Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Ebook Investment Planning – Kuartal II 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Ebooknya akan terbit pada hari Kamis, 8 Agustus 2019, dan anda bisa langsung memesannya disini.

Daftar isi dari Ebook edisi sebelumnya (Kuartal I 2019), yang terbit bulan Mei 2019. Klik gambar untuk memperbesar
Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning, dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan itu bahkan belum termasuk diskon jika anda berlangganan ebooknya secara jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, pioneer metode value investing dalam berinvestasi saham di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).

Sekali lagi, ebooknya akan terbit pada hari Kamis, 8 Agustus 2019, dan untuk memperolehnya maka bisa baca infonya disini. Tersedia diskon preorder bagi anda yang memesan sebelum tanggal 8 Agustus. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi [...]

Misteri Saham Sritex (SRIL)

PT Sri Rejeki Isman, Tbk, atau lebih dikenal dengan Sritex (SRIL), menjadi emiten pertama yang merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal II 2019, dimana hasilnya sekilas tampak sangat baik: Labanya naik menjadi US$ 63 juta dibanding US$ 56 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan annualized ROE mencapai 21.8%. Disisi lain pada harga saham 340, PBV-nya cuma 0.9 kali, dengan PER 3.9 kali. Dengan indikator fundamental seperti itu, maka harusnya sahamnya bakal langsung lompat segera setelah LK-nya keluar, dan memang pada hari ini SRIL sempat lompat ke 352 dengan volume transaksi yang sangat besar (lebih dari 2 milyar lembar saham), tapi somehow dia balik lagi ke 340, sebelum akhirnya ditutup di 344. Kemudian jika kita perhatikan pergerakan sahamnya selama setahunan terakhir, maka SRIL memang nyaris tidak pernah beranjak dari level 340 – 350, tak peduli IHSG naik atau turun, dan tak peduli meski saham-saham lain dengan kualitas fundamental yang sama sudah pada terbang semua. Jadi ada apa ini??

***
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 akan terbit hari Kamis, 8 Agustus 2018, dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut. Tersedia preorder discount bagi investor yang subscribe sebelum tanggal 8 Agustus.
***
Sritex, seperti yang mungkin anda ketahui, adalah perusahaan tekstil terintegrasi terbesar di Asia Tenggara, dalam hal ini jika Grup Indorama tidak dihitung/lebih dianggap sebagai perusahaan kimia, yang bermarkas di Sukoharjo, Jawa Tengah. Produk yang dibuat perusahaan meliputi benang, kain tenun, kain jadi, hingga pakaian jadi untuk seragam militer, seragam instansi/perusahaan, dan fashion. SRIL adalah supplier utama seragam untuk TNI/Polri, dan juga supplier bagi banyak merk fashion terkemuka di dunia seperti H&M dan Uniqlo. Sekitar dua pertiga pendapatan SRIL berasal dari pasar ekspor, sehingga laporan keuangannya kemudian disajikan dalam mata uang US Dollar. Ketika pendiri perusahaan, Haji Muhammad Lukminto, wafat pada tahun 2014, SRIL sudah menjadi berubah total dari tadinya hanya sebuah toko kecil yang menjual kain di Pasar Klewer, Solo, menjadi salah satu raksasa tekstil Asia Tenggara, dengan total aset US$ 699 juta, dan ekuitas US$ 231 juta.

Namun di tangan generasi kedua perusahaan, yakni duet kakak beradik Iwan Setiawan dan Iwan Kurniawan, SRIL bahkan melompat lebih tinggi lagi, dimana hingga pada Kuartal II 2019, perusahaan sudah membukukan total aset US$ 1.4 milyar, dan ekuitas US$ 575 juta. Yep, jadi tak lama setelah SRIL IPO pada bulan Juni 2013, manajemen langsung gerak cepat dengan juga menerbitkan obligasi di Singapura, dan dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk memperluas kompleks pabriknya di Sukoharjo, dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat. Ekspansi besar-besaran yang sebenarnya agak berisiko itu ternyata sukses, dimana SRIL tidak kekurangan permintaan dari para pelanggannya, terdapat kurang dari 1% produknya yang di-retur/dikembalikan oleh konsumen karena rusak dll, terdapat kurang dari 1% produknya yang dikirim tidak tepat waktu, dan tidak pernah terjadi penghentian produksi kecuali yang disengaja. Jika diperhatikan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan perusahaan. Pertama, karena pasarnya lebih banyak ekspor, maka naik turunnya kondisi ekonomi dalam negeri termasuk fluktuasi Rupiah menjadi tidak berpengaruh. Dan karena produk yang dijual adalah tekstil dan garment, yang notabene merupakan kebutuhan primer masyarakat dunia, maka permintaannya juga tidak pernah turun.
Kedua, gaji karyawan yang terhitung murah (karena lokasi pabriknya di Sukoharjo, dimana UMR disana cuma Rp1.7 juta per bulan), plus beban bunga utang yang murah (obligasinya cuma dikenai bunga 8.25% per tahun), menyebabkan margin laba perusahaan menjadi besar. Dan ketiga, manajemen fokus di bidang yang merupakan keahlian mereka, yaitu tekstil, dimana ekspansi yang dilakukan selama ini adalah dengan memperbesar kapasitas produksi, jadi bukan dengan masuk ke bidang usaha lain dimana manajemen masih harus belajar lagi. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), sebuah perusahaan yang juga berasal dari Sukoharjo, dan pemiliknya juga banyak berekspansi sejak tahun 2007 lalu, tapi hasilnya berbanding terbalik dengan SRIL, yang mungkin karena ekspansinya kesana kemari dimana mereka bikin bihun, mie kering, makanan ringan, beras, perkebunan kelapa sawit, sampai membangun pembangkit listrik segala. Dalam banyak kesempatan, penulis selalu mengatakan bahwa perusahaan yang bagus adalah yang fokus di bidangnya, kecuali jika perusahaan tersebut adalah perusahaan holding, misalnya Astra International (ASII). Karena meski ASII unit usahanya macem-macem, tapi untuk setiap unit usahanya ASII memiliki anak-anak usaha yang fokus menjalankan satu bidang usaha tersebut, seperti AALI fokus di perkebunan kelapa sawit, UNTR fokus di tambang batubara, dan seterusnya.
Kenapa SRIL gak mau naik?
Dengan track record pertumbuhan perusahaan yang sangat baik, statusnya sebagai perusahaan yang besar, mapan, dan populer, plus keberadaan sejumlah faktor diatas yang memungkinkan perusahaan untuk terus melanjutkan kinerja apik-nya di masa yang akan datang, maka saham SRIL juga seharusnya naik banyak dalam jangka panjang. Namun hingga ketika artikel ini ditulis, SRIL hanya berada di level 340, atau hanya naik relatif sedikit dibanding posisinya ketika IPO lima tahun lalu di level 240, padahal selama lima tahun tersebut perusahaan tidak pernah menggelar right issue ataupun private placement. Kemudian seperti yang disebut diatas, sering terjadi saham SRIL tidak naik ataupun turun dalam waktu yang cukup lama (hingga setahun, atau lebih), tak peduli meski IHSG naik atau turun. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, kalau ada perusahaan dengan fundamental bagus/ROE-nya konsisten di level 20%, prospeknya cerah, dan valuasinya juga murah, maka meski kadang kita perlu nunggu lama sampai dia naik, tapi harusnya gak sampai 1 – 2 tahun juga, apalagi jika saham tersebut sangat likuid seperti halnya SRIL ini (kalau saham yang tidak likuid memang kadang suka susah naik bahkan meski fundamentalnya bagus, karena investor biasanya hanya mau beli saham-saham yang ramai diperdagangkan).
Jadi apa masalahnya? Well, entahlah. Tapi diluar periode dimana sahamnya dieeeem saja selama berbulan-bulan, maka ada juga periode dimana SRIL naik dan turun secara sangat signifikan tanpa adanya penyebab yang jelas. Contohnya pada bulan Januari – Oktober 2014, dimana SRIL entah kenapa jeblok dari 300 sampai mentok di 120. Penulis katakan ‘entah kenapa’, karena di periode yang bersamaan IHSG justru naik banyak (totalnya 22.3% sepanjang tahun 2014), sedangkan kinerja SRIL ketika itu juga sama bagusnya seperti sekarang. Tapi memasuki bulan Februari 2015, SRIL tiba-tiba saja naik dengan cepat dari 150 hingga menembus 480 di bulan Juli-nya, atau terbang lebih dari tiga kali lipat hanya dalam waktu lima bulan! Dan lagi-lagi, kenaikan SRIL tersebut terjadi justru ketika IHSG bergerak turun. Hal yang tidak wajar lainnya adalah, mau itu sahamnya naik, turun, atau bergerak mendatar, namun nilai transaksi harian sahamnya selalu besar, atau bahkan sangat besar dimana pada hari-hari tertentu, termasuk pada hari Kamis, 17 Juli ini, nilai transaksi saham SRIL bahkan bisa tembus diatas Rp700 milyar. Sebagai perbandingan, nilai transaksi 10 saham dengan market cap terbesar di BEI biasanya hanya Rp200-an milyar per hari, tapi saham SRIL ini bahkan lebih ‘encer’ lagi.
Nah, jadi anda mengerti maksud penulis bukan? Yep, meski perusahaannya sejatinya bagus, tapi masalahnya justru di sahamnya yang merupakan saham gorengan, dalam pengertian bahwa SRIL ini tidak pernah bergerak berdasarkan mekanisme pasar yang wajar seperti kebanyakan saham lainnya, melainkan cukup jelas bahwa sahamnya ada yang mengendalikan. Actually dalam hal ini SRIL tidak sendirian, karena di BEI ada juga sejumlah emiten lain yang sahamnya sering naik turun sendiri tanpa penyebab fundamental yang jelas, dan juga dengan volume transaksi yang sangat besar. Contohnya yang sudah pernah dibahas di blog ini, Trada Alam Minera (TRAM), Benakat Integra (BIPI), hingga Rimo Internasional (RIMO). Biasanya saham-saham model gini disukai para trader spekulan karena sering tiba-tiba naik banyak dalam waktu sangat singkat, misalnya 100% atau lebih dalam waktu gak sampai sebulan, sekali lagi, tanpa penyebab yang jelas. Tapi bagi investor fundamentalis, kita tentu saja menghindari saham-saham diatas. Termasuk SRIL, yang meski di tahun 2014 – 2015 lalu sempat jadi menu wajib penulis karena memang fundamentalnya mengesankan, tapi kesininya kita jarang memasukkan sahamnya ke dalam planning, bahkan sekedar masuk watchlist pun nggak.
Okay Pak Teguh, tapi bukannya diatas panjenengan sendiri bilang kalau SRIL ini sejatinya bagus? Jadi dia jelas beda dengan TRAM dkk dong, karena kalau mereka sih memang fundamentalnya nol besar toh?? Yep, SRIL memang bagus, dan juga murah, sangat murah malah untuk ukuran saham dari perusahaan yang sangat populer. Dan faktanya kalau anda beli sahamnya akhir tahun 2014 lalu, kemudian hold barang setahun, maka anda bakal cuan besar. Demikian pula kalau anda masuk ke SRIL pada akhir tahun 2016, dimana sahamnya kemudian naik banyak dari 220 sampai tembus 400, setahun kemudian.
Jadi keputusannya sekarang di tangan anda sendiri: Kalau anda percaya bahwa SRIL ini eventually akan naik juga, mengingat PBV-nya sekarang sudah sama dengan PBV-nya waktu di harga 220, tahun 2016 lalu (sama-sama 0.9 kali), then go ahead! Jika beruntung, maka SRIL bisa saja lompat ke 500 lagi dalam waktu tidak sampai tiga bulan dari sekarang, dan bonusnya kita gak perlu khawatir dengan naik turunnya IHSG, karena SRIL ini punya pergerakan sendiri. Tapi disisi lain jika anda kurang beruntung, maka peristiwa di awal tahun 2014 dan awal 2016 lalu bisa saja terulang kembali, dimana SRIL entah gimana ceritanya turun sendiri. Thus, jika anda tidak mau mengambil risiko berada di posisi yang ‘kurang beruntung;, maka jangan khawatir karena kita masih punya banyak pilihan emiten lain yang juga berkinerja bagus, dan valuasinya juga murah, namun pergerakan sahamnya jauh lebih selaras dengan fundamental serta valuasinya tersebut. Dan mumpung sekarang sudah masuk musim laporan keuangan Kuartal II 2019, maka kalau nanti penulis nemu saham bagus lagi, kita akan membahasnya di blog ini.
PT. Sri Rejeki Isman, Tbk (SRIL)
Rating Kinerja pada Kuartal II 2019: A
Rating Valuasi Saham pada 340: A
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 akan terbit hari Kamis, 8 Agustus 2018, dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut. Tersedia preorder discount bagi investor yang subscribe sebelum tanggal 8 Agustus.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bank BTN, dan Prospek Program Sejuta Rumah

Di semua negara di seluruh dunia, salah satu sektor usaha yang paling menguntungkan adalah perbankan. Karena segala jenis usaha lainnya di negara yang bersangkutan pasti membutuhkan jasa perbankan, baik itu untuk transaksi keuangan maupun kebutuhan pendanaan. However, industri perbankan pada satu negara tertentu biasanya hanya didominasi oleh beberapa pemain saja. Termasuk di Indonesia, dimana lebih dari 70% aset perbankan disini dikuasai oleh empat emiten yakni Bank BCA (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), dan Bank BNI (BBNI). Alhasil, meski tadi diatas dikatakan bahwa sektor perbankan terbilang menguntungkan, namun bank yang benar-benar membukukan profit jumbo setiap tahunnya hanyalah empat bank diatas saja. Sedangkan diluar itu, mereka seringkali harus puas dengan return on equity kurang dari 12% setiap tahunnya, itupun tidak konsisten/kadang bisa rugi pada tahun-tahun tertentu.

***
Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal, namun anda bisa memperoleh rekaman seminarnya disini (rekaman seminar terbaru, bulan Juni 2019 kemarin).
***
Dan Bank BTN (BBTN) adalah salah satu dari sekian banyak bank di Indonesia dengan mediocre performance diatas, dimana hingga sebelum tahun 2015 lalu, ROE-nya hanya berada di kisaran 10 – 12% saja per tahun. Jadi meski dalam hal ini nilai aset bersih/ekuitas BBTN tetap terus tumbuh dalam jangka panjang, namun rate pertumbuhannya relatif lebih rendah dibanding big four banking diatas (BBCA dkk), dan demikian pula kenaikan sahamnya tidak terlalu tinggi meski setelah sekian tahun sekalipun. You see, pada Februari 2010, BBTN berada di posisi 1,000-an. Dan berapa posisi BBTN pada bulan Februari 2015, alias lima tahun kemudian? Ternyata masih di 1,000-an juga.
However, pada tahun 2015 inilah, Pemerintah Republik Indonesia meluncurkan satu program kerja yang di kemudian hari sangat menguntungkan BBTN, yaitu program pembangunan sejuta rumah bersubsidi untuk masyarakat menengah kebawah. Nah, balik lagi ke soal industri perbankan di Indonesia: Untuk bank-bank diluar big four, mereka sulit untuk membukukan kinerja bagus karena masyarakat itu sendiri agak sulit kalau diajak menabung/buka rekening di mereka. Karena logika saja: Jika anda selama ini sudah nyaman menabung di BCA, maka ngapain lagi anda buka rekening di bank kecil yang mesin ATM-nya saja entah ada dimana?
Tapi jika ada bank kecil/menengah tertentu yang menawarkan layanan spesialis tertentu, dimana masyarakat mau tidak mau harus ke bank tersebut jika mereka membutuhkan layanan tersebut, maka barulah bank kecil tersebut akan membukukan profit lumayan. Contohnya bank pembangunan daerah seperti Bank BJB (BJBR), atau Bank Jatim (BJTM), dimana mereka spesialis memberikan kredit consumer, dan juga menjadi tempat transfer gaji/transaksi keuangan bagi Pegawai Negeri Sipil, institusi, dan perusahaan daerah di provinsi setempat. Alhasil dua bank ini kinerjanya cukup baik, gak kalah dibanding BBRI dkk. Kemudian ada lagi, Bank BTPN Syariah (BTPS), yang spesialis memberikan pembiayaan mikro syariah untuk ibu-ibu prasejahtera di seluruh Indonesia.
Lalu bagaimana dengan BBTN? Nah, BBTN sejak dulu adalah juga spesialis, dalam hal ini spesialis penyaluran kredit pemilikan rumah alias KPR. Sampai-sampai ada anekdot, BTN itu adalah singkatan dari ‘bayar tapi nyicil’, karena bank ini identik dengan cicilan KPR itu tadi. Hingga tahun 2015, BBTN adalah market leader di industri KPR di Indonesia, dimana perusahaan membantu pembiayaan sekitar 100,000 unit rumah setiap tahun.
Tapi jika dibanding dengan jutaan penduduk di Indonesia yang butuh tempat tinggal baru saban tahunnya, maka angka seratusan ribu unit rumah diatas sejatinya masih sangat kecil, dan alhasil kinerja BBTN sebelum tahun 2015 terbilang gitu-gitu aja. Barulah setelah pemerintah meluncurkan program sejuta rumah, dimana BBTN ditunjuk sebagai penyalur KPR-nya karena dia sejak awal merupakan bank yang paling berpengalaman di bidang ini, maka peruntungan BBTN mulai berubah. Di tahun 2015 tersebut, BBTN membukukan laba Rp1.9 trilyun, meningkat signifikan dibanding tahun 2014 senilai Rp1.1 trilyun, yang kembali meningkat di tahun 2016 menjadi Rp2.6 trilyun, dan naik lagi menjadi Rp3.0 trilyun di tahun 2017. Hingga pada Kuartal I 2019 kemarin, ekuitas BBTN tiba-tiba saja sudah berada di level Rp24.5 trilyun, melonjak dua kali lipat dibanding akhir tahun 2014 (sebelum program sejuta rumah tadi diluncurkan) di level Rp12.2 trilyun. Sementara sahamnya? Well, tentu saja terbang, dari sebelumnya mentok di 1,000-an di tahun 2015, hingga hampir saja tembus 4,000 pada awal tahun 2018 lalu. Tapi karena pada harga 4,000 tersebut BBTN sudah overvalue (PBV-nya ketika itu tembus 3 kali, atau sudah mendekati PBV BBCA), maka sahamnya lalu turun sendiri hingga mentok di persis 2,000, sebelum kemudian sekarang stabil di kisaran 2,400-an.

Daaan terus terang, penulis sendiri ketika itu miss peluang di BBTN ini, karena pada tahun 2016 – 2017 kita lebih sibuk di saham-saham batubara (yang memang cuan juga). Tapi setelah sekarang valuasinya menjadi reasonable lagi pada PBV sekitar 1.0 kali (dan actually itu undervalue, mengingat ROE BBTN sekarang sudah lumayan stabil di sekitar 15%), maka penulis mulai melirik BBTN ini lagi. Karena disisi lain, juga belum ada tanda-tanda bahwa program sejuta rumah tadi akan dihentikan.
Okay, lalu bagaimana prospek BBTN ini kedepannya? Nah, kata kunci untuk BBTN ini adalah itu tadi, yakni terkait kelanjutan program sejuta rumah. Dan inilah yang perlu dicatat: Meski judul programnya ‘sejuta rumah’, namun jumlah unit rumah yang benar-benar dibangun saban tahunnya sejak tahun 2015 hanya di kisaran 400 – 500 ribu unit saja, tapi angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun, dan baru benar-benar tembus 1 juta unit pada tahun 2018 kemarin. Untuk tahun 2019 ini, Pemerintah melalui Kementerian PUPR mentargetkan membangun 1.25 juta unit rumah, dimana jika itu terealisasi maka BBTN bakal jackpot lagi. Yep, jadi bisa dibilang bahwa peningkatan laba yang dialami BBTN dalam beberapa tahun ini baru permulaan, karena faktanya di Indonesia yang sangat besar ini, ada jutaan penduduk yang butuh tempat tinggal baru setiap tahunnya, dan untungnya Pemerintah mampu untuk komitmen melaksanakan program sejuta rumah ini, dimana jumlah unit rumah yang dibangun juga terus bertambah setiap tahunnya (meski banyak dikritik karena harganya tidak cukup terjangkau dst, tapi yang jelas program ini masih tetap jalan terus).
Kemudian diluar program pemerintah diatas, industri properti di tanah air itu sendiri berpeluang untuk kembali melaju pada tahun ini, atau mungkin tahun 2020 nanti, dimana pada saat ini semua faktor mendukung untuk pulihnya sektor properti: Pelonggaran peraturan LTV (loan to value), termasuk ada wacana DP 0% segala, suku bunga BI yang relatif rendah, pertumbuhan ekonomi stabil, hingga pelaksanaan Pemilu kemarin yang berjalan aman dan damai. Actually, lesunya sektor properti sejak tahun 2013 lalu menjadi berkepanjangan salah satunya karena konsumen masih wait and see terkait pemilu dan pilpres kemarin. Tapi untungnya semuanya aman-aman saja, sehingga selanjutnya cuma soal waktu saja sebelum industri properti akan kembali pulih, dan BBTN terutama akan kembali diuntungkan.
Kesimpulannya, well, bagi anda yang ketinggalan kereta di BBCA dkk, tapi juga gak mau invest di saham bank kecil yang gak jelas, maka kita punya BBTN ini. Dalam hal ini BBTN tidak hanya memenuhi kaidah value investing (best price-nya sekitar 2,200, tapi BBTN hanya bisa kesitu kalau IHSG turun), tapi dia juga menawarkan peluang pertumbuhan yang signifikan di masa depan, sehingga bisa disebut sebagai growth investing stock juga. Jika program sejuta rumah ini terus dilanjut katakanlah sampai 5 tahun kedepan, sementara industri properti juga beneran pulih, dan BBTN juga konsisten labanya naik terus selama 5 tahun tersebut, maka pada saat itulah investor akan mulai menghargai sahamnya pada valuasi yang lebih tinggi, minimal PBV 1.5 – 2.0 kali, sehingga kenaikan sahamnya juga akan sangat signifikan, minimal 100% dalam kurun waktu 5 tahun tersebut, belum termasuk dividen. Sudah tentu, soal sahamnya mau naik sampai berapa itu tentu kita nggak tahu, tapi yang jelas untuk saat ini BBTN ini murah, kinerjanya bagus, dan prospeknya juga cerah. And that’s that!
PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk (BBTN)
Rating Kinerja Kuartal I 2019: A
Rating Saham pada 2,450: AA
Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal, namun anda bisa memperoleh rekaman seminarnya disini (rekaman seminar terbaru, bulan Juni 2019 kemarin).

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rekaman Seminar Value Investing & Private Class, Juni 2019

Dear investor, penulis pada hari Sabtu, tanggal 22 Juni kemarin menyelenggarakan seminar investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’, disusul pada hari minggu-nya, tanggal 23 Juni, kelas private dimana kita banyak berdiskusi tentang investasi saham pada umumnya, dan value investing pada khususnya. Suara penulis ketika mengisi dua kelas diatas direkam dari awal sampai akhir, dan anda bisa memperolehnya dengan ketentuan sebagai berikut.

Rekaman Seminar, ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’
  • Materi: Materi lengkapnya bisa dibaca disini.
  • Durasi: 3 sesi dari awal sampai akhir, masing-masing berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit.
Rekaman Private Class
  • Materi: Materi selengkapnya bisa dibaca disini.
  • Durasi: 2 jam 20 menit sesi utama, dan 1 jam sesi tambahan diskusi/tanya jawab bebas.
Penulis bersama teman-teman peserta seminar tanggal 22 Juni 2019
Penulis bersama teman-teman peserta private class, tanggal 23 Juni 2019
Sebelumnya perlu dicatat bahwa rekaman seminar dan kelas private ini materinya kurang lebih sama dengan rekaman dari seminar di awal tahun 2019 yang disampaikan disini(rekaman value investing, bukan yang advanced), namun juga tidak persis sama, karena untuk contoh contoh kasus sahamnya beda lagi, dan ada beberapa materi tambahan. Materinya adalah full dari awal sampai akhir, jadi dengan mendengarkannya maka anda seperti hadir di acara seminarnya itu sendiri.
Untuk rekamannya adalah dalam bentuk audiobook dengan format M4A, yang bisa anda konversi sendiri menjadi MP3 atau lainnya, tapi format ini bisa langsung didengarkan di smartphone. Setiap file rekamannya berukuran sekitar 100 MB, jadi sangat ringan untuk masuk di smartphone anda.
Okay, berikut biayanya, sudah termasuk memperoleh slide powerpoint materi seminar, dan file excel formula ‘kalkulator saham’
  • Rekaman Seminar: Rp275,000
  • Rekaman Private Class: Rp350,000
  • Paket Hemat (dua rekaman diatas): Rp550,000.
Okay, berikut cara order:
1. Tentukan apakah anda hendak membeli rekaman value investing class, private class, atau keduanya.

2. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
3. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Beli Rekaman Seminar Juni 2019 (subjeknya harus lengkap! Jadi sekali lagi, Beli Rekaman Seminar Juni 2019), dan isi: Nama lengkap anda, jumlah transfer, bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, 550,000, BCA (catatan: Dari jumlah transfernya maka kami akan mengetahui apakah anda membeli rekaman seminar, private class, atau keduanya). Anda tidak perlu menyertakan bukti transfer, karena kami bisa mengecek transferan anda melalui internet banking. Tapi jika dirasa perlu, maka anda boleh juga melampirkan bukti transfer tersebut.
4. Anda akan menerima email balasan yang berisi link website untuk men-download file rekaman (file-nya di-upload di Dropbox, jadi nanti anda tinggal download saja), termasuk slide powerpoint materi seminar dan excel kalkulator sahamnya. Selanjutnya, enjoy!

***
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Silahkan langsung telepon/SMS/Whatsapp 081220445202 (Ms. Nury). Konfirmasi setelah melakukan transfer juga bisa melalui Whatsapp diatas.
Atau anda bisa hubungi penulis (Teguh Hidayat) langsung melalui email 

Pernah Dengar Istilah Zona Nyaman? Dalam Dunia Investasi Saham, Ini Penjelasannya

Menurut Wikipedia, comfort zone, atau zona nyaman, adalah kondisi psikologis dimana seseorang merasa aman dan nyaman dengan lingkungannya, dan jarang mengalami stress atau gelisah. Menurut Casandra Brown, penulis buku The Gift of Imperfection, zona nyaman adalah keadaan dimana kita hanya mengalami sedikit ketidakpastian, tidak mengalami kekurangan (akan kebutuhan sehari-hari/kebutuhan pokok), dan tidak rentan terhadap situasi atau peristiwa yang berbahaya. Zona nyaman adalah keadaan dimana kita memiliki kendali penuh atas diri kita sendiri, dan lingkungan sekitar.

***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juli 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.
***
Contoh zona nyaman adalah jika anda punya pekerjaan tetap yang anda sukai di perusahaan yang besar dan mapan, dimana anda menerima gaji serta tunjangan rutin tiap bulan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari anda dan keluarga. Dan anda tahu bahwa kecuali terjadi peristiwa ekstrim tertentu, maka anda tidak akan dikeluarkan dari perusahaan, sehingga boleh dikatakan bahwa anda pasti akan terus menerima gaji setiap bulannya.
Nah, bagi sebagian besar orang, contoh ‘zona nyaman’ diatas sejatinya merupakan impian. Karena jangan salah: Penulis sendiri dulu juga pernah jadi pegawai kontrak, yang bercita-cita diangkat menjadi pegawai tetap. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) mungkin adalah profesi yang paling populer di Indonesia, karena menawarkan zona nyaman itu tadi (kepastian gaji, dan kepastian memperoleh tunjangan pensiun). Tapi kondisi zona nyaman ini bukannya tanpa kelemahan: Ketika anda merasa berkecukupan, ketika keluarga anda memiliki standar hidup yang baik, maka anda akan mulai bertemu dengan orang-orang yang punya ‘standar hidup yang lebih baik’. Misalnya tetangga anda yang dulunya cuma usaha serabutan yang saban hari pake sepeda motor kreditan, eh tiba-tiba saja sekarang dia pake mobil 4×4 yang gak kalah sangar dibanding mobil bos anda di kantor, sedangkan mobil anda dari dulu ya masih itu-itu saja, yang kalau digeber 140 KM per jam di jalan tol akan keluar bunyi ‘ddrr.. ddrr’ gitu.
Karena itulah, ketika seseorang sudah cukup lama berada di zona nyaman-nya, maka dia tetap akan mulai merasa gelisah karena merasa bahwa hidupnya begini-begini saja. Pada titik ini, seorang karyawan kantoran mungkin akan mulai berusaha keluar dari zona nyaman. Misalnya dengan bikin usaha kecil-kecilan, bekerja lebih keras untuk menggapai jabatan yang lebih tinggi, atau apapun yang bisa menghasilkan penghasilan tambahan, sehingga harapannya ia akan bisa menyusul tetangganya itu tadi. Disebut ‘keluar dari zona nyaman’, karena pada kondisi ini seseorang akan mulai mengalami ketidakpastian. Contohnya ketika ia buka usaha kecil-kecilan, maka usaha tersebut mungkin akan sukses, tapi mungkin juga gagal, rugi, dan bangkrut. Penulis sendiri kenal banyak teman pengusaha sukses yang dalam upaya membangun usahanya dari nol dulu, maka tak terhitung berapa kali dia kena rugi, ditipu rekan bisnisnya sendiri, hingga hampir bangkrut.
‘Saya Ingin Mulai Berinvestasi, Tapi Saya Takut Rugi’
Salah satu upaya untuk keluar dari zona nyaman adalah dengan berinvestasi, dalam hal ini di saham, karena disini anda akan mengalami semua hal diluar definisi zona nyaman tadi: Ketidak pastian (tidak ada jaminan kalau anda bakal profit), stress dan mudah panik (terutama bagi pemula), kekurangan (udah cuan 10% dari saham A, eh temen di grup pamer kalo dia cuan 20% dari saham B), dan rentan terhadap peristiwa berbahaya (masih inget koreksi pasar bulan Mei 2019 kemarin? Bagaimana nasib saham anda ketika itu?). Bahkan bagi fund manager besar dengan pengalaman puluhan tahun sekalipun, tidak pernah ada yang namanya zona nyaman di pasar modal, karena salah keputusan sedikit saja bisa menyebabkan porto anda langsung kebakaran.
Tapi disisi lain, di pasar modal inilah anda tidak akan ‘terjebak dalam zona nyaman yang stagnan’. You see, jika anda sudah mampu berinvestasi dengan baik dan benar, maka aset anda akan terus bertumbuh setiap tahun, dimana setelah 10 – 20 tahun maka nilainya akan menjadi akan sangat besar (karena efek compounding), dan bahkan setelah itupun aset anda akan terus meningkat tanpa henti. Sudah tentu, anda tetap akan mengalami rugi sesekali bahkan ketika nanti anda sudah berpengalaman sekalipun, dimana anda tidak akan mengalami rugi tersebut kalau anda tidak pernah buka rekening. But, I don’t know, kalau bagi penulis sendiri justru disitulah serunya! Karena dalam hal ini hidup anda jadi seperti iklan Chitato, ‘life is never flat’, alias banyak naik turunnya, sehingga kita tidak akan pernah merasa bosan. Kalau kata Sherlock Holmes, I abhor the dull routine of existence. Saya tidak suka rutinitas kehidupan yang stagnan, yang gitu-gitu aja, yang membosankan!

Penulis ketika di Swiss. Jalan-jalan juga adalah salah satu cara untuk keluar dari zona nyaman, karena bikin kita jadi gak bosan lagi dengan rutinitas sehari-hari
Tapi Pak Teguh, saya takut untuk keluar dari zona nyaman ini. Dan dalam hubungannya dengan berinvestasi di saham, saya takut untuk rugi, sedangkan diatas Pak Teguh sendiri bilang kalau investor saham harus siap untuk rugi. Jadi adakah solusinya agar saya bisa cepat  mulai pak?
Nah, dalam hal ini kita balik lagi ke defisini zona nyaman tadi: Zona nyaman adalah kondisi dimana semuanya terasa aman dan nyaman.. tapi sekaligus stagnan. Diluar itu ada namanya optimal performance zone (OPZ), yakni zona dimana kita berusaha menggali peluang agar bisa bertumbuh/tidak stagnan lagi, dengan mengorbankan sedikit rasa aman tadi namun tidak secara berlebihan, dimana kita mungkin akan mulai merasa gelisah, tapi tidak sampai mengalami panik. Menurut Robert Yerkes, Professor Harvard University di bidang psikologi (yang sudah penulis tulis ulang dengan bahasa penulis sendiri, agar lebih mudah anda pahami), ‘Kegelisahan yang kita alami, pada titik tertentu akan meningkatkan semangat kita untuk bekerja lebih keras agar mencapai hasil yang lebih baik. Namun kegelisahan yang berlebihan justru akan membuat kita tidak lagi mampu berpikir logis dalam membuat keputusan, yang pada akhirnya menurunkan hasil kinerja itu tadi.’ Kondisi dimana seseorang mengalami ‘kegelisahan yang berlebihan hingga alih-alih meraup profit/maju kedepan, ia malah rugi/mundur kebelakang’, inilah yang disebut dengan danger zone, alias zona berbahaya yang sudah diluar OPZ tadi, dan juga diluar zona nyaman.
Nah! Jadi ketika anda berusaha keluar dari zona nyaman, maka anda harus bisa membedakan: Apakah sekarang anda tengah berada dalam OPZ, atau malah danger zone?? Dalam hubungannya dengan ketika anda mulai invest di saham, maka mudah saja membedakannya: Kalau anda belum apa-apa langsung pake duit besar, pakai margin, pake dana hasil gadai motor, pinjam/kelola dana punya teman atau saudara, hingga langsung resign dari kantor, maka selamat: Anda sudah sukses keluar dari zona nyaman.. tapi langsung nyemplung ke jurang kebangkrutan. Yep, karena kalau anda berinvestasi dengan cara seperti diatas, tak lama setelah anda buka rekening, maka anda yang sebelumnya tidak pernah merasa gelisah (karena rekening bank pasti terisi terus saban tiap bulan), akan tiba-tiba saja merasa gelisah yang berlebihan setiap hari, setiap saat, hingga tidak bisa tidur, karena hasil tabungan anda selama bertahun-tahun bisa lenyap dalam sekejap.
Jadi untuk berada di OPZ dan bukannya danger zone, maka disitulah kata kuncinya: Anda jangan sampai merasa gelisah yang berlebihan! Caranya? Ya dengan menyetor sejumlah dana yang kalau anda rugi hingga dana tersebut berkurang separuhnya, maka anda tetap akan tenang-tenang saja! Contohnya, kalau gaji anda tiap bulan adalah Rp5 juta, maka mulailah dari Rp5 juta itu saja dulu. Karena kalaupun itu duit 5 juta habis (ini sangat kecil kemungkinannya terjadi, karena artinya anda rugi 100%, tapi anggap saja begitu), maka toh nanti bulan depan juga anda akan dapet duit segitu lagi. Kebanyakan orang yang ‘udah dari dulu ngomong soal saham, tapi sampe sekarang gak berani buka rekening’, itu adalah karena mereka melihat contoh dari temannya yang ‘investor’ yang selalu stress gak karu-karuan karena nyangkut dimana-mana. Padahal si teman ini kemungkinan besar bisa jadi stress gitu karena ia, disadari atau tidak, langsung lompat dari zona nyaman ke zona berbahaya. Misalnya dengan langsung menyetor seluruh tabungan yang mereka miliki ke sekuritas, sedangkan price to earning ratioaja masih bingung cara ngitungnya gimana. Padahal kalau dia masuknya ke zona performa optimal, yakni dengan cara setor kecil dulu, maka ia tetap akan merasa gelisah (karena yang namanya rugi, meski cuma seribu perak, itu rasanya gak enak), tapi gelisahnya tidak akan berlebihan, dan juga tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.
Kemudian jika ia secara bertahap menyetor sedikit demi sedikit, misalnya secara rutin Rp1 juta per bulan dari gaji bulanan tadi, maka ia akan sampai pada satu titik dimana dana di portofolionya sudah cukup besar, tapi ia tetap tidak merasa terlalu gelisah dalam mengelola dana tersebut, sehingga ia tetap berada di OPZ tadi, dan bukannya danger zone. Nah, jadi kalau anda bertanya, kalau dana investasinya kecil maka nanti cuan-nya juga kecil dong? Maka anda boleh kok pegang dana yang (menurut anda) besar, tapi nyetornya tetap harus sedikit demi sedikit agar kita tetap tidak merasa gelisah yang berlebihan. Jadi jangan setor gede sekaligus. Penulis sendiri, terlepas dari berapa jumlah dana yang kami manage 5 tahun lalu, hari ini, dan 5 tahun yang akan datang, namun kuncinya adalah itu tadi: Jangan sampai kita mengalami gelisah yang berlebihan dalam mengelola dana tersebut hingga kita tidak lagi bisa menganalisa secara logis, dan ujung-ujungnya melakukan blunder yang menyebabkan kerugian.
Jadi anda bisa menerapkan prinsip yang sama. Contohnya, kalau anda pegang saham A sebanyak 1,000 lot dan anda ngeliatin itu saham setiap hari, dari pagi sampai sore, maka artinya anda terlalu gelisah memegang saham A tersebut. Sehingga sarannya cukup jelas: Jual saham A tadi sebagian, sehingga anda tinggal memegangnya sebanyak 500 lot, 300 lot, atau lebih sedikit lagi. Yang penting, dari sisa saham A yang masih anda pegang ini, anda tidak lagi gelisah melihat sahamnya setiap saat, dan percaya bahwa dalam jangka menengah hingga panjang, saham A tadi akan memberikan anda profit yang memuaskan.
Okay, I think that’s all. Buat anda yang punya temen yang masih ragu buka rekening, maka boleh share tulisan ini, mudah-mudahan bisa jadi pencerahan.
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juli 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Anda terlewat hadir di jadwal Seminar Value Investing, Juni 2019 kemarin? Jangan khawatir, anda masih bisa memperoleh rekaman seminarnya disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Special Report: Penyebab Anjloknya Saham MNCN dan BMTR, dan Rencana Private Placement

Pada Kamis, 17 Juni, tepatnya menjelang penutupan pasar, tiga saham Grup MNC yakni Media Citra Nusantara (MNCN), Global Mediacom (BMTR), dan MNC Investama (BHIT), secara bersamaan turun signifikan, gak tanggung-tanggung MNCN dan BMTR bahkan jeblok sampai auto reject (AR) 25 persen! Sedangkan BHIT tersungkur 11.9%. Tidak ada berita atau informasi penting tertentu yang bisa menjelaskan penurunan yang sangat tiba-tiba tersebut, termasuk humas dari MNCN juga sudah mengklarifikasi bahwa tidak ada peristiwa material tertentu yang mengubah fundamental perusahaan. Tapi tidak adanya penjelasan inilah yang justru kemudian menimbulkan sejumlah rumor dan teori konspirasi, salah satunya adalah bahwa jatuhnya MNCN ini adalah karena ulah bandar saham. Benarkah demikian?

***

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juli 2019 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

***

Setelah menerima banyak pertanyaan terkait sahamnya yang AR kiri, di hari yang sama humas MNCN langsung mengeluarkan press release, yang pada intinya menyebutkan bahwa perusahaan masih membukukan kinerja keuangan yang positif dan bertumbuh, termasuk tetap beroperasional seperti biasa, sehingga penurunan sahamnya tersebut tidak ada kaitannya dengan fundamental, dan juga prospek jangka panjang perusahaan. Pihak humas menambahkan, kemungkinan ada pemegang saham tertentu di MNCN terpaksa (atau dipaksa) menjual sebagian atau seluruh sahamnya sekaligus dalam jumlah besar pada satu hari Kamis tersebut. Karena normalnya jika ada investor yang keluar dalam jumlah besar seperti itu, maka aksi jualnya dilakukan secara bertahap selama beberapa hari hingga beberapa minggu, yakni agar sahamnya tidak turun, atau hanya turun sedikit. Jadi tidak sekaligus dalam 1 hari seperti itu.
However, pernyataan diatas menimbulkan pertanyaan berikutnya: Siapa pemegang saham besar yang seperti buru-buru keluar dari MNCN tersebut? Sehingga kemudian beredar rumor, ada private equity (PE) asal Korea Selatan yang mengurangi kepemilikan di saham MNCN dan BMTR, tapi tidak disebutkan nama PE tersebut. Sementara dari humas MNCN, maka mereka mengakui adanya transaksi jual beli saham oleh investor institusi, tapi itu bukan karena terjadi perpindahan kepemilikan, melainkan hanya pemindahan kustodi. Maksudnya seperti jika anda transfer/memindahkan uang dari rekening anda di Bank BCA ke Bank Mandiri, tapi dua rekening itu sama-sama dimiliki oleh anda sendiri, sehingga sejatinya pemegang saham yang bersangkutan tidak benar-benar keluar dari MNCN. Dan baru tadi pagi, ramai lagi berita bahwa Hary Tanoesoedibjo angkat bicara: Kalau MNCN berada di level Rp3,000, saya akan mundur! Entah apa itu maksudnya..
Tapi terlepas dari semua berita dan rumor yang beredar (dan juga klarifikasi dari manajemen terhadap sebagian rumor tersebut), maka dari sisi kaidah value investing, inilah fakta pentingnya: MNCN adalah perusahaan media terintegrasi terbesar di tanah air yang menguasai 35% pangsa pasar stasiun televisi free to air, menguasai 40% industi konten media, dan bahkan merupakan penghasil traffic view terbanyak di Youtube Indonesia.
Dan penulis sendiri mulai melirik MNCN ini sejak awal tahun 2019 kemarin ketika sahamnya berada di level 750, yang mencerminkan PBV 0.9 kali, atau sangat murah untuk ukuran perusahaan yang merupakan market leader di bidangnya, dan PBV tersebut juga jauh lebih rendah dibanding PBV perusahaan sejenis seperti Surya Citra Media (SCMA). Pembahasan MNCN ini bisa dibaca di Ebook Investment Planning, edisi Kuartal IV 2018.
But little did I expect, sahamnya dengan cepat naik sampai sempat menyetuh 1,300-an! Jadi ketika sahamnya kemarin tiba-tiba saja drop sampai dibawah 1,000 lagi, maka alih-alih fokus pada penyebab penurunan tersebut, penulis lebih tertarik untuk mempelajari, apakah ini merupakan opportunity atau bukan? Sebab meski MNCN ini menarik pada harga 750, atau setidaknya dibawah 1,000, tapi pada harga 1,300-an, PBV-nya sudah relatif tinggi lagi.
Right Issue Tanpa Pembeli Siaga
Dan setelah mempelajarinya lebih lanjut, maka diluar kinerja fundamentalnya yang cukup baik di Kuartal I 2019, prospek jangka panjangnya yang juga menarik karena perusahaan sekarang banyak fokus ke digital media, dan valuasi sahamnya juga masih murah (atau setidaknya reasonable), penulis kemudian baru menemukan satu fakta menarik lagi: Saat ini Grup MNC tengah melakukan penambahan modal secara besar-besaran melalui mekanisme right issue (RI), private placement (PP), hingga IPO secara sekaligus. Yup, beberapa waktu lalu BMTR sudah melaksanakan PP pada harga Rp360 dan Rp372 per saham, kemudian BHIT menggelar right issue pada harga Rp100 per saham. Dan barusan, berdasarkan hasil RUPS-nya, giliran MNCN yang menggelar PP pada harga Rp1,600 – 2,000 per saham, dilanjut MNC Land (KPIG), yang juga akan menggelar PP dalam waktu dekat (harganya belum ditentukan). Seolah belum cukup, Grup MNC pada awal Juni kemarin juga meng-IPO-kan PT MNC Studios International (MSIN), yang merupakan anak usaha MNCN di bidang production house, periklanan, dan manajemen artis. Terakhir, PT MNC Vision Networks, yang juga merupakan anak usaha MNCN, juga akan IPO dalam waktu dekat.
Nah, penulis belum menghitung, berapa total tambahan modal yang diperoleh Grup MNC dari rentetan aksi penerbitan saham baru diatas, karena untuk sejumlah aksi korporasi seperti PP KPIG dan IPO MNC Vision Networks, jumlah proceeds-nya belum diketahu. Tapi yang jelas angkanya cukup besar, yakni mencapai sekian trilyun Rupiah. Dan disinilah poin pentingnya: Biasanya kan kalau perusahaan melakukan RI atau PP, maka ada pembeli siaga-nya, yakni pihak atau investor strategis tertentu yang siap untuk menyetor sejumlah dana ke perusahaan, dan sebagai gantinya mereka memperoleh saham baru yang diterbitkan. BEI sendiri sebagai otoritas pasar modal memang sengaja menyediakan fasilitas PP bagi investor besar yang hendak menjadi pemilik perusahaan dengan cara menyetor langsung modal ke perusahaan, dan bukan dengan membeli saham milik publik di pasar.
Tapi dari PP yang dilakukan BMTR, MNCN, dan KPIG, dan juga RI BHIT, semuanya dilakukan tanpa adanya pembeli siaga. Atau dengan kata lain, saham baru yang diterbitkan akan langsung dilempar/ditawarkan ke investor publik (jadi sama seperti IPO), dimana pada proforma komposisi pemegang saham MNCN pasca RI, tampak bahwa kepemilikan publik di MNCN akan meningkat dari 29.9% menjadi 35.1%. Ini pula kenapa manajemen MNCN tidak secara tegas menyebut harga PP-nya di berapa, melainkan pada rentang Rp1,600 – 2,000 per saham. Yang itu artinya, harga pelaksanaan PP MNCN akan ditentukan oleh seberapa besar minat investor untuk membeli saham baru tersebut. Kalau misalnya minat investor ternyata tinggi, maka harga PP-nya bisa disetel pada batas atas. Tapi bagaimana kalau minatnya rendah? Ya harganya ditetapkan di level 1,600, atau bahkan lebih rendah lagi. Namun masih ada skenario ketiga: Jika minat investor publik untuk menebus saham PP MNCN sangat rendah, maka jumlah saham baru yang diterbitkan akan lebih sedikit dibanding rencana awalnya.
Dan setelah penulis menemukan fakta penting lainnya, yakni bahwa hampir semua perusahaan Grup MNC secara bersamaan menggelar (atau berencana menggelar) public expose dalam beberapa bulan terakhir ini, termasuk Om HT itu sendiri nongol langsung untuk ‘membela’ MNCN, maka kesimpulannya cukup jelas: Saat ini Grup MNC tengah berusaha menggalang dana dari investor publik melalui perusahaan-perusahaan yang mereka miliki, melalui semua mekanisme penambahan modal yang tersedia. Dan meski perusahaan-perusahaan tersebut jumlahnya tampak banyak, tapi sebenarnya mereka sejatinya satu perusahaan saja! You see, MSIN dan MNC Vision Networks adalah anak usaha dari MNCN, sedangkan MNCN adalah anak usaha dari BMTR, dan BMTR pada gilirannya adalah anak usaha dari BHIT. Kemudian KPIG adalah juga anak usaha dari BHIT. Jadi mau anda sebagai investor publik ikut menyetor modal entah itu dalam bentuk RI, PP, atau ikut IPO-nya, tapi ujung-ujungnya yang terima duitnya adalah perusahaan yang posisinya paling diatas yakni BHIT, atau dalam hal ini, Om HT itu sendiri. Dan ini bukan kali pertama Grup MNC melakukan hal ini, karena untuk BHIT sendiri, right issue-nya kali ini bahkan adalah yang ke-6 kali, sejak perusahaan melantai di bursa pada tahun 1997.


