Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta 2 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, dan Surabaya. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Cara menganalisa aksi korporasi emiten (right issue, stocksplit, dst), dan juga peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada perusahaan, serta bagaimana pengaruhnya terhadap fundamental perusahaan/harga sahamnya.
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham multibagger, yakni saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara membaca poin-poin laporan keuangan dengan lebih detail (penjelasan mengenai metrik-metrik yang penting), sehingga diperoleh kesimpulan apakah fundamental sahamnya terbilang wonderful, bagus, biasa aja, atau malah jelek.
  6. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang mampu meminimalisir risiko kerugian sekaligus memaksimalkan potensi keuntungan, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus hingga titik terendahnya pada tahun 2016, saham-saham batubara kemudian naik luar biasa hanya dalam 2 tahun berikutnya. Pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa masuk ke batubara ketika saham-sahamnya sedang berada di titik terendahnya?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik anak untuk berinvestasi sejak dini
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita disini tidak hanya bicara teori, melainkan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 2 Februari 2020
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut kelas ini adalah Rp1,350,000 per peserta, dengan ketentuan diskon sebagai berikut.
  • Bagi peserta yang mendaftar untuk dua orang sekaligus, maka biayanya didiskon menjadi Rp1,200,000 per peserta.
  • Bagi peserta yang mendaftar untuk tiga orang sekaligus atau lebih, maka biayanya didiskon menjadi Rp1,100,000 per peserta.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas (kwitansi/bukti pembayaran juga bisa diminta jika diperlukan, anda tinggal bilang minta kwitansi di emailnya). Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Jumlah kuota terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Free Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya secara penuh alias tanpa potongan, dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Telp/Whatsapp dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
***
Bonus Gratis:
  • Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  • Para alumni akan dimasukkan ke Grup Whatsapp/Telegram khusus alumni seminar, sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar-seminar sebelumnya.
  • Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Telp/Whatsapp 081314822827 (Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomer satunya. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta, di salah satu kelas seminar sebelumnya
Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing, Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 1 Februari 2020 (sehari sebelum seminar advanced ini, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham, 3. Cara menyusun portofolio dst. Bagi anda yang masih pemula, atau sudah lama di market namun baru mengenal value investing, maka sangat disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced ini di hari minggunya, karena materinya saling melengkapi. Info selengkapnya baca disini.

Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru Agustus 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Seminar Value Investing, Jakarta 1 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Jakarta, Sabtu 1 Februari. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, beberapa tips dan trik dalam berinvestasi, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, yakni metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara membaca laporan keuangan, dan cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam waktu 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, serta kapan kita harus profit taking atau cut loss, dari sudut pandang value investing.
  7. Ciri-ciri wonderful company, yang sahamnya bisa di-hold as long as possible, serta apa bedanya dibanding saham biasa, dan
  8. Cara menganalisa manajemen emiten/perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Cara menabung saham untuk jangka waktu 5 – 10 tahun dengan menyicil membeli saham yang sama setiap bulan, dan apa saja pilihan saham yang disarankan,
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita disini tidak hanya bicara teori, melainkan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Februari 2020
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut kelas ini adalah Rp1,200,000 per peserta, dengan ketentuan diskon sebagai berikut.
  • Bagi peserta yang mendaftar untuk dua orang sekaligus, maka biayanya didiskon menjadi Rp1,100,000 per peserta.
  • Bagi peserta yang mendaftar untuk tiga orang sekaligus atau lebih, maka biayanya didiskon menjadi Rp1,000,000 per peserta.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Erling Haaland, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas (kwitansi/bukti pembayaran juga bisa diminta jika diperlukan, anda tinggal bilang minta kwitansi di emailnya). Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Jumlah kuota terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Free Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya secara penuh alias tanpa potongan, dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Telp/Whatsapp dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
***
Bonus Gratis:
  • Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  • Para alumni akan dimasukkan ke Grup Whatsapp/Telegram khusus alumni seminar, sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar-seminar sebelumnya.
  • Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Telp/Whatsapp 081314822827 (Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomer satunya. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta, di salah satu kelas seminar sebelumnya

Bagi anda yang hendak ikut Value Investing Advanced Class, dengan materi cara menghadapi resesi, cara menemukan saham multibagger dll, maka jadwalnya adalah: Jakarta, Minggu 2 Februari (sehari setelah seminar value investing ini), di lokasi yang sama. Info selengkapnya klik disini.

Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru Agustus 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya [...]

Asal Usul Saham Gorengan

Suatu hari di bulan Agustus 2010, sebuah perusahaan yang terdaftar di Singapura (tapi pemiliknya orang Indonesia) dengan nama Ramba Energy Ltd (Ramba), mengakuisisi 51% saham PT Sugih Energy, Tbk (SUGI), sebuah perusahaan kecil penyedia jasa industri migas di Indonesia yang secara teknis sudah bangkrut karena tidak lagi beroperasi, dengan nilai $1 juta saja. Selang setahun kemudian, tepatnya pada 27 Desember 2011, Ramba mengakuisisi 80.4% saham PT Hexindo Gemilang Jaya, pemilik 100% kepemilikan di Blok Lemang, sebuah ladang minyak di Provinsi Jambi. Namun pada tanggal yang sama, tepatnya persis sesaat sebelum Hexindo diakuisisi oleh Ramba, Hexindo melepas 49% kepemilikannya di Blok Lemang ke sebuah perusahaan dengan nama Eastwin Global Investment, sebuah perusahaan yang terdaftar di British Virgin Island, senilai $1.6 juta. Sehingga dengan demikian, Ramba, melalui Hexindo, hanya memegang 41% kepemilikan di Blok Lemang (80.4% x 51% = 41%).

Kemudian dalam rangka mengambil alih sisa kepemilikan di Blok Lemang yang dipegang oleh Eastwin, maka Ramba juga harus mengakuisisi Eastwin, dan kali ini Ramba melakukan akuisisi tersebut melalui SUGI sebagai anak usahanya. Lalu berapa nilai akuisisinya? $230 juta!Lho kok mahal sekali? Bukannya tadi disebutkan bahwa Hexindo menjual 49% kepemilikannya di Blok Lemang ke Eastwin pada harga $1.6 juta saja? Well, itu benar. Tapi Kalau dihitung berdasarkan potensi cadangan minyaknya yang belum dieksplorasi, nilai kepemilikan Ramba di Blok Lemang yang sebesar 41% saja sudah bernilai US$ 193.7 juta. Sehingga wajar jika Eastwin dihargai $230 juta, atau setara Rp2.1 trilyun, berdasarkan kurs saat itu. Tidak ada informasi soal Eastwin ini siapa, tapi yang jelas, SUGI sekarang harus mengakuisisinya pada harga $230 juta.

Okay, lalu dari mana Ramba, atau dalam hal ini SUGI, memperoleh dana $230 juta untuk akuisisi tersebut? Dari right issue yang dilakukan oleh SUGI, dimana SUGI akan menerbitkan 24.3 milyar lembar saham baru (belum termasuk waran), dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham. Sehingga SUGI akan memperoleh suntikan modal hingga Rp2.4 trilyun, dimana Rp2.1 trilyun diantaranya akan langsung digunakan untuk mengakuisisi Eastwin. Menariknya, Ramba itu sendiri tidak mengambil hak-nya sebagai pemegang saham pengendali di SUGI, atau dengan kata lain sama sekali tidak menyetor tambahan modal ke perusahaan, sehingga saham baru yang diterbitkan tersebut nyaris sepenuhnya dilempar ke investor publik. Tapi bagaimana kalau publik tidak membeli saham baru yang diterbitkan oleh SUGI? Bukankah dengan demikian tidak akan diperoleh dana Rp2.4 trilyun tadi? Well, itu gak masalah, karena sejak awal Eastwin sudah setuju untuk diakuisisi oleh SUGI, sehingga transaksi akuisisinya dianggap sudah terjadi, bahkan meski right issue-nya belum dilakukan, dan juga tidak ada uang sepeserpun yang berpindah tangan. Tapi dari sinilah, pasca right issue-nya, pada laporan keuangan SUGI akan muncul ‘tambahan modal disetor’ Rp2.4 trilyun, dan aset tidak lancar berupa blok minyak Lemang dengan ‘nilai perolehan’ Rp2.07 trilyun. Kronologis lengkap soal ‘how to create $230 million out of nothing’ ini, bisa dibaca lagi disini.
Repo Lagi, Repo Lagi!
Pasca semua transaksi diatas, Ramba kemudian memegang penuh kepemilikan di Blok Lemang, dan SUGI sekarang memiliki nilai buku $230 juta, plus 24.3 milyar lembar saham baru, yang siap untuk digoreng. Lalu gimana cara gorengnya? Well, pemilik SUGI (yang di laporan keuangan perusahaan dicatat sebagai ‘pemegang saham publik’) kemudian mulai menawarkan saham SUGI yang ia pegang ke investor-investor institusi seperti dana pensiun, dan asuransi, dimana transaksinya dilakukan dengan mekanisme repo (penjelasan repo baca lagi disini). Dan hasilnya, terdapat setidaknya tiga institusi yakni Jiwasraya, Asabri, dan Dana Pensiun Pertamina, yang membeli repo tersebut senilai masing-masing sekian ratus milyar Rupiah. Dana yang terkumpul itu kemudian digunakan untuk memperjual belikan saham SUGI di pasar, agar harganya naik terus. Pemilik SUGI juga kemudian banyak menyebar berita di media bahwa prospek SUGI sangat cerah bla bla bla, agar investor ritel juga ikut membeli sahamnya di market. Hasilnya, saham SUGI kemudian melesat naik hingga sempat menyentuh level 400-an, sekitar setahun setelah right issue-nya.
Tapi masalahnya, SUGI sejak awal nyaris tidak memiliki pendapatan karena Blok Lemang-nya belum berproduksi! Yup, ketika diambil alih oleh Ramba pada tahun 2011, Blok Lemang masih dalam tahap eksplorasi. Dan meski blok minyak tersebut akhirnya berproduksi pada tahun 2017, tapi volume produksinya sangat kecil, sehingga tidak menutup biaya pengeboran dll yang sudah dilakukan, dan alhasil Ramba (dan juga SUGI) terus merugi. Imbasnya, ketika bandarnya sudah tidak kuat lagi untuk mengangkat sahamnya, maka saham SUGI turun dengan sendirinya karena investor publik jelas ogah untuk masuk, dan bahkan hari ini sahamnya sudah di-suspen tanpa adanya kejelasan kapan suspensinya bakal dibuka (karena tambah kesini, perusahaannya tambah bermasalah, coba googling saja), sehingga menyisakan kerugian entah berapa trilyun Rupiah milik investor ritel dan juga institusi, yang terjebak membeli SUGI ini. Kasus ini pula yang kemudian menggiring ayah kandung dari pemilik Ramba (saya gak mau nyebut nama, anda bisa googling sendiri), plus mantan Direktur Dapen Pertamina, ke balik jeruji besi, dengan tuduhan telah merugikan negara Rp600 milyar sekian. However, mengingat yang nyangkut di SUGI ini bukan cuma Dapen Pertamina, tapi juga Jiwasraya, Asabri, dan mungkin juga institusi-institusi lain, plus entah berapa banyak investor perorangan, maka sebenarnya nilai kerugiannya jauh lebih besar lagi dari sekedar sekian ratus milyar Rupiah, dan harusnya yang masuk penjara tidak hanya dua orang diatas.
Pangkal Mula Masalah
Apa yang dilakukan Ramba diatas adalah praktek umum yang dilakukan perusahaan yang memiliki properti/aset tertentu yang diharapkan bisa menghasilkan pendapatan dan laba di masa yang akan datang, tapi mereka butuh dana besar untuk mengembangkan aset tersebut agar bisa menghasilkan. Sehingga perusahaan ini kemudian cari dana kesana kemari, dan salah satu caranya adalah dengan 1. Akuisisi perusahaan Tbk untuk dijadikan ‘perusahaan cangkang’, 2. Menggelar right issue melalui perusahaan Tbk tadi dengan nilai sekian, tinggal ngarang sendiri saja angkanya mau berapa trilyun? 3. Akuisisi aset tadi (yang sebenarnya sejak awal dimiliki oleh perusahaan yang sama, sehingga sama sekali tidak ada dana yang berpindah tangan), dan terakhir 4. Me-repo-kan saham baru yang diterbitkan ke dana pensiun dll, untuk meraup sejumlah dana. Ini sebenarnya bukan praktek yang mudah, karena diperlukan relasi yang kuat antara pemilik perusahaan dengan para petinggi dana pensiun dll sebagai ‘calon korban’. Dalam kasus Ramba, ayah dari pemilik Ramba memang kenal secara pribadi dengan Direktur Dapen Pertamina, sehingga si direktur manggut-manggut saja ketika diminta setor duit, yang sebenarnya bukan milik dia juga (itu kan milik para pegawai di Pertamina!).
Tapi Ramba/Sugih Energy tidak sendirian. Beberapa tahun lalu, sebuah konsorsium dengan bendera PT Graha Sakti Cemerlang, PT Graha Sakti Prima, dan PT Antaboga Delta Sekuritas, mengakuisisi PT Sekawan Intipratama, Tbk (SIAP) yang kemudian pada tahun 2014 menggelar right issue dengan menerbitkan 23.4 milyar lembar saham baru senilai Rp4.7 trilyun, dimana dananya digunakan untuk ‘akuisisi’ perusahaan batubara bernama PT Indo Wana Bara, yang juga dimiliki oleh konsorsium yang sama (sehingga sekali lagi, tidak ada dana yang berpindah tangan, dan SIAP sejatinya tidak menerima setoran modal sepeserpun). Pemilik SIAP kemudian me-repo-kan sahamnya kesana kemari, dan mereka sukses meraup sejumlah dana. However, tambang batubara yang dimiliki SIAP tidak pernah berproduksi, dan SIAP itu sendiri sekarang sudah ditendang keluar dari bursa. Tapi lucunya, berbeda dengan kasus SUGI, maka dalam kasus SIAP ini, tidak ada seorangpun yang dipenjara, dan tidak ada ganti rugi apapun terhadap dana investor yang entah sudah menguap berapa trilyun.
Selain SUGI dan SIAP, masih ada banyak lagi kasus yang melibatkan perusahaan Tbk lainnya dengan kronologis serupa, dan dengan nilai kerugian yang bervariasi mulai dari belasan milyar hingga trilyunan Rupiah per kasus, tapi tidak pernah terungkap ke publik, dan alhasil pelakunya kemudian lepas tanggung jawab begitu saja. Dan pangkal mula dari terjadinya kasus-kasus tersebut adalah ketika perusahaan Tbk memperoleh pernyataan efektif/izin dari OJK, untuk menggelar right issue (atau IPO) senilai sekian, tapi perusahaan Tbk itu sebenarnya tidak pernah menerima setoran dana sebesar nilai right issue-nya, karena perusahaan/aset yang diakuisisi sejak awal adalah milik mereka sendiri. Cara ini pula yang berkali-kali dilakukan oleh tokoh ‘legenda saham gorengan’ yang kemarin akhirnya dicokok Kejaksaan Agung, melalui buanyak sekali perusahaan Tbk-nya di bursa, yang sekarang mati berjamaah di gocapan.
Sehingga maksud penulis adalah, jika sejak awal OJK tidak mengizinkan IPO-IPO/right issue jahanam ini, maka tidak akan pernah ada ‘saham anyar dari perusahaan gak jelas yang melejit sekian kali lipat, lalu anjlok lagi, mati di gocap, dan akhirnya bangkrut’, yang kemudian menyeret jatuh Jiwasraya, Asabri, dan nanti entah siapa lagi, dimana ini semua pada akhirnya membuat pasar modal Indonesia tidak pernah cukup nyaman untuk para investor, karena isinya predator semua. Jika diperinci, berikut adalah beberapa poin yang bisa dilakukan oleh OJK, sebagai penegak hukum di pasar modal, dan industri keuangan secara keseluruhan.
  1. Sebuah right issue baru akan menerima pernyataan efektif jika ada pembeli siaganya, dan ada sejumlah dana tunai yang benar-benar disetor ke perusahaan yang melakukan right issue tersebut. Hal yang sama berlaku untuk IPO.
  2. Investor institusi, terutama yang memegang dana kelolaan milik masrayakat (dapen, asuransi, aset manajemen), diwajibkan untuk melapor ke OJK jika mereka ditawari repo saham oleh perusahaan tertentu, dimana OJK kemudian memberikan penilaian independen terkait apakah repo itu aman atau tidak. OJK juga harus membentuk unit kerja khusus yang independen, termasuk independen dari pengaruh internal OJK itu sendiri, untuk tugas menerima laporan tawararepo, dan melakukan penilaian tersebut.
  3. OJK harus memberikan sanksi yang tegas pada repo-repo yang gagal bayar, termasuk kepada sekuritas atau pihak manapun yang menjadi agen penjualan repo tersebut, minimal dengan menyebut nama institusi/perusahaannya ke media sehingga masyarakat jadi waspada. Jangan biarkan sekuritas dengan gampangnya menyatakan tidak lagi bertanggung jawab atas penjualan repo A, B, C, dst, hanya karena mereka sekarang sudah tidak lagi menjual repo-repo tersebut.
  4. Perkuat edukasi ke masyarakat tentang risiko transaksi repo, bisa dengan postingan di media sosial, video Youtube dst, dan
  5. Dalam kasus Jiwasraya, Asabri, dan Dapen Pertamina, maka pelakunya bisa ditangkap karena memang terjadi kerugian negara alias korupsi, karena ketiga institusi diatas dimiliki oleh negara. Tapi sebenarnya yang dirugikan dari kasus-kasus repo ini tidak hanya negara, melainkan juga pihak swasta dan masyarakat umum! Dan dengan nilai kerugian yang, jika diakumulasikan, juga amat sangat besar. Sehingga dalam hal ini OJK harus mengadakan perjanjian kerjasama formal dengan BEI, Kepolisian, Kejaksaan, BPK, PPATK, hingga KPK untuk menjerat para predator ini, tidak hanya yang merugikan negara tapi juga yang merugikan orang banyak. Atau jika sudah ada, maka kerjasama itu harus lebih intensif lagi. Sebab memang, OJK tidak memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi pidana maupun perdata, melainkan hanya sanksi administratif. Tapi hal itu bisa dilakukan oleh lembaga lain yang memiliki kewenangan tersebut.
Okay Mas Teguh, tapi kok sarannya banyak sekali? Dan juga kelihatannya sulit untuk dilakukan? Well, saya ‘nda bilang bahwa itu akan mudah, dan pasti akan ada perlawanan dari mereka yang periuk nasinya terganggu. Tapi kalau bukan ke OJK, terus kita berharap ke siapa lagi?? Sedangkan dengan jumlah karyawan hampir 4,000 orang, dan anggaran yang diambil dari duit pajak rakyat sebesar hampir Rp5 trilyun per tahun (saya gak tau gaji di OJK berapa?? Yang pasti bukan UMR), maka OJK punya sumber daya yang lebih dari cukup untuk menjaga agar industri keuangan, khususnya pasar modal, menjadi lebih aman dibanding sekarang. Penulis tidak berharap bahwa kesemua masalah saham gorengan dll yang ada di bursa sekarang ini, yang memang sudah terjadi sejak entah berapa belas tahun lalu, akan langsung tuntas semua dalam waktu singkat. Namun berhubung sekarang memang pasar modal sedang dalam momentum ‘bersih-bersih’ terkait kasus Jiwasraya dan lainnya, maka ini juga harusnya bisa menjadi momentum bagi OJK untuk berbenah diri, dan agar kelak benar-benar menjadi pelindung bagi masyarakat. Ingat pula bahwa anjloknya sejumlah reksadana sejak November 2019 lalu (bahkan ada yang NAV-nya anjlok sampai 70%), salah satunya juga karena manajer investasinya terjebak masuk ke saham-saham yang terbang (tapi kemudian jeblok lagi) karena saham tersebut sebelumnya di-repo-kan. Sehingga dalam hal ini, korbannya jadi lebih buanyak lagi.
Terakhir, biar tulisan ini lebih dibaca oleh Pemerintah, maka bagi anda yang punya pengalaman kejebak repo atau semacamnya, silahkan itu disampaikan di kolom komentar [...]

Bank BJB (BJBR), dan Hubungannya Dengan Jiwasraya

Saham Bank BJB (BJBR), seperti yang kita ketahui, adalah satu dari sejumlah ‘saham gorengan’ yang disebut-sebut dipegang dalam jumlah besar oleh Jiwasraya dan Asabri. Dan seperti halnya saham-saham lainnya yang juga dipegang oleh kedua institusi tersebut, yang ramai-ramai turun setelah kasusnya mencuat ke publik, maka BJBR juga sudah turun sangat signifikan jika dihitung dari posisi tertingginya yakni 3,390, akhir tahun 2016 lalu, hingga sekarang sudah di level 1,010. Menariknya, berbeda dengan katakanlah Indofarma (INAF), Semen Baturaja (SMBR), apalagi Hanson International (MYRX), atau Trada Alam Minera (TRAM), maka fundamental BJBR tampak not too bad, dan yang paling menarik adalah dividennya, yang tahun lalu mencapai Rp89 per saham. Sehingga pada harga saham 1,010, yield-nya mencapai hampir 9%. Time to buy?
 


***
Jadwal Seminar Value Investing: Metode Paling Santai Sekaligus Paling Menguntungkan Dalam Investasi Saham: Jakarta, Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon jika mendaftar untuk dua atau tiga peserta sekaligus. Ada pertanyaan, bisa telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
Untuk Kelas Advanced, jadwalnya adalah juga di Jakarta, Minggu 2 Februari 2020. Dan infonya bisa dibaca disini.
***
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten, Tbk, adalah bank daerah yang dimiliki secara bersama-sama oleh Pemprov Jawa Barat, Pemprov Banten, dan Pemerintah Kota/Kabupaten di Wilayah Jabar dan Banten, yang secara khusus menyediakan kebutuhan layanan perbankan untuk warga Jabar dan Banten. Namun sejak perusahaan IPO pada tahun 2010, manajemen melakukan rebranding dengan mengubah nama ‘Bank Jabar’ menjadi ‘Bank BJB’, dan melakukan banyak ekspansi layaknya bank nasional, termasuk dengan membuka banyak kantor cabang diluar Jabar/Banten. Hingga per akhir tahun 2018, BJBR sudah memiliki 65 lokasi kantor cabang, belum termasuk kantor cabang pembantu, kantor kas, payment point dll, yang tersebar dari Sumatera Utara, hingga Bali. Perusahaan juga banyak menciptakan inovasi produk di bidang perbankan dan keuangan, sehingga diluar produk tabungan dan kreditnya, pada hari ini BJBR juga menyediakan jasa bancassurance, reksadana, dana pensiun lembaga keuangan, bank guarantee, treasury service termasuk menjadi agen untuk Obligasi Negara Ritel, hedging instrument, hingga international banking untuk pengiriman uang keluar negeri dll. BJBR juga menyediakan layanan pembayaran samsat dll, priority banking (BJB Precious), kartu kredit, dan tentunya BJB Syariah. Sehingga jika BJBR masih dikategorikan sebagai ‘bank daerah’, maka BJBR adalah bank daerah dengan layanan paling komplit di Indonesia.
Dan posisi BJBR sejak awal memang diuntungkan dengan statusnya sebagai bank daerah tersebut, dimana perusahaan tidak perlu repot-repot cari nasabah, karena hampir seluruh Aparatur Sipil Negara di Jabar plus Banten (yang jumlahnya paling banyak se-Indonesia) akan otomatis punya rekening disitu. Sedangkan untuk penyaluran kreditnya juga sama, dimana konsumen terbesar BJBR adalah para ASN yang butuh dana untuk kebutuhan sehari-hari, usaha kecil-kecilan, atau KPR. Sehingga ketika manajemen memutuskan untuk ‘keluar dari zona nyaman’ dengan ekspansi keluar dari Jabar & Banten itu sendiri, dan juga menciptakan banyak produk baru yang belum tentu dibutuhkan oleh para ASN tersebut, maka sebenarnya itu agak berisiko, tapi sejauh ini hasilnya terbilang memuaskan, atau bahkan sangat memuaskan. You see, pada akhir 2009, BJBR mencatat aset Rp32.4 trilyun, ekuitas Rp3.1 trilyun, dan pendapatan Rp3.9 trilyun. Dan per Kuartal III 2019, atau hampir 10 tahun kemudian, asetnya sudah tembus Rp123 trilyun, ekuitas Rp10.8 trilyun, dan pendapatan disetahunkan Rp11.9 trilyun. Menariknya, peningkatan nilai aset dll hingga 4 kali lipat dalam waktu kurang dari 10 tahun tersebut sukses dicapai ketika BJBR selama ini sangat royal dalam hal dividen, dimana perusahaan membayar dividen sebesar 55 – 65% dari laba bersihnya saban tahun. Total dividen yang dibayarkan itu sendiri tercatat Rp6.7 trilyun, untuk tahun fiskal 2010 – 2018.
Dengan demikian, jika kita memperhitungkan dividennya, maka nilai aset bersih BJBR sukses bertumbuh lebih dari 5 kali lipat dalam 10 tahun terakhir, yang tentu saja merupakan salah satu pencapaian terbaik dibanding rata-rata perusahaan lainnya di BEI, dan juga tidak kalah dibanding big four BCA, Mandiri, BRI, dan BNI. Nah, sebenarnya, karena faktor dividennya inilah, BJBR mungkin tidak terlalu menarik untuk investasi jangka panjang, karena pertumbuhan aset bersihnya jadi agak lamban. Dan penulis sendiri di masa lalu hanya menjadikan BJBR ini sebagai ‘saham dividen’, dimana kita beli sahamnya pada awal tahun menjelang dividen itu dibagikan (biasanya di bulan Mei), lalu setelah itu jual, dan tunggu sampai tahun berikutnya lagi. Dan memang, antara tahun 2010 hingga 2015, saham BJBR cenderung hanya mondar mandir di rentang 750 – 1,100, dan baru naik diatas itu pada tahun 2016, tapi belakangan ketahuan kalau itu ternyata karena ‘digoreng’ oleh Jiwasraya.
Pengaruh Kasus Jiwasraya?
Sehingga ketika bandar BJBR ini kemarin masuk kandang, maka praktis BJBR turun lagi, but so far penurunannya tidak sampai mati di gocap seperti banyak saham-saham gorengan lainnya, dan penulis tidak melihat bahwa BJBR akan anjlok separah itu, karena apa? Karena berbeda dengan saham-saham lainnya yang pernah dipegang Jiwasraya dan Asabri, yang rata-rata fundamentalnya sangat buruk sehingga sahamnya sejak awal tidak layak investasi dan sudah sepantasnya berada di titik harga terendah, maka BJBR bukan perusahaan jelek, dan perusahaan/manajemennya sendiri tidak terlibat dengan transaksi repo, aksi goreng saham, atau apapun yang dilakukan oleh Jiwasraya dkk, dimana sejak IPO-nya pada tahun 2010 lalu, setelah itu BJBR tidak pernah menggelar right issue atau semacamnya, melainkan tetap fokus di bidang usahanya sebagai perusahaan perbankan (bandingkan dengan MYRX, misalnya, yang sebelum sekarang sahamnya mati di gocap, perusahaan pernah right issue, meng-IPO-kan anak usahanya, stocksplit, private placement, transaksi repo, hingga menerbitkan ‘deposito’ yang kemudian disemprit oleh OJK, tapi disisi lain gak pernah bayar dividen, karena perusahaannya memang tidak menghasilkan keuntungan apapun!). BJBR juga tidak tercatat memiliki relasi atau melakukan kerjasama apapun dengan Jiwasraya (di semua dokumen BJBR, tidak disebut Jiwasraya kecuali sebagai salah satu pemegang saham minoritas), dan tidak termasuk dari tujuh bank yang menjadi agen produk JS Saving Plan, yang dijual oleh Jiwasraya.
Nah, jadi untuk saham-saham lainnya yang juga ‘terlibat’ skandal Jiwasraya, maka mereka ya memang sudah habitatnya di level gocapan, atau bahkan bangkrut karena sejak awal perusahaannya didirikan hanya untuk menggasak dana milik investor di bursa. Sedangkan BJBR? Well, sebelum digoreng pada tahun 2016 lalu, dia berada di rentang 750 – 1,100, dan penulis kira untuk kedepannya BJBR akan kembali stabil di rentang tersebut. Karena diluar fluktuasi sahamnya yang ekstrim pada tahun 2016 – 2020 ini, tapi kualitas fundamental BJBR secara umum tidak banyak berubah dibanding 5 tahun lalu, dan demikian pula kebijakan dividen jumbo-nya belum berubah.
Sehingga dengan demikian, strategi investasinya juga tidak berubah: Sahamnya baru menarik untuk dibeli jika dividend yield-nya mencapai 8 – 9%, yang itu artinya pada rentang harga 900 – 1,000. Kemudian untuk timing-nya, BJBR bisa dibeli menjelang pembagian dividennya, dimana harganya biasanya akan naik dengan kenaikan lebih tinggi dibanding nilai dividennya itu sendiri. Contoh, pada bulan April 2014, BJBR membayar dividen Rp78 per saham. Dan harga sahamnya itu sendiri? Well, antara Januari – Maret 2014, BJBR naik dari 880 hingga 1,150 dalam waktu persis 3 bulan, atau naik 270 point, sebelum kemudian turun karena dividennya memang sudah dibayarkan pada bulan April-nya.
Dan secara historis sebelum tahun 2016, BJBR memang biasanya naik signifikan antara bulan Januari – Maret. Nah, karena sekarang masih awal tahun, dan BJBR juga memang sudah berada di ‘habitat’-nya lagi, maka mari kita lihat: Jika perusahaan kembali membayar dividen pada bulan Mei, seperti tahun 2019 lalu, maka sahamnya baru akan gerak sejak sekitar tiga bulan sebelumnya, alias Februari atau paling lambat Maret. Karena disisi lain BJBR ini masih dalam strong downtrend sejak November 2019 lalu (dan kasus Jiwasraya dll memang baru ramai pada November tersebut), maka memang biasanya sahamnya akan mengalami jeda waktu barang beberapa minggu hingga 1 – 2 bulan untuk bergerak stabil di rentang harga tertentu, sebelum kemudian naik lagi. Kemudian kalau kita lihat kondisi pasar/IHSG-nya, yang sampai hari ini masih galau karena masih adanya kekhawatiran terkait skandal Jiwasraya dan Asabri (sekarang malah mulai rame Bumiputera), maka investor memang masih perlu waktu beberapa saat lagi, untuk bisa menyadari bahwa meskipun saham BJBR ini sempat digoreng oleh pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab, tapi perusahaannya no problem at all, dan kinerjanya justru terbilang bagus.
Jadi kesimpulannya, everything’s match: BJBR akan sangat menarik untuk dibeli pada sekitar awal Maret nanti, terutama jika anda bisa dapet harga 900 – 1,000. Sebab jika diatas itu, maka yield-nya akan kurang dari 8%, dan kenaikannya mungkin tidak akan signifikan karena disisi lain, ada beberapa saham lainnya di BEI yang yield-nya sama atau lebih besar, tapi tidak ‘terlibat’ dengan Jiwasraya atau semacamnya. Well, mari kita lihat lagi nanti perkembangannya bagaimana, sekitar sebulan dari sekarang.
Okay, untuk mingdep, mau bahas saham apa lagi? Atau kita investigasi lagi laporan keuangan Bumiputera, Taspen dst?
***
Jadwal Seminar Value Investing: Metode Paling Santai Sekaligus Paling Menguntungkan Dalam Investasi Saham: Jakarta, Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon jika mendaftar untuk dua atau tiga peserta sekaligus. Ada pertanyaan, bisa telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
Untuk Kelas Advanced, jadwalnya adalah juga di Jakarta, Minggu 2 Februari 2020. Dan infonya bisa dibaca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Setelah Jiwasraya & Asabri, Siapa Lagi?

Masih dari acara diskusi yang dihadari penulis sebagai narasumber di Kantor Staf Presiden, tanggal 7 Januari ini, ada pertanyaan seperti ini: ‘Dalam kasus Jiwasraya & Asabri, disebutkan ada korupsi senilai sekian trilyun. Dimana korupsinya? Dan siapa pelakunya?’ Penulis jawab, ‘Kita tahu bahwa penyebab Jiwasraya gagal bayar adalah karena kesulitan likuiditas, karena dana investasi milik perusahaan nyangkut di saham-saham berkualitas rendah. Dalam hal manajer investasi (MI) di Jiwasraya membeli saham-saham itu karena tidak tahu/tidak bisa menganalisa bahwa perusahaannya memang jelek, maka memang tidak ada unsur korupsi, dan MI itu bisa dihukum sebatas karena kelalaian’.

***
Jadwal Seminar Value Investing, Metode Paling Santai Sekaligus Paling Menguntungkan Dalam Investasi Saham: Surabaya Sabtu 18 Januari, Jakarta Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon jika mendaftar untuk dua peserta sekaligus. Info telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
‘Namun’, penulis melanjutkan, ‘Sangat kecil kemungkinan MI tidak bisa menganalisa, atau membeli saham-saham yang ada di BEI secara acak layaknya investor pemula yang nggak ngerti apa-apa. Karena kalau kita lihat profil dari dewan direksi dan komisaris Jiwasraya, maka isinya adalah figur-figur yang sudah sangat berpengalaman baik itu di bidang asuransi, maupun investasi pasar saham. Sedangkan MI atau staf pegawai di Jiwasraya tidak akan bisa begitu saja membeli saham ini dan itu tanpa adanya izin dari direksi.’
‘Jadi yang lebih mungkin adalah adanya unsur kesengajaan. Dan menurut Undang-Undang, pengertian korupsi adalah perbuatan memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Sekarang, ketika Jiwasraya beli saham ini dan itu, maka siapa yang menjual dan menerima uangnya? Jika yang menerima uangnya tersebut memperoleh keuntungan, tapi disisi lain Jiwasraya menderita kerugian karenanya (dan karena Jiwasraya ini BUMN, maka yang dirugikan adalah negara), maka disitulah korupsinya!’
‘Sehingga dalam hal ini pelakunya ada dua: Pihak internal Jiwasraya, dan pihak luar. Because it takes two to tango, alias kedua belah pihak yang terlibat transaksi jual beli saham itu sama-sama harus bertanggung jawab, bahkan meskipun pihak penjual tidak menerima keuntungan apa-apa (tapi ini juga gak mungkin sih, melainkan pasti ada fee atau semacamnya). Lalu soal siapa pelakunya, maka tinggal dicek siapa-siapa saja direksi Jiwasraya, bukan ketika Jiwasraya mengalami gagal bayar pada tahun 2018, melainkan ketika transaksi-transaksi pembelian saham itu terjadi, yakni sejak 2013 sampai 2018 lalu. Dan dari mereka maka akan ketahuan, siapa saja yang menerima uangnya.’
Setelah itu penulis nggak ngomong lagi, karena giliran dua narsum lainnya untuk berbicara, tapi pada intinya mereka juga berpendapat yang sama: Yang (kemungkinan) bersalah dalam kasus Jiwasraya, dan juga Asabri, tidak hanya para pimpinan perusahaan, tapi juga pihak ketiga yang terima duitnya. Bedanya, jika penulis dan satu narsum lainnya tidak menyebut nama, maka satu narsum lagi secara jelas menyebut dua nama diluar jajaran direksi Jiwasraya, yang pada hari Selasa, 14 Januari kemarin akhirnya dua orang ini resmi ditahan oleh Kejagung.
Unfortunately, diskusi di Istana kemarin itu hanya 4 jam. Tapi jika waktunya diperpanjang, maka kemungkinan akan ada pertanyaan-pertanyaan lanjutan sebagai berikut, plus jawabannya.
Hubungan Antara Jiwasraya & Asabri
Jika di Jiwasraya ada unsur korupsi, lalu bagaimana dengan Asabri?
Kasus Jiwasraya ini kan jadi rame karena korbannya ada banyak, yakni para nasabahnya yang tidak bisa lagi menarik dana mereka. Tapi kita tahu bahwa inti masalahnya bukan di gagal bayarnya, melainkan karena Jiwasraya sejak bertahun-tahun sebelumnya banyak beli saham-saham gorengan gak jelas. Dalam hal ini, maka Asabri juga punya masalah yang sama, karena di portofolionya ada banyak saham-saham seperti itu juga. Asabri memang belum mengalami gagal bayar, tapi jika hal ini dibiarkan, maka cepat atau lambat mereka akan gagal bayar juga. Dan ketika gagal bayar itu terjadi maka dampak sosialnya akan lebih buruk lagi. Karena berbeda dengan nasabah Jiwasraya yang rata-rata berasal dari kelompok ekonomi menengah keatas, nasabah Asabri adalah para pensiunan TNI/Polri dan abdi negara, yang bisa jadi dana yang tersimpan di Asabri adalah merupakan tabungan mereka satu-satunya.
Tadi disebutkan dua nama dari pihak luar yang kemungkinan terlibat dengan Jiwasraya. Untuk Asabri, kira-kira siapa pihak luarnya?
Ada kemungkinan orang yang sama. Karena, pertama, seperti halnya Jiwasraya yang mulai banyak beli saham-saham gorengan sejak 2013, Asabri juga melakukan hal yang sama pada waktu yang tidak jauh berbeda, yakni setahun kemudian alias 2014. Kedua, ada sejumlah saham, atau surat utang berkualitas rendah yang dibeli Jiwasraya, yang juga dibeli oleh Asabri. Mengingat dewan direksi Jiwasraya dan Asabri sepenuhnya diisi oleh orang-orang yang berbeda dan tidak saling berhubungan satu sama lain, maka terlalu kebetulan jika mereka membeli saham-saham yang sama, dan pada waktu yang juga hampir sama, kecuali jika pihak penjualnya adalah orang/korporasi yang sama.
Lalu bagaimana solusinya?
Untuk Jiwasraya, dia tidak perlu di-bail out pake APBN seperti Bank Century di tahun 2008 lalu karena, pertama, kita sekang tidak sedang dalam kondisi krisis seperti tahun 2008 tersebut. Kedua, Jiwasraya ini asuransi, bukan bank. Kalau ada satu bank gagal bayar, maka hampir pasti akan timbul dampak sistemik dimana nasabah dari bank-bank lain akan menarik dana mereka karena panik (bank rush), dan itu akan menyebabkan bank-bank lain tersebut ikut kolaps. Sedangkan asuransi, jika dia gagal bayar maka nasabahnya sebatas akan berhenti bayar premi saja, tapi dia tidak bisa serta merta menarik dananya jika dana tersebut belum jatuh tempo. Dan kalau si nasabah tidak mengalami peristiwa tertentu (sakit, atau meninggal dunia) yang mengharuskan perusahaan asuransi membayar klaim, maka juga tidak akan terjadi penarikan dana.
Jadi Jiwasraya bisa dibantu pendanaan dari BUMN lain yang sehat, dimana meski prosesnya mungkin tidak bisa cepat seperti kalau pake APBN, tapi dalam hal ini kita tidak perlu buru-buru, karena yang penting Jiwasraya bisa mulai membayar kewajibannya saja dulu kepada para nasabah. Sedangkan untuk Asabri, masalahnya bisa dilempar saja dulu ke media, agar direksi disana kemudian melakukan pembenahan dengan sendirinya, sehingga gagal bayar seperti yang dialami Jiwasraya tidak turut terjadi. Ini kan ibaratnya, Jiwasraya ini sudah sakit sejak dulu, tapi dia gak juga mau pergi ke dokter. Sehingga ketika sakitnya sudah kronis, mau tidak mau pemerintah harus turun tangan. Sedangkan untuk Asabri, sakitnya masih belum parah, sehingga dia masih bisa menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan kita (Pemerintah) mengingatkan mereka untuk pergi ke dokter.
Jika dikatakan bahwa Jiwasraya sudah bermasalah sejak 2013, lalu kenapa kasusnya baru ramai sekarang?
Karena memang tidak segampang itu untuk melihat rekayasa laporan keuangan dll yang dilakukan oleh manajemen. Faktanya, berdasarkan laporan keuangannya, kinerja Jiwasraya terus mengalami pertumbuhan hingga puncaknya perusahaan meraih rekor laba bersih Rp2.4 trilyun di tahun 2017, yang bahkan menyebabkan Jiwasraya memperoleh penghargaan sebagai ‘Product Development Terbaik’ di BUMN Branding & Marketing Award, di tahun 2018-nya. Tapi begitu jajaran direksi Jiwasraya diganti di tahun 2018 itulah, baru kelihatan semua laba bersih itu cuma manipulasi, dan Jiwasraya selama itu terpaksa menjalankan skema ponzi untuk membayar nasabahnya, karena dana investasi mereka sebenarnya sudah nyangkut parah semua sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Tapi belajar dari kasus Jiwasraya inilah, maka OJK, atau otoritas manapun yang berwenang, mulai sekarang harus secara rutin mengecek portofolio investasi dari perusahaan-perusahaan keuangan, baik itu BUMN maupun swasta, jadi jangan tunggu mereka gagal bayar dulu.
Atau, mulai sekarang Pemerintah harus mewajibkan perusahaan-perusahaan keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat, untuk secara rutin mempublikasikan laporan keuangan versi lengkap di website mwereka masing-masing, dan mereka akan menerima sanksi jika LK-nya belum terbit. Dengan cara ini, maka OJK akan dibantu oleh analis-analis independen yang membaca LK tersebut.
Setelah Jiwasraya dan Asabri, selanjutnya perusahaan apa lagi yang mungkin punya masalah yang sama?
Kecurigaan paling awal tentu menyasar pada BUMN asuransi lainnya, seperti Taspen, BPJS Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan (Bumiputera juga, tapi Bumiputera ini bukan PT, sehingga agak sulit mengauditnya). Dan data yang kami miliki adalah dari PT Taspen (Persero), yang memang bakal gawat kalau perusahaan juga mengalami masalah yang serupa, karena nilai asetnya jauh lebih besar dibanding Jiwasraya maupun Asabri, yakni Rp231.9 trilyun per akhir 2018. Beruntung, Taspen jauh lebih banyak menempatkan investasinya pada instrumen berisiko rendah, seperti obligasi, sukuk, dan deposito. Sedangkan untuk portofolio sahamnya, Taspen memegang secara langsung saham-saham berikut, dengan nilai pasar total Rp13.0 trilyun per 31 Desember 2018.
Nah, untungnya berbeda dengan Jiwasraya maupun Asabri, saham-saham yang dibeli PT Taspen terbilang ‘normal’, dan tidak ada diantara mereka yang harganya jatuh sampai ke gocap, ataupun perusahaannya bangkrut. Meski memang, kalau melihat angkanya dimana 40 dari 55 saham yang dibeli Taspen posisinya nyangkut semua, maka mungkin MI-nya harus ditendang keluar. Sebab di tahun 2017-nya, dimana pada tahun tersebut IHSG naik 20.0%, maka porto milik PT Taspen ketika itu juga sama nyangkutnya.
Anyway, jika dibanding Jiwasraya ataupun Asabri, maka Taspen relatif masih aman karena sekali lagi, mayoritas investasinya ditempatkan di obligasi dan deposito. Namun sayangnya, tidak ada data untuk BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, sehingga dalam hal ini penulis harus kembali menyampaikan: Pemerintah harus mewajibkan dua institusi ini untuk merilis laporan keuangan versi lengkap, karena kalau mereka bermasalah maka nilai kerugiannya bisa jauuuuh lebih besar lagi dibanding kasus Jiwasraya ataupun Asabri, karena nilai aset mereka sangat besar. Contohnya BPJS Ketenagakerjaan, untuk program Jaminan Hari Tua-nya saja, total asetnya Rp235.0 trilyun per akhir tahun 2017. Mengingat kinerja institusi-institusi tersebut menyangkut kepentingan rakyat banyak, maka sekali lagi, mereka harus diwajibkan untuk merilis laporan keuangannya.
Bagaimana dampak kasus Jiwasraya dan Asabri, terhadap industri asuransi, dan pasar modal itu sendiri?
Yang pertama jelas, kepercayaan publik terhadap perusahaan asuransi akan turun, tidak hanya terhadap dua itu tapi juga perusahaan asuransi lainnya, dan itu bisa menyulitkan para pekerja di bidang asuransi, dan bidang lain yang terkait. Tapi disisi lain, jika kasus ini bisa ditangani dengan baik, dan para nasabah kembali memperoleh hak-nya, maka dampaknya tentu akan positif. Sebab sebelum kejadian Jiwasraya ini, maka kasus gagal bayar entah itu oleh perusahaan asuransi atau lainnya, termasuk kasus saham gorengan yang melejit secara tidak wajar lalu kemudian anjlok gila-gilaan, dan menimbulkan kerugian luar biasa dari investor ritel, itu sudah sering terjadi sejak dulu, hanya saja nominalnya kecil-kecil sehingga kurang terekspos, dan alhasil tidak ditangani oleh Pemerintah. Sehingga kasus Jiwasraya ini justru bisa menjadi momentum ‘pembersihan’, yang dalam jangka panjang akan membuat iklim investasi di Indonesia menjadi lebih baik.
Kedua, dengan ditangkapnya para ‘bandar’ kemarin, maka kemungkinan volume transaksi pasar akan sepi, dan saham-saham di BEI tidak akan bergerak fluktuatif lagi seperti dulu. Hal ini tentu nggak bagus untuk investor/trader saham jangka pendek, tapi bagi investor jangka panjang sebenarnya no problem. Karena kalau sebuah saham memang berfundamental bagus, maka meski dalam waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan dia tampak susah gerak, misalnya karena ‘gak ada bandarnya’, tapi eventually dia akan naik juga. Contohnya? Well, yang pernah kita bahas di blog ini, Adira Dinamika Multifinance (ADMF), Samindo Resources (MYOH), dan Ultrajaya (ULTJ). Perhatikan bahwa volume transaksi ketiga saham tersebut cenderung sepi, jauh lah dibanding MYRX atau semacamnya, tapi toh tiga-tiganya tetap naik signifikan dalam beberapa tahun terakhir, meski gak ada yang mengerek naik. Dan diluar tiga itu maka masih ada banyak lagi saham lainnya yang tidak ada indikasi gorengan, tapi tetap menghasilkan cuan dalam jangka panjang. Tapi memang, kalau anda beli saham model gini lalu dieeem aja gak jual-jual, maka broker anda akan cemberut karena gak dapet fee.
Sehingga jika ada sejumlah pihak yang justru khawatir ketika para ‘predator pasar modal’ pada dikandangin, maka penulis bisa memahami hal itu. Tapi kalau bagi kami sebagai investor, maka ya nda’ ada masalah. Dan actually, penyebutan istilah ‘predator’ oleh Menteri Keuangan sebenarnya masih terlalu halus. Karena kalau kita lihat harimau, misalnya, maka kalau dia berburu rusa lalu memakan dagingnya sampai kenyang, maka ya sudah, dia akan berhenti berburu selama beberapa hari hingga beberapa minggu sampai nanti dia lapar lagi. Sementara predator pasar modal? Well, kalau melihat profil mereka kemarin, mereka bukan orang susah, dengan nilai kekayaan puluhan milyar Rupiah atau lebih. Tapi kenapa mereka terus saja menggasak duit orang-orang, termasuk milik para pensiunan dll di Jiwasraya dan Asabri? Ya karena berbeda dengan harimau, mereka gak ada kenyangnya, dimana semakin besar duit yang mereka ambil, mereka justru semakin penasaran untuk mengambil lebih besar lagi!
Sehingga istilah predator disini memang kurang tepat. Eh, tapi istilah apa yang tepat kalau begitu?
***
Jadwal Seminar Value Investing, Metode Paling Santai Sekaligus Paling Menguntungkan Dalam Investasi Saham: Surabaya Sabtu 18 Januari, Jakarta Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon jika mendaftar untuk dua peserta sekaligus. Info telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Daftar Lengkap Saham-Saham yang Dibeli Asabri

Minggu lalu, tepatnya hari Selasa, 7 Januari, penulis memenuhi undangan dari Kantor Staf Presiden (KSP) di Istana Negara, Jakarta, untuk menjadi narasumber dalam diskusi membahas perkembangan pasar saham, termasuk soal kasus Jiwasraya. Diskusi tersebut dihadiri oleh oleh para deputi dan staf ahli presiden, dan penulis adalah satu dari tiga narsum yang hadir. Nah, ketika kita membahas soal skema penyelamatan Jiwasraya, maka penulis katakan bahwa Jiwasraya bisa diberikan bantuan likuiditas oleh BUMN keuangan yang lain, entah itu BUMN bank, asuransi, dana pensiun dst, dan dengan demikian Jiwasraya akan bisa melunasi kewajibannya kepada para nasabah pemilik dana.

***
Jadwal Seminar Value Investing, Metode Paling Santai Sekaligus Paling Menguntungkan Dalam Investasi Saham: Surabaya Sabtu 18 Januari, Jakarta Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon jika mendaftar untuk dua peserta sekaligus. Info telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
Ebook Analisa IHSG & Info buy/sell saham edisi Januari 2020 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan masih tersedia diskon khusus awal tahun.
***
Lalu ketika giliran narsum lainnya yang berbicara, maka ia memberikan jawaban yang lebih spesifik. Pertama, ia setuju bahwa Jiwasraya tidak perlu di-bail out menggunakan APBN, karena dia bisa dibantu oleh BUMN lain yang sehat, entah itu dalam bentuk penyertaan modal, atau Jiwasraya menerbitkan obligasi yang kemudian diambil oleh BUMN-BUMN yang sehat tersebut. Karena meski nilai kerugian yang dialami Jiwasraya ini tampak fantastis/mencapai belasan trilyun Rupiah, namun angka segitu sebenarnya tidak terlalu besar dibanding nilai aset dari BUMN-BUMN di bidang keuangan (bank dll) yang sehat, yang totalnya mencapai Rp7,000-an trilyun.
Namun kedua, ia tidak setuju dengan rencana pembentukan holding asuransi yang diajukan oleh Menteri BUMN, karena faktanya BUMN asuransi yang bermasalah/kesulitas likuiditas bukan hanya Jiwasraya, melainkan yang lainnya juga. Jadi gimana caranya Jiwasraya bisa sehat, jika dia digabung dengan BUMN-BUMN asuransi lain yang sama saja sakitnya? Narsum ini kemudian menyebut beberapa nama institusi yang bermasalah tersebut, diluar Jiwasraya. Salah satunya? Yep, Asabri. Diskusi kemudian berlanjut dengan membahas masalah yang dialami oleh Asabri, dimana kronologisnya mirip-mirip dengan Jiwasraya: Asabri banyak membeli saham-saham berfundamental buruk pada harga sangat tinggi, lalu menderita kerugian karena saham-saham tersebut anjlok gila-gilaan, beberapa diantaranya turun hingga 90%. Hanya bedanya dengan Jiwasraya, Asabri tidak menerbitkan produk ‘tabungan’ yang menjanjikan bunga fix, melainkan hanya menyediakan produk asuransi murni, sehingga tidak atau belum ada kasus gagal bayar. Tapi dalam hal kesulitan likuiditas, maka Asabri sama bermasalahnya dengan Jiwasraya (baca lagi soal fakta Jiwasraya, disini).
Nah, ketika giliran penulis lagi untuk berbicara, maka saya bilang, kami pelaku pasar sebenarnya sudah tahu soal Asabri ini sejak dulu, karena nama Asabri jelas sekali muncul sebagai pemegang saham dengan kepemilikan lebih dari 5%, pada sejumlah perusahaan Tbk yang sahamnya melejit secara tidak wajar pada tahun 2016 – 2017 lalu. Dan saya juga pada bulan Juni 2016 sudah menulis tentang pergerakan yang tidak wajar dari saham-saham tertentu, terutama BUMN (baca lagi ulasannya disini), dimana ditengarai bahwa itu adalah karena ulah bandar. Tapi kami ketika itu belum bisa ngomong karena faktanya, Asabri gak ada masalah gagal bayar atau semacamnya. Namun karena di forum ini nama Asabri sudah disebut, maka ya sudah, kami mohon izin untuk menjelaskan.
Data kepemilikan Asabri pada saham Indofarma (INAF) di tahun 2016 dan 2017, klik gambar untuk memperbesar. Pada tahun 2016, INAF mendadak terbang dari 200-an hingga tembus 4,000 hanya dalam setahun, dimana pada tahun 2016 itulah Asabri mulai banyak masuk ke INAF.

Setelah itu penulis pulang ke Bandung. Tiga hari kemudian, yakni Jumat, 10 Januari, Pemerintah melalui Menko Polhukam menyampaikan kepada media terkait dugaan korupsi di Asabri, dengan perkiraan nilai kerugian yang tidak kalah besarnya dibanding Jiwasraya.
Okay, lalu bagaimana sebenarnya masalah yang dihadapi oleh Asabri? Dan apakah benar nilai kerugiannya mencapai Rp10 trilyun?
Kronologis Asabri
PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, atau Asabri (Persero), berdiri pada tahun 1971 sebagai penyedia asuransi jiwa, asuransi kecelakaan kerja, tunjangan pensiun, dan tunjangan hari tua bagi Anggota TNI/Polri, dan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Pertahanan dan Polri, beserta keluarganya. Pendapatan perusahaan berasal dari iuran wajib Anggota TNI/Polri, yang otomatis dipotong dari gaji pokok setiap bulannya, atau dibayar oleh Pemerintah. Sehingga berbeda dengan Jiwasraya, Asabri tidak perlu repot-repot promosi produk, tapi pendapatannya akan naik terus hampir setiap tahun. Sebelum tahun 2014, perusahaan biasanya menempatkan dana iuran anggotanya pada instrumen-instrumen investasi berisiko rendah, seperti deposito, obligasi pemerintah & korporasi, dan reksadana campuran. Asabri ketika itu ada juga beli saham langsung, tapi nilainya hanya di kisaran puluhan milyar Rupiah, alias relatif kecil jika dibanding nilai total investasinya, yang pada tahun 2013 sudah tembus diatas Rp10 trilyun.
Hingga pada tahun 2014, Asabri mulai berinvestasi di saham dengan membeli langsung (diluar investasinya yang melalui reksadana), dengan nilai penempatan Rp1.5 trilyun, yang terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. Menariknya, dana yang digunakan adalah dana iuran tunjangan hari tua, yang bisa disebut sebagai ‘uang dingin’ karena baru akan dicairkan lama kemudian, yakni ketika si anggota TNI/Polri yang membayar iuran THT tersebut memasuki masa purnabakti, paling tidak 10 tahun sejak ia pertama kali membayar iuran tersebut (jadi ini beda dengan katakanlah iuran asuransi kecelakaan kerja, yang klaimnya bisa dibayarkan setiap saat, yakni ketika si nasabah mengalami kecelakaan kerja tersebut). Inilah kenapa Asabri tidak mengalami masalah gagal bayar seperti yang dialami Jiwasraya, bahkan kalaupun dananya nyangkut di saham-saham yang mereka beli, karena polisnya memang belum jatuh tempo, dan tidak akan jatuh tempo dalam waktu dekat.
Okay, tinggal pertanyaannya, ketika Asabri memulai ‘debut’ mereka di stock market pada tahun 2014, maka mereka beli saham apa saja? Well, mereka ada beli beberapa saham BUMN, yang nilai pasarnya tercatat Rp65 milyar pada akhir tahun. Sedangkan selebihnya, yakni Rp1.4 trilyun, ditempatkan pada saham-saham perusahaan swasta, sebagai berikut, klik gambar untuk memperbesar:

Nah, ketika melihat tabel diatas, maka penulis sendiri terus terang kaget. Karena, meski memang Asabri ada beli saham-saham yang ‘normal’ seperti Bank BCA (BBCA), atau Astra International (ASII), tapi alokasi dananya sangat kecil, hanya beberapa milyar Rupiah saja. Sedangkan pegangan terbesar mereka justru di saham-saham dari perusahaan yang kinerjanya extremely terrible, manajemennya bermasalah, dan beberapa diantaranya malah hari ini sudah bangkrut! Sebut saja Laguna Cipta Griya (LCGP), Hanson International (MYRX), Sekawan Intipratama (SIAP), Sugih Energy (SUGI), hingga Agis (TMPI).
Hanya memang, pada tahun 2014 tersebut, Asabri masih membukukan keuntungan dari ‘investasi’-nya pada saham-saham diatas, dengan total capital gain (baik itu yang sudah direalisasi, maupun belum) Rp240 milyar. Mungkin karena itulah, perusahaan di tahun berikutnya (2015) menempatkan lebih banyak lagi investasi di saham, namun kali ini saham yang ‘tidak perform’ seperti BBCA disingkirkan. Per akhir tahun 2015, nilai investasi saham Asabri sudah tembus Rp3.5 trilyun, dimana hanya Rp207 milyar diantaranya yang ditempatkan di saham BUMN, dan selebihnya ditempatkan di saham-saham swasta, dengan rincian sebagai berikut:

Seperti yang bisa anda lihat diatas, maka sedikit berbeda dengan tahun 2014, Asabri kali ini berkomitmen penuh untuk hanya berinvestasi pada saham-saham yang ‘bisa terbang 20% dalam sehari, dan sebaliknya bisa drop 20% juga dalam sehari, tak peduli kinerja perusahaannya bagus atau jelek’. Dan keuntungan sebesar Rp910 milyar pada tabel diatas (dari modal Rp2.6 trilyun) tentunya tampak luar biasa, mengingat di tahun 2015 itu IHSG anjlok 12.1%, sehingga Asabri kembali melanjutkan strategi investasinya tersebut. Namun memasuki tahun 2016, beberapa saham yang dipegang turun signifikan sehingga perusahaan harus mengakui kerugian, dimana datanya bisa dilihat pada tabel berikut:

Seperti yang bisa dilihat diatas, meski beberapa sahamnya nyangkut tapi Asabri secara keseluruhan masih membukukan keuntungan meski sangat kecil, yakni hanya Rp14 juta. Dan mungkin karena itulah, manajer investasi (MI)-nya sedikit mengubah strategi: Masih di tahun 2016, Asabri mulai membeli banyak saham-saham BUMN, dan hasilnya memang cuan dimana saham-saham itu naik banyak. Rinciannya adalah sebagai berikut:

Kemudian pada tahun 2016 ini pula, selain dana iuran tunjangan hari tua, Asabri juga mulai menggunakan dana iuran tunjangan pensiun milik para nasabahnya untuk belanja saham, yang nilai pasarnya tercatat total Rp6.3 trilyun pada akhir tahun, dan dengan komposisi porto yang juga terkonsentrasi pada saham-saham seperti INAF, ANTM, KAEF, dan MYRX. Sebelumnya perlu diketahui bahwa meski sama-sama dibayarkan ketika seorang anggota TNI/Polri pensiun, namun tunjangan pensiun berbeda dengan tunjangan hari tua, dimana tunjangan pensiun dibayarkan secara bertahap setiap bulan sejak si anggota pensiun hingga ia meninggal dunia, sedangkan tunjangan hari tua dibayarkan secara sekaligus sebanyak satu kali saja, yakni ketika si anggota pensiun. Jadi jika seorang anggota TNI/Polri ingin menerima keduanya, maka ia juga harus membayar dua jenis iuran yang berbeda.

Sehingga untuk tahun 2016 itu, Asabri total memegang portofolio saham senilai Rp11.4 trilyun (menjadi Rp11.8 trilyun setelah adanya penyesuaian penyajian kembali laporan keuangan) yang sebagian besar terkonsentrasi pada saham-saham seperti Indofarma (INAF), Semen Baturaja (SMBR), dan Hanson International (MYRX). Memasuki tahun 2017, nilai investasi saham Asabri untuk dana iuran tunjangan hari tua-nya stagnan di angka Rp5.3 trilyun, tapi komposisinya berubah drastis dimana penempatan di saham-saham BUMN berkurang hingga setengahnya, sedangkan penempatan di saham-saham swasta naik signifikan. Pada laporan keuangan tahun 2017 ini, Asabri tidak lagi merinci saham-saham apa saja yang mereka pegang, sedangkan pada laporan arus kasnya ada ‘penempatan investasi’ sebesar Rp861 milyar. Sehingga penulis mengambil kesimpulan: Asabri kemungkinan mulai menderita kerugian serius dari strategi investasinya diatas, tapi perusahaan masih bisa mengakali hal tersebut dengan kembali membeli saham-saham lainnya dalam jumlah besar, kali ini saham swasta terutama yang baru IPO. Seperti yang kita ketahui, pada tahun 2017 lalu ada banyak saham pendatang baru di bursa (totalnya 27 saham baru), dimana mayoritas dari saham-saham IPO ini kemudian terbang secara tidak wajar. Dan data registrasi efek menunjukkan bahwa sampai hari ini, Asabri masih memegang dua saham yang IPO pada tahun 2017 tersebut, yakni Hartadinata Abadi (HRTA), dan Alfa Energi Investama (FIRE). Khusus untuk FIRE, setelah IPO pada harga 500, pada bulan Juni 2017, sahamnya sukses terbang hingga ditutup di posisi 1,285 pada akhir tahun 2017. Sehingga dengan asumsi Asabri sudah mulai koleksi sahamnya sejak tahun 2017 tersebut, atau perusahaan dapet jatah IPO-nya, maka kenaikan nilai investasinya di saham-saham swasta untuk tahun 2017, menjadi bisa dijelaskan.

Lalu ditambah investasi sahamnya yang menggunakan dana iuran tunjangan pensiun sebesar Rp8.2 trilyun, maka totalnya Asabri memegang saham senilai Rp13.5 trilyun pada akhir 2017. Dan meski perusahaan tidak lagi menyebutkan saham-saham apa saja yang mereka pegang, tapi penulis perkirakan masih tidak jauh-jauh dari INAF, MYRX, dst, karena saham-saham tersebut tidak likuid sehingga sulit untuk menjualnya, apalagi Asabri memegangnya senilai lebih dari Rp1 trilyun untuk tiap-tiap saham (and indeed, hingga akhir 2019, Asabri tercatat masih memegang saham-saham diatas).

However, memasuki tahun 2018, saham-saham yang dipegang Asabri mulai berjatuhan, karena memang sekali lagi, sejak awal fundamentalnya tidak mendukung. Contohnya SMBR, yang sempat lanjut naik sampai menyentuh 4,100 di awal tahun 2018, tapi setelah itu longsor terus menerus hingga akhirnya ditutup di level 1,750 pada akhir tahun. Memasuki 2019, kondisinya semakin buruk dimana kali ini giliran INAF yang turun, dan hampir semua saham yang dipegang Asabri diatas satu per satu berjatuhan, bahkan tidak sedikit diantaranya yang mati di gocap, di-suspen, atau perusahaannya bangkrut! Penulis tidak tahu berapa sisa nilai investasi Asabri di saham-saham tersebut pada hari ini, karena LK-nya untuk tahun 2019, dan juga 2018 belum keluar. Tapi kalau melihat posisi harga terkini dari saham-saham yang dulu dibeli Asabri (dan data registrasi pemegang efek menunjukkan bahwa Asabri sekarang ini masih memegang saham-saham tersebut), maka sulit untuk membayangkan bahwa investasi senilai Rp13.5 trilyun milik Asabri di tahun 2017 lalu, pada hari ini masih utuh. Lebih buruk lagi: Ketika saham-saham yang dipegang mulai turun sejak tahun 2018 lalu, maka bukannya cut loss, MI di Asabri justru beli lagi saham-saham tersebut, dimana hal itu kelihatan dari persentase kepemilikan Asabri di INAF, misalnya, yang meningkat dari 7.1% di tahun 2017, menjadi 13.9% pada akhir tahun 2019.
Tapi karena saham-saham itu terus saja turun, maka itu justru menyebabkan nilai kerugiannya menjadi lebih besar lagi! Sehingga ketika dikatakan bahwa nilai kerugiannya mencapai Rp10 trilyun, maka meski belum ada bukti yang menunjukkan hal tersebut (masih tunggu audit BPK), tapi itu adalah perkiraan nilai kerugian yang masuk akal.
Anyway, kesemua ulasan diatas menimbulkan banyak pertanyaan berikutnya: Kenapa Asabri pada tahun 2014 tiba-tiba saja ‘berinisiatif’ untuk membeli saham langsung, padahal sebelumnya mereka aman-aman saja berinvestasi di instrumen berisiko rendah? Dan kenapa saham yang dibeli adalah dari perusahaan yang gak ada bagus-bagusnya? Adakah pihak ketiga yang terlibat? Lalu adakah hubungannya dengan Jiwasraya, mengingat Jiwasraya juga membeli beberapa saham yang sama? Dan bagaimana dampak dari kesemua gonjang ganjing terkait Jiwasraya, Asabri, dan nanti entah apa lagi, terkait bursa saham itu sendiri??
Tapi karena ulasan kali ini sudah cukup panjang, maka selebihnya kita bahas minggu depan. Just stay tune!
***
Jadwal Seminar Value Investing, Metode Paling Santai Sekaligus Paling Menguntungkan Dalam Investasi Saham: Surabaya Sabtu 18 Januari, Jakarta Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon jika mendaftar untuk dua peserta sekaligus. Info telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Jadwal Kelas Private: JW Marriott Surabaya, Jumat 17 Januari 2020. Info lengkap baca disini.
Ebook Analisa IHSG & Info buy/sell saham edisi Januari 2020 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan masih tersedia diskon khusus awal tahun.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Pak Joeliardi Sunendar, Jakarta, Sabtu 8 Februari 2020

Kisi-kisi Materi Seminar

A. Capital Market – Introduction
  • A world billionaire list – One obvious similarity among those in the list.
  • Stocks – The best performing asset class, but only few interested. Why? Gentlemen who prefer bonds do not know what they miss.
  • What is capital Market? – There seems to be some perverse human character that like to make easy things difficult.
  • The dumb money vs Smart money - Who’s the real winner? The miracle of St. Agnes. The advantage of being an individual investor.
B. Buffett – The Superinvestor
  • Who’s Warren Buffett? – A story about 2,404,748% increase in market value.
C. Core Principles of Smart and Simple Way of Stock Investing
  • The magic of compounding – The younger, the better. The stock market is a device for transferring wealth from the impatient to the patient.
  • Invest in Good Companies – What are the metrics of a good company? Economic moats, capital efficient.
  • The Magic Concept of Margin of Safety – A good company purchased at bad price is not a good investment
  • Time – It is a friend for a wonderful company, and enemy of a mediocre company.
  • Focus Investment vs Diversification – Which is better?
D. Equity Bond
  • How to find forever stock – Buffett and beyond.
  • Is Buffett ways the only way to succeed? Of course not! – Sector focus, ETF, Index Fund.
  • Now and the future – United States of America in 1960, and Indonesia in 2010.
  • Stocks in Indonesia Stock Exchange – Be prepared to be the owner of great companies.
  • World wealth – 99% of World GDP is also waiting for you.
  • Other opportunities – Commodities, options, REITS
E. Option Trading
  • A secret method – Your broker does not want you to do it!
  • Extra Income – How to collect extra income with no risk.
  • Return vs Risk – How to acquire higher return with less risk.
***

Pembicara: Bapak Joeliardi Sunendar, investor senior yang sudah berinvestasi di saham sejak tahun 1990-an. Profil beliau bisa dibaca di gambar berikut, klik gambar untuk memperbesar.

Penulis (Teguh Hidayat) juga pernah membuat video diskusi tanya jawab investasi saham dengan Pak Joeliardi, dan anda bisa menonton salah satu video tersebut pada link Youtube dibawah ini:

Okay, berikut informasi lokasi dan jadwal acara seminarnya

  • Lokasi: Wyndham Hotel, Jln. Casablanca Kav. 28, Jakarta Selatan.
  • Hari dan Tanggal: Sabtu, 8 Februari 2020.
  • Waktu: Full day, pukul 08.00 – 18.00 WIB.
Seminarnya dibawakan dalam Bahasa Indonesia. Setiap peserta akan memperoleh buku ‘Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal’ (ditulis oleh Pak Joeliardi), dan sertifikat.
***
Biaya untuk ikut seminarnya adalah Rp2,500,000 per peserta.
Untuk registrasi, bisa langsung kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek: Daftar Seminar Pak Joeliardi, dan isi: Nama lengkap anda. Nanti anda akan menerima email berisi informasi nomor rekening bank (bukan rekening penulis), lalu anda transfer kesitu kemudian kirim bukti transfernya. Dan setelah itu anda akan menerima email lagi yang berisi konfirmasi, bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar.

Atau bisa buka link Tokopedia yang tercantum pada banner diatas.
Demikian, semoga bermanfaat!
Untuk seminar investasi saham dengan pembicara penulis (Teguh Hidayat), jadwalnya adalah di Surabaya, 18 Januari, dan Jakarta, 1 Februari 2020. Info selengkapnya klik disini. Biayanya Rp1,200,000 per peserta, bonus Warren Buffett Annual Letter versi Bahasa Indonesia, dan tersedia diskon untuk peserta yang mendaftar untuk dua orang atau lebih.

Tersedia pula kelas advanced dengan materi yang lebih detail, pada tanggal 19 Januari (Surabaya), dan 2 Februari (Jakarta). Info lengkapnya baca [...]

Prospek Unicharm Indonesia u/ Investasi Jangka Panjang

Dari sekian banyak IPO di tahun 2019 kemarin, IPO PT Uni-Charm Indonesia, Tbk (UCID) adalah yang paling menarik perhatian investor karena setidaknya dua hal: 1. Perusahaan bergerak di bidang produksi barang kebutuhan sehari-hari (pembalut wanita dll), dengan merk produk yang cukup populer (Charm), dan 2. Nilai IPO-nya paling besar yakni Rp1.2 trilyun, sedangkan UCID sendiri termasuk perusahaan besar dengan aset Rp7.3 trilyun sebelum IPO. Nah, tapi bagaimana dengan kinerja perusahaan itu sendiri? Apakah benar bahwa UCID ini, kalau melihat model bisnisnya, maka sahamnya layak untuk investasi jangka panjang?

***
Jadwal Seminar Value Investing, Metode Paling Santai Sekaligus Paling Menguntungkan Dalam Investasi Saham: Surabaya Sabtu 18 Januari, Jakarta Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon jika mendaftar untuk dua peserta sekaligus. Info telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Sejarah PT Uni-Charm Indonesia dimulai ketika pada tahun 1998, Unicharm Corporation (UC) bekerja sama dengan Grup Sinarmas (melalui PT Purinusa Ekapersada) untuk membuka pabrik pembalut wanita di Indonesia, dimana Uni-Charm Indonesia didirikan dengan komposisi saham 74% UC, dan 26% Purinusa. UC sendiri merupakan perusahaan asal Jepang yang memproduksi barang-barang kebutuhan bayi dan wanita, produk kesehatan, produk hewan peliharaan, dan makanan, yang berdiri dan beroperasi sejak tahun 1961, dan saat ini sudah beroperasi di banyak negara di Asia (plus Brazil dan Mesir), termasuk di Indonesia melalui UCID. Pada tahun 2000, UCID berekspansi dengan membuka pabrik popok bayi, dan pada perkembangannya, pendapatan perusahaan kemudian lebih didominasi oleh penjualan popok bayi ketimbang pembalut, dengan komposisi kurang lebih 70% popok, dan 30% pembalut. Memasuki dekade 2010-an, UCID sekali lagi berekspansi dengan memproduksi popok dewasa, dan tisu bayi. Perusahaan juga fokus mengembangkan merk untuk tiap-tiap produknya, sehingga pada hari ini, masyarakat sudah cukup hafal dengan merk-merk seperti ‘MamyPoko’, ‘Charm’, dan ‘Lifree’.
Hingga pada tahun 2018, UCID sudah menjadi pemimpin pasar untuk hampir kesemua jenis produknya, dengan pangsa pasar masing-masing sebagai berikut: Pembalut wanita (termasuk pantyliners) 42.1%, popok bayi 49.8%, dan popok dewasa 46.0%. Perusahaan juga sudah memiliki empat pabrik terpisah di Karawang, Jawa Barat, dan Mojokerto, Jawa Timur, dan jaringan distribusi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Kesuksesan UCID market leader, salah satunya adalah karena perusahaan mampu menciptakan banyak variasi produk yang menyasar semua segmen konsumen yakni premium, menengah, dan ekonomis (dengan harga jual yang disesuaikan), sehingga produknya diterima oleh semua kalangan. Pendapatan perusahaan sendiri pada tahun 2018 mencapai Rp8.3 trilyun, atau sudah lebih besar dibanding asetnya yang Rp7.3 trilyun, which is good. Untuk kedepannya, manajemen berencana untuk mengembangkan bisnis popok dewasa-nya, yang saat ini baru menyumbang kurang dari 10% pendapatan perusahaan, dan penulis sendiri setuju dengan hal tersebut karena, di Indonesia, produk popok bayi sudah ada banyak, tapi yang jualan popok dewasa masih sangat sedikit, karena orang dewasa disini masih enggan mengenakan popok. Padahal menurut ilmu kedokteran, adalah normal bagi orang dewasa tertentu, terutama lansia, jika mereka kesulitan menahan buang air kecil (sama normalnya dengan rambut yang memutih, dll), sehingga popok ini mutlak diperlukan. Thus, tantangannya disini adalah bagaimana cara perusahaan meyakinkan konsumen, bahwa there is nothing wrong kalau mereka mengenakan diapers, dan penulis percaya bahwa itu cuma soal waktu. Sebab kalau di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, penggunaan adult diapers ini sudah cukup umum karena masyarakatnya sudah cukup teredukasi. Dan jika masyarakat Indonesia pada akhirnya nanti juga sudah bisa menerima produk popok dewasa ini, maka hampir pasti nilai penjualan UCID akan meledak. Just remember: Berbeda dengan pembalut wanita yang hanya dibutuhkan selama seminggu dalam sebulan, maka yang namanya popok harus dikenakan setiap hari, sehingga kebutuhannya lebih besar.
Sehingga kesimpulannya, UCID ini bagus, dan prospeknya juga cerah. Tapi hey, bagaimana dengan laba bersih perusahaan? Karena pada ulasan diatas, yang sudah dibahas baru pendapatannya saja?
Kinerja Keuangan UCID: Gak bagus!
Sayangnya, laba UCID terbilang sangat kecil dibanding nilai penjualannya (marginnya kurang dari 5%), dan juga juga tidak konsisten dimana pada tahun 2016 perusahaan merugi Rp278 milyar. Sebenarnya, berdasarkan fakta bahwa UCID ini perusahaan produsen, yang sudah memiliki jaringan distribusi yang luas dan lengkap, merk produknya terkenal, dan sejumlah produknya dijual pada harga premium, maka dalam bayangan penulis sebelumnya, dari penjualan katakanlah Rp1 trilyun, perusahaan mestinya bisa meraup laba bersih Rp200 milyar (margin labanya 20%). Namun karena perusahaan harus mengimpor hampir seluruh kebutuhan bahan bakunya (pulp, polimer, kain non-woven dst) pada harga yang relatif mahal, maka beban pokok penjualan perusahaan terbilang besar, bisa mencapai 90% dari pendapatannya. Diluar itu, UCID juga menanggung beban-beban lain seperti beban keuangan hingga rugi selisih kurs, yang angkanya juga tidak kecil dimana pada tahun 2018, perusahaan membukukan rugi kurs Rp183 milyar, berbanding laba bersihnya yang hanya 181 milyar (sehingga kalau gak ada rugi kurs ini, laba UCID harusnya dua kali lebih besar).
Kondisi diatas menyebabkan laba bersih UCID tidak hanya menjadi kecil, tapi juga bisa fluktuatif dari waktu ke waktu, tak peduli meski pendapatannya naik terus, termasuk rugi di tahun 2016 lalu bisa kembali terulang di masa yang akan datang. Dan kalau kita lihat lagi neraca perusahaan, maka akan kelihatan kenapa UCID banyak menanggung beban-beban tertentu yang sebenarnya tidak perlu: Per Kuartal II 2019, perusahaan membukukan utang Rp4.3 trilyun, berbanding ekuitas Rp2.9 trilyun, sehingga bisa dikatakan bahwa perusahaan memiliki utang cukup besar. Namun hampir separuh dari utang tersebut, yakni Rp1.9 trilyun, merupakan pinjaman ke Unicharm Corp (UC) sebagai induk perusahaan, dimana tidak ada penjelasan duit sebanyak itu digunakan untuk apa, dan UCID seharusnya memang tidak membutuhkan pinjaman tersebut, karena posisi kas-nya sendiri sangat besar yakni Rp1.4 trilyun.
Sehingga tujuan dari pemberian utang tersebut adalah untuk mentransfer keuntungan dari UCID ke UC dalam bentuk beban bunga pinjaman, dan ini belum termasuk biaya lisensi sebesar 1 – 2% dari nilai pendapatan, yang harus dibayar UCID ke UC. Problem lainnya, UC memberikan pinjaman dalam mata uang US Dollar dan Japan Yen, sehingga otomatis UCID akan menderita rugi kurs, yakni jika Rupiah sewaktu-waktu melemah terhadap dua mata uang tersebut.
Sehingga kesimpulannya, terdapat setidaknya tiga faktor yang menyebabkan kinerja UCID, dari sisi perolehan laba bersih, kemungkinan tidak akan konsisten di masa yang akan datang: 1. Ketergantungan perusahaan akan bahan baku impor, yang harganya mahal dan bisa sangat fluktuatif (di prospektus disebutkan bahwa untuk pembelian bahan baku ini, UCID bergantung pada negosiasi yang dilakukan oleh UC terhadap supplier, sehingga ada kemungkinan bahwa sebenarnya UC membeli bahan baku pada harga murah, tapi dijual kembali ke UCID pada harga mahal, sekali lagi sebagai bentuk transfer keuntungan), 2. Besarnya beban operasional perusahaan, termasuk beban bunga pinjaman untuk UC, dan 3. Fluktuasi kurs Rupiah. Actually, jika dibandingkan dengan kinerja Unicharm Corp itu sendiri di Jepang sana, dimana ROE-nya cukup stabil di rentang 10 – 15% per tahun, maka kinerja UCID terbilang buruk. Kinerja UCID mungkin bisa bisa lebih baik di masa yang akan datang jika UC berhenti menjadikannya sebagai cashcow, tapi penulis tidak melihat adanya kemungkinan perubahan kebijakan tersebut.
Kesimpulan akhirnya, well, bad news sodara-sodara, UCID ini gak bagus, apalagi sahamnya juga sudah mahal. Dan kinerja UCID yang seperti diatas mengingatkan penulis akan kinerja dari perusahaan-perusahaan tekstil di BEI, yang juga rugi melulu, dan sepertinya bukan kebetulan kalau pemilik mereka adalah juga berasal dari Jepang. Problem lainnya, UCID pernah terlibat perkara hukum dengan distributornya, dan beberapa kali menerima Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dari Dirjen Pajak, yang tentu saja menunjukkan GCG yang kurang baik. Sayang memang, karena sebenarnya kalau dari sisi operasional, UCID ini perusahaan bagus, dan akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Dalam hal ini mungkin Pemerintah harus mengeluarkan peraturan yang melarang perusahaan asing memberikan pinjaman berbunga kepada unit usahanya di Indonesia, atau semacamnya, agar unit usahanya tersebut beneran untung, dan juga membayar pajak penghasilan sebagaimana mestinya.
Anyway, sambil menunggu peraturan seperti itu keluar, maka kita bisa ambil saham yang lain saja dulu. Untuk minggu depan, ada usulan kita bahas saham apa yang bagus?
PT Uni-Charm Indonesia, Tbk
Rating Kinerja Q2 2019: BBB
Rating Valuasi Saham pada harga 1,795: BB
***
Jadwal Seminar Value Investing, Metode Paling Santai Sekaligus Paling Menguntungkan Dalam Investasi Saham: Surabaya Sabtu 18 Januari, Jakarta Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon jika mendaftar untuk dua peserta sekaligus. Info telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kenapa Jiwasraya Beli Saham Gorengan? Dan Siapa Itu Predator Pasar Modal?

Dalam kamus Investopedia, tidak dikenal istilah ‘saham gorengan’. Namun berdasarkan definisi bahwa saham gorengan adalah saham yang harganya dinaik turunkan oleh bandar, maka hal itu dikenal dengan istilah pump and dump, dimana mekanismenya adalah sebagai berikut:  Suatu individu atau perusahaan tertentu, sebut saja A, memiliki saham X dalam jumlah besar (A ini bisa merupakan pemegang saham mayoritas/pemilik dari emiten X tersebut, tapi bisa juga pihak lain). A kemudian menyebar rumor/sentimen positif melalui Grup Whatsapp dll bahwa prospek X bagus bla bla bla, dengan harapan investor ritel akan tertarik untuk membeli sahamnya, dan di waktu yang bersamaan memperjual belikan saham X miliknya sendiri di market, dimana setiap transaksi dilakukan pada harga yang lebih tinggi dari transaksi sebelumnya (pump).

***
Ebook Analisa IHSG & Info buy/sell saham edisi Januari 2020 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan masih tersedia diskon khusus awal tahun.
Jadwal Seminar Value InvestingSurabaya Sabtu 18 Januari, Jakarta Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, masih tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 10 Januari. Info telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Alhasil, saham X naik terus. Misalnya tadinya saham X harganya cuma 100, setelah ‘digoreng’ seperti itu maka bisa naik sampai 500. Dan A inilah yang sering disebut dengan istilah ‘bandar’, sedangkan saham X itu sendiri disebut saham gorengan. Tindakan bandar yang memasang bid pada harga tinggi untuk membeli saham X, padahal yang jual/yang pasang offer adalah juga si bandar itu sendiri (tentunya pake rekening atas nama pihak lain, itu mudah sekali), disebut sebagai artificial demand. Tujuannya adalah, ketika saham X harganya sudah sangat tinggi, dan sudah ada banyak investor ritel yang ikut pasang bid (karena berpikir bahwa sahamnya akan naik lebih tinggi lagi), maka ketika itulah si bandar akan mulai jualan pada harga tinggi tersebut (dump), dan kemudian meraup keuntungan substansial. Biasanya, setelah bandar selesai jualan dan sudah tidak lagi pegang barang, maka kesemua rumor positif terkait perusahaan tiba-tiba menghilang, dan saham X akan turun dengan sangat cepat. Biasanya pula, saham X yang digoreng ini adalah saham tidak likuid (penny stock) dari perusahaan kecil gak jelas dan berfundamental buruk, sehingga sahamnya tidak diminati dan tidak banyak dipegang oleh investor publik, tapi justru karena itulah si bandar bisa dengan mudah ‘menyetel’ sahamnya pada harga berapapun.
Nah, sejak 2010 lalu, di blog ini kita sudah banyak membahas saham-saham gorengan yang sempat ramai diperbincangkan. Seperti Sugih Energy (SUGI), Trada Maritime (TRAM), Energi Mega Persada (ENRG), Sekawan Intipratama (SIAP), Rimo International (RIMO), dan yang paling baru, Sri Rejeki Isman (SRIL). Bagi temen-temen yang masih bingung definisi ‘bandar’, dan ‘saham gorengan’, maka boleh baca-baca lagi link artikel-artikel diatas, dimana pada artikel SRIL penulis juga menawarkan definisi saham gorengan sebagai berikut: Itu adalah saham yang naik turunnya tidak mengikuti faktor fundamental (kinerja perusahaan, dan valuasi sahamnya), dan mekanisme pasar (misalnya ikut naik ketika IHSG/pasar naik, dan turun ketika IHSG turun) yang wajar, melainkan suka-suka bandarnya saja.
Dan korban dari saham gorengan ini biasanya memang investor ritel yang belum bisa membedakan saham berfundamental bagus dan jelek, sehingga yang mereka lakukan hanya melihat monitor saja, dimana kalau ada saham yang harganya naik banyak plus diiringi berita-berita bagus, maka itulah yang mereka kejar. Atau, si investor sebenarnya ngerti bahwa saham X itu jelek, tapi dia sengaja/iseng spekulasi saja, siapa tahu sahamnya bakal dikerek naik lebih tinggi lagi. Faktanya, tidak semua pemain gorengan ini menderita rugi, melainkan ada juga yang cuan, seringkali pula dengan waktu hold yang amat sangat singkat (beli hari ini, besoknya langsung jual). Biasanya pemain gorengan ini hanya berani pakai dana terbatas, maksimal ratusan juta Rupiah. Karena kalau mereka beli sahamnya dalam jumlah besar maka hal itu akan kelihatan oleh bandarnya (istilahnya ‘penumpang gelap’), dan harga sahamnya justru akan diturunkan, agar si penumpang gelap ini keluar.
Sehingga pertanyaannya sekarang, kenapa Jiwasraya yang notabene investor institusi besar dengan dana kelolaan puluhan trilyun Rupiah malah beli saham gorengan ini juga? Apa mungkin manajer investasi (MI) disitu gak ngerti cara baca laporan keuangan, untuk kemudian mengetahui bahwa saham-saham yang mereka beli berfundamental buruk, atau valuasinya kelewat tinggi? Tapi let say mereka tahu bahwa saham-saham itu jelek/harga belinya kemalahan, maka bagaimana mungkin mereka sengaja berspekulasi menggunakan dana milik nasabah??
Window Dressing Ala Jiwasraya
Ketika pada tahun 2013, manajemen Jiwasraya meluncurkan produk JS Saving Plan yang menjanjikan bunga 6.5%, maka tujuan awalnya tentu agar perusahaan cuan, dan janji bunga 6.5% tadi sebenarnya juga tidak terlalu besar, mengingat rata-rata kenaikan IHSG sebelum tahun 2014 mencapai 10 – 12% per tahun, kemudian banyak juga obligasi yang memberikan bunga 10 – 11% per tahun.

Namun karena pasar saham di Indonesia cenderung lesu dalam lima tahun terakhir, dimana compound annual growth rate (CAGR) IHSG sejak akhir 2014 sampai akhir 2019 hanya 3.8% per tahun, sedangkan pasar obligasi juga lesu/tingkat bunga yang ditawarkan turun karena suku bunga perbankan di Indonesia/BI Rate sekarang ini lagi rendah-rendahnya, maka produk JS Saving Plan ini justru menyebabkan Jiwasraya menderita kerugian. Sehingga ketika IHSG drop 12.1% di tahun 2015, direksi Jiwasraya mestinya sadar bahwa penjualan produk JS Saving Plan harus dihentikan, dan perusahaan kembali ke bisnis tradisionalnya yakni jualan asuransi jiwa.
Tapi jika demikian maka omzet/pendapatan premi Jiwasraya bisa dipastikan bakal anjlok, dan komisi yang diterima oleh direksi, pegawai, serta agen/marketing perusahaan otomatis ikut anjlok juga. Nah! Dari situlah direksi kemudian melakukan improvisasi. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dalam bidang asuransi, komisi yang diterima seorang agen termasuk sangat besar, bisa lebih dari 10% dari nilai premi yang dibayar nasabah, dan ini juga kenapa banyak ‘kisah sukses agen asuransi’. Jadi jika seorang agen asuransi saja bisa sukses menjadi kaya raya, maka bisa dibayangkan berapa pendapatan komisi yang diterima direksi sebagai pucuk pimpinan perusahaan? Dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan agen Jiwasraya (yang jumlahnya bertambah dari 3,000-an di tahun 2013, menjadi 10,000-an agen di tahun 2016), karena mereka biasanya gak ngerti apa-apa soal IHSG yang stagnan dll, melainkan hanya mengikuti arahan dari pimpinan perusahaan untuk terus kejar omzet.
Lalu seperti apa improvisasi-nya? Ya dengan membeli saham-saham tertentu dalam jumlah besar, kemudian menaikkan harganya hingga akhir tahun, sehingga Jiwasraya kemudian bisa mengakui keuntungan ‘kenaikan nilai wajar atas efek-efek’ di laporan keuangannya, dan alhasil LK-nya membukukan keuntungan, padahal sebenarnya rugi. Sehingga dalam hal ini, Jiwasraya bukanlah korban di saham gorengan, melainkan justru mereka-lah bandarnya. Tapi berbeda dengan bandar saham lain yang menggoreng saham dengan tujuan agar bisa jualan ke investor ritel di harga atas, maka manajer investasi (MI) di Jiwasraya menggoreng saham dengan tujuan sebatas agar LK-nya tampak profit saja, alias ‘window dressing’. Tapi bagaimana kalau dalam jangka panjang Jiwasraya ini akhirnya rugi juga, yakni ketika saham yang digoreng itu turun lagi dengan sendirinya? Ya itu nanti jadi urusannya direktur yang baru lah! Kan ketika itu terjadi, maka saya (maksudnya si MI) juga sudah gak kerja lagi disitu toh? Karena direksinya juga sudah diganti. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa berbeda dengan perusahaan swasta dimana direkturnya bisa menjabat selama mungkin (karena itu terserah owner perusahaan, atau si owner itu sendiri yang jadi direkturnya), maka masa jabatan direksi BUMN dibatasi maksimal dua periode, masing-masing 5 tahun. Alhasil dalam banyak kasus, hal ini menyebabkan seorang direktur tidak peduli apakah BUMN yang ia pimpin bakal untung atau rugi dalam jangka panjang, yang kinerja perusahaan tampak ‘bagus’ ketika ia menjabat, plus kocek pribadinya bertambah tebal.
Anyway, berbekal LKnya yang tampak profit, maka perusahaan bisa terus jualan produk JS Saving Plan-nya, sehingga duit komisi dll yang diterima direksi juga naik terus. Kemudian mungkin ada pertanyaan: Jika LK Jiwasraya sejatinya sudah rugi paling tidak sejak tahun 2016, lalu kenapa ketika itu perusahaan tetap bisa membayar nilai pokok investasi plus bunga kepada nasabahnya, dan baru gagal bayar di tahun 2018? Jawabannya karena sebelum tahun 2018, Jiwasraya membayar kewajibannya ke nasabah lama menggunakan pendapatan premi yang diperoleh dari nasabah baru, alias menggunakan skema ponzi. Awalnya soal skema ponzi ini hanya kecurigaan penulis saja, tapi hal ini kemudian dibenarkan oleh dirut perusahaan, Hexana Tri Sasongko.
Namun karena menyadari bahwa skema ponzi ini cepat atau lambat akan meledak, maka ketika terjadi pergantian direksi di tahun 2018, direksi yang baru dibawah pimpinan Asmawi Syam (dirut Jiwasraya sebelum Mr. Sasongko) segera mengambil langkah berbeda dengan mengumumkan penundaan pembayaran polis ke nasabah. Daaaaan ending-nya adalah seperti yang terjadi hari ini.
Siapa Itu Predator Pasar Modal?
Sebagai praktisi pasar modal dan investor itu sendiri, penulis banyak kenal dengan temen-temen MI dari dana pensiun, asset management, hingga asuransi. Dan apa persamaan dari mereka semua? Yep, mereka hampir tiap hari disamperin/ditelpon orang-orang yang menawarkan repo (baca lagi tentang repo disini). Actually, gak cuma MI institusi, tapi penulis sendiri juga beberapa kali dihubungi orang yang menawarkan repo tersebut. Dan ketika kondisi pasar lagi lesu seperti lima tahun terakhir, dimana para MI kesulitan membukukan profit dari strategi investasi saham yang wajar, maka tawaran repo ini akan lebih gencar lagi, entah itu yang menjanjikan bunga sekian persen, atau beli saham A yang di pasar harganya 1,000, pada harga 750 saja.
Nah, jadi seperti yang disebut diatas, ketika IHSG drop pada tahun 2015 lalu, maka manajemen Jiwasraya mestinya menghentikan penjualan JS Saving Plan, dan mungkin manajemen awalnya memang akan melakukan itu. Tapi kemudian muncul bandar-bandar yang pegang saham perusahaan tertentu dalam jumlah besar, yang kemudian menawarkan ‘solusi alternatif’ dengan cara goreng saham agar Jiwasraya bisa tetap profit, setidaknya di laporan keuangannya, sehingga perusahaan kemudian bisa terus jualan JS Saving Plan. If that’s the case, maka yang bersalah dalam kasus Jiwasraya tidak hanya lagi manajemen perusahaan, melainkan juga para bandar ini. Dan mereka-mereka inilah yang disebut oleh Menteri Sri Mulyani sebagai ‘predator pasar modal’, karena mereka mengambil keuntungan dari kerugian investor, baik itu ritel maupun institusi, termasuk Jiwasraya. Contoh kasus terbaru, saham Totalindo Eka Persada (TOPS), yang awalnya dikerek gila-gilaan dari harga IPO 310 sampai tembus 4,000, dan setelah itu muncul para agen yang menawarkan repo dengan bunga menggiurkan (bisa sampai 15% per tahun), dengan jaminan saham TOPS ini. Tapi yah, ending-nya mudah ditebak: Sekarang TOPS tiba-tiba saja sudah di 250 perak, dan otomatis para pemegang repo-nya menderita kerugian luar biasa.
Problemnya, kalau penulis ngobrol dengan temen-temen investor senior, kasus repo saham ini sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1990-an, dengan jumlah korban yang juga tidak sedikit. Tapi karena sampai sekarang hampir tidak ada tindakan apapun dari otoritas, maka ya praktek repo ini terus saja berjalan, dan korbannya terus berjatuhan. Penulis sendiri tidak pernah menjadi korban repo ini, karena saya cukup beruntung dengan sudah ter-edukasi sejak awal bahwa repo seperti itu berbahaya. Tapi diluar sana, ada banyak pemilik dana yang tidak seberuntung itu.
Nah, jadi ketika Pemerintah mencanangkan tahun 2020 sebagai ‘tahun pembersihan pasar modal dari para manipulator’, maka penulis optimis bahwa itu bisa memperbaiki kondisi pasar dalam jangka panjang. Karena memang, ketika OJK dkk selama ini seperti dibiarkan bekerja sendirian tanpa dukungan langsung dari pemerintah (OJK adalah lembaga independen, jadi posisinya bukan dibawah Kementerian Keuangan atau lembaga lain manapun) maka hasilnya ya seperti Jiwasraya itu. Sudah tentu muncul sejumlah kekhawatiran, seperti likuiditas pasar mungkin akan turun, dan belum tentu juga campur tangan pemerintah ini akan menghasilkan ‘pasar modal bersih’ seperti yang diharapkan (bisa jadi malah tambah semrawut). But still, dibanding dengan jika kondisi ini dibiarkan sehingga korban-korban terus berjatuhan, maka perhatian pemerintah ini memberikan harapan akan adanya perbaikan, dan mungkin suatu hari nanti BEI tidak lagi dipandang oleh fund manager internasional sebagai ‘tempat sampah’, karena isinya cuma saham gorengan gak jelas semua. We’ll see!
***
Ebook Analisa IHSG & Info buy/sell saham edisi Januari 2020 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan masih tersedia diskon khusus awal tahun.
Jadwal Seminar Value InvestingSurabaya Sabtu 18 Januari, Jakarta Sabtu 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, masih tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 10 Januari. Info telp/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Membedah Laporan Keuangan Jiwasraya

Ketika Hendrisman Rahim terpilih sebagai direktur utama PT Asuransi Jiwasraya, tahun 2008, kinerja Jiwasraya di tahun tersebut tengah terpuruk dimana perusahaan hanya membukukan laba bersih Rp16 milyar, drop dari Rp34 milyar di tahun sebelumnya, sedangkan asetnya juga menyusut dari Rp5.1 menjadi Rp4.8 trilyun. Dan salah satu penyebabnya adalah karena stock market crash ketika itu dimana IHSG jeblok 50.1% sepanjang tahun 2008, yang otomatis menyebabkan Jiwasraya menderita rugi signifikan dari penempatan investasinya di saham, entah secara langsung maupun melalui reksadana.
***
Ebook Analisa IHSG & Rekomendasi Saham edisi Januari 2020 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan tersedia diskon khusus awal tahun.
Jadwal Value Investing Advanced ClassSurabaya 19 Januari, Jakarta 2 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, masih tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 10 Januari.
***
Namun memasuki tahun 2009, Jiwasraya tidak hanya bangkit untuk kembali profit, tapi perusahaan bahkan mencetak rekor laba bersih Rp356 milyar, sedangkan asetnya juga tumbuh menjadi Rp5.4 trilyun. Awalnya penulis menilai, ini mungkin karena pasar saham sudah pulih di tahun 2009 tersebut (IHSG di tahun 2009 meroket 87.0%), sehingga tentunya Jiwasraya bisa untung lagi. Namun di tahun-tahun berikutnya nilai aset, pendapatan, dan ekuitas perusahaan mampu untuk terus naik, yang ternyata itu berkat sejumlah inovasi yang dilakukan manajemen, salah satunya dengan memasarkan produk asuransinya melalui bank (sehingga produknya disebut bancassurance). Kemudian pada tahun 2013, Jiwasraya juga meluncurkan JS Saving Plan, atau disebut juga JS Proteksi Plan, yakni produk asuransi unitlink (apa itu unitlink? Baca dulu penjelasannya disini, biar nyambung) yang ditawarkan melalui bank-bank sebagai agen penjual. Produk anyar ini laris manis, karena berbeda dengan produk unitlink dari perusahaan asuransi lain yang tidak menjanjikan keuntungan yang fix, termasuk nilai pokok investasi si nasabah bisa saja turun, maka JS Saving Plan ini berani menawarkan bunga fix yang besarnya diatas bunga deposito, dan semua risiko investasi ditanggung oleh Jiwasraya sendiri, sehingga nasabah tidak perlu khawatir nilai investasinya akan turun.

Alhasil meski IHSG pada tahun 2013 tersebut sempat drop dari 5,214 hingga mentok di 4,000, tapi laba Jiwasraya tetap naik menjadi Rp461 milyar, dibanding Rp272 milyar di tahun 2012. Memasuki tahun 2014, Jiwasraya sekali lagi melakukan terobosan dengan mensponsori Manchester City, yang ketika itu baru saja menjuarai Liga Inggris. Lalu karena selama setahunan itu (dari 2013 sampai 2014) Jiwasraya mampu membayar nilai pokok investasi plus bunga yang dijanjikan kepada seluruh nasabah produk JS Saving Plan-nya, maka produknya semakin laris lagi, dan alhasil pendapatan premi perusahaan melonjak dari Rp6.2 trilyun di tahun 2014, menjadi Rp10.1 trilyun di tahun 2015. Pada tahun 2015 ini, IHSG sekali lagi anjlok 12.1%, namun laba Jiwasraya di tahun tersebut tercatat Rp1.1 trilyun, melejit hampir dua kali lipat dibanding laba tahun 2014-nya yang hanya Rp661 milyar.
Penyebab Awal Masalah Jiwasraya
However, dalam bisnis asuransi, meningkatnya pendapatan premi tidak selalu berarti positif, karena itu akan diiringi oleh kenaikan beban klaim dan manfaat yang harus dibayar ke nasabah. Dimana kalau pendapatannya masih lebih tinggi dibanding bebannya, maka perusahaan akan untung. Tapi kalau bebannya lebih tinggi dibanding pendapatan, maka perusahaan akan rugi. Nah, karena yang dijual Jiwasraya adalah JS Saving Plan yang menawarkan bunga fix sekian persen, maka tak peduli sebesar apapun pendapatan preminya, tapi beban klaim-nya akan selalu lebih besar. Let say, bunga yang ditawarkan adalah 6.5% per tahun, maka untuk setiap pendapatan Rp1,000 yang diterima Jiwasraya, perusahaan harus membayar ke nasabah sebesar Rp1,065 di tahun berikutnya.
Jadi kalau demikian, lalu bagaimana caranya agar Jiwasraya tetap untung? Ya dengan menginvestasikan pendapatan premi tersebut ke saham, obligasi dll, agar diperoleh profit katakanlah 10 – 12% per tahun. Sehingga ketika Jiwasraya membayar bunga 6.5% ke nasabahnya, maka perusahaan masih profit 3.5 – 5.5%. Tapi jika hasil investasinya justru rugi, maka Jiwasraya tetap harus membayar bunga 6.5% tersebut, sehingga ruginya jadi lebih besar lagi. Jadi ini seperti kalau anda beli saham pake margin, dimana kalau hasilnya untung maka untungnya jadi besar (karena modalnya lebih besar), tapi kalau rugi maka ruginya jadi besar juga.
Sehingga sejak awal, produk JS Saving Plan ini berisiko merugikan Jiwasraya itu sendiri, yakni jika kegiatan investasi yang dilakukan tidak membuahkan profit seperti yang diharapkan. Dan semakin besar pendapatan premi yang diperoleh perusahaan, maka semakin besar pula risiko terjadinya kerugian tersebut. Karena, let say Jiwasraya pegang pendapatan premi Rp1 – 2 trilyun, maka itu relatif masih mudah untuk diputar di saham dll. Tapi bagaimana kalau preminya sudah tembus Rp5 trilyun? Rp10 trilyun?
Namun entah karena marketingnya kejar komisi atau apa, pemasaran produk JS Saving Plan ini terus digenjot. Hingga memasuki tahun 2016, pendapatan premi Jiwasraya sudah menembus Rp17.9 trilyun, atau sudah melejit lebih dari tiga kali lipat sejak JS Saving Plan diperkenalkan pertama kali di tahun 2013. Tapi pada tahun 2016 inilah, mulai tampak beberapa hal yang janggal. Pertama, seperti yang disebut diatas, seiring dengan kenaikan pendapatan premi, maka beban klaim dan manfaat yang harus dibayar Jiwasraya ke nasabahnya juga otomatis naik. Untuk produk asuransi jiwanya, angka beban ini naik menjadi Rp7.0 trilyun di tahun 2016, dan itu masih normal karena angkanya masih jauh dibawah pendapatan premi yang Rp17.9 trilyun tadi. However, beban yang juga melonjak adalah ‘kenaikan liabilitas manfaat polis masa depan’, yang  mencapai Rp11.0 trilyun, dibanding tahun 2015 yang hanya Rp4.0 trilyun. Yang disebut ‘manfaat polis masa depan’ ini adalah dana yang harus dibayarkan Jiwasraya ke nasabah yang memegang produk asuransi unitlink, termasuk JS Saving Plan itu tadi.
Sehingga jika ditotal, beban klaim yang ditanggung Jiwasraya di tahun 2016 mencapai Rp7.0 + 11.0 trilyun, sama dengan Rp18.0 trilyun, atau sudah sudah hampir sama dengan pendapatan premi-nya yang Rp17.9 trilyun tadi, dan itu masih belum termasuk beban pemasaran dan administrasi! But somehow, di tahun 2016 itu Jiwasraya justru membukukan rekor laba bersih Rp1.7 trilyun, jadi dari mana asalnya laba tersebut??
Jawabannya ada di poin janggal yang kedua, yakni pendapatan investasi perusahaan, dimana angkanya naik signifikan dari Rp913 milyar di tahun 2015, menjadi Rp3.2 trilyun di tahun 2016, atau melompat lebih dari Rp2 trilyun, dengan rincian sebagai berikut (klik gambar untuk memperbesar):

Dari tabel diatas bisa dilihat bahwa Jiwasraya mengakui pendapatan Rp1.2 trilyun dari revaluasi propertinya, yang sebenarnya tidak ada uangnya (baca penjelasannya disini), dan juga ‘keuntungan dari perubahan nilai wajar efek-efek’, yang angkanya naik tiga kali lipat menjadi Rp1.5 trilyun. Lalu apa yang dimaksud ‘keuntungan bla bla bla’ tersebut? Well, itu adalah keuntungan atas kenaikan harga saham atau obligasi yang dimiliki oleh Jiwasraya, yang belum direalisasikan/belum dijual. Tahu dari mana itu belum direalisasi? Ya karena di laporan arus kas-nya, penerimaan hasil investasi, alias uang tunai yang diperoleh dari menjual saham, tercatat hanya Rp1 trilyun sudah termasuk nilai pokok investasinya (jadi Rp1 trilyun itu bukan keuntungan bersih). Sehingga keuntungan Rp1.5 trilyun tadi, sekali lagi, gak ada duitnya. Meski demikian, dengan asumsi Jiwasraya bisa dengan mudah menjual kembali saham-sahamnya sehingga merealisasikan keuntungan investasinya, maka hal ini tidak jadi masalah. Yup, jadi sama saja seperti kalau anda beli 100 lot saham BBCA di harga 20,000, beberapa tahun lalu, dan masih hold sampai sekarang, dimana anda boleh mengklaim sudah cuan 50% lebih dari BBCA ini (karena sekarang harganya sudah diatas 30,000), bahkan meskipun sahamnya belum anda jual. Karena jika diperlukan, anda bisa menjual saham tersebut setiap saat.

Tapi terkait hal ini timbul pertanyaan berikutnya: Saham-saham apa saja yang dipegang Jiwasraya? Karena kalau dikatakan bahwa keuntungannya Rp1.5 trilyun, maka nilai investasinya pasti lebih besar dari itu. Dan memang pada tabel dibawah ini, nilai investasi Jiwasraya di saham (investasi langsung, tidak termasuk yang melalui reksadana) tercatat Rp6.2 trilyun. Nah, kalau anda pegang saham dengan nilai sebesar itu, maka tentu saja tidak mudah untuk menjualnya bukan? Apalagi jika saham-saham yang dipegang tidak likuid. Sehingga pertanyaannya sekali lagi, Jiwasraya beli saham apa saja?

Sayangnya perusahaan tidak menyebut langsung di LK-nya, saham apa saja yang mereka pegang, tapi petunjuknya cukup jelas: 1. Perusahaan milik negara, alias BUMN, 2. Perusahaan milik pemerintah daerah, alias BUMD, dan 3. Perusahaan milik swasta. Tapi karena nilai saham perusahaan swasta sangat kecil, maka kita fokus ke BUMN dan BUMD saja. Nah, untuk BUMN, berdasarkan data registrasi efek dari BEI, ada dua BUMN yang sampai hari ini sahamnya masih dipegang Jiwasraya dalam jumlah besar/diatas 5% kepemilikan. Mereka adalah Semen Baturaja (SMBR), dan PP Properti (PPRO). Berdasarkan informasi dari rapat dengar pendapat antara manajemen Jiwasraya dan DPR, Agustus 2019 kemarin, diketahui bahwa Jiwasraya pada tahun 2016 membeli SMBR pada harga rata-rata Rp1,555, dan beli PPRO di harga rata-rata Rp1,000-an (harga sebelum stocksplit, setara Rp250-an setelah stocksplit). Dan pada akhir tahun 2016, SMBR dan PPRO masing-masing ditutup di posisi 2,790, dan 1,360. Inilah kenapa Jiwasraya pada akhir tahun 2016 membukukan ‘keuntungan dari perubahan nilai wajar efek-efek’.
Sedangkan untuk BUMD, juga diketahui bahwa Jiwasraya pernah (atau masih?) memegang saham Bank BJB (BJBR), dimana BJBR ini juga ikut terbang dari 755 hingga sempat tembus 3,000 di tahun 2016, sehingga sekali lagi menghasilkan ‘keuntungan yang belum direalisasi’ bagi perusahaan. Dalam hal ini jelas sekali ada yang janggal: Seperti yang tampak di tabel diatas, nilai investasi saham yang dikelola langsung oleh Jiwasraya di tahun 2016 tercatat Rp6.2 trilyun, dan sebagian besar diantaranya terkonsentrasi hanya pada tiga saham yang disebut diatas yakni SMBR, PPRO, BJBR (Info: Untuk PPRO, Jiwasraya sampai hari ini masih memegang 5.2 milyar lembar sahamnya. Sehingga pada harga beli Rp250, modalnya mencapai Rp1.3 trilyun. Sedangkan untuk SMBR, modalnya Rp1.4 trilyun). Nah, lalu bagaimana mungkin ketiga saham itu secara bersamaan ‘jackpot’ terbang tinggi hanya dalam hitungan bulan, sehingga perusahaan kemudian membukukan keuntungan investasi? Apakah manajer investasi (MI) di Jiwasraya memang sehebat itu, sehingga ia bisa secara persis menebak tiga saham mana yang akan naik banyak, lalu ia hanya membeli tiga saham itu saja, dan dengan dana yang juga tidak sedikit/mencapai trilyunan? Perlu diingat pula bahwa SMBR, PPRO, dan BJBR adalah saham second liner yang tentu saja tidak se-likuid blue chip seperti BBCA dkk. Sehingga membeli saham seperti itu sebanyak trilyunan Rupiah tentu saja sangat berisiko, karena akan sulit jualannya. Apalagi secara fundamental, ketiga perusahaan diatas tidaklah istimewa, malah SMBR kinerjanya turun terus, dan valuasinya ketika itu (di tahun 2016) juga amat sangat mahal. Jadi bagaimana mungkin MI di Jiwasraya bisa mengambil keputusan investasi yang sangat berisiko, yang melanggar semua kaidah fundamental, tapi ternyata hasilnya cuan jumbo semuanya?? Pakai logika Tarzan sekalipun, it’s too good to be true!
Anyway, dengan cara inilah Jiwasraya bisa membukukan laba di akhir tahun 2016, termasuk ‘keuntungan investasi yang belum direalisasi’ senilai Rp1.5 trilyun. Tapi masalahnya, sekarang kita tahu bahwa ‘keuntungan yang belum direalisasi’ tersebut sangat sulit untuk direalisasi. I mean, kalau anda pegang BBCA Rp1 trilyun, maka itu juga rada susah jualnya. Lha ini PPRO? Gimana cara jualnya coba?? Dan nyatanya sampai ketika sekarang PPRO sudah berada di level 60-an perak, Jiwasraya masih pegang sahamnya dalam jumlah yang amat sangat besar. Sehingga penulis melihat kemungkinan modus sebagai berikut: MI di Jiwasraya sengaja membeli SMBR, PPRO, dan BJBR dalam jumlah besar (sehingga harganya di pasar naik banyak, karena bisa dibilang Jiwasraya ini hajar kanan terus), lalu ketiga saham itu dikerek hingga naik lebih tinggi lagi (alias dibandarin, dan dalam hal ini si MI bisa kerja sendiri, atau bisa juga bekerja sama dengan pihak ketiga yang spesialis goreng saham, you know who lah). Sehingga pada akhir tahun, perusahaan bisa mengakui keuntungan dari kenaikan nilai investasinya di saham, tapi tujuannya ya sebatas untuk itu saja, yakni agar LK-nya tampak profit. Dengan kata lain, MI di Jiwasraya sejak awal tidak pernah berniat untuk menjual/merealisasikan keuntungan dari ‘investasinya’ di SMBR dkk, karena mereka tahu bahwa itu tidak mungkin/sangat sulit untuk dilakukan. Sehingga tindakan pembelian saham SMBR itu sebatas untuk mempercantik LK di tahun 2016, tapi imbasnya Jiwasraya justru akan rugi sangat besar di masa yang akan datang, yakni ketika saham yang dikerek naik itu turun lagi dengan sendirinya (karena sejak awal fundamentalnya tidak mendukung!). Lalu diluar itu, pihak direksi pastinya ada mengambil keuntungan pribadi juga. Sekarang coba pikir: Sebagai orang dalam di Jiwasraya, anda tahu bahwa SMBR dkk bakal dikerek naik pake dana milik perusahaan. Jadi kenapa kita nggak beli SMBR itu sejak awal di harga rendah (tentunya pake rekening atas nama orang lain biar gak ketahuan, itu gampang sekali), lalu nanti jual persis di akhir tahun 2016, yakni ketika sahamnya mencapai harga tertingginya??
Pergantian Direksi = Pergantian Cara Kerja
Sehingga kesimpulannya, Jiwasraya sejatinya sudah bermasalah paling tidak sejak tahun 2016, dalam hal ini LK-nya mengaku untung, padahal rugi. Tapi karena LK-nya (tampak) masih untung, dan juga belum ada kejadian gagal bayar, maka perusahaan bisa terus jualan produk JS Saving Plan-nya. Alhasil memasuki tahun 2017, pendapatan premi Jiwasraya kembali melonjak menjadi Rp21.7 trilyun, namun beban preminya lebih besar yakni Rp22.8 trilyun, sehingga perusahaan sejatinya kembali merugi. Tapi lagi-lagi, Jiwasraya masih membukukan laba bersih Rp2.4 trilyun, yang salah satunya kembali pakai modus ‘keuntungan investasi yang belum direalisasikan’ itu tadi.

Hingga pada tahun 2018, Hendrisman Rahim mundur dari posisinya sebagai direktur utama (karena sudah menjabat dua periode, masing-masing 5 tahun), dan digantikan oleh Asmawi Syam, demikian pula sebagian besar jajaran direksi diisi oleh orang-orang baru, dan barulah ketika itu semua rekayasa yang dilakukan oleh manajemen lama terkuak. Pertama-tama Mr. Asmawi, yang mungkin melihat kejanggalan di LK Jiwasraya untuk tahun 2017, mengontak auditor Jiwasraya, Price Waterhouse Cooper, untuk mengaudit ulang LK tersebut. Dan kemudian ketahuan bahwa ternyata labanya bukan Rp2.4 trilyun melainkan hanya Rp360 milyar, dan itupun masih termasuk ‘keuntungan investasi’ sebesar Rp3 trilyun sekian.
Setelah itu, manajemen baru Jiwasraya juga merombak total cara kerja perusahaan, dimana tidak ada lagi aksi goreng saham dll. Sayangnya pada tahun 2018 ini, kondisi pasar memburuk dimana IHSG sempat anjlok dari 6,600 hingga 5,600, dan khususnya tiga saham diatas yang dipegang oleh Jiwasraya anjlok lebih dalam lagi (dan belum naik lagi sampai sekarang), dan belum lagi kerugian karena penurunan saham-saham yang dipegang melalui reksadana. Alhasil, Jiwasraya kesulitan likuiditas termasuk tidak bisa bayar polis yang jatuh tempo ke nasabah, karena duitnya nyangkut semua. Sebenarnya kalau Jiwasraya masih dipegang manajemen lama, maka ada kemungkinan perusahaan tetap akan membayar polis yang jatuh tempo tersebut menggunakan dana premi yang diterima dari nasabah baru. Atau dengan kata lain, Jiwasraya jadinya menjalankan skema ponzi, yang justru akan membuat perusahaan lebih bermasalah lagi di masa yang akan datang.

Menyadari hal tersebut, Asmawi Syam kemudian mengambil langkah berbeda: Pada Oktober 2018, Jiwasraya mengumumkan penundaan pembayaran polis kepada nasabahnya, dan Mr. Asmawi sendiri took the blame dengan langsung diberhentikan sebagai dirut di bulan November-nya, digantikan oleh Hexana Tri Sasongko. Tapi efek domino-nya langsung terasa: Para nasabah berhenti membayar premi, dan Jiwasraya kesulitan memperoleh nasabah baru karena nama produknya sudah kadung jelek. Imbasnya, pendapatan premi perusahaan anjlok. Dan setelah ditambah kerugian investasi yang gila-gilaan karena saham SMBR dkk juga anjlok, plus kali ini tidak ada lagi manipulasi ‘keuntungan investasi yang belum direalisasikan’ atau semacamnya, maka Jiwasraya tanpa ampun langsung mencatat rugi Rp15.9 trilyun di tahun 2018.

Lalu memasuki tahun 2019, kondisinya bukannya membaik tapi malah tambah parah, dimana ada banyak reksadana yang jatuh dan hancur gara-gara main saham IPO gorengan, dan Jiwasraya juga ikut memegang unit-unit reksadana tersebut. Thus, hingga Kuartal III 2019, Jiwasraya kembali rugi Rp13.7 trilyun, dan perusahaan masih menanggung utang pembayaran polis dll sebesar Rp49.6 trilyun, yang belum jelas kapan bakal dilunasi. Aset perusahaan sendiri menyusut sangat cepat dari Rp45.7 trilyun di tahun 2017, menjadi hanya Rp25.7 trilyun per Kuartal III 2019. Dan bahkan menurut dirut perusahan, Mr. Hexana, aset Jiwasraya sekarang ini tinggal Rp2 trilyun saja, hanya saja belum tercantum di laporan keuangan.
Kesimpulan
Sejak awal, inovasi manajemen Jiwasraya dengan membuat produk unitlink yang berani menjanjikan bunga fix yang lebih besar dibanding bunga deposito, itu sudah salah, dan dari OJK sendiri jelas ada peraturan bahwa perusahaan keuangan dilarang menjanjikan keuntungan fix sekian persen kepada nasabahnya. Faktanya, ketika OJK beberapa waktu lalu membubarkan 6 produk reksadana milik PT Minna Padi Aset Manajemen, alasannya adalah juga karena Minna Padi menjanjikan keuntungan bagi para nasabahnya, dan itu melanggar peraturan.

Namun sayangnya untuk Jiwasraya ini, pihak otoritas boleh dibilang terlambat bertindak. Disisi lain, sejak tahun 2014 sampai sekarang, kondisi pasar saham itu sendiri cenderung lesu. Untuk diketahui, pada akhir tahun 2014 lalu, IHSG ditutup di posisi 5,227. Dan ketika artikel ini ditulis, IHSG berada di posisi 6,284, sehingga dengan demikian total kenaikannya hanya 20.2% dalam lima tahun, atau rata-ratanya (secara compounding) hanya 3.75% per tahun. Nah! Jadi bahkan kalaupun MI di Jiwasraya sukses menyamai kinerja IHSG dengan membukukan profit 3.75% per tahun, maka itu tetap saja tidak cukup untuk membayar bunga 6.5% ke nasabah JS Saving plan itu tadi bukan?

Dan sebetulnya ketika IHSG drop 12.1% pada tahun 2015, maka kalau penulis jadi dirut Jiwasraya, saya akan menghentikan penjualan produk JS Saving Plan, atau memodifikasinya dengan menghilangkan janji ‘bunga fix’. Tapi bukannya melakukan itu, manajemen malah ber-improvisasi dengan mengoreng saham-saham tertentu (laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan/BPK menyebutkan bahwa Jiwasraya membeli sejumlah saham berfundamental buruk yang harganya naik secara tidak wajar, termasuk saham Trada Alam Minera (TRAM), antara tahun 2013 – 2015), sehingga tampak bahwa perusahaan masih untung dari investasinya di saham, padahal nggak. Kemudian karena LK Jiwasraya kelihatannya masih untung (bahkan labanya konsisten naik), maka pendapatan premi perusahaan juga bisa digenjot naik terus, dan penulis khawatir kalau ini disengaja karena, dengan naiknya pendapatan premi tersebut, maka komisi yang diterima direksi & oknum-oknum pegawai Jiwasraya juga naik signifikan bukan? Sehingga mereka pribadi bakal cuan (dan ini belum termasuk cuan dari aksi goreng saham diatas), tapi perusahaan yang tekor. Namun kesemua kondisi tersebut baru ketahuan di tahun 2018, yakni ketika direksi yang baru (dibawah pimpinan Mr. Asmawi) tidak mau lagi melakukan praktek yang sama.
Anyway, kalau mau cari tahu siapa yang bersalah atas prahara Jiwasraya ini, maka sebenarnya itu mudah saja, karena di LK tahun 2016 jelas kelihatan nama-nama direktur, komisaris, dan aktuaris perusahaan itu siapa saja (aktuaris = orang atau tim khusus yang bertugas menghitung dan mengelola tingkat risiko ketidakpastian yang dihadapi perusahaan asuransi. Sehingga kalau direksi Jiwasraya melakukan tindakan tertentu yang berisiko merugikan perusahaan, maka si aktuaris harus mencegahnya), dan PPATK kemudian bisa melacak rekening mereka, dimana kalau ada transaksi yang mencurigakan maka sikat! Dan dari mereka pula, pihak berwenang bisa interogasi soal siapa saja pihak ketiga yang terlibat. Kemudian terkait penyelamatan Jiwasraya dalam rangka membayar kewajiban kepada para nasabah pemegang polis, maka penulis setuju dengan rencana Menteri BUMN yang akan membentuk holding BUMN Asuransi, dimana Jiwasraya akan dibantu pendanaan oleh BUMN lainnya dengan imbalan sinergi atau semacamnya, sehingga menjadi semacam subsidi silang. Sebab, berkaca pada pengalaman kasus Bank Century di tahun 2008 lalu, maka tindakan bail-out biasanya hanya akan menjadi komoditas politik yang tidak berkesudahan.
Okay, terakhir, bagaimana dampak kasus ini terhadap investasi kita di saham? Apakah dengan kejadian ini IHSG bakal anjlok, misalnya? Nah, memang ada kekhawatiran bahwa skandal Jiwasraya ini bisa berdampak sistemik/menimbulkan efek domino, apalagi nilai kerugiannya tidak main-main – lebih dari Rp30 trilyun. Namun karena artikel kali ini sudah cukup panjang, maka terkait hal ini akan kita bahas lagi lain waktu. Yang jelas, imbas terkait kasus Jiwasraya ini sebenarnya sudah terasa pada November 2019 kemarin dimana IHSG sempat kembali drop sampai dibawah 6,000, sedangkan saham-saham gorengan termasuk saham yang baru IPO juga anjlok semua. Sehingga kalau kedepannya diperoleh solusi konkrit terkait problem Jiwasraya ini, maka itu justru bisa menjadi sentimen positif bagi pasar. Anyway, jika nanti ada perkembangan lebih lanjut terkait Jiwasraya (atau Bumiputera) yang ditengarai berdampak terhadap pasar, maka artikel ini akan di-update kembali.
Satu hal lagi: Karena Jiwasraya ini bukan perusahaan Tbk, maka penulis selama ini tidak pernah membaca LK-nya. Tapi seandainya Jiwasraya ini perusahaan Tbk, maka artikel ini akan sudah ditulis sejak tahun 2016 lalu (karena LK-nya sudah bermasalah sejak tahun tersebut), dan bukan tidak mungkin itu akan mencegah bencana yang terjadi pada hari ini, karena para nasabah (atau calon nasabah) Jiwasraya sudah diberikan early warning untuk tidak membeli polis yang ditawarkan. Nah, jadi melalui tulisan ini, saya hendak menyampaikan kepada OJK, BPK, atau siapapun: Kalau anda melihat perusahaan tertentu yang mencurigakan, entah itu BUMN atau swasta, maka berikan saja LK-nya kepada kami untuk ‘dibongkar’, dan dari situ kita bisa mengambil keputusan soal tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Anda bisa menghubungi kami via email teguh.idx@gmail.com, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Untuk artikel berikutnya, kita akan bahas prospek PT Unicharm Indonesia, Tbk (UCID).
***
Ebook Analisa IHSG & Rekomendasi Saham edisi Januari 2020 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan tersedia diskon khusus awal tahun.
Jadwal Value Investing Private Class, belajar investasi saham dengan jumlah peserta terbatas, dan dengan sistem diskusi dua arah. Jakarta 11 Januari, Surabaya 17 Januari 2020. Info selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Cara Mendeteksi Manipulasi di Laporan Keuangan

Beberapa waktu lalu, kita sudah membahas tentang cara cepat membaca laporan keuangan, dimana penulis menyampaikan dalam bentuk video tentang poin-poin apa saja yang harus kita perhatikan (totalnya 15 poin) ketika membaca LK, mulai dari posisi aset, kewajiban, utang, laporan laba rugi, hingga laporan arus kas/cash flow. Di video tersebut penulis juga menyampaikan beberapa rasio yang penting untuk dicek seperti return on equity, current ratio, debt to equity ratio dan seterusnya, lengkap dengan penjelasan untuk tiap-tiap rasio tersebut.

However, ketika kita sudah menghitung kesemua rasio diatas, dan kesimpulannya katakanlah bahwa LK-nya bagus, maka timbul pertanyaan berikutnya: Apakah angka-angka yang ditampilkan di LK tersebut benar adanya? Apakah benar laba bersihnya sekian? Sebab kita tahu bahwa yang membuat LK tersebut adalah pihak manajemen perusahaannya sendiri, dan opini dari auditor sekalipun tidak menjamin bahwa sebuah LK bebas dari rekayasa atau manipulasi. Sehingga tantangan berikutnya adalah, bagaimana cara untuk mendeteksi rekayasa di laporan keuangan, jika memang ada rekayasa tersebut?
Nah, berdasarkan pengalaman penulis sendiri selama ini, memang ada banyak sekali contoh kasus rekayasa LK, yang kadang OJK sekalipun tidak bisa mendeteksinya. Karena untuk bisa menemukan rekayasa tersebut, maka kita harus membaca LK-nya hingga ke catatan kaki, lalu dikombinasikan dengan membaca dokumen-dokumen lain yang terkait, seperti laporan tahunan, LK kuartal/tahun sebelumnya, dan LK dari perusahaan lain yang berhubungan (misalnya perusahaan di sektor yang sama). Yup, jadi ini sudah masuk ke analisa tingkat advanced. Anyway, di video berikut ini, penulis menyampaikan salah satu contoh rekayasa LK tersebut, dalam hal ini terkait LK Garuda Indonesia (GIAA).

Selain Garuda, maka seperti yang sudah disampaikan diatas, di Indonesia sebenarnya ada banyak sekali contoh kasus rekayasa LK hingga financial engineering, jadi nanti kita akan bahas contoh lainnya lagi. Tapi untuk minggu depan, kita akan bedah sedikit laporan keuangan dari Jiwasraya. Just stay tune!
***
Ebook Analisa IHSG & Rekomendasi Saham edisi Januari 2020 akan terbit tanggal 2 Januari mendatang, dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber, dan tersedia diskon khusus awal tahun.

Jadwal Value Investing Advanced Class, Surabaya 19 Januari, Jakarta 2 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini, masih tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 31 Desember.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Apa Itu Trailing Stop Loss, Dan Bagaimana Cara Melakukannya

Menurut Investopedia, trailing stop loss (TSL) adalah sebuah sistem dimana pihak broker/sekuritas akan secara otomatis menjual saham yang dipegang seorang investor, yakni jika si investor sebelumnya sudah memasukkan perintah untuk menjual saham tersebut kalau harganya turun sekian persen. Contoh, anda membeli saham A pada harga 1,000, dan TSL-nya ditetapkan pada level 10%. Maka jika saham A kemudian langsung turun dari harga 1,000 tersebut sampai menyentuh 900 (turun 10%), pihak broker akan otomatis jual cut loss. Sedangkan jika saham A naik dulu sampai 1,200, tapi kemudian balik arah dan turun sampai 1,080 (turun 10% dari 1,200 tadi), maka sahamnya juga akan otomatis dijual, namun kali ini dalam posisi profit karena modalnya tadi di 1,000.

***
Buku Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Dari penjelasan diatas maka kita bisa melihat tujuan dari TSL ini: Untuk mencegah agar kerugian yang terjadi tidak terlalu signifikan, dan/atau untuk ‘mengunci’ profit yang sudah diperoleh agar tidak hilang lagi.
Dan khususnya di Indonesia, TSL ini sangat berguna karena seperti yang kita ketahui pergerakan saham-saham disini sangat fluktuatif, dimana sebuah saham pada satu waktu bisa naik sangat tinggi, tapi kemudian anjlok di waktu yang lain. Contohnya Indika Energy (INDY). Pada tahun 2017 lalu, INDY terbang dari 750 pada awal tahun, hingga sempat menyentuh 4,520 pada Januari 2018, sehingga mencetak keuntungan ratusan persen bahkan bagi mereka yang baru masuk katakanlah pada harga 1,000 atau 2,000. Namun memasuki Februari 2018, INDY mulai turun dimana pada bulan Maret-nya dia sudah berada di 3,300 lagi, dan kemudian terus turun sampai hari ini. Nah! Jadi kalau ada investor yang memasang TSL 10% di INDY ini, maka dia akan sudah otomatis menjual sahamnya ketika INDY turun ke 4,060 (turun 10% dari 4,520), tak peduli posisinya untung ataupun rugi (kalau dia belinya di harga 4,500, maka dia rugi, tapi kalau dia belinya di 2,000, atau 1,000, maka dia untung).

Tapi sekarang anda bayangkan bagaimana jika ada investor yang beli INDY ini di harga 4,500 tadi, dan dia tidak menggunakan TSL sehingga masih hold sahamnya sampai sekarang: Maka sudah berapa persen kerugiannya?? Karena pada hari ini, INDY sudah di 1,000-an lagi. Demikian pula bagi investor yang pada tahun 2017 lalu sudah beli INDY di harga 1,000 atau lebih rendah lagi, tapi juga tidak pakai TSL ini sehingga mereka tidak sempat profit taking ketika satu setengah tahun lalu INDY berada di posisi tertingginya, dan justru masih hold sampai sekarang. Maka, meskipun posisinya masih profit, tapi profitnya tentu terlalu kecil dibanding jika si investor sudah profit taking pada awal tahun 2018 lalu.
Dan tidak hanya INDY, tapi dalam 3 – 4 tahun terakhir ini ada banyak saham-saham lain yang juga sempat terbang, tapi kesininya drop dan balik lagi ke posisi sebelum dia naik, atau bahkan lebih rendah lagi. Sebut saja, Harum Energy (HRUM, dari 1,000 ke 3,500, lalu ke 1,300), Indomobil Sukses Makmur (IMAS, dari 850 ke 4,500, lalu ke 1,000), hingga Indah Kiat Pulp & Paper (INKP, dari 3,000 ke 20,000 lalu ke 7,000). Berbeda dengan saham-saham IPO gorengan atau saham Grup Hanson yang terbang tinggi lalu setelah itu jatuh dan mati di gocap karena ulah bandar, maka saham-saham yang disebut diatas bukanlah gorengan (penulis sendiri sempet beli, dan cuan), dimana mereka naik karena faktor fundamental (valuasinya murah, dan kinerjanya bagus/lebih baik dari kinerja sebelumnya), dan mereka kemudian turun juga karena faktor fundamental. Contohnya INDY, yang labanya naik banyak pada tahun 2017 lalu, sehingga sahamnya juga otomatis terbang. Tapi seiring dengan penurunan harga batubara, kesininya laba INDY turun lagi, dan sahamnya praktis ikut turun.
Cara Menerapkan Trailing Stop Loss
Sehingga dengan penggunaan TSL ini, maka diharapkan tidak akan ada lagi kasus ‘Saya beli POSA di harga 500, masih di-hold sampai sekarang’, atau semacamnya. Batas TSL ini juga tidak harus sahamnya turun 10%, melainkan bisa 5%, 15%, tergantung input yang dibuat si investor itu sendiri.
However, penggunaan TSL ini bukannya tanpa kelemahan, dan dalam banyak kasus, TSL ini bukannya membantu investor untuk stop loss, tapi justru loss taking. Penjelasannya begini: Berdasarkan pengalaman, ketika sebuah saham turun signifikan sebanyak sekian persen, maka seringkali itu merupakan awal dari penurunan yang lebih lanjut. Sehingga dalam hal ini, TSL membantu investor untuk membatasi kerugian yang terjadi.

Namun demikian, sering juga terjadi sebuah saham hanya turun sebentar, sebelum kemudian naik lagi. Contohnya, seiring dengan penurunan IHSG dalam beberapa bulan terakhir (dan hingga artikel ini ditulis, IHSG masih belum naik lagi), maka ada banyak sekali saham-saham di BEI yang turun lebih dari 10%. Salah satunya adalah Bank BNI (BBNI), yang pada September 2019 kemarin sahamnya berada di 7,500, dimana pakai teknik valuasi sederhana saja, harga segitu sudah cukup murah terutama untuk ukuran saham bluechip (PER 8.8 kali, PBV 1.2 kali). Tapi di bulan Oktober-nya, IHSG kembali kumat dengan drop sampai dibawah 6,000, dan BBNI ikut terseret turun sampai 6,675, alias turun 11%. Nah, kalau seorang investor beli BBNI di 7,500, lalu ia memasang TSL 10%, maka ia akan otomatis menjual BBNI pada harga 6,750, tapi justru setelah itu BBNI naik lagi, dan sekarang sudah di 7,500-an lagi. Inilah yang penulis maksud dengan TSL ini bukannya stop loss, melainkan malah loss taking, alias merealisasikan kerugian yang sebenarnya tidak perlu.
Karena itulah, meski TSL ini bisa membantu kita sebagai investor untuk meminimalisir risiko kerugian, atau untuk merealisasikan profit yang sudah diperoleh, namun tetap ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, TSL lebih cocok digunakan untuk saham-saham dengan kriteria berikut:
  1. Perusahaannya bergerak di industri yang cyclical, alias bisa booming pada waktu-waktu tertentu, tapi sebaliknya bisa berbalik lesu pada waktu-waktu lain,
  2. Sahamnya bisa naik banyak (multibagger), yakni ketika bisnisnya booming, tapi sebaliknya bisa turun banyak juga, yakni ketika bisnisnya lesu.
Dengan kata lain, TSL tidakcocok digunakan pada saham-saham yang perusahaannya membukukan kinerja bagus serta konsisten dalam jangka panjang. Ini adalah kelompok saham-saham yang biasanya hanya akan turun kalau pasarnya sedang turun, dan/atau kalau ada rumor negatif tertentu terkait perusahaannya. Dan kalau itu yang terjadi, sedangkan secara fundamental tidak ada masalah apa-apa/kinerja laporan keuangan perusahaannya masih bagus, maka itu merupakan kesempatan untuk beli lagi sahamnya, atau minimal hold saja. Karena nanti ketika pasar naik lagi, dan biasanya itu tidak akan butuh waktu lama (paling lama hanya hitungan bulan, jadi tidak akan sampai bertahun-tahun), maka sahamnya akan naik lagi.
Sedangkan kalau anda pegang saham batubara lalu anda melihat bahwa harga batubara turun, dan saham anda ikut turun, maka disinilah TSL akan sangat berguna, karena saham batubara yang anda pegang tersebut bisa anjlok sangat signifikan dan butuh waktu sangat lama untuk naik kembali, atau bahkan saham tersebut tidak akan pernah balik lagi ke harga awalnya. Pada salah satu sesi seminar dengan BEI Jawa Barat di Bandung, beberapa waktu lalu, seorang peserta yang bercerita bahwa ia membeli saham Harum Energy (HRUM) di tahun 2012 pada harga 8,000-an, dan masih di-hold sampai sekarang, dimana kondisi ‘nyangkut menahun’ ini seharusnya tidak akan terjadi kalau pada saham HRUM ini diterapkan TSL.
Itu pertama. Kedua, TSL hanya cocok diterapkan dalam kondisi pasar yang naik/bullish, atau minimal normal/tidak sedang terkoreksi. Sebab dalam kondisi pasar naik inilah, maka saham apapun yang anda pegang biasanya juga naik banyak. Tapi jika pasar kemudian balik arah dan turun, maka saham tadi bisa bablas anjlok sekalian, terutama jika valuasinya memang sudah mahal. Contohnya? Well, pada Oktober 2018 – April 2019 lalu, IHSG naik dari 5,700-an sampai 6,500-an, dan BBNI juga ikut lompat dari 6,700 sampai hampir saja tembus 10,000. Namun karena pada level 10,000 itu valuasi BBNI, meski belum terlalu mahal, tapi sudah tidak lagi murah (PER-nya sudah diatas 10 kali), maka pada kondisi inilah kita bisa pasang TSL untuk BBNI ini, misalnya TSL 5%. Sehingga ketika BBNI turun ke 9,000 – 9,500, maka kita akan otomatis menjualnya, dan dengan demikian mengamankan profit yang sudah diperoleh. Perlu diperhatikan bahwa dalam hal ini, kita tidak langsung pasang TSL di BBNI ketika kita membeli sahamnya (pada harga 6,700), melainkan kita baru pasang TSL tersebut ketika sahamnya sudah naik signifikan hingga valuasinya, setelah kita hitung, sudah tidak terlalu murah lagi, sehingga bisa turun lagi sewaktu-waktu, tak peduli meski fundamentalnya no problem. Understand tidak?
Disisi lain, jika anda memasang TSL ini pada kondisi pasar yang sedang terkoreksi/sudah turun signifikan dibanding beberapa waktu sebelumnya, maka anda mungkin akan mengalami kondisi dimanaanda beli saham murah, tapi kemudian menjualnya pada harga yang lebih murah lagi, alias loss taking (bukan cut loss). Contohnya, pada Agustus 2015 lalu, IHSG drop hingga mentok di 4,164 (dari posisi 5,500-an di awal tahun), dimana salah satu saham yang penulis incar, yakni Astra International (ASII), juga sudah turun sampai dibawah 6,000, tepatnya 5,600, tapi penulis sendiri ketika itu beli ASII ini di harga 6,000. Namun tak disangka, hanya sebulan berikutnya yakni di bulan September 2015, IHSG kembali kumat dan bahkan turun lebih rendah lagi yakni sampai mentok 4,120, dan ASII tanpa ampun lanjut turun sampai hampir saja tembus dibawah 5,000! Nah! Jika saja penulis ketika itu pasang TSL, maka saya akan menjual ASII ini dalam posisi rugi di harga 5,500 atau dibawahnya, tapi untungnya penulis ketika itu tetap hold.
Hingga ketika pasar akhirnya pulih, beberapa bulan kemudian, maka ASII juga ikut naik sampai 7,500 – 8,000, dan barulah ketika itu penulis profit taking. Contoh kasus koreksi pasar pada Agustus – September 2015 diatas juga relevan dengan kondisi pasar hari ini, dimana pada awal Oktober 2019 kemarin IHSG sempat drop sampai dibawah 6,000 sebelum kemudian naik lagi, tapi tiba-tiba pada akhir November, IHSG sekali lagi drop sampai dibawah 6,000. Dan alhasil ada banyak saham yang sudah turun signifikan pada bulan Oktober, tapi di bulan Novembernya turun lebih dalam lagi, sehingga bisa jadi ada banyak investor yang loss taking (sekali lagi, bukan cut loss) pada akhir November tersebut, karena mereka pasang TSL tadi. Sehingga dalam kondisi inilah, penggunaan TSL justru menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
Okay Pak Teguh, jadi kalau panjenengan sendiri ada pake trailing stop loss ini? Nggak, dan saya bahkan gak tau kalau OLT yang kita gunakan ada tombol TSL-nya atau nggak (karena kita selama ini beli dan jual saham dengan menelpon broker). Namun kalau ada saham yang kita pegang yang turun katakanlah 10%, maka penulis akan analisa ulang saham tersebut sebelum kemudian ambil keputusan, apakah hold saja atau jual. Yup, jadi kita bisa dibilang pake TSL juga, tapi nggak otomatis langsung cut loss, karena khawatirnya itu malah jadi loss taking. However, jika anda masih bingung cara menghitung valuasi saham, cara membedakan mana saham yang cyclical dan yang tidak dst, maka boleh juga pake TSL ini, apalagi sekarang ini lagi musim banyak saham gorengan gak jelas yang kalap naiknya, tapi kalap juga turunnya (contoh paling baru, Mas Murni Indonesia/MAMI), dimana anda bisa saja ikut membeli salah satu dari saham-saham tersebut, sehingga TSL ini tentunya akan mencegah situasi dimana anda terpaksa menjadi ‘investor jangka panjang’ di saham-saham gocapan yang gak jelas kapan akan naik lagi. Well, jangan sampe lah!
***
Jadwal Seminar Value Investing, Surabaya 18 Januari, dan Jakarta, 1 Februari 2020 (hari Sabtu). Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Untuk Seminar Value Investing Advanced, jadwalnya adalah Surabaya 19 Januari, dan Jakarta 2 Februari 2020 (hari Minggu), dan infonya bisa dibaca disini. Tersedia pula rekaman seminar dengan biaya yang tentunya lebih murah, namun dengan materi yang sama lengkapnya.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing Advanced, Surabaya 19 Januari, Jakarta 2 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, dan Surabaya. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Cara menganalisa aksi korporasi emiten (right issue, stocksplit, dst), dan juga peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada perusahaan, serta bagaimana pengaruhnya terhadap fundamental perusahaan/harga sahamnya.
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham multibagger, yakni saham yang berpeluang untuk naik 100% atau lebih dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara membaca poin-poin laporan keuangan dengan lebih detail (penjelasan mengenai metrik-metrik yang penting), sehingga diperoleh kesimpulan apakah fundamental sahamnya terbilang wonderful, bagus, biasa aja, atau malah jelek.
  6. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang mampu meminimalisir risiko kerugian sekaligus memaksimalkan potensi keuntungan, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, saham-saham batubara naik luar biasa pada tahun 2016 lalu hingga menghasilkan profit ratusan persen hanya dalam tempo 2 tahun. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita bisa masuk ke sektor batubara persis ketika sektor tersebut masih berada di titik terendahnya?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik anak untuk berinvestasi sejak dini
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita disini tidak hanya bicara teori, melainkan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***

Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:

Surabaya
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya.
  • Hari/Tanggal: Minggu, 19 Januari 2020
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 2 Februari 2020
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut kelas ini adalah Rp1,350,000 per peserta, dengan ketentuan diskon sebagai berikut:
  • Bagi peserta yang mendaftar untuk dua orang sekaligus, maka biayanya didiskon menjadi Rp1,200,000 per peserta.
  • Bagi peserta yang mendaftar untuk tiga orang sekaligus atau lebih, maka biayanya didiskon menjadi Rp1,100,000 per peserta.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced Surabaya/Jakarta (sebut salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Marcus Rashford, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas (kwitansi/bukti pembayaran juga bisa diminta jika diperlukan, anda tinggal bilang minta kwitansi di emailnya). Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Jumlah kuota terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Free Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya secara penuh alias tanpa potongan, dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Telp/Whatsapp dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
***
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dimasukkan ke Grup Whatsapp/Telegram khusus alumni seminar, sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Special Bonus: Ebook ‘How to be a Full Time Investor’ setebal 13 halaman, oleh Teguh Hidayat.
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Telp/Whatsapp 081314822827 (Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomer satunya. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Nostalgia edition: Penulis bersama temen-temen peserta kelas value investing di Semarang, tahun 2014
Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing, Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang, maka jadwalnya adalah hari Surabaya, Sabtu 18 Januari, dan Jakarta, Sabtu 1 Februari (sehari sebelum seminar advanced ini, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham, 3. Cara menyusun portofolio dst. Bagi anda yang masih pemula, atau sudah lama di market namun baru mengenal value investing, maka sangat disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced ini di hari Minggunya, karena materinya saling melengkapi. Info selengkapnya baca disini.

Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru Agustus 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Untuk lokasinya sama di Surabaya, dan [...]

Seminar Value Investing, Surabaya 18 Januari, Jakarta 1 Februari

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Surabaya, Sabtu 18 Januari, dan Jakarta, Sabtu 1 Februari 2020. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, beberapa tips dan trik dalam berinvestasi, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Ilustrasi Value Investing

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, yakni metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara membaca laporan keuangan, dan cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam waktu 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham, serta kapan kita harus profit taking atau cut loss, dari sudut pandang value investing.
  7. Ciri-ciri wonderful company, yang sahamnya bisa di-hold as long as possible, serta apa bedanya dibanding saham biasa, dan
  8. Cara menganalisa manajemen emiten/perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Cara menabung saham untuk jangka waktu 5 – 10 tahun dengan menyicil membeli saham yang sama setiap bulan, dan apa saja pilihan saham yang disarankan,
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita disini tidak hanya bicara teori, melainkan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:

Surabaya
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya.
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 18 Januari 2020
Jakarta
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lantai 6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Februari 2020
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut kelas ini adalah Rp1,200,000 per peserta, dengan ketentuan diskon sebagai berikut.
  • Bagi peserta yang mendaftar untuk dua orang sekaligus, maka biayanya didiskon menjadi Rp1,100,000per peserta.
  • Bagi peserta yang mendaftar untuk tiga orang sekaligus atau lebih, maka biayanya didiskon menjadi Rp1,000,000 per peserta.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya/Jakarta (sebut salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Marcus Rashford, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas (kwitansi/bukti pembayaran juga bisa diminta jika diperlukan, anda tinggal bilang minta kwitansi di emailnya). Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Jumlah kuota terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Free Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya secara penuh alias tanpa potongan, dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Telp/Whatsapp dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
***
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dimasukkan ke Grup Whatsapp/Telegram khusus alumni seminar, sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar-seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
  4. Special BonusWarren Buffett Annual Letter Tahun 1965 – 1969 versi Bahasa Indonesia, yang diterjemahkan langsung oleh Teguh Hidayat sendiri. Gratis!
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Telp/Whatsapp 081314822827 (Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomer satunya. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
 
Nostalgia edition: Penulis ketika mengisi kelas investasi saham di Bandung, tahun 2013 lalu

Bagi anda yang hendak ikut Value Investing Advanced Classdengan materi cara menghadapi resesi, cara menemukan saham multibagger dll, maka jadwalnya adalah: Surabaya, Minggu 19 Januari, dan Jakarta, Minggu 2 Februari (sehari setelah seminar value investing ini), di lokasi yang sama. Info selengkapnya klik disini.

Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru Agustus 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Untuk lokasinya sama di Surabaya, dan [...]

Cara Cepat Membaca Laporan Keuangan Emiten

Dalam menganalisa sebuah perusahaan, sebelum kemudian memutuskan apakah sahamnya layak invest atau tidak, maka dokumen pertama sekaligus yang paling penting untuk dipelajari seorang investor adalah laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Nah, biasanya dari investor pemula, penulis menerima banyak pertanyaan soal bagaimana cara membaca LK, poin-poin apa saja yang harus dilihat dan seterusnya. Dan apakah untuk bisa membaca LK, maka kita harus sekolah/kuliah jurusan ekonomi, akuntansi, dan keuangan terlebih dahulu?

Tapi penulis bisa katakan bahwa, membaca LK sejatinya mudah saja, terutama jika anda sudah terbiasa (awal-awal mungkin bingung, tapi itu normal), dan anda juga tidak perlu memiliki latar belakang pendidikan finance untuk bisa membaca LK, karena penulis sendiri juga tidak memiliki latar belakang tersebut (saya lulusan Ilmu Statistika). Anyway, kita langsung saja. Video ini durasinya cukup panjang, yakni 1 jam lebih sedikit, jadi sebaiknya anda menontonnya ketika benar-benar sedang senggang agar manfaat yang diperoleh maksimal, misalnya malam hari sebelum tidur, atau ketika sedang naik MRT atau transportasi umum lainnya. Okay, here we go.


Untuk video-video berikutnya, kita akan membahas cara membaca laporan keuangan secara lebih spesifik untuk sektor-sektor tertentu, seperti sektor perbankan, konstruksi, batubara, dst. Just stay tune!

Jadwal Seminar Value Investing, Surabaya 18 Januari, Jakarta 1 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini.

Jadwal Seminar Value Investing, Advanced Class, Surabaya 19 Januari, Jakarta 2 Februari 2020. Info selengkapnya baca disini. Bagi temen-temen peserta, tersedia bonus gratis Warren Buffett Annual Letter versi Bahasa Indonesia, yang diterjemahkan oleh penulis sendiri.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Dibalik Skandal Garuda Indonesia

Ketika Garuda Indonesia (GIAA) menggelar IPO dengan harga perdana Rp750, tahun 2011 lalu, maka setelah mempelajarinya, penulis simpulkan bahwa sahamnya tidak layak invest karena hal-hal berikut: Bisnis maskapai penerbangan itu biayanya mahal terutama di harga beli pesawat dibanding harga tiket penerbangan itu sendiri (semurah-murahnya harga pesawat ukuran kecil adalah Rp400 milyar per unit, jadi dengan harga tiket katakanlah Rp1 – 2 juta per orang per perjalanan, maka bisa dibayangkan butuh waktu berapa lama buat balik modal, belum lagi biaya operasional yang mahal), dan biaya bahan bakar, terutama karena harga minyak dunia ketika itu masih diatas $100 per barel. Kemudian GIAA juga harus bersaing dengan low cost carrier (LCC) seperti Lion Air dan Air Asia, yang harga tiketnya hanya setengahnya. Dan memang ketika itu, GIAA terus mencatatkan kerugian nyaris saban tahun. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

Jadi ketika GIAA kemudian langsung drop ketika sahamnya melantai di bursa, maka penulis tidak heran dengan hal tersebut, dan kita kemudian mengabaikan GIAA ini. Hingga pada tahun 2012, penulis mulai melirik lagi GIAA ini karena melihat bahwa manajemennya banyak melakukan reformasi dengan menerapkan strategi berikut: 1. Meningkatkan dominasi atas pasar domestik, 2. Meningkatkan pelayanan di pasar internasional, 3. Masuk ke pasar low cost carrier (penerbangan murah) melalui PT Citilink Indonesia, 4. Meremajakan dan menambah armada pesawat, 5. Memperkuat brand ‘Garuda Indonesia’ melalui promosi dan peningkatan pelayanan, 6. Meningkatkan efisiensi biaya, 7. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada titik ini saya masih belum tertarik untuk membeli saham GIAA, karena perusahaan masih merugi, tapi penulis berharap bahwa dalam 2 – 3 tahun berikutnya, GIAA mungkin akhirnya akan profit juga. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
Waktu berlalu, dan bagaimana realisasinya? Well, sampai tahun penuh 2018 lalu, GIAA ternyata masih saja merugi $179 juta (dan itu adalah angka rugi yang sangat besar, mengingat ekuitas perusahaan hanya $683 juta). Dan meskipun pada Kuartal III 2019 ini GIAA membukukan laba, tapi mengingat kinerja historisnya yang sangat tidak stabil dimana perusahaan sering membukukan laba di kuartal tertentu, tapi berbalik jadi rugi di kuartal berikutnya, maka penulis ragu apakah tahun 2019 ini GIAA bakal tetap membukukan laba, apalagi manajemen GIAA pernah ketahuan merekayasa laporan keuangannya untuk tahun 2018 lalu.
Lalu kenapa kok GIAA ini rugi terus? Well, entahlah. Karena kalau kita lihat lagi environment dari industri transportasi udara itu sendiri, maka tidak semestinya Garuda merugi. You see, antara tahun 2014 – 2018, GIAA rata-rata mengangkut 19 juta penumpang setiap tahunnya, yang turun sedikit menjadi 18 juta pada tahun 2018 karena kenaikan harga tiket pesawat, dan kemungkinan turun lagi pada tahun 2019 ini. Namun mengingat kenaikan harga tiket tersebut sangat signifikan (hampir dua kali lipat) dibanding penurunan jumlah penumpang yang terjadi, maka pendapatan GIAA harusnya tetap naik signifikan, dan memang tahun 2018 kemarin GIAA mencatat rekor pendapatan $4.3 milyar, yang kemungkinan akan kembali naik menjadi $4.7 milyar di tahun 2019 ini (pendapatan $3.5 milyar di Q3, disetahunkan). Disisi lain, harga minyak dunia sudah sejak tahun 2016 lalu drop ke level $50 – 60 per barel dan tidak pernah naik lagi, sehingga logikanya biaya bahan bakar bakal turun. Dan terakhir, karena GIAA sekarang punya dua unit usaha di segmen LCC yakni melalui Citilink dan Sriwijaya Air, maka pangsa pasar GIAA otomatis menjadi lebih luas, dan harusnya perusahaan akan mampu bersaing dengan LCC lainnya.
Jadi dengan kondisi seperti diatas, harusnya GIAA sudah profit sejak lama, dan sahamnya mungkin sudah di level 1,500-an. Tapi nyatanya, meski pendapatan perusahaan memang kembali mencetak rekor tertinggi tahun ini, tapi tidak hanya biaya bahan bakar tidak turun, GIAA juga harus menanggung banyak biaya yang tidak perlu. Contohnya, pada Q3 2019, perusahaan mencatat biaya operasional hotel $24 juta, sedangkan pendapatannya dari usaha hotel cuma $12 juta. Sehingga pertanyaannya ada dua: 1. Ngapain GIAA punya hotel? Dan 2. Kalau hotelnya merugi, kenapa masih dipertahankan sampai sekarang? Kemudian, GIAA mencatat beban komisi tiket, penjualan dan promosi dengan angka yang sangat besar, $243 juta, dan biaya pelayanan penumpang $202 juta, dimana kalau kita bandingkan dengan laporan laba rugi dari PT Airasia Indonesia, Tbk (CMPP), maka kedua jenis biaya ini tidak ada! Okay, memang kalau kita naik Garuda, itu dikasih makan, sedangkan kalau naik AirAsia harus puasa. But let see: Tahun 2018, GIAA mengangkut 18.9 juta penumpang, dan perusahaan harus membayar biaya ‘pelayanan penumpang’ hingga $292 juta, sehingga biayanya adalah sekitar $15, alias Rp220,000 per penumpang. Nah, really? Memangnya kalau kita naik Garuda dikasih makan lobster gitu?? Mungkin perlu juga dicatat bahwa, di LK GIAA, beban pelayanan penumpang ini berbeda dengan beban yang sudah ada seperti bahan bakar, biaya bandara, biaya perawatan pesawat, biaya administrasi, dan seterusnya, dimana di LK CMPP juga ada beban-beban tersebut. Tapi sekali lagi, di LK CMPP, tidak ada beban ‘komisi’, ataupun beban pelayanan penumpang secara terpisah (itu masuknya beban operasional penerbangan, dan dengan angka nominal yang juga jauh lebih kecil).
Sehingga kesimpulannya, problem di GIAA ini bukan terletak di industri transportasi udara itu sendiri, tapi lebih ke manajemennya yang, entah disengaja atau tidak, banyak membebankan biaya yang aneh-aneh ke perusahaan. Dan hal ini tentu saja sangat merugikan GIAA itu sendiri. Secara logika saja, kalau memang maskapai penerbangan itu rugi semua, maka gak mungkin Om Rusdi Kirana, atau Pak Cik Tony Fernandes masuk Majalah Forbes. Padahal dalam banyak aspek, posisi Garuda jelas lebih unggul dibanding Lion Air, ataupun Air Asia.
Anyway, seperti yang disebut diatas, problem yang dialami GIAA ini kemungkinan merupakan cerminan dari problem umum yang dialami semua BUMN di Indonesia, yakni: Perusahaannya sangat tidak efisien, salah satunya karena ada banyak sekali biaya-biaya yang sebenarnya tidak perlu, atau angkanya lebih besar dari yang seharusnya. Sebab BUMN yang merugi selama ini gak cuma GIAA, tapi ada banyak lagi yang lain seperti (berdasarkan LK Kuartal III 2019) Krakatau Steel (KRAS), Indofarma (INAF), Timah (TINS), dan seterusnya. Khusus untuk TINS, perusahaan bahkan sejatinya diuntungkan dengan peraturan dari pemerintah yang menyebabkan pendapatannya tahun 2019 ini naik dua kali lipat (baca lagi analisanya disini), tapi gak ngerti gimana ceritanya, tetep aja ujung-ujungnya dia rugi juga! Bagi penulis sendiri, ini agak menjengkelkan, karena kita jadi kehilangan peluang untuk berinvestasi. Dan sebenarnya, hal ini tidak hanya dialami oleh BUMN, tapi perusahaan-perusahaan swasta tertentu juga banyak yang mencantumkan beban-beban yang tidak perlu di LK-nya, sehingga ujung-ujungnya mereka membukukan rugi, atau labanya kelewat kecil. Tapi jika kita anggap bahwa Grup BUMN adalah seperti grup-grup lainnya yang ada di Indonesia (Astra, Sinarmas, Lippo, dst), maka dengan total aset lebih dari Rp8,000 trilyun, grup BUMN merupakan grup konglomerasi terbesar di Indonesia, sehingga sayang sekali kalau di grup yang sangat besar ini mayoritas perusahaan anggotanya justru merugi semua, sehingga kemudian sahamnya menjadi tidak layak invest.

Prospek BUMN Setelah Skandal Garuda
Dan problem di BUMN diatas kemungkinan memang sudah terjadi sejak jaman Sandiwara Saur Sepuh masih bisa kita dengar di radio, boleh dibilang tanpa adanya upaya perbaikan sama sekali, dan dampak negatifnya sebenarnya sangat terlihat dimana ada banyak BUMN kita yang hanya jalan di tempat, atau lebih buruk lagi, cuma bisa bertahan hidup dari subsidi pemerintah. Contohnya, Perusahaan Gas Negara (PGAS) adalah perusahaan migas yang sudah berdiri sejak jaman Belanda, tepatnya tahun 1850. Tapi ketika Royal Dutch Shell yang sama-sama didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1907, dan pada hari ini sudah menjadi salah satu oil giant kelas dunia, maka PGAS ya masih gitu-gitu saja. Lalu Pertamina, yang pada tahun 1960-an sempat menjadi ‘guru’ bagi Petronas Malaysia, tapi sekarang sudah jauh ketinggalan dibanding anak didiknya tersebut, dan sampai hari ini juga Pertamina masih disubsidi oleh negara (pada tahun 2018, Pertamina membukukan laba $2.5 milyar, tapi itu termasuk pendapatan subsidi $5.6 milyar, sehingga kalau gak ada subsidi ini, maka Pertamina sejatinya merugi). Nah, kalau mengingat Indonesia itu jauh lebih besar dibanding Belanda dan juga Malaysia, dan dengan jumlah penduduk yang juga jauh lebih besar sehingga PGAS dan Pertamina harusnya bisa maju pesat bahkan meskipun mereka hanya beroperasi di dalam negeri, maka tentu ada something wrong disini.
Namun demikian, ada harapan bahwa kondisi diatas akan segera berubah. Yup, ketika pada 21 Oktober lalu diumumkan daftar kabinet yang baru, maka untuk nama-nama menteri yang lain penulis no comment, tapi saya termasuk yang antusias ketika melihat nama Menteri BUMN yang baru (saya sampai posting fotonya di Instagram, boleh anda cek sendiri), and why is that?Karena beliau ini jenius (kalo gak pinter, gak akan kaya lah), idealis, dan juga tipikal aktif pekerja keras. Penulis tidak akan memperinci kenapa saya bisa beranggapan demikian, karena artikel ini bukan tentang beliau.

Tapi intinya adalah, ketika dalam beberapa waktu ini Pak Menteri banyak melakukan perombakan di BUMN-BUMN, terutama dengan mengganti jajaran direksi dan komisarisnya dengan orang-orang yang lebih kompeten, maka itu memang sesuai dengan harapan penulis sebelumnya, yakni bahwa beliau akan bekerja keras membereskan ratusan BUMN di Indonesia. Sudah tentu, tidak ada jaminan bahwa para direktur dan komisaris yang baru ini akan bekerja lebih baik dibanding pendahulunya, tapi itu lebih baik daripada membiarkan direksi yang sudah ada, sedangkan para direksi ini tidak mampu, atau bahkan mungkin tidak peduli, ketika BUMN yang mereka pimpin terus saja merugi. Termasuk ketika Direktur Utama Garuda Indonesia ketahuan menyelundupkan motor Harley Davidson cuma karena tidak mau bayar bea masuk Rp50 juta, maka penulis sendiri ragu kalau ini adalah kasus pertama, melainkan kemungkinan hal ini sudah ‘lumrah’ dilakukan sejak dulu, tapi baru ketahuan sekarang saja. Dan kalau saja penulis yang jadi Menteri BUMN, maka saya tidak akan berhenti menyelidiki hanya sampai kasus Harley itu saja, tapi saya juga akan interogasi manajemen GIAA secara keseluruhan, ini kenapa kok biaya pelayanan penumpang sampai Rp220,000 per penumpang? Dan apa yang dimaksud biaya ‘komisi’ disini? Kenapa kok angkanya besar sekali sampai $150 juta sendiri??
Anyway, penulis kira skandal Harley ini sudah cukup sebagai shock therapy bagi para petinggi di lingkungan BUMN itu sendiri. Sehingga jika Pak Menteri bisa melanjutkan kinerjanya, maka dalam beberapa waktu kedepan, kita mungkin akan melihat ‘skandal-skandal Harley’ berikutnya, yang bisa jadi melibatkan BUMN lainnya lagi (karena skandalnya memang sudah dilakukan, cuma belum ketahuan saja). Sedangkan dalam jangka panjang, maka jika semuanya lancar, dalam lima hingga sepuluh tahun kedepan kita akan menyaksikan para BUMN membukukan kinerja yang jauh lebih efisien, gak ada lagi biaya yang aneh-aneh, dan laba bersihnya juga menjadi besar seperti yang sudah seharusnya. Di BEI sendiri saat ini ada sekitar 20-an emiten BUMN, tapi hanya kurang dari separuhnya yang cukup layak untuk investasi, dan yang layak untuk legacy stock alias investasi jangka panjang, jumlahnya lebih sedikit lagi. Tapi jika trend ‘bersih-bersih’ ini terus berlanjut, maka suatu hari nanti kita mungkin akan melihat salah satu BUMN naik kelas menjadi world class corporation, dan kita sebagai investor tentunya akan bisa menikmati kenaikan harga sahamnya yang konsisten dalam jangka panjang, plus bonus dividen. Mudah-mudahan!
***

Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.


Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Adaro Energy

Kalau dari sisi volume produksi, maka dengan produksi sekitar 55 juta ton batubara per tahun, PT Adaro Energy, Tbk (ADRO) merupakan coal miner terbesar kedua di Indonesia setelah PT Bumi Resources, Tbk (BUMI). Namun berbeda dengan BUMI yang tidak disukai investor karena manajemennya sering bikin ulah, maka ADRO dalam banyak hal tampak lebih baik, dan sahamnya juga termasuk salah satu yang naik signifikan dari 600 hingga sempat tembus 2,500 ketika terjadi euforia di sektor batubara, tahun 2016 – 2017 lalu. However, seiring dengan kembali turunnya harga batubara sejak awal tahun 2019 kemarin, maka ADRO juga ikut turun, dan tiba-tiba saja sekarang pada harga 1,350, valuasinya tampak atraktif lagi dengan PBV 0.8 kali, dan PER 5.8 kali. Tapi, hey, bagaimana dengan harga batubara itu sendiri? Apakah harga batubara sekarang ini ($70 per ton) sudah cukup rendah, atau masih bisa turun lagi?

***
Ebook Rekomendasi Saham edisi Desember, plus analisa window dressing dll sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber. Info telp/WA 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Sejarah ADRO dimulai pada tahun 1982 ketika PT Adaro Indonesia (AI) memperoleh kuasa pertambangan untuk Tambang Paringin, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, dan mulai berproduksi pada tahun 1992 dengan volume produksi perdana 1 juta ton, yang kemudian terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. AI ketika itu dimiliki oleh konglomerat Sukanto Tanoto melalui bendera PT Asminco Bara Utama. Tahun 1998, Indonesia dihantam krisis moneter, dan Asminco memiliki utang $100 juta ke Deutsche Bank cabang Singapura yang tidak sanggup mereka bayar. Pihak Deutsche Bank kemudian menyita saham AI yang dijadikan jaminan dari utang tersebut, dan pada tahun 2001 menjualnya ke Grup Saratoga milik konglomerat Edwin Soeryadjaya & Sandiaga Uno. Pihak Asminco sempat membawa masalah ini ke pengadilan, sehingga proses peralihan kepemilikan AI jadi berkepanjangan, tapi akhirnya tetap Saratoga yang menang. Tahun 2004, PT Adaro Energy didirikan untuk dijadikan induk dari AI, dan pada tahun 2005, Adaro Indonesia resmi berpindah tangan ke Grup Saratoga. Ketika itu volume produksi batubara AI sudah tembus 30 juta ton per tahun. Hanya tiga tahun kemudian, tepatnya Juli 2008, Adaro Energy (ADRO) sukses menggelar IPO dengan melepas 35% sahamnya senilai Rp12.2 trilyun, yang kemudian menjadi nilai IPO terbesar dalam sejarah BEI, hingga hari ini.
Kesuksesan ADRO untuk melantai di bursa ini pula, yang kemudian sukses memberikan cuan jackpot bagi Grup Saratoga, serta banyak pihak lainnya yang terkait (rata-rata eks petinggi Grup Astra, karena Mr. Edwin sendiri merupakan putra dari founder Astra, William Soeryadjaya). However, dari sudut pandang investor publik, maka meski sejak sahamnya melantai di bursa, ADRO ini sudah menjadi salah satu saham yang cukup populer di kalangan trader (karena sahamnya sangat likuid), tapi penulis sendiri sejak tahun 2010 lalu tidak merekomendasikan sahamnya untuk investasi long term (baca lagi ulasannya disini), dan itu bukan hanya karena industri batubara itu sendiri yang cyclical, melainkan juga karena:
  1. Grup Saratoga mengakuisisi Adaro Indonesia menggunakan skema leveraged buy-out (LBO), alias pake dana $983 juta yang terdiri dari ekuitas $50 juta, dan utang $923 juta, dan utang itu kemudian ditempatkan di Adaro Energy yang didirikan kemudian.
  2. Setelah sukses mengakuisisi perusahaan menggunakan skema LBO, strategi selanjutnya adalah menggelar IPO, dimana hasil dananya sebagian dipake untuk membayar utang tadi. Namun yang di-IPO-kan adalah ADRO, sehingga boleh dibilang bahwa investor publik hanya menerima saham dari perusahaan cangkang yang isinya cuma utang semua. Sedangkan Adaro Indonesia tetap menjadi perusahaan private, yang kinerja riil-nya tidak terbuka untuk publik/hanya bisa diakses oleh Saratoga sendiri. Jadi sama seperti BUMI akuisisi Kaltim Prima Coal (KPC) pake utang, dimana KPC ini adalah coal miner terbesar di Indonesia, tapi yang bisa dibeli investor di bursa adalah saham dari BUMI yang neracanya dipenuhi utang, bukan saham KPC itu sendiri.
  3. Kemudian memanfaatkan euforia di sektor batubara ketika itu, maka Saratoga kemudian melepas saham anyar ADRO pada valuasi super premium, yakni Rp12.2 trilyun untuk 35% sahamnya, sehingga market cap-nya adalah Rp34.9 trilyun, padahal ekuitas perusahaan sebelum IPO cuma $50 juta atau kurang dari Rp500 milyar. Tapi apapun itu, hal ini menyebabkan valuasi ADRO sejak awal menjadi sangat mahal, meskipun barangnya memang bagus. Disisi lain, karena perusahaan memiliki utang yang besar (dana hasil IPO-nya tidak seluruhnya digunakan untuk melunasi utang, melainkan), maka margin laba ADRO jadi kecil karena adanya beban bunga utang yang besar, dan alhasil perusahaan terbilang kurang menguntungkan kalau dibandingkan dengan katakanlah PT Bukit Asam (PTBA), atau Indo Tambangraya Megah (ITMG).
Meski demikian, dan meski kinerja perusahaan benar-benar turun setelah harga batubara mulai turun pada tahun 2012 lalu, tapi perkembangan operasional perusahaan selama 10 tahunan terakhir ini terbilang memuaskan. Okay, mari kita lihat lagi ADRO hari ini, pertama-tama dari sisi utangnya. Saat ini total kewajiban ADRO tercatat $2.7 milyar, atau sudah lebih kecil dibanding ekuitasnya yang $3.8 milyar. Kedua, biasanya pemilik perusahaan batubara hanya menjadikan perusahaannya tersebut sebagai cashcow dengan menarik dividen besar, kadang sampai 100% labanya setiap tahun, tapi tidak mengembangkan industri hilir dari batubara itu sendiri. Namun ADRO berbeda, dimana meski perusahaan juga membayar dividen yang lumayan, yakni kurang lebih 40% dari laba bersihnya setiap tahun, tapi sisanya yang 60% ini diinvestasikan kembali dalam bentuk peningkatan kapasitas produksi dari tambang yang sudah ada, akuisisi tambang baru (selain Tambang Paringin, ADRO juga memiliki setidaknya enam lokasi tambang lain di Kalimantan Tengah dan Timur, Sumatera Selatan, dan Australia), masuk ke bisnis kontraktor tambang (melalui PT Saptaindra Sejati), akuisisi dan membangun bisnis logistik (kapal tongkang, kapal keruk sungai Barito, coal storage, dan pelabuhan), dan juga pembangkit listrik. Karena disisi lain jumlah utang perusahaan terus mengecil, maka bisa dikatakan bahwa ADRO melakukan ekspansi dengan cukup gencar, namun tetap hati-hati, alias tidak sampai mengambil utang baru.

Alhasil, pada hari ini penulis bisa katakan bahwa ADRO sudah menjadi perusahaan batubara yang lengkap dan terintegrasi, serta memiliki posisi keuangan yang sehat. Sehingga asalkan harga batubara normal saja, maka ADRO akan profit besar lagi, kemungkinan malah lebih besar dibanding perusahaan batubara lain yang cuma punya tambang, tapi mereka gak punya pelabuhan dll. Dalam posisinya sebagai ‘integrated mining company’, saingan ADRO ada dua yakni BUMI, dan Indika Energy (INDY). However, seperti halnya BUMI, INDY juga punya utang yang segunung, yang menyebabkan kinerja labanya sangat fluktuatif dari tahun ke tahun. Dalam hal ini penulis tetap tidak bisa rekomen ADRO untuk long term, karena kita tahu bahwa kalau harga batubara besok-besok turun lagi, maka Om Garibaldi Thohir juga gak akan bisa ngapa-ngapain.
Tapi jika harga batubara naik, maka ADRO akan menjadi coal miner pertama yang bakal jackpot. Dan actually, kinerja ADRO hingga Kuartal III 2019 ini juga terbilang bagus terutama jika mempertimbangkan harga batubara yang turun terus, dimana pendapatannya hanya turun 0.5%, sedangkan labanya masih naik 29.8%, dan ROE-nya juga lumayan di 14.1%. Sebagai perbandingan, tahun 2017 – 2018 lalu ada satu emiten batubara kecil yang labanya tetap saja turun meski harga batubara ketika itu sedang tinggi-tingginya, dan itu ternyata karena di lokasi tambang milik perusahaan sedang hujan lebat terus menerus, sehingga batubaranya belum bisa digali, karena batubara hanya bisa dijual dalam keadaan kering. Nah, untuk ADRO ini penulis bisa pastikan bahwa perusahaan tidak akan mengalami masalah yang sama, karena mereka sudah memiliki infrastruktur pengeringan dan penyimpanan batubara yang lengkap, yang memungkinkan perusahaan untuk menggali batubara dalam keadaan cuaca yang paling ekstrim sekalipun.
Kemudian yang terpenting tentu saja valuasi sahamnya. Tahun 2010 lalu, pada harga saham 2,000-an, ADRO mencatat PBV sekitar 4 kali, dan PER diatas 20 kali, tapi saat ini pada harga 1,350, PBV dan PER-nya masing-masing hanya 0.8 dan 5.8 kali, clearly undervalue ditamah ADRO sekarang berbeda dengan yang dulu, dan ini pula yang menjelaskan kenapa meski sahamnya sempat drop sampai 1,020 pada Agustus kemarin, ketika itu karena sentimen penurunan harga batubara yang ketika itu mencapai $65 per ton, maka ketika harga batubara naik lagi ke level $70 per ton seperti sekarang, ADRO juga dengan cepat naik lagi. Jika besok-besok harga batubara naik ke $75 per ton, misalnya, maka ADRO juga bisa dipastikan bakal rallylagi. Karena bahkan pada harga 2,000 sekalipun, valuasinya belum bisa disebut mahal (PBV 1.1, PER 8.6 kali).
Proyeksi Harga Batubara?
Problemnya tentu, sebagai coal related stock, maka naik turunnya saham ADRO hampir sepenuhnya tergantung pada naik turunnya harga batubara di pasar internasional. That means, mau ADRO membukukan kenaikan laba yang sangat signifikan sekalipun, tapi kalau harga batubara sedang turun, maka sahamnya tetap akan turun. Dan jangankan dalam jangka pendek, dalam jangka panjang sekalipun kita tidak bisa prediksi harga batubara ini. Namun demikian, ketika Agustus lalu batubara akhirnya drop sampai dibawah $70 per ton (dari sebelumnya $100 per ton di awal tahun), maka penulis sendiri mulai tertarik dengan ADRO, dan juga saham-saham batubara lainnya.
Sebab, sudah sejak tahun 2016 lalu, penulis katakan bahwa kalau mengacu pada penilaian dari manajemen beberapa top coal miner, seperti BUMI, United Tractors (UNTR), dan Harum Energy (HRUM), maka mereka rata-rata sepakat bahwa berdasarkan permintaan batubara dari China dll, maka dalam 5 – 10 tahun kedepan, titik tengah harga batubara akan berada di level $70 – 75 per ton. Ini artinya, harga batubara bisa saja terbang sampai $120, atau sebaliknya anjlok sampai $60 per ton, tapi pada akhirnya ya dia akan berada di rentang $70 – 75 tersebut. Sehingga kalau kita melihat bahwa harga batubara di $60-an, maka cepat atau lambat dia akan naik, dan sebaliknya, kalau nanti harga batubara tiba-tiba sudah berada di $100 lagi, maka itulah saatnya profit taking, karena dia akan sulit untuk naik lebih tinggi lagi. Anda bisa baca lagi ulasannya disini. Dan sampai hari ini, penulis bisa katakan bahwa, para perusahaan batubara diatas masih belum mengubah proyeksi mereka terkait harga batubara, alias titik tengahnya masih di $70 – 75 per ton.
Karena itulah, ketika beberapa bulan lalu harga batubara terus turun pelan-pelan dari $100, $90, $80, $70, maka penulis tetap cuek. Tapi ketika Agustus kemarin harganya sudah di $65 per ton, maka barulah kita tertarik, dan ternyata benar bahwa level harga $65 tersebut menjadi titik terendahnya, dan harga batubara kemudian perlahan tapi pasti naik lagi ke $70-an per ton. Nah, dalam hal ini kita tetap tidak bisa prediksi, apakah batubara kedepannya akan stay di kisaran harganya sekarang, turun lebih lanjut (awal tahun 2016 lalu, batubara drop sampai $52 per ton, yang menjadi titik terendahnya dalam 15 tahun terakhir), atau naik dan balik lagi ke rentang $80 – 100 per ton. Tapi seperti halnya harga minyak yang dulu sempat bikin heboh karena drop dari $100 sampai dibawah $30 per barel, tapi kesininya harga minyak ketemu titik tengahnya di rentang $50 – 55 per barel, maka penulis percaya bahwa harga batubara juga gak akan turun hingga ke level yang bikin panik lagi seperti awal 2016 lalu. In the end, seperti halnya minyak yang masih sangat dibutuhkan, batubara juga masih digunakan oleh sekitar 40% pembangkit listrik di seluruh dunia, dan masih merupakan solusi energi yang paling murah dibanding katakanlah gas, tenaga matahari, tenaga angin, dll.
Kesimpulannya, jika anda juga termasuk yang menganggap bahwa harga batubara sekarang sudah cukup rendah dan bisa naik lagi sewaktu-waktu, maka ADRO sudah boleh dibeli. However, jika tidak mau berspekulasi dengan harga batubara, maka waktu terbaik untuk masuk adalah sekitar Februari – Maret mendatang. Sebab para perusahaan batubara, termasuk ADRO, biasanya akan membayar dividen pada bulan Mei. Dan karena saham-saham batubara sekarang sudah rendah semua, maka dividend yield mereka jadi tinggi, sehingga sahamnya bisa naik sejak beberapa bulan sebelumnya bahkan meski harga batubara stagnan. Untuk ADRO, tahun lalu perusahaan membayar dividen Rp55 per saham, sehingga pada harga 1,350, yield-nya mencapai 4%. Well, lumayan tinggi untuk ukuran saham big caps. Dan actually, rendahnya valuasi ADRO ini, baik dari sisi PER, PBV, hingga dividend yield, adalah cerminan dari kondisi pasar saat ini, dimana seiring dengan lesunya pasar sejak 2 – 3 tahun lalu, maka tidak hanya saham yang kecil-kecil, tapi saham yang besar dan populer pun sudah pada murah semuanya. Jadi mungkin next time kita akan bahas lagi saham besar lainnya, yang juga sudah murah.
PT Adaro Energy, Tbk (ADRO)
Rating Kinerja pada Kuartal III 2019: A
Rating Saham pada 1,350: AA
Ebook Rekomendasi Saham edisi Desember, plus analisa window dressing dll sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber. Info telp/WA 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ramayana Lestari Sentosa

Beberapa bulan lalu, tepatnya Juni 2019, penulis menyampaikan bahwa, karena sekarang ini jamannya sudah serba internet, maka para emiten di BEI dituntut untuk go online dalam memasarkan produk dan jasa mereka, termasuk harus membuat ‘official store’ entah itu dalam bentuk website, Facebook Fan-page, hingga mendaftar di marketplace seperti Bukalapak atau Tokopedia. Sedangkan perusahaan yang tetap berjualan dengan cara tradisional, alias hanya menunggu pembeli datang ke toko, maka mereka hampir bisa dipastikan akan kalah bersaing. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

***
Ebook Rekomendasi Saham edisi Desember, plus analisa window dressing dll sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber. Info telp/WA 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Karena itulah, ketika kita menganalisis fundamental sebuah emiten/saham, maka selain membaca laporan keuangannya dll, sekarang ini kita juga harus melihat, apakah manajemennya juga sudah menerapkan strategi go online, atau belum. Dan salah satu emiten yang sukses mengikuti perkembangan jaman tersebut adalah PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk (RALS). Meski berstatus sebagai salah satu perusahaan department store paling terkemuka di Indonesia, namun posisi RALS tetap ikut terancam oleh kehadiran toko-toko online yang menjamur. Beruntung, manajemen gerak cepat dengan juga membuka toko online-nya sendiri, www.ramayana.co.id, dan juga menerapkan banyak upaya go online lainnya. Alhasil, hingga Kuartal III 2019, perusahaan membukukan laba Rp612 milyar, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp527 milyar, dan laba tersebut mencerminkan ROE 19.8%, clearly good untuk ukuran perusahaan ritel. Anyway, mari kita coba pelajari lagi RALS sejak awal.
Sejarah PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk bermula di tahun 1978 ketika pendiri perusahaan, Paulus Tumewu, membuka toko pakaian dengan nama ‘Ramayana’ di Jln. Sabang, Jakarta, dengan segmen pasar menengah kebawah. Toko tersebut maju pesat, sehingga di tahun-tahun berikutnya Mr. Tumewu membuka beberapa toko cabang, hingga pada tahun 1989, Grup Ramayana sudah memiliki 13 toko yang tidak lagi hanya menjual pakaian, tapi juga sepatu, tas, mainan, dan kebutuhan rumah tangga. Tahun 1994, Ramayana mulai menerapkan konsep one stop shopping, alias tidak lagi sekedar membuka toko tapi sudah membuat department store termasuk supermarket, dan pada tahun inilah PT Ramayana Lestari Sentosa resmi berdiri. Perusahaan kemudian listing di BEI pada tahun 1996, yang kemudian disusul dengan pembukaan dept. store pertamanya di luar Jawa, tepatnya di Bali.
Hingga hari ini, atau genap 40 tahun sejak toko Ramayana pertama resmi dibuka, RALS sudah memiliki setidaknya 119 gerai Ramayana, Robinson, dan Cahaya, yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk 4 gerai ‘Ramayana Prime’ yang baru dibangun tahun 2017 – 2018 lalu. Beberapa poin yang penulis sukai dari RALS adalah:
  1. Perusahaan fokus di bidangnya yakni gerai dept. store dengan target pasar menengah kebawah, dimana kita tahu bahwa segmen pasar inilah yang paling anti krisis atau resesi,
  2. Utangnya kecil, malah boleh dibilang gak punya utang kecuali utang usaha,
  3. Bisnisnya gampang dan sederhana (jual baju tok, dan kebutuhan sehari-hari),
  4. Laporan keuangannya juga sederhana dan ‘bersih’, dan
  5. Pemilik sekaligus pendiri perusahaan (Pak Paulus) masih terjun langsung sebagai komisaris utama.
However, kemungkinan karena RALS ini juga memiliki power of brand yang cukup kuat, maka valuasinya selama ini relatif premium dengan PBV 2.5 – 3 kali, yang meskipun itu mungkin sepadan dengan kualitas fundamentalnya yang memang bagus, tapi sekarang ini di BEI ada banyak saham lain yang valuasinya jauh lebih murah. Kemudian karena sejak beberapa tahun lalu penulis sendiri menganggap bahwa bisnis dept. store perlahan akan digantikan oleh toko pakaian online, maka jadilah kita tidak tertarik dengan sahamnya, dan saya baru melirik RALS sekarang, yakni ketika valuasinya relatif sudah reasonable (PER 8.3 dan PBV 1.7 kali, pada harga saham 1,000), sedangkan prospeknya, setelah kita pelajari lagi, tetap cerah karena manajemen terus bekerja keras untuk mengikuti perkembangan jaman serta perubahan cara belanja dan selera konsumen. Yup, sejak tahun 2016 kemarin, RALS mulai merombak desain, tata letak, dan display untuk setiap gerainya, agar lebih ‘kekinian’ dan lebih diterima konsumen millenial. RALS juga berkolaborasi dengan selebritis (Rafi Ahmad dan Nagita Slavina) sebagai bintang iklan, meluncurkan hashtag #kerenhaksegalabangsa (yang mungkin terdengar rada gimana gitu, tapi ingat bahwa konsumen RALS berbeda dengan katakanlah konsumen Louis Vuitton), melakukan efisiensi termasuk menutup beberapa gerai yang merugi (jadi ibaratnya cut loss di beberapa toko, lalu duitnya lalu dipake untuk merombak toko yang masih profit agar profitnya lebih besar lagi), dan mulai menyewakan toko di lokasi dept. store-nya untuk berbagai tenant (Breadtalk, J.Co, Cinema XXI, dst) untuk tujuan untuk meramaikan dept store itu sendiri.

Salah satu gerai Ramayana Prime
Kemudian terkait strategi go online, sejak tahun 2016 lalu RALS mulai menjual pakaian melalui website resminya, membuka official store di Tokopedia, Lazada, dan Shopee (dua marketplace yang disebut terakhir memang spesialis jualan produk fashion), pasang iklan jor-joran di Youtube (pada bulan puasa tahun lalu, iklan Ramadhan Ramayana dengan hashtag #kerenlahirbatin sukses menjadi iklan No.1 di Youtube, dengan meraih 16 juta view dan 11,000 komentar), hingga berkolaborasi dengan partner e-wallet (Gopay, Ovo, Dana) Kombinasi antara modernisasi toko fisik yang sudah ada (termasuk mengubah orientasi dept. store dari tadinya tempat belanja, menjadi tempat nongkrong dan makan), plus ekspansi ke toko online yang lebih efisien/biayanya lebih murah, pada akhirnya sukses mendorong laba bersih RALS untuk tumbuh signifikan terutama sejak tahun 2016 lalu, dan itu justru terjadi ketika daya beli masyarakat sejatinya cenderung turun dimana perusahaan dept. store lain boleh dibilang megap-megap. Manajemen RALS bahkan berani berekspansi dengan membuka ‘Ramayana Prime’, yang merupakan lifestyle mall dengan target pasar menengah keatas, dimana perusahaan mentargetkan akan memiliki setidaknya 19 gerai Ramayana Prime pada akhir tahun 2020 (saat ini perusahaan baru punya 5 gerai). Meski langkah ini tergolong berani, tapi boleh dibilang bahwa RALS tidak mengambil risiko berarti karena pembukaan gerai baru itu seluruhnya dibiayai oleh kas internal perusahaan, alias tanpa utang, sedangkan disisi lain posisi kas RALS juga sangat besar. Per Kuartal III 2019, dari total aset perusahaan senilai RpRp5.3 trilyun, Rp2.8 trilyun diantaranya merupakan kas. Menariknya, dalam lima tahun terakhir perusahaan rutin membayar dividen dalam jumlah besar, dalam hal ini antara 55 – 66% labanya setiap tahun, sehingga jika perusahaan tidak membayar dividen sebesar itu, maka jumlah cash-nya bakal lebih besar lagi.
Kesimpulannya, well, kita bisa katakan bahwa RALS ini punya kinerja bagus, manajemennya bagus, bisnisnya gampang, perusahaan punya competitive advantage sebagai market leader di bidangnya, dan prospeknya juga cerah karena perusahaan sudah 100% siap untuk go online. Kalau ada beberapa hal yang menjadi concern adalah, pertama, sejauh ini pendapatan RALS dari unit usaha online-nya masih sangat kecil, yakni 0.5% dari total pendapatan perusahaan. Sehingga dalam hal ini kita hanya bisa mengatakan bahwa perusahaan baru sekedar siap untuk go online saja, tapi realisasinya masih perlu waktu. Kedua, kinerja RALS terbilang musiman, dimana pendapatan serta labanya biasanya naik banyak ketika menjelang lebaran, tapi setelah itu drop lagi, yang artinya kinerjanya akan tampak tidak stabil dari kuartal ke kuartal, dan ini bisa mempengaruhi sahamnya dalam jangka pendek kalau misalnya di kuartal tertentu labanya turun. Dan ketiga, karena selama ini RALS dikenal sebagai dept. store untuk menengah kebawah, maka belum ada jaminan bahwa ‘Ramayana Prime’, yang mengincar segmen pasar yang menengah keatas, bakal langsung sukses.
Anyway, kesemua concern diatas bisa dibilang tidak terlalu jadi masalah. Contohnya, memang kinerja RALS bisa turun setelah moment lebaran, tapi kan moment lebaran ini terjadi saban tahun, sehingga kalau kita melihat kinerjanya secara tahunan, maka laba RALS sejauh ini terus naik sejak 2016. Jadi jika kita kembali melihat poin-poin positifnya, maka RALS tetap layak invest.
Kemudian kebetulan, seiring dengan masih lesunya pasar/IHSG, sahamnya juga ikut turun hingga ke level dimana valuasinya menjadi lebih masuk akal, albeit kalau berdasarkan historisnya, RALS pernah juga turun sampai PBV-nya persis 1.0 kali, tahun 2015 lalu, ketika itu karena IHSG sendiri memang drop di tahun tersebut. Yup, jadi meski RALS ini dari semua sisi terbilang layak invest, tapi kelemahannya terletak di pergerakan sahamnya, yang terbilang gampang naik dan turun tergantung pergerakan IHSG (jadi beda dengan katakanlah saham-saham anti koreksi pasar berikut ini). Termasuk di tahun 2019 ini, dimana IHSG mulai turun sejak bulan April lalu, maka demikian pula saham RALS mulai drop dari bulan April tersebut dan belum naik lagi sampai sekarang, dan dengan penurunan yang juga sangat signifikan (dari 1,800 ke 1,000).
Disisi lain, asalkan pasarnya tidak sedang kumat saja, maka RALS ini gampang banget naiknya, karena sejak awal barangnya memang bagus. Termasuk jika anda masuk ke sahamnya pada harga 1,200, persis setahun lalu (November 2018), maka hanya dalam tiga bulan berikutnya, RALS dengan cepat naik hingga tembus 1,800, seiring dengan kenaikan IHSG ketika itu. Dan itu artinya? Yep, karena kita pada dasarnya tidak bisa memprediksi arah IHSG, maka kita juga tidak bisa memprediksi kemana RALS akan bergerak dalam jangka pendek – menengah, selain karena sahamnya sampai sekarang, kalau kata orang teknikal, masih strong downtrend (bisa lanjut turun sampai 800). Meski demikian, penulis bisa tegaskan bahwa pada kisaran harganya sekarang (900 – 1,000), RALS sudah tergolong murah, sehingga kalaupun dia tidak langsung naik lagi dalam jangka pendek, yakni jika koreksi pasar masih berlanjut, tapi sahamnya pada akhirnya tetap akan naik lagi, karena pasar juga tidak akan selamanya turun terus. Sedangkan jika IHSG melanjutkan tradisinya untuk pulih pada bulan Desember – Januari – Februari, maka tentu saja RALS juga akan lebih cepat naiknya, dan dengan kenaikan yang juga signifikan.
PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk
Rating Kinerja Q3 2019: AA
Rating Saham 1,000: A

Untuk artikel minggu depan, silahkan anda pilih: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan batubara, 2. Analisa terkait anjloknya kinerja sejumlah reksadana, termasuk bagaimana pengaruhnya terhadap IHSG dan/atau saham-saham tertentu, 3. Ciri-ciri saham multibagger, 4. Market outlook 2020, 5. Analisa saham tertentu seperti RALS ini (sebutkan nama sahamnya).
Ebook Rekomendasi Saham edisi Desember, plus analisa window dressing dll sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber. Info telp/WA 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Penyebab Anjloknya Saham-Saham IPO/Gorengan, dari Sudut Pandang Value Investing

Setahun lalu, tepatnya tanggal 28 September 2018, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sejarah dimana jumlah saham yang melantai di bursa pada hari itu genap berjumlah 600 saham/emiten, ketika itu dengan mulai diperdagangkannya saham PT Natura City Developments, Tbk (CITY). Sebagai catatan, antara tahun 2009 – 2015, jumlah emiten yang sahamnya diperdagangkan di BEI hanya tumbuh sedikit dari 350-an menjadi 400-an, dan barulah setelah tahun 2015 tersebut jumlah emiten ini melonjak hingga menjadi 600-an emiten pada tahun 2018. Di satu sisi ini terbilang bagus, karena sekarang investor di bursa jadi punya lebih banyak pilihan investasi di banding sebelumnya. However, setelah penulis pelajari satu persatu saham-saham anyar ini, saya kemudian jadi jengkel sendiri. Kenapa?

***
Ebook Rekomendasi Saham edisi Desember, plus analisa window dressing dll akan terbit tanggal 1 Desember mendatang, dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber. Info telp/WA 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Sebab mayoritas dari saham-saham IPO ini (meski tidak semuanya, baca lagi ulasannya disini), punya kecenderungan sebagai berikut:
  1. Perusahaannya termasuk perusahaan kecil gak jelas, bahkan ada yang baru berdiri 3 – 4 tahun sebelum tanggal IPO-nya itu sendiri.
  2. Fundamentalnya rata-rata nol besar, termasuk banyak juga yang perusahaannya masih merugi tapi sudah IPO.
  3. Sudah fundamental jelek, valuasi sahamnya gila-gilaan mahalnya. Contohnya saham Bali United (BOLA), masa iya valuasinya mencapai separuh valuasi Inter Milan? Memangnya Bali United ini pernah juara Liga Champions gitu?? (baca lagi ulasannya disini).
  4. Meski valuasinya sejak awal mahal, tapi sahamnya tetap aja naik banyak. Contohnya CITY itu tadi, yang pada hari perdagangan perdananya melompat dari 120 sampai mentok di 204, atau auto reject 70%. Tapi anehnya, kenaikan tersebut terjadi nyaristanpa volume transaksi sama sekali. Sehingga kemudian muncul tuduhan bahwa ketika perusahaan kecil gak jelas IPO, maka yang ambil sahamnya sebenernya owner-nya sendiri, Kemudian mereka akan melakukan transaksi kecil-kecil agar harganya dipasar naik terus (yang beli dan yang jual adalah pihak yang sama, meski tentunya pake beberapa rekening berbeda), alias menggoreng sahamnya, dan setelah harganya diatas maka barulah Mr. Bandar ini mulai jualan ke investor publik, sehingga mereka memperoleh keuntungan substansial yang, ironisnya, berasal dari kerugian investor.
Alhasil, penulis sendiri termasuk yang jarang sekali beli saham yang baru IPO, apalagi yang kemudian naik banyak sedangkan fundamentalnya sama sekali tidak mendukung. Karena kita sudah hafal bahwa, mau dikerek setinggi apa, pada akhirnya saham-saham itu akan jatuh lagi, dan dengan persentase penurunan yang tidak kalah gilanya. Jadi ketika dalam sebulanan terakhir ada banyak saham IPO yang rontok, maka itu adalah sesuatu yang sudah kita perkirakan sejak jauh hari. Termasuk saham CITY diatas, yang meski sempat dikerek naik sampai 478, tapi ketika ulasan ini ditulis, dia sudah balik lagi ke 111, alias drop 76.8%. Beberapa saham IPO lainnya yang juga rontok adalah sebagai berikut (data berikut ini hanya merupakan contoh yang belum lengkap, jadi anda mungkin bisa menambahkan sendiri):
Kode Saham
Harga tertinggi (1 tahun)
Harga sekarang
(%)
ENVY
3,040
880
-71.1
JSKY
1,000
234
-76.6
DEAL
2,130
488
-77.1
DFAM
1,150
384
-66.6
TGRA
910
158
-82.6
LUCK
2,050
500
-75.6
BOSS
2,400
206
-91.4
BAPI
254
50
-80.3
FILM
1,200
183
-84.8
FORZ
990
202
-79.6
Ada yang pegang saham-saham ini?

Nah, dalam situasi seperti ini maka komentar yang muncul biasanya, OJK ngapain aja? Kenapa para bandar ini dibiarkan berkeliaran? Dan bagaimana bisa BEI meloloskan IPO-IPO seperti ini?? Termasuk ketika penulis memenuhi undangan dari BEI Jawa Barat untuk memberikan edukasi pengenalan investasi saham di Kota Cirebon, beberapa waktu lalu, salah seorang peserta memang bertanya (kepada perwakilan dari BEI yang juga ikut hadir): Kenapa sekarang ini banyak sekali IPO yang tidak berkualitas, yang sahamnya ujung-ujungnya cuma jadi gorengan? Sebagai catatan, ketika itu belum banyak saham gorengan IPO yang jatuh berantakan seperti sekarang, tapi peserta yang bertanya ini sepertinya sudah cukup paham bahwa, meskipun saham-saham IPO ini ketika itu belum turun, tapi tetap saja mereka tidak layak invest.
Kejatuhan Saham-saham IPO = Peluang Multibagger?
Karena penulis sendiri, dari posisi saya sebagai investor, juga punya pandangan sendiri terkait fenomena ‘saham IPO yang liar’ ini, maka setelah perwakilan dari BEI memberikan jawabannya, saya juga ikut menjawab sebagai berikut: Salah satu penyebab minimnya partisipasi masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal, adalah karena syarat untuk menjadi investor itu sendiri sangat berat, tapi semakin kesini syarat-syarat tersebut semakin dipermuda. Contohnya, pada awal tahun 2000-an, minimal setoran pembukaan rekening di sekuritas adalah Rp25 juta, yang tentu saja tidak akan terjangkau oleh katakanlah mahasiswa atau karyawan entry level. Tahun 2010, angkanya turun menjadi Rp5 juta, dan sekarang turun lagi menjadi Rp1 juta, sehingga bahkan anak sekolahan pun bisa invest. Inilah salah satunya yang kemudian menyebabkan jumlah investor ritel di bursa meningkat signifikan, terutama sejak ramai kampanye Yuk Nabung Saham!, tahun 2015 lalu.
Nah, itu dari sisi jumlah investor. Sedangkan dari sisi perusahaan Tbk itu sendiri, maka jumlahnya juga masih sangat sedikit. Sebagai perbandingan, sekarang ini di Stock Exchange of Thailand terdapat 700-an saham terdaftar, di Bursa Malaysia terdapat 900-an saham, dan di Singapore Exchange terdapat 1,200 saham. Jika mau perbandingan yang lebih ekstrim, maka di New York Stock Exchange terdapat lebih dari 7,000 saham berbeda, sehingga 600-an saham yang terdaftar di BEI tentu saja masih sangat sedikit. Padahal, berdasarkan data dari Kementerian Hukum dan HAM, di Indonesia terdapat setidaknya 40,000 Perseroan Terbatas (PT). Namun ketatnya syarat dari BEI bagi perusahaan-perusahaan yang hendak IPO, menyebabkan jumlah perusahaan Tbk di Indonesia amat sangat sedikit dibandingkan total jumlah perusahaan yang ada.
Disisi lain, minimnya jumlah perusahaan yang terdaftar menyebabkan volume transaksi tidak likuid, dan pasar saham Indonesia itu sendiri jadi sulit untuk berkembang. Karena itulah, sejak tahun 2015 lalu, pihak SRO (self regulated organization, alias BEI, OJK, dkk) tidak hanya mempermudah syarat bagi perusahaan untuk IPO, tapi mereka bahkan banyak melakukan seminar dan workshop untuk mengajak perusahaan-perusahaan itu sendiri, untuk menggelar IPO. Hasilnya, seperti yang sudah disampaikan diatas, jumlah perusahaan Tbk di bursa meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir (sampai dengan ketika artikel ini ditulis, jumlah emiten di BEI sudah mencapai 662 emiten), dan volume transaksi di BEI tetap ramai meski dalam dua atau tiga tahunan terakhir, investor asing terus keluar dari sini. Namun efek sampingnya ya seperti yang juga sudah disebutkan diatas: Ada banyak perusahaan gak jelas, yang sebenarnya dilihat dari sisi manapun tidak layak invest (kecuali kalau anda hendak spekulasi jangka pendek, dengan membeli saham yang diharapkan akan dikerek naik oleh bandarnya), tapi bisa ikutan IPO.
Tapi selama kita bisa menilai mana perusahaan yang bagus, mana saham yang murah, maka sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yep, dalam hal ini kita bisa lihat contoh investasi bodong kampung kurma (lagi rame ini, coba googling aja), dimana korbannya mencapai ratusan (atau ribuan?) orang. Tapi jika anda sejak awal sudah mengerti bahwa skema yang ditawarkan kampung kurma itu sejatinya mencurigakan (baca lagi penjelasannya disini, waktu itu kita bahas soal penipuan Golden Traders), maka ya anda juga tidak akan menjadi salah satu korbannya. Demikian pula dengan ramainya saham-saham IPO: Itu kan seperti ada orang yang datang menawarkan peluang investasi kepada anda, tapi setelah anda pelajari lagi ‘peluang’ tersebut (dan ini gak ribet kok, tinggal baca aja prospektus-nya), ternyata itu cuma investasi bodong. Maka, tidak ada seorangpun yang kemudian memaksa anda untuk membeli ‘saham bodong’ tersebut bukan?
However, berbeda dengan kampung kurma yang hampir pasti bakal wassalam, maka tidak semua ‘saham IPO bodong’ ini bakal bernasib seperti saham MYRX dkk. Sekarang begini: Mayoritas perusahaan yang baru IPO ini, fundamental mereka memang jelek, tapi bisa saja kinerja perusahaan tersebut akan jadi bagus di masa yang akan datang bukan? Sehingga sahamnya pun akan naik lagi, dan kali ini kenaikannya bukan lagi karena digoreng bandar, melainkan murni karena mekanisme pasar yang wajar. Contohnya? Charoen Pokphand Indonesia (CPIN)! Bagi yang belum tahu, sebelum tahun 2010 lalu, CPIN ini kinerjanya buruk, dan sahamnya juga gak kemana-mana di level 200 – 300 perak. Tapi ketika perusahaan kemudian sukses meluncurkan produk olahan daging ayam (nuget, sosis, dll), maka jadilah perusahaan panen laba, dan sahamnya juga naik signifikan dan gak turun lagi, sampai hari ini. Contoh yang lebih ekstrim, pada tahun 1998 – 2000 lalu, saham Astra International (ASII) juga termasuk saham blangsak yang gak kemana-mana di level 100 – 200 (itu sebelum stocksplit, kalau sesudah stocksplit berarti setara 10 – 20 perak), karena memang ekuitas perusahaannya sendiri negatif. But thanks to commodity booming, dalam 10 tahunan berikutnya ASII kemudian sukses membukukan kinerja yang sangat bagus, dan sahamnya sekarang sudah menjadi salah satu top bluechip di BEI.
Nah, jadi dari banyak saham yang baru IPO ini, kalau mereka langsung terbang hingga valuasinya menjadi gak masuk akal, maka ya sudah biarkan saja, karena cepat atau lambat sahamnya bakal jeblok lagi (dan memang itu sudah kejadian hari ini). Tapi ketika saham-saham itu akhirnya turun, maka coba cek lagi: Mungkin saja valuasi mereka sekarang sudah murah. Dan kalau misalnya fundamentalnya memang jelek, maka kita tetap tidak boleh beli sahamnya, tapi saham-saham ini boleh kita masukkan ke ‘kotak watchlist’, alias daftar saham-saham yang setiap tiga bulan sekali kita cek lagi laporan keuangan terbarunya, dimana kalau perusahaan menunjukkan perbaikan kinerja, maka itulah waktunya untuk masuk. Actually, dengan cara inilah kita berpeluang untuk menemukan CPIN dan ASII berikutnya, dan meraih keuntungan multibagger alias profit hingga 2 kali lipat atau lebih, karena sejak awal kita membeli saham yang valuasinya sangat terdiskon, yang kemudian naik banyak bukan karena digoreng bandar, tapi memang karena fundamentalnya bagus.
Sehingga, balik lagi ke pertanyaan diatas, kenapa BEI banyak meloloskan IPO yang tidak berkualitas? Maka jawaban penulis, untuk sekarang ini yang penting jumlah saham di BEI jadi banyak saja dulu/perusahaan-perusahaan tadi IPO saja dulu. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, maka dari ratusan saham IPO ini, pasti ada saja emiten-emiten yang kinerjanya kemudian jadi bagus bukan? Demikian pula, mau sahamnya dikerek setinggi apa, maka in the end saham tersebut akan turun lagi, dan valuasinya jadi murah lagi. Nah, jika kita kemudian bisa ambil saham berfundamental bagus yang harganya sudah murah tersebut, maka keuntungan yang dihasilkan juga akan lumayan, dan bahkan justru dari sinilah kita bisa memperoleh profit multibagger.
Sehingga dalam hal ini, yang kita lihat bukanlah fenomena banyaknya IPO, atau banyaknya saham IPO gorengan yang jatuh berantakan seperti yang terjadi belakangan ini, melainkan kita melihatnya jauh kedepan. Yakni ketika saham-saham gorengan ini satu per satu balik lagi ke valuasi yang seharusnya, dan dari tumpukan sampah inilah (baca: emiten-emiten berfundamental buruk), kita justru bisa menemukan ‘mutiara terpendam’, yakni jika laporan keuangan mereka suatu hari nanti menunjukkan peningkatan laba yang signifikan. Nah, karena para saham gorengan ini memang sudah mulai turun, dan beberapa diantaranya juga sekilas sudah murah (PBV nol koma), maka kita sekarang tinggal cek laporan keuangan (LK) mereka, satu per satu. Dan kalau nggak ketemu yang LK-nya bagus, maka ya coba lihat lagi kuartal depan, atau tahun depan bagaimana. As simple as that!
***
Jadwal Kelas Value Investing: Cara Menilai Fundamental Perusahaan, dan Menghitung Harga Saham. Untuk saat ini belum ada jadwal lagi (jadwal terdekat sekitar Januari 2020), namun anda bisa memperoleh rekaman seminarnya disini. Tersedia rekaman terbaru lengkap dengan slide materinya, dan excel ‘kalkulator saham’ untuk menghitung harga wajar saham.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning)

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis telah bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka minimal jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas, sedangkan manajemen perusahaannya sendiri bermasalah. Contoh saham gorengan Hanson International(MYRX), Trada Alam Minera (TRAM), Sugih Energy (SUGI), dst. Sehingga dalam hal ini, ebook ini secara tidak langsung akan membantu anda untuk menghindari saham-saham spekulan tersebut.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan di laporan keuangan terbarunya, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan:
  1. Tingkat rekomendasi, dimana beberapa saham mungkin lebih direkomendasikan dibanding saham lainnya,
  2. Tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, dimana beberapa saham memiliki risiko rendah, sedangkan lainnya memiliki risiko tinggi,
  3. Harga beli yang disarankan, termasuk (jika ada) target harganya, dan
  4. Jangka waktu investasinya, apakah saham tersebut cocok untuk jangka pendek, menengah, atau bisa untuk tabungan jangka panjang (legacy stock).
Seluruh analisa di ebooknya ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan to the point. Jadi jika anda bisa memahami analisa saham yang disampaikan disini, maka anda juga akan bisa menyerap isi ebooknya dengan baik. Ebooknya sudah terbit pada bulan November 2019, dan anda bisa langsung memesannya disini.

Screenshot dari 8 halaman pertama isi ebooknya
Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Tugas wajib bagi investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘multibagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee + selling tax yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan biayanya bahkan akan lebih murah lagi jika anda berlangganan untuk jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi semua pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, praktisi value investing pertama di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).

***

Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Telp/SMS/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti), atau 0812-2044-5202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomor yang satunya.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Anda pembaca baru TeguhHidayat.com? Kalau gitu anda mungkin tertarik untuk membaca koleksi EIP edisi-edisi sebelumnya, tentunya dengan harga diskon. Info selengkapnya baca disini.

Testimonial (klik gambar untuk memperbesar)

Mengenal Exchange Traded Fund (ETF), Termasuk Potensi Keuntungan dan Risikonya

Dalam berinvestasi di saham, ada sejumlah peraturan tidak tertulis yang harus dipatuhi jika kita ingin meraih profit konsisten. Dan salah satu peraturan tidak tertulis tersebut adalah terkait diversifikasi portofolio, dimana di blog ini penulis juga sudah sering kasih tips-tips tentang cara melakukan diversifikasi yang baik dan benar. However, berdasarkan pengamatan penulis selama ini, peraturan diversifikasi inilah yang sering dilanggar oleh investor, baik pemula maupun berpengalaman. Contohnya, sering terjadi seorang investor menempatkan lebih dari separuh porto-nya hanya pada saham A, karena ia sangat yakin bahwa ‘pilihannya tidak mungkin salah’, dan/atau karena ia berharap bahwa jika benar saham A itu naik banyak, maka dampak profitnya terhadap kinerja portonya secara keseluruhan akan sangat signifikan.

***
Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, namun anda bisa memperoleh rekaman seminarnya disini. Tersedia rekaman terbaru lengkap dengan slide materinya, dan excel ‘kalkulator saham’, plus bonus Ebook ‘How to be a Full Time Investor’.

***
Dan meski strategi ‘menaruh hampir seluruh telur hanya dalam 1 keranjang’ ini terkadang memang sukses menghasilkan jackpot, misalnya jika saham A tadi beneran naik banyak, namun dalam jangka panjang pada akhirnya porto anda akan berantakan, dan secara ilmu statistik itu bisa dijelaskan. Sekarang begini: Kalau anda membeli sepuluh saham yang berbeda dimana kesepuluh saham tersebut sudah dipilih dengan hati-hati (fundamental bagus, prospek bagus, valuasinya murah atau wajar), maka dalam kondisi pasar yang tidak sedang terkoreksi sekalipun, biasanya ada saja satu atau dua saham yang ternyata malah turun, but it’s okay selama saham-saham lainnya masih naik, dan total profit yang anda peroleh akan lebih besar dibanding ruginya. Namun bagaimana kalau anda hanya membeli satu saham, dan ternyata dia turun? Maka ya sudah, porto anda akan langsung berantakan sama sekali.
Tapi pak Teguh, kalau satu saham yang dibeli itu naik banyak, maka untungnya bakal gede toh? Betul, tapi masalahnya, mungkin ndak setiap kali kita beli satu saham, dan hanya satu saham itu saja, maka dia akan selalu langsung naik? Nggak mungkin kan? Karena ada banyak skenario yang bisa terjadi selain skenario bahwa saham itu akan langsung naik tak lama setelah anda membelinya, misalnya dia bergerak mendatar dulu lalu lama kemudian baru naik, atau turun dulu lalu baru naik, atau yang terburuk, turun dan tak pernah naik kembali. Problemnya, tak peduli berapapun hasil profit yang dihasilkan dari strategi all in ini sebelumnya, maka ketika anda mengalami satu kali ‘terpeleset’ itulah, kerugian yang diderita bisa menyapu habis seluruh keuntungan yang diperoleh sebelumnya. Strategi all in seperti ini juga sangat berbahaya dalam kondisi pasar bearish/IHSG turun, karena mayoritas saham di BEI lebih fluktuatif dibanding IHSG itu sendiri, sehingga satu saham yang anda pegang itu bisa drop 5 – 10% sendiri (dan artinya porto anda secara keseluruhan juga turun segitu, karena anda gak pegang saham lain, dan juga gak pegang cash), ketika IHSG sejatinya cuma turun 1 – 2%.
Karena itulah, penulis sendiri belum pernah ketemu investor besar yang menempatkan seluruh portonya hanya dalam 1, 2, atau 3 saham. Termasuk Pak Lo Kheng Hong, beliau memegang kurang lebih 20 – 30 saham berbeda dalam satu waktu. Dan salah satu alasan kenapa Pak LKH bisa tetap santai ketika memegang katakanlah saham Petrosea (PTRO) sejak lebih dari lima tahun lalu, tak peduli selama itu PTRO ini bahkan pernah drop sampai 300 perak, adalah karena PTRO ini tidak menjadi satu-satunya saham di portonya, melainkan ada banyak lagi saham-saham lainnya, yang bisa jadi naik banyak ketika PTRO sedang dapet gilirannya untuk turun.
Okay, tapi balik lagi, alasan kenapa investor kadang malas menerapkan diversifikasi adalah karena, jangankan 20 saham, memegang 5 – 10 saham berbeda saja mereka sudah pusing, karena itu kan artinya ke-10 saham itu harus dianalisa satu per satu, dan juga harus diawasi setiap beberapa waktu sekali, siapa tahu salah satu dari mereka mengalami perubahan fundamental yang menyebabkan sahamnya tidak layak invest lagi. Seperti jika keluarga anda dirumah punya 2 orang anak, dibanding dengan punya 10 orang anak, maka pusingnya pasti beda. Bagi investor full time, hal ini sejatinya tidak akan jadi masalah, karena sudah pekerjaan sehari-hari mereka menganalisa. Tapi bagi investor paruh waktu yang masih punya kesibukan lain, maka memegang banyak saham berbeda seperti ini bisa sangat merepotkan.
Exchange Traded Fund = Diversifikasi Otomatis
Nah, jadi ketika penulis baca-baca lagi tentang exchange traded fund atau ETF, maka saya kemudian tercerahkan: Mungkin ETF inilah yang bisa menjadi solusi bagi investor yang sulit menerapkan diversifikasi, dan khususnya dalam kondisi pasar yang masih cenderung bearishdalam dua tahun terakhir. Yang dimaksud ETF adalah semacam reksadana yang pemilihan sahamnya mengikuti indeks tertentu, atau kelompok saham tertentu. Let say, anda membeli unit ETF LQ45. Maka, dana anda akan secara otomatis disebar ke semua saham yang merupakan komponen indeks LQ45 (apa itu indeks LQ45? Baca penjelasannya disini), seperti BBCA, TLKM, BBRI, dan seterusnya hingga sebanyak total 45 saham berbeda (karena ada 45 saham yang menjadi komponen indeks LQ45). Sehingga NAV atau harga dari reksadana ETF LQ45 tersebut akan naik dan turun mengikuti naik dan turunnya indeks LQ45 itu sendiri, boleh dibilang dengan pergerakan yang nyaris identik.
Kemudian karena pergerakan indeks LQ45 sangat mirip dengan pergerakan IHSG, maka investasi anda di ETF LQ45 tadi juga akan naik dan turun selaras dengan IHSG (dan ini juga perbedaan utama antara ETF dengan reksadana biasa, dimana kinerja reksadana biasa bisa lebih rendah atau lebih tinggi dibanding IHSG, karena pemilihan sahamnya terserah si fund manager, alias tidak mengikuti komponen indeks saham tertentu). Nah, karena kita tahu bahwa, meski IHSG bisa turun sangat signifikan sewaktu-waktu, tapi toh pada akhirnya dia akan naik kembali, maka investasi ETF ini pada akhirnya akan memberikan keuntungan signifikan. Jadi beda dengan jika anda beli saham A, B, C, misalnya, dimana ketiga saham ini bisa saja ikut anjlok ketika pasar turun, tapi ketika pasar kembali pulih maka ketiga saham ini tidak ikut naik (hayo, pernah ngalamin gak? Penulis pernah). Investasi ETF ini juga bisa memberikan anda keuntungan ekstra jika anda bisa membaca situasi dan arah pasar. Misalnya, jika dalam satu waktu anda melihat IHSG sudah naik terlalu tinggi dan valuasi saham-saham sudah terlalu mahal, maka anda bisa jual dulu unit ETF yang anda pegang, minimal sebagian diantaranya. Dan jika kemudian IHSG drop, anda bisa beli lagi unit ETF yang sama, tentunya pada harga yang lebih rendah.

Beberapa keuntungan yang ditawarkan investasi ETF, versi Bursa Efek Indonesia. Klik gambar untuk memperbesar

Selain ETF LQ45, beberapa ETF lainnya mengikuti indeks-indeks lain yang ada di bursa (daftar indeks saham di BEI bisa dilihat disini), seperti IDX30, Jakarta Islamic Index (JII), Sri-Kehati, Bisnis27, dan seterusnya. Jadi kalau anda katakanlah hanya ingin membeli saham-saham syariah, maka boleh ikut ETF Jakarta Islamic Index. Yang tidak ada adalah ETF IHSG, karena tentunya tidak mungkin bagi seorang fund manager yang mengelola ETF tersebut untuk membeli semua saham yang ada di BEI (yang jumlahnya, ketika artikel ini ditulis, total 662 saham), termasuk diantaranya saham-saham tidur, saham-saham yang di-suspen, saham gocap bin laknat, saham yang baru IPO, dan saham gorengan model MYRXdkk. Namun karena seperti yang disebut diatas, pergerakan indeks LQ45 terbilang mirip dengan IHSG, maka anda bisa ambil ETF LQ45 ini saja. Dan dalam jangka panjang, keuntungan investasi yang anda hasilkan akan kurang lebih setara dengan kinerja IHSG.
Okay Pak Teguh, lalu dimana saya beli ETF ini? Well, karena ETF ini termasuk baru, maka belum ada banyak sekuritas/perusahaan asset management yang menjualnya. Namun daftar manajer investasi yang sudah menjual ETF bisa dilihat disini (saya gak bisa menyebut nama/merk reksadana karena nanti dianggap endorse). Terus kalau Pak Teguh sendiri ada beli ETF? Nggak, karena kami sudah bisa melakukan diversifikasi itu sendiri. Adakah risiko tertentu kalau saya beli ETF ini, dibanding jika saya beli saham sendiri? Secara umum boleh dibilang tidak ada, kecuali kalau IHSG-nya crash seperti tahun 2008 lalu, tapi kalau itu terjadi maka gak cuma investor ETF, melainkan investor yang pegang saham biasa juga pasti kebakaran semuanya. Namun disisi lain, jika pasarnya sedang naik/IHSG bullish, maka keuntungan yang diperoleh pemegang ETF juga akan kurang lebih sebanyak kenaikan IHSG saja, sedangkan jarang terjadi IHSG naik lebih dari 20% dalam setahun.
Karena itulah, jika anda termasuk yang belum bisa menerapkan diversifikasi dengan baik dan benar, maka anda untuk sementara juga bisa mengambil ETF ini, sambil tetap membeli saham-saham seperti biasa. Seperti yang pernah penulis sampaikan di seminar, portofolio yang ideal (dari sudut pandang diversifikasi) adalah portofolio dimana tidak ada saham yang naik turunnya berpengaruh terlalu besar terhadap kinerja porto secara keseluruhan, tapi disisi lain juga tidak ada saham yang tidak memberikan pengaruh sama sekali. Thus, sekarang boleh lihat lagi rekening anda di sekuritas: Jika disitu ada satu atau dua saham yang alokasi dananya gede sendiri, atau sebaliknya ada satu atau dua saham receh yang anda membelinya sebanyak 1 atau 10 lot saja (biasanya karena iseng doang, atau karena anda tahu bahwa itu saham gorengan sehingga gak berani beli banyak), then you know what to do.
***
Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Market Outlook 2020: Jakarta & Surabaya, 7 & 14 Desember

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar Market Outlook 2020, dimana pada intinya kita akan membahas soal prospek pasar saham di tahun 2020, sektor atau saham-saham apa saja yang bisa dipertimbangkan, bagaimana strategi terkait kemungkinan terjadinya resesi, dan seterusnya. Acaranya akan digelar di dua kota yakni Jakarta, Sabtu 7 Desember, dan Surabaya, Sabtu 14 Desember. Dan berikut materi selengkapnya:
  1. Bagaimana proyeksi IHSG dan bursa saham secara umum di tahun 2020, lengkap dengan faktor-faktor yang harus diperhatikan yakni kinerja ekonomimakro Indonesia (pertumbuhan ekonomi, inflasi dll), kinerja emiten, valuasi saham, isu-isu ekonomi & politik dalam negeri pasca selesainya Pemilu/Pilpres, isu-isu luar negeri, dan kebijakan pemerintah.
  2. Daftar sektor dan saham-saham yang berpeluang ‘naik panggung’ di tahun 2020, lengkap dengan analisa serta strateginya.
  3. Benarkah tahun 2020 akan terjadi resesi global? Jika iya, bagaimana dampaknya terhadap Indonesia? Jika tidak pun, maka apa yang harus dilakukan?
  4. Investor vs Bandar: Cara mengidentifikasi & menghindari saham-saham gorengan berfundamental blank, atau saham dari ‘perusahaan mengaku bank padahal properti’, agar kasus Bumiputera & Jiwasraya tidak terjadi pada diri kita sebagai investor publik, dan terakhir:
  5. Analisa untuk saham-saham ‘wonderful company’ yang bisa dikoleksi tidak hanya untuk tahun 2020, tapi untuk di-hold jangka panjang (5 – 10 tahun kedepan) sebagai legacy stock.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, dimana nanti akan ada banyak sesi tanya jawab (anda bisa konsultasi portofolio juga). Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor saham. Yup, we’re making a value investor community here!
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
JAKARTA
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Desember 2019
SURABAYA
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Desember 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi market outlook, makan siang, coffee break & snack.
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000, dengan ketentuan diskon sebagai berikut:
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta, biayanya jadi Rp650,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Market Outlook Jakarta/Surabaya (pilih salah satu kota) dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Nadiem Makarim, BCA. Anda boleh lampirkan bukti transfer, tapi boleh juga tidak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Kebijakan Refund: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal acaranya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.

Bonus: Peserta akan dibuatkan grup Whatsapp/Telegram, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar.
***
Rekaman Market Outlook: Bagi anda yang tidak bisa hadir di acaranya karena kendala jarak atau waktu, maka anda bisa membeli rekaman audio-nya saja (plus slide powerpoint-nya), dan biayanya hanya Rp200,000. Caranya cukup transfer ke salah satu no rekening bank diatas, lalu kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Rekaman Market Outlook, dan isi: Nama lengkap anda, bank tujuan transfer (lampirkan bukti transfer jika perlu). Nanti anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, kemudian link untuk men-download rekamannya akan dikirim melalui email pada hari Senin, 16 Desember.

Nostalgia edition: Penulis dengan alumni seminar value investing Surabaya, tahun 2014 lalu

Jika masih ada yang ingin ditanyakan, anda bisa menghubungi Telp/Whatsapp 081314822827 (Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka kontek nomer satunya lagi. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com, dengan subjek email ‘Tanya market [...]

Prospek Saham Sawit Setelah Kenaikan Harga CPO, dan Program Biodiesel

Hingga Kuartal III 2019, emiten perkebunan kelapa sawit rata-rata masih membukukan kinerja yang kurang baik. Ambil contoh Astra Agro Lestar (AALI), dimana laba bersihnya drop sepersepuluhnya menjadi Rp111 milyar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.1 trilyun. Demikian pula dengan PP London Sumatra (LSIP), dimana labanya yang Rp52 milyar tentunya kelewat kecil dibanding ekuitasnya yang Rp8.2 trilyun. Disisi lain, harga crude palm oil (CPO) sedang dalam trend naik dalam 2 – 3 bulan terakhir, dimana angkanya terakhir menyentuh RM2,620 per ton di Bursa Malaysia (www.bursamalaysia.com), dan ini pula yang mendorong kenaikan saham AALI dkk. Jadi apakah ini berarti saham perkebunan kelapa sawit kembali menarik untuk invest?

***
Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Di blog ini, penulis terakhir kali membahas saham sawit sekitar 2 tahun lalu, tepatnya pada Januari 2018, dimana kesimpulannya adalah kita menganggap sektor ini belum cukup menarik, karena adanya fakta bahwa Indonesia sejak beberapa tahun lalu sudah menjadi produsen CPO terbesar di dunia (menyalip Malaysia), tapi disisi lain kita belum bisa mengolah CPO tersebut menjadi produk hilir, kecuali sebatas minyak goreng dan margarine, sedangkan konsumsi CPO untuk kebutuhan minyak goreng di dalam negeri jauh lebih kecil dibanding produksi CPO itu sendiri. Yup, pada tahun 2018 kemarin, Indonesia memproduksi total 43 juta ton CPO, sedangkan konsumsi dalam negeri hanya 10 juta ton. Surplus produksi CPO ini kemudian dilempar ke pasar ekspor, boleh dibilang ‘pada harga berapa saja asal laku’, karena di dalam negeri belum ada, atau hanya ada sedikit industri yang bisa mengolah CPO tersebut menjadi produk hilir. Alhasil, harga CPO tidak pernah pulih lagi seperti dulu, karena negara-negara diluar sana (misalnya Uni Eropa) juga melakukan segala cara agar mereka bisa membeli CPO dari Indonesia pada harga murah, salah satunya dengan meng-kampanye-kan isu bahwa ‘sawit merusak lingkungan’. Anda bisa baca lagi analisanya disini.
Nah, jadi ketika sampai hari ini, kinerja emiten sawit masih kurang memuaskan, maka kami bisa katakan bahwa itu memang sesuai prediksi. Tapi, hey, setelah lewat 2 tahun, maka bisa saja sekarang ini sudah waktunya bagi harga CPO untuk naik lagi kan? Well, pertama-tama kita harus cek terlebih dahulu, benarkah harga CPO sudah mulai naik lagi seperti yang diberitakan di media? Berdasarkan data yang bisa anda lihat disini, harga CPO mencapai titik terendahnya di RM1,883, November 2018, dan setelah itu dia terus naik sampai sekarang (ketika artikel ini ditulis) tembus diatas RM2,500, sehingga kenaikannya boleh dibilang signifikan. Namun demikian, pada Januari 2017 lalu, harga CPO juga pernah naik signifikan hingga RM3,250 per ton, yang sayangnya tidak berdampak positif terhadap kinerja emiten dimana laba AALI dkk tetap turun pada tahun 2017 tersebut, dan masih lanjut turun sampai sekarang. Kemudian perlu juga dicatat bahwa pada tahun 2011 lalu, yakni tahun dimana emiten-emiten sawit membukukan keuntungan sangat besar/ROE-nya diatas 20% semua, maka ketika itu harga CPO stabil di rata-rata RM3,500, dan pernah sesaat menyentuh RM4,000 per ton.
Dengan kata lain, meskipun sepanjang tahun 2019 ini harga CPO tampak naik lagi, tapi posisi harganya saat ini masih jauh dibawah harga tertingginya di tahun 2011 dan 2017 lalu. Kemudian satu lagi: Seperti yang juga sudah disampaikan di artikel bulan Januari 2018, maka berbeda dengan katakanlah batubara yang tinggal gali lalu jual, produksi CPO tidak lah sesederhana itu dimana kalau anda menanam pohon sawit hari ini, maka pohon tersebut baru akan menghasilkan buah sawit paling cepat tiga tahun kemudian. Masalahnya, bagaimana kalau harga CPO sedang turun justru ketika kebunnya sudah siap panen? Dan sebaliknya, ketika harga CPO sedang turun, maka gimana kita mo jualan kalau kebun yang ada belum siap berproduksi? Dari sinilah kemudian timbul ketidak pastian: Hanya karena harga CPO naik, maka bukan berarti perusahaan sawit bakal langsung cuan. Hal ini pula yang menjelaskan kenapa saham LSIP dkk baru naik banyak di tahun 2011 dan 2012 lalu, yakni setelah perusahaan memang membukukan kenaikan laba yang signifikan, jadi nggak seperti saham-saham batubara yang sudah beterbangan lebih awal, sejak tahun 2009-nya. Penulis kira hal ini pula yang menyebabkan emiten sawit masih membukukan penurunan laba di tahun 2017 lalu, tak peduli meski harga CPO ketika itu sempat menyentuh RM3,250 per ton. Karena sebelum LSIP dkk sempat jualan, harga CPO di tahun yang sama langsung jatuh lagi hingga dibawah RM2,400.
Sehingga kesimpulannya, meski harga CPO lagi naik, namun harga sekarang masih belum cukup tinggi bagi para perusahaan sawit untuk bisa jackpot lagi seperti di masa lalu. Kemudian karena problem utamanya sampai hari ini masih sama, yakni belum adanya industri di dalam negeri yang bisa mengolah CPO menjadi produk hilir (padahal CPO ini bahan baku utama untuk produk-produk farmasi, kosmetik, sabun mandi dll. Tapi yang terjadi adalah, kita ekspor dulu CPO-nya keluar, lalu kita kemudian mengimpor produk hasil CPO tersebut dari Eropa dll), maka penulis ragu kalau kenaikan harga CPO ini akan berlanjut, dan bisa saja besok-besok dia malah turun lagi.
Prospek Program B30
Tapi Pak Teguh, bukankah Pemerintah baru saja mencanangkan program B30, yang dijadwalkan akan mulai efektif Januari 2020 nanti? Harusnya itu bisa meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri dong, dan pada akhirnya menaikkan harga CPO di pasar ekspor karena suplai-nya turun? Nah, sebelumnya perlu diketahui bahwa sejak tahun 2018 lalu, pemerintah menerapkan program biodiesel 20 atau B20, yakni penggunaan bahan bakar untuk mesin diesel yang tidak lagi 100% solar, melainkan campuran 80% solar, dan 20% biodiesel, dimana biodiesel ini 100% diolah dari CPO. Program ini berjalan lancar meski sejauh ini penggunaannya masih terbatas pada kendaraan berat seperti truk. Tahun depan, program ini akan ditingkatkan menjadi B30, yang artinya campuran 70% solar, dan 30% biodiesel. Dan jika prosesnya kembali lancar, maka di tahun-tahun berikutnya, persentase campuran biodiesel ini akan kembali dinaikkan menjadi B40, B50, dan seterusnya. Kebijakan ini diharapkan akan mengurangi impor bahan bakar minyak, dan sebaliknya meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri. Pemerintah mentargetkan bahwa pada tahun 2030 nanti, konsumsi CPO dalam negeri akan meningkat dua kali lipat menjadi 19 juta ton, yang otomatis mengurangi kuota ekspor, dan harapannya akan bisa menaikkan harga CPO di pasar internasional.
However, tahun 2030 itu masih lama, sedangkan saat ini yang sudah jalan baru B20, sementara B30 masih dalam tahap uji coba. Dan dari program B20 yang sudah jalan ini pun, sejauh ini belum memberikan dampak positif terhadap kinerja AALI dkk, yang mungkin karena jumlah CPO yang terserap belum terlalu banyak.

Sepanjang tahun 2018, Pertamina sukses mendistribusikan 16 juta kiloliter solar B20 ke seluruh Indonesia, yang artinya terdapat 3.2 juta kiloliter CPO yang digunakan. Dengan asumsi berat minyak sawit adalah 900 gram per liter, maka konsumsi CPO untuk biosolar mencapai kurang lebih 3 juta ton untuk tahun 2018, atau masih kecil dibanding total produksi CPO nasional sebesar 43 juta ton di tahun yang sama. Nevertheless, it was a good start.

Sehingga dalam hal ini, kita mungkin masih perlu menunggu barang 1 – 2 tahun lagi, sampai akhirnya program B30, B40 dan seterusnya benar-benar sukses diterapkan, sehingga problem terkait minimnya konsumsi sawit dalam negeri karena belum adanya industri hilir sawit di Indonesia, pada akhirnya teratasi.  Dan dibanding dua tahun lalu, maka penulis sekarang ini lebih optimis, but still, kalau kita langsung masuk sekarang, maka pengalaman justru menunjukkan bahwa ketika harga komoditas ramai dibicarakan karena sudah naik banyak, maka kesininya dia justru turun lagi. Contohnya lihat harga emas: Beberapa waktu lalu, emas mendadak populer karena naik banyak hingga menyentuh $1,550 per oz (dari sebelumnya $1,250), dan banyak juga orang yang menyarankan untuk beli emas, tapi justru setelah itu harganya mulai drop hingga, ketika artikel ini ditulis, ke level $1,450. Intinya sih, naik turunnya harga komoditas itu mirip dengan harga saham: Ketika komoditas tersebut ramai dibicarakan karena naik banyak sebelumnya, maka itu justru sudah waktunya untuk keluar. Sedangkan waktu terbaik untuk masuk ke saham komoditas, apapun itu, adalah ketika harganya sedang berada di bawah.
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau program B30 ini sukses, dan harga CPO melanjutkan kenaikannya karena memang di harga segini pun, anda bilang harganya belum cukup tinggi? Kalau itu yang terjadi, maka kita bisa ketinggalan kereta bukan? Well, coba baca lagi kalimat diatas: Kenaikan CPO bukan berarti laba perusahaan sawit pasti akan langsung naik, dan karena itulah saham-saham sawit biasanya baru akan naik banyak ketika kinerja/laba bersih perusahaannya sudah confirm naik banyak. Perlu juga diketahui bahwa valuasi AALI dkk saat ini memang sudah sangat murah, sehingga kalau misalnya mereka naik 10 – 20% sekalipun, maka itu juga masih murah dan masih bisa naik lebih tinggi lagi hingga total 50 – 100%, asalkan kinerjanya memang confirm bagus lagi. Sehingga kalaupun kita baru masuk ketika itu, maka itu masih belum ketinggalan kereta. Tahun 2011 lalu, saham LSIP terbang dari 2,000 hingga 7,500 (harga sebelum stocksplit, setara dengan 400 ke 1,500), sehingga kalaupun ada yang agak telat masuk di harga 3,000, maka dia masih cuan banyak.
Tapi disisi lain, karena kita tahu bahwa program B30 ini masih perlu waktu untuk benar-benar memberikan dampak positif terhadap kinerja emiten sawit, maka kalau di LK berikutnya nanti laba AALI masih melempem seperti sekarang, maka ya sahamnya bakal drop lagi. Sehingga dalam hal ini, risikonya masih belum sebanding dengan potensi profitnya. Anyway, untuk sekarang mari kita kawal terus program B30 ini, dan kalau memang pada akhirnya itu berdampak positif, dan harga CPO juga minimal stabil di level saat ini (jadi gak turun lagi kaya harga emas) maka artikel ini juga akan di-update lagi. Mudah-mudahan pertengahan 2020 nanti lah.

Baiklah, ada yang mau menambahkan analisanya?
***
Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kasus Jiwasraya & Bumiputera, dan Saham Gorengan

Suatu pagi, beberapa bulan lalu, penulis lagi tidur-tiduran di rumah orang tua di Cirebon, ketika bel depan rumah berbunyi. Begitu saya buka pintu pagar, ternyata seorang ibu-ibu yang merupakan saudara jauh dimana saya masih ingat wajahnya, tapi lupa namanya. Si ibu bertanya, ‘Bu haji ada?’ ‘Ada, silahkan masuk bu, sebentar saya panggilkan’. Tak lama kemudian mama menemui si ibu, dan mereka ngobrol serius selama sekitar 15 menit. Setelah itu mama menemui penulis, ‘Guh, kamu ada uang sekian Rupiah nggak?’ ‘Ada mah, buat apa?’ ‘Tadi itu ceuceu (lagi-lagi, saya lupa namanya), bilang mau pinjem uang segitu buat biaya masuk kuliah anaknya. Harusnya ia gak perlu pinjem karena udah punya polis yang sudah jatuh tempo di Bumiputera, yang memang disiapkan untuk biaya kuliah itu, tapi ga tau kenapa petugasnya bilang gak bisa dicairkan. Katanya harus ke Jakarta bla bla bla..’

***
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Setelah itu penulis buka m-banking untuk transfer, lalu balik lagi ke kamar untuk buka Google di laptop, dan kata kunci yang saya ketik adalah ‘Bumiputera gagal bayar’. Daaan ternyata, sudah ada banyak cerita tentang nasabah yang gagal mencairkan hak mereka di Bumiputera, dengan nominal yang beragam, mulai dari belasan hingga ratusan juta Rupiah. Sedihnya, mayoritas dari mereka adalah pensiunan yang bisa jadi sangat membutuhkan pencairan dana tersebut, karena hanya itulah satu-satunya tabungan milik mereka. Termasuk saudara penulis diatas, dimana permasalahan Bumiputera ini hampir saja menyebabkan mereka gagal membawa anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Karena itulah, penulis kemudian gali informasi lebih jauh, yang sayangnya gak bisa pake cara yang biasa dengan bongkar-bongkar laporan keuangan dll, karena Bumiputera bukan perusahaan Tbk. Tapi penulis sebelumnya memang sering mendengar bahwa ada sejumlah perusahaan asuransi yang berinvestasi di saham-saham kecil gak jelas dan kemudian rugi gak karu-karuan karena saham tersebut anjlok, atau terlibat transaksi repo yang pembayarannya macet (Apa itu repo? Baca lagi penjelasannya disini). Sebelumnya perlu diketahui bahwa karena perusahaan asuransi menerima dana setoran premi yang besar dari nasabahnya, maka mereka kemudian memutar/menginvestasikan dana tersebut di saham dll, dengan harapan diperoleh keuntungan. Sehingga ketika asuransi membayar klaim nasabahnya, maka masih ada sisa keuntungan bagi perusahaan.

Jadi bisa dibilang bahwa hampir semua perusahaan asuransi memiliki investasi di saham, baik itu secara langsung maupun melalui pihak ketiga (biasanya reksadana). Khusus Bumiputera, sejumlah sumber menyebutkan bahwa mereka pernah membeli saham PT Sugih Energy, Tbk (SUGI) senilai Rp250 milyar, dimana investasinya sekarang ini boleh dibilang rugi 100% karena saham SUGI itu jatuh sangat signifikan sebelum kemudian di-suspen oleh bursa, tanpa ada kejelasan kapan sahamnya akan kembali diperdagangkan (dan SUGI sendiri sudah setahunan ini belum merilis laporan keuangan). Pertanyaannya, kenapa kok manajer investasi di Bumiputera beli SUGI? Dan dengan jumlah yang sangat besar pula?? Well, entahlah, tapi penulis sejak tahun 2012 lalu bahkan sudah menyebut bahwa SUGI ini sama sekali tidak layak investasi, karena meski judulnya perusahaan minyak, namun SUGI sebenarnya cuma dijadikan ‘boneka’ oleh pemiliknya untuk meraup dana investor publik di BEI dengan cara right issue dll. Anda bisa baca lagi analisanya disini.

Nah, jadi ketika kemarin ramai berita bahwa Asuransi Jiwasraya juga gagal bayar klaim nasabahnya, dan bahkan manajemennya meminta suntikan dana Rp32 trilyun dari Pemerintah untuk mengatasi masalah gagal bayar tersebut, maka penulis sudah tidak lagi kaget.
Sebab seperti halnya Bumiputera, Jiwasraya juga banyak berinvestasi di saham-saham yang perusahaannya bermasalah, salah satunya Trada Maritime, yang sekarang berubah nama menjadi Trada Alam Minera (TRAM), padahal sejak tahun 2015 lalu penulis juga sudah bilang TRAM ini dangerous (baca lagi ulasannya disini).

Jadi maksud penulis adalah, kalau kita beli saham tertentu kemudian menderita kerugian karena pasarnya turun, atau terjadi peristiwa/muncul sentimen negatif tertentu, atau perusahaannya mengalami perubahan fundamental/penurunan kinerja di laporan keuangan berikutnya, maka itu adalah bagian dari risiko berinvestasi di saham, yang hanya bisa diminimalisir tapi tidak bisa kita hindari 100%. Dan kalaupun itu terjadi maka yang rugi hanya diri kita sendiri, jadi gak bawa-bawa orang lain. Tapi bagaimana kalau perusahaan asuransi yang bertanggung jawab atas dana senilai trilyunan Rupiah milik orang banyak, malah menderita rugi karena entah kenapa mereka membeli saham-saham gorengan? Apakah mungkin manajer investasi di Bumiputera dan Jiwasraya gak bisa baca laporan keuangan SUGI dan TRAM, untuk kemudian mengetahui bahwa dilihat dari sisi manapun, kedua perusahaan tersebut tidak layak investasi??
Tapi kenyataannya, itulah yang terjadi. Dan dalam hal ini besar kemungkinan bahwa Bumiputera dan Jiwasraya tidak sendirian karena bisa jadi, masalahnya bukan hanya terletak di pihak perusahaan asuransinya, tapi juga di saham gorengan itu sendiri. Seperti yang pernah penulis bahas tentang repo, pemilik perusahaan Tbk seringkali mencari dana dari investor, termasuk investor institusi, dengan tawaran bunga, komisi, janji bahwa sahamnya akan dikerek naik, atau semacamnya. Dan sebagai jaminan, si investor menerima saham dari perusahaan Tbk tersebut. Yup, jadi modusnya kurang lebih sama seperti Hanson International (MYRX) yang menerima setoran ‘deposito’ dari ‘nasabah’ dengan iming-iming bunga 9 – 12%, dan si nasabah kemudian menerima jaminan unit properti yang dikatakan bernilai sama dengan nilai deposito tersebut plus bunganya (baca lagi ceritanya disini, baru aja minggu lalu). Nah, jadi kalau MYRX dengan skema seperti itu bisa sukses meraup dana hingga Rp2.5 trilyun dari investor individual, lalu apa susahnya mereka bagi mereka, atau perusahaan Tbk lainnya, untuk meraup dana sebesar itu juga dari investor institusi seperti Bumiputera dan Jiwasraya?? Hanya saja kali ini skemanya lebih canggih, yakni pake repo saham (boleh anda googling sendiri, misalnya dengan kata kunci ‘Jiwasraya repo’).
Namun masalahnya, uang yang kemudian ditempatkan di saham-saham gorengan itu tentu saja bukan milik Bumiputera itu sendiri, melainkan milik ratusan ribu hingga jutaan nasabah yang mempercayakan dana mereka untuk dikelola. Yup, jadi ketika seorang oknum di Bumiputera/Jiwasraya bekerja sama dengan oknum bandar saham gorengan, maka bisa jadi mereka berdua sama-sama untung, dengan jumlah keuntungan yang juga tidak sedikit! Lantas yang dirugikan siapa?? Ya salah satunya saudara jauh penulis tadi, yang saya sendiri gak bisa bayangkan seperti apa paniknya, karena yang dipertaruhkan disini adalah masa depan putra mereka sendiri. Padahal tentu saja, dia gak ngerti apa itu SUGI, atau apa itu TRAM.
Anyway, karena alasan-alasan inilah, maka meski penulis sendiri punya sejumlah asuransi terutama yang bersifat mandatory, seperti BPJS dan asuransi mobil, namun untuk keperluan tabungan pendidikan anak dll, dana pensiun, dan tentunya investasi, maka akan jauh lebih baik jika kita investasi saham sendiri. Karena meskipun juga tidak ada jaminan bahwa kita pasti untung, tapi at least kita tahu bahwa kita gak akan beli saham-saham gak jelas, ataupun ikut repo dari perusahaan yang gak jelas pula. Mengharapkan OJK atau pemerintah menindak tegas kasus-kasus seperti ini juga sulit, karena bisa dibilang polisinya cuma sedikit, sedangkan malingnya ada banyak. Sehingga pada akhirnya, yang bisa diandalkan ya diri kita sendiri. What? Anda gak ngerti cara berinvestasi saham? Ya belajar lah, bisa dengan baca-baca tulisan di blog ini, yang jumlahnya sudah ratusan artikel sejak tahun 2010 lalu. Good luck!
***
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Special Report: Menggali Laporan Keuangan Hanson International

Di ulasan sebelumnya, kita membahas soal ‘MYRX vs OJK’, dimana OJK menuduh perusahaan telah melakukan aksi penghimpunan dana layaknya sebuah bank, padahal PT Hanson International, Tbk (MYRX) ini bukan bank, melainkan perusahaan properti. OJK juga disebutkan akan menggali lebih dalam laporan keuangan MYRX untuk menemukan aksi penghimpunan dana yang dimaksud. Nah, tadinya penulis akan mem-posting artikel ini minggu depan, tapi terus terang karena saya sendiri sudah penasaran, maka barusan penulis sudah bongkar-bongkar semua dokumen milik MYRX, dan berikut adalah hasilnya. Okay, here we go.
***
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
MYRX dulunya merupakan perusahaan tekstil dengan nama PT Mayertex Indonesia, yang berdiri tahun 1971, go public tahun 1990, dan pada tahun 2004 berubah nama menjadi PT Hanson International, Tbk. Usaha tesktil yang dijalankan perusahaan tidak memberikan hasil yang baik, dan MYRX tidak pernah menjadi perusahaan yang menguntungkan. Hingga pada tahun 2013, MYRX dijadikan objek backdoor listing bagi perusahaan bernama PT Mandiri Mega Jaya atau MMJ, yang merupakan perusahaan properti. Jadi pemilik MMJ mengakuisisi MYRX, biasanya pada harga yang sangat murah karena memang perusahaannya tidak menghasilkan keuntungan apa-apa, lalu pada gilirannya MYRX mengakuisisi MMJ, sehingga MMJ sekarang menjadi perusahaan Tbk melalui MYRX sebagai induknya. Mekanisme backdoor listing ini lebih mudah dilakukan ketimbang IPO itu sendiri, dan dengan demikian MYRX menjadi perusahaan properti.
Oke, lanjut. Melalui MMJ, MYRX memiliki dan mengelola tiga kawasan township, yakni Citra Maja Raya (berlokasi di Maja, Kabupaten Lebak, Banten), Serpong Kencana/Forest Hill (berlokasi di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat), dan Millennium City (juga berlokasi di Parung Panjang, Bogor). Untuk Citra Maja Raya,  yang merupakan proyek utama perusahaan, MYRX bekerjasama dengan PT Citra Benua Persada (CBP), yang merupakan anak usaha Grup Ciputra, dimana MYRX melalui beberapa anak usahanya berperan menyediakan lahan, sedangkan CBP membangun lahan tersebut menjadi kawasan pemukiman. Salah satu anak usaha MYRX yang menyediakan lahan tersebut adalah PT Armidian Karyatama, Tbk (ARMY), yang juga merupakan perusahaan Tbk dimana sahamnya terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Nah, sampai disini, MYRX kelihatannya masih normal, sama saja lah seperti developer properti lain pada umumnya. Tapi lain ceritanya ketika kita menggali laporan keuangannya, dimana penulis menemukan beberapa poin menarik. Pertama, MYRX mencatat nilai asetnya sangat besar, yakni total Rp12.9 trilyun, padahal perusahaannya terbilang masih baru. Sebagai perbandingan, PT Alam Sutera Realty, Tbk (ASRI), yang sudah beroperasi jauh sebelum MYRX, dan saat ini sudah merupakan salah satu developer terbesar di Indonesia (ASRI merupakan developer properti terbesar kedua di Kawasan Serpong, Tangerang, dibelakang Bumi Serpong Damai), total asetnya hanya Rp21.8 trilyun, tapi total aset MYRX sudah mencapai separuhnya. Ingat pula bahwa ASRI memegang Alam Sutera township yang tentu saja, harga unit-unit properti disana lebih tinggi dibanding di Citra Maja Raya, karena kawasannya sudah lebih mapan, dan jaraknya lebih dekat ke Jakarta, serta sudah memiliki akses tol sendiri (sedangkan akses tol terdekat ke Citra Maja Raya adalah pintu Tol Balaraja, Tangerang, dengan jarak 20 KM).
Kedua, dalam prospektusnya ketika MYRX menggelar right issue, tahun 2013 lalu, disebutkan bahwa perusahaan memperoleh setoran dana Rp4.6 trilyun, dimana Rp4.0 trilyun diantaranya digunakan untuk mengakuisisi MMJ, tapi sebenarnya sama sekali tidak ada uang yang berpindah tangan, karena MMJ dan MYRX sejak awal dimiliki oleh pemilik yang sama (baca lagi soal backdoor listing diatas). Dan nilai MMJ yang Rp4.0 trilyun itu dianggap wajar, atau bahkan murah, karena MMJ memiliki 17 bidang tanah dengan indikasi nilai pasar masing-masing sebagai berikut (klik gambar untuk memperbesar):

Nah, sebelumnya perlu diketahui bahwa secara akuntansi, nilai aset berupa lahan properti bisa dicantumkan dengan dua cara: 1. Berdasarkan harga perolehan, dan 2. Berdasarkan nilai pasar. Dalam hal ini MYRX mencantumkan nilai aset-asetnya berdasarkan ‘indikasi nilai pasar’, alias berdasarkan asumsi bahwa kalau tanah seluas 2.4 juta meter persegi milik PT Armidian Karyatama dijual semuanya, maka akan diperoleh uang Rp457 milyar. Jadi ini sama seperti kalau anda punya rumah, dan anda bilang sendiri kalau harganya, berdasarkan harga dari rumah-rumah lain dengan ukuran yang sama di kompleks perumahan yang sama, adalah Rp1 milyar. Pertanyaannya, jika anda benar-benar menjual rumah tersebut, maka apakah anda pasti akan memperoleh pembayaran Rp1 milyar? Well, belum tentu, kalau misalnya anda dalam posisi BU maka bisa jadi harga jualnya akan jauh lebih rendah. Demikian pula jika PT Armidian benar-benar menjual seluruh lahannya tersebut, maka apakah perusahaan pasti akan memperoleh pembayaran Rp457 milyar? Sekali lagi, belum tentu, malah kemungkinan lebih rendah karena seringkali, nilai tanahnya dihitung berdasarkan harga eceran per unit rumah/kavling, yang tentu saja lebih tinggi dibanding jika ada orang yang membeli lahan seluas 2.4 juta meter persegi itu secara sekaligus.
Tapi sekali lagi, secara akuntansi, metode pencatatan nilai tanah berdasarkan asumsi nilai pasarnya seperti diatas, itu diperbolehkan. Anyway, dengan strategi ini maka MYRX memperoleh dua keuntungan sekaligus: 1. MMJ sekarang menjadi perusahaan Tbk (melalui induknya), 2. Nilai ekuitas perusahaan langsung melejit karena ‘setoran’ modal Rp4.6 trilyun tadi, dan aset lahan milik perusahaan di Maja dll menjadi ‘lebih berharga’ karena sudah memiliki nilai tercatat sekian, seperti yang ditunjukkan pada tabel diatas. Keuntungan No.2 ini menjadi penting terkait point selanjutnya yang menarik di LK MYRX, sebagai berikut:
Ketiga, pada bagian aset tidak lancar, pada Kuartal III 2019, MYRX mencatat uang muka pembelian tanah senilai Rp3.6 trilyun, dimana MYRX membeli tanah di proyek Citra Maja Raya dari MMJ (yang merupakan anak usahanya sendiri) seluas total 1,581 hektar, sehingga nilai uang yang dibayarkan adalah sebesar Rp228,000 per meter persegi, yang artinya harga jual tanahnya dianggap lebih tinggi lagi, karena itu baru uang muka. Lalu dari mana MYRX punya uang Rp3.6 trilyun tersebut? Dari utang, salah satunya pinjaman individual senilai total Rp2.5 trilyun. Yang dimaksud pinjaman individual ini adalah perusahaan melakukan perjanjian bilateral (perjanjian yang hanya disepakati oleh kedua belah pihak tanpa melibatkan notaris, otoritas pemerintah, atau pihak ketiga manapun) dengan sejumlah pemilik dana individu (jadi bukan institusi ataupun perusahaan) alias ‘nasabah’, dimana perusahaan memperoleh setoran dana tanpa jaminan, dan nasabah akan menerima bunga 9 – 12% per tahun. Namun meski tanpa jaminan, nasabah bisa memperoleh kembali uangnya dalam bentuk tunai, atau unit properti milik perusahaan, sehingga tidak perlu khawatir.
Nah, jadi anda mengerti maksud penulis bukan? Yup, ini adalah strategi yang sangat cantik dari MYRX dalam menjual unit-unit properti mereka pada harga yang mereka tentukan sendiri (yang bisa jadi lebih mahal dari seharusnya) kepada konsumen yang mereka sebut sebagai ‘nasabah’ tersebut. Sekarang gini: Kalau anda ditawari beli rumah seharga Rp1 milyar di Lebak, Banten sana, maka kemungkinan anda akan langsung menolak, mungkin anda malah bertanya, Lebak itu dimana? Tapi bagaimana kalau anda ditawari ‘deposito’ Rp1 milyar dengan bunga 10% per tahun, dimana kalaupun anda tidak bisa lagi menarik dananya, maka anda akan memperoleh rumah senilai Rp1.1 milyar? (dimana sebenarnya itu adalah rumah yang sama dengan yang nilainya Rp1 milyar tadi) Maka tentu itu tampak lebih menarik bukan?? Cerita yang juga dijual adalah bahwa proyek di Maja, Lebak itu dikelola oleh Grup Ciputra, jadi masa iya sih kita nggak percaya sama Ciputra? (padahal Ciputra disana ya cuma fokus membangun saja, dan dia gak ada urusan sama ‘pinjaman individual’, goreng saham dll. Jadi ini seperti ada orang yang entah dari mana datang ke anda, tapi dia mengaku kenal dengan presiden/menteri/gubernur, kemudian minjem duit). Dengan strategi inilah, MYRX sukses meraup dana hingga Rp2.5 trilyun (dari para ‘nasabah’ yang tanpa sadar diarahkan untuk membeli unit properti milik perusahaan pada harga mahal), yang tentu saja bukan jumlah kecil, dan dananya langsung disetor ke MMJ sebagai uang muka pembelian tanah milik perusahaan. Tanpa strategi seperti ini, besar kemungkinan proyek Citra Maja Raya itu gak bakal laku, karena industri properti itu sendiri sampai sekarang masih lesu.
Namun skema ‘tabungan’ inilah yang kemudian dipermasalahkan oleh OJK, apalagi jumlah dana yang berhasil dihimpun juga tidak main-main/mencapai trilyunan Rupiah, karena penggunaan istilah tabungan atau ‘deposito’ tanpa jaminan hanya diperbolehkan untuk perbankan atau lembaga keuangan lainnya, yang memang memiliki izin khusus untuk menghimpun dana dari masyarakat. Dalam hal ini memang belum sampai jatuh korban, toh para ‘nasabah’ MYRX sampai sekarang juga masih santai-santai saja. Namun jika ini dibiarkan, apalagi jika strateginya di­-copy paste oleh developer lain untuk menggelembungkan harga jual unit-unit properti mereka, maka ending-nya bisa seperti krisis besar tahun 2008 lalu di Amerika Serikat, yang memang diawali dari bubble properti. Dan ketika itu terjadi maka tetap saja, Pemerintah dan khususnya OJK yang bakal disalahkan.
Anyway, menarik untuk mencermati, bagaimana tindakan OJK selanjutnya, karena kita tahu bahwa MYRX dan ARMY tidak sendirian, melainkan masih ada lagi beberapa emiten properti lainnya yang juga dimiliki oleh grup yang sama, yakni NUSA, POSA, dan RIMO (dan saham mereka juga sama liarnya), dimana kalau kita gali laporan keuangannya maka bisa jadi bakal ketemu strategi yang aneh-aneh lagi. Well, kita tunggu saja kelanjutannya nanti bagaimana.

Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Info telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Hanson International vs OJK

Beberapa waktu lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satuan Tugas Waspada Investasi, mengumumkan bahwa mereka telah memanggil direksi PT Hanson International, Tbk (MYRX), untuk meminta penjelasan terkait aktivitas penghimpunan dana milik masyaratakat dalam bentuk tabungan, yang dilakukan oleh perusahaan, padahal MYRX bukanlah lembaga keuangan atau bank, melainkan perusahaan properti. Kepala Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam L. Tobing, mengatakan bahwa aksi penghimpunan dana tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2016, dimana ‘nasabah’ dijanjikan bunga 10 – 12% per tahun, dan dana yang terkumpul dikatakan akan digunakan untuk mengembangkan usaha properti milik perusahaan.

***
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 akan terbit tanggal 8 November mendatang, dan anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon preorder bagi yang memesan sebelum tanggal 8 November. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Tak lama setelah beritanya beredar, MYRX langsung mengumumkan di koran bahwa mereka tidak lagi menerima dana dalam bentuk tabungan, deposito, dan/atau jenis lainnya terhitung sejak tanggal pengumuman ini diterbitkan. Nah lho, berarti memang bener MYRX selama ini beroperasi layaknya sebuah bank yang menerima setoran deposito, padahal dia bukan bank? Lalu perusahaan apa MYRX ini sebenarnya??

Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk membaca lagi artikel tentang Grup MNC, dimana penulis katakan bahwa Grup MNC merupakan satu dari sekian banyak grup usaha di Indonesia, yang keahliannya bukan dalam hal mengelola perusahaan dengan baik dan benar hingga menghasilkan keuntungan secara operasional, yang pada akhirnya menumbuhkan nilai riil perusahaan tersebut, melainkan dalam hal menghimpun dana dari masyarakat, baik itu investor ritel, investor institusi, hingga bank, entah itu dalam bentuk setoran modal (IPO, right issue, private placement), utang obligasi, hingga utang bank. Grup dengan cara kerja seperti ini tidak pernah menganggap kita semua, yakni investor ritel, sebagai sesama pemegang saham/pemilik perusahaan, melainkan justru menganggap kita sebagai ‘sapi perah’ yang mereka bisa mengambil keuntungan darinya. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
Namun demikian, ternyata ada juga beberapa grup yang punya keahlian yang sama, yakni menghimpun dana masyarakat, tapi dengan cara yang, well.. bisa dibilang melanggar hukum. Maksud penulis adalah, ketika perusahaan Tbk menggelar right issue, maka prosesnya harus melalui persetujuan dari BEI dan OJK, sehingga pengumpulan dana masyarakat melalui mekanisme right issue tersebut adalah legal, termasuk perusahaan yang bersangkutan harus menerbitkan prospektus yang menjelaskan semua prospek dan risiko, yang bisa dipelajari oleh investor sebelum mereka memutuskan untuk ikut right issue-nya atau tidak. Tapi bagaimana kalau perusahaan yang bukan bank secara sengaja mengumpulkan dana tabungan dari masyarakat? Sejak kapan perusahaan properti memiliki izin untuk menerima setoran deposito??
Kenyataannya adalah, modus ‘menerima setoran tabungan’ ini baru satu dari sekian banyak metode penghimpunan dana dari masyarakat yang bersifat ilegal/tidak menerima izin dari otoritas terkait. Modus lainnya adalah repo saham, dimana perusahaan ‘meminjam dana’ dari investor dengan jaminan aset keuangan tertentu, misalnya saham, obligasi, hingga surat utang negara, dengan janji bahwa perusahaan akan membeli kembali saham tersebut, sehingga si investor akan memperoleh uangnya kembali (baca lagi penjelasannya disini). Masalahnya, saham yang dijaminkan dalam transaksi repo ini seringkali merupakan saham dari perusahaan berfundamental buruk, yang eventually akan turun lagi meski sebelumnya sudah dikerek naik, sehingga investor pemegang repo-nya akan menderita kerugian.
Dan pada artikel tentang repo ini, penulis mengambil contoh kasus saham PT Rimo International Lestari, Tbk (RIMO), yang sempat melejit dari 100 ke 700 hanya dalam 4 bulan, tapi setelah itu balik lagi ke 100-an, dan alhasil meninggalkan kerugian bagi investor yang kebetulan beli di harga atas. Menariknya, RIMO dan MYRX dimiliki oleh grup yang sama, dan demikian pula beberapa ‘saham gorengan’ lainnya yang juga disebut-sebut menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk repo, seperti PT Sinergi Megah Internusa, Tbk (NUSA), PT Armidian Karyatama, Tbk (ARMY), dan PT Bliss Properti Indonesia, Tbk (POSA), juga dimiliki oleh grup yang sama. Jadi bisa kita katakan bahwa pelaku dari aksi penghimpunan dana dari masyarakat secara ilegal ini, sebenarnya ya mereka-mereka juga. Menariknya lagi, untuk tiga perusahaan Tbk yang disebut terakhir, mereka baru IPO dalam 1 – 2 tahun terakhir. Jadi bagaimana bisa BEI dan OJK meloloskan ketiga perusahaan itu untuk melantai di bursa, padahal owner-nya sejak awal sudah bermasalah?
Anyway, seperti yang pernah penulis sampaikan, ketika kita masuk pasar lalu kecopetan, maka kita tidak bisa begitu saja menyalahkan mas-mas hansip yang sedang berjaga, melainkan kita sejak awal harus waspada agar si copet tidak bisa melakukan aksinya, misalnya dengan tidak menaruh dompet di saku belakang celana. Demikian pula di pasar saham, penulis selalu mengingatkan agar kita selalu waspada, salah satunya dengan tidak beli saham hanya karena saham itu tampak naik banyak, sedangkan disisi lain fundamentalnya/kinerja perusahaannya tidak mendukung, dan/atau valuasinya sudah kelewat mahal, karena cepat atau lambat sahamnya akan drop lagi. Dan untuk perusahaan-perusahaan yang disebut diatas, bisa penulis katakan bahwa kinerja mereka memang zonk semua, sehingga sahamnya sejak awal tidak layak invest. Untuk MYRX sendiri, perusahaan membukukan laba bersih Rp77 milyar di Kuartal III 2019, turun dibanding periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp182 milyar, dan laba tersebut sangat kecil dibanding nilai ekuitas perusahaan, yang tercatat Rp7.1 trilyun.
However, setelah mencuatnya kasus ‘perusahaan mengaku bank padahal properti’ ini, maka mungkin penulis harus menambahkan: Hati-hati kalau ada orang dari perusahaan tertentu, yang datang menawarkan ‘tabungan’, atau ‘deposito’, atau apapun itu namanya, dengan iming-iming bunga yang menarik (10 – 12% per tahun jelas menarik, karena itu jauh diatas bunga deposito bank), termasuk jika perusahaan mengaku ‘memperoleh izin dari OJK’. Sebelumnya, modus MYRX ini memang canggih: Sebagai perusahaan Tbk, ia memang memiliki izin dari OJK untuk melantai di bursa, tapi makerting perusahaan menyulap izin tersebut menjadi seolah-olah bahwa OJK mengizinkan mereka untuk menghimpun dana dari masyarakat layaknya sebuah bank, dan mereka tidak segan-segan mencantumkan logo OJK di surat penawaran yang mereka buat. Ini artinya, kalau ‘dana tabungan’ yang dihimpun kemudian macet/tidak bisa ditarik kembali oleh para nasabahnya, maka manajemen bisa berkelit dan malah menyalahkan OJK, sebagai otoritas yang memang bertugas melindungi masyarakat. Padahal sejak awal OJK tidak pernah memberikan izin apapun!
Dan memang penulis sendiri beberapa kali ditawari ‘skema investasi’ seperti itu, yang tentu saja semuanya saya tolak karena penulis sudah sangat paham bahwa, kalaupun kita sempat untung dari skema investasi yang ditawarkan, tapi ujungnya tetap bakal bad ending, atau kerugian yang diperoleh sejatinya berasal dari kerugian investor/nasabah lain (jadi kaya skema ponzi gitu). Nah, lalu bagaimana dengan anda sendiri? Pernahkah anda ditawari juga investasi, tabungan, atau apalah itu namanya, dari perusahaan-perusahaan yang aneh-aneh seperti MYRX ini? Dan apakah anda mengambil tawaran tersebut? Anda bisa ceritakan pengalamannya melalui kolom komentar dibawah.

Untuk artikel minggu depan, kita akan coba gali laporan keuangan MYRX, karena penulis barusan menemukan akun kewajiban sebesar Rp2.5 trilyun, yang dicatat sebagai ‘pinjaman individual’ (jadi perusahaan bukan ngutang ke bank, melainkan entah ke siapa) tanpa jaminan. Dan mungkin kita juga akan coba kupas LK dari RIMO, NUSA, ARMY, dan POSA. Well, minggu depan yap.
***
Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Info telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Tebak-Tebakan Saham

Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dst untuk member. Info telp atau whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Meraup Cuan dari Saham Dividen

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), ada sejumlah saham yang bisa kita sebut sebagai ‘saham dividen’, yakni saham yang perusahaannya membayar dividen dalam jumlah besar, dalam hal ini lebih dari separuh laba bersihnya dalam satu tahun (dividend payout ratio-nya lebih dari 50%), sedangkan disisi lain harga sahamnya relatif rendah dibandingkan dengan nilai dividen itu sendiri per lembar sahamnya, sehingga dividend yield-nya lebih besar dibanding saham-saham lain pada umumnya.

***
Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Info telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Nah, sebenarnya ketika perusahaan menghabiskan lebih dari separuh laba bersihnya untuk membayar dividen ke pemegang saham, maka prospek jangka panjangnya akan kurang bagus dibanding saham lain yang perusahaannya menginvestasikan kembali sebagian besar laba bersihnya, karena tingkat pertumbuhan riil dari perusahaan yang ‘royal dividen’ ini tentunya akan relatif lambat dari tahun ke tahun, atau bahkan stagnan. Contohnya Unilever Indonesia (UNVR), yang dalam lima tahun terakhir ekuitasnya stagnan di level Rp5 trilyun sekian ketika di periode waktu yang sama, ekuitas dari perusahaan-perusahaan besar lainnya terus tumbuh signifikan. Dan itu adalah karena UNVR menggunakan hampir 100% laba bersihnya setiap tahun, sebagai dividen.
Namun demikian, jika harga saham yang bersangkutan cukup murah sehingga dividend yield-nya mencapai katakanlah 5% (sebagai perbandingan, yield dari saham-saham big caps di BEI berkisar di level 2 – 2.5%), sedangkan fundamental perusahaan tetap bagus seperti biasanya (labanya naik, ROE-nya 15% atau lebih), maka berdasarkan pengalaman, sahamnya akan naik banyak pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, yakni karena adanya ekspektasi dari pelaku pasar bahwa perusahaan akan kembali membayar dividen besar di tahun depan, persisnya pada bulan Maret – Mei.
Dan yang menarik adalah, kenaikan dari harga saham ini seringkali lebih besar dibanding nilai dividen itu sendiri. Jadi sebut saja saham A, sahamnya berada di level Rp1,000, dan diperkirakan akan membayar dividen Rp70 tahun depan (yield-nya 7%). Maka biasanya saham A ini akan naik 150 – 200 hingga ke posisi Rp1,150 atau 1,200, sebelum kemudian turun lagi setelah tanggal cum dividennya.
Karena alasan inilah, saban akhir tahun, dalam hal ini ketika memasuki bulan November atau Desember, penulis secara rutin menyisihkan sejumlah dana untuk dibelikan saham-saham dividen ini, untuk nanti dijual lagi beberapa bulan berikutnya. Yang kita incar disini adalah capital gain dari kenaikan harga sahamnya, bukan dividen itu sendiri. Metode investasi jangka pendek ini bahkan relatif aman dari risiko koreksi pasar/penurunan IHSG. Karena berbeda dengan pergerakan IHSG yang tidak bisa diprediksi, pembayaran dividen di tahun depan yang kemudian akan memicu saham yang bersangkutan untuk naik jauh hari sebelumnya, itu bersifat nyaris pasti, terutama jika perusahaan secara rutin membayar dividen besar di tahun-tahun lalu, dan perusahaan juga masih membukukan kinerja baik/labanya masih bertumbuh di tahun 2019 ini.
Nah, karena sebentar lagi kita akan memasuki bulan November, maka strategi ‘meraup cuan dari saham dividen’ diatas menjadi relevan. Hanya pertanyaannya sekarang, saham apa yang bisa dipertimbangkan? Well, anda bisa mempertimbangkan Bank Jatim (BJTM), sebuah bank pembangunan daerah yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang kebetulan sudah merilis lapor keuangan Kuartal III 2019. Secara fundamental, BJTM sukses membukukan kenaikan laba secara konsisten dalam lima tahun terakhir, ROE-nya konsisten di level 16 – 18%, angka net NPL rendah di 0.6 – 0.7%, dan juga struktur permodalan yang kuat, dengan CAR selalu diatas 20%. Dan pada harga saham 675, yang mencerminkan PER 6.6 dan PBV 1.1 kali, maka BJTM jelas murah terutama jika dibandingkan dengan big four Bank BCA, Bank BRI, Bank Mandiri, dan Bank BNI, sedangkan fundamentalnya tidak kalah bagus dibanding keempat raksasa tersebut.

Namun memang, bukan tanpa alasan pasar menghargai BJTM pada valuasi rendah. Yup, karena perusahaan menggunakan lebih dari 50% laba bersihnya setiap tahun untuk membayar dividen, bahkan mencapai 70% pada tahun-tahun tertentu, maka seperti yang disebut diatas, pertumbuhan aset bersih BJTM dalam jangka panjang menjadi lambat, dan bank ini tentunya juga tidak se-populer keempat bank yang disebut diatas.
Tapi disisi lain, rendahnya harga saham BJTM membuat dividend yield-nya menjadi tinggi. Tahun 2019 ini, berdasarkan perolehan laba perusahaan di tahun 2018, BJTM membayar dividen Rp46 per saham, sehingga berdasarkan harga saham Rp675, maka yield-nya mencapai 6.8%. Inilah yang menyebabkan BJTM hampir selalu naik banyak pada setiap akhir tahun. Tahun lalu, tepatnya antara 15 Oktober 2018 hingga 21 Januari 2019, BJTM naik 24% dari 605 hingga 750, sebelum kemudian turun lagi, namun kenaikan 24% tersebut jelas lebih tinggi dibanding dividen yield-nya tadi.
Sehingga kesimpulannya, kecuali manajemen melakukan perubahan kebijakan yang ekstrim terkait dividen ini, maka besar kemungkinan BJTM akan kembali membayar dividen jumbo pada awal tahun depan, dan sahamnya juga akan mulai naik sejak beberapa bulan sebelum tanggal cum.
Selain BJTM, pilihan lainnya yang juga bisa dipertimbangkan adalah Adira Dinamika Multi Finance (ADMF), yang juga sudah merilis LK Kuartal III 2019, dimana hasilnya masih sangat baik dengan ROE yang terjaga di level 25.4%. Awal tahun ini, ADMF membayar dividen Rp908 per saham, sehingga berdasarkan harga sahamnya Rp10,750, maka dividend yield-nya 8.4%, even bigger dibanding yield BJTM tadi, sehingga sejatinya ADMF ini lebih menarik, hanya saja sahamnya kurang likuid sehingga kurang disarankan jika anda pegang cicis gede. Namun karena beta ADMF lebih kecil dibanding BJTM (apa itu beta? Baca lagi penjelasannya disini), maka jika anda masih ragu-ragu terkait arah pasar/IHSG kedepannya, maka ADMF lebih disarankan karena sahamnya ‘tahan koreksi’. Cem mana kalau kita ambil dua-duanya sahaja? Ya itu juga boleh.
Baiklah Pak Teguh, lalu diluar dua saham itu, masih ada pilihan saham lainnya? Ya nanti kita tunggu dulu para emiten merilis LK-nya lah, sebentar lagi.
***
Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Info telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
Disclosure: Ketika artikel ini diposting, Avere sedang dalam posisi memegang BJTM di average 665, dan ADMF di average 10,150. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Follow penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning, Kuartal III 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka minimal jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan tingkat rekomendasi (beberapa saham mungkin lebih direkomendasikan dibanding saham lainnya), tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Seluruh analisa di ebooknya ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan to the point. Jadi jika anda bisa memahami analisa saham yang disampaikan disini, maka anda juga akan bisa menyerap isi ebooknya dengan baik. Ebooknya sudah terbit pada bulan November 2019, dan anda bisa langsung memesannya disini.


Screenshot ebooknya, salah satu edisi sebelumnya.

Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee + selling tax yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan tentunya tidak seberapa dibanding nilai dari waktu yang harus anda luangkan jika mengerjakan screening saham dan analisisnya sendiri.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, praktisi value investing pertama di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Telp/SMS/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti), atau 0812-2044-5202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomor yang satunya.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Anda pembaca baru TeguhHidayat.com? Kalau gitu anda mungkin tertarik untuk membaca EIP edisi-edisi sebelumnya, tentunya dengan harga diskon. Info selengkapnya baca disini.
Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi [...]

Ciri-ciri Saham Anti Resesi/Koreksi Pasar

Di tulisan minggu lalu kita sudah membahas tentang dua strategi untuk memaksimalkan keuntungan, ketika pasar/IHSG jatuh. However, meskipun strateginya cukup jelas, penulis juga sudah menyampaikan bahwa dalam prakteknya, strategi tersebut sulit untuk diterapkan, karena dalam hal ini si investor harus mampu melawan rasa panik yang timbul ketika pasar turun. Jadi bagaimana kalau gini saja: Kita sejak awal belinya saham-saham yang anti atau tahan terhadap koreksi pasar, yang tidak ikut jatuh ketika IHSG jatuh! Eh, tunggu, memangnya ada saham seperti itu??

***
Jadwal Seminar Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu, 26 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia juga kelas advanced di hari minggu, 27 Oktober. Hingga Senin, 21 Oktober, masih tersedia kursi untuk 7 peserta lagi.
***
Jawabannya, yes, ada. Faktanya, dalam menganalisis saham, para investor dan analis mengenal satu indikator yang disebut beta, yang menjelaskan tingkat pengaruh fluktuasi pasar terhadap naik turunnya sebuah saham. Simpelnya, jika saham A memiliki beta 1.0, maka naik turunnya saham A relatif identik dengan naik turunnya IHSG. Jika saham B memiliki beta 0.4 kali, maka naik turunnya IHSG hampir tidak berpengaruh terhadap naik turunnya saham B, dimana ketika IHSG drop 5%, maka saham B bisa saja malah tetap naik. Sedangkan jika saham C memiliki beta 2.0, maka naik turunnya IHSG berpengaruh sangat besar, dimana jika IHSG drop 1%, maka saham C bisa turun 3 – 4%.
Sehingga jika anda hendak memilih saham yang tahan terhadap fluktuasi IHSG, maka pilihlah saham dengan beta yang kecil. Dan meski rumus menghitung beta ini agak ribet, tapi untungnya datanya ada lengkap di Yahoo Finance. Contohnya saham Astra International (ASII), kelihatan beta-nya 1.08 (coba klik link-nya, cari tulisan ‘Beta’). Atau saham Adhi Karya (ADHI), yang kita tahu sangat mudah dipengaruhi oleh naik turunnya IHSG, beta-nya 2.44. Sedangkan saham Adira Dinamika Multi Finance (ADMF), dimana sahamnya relatif tidak terlalu dipengaruhi oleh IHSG, beta-nya 0.89.

Meski IHSG naik turun, tapi dalam sembilan bulanan terakhir, saham ini disitu-situ saja (10,000-an)
Selain dengan melihat beta, saham-saham yang tahan koreksi pasar biasanya punya beberapa ciri berikut. Pertama, perusahaannya punya historis kinerja yang bagus, dimana katakanlah dalam 5 – 10 tahun terakhir ekuitas serta labanya secara konsisten bertumbuh. Biasanya investor membeli saham seperti ini untuk tujuan investasi jangka panjang/legacy stock. Sehingga logikanya, ketika IHSG turun, atau terdapat tanda-tanda bahwa IHSG akan turun, maka investor akan melepas sejumlah saham mereka dalam rangka menyiapkan cash, namun yang mereka jual bukanlah saham legacy stock ini, karena sejak awal si investor sudah komitmen untuk memegangnya as long as possible. Dan kalau investor tidak ramai-ramai menjual saham A, maka tentunya tidak ada alasan bagi saham A itu untuk turun.
Kedua, sahamnya biasanya tidak likuid, dan juga tidak fluktuatif. Saham yang tidak likuid cenderung tidak diminati oleh para trader jangka pendek, tak peduli sebagus apapun fundamentalnya, karena biasanya para trader ini khawatir akan kesulitan untuk menjualnya (karena bid-nya nggak ada). Namun tidak adanya partisipasi trader ini justru menyebabkan sebuah saham tidak mudah turun ketika IHSG turun, karena sejak awal saham tersebut tidak banyak dipegang oleh investor/trader, dan kalaupun ada maka biasanya mereka investor jangka panjang, yang tidak akan melakukan panic selling hanya karena pasar turun. Sehingga jika fundamental dari saham yang bersangkutan memang bagus, maka investor yang memegangnya bisa tetap santai, tak peduli pasar naik atau turun.
Terakhir, ketiga, sahamnya kurang populer di kalangan trader, bahkan meski merk perusahaannya mungkin cukup terkenal di masyarakat umum. Seperti disebut diatas, sebuah saham yang tidak likuid biasanya otomatis tidak populer dan jarang dibicarakan di komunitas trader, karena mereka lebih antusias membicarakan ‘saham terbang’ atau semacamnya. Sedangkan ketika sebuah saham tahan terhadap koreksi pasar, alias tidak turun ketika IHSG turun, maka biasanya dia juga tidak naik ketika IHSG naik. Bagi banyak orang, saham-saham seperti ini tampak membosankan karena ‘gak gerak-gerak’. Namun jika seorang investor bisa melihat bahwa dalam 5 – 10 tahun terakhir, atau bahkan 1 tahun terakhir, sebuah saham berfundamental bagus sejatinya sudah naik cukup signifikan (meski, sekali lagi, saham tersebut tampak gak gerak-gerak selama katakanlah beberapa bulan terakhir), maka saham tersebut tetap menarik untuk dibeli, dan bonusnya adalah, ia tidak perlu khawatir soal naik turunnya IHSG.
Okay Pak Teguh, lalu bisakah anda langsung kasih contoh saham-saham yang tahan koreksi pasar ini? Tentu saja bisa, misalnya ADMFdiatas, Sido Muncul (SIDO), Indofood CBP (ICBP), Ultrajaya (ULTJ), dan seterusnya. Mungkin perlu dicatat bahwa meski saham-saham perbankan (Bank BRI dkk) sejatinya juga layak untuk investasi jangka panjang, tapi likuiditas mereka yang sangat tinggi menyebabkan ada banyak trader jangka pendek ikut masuk dimana mereka kemudian secara aktif melakukan transaksi jual beli, dan alhasil sahamnya menjadi fluktuatif/mudah dipengaruhi oleh naik turunnya IHSG. Sehingga jika anda secara psikologis masih mudah dipengaruhi oleh kondisi bull and bear pada pasar (panik ketika pasar turun, euforia ketika pasar naik), maka saham-saham perbankan justru tidak direkomendasikan.
Baiklah Pak Teguh, jadi apakah dengan demikian kita sebaiknya hanya membeli saham-saham ‘tahan koreksi pasar’ itu saja? Well, itu juga tidak disarankan, karena itu tadi: Benar bahwa ADMF dkk tidak akan turun, atau hanya turun sedikit ketika IHSG turun, tapi sebaliknya, mereka juga tidak akan naik, atau hanya naik sedikit ketika IHSG naik. Sedangkan kita tahu bahwa pasar tidak akan selamanya turun, melainkan nanti juga akan ada masanya dia naik lagi, dan ketika pasar kembali bullish maka investor yang memegang ADMF dkk mungkin akan ketinggalan kereta.
Jadi kalau gitu sebaiknya gimana? Nah, kalau penulis sendiri biasanya menjadikan saham-saham tahan koreksi diatas sebagai ‘bemper’, dimana kita mengalokasikan 20 – 30% portofolio di saham-saham tersebut, tapi tidak lebih dari itu. Sedangkan selebihnya bisa tetap dialokasikan untuk membeli saham berfundamental bagus pada harga murah, sambil tentunya menjaga posisi cash sesuai kondisi pasar. Dengan cara inilah, ketika pasar turun maka saham-saham yang (masih) dipegang tidak semuanya turun, sehingga kinerja porto kita tetap lebih baik dibanding pasar, dan kita masih punya cadangan cash untuk belanja lagi (cash dari mana? Baca lagi ulasan minggu lalu). Secara psikologis, memiliki saham-saham bemper ini juga bisa membuat kita lebih optimis menghadapi arah pasar, karena ketika saham-saham kita yang lain nyangkut semua (karena IHSG-nya turun), maka ADMF dkk ini tetap tidak bergeming. Dan ketika kemudian pasar naik lagi, sedangkan kita juga sudah belanja, maka kita akan dapat memanfaatkan kenaikan pasar tersebut untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi.
Pertanyaannya sekarang, sudahkah anda memegang ‘saham bemper’ ini di portofolio anda? Saham apakah itu?
***
Buku kumpulan 30 saham pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal III 2019 akan terbit tanggal 8 November mendatang, dan layanan preordernya sudah dibuka. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon preorder bagi yang memesan sebelum tanggal 8 November. Ada pertanyaan, boleh telp atau whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Strategi Investasi Saat IHSG Jatuh

Jika penulis bertanya, siapa investor yang paling diuntungkan ketika pasar atau IHSG jatuh? Maka anda mungkin akan menjawab, investor yang pegang cash besar. Malah bagi investor yang pegang cash ini, semakin dalam penurunan IHSG, maka semakin besar keuntungan yang bisa mereka peroleh. Nah, tapi bagaimana kalau penulis bilang bahwa investor yang pegang cash belum tentu untung ketika harga-harga saham berjatuhan?
***
Jadwal Seminar Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu, 26 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 20 Oktober. Tersedia juga kelas advanced di hari minggu, 27 Oktober.
***
Maksud saya begini. Misalnya sekarang pasar sedang anjlok, dan kita sejak awal sudah pegang cash besar. Maka apakah itu artinya kita sudah untung? Posisi kita mungkin memang nggak nyangkut seperti investor lainnya yang masih pegang saham, tapi apakah kita sudah profit?
Kenyataannya adalah, seorang investor baru akan benar-benar untung besar ketika pasar turun, dan ia membelanjakan cash tersebut sebelum pasar kemudian naik kembali!
Tapi kebanyakan orang tidak akan berani belanja ketika pasar sedang panik. Mereka biasanya baru akan belanja ketika pasar sudah naik lagi, yakni ketika kepanikan sudah mereda. Masalahnya, jika seperti itu kejadiannya, maka investor yang pegang cash ini tidak lagi membeli saham pada harga terendahnya, melainkan pada harga yang sama tingginya dengan harga beli investor lain yang nyangkut tadi. Sehingga keuntungan yang diperoleh pada akhirnya sama saja dengan investor lain yang sempat nyangkut dan mampu bertahan/tidak cut loss hingga akhirnya pasar pulih kembali.
Dua Strategi
Sehingga terkait judul diatas, ‘Strategi investasi saat IHSG jatuh’, maka ada dua langkah strategi yang harus dilakukan investor. Pertama, menyiapkan cash sebelum IHSG jatuh, dan kedua, membelanjakan cash tersebut ketika IHSG jatuh. Kedua strategi diatas adalah saling melengkapi, dimana jika anda tidak melakukan strategi pertama, maka anda tidak akan bisa menerapkan strategi kedua, karena bagaimana mungkin anda bisa belanja jika duitnya tidak ada? Sedangkan tanpa menerapkan strategi kedua, maka strategi pertama akan jadi percuma. Okay, kita mulai dari strategi pertama dulu, menyiapkan cash.
Nah, terkait ‘menyiapkan payung sebelum hujan’ ini, sebagian dari anda mungkin berpikir bahwa itu artinya kita harus bisa memprediksi kapan IHSG akan turun, dan seberapa dalam penurunannya. Namun penulis sudah berkali-kali menyampaikan di banyak tulisan bahwa dua hal itu tidak bisa diprediksi.
Tapi memang ada sejumlah tanda-tanda yang bisa kita perhatikan, sebelum kemudian menyimpulkan bahwa memang sebaiknya kita minggir dulu (baca: jualan). Dan pertanda yang paling jelas adalah satu hal ini: Kita tahu bahwa berdasarkan kaidah value investing, sebuah saham harus memenuhi setidaknya tiga kriteria agar layak invest, yakni 1. Berfundamental bagus, 2. Valuasinya, berdasarkan kualitas fundamentalnya tadi, terbilang murah, dan 3. Prospeknya cerah. Nah, jika kita berada dalam kondisi dimana kita kesulitan menemukan saham yang memenuhi tiga kriteria diatas (misalnya karena saham-saham yang bagus udah pada naik banyak sehingga valuasinya jadi mahal, sedangkan saham yang masih murah kinerjanya memang jelek), termasuk saham yang kita pegang juga sudah naik banyak sehingga valuasinya tidak murah lagi, maka ketika itulah penulis biasanya menyimpulkan bahwa cepat atau lambat pasar akan turun, dan mulai jualan. Dan meski dalam hal ini kita tetap tidak bisa memperoleh kesimpulan soal kapan pasar akan turun (tadi hanya disebutkan, cepat atau lambat), tapi adalah juga tidak logis jika kita tetap memaksakan membeli saham yang sejatinya belum layak buy bukan? Yakni jika saham tersebut fundamentalnya tidak cukup bagus, atau fundamentalnya bagus tapi valuasinya masih tanggung.
Kemudian, karena ketika artikel ini ditulis, pasar sudah turun, maka penulis asumsikan anda sudah pegang cash, sehingga kita bisa ke strategi kedua: Belanja. Sekali lagi, anda mungkin berpikir bahwa strategi kedua ini adalah berarti kita harus memprediksi, apakah penurunan IHSG sudah mencapai titik terendahnya atau belum? Tapi sebenarnya kunci utamanya masih sama dengan strategi menyiapkan cash diatas, yakni: Jika pasar sudah turun hingga titik tertentu dimana kita bisa menemukan banyak saham yang memenuhi tiga kriteria diatas, misalnya saham-saham incaran kita sebelumnya sudah turun ke level harga undervalue-nya, maka itulah saatnya untuk belanja! Plus satu lagi: Pasar memang sudah panik, dan anda akan bisa merasakan kalau pasar panik. Masalahnya ketika pasar panik, maka kita juga biasanya akan ikut panik dan alhasil nggak berani menerapkan strategi kedua, yakni membelanjakan cash yang sudah disiapkan sebelumnya, malah bisa jadi saham yang masih dipegang justru dijual, misalnya karena beredar berita negatif tentang resesi bla bla bla.
Karena itulah, kunci terpenting agar seorang investor bisa menerapkan dua strategi diatas, dan kemudian mampu memanfaatkan penurunan pasar untuk justru memaksimalkan profit, adalah si investor tadi harus sudah pernah mengalami penurunan IHSG itu sendiri sebelumnya, minimal sebanyak satu kali. Pada pengalaman pertama menghadapi koreksi ini, seorang investor hampir pasti akan rugi karena itu tadi: Ketika pasar panik, maka ia akan ikut panik, dan jadinya takut untuk belanja. Sebenarnya masih mending kalau kita pegang cash lalu gak berani belanja ketika pasar turun. Dalam banyak kasus, investor yang masih pegang saham justru cut loss ketika IHSG turun. Sehingga ketika pasar kemudian naik lagi, dia sudah tidak pegang barang.

Namun bagi mereka yang sukses bertahan di ‘pengalaman pertama’ ini, maka ia akan belajar bahwa, ternyata semua berita jelek yang muncul ketika IHSG jeblok, itu akan menghilang dengan sendirinya ketika IHSG kemudian naik lagi. Dan jika pada peristiwa koreksi selanjutnya ia sudah bisa menerapkan dua strategi diatas, maka itu sudah sangat bagus sekali.
Strategi Untuk Memaksimalkan Keuntungan
Sekarang, let say anda sudah cukup berpengalaman/sudah pernah menghadapi koreksi pasar sebelumnya, dan dalam kondisi IHSG yang sudah turun seperti sekarang (ketika artikel ini diposting, IHSG berada di 6,000-an, turun dari posisi tertingginya 6,500-an), anda sudah menyiapkan cash. Lalu selanjutnya bagaimana? Karena kalaupun kita belanja sekarang, maka gak ada jaminan bahwa pasar tidak akan turun lebih dalam lagi bukan?

Nah, dalam hal ini, perlu diingat bahwa ultimate goal dari seorang investor bukanlah menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya, namun untuk beat the market, alias membukukan kinerja diatas kinerja IHSG dalam setahun (dan itu juga bukan goal yang mudah, contohnya lihat saja kinerja reksadana). Maksud penulis begini: Ketika artikel ini ditulis, IHSG berada di posisi 6,106, dan katakanlah sampai akhir tahun nanti IHSG akan ditutup di posisi 6,106 tersebut. Karena posisi IHSG pada awal tahun adalah 6,194, maka kinerja IHSG untuk tahun 2019 adalah -1.4%. Tapi ingat bahwa sepanjang tahun 2019 ini, IHSG pernah naik sampai 6,536, dan sebaliknya turun sampai 5,827. Jadi jika anda katakanlah jualan ketika IHSG berada di 6,400-an (gak harus persis posisi tertingginya), dan belanja ketika IHSG berada di 5,900-an (sekali lagi, gak harus persis posisi terendahnya), maka bisa dibayangkan berapa keuntungan yang diperoleh, yang pasti jauh diatas kinerja IHSG yang -1.4% tadi. Contoh lebih gampang, katakanlah anda awal tahun 2009 beli Bank BNI (BBNI) di 7,000-an, lalu profit taking dari BBNI ini di harga 9,000-an (ketika IHSG di 6,400-an, bulan April, dan karena BBNI di harga segitu sudah tidak murah), lalu masuk lagi di harga 6,500-an (karena harga segitu sudah murah lagi), dan menjelang akhir tahun BBNI naik lagi. Maka berapa total keuntungannya? Sekitar 20 – 30% bukan? Dan itu tentu saja sangat baik dibanding kinerja IHSG yang hanya -1.4%.

Dalam sepuluh tahun terakhi, saham ini sudah naik total 10 kali lipat, tapi anda bahkan bisa dapet profit lebih besar lagi dari saham yang sama, jika bisa menerapkan ‘strategi saat IHSG jatuh’

Tapi bagaimana jika setelah anda belanja ketika IHSG di 5,900-an, selanjutnya IHSG malah turun lagi? Termasuk BBNI yang sudah saya beli di 6,500 juga turun lagi, sedangkan cash sudah habis? Ya kalau demikian maka profitnya (ingat sebelumnya anda sudah profit taking dari BBNI ini) memang jadi lebih kecil, mungkin cuma 10%, tapi itu tetap saja jauh lebih baik dibanding kinerja IHSG yang minus 5 – 10% (jadi selisihnya 15 – 20%). Dan ketika in the end pasar pulih lagi (dan pasar pasti akan pulih lagi), maka saham anda juga akan kembali naik banyak.

Kesimpulannya, jika anda bisa menerapkan strategi ‘siapkan payung sebelum hujan’, dan ‘membuka payung tersebut ketika hujan sudah turun’, maka anda akan memperoleh hadiahnya: Keuntungan yang maksimal, dalam hal dibanding kinerja IHSG. Dan kalau anda bisa konsisten memperoleh selisih profit 10 – 20% saja dibanding IHSG setiap tahunnya, maka dalam jangka panjang, hasil akumulasinya akan luar biasa. However, seperti yang disebut diatas, untuk bisa menerapkan strategi yang pada intinya memanfaatkan fluktuasi pasar ini, itu tidak mudah, karena mayoritas investor akan bertindak berdasarkan kondisi psikologis mereka sesuai kondisi pasar (euforia ketika pasar naik, dan panik ketika pasar turun), dan bukan berdasarkan konsep dasar value investing untuk membeli saham murah (dimana jumlahnya akan ada banyak ketika pasar turun), dan menjual saham mahal (dimana jumlahnya akan ada banyak ketika pasar naik).

Namun seperti yang juga disebut diatas, dalam hal ini yang diperlukan hanyalah pengalaman saja, dimana meski pada tahun-tahun awal anda akan merasa ‘dihajar’ setiap kali terjadi koreksi pasar, tapi nanti anda akan sampai pada satu titik dimana anda akan memandang koreksi pasar sebagai berkah alih-alih musibah, yakni berkah untuk memaksimalkan kinerja portofolio dibanding kinerja Mr. Market itu sendiri, melalui dua strategi diatas.

Pertanyaannya sekarang, ketika anda membaca artikel ini, bagaimana posisi porto anda? Berapa banyak cash yang anda pegang? Dan bagaimana rencana selanjutnya?
***
Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Investment Planning’) edisi terbaru, yakni edisi Kuartal III 2019 akan terbit tanggal 8 November mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon preorder bagi yang memesan sebelum tanggal 8 November.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Beli Saham Sendiri vs Telpon Broker, Lebih Enak Mana?

Pada sesi kelas private, beberapa waktu lalu, seorang peserta bertanya, ‘Saya dengar Pak Teguh kalau beli atau jual saham, itu pake broker, jadi nggak eksekusi sendiri melalui software online trading (OLT). Kenapa begitu pak? Dan bukannya kalau kita transaksi via broker, trading fee-nya lebih mahal?’

***
Jadwal Seminar Value Investing, Basic & Advanced: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu & Minggu 26 – 27 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 14 Oktober.

***


Sebelumnya, penulis sendiri memang sejak tahun 2012 lalu, hampir tidak pernah lagi melakukan transaksi jual beli saham sendiri, melainkan selalu via broker (atau disebut juga equity sales), dimana biasanya saya kirim pesan Whatsapp ke si broker, ‘telpon gue’, kemudian dia yang telpon (pake telp kantor) untuk menanyakan mau beli/jual saham apa. Atau bisa juga komunikasinya hanya via chat WA saja. Penulis tetap ada install software OLT di laptop, tapi itu hanya digunakan untuk tarik dana saja, karena transaksi seperti itu tidak bisa dilakukan oleh broker.

Okay, lalu apa sih untungnya beli saham via broker? Here it is: Pernahkah anda pagi-pagi mau beli saham A pada harga 1,000, misalnya (dan sehari sebelumnya, saham A tersebut memang ditutup di posisi 1,000), tapi anda memutuskan untuk antri saja dulu di harga 990, siapa tau dapet. Dan sore harinya ketika anda cek lagi, saham A sudah naik ke 1,050, tapi anda gak dapet barangnya karena saham A tersebut gak pernah turun dulu ke 990, melainkan langsung naik. Besoknya, anda memutuskan untuk ‘mengejar kereta’ karena setelah anda hitung lagi, saham A di harga 1,050 itu masih undervalue, tapi lagi-lagi anda pasang antri di 1,040. Dan kembali, saham A malah naik sampai 1,090, dan anda masih tidak pegang barangnya. Pada hari ketiga, akhirnya anda hajar kanan di saham A tersebut pada harga 1,090, tapi apa yang terjadi? Saham A malah turun ke 1,050 sehingga posisi anda jadi nyangkut! Dan anda sekarang jadi waswas karena rencana awalnya adalah, anda masuk ke saham A itu di harga 1,000, bukan di 1,090. Pada hari keempat, saham A kembali turun ke 1,035, dan anda akhirnya memutuskan untuk cut loss dulu, untuk nanti masuk lagi di harga 1,000, tapi apa yang terjadi? Ternyata meski saham A sempat turun lagi sampai 1,025, tapi dia tidak pernah kembali lagi ke 1,000 itu, dan justru kembali naik.. dan terus naik, hingga tembus 1,400, yang memang merupakan target harganya secara valuasi.
Nah, apakah anda pernah mengalami situasi seperti diatas? Well, penulis pernah, dulu waktu saya masih pemula. Dan kerugian karena situasi seperti diatas, itu lebih menjengkelkan dibanding kerugian karena kita memang salah pilih saham, atau sahamnya bener tapi harga belinya kemahalan. Maksud penulis adalah, kalau kita beli saham gorengan gak jelas lalu rugi, maka kalau kita sejak awal sadar bahwa keputusan untuk masuk ke saham gorengan tersebut merupakan spekulasi, maka kerugiannya bisa kita terima. Atau kalau kita pegang saham kemudian harganya turun karena IHSG-nya juga sedang turun, maka itu juga wajar. Tapi bagaimana kalau kita sudah capek-capek screening sana sini hingga akhirnya ketemu saham bagus, dan sudah menunggu cukup lama hingga akhirnya saham tersebut berada di harga murahnya, dan beberapa waktu kemudian memang bener sahamnya naik banyak, tapi bukannya untung, kita malah rugi juga??
Dari pengalaman diatas lah, penulis kemudian belajar satu hal: Jangan lagi antri kalau kita mau beli ataupun jual saham. Jadi biasakan untuk hajar kanan! (atau hajar kiri, kalau jual). Masalahnya, itu ternyata juga gak gampang. Ketika kita buka OLT, maka semua angka-angka IHSG, Dow Jones, berita-berita, langsung bermunculan, dan entahlah dengan anda, tapi itu bikin penulis bingung. Misalnya ketika kita mau hajar kanan saham A, tapi kebetulan IHSG sedang turun, jadi bagaimana kalau saham A ikut turun? Kalo gitu antri saja dulu lah! Kemudian kalau kita mau hajar kanan saham A di harga 1,000, misalnya, tapi ada yang pasang offer gede banget di 1,010 (jadi kaya ganjel gitu), maka bisa jadi kita kemudian jadi ragu sehingga akhirnya antri saja dulu di 980. Eh, ternyata besoknya saham A itu tetap naik, dan kita nggak punya barangnya.
Demikian seterusnya, hingga akhirnya penulis sadar bahwa, ketika kita hendak mengekseksusi beli atau jual saham, maka itu sama pentingnya dengan ketika kita menganalisis saham itu sendiri. Dan seperti halnya menganalisa sebuah saham butuh psikologis yang kuat, misalnya kita sudah yakin saham A bagus dan juga sudah murah tapi bagaimana ini beritanya kok jelek semua? Maka melakukan aksi jual beli saham itu juga butuh kekuatan mental, butuh rasa percaya diri untuk langsung hajar kanan, butuh keberanian untuk menerima kerugian ketika akan cut loss, dan seterusnya. Ketika kita membaca-baca laporan keuangan dll, maka itu seperti Jurgen Klopp duduk di ruang kerja di rumahnya, mengatur strategi untuk pertandingan selanjutnya bagi Liverpool. Dan ketika kita membuka OLT untuk melakukan transaksi pembelian (atau penjualan) saham, maka itu seperti kita berada di samping lapangan ketika pertandingan berlangsung. Thus, menganalisa dan membeli saham, itu adalah dua hal yang berbeda, tapi dua-duanya sama-sama membutuhkan kekuatan mental, diluar kemampuan untuk menganalisa saham itu sendiri. Pada tahun-tahun awal sebagai investor pemula, penulis boleh dibilang tiap hari hari buka OLT, karena somehow itu menyenangkan, apalagi jika porto lagi ijo. Tapi beberapa waktu kemudian, saya sadar bahwa itu tidak membuat kinerja porto jadi lebih baik.
Hingga sekitar bulan Oktober 2011, penulis masih ingat, IHSG ketika itu sempat nyungsep 8.88% dalam sehari, yang otomatis membuat saya gak berani lagi buka OLT karena sudah pasti saham-saham pada nyangkut semua. Jadi ketika beberapa waktu kemudian penulis hendak membeli saham, saya telpon broker, dan mas broker ini mengingatkan bahwa trading fee kalau dia yang pencetin buy, itu sedikit lebih mahal dibanding kalau saya sendiri yang pencet tombol buy tersebut (0.25 berbanding 0.20%). Saya bilang, nda papa lah! Lha wong rugi saya juga udah gede banget, jadi ‘tambahan rugi 0.05%’ udah gak ngaruh.
Dan selanjutnya, penulis kemudian lebih banyak transaksi via broker, karena itu tadi: Saya tidak perlu lagi deg-degan ngeliatin harga saham, dan si broker itu juga gak perlu deg-degan ketika membeli atau menjual saham karena toh, itu bukan duit dia. Dalam jangka panjang, hal ini ternyata berpengaruh positif terhadap kinerja porto penulis, dimana kita nggak pernah/sangat jarang mengalami ‘udah antri tapi gak dapet barangnya’ seperti yang diceritakan diatas, atau semacamnya. Ketika penulis sudah menyerahkan tugas-tugas seperti ‘ngeliatin saham seharian, dari pagi sampe sore’, atau baca-baca berita, analisa pasar dll ke broker, maka jobdesk saya sebagai investor sudah berkurang hingga separuhnya, dan saya bisa sepenuhnya fokus ke pekerjaan menganalisa, termasuk menyusun investment plan (dan menggunakan sisa waktu yang ada untuk menikmati hidup). Dengan melakukan transaksi via broker, maka penulis juga bisa berdiskusi, untuk meminta second opinion tentang saham yang akan kita beli (tapi anda hanya bisa seperti ini kalo dapet broker yang berpengalaman, karena banyak juga broker yang masih fresh grad). Ingat pula bahwa trading fee yang kita bayarkan ke sekuritas, itu tidak murah, setahunnya bisa sekitar 5% dari total nilai portofolio (jadi kalau modal anda Rp100 juta, maka total trading fee-nya 5 juta), bahkan bisa lebih kalau anda termasuk aktif trading. Jadi kalau anda tidak memanfaatkan jasa broker secara maksimal, maka itu seperti mereka dapet duit gratis tanpa bekerja. Biarkan saja si broker itu (dan temen-temen kerjanya di kantor sekuritas) yang heboh sendiri ketika saham A terbang, saham B nyungsep, dst. Kita mending pergi mancing saja.
Kata Dilan, dua puluh sembilan tahun kemudian, ‘Investasi saham itu berat, kamu gak akan kuat. Biar aku saja..’

Oke Pak Teguh, tapi biar gimana trading fee kalo transaksi via telpon broker, itu lebih mahal kan? Well, karena penulis selama ini jarang trading, maka jatohnya tetep murah. Actually, banyak sekuritas yang kasih fee murah, misalnya 0.10%, tapi dengan syarat tertentu, misalnya harus transaksi minimal Rp500 juta setiap hari (jadi ujungnya mahal juga). Tapi bagaimana kalau broker ada beli atau jual saham tanpa perintah atau tanpa sepengetahuan kita sebagai pemilik dana? Nggak, broker tidak akan membeli atau menjual saham tanpa adanya perintah dari nasabah. Perlu diketahui bahwa setiap kali kita chat di Whatsapp ‘tolong buy saham A’, maka chat-nya disimpan, demikian pula kalau kita memberikan perintah via telpon, maka telponnya direkam. Jadi kalau misalnya anda lihat portofolio dan disitu ada saham A, sedangkan anda tidak merasa pernah menyuruh broker untuk membeli saham A tersebut, maka si broker akan kasih rekaman, atau screenshoot chat Whatsapp, bahwa anda kemarin pernah menyuruh membeli saham A. Bahkan kalaupun anda bilang, ‘Udahlah, gua pusing! Terserah elu aja beli atau jual saham apa’, maka broker tetap tidak akan melakukan itu, karena lisensi WPPE-nya tidak mengizinkan ia untuk bertindak layaknya manajer investasi, melainkan hanya perantara saja.
Tapi kalau kita gak buka OLT, nanti kita gak bisa track portofolio kita dong? Gak tau kalau sekarang kita udah cuan atau rugi berapa persen? Nah, boleh anda cek lagi, pihak sekuritas setiap bulan kirim email dengan attachment PDF berisi posisi portofolio terbaru (per akhir bulan sebelumnya), plus data transaksi selama sebulan sebelumnya, dan itulah yang penulis jadikan bahan analisa serta evaluasi, untuk strategi investasi kedepannya. Yup, jadi penulis hanya perlu melihat portofolio sebulan sekali, dan tidak perlu juga khawatir kalau ada saham kita yang naik atau turun sebelum satu bulan tersebut, karena kita akan otomatis tahu sendiri tanpa membuka OLT (karena orang-orang pasti ribut ketika IHSG turun, misalnya), sehingga kita bisa melakukan tindakan buy or sell, jika memang diperlukan.
Terakhir pak, apakah ini juga alasan kenapa Pak Lo Kheng Hong selalu membeli dan menjual saham pake telpon broker? Nah, itu penulis nggak tahu, karena dulu waktu belum ada OLT, semua transaksi memang via telpon broker, sedangkan Pak LKH sudah invest sejak tahun 1990-an. Tapi memang, tidak hanya LKH, sejumlah investor senior lain yang penulis kenal juga gak pernah pake OLT (atau bahkan gak punya laptop, gokil lah), dan di ponsel mereka hampir tidak pake internet kecuali untuk whatsapp dan Youtube. Well, penulis sendiri kayanya gak akan bisa kalau harus seperti mereka, tapi intinya sekali lagi bahwa, transaksi via broker ini akan mengurangi beban pekerjaan kita sebagai investor, dan juga mengurangi beban psikologis, dimana dalam jangka panjang, dampaknya akan sangat positif. What? Di sekuritas anda sekarang gak dikasih brokernya, bahkan customer service juga gak ada? Kalau gitu pertimbangkan untuk tutup rekening dan pindah ke sekuritas lain.
***
Jadwal Seminar Value Investing, Basic & Advanced: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu & Minggu 26 – 27 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 14 Oktober.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta, Minggu 27 Oktober

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 27 Oktober 2019. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Cara menganalisa aksi korporasi emiten (right issue, stocksplit, dst) dan pengaruhnya terhadap fundamental perusahaan/harga sahamnya.
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara membaca poin-poin laporan keuangan dengan lebih detail (penjelasan mengenai metrik-metrik yang penting), sehingga diperoleh kesimpulan apakah fundamental sahamnya terbilang wonderful, bagus, biasa aja, atau malah jelek.
  6. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik anak untuk berinvestasi sejak dini
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 27 Oktober 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Roberto Firmino, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi bukti transfer itu boleh juga dilampirkan).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas (kwitansi/bukti pembayaran untuk reimburse juga bisa diminta jika diperlukan, anda tinggal bilang minta kwitansi di emailnya). Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Jumlah kuota terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
***
Bonus Gratis!
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Promo Cashback! Khusus bagi peserta dari luar kota, anda akan memperoleh cashback senilai Rp100,000 per peserta, dibayar tunai di lokasi seminar setelah acara seminarnya, dan syaratnya cukup dengan menunjukkan bukti tiket pesawat, kereta api, atau booking hotel. 
Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
***
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Whatsapp 081314822827 (Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomor satunya. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
 
Penulis bersama peserta seminar tanggal 31 Agustus 2019

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing, Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 26 Oktober 2019 (sehari sebelum seminar advanced ini, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham, 3. Cara menyusun portofolio dst. Bagi anda yang masih pemula, atau sudah lama di market namun baru mengenal value investing, maka sangat disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced ini di hari minggunya, karena materinya saling melengkapi. Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru Agustus 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, Sabtu 26 Oktober

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Jakarta, hari Sabtu, 26 Oktober 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham,
  7. Ciri-ciri wonderful company, yang sahamnya bisa di-hold as long as possible, serta apa bedanya dibanding saham biasa, dan
  8. Cara menganalisa manajemen emiten/perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Cara menabung saham untuk jangka panjang 5 – 10 tahun dengan menyicil membeli saham yang sama setiap bulan (strategi Dollar Cost Averaging untuk menghasilkan capital gain dan dividen), dan apa saja pilihan saham yang disarankan,
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita disini tidak hanya bicara teori, melainkan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 26 Oktober 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini adalah Rp1,350,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Joao Felix, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas (kwitansi/bukti pembayaran untuk reimburse juga bisa diminta jika diperlukan, anda tinggal bilang minta kwitansi di emailnya). Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!

***
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Promo Cashback! Khusus bagi peserta dari luar kota, anda akan memperoleh cashback senilai Rp100,000 per peserta, dibayar tunai di lokasi seminar setelah acara seminarnya, dan syaratnya cukup dengan menunjukkan bukti tiket pesawat, kereta api, atau booking hotel. 
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Whatsapp 081314822827(Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomer satunya. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis dengan teman-teman peserta kelas tanggal 25 Agustus 2019
Bagi anda yang hendak ikut Value Investing Advanced Class, dengan materi cara menghadapi resesi dll, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 27 Oktober (sehari setelah seminar value investing ini), di lokasi yang sama, dan biayanya juga sama. Info selengkapnya klik disini.

Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru Agustus 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Untuk lokasinya sama di [...]

Gudang Garam

Sejak penulis pertama kali belajar saham, tahun 2009 – 2010 lalu, maka saya ketika itu sudah bisa menilai bahwa saham Gudang Garam (GGRM) terbilang layak untuk investasi jangka panjang, dimana alasannya ketika itu sangat sederhana: Rokok adalah jenis barang consumer yang dikonsumsi setiap saat secara terus menerus, jadi berbeda dengan katakanlah Indomie dimana seorang konsumen belum tentu makan Indomie setiap hari. Dan berbeda dengan katakanlah batubara, minyak bumi, dll yang harganya bisa naik dan turun, harga jual rokok akan selalu naik terus, dan GGRM ketika itu merupakan salah satu perusahaan rokok paling terkemuka di tanah air. Pada bulan Juni 2010, GGRM berada di 31,000-an, atau sudah naik banyak dibanding posisi terendahnya tahun 2008 yakni 5,000-an, tapi penulis ketika itu tetap mengatakan bahwa sahamnya akan terus naik dalam jangka panjang. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Oktober 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.
***
And indeed, GGRM kemudian terus naik sampai sempat tembus 100,000, awal tahun 2019 lalu, atau mencetak profit lebih dari 3 kali lipat belum termasuk dividen, hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun. Malah jika seseorang cukup beruntung membeli GGRM pada harga 5,000-an, tahun 2008 lalu, maka berdasarkan posisi tertingginya di 100,000 tadi, keuntungannya mencapai 20 kali lipat belum termasuk dividen! Fakta menariknya adalah, kenaikan yang luar biasa tersebut justru terjadi ketika selama periode waktu 10 – 15 tahun terakhir ini, industri rokok di Indonesia dihajar habis-habisan oleh berbagai regulasi yang memberatkan, mulai dari aturan gambar menyeramkan di kemasan bungkus rokok, pembatasan penayangan iklan, hingga kenaikan cukai hampir saban tahun.
Jadi bagaimana bisa GGRM, seperti juga dua raksasa rokok lainnya yakni HM Sampoerna (HMSP) dan kemungkinan juga Djarum, bisa terus mempertahankan bisnis mereka, dan justru tumbuh signifikan dalam 10 tahun terakhir? Nah, berhubung kita sudah membahas HMSP, sedangkan Djarum nggak listing, maka pada ulasan kali ini, kita akan fokus ke GGRM. Okay, here we go.
Profil Perusahaan
Sejarah Gudang Garam berawal pada tahun 1958, ketika pendiri perusahaan, Surya Wonowidjojo, membuka pabrik rokok pertamanya di Kediri, Jawa Timur, dan status ‘PT Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam’ diresmikan tahun 1971. Tahun 1979, GGRM menjadi perusahaan rokok pertama di Indonesia yang memproduksi rokok menggunakan mesin pabrik (sebelumnya rokok hanya diproduksi menggunakan tangan pekerja), dan alhasil volume produksi rokok perusahaan meningkat signifikan, dan ini pula yang kemudian sukses membawa GGRM menjadi produsen rokok terbesar di Indonesia ketika itu. Tahun 1983, putra pertama dari Tuan Surya, Rachman Halim, mengambil alih posisi direktur utama perusahaan, sedangkan kesemua adik-adiknya menempati sejumlah posisi penting seperti direktur dan komisaris. Bisa dibilang bahwa GGRM kemudian menjadi perusahaan keluarga. Tahun 1990, GGRM go public, dan barulah sejak saat itu perusahaan berekspansi lebih jauh dengan mendirikan pabrik kertas karton (untuk kemasan rokok), secara rutin menambah kapasitas produksi, mendirikan PT Surya Madistrindo sebagai distributor tunggal produk GGRM, dan masuk ke segmen low tar nicotine. Tahun 2008, Rachman Halim wafat, dan posisinya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan digantikan oleh adiknya, Susilo Wonowidjojo.

Hingga pada hari ini, GGRM memiliki dua fasilitas produksi di Kediri, dan Gempol (keduanya di Jawa Timur), dan perusahaan berada di posisi kedua (dibelakang HMSP) sebagai produsen rokok terbesar di Indonesia, dengan pangsa pasar 25.7% per Kuartal II 2019. Seperti disebut diatas, GGRM juga memiliki produsen kertas karton dan distributornya sendiri, sehingga lini bisnis perusahaan terbilang terintegrasi. Secara track record, sejak tahun 2009 sampai Kuartal II 2019 kemarin, pendapatan perusahaan konsisten naik setiap tahun dari Rp31.1 trilyun, hingga kemungkinan akan mencetak rekor pendapatan Rp100 trilyun pada tahun 2019 ini. Demikian pula dengan laba bersihnya, yang meski tidak selalu rutin naik setiap tahun, namun tetap tumbuh signifikan dari Rp3.4 trilyun menjadi Rp8.6 trilyun di 2019 (laba di kuartal II, disetahunkan). Dan meski GGRM terbilang royal dividen, namun perolehan labanya yang cukup besar (ROE-nya konsisten sekitar 16 – 20%) menyebabkan ekuitasnya tetap tumbuh signifikan yakni dari Rp18.4 trilyun di tahun 2009, menjadi Rp44.4 trilyun pada pertengahan tahun 2019.
Yang perlu dicatat adalah, pertumbuhan kinerja yang sangat baik diatas terjadi ketika volume produksi rokok perusahaan hanya naik sedikit saja, dari 64.2 milyar batang di tahun 2009, menjadi 85.2 milyar batang di tahun 2018. Sehingga cuku jelas bahwa pertumbuhan pendapatan dll perusahaan lebih didorong oleh kenaikan harga jual produk secara bertahap, dimana kenaikan harga tersebut tetap diterima dengan baik oleh konsumen.
Valuasi saham GGRM saat ini
Okay, sekarang ke inti pertanyaannya. Pertama, kita tahu bahwa saham GGRM, yang ketika artikel ini ditulis berada di posisi 52,500, sudah turun hampir 50% dari posisi tertingginya di bulan Maret kemarin. Jadi apakah sekarang sahamnya sudah murah? Lalu kedua, kita tahu bahwa penyebab penurunan itu adalah terkait cukai rokok yang pada tahun ini resmi naik hingga 23%, efektif mulai tahun 2020 nanti. Jadi meski memang GGRM ini kinerjanya bagus, dan punya track record yang juga sangat konsisten, namun apakah dengan ini GGRM masih layak untuk jangka panjang? Nah, pertama-tama kita cek valuasi sahamnya dulu.
Berdasarkan posisi ekuitas serta laba bersihnya di Kuartal II 2019, maka pada harga 52,500, PBV GGRM tercatat 2.3 kali, sedangkan PER-nya 11.8 kali. Quick comparison, diatas kita sudah menyebut produk Indomie yang tingkat konsumsinya tidak serutin rokok, dan berapa valuasi dari Indofood CBP (ICBP) sebagai produsen Indomie? Pada harga 11,950, PBV 5.8, dan PER 27.0 kali, alias jauh diatas valuasi GGRM saat ini. Kemudian jika dibandingkan dengan valuasi GGRM sendiri katakanlah pada tahun 2010 lalu ketika harga sahamnya masih 31,000, maka PER-nya ketika itu mencapai 16 kali.
Jadi kesimpulannya? Yup, GGRM di harga sekarang sudah murah, dimana selama tidak terjadi perubahan fundamental pada perusahaan, maka cepat atau lambat sahamnya akan naik lagi. Untuk menguji hipotesa ini, mari kita cek lagi historis pergerakan saham GGRM selama 10 tahun terakhir, dimana selama periode waktu tersebut, GGRM sempat tiga kali turun signifikan (diluar penurunan yang terjadi tahun 2019 ini) sebelum kemudian naik lagi, yakni:
  1. Antara Oktober 2010 – Februari 2011, dari 51,900 ke 34,200
  2. Antara Desember 2012 – Oktober 2013, dari 55,500 ke 33,850
  3. Antara Desember 2014 – September 2015, dari 61,800 ke 41,750.
Lalu sekarang kita cek, berapa valuasi GGRM ketika sahamnya berada di harga-harga terendah mereka seperti yang disebut diatas, berdasarkan posisi ekuitas dan laba bersih perusahaan ketika itu? (laporan keuangan yang digunakan adalah laporan tahun penuh di tahun sebelumnya) And here we go.
Waktu
Harga saham
Laporan keuangan
PBV (x)
PER (x)
Feb-11
34,200
Tahun Penuh 2010
3.1
15.9
Oct-13
33,850
Tahun Penuh 2012
2.4
16.2
Sep-15
41,750
Tahun Penuh 2014
2.4
14.9
Berdasarkan angka-angka diatas, maka bisa kita lihat bahwa valuasi GGRM saat ini pada harga 52,500, yang mencerminkan PBV 2.3 dan PER 11.8 kali, adalah merupakan valuasi terendahnya dalam 10 tahun terakhir, meskipun selisihnya tidak jauh beda dengan ketika GGRM berada di posisi 41,750, September 2015 lalu.
Masalah Kenaikan Cukai
Okay Pak Teguh, jadi selama tidak terjadi perubahan fundamental, maka GGRM akan naik lagi, dan bukan tidak mungkin posisinya sekarang adalah titik terendahnya sebelum dia naik lagi. Tapi bukankah dengan kenaikan cukai kemarin, maka ada kemungkinan bahwa kinerja GGRM dalam 10 tahun kedepan tidak akan lagi sebagus 10 tahun ke belakang? Nah, dalam hal ini kita perlu melihat, faktor risiko apa yang paling berpengaruh terhadap kinerja perusahaan rokok. Penulis sudah cek laporan tahunan dari empat emiten rokok yang ada di BEI, yakni GGRM, HMSP, Wismilak Inti Makmur (WIIM), dan Bentoel Internasional Investama (RMBA). Dan kesimpulannya, menurut empat perusahaan ini, empat faktor risiko terbesar yang senantiasa mereka perhatikan adalah,
  1. Perkembangan ekonomi dan politik negara, dimana itu pada gilirannya mempengaruhi daya beli masyarakat,
  2. Ketersediaan pasokan bahan baku terutama tembakau,
  3. Persaingan antar sesama produsen rokok (bagi WIIM, ini adalah faktor risiko no.1, yang menunjukkan ketidak mampuan perusahaan untuk bersaing dengan GGRM dan HMSP), lalu baru
  4. Peraturan pemerintah, termasuk cukai.
Yup, jadi meski faktor kenaikan cukai bisa berdampak negatif pada pendapatan/laba bersih perusahaan, tapi itu hanya satu faktor diantara beberapa faktor lainnya yang juga berpengaruh signifikan. Sedangkan risiko seperti kampanye anti rokok, pembatasan iklan, klaim bahwa rokok merusak kesehatan bla bla bla, itu malah tidak terlalu dianggap sebagai bagian dari risiko (karena mungkin memang gak ada pengaruhnya). Kenyataannya adalah, ketika GGRM beberapa kali mengalami penurunan laba dalam 10 tahun terakhir, maka penyebab utamanya (atau setidaknya menurut penuturan manajemen) kalau bukan karena kenaikan harga tembakau, ya karena penurunan daya beli konsumen. Termasuk pada tahun 2018 – 2019 ini, penurunan daya beli konsumen menyebabkan produksi rokok di Indonesia secara keseluruhan turun, tapi GGRM bisa mengakali hal tersebut dengan merilis merk rokok baru dengan harga jual yang lebih ekonomis (misalnya Gudang Garam Patra, harganya cuma Rp10,700 per bungkus isi 12), dan alhasil volume produksi rokok perusahaan tetap tumbuh. Actually ini juga yang menjadi alasan kenapa GGRM (dan juga HMSP) sampai sekarang belum berminat untuk masuk ke segmen rokok elektrik, atau vape, karena harga jualnya jauh lebih mahal dibanding rokok biasa. Sebab bagi konsumen rokok di tanah air, yang mayoritas merupakan kelompok menengah kebawah, maka masalah harga akan selalu menjadi pertimbangan utama. Jadi alasan kenapa sekitar 60% penduduk pria di Indonesia adalah perokok, adalah karena harga rokok di Indonesia sampai hari ini masih merupakan salah satu yang termurah di dunia, bahkan meski cukai hampir selalu naik setiap tahun, dengan rata-rata kenaikan 10% per tahun.
Okay Pak Teguh, tapi kan untuk tahun 2020 nanti, kenaikan cukainya mencapai 23%, alias lebih tinggi dibanding biasanya, sehingga harga jual rokok juga akan naik banyak, dan itu pada akhirnya pasti berpengaruh ke pendapatan GGRM bukan? Nah, pertama-tama perlu diketahui bahwa meski cukai rokok rutin naik setiap tahun, tapi pada tahun 2018 kemarin kenaikan cukai itu tidak terjadi, dan karena itulah ketika di tahun 2019 ini cukai itu kembali dinaikkan, maka persentase kenaikannya jadi lebih tinggi dibanding biasanya. Jadi jika kita ambil rata-ratanya dalam dua tahun terakhir, maka kenaikan cukai rokok tetap hanya sekitar 10% per tahun. Perlu dicatat pula bahwa dalam setahunan terakhir, harga rokok pelan-pelan sudah naik meski cukai tidak naik, karena pihak produsen sudah wanti-wanti bahwa tahun depan nanti, cukai rokok bisa saja naik lagi (dan ternyata memang benar). Jadi untuk tahun depan nanti, GGRM dkk tidak perlu menaikkan harga jual rokok secara ekstrim, melainkan kenaikannya akan tetap pelan-pelan seperti tahun-tahun sebelumnya, dan perusahaan akan tetap untung.
Lalu kedua, dan ini yang mungkin tidak disadari oleh masyarakat: Selama ini cukai rokok menyumbang sekitar 8 – 9% dari total penerimaan negara setiap tahunnya, alias sangat besar, jauh diatas pendapatan non pajak lainnya. Sehingga jika konsumsi rokok turun, maka pemerintah juga yang akan rugi, dan ini belum termasuk kerugian yang dialami petani tembakau, pedagang eceran, dst, sehingga berisiko menurunkan pertumbuhan ekonomi. Alhasil selama ini, pemerintah tidak pernah menaikkan cukai hingga ke level dimana kenaikan tersebut akan menurunkan penjualan rokok, dan itulah kenapa kenaikan cukainya gak sampai 100%, misalnya (seperti kenaikan tarif BPJS). Kenaikan cukai yang pelan-pelan ini menyebabkan para produsen rokok, terutama HMSP dan GGRM, tetap konsisten membukukan kenaikan penjualan dari tahun ke tahun.
Jadi maksud penulis adalah, kalau memang benar tujuan kenaikan cukai itu adalah untuk membatasi atau bahkan menurunkan konsumsi rokok, maka kenapa cukainya gak sekalian dibikin mahal seperti cukai pada minuman beralkohol, misalnya? Untuk diketahui, tarif cukai rokok adalah sekitar 60% dari harga jual rokok sebelum dikenakan cukai tersebut (setiap kali cukainya naik, maka harga jual rokok juga ikut naik, sehingga persentase cukainya tetap), dan itu jauh lebih murah dibanding cukai minuman beralkohol golongan C, yang mencapai 150% dari harga jualnya. Bagi pemerintah, tanpa adanya cukai yang tinggi sekalipun, konsumsi liquor di Indonesia akan selamanya rendah, karena penduduk disini mayoritas muslim yang menghindari minuman keras. Jadi ya sudah, sekalian saja pasang cukai yang tinggi, dan alhasil harga miras di Indonesia sekian kali lipat lebih mahal dibanding di luar negeri. Tapi beda dengan rokok: Seperti disebut diatas, sekitar 60% penduduk pria di Indonesia adalah perokok, atau dengan kata lain ukuran pasarnya amat sangat besar, mungkin mencapai sekian persen dari GDP nasional. Sehingga jika jumlah perokok ini berkurang katakanlah hingga separuhnya akibat kenaikan cukai yang (terlalu) tinggi, maka pemerintah sendiri yang akan rugi hingga puluhan trilyun Rupiah. Dan mungkin ini pula kenapa GGRM dkk tidak menganggap kampanye anti rokok sebagai faktor risiko yang serius (risiko yang paling ditekankan adalah masalah daya beli), karena faktanya Pemerintah sendiri tidak serius dalam hal menurunkan tingkat konsumsi rokok di Indonesia, melainkan Kementerian Keuangan selama ini murni hanya mengejar cuan saja dengan cara menaikkan tarif cukai secara pelan-pelan hampir setiap tahun, tapi terus-menerus.
Kesimpulan akhirnya, well, penulis sudah menyampaikan semua yang penting untuk disampaikan, jadi kesimpulannya terserah anda sendiri. Namun seperti pada tahun 2010 lalu, penulis masih memberikan analisa yang sama untuk GGRM: Sahamnya layak untuk jangka panjang. Kalau soal GGRM akan ke berapa dalam 1 – 2 bulan mendatang, atau bahkan 1 – 2 tahun mendatang, itu kita nggak tahu. Tapi nanti mari coba anda baca lagi artikel ini agak lama dari sekarang, yakni sekitar tahun 2024 mendatang.
PT Gudang Garam, Tbk
Rating kinerja pada First Half 2019: AA
Rating valuasi saham pada 52,500: AA
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Oktober 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Tertarik untuk membaca Ebook Investment Planning (EIP) ketika pasar/IHSG terkoreksi seperti di tahun 2013, 2015, dan 2018 lalu?  Anda bisa memperolehnya disini, tentunya dengan harga diskon dibanding EIP edisi terbaru.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Persiapan & Strategi Investasi Menjelang Resesi

Bulan kemarin kita sudah membahas soal inverted yield curve dan hubungannya dengan krisis ekonomi, dimana pada akhir tulisannya penulis menyimpulkan bahwa memang ada kemungkinan bursa saham New York akan runtuh cepat atau lambat, dimana jika itu terjadi maka bursa saham di seluruh dunia juga akan ikut runtuh, termasuk di Indonesia. Namun alih-alih khawatir, penulis sendiri justru excited. Karena jika resesi itu nanti beneran terjadi dan IHSG hancur, maka itu justru menjadi kesempatan bagi investor yang mampu memanfaatkan periode resesi tersebut untuk ‘melompat lebih tinggi’. Namun tak lama setelah tulisannya di posting, penulis banyak menerima pertanyaan: Sebagai investor, apa yang harus kita lakukan/persiapkan sekarang untuk mengantisipasi terjadinya resesi??
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Oktober 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.
***
Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk melihat kisah dari Michael Burry, seorang fund manager pemilik Scion Capital, yang menjadi terkenal setelah ia sukses meraup keuntungan luar biasa dari kejatuhan bursa New York pada krisis besar tahun 2008 lalu. Okay, kita langsung saja.
Pada tahun 2008, seperti yang kita ketahui, Amerika Serikat (AS) mengalami krisis ekonomi yang kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia, dimana IHSG anjlok persis 50.1% sepanjang tahun 2008 tersebut. Namun yang tidak banyak diketahui orang, adalah bahwa berbagai pertanda terkait kemungkinan terjadinya krisis tersebut sudah muncul sejak beberapa tahun sebelumnya, tepatnya sejak tahun 2005, dimana ketika itu harga properti terus naik, dan ada banyak bank dan lembaga keuangan yang memiliki utang sangat besar dengan jaminan aset real estate, sedangkan nilai aset real estate itu sendiri sejak awal rawan untuk turun sewaktu-waktu (karena memang sudah naik tinggi sebelumnya).
Dan pada tahun 2005 inilah, Michael Burry memprediksi bahwa bubble di sektor properti ini akan meledak, dan pasar saham akan anjlok paling lambat pada Kuartal II 2007. Burry kemudian melakukan transaksi credit default swap (CDS) dengan sebuah investment bank, Goldman Sachs, dengan nilai transaksi US$ 1 milyar. Jadi intinya, Burry membayar secara bertahap hingga maksimal US$ 1 milyar ke Goldman sebagai ‘premi asuransi’ untuk sejumlah surat utang/obligasi dengan jaminan aset real estate, yang ada di pasar. Jika obligasi tadi mengalami gagal bayar (default) oleh debiturnya, maka Burry akan menerima pembayaran dari Goldman sebesar nilai nominal obligasi tersebut, dan Goldman akan mengambil alih obligasinya pada harga pasar (dimana harganya pasti akan anjlok/jauh dibawah harga nominalnya, sehingga dalam hal ini Goldman merugi, sedangkan Burry untung besar). Namun jika tidak terjadi default, maka Burry bisa saja kehilangan dana US$ 1 milyar tadi sama sekali, kecuali jika ia menjual CDS yang ia pegang. Goldman menerima proposal Burry karena mereka berkeyakinan bahwa pasar properti tidak akan jatuh. Sedangkan Burry berani mempertaruhkan hampir seluruh dana kelolaan yang ia pegang dalam transaksi CDS ini, karena ia berkeyakinan bahwa cuma soal waktu sebelum housing market di AS akan runtuh.
Namun hingga akhir tahun 2005 ternyata tidak terjadi default apapun. Karena Burry harus terus membayar premi ke Goldman, maka di tahun tersebut ia merugi sekitar 12%. Kemudian sepanjang tahun 2006, ternyata pasar properti tetap bertumbuh, termasuk Dow Jones juga malah naik dari 10,959 ke 12,398. Di tahun 2006 ini kerugian Burry membengkak hingga 24% (berbanding kenaikan Dow sebesar 13.1%), yang menyebabkan para investornya mulai protes, beberapa diantaranya bahkan mengancam akan membawa ke jalur hukum, namun Burry tetap bersikukuh bahwa pasar pada akhirnya akan jatuh. Memasuki 2007, pasar properti di AS mulai turun, dan sejumlah mortgage lender yang kecil-kecil juga mulai bangkrut, tapi secara umum tetap tidak terjadi default pada pasar obligasi, dan Dow Jones kembali naik sampai sempat tembus 14,000 pada Oktober 2007. Pada titik inilah, Scion Capital yang dikelola Burry sudah ditinggalkan oleh sebagian besar investornya, namun kepada investor yang masih bertahan, ia sekali lagi menyatakan bahwa pasar akan jatuh.
Eventually, pada tahun 2008, pasar akhirnya benar-benar jatuh, dan Burry menerima pembayaran dari Goldman, yang setelah ditambah akumulasi keuntungan sejak tahun 2000, totalnya ia meraup profit US$ 2.7 milyar. Namun pengalaman menghadapi tekanan dari para pemilik modal selama hampir tiga tahun sebelum akhirnya ia membukukan profit, menyebabkan Burry kemudian menutup Scion Capital, dan ia kemudian fokus mengelola dana pribadi miliknya sendiri.


Michael Burry, diperankan oleh Christian Bale dalam film The Big Short. Sumber: www.thrillist.com

Kapan krisis akan terjadi?
Nah, jadi pelajaran apa yang bisa diambil dari pengalaman Michael Burry diatas? Here it is: Meski seorang investor profesional berpengalaman tentunya bisa membaca tanda-tanda bahwa akan terjadi krisis atau market crash, misalnya kalau terjadi inverted yield curve (dan memang IYC ini juga sudah terjadi sejak penghujung tahun 2005, alias di tahun yang sama ketika Burry membeli CDS dari Goldman), namun soal kapan krisis itu akan terjadi, tidak ada seorangpun yang bisa menebaknya. Dari pengalaman Mr. Burry, maka seandainya ia menyerah dan menjual CDS yang ia pegang sebelum pasar benar-benar jatuh di tahun 2008, atau dengan kata lain melakukan cut loss, maka ia akan menderita kerugian besar, dan itu bukan karena analisanya keliru (karena pada akhirnya, memang benar terjadi krisis), tapi karena ia salah timing saja, yakni karena Burry sudah menerapkan strategi yang hanya akan menghasilkan keuntungan jika pasar anjlok sejak tahun 2005, tapi nyatanya Dow Jones justru naik terus sampai 2007 (sehingga ia justru rugi), dan baru turun di tahun 2008-nya.
Kemudian, meski Mr. Burry kemudian menjadi terkenal karena sukses memprediksi kejatuhan pasar, dan meraup profit besar dari situ, tapi penulis pikir pasti ada banyak fund manager lainnya selain Michael Burry, yang juga memprediksi bahwa pasar akan jatuh sejak tahun 2005 (karena pada tahun 2005 tersebut, tanda-tandanya memang sudah kelihatan), dan mungkin juga ikut membeli CDS atau jenis transaksi lainnya yang akan menghasilkan cuan jika pasar jatuh, tapi pada akhirnya mereka justru malah rugi. Karena tidak seperti Burry yang sukses ‘menahan nafas’ selama hampir 3 tahun hingga akhirnya ia profit, para fund manager ini kemungkinan tidak mampu menahan kerugian selama itu.
Okay Pak Teguh, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Karena tulisan diatas belum menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan kali ini: Persiapan & Strategi Investasi Menjelang Resesi? Nah, bagi investor pemula yang belum pernah mengalami kejatuhan pasar sebelumnya, maka cerita tentang resesi ini memang akan selalu terdengar menakutkan, karena yang terbayang adalah kita akan menderita rugi besar-besaran, jika resesi itu nanti terjadi. Tapi biar penulis sampaikan hal ini: Ketika IHSG crash di tahun 2008, maka apakah di tahun itu masih ada investor yang masih untung besar? Tidak ada! Yang terjadi adalah, semua orang merugi, tapi dengan persentase kerugian yang berbeda-beda, dimana investor A mungkin cuma rugi 15%, tapi investor B menderita rugi hingga modalnya tinggal sisa sepersepuluhnya. Seorang fund manager kenalan penulis yang ikut merasakan pengalaman tahun 2008 mengatakan bahwa, pada tahun laknat itu, jika seorang investor punya cash katakanlah separuh dari nilai portonya, sedangkan separuhnya lagi tetap berupa saham yang nilainya nyaris habis karena market crash, maka itu saja sudah bagus sekali! Karena jika sisa cash ini dibelikan saham di tahun 2009-nya, maka keuntungannya akan langsung berlipat-lipat dalam waktu 1 – 2 tahun berikutnya saja, sehingga menutup kerugian yang terjadi pada saham-saham yang tetap dipegang sepanjag tahun 2008. Tapi sekali lagi, jangankan profit, maka untuk sekedar tidak rugi saja, pada tahun 2008 itu tidak ada seorang investorpun yang mengalaminya.
Tetap Beli Saham, Tapi Dengan Menyisakan Cash
Okay, jadi kesimpulannya? Yup, jadi kalau yang dimaksud ‘persiapan menjelang resesi’ itu adalah cara agar kita bisa tetap profit ketika resesi itu terjadi, maka kabar buruknya, tidak ada cara untuk itu. Ketika nanti resesi itu terjadi, maka tidak bisa tidak: Anda, dan juga penulis, akan menderita rugi. Dan kalaupun anda bisa melakukan skema investasi tertentu seperti yang dilakukan Michael Burry diatas, maka problemnya balik lagi: Kita tidak tahu kapan resesi itu akan terjadi, sehingga kecuali anda juga bisa ‘tahan nafas’ hingga bertahun-tahun seperti yang dilakukan Mr. Burry, maka anda tetap akan rugi besar. Okay, lalu bagaimana kalau kita sekarang simpan 100% porto dalam bentuk cash saja, lalu baru belanja nanti ketika IHSG sudah di 4,500, misalnya?? Ya tetep saja: Bahkan kalaupun IHSG nanti beneran jatuh sampai kesitu, kita tetap nggak tahu kapan itu akan terjadi! Sehingga kalau IHSG baru jatuh tahun 2022 nanti, misalnya, sedangkan sebelum itu IHSG justru terus naik sampai 8,000, maka anda yang sekarang ini memilih untuk jual bersih semua saham (dalam rangka ‘persiapan’ resesi) akan menderita kerugian, yakni dalam bentuk profit yang hilang yang harusnya bisa anda peroleh, jika saham-saham tadi tetap anda hold.
Jadi kita kudu gimana? Well, pertama-tama kita harus mengerti bahwa jika diluar rumah sedang hujan, maka kita tidak harus hujan-hujanan lalu jatuh sakit kemudian tekor karena biaya dokter, tapi kita tetap harus keluar sedikit dana untuk beli payung, jas hujan, senter untuk persiapan mati lampu, dst. Artinya? Yep, ketika resesi itu nanti terjadi, maka kita tidak harus menderita rugi sampai modal kita habis sama sekali, tapi kita tetap harus siap untuk menderita kerugian tersebut, dan jangan berharap untuk bisa tetap menghasilkan keuntungan. Karena pada titik ini asal gak rugi aja, atau rugi tapi nggak besar, maka itu sudah sangat bagus. Warren Buffett sendiri pada krisis tahun 2008 menderita rugi 9.6%, tapi itu tetap merupakan kinerja yang sangat baik dibanding kinerja dari sekian banyak fund manager lainnya di Amerika Serikat (dan juga seluruh dunia), yang menderita rugi besar-besaran karena indeks S&P itu sendiri jeblok 37.0%.
Baiklah Pak Teguh, saya sudah mengerti bahwa skenario terbaik ketika nanti terjadi resesi adalah kita menderita rugi, tapi ruginya nggak besar. Pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa mencapai skenario tersebut? Well, why, tentu saja kita bisa tiru cara Opa Buffett. Pertama, kecuali sangat-sangat diperlukan, Berkshire Hathaway (BRK) tidak akan membeli saham menggunakan dana pinjaman, dan itu juga pernah dibahas disini. Jadi anda juga bisa melakukan hal yang sama: Selalu beli saham pake duit yang ada saja, dan jangan pernah pake margin, apalagi sampai gadai rumah.
Kedua, anda mungkin mendengar bahwa Buffett saat ini memegang cash dalam jumlah besar. Yup, per Kuartal II 2019, Berkshire Hathaway (BRK) memegang cash senilai $122 milyar, atau mencapai 60% dari total investasinya di saham-saham perusahaan Tbk di Amerika, dan 17% dari total aset BRK. Dan kenapa Buffett melakukan itu? Sederhana, karena ia kesulitan menemukan saham bagus yang harganya masih murah, tapi bukankarena ia memprediksi bahwa bursa Amerika akan segera jatuh. Karena faktanya, posisi cash BRK sudah membengkak hingga tembus diatas $100 milyar sejak tahun 2018 lalu. Kalau Buffett mau, maka bisa saja pada tahun 2018 itu ia menjual habis seluruh saham perusahaan Tbk yang ia pegang (sehingga posisinya 100% cash), tapi ia tidak melakukan itu karena itu bisa menyebabkannya kehilangan potensi profit, jika pasar saham Amerika ternyata lanjut naik (dan memang di tahun 2019 ini, Dow masih naik). Sebaliknya, jika Amerika tahun ini atau tahun depan mengalami resesi, maka BRK akan menderita kerugian dari penurunan saham Apple Inc, dst, tapi itu juga gak masalah karena sudah ada persedian cash yang lebih dari cukup untuk tambah posisi/average down di saham-saham itu tadi. Sehingga ketika periode resesi tersebut akhirnya berakhir dan pasar pulih lagi, maka BRK akan tetap profit seperti sebelumnya, atau bahkan profitnya lebih besar lagi.
Jadi kesimpulannya, kalau modal anda Rp20 juta, misalnya, maka boleh belanja saham maksimal hingga Rp10 – 15 juta saja. Dengan cara ini maka kalau resesi itu tidak juga terjadi/IHSG naik terus selama beberapa bulan hingga 1 – 2 tahun kedepan, maka anda masih akan profit dari saham-saham yang masih dipegang. Sedangkan jika persis besok pagi langsung jeger! Amerika resesi! Maka anda memang akan rugi karena saham anda bakal turun, tapi yang penting masih ada amunisi untuk nanti masuk lagi katakanlah 6 – 12 bulan dari sekarang, yakni ketika periode resesi itu mencapai titik terendahnya. So it’s a win-win solution, dan kita tidak perlu lagi menebak-nebak soal kapan Dow Jones akan jatuh. Dan yang terpenting, meski pada periode resesi itu kita akan merugi, tapi selama kita tetap bertahan maka, hanya dalam satu atau dua tahun kemudian, kita akan pesta besar ketika saham-saham yang dibeli menggunakan cash yang sudah disiapkan (sejak sebelum terjadinya krisis) mulai naik.. dan terus naik tanpa henti.. seperti yang terjadi tahun 2009 dan 2010 lalu.
Another Signal of Recession
Terakhir nih Pak Teguh, meski memang kita gak bisa tahu kapan resesi atau krisis akan terjadi, tapi ada gak sih gambaran sedikit saja, soal tanda-tandanya? Nah, kemarin kita sudah menyebut satu pertanda yakni inverted yield curve, kemudian W. Buffett sudah mengumpulkan cash, dan kemarin ada satu lagi peristiwa menarik: Start-up WeWork, yang sebelumnya hendak IPO di bursa Amerika dengan nilai valuasi perdana tidak tanggung-tanggung yakni $47 milyar, belakangan menunda IPO-nya karena ternyata kurang laku. Sebelumnya, hampir semua perusahaan teknologi terkemuka sukses besar mengambil dana investor di pasar modal melalui skema IPO, bahkan meski perusahaan yang bersangkutan sejatinya masih merugi (contohnya kemarin Uber, dan WeWork juga masih merugi). Bagi value investor, sejak awal kita gak mungkin membeli saham dari perusahan yang merugi, tapi euforia di sektor tech start-up menjadikan investor di Amerika tetap membeli saham-saham perusahaan teknologi, bahkan pada valuasi yang sangat mahal.
Namun dengan ditundanya (atau dibatalkannya) IPO WeWork, maka sepertinya euforia itu mulai berakhir. Perlu diketahui bahwa dengan penundaan IPO WeWork ini, maka ada dua lembaga keuangan raksasa yang dirugikan yakni Softbank (investor terbesar WeWork, yang sudah ‘bakar duit’ habis-habisan untuk mengembangkan perusahaan), dan JP Morgan (penjamin emisi IPO-nya), dan kita tahu bahwa satu peristiwa kerugian itu bisa berlanjut alias merembet kemana-mana (Softbank adalah juga penyandang dana di Tokopedia, Indonesia). Well, kita lihat saja nanti perkembangannya bagaimana.
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Oktober 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning – Kuartal II 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Seluruh analisa di ebooknya ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan to the point. Jadi jika anda bisa memahami analisa saham yang disampaikan disini, maka anda juga akan bisa menyerap isi ebooknya dengan baik. Anda bisa langsung memesannya disini.

Daftar isi dari Ebook edisi sebelumnya (Kuartal I 2019), yang terbit bulan Mei 2019. Klik gambar untuk memperbesar.

Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning, dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee + selling tax yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan itu bahkan belum termasuk diskon jika anda berlangganan ebooknya secara jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, praktisi value investing pertama di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
Sekali lagi, untuk memperolehnya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Telp/SMS/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti), atau 0812-2044-5202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomor yang satunya.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi Lestianto-
***

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Minggu 29 September 2019, pukul 13.00 WIB. Info selengkapnya baca [...]

Analisa Kenaikan Tarif Cukai Rokok Terhadap HMSP, GGRM

Pagi ini tiga saham rokok yakni HMSP, GGRM, dan WIIM turun lebih dari 10%, setelah akhir pekan kemarin Menteri Sri Mulyani ketok palu kenaikan cukai rokok 23%, atau diatas wacana sebelumnya yang hanya 10%. Nah, sebenarnya analisa berikut ini hanya penulis share kepada temen-temen member Ebook Market Planning (EMP). Tapi setelah saya pertimbangkan lagi, karena ini sudah menjadi pertanyaan semua orang maka sekalian saya posting saja disini, so here we go. Btw, untuk pertama kalinya, saya mencoba menampilkan analisanya dalam bentuk video Youtube, bisa anda lihat di halaman berikut:

Jika anda punya analisa tersendiri terkait saham perusahaan rokok, bisa disampaikan melalui kolom komentar dibawah.

Untuk minggu depan, kita akan bahas soal dampak kenaikan harga minyak terhadap IHSG, dan saham-saham apa saja yang mungkin diuntungkan/dirugikan.

***
Penulis membuat Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) berdasarkan laporan keuangan Kuartal II 2019. Dan anda bisa memperolehnya pada link berikut.
Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman seminarnya (rekaman terbaru bulan Agustus 2019 kemarin) pada link [...]

Prospek TINS Pasca Peraturan Menteri ESDM Terkait Ekspor Timah

Hingga Sabtu, 14 September, PT Timah, Tbk (TINS) masih belum merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal II (Q2) 2019. Namun ada yang menarik kalau kita telisik LK Q1 perusahaan: Pendapatannya melonjak dua kali lipat menjadi Rp4.2 trilyun, dan demikian pula laba bersihnya tercatat Rp301 milyar, alias mencapai Rp1.2 trilyun jika disetahunkan. Bisa dibilang bahwa tahun 2019 ini adalah kali pertama perusahaan membukukan kenaikan laba yang signifikan setelah selama lima tahun sebelumnya (atau lebih lama lagi), perolehan laba TINS cenderung stagnan di kisaran Rp500-an milyar per tahun, dan memang ada satu peristiwa penting yang menjelaskan kenaikan laba tersebut. Peristiwa apakah itu?

***
Penulis membuat Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) berdasarkan laporan keuangan Kuartal II 2019. Dan anda bisa memperolehnya pada link berikut.

Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman seminarnya (rekaman terbaru bulan Agustus 2019 kemarin) pada link berikut.
***
PT Timah, Tbk, seperti yang kita ketahui, adalah BUMN tambang spesialis timah yang sudah berdiri dan beroperasi sejak zaman Pemerintah Kolonial Belanda, ketika itu untuk mengeksploitasi sumber daya timah yang melimpah di Pulau Bangka, Belitung, dan Singkep. Logam timah itu sendiri merupakan bahan baku utama untuk pembuatan barang-barang elektronik, seperti solder, baterai, kaleng, dan untuk dicampur dengan logam lainnya seperti tembaga (copper alloy). Pada tahun 1968, Pemerintah RI menasionalisasi perusahaan tambang timah milik Belanda menjadi PN Tambang Timah, dimana nama perusahaan terakhir menjadi PT Timah, Tbk pada tahun 2017. Di tahun 2017 ini pula, dalam rangka pembentukan holding pertambangan, saham Pemerintah di TINS dialihkan ke PT Inalum, sebuah BUMN di bidang produksi alumunium yang 100% dimiliki oleh Pemerintah (jadi TINS masih tetap dimiliki oleh negara, tapi melalui Inalum). Namun sesuai PP No.72 Tahun 2016, maka untuk hal-hal yang bersifat strategis dan/atau menyangkut hajat hidup orang banyak, maka TINS tetap dikendalikan langsung oleh Pemerintah.

However, diluar partisipasinya dalam pembentukan holding tambang, maka sejak perusahaannya dinasionalisasi hingga tahun 2017 lalu, boleh dibilang perusahaan tidak mengalami perkembangan atau ekspansi yang berarti, dimana perusahaan tetap hanya menggali bijih timah terutama di Pulau Bangka dan Belitung, mengolahnya menjadi logam timah, lalu dijual. Volume produksi dan ekspor logam timah milik perusahaan juga segitu-gitu aja, malah cenderung turun, dimana pada tahun 2008 lalu TINS pernah mengekspor 44 ribu ton timah, tapi pada tahun 2018 kemarin volume ekspor itu tinggal dua pertiganya menjadi 30 ribu ton. Sebetulnya sejak tahun 2007 lalu, TINS mulai masuk ke industri hilir timah dengan juga memproduksi solder, dan bahan-bahan kimia berbasis timah.
Tapi kemungkinan karena manajemen tidak fokus dimana TINS juga masuk ke sektor konstruksi, properti, rumah sakit, tambang batubara, hingga tambang nikel, maka jadilah kontribusi ‘segmen lain-lain’ ini terbilang kecil terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Pada Q1 2019, dari pendapatan TINS sebesar Rp8.8 trilyun (sebelum eliminasi), hanya Rp528 milyar yang berasal dari segmen lain-lain, dan selebihnya tetap dari segmen tambang timah. Sebenarnya, kalau saja manajemen bisa fokus mengembangkan industri hilir timah dan katakanlah mampu memproduksi timah solder atau pelat timah dalam jumlah besar, maka perusahaan tidak perlu membatasi volume produksi tambangnya. Untuk diketahui, TINS adalah produsen timah terbesar kedua di dunia (setelah Yunnan Tin, dari China), tapi TINS merupakan eksportir timah terbesar di dunia. Karena berbeda dengan Yunnan Tin yang sudah bisa mengolah timah-nya menjadi barang-barang kimia industri, TINS tidak punya pilihan lain kecuali langsung melempar produksi timahnya ke pasar internasional. Tapi jika TINS terlalu banyak mengekspor timah, maka itu bisa menyebabkan oversupply, dan menurunkan harga jual timah itu sendiri. Inilah alasan kenapa TINS harus membatasi volume produksi dan ekspor timahnya, dan alhasil dalam 10 tahun terakhir ini volume ekspor timah perusahaan justru turun (baca lagi paragraf diatas). Namun bahkan itupun tidak mampu mendorong harga timah dunia untuk naik signifikan, dimana harga timah di LME (London Metal Exchange) terakhir masih $16,475, atau relatif tidak berubah dibanding Agustus 2009 (10 tahun lalu) yang tercatat $14,870 per ton. Dan alhasil, kinerja TINS selama lima tahun hingga 2018 kemarin, atau lebih lama lagi, terbilang segitu-gitu aja.
Problem Terbesar TINS: Ada Banyak Perusahaan Swasta yang Juga Mengekspor Timah
Karena alasan diatas lah, penulis dari dulu tidak pernah tertarik dengan TINS ini, bahkan meski sahamnya relatif populer di kalangan trader saham karena dia gampang naik sewaktu-waktu, yakni jika dua saham tambang lainnya yakni Aneka Tambang (ANTM) dan International Nickel (INCO) sedang naik. Saham TINS itu sendiri, seiring dengan kinerjanya yang stagnan dalam 10 tahun terakhir, juga tidak kemana-mana selama 10 tahun tersebut, dimana pada Agustus 2009 lalu TINS berada di level 1,400-an, dan sekarang dia masih di Rp1,190 per saham. Jadi kecuali ada perubahan ekstrem pada manajemen, misalnya jika mereka serius masuk ke industri hilir timah, atau jika ada peraturan pemerintah yang menguntungkan perusahaan, maka TINS tidak menawarkan prospek apapun baik itu untuk jangka pendek, maupun panjang.
Hingga pada Februari 2018, Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) No.11 tahun 2018, dilanjut Permen No.26 pada bulan Mei 2018, yang pada intinya memperketat perizinan ekspor timah, dan alhasil hanya TINS yang memiliki cukup kompetensi untuk memperoleh izin ekspor timah tersebut. Nah, sebelumnya perlu diketahui bahwa meski TINS merupakan perusahaan tambang timah terbesar di Indonesia, namun di Bangka dan Belitung sana ada banyak perusahaan-perusahaan timah lainnya yang kecil-kecil, yang kalau ditotal maka mereka juga mengekspor timah dalam jumlah besar, bahkan lebih besar dari ekspor TINS itu sendiri. Dengan kata lain, meski TINS membatasi volume produksi dan ekspor timahnya, tapi selama perusahaan-perusahaan swasta ini tetap jualan timah dalam jumlah besar, maka kondisi oversupply timah di pasar internasional tetap akan terjadi, dan harga timah selamanya gak akan pernah naik.
Namun memasuki tahun 2019 ini, praktis hanya TINS saja yang bisa mengekspor logam timah, sedangkan perusahaan-perusahaan lain harus menjual produksi timah mereka ke TINS. Alhasil volume produksi TINS langsung melonjak tajam, demikian pula dengan volume ekspornya, dimana hingga Juli 2019, TINS sudah mengekspor 39 ribu ton timah, atau mencapai 68 ribu ton jika disetahunkan, yang merupakan rekor baru sejak tahun 2008 (sebelumnya, rekor ekspor terbesar TINS adalah 46 ribu ton di tahun 2009). Pihak manajemen TINS sendiri langsung merespon permen diatas dengan membangun smelter baru dengan kapasitas 40 ribu ton timah per tahun, yang tentunya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi timah perusahaan, dimana smelter ini ditargetkan beroperasi pada Semester II tahun 2021 nanti.
Thus, berbeda dengan sebelumnya, TINS kini menawarkan prospek jangka panjang yang menarik, termasuk ada kemungkinan bahwa harga timah di LME, yang terakhir masih relatif rendah di $16,000-an per ton (dibanding rata-ratanya sejak tahun 2016, yakni $20,000 per ton), akan naik lagi karena ekspor timah dari Indonesia akan berkurang bahkan meski TINS meningkatkan volume ekspornya (karena itu tadi: Perusahaan timah swasta sudah tidak bisa ekspor lagi). Dan actually hal ini juga yang menyebabkan saham TINS naik cukup signifikan dalam setahun terakhir, dimana September 2018 lalu dia masih di 715, tapi sekarang sudah di 1,190.
Namun pada harga 1,190, yang mencerminkan PBV 1.3 kali dan PER 7.3 kali berdasarkan kinerjanya di Q1 2019, maka sahamnya belum bisa disebut mahal, dan masih berpeluang untuk naik lebih lanjut, jika memang kenaikan labanya berlanjut pada Q2 ini dan seterusnya. Atau bahkan sahamnya bisa saja jackpot, yakni jika TINS sukses menaikkan volume ekspor timahnya, sedangkan harga logam timah juga berbalik naik menyusul harga emas dan nikel, yang sudah lebih dulu naik sejak beberapa bulan lalu.
However, masih ada beberapa catatan penting kalau anda tertarik dengan TINS ini. Pertama, berhubung kinerja TINS selama ini cenderung tidak konsisten dari kuartal ke kuartal, maka tidak ada jaminan bahwa labanya di Q2 ini akan lanjut naik, sehingga akan lebih aman jika kita tunggu sampai LK-nya keluar. Kedua, TINS sampai hari ini masih belum fokus ke industri hilir timah itu sendiri, sehingga posisinya tidak jauh berbeda dengan perusahaan tambang lainnya yang mau main gampang saja: Gali timah, lalu jual. Sehingga kinerjanya akan sangat tergantung pada fluktuasi harga timah di LME. Dan kelemahan perusahaan adalah memang itu tadi: Tidak fokus, dimana tahun 2018 kemarin perusahaan malah jauh-jauh berinvestasi pada tambang timah di Nigeria (ngapain coba?), padahal sumber daya timah di dalam negeri masih amat sangat besar.
Terakhir ketiga, penulis sendiri menganggap bahwa Permen diatas terbilang tidak adil bagi perusahaan-perusahaan swasta yang selama ini cari makan dari timah, sehingga ada kemungkinan Permen tersebut kedepannya direvisi, atau akan ada perusahaan lain yang pada akhirnya sanggup memenuhi syarat kompetensi untuk mengekspor timah, dimana jika itu terjadi maka TINS akan kehilangan keistimewaannya sebagai eksportir tunggal timah Indonesia, dan kinerjanya akan stagnan lagi seperti dulu.
Anyway, dibanding dengan prospeknya seperti yang sudah disebut diatas, maka TINS tetap sangat menarik untuk dipertimbangkan, terutama karena itu tadi: Valuasi sahamnya masih belum mahal, sedangkan kinerjanya kemarin memang beneran naik kok. Tinggal tunggu LK Q2-nya saja: Jika hasilnya memang masih bagus, then there you go.
PT Timah, Tbk (TINS)
Rating Kinerja Q1 2019: A
Rating Valuasi Saham pada 1,190: A
***
Penulis membuat Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) berdasarkan laporan keuangan Kuartal II 2019. Dan anda bisa memperolehnya pada link berikut.

Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman seminarnya (rekaman terbaru bulan Agustus 2019 kemarin) pada link berikut.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bagi Value Investor, Profit Itu Nomor Dua. Nomor Satunya Adalah..

Minggu lalu, tepatnya tanggal 30 Agustus 2019, Warren Buffett merayakan ulang tahunnya yang ke-89. Usia yang tidak lagi muda, tentu saja, namun tetap belum ada tanda-tanda bahwa ia akan pensiun dari posisinya sebagai chairman Berkshire Hathaway, dan juga sebagai investor itu sendiri. Tidak hanya itu: Sepanjang hidupnya, Buffett hampir tidak pernah menderita sakit, kecuali di tahun 2012 dimana ia sempat divonis memiliki gejala kanker prostat, tapi setelah itu ia kembali sehat dan bekerja seperti biasa hingga hari ini.

***

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Minggu 29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.

***


Namun yang lebih luar biasanya lagi adalah, gaya hidup Buffett sejatinya sangat jauh dari apa yang disarankan oleh para pakar kesehatan. Buffett tidak menyukai sayuran seperti katakanlah brokoli, tapi ia rutin mengkonsumsi junk food seperti burger McDonald’s, es krim sundae dari Dairy Queen, hingga kue coklat kacang dari See’s Candies. Dan Buffett jarang minum air putih, instead ia meminum setidaknya lima botol Coca-Cola setiap harinya. Fakta bahwa Coca-Cola berkontribusi terhadap sekian puluh ribu kematian di Amerika Serikat setiap tahunnya karena penyakit jantung, diabetes, hingga kanker, menyebabkan orang awam menjadi bertanya-tanya: Apa yang membuat Buffett bisa tetap sehat walafiat??

Disisi lain, menjadi investor saham itu tampak seperti pekerjaan yang paling bikin stress yang pernah ada di dunia. Penulis sering sekali menerima pertanyaan, saya beli saham A di harga sekian, tapi sekarang sahamnya turun, kenapa bisa begitu? Apa yang harus saya lakukan? Atau semacamnya. Tidak hanya bagi investor pemula, investor yang sudah pengalaman sekalipun sering mengalami tekanan psikologis karena hal-hal seperti beli saham lalu besoknya saham itu turun, atau jual saham lalu besoknya saham itu naik, atau menjadi pusing sendiri sampai gak bisa tidur karena IHSG turun dan alhasil semua sahamnya ikut turun. Dalam banyak kasus, tekanan psikologis seperti itulah yang kemudian menjadi pemicu penyakit tertentu, yang pada akhirnya membuat seseorang tidak bisa mencapai usia 80-an seperti Buffett, atau berumur panjang tapi sakit-sakitan.
Jadi bagaimana bisa Warren Buffett, yang memiliki pola makan yang tidak sehat, yang hampir sepanjang hidupnya menjalani satu pekerjaan yang sangat bikin stress, tidak hanya berusia panjang, tapi juga senantiasa sehat dan tetap bisa beraktivitas produktif sampai sekarang?

Gorat’s Steakhouse di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, yang merupakan restoran favorit Warren Buffett sejak dulu sampai sekarang. Sumber gambar: CNBC.com
Whatever Doesn’t Kill You, Makes You Stronger
Tapi bagaimana jika penulis bilang, justru karena Buffett adalah seorang investor, maka ia bisa memiliki usia panjang? Yup! Karena coba pikir: Ketika anda merasa takut, deg-degan ketika membeli saham, atau panik ketika saham anda turun, maka itu sangat manusiawi. Karena tidak ada seorangpun di dunia ini, entah itu investor atau bukan, yang suka merugi atau kehilangan sejumlah uang. Dan jangankan rugi, kadang hanya meraih profit Rp1,000 ketika kita seharusnya bisa profit Rp2,000 seandainya kita beli saham itu lebih banyak, juga bisa bikin nyesek (karena serakah). Demikian pula ketika anda hold sebuah saham selama tiga hari tapi dia gak naik-naik juga, maka anda mungkin akan mulai merasa jengkel, karena tidak sabar menunggu dia naik.
Tapi sebenarnya yang mengalami hal-hal diatas bukan cuma investor, melainkan sekali lagi orang yang bukan investor juga mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. You see, penulis sendiri pernah beli suatu barang pada harga sekian, tapi kemudian saya baru tahu kalau toko lain juga menjual barang yang persis sama pada harga yang lebih murah, sehingga saya jadi seperti kehilangan sejumlah uang, dan itu rasanya nggak enak. Kemudian pernah ada teman yang curhat bahwa ia harusnya bisa dapet uang lebih banyak andaikan usahanya tidak diganggu masalah ini dan itu. Dan jangan tanya pula soal sabar: Kalau misalnya anda harus mengantri panjang menunggu diperiksa dokter di rumah sakit ketika anda seharusnya bisa bekerja di kantor atau beristirahat tidur-tiduran di rumah, maka itu juga rasanya nggak enak bukan??
Namun berbeda dengan orang awam yang tidak setiap hari mengalami peristiwa-peristiwa yang ‘menguji kesabaran’, maka investor saham seperti dipaksa untuk merasakan panik, serakah, dan juga dipaksa untuk sabar setiap hari, setiap saat! Alhasil, tidak semua orang bisa cukup ‘kuat’ untuk menjadi seorang investor. Tapi bagi mereka yang mampu bertahan, maka mereka akan sampai pada satu titik dimana mereka akan mati rasa, yakni karena sudah saking terbiasanya dengan semua tekanan psikologis tadi. Pada titik ini, seorang investor tidak akan lagi merasa kesal ketika ia harus cut loss, tapi juga tetap bersikap biasa-biasa saja ketika ia profit besar dari saham tertentu. Dan ketika pasar euforia membicarakan ‘saham-saham terbang’, maka ia memilih untuk duduk menyendiri, untuk fokus menganalisa saham-saham yang akan ia ambil, dan kemudian tidur nyenyak di malam hari karena ia tahu persis tentang perusahaan yang sahamnya ia beli.
Nah, jadi balik lagi ke Warren Buffett. Seperti yang kita ketahui, Buffett sudah membeli saham sejak ia berusia 11 tahun. Maka, sejak saat itu pula ia sudah mulai menghadapi tekanan-tekanan psikologis sebagai investor. Jadi sekitar 20 tahun kemudian, yakni pada usia 30-an, Buffett sudah mengalami kondisi ‘mati rasa’ itu tadi, dan sudah menguasai setidaknya tiga ilmu tingkat tinggi: Ikhlas (tidak mudah panik, dan juga tidak jengkel ketika menderita rugi), bersyukur (tidak serakah), dan tentunya, sabar. Dari tiga ilmu inilah, Buffett kemudian menjadi seperti yang kita kenal sekarang ini: Memiliki gaya hidup sederhana bahkan untuk ukuran American middle-class(sedangkan ia adalah seorang billionaire), hanya punya satu rumah itu saja yang ia tempati sejak tahun 1950-an, mengendarai satu mobil yang itu-itu saja, always happy, rendah hati (jarang mau berbicara soal kesuksesannya, lebih suka bicara tentang kesalahan-kesalahan investasi yang pernah ia lakukan), jarang mengkritik investor atau trader saham lainnya, banyak beramal, dan ia mengelola Berkshire Hathaway dengan cara-cara yang baik, dimana ia tidak pernah melakukan hostile takeover atau semacamnya. Seperti yang pernah penulis sampaikan disini, kita sebenarnya bisa belajar banyak dari Warren Buffett tidak hanya dari metode serta filosofinya dalam berinvestasi, tapi juga dari kehidupan sehari-harinya sebagai manusia biasa pada umumnya.
Dan salah satu ilmu yang juga bisa kita pelajari adalah, jika anda hendak sehat dan panjang umur seperti Warren Buffett, maka jadilah pribadi yang happy, yang tidak mengalami stress atau overthinking, yang senantiasa ikhlas dan bersyukur. Caranya? Ya dengan menjadi investor saham! Bisa dibilang bahwa segala tekanan psikologis yang anda alami di tahun-tahun awal sebagai investor, akan menjadi semacam vaksin imunisasi, yang justru akan membuat anda lebih kuat dalam menghadapi tekanan psikologis seperti itu di masa yang akan datang. Dan kalau anda kelak sudah bisa bersikap biasa-biasa saja ketika rugi sekian milyar Rupiah, misalnya, maka bagaimana mungkin hal-hal kecil lainnya seperti terjebak kemacetan ketika pulang kantor bisa membuat anda stress? Ponakan penulis sendiri pernah memberikan satu testimoni, ‘Om Teguh itu gak pernah cemberut, pokoknya kalau ketemu pasti senyuuuum terus ???? dan selalu kasih jajan. Gak kaya nenek, papa, atau mama, yang kadang begitu masuk rumah aja udah terasa aura nggak enaknya’.
Nah, jadi buat temen-temen yang masih belum mulai brerinvestasi di saham, maka biar penulis sampaikan satu hal: Tujuan kita berinvestasi di saham memang untuk meraih keuntungan, tapi sebenarnya masih ada satu tujuan yang lebih penting lagi, yakni agar kita bisa belajar banyak untuk menjadi pribadi yang happy, yang tidak mudah stress, dimana itu pada akhirnya akan membantu kita untuk senantiasa hidup sehat, dan insya Allah panjang umur.
Namun untuk mencapai itu semua, maka kita harus memulainya dari sekarang juga, karena perjalanannya akan sangat panjang dimana pada tahun-tahun awal anda justru akan mengalami sebaliknya: Stress setiap hari, jantungan setiap saat, hingga nggak bisa tidur. Anyway, buat temen-temen yang sudah cukup berpengalaman sebagai investor, maka mungkin bisa share tentang bagaimana ‘transformasi’ anda dari yang tadinya serba nggak sabaran, menjadi investor yang lebih santai seperti sekarang. Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Minggu 29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rekaman Terbaru Seminar Value Investing + Bonus Ebook

Dear investor, penulis pada bulan Agustus 2019 kemarin menyelenggarakan seminar ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’, dan juga seminar Value Investing, Avanced Class’, di dua kota yakni Jakarta dan Surabaya. Nah, suara penulis ketika mengisi dua kelas diatas direkam dari awal sampai akhir, dan anda bisa memperoleh rekaman tersebut (sudah dipilihkan rekaman yang terbaik/yang penyampaian materinya paling jelas) dengan ketentuan sebagai berikut.

1. Rekaman Seminar ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’
  • Materi: Cara cepat menilai fundamental saham, cara menghitung harga wajar saham, ciri-ciri saham untuk investasi jangka panjang, dst. Materi lengkapnya bisa dibaca disini.
  • Durasi: 3 sesi, masing-masing berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit (jadi totalnya 4.5 jam).
2. Rekaman Seminar ‘Value Investing Advanced Class’
  • Materi: Cara membaca arah pasar termasuk strategi jika IHSG terkoreksi/turun, cara membaca sektor atau saham apa yang akan naik banyak pada tahun tertentu, cara melihat poin-poin manipulasi laporan keuangan, dst. Materi lengkapnya bisa dibaca disini.
  • Durasi: 3 sesi, masing-masing berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit (jadi totalnya 4.5 jam).
Untuk rekamannya berbentuk audiobook dengan format M4A, yang bisa langsung anda dengarkan di smartphone. Setiap file rekamannya berukuran kurang dari 100 MB, jadi sangat ringan untuk masuk di smartphone anda. Rekamannya sendiri adalah dari awal sampai akhir tanpa adanya potongan ataupun sensor, jadi dengan mendengarkannya maka anda seperti hadir langsung di acara seminarnya. Anda juga akan memperoleh slide powerpoint materi seminar, plus file excel formula ‘kalkulator saham’.

***
Okay, berikut biayanya:
  1. Rekaman Seminar Value Investing: Rp300,000
  2. Rekaman Seminar Value Investing Advanced: Rp350,000
  3. Paket Hemat (dua rekaman diatas): Rp550,000.
Bonus Gratis: Ebook ‘How to be a Full Time Investor’ setebal 13 halaman, khusus bagi anda yang mengambil paket hemat.

***
Okay, berikut cara order:
1. Tentukan apakah anda hendak membeli rekaman value investing, value investing advanced, atau keduanya.
2. Lakukan payment dengan cara transfer ke (pilih salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
3. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Beli Rekaman Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, jumlah transfer, bank tujuan transfer. Contoh: Joao Felix, 550,000, BCA (catatan: Dari jumlah transfernya maka kami akan mengetahui apakah anda membeli rekaman value investing, advanced, atau keduanya). Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga tidak, karena kami bisa mengecek transferan anda melalui internet banking.
4. Anda akan menerima email balasan yang berisi link untuk men-download file rekaman (file-nya di-upload di Dropbox, jadi nanti anda tinggal download saja), termasuk slide powerpoint materi seminar, dan excel kalkulator sahamnya. Selanjutnya, enjoy!

***
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Silahkan langsung telepon/SMS/Whatsapp ke 081314822827(Yanti), atau 081220445202 (Nury). Konfirmasi setelah melakukan transfer juga bisa melalui Whatsapp diatas.
Atau anda bisa hubungi penulis (Teguh Hidayat) langsung melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta seminar Jakarta, 25 Agustus 2019

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca [...]

Prospek PTPP: Pemegang Proyek Konstruksi Terbanyak di Wilayah Indonesia Tengah, dan Timur

Pada ulasan minggu lalu, kita sudah membahas bahwa salah satu sektor yang diuntungkan dengan adanya pemindahan ibukota RI dari Jakarta ke Kalimantan Timur adalah konstruksi, dimana pada lokasi ibukota yang baru tentunya akan dibangun sejumlah gedung perkantoran, kawasan residensial, hingga infrastruktur pendukungnya. Dan karena salah satu tujuan dari pemindahan ibukota itu adalah agar pembangunan ekonomi menjadi lebih merata/tidak lagi hanya terpusat di Jawa dan/atau Wilayah Indonesia Barat pada umumnya, maka hingga beberapa tahun hingga beberapa dekade kedepan, yang akan dibangun bukan hanya lokasi ibukota itu sendiri, tapi juga Wilayah Indonesia Tengah (WITA) dan Wilayah Indonesia Timur (WIT) secara keseluruhan.

***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.
***
Pertanyaannya kemudian, emiten konstruksi mana yang bakal dapet banyak proyek? Ya kalau berkaca pada pengalaman sejak 2014, maka harusnya BUMN lagi. Okay, lalu BUMN yang mana? Nah, penulis iseng-iseng mengecek daftar proyek yang dipegang oleh beberapa BUMN konstruksi seperti Adhi Karya (ADHI), Pembangunan Perumahan (PTPP), Wijaya Karya (WIKA), dan Waskita Karya (WSKT), beserta anak-anak usaha mereka (WEGE, WSBP, WTON, PPRE, dst). Dan ternyata, PTPP sejak awal adalah pemilik proyek pembangunan infrastruktur terbanyak di WITA dan WIT, dalam hal ini di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua (selain juga di Jawa dan Sumatera), dan rata-rata dari kesemua proyek tersebut berjalan lancar sesuai rencana (ada beberapa proyek yang belum selesai sesuai deadline yang direncanakan sebelumnya, tapi tidak ada yang sampai mangkrak).
Jadi apakah PTPP ini bagus? Well, seperti biasa mari kita pelajari dulu perusahaannya sedari awal, dan kebetulan penulis memang belum pernah membahas PTPP ini secara terbuka sejak dulu sahamnya IPO tahun 2010. Okay, here we go.
PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk adalah salah satu perusahaan konstruksi tertua di Indonesia yang berdiri tahun 1953, ketika itu dengan nama NV PP, dengan proyek pertamanya adalah membangun komplek perumahan untuk direksi dan karyawan PT Semen Gresik (yang sekarang menjadi PT Semen Indonesia, Tbk), di Gresik, Jawa Timur. Tahun 1991, perusahaan melakukan diversifikasi ke sektor properti dengan menjadi developer (tidak lagi hanya sebagai kontraktor) perumahan di Cibubur, Jawa Barat. Namun milestone terbesar bagi perusahaan terjadi di tahun 2010, dimana setelah menggelar IPO di tahun tersebut, di tahun-tahun berikutnya PTPP melakukan sejumlah pengembangan usaha penting:
  1. Spin off unit usaha properti menjadi anak usaha, dengan nama PT PP Properti, Tbk (PPRO),
  2. Diversifikasi ke segmen engineering, procurement, and construction (EPC) dengan proyek pertama membangun pembangkit listrik di Talang Duku, Sumatera Selatan,
  3. Akuisisi sebuah perusahaan beton precast, yang namanya kemudian diubah menjadi PT PP Pracetak,
  4. Akuisisi perusahaan alat-alat konstruksi (untuk disewakan ke perusahaan konstruksi lain, atau untuk digunakan sendiri), yang namanya kemudian diubah menjadi PT PP Presisi, Tbk (PPRE),
  5. Spin off dua unit usaha menjadi dua anak usaha terpisah, yakni PT PP Energi yang bergerak di bidang pembangkit listrik serta minyak dan gas, dan PT PP Infrastruktur, yang bergerak di bidang pengelolaan jalan tol, bandara, pelabuhan, kawasan industri, hingga pengelolaan air bersih.
Kesemua ekspansi diatas dibiayai dengan kombinasi dari IPO, IPO anak usaha, right issue, hingga penerbitan surat utang. Dan alhasil, jika pada Juli 2009 lalu (sebelum IPO) PTPP hanya memiliki dua segmen usaha (konstruksi, dan developer properti) dengan total aset Rp3.6 trilyun, dan ekuitas Rp406 milyar, maka pada hari ini, atau genap 10 tahun kemudian, nilai aset perusahaan sudah melompat menjadi Rp53.5 trilyun, dan ekuitas Rp12.8 trilyun, dengan setidaknya tujuh segmen usaha yang saling mendukung/terintegrasi satu sama lain (konstruksi, developer properti, pengelolaan infrastruktur, energi, EPC, beton precast, dan alat-alat konstruksi sipil). Laba bersih perusahaan juga tentunya melonjak tajam, dari hanya Rp121 milyar di tahun 2008, menjadi Rp1.5 trilyun di tahun 2018. Dalam 10 tahun terakhir, PTPP telah mengerjakan dan menyelesaikan lebih banyak proyek konstruksi, termasuk yang besar-besar seperti pembangunan bandara dan jalan tol, dibanding seluruh proyek konstruksi yang pernah digarap perusahaan selama lebih dari 50 tahun sebelumnya. PTPP bahkan punya lembaga pendidikannya sendiri dengan nama PP University, yang secara khusus mendidik karyawan (dan calon karyawan) perusahaan tentang usaha konstruksi dan segala tetek bengeknya.
Nah, sebenarnya dalam hal mengalami lompatan pertumbuhan dalam 10 tahun terakhir, maka PTPP tidaklah sendirian, karena BUMN konstruksi lainnya seperti WSKT, WIKA, dan ADHI juga sama melompat dalam hal total aset, ekuitas, serta laba, seiring dengan dikebutnya pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah. Namun seperti yang disebut diatas, PTPP memiliki banyak ongoing project di WITA dan WIT, dengan detailnya sebagai berikut, dimana datanya diperoleh dari laporan keuangan PTPP per Kuartal II 2019. Sebelumnya perlu dicatat bahwa proyek yang penulis tampilkan disini hanya yang nilainya besar, dalam hal ini diatas Rp500 milyar. Selain mengerjakan banyak proyek di WITA dan WIT, PTPP juga masih memegang lebih dari seratus proyek lainnya di Jawa dan Sumatera.
Nama Proyek
Lokasi
Nilai Kontrak (Milyar Rp)
Kilang Minyak PT Pertamina
Balikpapan, Kalimantan Timur
10,584
Jalan Tol Manado – Bitung
Manado, Sulawesi Utara
2,879
Makassar New Port
Makassar, Sulawesi Selatan
2,499
Pantai Sisi Barat, Bandara Ngurah Rai
Badung, Bali
1,361
Stadion Utama Papua
Jayapura, Papua
1,266
Mobile Power Plant, Package 1
Sorong, Merauke, Timika (Papua)
1,218
Bandara Syamsudin Noor
Samarinda, Kalimantan Timur
1,066
Makassar New Port, Paket B
Makassar, Sulawesi Selatan
1,018
Bendungan Way Apu
Buru, Maluku
972
Bendungan Manikin
Kupang, Nusa Tenggara Timur
823
Jalan Tol Balikpapan – Samarinda
Balikpapan, Kalimantan Timur
771
Bendungan Lolak
Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara
756
Bendungan Lolak, Paket II
Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara
746
Jembatan Teluk Kendari
Kendari, Sulawesi Tenggara
728
Bendungan Tamblang
Buleleng, Bali
700
Mobile Power Plant, Package 2
Biak, Nabire, Manokwari (Papua)
667
Selain proyek berjalan diatas, PTPP sebelumnya juga sudah menyelesaikan pembangunan Jembatan Holtekam dan pembangkit listrik mobile power plant di Jayapura, dan MPP di Kendari. Dan untuk kontrak yang baru diperoleh, maka dari nilai perolehan kontrak anyar sepanjang Januari – Juni 2019 senilai Rp14.8 trilyun, maka sejumlah proyek terbesarnya adalah juga berlokasi di WITA dan WIT, seperti lanjutan pembangunan kilang minyak di Balikpapan (Rp5.9 trilyun), smelter nikel di Kolaka, Sulawesi Tenggara (Rp700 milyar), dan Kereta Api Makassar – Parepare (Rp450 milyar).
Jadi kesimpulannya? Yup, dalam hal banyaknya proyek yang sudah selesai, yang sedang berjalan, dan yang akan datang, maka PTPP adalah penguasa di Wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Selain konstruksi, PTPP juga memiliki saham di Jalan Tol Balikpapan – Samarinda, Jalan Tol Manado – Bitung, dan Kereta Api Makassar – Parepare, masing-masing sebanyak 15%. Sehingga kalau kedepannya pemerintah lebih gencar lagi membangun infrastruktur di ibukota baru khususnya, dan WITA dan WIT pada umumnya, maka normalnya PTPP-lah yang akan ditunjuk, karena track record-nya sudah jelas. Dan fakta bahwa PTPP saat ini adalah BUMN konstruksi terbesar ketiga dari sisi aset, yakni setelah WSKT dan WIKA, juga menunjukkan bahwa perusahaan masih punya ruang yang lebar untuk bertumbuh lebih lanjut.

Pemandangan Jembatan Holtekam di Jayapura, Papua, ketika masih dalam tahap konstruksi, yang merupakan salah satu karya monumental PTPP di Wilayah Indonesia Timur.
Anyway, kesemua ulasan diatas adalah jika kita berbicara untuk jangka panjang, karena realisasi percepatan pembangunan infrastruktur di Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua tentunya akan butuh waktu lebih lama dari sekedar 1 – 2 tahun, demikian pula proses pemindahan ibukota akan butuh waktu setidaknya hingga 10 tahun kedepan. Disisi lain pergerakan saham-saham konstruksi, termasuk PTPP, terbilang sangat fluktuatif dalam jangka waktu yang lebih pendek, biasanya kalau ada sentimen negatif (jadi sahamnya kurang aman untuk jangka panjang). Termasuk saham PTPP pada tahun 2018 kemarin juga turun banyak karena adanya kekhawatiran bahwa kalau capres petahana kalah pada Pilpres di tahun 2019-nya, maka pembangunan infrastruktur akan berhenti.
Dan meski sekarang ini kekhawatiran terkait Pilpres itu sudah mereda, tapi toh PTPP dan juga saham-saham konstruksi lainnya belum masih kemana-mana lagi. Nevertheless, jika kita melihat fakta di lapangan, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan infrastruktur itu masih terus dikebut. Termasuk megaproyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung, yang sempat ditunda karena lokasi proyeknya berhimpitan dengan proyek Cikampek Elevated Toll Road, dan LRT Cawang – Bekasi, sejak beberapa bulan lalu juga sudah mulai digarap (oleh WIKA). Lalu terkait kinerja perusahaan, maka PTPP masih membukukan kenaikan pendapatan 12.8% pada Q2 2019 kemarin, sehingga meski labanya turun namun masih berpeluang untuk berbalik naik pada akhir tahun. Untuk perolehan kontrak anyar, manajemen juga masih optimis akan meraih kontrak senilai Rp50 trilyun di tahun 2019 ini, atau kembali meningkat dibanding Rp43 trilyun di tahun 2018.
Nah, jadi ketika sahamnya belum kemana-mana, maka artinya itu justru peluang. Dan kebetulan, pada harga Rp1,790 per saham, PBV PTPP hanya 0.9 kali, clearly undervalue untuk sebuah perusahaan dengan track record fundamental positif, sahamnya cukup populer dan likuid, dan dengan prospek jangka panjang yang menarik. Sebenarnya kalau berkaca pada pengalaman tahun 2018 kemarin, dimana PTPP sempat terus turun sampai mentok di 1,330 (PBV 0.6 kali) lalu baru kemudian naik lagi, maka kalau pasar nanti kumat lagi seperti di tahun 2018 tersebut (waktu itu IHSG turun sampai 5,700-an), maka pasar bisa saja men-diskon PTPP lebih lanjut. Namun demikian kalau kita bisa melihat agak jauh kedepan, maka reward yang ditawarkan PTPP tentu terlalu menarik untuk dilewatkan, terutama karena proyek pemindahan ibukota RI, yang notabene merupakan peristiwa bersejarah, normalnya tidak akan langsung dilupakan orang begitu saja, melainkan akan terus dibicarakan tidak hanya oleh investor saham, tapi juga masyarakat umum. Dan itu artinya, ada juga kemungkinan PTPP bakal menjadi APLN selanjutnya, if you know what I mean.
PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk
Rating Kinerja First Half 2019: BBB
Rating valuasi saham pada 1,790: A
Disclosure: Ketika analisa ini diposting, Avere sedang dalam posisi memegang PTPP di harga 1,840. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ibukota Pindah: Sektor Apa Saja yang Diuntungkan?

Ketika Pemerintah Kerajaan Inggris secara resmi mengakui kemerdekaan Amerika Serikat (AS) pada tahun 1783, maka ibukota AS adalah di New York, dimana di kota itulah George Washington dilantik sebagai Presiden Pertama AS, tahun 1789. Namun segera setelah dilantik, Presiden Washington langsung mengusulkan pemindahan ibukota ke arah selatan, agar lokasi ibukota tersebut berada ditengah-tengah wilayah negara AS yang baru berdiri, sehingga diharapkan bahwa pembangunan akan tersebar lebih merata. Sebelumnya perlu diketahui bahwa pada abad ke-18, wilayah AS hanyalah di kawasan pantai timur mulai dari Kota Boston di utara, hingga Kota Jacksonville di selatan (jadi kawasan pantai barat dimana di kemudian hari berkembang menjadi kota Los Angeles atau San Francisco, ketika itu belum menjadi bagian dari AS). Sedangkan lokasi New York adalah tidak jauh dari Boston, sehingga dianggap ‘terlalu ke utara’.

***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

***

Jadi pada tahun 1790, ibukota AS pindah ke arah selatan, tepatnya Philadelphia. Dan pada tahun 1801, ibukota tersebut digeser lebih jauh ke arah selatan, yakni ke tanah kosong dekat Sungai Potomac, yang kemudian dibangun sepenuhnya sebagai kawasan pusat pemerintahan. Kawasan ini diberi nama District of Columbia atau DC, dan di kemudian hari namanya menjadi Washington DC, untuk menghormati George Washington sebagai founding father Amerika. Hingga pada hari ini, Washington DC masih menjadi ibukota AS, dan sudah menjadi kota besar. Sedangkan New York juga tetap berkembang sebagai pusat bisnis dan keuangan, dan actually sampai hari ini masih merupakan kota terbesar di AS, dan juga salah satu yang terbesar di seluruh dunia.
Selain AS, sejumlah negara lain juga pernah memindahkan ibukota mereka, biasanya dengan tujuan untuk memisahkan antara pusat pemerintahan dengan pusat bisnis dan ekonomi, dan/atau agar letak ibukota baru itu lebih berada di tengah-tengah wilayah negara. Sebut saja Jepang, dimana Istana Kaisar yang merupakan lambang ibukota negara, pada tahun 1868 dipindah dari Kyoto ke Tokyo, karena letak Tokyo lebih ke tengah-tengah Jepang itu sendiri. Lalu India, dimana sebelum tahun 1911, ibukota India adalah Kolkata (Calcutta), tapi kemudian dipindah ke Delhi dengan alasan yang sama dengan pemindahan ibukota Jepang diatas. Tahun 1927, giliran Australia membangun ibukota baru dengan lokasi diantara ‘dua ibukota’ lamanya yakni Melbourne dan Sydney, dan ibukota baru ini diberi nama Canberra. Kemudian Brazil, dimana ibukotanya pindah dari Rio de Janeiro ke Brasilia, pada tahun 1960. Dan terakhir pada tahun 1999, Malaysia juga memindahkan pusat pemerintahan dari Kuala Lumpur (KL) ke sebuah lahan sawit yang kemudian dibangun sebuah kota dengan nama Putrajaya, dengan alasan bahwa KL sudah terlalu padat.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Republik Indonesia (RI) juga sebenarnya pernah memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1946, lalu kembali pindah ke Bukittinggi (Sumatera Barat) pada tahun 1948, tapi alasannya ketika itu adalah karena Jakarta, disusul Jogja, sempat kembali dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Jadi setelah Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan RI di tahun 1950, maka ibukota kembali ke Jakarta, dimana Jakarta dipilih karena letaknya yang sangat strategis di Pantai Utara Jawa, dan sejarahnya sebagai pusat perdagangan nusantara. Namun kemungkinan karena berkaca pada negara lain yang memisahkan antara pusat pemerintahan dengan pusat bisnis/ekonomi, maka Presiden Sukarno sejak awal sudah memiliki gagasan untuk memindahkan ibukota dari Jakarta ke Palangkaraya (Kalimantan Tengah), dimana Palangkaraya dipilih karena letaknya yang di tengah-tengah wilayah RI.
Tapi karena satu dan lain hal, wacana itu tidak pernah terealisasi, dan Jakarta tetap menjadi ibukota RI. Dan setelah beberapa dekade, hal ini menimbulkan setidaknya satu dampak negatif: Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang tidak merata. Sebenarnya, jika saja pusat pemerintahan RI sudah pindah ke Palangkaraya sejak tahun 1960-an, maka Jakarta dan sekitarnya tetap akan tumbuh berkembang menjadi kota besar, karena kota pelabuhan ini sudah ramai bahkan sejak jamannya kompeni VOC di abad ke-16 (jadi sama seperti New York, Sydney, Rio de Janeiro dst yang tetap tumbuh menjadi kota besar meski mereka tidak lagi menjadi pusat pemerintahan). Tapi karena istana negara tetap berada di Jakarta, maka hanya Jakarta dan Pulau Jawa saja yang berkembang, sedangkan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia nyaris tidak berkembang karena jarang tersentuh pembangunan. Dan jika hal ini dibiarkan lebih lama lagi, maka cuma soal waktu saja sebelum wilayah-wilayah diluar Pulau Jawa akan memisahkan diri dari NKRI. Karena dari pengalaman penulis sendiri berkunjung ke sejumlah kota di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, maka ketersediaan infrastruktur disana memang jauh ketinggalan dibanding di Jakarta dan sekitarnya.

Penulis ketika jalan-jalan ke Pulau Kumala, Kota Tenggarong, Kalimantan Timur

Jadi ketika kemarin, tanggal 26 Agustus, Pemerintah secara resmi mengumumkan pemindahan ibukota dari Jakarta ke wilayah antara Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kertanegara di Provinsi Kalimantan Timur, maka penulis optimis bahwa hal ini akan berdampak positif terhadap Indonesia itu sendiri dalam jangka panjang, terutama dalam hal pemerataan pembangunan. Malah kalau berkaca pada negara-negara yang melakukan pemindahan ibukota diatas, dimana mereka kemudian sukses menjadi negara ekonomi maju (dari sejumlah negara yang disebut diatas, hanya India yang GDP per capita-nya dibawah Indonesia), maka ada harapan bahwa RI juga akan bisa menyusul mereka, meski tentunya itu akan butuh waktu.
Sektor-sektor yang diuntungkan
Okay Pak Teguh, lalu bagaimana dampak pemindahan ibukota ini terhadap investasi kita di saham? Dan adakah emiten tertentu yang diuntungkan atau dirugikan? Well, kalau dampak jangka pendeknya sih belum kelihatan, karena berbeda dengan kebijakan-kebijakan besar sebelumnya, misalnya dulu tahun 2016 waktu ramai cerita tax amnesty yang disambut positif oleh para pelaku pasar, maka soal pemindahan ibukota ini mungkin terdengar kurang menyenangkan bagi para politisi atau pelaku usaha yang selama ini menjalankan usahanya di Jakarta, sedangkan hampir semua perusahaan besar di Indonesia berkantornya ya disini. Kemudian kalaupun kita optimis bahwa pemindahan ibukota ini akan berdampak positif terhadap ekonomi nasional dalam jangka panjang, maka ingat pula bahwa prosesnya butuh waktu lama, paling cepat 5 – 10 tahun sampai semua unsur-unsur pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif) pindah semua ke Kalimantan.
Tapi kalau ada sektor-sektor yang bakal diuntungkan, maka kemungkinan itu adalah konstruksi dan properti, dan sektor pendukungnya seperti semen. You see, selama ini pengembangan properti hanya terpusat di Jawa, Bali, dan Sumatera, dimana jarang ada developer besar yang mau melirik Kawasan Indonesia Tengah dan Timur, karena prospeknya tidak jelas. Penulis sendiri banyak dengar cerita dari temen-temen yang kerja di minyak dan batubara di Kalimantan, dan dapet duit besar, tapi duit itu kemudian diinvestasikan dengan membeli tanah di Jawa, bukan di Kalimantan itu sendiri. Alhasil, meski secara GDP per kapita, Kalimantan Timur adalah provinsi terkaya kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta (karena disana memang sangat kaya sumber daya alam), tapi tetep saja disana sangat minim pembangunan, karena hampir semua duit yang dihasilkan dikirim dan diputar di Jawa.
Tapi dengan berpindahnya pusat pemerintahan, maka sektor properti di Kaltim harusnya akan mulai menggeliat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk pindahan dari sini, dan potensinya jelas terbuka lebar, mengingat penduduk Kaltim saat ini hanya 3.5 juta jiwa di daerah seluas 129 ribu KM persegi (sebagai perbandingan, luas seluruh Pulau jawa juga 128 ribu KM persegi, tapi penduduknya mencapai 135 juta jiwa). Dan tidak hanya Kaltim, tapi Kalimantan itu sendiri, plus Sulawesi dan Indonesia Timur pada umumnya akan menikmati pembangunan yang lebih merata, sehingga para developer yang selama ini hanya mondar mandir cari pembeli di Jawa, akan mulai melebarkan sayapnya kesana.
Selain properti, industri yang harusnya juga bisa berkembang pesat di masa depan adalah industri hilir dan manufaktur. Seperti yang kita ketahui, Kalimantan sangat kaya akan sumber daya alam seperti kayu, batubara, dan minyak, sedangkan di Sulawesi ada banyak cadangan nikel, bijih besi, dan di Papua kita punya emas, perak, dan tembaga. Tapi selama ini, kesemua SDA itu cuma digali saja lalu dijual langsung tanpa diolah terlebih dahulu menjadi produk bernilai tambah, karena para investor gak berani bikin pembangkit listrik di Kalimantan, misalnya, karena gak ada jaminan keamanan dll dari pemerintah (di Kaltim sangat melimpah batubara, yang merupakan bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap, tapi disana cuma ada tiga PLTU, dengan total kapasitas yang jauh lebih kecil dibanding Pulau Jawa). Tapi karena kantor pemerintah itu sendiri sudah pindah ke Kaltim, maka para perusahaan-perusahaan yang selama ini dengan gampangnya ambil SDA lalu jual, bisa dipaksa untuk membangun industri hilir di Kaltim khususnya, dan di Kawasan Indonesia Tengah dan Timur pada umumnya, sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Dan pengawasannya juga lebih mudah karena lokasinya lebih dekat.
Anyway, kesemua prospek diatas memerlukan waktu untuk terealisasi, dan itupun jika proses pemindahannya berjalan lancar (karena pasti ada saja pro dan kontra, dan memang yang mengkritik juga banyak). Sehingga kalau untuk jangka waktu katakanlah 1 – 2 tahun kedepan, maka belum akan ada dampak apa-apa dari pemindahan ibukota ini terhadap ekonomi nasional ataupun arah IHSG, atau bisa saja dampaknya justru buruk, yakni jika investor menganggap bahwa Jakarta, yang merupakan headquarters dari hampir semua perusahaan besar, akan mengalami kemunduran setelah tidak lagi menjadi ibukota (meski sebenarnya itu ngawur, karena lihat itu New York atau Sydney, yang sampai hari ini masih lebih besar dibanding Washington DC atau Canberra). Nevertheless, jika kita bisa melihat katakanlah hingga 10 – 20 tahun kedepan dan mengabaikan fluktuasi jangka pendek pasar, maka bagi penulis sendiri pemindahan ibukota ini menjadi another signal, bahwa sekarang inilah waktu terbaik untuk mulai berinvestasi di Indonesia, dan hanya di Indonesia saja (penulis sering sekali ditawari untuk invest di luar negeri/Amerika, tapi saya bilang saya maunya disini saja). Karena kalau nanti pembangunan benar-benar sudah merata, sehingga semua wilayah RI bisa mengoptimalkan potensi mereka masing-masing, maka ketika itulah Indonesia tidak lagi berstatus emerging market, melainkan developed country seperti layaknya negara maju lainnya. Mudah-mudahan!
***

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Inverted Yield Curve, dan Hubungannya Dengan Krisis Ekonomi

Menurut Investopedia, inverted yield curve, atau secara harfiah bermakna ‘kurva imbal hasil terbalik’, adalah kondisi dimana instrumen utang di Amerika Serikat, dalam hal ini US Treasury Bond (surat utang negara) dengan waktu jatuh tempo yang panjang memberikan hasil/bunga yang lebih kecil dibanding treasury bond jangka pendek. Disebut terbalik, karena normalnya obligasi jangka panjang (jatuh tempo diatas 10 tahun) memberikan bunga yang lebih besar dibanding obligasi jangka pendek (5 tahun atau kurang). Analoginya sama seperti kalau anda taruh deposito di bank, dimana semakin lama jangka waktu simpanannya, maka bunganya per tahun akan lebih besar.

***
Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.
***
Nah, kalau di Amerika sana, Pemerintah secara resmi merilis tingkat suku bunga harian treasury bond untuk bond mulai dari jangka waktu 1 bulan, hingga paling lama 30 tahun, dimana suku bunga ini berubah setiap harinya. Dan berikut ini adalah update tingkat bunga tersebut sepanjang bulan Agustus 2019, yakni tanggal 1 – 16 Agustus (untuk data lengkapnya, bisa lihat di link berikut):
Date
1 Mo
2 Mo
3 Mo
6 Mo
1 Yr
2 Yr
3 Yr
5 Yr
7 Yr
10 Yr
01/08/19
2.11
2.14
2.07
2.04
1.88
1.73
1.67
1.68
1.77
1.90
02/08/19
2.11
2.12
2.06
2.02
1.85
1.72
1.67
1.66
1.75
1.86
05/08/19
2.07
2.08
2.05
1.99
1.78
1.59
1.55
1.55
1.63
1.75
06/08/19
2.05
2.08
2.05
2.00
1.80
1.60
1.54
1.53
1.62
1.73
07/08/19
2.02
2.04
2.02
1.95
1.75
1.59
1.51
1.52
1.60
1.71
08/08/19
2.09
2.07
2.02
1.96
1.79
1.62
1.54
1.54
1.62
1.72
09/08/19
2.05
2.06
2.00
1.95
1.78
1.63
1.58
1.57
1.65
1.74
12/08/19
2.09
2.06
2.00
1.94
1.75
1.58
1.51
1.49
1.56
1.65
13/08/19
2.05
2.04
2.00
1.96
1.86
1.66
1.60
1.57
1.62
1.68
14/08/19
1.98
1.98
1.96
1.92
1.79
1.58
1.53
1.51
1.55
1.59
15/08/19
2.08
1.97
1.91
1.86
1.72
1.48
1.44
1.42
1.47
1.52
16/08/19
2.05
1.95
1.87
1.85
1.71
1.48
1.44
1.42
1.49
1.55
Seperti yang bisa anda lihat pada tabel diatas, tingkat suku bunga tahunan untuk US treasury bond jangka pendek (1 bulan, 2 bulan, hingga 1 tahun), ternyata malah lebih besar dibanding bunga untuk bond jangka panjang. Misalnya kita ambil data tanggal 1 Agustus, maka bunga bond 1 bulan tercatat 2.11%, atau lebih besar dibanding bunga bond 10 tahun, yang tercatat 1.90%.
Dan kondisi diatas adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi, dimana normalnya bunga US treasury bond untuk 1 bulan hanya 0.10 – 0.40% saja, atau jauh dibawah bunga bond 10 tahun, yang mencapai 3 – 4%. Tapi memang sejak tahun 2018 kemarin, bunga bond jangka pendek ini pelan-pelan mulai naik, sedangkan bunga bond jangka panjang sebaliknya pelan-pelan mulai turun. Hingga akhirnya pada tahun 2019 ini, bunga bond jangka pendek sudah lebih besar dibanding bond jangka panjang. Jadi ini sama seperti kalau anda taruh deposito di bank dan dapet bunga 3%, sedangkan untuk tabungan yang dananya boleh ditarik kapan saja, bunganya malah 4%. Masuk akal? Tentu tidak. Tapi di Amerika sana, itulah yang sedang terjadi sekarang ini.
Okay, jadi sekarang ada dua pertanyaan: 1. Apa penyebab anomali diatas? Dan 2. Apa hubungannya masalah suku bunga ini dengan kemungkinan krisis? Untuk itu, mari kita pelajari dulu tentang US treasury bond sejak awal. Okay, here we go.
Di AS, US treasury bond, alias surat utang negara yang dijamin langsung oleh pemerintah, dianggap sebagai instrumen investasi yang paling aman (safe haven), tapi disisi lain tingkat bunga atau yield yang ditawarkan tentu saja tidak sebesar obligasi swasta, atau potensi profit di saham. Besaran yield dari treasury bond ini berubah setiap saat tergantung demand/permintaan investor terhadap bond itu sendiri, dimana jika permintaannya meningkat maka harganya akan naik, dan alhasil yield-nya turun. Sementara jika permintaannya menurun, maka harganya akan turun, dan alhasil yield-nya naik.
Nah, dalam kondisi ekonomi AS yang normal dengan outlook yang juga stabil, maka investor akan lebih suka berinvestasi di saham atau obligasi swasta ketimbang menempatkan dana mereka di treasury bond, karena hasil profitnya lebih besar. Tapi jika para investor ini berpandangan bahwa ekonomi AS memiliki outlook jangka panjang yang suram, maka mereka akan mulai membeli treasury bond jangka panjang (10 tahun atau lebih), atau mengalihkan investasi mereka dari treasury bond jangka pendek ke jangka panjang, dalam rangka mengejar yield yang lebih besar. Namun ketika terjadi aksi beli besar-besaran terhadap bond jangka panjang (sehingga yield-nya turun), dan sebaliknya investor ramai-ramai melepas bond jangka pendek (sehingga yield-nya naik), maka itu bisa menyebabkan kondisi dimana yield untuk bond jangka pendek pada akhirnya menjadi lebih besar dibanding yield untuk bondjangka panjang, dimana kondisi ini disebut dengan istilah inverted yield curve (kita singkat saja jadi IYC). Dan memang pada tahun 2019 ini, itulah yang terjadi.
Inverted Yield Curve Sebagai Indikator Krisis
Okay, lalu apa hubungannya hal ini dengan kemungkinan terjadinya krisis? Well, itu karena berdasarkan sejarah sejak tahun 1950-an, setiap kali terjadi IYC, maka beberapa waktu kemudian terjadi market crash, atau minimal terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS. Jadi, berdasarkan pergerakan bursa saham New York, maka sejak tahun 1955 sampai sekarang, AS sudah mengalami setidaknya tujuh kali resesi/market crash, yakni pada Desember 1969 – Oktober 1970, November 1973 – Februari 1975, Februari 1980 – Juni 1980, Agustus 1981 – Oktober 1982, Agustus 1990 – April 1991, Februari 2001 – Oktober 2001, dan terakhir Desember 2007 – Juni 2009. Dan inilah yang menarik: Biasanya IYC terjadi sekitar 1 – 2 tahun sebelum market crash itu terjadi. Kita ambil contoh krisis global yang terjadi antara Desember 2007 – Juni 2009, maka IYC sudah kelihatan sejak penghujung tahun 2005, dan sepanjang tahun 2006. Demikian pula sebelum pasar jatuh pada tahun 2000 – 2001, maka IYC sudah kelihatan sejak tahun 1999-nya, dimana bunga untuk bond jangka waktu 1 tahun atau kurang sempat beberapa kali lebih tinggi dibanding bunga untuk bond jangka waktu 2 tahun atau lebih.
Berdasarkan fakta diatas, maka jika sejarah kembali terulang, artinya bursa saham New York akan runtuh paling lambat sekitar 2 tahun sejak IYC pertama kali muncul, akhir tahun 2018 kemarin. Dan kalau kita kombinasikan dengan faktor-faktor lainnya, maka teori tersebut menjadi masuk akal. You see, kejatuhan bursa saham hampir selalu diawali dengan kenaikan harga-harga saham yang sangat tinggi, hingga valuasi mereka menjadi sangat mahal (valuasi dari 30 saham komponen Dow Jones bisa dilihat disini). Dan karena Dow Jones sendiri sudah naik banyak dalam 10 tahun terakhir (dari 9,000-an pada Agustus 2009, hingga sekarang sudah 26,000-an. Sebagai perbandingan, selama 10 tahun sebelumnya yakni antara Agustus 1999 hingga Agustus 2009, Dow cenderung stagnan antara 9,000 – 11,000), maka menjadi tidak realistis jika investor di AS mengharapkan bahwa Dow akan kembali naik setinggi itu dalam 10 tahun kedepan, dan makanya mereka kemudian pindah ke US treasury bond jangka panjang, yang sudah pasti memberikan bunga 2 – 3% per tahun hingga 10 tahun kedepan.

Sehingga bagi Dow Jones, skenarionya sekarang hanya ada dua: Bergerak stagnan, atau turun. Kondisi pasar saat ini dimana ada banyak saham-saham teknologiyang, terlepas dari apakah perusahaannya making money atau tidak, namun mereka sukses menggelar IPO dengan perolehan dana yang amat sangat besar, dan setelah itupun sahamnya naik banyak (sebut saja: Facebook, Twitter, Uber, Alibaba, Snapchat, dst), juga mengingatkan investor dengan dot com bubble, yang menjadi penyebab jatuhnya bursa saham di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, pada tahun 2000 – 2001 lalu. Actually, ketika Dow Jones tampak naik banyak dalam 10 tahun terakhir, maka indeks Nasdaq, yang merupakan indeks khusus untuk saham-saham teknologi, naiknya lebih banyak lagi, dari hanya 1,500-an pada penghujung tahun 2008, hingga sekarang sudah tembus 8,000. Terlepas dari bagaimana prospek industri teknologi kedepannya, namun bagi investor yang katakanlah entah sudah cuan berapa kali lipat dari saham-saham seperti Amazon, Apple dst (karena dia sudah masuk sejak 5 – 10 tahun lalu), maka tentu ia akan mulai berpikir bahwa, it’s time to quit. Dan kalau mereka nanti ramai-ramai keluar, maka ketika itulah Opa Buffett akan mulai membelanjakan uang tunai US$122 milyar yang masih mengendap di Berkshire.

Logo Alibaba Group Holding, perusahaan dengan nilai IPO terbesar dalam sejarah (US$25 milyar)

Baiklah Pak Teguh, jadi kita harus gimana ini?? Well, pertama, karena secara historikal, krisis baru akan terjadi sekitar 1 – 2 tahun setelah IYC muncul, maka artinya bursa New York juga baru akan drop tahun 2020 atau 2021 nanti, itupun kalau terjadi peristiwa spesifik tertentu yang menjadi katalis krisis, misalnya ada perusahaan teknologi besar yang bangkrut (jadi sama dengan tahun 2008, dimana Lehman Brothers bangkrut). Sedangkan untuk saat ini, boleh anda cek, hampir semua indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian Amerika Serikat masih baik-baik saja. Kedua, berbeda dengan di Amerika sana dimana saham-saham teknologi jelas sudah overheat, tapi kalau di Indonesia, revolusi industri 4.0 justru baru dimulai, dan harusnya bisa mendorong ekonomi nasional untuk tumbuh lebih kencang lagi di masa yang akan datang. Yup, jadi kondisinya sekarang ini memang mirip dengan sebelum tahun 2008 lalu: Sekitar tahun 2007, ekonomi Indonesia lagi bagus-bagusnya, didorong oleh booming komoditas (batubara, dan sawit). Tapi ketika Dow Jones crash di tahun 2008-nya, maka mau tidak mau IHSG ikutan anjlok. Namun karena penurunan IHSG hampir sepenuhnya disebabkan oleh faktor eksternal (sedangkan fundamental ekonomi di dalam negeri masih aman-aman saja), maka di tahun 2009-nya, IHSG langsung naik lagi, bahkan dengan kenaikan yang mencetak rekor (87.0% dalam setahun).
Nah, jadi kalau nanti Bursa New York pada akhirnya jatuh juga (dan dalam setahunan terakhir, Dow memang sudah stagnan/tidak naik lebih tinggi lagi), maka IHSG juga akan jatuh, tapi kejatuhannya paling lama hanya beberapa bulan saja (pada tahun 2008, IHSG bergerak turun selama 9 bulan), sebelum kemudian naik lagi dengan cepat. Jadi kalau misalnya kita bisa masuk persis ketika IHSG berada di titik terendahnya, maka kita bisa saja menjadi Bapak Lo Kheng Hong selanjutnya! (atau sepersepuluhnya lah, itu lebih realistis) Nah, jadi entahlah dengan investor lain, tapi penulis saat ini justru excited. Karena setelah menunggu selama persis 10 tahun (sejak 2009), sepertinya kita akan segera menghadapi final test, yang menentukan apakah kita memang layak berada di pasar saham (yang kejam ini), atau tidak.
Problemnya tentu, kita tidak pernah tahu kapan Dow akan crash: Mungkin tahun ini, tahun depan, atau tahun depannya lagi. Atau bisa saja Dow tidak pernah crash, melainkan hanya stagnan/disitu-situ saja sampai tahun 2030 nanti. Atau anda mungkin punya tebakan sendiri?
***


Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rekaman Video Investor Gathering w/ BEI Jawa Barat

Dear investor, pada hari Rabu, 14 Agustus 2019, penulis memenuhi undangan dari BEI Jawa Barat untuk mengisi acara investor gathering & seminar di Hotel Grand Tjokro, Kota Bandung, dimana kita membahas tentang prospek dari sejumlah emiten (totalnya ada 42 emiten, tapi penulis hanya bahas yang menurut penulis fundamentalnya bagus saja) yang dalam waktu dekat akan menyelenggarakan public expose. Dan Alhamdulillah, pesertanya penuh, dan acaranya juga berjalan lancar. Dan penulis sengaja merekam video acara kemarin untuk diposting di Youtube, agar anda juga bisa ikut memperoleh materi seminarnya. Okey, here we go, mulai dari Part 1 sampai terakhir Part 6:



Sebelumnya mohon maaf karena kualitas videonya hanya seadanya (masih belajar cara bikin video yang bagus ini), namun untungnya suara penulis ketika menyampaikan materinya cukup jelas terdengar. Dan mudah-mudahan kalau nanti ada acara yang sama lagi, kita bisa buatkan video yang lebih baik.
***

Jadwal Kelas Value Investing: Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang. Jakarta & Surabaya, Sabtu 24 & 31 Agustus 2019. Pembicara Teguh Hidayat. Info selengkapnya baca disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram