiring dengan mengemukanya berbagai rencana korporasi dari perusahaan-perusahaannya yang terdaftar di BEI, saham-saham Grup MNC seperti BHIT, MNCN, BMTR, hingga yang gak jelas seperti IATA, BCAP, hingga KPIG, semuanya naik gila-gilaan. Well, kita tahu bahwa ketika mantan pimpinan Grup Bakrie, Aburizal Bakrie, memutuskan untuk terjun ke politik sejak tahun 2004 lalu, Grup Bakrie tidak lantas meredup namun justru semakin melebarkan sayapnya kemana-mana. Namun itu karena pengganti Ical di Grup Bakrie, yaitu Nirwan, tidak kalah hebatnya dengan kakaknya tersebut. Sementara Mr. Hary? Dia sendirian dalam memegang Grup MNC, dan hingga saat ini masih berstatus sebagai pimpinan grup. Memang, Mr. Hary memiliki beberapa kerabat yang juga ditempatkannya di dalam perusahaan, seperti Bambang Tanoesoedibjo dan Liliana Tanaja, yang menjadi komisaris di BHIT. Namun secara keseluruhan, tidak ada seorangpun di Grup Bhakti yang bisa menggantikan peran Mr. Hary sebagai pimpinan tertinggi.
Masalahnya, sejak Republik ini berdiri sampai sekarang, belum pernah ada seorang pengusaha pun yang sukses sebagai politisi. Aburizal Bakrie? Juga sama saja. Meski Ical terbilang sangat sukses dalam mengembalikan kejayaan Grup Bakrie setelah dihantam badai krisis moneter 1998 lalu, namun setelah 9 tahun di dunia politik, ia tetap belum berhasil meraih pencapaian apapun. Malah yang ada elektabilitas Partai Golkar terus saja turun, termasuk gagal total di beberapa Pilkada akhir-akhir ini. Berbagai upaya yang dilakukan, termasuk memperkenalkan istilah ARB sebagai inisial namanya, juga tidak berhasil meningkatkan popularitasnya untuk bisa menjadi calon Presiden RI. Terakhir, beberapa sesepuh Golkar seperti Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla, juga dikabarkan mulai gerah terhadap Ical, dan berencana untuk turun gunung. Anyway, kita tonton saja kelanjutannya.
Sementara Hary Tanoe? Di bidang bisnis, dia belum sehebat dan sebesar Bakrie. Wajar, karena Grup MNC juga baru berdiri sejak awal tahun 1990-an lalu, dan ini berbeda dengan Keluarga Bakrie yang sudah menjadi konglomerat sejak jaman Jepang dulu (tahun 1950-an). Berbagai upaya ekspansi yang dilakukan juga belum membuahkan hasil atau bahkan gagal, seperti yang sudah diutarakan diatas, namun itu tidak mencegahnya untuk mencoba peruntungan di dunia yang sama sekali belum pernah ia masuki sebelumnya. Okay, let sey ternyata Mr. Hary bisa sukses di politik dalam 2 – 3 tahun mendatang, atau bahkan bisa mencalonkan diri sebagai Presiden. Tapi jika itu terjadi, maka bagaimana dengan perusahaan-perusahaannya? Apakah ia sanggup mengurus Partai namun dengan tetap fokus pada bisnis? Karena kalau kita pakai contoh Gita Wirjawan, misalnya, pengusaha sekaligus pemilik Grup Ancora ini gagal total di usahanya (itu bisa dilihat dari kinerja Ancora Indonesia Resources/OKAS yang rugi terus belakangan ini), justru setelah kariernya di Pemerintahan melenggang mulus (sekarang beliau sudah jadi Menteri Perdagangan). Karier Mr. Gita di bidang bisnis pada saat ini boleh dibilang sudah ketinggalan jauh dibanding beberapa pengusaha seangkatannya, salah satunya Patrick Walujo. Padahal Mr. Gita sama sekali belum ikut-ikutan partai lho.
Namun Mr. Hary tentu berbeda dengan Gita. Mr. Hary juga cukup cerdas dengan tidak melenggang sendirian di dunia politik, melainkan berkongsi dengan beberapa politisi yang lebih senior (Dengan Surya Paloh, dan sekarang dengan Jendral Wiranto, pimpinan Partai Hanura, dan juga Yusril Ihza Mahendra. Belakangan dikabarkan Mr. Hary juga sedang pedekate dengan Anas Urbaningrum). Mungkin Mr. Hary juga punya tujuan yang sama ketika ia memutuskan untuk membantu Bakrie dalam pertarungannya melawan Nathaniel Rothschild, yaitu agar ia memiliki partner yang cukup kuat dalam menjalankan bisnisnya, karena dengan posisinya saat ini, ia tidak bisa sepenuhnya fokus pada mengelola perusahaan saja.
At the end, a man can be anythin he wants, as long as he has the vision. Pertanyaannya kemudian, apa sebenarnya visi dari seorang Hary Tanoe? Memberantas korupsi? Meningkatkan kesejahteraan rakyat? Well, kalaupun itu bisa dilakukan, lantas apa [...]

Belajar dari Kasus Penipuan Investasi

Beberapa hari terakhir ini di media-media baik cetak maupun elektronik, sedang ramai dibicarakan kasus dugaan penipuan investasi oleh PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS), dengan perkiraan nilai kerugian nasabah hingga Rp600 milyar, tapi ada juga yang bilang hingga Rp10 trilyun. Manapun yang benar, tetap saja itu adalah jumlah kerugian yang tidak sedikit. Namun kasus ini adalah yang kesekian kalinya terjadi di negeri ini, dengan modus yang selalu sama: Penipuan berkedok investasi dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. Nah, actually kasus ini tidak berkaitan langsung dengan investasi kita di saham, tentu saja, namun penulis kira tetap penting untuk dibahas untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang mungkin masih awam tentang apa itu investasi. Okay here we go!


GTIS dulunya merupakan perusahaan jual beli emas biasa dengan nama PT Golden Traders Indonesia (GTI). Pada tahun 2011, perusahaan menambahkan kata ‘Syariah’ di belakang namanya, sehingga berubah menjadi PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS). Di tahun ini pula, perusahaan (mengaku) memperoleh sertifikat ‘telah memenuhi prinsip syariah’ dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Berbekal klaim bahwa usahanya ‘halal dan islami’, GTIS kemudian memasarkan produk investasinya melalui berbagai media, terutama melalui sistem referral yaitu setiap nasabah akan diminta untuk mencari nasabah lagi (kurang lebih seperti sistem Multilevel Marketing alias MLM). Dalam tempo singkat yakni hanya 2 tahun, perusahaan ini berkembang sangat pesat dan berhasil mendirikan tiga belas kantor yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, terutama Jakarta. Dalam setiap promosinya, GTIS memiliki tagline yang sangat menarik: ‘Udah gak jaman investasi emas hanya mengandalkan fluktuasi harga. Nikmati kepastian keuntungan sebesar 2% setiap bulan hanya di Golden Traders Indonesia’.

Kepastian keuntungan? Are you out of mind? Sejak kapan ada investasi yang mampu menjamin bahwa investasi tersebut pasti untung tanpa memaparkan risikonya sama sekali?

Kembali ke GTIS. GTIS menawarkan produk investasi berupa pembelian emas, baik fisik maupun hanya berupa sertifikat, dengan tawaran keuntungan sebesar 2 – 4.5% per bulan, dibayarkan secara tunai.  Jadi kalau anda beli produk investasinya senilai Rp100 juta, misalnya, maka setiap bulan anda akan menerima bunga, atau bonus, atau apapun itu namanya, sebesar Rp2 – 4.5 juta, ditransfer langsung ke rekening bank anda. Produk investasi ini dijamin dengan surat perjanjian buy back guarantee, dimana pihak GTIS akan membeli kembali emas yang dipegang nasabah dengan harga yang sama dengan harga pembelian. So, katakanlah anda membeli emas dari GTIS senilai Rp100 juta. Maka dalam setahun, anda akan memperoleh bunga minimal Rp2 juta x 12 bulan = Rp24 juta, dan setelahnya anda bisa menjual emas yang anda pegang kepada GTIS, untuk memperoleh modal anda kembali yang sebesar Rp100 juta tadi. Well, dapet keuntungan minimal 24%, dan tanpa risiko pula, karena emas yang anda pegang dijamin akan bisa dibeli kembali oleh pihak GTIS. Jadi ‘investasi’ ini kurang menarik apa lagi coba?

Namun ada beberapa hal yang menarik seputar ‘produk investasi’ yang ditawarkan GTIS ini:

Satu. Nasabah harus membeli emas yang dijual GTIS pada harga yang lebih tinggi ketimbang harga emas pasaran, dengan selisih harga sekitar 20 – 30%. Artinya jika harga emas di pasaran adalah Rp500,000 per gram, maka nasabah harus membayar Rp600 – 650,000 untuk setiap gram emas yang mereka peroleh. Tidak ada keterangan dari pihak GTIS soal kenapa harga emas yang mereka jual lebih tinggi. Biasanya mereka (melalui agen-nya) hanya mengatakan bahwa meski harga emas yang mereka jual lebih tinggi, namun nasabah tidak perlu khawatir, karena nanti toh GTIS akan membeli kembali emas tersebut pada harga yang sama, bahkan kalau harga pasaran emas ternyata turun. Selain itu si agen biasanya menambahkan bahwa harga emas akan naik terus, sehingga si nasabah tidak mungkin rugi (jadi sekali lagi, risiko investasinya nol!)

Dua. Tidak ada keterangan dari mana pihak GTIS memperoleh dana untuk membayar bunga bagi para nasabahnya. Berdasarkan informasi yang dihimpun Kontan.co.id, GTIS mengaku bahwa mereka membeli emas dengan harga murah dari UBS (Untung Bersama Sejahtera) dan menjualnya di Singapura dengan harga tinggi. Keuntungan dari selisih harga itulah yang kemudian dipakai untuk membayar bunga kepada para nasabah. Tapi tidak ada keterangan lebih lanjut soal siapa itu UBS, dan di Singapura sebelah mana mereka jualan emas.

Tiga. Nasabah hanya bisa membeli produk melalui agen. Agen ini biasanya merupakan nasabah GTIS juga, dan ia memperoleh komisi untuk setiap nasabah baru yang ia bawa. Alhasil jika anda bergabung untuk menjadi nasabah, maka anda sekaligus akan menjadi agen, dan anda bisa memperoleh keuntungan tambahan berupa komisi tadi. Tapi kalaupun anda tidak memperoleh nasabah, maka itu tidak jadi masalah.

Nah, dari ketiga poin diatas, apa yang bisa anda simpulkan? Benar sekali. GTIS ini menjalankan Skema Ponzi (Ponzi Scheme). Skema Ponzi adalah sistem investasi palsu dimana perusahaan investasi membayar keuntungan/bunga kepada investor dari uang si investor itu sendiri, atau dari uang investor berikutnya. Dikatakan palsu, karena dana yang dihimpun dari investor tidak pernah digunakan untuk membiayai usaha tertentu untuk menghasilkan keuntungan. Biasanya investasi ini menawarkan keuntungan yang luar biasa dalam waktu singkat dengan risiko yang sangat rendah, atau bahkan risikonya nol. Biasanya pula, si investor atau nasabah akan menerima pembayaran bunga secara rutin selama beberapa waktu, sehingga ia kemudian merasa tidak ada masalah sama sekali, atau bahkan menambah kembali investasinya. Tapi setelah ia menyetor seluruh dana yang ia miliki, dan juga sudah membawa banyak nasabah baru, maka barulah timbul masalah, mulai dari macetnya pembayaran bunga, hingga modal yang ternyata tidak bisa ditarik kembali.

Charles Ponzi, pencipta skema Ponzi sekaligus inspirator bagi para bandi-bandit penipu
di seluruh dunia. Gambar diambil dari situs Wikipedia

Ending dari kejadian seperti ini biasanya berupa lenyapnya modal yang ditanamkan para nasabah, karena dilarikan oleh Direktur atau siapapun dari perusahaan investasi (atau koperasi, atau apapun namanya) yang bersangkutan. Penjahat paling terkenal dari kasus penipuan seperti ini adalah Bernard Madoff, mantan Chairman Bursa NASDAQ, dan saat ini sudah dipenjara dengan masa hukuman 150 tahun.


Sementara di Indonesia, penipuan Skema Ponzi ini bukan kasus baru, melainkan sudah terjadi berulang kali hanya dengan kemasan yang berbeda-beda. Sebut saja Tambang Emas Busang, Qurnia Subur Alam Raya, Dressel, VGMC, Koperasi Langit Biru, Raihan, hingga GTIS. Dalam kasus GTIS, ‘kemasan’ tersebut adalah investasi emas. Bunga yang dibayarkan kepada si nasabah berasal dari selisih harga emas yang lebih tinggi dibanding harga pasaran tadi.

Definisi Investasi

Dalam beberapa kali kesempatan seminar, penulis selalu memaparkan kepada peserta mengenai definisidari investasi. Simpelnya, investasi dapat dikelompokkan menjadi dua jenis:

Satu, investasi pada aset tetap. Yang dimaksud dengan aset tetap adalah aset yang harganya terus meningkat untuk menyesuaikan diri dengan inflasi, namun nilaidari aset itu sendiri sebenarnya tidak banyak berubah kecuali sedikit. Contohnya anda membeli tanah kosong seluas 1 hektar dengan harapan bahwa harganya akan naik dalam beberapa waktu kedepan. Sejatinya, nilai dari tanah tersebut tidak akan naik, terutama jika tidak dilakukan pengembangan (dibuat bangunan diatasnya, dll). Namun jika anda beli tanah tersebut pada tahun 1990 pada harga Rp100 juta, misalnya, maka harganya pada hari ini tidak mungkin masih Rp100 juta juga, melainkan mungkin sudah milyaran.

Dalam definisi investasi yang lebih sempit, maka tindakan investasi dengan cara membeli tanah diatas tidak bisa disebut sebagai investasi, melainkan lebih merupakan tindakan melindungi mata uang dari inflasi. Jika tanah yang bersangkutan dikembangkan menjadi rumah kontrakan, misalnya, dan rumah kontrakan tersebut memberikan keuntungan berupa uang sewa setiap bulannya, maka itu baru bisa disebut sebagai investasi, karena aset tanah/rumah kontrakan tersebut kini memberikan ‘dividen’ berupa uang sewa bulanan tadi. But still, inipun belum merupakan ‘investasi penuh’, karena tidak menawarkan kenaikan nilai aset(jumlah kamar kontrakan tidak akan bertambah), kecuali jika anda secara rutin membangun kamar kontrakan yang baru.

Lalu yang kedua, investasi pada aset bertumbuh. Jika anda membeli kambing untuk diternakkan (tentunya setelah anda menunjuk peternak yang handal), maka itu bisa disebut sebagai investasi pada aset bertumbuh, karena jumlah kambing anda akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu (beranak pinak). Investasi seperti inilah yang menurut penulis bisa disebut sebagai The Real Investment, karena memberikan dua macam keuntungan yakni: Dividen (setiap kali anda memperoleh uang dari penjualan seekor kambing), dan kenaikan nilai aset (jumlah kambing anda akan terus bertambah). Tidak perlu lagi ditanyakan keuntungan dari kenaikan harga aset, karena harga jual dari kambing anda akan terus naik setiap tahun (ini pengalaman penulis sendiri setiap kali nyari kambing buat merayakan Idul Adha).

Meski demikian investasi anda pada usaha ternak kambing tersebut mengandung beberapa risiko yang bisa menyebabkan penurunan pada nilai investasi anda (baca: kerugian). Misalnya peternak yang anda tunjuk ternyata tidak cukup mahir, terjadi wabah penyakit yang menyebabkan cacat pada ternak atau bahkan kematian, kenaikan harga pakan, hingga penurunan harga jual kambing karena persaingan dengan peternakan lain. Intinya, dibalik potensi keuntungan yang mungkin diraih dalam investasi peternakan kambing diatas, terdapat unsur risiko yang tidak bisa diabaikan. Dan memang begitulah, faktor potensi keuntungan sekaligus risiko kerugian merupakan dua sisi mata uang yang tidak pernah bisa dipisahkan dalam setiap kegiatan berinvestasi, apapun bentuknya.

Unsur risiko yang kita bahas diatas juga terdapat dalam investasi pada aset tetap. Bedanya, dalam berinvestasi pada aset tetap, unsur risiko tersebut jauh lebih rendah meski bukan berarti tidak ada sama sekali. Ketika anda beli tanah, maka harganya tidak akan turun kecuali jika terjadi gempa bumi, banjir, atau krisis moneter, tapi disisi lain keuntungan yang ditawarkan juga hanya berupa kenaikan harga saja, dan anda tidak memperoleh kenaikan nilai ataupun kuantitas (Ketika anda beli tanah 1 hektar, misalnya, maka sampai kapanpun tanah itu akan tetap seluas 1 hektar dan gak akan bertambah menjadi 2 hektar. Ini berbeda dengan kambing tadi yang bisa beranak pinak menjadi puluhan bahkan ratusan ekor). Karena itulah investor yang sudah berpengalaman biasanya menempatkan investasinya pada dua macam aset, yakni aset tetap dan aset bertumbuh. Tujuannya selain untuk diversifikasi, juga untuk menekan risiko terjadinya kerugian (aset tetap), namun disisi lain dengan tetap mengejar keuntungan yang substansial (aset bertumbuh).

Investasi vs ‘Investasi’

Berdasarkan uraian diatas, maka yang dimaksud dengan investasi adalah kegiatan yang paling tidak memenuhi unsur-unsur berikut:

  1. Potensi keuntungan berupa dividen, bunga, atau laba
  2. Potensi keuntungan berupa kenaikan nilai aset, dan biasanya kenaikan harga juga
  3. Usaha yang jelas, dimana modal diputar di usaha tersebut untuk menghasilkan dua macam keuntungan diatas, dan
  4. Risiko kerugian.
Nah, balik lagi ke masalah GTIS diatas, menurut anda apakah itu bisa disebut sebagai investasi? Jelas tidak. ‘Produk Investasi’ yang ditawarkan GTIS tersebut memberikan dividen/bonus minimal 2% setiap bulannya, tapi tidak jelas dari mana pihak GTIS akan memperoleh dana untuk membayar bonus tersebut, selain juga tidak ada faktor risiko yang jelas (malah pake jaminan segala lagi, bahwa bunga yang 2% per bulan itu pasti dibayar, bullshit). Kalau anda baca lagi diatas, salah satu unsur dari kegiatan investasi adalah adanya potensi keuntungan, bukan kepastiankeuntungan. Bahkan jika anda membeli obligasi yang menawarkan bunga alias fixed income sekalipun, anda tetap saja menanggung risiko tidak memperoleh keuntungan apa-apa atau bahkan mengalami kerugian, jika si perusahaan ternyata tidak bisa membeli/menebus obligasi itu kembali.

Kembali ke GTIS, disisi lain kalau dikatakan bahwa produk investasi yang ditawarkan GTIS adalah investasi pada aset tetap (karena pake emas), lalu kenapa nasabah harus membeli emasnya pada harga yang jauh lebih tinggi ketimbang harga pasaran? Kalau gitu mending beli emas biasa aja ateuh, terus disimpen di brankas dan taroh brankasnya di loteng, beres!

(Btw, terkait membeli aset pada harga yang jauh lebih tinggi ketimbang harga pasaran atau harga normalnya, maka anda juga harus hati-hati dalam membeli aset tetap berupa tanah/properti, jika tujuannya adalah untuk investasi. Belakangan ini banyak sekali pengembang properti yang dengan sengaja menaik-naikkan harga properti yang mereka jual, untuk memberikan kesan bahwa pembeli pasti untung karena harga rumah/apartemen yang mereka beli naik terus. Namun kenaikan tersebut seringkali tidak wajar (tentu saja, namanya juga kenaikan yang dibuat-buat), sehingga sering kejadian si pembeli membeli properti yang bersangkutan pada harga yang kelewat mahal, dan akhirnya dia bukannya untung tapi malah rugi)

Anyway, kasus GTIS diatas, termasuk kasus-kasus penipuan investasi lainnya, memang akan selalu ada sampai kapanpun, selama orang-orang selalu tertarik untuk memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat. So, berikut adalah beberapa tips untuk melindungi anda agar tidak terjebak kasus penipuan yang sama:

Satu, hati-hati dengan tawaran keuntungan yang kelewat besar. Di Indonesia, persentase keuntungan yang wajar untuk investasi dalam bidang apapun, adalah antara 7 hingga 20% per tahun (kita tidak menghitung deposito disini, karena bunga 4.5% per tahun terlalu kecil untuk menutupi penurunan nilai Rupiah karena inflasi), termasuk bunga obligasi biasanya sekitar 10 – 12% per tahun. Okay, penulis tidak menutup fakta bahwa kalau investasi di saham, banyak juga investor yang mampu mencetak keuntungan yang jauh lebih tinggi dibanding 20% per tahun. Namun kalau kita pakai patokan kenaikan IHSG dalam jangka panjang, tepatnya sejak puncak krisis moneter tahun 1998 lalu dimana ketika itu IHSG jatuh ke posisi 276 sebagai titik terendahnya, maka rata-rata kenaikan IHSG dalam lima belas tahun terakhir (1998 – 2013, hingga posisi terbarunya saat ini yaitu 4,825) adalah 19.6% per tahun.

So, jika anda ditawari investasi dengan return yang jauh lebih besar dari 20% tadi, maka hati-hati karena itu kemungkinan merupakan investasi bodong. Karena sejauh yang penulis pelajari, tidak ada instrumen investasi yang menawarkan potensi gain yang lebih tinggi ketimbang investasi di saham (tapi disisi lain, investasi di saham juga merupakan investasi paling berisiko diantara investasi-investasi lainnya). Kalau ‘investasi’ di forex, bursa berjangka, dll, itu bukan investasi, melainkan trading (tapi di saham anda juga bisa trading kok, meski penulis sendiri lebih suka invest karena lebih santai).

Dua, hati-hati dengan tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan/bonus/dividen/bunga yang akan dibayar dalam waktu singkat, dalam hal ini setiap bulan. Wajarnya, investasi jenis apapun menawarkan bagi hasil atau return setahun sekali, dan itu sebabnya perusahaan juga hanya membagi dividen setahun sekali kepada para pemegang saham, atau setahun dua kali untuk perusahaan yang sudah benar-benar mapan.

Tapi memang untuk beberapa jenis investasi ada sedikit perbedaan. Jika anda menabung di bank, bunga yang anda peroleh dibayarkan setiap bulan. Dan jika anda membeli obligasi, maka anda juga akan menerima bunga setiap tiga bulan. Tapi berapa sih bunga tabungan bank dan obligasi? Cuma 2 dan 12% per tahun. Artinya? Perusahaan (atau bank) bisa membayar bunga kepada anda dalam waktu singkat, jika nilai dari bunga itu sendiri sangat kecil. Sementara jika nilainya besar, katakanlah 24% per tahun seperti GTIS diatas, maka sangat tidak wajar jika bunga tersebut bisa dibayarkan setiap bulan.

Tapi GTIS itu tidak seberapa.. Penulis ingat dulu waktu jaman kuliah juga pernah ditawari investasi yang menjanjikan keuntungan yang dibayar tiap minggu, bahkan tiap hari! Sempet percaya juga, tapi untungnya ketika itu penulis gak jadi bergabung karena memang gak punya duitnya.

Tiga, hati-hati dengan tawaran investasi tanpa penjelasan yang mendetail bahwa uang anda akan diputar di usaha apa, termasuk tidak ada penjelasan mengenai risiko kerugian. Tawaran investasi apapun yang hanya fokus pada potensi keuntungan yang akan diterima oleh calon investor, namun tidak ada penjelasan mengenai jenis dan risiko usaha, apalagi sampai menjamin bahwa investasinya pasti untung, maka itu sudah pasti merupakan penipuan. You know, investasi model apapun selalu ada risikonya, termasuk jika anda naruh uang di deposito pun juga ada risikonya, yaitu jika bank yang bersangkutan sewaktu-waktu kolaps (makanya kemudian ada Lembaga Penjamin Simpanan/LPS, tapi itupun hanya bisa menjamin dana nasabah bank sebesar maksimal Rp2 milyar). Jadi jika ada kenalan yang menghampiri anda kemudian mengatakan, ‘Bro, ada peluang investasi nih, dijamin untung! Mau nggak?’ Maka sudah pasti ia berniat menipu anda, entah disengaja ataupun tidak.

Ada lagi? Nggak, cuma tiga itu saja kok. Satu lagi nasihat yang bagus agar anda terhindar dari kasus penipuan seperti ini adalah, ingat bahwa something that is too good to be true, is typically not true at all. Tapi penulis yakin anda sudah sering mendengar kalimat tersebut.

Investasi di Saham

Lalu bagaimana dengan investasi di saham? Pada dasarnya, investasi di saham adalah investasi pada aset bertumbuh: Anda membeli saham dengan harapan bahwa nilai aset anda akan naik seiring dengan kenaikan nilai perusahaan yang tercermin pada kenaikan harga sahamnya, plus keuntungan berupa bagian laba bersih yang dihasilkan perusahaan (dividen). Kenaikan nilai perusahaan biasanya berasal dari laba bersih ditahan (retained earnings) yang digunakan untuk menambah modal untuk ekspansi usaha, misalnya bikin kantor cabang baru, mendirikan pabrik baru, merekrut lebih banyak pegawai untuk meningkatkan produksi, dll. Kenaikan nilai perusahaan (yang kemudian tercermin pada kenaikan harga sahamnya) biasa disebut capital gain, dan merupakan sumber keuntungan utama bagi para investor, karena keuntungan dari dividen biasanya sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah modal yang dikeluarkan (biasanya hanya 3% per tahun, kalau mencapai 6% maka sudah sangat bagus).

Namun jangan salah, ternyata di saham juga ada penipuan skema ponzi, meski mekanismenya tidak sepenuhnya sama dengan skema ponzi pada kasus GTIS diatas, yaitu: Sering kejadian harga saham dibuat melambung tinggi oleh pihak-pihak tertentu, sehingga investor/trader yang membelinya memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat, tapi bukan dari kenaikan nilai perusahaan, melainkan dari investor lain yang membeli saham tersebut kemudian. Artinya? Keuntungan yang diperoleh investor yang sudah membeli saham tersebut sejak dari awal, diperoleh dari kerugian yang diderita investor yang membeli belakangan. Saham model begini biasa disebut saham gorengan, dan dari dulu sampai sekarang dan mungkin sampai kapanpun, akan selalu ada saja saham-saham seperti ini.

Jadi bagaimana cara menghindari agar tidak terjebak ‘saham ponzi’ tersebut? Well, kita sudah membahasnya berkali-kali di website ini, coba anda search lagi artikelnya. Yang jelas tips dari penulis agar anda tidak terjebak ‘investasi saham bodong’ tersebut adalah: 1. Hindari spekulasi, 2. Berinvestasilah dengan akal sehat, jangan mudah tergiur oleh keuntungan instan, dan 3. Teliti sebelum membeli.

Yeah.. I know, tips-tips diatas mudah untuk dikatakan tapi susaaah sekali untuk di praktekkan. But well.. just try it, will you? Anyway, artikel ini sudah kelewat panjang, jadi kita lanjutkan lagi pekan depan.

NB: Penulis menyelenggarakan layanan konsultasi dan tanya jawab bagi anda investor/calon investor saham. Keterangan selengkapnya baca [...]

Sierad Produce: Too Bad to be True

Apa makanan pokok masyarakat di Indonesia? Jawabannya sudah pasti nasi, kecuali jika anda setuju dengan Menteri Pertanian kita yang menyuruh masyarakat untuk mengganti nasi dengan singkong (yang bener aja!). Lalu apa lauk nasi favorit semua orang? Percaya atau tidak, jawabannya adalah daging ayam, entah itu digoreng, dipanggang, dibikin sup, ataupun diolah menjadi sosis atau nugget. Yup, daging ayam adalah makanan kesukaan masyarakat Indonesia dari seluruh strata sosial, mulai dari buruh pabrik hingga si pemilik pabrik itu sendiri. Rasanya yang lezat serta harganya yang lebih terjangkau ketimbang jenis daging lainnya, menyebabkan permintaan akan daging ayam senantiasa meningkat dari waktu ke waktu, seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk.


Karena bisnisnya memang menarik dan juga prospektif, maka tak heran jika perusahaan-perusahaan peternakan ayam (poultry) dan industri lainnya yang terkait hampir selalu mencatat kinerja yang cemerlang. Sebut saja Charoen Popkhand Indonesia (CPIN), Japfa Comfeed (JPFA), Malindo Feedmill (MAIN), hingga Multibreeder Adirama (MBAI). Beruntung bagi kita investor pasar saham, keempat perusahaan tersebut listing di BEI sehingga kita bisa beli sahamnya. Namun memang perusahaan yang disebut terakhir yaitu MBAI, baru-baru ini delisting dari bursa setelah diakuisisi oleh Japfa.

Tapi perusahaan ternak ayam yang listing di BEI gak cuma empat perusahaan diatas saja, melainkan masih ada satu lagi yaitu Sierad Produce (SIPD). Sayangnya seperti yang anda ketahui, SIPD ini entah kenapa kinerjanya terbilang buruk jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama, sehingga alhasil, sahamnya pun gak pernah kemana-mana, melainkan cuma mondar mandir saja di level 50 – 60. Tadinya penulis sempat berpikir bahwa SIPD ini, meski bidang usahanya memang menarik namun mungkin perusahaannya hanya berstatus sebagai perusahaan kecil yang nggak jelas, sehingga wajar jika sahamnya berada di level gocapan. Namun faktanya, SIPD merupakan perusahaan yang cukup besar dengan aset Rp3.1 trilyun pada tanggal 30 September 2012, atau hampir satu setengah kali lebih besar ketimbang MAIN. Tapi anehnya laba bersih SIPD di periode Sembilan Bulan 2012 cuma Rp17 milyar, alias jauuu…uuh dibawah laba bersih MAIN di periode yang sama sebesar Rp267 milyar.

Jadi dimana letak masalahnya? Well, sebelum kita membahas itu, mari kita pelajari SIPD ini dari awal terlebih dahulu.

Logo Belfoods, salah satu merk produk olahan ayam milik Sierad Produce


SIPD didirikan di Jakarta pada tahun 1985, dengan bidang usahanya ketika itu ekspor dan impor pakan ternak. Perusahaan listing di BEI pada tahun 1996, dan menjadi besar pada tahun 2001 setelah menerima penggabungan (merger) beberapa perusahaan. Penggabungan tersebut, yang disusul oleh pengembangan-pengembangan usaha selanjutnya, menjadikan SIPD sebagai perusahaan ternak ayam yang terintegrasi. Pada saat ini SIPD boleh dikatakan memiliki semua jenis usaha di industri ternak ayam, mulai dari memproduksi peralatan ternak, pakan ternak, penetasan telur, ayam umur sehari (day old chicken/DOC), pembibitan dan pemeliharaan ayam hingga siap potong, rumah potong ayam, hingga membuat makanan olahan dari daging ayam (nugget, sosis, dll) dengan merk Belfoods. Tidak hanya sebagai produsen, SIPD juga memiliki beberapa unit usaha di bidang distribusi dan perdagangan ritel (Belmart), hingga kemitraan ternak ayam dengan peternak perorangan. Satu lagi, SIPD punya satu unit usaha di bidang produsen tepung ikan, namun kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan masih belum signifikan.

Meski sudah merambah sektor ternak ayam dari hulu ke hilir, dan ukuran perusahaannya sendiri sudah cukup besar, namun hingga kini SIPD masih terus berekspansi. Berikut adalah beberapa rencana pengembangan usaha yang dipaparkan perusahaan dalam public exposeterakhirnya, tanggal 17 Juli 2012 lalu:

  1. Pembangunan lima fasilitas pembibitan ayam di Lebak, Banten
  2. Pembangunan satu fasilitas penetasan telur ayam (hatchery), juga di Lebak.
  3. Pembangunan tiga fasilitas peternakan ayam di Bogor, Jawa Barat, belum termasuk akuisisi satu peternakan ayam dari perusahaan lain.
  4. Pembangunan satu fasilitas pemotongan ayam di Mojokerto, Jawa Timur.
  5. Penambahan gerai-gerai Belmart di beberapa kota di Indonesia
  6. Penambahan mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi makanan olahan merk Belfoods hingga 60%.
Sebagian besar dari proyek-proyek diatas dijadwalkan selesai dikerjakan pada Kuartal III atau IV 2012, dan sudah bisa beroperasi pada awal tahun 2013. So, SIPD ini jelas memiliki prospek yang menarik. Apalagi secara historis, nilai aset dan pendapatan perusahaan dalam lima tahun terakhir selalu naik terus. Berikut datanya, angka dalam milyaran Rupiah:

Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
2012*)
Aset
1,295
1,385
1,641
2,037
2,642
3,082
Pendapatan
1,632
2,332
3,243
3,643
4,029
3,071
*) hingga Kuartal III






Btw, salah satu indikator dalam analisis fundamental adalah asset turnover (ATO) alias perputaran aset. Angkanya didapat dari membagi nilai pendapatan dengan aset perusahaan yang bersangkutan. ATO ini, semakin besar angkanya maka semakin bagus, karena menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan asetnya untuk memperoleh omzet yang sebesar-besarnya. Nah, berikut ini adalah data annualized ATO untuk SIPD dan perusahaan-perusahaan lain di bidang yang sama (CPIN, JPFA, dan MAIN), untuk periode Kuartal III 2012.

Perusahaan
CPIN
JPFA
MAIN
SIPD
Aset
11,748
10,863
1,807
3,082
Pendapatan (disetahunkan)
21,215
17,865
3,355
4,095
ATO
1.8
1.6
1.9
1.3

Perhatikan, dari data diatas maka anda bisa melihat bahwa sektor per-ayam-an ini memang luar biasa, dimana dari keempat perusahaan yang listing di bursa, kesemuanya mencatat ATO lebih dari 1 kali, atau dengan kata lain, pendapatan mereka dalam satu tahun sudah lebih besar ketimbang nilai aset perusahaannya sendiri. Hal yang sama juga berlaku untuk SIPD, yang mencatat ATO 1.3 kali. Meski angka tersebut memang lebih kecil ketimbang tiga perusahaan lainnya, namun itu adalah karena aset SIPD telah meningkat pesat dalam dua tahun terakhir karena proses pengembangan usaha, sementara peningkatan pendapatannya belum sekencang kenaikan asetnya tersebut (pendapatan SIPD mungkin baru akan meningkat signifikan pada tahun 2013 nanti, kalau proyek-proyeknya yang sudah disebut diatas berjalan lancar). Tapi kalau kita lihat data historisnya, pada tahun 2011 lalu ATO SIPD mencapai 1.5 kali, dan juga sempat mencapai 2.0 kali pada 2009.

Karena pendapatannya besar, maka otomatis laba bersih dari perusahaan-perusahaan ayam ini seharusnya juga besar. Dan memang begitulah, level return on equity milik CPIN dkk memang sangat baik. Berikut datanya (untuk periode Sembilan Bulan 2012):

Perusahaan
CPIN
JPFA
MAIN
SIPD
Ekuitas
7,962
4,686
647
1,279
Laba Bersih (disetahunkan)
3,288
1,336
356
22
ROE (%)
41.3
28.5
55.1
1.8

Nah, dari sini barulah kelihatan bahwa SIPD ini ternyata nggak beres. Ketika tiga perusahaan lainnya mencatat ROE yang terbilang fantastis, SIPD malah hanya mencatat laba bersih Rp16 milyar (disetahunkan jadi Rp22 milyar), sehingga ROE-nya cuma 1.8%. Masuk akal? Jelas tidak. Pihak manajemen sempat mengklaim bahwa laba yang sangat kecil tersebut adalah karena turunnya harga daging ayam dan DOC. Tapi jika memang itu penyebabnya, lantas kenapa CPIN, JPFA, dan MAIN tidak mengalami masalah yang sama?

Dan kalau kita telusuri lebih lanjut, kecilnya laba bersih SIPD ini sudah terjadi sejak lama. Kalau kita pakai data milik CPIN, JPFA, dan MAIN, ketiga perusahaan ini rata-rata mencatat net profit margin (NPM, nilai laba bersih dibanding pendapatan) antara 7 hingga 15%, sehingga untuk setiap pendapatan sebesar Rp1 milyar, ketiga perusahaan diatas mampu meraup laba bersih antara Rp70 hingga 150 juta.

Sementara SIPD? Nih, anda lihat sendiri saja datanya:

Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
Pendapatan
1,632
2,332
3,243
3,643
4,029
Laba Bersih
21
27
37
61
22
NPM (%)
1.3
1.2
1.1
1.7
0.5

Perhatikan, ‘rekor’ NPM tertinggi SIPD dicapai pada tahun 2010 lalu, yakni sebesar 1.7%, dan itu tentu saja sangat kecil untuk ukuran perusahaan produsen, apalagi jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama.

Lantas apa masalahnya? Well, entahlah, tapi biaya produksi SIPD memang sangat mahal sehingga laba SIPD sudah kecil sejak dari laba kotor alias gross profit-nya, tak peduli sebesar apapun pendapatan perusahaan. Dalam lima tahun terakhir, margin laba kotor SIPD hanya sekitar 7 – 10%, dan itu sekali lagi, jauh lebih rendah ketimbang margin laba kotor ketiga perusahaan ayam lainnya yang mencapai 20% lebih. Ini tentu aneh, karena jika mempertimbangkan bahwa SIPD juga memiliki anak usaha di bidang distribusi, maka seharusnya margin labanya bisa lebih besar ketimbang perusahaan ayam lainnya, karena SIPD tidak harus seperti CPIN dkk yang menyerahkan proses distribusi produk-produknya kepada pihak ketiga.

Mahalnya biaya produksi SIPD tersebut, salah satunya adalah karena tingginya biaya bahan baku pakan ternak. Sayangnya tidak ada info lebih lanjut mengenai berapa harga per kilo jagung (salah satu bahan baku pakan ayam) yang dibeli perusahaan, misalnya. Anehnya meski masalah utama SIPD sejak dulu terletak di biaya produksinya yang selangit, namun dari berbagai pengembangan usaha yang dilakukan perusahaan selama ini, tidak ada satupun diantaranya yang bertujuan untuk menekan biaya produksi. Hal ini sangat berbeda dengan salah satu kompetitornya, CPIN, yang sejak tiga tahun lalu sengaja mengakuisisi sebuah perusahaan perdagangan jagung dan komoditas lainnya, PT Agrico, untuk tujuan mengamankan supply dan mengendalikan harga bahan baku pakan ayam.

Tapi apapun itu, kecilnya laba bersih yang diperoleh SIPD selama ini tentu saja menyebabkan sahamnya juga jadi nggak kemana-mana. Tak hanya itu, besarnya pajak yang dibayar perusahaan juga jauh lebih kecil ketimbang tiga perusahaan lainnya. Berikut datanya untuk periode Sembilan Bulan 2012, angka dalam milyar Rupiah:

Perusahaan
CPIN
JPFA
MAIN
SIPD
Pendapatan (A)
15,199
13,399
2,516
3,071
Pajak Penghasilan (B)
680
231
78
8
B dibanding A (%)
4.3
1.7
3.1
0.3

Jadi apakah kecilnya laba bersih SIPD tersebut adalah untuk menghindari pajak? We will never know.. Tapi setelah melihat perusahaannya yang (sebenarnya) bagus dan tidak kalah dengan perusahaan ayam lainnya, serta prospeknya juga menarik, then this company is just too bad to be true. Well, someone has to do something [...]

Bakrie vs Rothschild: Aftermath?

Jika anda kaget ketika kemarin AC Milan diluar dugaan mampu menghajar Barcelona dua gol tanpa balas dalam ajang babak enam belas besar Liga Champions, maka demikian pula reaksi penulis ketika pagi ini mendengar kabar bahwa Bakrie berhasil mengalahkan Nathaniel Rothschild dalam voting yang berlangsung di London, Inggris. Namun kemenangan Bakrie ini memang sudah diprediksikan oleh beberapa pihak mengingat di saat-saat terakhir, Rosan Roeslani, salah satu partner Bakrie di Bumi Plc, berhasil memperoleh dukungan beberapa investor untuk memenangkan voting, termasuk Hary Tanoesoedibjo, pemilik Grup Bhakti.

Dengan selesainya ‘pertandingan’, maka tugas Grup Bakrie kini tinggal mengumpulkan dana sebesar US$ 228 juta (US$ 278 dikurangi 50 juta, yang sudah disetor sebagai uang muka), untuk membeli sisa saham Bumi Resources (BUMI) dari Bumi Plc. Sebenarnya dengan begini maka Bakrie telah mengalami kerugian sebesar US$ 278 juta atau sekitar Rp2.5 trilyun dalam kerjasamanya dengan Nathaniel, karena ketika dulu Nathaniel mengambil 29.2% saham BUMI, Nat tidak membayar sepeserpun melainkan menukarnya dengan 47.6% saham Bumi Plc. Namun bagi Bakrie, it’s okay, karena nilai BUMI jauh lebih besar dari itu. Faktanya Nathaniel sendiri menolak sodoran ‘uang receh’ sebesar Rp2.5 trilyun tersebut, dan lebih memilih untuk tetap memegang atau bahkan menambah kepemilikan di BUMI.

Tapi jika dikatakan bahwa Bakrie mengalami kerugian, maka itu tidak sepenuhnya benar juga. Ingat bahwa beberapa waktu yang lalu, Bakrie menjual separuh kepemilikan sahamnya di Bumi Plc kepada pemilik Borneo Lumbung Energi (BORN), Samin Tan, senilai US$ 1 milyar, sehingga Bakrie dan Samin Tan masing-masing kemudian memegang 23.8% saham Bumi Plc. Jadi meski diatas disebutkan bahwa Bakrie harus mengeluarkan US$ 278 juta untuk mengambil BUMI kembali, namun mereka sudah memperoleh keuntungan sebelumnya sebesar US$ 1 milyar, sehingga masih untung. Hanya memang sekarang bola panasnya ada di tangan Samin Tan, dimana ia dihadapkan pada satu tantangan besar: Bagaimana caranya agar investasinya yang sebesar US$ 1 milyar tersebut kembali? Kita akan bahas itu nanti.
Kembali ke topik. Jadi pertanyaannya sekarang, dari mana Bakrie akan memperoleh dana sebesar US$ 228 juta diatas? Well, ketika penulis mengatakan bahwa uang segitu hanyalah receh bagi Nathaniel dan Bakrie, maka penulis tidak bercanda. Bakrie tidak perlu menjual aset untuk memperoleh dana tersebut, melainkan tinggal menghubungi bank langganan mereka untuk memberikan pinjaman, just as usual, so it is probably not a big deal anymore.
Tapi dengan demikian bukan berarti ceritanya sudah selesai. Pertarungan di Honourable Artillery Company, Armoury House, London, yang berakhir dengan kemenangan Bakrie, kembali menghadirkan beberapa cerita baru sekaligus pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab. Berikut diantaranya:
Masuknya Dua Orang ‘Figuran’
Kemenangan Bakrie merupakan buah dari kerja keras Rosan Roeslani, pemilik dari Recapital, yang sesaat sebelum penyelenggaraan voting berhasil menjual seluruh saham Bumi Plc yang dipegang oleh Recapital melalui dua anak usahanya, yakni Recapital Advisors dan Bukit Mutiara, kepada tiga pihak, yakni Avenue Luxembourg, Argyle Management Ltd, dan Hary Tanoe. Jumlah saham yang dilepas Recapital adalah 24.2 juta lembar atau setara dengan 15% saham Bumi Plc, dengan harga jual yang tidak disebutkan, tapi ada yang bilang total US$ 140 juta.
Yang perlu dicatat disini adalah, Mr. Rosan menjual saham Bumi Plc dengan janji akan dibeli kembali (repo), tentunya dengan harga yang lebih tinggi sehingga si pembeli akan memperoleh keuntungan. Sebagai gantinya, Mr. Rosan meminta dukungan Hary Tanoe cs untuk meningkatkan jumlah hak suara mereka dalam voting yang digelar kemarin. Karena kemudian Bakrie cs memenangkan voting, maka Mr. Rosan kini harus ‘membayar’ Hary Tanoe dan lainnya atas jasa dukungan yang sudah diberikan, dalam bentuk pembelian kembali saham Bumi Plc pada harga yang lebih tinggi. Berapa nilai pembeliannya? Nah, itulah yang kita nggak tau. Tapi berapapun itu, selisih harga antara penjualan dan pembelian kembali saham Bumi Plc tersebut tentu saja merupakan biaya tambahan yang harus dikeluarkan Bakrie cs dalam upayanya keluar dari jeratan Nathaniel.
Tapi poin menariknya mungkin bukan soal berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh Recapital, melainkan masuknya Hary Tanoe dalam transaksi repo saham yang dilakukan oleh Mr. Rosan. Kira-kira apa tujuan dari politisi dadakan yang baru saja pindah dari Nasdem ke Hanura ini? Rasa-rasanya Mr. Hary gak akan mau repot-repot begitu kalau cuma buat dapetin keuntungan berupa uang tunai. Kemungkinan Mr. Rosan menjanjikan sesuatu yang lain bagi Mr. Hary, hanya kita belum tahu apa itu (apakah saham di Visi Media Asia/VIVA? Bisa iya, bisa tidak).
Keberadaan Hary Tanoe dalam sengketa Bakrie – Rothschild menjadi menarik untuk diperhatikan, mengingat ia masuk di saat-saat terakhir, dan konglomerat muda ini juga belum mengeluarkan statement apapun terkait pemberian bantuannya kepada Bakrie cs. Hal ini berbeda dengan Hashim Djojohadikusumo yang sejak awal sudah ikut masuk ke perseteruan Bakrie – Rothschild, dimana ia berada di pihak Nathaniel. Namun pengusaha yang menjadi partner Merrill Lynch di Indonesia ini sudah menyatakan bahwa ia hanya bersenang-senang sekaligus jika mungkin, mendapatkan sedikit uang. Dalam wawancaranya dengan Kompas, Hashim mengatakan, ‘Adik saya punya tanah di sebelah Berau Coal (BRAU), sehingga jika BRAU hendak memperluas tambang batubaranya, maka adik saya mungkin akan memperoleh keuntungan, itu saja.’ Sekedar catatan, selain memegang 29.2% saham BUMI, Bumi Plc juga memegang 85% saham BRAU.
Hashim dan Nathaniel bertemu pertama kali di sebuah restoran di London pada September 2012 lalu. Ketika itu mungkin Nathaniel mengatakan, ‘Saya ada rencana mau ngembangin BRAU. Kalau BRAU saya yang pegang, saya gak akan deh main-main sama adiknya Pak Hashim, berapapun harga tanahnya akan saya bayar penuh. Tapi kalau BRAU ini dipegang ama Bakrie? Anda tau lah mereka gimana, bisa-bisa adik anda dikerjain habis-habisan..’
Bagaimana dengan Samin Tan?
Setelah voting, Bakrie memang akan segera keluar dari Bumi Plc, namun tidak demikian halnya dengan Samin Tan dan Rosan Roeslani, yang masih akan tetap menjadi pemegang saham di Bumi Plc. Masalahnya kedua orang ini tidak mungkin bisa bekerja sama dengan Nathaniel, karena sejak awal mereka berdua berada di pihak Bakrie. Dan mungkin itu sebabnya sesaat setelah voting, Samin Tan mengatakan kepada board Bumi Plc bahwa ia akan meletakkan jabatannya sebagai chairman Bumi Plc, jika nanti manajemen sudah menunjuk chairman yang baru.
Namun Samin Tan tentunya tidak bisa keluar begitu saja dari Bumi Plc, karena ia sudah menginvestasikan dana yang sangat besar ketika masuk ke Bumi Plc beberapa waktu lalu (seperti yang sudah disebut diatas, sebesar US$ 1 milyar atau hampir Rp10 trilyun, untuk membeli 23.8% saham Bumi Plc). Ini berbeda dengan Bakrie, yang ketika masuk ke Bumi Plc pada tahun 2010 lalu, mereka tidak mengeluarkan dana sama sekali melainkan hanya menukar guling saham mereka di BUMI.
Nah, jika Samin Tan memaksakan diri untuk keluar dari Bumi Plc, katakanlah dengan menjual sahamnya kepada siapapun yang berminat, maka kemungkinan dia akan menderita kerugian yang sangat-sangat besar. Karena dulu ketika ia membeli saham Bumi Plc, harga belinya adalah 10.9 Pound per saham. Dan berapa harga pasar Bumi Plc sekarang? Cuma 3.9 Pound! Dengan lepasnya BUMI dari pegangan, maka satu-satunya cara agar saham Bumi Plc bisa naik kembali adalah jika perusahaan mampu mengoptimalkan investasi mereka di BRAU, dengan melakukan pengembangan usaha dan lain-lain. Tapi itu bagaimana caranya kalau para shareholder-nya sendiri tidak akur?
Tidak hanya Samin Tan yang berpotensi mengalami kerugian. Recapital, perusahan investasi milik Rosan Roeslani dan Sandiaga Uno, juga jelas telah mengalami kerugian, karena dulu mereka membeli 90% saham BRAU senilai US$ 1.5 milyar atau sekitar Rp14 trilyun, tapi sekarang saham tersebut malah dipegang oleh Bumi Plc (gak semuanya sih, melainkan 85% jadi masih ada sisa 5%). Recapital memang juga memegang 15% saham Bumi Plc sebagai tukar guling sahamnya di BRAU, namun nilai dari 15% saham Bumi Plc tersebut pada saat ini jelas jauuuh lebih rendah dari Rp14 trilyun tadi. Namun mengingat bahwa Rosan Roeslani merupakan anak didik dari Nirwan Bakrie (pimpinan Grup Bakrie), dan bahwa sebagian besar dana yang dikelola Rosan merupakan dana milik Bakrie juga, maka seharusnya Rosan tidak akan protes mengenai masalah kerugian ini kepada sang suhu, so it’s okay.
Hanya saja yang menjadi polemik sekarang adalah Samin Tan. Bisa dibilang ketika Bakrie berhasil mengajak Samin Tan untuk menjadi mitranya dalam pertarungannya dengan Rothschild, maka di waktu yang bersamaan Bakrie juga berhasil melempar bola panasnya (baca: risiko kerugian) ke tangan mitranya tersebut, sehingga kini Samin Tan-lah yang harus pusing memikirkan investasinya.

So, apakah Bakrie kemudian membiarkan partnernya tersebut? Seharusnya sih nggak ya.. Bakrie selama ini mungkin terbilang kejam terhadap investor retail, namun mereka sangat ‘perhatian’ terhadap partner-nya sesama investor besar (termasuk terhadap bank yang rutin memberikan pinjaman). Beberapa orang mengatakan bahwa yang akan dilakukan oleh Bakrie selanjutnya adalah mendukung Samin Tan untuk meraih kontrol penuh atas BRAU. Artinya? Pihak Bakrie, entah bagaimana caranya, akan membantu Samin Tan untuk menjadi penguasa penuh atas Bumi Plc, alias menendang Nathaniel keluar. Dengan keluarnya Bakrie dari Bumi Plc, dimana saham yang dilepas Bakrie dibagikan secara merata kepada para pemegang saham yang tersisa, maka Samin Tan akan menjadi pemegang saham terbesar di Bumi Plc dengan kepemilikan sekitar 26%, cukup jauh diatas Nathaniel yang hanya 20%. Jadi upaya untuk mengusir Nathaniel keluar dari Bumi Plc memang bukan tidak mungkin untuk dilakukan, meski itu tentunya akan butuh kerja keras.
Dan Nathaniel sendiri?
Setelah pertarungan selama lebih dari dua tahun, agak sulit dipercaya bahwa Nathaniel, yang notabene merupakan salah satu pewaris dari Rothschild Banking Family, ternyata kalah juga ketika berhadapan dengan Bakrie, meski memang pihak Bakrie cs sendiri harus meninggalkan medan pertempuran dengan kondisi terluka (baca: rugi).
Nathaniel sendiri hingga kini belum berkomentar apapun terkait kekalahannya di voting kemarin, termasuk juga belum memaparkan apa rencana selanjutnya pasca kekalahan tersebut. Sebenarnya dengan masih adanya BRAU di tangan Bumi Plc, maka Nathaniel tidak sepenuhnya kalah karena setidaknya ia masih ‘memenangkan sesuatu’. Tapi tentu, ia lebih menginginkan hadiah utamanya: BUMI.
Disisi lain, seperti yang sudah disebutkan diatas, kepemilikan Nathaniel atas BRAU juga belum aman karena masih ada orang lain dalam jajaran pemegang saham utama di Bumi Plc, yaitu Samin Tan. Jadi kemungkinan kedepannya kita akan menonton dua tokoh ini saling baku hantam untuk memperebutkan BRAU. Sementara BUMI? Well, secara teori sudah aman di tangan Bakrie, dan tidak akan ada yang mengusik mereka lagi. Tapi, entahlah.. Penulis tidak terlalu yakin bahwa Nathaniel akan menyerah begitu saja dalam upayanya mengambil alih BUMI.. Bagaimana jika nanti ia kemudian meminta Hashim untuk membantunya lagi, kali ini yang dimaksud adalah bantuan yang serius dan bukan cuma ‘bersenang-senang’? Ingat bahwa dulu ketika Kaltim Prima Coal (KPC, anak usaha BUMI) akan didivestasi oleh pemilik sebelumnya, yakni Beyond Petroleum, yang berlomba-lomba untuk mengakuisisinya bukan hanya Bakrie, tetapi juga Prabowo Subianto, yang notabene merupakan kakak kandung Hashim. Bukan tidak mungkin Mr. Hashim sengaja menjalin hubungan dengan Nathaniel karena ia melihat peluang untuk masuk ke KPC, who knows?
But whatever.. yang jelas untuk sekarang Nathaniel sudah kalah, titik!
Okay, terakhir, setelah ini semua, bagaimana kira-kira perkembangan saham-saham Grup Bakrie di BEI, terutama BUMI itu sendiri? Sekilas, kemenangan Bakrie sepertinya justru ditanggapi negatif oleh investor. Pagi tadi saham BUMI telah turun 4.35% ke posisi 880, sementara saham Bumi Plc di London sana justru naik 3.2% ke posisi 3.91. Namun dalam jangka panjang, sebagian orang percaya bahwa BUMI akan kembali ke track aslinya, yakni 1,000 atau 2,000. Untuk saat ini, atau mungkin setidaknya hingga nanti Nathaniel kembali ‘do something’, perhatian publik akan kembali tertuju pada utang-utang BUMI yang segunung, sekaligus pertanyaan tentang bagaimana Bakrie akan membayarnya.
Dan jangan lupa pula cerita seputar Pemilu 2014, dimana hal ini menjadi semakin menarik mengingat Hary Tanoe sekilas telah berkongsi dengan Bakrie, dan kemungkinan kongsi itu cukup masuk akal mengingat Mr. Hary sebelumnya telah ‘bercerai’ dengan salah satu musuh Ical, Tuan Surya Paloh. Penulis memang tidak pernah mengerti tentang politik, namun apa jadinya jika ada kepentingan bisnis disana? Well then, let us just wait for the next [...]

Seminar Maret

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan seminar edukasi investasi di Jakarta, kali ini dengan tajuk: ‘Lima Prinsip Dasar dalam Analisis Fundamental’ (masih sama seperti seminar bulan lalu). Dan berikut ini adalah beberapa materi yang akan disampaikan, kurang lebih sama aja kaya materi-materi sebelumnya, hanya contoh-contohnya diupdate menggunakan data terbaru.

  1. Cara Menganalisis Laporan Keuangan
  2. Analisis Fundamental secara Komprehensif (analisis laporan keuangan itu baru sebagian kecil dari analisis fundamental)
  3. Cara Menganalisis Sektor dan Makro Ekonomi
  4. Cara Menilai Harga Wajar Saham
  5. Cara Meminimalisir Risiko Kerugian
Dalam acara ini, anda juga bisa tanya jawab alias diskusi alias konsultasi soal saham-saham tertentu dengan penulis. Berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Kantor BNI Securities cabang Central Park, APL Tower Ground Floor, Podomoro City, Jln. Jend. S. Parman Kav. 28, Jakarta Barat.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 2 Maret 2013
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16:00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy materi seminar, dan makan siang
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acara dimulai.
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp100,000, sekedar buat pengganti makan siang (naik lagi dari sebelumnya Rp75,000, buat standarisasi saja biar gak terkesan gratisan banget). Okay, berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank. Contoh: Sergio Kun Aguero, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan.
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!

Info acara: Telp/SMS 081220445202, dan Pin BB 2850E045 (Ms. Nuri).

Catatan: Penulis berencana untuk menggelar seminar ini setiap satu atau dua bulan sekali, namun mohon maaf hingga saat ini hanya bisa di Jakarta saja. Untuk seminar diluar kota, penulis hanya bisa memenuhi undangan untuk mengisi seminar yang diselenggarakan pihak lain (pernah masing-masing sekali di Surabaya dan Medan).


UPDATE: Pesertanya sudah penuh, jadi sampai ketemu di acara seminar [...]

Bakrie vs Rothschild, Part 3

Tanggal 12 Februari 2013 kemarin, Bumi Plc, perusahaan holding yang memegang 29.2% saham Bumi Resources (BUMI), merilis pengumuman bahwa perusahaan telah menyetujui proposal dari Grup Bakrie untuk mengambil alih kembali seluruh saham BUMI yang dipegang perusahaan. Sebagai tanda jadi, Grup Bakrie melalui Bakrie & Brothers (BNBR) telah menyetor uang muka sebesar US$ 50 juta, dan sisanya akan dibayar kemudian. Sekilas, pengumuman ini memberi kesan bahwa upaya Grup Bakrie untuk keluar dari cengkeraman Bumi Plc (baca: Nathaniel Rothschild) mulai menuai hasil, dan itu pula sebabnya saham BUMI mulai menggeliat sejak seminggu terakhir. Tapi benarkah demikian? Dan apakah pihak Nathaniel kemudian hanya tinggal diam begitu saja? Ingat bahwa jika Bumi Plc tidak lagi memegang BUMI, maka perusahaan yang dulunya bernama Vallar Plc ini hanyalah perusahaan kosong yang gak ada nilainya sama sekali.

Dalam pengumuman yang dirilis oleh Bumi Plc, berikut adalah detil dari transaksi yang dilakukan untuk mengeluarkan BUMI dari perusahaan:
  1. Grup Bakrie akan melepas seluruh kepemilikan sahamnya di Bumi Plc. Sebagai gantinya, Bumi Plc akan melepas 10.3% saham BUMI kepada Grup Bakrie, sehingga Bumi Plc tinggal memegang 18.9% saham BUMI
  2. Grup Bakrie akan membeli sisa saham BUMI yang masih dipegang Bumi Plc (sebanyak 18.9% tadi) senilai US$ 278 juta, dimana US$ 50 juta diantaranya sudah dibayarkan sebagai uang muka.
Yang menarik adalah, salah satu direktur Bumi Plc, Nick von Schirnding, mengatakan bahwa, ‘Under the current Board, the separation from the Bakrie Group can be achieved. But if Nat Rothschild’s resolutions are passed, it cannot.’Intinya, Nathaniel sebagai salah satu pemegang saham utama di Bumi Plc masih memiliki hak untuk mengajukan keberatan atas transaksi keluarnya BUMI dari Bumi Plc, dimana jika keberatan tersebut dikabulkan (passed), maka Grup Bakrie juga tidak bisa merealisasikan transaksi diatas.
Pertanyaannya, dikabulkan oleh siapa? Oleh voting yang akan diselenggarakan kemudian. Kedua belah pihak (Bakrie dan Nathaniel) telah sepakat untuk menyelenggarakan voting di London, Inggris, pada hari Kamis, 21 Februari 2013, dimana dalam voting tersebut akan terdapat dua opsi: Satu, BUMI keluar dari Bumi Plc (ini opsi yang dipilih Bakrie), dan dua, BUMI tetap dipegang oleh Bumi Plc, termasuk Bumi Plc juga bisa menambah kepemilikan di BUMI (ini opsi yang dipilih Nathaniel). ‘Pertarungan’ pada tanggal 21 Februari tersebut bisa jadi akan menjadi pertarungan penentu, apakah Bakrie akhirnya bisa mengambil BUMI kembali atau tidak.
Nah, berikut adalah peta kekuatan dari kedua belah pihak:
Grup Bakrie, Samin Tan (pemilik Borneo Lumbung Energi/BORN), dan Bukit Mutiara (holding company milik Rosan Roeslani, yang notabene orangnya Bakrie juga) secara keseluruhan memegang voting share (hak suara) sebesar 29.9% di Bumi Plc.
Sedangkan Nathaniel hanya memiliki hak suara di Bumi Plc sebesar 11.9%. However, Nathaniel mengklaim bahwa bahwa hak suara-nya telah meningkat menjadi 18.2%. Namun itu tentu masih jauh dibawah hak suara milik Bakrie cs (29.9%).
Sementara sisa hak suara di Bumi Plc dipegang oleh beberapa pihak, namun beberapa dari mereka ‘dicurigai’ merupakan milik Nathaniel juga. Contohnya Saint James Master Fund, yang memegang 5.7% hak suara di Bumi Plc, disebutkan merupakan kepanjangan tangan Nathaniel. Demikian pula Schroders Investment Management Ltd., yang memegang 4.5% hak suara, disebutkan lebih mendukung Nathaniel. Terakhir, Taube Hodson Stonex Partners LLP, yang memegang 5.2% hak suara, juga mendukung Nathaniel. Jika benar, maka Nathaniel memegang total 34.6% hak suara, atau sudah lebih besar ketimbang hak suara milik Bakrie cs.
Sebenarnya, Bakrie dkk memegang 57% saham di Bumi Plc, sehingga seharusnya mereka memegang hak suara sebesar itu juga (57%). Namun karena United Kingdom Takeover Panel (salah satu otoritas bursa saham Inggris) telah memotong hak voting Bakrie dkk menjadi kurang dari 30%, maka hak voting tersebut berkurang menjadi hanya 29.9%. Dari sini bisa dilihat bahwa otoritas bursa Inggris juga lebih mendukung Nathaniel.
So, diatas kertas, tampak jelas bahwa pihak Nathaniel sepertinya akan unggul telak dalam pertarungan tanggal 21 Februari mendatang. Dalam wawancaranya dengan The Sunday Times, Nat mengatakan, ‘It is almost arithmetically impossible for the other side to win.’ Pihak Bakrie bukannya tidak mungkin untuk menang, tapi jujur saja, peluangnya relatif tipis.
Nah, beberapa hari yang lalu, penulis kaget ketika menonton acara Economic Challenges di Metro TV, karena ada Samin Tan yang hadir disana. Mr. Tan, biar bagaimanapun, merupakan seorang ‘suhu’ di dunia persilatan pasar modal, sehingga ia tidak mungkin mau untuk tampil begitu saja di depan publik, dalam hal ini melalui siaran televisi. Dalam acara tersebut Mr. Tan, ditemani oleh Menteri ESDM, Jero Wacik, secara gamblang ‘menyerukan kepada rakyat Indonesia’ untuk mempertahankan ‘aset milik bangsa’ dari cengkeraman asing, dalam hal ini Nathaniel Rothschild. Setelah mempelajari bahwa peluang Bakrie cs (termasuk Samin Tan didalamnya) untuk memenangkan voting ternyata kecil, maka tindakan desperate Mr. Tan diatas menjadi bisa dijelaskan.
Demikian pula Nirwan Bakrie, yang sangat-sangat jarang nongol di media, beberapa waktu lalu mengatakan bahwa pihak Nathaniel mungkin telah atau akan melanggar beberapa peraturan Pemerintah RI terkait kepemilikan tambang batubara, dll, termasuk juga meminta bantuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selaku otoritas bursa di tanah air.
Lalu siapa yang akan memenangkan pertarungan tanggal 21 Februari nanti? Well, meski diatas kertas Barcelona seharusnya bisa menyingkirkan Chelsea di semifinal Liga Champions tahun 2012 lalu, namun toh ternyata Chelsea yang menang dan akhirnya menjadi juara. Maksud penulis, prediksi diatas kertas tidak selalu menjadi kenyataan. Bakrie masih punya peluang untuk memenangkan pertempuran hari Kamis nanti, dan itu tergantung dari bagaimana mereka melakukan segala persiapan dalam dua tiga hari kedepan.
Namun yang jelas, apapun hasil votingnya nanti, maka itu bukan berarti pertempuran kedua belah pihak akan langsung usai. Jika Nathaniel yang menang, dan kemungkinan memang demikian, maka pihak Bakrie akan segera menyiapkan strategi berikutnya lagi, termasuk (mungkin) secara terbuka meminta bantuan dari Pemerintah Indonesia, sehingga bisa jadi akan diselenggarakan ‘second leg match’ yang digelar di kandang Bakrie (di Indonesia). Sementara jika Bakrie yang menang, maka tentu pihak Nathaniel Rothschild-lah, yang akan menyusun strategi berikutnya lagi, we’ll see..
NB: Ebook Analisis Kuartalan akan terbit pada tanggal 11 Maret mendatang. Anda bisa memperolehnya disini.February 18th, 2013 at 1:51 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Ebook Kuartalan edisi FY12

Dear investor, seperti biasa setiap tiga bulan sekali, penulis akan bikin ebook kumpulan analisis (“Ebook Kuartalan”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal IV 2012, alias Tahun Penuh 2012 atau Full Year 2012 (FY12). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk trading, investasi jangka menengah, dan panjang.


Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, maka untuk kali inipun penulis akan meminta masukan dari teman-teman investor sekalian, terkait saham-saham apa saja yang akan kita bahas di edisi kali ini. Berikut kriteria dari saham-saham yang boleh diusulkan.
  1. Ukurannya perusahaannya gak terlalu kecil. Aset atau market cap-nya minimal atau mendekati Rp 1 trilyun atau US$ 100 juta.
  2. Sahamnya likuid. Jumlah transaksinya minimal 1 juta lembar per hari, atau 250 ribu lembar per hari untuk saham yang harganya diatas Rp10,000.
  3. Fundamentalnya baik, atau paling tidak kelihatannya demikian (untuk lebih detailnya nanti biar penulis yang menganalisisnya).
  4. Bukan saham gorengan. Salah satu ciri saham gorengan adalah mudah naik dan mudah turun secara drastis hingga belasan persen hanya dalam sehari, tanpa penyebab yang jelas.
  5. Bukan saham recehan apalagi gocapan. Rata-rata harganya dalam tiga bulan terakhir minimal Rp100.

Melalui komentar di bawah artikel ini, anda bisa mengusulkan antara satu hingga beberapa saham. Dan format komentarnya adalah menyebutkan kode sahamnya aja. Misalnya: AABB, CCDD, EEFF, dst. Penulis akan mencatat saham-saham yang paling banyak disarankan. Jika saham-saham tersebut memenuhi kelima kriteria diatas, penulis akan memasukannya sebagai salah satu saham yang diulas di Ebook Kuartalan Edisi FY12. Seperti biasa, jumlah saham yang akan dianalisis adalah 30 saham.


Ebook ini akan terbit pada hari Senin tanggal 11 Maret 2013 (sudah terbit), dan anda bisa memperolehnya dengan cara 
klik disini.

Okay, untuk sekarang jangan lupa ikutin pollingnya yak! Dan jika anda punya saran agar ebook ini menjadi lebih baik kedepannya, anda bisa mengirimnya ke alamat email penulis, teguh.idx@gmail.com, jangan melalui komentar disini. Insya Allah penulis akan menampung semua saran yang masuk.

Produk analisis ini terbit setiap tiga bulan sekali, dan terbit pertama kali pada November 2010. Edisi kali ini merupakan edisi kesepuluh. Untuk mengetahui seperti apa analisis yang disajikan, penulis menyediakan sampelnya yakni Ebook 40 edisi kedua, yang terbit pada April 2010 lalu. Anda bisa mendownloadnya disini, gratis! Jika anda tidak bisa mendownloadnya, maka kirim email dengan subjek ‘Sampel Ebook Kuartalan’, ke teguh.idx@gmail.com, dan penulis akan mengirim ebook-nya ke alamat email anda. Tidak ada biaya untuk ini, tetap gratis.

Cara Menganalisis Manajemen Perusahaan

Apa saja kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan agar dapat menghasilkan kinerja yang maksimal? Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa macam-macam, tapi yang pasti salah satu diantaranya adalah: Tim manajemen yang bagus dan dapat dipercaya. Sebagus apapun sebuah perusahaan, tapi kalau perusahaan tersebut dikendalikan dan dikelola oleh orang-orang yang nggak becus dan tidak bertanggung jawab, maka hasilnya pasti akan tetap jelek. Dalam kaitannya dengan investasi di saham, maka hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, mengingat kita sebagai investor retail tidak memiliki kuasa untuk menunjuk orang-orang tertentu untuk duduk di jajaran direksi dari perusahaan yang bersangkutan, kecuali jika anda adalah investor besar yang mampu membeli saham sebuah perusahaan hingga sebanyak 20% dari modal disetor (sehingga anda menjadi pemegang saham utama).


Lalu apa saja kriteria dari manajemen yang bagus dan dapat dipercaya tersebut? Tentunya, kriteria tersebut bisa sangat banyak. Namun berdasarkan pengalaman penulis, kriteria-kriteria tersebut bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian. Simpelnya, sebuah tim manajemen perusahaan bisa dikatakan bagus dan juga dapat dipercaya, jika mereka memenuhi tiga ‘work’ berikut:
  1. Work hard
  2. Work good
  3. Work fair.

Masih bingung? Oke, berikut penjelasannya.


1. Work Hard

Jika anda memiliki sebuah perusahaan dan anda merekrut seorang pegawai, maka apa yang anda harapkan pertama kali dari si calon pegawai tersebut? Sudah tentu, ia harus mampu bekerja keras untuk kepentingan perusahaan. Nah, demikian pula ketika anda menjadi seorang investor, atau dengan kata lain pemilik dari perusahaan yang anda beli sahamnya, anda tentu akan mengharapkan bahwa manajemen dari perusahaan yang bersangkutan akan bekerja keras untuk menghasilkan keuntungan dan laba yang sebesar-besarnya bagi perusahaan, dan juga meningkatkan keuntungan tersebut dari waktu ke waktu dengan cara melakukan pengembangan usahasecara terus menerus (jadi tidak hanya menjalankan usaha yang sudah ada saja).

Tapi bagaimana cara untuk mengetahui bahwa perusahaan yang sahamnya kita pilih memiliki tim manajemen yang senantiasa bekerja keras? Dengan melihat rencana kerja dan pengembangan usaha mereka, serta progress dari rencana tersebut (karena kadang-kadang sebuah tim manajemen hanya jago dalam membuat rencana saja, tapi pelaksanaan dari rencana tersebut malah nol besar). Lihatnya dimana? Bisa di laporan tahunan perusahaan alias Annual Report, atau yang biasa penulis lakukan, dengan membaca materi public expose. Di materi public expose tersebut perusahaan biasa mencantumkan rencana kerja serta proyek-proyek pengembangan usaha yang sedang dijalankan, serta target yang hendak dicapai (misalnya proyeknya akan selesai dan beroperasi pada tahun 2015, dst). Selain itu bisa juga dengan membaca pengumuman-pengumuman yang dirilis perusahaan terkait akuisisi, pendirian pabrik, aksi korporasi, dll, untuk satu tujuan: Pengembangan usaha. Semua jenis dokumen tersebut bisa diperoleh di website idx.co.id.

Terkait informasi yang dirilis perusahaan tentang pengembangan usahanya, maka jika anda perhatikan akan ada dua jenis perusahaan, yakni perusahaan yang rajin merilis pengumuman bahwa mereka sedang mengerjakan proyek atau aksi korporasi tertentu, atau perusahaan yang diem-diem aja alias jarang ngomong apapun. Untuk jenis perusahan yang rajin merilis pengumuman tentang aksi korporasi, maka belum tentuaksi korporasi yang mereka lakukan akan berdampak positif terhadap perusahaan, sehingga anda harus membaca aksi korporasi yang bersangkutan secara teliti, sebelum kemudian baru bisa menilai apakah aksi korporasi tersebut akan berpengaruh signifikan untuk kemajuan perusahaan atau tidak. Karena kadang-kadang ketika sebuah perusahaan mengumumkan aksi korporasi tertentu, tujuannya hanya untuk sekedar menunjukkan bahwa mereka sedang ‘do something’ (tapi something yang nggak penting), atau lebih buruk lagi, aksi korporasinya bukan untuk kepentingan perusahaan itu sendiri (baca: para pemegang saham, termasuk kita), melainkan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, biasanya pemegang saham mayoritas.

Sementara ketika sebuah perusahaan nggak ngomong apapun mengenai rencana pengembangan usaha mereka, entah itu di annual report, materi public expose, atau pengumuman, maka biasanya manajemen yang bersangkutan memang nggak punya rencana pengembangan usaha apapun kecuali menjalankan usaha dengan biasanya saja. Meski ini tentunya menggambarkan manajemen yang ‘working not too hard’, namun itu tidak selalu berarti buruk, selama manajemen ini masih memenuhi dua kriteria lainnya yaitu work good dan work fair (akan dibahas dibawah).

Satu lagi, anda harus hati-hati dan cermat dalam mendefinisikan ‘work hard’ ini, karena itu berbeda dengan ‘talk hard’. Hati-hati dengan perusahaan yang rajin ngomong di media bahwa mereka akan melakukan ini dan itu, padahal aslinya mereka tidak melakukan apa-apa (catat bahwa ‘akan’ itu artinya proyeknya belum dikerjakan). Sumber info yang valid tentunya hanya yang berasal dari perusahaannya sendiri yang dirilis melalui website IDX.co.id, itupun dengan catatan anda tetap harus hati-hati dalam membacanya, atau anda mungkin bisa salah persepsi.

Contoh perusahaan yang manajemennya menerapkan ‘work hard’ ini, jika penulis perhatikan, adalah Bank BJB (BJBR). Sejak perusahaan menunjuk direktur utama yang baru, yakni Mr. Bien Subiantoro, bank ini menjadi cukup eksis dan rajin dalam melakukan berbagai proyek pengembangan usaha, dan hasilnya kinerjanya pun mulai membaik lagi setelah sempat jalan di tempat selama kurang lebih dua tahun. Perusahaan lainnya yang manajemennya tampak bekerja keras adalah Garuda Indonesia (GIAA), namun sayangnya hingga saat ini hasilnya belum kelihatan.

2. Work Good

Penulis pernah dinasehati oleh seorang teman, ‘Kerja keras itu penting, tapi lebih penting lagi kerja bener! Ente lihat, koruptor juga kerja keras, tapi kerjanya nggak bener, ngerugiin rakyat, dan ujung-ujungnya dia sendiri malah dipenjara. Intinya, Ente mau kerja keras kaya gimana juga tetep aja percuma kalo caranya salah.’

Nah, jadi yang dimaksud dengan ‘work good’ disini adalah, manajemen yang baik adalah mereka yang mengelola perusahaan dengan cara-cara yang baik, yang tidak merugikan pihak-pihak tertentu. Manajemen yang baik adalah mereka yang menghasilkan keuntungan bagi perusahaan tapi bukan dengan cara mengambil keuntungan dari pihak lain, atau merugikan pihak lain.

Dalam kaitannya dengan investasi kita di saham, maka manajemen yang ‘work good’ bisa dilihat jika perusahaan yang bersangkutan tidak pernah atau jarang terlibat kasus atau masalah tertentu. Sementara manajemen yang ‘work bad’ (kebalikan dari work good) bisa dilihat jika si perusahaan yang bersangkutan pernah atau sering melakukan hal-hal berikut: 1. Terlibat kasus hukum/tuntutan pailit/sengketa dengan pihak/perusahaan lain, 2. Menolak atau menunda-nunda pembayaran hutang, 3. Melanggar peraturan pemerintah, 4. Tidak membayar pajak, 5. Merusak lingkungan, melakukan transfer pricing, money laundering, dan seterusnya. Untuk mengetahui bahwa sebuah perusahaan pernah terkena masalah atau tidak, caranya gimana? Ya tinggal googling aja, kalau ada yang gak beres pasti keluar beritanya. Penulis sendiri selalu melakukan hal ini setiap kali menganalisis sebuah saham. Contoh perusahaan yang manajemennya ‘work bad’ seperti ini, salah satunya Dayaindo Resources (KARK), dimana perusahaannya sering sekali tersangkut masalah.

Mungkin ada pertanyaan, ketika perusahaan terlibat kasus hukum tertentu dengan perusahaan lain, belum tentu si perusahaan yang bersalah kan? Bisa saja yang salah adalah perusahaan lain tadi? Benar. Karena itulah, kalau anda hendak mengetahui secara detil mengenai kasus-kasus hukum tertentu yang mungkin dialami perusahaan yang anda beli sahamnya, maka anda bisa membacanya di laporan keuangan, di bagian kontinjensi (bahasa Inggrisnya, contingencies). Setelah membaca penjelasannya, maka barulah anda bisa menilai mengenai apakah perusahaan bersalah atau tidak dalam kasus yang dimaksud (tapi sekali lagi, hati-hati dalam membacanya karena tulisannya tentu memihak perusahaan yang bersangkutan). Tapi jika tidak ada kontinjensi apa-apa, maka itu berarti perusahaannya tidak terlibat kasus hukum apapun.

Untungnya, sejauh yang penulis amati, sebagian besar perusahaan di BEI menerapkan ‘work good’ ini, dan hanya terdapat beberapa perusahaan saja yang bermasalah dalam operasionalnya. Tapi untuk menemukan perusahaan yang manajemennya ‘work fair’, maka itu baru agak sulit. Oke kita langsung saja.

3. Work Fair

Penulis pernah diceritakan oleh seorang teman, sebut saja namanya A, yang pernah bertemu dan mengobrol dengan seorang owner dari sebuah perusahaan di BEI, sebut saja namanya B. A bertanya kepada B, ‘Bro, kenapa perusahaan elu, gue lihat laporan keuangannya kok jelek banget? Rugi melulu? Padahal perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama untung terus?’ Dan B menjawab, ‘Bisa saja kok gue bikin laporan keuangan jadi bagus, labanya naik terus, dan sebagainya. Tapi kalau begitu apa untungnya buat gue? Kalau harga sahamnya naik, yang untung siapa? Para pemegang saham publik kan? Bukan gue, karena gue gak ada niat jual perusahaan ini. Malah kalau laba perusahaan ditulisnya naik terus, yang ada gue bisa aja rugi, karena nantinya para pemegang saham publik ribut minta dividen..’

Nah, meski anda mungkin berpikir bahwa B merupakan tipikal pengusaha yang nggak bener setelah membaca cerita diatas, namun tindakan B tersebut sebenarnya wajar, yaitu lebih memikirkan keuntungannya sendiri ketimbang keuntungan orang lain yang bahkan tidak pernah ia temui. Ini perusahaan saya, saya-lah yang susah payah mengelolanya, terus kenapa malah orang lain yang memperoleh keuntungan? Saya ini pengusaha, bukan politisi yang kerjaannya mengobral janji untuk mensejahterakan rakyat!

Namun, tindakan B diatas tentu tidak mencerminkan manajemen yang ‘work fair’, karena manajemen yang fair adalah manajemen yang bekerja untuk kepentingan semua pemegang saham, bukan hanya pemegang saham tertentu (biasanya pemegang saham mayoritas). Sayangnya, B tidak sendirian. Kalau anda perhatikan grup-grup usaha di BEI, terutama yang besar-besar, cukup banyak diantara mereka yang dalam mengelola perusahaan-perusahaannya tidak mengakomodasi kepentingan investor publik, atau lebih parah lagi, mereka justru menjadikan investor publik ini sebagai ‘komoditas’ untuk meraup keuntungan, misalnya dengan cara menggoreng sahamnya.

Tapi perusahaan yang fair juga jumlahnya tidak sedikit. Berikut adalah ciri-ciri dari perusahaan yang manajemennya menerapkan ‘work fair’:

  1. Menyajikan laporan keuangan dengan apa adanya, tanpa utak atik apalagi manipulasi
  2. Tidak mengendalikan/menggoreng sahamnya, melainkan membiarkannya naik dan turun sesuai mekanisme pasar
  3. Membayar dividen dalam jumlah yang tidak terlalu sedikit (setidaknya 20 – 30% dari laba bersih) secara rutin setiap tahun
  4. Tidak melakukan right issue, mengambil utang bank dengan bunga mahal, dll, yang berpotensi merugikan pemegang saham publik, entah itu karena dilusi saham atau menurunnya laba karena besarnya biaya bunga hutang, dan seterusnya.
  5. Tidak melakukan aksi korporasi yang aneh-aneh, financial engineering, dan semacamnya, melainkan hanya melakukan aksi korporasi yang bertujuan untuk menghasilkan laba yang sebesar-besarnya bagi perusahaan.
Mungkin ada pertanyaan, bagaimana cara untuk mengetahui bahwa sebuah perusahaan mungkin telah mengutak atik atau memanipulasi laporan keuangannya? Jujur saja, untuk melakukan ini memang tidak mudah karena membutuhkan ketelitian ekstra dalam membaca laporan keuangan. Namun kalau ada tips terkait hal ini, maka berikut tipsnya: Semakin rumit dan semakin banyak jenis account dalam laporan keuangan sebuah perusahaan, maka semakin besar kecenderungan laporan keuangan tersebut telah dimanipulasi, atau sengaja dibuat sedemikian rupa agar hasilnya tampak seperti yang diinginkan oleh manajemen. Tidak percaya? Coba saja anda bandingkan laporan keuangan Bumi Resources dengan Astra International, anda akan mengerti bedanya.

Terus bagaimana cara kita mengetahui jika sebuah perusahaan telah menggoreng sahamnya atau tidak? Sayangnya, tidak ada cara untuk mengetahui hal ini, karena ketika sebuah saham telah bergerak secara tidak wajar (naik atau turun secara mendadak dalam persentase yang besar, tanpa penyebab yang jelas), maka belum tentu juga bahwa yang menggerakannya (bandarnya) adalah perusahaan yang bersangkutan, melainkan bisa saja pihak lain. Tapi ada satu tips terkait hal ini, yaitu sebaiknya anda menghindari saham dari perusahaan yang: 1. Jumlah saham beredarnya kelewat banyak (puluhan milyar lembar), sementara ukuran perusahaannya sendiri nggak terlalu besar (asetnya kurang dari Rp5 trilyun) , dan 2. Kepemilikan publiknya kelewat besar, kadang hingga diatas 50%, ini bisa dilihat di laporan keuangannya. Berdasarkan pengamatan penulis, perusahaan yang memenuhi salah satu dari dua ciri diatas, atau kedua-duanya, biasanya sahamnya bergerak secara tidak wajar alias sering digoreng, dan kemungkinan yang melakukannya adalah perusahaan/manajemennya sendiri.

Oke, I think that’s all. Terakhir, Mas Teguh, bisakah anda tunjukkan satu saja perusahaan yang manajemennya memenuhi ketiga kriteria ‘work’ diatas? Well, tentu bisa, jawabannya adalah Unilever Indonesia (UNVR). Check this out:

  1. Work hard: Manajemen UNVR, terutama induknya yakni Unilever BV, secara rutin mengembangkan dan meluncurkan varian produk baru agar pasar tidak bosan, minimal kemasannya diganti. Kalau anda perhatikan produk-produk Unilever seperti Pepsodent, Lifebuoy, Shampoo Clear, Es Krim Wall’s, dll, setiap beberapa waktu sekali ada saja varian barunya yang keluar, sehingga konsumen senantiasa merasa membeli produk yang baru.
  2. Work good: Sejak dari penulis masih belum terjun ke dunia pasar saham hingga sekarang, belum pernah sekalipun penulis mendengar berita bahwa UNVR digugat pailit, menunggak utang, atau tidak membayar pajak.
  3. Work fair: UNVR mungkin merupakan perusahaan besar dengan laporan keuangan paling sederhana di BEI, dan mereka juga rutin membagikan dividen dalam jumlah besar (100% laba bersihnya) untuk semua pemegang sahamnya tanpa terkecuali. Setiap kali perusahaan melakukan aksi korporasi tertentu, tujuannya semata untuk pengembangan perusahaan, bukan yang lain (terakhir UNVR mengakuisisi merk ‘She’ dari Sara Lee Body Care).

Board of Directors, PT Unilever Indonesia


Karena perusahaannya sendiri dikendalikan oleh orang-orang yang hebat dan dengan cara yang sangat-sangat profesional, maka tak heran kalau saham UNVR kemudian menjadi saham terbaik sekaligus termahal di jagat BEI. Maksud penulis, menurut anda akan bagaimana jadinya jika UNVR selama ini dipegang oleh Grup Bakrie, misalnya?


Untungnya, UNVR bukan satu-satunya perusahaan dengan manajemen yang baik, melainkan masih banyak lagi yang lainnya, dan tugas kita hanyalah menemukannya [...]

The Sleeping Giant

Ada yang menarik ketika penulis mempelajari catatan ekspor impor Indonesia untuk tahun penuh 2012, yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, yaitu: Nilai impor besi dan baja untuk tahun 2012 meningkat signifikan, tepatnya 18.2% dibanding tahun 2011. Demikian pula nilai impor untuk barang-barang dari besi dan baja, juga meningkat 36.8%. Untuk beberapa jenis barang lainnya yang juga mengandung komponen besi dan baja, seperti mesin, elektronik, produk otomotif, hingga kapal terbang, semuanya juga meningkat signifikan antara 15 – 30%.

Padahal nilai impor Indonesia sendiri secara keseluruhan (termasuk impor migas) hanya meningkat 8.0%. Artinya? Kebutuhan Indonesia akan besi dan baja, termasuk produk-produk turunannya, telah meningkat pesat dalam setahun terakhir ini, termasuk kebutuhan akan besi dan baja untuk proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur. Nilai impor besi dan baja beserta produk turunannya pada tahun 2012 juga telah mencapai 40% dari total nilai impor Indonesia, meningkat dibanding 37% pada tahun 2011.
Nah, jika kebutuhan akan besi dan baja di Indonesia telah meningkat pesat, namun yang memenuhinya adalah produsen besi dan baja dari luar negeri, maka coba tebak siapa yang ketinggalan kereta disini? Benar sekali, Krakatau Steel (KRAS). Hingga Kuartal III 2012, KRAS hanya mampu mencatat kenaikan pendapatan 25.5%, dari Rp12.7 menjadi 15.9 trilyun. Tapi yang lebih menarik untuk dicermati adalah laba bersihnya yang sangat-sangat kecil, yakni cuma Rp5 milyar, itupun karena perusahaan memperoleh pendapatan non operasional dari penjualan aset tetap (tanah, dll). Jika pendapatan non operasional tersebut tidak ada, maka sejatinya KRAS mengalami laba minus alias rugi. Penyebabnya? Karena mahalnya biaya bahan baku pembuatan besi dan baja. Masalah biaya bahan baku ini merupakan masalah klasik sebenarnya, alias sudah dari dulu, yang sayangnya sampai sekarang belum bisa diselesaikan oleh perusahaan.
So, dengan demikian KRAS memiliki dua masalah: 1. Tidak mampu memanfaatkan momentum pasar besi dan baja yang sedang booming, 2. Masih mengalami kesulitan dalam hal efisiensi biaya produksi. Dalam perspektif fundametal, kedua masalah tersebut tentu saja menyebabkan sahamnya tidak layak dilirik, karena ujungnya menyebabkan perusahaan tidak mampu mencetak laba. Namun kalau kita mempertimbangkan pula bahwa: 1. KRAS ini bermain di industri strategis yaitu besi dan baja, dan merupakan satu-satunya perusahaan besar di Indonesia yang bermain di industri ini, sehingga tidak mungkin dibiarkan bangkrut, 2. This company is too big to fail, asetnya mencapai Rp23.4 trilyun, dan 3. Peluang bisnisnya justru lagi sangat bagus kok, tinggal bagaimana perusahaan bisa memanfaatkannya atau nggak, maka: KRAS tetap layak untuk diperhatikan. Tinggal pertanyaannya sekarang, apakah pihak perusahaan cuma berdiam diri saja dan menerima statusnya sebagai perusahaan gagal, ataukah mereka sedang ‘do something’ dan berusaha untuk bangkit? Untungnya, jawabannya adalah, mereka sedang ‘do something’. In fact, they are doing a plenty of things.
Gudang penyimpanan baja gulungan milik Krakatau Steel di Cilegon, Banten


Berikut adalah beberapa proyek strategis yang sedang dikerjakan oleh perusahaan, dan progressnya hingga Maret 2012 (udah cukup lama, jadi seharunya sekarang ini beberapa proyek sudah selesai dikerjakan dan juga sudah beroperasi):

  1. Peningkatan kapasitas pabrik baja gulungan, dari 2.0 juta ton  menjadi 2.4 juta ton per tahun, sudah selesai. Kedepannya kapasitas pabrik baja gulungan ini akan ditingkatkan lagi menjadi 3.5 juta ton per tahun, tapi selesainya dijadwalkan tahun 2014 alias masih agak lama.
  2. Pembangunan fasilitas pengolahan bijih besi di Kalimantan Selatan, dengan bekerja sama (patungan) dengan PT Aneka Tambang (ANTM). Nama perusahaan patungannya adalah PT Meratus Jaya. Harusnya sih sudah selesai dan sudah beroperasi. Dengan adanya fasilitas ini, KRAS akan memperoleh suplai bahan baku yang lebih murah (gak perlu ngimpor lagi dari Australia, atau minimal dikurangi).
  3. Modernisasi fasilitas pembuatan baja, salah satunya dengan pembangunan proyek blast furnace. Jika proyek ini selesai, maka akan mengurangi ketergantungan KRAS terhadap baku iron ore pellet (bijih besi berbentuk butiran) atau steel scrap (kepingan baja), karena blast furnace ini hanya memerlukan bahan baku bijih besi biasa (yang akan dipenuhi oleh proyek no. 2 diatas) untuk bisa diolah menjadi besi dan baja mentah (slab steel), untuk kemudian diolah lebih lanjut menjadi baja gulungan. Selama ini salah satu penyebab mahalnya biaya produksi KRAS adalah karena mahalnya harga iron ore pellet dan steel scrap tadi, sehingga jika blast furnace ini nanti beroperasi, bisa dipastikan akan sangat menghemat biaya produksi perusahaan. Manajemen memperkirakan bahwa blast furnace akan bisa menghemat biaya produksi sebesar US$ 40 – 50 per ton besi dan baja yang dihasilkan. Namun proyek blast furnace ini masih agak lama selesainya, yakni tahun 2014.
  4. Modernisasi lainnya adalah dengan pembangunan fasilitas direct reduction plant (pabrik pembakaran/reduksi baja) dan slab steel plant (pabrik pengolahan baja mentah), progress-nya masing-masing 96.7% dan 84.3%.
  5. Terakhir, dan ini merupakan proyek utama dari perusahaan, yakni Joint Venture Krakatau – Posco (Posco adalah perusahaan baja asal Korea Selatan), untuk mendirikan pabrik besi dan baja terintegrasi, termasuk infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, pembangkit listrik, dan waduk untuk menyediakan suplai air. Saat ini penyiapan lahan untuk didirikan pabrik diatasnya sudah selesai, sementara pendirian pabriknya sendiri dijadwalkan akan selesai akhir tahun 2013. Jika proyek ini berjalan lancar, maka kapasitas produksi KRAS akan meningkat signifikan di tahun 2014 atau 2015 nanti.
Berikut ini adalah gambaran tentang bagaimana KRAS akan memproduksi besi dan baja pada tahun 2014 atau 2015 nanti (dengan asumsi semua proyek diatas berjalan lancar), berikut prosesnya:
  1. KRAS memperoleh pasokan bijih besi dari tambang dan fasilitas pengolahan bijih besi di Kalimantan Selatan, yang dimiliki bersama dengan ANTM
  2. Bijih besi ini kemudian diolah menjadi besi dan baja mentah, menggunakan fasilitas blast furnace. Kali ini, perusahaan tidak lagi membutuhkan iron ore pellet atau steel scrap untuk membuat besi dan baja mentah tersebut.
  3. Besi dan baja mentah yang dihasilkan kemudian diolah menjadi baja gulungan. Hasilnya bisa langsung dijual, atau dipotong-potong menjadi kawat baja, baja lembaran, baja konstruksi, dll, kemudian baru dijual.
  4. Untuk meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah dari produk yang dijual, maka KRAS juga bisa memproduksi besi dan baja melalui fasilitas produksi milik Krakatau – Posco, termasuk juga bisa ‘melempar’ baja gulungan yang dihasilkan untuk diolah lebih lanjut di pabrik Krakatau – Posco ini, sebelum kemudian baru dijual.
Dan selain proyek-proyek strategis diatas, KRAS juga memiliki beberapa proyek kecil-kecil yang pada intinya bertujuan untuk mengamankan pasokan bahan baku, dan meningkatkan nilai tambah dari produk besi dan baja yang dihasilkan. Berikut diantaranya:
  1. KRAS bekerja sama dengan PT Samator, perusahaan gas, untuk mengamankan pasokan bahan bakar gas bagi perusahaan. Kedua perusahaan juga bekerja sama untuk mendirikan fasilitas air separation plant, yang dijadwalkan akan beroperasi tahun 2014.
  2. KRAS bekerja sama dengan Nippon Steel, untuk mendirikan pabrik baja jenis cold rolled coil, yang akan dijual ke perusahaan otomotif, dan pabrik baja profil yang akan dijual ke perusahaan konstruksi. Namun belum ada kejelasan soal apakah pabriknya sudah mulai dibangun atau belum, dan kapan selesainya.
  3. KRAS mendirikan anak usaha baru, yakni PT Krakatau National Resources, yang bergerak di pengolahan bijih besi dan bahan baku lainnya untuk pembuatan besi dan baja. Tujuannya untuk lebih mengamankan pasokan bahan baku perusahaan.
Jadi kalau anda perhatikan, nggak cuma Garuda Indonesia (GIAA) saja yang sedang berbenah untuk bisa memanfaatkan momentum berkembangnya industri transportasi udara, melainkan Krakatau Steel pun sedang berusaha melakukan hal yang sama untuk memanfaatkan booming industri besi dan baja di tanah air. Cuman memang pertanyaannya sekarang, apakah upaya yang mereka lakukan akan berhasil atau tidak? Dan itu cuma waktu yang bisa menjawabnya. Sebagai perusahaan BUMN, tantangan yang dihadapi KRAS bukan cuma dari sisi tata kelola manajemen, tapi juga politik. Pada Mei 2012 lalu, direktur utama KRAS, Fazwar Bujang, sempat harus memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjadi saksi atas kasus korupsi pembangunan pelabuhan di Cilegon, Banten, dengan tersangka Walikota Cilegon. Masalahnya, pelabuhan tersebut merupakan bagian dari proyek Krakatau – Posco. Beruntung, kasus ini sudah selesai dan pihak manajemen KRAS mengklaim bahwa hal ini tidak mengganggu progress pekerjaan mereka dengan Posco.
Btw, mungkin ada pertanyaan, bagaimana kalau nanti KRAS berhasil meningkatkan kapasitas produksinya, menghemat biaya bahan baku, dll, tapi ketika itu bisnis besi dan baja sudah tidak booming lagi? Mengingat bahwa tingkat konsumsi baja per kapita di Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya 26 kilogram per kapita pada tahun 2011, jauh dibawah rata-rata konsumsi baja dunia sebesar 215 kilogram per kapita, dan bahwa berbagai sektor yang membutuhkan pasokan besi dan baja juga baru mulai berkembang, maka penulis kira peluang bisnis besi dan baja di Indonesia masih sangat-sangat terbuka, dan peningkatan konsumsi baja yang dialami Indonesia belakangan ini tidak akan langsung turun lagi dalam waktu dekat. Industri baja di Tiongkok dan India belakangan ini mungkin mulai mengalami kejenuhan setelah terus menerus meningkat sejak tahun 2000-an, jadi sekarang giliran Indonesia untuk booming, setidaknya hingga 10 tahun kedepan.
Lalu, mas Teguh, kenapa kok anda tiba-tiba membahas soal KRAS? Ya karena kalau saya perhatikan, saham KRAS sudah mentok turunnya di 650-an. Secara valuasi, harga tersebut mencetak PBV 1.0 kali, alias cukup murah kalau kita berasumsi bahwa perusahaan ini seharusnya bisa sukses besar andaikata seluruh proyek pengembangan usahanya yang dibahas diatas berjalan lancar, sehingga seharusnya sahamnya tidak bisa turun lebih rendah lagi. Dan kalau sebuah saham sudah tidak bisa turun lagi, maka artinya? Yup, sewaktu-waktu dia bisa naik, tinggal tunggu sentimen positif aja, atau jika nanti kinerja perusahaan benar-benar meningkat seperti yang diharapkan.
Anyway, untuk saat ini KRAS tentu saja masih belum bisa direkomendasikan, termasuk sahamnya juga kemungkinan belum akan kemana-mana. Tapi penulis bisa mengatakan bahwa dalam setahun kedepan, this sleeping giant would finally wake up, dan saat itulah, kita bisa mengkoleksi sahamnya.

NB: Buletin bulanan untuk edisi Februari sudah terbit tanggal 1 Februari kemarin, anda masih bisa memperolehnya disini

Dayaindo Resources 3

Penulis pertama kali membahas Dayaindo Resources (KARK) pada tanggal 11 Desember 2010, atau lebih dari dua tahun yang lalu. Ketika itu sahamnya sudah mati di 50 perak, dan ketika itu pula pembahasannya sampai pada kesimpulan bahwa meski mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, namun KARK masih berpeluang untuk menguat kembali, karena kinerjanya pada saat itu (Kuartal III 2010) meningkat cukup signifikan (selengkapnya baca disini). Namun meski sudah dua tahun berlalu, KARK masih saja mati di gocapan. Beberapa kabar yang beredar juga semakin membuat khawatir para pemegang saham, mulai dari kebangkrutan perusahaan, hingga yang terbaru, direktur utamanya dikabarkan bunuh diri. KARK sendiri sejak kuartal I 2012 lalu belum merilis laporan keuangan terbarunya. Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Well, mungkin sebaiknya kita coba runut dulu sejarahnya.


Dayaindo Resources berdiri pada tahun 1994, dengan nama perusahaan ketika itu PT Karkayasa Profilia (KARK), dengan bidang usaha properti khususnya real estate. Perusahaan listing di BEI sejak tahun 2001. Pada tahun 2007, KARK diakuisisi oleh sebuah perusahaan investasi, PT Manhattan Investama, milik pengusaha muda bernama Sudiro Andi Wiguno, untuk dijadikan objek backdoor listing bagi perusahaan batubara yang akan diakuisisi kemudian. Status KARK pun berubah dari perusahaan properti menjadi batubara. Setahun kemudian, perusahaan menggelar right issue pertamanya senilai Rp300 milyar, yang ketika itu dananya dipakai untuk akuisisi sebuah perusahaan bernama PT Risna Karya, pemilik sebuah tambang batubara di Setui, Kalimantan Selatan. Karena right issue pertama ini aset perusahaan meningkat dari Rp150 milyar di tahun 2007, menjadi Rp520 milyar di tahun 2008. Akuisisi Risna dilakukan melalui anak usaha KARK, PT Daya Mandiri Resources Indonesia.

Namun lompatan sesungguhnya yang dilakukan perusahaan baru terjadi dua tahun kemudian. Pada tahun 2010, KARK melepas seluruh aset real estate yang tersisa untuk masuk sepenuhnya ke sektor tambang, sekaligus menyelenggarakan right issue senilai hampir Rp2 trilyun, sementara jumlah saham KARK sendiri di market meningkat berkali-kali lipat dari 1.7 milyar menjadi 19.3 milyar lembar, dan aset perusahaan juga melejit dari Rp776 milyar menjadi Rp3 trilyun. Berdasarkan prospektus perusahaan, berikut ini adalah rencana penggunaan dana hasil right issue tersebut:
  1. Rp350 milyar untuk akuisisi PT Anugerah Tompira Nikel (ATN), melalui anak usaha perusahaan, PT Dayakonsesi Energi. ATN adalah perusahaan tambang bijih nikel yang berlokasi di Banggai, Sulawesi Tengah.
  2. Rp600 milyar untuk modal kerja ATN
  3. Rp100 milyar untuk akuisisi PT Belang Belang Coal Terminal (BBCT), melalui anak usaha perusahaan, PT Dayainfrastruktur Sempurna. BBCT adalah perusahaan operator dan pengembang terminal/pelabuhan bongkar muat batubara yang berlokasi Mamuju, Sulawesi Barat.
  4. Rp511 milyar untuk modal kerja BBCT, dan
  5. Rp421 milyar untuk modal kerja perusahaan secara umum.
So, jika semuanya berjalan lancar, maka KARK akan menjadi perusahaan holding bagi tiga anak usaha di bidang yang berbeda, yakni PT Risna Karya (tambang batubara), PT Anugerah Tompira Nikel (tambang bijih nikel), dan PT Belang Belang Coal Terminal (terminal/pelabuhan batubara). Dalam rencana kerja yang dipaparkan perusahaan, KARK memang berniat untuk menjadi perusahaan batubara dan nikel yang terintegrasi, dengan memiliki berbagai aset seperti tambang bijih nikel, smelter nikel, tambang batubara, armada kapal tongkang, terminal batubara, hingga pembangkit listrik (visinya mirip-mirip sama CNKO ya? Cuman bedanya KARK masuk juga di nikel, gak cuma batubara). Total dana yang dibutuhkan untuk ekspansi besar-besaran tersebut mencapai US$ 450 juta atau sekitar Rp4.4 trilyun, dan itu salah satunya diperoleh dari right issue-nya diatas.

Masalahnya, dua perusahaan yang diambil alih oleh KARK (ATN dan BBCT) merupakan perusahaan yang masih ‘kosong’ sama sekali sehingga memerlukan pengembangan terlebih dahulu, sebelum kemudian baru bisa beroperasi dan menghasilkan pendapatan dan laba. Jadi dalam hal ini terdapat risiko bahwa pihak perusahaan (dalam hal ini KARK) mungkin gagal dalam upaya pengembangan tersebut. Dan sayangnya, dalam kasus KARK sepertinya risiko tersebut benar-benar terjadi.

Contohnya ATN. Perusahaan tambang nikel ini baru berproduksi pada tahun 2009 dengan volume produksi yang sangat kecil, yakni hanya 52 ribu ton bijih nikel, sehingga boleh dikatakan produksinya nol. Awalnya, KARK berencana untuk mengoperasikan tambang bijih nikel tersebut secara penuh pada tahun 2010, dengan target produksi 1.2 juta ton per tahun. Namun hingga tahun penuh 2011, ATN tetap saja hanya mampu menghasilkan bijih nikel dalam jumlah yang sangat kecil, dan hanya menyumbang pendapatan sebesar Rp9 milyar dari total pendapatan KARK di tahun 2011 yang sebesar Rp939 milyar (pendapatan KARK masih tetap hampir sepenuhnya dari penjualan batubara), sehingga bisa dikatakan bahwa investasi KARK di ATN masih belum menghasilkan apa-apa hingga tahun 2011 (dan mungkin juga sampai sekarang).

Lalu bagaimana dengan BBCT? Well, ceritanya sama saja. BBCT awalnya diproyeksikan untuk menjadi pelabuhan batubara untuk tempat transit bagi kapal-kapal pengangkut batubara asal Kalimantan Timur dan Selatan, dengan kapasitas bongkar muat 30 juta ton batubara per tahun. Ketika diakuisisi, BBCT belum memiliki aset apapun kecuali lahan kosong seluas 25 hektar untuk dibangun pelabuhan dan fasilitas pendukung lainnya, serta 40 hektar lahan lainnya yang masih dalam tahap pembebasan. Pelabuhan ini sejatinya dijadwalkan akan mulai beroperasi pada Kuartal II 2012, namun sampai sekarang belum ada kabar apapun.

Disisi lain, duit hasil right issue sebesar sekitar Rp1 trilyun yang sejatinya akan dipakai untuk mengembangkan ATN dan BBCT, hingga akhir tahun 2011 masih mengendap disebuah perusahaan investasi yang nggak jelas, Culford Investment, dan bukannya dipakai untuk mulai bikin pelabuhan, dsb. Menariknya, manajemen KARK juga sempat satu atau dua kali mengkoreksi laporan keuangannya terkait penempatan dana di Culford ini, sehingga ini tentu saja menimbulkan kecurigaan investor. Penulis sempet denger cerita dari temen yang ikut RUPS KARK ini, dan menurutnya itu adalah RUPS paling seru yang pernah ia hadiri, karena hampir semua pemegang saham yang hadir marah-marah dan berteriak kepada dewan direksi dan komisaris, ketika mereka tidak bisa menjelaskan perihal dana yang ditempatkan di Culford ini. Hey, 1 trilyun itu nggak sedikit bung!

RUPS KARK tersebut diselenggarakan pada tanggal 28 Juni 2012, di Jakarta. Hanya selang tiga minggu kemudian, di Koran Kontan keluar berita bahwa KARK digugat pailit oleh sebuah perusahaan asal Swiss, SUEK AG, yang kemudian dibenarkan oleh pihak perusahaan. Jadi ceritanya, anak usaha KARK di bidang tambang batubara yaitu PT Risna Karya, menandatangani perjanjian jual beli batubara dengan SUEK pada bulan Desember 2009. Namun, pihak Risna kemudian tidak mengirim batubara yang dipesan oleh SUEK, karena alasan terdapat gangguan yang menyebabkan perusahaan tidak dapat melakukan pengiriman batubara tersebut (namun tidak dijelaskan, gangguan seperti apa yang dimaksud). Merasa dirugikan, SUEK kemudian menggugat Risna dan juga KARK ke Pengadilan Arbitrase Internasional di London, Inggris, dan pada November 2010, Pengadilan mengabulkan gugatan SUEK dan memerintahkan KARK untuk membayar ganti rugi sebesar US$ 1.1 juta atau sekitar Rp10 milyar kepada SUEK, serta biaya-biaya lainnya.

Seperti sudah diduga sebelumnya, KARK tentu saja menolak membayar ganti rugi tersebut, dan membawa kasus ini ke Pengadilan Jakarta Pusat, dan hingga kini kasusnya masih belum jelas penyelesaiannya. Update terakhir, Pengadilan Jakarta Pusat menolak permohonan pailit yang diajukan SUEK. Tapi tentu, pihak SUEK tidak akan menerimanya begitu saja. Kalau bagi penulis sendiri, jujur saja, tindakan yang dilakukan KARK ini justru menjatuhkan diri mereka sendiri. Apapun alasannya, kasus dengan SUEK diatas jelas-jelas mereka sendiri yang mulai. Tapi bukannya minta maaf, bayar ganti rugi dan kemudian berdamai, eh mereka malah ngajak berantem.. Padahal apa susahnya sih bayar ganti rugi sebesar Rp10 milyar perak? Toh itu nggak seberapa dibanding omzet penjualan perusahaan setiap tahunnya, yang mencapai Rp1 trilyun.

Belum selesai kasus SUEK, pada akhir tahun 2012 kemarin, KARK sekali lagi tersangkut kasus hukum, kali ini dengan Bank BII (BNII), dimana salah satu anak usaha KARK, PT Daya Mandiri Resources Indonesia (DMRI, induk dari Risna), tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar utang kepada BNII yang jatuh tempo pada Oktober 2012. Dan sekali lagi, tidak ada penjelasan dari pihak manajemen KARK, soal kenapa mereka tidak membayar utang tersebut.

Dan jika untuk unit usahanya yang di tambang batubara saja sudah penuh dengan masalah, lalu bagaimana mungkin KARK bisa fokus untuk mengembangkan bisnis tambang nikel dan terminal batubara? Sepertinya sejak awal perusahaan ini sudah bermasalah dalam cara dan etika bisnisnya.

Karena itulah, mengingat perusahaannya sendiri sedang terbelit banyak masalah, maka tidak heran ketika tersiar kabar bahwa direktur utama KARK, Sudiro Andi Wiguno, telah tewas gantung diri dirumahnya di Tangerang Selatan, Banten, banyak yang menduga bahwa meninggalnya almarhum mungkin bukan karena bunuh diri. Pihak perusahaan sendiri belum memberikan konfirmasi apapun terkait berpulangnya pimpinan sekaligus ultimate shareholder dari seluruh unit bisnis KARK ini.

Sudiro Andi Wiguno, 1978 – 2013

Lalu, mas Teguh, saham KARK saya gimana dong? Well, jujur saja kalau penulis ada di posisi anda pun, maka penulis juga akan bingung. Mau minta tolong ke BEI juga gimana caranya? Paling-paling mereka akan menjawab seperti tukang parkir: Segala kerusakan dan kehilangan kendaraan ditanggung oleh pemilik. Tapi yang jelas KARK seharusnya akan menggelar RUPS dalam waktu dekat ini, untuk menunjuk nakhoda (baca: direktur utama) baru. Nah, anda datang deh, terus silahkan hajar para personel perusahaan yang hadir disana. I don’t know if it could make your money back but, it worth a try.


Almarhum Sudiro sendiri memiliki latar belakang yang sangat menarik. Beliau bukan anak orang kaya, bukan lulusan universitas di Amerika atau Inggris, dan tidak pernah bekerja sebagai investment banker untuk bank investasi global seperti JP Morgan atau Goldman Sachs. Namun pada tahun 2007, ketika usianya baru menginjak 29 tahun, ia sudah menjadi pemilik sekaligus pimpinan sebuah perusahaan batubara kecil bernama Dayaindo Resources, yang kemudian berusaha ia bawa untuk menjadi perusahaan raksasa namun gagal, dan ironisnya itu berakhir dengan kematiannya. Almarhum tercatat sebagai Wakil Bendahara Umum HIPMI, alias Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. Beliau bergabung dengan HIPMI sejak tahun 2011.

NB: Buletin Bulanan edisi Februari 2013 akan terbit hari Jumat, tanggal 1 Februari mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

Delta Dunia Makmur, Debt Problem

Tahun 2006, David Bonderman, bos dari perusahaan private equity terbesar di dunia, Texas Pacific Group (TPG), mengunjungi Indonesia untuk mencari peluang investasi, dengan diantar oleh seorang anak muda yang kala itu baru genap berusia 30 tahun, Patrick Sugito Walujo, pemilik dari sebuah perusahaan private equity lokal, Northstar Equity Partners. Bonderman dan Patrick sebelumnya sudah saling mengenal ketika Patrick bekerja untuk Goldman Sachs. Setelah beberapa kali pertemuan, Mr. Patrick berhasil meyakinkan Bonderman bahwa ia adalah partner yang tepat bagi TPG untuk menanamkan investasinya di Indonesia. So, mereka berdua kemudian mendirikan Northstar Pacific Partners, sebuah perusahaan holding yang digunakan sebagai kendaraan untuk mendirikan dan mengakuisisi beberapa perusahaan, terutama Bank BTPN (BTPN), dan Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), yang kemudian dimasukkan ke bursa saham dengan cara backdoor listing melalui Delta Dunia Makmur (DOID).

Logo Bukit Makmur Mandiri Utama

Selang beberapa tahun kemudian, investasi yang ditanamkan Grup Northstar mulai menuai hasil. Yang paling sukses mungkin Bank BTPN, yang kini menjadi salah satu bank dengan kinerja paling cemerlang di BEI. Tapi bagaimana dengan DOID? Well, bisa dikatakan bahwa Mr. Patrick sedikit tersandung di DOID ini, mengingat hingga Kuartal III 2012, DOID masih mencatat kinerja negatif dengan rugi bersih Rp353 milyar, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp12 milyar. Padahal jika saja DOID mampu mencatat kinerja yang sama baiknya dengan BTPN, maka bukan tidak mungkin nama Mr. Patrick akan muncul di daftar Forbes, sebagai salah satu dari 40 orang terkaya di Indonesia.


Meski begitu, hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa Northstar akan keluar dari DOID, melainkan justru mereka masuk lebih dalam lagi dengan menambah modal sebesar Rp1.2 trilyun pada pertengahan tahun 2011 lalu (melalui right issue). Disisi lain bagi investor retail, DOID mulai tampak menarik pasca penurunannya mentok di 150-an, dan saat ini sudah rebound kembali ke 240. Jadi apakah sekarang saat yang tepat untuk masuk? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita telisik lagi perusahaan yang harga sahamnya di tahun 2009 lalu pernah menyentuh 2,000 ini.

Ceritanya bermula di tahun 2008, dimana Mr. Patrick mengambil alih sebuah perusahaan kontraktor tambang batubara, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), dari tangan pengusaha muda lainnya yakni Jimmy Budiarto (pemilik J Resources Asia Pasifik/PSAB), dengan nilai akuisisi yang tidak disebutkan, tapi ada yang bilang US$ 200 juta. Setahun berikutnya, tepatnya November 2009, Northstar mengakuisisi sebuah perusahaan properti kecil di bursa, DOID, untuk dijadikan objek backdoor listing bagi BUMA, dimana DOID kemudian mengakuisisi BUMA (BUMA menjadi anak usaha dari DOID) dengan nilai akuisisi US$ 240 juta. DOID pun seketika berubah status dari perusahaan properti menjadi perusahaan kontraktor tambang batubara, karena disaat yang bersamaan DOID melepas aset-asetnya di sektor properti.

Berbeda dengan perusahaan objek backdoor listing lainnya yang biasanya menggelar right issue setelah proses akuisisi selesai, DOID tidak melakukan right issue melainkan mengambil utang dari bank. Pada Mei 2011, BUMA menandatangani fasilitas pinjaman sindikasi sebesar US$ 800 juta dari sebelas bank, yaitu Bank Mandiri dan sisanya bank asing. Beberapa bulan berikutnya yaitu pada Agustus 2011, BUMA juga memperoleh pinjaman dari Bank CIMB Niaga sebesar US$ 25 juta, sehingga totalnya BUMA memperoleh pinjaman US$ 825 juta atau setara Rp8 trilyun, yang kesemuanya digunakan untuk modal kerja dan refinancing utang BUMA sebelumnya. Mayoritas dari pinjaman tersebut merupakan pinjaman jangka panjang yang akan jatuh tempo pada tahun 2018 dan 2019, dan mengandung bunga antara 2.7 – 4.6% per tahun.

Terkait utang bank ini, maka kemudian terdapat beberapa hal yang menjadi kesulitan utama bagi BUMA (atau dalam hal ini DOID) untuk bisa mencetak laba. Pertama, jumlah utang yang diambil BUMA bisa menjadi sangat besar, salah satunya adalah karena untuk refinancing utang. Ketika Northstar mengambil alih BUMA, BUMA sudah memiliki utang sebesar US$ 310 juta. Utang tersebut kemudian di-refinancing dengan penerbitan obligasi senilai US$ 315 pada bulan yang sama ketika BUMA diletakkan dibawah DOID, yaitu November 2009, dan kembali di-refinancing satu setengah tahun kemudian dengan penerbitan utang bank jangka panjang senilai total US$ 825 juta, seperti yang sudah disebut diatas. Jika saja Northstar tidak perlu menanggung utang bawaan dari BUMA ini, maka utang bank yang perlu diambil BUMA untuk modal kerja mungkin hanya sekitar US$ 500 juta (meski angka segitu juga tetap merupakan jumlah yang besar, karena aset BUMA sebelum diakuisisi Northstar cuma sekitar US$ 400 juta, sudah termasuk utang-utangnya).

Dan kedua, buntut dari utang yang berjibun tersebut adalah sebagai berikut:

  1. DOID harus membayar bunga pinjaman dalam jumlah besar. Hingga Kuartal III 2012, DOID mengeluarkan biaya hingga Rp365 milyar untuk membayar bunga pinjamannya saja. Padahal seperti sudah disebut diatas, tingkat suku bunga pinjaman yang ditanggung perusahaan sebenarnya relatif ringan, yaitu kurang dari 5% per tahun.
  2. Karena laba operasional perusahaan sebelum beban non operasional (termasuk didalamnya beban bunga) dan pajak hanya mencapai Rp459 milyar (hingga Kuartal III 2012), maka beban bunga yang mencapai Rp365 milyar tadi tentu saja sangat besar.
  3. Ditambah kerugian karena selisih kurs (karena DOID memperoleh pendapatannya dalam mata uang Rupiah, sementara utangnya dalam mata uang US Dollar), dimana kerugian kurs ini selalu meningkat setiap kali Rupiah melemah terhadap US Dolllar, maka DOID akhirnya tidak mampu mencatatkan laba, melainkan kerugian, tepatnya rugi bersih Rp353 milyar pada Sembilan Bulan 2012.
  4. Dan karena perusahaan sampai saat ini tidak atau belum mampu mencetak laba, maka sejauh ini upaya yang dilakukan DOID terhadap utangnya lebih ke arah refinancing (mengambil utang baru untuk membayar utang lama) untuk memperoleh suku bunga yang lebih murah, dan belum ada upaya pelunasan. Hasilnya, persentase bunga pinjaman yang harus dibayar perusahaan memang berhasil turun dari 11 – 12% menjadi kurang dari 5% per tahun, namun nilai pinjaman itu sendiri sama sekali masih belum berkurang.

Masalahnya disini adalah, jika DOID (atau dalam hal ini BUMA) tidak juga mampu meningkatkan pendapatan dan laba operasionalnya hingga pada posisi yang mampu menutup beban bunga dan selisih kurs tadi, maka tentunya laba bersih perusahaan akan terus menjadi minus alias rugi. Disisi lain kebutuhan BUMA akan modal kerja masih sangat besar, sehingga kalaupun perusahaan suatu waktu nanti mampu mencetak laba bersih, maka saldo laba yang dihasilkan tidak akan digunakan untuk bayar utang, melainkan belanja modal (capital expenditure/capex). Untuk tahun 2012 kemarin, BUMA mengeluarkan hingga US$ 300 juta untuk capex, meningkat dari US$ 220 juta di tahun 2011.

Dan kalau saja kemarin DOID tidak menambah modal sebesar Rp1.2 trilyun dari right issue-nya, maka modal bersih DOID pada saat ini seharusnya sudah minus alias defisiensi modal, karena defisit yang terjadi sudah mencapai Rp716 milyar, naik dari sebelumnya sebesar Rp363 milyar.

Kesimpulannya? Well, I haven’t seen a light here. Karena analoginya sederhana: Jika anda punya perusahaan dengan sejumlah utang, dimana laba bersih yang dihasilkan perusahaan bahkan tidak bisa menutupi biaya bunganya saja, lantas bagaimana anda akan melunasi utang tersebut? Mau refinancing lagi juga sudah tidak bisa, karena tingkat bunga yang ditanggung perusahaan sudah cukup rendah di level dibawah 5% per tahun, jadi gak bisa lebih rendah lagi.

So, satu-satunya solusi adalah dengan terus meningkatkan pendapatan dan laba operasional. Tapi gimana caranya? Nah, sayangnya perusahaan tidak memperinci terkait langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan kedepannya untuk meningkatkan pendapatan, yang mungkin itu karena sejak awal BUMA sudah merupakan salah satu perusahaan kontraktor tambang terbesar di Indonesia (tepatnya terbesar kedua, setelah Pamapersada Nusantara), dengan pelanggan kelas kakap seperti Berau Coal, Kideco, Adaro, Bayan, Arutmin, hingga Kaltim Prima Coal/KPC. Jadi maksud penulis, jika BUMA hendak meningkatkan pendapatannya hingga naik dua kali lipat, misalnya, maka mungkin mereka harus berekspansi hingga ke Tiongkok atau Australia sana, karena hampir seluruh perusahaan batubara raksasa di Indonesia sini sudah menjadi pengguna jasa mereka. BUMA mungkin bisa saja menjual jasa kontraktor tambang ke KP-KP kecil di Kalimantan sana, namun pendapatan yang dihasilkan sudah pasti tidak akan sebesar pendapatan dari Berau dkk tadi.

Jika memperoleh pelanggan baru tampak sulit untuk dilakukan, maka opsi lainnya mungkin bisa dengan cara mengakuisisi tambang batubara untuk memperoleh sumber pendapatan baru, dan memang itulah yang dilakukan perusahaan. Pada Oktober 2012 lalu, DOID mengakuisisi dua perusahaan tambang batubara yang belum berproduksi, yakni PT Banyu Biru Sakti (BBS), dan PT Pulau Mutiara Persada (PMP), dengan nilai akuisisi Rp162 milyar. Belum ada data soal berapa cadangan batubara dll yang dimiliki kedua perusahaan, namun BBS memiliki konsesi tambang seluas lebih dari 7,500 hektar, sementara PMP seluas 3,500 hektar, masing-masing terletak di Kalimantan Timur dan Jambi. Well, kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti.

Kesimpulannya, jika pada Juni 2011 lalu penulis mengatakan bahwa DOID belum bisa direkomendasikan (ini linknya), maka saat ini pun penulis masih mengatakan hal yang sama: DOID belum bisa direkomendasikan, bahkan meskipun di harganya saat ini (240). Tadinya penulis juga sempat berharap bahwa mungkin DOID pada harga 200-an cukup menarik, mengingat sahamnya sendiri juga sudah rebound kemarin. Tapi sayangnya, PBV-nya di harga 240 masih agak tinggi, yaitu 2.2 kali, dan PER-nya juga minus karena laba bersih perusahaan memang negatif alias rugi.

However, jika anda masih percaya dengan Grup Northstar, terutama Mr. Patrick dalam hal mengelola DOID dan BUMA ini, maka anda bisa terus mencermati perkembangan DOID dari waktu ke waktu. BUMA ini barang bagus sebenarnya, dengan nilai kontrak tambang yang sudah dipegang hingga beberapa tahun kedepan sebesar sekitar US$ 5 milyar atau nyaris mencapai Rp50 trilyun. Namun perusahaan ini terbilang keliru di manajemen leverage-nya, dan itu bukan sepenuhnya kesalahan Grup Northstar, mengingat BUMA sejak awal sudah memiliki utang segunung (sejak sebelum diakuisisi). Jadi mari kita lihat saja, apa yang akan dilakukan Northstar selanjutnya. Dulu juga penulis sempat berpikir bahwa Mr. Patrick agak tricky karena menempatkan BUMA dibalik DOID. Tapi sekarang, as far as I could see, Mr. Patrick kelihatannya termasuk tipikal pengusaha yang konservatif, mirip dengan Grup Salim namun sangat berbeda dengan Grup Bakrie.January 22nd, 2013 at 10:19 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Garda Tujuh Buana, Now What?

Setelah disuspensi cukup lama, saham Garda Tujuh Buana (GTBO), kemarin Senin kembali aktif diperdagangkan, dan sukses ditutup naik 9.6% ke posisi 4,275. Ini agak mengejutkan sebenarnya, karena biasanya kalau sebuah saham disuspensi karena perusahaannya bermasalah (masalah GTBO ini adalah terkait dengan laporan keuangannya yang ‘ajaib’), maka begitu suspensinya dibuka dia akan turun, karena para pemegangnya akan langsung berhamburan keluar. However, disisi lain memang ada juga beberapa opini yang menyebutkan bahwa tidak ada yang keliru dengan LK GTBO, sehingga harganya pada saat ini masih wajar, atau bahkan undervalue. Anyway, mari kita cek saham yang pernah mengguncang dunia persilatan di tahun 2011 lalu ini, tentunya dari sisi fundamental perusahaannya.


Logo Garda Tujuh Buana


GTBO berdiri pada tahun 1996 di Jakarta, dengan interest di bidang pertambangan batubara. Perusahaan memperoleh konsesi tambang pertamanya pada tahun 2001, dengan lokasi tambang di Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Masa pakai konsesi tersebut akan berakhir pada tahun 2021, dan hingga saat ini menjadi satu-satunya lokasi tambang batubara yang dimiliki oleh perusahaan. Meski sudah dimiliki sejak tahun 2001, namun tambang Pulau Bunyu baru berproduksi pada tahun 2010, sehingga pada tahun tersebut-lah GTBO baru memperoleh pendapatan dan laba. Hingga akhir Kuartal III 2012, GTBO telah memproduksi total 3.5 juta ton batubara, dan sisa cadangan batubara yang dimiliki perusahaan terbilang masih sangat banyak, yakni 91.9 juta ton.

Terkait jenis batubara yang diproduksi perusahaan, GTBO memproduksi batubara jenis low calorie dengan kalori 4,800 – 5,100 kcal per kg, sehingga termasuk batubara berkualitas rendah. Meski demikian, keunggulan batubara milik GTBO adalah lokasi tambangnya yang dekat sekali dengan bibir pantai, sehingga batubara hasil galian bisa langsung diangkut ke pelabuhan dan alhasil, biaya produksinya menjadi rendah dan harga jualnya juga bisa ditekan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2012, GTBO menjual batubaranya pada harga Rp365,000 per ton, atau sekitar US$ 37 – 40 per ton, jauh lebih murah dibanding harga batubara dengan kualitas sama milik perusahaan lain di tanah air, yaitu sekitar US$ 55 – 60 per ton. Dalam hal ini, fluktuasi harga batubara di pasar internasional juga otomatis tidak begitu berpengaruh terhadap pendapatan GTBO, karena sejak awal harga batubara mereka memang sudah cukup miring.

Nah, terkait harga jual yang murah itulah, yang mungkin bisa dijadikan alasan kenapa Agrocom Limited, sebuah perusahaan perdagangan komoditas asal United Arab Emirates (UAE), berani membayar tunai untuk transaksi pembelian batubara dengan GTBO. Jadi ceritanya, pada tanggal 14 Juni 2012, kedua perusahaan (GTBO dan Agrocom) menandatangani perjanjian jual beli batubara sebanyak 10 juta ton dengan harga US$ 25 per ton, dimana batubara tersebut akan dikirim secara bertahap ke markas Agrocom di UAE hingga tahun 2015 (karena GTBO sendiri hanya mampu memproduksi batubara sebanyak 2 – 2.5 juta ton per tahun). Sejatinya, harga batubara yang dijual oleh GTBO ke Agrocom disepakati US$ 39 per ton. Namun karena biaya produksi batubara yang sebesar US$ 14 per ton ditanggung oleh Agrocom, maka Agrocom kemudian hanya membayar US$ 25 per ton batubara kepada GTBO (US$ 39 dikurangi 14 sama dengan 25).

Dengan demikian, GTBO akan memperoleh pendapatan sebesar total US$ 250 juta atau sekitar Rp2.4 trilyun, yang akan diterima secara bertahap hingga tahun 2015 mendatang (atau tepatnya 2014, karena Agrocom akan membayar dimuka untuk batubara yang dikirim tahun 2015). Dan sebagian dari US$ 250 juta tersebut, tepatnya US$ 75 juta atau setara dengan Rp711 milyar, sudah dibayarkan oleh Agrocom di hari ketika perjanjiannya ditanda tangani, yaitu 14 Juni 2012. Oleh GTBO, uang sebesar Rp711 milyar tersebut dicatat sebagai pendapatan. Dan inilah yang menyebabkan pendapatan dan laba bersih GTBO di Kuartal II 2012 tiba-tiba saja melonjak tajam, hingga mencapai sepuluh kali lipat lebih dibanding periode yang sama tahun 2011.

Dan hasilnya, saham GTBO yang sebelumnya memang sudah naik sangat-sangat banyak dari 50-an hingga 4,000-an (yap, anda tidak salah baca. GTBO akan dicatat dalam sejarah sebagai saham yang mencatat kenaikan paling banyak di BEI, yaitu lebih dari 100 kali lipat, hanya dalam waktu nggak sampai dua tahun), ternyata masih bisa naik lagi pun hingga sempat mencatat rekor 7,300, sebelum kemudian turun kembali dan sekarang bertengger di 4,000-an.

Terkait transaksi GTBO dengan Agrocom, hal ini kemudian mengundang pertanyaan banyak pihak, termasuk tentunya BEI sebagai otoritas bursa. Salah satu poin pertanyaan yang cukup penting adalah: Bagaimana bisa uang sebesar Rp711 milyar yang diterima dari Agrocom tidak dicatat sebagai uang muka penjualan, melainkan langsung dicatat sebagai pendapatan, mengingat batubara yang dipesan oleh Agrocom baru akan dikirim kemudian? Dan pihak GTBO kemudian menjawabnya, yang pada intinya menyatakan bahwa berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 tentang pengakuan pendapatan, transaksi dengan Agrocom diatas memenuhi semua syarat untuk bisa diakui sebagai pendapatan, dan bukannya uang muka penjualan. Penulis pribadi menganggap bahwa argumen yang dikemukakan oleh GTBO cukup masuk akal, sehingga GTBO bisa dikatakan memang benar telah memperoleh pendapatan Rp711 milyar dari Agrocom. Agrocom sendiri membayar uang Rp711 milyar tersebut secara tunai.

Kemudian kedepannya, GTBO hampir bisa dipastikan akan menerima pendapatan lagi dari pembayaran yang dilakukan oleh Agrocom, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Pembayaran tahap I senilai US$ 75 juta, dibayar sebelum tanggal 30 Juni 2012 (sudah dibayar).
  2. Pembayaran tahap II senilai US$ 87.5 juta, dibayar sebelum tanggal 30 Juni 2013, dan
  3. Pembayaran tahap III senilai US$ 87.5 juta, dibayar sebelum tanggal 30 Juni 2014. Jadi totalnya: US$ 250 juta.
Nah, dari sinilah GTBO tampak sangat menarik, karena dengan asumsi bahwa Agrocom akan melakukan pembayaran tahap II-nya persis beberapa hari sebelum tanggal 30 Juni 2013 (mungkin di tanggal 14 Juni 2013, atau sama seperti tahun sebelumnya), maka pendapatan dan laba bersih GTBO di laporan keuangan Kuartal II 2013 akan melejit lagi, yaitu karena tambahan pendapatan sebesar US$ 87.5 juta atau sekitar Rp820 milyar. Disisi lain, data laba rugi GTBO di laporan keuangan Kuartal I 2013 akan tampak biasa saja, karena perusahaan belum memperoleh pendapatan US$ 87.5 juta tersebut.

Jadi, kesimpulannya? Yep, terlepas dari kenaikannya yang sangat luar biasa, GTBO ini memang menarik, dan masih menarik. Beberapa poin menarik lainnya dari GTBO ini diluar transaksinya dengan Agrocom adalah: 1. Perusahaannya gak punya utang sama sekali, kecuali utang usaha, itupun sangat kecil, 2. Cadangan batubaranya masih sangat banyak, lebih dari 90 juta ton, dan 3. Seperti sudah disebut diatas, harga jual batubara yang murah, sehingga GTBO seharusnya tidak kesulitan dalam menggaet pelanggan baru diluar Agrocom.

Terkait sahamnya, GTBO mungkin masih bisa naik lagi hingga ke posisi 7,000-an dalam setahun kedepan. Timing yang tepat untuk masuk mungkin ketika laporan keuangannya untuk periode Kuartal I 2013 nanti terbit, dimana kalau berdasarkan LK-nya tersebut, valuasi GTBO pada harga saat ini (4,000-an) akan tampak mahal, sehingga biasanya dia akan turun. Tapi kalau anda sudah memegangnya sejak awal, maka boleh hold.

Nah, jika anda tertarik dengan GTBO ini, maka ada beberapa hal yang patut anda cermati, dimana hal-hal tersebut berpotensi menjadi risiko investasi anda di saham dengan fundamental yang masih-sulit-untuk-dipercaya ini. Okay, here we go:

Pertama, jumlah cadangan batubara GTBO yang mencapai 95.4 juta ton (cadangan awal sebelum mulai berproduksi), itu agak meragukan, karena luas konsesinya yang di Pulau Bunyu cuma 710 hektar. Jika benar cadangan GTBO sebanyak itu, maka itu berarti setiap hektar konsesi tambang milik perusahaan mengandung cadangan batubara sebanyak 134 ribu ton.

Sebagai perbandingan, luas konsesi perusahaan batubara terbesar di Indonesia yaitu Bumi Resources (BUMI), mencapai total 161 ribu hektar, dengan jumlah cadangan awal 1.7 milyar ton, atau tepatnya 1,735 juta ton (untuk dua anak usahanya yaitu Kaltim Prima Coal/KPC dan Arutmin. Anak usaha yang lainnya seperti Fajar Bumi Sakti, tidak dihitung karena belum berproduksi). Dengan demikian, setiap hektar konsesi tambang batubara yang dimiliki BUMI hanya mengandung batubara sebanyak 11 ribu ton, atau sangat sedikit sekali jika dibanding dengan cadangan batubara milik GTBO. Padahal KPC sejak dulu sudah dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang batubara paling ‘berisi’ di dunia. Tapi ternyata cadangan batubara per hektar yang dimiliki oleh KPC gak ada apa-apanya dibanding cadangan batubara milik GTBO.

Satu lagi, catat bahwa cadangan batubara sebanyak 95.4 juta ton milik GTBO itu adalah cadangan batubara terbukti, sehingga belum menyertakan cadangan batubara terduga. Jika cadangan terduga ikut dihitung, maka GTBO totalnya memiliki cadangan batubara sebanyak 168 juta ton yang tersebar di lahan seluas 710 hektar saja. Luar biasa sekaligus sulit dipercaya bukan?

Kedua, GTBO telah setidaknya dua kali merevisi laporan keuangannya untuk periode Kuartal III 2012, terutama terkait transaksinya dengan Agrocom. Setelah penulis cek, sebenarnya nggak ada koreksi yang berarti sih, namun hal ini mau tidak mau akan menimbulkan persepsi dikalangan investor tertentu, bahwa pihak manajemen mungkin telah memanipulasi laporan keuangan perusahaan.

Dan ketiga, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 tahun 2010, GTBO diwajibkan untuk menjual batubara dengan harga yang mengikuti harga pasar internasional, termasuk membayar royalti kepada Pemerintah berdasarkan harga batubara di pasar internasional tersebut (jumlah royalti = tarif x harga x tonase). Artinya? GTBO sebenarnya tidak boleh dan tidak bisa menjual batubara di harga US$ 39 per ton, melainkan harus mengikuti harga internasional yakni US$ 55 – 60 per ton. Masalahnya itu tentu bertentangan dengan kontrak yang sudah dibuat dengan Agrocom, dan akan menyulitkan perusahaan untuk memperoleh pelanggan baru.

Okay, I think that’s all, selanjutnya seperti biasa, keputusan ada di tangan anda. Kalau bagi penulis sendiri, meski dulu sempet untung lumayan gede juga dari GTBO ini, namun untuk masuk di harga sekarang mendingan pake dana sedikit aja dulu deh. GTBO ini memang saham yang benar-benar ajaib yang pernah ada di BEI, dan rasa-rasanya belum akan ada ‘The Next GTBO’ lagi dalam beberapa tahun kedepan. But yeah, who knows??January 15th, 2013 at 10:09 am | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Seminar!

Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan seminar edukasi di Jakarta. Kali ini dengan tajuk: ‘Lima Prinsip Dasar dalam Analisis Fundamental’. Dan berikut ini adalah beberapa materi yang akan disampaikan (kurang lebih sama aja sih kaya materi-materi sebelumnya, hanya contoh-contohnya diupdate menggunakan data terbaru).

  1. Cara Menganalisis Laporan Keuangan
  2. Analisis Fundamental secara Komprehensif (analisis laporan keuangan itu baru sebagian kecil dari analisis fundamental)
  3. Cara Menganalisis Sektor dan Makro Ekonomi
  4. Cara Menilai Harga Wajar Saham
  5. Cara Meminimalisir Risiko Kerugian
Dalam acara ini, anda juga bisa tanya jawab alias diskusi alias konsultasi soal saham-saham tertentu dengan penulis. Berikut keterangan mengenai acaranya:
  • Tempat: Kantor BNI Securities cabang Central Park, APL Tower Ground Floor, Podomoro City, Jln. Jend. S. Parman Kav. 28, Jakarta Barat.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Januari 2013
  • Waktu: Pukul 11.00 s/d 16:00 WIB.
  • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy materi seminar, dan makan siang
  • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acara dimulai.
Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp75,000saja, sekedar buat pengganti makan siang (sorry guys, naik sedikit dari sebelumnya Rp50,000, soalnya ada biaya tambahan buat OBdan Pak Satpam). Okay, berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment melalui transfer:
Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Daftar Seminar’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank. Contoh: Sergio Kun Aguero, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan.
Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
Demikian, sampai jumpa di lokasi!

Info acara: Telp/SMS 081220445202 (Ms. Nuri).

Update: Jumlah pesertanya sudah penuh! Sampai ketemu di acara seminar [...]

Menelaah Sektor Infrastruktur

Jika pertanyaan berikut ditanyakan kepada orang-orang, ‘Apa itu yang dimaksud dengan infrastruktur?’ Maka jawabannya biasanya, ‘Infrastruktur itu adalah jalan raya, jembatan, bandara, pelabuhan, dll.’ Itu karena orang pajak kalau ditanya oleh masyarakat awam tentang uang pajak kita akan dipakai buat apa, entah mengapa mereka selalu menjawab untuk bikin jalan dan jembatan. Padahal, konsep ‘infrastruktur’ jauh lebih luas dari itu. Menurut wikipedia, infrastruktur adalah (kalimatnya sudah saya permudah) struktur fisik maupun organisasi yang diperlukan untuk kelangsungan hidup masyarakat banyak atau operasional perusahaan. Atau dengan kata lain, infrastruktur adalah fasilitas atau layanan yang dibutuhkan oleh sebuah sistem ekonomi agar berfungsi dengan baik dan menghasilkan produk secara optimal.

Karena itulah, jenis infrastruktur berdasarkan wujudnya kemudian bisa dibagi dua: fisik dan organisasi. Infrastruktur fisik adalah seperti jalan raya, jembatan, dll yang sudah disebut tadi. Sementara infrastruktur organisasi biasanya terkait kebijakan pemerintah (jika yang dimaksud adalah infrastruktur untuk kegiatan ekonomi negara) atau kebijakan perusahaan (jika yang dimaksud adalah infrastruktur untuk kegiatan ekonomi perusahaan). Contohnya kebijakan perpajakan, subsidi, permodalan, asset management, konsultasi dll. Yup, jadi yang disebut dengan ‘subsidi’ adalah juga merupakan infrastruktur, karena itu merupakan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah untuk mempermudah kelangsungan hidup masyarakat banyak.
Diluar infrastruktur fisik dan organisasi, ada juga infrastruktur ide (ideas) dan bidang studi (fields of study). Namun di artikel ini, pengertian ‘infrastruktur’ kita batasi menjadi infrastruktur fisik saja. Karena kalau kita masukkan infrastruktur organisasi sebagai bagian dari infrastruktur, maka perusahaan perbankan sebenarnya juga termasuk perusahaan infrastruktur, karena mereka menyediakan layanan (service) bagi masyarakat untuk mempermudah transaksi keuangan. Well, jadi dengan demikian mari kita sepakati kembali: Yang dimaksud dengan infrastruktur adalah jalan raya, jembatan, pelabuhan, bandara, infrastruktur telekomunikasi, kanal, waduk, jalan kereta api, infrastruktur kelistrikan, sekolah, rumah sakit, ruang terbuka publik, dan lain-lain.

Konstruksi jalan layang Antasari – Blok M, Jakarta, Proyek milik PT Waskita Karya

Berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh BEI, berikut adalah beberapa perusahaan/saham yang tergolong sebagai saham infrastruktur. Untuk menyederhanakan, kita cantumkan kode sahamnya saja. Saham-saham yang tercantum disini belum termasuk saham-saham yang IPO pada Kuartal III 2012, atau saham dari perusahaan yang banting setir dari bidang lain ke bidang infrastruktur.
  1. Infrastruktur Energi: LAPD, PGAS, RAJA
  2. Infrastruktur Jalan Tol, Bandara, Pelabuhan: CMNP, JSMR, META
  3. Infrastruktur Telekomunikasi: BTEL, ISAT, INVS, FREN, TLKM, EXCL
  4. Infrastruktur Transportasi: APOL, BLTA, BULL, CASS, CMPP, GIAA, HITS, PTIS, IATA, MBSS, MIRA, MBSS, WEHA, TMAS, RIGS, SMDR, SDMU, SAFE, INDX, TRAM, WINS, ZBRA
  5. Infrastruktur Non-Bangunan: INDY, IBST, RINA, TOWR, SUPR, TBIG, TRUB.
Mungkin anda bertanya, lalu dimana posisi saham-saham konstruksi macam ADHI dll? Oleh BEI, saham-saham konstruksi tidak digolongkan sebagai saham infrastruktur, melainkan lebih dianggap sebagai ‘saudara jauh’ dari saham-saham properti, yang mungkin itu karena ADHI dkk lebih banyak memperoleh pendapatannya dari konstruksi bangunan properti, dan bukan konstruksi fasilitas umum seperti jembatan, jalan raya, dll. Namun jika anda menganggap bahwa saham-saham konstruksi juga merupakan bagian dari infrastruktur, maka berikut adalah saham-saham konstruksi tersebut: ADHI, PTPP, WIKA, DGIK, JKON, SSIA, dan TOTL. Dan satu lagi yang IPO kemarin, WSKT.
Diluar perusahaan-perusahaan konstruksi di BEI, terdapat juga perusahaan-perusahaan pendukung konstruksi, diantaranya perusahaan kabel, semen, dan besi dan baja. Logikanya jika dimasa mendatang nanti sektor infrastruktur beneran booming, dimana terjadi pembangunan infrastruktur hampir di seluruh penjuru negeri, maka kebutuhan akan kabel, semen, besi dan baja juga akan meningkat pesat, sehingga perusahaaan-perusahaan yang bergerak di bidang tersebut juga akan meraup peningkatan keuntungan.
Tapi itu kalau kita bicara masa depan yang belum pasti. Sementara kalau kita bicara mengenai data yang sudah ada, berikut ini adalah kurang lebih rangkuman kinerja dari perusahaan-perusahaan infrastruktur yang ada di BEI:
Energi. Kalau kita pakai contoh Perusahaan Gas Negara (PGAS), maka perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan dengan kinerja dan fundamental terbaik di BEI, bahkan meskipun PGAS hanya berstatus sebagai perusahaan distributor gas, bukan produsen. Penyebabnya adalah karena PGAS hampir memonopoli pasar distribusi gas di Indonesia, khususnya gas untuk industri. Namun saat ini PGAS sudah berstatus sebagai perusahaan mature dengan total aset yang sangat besar, yakni US$ 3.6 milyar, sehingga relatif sulit untuk bisa berkembang dan tumbuh lebih besar lagi.
Jalan tol, bandara, dan pelabuhan. Nah, mungkin inilah jenis infrastruktur yang ‘paling merupakan infrastruktur’ dibanding jenis-jenis infrastruktur lainnya. Sayangnya, saham yang terdaftar di BEI yang bergerak di sektor ini cuma ada tiga, dan hanya Jasa Marga (JSMR) yang bagus. Citra Marga Nusaphala (CMNP) belakangan ini juga cukup bagus, namun konsistensi kinerjanya dalam jangka panjang masih dipertanyakan.
Baik JSMR maupun CMNP sebenarnya hanya merupakan perusahaan infrastruktur jalan tol, dan mereka gak membuat atau mengoperasikan bandara serta pelabuhan. Sementara dua perusahaan infrastruktur bandara yang ada di Indonesia, yakni Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II, keduanya tidak listing di BEI. Sementara perusahaan infrastruktur pelabuhan yang ada di Indonesia, yakni Pelindo I, II, dan III, juga tidak listing di BEI. Namun ICTSI Jasa Prima (KARW) bisa disebut sebagai perusahaan pelabuhan pertama yang listing di BEI, setelah backdoor listing-nya ICTSI, sebuah perusahaan pelabuhan internasional asal Filipina. Tapi karena sebelumnya KARW ini cuma perusahaan tekstil yang ngak jelas hidup matinya, maka belum ada yang bisa diceritakan soal kinerjanya pasca peralihan bidang usaha perusahaan, dari perusahaan tekstil menjadi perusahaan operator pelabuhan.
Baik Angkasa Pura maupun Pelindo, keduanya merupakan BUMN. Ada dua lagi BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur transportasi, tepatnya perkereta apian, yakni Kereta Api Indonesia(KAI) dan Industri Kereta Api (INKA). Namun seperti dua BUMN diatas, KAI dan INKA ini juga tidak listing di BEI.
Telekomunikasi. Perusahaan terbesar di sektor ini tentu saja Telkom (TLKM), dan kinerja perusahaannya juga cukup bagus. Namun seperti saudaranya sesama BUMN, yakni PGAS, kinerja TLKM tampaknya sudah sulit untuk berkembang lebih bagus lagi, karena ukuran perusahaannya sudah kelewat besar. Pertumbuhan kinerja TLKM sendiri sudah stagnan dalam lima tahun terakhir.
Sementara kinerja perusahaan-perusahaan lainnya di sektor ini, seperti XL Axiata (EXCL), Indosat (ISAT), Bakrie Telecom (BTEL), hingga Smartfren Telecom (FREN), malah cenderung berantakan. Kinerja EXCL mungkin agak mendingan sejak perusahaan diambil alih oleh Axiata Berhad tahun 2009 lalu, tapi kesininya malah melempem lagi. Bagi penulis sendiri, ini agak membingungkan, karena bukannya industri telekomunikasi itu industri yang menguntungkan? Tapi memang ada juga yang bilang bahwa industri telekomunikasi di Indonesia sudah mulai sunset, karena pentrasi kepemilikan telepon selular sudah mencapai hampir 100% penduduk Indonesia, sehingga sudah tidak ada celah lagi bagi perusahaan untuk berkembang.
Transportasi. Secara umum, infrastruktur transportasi dibedakan menjadi tiga, yakni darat, laut, dan udara. Di darat, tidak ada saham yang cukup menarik untuk dicermati. Di udara? Ada Garuda Indonesia (GIAA), tapi kinerjanya masih jauh dari kata bagus. Kalau di laut? Ada beberapa nama, seperti Berlian Laju Tanker (BLTA), atau Arpeni Pratama Ocean Line (APOL). Tapi kinerja mereka berdua boro-boro bagus, yang ada malah justru bermasalah. Well, penulis tidak tahu apa yang menyebabkan industri transportasi di Indonesia tampak sangat tidak menarik, namun yang jelas tidak ada saham yang bisa dilirik disini, setidaknya untuk saat ini.
Infrastruktur Non-Bangunan. Meski yang disebut dengan ‘infrastruktur non-bangunan’ itu jenisnya bisa jadi sangat banyak, namun saham-saham sektor ini yang listing di BEI bisa diklasifikasikan menjadi dua kelompok saja, yakni infrastruktur tambang, dan infrastruktur menara telekomunikasi. Untuk kelompok pertama diwakili oleh Indika Energy (INDY), dan untuk kelompok kedua diwakili oleh beberapa perusahaan, namun yang terbesar adalah Sarana Menara Nusantara (TOWR), dan Tower Bersama Infrastructure (TBIG). Baik INDY, TOWR, maupun TBIG, ketiganya memiliki kinerja yang cukup bagus. Sayangnya sejauh yang penulis amati, masalah utama di ketiga perusahaan tersebut adalah tipikal manajemennya yang cenderung ‘perusahaan aing, kumaha aing’, alias kurang memperhatikan kepentingan pemegang saham publik. Sehingga agak sulit bagi investor retail untuk bisa masuk kedalamnya jika tujuannya adalah untuk investasi.
Konstruksi. Seperti yang pernah penulis bahas di artikel sebelumnya (yang berjudul Waskita Karya/WSKT), perusahaan-perusahaan konstruksi di BEI kalau yang berstatus sebagai BUMN, secara fundamental mereka nggak begitu menarik, atau bahkan tidak menarik sama sekali. Namun yang berstatus perusahaan swasta, seperti Total Bangun Persada (TOTL), atau Surya Semesta Internusa (SSIA), maka mereka berdua termasuk bagus dan layak investasi.
Semen. Untuk sektor ini kita gak usah bicara panjang lebar lagi. Yang jelas semua orang sudah tau bahwa Semen Gresik (SMGR) dan Indocement (INTP) termasuk bagus, dan mereka berdua juga merupakan saham bluchip di BEI.
Kabel, besi dan baja. Sektor kabel mungkin salah satu sektor yang paling gelap di BEI, karena hampir semua perusahaan di sektor ini sahamnya nggak likuid. Jadi juga nggak ada yang bisa diceritakan, meski beberapa perusahaan seperti Supreme Cable (SCCO), dan Jembo Cable (JECC) sempat menarik perhatian karena kinerjanya melejit. Sementara sektor besi dan baja, well, kalau kita pake contoh Krakatau Steel (KRAS), maka sektor ini belum cukup layak untuk investasi.
Prospek dan Outlook Infrastruktur
Dalam perkembangan perekonomian suatu negara, infrastruktur memegang peranan yang sangat-sangat penting, dimana jika sebuah negara memiliki infrastruktur yang buruk, maka hampir pasti perekonomiannya juga jelek. Dan sayangnya Indonesia dari dulu hampir selalu merupakan salah satu negara dengan infrastruktur yang buruk tersebut. Berdasarkan data dari Bappenas untuk tahun 2011, Indonesia berada di peringkat 82 sebagai negara dengan infrastruktur terbaik di dunia, jauh dibawah Malaysia (peringkat 30), dan hanya sedikit lebih baik dibanding Vietnam (peringkat 83). Kalau anda pernah mampir ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA), kemudian membandingkannya dengan Bandara Soekarno-Hatta milik kita, maka rasa-rasanya anda juga akan setuju bahwa kualitas infrastruktur di negaranya Siti Nurhaliza itu memang jauh lebih oke ketimbang disini.
Nah, oleh kalangan pengusaha, kekurangan infrastruktur di Indonesia ini disebut sebagai ‘bottle neck’, karena menyulitkan mereka untuk mengembangkan perusahaan dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Meski begitu, Indonesia ternyata tetap mampu mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup menonjol, yakni 6.5% pada tahun 2011 lalu, lebih tinggi dibanding 5.2% milik Malaysia untuk periode yang sama. Inilah salah satunya yang menyebabkan banyak pihak yang menyebutkan bahwa infrastruktur akan segera berkembang pesat di Indonesia. Karena pertumbuhan berbagai macam perusahaan dan sektor bisnis di Indonesia (yang pada akhirnya menciptakan pertumbuhan ekonomi) yang signifikan tersebut, mau tidak mau akan turut mendorong pembangunan infrastruktur di Indonesia untuk bisa menunjangnya, dalam hal ini terutama infrastruktur transportasi, telekomunikasi, dan kelistrikan.

Jadi istilahnya, lambat laut bottle neck tadi akan pecah dengan sendirinya. Pihak pemerintah sendiri tampak mendukung hal tersebut dengan meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI) sejak tahun 2010 lalu. Salah satu poin dalam MP3EI yang dianggap bisa mendorong pertumbuhan sektor infrastruktur adalah, Pemerintah akan berupaya untuk memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal, dan terhubung secara global. Yang dimaksud dengan ‘konektivitas’ tersebut tentunya adalah infrastruktur transportasi dan telekomunikasi. Untuk transportasi, salah satu proyek yang paling terkenal mungkin proyek Jembatan Selat Sunda, yang direncanakan akan mulai dibangun pada tahun 2010 (eh, sekarang kan sudah tahun 2013?), dan akan mulai beroperasi pada tahun 2020. Sementara untuk komunikasi, proyek yang terkenal adalah Palapa Ring, yaitu pembangunan jaringan serat kabel optiksepanjang lebih dari 50,000 kilometer, baik di darat maupun laut, yang menjangkau seluruh penjuru nusantara. Jika proyek ini selesai, maka hampir bisa dipastikan bahwa internet di Indonesia nantinya tidak akan lemot lagi seperti sekarang, dan orang-orang yang tinggal di daerah terpencil akan tetap bisa memperoleh sinyal telepon. Proyek ini sudah berjalan sejak tahun 2010 lalu, dan dijadwalkan akan selesai tahun 2014 mendatang.
Satu lagi di sektor kelistrikan, Pemerintah melalui PLN sedang mengerjakan proyek pembangkit listrik 10,000 Megawatt dalam dua tahap, yang dijadwalkan selesai seluruhnya pada tahun 2014.
Salah satu pembangkit listrik milik PT PLN


Dan terakhir, pemerintah dalam beberapa tahun terakhir juga mendirikan beberapa perusahaan BUMN untuk menunjang pembangunan infrastruktur di tanah air, seperti PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), dan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF). Contohnya untuk PII, perusahaan dikabarkan siap untuk menjamin dan menanggung setiap risiko atas proyek pembangunan mass rapid transit (MRT) di Jakarta. So, secara keseluruhan, semuanya tampak menarik.

Jadi, dengan asumsi bahwa semuanya berjalan lancar, maka berikut ini adalah beberapa perusahaan infrastruktur di bursa yang mungkin bisa turut ketiban rejeki:
  1. TLKM dan beberapa teman sejawatnya seperti ISAT dan EXCL, terutama jika mereka bisa memanfaatkan perkembangan internet di Indonesia secara maksimal. Untuk handphone dan simcard-nya, mungkin semua orang sudah punya. Tapi untuk modem untuk koneksi internet, belum semua orang punya.
  2. Beberapa perusahaan kabel. Kalau proyek Palapa Ring dan 10,000 Megawatt yang tadi dibahas diatas berjalan degan lancar, maka kebutuhan akan kabel akan terus meningkat.
  3. Beberapa perusahaan konstruksi, terutama konstruksi untuk proyek-proyek pekerjaan umum. Namun seperti sudah disebut diatas, kebanyakan perusahaan konstruksi di Indonesia memperoleh pendapatannya dari konstruksi bangunan properti, bukan konstruksi jembatan atau semacamnya. Yang memenangkan tender untuk konstruksi pekerjaan umum biasanya perusahaan konstruksi BUMN. Sayangnya, ‘entah kenapa’ kinerja BUMN-BUMN konstruksi yang terdaftar di bursa relatif nggak begitu bagus, sehingga prospek kedepannya otomatis suram.
  4. Perusahaan semen, tentu saja. Namun ingat bahwa secara historis, perusahaan-perusahaan semen di Indonesia lebih banyak memperoleh pendapatannya (sekitar 70%) dari properti, bukan infrastruktur.
  5. Perusahaan besi dan baja. Sayang sekali lagi, meski prospeknya sebenarnya menarik namun belum ada perusahaan baja sekelas Arcelor Mittal disini. Seorang temen penulis bahkan mengatakan, kalau saja Arcelor Mittal diizinkan buka lapak disini, di Indonesia, maka Krakatau Steel dan lain-lainnya akan segera habis tak bersisa.
  6. Terakhir, perusahaan transportasi, baik infrastrukturnya (bandara, dll) maupun kendaraannya (pesawat terbang, dll). Sejauh ini hanya ada dua saham yang menarik untuk diperhatikan disini, yakni GIAA dan JSMR.
Well, that’s all. So now, what do you think? Satu hal lagi, jika kualitas infrastruktur di Indonesia benar-benar mengalami peningkatan, maka sebenarnya yang memperoleh keuntungan bukan hanya perusahaan-perusahaan yang sudah disebut diatas, melainkan seluruh perusahaan yang ada di Indonesia akan mengalami kemajuan, karena bisnis mereka menjadi lebih mudah. Dalam materi penjelasan mengenai MP3EI, disebutkan bahwa Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi 7 – 9% per tahun jika seluruh proyek infrastruktur yang direncanakan berjalan lancar, dimana angka pertumbuhan ekonomi tersebut tentunya bukan hanya disumbang oleh perusahaan-perusahaan infrastruktur, melainkan seluruh perusahaan di Indonesia dan tentunya aktivitas ekonomi masyarakat umum.
Prospek vs Realitas

Sebagai warga Jakarta, penulis termasuk yang berharap banyak ketika Jokowi terpilih sebagai Gubernur pada September lalu. Harapan penulis cuma satu: Jakarta terbebas dari macet, atau setidaknya kemacetan yang terjadi sedikit berkurang. Karena, anda tahu? Bepergian di Jakarta itu seperti mimpi buruk. Pilih naik mobil, macetnya setengah mati, kalau nyari parkir susah, belum lagi harus pake joki kalau masuk daerah three in one (I hate if there’s a stranger in my car!). Pilih naik transportasi umum? Coba saja anda sekali-kali naik bis Trans Jakarta, dan rasakan pengalaman nunggu sampe setengah jam atau lebih hanya untuk menunggu bis datang, itupun begitu dapet bis harus surviveberdesak-desakan hingga untuk berdiri pun susah. Untuk kopaja dan lainnya, ceritanya bisa lebih horor lagi. Alhasil, satu-satunya pilihan yang masuk akal cuma sepeda motor, tapi itupun dengan risiko kehujanan dan baju yang kotor kena debu, asap knalpot, dan cipratan air, apalagi ketika musim hujan seperti sekarang ini.
Sebenarnya, dari dulu solusi untuk masalah transportasi ini sederhana, yakni sarana transportasi massal yang memadai, dan sarana jalan raya yang panjang dan lebar. Atau dengan kata lain, infrastruktur. Warga Jakarta mengalami kerugian sekitar Rp12 trilyun di jalanan per tahun akibat kemacetan ini, dan itu adalah karena infrastruktur transportasi yang sama sekali tidak memadai.
Akan tetapi, belakangan penulis berpikir bahwa mungkin tidak semudah itu juga menyelesaikan masalah transportasi di Indonesia, atau dalam hal ini masalah kemacetan di Jakarta. Karena, coba pikir, jika Jakarta memiliki sarana angkutan umum yang nyaman dan memadai, dan orang-orang beralih dari kendaraan pribadi ke umum, maka inilah yang akan terjadi.
  1. Jumlah orang yang bikin SIM dan STNK akan berkurang, yang itu berarti pendapatan pak polisi juga akan turun. Demikian pula, pendapatan negara dari pajak kendaraan akan berkurang.
  2. Pendapatan pom-pom bensin akan turun drastis
  3. Pendapatan perusahaan parkir di gedung perkantoran dan mall-mall juga akan turun
  4. Perusahaan-perusahaan otomotif akan protes karena mobil/motor anyar mereka nggak laku
  5. Pendapatan perusahaan jalan tol akan turun
  6. Pendapatan bengkel-bengkel mobil dan motor akan turun
  7. Perusahaan pengembang properti akan mengeluh apartemen mereka di pusat kota nggak ada yang mau beli, karena warga kini lebih berminat untuk tinggal di pinggir kota.
  8. Bahkan di level akar rumput, pendapatan dari pengemis, pengamen, tukang parkir liar, dan pak ogah juga akan turun, dan seterusnya.
Intinya, ketika disebutkan bahwa warga Jakarta mengalami kerugian sekitar Rp12 trilyun per tahun akibat kemacetan ini, itu bukan berarti duit sebanyak itu menguap begitu saja, melainkan berpindah tangan ke orang lain. Artinya jika Jakarta memiliki sarana infrastruktur transportasi yang sangat baik, dan imbasnya kemacetan berkurang, maka akan ada pihak-pihak yang ‘dirugikan’. Dan tentu saja pihak-pihak ini tidak akan tinggal diam jika ada upaya-upaya untuk meningkatkan sarana infrastruktur transportasi, dan mungkin itu sebabnya Jakarta masih aja macet sampe sekarang. Jadi kesulitan yang dihadapi oleh Jokowi dkk sebenarnya bukan masalah pembangunan infrastruktur transportasi itu sendiri, melainkan ‘perlawanan’ dari pihak-pihak tertentu yang sudah pasti akan keberatan. Penulis masih ingat dalam satu dialog di televisi, ada seorang anggota DPR yang secara tersirat menyatakan bahwa adalah wajar jika Jakarta sebagai kota besar mengalami kemacetan, karena kota-kota besar lainnya di seluruh dunia juga macet kok. Usut punya usut, ternyata dia memiliki beberapa pom bensin.
Nah, itu terkait infrastruktur transportasi. Tidak hanya di Jakarta, dulu pun pembangunan Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura, sempat diprotes habis-habisan oleh para pedagang di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, karena mereka tahu bahwa mereka akan kehilangan omzet jika jembatan tersebut beroperasi. Dan seterusnya. Itu baru satu masalah terkait resisten dari pihak-pihak tertentu. Belum lagi masalah klasik seperti birokrasi, korupsi, dll.
Sementara terkait infrastruktur telekomunikasi dan kelistrikan, penulis tidak tahu apakah ada juga masalah yang sama, namun yang jelas faktanya sampe sekarang Indonesia belum memiliki infrastruktur telekomunikasi dan kelistrikan yang benar-benar memadai. Dan kedepannya belum tentu juga infrastruktur tersebut akan jadi bagus. Contohnya proyek pembangunan pembangkit listrik 10,000 Megawatt, meski memang on progress namun lambat sekali. Apakah proyeknya bisa selesai tahun 2014? Jujur saja, penulis ragu.
Anyway, mudah-mudahan itu hanya pesimisme kecil saja. Karena dulupun, orang-orang selalu bilang bahwa bisnis pembangunan apartemen gak akan sukses di Indonesia, karena masyarakat Indonesia lebih suka tinggal di landed house daripada harus tinggal dirumah gak ada halamannya begitu. Tapi nyatanya, sekarang apartemen berdiri dimana-mana, gak cuma di Jakarta tapi juga di kota-kota besar lainnya di Indonesia, dan pembelinya tetep aja banyak. Jadi meski sekarang ini infrastruktur yang layak di Indonesia masih merupakan suatu impian, tapi mudah-mudahan impian itu bisa terwujud suatu hari nanti.
However, jika ditanyakan bagaimana kira-kira prospek sektor infrastruktur dalam beberapa tahun kedepan, maka penulis akan menjawab, ‘Honestly, I don’t [...]

Apa Resolusi Anda?

Beberapa waktu lalu (udah cukup lama sih), penulis bertemu dan berdiskusi dengan seorang teman yang merupakan investor saham senior. Yep, I tell you, hal terbaik dari memiliki blog seperti blog ‘Analisis Saham Independen’ seperti ini adalah kita bisa bertemu dengan banyak sekali teman-teman sesama investor yang lebih senior, untuk kemudian belajar banyak dari mereka. Dan penulis kira, kesempatan untuk belajar tersebut adalah investasi yang lebih jauh berharga ketimbang investasi di saham itu sendiri.


Nah, berikut adalah cerita yang di-share oleh teman penulis tersebut.

Ada dua hal yang selalu dicari-cari oleh orang-orang, siapapun ia dan dimanapun ia tinggal.

Yang pertama adalah uang, yang kedua adalah waktu.

Karena itulah, kemudian terdapat empat kelompok manusia.

Kelompok pertama, adalah mereka yang memiliki keduanya, yaitu mereka punya uang, dan juga punya waktu. Contohnya mungkin konglomerat yang sudah pensiun, atau bisnisnya sudah bisa jalan sendiri tanpa perlu diawasi lagi. Kelompok ini dipandang oleh tiga kelompok lainnya sebagai kelompok yang paling beruntung, karena mereka memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh tiga kelompok lainnya tersebut, yakni kebebasan (freedom), dimana mereka nyaris bisa membeli atau melakukan apa saja, dan kapan saja.

Kelompok kedua, adalah mereka yang memiliki uang, tapi tidak memiliki waktu. Contohnya eksekutif top di perusahaan-perusahaan besar.

Kelompok ketiga adalah sebaliknya, yaitu mereka yang memiliki waktu, namun tidak memiliki uang. Contohnya pengangguran, atau karyawan biasa di perusahaan, atau pengusaha kecil (UKM).

Dan terakhir, kelompok keempat, mungkin merupakan kelompok yang paling tidak beruntung, karena mereka tidak memiliki uang ataupun waktu. Contohnya mungkin buruh kasar dengan gaji rendah.

Sebagian besar manusia berada di kelompok kedua dan ketiga, dan mereka selalu menginginkan untuk bisa masuk kedalam kelompok pertama.

Tapi tahukah anda, bahwa ada sesuatu yang dimiliki oleh kelompok kedua, ketiga, atau bahkan keempat, namun justru tidak dimiliki oleh kelompok pertama, padahal kelompok pertama ini tampak sudah memiliki segalanya?

Sesuatu tersebut adalah mimpi, harapan, cita-cita.

Ketika seseorang sudah memiliki uang dan waktu, ketika seseorang sudah memiliki segalanya, ketika seseorang sudah memperoleh semua yang ia inginkan, maka itu berarti cerita kehidupannya sudah usai, karena sudah tidak ada lagi yang perlu dikejar, dan sudah tidak ada lagi yang perlu dicapai.

Dan bisakah anda bayangkan, betapa membosankannya kehidupan seperti itu?

Karena itu beruntunglah anda yang baru memiliki salah satu dari uang ataupun waktu, atau bahkan jika anda belum memiliki keduanya.

Namun ‘keberuntungan’ anda tersebut akan sia-sia jika anda tidak memiliki mimpi, jika anda tidak memiliki cita-cita untuk dicapai.

Karena pada akhirnya, yang membuat kehidupan seseorang menjadi sangat berharga dan penuh warna adalah jika ia sedang berada dalam proses untuk mencapai sesuatu, bukan ketika sesuatu tersebut sudah diraih.

Kemudian penulis memotong, ‘Tapi apa hubungan itu semua dengan investasi kita di pasar saham pak?’ Dan beliau menjawab, ‘Tahukah kamu, kenapa Warren Buffett bisa sangat sukses seperti sekarang? Karena dia menyukai proses. Karena dia menyukai melihat portofolionya terus tumbuh dan tumbuh, tanpa ada niat sama sekali bahwa jika sudah memperoleh keuntungan sekian, maka duitnya akan dipakai buat apa. Buffett tidak mengincar keuntungan hasil dari proses investasinya di saham, yang ia incar adalah proses itu sendiri. Tapi hasilnya, dia justru malah jadi salah satu orang terkaya di dunia.’

‘Dan yang lebih penting lagi, posisi Buffett yang selalu berada dalam proses itulah, yang membuat ia memiliki alasan yang kuat untuk tetap hidup dan bekerja, dan itu sebabnya ia berumur panjang sampai sekarang sudah berusia lebih dari 80 tahun, tapi masih sehat walafiat.’

Kemudian beliau bertanya, ‘Nah, mas Teguh, sekarang apa cita-cita yang akan kamu capai?’

Well, ada yang bisa bantu? Jika pertanyaan diatas ditanyakan kepada anda, maka apa jawabannya?

NB: Investor Bulletin edisi Januari 2013 sudah terbit hari ini. Anda masih bisa memperolehnya disini.January 2nd, 2013 at 5:19 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

Semen Gresik & Indocement: Outlook

Pada tanggal 19 November kemarin, Semen Gresik (SMGR) mengumumkan aksi korporasi penting, yakni akuisisi terhadap Thang Long Cement, sebuah perusahaan semen asal Vietnam. Tak butuh waktu lama, saham SMGR langsung terkerek naik karena kabar ini, hingga hampir saja menyentuh new high di 17,000, sebelum kemudian turun lagi ke posisi saat ini yaitu 15,850. Kalau kita bicara soal sahamnya, maka tidak ada yang bisa dibicarakan lebih lanjut karena sudah cukup jelas bahwa saham SMGR sudah cukup mahal. Tapi, mari kita coba pelajari prospek SMGR ini di masa depan, terutama pasca aksi go regional-nya tersebut.

SMGR, seperti yang anda ketahui, adalah perusahaan semen terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 40% pada tahun 2011. Meski bernama ‘Semen Gresik’, namun SMGR adalah juga induk dari Semen Padang dan Semen Tonasa, sehingga jaringan distribusi perusahaan tersebar cukup luas meliputi Pulau Jawa (Gresik), Sumatera (Padang), dan Sulawesi (Tonasa). Kinerja perusahaan dalam jangka panjang terbilang sangat bagus dan konsisten, dengan ROE selalu diatas 25% dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan perusahaan juga cukup konsisten, itu bisa dilihat dari kapasitas produksinya yang senantiasa meningkat dari 17 juta ton di tahun 2007, menjadi 20 juta ton di tahun 2011, dan diproyeksikan akan menjadi 25 juta ton pada tahun 2013. Meski sudah berstatus sebagai perusahaan semen terbesar di tanah air, namun prospek pertumbuhan SMGR memang masih terbuka lebar mengingat tingkat konsumsi semen di Indonesia hingga saat ini masih merupakan salah satu yang terendah di Asia, yaitu hanya sekitar 200 kg per kapita per tahun.

Kemudian belakangan ini, SMGR mulai ‘naik panggung’ kembali setelah perusahaan go regionaldengan mengakuisisi 70% saham Thang Long dari pemilik sebelumnya yaitu Geleximco, sebuah grup usaha lokal yang merupakan salah satu grup usaha terbesar di Vietnam (mungkin seperti Grup Astra kalau di Indonesia). Sebenarnya, Thang Long hanyalah sebuah perusahaan semen kecil jika dibanding dengan SMGR, dengan kapasitas produksi semen hanya 2.3 juta ton per tahun, sehingga akuisisi SMGR terhadap Thang Long bukanlah aksi korporasi yang terlalu istimewa. Nilai Thang Long sendiri hanya US$ 335 juta atau sekitar Rp3 trilyun, bandingkan dengan market cap SMGR yang mencapai Rp94 trilyun pada harga saham 15,850. Namun karena ini adalah untuk pertama kalinya SMGR mengakuisisi perusahaan asal luar negeri, maka aksi korporasi ini kemudian menjadi tampak luar biasa.

Beberapa fasilitas produksi milik PT Semen Gresik
Terkait rencana SMGR dengan ‘mainan barunya’, nantinya perusahaan bersama-sama dengan Geleximco akan mengembangkan Thang Long dengan cara mendirikan dua pabrik semen baru di lokasi terpisah di Vietnam, sehingga nantinya Thang Long akan memiliki kapasitas produksi 6.5 juta ton semen per tahun, untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik Vietnam. Namun belum ada informasi soal kapan proses pendirian dua pabrik tersebut akan dimulai.

Meski akuisisi Thang Long diatas terbilang biasa-biasa saja, namun yang menarik adalah rencana transformasi SMGR untuk menjadi perusahaan berskala nasional bahkan regional, dimana Thang Long menjadi bagian dari transformasi tersebut. Bagian transformasi lainnya adalah perubahan nama perusahaan, dari Semen Gresik menjadi Semen Indonesia. Transformasi ini sejalan dengan rencana Pemerintah sebagai majority shareholder dari SMGR untuk meningkatkan produksi semen nasional, untuk mengantisipasi kenaikan kebutuhan semen karena percepatan pembangunan infrastruktur di tanah air, yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI). Progress yang sejauh ini sudah berjalan adalah, sepanjang tahun 2012 kemarin SMGR sudah menyelesaikan dua pabrik baru, yakni Tuban IV dan Tonasa V, dan di tahun 2013 nanti perusahaan sudah merencanakan akan kembali mendirikan dua pabrik semen lagi, dengan kapasitas masing-masing 3 juta ton. Ditambah kapasitas produksi dari Thang Long, maka proyeksi kapasitas produksi 25 juta ton semen di tahun 2013 menjadi sangat realistis untuk dicapai. Well, what more could I say? This company has a bright prospect, as their track record of long term performance is also good. Jika tidak ada halangan, kedepannya SMGR juga berencana mengakuisisi Semen Baturaja, sebagai pengukuhan status perusahaan sebagai ‘Semen Indonesia’.

Sayang, SMGR sepertinya belum punya rencana untuk mengakuisisi perusahaan semen asal luar negeri lainnya lagi, padahal akan menjadi berita yang luar biasa heboh jika SMGR berhasil mengakuisisi Siam Cement, misalnya (buat yang belum tahu tentang Siam Cement, coba cari di Google). Jika dibandingkan dengan aksi-aksi korporasi yang dilakukan saudaranya sesama BUMN yakni Garuda Indonesia (GIAA), maka langkah-langkah kedepan yang akan dilakukan oleh SMGR memang terdengar tidak terlalu bombastis, termasuk SMGR juga tidak berencana untuk menjadi sponsor bagi Manchester United atau Chelsea. Namun jika GIAA masih berjuang untuk menjadi perusahaan dengan kinerja keuangan yang bagus, maka SMGR ini sejak awal sudah memiliki kinerja keuangan yang bagus tersebut.

Lalu bagaimana dengan Indocement (INTP)?

INTP adalah perusahaan semen terbesar kedua di Indonesia setelah SMGR, dengan kapasitas produksi sekitar 18 juta ton di akhir tahun 2011. Lokasi pabrik perusahaan berada di Citeureup (Jawa Barat), Cirebon (Jawa Barat), dan Tarjun (Kalimantan Selatan). Seperti SMGR yang terus berupaya meningkatkan kapasitas produksinya, INTP juga melakukan hal yang sama. Saat ini perusahaan sedang mengerjakan pendirian pabrik semen baru di Citeureup dengan kapasitas 2 juta ton per tahun, dan sedang menyusun rencana pendirian dua pabrik semen baru, satu di Jawa Tengah dan satu lagi diluar Jawa, dengan kapasitas masing-masing sekitar 2 – 2.5 juta ton. Untuk tahun 2013 mendatang, diproyeksikan bahwa kapasitas produksi INTP akan menjadi sekitar 21 juta ton per tahun, dan akan menjadi 29 juta ton di tahun 2017. So we could say, this company is also growing, meskipun bukan dengan cara mengakuisisi perusahaan lain. Namun berbeda dengan SMGR yang memfokuskan pertumbuhannya untuk memenuhi kebutuhan semen untuk pembangunan infrastruktur, INTP lebih mengincar prospek pertumbuhan proyek residensial dan perumahan yang membutuhkan semen secara eceran, mengingat perusahaan memiliki salah satu brand semen yang sudah melekat kuat di masyarakat banyak yaitu ‘Tiga Roda’.

Dua orang pekerja sedang memindahkan Semen Tiga Roda

Secara fundamental, baik SMGR dan INTP sama-sama memiliki kinerja yang sangat bagus. Jadi jika anda hendak investasi long term di salah satu dari dua perusahaan ini, tapi masih bingung hendak pilih yang mana, maka mungkin pertimbangannya adalah sebagai berikut: Jika anda melihat bahwa outlook infrastruktur di Indonesia cukup bagus, dan bahwa progress dari MP3EI akan berjalan lancar, maka pilihannya SMGR. Namun jika anda lebih melihat bahwa kenaikan kebutuhan akan semen di masa depan akan lebih didorong oleh pertumbuhan sektor properti dan residensial, maka pilihannya adalah INTP.


Satu hal, catat bahwa sektor residensial adalah konsumen semen terbesar di Indonesia, yang pada tahun 2011 lalu menyerap sekitar 70% penjualan semen nasional, sehingga dalam hal ini INTP mungkin lebih menarik. Namun jika dilihat dari kinerja kedua perusahaan secara historis, maka SMGR lebih unggul karena kinerjanya sedikit lebih baik dibanding INTP, termasuk rasio pembayaran dividennya juga lebih besar, yaitu mencapai 50% dari perolehan laba bersih setiap tahunnya (sementara INTP cuma 30%).

Terus, gimana dengan Holcim Indonesia (SMCB)? Well, mengingat kinerja perusahaan yang satu ini masih belum cukup bagus jika dibandingkan dengan dua ‘seniornya’ diatas, maka penulis kira anda masih belum bisa berinvestasi di perusahaan yang dulunya bernama Semen Cibinong ini.

Okay, berikut adalah beberapa key outlook terkait industri semen di Indonesia kedepannya:

  1. Pertumbuhan permintaan akan semen di pasar domestik terus meningkat dari tahun ke tahun, termasuk tumbuh sekitar 14% di tahun 2012 ini. Sementara disisi lain, tingkat konsumsi semen di Indonesia masih merupakan salah satu yang terendah di Asia, hanya lebih besar ketimbang India dan Filipina.
  2. Undang-Undang terkait akuisisi lahan yang disahkan oleh DPR pada Desember 2011 lalu, memudahkan perusahaan-perusahaan semen untuk mempercepat pembebasan lahan untuk kemudian didirikan pabrik semen, sehingga kini SMGR dkk mampu meningkatkan kapasitas produksi semennya secara lebih cepat dari sebelumnya.
  3. Pertumbuhan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut di tahun 2013, dimana keberadaan kelompok masyarakat ini terus mendorong perusahaan-perusahaan properti untuk membangun proyek-proyek residential dan high rise building, yang tentunya membutuhkan pasokan semen.
  4. Terdapat prospek yang menarik dari kemungkinan meningkatnya pembangunan infrastruktur di Indonesia dalam beberapa tahun kedepan.
    Dalam empat tahun terakhir, tepatnya sejak Februari 2009 lalu ketika market mulai pulih pasca krisis global 2008, saham SMGR dan INTP telah menguat masing-masing 350%, alias cukup signifikan, dan itu memang sejalan dengan peningkatan kinerja kedua perusahaan dari tahun ke tahun, sehingga kedua saham ini cukup cocok untuk investasi jangka panjang. Tapi jika anda lebih tertarik untuk menggunakan SMGR dan INTP untuk trading, maka hati-hati jika nanti terdengar kabar bahwa harga batubara telah naik kembali. Salah satu komponen beban pokok perusahaan semen adalah biaya bahan bakar batubara, dimana jika harga batubara naik, maka bisa dipastikan bahwa laba perusahaan akan tertekan, sehingga kenaikan harga batubara biasanya akan menjadi sentimen negatif bagi saham SMGR dan INTP. Tapi untungnya, sejauh ini harga batubara masih cukup rendah.

    Rating kinerja SMGR di 9M12: AAA
    Rating kinerja INTP di 9M12: AAA

    NB: Buletin rekomendasi saham edisi Januari akan terbit tanggal 2 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya disiniDecember 27th, 2012 at 1:08 pm | Category: TEGUH ANALISIS SAHAM | Comments are closed

    Annual Letter 2012

    Tahun 2012, seperti juga tahun 2011 lalu merupakan tahun yang cukup sulit, terutama jika dibandingkan dengan tahun 2010 dan 2009. Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, IHSG sepanjang tahun ini tidak mampu beranjak hingga menembus level psikologis baru di 4,500, atau bahkan 4,400, kecuali hanya sampai level 4,300-an, itupun kemudian langsung dibayang-bayangi oleh kemungkinan terjadinya koreksi pasca keluarnya isu ‘Fiscal Cliff’ dari Amerika Serikat (AS). Beberapa sektor mengalami kenaikan, terutama infrastruktur karena didorong oleh optimisme pasar bahwa ‘the next booming’ after property adalah infrastruktur. Sayang, kenaikan tersebut sejatinya tidak atau belum ditunjang oleh peningkatan kinerja riil dari perusahaan-perusahaan yang bersangkutan, dimana valuasi saham-saham infrastruktur pada saat ini sudah cukup mahal.

    Selain saham-saham infrastruktur, sektor yang juga mengalami kenaikan adalah sektor consumer goods, dimana sekali lagi, kenaikannya lebih karena didorong oleh faktor sentimen bahwa konsumsi di Indonesia akan tumbuh pesat pasca beberapa kebijakan Pemerintah terkait upah minimum dan kenaikan batas maksimum pendapatan bebas pajak. Tapi memang jika dibandingkan dengan sektor infrastruktur, maka tentu valuasi saham-saham di sektor consumers masih lebih fair, meski belum bisa dikatakan murah.
    Jika saham-saham di sektor infrastruktur dan consumers mengalami kenaikan yang cukup signifikan, hal sebaliknya terjadi pada saham-saham pertambangan dan perkebunan, terutama tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit. Alasannya jelas: Penurunan harga komoditas batubara dan CPO, yang hingga kini belum rebound kembali. Kinerja para perusahaan di dua sektor ini hingga saat ini masih mencatat pertumbuhan minus (labanya turun). Sebenarnya kalau melihat beberapa saham tertentu di sektor ini yang kinerja perusahaan masih cukup bagus dan tidak sejelek ‘sodara-sodaranya’, maka ini merupakan kesempatan yang cukup baik. Namun sayang hingga saat ini belum ada sentimen apapun yang bisa mengembalikan harga saham-saham batubara dan CPO ke posisi sebelum terkoreksi, termasuk harga komoditasnya juga masih sangat rendah.
    Masalahnya disini adalah, sejak dulu sektor batubara dan CPO merupakan sektor favorit para investor, sehingga kemungkinan banyak diantara mereka yang akhirnya terjebak di saham-saham batubara dan CPO ini.
    Secara keseluruhan, hingga artikel ini ditulis, IHSG telah merangkak naik sebanyak 10.2% dari posisi awal tahun di 3,859 hingga penutupan di tanggal 21 Desember kemarin di posisi 4,250. Itu adalah angka kenaikan yang cukup baik sebenarnya, dan posisi penutupannya juga masih diatas target konservatif yakni 4,200. Akan tetapi cerita kenaikan tersebut bisa berbalik arah menjadi penurunan jika nanti pada akhirnya IHSG akan terkoreksi kembali, entah karena isu fiscal cliff ataupun lainnya, dimana itu sepertinya cuma soal waktu. So I think, secara keseluruhan sebetulnya IHSG bergerak mendatar sepanjang tahun 2012 ini, atau bahkan mungkin negatif alias bergerak turun.
    Saham-saham yang dibeli sepanjang tahun 2012
    (Catatan: Saham-saham yang dibahas di Annual Letter ini adalah saham-saham yang penulis beli sejak awal April 2012, bukan Januari. Tapi untuk Annual Letter berikutnya di tahun 2013 nanti, saham-saham yang dibahas adalah yang sudah dipegang atau pernah dipegang sejak Januari).
    Di akhir Maret 2012, ada satu saham yang menarik perhatian penulis karena perusahaannya memiliki potensi untuk tumbuh jadi besar. Saham itu adalah Mitra Investindo (MITI). MITI merupakan perusahaan tambang batu granit (marmer), dan perusahaannya memiliki kinerja yang buruk di masa lalu. Akan tetapi sejak MITI memperoleh konsesi tambang granit dengan cadangan yang cukup besar pada tahun 2009 (cadangannya cukup hingga tahun 2014), perlahan tapi pasti kinerjanya merangkak naik, dan begitu pula dengan sahamnya. MITI yang sebelumnya mati di harga gocapan alias 50 perak, kemudian naik sampai 60-an, dan terus naik sampai sempat menembus 140-an.
    Karena penulis sudah mengkoleksinya di harga 60-an, maka kemudian saham ini menyumbang keuntungan yang cukup substansial secara persentase. Sayangnya penulis melakukan kesalahan yang cukup serius, yakni MITI ini dibeli dalam jumlah yang kelewat sedikit yaitu kurang dari 5% nilai porto, sehingga keuntungan riil yang diperoleh menjadi tidak seberapa. Pertimbangan penulis ketika itu adalah karena MITI ini biar bagaimanapun masih merupakan perusahaan kecil yang belum jelas bebet bibit dan bobotnya, sehingga risikonya juga cukup besar, apalagi statusnya sebagai mantan gocapan.

    Dan ternyata kinerja MITI di kuartal berikutnya tidak seperti yang diharapkan, sehingga saham ini pun akhirnya keluar dari pengamatan.
    Saham lainnya yang juga dibeli adalah Indo Tambangraya Megah (ITMG). Pada Kuartal I 2012, perusahaan ini masih mencatat kinerja yang cukup bagus, meski ketika itu mulai banyak sentimen negatif soal sektor batubara. Penulis membeli saham ini di 42,000-an dan menjualnya di 45,000-an. Ketika dia turun lagi ke 40,000, penulis membelinya kembali.
    Saham batubara lainnya yang juga dibeli adalah Adaro Energy (ADRO). Pertimbangannya ketika itu bukan karena faktor fundamental, karena faktanya kinerja ADRO ini terbilang jelek jika dibanding ITMG. Penulis membelinya karena berpikir bahwa ADRO ini sebelumnya selalu kokoh di rentang 1,800 – 2,000, sehingga jika sahamnya dibeli di harga dibawah itu, maka ada peluang gain jika dia nanti balik lagi ke 2,000-an. So, ADRO dibeli pada harga 1,700-an. It was a big mistake. Pada Mei 2012, IHSG terkoreksi dari 4,200-an hingga 3,600-an, dan ADRO turut terseret turun hingga 1,100-an. Karena sudah terlanjur nyangkut, maka akhirnya dia didiamkan saja. Demikian pula dengan ITMG yang ketika itu terus turun hingga 32,000-an.
    Kesalahan penulis disini adalah, jauh-jauh hari sebelum IHSG terkoreksi pada Mei 2012, penulis sebenarnya sudah memprediksikan hal tersebut, dan juga sudah cuci gudang sebelumnya. Namun karena ada dua saham yang ketika itu dalam posisi nyangkut, yaitu ITMG dan ADRO, maka cuci gudangnya gak sampai 100%. Dua saham tersebut dibiarkan saja turun karena terseret pelemahan IHSG. Meski kemudian dua-duanya berhasil naik kembali (terutama ITMG) pasca koreksi IHSG berakhir, namun penulis telah kehilangan momentum untuk bisa belanja saham di harga murah.
    Kesininya, ITMG dan ADRO tidak lagi penulis amati karena investasi penulis di sekto batubara dialihkan ke Harum Energy (HRUM) dan Hexindo Adiperkasa (HEXA). Hingga saat ini HRUM masih dalam watchlist, meski tidak dipegang karena masih menunggu sentimen positif di sektor batubara. Sementara untuk HEXA, kemungkinan hanya akan jadi alternatif saja kalau penulis tidak mau berinvestasi di HRUM terlalu banyak.
    Berikutnya, penulis menemukan saham baru yang tampak memiliki prospek cerah, yakni Central Omega Resources (DKFT). Seperti pernah penulis bahas di artikel blog (ini linknya), DKFT tampak sangat menarik karena perusahaan memiliki cadangan bijih nikel yang segunung, yang siap untuk digali kapan saja. Penulis kemudian membeli sahamnya di harga 1,600-an (harga sebelum stocksplit, setara dengan 320 kalo pake harga saat ini). Sayang tak lama kemudian keluar kabar bahwa Pemerintah mengeluarkan peraturan pembatasan ekspor bijih mineral mulai Juni 2012. Sebelumnya Pemerintah memang berencana melarang ekspor bijih mineral, namun larangan tersebut baru akan berlaku pada tahun 2014 nanti. Sayang, sebelum tahun 2014 tersebut ternyata larangannya sudah berlaku, meski masih dalam bentuk pembatasan volume ekspor. Mengingat bahwa pendapatan DKFT hampir seluruhnya berasal dari ekspor bijih nikel, dan bahwa DKFT belum memiliki titik terang untuk pembangunan smelter-nya yang membutuhkan dana trilyunan Rupiah, maka penulis kemudian menganggap bahwa prospek pertumbuhan perusahaan praktis sudah tertutup, dan menjual sahamnya.
    Cahaya Kalbar (CEKA). Pada bulan April, seorang teman meminta penulis untuk menganalisis CEKA, yang menurutnya ketika itu mencatat kinerja sangat baik, tapi sahamnya masih murah. Dan ternyata memang benar, ini saham bagus dan juga murah. Penulis kemudian membelinya di 2,100-an, dan sempat juga berniat untuk menulis ulasan lengkapnya di blog.
    Hanya saja ketika penulis mencoba mencari dokumen-dokumen yang biasa digunakan untuk menganalisis fundamental sebuah saham, seperti laporan tahunan, materi public expose, hingga pengumuman-pengumuman penting, entah kenapa di situs BEI tidak ada dokumen terkait CEKA sama sekali, kecuali laporan keuangannya saja. Merasa bahwa penulis masih belum tahu apa-apa soal CEKA ini (kecuali bahwa dia adalah anak usaha dari Wilmar Group, perusahaan terbesar kedua di Singapura), maka sahamnya pun kemudian bernasib sama dengan DKFT: Dijual, kalo gak salah di harga 2,800.
    Malindo Feedmill (MAIN). Ketika MAIN ini kembali mencatat kinerja apik di Kuartal II 2012, penulis langsung menjadikannya sebagai salah satu pegangan utama, dengan membelinya di 1,200-an. Lagi-lagi seperti dalam kasus MITI, penulis membelinya dalam jumlah yang terlalu sedikit, karena ketika itu masih menganggap bahwa MAIN ini hanyalah alternatif bagi Charoen Pokphand Indonesia (CPIN).
    Penulis menjual MAIN ini pada harga 1,500-a. And to be honest, itu terlalu cepat, sehingga keuntungannya lagi-lagi tidak maksimal. Ketika itu penulis melanggar sistem valuasi saham yang penulis buat sendiri, yaitu: Lihat PER dulu, kemudian baru lihat PBV. Penulis menjual MAIN karena menganggap valuasinya sudah mahal, karena PBV-nya sudah diatas 4 kali. Padahal kalau dari sisi PER, seharusnya MAIN masih murah karena PER-nya hanya 7 kali.
    Anyway, MAIN hingga saat ini masih masuk watchlist. Jika nanti dia turun lagi ke posisi 1,500-an, kemungkinan biasanya karena sentimen penurunan harga day old chicken (DOC), maka penulis berencana untuk masuk kembali.
    Menyeberang ke sektor infrastruktur, hanya ada satu saham di sektor ini yang sempat masuk porto penulis. Dia adalah Surya Semesta Internusa (SSIA). Saham ini tidak terlalu lama mengendap di porto, karena setelah penulis pertimbangkan lagi, saham ini perlu waktu agak lama untuk mulai melejit naik lagi setelah sebelumnya naik sangat banyak dari 300 hingga 1,200 dalam waktu kurang dari setahun.
    Diluar saham-saham yang direncanakan akan jadi koleksi mid hingga long term (namun untuk kasus DKFT dan MITI, rencana tersebut gagal), penulis juga memegang beberapa saham untuk tik tok jangka pendek. Mereka adalah Agung Podomoro Land (APLN), Bank Bukopin (BBKP), dan ada beberapa lagi. Namun setelah penulis evaluasi lagi, keuntungan dari trading saham dengan cara begini ternyata tidak maksimal, karena penulis tidak pernah menggunakan dana yang cukup banyak untuk membeli saham-saham tersebut. Kedepannya kemungkinan penulis hanya akan membeli saham yang, meskipun tujuan awalnya hanya untuk trading, namun saham yang bersangkutan memilik opsi untuk disimpan dalam jangka panjang.
    Greenwood Sejahtera (GWSA). Jika ada saham paling gagal dalam porto penulis, maka saham itu adalah GWSA. Sudah lebih dari satu semester sahamnya gak kemana-mana sejak penulis membelinya di rata-rata 240-an. Namun penulis masih berpendapat bahwa ini saham bagus dengan prospek yang juga cerah, sehingga penulis masih memegangnya sampai sekarang. Masalah utama yang melanda saham ini adalah likuiditasnya yang entah kenapa seret sekali, sehingga jika pasar sedang tidak ada bid, maka sahamnya otomatis akan melorot. Tapi jika melihat performa perusahaannya, well, I think there is nothing to worry about.
    Terakhir, penulis juga menaruh perhatian pada dua perusahaan dagang dengan fokus produk berbasis teknologi dan gadget, yaitu Erajaya Swasembada (ERAA), dan Metrodata Electronics (MTDL). ERAA sejauh ini menjadi saham tersukses dalam porto penulis, dan masih dipegang juga sampai sekarang. However, kedepannya penulis berencana untuk menjadikannya pilihan kedua setelah MAIN. Sementara MTDL, dia merupakan alternatif bagi ERAA jika saham ini tidak bisa dibeli dalam jumlah dana yang terlalu banyak, mengingat valuasi ERAA pada saat ini sudah agak mahal (PER-nya sudah diatas 17 kali).
    Selain ITMG yang sudah dibahas diatas, saham big caps lainnya yang pernah masuk porto penulis adalah Bank BRI (BBRI), yang ketika itu dibeli pada periode koreksi IHSG pada Mei 2012. Jika nanti IHSG terkoreksi, maka saham ini hampir pasti akan penulis beli kembali. Dan oh ya, juga jangan lupakan Unilever Indonesia (UNVR).

    Dan selain saham-saham yang sudah disebutkan diatas, penulis juga memegang atau pernah memegang beberapa saham lainnya lagi. Namun karena saham-saham tersebut dipegang dalam jumlah yang sangat sedikit, maka kenaikan atau penurunan dari saham yang bersangkutan tidak berdampak signifikan terhadap perubahan nilai portofolio secara keseluruhan.
    Overall, kinerja portofolio di tahun 2012 ini tidak begitu bagus, terutama karena tidak ada satupun pegangan saham yang naik signifikan (seharusnya ada, yaitu MAIN tadi, namun penulis kehilangan momentum). Untungnya, juga tidak ada saham yang turun signifikan (kerugian paling besar berasal dari ADRO, tapi untungnya cuma megang sedikit). Ini berbeda dengan tahun sebelumnya yakni tahun 2011, dimana ketika itu terdapat tiga saham dalam portofolio yang naik cukup banyak. Mereka adalah CPIN, GTBO, dan KKGI. Tapi ketika itu yang nyangkut juga ada, yaitu INCO. Anyway, mudah-mudahan kinerja di tahun 2013 nanti akan lebih baik lagi.
    Jakarta, 22 Desember 2012
    Teguh Hidayat
    NB: Join our consulting service and partnership! Keterangan lebih lanjut klik disini.
    Investor Bulletin edisi Januari 2013 akan terbit tanggal 2 Januari mendatang. Anda bisa memperolehnya [...]

    Unilever: Analysis on Royalties

    Tanggal 12-12-12 kemarin mungkin merupakan tanggal cantik dan juga bermakna keberuntungan bagi sebagian orang, namun tidak demikian halnya bagi investor yang memegang saham Unilever Indonesia (UNVR). Pada hari tersebut UNVR tiba-tiba saja anjlok dari posisi 25,950 hingga 23,150. Di hari berikutnya, penurunan tersebut terus berlanjut hingga posisi 20,350, sehingga secara keseluruhan, UNVR telah terkoreksi 27.5% hanya dalam dua hari. Itu adalah sebuah angka penurunan yang sangat besar dan juga tidak wajar, tentu saja, mengingat UNVR ini bukan saham gorengan melainkan saham super-blue-chip, dengan statusnya sebagai perusahaan terbesar ketiga di BEI dari sisi market cap (sebelum harganya turun, kalau sekarang mungkin terbesar kedelapan, setelah BBRI). Bloomberg menyebut penurunan UNVR tersebut merupakan yang terburuk dalam dua belas tahun terakhir.


    Produk-produk Unilever Indonesia

    Penurunan saham UNVR bukan tanpa sebab. Pada tanggal 12 Desember, UNVR mengumumkan transaksi afiliasi dengan perusahaan induknya, Unilever BV (UBV), sebuah perusahaan asal negeri Belanda. Dalam transaksi tersebut, perusahaan berencana untuk meningkatkan pembayaran royalti atas merk dagang, lisensi teknologi, dan jasa manajemen kepada UBV, dari sebelumnya 3.5% dari total nilai omset (pendapatan) per tahun, menjadi 5.0% mulai tahun 2013 mendatang, dan akan kembali meningkat hingga maksimal 8.0% pada tahun 2015.
    Karena UNVR akan membayar royalti yang lebih tinggi kepada perusahaan induknya, maka secara sederhana bisa disimpulkan bahwa laba bersih UNVR mulai tahun 2013 ini akan tertekan, karena beban royalti perusahaan akan meningkat. Itu sebabnya beberapa analis kemudian memberikan rekomendasi negatif terhadap UNVR, dan alhasil sahamnya turun. Dalam keterbukaan informasinya sendiri, manajemen UNVR tidak memperinci manfaat dari transaksi afiliasi ini bagi perusahaan, kecuali disebutkan bahwa UNVR berpeluang untuk memasarkan produk-produk baru yang akan dikembangkan oleh UBV di masa depan, sehingga portofolio bisnis perusahaan akan lebih terdiversifikasi. Namun sebagian besar analis tidak menganggap bahwa itu merupakan alasan yang cukup kuat untuk membenarkan transaksi afiliasi ini, dan lebih menganggap bahwa transaksi ini merupakan bentuk profit transfer dari UNVR ke perusahaan induknya di Belanda.
    Jadi pertanyaan besarnya sekarang, bagaimana kira-kira dampak dari peningkatan pembayaran royalti ini terhadap kinerja perusahaan kedepannya? Okay, mari kita cek.
    Pada Sembilan Bulan 2012 (9M12), UNVR membayar royalti sebesar Rp690 milyar, atau setara 3.4% pendapatan perusahaan sebesar Rp20.3 trilyun. Namun, catat sebelumnya bahwa royalti yang harus dibayarkan UNVR kepada UBV adalah sebesar 3.5% dari pendapatan perusahaan diluar pendapatan dari pihak berelasi. Pada 9M12, pendapatan UNVR dari pihak berelasi adalah Rp915 milyar (setara 4.5% dari total pendapatan perusahaan), sehingga pendapatan UNVR setelah dikurangi pendapatan dari pihak berelasi tersebut adalah Rp19.4 trilyun. Angka pendapatan Rp19.4 trilyun inilah yang dijadikan dasar perhitungan pembayaran royalti, dimana royalti sebesar Rp690 milyar tadi memang setara dengan 3.5% dari Rp19.4 trilyun (tepatnya 3.55%, kelebihan sebesar 0.05% tersebut merupakan biaya jasa terkait royaltinya).
    Kembali ke soal pendapatan UNVR. Dalam empat tahun terakhir (2007 – 2001), pendapatan perusahaan senantiasa meningkat sebesar rata-rata 17.0% per tahun. Asumsikan bahwa kedepannya pendapatan UNVR akan meningkat sebesar angka yang sama, dan 4.5% dari pendapatan UNVR berasal dari pihak berelasi. Maka, berikut ini adalah proyeksi pendapatan UNVR, dan pendapatan setelah dikurangi pendapatan dari pihak berelasi, dari tahun penuh (full year) 2012 hingga 2015. Angka dalam milyaran Rupiah.
    Year
    2012
    2013
    2014
    2015
    Revenue
    27,125
    31,736
    37,131
    43,444
    Revenue after Related Parties
    25,905
    30,308
    35,460
    41,489
    Kemudian, ingat bahwa royalti yang dibayarkan UNVR terhadap UBV akan naik secara bertahap, dari 3.5% pada tahun 2012, menjadi 5.0% pada tahun 2013, 6.5% pada tahun 2014, dan 8.0% pada tahun 2015 (catat bahwa angka 8.0% untuk tahun 2015 itu sebenarnya maksimalnya, sehingga realisasinya bisa lebih rendah. Tapi kita pakai saja angka tersebut). Karena itu, berikut adalah besaran royalti yang dibayarkan UNVR kepada UBV, hingga tahun 2015 mendatang:
    Year
    2012
    2013
    2014
    2015
    Royalties (after increase)
    907
    1,515
    2,305
    3,319
    Sementara jika royalti yang dibayarkan UNVR hingga tahun 2015 tetap berada di level 3.5%, maka berikut adalah besaran royalti tersebut:
    Year
    2012
    2013
    2014
    2015
    Royalties (before increase)
    907
    1,061
    1,241
    1,452
    Dengan demikian, berikut adalah nilai tambahan royalti yang harus dibayarkan oleh UNVR, setelah terjadinya transaksi peningkatan pembayaran royalti kepada UBV:
    Year
    2012
    2013
    2014
    2015
    Royalties (after increase)
    907
    1,515
    2,305
    3,319
    Royalties (before increase)
    907
    1,061
    1,241
    1,452
    Difference
    0
    455
    1,064
    1,867
    Kesimpulannya, besarnya tambahan biaya yang harus dibayarkan oleh UNVR karena adanya transaksi peningkatan royalti ini kemungkinan mencapai Rp455 milyar di tahun 2013, Rp1.1 trilyun di tahun 2014, dan Rp1.9 trilyun di tahun 2015.
    Oke, sekarang kita ke proyeksi laba operasional dan laba bersih perusahaan. Dalam lima tahun terakhir, operating profit margin (OPM) UNVR selalu terjaga di level 22.5%, sehingga berikut adalah proyeksi laba operasional UNVR hingga tahun 2015 mendatang.
    Year
    2012
    2013
    2014
    2015
    Operating Profit
    6,103
    7,141
    8,355
    9,775
    Proyeksi diatas adalah jika royalti yang dibayarkan UNVR kepada UVB tetap berada di level 3.5%. Sementara jika royalti tersebut naik secara bertahap seperti yang sudah disebutkan diatas, maka proyeksi atas laba operasional ini harus dikurangi oleh tambahan biaya yang timbul karena peningkatan royalti tadi. Dan berikut hasilnya.
    Year
    2012
    2013
    2014
    2015
    Op. Profit (before added royalties)
    6,103
    7,141
    8,355
    9,775
    Added royalties
    0
    455
    1,064
    1,867
    Op. Profit (after added royalties)
    6,103
    6,686
    7,291
    7,908
    Terakhir, tarif Pajak Penghasilan (PPh) yang harus dibayarkan UNVR adalah sekitar 25% dari laba sebelum pajak (atau dalam hal ini laba operasional, karena UNVR hampir tidak memiliki beban atau pendapatan non operasional selain pajak). Dengan demikian, berikut adalah proyeksi laba bersih UNVR jika royalti tidak dinaikkan, dibandingkan dengan proyeksi jika royalti dinaikkan.
    Year
    2012
    2013
    2014
    2015
    Net Profit (before added royalties)
    4,577
    5,355
    6,266
    7,331
    Net Profit (after added royalties)
    4,577
    5,015
    5,468
    5,931
    Difference
    0
    341
    798
    1,400
    Nah, dari tabel terakhir diatas, tampak cukup jelas bahwa pasca transaksi peningkatan pembayaran royalti, maka potensi perolehan laba bersih UNVR di tahun 2013 akan berkurang sekitar Rp341 milyar, dan pengurangan tersebut akan meningkat menjadi sekitar Rp1.4 trilyun di tahun 2015. Akibatnya, proyeksi CAGR UNVR dari sisi laba bersih juga akan turun dari 17.0% (jika diasumsikan bahwa CAGR laba bersih UNVR sama dengan CAGR pendapatannya) menjadi hanya 9.0%. Kalau dilihat dari sini, maka tindakan para analis yang men-downgrade UNVR cukup beralasan. Kalau peningkatan royalti tadi hanya dari 3.5% ke 5.0%, maka mungkin efeknya tidak akan terlalu terasa. Tapi sayangnya, peningkatannya mencapai 8.0%.
    Meski demikian, seperti yang bisa anda lihat diatas, UNVR akan tetap mencatat pertumbuhan laba bersih yang cukup baik meski lebih lambat dari proyeksi sebelumnya. Penulis katakan cukup baik, karena proyeksi pertumbuhan sebesar 9.0% tadi bisa dicapai disaat UNVR secara rutin membagikan seluruh laba bersihnya sebagai dividen setiap tahun. Yup, sejatinya UNVR ini sudah mature dan juga sudah tidak punya rencana pengembangan usaha apapun, tapi toh dia masih tumbuh juga. Dan jika mempertimbangkan bahwa CAGR laba bersih UNVR sepanjang 2007 – 2011 mencapai 28.4% dan bukannya 17.0%, maka pertumbuhan laba bersih UNVR pada periode 2012 – 2015 bisa lebih tinggi dari 9.0% tadi.
    Sementara terkait sahamnya, jika mempertimbangkan bahwa UNVR selama ini merupakan perusahaan yang sangat-sangat bagus dengan ROE mencapai 90 – 100%, maka sahamnya tetap layak untuk dilirik, hanya saja penilaian atas harga wajar sahamnya perlu sedikit diturunkan karena proyeksi pertumbuhan perusahaan menjadi lebih terbatas pasca rencana peningkatan pembayaran royaltinya. Jika sebelumnya UNVR ini layak dihargai pada PER diatas 30 kali, yang itu berarti 20,000 keatas, maka sekarang ini posisi masuk yang ideal untuk UNVR adalah sekitar 16,000, dimana posisi tersebut mencerminkan PER 25 kali.
    Kesimpulannya, kemungkinan akan ada koreksi lanjutan pasca penurunan dua hari berturut-turut kemarin, karena memang biasanya kalau sebuah saham sudah anjlok begini, selanjutnya dia butuh waktu untuk pulih kembali. Dalam waktu dekat ini, UNVR mungkin akan sekali-kali naik karena technical rebound, namun trend-nya kemungkinan akan tetap bergerak kebawah. Tapi jika nanti sudah ketemu bottom-nya (mungkin di kisaran 16,000-an tadi), maka selanjutnya perlahan tapi pasti UNVR akan naik kembali.
    Jadi kalau bagi anda investor yang belum sempat memegang UNVR ini, maka ini justru merupakan kesempatan yang sangat baik, tinggal tunggu saja masuknya di harga berapa. Karena jika anda masih ingat, dulupun saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) sempat tiba-tiba saja jeblok dari 4,000 ke 3,200 hanya dalam dua hari, dan selanjutnya dia terus turun sampai mentok di 2,200. Tapi sekarang? PGAS sudah kokoh di 4,500-an kembali. Sekedar info, PGAS juga merupakan perusahaan dengan fundamental yang sangat baik, meski belum sebaik UNVR.
    Dan karena UNVR ini merupakan saham bluchip dengan likuiditas yang sangat encer, maka anda para investor/trader dengan jumlah dana diatas rata-rata bisa ikut membeli saham ini, tanpa perlu merasa khawatir bakalan susah untuk keluarnya nanti.
    PT Unilever Indonesia, Tbk
    Rating kinerja pada 9M12: S
    Rating saham pada 20,350: BBB
    NB: Bagi anda yang tertarik untuk invest di UNVR ini selama satu tahun, I have the strategy for a potential profit of 20 – 40% or more, with a relatively low risk. Keterangan lebih lanjut, kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Unilever’.

    Penulis membuat buku kumpulan analisis dan strategi dari 30 saham di BEI yang sudah diseleksi/dipilih secara fundamental. Anda bisa memperolehnya [...]

    Fiscal Cliff & IHSG

    Dalam beberapa minggu terakhir ini, anda pasti sudah familiar dengan judul artikel diatas: Fiscal Cliff, atau disebut juga jurang fiskal. Istilah fiscal cliff tersebut tiba-tiba saja mengemuka ke publik dan menjadi populer belakangan ini, setelah Barack Obama memenangkan Pilpres Amerika Serikat (AS) pada tanggal 6 November 2012. Tapi jika dipelajari lebih lanjut, ‘kasus’ fiscal cliff ini berpangkal pada salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Presiden AS, dalam hal ini George W. Bush, pada tahun 2001, atau hampir 12 tahun yang lalu alias sudah cukup lama. Nah, disini kita akan merunut kronologisnya.

    The story began in 2001, dimana ketika itu (tepatnya Juni 2001) Presiden Bush menandatangani Undang-Undang (Act) tahun 2001 tentang Pajak. Secara umum, Undang-Undang ini menurunkan tarif pajak bagi banyak warga AS, dan melonggarkan kriteria bagi para penerima tunjangan pensiun (sehingga jumlah penerima tunjangan pensiun menjadi lebih banyak). Tujuan dari pemberlakuan Undang-Undang tersebut adalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi AS. Pada tahun 2003, tepatnya pada Mei 2003, Presiden Bush kembali menandatangani Undang-Undang tahun 2003, yang intinya sama: Menurunkan tarif pajak, dan kali ini tujuannya adalah untuk meningkatkan lapangan pekerjaan. Kedua Undang-Undang tersebut (Act 2001 dan 2003) lebih dikenal sebagai ‘Bush tax cuts’, dan dijadwalkan akan habis masa berlakunya pada tahun 2010.
    Meski kedua Undang-Undang diatas memiliki tujuan positif, yakni untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan lapangan pekerjaan, namun ada implikasinya. Para ekonom dan peneliti di Heritage Foundation sempat menerbitkan laporan bahwa pemberlakuan kedua Undang-Undang diatas akan menyebabkan ‘ledakan’ jumlah utang AS dan juga menyebabkan defisit dari tahun ke tahun, karena berkurangnya pendapatan negara dari pajak dan juga meningkatnya anggaran belanja negara (untuk dana pensiun tadi).
    Karena itulah ketika tahun 2010 akhirnya tiba, dimana ketika itu Bush tax cuts akan segera habis masa berlakunya, terjadi perdebatan sengit diantara para politisi AS terkait apakah kebijakan tax cuts tersebut akan dilanjutkan atau tidak, dan jika dilanjutkan, gimana caranya? Karena peningkatan utang dan defisit yang terjadi pada neraca pembayaran AS tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Hingga akhirnya, pada tanggal 16 Desember 2010, Kongres Senat dan DPR AS menyetujui Undang-Undang tahun 2010, yang sehari kemudian ditanda tangani oleh Presiden Obama. Undang-Undang tersebut pada intinya sama saja dengan Bush tax cuts, yakni penurunan tarif pajak. Hanya bedanya, jika Bush tax cuts lebih dikenakan bagi warga AS kelas atas, maka ‘Obama tax cuts’ ini lebih dikenakan bagi warga AS kelas menengah dengan penghasilan kurang dari US$ 250 ribu per tahun. Sementara warga AS yang kaya raya kembali membayar pajak yang cukup tinggi.
    Namun kebijakan Obama di tahun 2010 tersebut tidak menghasilkan solusi atas meningkatnya defisit dan jumlah utang AS, melainkan hanya menundanya sampai masa berlaku Undang-Undang tahun 2010 tersebut berakhir, yakni di bulan Desember 2012 alias sekarang. Secara keseluruhan, pemberlakuan Undang-Undang tahun 2010 telah memberikan dampak moneter (utang) sebesar US$ 858 milyar terhadap perekonomian AS. Jadi pertanyaannya sekarang, apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah AS untuk mengembalikan dana sebesar US$ 858 milyar tersebut? Atau mungkin, bagaimana jika ‘bom waktunya’ kembali ditunda meledaknya hingga dua atau tiga tahun mendatang?
    The Congressional Budget Office (CBO) atau Kantor Anggaran Kongres AS telah memberikan dua opsi pada Senat, DPR, dan Pemerintah AS. Opsi pertama, kebijakan fiscal cliff harus diberlakukan, dimana pajak akan kembali dinaikkan dan anggaran belanja negara akan dikurangi. Jika opsi ini yang dipilih, maka berikut ini adalah beberapa implikasinya:
    1. Dalam jangka panjang, defisit AS akan berkurang dari 8.5% dari PDB di tahun 2011, menjadi hanya 1.2% di tahun 2021
    2. Di tahun 2021 tersebut, pendapatan negara akan meningkat menjadi 24% dari PDB, dibanding sebesar 18% pada saat ini
    3. Dalam sepuluh tahun kedepan, alias hingga tahun 2021, utang AS ‘hanya’ akan meningkat sebesar US$ 7 trilyun, dimana jika fiscal cliff ini tidak diberlakukan, maka peningkatan utang yang terjadi akan mencapai US$ 10 – 11 trilyun
    4. Terkait poin no. 3, maka utang AS hanya akan naik dari 69% PDB pada tahun 2011, menjadi 84% pada tahun 2035.
    5. Pada tahun 2013 alias dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi AS akan tertekan dari 1.1% menjadi hanya 0.5%. Skenarionya, di semester pertama 2013 pertumbuhan ekonomi AS akan turun 1.3%, namun di semester kedua akan berbalik naik sebesar 2.3%.
    Intinya, jika kebijakan fiscal cliff diberlakukan, maka dampaknya akan negatif dalam jangka pendek (tahun 2013, alias sebentar lagi), namun positif dalam jangka panjang (tahun 2021 dan selanjutnya).
    Opsi kedua, kebijakan tax cuts diperpanjang, dimana pajak tidak jadi dinaikkan dan anggaran belanja negara juga tidak jadi dikurangi. Jika opsi ini yang dipilih, maka berikut adalah beberapa implikasinya:
    1. Pendapatan negara akan tetap sebesar 18% dari PDB pada tahun 2021 mendatang
    2. Utang AS akan meningkat dari 69% PDB pada tahun 2011, menjadi 100% pada tahun 2021, dan 190% pada tahun 2035. Jika ini terjadi, maka AS dipastikan akan menyusul beberapa negara di Eropa seperti Yunani dan Spanyol, yang saat ini tengah terlilit krisis utang
    3. Dalam jangka pendek, yakni pada tahun 2013 mendatang, perekonomian AS akan baik-baik saja alias akan tumbuh seperti biasanya, yakni sekitar 1.7 – 2.0% dalam setahun. Unemployment rate juga akan tetap terjaga di level 8.0%, dan tidak akan memburuk menjadi 9.1% jika fiscal cliff diberlakukan.
    Intinya, kebijakan untuk memperpanjang tax cuts akan memberikan dampak positif dalam jangka pendek (tahun 2013, alias sebentar lagi), namun negatif dalam jangka panjang (tahun 2021 dan selanjutnya).
    Jadi pertanyaannya sekarang, kebijakan manakah yang akan dipilih oleh Obama dkk? Of course, kita cuma hanya menunggu tanpa bisa menebak-nebak. Deadline dari keluarnya keputusan soal apakah kebijakan fiscal cliff atau tax cuts ini yang dipilih, adalah pada tanggal 31 Desember 2012 mendatang, atau sekitar tiga minggu lagi. Tapi sembari menunggu, mari kita cek pengaruh dari setiap keluarnya kebijakan Pemerintah AS terkait pajak ini terhadap market, dalam hal ini pergerakan indeks saham.
    Fiscal Cliff, Debt Ceiling, Dow Jones, dan IHSG
    Cerita soal fiscal cliff ini sedikit banyak mirip dengan cerita berjudul ‘Debt Ceiling Crisis’, yang sempat melanda Amerika pada Juni 2011. Ketika itu permasalan yang terjadi juga masih seputar utang, dimana Amerika dihadapkan pada dua pilihan: 1. Meningkatkan plafon utang untuk menghindari gagal bayar/default, atau 2. Membayar utang dengan cara meningkatkan pajak dan memotong anggaran belanja negara. Jika opsi pertama yang dipilih, maka itu sama seperti menunda waktu meledak dari ‘bom utang’, dimana defisit dan jumlah utang AS akan meningkat signifikan. Namun sisi positifnya, dalam jangka pendek perekonomian AS akan baik-baik saja. Sementara jika opsi kedua yang dipilih, maka itu sama seperti fiscal cliff yang sudah kita bahas diatas: AS akan mengalami pertumbuhan ekonomi minus, namun defisit dan kenaikan jumlah utang AS akan berkurang, dimana hal itu bagus untuk jangka panjang.
    Seperti cerita fiscal cliff yang sedang terjadi pada saat ini, ketika itu juga sempat terjadi perdebatan di kongres terkait debt ceiling. Hingga akhirnya pada Agustus 2011, keluar keputusan bahwa opsi yang dipilih adalah opsi pertama, dimana dipastikan bahwa perekonomian AS akan tetap tumbuh dalam jangka pendek. Secara teori, seharusnya hal itu direspon positif oleh pasar (karena tidak terjadi kenaikan pajak atau pemotongan subsidi dan tunjangan seperti yang dikhawatirkan). Namun faktanya, setelah salah satu lembaga pemeringkat terkemukan di dunia, Standard & Poor’s (S&P), menurunkan rating utang AS, Dow Jones langsung jatuh berantakan, hanya dalam empat hari setelah Undang-Undang terkait debt ceiling ditandatangani (oleh Presiden Obama). Penurunan Dow ketika itu langsung diikuti oleh hampir seluruh indeks saham di seluruh dunia, termasuk IHSG. Anda mungkin masih ingat koreksi besar yang melanda IHSG pada Agustus – September 2011 lalu.
    Nah, dengan asumsi bahwa model kebijakan yang dipilih Obama kali ini adalah kembali fokus pada tujuan jangka pendek, maka opsi kebijakan fiscal cliff tidak akan dipilih, sehingga tetap tidak ada kenaikan pajak ataupun pemotongan tunjangan pensiun bagi warga Amerika. Meski begitu, market tetap akan jatuh karena kekhawatiran akan meningkatnya defisit Amerika, yang mungkin akan ditandai dengan penurunan rating utang oleh salah satu dari Moody’s atau Fitch (soalnya S&P sudah), ataupun hal lainnya. Hanya memang, menurut penulis yang menjatuhkan bursa-bursa saham diseluruh dunia ketika itu adalah penurunan rating utang AS oleh S&P, dan bukan karena keputusan debt ceiling-nya. Artinya, jika nanti Obama lebih memilih untuk memperpanjang tax cuts dan menghindari fiscal cliff, maka pergerakan market, entah itu tetap bergerak normal atau terkoreksi, akan bergantung pada apa yang akan terjadi selanjutnya.
    Sebaliknya, jika kebijakan fiscal cliff diberlakukan, maka market akan langsung jatuh tanpa perlu menunggu peristiwa apapun lagi. Karena jika fiscal cliff yang dipilih, maka bisa dipastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika akan negatif pada Semester Pertama 2013.
    Lalu bagaimana dengan isu-isu lokal yang mungkin juga berpotensi terhadap pergerakan bursa lokal alias IHSG? Untungnya (atau sayangnya?) isu-isu politik di dalam negeri lebih diwarnai oleh kasus-kasus korupsi atau nikah kilat yang dilakukan oleh politisi tertentu, ketimbang isu perdebatan penyusunan Undang-Undang oleh para anggota DPR (yang mungkin itu karena para anggota dewan lebih suka jalan-jalan keluar negeri ketimbang bikin Undang-Undang). Dan setiap kali KPK menetapkan status tersangka terhadap kader-kader partai tertentu, sejauh ini hal itu tidak berdampak apapun terhadap market.
    Sementara terkait isu ekonomi, boleh dibilang juga tidak ada cerita apa-apa kecuali beberapa isu kecil terkait kenaikan upah minimum buruh dan defisit neraca perdagangan. Penulis katakan isu kecil, karena secara keseluruhan perekonomian Indonesia relatif masih bagus (meski, kalau boleh jujur, tidak sebagus Singapura, India, atau Tiongkok), dan selama ini faktor-faktor yang mempengaruhi bursa lebih merupakan faktor luar ketimbang faktor dalam negeri. Termasuk ketika terjadi koreksi super-besar di tahun 2008 lalu, penyebabnya juga karena krisis mortgage di Amerika, sementara di dalam negeri sebenarnya tidak terjadi krisis apa-apa. Jadi dalam hal ini, maka mau tidak mau kita harus mencermati perkembangan soal fiscal cliff ini, ketimbang mengamati isu-isu lokal (karena memang tidak ada yang signifikan).
    Namun satu hal, pertanyaan terkait terjadinya koreksi pada IHSG mungkin bukanlah soal apakah koreksi itu akan terjadi ataukah tidak, melainkan kapan. Secara fundamental, valuasi saham-saham di BEI sudah cukup tinggi, sementara dana asing yang masuk ke bursa juga sudah cukup banyak, yakni mencapai Rp14.2 trilyun sepanjang tahun 2012 hingga ketika artikel ini ditulis (bayangkan apa yang terjadi jika dana sebesar itu ditarik keluar dari pasar?). Jadi sekarang? Ya tinggal tunggu pemicunya saja, karena IHSG juga sudah susah untuk naik ke posisi psikologis baru, katakanlah 4,500 atau diatasnya. Dan entah kebetulan atau tidak, pemicu itu saat ini memang sudah ada, tinggal menunggu waktu meledaknya. Nama pemicu tersebut adalah: ‘Fiscal Cliff’. Dan jangan lupakan juga: Krisis Spanyol (just because the media doesn’t talk about itu, doesn’t mean the crisis is over).
    NB: Mulai Desember ini penulis menghadirkan layanan baru, yakni layanan konsultasi saham. Keterangan lebih lanjut bisa dilihat [...]

    Waskita Karya

    Waskita Karya (Waskita) akan menjadi perusahaan BUMN keempat dalam tiga tahun terakhir yang melantai di bursa, setelah Bank BTN (BBTN), Krakatau Steel (KRAS), dan Garuda Indonesia (GIAA). Dan seperti juga IPO-IPO BUMN sebelumnya, selalu ada cerita menarik yang mengiringi pelaksanaan IPO tersebut. Untuk Waskita, cerita itu adalah berkaitan dengan statusnya sebagai perusahaan yang ‘bangkit dari kubur’, dimana Waskita dulunya merupakan perusahaan yang sakit, atau bahkan boleh dikatakan sudah mati, karena kasus penggelembungan aset yang terjadi di masa lalu. Barulah setelah melalui restrukturisasi yang dilakukan oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA), sebuah BUMN yang secara khusus menangani aset-aset bermasalah milik negara, Waskita mulai menggeliat kembali. Restrukturisasi tersebut dilaksanakan pada tahun 2010 lalu, dimana PPA menyuntikkan modal sebesar Rp475 milyar kedalam kas Waskita.

    Setelah dipegang oleh PPA, Waskita perlahan tapi pasti mulai menunjukkan perbaikan kinerja, minimal itu bisa dilihat dari pendapatannya yang terus naik sejak tahun 2010 lalu. Saldo defisit yang disebabkan oleh akumulasi kerugian di masa lalu juga terus berkurang. Meski demikian, kehadiran PPA tidak serta merta menjadikan Waskita bersih dari berbagai kasus. Terakhir, Waskita, bersama dengan dua BUMN konstruksi lainnya yakni Adhi Karya (ADHI), dan PP (PTPP), masih bermasalah dengan kasus suap di pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau. Pada tanggal 28 November kemarin, Pengadilan Negeri Pekanbaru menyelenggarakan sidang tipikor yang menghadirkan Trihartanto, Kepala Cabang Waskita Riau, sebagai saksi, dimana Trihartanto mengatakan bahwa mantan Kadispora Riau yang menjadi terdakwa, Lukman Abbas, pernah meminta uang dua kali kepada perusahaan, masing-masing sebesar Rp200 dan 500 juta, sebagai pelicin untuk penambahan anggaran PON.
    Nah, mendengar kabar tersebut, penulis langsung ingat dengan tuduhan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang mengatakan bahwa BUMN sering menjadi ‘sapi perah’ bagi para anggota DPR di Senayan. Dan setelah menonton acara Indonesia Lawyer’s Club semalam, penulis baru ngerti juga kalau yang punya hobi ‘memerah’ BUMN ternyata nggak cuma anggota dewan saja, melainkan juga elit eksekutif, Pemda, aparat penegak hukum, dll. Intinya, BUMN seringkali menjadi sapi perah bagi siapapun yang memiliki kesempatan untuk memerah BUMN yang bersangkutan. Ibaratnya seperti ketika seseorang membuka warung makan di sebuah pasar tradisional, maka orang tersebut harus siap-siap menyisihkan sebagian penghasilan untuk japrem alias jatah preman.
    Masalahnya kalau untuk BUMN, ‘preman-preman’ yang minta jatah ini jumlahnya kelewat banyak. Apalagi untuk BUMN konstruksi yang sumber pendapatannya berasal dari proyek-proyek infrastruktur milik pemerintah, dimana sudah menjadi rahasia umum bahwa kalau mau proyeknya lancar, maka BUMN yang bersangkutan harus menyediakan japrem dalam jumlah yang tidak sedikit, minimal bagi petinggi Pemda setempat.
    Jadi dalam hal ini, ketika sebuah BUMN terlibat kasus hukum tertentu (biasanya kasus korupsi), maka biasanya BUMN tersebut berposisi sebagai korban, bukan pelaku. Tapi mau si BUMN ini berstatus sebagai korban kek, atau pelaku kek, ujung-ujungnya tetap saja merugikan perusahaan. Dan mungkin ini sebabnya kalau anda perhatikan dan analisis empat emiten konstruksi yang sahamnya cukup likuid di bursa, yakni ADHI, PTPP, Wijaya Karya (WIKA), dan Total Bangun Persada (TOTL), maka yang kinerja fundamentalnya paling bagus dan juga paling konsisten adalah TOTL. Dan coba tebak? TOTL adalah satu-satunya perusahaan konstruksi swasta dari keempat perusahaan konstruksi diatas. Penulis kira, TOTL juga bukannya bebas 100% dari berbagai jebakan japrem. Namun mengingat bahwa TOTL lebih banyak mengerjakan proyek-proyek konstruksi milik swasta dan bukannya Pemerintah, maka mungkin gangguan japrem tersebut tidak sebesar yang dialami perusahaan konstruksi lain yang berstatus sebagai BUMN.
    Lalu bagaimana dengan Waskita? Sayangnya kita tidak akan pernah tahu apakah BUMN ini mengalami masalah ‘beban yang tidak seharusnya dikeluarkan’ seperti yang sudah kita bahas diatas ataukah tidak, karena di laporan keuangannya sudah tentu tidak mungkin ada account ‘beban japrem’. Namun yang jelas, berikut ini adalah perbandingan kinerja perusahaan dengan TOTL, untuk periode First Half 2012 (1H12) lalu, angka dalam persentase. Kita pakai LK 1H12, karena Waskita belum merilis LK untuk periode Sembilan Bulan 2012:
    Company
    ROA
    ROE
    OPM
    Net Profit Growth
    TOTL
    9.3
    28.3
    13.3
    42.4
    Waskita
    1.3
    11.4
    5.5
    195.3
    Nah, kalau dilihat dari data diatas, maka tampak bahwa Waskita secara fundamental kalah telak dibanding TOTL. Kenaikan laba bersih Waskita yang mencapai hampir tiga kali lipat menjadi tidak berarti mengingat itu adalah karena kecilnya laba bersih Waskita di tahun 2011 lalu (Rp13 milyar).
    Dan kalau kita perhatikan tujuan Pemerintah meng-IPO-kan Waskita ini, itu bukanlah karena Waskita memiliki ekspansi jangka panjang dan membutuhkan dana untuk itu (soalnya 60% dana IPO-nya akan dipakai untuk membiayai proyek-proyek yang sudah berjalan, sementara sisanya untuk modal kerja yang ‘biasa saja’). IPO Waskita ini lebih merupakan kelanjutan dari upaya perbaikan kinerja perusahaan yang dimulai sejak tahun 2010 lalu. Harapannya dengan menjadi perusahaan terbuka, maka Waskita minimal menjadi lebih transparan terhadap publik, dan juga memiliki kinerja yang lebih baik, karena perusahaan bertanggung jawab tidak hanya kepada Pemerintah namun juga kepada pemegang saham publik. Jadi dalam hal ini, jika anda beli saham Waskita, maka anda berposisi sebagai ‘penerus’ dari PPA dalam kapasitasnya sebagai pengawas dan pendorong perusahaan untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik di masa mendatang. PPA sendiri terhitung sejak tanggal 20 Oktober 2012 kemarin sudah tidak lagi menjadi pemegang saham di Waskita, dimana 100% kepemilikan saham Waskita dikembalikan kepada Pemerintah.
    Masalahnya, anda sebagai pemegang saham publik tentu tidak bisa memegang kepemilikan yang cukup substansial di Waskita, melainkan hanya minoritas. Artinya? Anda tidak bisa menjadi pengawas perusahaan seperti hal-nya PPA, bahkan meski anda berniat untuk vokal jika ikut RUPS-nya nanti. Alhasil, anda hanya bisa mengikuti arah kinerja perusahaan (seperti juga jika kita invest secara ritel pada saham-saham lainnya di bursa), dimana jika hasilnya bagus, maka anda akan untung. Tapi jika kinerja Waskita masih saja buruk, maka anda akan rugi.
    Dan masalahnya lagi, kalau berkaca pada tiga BUMN terakhir yang melantai ke bursa, yakni BBTN, KRAS, dan GIAA, hingga sekarang kinerja mereka masih saja belum cukup baik, which means keputusan Pemerintah untuk meng-IPO-kan perusahaan BUMN tidak atau belum berdampak substansial pada performa perusahaan. Penulis katakan belum, karena kalau kita lihat BUMN-BUMN yang sudah IPO sejak lama, katakanlah BBRI, SMGR, dan JSMR, kinerja mereka pada saat ini terbilang sudah cukup bagus (tapi butuh waktu berapa lama?).
    Oke, jadi kesimpulannya secara fundamental Waskita ini nggak menarik ya? Yap, kurang lebih begitu. Tapi kenapa kok IPO-nya seperti sangat ramai diperbincangkan di publik, dan permintaan akan sahamnya juga sangat tinggi? Ya namanya juga iklan. Secara nilai IPO-nya juga lumayan besar, yakni diatas Rp1 trilyun. Jadi ya pasti underwriter-nya punya cukup modal untuk membuat Waskita ini tampak cantik. Timing pelaksanaan IPO-nya juga cukup tepat, yakni ketika saham-saham konstruksi hampir semuanya naik signifikan, sehingga sebagian investor pasti berpendapat bahwa Waskita berpeluang untuk mengalami hal yang sama, dan inilah yang membuat saham ini menjadi ramai diperbincangkan dan terkesan jadi rebutan banyak orang.
    Terakhir, soal sahamnya, Waskita akan melepas 35% sahamnya pada rentang harga Rp320 – 405 per saham. Kita ambil tengahnya, 350, maka Waskita akan mencatat market cap awal Rp2.8 trilyun. Dari sisi PER, dimana Waskita mencatat laba bersih Rp37 milyar di First Half 2012, sementara jumlah saham disetor perusahaan setelah IPO adalah 8.8 milyarlembar, maka annualized EPS Waskita adalah 37 x 2 / 8.8 = Rp8.4 per saham. Maka PER-nya? 350 / 8.4 = 41.7 kali. Well, what d’ya think? Bahkan PER ADHI, WIKA, dan PTPP saja tidak sebesar itu (coba anda cek sendiri), padahal saham mereka sekarang ini lagi tinggi-tingginya.
    Nah, mungkin karena tahu persis bahwa valuasi Waskita akan sangat mahal bila menggunakan kinerja keuangan terbarunya, maka beberapa analis kemudian menghitung PER Waskita berdasarkan proyeksi kinerja perusahaan di masa mendatang, dalam hal ini tahun 2013, untuk menjustifikasi bahwa saham Waskita sebenarnya nggak semahal itu, sehingga sahamnya masih layak beli. Tapi yah, itu sama saja seperti anda membeli seekor anak kambing pada harga seekor kambing dewasa, if you know what I mean.
    Jika dibandingkan dengan Wismilak, maka secara fundamental IPO perusahaan rokok tersebut relatif lebih menarik. Namun, tolong garis bawahi kata ‘secara fundamental’ tadi. Karena kalau secara spekulasi, apapun bisa terjadi.
    PT Waskita Karya (Persero), Tbk
    Rating Kinerja pada 1H12: BBB
    Rating saham pada 350: B
    NB: Investor Bulletin edisi Desember 2012 sudah terbit tanggal 2 Desember kemarin, dimana didalamnya termasuk membahas analisa ‘Fiscal Cliff’. Anda masih bisa memperolehnya [...]

    Wismilak Inti Makmur

    Beberapa waktu lalu, seorang teman penulis, sebut saja namanya A, bercerita tentang salah satu pengalamannya yang berkaitan dengan rokok ketika ia kuliah di Newcastle, Inggris. Jadi ketika ia sedang bersama dengan seorang temannya di sebuah ruang terbuka, ia menyalakan rokok favoritnya yang ia bawa dari Indonesia: Gudang Garam Surya, setelah sebelumnya tak lupa menawarkan rokok tersebut. Dan ternyata temannya yang orang bule  langsung terkesima setelah menghisap rokok tersebut, hingga kemudian ia bertanya, ‘The flavor’s very strong! Is this some kind of marijuana?’ Dan A menjawab, ‘No man, this is what had made you and your Dutch friends came to my country some centuries ago. We call it, cengkeh!


    A melanjutkan ceritanya, dimana menurutnya rokok di Inggris rasanya sangat hambar, hampir tidak ada bedanya dengan kertas yang digulung kemudian dibakar. Sementara ketika teman-temannya yang orang Inggris mencoba rokok GG Surya yang ia bawa dari Indonesia, mereka kemudian menunjukkan reaksi seperti baru saja menghisap obat bius. A mengatakan, untung gua cuma bawa rokok filter.. Bayangin apa jadinya kalo mereka gua kasih jisamsu!

    Nah, penulis kebetulan bukan seorang perokok. Namun hasil diskusi dari teman-teman yang merokok menunjukkan bahwa kenapa bisnis rokok di Indonesia bisa berkembang pesat, salah satunya adalah karena kepiawaian perusahaan-perusahaan rokok dalam meracik ‘resep rahasia’ yang menyebabkan rokok yang mereka produksi memiliki rasa dan aroma yang sangat enak, dimana cengkeh biasanya merupakan salah satu bagian dari resep rahasia tersebut. Dua produsen rokok terbesar di Indonesia yakni HM Sampoerna (HMSP) dan Gudang Garam (GGRM), mereka bisa sukses dan menjadi besar karena resep yang mereka miliki pada varian rokok A Mild, Dji Sam Soe, dan Gudang Garam Surya, yang kemudian menjadi tiga merk rokok terlaris di Indonesia. Saking pentingnya masalah resep rahasia rokok ini, sampai-sampai ada rumor bahwa jika anda bisa meracik dan menilai rasa rokok dengan baik, maka anda bisa langsung dianggap sebagai saudara oleh si pemilik perusahaan rokok yang bersangkutan!

    Namun, disini kita bukan akan membahas soal Sampoerna ataupun Gudang Garam, melainkan perusahaan rokok yang akan IPO di bursa sebentar lagi: Wismilak. Nah, meski merk rokok Wismilak sepertinya tidak kalah populer dengan Sampoerna, Gudang Garam, atau Djarum, namun faktanya Wismilak hanyalah perusahaan rokok kecil dengan pangsa pasar sekitar 1% pada tahun 2011 (sementara tiga perusahaan rokok diatas menguasai total 65% pangsa pasar rokok Indonesia). Meski demikian, beberapa merk rokok yang diproduksi perusahaan sudah memiliki pelanggan setianya sendiri, dimana para pelanggan ini sudah ‘pas’ dengan cita rasa rokok yang dihasilkan (katanya, kalau seorang perokok sudah merasa klop dengan satu merk rokok, maka dia tidak akan ganti merk sampai kapanpun). Dua merk populer dari Wismilak adalah Wismilak Diplomatdan Galan. Dan setelah berkiprah selama kurang lebih 50 tahun di industri rokok nasional, perusahaan rokok asal Jawa Timur ini akhirnya ikut listing ke bursa. Wismilak dijadwalkan akan listing perdana pada tanggal 18 Desember 2012. Sekarang, mari kita lihat perusahaannya dan juga prospeknya.

    Sejarah Wismilak dimulai pada tahun 1963, dimana duet pengusaha Lie Koen Kie (Wisman Ali) dan Oei Bian Hok (Budiono Widjajadi) mendirikan PT Gelora Djaja (Gelora), yang memproduksi rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT) dengan lokasi produksi di Petemon, Surabaya, dengan merk rokoknya ketika itu ‘Wismilak Kretek Special’. Tuan Lie adalah suami dari Liem Sien Nio (Sinta Dewi Sampoerna), yang merupakan putri ketiga dari pengusaha rokok legendaris, Liem Seeng Tee, pendiri Grup Sampoerna.

    Pada tahun 1979, seiring dengan perkembangan perusahaan, didirikanlah PT Putri Gelora Jaya (Putri) sebagai perusahaan produsen kemasan rokok, dan juga PT Gawih Jaya (Gawih) pada tahun 1983, sebagai perusahaan distributor. Selanjutnya pada tahun 1988 – 1989, perusahaan mendirikan kompleks pabrik rokok seluas 18 hektar di Tandes, Surabaya, yang hingga kini menjadi pabrik utama perusahaan. Pada periode inilah, perusahaan mulai memproduksi rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM), salah satunya dengan merk Wismilak Diplomat, yang kemudian menjadi merk andalan perusahaan hingga saat ini. Pada tahun 1994, PT Wismilak Inti Makmur secara resmi didirikan untuk selanjutnya dijadikan sebagai holding company bagi Gelora dan Gawih, sementara Putri diletakkan diluar perusahaan.

    Selain memproduksi rokok, Wismilak juga memproduksi filter rokok yang dijual ke perusahaan rokok lain. Dan berbeda dengan pangsa pasar Wismilak Diplomat dkk yang hanya mencapai 1% dari pasar rokok nasional, produk filter rokok yang dihasilkan perusahaan memegang sekitar 25% pangsa pasar filter rokok di Indonesia, dan ini bagus mengingat trend rokok belakangan ini adalah rokok mild yang membutuhkan filter. Sayangnya, belum ada informasi rinci soal berapa kontribusi produk filter rokok ini terhadap pendapatan perusahaan.

    Dalam IPO-nya, Wismilak akan melepas 630 juta lembar saham ke publik, atau setara dengan 30% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan (dikurangi 3% untuk karyawan perusahaan, sehingga yang bisa diserap publik hanya 27%). Sedikitnya jumlah saham yang dilepas menyebabkan Wismilak berpotensi menjadi tidak likuid, sehingga kemungkinan saham ini hanya cocok bagi anda yang berniat menjadikannya sebagai investasi jangka panjang. Karena kalau kita lihat saham rokok lainnya di bursa seperti HMSP, meski dia tidak likuid namun toh dalam jangka panjang harganya terus saja naik, yang itu karena memang ditopang oleh fundamental yang sangat bagus, dan juga statusnya sebagai perusahaan rokok nomer satu di tanah air.

    Lalu apakah Wismilak memiliki historis kinerja sebagus HMSP? Sayangnya, tidak, dan sejujurnya ini diluar dugaan penulis. Pada First Half 2012, Wismilak memang mencatat kinerja cukup baik dengan laba bersih komprehensif Rp39 milyar, yang mencerminkan ROE 31.0%. Namun di masa lalu, Wismilak sempat dua kali merugi di tahun 2007 dan 2008, yang terutama karena besarnya pengeluaran termasuk pengeluaran untuk membayar bunga pinjaman bank. Untuk sebuah perusahaan yang baru berdiri dan juga baru memperkenalkan produknya ke konsumen, maka kerugian yang dialami di tahun-tahun pertama karena pendapatan yang diperoleh belum bisa mengimbangi biaya yang dikeluarkan, itu bisa dipahami. Tapi masalahnya, Wismilak kan bukan perusahaan baru? Perusahaan ini sudah berdiri sejak lama, dan juga sudah memiliki brand power yang kuat di mata konsumen. Jadi bagaimana mungkin kinerjanya malah seperti itu?

    Nah, kalau menurut penulis, kemungkinan Wismilak mencatat kinerja seperti itu karena pemiliknya pada saat ini bukanlah pemilik yang sepenuhnya sama dengan ketika perusahaan berdiri 50 tahun lalu, dimana perubahan kepemilikan di Wismilak mulai terjadi pada awal tahun 2000-an, dimana mungkin para pemilik baru ini masuk ke perusahaan dengan menggunakan utang (soalnya utang Wismilak tercatat lumayan besar untuk ukuran perusahaan consumer goods, dengan DER 1.5 kali pada First Half 2012, dan sebagian besar utang tersebut merupakan utang bank). Saat ini saham Wismilak dipegang oleh beberapa nama yang berasal dari tiga keluarga yang berbeda, yakni Keluarga Walla, Widjajadi, dan Winarko. Untuk keluarga Widjajadi, mereka memang pemilik lama perusahaan dan merupakan generasi ketiga dari salah satu pendiri perusahaan, Tuan Budiono Widjajadi. Namun dua nama lainnya yakni Walla dan Winarko, mereka baru masuk belakangan. Perubahan struktur kepemilikan saham yang terakhir terjadi pada Mei 2012 kemarin.

    Terkait perubahan kepemilikan perusahaan, hal itu masih terjadi hingga saat ini, dimana pada First Half 2012 (1H12) kemarin Wismilak mencatat pendapatan Rp13 milyar dari pelepasan entitas anak dan juga aset tetap. Jika tidak ada pendapatan sebesar Rp13 milyar tersebut, maka laba bersih Wismilak yang sebenarnya hanya Rp26 milyar, dan ROE-nya cuma 20.3%. Sekilas, angka 20.3% tersebut tampak masih cukup bagus. Namun jika mempertimbangkan bahwa ekuitas Wismilak pada 1H12 turun dibandingkan 1H11, dan aset yang dimiliki perusahaan juga jauh lebih besar ketimbang ekuitasnya, maka Wismilak terbilang kurang menguntungkan sebagai perusahaan rokok.

    Lalu terkait IPO, kemungkinan IPO ini juga merupakan bagian dari perubahan kepemilikan dan struktur aset perusahaan, dimana 50% dana hasil IPO akan  dipakai untuk pembelian aset tetap (belanja modal) sebagai ganti dari aset tetap yang dijual sebelumnya. Lalu, 30% untuk membiayai peningkatan operasional yang mengiringi penambahan aset tetap tadi, dan 20% buat bayar utang.

    Nah, dengan demikian, yang menjadi concern jika anda berniat invest di Wismilak ini adalah soal bagaimana profil dari pemegang saham mayoritas yang mengendalikan perusahaan, karena ini soal siapa yang menjadi ‘pembalapnya’, bukan ‘mobilnya’. Maksud penulis, percuma saja Ferrari merancang mobil Formula One dengan sebaik apapun, jika kemudian mereka menunjuk pembalap yang belum berpengalaman di ajang sekelas F1 untuk menjadi pengendaranya. Demikian pula dengan Wismilak, yang meski perusahaannya sangat bagus terutama dari sisi brand, namun tetap saja semuanya bergantung pada nakhodanya. Faktanya, tidak semua perusahaan rokok mencatat kinerja yang bagus. Bentoel Internasional Investama (RMBA), pemegang merk rokok Bentoel, hingga sekarang masih mencatat kinerja minus, karena buruknya pengelolaan perusahaan yang dilakukan oleh mantan pemiliknya di masa lalu, yaitu Grup Rajawali-nya Peter Sondakh (sekarang RMBA dipegang oleh British American Tobacco/BAT). Padahal, siapa yang tidak hafal dengan merk rokok Bentoel?

    Meski begitu, tetap saja tidak dapat dipungkiri bahwa bisnis rokok selalu memiliki prospek yang cerah di Indonesia. Dalam prospektus yang diterbitkan perusahaan, disebutkan bahwa risiko usaha utama yang dihadapi Wismilak adalah risiko ketersediaan bahan baku, kemudian baru risiko kebijakan pemerintah, dan risiko persaingan. Artinya, perusahaan memandang bahwa risiko penurunan kinerja yang diakibatkan oleh kenaikan cukai rokok, pelarangan iklan rokok oleh pemerintah, hingga risiko persaingan dengan brand-brand rokok lain yang lebih populer, itu tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Satu-satunya risiko yang bisa berpengaruh signifikan adalah jika suplai bahan baku (tembakau, cengkeh, dll) tiba-tiba berkurang, entah karena faktor musiman ataupun lainnya, yang bisa menaikkan harga bahan baku tersebut dan pada akhirnya meningkatkan biaya produksi. Untungnya, kita tahu bahwa belakangan ini harga bahan baku rokok khususnya cengkeh mulai berangsur normal, setelah sempat bergejolak pada awal tahun 2012 lalu. Namun satu risiko lagi yang perlu dicatat yaitu terkait faktor kurs Rupiah yang sedikit banyak juga berpengaruh terhadap biaya produksi, mengingat sekitar 20 – 25% bahan baku pembuatan rokok Wismilak berasal dari impor.

    Sementara terkait prospeknya, terdapat sentimen positif terkait kenaikan upah minimum provinsi (UMP) yang baru saja ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang biasanya akan disusul oleh daerah-daerah lainnya, dimana kenaikan gaji bagi buruh berarti akan ada duit lebih bagi si buruh ini buat beli rokok. Disisi lain, kenaikan UMP memang juga berpotensi mengurangi pendapatan Wismilak dan juga perusahaan rokok lainnya, karena untuk jenis rokok SKT, produksinya menggunakan sistem padat karya yang mempekerjakan banyak buruh. Tapi untungnya, trend produksi rokok belakangan ini terus bergeser ke arah rokok SKM yang diproduksi menggunakan mesin, sehingga kenaikan UMP ini tidak akan terlalu meningkatkan beban perusahaan, namun hampir pasti akan meningkatkan pendapatan.

    Oke, jadi berikut adalah beberapa hal yang bisa dicermati seputar Wismilak ini:

    1. Perusahaannya terbilang kecil, namun memiliki power of brand yang sangat kuat
    2. Sahamnya kemungkinan tidak akan likuid, sehingga hanya cocok untuk investasi long term (tapi itu jika perusahaannya bagus)
    3. Terkait poin no. 2, kinerja Wismilak dalam lima tahun terakhir ini masih belum sebaik perusahaan rokok yang sudah mapan, meski faktanya Wismilak merupakan perusahaan rokok yang mapan. Kemungkinan hal ini adalah karena perubahan kepemilikan perusahaan. Tapi jika yang diperhatikan adalah kinerja terakhirnya pada First Hal 2012 lalu, maka kinerja Wismilak sudah cukup baik
    4. Utang yang dimiliki Wismilak terbilang agak besar untuk ukuran perusahaan rokok
    5. Meski begitu, perusahaannya tipe konservatif (I like it!). Termasuk pelaksanaan IPO-nya juga biasa-biasa saja, tanpa emisi waran atau semacamnya.
    6. Secara umum, perusahaan tidak memiliki rencana pengembangan usaha secara khusus, kecuali terus meningkatkan produksi dan menjual rokok seperti biasanya saja (konservatif). Namun perusahaan juga akan mulai mengikuti trend pasar dengan mengembangkan rokok jenis mild.
    7. Risiko usahanya relatif rendah, tapi mungkin risiko terbesarnya justru yang berkaitan dengan perubahan kepemilikan perusahaan
    8. Prospeknya cukup cerah, terutama terkait kenaikan UMP buruh
    9. Kinerja perusahaan di laporan keuangan terakhirnya, yakni periode First Half 2012, terbilang tidak terlalu bagus untuk ukuran perusahaan consumer goods.

    Cukup soal perusahaannya, sekarang kita ke sahamnya. Saham IPO Wismilak direncanakan akan dijual pada harga Rp575 – 800 per saham, sehingga dengan demikian perusahaan akan meraup dana segar Rp362 – 504 milyar. Katakanlah jika sahamnya dilepas pada harga terendah yakni Rp575, maka ekuitas Wismilak akan menjadi Rp251 + 362 = 613 milyar (setelah dikurangi biaya emisi efek, bersihnya kita bulatkan saja menjadi Rp600 milyar). Jumlah saham ditempatkan dan disetor Wismilak akan menjadi 2.1 milyar lembar pasca IPO, sehingga market cap-nya adalah Rp1.2 trilyun, dan itu berarti PBV Wismilak pada harga 575 adalah 2.0 kali. Well, itu terbilang murah jika mempertimbangkan nama besar yang dimiliki Wismilak. Jika saham IPO-nya dijual pada harga 600-an, itu pun juga masih murah.

    Namun satu hal, valuasi Wismilak tidak atau belum bisa dihitung dari sisi PER, karena perolehan laba bersih perusahaan terbilang masih kecil, bias, dan juga belum konsisten, seiring dengan masih belum rampungnya proses restrukturisasi aset perusahaan. Pada laporan keuangan untuk periode tahun penuh 2012 nanti, Wismilak juga berpotensi mencatat penurunan laba bersih mengingat laba bersih perusahaan di tahun 2011 kemarin tercatat sangat besar yakni Rp149 milyar, yang terutama disebabkan penjualan aset tetap senilai Rp77 milyar dan pendapatan lain-lain sebesar Rp58 milyar (intinya bukan dari operasional perusahaan). Jadi kalau bagi penulis sendiri, Wismilak ini lebih cocok untuk dimasukkan kedalam daftar watchlist ketimbang langsung dibeli, mengingat kinerjanya belum sebagus nama besarnya. Kita lihat nanti bagaimana kinerja perusahaan pasca pengembangan usaha setelah IPO-nya.

    Terakhir, bagaimana prospek Wismilak ini jika untuk jangka pendek pasca IPO-nya nanti? Nah, disinilah saham ini tampak cukup menarik. Kalau mempertimbangkan sedikitnya jumlah saham yang dilempar ke publik (sehingga seharusnya bid-nya akan lebih banyak ketimbang offer-nya), valuasinya yang sekilas cukup murah, dan juga nama besar perusahaan, maka Wismilak berpotensi melejit sampai maksimal 1,000-an.

    Namun disisi lain, bukan tidak mungkin Wismilak tidak akan kemana-mana atau bahkan turun pasca listing perdananya, mengingat valuasi sahamnya tidak begitu murah kalau kinerjanya ditelaah secara lebih mendalam, dan saat ini terdapat beberapa sentimen negatif di industri rokok terkait kenaikan tarif cukai rokok, dan juga terkait rencana pemerintah untuk membatasi produksi rokok pada tahun 2015. Meski diatas disebutkan bahwa risiko terkait kebijakan Pemerintah hanya merupakan risiko nomor dua setelah risiko ketersediaan bahan baku, namun bukan tidak mungkin hal ini tetap akan ditanggapi secara negatif oleh pasar.

    Tapi yah, kalau kita perhatikan saham-saham rokok yang ada di bursa, mereka seperti tidak terpengaruh oleh sentimen negatif tersebut. Contohnya GGRM, yang meski laba bersihnya jelas-jelas turun, ketika artikel ini ditulis masih gagah di posisi 52,000-an. Jadi apakah Wismilak juga akan sukses pada IPO-nya nanti, ataukah justru malah jeblok? I don’t know, but let say, the chance is 60 : 40.

    PT Wismilak Inti Makmur, Tbk
    Rating kinerja pada 1H12: BBB
    Rating saham pada 575: A

    NB: Rekomendasi saham bulanan edisi Desember 2012 akan terbit tanggal 1 Desember mendatang. Anda bisa memperolehnya

    Hot Stock: CNKO

    Exploitasi Energi Indonesia (CNKO), hingga artikel ini ditulis, sejatinya belum merilis laporan keuangan untuk periode Sembilan Bulan 2012 (9M12), dan kinerjanya di Semester Pertama 2012 (1H12) kemarin juga biasa-biasa saja, sehingga secara fundamental seharusnya sahamnya juga nggak kemana-mana. Namun setelah perusahaan mengumumkan rencana right issue kedua beberapa bulan lalu, sahamnya langsung terkerek naik. Saat ini CNKO sudah mantap di posisi 360 atau sudah naik sekitar 130% dalam 4 bulan, dan teori konspirasi menyebutkan bahwa sahamnya masih bisa naik lagi hingga minimal 500 dalam beberapa waktu kedepan, mengingat right issue-nya dilakukan pada harga 500 tersebut. Benarkah demikian? I don’t know. Tapi seperti biasa, mari kita lihat CNKO ini dari sisi fundamental.

    CNKO, seperti pernah kita bahas sebelumnya (ini link-nya), adalah perusahaan batubara yang go downstream dengan mendirikan tiga pembangkit listrik (power plant) di tiga lokasi, yakni Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), Rengat (Riau), dan Tembilahan (Riau), dimana listrik yang dihasilkan akan dijual ke PLN. Namun hingga saat ini, baru satu pembangkit listrik yang sudah beroperasi, yakni yang di Pangkalan Bun, dan itupun kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan masih sangat kecil, yakni hanya sekitar 2%. Jadi hingga saat ini sumber pendapatan utama CNKO masih berasal dari penjualan batubara, entah itu batubara milik sendiri atau milik perusahaan lain. Pada 1H12, CNKO menjual 868 ribu ton batubara senilai Rp583 milyar.
    Nah, jika mempertimbangkan bahwa CNKO sudah memperoleh biaya untuk mendirikan tiga pembangkit listriknya melalui right issue pertama mereka pada tahun 2003 lalu, maka proses go downstream yang dilakukan perusahaan terbilang sangat lambat (sudah hampir sepuluh tahun). Namun hal itu tidak menghalangi perusahaan untuk melakukan right issue berikutnya, yang kali ini bertujuan untuk menjadikan CNKO sebagai perusahaan batubara yang terintegrasi, karena uang hasil right issue-nya yang sebesar Rp2.3 trilyun akan dipakai untuk menyertakan saham pada perusahaan bernama PT Energi Batubara Indonesia (EBI), dimana EBI akan menggunakan uang tersebut untuk mengakuisisi dan menambahkan modal pada beberapa perusahaan berikut:
    1. Rp890 milyar untuk menyertakan modal pada PT Dwi Guna Laksana (DGL). Oleh DGL, dana tersebut akan dipakai untuk menyertakan modal pada dua perusahaan, yakni PT Truba Dewata Guna Prasada (TDGP), dan PT Usaha Kawan Bersama (UKB). TDGP dan UKB masing-masing akan menggunakan dana yang diperoleh untuk mengembangkan terminal batubara di Kalimantan Selatan, dan untuk modal kerja pembukaan tambang batubara.
    2. Rp175 milyar untuk menyertakan modal pada PT Korporindo Guna Bara (KGB), yang selanjutnya akan dipakai untuk pengembangan infrastruktur tambang.
    3. Rp285 milyar untuk menyertakan modal pada PT Trans Lintas Segara (TLS), yang selanjutnya akan dipakai untuk menambah armada kapal tongkang pengangkut batubara.
    4. Rp550 milyar untuk menyertakan modal pada PT Sekti Rahayu Indah (SRI), yang selanjutnya akan dipakai untuk pengembangan infrastruktur tambang.
    5. Terakhir, Rp400 milyar untuk menyertakan modal pada PT Abe Jaya Perkasa (ABE), yang selanjutnya akan dipakai untuk pengembangan infrastruktur tambang.
    Dan berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya anda ketahui seputar right issue yang dilakukan CNKO:
    1. Perusahaan yang akan diakuisisi oleh CNKO, yakni EBI, pemiliknya adalah Tuan Andri Cahyadi, yang merupakan komisaris utama dari CNKO sendiri. Mr. Cahyadi mendirikan EBI pada September 2011 sebagai kendaraan untuk menempatkan investasi pada lima perusahaan, yakni DGL, KGB, TLS, SRI, dan ABE. Mr. Cahyadi mendirikan EBI untuk selanjutnya diakuisisi oleh CNKO, karena CNKO tidak bisa mengakuisisi perusahaan-perusahaan tersebut (DGL, dst) secara langsung, karena itu akan melanggar perjanjian jual beli listrik dengan PLN yang menyebutkan bahwa CNKO tidak boleh memiliki izin usaha diluar bidang ketenagalistrikan.
    2. Seluruh perusahaan yang akan diakuisisi/diberikan penyertaan modal oleh CNKO melalui EBI merupakan perusahaan afiliasi dari CNKO, dimana Mr. Cahyadi secara langsung maupun tidak langsung memegang sekian persen saham dari sebagian perusahaan-perusahaan tersebut, sementara sisanya dipegang oleh pihak lain yang juga masih terafiliasi (rata-rata yang merupakan anggota dewan komisaris dan direksi dari CNKO)
    Misalnya untuk DGL, pemegang saham utama atau induk dari DGL adalah PT Prima Samoda (PS), dimana induk dari PS adalah PT Cenko Korporindo Internasional (CKI). Dan coba tebak? CKI merupakan induk dari PT Saibatama Internasional Mandiri (SIM), yang merupakan pemegang saham utama di CNKO. Ultimate shareholder dari seluruh perusahaan tersebut adalah Tuan Andri Cahyadi.
    3. Dari dana total Rp2.3 trilyun yang akan diperoleh dari right issue-nya, Rp580 milyar diantaranya akan digunakan untuk membeli sekian persen saham dari perusahaan target, sementara selebihnya digunakan untuk menambah/menyertakan modal pada perusahaan target tersebut.
    4. Pemegang saham utama dari CNKO, yakni PT Saibatama Internasional Mandiri (SIM), akan melaksanakan right-nya dengan menyerap 49.7% dari saham anyar yang diterbitkan senilai Rp1.17 trilyun. Namun karena perusahaan-perusahaan yang akan diakuisisi secara langsung maupun tidak langsung dimiliki oleh pemilik yang sama dengan SIM, maka sejatinya SIM, atau dalam hal ini pemilik dari SIM, tidak perlu mengeluarkan dana sebanyak itu, melainkan hanya sekitar Rp590 milyar, karena sudah dikurangi Rp580 milyar tadi (lihat lagi poin 3 diatas).
    5. Pembeli siaga dari right issue-nya adalah juga SIM. Namun jika SIM harus membeli saham baru lebih banyak dari right-nya yang sebesar 49.7% tadi, maka SIM akan menjual kelebihan saham tersebut kepada pihak ketiga.
    Dari kelima poin diatas, maka bisa disimpulkan bahwa Grup Cahyadi (kita sebut saja begitu) berniat untuk mengembangkan usaha dengan menambah modal pada beberapa perusahaannya, dengan memanfaatkan right issue CNKO yang berstatus sebagai perusahaan publik. Namun jika right issue-nya tidak sukses, yaitu jika para pemegang saham publik dari CNKO tidak melaksanakan right-nya, maka barulah CNKO akan menjual saham baru yang tidak terjual tersebut ke pihak ketiga, hanya belum tahu siapa.
    Nah, terkait ‘pihak ketiga’ inilah yang kemudian menjadi alat spekulasi bagi para bandar untuk menaikkan harga saham CNKO. Beberapa waktu terakhir ini, di berbagai media beredar rumor bahwa CNKO telah memperoleh kesepakatan dengan Huadian Corp., perusahaan pembangkit listrik asal Tiongkok, untuk membeli saham CNKO yang tidak diserap publik. Pihak CNKO sendiri sudah mengkonfirmasi hal tersebut, namun tidak memberikan detail kesepakatannya, kecuali disebutkan bahwa Huadian akan menjadi pembeli dari batubara yang diproduksi perusahaan.
    6. Dari seluruh perusahaan yang akan diakuisisi/diberikan tambahan modal, hanya DGL dan TLS yang berstatus sebagai perusahaan besar, dengan posisi ekuitas masing-masing Rp416 dan 58 milyar pada Kuartal I 2012. Sementara perusahaan lainnya hanya memiliki ekuitas kurang dari sepuluh milyar Rupiah, termasuk EBI hanya memiliki modal disetor Rp600 juta. Dilihat dari sini, maka akan tampak bahwa total dana sebesar Rp580 milyar yang akan dipakai untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan tersebut terbilang cukup wajar.
    Sayangnya, kinerja perusahaan-perusahaan tersebut juga sama sekali belum meyakinkan dengan hanya mencetak laba bersih komprehensif sebesar total Rp2 milyar. Tapi mungkin itu karena mereka memang belum beroperasi secara penuh, karena baru berdiri dan masih dalam tahap pengembangan.
    7. Right issue senilai Rp2.3 trilyun ini merupakan bagian dari mega-proyek Grup Cahyadi senilai total Rp6 trilyun untuk masuk ke industri tambang batubara terintegrasi (tambang, terminal, alat transportasi batubara, hingga pembangkit listrik), dimana Rp3.7 trilyun sisanya akan diperoleh dari utang bank, dimana utang tersebut kemungkinan akan melalui CNKO juga. Tapi untuk saat ini belum ada informasi apapun terkait rencana pengajuan pinjaman bank ini.
    8. Jumlah saham baru yang diterbitkan tidak terlalu banyak, yaitu 4.7 milyar lembar, sehingga dilusi yang terjadi pada saham CNKO hanya 52.6%. Hanya memang, harga eksekusi per sahamnya cukup mahal, yakni Rp500 dari nilai nominal Rp100
    9. Udah sih, cuma delapan poin itu aja kok hehe.
    Kesimpulannya, dilihat dari seluruh poin-poin yang bisa diperhatikan, right issue CNKO ini terbilang wajar, dimana dalam hal ini owner dari CNKO, yaitu Mr. Cahyadi, boleh dibilang sedang mengajak anda untuk bergabung dengan mega-proyek batubara yang sedang ia kerjakan. Jadi sekarang tinggal apakah anda cukup yakin dengan profil beliau, sebelum memutuskan untuk ikut right issue-nya atau nggak. Mr. Cahyadi sendiri masih sangat muda (usianya 38 tahun), dan merupakan direktur utama CNKO sejak tahun 2000 sebelum kemudian menjadi komisaris utamanya. Kemungkinan, beliau juga merupakan pendiri CNKO mengingat CNKO berdiri pada tahun 1999, dimana ketika itu Mr. Cahyadi masih bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor tambang.
    Lalu, kira-kira bagaimana prospek CNKO kedepannya pasca right issue ini? Sayangnya, penulis melihat bahwa prospek CNKO mungkin tidak terlalu cerah, mengingat dua hal berikut: 1. Selama ini penjualan batubara CNKO bergantung pada hanya satu pembeli, yakni PLN (diatas memang disebutkan bahwa Huadian akan juga menjadi pembeli batubara yang diproduksi perusahaan, namun negosiasinya masih belum final), dan 2. CNKO tidak terlalu sukses dengan proyek pembangkit listriknya, yang sampai sekarang belum tuntas 100% dan juga belum berkontribusi banyak terhadap pendapatan perusahaan, padahal proyeknya sudah dikerjakan sejak lama. Jadi jika anda berminat untuk invest long term pada CNKO ini, maka anda harus menunggu progress dari pengembangan usahanya, apakah mampu memberikan hasil seperti yang diharapkan atau tidak.
    Terus apakah saham CNKO beneran akan naik sampai 500 dalam waktu dekat ini? Wah, kalau itu saya nggak tau, karena itu murni spekulasi, kecuali jika anda kenal sama bandarnya. Tapi kalau anda benar-benar tertarik sama saham ini, maka anda bisa datang ke RUPSLB-nya tanggal 6 Desember mendatang, dimana anda bisa menanyakan soal itu kepada tim manajemen yang hadir disana.
    NB: Buku kumpulan analisis dan rekomendasi saham edisi Kuartal III 2012 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya [...]

    Perencanaan Investasi

    Dear investor, mulai November 2012 ini, setiap tiga bulan sekali, yakni setiap kali para emiten merilis laporan keuangan terbaru, penulis akan menyelenggarakan seminar atau presentasi khusus untuk membahas soal perencanaan investasi, yakni membahas soal taktik dan strategi terkait kegiatan jual beli saham yang akan dilakukan kedepannya.

    Berikut adalah poin-poin yang akan dibahas didalam seminarnya
    1. Daftar saham-saham yang bisa dibeli/diperhatikan, yang sudah diseleksi secara fundamental
    2. Menentukan posisi masuk (beli) dan posisi keluar (jual) untuk saham-saham yang sudah dipilih berdasarkan rencana nomer satu, terutama posisi masuk.
    3. Menentukan porsi alokasi dana untuk tiap-tiap saham
    4. Menganalisis profil risiko. Misalnya jika diperoleh keputusan untuk memegang saham A, maka harus terdapat analisis yang jelas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Jika saham A ini setelah dibeli harganya bukannya naik tapi malah turun, maka maksimalnya dia turun sampai berapa? Faktor-faktor apa saja yang bisa membuat dia turun? Apa sebaiknya kita melakukan average down, cut loss, atau biarkan saja? Dan bagaimana pengaruh dari pergerakan IHSG? Intinya, terdapat Plan B jika Plan A ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
    5. Mengevaluasi kegiatan investasi yang sudah dilakukan sebelumnya dengan tujuan untuk menemukan dan mengidentifikasi kesalahan yang mungkin dilakukan, agar selanjutnya jangan mengulanginya lagi.
    6. Analisis dan prediksi pergerakan IHSG

    Dalam acara ini, anda juga bisa tanya jawab alias diskusi alias konsultasi soal saham-saham tertentu dengan penulis. Berikut keterangan mengenai acaranya:
    • Tempat: Kantor BNI Securities cabang Central Park, APL Tower Ground Floor, Podomoro City, Jln. Jend. S. Parman Kav. 28, Jakarta Barat.
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 24 November 2012
    • Waktu: Pukul 13:00 s/d 16:30 WIB (after lunch).
    • Fasilitas untuk peserta: Hardcopy materi seminar, dan snack
    • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acara dimulai.

    Biaya untuk ikut acara ini adalah Rp300,000. Dan berikut cara daftarnya:

    1. Lakukan payment melalui transfer:
    Bank Mandiri no rek 132.000.7062087 a/n Teguh Hidayat, atau
    Bank BCA no rek 139.229.1118 a/n Teguh Hidayat.
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Perencanaan Investasi’, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank. Contoh: Sergio Kun Aguero, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena penulis bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (Sehari sebelumnya, anda akan menerima email lagi untuk mengingatkan soal acaranya. Anda bisa sertakan nomer telepon anda dalam email yang anda kirim, jika ingin peringatan tersebut disampaikan melalui SMS)
    Catatan: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh, maka uang anda akan dikembalikan (ditransfer balik).
    Demikian, sampai jumpa di lokasi!

    NB: Acaranya sudah fully booked alias penuh, jadi sampai jumpa di kesempatan berikutnya [...]

    Metrodata Electronics

    Setiap tiga bulan sekali, yakni setiap para emiten merilis laporan keuangan terbaru mereka, penulis terbiasa mencari saham-saham yang memiliki kinerja perusahaan alias fundamental yang bagus, namun valuasinya masih murah. Jika nggak ketemu saham yang seperti itu, yaitu biasanya ketika IHSG lagi tinggi seperti sekarang, maka kriterianya diperlonggar menjadi 1. Saham bagus dengan valuasi yang belum begitu mahal, atau 2. Saham yang nggak jelek-jelek amat namun valuasinya cukup murah. Nah, Metrodata Electronics (MTDL) adalah salah satu saham yang kalau berdasarkan kinerjanya di Sembilan bulan 2012 (9M12), bisa digolongkan sebagai saham yang masuk kriteria kedua.

    MTDL adalah perusahaan penyedia jasa dan produk-produk information and communication technology (ICT), baik dalam bentuk hardware, software, maupun jasa konsultasi, dimana penjualan hardware (komputer, printer, dll) merupakan kontributor terbesar yang menyumbang 76.2% dari total pendapatan perusahaan pada 9M12. Namun, MTDL tidak mengembangkan atau memproduksi produk-produk teknologinya sendiri, melainkan menjual produk ICT milik perusahaan lain, sehingga MTDL lebih cocok disebut sebagai perusahaan dagang alias ritel. Beberapa merk produk yang dijual oleh perusahaan adalah Adobe, Oracle, Microsoft, hingga Samsung.
    Sejatinya, MTDL sudah berdiri sejak tahun 1975, namun perusahaan baru masuk penuh ke bisnis ICT pada tahun 2008 dengan mengakuisisi Soltius Asia Pte Ltd, sebuah perusahaan konsultan system application and products in data processing (SAP), yang dilanjutkan dengan akuisisi dan pendirian beberapa perusahaan ICT lainnya, seperti Xerindo, Synnex, dan MyIcon Technology. Saat ini MTDL boleh dikatakan sebagai perusahaan distributor produk-produk ICT terbesar di Indonesia.
    Oleh BEI, MTDL diklasifikasikan sebagai perusahaan teknologi komputer dan jasa, atau satu kelompok dengan Astra Graphia (ASGR). Pemegang saham utama MTDL adalah Candra Ciputra, putra dari pengusaha properti terkenal, Ir. Ciputra.
    Nah, karena model bisnisnya sendiri nggak terlalu umum, maka agak sulit untuk memperoleh gambaran soal prospek dari MTDL ini. Namun yang jelas untuk ukuran perusahaan retail, kinerja MTDL cukup baik dengan ROE 14.2%, dan pertumbuhannya cukup lancar dengan catatan kenaikan pendapatan dan laba bersih masing-masing 23.6 dan 51.9%. Salah satu pendukung pertumbuhan tersebut adalah penambahan jumlah toko retail dimana perusahaan bekerja sama dengan Carefour. Pada periode Januari – Juni 2012, MTDL sudah mendirikan 22 outlet baru yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, dengan target 35 outlet pada akhir tahun 2012. Produk yang dijual di outlet-outlet tersebut kebanyakan merupakan komputer PC, hardware pendukungnya, dan juga gadget, dengan portofolio merk yang cukup luas yakni Asus, Dell, Epson, Fujitsu, Panasonic, Intel, HP, Lenovo, Huawei, Sony Xperia, dan Samsung. Well, ini mengingatkan penulis dengan perusahaan dagang lainnya yaitu Erajaya Swasembada (ERAA), dimana kalau ERAA lebih fokus pada penjualan gadget, maka MTDL lebih fokus pada penjualan komputer desktop dan notebook. Namun persamaannya adalah, kedua perusahaan sama-sama tidak tergantung pada satu merk produk tertentu.
    Terkait aksi korporasi, Pada Mei 2012 lalu MTDL sempat berniat melakukan right issue dengan menerbitkan saham baru sebanyak total 1.3 milyar lembar senilai Rp155 milyar, dimana dananya akan digunakan untuk menambah penyertaan modal pada dua anak usahanya, Synnex dan Mitra Integrasi Informatika. Namun rencana tersebut batal dan diganti dengan mencari pinjaman bank (tapi sampai sekarang perusahaan belum mencairkan pinjaman apapun), dimana manajemen MTDL mengatakan bahwa mereka memiliki pinjaman bank sebesar US$ 70 juta atau sekitar Rp650 milyar yang belum dicairkan. Ini agak serem sebenernya, mengingat utang bank MTDL sudah mencapai Rp400 milyar lebih, belum termasuk utang sukuk sebesar Rp73 milyar. Namun sejauh ini beban bunga yang ditanggung perusahaan masih belum terlalu besar jika dibandingkan dengan laba kotor perusahaan (laba sebelum beban usaha, beban keuangan, dan pajak), sehingga bisa dikatakan bahwa jumlah utang MTDL masih wajar. Pada 9M12, MTDL mencatat laba kotor Rp302 milyar, sementara beban bunga yang berasal dari utang bank dan utang sukuk-nya tercatat Rp18 milyar.
    Terus bagaimana dengan sahamnya? Nah, disinilah menariknya. Pada harga 154, PER MTDL tercatat 5.7 kali, dan PBV-nya 0.5 kali (tapi kalau kepemilikan minoritas atas perusahaan tidak dihitung, maka PBV MTDL yang benernya adalah 0.8 kali, tapi itu masih cukup rendah juga). Sementara jika anda perhatikan valuasi dari perusahaan-perusahaan ritel lain seperti ERAA, Ace Hardware (ACES), Hero Supermarket (HERO), hingga Mitra Adiperkasa (MAPI), rata-rata PER-nya cukup tinggi yakni diatas 10 kali. Termasuk jika dibandingkan dengan ASGR, maka MTDL juga terbilang murah mengingat PER ASGR mencapai 12.6 kali pada harga 1,330.
    Terus apa yang menyebabkan valuasi MTDL jadi rendah begitu? Mungkin ada dua. Pertama, kinerja MTDL dalam jangka panjang cenderung tidak konsisten, dimana perusahaan baru mencatat pertumbuhan signifikan pada tahun 2012 ini. Sebelumnya pada tahun 2011 lalu, laba bersih MTDL turun dibanding tahun 2010 meski pendapatannya naik. Kedua, sektor usaha yang digeluti MTDL tampak rumit dan sulit dimengerti terutama bagi investor yang awam soal ICT (termasuk penulis juga sih), dimana MTDL menjual layanan konsultasi cloud computing, virtualization, system and network integration, supply chain management, websphere, dan seterusnya, dimana untuk membaca dan mengingat nama-nama layanan tersebut saja sudah terbilang susah.
    Padahal bisnis inti MTDL, seperti yang sudah disebut diatas, adalah penjualan komputer biasa yakni PC Desktop dan Notebook. Sementara bisnis perdagangan software dan konsultasi ICT total hanya menyumbang seperempat dari seluruh pendapatan perusahaan. Untuk penjualan software dan konsultasi ICT, prospek pendapatan perusahaan memang lebih terbatas karena kebanyakan pembelinya merupakan korporasi. Namun untuk penjualan komputer, seharusnya angkanya akan terus meningkat karena konsumennya adalah pengguna komputer dan internet secara umum, mengingat pengguna komputer dan internet di Indonesia sendiri terus meningkat dari waktu ke waktu.
    Karena itulah, meski dari sisi kinerja MTDL ini nggak sebagus ERAA atau ASGR, namun valuasinya yang rendah menjadikan saham ini cukup menarik. Kalau pakai hitung-hitungan sederhana, pada harga 200 pun saham MTDL ini masih terbilang wajar. So we have a chance here.
    Lalu masuknya di harga berapa? Ya kalau dilihat dari pergerakan chart-nya dalam tiga bulan terakhir sih, coba antri di sekitar 145. Terus apa saja risikonya? Untuk saat ini belum ada risiko signifikan, namun hati-hati jika nanti perusahaan mengumumkan bahwa mereka mencairkan utangnya, dimana hal itu mungkin akan ditanggapi oleh sebagian investor yang kemudian memutuskan untuk keluar, dan kemudian mengakibatkan sahamnya jatuh.
    Rating Kinerja pada 9M12: A
    Rating Saham pada 154: [...]

    Rating Kinerja Blue Chip 9M12

    Berikut adalah rating kinerja untuk dua puluh emiten terbesar di BEI dari sisi likuiditas (blue chip), berdasarkan laporan keuangan periode Sembilan Bulan 2012 (9M12). Data diurutkan berdasarkan total nilai perdagangan saham selama periode Kuartal III 2012 (Juli – September 2012), dari yang terbesar hingga yang terkecil:


    No.
    Ticker
    Company
    Rating
    1
    ASII
    Astra International
    A
    2
    BBRI
    Bank BRI
    AAA
    3
    BMRI
    Bank Mandiri
    AA
    4
    TLKM
    Telkom
    A
    5
    UNTR
    United Tractors
    BBB
    6
    BBCA
    Bank BCA
    A
    7
    BUMI
    Bumi Resources
    -
    8
    BBNI
    Bank BNI
    A
    9
    PGAS
    Perusahaan Gas Negara
    AA
    10
    TRAM
    Trada Maritime
    B
    11
    SMGR
    Semen Gresik
    AA
    12
    GGRM
    Gudang Garam
    BBB
    13
    ADRO
    Adaro Energy
    BBB
    14
    ITMG
    Indo Tambangraya Megah
    AA
    15
    INDF
    Indofood Sukses Makmur
    A
    16
    INTP
    Indocement Tunggal Prakasa
    -
    17
    ASRI
    Alam Sutera Realty
    AA
    18
    ENRG
    Energi Mega Persada
    -
    19
    HRUM
    Harum Energy
    AA
    20
    KLBF
    Kalbe Farma
    AA
    Catatan: Hingga tabel diatas dibuat, keempat emiten yakni BUMI, INTP dan ENRG belum merilis laporan keuangannya masing-masing.
    NB: Ebook kumpulan analisis Edisi 9M12 (Ebook 40) akan terbit tanggal 14 November mendatang. Anda bisa memperolehnya disini. Untuk sampel Ebook bisa didownload disini.

    Catatan mengenai Ebook 40: Penulis sejak beberapa bulan terakhir telah menerima banyak sekali masukan yang menyebutkan bahwa jumlah saham yang dianalisis dalam Ebook tersebut sebaiknya dikurangi dan dipadatkan, sehingga hanya membahas saham-saham yang memang berfundamental baik saja (saham-saham yang jelek gak usah dibahas lagi). Karena itulah mulai Edisi 9M12 ini, penulis memutuskan untuk mengurangi jumlah saham yang dibahas dalam Ebook tersebut dari 40 menjadi 30 saham.

    Karena berdasarkan pengalaman selama dua tahun terakhir sejak Ebook ini terbit pertama kali di tahun 2010 lalu, saham-saham yang bagus dan bisa direkomendasikan di BEI jumlahnya ternyata nggak mencapai empat puluh saham, melainkan antara dua puluh hingga tiga puluhan (soalnya penulis termasuk agak ketat dalam menentukan kriteria saham yang layak dikoleksi). Jadi mulai edisi kali ini, dari tiga puluh saham yang dibahas, semuanya adalah yang terpilih berdasarkan fundamentalnya. Dengan jumlah saham yang lebih sedikit, maka diharapkan pembahasan untuk tiap-tiap saham akan menjadi lebih padat dan lugas. [...]

    Cowell Development

    Menurut anda, ketika IHSG lagi tinggi seperti sekarang, apakah masih ada saham-saham yang valuasinya, atau dalam hal ini PER-nya masih sangat rendah, namun disisi lain kinerja perusahaannya tidak terlalu buruk? Ternyata ada. Salah satunya, Cowell Development (COWL). Berdasarkan laporan keuangan (LK) terbarunya untuk periode Sembilan Bulan 2012, saham perusahaan properti ini mencatat PER dan PBV masing-masing 2.8 dan 0.8 kali pada harga 220. Sekilas, valuasi tersebut agak sulit untuk dipercaya mengingat COWL mencatat ROE yang cukup bagus, yakni 28.6%, dan laba bersihnya juga tumbuh 9.5%. Ekuitas alias modal bersih perusahaan juga naik 24.7% dalam sembilan bulan terakhir, yang sepenuhnya ditopang oleh kenaikan saldo labanya. Lalu apa rendahnya harga saham COWL tersebut berkaitan dengan right issue yang akan dilakukan oleh perusahaan? Well, memang itulah yang akan kita bahas disini.

    COWL adalah perusahaan properti skala kecil dengan total aset Rp465 milyar pada Kuartal III 2012. Perusahaan sudah berdiri sejak tahun 1981, dan proyek properti pertamanya adalah pembangunan kompleks perumahan Melati Mas Residence di Kawasan Serpong, Tangerang, pada tahun 1984. Sukses dengan Melati Mas, COWL kemudian kembali membangun dua kompleks perumahan lainnya di kawasan yang sama, yakni Serpong Park dan Serpong Terrace. Lalu sejak pertengahan tahun 2009, perusahaan mulai ‘keluar kandang’ dengan membangun kompleks perumahan dan ruko Borneo Paradiso di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Dan pada April 2012 kemarin, COWL menyelesaikan pembangunan proyek terbarunya, yakni Apartemen Westmark di Jakarta Barat (persisnya dekat Mall Taman Anggrek). Sejauh ini semua proyeknya berjalan lancar. Termasuk untuk Apartemen Westmark, proyek tersebut sepanjang Sembilan Bulan 2012 menghasilkan pendapatan sebesar Rp171 milyar bagi perusahaan.
    Namun ada yang sedikit hal yang mengganjal disini. Pada Q3 2012, COWL mencatat pendapatan Rp210 milyar, dimana Rp171 milyar diantaranya, seperti sudah disebut diatas, berasal dari penjualan unit-unit apartemen Westmark. Sementara sisanya berasal dari penjualan rumah-rumah di Serpong. Nah, lalu dimana pendapatan dari penjualan rumah-rumah yang di Balikpapan? Sebab di prospektus yang diterbitkan COWL dalam rangka right issue, disitu jelas ditulis bahwa sejak pertengahan tahun 2009 hingga September 2012, perusahaan telah menjual 744 unit rumah di kompleks Borneo Paradiso, dan menghasilkan total pendapatan Rp308 milyar. Lalu kenapa pendapatan tersebut tidak tercantum di laporan keuangan perusahaan?
    Setelah penulis cek lagi, itu karena dalam membangun proyek Borneo Paradiso, COWL bekerja sama dengan sebuah perusahaan bernama PT Karya Agung Putra Indonesia (KAPI), yang merupakan anak usaha COWL sendiri. Jadi berdasarkan perjanjian yang ditanda tangani pada tanggal 5 Juni 2009, kedua belah pihak yakni COWL dan KAPI, membentuk sebuah badan kerjasama yang disebut ‘Badan Kerjasama Cowell-KAPI’ (BKS), untuk mengelola proyek Borneo Paradiso. COWL akan menyetor sejumlah dana kepada BKS untuk tujuan pengembangan proyek, dan kemudian akan menerima bagian laba bersih sebesar 80% dari proyek tersebut, sementara 20%-nya untuk KAPI (tapi karena KAPI merupakan anak usaha COWL, maka seharunya 20% tersebut masuk ke kantong COWL juga). Pada sembilan bulan pertama 2012, COWL telah menerima bagian laba bersih sebesar Rp5 milyar. Bagian laba bersih ini pada laporan laba rugi COWL dicatat sebagai pendapatan lain-lain.
    Masalahnya, dengan begini COWL menjadi kurang transparan terkait pendapatan dari proyek Borneo Paradiso-nya, karena yang dicantumkan di LK COWL hanyalah bagian laba bersih atas proyek tersebut, namun tidak ada informasi soal berapa pendapatan dan laba usahanya. Dan tentunya, mengingat bahwa total laba bersih COWL tercatat Rp44 milyar, maka bagian laba bersih yang cuma sebesar Rp5 milyar dari proyek Borneo Paradiso terbilang sangat kecil bukan? Apalagi COWL menanamkan investasi yang terbilang sangat besar untuk proyek tersebut, yakni Rp200 milyar, atau mencapai 40% dari total aset perusahaan.
    Tapi, ya sudahlah.. Sekarang kita ke soal right issue yang dilakukan perusahaan. Jadi pada November ini, COWL akan menerbitkan 4.1 milyar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp220 per saham, sehingga perusahaan akan meraup dana Rp906 milyar. Dana tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi sebuah perusahaan bernama PT Plaza Adika Lestari (PAL), yaitu perusahaan pengelola Kawasan Niaga Atrium, Jakarta Pusat (Mall Atrium Senen dan sekitarnya), dimana kantor pusat COWL sendiri sejak awal memang terletak disana, tepatnya di Graha Atrium. Tujuan dari akuisisi tersebut adalah untuk mengembangkan portofolio usaha perusahaan, dimana nantinya COWL akan punya usaha pengelolaan pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, dan perbengkelan yang semuanya berlokasi di Atrium.
    Namun memang, ada banyak hal yang harus diperhatikan terkait right issue dan akuisisi tersebut. Berikut diantaranya:
    1. COWL akan mengakuisisi PAL dari perusahaan bernama Boliden Properties Ltd, sebuah perusahaan asal negara Seychelles (sejenis negara antah berantah macam British Virgin Island, Cayman Island, dll). Meski COWL menegaskan bahwa Boliden bukan merupakan pihak terafiliasi, namun tidak ada keterangan soal siapa pemilik Boliden ini (memang disebutkan bahwa nama pemilik Boliden bernama Teo Ai Lin Daphne, tapi siapa tuh?)
    2. Harga akuisisinya yang Rp900-an milyar terbilang mahal, mengingat ekuitas PAL pada Juni 2012 hanya Rp210 milyar, itupun karena penambahan modal disetor. Sebelumnya pada akhir tahun 2011, PAL justru mencatat defisiensi modal (modalnya minus) sebesar Rp107 milyar. Kalau dilihat dari sini, maka sepertinya akan sulit bagi perusahaan untuk meyakinkan investor publik untuk membeli saham baru mereka.
    3. Berkaitan dengan poin No.2, jika sebagian atau seluruh saham baru yang diterbitkan tidak diserap publik, maka saham tersebut akan diserap oleh PT Gama Nusapala, pemegang saham utama perusahaan. Masalahnya, karena jumlah saham baru yang diterbitkan terbilang sangat banyak (109 saham baru untuk setiap 20 saham lama), maka kepemilikan Gama atas COWL akan membengkak menjadi 94.7%, jika investor publik sama sekali tidak mengeksekusi HMETD-nya, dan kepemilikan publik atas COWL sendiri akan turun drastis menjadi hanya 5.3%. Nah, jika Gama nantinya me-refloat alias melepas saham COWL ke publik, yaitu dalam rangka meningkatkan kembali kepemilikan publik atas COWL, maka itu tentu akan menurunkan harga saham COWL.
    Namun disisi lain kalau mempertimbangkan faktor bahwa Kawasan Niaga Atrium merupakan kawasan yang sangat strategis karena berlokasi persis di pusat Kota Jakarta, maka mungkin memang benar bahwa tindakan akuisisi yang dilakukan COWL akan berdampak positif pada kinerja perusahaan kedepannya. Maksud penulis, COWL sudah membuktikan bahwa mereka juga cukup sukses dengan Apartemen Westmark-nya, yang merupakan proyek high rise building, meskipun COWL sebelumnya hanya berkutat di bidang properti landed house alias perumahan. Dan sekarang, mengingat industri properti juga lagi bagus, maka COWL kemudian melebarkan sayap ke bidang properti mall dan gedung perkantoran, dalam hal ini Plaza dan Graha Atrium (dan juga Atrium Service Point, sebuah bengkel kendaraan bermotor). Mungkin pihak perusahaan berpikir daripada capek-capek membangun mall baru, kenapa gak beli yang sudah jadi aja? Mumpung lagi ada kesempatannya.
    Terus duitnya dari mana? Opsinya ada dua, yakni menerbitkan obligasi atau right issue. Kemungkinan pemilik COWL yaitu Gama memilih opsi kedua (berbeda dengan perusahaan properti lainnya seperti GWSA, ASRI, atau SSIA yang semuanya menerbitkan obligasi), karena mereka memang memiliki cukup dana untuk menjadi pembeli siaga dari right issue yang dilakukan. Malah ada kemungkinan Gama berniat mengambil seluruh saham baru yang diterbitkan tersebut, mengingat saham COWL bukannya dikerek tapi justru dijatuhkan (dari 260 ke 205) begitu pengumuman soal right issue-nya keluar.
    Kesimpulannya, masih banyak yang perlu dipertanyakan dari perusahaan properti yang satu ini, dimana semuanya masih serba kemungkinan (coba baca lagi artikelnya, anda akan menemukan banyak kata ‘mungkin’ disana). Tapi yang pasti, dari proyek-proyek properti yang dimiliki COWL saat ini, semuanya menuai sukses yang cukup besar. Termasuk 620 unit Apartemen Westmark juga semuanya sudah terjual. Penulis tidak tahu apakah COWL akan kembali menuai sukses di Atrium, namun kalaupun proyek Atrium tersebut tidak menghasilkan keuntungan yang signifikan bagi perusahaan, maka COWL masih bisa melanjutkan proyek landed house-nya. Di Tangerang dan Balikpapan masih banyak tanah kosong kok.
    Lalu bagaimana soal faktor dilusi yang akan terjadi pada saham COWL pasca right issue? Pasca akuisisi, dengan menggunakan posisi neraca COWL per Juni 2012, ekuitas COWL akan menjadi Rp1.1 trilyun, atau tepatnya Rp1,099 milyar, sementara jumlah sahamnya juga akan naik menjadi 4.9 milyar lembar, atau tepatnya 4,871 milyar. Dengan demikian, book value (BV) COWL akan menjadi Rp226 per saham, dari saat ini Rp270 per saham, alias sedikit turun. Well, I think it is still fair, terlebih saham COWL pada saat ini juga berada di posisi harga yang kurang lebih sama, yakni 220. Jadi dalam hal ini, COWL masih layak dikoleksi mengingat perusahaannya secara historis juga cukup bagus.
    Tapi yang jadi pertanyaannya sekarang, berapa kira-kira perolehan laba bersih COWL pasca akuisisinya terhadap PAL? Soalnya di laporan keuangannya, PAL hanya mencatat laba bersih Rp15 milyar pada First Half 2012. Okay, dengan asumsi bahwa kinerja COWL dan PAL pada Second Half 2012 terbilang sama dengan First Half, maka laba bersih COWL (termasuk PAL didalamnya) pada Tahun Penuh 2012 akan tercatat Rp87 milyar. Dengan jumlah saham yang mencapai 4.9 milyar lembar, maka itu berarti EPS-nya Rp18 per saham. Dengan harga saham sekarang yaitu 220, maka itu berarti PER-nya akan menjadi 12.3 kali. Nah! Itu berarti COWL tidak semurah kelihatannya bukan? Tapi memang ini hanya hitung-hitungan kasar, dan bukan tidak mungkin PAL akan menghasilkan laba bersih yang lebih besar setelah dipegang oleh COWL, atau bukan tidak mungkin pula malah justru lebih kecil, yaitu gimana kalau COWL memperlakukan PAL ini dengan cara seperti yang mereka lakukan terhadap Borneo Paradiso?
    Well, whatever, kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Yang jelas, untuk saat ini sahamnya menjadi menarik lebih karena faktor bahwa dari sisi valuasi (valuasi saat ini tentunya), sehingga seharusnya dia nggak bisa turun lebih dalam lagi, dan ada kemungkinan dia akan naik jika ada investor yang berminat untuk memperoleh HMETD COWL ini (pemegang saham publik yang memperoleh HMETD adalah mereka yang memegang saham COWL pada tanggal 22 November 2012, alias masih tiga minggu lagi). Kalau anda tertarik, maka sebaiknya jangan gunakan dana terlalu banyak, karena risikonya juga lumayan yakni terkait banyaknya hal yang perlu diperhatikan soal right issue-nya, seperti yang sudah dijelaskan [...]

    Brief Analysis: TLKM, MNCN, GIAA

    Pada pertengahan September 2012 kemarin, beredar kabar yang agak sulit untuk dipercaya: Telkomsel bangkrut! Anak perusahaan Telekomunikasi Indonesia atau Telkom (TLKM) ini dinyatakan oleh pengadilan telah gagal dalam membayar tagihan dari mitra usahanya, PT Prima Jaya Informatika (PJI), sebesar Rp5.3 milyar. Seperti sudah diduga sebelumnya, pihak Telkomsel kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan hingga kini belum ada perkembangan terbaru lagi. Pihak TLKM sendiri sebagai induk dari Telkomsel menyatakan bahwa mereka akan mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

    Ini adalah kali kedua dalam beberapa tahun terakhir TLKM terjerat kasus hukum. Sebelumnya pada Juni 2008, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan TLKM dan Telkomsel telah bersalah dalam kasus praktek kartel layanan SMS, dan kedua perusahaan dijatuhi hukuman denda masing-masing Rp18 dan 25 milyar. Pihak perusahaan tentu saja mengajukan keberatan, dan seperti kasus Telkomsel vs PJI, kasus inipun masih menunggu putusan terbaru dari pengadilan. Dalam laporan keuangan periode Kuartal III 2012, TLKM dan Telkomsel telah mencadangkan dana sebesar Rp150 milyar untuk membayar biaya-biaya yang mungkin timbul karena kasus hukum ini. Angka tersebut berpotensi bertambah mengingat urusan Telkomsel dengan PJI juga belum selesai.
    Hebatnya, saham TLKM seolah tidak terpengaruh oleh kontinjensi tersebut, dan sejak September lalu hingga sekarang masih stabil di 9,500-an. Well itu bisa dimaklumi mengingat bahwa kalaupun TLKM harus menambah cadangan biaya untuk menyelesaikan berbagai kasus hukumnya, katakanlah hingga Rp200 milyar, maka itu tetap tidak akan berpengaruh banyak terhadap kinerja perusahaan, karena TLKM adalah perusahaan yang sangat besar dengan pendapatan yang mencapai puluhan trilyun setiap tahunnya. Di Kuartal III inipun, TLKM sukses membukukan laba bersih Rp14.1 trilyun, tumbuh 20.6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari sisi profitabilitas, ROE TLKM juga tumbuh dan sekarang sudah berada di level 30.0%.
    Lantas apa yang dilakukan TLKM sehingga berhasil mencapai kinerja yang cukup bagus tersebut? Kalau mau jujur, sebenernya nggak ada. Dulu sempet tersiar kabar bahwa TLKM akan mengakuisisi perusahaan telekomunikasi Kamboja, tapi batal. Pernah juga dikatakan bahwa TLKM akan buyback 35% saham Telkomsel yang dipegang SingTel, tapi juga nggak ada kelanjutannya. Yang terbaru, tanggal 18 Oktober kemarin ramai beredar kabar bahwa TLKM akan berekspansi dengan mengakuisisi sebuah perusahaan kabel optik. Seperti yang sudah-sudah, kemungkinan aksi korporasi tersebut ujung-ujungnya juga cuma omong doang.
    Kesuksesan TLKM dalam mencatat kenaikan laba bersih yang kembali menembus 20%, lebih karena faktor efisiensi. Pendapatan TLKM pada Q3 hanya naik 7.6%, namun kenaikan bebannya ternyata lebih kecil lagi, yakni 4.0%. Salah satu tindakan efisiensi yang cukup menonjol adalah pengurangan beban gaji karyawan sebesar total Rp169 milyar (dan memang jumlah karyawan TLKM berkurang, dari sebelumnya 26,023 orang menjadi 25,730 orang). Jika dimasa mendatang TLKM bisa kembali menghemat pengeluarannya, maka kenaikan laba bersihnya juga akan terjaga di level 20%. Namun diluar itu, kinerja TLKM terbilang masih jalan ditempat, yang mungkin karena ruang geraknya sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia juga sudah sangat terbatas. Bisa jadi, satu-satunya cara untuk bisa kembali tumbuh adalah dengan go outside, alias mengembangkan usaha diluar negeri. Mungkin itu sebabnya banyak pihak yang berharap TLKM bisa do something. Tapi sejauh ini, pihak perusahaan sepertinya cuma bisa merencanakan ini dan itu, tapi tidak atau belum ada tindakan apa-apa.
    Kesimpulannya, kesuksesan TLKM untuk bertengger di posisi 9,700 seperti sekarang ini bukan karena didorong oleh faktor fundamental ataupun sentimen positif tertentu, melainkan lebih karena masuknya dana asing ke bursa (yang mungkin karena kebijakan Quantitative Easing yang dicanangkan Presiden Federal Reserve, Ben Bernanke, beberapa waktu lalu). Tapi memang kinerja TLKM di Kuartal III 2012 tetap layak diapresiasi, dan mungkin itu akan menahannya untuk tidak turun lagi sampai level 7,000-an, seperti sebelum rally-nya dulu. Hanya saja, potensi kenaikannya juga sudah terbatas. TLKM mungkin masih bisa naik sampai menembus 10,000, andaikata IHSG juga berhasil menembus new high di 4,400-an. Namun diluar itu, anda sudah tahu lah dia bakal kemana.
    Media Citra Nusantara (MNCN)
    Beberapa waktu lalu penulis mendengar seorang analis yang menyarankan untuk menghindari saham-saham dari grup usaha yang pemiliknya terjun ke politik, dalam hal ini Grup Bakrie (Aburizal Bakrie), dan Grup Bhakti (Hary Tanoesoedibjo). Alasannya karena terdapat kemungkinan para taipan tersebut akan ‘merampok’ perusahaannya sendiri untuk memperoleh dana untuk karier politiknya. Alasan yang masuk akal sih, dan mungkin hal itu juga bisa menjelaskan penurunan yang cukup tajam yang dialami saham-saham Grup Bakrie akhir-akhir ini. Tapi kenapa kok hal yang sama tidak berlaku untuk Grup Bhakti? Dalam setahun terakhir, saham-saham Grup Bhakti sepertinya naik terus. Salah satunya, Media Citra Nusantara (MNCN), yang dalam setahun terakhir sudah naik lebih dari 150% ke posisi 2,750.
    Kalau dari fundamentalnya, dalam laporan keuangannya untuk periode Kuartal III 2012, MNCN masih bagus seperti biasanya, atau bahkan sangat bagus. Namun, valuasi sahamnya sudah boleh disebut sangat mahal. Pada harga 2,750, PER MNCN tercatat 24.6 kali. Namun jika kita mempertimbangkan bahwa saham-saham dari perusahaan media lain seperti Surya Citra Media (SCMA) dan Indosiar Karya Media (IDKM), rata-rata juga cukup mahal, maka mungkin PER MNCN tersebut masih wajar mengingat kinerja MNCN juga lebih bagus ketimbang dua pesaingnya tersebut. Tapi bagi penulis sendiri, keputusan untuk membeli saham dengan PER diatas 15.0 kali, apalagi sampe 20.0 kali, biar bagaimanapun merupakan keputusan yang berisiko.
    Namun ada hal lain lagi yang menarik diluar valuasi MNCN yang selangit. Sepanjang bulan Juli 2012 lalu, saham MNCN mengalami rally dengan naik dari 1,800 hingga 2,400. Memasuki Agustus, dia mulai kehilangan tenaga dan melorot ke posisi 2,200. Ketika itulah, tepatnya pada tanggal 13 Agustus, perusahaan merilis press release terkait kinerja MNCN untuk periode tujuh bulan 2012 (Januari – Juli 2012). Dari press release-nya tersebut, tergambar prospek yang sangat cerah dari kinerja MNCN kedepannya, dimana hanya dalam hitungan bulan lagi, ketiga stasiun televisi milik MNCN yaitu RCTI, MNC-TV, dan GlobalTV, akan menyiarkan siaran olahraga yang dipastikan akan menyita perhatian para pemirsa televisi, yakni Piala AFF 2012, dan Ultimate Fighting Championship. Kemungkinan berkat press release tersebut, saham MNCN kemudian sukses melanjutkan rally-nya, sehingga ketika MNCN merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal III 2012 pada tanggal 18 Oktober kemarin, sahamnya sudah terlanjur naik ke posisi 2,775.
    Disisi lain, perusahaan lain milik Om Hary, yakni Bhakti Investama (BHIT) yang notabene merupakan induk dari MNCN, juga melakukan aksi korporasi penting, yakni penambahan modal tanpa HMETD, dimana BHIT menerbitkan 2.2 milyar lembar saham baru (belum termasuk saham yang diterbitkan dalam rangka MESOP), dengan harga eksekusi Rp490 per saham, sehingga Grup Bhakti akan meraup dana segar Rp1.1 trilyun. Tidak ada keterangan akan diapakan duit sebanyak itu, namun pihak BHIT mengumumkan bahwa investor yang berminat terhadap saham baru tersebut bisa membayarnya dengan menyerahkan obligasi wajib tukar yang ia miliki. Jadi kelihatannya, aksi korporasi ini bertujuan untuk memperoleh dana dan atau mengurangi utang perusahaan, dengan memanfaatkan momentum masuknya dana asing ke bursa dan bullishIHSG. Saham BHIT ini sendiri kemudian sukses naik ke level 570, dan bertahan di posisi tersebut hingga saat ini.
    Kembali ke MNCN. Dengan memperhatikan aksi korporasi yang dilakukan Om Hary melalui BHIT, maka kemungkinan press release yang dikeluarkan MNCN pada Agustus lalu bertujuan serupa: Memanfaatkan momentum bullish IHSG untuk menaikkan harga saham, yang mungkin agar nantinya bisa jualan di harga tinggi, untuk kemudian beli lagi di harga bawah ketika asing kabur dan IHSG jatuh. Soalnya gak cuma BHIT dan MNCN saja, namun saham Global Land Development, yang sekarang berubah nama menjadi MNC Land (KPIG), dan juga Indonesia Air Transport (IATA), juga ikut-ikutan terbang, padahal sebelumnya saham mereka nggak likuid sama sekali. Bagi anda yang belum tahu, kedua perusahaan tersebut juga milik Grup Bhakti.
    Kesimpulannya, saham-saham Grup Bhakti sekarang ini sedang digoreng, termasuk MNCN. Apakah tujuannya buat dapet duit gratis buat politiknya Om Hary? Mungkin iya, tapi mungkin juga ini cuma bisnis, karena nyari duit dari trading saham apa salahnya toh? Untuk MNCN sendiri, mungkin dia masih bisa naik ke 2,900-an, sekali lagi kalau IHSG bisa naik sampai 4,400. Diluar itu, maka MNCN berisiko untuk jatuh lebih dalam ketimbang TLKM yang sudah kita bahas diatas.
    Dan kalau bicara soal gorengan, maka bagi anda yang menyukai makanan berkolesterol ini juga bisa melirik saham Bhakti Capital Indonesia (BCAP). Seperti juga saudara-saudaranya, saham BCAP yang normalnya tidak likuid sama sekali, seringkali mendadak ramai ditransaksikan dan juga naik banyak hanya dalam sekejap. Hari ini saja jumlah saham BCAP yang ditransaksikan mencapai 22 juta lembar.
    Tapi harap diingat sodara-sodara, terlalu banyak kolesterol itu sudah pasti nggak baik buat jantung.
    Garuda Indonesia (GIAA)
    Setelah mencatat kerugian di Kuartal II kemarin, pada Kuartal III 2012 ini GIAA sukses membukukan laba bersih US$ 56 juta, naik 51.6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sayangnya, secara umum kinerja GIAA di periode ini belum mengalami peningkatan berarti, dimana seluruh rasio profitabilitasnya (ROA, ROE, dll) masih tertahan di angka single digit, alias kurang dari 10%. Jadi untuk periode penyampaian laporan keuangan berikutnya, yakni Kuartal IV 2012 nanti, tidak ada jaminan bahwa GIAA tidak akan mengalami kerugian lagi.
    Sementara terkait aksi korporasi, GIAA boleh dibilang sangat berbeda dengan saudaranya sesama BUMN, yaitu Telkom, dimana GIAA jauh lebih gencar dalam melakukan berbagai aksi ekspansi usaha. Terakhir pada tanggal 12 Oktober kemarin, GIAA melakukan penerbangan perdana bagi pesawat barunya jenis Bombardier, dengan rute pulang pergi Jakarta – Makassar. Kehadiran pesawat baru ini merupakan realisasi dari rencana GIAA untuk menghadirkan layanan penerbangan di Kawasan Indonesia Timur, dengan tidak menutup kemungkinan juga akan melayanan rute penerbangan untuk kawasan lainnya. Aksi ekspansi ini merupakan yang kali kesekian. Sebelumnya, GIAA menandatangani kerjasama sponsor dengan klub sepakbola Inggris, Liverpool FC, dan memperoleh izin terbang untuk anak usahanya, Citilink, dan masih banyak lagi.
    Karena berbagai aksi korporasinya tampak menjanjikan, maka posisi saham GIAA saat ini yakni 700-an menjadi bisa dijelaskan. Tapi dari sisi kinerja riil perusahaan, tetap saja harga segitu kemahalan. Kombinasi dari prospek yang (tampak) cerah dan kinerja yang masih nggak begitu bagus, mungkin akan membuat saham GIAA kedepannya hanya mondar-mandir saja di kisaran 600 – 700. Jadi kalau anda mau trading di saham ini, sarannya adalah masuk di harga 600-an.
    Terakhir, ada dua hal lagi yang sebaiknya anda catat terkait GIAA ini. Satu, saham GIAA tampaknya cukup mudah terpengaruh oleh pergerakan harga minyak mentah (crude oil), dimana jika harga minyak naik, maka sahamnya akan turun. Beberapa waktu lalu GIAA sempat tertekan ke posisi dibawah 600, dimana ketika itu harga minyak sempat naik sampai diatas US$ 95 per barrel. Sekarang harga minyak sudah turun lagi ke US$ 87 per barrel, dan saham GIAA juga berhasil naik lagi ke 700-an. Korelasi antara harga minyak dan sahm GIAA ini bisa dijelaskan, mengingat salah satu komponen beban perusahaan adalah biaya bahan bakar minyak, sehingga jika harga minyak naik maka hampir bisa dipastikan laba bersih GIAA akan tertekan.
    Lalu yang kedua, sekitar Juli lalu manajemen GIAA mengumumkan soal rencana tiga aksi korporasi sekaligus terkait struktur permodalan perusahaan, yakni kuasi reorganisasi, penurunan nilai nominal modal dasar dan disetor, sekaligus right issue. Hingga kini belum ada kelanjutan mengenai rencana tersebut, tapi jika ketiganya jadi dilakukan, maka sahamnya biasanya akan bergerak liar. Kalau bergeraknya keatas alias naik sih nggak masalah, tapi bagaimana kalau bergeraknya kebawah alias turun?
    Okay, segitu aja dulu, mudah-mudahan [...]

    Ebook 40 Edisi 9M12

    Dear investor, seperti biasa setiap tiga bulan sekali, penulis akan bikin ebook kumpulan analisis (“Ebook 40”), yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan (LK) para emiten periode Kuartal III 2012, alias Sembilan Bulan 2012 atau Nine Months 2012 (9M12). Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda untuk memilih saham yang bagus untuk investasi jangka menengah dan panjang.

    Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, maka untuk kali inipun penulis akan meminta masukan dari teman-teman investor sekalian, terkait saham-saham apa saja yang akan kita bahas di edisi kali ini. Berikut kriteria dari saham-saham yang boleh diusulkan.
    1. Ukurannya perusahaannya gak terlalu kecil. Aset atau market cap-nya minimal atau mendekati Rp 1 trilyun atau US$ 100 juta.
    2. Sahamnya likuid. Jumlah transaksinya minimal 1 juta lembar per hari, atau 250 ribu lembar per hari untuk saham yang harganya diatas Rp10,000.
    3. Fundamentalnya baik, atau paling tidak kelihatannya demikian (untuk lebih detailnya nanti biar penulis yang menganalisisnya).
    4. Bukan saham gorengan. Salah satu ciri saham gorengan adalah mudah naik dan mudah turun secara drastis hingga belasan persen hanya dalam sehari, tanpa penyebab yang jelas.
    5. Bukan saham recehan apalagi gocapan. Rata-rata harganya dalam tiga bulan terakhir minimal Rp100.
    Melalui komentar di bawah artikel ini, anda bisa mengusulkan antara satu hingga beberapa saham. Dan format komentarnya adalah menyebutkan kode sahamnya aja. Misalnya: AABB, CCDD, EEFF, dst. Penulis akan mencatat saham-saham yang paling banyak disarankan. Jika saham-saham tersebut memenuhi kelima kriteria diatas, penulis akan memasukannya sebagai salah satu saham yang diulas di Ebook 40 Edisi 9M12. Seperti biasa, jumlah saham yang akan dianalisis adalah 40 saham (UPDATE: Sekarang hanya 30 saham. Keterangan selengkapnya baca disini).
    Jika tidak ada halangan, yaitu jika semua emiten merilis LK-nya tepat waktu, maka Ebook ini akan terbit pada hari Rabu tanggal 14 November 2012, dan anda bisa membelinya dengan cara preorder. Keterangan selengkapnya klik disini.
    Jangan lupa ikutin pollingnya yak! Dan jika anda punya saran agar ebook ini menjadi lebih baik kedepannya, anda bisa mengirimnya ke alamat email penulis, teguh.idx@gmail.com, jangan melalui komentar disini. Insya Allah penulis akan menampung semua saran yang masuk.

    Produk analisis ini terbit setiap tiga bulan sekali, dan terbit pertama kali pada November 2010. Edisi kali ini merupakan edisi kesembilan. Untuk mengetahui seperti apa analisis yang disajikan, penulis menyediakan sampelnya yakni Ebook 40 edisi kedua, yang terbit pada April 2010 lalu. Anda bisa mendownloadnya disini, gratis! Jika anda tidak bisa mendownloadnya, maka kirim email dengan subjek ‘Sampel Ebook 40′, ke teguh.idx@gmail.com, dan penulis akan mengirim ebook-nya ke alamat email anda. Tidak ada biaya untuk ini, tetap [...]

    The Forgotten Stocks

    Salah satu kesulitan yang dialami investor ketika IHSG sedang tinggi-tingginya seperti sekarang ini, adalah menemukan saham yang secara fundamental masih murah. Well, sebenarnya solusi termudah adalah tunggu aja sampai nanti IHSG terkoreksi dengan sendirinya. But sometimes, cuma menunggu doang terkadang memang membosankan. Karena itulah penulis kemudian mengecek kembali saham-saham yang pernah dipegang di masa lalu yang pada saat ini sudah penulis ‘lupakan’. Siapa tahu ada diantara mereka yang masih bisa dikoleksi, atau setidaknya bisa diperhatikan kembali. Hasilnya, ketemu dua saham yang kelihatannya cukup menarik. Dua saham tersebut adalah Resource Alam Indonesia (KKGI), dan PP London Sumatra (LSIP).
    Untuk KKGI, penulis sudah memperhatikan dan membeli sahamnya sejak November 2010, atau sekitar dua tahun yang lalu. Ketika itu kalau anda masih ingat, sahamnya baru naik banyak dari 900-an ke 1,700-an. Seorang teman meminta penulis untuk menganalisisnya, dan hasilnya, penulis menemukan bahwa perusahaan batubara kecil ini punya kinerja yang sangat bagus, namun valuasinya pada harga 1,700 tersebut masih sangat murah. KKGI sendiri sebelumnya jarang diperhatikan orang karena nggak likuid, karena memang jumlah saham KKGI yang dipegang publik sebelum stocksplit cuma 92 juta lembar. Barulah ketika perusahaan melakukan stocksplit dengan rasio 1 : 4 pada Maret 2010, saham KKGI yang dipegang publik ‘mengembang’ menjadi 368 juta lembar, dan mulai aktif diperdagangkan. Dan seiring dengan peningkatan likuiditasnya, perlahan tapi pasti KKGI pun mulai naik. Bagi anda yang rutin membaca Ebook 40, anda pasti ingat kalau penulis pernah beberapa kali merekomendasikan saham ini.
    Satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada Februari 2012, penulis akhirnya keluar di harga 8,000 pas dengan membawa keuntungan yang lumayan (dalam perjalanannya selama satu setengah tahun tersebut, KKGI nggak cuma di-hold, tapi juga sempat di-trading-kan terutama ketika harganya di 5,000-an). Sesuai prediksi, meski dia sempat melanjutkan kenaikannya hingga 8,500, namun selanjutnya KKGI mulai turun hingga posisi 6,500, dimana penulis mulai masuk lagi pada harga tersebut. Sayangnya kali ini keputusan tersebut keliru, dimana KKGI malah terus saja turun, hingga akhirnya penulis cut loss di 5,700. Ketika KKGI sudah turun hingga dibawah 5,500 (kalau gak salah 5,300), penulis sebenernya mulai pengen masuk lagi, tapi nggak jadi karena melihat ada saham batubara lain yang lebih menarik, yakni Harum Energy (HRUM), yang ketika itu berada di harga 6,400-an.
    (btw, kebijakan penulis selama ini memang hanya membolehkan untuk memegang satu saham saja dari satu sektor, atau maksimal dua. Jadi kalau anda sudah pegang BUMI, misalnya, maka sebaiknya anda jangan pegang ADRO.)
    Karena fokus perhatian penulis beralih ke HRUM, maka KKGI boleh dibilang nggak pernah dilihat lagi. What a surprise, sekarang dia malah sudah berada di posisi 2,700. yang penulis sendiri sejujurnya tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau KKGI bakalan turun sampai sedalam itu. What happen?
    Berdasarkan kinerja perusahaan di First Half 2012, KKGI mencatat penurunan laba bersih sebesar 18.2%, atau sama seperti kebanyakan perusahaan batubara lainnya yang juga mengalami penurunan laba. Namun terlepas dari penurunan labanya tersebut, kinerja KKGI sebenarnya terbilang masih sangat oke, dengan ROE yang masih terjaga di level 55.3%. Disisi lain, perusahaan masih giat berekspansi untuk menambah portofolio tambang batubaranya, dengan mengakuisisi lima tambang seluas total 33 ribu hektar di Kalimantan Timur, sehingga prospeknya juga masih menarik. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka seharusnya saham KKGI saat ini berada di posisi 3,500-an, alias harga yang mencetak PER 10.0 kali, dan stabil di posisi tersebut. Namun yang terjadi, KKGI malah terus saja turun, bahkan meski saham-saham batubara yang lain mulai pulih (BUMI, BORN, dan BRAU jangan dihitung karena mereka sedang mengalami kejadian luar biasa terkait konflik Bakrie – Rothschild).
    Tapi memang penurunan KKGI bukan tanpa alasan. Pada tanggal 29 Agustus lalu, manajemen KKGI merilis pernyataan terkait revisi target produksi batubara untuk tahun 2012. Dalam pernyataannya disebutkan bahwa, altough we have been gearing up our infrastructure capacity to cater for a much higher production volume this year, we believed that it is in the company’s long term interest to take a more conservative approach right now and scale down production in a difficult market cycle such as present.
    Nah, kalau anda perhatikan, pernyataan diatas agak janggal. Maksud penulis, semua orang juga tahu kalau sektor batubara sekarang ini lagi susah. Jadi kenapa juga pihak investor relation KKGI sampai harus mengatakan hal itu secara blak-blakan kepada publik? Bukannya tugas investor relation itu adalah menjelaskan hal-hal yang baik kepada publik, misalnya bahwa perusahaan masih beroperasi dengan normal, dst? Eh, ini kok malah seperti menyuruh investor untuk ramai-ramai keluar dari KKGI.
    Hanya sebulan kemudian, tepatnya pada 25 September kemarin, KKGI kembali mengeluarkan pernyataan penting, kali ini terkait buyback saham. Dalam pernyataannya, dicantumkan analisa terkait pengaruh buyback tersebut terhadap kegiatan utama perusahaan. Berikut analisanya:
    Pembelian kembali saham akan menurunkan aset dan ekuitas perseroan sebesar jumlah pembelian kembali saham. Jika perseroan menggunakan seluruh dana yang dicadangkan untuk pembelian kembali saham tersebut sebesar jumlah maksimum, maka jumlah aset dan ekuitas akan berkurang sebanyak-banyaknya Rp200 milyar (btw, catat bahwa ekuitas KKGI pada First Half 2012 tercatat hanya Rp632 milyar, sehingga angka Rp200 milyar tersebut terbilang besar). Besarnya potensi hilangnya pendapatan bunga akan berpengaruh kepada berkurangnya laba bersih perseroan apabila dana tersebut ditempatkan dalam bentuk deposito.
    Intinya, pengumuman soal buyback saham tersebut disampaikan dengan bahasa yang mirip dengan pengumuman soal revisi target produksi batubara, yang sudah kita bahas diatas. So, I think someone is trying to kick everybody’s out from this company. Tapi apa tujuannya? Well, menurut anda?
    Tapi.. bisa saja kan kalau pihak manajemen KKGI memang beneran pesimis akan masa depan usahanya? Ah, siapa bilang. Okay, sektor tambang batubara pada saat ini memang lagi lesu karena penurunan harga batubara, tapi kan kenaikan dan penurunan harga komoditas, termasuk batubara, itu cuma hal yang biasa. Dalam jangka panjang, tetap saja pembangkit listrik diseluruh dunia akan selalu membutuhkan pasokan batubara. Kalau memang industri batubara diprediksi akan mati total dan tidak akan bangkit lagi, maka nggak mungkin Grup Bakrie mati-matian mempertahankan BUMI dari upaya takeover yang dilakukan Nathaniel Rothschild.
    Satu lagi, pada tanggal 8 Oktober kemarin, Perusahan Listrik Negara alias PLN, menerbitkan notes senilai US$ 2 milyar di Singapura. Dan didalam prospektusnya, disebutkan bahwa per tanggal 30 Juni 2012, perusahaan sedang membangun setidaknya 34 unit pembangkit listrik berbahan bakar batubara, dari 45 unit pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang direncanakan, untuk mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap bahan bakar minyak (kita pernah membahas ini). Alasannya jelas: Indonesia sejak tahun 2007 sudah tidak lagi menjadi negara pengekspor minyak, melainkan pengimpor. Ini berbeda dengan batubara yang jumlahnya masih melimpah, dan belum diserap sepenuhnya oleh pasar dalam negeri.
    Untuk tahun penuh 2011, PLN menggunakan bahan bakar batubara dengan porsi 38.5%, dan bahan bakar minyak dengan porsi 29.3%. Kedepannya, tepatnya pada tahun 2014 mendatang, PLN berencana untuk meningkatkan porsi penggunakan bahan bakar batubara menjadi 54.1%, sementara porsi penggunaan bahan bakar minyak akan dikurangi menjadi hanya 6.1%. Selengkapnya bisa dilihat di tabel berikut.
    Fuel Type (%)
    2011
    2014
    Fuel Oil
    29.3
    6.1
    Natural Gas
    22.5
    32.7
    Coal
    38.5
    54.1
    Geothermal
    2.5
    2.2
    Hydroelectric
    7.2
    4.9
    Total
    100.0
    100.0
    So, untuk KKGI sendiri yang selama ini lebih banyak menjual batubaranya ke pasar ekspor, maka kedepannya mereka juga berpeluang untuk lebih banyak jualan di pasar domestik. Karena seharusnya nggak cuma PLN, industri-industri lainnya yang juga membutuhkan batubara, seperti pembuatan semen dll, juga akan berkembang jika pasokan listrik itu sendiri menjadi lebih lancar. Jadi menurut penulis, adalah aneh kalau pihak manajemen KKGI tampak seperti mengangkat bendera putih dalam menjalankan usahanya, dan menunjukkan hal itu secara terbuka kepada publik.
    Tapi ya sudahlah. Jadi apakah sekarang kita langsung saja masuk ke KKGI ini? Ya berhubung pergerakan sahamnya masih nggak wajar, dan sentimen-sentimen yang beredar juga masih jelek, maka sebaiknya jangan dulu lah. Tapi jika kemarin-kemarin saham ini sempat dilupakan, maka sekarang ini kita bisa mencermatinya kembali.
    Okay, lalu bagaimana dengan LSIP?
    Berbeda dengan KKGI, cerita seputar LSIP ini nggak terlalu complicated, dan pergerakan sahamnya sejauh ini juga wajar. Saham ini sempat menembus posisi 3,000-an sebagai posisi tertingginya (tepatnya 3,175) pada April 2012 lalu, yang didorong oleh kinerja apiknya sepanjang tahun 2011. Setelahnya, LSIP kemudian turun dan sekarang sudah berada di posisi 2,375, karena perlambatan kinerjanya di tahun 2012 ini. Pada First Half 2012 kemarin, LSIP mencatat penurunan laba bersih 27.9%.
    Penulis sudah mengkoleksi LSIP ini pada Mei 2010, atau beberapa bulan sebelum ketemu dengan KKGI. Ketika itu harganya di 7,500-an (harga sebelum stocksplit, kalau pake harga sekarang berarti 1,500-an). Ketika itu sektor perkebunan kelapa sawit memang lagi bagus-bagusnya seiring dengan kenaikan harga crude palm oil (CPO), dan saham yang bagus di sektor ini ada dua, yakni LSIP dan AALI, namun LSIP lebih menarik dari sisi valuasi. Beberapa bulan kemudian, yakni pada Maret 2011, penulis mengalihkan pegangan dari LSIP ke saham sawit ‘pendatang baru’ yang tiba-tiba saja mencatat pertumbuhan signifikan, yaitu TBLA. Sayangnya kinerja apik TBLA tidak berlanjut, sehingga pada September 2011, penulis balik lagi ke LSIP, dengan masuk di harga 2,200.
    Pada April 2012, penulis akhirnya keluar lagi dari LSIP ini di harga 2,800-an, dan gak masuk-masuk lagi sampai sekarang, karena melihat bahwa sektor sawit juga lagi lesu, sama seperti batubara. Namun sekali lagi, penulis masih menilai bahwa LSIP merupakan saham terbaik di sektor perkebunan kelapa sawit. Jadi jika nanti harga CPO mulai bergerak naik lagi (saat ini harga CPO di Malaysia tercatat RM2,471 per ton, masih rendah), maka saham pertama yang bisa dilirik ya LSIP ini.
    Lalu bagaimana outlook sektor sawit kedepannya? Well, kita sudah pernah membahasnya di artikel terdahulu, silahkan baca lagi. Terus apakah di harga sekarang LSIP sudah bisa dibeli? Sayangnya, belum. Kemungkinan LSIP masih bisa turun lagi, mengingat posisinya pada saat ini seharusnya lebih rendah andaikata IHSG tidak sedang berada di posisi 4,300-an. Posisi masuk yang ideal adalah di 2,000 pas atau dibawahnya, dimana LSIP mungkin akan turun ke posisi tersebut ketika nanti periode bullish IHSG berakhir.
    Okay, terakhir, apakah anda cuma mengecek saham-saham yang pernah dipegang aja, atau juga saham-saham lainnya yang belum pernah diperhatikan sebelumnya, termasuk beberapa saham yang baru IPO belakangan itu? I did it too, tapi sejauh ini sepertinya belum ada saham lain yang cukup menarik untuk dikoleksi (kecuali tentu, saham-saham yang sudah dipegang sebelumnya, termasuk HRUM yang sudah penulis sebutkan diatas). But just like you do, I keep searching, and I’ll let you know if I found one.
    NB: Hari ini dua emiten, yakni Bank BTPN (BTPN) dan Hero Supermarket (HERO), baru saja merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal III 2012, yang itu berarti musim laporan keuangan untuk periode Kuartal III sudah dimulai. Dan seperti biasa, penulis akan membuat rangkuman analisisnya dalam bentuk ebook. Anda bisa membelinya

    Bumi Resources: What’s Inside?

    Bakrie strikes back! Itulah kesan pertama yang penulis tangkap ketika mendengar berita bahwa Grup Bakrie melalui salah satu holdingnya, Bakrie & Brothers (BNBR) dan Long Haul Holdings Ltd, mengajukan proposal kepada manajemen Bumi Plc untuk membeli kembali saham Bumi Resources (BUMI) yang dipegang Bumi Plc, senilai kurang lebih US$ 278 juta. Namun, BNBR tidak akan membeli semua saham BUMI yang dipegang Bumi Plc, melainkan hanya 18.9%, sehingga nantinya Bumi Plc masih memegang 10.3% saham BUMI (karena saat ini Bumi Plc memegang 29.2% saham BUMI). Disisi lain, Bakrie juga akan melepas kepemilikannya atas Bumi Plc yang sebesar 23.8%, untuk ditukar dengan sisa saham BUMI yang masih dipegang Bumi Plc, sebesar 10.3% tadi. So, jika prosesnya berjalan lancar, maka sebelum Natal tahun ini, Bakrie akan tidak lagi memiliki kepentingan di Bumi Plc, dan Bumi Plc juga tidak lagi menjadi pemegang saham di BUMI.

    Lalu bagaimana dengan Berau Coal Energy (BRAU)? Bakrie juga menawarkan untuk membeli kembali 85% saham BRAU yang dipegang Bumi Plc senilai US$ 947 juta, sehingga totalnya (jika proposalnya disetujui), Bakrie akan mengeluarkan US$ 1.2 milyar lebih untuk keluar dari jeratan Bumi Plc, atau dalam hal ini, Nathaniel Rothschild.
    Pertanyaannya tentu, apa mungkin prosesnya akan segampang itu? Jelas tidak. Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Bumi Plc di London pada tanggal 11 Oktober kemarin, manajemen Bumi Plc menyatakan akan mempertimbangkan tawaran tersebut, namun belum memberikan pernyataan bahwa mereka akan menerimanya. Well, bisa dibilang bahwa mulai sekarang, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Yang jelas kalaupun Bakrie berhasil keluar dari kerjasamanya dengan Nathaniel, maka mereka tetap kalah karena harus keluar biaya US$ 1.2 milyar atau sekitar Rp11 trilyun. Ini luar biasa, mengingat selama ini Bakrie hampir selalu bisa mendapatkan segalanya tanpa harus keluar modal, dan sekaligus menunjukkan bahwa Nathaniel Rothschild memang bukan orang sembarangan.
    Nah, kalau bicara soal kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa terjadi dalam beberapa waktu kedepan pasca ‘perlawanan’ dari Bakrie ini, maka seperti sudah disebut diatas, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Karena itulah, mungkin akan lebih menarik untuk memperhatikan, apa sih sebenarnya yang ada di dalam BUMI (dan juga BRAU) sehingga Bakrie mati-matian mempertahankannya? Faktanya, BUMI memang merupakan induk dari banyak aset-aset yang bagus, dimana Grup Bakrie meletakkan aset-aset sumber daya mineral yang berhasil mereka akuisisi, baik batubara maupun lainnya, dibawah BUMI ini. Okay, berikut detailnya.
    1. PT Arutmin Indonesia (Arutmin)
    Arutmin adalah aset pertama BUMI yang diakuisisi pada tahun 2001. Arutmin memiliki enam tambang batubara di Kalimantan Tenggara dengan total luas konsesi 70 ribu hektar, dengan nilai total aset US$ 1.4 milyar per tanggal 30 Juni 2012. Pada tahun 2011, Arutmin memproduksi 24.7 juta ton batubara, tumbuh 18.5% dibanding tahun 2010. Sementara per tanggal 30 Juni 2012, jumlah cadangan batubara terbukti yang dimiliki Arutmin tercatat 348.5 juta ton, alias masih cukup untuk 15 – 20 tahun kedepan, dan itu belum termasuk sumber daya batubara (yang berpotensi meningkat statusnya menjadi cadangan) sebanyak 2.3 milyar ton. Wow!
    2. PT Kaltim Prima Coal (KPC)
    KPC boleh dibilang merupakan aset terbesar yang dipegang BUMI, dengan nilai aset US$ 2.4 milyar per tanggal 30 Juni 2012. Berlokasi di Kalimantan Timur (Kaltim), pada tahun 2011, KPC memproduksi 40.5 juta ton batubara, yang menjadikannya sebagai produsen batubara terbesar di Indonesia setelah Adaro Energy (ADRO). Sisa cadangan batubara terbukti milik KPC tercatat 1.1 milyar ton per tanggal 30 Juni 2012, sementara sumber daya batubaranya tercatat lebih dari 3.5 milyar ton.
    Btw, penulis punya seorang teman yang kebetulan punya usaha tambang batubara di Kaltim, dan dia bilang, konsesi tambang batubara milik KPC yang seluas 90 ribu hektar itu terletak persis di tengah-tengah ‘lautan’ batubara terbesar yang ada di Pulau Kalimantan. Sementara perusahaan-perusahaan batubara lainnya yang juga beroperasi di lokasi yang berdekatan seperti Harum Energy (HRUM), Indo Tambangraya (ITMG), Bayan Resources (BYAN), dll, itu cuma dapet pinggiran-pinggirannya saja. Jadi nggak heran ketika KPC didivestasi oleh Beyond Petroleum dan Rio Tinto pada tahun 2003 lalu, banyak konglomerat yang langsung berebut mengakuisisinya. Dan memang kemenangan Bakrie dalam pertarungan perebutan KPC tersebut-lah, yang menyebabkan Bakrie menjadi besar hingga saat ini.
    3. PT Fajar Bumi Sakti (FBS)
    FBS adalah perusahaan tambang batubara lainnya Kalimantan Timur yang dimiliki BUMI. Jika dibandingkan dengan KPC, FBS terbilang sangat kecil dengan sumber daya batubara ‘cuma’ 335 juta ton pada akhir tahun 2011. Mungkin itu sebabnya ketika Bakrie dikabarkan dilanda kesulitan keuangan, salah satu rumor yang sering muncul adalah bahwa mereka akan melego asetnya yang satu ini. Termasuk ketika pada tanggal 9 Oktober kemarin, di portal BeritaSatu.com keluar kabar bahwa BUMI akan menjual FBS ke Grup Sampoerna senilai Rp2 trilyun, yang kemudian dibantah pihak manajemen BUMI.
    Meski kecil dan terkesan remeh, sebenarnya FBS memiliki potensi untuk menjadi besar di masa mendatang, meski memang tetap saja tidak akan sebesar KPC. Pada tahun 2012 ini, FBS diperkirakan hanya akan memproduksi maksimal 1 juta ton batubara. Namun di tahun 2017 nanti, perusahaan diproyeksikan akan bisa memproduksi 10 juta ton batubara per tahun, seiring dengan pengembangan infrastruktur pertambangan yang pada saat ini sudah mulai dikerjakan.
    4. PT Pendopo Energi Batubara (PEB)
    PEB adalah aset batubara BUMI yang paling baru, yang diakuisisi pada tahun 2009 kemarin. Berlokasi di Muara Enim, Sumatera Selatan, PEB memiliki sumber daya batubara sebanyak hampir 2 milyar ton. Namun berhubung hingga saat ini PEB masih belum berproduksi karena masih dalam tahap eksplorasi dll, maka belum ada data pasti soal berapa cadangan batubara terbukti yang dimiliki perusahaan. Tapi memang, jika benar bahwa sumber daya batubara milik PEB mencapai 2 milyar ton, maka PEB ini berpotensi menjadi The Next KPC. Kabupaten Muara Enim sendiri sejak dulu memang dikenal sebagai gudangnya batubara di Pulau Sumatera, dimana salah satu perusahaan batubara terbesar lainnya di Indonesia, yakni PT Bukit Asam (PTBA), juga beroperasi disitu.
    5. PT Gorontalo Minerals (Gomin)
    Indonesia tidak hanya kaya akan batubara, tapi juga kaya akan emas dan mineral pengikutnya seperti tembaga, perak, dan molybdenum. Karena itulah, Bakrie tidak mau ketinggalan untuk juga memiliki aset di sektor ini. Pada Desember 2010, Bakrie melalui Bumi Resources Minerals (BRMS), yang merupakan anak usaha dari BUMI, memperoleh izin eksplorasi untuk konsesi tambang emas seluas 36 ribu hektar di Kabupaten Bone Balongo, Provinsi Gorontalo. Per tanggal 30 Juni 2012, tambang tersebut dinyatakan sudah selesai dieksplorasi, dan selanjutnya memasuki proses studi kelayakan, sebelum kemudian baru berproduksi. Dan dalam laporan hasil eksplorasi yang dirilis BRMS pada tanggal 12 September 2012 kemarin, Gomin dinyatakan memiliki estimasi cadangan emas sebanyak 137.2 ton. Ini emas lho, bukan batubara.
    6. PT Citra Palu Minerals (Cipam)
    Cipam adalah perusahaan tambang emas lainnya yang dimiliki oleh BUMI melalui BRMS, yang memiliki lima konsesi tambang seluas total 139 ribu hektar di Sulawesi Tengah dan Selatan, atau hampir empat kali lebih luas dibanding konsesi tambang milik Gomin. Seperti Gomin, Cipam juga sudah selesai dieksplorasi dan saat ini sedang dalam proses studi kelayakan. Namun sejauh ini belum ada laporan soal berapa cadangan emas yang dimiliki perusahaan.
    7. PT Dairi Prima Mineral (Daprim)
    Daprim adalah perusahaan tambang timah hitam (lead), seng (zinc), dan bijih besi, yang berlokasi di Sumatera Utara. Untuk Daprim, kegiatan yang dilakukan masih dalam tahap eksplorasi. Namun berdasarkan perkiraan awal yang informasinya dirilis pada Februari 2011, Daprim diperkirakan memiliki cadangan bijih besi sebanyak 25 juta ton, yang diperkirakan baru akan habis dalam jangka waktu 30 tahun.
    8. PT Newmont Nusa Tenggara (NNT)
    NNT mungkin merupakan aset kedua terbesar di BUMI setelah KPC. Pada tahun 2010, BUMI berhasil mengakuisisi 24% saham NNT, sebuah perusahaan tambang emas skala besar yang berlokasi di Sumbawa, Nusa Tenggara. Saat ini NNT memiliki tiga lokasi tambang, yakni Batu Hijau, Elang, dan Rinti, yang kesemuanya masih berlokasi di Sumbawa. Pada akhir tahun 2011, untuk tambang Batu Hijau saja diperkirakan terdapat cadangan emas sebanyak 790 ton!, dan itu belum termasuk cadangan logam bawaannya seperti tembaga dll. So, boleh dibilang bahwa Newmont ini merupakan tambang emas terbesar kedua di Indonesia, setelah Grasberg, Papua, yang dimiliki oleh Freeport. Dan berbeda dengan Gomin, Cipam, dan Daprim yang masih belum berproduksi, NNT sudah berproduksi dan juga sudah menghasilkan pendapatan.
    Namun, Bakrie baru memegang 24% saham NNT, sehingga belum bisa disebut sebagai pemilik dari perusahaan tambang emas tersebut. Karena itulah sampai saat ini Bakrie melalui BUMI masih berupaya untuk mengakuisisi 7% saham NNT yang akan didivestasi oleh pemiliknya, Newmont Corp., sehingga nantinya BUMI akan memegang total 31% saham NNT. Nah, kalau nanti Bakrie sukses memegang 31% saham Newmont, maka kesananya akan lebih gampang. Tinggal taruh saja satu orang direktur untuk menempati posisi HRD, misalnya, kemudian suruh dia untuk mendorong para pekerja untuk mogok kerja, ataupun ‘kekacauan-kekacauan’ lainnya. Dijamin pihak Newmont Corp. akan gerah juga, dan pada akhirnya memilih untuk keluar sepenuhnya dari NNT, alias menjual sisa sahamnya atas NNT ke Bakrie.
    Tapi hingga saat ini, upaya Bakrie melalui BUMI untuk memperoleh 7% saham NNT tersebut masih menemui jalan terjal. Well, malah mungkin untuk saat ini mereka tidak bisa fokus pada upaya tersebut, mengingat ada pihak lain yang lebih kuat lagi, yakni Nathaniel Rothschild, yang sedang berupaya untuk mengambil alih BUMI itu sendiri.
    Lain-Lain
    Nah, bagi banyak konglomerat, BUMI sejatinya sangat seksi dan padat berisi, karena BUMI ini berisi setidaknya delapan perusahaan yang sudah dibahas diatas. Diluar itu, BUMI juga masih punya beberapa aset lagi yang berlokasi diluar negeri, seperti Bumi Mauritania SA (Mauritania, Afrika Barat), Konblo Bumi Inc (Liberia), dan Gallo Oil (Republik Yaman). Ketiga perusahaan tersebut masing-masing bergerak di bidang tambang bijih besi, emas, dan minyak. Namun, ketiganya hingga saat ini masih dalam tahap eksplorasi, dan juga tidak ada kejelasan soal berapa cadangan resourcesyang dimiliki, dan kapan mereka akan berproduksi. Sehingga kalau penulis sendiri sih cenderung menganggap bahwa kepemilikan BUMI atas tiga aset diatas tidaklah berarti (anggap aja nggak ada).
    Diluar aset-asetnya yang diluar negeri tersebut, dari kedelapan perusahaan yang sudah dibahas diatas juga memang hanya KPC dan Arutmin yang sudah berkontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan (dan juga NNT. Namun karena BUMI hanya memegang 24% sahamnya, maka pendapatan dari NNT tidak dikonsolidasikan, melainkan dianggap sebagai pendapatan dari entitas asosiasi). But still, keberadaan KPC dan Arutmin tetap membuat BUMI padat berisi, mengingat cadangan batubara yang dimiliki oleh kedua perusahaan tersebut terbilang cukup untuk digali hingga sekitar 30 tahun kedepan. Dan itu sebabnya, Bakrie mati-matian mempertahankan BUMI ini dari siapapun yang mencoba merebutnya, termasuk Nathaniel. Mungkin pimpinan Grup Bakrie, Mr. Nirwan, berpikir begini: ‘Gue udah capek-capek ngumpulin aset dari sana-sini, eh elu anak orang kaya tiba-tiba dateng begitu saja buat ngambil semuanya??? Sorry bro, nggak semudah itu!’
    Sayangnya, BUMI hanya menarik bagi para pemodal besar. Sementara bagi para investor retail di market, anda tidak bisa menjadi pemilik BUMI dengan cara membeli sekian lot sahamnya di market, karena posisi anda biar bagaimanapun lebih rendah dari bandar (kecuali mungkin, jika anda beli saham BUMI senilai Rp1 trilyun atau lebih). Malah yang ada, Bakrie juga menjadikan para investor retail sebagai ‘komoditas’ dan sumber dana, dengan cara memain-mainkan sahamnya. Termasuk, istilah ‘saham sejuta umat’ bagi BUMI juga diciptakan oleh mereka sendiri (melalui pihak BEI), karena mereka tahu betul bahwa sebagian besar investor retail di Indonesia menyukai untuk berspekulasi pada saham gorengan.
    Oke, lalu bagaimana dengan BRAU? BRAU hanya memiliki satu aset saja, yakni PT Berau Coal, yang menjadi induk dari tiga tambang batubara yang kesemuanya berlokasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Per tanggal 30 Juni 2012, BRAU memiliki cadangan batubara sebanyak total 316.6 juta ton, atau kurang lebih setara dengan Arutmin. So, BRAU ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan BUMI, yang berisi Arutmin dll. Namun pihak Bakrie sengaja menempatkan BRAU diluar BUMI, karena bukan mereka yang bekerja keras untuk mengambil alih BRAU ini dari pemilik sebelumnya (pengusaha Ibrahim Risjad), melainkan Grup Recapital, sementara pihak Bakrie tinggal menyediakan dananya. Salah satu petinggi Recapital, Mr. Rosan Roeslani, merupakan tangan kanan langsung dari Nirwan Bakrie.

    Terkait kisruh Bakrie vs Rothschild, mungkin pihak Recapital cuma bisa nonton. Namun yang menarik untuk diperhatikan adalah posisi dari Samin Tan, dimana pertanyaannya,  akan ada dimana posisi pemilik dari Borneo Lumbung Energ (BORN) tersebut, andaikata Bakrie berhasil keluar dari Bumi Plc? Soalnya Mr. Tan kan juga memegang 23.8% saham Bumi Plc. Masa dia mau ditinggalin begitu aja? Dalam pengumuman yang dirilis BORN pada tanggal 11 Oktober kemarin, manajemen BORN memang menyatakan bahwa mereka sedang berdiskusi dengan pihak Bakrie terkaitdissolution atau pemutusan hubungan kerja mereka dengan Nathaniel. Tapi ya, sejauh ini belum ada keputusan apa-apa. Mari kita tunggu episode [...]

    Indomobil Sukses Internasional

    Industri penjualan kendaraan bermotor roda empat alias mobil di Indonesia selalu menarik untuk dicermati, mengingat gaya hidup kalangan menengah keatas yang hampir pasti memiliki minimal satu unit mobil di garasi rumahnya, dan mereka secara rutin mengganti mobilnya tersebut setiap beberapa waktu sekali (beli lagi yang baru). Sejak dulu, merk mobil yang paling umum digunakan di Indonesia adalah Toyota, dan sampai sekarang juga masih demikian. Namun belakangan ini beberapa merk mobil yang sebelumnya kurang dikenal masyarakat, kini bisa dengan mudah ditemui di jalan raya. Salah satunya, Nissan, dengan type unggulannya Nissan Juke, March, dan Grand Livina. Siapa pemegang merk Nissan di Indonesia? Bukan, bukan Astra International (ASII) ataupun salah satu anak usahanya, melainkan Indomobil (IMAS).

    IMAS adalah salah satu unit usaha Grup Salim di bidang penjualan kendaraan bermotor roda empat atau lebih (mobil, truk, dll). Beberapa merk yang dipegang perusahaan adalah Nissan, Audi, Hino, Renault, Suzuki, SsangYong, Volvo, Volkswagen, dan yang terbaru, Infiniti (merk premium dari Nissan, seperti Lexus-nya Toyota). Untuk merk Volvo, IMAS juga menjual berbagai macam alat-alat berat (sehingga IMAS merupakan kompetitor untuk Intraco Penta/INTA yang menjual alat-alat berat dengan merk yang sama). Selain jualan mobil dan alat-alat berat, IMAS juga memiliki perusahaan pembiayaan kredit kendaraan, penjualan sepeda motor (Suzuki), rental kendaraan, dan perusahaan penjualan suku cadang Indoparts, selain juga memiliki perusahaan kontraktor tambang skala kecil.
    Meski IMAS menjual berbagai merk mobil dan juga memiliki beberapa jenis usaha diluar usaha penjualan mobil, namun lebih dari separuh pendapatan perusahaan berasal dari penjualan satu merk mobil saja, yaitu Nissan. Pada First Half 2012, IMAS mencatat pendapatan Rp9.8 trilyun, dimana sekitar 54.5% atau Rp5.4 trilyun diantaranya berasal dari penjualan mobil merk Nissan. Thanks to beberapa type unggulannya, terutama Nissan Grand Livina. Hingga akhir Agustus 2012, Grand Livina merupakan type terlaris dari Nissan dengan kontribusi mencapai 50 – 60% dari seluruh volume penjualan. Berkat Livina pula, Nissan sukses meraup 9.6% pangsa pasar mobil di Indonesia di Kuartal I 2012, atau sudah lebih besar ketimbang Honda, tapi masih dibawah Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, dan Suzuki. Kelebihan Livina cukup jelas, yakni image-nya sebagai mobil keluarga yang nyaman, aman, dan stylish, namun dengan harga yang tetap terjangkau, yakni mulai dari Rp160 jutaan.
    Kedepannya, Nissan masih akan terus mengembangkan dan meluncurkan type-type baru, termasuk Nissan Evalia yang, menurut klaim perusahaan, angka penjualannya sudah mencapai 5,200 unit hanya dalam periode Mei – Juli 2012.
    Sukses dengan Nissan, pendapatan IMAS juga sukses tumbuh hingga 41.6% pada First Half 2012 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun laba bersihnya hanya tumbuh 25.0%. Penyebabnya? Karena perusahaan membelanjakan Rp8.2 trilyun untuk membeli mobil yang selanjutnya dijual (IMAS kan perusahaan dagang, bukan produsen), naik 67.2% dibanding tahun lalu, atau kenaikannya lebih besar ketimbang penjualan. Biasanya ini terjadi karena pelemahan nilai Rupiah belakangan ini, mengingat sebagian besar mobil yang dijual IMAS, baik built up maupun komponennya, berasal dari impor.
    Anyway, yang jelas kesuksesan Nissan sepanjang tahun 2010 hingga sekarang tentunya tidak akan dibiarkan begitu saja oleh para kompetitornya, terutama Honda yang baru saja ‘disalip’. Itu sebabnya pihak Honda pun, dalam hal ini PT Honda Prospect Motor, langsung meluncurkan type baru, yakni Honda Brio dan New Civic. Lalu para pemimpin pasar di industri otomotif Indonesia, yakni Toyota dan Daihatsu, juga tidak mau ketinggalan dengan merilis Toyota Agya dan Daihatsu Ayla, yang dipastikan akan menjadi penantang serius bagi Nissan March di segmen mobil murah. Dan jangan lupakan pendatang baru asal India, Tata Motors, dengan type andalannya yakni Tata Nano. The battle has just begin!
    Lalu apa strategi IMAS untuk paling tidak mempertahankan posisinya saat ini? Ya dengan juga merilis type baru, seperti Nissan Evalia seperti yang sudah disebut diatas, dan dengan memperluas jaringan penjualan terutama untuk pasar diluar Jakarta. Pada tahun 2012 ini, IMAS setidaknya sudah membuka satu dealer anyar untuk Nissan yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. Diluar Nissan, IMAS juga tetap memberdayakan merk-merk lain yang mereka pegang, dengan meluncurkan type-type baru seperti Audi Q3, Volkswagen New Caravelle, dan Volkswagen New Touareg.
    Tapi memang pertanyaan terbesarnya adalah terkait peraturan DP minimum 30% untuk pembelian mobil pribadi, yang secara resmi dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada Maret 2012 lalu, dan mulai berlaku efektif pada Juni kemarin. Dalam public expose yang diselenggarakan perusahaan pada April 2012 lalu, direktur utama IMAS, Jusak Kertowidjojo, mengakui bahwa peraturan soal DP tersebut akan berdampak terhadap kinerja perusahaan, hanya beliau tidak memperinci seberapa besar dampaknya. Lalu bagaimana strategi perusahaan terkait hal tersebut? Well, juga tidak ada perincian soal itu. Tapi memang, ini adalah masalah bersama bagi seluruh pelaku industri otomotif di Indonesia, nggak cuma IMAS.
    Btw, kalo ada yang nanya kenapa saham ASII seperti gak terpengaruh masalah DP ini dan malah terus saja naik, itu karena dua hal. Satu, ASII merupakan perusahaan yang bergerak di banyak sekali bidang, gak cuma jualan mobil, dimana bidang lain yang juga berkontribusi besar terhadap perusahaan adalah penjualan alat-alat berat dan usaha pertambangan melalui anak usahanya, United Tractors (UNTR), dengan kontribusi lebih dari 30% dari nilai total pendapatan ASII. IMAS memang juga punya usaha penjualan alat-alat berat merk Volvo, namun porsinya cuma sekitar 5% dari nilai total pendapatan perusahaan. Dua, ASII memiliki citra sebagai perusahaan blue chip favorit investor asing di BEI, dan saat ini investor asing lagi giat-giatnya masuk ke bursa. Citra ini tidak dimiliki oleh IMAS, yang oleh sebagian investor masih dianggap sebagai saham second liner.
    Oke, sekarang gimana sahamnya?
    Sepanjang tahun 2011 lalu, IMAS sukses menanjak dari posisi 4,075 pada awal tahun 2011, hingga mencapai puncaknya di posisi 9,325 pada Mei 2012, yang terutama karena kinerja ciamik perusahaan sepanjang periode waktu tersebut. Namun begitu keluar pengumuman soal DP minimum, saham IMAS terus terperosok, hingga sekarang sudah balik lagi ke 5,200. Sayangnya secara teknikal, belum ada tanda-tanda bahwa penurunannya tersebut akan berhenti.
    Secara valuasi, saham IMAS pada harga 5,200 mencetak PER 9.0 kali, sudah tidak mahal sebenarnya, mengingat ROE IMAS mencapai 18.8%, dan pertumbuhan laba bersihnya juga masih terjaga di atas 20%, tepatnya 25.0%. Namun jika kita mempertimbangkan bahwa IMAS belum tentu bisa ‘deal’ dengan masalah DP tadi, dan juga belum ada strategi yang jelas dari perusahaan terkait kompetisi mereka dengan para pesaingnya, terutama dengan Agya dan Ayla (karena katanya dua mobil tersebut harganya cuma Rp100 jutaan, sementara Nissan March sebenarnya nggak murah-murah amat, melainkan Rp150 jutaan), maka memang menjadi tidak ada jaminan bagi IMAS untuk bisa meneruskan kinerja bagusnya di masa mendatang. Jika anda termasuk yang mempertimbangkan hal ini, maka saham IMAS di harga sekarang masih agak mahal.
    Disisi lain, IMAS masih punya segudang rencana pengembangan usaha diluar sekedar jualan mobil merk Nissan. Ketika perusahaan menyelenggarakan right issue senilai Rp2.5 trilyun pada pertengahan tahun 2011 lalu, 40% dana tersebut dipakai untuk mengembangkan usaha jasa pembiayaan, usaha pembuatan dan penjualan suku cadang kendaraan bermotor, dan usaha penjualan truk dan alat-alat berat. Termasuk pada tanggal 28 September kemarin, IMAS mengumumkan pendirian perusahaan patungan (joint venture) dengan Kyokuto, perusahaan asal Jepang yang bergerak di bidang pembuatan dan penjualan truck body. Kerjasama ini menghasilkan sebuah pabrik truck body di Cikampek, Jawa Barat, yang akan akan mulai berproduksi pada tahun 2013. Bagaimana hasilnya? Kita lihat nanti.
    Kesimpulannya, kalau bagi penulis IMAS ini masih menarik mengingat Nissan Grand Livina hingga saat ini masih merupakan mobil favorit kedua di Indonesia untuk jenis multi purpose vehicle (MPV), setelah Avanza (atau Xenia). Disisi lain, beberapa hal yang berpotensi menghambat kinerja IMAS di masa depan, mau tidak mau membuat para investor lebih memilih untuk wait and see, dan penulis juga memilih sikap yang sama. Untuk saat ini, coba anda lihat dulu saham IMAS mentoknya sampai di berapa, sekaligus amati perkembangan kinerjanya di Kuartal III nanti, apakah masih tumbuh signifikan atau tidak.
    PT Indomobil Sukses Internasional, Tbk.
    Rating Kinerja pada 1H12: A
    Rating saham pada 5,200: BBB
    NB: Penulis membuat buletin yang berisi rekomendasi saham bulanan, anda bisa memperolehnya

    Bakrie vs Rothschild, Part 2

    Pada tanggal 24 September 2012 lalu, Bumi Plc, perusahaan patungan antara Grup Bakrie dan Nathaniel Rothschild yang terdaftar di Bursa London, Inggris, yang juga merupakan pemegang 29.2% saham Bumi Resources (BUMI) dan juga 85% saham Berau Coal Energy (BRAU), merilis pengumuman terkait pembentukan ‘komisi investigasi independen’, dimana komisi ini akan menginvestigasi penempatan dana pengembangan (development funds) yang dilakukan oleh perusahaan. Tak butuh waktu lama, pengumuman tersebut seketika langsung mengguncang dunia persilatan, termasuk memunculkan banyak sekali spekulasi terkait hubungan Bakrie – Rothschild, sampai-sampai pihak manajemen BUMI dan BRAU akhirnya menyelenggarakan public expose insidentil untuk meluruskan semua rumor yang beredar.

    Dalam keterbukaan informasinya di Bursa London, Nick von Schirnding, investor relation Bumi Plc, mengatakan bahwa, An area of focus of the investigation will be the development funds of PT Bumi Resources Tbk.  The extensive development funds in PT Bumi Resources Tbk and the one development asset in PT Berau Coal Energy Tbk were marked down to zero in the accounts of Bumi plc as at 31 December 2011, except for one investment with a carrying value of $39 million in the consolidated financial statements.’ Dari kalimat tersebut, jelas bahwa inti utama investigasinya adalah terkait keberadaan akun development fundssebesar US$ 39 juta di laporan keuangan Bumi Plc untuk tahun penuh 2011. Dan memang pada tahun penuh 2011, Bumi Plc mencatat rugi bersih US$ 282 juta, dimana salah satunya merupakan bagian rugi bersih dari pihak asosiasi, dalam hal ini BUMI, sebesar US$ 39 juta.
    Masalahnya, pada tahun penuh 2011, BUMI tidak mencatatkan kerugian, melainkan laba bersih US$ 221 juta. Nah, bagaimana mungkin Bumi Plc sebagai pemegang saham BUMI malah menerima bagian rugi bersih dan bukannya laba bersih?
    Jadi yang dituduh melakukan financial irregularities adalah Bumi Plc, bukan BUMI (dan juga bukan BRAU). Bumi Plc dituduh, entah oleh siapa, telah tidak transparan mengenai kerugian sebesar US$ 39 juta tadi. Dan sebagai respon atas tuduhan tersebut, manajemen Bumi Plc kemudian membentuk tim komisi investigasi, dimana pengumuman soal pembentukan tim tersebut disampaikan pada 24 September lalu. Menarik untuk melihat fakta bahwa Bumi Plc baru merilis pengumuman tersebut ketika saham Bumi Plc sudah turun lebih dari 40% dalam sebulan sebelumnya, dari posisi £293 ke £146 per saham. Disisi lain, menarik pula bahwa yang menjadi inti investigasinya adalah akun ‘aneh’ di laporan keuangan mereka untuk periode yang berakhir 31 Desember 2011 lalu.. Eh, kemaren-kemaren kemana aja mas? Sekarang udah bulan Oktober!
    Sebenarnya secara logika, sulit untuk mempercayai bahwa ada orang atau kelompok tertentu, entah di Inggris sana ataupun di tempat lainnya di seluruh dunia, yang berani menuduh bahwa perusahaannya Nathaniel Rothschild ini telah melakukan manipulasi keuangan. Maksud penulis, keberadaan Rothschild di Inggris itu sama seperti Bakrie disini, dimana mereka bisa berbuat apa saja dan tidak ada yang bisa melawan ataupun menuduh macam-macam, bahkan otoritas bursa sekalipun. Masih ingat dengan cerita dua tahun lalu soal dana cash sekian trilyun yang disimpan oleh Grup Bakrie di Bank Capital, yang kemudian dipertanyakan apakah dana tersebut beneran ada atau tidak? Ketika itu Bapepam hanya menjatuhkan sanksi denda sebesar masing-masing Rp500 juta bagi tiga perusahaan yang terlibat, yakni BNBR, BIPI dan UNSP, sebuah sanksi yang tentu saja kelewat ringan.
    Jadi dalam hal ini, ‘orang’ yang menuduh Bumi Plc melakukan manipulasi, kemungkinan adalah mereka sendiri, apalagi jika mengingat bahwa jumlah uang yang dipermasalahkan terbilang recehan, yaitu ‘hanya’ US$ 39 juta. Tujuannya? I don’t know. Tapi terakit timing dari dikeluarkannya pengumuman soal pembentukan komisi investigasi tadi, maka seharusnya itu juga bukan suatu kebetulan, melainkan disengaja. Hanya saja sekali lagi, kita tidak tahu apa tujuannya.
    Lalu apa tanggapan dari pihak BUMI? Melalui corporate secretary-nya, Dileep Srivastava, manajemen BUMI mengatakan bahwa mereka tidak menerima pemberitahuan terkait pembentukan komisi investigasi oleh Bumi Plc. Well, ini adalah pernyataan yang aneh mengingat beberapa key person di Bumi Plc juga merupakan anggota dewan komisaris dan/atau direksi di BUMI, seperti Samin Tan, Ari Hudaya, Nalin Rathod, hingga Andrew Beckham. Jadi bagaimana bisa pihak manajemen BUMI tidak mengetahui soal pengumuman yang dirilis oleh manajemen Bumi Plc, padahal mereka adalah orang-orang yang sama?
    Tapi memang, ada satu nama yang memiliki jabatan di Bumi Plc namun tidak menempati posisi tertentu di BUMI ataupun BRAU. Nama tersebut adalah Nathaniel Rothschild.
    Sayangnya dalam acara public expose yang diselenggarakan BUMI, pihak manajemen BUMI yang diwakili oleh Mr. Ari Hudaya tidak memperinci apapun terkait what’s going on among Bakrie, Nathaniel, and Samin Tan, dan juga terkait soal pembentukan komisi investigasi oleh Bumi Plc, meskipun para audience berkali-kali menanyakan soal itu. Tapi sayangnya kita juga memang tidak bisa memaksa Mr. Ari untuk ‘bercerita’, karena beliau juga bukanlah owner di BUMI ataupun Bumi Plc, melainkan hanya direktur. Akan lebih seru jika yang hadir dalam public expose-nya adalah Mr. Nirwan Bakrie atau Samin Tan langsung, tapi ya nggak mungkin lah, secara mereka berdua sudah seperti dewa yang nggak akan bisa ditemui oleh investor retail biasa atau bahkan otoritas bursa sekalipun.
    Lalu bagaimana dengan public expose-nya BRAU? Sama saja, tidak ada informasi apapun yang diberikan oleh pihak manajemen, yang dalam hal ini diwakili oleh Mr. Rosan Roeslani, kecuali hanya meminta investor untuk menunggu perkembangan selanjutnya . Diluar itu, manajemen BRAU hanya memperinci soal kondisi hutang, kinerja keuangan, dan kinerja operasional perusahaan, yang tentu saja tidak terlalu menarik untuk diperhatikan.
    Satu lagi, bagaimana dengan Bumi Resources Minerals (BRMS)? Bukankah BRMS juga merupakan salah satu unit usaha Bumi Plc, mengingat bahwa BRMS merupakan anak usaha dari BUMI? Betul, namun BRMS tidak menyelenggarakan public expose, yang mungkin karena dalam pengumumannya, Bumi Plc hanya menyebut soal BUMI dan BRAU, dan sama sekali tidak menyinggung soal BRMS, sehingga media pun tidak mengutik-utik soal BRMS. Kemungkinan sekali lagi, ini bukanlah kebetulan, melainkan suatu kesengajaan. Termasuk juga bukan suatu kebetulan ketika BRMS pada tanggal 13 September lalu merilis informasi soal potensi cadangan emas di salah satu tambangnya di Gorontalo, Sulawesi Utara, dimana di tambang tersebut terdapat cadangan 292 juta ton bijih emas, dengan rata-rata kadar emas 0.47 gram per ton bijih, sehingga terdapat cadangan sekitar 137.2 ton emas di tambang tersebut. Okay, tidak sebanyak Grasberg-nya Freeport memang, tapi lumayan kan?
    Terakhir, nyaris bersamaan dengan keluarnya pengumuman pembentukan komisi investigasi oleh Bumi Plc, dua lembaga rating terkemuka yakni Moody’s dan S&P, juga menurunkan outlook rating utang dari BUMI maupun BRAU. Kebetulan? I don’t think so.. Tapi yang jelas, tindakan Bumi Plc yang merilis pengumuman ‘investigasi’ yang kemudian membuat manajemen BUMI dan BRAU kalang kabut, sekaligus penurunan rating utang yang dialami kedua perusahaan, membuat cerita soal Bakrie vs Rothschild ini semakin seru saja, dan tidak kalah serunya dibanding sinetron perseteruan antara Polri vs KPK. Well, selamat para pemirsa sekalian, satu episode baru saja ditayangkan, sekarang kita tunggu episode [...]

    Daftar Indeks Saham Dunia

    Salah satu cara untuk menganalisis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah dengan melihat bagaimana pergerakan indeks saham di negara-negara lain. Karena itulah anda pasti familiar dengan beberapa indeks terkenal seperti Dow Jones, Nikkei, Hang Seng, dll. Di seluruh dunia, indeks-indeks saham seperti ini jumlahnya sangat banyak, mungkin mencapai ribuan, karena satu negara biasanya memiliki lebih dari satu indeks saham (termasuk di Indonesia, selain IHSG ada juga indeks LQ45, indeks IDX 30, dll), sehingga anda tidak mungkin mengamati mereka semuanya secara satu per satu. So, berikut adalah beberapa daftar indeks saham dunia yang penting untuk anda perhatikan.


    Code
    Name
    Country
    ^JKSE
    Jakarta Composite Index (JCI)
    Indonesia
    ^KLSE
    Kuala Lumpur CI
    Malaysia
    ^STI
    Strait Times
    Singapore
    ^AORD
    All Ordinaries
    Australia
    000001.SS
    Shanghai CI
    China
    ^HSI
    Hang Seng
    Hong Kong
    ^BSESN
    Bombay Stock Exchange
    India
    ^N225
    Nikkei 225
    Japan
    ^KS11
    Kospi
    South Korea
    ^DJI
    Dow Jones
    United States
    ^GSPC
    S&P 500
    United States
    ^IXIC
    NASDAQ
    United States
    ^FTSE
    FTSE 100
    England
    ^GDAXI
    DAX
    Germany
    ^FCHI
    CAC 40
    France
    ^BVSP
    Bovespa Sao Paolo
    Brazil
    ^MERV
    Merval Buenos Aires
    Argentina
    Catatan: Kode yang dimaksud adalah kode/quote di Yahoo Finance (www.finance.yahoo.com)
    Kita mulai dari regional Asia Tenggara dan Australia. Disini yang kita perhatikan adalah JCI alias IHSG (tentu saja), KLSE Malaysia, Straits Times Index (STI) Singapura, dan All Ordinaries Australia. Khusus untuk STI, itu adalah semacam ‘Dow Jones-nya’ Asia Tenggara, dimana indeks tersebut mencerminkan pergerakan dari 30 saham blue chip yang terdaftar di Singapura, seperti Jardine Cycle & Carriage (induk dari Astra International), SingTel, dan Wilmar International. Demikian pula dengan KLSE, yang hanya mencerminkan pergerakan dari 30 saham blue chip Malaysia, seperti CIMB Group (induk dari Bank CIMB Niaga), Air Asia, dan Petronas.
    Sementara IHSG dan All Ordinaries, pergerakan kedua indeks tersebut mencerminkan pergerakan dari seluruh saham di Indonesia dan Australia. Kalau berdasarkan data di Yahoo Finance, jumlah saham yang menjadi komponen penggerak IHSG adalah 347 saham (nggak mencapai 400), sementara All Ordinaries 398 saham.
    Untuk kawasan Asia, beberapa indeks yang bisa kita perhatikan adalah Shanghai Composite Index (SCI) Tiongkok, Hang Seng Hong Kong, Bombay Stock Exchange (BSE) India,  Nikkei Jepang, dan Kospi Korea. Di Tiongkok sebenarnya ada satu indeks lagi yang cukup penting, yakni Indeks Shenzen, namun yang lebih diperhatikan adalah Indeks Shanghai.
    Menyeberang ke Amerika, di bursa saham New York terdapat setidaknya 6,000 perusahaan yang terdaftar, jauh lebih banyak ketimbang negara manapun. Mungkin karena itulah kemudian dibuat indeks-indeks yang lebih fokus pada saham-saham tertentu. Dan diantara indeks-indeks tersebut, yang penting untuk diperhatikan adalah Dow Jones dan Standard & Poors 500 (SP500). Dow Jones adalah indeks untuk 30 saham blue chio di Amerika, seperti Exxon, Microsoft, dan JP Morgan, sementara SP500 adalah indeks untuk 500 saham yang sudah dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Investor paling terkenal di dunia, Warren Buffett, menggunakan kenaikan/penurunan indeks SP500 sebagai perbandingan untuk pertumbuhan/penurunan dari investasi yang ia lakukan.
    Lalu bagaimana dengan NASDAQ? Well, meski indeks ini juga cukup populer, namun penulis sendiri jarang memperhatikannya karena indeks tersebut sebenarnya merupakan indeks sektoral, dalam hal ini sektor teknologi. Tapi memang, berhubung Amerika merupakan gudangnya jenius teknologi yang menghasilkan banyak perusahaan seperti Microsoft, Apple, Facebook dll, dan kebanyakan dari perusahaan tersebut beroperasi di seluruh dunia, maka indeks NASDAQ kemudian menjadi penting. Masalahnya, indeks NASDAQ tidak hanya mencakup perusahaan-perusahaan teknologi yang besar-besar, melainkan seluruh perusahaan teknologi yang terdaftar di bursa saham Amerika, yang jumlahnya lebih dari 2,000 saham.
    Sementara di Eropa, beberapa bursa saham yang bisa diperhatikan adalah FTSE “Footsie” Inggris, DAX Jerman, dan CAC Perancis. Kenapa tiga negara tersebut yang dipilih? Ya karena di seantero Eropa, adalah tiga negara tersebut yang secara perekonomian paling maju. Jika anda tidak mau memperhatikan DAX dan CAC, maka Footsie relatif sudah cukup. Indeks ini mencakup 100 saham di Inggris yang sudah dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Sementara London Stock Exchange (LSE) sendiri memiliki setidaknya 2,500 perusahaan terdaftar, termasuk Bumi Plc (kodenya BUMI.L), namun saham dari perusahaan milik Bakrie – Rothschild ini tidak termasuk dalam 100 saham komponen Footsie.
    Satu region lagi yaitu Amerika Latin, disana terdapat dua indeks penting, yakni Bovespa Brazil, dan Merval Argentina. Sebenarnya dua indeks ini nggak terlalu penting untuk diperhatikan, tapi tidak ada salahnya jika anda turut memasukkannya ke dalam index watchlist yang anda buat.
    Terus di Indonesia sendiri, apakah hanya terdapat indeks IHSG saja? Untungnya, Yahoo Finance juga menyediakan chart untuk indeks-indeks lokal seperti LQ45 dst, termasuk juga indeks sektoral untuk sektor-sektor tertentu. Berikut selengkapnya:
    Code
    Name
    ^JKLQ45
    LQ45 Index
    ^JKII
    Jakarta Islamic Index
    I:BISNIS27.JK
    Bisnis 27
    I:PEFINDO25.JK
    Pefindo 25
    I:IDX30.JK
    IDX 30
    I:SRI-KEHATI.JK
    Sri Kehati
    I:KOMPAS100.JK
    Kompas 100
    ^JKDBX
    Development Board
    ^JKMBX
    Main Board
    ^JKINFA
    Infrastructure
    ^JKFINA
    Finance
    ^JKCONS
    Consumer Goods
    ^JKTRAD
    Trade & Service
    ^JKBIND
    Basic Industries
    ^JKPROP
    Property
    ^JKMING
    Mining
    ^JKAGRI
    Agriculture
    ^JKMISC
    Miscellaneous
    Dari indeks-indeks diatas, yang biasa penulis perhatikan adalah indeks sektoral, tujuannya untuk menganalisis perkembangan suatu sektor. Misalnya indeks properti (^JKPROP), dalam setahun terakhir dia sudah naik sebanyak 61.5%, dari posisi 192 hingga terakhir 311, dan hal ini selaras dengan booming properti yang sedang terjadi belakangan ini. Sementara indeks tambang (^JKMING), dalam setahun terakhir sudah terkoreksi sebanyak 16.1%, dan hal ini juga selaras dengan penurunan kinerja dari banyak emiten tambang dalam setahun terakhir ini, terutama batubara. Dan seterusnya.
    Okay, mudah-mudahan bermanfaat. Bagi anda yang mungkin masih bingung cara menggunakan Yahoo Finance, termasuk untuk membuat index watchlist seperti yang sudah disebut diatas, anda bisa minta tolong sama orang sekuritas di tempat anda membuka rekening, biasanya mereka udah [...]

    Provident Agro & Outlook Sektor Sawit

    Sektor perkebunan kelapa sawit mengalami masa jayanya pada awal tahun 2011 lalu, dimana ketika itu rata-rata ROE di sektor ini mencapai lebih dari 25%. Namun terhitung sejak awal tahun 2012 hingga sekarang, hampir seluruh emiten sawit di BEI mengalami kemunduran kinerja, terutama dilihat dari laba bersihnya yang turun. Penyebabnya? Penurunan harga crude palm oil atau CPO, yang hingga kini belum rebound kembali. Harga CPO di Bursa Malaysia sempat hampir mencapai rekor RM4,000 per ton pada tahun 2011 lalu, tapi sekarang, terakhir tercatat RM2,750 per ton. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari KPB PTPN, harga CPO pada lelang hari ini tercatat Rp7,375 per kg, cukup jauh dibawah rata-rata harga tahun 2011 yang sempat diatas Rp10,000 per kg.

    Berikut adalah rangkuman kinerja emiten-emiten sawit di First Half 2012, angka dalam persentase.
    Company
    ROA
    ROE
    Operating Profit Growth
    Net Profit Growth
    Astra Agro Lestari
    16.3
    22.5
    (21.3)
    (30.0)
    Salim Ivomas Pratama
    6.8
    11.4
    (16.1)
    (28.1)
    PP London Sumatra
    18.5
    22.0
    (29.7)
    (27.9)
    BW Plantation
    7.2
    20.0
    (9.0)
    (9.8)
    Gozco Plantations
    3.2
    6.1
    (48.4)
    (45.6)
    Tunas Baru Lampung
    8.5
    20.6
    (42.0)
    (41.2)
    Sampoerna Agro
    8.5
    12.4
    (53.4)
    (57.3)
    SMART
    13.8
    26.7
    17.6
    (1.4)
    Average
    10.9
    18.2
    (16.9)
    (25.4)
    Catatan:
    1. Dua emiten yakni Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) dan Jaya Agra Wattie (JAWA), hingga ketika analisis ini ditulis belum merilis LK-nya.
    2. Data diurutkan berdasarkan ukuran aset perusahaan, dari yang terbesar sampai yang terkecil.
    3. Angka ‘average’ mungkin tidak akurat, mengingat PP London Sumatra (LSIP) berstatus sebagai anak usaha dari Salim Ivomas Pratama (SIMP), sehingga seharusnya LSIP tidak ikut dihitung. Namun untuk tujuan memperoleh angka rata-rata untuk sektor perkebunan secara keseluruhan, maka LSIP tetap dihitung.
    Perhatikan, dari data diatas, tampak bahwa seluruh emiten sawit mengalami penurunan laba bersih rata-rata 25.4%. Namun jika dilihat dari ROA dan ROE-nya yang masing-masing tercatat 10.9 dan 18.2%, maka sektor sawit terbilang masih merupakan sektor yang menguntungkan. Jika mempertimbangkan bahwa harga CPO seharusnya sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi, maka kedepannya kinerja para emiten sawit diatas bisa kembali pulih, minimal kembali mencatatkan kenaikan laba, karena volume produksi dan penjualan CPO rata-rata tetap meningkat. Kalau kita pake data milik Astra Agro Lestari (AALI), perusahaan sawit milik Grup Astra tersebut mencatat volume penjualan CPO sebesar 644 ribu ton pada First Half 2012, naik 13.7% dibanding periode yang sama tahun 2011. Secara keseluruhan menurut manajemen AALI, volume produksi CPO Indonesia di tahun 2012 akan tumbuh 6.2% dibanding tahun 2011.
    Btw, tadi dikatakan bahwa harga CPO seharusnya sudah tidak bisa turun lebih rendah lagi? Taunya dari mana? Ya simpel saja, CPO itu kan bahan baku utama untuk pembuatan salah satu kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia, dan juga masyarakat di seluruh dunia, yaitu minyak goreng, sehingga permintaannya terus meningkat setiap tahun seiring bertambahnya jumlah penduduk, dan itu berimbas pada harganya yang tidak mungkin turun lagi setelah mencapai batas tertentu. Memang, terdapat beberapa substitusi/pengganti CPO untuk membuat minyak goreng, seperti minyak jagung, minyak kedelai, minyak kelapa, dan minyak biji bunga matahari, dan keberadaan substitusi ini berpotensi menurunkan permintaan akan CPO. Namun penulis kira argumen substitusi tersebut lemah, karena diantara semua jenis minyak nabati, CPO-lah yang paling ekonomis (anda bisa lihat sendiri di supermarket, bandingkan harga minyak goreng biasa dengan minyak goreng kelapa). Dan saat ini, harga minyak goreng di pasar tradisional adalah sekitar Rp12,000 per liter, turun dari sebelumnya Rp14,000 per liter. Nah, apakah menurut anda harga minyak goreng bisa diturunkan lagi menjadi cuma Rp9,000 per liter misalnya? Jika itu bisa membuat harga gorengan ikut turun menjadi seribu tiga, penulis sih seneng-seneng aja, tapi ya nggak mungkin lah.
    Kemungkinan, harga CPO pada saat ini sedang menjadi korban spekulasi saja, karena CPO memang diperdagangkan di pasar derivatif. Saat ini para trader komoditas di seluruh dunia sedang mengalihkan portofolionya ke kedelai dan jagung, sehingga harga kedua komoditas tersebut naik, sementara imbasnya CPO turun. Kita tidak tahu kapan harga CPO akan naik lagi, tapi yang jelas, kecuali terjadi peristiwa yang luar biasa, harga CPO pada saat ini penulis kira sudah cukup rendah. Harga tandan buah sawit di kalangan petani tradisional sudah mentok di Rp650 per kilo, yang jika turun lebih rendah lagi dari itu, maka kata pak tani-nya, mendingan gak usah nanem sawit lagi.
    Lalu bagaimana dengan outlook sawit kedepannya? Dalam jangka waktu empat tahun terakhir, yakni dari tahun 2008 hingga 2011, baik volume produksi, konsumsi domestik, maupun ekspor CPO Indonesia, semuanya terus meningkat. Demikian pula pada tahun 2012 ini, data sementara juga menunjukkan bahwa produksi, konsumsi domestik, dan ekspor tetap meningkat dibanding tahun 2011. Selengkapnya bisa dilihat di tabel berikut:
    Year
    2008
    2009
    2010
    2011
    2012E
    Production
    19.4
    21.0
    22.1
    24.1
    25.6
    Sales
    19.1
    21.8
    21.9
    23.4
    25.2
         Domestic
    4.4
    4.8
    5.4
    6.3
    7.1
         Export
    14.6
    16.9
    16.5
    17.1
    18.2
    Catatan: Angka dalam jutaan ton. Data untuk tahun 2012 adalah estimasi berdasarkan data hingga First Half
    Hanya memang, seperti yang bisa anda lihat diatas, setiap tahunnya volume produksi nyaris selalu lebih tinggi dibanding volume total penjualan. Termasuk untuk tahun 2012 ini, volume penjualan juga diperkirakan hanya akan mencapai 25.2 juta ton, lebih rendah dari produksi 25.6 juta ton. So, apakah hal ini yang kemudian dijadikan pembenaran atas turunnya harga CPO? Bisa jadi, dan mungkin ini pula yang menyebabkan beberapa perusahaan menekan volume produksi CPO-nya. Kalau kita pake data terbaru dari AALI (karena hanya AALI saja yang merilis data produksinya secara bulanan), sepanjang Januari – Agustus 2012, perusahaan masih mencatat kenaikan volume produksi CPO sebesar 9.9%, namun angka tersebut lebih rendah dibanding kenaikan volume penjualan sebesar 10.7%. Sementara terkait porsi penjualan untuk domestik dan ekspor, volume penjualan domestik tumbuh 14.5%, namun volume penjualan ekspor turun drastis hingga 64.8%. Sepertinya AALI memilih untuk lebih banyak menjual CPO-nya ke pasar domestik, karena harganya relatif lebih mudah dikendalikan ketimbang kalau harus ekspor. Btw, hal ini sekaligus menunjukkan bahwa meski permintaan CPO dari Tiongkok, India, dll mungkin memang menurun, namun permintaan CPO dari pasar domestik tetap tinggi.
    Kalau ada masalah yang perlu ditanggapi secara serius terkait prospek sawit, itu bukan soal penurunan harga CPO, melainkan masalah lingkungan, dimana perusahaan-perusahaan sawit tentunya tidak bisa secara terus menerus membabat hutan untuk kemudian dijadikan kebon sawit. Sebetulnya sejak Mei 2011 lalu, Pemerintah telah menetapkan moratorium (pemberhentian sementara) kegiatan pembukaan lahan sawit selama dua tahun kedepan, alias hingga Mei 2013. Masalahnya, ada kemungkinan moratorium tersebut bakal diperpanjang, mengingat banyaknya kasus kebakaran hutan akhir-akhir ini, itu salah satunya adalah karena aktivitas perusahaan sawit (jangan salahkan kemarau ya, itu sih sama saja seperti Foke yang menyalahkan hujan sebagai penyebab banjir di Jakarta).
    Oke, lalu bagaimana dengan perusahaan sawit yang akan IPO awal Oktober mendatang, Provident Agro?
    Provident Agro (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja PGRO) adalah perusahaan sawit yang dimiliki secara fifty-fifty oleh Grup Provident dan Grup Saratoga. Saratoga, seperti yang anda ketahui, adalah pemilik dari Adaro Energy (ADRO) dan juga Tower Bersama Infrastructure (TBIG). Nah, PGRO ini merupakan investasi mereka di bidang sawit. Sementara Provident adalah sebuah fund yang didirikan oleh tiga mantan investment banker jebolan Citigroup, dan PGRO adalah salah satu portofolio investasi mereka. Terkait partnership-nya dengan Saratoga, Provident juga merupakan salah satu pemegang saham utama di TBIG.
    Mungkin karena pemiliknya sama, cara kerja PGRO ini juga mirip dengan TBIG, yakni didirikan, kemudian dijadikan sebagai induk dari beberapa perusahaan atau perkebunan kelapa sawit yang diakuisisi kemudian. Pada tahun 2007, atau setahun setelah perusahaan didirikan tahun 2006, PGRO mencatat aset Rp283 milyar, dimana Rp211 milyar diantaranya berasal dari pinjaman bank. Dan saat ini yakni hingga Kuartal I 2012, PGRO mencatat aset Rp1.8 trilyun, dan menjadi induk dari setidaknya 11 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan.
    Pada Kuartal I 2012, PGRO mencatat pendapatan Rp107 milyar, naik 82.4% dibanding periode yang sama tahun 2011, yang terutama disebabkan karena tambahan pendapatan dari akuisisi perkebunan kelapa sawit. Namun meski pendapatannya naik, PGRO justru mencatat rugi bersih Rp77 milyar. Penyebabnya? Karena dua jenis beban non operasional yang besarannya cukup signifikan, yakni beban biaya hukum, dan beban keuangan. Saat ini, PGRO sedang menghadapi sengketa hukum atas sekian hektar lahan di salah satu perkebunannya di Kabupaten Agam, Provinsi Aceh, dan itu menimbulkan biaya setidaknya Rp55 milyar. Sementara untuk beban keuangan, PGRO melakukan investasi pada instrumen derivatif valuta asing, dan pada Kuartal I 2012, investasi tersebut mengalami penurunan nilai yang kemudian dicatat sebagai beban, sebesar Rp23 milyar.
    Soal beban karena masalah hukum, dengan mengasumsikan bahwa masalahnya akan segera selesai, maka beban tersebut kedepannya tidak akan ada lagi. Tapi bagaimana dengan beban karena derivatif? Mengingat bahwa para pemilik Grup Provident adalah mantan investment banker, maka investasi derivatif seperti itu terbilang merupakan hal yang biasa dilakukan. Masalahnya, hal itu bisa mem-bias-kan data laba bersih perusahaan yang sesungguhnya, jadi mirip-mirip sama Bumi Resources lah. So, dalam hal ini, ada kemungkinan kinerja PGRO kedepannya akan dengan mudah diutak atik.
    Menariknya, meski laba bersihnya minus Rp77 milyar alias rugi, namun laba bersih komprehensif PGRO di Kuartal I 2012 tercatat Rp69 milyar, yang disebabkan oleh surplus revaluasi sebesar Rp147 milyar. Lalu, di neracanya, PGRO mencatat ekuitas Rp739 milyar, atau cukup besar, sehingga DER-nya terbilang masih wajar di angka 2.4 kali. Namun ekuitas yang cukup besar tersebut terdiri dari surplus revaluasi sebesar Rp633 milyar. Tanpa surplus revaluasi tersebut, ekuitas PGRO seharusnya hanya Rp105 milyar, karena perusahaannya sendiri hanya mencatat modal disetor Rp142 milyar, dan saldo laba minus alias defisit sebesar Rp37 milyar.
    Btw, berikut adalah rangkuman kinerja PGRO dalam lima tahun terakhir, perhatikan terutama perbandingan antara tahun 2011 dan 2010:
    Year
    2007
    2008
    2009
    2010
    2011
    2012*)
    Asset
    283
    569
    726
    894
    1,614
    1,798
    Equity
    34
    66
    120
    155
    669
    739
       Earnings
    (1)
    (47)
    (12)
    13
    40
    (37)
    Revenue
    136
    182
    169
    205
    318
    107
    Net Profit
    (0)
    (46)
    35
    25
    27
    (77)
    Comprehensive Net Profit
    (0)
    (46)
    35
    25
    514
    69
    Catatan: Angka dalam milyar Rupiah, angka tahun 2012 adalah untuk Kuartal I.
    So, jika dilihat dari financial engineering-nya, PGRO ini bisa disebut sebagai ‘The Next UNSP’, dan itu praktis membuatnya menjadi tidak bisa dijadikan pilihan investasi, tak peduli secerah apapun prospeknya (misalnya karena perusahaan akan akuisisi lagi, dll). Katakanlah mungkin laporan keuangannya yang berantakan tersebut adalah karena perusahaan masih fokus pada kegiatan leveragedan pengembangan kepemilikan aset, sehingga kedepannya jika semuanya sudah beres, maka perusahaan kemudian bisa fokus pada kegiatan operasional kebon sawit, dan laporan keuangannya pun akan menjadi bagus. Akan tetapi kalau berdasarkan pengamatan penulis selama ini, jarang sekali terdapat kelompok usaha yang sebelumnya terbiasa dengan leverage, kemudian kesananya menjadi pure operasional. Biasanya kalau udah sekali ngutang, kedepannya ya terus saja ngutang lagi dan lagi.
    Terkait prospek, dalam prospektusnya PGRO menekankan bahwa permintaan CPO kedepannya akan kembali meningkat signifikan seiring dengan berkembangnya penggunaan CPO sebagai bahan baku pembuatan biodiesel (kalau di Indonesia, seperti biosolar yang ada di pom bensin itu lho). Sayangnya penggunaan biodiesel di Indonesia masih belum berkembang pesat, dan PGRO lebih menunjuk kebijakan energi yang saat ini diberlakukan di Amerika Latin dan Eropa sana sebagai pemicu dari peningkatan permintaan biodiesel, padahal PGRO sama sekali tidak mengekspor CPO-nya (ini yang bikin prospektusnya siapa sih?). Tapi memang, manajemen juga mengatakan bahwa mereka berkeyakinan bahwa tingkat konsumsi CPO di pasar domestik akan terus meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk, dan kalau soal ini sih penulis setuju, namun itu tetap saja tidak membuat PGRO menjadi menarik. Masih lebih bagusan AALI atau LSIP kemana-mana.
    Kesimpulannya, tanpa perlu lagi melihat valuasi sahamnya, PGRO ini cenderung hanya bisa dipakai untuk berspekulasi, dan tentu saja penulis tidak merekomendasikannya. Jika anda tertarik untuk masuk ke sektor sawit, maka masih banyak saham lain yang secara fundamental jauh lebih bagus.
    Namun, terlepas dari fundamentalnya dan segala macem, PGRO bukan tidak mungkin pula akan sukses di listing perdananya, atau minimal harganya akan ditahan bandar agar tidak turun. Kita lihat perusahaan lainnya yang juga dipegang oleh pemilik yang sama, TBIG, valuasi sahamnya juga muahal setengah mati, namun itu tidak menahannya untuk terus saja naik dalam setahun terakhir. Setahun lalu, TBIG masih berada di posisi 1,820, dan hari ini sudah mantap di posisi 4,400, atau sudah naik 142%.
    Masalahnya, bukan tidak mungkin pula saham TBIG memang sengaja dinaikkan agar banyak investor yang berasumsi bahwa saham PROG akan juga dinaikkan, sehingga akhirnya IPO-nya tetap laris meski perusahaannya sendiri nggak bagus. So, wanna bet? If so, then be ready to face the risk.
    NB: Mulai Oktober 2012, penulis menyediakan layanan informasi jual/beli saham harian yang satu paket dengan investor buletin yang terbit setiap bulan, dengan biaya tetap. Keterangan selengkapnya lihat 

    ICTSI Jasa Prima

    ICTSI Jasa Prima (KARW) yang sebelumnya bernama Maharlika Indonesia, dan sebelumnya lagi bernama Karwell Indonesia, berubah nama menjadi ICTSI Jasa Prima, setelah pada tanggal 3 Mei 2012 lalu perusahaan diambil alih oleh International Container Terminal Services, Inc (ICTSI), sebuah perusahaan jasa pelabuhan asal Filipina. Kegiatan usaha KARW juga berubah dari tadinya garment menjadi jasa pelabuhan. Aksi korporasi ini menarik, karena kita tahu bahwa saat ini banyak yang memprediksi bahwa sektor yang akan booming dalam beberapa waktu ke depan adalah infrastruktur, dan pelabuhan adalah bagian dari infrastruktur tersebut. So, apakah dalam hal ini ICTSI juga menangkap peluang tersebut, sehingga mereka kemudian masuk ke Indonesia?

    ICTSI mengakuisisi KARW pada tanggal 3 Mei 2012 melalui anak usahanya di Singapura, ICTSI Far East (IFE), dimana IFE membeli 469.7 juta lembar saham atau mewakili 80% saham KARW, dengan harga beli antara Rp74 – 77 per saham. Kemudian, berdasarkan peraturan Bapepam, IFE sebagai pemegang saham pengendali yang baru di KARW harus melakukan mandatory tender offer alias membeli sisa saham KARW yang masih dimiliki publik, dan inilah yang menyebabkan saham KARW terus naik sejak tanggal 24 Agustus lalu. Tapi yang agak aneh adalah, kenapa naiknya baru pada tanggal 24 Agustus? Bukannya KARW sudah diakuisisi oleh IFE sejak awal Mei?
    Kemudian, dalam keterbukaan informasi yang dirilis oleh HD Capital (HADE) selaku broker yang ditunjuk IFE untuk mengambil alih KARW, tidak ada informasi soal tender offer tersebut, kecuali bahwa perusahaan akan mengumumkan akuisisi IFE atas KARW tersebut di koran. Juga, tidak ada informasi soal berapa jumlah saham yang harus diambil alih IFE dalam rangka tender offer tersebut, dan juga berapa jumlah saham yang sudah dibeli IFE hingga saat ini. Kalau menurut penulis, selama tender offer-nya masih berlangsung, maka selama itu pula KARW akan terus naik. Tapi memang masalahnya, karena informasinya serba tertutup, kita jadi tidak pernah tahu kapan tender offer tersebut akan selesai, sehingga keputusan untuk masuk ke KARW pada saat ini berbau spekulasi. Namun kalau udah megang sejak awal tentu boleh hold.

    Sekarang, bagaimana prospek terkait perusahaannya?

    Ketika ICTSI mengakuisisi KARW, tujuannya adalah untuk backdoor listing. Melalui KARW, ICTSI kemudian membeli enam unit crane, yakni alat derek untuk mengangkat kontainer (yang segede gaban itu) dari kapal ke darat atau sebaliknya. Keenam crane ini kemudian akan ditempatkan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, sehingga sekarang ICTSI memiliki unit bisnis di Tanjung Priok. Ini adalah kali kedua ICTSI masuk ke bisnis pelabuhan di Indonesia. Sebelumnya, ICTSI juga memiliki perusahaan bernama PT Makassar Terminal Services (MTS), yang bergerak di bidang pengangkutan kontainer di Terminal Peti Kemas Makassar, Sulawesi Selatan. Untuk saat ini MTS tidak diletakkan dibawah KARW, tapi ada kemungkinan kedepannya unit bisnis ICTSI yang di Makassar tersebut akan diletakkan dibawah KARW dengan cara diakuisisi.
    Selain membeli crane, ICTSI melalui KARW juga mengakuisisi 100% saham PT PBM Olah Jasa Andal (OJA), sebuah perusahaan pemegang kontrak dari Pelindo II (BUMN operator Pelabuhan Tanjung Priok), untuk menyediakan jasa bongkar muat kontainer di beberapa dermaga. Sekali lagi, ini sangat menarik, karena seperti yang kita ketahui, Pelindo II sedang mengembangkan proyek raksasa Pelabuhan Kalibaru, yang berlokasi persis di sebelah timur Pelabuhan Tanjung Priok, dengan nilai investasi US$ 4 milyar atau setara Rp36 trilyun! Nah, ketika nanti Pabuhan Kalibaru yang dijuluki sebagai ‘The New Tanjung Priok’ ini mulai beroperasi, maka OJA sebagai partner lama dari Pelindo II tentunya akan ketiban rezeki kontrak baru.
    Tapi memang, itu masih lama. Pelindo II sendiri baru mulai membangun Pelabuhan Kalibaru pada September 2012 ini, dan pelabuhan tersebut diperkirakan baru akan beroperasi mulai tahun 2014 nanti, itu pun kalau progress-nya lancar. Meski begitu, bisnis OJA di Pelabuhan Tanjung Priok tetap prospektif, karena arus lalu lintas kontainer di pelabuhan tersebut mencatat rata-rata peningkatan sebesar 26% per tahun, dan karena suplai infrastruktur pelabuhan di Tanjung Priok masih minim, bahkan jika dibanding dengan negara tetangga Malaysia, sehingga masih terdapat banyak ruang untuk ekspansi. So, penulis kira inilah yang menyebabkan ICTSI masuk ke Tanjung Priok, yaitu karena selain prospek dari Tanjung Priok itu sendiri masih bagus, terdapat prospek tambahan jika Pelabuhan Kalibaru benar-benar bisa beroperasi di dua – tiga tahun mendatang.
    Total biaya yang dikeluarkan ICTSI untuk membeli enam crane dan mengakuisisi OJA adalah Rp334 milyar. Uang itu dalam neraca KARW akan dicatat sebagai utang yang diperoleh dari ICTSI Limited, induk dari IFE, dimana IFE adalah induk dari KARW. Jadi struktur perusahaannya dari yang tertinggi hingga terendah adalah sebagai berikut:
    ICTSI Filipina
    I
    ICTSI Limited
    I
    ICTSI Far East (IFE)
    I
    ICTSI Jasa Prima (KARW)
    I
    PBM Olah Jasa Andal (OJA)
    So, setelah aksi korporasi ini, pendapatan serta laba bersih perusahaan akan meningkat berkali-kali lipat, yang berasal dari pendapatan dan laba bersih OJA yang dikonsolidasikan. Manajemen memperkirakan bahwa pendapatan KARW sebagai induk dari OJA akan mencapai Rp239 milyar pada tahun penuh 2012, meningkat hampir sepuluh kali lipat dibanding tahun 2011 sebesar Rp25 milyar. Total aset KARW juga akan meningkat menjadi sekitar Rp500 – 600 milyar, dari sebelumnya hanya Rp13 milyar di tahun 2011. Namun, sebagian besar dari aset tersebut akan dicatat sebagai utang (yang diperoleh dari ICTSI Limited) dan bukannya ekuitas. So, penulis bisa membayangkan bahwa laporan keuangan KARW ini di Kuartal III nanti akan mencatat angka return on equity (ROE) yang sangat besar, namun DER-nya juga akan sangat besar. ICTSI Limited sendiri akan secara bertahap memberikan pinjaman senilai total US$ 70 juta atau setara Rp640 milyar kepada KARW, yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan investasi (jadi setelah membeli crane dan mengakuisisi OJA, ada kemungkinan kedepannya KARW bakal mengakuisisi lagi, mungkin perusahaan yang di Makassar tadi).
    Masalahnya disini adalah, berapa bunga dari pinjaman tersebut? Karena jika bunganya terlalu besar, maka itu berarti laba bersih yang diperoleh KARW dipindahkan ke ICTSI Limited, sehingga KARW boleh dibilang gak dapet apa-apa. Atau, apakah KARW berencana untuk menggelar right issue, dimana uangnya akan dipakai untuk membayar utang ke induknya tersebut?
    Kesimpulannya, penulis menilai bahwa prospek KARW ini menarik, terutama karena penulis juga termasuk yang percaya, atau mungkin lebih tepatnya berharap, bahwa sektor infrastruktur termasuk pelabuhan akan menjadi sektor yang booming di Indonesia dalam beberapa waktu kedepan. Selain itu, ICTSI yang masuk ke Tanjung Priok melalui KARW ini merupakan perusahaan jasa layanan pelabuhan yang cukup terkemuka di dunia, dan juga telah memiliki operasional di 17 negara, sehingga seharusnya mereka tidak akan kesulitan dalam mengembangkan infrastruktur di Tanjung Priok, dan mungkin juga nantinya di Pelabuhan Kalibaru.
    Namun disisi lain, terdapat setidaknya dua poin yang dipertanyakan dari masuknya ICTSI ke KARW, yakni: 1. Proses tender offer yang menurut penulis kurang transparan, dan 2. Kenapa ICTSI Limited memberikan dana kepada KARW dalam bentuk utang, dan bukannya penyertaan modal? Tapi mudah-mudahan ini hanya kekhawatiran penulis saja, dan tidak berpotensi menjadi masalah apapun.
    Lalu gimana soal analisis sahamnya dari sisi fundamental? Berhubung laporan keuangan KARW untuk periode Kuartal II 2012 kemarin masih belum memasukkan pendapatan dan laba bersih konsolidasi dari akuisisi OJA (datanya masih data sebelum akuisisi), maka tentunya analisisnya juga belum bisa dilakukan. Kita lihat bagaimana kinerjanya di di Kuartal III nanti. Yang jelas hingga Juli 2012, dimana ketika itu OJA sudah dikonsolidasikan, KARW mencatat pendapatan Rp122 milyar, dan laba usaha (bukan laba bersih) Rp5 milyar. Quite good, but it had to be [...]

    A Tribute to Jokowi

    Joko Widodo atau biasa disapa Jokowi, akhirnya berhasil melaju sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012 – 2017, mengalahkan calon incumbent Fauzi Bowo atau biasa disapa Foke, atau setidaknya begitulah yang ditunjukkan oleh hasil quick count. Sebagai salah satu warga Jakarta (meski KTP-nya masih Bandung), tentu penulis merasa senang, karena penulis pun mendukung Jokowi. Tapi sejujurnya, penulis sempat ragu kalau Jokowi bakal menang, karena posisi Foke sebagai incumbent sangatlah kuat, salah satunya dari sisi dana kampanyenya yang extraordinary. But thank God, Tuhan masih memberi kesempatan bagi Jakarta untuk berbenah dibawah pimpinan gubernur yang baru.

    Jokowi berlatar belakang sebagai pengusaha ekspor meubel yang cukup sukses. Pada tahun 2005, Jokowi terjun ke politik dengan mencalonkan diri sebagai Walikota Solo, dan ia berhasil memperoleh jabatan tersebut. Di awal-awal masa jabatannya sebagai walikota, tidak banyak yang berharap bahwa Jokowi akan membawa perubahan yang berarti bagi Kota Solo, hingga akhirnya beliau melakukan satu gebrakan yang tidak hanya belum pernah dilakukan oleh walikota Solo sebelumnya, tapi juga belum pernah dilakukan oleh kepala daerah manapun di Indonesia.
    Jadi begini ceritanya. Ketika Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo, salah satu permasalahan yang masih belum bisa diatasi oleh walikota sebelumnya adalah relokasi pedagang kaki lima (PKL) di pasar Banjarsari. Pasar tersebut sejatinya merupakan pasar yang cukup elit, namun keberadaan PKL membuatnya semrawut dan kumuh, dan hal ini sudah lama dikeluhkan oleh masyarakat Solo. Berbagai cara sudah dilakukan oleh walikota sebelumnya untuk menggusur dan merelokasi PKL di kawasan tersebut, namun selalu berakhir dengan bentrokan antara Satpol PP dan para pedagang, alias gagal.
    Mungkin, karena berpengalaman dalam berhubungan dan bernegosiasi dengan para pelanggan meubelnya, Jokowi tahu bahwa ia harus melakukan pendekatan yang berbeda: Para PKL tersebut harus didekati secara halus dan pelan-pelan, dan bukannya dengan cara kekerasan. Seberapa halus? Dengan menjalin pertemanan dengan mereka, tentu saja. Jokowi secara pribadi mengundang para pimpinan pedagang untuk makan-makan di rumah dinasnya. Awalnya, para pedagang ini berpikir bahwa acara makan-makan tersebut hanyalah kamuflase bagi tujuan sebenarnya: Sang walikota baru berniat untuk mencoba menggusur mereka lagi, seperti yang sudah-sudah. Alhasil, mereka menolak ajakan tersebut, dan malah menyiapkan bambu runcing sebagai tanda pertahanan.
    Jokowi sudah tahu sejak awal bahwa ia akan menerima penolakan seperti itu. Karena itulah, di lain waktu ia mengajak pedagang untuk makan siang lagi. Dan kali ini, para pedagang setuju. Sambil makan-makan, ia mengajak ngobrol para pedagang tentang hal-hal umum, tanpa menyinggung soal relokasi sama sekali. Selesai makan, salah seorang pedagang bertanya, ‘Lho, jadi cuma makan-makan begini aja pak?’ Dan Jokowi menjawabnya sambil tersenyum, ‘Iya mas. Minggu depan kita makan lagi ya, saya traktir!’
    Di acara lunch berikutnya, semuanya masih sama: Hanya makan-makan saja tanpa pembicaraan soal relokasi sama sekali. Dan begitu juga di lunch berikutnya, dan berikutnya lagi. Para pedagang tentu senang bisa makan gratis di rumah dinas pak Walikota. Tapi yang lebih penting lagi, mereka merasa dihargai oleh Jokowi yang mau bergaul dan meluangkan waktu untuk diskusi santai dengan mereka dalam setiap acara makan siang tersebut, sesuatu yang tidak pernah mau dilakukan oleh walikota sebelumnya.
    Pertemuan rutin tersebut terus berlangsung hingga sekitar 30 kali. Setelahnya, barulah salah seorang pedagang bertanya secara serius, apa sebenarnya tujuan dari acara makan-makan ini? Jika memang tujuannya soal relokasi, maka kami siap untuk membicarakannya. Tanpa mengiyakan ‘tuduhan’ pedagang tersebut, Jokowi bertanya, ‘Bapak-bapak butuh apa? Dan juga khawatir soal apa jika lokasi jualannya pindah?’ Para pedagang meminta lokasi jualan yang baru diberi jalan yang lebar, dan juga dilalui oleh angkutan umum. Jokowi setuju, dan ia segera mengerjakan request dari para pedagang tersebut.
    Beberapa waktu kemudian, di acara makan-makan seperti biasanya, Jokowi berkata kepada para pedagang, ‘Gimana bapak-bapak? Kami sudah menyiapkan lokasi yang baru. Jalannya lebar, dan juga dilalui angkot.’
    Perwakilan pedagang menjawab, ‘Pak Jokowi bisa menjamin, kalau omzet kami di tempat baru tersebut akan sama seperti di tempat yang lama?’
    ‘Soal rezeki, itu udah diatur sama yang Diatas Pak. Tapi gini deh, selama empat bulan, saya akan iklankan tempat baru tersebut di koran dan tv lokal, dan saya juga akan pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Mudah-mudahan itu akan bisa mempopulerkan lokasi baru tersebut. Kalau berdasarkan pengalaman saya dalam berdagang meubel, iklan terbukti efektif dalam meningkatkan omzet.’
    Akhirnya, setelah meeting rutin sebanyak 54 kali selama tujuh bulan, Jokowi berhasil merelokasi para PKL dari pasar Banjarsari secara baik-baik, tanpa kekerasan, tanpa acara gebuk gebukan. Tentunya bukan pekerjaan yang mudah untuk bernegosiasi selama berbulan-bulan lamanya, dan juga berusaha memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan para PKL. Namun, Jokowi mau bersusah payah untuk mengerjakan semua itu, karena memang itulah tugasnya sebagai seorang pemimpin: Mengatur rakyatnya agar hidup tertib dan sejahtera, dan bukannya menindas mereka atas nama ketertiban. Di lokasi baru, para PKL tidak hanya berhasil mempertahankan omzetnya, namun juga meningkatkannya hingga 2 atau 3 kali lipat. Disisi lain, warga kota kini senang karena lokasi lama yang ditinggalkan para PKL kemudian disulap menjadi ruang terbuka hijau. Semua senang, semua menang!
    Prestasi Jokowi di Solo tidak hanya relokasi PKL pasar Banjarsari, melainkan terdapat banyak lagi lainnya. Namun dari salah satu contoh kesuksesannya yang sudah kita bahas tersebut, kita bisa belajar beberapa hal:
    Pertama, Jokowi adalah salah satu dari sedikit sekali pemimpin di negeri ini, atau bahkan di seluruh dunia, yang mau dekat dengan rakyatnya, bahkan mengobrol santai dengan mereka layaknya teman. Ketika meeting dengan para PKL dalam acara makan-makan, Jokowi tidak menyuruh orang untuk mewakilinya, melainkan ia sendiri yang menemui para PKL tersebut. Yah, jujur saja, ada berapa banyak sih, walikota yang mau ngobrol langsung dengan rakyat jelata seperti PKL? Jangankan walikota, seorang pejabat kelurahan saja terkadang bersikap arogan, karena merasa dirinya pejabat. Para anggota dewan juga biasanya hanya mau dekat dengan rakyat ketika Pemilu. Diluar itu, mereka bersikap seolah-olah mereka adalah dewa. Jokowi tidak seperti itu. He making friends with everyone, and that’s why he is loved by everyone.
    Kedua, Jokowi tahu bahwa kerja keras saja tidaklah cukup untuk bisa merelokasi PKL, tapi juga harus kerja dengan sabar. Itu sebabnya ia tidak mau tergesa-gesa, dan lebih memilih menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan untuk berdiskusi dengan para PKL, karena ia tahu bahwa yang penting disini bukan relokasinya, melainkan bagaimana agar para PKL setuju dengan relokasi tersebut. Dan memenangkan hati seseorang memang tidaklah mudah, apalagi banyak orang sekaligus, melainkan memerlukan waktu. Anda pun tidak serta merta menikah begitu saja dengan pasangan anda bukan? Melainkan dengan penjajakan dulu sebelumnya.
    Btw, soal kerja sabar ini juga bisa diaplikasikan dalam berinvestasi di saham. Dan sejauh pengalaman penulis, kerja sabar ini jauh lebih penting ketimbang kerja keras dalam menganalisis pasar ataupun pergerakan saham itu sendiri, trust me :)
    Ketiga, apa yang diperlukan seorang walikota/gubernur agar terpilih kembali jika ia kembali mengikuti pilkada? Well, anda bisa tanya konsultan politik manapun, jawabannya hanya satu: Pencitraan. Itu sebabnya setiap kali menjelang pilkada, poster-poster dan spanduk bergambar foto sang calon bertebaran hampir disetiap sudut jalan, termasuk poster yang berisikan kata-kata seperti ‘berjuang untuk kesejahteraan rakyat’, atau bertuliskan janji-janji yang gitu-gitu aja, seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, dll. Si calon juga jadi sering muncul di muka publik, kadang-kadang dengan bernyanyi, atau memberi sumbangan ke rumah-rumah ibadah. Dan bagi para pengangguran, siap-siap ketiban rezeki nasi bungkus jika sewaktu-waktu diajak untuk kampanye.
    Namun, bukan itu yang dilakukan Jokowi. Menjelang akhir masa jabatannya di tahun 2010, dia tidak berkampanye, tidak juga menyebar poster, melainkan terus mengerjakan tugas-tugasnya sebagai walikota. Hasilnya? Ia malah menang telak di pilkada keduanya di Solo, dengan persentase suara 91%. Sekarang ini, anda bisa bertanya kepada warga Solo manapun tentang Jokowi, dan mereka akan serempak menjawab, ‘He is our beloved Mayor!’
    Kepada para pemimpin daerah, ataupun anda yang hendak mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah, entah bupati, walikota, atau gubernur, penulis ingin mengatakan satu hal: Rakyat tidaklah bodoh. Sebagian kecil rakyat mungkin bersikap pragmatis dan hanya mengharapkan nasi bungkus dan serangan fajar setiap kali diadakan pilkada. Namun, sebagian besar rakyat menginginkan pemimpin yang bisa mengayomi mereka. Rakyat menginginkan pemimpin yang bisa membawa daerah yang ia pimpin menjadi lebih baik, dan yang mau bekerja keras untuk mewujudkannya. So, please, jangan buang-buang waktu dan fulus anda untuk memasang poster bergambar foto anda dimana-mana, atau sibuk mengatur strategi agar menang di pilkada. Melainkan, cobalah gunakan waktu anda dengan berbuat karya dan prestasi yang nyata, yang memang membawa manfaat bagi orang banyak. Selanjutnya, biarkan simpati rakyat datang dengan sendirinya. Jokowi sudah membuktikan hal itu, jadi mengapa anda tidak bisa melakukannya?
    Untuk Bapak Jokowi, kami ucapkan selamat bekerja kembali, dan kali ini mungkin anda harus bekerja lebih keras lagi, karena Jakarta biar bagaimanapun lebih complicatedketimbang Solo. Tapi jika anda berhasil mengubah Jakarta ini menjadi lebih baik, maka mungkin kami akan memberi anda tanggung jawab yang lebih besar lagi, katakanlah sebagai Presiden. Don’t let us down, Sir! Dan untuk Bapak Fauzi Bowo, percayalah, kami juga mengapresiasi kerja keras anda sebagai gubernur. Namun, kami memandang bahwa Jokowi bisa bekerja dengan lebih baik lagi. Kami mungkin keliru, tapi setidaknya kami sekarang memiliki harapan bahwa Jakarta akan menjadi lebih baik di tangan pemimpin yang baru.

    Seminar!

    Dear investor, penulis kembali menyelenggarakan seminar, yang kali ini dengan tema ‘What if Warren Buffett Invests in Indonesia’ (masih sama seperti seminar pada bulan puasa kemarin). Seminar ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 22 September 2012. Biayanya? Gratis!

    Tema seminar kali ini difokuskan pada pembelajaran dari Warren Buffett, sang investor guru. Buffett, seperti kita ketahui, sangat sukses sebagai seorang investor saham. Namun beliau berinvestasi di pasar saham Amerika, dimana kondisi perekonomian dan sebagainya disana tentu berbeda dengan disini, di Indonesia. Nah, seminar ini akan mengupas tips-tips investasi ala Warren Buffett, yang sudah dimodifikasi dan disesuaikan dengan karakteristik pasar saham Indonesia.
    Seminar ini terdiri dari pemaparan materi yang diselingi dengan tanya jawab dengan penulis sebagai pengisi materi. Yah intinya sih, ntar kita ngobrol-ngobrol santai aja lah, ga usah dibawa terlalu seriuuss. Anggap saja seperti investor gathering.
    Berikut Informasi terkait acaranya, kurang lebih sama saja seperti seminar-seminar sebelumnya:
    • Tempat: Kantor BNI Securities cabang Central Park, APL Tower Ground Floor, Podomoro City, Jln. Jend. S. Parman Kav. 28, Jakarta Barat.
    • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 September 2012
    • Waktu: Pukul 11:00 s/d 16:00 WIB.
    • Fasilitas untuk peserta: Makan siang
    • Catatan: Harap hadir setengah jam sebelum acara dimulai.
    Seminar ini tidak dipungut biaya, alias gratis! Namun untuk pengganti biaya makan siang, anda tetap dipungut Rp50,000. Anda bisa membayarnya langsung di lokasi, sebelum acaranya dimulai.
    Oke, anda bisa mendaftar melalui contact person berikut:
    • Retno, 021 – 29034215
    • Farid, 021 – 70207015
    • Daftar via SMS, 081586624777
    Btw bagi anda yang sudah pernah ikut seminar sebelumnya, diharapkan untuk tidak ikut lagi agar memberi tempat kepada temen-temen yang lain, karena beberapa materinya kurang lebih sama aja kok. Dan sekedar catatan, penulis nggak kerja di BNI Securities, melainkan pihak BNIS memang cukup sering memfasilitasi tempat untuk orang-orang yang hendak bikin acara seminar (BNIS juga suka meng-organize acara seminar untuk pembicara lainnya).
    Demikian, sampai jumpa di [...]

    Vale Indonesia

    International Nickel Indonesia, atau yang sekarang berubah nama menjadi Vale Indonesia (INCO), mencatat penurunan laba bersih yang signifikan pada semester pertama 2012, dari US$ 238 juta menjadi hanya US$ 6 juta, atau turun 97.7%. Nilai pendapatan perusahaan juga turun 40.5%. Praktis, kalau pake kinerjanya pada saat ini, valuasi saham INCO menjadi sangat-sangat mahal kalau dari sisi PER, dan mungkin itu pula yang menyebabkan INCO terus turun dalam enam bulan terakhir, dari posisi 4,000 di Februari lalu hingga 2,250 di awal September kemarin atau telah terkoreksi hingga hampir separuhnya. Namun hanya dalam dua minggu, INCO naik dengan cepat dan sekarang sudah berada di posisi 2,750 kembali. What happen?

    INCO, seperti yang anda ketahui, adalah perusahaan produsen logam nikel. Dan berhubung harga nikel di London Metal Exchange (LME)memang lagi naik dalam sebulan terakhir, dari US$ 16,000-an per ton hingga terakhir US$ 17,525 per ton, maka kenaikan saham INCO menjadi bisa dijelaskan, demikian pula kenaikan yang dialami saham dari dua perusahaan nikel lainnya, Aneka Tambang (ANTM) dan Central Omega Resources (DKFT). Tapi, mari coba kita telaah INCO ini lebih lanjut.

    INCO menggali dan memperoleh bijih nikel-nya dari beberapa lokasi di Pulau Sulawesi, terutama Kabupaten Sorowako, Sulawesi Selatan, kemudian mengolahnya menjadi bentuk matte, yakni campuran logam yang terdiri dari 78% nikel, 20% sulfur, dan 1.2% cobalt(sisanya yang 0.8% tidak diketahui merupakan apa). Matte ini lalu seluruhnya diekspor ke Jepang. Karena INCO mengekspor produknya dalam bentuk matte dan bukannya bijih mentah, maka INCO tidak dikenakan bea ekspor bijih mineral seperti halnya ANTM dan DKFT (ANTM menjual nikelnya dalam bentuk bijih dan ferronickel, sementara DKFT hanya bijih).

    Namun, pendapatan INCO tetap tertekan cukup tajam karena penurunan dari harga nikel dalam setahun terakhir, dari US$ 20,000-an per ton menjadi US$ 14,500-an per ton, dan juga karena penurunan volume produksi serta penjualan. Pada semester pertama 2012, INCO hanya memproduksi dan menjual matte sebanyak 29 ribu ton, turun 18% dibanding periode yang sama tahun 2011. Penyebab dari penurunan volume produksi tersebut adalah karena dua dari empat tanur listrik milik perusahaan, yakni Tanur 1 dan Tanur 2, berhenti beroperasi sejak Kuartal IV 2011 (tanur-tanur tersebut digunakan untuk mengolah bijih nikel menjadi matte). Tanur 1 berhenti beroperasi karena rusak, sementara Tanur 2 berhenti beroperasi karena sedang di-upgrade agar memiliki kapasitas output yang lebih besar. Namun pihak manajemen mengatakan bahwa terhitung sejak akhir Kuartal II 2012, keempat tanurnya sudah beroperasi kembali, sehingga perusahaan tetap mentargetkan volume produksi matte sebanyak 71 – 72 ribu ton pada akhir tahun 2012.

    Disisi lain, manajemen tetap bersikap realistis terhadap proyeksi perolehan laba bersih pada tahun penuh 2012, karena penurunan dari harga jual nikel dan kenaikan biaya produksi, terutama biaya bahan bakar yang mewakili sekitar 40% biaya produksi. Well, entahlah, tapi kalau yang penulis tangkap, pihak perusahaan sepertinya hanya peduli pada produksi nikel, namun kurang menaruh perhatian terhadap apakah nilai pendapatan dan laba bersih perusahaan akan naik atau turun, melainkan biarkan saja bergantung pada harga nikel di LME. Mungkin itu juga yang menyebabkan laba INCO hanya naik dan turun dalam lima tahun terakhir. Berikut datanya:

    Year
    2007
    2008
    2009
    2010
    2011
    Production (thousand tons)
    77
    72
    67
    76
    67
    Nickel Price (US$ per ton)
    29,881
    17,724
    11,227
    16,568
    18,296
    Sales (million US$)
    2,326
    1,312
    761
    1,276
    1,243
    Net Profit (million US$)
    1,173
    359
    170
    437
    334

    Perhatikan, laba bersih INCO di tahun 2007 sempat mencapai US$ 1.2 milyar, atau setara Rp10 trilyun, yang disebabkan karena harga nikel ketika itu mencapai nyaris US$ 30,000 per ton, tepatnya US$ 29,881 per ton. Namun seiring dengan penurunan harga nikel yang drastis hingga mencapai US$ 11,000-an per ton pada tahun 2009, maka laba bersih INCO di tahun yang bersangkutan juga turun menjadi hanya US$ 170 juta. Pada tahun 2011, nilai laba bersih perusahaan tetap belum mampu kembali mencapai angka tahun 2007, karena harga nikel masih terpaku di US$ 18,000-an per ton.

    Tapi yang penulis perhatikan lagi adalah, kenapa volume produksi nikel INCO sejak tahun 2007 hanya di kisaran 60 – 70 ribu ton per tahun? Termasuk untuk tahun 2012 ini, targetnya juga hanya 71 – 72 ribu ton. Kenapa kok gak ada peningkatan sama sekali? Bukannya cadangan nikel yang mereka miliki masih sangat banyak?

    Nah, untuk memahami ini, mari kita lihat lagi sejarah dari INCO. INCO didirikan pada tanggal 25 Juli 1968, oleh perusahaan tambang aneka jenis logam asal Brazil, Vale SA atau kita singkat saja Vale. Dua hari kemudian, yaitu tanggal 27 Juli 1968, INCO memperoleh kontrak karya pertambangan untuk lahan tambang nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, yang setelah ditambah lahan-lahan tambang lainnya di beberapa lokasi lain di Pulau Sulawesi, pada saat ini total luas konsesinya mencapai 190 ribu hektar. Kontrak karya tersebut akan berakhir pada tahun 2025.

    Saat ini, pemegang saham mayoritas INCO adalah Vale Canada Ltd, anak usaha Vale di Kanada, dengan kepemilikan saham 58.7%. Pemegang saham utama lainnya adalah Sumitomo Metal Mining Co., dengan kepemilikan saham 20.1%.

    Terkait cadangan nikel, pada Semester Pertama 2012, INCO memiliki cadangan bijih nikel terbukti sebanyak 72.1 juta ton. Rata-rata kandungan logam nikel untuk setiap ton bijih mencapai 1.84%, sehingga INCO memiliki cadangan nikel terbukti sebanyak 1.3 juta ton. Mengingat bahwa setiap ton matte terdiri dari 78% nikel, yang itu berarti untuk membuat 1 ton matte diperlukan 780 kg nikel, maka INCO memiliki cadangan nikel yang cukup untuk membuat matte sebanyak 1.7 juta ton. Itu adalah angka yang terbilang sangat besar jika memperhatikan bahwa volume produksi INCO hanyalah 70 ribu tonmatte per tahun. Dan ingat pula bahwa diluar cadangan terbukti, INCO masih memiliki cadangan terduga dan terkira yang bisa ‘naik kelas’ menjadi cadangan terbukti sewaktu-waktu, sehingga sekali lagi, INCO masih memiliki buanyak cadangan nikel. Jadi kembali ke pertanyaan keatas, kenapa INCO tidak meningkatkan volume produksi dan penjualannya? (Btw, sekedar catatan, volume produksi dan penjualan INCO setiap tahunnya tidak pernah persis sama, namun selisih angkanya tidak berbeda jauh, melainkan kurang dari seribu ton).

    Jawabannya mungkin, karena INCO menjual seluruh matte-nya hanya kepada dua perusahaan, yaitu Vale Canada Ltd dan Sumitomo Metal Mining, dengan porsi 80 : 20. Fakta menariknya, seperti yang sudah disebut diatas, baik Vale Canada maupun Sumitomo merupakan pemegang saham utama dari INCO. Jadi bisa dibilang bahwa INCO menjual matte-nya kepada induknya sendiri. Oleh Vale Canada dan Sumitomo, matte tersebut kemudian diolah lebih lanjut menjadi logam nikel siap pakai, seperti pelat nikel, bubuk nikel, nikel untuk peleburan logam, dan nikel untuk campuran baja antikarat. Kalau dilihat dari sini, maka tidak heran kalau volume produksi INCO tidak pernah naik, karena kemungkinan kontrak penjualannya sejak awal memang hanya untuk penjualan sebanyak 60 – 70 ribu ton matte per tahun (yang mungkin disesuaikan dengan kapasitas pengolahan matte milik Vale Canada dan Sumitomo). INCO juga tidak pernah berupaya mencari pembeli lain, karena mereka terikat perjanjian untuk hanya menjual matte-nya kepada kedua induknya tersebut. Kontrak penjualan itu sendiri baru akan berakhir pada tahun 2025, atau di tahun yang sama ketika kontrak karya pertambangan milik INCO di Sorowako berakhir.

    Jadi, dalam hal ini, there is no way that this company is eligible for investment, because it would never grow up. INCO hanyalah kepanjangan tangan dari Grup Vale dan Sumitomo untuk mengeruk cadangan nikel di Indonesia, sementara yang menikmati keuntungannya adalah perusahaan mereka yang di Jepang (Vale Canada adalah induk dari Vale Japan, sementara Sumitomo memang bermarkas di Jepang). Maksud penulis, kenapa Vale dan Sumitomo gak sekalian mendirikan pabrik pengolahan nikel yang terintegrasi disini, di Indonesia? Kenapa INCO hanya disuruh membuat ‘logam nikel setengah matang’ dalam bentuk matte saja? Dan kenapa INCO nggak boleh menjual produknya ke pihak lain yang tidak terafiliasi?

    Kalau penulis ingat-ingat lagi, pada Mei lalu sempat tersiar rumor bahwa Sumitomo berniat menambah kepemilikannya di INCO, sehingga INCO akan dikerek hingga 4,000 (ketika itu INCO berada di posisi 3,000). Disebutkan pula, motif dari Sumitomo adalah agar mereka bisa mendorong INCO untuk lebih agresif dalam meningkatkan volume produksi dan penjualan yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan dan laba bersih. Bagi investor yang sudah paham cara kerja INCO, maka rumor tersebut jelas super duper ngawur, karena Sumitomo menjadi pemegang saham utama di INCO bukan untuk memperoleh bagian laba bersih alias dividen, melainkan agar mereka bisa memperoleh jatah matte yang diproduksi INCO. Jadi mau INCO untung atau rugi, itu sama sekali gak jadi soal, yang penting pasokan matte jalan terus. Seperti Vale yang merupakan perusahaan pembuat berbagai jenis logam siap pakai, Sumitomo Metal Mining adalah juga perusahaan peleburan dan pembuatan berbagai jenis logam siap pakai, termasuk nikel.

    Anyway, jadi dalam hal ini, maka proyeksi INCO kedepannya menjadi tidak menarik untuk dibahas lagi, karena memang tidak ada proyeksi apapun. Di Ebook 40 edisi tahun 2011 lalu penulis sempat merekomendasikan INCO ini karena berpendapat bahwa laba bersihnya akan segera pulih ketika Tanur 1 dan 2-nya beroperasi kembali. Namun rekomendasi itu kemudian keliru, karena ternyata yang diperhatikan investor/trader terkait INCO ini bukan soal tanurnya, melainkan fluktuasi harga nikel. Mungkin itu karena harga jual nikel pada kontrak penjualan antara INCO terhadap Vale Canada dan Sumitomo didasarkan pada harga yang berlaku di LME, sehingga angka pendapatan dan laba bersih INCO juga menjadi naik turun sesuai fluktuasi harga nikel (anda bisa melihatnya di www.lme.co.uk). Alhasil, saham INCO sejak dulu terbilang sangat mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga nikel. So, anda bisa memperoleh keuntungan dari trading saham INCO jika anda mampu menjawab pertanyaan berikut: Pada hari besok, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan, kira-kira harga nikel akan naik atau turun? Dan ke posisi berapa?

    Masalahnya, ada yang tahu bagaimana cara untuk memprediksi pergerakan harga komoditas seperti nikel ini? Karena setahu penulis, analisis dari sisi supply dan demand saja masih belum cukup.

    NB: Link untuk mendownload Ebook MAF, Ebook 40 edisi perdana, dan buletin perdana, semuanya sudah diperbaiki. Anda bisa mendownload-nya pada tab Ebook 40 dan Monthly Investor Bulletin diatas.

    Heart is Only for Lovers, Bro!

    Koran Bisnis Indonesia pernah mewawancarai Aburizal ‘Ical’ Bakrie, mantan pimpinan Grup Bakrie (Sekarang Grup Bakrie dipimpin oleh Nirwan, adik dari Ical), pada tahun 2010 lalu dalam rangka HUT Bisnis Indonesia yang ke-25. Dalam wawancara tersebut, wartawan Bisnis mengajukan pertanyaan berikut, ‘Banyak orang tidak percaya bahwa Bakrie melalui Bumi Resources (BUMI) berhasil membeli Arutmin dan Kaltim Prima Coal (KPC). Bagaimana caranya?’ Dan Ical menjawab, ‘Waktu itu memang ada opportunity-nya, sehingga langsung kami grab. Soal duitnya dari mana, kami cari belakangan.’

    Seperti yang anda ketahui, BUMI mengambil alih 80% saham Arutmin dari tangan BHP Billiton, perusahaan tambang asal Australia, senilai US$ 148 juta, pada tahun 2001. Dua tahun berikutnya yaitu pada tahun 2003, BUMI kembali mengakuisisi sebuah perusahaan batubara bernama KPC dari tangan Beyond Petroleum (BP) dan Rio Tinto, senilai US$ 500 juta. Dalam wawancaranya dengan Bisnis, Ical mengatakan, ‘Kami membeli Arutmin dan KPC nggak pake duit, karena pada tahun 2001 kami lagi bangkrut dan gak punya uang sama sekali, gara-gara krisis 1998.’

    Kalau nggak pake duit, terus pake apa? Ya pake duit orang, alias utang. Menurut Ical, pada tahun 2001, setelah menyelesaikan restrukturisasi utang di Bakrie & Brothers (BNBR), ia berdiskusi dengan kedua adiknya, Nirwan dan Indra, untuk memikirkan langkah perusahaan selanjutnya, dan mereka bertiga setuju untuk masuk ke sektor energi. Ketika itu perusahaan yang bisa diakuisisi ada dua, yaitu Arco dan Arutmin. Arutmin tampak lebih mudah untuk diakuisisi mengingat harganya ‘hanya’ US$ 180 juta, sementara Arco mencapai US$ 600 juta. Grup Bakrie kemudian memperoleh uang US$ 180 juta tersebut dari Bank Mandiri dan Jamsostek, dan setelah negosiasi kesana kemari, disepakati bahwa harga 80% saham Arutmin adalah US$ 148 juta. Dengan memegang Arutmin (yang kemudian diletakkan dibawah BUMI), Grup Bakrie perlahan tapi pasti mulai menggeliat kembali.

    Dalam hal ini terdapat tiga hal luar biasa yang dilakukan Grup Bakrie. Pertama, mereka mampu ‘menemukan’ dua perusahaan yang seolah-olah menyerahkan diri untuk diakuisisi, padahal Ical dkk jelas-jelas nggak punya dana sama sekali. Kedua, mereka mampu memperoleh pinjaman lagi dengan jumlah yang tidak main-main, yaitu US$ 180 juta atau sekitar Rp2 trilyun, justru persis setelah mereka dengan susah payah menyelesaikan proses restrukturisasi utang. Dan ketiga, mereka mampu memaksa pemilik Arutmin sebelumnya, BHP Billiton, untuk menyerahkan asetnya tersebut dengan harga yang lebih murah.

    Hanya selang dua tahun berikutnya, Grup Bakrie kembali berekspansi, kali ini targetnya mengakuisisi KPC, yang ketika itu akan didivestasi oleh pemiliknya, BP dan Rio Tinto. Dalam upayanya mengambil alih KPC, Bakrie tidak sendirian, karena konglomerat lainnya seperti Prabowo dan Grup Salim juga berminat terhadap KPC. Posisi Bakrie ketika itu sebenarnya sulit, mengingat mereka masih belum memiliki uang, dan kali ini Pemerintah juga menolak memberi pinjaman (waktu mengakuisisi Arutmin, Bakrie memperoleh pinjaman dari Bank Mandiri dan Jamsostek, yang notabene merupakan BUMN). 

    Namun Ical pantang menyerah. Pemilik KPC meminta harga US$ 700 juta, dan Ical sendiri yang kemudian terbang ke markas BP di London untuk bernegosiasi. Entah gimana caranya, Ical berhasil menawar untuk membeli KPC seharga US$ 500 juta saja. Menurut Ical, ketika itu banyak konglomerat lainnya yang juga menyatakan berminat terhadap KPC, namun cuma ia sendiri yang mau capek-capek bernegosiasi dengan pihak BP dan Rio Tinto sebagai pemilik KPC, sementara orang lain tidak melakukan apa-apa kecuali merengek kepada Pemerintah: ‘Kenapa KPC dijualnya mahal banget? Murahin dikit dong!’ Sebelumnya, Pemerintah memang meminta BP dan Rio Tinto untuk menetapkan harga paling tinggi US$ 800 juta untuk melepas KPC, namun harga tersebut tetap dinilai terlalu mahal oleh para konglomerat lokal (dan lucunya para konglomerat ini kemudian marah-marah setelah mengetahui bahwa Bakrie bisa membeli KPC dengan harga yang jauh lebih rendah dari US$ 800 juta tersebut).

    Selesai dengan urusannya di London, Ical kemudian menemui Nirwan, ‘Wan, gue udah deal sama owner KPC, gope aja katanya. Sekarang, duitnya dari mana?’
    Nirwan balik bertanya, ‘Mandiri sama Jamsostek masih mau ngasih lagi nggak?’
    ‘Nggak.’
    ‘Ya udah, kalo gitu gue coba ke Singapura dulu, siapa tahu bank disana mau ngasih.’

    Nirwan kemudian berangkat ke Singapura, dan setelah berkeliling dan bernegosiasi kesana kemari, ia berhasil memperoleh pinjaman dari empat bank investasi, hanya saja dengan bunga yang cukup tinggi (Ical tidak memperinci berapa persen bunganya, atau siapa saja keempat bank investasi tersebut). Namun setelah memperoleh pinjaman tersebut, masih terdapat kekurangan dana sekitar US$ 300 juta. Disinilah Nirwan kembali menunjukkan keahliannya dalam bernegosiasi: Ia menghubungi para perusahaan yang menjadi pelanggan KPC, dan meminta mereka membayar di muka untuk batubara yang mereka beli, dengan imbalan bahwa mereka akan diberi diskon ataupun keuntungan lainnya. Untuk melakukan hal ini, Nirwan sampai berkeliling Jepang, Tiongkok, dan Eropa, dan sekali lagi ia berhasil. Grup Bakrie kemudian memperoleh uang tunai senilai sekitar US$ 300 juta yang merupakan uang muka pembelian batubara dari KPC (yang tentunya merupakan utang juga), padahal KPC-nya sendiri masih belum menjadi milik mereka. Amazing, isn’t it?

    Namun setelah memperoleh pinjaman dan uang muka pembelian batubara sebesar US$ 300 juta tersebut, ternyata masih ada kekurangan lagi sebesar US$ 4 juta, dan itu tetap merupakan jumlah yang sangat besar karena ketika itu biar bagaimanapun Grup Bakrie bener-bener gak punya duit. Akhirnya Nirwan menemui pihak bank lagi di Singapura, dan beberapa saat kemudian ia menelpon Ical.

    ‘Bro, bank setuju ngasih tambahan US$ 4 juta lagi. Tapi mereka minta bagian keuntungan sebesar US$ 20 juta. Gimane?’
    ‘Apa?? Serius mereka minta segitu??’
    ‘Iya.’
    Ical berpikir sejenak, ‘Wan, hati kecil gue bilang jangan.. Kalo gitu jangan lah.’
    ‘Hati kecil? Heart is only for lovers bro. Ini bisnis, dan elo harus tough sedikit.’
    Ical kaget mendengar kalimat adiknya tersebut, sebelum kemudian berkata ‘Ya udah, terserah lo aja deh.’

    Maka akhirnya, KPC pun resmi menjadi milik Grup Bakrie.

    Mungkin karena sejak awal Arutmin dan KPC diambil alih Bakrie dengan cara berhutang, maka hal itu kemudian menjadi kebiasaan sampai sekarang. Termasuk ketika Bakrie mengambil alih 24% saham Newmont Nusa Tenggara, duitnya juga dari utang ke China Investment Corp (CIC). Dan memang keahlian Grup Bakrie adalah di bidang tersebut: Bernegosiasi dan memperoleh utang. Masih dalam wawancaranya dengan Bisnis, Ical mengatakan bahwa di masa lalu ia pernah memperbesar salah satu perusahaannya, Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), dengan cara mengakuisisi beberapa lahan perkebunan kelapa sawit senilai total US$ 55 juta. Ketika itu ayah Ical, Achmad Bakrie, bertanya, duitnya dari mana? Setau ayah kamu gak punya duit sebanyak itu? Dan Ical menjawab, nanti kita cari. Untuk sekarang, akuisisi aja dulu.

    Seorang teman penulis pernah ngobrol langsung dengan Nirwan Bakrie, ‘Mas, ente kok rajin amat akuisisi sana-sini. Apa gak kasian sama kelompok usaha laen? Bagi-bagi dong.’
    Dan Nirwan menjawab, ‘Ya gimana ya.. Soalnya peluang-peluangnya udah kaya wuss.. wuss.. berseliweran aja gitu, persis didepan muka gue. Ya sayang lah kalo nggak gue ambil!’

    Jadi sepertinya, kebijakan Grup Bakrie dalam berekspansi adalah, yang penting ambil barangnya (perusahaannya) aja dulu. Soal duitnya dari mana, atau akan diapakan itu barang setelah diambil alih, itu urusan belakangan! Daaann… mungkin inilah yang menyebabkan BUMI, dan juga perusahaan-perusahaan Grup Bakrie lainnya, lebih sibuk mengakuisisi, mendivestasi, menerbitkan utang, melakukan refinancing, dll, ketimbang mengurus operasional perusahaannya sendiri. Tak heran, karena sejak awal keahlian Keluarga Bakrie adalah di bidang negosiasi dan financing, bukan di pengelolaan perusahaannya sendiri. Mungkin mereka berpendapat bahwa asalkan mereka merekrut CEO atau Presiden Direktur yang kompeten di bidangnya masing-masing, maka perusahaan apapun yang mereka miliki akan bisa beroperasi dengan baik. Sementara yang perlu mereka lakukan hanyalah terus dan terus mencari peluang bisnis baru.

    Satu hal yang pasti, meski berbagai pemberitaan belakangan ini ramai membicarakan kemungkinan bahwa Bakrie bisa jadi bakal gagal bayar utang alias default, karena utang-utangnya yang sudah kelewat membludak (yang kemudian dijadikan justifikasi dari penurunan harga saham-saham Grup Bakrie), namun itu tidak mencegah para bank untuk terus menyalurkan pinjaman. Pada tanggal 10 Agustus 2012 kemarin, Visi Media Asia (VIVA), perusahaan Bakrie di bidang media, memperoleh pinjaman US$ 80 juta dari Deutsche Bank cabang Singapura. Kenapa kok pihak Deutsche Bank masih berani untuk memberikan pinjaman terhadap Bakrie? Well, ask them! Tapi yang jelas, jika anda adalah direktur dari Deutsche Bank tersebut, maka apakah anda bersedia ngutangin Bakrie jika memang kelompok usaha pemilik BUMI tersebut berpotensi default?

    Terus bagaimana dengan kerjasama Grup Bakrie dengan seorang pengusaha asal Inggris, Nathaniel Rothschild, seperti yang sudah kita bahas di artikel minggu kemarin? Sayangnya hingga kini belum ada pihak yang berhasil mewawancarai Ical atau Nirwan terkait kerjasama tersebut. Tapi kita bisa mengatakan bahwa, meski Bakrie merupakan master of dealmaker nomor wahid di Indonesia, namun diluar sana masih terdapat beberapa master of dealmaker kelas dunia, dan Nathaniel adalah salah satu diantaranya.

    Bakrie vs Rothschild

    Bumi Resources (BUMI) terus saja turun akhir-akhir ini, namun itu tidak menjadikannya tidak menarik lagi di mata sebagian para pelaku pasar. Malah, beberapa investor justru mulai melirik lagi saham yang pernah menyandang gelar sebagai saham sejuta umat ini, dengan berbagai alasannya. Disisi lain, para ‘nyangkut-ers’ masih dilanda kebingungan hebat untuk menentukan pilihan yang sama-sama sulit: Apakah saya harus bertahan, ataukah lebih baik keluar saja, yang itu berarti merealisasikan potensi kerugian yang terjadi?

    BUMI mencatat pendapatan US$ 1.95 milyar di 1H12, naik 8.6% dari US$ 1.79 milyar di 1H11. Namun seperti juga perusahaan batubara lainnya, BUMI mencatatkan kenaikan beban yang lebih tinggi ketimbang kenaikan pendapatannya, sehingga laba usahanya pun turun dari US$ 461 menjadi 239 juta. Sampai disini, semuanya masih normal. Namun kerugian yang dialami perusahaan akibat transaksi derivatif, selisih kurs, dan pelepasan investasi pada entitas asosiasi, menyebabkan BUMI akhirnya mencatat laba minus alias rugi bersih komprehensif US$ 327 juta. Ini menarik, sebab di catatan cash flow-nya, BUMI mencatat perolehan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar US$ 144 juta, naik nyaris tiga kali lipat dari US$ 53 juta di periode yang sama tahun sebelumnya. Jadi, apakah dalam hal ini kinerja BUMI sengaja dibuat minus? I don’t know, karena pertanyaannya kalaupun kinerja BUMI dibikin tampak jelek, apa tujuannya?
    Tapi mungkin, yang menarik untuk diperhatikan dari BUMI bukanlah soal kinerjanya yang minus tersebut.
    Anda mungkin masih ingat dengan aksi korporasi penting yang dilakukan Grup Bakrie sebagai pemilik BUMI dengan mitra baru mereka asal Inggris, Nathaniel Rothschild, dimana perusahaan investasi milik Nathaniel yang terdaftar di Bursa London, Vallar Plc, mengambil alih sejumlah kepemilikan pada BUMI dan Berau Coal Energy (BRAU). Sebagai gantinya, Grup Bakrie kemudian menjadi salah satu pemegang saham utama Vallar Plc, dengan persentase kepemilikan 47.6%. Vallar Plc sendiri kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Proses dari transaksi barter saham tersebut selesai sepenuhnya pada April 2011, dan Nathaniel kemudian menjadi salah satu pemegang saham BUMI.
    Beberapa waktu kemudian, sepertinya Nathaniel mulai menemukan hal-hal yang ‘tidak biasa’ dalam kegiatan finansial yang dilakukan manajemen BUMI. Dan pada tanggal 8 November 2011, Nathaniel akhirnya menulis surat kepada Ari Hudaya (Saptari Hoedaja), Presiden Direktur BUMI. Dalam surat tersebut, Nathaniel secara gamblang meminta penjelasan dari Mr. Ari terkait empat hal berikut:
    1. Jadwal yang jelas terkait monetisasi dari aset-aset pengembangan bisnis.
    2. Repatriasi (pemulangan/pengembalian) dana yang ditempatkan pada pihak berelasi, yaitu Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau Asean fund I.
    3. Penjelasan tertulis terkait progress dari tindakan no. 2
    4. Penjelasan lebih detail dan transparan terkait semua ‘transaksi non-batubara’ yang dilakukan oleh BUMI dan BRAU.
    Nathaniel menulis surat tersebut setelah mengetahui bahwa BUMI memiliki akun ‘investasi dan aset lain-lain’ pada neracanya, sebesar US$ 867 juta, dimana akun tersebut tidak berhubungan dengan bisnis batubara dan logam yang dijalani BUMI, melainkan merupakan piutang kepada pihak berelasi, dalam hal ini Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau Asean Fund I, dan aset-aset pengembangan bisnis yang cenderung ‘tidak jelas’. Menurut Nathaniel, aset sebesar US$ 867 juta tersebut seharusnya bisa di-monetisasi (dicairkan menjadi uang cash), untuk kemudian digunakan untuk membayar utang kepada China Investment Corporation (CIC). Dengan demikian, BUMI bisa menghemat beban bunga pinjaman sebesar US$ 104 juta per tahun. Sebelumnya pada tahun 2009, BUMI memang memperoleh pinjaman sebesar US$ 1.9 milyar dari CIC, dan utang tersebut mengandung bunga yang sangat tinggi, yakni 19% secara keseluruhan. BUMI sebenarnya sudah membayar sebagian utang tersebut pada tahun 2011, yakni US$ 600 juta. Namun Nathaniel memandang bahwa seharusnya BUMI memiliki cukup aset untuk bisa melunasi pinjaman dari CIC secara penuh.
    Nathaniel menulis dalam suratnya, ‘I want to see you initiate a radical cleaning up of BUMI’s balance sheet. I want an immediate transformation of the way you are choosing to manage BUMI.’
    Tidak ada keterangan soal apakah pihak manajemen BUMI kemudian membalas surat tersebut, namun Nathaniel jelas tampak tidak nyaman dengan kebijakan pengelolaan investasi yang dilakukan BUMI. Mr. Ari sebagai Presiden Direktur BUMI sendiri sepertinya beranggapan bahwa ia tidak perlu terlalu mendengarkan keluhan Nathaniel, mengingat Nathaniel bukanlah pemegang saham mayoritas dari BUMI, melainkan hanya 29.2%.
    Hanya selang dua bulan kemudian, pada akhir Desember 2011, Grup Bakrie menjual separuh kepemilikannya atas Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), senilai US$ 1 milyar, sehingga kemudian Grup Bakrie dan BORN masing-masing memegang 23.8% saham Bumi Plc. Grup Bakrie sendiri menggunakan sebagian dari uang US$ 1 milyar tersebut untuk membayar utang-utangnya yang akan jatuh tempo di tahun 2012.
    Karena BORN kemudian menjadi salah satu pemegang saham utama di Bumi Plc, maka pemilik BORN, Samin Tan, diangkat menjadi chairman Bumi Plc, menggantikan Indra Bakrie yang kemudian menjadi co-chairman. Nathaniel sendiri, yang sebelumnya menempati posisi sebagai co-chairman, kemudian ‘turun derajat’ menjadi direktur non-eksekutif.
    Nah sekarang, jika anda adalah Nathaniel Rothschild, apa perasaan anda setelah dikerjai dua kali berturut-turut seperti itu?
    Hingga saat ini, belum ada kelanjutan lagi soal kisah persahabatan antara Bakrie dan Nathaniel. Nathaniel sendiri dalam wawancaranya dengan FT.com mengatakan bahwa hubungannya dengan Bakrie masih baik-baik saja. Namun yang menarik adalah, setelah menyelesaikan transaksi tukar guling saham Vallar dengan BUMI dan BRAU, Nathaniel kemudian mendirikan sebuah perusahaan investasi lagi, kali ini dengan nama Vallares Plc, dengan minat di bidang minyak dan gas (migas). Perusahaan ini kemudian listing di Bursa London, dan pada September 2011 berubah nama menjadi Genel Energy Plc.
    Jika dirunut lagi kebelakang, Nathaniel mendirikan Vallar Plc sebagai ‘kendaraan investasi’ yang akan digunakan untuk mengakuisisi perusahaan lain, dalam hal ini perusahaan batubara dan bijih logam. Dalam perusahaan barunya ini, Nathaniel merekrut James Campbell, mantan CEO Anglo American Plc, sebuah perusahaan batubara asal Inggris, sebagai partner. Tidak ada keterangan soal kapan Vallar Plc didirikan, namun Vallar listing di Bursa London pada Juli 2010, dengan nilai IPO US$ 1.1 milyar. Itu adalah sebuah nilai IPO yang sangat-sangat besar, mengingat Vallar Plc sebenarnya tidak memiliki aset.
    Beberapa bulan setelah IPO-nya, tepatnya pada November 2011, Vallar mengumumkan akan mengakuisisi sebagian kepemilikan di dua perusahaan batubara asal Indonesia, yakni BUMI dan BRAU (dan juga Bumi Resources Minerals/BRMS sebagai anak usaha BUMI), dengan nilai akuisisi senilai total US$ 3 milyar. Vallar akan membayar sebagian biaya akuisisi tersebut secara tunai menggunakan dana hasil IPO-nya, dan sebagian lagi dengan cara barter 47.6% sahamnya. Dengan cara ini barulah Vallar kemudian menjadi memiliki aset, yakni 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU. Disisi lain, 47.6% saham Vallar Plc kemudian menjadi milik Grup Bakrie, sehingga Vallar kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Meski demikian, Nathaniel tetap memegang sebagian kepemilikan saham di Bumi Plc.
    So, jika Mr. Hary Tanoesoedibjo dengan luar biasanya bisa meraup Rp2.1 trilyun dari IPO MNC Sky Vision (MSKY), yang sebenarnya sudah listing di bursa melalui induknya, Global Mediacom (BMTR), sehingga bisa dikatakan bahwa Mr. Hary making Rp2.1 trillion out from nothing, maka Nathaniel Rothschild ini ternyata lebih hebat lagi: Ia bisa mencetak US$ 3 milyar atau sekitar Rp27 trilyun dalam bentuk kepemilikan saham di BUMI dan BRAU, nyaris tanpa mengeluarkan modal sepeserpun!
    Transaksi tukar guling saham Vallar dengan BUMI dan BRAU, seperti disebut diatas, selesai pada April 2011. Hanya dalam waktu dua bulan kemudian, yaitu pada Juni 2011, Nathaniel meng-IPO-kan sebuah perusahaan lagi ke Bursa London, yakni Vallares Plc, dengan nilai IPO yang lebih gila lagi, yakni US$ 2.2 milyar. Vallares, seperti juga Vallar, awalnya tidak memiliki aset. Bedanya, jika Vallar dipakai untuk masuk ke sektor batubara, maka Vallares digunakan untuk masuk ke sektor migas. Di Vallares, Nathaniel merekrut Tony Hayward, mantan CEO BP Plc, sebuah perusahaan minyak terkemuka asal Inggris, sebagai partner. Pada September 2011, Vallares melakukan tukar guling saham dengan perusahaan migas asal Turki, Genel Energy, dan Vallares seketika berubah nama menjadi Genel Energy Plc, dengan Tony Hayward menjadi CEO-nya. Model transaksi antara Vallares dengan Genel Energy ini bisa dikatakan 99% identik dengan transaksi antara Vallar dengan BUMI dan BRAU.
    Namun, berbeda dengan Vallares yang berhasil memegang 50% saham Genel, Vallar hanya berhasil memegang 29.2% saham BUMI. Entahlah, tapi penulis kira Grup Bakrie paham betul bahwa Vallar jangan sampai menjadi pemegang saham utama di BUMI (lebih dari 40%), karena jika begitu kejadiannya, maka BUMI bisa saja terlepas seluruhnya ke tangan Nathaniel. Mungkin itu sebabnya Grup Bakrie akhirnya menyertakan BRAU dalam transaksinya dengan Rothschild, dimana Nathaniel kemudian memperoleh 85% saham BRAU. Istilahnya, gak apa-apa kehilangan BRAU, yang penting BUMI tetap di tangan. BRAU sendiri, meski bukan dimiliki oleh Bakrie melainkan oleh Grup Recapital, namun Recapital memperoleh dana untuk mengakuisisi BRAU dari Bakrie, sehingga sebenarnya pemilik BRAU adalah Bakrie melalui Recapital.

    Tapi, hanya karena sekarang Vallar memegang 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU, bukan berarti Nathaniel memegang BUMI dan BRAU sebanyak itu bukan? Karena Vallar sendiri, yang sekarang bernama Bumi Plc, sebagian sahamnya dipegang oleh Bakrie dan Samin Tan, sehingga Bakrie (dan Mr. Samin) masih menjadi salah satu pemegang dari 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU tersebut, hanya saja melalui Bumi Plc. Yup, benar, tapi jangan lupa bahwa Bakrie bersama Samin Tan hanya memegang total 47.6% saham Bumi Plc, dan selebihnya tidak diketahui secara jelas dipegang oleh siapa. Nathaniel sendiri tidak memperinci berapa persen kepemilikannya di Bumi Plc, melainkan ada yang bilang 11%, tapi penulis kira bisa saja lebih dari itu. Intinya disini, Nathaniel melalui Bumi Plc berhasil masuk menjadi salah satu pemegang saham yang cukup substansial di BUMI, sesuatu yang belum pernah bisa dilakukan oleh pihak lain sebelumnya (saham BUMI memang pernah dipegang oleh Credit Suisse, kreditornya sendiri, tapi bank gak boleh pegang aset lama-lama, sehingga harus dijual kembali. Ini berbeda dengan Vallar/Bumi Plc yang bukan merupakan bank), dan itu bisa jadi merupakan pintu gerbang bagi Nathaniel untuk bisa masuk lebih dalam lagi. Istilahnya, untuk sekarang yang penting tembus benteng aja dulu.
    Tapi lalu kenapa Grup Bakrie mau menukar sahamnya di BUMI dengan Vallar, jika itu berisiko membuat BUMI terlepas sepenuhnya ke tangan Nathaniel? I don’t know, tapi mungkin Grup Bakrie melihat terdapat keuntungan jika mereka bisa listing di Bursa London melalui Vallar yang kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Disisi lain, bukan tidak mungkin pula Grup Bakrie menyetujui keinginan Nathaniel untuk masuk ke BUMI karena terpaksa, mengingat bahwa Nathaniel sebagai anggota dari Keluarga Rothschild memiliki cukup power untuk melakukan itu (menekan Bakrie untuk menyerahkan sebagian saham BUMI). Namun Grup Bakrie tentunya juga bukan kelompok usaha biasa, sehingga mereka tidak segampang itu juga melepas BUMI meski ke tangan Rothschild sekalipun. Bisa jadi pula, dalam hal ini Grup Bakrie akhirnya meminta ‘bantuan’ kepada Samin Tan.
    So, dalam hal ini, sepertinya kita sedang menonton seorang pengusaha asing yang luar-biasa-kaya sedang mencoba mengambil alih salah satu aset paling berharga dari salah satu Grup usaha terkaya di Indonesia. Terkait surat yang ditulis Nathaniel kepada Ari Hudaya, seperti yang sudah kita bahas diatas, sepertinya itu cuma pengalih perhatian, atau untuk menimbulkan kesan bahwa Nathaniel bisa dengan mudah dikerjai oleh Bakrie. Dan terkait kejadian berikutnya, yaitu turunnya jabatan Nathaniel di Bumi Plc dari co-chairman menjadi hanya direktur non-eksekutif, itu semakin mempertegas ‘ketidak berdayaan’ Nathaniel di hadapan Bakrie. Well, kita tahu bahwa Grup Bakrie bisa dengan mudahnya mengerjai investor publik di market dengan berbagai aksi korporasinya, tapi apakah mereka juga bisa melakukan hal yang sama ke seseorang sekelas Nathaniel Philip Rothschild? I don’t think so! Ingat bahwa meski BUMI adalah aset terbesar dari Grup Bakrie, namun bagi Nathaniel, BUMI cuma salah satu dari sekian banyak investasinya di seluruh dunia.
    Jadi jika kita balik lagi ke pertanyaan diatas, apa perasaan anda setelah dikerjai dua kali berturut-turut oleh Bakrie? Maka Mr. Nathaniel mungkin akan menjawabnya sambil tersenyum, ‘What makes you think that anybody in this world could do tricks on me?’
    Lalu apa kaitan ini semua dengan penurunan saham BUMI belakangan ini? Jika dikatakan bahwa Nathaniel sengaja menyuruh para bandarnya untuk menjatuhkan saham BUMI, agar nanti dia bisa masuk di harga murah dan pada akhirnya meningkatkan kepemilikannya atas BUMI, maka mungkin caranya nggak bisa semudah itu juga, karena meski sebagian besar saham BUMI tercatat sebagai milik publik, namun sebagian dari ‘publik’ tersebut kemungkinan adalah Bakrie juga, dan mereka gak akan menjual sahamnya. Disisi lain jika tujuan Nathaniel adalah untuk masuk ke BUMI di harga bawah, lalu kenapa saham BRAU juga ikutan turun? Bukannya Vallar sudah memegang 85% sahamnya?
    Tapi jika dikatakan bahwa saham BUMI terus turun karena utangnya yang sudah kelewat besar hingga berpotensi default, maka itu cuma rumor, sama dengan rumor penjualan Fajar Bumi Sakti yang dikutip Reuters dari ‘sumber yang tidak mau disebutkan namanya’ (kirain media lokal aja yang suka kaya gini, gak taunya Reuters juga sama aja). Sebab meski utang BUMI segunung, namun Grup Bakrie paling jago soal urusan men-treatment kreditor. Dan berbeda dengan perusahaan-perusahaan Grup Bakrie lainnya yang mungkin memang beneran ‘kosong’, BUMI sejatinya merupakan perusahaan yang sangat-sangat ‘berisi’ karena terdapat KPC dan Arutmin didalamnya, sehingga wajar jika para bankir tetap setia berhubungan dengan Bakrie sebagai pemilik BUMI.
    Yang jelas, kalau bagi penulis sendiri, yang menarik untuk dicermati disini bukan soal saham BUMI akan turun sampai berapa, atau apakah nanti dia akan menguat lagi, karena itu adalah pertanyaan yang sama sekali tidak akan bisa dijawab oleh siapapun. Melainkan, kira-kira akan ada cerita apa lagi terkait hubungan Bakrie dan Rothschild? Dan jika BUMI akhirnya benar-benar lepas dari tangan Bakrie, maka apa yang akan terjadi selanjutnya?

    Petrosea

    BUMI (Bumi Resources) gonjang ganjing lagi? Peduli amat! Untuk pekan ini penulis lebih memperhatikan Petrosea (PTRO), yang menjadi menarik untuk diperhatikan pasca penurunannya yang sangat tajam akhir-akhir ini, justru setelah dia di-stocksplit dengan rasio 1 : 10 pada Maret lalu. Ketika artikel ini ditulis, PTRO kembali tertekan 3.49% ke posisi 2,075, sehingga jika dihitung sejak enam bulan terakhir, PTRO sudah terkoreksi lebih dari setengahnya, yakni 52.02%. Secara fundamental, penurunan PTRO sulit dijelaskan mengingat kinerjanya pada First Half 2012 (1H12) kemarin cukup bagus dengan mencatat laba bersih US$ 21 juta, naik 8.6% dibanding 1H11, dan itu mencerminkan ROE 26.2%. So, what happen?

    PTRO dulunya merupakan perusahaan kontraktor tambang migas yang berdiri pada tahun 1972, dan listing di BEI sejak tahun 1990. Pada tahun 2009, Grup Indika melalui Indika Energy (INDY) mengakuisisi PTRO, dan PTRO secara resmi menjadi salah satu anak perusahaan INDY. PTRO kemudian dialih fungsikan menjadi kontraktor tambang dan penyedia jasa engineeringbagi tiga perusahaan tambang batubara yang dimiliki oleh INDY, yakni PT Kideco Jaya Agung, PT Santan Batubara, dan PT Mitra Energi Agung, namun dengan tetap menerima orderan dari perusahaan tambang batubara lainnya (yang tidak dimiliki oleh INDY). Pada 1H12, PTRO mencatat pendapatan US$ 174 juta, dimana US$ 65 juta diantaranya berasal dari Kideco, Santan, dan Mitra Energi, dan selebihnya dari pihak ketiga.
    Terkait kepemilikan INDY atas Santan, INDY memegang 50% saham Santan melalui PTRO, sehingga Santan adalah juga merupakan unit usaha dari PTRO. Pemilik lain dari Santan adalah Harum Energy (HRUM), yang juga memegang 50% sahamnya.
    Kembali ke Petrosea. Terkait penurunan sahamnya belakangan ini, ceritanya ternyata lumayan panjang. Jadi ketika proses akuisisi INDY terhadap PTRO selesai sepenuhnya pada Agustus 2009, total jumlah saham yang diambil alih (termasuk yang melalui proses tender offer) terbilang sangat besar, yakni 98.55% atau nyaris 100%. Mengingat bahwa PTRO adalah perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa, maka BEI memerintahkan INDY untuk refloat alias menjual saham PTRO ke publik, minimal sebanyak 16.6% dari total modal disetor PTRO. Dan INDY melakukan refloat tersebut secara bertahap, hingga akhirnya pada tanggal 24 Februari 2012, INDY selesai me-refloat saham PTRO dengan melepas total 28.75% saham PTRO ke publik, sehingga kini INDY hanya memegang 69.8% saham PTRO. Secara keseluruhan, INDY telah melepas total hampir 29 juta lembar saham PTRO (tepatnya 28,997,000 lembar saham, ini adalah jumlah saham sebelum stocksplit), termasuk saham opsi sebanyak 3.8 juta lembar yang dibeli oleh dua fund asing, yakni Citigroup dan Macquaire Capital.
    Hebatnya, berdasarkan keterbukaan informasinya di Bursa Singapura, INDY bisa meraup gross cash US$ 116 juta dari proses refloat saham PTRO tersebut, yang setelah dipotong fee broker, bersihnya sekitar US$ 113.6 juta. Yap, INDY meraup US$ 113.6 juta untuk melepas 28.75% saham PTRO. Padahal ketika INDY mengakuisisi saham PTRO, biaya yang dikeluarkan cuma US$ 83.8 juta untuk memperoleh 81.95% saham PTRO. So, kira-kira INDY cuan berapa dari trading saham PTRO ini? Silahkan anda hitung sendiri. Yang jelas, hal ini menunjukkan bahwa INDY adalah bandar ulung yang mampu meraup ‘bonus tambahan’ dari kegiatan investasinya, dalam hal ini akuisisinya terhadap PTRO.
    Anyway, karena terdapat sekian juta lembar saham PTRO yang dibuang ke publik, maka penurunan saham PTRO belakangan ini menjadi bisa dijelaskan. Termasuk, aksi stocksplit kemarin juga kemungkinan salah satunya bertujuan untuk memancing para trader dan investor untuk membeli saham PTRO ini, namun itu tetap tidak mencegahnya untuk terus terkoreksi, hingga akhirnya valuasinya mulai menjadi tampak murah (PER PTRO cuma 5.6 kali pada harga 2,075).
    Mungkin anda bertanya, apakah hal yang sama (refloating saham) juga terjadi, atau akan terjadi pada anak usaha INDY lainnya yang juga terdaftar di bursa, yakni PT Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)? Penulis belum mengeceknya, namun kemungkinan sih nggak ya, soalnya INDY saat ini memegang 51% saham MBSS, yang jika dikurangi lagi maka itu bisa menyebabkan INDY tidak lagi menjadi pemegang mayoritas MBSS. Sementara kepemilikan publik atas saham MBSS juga sudah cukup besar, yakni 23.9%, sehingga INDY tidak memiliki kewajiban untuk me-refloat saham MBSS ke publik.
    Kembali lagi ke Petrosea. Sekarang, bagaimana prospeknya? Agar sistematis, penulis akan menjelaskan hal-hal yang sebaiknya perlu anda ketahui terkait PTRO ini secara poin per poin. Okay, here we go.
    1. Secara keseluruhan, PTRO memiliki tiga unit usaha, yakni 1. Kontraktor pertambangan batubara, 2. Jasa logistik pelabuhan, engineering, dan pengolahan air bersih, dan 3. Jasa engineering dan konstruksi untuk tambang minyak dan gas. Pada 1H12, unit usaha kontraktor tambang batubara menyumbang 92.4% dari total pendapatan perusahaan, alias sangat dominan, sehingga praktis PTRO tidak memiliki banyak cerita untuk unit usaha diluar kontraktor tambang batubara.
    2. PTRO memiliki penempatan investasi pada dua perusahaan, yakni 50% saham Santan Batubara (seperti yang sudah dibahas diatas), dan 47% saham PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri, sebuah perusahaan air minum. Pada 1H12, PTRO memperoleh bagian laba bersih sebesar total US$ 3.6 juta dari kedua perusahaan tersebut.
    3. Terkait pertumbuhan perusahaan, pada akhir tahun 2011 lalu PTRO memiliki (atau menyewa) total 29 fleet (armada) alat-alat berat untuk operasional tambang batubara. Angka tersebut tumbuh sekitar 50% dibanding jumlah fleet pada akhir tahun 2010, yakni 19 fleet (catatan: satu fleet alat-alat berat terdiri dari satu unit excavator, lima hingga delapan unit dam truk, dan beberapa alat berat pembantu lainnya). Dari sisi volume overburden, sepanjang tahun 2011, PTRO telah memindahkan overburden sebanyak 116 juta BCM, tumbuh 43% dibanding tahun 2010. Untuk tahun 2012 ini, perusahaan berencana menambah sekitar 10 – 15 fleet alat-alat berat, dan mentargetkan kenaikan volume overburden sebesar 40 – 50% dibanding tahun 2011.
    Btw sekedar catatan, salah satu perbedaan mendasar antara perusahaan tambang batubara dengan perusahaan kontraktor tambang batubara adalah dilihat dari indikator pertumbuhannya. Pertumbuhan perusahaan tambang batubara bisa dilihat dari kenaikan jumlah batubara yang diproduksi. Sementara pertumbuhan perusahaan kontraktor tambang batubara bisa dilihat dari kenaikan volume overburden, yaitu lapisan tanah yang digali agar batubara yang terletak dibawahnya bisa diambil. Jika jumlah batubara biasa dihitung menggunakan satuan ton, maka volume overburden dihitung menggunakan satuan bank cubic meter (BCM). Kalau pake data dari salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia, yaitu Kaltim Prima Coal, maka kontraktor tambang harus menggali rata-rata 9 BCM overburden untuk memperoleh 1 ton batubara.
    4. Terkait kontrak yang diperoleh perusahaan, sepanjang enam bulan pertama 2012, PTRO telah menandatangani setidaknya dua kontrak anyar senilai masing-masing US$ 188 dan 471 juta, dengan Santan Batubara dan PT Gunung Bayan Pratama Coal, dimana keduanya merupakan pelanggan lama perusahaan (dan Santan sendiri memang separuhnya dimiliki oleh PTRO). Kalau dilihat dari sini, maka target kenaikan volume overburden sebesar 40 – 50% yang dicanangkan PTRO terbilang realistis. Hingga First Half 2012, PTRO sendiri sudah mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 55.2%.
    5. Sayangnya meski pendapatan perusahaan naik signifikan, namun laba bersih PTRO hanya naik 8.7%, dan laba operasionalnya juga hanya naik 11.2%, sehingga jelas bahwa masalahnya terletak di beban operasional. Dan memang, beban operasional PTRO meningkat tajam dari US$ 4.6 menjadi 19.1 juta, yang terutama disebabkan oleh penurunan bagian laba bersih dari perusahaan asosiasi (Santan dan Tirta), kenaikan beban bunga, dan kenaikan kerugian akibat pelepasan aset. Kalau dilihat dari sisi ini, maka sepertinya Grup Indika sebagai pemilik PTRO tidak begitu peduli soal apakah laba PTRO akan naik atau turun, karena yang lebih penting adalah peningkatan laba bersih dari INDY, yang merupakan induk dari seluruh unit usaha Grup Indika di bidang tambang.
    6.  Salah satu penyebab kenaikan beban operasional PTRO adalah karena kenaikan beban bunga, yang disebabkan oleh pinjaman jangka panjang sebesar US$ 85 juta dari pihak berelasi, dalam hal ini Indika Capital Resources (ICR) yang merupakan anak usaha lainnya dari INDY. Ini adalah bentuk cost transfer dari INDY kepada PTRO, mengingat bahwa ICR menggunakan bunga yang dibayarkan oleh PTRO untuk menjamin/membayar bunga obligasi yang diterbitkan oleh INDY. Simpelnya, PTRO harus membayar beban bunga yang ditanggung induknya tersebut. Pada 1H12, INDY mencatat nilai utang dari tiga kali penerbitan obligasi sebesar total US$ 495 juta.
    7. PTRO membayar bunga sebesar 9.85% per tahun kepada ICR, dan jumlah pinjaman yang diberikan ICR kepada kepada PTRO akan dinaikkan pada tahun-tahun mendatang hingga mencapai US$ 140 juta. Artinya? Bunga yang harus dibayarkan oleh PTRO kepada ICR akan meningkat kembali. Pada 1H12, PTRO membayar beban bunga US$ 6 juta. Dan jika beban bunga yang harus dibayar PTRO ini terus naik hingga mencapai angka yang substansial, katakanlah US$ 10 – 20 juta, maka itu berpotensi menurunkan laba bersih PTRO, mengingat laba bersih PTRO sendiri hanya US$ 21 juta.
    8. DER PTRO tercatat 2.0 kali, dan ini memang tidak begitu bagus, sehingga meski ROE PTRO mencapai 26.2%, namun ROA-nya cuma 8.8%. Akan tetapi perlu diingat bahwa utang PTRO seharusnya jauh lebih kecil jika tidak ada utang dari ICR. Diluar utang dari ICR, sebagian besar utang PTRO adalah utang usaha dan utang sewa alat-alat berat, yang tidak mengandung bunga sehingga tidak berpengaruh negatif pada laba bersih perusahaan. Jadi dalam hal ini, penulis tetap menganggap bahwa PTRO merupakan perusahaan kontraktor tambang yang cukup profitable.
    9. Penurunan harga batubara belakangan ini tidak atau belum berpengaruh terhadap kinerja PTRO sebagai perusahaan kontraktor tambang batubara, setidaknya jika dilihat dari sisi pendapatan yang masih mampu naik signifikan. Namun bagian laba bersih PTRO dari PT Santan Batubara memang berkurang sekitar 50%, dan ini sedikit banyak turut berpengaruh terhadap perolehan laba bersih PTRO.
    10. Dari sisi ukuran, PTRO bukanlah perusahaan kontraktor tambang besar. Empat besar perusahaan kontraktor tambang di Indonesia adalah Pamapersada (anak usaha United Tractors/UNTR), Bukit Makmur (anak usaha Delta Dunia Makmur/DOID), Thiess, dan Darma Henwa (DEWA). Namun posisi PTRO sebagai anak usaha dari INDY terbilang menguntungkan bagi perusahaan, mengingat bahwa INDY merupakan one of the largest integrated mining service company in Indonesia.
    11. Dari sisi kualitas kinerja dan valuasi, saham PTRO pada harganya saat ini adalah yang paling menarik dibanding UNTR, DOID, dan DEWA. Tapi dari sisi manajemen, UNTR masih merupakan yang terbaik (Astra punya bro!). Namun jika dibanding Northstar (pemilik DOID) atau Bakrie (pemilik DEWA), maka cara kerjanya Grup Indika sebagai pemilik PTRO masih lebih fair terhadap investor retail.
    Kesimpulannya, PTRO boleh disebut sebagai perusahaan kontraktor tambang batubara yang konservatif dari sisi operasional, namun agak complicated dari sisi finansial, yang terutama karena dikerjai oleh induknya sendiri, INDY. Tidak hanya dari sisi kinerja keuangan, INDY bahkan juga meraup keuntungan dari transaksi jual beli saham PTRO, seperti yang sudah kita bahas diatas. Tapi untungnya financial engineering-nya Grup Indika tidak separah grup usaha lainnya yang sudah disebut diatas. Dan kendali INDY atas PTRO otomatis secara membuatnya menjadi perusahaan yang memiliki akses lebih kepada banyak perusahaan tambang batubara, sehingga PTRO seharusnya tidak kesulitan dalam memperoleh klien ataupun kontrak baru untuk terus meningkatkan pendapatan. Tapi sekali lagi seperti yang sudah dibahas diatas, kenaikan pendapatan bagi PTRO tidak selalu berarti kenaikan laba bersih. Disisi lain, saham PTRO pada saat ini merupakan yang paling menarik dibanding semua saham perusahaan kontraktor tambang batubara lainnya di bursa, baik dilihat dari sisi kinerja perusahaan maupun valuasi sahamnya.
    So, bagaimana rekomendasi atas sahamnya? Ya kalau menurut penulis sih, coba tunggu sampai PTRO ketemu rebound-nya lah. Mengingat bahwa belakangan ini harga minyak mulai naik lagi, dan biasanya harga batubara juga akan menyusul, maka itu akan menjadi sentimen positif bagi PTRO. Tapi bagi penulis sendiri yang kurang sreg dengan gaya pengelolaan perusahaan dari Grup Indika, maka PTRO ini nggak cocok buat dikoleksi kalau tujuannya untuk investasi long term.

    PT Petrosea Tbk (PTRO)
    Rating kinerja pada 1H12: A
    Rating saham pada 2,075: A
    NB: Monthly Investor Bulletin edisi September 2012 akan terbit tanggal 1 September mendatang, anda bisa membelinya disini.

    Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

    Sekolah Internet Indonesia

    Rahasia Flip Klik Disini

    Panduan Rahasia Dropshipping

    Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.