Logo PT MNC Investama, Tbk (BHIT)

Dua Macam Owner Perusahaan
Kalau anda pelajari, maka ada dua macam pemilik perusahaan Tbk berdasarkan cara mereka menghimpun dana, dan menumbuhkan perusahaan. Pertama, yang menjalankan operasional perusahaan seperti biasa, mengakumulasi laba yang dihasilkan setiap tahun, membayar dividen, dan menginvestasikan kembali selebihnya. Idealnya pemilik perusahaan bekerja dengan cara seperti ini, dimana investor publik kemudian ikut menikmati pertumbuhan riil perusahaan, dalam hal ini kenaikan aset bersih per saham atau book value per share yang kemudian tercermin pada kenaikan sahamnya dalam jangka panjang, plus dividen setiap tahun.
However, cara kedua adalah dengan menghimpun dana dari masyarakat, baik itu investor ritel, investor institusi, hingga bank, entah itu dalam bentuk setoran modal (IPO, right issue, private placement), utang obligasi, hingga utang bank. Untuk melakukan hal ini tidak mudah, karena dibutuhkan izin OJK dll, tapi sejumlah grup usaha justru paling jago dalam hal ini. Salah satunya ya Grup MNC, yang meski usaha sektor riil-nya adalah di bidang media, melalui MNCN, tapi sejatinya mereka bisa jadi besar karena kepiawaian sang owner dalam hal menerbitkan saham baru dll, karena memang latar belakang beliau di investment banking. Sebelumnya mungkin perlu diketahui, seorang investment banker adalah mereka yang kerjaannya menciptakan atau menghimpun dana untuk modal suatu perusahaan (capital raising), entah itu perusahaan miliknya sendiri atau milik orang lain. Investment banker berbeda dengan investor atau value investor, karena fokusnya bukan di meningkatkan nilai perusahaan atau mengakuisisi aset-aset bagus pada harga murah, melainkan di, sekali lagi, menghimpun dana.
Jadi kalau anda lihat Grup Astra, misalnya, maka mereka adalah investor, karena mereka banyak akuisisi aset ini itu untuk disimpan jangka panjang, tapi mereka jarang sekali melakukan right issue atau semacamnya, dan kalaupun mereka melakukan itu maka ada pembeli siaga-nya (jadi gak seperti MNCN diatas, dimana saham barunya ditawarkan ke publik). Atau contoh yang lebih ekstrim lagi adalah Berkshire Hathaway-nya Warren Buffett, dimana jangankan menerbitkan saham baru, BRK bahkan sangat jarang mengambil utang bank. Pun ketika para direkturnya hendak memiliki saham perusahaan, maka BRK tidak menerbitkan saham baru, melainkan para direktur ini disuruh beli sendiri saham BRK di pasar.
Sedangkan Grup MNC, well, seperti yang disebut diatas, acara penghimpunan dana-nya kali ini adalah yang kali kesekian, dan dana hasil right issue-nya dll bahkan tidak jelas mau dipakai untuk apa kecuali sebatas ditulis untuk ‘modal kerja’. Di satu sisi ini menyebabkan BHIT dkk tidak layak untuk investasi jangka panjang, karena pemiliknya tidak pernah benar-benar berusaha untuk menaikkan nilai perusahaan (dan memang BHIT, BMTR dst, meski dulu pernah naik banyak, tapi ujung-ujungnya turun lagi, dan beberapa saham lainnya seperti KPIG dan MSKY malah gak kemana-mana). Namun disisi lain, kalau misalnya pada waktu-waktu tertentu sahamnya turun banyak hingga valuasi mereka menjadi murah, maka mungkin ada peluang disini. Karena biasanya cepat atau lambat mereka akan naik lagi, entah karena digoreng bandar atau lainnya. Dan karena untuk aset-aset media yang dipegang oleh MNCN, itu beneran kinerjanya bagus kok, dan prospeknya pun cerah terkait Industri 4.0, seperti yang kemarin kita bahas disini (dan inilah kenapa, seperti yang sudah disebut diatas, penulis mulai melirik lagi MNCN ini ketika beberapa bulan lalu sahamnya drop sampai 750).
Nah, jadi balik lagi ke peristiwa anjloknya saham MNCN dan BMTR sampai 25% dalam sehari, beberapa waktu lalu: Entah itu ada hubungannya atau tidak dengan aksi private placement perusahaan, tapi memang sejak awal kedua saham tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi terkait cara kerja owner-nya yang totally different dengan katakanlah Grup Astra, atau Grup Djarum pemilik Bank BCA (pernah denger Bank BCA right issue?). Penulis sendiri melihat bahwa dalam beberapa waktu kedepan, saham MNCN dkk kemungkinan akan bergerak liar tergantung rumor yang beredar, dan karena itulah sahamnya tidak disarankan bagi anda yang tidak mau berspekulasi, let alone anda ikut PP (kalau anda ditawari), right issue, atau IPO-nya. Actually, cara penghimpunan dana oleh Grup MNC ini masih lebih baik dibanding cara kerja beberapa grup lainnya, yang kadang pake cara repo saham, dimana dalam banyak kasus itu jelas-jelas merugikan investor publik (baca penjelasannya disini). Tapi apapun itu, ingat bahwa owner Grup MNC adalah seorang investment banker, dan bukan benar-benar pengusaha media.
Disisi lain, jika saham-saham yang disebut diatas entah gimana ceritanya drop pada level yang benar-benar rendah/valuasinya sangat terdiskon, maka penulis sendiri mungkin akan ikut masuk karena, sekali lagi, prospek bisnis digital media oleh Grup MNC ini memang riil adanya, dan mereka adalah memang perusahaan media terbesar di tanah air saat ini. Anyway, untuk saat ini maka mari kita perhatikan dulu bagaimana perkembangan selanjutnya.
Untuk ulasan minggu depan, ada masukan isu apa lagi yang mau kita bahas?

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juli 2019 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Bali United FC: Valuasi Setara Inter Milan??

Ketika PT Bali Bintang Sejahtera, Tbk (BOLA), yang merupakan perusahaan pemilik klub sepakbola Bali United FC, mengumumkan akan IPO, maka penulis menerima banyak pertanyaan dari investor yang juga mengaku sebagai pecinta olahraga sepakbola, terkait prospek dari BOLA ini. Yep, karena kalau melihat industri sepakbola itu sendiri yang digandrungi oleh milyaran penggemar di seluruh dunia termasuk di Indonesia, maka prospek BOLA ini sekilas sangat menarik. Dan kalau misalnya anda adalah supporter dari Bali United itu sendiri, maka terdapat kepuasan tersendiri jika kita bisa menjadi pemilik perusahaan, meski hanya 1 lot sahamnya. Tapi sekarang kita balik lagi ke pertanyaan umum investor: Apakah Bali United FC ini memang menguntungkan?

***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning/Ebook Bulanan) edisi Juli 2019 akan terbit tanggal 1 Juli mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.
***
Dibanding klub-klub sepakbola lainnya di Indonesia yang memiliki sejarah panjang, katakanlah seperti Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Persib Bandung, yang masing-masing berdiri pada tahun 1927, 1928, dan 1933, maka usia Bali United terbilang masih sangat belia karena baru berdiri tahun 2015, ketika itu merupakan rebranding dari Persisam Putra Samarinda. Jadi ceritanya Persisam jatuh bangkrut dan diakuisisi oleh pengusaha bernama Pieter Tanuri, yang kemudian membawa klub pindah dari Samarinda ke Gianyar, Bali, dan memberinya nama baru: Bali United. Bali United kemudian dibangun kembali dari nol, dan saat ini mereka berbagi kandang dengan Persegi Gianyar FC di Stadion Kapten I Wayan Dipta di Kabupaten Gianyar, Bali.

Nah, sebelum kita membahas BOLA, pertama-tama kita telisik dulu industri sepakbola itu sendiri. Perusahaan pemilik klub sepakbola umumnya memperoleh pendapatannya dari tiga segmen utama: Tiket pertandingan, hak siar, dan sponsor. Dan inilah yang perlu dicatat: Untuk dua segmen yang disebut terakhir, yakni hak siar dan sponsor, itu baru berkontribusi menjadi pendapatan dalam dua atau tiga dekade terakhir. Yep, karena meski klub dan kompetisi sepakbola profesional pertama di dunia sudah ada sejak penghujung abad ke-19, yakni di Inggris, namun siaran langsung pertandingan sepakbola di televisi baru ada sejak tahun 1960-an, juga di Inggris, dan pertandingan-pertandingan sepakbola baru disiarkan secara rutin pada dekade 1980 – 1990an. Siaran langsung televisi menyebabkan jumlah penonton pertandingan menjadi jauh lebih banyak, dimana penonton di Indonesia bahkan bisa menyaksikan pertandingan di Italia. Thus, klub sepakbola mulai menarik minat perusahaan untuk menjadi sponsor.
Jadi sebelum tahun 1980-an, pendapatan klub sepakbola hanya berasal dari tiket pertandingan saja, dan pada masa-masa ini sebuah klub sepakbola sangat sulit untuk bisa membukukan keuntungan, karena pendapatan tiket itu biasanya akan langsung habis untuk membayar gaji pemain dll. Tapi bahkan ketika sekarang ini klub-klub sepakbola mulai memperoleh pendapatan dari hak siar dan sponsor, maka pendapatan tersebut hanya dinikmati oleh segelintir klub yang benar-benar besar dan populer saja, yang memiliki suporter tidak hanya dari kota asalnya, tapi juga dari seluruh dunia. Contohnya seperti Manchester United, Juventus, Bayern Munchen, Real Madrid, dan Barcelona. Diluar itu, klub-klub sepakbola biasanya memiliki posisi tawar yang lemah dihadapan stasiun televisi sebagai pembeli hak siar, atau perusahaan yang hendak menjadi sponsor, karena jumlah fans mereka terbatas. To put it into perspective, meski Manchester United dan Huddersfield Town sama-sama berlaga di English Premier League pada musim 2018 – 2019 kemarin, namun MU memperoleh guyuran £47 juta per tahun dari Chevrolet sebagai sponsor utamanya, sedangkan Huddersfield hanya menerima £1.5 juta dari Ope Sports. Hal ini sangat wajar, tentu saja, mengingat MU memiliki lebih dari ratusan juta penggemar di seluruh dunia, sedangkan jumlah pendukung Huddersfield hanya berkisar di angka puluhan ribu saja.
Karena itulah, bahkan di Inggris sendiri yang dikenal sebagai ‘home of football’, sekitar 60% klub disana masih membukukan rugi pada dekade 2000-an lalu. Kinerja laba bersih klub-klub sepakbola Inggris baru menjadi positif, dan industri sepakbola itu sendiri mulai tampak profitable, setelah dalam 5 – 10 tahun terakhir ini para klub sepakbola mulai menemukan sumber pendapatan yang baru lagi, mulai dari perdagangan merchandise, lisensi untuk video game dll, mobile media, hak siar streaming, dan media sosial.
Tapi lagi-lagi, yang diuntungkan dari sumber-sumber pendapatan baru itu tetap hanya klub-klub besar saja, dan Liga Inggris pada saat ini terbilang profitable karena jumlah klub besarnya, dalam hal ini klub yang memiliki jutaan fans dari seluruh dunia, adalah yang paling banyak yakni enam klub (MU, Manchester City, Arsenal, Liverpool, Chelsea, dan Tottenham), dan ini berbeda dengan liga eropa lainnya dimana klub besarnya biasanya hanya ada dua atau tiga klub. Thus, kita bisa katakan bahwa diluar Liga Inggris, maka kinerja klub sepakbola di liga-liga di negara lainnya termasuk Italia, Spanyol, dan Jerman sekalipun, rata-rata masih merugi, atau cuma untung sedikit saja.
Okay, lalu bagaimana dengan prospek industri sepakbola di Indonesia?
Seperti halnya di banyak negara lain, bisnis sepakbola di Indonesia juga tidak menguntungkan, terlihat dari banyaknya klub yang bergantung pada APBD pemda setempat untuk biaya operasionalnya, karena pendapatan tiket sama sekali tidak mencukupi, sedangkan pendapatan hak siar dan sponsor juga masih kelewat kecil. Jadi ketika Pemerintah pada tahun 2011 melarang penggunaan APBD untuk operasional klub, maka satu persatu klub sepakbola ‘profesional’ di tanah air bertumbangan. Beruntung, beberapa klub menerima suntikan dana dari pengusaha atau perusahaan swasta, dimana para pengusaha ini kemudian menjadi pemilik dari klub yang bersangkutan. Contohnya Persib Bandung, yang pada tahun 2010 diambil alih oleh seorang venture capitalist, Glenn Sugita, dan kemudian dibentuk badan hukum bernama PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB). Masuknya Mr. Sugita ke Persib ini kemudian mendorong para pemilik modal lainnya untuk juga melakukan hal yang sama, salah satunya Pieter Tanuri, yang masuk dan mendirikan Bali United.
Tapi apakah ditangan para pengusaha swasta ini, Persib Bandung dkk menjadi menguntungkan? Sayangnya, tidak juga. Meski laporan keuangannya tidak bisa diakses karena perusahaannya belum Tbk, namun banyak sumber menyebutkan bahwa PT PBB masih merugi. Atau dengan kata lain Mr. Sugita dan konsorsium-nya masih terus tekor saban tahun untuk menghidupi Persib. Padahal disisi lain, dengan supporter yang berasal dari hampir seluruh Provinsi Jawa Barat, sedangkan Jabar itu sendiri adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, maka Persib adalah klub paling populer di Indonesia, bahkan salah satu yang paling populer di Asia Tenggara. Termasuk pertandingannya baik kandang maupun tandang selalu dipenuhi oleh bobotoh, dan seragam Persib sekarang ini juga dipenuhi oleh banyak logo sponsor.
But still, Persib masih merugi. Dan kalau klub sebesar Persib saja masih rugi, lalu bagaimana dengan klub-klub lain yang lebih kecil?? Terjadinya kerugian ini bukan karena ada yang salah dengan pengelolaan klub sepakbola yang bersangkutan, melainkan karena sejak awal industri sepakbola itu sendiri memang gak menguntungkan apalagi di Indonesia, dimana pada level regional Asia Tenggara sekalipun, kita masih jauh dibelakang Thailand.
Lalu bagaimana dengan Bali United? Ya seperti yang bisa anda tebak: Hingga akhir tahun 2018 lalu, perusahaan masih membukukan saldo defisit Rp13 milyar. Pada tahun 2018 tersebut BOLA memang membukukan laba bersih Rp5 milyar, tapi laba segitu tentunya kelewat kecil dibanding pendapatannya yang mencapai Rp115 milyar, sehingga bisa berbalik menjadi rugi lagi sewaktu-waktu. Dan kalaupun kita anggap bahwa laba Rp5 milyar tadi akan konsisten bertahan dan tumbuh, tapi laba segitu tetap saja jauh lebih kecil dibanding ekuitas perusahaan senilai Rp118 milyar (sebelum IPO), atau dengan kata lain ROE-nya gak nyampe 5%. Padahal, thanks to Mr. Tanuri yang punya banyak relasi ke perusahaan-perusahaan besar, Bali United kemudian sukses menggaet banyak sponsor, dan memang lebih dari 70% pendapatan perusahaan berasal dari sponsor ini, yang rata-rata merupakan pihak berelasi. Misalnya PT Multistrada Arah Sarana (MASA), yang dimiliki oleh Pieter Tanuri itu sendiri. Jadi bisa dibilang bahwa Mr. Tanuri sejatinya men-subsidi Bali United melalui MASA. Tanpa adanya ‘subsidi’ ini, maka Bali United harusnya tetap merugi.
Prospek Sepakbola Indonesia di Masa Depan
Hanya memang kalau bicara prospek, maka ada dua hal yang bisa dijadikan argumentasi bahwa saham BOLA bisa dipertimbangkan untuk investasi. Pertama, seperti yang disebut diatas, dengan berkaca pada pengelolaan Liga Inggris, maka industri sepakbola pada hari ini tidak lagi merugikan seperti di masa lalu, melainkan sudah menghasilkan keuntungan yang signifikan. Okay, sepakbola di Indonesia memang masih jauh kalau dibanding Inggris, tapi dalam hal ini kita lihatnya beberapa tahun hingga beberapa dekade kedepan. Ingat pula bahwa jumlah penduduk penggemar sepakbola di Indonesia juga sangat banyak, sehingga Bali United dkk tidak perlu memiliki supporter dari luar negeri untuk bisa mendapatkan penghasilan dari hak siar dan sponsor yang cukup.
Kedua, juga seperti yang disebut diatas, sekarang ini para klub-klub sepakbola punya banyak sumber income baru, dimana dalam hal Bali United, sumber pendapatan baru tersebut meliputi penjualan merchandise, café untuk nobar (nonton bareng), tempat bermain anak di sekitar stadion, streaming media, hingga e-sports. Termasuk dari dana hasil IPO-nya sebesar Rp350 milyar, mayoritas digunakan untuk mengembangan Bali United Store, aplikasi, hingga akademi sepakbola. Kesemua sumber anyar pendapatan ini memang belum benar-benar berkontribusi terhadap kinerja perusahaan. Namun jika manajemen mampu mengoptimalkan dana hasil IPO-nya untuk pengembangan tadi, maka cukup menarik untuk melihat bagaimana kinerja Bali United dalam beberapa tahun mendatang.
Nevertheless, dalam value investing biasanya kita lihat kinerja terbaru dan kinerja historis perusahaan terlebih dahulu, lalu baru lihat prospeknya. Dan karena Bali United tidak atau belum memiliki track record keuangan yang bagus, termasuk industri sepakbola di Indonesia itu sendiri belum benar-benar menguntungkan, maka sulit untuk menjadikan sahamnya sebagai pilihan investasi. Sementara dari sisi valuasi sahamnya, Bali United ini juga mencengangkan: Pada harga perdananya yakni Rp175 per saham, market cap BOLA tercatat Rp1.05 trilyun, dan pada harga sahamnya saat ini yakni 370, market cap itu menjadi Rp2.2 trilyun, yang masih bisa naik lagi jadi Rp3 – 4 trilyun kalau besok-besok sahamnya lanjut naik. Sebagai perbandingan, ketika Suning Group asal China mengakuisisi 68.55% saham Inter Milan FC pada tahun 2016, perusahaan membayar US$ 307 juta, sehingga bisa dikatakan bahwa nilai 100% saham Inter adalah US$ 448 juta, atau Rp6.4 trilyun. Nah, jadi apakah dalam hal ini nilai Bali United memang mencapai separuh dari nilai Inter, yang notabene merupakan salah satu klub sepakbola paling populer di dunia???

Jadi kesimpulannya, well, silahkan anda simpulken sendiri.

Untuk minggu depan kita akan bahas tentang MNC Group (MNCN, BMTR, BHIT). Bagi anda yang ingin memperoleh prospektus lengkap Bali United bisa kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek ‘Prospektus Bali United’.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Pak Joeliardi Sunendar, Jakarta, Sabtu 29 Juni


Materi Pembukaan

Kisi-kisi Materi Seminar
A. Capital Market – Introduction
  • A world billionaire list – One obvious similarities among those in the list.
  • Stocks – The best performing asset class, but only few interested. Why? Gentlemen who prefer bonds do not know what they miss.
  • What is capital Market? – There seems to be some perverse human character that like to make easy things difficult.
  • The dumb money vs Smart money -  Who’s the real winner? The miracle of St. Agnes. The advantage of being an individual investor.
B. Buffett – The Superinvestor
  • Who’s Warren Buffett? – A story about 2,404,748% increase in market value.
C. Core Principles of Smart and Simple Way of Stock Investing
  • The magic of compounding – The younger, the better. The stock market is a device for transferring wealth from the impatient to the patient.
  • Invest in Good Companies – What are the metrics of a good company? Economic moats, capital efficient.
  • The Magic Concept of Margin of Safety – A good company purchased at bad price is not a good investment
  • Time – It is a friend for a wonderful company, and enemy of a mediocre company.
  • Focus Investment vs Diversification – Which is better?
D. Equity Bond
  • How to find forever stock – Buffett and beyond.
  • Is Buffett ways the only way to succeed? Of course not! – Sector focus, ETF, Index Fund.
  • Now and the future – United States of America in 1960, and Indonesia in 2010.
  • Stocks in Indonesia Stock Exchange – Be prepared to be the owner of great companies.
  • World wealth – 99% of World GDP is also waiting for you.
  • Other opportunities – Commodities, options, REITS
E. Option Trading
  • A secret method – Your broker does not want you to do it!
  • Extra Income – How to collect extra income with no risk.
  • Return vs Risk – How to acquire higher return with less risk.
***
Pembicara: Bapak Joeliardi Sunendar, investor senior yang sudah berinvestasi di saham sejak tahun 1990-an. Profil beliau bisa dibaca di gambar berikut, klik gambar untuk memperbesar.
Penulis (Teguh Hidayat) juga pernah membuat video diskusi tanya jawab investasi saham dengan Pak Joeliardi, dan anda bisa menonton salah satu video tersebut pada link Youtube dibawah ini:
Okay, berikut informasi lokasi dan jadwal acara seminarnya
  • Lokasi: Wyndham Hotel, Jln. Casablanca Kav. 28, Jakarta Selatan.
  • Hari dan Tanggal: Sabtu, 29 Juni 2019.
  • Waktu: Full day, pukul 08.00 – 18.00 WIB.
Seminarnya dibawakan dalam Bahasa Indonesia. Setiap peserta akan memperoleh buku ‘Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal’ (ditulis oleh Pak Joeliardi), dan sertifikat.
***
Biaya untuk ikut seminarnya adalah Rp2,500,000 per peserta.
Untuk registrasi, bisa langsung kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek: Daftar Seminar Pak Joeliardi, dan isi: Nama lengkap anda. Nanti anda akan menerima email berisi informasi nomor rekening bank (bukan rekening penulis), lalu anda transfer kesitu kemudian kirim bukti transfernya. Dan setelah itu anda akan menerima email lagi yang berisi konfirmasi, bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar.
Demikian, semoga bermanfaat!
Untuk seminar dengan pembicara penulis (Teguh Hidayat), jadwalnya adalah juga di Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019, dengan biaya Rp1,500,000 per peserta (hingga Senin, 17 Juni, masih tersedia kursi untuk 4 peserta lagi). Info selengkapnya klik [...]

Inilah Saham yang Diuntungkan Revolusi Industri 4.0

Menurut Wikipedia, Industry 4.0 atau disingkat I4, adalah trend industri saat ini dimana segala sesuatunya sudah sangat berhubungan dengan teknologi digital, komputer, internet, artificial intelligence (AI), hingga cyber-physical system. Bahasa gampangnya, I4 adalah aplikasi-aplikasi yang ada di smartphone anda saat ini, yang menawarkan fungsinya masing-masing. Termasuk ketika anda membaca blog ini, maka bukanya pakai aplikasi browser bukan? Entah itu Google Chrome, Opera, atau lainnya, atau melalui email yang masuk ke aplikasi inbox email anda, jika anda berlangganan newsletter.

***
Jadwal Kelas Seminar Value Investing: ‘Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’. Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019. Info selengkapnya baca disini. Tersedia DISKON earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 17 Juni.
***
Dan semakin kesini, para pengusaha dan pelaku industri tradisional mau tidak mau harus beradaptasi dengan revolusi I4 ini, dimana mereka yang gagal beradaptasi maka akan mengalami kemunduran. Contohnya, seorang teman penulis yang punya toko grosir elektronik di Mangga Dua, Jakarta, sejak sekitar 5 tahun lalu sudah merasa kalau tokonya sepi pengunjung, dan ia kemudian menyadari bahwa itu adalah karena para pembeli mulai beralih ke toko online. Jadi ia mulai membuka ‘official store’ entah itu dalam bentuk website, Facebook Fan-page, dan mendaftar di market place seperti Bukalapak, dan Tokopedia. Alhasil, tokonya rame lagi, bahkan lebih rame dari sebelumnya, karena sekarang pembelinya tidak cuma dari Jakarta dan sekitarnya, tapi dari seluruh Indonesia (dan barangnya dikirim melalui jasa ekspedisi). Untuk toko fisiknya yang di Mangga Dua juga tetap beroperasi seperti biasa untuk melayani pembeli yang langsung datang ke lokasi, atau supir gojek yang mengambil barang. Namun, teman penulis ini melanjutkan, ia melihat bahwa beberapa toko tetangganya mulai tutup satu per satu, karena alasan sepi pengunjung.
Nah, dari sini kelihatan bahwa ketika kehadiran I4 disatu sisi menaikkan omzet para pemilik industri dan usaha, namun disisi lain justru ‘mematikan’ mereka yang tidak mampu beradaptasi, yang masih bersikukuh untuk jualan dengan cara tradisional. Dan tidak hanya pada usaha kecil dan menengah (UKM), hal ini juga terjadi pada perusahaan Tbk yang besar-besar sekalipun. Contohnya, kalau anda pehatikan, kinerja atau perolehan laba bersih Astra International (ASII) cenderung stagnan sejak beberapa tahun lalu, tapi hal yang berbeda dialami oleh Telkom (TLKM), dimana labanya naik terus. Dan alhasil, kenaikan saham TLKM dalam lima tahun terakhir jauh lebih tinggi dibanding ASII, demikian pula dividennya lebih besar dibanding ASII. Awalnya penulis berpikir, ASII bisa ketinggalan kereta karena memang usaha terbesarnya ada di komoditas, dalam hal ini batubara dan sawit/CPO, dimana sektor komoditas ini memang sangat fluktuatif/kalau harga batubara turun maka mau gak mau kinerja ASII juga bakal tertekan. Namun disisi lain, TLKM bisa terus melesat karena dia memang sejak awal merupakan perusahaan information and communication technology (ICT) yang spesialis jualan kuota internet dan produk-produk sejenis, dimana memang produk itulah yang amat sangat dibutuhkan oleh masyarakat, seiring dengan terus berlanjutnya Revolusi Industri 4.0.
Kemudian, anda tahu apa yang membuat kinerja big four banking di Indonesia yakni Bank BCA, BRI, Mandiri, dan BNI terus saja naik dalam beberapa tahun terakhir? Yep, faktor utamanya adalah karena memang kondisi makroekonomi Indonesia sejauh ini terbilang aman-aman saja, dimana kinerja sektor perbankan suatu negara adalah merupakan cerminan dari kinerja makroekonomi negara itu sendiri. Tapi faktor lainnya yang juga penting, adalah karena para bank ini sukses beradaptasi dengan perkembangan I4, dimana sekarang ini kita sudah sangat terbiasa dengan i-banking, m-banking, e-money, dan seterusnya, yang memungkinkan kita untuk tidak lagi pergi ke kantor bank, atau bahkan mesin ATM, untuk melakukan transaksi perbankan. Sebenarnya ada juga anggapan bahwa kehadiran fintech hingga cryptocurrency mungkin akan bisa menggeser kehadiran institusi perbankan, tapi sejauh ini hal itu tidak atau belum terjadi, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, yang mungkin karena para lembaga perbankan itu sendiri juga mampu memanfaatkan keberadaan teknologi untuk meningkatkan kinerja mereka.
Prospek Emiten Teknologi
Tapi intinya, diluar berbagai macam isu yang melanda bursa saham dalam beberapa tahun terakhir seperti sentimen ‘tahun pemilu’ di Indonesia, upgrade sovereign rating Indonesia oleh S&P, kenaikan Fed Rate, hingga perang dagang antara Amerika vs China, maka penulis menganggap bahwa isu industri 4.0 inilah yang sebenarnya paling penting untuk diperhatikan. Karena dengan adanya trend I4 ini, maka selain mengerjakan analisa saham dan stock screening seperti biasa, investor juga dituntut untuk bisa membedakan emiten mana yang mampu beradaptasi dengan revolusi I4, dan emiten mana yang tidak. Contohnya, di blog ini sejak beberapa tahun lalu penulis selalu katakan bahwa saham ASII cocok untuk investasi jangka panjang. Tapi jika perusahaan tidak membuat aplikasi atau portal khusus untuk jual beli batubara, misalnya, maka kemungkinan omzet-nya akan sulit untuk berkembang, dan kalau demikian maka sahamnya tidak lagi bisa dijadikan sebagai legacy stock. Untungnya, manajemen ASII dalam beberapa waktu terakhir memang terbilang serius dalam hal meng-digital-kan unit-unit usahanya, contohnya mereka melalui United Tractors (UNTR) sekarang punya www.klikut.com bagi konsumen yang hendak membeli alat-alat berat dan sparepart-nya. Jadi mari kita lihat bagaimana hasilnya nanti.
Diluar dua kelompok emiten yakni yang mampu beradaptasi dengan I4, dan yang tidak, maka ada satu lagi kelompok emiten yang sudah pasti akan diuntungkan dengan adanya I4, yakni emiten/perusahaan berbasis teknologi itu sendiri. Contohnya ya TLKM tadi, atau Metrodata Electronics (MTDL), hingga Erajaya Swasembada (ERAA). Kemungkinan dalam beberapa tahun kedepan, beberapa start-up teknologi dari dalam negeri juga akan menggelar IPO, sehingga investor bisa membeli sahamnya dan turut menikmati pertumbuhan jangka panjangnya. Faktanya adalah, saat ini dari 10 orang terkaya di dunia, 5 diantaranya yakni Jeff Bezos, Bill Gates, Larry Ellison, Mark Zuck, dan Larry Page, kesemuanya merupakan tech entrepreneur, dan bahkan Carlos Slim Helu juga bisa disebut sebagai pengusaha teknologi, mengingat investasi terbesarnya terletak di America Movil, perusahaan mobile telecom terbesar di Amerika Latin.

Smartphones, the ‘center of our lives’, klik gambar untuk memperbesar
Nah, jadi bukan tidak mungkin bahwa dalam satu atau dua dekade kedepan, daftar 10 orang terkaya di Indonesia akan tidak lagi didominasi nama-nama tradisional seperti Keluarga Djarum, tapi juga para pengusaha teknologi, dan kita bisa turut menikmati prospek jangka panjang di sektor anyar ini melalui instrumen bursa saham. Sudah tentu, ini bukan berarti perusahaan teknologi, atau perusahaan yang mampu beradaptasi dengan penggunaan teknologi yang listing di bursa, saham mereka semuanya layak invest, karena kita tetap harus menganalisa track record kinerja perusahaan, kualitas manajemennya, dll. Dan diluar beberapa emiten yang sudah disebut di artikel ini, sebenarnya di BEI masih ada lagi sejumlah emiten lainnya yang jenis usahanya berhubungan langsung dengan teknologi, tapi tidak penulis sebutkan karena laporan keuangannya tidak profitable.
Tapi intinya kalau anda menemukan dua saham yang fundamentalnya sama-sama bagus, prospeknya sama-sama cerah, dan valuasinya juga sama-sama murah, maka coba cek lagi, emiten yang mana yang lebih aktif di media sosial untuk jualan dan/atau mempromosikan produk-produk mereka. Beberapa waktu lalu penulis mendengar bahwa ada sejumlah perusahaan yang kalau mereka membuka lowongan pekerjaan, maka pelamar diwajibkan untuk menyertakan akun medsos di CV yang mereka kirimkan. Nah, jadi sebagai investor, kita juga bisa mengecek akun medsos milik si perusahaan itu sendiri, lalu baru kita beli sahamnya :D
Jadwal Kelas Seminar Value Investing: ‘Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’. Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019. Info selengkapnya baca disini. Tersedia DISKON earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 17 Juni.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Asuransi Unitlink vs Saham: Mana yang Lebih Menguntungkan?

Mudik lebaran kemarin penulis dapet cerita dari salah seorang bibi. Jadi ceritanya ia membeli produk unitlink dari sebuah perusahaan asuransi, dengan cicilan tetap Rp500,000 per bulan selama 10 tahun, sejak bulan Oktober tahun 2009 lalu. Ketika itu agen asuransinya bilang, dengan unitlink ini maka ibu dapet dua keuntungan sekaligus. Yang pertama adalah proteksi, dimana kalau ibu sakit maka dapat uang pertanggungan (UP) sebesar maksimal Rp120 juta, dan yang kedua adalah investasi, dimana setelah 10 tahun maka ibu akan menerima pembayaran tunai sebesar Rp60 juta (Rp500 ribu x 12 bulan x 10 tahun), bahkan bisa lebih dari itu kalau hasil investasinya tinggi. Sebab uang yang disetorkan tiap bulan akan kami putar/kami investasikan, dan ibu akan menerima keuntungannya.
***
Jadwal Kelas Seminar Value Investing: ‘Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’. Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019. Info selengkapnya baca disini. Tersedia DISKON earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 17 Juni.
***
Nah, berhubung sekarang sudah bulan Juni 2019, alias sebentar lagi bakal genap 10 tahun, dan selama itu bibi penulis ini rutin menyetor Rp500,000 per bulan tanpa pernah terlambat sekalipun, termasuk juga tidak pernah sakit yang serius (jadi UP-nya belum dipakai), maka ia iseng-iseng menghubungi agen asuransinya, untuk menanyakan berapa nilai ‘investasinya’ saat ini. Tapi alangkah kagetnya ketika si agen menjawab, nilainya Rp31 juta. Padahal kalau hitung nilai pokok setorannya saja (belum termasuk proyeksi keuntungan yang disampaikan sebelumnya), maka harusnya nilai tabungannya sampai Mei 2019 kemarin sudah Rp57.5 juta (Rp500 ribu x 115 bulan). Jadi kenapa ini malah berkurang sampai hampir setengahnya? Dan si agen menjawab, pertama, memang ada potongan-potongan untuk meng-cover UP tadi, dan juga biaya administrasi bla bla bla. Dan kedua, ini karena bursa saham lagi turun, makanya investasi sekarang lagi rugi semua. Bibi penulis nanya lagi, tapi dulu kamu gak bilang apa-apa soal saham turun? Saham rugi? Dan apa pula itu saham? Lalu baru agen juga menjelaskan tentang tiga kemungkinan hasil investasi yakni rendah, sedang, dan tinggi. Jadi dalam skenario ‘hasil investasi rendah’, maka hasilnya memang bisa ‘kurang memuaskan’.
Pada titik ini bibi penulis sudah males untuk bertanya lagi, karena sejatinya dia sudah ingin murka saja. Karena ia inget persis bahwa di tahun 2009 lalu (biasanya daya ingat ibu-ibu jauh lebih kuat dibanding bapak-bapak), si agen asuransi ini tidak ngomong sedikitpun soal risiko nilai tabungannya bakal turun, atau rugi, apalagi tinggal sisa separuhnya seperti itu. Termasuk juga gak ada penjelasan apa-apa soal biaya tetek bengek bla bla bla. Dan yang pasti, ia sekarang sangat menyesal. Karena kalau uang Rp500,000 per bulan tadi disetor ke deposito saja, maka setelah 10 tahun hasilnya benar minimal Rp60 juta belum termasuk bunga, dan tanpa ada risiko apapun.
Nah, actually penulis tidak kaget dengan cerita si bibi diatas, karena sejak dulu juga kalau saya googling, di internet ada banyak cerita serupa dari para nasabah unitlink asuransi, dimana jangankan menerima prospek keuntungan yang disebutkan di awal pembukaan rekening, nilai ‘investasi’ mereka malah berkurang. Ini mending kalau berkurangnya cuma sedikit, lha ini berkurangnya gede banget, bisa lebih dari setengah dari total nilai pokok setoran. Penulis sendiri sering ditelpon orang yang mengaku dari BCA, Mandiri dst, tapi ujung-ujungnya mereka menawarkan produki unitlink dari perusahaan asuransi tertentu. Namun sebelum mereka ngomong lebih jauh, saya langsung menolak dengan halus.
Lalu apa sebenarnya asuransi unitlink ini? Dan kenapa hampir semua testimoni menyebutkan bahwa unitlink ini sangat merugikan?
Jadi pada awal mulanya, cara kerja asuransi adalah sebagai berikut: Nasabah dijanjikan UP sebesar maksimal sekian Rupiah jika terjadi peristiwa tertentu yang membutuhkan uang dalam jumlah besar, misalnya jika anda sakit dan harus dirawat di RS (jika asuransinya adalah asuransi kesehatan). Sebagai gantinya, nasabah harus membayar premi sebesar sekian persen dari UP tadi, biasanya sekitar 1 – 4% (jadi kalau UP-nya Rp100 juta, maka preminya Rp1 – 4 juta) tergantung banyaknya jenis penyakit yang di-cover, tingkat risiko si nasabah untuk menderita sakit, lamanya masa proteksi, dst.
Jadi kalau anda kemudian jatuh sakit dan asuransinya masih berlaku/masih dalam masa proteksi, maka sebagian atau bahkan seluruh biaya rumah sakitnya akan ditanggung oleh pihak perusahaan asuransi, sehingga barulah dalam hal ini asuransi yang anda ambil akan terasa manfaatnya. Tapi bagaimana jika selama masa proteksi anda sehat-sehat saja? Ya kalau gitu uang premi yang anda setorkan hangus begitu saja, dan kalau anda mau memperpanjang masa proteksi maka anda harus bayar premi lagi.
Bagian dimana uang premi hangus inilah, yang tidak disukai oleh nasabah karena kesannya mereka jadi rugi, sehingga dalam hal ini pihak perusahaan asuransi jadi sulit untuk memasarkan produknya. Karena itulah, perusahaan asuransi kemudian menciptakan produk ‘asuransi sekaligus tabungan/investasi’, yang dikenal sebagai unitlink. Perbedaan mendasarnya sebagai berikut:
  1. Nasabah tetap mendapatkan UP jika sakit dll, tapi nilainya jauh lebih kecil dibanding asuransi biasa. Contohnya bibi penulis diatas, UP-nya cuma Rp120 juta, dibanding nilai setoran premi-nya yang mencapai Rp60 juta setelah 10 tahun. Ini berarti premi-nya mencapai 50% dari nilai UP.
  2. Meski UP-nya kecil, tapi uang premi yang disetor ke unitlink tidak akan hangus termasuk jika UP tadi dicairkan, dan bahkan bisa bertambah jika hasil investasinya bagus. Ini karena uang premi tersebut akan dibelikan instrumen investasi, biasanya reksadana. Tapi disisi lain kalau hasil investasinya jelek, maka ya nilai pokok setorannya tetap bisa berkurang.
Nah, bagian dimana ‘nilai pokok setorannya bisa berkurang’ inilah, yang biasanya tidak dijelaskan oleh si agen asuransi. Karena jangankan dijelaskan soal risiko investasi saham bla bla bla, si nasabah cuma bisa ngerti kalau dia ini seperti sedang menabung di bank, dan tetap mendapatkan proteksi kalau sakit. Termasuk si nasabah juga tidak tahu menahu kalau uang premi yang disetor tetap dipotong sebagian untuk biaya proteksi itu sendiri (jadi pada akhirnya uang premi tersebut tetap hangus, tapi kelihatannya tidak hangus seluruhnya karena toh sejak awal setoran premi-nya sangat besar dibanding nilai UP-nya). Malah kalau hasil investasinya ‘rendah’, maka kerugian si nasabah sejatinya jadi lebih besar lagi dibanding jika ia ambil asuransi biasa, karena ibarat sudah uang preminya hangus, ditambah sekarang nyangkut pula di reksadana. Dan, oh, masih satu lagi: Mau hasil investasinya untung atau rugi, tapi setoran premi nasabah juga tetap dipotong untuk bagian keuntungan perusahaan asuransi, komisi si agen (nama biayanya bisa biaya akuisisi, biaya admin dst, tapi intinya banyak potongannya), dan juga fee untuk manajer investasi (MI). Sebab perusahaan asuransi tidak langsung membeli saham, obligasi dll di pasar, melainkan mereka membeli unit reksadana yang dikelola oleh MI, dimana MI ini memungut management fee sekitar 1 – 2% per tahun dari total nilai dana yang dikelola, tak peduli hasilnya untung atau rugi.
Dari penjelasan diatas maka bisa dilihat kenapa nasabah asuransi unitlink rata-rata tekor bolak balik. Karena jangankan jika hasil investasinya rugi, jika investasinya untung pun maka mereka tetap rugi karena premi yang disetorkan sejak awal sudah dipotong biaya ini itu, yang jumlahnya lebih besar dibanding asuransi biasa.
Tapi Pak Teguh, kalau unitlink ini lebih banyak merugikan ketimbang menguntungkan, lalu kenapa produknya sampai sekarang gak dilarang oleh OJK? Ya karena pihak agen asuransi termasuk perusahaan asuransi itu sendiri dalam hal ini tidak melanggar hukum apapun (kecuali kalau ada oknum agen asuransi yang sengaja memberikan info yang salah, tapi itu lain cerita). Karena risiko terkait kerugian investasi, potongan biaya ini itu, hingga ilustrasi hasil investasi, semuanya sudah dijelaskan di lembar polis asuransi ketika si nasabah membuka rekening. Kemudian kalau nasabah unitlink ini beneran sakit, maka UP tadi beneran dibayarkan kok. Sehingga bagi nasabah yang sempat sakit dan menerima UP, maka unitlink ini justru sangat terasa manfaatnya. Thus, mau nasabah protes sampai bawa-bawa Hotman Paris sekalipun, biasanya si agen hanya akan mengeluarkan satu mantra sakti ini saja: ‘Jenengan sudah baca polisnya? Disitu sudah dijelaskan semuanya, jadi jangan protes!’
Okay, lalu bagaimana dengan investasi saham secara langsung? Well, meski tentunya ada banyak juga cerita investor yang rugi di saham, tapi biasanya itu adalah karena tiga hal berikut: 1. Si ‘investor’ ini sejatinya belum bisa disebut sebagai investor, karena ia masih belajar/masih pemula, 2. IHSG-nya lagi turun, atau 3. Terjadi force majeure dimana emiten bangkrut atau semacamnya, sehingga nilai sahamnya anjlok, misalnya seperti kasus Tiga Pilar Sejahtera (AISA) dulu.
Sementara diluar tiga faktor diatas, maka bagi investor yang sudah cukup pengetahuan dan pengalaman, normalnya dia akan cuan minimal sebesar kenaikan IHSG itu sendiri, dan maksimalnya bisa jadi trilyuner seperti Om Lo Kheng Hong. Contohnya bibi penulis diatas: Jika ia rutin menyetor Rp500,000 per bulan sejak Oktober 2009 untuk beli saham BBCA dkk lalu tutup mata (tak peduli pasar mau terbang atau jeblok), maka pada hari ini nilai portonya akan lebih dari sekedar Rp60 juta, mungkin jadinya sekitar Rp100 jutaan. Karena IHSG pada Oktober 2009 berada di level 2,500, sedangkan sekarang sudah diatas 6,000, atau naik lebih dari dua kali lipat belum termasuk dividen.  Dan satu-satunya biaya yang harus anda bayar hanyalah trading fee (dan juga pajak dividen, kalau anda terima dividen), yang jumlahnya tidak akan terlalu besar asalkan anda jarang melakukan trading itu sendiri (jadi beli lalu hold saja). Hanya memang dalam hal ini si bibi jadi gak punya proteksi asuransi, dimana kalau ia sakit maka harus bayar sendiri. Tapi yah, untuk proteksi asuransi ini maka bisa beli polis lagi toh? Dalam hal ini asuransi murni ya, misalnya BPJS, jadi bukan unitlink.

Daripada nabung di bank, mending beli saham bank

Jadi kalau dirunut lagi dari awal, masalah yang dialami bibi penulis tadi kronologisnya adalah sebagai berikut: Orang mau punya asuransi kesehatan, tapi gak mau kalau premi asuransinya ‘hangus’, sedangkan dia sehat-sehat saja. Alhasil produk asuransi yang murni jadi nggak laku. Solusinya, perusahaan asuransi bikin unitlink agar timbul kesan bahwa premi yang dibayarkan nasabah tidak hangus, dan bahkan bisa balik lagi dengan nilai lebih besar karena diinvestasikan, atau minimal sama dengan nilai total setorannya, dimana hal inilah yang ditekankan berkali-kali oleh si agen (tapi soal risiko, biaya dst gak dijelaskan, atau cuma disampaikan sekilas saja). Dan ketika realisasinya tidak seperti yang dipaparkan di awal, maka barulah nasabah menyadari there is something wrong, tapi itu sudah terlambat.

Anyway, mau itu asuransi murni, unitlink, reksadana, atau anda langsung invest sendiri di bursa saham, maka problem terbesarnya tetap di satu hal itu saja: Edukasi. Karena harus diakui, literasi keuangan di Indonesia masih sangat kurang, dan masalahnya orang-orang lebih suka membaca berita atau nonton debat politik ketimbang baca polis asuransi, prospektus, laporan keuangan emiten, atau artikel-artikel edukasi investasi seperti yang banyak disajikan di blog ini. Jadi buat temen-temen yang lebih beruntung karena sudah cukup mengerti soal saham dll, please share your knowledge, minimal ke saudara-saudara terdekat. Atau gampangnya, ajak mereka buat baca TeguhHidayat.com, semoga bisa bermanfaat.

Dan buat anda yang punya pengalaman dengan asuransi unitlink, bisa share pengalaman tersebut melalui kolom komentar dibawah.
Jadwal Kelas Seminar Value Investing: ‘Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’. Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019. Info selengkapnya baca disini. Tersedia DISKON earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 17 Juni.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing, Jakarta, 22 Juni 2019

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’ di Jakarta, hari Sabtu, 22 Juni 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menabung saham untuk simpanan aset jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:


Pembicara: Teguh Hidayat

Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham,
  7. Ciri-ciri wonderful company, yang sahamnya bisa di-hold as long as possible, serta apa bedanya dibanding saham biasa, dan
  8. Cara menganalisa manajemen emiten/perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Cara menabung saham untuk jangka panjang 5 – 10 tahun dengan menyicil membeli saham yang sama setiap bulan (strategi Dollar Cost Averaging untuk menghasilkan capital gain dan dividen), dan apa saja pilihan saham yang disarankan,
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 Juni 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.

Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta salah satu kelas seminar sebelumnya
Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Untuk lokasinya sama di Jakarta.

UPDATE: KURSINYA SUDAH PENUH! DEMIKIAN PULA UNTUK KELAS PRIVATE, SUDAH FULL 5 ORANG. JADI SAMPAI JUMPA DI KESEMPATAN KELAS [...]

‘Perkataan yang Baik Adalah Sedekah’

Suatu siang di Cimahi, Jawa Barat, dimana penulis seperti biasa menjemput si kecil pulang dari taman kanak-kanak. Biasanya saya menjemput pakai sepeda motor, namun karena ketika itu hujan maka saya pakai mobil. Tak lama setelah kami berdua masuk mobil dan jalan lagi, si kecil kemudian menurunkan kaca jendela dan menyapa teman-temannya sambil melambaikan tangan, dadah dadah, seperti itu. Tapi saya kaget ketika tiba-tiba dia ngomong begini ke salah seorang teman TK-nya (yang diantar oleh ibunya) yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan umum, ‘Kenapa kamu naik angkot? Gak punya mobil yaaa?
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juni 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham untuk subscriber selama 1 bulan penuh atau lebih lama lagi.
***
Penulis segera menepikan kendaraan, dan bergegas menuju si ibu dan anaknya, yang untungnya masih berada di lokasi. Penulis kemudian minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf atas ucapan si kecil tadi, dan berjanji bahwa saya akan mengajari si kecil untuk tidak lagi nyeletuk sembarangan. Sudah tentu, si ibu memaklumi, karena anak berusia 5 tahun memang kebanyakan belum bisa membedakan mana kata-kata yang baik dan yang tidak. Dan memang ketika penulis balik lagi ke kursi kemudi, si ade masih cengar cengir saja di kursinya, tanpa merasa bersalah sama sekali. Saya kemudian segera menasihati dengan baik-baik, mengingatkan bahwa apa yang baru saja ia katakan bisa menyinggung perasaan orang lain. Jadi lain kali kamu gak boleh ngomong seperti itu lagi.
Untungnya, si kecil bisa menerima pelajarannya dengan baik, dan sampai sekarang ia belum pernah salah ngomong lagi. Tapi balik lagi: Jika anak kecil mengatakan sesuatu yang tidak baik, yang menyinggung perasaan orang lain, maka kita sebagai orang dewasa bisa memakluminya, dan bisa mengajarkan agar dia tidak bicara seperti itu lagi.
Tapi bagaimana jika ada orang dewasa yang seperti itu, yang tidak bisa menjaga lisannya sendiri??
Kenyataannya adalah, seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial, ada banyak orang yang justru senang mengucapkan atau menuliskan kalimat-kalimat yang tidak baik, yang menyinggung perasaan, nyinyir, yang merendahkan atau menyerang pihak tertentu, hingga menghakimi atau menggurui orang lain. Apakah mereka ini sama seperti anak penulis tadi, yang belum bisa membedakan mana kalimat yang baik dan yang buruk? Tidak, mereka 100% sadar soal itu, dan actually penulis sendiri dulu juga pernah seperti itu. Kalau anda baca-baca lagi artikel lama di blog ini sejak tahun 2010 lalu, maka ada banyak tulisan yang terkesan menyerang emiten atau grup konglomerasi tertentu, dan para pembaca justru menyukainya. Sehingga blog ini bahkan sudah langsung populer sejak tahun 2010 tersebut.

Dulu penulis sering cerita gak bagus tentang perusahaan ini.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, penulis sadar bahwa mengkritik atau menjelek-jelekkan orang lain atau perusahaan tertentu, itu tidak memberikan manfaat apa-apa, dan malah bisa bikin kita jadi punya musuh. Dan yang paling penting, menjelek-jelekkan orang lain mungkin bisa membuat kita untuk sesaat merasa hebat, tapi itu tidak menghasilkan cuan atau dividen sama sekali! Jadi ya buat apa?? Mengkritik, menyerang, atau menghina, itu juga sangat berbeda dengan bersikap kritis, karena pilihan kata-kata yang digunakan juga berbeda. Misalnya, anda bisa memilih untuk mengatakan bahwa ‘Direktur PT A itu g*blok’, atau ‘Direktur PT A harusnya bisa bekerja lebih baik lagi’. Perhatikan bahwa makna kedua kalimat itu sama saja, tapi nadanya jelas berbeda bukan?
Karena itulah, penulis selalu mengajarkan kepada anggota tim, keluarga, dan juga diri penulis sendiri, untuk selalu menuliskan kalimat-kalimat yang baik, yang bermanfaat bagi orang lain. Dan kalau kita tidak bisa melakukannya, maka lebih baik diam saja. Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Perkataan yang baik adalah sedekah’. Jadi dengan kita menjaga lisan saja, maka balasannya adalah sama dengan jika kita beramal sejumlah uang atau barang, atau bahkan balasannya lebih besar lagi. Karena, coba pikir. Jika ada seorang pengemis yang datang menghampiri, maka apa yang anda lakukan? Memberikan sejumlah uang tapi sambil berkata kasar, atau tidak memberikan apa-apa namun dengan mengucapkan maaf sembari tersenyum tulus??
Nah, di buku ‘Value Investing: Beat the Market in Five Minutes!’, penulis sudah menyampaikan bahwa salah satu satu rahasia sukses investor adalah jika ia bisa rajin beramal dan berbuat baik, bersedekah, dan melakukan kegiatan filantropi yang bermanfaat bagi orang lain, dimana itu akan menekan sifat greedy yang seringkali muncul pada diri investor pemula, dan pada akhirnya akan membuat pekerjaan investasi itu menjadi lebih mudah dengan sendirinya. Namun mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa ‘beramal’ itu tidak melulu harus dengan memberikan sebagian harta yang kita miliki. Karena dengan berkata baik saja, itu sudah merupakan amal perbuatan yang Inshaa Allah bermanfaat tidak hanya bagi orang lain, tapi juga bagi diri kita sendiri karena, boleh anda coba sendiri: Jika kita terbiasa berbicara dengan baik, maka bawaan kita akan terasa enak dengan sendirinya.
Anyway, sekeras apapun kita dalam berusaha menjaga lisan dan perbuatan, namun tetap saja, penulis sendiri mungkin pernah menulis atau mengatakan sesuatu yang membuat anda tidak berkenan. Karena pada akhirnya saya hanya manusia biasa, tempatnya berbuat salah.
Jadi dengan ini izinkan penulis dan team untuk mengucapkan, selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Terima kasih anda masih setia bersama dengan kami disini, dan semoga kita bisa terus bersama-sama menghasilkan keuntungan yang konsisten dari pasar modal. Aamiin.

Dan selamat buat yang baru saja terima THR dividen :)
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juni 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham untuk subscriber selama 1 bulan penuh atau lebih lama lagi.
TeguhHidayat.com tetap online sepanjang libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Value Investing Class for Millennials, Jakarta, 22 Juni

Dear investor, sesuai request, penulis menyelenggarakan kelas seminar dengan tema: Value Investing for Millennials. Berbeda dengan seminar yang biasanya, materi di kelas seminar kali ini sengaja didesain agar sesuai untuk teman-teman investor berusia 20-an, 30-an, atau lebih muda lagi, dimana kita tidak hanya membahas tentang investasi saham itu sendiri, melainkan juga membahas tahapan-tahapan yang harus dilewati agar kita kemudian siap menjadi pro investor, mulai dari ketika usia sekolah, kuliah, hingga ketika sudah bekerja dan memiliki penghasilan untuk ditabung di saham. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya.


Pembicara: Teguh Hidayat

Materi Utama:
  1. Everybody can be an investor: Bagaimana seseorang dengan tingkat kecerdasan rata-rata, dan juga bukan tipe pekerja keras, bisa tetap sukses sebagai investor (rahasianya adalah di kemampuan untuk selalu berpikir rasional).
  2. To be an investor, you need money to start with, knowledge, and experience: Penjelasan mengenai tiga modal penting, yakni tabungan (minimal berapa Rupiah?), pengetahuan (harus belajar apa saja?) dan pengalaman (berapa lama?), yang harus dimiliki oleh setiap investor.
  3. Start your investing career as early as possible: Bagaimana cara menggali pengalaman sebagai value investor bahkan sejak kita masih duduk di bangku SMU, kuliah, atau baru mulai bekerja.
  4. How to set up your financial goals, step by step: Bagaimana cara mengatur pemasukan, pengeluaran, hingga menabung untuk membeli dan memiliki aset-aset dasar (rumah, mobil, dst), dan tentunya cara menyisihkan tabungan secara bertahap untuk investasi jangka panjang, kesemuanya berdasarkan kaidah value investing (baca artikel ini: Value investing di kehidupan sehari-hari).
  5. To be the best, you have to learn from the best: Bagaimana cara menjalin hubungan dengan, dan juga belajar langsung dari investor-investor terbaik tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, dan
  6. How to build your career as an investor, or even professional fund manager: Bagaimana cara seorang karyawan fresh graduate dengan gaji rata-rata bisa ‘naik kelas’ menjadi seorang professional self-employed, pengusaha, dan akhirnya menjadi seorang investor yang punya banyak waktu luang untuk diri sendiri, keluarga, dan bisa membantu orang banyak (hampir tidak ada bedanya dengan pensiun), dalam rentang waktu kurang dari 10 tahun.
Step by step, perjalanan karier investor

Bonus Materi Tambahan:
  1. How to be a happy investor: Sharing pengalaman penulis jalan-jalan keliling dunia dan bertemu dengan orang-orang hebat, dan pelajaran-pelajaran apa saja yang didapat dari pengalaman ‘berpetualang’ tersebut.
  2. Sharing pilihan saham-saham terbaik untuk tabungan jangka panjang, lengkap dengan penjelasan kenapa mereka cocok untuk jangka panjang, plus strategi buy, hold, and sell untuk tiap-tiap saham tersebut, dan
  3. Sharing pilihan saham-saham syariah terbaik, bagi anda yang membuka rekening syariah.
Bonus lagiSalah satu ciri khas millennial adalah mereka memiliki rasa keingin tahuan yang sangat besar, sehingga banyak mengajukan pertanyaan. Jadi khusus untuk seminar kali ini, penulis akan menyediakan sesi khusus selama 1.5 – 2 jam untuk diskusi tanya jawab, dimana anda bisa bertanya apa saja terkait investasi saham/value investing secara khusus, atau tentang menjadi seorang investor itu sendiri secara umum.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas.
Target peserta: Professional muda berusia 20-an, 30-an, atau lebih muda lagi, dan para orang tua yang ingin mengarahkan putra putri mereka agar mampu untuk menciptakan aset investasi milik mereka sendiri.
***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 Juni 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 10.00 s/d 17.00 WIB (waktunya lebih lama dari biasanya). Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,500,000, atau Rp1,100,000 bagi anda yang masih mahasiswa. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Alex Lacazette, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Jika anda mahasiswa, maka lampirkan bukti kartu tanda mahasiwa pada email yang anda kirim diatas.
4. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
5. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, agar penyampaian materi efektif, maka jumlah peserta dibatasi maksimal 30 orang.
Diskon Early Bird: Jika anda mendaftar sebelum tanggal 9 Juni 2019 pukul 16.00 WIB, maka biayanya menjadi Rp1,350,000, atau Rp950,000 bagi peserta mahasiswa. Setelah tanggal 9 Juni, maka harga yang berlaku adalah harga normal.
Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Layanan Gratis Khusus Peserta:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
***


Rekaman Seminar: Bagi anda yang tidak bisa hadir di acara kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka anda bisa membeli rekaman audio-nya saja (plus slide powerpoint-nya), dengan biaya yang tentu saja lebih murah, yakni Rp275,000. Caranya cukup transfer ke salah satu no rekening bank diatas, lalu kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Rekaman Seminar Millennials, dan isi: Nama lengkap anda, bank tujuan transfer (lampirkan bukti transfer jika perlu). Kemudian link untuk men-download rekamannya akan dikirim melalui email pada hari Senin, 24 Juni.

Untuk membeli rekaman seminar value investing yang biasanya (basic and advanced, rekaman terbaru tahun 2019), maka boleh lihat lagi cara membelinya disini.

Baiklah, sudah cukup. Jika masih ada yang ingin ditanyakan, anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.

Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Salah satu [...]

Ebook Investment Planning – Kuartal I 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Ebooknya saat ini sudah terbit, dan anda bisa langsung memesannya disini.

Potongan halaman dari daftar isi ebook edisi sebelumnya, klik gambar untuk memperbesar
Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor profesional adalah membuat investment planning, dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan itu bahkan belum termasuk diskon jika anda berlangganan ebooknya secara jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, pioneer metode value investing dalam berinvestasi saham di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

TeguhHidayat.com tetap online sepanjang libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.
Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi [...]

Strategi ‘Momentum Investing’ Untuk Profit Lebih Cepat Dari Saham-saham Jangka Panjang

Di artikel sebelumnya, kita membahas bahwa kalau kita mau beli saham untuk tabungan jangka panjang, maka jangan cuma lihat pergerakan sahamnya dalam 5 tahun terakhir, tapi coba lihat lagi dalam 10 tahun terakhir. Contohnya ULTJ, yang meski dalam lima tahun terakhir hanya profit 20%, tapi dalam 10 tahun terakhir profitnya total mencapai 7 – 8 kali lipat. Namun disisi lain, jika kita kebetulan beli saham Ultrajaya (ULTJ) di tahun 2014 dan bukannya 2009, kemudian tetap hold sampai hari ini, maka tetap saja profitnya cuma 20% diluar dividen. Jadi adakah strategi agar kita tidak terjebak dalam kondisi ‘hold too long for nothing’ seperti itu? Anda bisa baca lagi artikel lengkapnya disini (sebaiknya baca dulu biar nyambung ceritanya).
***
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juni 2019 akan terbit tanggal 1 Juni mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham untuk subscriber selama 1 bulan penuh atau lebih lama lagi.
***
Okay, jadi pada artikel kali ini kita akan membahas strategi tersebut. Namun pertama-tama, ada satu hal yang harus anda ingat: Ketika kita membeli saham untuk tujuan jangka panjang, maka seperti halnya nanti jualnya jangan buru-buru (harus komitmen hold selama bertahun-tahun), maka belinya pun jangan buru-buru, melainkan harus tunggu momentum yang tepat. Inilah kenapa strateginya kemudian disebut sebagai ‘momentum investing’.
Dan seperti apa momentum yang tepat tersebut? Nah, kalau kita ambilnya saham bluechip model BBRI, atau saham-saham ‘normal’ lainnya yang mudah naik dan turun seiring dengan fluktuasi pasar, maka kita harus tunggu sampai terjadi koreksi pasar, lalu baru belanja. Masalahnya, Buffett sekalipun gak bisa prediksi kapan pasar akan terkoreksi. Jadi bagaimana kalau kita sudah tunggu lama tapi IHSG gak turun-turun juga? Kemudian kedua, ketika IHSG anjlok maka berita-berita yang beredar pastinya bernada negatif, seperti perang dagang lah, krisis lah, dst. Jadi apakah anda bisa tetap belanja sendirian ketika hampir semua orang lainnya panik dan kabur dari pasar?? Intinya sih, meski value investor tentunya punya prinsip bahwa koreksi pasar akan selalu merupakan kesempatan untuk ngumpulin barang, tapi tetap saja pada prakteknya tidak semudah itu, terutama bagi pemula.
Jadi bagaimana kalau ambilnya saham seperti ULTJ ini saja, atau juga saham-saham berfundamental bagus lainnya yang tidak terlalu dipengaruhi oleh fluktuasi pasar? Yep, itu lebih disarankan bagi anda yang gak mau pusing soal IHSG. Tapi Pak Teguh, kalau gitu bagaimana cara menentukan momentum atau timinguntuk beli sahamnya?? Nah, caranya adalah dengan melihat kinerja laporan keuangan terbaru perusahaanPenjelasannya sebagai berikut: Meski saham model ULTJ ini tidak termasuk saham yang bisa dibeli ketika IHSG lagi anjlok (karena sahamnya akan adem ayem saja/gak akan ikut turun), namun akan selalu ada masa-masa dimana sahamnya akan naik lebih cepat dibanding biasanya, yakni jika kinerja LK-nya tampak tumbuh signifikan.
Sebab, perusahaan sebagus apapun bukan berarti kinerja LK-nya akan bagus terus, melainkan laba bersihnya sesekali akan turun, dan ROE-nya menjadi kecil. Demikian pula ULTJ ini, pada tahun-tahun tertentu terkadang labanya turun. Pada saat itulah, sahamnya kemungkinan besar akan stagnan, atau turun sedikit. Tapi selama tidak terjadi perubahan berarti pada manajemen serta prospek jangka panjang perusahaan, dimana perusahaan tetap menjalankan usahanya dengan normal tanpa ada masalah spesifik tertentu, maka pada akhirnya kinerjanya akan tampak bagus lagi, dan itulah momentum terbaik untuk masuk. Karena normalnya sahamnya akan naik banyak dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding lima tahun, atau sepuluh tahun (hitungan bulan, atau maksimal 1 – 2 tahun).
Jadi inilah yang penulis lakukan. Pertama, kita screening saham-saham yang masuk kategori ‘wonderful company’ (apa ciri-ciri saham wonderful company? Baca penjelasannya disini), sehingga kemudian ketemulah BBRI, ULTJ, SIDO dan seterusnya. Saham-saham ini kemudian masuk kotak watchlist, alias saham yang kita amati kinerja laporan keuangannya setiap kuartal, dan juga pergerakan sahamnya (tapi gak usah lihat tiap hari, cukup sebulan atau tiga bulan sekali).
Kedua, dari saham-saham watchlist ini, akan ketemu beberapa saham yang meski dalam 5 atau 10 tahun terakhir total kenaikannya sangat signifikan, tapi dalam 1, 2, atau 3 tahun terakhir sahamnya cenderung stagnan, atau malah turun. Ketiga, kita cek lagi laporan keuangan emiten yang sahamnya stagnan tersebut. Biasanya sih, kalau bukan karena saham tersebut naik banyak sebelumnya (sehingga valuasinya menjadi mahal), maka itu adalah karena kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan sedang gak bagus/labanya turun. Karena ingat bahwa suatu saham hanya akan naik jika orang ramai-ramai membelinya, dan orang hanya akan mau beli saham kalau kinerja perusahaannya sedang bagus. Jadi kalau LK ULTJ sedang tidak bagus, misalnya, maka sahamnya juga belum akan naik dulu, minimal hingga LK berikutnya menunjukkan bahwa kinerja perusahaan membaik.
Nah, jadi anda mengerti bukan, kenapa penulis baru-baru ini membahas soal ULTJ? Yup, itu adalah persis karena sahamnya belum kemana-mana lagi dalam 3 tahunan terakhir, dimana itu memang karena perolehan laba bersih perusahaan juga agak stagnan sejak tahun 2015 lalu, dan ROE-nya juga turun ke level 15%. Tapi karena dasarnya ULTJ ini wonderful company, maka seperti yang sudah disebut diatas, kami tahu bahwa cepat atau lambat ULTJ akan kembali membukukan kinerja yang bagus, dimana pada saat itulah sahamnya bisa dibeli. Dengan kata lain, penulis sendiri sebenarnya sudah memperhatikan ULTJ ini sejak tahun 2015 lalu, atau lebih lama lagi, tapi kita tidak buru-buru masuk, melainkan tunggu momentum yang tepat.
Dan karena pada Kuartal I 2019 ini kinerja ULTJ memang naik signifikan lagi, maka itulah momentum yang kita tunggu-tunggu! Jadi setelah sahamnya ‘istirahat’ sejak tahun 2015, maka di tahun ini ULTJ berpeluang untuk naik lagi, dan kita akan memperoleh profit signifikan tanpa perlu menunggu selama 5 tahun. Plus bonusnya adalah, risikonya tetap rendah (ketika Mei ini IHSG turun, ULTJ gak ikut turun). Dengan cara inilah, kita akan terhindar dari risiko ‘cuma cuan 20% dalam lima tahun’. Malahan pada akhir tahun 2012 hingga pertengahan tahun 2013 lalu, ULTJ pernah terbang dari 300 sampai 1,100 dalam waktu beberapa bulan saja! Dan setelah penulis cek, memang pada tahun 2012 itulah ULTJ membukukan lompatan laba menjadi Rp353 milyar (dibanding Rp128 milyar di tahun 2011), sehingga sahamnya tentu saja punya alasan bagus untuk ikut lompat.
Nah, karena untuk tahun 2019 ini, laba ULTJ sudah tembus Rp1 trilyun jika disetahunkan, alias naik signifikan dibanding tahun 2018 sebesar Rp702 milyar, maka sahamnya juga berpeluang untuk melompat dalam waktu yang tidak terlalu lama dari sekarang. Sehingga kita harusnya tidak perlu tunggu sampai tahun 2024 nanti, untuk memperoleh profit yang harusnya juga lebih besar dibanding sekedar 20%.
Baiklah Pak Teguh, tinggal satu hal lagi: Tadi kan dikatakan bahwa untuk ULTJ ini sudah dilihat sejak tahun 2015, dan baru benar-benar dibeli awal tahun 2019 ini, alias 4 tahun kemudian. Jadi selama jeda 4 tahun itu kita ngapain dong? Duduk bengong aja dari luar sambil minum susu gitu?? Ya nggak lah, kan tadi sudah disebutkan bahwa kita punya kotak watchlist yang berisi saham-saham wonderful company, yang isinya gak cuma ULTJ saja. Jadi ketika ULTJ selama 4 tahun tersebut tidak juga menunjukkan momentum-nya, maka pasti ada saja saham lain yang sudah menunjukkan momentum tersebut, sehingga kita gak akan kekurangan pilihan saham untuk dibeli, minimal setahun sekali. Itu sebabnya kalau anda baca-baca lagi ulasan emiten di blog ini (dan juga di Ebook Investment Planning), maka kita cukup sering bahas saham-saham yang mungkin kurang populer seperti Surya Toto Indonesia (TOTO), Nippon Indosari Corpindo (ROTI), HM Sampoerna (HMSP), Sido Muncul (SIDO), Adira Dinamika Multifinance (ADMF), hingga ULTJ itu tadi, dimana saham-saham tersebut baru penulis bahas di blog ini setelah kita menilai bahwa momentum-nya sudah tepat, yakni momentum untuk kita membeli sahamnya, entah itu untuk jangka panjang maupun pendek. Contohnya, untuk SIDO kita kembali membahasnya pada Oktober 2017 lalu ketika sahamnya di level 500 (setelah sebelumnya kita terakhir membahasnya pada tahun 2013), dan memang tak sampai dua tahun kemudian, sekarang SIDO sudah di level 900-an.
Kabar baiknya, berbeda dengan dengan strategi ‘momentum investing’ dengan memanfaatkan koreksi pasar, dimana itu sulit untuk dilakukan (karena itu tadi, bisakah kita belanja sendirian ketika orang lain panik dan kabur semua? Dan kita juga sulit untuk menebak, sampai berapa IHSG bakal turun ketika koreksi pasar itu terjadi), maka momentum investing pada saham-saham jangka panjang ini jauh lebih mudah untuk dilakukan, karena anda tidak akan ditakut-takuti oleh berita perang dagang Amerika – China atau semacamnya. Dan yang paling penting, strategi untuk ‘memaksimalkan profit’ dan ‘mempersingkat waktu hold’ ini tidak mengubah tingkat risiko dari saham yang anda pegang, dimana ULTJ dkk akan tetap menjadi saham type low risk, sehingga megangnya juga santai.
And that’s it, ladies and gentlemen, the beauty of value investing ????
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juni 2019 akan terbit tanggal 1 Juni mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham untuk subscriber selama 1 bulan penuh atau lebih lama lagi.

TeguhHidayat.com tetap online sepanjang libur lebaran. Jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

The Power of Legacy Stock: Berapa Profitnya Jika Kita Beli Saham Ultrajaya di Tahun 2009?

Ada satu pertanyaan menarik ketika beberapa waktu lalu penulis membahas saham Ultrajaya Milk Industry (ULTJ) (ini link artikelnya), dimana kesimpulan akhirnya adalah bahwa ULTJ ini bisa dipertimbangkan sebagai tabungan atau investasi jangka panjang. Atau mengutip istilah Pak Joeliardi Sunendar, sebagai legacy stock yang bisa di-hold as long as possible. Problemnya, dalam lima tahun terakhir yakni 2014 – 2019, ULTJ secara keseluruhan hanya naik dari 1,000 ke 1,200, sehingga total gain-nya hanya sekitar 20% dalam lima tahun, atau jauh lebih rendah dibanding beberapa saham long term lainnya yang lebih populer seperti katakanlah Bank BRI (BBRI). Jadi pertanyaannya kemudian, apa benar bahwa ULTJ ini bagus untuk long term? Karena kalaupun kita katakan bahwa sahamnya aman/low risk, tapi profit segitu dalam jangka waktu selama itu tentu saja kelewat kecil bukan??

***
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.
***
Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, mari kita sepakati dulu, apa yang dimaksud dengan ‘jangka panjang’ disini. Dalam beberapa kesempatan, penulis katakan bahwa jika anda beli satu saham lalu anda bisa komitmen untuk hold sampai minimal setahun kedepan, maka itu sudah masuk kategori jangka panjang.
However, jika anda misalnya berencana membeli saham Berkshire Hathaway (BRK), maka Warren Buffett mengatakan bahwa anda harus hold saham itu minimal selama 5 tahun. Jadi jika anda mengharapkan profit dalam waktu yang lebih singkat, bahkan meski itu 3 – 4 tahun sekalipun, maka Buffett menyarankan untuk beli saham lain saja. Ini adalah karena, berdasarkan pengalaman, periode waktu 5 tahun adalah periode dimana suatu negara akan mengalami semua siklus ekonominya, baik itu periode krisis, periode datar-datar saja, dan juga periode bullish/euforia, dan demikian pula pasar sahamnya akan naik dan turun mengikuti  siklus ekonomi tersebut. Problemnya, kita tidak bisa tahu secara persis kapan pasar saham akan naik atau turun. Jadi jika anda beli saham BRK lalu hold hingga setahun kedepan, dan ternyata kebetulan dalam waktu setahun itu Amerika mengalami krisis, maka anda hampir pasti akan rugi. Faktanya, meski saham BRK terus naik sejak Buffett mengambil alih perusahaan pada tahun 1965, namun sering juga terjadi saham BRK justru turun pada tahun-tahun tertentu.

Tapi jika anda komitmen untuk hold selama 5 tahun atau lebih lama lagi, maka testimoni dari pemegang saham lama di BRK menyebutkan bahwa mereka semuanya untung besar. Karena meski perekonomian Amerika naik turun secara random setiap tahunnya, terkadang pula dengan fluktuasi yang ekstrim, namun pada akhirnya ekonomi disana tetap tumbuh dalam jangka panjang, dan BRK mampu membukukan tingkat pertumbuhan yang lebih besar lagi.

Jadi kesimpulannya, menurut W. Buffett, yang dimaksud long term adalah minimal 5 tahun, namun kata minimaldisini harus digaris bawahi. Karena dalam banyak kasus, Buffett sendiri melalui BRK seringkali memegang aset-asetnya dalam waktu yang jauh lebih lama dibanding sekedar 5 tahun tadi. Contohnya See’s Candies, yang sudah diakuisisi BRK pada tahun 1972, alias 47 tahun yang lalu, dan sampai sekarang masih di-hold.
Lihatnya 10 Tahun Terakhir!
Di salah satu artikel di blog ini, penulis pernah mengatakan bahwa salah satu ciri saham yang bisa dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang adalah jika saham tersebut memang secara historis sudah naik signifikan, dalam hal ini sebanyak total 100% dalam lima tahun terakhir, belum termasuk dividen. Dalam hal ini kita harus mengabaikan pergerakan saham yang bersangkutan pada 1 atau 2 tahun tertentu/lihatnya tetap harus minimal 5 tahun terakhir. Contohnya, saham HM Sampoerna dari Mei 2018 hingga hari ini,justru turun dari 3,700-an ke 3,300-an, sehingga ada kesan bahwa sahamnya nggak bagus.
Padahal berdasarkan analisa fundamental secara menyeluruh, maka HMSP termasuk wonderful company yang ideal untuk investasi jangka panjang. Jadi kenapa sahamnya kok setahun terakhir ini malah turun? Nah, dalam hal inilah, seperti yang disebut diatas, kita jangan melihat pergerakan HMSP dalam setahun terakhir saja, tapi tetap minimal kita harus melihatnya dalam 5 tahun terakhir. Dan memang benar: Pada Mei 2014, atau lima tahun yang lalu, HMSP masih berada di posisi 2,500-an, sehingga total profitnya hingga hari ini masih cukup lumayan, sudah termasuk loss dalam setahun terakhir.
However, jika anda perhatikan lagi, maka untuk beberapa saham terutama yang tidak terlalu likuid, maka seringkali kita harus melihat historis pergerakan sahamnya lebih jauh dibanding sekedar 5 tahun, dalam hal ini selama 10 tahun terakhir. Contohnya? Ya saham Ultrajaya tadi: Jika kita melihat kenaikannya sejak tahun 2014, maka memang ULTJ tampak mengecewakan. Tapi jika kita lihat lagi kenaikannya sejak 2009, maka ketika itu ULTJ masih berada di level 150 – 170 (sesudah stocksplit), dimana jika dibandingkan dengan posisinya hari ini yakni 1,300-an, maka artinya ULTJ sudah memberikan profit sekitar 7 – 8 kali lipat dalam waktu 10 tahun, belum termasuk dividen. Sebagai perbandingan, pada Mei 2009, BBRI berada di 600-an, sehingga total profitnya hingga hari ini, berdasarkan harga sahamnya saat ini yakni 3,800, hanya sekitar 6 kali lipat belum termasuk dividen.
Dan fakta menarik lainnya adalah, dibanding BBRI yang dikenal low risk sekalipun, ULTJ ini bahkan lebih low risk lagi. Sekarang gini: Ketika IHSG sepanjang bulan Mei ini turun, maka BBRI juga ikut turun bukan? Dan penurunannya pun cukup signifikan/lebih dari 10%. Demikian pula ketika sepanjang tahun 2018 kemarin IHSG mengalami bearish berkepanjangan, maka BBRI juga drop dari 3,900 sampai 2,900. Problemnya, meski BBRI memang kemudian naik lagi ketika pasar pulih, tapi bagaimana jika anda kebetulan sudah masuk di harga yang tinggi? Apakah anda mampu untuk tidak panik, dan tetap komitmen untuk hold sahamnya untuk ‘jangka panjang’ ketika anda melihat BBRI drop sampai 3,000, sementara anda sudah pegang barangnya sejak di harga 4,000?? Faktanya, ada banyak investor yang rugi bukan karena mereka salah pilih saham dengan fundamental jelek, tapi cuma karena gak kuat saja menghadapi naik turunnya pasar, atau masuknya kebetulan persis sebelum pasar terkoreksi.

Tapi bagaimana jika anda belinya ULTJ? Well, mari kita lihat lagi: Ketika pada tahun 2018 kemarin IHSG sempat drop dari 6,600 sampai mentok di 5,600, demikian pula saham-saham pada hancur lebur semua, maka posisi terendah yang dicapai ULTJ di tahun 2018 tersebut adalah 1,120, atau hanya turun sedikit saja dibanding posisi tengahnya sepanjang setahun sebelumnya di level 1,200-an. Demikian pula ketika pasar saham mengalami crash tahun 2015 lalu, maka ULTJ ketika itu nyaris tidak bergeming di level 900-an. Ini artinya, ULTJ tidak hanya low risk dari sisi fundamental perusahaannya, tapi sahamnya juga kebal terhadap risiko fluktuasi pasar. Tapi bahkan dengan risiko yang lebih rendah dibanding saham sekelas BBRI sekalipun, ternyata profitnya malah lebih besar, tentunya dengan asumsi jika anda menjadikan kedua saham tersebut (BBRI dan ULTJ) sama-sama sebagai pegangan jangka panjang.
Kesimpulannya, ketika kita hendak membeli saham untuk tabungan jangka panjang, maka ketika kita melihat pergerakan historisnya, jangan cuma lihat 5 tahun terakhir, tapi coba lihat lagi dalam 10 tahun terakhir, atau bahkan 15 tahun terakhir. Selain ULTJ, silahkan nanti anda cek sendiri, ada banyak saham-saham kecil lainnya yang juga perform lebih baik dibanding BBRI dkk dalam 10 – 15 tahun terakhir, plus ‘bonus’ dividen yang juga tidak kalah besarnya.
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau misalnya kita kebetulan beli ULTJ ini di tahun 2014, kemudian tetap hold selama lima tahun sampai hari ini? Karena kalau dikatakan bahwa kita harus tunggu selama lima tahun lagi, maka juga gak ada jaminan bahwa profitnya dalam lima tahun berikutnya tersebut akan lebih besar bukan? Dan kedua, jangankan sepuluh tahun, pegang saham yang sama selama lima tahun itu juga gak gampang kan?? Apalagi di pasar saham Indonesia yang terkenal sangat fluktuatif. Jadi apakah ada strategi tertentu agar kita minimal tidak lagi terjebak dalam kondisi dimana kita hanya cuan 20% setelah lima tahun? Karena kalau dapetnya cuma segitu, mending taroh di deposito lah!
Kabar baiknya, memang ada strategi untuk itu, dan itulah yang akan kita bahas disini. Tapi berhubung artikel kali ini sudah cukup panjang, maka kita akan bahas strateginya di artikel berikutnya.
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Setelah Turun Terus, Inilah Valuasi IHSG Saat Ini

Jumat kemarin setelah pasar tutup, penulis ditelpon wartawan untuk dimintai komentar terkait valuasi IHSG yang ketika itu sudah drop signifikan ke level 5,827, namun menurut data Bloomberg PER-nya masih cukup tinggi yakni 18 kali. Sehingga ada kesan bahwa meski indeks memang sudah turun cukup dalam dibanding posisi tertingginya di tahun 2019 ini (dari 6,548 ke 5,828, berarti turun 11.0%), tapi secara kaidah value investing maka IHSG masih bisa turun lagi, karena saham-saham di BEI belum cukup murah untuk dibeli. Tapi benarkah demikian? Bahwa valuasi Bank BCA dkk sekarang ini masih pada mahal??

***
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya pada link berikut. Tersedia diskon bagi yang subscribe untuk 1 tahun.
***
Sebagai investor, kita tidak bisa memprediksi arah pasar/IHSG, atau naik turunnya saham tertentu. However, jika kita menemukan saham dari emiten dengan kinerja yang buruk, historis buruk, dan prospek yang juga suram dihargai pada PER 20 kali, misalnya, maka kita bisa katakan bahwa cepat atau lambat sahamnya akan turun. Demikian pula dengan IHSG, dimana jika valuasinya sedang tinggi maka sebaiknya kita minggir dulu, karena pasar akan berisiko tinggi untuk turun. Masalahnya, untuk menghitung valuasi suatu saham, dalam hal ini PER, PBV, dan dividend yield-nya, maka itu relatif mudah karena semua angka-angka yang dibutuhkan untuk perhitungannya sudah tersedia di laporan keuangan emiten yang bersangkutan. Tapi bagaimana jika kita hendak menghitung valuasi dari IHSG? Apakah ini artinya kita harus menghitung tiga indikator valuasi diatas dari 600-an emiten di bursa secara satu persatu kemudian diambil rata-ratanya, atau bagaimana??
Nah, actually memang itulah caranya: Untuk menghitung valuasi IHSG, alias rata-rata valuasi dari semua saham di bursa, maka anda harus menghitung PER, PBV, dan dividend yield dari kesemua saham yang ada, lalu ambil rata-ratanya. Kabar baiknya, anda tidak perlu melakukan itu karena sudah ada sejumlah institusi yang menghitungnya, lalu mempublikasikan hasil perhitungannya tersebut secara terbuka, contohnya Bloomberg tadi. Dan kalau penulis sendiri, biasanya kami lihat datanya langsung dari statistik harian BEI, di link berikut: https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/statistik/. Contohnya, pada hari Jumat, 17 Mei 2019, IHSG ditutup di posisi 5,827, dengan rata-rata PER-nya 15.6 kali, sedangkan rata-rata PBV-nya 2.2 kali.
Tampilan statistik harian IHSG untuk tanggal 17 Mei 2019, perhatikan bagian yang ditandai di sebelah kanan.

Catatan penting: Average PER adalah rata-rata PER dari semua saham di BEI. Sedangkan WA PER, atau weighted average PER, adalah juga rata-rata PER, namun perhitungannya memasukkan faktor bobot pengaruh berdasarkan market cap dari tiap-tiap saham. Contohnya, PER BBCA anggap saja 21 kali, sedangkan PER BBTN 7 kali. Maka average PER kedua saham tersebut adalah (21 + 7) / 2 = 14 kali. Untuk WA PER-nya, anggap saja market cap BBCA adalah sekitar 5 kali market cap BBTN, maka rumusnya menjadi: (21 x 5) + (7 x 1) / (5 + 1) = 18.7 kali. Untuk Average PBV dan WA PBV, cara ngitungnya juga sama begitu.
Dari informasi diatas maka akan timbul pertanyaan, kalo gitu kita liatnya yang mana? Average PER atau WA PER? Jawaban simpelnya gini, kalau anda lebih banyak ambil saham-saham second liner/small cap, maka lihatnya average PER. Tapi kalau anda banyak ambil saham-saham bluechip/big caps (BBCA dkk), maka lihatnya WA PER. Karena untuk WA PER ini, bobot perhitungannya dibedakan antara contohnya BBCA dengan BBTN tadi. WA PER biasanya angkanya lebih besar dibanding average PER, karena PER dari saham bluechip normalnya memang lebih tinggi dibanding PER dari saham-saham kecil (ada banyak saham-saham kecil dengan PER kurang dari 10 kali, atau bahkan hanya 5 kali, tapi penulis tidak pernah melihat BBCA dihargai pada PER 10 kali).
Valuasi Dari 10 Saham Big Caps
Nevertheless, data dari BEI diatas sekalipun sebenarnya sedikit diragukan, karena jika benar segitu angka rata-rata PER-nya, lalu kenapa Bloomberg atau institusi lainnya punya angka average PER yang berbeda? Kemudian ingat bahwa ada beberapa saham yang PER dan PBV-nya jauh diatas rata-rata saham lainnya, seperti Unilever (UNVR), HM Sampoerna (HMSP), Ace Hardware (ACES), Multibintang Indonesia (MLBI), hingga Mayora Indah (MYOR), dimana valuasi dari saham-saham premium ini tentunya mempengaruhi perhitungan average PER dan WA PER diatas, atau bahkan sangat mempengaruhi, karena beberapa diantaranya merupakan saham big caps. Sehingga Average PER yang ditampilkan di statistik harian BEI bisa jadi lebih tinggi (atau lebih rendah) dari yang seharusnya.
Karena itulah, penulis biasanya tetap menghitung kembali PER dan PBV dari tiap-tiap saham secara manual, untuk menilai apakah valuasi IHSG sudah cukup murah atau belum, terutama jika sedang terjadi koreksi pasar seperti sekarang. Dan apakah harus 600 saham kita cek semuanya? Ya nggak lah, melainkan cukup 10 saham dengan market cap terbesar di BEI saja. Sebab market cap dari 10 saham ini, yakni mulai dari Bank BCA hingga Indofood CBP, totalnya sudah mewakili 47.6%, atau hampir separuh dari total market cap semua saham di BEI. Kemudian, berbeda dengan emiten-emiten second liner yang perolehan laba bersihnya seringkali tidak stabil dari kuartal ke kuartal, sehingga PER-nya terkadang tampak rendah pada satu kuartal tertentu (karena labanya besar), tapi tiba-tiba menjadi tinggi pada kuartal berikutnya (karena labanya turun lagi), maka kinerja BBCA dkk jauh lebih konsisten, demikian pula PER-nya lebih stabil, sehingga kita bisa melihat PER tersebut sebagai salah satu indikator valuasi sahamnya (sementara untuk saham second liner, kita lebih banyak lihat PBV-nya saja).
Dan berikut adalah hasilnya.
No. Stocks Price Market Cap PER PBV Dividend (Rp) Dividend Yield (%)
1 BBCA 25,900 639 26.3 4.0 340 1.3
2 BBRI 3,790 467 14.2 2.4 131 3.5
3 HMSP 3,300 384 29.5 9.9 117 3.5
4 TLKM 3,510 348 14.0 3.3 168 4.8
5 BMRI 7,075 330 11.4 1.7 241 3.4
6 UNVR 41,600 317 45.4 35.0 915 2.2
7 ASII 6,700 271 13.0 1.9 154 2.3
8 GGRM 79,725 153 16.3 3.2 2,600 3.3
9 BBNI 8,100 151 9.2 1.3 207 2.6
10 ICBP 9,300 108 20.2 4.7 162 1.7

Catatan: Harga saham per penutupan pasar tanggal 17 Mei 2019. Laporan keuangan yang digunakan adalah untuk periode Kuartal I 2019. Market cap dalam trilyunan Rupiah. Dividen UNVR, GGRM, dan ICBP merupakan total dividen untuk tahun buku 2017, karena untuk tahun buku 2018, ketiga perusahaan masih belum mengumumkan pembayaran dividen. Dividen BBCA merupakan total dividennya untuk tahun buku 2018, yang terdiri dari dividen interim Rp85, dan dividen final Rp255 per saham.

Okay, sebelum kita bahas tabel diatas, ingat bahwa ke-sepuluh saham diatas memiliki karakter serta kualitas fundamentalnya masing-masing, sehingga valuasinya tidak bisa disetarakan satu saham lain. Contohnya, berdasarkan kinerja laporan keuangan, popularitas di masyarakat, likuiditas saham, dan ukuran market cap-nya, maka urutan ‘kelas’ big four banking adalah sebagai berikut: 1. BBCA, 2. BBRI, 3. BMRI, dan 4. BBNI. Ini artinya, dalam kondisi pasar sideways, bullish, ataupun bearish seperti sekarang, maka normalnya angka PER dan PBV BBCA akan selalu yang paling tinggi dibanding tiga saham bank lainnya. Jadi ketika PER BBCA tercatat 22 kali, misalnya, maka bisa jadi sahamnya sudah undervalue. Namun ketika PER BBNI mencapai 14 kali, maka mungkin sahamnya sudah overvalue.
Sekarang kita cek satu per satu. Sebagai numero uno bank di Indonesia, valuasi saham Bank BCA relatif tinggi tidak hanya dibanding saham bank besar lainnya, tapi juga dibanding semua saham-saham di BEI secara umum, dengan rata-rata PBV 4 – 4.5 kali, dan PER 25 kali. Pada titik-titik terendah koreksi pasar seperti tahun 2015 lalu, BBCA bisa drop sampai PER-nya menjadi sekitar 17 – 19 kali, dan PBV-nya 3.5 kali, sehingga untuk BBCA ini bisa katakan valuasinya saat ini masih dikisaran level wajarnya: Belum bisa disebut undervalue, tapi juga tidak terlalu mahal.
Untuk BBRI, pada puncak bearish pasar PER-nya bisa drop sampai 10 koma sekian kali, dan PBV-nya menjadi 1.7 – 1.9 kali. Jadi valuasi BBRI saat ini juga belum bisa disebut undervalue. Untuk HMSP, penulis kurang hafal dengan PER-nya, tapi PBV-nya selama ini berada dikisaran 12 – 14 kali, sehingga PBV 9.9 kali sejatinya mulai tampak seksi. Untuk TLKM, ini adalah salah satu saham dengan valuasi paling stabil di bursa, dimana PER-nya selama ini kokoh di level 14 – 16 kali, dan PBV-nya juga stabil di 3.5 – 4.0 kali. Namun dalam kondisi bear market, terkadang PER-nya bisa drop ke 11 – 13 kali, dan PBV-nya juga drop ke level 2.7 – 3.0 kali tapi belum pernah sampai dibawah itu, setidaknya dalam 5 tahun terakhir.
Untuk BMRI, patokannya adalah jangan beli sahamnya pada PER lebih dari 12 kali, dan PBV lebih dari 1.9 kali. Jadi sahamnya sekarang sudah relatif agak murah, tapi masih bisa menjadi lebih murah lagi karena dalam kondisi pasar yang benar-benar rendah, PER BMRI bisa tembus dibawah 10 kali. Untuk UNVR, biasanya PER-nya mencapai 50 kali, dengan PBV 40 kali. Jadi harga sekarang juga relatif murah meski, seperti halnya BMRI, sahamnya masih bisa menjadi lebih murah lagi. Untuk ASII, ini patokannya paling gampang: Sahamnya sudah bisa dicicil jika PER-nya dibawah 14 kali, dan PBV-nya dibawah 2.0 kali. Dan pada saat ini, ASII memang sudah berada di buying range-nya.
Okeh, lanjut. Untuk GGRM, dalam kondisi pasar normal biasanya PER-nya di level 16 kali, dengan PER 3.0 kali atau lebih. Jadi sahamnya belum masuk kategori undervalue, tapi juga sudah tidak lagi mahal. Untuk BBNI, worst scenario-nya adalah sahamnya drop hingga PER-nya menjadi 7 – 8 kali, dan PBV-nya 1.0 – 1.2 kali, tapi itu hanya akan terjadi jika pasar mengalami koreksi yang parah, yakni jika IHSG drop lebih dari 20% dari puncaknya, seperti tahun 2015 lalu. Diluar itu, asal PER-nya dibawah 9.0 kali maka sudah boleh dicicil, jadi tinggal tunggu sedikit lagi. Terakhir, untuk ICBP, seperti kebanyakan saham consumer goods berfundamental dan bereputasi bagus lainnya, maka valuasi wajarnya adalah pada PER 20 – 25 kali, dan PBV 4.5 – 5.0 kali. Jadi harganya saat ini terbilang wajar, alias bisa turun ke level undervalue jika koreksi pasar berlanjut.
Kemudian yang menarik adalah dividend yield dari ke-10 saham diatas. Jadi begini: Berbeda dengan PER dan PBV dimana setiap saham diatas punya standar-nya masing-masing (cara mengeceknya bisa dengan melihat lagi PER dan PBV historis mereka dimasa lalu, baik itu dalam kondisi pasar mendatar, naik, atau turun), maka untuk dividend yield ini kita bisa pake patokan yang sama: Sebuah saham bluechip bisa dikatakan murah jika yield-nya berada di level 2.5 – 3%, atau lebih tinggi lagi. Jadi kalau berdasarkan dividend yield ini, maka saham-saham big caps di BEI relatif sudah murah semua, atau minimal berada di valuasi wajarnya.
Hanya saja kalau kita lihat lagi angka-angka PER dan PBV diatas, maka meski sejumlah saham sudah berada sedikit dibawah level harga wajarnya (ditandai dengan angka berwarna biru), tapi secara historis, mereka masih bisa turun ke level yang lebih murah lagi. Tapi jika dikatakan bahwa ‘IHSG masih mahal’, maka berdasarkan valuasi dari ke-10 saham diatas, itu tidak tepat. Kalau lihat IHSG sebulan lalu di level 6,400-an, maka mungkin iya ketika itu IHSG masih mahal. Tapi untuk saat ini valuasi IHSG sudah lebih dekat ke level wajarnya, dan khusus untuk saham-saham tertentu bahkan sudah masuk ke level undervalue-nya.
Oke Pak Teguh, jadi apa ini artinya IHSG sekarang ini sudah cukup rendah, dan gak akan turun lebih lanjut? Well, kalau perbandingannya titik terendah koreksi pasar di tahun 2015, atau koreksi tahun 2018 kemarin, maka posisi IHSG sekarang ini masih tanggung sebenernya, alias bisa saja turun labih lanjut, karena memang valuasi BBCA dkk juga belum benar-benar undervalue. Namun harus diingat pula bahwa saham-saham super diatas baru akan dijual oleh investor yang panik pada harga obralan jika terjadi isu sosial ekonomi politik yang serius, entah itu dari dalam maupun luar negeri. Contohnya seperti semester II tahun 2015 lalu dimana Indonesia hampir saja jatuh krisis. Diluar itu, BBCA dkk hanya akan turun ke level yang sedikit dibawah level wajarnya saja, sebelum kemudian dia akan naik lagi.
Jadi soal bagaimana arah IHSG kedepannya, maka itu akan ditentukan oleh perkembangan dari isu-isu yang beredar di pasar, dimana perkembangan ini bisa positif, bisa juga negatif. Tapi yang jelas, IHSG saat ini sudah tidak lagi mahal, meski juga belum terlalu murah (dan memang sejauh penulis perhatikan, belum ada kepanikan berarti di pasar). Jadi bagi anda yang sudah mengincar Bank BRI untuk tabungan jangka panjang, misalnya, maka jika kemarin-kemarin kita disarankan untuk hold cash dulu, sekarang sudah boleh nyicil, karena kalau tunggu di katakanlah harga 3,000, maka ujungnya bisa saja anda gak dapet barang sama sekali. Termasuk untuk saham-saham second liner juga udah banyak yang dijual pada harga diskonan. Sementara jika horizon investasi anda lebih pendek, maka boleh wait n see dulu tapi juga jangan lagi berpikir untuk jualan, it’s already too late.
And btw karena artikelnya kali ini cukup panjang, maka untuk menghindari misinterpretationcoba baca lagi dari awal, dan kali ini bacanya pelan-pelan yap.
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya pada link berikut. Tersedia diskon bagi yang subscribe untuk 1 tahun.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek United Tractors Setelah Akuisisi Tambang Emas

Pada tanggal 4 Desember 2018, PT United Tractors, Tbk (UNTR) mengumumkan bahwa perusahaan telah menyelesaikan proses akuisisi 95% saham PT Agincourt Resources (PTAR), pemilik dan pengelola Tambang Emas Martabedi Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Jadi dengan demikian UNTR sekarang punya lima segmen usaha yakni penjualan alat-alat berat, kontraktor tambang, tambang batubara, usaha konstruksi, dan tambang emas, dimana dua segmen yang disebut terakhir baru bergabung dengan UNTR dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, berbeda dengan kontribusi usaha konstruksi-nya yang masih sangat kecil, usaha tambang emas UNTR sukses menyumbang laba bersih sebelum pajak sebesar Rp665 milyar pada Kuartal I 2019, atau 16% dari total laba sebelum pajak perusahaan.
***
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya pada link berikut. Tersedia diskon bagi yang subscribe untuk 1 tahun.
***
Lalu seperti apa sebenarnya Tambang Emas Martabe ini? Seberapa besar cadangan emasnya? Dan apakah dengan akuisisi ini kinerja UNTR kedepannya akan tidak lagi tergantung pada fluktuasi harga batubara?
Profil Tambang Emas Martabe
Kalau kita bicara tambang emas, maka kebanyakan orang taunya Freeport di Papua, dan Newmont di Nusa Tenggara Timur, dan itu tidak salah karena memang dua itu merupakan tambang emas terbesar di Indonesia. Malahan, dengan cadangan emas sebesar 30.2 juta ounce (oz), dan volume penjualan emas sebesar 2.4 juta oz pada tahun 2018, maka Tambang Emas Grasberg milik PT Freeport Indonesia bisa dinobatkan sebagai tambang emas terbesar di dunia.
Tapi tidak banyak yang tahu bahwa Pulau Sumatera juga punya cadangan emas yang besar di Martabe, tepatnya sebesar 4.5 juta oz per akhir tahun 2018, yang bisa meningkat menjadi 8.1 juta oz seiring dengan berlanjutnya proses eksplorasi. Secara volume produksi dan penjualan, maka dengan volume penjualan sebesar 97 ribu oz per Kuartal I 2019, atau 388 ribu oz jika disetahunkan, maka volume produksi Martabe memang kalah jauh dibanding Grasberg, tapi ingat bahwa Martabe baru berproduksi pada tahun 2012, alias masih sangat baru dibanding Grasberg yang sudah digali sejak tahun 1960-an, sehingga potensi jangka panjangnya masih terbuka lebar. Dan mungkin karena itu pula, selain membayar US$ 918 juta untuk harga akuisisinya (ke pemilik PTAR sebelumnya, yakni Agincourt Resources Pte Ltd), UNTR juga menyuntik modal kerja dalam bentuk pinjaman ke PTAR senilai US$ 325 juta, yang tentu saja bertujuan agar PTAR bisa mempercepat pekerjaan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru, sekaligus meningkatkan volume produksinya. Kalau melihat karakter Grup Astra yang langsung gerak cepat setelah mereka masuk ke industri tertentu, misalnya ketika mereka masuk ke industri properti tahun 2016 dan tiba-tiba saja sekarang sudah berdiri Menara Astra di Jalan Jend. Soedirman, Jakarta, maka harusnya untuk PTAR ini juga tidak akan butuh waktu lama untuk tancap gas.
Sayangnya manajemen UNTR belum mau bicara prospek jangka panjang terkait ‘mainan’ barunya diatas, namun berikut adalah dua fakta penting terkait akuisisi mereka terhadap Martabe. Pertama, UNTR mengeluarkan total sekitar US$ 1.24 milyar untuk mengakuisisi dan memberi suntikan modal untuk PTAR, dimana sekitar US$ 900 juta diantaranya berasal dari utang bank, namun bunganya sangat rendah yakni hanya 4 – 5% per tahun. Alhasil laba bersih UNTR dari usaha tambang emas-nya terbilang bersih dari beban bunga utang, dimana dari pendapatan sebesar Rp1.9 trilyun pada Kuartal I 2019, diperoleh laba sebelum pajak Rp665 milyar. Margin laba sebesar 35% ini jauh lebih besar dibanding margin usaha inti perusahaan, yakni distribusi alat-alat berat dan kontraktor tambang.
Dan kedua, PTAR membukukan laba bersih US$ 51.6 juta pada Kuartal I 2018, atau US$ 207 juta jika disetahunkan, dimana laba tersebut naik dari US$ 151 juta di tahun 2017, dan US$ 121 juta di tahun 2016 (laba perusahaan meningkat saban tahun seiring kenaikan volume produksi). Dengan harga akuisisi US$ 918 juta, dan dengan asumsi bahwa laba PTAR akan terus bertumbuh dengan rate pertumbuhan yang sama sejak tahun 2016, maka UNTR bakal balik modal dalam waktu sekitar 3 – 4 tahun saja, bahkan bisa lebih cepat jika PTAR sukses mempercepat peningkatan volume produksi. Atau dengan kata lain, harga akuisisinya terbilang wajar, jika tidak mau dikatakan undervalue.
Kemudian, dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap usaha batubara, sejatinya UNTR sejak tahun 2015 lalu sudah masuk ke konstruksi dengan mengakuisisi PT Acset Indonusa, Tbk (ACST), mengakuisisi perusahaan tambang emas PT Sumbawa Jutaraya, dan pada tahun 2017 membangun pembangkit listrik di Jepara, Jawa Tengah. Sayangnya pembangkit listriknya masih dalam tahap konstruksi (baru akan selesai tahun 2021), demikian pula PT Sumbawa masih belum berproduksi, dan untuk ACST malah tekor. Jadi dengan masuknya Martabe sebagai aset baru perusahaan, maka barulah kali ini UNTR bisa berharap bahwa kinerja perusahaan tidak akan lagi terlalu bergantung pada naik turunnya harga batubara internasional.

Kesimpulannya, UNTR di tahun 2019 ini baru saja memperoleh sumber income baru yang sudah menghasilkan, pada harga akuisisi yang murah, dan masih bisa dikembangkan hingga volume produksinya akan menjadi lebih besar lagi di masa yang akan datang. Mungkin perlu juga dicatat bahwa seperti halnya kita investor ritel seringkali sulit ketemu peluang investasi yang bagus pada harga saham yang murah, maka bagi grup-grup besar seperti Astra, tidak segampang itu juga mereka bisa menemukan peluang investasi yang bagus seperti di Martabe ini. Jadi dalam hal ini bisa kita katakan bahwa Grup Astra beruntung, karena sejatinya Tambang Martabe ini sudah jadi rebutan banyak grup konglomerasi baik dari dalam maupun luar negeri, sejak lokasi tambangnya dieksplorasi untuk pertama kalinya pada tahun 2008 lalu. Dan meski untuk saat ini kontribusi laba bersih dari PTAR memang belum signifikan, yakni masih kurang dari 20% dari laba UNTR secara keseluruhan, namun mengingat PTAR masih dalam momentum pertumbuhan volume produksi emas-nya setiap tahun, dan harga emas itu sendiri jauh lebih stabil dibanding harga batubara (lima tahun terakhir stabil di US$ 1,200 – 1,300 per oz, dan berbeda dengan mineral lainnya, dalam jangka panjaaaang maka harga emas senantiasa naik), maka terdapat peluang bahwa dalam beberapa tahun mendatang, UNTR akan lebih dikenal sebagai perusahaan tambang emas ketimbang batubara. Dan untungnya kita sedang bicara Grup Astra disini, bukan Bakrie atau semacamnya. Jadi jika nanti UNTR beneran untung besar dari tambang emas-nya, maka keuntungan itu akan tercermin di laporan keuangannya, kemudian perusahaan akan membayar dividen lebih besar kepada investor, dan sahamnya akan naik.
Saatnya Beli UNTR?
Okay Pak Teguh, jadi apa ini artinya kita langsung sikat saja UNTR ini? Karena kebetulan harganya juga sudah turun banyak jika dibanding posisi tertingginya setahun lalu? Well, tentunya masih ada beberapa hal lagi yang harus diperhatikan. Pertama, untuk saat ini UNTR masih merupakan coal-related company, dimana perusahaan masih perlu waktu untuk mengembangkan Tambang Martabe hingga kontribusinya menjadi benar-benar signifikan. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan perusahaan minyak, Medco Energi Internasional (MEDC), yang pada tahun 2016 lalu sukses mengakuisisi Newmont Nusa Tenggara (NNT), sehingga diharapkan bahwa MEDC kedepannya tidak akan lagi bergantung pada usaha minyaknya. Tapi entah apa masalahnya, di tangan Medco, NNT hanya menjual 70,900 oz emas sepanjang tahun 2018, alias jauh lebih kecil dibanding Martabe, padahal NNT ini lebih besar. Dan alhasil kinerja MEDC tetap tergantung pada usaha minyaknya.
Jadi skenario terburuknya adalah, setelah beberapa tahun, emas yang dihasilkan dari Tambang Martabe tetap tidak mampu menggeser batubara/kontraktor batubara sebagai sumber income utama bagi perusahaan. Actually, ini adalah risiko skenario yang masih bisa diterima, dimana dengan skenario ini artinya bahwa UNTR akan tetap menjadi perusahaan batubara seperti sekarang, sedangkan UNTR pada saat ini masih bisa dikatakan sebagai salah satu perusahaan batubara terbaik di bursa, dan UNTR juga tidak menghadapi risiko harus melakukan restrukturisasi utang atau semacamnya. Karena pasca akuisisinya terhadap Martabe, debt to equity ratio-nya masih konservatif di level 1 kali. Tapi intinya adalah, UNTR belum bisa disebut sebagai perusahaan tambang emas karena porto terbesarnya masih di coal-related business, sama seperti Berkshire Hathaway gak bisa disebut sebagai perusahaan teknologi hanya karena Opa Warren masuk ke Apple dan Amazon, karena porto terbesarnya masih di consumer, perbankan, dan asuransi.
Dan kedua, dengan PBV 1.7 kali pada harga 26,200, maka valuasi UNTR sejatinya masih tanggung, dimana sahamnya bisa bertahan di level tersebut karena kinerja terbarunya masih bagus saja, dan harga batubara sendiri membal lagi setelah kemarin sempat menyentuh level US$ 80 per ton (yang memang, kalau anda baca-baca lagi tulisan lama di blog ini, maka itulah perkiraan harga normal untuk batubara). Namun jika tekanan yang terjadi pada saham-saham batubara lain dalam beberapa bulan terakhir ini terus berlanjut (karena laba bersih PTBA dkk memang turun semua di Kuartal I 2019), maka UNTR bisa ikut turun meski harusnya gak akan banyak turunnya, mungkin ke 23,000-an.
Kesimpulannya, meski UNTR menawarkan prospek menarik, tapi waktu terbaik untuk masuk kemungkinan bukan sekarang, melainkan kita harus lihat dulu perkembangannya barang beberapa bulan. Sebenarnya terkait prospek tambang emas ini, maka selain cerita MEDC yang ‘gagal’ diatas, atau J Resources Asia Pasifik (PSAB) dan Aneka Tambang (ANTM) yang entah kenapa laba bersihnya sangat minimalis (atau bahkan rugi), maka ada juga perusahaan tambang emas yang sukses dimana produksi emasnya langsung buanyak, dan labanya juga jumbo, yakni Merdeka Copper Gold (MDKA). Tapi sayangnya sahamnya sudah naik banyak plus valuasinya sudah premium, dan masuknya juga susah karena sahamnya gak likuid. Jadi pada akhirnya terkait prospek gold rush ini maka UNTR tetap merupakan pilihan terbaik, tinggal soal timing-nya saja.
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya pada link berikut. Tersedia diskon bagi yang subscribe untuk 1 tahun.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bank Jatim: Big Dividend No More??

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, atau biasa disebut Bank Jatim (BJTM) sudah merilis laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2019, dimana perusahaan melaporkan laba bersih Rp405 milyar, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp376 milyar. Namun yang menarik adalah, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, manajemen BJTM baru menggelar RUPS untuk tahun fiskal 2018 (dimana RUPS-nya termasuk membahas soal dividen) pada hari Jumat, 26 April kemarin, sehingga perusahaan baru akan membayar dividen dalam waktu dekat ini, dan dividend payout ratio-nya (DPR) tidak lagi sebesar sebelumnya, yakni hanya 54.3% dari total laba bersih sepanjang tahun 2018 (biasanya dividen BJTM mencapai 60 – 70% labanya). Jadi apakah dengan demikian BJTM sudah tidak bisa lagi dikategorikan sebagai ‘dividend stock’?

***

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya pada link berikut.

***
BJTM, sesuai namanya, adalah bank daerah milik Pemprov Jawa Timur yang sudah berdiri sejak tahun 1961, dan saat ini merupakan bank kategori buku 3 (atau bisa juga disebut bank kelas menengah, mengingat berdasarkan kriteria Bank Indonesia, ada 4 kategori buku bank di Indonesia, dengan buku 4 merupakan yang terbesar) dengan ekuitas Rp8.9 trilyun per Kuartal I 2019, dengan total 1,684 unit kantor cabang dan e-channel yang tersebar tidak hanya di Jawa Timur, tapi juga di Jakarta dan Batam. Seperti kebanyakan bank daerah lainnya, konsumen dan kelompok nasabah terbesar BJTM adalah PNS, pensiunan, dan masyarakat setempat di Jawa Timur, namun BJTM juga bermain di kredit mikro/UMKM, dimana BJTM dalam hal ini diuntungkan karena beroperasi di salah satu provinsi dengan kualitas ekonomi dan sumber daya manusia paling tinggi di Indonesia. Dan mungkin karena itulah kinerja perusahaan terbilang cukup baik, bahkan meski manajemennya rada-rada gimana gitu (banyak cerita fraud yang dilakukan oleh karyawan BJTM, termasuk NPL gross BJTM juga terbilang tinggi, meski kedua problem ini pelan-pelan terus diperbaiki). Pada akhir tahun 2011, yakni sebelum perusahaan IPO, BJTM membukukan total aset Rp24.8 trilyun, ekuitas Rp3.2 trilyun, dan laba bersih Rp860 milyar. Dan pada hari ini, aset perusahaan sudah melonjak ke level Rp63.1 trilyun, ekuitas Rp8.9 trilyun, dan laba bersih Rp1.6 trilyun jika disetahunkan. Dengan ROE yang konsisten di level 15 – 20% per tahun, maka BJTM bisa dinobatkan sebagai salah satu emiten paling profitable yang listing di BEI.

Nevertheless, jika dibandingkan dengan big four banking yakni Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BCA, dan Bank BNI, maka pertumbuhan riil BJTM dalam jangka panjang terbilang kurang memuaskan, dan penyebabnya cukup jelas: Jika keempat emiten perbankan diatas membayar dividen dengan DPR yang wajar, yakni sekitar 30 – 40% laba bersihnya setiap tahun, maka BJTM membayar dividennya jauh lebih besar, pernah dengan DPR mencapai 80%. Kecilnya nilai laba yang diinvestasikan kembali membuat pertumbuhan organik BJTM menjadi sangat lambat dari tahun ke tahun, sementara disisi lain manajemen juga gak pernah kedengaran melakukan pertumbuhan yang anorganik/akuisisi perusahaan lain atau mengembangkan usaha baru, melainkan hanya menjalankan bisnis perbankan yang sudah ada saja. Kurang menariknya prospek jangka panjang perusahaan juga mungkin menyebabkan investor tidak pernah menghargai sahamnya pada valuasi yang terlalu tinggi, dimana sejak dulu PBV BJTM hanya mondar mandir di kisaran 0.9 – 1.2 kali, atau jauh lebih rendah dibanding PBV BBRI dkk. Namun disisi lain, rendahnya valuasi BJTM tersebut menyebabkan sahamnya tetap layak buy, karena fundamentalnya gak bisa disebut jelek juga.
Karena itulah, sejak dulu penulis tidak pernah mengambil BJTM untuk jangka panjang, bahkan meski sahamnya sejatinya naik lumayan (lima tahun lalu BJTM di posisi 430, sekarang sudah 690), melainkan kita lebih suka membelinya pada akhir tahun tertentu, dengan harapan bahwa sahamnya akan naik banyak menjelang pembagian dividen pada awal tahun berikutnya, dimana kenaikannya biasanya akan lebih besar dibanding nilai dividen itu sendiri. Dan memang pada akhir tahun 2018 kemarin, BJTM naik dari level 610 di bulan Oktober hingga tembus 750 pada Januari 2019, naik Rp140 per saham dalam waktu 3 bulan, atau sudah lebih besar dibanding ketika terakhir BJTM membayar dividen Rp44 per saham pada Februari 2018. Dengan cara inilah profitnya jadi lebih besar (dan juga waktu tunggunya lebih singkat), dibanding jika hold sahamnya untuk jangka panjang. Terkait strategi meraup cuan jangka pendek dari saham-saham dividen, bisa dibaca lebih lengkap disini.
BJTM untuk investasi jangka panjang?
However, untuk tahun 2019 ini ternyata ceritanya sedikit berbeda: Memasuki bulan Februari, manajemen BJTM tidak kunjung mengumumkan dividen, tapi entah investor salah info bahwa dividen itu sudah dibayar atau gimana (karena di tahun-tahun sebelumnya, BJTM memang hampir selalu membayar dividen pada Februari), BJTM kemudian tetap turun lagi, hingga sempat menyentuh 640 pada pertengahan Maret kemarin. Dan ketika sekarang dividen itu akhirnya diumumkan, maka ada dua fakta menarik. Pertama, seperti yang disebut diatas, DPR-nya hanya 54.3%, sehingga nilai laba yang diinvestasikan kembali (atau disebut juga ‘cadangan umum’) kali ini cukup besar yakni Rp576 milyar, atau 7.8% dari ekuitas perusahaan per akhir tahun 2017 (sehingga bisa dikatakan bahwa pertumbuhan riil BJTM sepanjang 2018 adalah 7.8%, net dividen). Ini berarti, jika diatas disebutkan bahwa pertumbuhan jangka panjang BJTM terbilang lambat, maka untuk kedepannya terdapat peluang bahwa BJTM akan tumbuh lebih cepat, sehingga mungkin kali ini sahamnya bisa dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang/tidak lagi hanya dibeli menjelang musim dividennya. Karena disisi lain, berdasarkan pemaparan manajemen di laporan tahunannya, mereka saat ini tengah berinvestasi besar-besaran di bidang digital banking (mobile banking, i-banking, virtual account, e-channel, fintech, dst), yang itu artinya manajemen tidak lagi hanya ‘menjalankan bisnis yang sudah ada saja’.
Kemudian kedua, meski DPR BJTM sekarang lebih kecil, namun nilainya secara per lembar saham masih cukup besar yakni Rp45.6 per saham, sehingga yield-nya juga masih cukup tinggi yakni 6.6% pada harga saham 690. Berdasarkan pengalaman, saham dengan dividend yield diatas 5% rawan untuk turun lagi setelah tanggal cum dividen-nya, atau bahkan setelah dividen itu diumumkan (jadi sahamnya sudah turun sebelum tanggal cum-nya), dan dengan penurunan yang lebih besar dari nilai dividen itu sendiri. Ini juga kenapa untuk BJTM ini kita biasanya gak ambil dividennya/sahamnya sudah dijual sebelum tanggal ex cum-nya.
Tapi untuk tahun 2019 ini, bukankah BJTM memang sudah turun pada bulan Februari kemarin? Dimana posisinya hari ini juga masih lebih rendah dibanding posisi tertingginya di bulan Januari. Jadi apakah dia nanti tetap akan turun lagi setelah tanggal cum-nya? Dan kalau dia beneran turun, maka apakah BJTM baru akan naik lagi menjelang musim dividen berikutnya pada akhir tahun 2019 nanti (ini skenario terburuk, jadi kita rugi waktu), atau dia tetap akan naik lagi dalam waktu dekat karena laporan keuangannya untuk Kuartal I 2019 sudah confirm bagus??
Sudah tentu, kesemua pertanyaan diatas baru bisa terjawab nanti setelah tanggal cum dividen BJTM itu sendiri sudah lewat, jadi dalam hal ini lebih baik jika kita membandingkan risk and reward-nya saja, yakni kalau anda tertarik (atau sudah memegang) BJTM ini: Skenario terbaiknya, BJTM tidak turun, atau turun sejenak tapi tak lama kemudian langsung naik lagi, dimana dalam hal ini kita jadi seperti dapet dividen gratis, belum termasuk capital gain jika BJTM kemudian naik pelan-pelan dalam jangka waktu setahun kedepan, yakni jika investor akhirnya menyadari bahwa kali ini BJTM menawarkan prospek jangka panjang yang lebih baik. Sedangkan skenario terburuknya ya itu tadi: BJTM turun, dan dia baru naik lagi sekitar 6 – 9 bulan dari sekarang. Tapi bahkan pada skenario terburuk inipun, kita masih cuan sekitar 4% dari dividennya. Kemudian ingat bahwa jika kita menjual BJTM lalu dananya dialihkan ke saham lain, maka juga tidak ada jaminan bahwa saham lain tersebut akan menghasilkan profit/bisa saja malah rugi, sehingga dalam hal ini risk untuk BJTM bisa diterima.
Jadi kesimpulannya? Well, silahkan anda simpulkan sendiri!
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, Tbk
Rating Kinerja pada Q1 2019: AA
Rating saham pada 690: A

Disclosure: Ketika artikel ini diposting, Avere sedang dalam posisi memegang BJTM di harga rata0rata 690. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning – Kuartal I 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Ebooknya saat ini sudah terbit, dan anda bisa langsung memesannya disini.

Potongan halaman dari daftar isi ebook sebelumnya, klik gambar untuk memperbesar

Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor profesional adalah membuat investment planning, dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan itu bahkan belum termasuk diskon jika anda berlangganan ebooknya secara jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, pioneer metode value investing dalam berinvestasi saham di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 

Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

-Renaldi [...]

Prospek Saham Konstruksi Setelah (Hasil) Pilpres

Dalam dua tahunan terakhir, ada satu sektor yang kinerja fundamental para emitennya sebenarnya cukup bagus, atau bahkan sangat bagus, namun saham-saham di sektor ini justru turun seiring dengan ketidak pastian prospek jangka panjangnya. Yup, anda mungkin sudah tahu sektor tersebut: Konstruksi, terutama konstruksi BUMN. Jika bicara kinerja, maka seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah, Waskita Karya (WSKT) membukukan kenaikan ekuitas serta laba yang signifikan sejak tahun 2015 lalu. Namun perkembangan politik didalam negeri dalam satu dua tahunan terakhir membuat investor ragu bahwa pemerintahan saat ini akan berlanjut di periode selanjutnya, dimana skenario terburuknya adalah pembangunan infra akan berhenti, sehingga masa panen raya WSKT dkk juga akan berakhir.
Jadi ketika hasil quick count Pilpres hari Rabu kemarin mengkonfirmasi bahwa tidak terjadi perubahan Pemerintahan, maka hasilnya mudah ditebak: Kamis ini saham-saham konstruksi naik rata-rata 2 – 4%. Sebenarnya jika kita lihat lagi pergerakan konstuksi sejak titik terendah koreksi pasar di tahun 2018 kemarin, tepatnya di bulan Oktober, maka Adhi Karya dkk sudah naik cukup banyak, beberapa diantaranya hingga diatas 100%, yang mungkin karena pelaku pasar sedikit banyak sudah bisa membaca hasil Pilpres-nya sebelum pilpres itu sendiri digelar (seperti sepakbola, dimana sebelum Barcelona ketemu Manchester United di Camp Nou, maka sudah ada prediksi diatas kertas bahwa besar kemungkinan Barca bakal menang). Namun jika dihitung dari posisi mereka dua atau tiga tahun lalu, maka harga saham-saham konstruksi saat ini terbilang masih rendah, masih jauh dibawah posisi tertinggi yang pernah mereka capai.
Thus, pertanyaannya sekarang, kemana arah saham-saham konstruksi selanjutnya? Nah dalam hal ini kita harus melihatnya dari dua sisi: Analisis fundamental seperti biasa, dan analisa sentimen terkait hasil pemilu/pilpres itu sediri. Okay, kita mulai dari analisis fundamental terlebih dahulu.
Secara kinerja, didorong oleh meningkatnya perolehan kontrak sipil, sektor konstruksi menikmati pertumbuhan yang sangat signifikan dalam 5 tahun terakhir, dimana nilai aset bersih serta laba bersih mereka pada tahun 2018 kemarin semuanya melompat dibanding tahun 2014 (kenaikannya mencapai ratusan persen). Berikut data selengkapnya. Sebelumnya catat bahwa meski ekuitas beberapa emiten tampak skyrocketted, tapi itu adalah karena mereka juga menggelar right issue/IPO, sehingga dalam hal ini lebih penting untuk melihat data pertumbuhan laba bersih. Angka dalam milyaran Rupiah, kecuali growth dalam persen. Data diurutkan berdasarkan data ekuitas di tahun 2018 (dari besar ke kecil).
Companies
Equity 2014
Equity 2018
Growth (%)
JSMR
11.021
20.199
83,3
WSKT
2.759
18.001
552,4
PTPP
2.335
16.316
598,8
WIKA
3.906
14.804
279,0
WSBP
702
7.882
1.022,6
ADHI
1.745
6.285
260,3
WTON
2.205
3.064
39,0
WEGE
196
2.137
990,1
Companies
Net Earnings 2014
Net Earnings 2018
Growth (%)
JSMR
1.422
2.203
54,9
WSKT
472
4.252
801,1
PTPP
533
1.502
181,6
WIKA
641
1.730
170,0
WSBP
140
1.103
686,5
ADHI
327
645
97,5
WTON
330
486
47,5
WEGE
66
444
576,4
Okay, sekarang kita analisa. Sebelumnya, sebuah perusahaan bisa dikatakan bagus, dan juga bisa dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang, jika dia bisa membukukan kenaikan ekuitas (kenaikan yang murni karena akumulasi laba, jadi bukan karena right issue atau lainnya) sebesar total 100% dalam 5 tahun, lebih baik lagi jika selama 5 tahun tersebut perusahaan tersebut membayar dividen dalam jumlah yang normal (sebesar 30 – 40% dari labanya per tahun), sehingga investor tidak hanya menikmati capital gain, tapi juga cash gain dari dividen yang mereka terima.
Namun untuk sektor konstruksi dalam 5 tahun terakhir ini, maka pertumbuhan mereka rata-rata jauh lebih besar dari itu, termasuk jika kita kurangi dana hasil IPO/right issue-nya, maka persentase kenaikannya tetap signifikan, padahal mereka juga rutin bayar dividen (emiten BUMN, kecuali jika mereka merugi, maka pasti bayar dividen). Demikian pula dengan laba bersih mereka, semuanya terbang terutama WSKT, dan ini selaras dengan kondisi di lapangan dimana WSKT memang menjadi konstruktor yang paling banyak menerima kontrak pembangunan jalan tol dll dalam 5 tahun terakhir.
Problemnya, kita tahu bahwa bisnis konstruksi bukanlah bisnis yang setiap hari ada jalan tol baru yang harus dibangun, melainkan bisa saja konstruktor tertentu gak memperoleh kontrak anyar selama berbulan-bulan/beberapa tahun. Dengan kata lain, kinerja apik sektor konstruksi dalam 5 tahun terakhir tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan tumbuh sebesar itu juga dalam 5 tahun yang akan datang, bahkan meski tidak terjadi perubahan di Pemerintahan. Jadi karena itulah, penulis sengaja mengurutkan tabel diatas berdasarkan posisi ekuitas terbaru perusahaan, dimana emiten konstruksi dengan ekuitas yang lebih kecil tentu berpeluang untuk kembali tumbuh signifikan, dibanding emiten dengan ekuitas yang sudah terlanjur besar. Contohnya JSMR, jika kita berharap bahwa perusahaan akan membukukan kenaikan ekuitas sebesar 50%, maka mereka harus bisa menghasilkan akumulasi laba bersih net dividen sebesar Rp10 trilyun sekian, dan itu tentu berat mengingat laba bersihnya setahun cuma Rp2.2 trilyun. Sedangkan jika WEGE hendak membukukan persentase kenaikan yang sama, maka perusahaan cukup mencetak akumulasi laba net dividen Rp1 trilyun sekian, relatif lebih mudah mengingat laba WEGE setahun mencapai Rp444 milyar.

Meski sudah naik cukup banyak, namun ekuitas WEGE masih jauh lebih kecil dibanding ekuitas emiten konstruksi BUMN lainnya.
‘Analisa Sentimen’ Sektor Konstruksi
Terlepas dari kinerja fundamentalnya yang sejatinya sangat meyakinkan, namun seperti yang disebut diatas, pergerakan saham di sektor ini justru lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen-sentimen yang beredar ketimbang kinerja laba bersih si emiten itu sendiri. Dan kalau anda perhatikan lagi, WSKT dkk sebenarnya memang naik banyak sejak 2014, yakni ketika Pemerintah mulai merealisasikan pembangunan infra, tapi kemudian balik arah dan turun sejak tahun 2017 lalu, tepatnya bulan April, ketika itu karena asing net sell gila-gilaan di sektor ini. Karena pada bulan April 2017 tersebut terjadi peristiwa politik yang signifikan dan menjadi perhatian dunia, yakni Pilkada DKI Jakarta dimana calon gubernur petahana ternyata kalah (padahal kinerja si cagub ini diakui sangat baik, termasuk oleh kubu lawan politiknya), maka muncul teori yang cukup masuk akal, bahwa hasil Pilkada DKI inilah yang menyebabkan investor menjadi not sure dengan prospek jangka panjang sektor konstruksi. Karena hasil pilkada tersebut otomatis menjadi cermin bagi Pilpres dua tahun berikutnya (tahun 2019 ini), dimana jika sebelumnya semua orang optimis bahwa capres petahana akan lanjut di periode kedua, maka setelah event Pilkada DKI tersebut, para investor tidak lagi se-optimis itu.
Dan hasilnya kemudian bisa ditebak: Investor, terutama investor asing, ramai-ramai cuci gudang di sektor konstruksi, dan ADHI dkk kemudian turun lagi bahkan hingga ke posisi yang lebih rendah dibanding sebelum tahun 2014 lalu. Dalam perjalanannya kemudian memang banyak muncul isu aneh-aneh yang mengiringi penurunan saham konstruksi seperti ada proyek mangkrak, banyak terjadi kecelakaan kerja di lokasi konstruksi, si konstruktor tidak dibayar oleh Pemerintah dst, tapi penulis kira penyebab penurunan saham konstruksi tetap hanya satu itu saja: Investor cuma tidak pede kalau pembangunan infra yang sudah digeber sejak tahun 2014 lalu, akan kembali berlanjut tahun 2019 nanti.
Jadi ketika dalam beberapa bulan kemarin (sejak Oktober 2018) peta politik di tanah air mulai menunjukkan siapa yang kira-kira bakal memenangkan pilpres, maka itulah yang menyebabkan WSKT dkk akhirnya naik lagi. Jadi ini mirip-mirip seperti sebuah saham sudah naik duluan sebelum laporan keuangan emitennya, yang memang menunjukkan kinerja positif, dirilis, karena investor sudah expect bahwa LK si emiten memang bagus.
Baiklah Pak Teguh, kemudian karena hasil quick count kemarin menunjukkan bahwa tidak akan terjadi perubahan di Pemerintahan, maka apakah itu artinya trend kenaikan konstruksi dalam enam bulan terakhir ini akan berlanjut? Well, secara teori maka iya bakal berlanjut katakanlah dalam 1 – 2 tahun kedepan, namun tetap ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, ingat bahwa hasil quick count kemarin itu belum final, melainkan masih ada beberapa tahapan yang akan dilalui seperti real count, pengumuman resmi KPU, gugatan ke Mahkamah Konstitusi oleh pihak yang kalah, hingga akhirnya capres-cawapres itu sendiri dilantik pada Oktober 2019 nanti. Berkaca pada pengalaman di pemilu-pemilu sebelumnya, berbagai tahapan ini tidak akan mengubah hasil QC kemarin, tapi bisa menyebabkan sebagian investor bertahan pada posisi wait n see, alias gak buru-buru belanja dulu. Dan itu artinya pasar tidak akan serta merta naik, termasuk saham-saham konstruksi juga bisa turun lagi sewaktu-waktu (selain karena dalam sebulanan terakhir konstruksi memang sudah naik banyak, jadi harga sekarang mungkin sudah price in dengan hasil Pilpres. Baca lagi soal teori price in disini).
Kemudian kedua, ingat bahwa meski pembangunan infra memang akan kembali dilanjut, namun kubu capres petahana sendiri sudah mengatakan bahwa mereka dalam 5 tahun kedepan akan lebih fokus ke membangun sumber daya manusia (SDM), alias gak akan jor-joran bikin jalan tol dll lagi. Dan karena beberapa emiten konstruksi memang sudah already too big to grow further, maka tidak ada jaminan bahwa kinerja/laba bersih perusahaan akan kembali naik di tahun 2019 ini. Beberapa emiten konstruksi juga mulai melaporkan penurunan nilai perolehan kontrak baru; bukan karena sudah tidak ada lagi pembangunan infra, tapi karena nilai kontrak infra yang dikerjakan sebelumnya sudah kelewat besar sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan nilai kontrak yang lebih besar lagi.
Jadi kalau kita kembali fokus ke faktor fundamental, maka akan lebih aman jika kita tunggu sampai para emiten konstruksi ini merilis laporan keuangan untuk Kuartal I 2019, akhir April ini (sebentar lagi), dimana yang labanya masih lanjut naik lah, yang kita ambil sahamnya. Dan tentunya sambil menunggu perkembangan hasil pemilu ini karena, trust me, dalam beberapa waktu kedepan bakal ada drama-drama lanjutan yang bisa jadi tampak menegangkan bagi sebagian orang. However, seperti yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya, secara ekonomi dll maka ‘there is nothing to worry about’ terkait penyelenggaraan Pilpres ini, dan semua fluktuasi yang akan terjadi di market hanya bersifat jangka pendek saja. Thus, entah itu anda mau langsung masuk ke konstruksi sekarang atau tunggu beberapa minggu lagi, namun untuk saat ini bisa kita katakan bahwa prospek jangka menengah – panjang untuk konstruksi sudah menjadi cerah kembali.
Untuk artikel minggu depan kita akan ulas saham yang kinerjanya bagus di Kuartal I 2019, atau ada ide kita mau bahas saham apa? Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 akan terbit hari Selasa, 7 Mei 2019 mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara pre-order, pada link berikut.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kemana Arah IHSG Setelah Pemilu & Pilpres?

Tak terasa sekarang sudah tanggal 15 April, dan itu artinya sebentar lagi Indonesia akan menggelar hajatan Pemilu dan Pilpres, tepatnya pada tanggal 17 April mendatang (untuk TPS luar negeri, sudah sejak 14 April kemarin). Bagi investor yang sudah lama di pasar saham, ajang pemilu sejatinya merupakan hal yang biasa karena sudah rutin dilaksanakan setiap lima tahun sekali, dan karena masih ada banyak faktor atau peristiwa penting lainnya yang juga harus diperhatikan ketika kita menganalisis arah pasar, serta menyusun strategi investasi. However, seperti yang pernah penulis sampaikan sebelumnya, kampanye Yuk Nabung Saham! oleh BEI sejak tahun 2015 lalu telah sukses menghadirkan banyak investor baru di bursa, dimana saat ini sekitar dua pertiga pelaku pasar adalah para newbie yang belum memiliki pengalaman berinvestasi di tahun-tahun pemilu sebelumnya (2014 kebelakang). Jadi pada akhirnya pertanyaan diatas tetap penting: Kemana arah IHSG setelah Pemilu tahun 2019 ini?

Nah, sebenarnya kalau kita dengar lagi apa kata Warren Buffett, yang entah sudah berapa kali melewati moment Pemilu di Amerika sejak tahun 1950-an, maka kalau beliau ditanya pertanyaan diatas, maka mungkin ia akan menjawab: ‘Arah pasar tahun ini, atau tahun depan, itu saya tidak tahu. Namun yang saya tahu adalah, pada akhirnya pasar akan bergerak naik tak peduli meski terjadi Pemilu atau peristiwa penting lainnya’.
Hanya saja, kalau penulis menjawab sama ‘tidak tahu’, lalu untuk apa ada artikel ini? Jadi biar penulis berikan jawaban yang sedikit berbeda: Dalam berinvestasi di saham, khususnya dengan metode value investing, maka kita memang tidak bisa melihat atau memprediksi arah pasar kedepan, karena biasanya kita lebih fokus ke fundamental emiten/perusahaan yang akan kita beli sahamnya. Namun demikian kita bisa melihat data historis pergerakan pasar di masa lalu, dimana jika ada pattern/pola tertentu yang terjadi secara berulang-ulang, maka besar peluang bahwa pola tersebut akan kembali terjadi di masa yang akan datang.
Karena Pemilu pertama sejak zaman reformasi digelar pada tahun 1999, maka kita bisa lihat data pergerakan IHSG minimal sejak tahun 1999 tersebut. Dan berikut datanya:
Year
Growth (%)
Year
Growth (%)
1997
-44.3
2008
-50.6
1998
-0.9
2009
87.0
1999
70.1
2010
46.1
2000
-38.5
2011
3.2
2001
-5.8
2012
12.9
2002
8.4
2013
-1.0
2003
62.8
2014
22.3
2004
44.6
2015
-12.1
2005
16.2
2016
15.3
2006
55.3
2017
20.0
2007
52.1
2018
-2.5
Okay, dari data diatas maka langsung kelihatan beberapa pattern bukan? Berikut diantaranya. Pertama, IHSG selalu naik signifikan (minimal 20%) di tahun-tahun Pemilu yakni 1999, 2004, 2009, dan 2014. Bahkan di tahun 1999, dimana ketika itu Indonesia sejatinya belum benar-benar pulih dari krisis moneter, IHSG justru mencatat kenaikan tertingginya dalam sejarah (sebelum kemudian rekor kenaikan tersebut terpecahkan persis 10 tahun berikutnya, pada tahun 2009). Kedua, kecuali sebelum tahun 2004, IHSG selalu turun pada tahun sebelum tahun pemilu, termasuk di tahun 2018 kemarin juga IHSG turun 2.5%. Penurunan ini tidak berhubungan dengan pemilu itu sendiri (ketika IHSG turun pada tahun 1998, 2008, 2013, dan 2018, penyebab penurunannya berbeda-beda), namun kemungkinan ini juga yang menyebabkan kenaikan IHSG pada tahun Pemilu-nya menjadi lebih signifikan, karena di tahun sebelumnya valuasi saham-saham menjadi lebih murah setelah IHSG itu sendiri turun. Dan ketiga, entah ini kebetulan atau bukan, tapi tahun-tahun Pemilu tidak terjadi bersamaan dengan periode krisis, resesi, atau semacamnya, melainkan ekonomi pada tahun-tahun tersebut terbilang lancar. Termasuk di tahun 1999, dimana meski di tahun 1998-nya GDP Indonesia hancur lebur (minus 13.1%), namun di tahun 1999 tersebut GDP kembali tumbuh meski hanya sekitar 1%. Sehingga ada juga teori bahwa justru event Pemilu-lah yang bikin ekonomi bertumbuh, karena ada banyak pengeluaran untuk kampanye, logistik pemilu, dst. Karena ekonomi tumbuh, maka kinerja emiten juga cenderung bagus (atau minimal pulih dibanding tahun sebelumnya, jika di tahun sebelumnya itu terjadi krisis), dan alhasil saham mereka naik. Dan ketika ada banyak saham naik secara bersamaan, maka IHSG pun turut naik signifikan.
Baiklah, lalu bagaimana untuk tahun 2019 ini? Well, mari kita cek lagi: Tahun 2018 kemarin IHSG turun, alias mirip dengan sebelum Tahun Pemilu 1999, 2009, dan 2014, dan kondisi ekonomi tahun ini bisa penulis katakan cukup baik, memang tidak sebagus tahun 2011 lalu ketika terjadi booming komoditas, tapi juga jauh lebih baik dibanding ketika Indonesia hampir saja krisis tahun 2015 lalu. Untuk kinerja emiten di tahun 2019 ini kita belum tahu bakal bagaimana (masih tunggu laporan keuangan Kuartal I 2019, sebentar lagi), tapi kalau melihat kinerja emiten-emiten besar (ASII dkk) sepanjang tahun 2018 kemarin, rata-rata laba mereka naik semua. Sehingga bisa dikatakan bahwa pattern yang terjadi sejak tahun 1999 lalu kembali terjadi di tahun 2019 ini. Dan itu artinya? Yep, di tahun 2019 ini IHSG akan naik, mungkin kenaikannya tidak akan setinggi tahun-tahun pemilu sebelumnya, namun kecuali ada force majeure tertentu, maka juga kecil kemungkinan IHSG akan tumbuh negatif.

Astra International, yang merupakan ‘miniatur ekonomi Indonesia’, membukukan kenaikan laba dobel digit serta ROE diatas 15% sepanjang tahun 2018

Terakhir, mungkin ini tidak begitu diperhatikan orang, namun di pemilu-pemilu sebelumnya selalu muncul optimisme di masyarakat bahwa setelah Pemilu itu sendiri dilaksanakan, maka kondisi ekonomi dll akan lebih baik, karena memang semua politisi berlomba-lomba memberikan janji manis kepada konstituennya, seperti bahwa mereka akan membuka lapangan pekerjaan, sembako murah, dan seterusnya. Anda mungkin masih ingat di tahun 1999 lalu (penulis sendiri ketika itu masih SMP, tapi saya masih mengingatnya sampai sekarang), dimana dalam kondisi ada jutaan orang yang terkena PHK, maka munculnya tokoh politik tertentu yang mengatakan bahwa ia bisa memperbaiki keadaan akan otomatis disambut hangat, dan semua orang mendadak menjadi optimis kembali.
Namun sejak tahun pemilu 2014 lalu, trend ‘munculnya optimisme’ di masyarakat ini mulai berubah: Bukannya disambut hangat, kehadiran pemilu justru menimbulkan kekhawatiran bahwa akan terjadi kerusuhan atau semacamnya, karena ‘perang’ antara kubu-kubu yang bertarung di pemilu/pilpres itu sendiri semakin terasa di masyarakat, terutama karena kehadiran media sosial. Dengan kata lain, jika di pemilu-pemilu sebelumnya masyarakat optimis bahwa setelah pemilu tersebut, keadaan akan menjadi lebih baik, maka sejak lima tahun lalu, orang justru khawatir bahwa keadaan akan menjadi lebih buruk setelah pemilu. Ini juga yang mungkin menjelaskan, kenapa kenaikan IHSG di tahun 2014 tidak setinggi tahun-tahun pemilu sebelumnya (meski sejatinya, kenaikan sebanyak 22.3% tetap terbilang tinggi).
But still, di tahun 2014 tersebut IHSG tetap naik signifikan. Dan meski suhu politik dalam negeri beberapa tahun terakhir ini terasa lebih panas dibanding sebelumnya, namun tetap saja tidak sepanas tahun 1998 – 1999 lalu dimana ketika itu ada banyak aksi massa yang menimbulkan korban jiwa (istilahnya John D. Rockefeller, there’s blood in the street). Atau kalau mau perbandingan yang lebih ekstrim lagi, panasnya suhu politik sekarang ini juga gak ada apa-apanya dibanding dibanding krisis politik di Indonesia tahun 1966 lalu (peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru), dimana ketika itu tak kurang dari setengah juta jiwa penduduk Indonesia meninggal dunia karena kekerasan dll, dan jutaan lainnya nyaris kelaparan karena harga beras sangat mahal. Actually, penulis termasuk yang melihat bahwa politik Indonesia sekarang ini tampak ‘berisik’ dan ‘mengkhawatirkan’ hanya karena kehadiran medsos saja. Karena dilihat dari sisi manapun, kondisi Indonesia hari ini sangat-sangat berbeda dibanding tahun 1998 atau 1966 tersebut.
Jadi kesimpulannya, still there’s nothing to worry about. Dan karena sebentar lagi kita akan memasuki musim laporan keuangan untuk periode Kuartal I 2019, maka setelah mencoblos tanggal 17 April nanti, mari kita kembali ke pekerjaan rutin kita sebagai investor: Menganalisa laporan keuangan, pilih yang LK-nya bagus, hitung valuasinya, tentukan saham-saham yang akan anda beli, lalu buat keputusan, done! Setelah itu? Ya liburan lagi!

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 akan terbit hari Selasa, 7 Mei 2019 mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara pre-order, pada link berikut.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rahasia Profit 20% Dalam 7 Hari

Kemarin kita dapet satu pertanyaan menarik, ‘Pak Teguh saya barusan lihat ini di Youtube, sepertinya sih mereka jual trading system atau software apa gitu, yang katanya bisa mendeteksi saham-saham yang berpotensi auto reject atas, sehingga profitnya bisa sangat besar hanya dalam hitungan hari. Bagaimana pendapat Pak Teguh soal itu?’ Sebelumnya buat yang belum tau, auto reject atas, atau disingkat ARA, adalah kondisi dimana sebuah saham melejit naik hingga batas maksimal-nya, dalam hal ini 20%, 25%, atau bahkan naik 35% dalam satu hari, tergantung harga nominal sahamnya di market.

Dan penulis sendiri kadang-kadang mengalami itu: Hari ini kita beli saham A, dan besoknya dia langsung terbang 25 persen.. hanya dalam sehari! Dan anda juga mungkin pernah mengalaminya bukan? Pertanyaannya, ketika saham anda ARA seperti itu, maka gimana rasanya?? Seneng pake banget bukan?? Dan rasa senengnya jauh lebih besar dibanding jika kita dapet profit 100% dari saham yang sama, tapi nunggunya harus satu tahun.
Padahal jika kita lihat lagi, gedean mana 25% atau 100%? Dan kalau mau jujur, mungkinkah kita bisa dapet saham ARA tiap hari? Atau, gak usah muluk-muluk deh, sekali seminggu saja! Bisa gak?? Tapi memang sekali lagi, sangat menyenangkan jika kita kebetulan dapet jackpot seperti itu. Karena itulah, jika ada orang yang mengaku bisa mendeteksi saham ARA atau metode-metode lainnya yang menawarkan ‘cara cepat kaya’ dari saham, maka pasti ada saja peminatnya, yang tertarik untuk mempelajari ‘metode rahasia’ tersebut. Para peminat ini bukannya gak mengerti kalau apa yang ditawarkan sejatinya tidak realistis, namun sekecil apapun mereka tetap berharap, siapa tahu kali ini metodenya beneran berhasil.
Lalu apakah metode yang ditawarkan bener-bener berhasil? Bagaimana jika dibandingkan dengan metode value investing yang selalu dibahas di blog ini?
Nah, kalau kita baca-baca lagi di internet, maka memang selalu ada debat tak berujung soal metode apa yang paling bagus dalam berinvestasi di pasar modal, mirip-mirip lah dengan debat soal siapa pesepakbola yang lebih hebat, apakah Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Atau soal Apple vs Samsung. Hingga Jokowi vs Prabowo.
Tapi sebagai seorang investor, bisa penulis katakan sebagai berikut: Tidak penting metode apa yang anda gunakan, yang penting adalah hasilnya. Jadi kalau anda pake metode ARA hunter yang dibahas diatas dan memang hasilnya anda dapet saham ARA minimal sekali saja per bulan, dan tiba-tiba saja nilai porto anda menjadi sangat besar (karena kalau anda bisa profit 25% dalam sebulan, maka efek compounding-nya akan luar biasa dimana aset anda akan meningkat 14 kali lipat hanya dalam setahun, dan menjadi lebih dari 200 kali lipat dalam setahun berikutnya, which is beyond imagination), maka silahkan teruskan! Karena ngapain juga anda beli ULTJuntuk jangka panjang lalu dapet rata-rata profit 20% per tahun, jika kita bisa dapet profit 20% tersebut hanya dalam seminggu???
Anda sering dapet SMS kaya gini gak?

Namun bagaimana jika setelah anda coba metode tersebut ternyata hasilnya malah nyangkut dimana-mana? Kalo gitu ya jangan pake metode itu lagi, dan carilah metode lain yang memberikan hasil lebih baik. Jadi untuk metode value investing yang kami gunakan selama ini, penulis tidak pernah mengatakan bahwa itu adalah metode terbaik, karena metode sebaik apapun pasti ada saja kekurangannya. Namun bagi kami, metode inilah yang selama ini menghasilkan kinerja profit yang cukup konsisten, termasuk metode value investing juga (dengan berbagai variasi penerapannya) yang terbukti sukses pada investor-investor senior seperti Pak Lo Kheng Hong. Tapi jika ada investor/trader saham lain yang lebih sukses dengan metodenya sendiri, maka seperti yang sudah penulis sampaikan diatas, kami tidak akan mengatakan bahwa metodenya nggak bagus atau apa, dan justru akan menyarankan kepada investor/trader tersebut untuk terus menerapkan metodenya tersebut. Dan lagipula, buat apa sih berdebat? Lebih baik waktu kita dipakai untuk baca-baca, berlatih analisa dan praktek buy sell saham, hingga bekerja lebih keras agar bisa menyetor modal lebih buanyak lagi ke sekuritas.
Okay Pak Teguh, satu hal lagi: Meski metode value investing pada faktanya merupakan metode yang dipakai investor-investor paling sukses di bursa, tapi kenapa metode ini malah kurang populer? Well, sebenarnya jika dibandingkan tahun 2009 – 2010 lalu dimana Bakrie Seven Brothers masih merajai bursa, maka ketika itu hampir tidak ada seorangpun yang bicara analisis fundamental, let alone value investing (semuanya ngomong teknikal). Jadi penulis sendiri merasa agak kesepian waktu itu. Tapi sekarang ini, seiring dengan meningkatnya kesadaran pelaku pasar untuk benar-benar invest dan bukannya malah trading tik tok gak jelas, maka metode value investing sudah jauh lebih populer dan cukup banyak digunakan.
Namun seperti yang pernah dikatakan Warren Buffett, value investing tidak akan pernah menjadi metode yang paling populer di bursa, bahkan meski ia sudah ‘mempromosikan’ value investing ini sejak lama, yakni sejak tahun 1960-an (dan buku The Intelligent Investor karya gurunya Buffett, Ben Graham, juga sudah ditulis tahun 1927). And why is that? Ya karena itu tadi: Investor/trader saham manapun akan lebih suka mendengar ‘target profit 20% dalam 7 hari’, ketimbang profit 20 – 25% dalam setahun. Metode value investing itu sejatinya mudah, cuma ngitung PER PBV ROE doang kok. Lalu apanya yang susah? Ya sabarnya. Karena nunggu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun itu memang gak gampang, dimana hanya ada sedikit investor yang benar-benar menguasai ilmu sabar ini. Kemudian, ketika orang beli saham hari ini lalu dia baru jual beberapa bulan/tahun kemudian (karena pake metode value investing), maka sekuritas gak akan dapet trading fee, dan karena itulah pihak broker tidak akan pernah merekomendasikan value investing ini, melainkan mereka akan terus mendorong nasabahnya untuk trading pake analisis teknikal atau lainnya. Dan alhasil, sekali lagi, para value investor tidak akan pernah menjadi populasi terbesar di pasar modal.
Tapi seperti yang dikatakan Robert Kiyosaki, semakin tinggi level finansial seseorang, maka akan semakin sedikit temen-temennya, karena kebanyakan orang ya berada pada level yang rata-rata saja. Jadi meski follower value investing di Indonesia hanya sedikit, namun izinkan penulis untuk mengucapkan congrats! Karena anda-anda semua pembaca blog ini sejatinya merupakan individu yang terpilih, yang pada waktunya nya nanti akan stand out berdiri tegak dan menonjol diantara para pelaku pasar lainnya. We’ll see!
Buletin Analisis Arah IHSG & Stockpick Saham Bulanan edisi April 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk subscriber.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Indofood (INDF), dan Indofood CBP (ICBP)

Okay, seharusnya untuk minggu ini kita akan bahas saham yang kebalikannya saham Ultrajaya (ULTJ), tapi karena belakangan ini banyak yang request analisa Indofood Sukses Makmur (INDF) dan Indofood Consumer Brand Products (ICBP) setelah keduanya turun signifikan dalam dua bulanan terakhir, sedangkan penulis sendiri dalam banyak kesempatan selalu menyebut bahwa ICBP layak untuk investasi long term, maka sekarang kita bahas dua saham ini dulu. Okay, here we go.

Bagi anda yang sudah membaca blog teguhhidayat.com ini sejak lama, maka anda mungkin masih ingat bahwa kita sudah membahas ICBP, yang merupakan anak usaha INDF, sejak perusahaan listing untuk pertama kalinya alias IPO pada bulan Oktober 2010, ketika itu pada harga perdana 5,395 per saham sebelum stocksplit, atau setara 2,697 sesudah stocksplit. Ketika itu penulis termasuk yang antusias dengan ICBP ini karena fakta berikut: Kita tahu bahwa INDF menjadi salah satu perusahaan paling besar dan populer di Indonesia karena satu produk, dan hanya satu produk itu saja, yaitu mie instan dengan merk Indomie, salah satu merk mie instan paling enak didunia, dan harga jualnya sekaligus paling murah sehingga pangsa pasarnya tidak terbatas. Dari kesuksesan Indomie inilah, INDF kemudian mengembangkan usahanya ke produk-produk consumer ber-merk (consumer brand product) lainnya diluar mie instan, seperti susu, makanan ringan, penyedap rasa, makanan bernutrisi, dan minuman. Merk-merk produk consumer milik perusahaan selain Indomie yang juga populer adalah Supermi, Pop Mie, Indomilk, Chitato, Chiki, Lays, Bubur Bayi Promina, Indofood Bumbu Racik, dan Club Air Mineral.


Produk-produk bermerk milik ICBP

Masalahnya, mungkin tidak banyak yang tahu, namun INDF isinya gak cuma Indomie dan kawan-kawannya saja, melainkan segmen usaha INDF bisa dikelompokkan sebagai berikut: 1. Produk consumer ber-merk termasuk Indomie (melalui ICBP), 2. Tepung terigu (melalui PT Bogasari), 3. Distribusi, termasuk melalui jaringan minimarket Indomaret, dan 4. Perkebunan kelapa sawit (melalui Salim Ivomas Pratama (SIMP)). Untuk segmen 1, 2, dan 3, itu masih oke lah, tapi untuk segmen kelapa sawit-nya, maka kinerja INDF praktis dipengaruhi oleh fluktuasi harga crude palm oil (CPO) dunia. Dengan kata lain, meski penjualan Indomie bisa diharapkan akan naik terus secara konsisten dalam jangka panjang, tapi pendapatan serta laba INDF belum tentu akan terus naik, terutama jika harga CPO sedang turun. INDF memang juga jualan minyak goreng dan margarine, yang merupakan produk turunan dari CPO, tapi somehow margin laba dari jualan margarine ini malah jauh lebih kecil dibanding jualan CPO itu sendiri, sehingga pada akhirnya kinerja perusahaan tetap dipengaruhi oleh naik turunnya harga CPO.
Jadi dengan listing-nya ICBP di bursa, maka sebagai penggemar Indomie, daripada kita ambil INDF maka mending ambilnya ICBP ini saja. Problemnya valuasi ICBP di harga 2,700 di tahun 2010 itu terbilang tinggi, jadi penulis ketika itu katakan bahwa sebaiknya kita tunggu dulu perkembangan harganya di pasar (baca lagi ulasannya disini), dan ternyata benar ICBP kemudian turun sampai mentok di 2,100. Tapi karena kinerja perusahaan, seperti yang diprediksi sebelumnya, tetap tumbuh terus bahkan hingga tahun 2018 kemarin, maka ICBP pada akhirnya naik lagi, hingga akhirnya sempat tembus 10,000 pada awal tahun 2019 kemarin, atau profit sekitar empat kali lipat dalam waktu sembilan tahun, belum termasuk dividen.
Okay, lalu bagaimana dengan INDF sendiri? Karena pada tahun 2010 itu harga CPO masih stabil dan cenderung naik, bahkan hingga sempat menembus rekor 4,000 Ringgit Malaysia per ton pada tahun 2011, maka kinerja INDF ketika itu masih cukup bagus/labanya naik terus, dan demikian pula sahamnya naik, dari 5,100 di bulan Oktober 2010 (bulan ketika ICBP IPO) sampai 7,700 pada tahun 2013. Namun memasuki tahun 2013 tersebut, harga CPO mulai turun drastis, dan ternyata sampai saat ini harga CPO masih belum naik-naik lagi di level RM2,300-an per ton. Alhasil kinerja INDF jalan ditempat, dan demikian pula sahamnya ‘macet’ di rentang 6,000 – 7,000 sejak tahun 2013 tersebut hingga hari ini.
Dan karena analisa terakhir penulis untuk sektor sawit menyebutkan bahwa sektor ini masih belum akan pulih (baca lagi ulasannya disini), maka pilihannya tetap ICBP. Tapi setelah sahamnya naik cukup banyak dalam beberapa tahun terakhir, maka bagaimana valuasinya? Okay, mari kita cek. Berdasarkan laporan keuangan tahun penuh 2018, maka harga sahamnya saat ini yakni 8,975, mencerminkan PER 22.9 kali, dan PBV 4.8 kali. Nah, jika perbandingannya adalah saham-saham consumer lainnya dengan track record kinerja, power of brand, dan reputasi yang kurang lebih sama seperti Sido Muncul (SIDO), Kalbe Farma (KLBF), dan Mayora Indah (MYOR), termasuk jika dibandingkan dengan valuasi historis ICBP itu sendiri, plus fakta bahwa saham ICBP cukup likuid, maka valuasi ICBP saat ini terbilang wajar, alias tidak mahal tapi belum bisa dikatakan murah juga. Jadi jika anda tertarik maka ada dua pilihan strateg. Pertama, jika anda hendak menjadikan ICBP ini sebagai pegangan jangka panjang hingga katakanlah 5 tahun kedepan, maka di harga sekarang sudah boleh masuk, karena seperti yang dikatakan Warren Buffett, ini adalah membeli wonderful company at a fair price (fair, bukan undervalue).
Tapi jika anda berharap profit yang lebih besar, dan juga jangka waktu hold yang lebih pendek, maka sebaiknya tunggu ICBP ini turun lebih lanjut hingga PBV-nya persis 4.0 kali (8,000 atau dibawahnya), atau tidak sama sekali. Sebab selain faktor valuasinya, level harga 10,000 kemungkinan juga akan menjadi resistance psikologis bagi ICBP, dimana sahamnya akan perlu waktu yang bisa jadi cukup lama, untuk bisa naik hingga menembus level 10,000 tersebut, dan kemudian stabil disitu/tidak turun-turun lagi.
Okay Pak Teguh, kalau gitu bagaimana kalau kita ambilnya INDF saja? Karena meski prospek jangka panjangnya mungkin tidak secerah ICBP, tapi dengan PER 13.1 dan PBV 1.6 kali pada harga 6,225, maka valuasinya jelas lebih murah bukan? Well, sebenarnya kalau kita mengejar murahnya, maka sekalian saja ambilnya SIMP karena PBV-nya lebih rendah lagi, yakni cuma 0.5 kali pada harga 450. Tapi toh, meski valuasinya sangat terdiskon, tapi kinerja saham SIMP malah lebih buruk lagi dibanding INDF: Lima tahun yang lalu dia berada di level 800-an, tapi sekarang malah tinggal 400-an, karena memang kinerja fundamentalnya mengecewakan dan prospek kedepannya terkait perkembangan harga CPO juga masih belum jelas. Jadi benar apa yang dikatakan Opa Buffett: It’s better to buy wonderful company at a fair price, than buy fair company at a wonderful price. Dalam hal ini fakta bahwa ketiga perusahaan tersebut (INDF, ICBP, dan SIMP) saling berelasi karena pemiliknya sama sudah tidak penting lagi, karena tetap yang harus dilihat adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, dimana dalam hal ini ICBP adalah juaranya.
Nevertheless, meski prospek jangka panjangnya tidak secerah ICBP, INDF tetap memiliki keunggulan sebagai salah satu saham big caps di BEI, nama perusahaannya lebih populer (nama ‘Indofood CBP’ mungkin membingungkan bagi sebagian orang, karena mereka ya tahunya Indofood saja), sahamnya likuid, dan dengan ROE diatas 10% maka kinerjanya gak bisa dikatakan jelek juga. Jadi kalau valuasinya benar-benar terdiskon, katakanlah dengan PBV kurang dari 1.5 kali (PBV dibawah 1.5 kali sudah terhitung murah untuk ukuran blue chip), maka INDF tetap bisa masuk stockpick. Dan mungkin inilah kenapa ketika pada akhir tahun 2015 lalu INDF drop sampai mentok di 5,000, seiring dengan terjadinya koreksi pasar ketika itu, maka ketika IHSG kemudian naik lagi di tahun 2016-nya, INDF juga ikut naik hingga tembus 8,000-an. Demikian pula ketika pada tahun 2018 kemarin pasar jatuh sekali lagi, maka INDF juga ikut turun sampai 5,500-an, tapi begitu pasar pulih pada awal tahun 2019 maka INDF ikut naik sampai 7,700-an.
Jadi kesimpulannya, berbeda dengan ICBP yang anda bisa masuk kapan saja, maka timing terbaik untuk masuk INDF adalah jika terjadi koreksi pasar, atau jika valuasinya memang sudah beneran terdiskon (harga sekarang masih tanggung). Dan berbeda dengan ICBP yang bisa di-hold terus, jika anda sukses masuk ke INDF ini pada timing yang tepat maka anda bisa langsung profit taking saja kalau profitnya sudah lumayan. Karena cepat atau lambat nanti dia bakal turun lagi.
Baiklah, terakhir nih Pak Teguh, saya dengar INDF turun karena perusahaan membeli tanah/lahan perkebunan kelapa sawit pada harga yang kelewat mahal, apa itu benar? Nah, sebenarnya sudah sejak tahun 2014 lalu, manajemen INDF memutuskan untuk ekspansi besar-besaran di sektor perkebunan kelapa sawit dengan membeli banyak lahan kebun baru, hingga saat ini INDF melalui SIMP menjadi perusahaan sawit terbesar di Indonesia dari sisi luas lahan, yang mencapai lebih dari 450 ribu hektar termasuk lahan yang belum berproduksi/belum ditanam pohon sawit (jadi masih tanah kosong aja gitu). Kita pernah membahasnya disini, perhatikan artikelnya ditulis tahun 2014. Dan seperti umumnya ketika perusahaan mengakuisisi suatu aset, maka sebagian aset perkebunan tersebut dibeli pada harga yang lebih tinggi dari nilai bukunya, atau sama saja seperti kalau anda beli saham tertentu pada PBV lebih dari 1 kali. Selisih antara harga dengan nilai buku menyebabkan INDF membukukan aset goodwill sebesar Rp4.3 trilyun di neracanya, alias cukup besar (meski sebenarnya relatif kecil dibanding total asetnya yang mencapai Rp96.5 trilyun).
Jadi, yep, memang benar bahwa INDF ada beli kebon pada harga yang (sekilas) cukup mahal, dan fakta inilah yang kemudian dipakai oleh analis dan broker sekuritas untuk menjelaskan kepada nasabah mereka, yang ribut bertanya kenapa ini INDF turun (dan bahkan di Google juga kalau anda ketik ‘indf’, maka akan muncul sugesti ‘kenapa indf turun terus’, yang artinya ada banyak investor yang nyangkut disini lalu mereka minta wejangan ke si mbah). Tapi kalau kita balik lagi ke basic value investing, maka INDF (dan juga ICBP) turun karena sejak awal dia sudah agak mahal saja. Karena kalau masalahnya adalah harga kebon sawit tadi, maka INDF sudah membeli kebon tersebut sejak tahun 2014 lalu, bukan minggu kemaren. Jadi kenapa juga hal ini baru dipermasalahkan sekarang?? Ya karena itu tadi, karena kebetulan INDF lagi turun, dimana jika nanti INDF lanjut turun lebih dalem lagi (karena seperti yang sudah disebut diatas, valuasi INDF saat ini masih tanggung), maka isunya bakal lebih santer lagi.
Tapi kalau INDF pada akhirnya naik lagi, maka sudah tentu isunya juga nanti akan hilang. Anyway, pilihan strategi untuk kedua saham ini sudah cukup jelas dibahas diatas, jadi sekarang keputusannya ada di tangan anda.
Buletin Analisis Arah IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi April 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk subscriber.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Legacy Stock Series: Ultrajaya Milk

Warren Buffett pernah mengatakan, ‘Saya suka berinvestasi pada perusahaan yang sedemikian bagusnya, yang jika perusahaan tersebut dijalankan oleh seorang idiot maka hasilnya akan tetap profit’. Sudah tentu, ini bukan berarti kualitas manajemen perusahaan tidak penting, namun memang beberapa perusahaan lebih mudah dijalankan dibanding perusahaan lainnya, terutama jika perusahaan tersebut sejak awal memenuhi beberapa kriteria khusus seperti memberlakukan monopoli, memiliki kuasa untuk menentukan harga jual produknya, dan bisnisnya tidak dipengaruhi oleh naik turunnya kondisi makroekonomi.

Nah, jadi bagaimana jika penulis katakan bahwa ada beberapa perusahaan Tbk di BEI yang sedikit banyak memenuhi kriteria diatas, tapi tentu saja direkturnya bukan seorang idiot? Salah satunya Ultrajaya Milk Industry (ULTJ), dan memang perusahaan inilah yang akan kita bahas disini, okay here we go.
Sejarah PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company, Tbk dimulai pada tahun 1960-an ketika pendiri perusahaan, Bapak Achmad Prawirawidjaja (alm) memproduksi susu kemasan siap minum di rumahnya di Jalan Tamblong, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan bahan baku susu tersebut terutama dibeli dari peternakan sapi di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Usaha tersebut cukup sukses, namun ada satu problem: Susu hasil produksi hanya bisa bertahan selama beberapa hari, sehingga sering terjadi kondisi dimana susu tersebut sudah rusak sebelum sempat dijual/dikonsumsi, dan terpaksa dibuang.

Hingga pada tahun 1975, perusahaan menerapkan teknologi pengolahan susu secara UHT (ultra high temperature), dan bekerja sama dengan Tetra Pak asal Swedia untuk menggunakan kemasan karton aseptik (aseptic packaging), yang memungkinkan hasil produksi susu-nya menjadi jauh lebih tahan lama. Pada tahun ini pula perusahaan mengadopsi nama ‘Ultrajaya’. Inovasi teknologi ini sukses besar, sehingga di tahun-tahun berikutnya ULTJ mulai memproduksi jenis-jenis minuman lainnya (jus buah, teh, dst) yang juga menggunakan teknologi UHT dan kemasan aseptik. Hingga pada hari ini, ULTJ memiliki satu pabrik produksi skala besar di Padalarang, Jawa Barat, yang memproduksi dan menjual susu UHT merk ‘Ultramilk’ dengan berbagai varian rasa, susu kental manis ‘Cap Sapi’, teh siap minum dengan merk ‘Teh Kotak’, minuman Sari Kacang Ijo, Sari Asem Asli, dan minuman sari buah. ULTJ juga memproduksi susu untuk perusahaan lain termasuk untuk ekspor, dan memproduksi jus merk ‘Buavita’ untuk PT Unilever Indonesia, Tbk. Secara keseluruhan ULTJ hanya fokus memproduksi dan menjual minuman, dengan lebih dari 95% diantaranya merupakan minuman UHT. Saat ini perusahaan dijalankan langsung oleh Bapak Sabana Prawirawidjaja (sebagai Presdir), yang merupakan generasi kedua perusahaan, dan juga Samudera Prawirawidjaja (sebagai Direktur), yang merupakan generasi ketiga. Keluarga Prawirawidjaja sendiri hampir tidak punya usaha lainnya selain ULTJ ini, sehingga disini kita punya tim manajemen yang berdedikasi penuh terhadap kelangsungan hidup perusahaan, dan sudah tentu mereka bukan ‘idiot’ karena sudah berpengalaman selama lebih dari setengah abad, jika dihitung dari Bapak Achmad sebagai generasi pertama.

Produk-produk minuman milik Ultrajaya, klik gambar untuk memperbesar.

Berikut adalah fakta-fakta penting terkait perusahaan.
  1. Merk susu Ultramilk merupakan pemimpin pasar susu cair UHT di Indonesia dengan pangsa pasar 42% per September 2018. Merk ‘Teh Kotak’ juga merupakan pemimpin pasar teh kemasan karton dengan pangsa pasar 71%. Personally, penulis sendiri menganggap bahwa susu Ultramilk adalah susu cair paling enak yang ada di Indonesia, bahkan lebih enak dibanding susu impor asal Eropa, dan Teh Kotak adalah minuman teh terenak kedua setelah Teh Botol Sosro. Jadi disini kita punya dua jenis produk minuman yang, meski tidak sampai monopoli, namun merupakan favorit konsumen di Indonesia.
  2. Di Indonesia, minuman favorit sebagian besar masyarakat adalah teh dan kopi, sedangkan konsumsi susu disini masih sangat rendah, hanya 12 liter per kapita (sebagai perbandingan, negara dengan konsumsi susu terbesar, yakni Finlandia, konsumsinya mencapai 361 liter per kapita). Namun demikian volume produksi susu di dalam negeri masih lebih rendah lagi, dimana sekitar 75% kebutuhan susu dalam negeri dipasok oleh impor, terutama dari Australia. Ini menyebabkan ULTJ tidak pernah kesulitan memasarkan produknya, bahkan meski mereka hampir setiap tahun menaikkan harga jual, karena biar bagaimana harga produk mereka lebih murah dibanding susu impor (sedangkan kualitasnya juga tidak kalah, malah lebih baik), dan alhasil pendapatannya naik terus dari tahun ke tahun. However, kecilnya produksi susu dari peternak sapi di dalam negeri juga menyebabkan ULTJ terpaksa mengimpor sebagian bahan baku susu-nya, sehingga hal ini juga berpengaruh terhadap kinerja perusahaan, terutama jika kurs Rupiah melemah.
  3. Meski bisnisnya mudah, namun manajemen ULTJ terbilang pekerja keras dimana mereka terus berekspansi, dengan tetap fokus pada usaha dairy dan minuman secara umum. Tahun 1981, ULTJ bekerja sama dengan Kraft Food Ltd, Amerika Serikat, untuk memproduksi dan memasarkan keju merk ‘Kraft’, meski kemudian kerjasama tersebut dihentikan tahun 2002. Tahun 1994 perusahaan mulai memproduksi susu kental manis, dilanjut dengan produksi susu bubuk pada tahun 1995, dan tahun 2008 perusahaan menjual merk dagang ‘Buavita’ dan ‘Go-Go’ ke Unilever, untuk kembali fokus ke produk susu. Di tahun 2008 pula, ULTJ mendirikan perusahaan peternakan sapi di Brastagi, Sumatera Utara, dalam rangka menciptakan suplai bahan baku susu sehingga tidak lagi terlalu bergantung pada peternakan sapi di Pangalengan, Bandung. Tahun 2010 perusahaan mendirikan peternakan sapi di Pangalengan, sehingga mereka kini mulai memiliki pasokan bahan bakunya sendiri, selain tetap membeli susu dari peternak rakyat. Tahun 2013, ULTJ mendirikan dua anak usaha di Jakarta dibidang produksi dan distribusi minuman. Dan tahun 2017 kemarin, ULTJ mendirikan anak usaha dibidang pengelolaan air di Cimahi, Jawa Barat. Kalau melihat jenis-jenis usaha yang didirikan oleh manajemen, maka cukup jelas bahwa manajemen berusaha menjadikan ULTJ sebagai perusahaan dairy yang efisien dan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Perusahaan juga terus memperluas jaringan distribusi ke seluruh Indonesia termasuk ekspor, meningkatkan kapasitas produksi, dan meluncurkan banyak varian rasa baru sesuai selera konsumen. Dan kalau kita lihat lagi point dua diatas dimana volume produksi susu nasional masih jauh lebih kecil dibanding permintaannya, maka kalaupun ULTJ sukses meningkatkan kapasitas produksinya hingga 2 – 3 kali lipat, maka perusahaan tetap tidak akan kekurangan konsumen. Jadi, yap, ULTJ memiliki prospek jangka panjang yang sangat menarik, apalagi jika di masa yang akan datang konsumsi susu di Indonesia juga turut meningkat seiring dengan meningkatnya GDP per kapita nasional (negara-negara dengan konsumsi susu terbesar rata-rata adalah negara maju, dan Indonesia, meski pelan-pelan, terus tumbuh ke arah negara maju tersebut).
  4. Karena cashflow-nya sangat besar, maka ULTJ hampir tidak pernah butuh utang bank untuk menjalankan usahanya termasuk untuk ekspansi, dan alhasil pendapatannya relatif bersih dari beban bunga utang sehingga margin labanya terbilang besar yakni mencapai 15 – 20% pendapatannya, dan perusahaan kebal terhadap risiko krisis/terjadinya perubahan pada ekonomi makro. Perusahaan juga sudah memiliki unit distribusinya sendiri, sehingga ini juga membantu menaikkan margin laba. However, pendapatan dan margin laba ini harusnya bisa lebih besar lagi andaikata ULTJ memiliki pasokan bahan bakunya (baca: peternakan sapi-nya) sendiri. Tapi untungnya dalam 10 tahunan terakhir, memang itulah yang sedang dikerjakan oleh manajemen.
Kesimpulannya, kita disini punya perusahaan dairy yang sudah sangat mapan, punya merk yang kuat, merupakan pemimpin pasar di bidangnya, dikelola langsung oleh keluarga pendiri perusahaan (dan mereka fokus hanya menjalankan ULTJ saja), manajemennya pekerja keras (dan juga tidak pernah macam-macam, jadi gak kaya owner-nya AISA), dan memiliki prospek jangka panjang yang cerah. Kebijakan dividen perusahaan, dimana ULTJ hanya membayar sekitar 15 – 20% laba bersihnya sebagai dividen, juga menunjukkan bahwa manajemen masih punya banyak rencana jangka panjang untuk pengembangan perusahaan (jadi beda dengan emiten consumer lain yang biasanya menghabiskan labanya untuk dividen, karena mereka sudah gak berniat mengembangkan perusahan lebih jauh lagi). Jika ada kekurangan maka itu adalah fakta bahwa minuman susu tidak begitu disukai masyarakat Indonesia, termasuk ada kesan bahwa susu hanya cocok untuk anak-anak, tapi ingat sekali lagi bahwa produksi susu di Indonesia itu sendiri masih jauh lebih kecil dibanding volume permintaannya, sehingga tidak salah jika manajemen ULTJ memutuskan untuk fokus di produk susu ini saja, ketimbang bikin produk baru yang belum tentu ada pembelinya.
Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya? Nah, jika beberapa tahun lalu Warren Buffett harus mengakuisisi ‘Kraft Heinz’ (yang juga memproduksi susu) pada harga yang mencerminkan PBV 9.0 kali, maka pada harga 1,250, berdasarkan laporan keuangan Kuartal III 2018, PBV ULTJ tercatat 3.2 kali. Tidak bisa dikatakan murah memang, terutama jika dibandingkan dengan saham-saham non-consumer, tapi untuk saham sebagus ULTJ ini maka mungkin kita memang gak bisa minta harga yang lebih rendah lagi, dimana kalau kita lihat historis valuasinya di masa lalu, maka ULTJ ini pernah juga dihargai pada PBV 4 – 5 kali. Yup, jadi PBV 3 kali tersebut terbilang relatif murah, termasuk juga jika dibandingkan dengan saham-saham consumer goods lainnya dengan kualitas fundamental yang kurang lebih setara seperti Kalbe Farma, Sido Muncul, Indofoof CBP, hingga Mayora Indah.
However, seperti saham lain pada umumnya, ULTJ tetap memiliki risiko. Pertama, kebijakan perusahaan yang ‘pelit’ dividen menyebabkan posisi kas-nya membengkak menjadi Rp2.3 trilyun, atau mencapai separuh ekuitasnya yang Rp4.6 trilyun. Ini artinya jika kita membeli saham ULTJ, maka separuh nilai buku perusahaan sejatinya merupakan uang tunai yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali bunga deposito, dan alhasil PBV-nya yang 3.2 kali tadi mungkin tidak serendah kelihatannya. Diatas memang sudah disampaikan bahwa ULTJ punya rencana besar untuk membelanjakan kas tersebut (untuk ekspansi), tapi sayangnya realisasinya di lapangan sangat lambat (yang mungkin karena Pak Samudera, yang notabene generasi ketiga pemilik perusahaan, juga sudah berusia 53 tahun, sehingga beliau gak mau grasa-grusu seperti kebanyakan anak muda), termasuk sampai sekarang ULTJ hanya punya satu pabrik saja di Padalarang. Jika trend ‘kerja lambat’ ini terus berlanjut kedepannya, maka artinya investor pemegang saham ULTJ juga harus menunggu lebih lama lagi hingga perusahaan tumbuh menjadi benar-benar besar. Kedua, seperti disebut diatas, kinerja ULTJ dipengaruhi oleh kurs Rupiah, dan memang pada Kuartal III 2018 labanya sedikit turun (meski pendapatannya masih naik) karena pelemahan Rupiah. Ini artinya meski pendapatan ULTJ harusnya bakal naik terus, tapi proyeksi yang sama belum tentu berlaku untuk labanya.
Dan ketiga, saham ULTJ tidak pernah likuid, sehingga pergerakannya seringkali fluktuatif pada satu periode waktu tertentu, tapi kemudian bergerak mendatar para periode berikutnya (bisa sampai berbulan-bulan, salah satunya jika labanya turun pada kuartal tertentu), dan ini biasanya tidak disukai para trader jangka pendek. Meski demikian jika kita melihatnya dalam jangka panjang, katakanlah 5, 10, hingga 15 tahun kebelakang, maka ULTJ senantiasa naik terus, dimana pada April 2009 (10 tahun lalu), ULTJ masih di level 170, tapi sekarang sudah di 1,250, atau profit 7 kali lipat belum termasuk dividen. Thus, jika anda berminat dengan ULTJ ini, maka pertama-tama anda harus komitmen untuk memegangnya selama mungkin, dalam hal ini bukan lagi 1 – 2 tahun, tapi minimal 5 tahun. Jika anda berharap profit cepat, maka ULTJ tidak disarankan.
Nevertheless, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ULTJ tetap masuk kategori wonderful company untuk legacy stock versi Warren Buffett, dan bahkan penulis berpikir bahwa, kalau saja Berkshire melebarkan portofolio-nya termasuk ke negara dunia ketiga seperti Indonesia, maka hampir pasti ULTJ ini akan diambil alih. However, anda bukan Buffett, jadi silahkan anda tambahkan analisa dan pertimbangan milik anda sendiri sebelum memutuskan.
Untuk minggu depan kita akan bahas perusahaan yang kebalikannya dari ULTJ ini: Bukan wonderful company untuk investasi jangka panjang, tapi mungkin menawarkan profit besar dalam waktu singkat.

Buletin Analisis Arah IHSG & Stockpick Saham Bulanan edisi April 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Mengapa Generasi Millennial Harus Berinvestasi?

Ada satu pertanyaan menarik ketika penulis mengisi acara talkshow investasi saham di sebuah kampus di Semarang, tahun 2016 lalu: Pak Teguh, tadi kan sudah disampaikan soal tips-tips untuk berinvestasi di saham. Tapi sekarang pertanyaannya general saja, bagaimana tips bagi kami yang masih kuliah ini untuk bisa sukses secara finansial setelah kami lulus nanti? Apakah harus bekerja dan menabung dulu sebelum baru kemudian invest di saham, atau bagaimana? Sebab untuk invest di saham juga perlu uang/modal kan? Dan kami saat ini gak punya modal tersebut.

Dan berikut adalah jawaban penulis.
Ketika saya lulus kuliah tahun 2008, dalam benak saya ketika itu hanya ada satu target: Harus segera bekerja agar bisa punya gaji/penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (sehingga gak perlu lagi minta ke orang tua), dan sebagian dari gaji itu akan saya tabung sehingga saya punya sejumlah aset. Jadi seperti lulusan S1 pada umumnya, saya kemudian melamar kerja kesana kemari, waktu itu masih pake pos untuk mengirim surat lamaran dan CV, bukan pake email yang praktis seperti sekarang. Namun ketika itu saya sudah punya ponsel, sehingga kalau ada panggilan wawancara maka perusahaan tidak lagi mengirim surat undangan untuk wawancara, melainkan orang HRD-nya simply menelpon atau kirim SMS. Tak lama kemudian saya menerima banyak telepon dan SMS undangan wawancara, dan saya akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta Utara, sekitar 2 bulan setelah saya diwisuda.
Nah, ketika itulah saya kemudian berpikir: Seandainya saya tidak punya ponsel, maka bisa saja terjadi kondisi dimana perusahaan mengirim surat undangan wawancara, namun surat tersebut tidak pernah sampai, atau sampai namun tidak sempat/terlambat dibaca, sehingga akhirnya saya tidak hadir di wawancara-nya, dan alhasil saya kehilangan kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Jadi kemajuan teknologi berupa keberadaan ponsel (waktu itu belum ada Whatsapp, hape Nokia ketika itu bener-bener cuma buat telpon dan sms saja), disadari atau tidak, telah sangat membantu penulis, dan seharusnya juga temen-temen yang lain, untuk mendapatkan pekerjaan.
Penulis kemudian bekerja sebagai karyawan biasa yang ‘dipenjara’ dari pukul 9 pagi sampe 5 sore, dengan gaji yang cuma cukup untuk bayar kosan, ongkos angkot, makan dua kali sehari, tapi saya masih bisa menyisihkan Rp400,000 per bulan untuk ditabung. Tapi saya di kantor memperoleh fasilitas komputer dengan akses internet 24 jam (dan hal ini untuk jaman itu terbilang mewah banget, karena sebelumnya penulis cuma bisa akses internet di warnet), dan melalui internet itulah penulis kemudian bisa tetap berhubungan dengan temen-temen jaman kuliah melalui Yahoo Maling List. Dari Yahoo Milis itulah penulis kemudian memperoleh info bahwa Pak Yosef Ardi, seorang wartawan dan analis senior pasar modal, membutuhkan karyawan untuk posisi analis saham. Saya kemudian mengirim surat lamaran dan CV, kali ini melalui email, dan tak lama kemudian saya ditelpon untuk wawancara langsung dengan Pak Yosef sendiri. Dan Alhamdulillah, di awal tahun 2009 penulis kemudian pindah ke kantor baru dengan bidang usaha yang juga baru, yakni di bidang pasar modal, yang akhirnya menjadi pilihan karier saya hingga saat ini (meski saya sendiri kemudian resign dari kantornya Pak Yosef, tahun 2012 lalu).


Tampilan muka Yahoo Milis, yang sekarang berubah jadi Yahoo Groups. Penulis gak tau sekarang ini orang masih pake Yahoo Groups atau nggak, tapi dulu ini populer banget

Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, yep, memang saya bukannya tanpa kerja keras untuk kemudian menjadi investor full time profesional, dan kami juga berkali-kali melewati masa-masa sulit, seperti misalnya jika IHSG anjlok (dan itu sering terjadi). Namun pencapaian yang saya dan temen-temen raih hari ini, itu salah satunya adalah karena kondisinya sekarang ini memang jauh lebih mudah dan lebih praktis dibanding dulu, terutama karena adanya teknologi. Jadi balik lagi, seandainya dulu di tahun 2008 tidak ada Yahoo Milis, maka saya sendiri mungkin tidak akan pernah memperoleh info lowongan pekerjaan dari Pak Yosef, dan akhirnya saya tidak pernah menjadi seorang investor saham.
Dan tambah kesini, segala sesuatunya tambah lebih praktis lagi! Sekarang bayangkan jika anda sudah invest di saham sejak awal tahun 1990-an, maka di jaman itu kemana anda harus cari laporan keuangan? Laporan tahunan? Bagaimana anda mau menganalisa chart saham? Lha wong RTI atau Yahoo Finance juga belum ada! Kemudian kemana anda mau belajar saham? Karena waktu itu juga blog www.teguhhidayat.comini belum ada, demikian pula blog-blog saham lainnya belum ada, dan tidak ada seorangpun yang bikin buku atau seminar tentang saham. Mau googling ‘cara berinvestasi saham’ juga gak bisa, karena Google itu sendiri baru ada tahun 1998. Udah gitu sekuritas waktu itu masih dikit banget, jadi mau buka rekening aja susah. Pendek kata, untuk sekarang ini seorang investor newbie paling-paling hanya butuh waktu 1 – 2 tahun dihitung dari pertama kali membuka rekening, untuk kemudian cukup paham soal apa itu PER, apa itu PBV dan seterusnya, asalkan dia mau meluangkan waktu saja untuk baca-baca (di ponsel juga bisa). Tapi bagi senior-senior kita seperti Pak Lo Kheng Hong atau Pak Joeliardi, mereka mungkin butuh waktu lebih lama lagi untuk belajar, karena semuanya harus serba otodidak, tanpa adanya guru ataupun mentor. Dan untuk melakukan transaksi saham itu sendiri juga sangat ribet karena harus pake telepon, atau kita beneran datang ke kantor sekuritas/trading floor di BEI, karena waktu itu belum ada OLT. Yup, jadi sangat berbeda dengan sekarang dimana anda bisa menganalisis, membeli, dan menjual saham kapanpun dan dimanapun, bahkan dari tempat tidur atau kamar mandi juga bisa, asalkan ada sinyal internet.
Dan tidak hanya berinvestasi di saham, namun dalam bekerja untuk memperoleh penghasilan, sekarang ini juga jauh lebih mudah dan lebih praktis dibanding dulu, asalkan kita mau berusaha saja. Saat ini lowongan pekerjaan ada banyak di internet, atau anda bisa pake LinkedIn, jadi kita gak perlu lagi baca Koran Kompas hari Sabtu untuk cari lowongan, dan proses rekrutmen-nya juga jauh lebih simpel karena sudah serba email. Demikian pula kalau anda punya usaha kecil-kecilan, maka untuk promosinya sekarang sangat mudah karena ada Instagram. Kalau anda masih kuliah, maka jika penulis jaman kuliah dulu harus panas-panasan buka lapak terpal beneran untuk jualan DVD bajakan di trotoar kampus, maka mahasiswa sekarang bisa jualan di bukalapak.com atau tokopedia.com dari kamar kosnya yang nyaman sambil nyeruput matcha latte. What, anda gak suka dagang? Ya sudah, di rumah ada motor kan? Anda bisa jadi supir Gojek atau Grab. Gak mau juga?? Kalo gitu buka website-website yang menawarkan pekerjaan freelance (misalnya www.fiverr.com), dan silahkan pilih job yang anda sukai, atau bahkan yang sesuai hobi anda. Yup, karena sekarang ini bahkan ada juga pekerjaan sebagai gamer profesional! (penulis sendiri seorang gamer, yang menghabiskan 2 – 3 jam setiap hari main Xbox).
Jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, bagaimana caranya agar kita bisa sukses secara finansial dan menjadi seorang investor sejati? Maka jawabannya pertama-tama kerja biasa dulu, kumpulin tabungan, terus kerja lebih keras agar gaji naik, atau kalau bisa buka buka usaha kecil-kecilan atau freelance agar tabungannya lebih banyak lagi, dan barulah kalau ada surplus cash bisa mulai invest di saham. Sudah tentu, itu semua tetap butuh kerja keras, tapi ingat bahwa dibanding dulu, sekarang ini segala sesuatunya lebih mudah. Yup, kita sekarang tidak perlu lagi seperti kakek nenek kita di tahun 1960-an dulu, yang harus berjalan kaki sekian kilometer setiap hari untuk sekolah atau bekerja, atau panas-panasan di ladang setiap hari, tapi tetep aja mereka cuma bisa makan nasi pake kecap (karena di tahun 60an itu Indonesia memang lagi krisis). Namun meski kita sekarang ini bekerja lebih santai, tapi dengan bantuan teknologi maka kita bisa tetap menghasilkan lebih banyak, termasuk dari saham. Nama-nama seperti Nadiem Makarim, William Tanuwijaya, juga tidak akan sesukses sekarang kalau bukan karena teknologi dan internet. Seperti kata Warren Buffett, orang Amerika hari ini jauh lebih sejahtera dibanding orang Amerika 100 tahun yang lalu, dan itu bukan karena generasi sekarang bekerja lebih keras atau otak mereka lebih cerdas, melainkan karena mereka bekerja lebih efisien baik dalam hal waktu, pikiran, dan tenaga, salah satunya karena adanya teknologi. Dan penulis bisa katakan bahwa hal yang sama juga berlaku di Indonesia: Kita saat ini seharusnya bisa jauh lebih sejahtera dibanding orangtua atau kakek nenek kita dulu, dan itu bukan karena kita pintar atau apa, tapi karena sekarang ini kesempatannya ada jauh lebih banyak.
Okay Pak Teguh, lalu apa hubungannya ini dengan generasi milenial seperti judul artikel ini diatas? Sebelum itu kita sepakati dulu, apa yang dimaksud milenial disini, dan ‘milenial’ versi penulis adalah anda-anda semua yang membaca artikel ini, termasuk penulis sendiri, yang dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa lagi terlepas dari internet dan teknologi. Hanya memang dalam artian yang lebih sempit, generasi milenial adalah ‘anak tahun 90-an’, atau lebih muda lagi.
Dan kalau anda baca-baca banyak tulisan tentang ‘generasi milenial’, maka ada kesan bahwa generasi ini hidupnya susah, misalnya mereka kesulitan beli rumah karena harga rumah itu sendiri naik terus. Kaum milenial ini juga dikenal pemalas (karena memang hidupnya serba mudah dan praktis itu tadi), tiap hari cuma baca berita dan rumor di medsos, hingga boros pengeluaran (karena mau beli apa-apa tinggal buka Tokopedia, atau Amazon). Yup, jadi memang kemajuan teknologi tidak selalu memberikan manfaat positif bagi semua orang, karena itu akan tetap tergantung dari bagaimana kita memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut.
Jadi balik lagi ke soal saham: Dengan adanya kemajuan teknologi, maka segala sesuatunya sekarang ini jadi lebih mudah dan praktis, dimana berbelanja dan menghabiskan uang di Tokopedia dll, atau ngobrol ngalor ngidul di medsos dan Grup Whatsapp, adalah sama mudahnya dengan berinvestasi, dalam hal ini di saham, dan juga sama mudahnya dengan berspekulasi, misalnya di judi bola yang sekarang ini ada banyak banget (jadi gak perlu jauh-jauh ke Genting, Macau, atau Las Vegas). Tinggal anda pilih sendiri, mau jadi tukang belanja, tukang gosip, spekulan, atau seorang investor??
Dan kalau anda ingin mapan secara finansial, dimana ini tentunya merupakan keinginan semua orang, maka sudah tentu, anda harus menjadi investor. Karena dengan bekerja kita memang memperoleh sejumlah penghasilan, tapi hanya dengan berinvestasi-lah, entah itu di saham atau lainnya, maka kita akan bisa mengakumulasi tabungan dan kekayaan, yang nilainya akan berlipat ganda seiring waktu karena faktor bunga majemuk, bahkan meski modal awalnya sangat kecil. Kemudian ingat sekali lagi bahwa dibanding jaman dulu, maka sekarang ini untuk berinvestasi jauh lebih praktis dan mudah, tinggal kita-nya mau baca-baca atau nggak. Thus, jika kita sebagai generasi milenial tidak berinvestasi dan alhasil kemudian tidak pernah menjadi mapan secara finansial, then it would be a shame, karena kita sudah diberikan begitu banyak kemudahan yang tidak dimiliki oleh orang tua atau kakek nenek kita dulu, yang bahkan memungkinkan kita untuk menjadi seorang millionaire, tapi tidak kita manfaatkan. Actually penulis berpikir bahwa seandainya generasi muda di Indonesia sekarang ini semuanya berinvestasi (tentunya dengan cara-cara yang benar, jadi bukannya malah trading/spekulasi gak jelas), maka dalam 10 – 20 tahun yang akan datang Indonesia akan jadi negara maju dengan penduduk yang rata-rata mapan secara finansial, dan dengan demikian generasi berikutnya, yakni anak-cucu kita nanti, akan mengalami jaman yang lebih praktis lagi. Mudah-mudahan!
Untuk minggu depan, jangan khawatir, kita tetap akan bahas satu saham wonderful company yang bisa dijadikan sebagai legacy stock.

Jadwal Kelas Value Investing, Basic & Advanced, Sabtu & Minggu, Amaris Hotel Thamrin City Jakarta, 23 – 24 Maret 2019. Info selengkapnya baca disini. Hingga Senin, 18 Maret, masih tersedia 5 seat lagi untuk kelas hari Sabtu, dan 7 seat untuk kelas hari Minggu.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Properti 2019: Jackpot??

Ketika penulis terakhir kali membahas sektor properti, Januari 2018 lalu, ketika itu kesimpulannya adalah bahwa sektor ini berpeluang untuk ‘naik panggung’ di tahun 2018 tersebut karena dua faktor yakni: 1. Suku bunga BI Rate sedang rendah-rendahnya, yang artinya bunga KPR (kredit pemilikan rumah) juga lagi murah, dan ini akan mendorong orang untuk beli rumah, 2. Kondisi ekonomi nasional secara umum cukup bagus. Namun ini bukan berarti semua saham properti bisa dikoleksi, karena selain dua faktor diatas, tiap-tiap emiten properti juga punya faktor individualnya masing-masing yang berpengaruh terhadap kinerja mereka, seperti lokasi properti-nya, kualitas infrastruktur di sekitar proyek, jenis properti yang dijual, hingga kualitas manajemen. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
Waktu berlalu, dan bagaimana realisasinya sepanjang tahun 2018 kemarin? Well, sayangnya realisasinya jauh panggang daripada api: Hampir semua emiten properti justru mencatat penurunan kinerja di tahun 2018, dan ini lebih buruk dibanding tahun 2017 dimana beberapa emiten masih membukukan kinerja positif. Alhasil, jangankan naik, saham-saham properti justru turun signifikan, dan peristiwa koreksi pasar pada April – Oktober 2018 memperburuk kondisi tersebut dimana ada banyak saham properti yang mencetak new low-nya dalam lima tahun terakhir. Dan kalau melihat kinerja Bumi Serpong Damai dkk hingga Kuartal III dan IV 2018, juga belum ada tanda-tanda bahwa kinerja fundamental di sektor properti ini akan segera membaik.
Jadi apa masalahnya? Nah, ada beberapa teori, dan harus penulis akui bahwa ketika saya mengulas sektor properti di awal tahun 2018 lalu, saya kurang teliti karena tidak ikut mempertimbangkan beberapa faktor teori tersebut, padahal bisa jadi mereka sangat berpengaruh. Pertama, jika patokannya adalah BI Rate yang berada di level rendah, yang kemudian berpengaruh terhadap rendahnya bunga KPR, maka memang itu bisa mendorong orang untuk beli rumah secara kredit, dan kita tahu bahwa permintaan rumah untuk tempat tinggal akan selalu naik seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, plus pihak BI sendiri sejak beberapa waktu lalu melonggarkan peraturan loan to value (LTV), dan bahkan ada wacana DP rumah nol persen. However, sebagian besar emiten properti di BEI tidak jualan rumah tapak sederhana atau rusun seharga Rp400 jutaan, melainkan mereka jualannya rumah townhouse untuk kelas menengah keatas, apartemen, atau kondominium yang harganya milyaran. Sementara jenis properti yang diuntungkan karena rendahnya bunga KPR adalah properti untuk kelas menengah kebawah dengan harga ratusan juta Rupiah per unit. Karena untuk properti jenis rumah cluster, biasanya orang membelinya bukan lagi untuk tempat tinggal, melainkan untuk investasi.
Dan kalau orang beli rumah untuk tujuan investasi, maka pertimbangannya tidak lagi sekedar bunga KPR yang rendah (karena banyak juga investor properti ini yang beli rumah secara tunai), tapi lebih ke kondisi ekonomi yang harus lebih baik dari sekedar ‘tidak krisis’. Yup, ketika sektor properti ini booming pada tahun 2012 – 2013 lalu (itu adalah tahun-tahun dimana Feni Rose selalu ngomong ‘Senin harga naik!’), pemicunya ketika itu adalah karena booming komoditas batubara dan CPO sejak beberapa tahun sebelumnya, yang menyebabkan munculnya banyak ‘orang kaya baru’ terutama di Kalimantan dan Sumatera, dimana mereka kemudian menempatkan surplus cashflow mereka di properti (karena berbeda dengan saham atau instrumen investasi lainnya, ada mitos bahwa harga properti ‘tidak akan pernah turun’). Nah, jadi ketika harga batubara mulai naik lagi pada tahun 2016 lalu, penulis memang termasuk yang berharap bahwa setelah booming batubara tersebut maka sektor selanjutnya yang bakal booming adalah properti ini. Namun ternyata kondisinya kali ini berbeda, dimana meski harga batubara sekarang ini sudah relatif tinggi lagi, tapi harga CPO tidak ikut naik, demikian pula harga karet tidak naik-naik (karet adalah komoditas ekspor nonmigas terbesar Indonesia ketiga setelah batubara dan CPO), dan alhasil tidak terjadi booming ekonomi seperti tahun 2011 lalu, dimana angka pertumbuhan ekonomi hingga tahun 2018 kemarin masih mandek di level lima koma sekian persen.
Jadi, yup, jika kita ngobrol sama developer kecil-kecilan yang jualan rumah tipe 36 di Parung Bogor atau Cibitung Bekasi, maka mungkin memang terjadi peningkatan volume penjualan dalam 1 – 2 tahun terakhir, tapi ingat sekali lagi bahwa Alam Sutera Realty dkk tidakjualan rumah murah seperti itu. Teori kedua, kondisi menjelang ‘tahun politik’ 2019 ini juga mungkin berpengaruh terhadap keputusan konsumen untuk membeli rumah untuk tujuan investasi, dimana mereka masih wait and see hingga tanggal 17 April nanti. Karena, you know, berbeda dengan beli saham dimana anda hanya perlu modal mulai dari ratusan ribu Rupiah, maka untuk beli rumah minimal modalnya mencapai ratusan juta hingga milyaran Rupiah, sehingga tentu saja orang akan lebih berhati-hati.

Ilustrasi Townhouse Podomoro Park di Bandung, Jawa Barat, milik Agung Podomoro Land. Harga rumah di kompleks ini serendah-rendahnya Rp1.4 milyar,
Saham Properti Hari ini = Saham Batubara di tahun 2016
Okay Pak Teguh, jadi apakah ini artinya untuk tahun 2019 ini juga properti masih belum menarik? Nah, dalam hal ini ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Ketika penulis pertama kali kembali melirik sektor properti, Juli 2017 lalu (baca lagi ulasannya disini), ketika itu saya notice bahwa valuasi saham-saham properti masih belum terlalu murah, dimana masih banyak yang PBV-nya 1 – 2 kali, atau gak sampai nol koma sekian seperti ketika saham-saham batubara lagi rendah-rendahnya pada awal tahun 2016. Tapi dengan pertimbangan bahwa emiten properti rata-rata gak punya utang besar, dan sektor komoditas mulai bakal pulih lagi (ditandai dengan kenaikan harga batubara ketika itu), maka saya menganggap bahwa BSDE dkk gak akan sampai dihargai pada PBV nol koma sekian.
Namun seperti yang sudah dibahas diatas, ternyata tidak terjadi booming komoditas, sehingga kemudian tidak terjadi booming ekonomi. Plus, di tahun 2018 kemarin terjadi koreksi pasar, yang menyebabkan saham-saham properti kembali turun lebih rendah lagi. Alhasil, sekarang ini ada banyak saham properti yang PBVnya tinggal nol koma sekian, atau kurang dari 1.5 kali, dimana beberapa diantaranya adalah developer terkemuka seperti Lippo Karawaci (LPKR), Agung Podomoro Land (APLN), Modernland Realty (MDLN), Intiland Development (DILD), Bumi Serpong Damai (BSDE), hingga Ciputra Development (CTRA). Mungkin perlu juga dicatat bahwa meski emiten-emiten properti diatas semuanya masih membukukan penurunan laba, tapi gak ada yang sampai merugi, yang artinya kinerja mereka kurang bagus karena kondisi sektornya saja, dan bukan karena manajemennya gak becus atau semacamnya.
Nah, jadi anda sekarang mengerti jalan pikiran penulis bukan? Jadi memang, berbeda dengan sektor batubara dimana kenaikan harga batubara di pasar internasional bisa menjadi sentimen positif yang kemudian mendorong PTBA dkk naik bahkan meski kinerja mereka tampak belum bagus, maka untuk properti tidak akan ada sentimen positif seperti itu, karena tidak ada patokan ‘harga properti internasional’ atau semacamnya, sehingga mau tidak mau kita harus tunggu perkembangan kinerja perusahaan, dimana kalau labanya bagus/naik maka barulah kita masuk. Namun, entah APLN dkk bakal membukukan kenaikan laba di tahun 2019 ini atau tidak, tapi yang jelas kali ini valuasi saham mereka beneran sudah murah, murah banget malah, sehingga yang perlu kita lakukan tinggal tunggu saja sampai Mei 2019 nanti, kalau memang kinerjanya improve maka sikat! Dan mungkin kita akan dapet jackpot lagi seperti di batubara pada tahun 2016 lalu. Actually, dibanding sektor-sektor lainnya, maka peluang ‘profit 100% dalam 1 tahun atau kurang’ untuk tahun 2019 ini terletak di saham-saham properti ini (karena untuk sektor lainnya, valuasi mereka masih tanggung/gak murah-murah amat), tentunya dengan asumsi kinerja mereka sesuai harapan. Well, mudah-mudahan.
Untuk minggu depan kita akan bahas satu saham consumer goods yang bisa dikategorikan sebagai ‘wonderful company’, dan bisa anda pertimbangkan untuk investasi jangka panjang.
Jadwal Kelas Value Investing, Basic & Advanced, Sabtu & Minggu, Amaris Hotel Thamrin City Jakarta, 23 – 24 Maret 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird bagi pendaftar sebelum tanggal 18 Maret.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bagaimana Jika Emiten Bangkrut?

Warren Buffett di salah satu annual letter-nya di tahun 1960-an, bercerita tentang investasinya di Sanborn Map Co., perusahaan penyedia layanan peta untuk seluruh wilayah Amerika Serikat dengan pelanggan perusahaan asuransi, pemerintah daerah, hingga dinas pajak. WB menempatkan tak kurang dari 35% dana kelolaannya di Sanborn, dengan alasan sebagai berikut: Sanborn ini dulunya merupakan perusahaan monopoli dibidangnya, dan otomatis kinerja profitnya sangat bagus. Namun pada dekade 1950-an, perusahaan asuransi menemukan metode under-writing yang disebut carding, yang menyebabkan mereka tidak lagi membutuhkan peta yang dibuat oleh Sanborn.

Alhasil kinerja Sanborn kemudian turun, dan otomatis sahamnya juga turun, dari US$ 110 menjadi US$ 45. Tapi inilah menariknya: Sejak awal 1930-an, manajemen Sanborn telah membentuk portofolio investasi dimana mereka menggunakan profit dari bisnis peta untuk membeli saham-saham di pasar, dan nilai investasi saham tersebut telah meningkat dari US$ 20 menjadi US$ 65 per lembar sahamnya. Ini artinya jika anda membeli saham Sanborn pada harga US$ 45, maka artinya anda hanya membayar US$ 45 untuk memperoleh portofolio investasi milik Sanborn senilai US$ 65 (jadi anda untung US$ 20 per saham, atau 44.4%), plus memperoleh bisnis peta-nya secara gratis.

WB kemudian melanjutkan, ‘Kami bersama beberapa partner berniat untuk menjadi pemegang saham mayoritas/pengendali di Sanborn, dimana dengan demikian kami akan bisa merealisasikan/menjual saham-saham yang dipegang Sanborn pada harga pasar, sehingga akan diperoleh keuntungan. Untuk bisnis petanya, kami akan meng-konversi peta-peta yang dihasilkan ke dalam bentuk elektronik, sehingga lebih mudah digunakan oleh pelanggan dan alhasil, lebih mudah untuk dijual.’ Dari sini kemudian kelihatan bahwa WB sejak awal tidak berniat membeli saham Sanborn pada harga US$ 45 untuk kemudian dijual kembali katakanlah pada harga US$ 60, ataupun untuk dipegang seterusnya. Melainkan yang ia incar adalah aset portofolio investasi milik perusahaan, yang jika dijual maka akan dihasilkan sejumlah uang yang nilainya lebih besar dibanding biaya akuisisi Sanborn itu sendiri, plus ‘bonus’ berupa aset bisnis peta-nya, yang kalaupun ternyata tidak mampu untuk kembali menghasilkan keuntungan, maka WB tetap profit besar dari menjual portofolio saham milik Sanborn.
Dan ternyata, untuk pilihan-pilihan sahamnya yang lain pun, WB rata-rata menggunakan pendekatan yang sama: Ia hanya membeli saham dari perusahaan yang kalau aset-aset milik perusahaan tersebut dilikuidasi, maka ia sebagai pemegang saham akan memperoleh keuntungan karena uang yang ia terima lebih besar dibanding biaya untuk membeli sahamnya. Salah satu rumus yang ia pakai adalah: Nilai/market cap perusahaan harus lebih rendah dibanding modal kerja bersih (net working capital), dimana modal kerja bersih ini adalah aset lancar dikurangi kewajiban lancar. Jadi jika perusahaan A aset lancarnya 1,000, sedangkan kewajiban lancarnya 300, dan market cap-nya 400, maka WB tanpa pikir panjang akan langsung membeli saham A tersebut. Sebab jika perusahaan A dilikudasi, dan kita anggap saja untuk aset tidak lancar-nya hasil penjualannya adalah nol (karena biasanya memang susah untuk menjualnya, karena aset tidak lancar disini seperti pabrik, mesin-mesin dll), maka dari penjualan aset lancarnya (persediaan, piutang) diperoleh 1,000, dikurang utang lancar 300, hasilnya adalah 700, masih lebih besar dibanding biaya membeli sahamnya sebesar 400.
Dan ada dua cara agar perusahaan dilikuidasi: Perusahaan tersebut bangkrut, atau WB mengakuisisinya/menjadi pemegang saham mayoritas, sehingga ia bisa menjual aset-aset perusahaan, dan WB biasanya pakai cara yang kedua, seperti pada Sanborn diatas. Dengan cara inilah, Warren Buffett Partnership mencatatkan kinerja yang sangat luar biasa di tahun 1960-an dengan rata-rata profit 29.8% per tahun, karena mereka hanya berinvestasi pada perusahaan yang sudah pasti akan memberikan keuntungan.
Pada perkembangannya, terutama sejak bertemu dengan Charlie Munger, WB tidak lagi menggunakan metode diatas, melainkan ia kemudian lebih banyak membeli saham dari perusahaan bagus yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan konsisten dalam jangka panjang, dan tidak masalah kalau harga belinya tidak terlalu murah. Namun metode ‘membeli saham pada harga yang sedemikian rendahnya, sehingga kalaupun perusahaannya bangkrut dan aset-asetnya dilikuidasi, maka investor pemegang saham tetap akan memperoleh keuntungan’, tetap digunakan oleh banyak value investor lain. Walter Schloss, value investor seangkatan WB, mengatakan bahwa ia tertarik membeli saham pada price to net net capital (PNNC) 0.67 kali atau kurang dari itu, dimana PNNC disini dihitung dari nilai aset lancar dikurangi semua kewajiban (jadi aset tidak lancar tidak dihitung/dianggap nilainya nol), dengan anggapan bahwa hanya aset lancar inilah yang bisa dengan mudah dijual, jika perusahaan dibubarkan. Dengan metode Schloss ini, saham dengan PBV yang sangat rendah sekalipun bisa jadi belum cukup murah, jika sebagian besar aset perusahaan merupakan aset tetap/tidak lancar.
Pertanyaannya kemudian, bisakah kita, sebagai investor ritel, menggunakan metode-nya WB ketika dulu ia mengakuisisi Sanborn, atau metodenya Walter Schloss diatas? Well, tentu bisa saja, dengan syarat anda punya cukup dana untuk mengakuisisi perusahaan yang diincar, sehingga anda bisa menendang direkturnya keluar, membubarkan perusahaan, dan mengobral aset-asetnya. Tapi jika dana anda terbatas, maka ya anda nggak bisa melakukan itu. Kalaupun ada investor besar lain yang membeli saham A dimana PNNC-nya kurang dari 0.67 kali, dengan tujuan menjual aset-asetnya, maka anda juga tetap tidak akan mendapatkan keuntungan, karena si investor besar ini, sebelum melikuidasi perusahaan, biasanya ia akan membeli saham milik publik (termasuk yang anda miliki) dengan mekanisme tender offer berdasarkan harga pasar, bukan berdasarkan nilai perusahaan.
Okay, Pak Teguh, tapi kalau perusahaannya bangkrut, maka dia otomatis akan dilikuidasi dong? Dan saya sebagai pemegang saham akan terima duit bukan? Ah, ceuk saha??? Teorinya iya memang begitu, tapi coba kita lihat prakteknya. Dulu waktu Dayaindo Resources (KARK) kolaps, maka apakah pemegang saham publiknya terima duit? Demikian pula waktu Sekawan Intipratama (SIAP) bubar, atau Berau Coal Energy (BRAU) bangkrut dan delisting, maka apakah pemegang sahamnya dapet duit yang nilainya lebih gede dibanding biaya yang mereka keluarkan buat beli sahamnya?? Yang ada mereka kehilangan semua uangnya sama sekali, dan melapor ke OJK pun percuma karena mereka masih puyeng menampung keluhan korban rentenir online.
Jadi kalau kita beli saham dengan pakai asumsi bahwa ‘kalaupun perusahaannya bangkrut, maka kita tetap bakal dapet untung’, maka jujur saja, itu tidak realistis. Kemudian ingat pula bahwa tidak segampang itu bagi sebuah perusahaan untuk dinyatakan bangkrut/pailit oleh pengadilan, karena harus ada syarat-syarat seperti gagal bayar utang atau semacamnya. Inilah kenapa di BEI ada buanyak sekali perusahaan-perusahaan yang kinerjanya dari dulu rugi mulu, dan sahamnya juga udah lama mati di gocap, tapi tetep aja gak bangkrut-bangkrut, sehingga aset-nya pun tidak mungkin di-likuidasi. Jadi kalau anda beli saham gocapan ini hanya karena alasan ‘PNNC-nya dibawah 0.67 kali’, then congratulations, you played yourself.
Okay Pak Teguh, jadi apa ini maksudnya kita jangan ikutin apa kata Walter Schloss? Well, boleh kita ikutin, tapi jangan telan mentah-mentah. Demikian pula dengan metode-nya WB, kita jangan telan begitu saja, karena ingat bahwa di tahun 1960-an sekalipun, WB sudah merupakan investor besar. Just remember: Sebagai investor ritel, peluang profit kita hanya ada dua, yakni dari kenaikan harga saham, dan dividen, tapi bukan dari penjualan aset-aset perusahaan.
Jadi yang penulis lakukan selama ini adalah, kita tidak pernah mengambil asumsi terburuk bahwa perusahaan yang sahamnya kita beli bakal bangkrut dan dilikuidasi, melainkan hanya asumsi bahwa kinerjanya/laba bersihnya bakal turun, atau terjadi force majeure yang mengubah fundamental atau prospek perusahaan, dan sahamnya otomatis ikut turun. Kemudian untuk saham dengan valuasi super duper murah, misalnya PBV dibawah 0.4 kali (kita pakenya PBV aja, bukan PNNC tadi ataupun modifikasi lainnya), maka biasanya itu adalah saham dari perusahaan yang kinerjanya jelek/rugi. Dan untuk saham model gini maka yang kita lihat adalah, seberapa besar peluangnya untuk kembali membukukan laba di masa yang akan datang, dimana itu bisa dilihat dari track record kinerjanya di masa lalu, rencana pengembangan usaha, kualitas manajemen, kebijakan pengelolaan utang, hingga kondisi terkini dari industri/bidang usaha yang dijalani perusahaan. Jika peluangnya besar, maka kita ambil sahamnya. Tapi jika peluangnya kecil, atau hasil analisanya tidak menghasilkan gambaran yang jelas soal prospek perusahaan, maka kita abaikan sahamnya. Contohnya adalah ketika kita menganggap bahwa saham-saham batubara menarik di tahun 2016 lalu bahkan meski laba mereka ketika itu masih pada turun, karena adanya prospek cerah dari kenaikan harga batubara (baca lagi ceritanya disini). Dan memang kemudian coal stocks waktu itu naik banyak.
Tapi sekali lagi, kita tidak pernah membeli perusahaan dengan asumsi bahwa perusahaannya bakal pailit. Atau, jika setelah dianalisa maka kesimpulannya perusahaan tersebut ada risiko bakal bangkrut, maka ya sudah kita gak akan masuk, dan kita tidak akan mengatakan bahwa sahamnya undervalue, tak peduli serendah apapun valuasinya.
Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Maret 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Jadwal Kelas Value Investing Advanced, Sabtu & Minggu, Jakarta, 23 – 24 Maret 2019. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto aktivitas penulis di INSTAGRAM, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta, 24 Maret

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 24 Maret 2019. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, cara merespon aksi korporasi emiten, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, saham-saham batubara naik luar biasa hanya dalam tempo 2 tahun. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita bisa ‘curi start’ dengan masuk ke saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013, 2015, dan 2018.
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 24 Maret 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Kepa Arrizabalaga, BCA. Anda boleh lampirkan bukti transfer, tapi boleh juga tidak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus Gratis!
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


Penulis bersama temen-temen peserta di salah satu seminar sebelumnya.

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 23 Maret 2019 (sehari sebelum seminar advanced, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham. Bagi anda yang masih pemula, atau sudah lama di market namun baru mengenal value investing, maka sangat disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced ini di hari minggunya. Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Tersedia kelas private dengan lokasi di Bandung, dan [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 23 Maret

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 23 Maret 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.
Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.

Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.


***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 23 Maret 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,200,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Kepa Arrizabalaga, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial
Penulis bersama teman-teman peserta di salah satu kelas seminar sebelumnya

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Advanced, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 24 Maret 2019 (sehari setelah seminar value investing ini, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Tersedia kelas private dengan lokasi di Bandung, dan [...]

Cara Beli Saham Persis Pada Harga Terendahnya

Beberapa waktu lalu penulis menonton film berjudul Sully, yang bercerita kisah nyata (meski ditambah sedikit bumbu-bumbu fiksi) tentang seorang pilot bernama Capt. Chesley ‘Sully’ Sullenberger, yang pada Januari 2009 mendaratkan pesawat terbang secara darurat di Sungai Hudson, Kota New York, setelah pesawat tersebut sebelumnya menabrak kawanan burung di udara (bird strike). Oleh publik, Kapten Sully dianggap sebagai pahlawan, karena ia berhasil menyelamatkan nyawa seluruh penumpang serta kru pesawat, totalnya berjumlah 155 jiwa. Namun investigasi lanjutan oleh otoritas berwenang menunjukkan bahwa pesawat masih bisa berputar kembali ke bandara, dan tidak harus mendarat darurat di air.

Jadi ceritanya, investigasi dalam bentuk simulasi komputer yang dilakukan National Transportation Safety Board (NTSB), menunjukkan bahwa setelah terjadi bird strike, maka pesawat masih punya cukup waktu untuk berputar dan kembali ke Bandara La Guardia (bandara dimana pesawatnya take off), atau ke Bandara Teterboro di New Jersey. Simulasi lanjutan yang dilakukan oleh pilot sungguhan juga menunjukkan bahwa pesawat bisa mendarat dengan aman di kedua bandara tersebut. Thus, keputusan Capt. Sully untuk mendaratkan pesawat di air, meski itu sukses menyelamatkan seluruh penumpang dan kru, namun tetap dianggap sebagai pilot error. Karena rusaknya pesawat serta cedera-nya sejumlah penumpang (karena pesawatnya mendarat di air) menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi pihak maskapai US Airways.
Cuplikan selengkapnya bisa ditonton di video berikut.

Nah, di video diatas, Capt. Sully (diperankan oleh Tom Hanks), menyampaikan pembelaannya sebagai berikut (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia).
‘Kita sudah mendengar tentang simulasi pendaratan pesawat oleh komputer, dan sekarang kita melihat simulasi oleh pilot itu sendiri. Namun semua simulasi itu tidak menyertakan faktor manusia.’
‘Sebelum pesawat menabrak kawanan burung, tidak ada seorangpun yang mengingatkan kami untuk waspada terkait ini sebelumnya. Tidak ada yang mengatakan, kedua mesin pesawat anda akan rusak karena ditabrak oleh kawanan burung pada ketinggian yang amat sangat rendah. Tapi, okay, kita santai saja. Sekarang kita langsung putar balik ke bandara, seperti kalau kita mengambil barang yang ketinggalan di rumah.’
‘Ini adalah kondisi dimana pesawat kehilangan kedua mesinnya sekaligus, pada ketinggian hanya 2,800 kaki, disusul oleh pendaratan darurat di air dengan 155 jiwa penumpang dan kru didalam pesawat. Tidak pernah ada seorangpun yang dilatih untuk insiden seperti itu. Tidak seorangpun.’
‘Aku tidak mempertanyakan kualitas pilot dalam simulasi ini. Mereka pilot yang kompeten. Namun di simulasinya, mereka langsung berputar dan kembali ke bandara segera setelah pesawat mengalami bird strike. Mereka tidak terlebih dahulu melakukan analisa atau pengambilan keputusan soal apa yang harus dilakukan. Dan itu tidak seperti manusia normal, terutama yang mengalami peristiwa darurat seperti ini untuk pertama kalinya.’
Setelah itu, simulasi kembali dilakukan namun kali ini dengan menambahkan jeda waktu selama 35 detik, dimana 35 detik ini adalah waktu bagi pilot untuk melakukan analisa soal apa yang harus dilakukan. Jadi berbeda dengan simulasi sebelumnya, pilot baru berputar dan kembali ke bandara 35 detik setelah pesawat bertabrakan dengan kawanan burung. Dan hasilnya pesawat gagal mendarat dan malah menabrak gedung, sehingga kerusakan yang terjadi lebih besar hingga timbul korban jiwa.
Memahami ‘Jeda Waktu’ Dalam Investasi Saham
Film ‘Sully’ diatas menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami suatu peristiwa darurat atau emergency, apalagi jika ia mengalami peristiwa itu untuk pertama kalinya, maka sangat tidak realistis jika ia langsung mengambil tindakan, melainkan ia akan butuh waktu untuk menganalisa soal apa yang seharusnya dilakukan. Dengan kata lain, akan selalu ada jeda waktu sebelum seseorang mengambil keputusan krusial tertentu. Dan meski jeda waktu yang digunakan oleh Capt. Sully untuk melakukan analisa menyebabkan ia tidak punya cukup sisa waktu untuk berputar dan mendarat dengan aman di bandara (sehingga kemudian terpaksa mendarat di air), namun ia harus melakukan analisa tersebut. Karena justru akan menjadi keputusan yang amat sangat berisiko jika sang Kapten, tanpa mempelajari ketinggian pesawat dll, langsung saja berputar balik ke bandara. Dalam situasi dimana tindakan seorang pilot menentukan hidup matinya 155 orang termasuk dirinya sendiri, maka tidak mungkin bagi Capt. Sully untuk mengambil keputusan se-gegabah itu.
Dan satu hal lagi: Waktu 35 detik itu sebenarnya sangat mepet bagi sang pilot untuk mengambil keputusan. Jika saja pesawat yang menabrak burung itu tidak dikemudikan oleh Capt. Sully, melainkan oleh pilot lain dengan jam terbang yang lebih sedikit, maka bukan tidak mungkin ia akan butuh waktu lebih lama untuk menganalisa dan alhasil, jangankan berputar dan kembali mendarat di bandara, pilot ini bahkan belum tentu punya cukup waktu untuk mendaratkan pesawat secara darurat di Sungai Hudson.
Lalu bagaimana dengan investasi kita di pasar saham?
Berbeda dengan mengendarai pesawat terbang dimana seorang pilot jarang mengalami kondisi darurat, maka disini kita sering mengalami kondisi darurat yang bisa berujung pada kerugian jika kita salah mengambil keputusan, yakni jika IHSG/pasar atau saham yang kita pegang sedang turun/terkoreksi. Dalam keadaan ‘darurat’ inilah, para investor akan melakukan analisa ulang untuk menentukan apakah sebaiknya hold, beli lagi, atau jual saja. Yup, jadi sama seperti analisa yang dilakukan Capt. Sully diatas, dimana ia harus segera mengambil keputusan soal apakah pesawat bisa terus melanjutkan penerbangannya, kembali ke bandara, atau mendarat darurat di air.
Dan semakin darurat kondisi pasar, alias semakin dalam penurunan harga saham, maka akan semakin lama jeda waktu yang dibutuhkan para investor/trader untuk melakukan analisa, untuk cari informasi/berita kesana kemari Sekarang gini: Ketika pasar dan harga-harga saham lagi naik semua, maka orang-orang biasanya akan dengan santai beli saham ini itu, seringkali hanya dengan bekal analisa sekilas saja (hanya dengan melihat RTI atau semacamnya), atau bahkan tanpa analisa sama sekali. Dan ketika saham itu kemudian naik, maka ia kemudian masih santai-santai saja/tetap nggak mempelajari perusahaannya dst.
Tapi ketika kemudian sahamnya itu turun, maka barulah si investor ini akan baca-baca lagi laporan keuangan, termasuk kasak kusuk cari berita di grup dan forum-forum: Ini ada kejadian apa?? (Bener gitu kan? Hayo ngaku, siapa disini yang beli saham dulu lalu baru baca laporan keuangannya belakangan, itupun kalau sahamnya turun??) Dan selama si investor ini melakukan analisa, maka selama itu pula ia tidak akan membeli atau menjual saham tertentu, alias wait and see saja.
Fenomena wait and see inilah, yang kemudian menyebabkan saham tertentu bisa lanjut turun, atau tidak segera naik lagi, bahkan meski valuasinya sudah sangat murah (dan fundamentalnya/prospeknya bagus). Sebab ketika sejumlah investor menjual suatu saham karena panik, maka investor lainnya yang melihat bahwa saham itu sudah murah tidak langsung masuk, karena mereka masih sibuk menganalisa (atau tunggu keadaan membaik. Misalnya jika saham yang turun itu sedang diserang berita negatif tertentu, maka tunggu dulu beritanya akan hilang/dilupakan orang, lalu baru masuk), dan alhasil sahamnya turun lebih rendah lagi, atau tidak juga naik meski saham-saham lain sudah naik duluan.
Jadi balik lagi: Dalam value investing, tugas kita adalah membeli saham bagus pada valuasi murah, lalu tunggu saja, dimana waktu tunggu ini bisa sebentar, tapi bisa juga lama. However, jika anda termasuk yang berpikir bahwa investasi saham itu idealnya membeli saham persis pada harga terendahnya, jualnya nanti persis pada harga tertingginya, dan belinya juga persis sebelum saham itu naik (jadi nunggunya gak pake lama!), maka seperti yang dikatakan oleh Capt. Sully, anda tidak bisa melakukan itu, karena anda harus juga memasukkan faktor manusia, dalam hal ini kecenderungan orang untuk wait and see sehingga timbul jeda waktu, faktor panik, faktor serakah, dan seterusnya. Faktor-faktor manusia disini tidak berhubungan dengan fundamental perusahaan, namun tetap berpengaruh terhadap kinerja portofolio kita, terutama dalam jangka pendek. Contohnya, ketika kita beli saham A di harga 1,000 karena menganggap bahwa harga 1,000 itu sudah murah, maka bukan berarti saham A tidak bisa turun sampai 900, 800, atau lebih rendah lagi. Dan itu seringkali bukan karena kita salah hitung PBV-nya atau apa, tapi karena adanya jeda waktu ketika orang-orang wait and see tadi.
Namun dalam jangka panjang, maka selama kita memilih saham yang tepat, pada harga beli yang tepat, dan tidak terjadi perubahan fundamental terhadap perusahaannya, maka anda tetap akan memperoleh profit yang layak. Nah, jadi balik lagi ke judul diatas, bagaimana cara membeli saham persis pada harga terendahnya? Maka jawabannya, meski anda mungkin pernah membeli saham pada harga terendahnya, tapi secara umum anda tidak bisa melakukan itu. Demikian pula, meski penulis beberapa kali beli saham pada hari tertentu dan besoknya saham itu langsung naik, tapi itu hanya kebetulan, dan saya beli saham itu bukan karena tahu bahwa dia akan naik besoknya (dan gimana juga caranya saya bisa tahu??). Terakhir, penulis juga sering profit taking saham A pada harga 2,000 karena menganggap bahwa harga 2,000 itu sudah mahal, tapi ternyata dia masih naik lagi sampai 2,500, sehingga dalam hal ini profitnya jadi nggak maksimal.
Tapi meski profitnya tidak maksimal, namun itu masih lebih baik dibanding rugi bukan? Jadi sama seperti kisah Capt. Sully diatas: Meski pihak investigator menganggap bahwa idealnya pesawat bisa kembali mendarat dengan aman di bandara La Guardia, dan simulasi komputer menunjukkan bahwa sang pilot bisa melakukan itu, namun pada akhirnya mereka menyadari bahwa itu tidak realistis, karena mereka belum memasukkan human factor. Thus, meski pihak maskapai menderita kerugian karena pesawatnya mendarat di air, tapi itu masih lebih baik, bahkan sangat jauh lebih baik dibanding kemungkinan terburuknya, yakni jika pesawatnya gagal mendarat dan semua penumpangnya tewas. Nah, dalam berinvestasi di saham juga sama: Kita sering mengeluh kenapa profitnya kok kecil, sayang banget kemarin waktu sahamnya turun kita gak berani masuk, atau ini kenapa saham saya gak naik-naik juga, atau kenapa ini cut loss, tanpa menyadari bahwa kita masih lebih beruntung dibanding investor lain, yang bisa jadi menderita kerugian lebih besar. Well, ujung-ujungnya memang kita harus inget lagi sama nasihat orang tua dulu: Harus banyak-banyak bersyukur!
Untuk minggu depan kita akan membahas prospek salah satu dari sektor berikut, silahkan anda pilih di kolom komentar: 1. Properti, 2. Konstruksi, 3. Perkebunan kelapa sawit, 4. Pembiayaan /multifinance.
Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Maret 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

Jadwal Kelas Value Investing Advanced, Sabtu & Minggu, Jakarta, 23 – 24 Maret 2019. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto aktivitas penulis di INSTAGRAM, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kirana Megatara, dan Prospek Harga Karet

Kirana Megatara (KMTR) membukukan laba bersih Rp69 milyar hingga Kuartal III 2018, anjlok dibanding periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp391 milyar, dan karena itulah sahamnya terjun bebas dari 900-an, Februari 2018 lalu, hingga mentok di 250 pada November, sebelum kemudian naik lagi ke posisi sekarang (350-an). Namun yang menarik perhatian penulis adalah ketika perusahaan menggelar right issue pada Januari 2019 kemarin di harga 530, alias jauh diatas harga sahamnya dipasar, dimana pembeli siaganya adalah perusahaan asal Singapura dengan nama Hainan State Farm (HSF) Pte. Ltd. Dan setelah right issue tersebut, pemegang saham mayoritas KMTR berubah dari sebelumnya Grup Triputra milik konglomerat Theodore P. Rachmat, menjadi HSF diatas (Grup Triputra masih jadi pemegang saham di KMTR, namun persentase kepemilikannya sedikit berkurang/terdilusi). Pertanyaannya, kenapa HSF bela-belain nyetor saham baru di KMTR pada harga diatas harga pasar? Termasuk kenapa mereka sampai mengambil alih KMTR dari Grup Triputra?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita pelajari dulu KMTR ini sejak awal.
Kirana Megatara adalah perusahaan holding dari beberapa anak usaha di bidang usaha produksi karet remah (crumb rubber), perkebunan karet, dan perkebunan kelapa sawit, namun lebih dari 99% pendapatan perusahaan berasal dari jualan karet remah saja. Dan meski KMTR itu sendiri baru berdiri tahun 1991 sebagai kendaraan investasi Grup Triputra di bidang karet, namun anak-anak usahanya sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 1964, dengan memiliki total 15 pabrik karet yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Mungkin tidak banyak yang mengetahui, namun selain batubara dan CPO, Indonesia adalah juga salah satu produsen karet alam terbesar di dunia (karena memang pohon karet hanya bisa tumbuh di daerah sekitar garis khatulistiwa), dan KMTR merupakan perusahaan terbesar di Indonesia di bidang ini. Karet, dalam hal ini crumb rubber, adalah bahan baku utama pembuatan ban mobil dan motor, thus pelanggan utama KMTR adalah produsen-produsen ban terkemuka di dunia seperti Bridgestone, Michelin, dan Goodyear. KMTR punya kebun karetnya sendiri, namun kapasitas panen-nya masih sangat kecil dibanding kapasitas produksi pabriknya, sehingga mereka membeli sebagian besar bahan baku getah karet dari petani. KMTR kemudian menjual sekitar 97% produksi karet remah-nya ke pasar ekspor, dan karena itulah harga jualnya mengikuti harga karet internasional.
Nah, terkait kalimat yang di-bold diatas, hal ini menyebabkan kinerja KMTR dalam jangka panjang terbilang tidak konsisten karena sangat dipengaruhi oleh harga karet internasional. Pada tahun 2014 perusahaan menderita rugi Rp46 milyar, yang berbalik menjadi laba bersih Rp423 milyar di tahun 2017, sangat besar dibanding ekuitasnya (sebelum ditambah laba tersebut) yang hanya Rp1 trilyun. Dan seperti yang bisa anda tebak, harga karet di tahun 2014 terbilang rendah di level US$1.61 per kilogram, sedangkan di tahun 2017-nya naik tinggi hingga sempat menyentuh US$2.71 per kg. Memasuki tahun 2018, harga karet turun lagi hingga mentok di US$1.32 per kg, dan karena itulah laba KMTR nyungsep lagi. Namun fakta bahwa harga karet di tahun 2018 kemarin bahkan lebih rendah lagi dibanding tahun 2014, sedangkan KMTR so far masih membukukan laba (jadi gak sampe rugi lagi), maka kinerja KMTR terbilang masih bagus, sekali lagi, jika perbandingannya adalah kinerjanya di tahun 2014 diatas.
Beberapa hal penting terkait perusahaan:
  1. Modal utama KMTR sejak awal adalah koneksi owner-nya, Theodore P. Rachmat, dengan perusahaan-perusahaan ban kelas dunia, karena memang dulu Mr. Rachmat merupakan dirut Astra Internasional, perusahaan otomotif terbesar di Indonesia. Saat ini 12 dari 20 produsen ban terbesar di dunia merupakan pelanggan KMTR, dan bisa dibilang bahwa Mr. Rachmat simply menghubungkan Bridgestone dkk dengan petani dan pabrik karet di Indonesia, yang jumlahnya sangat banyak (karena seperti yang disebut diatas, Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua di dunia, setelah Thailand).
  2. Pohon karet butuh waktu 5 – 6 tahun dari sejak ditanam hingga dewasa dan bisa disadap, alias lebih lama dibanding pohon sawit yang hanya butuh 3 tahun, sehingga akan lebih mudah bagi KMTR untuk membeli karet mentah dari petani-petani pemilik kebun yang sudah ada, daripada menanam pohon karetnya sendiri. Inilah kenapa meski pendapatan KMTR bisa mencapai lebih dari Rp10 trilyun setiap tahunnya, namun laba bersihnya hanya sekian ratus milyar Rupiah, karena ada beban pokok yang sangat besar berupa pembelian bahan baku.
  3. Karena KMTR membeli bahan baku dari petani, maka fokus perusahaan sedari dulu adalah membantu para petani itu sendiri untuk bisa terus produktif, karena para petani kecil ini umumnya terbatas dalam hal modal, pengetahuan dll, dibanding perusahaan perkebunan karet skala besar. And so far, KMTR cukup baik dalam hal memberdayakan petani tersebut, dimana perusahaan belum pernah kekurangan pasokan bahan baku.
  4. Karena bisnisnya sederhana, yakni beli getah karet dari petani, diolah jadi crumb rubber, lalu jual, maka neraca KMTR juga terbilang bersih dan simpel. Perusahaan memang punya utang bank jangka panjang sebesar Rp1.7 trilyun, cukup besar dibanding ekuitasnya yang hanya Rp1.5 trilyun, namun itu adalah untuk keperluan membeli bahan baku karet mentah. Dan karena omzet/pendapatan KMTR mencapai Rp12 trilyun per tahun, maka dana pinjaman bank tersebut memang muter buat beli bahan baku tadi/omzet KMTR bisa lebih kecil andaikan utang tersebut tidak ada. Bunga utangnya juga terbilang murah, yakni US Libor 3 bulan (sekitar 2.7%) ditambah margin maksimal 4.0%, sehingga totalnya hanya 6.7% per tahun.
Sekarang balik lagi soal harga karet internasional. Seperti yang bisa anda lihat di grafik berikut, harga karet pernah mencapai level yang sangat tinggi di US$6.26 per kg di tahun 2011, tapi setelah itu terjun bebas hingga mentok US$1.23 di awal tahun 2016, sebelum kemudian naik lagi sampai US$2.71 di awal tahun 2017, lalu turun lagi hingga US$1.35 di bulan November 2018, dan terakhir berada di posisi US$1.59 pada Januari 2019.
Harga karet internasional dalam 10 tahun terakhir. Sumber: Indexmundi.com

Nah, dari sini bisa kita lihat bahwa harga karet dunia terbilang sangat fluktuatif, jauh lebih fluktuatif dibanding harga minyak atau batubara. Kondisi ini mungkin menjelaskan kenapa nggak banyak perusahaan karet skala besar di Indonesia meski kita notabene adalah produsen karet alam terbesar di dunia, karena bisnis karet ini sangat risky, yakni gimana kalau besok-besok harga karet anjlok lagi? Sedangkan Indonesia tidak punya kendali terhadap harga karet dunia, karena kita baru bisa memproduksi karet-nya, tapi belum bisa bikin ban dll (memang ada Gajah Tunggal, tapi GJTL masih jauh lebih kecil dibanding Bridgestone dkk). Namun KMTR diuntungkan karena perusahaan, sekali lagi, memiliki hubungan baik dengan pabrik-pabrik ban di seluruh dunia yang selalu siap membeli crumb rubber hasil produksi perusahaan, berapapun harganya.
Kemudian, berbeda dengan harga batubara dan minyak yang sudah naik lagi dibanding titik terendahnya di tahun 2016 lalu, harga karet saat ini masih berada di salah satu titik terendahnya. Yang ini artinya, meski harga karet kedepannya memang tidak bisa diprediksi, namun no way dia bakal turun lebih rendah lagi, karena harga karet sekarang ini bahkan tidak lebih tinggi dibanding harganya 15 tahun yang lalu. Perlu diketahui juga bahwa terdapat dua jenis karet: Karet alam (natural rubber) yang dibuat dari getah pohon karet, dan karet sintetis, yang dibuat dari proses kimia minyak bumi. Karena di negara-negara maju produsen otomotif seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman tidak ada pohon karet, maka dimasa lalu 65% produksi karet dunia merupakan karet sintetis, namun karet alam lebih disukai karena kualitasnya lebih baik/lebih tahan lama. Tingginya permintaan karet alam menyebabkan negara-negara di Asia Tenggara menanam pohon karet secara besar-besaran sejak awal dekade 2000-an, sehingga suplai karet alam meningkat, dan alhasil saat ini produksi karet dunia tinggal 57% yang merupakan karet sintetis, sedangkan 43% sisanya adalah karet alam. Karena trend penggunaan karet alam masih terus meningkat, maka sekali lagi, harga karet seharusnya tidak akan turun lebih rendah lagi (harga karet diatas adalah harga karet alam). Dan asal harga karet kedepannya tidak turun, maka selanjutnya cuma soal waktu sebelum dia akan naik.
Nah, semua uraian diatas menjelaskan kenapa HSF berani setor modal lagi ke KMTR, bahkan pada harga saham diatas harga pasar, termasuk menjadi pemegang saham mayoritas dengan memegang 50.5% saham KMTR: Mungkin itu karena mereka melihat bahwa harga karet saat ini, yakni US$1.59 per kg, itu sudah sangat rendah, dan cuma soal waktu sebelum nanti akan naik lagi. Sebab dulu juga ketika harga karet turun sampai menyentuh US$1.5 per kg, maka perusahaan-perusahaan karet di Indonesia, Thailand, dan Malaysia, dengan dukungan pemerintah di ketiga negara, pernah membuat kesepakatan untuk membatasi volume ekspor dalam rangka menurunkan pasokan karet dunia, dan pada akhirnya menaikkan kembali harga karet. Thus, kalaupun besok-besok harga karet turun lagi, maka kita tahu bahwa perusahaan dan pemerintah tidak akan tinggal diam.
Dan gak perlu naik sampai US$6 seperti di tahun 2011, jika harga karet naik sampai US$2.5 – 3 per kg saja, maka KMTR bakal jackpot lagi. Untuk urusan pembeli sudah aman, karena Grup Triputra juga masih ada disitu. Dan untuk urusan bahan baku juga sudah aman karena KMTR sudah sangat berpengalaman dalam hal memberdayakan petani. Satu-satunya risiko adalah jika Grup Triputra, karena posisinya tidak lagi menjadi pemegang mayoritas, kemudian melepaskan pengelolaan KMTR ini secara seluruhnya ke tangan HSF, sedangkan sejak awal KMTR ini bisa maju karena tangan dingin dari Mr. Rachmat (atau melalui putranya yang menjadi direktur perusahaan, Arif Rachmat). Tapi seharusnya itu tidak terjadi, karena saham Triputra di KMTR masih lebih dari 40%, alias masih cukup besar, sehingga kalau KMTR kenapa-napa maka mereka sendiri yang rugi (dan Triputra juga mungkin butuh keberadaan HSF yang berasal dari Singapura, karena KMTR banyak ekspor melalui Singapura, dan harga karet internasional juga ditentukan di Singapore Commodity Exchange).
Prospek Saham KMTR
Okay Pak Teguh, tapi itu kan dari sudut pandang HSF dan Triputra sebagai pemegang saham pengendali di KMTR. Lalu bagaimana prospek KMTR ini dari sudut pandang investor ritel? Well, mari kita cek lagi KMTR ini dari sudut valuasi saham serta kinerja terakhirnya di Kuartal III 2018 kemarin: Karena laba KMTR terakhir masih turun, dan karena diatas kita baru mengatakan bahwa harga karet sudah cukup rendah dan harusnya gak turun lebih dalem lagi, tapi disisi lain kita nggak tahu juga kapan harga karet akan naik lagi (bisa sangat lama dari sekarang), maka ini artinya laba KMTR belum tentu akan naik lagi di tahun 2019 ini, atau bahkan di 2020 nanti. Dan itu artinya, sahamnya juga belum punya alasan untuk naik. Sebab kalau kita lihat juga harga CPO, yang mencapai titik terendahnya di 1,900 Ringgit Malaysia per ton beberapa tahun lalu, tapi sampai sekarang dia cuma naik sedikit ke RM2,250 per ton (dan alhasil sampai sekarang emiten-emiten sawit di Indonesia masih pada tekor), maka bukan tidak mungkin harga karet juga akan disitu-situ saja dalam 2 – 3 tahun kedepan. Jika HSF memutuskan untuk masuk lebih banyak ke KMTR, maka itu karena sebagai pengendali perusahaan, horizon investasi mereka biasanya sangat panjang antara 5 – 10 tahun, tapi jangka waktu holding investor publik biasanya lebih pendek dari itu.
Jadi kesimpulannya, akan lebih baik jika kita menunggu salah satu dari dua hal berikut, sebelum kemudian masuk ke KMTR: 1. Harga karet naik, linknya bisa dilihat disini, atau 2. Laba KMTR naik. Untuk langsung masuk di harga sekarang, maka itu gak worth it, karena meski HSF menebus saham anyar KMTR pada harga 530, tapi pada harga 356, PBV KMTR masih tercatat 1.7 kali (sudah memperhitungkan tambahan setoran modal dan peningkatan jumlah saham setelah right issue-nya), gak bisa disebut murah untuk ukuran saham komoditas yang relatif high risk, dan belum cukup populer di mata investor di BEI.
Tapi karena untuk mengecek harga karet, atau laporan keuangan terbaru KMTR, dua-duanya sangat mudah dilakukan, maka KMTR ini tetap layak untuk setidaknya masuk watch list, untuk nanti kita masuk jika timing-nya sudah tepat. Karena, hey, ingat sekali lagi bahwa, asal harga karet naik sampai US$2 – 3 per kg saja, maka KMTR ini bakal jackpot lagi, dan demikian pula sahamnya bisa kembali menggapai langit, seperti tahun 2017 kemarin.
Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, tersedia pula Ebook edisi lama dengan harga diskon.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Buku Karya Value Investor Senior: Pak Joeliardi

Sebagai investor, ada satu ‘aset’ yang menurut penulis sangat berharga untuk dimiliki, namun sekaligus sangat sulit untuk diperoleh: Kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan investor yang lebih senior. Berharga, karena dari mereka-lah kita bisa memperoleh sharing pengalaman, pencerahan, dan nasihat-nasihat penting, dimana itu semua sangat dibutuhkan dalam kegiatan berinvestasi itu sendiri. Namun kesempatan ini juga sulit untuk diperoleh, mengingat investor senior yang sudah berinvestasi di pasar saham sejak tahun 80-an atau 90-an (BEI itu sendiri baru buka lagi tahun 1977), dan masih aktif berinvestasi sampai sekarang, itu jumlahnya sangat sedikit. Dan kalaupun ada maka biasanya mereka low profile dan cenderung tertutup, yang jangankan ditemui, untuk ditelpon saja susahnya sampai jungkir balik.

Jadi ketika penulis memperoleh jadwal makan siang dengan Bapak Joeliardi Sunendar, seorang (value) investor aktif yang sudah berpengalaman sejak awal dekade 1990-an, maka penulis tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Profil lengkap Pak Joeliardi bisa dibaca lagi disini.
Nah, kabar baiknya, karena Pak Joel sejak awal memiliki passion untuk menulis dan memberikan edukasi (beliau sudah mengajar sejak semasa kuliah di Fakultas Ekonomi, UI), maka beliau adalah satu dari sedikit investor senior di Indonesia yang tidak hanya sarat pengalaman, tapi juga mampu menuangkan pengalamannya tersebut dalam bentuk tulisan maupun speech yang enak dibaca dan didengar, dan juga mudah dipahami. Dalam setahunan terakhir, Pak Joel mengumpulkan sebagian tulisan-tulisannya tersebut menjadi satu buah buku setebal lebih dari 300 halaman (Volume I, nanti akan ada lagi volume II, III, dan seterusnya, karena pengalaman yang akan di-share memang buanyak sekali), yang bisa anda baca sendiri dirumah.
Cover depan dan belakang, klik gambar untuk memperbesar
Dan berikut daftar isi dari buku tersebut:

Bab I. Saham, Instrumen Investasi Terbaik:
  • The Buffett Way: Memahami cara berpikir dan berinvestasi Warren Buffett
  • Equity bond
  • Keunggulan individual investor dibanding fund manager
  • Bisakah investor ritel menghasilkan kinerja profit lebih baik dibanding investor profesional? Bisa!
  • Invest in what you know
  • Belajar dari kedai kopi, dan Bank Permata
Bab II. Beda Metode Investasi? So What?
  • Apa yang Terjadi dengan Harga Saham?
  • Time Gap, dan perbedaan derap waktu.
Bab III. Ketika Kesempatan Itu Datang
  • Memahami koreksi pasar dan penurunan harga saham.
  • Jangan biarkan pergerakan IHSG menggiring anda ke jalan yang salah!
  • Contrarian Investor
  • Selalu siapkan dry powder
  • Peluang di bursa-bursa saham utama dunia.
Bab IV. Time is Your Friend
  • Memahami time frame investasi
  • Tiga puluh tahun lagi saya pensiun
  • Diversifikasi, atau satu saham saja?
  • Mengenal trailing stoploss
Bab V. Pengalaman Profit ‘Multibagger’ di BEI
  • Indika Energy
  • Harum Energy
***

Bukunya akan terbit bulan Maret 2019 ini, harganya Rp250,000 per eksemplar.
Untuk pemesanan, kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek ‘Buku Pak Joeliardi’, dengan isi: Nama lengkap, nomor telepon, dan alamat lengkap beserta kode pos.
Nanti anda akan memperoleh email balasan berisi konfirmasi bahwa pesanan anda sudah diterima termasuk jumlah yang harus anda transfer (harga buku plus ongkos kirimnya), dan bahwa nanti akan akan dikabari lagi jika bukunya sudah dikirim (plus nomor resi pengirimannya, kami pakai JNE atau semacamnya).
Demikian, semoga bermanfaat!
Merci,
Teguh Hidayat
Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memperolehnya [...]

Value Investing: Analogi Sederhana

Beberapa waktu lalu di Instagram penulis posting ‘value investing quiz’ dengan pertanyaan, jika anda hendak bepergian pakai pesawat dari Jakarta ke Padang dengan hanya dua pilihan jadwal berikut (di hari yang sama), maka berdasarkan kaidah value investing, manakah yang akan anda pilih? Lion atau Garuda? Dan ternyata banyak sekali jawaban yang bagus-bagus yang masuk. Nah, sekarang giliran jawaban dari saya.

Sekilas, kita akan ambil tiket Lion karena harganya lebih murah, lebih rendah 20% dibanding harga tiket Garuda. Selisih 20% atau Rp323,500 ini mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, namun jika anda bisa saving 20% dari setiap transaksi yang anda lakukan (tidak hanya dari membeli tiket pesawat), kemudian uang tersebut diinvestasikan dan menghasilkan return 20% juga setiap tahunnya selama 20 tahun, maka hasilnya akan luar biasa. Value investor mampu untuk menilai sejumlah aset tidak hanya berdasarkan angka nominalnya pada saat ini, namun hingga jauh di masa yang akan datang.
However, pelayanan yang diberikan Garuda tentu jauh lebih baik dibanding Lion, dan harga tiket Lion ke Padang itupun sebenarnya jauh lebih mahal dibanding biasanya. Sehingga, yes, meski biaya tiket Garuda lebih tinggi, tapi masih worth itdibanding pelayanan yang diperoleh, dan kita masih bisa saving 20% dari transaksi yang lain yang kita lakukan. Kemudian beberapa waktu lalu Lion juga pernah mengalami kecelakaan. Sehingga, meski secara statistik, pesawat terbang adalah yang paling aman dibanding moda transportasi lainnya, namun beberapa orang mungkin tidak akan nyaman naik Lion/ketika pesawat di udara maka itu akan terasa sangat menegangkan. In that case, dia sebaiknya pilih Garuda saja, bahkan meski harganya lebih tinggi lagi.
Tapi kemudian kita lihat lagi waktunya: Garuda take off pukul 06.15 pagi, yang artinya anda harus berangkat dari rumah pukul 03.15 subuh atau lebih awal lagi, karena bandara CGK itu memang jaraknya cukup jauh, dan ada risiko jalan macet karena orang-orang masuk kerja. Ini artinya terdapat risiko anda akan ketinggalan pesawat, dan risiko itu lebih kecil jika anda ambil Lion, karena jadwalnya agak siang (pukul 11.55). Risiko ini sangat penting untuk diperhatikan, karena jika anda ketinggalan pesawat maka anda akan keluar biaya yang sangat besar (yang sebenarnya tidak perlu) untuk membeli tiket baru. Remember the rules in value investing: Never lose money.
Dengan mempertimbangkan risiko diatas, maka Lion relatif lebih aman. Tapi kemudian anda lihat lagi: Dengan harga tiket yang memang cukup tinggi, maka kemungkinan jumlah penumpangnya akan sedikit, dan pihak maskapai Lion bisa saja membatalkan jadwal tersebut, atau menundanya hingga keesokan harinya (dan mereka sering melakukan itu). Jika ini yang terjadi, maka juga terdapat risiko bahwa anda akan rugi waktu, dan risiko ini juga sangat penting untuk diperhatikan, terutama jika anda berangkat ke Padang untuk urusan bisnis yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.
Jadi ternyata, mengambil Garuda ataupun Lion, dua-duanya ada risikonya. Tinggal anda tentukan sendiri: Jika anda tidak masalah harus bangun dini hari, maka ambil Garuda. Tapi jika anda tidak sedang buru-buru, dan gak masalah jika ternyata penerbangannya delay atau ditunda, maka ambil Lion.
Kemudian terakhir, jika anda pilih Lion, maka dapetnya 31 poin, tapi jika anda pilih Garuda, dapetnya 63 poin. Sekilas ini menjadikan Garuda lebih baik (karena poinnya lebih besar), tapi sebenarnya poin itu nilainya sangat kecil, hanya Rp100 per poin, dan harus terkumpul 1,000 poin terlebih dahulu agar bisa ditukar dengan diskon tiket senilai Rp100,000. Ini artinya kalau anda ambil Garuda, maka anda dapat selisih 32 poin senilai Rp3,200 saja (harga sebungkus mi instan), really gak seberapa dibanding harga tiket Garuda itu sendiri yang mencapai Rp1.5 juta. Jika anda memilih Garuda hanya karena faktor poin ini namun mengabaikan risiko ketinggalan pesawat tadi, maka anda bisa saja kehilangan Rp1.5 juta sama sekali ketika anda harus beli tiket baru, hanya untuk memperoleh ‘bonus’ senilai Rp3,200 tadi, yang bahkan belum tentu bisa dipakai karena harus terkumpul 1,000 poin terlebih dahulu.
Kesimpulannya, sebelum membeli barang atau jasa, value investor selalu mempertimbangkan hal-hal berikut:
  1. Harga. Lebih murah praktis lebih baik, dan ingat bahwa selisih harga sekecil apapun akan jadi besar jika dikumpulkan, kemudian diinvestasikan.
  2. Kualitas barang/jasa. Value investor memang terkesan pelit dan kelewat hemat dalam kehidupan sehari-harinya, tapi sebenarnya itu tidak tepat, karena kami juga tidak masalah membeli produk/jasa pada harga yang tinggi selama itu setimpal dengan nilai atau manfaat dari produk yang diterima. Adalah lebih baik membayar 900 untuk memperoleh barang senilai 900 juga, daripada membayar 700 namun hanya untuk memperoleh barang senilai 500, dan
  3. Tingkat risiko.
Keputusan untuk membeli sesuatu, baik itu saham atau lainnya, tanpa mempertimbangkan ketiga hal diatas, adalah lebih dekat ke spekulasi ketimbang investasi. Plus satu lagi: Kita harus bisa memilah-milah informasi terkait produk yang akan kita beli, karena tidak semua informasi tersebut pentinguntuk dijadikan bahan pertimbangan (Contohnya soal poin tadi). Well, dalam berinvestasi di saham, munculnya ‘informasi yang tidak penting’ ini, yang kemudian membuat orang ramai-ramai membeli atau menjual saham tertentu padahal informasi tadi hampir tidak berdampak apapun terhadap fundamental perusahaan, maka itu cukup sering sering terjadi bukan? Jadi disinilah kita harus hati-hati.
Nah sekarang kita quiz lagi: Ketika anda membaca artikel ini, maka barang atau jasa apa (bukan saham) yang terakhir anda beli? Apakah anda membelinya sesuai kaidah value investing? Jika iya, bagaimana analisanya?
Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.

Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman/audiobook seminarnya saja dulu (terbaru tahun 2019). Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

‘Wonderful Company’ di Sektor Konstruksi

Kalau kita bicara sektor konstruksi, maka perhatian investor dalam 1 – 2 tahun terakhir ini hanya terfokus pada emiten-emiten konstruksi BUMN, karena di lapangan kita bisa melihat bahwa pembangunan infrastruktur terus dikebut oleh Pemerintah, dan yang diuntungkan tentunya adalah Waskita Karya dkk. However, perusahaan konstruksi sebenarnya tidak melulu membangun jalan tol dll, melainkan ada juga konstruktor spesialis membangun gedung dan properti. Hanya memang, seiring dengan masih lesunya industri properti itu sendiri, maka kinerja emiten konstruktor gedung ini juga ikut melambat dalam 1 – 2 tahun terakhir, demikian pula saham mereka ikut turun. Namun ternyata masih ada satu perusahaan konstruksi gedung yang kinerjanya baik itu dari sisi pendapatan, laba bersih, nilai kontrak, hingga nilai dividen yang dibayarkan, hingga Kuartal III 2018 kemarin hampir semuanya konsisten naik meski tipis (tapi masih lebih baik dibanding kinerja konstruktor lain yang turun). Perusahaan apakah itu?

Jawabannya adalah Total Bangun Persada (TOTL). Yup, berikut adalah rangkuman kinerja perusahaan dalam 5 tahun terakhir, angka dalam milyaran Rupiah kecuali dividen. Angka pendapatan dan laba bersih untuk tahun 2018 adalah berdasarkan laporan keuangan Kuartal III yang sudah disetahunkan.
Tahun
2014
2015
2016
2017
2018*)
Nilai Kontrak
3,400
3,800
4,500
4,600
4,600
Pendapatan
2,106
2,266
2,379
2,936
2,686
Laba Bersih
161
191
223
245
257
Dividen (Rp per saham)
35
30
40
45
50
*) Pendapatan dan Laba Bersih disetahunkan
Nevertheless, seperti juga saham-saham konstruksi lainnya, sejak akhir 2014 lalu TOTL tetap turun dari 1,100-an hingga mentok di 500, Oktober 2018 kemarin, sebelum kemudian naik sedikit ke level sekarang (590). Biasanya sih, kalau ada saham udah turun banyak ketika di periode yang sama kinerja perusahaannya masih tumbuh lancar, maka valuasinya bakal jadi murah. Namun dengan PBV yang masih 2.0 kali pada harga 590, maka apakah TOTL sudah bisa dikatakan murah, terutama mengingat PBV saham-saham konstruksi lainnya saat ini hanya 1 koma sekian? Untuk menjawab ini maka mari kita pelajari lagi TOTL dari awal.
Total Bangun Persada adalah salah satu perusahaan konstruksi swasta tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1970, namun baru muncul ke permukaan setelah perusahaan menyelesaikan kontrak besar pertamanya, yakni Gedung Bank Buana di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, pada tahun 1986. Setelah itu TOTL banyak menyelesaikan pengerjaan gedung bertingkat seperti Wisma GKBI, Hotel Crowne Plaza, Apartemen Regatta, Superblock Central Park, dan The City Tower, kesemuanya di Jakarta. Mayoritas gedung yang dibangun TOTL memiliki citarasa arsitektur yang modern dan mewah, sehingga TOTL kemudian dikenal sebagai konstruktor gedung-gedung kelas premium atau ‘Grade-A’. Ibaratnya jika konstruktor lain bisa membangun rumah susun, maka TOTL hanya membangun kondominium. Beberapa proyek prestisius yang saat ini sedang digarap perusahaan adalah Thamrin Nine Tower, Millenium Village Lippo Karawaci, Verde II Condominium, dan Chitaland Tower. Selain menjadi kontraktor tunggal, TOTL juga menggarap beberapa proyek kerjasama operasi dimana kontraktornya ada dua atau tiga (misalnya ketika perusahaan membangun Menara Astra di Jln. Sudirman, Jakarta), dan yang dibangun adalah tetap gedung kelas premium.


Beberapa proyek yang tengah dikerjakan oleh TOTL

Dan mungkin karena perusahaan bermain di segmen konstruksi gedung premium, sekaligus satu-satunya konstruktor lokal dengan track record panjang di bidang ini, maka perusahaan bisa kasih harga tinggi ke developer pemilik gedung, dan alhasil margin laba TOTL jauh lebih baik dibanding perusahaan konstruksi lain pada umumnya. Kemudian satu lagi: Karena material yang dibutuhkan untuk membangun gedungnya seringkali harus spesifik dan unik (untuk keperluan desain arsitekturnya tadi), maka TOTL biasanya meminta pihak developer untuk menyediakan material tersebut, dan alhasil TOTL gak perlu ngutang ke toko bahan bangunan, sehingga di neraca laporan keuangannya, utangnya terbilang kecil, dan bahkan tidak ada hutang bank, dimana hal inipun menyebabkan margin labanya menjadi besar (karena tidak ada beban bunga). Sebelumnya sedikit catatan, kalau konstruktor yang lain, biasanya pihak pemilik gedungnya mau tau beres saja, sehingga untuk bahan baku material pembuatan gedungnya ditalangi oleh si konstruktor itu sendiri, dengan cara ngutang dulu ke pabrik semen dll. Inilah yang menyebabkan liabilitas WSKT dkk jauh lebih besar dari ekuitasnya, karena adanya utang usahayang besar.
Faktor-faktor lainnya yang juga penting untuk diperhatikan.
  1. TOTL hanya fokus membangun gedung bertingkat kelas premium (high-rise premium building) saja. Berdasarkan pengalaman, perusahaan dengan jenis usaha yang sangat spesifik seperti TOTL ini kinerjanya bagus dan kosisten dalam jangka panjang, dan dalam kasus TOTL memang benar demikian (bahwa kinerjanya bagus). TOTL juga tidak punya catatan pernah mengalami hambatan tertentu dalam menyelesaikan proyek: Rata-rata semua proyeknya selesai sesuai target dan tepat waktu.
  2. Tidak ada informasi marketshare TOTL di pasar konstruksi gedung di Indonesia, namun kemungkinan perusahaan adalah nomor dua setelah Wijaya Karya Gedung (WEGE). However, WEGE unggul karena banyak pegang proyek Pemerintah, dan WEGE tidak selalu membangun gedung Grade-A. Sedangkan di pasar konstruksi gedung premium milik swasta, maka TOTL adalah nomer satu.
  3. Pemilik perusahaan, Pak Reyno Adhiputranto, sampai saat ini (usia 75 tahun) masih menjabat langsung sebagai Komisaris Utama, dan kelihatannya beliau juga gak punya usaha lain kecuali fokus di TOTL ini. Dan karena ownernya memang ‘orang teknik’ dan bukannya investment banker atau semacamnya (Pak Adhiputranto dulu lulusan Teknik Sipil ITB), maka TOTL dari dulu dikelola dengan cara tradisional seperti seharusnya perusahaan konstruksi: Ikut tender, terima kontrak, kerjakan gedungnya, selesai, terima bayaran. TOTL dari dulu gak pernah ambil utang berlebihan atau investasi yang aneh-aneh, melainkan sekali lagi, hanya membangun gedung saja.
  4. Seiring dengan profitabilitasnya yang sangat baik (ROE TOTL rata-rata lebih dari 20% dalam 10 tahun terakhir), maka TOTL juga termasuk royal dividen, dimana dividend payout ratio-nya mencapai 50 – 60% dari laba bersih perusahaan setiap tahun. Terakhir, TOTL membayar dividen Rp50 per saham pada Mei 2018. Thus, meskipun valuasi TOTL mungkin tampak tidak murah dari sisi PBV atau PER, namun dengan dividend yield 50 / 590 = 8.5%, maka sahamnya tetap sangat menarik.
  5. Meski sahamnya tampak turun dalam 5 tahun terakhir seiring dengan lesunya industri properti, tapi jika kita tarik datanya lebih jauh, maka pada Januari 2009 lalu TOTL masih berada 63, sehingga dengan demikian sahamnya sudah naik hampir 10 kali lipat dalam 10 tahun terakhir, dan itu belum termasuk dividen, dimana jumlah dividen inipun sangat besar. Jika memperhitungkan dividen ini, maka besar kemungkinan bahwa TOTL adalah tetap merupakan salah satu saham yang memberikan total gain paling besar bagi para investor di pasar saham dalam 10 tahun terakhir di BEI, dimana itu selaras dengan catatan kinerjanya yang memang juga ‘Grade-A’.
  6. Berbeda dengan saham konstruksi lainnya terutama konstruksi BUMN yang sering ‘diserang’ rumor aneh-aneh, dan juga sahamnya sangat fluktuatif (gampang naik tapi gampang juga turunnya), maka TOTL ini pergerakannya lebih adem, dan juga gak pernah diserang berita negatif apapun. Thus, sahamnya sangat cocok bagi anda yang masih gampang jantungan atau belum bisa menganalisa news: Beli saja, lalu silahkan tidur.
Kemudian, setelah melewati masa-masa ‘kering’ dalam beberapa tahun terakhir, barulah pada tahun 2019 ini TOTL kembali mentargetkan perolehan kontrak yang lebih tinggi, dalam hal ini Rp5.0 trilyun, dengan target pendapatan Rp3.1 trilyun. Hal ini seiring dengan mulai meningkatnya permintaan konstruksi untuk proyek-proyek apartemen, perkantoran, kawasan terpadu, pusat perbelanjaan, hingga hotel. Dan menariknya, dari tender-tender konstruksi yang diikuti perusahaan, 65% diantaranya berasal dari pelanggan baru dan hanya 35% yang berasal dari pelanggan lama. Ini artinya ada cukup banyak developer properti yang baru muncul, yang berpotensi menjadi pelanggan tetap TOTL untuk jangka panjang kedepannya, sehingga portofolio proyek milik TOTL akan meningkat signifikan. Manajemen TOTL sendiri mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak pernah kekurangan permintaan konstruksi, tapi kemarin-kemarin itu ada banyak konsumen yang menunda pelaksanaan proyeknya karena mereka belum ada dananya. Tapi sekarang, para konsumen ini mulai agresif membangun lagi. Jadi, yep, prospek TOTL untuk 1 – 2 tahun kedepan juga cukup cerah, dimana laba bersih perusahaan bisa diharapkan akan naik signifikan.
Okay, lalu bagaimana dengan sahamnya?
Karena TOTL ini memang barangnya bagus, boleh dibilang tanpa cela sama sekali, maka valuasi sahamnya pun dari dulu selalu premium, dengan rata-rata PBV diatas 3 kali, bahkan pernah mencapai 5 kali pada tahun 2013 lalu, yakni ketika boomingproperti mencapai puncaknya (jaman-jaman Feni Rose selalu ngomong ‘Senin harga naik!’ Masih inget gak??). Kelemahannya hanya di nama perusahaannya yang meski sangat populer di kalangan developer properti, tapi merk ‘Total BP’ kurang terkenal di telinga orang awam ataupun investor pasar saham, dan demikian pula sahamnya gak likuid, jauhlah kalau perbandingannya Waskita Karya dkk. Nevertheless, dengan melihat sahamnya yang tetap ikut naik sejak Oktober 2018 kemarin, maka mungkin PBV 2.0 kali bagi TOTL sudah cukup murah, karena memang kinerjanya juga no problem at all. Kemudian karena Mei nanti perusahaan juga harusnya bakal bayar dividen dalam jumlah besar yakni sekitar Rp50 per saham, maka dia menjadi salah satu dividend stock yang belum naik banyak sejak akhir 2018 kemarin, dan biasanya cuma soal waktu saja sebelum investor akan menyadari hal ini, lalu mereka akan ramai-ramai memborong sahamnya, terutama setelah mereka melihat bahwa sudah agak terlambat kalau mau masuk ke dividend stock yang lain (seperti ADMF, BJTM, atau MYOH). Thus, jika tidak ada force majeure, dan pasarnya tetap bergerak normal, maka TOTL ini menawarkan profit lumayan dalam 3 – 4 bulan kedepan. Dan kalau anda berniat menjadikannya pegangan jangka panjang maka itu juga boleh, karena TOTL ini, meski jenis usahanya adalah konstruksi dan bukannya consumer goods, tapi kinerjanya terbilang sangat konsisten dalam jangka panjang.
Hanya satu hal lagi: Pada Agustus 2018 kemarin, manajemen mengatakan bahwa perolehan laba bersih TOTL untuk tahun penuh 2018 ini mungkin akan sedikit turun dibanding 2017, karena ada sebagian proyeknya yang belum bisa diselesaikan karena masalah perizinan, sehingga perusahaan juga belum bisa menagih bayaran ke pemilik proyek, dan laba tersebut baru akan naik lagi pada Kuartal I 2019. Nah, sebenarnya kalau kita lihat kinerja TOTL di Kuartal III 2018 dimana labanya masih naik, maka kita bisa katakan bahwa proyeksi manajemen tersebut mungkin terlalu pesimis, namun jika beneran itu yang terjadi (laba TOTL turun di Kuartal IV 2018), maka sahamnya bisa jadi batal naik meski juga tidak turun (karena sudah murah, dan karena investor publik yang pegang belum banyak). In short, meski TOTL ini tengah dalam momentum kenaikan menjelang pembayaran dividennya, dan prospeknya untuk jangka panjang juga tampak cerah, namun ada sedikit risiko jangka pendek terkait kinerjanya untuk Kuartal IV 2018 nanti. Sudah tentu, jika dibanding dengan peluang profitnya maka risiko tersebut tetap worth it, namun ini harus tetap menjadi bahan pertimbangan sebelum anda mengambil keputusan.
Untuk ulasan minggu depan, ada usul saham apa yang akan kita bahas selanjutnya?
PT. Total Bangun Persada, Tbk
Rating Kinerja pada Q3 2018: AAA
Rating saham pada 590: A

Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’, atau ‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal IV 2018 sudah terbit! Dan anda bisa langsung memperolehnya disini.

Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman/audiobook seminarnya saja dulu (terbaru tahun 2019). Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning – Kuartal IV 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan kalau bisa perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Ebooknya sudah terbit pada bulan Februari 2019, dan anda bisa langsung memesannya disini.


Halaman daftar isi ebooknya, salah satu edisi sebelumnya

Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor profesional adalah membuat investment planning, dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ‘mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’(saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan itu bahkan belum termasuk diskonjika anda berlangganan ebooknya untuk jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, pioneer metode value investing dalam berinvestasi saham di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi Lestianto-


Menghitung ‘Prospek Saham’ Dalam Value Investing

Kalau anda ketik ‘prospek saham’ di Google, maka akan keluar beberapa sugesti seperti ‘prospek saham antm’, ‘prospek saham bumi’, ‘prospek saham asii’, dan seterusnya. Tapi ketika anda googling ‘valuasi saham’, maka tidak muncul sugesti ‘valuasi saham asii’. Ini menunjukkan bahwa ketika seorang investor di Indonesia mencoba mencari informasi tentang saham tertentu di Google, maka hampir pasti kata yang ia gunakan adalah ‘prospek saham + kode sahamnya’. Hanya ada sedikit investor yang googling informasi tentang saham menggunakan kata ‘valuasi saham A’, ‘kinerja perusahaan B’, atau lainnya. Kata yang paling sering digunakan, sekali lagi, adalah prospek.


Dan memang penulis sendiri kalau ada yang tanya tentang saham tertentu, maka hampir pasti bunyi pertanyaannya seperti ini, ‘Pak Teguh, prospek saham A bagaimana ya?’ Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan prospek disini?
Secara harfiah, ‘prospek’ bermakna sebagai peluang atau kemungkinan terjadinya peristiwa tertentu di masa yang akan datang. Jadi ketika seseorang bertanya, ‘Bagaimana prospek saham A’, maka sejatinya ia bertanya tentang seberapa besar kemungkinan harga saham A akan naik dalam beberapa waktu kedepan, entah itu sebulan kedepan, setahun kedepan, atau malah cuma sehari kedepan. Sehingga jika kemudian jawabannya, ‘Saham A prospeknya bagus’, maka artinya orang yang ditanya secara tidak langsung mengatakan bahwa saham A akan naik.
Tapi apa yang dimaksud ‘prospek’ dalam kaidah ilmu value investing?
Dalam value investing, seperti yang sudah penulis sampaikan berkali-kali di banyak tulisan di blog ini, pekerjaan kita ada dua: Menilai fundamental perusahaan berdasarkan kinerja terbaru dan kinerja historisnya, dan menghitung valuasi sahamnya. Jika kesimpulannya adalah kinerja perusahaan bagus dan valuasinya murah, maka baru kita boleh beli saham tersebut. Tapi seringkali muncul pertanyaan berikutnya: Jika saat ini kinerja perusahaan bagus, maka apakah kinerja yang bagus tersebut akan bertahan kedepannya?Bagaimana jika laba perusahaan tahun ini bagus, tapi tahun depan laba tersebut turun lagi? Kalau itu yang terjadi, maka otomatis sahamnya menjadi tidak layak invest lagi bukan?
Karena itulah, dalam value investing, ‘menghitung prospek’ artinya menghitung peluang soal bagaimana kinerja perusahaan kedepan, apakah bakal bagus atau tidak. Dan soal prospek ini baru bisa ditanyakan jika saham yang bersangkutan sejak awal valuasinya murah dan fundamentalnya bagus, atau kalaupun fundamentalnya tidak terlalu bagus maka valuasinya sudah sangat murah (misalnya karena saham tersebut sudah turun banyak sebelumnya). Sementara soal sahamnya? Well, kalau memang kinerja perusahaan bagus terus maka sahamnya akan ikut naik dengan sendirinya, meski perlu dicatat bahwa kita tidak bisa memprediksi kapan dia akan naik, dimana bisa saja sahamnya malah turun dulu jika IHSG lagi turun, misalnya ketika terjadi koreksi pasar tahun 2018 kemarin. Thus, jika saham A sejak awal perusahaannya labanya kelewat kecil atau rugi melulu, atau valuasinya sudah mahal, atau dua-duanya, maka soal prospeknya nanti gimana sudah tidak penting lagi, karena sejak awal sahamnya sudah tidak layak invest.
Nah, jadi dengan demikian kita punya dua contoh kasus disini: 1. Prospek dari saham berfundamental bagus, dan 2. Prospek dari saham dengan fundamental tidak terlalu bagus, namun valuasinya sudah sangat murah sehingga jika nanti kinerja/laba perusahaan kembali naik banyak, maka sahamnya tetap bisa naik lagi.
Okay, sekarang kita mulai dari contoh pertama dulu: Prospek dari saham yang kinerja laporan keuangan terakhirnya memang sudah bagus. Dalam hal ini kita bisa lihat lagi contoh artikel minggu kemarin soal Adira Dinamika Multifinance (ADMF) (ini link artikelnya). Perhatikan: Di ulasannya, penulis pertama-tama membahas soal fundamental perusahaan (paragraf keempat), dilanjut valuasi sahamnya (paragraf kelima), dimana kesimpulannya adalah ADMF ini bagus dan valuasinya pun masih murah. Namun ketika lanjut membahas soal prospek kinerja perusahaan dalam jangka panjang, maka penulis menyampaikan bahwa di masa lalu, tepatnya tahun 2012 – 2015, ADMF pernah membukukan kinerja yang kurang bagus seiring dengan pengetatan penyaluran kredit oleh Bank Indonesia (BI). Sehingga dalam hal ini ada risiko bahwa ADMF bisa saja kembali membukukan penurunan kinerja di masa yang akan datang. Namun jika ditelisik lagi, alasan BI memperketat penyaluran kredit di tahun 2012 adalah karena adanya kekhawatiran terjadinya credit bubble di sektor properti, dimana harga unit-unit apartemen dll ketika itu bisa naik sampai 100% atau lebih hanya dalam hitungan bulan karena mudahnya mengajukan kredit properti ke bank.
Tapi untuk saat ini, indikasi bubble tersebut sudah tidak ada (malah sektor properti lagi lesu-lesunya), dan mungkin karena itulah BI pada Agustus 2018 merilis peraturan yang pada intinya melonggarkan kembali penyaluran kredit bank dan pembiayaan. Thus, meski risiko terulangnya penurunan kinerja ADMF di tahun 2012 – 2015 tetap ada, namun untuk saat ini risikonya terbilang kecil, dan karena itulah prospeknya cukup cerah. Sebab diluar problem yang disebabkan oleh BI atau otoritas lainnya, ADMF merupakan perusahaan dengan strong power of brand, manajemen bagus, dan merupakan perusahaan pembiayaan terbesar di Indonesia.
However, kasus berbeda terjadi ketika penulis membahas saham Indo-Rama Synthetics (INDR) (ini link artikelnya), dimana kalau anda baca lagi ulasannya, maka penulis mengatakan bahwa INDR ini memang menarik karena kinerja laporan keuangannya (untuk periode Kuartal I 2018) terbilang bagus, dan valuasinya juga tampak sangat seksi di PBV 0.3 kali (pada harga 3,000-an). Namun karena beberapa hal seperti: 1. INDR ini hanyalah bagian kecil dai Indorama Corp milik Sri Prakash Lohia, dengan usahanya yang tersebar di seluruh dunia, 2. Kinerja INDR selama ini jelek terus, sehingga ada kesan bahwa manajemen tidak peduli perusahaan untung atau tidak (yang penting Indorama Corp-nya untung terus), dan 3. Industri kimia tekstil terbilang rumit (mata rantainya ada buanyak dari mulai bahan baku mentah hingga pakaian jadi, kemudian ada pengaruh eksternal dari kurs Rupiah dll karena banyak melakukan ekspor impor) sehingga sulit untuk dipelajari, maka penulis katakan bahwa prospeknya tidak jelas, dimana penulis tidak punya gambaran soal bagaimana kinerja perusahaan kedepannya. Dan karena itulah INDR ini, meski valuasinya murah dan kinerjanya di tahun 2018 terbilang bagus, tapi sahamnya sedikit berbau spekulasi.
Prospek dari ‘Turn Around Company’?
Selain menghitung prospek dari saham yang kinerja perusahaannya/laporan keuangan terakhirnya bagus, maka kita juga bisa menghitung prospek dari saham dengan fundamental tidak terlalu bagus, namun valuasinya sudah sangat murah, biasanya ditandai dengan PBV nol koma sekian, atau PER kurang dari 5 kali. Sehingga jika nanti kinerja/laba perusahaan kembali naik banyak, maka sahamnya tetap bisa naik lagi.
Dan contoh dari kasus ini adalah saham Petrosea (PTRO) (ini link artikelnya), dimana meski hingga Kuartal III 2018, PTRO hanya membukukan laba US$ 17.8 juta, atau masih jauh lebih kecil dibanding rekor labanya di tahun 2011 sebesar US$ 52.6 juta, namun dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti meningkatnya capex, yang artinya perusahaan mulai sibuk gali batubara lagi, kemudian nature bisnis dari PTRO sendiri sebagai perusahaan mining service dimana laba mereka biasanya baru naik agak lama setelah kenaikan harga batubara itu sendiri, dan sahamnya sejauh ini masih melanjutkan trend kenaikan jangka panjangnya, dimana kenaikan tersebut selaras dengan perbaikan fundamental perusahaan sejak 2016 lalu, maka kesimpulannya: Meski kita tidak tahu bagaimana kinerja PTRO dalam 5 – 10 tahun mendatang (karena itu akan bergantung pada naik turunnya harga batubara), namun dalam waktu 1 – 2 tahun kedepan harusnya labanya masih naik, sehingga prospeknya pun menarik. Thus, PBV-nya yang cuma 0.65 kali jelas akan tampak sangat murah, terutama jika ROE PTRO beneran improve kedepannya.

Perusahaan mining service ini sudah turn-around sejak 2016 lalu

Namun tidak semua ‘saham dengan valuasi sangat murah’ punya peluang untuk ‘membukukan kinerja yang lebih baik kedepannya’. Contohnya Krakatau Steel (KRAS), dimana ketika Agustus 2018 lalu penulis membahasnya disini, kesimpulannya adalah saya tidak punya gambaran sama sekali soal gimana kinerjanya di masa yang akan datang, dan karena itulah prospeknya gelap, dan saya sendiri tidak akan membelinya, setidaknya untuk saat ini.
Kesimpulan
Dari penyampaian diatas maka bisa disimpulkan bahwa untuk menilai prospek sebuah saham, maka kita harus menguasai industrinya, dan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhinya, baik itu yang berpengaruh positif maupun negatif. Jadi kalau anda hendak menghitung prospek Bank BRI, misalnya, maka pertama-tama anda harus mengerti industri perbankan itu seperti apa, dan ini bisa dipelajari secara bertahap dalam jangka panjang (anda tidak harus langsung mengerti perbankan hanya dalam semalam), terutama dengan membaca laporan tahunan dari emiten-emiten di sektor perbankan itu sendiri. Hanya memang karena itu terdengar seperti ‘PR’ yang bikin repot, maka kebanyakan investor/trader tidak mau melakukannya (mempelajari suatu sektor/industri secara menyeluruh), dan lebih suka corat coret chart, karena itu kelihatannya ‘lebih gampang’.
Tapi mudah-mudahan setelah membaca artikel ini, maka anda tahu apa yang harus dilakukan. Dan ketika kita berbicara mengenai ‘investasi jangka panjang’, maka soal prospek ini menjadi sangat penting, karena tidak mungkin kita membeli saham tertentu untuk di-hold katakanlah 1 – 2 tahun kedepan, jika kita gak punya gambaran soal bagaimana laporan keuangan perusahaan kedepannya, tak peduli meski kinerjanya saat ini terbilang bagus, dan/atau sahamnya lagi naik. Kalau mau lebih strict, maka kita juga sebaiknya hanya memilih saham yang kinerja perusahaannya dari dulu sampai sekarang baguuuusss terus, sehingga kita gak perlu tebak-tebakan soal prospeknya lagi. Namun karena sulit untuk menemukan saham dengan kriteria seperti itu (kalau ada pun maka biasanya valuasinya sudah mahal), maka pilihan alternatifnya adalah saham dari turn around company, sekali lagi, asalkan valuasinya benar-benar murah, dan prospeknya cerah.
Btw tadinya saya mau nulis analisa sebuah saham, tapi gak jadi karena harganya udah naik duluan seiring dengan naiknya IHSG di awal tahun 2019 ini. Jadi, ada ide saham apa yang menarik untuk dibahas pekan depan?
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Februari 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Peluang di Saham Multifinance

Warren Buffett pernah mengatakan bahwa, ketika menghitung valuasi sebuah saham, maka kita jangan hanya melihat aset-aset berwujud milik perusahaan seperti pabrik, persediaan, piutang dst, melainkan kita juga harus melihat aset-aset tidak berwujud seperti reputasi, kekuatan merk, dan keunggulan kompetitif. Singkatnya, jika ada dua perusahaan dengan nilai buku yang persis sama, namun perusahaan A memilik reputasi yang lebih baik, dan produknya pun lebih dikenal masyarakat dibanding perusahaan B, maka Buffett akan memilih perusahaan A, bahkan meski harganya lebih tinggi.


Dan ini menjelaskan mengapa saham-saham paling populer di Indonesia seperti Bank BCA, Astra International, hingga Telkom, valuasinya jauh lebih tinggi dibanding rata-rata valuasi saham lain yang tidak begitu populer. Contohnya, anda mungkin bisa membeli saham dari perusahaan kecil yang kurang terkenal pada PBV kurang dari 1 kali, namun harga terendah yang bisa anda peroleh untuk saham Astra adalah PBV 2 koma sekian kali, itupun Astra hanya akan turun ke harga tersebut jika pasar sedang bearish.

Tapi bagaimana kalau saya beri tahu anda bahwa ada satu saham, dimana perusahaannya merupakan yang terbesar di bidangnya, memiliki reputasi baik dan merk yang kuat plus track record kinerja yang konsisten, namun valuasinya jauh lebih rendah dibanding Astra dkk?

Yup, saham itu adalah Adira Dinamika Multifinance (ADMF). Dengan total aset Rp30.7 trilyun per 30 September 2018, dan sudah berdiri dan beroperasi sebagai perusahaan pembiayaan otomotif sejak tahun 1991, Adira adalah perusahaan pembiayaan terbesar dan ter-mapan di Indonesia, dan kinerja perusahaan terbilang bagus dalam jangka panjang dimana ROE-nya mencapai 20 – 25% per tahun (hanya pernah sekali turun menjadi 15% di tahun 2014 dan 2015, ketika itu karena terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dan pengetatan penyaluran kredit oleh Bank Indonesia). Namun lebih dari itu, Adira adalah juga perusahaan pembiayaan paling terkenal di Indonesia, dengan reputasi yang juga baik (perusahaan tidak pernah terlibat masalah yang serius baik secara hukum maupun dengan para pelanggannya), dan memiliki jaringan kantor cabang yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Dan bisnis pembiayaan itu sendiri terbilang sangat menguntungkan, karena bunga pinjamannya sangat tinggi namun demikian non performing loan-nya tetap relatif rendah, atau setidaknya untuk Adira dimana NPL-nya hanya 1.6% pada akhir tahun 2017. Per 30 September 2018, rata-rata bunga kontraktual pembiayaan milik Adira mencapai 18.1% per tahun untuk mobil, 34.0% untuk sepeda motor, dan 51.5% untuk barang-barang lainnya. Maksud penulis adalah, dimana lagi anda bisa dapetin bunga sebesar itu??

Informasi suku bunga Adira di laporan keuangannya, halaman 47


Dengan semua kriteria diatas, dan juga karena perusahaan masih membukukan kenaikan laba bersih dan ekuitas pada laporan keuangan terbarunya di Kuartal III 2018, maka normalnya anda hanya akan bisa membeli sahamnya pada valuasi yang premium. Namun pada harganya saat ini yakni Rp9,000 per saham, PBV Adira hanya 1.4 kali, dan PER-nya 5.0 kali. Dan dengan mempertimbangkan dividennya sebesar Rp704.5 per saham (sebelum pajak) di tahun kemarin, maka yield-nya juga tinggi yakni 7.8%.

Jadi apa masalahnya? Well, pertama, mungkin karena Adira memang SEBAGUS ITU, maka Bank Danamon Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas memegang 92.1% saham perusahaan, dan hanya menyisakan 7.5% atau 75 juta lembar saham di pasar untuk dimiliki oleh investor publik (selebihnya dipegang oleh Asuransi Adira), dan itu menyebabkan sahamnya menjadi tidak likuid, dengan nilai transaksi hanya sekitar Rp1 milyar per hari, sehingga sahamnya kurang diminati oleh para investor dan trader. Dan karena permintaannya tidak besar, maka jadilah valuasinya menjadi tidak terlalu tinggi.

Kedua, Adira pernah membukukan penurunan laba yang signifikan mulai tahun 2012 hingga 2015, dimana seperti yang sudah disebut diatas, disebabkan oleh peraturan pengetatan penyaluran kredit oleh BI, dan memang pada periode tersebut saham Adira jatuh dari 12,000 hingga mentok di 3,000. Dan meski laba bersih perusahaan naik lagi di tahun 2016 sampai sekarang, namun kejadian ini mungkin meninggalkan pertanyaan bagi investor yang berpikir untuk membeli sahamnya untuk jangka panjang: Bagaimana jika suatu hari nanti BI kembali memperketat penyaluran kredit keuangan??

Namun untungnya, bahkan jika anda tidak berniat untuk memegang sahamnya selama 5 tahun atau lebih lama lagi, Adira tetap menawarkan profit signifikan untuk jangka yang lebih pendek, dan berikut alasannya. Pertama, meskipun sahamnya tidak likuid, namun Adira tetap naik dari 3,000 hingga 9,000, atau profit tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir (dan belum termasuk dividen!) seiring dengan kinerja fundamental perusahaan yang memang sangat bagus. Kedua, persis Agustus 2018 kemarin, BI mengeluarkan peraturan LTV (loan to value) yang pada intinya melonggarkan penyaluran kredit, yang memungkinkan perusahaan pembiayaan untuk meningkatkan omzet mereka, dan tidak atau belum ada indikasi bahwa BI akan kembali memperketat peraturan tersebut dalam waktu dekat (di tahun 2012, peraturan LTV diperketat karena adanya kekhawatiran terjadinya credit bubble di sektor properti, dimana harga unit-unit apartemen dll ketika itu bisa naik sampai 100% atau lebih hanya dalam hitungan bulan karena mudahnya mengajukan kredit properti ke bank, namun untuk saat ini sudah tidak ada lagi isu bubble tersebut). Dan ketiga, Adira terakhir kali membayar dividen Rp704.5 per saham pada April 2018, jadi kemungkinan perusahaan akan kembali membayar dividen di bulan April 2019 (tinggal beberapa bulan lagi), tentunya pada nilai dividen yang lebih tinggi karena laba perusahaan masih naik sampai tahun 2018 kemarin. Dan biasanya, sahamnya bakal naik banyak sebelum tanggal cum dividennya, karena tingginya dividend yield itu sendiri.

Kesimpulannya, kita sekarang punya satu saham yang menawarkan peluang investasi baik itu untuk jangka pendek maupun panjang, dan momentumnya juga sudah pas banget, dimana anda mungkin akan kehilangan peluang ini jika anda baru membaca analisis ini 6 atau 12 bulan dari sekarang. Karena, sebelum tahun 2012, Adira memang dihargai pada valuasi premium (karena merk ‘Adira’-nya yang terkenal, plus kinerja yang konsisten), dengan PBV lebih dari 4 kali. Jadi jika perusahaan mampu menjaga kinerjanya saat ini (yang sudah naik lagi sejak tahun 2016 lalu) sampai beberapa tahun kedepan, dan perusahaan punya peluang besar untuk itu, maka suatu hari nanti harganya akan kembali premium seperti di masa lalu. Singkatnya, it’s now or never!

Disclosure: Ketika analisa ini diposting, Avere sedang dalam posisi memegang ADMF di harga 8,175. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Talkshow Sharing Pengalaman Investasi Saham

Berikut ini adalah video ketika penulis memenuhi undangan BEI Kantor Perwakilan Kalimantan Selatan untuk sharing pengalaman investasi saham, dengan lokasi acara di Hotel Mercure, Kota Banjarmasin. Dalam kesempatan ini penulis berbagi cerita tentang bagaimana awalnya saya masuk ke dunia pasar saham, pengalaman ketika membuka rekening di sekuritas untuk pertama kali, hingga pengalaman membeli saham-saham tertentu, yakni pada tahun 2009 – 2010 lalu. Okay, kita langsung saja.

Penulis insya Allah akan juga memenuhi undangan dari BEI Kanwil Sumatera Barat, untuk sharing session di Kota Padang, 26 Januari mendatang (Acaranya gratis! Silahkan hubungi langsung panitianya), dan nanti acaranya juga akan divideokan.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham di Tahun Pemilu 2019

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, topik ‘prospek atau outlook pasar saham’ di awal tahun 2019 ini mungkin menjadi topik yang sangat penting bagi banyak investor, dan ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, sebagaimana yang kita ketahui, di tahun ini di Indonesia akan ada hajatan besar yakni Pemilihan Umum (Pemilu) sekaligus Pemilihan Presiden (Pilpres). Nah, meski Indonesia pasca reformasi sudah rutin menggelar Pemilu 5 tahunan sejak tahun 1999 lalu, dan juga menggelar Pilpres sejak 2004, namun memang Pemilu tahun 2019 ini sejak awal terasa berbeda khususnya bagi investor saham.

Sebab ketika terakhir kita menggelar Pemilu di tahun 2014, jumlah investor ritel di bursa belum sebanyak sekarang. Pada tahun 2014, jumlah rekening investor ritel sekitar 400 ribuan, tapi sekarang jumlahnya melompat menjadi 1.1 juta rekening, thanks to gencarnya kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ oleh BEI sejak tahun 2015 lalu. Ini artinya lebih dari separuh pelaku pasar di bursa adalah investor pemula yang baru buka rekening tahun 2015 keatas, sehingga wajar jika mereka kemudian khawatir soal prospek saham di ‘Tahun Pemilu 2019’ ini, karena memang mereka belum pernah mengalami berinvestasi di saham di tahun pemilu sebelumnya. Yep, jangankan invest di saham, mencoba nangkep ayam untuk pertama kalinya sekalipun akan terasa menegangkan bukan? Dan pasar saham Indonesia saat ini dipenuhi oleh investor yang belum tahu gimana rasanya memegang saham di tahun 2014 lalu.
Itu pertama. Kedua, selain Pemilu untuk memilih anggota legislatif, dan Pilpres untuk memilih presiden, maka persis sejak tahun 2015 lalu, untuk pertama kalinya Indonesia menggelar Pilkada serentak, yakni untuk memilih Gubernur dan Walikota/Bupati. Sebenarnya pilkada ini sudah digelar sejak tahun 2005, namun ketika itu pelaksanaannya tidak bersamaan/tanggal pencoblosannya berbeda-beda untuk tiap daerah, sehingga ‘suasana pemilu’-nya juga hanya terasa di daerah yang bersangkutan ketika mendekati hari pemilihan. Namun karena sejak tahun 2015, pilkada ini dilakukan secara bersamaan pada satu tanggal yang sama, maka jadilah suasana pemilu-nya lebih terasa secara nasional, karena semua calon pemimpin daerah ramai-ramai berkampanye mendekati tanggal pemilihan yang sama.
Dan berbeda dengan pemilu dan piplres yang hanya digelar setiap 5 tahun sekali, pilkada serentak ini digelar hampir setiap tahun, dimana setelah pilkada tahun 2015, maka digelar pula pilkada serentak tahun 2017, dan 2018 kemarin. Alhasil tidak hanya tahun 2019 ini, namun sebenarnya di Indonesia, setiap tahun adalah tahun pemilu, dimana hampir setiap saat kita melihat baligo dan spanduk bergambar wajah politisi dan lambang partai di jalan raya. And thanks to kampanye terus menerus yang dilakukan oleh para pemburu jabatan ini, maka kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pilkada, pemilu, dan pilpres itu sendiri kemudian meningkat pesat, dimana orang kalau gak milih capres A maka ya milih capres B (jarang ada yang golput), dan topik politik kemudian menjadi pembicaraan sehari-hari di media sosial ataupun warung kopi. Pengaruh ‘suasana pemilu’ terhadap keseharian masyarakat ini sedemikian besarnya, sampai-sampai ketika ada berita artis melakukan sesuatu yang kontroversial, dimana biasanya itu menjadi topik hangat yang dibicarakan berhari-hari oleh para biang gosip (dan imbasnya menaikkan popularitas si artis itu sendiri), tapi sekarang itu tidak terjadi lagi/orang sudah tidak lagi peduli. Tapi ketika ada tokoh politisi atau kader partai tertentu yang salah ngomong sedikiiitt saja, maka hebohnya langsung kemana-mana, baik itu dari yang pro maupun yang kontra. Demikian pula ketika seorang artis ikut ‘nyaleg’, maka semua tindak tanduknya yang sebelumnya tidak diperhatikan orang, mendadak jadi bahan pembicaraan netizen kurang kerjaan.
Pemilu Aman dan Damai?
Meski semua fenomena diatas menyebabkan Indonesia menjadi negara yang ‘benar-benar demokrasi’, namun ternyata muncul efek samping: Ketika seseorang kemudian menjadi fanatik terhadap tokoh politisi atau partai tertentu, maka ia akan mulai bersikap kurang bersahabat terhadap siapapun yang tidak ‘satu perahu’ dengannya, dan ini merupakan sumber kekerasan. Yup, jadi sama saja seperti kalau Persija ketemu Persib, maka tidak hanya kedua kelompok suporternya tidak pernah akur satu sama lain, namun terkadang sampai timbul korban jiwa jika kebetulan ada pendukung Persija yang nyasar ke Bandung, atau ada pendukung Persib yang nekad ke Stadion GBK. Demikian pula tim sepakbola lain, yang kalau mereka kalah di kandangnya sendiri maka tidak jarang pendukungnya kemudian berbuat rusuh dan anarkis. Dan ini sama seperti pemilu tahun 2014 lalu, termasuk pilkada-pilkada serentak setelahnya: Setelah selesainya pemilihan itu sendiri, maka hampir pasti pihak yang kalah beserta para pendukungnya tidak akan langsung menerima kekalahan, melainkan akan mencari-cari pembenaran bahwa seharusnya mereka-lah yang menang, hingga menuduh pihak lawan (atau KPU) berbuat curang. Yang paling konyol, penulis pernah mendengar bahwa seorang calon kepala desa bersama para pendukungnya dengan sengaja merusak satu-satunya jalan besar yang menghubungkan desa mereka dengan desa-desa tetangga, cuma gara-gara ia tidak terima kalah di pilkades! Jadi apa jadinya jika pihak yang kalah di pemilu nasional nanti, siapapun itu, melakukan hal yang sama??
Dan penulis kira inilah sumber kekhawatiran semua orang: Sebenarnya gak penting hasil pemilu-nya nanti siapa yang menang, tapi yang penting adalah pelaksanaan pemilu-nya itu sendiri, apakah bisa berjalan aman dan damai, ataukah rusuh. Dan masalahnya orang Indonesia memang gak seperti orang Inggris, yang bisa anteng duduk manis di tribun stadion dan gak masuk ke lapangan meski tidak ada pagar pembatas. Jadi risiko pelaksanaan pemilu yang ‘tidak damai’ akan tetap ada, karena sejak awal pun sudah kelihatan ada banyak politisi beserta para pendukungnya yang menggunakan ‘segala cara’ agar bisa menang, tak peduli meski itu bisa bikin Indonesia jadi tidak aman atau bahkan krisis ekonomi (masih inget propaganda ‘money rush’ di tahun 2016 lalu? Kalau lupa, baca lagi ceritanya disini).
Jadi memang kalau ada pihak yang harus kerja ekstra keras sejak beberapa tahun terakhir ini, maka itu adalah Polri dan TNI, termasuk juga Intelijen. Karena sekali lagi berbeda dengan pemilu-pemilu yang lalu, saat ini risiko terjadinya tindak anarkis tidak lagi hanya bersumber dari para politisi itu sendiri, melainkan juga dari para pendukung garis keras mereka. Lalu bagaimana dengan kinerja tiga lembaga ini sejauh ini?
Untungnya sejauh yang penulis perhatikan, mereka semuanya bekerja dengan cukup baik. Yang paling diingat adalah ketika di tahun 2016 lalu terjadi Aksi Damai 212 yang dihadiri oleh buanyak sekali orang, dimana aksi tersebut bisa saja berakhir rusuh. Sebab jika anda lihat lagi aksi-aksi pengumpulan massa di negara lain, apalagi jika jumlah pesertanya sama banyaknya seperti aksi 212 tersebut, maka endingnya hampir pasti bakal rusuh, termasuk ada korban jiwa. Termasuk di Indonesia sendiri, ketika terakhir kali terjadi aksi turun ke jalan dengan jumlah massa yang sangat besar pada tahun 1998 lalu, maka hasilnya adalah kerusuhan yang menelan ratusan korban jiwa (and yep, IHSG juga wassalam di tahun tersebut).

Namun ternyata aksi di tahun 2016 tersebut berjalan aman dan lancar dan tidak ada korban sama sekali (ada satu peserta yang meninggal namun itu karena serangan jantung). Demikian pula ketika diselenggarakan ‘reuni’ aksi yang sama di tahun 2017 dan 2018 kemarin, dan juga aksi-aksi pengumpulan massa lainnya, maka semuanya aman-aman saja. Mungkin perlu ditegaskan disini bahwa tidak semudah itu bagi aparat untuk mengamankan massa sebanyak itu, apalagi seperti yang sudah disebut diatas, orang Indonesia beda dengan orang Inggris yang gampang diatur. Dengan kata lain, jika Polri dkk selama ini tidak bekerja dengan baik, maka Indonesia ini akan sudah kacau balau sejak Pemilu tahun 2014 lalu, dan berinvestasi di pasar saham juga tidak akan senyaman sekarang (awal tahun 2014, IHSG di posisi 4,274, tapi sekarang sudah 6,000-an).


Posisi IHSG di penghujung tahun 2014. Secara keseluruhan IHSG naik 22.3% di tahun 2014.

Jadi kesimpulannya, selama pihak berwenang bisa terus mempertahankan kinerja mereka saat ini, maka penulis termasuk yang optimis bahwa Indonesia akan tetap aman-aman saja, termasuk IHSG juga akan aman-aman saja. Hanya saja terkait prospek investasi saham itu sendiri, maka karena seperti yang disebut diatas, ada banyak investor yang belum berpengalaman masuk pasar di tahun pemilu 2014 lalu, dan karena adanya pilkada serentak hampir saban tahun menyebabkan ‘gonjang-ganjing’ politik sekarang ini jauh lebih terasa dibanding dulu, maka mungkin pasar saham akan cenderung sepi sampai April 2019 nanti, karena akan ada banyak investor yang memilih wait n see, dan mungkin itu akan bikin IHSG stagnan, atau tetap naik tapi dengan kenaikan yang moderat. Tapi selama tidak ada problem keamanan yang serius, dan sampai saat ini memang kelihatannya demikian, maka tentunya juga tidak ada alasan bagi kita untuk keluar dari market.
Diluar faktor pemilu sebenarnya ada banyak lagi faktor-faktor lainnya ketika kita bicara soal prospek pasar saham dalam satu tahun tertentu, tapi untuk selebihnya kita akan bahas lagi next time.

Untuk minggu depan kita akan membahas satu saham BUMN yang masih murah, yang berpeluang menjadi ‘turn around’ company.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Prospek Saham di Tahun Pemilu

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, topik ‘prospek atau outlook pasar saham’ di awal tahun 2019 ini mungkin menjadi topik yang sangat penting bagi banyak investor, dan ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, sebagaimana yang kita ketahui, di tahun ini di Indonesia akan ada hajatan besar, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) sekaligus Pemilihan Presiden (Pilpres), keduanya dalam satu waktu. Nah, meski Indonesia pasca reformasi sudah rutin menggelar Pemilu 5 tahunan sejak tahun 1999 lalu, dan juga menggelar Pilpres sejak 2004, namun memang Pemilu tahun 2019 ini sejak awal terasa berbeda khususnya bagi investor saham.

Sebab ketika terakhir kita menggelar Pemilu di tahun 2014, jumlah investor ritel di bursa belum sebanyak sekarang. Yup, pada tahun 2014, jumlah rekening investor ritel diperkirakan sekitar 400 ribuan. Tapi sekarang, berdasarkan data dari KSEI, jumlah rekening tersebut melompat menjadi 1.1 juta rekening, thanks to gencarnya kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ oleh BEI sejak tahun 2015 lalu. Ini artinya lebih dari separuh pelaku pasar di bursa adalah investor pemula yang baru buka rekening tahun 2015 keatas, sehingga wajar jika mereka kemudian khawatir soal prospek saham di ‘Tahun Pemilu 2019’ ini, karena memang mereka belum pernah mengalami berinvestasi di saham di tahun pemilu sebelumnya. Yep, jangankan invest di saham, mencoba nangkep ayam untuk pertama kalinya sekalipun akan terasa menegangkan bukan? Dan pasar saham Indonesia saat ini dipenuhi oleh investor yang belum tahu gimana rasanya berinvestasi di tahun 2014 lalu.
Itu pertama. Kedua, selain Pemilu untuk memilih anggota legislatif, dan Pilpres untuk memilih presiden, maka persis sejak tahun 2015 lalu, untuk pertama kalinya Indonesia juga rutin menggelar Pilkada serentak, yakni untuk memilih Gubernur dan Walikota/Bupati. Sebenarnya pilkada ini sudah digelar sejak tahun 2005, namun ketika itu pelaksanaannya tidak bersamaan/tanggal pencoblosannya berbeda-beda untuk tiap daerah, sehingga ‘suasana pemilu’-nya juga hanya terasa di daerah yang bersangkutan ketika mendekati hari pemilihan. Namun karena sejak tahun 2015, pilkada ini dilakukan secara bersamaan pada satu tanggal yang sama setiap tahunnya, maka jadilah suasana pemilu-nya lebih terasa secara nasional, karena semua calon pemimpin daerah ramai-ramai berkampanye mendekati tanggal pemilihan yang sama.
Dan berbeda dengan pemilu dan piplres yang hanya digelar setiap 5 tahun sekali, pilkada serentak ini digelar hampir setiap tahun, dimana setelah pilkada tahun 2015, maka digelar pula pilkada serentak tahun 2017, dan 2018 kemarin. Alhasil tidak hanya tahun 2019 ini, namun sebenarnya di Indonesia, setiap tahun adalah tahun pemilu, dimana hampir setiap saat kita melihat baligo dan spanduk bergambar wajah politisi dan lambang partai di jalan raya. Dan thanks to kampanye terus menerus yang dilakukan oleh para pemburu jabatan ini, maka kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pilkada, pemilu, dan pilpres itu sendiri kemudian meningkat pesat, dimana orang kalau gak milih capres A maka ya milih capres B (jarang ada yang golput), dan topik politik kemudian menjadi pembicaraan sehari-hari di media sosial ataupun warung kopi. Pengaruh ‘suasana pemilu’ terhadap keseharian masyarakat ini sedemikian besarnya, sampai-sampai ketika ada berita artis melakukan sesuatu yang kontroversial, dimana biasanya itu menjadi topik hangat yang dibicarakan berhari-hari oleh para biang gosip (dan imbasnya menaikkan popularitas si artis itu sendiri), tapi sekarang itu tidak terjadi lagi/orang sudah tidak tertarik. Tapi ketika ada politisi atau kader partai tertentu yang salah ngomong sedikiiiittt saja, maka hebohnya langsung kemana-mana, baik itu dari yang pro maupun yang kontra. Demikian pula ketika seorang artis ikut ‘nyaleg’, maka semua tindak tanduknya yang sebelumnya tidak diperhatikan orang, mendadak jadi bahan pembicaraan netizen kurang kerjaan.
Pemilu Aman dan Damai?
Nah, meski semua fenomena diatas menyebabkan Indonesia menjadi negara yang ‘benar-benar demokrasi’, namun ternyata kemudian muncul efek samping: Ketika seseorang kemudian menjadi fanatik terhadap tokoh politisi atau partai tertentu, maka ia akan mulai bersikap ‘tidak ramah’ terhadap siapapun yang tidak ‘satu perahu’ dengannya, dan ini merupakan sumber kekerasan. Yup, jadi sama saja seperti kalau Persija ketemu Persib, maka tidak hanya kedua kelompok suporternya tidak bisa akur satu sama lain, namun terkadang sampai timbul korban jiwa jika kebetulan ada pendukung Persija yang nyasar ke Bandung, atau ada pendukung Persib yang nekad ke Stadion GBK. Termasuk kalau ada tim sepakbola yang kalah di kandangnya sendiri, maka tidak jarang pendukungnya kemudian berbuat rusuh dan anarkis. Yep, jadi sama seperti halnya ketika pemilu tahun 2014 lalu, termasuk pilkada-pilkada serentak setelahnya: Setelah selesainya pemilihan itu sendiri, maka selalu saja pihak yang kalah beserta para pendukungnya tidak bisa langsung menerima kekalahan, melainkan selalu mencari-cari pembenaran bahwa seharusnya mereka-lah yang menang, hingga menuduh pihak sebelah berbuat curang. Yang paling konyol, penulis pernah mendengar bahwa di sebuah desa, seorang calon kepala desa bersama para pendukungnya dengan sengaja merusak satu-satunya jalan besar yang menghubungkan desa tersebut dengan desa-desa tetangga, cuma gara-gara ia tidak terima kalah di pilkades! Jadi apa jadinya jika pihak yang kalah di pemilu nasional nanti, siapapun itu, melakukan hal yang sama??
Dan penulis kira inilah sumber kekhawatiran semua orang: Sebenarnya gak penting hasil pemilu-nya nanti bagaimana, tapi yang penting adalah pelaksanaan pemilu-nya itu sendiri, apakah bisa berjalan aman dan damai, ataukah rusuh. Dan masalahnya orang Indonesia memang gak seperti orang Inggris, yang bisa anteng duduk manis di tribun stadion dan gak masuk ke lapangan meski tidak ada pagar pembatas. Yup, jadi potensi pelaksanaan pemilu yang ‘tidak damai’ akan tetap ada, karena sejak awal pun sudah kelihatan ada banyak politisi beserta para pendukungnya yang menggunakan ‘segala cara’ agar bisa menang, tak peduli meski itu bisa bikin Indonesia jadi tidak aman atau bahkan krisis ekonomi (masih inget propaganda ‘money rush’ di tahun 2016 lalu? Kalau lupa, baca lagi ceritanya disini).
Jadi memang kalau ada pihak yang harus kerja ekstra keras sejak beberapa tahun terakhir ini, maka itu adalah Polri dan TNI, termasuk juga Intelijen. Yup, karena sekali lagi berbeda dengan pemilu-pemilu yang lalu, saat ini potensi terjadinya tindak anarkis tidak lagi hanya bersumber dari para politisi itu sendiri, melainkan juga dari para pendukung garis keras mereka. Lalu bagaimana dengan kinerja tiga lembaga ini sejauh ini?
Untungnya, sejauh yang penulis perhatikan, mereka kesemuanya bekerja dengan cukup baik. Yang paling diingat adalah ketika di tahun 2016 lalu terjadi Aksi Damai 212 yang dihadiri oleh buanyak sekali orang, dimana tentu saja bisa aksi tersebut berakhir rusuh (jika anda lihat lagi aksi-aksi pengumpulan massa di negara lain, dimana jika jumlah pesertanya sama banyaknya seperti aksi 212 tersebut, maka endingnya hampir pasti bakal rusuh, termasuk ada korban jiwa), namun ternyata semuanya aman dan lancar dan tidak ada korban sama sekali (ada satu peserta yang meninggal namun itu karena serangan jantung). Demikian pula ketika diselenggarakan ‘reuni’ aksi yang sama di tahun 2017 dan 2018 kemarin, maka semuanya juga aman-aman saja. Mungkin perlu ditegaskan disini bahwa tidak semudah itu bagi aparat untuk mengamankan massa sebanyak itu, apalagi seperti yang sudah disebut diatas, orang Indonesia beda dengan orang Inggris yang gampang diatur. Dengan kata lain, jika Polri dkk selama ini tidak bekerja dengan baik, maka Indonesia ini akan sudah kacau balau sejak Pemilu tahun 2014 lalu, dan berinvestasi di pasar saham juga tidak akan senyaman sekarang (awal tahun 2014, IHSG di posisi 4,274, tapi sekarang sudah 6,000-an).


Posisi IHSG di penghujung tahun 2014. Secara keseluruhan IHSG naik 22.3% di tahun 2014.

Jadi kesimpulannya, selama para pihak berwenang bisa terus mempertahankan kinerja mereka saat ini, maka penulis termasuk yang optimis bahwa Indonesia akan tetap aman-aman saja, termasuk IHSG juga akan aman-aman saja. Hanya saja terkait prospek investasi saham itu sendiri, maka karena seperti yang disebut diatas, ada banyak investor yang belum berpengalaman masuk pasar di tahun pemilu 2014 lalu, dan karena adanya pilkada serentak hampir saban tahun menyebabkan ‘gonjang-ganjing’ politik sekarang ini jauh lebih terasa dibanding dulu, maka mungkin pasar saham akan cenderung sepi sampai April 2019 nanti, karena akan ada banyak investor yang memilih wait n see, dan mungkin itu akan bikin IHSG stagnan, atau tetap naik tapi dengan kenaikan yang moderat. Tapi selama tidak ada problem keamanan yang serius, dan sampai saat ini memang kelihatannya demikian, maka tentunya tidak ada alasan bagi kita untuk keluar dari market.
Diluar faktor pemilu sebenarnya ada banyak lagi faktor-faktor lainnya ketika kita bicara soal prospek pasar saham dalam satu tahun tertentu, tapi untuk selebihnya kita akan bahas lagi next time.
***
Buletin Analisa IHSG & stockpick saham bulanan edisi Januari 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham untuk member selama masa berlangganan.
Jadwal Seminar Value Investing & Advanced: Amaris Thamrin City Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu – Minggu, 19 – 20 Januari 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon early bird untuk peserta yang mendaftar pada atau sebelum tanggal 11 Januari.
Jadwal Value Investing Private Class: Central Park Mall, Jakarta Barat, Jumat 18 Januari 2019 Pukul 13.30. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing – Advanced, Jakarta 20 Januari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Jakarta, hari Minggu 2 Desember 2018. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, saham-saham batubara naik luar biasa hanya dalam tempo 2 tahun. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar kita ‘curi start’ membeli saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 20 Januari 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,550,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Eden Hazard, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Agar penyampaian materinya efektif maka jumlah peserta dibatasi, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Early Bird Discount!
Jika anda mendaftar pada atau sebelum tanggal 11 Januari, maka biayanya jadi Rp1,200,000 per peserta.
Jika anda mendaftar pada atau sebelum tanggal 17 Januari, maka biayanya jadi Rp1,300,000 per peserta.
Bonus Gratis!

  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis pada awal tahun 2018 ini oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Suasana Seminar di Gedung BEI, dengan penulis sebagai pembicaranya

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 19 Januari 2019 (sehari sebelum seminar advanced, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham. Untuk memperoleh insight yang lengkap, anda disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced di hari minggunya. Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, 19 Januari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat The Market in Five Minutes!’ di Jakarta, hari Sabtu, 19 Januari 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menyusun portofolio yang efektif. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara menganalisa manajemen perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
  7. Strategi diversifikasi dan money management untuk memaksimalkan potensi profit, sekaligus meminimalisir risiko loss, dan
  8. Daftar sumber website penting dan terpercaya untuk belajar lebih detil lagi tentang investasi saham, value investing itu sendiri, ilmu ekonomi, harga-harga komoditas, hingga istilah-istilah pasar modal.
Bonus Materi Tambahan:
  1. Belajar dari awal karier mahaguru value investing, Warren Buffett, ketika beliau masih pemula, yakni dari ketika membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun, hingga memperoleh satu juta Dollar pertamanya pada usia 32 tahun. Kemudian dibandingkan dengan tahun-tahun awal penulis/Teguh Hidayat (sejak 2009) di pasar saham.
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Januari 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,350,000, dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
Early Bird Discount!
Jika anda mendaftar sebelum atau pada tanggal 11 Januari, maka biayanya jadi Rp1,000,000 per peserta.
Jika anda mendaftar sebelum atau pada tanggal 17 Januari, maka biayanya jadi Rp1,100,000 per peserta.
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Testimonial

Penulis bersama temen-temen peserta di salah satu kelas sebelumnya
Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing – Advanced, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 20 Desember 2019 (sehari setelah seminar value investing ini, di lokasi yang sama). Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2018), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang [...]

Cara Menjadi Happy Investor!

Jika penulis bertanya, apa atau dimana makanan terenak yang pernah anda makan? Maka setiap orang tentu punya jawabannya masing-masing, karena selera dan kesukaan tiap orang berbeda-beda. Namun jika penulis bertanya lagi, dalam kondisi bagaimana makanan yang kita lahap terasa sangat nikmat dan lezat? Maka kita semua akan memiliki jawaban yang sama: Dalam kondisi lapar! Yakni benar-benar lapar, apalagi jika ditambah kondisi capek setelah melakukan aktivitas fisik. Yep, sebagai penyuka kuliner, penulis bisa katakan bahwa saya sudah mencoba hampir semua rumah makan populer di Jakarta dan Bandung, dan beberapa restoran memang punya menu yang lebih enak dibanding restoran lainnya.
Tapi tahukah anda, apa makan malam terenak yang pernah saya cicipi? Jawabannya adalah semangkuk indomie rebus yang masih panas, yang dimakan di puncak Gunung Salak yang dingin dalam keadaan lapar (karena memang belum makan sejak pagi harinya), dan letih setelah mendaki seharian! Indomie rebus itu sedemikian lezatnya hingga penulis kemudian sengaja beberapa kali mendaki gunung lainnya lagi, hanya untuk makan mie rebus yang sama lagi. Pertanyaannya, apakah indomie-nya beda dengan indomie yang biasa kita masak di dapur rumah? Nggak, itu indomie yang sama kok. Dan apakah indomie itu harganya lebih mahal dibanding menu main course di restoran Italia di hotel bintang lima? Ah, nggak juga! Sekali lagi, itu cuma mie instant dengan harga gak nyampe Rp3,000 per bungkusnya, literally bisa dibeli oleh siapapun.
Jadi apa yang membuat mi rebus di puncak gunung itu terasa istimewa?? Well, kalau anda pernah naik gunung juga, maka anda tentu tahu jawabannya: Indomie-nya sih sama saja dengan yang biasa kita pesan di warung kopi, tapi yang membedakan adalah kondisi kitanya sendiri, yang pastinya sudah sangat lapar, capek, plus menggigil kedinginan, setelah berjalan kaki menanjak sejauh sekian kilometer, alias mendaki gunung. Nah sekarang bagaimana jika kondisi kita adalah sedang duduk santai dirumah, gak lagi capek dan hanya sedang lapar biasa saja (misalnya karena sudah jam makan siang), lalu anda makan mie rebus yang sama: Rasanya pasti akan biasa-biasa saja bukan?
Jadi kesimpulannya, untuk bisa mencicipi makanan yang terlezat, maka anda harus benar-benar lapar dan capek dulu, entah itu dengan cara mendaki gunung atau lainnya. Pertanyaannya, apakah merasa lapar dan capek itu menyenangkan? Jelas tidak! Tidak ada seorangpun di dunia ini yang suka merasa kelaparan, dan sebagai pendaki amatir, penulis juga selalu ingat bagaimana rasanya ‘penderitaan’ ketika kita harus terus mendaki menuju puncak tertinggi, ditambah membawa carrier yang luar biasa beratnya. Tapi justru segala penderitaan itulah yang menyebabkan makan malam di puncak gunung terasa sangat nikmat, bahkan meski hanya dengan semangkuk mie rebus.


Penulis di puncak Gunung Pangrango, Kab. Bogor, dengan latar belakang Gunung Gede

‘Semangkuk Mie Rebus’ di Pasar Saham
Kembali ke pasar modal. Sebagai investor, kita tentu menginginkan bahwa setiap keputusan jual beli saham yang dilakukan selalu membuahkan profit, tapi pertanyaannya kemudian, apakah kita bisa melakukannya? Apakah mungkin bagi seseorang untuk selalu profit dari saham, tanpa pernah rugi satu kalipun?? Meski pertanyaan ini terdengar konyol (karena anda semua tentu sudah tahu jawabannya: Nggak mungkin, karena bahkan Warren Buffett sekalipun kalau lagi rugi ya rugi saja), namun nyatanya ada banyak pelaku pasar modal yang berharap seperti itu: Saya tidak mau rugi, bahkan meski satu Rupiahpun! Kalau mereka ditanya lagi, kenapa to sampeyan gak mau rugi? Ya karena rugi itu rasanya nggak enak! Memangnya siapa yang mau kehilangan uangnya begitu saja, entah itu di saham atau lainnya?? Problemnya disini bukan kehilangan duitnya (karena terkadang, ilangnya gak seberapa), tapi timbulnya rasa kesal, jengkel, baper ketika uang itu hilang, dan itu bikin kita jadi males ngapa-ngapain.
Nah, kalau anda termasuk anggota asosiasi investor anti rugi diatas, maka penulis punya satu kabar buruk, dan dua kabar baik. Kabar buruknya, anda pasti akan merasakan rugi, kalau bukan karena salah pilih saham maka karena kondisi pasarnya yang kurang bagus. Contohnya ya tahun 2018 ini, dimana IHSG ditutup di posisi 6,194, turun 2.5%dibanding awal tahun, dan kalau kita hitung penurunan IHSG dari posisi tertingginya yakni 6,689 hingga posisi terendahnya yakni 5,634, maka IHSG sempat turun total 15.8%, alias cukup signifikan. Dalam kondisi ini maka meski sebagian investor tetap cuan, namun tentunya banyak juga yang rugi, dan itu tidak menyenangkan, mungkin juga bikin anda capek pikiran (aaand seriously, capek pikiran seperti ini seringkali malah lebih berat dibanding capek fisik karena mendaki gunung). Lebih dari itu, jika anda sudah membaca blog teguhhidayat.com ini sejak lama, maka terhitung sejak 2010 lalu kita sudah mengalami setidaknya tiga kali koreksi pasar yang berkepanjangan, yakni di tahun 2013, 2015, dan tahun 2018 ini. Dan harus saya katakan bahwa, dari tiga kali koreksi pasar tersebut, kesemuanya benar-benar menguras mental, tenaga, pikiran kita sebagai investor, dimana itu, sekali lagi, rasanya tidak menyenangkan.
Jadi suka atau tidak, anda pasti akan baper karena saham. Kabar baiknya, pasar tidak selalu turun, melainkan pada akhirnya akan naik lagi. Sehingga asalkan kita konsisten berinvestasi dengan cara-cara yang benar, maka pada tahun-tahun yang sulit kita mungkin akan rugi, tapi kita akan kembali profit ketika pasar akhirnya pulih. Yep, diluar tahun 2013, 2015, dan 2018, maka IHSG selalu naik, dan meski kedepannya IHSG tentunya akan turun lagi pada tahun-tahun tertentu, tapi di tahun-tahun lainnya pasar akan naik. In fact, jika kita lihat lagi pergerakan IHSG sejak tahun 1997, maka IHSG selalu naik dan turun silih bergantisetiap tahunnya, namun dengan urutan yang acak (jadi kadang turunnya dua tahun berturut-turut, kadang cuma setahun). Data selengkapnya sebagai berikut:
Year
Growth (%)
Year
Growth (%)
1997
-44.3
2008
-50.6
1998
-0.9
2009
87.0
1999
70.1
2010
46.1
2000
-38.5
2011
3.2
2001
-5.8
2012
12.9
2002
8.4
2013
-1.0
2003
62.8
2014
22.3
2004
44.6
2015
-12.1
2005
16.2
2016
15.3
2006
55.3
2017
20.0
2007
52.1
2018
-2.5
Itu kabar baik pertama. Kabar baik kedua-nya adalah, ketika kita akhirnya profit lagi setelah sebelumnya rugi, maka secara psikologis, rasanya akan lebih menyenangkan dibanding jika kita sebelumnya profit terus, dan penulis sendiri sudah mengalaminya berkali-kali: Itu bisa bikin kita segeeerrr secara jasmani dan rohani! ???? Yep, jadi sama seperti mie rebus yang kalau kita makan dalam kondisi tidak terlalu lapar, maka rasanya akan biasa-biasa saja, tapi beda ceritanya ketika kita makan mie rebus itu di puncak gunung setelah letih mendaki seharian: Rasanya lebih uenak dibanding masakannya Gordon Ramsay sekalipun! Demikian pula profit yang diperoleh setelah sebelumnya nyangkut, maka profit itu akan terasa lebih ‘lezat’ dibanding biasanya.
Dan penulis kira inilah salah satu alasan kenapa para value investor legendaris di seluruh dunia rata-rata berusia panjang (Note: Warren Buffett tahun ini sudah 88 tahun, dan masih sehat walafiat): Itu adalah karena mereka senantiasa happy, dan itu justru karena setiap beberapa waktu sekali, pasar saham terasa lebih ‘menantang’ dibanding biasanya. Sekarang bayangkan jika seorang investor selalu profit tanpa pernah rugi sekalipun (meski pada kenyataannya ini gak mungkin, tapi gpp bayangkan saja), maka itu sama seperti orang super-kaya yang kemana-mana naik pesawat jet pribadi dan setiap harinya menjalani gaya hidup mewah tanpa pernah sekalipun makan di warteg, namun semua kemewahan itu terkadang malah bikin dia jadi bosan dan tidak bahagia lagi bukan?? Penulis sendiri sangat happy menjalani kehidupan sehari-hari saya saat ini, dan itu adalah karena di tahun 2009 – 2010 saya pernah berada dalam kondisi harus masak sendiri di kamar kost, atau kemana-mana jalan kaki alih-alih naik kendaraan umum, agar uang gaji bulanan ketika itu masih ada sisanya untuk ditabung.
Jadi kalau saja penulis tidak pernah mengalami kondisi diatas, maka saya tidak akan menikmati kondisi sekarang ini karena saya tidak akan tahu apa bedanya. Demikian pula kalau anda gak pernah rugi atau nyangkut, maka anda tidak akan mengerti gimana nikmatnya cuan. Ingat ini: Happiness is like food: To really enjoy it, you must be hungry first. So to be happy and comfort, one must know what suffering is like.

Beruntung, dalam berinvestasi anda tidak akan selalu profit melainkan juga sesekali rugi, namun justru disitulah sumber kebahagiaan seorang investor karena perjalanan karier-nya tidak pernah ‘datar-datar’ saja, melainkan selalu penuh cerita dan drama yang terkadang lebih seru dibanding sinetron di Indosiar! So if you want to be happy, be an investor!
Selamat Tahun Baru 2019! Terima kasih sudah menjadi pembaca setia TeguhHidayat.com selama ini ????, selanjutnya bagaimana harapan anda untuk tahun 2019 nanti??

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Dow Jones vs IHSG

Setelah turun terus hampir setiap hari selama bulan Desember ini, Dow Jones Industrial Average kemarin akhirnya rebound 1,000 point atau hampir 5% ke posisi 22,878, demikian pula S&P500 dan Nasdaq turut rebound dengan persentase kenaikan yang kurang lebih sama. Kenaikan tersebut untuk sementara mengkonfirmasi dua hal. Pertama, bahwa seperti halnya IHSG, Dow juga tidak akan turun terus menerus melainkan pasti akan ada rebound-nya, sehingga kalau misalnya anda berinvestasi di New York Stock Exchange dan termasuk yang telat jualan (atau baru kepikiran untuk jualan setelah Dow nyungsep), maka waktu terbaik untuk jualan bukanlah ketika kemarin Dow terus saja turun, melainkan harus tunggu hingga rebound ini terjadi. Ulasan strategi lengkapnya bisa dibaca disini.

Kemudian kedua, di artikel minggu lalu berjudul Amerika Resesi?, penulis mengatakan bahwa di Amerika sebenernya tidak ada resesi apapun, hanya valuasi saham-saham disana sudah pada mahal saja, sehingga Dow memang harus turun, tapi penurunan Dow karena penyebab seperti ini biasanya tidak akan terlalu dalem, melainkan maksimal sekitar 20% saja dari posisi tertingginya. And indeed, posisi terendah yang dicapai Dow kemarin adalah 21,730, atau turun 19.4% dibanding posisi tertinggi Dow yakni 26,952. Untuk kedepannya Dow tentu bisa saja turun sekali lagi, dan hingga ke posisi yang lebih rendah lagi, tapi normalnya itu hanya akan terjadi jika ada sentimen negatif kuat tertentu.  Sementara jika tidak tidak ada sentimen apa-apa, maka level 21,000-an kemarin harusnya sudah menjadi titik terendah Dow, dan selanjutnya dia akan bergerak lebih stabil/sideways.
Nah, terus terang penulis sejak Senin kemarin sudah pengen posting artikel ‘Dow Jones vs IHSG’ ini, yang pada intinya berisi analisa soal pengaruh Dow terhadap IHSG, tapi saya sengaja tunggu Dow rebound dulu lalu baru posting, karena berdasarkan pengalaman, seringkali ulasan di blog ini tidak akan memberikan pencerahan apapun bagi pembaca jika si pembaca itu sendiri sedang dalam kondisi panik (karena Dow-nya masih terus meluncur kebawah), dan kadang malah menimbulkan sikap skeptis: Prospek cerah apaan?? Lo kagak liat sekarang saham-saham pada anjlok semua!
Tapi dengan Dow kemarin akhirnya naik lagi, maka minimal anda harusnya sekarang sudah lebih tenang :D Dan bisa kembali membaca dengan kepala dingin. So here we go!
Pengaruh Dow Terhadap IHSG
Sebagai indeks saham paling populer di Amerika Serikat, sedangkan New York Stock Exchange itu sendiri pada gilirannya adalah bursa saham terbesar di dunia, maka pergerakan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) sudah seperti benchmark bagi pergerakan indeks-indeks saham lainnya di seluruh dunia termasuk IHSG, sehingga kemudian ada anggapan bahwa jika Dow naik maka IHSG akan naik, demikian sebaliknya jika Dow turun maka IHSG juga akan turun. Tapi benarkah demikian?
Nah, sebenarnya anda tidak perlu menjadi ‘pakar’ untuk menjawab pertanyaan diatas, karena anda bisa langsung cek sendiri data terbaru: Meski Dow hingga tanggal 26 Desember sudah turun 15.1% dari posisi tertingginya pada awal Oktober kemarin (dari 26,828 ke 22,878), namun pada periode yang sama, IHSG justru naik lumayan dari 5,868 ke 6,128. Sementara ketika Dow naik dari 23,533 hingga break new high di level 26,828 pada kurun waktu Maret – Oktober 2018, IHSG pada periode yang sama malah turun dari 6,175 ke 5,731. Demikian seterusnya jika anda cek data historis pergerakan kedua indeks saham, maka anda akan menemukan banyak kasus dimana Dow naik pada satu periode tertentu namun IHSG turun, atau sebaliknya Dow turun ketika IHSG naik.
However, berdasarkan pengalaman penulis sendiri, yang sering terjadi adalah jika pada satu waktu tertentu Dow turun signifikan, katakanlah 2 – 3% dalam sehari atau total 5 – 10% dalam seminggu, maka beritanya akan santer terdengar (bahwa Dow turun), dan itu bisa bikin investor di Indonesia panik minimal sesaat, dan imbasnya IHSG bisa ikut turun pada hari/minggu tersebut (meski seringkali, turunnya nggak banyak). Jadi meski pergerakan Dow dan IHSG tidak selalu seiringan, tapi benar bahwa Dow berpengaruh ke IHSG, minimal dalam jangka pendek. Simpelnya, jika seorang investor sebelumnya sudah berencana untuk membeli saham tertentu pada hari tertentu, maka bisa jadi ia akan menunda rencananya tersebut jika pada malam harinya Dow turun. Dan kalau ada banyak orang yang gak jadi beli saham karena khawatir dengan penurunan Dow, sementara yang jualan tetep banyak, maka otomatis IHSG akan ikut turun.
Tapi dari tulisan diatas maka kelihatan bahwa naik turunnya Dow ini hanyalah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG dan saham-saham didalamnya. You see, ketika seorang investor hendak membeli sebuah saham, maka tentu dalam pertimbangannya saham tersebut berfundamental bagus dst. Thus, ketika Dow turun dan penurunannya tersebut menjadi headline dimana-mana, maka si investor mungkin menunda rencana buy-nya, tapi ia hanya menunda dan bukan membatalkannya. Sehingga kalau nanti Dow naik lagi, dan Dow pasti akan naik lagi, maka ia tetap akan buy, dan alhasil saham-saham di Indonesia tetap akan naik.
Penurunan Dow = Kenaikan IHSG?
Daaaaan untungnya bisa penulis katakan bahwa diluar cerita koreksi Dow, faktor-faktor lainnya masih mendukung jika anda hendak belanja atau tetap hold saham: Kinerja para emiten hingga Kuartal III 2018 kemarin rata-rata masih bagus, valuasi saham masih banyak yang murah, Rupiah mulai stabil di 14,000-an, harga minyak turun (penurunan harga minyak akan menurunkan nilai impor), kondisi ekonomi/politik dalam negeri juga stabil, dan sekarang sudah akhir tahun (biasanya suka nongol cerita Window Dressing dan January Effect). Malah actually, penulis termasuk yang beranggapan bahwa penurunan Dow, meski dalam jangka pendek memang menimbulkan shock therapy, namun dalam jangka menengah – panjang dampaknya justru akan positif terhadap IHSG. Kenapa begitu?
Jadi begini: Sejak awal tahun 2016, Dow sudah rally dari 16,346 hingga sempat menyentuh 26,952, atau naik total 64.9% dalam waktu kurang dari tiga tahun seiring dengan kembali booming-nya ekonomi Amerika itu sendiri, setelah sebelumnya mereka krisis pada tahun 2008 – 2009 (pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi AS tercatat -4%, tapi sekarang stabil di 3 – 4% per tahun), thanks to pertumbuhan pesat industri teknologi terutama yang berhubungan dengan internet. Nah, meski kenaikan sekitar 60% dalam waktu tiga tahun mungkin terbilang biasa saja bagi indeks saham di negara berkembang termasuk IHSG di Indonesia, tapi itu adalah angka kenaikan yang sangat besar bagi Dow. Analoginya Dow ini seperti saham ASII, BBCA, atau UNVR, yang kalau dalam setahun naik 40% saja maka itu akan tampak luar biasa, sedangkan IHSG adalah seperti saham-saham kecil atau second liner gak jelas, yang bisa dengan mudah terbang 100% hanya dalam 1 – 2 bulan (meski disisi lain, bisa cepet juga turunnya).

Pergerakan Dow Jones dalam dua tahun terakhir, dimana kenaikannya paling tinggi dibanding indeks-indeks saham kelas dunia lainnya seperti Nikkei, Shanghai Composite, Euronext Amsterdam, hingga FTSE London, dan hanya bisa disamai oleh Hang Seng Hongkong.
Jadi ketika dalam tiga tahun terakhir ini Dow naik banyak, maka otomatis itu menarik perhatian investor dan para fund manager di seluruh dunia untuk invest di Amerika, karena tingkat risiko investasi disana tentunya dianggap lebih aman dibanding di Indonesia atau negara berkembang lainnya. Ditambah lagi kenaikan Fed Rate juga menyebabkan imbal hasil obligasi dll di Amerika menjadi naik (sejak 2016 sampai sekarang Fed Rate terus naik dari 0.25% sampai terakhir 2.50%). Ini pula yang salah satunya menjelaskan kenapa asing sejak 2 – 3 tahun ini terus keluar dari BEI, dan kalau kita melihat fakta bahwa mata uang di negara-negara emerging market (termasuk Rupiah) hampir semuanya melemah terhadap US Dollar, maka kemungkinan asing tidak hanya keluar dari Indonesia, tapi mereka juga keluar dari Turki, Brazil, Meksiko dst, untuk kemudian ramai-ramai pindah ke New York. Karena logikanya, jika anda menganggap bahwa ada satu saham bluechip dan satu saham second liner tertentu yang sama-sama bakal naik 20%, maka anda tentu akan memilih yang bluechip bukan? Karena risikonya biasanya lebih rendah, dan karena sahamnya lebih likuid sehingga belinya bisa banyak. Dan dengan nilai transaksi lebih dari US$ 170 milyar per hari, NYSE adalah juga bursa saham paling likuid di dunia (sebagai perbandingan, rata-rata nilai transaksi di BEI hanya Rp7 trilyun atau US$ 500 juta per hari, atau gak nyampe 0.5% nilai transaksi NYSE).
Tapi dengan Dow akhirnya turun juga, maka para fund manager global sekarang gak punya pilihan lain kecuali kembali menyebarkan investasinya ke seluruh dunia, termasuk balik lagi ke Indonesia. Yup, salah satu faktor yang bikin pasar minus sepanjang tahun 2008 ini adalah karena aksi jual asing yang, hingga ketika artikel ini ditulis, mencapai Rp51.6 trilyun sejak awal tahun, dimana itu merupakan angka net sell asing terbesar sepanjang sejarah. Sehingga meski IHSG-nya tampak nggak turun banyak (sempet drop sampai 5,600-an tapi sekarang sudah naik lagi), tapi ini menyebabkan kondisi pasar secara umum terasa tidak nyaman, dimana ada buanyak saham yang secara fundamental no problem, demikian pula valuasinya masih murah, tapi tetep aja seperti gak mau naik (atau malah turun sendiri) cuma gara-gara asingnya lepas barang terus.
Namun dengan kondisi pasar saham Amerika saat ini, maka sekali lagi terdapat harapan bahwa asing akan kembali masuk kesini. Sehingga dengan catatan faktor-faktor lainnya tetap sama, maka ini artinya pasar akan bergerak lebih stabil kedepannya. Mudah-mudahan!
Untuk artikel minggu depan penulis akan sampaikan pandangan penulis terkait outlook pasar di tahun 2019. Tapi sebelum itu, menurut anda sendiri, bagaimana pandangannya terkait arah pasar tahun 2019 nanti? Faktor-faktor penting apa saja yang harus diperhatikan? Anda bisa menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram