Archives

Powered by CMS Forex
free counters

OBLIGASI

Ada banyak instrument investasi yang tersedia di pasaran saat ini, namun pada umumnya terdiri atas Obligasi, Saham, Derivatif, Reksadana dan Valuta Asing. Produk-produk investasi tersebut umumnya menggandeng investasi keuangan sebagai mitra dalam mengelola investasi tersebut. Di antara produk investasi tersebut, Obligasi merupakan produk yang memiliki tingkat resiko paling rendah, dan cenderung lebih stabil. Obligasi adalah surat utang pasar modal yang memuat perjanjian (kontrak) kesediaan emiten (perusahaan/ institusi penerbit obligasi) untuk melakukan pembayaran secara tetap kepada investor dan mengembalikan pokok pinjaman/ hutang pada akhir periode perjanjian.

Obligasi berbeda dengan ekuitas seperti saham yang telah diterangkan sebelumnya. Perusahaan sering memanfaatkan pasar ini untuk mencari pinjaman langsung dari investor dengan menerbitkan surat utang yaitu berupa dokumen yang menyatakan kesediaannya membayar sejumlah uang tertentu di masa depan. Selain akan membayar uang sejumlah pokok pinjaman yang dipinjamkan investor, perusahaan juga harus membayar bunga pinjaman atau kupon bunga secara berkala. Oleh karena investor akan menerima pembayaran bunga setiap periode dalam jumlah tetap, maka semua efek utang yang diterbitkan perusahaan disebut efek berpendapatan tetap (fixed income securities).

Terdapat beberapa karakteristik yang dimiliki oleh obligasi, yaitu: perusahaan menerbitkan sertifikat yang menerangkan adanya pinjaman dan syarat-syaratnya, memiliki nilai par yang menyatakan nilai pokok dari sekuritas tersebut, adanya jangka waktu jatuh tempo, dan adanya kupon bunga (coupon rate) yang akan anda terima setiap periode tertentu (3 atau 6 bulan).Tingkat suku bunga yang diberikan biasanya berada lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Apabila tingkat bunga obligasi dipasang sama dengan bunga SBI, tentunya investor akan memilih berinvestasi di SBI yang memiliki risiko jauh lebih kecil dibandingkan obligasi. Berdasarkan kenyataan inilah, pemberian tingkat bunga obligasi dihitung dengan menambahkan risk premium pada tingkat bunga dasar (biasanya sama dengan SBI). Risk premium inilah yang menjadi daya tarik dari obligasi. Yang penting untuk diperhatikan adalah semakin besar tingkat suku bunga obligasi yang ditawarkan, semakin besar pula risiko yang menyertainya.

Obligasi adalah surat utang jangka panjang yang diterbitkan oleh suatu lembaga dengan nilai nominal (nilai pari/par value) dan waktu jatuh tempo tertentu. Penerbit obligasi bisa perusahaan swasta, BUMN, atau pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah. Salah satu jenis obligasi yang diperdagangkan di pasar modal kita saat ini adalah obligasi kupon (coupon bond) dengan tingkat bunga tetap (fixed) selama masa berlaku obligasi. Berinvestasi dalam obligasi mirip dengan berinvestasi di deposito pada bank. Bila Anda membeli obligasi, Anda akan memperoleh bunga/kupon yang tetap secara berkala biasanya setiap 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun sekali sampai waktu jatuh tempo.

obligasi 1 obligasi 1

Ketika obligasi tersebut jatuh tempo, penerbit harus membayar kepada investor sesuai dengan nilai dari obligasi tersebut beserta bunga/kupon terakhirnya. Dengan karakteristik seperti ini, bagi mereka yang memasuki masa pensiun, tentunya investasi ini sangat baik karena adanya kebutuhan reguler selama masa pensiun. Obligasi bisa menjadi pilihan instrumen terbaik, terutama bila Anda memiliki tujuan keuangan dalam waktu dekat (menengah). Obligasi berpotensi memberikan tingkat bunga yang relatif lebih baik dibandingkan dengan deposito dan fluktuasi performanya relatif lebih rendah dibanding saham. Dengan tujuan keuangan antara 2-5 tahun, investasi ini mungkin akan menjadi investasi terbaik.

Sebagai contoh, bila Anda memiliki anak yang akan memasuki masa kuliah tiga tahun mendatang. Untuk kebutuhan uang kuliah di tahun pertama dan uang pangkal, Anda membeli obligasi dengan jangka waktu tersebut dan jatuh tempo sebelum waktu dibutuhkan. Dengan investasi dalam bentuk obligasi, tentunya Anda mendapatkan kepastian tingkat pengembalian sampai masa jatuh temponya. Misalkan, Anda membeli obligasi sebesar Rp 100 juta untuk masa tiga tahun dengan kupon bunga sebesar 12%. Anda akan menerima Rp 12 juta setiap tahunnya selama tiga tahun sampai obligasi tersebut jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo, penerbit obligasi akan membayar modal Anda sebesar Rp 100 juta.

Terlihat sangat mudah bukan? Akan tetapi, investasi dalam bentuk obligasi tidak selalu semudah seperti contoh di atas. Secara spesifik, para investor di obligasi harus mempertimbangkan 4 masalah utama.

1. Default Risk

Penerbit obligasi terkadang mengalami kesulitan untuk membayar kupon bunga obligasinya. Anda sebagai investor biasanya terkena dua dampak sekaligus.

Pertama, Anda tidak mendapatkan pendapatan dari kupon bunga seperti yang dijanjikan. Dan biasanya harga dari obligasi tersebut akan menurun tajam. Risiko ini dikenal dengan default risk atau risiko gagal bayar.
Berkaitan dengan risiko gagal bayar tersebut, ada satu pendekatan yang bisa Anda lakukan untuk melihat potensi gagal bayar dari penerbit obligasi, yaitu dengan melihat peringkat atau rating obligasi tersebut.
Pemeringkatan ini dilakukan oleh sebuah perusahaan independen. Di Indonesia, perusahaan peringkat independen tersebut adalah Pefindo (pemeringkat Efek Indonesia). Pemeringkatan ini dapat Anda lihat di harian bisnis yang beredar di Jakarta.

Dalam hal ini, Pefindo memberikan simbol atau nilai pemeringkatan dari yang tertinggi sampai yang terendah sebagai berikut: idAAA (superior), idAA (very strong), idA (strong), idBBB (adequate), idBB (somewhat weak), idB (non-investment), idCCC (vulnerable), idD (default). Peringkat idAAA sampai dengan idBBB menyatakan bahwa sebuah obligasi dinyatakan aman dari default risk atau risiko gagal bayar atau obligasi dengan peringkat ini bisa dikatakan sebagai investment-grade bond.

Peringkat di bawah dari idBBB tidak disarankan dalam investasi ini dan dikategorikan sebagai speculative-grade bond. Peringkat dari idAA sampai idB sering dibubuhi tanda – (minus) atau + (plus). Hal ini memberikan indikasi akan naik atau turunya dari peringkat sebuah obligasi. Misalkan sebuah obligasi mendapat peringkat idA+, peringkat dari obligasi tersebut mungkin akan naik menjadi idAA atau bila peringkat dari sebuah obligasi adalah idAA-, kemungkinan peringkat obligasinya akan turun menjadi idA.

Pemeringkatan ini memberikan informasi kepada Anda sebagai investor mengenai kapasitas maupun kemampuan sebuah penerbit obligasi dalam memenuhi janjinya, yaitu membayar bunga atau kupon secara berkala dan mengembalikan semua pokok atau nilai pari-nya begitu jatuh tempo.

Yang perlu Anda mengerti juga, bahwa bukan hanya risiko tingkat suku bunga yang dapat mengakibatkan fluktuasi harga obligasi, tapi risiko gagal bayar juga mempegaruhinya. Bila ada informasi di mana sebuah perusahaan akan gagal bayar, peringkat dari perusahaan tersebut akan turun dibarengai dengan anjloknya harga obligasi tersebut.

2. Naiknya Tingkat Suku Bunga

Risiko gagal bayar merupakan risiko yang paling ditakuti oleh para investor obligasi. Namun, bukan hanya risiko itu saja yang dapat mengakibatkan kerugian. Anda dapat tertimpa kerugian juga bila tingkat suku bunga naik.

Harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan tingkat suku bunga. Bila tingkat suku bunga turun, harga obligasi akan naik. Akan tetapi bila suku bunga naik, harga obligasi tentunya akan menurun. Semakin jauh obligasi tersebut dari waktu jatuh temponya, akan semakin besar penurunan harganya bila tingkat suku bunga naik, harga obligasi akan naik lebih besar bila tingkat suku bunga turun.

Bila Anda membeli obligasi pada nilai pari-nya dan ketika itu tingkat suku bunga naik, Anda tidak akan mengalami kerugian bila Anda tetap memegang obligasi Anda sampai mas jatuh temponya. Akan tetapi, bila Anda ingin menjual obligasi tersebut sebelum jatuh tempo, Anda mungkin akan menerima jauh lebih sedikit dari nilai pari-nya.

3. Risiko Pembelian Kembali (Call Risk)

Ada beberapa jenis obligasi yang memiliki feature call, di mana perusahaan penerbit memiliki hak untuk membeli kembali (buy back) obligasi yang Anda pegang atau Anda miliki pada harga tertentu (call price), sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan penerbit saat tingkat suku bunga di pasar turun menjadi lebih rendah dari tingkat pembayaran kupon (coupon rate). Selanjutnya perusahaan penerbit akan menggantikan obligasi baru dengan tingkat kupon yang lebih rendah dari obligasi yang telah ditarik (call).

Hal ini dapat mengakibatkan ketidakpastian dalam pola arus kas yang akan Anda terima. Selain itu, potensi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dan jual atau capital gain juga akan berkurang, karena harga obligasi di pasar tidak akan naik jauh dari call price yang telah ditetapkan. Jadi dalam hal ini, Anda harus memperhatikan spesifikasi serta feature yang ada di obligasi yang akan Anda beli.

4. Biaya Investasi Tinggi

Walau investasi obligasi berpotensi memberikan keamanan pada nilai investasi Anda, kerugian mungkin saja terjadi bila Anda ingin menjualnya sebelum jatuh tempo. Karena satuan jual beli instrumen investasi yang cukup besar, umumnya Rp 1 miliar, bila Anda hanya memiliki obligasi bernilai Rp.100 juta, biasanya bila Anda ingin menjualnya, Anda harus mau menerima nilai yang lebih rendah.

Hal ini dikarenakan para pemain investasi ini umumnya adalah institusi besar seperti bank, perusahaan asuransi, atau dana pensiun. Pasar obligasi yang masih rendah (jumlah transaksinya) juga berpengaruh terhadap potensi kerugian dikarenakan tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Salah satu trik yang bisa Anda lakukan adalah dengan membeli obligasi saat pejualan perdana dan menahannya sampai jatuh tempo. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan harga yang sama seperti institusi besar.

Keempat masalah di atas harus Anda cermati dengan baik bila Anda tertarik untuk membeli instrument investasi.

Tujuan Penerbitan Obligasi

Penerbitan obligasi dilakukan oleh perusahaan yang membutuhkan dana, baik untuk ekspansi bisnisnya ataupun untuk memenuhi kebutuhan keuangan perusahaan dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Obligasi pada dasarnya merupakan Surat utang yang ditawarkan kepada publik. Apabila investor berminat, is bisa membeli melalui pihak penjamin (underwriter) atau agen penjual lewat penjualan di pasar perdana, atau melalui broker dealer apabila dibeli melalui pasar sekunder. Dengan membeli obligasi tersebut, pembeli akan mendapatkan imbalan pendapatan tingkat suku bunga (kupon) yang ditawarkan sebelumnya seperti tertulis di dalam prospektus obligasi. Perusahaan yang menerbitkan obligasi mempunyai beberapa tujuan penting di antaranya:

a. Mendapatkan jumlah dana tambahan yang lebih fleksibel.

Dengan menerbitkan obligasi maka perusahaan diharapkan mampu mendapatkan tambahan dana yang disesuaikan dengan kebutuhan. Jumlah besar kecilnya dana obligasi bisa disesuaikan dengan kinerja keuangan perusahaan misalnya kemampuan pembayaran bunga obligasi, dan pelunasan pokok obligasi pada saat jatuh tempo, juga disesuaikan dengan prospek dari industri bisnis perusahaan di masa mendatang.

Dibandingkan dengan mengajukan pinjaman dana ke bank, keputusan besarnya pinjaman biasanya disesuaikan dengan nilai jaminan (collateral) yang dimiliki perusahaan. Sedangkan menerbitkan obligasi tidal( mesti harus memberikan jaminan, hal ini menjadi daya tarik bagi perusahaan. Dengan menerbitkan obligasi, pihak perusahaan akan lebih fleksibel menentukan besar kecilnya dana yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuan pasar (investor) dalam menyerap penerbitan obligasi tersebut serta kemampuan pihak penjamin emisi dalam memberikan komitmen jumlah penerbitan obligasi.

b. Mendapatkan pinjaman dengan tingkat suku bunga fleksibel.

Pihak perusahaan yang menerbitkan obligasi akan mendapatkan dana tambahan dengan tingkat suku bunga yang lebih fleksibel. Proses penentuan tingkat suku bunga (kupon) obligasi ditentukan berdasarkan kemampuan keuangan perusahaan serta memperhatikan kondisi tingkat suku bunga di perbankan. Dibandingkan dengan meminjam dana dari perbankan, penentuan tingkat suku bunganya cenderung berpihak pada kepentingan kreditur (bank). Sedangkan apabila menerbitkan obligasi, proses penentuan tingkat suku bunganya relatif fleksibel disesuaikan dengan kemampuan dan kepentingan penerbit obligasi.

c. Mendapatkan alternatif pembiayaan melalui pasar modal.

Seperti diketahui, obligasi termasuk juga jenis utang jangka panjang. Perusahaan yang kesulitan melakukan pinjaman melalui perbankan bisa mencari alternatif pendanaan melalui pasar modal dengan menerbitkan obligasi sejumlah dana yang dibutuhkan.

Obligasi vs Reksadana Obligasi (Pendapatan Tetap)

Hal pertama yang perlu dipertimbangkan adalah waktu dibutuhkannya dana tersebut. Bila Anda membutuhkan dana untuk pembelian sesuatu yang mahal dalam waktu dekat, Anda dapat membeli obligasi dengan waktu jatuh tempo sama dengan waktu dibutuhkannya dana tersebut. bila kondisinya seperti ini, investasi pada obligasi akan lebih aman dengan satu keharusan, Anda menjualnya pada saat jatuh tempo. Anda juga bisa membeli obligasi bila tingkat suku bunga cukup menarik, dimana Anda dapat mengunci tingkat kupon bunga yang tinggi untuk jangka waktu tertentu—masa obligasi. Dengan begitu Anda akan mendapatkan kepastian arus pendapatan sampai masa jatuh tempo, apapun yang terjadi dengan tingkat suku bunga.

Kedua hal diatas memberikan keuntungan berinvestai dalam bentuk obligasi. Transaksi obligasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bila Anda melakukan jual-beli sebelum masa jatuh tempo, investasi pada obligasi akan sangat riskan. Bila Anda tidak mengikuti pasar obligasi secara cermat, akan jauh lebih baik bila Anda membeli Reksadana Pendapatan Tetap, di mana Anda dapat memperjualbelikannya secara mudah dan murah (biaya rendah). Bila Anda hanya memiliki dana yang terbatas, Reksadana Obligasi menjadi pilihan yang paling tepat. Sebagai investor, Anda dapat membeli reksadana pendapatan tetap dengan dana awal minimal.

Ditambah lagi, dengan membeli reksadana pendapatan tetap bukan saja Anda bisa mendapatkan dengan modal sedikit tapi juga memberikan diversifikasi yang jauh lebih baik dari pada Anda membeli hanya satu obligasi.
Berinvestasi pada reksadana pendapatan tetap bukan hanya memberikan diversifikasi yang lebih baik, tapi juga manajer investasi yang profesional. Bagi Anda yang selalu disibukkan dengan pekerjaan, hal ini sangatlah menguntungkan. Apalagi bila Anda sudah memiliki reksadana pendapatan tetap, Anda dapat menambah investasi Anda sewaktu-waktu dengan dana yang minimal.

Jenis Obligasi yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia :

a. Corporate Bonds : Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Swasta.

b. Government Bonds : Obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah.

c. Retail Bonds : Obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik Corporate Bonds maupun Government Bonds.

Karakteristik Obligasi :

1. Nilai Nominal (Face Value) adalah nilai pokok dari suatu Obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.

2. Kupon (Interest Rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang Obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan). Kupon obligasi dinyatakan dalam annual persentase.

3. Jatuh Tempo (Maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk diprediksi, sehingga memiliki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi kupon/ bunganya.

4. Penerbit / Emiten (Issuer). Mengetahui dan megenal penerbit Obligasi merupakan faktor yang sangat penting dalam melakukan investasi Obligasi. Mengukur resiko / kemungkinan dari penerbit obligasi tidak dapat melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (disebut default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti Pefindo atau Kasnic Indonesia.

Harga Obligasi :

Berbeda dengan harga saham yang dinyatakan dalam bentuk mata uang, harga obligasi dinyatakan dalam (%) yaitu persentase dari nilai nominal. Ada 3 kemungkinan darga pasar dari obligasi yang ditawarkan, yaitu :

a. Par (Nilai Pari) : Harga Obligasi sama dengan nilai Nominal. Misalnya Obligasi dengan nilai nominal Rp. 50 juta dijual pada harga 100 %, maka nilai obligasi tersebut adalah 100 % x Rp. 50 Juta = Rp. 50 Juta.

b. at Premium (dengan Premi) : Harga Obligasi lebih besar dari nilai nominal. Misalnya Obligasi dengan nilai nominal Rp. 50 juta dijual dengan harga 102 % maka nilai obligasi tersebut adalah 102 % x Rp. 50 Juta = Rp. 51juta.

c. at Discount (dengan Discount) : Harga Obligasi lebih kecil dari nilai nominal misalnya Obligasi dengan nilai nominal Rp. 50 juta dijual dengan harga 98 %, maka nilai dari obligasi adalah 98 % x Rp. 50 juta = Rp. 49 juta.

Seorang investor yang memiliki pandangan konservatif sebaiknya memiliki portfolio investasi yang terdiri dari 80% asset dasar. Ini berarti, portfolio investasi yang memiliki resiko investasi rendah dengan imbal hasil regular. Dua puluh persen sisanya merupakan portfolio satelit yang memiliki resiko investasi lebih besar, misalnya saham. Obligasi merupakan produk investasi yang termasuk ke dalam kategori asset dasar karena sifatnya yang konservatif. Dengan demikian, obligasi merupakan pilihan investasi yang baik bagi nasabah yang baru memulai mengembangkan portfolio investasinya.

Apa sajakah jenis-jenis obligasi ? Kategori obligasi dapat dipisahkan beberapa jenis, antara lain; pertama adalah obligasi dengan suku bunga tetap, merupakan jenis terpopuler dimana kupon dibayarkan pada interval berkala. Kedua, obligasi tanpa kupon tidak memberikan kupon namun dijual dengan potongan harga, dimana investor akan menerima imbal hasil berupaapresiasi modal pada saat jatuh tempo. Ketiga, obligasi dengan suku bunga floating memberikan pembayaran suku bunga yang tergantung pada tingkat suku bunga di pasar. Dan keempat, Commercial Paper yang dikeluarkan oleh perusahaan besar untuk menggalang dana pembiayaan jangka pendek dengan jangka waktu antara satu hingga dua belas bulan.

Apa sajakah manfaat Obligasi? Adapun obligasi memiliki beberapa manfaat antara lain, memiliki kemampuan untuk apresiasi modal, sebagai alternatif diversifikasi portfolio1 investasi, memiliki kesempatan dan akses terhadap Obligasi bermata uang asing, memiliki imbal hasil lebih tinggi dibandingkan deposito, pendapatan tetap dalam bentuk pembayaran kupon, dan memiliki resiko rendah dibandingkan saham, reksadana, derivatif, serta investasi valuta asing.

Perbedaan utama antara obligasi dan saham adalah para pemegang saham memiliki sejumlah saham atau ekuiti di sebuah perusahaan (mereka adalah pemilik perusahaan), sedangkan pemilik obligasi adalah pemberi kredit kepada perusahaan (mereka adalah pemberi pinjaman). Selain itu, obligasi memiliki tanggal jatuh tempo dimana obligasi dapat dicairkan, sementara saham memiliki jatuh tempo yang tak terbatas. Namun demikian, perlu diingat bahwa saham bersifat lebih rentan / beresiko dibandingkan obligasi.

obligasi 4 obligasi 8 obligasi 9

Secara umum perbandingan yang paling prinsip adalah bahwa dengan menerbitkan obligasi berarti pemilik perusahaan (share holder) secara langsung menerbitkan surat utang yang mengandung kewajiban memberikan pembayaran tingkat suku bunga serta pelunasan pokok pinjaman. Sedangkan dengan menerbitkan saham, pemilik perusahaan tidak mempunyai kewajiban pembayaran, hanya porsi kepemilikan sahamnya mengalami penurunan.

Jenis risiko aktiva untuk obligasi relatif kecil sedangkan untuk saham relatif cukup besar serta tidak pasti. Jangka waktu instrumen obligasi ada batasnya sedangkan untuk saham tidak terbatas. Yang perlu dicermati, biaya modal untuk obligasi adalah membayar tingkat suku bunga sebelum pembayaran pajak, sedangkan untuk saham diharapkan dividen dibagikan setelah pengenaan pajak. Struktur biaya untuk suku bunga bisa bersifat fixed dan floating yang dialokasikan dari aliran kas perusahaan sedangkan untuk saham adalah persentase dari laba. Untuk proses klaim atas aset perusahaan, pemegang obligasi mempunyai hak yang didahulukan ketimbang pemegang saham, termasuk juga dalam proses pailit atas perusahaan tersebut. Secara prinsip perbedaan karakteristik obligasi adalah bahwa perusahaan harus memikirkan pengembalian dan pinjaman dari hasil penerbitan obligasi tersebut. Hal inilah yang harus dipertimbangkan secara matang. Perusahaan yang tidak mempunyai arus kas yang kuat disarankan untuk lebih memilih menerbitkan saham supaya mendapatkan dana segar tanpa harus memikirkan pengembalian dana

Kapan waktu yang tepat untuk membeli Obligasi?Apabila Anda berencana untuk mendiversifikasi investasi Anda untuk meminimalisasi resiko, Obligasi memiliki tingkat resiko yang lebih rendah dibandingkan sebagian besar instrument investasi yang tersedia. Bila tingkat suku bunga diprediksi turun, nilai Obligasi dapat meningkat karena sifatnya yang berbanding terbalik dengan suku bunga. Apabila Anda menginginkan pendapatan yang tetap, Obligasi dapat menjadi solusi karena memberikan kupon secara tetap dan berkala.

Tidak pernah ada kata waktu “terbaik” untuk memulai berinvestasi dalam suatu instrument tertentu. Sebaliknya, Anda harus memiliki strategi investasi untuk-didiskusikan bersama perencana keuangan Anda serta pemahaman atas jenis produk investasinya. Seorang bankir yang bail dapat membantu untuk menentukan tingkat profil resiko dan tingkat timbal balik yang Anda harapkan sebelum menentukan pilihan Investasi Anda.Bagaimana mengakses pasar-Obligasi

Obligasi dalam Dolar Amerika

Sejauh ini di mata investor Indonesia, instrument investasi bermata uang dolar AS adalah yang paling favorit ketimbang valuta asing lain. Data Bank Indonesia (BI), menunjukkan deposito dolar menjadi pilihan utama Investor Indonesia. Nilainya mencapai Rp 100 triliun. menyusul tabungan dolar sekitar Rp 20 triliun dan reksadana pendapatan tetap dalam dolar Rp 1,1 triliun.
Namun menyangkut obligasi dolar AS tampaknya luput dari perhatian para investor. Kini, Anda dapat dengan mudah menggabungkan dua alternatif investasi yaitu obligasi dan dolar AS. Beberapa bank asing di Indonesia menawarkan obligasi global pemerintah RI dengan penempatan dana investasi minimal US$ 50.000. Memang sejauh ini belum ada data resmi mengenai jumlah dana dalam obligasi dolar AS di bank-bank asing di Indonesia.

Keunggulan Obligasi dalam Dolar AS

Pertama, kupon obligasi dolar lebih tinggi dari bunga tabungan dan deposito dolar yang ditawarkan semua bank devisa di Indonesia. Jika sebagian besar tabungan dan deposito hanya menjanjikan bunga 2% hingga 3.5% per tahun, kupon obligasi dolar bisa mencapai 11% setahun. Tapi ingat, obligasi dolar ini tidak ada yang menjamin.
Kedua, obligasi dolar termasuk obligasi global RI, tidak kena pajak pernghasilan 15% karena ditransaksikan di luar negeri. Ini membuat perbedaan bunga riil antara deposito dolar dengan kupon obligasi dolar semakin besar. Bunga riil deposito maksimal 3% atau seperempat kupon obligasi global RI yang dapat mencapai 11%.
Ketiga, tidak seperti tabungan dan deposito dolar yang tidak diperdagangkan di pasar sekunder, obligasi dolar dapat memberikan capital gain.
Keempat, potensi penguatan atau apresiasi dolar terhadap rupiah. Menurut paritas daya beli, mata uang negara yang inflasinya lebih rendah akan terapresiasi sebesar selisih tingkat inflasinya. Karena inflasi di AS lebih rendah dari di Indonesia, ada potensi tambahan return dari obligasi dolar. Apalagi inflasi tahunan Amerika selama 80 tahun terakhir rata-rata 2,5% sedangkan inflasi di Indonesia dalam 10 tahun terakhir adalah 9% per tahun. Dengan demikian, berdasarkan paritas daya beli , depresi mata uang kita terhadap dolar AS wajarnya adalah sekita 6,5% per tahun.

Lembaga Pemeringkat Kredit

Lembaga pemeringkat kredit atau juga disebut dengan credit rating agency (CRA) adalah suatu perusahaan yang menerbitkan peringkat kredit bagi para penerbit obligasi . Penerbit dari obligasi yang dapat diperdagangkan pada pasar sekunder tersebut biasanya merupakan perusahaan, kota, lembaga nirlaba, ataupun pemerintahan suatu negara. Peringkat kredit tersebut mengukur kelayakan kredit, kemmpuan pembayaran kembali utang, dan berpengaruh pada suku bunga yang dibebankan pada utang tersebut. (Suatu perusahaan yang menerbitkan skor kredit bagi kelayakan kredit individu secara umum disebut dengan istilah biro kredit atau lembaga pelaporan kredit konsumen) .

obligasi 7 obligasi 5 obligasi 6

Suku bunga yang dibebankan adalah tidak sama bagi setiap orang, tetapi penetapan suku bunganya berdasarkan risiko. Ini adalah merupakan bentuk diskriminasi harga berdasarkan pada perbedaan biaya dari masing-masing debitur yang berbeda sebagaimana yang nampak pada peringkat kredit mereka. Saat ini terdapat kurang lebih 100 lembaga pemeringkat kredit diseluruh dunia.

Peringkat kredit ini digunakan antara lain bagi :

  • investor: dengan adanya lembaga pemeringkat kredit ini maka akan memperluas pilihan investasi dan menjamin kemandirian, mudah untuk menggunakan ukuran risiko kredit secara relatif, menurunkan biaya baik bagi kreditur maupun debitur, juga meningkatkan total sediaan serta membuka pasar modal bagi para debitur kecil seperti pemerintah negara kecil, perusahaan baru, rumah sakit dan universitas.
  • Penerbit obligasi mempercayai peringkat kredit tersebut sebagai suatu verifikasi independen terhadap kelayakan kredit / utang mereka. Dalam beberapa kasus, untuk suksesnya suatu penerbitan obligasi maka paling tidak harus memiliki sekurangnya 1 peringkat dari lembaga pemeringkat kredit yang diakui, dimana tanpa adanya peringkat ini maka minat investor terhadap obligasi ini akan rendah. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Asosiasi Pasar Obligasi maka saat ini banyak investor institusi yang mensyaratkan obligasi tersebut mendapatkan sekurangnya 3 pemeringkatan kredit.
  • Pialang dan bank investasi : menggunakan pemeringkatan ini untuk menghitung risiko portofolio mereka . Bank dan pialang yang besar membuat sendiri perhitungan risiko namun tetap mempercayai peringkat yang dibuat oleh lembaga pemeringkat kredit ini sebagai suatu “pemeriksaan” dan sebagai “pembanding kedua” ataupun ketiga terhadap analisa mereka.
  • Regulator pemerintah : menggunakan pemeringkatan ini untuk kepentingan pengaturan dan pengawasan bursa. Sebagai contoh misalnya, berdasarkan ketentuan perjanjian Basel II dari Basel Committee on Banking Supervision, badan pengawas perbankan dapat mengizinkan bank untuk menggunakan beberapa lembaga pemeringkat kredit yang disetujui ataupun lembaga penilaian kredit external dlam melakukan perhitungan cadangan kebutuhan modal bersih.

Lembaga yang melakukan pemeringkatan kredit perusahaan antara lain :

PT. PEFINDO atau “PT Pemeringkat Efek Indonesia” didirikan di Jakarta pada tanggal 21 Desember 1993, melalui inisiatif Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dan Bank Indonesia. Pada tanggal 31 Agustus 1994, PEFINDO memperoleh izin usahanya dari BAPEPAM dengan Nomor. 39/PM-PI/1994 dan menjadi salah satu lembaga penunjang pasar modal di Indonesia.

Tugas utama PEFINDO adalah untuk menyediakan suatu peringkat atas risiko kredit yang objektif, independen, serta dapat dipertanggung jawabkan atas penerbitan surat hutang yang diperdagangkan kepada masyarakat luas. Disamping melaksanakan kegiatannya dalam melakukan pemeringkatan surat hutang, PEFINDO juga menerbitkan dan mempublikasikan informasi kredit sehubungan dengan pasar perdagangan efek. Publikasi ini terdiri dari opini kredit atas perusahaan-perusahaan penerbit obligasi beserta sektor aset acuannya.

PEFINDO adalah merupakan Perseroan Terbatas yang sahamnya per Desember 2006 tercatat dimiliki oleh 96 perusahaan domestik, yang terdiri dari dana pensiun, perbankan, asuransi, Bursa Efek Indonesia dan perusahaan sekuritas. Guna meningkatkan metodologi pemeringkatan yang digunakan dan kriteria dalam melakukan pemeringkatan, maka PEFINDO didukung oleh mitra globalnya yaitu Standard & Poor’s Rating Services (S&P’s). PEFINDO juga aktif berpartisipasi dalam Asian Credit Rating Agencies Association (ACRAA).

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Sekolah Internet Indonesia

Rahasia Flip Klik Disini

Panduan Rahasia Dropshipping

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.