Archives

Powered by CMS Forex
free counters

Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning)

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis telah bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka minimal jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas, sedangkan manajemen perusahaannya sendiri bermasalah. Contoh saham gorengan Hanson International(MYRX), Trada Alam Minera (TRAM), Sugih Energy (SUGI), dst. Sehingga dalam hal ini, ebook ini secara tidak langsung akan membantu anda untuk menghindari saham-saham spekulan tersebut.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan di laporan keuangan terbarunya, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan:
  1. Tingkat rekomendasi, dimana beberapa saham mungkin lebih direkomendasikan dibanding saham lainnya,
  2. Tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, dimana beberapa saham memiliki risiko rendah, sedangkan lainnya memiliki risiko tinggi,
  3. Harga beli yang disarankan, termasuk (jika ada) target harganya, dan
  4. Jangka waktu investasinya, apakah saham tersebut cocok untuk jangka pendek, menengah, atau bisa untuk tabungan jangka panjang (legacy stock).
Seluruh analisa di ebooknya ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan to the point. Jadi jika anda bisa memahami analisa saham yang disampaikan disini, maka anda juga akan bisa menyerap isi ebooknya dengan baik. Ebooknya sudah terbit pada bulan November 2019, dan anda bisa langsung memesannya disini.

Screenshot dari 8 halaman pertama isi ebooknya
Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Tugas wajib bagi investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘multibagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee + selling tax yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan biayanya bahkan akan lebih murah lagi jika anda berlangganan untuk jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi semua pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, praktisi value investing pertama di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).

***

Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Telp/SMS/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti), atau 0812-2044-5202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomor yang satunya.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Anda pembaca baru TeguhHidayat.com? Kalau gitu anda mungkin tertarik untuk membaca koleksi EIP edisi-edisi sebelumnya, tentunya dengan harga diskon. Info selengkapnya baca disini.

Testimonial (klik gambar untuk memperbesar)

Mengenal Exchange Traded Fund (ETF), Termasuk Potensi Keuntungan dan Risikonya

Dalam berinvestasi di saham, ada sejumlah peraturan tidak tertulis yang harus dipatuhi jika kita ingin meraih profit konsisten. Dan salah satu peraturan tidak tertulis tersebut adalah terkait diversifikasi portofolio, dimana di blog ini penulis juga sudah sering kasih tips-tips tentang cara melakukan diversifikasi yang baik dan benar. However, berdasarkan pengamatan penulis selama ini, peraturan diversifikasi inilah yang sering dilanggar oleh investor, baik pemula maupun berpengalaman. Contohnya, sering terjadi seorang investor menempatkan lebih dari separuh porto-nya hanya pada saham A, karena ia sangat yakin bahwa ‘pilihannya tidak mungkin salah’, dan/atau karena ia berharap bahwa jika benar saham A itu naik banyak, maka dampak profitnya terhadap kinerja portonya secara keseluruhan akan sangat signifikan.

***
Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, namun anda bisa memperoleh rekaman seminarnya disini. Tersedia rekaman terbaru lengkap dengan slide materinya, dan excel ‘kalkulator saham’, plus bonus Ebook ‘How to be a Full Time Investor’.

***
Dan meski strategi ‘menaruh hampir seluruh telur hanya dalam 1 keranjang’ ini terkadang memang sukses menghasilkan jackpot, misalnya jika saham A tadi beneran naik banyak, namun dalam jangka panjang pada akhirnya porto anda akan berantakan, dan secara ilmu statistik itu bisa dijelaskan. Sekarang begini: Kalau anda membeli sepuluh saham yang berbeda dimana kesepuluh saham tersebut sudah dipilih dengan hati-hati (fundamental bagus, prospek bagus, valuasinya murah atau wajar), maka dalam kondisi pasar yang tidak sedang terkoreksi sekalipun, biasanya ada saja satu atau dua saham yang ternyata malah turun, but it’s okay selama saham-saham lainnya masih naik, dan total profit yang anda peroleh akan lebih besar dibanding ruginya. Namun bagaimana kalau anda hanya membeli satu saham, dan ternyata dia turun? Maka ya sudah, porto anda akan langsung berantakan sama sekali.
Tapi pak Teguh, kalau satu saham yang dibeli itu naik banyak, maka untungnya bakal gede toh? Betul, tapi masalahnya, mungkin ndak setiap kali kita beli satu saham, dan hanya satu saham itu saja, maka dia akan selalu langsung naik? Nggak mungkin kan? Karena ada banyak skenario yang bisa terjadi selain skenario bahwa saham itu akan langsung naik tak lama setelah anda membelinya, misalnya dia bergerak mendatar dulu lalu lama kemudian baru naik, atau turun dulu lalu baru naik, atau yang terburuk, turun dan tak pernah naik kembali. Problemnya, tak peduli berapapun hasil profit yang dihasilkan dari strategi all in ini sebelumnya, maka ketika anda mengalami satu kali ‘terpeleset’ itulah, kerugian yang diderita bisa menyapu habis seluruh keuntungan yang diperoleh sebelumnya. Strategi all in seperti ini juga sangat berbahaya dalam kondisi pasar bearish/IHSG turun, karena mayoritas saham di BEI lebih fluktuatif dibanding IHSG itu sendiri, sehingga satu saham yang anda pegang itu bisa drop 5 – 10% sendiri (dan artinya porto anda secara keseluruhan juga turun segitu, karena anda gak pegang saham lain, dan juga gak pegang cash), ketika IHSG sejatinya cuma turun 1 – 2%.
Karena itulah, penulis sendiri belum pernah ketemu investor besar yang menempatkan seluruh portonya hanya dalam 1, 2, atau 3 saham. Termasuk Pak Lo Kheng Hong, beliau memegang kurang lebih 20 – 30 saham berbeda dalam satu waktu. Dan salah satu alasan kenapa Pak LKH bisa tetap santai ketika memegang katakanlah saham Petrosea (PTRO) sejak lebih dari lima tahun lalu, tak peduli selama itu PTRO ini bahkan pernah drop sampai 300 perak, adalah karena PTRO ini tidak menjadi satu-satunya saham di portonya, melainkan ada banyak lagi saham-saham lainnya, yang bisa jadi naik banyak ketika PTRO sedang dapet gilirannya untuk turun.
Okay, tapi balik lagi, alasan kenapa investor kadang malas menerapkan diversifikasi adalah karena, jangankan 20 saham, memegang 5 – 10 saham berbeda saja mereka sudah pusing, karena itu kan artinya ke-10 saham itu harus dianalisa satu per satu, dan juga harus diawasi setiap beberapa waktu sekali, siapa tahu salah satu dari mereka mengalami perubahan fundamental yang menyebabkan sahamnya tidak layak invest lagi. Seperti jika keluarga anda dirumah punya 2 orang anak, dibanding dengan punya 10 orang anak, maka pusingnya pasti beda. Bagi investor full time, hal ini sejatinya tidak akan jadi masalah, karena sudah pekerjaan sehari-hari mereka menganalisa. Tapi bagi investor paruh waktu yang masih punya kesibukan lain, maka memegang banyak saham berbeda seperti ini bisa sangat merepotkan.
Exchange Traded Fund = Diversifikasi Otomatis
Nah, jadi ketika penulis baca-baca lagi tentang exchange traded fund atau ETF, maka saya kemudian tercerahkan: Mungkin ETF inilah yang bisa menjadi solusi bagi investor yang sulit menerapkan diversifikasi, dan khususnya dalam kondisi pasar yang masih cenderung bearishdalam dua tahun terakhir. Yang dimaksud ETF adalah semacam reksadana yang pemilihan sahamnya mengikuti indeks tertentu, atau kelompok saham tertentu. Let say, anda membeli unit ETF LQ45. Maka, dana anda akan secara otomatis disebar ke semua saham yang merupakan komponen indeks LQ45 (apa itu indeks LQ45? Baca penjelasannya disini), seperti BBCA, TLKM, BBRI, dan seterusnya hingga sebanyak total 45 saham berbeda (karena ada 45 saham yang menjadi komponen indeks LQ45). Sehingga NAV atau harga dari reksadana ETF LQ45 tersebut akan naik dan turun mengikuti naik dan turunnya indeks LQ45 itu sendiri, boleh dibilang dengan pergerakan yang nyaris identik.
Kemudian karena pergerakan indeks LQ45 sangat mirip dengan pergerakan IHSG, maka investasi anda di ETF LQ45 tadi juga akan naik dan turun selaras dengan IHSG (dan ini juga perbedaan utama antara ETF dengan reksadana biasa, dimana kinerja reksadana biasa bisa lebih rendah atau lebih tinggi dibanding IHSG, karena pemilihan sahamnya terserah si fund manager, alias tidak mengikuti komponen indeks saham tertentu). Nah, karena kita tahu bahwa, meski IHSG bisa turun sangat signifikan sewaktu-waktu, tapi toh pada akhirnya dia akan naik kembali, maka investasi ETF ini pada akhirnya akan memberikan keuntungan signifikan. Jadi beda dengan jika anda beli saham A, B, C, misalnya, dimana ketiga saham ini bisa saja ikut anjlok ketika pasar turun, tapi ketika pasar kembali pulih maka ketiga saham ini tidak ikut naik (hayo, pernah ngalamin gak? Penulis pernah). Investasi ETF ini juga bisa memberikan anda keuntungan ekstra jika anda bisa membaca situasi dan arah pasar. Misalnya, jika dalam satu waktu anda melihat IHSG sudah naik terlalu tinggi dan valuasi saham-saham sudah terlalu mahal, maka anda bisa jual dulu unit ETF yang anda pegang, minimal sebagian diantaranya. Dan jika kemudian IHSG drop, anda bisa beli lagi unit ETF yang sama, tentunya pada harga yang lebih rendah.

Beberapa keuntungan yang ditawarkan investasi ETF, versi Bursa Efek Indonesia. Klik gambar untuk memperbesar

Selain ETF LQ45, beberapa ETF lainnya mengikuti indeks-indeks lain yang ada di bursa (daftar indeks saham di BEI bisa dilihat disini), seperti IDX30, Jakarta Islamic Index (JII), Sri-Kehati, Bisnis27, dan seterusnya. Jadi kalau anda katakanlah hanya ingin membeli saham-saham syariah, maka boleh ikut ETF Jakarta Islamic Index. Yang tidak ada adalah ETF IHSG, karena tentunya tidak mungkin bagi seorang fund manager yang mengelola ETF tersebut untuk membeli semua saham yang ada di BEI (yang jumlahnya, ketika artikel ini ditulis, total 662 saham), termasuk diantaranya saham-saham tidur, saham-saham yang di-suspen, saham gocap bin laknat, saham yang baru IPO, dan saham gorengan model MYRXdkk. Namun karena seperti yang disebut diatas, pergerakan indeks LQ45 terbilang mirip dengan IHSG, maka anda bisa ambil ETF LQ45 ini saja. Dan dalam jangka panjang, keuntungan investasi yang anda hasilkan akan kurang lebih setara dengan kinerja IHSG.
Okay Pak Teguh, lalu dimana saya beli ETF ini? Well, karena ETF ini termasuk baru, maka belum ada banyak sekuritas/perusahaan asset management yang menjualnya. Namun daftar manajer investasi yang sudah menjual ETF bisa dilihat disini (saya gak bisa menyebut nama/merk reksadana karena nanti dianggap endorse). Terus kalau Pak Teguh sendiri ada beli ETF? Nggak, karena kami sudah bisa melakukan diversifikasi itu sendiri. Adakah risiko tertentu kalau saya beli ETF ini, dibanding jika saya beli saham sendiri? Secara umum boleh dibilang tidak ada, kecuali kalau IHSG-nya crash seperti tahun 2008 lalu, tapi kalau itu terjadi maka gak cuma investor ETF, melainkan investor yang pegang saham biasa juga pasti kebakaran semuanya. Namun disisi lain, jika pasarnya sedang naik/IHSG bullish, maka keuntungan yang diperoleh pemegang ETF juga akan kurang lebih sebanyak kenaikan IHSG saja, sedangkan jarang terjadi IHSG naik lebih dari 20% dalam setahun.
Karena itulah, jika anda termasuk yang belum bisa menerapkan diversifikasi dengan baik dan benar, maka anda untuk sementara juga bisa mengambil ETF ini, sambil tetap membeli saham-saham seperti biasa. Seperti yang pernah penulis sampaikan di seminar, portofolio yang ideal (dari sudut pandang diversifikasi) adalah portofolio dimana tidak ada saham yang naik turunnya berpengaruh terlalu besar terhadap kinerja porto secara keseluruhan, tapi disisi lain juga tidak ada saham yang tidak memberikan pengaruh sama sekali. Thus, sekarang boleh lihat lagi rekening anda di sekuritas: Jika disitu ada satu atau dua saham yang alokasi dananya gede sendiri, atau sebaliknya ada satu atau dua saham receh yang anda membelinya sebanyak 1 atau 10 lot saja (biasanya karena iseng doang, atau karena anda tahu bahwa itu saham gorengan sehingga gak berani beli banyak), then you know what to do.
***
Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Market Outlook 2020: Jakarta & Surabaya, 7 & 14 Desember

Dear investor, penulis menyelenggarakan seminar Market Outlook 2020, dimana pada intinya kita akan membahas soal prospek pasar saham di tahun 2020, sektor atau saham-saham apa saja yang bisa dipertimbangkan, bagaimana strategi terkait kemungkinan terjadinya resesi, dan seterusnya. Acaranya akan digelar di dua kota yakni Jakarta, Sabtu 7 Desember, dan Surabaya, Sabtu 14 Desember. Dan berikut materi selengkapnya:
  1. Bagaimana proyeksi IHSG dan bursa saham secara umum di tahun 2020, lengkap dengan faktor-faktor yang harus diperhatikan yakni kinerja ekonomimakro Indonesia (pertumbuhan ekonomi, inflasi dll), kinerja emiten, valuasi saham, isu-isu ekonomi & politik dalam negeri pasca selesainya Pemilu/Pilpres, isu-isu luar negeri, dan kebijakan pemerintah.
  2. Daftar sektor dan saham-saham yang berpeluang ‘naik panggung’ di tahun 2020, lengkap dengan analisa serta strateginya.
  3. Benarkah tahun 2020 akan terjadi resesi global? Jika iya, bagaimana dampaknya terhadap Indonesia? Jika tidak pun, maka apa yang harus dilakukan?
  4. Investor vs Bandar: Cara mengidentifikasi & menghindari saham-saham gorengan berfundamental blank, atau saham dari ‘perusahaan mengaku bank padahal properti’, agar kasus Bumiputera & Jiwasraya tidak terjadi pada diri kita sebagai investor publik, dan terakhir:
  5. Analisa untuk saham-saham ‘wonderful company’ yang bisa dikoleksi tidak hanya untuk tahun 2020, tapi untuk di-hold jangka panjang (5 – 10 tahun kedepan) sebagai legacy stock.
Dan masih banyak lagi..  Intinya sih nanti kita bakal ngobrol-ngobrol santai sajalah, dimana nanti akan ada banyak sesi tanya jawab (anda bisa konsultasi portofolio juga). Dalam acara ini, anda juga diharapkan untuk bisa bertemu dan saling bertukar cerita dan pengalaman dengan sesama investor saham. Yup, we’re making a value investor community here!
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
JAKARTA
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Desember 2019
SURABAYA
  • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Desember 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi market outlook, makan siang, coffee break & snack.
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp750,000, dengan ketentuan diskon sebagai berikut:
Jika anda mendaftar untuk 2 peserta, biayanya jadi Rp650,000 per peserta.
Jika anda mendaftar untuk 3 peserta atau lebih, biayanya jadi Rp600,000 per peserta.
Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Market Outlook Jakarta/Surabaya (pilih salah satu kota) dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Nadiem Makarim, BCA. Anda boleh lampirkan bukti transfer, tapi boleh juga tidak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Kebijakan Refund: Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal acaranya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.

Bonus: Peserta akan dibuatkan grup Whatsapp/Telegram, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar.
***
Rekaman Market Outlook: Bagi anda yang tidak bisa hadir di acaranya karena kendala jarak atau waktu, maka anda bisa membeli rekaman audio-nya saja (plus slide powerpoint-nya), dan biayanya hanya Rp200,000. Caranya cukup transfer ke salah satu no rekening bank diatas, lalu kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Rekaman Market Outlook, dan isi: Nama lengkap anda, bank tujuan transfer (lampirkan bukti transfer jika perlu). Nanti anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, kemudian link untuk men-download rekamannya akan dikirim melalui email pada hari Senin, 16 Desember.

Nostalgia edition: Penulis dengan alumni seminar value investing Surabaya, tahun 2014 lalu

Jika masih ada yang ingin ditanyakan, anda bisa menghubungi Telp/Whatsapp 081314822827 (Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka kontek nomer satunya lagi. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com, dengan subjek email ‘Tanya market [...]

Prospek Saham Sawit Setelah Kenaikan Harga CPO, dan Program Biodiesel

Hingga Kuartal III 2019, emiten perkebunan kelapa sawit rata-rata masih membukukan kinerja yang kurang baik. Ambil contoh Astra Agro Lestar (AALI), dimana laba bersihnya drop sepersepuluhnya menjadi Rp111 milyar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.1 trilyun. Demikian pula dengan PP London Sumatra (LSIP), dimana labanya yang Rp52 milyar tentunya kelewat kecil dibanding ekuitasnya yang Rp8.2 trilyun. Disisi lain, harga crude palm oil (CPO) sedang dalam trend naik dalam 2 – 3 bulan terakhir, dimana angkanya terakhir menyentuh RM2,620 per ton di Bursa Malaysia (www.bursamalaysia.com), dan ini pula yang mendorong kenaikan saham AALI dkk. Jadi apakah ini berarti saham perkebunan kelapa sawit kembali menarik untuk invest?

***
Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Di blog ini, penulis terakhir kali membahas saham sawit sekitar 2 tahun lalu, tepatnya pada Januari 2018, dimana kesimpulannya adalah kita menganggap sektor ini belum cukup menarik, karena adanya fakta bahwa Indonesia sejak beberapa tahun lalu sudah menjadi produsen CPO terbesar di dunia (menyalip Malaysia), tapi disisi lain kita belum bisa mengolah CPO tersebut menjadi produk hilir, kecuali sebatas minyak goreng dan margarine, sedangkan konsumsi CPO untuk kebutuhan minyak goreng di dalam negeri jauh lebih kecil dibanding produksi CPO itu sendiri. Yup, pada tahun 2018 kemarin, Indonesia memproduksi total 43 juta ton CPO, sedangkan konsumsi dalam negeri hanya 10 juta ton. Surplus produksi CPO ini kemudian dilempar ke pasar ekspor, boleh dibilang ‘pada harga berapa saja asal laku’, karena di dalam negeri belum ada, atau hanya ada sedikit industri yang bisa mengolah CPO tersebut menjadi produk hilir. Alhasil, harga CPO tidak pernah pulih lagi seperti dulu, karena negara-negara diluar sana (misalnya Uni Eropa) juga melakukan segala cara agar mereka bisa membeli CPO dari Indonesia pada harga murah, salah satunya dengan meng-kampanye-kan isu bahwa ‘sawit merusak lingkungan’. Anda bisa baca lagi analisanya disini.
Nah, jadi ketika sampai hari ini, kinerja emiten sawit masih kurang memuaskan, maka kami bisa katakan bahwa itu memang sesuai prediksi. Tapi, hey, setelah lewat 2 tahun, maka bisa saja sekarang ini sudah waktunya bagi harga CPO untuk naik lagi kan? Well, pertama-tama kita harus cek terlebih dahulu, benarkah harga CPO sudah mulai naik lagi seperti yang diberitakan di media? Berdasarkan data yang bisa anda lihat disini, harga CPO mencapai titik terendahnya di RM1,883, November 2018, dan setelah itu dia terus naik sampai sekarang (ketika artikel ini ditulis) tembus diatas RM2,500, sehingga kenaikannya boleh dibilang signifikan. Namun demikian, pada Januari 2017 lalu, harga CPO juga pernah naik signifikan hingga RM3,250 per ton, yang sayangnya tidak berdampak positif terhadap kinerja emiten dimana laba AALI dkk tetap turun pada tahun 2017 tersebut, dan masih lanjut turun sampai sekarang. Kemudian perlu juga dicatat bahwa pada tahun 2011 lalu, yakni tahun dimana emiten-emiten sawit membukukan keuntungan sangat besar/ROE-nya diatas 20% semua, maka ketika itu harga CPO stabil di rata-rata RM3,500, dan pernah sesaat menyentuh RM4,000 per ton.
Dengan kata lain, meskipun sepanjang tahun 2019 ini harga CPO tampak naik lagi, tapi posisi harganya saat ini masih jauh dibawah harga tertingginya di tahun 2011 dan 2017 lalu. Kemudian satu lagi: Seperti yang juga sudah disampaikan di artikel bulan Januari 2018, maka berbeda dengan katakanlah batubara yang tinggal gali lalu jual, produksi CPO tidak lah sesederhana itu dimana kalau anda menanam pohon sawit hari ini, maka pohon tersebut baru akan menghasilkan buah sawit paling cepat tiga tahun kemudian. Masalahnya, bagaimana kalau harga CPO sedang turun justru ketika kebunnya sudah siap panen? Dan sebaliknya, ketika harga CPO sedang turun, maka gimana kita mo jualan kalau kebun yang ada belum siap berproduksi? Dari sinilah kemudian timbul ketidak pastian: Hanya karena harga CPO naik, maka bukan berarti perusahaan sawit bakal langsung cuan. Hal ini pula yang menjelaskan kenapa saham LSIP dkk baru naik banyak di tahun 2011 dan 2012 lalu, yakni setelah perusahaan memang membukukan kenaikan laba yang signifikan, jadi nggak seperti saham-saham batubara yang sudah beterbangan lebih awal, sejak tahun 2009-nya. Penulis kira hal ini pula yang menyebabkan emiten sawit masih membukukan penurunan laba di tahun 2017 lalu, tak peduli meski harga CPO ketika itu sempat menyentuh RM3,250 per ton. Karena sebelum LSIP dkk sempat jualan, harga CPO di tahun yang sama langsung jatuh lagi hingga dibawah RM2,400.
Sehingga kesimpulannya, meski harga CPO lagi naik, namun harga sekarang masih belum cukup tinggi bagi para perusahaan sawit untuk bisa jackpot lagi seperti di masa lalu. Kemudian karena problem utamanya sampai hari ini masih sama, yakni belum adanya industri di dalam negeri yang bisa mengolah CPO menjadi produk hilir (padahal CPO ini bahan baku utama untuk produk-produk farmasi, kosmetik, sabun mandi dll. Tapi yang terjadi adalah, kita ekspor dulu CPO-nya keluar, lalu kita kemudian mengimpor produk hasil CPO tersebut dari Eropa dll), maka penulis ragu kalau kenaikan harga CPO ini akan berlanjut, dan bisa saja besok-besok dia malah turun lagi.
Prospek Program B30
Tapi Pak Teguh, bukankah Pemerintah baru saja mencanangkan program B30, yang dijadwalkan akan mulai efektif Januari 2020 nanti? Harusnya itu bisa meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri dong, dan pada akhirnya menaikkan harga CPO di pasar ekspor karena suplai-nya turun? Nah, sebelumnya perlu diketahui bahwa sejak tahun 2018 lalu, pemerintah menerapkan program biodiesel 20 atau B20, yakni penggunaan bahan bakar untuk mesin diesel yang tidak lagi 100% solar, melainkan campuran 80% solar, dan 20% biodiesel, dimana biodiesel ini 100% diolah dari CPO. Program ini berjalan lancar meski sejauh ini penggunaannya masih terbatas pada kendaraan berat seperti truk. Tahun depan, program ini akan ditingkatkan menjadi B30, yang artinya campuran 70% solar, dan 30% biodiesel. Dan jika prosesnya kembali lancar, maka di tahun-tahun berikutnya, persentase campuran biodiesel ini akan kembali dinaikkan menjadi B40, B50, dan seterusnya. Kebijakan ini diharapkan akan mengurangi impor bahan bakar minyak, dan sebaliknya meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri. Pemerintah mentargetkan bahwa pada tahun 2030 nanti, konsumsi CPO dalam negeri akan meningkat dua kali lipat menjadi 19 juta ton, yang otomatis mengurangi kuota ekspor, dan harapannya akan bisa menaikkan harga CPO di pasar internasional.
However, tahun 2030 itu masih lama, sedangkan saat ini yang sudah jalan baru B20, sementara B30 masih dalam tahap uji coba. Dan dari program B20 yang sudah jalan ini pun, sejauh ini belum memberikan dampak positif terhadap kinerja AALI dkk, yang mungkin karena jumlah CPO yang terserap belum terlalu banyak.

Sepanjang tahun 2018, Pertamina sukses mendistribusikan 16 juta kiloliter solar B20 ke seluruh Indonesia, yang artinya terdapat 3.2 juta kiloliter CPO yang digunakan. Dengan asumsi berat minyak sawit adalah 900 gram per liter, maka konsumsi CPO untuk biosolar mencapai kurang lebih 3 juta ton untuk tahun 2018, atau masih kecil dibanding total produksi CPO nasional sebesar 43 juta ton di tahun yang sama. Nevertheless, it was a good start.

Sehingga dalam hal ini, kita mungkin masih perlu menunggu barang 1 – 2 tahun lagi, sampai akhirnya program B30, B40 dan seterusnya benar-benar sukses diterapkan, sehingga problem terkait minimnya konsumsi sawit dalam negeri karena belum adanya industri hilir sawit di Indonesia, pada akhirnya teratasi.  Dan dibanding dua tahun lalu, maka penulis sekarang ini lebih optimis, but still, kalau kita langsung masuk sekarang, maka pengalaman justru menunjukkan bahwa ketika harga komoditas ramai dibicarakan karena sudah naik banyak, maka kesininya dia justru turun lagi. Contohnya lihat harga emas: Beberapa waktu lalu, emas mendadak populer karena naik banyak hingga menyentuh $1,550 per oz (dari sebelumnya $1,250), dan banyak juga orang yang menyarankan untuk beli emas, tapi justru setelah itu harganya mulai drop hingga, ketika artikel ini ditulis, ke level $1,450. Intinya sih, naik turunnya harga komoditas itu mirip dengan harga saham: Ketika komoditas tersebut ramai dibicarakan karena naik banyak sebelumnya, maka itu justru sudah waktunya untuk keluar. Sedangkan waktu terbaik untuk masuk ke saham komoditas, apapun itu, adalah ketika harganya sedang berada di bawah.
Tapi Pak Teguh, bagaimana kalau program B30 ini sukses, dan harga CPO melanjutkan kenaikannya karena memang di harga segini pun, anda bilang harganya belum cukup tinggi? Kalau itu yang terjadi, maka kita bisa ketinggalan kereta bukan? Well, coba baca lagi kalimat diatas: Kenaikan CPO bukan berarti laba perusahaan sawit pasti akan langsung naik, dan karena itulah saham-saham sawit biasanya baru akan naik banyak ketika kinerja/laba bersih perusahaannya sudah confirm naik banyak. Perlu juga diketahui bahwa valuasi AALI dkk saat ini memang sudah sangat murah, sehingga kalau misalnya mereka naik 10 – 20% sekalipun, maka itu juga masih murah dan masih bisa naik lebih tinggi lagi hingga total 50 – 100%, asalkan kinerjanya memang confirm bagus lagi. Sehingga kalaupun kita baru masuk ketika itu, maka itu masih belum ketinggalan kereta. Tahun 2011 lalu, saham LSIP terbang dari 2,000 hingga 7,500 (harga sebelum stocksplit, setara dengan 400 ke 1,500), sehingga kalaupun ada yang agak telat masuk di harga 3,000, maka dia masih cuan banyak.
Tapi disisi lain, karena kita tahu bahwa program B30 ini masih perlu waktu untuk benar-benar memberikan dampak positif terhadap kinerja emiten sawit, maka kalau di LK berikutnya nanti laba AALI masih melempem seperti sekarang, maka ya sahamnya bakal drop lagi. Sehingga dalam hal ini, risikonya masih belum sebanding dengan potensi profitnya. Anyway, untuk sekarang mari kita kawal terus program B30 ini, dan kalau memang pada akhirnya itu berdampak positif, dan harga CPO juga minimal stabil di level saat ini (jadi gak turun lagi kaya harga emas) maka artikel ini juga akan di-update lagi. Mudah-mudahan pertengahan 2020 nanti lah.

Baiklah, ada yang mau menambahkan analisanya?
***
Ebook Kumpulan Analisa & Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kasus Jiwasraya & Bumiputera, dan Saham Gorengan

Suatu pagi, beberapa bulan lalu, penulis lagi tidur-tiduran di rumah orang tua di Cirebon, ketika bel depan rumah berbunyi. Begitu saya buka pintu pagar, ternyata seorang ibu-ibu yang merupakan saudara jauh dimana saya masih ingat wajahnya, tapi lupa namanya. Si ibu bertanya, ‘Bu haji ada?’ ‘Ada, silahkan masuk bu, sebentar saya panggilkan’. Tak lama kemudian mama menemui si ibu, dan mereka ngobrol serius selama sekitar 15 menit. Setelah itu mama menemui penulis, ‘Guh, kamu ada uang sekian Rupiah nggak?’ ‘Ada mah, buat apa?’ ‘Tadi itu ceuceu (lagi-lagi, saya lupa namanya), bilang mau pinjem uang segitu buat biaya masuk kuliah anaknya. Harusnya ia gak perlu pinjem karena udah punya polis yang sudah jatuh tempo di Bumiputera, yang memang disiapkan untuk biaya kuliah itu, tapi ga tau kenapa petugasnya bilang gak bisa dicairkan. Katanya harus ke Jakarta bla bla bla..’

***
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Setelah itu penulis buka m-banking untuk transfer, lalu balik lagi ke kamar untuk buka Google di laptop, dan kata kunci yang saya ketik adalah ‘Bumiputera gagal bayar’. Daaan ternyata, sudah ada banyak cerita tentang nasabah yang gagal mencairkan hak mereka di Bumiputera, dengan nominal yang beragam, mulai dari belasan hingga ratusan juta Rupiah. Sedihnya, mayoritas dari mereka adalah pensiunan yang bisa jadi sangat membutuhkan pencairan dana tersebut, karena hanya itulah satu-satunya tabungan milik mereka. Termasuk saudara penulis diatas, dimana permasalahan Bumiputera ini hampir saja menyebabkan mereka gagal membawa anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Karena itulah, penulis kemudian gali informasi lebih jauh, yang sayangnya gak bisa pake cara yang biasa dengan bongkar-bongkar laporan keuangan dll, karena Bumiputera bukan perusahaan Tbk. Tapi penulis sebelumnya memang sering mendengar bahwa ada sejumlah perusahaan asuransi yang berinvestasi di saham-saham kecil gak jelas dan kemudian rugi gak karu-karuan karena saham tersebut anjlok, atau terlibat transaksi repo yang pembayarannya macet (Apa itu repo? Baca lagi penjelasannya disini). Sebelumnya perlu diketahui bahwa karena perusahaan asuransi menerima dana setoran premi yang besar dari nasabahnya, maka mereka kemudian memutar/menginvestasikan dana tersebut di saham dll, dengan harapan diperoleh keuntungan. Sehingga ketika asuransi membayar klaim nasabahnya, maka masih ada sisa keuntungan bagi perusahaan.

Jadi bisa dibilang bahwa hampir semua perusahaan asuransi memiliki investasi di saham, baik itu secara langsung maupun melalui pihak ketiga (biasanya reksadana). Khusus Bumiputera, sejumlah sumber menyebutkan bahwa mereka pernah membeli saham PT Sugih Energy, Tbk (SUGI) senilai Rp250 milyar, dimana investasinya sekarang ini boleh dibilang rugi 100% karena saham SUGI itu jatuh sangat signifikan sebelum kemudian di-suspen oleh bursa, tanpa ada kejelasan kapan sahamnya akan kembali diperdagangkan (dan SUGI sendiri sudah setahunan ini belum merilis laporan keuangan). Pertanyaannya, kenapa kok manajer investasi di Bumiputera beli SUGI? Dan dengan jumlah yang sangat besar pula?? Well, entahlah, tapi penulis sejak tahun 2012 lalu bahkan sudah menyebut bahwa SUGI ini sama sekali tidak layak investasi, karena meski judulnya perusahaan minyak, namun SUGI sebenarnya cuma dijadikan ‘boneka’ oleh pemiliknya untuk meraup dana investor publik di BEI dengan cara right issue dll. Anda bisa baca lagi analisanya disini.

Nah, jadi ketika kemarin ramai berita bahwa Asuransi Jiwasraya juga gagal bayar klaim nasabahnya, dan bahkan manajemennya meminta suntikan dana Rp32 trilyun dari Pemerintah untuk mengatasi masalah gagal bayar tersebut, maka penulis sudah tidak lagi kaget.
Sebab seperti halnya Bumiputera, Jiwasraya juga banyak berinvestasi di saham-saham yang perusahaannya bermasalah, salah satunya Trada Maritime, yang sekarang berubah nama menjadi Trada Alam Minera (TRAM), padahal sejak tahun 2015 lalu penulis juga sudah bilang TRAM ini dangerous (baca lagi ulasannya disini).

Jadi maksud penulis adalah, kalau kita beli saham tertentu kemudian menderita kerugian karena pasarnya turun, atau terjadi peristiwa/muncul sentimen negatif tertentu, atau perusahaannya mengalami perubahan fundamental/penurunan kinerja di laporan keuangan berikutnya, maka itu adalah bagian dari risiko berinvestasi di saham, yang hanya bisa diminimalisir tapi tidak bisa kita hindari 100%. Dan kalaupun itu terjadi maka yang rugi hanya diri kita sendiri, jadi gak bawa-bawa orang lain. Tapi bagaimana kalau perusahaan asuransi yang bertanggung jawab atas dana senilai trilyunan Rupiah milik orang banyak, malah menderita rugi karena entah kenapa mereka membeli saham-saham gorengan? Apakah mungkin manajer investasi di Bumiputera dan Jiwasraya gak bisa baca laporan keuangan SUGI dan TRAM, untuk kemudian mengetahui bahwa dilihat dari sisi manapun, kedua perusahaan tersebut tidak layak investasi??
Tapi kenyataannya, itulah yang terjadi. Dan dalam hal ini besar kemungkinan bahwa Bumiputera dan Jiwasraya tidak sendirian karena bisa jadi, masalahnya bukan hanya terletak di pihak perusahaan asuransinya, tapi juga di saham gorengan itu sendiri. Seperti yang pernah penulis bahas tentang repo, pemilik perusahaan Tbk seringkali mencari dana dari investor, termasuk investor institusi, dengan tawaran bunga, komisi, janji bahwa sahamnya akan dikerek naik, atau semacamnya. Dan sebagai jaminan, si investor menerima saham dari perusahaan Tbk tersebut. Yup, jadi modusnya kurang lebih sama seperti Hanson International (MYRX) yang menerima setoran ‘deposito’ dari ‘nasabah’ dengan iming-iming bunga 9 – 12%, dan si nasabah kemudian menerima jaminan unit properti yang dikatakan bernilai sama dengan nilai deposito tersebut plus bunganya (baca lagi ceritanya disini, baru aja minggu lalu). Nah, jadi kalau MYRX dengan skema seperti itu bisa sukses meraup dana hingga Rp2.5 trilyun dari investor individual, lalu apa susahnya mereka bagi mereka, atau perusahaan Tbk lainnya, untuk meraup dana sebesar itu juga dari investor institusi seperti Bumiputera dan Jiwasraya?? Hanya saja kali ini skemanya lebih canggih, yakni pake repo saham (boleh anda googling sendiri, misalnya dengan kata kunci ‘Jiwasraya repo’).
Namun masalahnya, uang yang kemudian ditempatkan di saham-saham gorengan itu tentu saja bukan milik Bumiputera itu sendiri, melainkan milik ratusan ribu hingga jutaan nasabah yang mempercayakan dana mereka untuk dikelola. Yup, jadi ketika seorang oknum di Bumiputera/Jiwasraya bekerja sama dengan oknum bandar saham gorengan, maka bisa jadi mereka berdua sama-sama untung, dengan jumlah keuntungan yang juga tidak sedikit! Lantas yang dirugikan siapa?? Ya salah satunya saudara jauh penulis tadi, yang saya sendiri gak bisa bayangkan seperti apa paniknya, karena yang dipertaruhkan disini adalah masa depan putra mereka sendiri. Padahal tentu saja, dia gak ngerti apa itu SUGI, atau apa itu TRAM.
Anyway, karena alasan-alasan inilah, maka meski penulis sendiri punya sejumlah asuransi terutama yang bersifat mandatory, seperti BPJS dan asuransi mobil, namun untuk keperluan tabungan pendidikan anak dll, dana pensiun, dan tentunya investasi, maka akan jauh lebih baik jika kita investasi saham sendiri. Karena meskipun juga tidak ada jaminan bahwa kita pasti untung, tapi at least kita tahu bahwa kita gak akan beli saham-saham gak jelas, ataupun ikut repo dari perusahaan yang gak jelas pula. Mengharapkan OJK atau pemerintah menindak tegas kasus-kasus seperti ini juga sulit, karena bisa dibilang polisinya cuma sedikit, sedangkan malingnya ada banyak. Sehingga pada akhirnya, yang bisa diandalkan ya diri kita sendiri. What? Anda gak ngerti cara berinvestasi saham? Ya belajar lah, bisa dengan baca-baca tulisan di blog ini, yang jumlahnya sudah ratusan artikel sejak tahun 2010 lalu. Good luck!
***
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Special Report: Menggali Laporan Keuangan Hanson International

Di ulasan sebelumnya, kita membahas soal ‘MYRX vs OJK’, dimana OJK menuduh perusahaan telah melakukan aksi penghimpunan dana layaknya sebuah bank, padahal PT Hanson International, Tbk (MYRX) ini bukan bank, melainkan perusahaan properti. OJK juga disebutkan akan menggali lebih dalam laporan keuangan MYRX untuk menemukan aksi penghimpunan dana yang dimaksud. Nah, tadinya penulis akan mem-posting artikel ini minggu depan, tapi terus terang karena saya sendiri sudah penasaran, maka barusan penulis sudah bongkar-bongkar semua dokumen milik MYRX, dan berikut adalah hasilnya. Okay, here we go.
***
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
MYRX dulunya merupakan perusahaan tekstil dengan nama PT Mayertex Indonesia, yang berdiri tahun 1971, go public tahun 1990, dan pada tahun 2004 berubah nama menjadi PT Hanson International, Tbk. Usaha tesktil yang dijalankan perusahaan tidak memberikan hasil yang baik, dan MYRX tidak pernah menjadi perusahaan yang menguntungkan. Hingga pada tahun 2013, MYRX dijadikan objek backdoor listing bagi perusahaan bernama PT Mandiri Mega Jaya atau MMJ, yang merupakan perusahaan properti. Jadi pemilik MMJ mengakuisisi MYRX, biasanya pada harga yang sangat murah karena memang perusahaannya tidak menghasilkan keuntungan apa-apa, lalu pada gilirannya MYRX mengakuisisi MMJ, sehingga MMJ sekarang menjadi perusahaan Tbk melalui MYRX sebagai induknya. Mekanisme backdoor listing ini lebih mudah dilakukan ketimbang IPO itu sendiri, dan dengan demikian MYRX menjadi perusahaan properti.
Oke, lanjut. Melalui MMJ, MYRX memiliki dan mengelola tiga kawasan township, yakni Citra Maja Raya (berlokasi di Maja, Kabupaten Lebak, Banten), Serpong Kencana/Forest Hill (berlokasi di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat), dan Millennium City (juga berlokasi di Parung Panjang, Bogor). Untuk Citra Maja Raya,  yang merupakan proyek utama perusahaan, MYRX bekerjasama dengan PT Citra Benua Persada (CBP), yang merupakan anak usaha Grup Ciputra, dimana MYRX melalui beberapa anak usahanya berperan menyediakan lahan, sedangkan CBP membangun lahan tersebut menjadi kawasan pemukiman. Salah satu anak usaha MYRX yang menyediakan lahan tersebut adalah PT Armidian Karyatama, Tbk (ARMY), yang juga merupakan perusahaan Tbk dimana sahamnya terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Nah, sampai disini, MYRX kelihatannya masih normal, sama saja lah seperti developer properti lain pada umumnya. Tapi lain ceritanya ketika kita menggali laporan keuangannya, dimana penulis menemukan beberapa poin menarik. Pertama, MYRX mencatat nilai asetnya sangat besar, yakni total Rp12.9 trilyun, padahal perusahaannya terbilang masih baru. Sebagai perbandingan, PT Alam Sutera Realty, Tbk (ASRI), yang sudah beroperasi jauh sebelum MYRX, dan saat ini sudah merupakan salah satu developer terbesar di Indonesia (ASRI merupakan developer properti terbesar kedua di Kawasan Serpong, Tangerang, dibelakang Bumi Serpong Damai), total asetnya hanya Rp21.8 trilyun, tapi total aset MYRX sudah mencapai separuhnya. Ingat pula bahwa ASRI memegang Alam Sutera township yang tentu saja, harga unit-unit properti disana lebih tinggi dibanding di Citra Maja Raya, karena kawasannya sudah lebih mapan, dan jaraknya lebih dekat ke Jakarta, serta sudah memiliki akses tol sendiri (sedangkan akses tol terdekat ke Citra Maja Raya adalah pintu Tol Balaraja, Tangerang, dengan jarak 20 KM).
Kedua, dalam prospektusnya ketika MYRX menggelar right issue, tahun 2013 lalu, disebutkan bahwa perusahaan memperoleh setoran dana Rp4.6 trilyun, dimana Rp4.0 trilyun diantaranya digunakan untuk mengakuisisi MMJ, tapi sebenarnya sama sekali tidak ada uang yang berpindah tangan, karena MMJ dan MYRX sejak awal dimiliki oleh pemilik yang sama (baca lagi soal backdoor listing diatas). Dan nilai MMJ yang Rp4.0 trilyun itu dianggap wajar, atau bahkan murah, karena MMJ memiliki 17 bidang tanah dengan indikasi nilai pasar masing-masing sebagai berikut (klik gambar untuk memperbesar):

Nah, sebelumnya perlu diketahui bahwa secara akuntansi, nilai aset berupa lahan properti bisa dicantumkan dengan dua cara: 1. Berdasarkan harga perolehan, dan 2. Berdasarkan nilai pasar. Dalam hal ini MYRX mencantumkan nilai aset-asetnya berdasarkan ‘indikasi nilai pasar’, alias berdasarkan asumsi bahwa kalau tanah seluas 2.4 juta meter persegi milik PT Armidian Karyatama dijual semuanya, maka akan diperoleh uang Rp457 milyar. Jadi ini sama seperti kalau anda punya rumah, dan anda bilang sendiri kalau harganya, berdasarkan harga dari rumah-rumah lain dengan ukuran yang sama di kompleks perumahan yang sama, adalah Rp1 milyar. Pertanyaannya, jika anda benar-benar menjual rumah tersebut, maka apakah anda pasti akan memperoleh pembayaran Rp1 milyar? Well, belum tentu, kalau misalnya anda dalam posisi BU maka bisa jadi harga jualnya akan jauh lebih rendah. Demikian pula jika PT Armidian benar-benar menjual seluruh lahannya tersebut, maka apakah perusahaan pasti akan memperoleh pembayaran Rp457 milyar? Sekali lagi, belum tentu, malah kemungkinan lebih rendah karena seringkali, nilai tanahnya dihitung berdasarkan harga eceran per unit rumah/kavling, yang tentu saja lebih tinggi dibanding jika ada orang yang membeli lahan seluas 2.4 juta meter persegi itu secara sekaligus.
Tapi sekali lagi, secara akuntansi, metode pencatatan nilai tanah berdasarkan asumsi nilai pasarnya seperti diatas, itu diperbolehkan. Anyway, dengan strategi ini maka MYRX memperoleh dua keuntungan sekaligus: 1. MMJ sekarang menjadi perusahaan Tbk (melalui induknya), 2. Nilai ekuitas perusahaan langsung melejit karena ‘setoran’ modal Rp4.6 trilyun tadi, dan aset lahan milik perusahaan di Maja dll menjadi ‘lebih berharga’ karena sudah memiliki nilai tercatat sekian, seperti yang ditunjukkan pada tabel diatas. Keuntungan No.2 ini menjadi penting terkait point selanjutnya yang menarik di LK MYRX, sebagai berikut:
Ketiga, pada bagian aset tidak lancar, pada Kuartal III 2019, MYRX mencatat uang muka pembelian tanah senilai Rp3.6 trilyun, dimana MYRX membeli tanah di proyek Citra Maja Raya dari MMJ (yang merupakan anak usahanya sendiri) seluas total 1,581 hektar, sehingga nilai uang yang dibayarkan adalah sebesar Rp228,000 per meter persegi, yang artinya harga jual tanahnya dianggap lebih tinggi lagi, karena itu baru uang muka. Lalu dari mana MYRX punya uang Rp3.6 trilyun tersebut? Dari utang, salah satunya pinjaman individual senilai total Rp2.5 trilyun. Yang dimaksud pinjaman individual ini adalah perusahaan melakukan perjanjian bilateral (perjanjian yang hanya disepakati oleh kedua belah pihak tanpa melibatkan notaris, otoritas pemerintah, atau pihak ketiga manapun) dengan sejumlah pemilik dana individu (jadi bukan institusi ataupun perusahaan) alias ‘nasabah’, dimana perusahaan memperoleh setoran dana tanpa jaminan, dan nasabah akan menerima bunga 9 – 12% per tahun. Namun meski tanpa jaminan, nasabah bisa memperoleh kembali uangnya dalam bentuk tunai, atau unit properti milik perusahaan, sehingga tidak perlu khawatir.
Nah, jadi anda mengerti maksud penulis bukan? Yup, ini adalah strategi yang sangat cantik dari MYRX dalam menjual unit-unit properti mereka pada harga yang mereka tentukan sendiri (yang bisa jadi lebih mahal dari seharusnya) kepada konsumen yang mereka sebut sebagai ‘nasabah’ tersebut. Sekarang gini: Kalau anda ditawari beli rumah seharga Rp1 milyar di Lebak, Banten sana, maka kemungkinan anda akan langsung menolak, mungkin anda malah bertanya, Lebak itu dimana? Tapi bagaimana kalau anda ditawari ‘deposito’ Rp1 milyar dengan bunga 10% per tahun, dimana kalaupun anda tidak bisa lagi menarik dananya, maka anda akan memperoleh rumah senilai Rp1.1 milyar? (dimana sebenarnya itu adalah rumah yang sama dengan yang nilainya Rp1 milyar tadi) Maka tentu itu tampak lebih menarik bukan?? Cerita yang juga dijual adalah bahwa proyek di Maja, Lebak itu dikelola oleh Grup Ciputra, jadi masa iya sih kita nggak percaya sama Ciputra? (padahal Ciputra disana ya cuma fokus membangun saja, dan dia gak ada urusan sama ‘pinjaman individual’, goreng saham dll. Jadi ini seperti ada orang yang entah dari mana datang ke anda, tapi dia mengaku kenal dengan presiden/menteri/gubernur, kemudian minjem duit). Dengan strategi inilah, MYRX sukses meraup dana hingga Rp2.5 trilyun (dari para ‘nasabah’ yang tanpa sadar diarahkan untuk membeli unit properti milik perusahaan pada harga mahal), yang tentu saja bukan jumlah kecil, dan dananya langsung disetor ke MMJ sebagai uang muka pembelian tanah milik perusahaan. Tanpa strategi seperti ini, besar kemungkinan proyek Citra Maja Raya itu gak bakal laku, karena industri properti itu sendiri sampai sekarang masih lesu.
Namun skema ‘tabungan’ inilah yang kemudian dipermasalahkan oleh OJK, apalagi jumlah dana yang berhasil dihimpun juga tidak main-main/mencapai trilyunan Rupiah, karena penggunaan istilah tabungan atau ‘deposito’ tanpa jaminan hanya diperbolehkan untuk perbankan atau lembaga keuangan lainnya, yang memang memiliki izin khusus untuk menghimpun dana dari masyarakat. Dalam hal ini memang belum sampai jatuh korban, toh para ‘nasabah’ MYRX sampai sekarang juga masih santai-santai saja. Namun jika ini dibiarkan, apalagi jika strateginya di­-copy paste oleh developer lain untuk menggelembungkan harga jual unit-unit properti mereka, maka ending-nya bisa seperti krisis besar tahun 2008 lalu di Amerika Serikat, yang memang diawali dari bubble properti. Dan ketika itu terjadi maka tetap saja, Pemerintah dan khususnya OJK yang bakal disalahkan.
Anyway, menarik untuk mencermati, bagaimana tindakan OJK selanjutnya, karena kita tahu bahwa MYRX dan ARMY tidak sendirian, melainkan masih ada lagi beberapa emiten properti lainnya yang juga dimiliki oleh grup yang sama, yakni NUSA, POSA, dan RIMO (dan saham mereka juga sama liarnya), dimana kalau kita gali laporan keuangannya maka bisa jadi bakal ketemu strategi yang aneh-aneh lagi. Well, kita tunggu saja kelanjutannya nanti bagaimana.

Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Info telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Hanson International vs OJK

Beberapa waktu lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satuan Tugas Waspada Investasi, mengumumkan bahwa mereka telah memanggil direksi PT Hanson International, Tbk (MYRX), untuk meminta penjelasan terkait aktivitas penghimpunan dana milik masyaratakat dalam bentuk tabungan, yang dilakukan oleh perusahaan, padahal MYRX bukanlah lembaga keuangan atau bank, melainkan perusahaan properti. Kepala Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam L. Tobing, mengatakan bahwa aksi penghimpunan dana tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2016, dimana ‘nasabah’ dijanjikan bunga 10 – 12% per tahun, dan dana yang terkumpul dikatakan akan digunakan untuk mengembangkan usaha properti milik perusahaan.

***
Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 akan terbit tanggal 8 November mendatang, dan anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon preorder bagi yang memesan sebelum tanggal 8 November. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Tak lama setelah beritanya beredar, MYRX langsung mengumumkan di koran bahwa mereka tidak lagi menerima dana dalam bentuk tabungan, deposito, dan/atau jenis lainnya terhitung sejak tanggal pengumuman ini diterbitkan. Nah lho, berarti memang bener MYRX selama ini beroperasi layaknya sebuah bank yang menerima setoran deposito, padahal dia bukan bank? Lalu perusahaan apa MYRX ini sebenarnya??

Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk membaca lagi artikel tentang Grup MNC, dimana penulis katakan bahwa Grup MNC merupakan satu dari sekian banyak grup usaha di Indonesia, yang keahliannya bukan dalam hal mengelola perusahaan dengan baik dan benar hingga menghasilkan keuntungan secara operasional, yang pada akhirnya menumbuhkan nilai riil perusahaan tersebut, melainkan dalam hal menghimpun dana dari masyarakat, baik itu investor ritel, investor institusi, hingga bank, entah itu dalam bentuk setoran modal (IPO, right issue, private placement), utang obligasi, hingga utang bank. Grup dengan cara kerja seperti ini tidak pernah menganggap kita semua, yakni investor ritel, sebagai sesama pemegang saham/pemilik perusahaan, melainkan justru menganggap kita sebagai ‘sapi perah’ yang mereka bisa mengambil keuntungan darinya. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
Namun demikian, ternyata ada juga beberapa grup yang punya keahlian yang sama, yakni menghimpun dana masyarakat, tapi dengan cara yang, well.. bisa dibilang melanggar hukum. Maksud penulis adalah, ketika perusahaan Tbk menggelar right issue, maka prosesnya harus melalui persetujuan dari BEI dan OJK, sehingga pengumpulan dana masyarakat melalui mekanisme right issue tersebut adalah legal, termasuk perusahaan yang bersangkutan harus menerbitkan prospektus yang menjelaskan semua prospek dan risiko, yang bisa dipelajari oleh investor sebelum mereka memutuskan untuk ikut right issue-nya atau tidak. Tapi bagaimana kalau perusahaan yang bukan bank secara sengaja mengumpulkan dana tabungan dari masyarakat? Sejak kapan perusahaan properti memiliki izin untuk menerima setoran deposito??
Kenyataannya adalah, modus ‘menerima setoran tabungan’ ini baru satu dari sekian banyak metode penghimpunan dana dari masyarakat yang bersifat ilegal/tidak menerima izin dari otoritas terkait. Modus lainnya adalah repo saham, dimana perusahaan ‘meminjam dana’ dari investor dengan jaminan aset keuangan tertentu, misalnya saham, obligasi, hingga surat utang negara, dengan janji bahwa perusahaan akan membeli kembali saham tersebut, sehingga si investor akan memperoleh uangnya kembali (baca lagi penjelasannya disini). Masalahnya, saham yang dijaminkan dalam transaksi repo ini seringkali merupakan saham dari perusahaan berfundamental buruk, yang eventually akan turun lagi meski sebelumnya sudah dikerek naik, sehingga investor pemegang repo-nya akan menderita kerugian.
Dan pada artikel tentang repo ini, penulis mengambil contoh kasus saham PT Rimo International Lestari, Tbk (RIMO), yang sempat melejit dari 100 ke 700 hanya dalam 4 bulan, tapi setelah itu balik lagi ke 100-an, dan alhasil meninggalkan kerugian bagi investor yang kebetulan beli di harga atas. Menariknya, RIMO dan MYRX dimiliki oleh grup yang sama, dan demikian pula beberapa ‘saham gorengan’ lainnya yang juga disebut-sebut menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk repo, seperti PT Sinergi Megah Internusa, Tbk (NUSA), PT Armidian Karyatama, Tbk (ARMY), dan PT Bliss Properti Indonesia, Tbk (POSA), juga dimiliki oleh grup yang sama. Jadi bisa kita katakan bahwa pelaku dari aksi penghimpunan dana dari masyarakat secara ilegal ini, sebenarnya ya mereka-mereka juga. Menariknya lagi, untuk tiga perusahaan Tbk yang disebut terakhir, mereka baru IPO dalam 1 – 2 tahun terakhir. Jadi bagaimana bisa BEI dan OJK meloloskan ketiga perusahaan itu untuk melantai di bursa, padahal owner-nya sejak awal sudah bermasalah?
Anyway, seperti yang pernah penulis sampaikan, ketika kita masuk pasar lalu kecopetan, maka kita tidak bisa begitu saja menyalahkan mas-mas hansip yang sedang berjaga, melainkan kita sejak awal harus waspada agar si copet tidak bisa melakukan aksinya, misalnya dengan tidak menaruh dompet di saku belakang celana. Demikian pula di pasar saham, penulis selalu mengingatkan agar kita selalu waspada, salah satunya dengan tidak beli saham hanya karena saham itu tampak naik banyak, sedangkan disisi lain fundamentalnya/kinerja perusahaannya tidak mendukung, dan/atau valuasinya sudah kelewat mahal, karena cepat atau lambat sahamnya akan drop lagi. Dan untuk perusahaan-perusahaan yang disebut diatas, bisa penulis katakan bahwa kinerja mereka memang zonk semua, sehingga sahamnya sejak awal tidak layak invest. Untuk MYRX sendiri, perusahaan membukukan laba bersih Rp77 milyar di Kuartal III 2019, turun dibanding periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp182 milyar, dan laba tersebut sangat kecil dibanding nilai ekuitas perusahaan, yang tercatat Rp7.1 trilyun.
However, setelah mencuatnya kasus ‘perusahaan mengaku bank padahal properti’ ini, maka mungkin penulis harus menambahkan: Hati-hati kalau ada orang dari perusahaan tertentu, yang datang menawarkan ‘tabungan’, atau ‘deposito’, atau apapun itu namanya, dengan iming-iming bunga yang menarik (10 – 12% per tahun jelas menarik, karena itu jauh diatas bunga deposito bank), termasuk jika perusahaan mengaku ‘memperoleh izin dari OJK’. Sebelumnya, modus MYRX ini memang canggih: Sebagai perusahaan Tbk, ia memang memiliki izin dari OJK untuk melantai di bursa, tapi makerting perusahaan menyulap izin tersebut menjadi seolah-olah bahwa OJK mengizinkan mereka untuk menghimpun dana dari masyarakat layaknya sebuah bank, dan mereka tidak segan-segan mencantumkan logo OJK di surat penawaran yang mereka buat. Ini artinya, kalau ‘dana tabungan’ yang dihimpun kemudian macet/tidak bisa ditarik kembali oleh para nasabahnya, maka manajemen bisa berkelit dan malah menyalahkan OJK, sebagai otoritas yang memang bertugas melindungi masyarakat. Padahal sejak awal OJK tidak pernah memberikan izin apapun!
Dan memang penulis sendiri beberapa kali ditawari ‘skema investasi’ seperti itu, yang tentu saja semuanya saya tolak karena penulis sudah sangat paham bahwa, kalaupun kita sempat untung dari skema investasi yang ditawarkan, tapi ujungnya tetap bakal bad ending, atau kerugian yang diperoleh sejatinya berasal dari kerugian investor/nasabah lain (jadi kaya skema ponzi gitu). Nah, lalu bagaimana dengan anda sendiri? Pernahkah anda ditawari juga investasi, tabungan, atau apalah itu namanya, dari perusahaan-perusahaan yang aneh-aneh seperti MYRX ini? Dan apakah anda mengambil tawaran tersebut? Anda bisa ceritakan pengalamannya melalui kolom komentar dibawah.

Untuk artikel minggu depan, kita akan coba gali laporan keuangan MYRX, karena penulis barusan menemukan akun kewajiban sebesar Rp2.5 trilyun, yang dicatat sebagai ‘pinjaman individual’ (jadi perusahaan bukan ngutang ke bank, melainkan entah ke siapa) tanpa jaminan. Dan mungkin kita juga akan coba kupas LK dari RIMO, NUSA, ARMY, dan POSA. Well, minggu depan yap.
***
Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Info telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Tebak-Tebakan Saham

Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dst untuk member. Info telp atau whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Meraup Cuan dari Saham Dividen

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), ada sejumlah saham yang bisa kita sebut sebagai ‘saham dividen’, yakni saham yang perusahaannya membayar dividen dalam jumlah besar, dalam hal ini lebih dari separuh laba bersihnya dalam satu tahun (dividend payout ratio-nya lebih dari 50%), sedangkan disisi lain harga sahamnya relatif rendah dibandingkan dengan nilai dividen itu sendiri per lembar sahamnya, sehingga dividend yield-nya lebih besar dibanding saham-saham lain pada umumnya.

***
Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Info telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
***
Nah, sebenarnya ketika perusahaan menghabiskan lebih dari separuh laba bersihnya untuk membayar dividen ke pemegang saham, maka prospek jangka panjangnya akan kurang bagus dibanding saham lain yang perusahaannya menginvestasikan kembali sebagian besar laba bersihnya, karena tingkat pertumbuhan riil dari perusahaan yang ‘royal dividen’ ini tentunya akan relatif lambat dari tahun ke tahun, atau bahkan stagnan. Contohnya Unilever Indonesia (UNVR), yang dalam lima tahun terakhir ekuitasnya stagnan di level Rp5 trilyun sekian ketika di periode waktu yang sama, ekuitas dari perusahaan-perusahaan besar lainnya terus tumbuh signifikan. Dan itu adalah karena UNVR menggunakan hampir 100% laba bersihnya setiap tahun, sebagai dividen.
Namun demikian, jika harga saham yang bersangkutan cukup murah sehingga dividend yield-nya mencapai katakanlah 5% (sebagai perbandingan, yield dari saham-saham big caps di BEI berkisar di level 2 – 2.5%), sedangkan fundamental perusahaan tetap bagus seperti biasanya (labanya naik, ROE-nya 15% atau lebih), maka berdasarkan pengalaman, sahamnya akan naik banyak pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, yakni karena adanya ekspektasi dari pelaku pasar bahwa perusahaan akan kembali membayar dividen besar di tahun depan, persisnya pada bulan Maret – Mei.
Dan yang menarik adalah, kenaikan dari harga saham ini seringkali lebih besar dibanding nilai dividen itu sendiri. Jadi sebut saja saham A, sahamnya berada di level Rp1,000, dan diperkirakan akan membayar dividen Rp70 tahun depan (yield-nya 7%). Maka biasanya saham A ini akan naik 150 – 200 hingga ke posisi Rp1,150 atau 1,200, sebelum kemudian turun lagi setelah tanggal cum dividennya.
Karena alasan inilah, saban akhir tahun, dalam hal ini ketika memasuki bulan November atau Desember, penulis secara rutin menyisihkan sejumlah dana untuk dibelikan saham-saham dividen ini, untuk nanti dijual lagi beberapa bulan berikutnya. Yang kita incar disini adalah capital gain dari kenaikan harga sahamnya, bukan dividen itu sendiri. Metode investasi jangka pendek ini bahkan relatif aman dari risiko koreksi pasar/penurunan IHSG. Karena berbeda dengan pergerakan IHSG yang tidak bisa diprediksi, pembayaran dividen di tahun depan yang kemudian akan memicu saham yang bersangkutan untuk naik jauh hari sebelumnya, itu bersifat nyaris pasti, terutama jika perusahaan secara rutin membayar dividen besar di tahun-tahun lalu, dan perusahaan juga masih membukukan kinerja baik/labanya masih bertumbuh di tahun 2019 ini.
Nah, karena sebentar lagi kita akan memasuki bulan November, maka strategi ‘meraup cuan dari saham dividen’ diatas menjadi relevan. Hanya pertanyaannya sekarang, saham apa yang bisa dipertimbangkan? Well, anda bisa mempertimbangkan Bank Jatim (BJTM), sebuah bank pembangunan daerah yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang kebetulan sudah merilis lapor keuangan Kuartal III 2019. Secara fundamental, BJTM sukses membukukan kenaikan laba secara konsisten dalam lima tahun terakhir, ROE-nya konsisten di level 16 – 18%, angka net NPL rendah di 0.6 – 0.7%, dan juga struktur permodalan yang kuat, dengan CAR selalu diatas 20%. Dan pada harga saham 675, yang mencerminkan PER 6.6 dan PBV 1.1 kali, maka BJTM jelas murah terutama jika dibandingkan dengan big four Bank BCA, Bank BRI, Bank Mandiri, dan Bank BNI, sedangkan fundamentalnya tidak kalah bagus dibanding keempat raksasa tersebut.

Namun memang, bukan tanpa alasan pasar menghargai BJTM pada valuasi rendah. Yup, karena perusahaan menggunakan lebih dari 50% laba bersihnya setiap tahun untuk membayar dividen, bahkan mencapai 70% pada tahun-tahun tertentu, maka seperti yang disebut diatas, pertumbuhan aset bersih BJTM dalam jangka panjang menjadi lambat, dan bank ini tentunya juga tidak se-populer keempat bank yang disebut diatas.
Tapi disisi lain, rendahnya harga saham BJTM membuat dividend yield-nya menjadi tinggi. Tahun 2019 ini, berdasarkan perolehan laba perusahaan di tahun 2018, BJTM membayar dividen Rp46 per saham, sehingga berdasarkan harga saham Rp675, maka yield-nya mencapai 6.8%. Inilah yang menyebabkan BJTM hampir selalu naik banyak pada setiap akhir tahun. Tahun lalu, tepatnya antara 15 Oktober 2018 hingga 21 Januari 2019, BJTM naik 24% dari 605 hingga 750, sebelum kemudian turun lagi, namun kenaikan 24% tersebut jelas lebih tinggi dibanding dividen yield-nya tadi.
Sehingga kesimpulannya, kecuali manajemen melakukan perubahan kebijakan yang ekstrim terkait dividen ini, maka besar kemungkinan BJTM akan kembali membayar dividen jumbo pada awal tahun depan, dan sahamnya juga akan mulai naik sejak beberapa bulan sebelum tanggal cum.
Selain BJTM, pilihan lainnya yang juga bisa dipertimbangkan adalah Adira Dinamika Multi Finance (ADMF), yang juga sudah merilis LK Kuartal III 2019, dimana hasilnya masih sangat baik dengan ROE yang terjaga di level 25.4%. Awal tahun ini, ADMF membayar dividen Rp908 per saham, sehingga berdasarkan harga sahamnya Rp10,750, maka dividend yield-nya 8.4%, even bigger dibanding yield BJTM tadi, sehingga sejatinya ADMF ini lebih menarik, hanya saja sahamnya kurang likuid sehingga kurang disarankan jika anda pegang cicis gede. Namun karena beta ADMF lebih kecil dibanding BJTM (apa itu beta? Baca lagi penjelasannya disini), maka jika anda masih ragu-ragu terkait arah pasar/IHSG kedepannya, maka ADMF lebih disarankan karena sahamnya ‘tahan koreksi’. Cem mana kalau kita ambil dua-duanya sahaja? Ya itu juga boleh.
Baiklah Pak Teguh, lalu diluar dua saham itu, masih ada pilihan saham lainnya? Ya nanti kita tunggu dulu para emiten merilis LK-nya lah, sebentar lagi.
***
Ebook Bulanan Analisis IHSG & Rekomendasi saham pilihan (‘Ebook Market Planning’) edisi November 2019 sudah terbit! dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member. Info telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).
Disclosure: Ketika artikel ini diposting, Avere sedang dalam posisi memegang BJTM di average 665, dan ADMF di average 10,150. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Follow penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning, Kuartal III 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal III 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka minimal jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan tingkat rekomendasi (beberapa saham mungkin lebih direkomendasikan dibanding saham lainnya), tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Seluruh analisa di ebooknya ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan to the point. Jadi jika anda bisa memahami analisa saham yang disampaikan disini, maka anda juga akan bisa menyerap isi ebooknya dengan baik. Ebooknya sudah terbit pada bulan November 2019, dan anda bisa langsung memesannya disini.


Screenshot ebooknya, salah satu edisi sebelumnya.

Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee + selling tax yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan tentunya tidak seberapa dibanding nilai dari waktu yang harus anda luangkan jika mengerjakan screening saham dan analisisnya sendiri.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, praktisi value investing pertama di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
Sekali lagi, untuk memperoleh ebooknya maka baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Telp/SMS/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti), atau 0812-2044-5202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomor yang satunya.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

Anda pembaca baru TeguhHidayat.com? Kalau gitu anda mungkin tertarik untuk membaca EIP edisi-edisi sebelumnya, tentunya dengan harga diskon. Info selengkapnya baca disini.
Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi [...]

Ciri-ciri Saham Anti Resesi/Koreksi Pasar

Di tulisan minggu lalu kita sudah membahas tentang dua strategi untuk memaksimalkan keuntungan, ketika pasar/IHSG jatuh. However, meskipun strateginya cukup jelas, penulis juga sudah menyampaikan bahwa dalam prakteknya, strategi tersebut sulit untuk diterapkan, karena dalam hal ini si investor harus mampu melawan rasa panik yang timbul ketika pasar turun. Jadi bagaimana kalau gini saja: Kita sejak awal belinya saham-saham yang anti atau tahan terhadap koreksi pasar, yang tidak ikut jatuh ketika IHSG jatuh! Eh, tunggu, memangnya ada saham seperti itu??

***
Jadwal Seminar Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu, 26 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia juga kelas advanced di hari minggu, 27 Oktober. Hingga Senin, 21 Oktober, masih tersedia kursi untuk 7 peserta lagi.
***
Jawabannya, yes, ada. Faktanya, dalam menganalisis saham, para investor dan analis mengenal satu indikator yang disebut beta, yang menjelaskan tingkat pengaruh fluktuasi pasar terhadap naik turunnya sebuah saham. Simpelnya, jika saham A memiliki beta 1.0, maka naik turunnya saham A relatif identik dengan naik turunnya IHSG. Jika saham B memiliki beta 0.4 kali, maka naik turunnya IHSG hampir tidak berpengaruh terhadap naik turunnya saham B, dimana ketika IHSG drop 5%, maka saham B bisa saja malah tetap naik. Sedangkan jika saham C memiliki beta 2.0, maka naik turunnya IHSG berpengaruh sangat besar, dimana jika IHSG drop 1%, maka saham C bisa turun 3 – 4%.
Sehingga jika anda hendak memilih saham yang tahan terhadap fluktuasi IHSG, maka pilihlah saham dengan beta yang kecil. Dan meski rumus menghitung beta ini agak ribet, tapi untungnya datanya ada lengkap di Yahoo Finance. Contohnya saham Astra International (ASII), kelihatan beta-nya 1.08 (coba klik link-nya, cari tulisan ‘Beta’). Atau saham Adhi Karya (ADHI), yang kita tahu sangat mudah dipengaruhi oleh naik turunnya IHSG, beta-nya 2.44. Sedangkan saham Adira Dinamika Multi Finance (ADMF), dimana sahamnya relatif tidak terlalu dipengaruhi oleh IHSG, beta-nya 0.89.

Meski IHSG naik turun, tapi dalam sembilan bulanan terakhir, saham ini disitu-situ saja (10,000-an)
Selain dengan melihat beta, saham-saham yang tahan koreksi pasar biasanya punya beberapa ciri berikut. Pertama, perusahaannya punya historis kinerja yang bagus, dimana katakanlah dalam 5 – 10 tahun terakhir ekuitas serta labanya secara konsisten bertumbuh. Biasanya investor membeli saham seperti ini untuk tujuan investasi jangka panjang/legacy stock. Sehingga logikanya, ketika IHSG turun, atau terdapat tanda-tanda bahwa IHSG akan turun, maka investor akan melepas sejumlah saham mereka dalam rangka menyiapkan cash, namun yang mereka jual bukanlah saham legacy stock ini, karena sejak awal si investor sudah komitmen untuk memegangnya as long as possible. Dan kalau investor tidak ramai-ramai menjual saham A, maka tentunya tidak ada alasan bagi saham A itu untuk turun.
Kedua, sahamnya biasanya tidak likuid, dan juga tidak fluktuatif. Saham yang tidak likuid cenderung tidak diminati oleh para trader jangka pendek, tak peduli sebagus apapun fundamentalnya, karena biasanya para trader ini khawatir akan kesulitan untuk menjualnya (karena bid-nya nggak ada). Namun tidak adanya partisipasi trader ini justru menyebabkan sebuah saham tidak mudah turun ketika IHSG turun, karena sejak awal saham tersebut tidak banyak dipegang oleh investor/trader, dan kalaupun ada maka biasanya mereka investor jangka panjang, yang tidak akan melakukan panic selling hanya karena pasar turun. Sehingga jika fundamental dari saham yang bersangkutan memang bagus, maka investor yang memegangnya bisa tetap santai, tak peduli pasar naik atau turun.
Terakhir, ketiga, sahamnya kurang populer di kalangan trader, bahkan meski merk perusahaannya mungkin cukup terkenal di masyarakat umum. Seperti disebut diatas, sebuah saham yang tidak likuid biasanya otomatis tidak populer dan jarang dibicarakan di komunitas trader, karena mereka lebih antusias membicarakan ‘saham terbang’ atau semacamnya. Sedangkan ketika sebuah saham tahan terhadap koreksi pasar, alias tidak turun ketika IHSG turun, maka biasanya dia juga tidak naik ketika IHSG naik. Bagi banyak orang, saham-saham seperti ini tampak membosankan karena ‘gak gerak-gerak’. Namun jika seorang investor bisa melihat bahwa dalam 5 – 10 tahun terakhir, atau bahkan 1 tahun terakhir, sebuah saham berfundamental bagus sejatinya sudah naik cukup signifikan (meski, sekali lagi, saham tersebut tampak gak gerak-gerak selama katakanlah beberapa bulan terakhir), maka saham tersebut tetap menarik untuk dibeli, dan bonusnya adalah, ia tidak perlu khawatir soal naik turunnya IHSG.
Okay Pak Teguh, lalu bisakah anda langsung kasih contoh saham-saham yang tahan koreksi pasar ini? Tentu saja bisa, misalnya ADMFdiatas, Sido Muncul (SIDO), Indofood CBP (ICBP), Ultrajaya (ULTJ), dan seterusnya. Mungkin perlu dicatat bahwa meski saham-saham perbankan (Bank BRI dkk) sejatinya juga layak untuk investasi jangka panjang, tapi likuiditas mereka yang sangat tinggi menyebabkan ada banyak trader jangka pendek ikut masuk dimana mereka kemudian secara aktif melakukan transaksi jual beli, dan alhasil sahamnya menjadi fluktuatif/mudah dipengaruhi oleh naik turunnya IHSG. Sehingga jika anda secara psikologis masih mudah dipengaruhi oleh kondisi bull and bear pada pasar (panik ketika pasar turun, euforia ketika pasar naik), maka saham-saham perbankan justru tidak direkomendasikan.
Baiklah Pak Teguh, jadi apakah dengan demikian kita sebaiknya hanya membeli saham-saham ‘tahan koreksi pasar’ itu saja? Well, itu juga tidak disarankan, karena itu tadi: Benar bahwa ADMF dkk tidak akan turun, atau hanya turun sedikit ketika IHSG turun, tapi sebaliknya, mereka juga tidak akan naik, atau hanya naik sedikit ketika IHSG naik. Sedangkan kita tahu bahwa pasar tidak akan selamanya turun, melainkan nanti juga akan ada masanya dia naik lagi, dan ketika pasar kembali bullish maka investor yang memegang ADMF dkk mungkin akan ketinggalan kereta.
Jadi kalau gitu sebaiknya gimana? Nah, kalau penulis sendiri biasanya menjadikan saham-saham tahan koreksi diatas sebagai ‘bemper’, dimana kita mengalokasikan 20 – 30% portofolio di saham-saham tersebut, tapi tidak lebih dari itu. Sedangkan selebihnya bisa tetap dialokasikan untuk membeli saham berfundamental bagus pada harga murah, sambil tentunya menjaga posisi cash sesuai kondisi pasar. Dengan cara inilah, ketika pasar turun maka saham-saham yang (masih) dipegang tidak semuanya turun, sehingga kinerja porto kita tetap lebih baik dibanding pasar, dan kita masih punya cadangan cash untuk belanja lagi (cash dari mana? Baca lagi ulasan minggu lalu). Secara psikologis, memiliki saham-saham bemper ini juga bisa membuat kita lebih optimis menghadapi arah pasar, karena ketika saham-saham kita yang lain nyangkut semua (karena IHSG-nya turun), maka ADMF dkk ini tetap tidak bergeming. Dan ketika kemudian pasar naik lagi, sedangkan kita juga sudah belanja, maka kita akan dapat memanfaatkan kenaikan pasar tersebut untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi.
Pertanyaannya sekarang, sudahkah anda memegang ‘saham bemper’ ini di portofolio anda? Saham apakah itu?
***
Buku kumpulan 30 saham pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal III 2019 akan terbit tanggal 8 November mendatang, dan layanan preordernya sudah dibuka. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon preorder bagi yang memesan sebelum tanggal 8 November. Ada pertanyaan, boleh telp atau whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Strategi Investasi Saat IHSG Jatuh

Jika penulis bertanya, siapa investor yang paling diuntungkan ketika pasar atau IHSG jatuh? Maka anda mungkin akan menjawab, investor yang pegang cash besar. Malah bagi investor yang pegang cash ini, semakin dalam penurunan IHSG, maka semakin besar keuntungan yang bisa mereka peroleh. Nah, tapi bagaimana kalau penulis bilang bahwa investor yang pegang cash belum tentu untung ketika harga-harga saham berjatuhan?
***
Jadwal Seminar Value Investing: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu, 26 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 20 Oktober. Tersedia juga kelas advanced di hari minggu, 27 Oktober.
***
Maksud saya begini. Misalnya sekarang pasar sedang anjlok, dan kita sejak awal sudah pegang cash besar. Maka apakah itu artinya kita sudah untung? Posisi kita mungkin memang nggak nyangkut seperti investor lainnya yang masih pegang saham, tapi apakah kita sudah profit?
Kenyataannya adalah, seorang investor baru akan benar-benar untung besar ketika pasar turun, dan ia membelanjakan cash tersebut sebelum pasar kemudian naik kembali!
Tapi kebanyakan orang tidak akan berani belanja ketika pasar sedang panik. Mereka biasanya baru akan belanja ketika pasar sudah naik lagi, yakni ketika kepanikan sudah mereda. Masalahnya, jika seperti itu kejadiannya, maka investor yang pegang cash ini tidak lagi membeli saham pada harga terendahnya, melainkan pada harga yang sama tingginya dengan harga beli investor lain yang nyangkut tadi. Sehingga keuntungan yang diperoleh pada akhirnya sama saja dengan investor lain yang sempat nyangkut dan mampu bertahan/tidak cut loss hingga akhirnya pasar pulih kembali.
Dua Strategi
Sehingga terkait judul diatas, ‘Strategi investasi saat IHSG jatuh’, maka ada dua langkah strategi yang harus dilakukan investor. Pertama, menyiapkan cash sebelum IHSG jatuh, dan kedua, membelanjakan cash tersebut ketika IHSG jatuh. Kedua strategi diatas adalah saling melengkapi, dimana jika anda tidak melakukan strategi pertama, maka anda tidak akan bisa menerapkan strategi kedua, karena bagaimana mungkin anda bisa belanja jika duitnya tidak ada? Sedangkan tanpa menerapkan strategi kedua, maka strategi pertama akan jadi percuma. Okay, kita mulai dari strategi pertama dulu, menyiapkan cash.
Nah, terkait ‘menyiapkan payung sebelum hujan’ ini, sebagian dari anda mungkin berpikir bahwa itu artinya kita harus bisa memprediksi kapan IHSG akan turun, dan seberapa dalam penurunannya. Namun penulis sudah berkali-kali menyampaikan di banyak tulisan bahwa dua hal itu tidak bisa diprediksi.
Tapi memang ada sejumlah tanda-tanda yang bisa kita perhatikan, sebelum kemudian menyimpulkan bahwa memang sebaiknya kita minggir dulu (baca: jualan). Dan pertanda yang paling jelas adalah satu hal ini: Kita tahu bahwa berdasarkan kaidah value investing, sebuah saham harus memenuhi setidaknya tiga kriteria agar layak invest, yakni 1. Berfundamental bagus, 2. Valuasinya, berdasarkan kualitas fundamentalnya tadi, terbilang murah, dan 3. Prospeknya cerah. Nah, jika kita berada dalam kondisi dimana kita kesulitan menemukan saham yang memenuhi tiga kriteria diatas (misalnya karena saham-saham yang bagus udah pada naik banyak sehingga valuasinya jadi mahal, sedangkan saham yang masih murah kinerjanya memang jelek), termasuk saham yang kita pegang juga sudah naik banyak sehingga valuasinya tidak murah lagi, maka ketika itulah penulis biasanya menyimpulkan bahwa cepat atau lambat pasar akan turun, dan mulai jualan. Dan meski dalam hal ini kita tetap tidak bisa memperoleh kesimpulan soal kapan pasar akan turun (tadi hanya disebutkan, cepat atau lambat), tapi adalah juga tidak logis jika kita tetap memaksakan membeli saham yang sejatinya belum layak buy bukan? Yakni jika saham tersebut fundamentalnya tidak cukup bagus, atau fundamentalnya bagus tapi valuasinya masih tanggung.
Kemudian, karena ketika artikel ini ditulis, pasar sudah turun, maka penulis asumsikan anda sudah pegang cash, sehingga kita bisa ke strategi kedua: Belanja. Sekali lagi, anda mungkin berpikir bahwa strategi kedua ini adalah berarti kita harus memprediksi, apakah penurunan IHSG sudah mencapai titik terendahnya atau belum? Tapi sebenarnya kunci utamanya masih sama dengan strategi menyiapkan cash diatas, yakni: Jika pasar sudah turun hingga titik tertentu dimana kita bisa menemukan banyak saham yang memenuhi tiga kriteria diatas, misalnya saham-saham incaran kita sebelumnya sudah turun ke level harga undervalue-nya, maka itulah saatnya untuk belanja! Plus satu lagi: Pasar memang sudah panik, dan anda akan bisa merasakan kalau pasar panik. Masalahnya ketika pasar panik, maka kita juga biasanya akan ikut panik dan alhasil nggak berani menerapkan strategi kedua, yakni membelanjakan cash yang sudah disiapkan sebelumnya, malah bisa jadi saham yang masih dipegang justru dijual, misalnya karena beredar berita negatif tentang resesi bla bla bla.
Karena itulah, kunci terpenting agar seorang investor bisa menerapkan dua strategi diatas, dan kemudian mampu memanfaatkan penurunan pasar untuk justru memaksimalkan profit, adalah si investor tadi harus sudah pernah mengalami penurunan IHSG itu sendiri sebelumnya, minimal sebanyak satu kali. Pada pengalaman pertama menghadapi koreksi ini, seorang investor hampir pasti akan rugi karena itu tadi: Ketika pasar panik, maka ia akan ikut panik, dan jadinya takut untuk belanja. Sebenarnya masih mending kalau kita pegang cash lalu gak berani belanja ketika pasar turun. Dalam banyak kasus, investor yang masih pegang saham justru cut loss ketika IHSG turun. Sehingga ketika pasar kemudian naik lagi, dia sudah tidak pegang barang.

Namun bagi mereka yang sukses bertahan di ‘pengalaman pertama’ ini, maka ia akan belajar bahwa, ternyata semua berita jelek yang muncul ketika IHSG jeblok, itu akan menghilang dengan sendirinya ketika IHSG kemudian naik lagi. Dan jika pada peristiwa koreksi selanjutnya ia sudah bisa menerapkan dua strategi diatas, maka itu sudah sangat bagus sekali.
Strategi Untuk Memaksimalkan Keuntungan
Sekarang, let say anda sudah cukup berpengalaman/sudah pernah menghadapi koreksi pasar sebelumnya, dan dalam kondisi IHSG yang sudah turun seperti sekarang (ketika artikel ini diposting, IHSG berada di 6,000-an, turun dari posisi tertingginya 6,500-an), anda sudah menyiapkan cash. Lalu selanjutnya bagaimana? Karena kalaupun kita belanja sekarang, maka gak ada jaminan bahwa pasar tidak akan turun lebih dalam lagi bukan?

Nah, dalam hal ini, perlu diingat bahwa ultimate goal dari seorang investor bukanlah menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya, namun untuk beat the market, alias membukukan kinerja diatas kinerja IHSG dalam setahun (dan itu juga bukan goal yang mudah, contohnya lihat saja kinerja reksadana). Maksud penulis begini: Ketika artikel ini ditulis, IHSG berada di posisi 6,106, dan katakanlah sampai akhir tahun nanti IHSG akan ditutup di posisi 6,106 tersebut. Karena posisi IHSG pada awal tahun adalah 6,194, maka kinerja IHSG untuk tahun 2019 adalah -1.4%. Tapi ingat bahwa sepanjang tahun 2019 ini, IHSG pernah naik sampai 6,536, dan sebaliknya turun sampai 5,827. Jadi jika anda katakanlah jualan ketika IHSG berada di 6,400-an (gak harus persis posisi tertingginya), dan belanja ketika IHSG berada di 5,900-an (sekali lagi, gak harus persis posisi terendahnya), maka bisa dibayangkan berapa keuntungan yang diperoleh, yang pasti jauh diatas kinerja IHSG yang -1.4% tadi. Contoh lebih gampang, katakanlah anda awal tahun 2009 beli Bank BNI (BBNI) di 7,000-an, lalu profit taking dari BBNI ini di harga 9,000-an (ketika IHSG di 6,400-an, bulan April, dan karena BBNI di harga segitu sudah tidak murah), lalu masuk lagi di harga 6,500-an (karena harga segitu sudah murah lagi), dan menjelang akhir tahun BBNI naik lagi. Maka berapa total keuntungannya? Sekitar 20 – 30% bukan? Dan itu tentu saja sangat baik dibanding kinerja IHSG yang hanya -1.4%.

Dalam sepuluh tahun terakhi, saham ini sudah naik total 10 kali lipat, tapi anda bahkan bisa dapet profit lebih besar lagi dari saham yang sama, jika bisa menerapkan ‘strategi saat IHSG jatuh’

Tapi bagaimana jika setelah anda belanja ketika IHSG di 5,900-an, selanjutnya IHSG malah turun lagi? Termasuk BBNI yang sudah saya beli di 6,500 juga turun lagi, sedangkan cash sudah habis? Ya kalau demikian maka profitnya (ingat sebelumnya anda sudah profit taking dari BBNI ini) memang jadi lebih kecil, mungkin cuma 10%, tapi itu tetap saja jauh lebih baik dibanding kinerja IHSG yang minus 5 – 10% (jadi selisihnya 15 – 20%). Dan ketika in the end pasar pulih lagi (dan pasar pasti akan pulih lagi), maka saham anda juga akan kembali naik banyak.

Kesimpulannya, jika anda bisa menerapkan strategi ‘siapkan payung sebelum hujan’, dan ‘membuka payung tersebut ketika hujan sudah turun’, maka anda akan memperoleh hadiahnya: Keuntungan yang maksimal, dalam hal dibanding kinerja IHSG. Dan kalau anda bisa konsisten memperoleh selisih profit 10 – 20% saja dibanding IHSG setiap tahunnya, maka dalam jangka panjang, hasil akumulasinya akan luar biasa. However, seperti yang disebut diatas, untuk bisa menerapkan strategi yang pada intinya memanfaatkan fluktuasi pasar ini, itu tidak mudah, karena mayoritas investor akan bertindak berdasarkan kondisi psikologis mereka sesuai kondisi pasar (euforia ketika pasar naik, dan panik ketika pasar turun), dan bukan berdasarkan konsep dasar value investing untuk membeli saham murah (dimana jumlahnya akan ada banyak ketika pasar turun), dan menjual saham mahal (dimana jumlahnya akan ada banyak ketika pasar naik).

Namun seperti yang juga disebut diatas, dalam hal ini yang diperlukan hanyalah pengalaman saja, dimana meski pada tahun-tahun awal anda akan merasa ‘dihajar’ setiap kali terjadi koreksi pasar, tapi nanti anda akan sampai pada satu titik dimana anda akan memandang koreksi pasar sebagai berkah alih-alih musibah, yakni berkah untuk memaksimalkan kinerja portofolio dibanding kinerja Mr. Market itu sendiri, melalui dua strategi diatas.

Pertanyaannya sekarang, ketika anda membaca artikel ini, bagaimana posisi porto anda? Berapa banyak cash yang anda pegang? Dan bagaimana rencana selanjutnya?
***
Buku Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Investment Planning’) edisi terbaru, yakni edisi Kuartal III 2019 akan terbit tanggal 8 November mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon preorder bagi yang memesan sebelum tanggal 8 November.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Beli Saham Sendiri vs Telpon Broker, Lebih Enak Mana?

Pada sesi kelas private, beberapa waktu lalu, seorang peserta bertanya, ‘Saya dengar Pak Teguh kalau beli atau jual saham, itu pake broker, jadi nggak eksekusi sendiri melalui software online trading (OLT). Kenapa begitu pak? Dan bukannya kalau kita transaksi via broker, trading fee-nya lebih mahal?’

***
Jadwal Seminar Value Investing, Basic & Advanced: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu & Minggu 26 – 27 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 14 Oktober.

***


Sebelumnya, penulis sendiri memang sejak tahun 2012 lalu, hampir tidak pernah lagi melakukan transaksi jual beli saham sendiri, melainkan selalu via broker (atau disebut juga equity sales), dimana biasanya saya kirim pesan Whatsapp ke si broker, ‘telpon gue’, kemudian dia yang telpon (pake telp kantor) untuk menanyakan mau beli/jual saham apa. Atau bisa juga komunikasinya hanya via chat WA saja. Penulis tetap ada install software OLT di laptop, tapi itu hanya digunakan untuk tarik dana saja, karena transaksi seperti itu tidak bisa dilakukan oleh broker.

Okay, lalu apa sih untungnya beli saham via broker? Here it is: Pernahkah anda pagi-pagi mau beli saham A pada harga 1,000, misalnya (dan sehari sebelumnya, saham A tersebut memang ditutup di posisi 1,000), tapi anda memutuskan untuk antri saja dulu di harga 990, siapa tau dapet. Dan sore harinya ketika anda cek lagi, saham A sudah naik ke 1,050, tapi anda gak dapet barangnya karena saham A tersebut gak pernah turun dulu ke 990, melainkan langsung naik. Besoknya, anda memutuskan untuk ‘mengejar kereta’ karena setelah anda hitung lagi, saham A di harga 1,050 itu masih undervalue, tapi lagi-lagi anda pasang antri di 1,040. Dan kembali, saham A malah naik sampai 1,090, dan anda masih tidak pegang barangnya. Pada hari ketiga, akhirnya anda hajar kanan di saham A tersebut pada harga 1,090, tapi apa yang terjadi? Saham A malah turun ke 1,050 sehingga posisi anda jadi nyangkut! Dan anda sekarang jadi waswas karena rencana awalnya adalah, anda masuk ke saham A itu di harga 1,000, bukan di 1,090. Pada hari keempat, saham A kembali turun ke 1,035, dan anda akhirnya memutuskan untuk cut loss dulu, untuk nanti masuk lagi di harga 1,000, tapi apa yang terjadi? Ternyata meski saham A sempat turun lagi sampai 1,025, tapi dia tidak pernah kembali lagi ke 1,000 itu, dan justru kembali naik.. dan terus naik, hingga tembus 1,400, yang memang merupakan target harganya secara valuasi.
Nah, apakah anda pernah mengalami situasi seperti diatas? Well, penulis pernah, dulu waktu saya masih pemula. Dan kerugian karena situasi seperti diatas, itu lebih menjengkelkan dibanding kerugian karena kita memang salah pilih saham, atau sahamnya bener tapi harga belinya kemahalan. Maksud penulis adalah, kalau kita beli saham gorengan gak jelas lalu rugi, maka kalau kita sejak awal sadar bahwa keputusan untuk masuk ke saham gorengan tersebut merupakan spekulasi, maka kerugiannya bisa kita terima. Atau kalau kita pegang saham kemudian harganya turun karena IHSG-nya juga sedang turun, maka itu juga wajar. Tapi bagaimana kalau kita sudah capek-capek screening sana sini hingga akhirnya ketemu saham bagus, dan sudah menunggu cukup lama hingga akhirnya saham tersebut berada di harga murahnya, dan beberapa waktu kemudian memang bener sahamnya naik banyak, tapi bukannya untung, kita malah rugi juga??
Dari pengalaman diatas lah, penulis kemudian belajar satu hal: Jangan lagi antri kalau kita mau beli ataupun jual saham. Jadi biasakan untuk hajar kanan! (atau hajar kiri, kalau jual). Masalahnya, itu ternyata juga gak gampang. Ketika kita buka OLT, maka semua angka-angka IHSG, Dow Jones, berita-berita, langsung bermunculan, dan entahlah dengan anda, tapi itu bikin penulis bingung. Misalnya ketika kita mau hajar kanan saham A, tapi kebetulan IHSG sedang turun, jadi bagaimana kalau saham A ikut turun? Kalo gitu antri saja dulu lah! Kemudian kalau kita mau hajar kanan saham A di harga 1,000, misalnya, tapi ada yang pasang offer gede banget di 1,010 (jadi kaya ganjel gitu), maka bisa jadi kita kemudian jadi ragu sehingga akhirnya antri saja dulu di 980. Eh, ternyata besoknya saham A itu tetap naik, dan kita nggak punya barangnya.
Demikian seterusnya, hingga akhirnya penulis sadar bahwa, ketika kita hendak mengekseksusi beli atau jual saham, maka itu sama pentingnya dengan ketika kita menganalisis saham itu sendiri. Dan seperti halnya menganalisa sebuah saham butuh psikologis yang kuat, misalnya kita sudah yakin saham A bagus dan juga sudah murah tapi bagaimana ini beritanya kok jelek semua? Maka melakukan aksi jual beli saham itu juga butuh kekuatan mental, butuh rasa percaya diri untuk langsung hajar kanan, butuh keberanian untuk menerima kerugian ketika akan cut loss, dan seterusnya. Ketika kita membaca-baca laporan keuangan dll, maka itu seperti Jurgen Klopp duduk di ruang kerja di rumahnya, mengatur strategi untuk pertandingan selanjutnya bagi Liverpool. Dan ketika kita membuka OLT untuk melakukan transaksi pembelian (atau penjualan) saham, maka itu seperti kita berada di samping lapangan ketika pertandingan berlangsung. Thus, menganalisa dan membeli saham, itu adalah dua hal yang berbeda, tapi dua-duanya sama-sama membutuhkan kekuatan mental, diluar kemampuan untuk menganalisa saham itu sendiri. Pada tahun-tahun awal sebagai investor pemula, penulis boleh dibilang tiap hari hari buka OLT, karena somehow itu menyenangkan, apalagi jika porto lagi ijo. Tapi beberapa waktu kemudian, saya sadar bahwa itu tidak membuat kinerja porto jadi lebih baik.
Hingga sekitar bulan Oktober 2011, penulis masih ingat, IHSG ketika itu sempat nyungsep 8.88% dalam sehari, yang otomatis membuat saya gak berani lagi buka OLT karena sudah pasti saham-saham pada nyangkut semua. Jadi ketika beberapa waktu kemudian penulis hendak membeli saham, saya telpon broker, dan mas broker ini mengingatkan bahwa trading fee kalau dia yang pencetin buy, itu sedikit lebih mahal dibanding kalau saya sendiri yang pencet tombol buy tersebut (0.25 berbanding 0.20%). Saya bilang, nda papa lah! Lha wong rugi saya juga udah gede banget, jadi ‘tambahan rugi 0.05%’ udah gak ngaruh.
Dan selanjutnya, penulis kemudian lebih banyak transaksi via broker, karena itu tadi: Saya tidak perlu lagi deg-degan ngeliatin harga saham, dan si broker itu juga gak perlu deg-degan ketika membeli atau menjual saham karena toh, itu bukan duit dia. Dalam jangka panjang, hal ini ternyata berpengaruh positif terhadap kinerja porto penulis, dimana kita nggak pernah/sangat jarang mengalami ‘udah antri tapi gak dapet barangnya’ seperti yang diceritakan diatas, atau semacamnya. Ketika penulis sudah menyerahkan tugas-tugas seperti ‘ngeliatin saham seharian, dari pagi sampe sore’, atau baca-baca berita, analisa pasar dll ke broker, maka jobdesk saya sebagai investor sudah berkurang hingga separuhnya, dan saya bisa sepenuhnya fokus ke pekerjaan menganalisa, termasuk menyusun investment plan (dan menggunakan sisa waktu yang ada untuk menikmati hidup). Dengan melakukan transaksi via broker, maka penulis juga bisa berdiskusi, untuk meminta second opinion tentang saham yang akan kita beli (tapi anda hanya bisa seperti ini kalo dapet broker yang berpengalaman, karena banyak juga broker yang masih fresh grad). Ingat pula bahwa trading fee yang kita bayarkan ke sekuritas, itu tidak murah, setahunnya bisa sekitar 5% dari total nilai portofolio (jadi kalau modal anda Rp100 juta, maka total trading fee-nya 5 juta), bahkan bisa lebih kalau anda termasuk aktif trading. Jadi kalau anda tidak memanfaatkan jasa broker secara maksimal, maka itu seperti mereka dapet duit gratis tanpa bekerja. Biarkan saja si broker itu (dan temen-temen kerjanya di kantor sekuritas) yang heboh sendiri ketika saham A terbang, saham B nyungsep, dst. Kita mending pergi mancing saja.
Kata Dilan, dua puluh sembilan tahun kemudian, ‘Investasi saham itu berat, kamu gak akan kuat. Biar aku saja..’

Oke Pak Teguh, tapi biar gimana trading fee kalo transaksi via telpon broker, itu lebih mahal kan? Well, karena penulis selama ini jarang trading, maka jatohnya tetep murah. Actually, banyak sekuritas yang kasih fee murah, misalnya 0.10%, tapi dengan syarat tertentu, misalnya harus transaksi minimal Rp500 juta setiap hari (jadi ujungnya mahal juga). Tapi bagaimana kalau broker ada beli atau jual saham tanpa perintah atau tanpa sepengetahuan kita sebagai pemilik dana? Nggak, broker tidak akan membeli atau menjual saham tanpa adanya perintah dari nasabah. Perlu diketahui bahwa setiap kali kita chat di Whatsapp ‘tolong buy saham A’, maka chat-nya disimpan, demikian pula kalau kita memberikan perintah via telpon, maka telponnya direkam. Jadi kalau misalnya anda lihat portofolio dan disitu ada saham A, sedangkan anda tidak merasa pernah menyuruh broker untuk membeli saham A tersebut, maka si broker akan kasih rekaman, atau screenshoot chat Whatsapp, bahwa anda kemarin pernah menyuruh membeli saham A. Bahkan kalaupun anda bilang, ‘Udahlah, gua pusing! Terserah elu aja beli atau jual saham apa’, maka broker tetap tidak akan melakukan itu, karena lisensi WPPE-nya tidak mengizinkan ia untuk bertindak layaknya manajer investasi, melainkan hanya perantara saja.
Tapi kalau kita gak buka OLT, nanti kita gak bisa track portofolio kita dong? Gak tau kalau sekarang kita udah cuan atau rugi berapa persen? Nah, boleh anda cek lagi, pihak sekuritas setiap bulan kirim email dengan attachment PDF berisi posisi portofolio terbaru (per akhir bulan sebelumnya), plus data transaksi selama sebulan sebelumnya, dan itulah yang penulis jadikan bahan analisa serta evaluasi, untuk strategi investasi kedepannya. Yup, jadi penulis hanya perlu melihat portofolio sebulan sekali, dan tidak perlu juga khawatir kalau ada saham kita yang naik atau turun sebelum satu bulan tersebut, karena kita akan otomatis tahu sendiri tanpa membuka OLT (karena orang-orang pasti ribut ketika IHSG turun, misalnya), sehingga kita bisa melakukan tindakan buy or sell, jika memang diperlukan.
Terakhir pak, apakah ini juga alasan kenapa Pak Lo Kheng Hong selalu membeli dan menjual saham pake telpon broker? Nah, itu penulis nggak tahu, karena dulu waktu belum ada OLT, semua transaksi memang via telpon broker, sedangkan Pak LKH sudah invest sejak tahun 1990-an. Tapi memang, tidak hanya LKH, sejumlah investor senior lain yang penulis kenal juga gak pernah pake OLT (atau bahkan gak punya laptop, gokil lah), dan di ponsel mereka hampir tidak pake internet kecuali untuk whatsapp dan Youtube. Well, penulis sendiri kayanya gak akan bisa kalau harus seperti mereka, tapi intinya sekali lagi bahwa, transaksi via broker ini akan mengurangi beban pekerjaan kita sebagai investor, dan juga mengurangi beban psikologis, dimana dalam jangka panjang, dampaknya akan sangat positif. What? Di sekuritas anda sekarang gak dikasih brokernya, bahkan customer service juga gak ada? Kalau gitu pertimbangkan untuk tutup rekening dan pindah ke sekuritas lain.
***
Jadwal Seminar Value Investing, Basic & Advanced: Jakarta, Amaris Hotel Thamrin City, Sabtu & Minggu 26 – 27 Oktober 2019. Info selengkapnya baca disini, atau Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia diskon earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 14 Oktober.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing Advanced, Jakarta, Minggu 27 Oktober

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced Class’, di Jakarta, hari Minggu 27 Oktober 2019. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar/resesi ekonomi, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Cara menganalisa aksi korporasi emiten (right issue, stocksplit, dst) dan pengaruhnya terhadap fundamental perusahaan/harga sahamnya.
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara membaca poin-poin laporan keuangan dengan lebih detail (penjelasan mengenai metrik-metrik yang penting), sehingga diperoleh kesimpulan apakah fundamental sahamnya terbilang wonderful, bagus, biasa aja, atau malah jelek.
  6. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013 dan 2015,
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik anak untuk berinvestasi sejak dini
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Grand Indonesia Mall, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Minggu, 27 Oktober 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,500,000. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Roberto Firmino, BCA. Anda nggak perlu kirim bukti transfer, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking (tapi bukti transfer itu boleh juga dilampirkan).
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas (kwitansi/bukti pembayaran untuk reimburse juga bisa diminta jika diperlukan, anda tinggal bilang minta kwitansi di emailnya). Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Jumlah kuota terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang peserta.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp/BBM dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya, sebelum pukul 16.00 WIB. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!
***
Bonus Gratis!
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Promo Cashback! Khusus bagi peserta dari luar kota, anda akan memperoleh cashback senilai Rp100,000 per peserta, dibayar tunai di lokasi seminar setelah acara seminarnya, dan syaratnya cukup dengan menunjukkan bukti tiket pesawat, kereta api, atau booking hotel. 
Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
***
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Whatsapp 081314822827 (Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomor satunya. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
 
Penulis bersama peserta seminar tanggal 31 Agustus 2019

Bagi anda yang ingin mengikuti Seminar Value Investing, Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang, maka jadwalnya adalah hari Sabtu, 26 Oktober 2019 (sehari sebelum seminar advanced ini, di lokasi yang sama). Materinya adalah: 1. Cara membaca laporan keuangan perusahaan, 2. Cara menghitung harga wajar saham, 3. Cara menyusun portofolio dst. Bagi anda yang masih pemula, atau sudah lama di market namun baru mengenal value investing, maka sangat disarankan untuk ikut seminar hari Sabtu sebelum ikut kelas Advanced ini di hari minggunya, karena materinya saling melengkapi. Info selengkapnya baca disini.
Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru Agustus 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang [...]

Seminar Value Investing, Jakarta, Sabtu 26 Oktober

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham u/ Tabungan Jangka Panjang’ di Jakarta, hari Sabtu, 26 Oktober 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menabung saham untuk simpanan jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
  2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
  3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
  4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
  5. Cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
  6. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham,
  7. Ciri-ciri wonderful company, yang sahamnya bisa di-hold as long as possible, serta apa bedanya dibanding saham biasa, dan
  8. Cara menganalisa manajemen emiten/perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Cara menabung saham untuk jangka panjang 5 – 10 tahun dengan menyicil membeli saham yang sama setiap bulan (strategi Dollar Cost Averaging untuk menghasilkan capital gain dan dividen), dan apa saja pilihan saham yang disarankan,
  2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
  3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita disini tidak hanya bicara teori, melainkan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
  • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
  • Hari/Tanggal: Sabtu, 26 Oktober 2019
Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
***
Biaya untuk ikut seminar ini adalah Rp1,350,000 per peserta. Dan berikut cara daftarnya:
1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Joao Felix, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas (kwitansi/bukti pembayaran untuk reimburse juga bisa diminta jika diperlukan, anda tinggal bilang minta kwitansi di emailnya). Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
Demikian, sampai jumpa di lokasi!

***
Bonus Gratis:
  1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
  2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
  3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
Promo Cashback! Khusus bagi peserta dari luar kota, anda akan memperoleh cashback senilai Rp100,000 per peserta, dibayar tunai di lokasi seminar setelah acara seminarnya, dan syaratnya cukup dengan menunjukkan bukti tiket pesawat, kereta api, atau booking hotel. 
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Whatsapp 081314822827(Yanti), atau 081220445202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomer satunya. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Penulis dengan teman-teman peserta kelas tanggal 25 Agustus 2019
Bagi anda yang hendak ikut Value Investing Advanced Class, dengan materi cara menghadapi resesi dll, maka jadwalnya adalah hari Minggu, 27 Oktober (sehari setelah seminar value investing ini), di lokasi yang sama, dan biayanya juga sama. Info selengkapnya klik disini.

Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru Agustus 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya disini.

Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Untuk lokasinya sama di [...]

Gudang Garam

Sejak penulis pertama kali belajar saham, tahun 2009 – 2010 lalu, maka saya ketika itu sudah bisa menilai bahwa saham Gudang Garam (GGRM) terbilang layak untuk investasi jangka panjang, dimana alasannya ketika itu sangat sederhana: Rokok adalah jenis barang consumer yang dikonsumsi setiap saat secara terus menerus, jadi berbeda dengan katakanlah Indomie dimana seorang konsumen belum tentu makan Indomie setiap hari. Dan berbeda dengan katakanlah batubara, minyak bumi, dll yang harganya bisa naik dan turun, harga jual rokok akan selalu naik terus, dan GGRM ketika itu merupakan salah satu perusahaan rokok paling terkemuka di tanah air. Pada bulan Juni 2010, GGRM berada di 31,000-an, atau sudah naik banyak dibanding posisi terendahnya tahun 2008 yakni 5,000-an, tapi penulis ketika itu tetap mengatakan bahwa sahamnya akan terus naik dalam jangka panjang. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Oktober 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.
***
And indeed, GGRM kemudian terus naik sampai sempat tembus 100,000, awal tahun 2019 lalu, atau mencetak profit lebih dari 3 kali lipat belum termasuk dividen, hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun. Malah jika seseorang cukup beruntung membeli GGRM pada harga 5,000-an, tahun 2008 lalu, maka berdasarkan posisi tertingginya di 100,000 tadi, keuntungannya mencapai 20 kali lipat belum termasuk dividen! Fakta menariknya adalah, kenaikan yang luar biasa tersebut justru terjadi ketika selama periode waktu 10 – 15 tahun terakhir ini, industri rokok di Indonesia dihajar habis-habisan oleh berbagai regulasi yang memberatkan, mulai dari aturan gambar menyeramkan di kemasan bungkus rokok, pembatasan penayangan iklan, hingga kenaikan cukai hampir saban tahun.
Jadi bagaimana bisa GGRM, seperti juga dua raksasa rokok lainnya yakni HM Sampoerna (HMSP) dan kemungkinan juga Djarum, bisa terus mempertahankan bisnis mereka, dan justru tumbuh signifikan dalam 10 tahun terakhir? Nah, berhubung kita sudah membahas HMSP, sedangkan Djarum nggak listing, maka pada ulasan kali ini, kita akan fokus ke GGRM. Okay, here we go.
Profil Perusahaan
Sejarah Gudang Garam berawal pada tahun 1958, ketika pendiri perusahaan, Surya Wonowidjojo, membuka pabrik rokok pertamanya di Kediri, Jawa Timur, dan status ‘PT Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam’ diresmikan tahun 1971. Tahun 1979, GGRM menjadi perusahaan rokok pertama di Indonesia yang memproduksi rokok menggunakan mesin pabrik (sebelumnya rokok hanya diproduksi menggunakan tangan pekerja), dan alhasil volume produksi rokok perusahaan meningkat signifikan, dan ini pula yang kemudian sukses membawa GGRM menjadi produsen rokok terbesar di Indonesia ketika itu. Tahun 1983, putra pertama dari Tuan Surya, Rachman Halim, mengambil alih posisi direktur utama perusahaan, sedangkan kesemua adik-adiknya menempati sejumlah posisi penting seperti direktur dan komisaris. Bisa dibilang bahwa GGRM kemudian menjadi perusahaan keluarga. Tahun 1990, GGRM go public, dan barulah sejak saat itu perusahaan berekspansi lebih jauh dengan mendirikan pabrik kertas karton (untuk kemasan rokok), secara rutin menambah kapasitas produksi, mendirikan PT Surya Madistrindo sebagai distributor tunggal produk GGRM, dan masuk ke segmen low tar nicotine. Tahun 2008, Rachman Halim wafat, dan posisinya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan digantikan oleh adiknya, Susilo Wonowidjojo.

Hingga pada hari ini, GGRM memiliki dua fasilitas produksi di Kediri, dan Gempol (keduanya di Jawa Timur), dan perusahaan berada di posisi kedua (dibelakang HMSP) sebagai produsen rokok terbesar di Indonesia, dengan pangsa pasar 25.7% per Kuartal II 2019. Seperti disebut diatas, GGRM juga memiliki produsen kertas karton dan distributornya sendiri, sehingga lini bisnis perusahaan terbilang terintegrasi. Secara track record, sejak tahun 2009 sampai Kuartal II 2019 kemarin, pendapatan perusahaan konsisten naik setiap tahun dari Rp31.1 trilyun, hingga kemungkinan akan mencetak rekor pendapatan Rp100 trilyun pada tahun 2019 ini. Demikian pula dengan laba bersihnya, yang meski tidak selalu rutin naik setiap tahun, namun tetap tumbuh signifikan dari Rp3.4 trilyun menjadi Rp8.6 trilyun di 2019 (laba di kuartal II, disetahunkan). Dan meski GGRM terbilang royal dividen, namun perolehan labanya yang cukup besar (ROE-nya konsisten sekitar 16 – 20%) menyebabkan ekuitasnya tetap tumbuh signifikan yakni dari Rp18.4 trilyun di tahun 2009, menjadi Rp44.4 trilyun pada pertengahan tahun 2019.
Yang perlu dicatat adalah, pertumbuhan kinerja yang sangat baik diatas terjadi ketika volume produksi rokok perusahaan hanya naik sedikit saja, dari 64.2 milyar batang di tahun 2009, menjadi 85.2 milyar batang di tahun 2018. Sehingga cuku jelas bahwa pertumbuhan pendapatan dll perusahaan lebih didorong oleh kenaikan harga jual produk secara bertahap, dimana kenaikan harga tersebut tetap diterima dengan baik oleh konsumen.
Valuasi saham GGRM saat ini
Okay, sekarang ke inti pertanyaannya. Pertama, kita tahu bahwa saham GGRM, yang ketika artikel ini ditulis berada di posisi 52,500, sudah turun hampir 50% dari posisi tertingginya di bulan Maret kemarin. Jadi apakah sekarang sahamnya sudah murah? Lalu kedua, kita tahu bahwa penyebab penurunan itu adalah terkait cukai rokok yang pada tahun ini resmi naik hingga 23%, efektif mulai tahun 2020 nanti. Jadi meski memang GGRM ini kinerjanya bagus, dan punya track record yang juga sangat konsisten, namun apakah dengan ini GGRM masih layak untuk jangka panjang? Nah, pertama-tama kita cek valuasi sahamnya dulu.
Berdasarkan posisi ekuitas serta laba bersihnya di Kuartal II 2019, maka pada harga 52,500, PBV GGRM tercatat 2.3 kali, sedangkan PER-nya 11.8 kali. Quick comparison, diatas kita sudah menyebut produk Indomie yang tingkat konsumsinya tidak serutin rokok, dan berapa valuasi dari Indofood CBP (ICBP) sebagai produsen Indomie? Pada harga 11,950, PBV 5.8, dan PER 27.0 kali, alias jauh diatas valuasi GGRM saat ini. Kemudian jika dibandingkan dengan valuasi GGRM sendiri katakanlah pada tahun 2010 lalu ketika harga sahamnya masih 31,000, maka PER-nya ketika itu mencapai 16 kali.
Jadi kesimpulannya? Yup, GGRM di harga sekarang sudah murah, dimana selama tidak terjadi perubahan fundamental pada perusahaan, maka cepat atau lambat sahamnya akan naik lagi. Untuk menguji hipotesa ini, mari kita cek lagi historis pergerakan saham GGRM selama 10 tahun terakhir, dimana selama periode waktu tersebut, GGRM sempat tiga kali turun signifikan (diluar penurunan yang terjadi tahun 2019 ini) sebelum kemudian naik lagi, yakni:
  1. Antara Oktober 2010 – Februari 2011, dari 51,900 ke 34,200
  2. Antara Desember 2012 – Oktober 2013, dari 55,500 ke 33,850
  3. Antara Desember 2014 – September 2015, dari 61,800 ke 41,750.
Lalu sekarang kita cek, berapa valuasi GGRM ketika sahamnya berada di harga-harga terendah mereka seperti yang disebut diatas, berdasarkan posisi ekuitas dan laba bersih perusahaan ketika itu? (laporan keuangan yang digunakan adalah laporan tahun penuh di tahun sebelumnya) And here we go.
Waktu
Harga saham
Laporan keuangan
PBV (x)
PER (x)
Feb-11
34,200
Tahun Penuh 2010
3.1
15.9
Oct-13
33,850
Tahun Penuh 2012
2.4
16.2
Sep-15
41,750
Tahun Penuh 2014
2.4
14.9
Berdasarkan angka-angka diatas, maka bisa kita lihat bahwa valuasi GGRM saat ini pada harga 52,500, yang mencerminkan PBV 2.3 dan PER 11.8 kali, adalah merupakan valuasi terendahnya dalam 10 tahun terakhir, meskipun selisihnya tidak jauh beda dengan ketika GGRM berada di posisi 41,750, September 2015 lalu.
Masalah Kenaikan Cukai
Okay Pak Teguh, jadi selama tidak terjadi perubahan fundamental, maka GGRM akan naik lagi, dan bukan tidak mungkin posisinya sekarang adalah titik terendahnya sebelum dia naik lagi. Tapi bukankah dengan kenaikan cukai kemarin, maka ada kemungkinan bahwa kinerja GGRM dalam 10 tahun kedepan tidak akan lagi sebagus 10 tahun ke belakang? Nah, dalam hal ini kita perlu melihat, faktor risiko apa yang paling berpengaruh terhadap kinerja perusahaan rokok. Penulis sudah cek laporan tahunan dari empat emiten rokok yang ada di BEI, yakni GGRM, HMSP, Wismilak Inti Makmur (WIIM), dan Bentoel Internasional Investama (RMBA). Dan kesimpulannya, menurut empat perusahaan ini, empat faktor risiko terbesar yang senantiasa mereka perhatikan adalah,
  1. Perkembangan ekonomi dan politik negara, dimana itu pada gilirannya mempengaruhi daya beli masyarakat,
  2. Ketersediaan pasokan bahan baku terutama tembakau,
  3. Persaingan antar sesama produsen rokok (bagi WIIM, ini adalah faktor risiko no.1, yang menunjukkan ketidak mampuan perusahaan untuk bersaing dengan GGRM dan HMSP), lalu baru
  4. Peraturan pemerintah, termasuk cukai.
Yup, jadi meski faktor kenaikan cukai bisa berdampak negatif pada pendapatan/laba bersih perusahaan, tapi itu hanya satu faktor diantara beberapa faktor lainnya yang juga berpengaruh signifikan. Sedangkan risiko seperti kampanye anti rokok, pembatasan iklan, klaim bahwa rokok merusak kesehatan bla bla bla, itu malah tidak terlalu dianggap sebagai bagian dari risiko (karena mungkin memang gak ada pengaruhnya). Kenyataannya adalah, ketika GGRM beberapa kali mengalami penurunan laba dalam 10 tahun terakhir, maka penyebab utamanya (atau setidaknya menurut penuturan manajemen) kalau bukan karena kenaikan harga tembakau, ya karena penurunan daya beli konsumen. Termasuk pada tahun 2018 – 2019 ini, penurunan daya beli konsumen menyebabkan produksi rokok di Indonesia secara keseluruhan turun, tapi GGRM bisa mengakali hal tersebut dengan merilis merk rokok baru dengan harga jual yang lebih ekonomis (misalnya Gudang Garam Patra, harganya cuma Rp10,700 per bungkus isi 12), dan alhasil volume produksi rokok perusahaan tetap tumbuh. Actually ini juga yang menjadi alasan kenapa GGRM (dan juga HMSP) sampai sekarang belum berminat untuk masuk ke segmen rokok elektrik, atau vape, karena harga jualnya jauh lebih mahal dibanding rokok biasa. Sebab bagi konsumen rokok di tanah air, yang mayoritas merupakan kelompok menengah kebawah, maka masalah harga akan selalu menjadi pertimbangan utama. Jadi alasan kenapa sekitar 60% penduduk pria di Indonesia adalah perokok, adalah karena harga rokok di Indonesia sampai hari ini masih merupakan salah satu yang termurah di dunia, bahkan meski cukai hampir selalu naik setiap tahun, dengan rata-rata kenaikan 10% per tahun.
Okay Pak Teguh, tapi kan untuk tahun 2020 nanti, kenaikan cukainya mencapai 23%, alias lebih tinggi dibanding biasanya, sehingga harga jual rokok juga akan naik banyak, dan itu pada akhirnya pasti berpengaruh ke pendapatan GGRM bukan? Nah, pertama-tama perlu diketahui bahwa meski cukai rokok rutin naik setiap tahun, tapi pada tahun 2018 kemarin kenaikan cukai itu tidak terjadi, dan karena itulah ketika di tahun 2019 ini cukai itu kembali dinaikkan, maka persentase kenaikannya jadi lebih tinggi dibanding biasanya. Jadi jika kita ambil rata-ratanya dalam dua tahun terakhir, maka kenaikan cukai rokok tetap hanya sekitar 10% per tahun. Perlu dicatat pula bahwa dalam setahunan terakhir, harga rokok pelan-pelan sudah naik meski cukai tidak naik, karena pihak produsen sudah wanti-wanti bahwa tahun depan nanti, cukai rokok bisa saja naik lagi (dan ternyata memang benar). Jadi untuk tahun depan nanti, GGRM dkk tidak perlu menaikkan harga jual rokok secara ekstrim, melainkan kenaikannya akan tetap pelan-pelan seperti tahun-tahun sebelumnya, dan perusahaan akan tetap untung.
Lalu kedua, dan ini yang mungkin tidak disadari oleh masyarakat: Selama ini cukai rokok menyumbang sekitar 8 – 9% dari total penerimaan negara setiap tahunnya, alias sangat besar, jauh diatas pendapatan non pajak lainnya. Sehingga jika konsumsi rokok turun, maka pemerintah juga yang akan rugi, dan ini belum termasuk kerugian yang dialami petani tembakau, pedagang eceran, dst, sehingga berisiko menurunkan pertumbuhan ekonomi. Alhasil selama ini, pemerintah tidak pernah menaikkan cukai hingga ke level dimana kenaikan tersebut akan menurunkan penjualan rokok, dan itulah kenapa kenaikan cukainya gak sampai 100%, misalnya (seperti kenaikan tarif BPJS). Kenaikan cukai yang pelan-pelan ini menyebabkan para produsen rokok, terutama HMSP dan GGRM, tetap konsisten membukukan kenaikan penjualan dari tahun ke tahun.
Jadi maksud penulis adalah, kalau memang benar tujuan kenaikan cukai itu adalah untuk membatasi atau bahkan menurunkan konsumsi rokok, maka kenapa cukainya gak sekalian dibikin mahal seperti cukai pada minuman beralkohol, misalnya? Untuk diketahui, tarif cukai rokok adalah sekitar 60% dari harga jual rokok sebelum dikenakan cukai tersebut (setiap kali cukainya naik, maka harga jual rokok juga ikut naik, sehingga persentase cukainya tetap), dan itu jauh lebih murah dibanding cukai minuman beralkohol golongan C, yang mencapai 150% dari harga jualnya. Bagi pemerintah, tanpa adanya cukai yang tinggi sekalipun, konsumsi liquor di Indonesia akan selamanya rendah, karena penduduk disini mayoritas muslim yang menghindari minuman keras. Jadi ya sudah, sekalian saja pasang cukai yang tinggi, dan alhasil harga miras di Indonesia sekian kali lipat lebih mahal dibanding di luar negeri. Tapi beda dengan rokok: Seperti disebut diatas, sekitar 60% penduduk pria di Indonesia adalah perokok, atau dengan kata lain ukuran pasarnya amat sangat besar, mungkin mencapai sekian persen dari GDP nasional. Sehingga jika jumlah perokok ini berkurang katakanlah hingga separuhnya akibat kenaikan cukai yang (terlalu) tinggi, maka pemerintah sendiri yang akan rugi hingga puluhan trilyun Rupiah. Dan mungkin ini pula kenapa GGRM dkk tidak menganggap kampanye anti rokok sebagai faktor risiko yang serius (risiko yang paling ditekankan adalah masalah daya beli), karena faktanya Pemerintah sendiri tidak serius dalam hal menurunkan tingkat konsumsi rokok di Indonesia, melainkan Kementerian Keuangan selama ini murni hanya mengejar cuan saja dengan cara menaikkan tarif cukai secara pelan-pelan hampir setiap tahun, tapi terus-menerus.
Kesimpulan akhirnya, well, penulis sudah menyampaikan semua yang penting untuk disampaikan, jadi kesimpulannya terserah anda sendiri. Namun seperti pada tahun 2010 lalu, penulis masih memberikan analisa yang sama untuk GGRM: Sahamnya layak untuk jangka panjang. Kalau soal GGRM akan ke berapa dalam 1 – 2 bulan mendatang, atau bahkan 1 – 2 tahun mendatang, itu kita nggak tahu. Tapi nanti mari coba anda baca lagi artikel ini agak lama dari sekarang, yakni sekitar tahun 2024 mendatang.
PT Gudang Garam, Tbk
Rating kinerja pada First Half 2019: AA
Rating valuasi saham pada 52,500: AA
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Oktober 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Tertarik untuk membaca Ebook Investment Planning (EIP) ketika pasar/IHSG terkoreksi seperti di tahun 2013, 2015, dan 2018 lalu?  Anda bisa memperolehnya disini, tentunya dengan harga diskon dibanding EIP edisi terbaru.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Persiapan & Strategi Investasi Menjelang Resesi

Bulan kemarin kita sudah membahas soal inverted yield curve dan hubungannya dengan krisis ekonomi, dimana pada akhir tulisannya penulis menyimpulkan bahwa memang ada kemungkinan bursa saham New York akan runtuh cepat atau lambat, dimana jika itu terjadi maka bursa saham di seluruh dunia juga akan ikut runtuh, termasuk di Indonesia. Namun alih-alih khawatir, penulis sendiri justru excited. Karena jika resesi itu nanti beneran terjadi dan IHSG hancur, maka itu justru menjadi kesempatan bagi investor yang mampu memanfaatkan periode resesi tersebut untuk ‘melompat lebih tinggi’. Namun tak lama setelah tulisannya di posting, penulis banyak menerima pertanyaan: Sebagai investor, apa yang harus kita lakukan/persiapkan sekarang untuk mengantisipasi terjadinya resesi??
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Oktober 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.
***
Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk melihat kisah dari Michael Burry, seorang fund manager pemilik Scion Capital, yang menjadi terkenal setelah ia sukses meraup keuntungan luar biasa dari kejatuhan bursa New York pada krisis besar tahun 2008 lalu. Okay, kita langsung saja.
Pada tahun 2008, seperti yang kita ketahui, Amerika Serikat (AS) mengalami krisis ekonomi yang kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia, dimana IHSG anjlok persis 50.1% sepanjang tahun 2008 tersebut. Namun yang tidak banyak diketahui orang, adalah bahwa berbagai pertanda terkait kemungkinan terjadinya krisis tersebut sudah muncul sejak beberapa tahun sebelumnya, tepatnya sejak tahun 2005, dimana ketika itu harga properti terus naik, dan ada banyak bank dan lembaga keuangan yang memiliki utang sangat besar dengan jaminan aset real estate, sedangkan nilai aset real estate itu sendiri sejak awal rawan untuk turun sewaktu-waktu (karena memang sudah naik tinggi sebelumnya).
Dan pada tahun 2005 inilah, Michael Burry memprediksi bahwa bubble di sektor properti ini akan meledak, dan pasar saham akan anjlok paling lambat pada Kuartal II 2007. Burry kemudian melakukan transaksi credit default swap (CDS) dengan sebuah investment bank, Goldman Sachs, dengan nilai transaksi US$ 1 milyar. Jadi intinya, Burry membayar secara bertahap hingga maksimal US$ 1 milyar ke Goldman sebagai ‘premi asuransi’ untuk sejumlah surat utang/obligasi dengan jaminan aset real estate, yang ada di pasar. Jika obligasi tadi mengalami gagal bayar (default) oleh debiturnya, maka Burry akan menerima pembayaran dari Goldman sebesar nilai nominal obligasi tersebut, dan Goldman akan mengambil alih obligasinya pada harga pasar (dimana harganya pasti akan anjlok/jauh dibawah harga nominalnya, sehingga dalam hal ini Goldman merugi, sedangkan Burry untung besar). Namun jika tidak terjadi default, maka Burry bisa saja kehilangan dana US$ 1 milyar tadi sama sekali, kecuali jika ia menjual CDS yang ia pegang. Goldman menerima proposal Burry karena mereka berkeyakinan bahwa pasar properti tidak akan jatuh. Sedangkan Burry berani mempertaruhkan hampir seluruh dana kelolaan yang ia pegang dalam transaksi CDS ini, karena ia berkeyakinan bahwa cuma soal waktu sebelum housing market di AS akan runtuh.
Namun hingga akhir tahun 2005 ternyata tidak terjadi default apapun. Karena Burry harus terus membayar premi ke Goldman, maka di tahun tersebut ia merugi sekitar 12%. Kemudian sepanjang tahun 2006, ternyata pasar properti tetap bertumbuh, termasuk Dow Jones juga malah naik dari 10,959 ke 12,398. Di tahun 2006 ini kerugian Burry membengkak hingga 24% (berbanding kenaikan Dow sebesar 13.1%), yang menyebabkan para investornya mulai protes, beberapa diantaranya bahkan mengancam akan membawa ke jalur hukum, namun Burry tetap bersikukuh bahwa pasar pada akhirnya akan jatuh. Memasuki 2007, pasar properti di AS mulai turun, dan sejumlah mortgage lender yang kecil-kecil juga mulai bangkrut, tapi secara umum tetap tidak terjadi default pada pasar obligasi, dan Dow Jones kembali naik sampai sempat tembus 14,000 pada Oktober 2007. Pada titik inilah, Scion Capital yang dikelola Burry sudah ditinggalkan oleh sebagian besar investornya, namun kepada investor yang masih bertahan, ia sekali lagi menyatakan bahwa pasar akan jatuh.
Eventually, pada tahun 2008, pasar akhirnya benar-benar jatuh, dan Burry menerima pembayaran dari Goldman, yang setelah ditambah akumulasi keuntungan sejak tahun 2000, totalnya ia meraup profit US$ 2.7 milyar. Namun pengalaman menghadapi tekanan dari para pemilik modal selama hampir tiga tahun sebelum akhirnya ia membukukan profit, menyebabkan Burry kemudian menutup Scion Capital, dan ia kemudian fokus mengelola dana pribadi miliknya sendiri.


Michael Burry, diperankan oleh Christian Bale dalam film The Big Short. Sumber: www.thrillist.com

Kapan krisis akan terjadi?
Nah, jadi pelajaran apa yang bisa diambil dari pengalaman Michael Burry diatas? Here it is: Meski seorang investor profesional berpengalaman tentunya bisa membaca tanda-tanda bahwa akan terjadi krisis atau market crash, misalnya kalau terjadi inverted yield curve (dan memang IYC ini juga sudah terjadi sejak penghujung tahun 2005, alias di tahun yang sama ketika Burry membeli CDS dari Goldman), namun soal kapan krisis itu akan terjadi, tidak ada seorangpun yang bisa menebaknya. Dari pengalaman Mr. Burry, maka seandainya ia menyerah dan menjual CDS yang ia pegang sebelum pasar benar-benar jatuh di tahun 2008, atau dengan kata lain melakukan cut loss, maka ia akan menderita kerugian besar, dan itu bukan karena analisanya keliru (karena pada akhirnya, memang benar terjadi krisis), tapi karena ia salah timing saja, yakni karena Burry sudah menerapkan strategi yang hanya akan menghasilkan keuntungan jika pasar anjlok sejak tahun 2005, tapi nyatanya Dow Jones justru naik terus sampai 2007 (sehingga ia justru rugi), dan baru turun di tahun 2008-nya.
Kemudian, meski Mr. Burry kemudian menjadi terkenal karena sukses memprediksi kejatuhan pasar, dan meraup profit besar dari situ, tapi penulis pikir pasti ada banyak fund manager lainnya selain Michael Burry, yang juga memprediksi bahwa pasar akan jatuh sejak tahun 2005 (karena pada tahun 2005 tersebut, tanda-tandanya memang sudah kelihatan), dan mungkin juga ikut membeli CDS atau jenis transaksi lainnya yang akan menghasilkan cuan jika pasar jatuh, tapi pada akhirnya mereka justru malah rugi. Karena tidak seperti Burry yang sukses ‘menahan nafas’ selama hampir 3 tahun hingga akhirnya ia profit, para fund manager ini kemungkinan tidak mampu menahan kerugian selama itu.
Okay Pak Teguh, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Karena tulisan diatas belum menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan kali ini: Persiapan & Strategi Investasi Menjelang Resesi? Nah, bagi investor pemula yang belum pernah mengalami kejatuhan pasar sebelumnya, maka cerita tentang resesi ini memang akan selalu terdengar menakutkan, karena yang terbayang adalah kita akan menderita rugi besar-besaran, jika resesi itu nanti terjadi. Tapi biar penulis sampaikan hal ini: Ketika IHSG crash di tahun 2008, maka apakah di tahun itu masih ada investor yang masih untung besar? Tidak ada! Yang terjadi adalah, semua orang merugi, tapi dengan persentase kerugian yang berbeda-beda, dimana investor A mungkin cuma rugi 15%, tapi investor B menderita rugi hingga modalnya tinggal sisa sepersepuluhnya. Seorang fund manager kenalan penulis yang ikut merasakan pengalaman tahun 2008 mengatakan bahwa, pada tahun laknat itu, jika seorang investor punya cash katakanlah separuh dari nilai portonya, sedangkan separuhnya lagi tetap berupa saham yang nilainya nyaris habis karena market crash, maka itu saja sudah bagus sekali! Karena jika sisa cash ini dibelikan saham di tahun 2009-nya, maka keuntungannya akan langsung berlipat-lipat dalam waktu 1 – 2 tahun berikutnya saja, sehingga menutup kerugian yang terjadi pada saham-saham yang tetap dipegang sepanjag tahun 2008. Tapi sekali lagi, jangankan profit, maka untuk sekedar tidak rugi saja, pada tahun 2008 itu tidak ada seorang investorpun yang mengalaminya.
Tetap Beli Saham, Tapi Dengan Menyisakan Cash
Okay, jadi kesimpulannya? Yup, jadi kalau yang dimaksud ‘persiapan menjelang resesi’ itu adalah cara agar kita bisa tetap profit ketika resesi itu terjadi, maka kabar buruknya, tidak ada cara untuk itu. Ketika nanti resesi itu terjadi, maka tidak bisa tidak: Anda, dan juga penulis, akan menderita rugi. Dan kalaupun anda bisa melakukan skema investasi tertentu seperti yang dilakukan Michael Burry diatas, maka problemnya balik lagi: Kita tidak tahu kapan resesi itu akan terjadi, sehingga kecuali anda juga bisa ‘tahan nafas’ hingga bertahun-tahun seperti yang dilakukan Mr. Burry, maka anda tetap akan rugi besar. Okay, lalu bagaimana kalau kita sekarang simpan 100% porto dalam bentuk cash saja, lalu baru belanja nanti ketika IHSG sudah di 4,500, misalnya?? Ya tetep saja: Bahkan kalaupun IHSG nanti beneran jatuh sampai kesitu, kita tetap nggak tahu kapan itu akan terjadi! Sehingga kalau IHSG baru jatuh tahun 2022 nanti, misalnya, sedangkan sebelum itu IHSG justru terus naik sampai 8,000, maka anda yang sekarang ini memilih untuk jual bersih semua saham (dalam rangka ‘persiapan’ resesi) akan menderita kerugian, yakni dalam bentuk profit yang hilang yang harusnya bisa anda peroleh, jika saham-saham tadi tetap anda hold.
Jadi kita kudu gimana? Well, pertama-tama kita harus mengerti bahwa jika diluar rumah sedang hujan, maka kita tidak harus hujan-hujanan lalu jatuh sakit kemudian tekor karena biaya dokter, tapi kita tetap harus keluar sedikit dana untuk beli payung, jas hujan, senter untuk persiapan mati lampu, dst. Artinya? Yep, ketika resesi itu nanti terjadi, maka kita tidak harus menderita rugi sampai modal kita habis sama sekali, tapi kita tetap harus siap untuk menderita kerugian tersebut, dan jangan berharap untuk bisa tetap menghasilkan keuntungan. Karena pada titik ini asal gak rugi aja, atau rugi tapi nggak besar, maka itu sudah sangat bagus. Warren Buffett sendiri pada krisis tahun 2008 menderita rugi 9.6%, tapi itu tetap merupakan kinerja yang sangat baik dibanding kinerja dari sekian banyak fund manager lainnya di Amerika Serikat (dan juga seluruh dunia), yang menderita rugi besar-besaran karena indeks S&P itu sendiri jeblok 37.0%.
Baiklah Pak Teguh, saya sudah mengerti bahwa skenario terbaik ketika nanti terjadi resesi adalah kita menderita rugi, tapi ruginya nggak besar. Pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa mencapai skenario tersebut? Well, why, tentu saja kita bisa tiru cara Opa Buffett. Pertama, kecuali sangat-sangat diperlukan, Berkshire Hathaway (BRK) tidak akan membeli saham menggunakan dana pinjaman, dan itu juga pernah dibahas disini. Jadi anda juga bisa melakukan hal yang sama: Selalu beli saham pake duit yang ada saja, dan jangan pernah pake margin, apalagi sampai gadai rumah.
Kedua, anda mungkin mendengar bahwa Buffett saat ini memegang cash dalam jumlah besar. Yup, per Kuartal II 2019, Berkshire Hathaway (BRK) memegang cash senilai $122 milyar, atau mencapai 60% dari total investasinya di saham-saham perusahaan Tbk di Amerika, dan 17% dari total aset BRK. Dan kenapa Buffett melakukan itu? Sederhana, karena ia kesulitan menemukan saham bagus yang harganya masih murah, tapi bukankarena ia memprediksi bahwa bursa Amerika akan segera jatuh. Karena faktanya, posisi cash BRK sudah membengkak hingga tembus diatas $100 milyar sejak tahun 2018 lalu. Kalau Buffett mau, maka bisa saja pada tahun 2018 itu ia menjual habis seluruh saham perusahaan Tbk yang ia pegang (sehingga posisinya 100% cash), tapi ia tidak melakukan itu karena itu bisa menyebabkannya kehilangan potensi profit, jika pasar saham Amerika ternyata lanjut naik (dan memang di tahun 2019 ini, Dow masih naik). Sebaliknya, jika Amerika tahun ini atau tahun depan mengalami resesi, maka BRK akan menderita kerugian dari penurunan saham Apple Inc, dst, tapi itu juga gak masalah karena sudah ada persedian cash yang lebih dari cukup untuk tambah posisi/average down di saham-saham itu tadi. Sehingga ketika periode resesi tersebut akhirnya berakhir dan pasar pulih lagi, maka BRK akan tetap profit seperti sebelumnya, atau bahkan profitnya lebih besar lagi.
Jadi kesimpulannya, kalau modal anda Rp20 juta, misalnya, maka boleh belanja saham maksimal hingga Rp10 – 15 juta saja. Dengan cara ini maka kalau resesi itu tidak juga terjadi/IHSG naik terus selama beberapa bulan hingga 1 – 2 tahun kedepan, maka anda masih akan profit dari saham-saham yang masih dipegang. Sedangkan jika persis besok pagi langsung jeger! Amerika resesi! Maka anda memang akan rugi karena saham anda bakal turun, tapi yang penting masih ada amunisi untuk nanti masuk lagi katakanlah 6 – 12 bulan dari sekarang, yakni ketika periode resesi itu mencapai titik terendahnya. So it’s a win-win solution, dan kita tidak perlu lagi menebak-nebak soal kapan Dow Jones akan jatuh. Dan yang terpenting, meski pada periode resesi itu kita akan merugi, tapi selama kita tetap bertahan maka, hanya dalam satu atau dua tahun kemudian, kita akan pesta besar ketika saham-saham yang dibeli menggunakan cash yang sudah disiapkan (sejak sebelum terjadinya krisis) mulai naik.. dan terus naik tanpa henti.. seperti yang terjadi tahun 2009 dan 2010 lalu.
Another Signal of Recession
Terakhir nih Pak Teguh, meski memang kita gak bisa tahu kapan resesi atau krisis akan terjadi, tapi ada gak sih gambaran sedikit saja, soal tanda-tandanya? Nah, kemarin kita sudah menyebut satu pertanda yakni inverted yield curve, kemudian W. Buffett sudah mengumpulkan cash, dan kemarin ada satu lagi peristiwa menarik: Start-up WeWork, yang sebelumnya hendak IPO di bursa Amerika dengan nilai valuasi perdana tidak tanggung-tanggung yakni $47 milyar, belakangan menunda IPO-nya karena ternyata kurang laku. Sebelumnya, hampir semua perusahaan teknologi terkemuka sukses besar mengambil dana investor di pasar modal melalui skema IPO, bahkan meski perusahaan yang bersangkutan sejatinya masih merugi (contohnya kemarin Uber, dan WeWork juga masih merugi). Bagi value investor, sejak awal kita gak mungkin membeli saham dari perusahan yang merugi, tapi euforia di sektor tech start-up menjadikan investor di Amerika tetap membeli saham-saham perusahaan teknologi, bahkan pada valuasi yang sangat mahal.
Namun dengan ditundanya (atau dibatalkannya) IPO WeWork, maka sepertinya euforia itu mulai berakhir. Perlu diketahui bahwa dengan penundaan IPO WeWork ini, maka ada dua lembaga keuangan raksasa yang dirugikan yakni Softbank (investor terbesar WeWork, yang sudah ‘bakar duit’ habis-habisan untuk mengembangkan perusahaan), dan JP Morgan (penjamin emisi IPO-nya), dan kita tahu bahwa satu peristiwa kerugian itu bisa berlanjut alias merembet kemana-mana (Softbank adalah juga penyandang dana di Tokopedia, Indonesia). Well, kita lihat saja nanti perkembangannya bagaimana.
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Oktober 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ebook Investment Planning – Kuartal II 2019

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
  1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
  2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
  3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
  4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
  5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).
Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Seluruh analisa di ebooknya ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan to the point. Jadi jika anda bisa memahami analisa saham yang disampaikan disini, maka anda juga akan bisa menyerap isi ebooknya dengan baik. Anda bisa langsung memesannya disini.

Daftar isi dari Ebook edisi sebelumnya (Kuartal I 2019), yang terbit bulan Mei 2019. Klik gambar untuk memperbesar.

Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
  1. Pekerjaan wajib investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning, dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
  2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee + selling tax yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan itu bahkan belum termasuk diskon jika anda berlangganan ebooknya secara jangka panjang.
  3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
  4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, praktisi value investing pertama di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
  5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).
Sekali lagi, untuk memperolehnya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi Telp/SMS/Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti), atau 0812-2044-5202 (Nury). Jika salah satu nomor slow response, maka hubungi nomor yang satunya.
Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
Testimonial
Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
-Renaldi Lestianto-
***

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Minggu 29 September 2019, pukul 13.00 WIB. Info selengkapnya baca [...]

Analisa Kenaikan Tarif Cukai Rokok Terhadap HMSP, GGRM

Pagi ini tiga saham rokok yakni HMSP, GGRM, dan WIIM turun lebih dari 10%, setelah akhir pekan kemarin Menteri Sri Mulyani ketok palu kenaikan cukai rokok 23%, atau diatas wacana sebelumnya yang hanya 10%. Nah, sebenarnya analisa berikut ini hanya penulis share kepada temen-temen member Ebook Market Planning (EMP). Tapi setelah saya pertimbangkan lagi, karena ini sudah menjadi pertanyaan semua orang maka sekalian saya posting saja disini, so here we go. Btw, untuk pertama kalinya, saya mencoba menampilkan analisanya dalam bentuk video Youtube, bisa anda lihat di halaman berikut:

Jika anda punya analisa tersendiri terkait saham perusahaan rokok, bisa disampaikan melalui kolom komentar dibawah.

Untuk minggu depan, kita akan bahas soal dampak kenaikan harga minyak terhadap IHSG, dan saham-saham apa saja yang mungkin diuntungkan/dirugikan.

***
Penulis membuat Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) berdasarkan laporan keuangan Kuartal II 2019. Dan anda bisa memperolehnya pada link berikut.
Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman seminarnya (rekaman terbaru bulan Agustus 2019 kemarin) pada link [...]

Prospek TINS Pasca Peraturan Menteri ESDM Terkait Ekspor Timah

Hingga Sabtu, 14 September, PT Timah, Tbk (TINS) masih belum merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal II (Q2) 2019. Namun ada yang menarik kalau kita telisik LK Q1 perusahaan: Pendapatannya melonjak dua kali lipat menjadi Rp4.2 trilyun, dan demikian pula laba bersihnya tercatat Rp301 milyar, alias mencapai Rp1.2 trilyun jika disetahunkan. Bisa dibilang bahwa tahun 2019 ini adalah kali pertama perusahaan membukukan kenaikan laba yang signifikan setelah selama lima tahun sebelumnya (atau lebih lama lagi), perolehan laba TINS cenderung stagnan di kisaran Rp500-an milyar per tahun, dan memang ada satu peristiwa penting yang menjelaskan kenaikan laba tersebut. Peristiwa apakah itu?

***
Penulis membuat Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) berdasarkan laporan keuangan Kuartal II 2019. Dan anda bisa memperolehnya pada link berikut.

Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman seminarnya (rekaman terbaru bulan Agustus 2019 kemarin) pada link berikut.
***
PT Timah, Tbk, seperti yang kita ketahui, adalah BUMN tambang spesialis timah yang sudah berdiri dan beroperasi sejak zaman Pemerintah Kolonial Belanda, ketika itu untuk mengeksploitasi sumber daya timah yang melimpah di Pulau Bangka, Belitung, dan Singkep. Logam timah itu sendiri merupakan bahan baku utama untuk pembuatan barang-barang elektronik, seperti solder, baterai, kaleng, dan untuk dicampur dengan logam lainnya seperti tembaga (copper alloy). Pada tahun 1968, Pemerintah RI menasionalisasi perusahaan tambang timah milik Belanda menjadi PN Tambang Timah, dimana nama perusahaan terakhir menjadi PT Timah, Tbk pada tahun 2017. Di tahun 2017 ini pula, dalam rangka pembentukan holding pertambangan, saham Pemerintah di TINS dialihkan ke PT Inalum, sebuah BUMN di bidang produksi alumunium yang 100% dimiliki oleh Pemerintah (jadi TINS masih tetap dimiliki oleh negara, tapi melalui Inalum). Namun sesuai PP No.72 Tahun 2016, maka untuk hal-hal yang bersifat strategis dan/atau menyangkut hajat hidup orang banyak, maka TINS tetap dikendalikan langsung oleh Pemerintah.

However, diluar partisipasinya dalam pembentukan holding tambang, maka sejak perusahaannya dinasionalisasi hingga tahun 2017 lalu, boleh dibilang perusahaan tidak mengalami perkembangan atau ekspansi yang berarti, dimana perusahaan tetap hanya menggali bijih timah terutama di Pulau Bangka dan Belitung, mengolahnya menjadi logam timah, lalu dijual. Volume produksi dan ekspor logam timah milik perusahaan juga segitu-gitu aja, malah cenderung turun, dimana pada tahun 2008 lalu TINS pernah mengekspor 44 ribu ton timah, tapi pada tahun 2018 kemarin volume ekspor itu tinggal dua pertiganya menjadi 30 ribu ton. Sebetulnya sejak tahun 2007 lalu, TINS mulai masuk ke industri hilir timah dengan juga memproduksi solder, dan bahan-bahan kimia berbasis timah.
Tapi kemungkinan karena manajemen tidak fokus dimana TINS juga masuk ke sektor konstruksi, properti, rumah sakit, tambang batubara, hingga tambang nikel, maka jadilah kontribusi ‘segmen lain-lain’ ini terbilang kecil terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Pada Q1 2019, dari pendapatan TINS sebesar Rp8.8 trilyun (sebelum eliminasi), hanya Rp528 milyar yang berasal dari segmen lain-lain, dan selebihnya tetap dari segmen tambang timah. Sebenarnya, kalau saja manajemen bisa fokus mengembangkan industri hilir timah dan katakanlah mampu memproduksi timah solder atau pelat timah dalam jumlah besar, maka perusahaan tidak perlu membatasi volume produksi tambangnya. Untuk diketahui, TINS adalah produsen timah terbesar kedua di dunia (setelah Yunnan Tin, dari China), tapi TINS merupakan eksportir timah terbesar di dunia. Karena berbeda dengan Yunnan Tin yang sudah bisa mengolah timah-nya menjadi barang-barang kimia industri, TINS tidak punya pilihan lain kecuali langsung melempar produksi timahnya ke pasar internasional. Tapi jika TINS terlalu banyak mengekspor timah, maka itu bisa menyebabkan oversupply, dan menurunkan harga jual timah itu sendiri. Inilah alasan kenapa TINS harus membatasi volume produksi dan ekspor timahnya, dan alhasil dalam 10 tahun terakhir ini volume ekspor timah perusahaan justru turun (baca lagi paragraf diatas). Namun bahkan itupun tidak mampu mendorong harga timah dunia untuk naik signifikan, dimana harga timah di LME (London Metal Exchange) terakhir masih $16,475, atau relatif tidak berubah dibanding Agustus 2009 (10 tahun lalu) yang tercatat $14,870 per ton. Dan alhasil, kinerja TINS selama lima tahun hingga 2018 kemarin, atau lebih lama lagi, terbilang segitu-gitu aja.
Problem Terbesar TINS: Ada Banyak Perusahaan Swasta yang Juga Mengekspor Timah
Karena alasan diatas lah, penulis dari dulu tidak pernah tertarik dengan TINS ini, bahkan meski sahamnya relatif populer di kalangan trader saham karena dia gampang naik sewaktu-waktu, yakni jika dua saham tambang lainnya yakni Aneka Tambang (ANTM) dan International Nickel (INCO) sedang naik. Saham TINS itu sendiri, seiring dengan kinerjanya yang stagnan dalam 10 tahun terakhir, juga tidak kemana-mana selama 10 tahun tersebut, dimana pada Agustus 2009 lalu TINS berada di level 1,400-an, dan sekarang dia masih di Rp1,190 per saham. Jadi kecuali ada perubahan ekstrem pada manajemen, misalnya jika mereka serius masuk ke industri hilir timah, atau jika ada peraturan pemerintah yang menguntungkan perusahaan, maka TINS tidak menawarkan prospek apapun baik itu untuk jangka pendek, maupun panjang.
Hingga pada Februari 2018, Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) No.11 tahun 2018, dilanjut Permen No.26 pada bulan Mei 2018, yang pada intinya memperketat perizinan ekspor timah, dan alhasil hanya TINS yang memiliki cukup kompetensi untuk memperoleh izin ekspor timah tersebut. Nah, sebelumnya perlu diketahui bahwa meski TINS merupakan perusahaan tambang timah terbesar di Indonesia, namun di Bangka dan Belitung sana ada banyak perusahaan-perusahaan timah lainnya yang kecil-kecil, yang kalau ditotal maka mereka juga mengekspor timah dalam jumlah besar, bahkan lebih besar dari ekspor TINS itu sendiri. Dengan kata lain, meski TINS membatasi volume produksi dan ekspor timahnya, tapi selama perusahaan-perusahaan swasta ini tetap jualan timah dalam jumlah besar, maka kondisi oversupply timah di pasar internasional tetap akan terjadi, dan harga timah selamanya gak akan pernah naik.
Namun memasuki tahun 2019 ini, praktis hanya TINS saja yang bisa mengekspor logam timah, sedangkan perusahaan-perusahaan lain harus menjual produksi timah mereka ke TINS. Alhasil volume produksi TINS langsung melonjak tajam, demikian pula dengan volume ekspornya, dimana hingga Juli 2019, TINS sudah mengekspor 39 ribu ton timah, atau mencapai 68 ribu ton jika disetahunkan, yang merupakan rekor baru sejak tahun 2008 (sebelumnya, rekor ekspor terbesar TINS adalah 46 ribu ton di tahun 2009). Pihak manajemen TINS sendiri langsung merespon permen diatas dengan membangun smelter baru dengan kapasitas 40 ribu ton timah per tahun, yang tentunya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi timah perusahaan, dimana smelter ini ditargetkan beroperasi pada Semester II tahun 2021 nanti.
Thus, berbeda dengan sebelumnya, TINS kini menawarkan prospek jangka panjang yang menarik, termasuk ada kemungkinan bahwa harga timah di LME, yang terakhir masih relatif rendah di $16,000-an per ton (dibanding rata-ratanya sejak tahun 2016, yakni $20,000 per ton), akan naik lagi karena ekspor timah dari Indonesia akan berkurang bahkan meski TINS meningkatkan volume ekspornya (karena itu tadi: Perusahaan timah swasta sudah tidak bisa ekspor lagi). Dan actually hal ini juga yang menyebabkan saham TINS naik cukup signifikan dalam setahun terakhir, dimana September 2018 lalu dia masih di 715, tapi sekarang sudah di 1,190.
Namun pada harga 1,190, yang mencerminkan PBV 1.3 kali dan PER 7.3 kali berdasarkan kinerjanya di Q1 2019, maka sahamnya belum bisa disebut mahal, dan masih berpeluang untuk naik lebih lanjut, jika memang kenaikan labanya berlanjut pada Q2 ini dan seterusnya. Atau bahkan sahamnya bisa saja jackpot, yakni jika TINS sukses menaikkan volume ekspor timahnya, sedangkan harga logam timah juga berbalik naik menyusul harga emas dan nikel, yang sudah lebih dulu naik sejak beberapa bulan lalu.
However, masih ada beberapa catatan penting kalau anda tertarik dengan TINS ini. Pertama, berhubung kinerja TINS selama ini cenderung tidak konsisten dari kuartal ke kuartal, maka tidak ada jaminan bahwa labanya di Q2 ini akan lanjut naik, sehingga akan lebih aman jika kita tunggu sampai LK-nya keluar. Kedua, TINS sampai hari ini masih belum fokus ke industri hilir timah itu sendiri, sehingga posisinya tidak jauh berbeda dengan perusahaan tambang lainnya yang mau main gampang saja: Gali timah, lalu jual. Sehingga kinerjanya akan sangat tergantung pada fluktuasi harga timah di LME. Dan kelemahan perusahaan adalah memang itu tadi: Tidak fokus, dimana tahun 2018 kemarin perusahaan malah jauh-jauh berinvestasi pada tambang timah di Nigeria (ngapain coba?), padahal sumber daya timah di dalam negeri masih amat sangat besar.
Terakhir ketiga, penulis sendiri menganggap bahwa Permen diatas terbilang tidak adil bagi perusahaan-perusahaan swasta yang selama ini cari makan dari timah, sehingga ada kemungkinan Permen tersebut kedepannya direvisi, atau akan ada perusahaan lain yang pada akhirnya sanggup memenuhi syarat kompetensi untuk mengekspor timah, dimana jika itu terjadi maka TINS akan kehilangan keistimewaannya sebagai eksportir tunggal timah Indonesia, dan kinerjanya akan stagnan lagi seperti dulu.
Anyway, dibanding dengan prospeknya seperti yang sudah disebut diatas, maka TINS tetap sangat menarik untuk dipertimbangkan, terutama karena itu tadi: Valuasi sahamnya masih belum mahal, sedangkan kinerjanya kemarin memang beneran naik kok. Tinggal tunggu LK Q2-nya saja: Jika hasilnya memang masih bagus, then there you go.
PT Timah, Tbk (TINS)
Rating Kinerja Q1 2019: A
Rating Valuasi Saham pada 1,190: A
***
Penulis membuat Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) berdasarkan laporan keuangan Kuartal II 2019. Dan anda bisa memperolehnya pada link berikut.

Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal lagi, tapi anda bisa memperoleh rekaman seminarnya (rekaman terbaru bulan Agustus 2019 kemarin) pada link berikut.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Bagi Value Investor, Profit Itu Nomor Dua. Nomor Satunya Adalah..

Minggu lalu, tepatnya tanggal 30 Agustus 2019, Warren Buffett merayakan ulang tahunnya yang ke-89. Usia yang tidak lagi muda, tentu saja, namun tetap belum ada tanda-tanda bahwa ia akan pensiun dari posisinya sebagai chairman Berkshire Hathaway, dan juga sebagai investor itu sendiri. Tidak hanya itu: Sepanjang hidupnya, Buffett hampir tidak pernah menderita sakit, kecuali di tahun 2012 dimana ia sempat divonis memiliki gejala kanker prostat, tapi setelah itu ia kembali sehat dan bekerja seperti biasa hingga hari ini.

***

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Minggu 29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.

***


Namun yang lebih luar biasanya lagi adalah, gaya hidup Buffett sejatinya sangat jauh dari apa yang disarankan oleh para pakar kesehatan. Buffett tidak menyukai sayuran seperti katakanlah brokoli, tapi ia rutin mengkonsumsi junk food seperti burger McDonald’s, es krim sundae dari Dairy Queen, hingga kue coklat kacang dari See’s Candies. Dan Buffett jarang minum air putih, instead ia meminum setidaknya lima botol Coca-Cola setiap harinya. Fakta bahwa Coca-Cola berkontribusi terhadap sekian puluh ribu kematian di Amerika Serikat setiap tahunnya karena penyakit jantung, diabetes, hingga kanker, menyebabkan orang awam menjadi bertanya-tanya: Apa yang membuat Buffett bisa tetap sehat walafiat??

Disisi lain, menjadi investor saham itu tampak seperti pekerjaan yang paling bikin stress yang pernah ada di dunia. Penulis sering sekali menerima pertanyaan, saya beli saham A di harga sekian, tapi sekarang sahamnya turun, kenapa bisa begitu? Apa yang harus saya lakukan? Atau semacamnya. Tidak hanya bagi investor pemula, investor yang sudah pengalaman sekalipun sering mengalami tekanan psikologis karena hal-hal seperti beli saham lalu besoknya saham itu turun, atau jual saham lalu besoknya saham itu naik, atau menjadi pusing sendiri sampai gak bisa tidur karena IHSG turun dan alhasil semua sahamnya ikut turun. Dalam banyak kasus, tekanan psikologis seperti itulah yang kemudian menjadi pemicu penyakit tertentu, yang pada akhirnya membuat seseorang tidak bisa mencapai usia 80-an seperti Buffett, atau berumur panjang tapi sakit-sakitan.
Jadi bagaimana bisa Warren Buffett, yang memiliki pola makan yang tidak sehat, yang hampir sepanjang hidupnya menjalani satu pekerjaan yang sangat bikin stress, tidak hanya berusia panjang, tapi juga senantiasa sehat dan tetap bisa beraktivitas produktif sampai sekarang?

Gorat’s Steakhouse di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, yang merupakan restoran favorit Warren Buffett sejak dulu sampai sekarang. Sumber gambar: CNBC.com
Whatever Doesn’t Kill You, Makes You Stronger
Tapi bagaimana jika penulis bilang, justru karena Buffett adalah seorang investor, maka ia bisa memiliki usia panjang? Yup! Karena coba pikir: Ketika anda merasa takut, deg-degan ketika membeli saham, atau panik ketika saham anda turun, maka itu sangat manusiawi. Karena tidak ada seorangpun di dunia ini, entah itu investor atau bukan, yang suka merugi atau kehilangan sejumlah uang. Dan jangankan rugi, kadang hanya meraih profit Rp1,000 ketika kita seharusnya bisa profit Rp2,000 seandainya kita beli saham itu lebih banyak, juga bisa bikin nyesek (karena serakah). Demikian pula ketika anda hold sebuah saham selama tiga hari tapi dia gak naik-naik juga, maka anda mungkin akan mulai merasa jengkel, karena tidak sabar menunggu dia naik.
Tapi sebenarnya yang mengalami hal-hal diatas bukan cuma investor, melainkan sekali lagi orang yang bukan investor juga mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. You see, penulis sendiri pernah beli suatu barang pada harga sekian, tapi kemudian saya baru tahu kalau toko lain juga menjual barang yang persis sama pada harga yang lebih murah, sehingga saya jadi seperti kehilangan sejumlah uang, dan itu rasanya nggak enak. Kemudian pernah ada teman yang curhat bahwa ia harusnya bisa dapet uang lebih banyak andaikan usahanya tidak diganggu masalah ini dan itu. Dan jangan tanya pula soal sabar: Kalau misalnya anda harus mengantri panjang menunggu diperiksa dokter di rumah sakit ketika anda seharusnya bisa bekerja di kantor atau beristirahat tidur-tiduran di rumah, maka itu juga rasanya nggak enak bukan??
Namun berbeda dengan orang awam yang tidak setiap hari mengalami peristiwa-peristiwa yang ‘menguji kesabaran’, maka investor saham seperti dipaksa untuk merasakan panik, serakah, dan juga dipaksa untuk sabar setiap hari, setiap saat! Alhasil, tidak semua orang bisa cukup ‘kuat’ untuk menjadi seorang investor. Tapi bagi mereka yang mampu bertahan, maka mereka akan sampai pada satu titik dimana mereka akan mati rasa, yakni karena sudah saking terbiasanya dengan semua tekanan psikologis tadi. Pada titik ini, seorang investor tidak akan lagi merasa kesal ketika ia harus cut loss, tapi juga tetap bersikap biasa-biasa saja ketika ia profit besar dari saham tertentu. Dan ketika pasar euforia membicarakan ‘saham-saham terbang’, maka ia memilih untuk duduk menyendiri, untuk fokus menganalisa saham-saham yang akan ia ambil, dan kemudian tidur nyenyak di malam hari karena ia tahu persis tentang perusahaan yang sahamnya ia beli.
Nah, jadi balik lagi ke Warren Buffett. Seperti yang kita ketahui, Buffett sudah membeli saham sejak ia berusia 11 tahun. Maka, sejak saat itu pula ia sudah mulai menghadapi tekanan-tekanan psikologis sebagai investor. Jadi sekitar 20 tahun kemudian, yakni pada usia 30-an, Buffett sudah mengalami kondisi ‘mati rasa’ itu tadi, dan sudah menguasai setidaknya tiga ilmu tingkat tinggi: Ikhlas (tidak mudah panik, dan juga tidak jengkel ketika menderita rugi), bersyukur (tidak serakah), dan tentunya, sabar. Dari tiga ilmu inilah, Buffett kemudian menjadi seperti yang kita kenal sekarang ini: Memiliki gaya hidup sederhana bahkan untuk ukuran American middle-class(sedangkan ia adalah seorang billionaire), hanya punya satu rumah itu saja yang ia tempati sejak tahun 1950-an, mengendarai satu mobil yang itu-itu saja, always happy, rendah hati (jarang mau berbicara soal kesuksesannya, lebih suka bicara tentang kesalahan-kesalahan investasi yang pernah ia lakukan), jarang mengkritik investor atau trader saham lainnya, banyak beramal, dan ia mengelola Berkshire Hathaway dengan cara-cara yang baik, dimana ia tidak pernah melakukan hostile takeover atau semacamnya. Seperti yang pernah penulis sampaikan disini, kita sebenarnya bisa belajar banyak dari Warren Buffett tidak hanya dari metode serta filosofinya dalam berinvestasi, tapi juga dari kehidupan sehari-harinya sebagai manusia biasa pada umumnya.
Dan salah satu ilmu yang juga bisa kita pelajari adalah, jika anda hendak sehat dan panjang umur seperti Warren Buffett, maka jadilah pribadi yang happy, yang tidak mengalami stress atau overthinking, yang senantiasa ikhlas dan bersyukur. Caranya? Ya dengan menjadi investor saham! Bisa dibilang bahwa segala tekanan psikologis yang anda alami di tahun-tahun awal sebagai investor, akan menjadi semacam vaksin imunisasi, yang justru akan membuat anda lebih kuat dalam menghadapi tekanan psikologis seperti itu di masa yang akan datang. Dan kalau anda kelak sudah bisa bersikap biasa-biasa saja ketika rugi sekian milyar Rupiah, misalnya, maka bagaimana mungkin hal-hal kecil lainnya seperti terjebak kemacetan ketika pulang kantor bisa membuat anda stress? Ponakan penulis sendiri pernah memberikan satu testimoni, ‘Om Teguh itu gak pernah cemberut, pokoknya kalau ketemu pasti senyuuuum terus ???? dan selalu kasih jajan. Gak kaya nenek, papa, atau mama, yang kadang begitu masuk rumah aja udah terasa aura nggak enaknya’.
Nah, jadi buat temen-temen yang masih belum mulai brerinvestasi di saham, maka biar penulis sampaikan satu hal: Tujuan kita berinvestasi di saham memang untuk meraih keuntungan, tapi sebenarnya masih ada satu tujuan yang lebih penting lagi, yakni agar kita bisa belajar banyak untuk menjadi pribadi yang happy, yang tidak mudah stress, dimana itu pada akhirnya akan membantu kita untuk senantiasa hidup sehat, dan insya Allah panjang umur.
Namun untuk mencapai itu semua, maka kita harus memulainya dari sekarang juga, karena perjalanannya akan sangat panjang dimana pada tahun-tahun awal anda justru akan mengalami sebaliknya: Stress setiap hari, jantungan setiap saat, hingga nggak bisa tidur. Anyway, buat temen-temen yang sudah cukup berpengalaman sebagai investor, maka mungkin bisa share tentang bagaimana ‘transformasi’ anda dari yang tadinya serba nggak sabaran, menjadi investor yang lebih santai seperti sekarang. Anda bisa menulisnya melalui kolom komentar dibawah.
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Minggu 29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rekaman Terbaru Seminar Value Investing + Bonus Ebook

Dear investor, penulis pada bulan Agustus 2019 kemarin menyelenggarakan seminar ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’, dan juga seminar Value Investing, Avanced Class’, di dua kota yakni Jakarta dan Surabaya. Nah, suara penulis ketika mengisi dua kelas diatas direkam dari awal sampai akhir, dan anda bisa memperoleh rekaman tersebut (sudah dipilihkan rekaman yang terbaik/yang penyampaian materinya paling jelas) dengan ketentuan sebagai berikut.

1. Rekaman Seminar ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’
  • Materi: Cara cepat menilai fundamental saham, cara menghitung harga wajar saham, ciri-ciri saham untuk investasi jangka panjang, dst. Materi lengkapnya bisa dibaca disini.
  • Durasi: 3 sesi, masing-masing berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit (jadi totalnya 4.5 jam).
2. Rekaman Seminar ‘Value Investing Advanced Class’
  • Materi: Cara membaca arah pasar termasuk strategi jika IHSG terkoreksi/turun, cara membaca sektor atau saham apa yang akan naik banyak pada tahun tertentu, cara melihat poin-poin manipulasi laporan keuangan, dst. Materi lengkapnya bisa dibaca disini.
  • Durasi: 3 sesi, masing-masing berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit (jadi totalnya 4.5 jam).
Untuk rekamannya berbentuk audiobook dengan format M4A, yang bisa langsung anda dengarkan di smartphone. Setiap file rekamannya berukuran kurang dari 100 MB, jadi sangat ringan untuk masuk di smartphone anda. Rekamannya sendiri adalah dari awal sampai akhir tanpa adanya potongan ataupun sensor, jadi dengan mendengarkannya maka anda seperti hadir langsung di acara seminarnya. Anda juga akan memperoleh slide powerpoint materi seminar, plus file excel formula ‘kalkulator saham’.

***
Okay, berikut biayanya:
  1. Rekaman Seminar Value Investing: Rp300,000
  2. Rekaman Seminar Value Investing Advanced: Rp350,000
  3. Paket Hemat (dua rekaman diatas): Rp550,000.
Bonus Gratis: Ebook ‘How to be a Full Time Investor’ setebal 13 halaman, khusus bagi anda yang mengambil paket hemat.

***
Okay, berikut cara order:
1. Tentukan apakah anda hendak membeli rekaman value investing, value investing advanced, atau keduanya.
2. Lakukan payment dengan cara transfer ke (pilih salah satu):
Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
Semuanya atas nama Teguh Hidayat
3. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Beli Rekaman Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, jumlah transfer, bank tujuan transfer. Contoh: Joao Felix, 550,000, BCA (catatan: Dari jumlah transfernya maka kami akan mengetahui apakah anda membeli rekaman value investing, advanced, atau keduanya). Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga tidak, karena kami bisa mengecek transferan anda melalui internet banking.
4. Anda akan menerima email balasan yang berisi link untuk men-download file rekaman (file-nya di-upload di Dropbox, jadi nanti anda tinggal download saja), termasuk slide powerpoint materi seminar, dan excel kalkulator sahamnya. Selanjutnya, enjoy!

***
Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Silahkan langsung telepon/SMS/Whatsapp ke 081314822827(Yanti), atau 081220445202 (Nury). Konfirmasi setelah melakukan transfer juga bisa melalui Whatsapp diatas.
Atau anda bisa hubungi penulis (Teguh Hidayat) langsung melalui email teguh.idx@gmail.com.

Penulis bersama temen-temen peserta seminar Jakarta, 25 Agustus 2019

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca [...]

Prospek PTPP: Pemegang Proyek Konstruksi Terbanyak di Wilayah Indonesia Tengah, dan Timur

Pada ulasan minggu lalu, kita sudah membahas bahwa salah satu sektor yang diuntungkan dengan adanya pemindahan ibukota RI dari Jakarta ke Kalimantan Timur adalah konstruksi, dimana pada lokasi ibukota yang baru tentunya akan dibangun sejumlah gedung perkantoran, kawasan residensial, hingga infrastruktur pendukungnya. Dan karena salah satu tujuan dari pemindahan ibukota itu adalah agar pembangunan ekonomi menjadi lebih merata/tidak lagi hanya terpusat di Jawa dan/atau Wilayah Indonesia Barat pada umumnya, maka hingga beberapa tahun hingga beberapa dekade kedepan, yang akan dibangun bukan hanya lokasi ibukota itu sendiri, tapi juga Wilayah Indonesia Tengah (WITA) dan Wilayah Indonesia Timur (WIT) secara keseluruhan.

***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.
***
Pertanyaannya kemudian, emiten konstruksi mana yang bakal dapet banyak proyek? Ya kalau berkaca pada pengalaman sejak 2014, maka harusnya BUMN lagi. Okay, lalu BUMN yang mana? Nah, penulis iseng-iseng mengecek daftar proyek yang dipegang oleh beberapa BUMN konstruksi seperti Adhi Karya (ADHI), Pembangunan Perumahan (PTPP), Wijaya Karya (WIKA), dan Waskita Karya (WSKT), beserta anak-anak usaha mereka (WEGE, WSBP, WTON, PPRE, dst). Dan ternyata, PTPP sejak awal adalah pemilik proyek pembangunan infrastruktur terbanyak di WITA dan WIT, dalam hal ini di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua (selain juga di Jawa dan Sumatera), dan rata-rata dari kesemua proyek tersebut berjalan lancar sesuai rencana (ada beberapa proyek yang belum selesai sesuai deadline yang direncanakan sebelumnya, tapi tidak ada yang sampai mangkrak).
Jadi apakah PTPP ini bagus? Well, seperti biasa mari kita pelajari dulu perusahaannya sedari awal, dan kebetulan penulis memang belum pernah membahas PTPP ini secara terbuka sejak dulu sahamnya IPO tahun 2010. Okay, here we go.
PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk adalah salah satu perusahaan konstruksi tertua di Indonesia yang berdiri tahun 1953, ketika itu dengan nama NV PP, dengan proyek pertamanya adalah membangun komplek perumahan untuk direksi dan karyawan PT Semen Gresik (yang sekarang menjadi PT Semen Indonesia, Tbk), di Gresik, Jawa Timur. Tahun 1991, perusahaan melakukan diversifikasi ke sektor properti dengan menjadi developer (tidak lagi hanya sebagai kontraktor) perumahan di Cibubur, Jawa Barat. Namun milestone terbesar bagi perusahaan terjadi di tahun 2010, dimana setelah menggelar IPO di tahun tersebut, di tahun-tahun berikutnya PTPP melakukan sejumlah pengembangan usaha penting:
  1. Spin off unit usaha properti menjadi anak usaha, dengan nama PT PP Properti, Tbk (PPRO),
  2. Diversifikasi ke segmen engineering, procurement, and construction (EPC) dengan proyek pertama membangun pembangkit listrik di Talang Duku, Sumatera Selatan,
  3. Akuisisi sebuah perusahaan beton precast, yang namanya kemudian diubah menjadi PT PP Pracetak,
  4. Akuisisi perusahaan alat-alat konstruksi (untuk disewakan ke perusahaan konstruksi lain, atau untuk digunakan sendiri), yang namanya kemudian diubah menjadi PT PP Presisi, Tbk (PPRE),
  5. Spin off dua unit usaha menjadi dua anak usaha terpisah, yakni PT PP Energi yang bergerak di bidang pembangkit listrik serta minyak dan gas, dan PT PP Infrastruktur, yang bergerak di bidang pengelolaan jalan tol, bandara, pelabuhan, kawasan industri, hingga pengelolaan air bersih.
Kesemua ekspansi diatas dibiayai dengan kombinasi dari IPO, IPO anak usaha, right issue, hingga penerbitan surat utang. Dan alhasil, jika pada Juli 2009 lalu (sebelum IPO) PTPP hanya memiliki dua segmen usaha (konstruksi, dan developer properti) dengan total aset Rp3.6 trilyun, dan ekuitas Rp406 milyar, maka pada hari ini, atau genap 10 tahun kemudian, nilai aset perusahaan sudah melompat menjadi Rp53.5 trilyun, dan ekuitas Rp12.8 trilyun, dengan setidaknya tujuh segmen usaha yang saling mendukung/terintegrasi satu sama lain (konstruksi, developer properti, pengelolaan infrastruktur, energi, EPC, beton precast, dan alat-alat konstruksi sipil). Laba bersih perusahaan juga tentunya melonjak tajam, dari hanya Rp121 milyar di tahun 2008, menjadi Rp1.5 trilyun di tahun 2018. Dalam 10 tahun terakhir, PTPP telah mengerjakan dan menyelesaikan lebih banyak proyek konstruksi, termasuk yang besar-besar seperti pembangunan bandara dan jalan tol, dibanding seluruh proyek konstruksi yang pernah digarap perusahaan selama lebih dari 50 tahun sebelumnya. PTPP bahkan punya lembaga pendidikannya sendiri dengan nama PP University, yang secara khusus mendidik karyawan (dan calon karyawan) perusahaan tentang usaha konstruksi dan segala tetek bengeknya.
Nah, sebenarnya dalam hal mengalami lompatan pertumbuhan dalam 10 tahun terakhir, maka PTPP tidaklah sendirian, karena BUMN konstruksi lainnya seperti WSKT, WIKA, dan ADHI juga sama melompat dalam hal total aset, ekuitas, serta laba, seiring dengan dikebutnya pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah. Namun seperti yang disebut diatas, PTPP memiliki banyak ongoing project di WITA dan WIT, dengan detailnya sebagai berikut, dimana datanya diperoleh dari laporan keuangan PTPP per Kuartal II 2019. Sebelumnya perlu dicatat bahwa proyek yang penulis tampilkan disini hanya yang nilainya besar, dalam hal ini diatas Rp500 milyar. Selain mengerjakan banyak proyek di WITA dan WIT, PTPP juga masih memegang lebih dari seratus proyek lainnya di Jawa dan Sumatera.
Nama Proyek
Lokasi
Nilai Kontrak (Milyar Rp)
Kilang Minyak PT Pertamina
Balikpapan, Kalimantan Timur
10,584
Jalan Tol Manado – Bitung
Manado, Sulawesi Utara
2,879
Makassar New Port
Makassar, Sulawesi Selatan
2,499
Pantai Sisi Barat, Bandara Ngurah Rai
Badung, Bali
1,361
Stadion Utama Papua
Jayapura, Papua
1,266
Mobile Power Plant, Package 1
Sorong, Merauke, Timika (Papua)
1,218
Bandara Syamsudin Noor
Samarinda, Kalimantan Timur
1,066
Makassar New Port, Paket B
Makassar, Sulawesi Selatan
1,018
Bendungan Way Apu
Buru, Maluku
972
Bendungan Manikin
Kupang, Nusa Tenggara Timur
823
Jalan Tol Balikpapan – Samarinda
Balikpapan, Kalimantan Timur
771
Bendungan Lolak
Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara
756
Bendungan Lolak, Paket II
Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara
746
Jembatan Teluk Kendari
Kendari, Sulawesi Tenggara
728
Bendungan Tamblang
Buleleng, Bali
700
Mobile Power Plant, Package 2
Biak, Nabire, Manokwari (Papua)
667
Selain proyek berjalan diatas, PTPP sebelumnya juga sudah menyelesaikan pembangunan Jembatan Holtekam dan pembangkit listrik mobile power plant di Jayapura, dan MPP di Kendari. Dan untuk kontrak yang baru diperoleh, maka dari nilai perolehan kontrak anyar sepanjang Januari – Juni 2019 senilai Rp14.8 trilyun, maka sejumlah proyek terbesarnya adalah juga berlokasi di WITA dan WIT, seperti lanjutan pembangunan kilang minyak di Balikpapan (Rp5.9 trilyun), smelter nikel di Kolaka, Sulawesi Tenggara (Rp700 milyar), dan Kereta Api Makassar – Parepare (Rp450 milyar).
Jadi kesimpulannya? Yup, dalam hal banyaknya proyek yang sudah selesai, yang sedang berjalan, dan yang akan datang, maka PTPP adalah penguasa di Wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Selain konstruksi, PTPP juga memiliki saham di Jalan Tol Balikpapan – Samarinda, Jalan Tol Manado – Bitung, dan Kereta Api Makassar – Parepare, masing-masing sebanyak 15%. Sehingga kalau kedepannya pemerintah lebih gencar lagi membangun infrastruktur di ibukota baru khususnya, dan WITA dan WIT pada umumnya, maka normalnya PTPP-lah yang akan ditunjuk, karena track record-nya sudah jelas. Dan fakta bahwa PTPP saat ini adalah BUMN konstruksi terbesar ketiga dari sisi aset, yakni setelah WSKT dan WIKA, juga menunjukkan bahwa perusahaan masih punya ruang yang lebar untuk bertumbuh lebih lanjut.

Pemandangan Jembatan Holtekam di Jayapura, Papua, ketika masih dalam tahap konstruksi, yang merupakan salah satu karya monumental PTPP di Wilayah Indonesia Timur.
Anyway, kesemua ulasan diatas adalah jika kita berbicara untuk jangka panjang, karena realisasi percepatan pembangunan infrastruktur di Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua tentunya akan butuh waktu lebih lama dari sekedar 1 – 2 tahun, demikian pula proses pemindahan ibukota akan butuh waktu setidaknya hingga 10 tahun kedepan. Disisi lain pergerakan saham-saham konstruksi, termasuk PTPP, terbilang sangat fluktuatif dalam jangka waktu yang lebih pendek, biasanya kalau ada sentimen negatif (jadi sahamnya kurang aman untuk jangka panjang). Termasuk saham PTPP pada tahun 2018 kemarin juga turun banyak karena adanya kekhawatiran bahwa kalau capres petahana kalah pada Pilpres di tahun 2019-nya, maka pembangunan infrastruktur akan berhenti.
Dan meski sekarang ini kekhawatiran terkait Pilpres itu sudah mereda, tapi toh PTPP dan juga saham-saham konstruksi lainnya belum masih kemana-mana lagi. Nevertheless, jika kita melihat fakta di lapangan, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan infrastruktur itu masih terus dikebut. Termasuk megaproyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung, yang sempat ditunda karena lokasi proyeknya berhimpitan dengan proyek Cikampek Elevated Toll Road, dan LRT Cawang – Bekasi, sejak beberapa bulan lalu juga sudah mulai digarap (oleh WIKA). Lalu terkait kinerja perusahaan, maka PTPP masih membukukan kenaikan pendapatan 12.8% pada Q2 2019 kemarin, sehingga meski labanya turun namun masih berpeluang untuk berbalik naik pada akhir tahun. Untuk perolehan kontrak anyar, manajemen juga masih optimis akan meraih kontrak senilai Rp50 trilyun di tahun 2019 ini, atau kembali meningkat dibanding Rp43 trilyun di tahun 2018.
Nah, jadi ketika sahamnya belum kemana-mana, maka artinya itu justru peluang. Dan kebetulan, pada harga Rp1,790 per saham, PBV PTPP hanya 0.9 kali, clearly undervalue untuk sebuah perusahaan dengan track record fundamental positif, sahamnya cukup populer dan likuid, dan dengan prospek jangka panjang yang menarik. Sebenarnya kalau berkaca pada pengalaman tahun 2018 kemarin, dimana PTPP sempat terus turun sampai mentok di 1,330 (PBV 0.6 kali) lalu baru kemudian naik lagi, maka kalau pasar nanti kumat lagi seperti di tahun 2018 tersebut (waktu itu IHSG turun sampai 5,700-an), maka pasar bisa saja men-diskon PTPP lebih lanjut. Namun demikian kalau kita bisa melihat agak jauh kedepan, maka reward yang ditawarkan PTPP tentu terlalu menarik untuk dilewatkan, terutama karena proyek pemindahan ibukota RI, yang notabene merupakan peristiwa bersejarah, normalnya tidak akan langsung dilupakan orang begitu saja, melainkan akan terus dibicarakan tidak hanya oleh investor saham, tapi juga masyarakat umum. Dan itu artinya, ada juga kemungkinan PTPP bakal menjadi APLN selanjutnya, if you know what I mean.
PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk
Rating Kinerja First Half 2019: BBB
Rating valuasi saham pada 1,790: A
Disclosure: Ketika analisa ini diposting, Avere sedang dalam posisi memegang PTPP di harga 1,840. Posisi ini bisa berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Ibukota Pindah: Sektor Apa Saja yang Diuntungkan?

Ketika Pemerintah Kerajaan Inggris secara resmi mengakui kemerdekaan Amerika Serikat (AS) pada tahun 1783, maka ibukota AS adalah di New York, dimana di kota itulah George Washington dilantik sebagai Presiden Pertama AS, tahun 1789. Namun segera setelah dilantik, Presiden Washington langsung mengusulkan pemindahan ibukota ke arah selatan, agar lokasi ibukota tersebut berada ditengah-tengah wilayah negara AS yang baru berdiri, sehingga diharapkan bahwa pembangunan akan tersebar lebih merata. Sebelumnya perlu diketahui bahwa pada abad ke-18, wilayah AS hanyalah di kawasan pantai timur mulai dari Kota Boston di utara, hingga Kota Jacksonville di selatan (jadi kawasan pantai barat dimana di kemudian hari berkembang menjadi kota Los Angeles atau San Francisco, ketika itu belum menjadi bagian dari AS). Sedangkan lokasi New York adalah tidak jauh dari Boston, sehingga dianggap ‘terlalu ke utara’.

***
Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

***

Jadi pada tahun 1790, ibukota AS pindah ke arah selatan, tepatnya Philadelphia. Dan pada tahun 1801, ibukota tersebut digeser lebih jauh ke arah selatan, yakni ke tanah kosong dekat Sungai Potomac, yang kemudian dibangun sepenuhnya sebagai kawasan pusat pemerintahan. Kawasan ini diberi nama District of Columbia atau DC, dan di kemudian hari namanya menjadi Washington DC, untuk menghormati George Washington sebagai founding father Amerika. Hingga pada hari ini, Washington DC masih menjadi ibukota AS, dan sudah menjadi kota besar. Sedangkan New York juga tetap berkembang sebagai pusat bisnis dan keuangan, dan actually sampai hari ini masih merupakan kota terbesar di AS, dan juga salah satu yang terbesar di seluruh dunia.
Selain AS, sejumlah negara lain juga pernah memindahkan ibukota mereka, biasanya dengan tujuan untuk memisahkan antara pusat pemerintahan dengan pusat bisnis dan ekonomi, dan/atau agar letak ibukota baru itu lebih berada di tengah-tengah wilayah negara. Sebut saja Jepang, dimana Istana Kaisar yang merupakan lambang ibukota negara, pada tahun 1868 dipindah dari Kyoto ke Tokyo, karena letak Tokyo lebih ke tengah-tengah Jepang itu sendiri. Lalu India, dimana sebelum tahun 1911, ibukota India adalah Kolkata (Calcutta), tapi kemudian dipindah ke Delhi dengan alasan yang sama dengan pemindahan ibukota Jepang diatas. Tahun 1927, giliran Australia membangun ibukota baru dengan lokasi diantara ‘dua ibukota’ lamanya yakni Melbourne dan Sydney, dan ibukota baru ini diberi nama Canberra. Kemudian Brazil, dimana ibukotanya pindah dari Rio de Janeiro ke Brasilia, pada tahun 1960. Dan terakhir pada tahun 1999, Malaysia juga memindahkan pusat pemerintahan dari Kuala Lumpur (KL) ke sebuah lahan sawit yang kemudian dibangun sebuah kota dengan nama Putrajaya, dengan alasan bahwa KL sudah terlalu padat.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Republik Indonesia (RI) juga sebenarnya pernah memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1946, lalu kembali pindah ke Bukittinggi (Sumatera Barat) pada tahun 1948, tapi alasannya ketika itu adalah karena Jakarta, disusul Jogja, sempat kembali dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Jadi setelah Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan RI di tahun 1950, maka ibukota kembali ke Jakarta, dimana Jakarta dipilih karena letaknya yang sangat strategis di Pantai Utara Jawa, dan sejarahnya sebagai pusat perdagangan nusantara. Namun kemungkinan karena berkaca pada negara lain yang memisahkan antara pusat pemerintahan dengan pusat bisnis/ekonomi, maka Presiden Sukarno sejak awal sudah memiliki gagasan untuk memindahkan ibukota dari Jakarta ke Palangkaraya (Kalimantan Tengah), dimana Palangkaraya dipilih karena letaknya yang di tengah-tengah wilayah RI.
Tapi karena satu dan lain hal, wacana itu tidak pernah terealisasi, dan Jakarta tetap menjadi ibukota RI. Dan setelah beberapa dekade, hal ini menimbulkan setidaknya satu dampak negatif: Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang tidak merata. Sebenarnya, jika saja pusat pemerintahan RI sudah pindah ke Palangkaraya sejak tahun 1960-an, maka Jakarta dan sekitarnya tetap akan tumbuh berkembang menjadi kota besar, karena kota pelabuhan ini sudah ramai bahkan sejak jamannya kompeni VOC di abad ke-16 (jadi sama seperti New York, Sydney, Rio de Janeiro dst yang tetap tumbuh menjadi kota besar meski mereka tidak lagi menjadi pusat pemerintahan). Tapi karena istana negara tetap berada di Jakarta, maka hanya Jakarta dan Pulau Jawa saja yang berkembang, sedangkan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia nyaris tidak berkembang karena jarang tersentuh pembangunan. Dan jika hal ini dibiarkan lebih lama lagi, maka cuma soal waktu saja sebelum wilayah-wilayah diluar Pulau Jawa akan memisahkan diri dari NKRI. Karena dari pengalaman penulis sendiri berkunjung ke sejumlah kota di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, maka ketersediaan infrastruktur disana memang jauh ketinggalan dibanding di Jakarta dan sekitarnya.

Penulis ketika jalan-jalan ke Pulau Kumala, Kota Tenggarong, Kalimantan Timur

Jadi ketika kemarin, tanggal 26 Agustus, Pemerintah secara resmi mengumumkan pemindahan ibukota dari Jakarta ke wilayah antara Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kertanegara di Provinsi Kalimantan Timur, maka penulis optimis bahwa hal ini akan berdampak positif terhadap Indonesia itu sendiri dalam jangka panjang, terutama dalam hal pemerataan pembangunan. Malah kalau berkaca pada negara-negara yang melakukan pemindahan ibukota diatas, dimana mereka kemudian sukses menjadi negara ekonomi maju (dari sejumlah negara yang disebut diatas, hanya India yang GDP per capita-nya dibawah Indonesia), maka ada harapan bahwa RI juga akan bisa menyusul mereka, meski tentunya itu akan butuh waktu.
Sektor-sektor yang diuntungkan
Okay Pak Teguh, lalu bagaimana dampak pemindahan ibukota ini terhadap investasi kita di saham? Dan adakah emiten tertentu yang diuntungkan atau dirugikan? Well, kalau dampak jangka pendeknya sih belum kelihatan, karena berbeda dengan kebijakan-kebijakan besar sebelumnya, misalnya dulu tahun 2016 waktu ramai cerita tax amnesty yang disambut positif oleh para pelaku pasar, maka soal pemindahan ibukota ini mungkin terdengar kurang menyenangkan bagi para politisi atau pelaku usaha yang selama ini menjalankan usahanya di Jakarta, sedangkan hampir semua perusahaan besar di Indonesia berkantornya ya disini. Kemudian kalaupun kita optimis bahwa pemindahan ibukota ini akan berdampak positif terhadap ekonomi nasional dalam jangka panjang, maka ingat pula bahwa prosesnya butuh waktu lama, paling cepat 5 – 10 tahun sampai semua unsur-unsur pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif) pindah semua ke Kalimantan.
Tapi kalau ada sektor-sektor yang bakal diuntungkan, maka kemungkinan itu adalah konstruksi dan properti, dan sektor pendukungnya seperti semen. You see, selama ini pengembangan properti hanya terpusat di Jawa, Bali, dan Sumatera, dimana jarang ada developer besar yang mau melirik Kawasan Indonesia Tengah dan Timur, karena prospeknya tidak jelas. Penulis sendiri banyak dengar cerita dari temen-temen yang kerja di minyak dan batubara di Kalimantan, dan dapet duit besar, tapi duit itu kemudian diinvestasikan dengan membeli tanah di Jawa, bukan di Kalimantan itu sendiri. Alhasil, meski secara GDP per kapita, Kalimantan Timur adalah provinsi terkaya kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta (karena disana memang sangat kaya sumber daya alam), tapi tetep saja disana sangat minim pembangunan, karena hampir semua duit yang dihasilkan dikirim dan diputar di Jawa.
Tapi dengan berpindahnya pusat pemerintahan, maka sektor properti di Kaltim harusnya akan mulai menggeliat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk pindahan dari sini, dan potensinya jelas terbuka lebar, mengingat penduduk Kaltim saat ini hanya 3.5 juta jiwa di daerah seluas 129 ribu KM persegi (sebagai perbandingan, luas seluruh Pulau jawa juga 128 ribu KM persegi, tapi penduduknya mencapai 135 juta jiwa). Dan tidak hanya Kaltim, tapi Kalimantan itu sendiri, plus Sulawesi dan Indonesia Timur pada umumnya akan menikmati pembangunan yang lebih merata, sehingga para developer yang selama ini hanya mondar mandir cari pembeli di Jawa, akan mulai melebarkan sayapnya kesana.
Selain properti, industri yang harusnya juga bisa berkembang pesat di masa depan adalah industri hilir dan manufaktur. Seperti yang kita ketahui, Kalimantan sangat kaya akan sumber daya alam seperti kayu, batubara, dan minyak, sedangkan di Sulawesi ada banyak cadangan nikel, bijih besi, dan di Papua kita punya emas, perak, dan tembaga. Tapi selama ini, kesemua SDA itu cuma digali saja lalu dijual langsung tanpa diolah terlebih dahulu menjadi produk bernilai tambah, karena para investor gak berani bikin pembangkit listrik di Kalimantan, misalnya, karena gak ada jaminan keamanan dll dari pemerintah (di Kaltim sangat melimpah batubara, yang merupakan bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap, tapi disana cuma ada tiga PLTU, dengan total kapasitas yang jauh lebih kecil dibanding Pulau Jawa). Tapi karena kantor pemerintah itu sendiri sudah pindah ke Kaltim, maka para perusahaan-perusahaan yang selama ini dengan gampangnya ambil SDA lalu jual, bisa dipaksa untuk membangun industri hilir di Kaltim khususnya, dan di Kawasan Indonesia Tengah dan Timur pada umumnya, sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Dan pengawasannya juga lebih mudah karena lokasinya lebih dekat.
Anyway, kesemua prospek diatas memerlukan waktu untuk terealisasi, dan itupun jika proses pemindahannya berjalan lancar (karena pasti ada saja pro dan kontra, dan memang yang mengkritik juga banyak). Sehingga kalau untuk jangka waktu katakanlah 1 – 2 tahun kedepan, maka belum akan ada dampak apa-apa dari pemindahan ibukota ini terhadap ekonomi nasional ataupun arah IHSG, atau bisa saja dampaknya justru buruk, yakni jika investor menganggap bahwa Jakarta, yang merupakan headquarters dari hampir semua perusahaan besar, akan mengalami kemunduran setelah tidak lagi menjadi ibukota (meski sebenarnya itu ngawur, karena lihat itu New York atau Sydney, yang sampai hari ini masih lebih besar dibanding Washington DC atau Canberra). Nevertheless, jika kita bisa melihat katakanlah hingga 10 – 20 tahun kedepan dan mengabaikan fluktuasi jangka pendek pasar, maka bagi penulis sendiri pemindahan ibukota ini menjadi another signal, bahwa sekarang inilah waktu terbaik untuk mulai berinvestasi di Indonesia, dan hanya di Indonesia saja (penulis sering sekali ditawari untuk invest di luar negeri/Amerika, tapi saya bilang saya maunya disini saja). Karena kalau nanti pembangunan benar-benar sudah merata, sehingga semua wilayah RI bisa mengoptimalkan potensi mereka masing-masing, maka ketika itulah Indonesia tidak lagi berstatus emerging market, melainkan developed country seperti layaknya negara maju lainnya. Mudah-mudahan!
***

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi September 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Inverted Yield Curve, dan Hubungannya Dengan Krisis Ekonomi

Menurut Investopedia, inverted yield curve, atau secara harfiah bermakna ‘kurva imbal hasil terbalik’, adalah kondisi dimana instrumen utang di Amerika Serikat, dalam hal ini US Treasury Bond (surat utang negara) dengan waktu jatuh tempo yang panjang memberikan hasil/bunga yang lebih kecil dibanding treasury bond jangka pendek. Disebut terbalik, karena normalnya obligasi jangka panjang (jatuh tempo diatas 10 tahun) memberikan bunga yang lebih besar dibanding obligasi jangka pendek (5 tahun atau kurang). Analoginya sama seperti kalau anda taruh deposito di bank, dimana semakin lama jangka waktu simpanannya, maka bunganya per tahun akan lebih besar.

***
Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.
***
Nah, kalau di Amerika sana, Pemerintah secara resmi merilis tingkat suku bunga harian treasury bond untuk bond mulai dari jangka waktu 1 bulan, hingga paling lama 30 tahun, dimana suku bunga ini berubah setiap harinya. Dan berikut ini adalah update tingkat bunga tersebut sepanjang bulan Agustus 2019, yakni tanggal 1 – 16 Agustus (untuk data lengkapnya, bisa lihat di link berikut):
Date
1 Mo
2 Mo
3 Mo
6 Mo
1 Yr
2 Yr
3 Yr
5 Yr
7 Yr
10 Yr
01/08/19
2.11
2.14
2.07
2.04
1.88
1.73
1.67
1.68
1.77
1.90
02/08/19
2.11
2.12
2.06
2.02
1.85
1.72
1.67
1.66
1.75
1.86
05/08/19
2.07
2.08
2.05
1.99
1.78
1.59
1.55
1.55
1.63
1.75
06/08/19
2.05
2.08
2.05
2.00
1.80
1.60
1.54
1.53
1.62
1.73
07/08/19
2.02
2.04
2.02
1.95
1.75
1.59
1.51
1.52
1.60
1.71
08/08/19
2.09
2.07
2.02
1.96
1.79
1.62
1.54
1.54
1.62
1.72
09/08/19
2.05
2.06
2.00
1.95
1.78
1.63
1.58
1.57
1.65
1.74
12/08/19
2.09
2.06
2.00
1.94
1.75
1.58
1.51
1.49
1.56
1.65
13/08/19
2.05
2.04
2.00
1.96
1.86
1.66
1.60
1.57
1.62
1.68
14/08/19
1.98
1.98
1.96
1.92
1.79
1.58
1.53
1.51
1.55
1.59
15/08/19
2.08
1.97
1.91
1.86
1.72
1.48
1.44
1.42
1.47
1.52
16/08/19
2.05
1.95
1.87
1.85
1.71
1.48
1.44
1.42
1.49
1.55
Seperti yang bisa anda lihat pada tabel diatas, tingkat suku bunga tahunan untuk US treasury bond jangka pendek (1 bulan, 2 bulan, hingga 1 tahun), ternyata malah lebih besar dibanding bunga untuk bond jangka panjang. Misalnya kita ambil data tanggal 1 Agustus, maka bunga bond 1 bulan tercatat 2.11%, atau lebih besar dibanding bunga bond 10 tahun, yang tercatat 1.90%.
Dan kondisi diatas adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi, dimana normalnya bunga US treasury bond untuk 1 bulan hanya 0.10 – 0.40% saja, atau jauh dibawah bunga bond 10 tahun, yang mencapai 3 – 4%. Tapi memang sejak tahun 2018 kemarin, bunga bond jangka pendek ini pelan-pelan mulai naik, sedangkan bunga bond jangka panjang sebaliknya pelan-pelan mulai turun. Hingga akhirnya pada tahun 2019 ini, bunga bond jangka pendek sudah lebih besar dibanding bond jangka panjang. Jadi ini sama seperti kalau anda taruh deposito di bank dan dapet bunga 3%, sedangkan untuk tabungan yang dananya boleh ditarik kapan saja, bunganya malah 4%. Masuk akal? Tentu tidak. Tapi di Amerika sana, itulah yang sedang terjadi sekarang ini.
Okay, jadi sekarang ada dua pertanyaan: 1. Apa penyebab anomali diatas? Dan 2. Apa hubungannya masalah suku bunga ini dengan kemungkinan krisis? Untuk itu, mari kita pelajari dulu tentang US treasury bond sejak awal. Okay, here we go.
Di AS, US treasury bond, alias surat utang negara yang dijamin langsung oleh pemerintah, dianggap sebagai instrumen investasi yang paling aman (safe haven), tapi disisi lain tingkat bunga atau yield yang ditawarkan tentu saja tidak sebesar obligasi swasta, atau potensi profit di saham. Besaran yield dari treasury bond ini berubah setiap saat tergantung demand/permintaan investor terhadap bond itu sendiri, dimana jika permintaannya meningkat maka harganya akan naik, dan alhasil yield-nya turun. Sementara jika permintaannya menurun, maka harganya akan turun, dan alhasil yield-nya naik.
Nah, dalam kondisi ekonomi AS yang normal dengan outlook yang juga stabil, maka investor akan lebih suka berinvestasi di saham atau obligasi swasta ketimbang menempatkan dana mereka di treasury bond, karena hasil profitnya lebih besar. Tapi jika para investor ini berpandangan bahwa ekonomi AS memiliki outlook jangka panjang yang suram, maka mereka akan mulai membeli treasury bond jangka panjang (10 tahun atau lebih), atau mengalihkan investasi mereka dari treasury bond jangka pendek ke jangka panjang, dalam rangka mengejar yield yang lebih besar. Namun ketika terjadi aksi beli besar-besaran terhadap bond jangka panjang (sehingga yield-nya turun), dan sebaliknya investor ramai-ramai melepas bond jangka pendek (sehingga yield-nya naik), maka itu bisa menyebabkan kondisi dimana yield untuk bond jangka pendek pada akhirnya menjadi lebih besar dibanding yield untuk bondjangka panjang, dimana kondisi ini disebut dengan istilah inverted yield curve (kita singkat saja jadi IYC). Dan memang pada tahun 2019 ini, itulah yang terjadi.
Inverted Yield Curve Sebagai Indikator Krisis
Okay, lalu apa hubungannya hal ini dengan kemungkinan terjadinya krisis? Well, itu karena berdasarkan sejarah sejak tahun 1950-an, setiap kali terjadi IYC, maka beberapa waktu kemudian terjadi market crash, atau minimal terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS. Jadi, berdasarkan pergerakan bursa saham New York, maka sejak tahun 1955 sampai sekarang, AS sudah mengalami setidaknya tujuh kali resesi/market crash, yakni pada Desember 1969 – Oktober 1970, November 1973 – Februari 1975, Februari 1980 – Juni 1980, Agustus 1981 – Oktober 1982, Agustus 1990 – April 1991, Februari 2001 – Oktober 2001, dan terakhir Desember 2007 – Juni 2009. Dan inilah yang menarik: Biasanya IYC terjadi sekitar 1 – 2 tahun sebelum market crash itu terjadi. Kita ambil contoh krisis global yang terjadi antara Desember 2007 – Juni 2009, maka IYC sudah kelihatan sejak penghujung tahun 2005, dan sepanjang tahun 2006. Demikian pula sebelum pasar jatuh pada tahun 2000 – 2001, maka IYC sudah kelihatan sejak tahun 1999-nya, dimana bunga untuk bond jangka waktu 1 tahun atau kurang sempat beberapa kali lebih tinggi dibanding bunga untuk bond jangka waktu 2 tahun atau lebih.
Berdasarkan fakta diatas, maka jika sejarah kembali terulang, artinya bursa saham New York akan runtuh paling lambat sekitar 2 tahun sejak IYC pertama kali muncul, akhir tahun 2018 kemarin. Dan kalau kita kombinasikan dengan faktor-faktor lainnya, maka teori tersebut menjadi masuk akal. You see, kejatuhan bursa saham hampir selalu diawali dengan kenaikan harga-harga saham yang sangat tinggi, hingga valuasi mereka menjadi sangat mahal (valuasi dari 30 saham komponen Dow Jones bisa dilihat disini). Dan karena Dow Jones sendiri sudah naik banyak dalam 10 tahun terakhir (dari 9,000-an pada Agustus 2009, hingga sekarang sudah 26,000-an. Sebagai perbandingan, selama 10 tahun sebelumnya yakni antara Agustus 1999 hingga Agustus 2009, Dow cenderung stagnan antara 9,000 – 11,000), maka menjadi tidak realistis jika investor di AS mengharapkan bahwa Dow akan kembali naik setinggi itu dalam 10 tahun kedepan, dan makanya mereka kemudian pindah ke US treasury bond jangka panjang, yang sudah pasti memberikan bunga 2 – 3% per tahun hingga 10 tahun kedepan.

Sehingga bagi Dow Jones, skenarionya sekarang hanya ada dua: Bergerak stagnan, atau turun. Kondisi pasar saat ini dimana ada banyak saham-saham teknologiyang, terlepas dari apakah perusahaannya making money atau tidak, namun mereka sukses menggelar IPO dengan perolehan dana yang amat sangat besar, dan setelah itupun sahamnya naik banyak (sebut saja: Facebook, Twitter, Uber, Alibaba, Snapchat, dst), juga mengingatkan investor dengan dot com bubble, yang menjadi penyebab jatuhnya bursa saham di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, pada tahun 2000 – 2001 lalu. Actually, ketika Dow Jones tampak naik banyak dalam 10 tahun terakhir, maka indeks Nasdaq, yang merupakan indeks khusus untuk saham-saham teknologi, naiknya lebih banyak lagi, dari hanya 1,500-an pada penghujung tahun 2008, hingga sekarang sudah tembus 8,000. Terlepas dari bagaimana prospek industri teknologi kedepannya, namun bagi investor yang katakanlah entah sudah cuan berapa kali lipat dari saham-saham seperti Amazon, Apple dst (karena dia sudah masuk sejak 5 – 10 tahun lalu), maka tentu ia akan mulai berpikir bahwa, it’s time to quit. Dan kalau mereka nanti ramai-ramai keluar, maka ketika itulah Opa Buffett akan mulai membelanjakan uang tunai US$122 milyar yang masih mengendap di Berkshire.

Logo Alibaba Group Holding, perusahaan dengan nilai IPO terbesar dalam sejarah (US$25 milyar)

Baiklah Pak Teguh, jadi kita harus gimana ini?? Well, pertama, karena secara historikal, krisis baru akan terjadi sekitar 1 – 2 tahun setelah IYC muncul, maka artinya bursa New York juga baru akan drop tahun 2020 atau 2021 nanti, itupun kalau terjadi peristiwa spesifik tertentu yang menjadi katalis krisis, misalnya ada perusahaan teknologi besar yang bangkrut (jadi sama dengan tahun 2008, dimana Lehman Brothers bangkrut). Sedangkan untuk saat ini, boleh anda cek, hampir semua indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian Amerika Serikat masih baik-baik saja. Kedua, berbeda dengan di Amerika sana dimana saham-saham teknologi jelas sudah overheat, tapi kalau di Indonesia, revolusi industri 4.0 justru baru dimulai, dan harusnya bisa mendorong ekonomi nasional untuk tumbuh lebih kencang lagi di masa yang akan datang. Yup, jadi kondisinya sekarang ini memang mirip dengan sebelum tahun 2008 lalu: Sekitar tahun 2007, ekonomi Indonesia lagi bagus-bagusnya, didorong oleh booming komoditas (batubara, dan sawit). Tapi ketika Dow Jones crash di tahun 2008-nya, maka mau tidak mau IHSG ikutan anjlok. Namun karena penurunan IHSG hampir sepenuhnya disebabkan oleh faktor eksternal (sedangkan fundamental ekonomi di dalam negeri masih aman-aman saja), maka di tahun 2009-nya, IHSG langsung naik lagi, bahkan dengan kenaikan yang mencetak rekor (87.0% dalam setahun).
Nah, jadi kalau nanti Bursa New York pada akhirnya jatuh juga (dan dalam setahunan terakhir, Dow memang sudah stagnan/tidak naik lebih tinggi lagi), maka IHSG juga akan jatuh, tapi kejatuhannya paling lama hanya beberapa bulan saja (pada tahun 2008, IHSG bergerak turun selama 9 bulan), sebelum kemudian naik lagi dengan cepat. Jadi kalau misalnya kita bisa masuk persis ketika IHSG berada di titik terendahnya, maka kita bisa saja menjadi Bapak Lo Kheng Hong selanjutnya! (atau sepersepuluhnya lah, itu lebih realistis) Nah, jadi entahlah dengan investor lain, tapi penulis saat ini justru excited. Karena setelah menunggu selama persis 10 tahun (sejak 2009), sepertinya kita akan segera menghadapi final test, yang menentukan apakah kita memang layak berada di pasar saham (yang kejam ini), atau tidak.
Problemnya tentu, kita tidak pernah tahu kapan Dow akan crash: Mungkin tahun ini, tahun depan, atau tahun depannya lagi. Atau bisa saja Dow tidak pernah crash, melainkan hanya stagnan/disitu-situ saja sampai tahun 2030 nanti. Atau anda mungkin punya tebakan sendiri?
***


Jadwal Value Investing Private Class: Jakarta, APL Tower Central Park, Sabtu/Minggu 28/29 September 2019. Info selengkapnya baca disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Rekaman Video Investor Gathering w/ BEI Jawa Barat

Dear investor, pada hari Rabu, 14 Agustus 2019, penulis memenuhi undangan dari BEI Jawa Barat untuk mengisi acara investor gathering & seminar di Hotel Grand Tjokro, Kota Bandung, dimana kita membahas tentang prospek dari sejumlah emiten (totalnya ada 42 emiten, tapi penulis hanya bahas yang menurut penulis fundamentalnya bagus saja) yang dalam waktu dekat akan menyelenggarakan public expose. Dan Alhamdulillah, pesertanya penuh, dan acaranya juga berjalan lancar. Dan penulis sengaja merekam video acara kemarin untuk diposting di Youtube, agar anda juga bisa ikut memperoleh materi seminarnya. Okey, here we go, mulai dari Part 1 sampai terakhir Part 6:



Sebelumnya mohon maaf karena kualitas videonya hanya seadanya (masih belajar cara bikin video yang bagus ini), namun untungnya suara penulis ketika menyampaikan materinya cukup jelas terdengar. Dan mudah-mudahan kalau nanti ada acara yang sama lagi, kita bisa buatkan video yang lebih baik.
***

Jadwal Kelas Value Investing: Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang. Jakarta & Surabaya, Sabtu 24 & 31 Agustus 2019. Pembicara Teguh Hidayat. Info selengkapnya baca disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Kemungkinan Resesi Global di Tahun 2020?

Dear investor, seperti yang disampaikan sebelumnya, Ebook Investment Planning (atau ‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2019 sudah terbit hari Jumat kemarin, 9 Agustus 2019, dan sudah bisa diperoleh di link berikut. Nah, kepada teman-teman yang mengambil ebooknya, penulis memberi kesempatan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan dan konsultasi seputar investasi saham. Dan hingga hari Selasa, 13 Agustus ini, saya sudah menerima cukup banyak pertanyaan tersebut. Jadi untuk pertanyaan yang penulis anggap mewakili pertanyaan dari banyak investor, kita sajikan lagi disini plus jawabannya. Okay, here we go.

***

Jadwal Kelas Value Investing: Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang. Jakarta & Surabaya, Sabtu 24 & 31 Agustus 2019. Pembicara Teguh Hidayat. Info selengkapnya baca disini.

***

Mengapa di ebook kuartal II ini belum ada saham batu bara sama sekali sedangkan banyak saham batubara sekarang yang valuasinya menarik (seperti HRUM dan ADRO)? Bukankah ini merupakan peluang untuk value investor agar dapat menjadi pemilik perusahaan di saat industrinya sedang tidak dalam ‘cyclenya’?
Betul bahwa batubara sekarang tidak sedang dalam cycle-nya, dan betul pula bahwa valuasi mereka sudah murah. Namun selama kinerja perusahaan masih kurang bagus, dan juga belum ada prospek yang jelas kedepan (misalnya karena harga batubara masih rendah), maka sahamnya belum akan naik dulu dalam waktu dekat ini (3 – 6 bulan kedepan), dan bisa saja malah lanjut turun. Kami masih terus memperhatikan perkembangan batubara, sehingga kalau memang nanti ada peluang bahwa sektor ini akan pulih maka baru ebooknya akan di-update lagi, mungkin di edisi Q3 atau Q4 nanti. Tapi untuk saat ini, kita lebih banyak fokus ke bluechip consumer, karena momentumnya ada disitu.
Setelah melihat laporan keuangan emiten BJTM, saya melihat bahwa ekuitas dan laba BJTM selalu naik terus, selain itu saya juga melihat bahwa perusahaan terus meningkatkan kinerja dengan mendigitalisasi layanannya (online banking, dan mobile banking etc) , dimana hal tersebut sangat baik untuk pertumbuhan perusahaannya. Tetapi di sisi lain jika saya melihat arus kas aktivitas operasi emiten BJTM, dalam 2019 ini arus kas aktivitas operasi BJTM selalu minus dalam 2 kuartal, dan setelah saya teliti minus in disebabkan karena adanya minus yg sangat besar pada “Tagihan Reverse Repo”. Nah setelah saya cari google tentang “Tagihan Reverse Repo”, saya pun tetap tidak mengerti, dan karena it butuh arahan dari pak teguh, apakah minus arus kas aktivitas operasi dari BJTM selama 2019 yg disebabkan oleh tagihan reverse repo ini adalah sesuatu yang buruk ke depannya? apakah bisa sangat mempengaruhi hrga saham dari emiten BJTM ini?
Yang dimaksud repo adalah ‘repurchase order’, atau pemberian pinjaman dengan jaminan surat berharga, entah itu saham atau lainnya, dengan janji bahwa saham itu akan dibeli kembali (repurchase). Dalam dunia perbankan, reverse repo adalah jika sebuah bank memberikan ‘pinjaman’ kepada bank sentral, dan bank tersebut kemudian memperoleh bunga. Disebut ‘reverse’, karena normalnya bank sentral-lah yang memberikan pinjaman ke bank, sehingga kalau dilakukan sebaliknya maka disebut reverse. Dalam kasus BJTM, BJTM memberikan pinjaman ke Bank Indonesia atau BI (BJTM kemudian memperoleh jaminan surat berharga dari BI, yang nanti akan dibeli kembali oleh BI), untuk kemudian memperoleh bunga dari situ. Ini adalah praktek yang umum dilakukan bank daerah seperti BJTM, karena mereka jarang memberikan pinjaman ke korporasi/perusahaan nasional (lebih banyak ke perusahaan daerah atau BUMD, tapi BUMD ini jumlahnya sedikit dan/atau kalau ada, tidak memenuhi syarat untuk menerima pinjaman), sedangkan jika semua kredit disalurkan dalam bentuk kredit konsumer (untuk PNS setempat), maka itu terlalu berisiko. Jadi kelebihan dana yang tidak tersalurkan dalam bentuk kredit, lebih baik ditempatkan di BI saja.
Jadi kalau cashflow BJTM minus karena tagihan reverse repo, artinya BJTM kembali menyetor ke BI karena sebelumnya sudah terikat perjanjian reverse repo tersebut (misalnya sudah ada perjanjian bahwa BJTM harus beli repo dari BI senilai sekian trilyun). Dan itu no problem, karena uang yang disetor ke BI ini nggak hilang, melainkan bisa ditarik lagi nanti.
Saya ada floating loss PTBA (avg 3475, harga skrg 2570) dan UNTR (avg 27500, harga skrg 23000) jadi floating loss sekitar 20-25%. Apa yg sharusnya dilakukan untk kedua emiten tsbt, apakah di hold aja atau cutloss ya pak?
Sayangnya PTBA pada harga diatas 3,000 memang sudah mahal, demikian pula UNTR waktu kita bahas di artikel ini, https://www.teguhhidayat.com/2019/05/prospek-united-tractors-setelah.html, kita katakan best price-nya di 22,000 (jadi 27,500 itu mahal). Namun karena outlook batubara sekarang lagi gak bagus, maka bahkan UNTR pun kita keluarkan dari ebooknya. Kami perkirakan dua saham ini masih akan lanjut turun, karena valuasinya sejak awal paling mahal dibanding saham-saham batubara lain (karena memang kinerjanya paling bagus), tapi disisi lain untuk tahun 2019 ini kinerja mereka sama gak bagusnya dengan ADRO dan lainnya.
Jadi mungkin PTBA jual saja dulu pak, tapi UNTR hold saja, karena masih ada kemungkinan penurunannya stop di 22,000 itu, atau serendah-rendahnya 20,000. Kemudian nanti lihat lagi 3 – 6 bulan kedepan: Meski untuk saat ini prospek batubara masih suram (karena harga batubara masih di $77 per ton), tapi berdasarkan pengalaman, sering juga terjadi harga batubara ini tiba2 naik sendiri, dimana kalau itu terjadi maka PTBA dkk akan naik lagi. Jadi kalau harus cut dua2nya di PTBA dan UNTR ini, maka kita akan nyesel kalau misalnya besok-besok harga batubara beneran naik. Tapi kalau tetap hold dua-duanya, maka bagaimana kalau batubara gak pernah naik dan dua saham itu turun terus? Karena itulah, jual satu saja diantaranya.
Bagaimana prospek Voksel Elecric, Tbk (VOKS) yang kinerjanya tengah menanjak. Dari LK Q2 2019, laba bersih yang disetahunkan menghasilkan ROE 21 %. Sementara dengan harga saham 332’an hanya mencerminkan PBV 1,28 dan PER 6 kali (Annualized). Apalagi ditengah pembangunan infrastruktur listik 35.000 MW dan saham KBLI – yang usahanya sejenis – sudah naik lebih 100%. Sementara VOKS masih belum naik terlalu banyak.
Problem terbesar dari usaha kabel adalah tidak ada jaminan bahwa kinerja bagus mereka akan berlanjut di tahun berikutnya, atau bahkan di kuartal berikutnya, dan itulah yang terjadi pada VOKS dan KBLI, dimana kedua perusahaan ini labanya bagus di tahun 2016 lalu, turun di 2017 dan 2018, dan baru naik lagi di 2019. Soal program pembangkit listrik 35,000MW juga tidak jadi jaminan karena ada banyak faktor lain yang berpengaruh, seperti harga bahan baku tembaga, atau kurs Rupiah (karena tembaga-nya harus impor). Sedangkan sekarang ini juga banyak isu bahwa impor akan dikurangi karena menyebabkan defisit perdagangan.
Karena itulah, untuk perusahaan seperti VOKS dan KBLI, biasanya kita lebih konservatif dengan berusaha membelinya pada harga serendah mungkin, misalnya PBV 0.7 atau maksimal PBV 0.9 kali. Kalau lebih dari itu maka relatif berisiko, jadi gak akan kita kejar. Dan faktanya seperti halnya KBLI yang beberapa waktu lalu pernah drop dari 750 sampai 250, maka VOKS juga pernah anjlok dari 360 sampai 150. And btw, VOKS juga sudah naik banyak, karena Juni 2018 lalu dia masih di 150, dan sekarang sudah 330.
Apa analisa efek keberhasilan penjualan ruas tol WSKT terhadap prospek WSKT kedepannya. Terlebih lagi WSKT merupakan perusahaan konstruksi dengan Market Cap terbesar diantara PTPP, WIKA dan ADHI?
Perlu diketahui bahwa sebagai konstruktor atau ‘tukang bangunan’, lingkup usaha WSKT adalah membangun jalan tol (milik Jasa Marga dll), jadi bukan memiliki dan mengelola jalan tol. Biasanya cara kerja WSKT adalah, perusahaan ikut tender pemerintah (atau perusahaan lain) yang hendak membangun jalan tol. Tapi karena pemerintah dalam beberapa tahun terakhir seperti ‘kejar tayang’ untuk membangun ruas-ruas tol dalam jumlah banyak, maka WSKT sering ditugasi untuk bangun saja dulu jalan tol-nya (pake duit sendiri, atau pinjaman), dan kalau sudah jadi maka baru dijual/cari investor yang bisa mengelola jalan tol tersebut, sehingga WSKT kemudian bisa kembali fokus ke bisnis utamanya, yakni konstruksi. Jadi ini sama seperti kontraktor yang karena belum dapet pesenan untuk bangun ruko, maka ia kemudian inisiatif bikin sendiri ruko-nya, lalu kemudian dijual. Perusahaan swasta biasanya gak akan berani melakukan ‘inisiatif’ seperti itu, karena gimana kalau jalan tol/ruko-nya gak laku dijual? Tapi WSKT tentunya didukung penuh oleh Pemerintah, jadi no problem. Untuk ruas-ruas tol yang masih dipegang, WSKT juga sudah menempatkannya di anak usaha PT Waskita Toll Road, sehingga manajemen induk perusahaan bisa tetap fokus ke usaha konstruksi.
Dengan melepas sejumlah ruas jalan tol-nya, maka WSKT punya cukup cash untuk kembali fokus ke proyek konstruksi selanjutnya, jadi prospeknya bagus. Cuma untuk tahun 2019 ini labanya turun signifikan karena laba di tahun 2018 kemarin memang sudah kelewat besar, sehingga sulit bagi perusahaan untuk membukukan laba yang lebih besar lagi. Karena itulah kita berpandangan bahwa PTPP dan ADHI lebih menarik, karena labanya masih berpeluang untuk naik.
Apakah jika trade war US vs China terus berlanjut maka akan berdampak pada penurunan IHSG lebih dalam dan peningkatan potensi terjadi resesi/ krisis ekonomi global di 2020?
Ada banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG, salah satunya terkait trade war ini, dan soal itu juga sudah disampaikan di ebooknya. Kalau dikatakan bahwa ini bisa menyebabkan krisis, harusnya sih nggak. Karena trade war ini bahkan sudah berlangsung sejak tahun 2017 lalu, tapi dampaknya sejauh ini hanya menyebabkan ekonomi global jadi stagnan saja, dimana pertumbuhan ekonomi dunia dalam beberapa tahun terakhir masih mandek di 2.5 – 3.0%. Tapi kata kuncinya adalah, ekonomi global tetap bertumbuh, hanya tidak sekencang yang diharapkan. Sebagai perbandingan, ketika terjadi krisis global 2008, maka pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2009-nya tercatat minus 1.7%.
Disisi lain, posisi Dow Jones memang sudah sangat tinggi, dan saham-saham disana sudah pada mahal semua. Bahkan Warren Buffett pun sekarang ini memegang cash lebih dari $122 milyar di Berkshire, karena ‘sudah tidak ada peluang investasi yang cukup bagus untuk saat ini’. Jadi kalau cerita trade war ini mencuat sedikit saja, maka itu bisa menjadi katalis bagi kejatuhan bursa-bursa saham di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Berdasarkan pengalaman bapak berapa persen komposisi saham bluechip, second liner maupun gorengan yang harus saya miliki di portofolio di tengah kondisi ekonomi dan IHSG yang tidak menentu ini?
Sebenernya itu tergantung pada profil risiko yang kita ambil, apakah agresif, moderate, atau konservatif. Jadi bukan tergantung kondisi pasar. Dan saya selalu merekomendasikan profil risiko yang moderate, yakni 40% bluechip, 40% second liner, dan hanya 20% saham-saham jangka pendek, dengan catatan saham jangka pendek ini juga tetap memenuhi kaidah value investing (misalnya meski kinerjanya gak begitu bagus, tapii valuasinya sangat sangat murah).
Namun kalau pasar lagi gak bagus, biasanya disitu ada peluang untuk masuk ke saham-saham bluechip, sehingga alokasi dana untuk bluechip bisa lebih besar. Sebab ketika nanti pasar kembali normal, maka biasanya ASII dkk yang bakal naik duluan.
Dimana saya bisa memperoleh daftar saham-saham dengan dividen yang besar? Seperti BJTM?
Pertama-tama buka website BEI, tepatnya pada  link berikut. Pada kode indeks, cari kode IDXHIDV20. Untuk tahunnya biarkan tahun 2019, lalu klik CARI (yang kotak merah). Nanti ketemu file-nya, download file terbaru yang bulan Juli. Nah, nanti dapet daftar resmi dari BEI, tentang 20 saham yang masuk indeks IDX High Dividen 20, untuk periode Agustus 2019 – Januari 2020. Ke-20 saham ini adalah ADRO, ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BBTN, BJBR, BJTM, BMRI, GGRM, HMSP, INDF, INKP, INTP, ITMG, LPPF, PTBA, TLKM, UNTR, dan UNVR.

Daftar ‘dividend stock’ versi BEI, klik gambar untuk memperbesar

Namun mungkin perlu dicatat bahwa, kalau melihat daftar sahamnya, maka saham yang masuk indeksnya adalah saham dari perusahaan yang membayar dividen cukup besar dibanding nilai laba bersihnya dalam satu tahun/dividend payout ratio-nya besar. DPR ini berbeda dengan dividend yield, yang menunjukkan perbandingan antara nilai dividen dengan harga saham. Selain itu, saham-saham yang di-cover sepertinya hanya bluechip saja, karena saham Sido Muncul (SIDO), yang jelas-jelas DPR-nya diatas 90%, malah gak masuk daftar. Dengan kata lain, menurut penulis daftar ‘saham dividen’ versi BEI diatas tidak akurat, tapi setidaknya bisa memberikan anda sedikit gambaran.
Pak Teguh, kenapa judul postingan kali ini gak nyambung sama isinya?
Karena entah kenapa penulis banyak menerima pertanyaan soal apakah Indonesia akan krisis atau semacamnya? Dimana setelah kita teliti lagi, itu karena sekarang ini ramai pemberitaan tentang isu Brexit yang katanya bisa menyebabkan krisis di Inggris, isu perang dagang, demonstrasi di Hong Kong, termasuk di Indonesia juga kemarin Bapak Jusuf Kalla menyebut soal siklus krisis 10 tahunan (yang kemudian menjadi headline), dan ramai berita PHK Duniatex dll. Jadi ya sekalian saja kita buat judul yang sama.
Tapi apakah betul kondisi ekonomi global, dan juga di dalam negeri, memang lagi krisis, atau menuju krisis? Nah, berhubung di blog ini juga kita sudah lama ngga bahas ekonomi makro, maka soal itu kita akan bahas lengkap minggu depan.
Bolehkah saya juga ikut mengajukan pertanyaan/mengajak diskusi?
Boleh, silahkan tulis saja melalui kolom komentar dibawah, nanti akan dibantu dijawab oleh temen-temen pembaca yang lain.
***


Buku Kumpulan Analisis 30 Saham pilihan (‘Ebook Investment Planning’) edisi Kuartal II 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

‘If You Wait Until You Know Everything, It’s Too Late!’

Salah satu cara untuk belajar dari value investor terbesar sepanjang masa, Warren Buffett (WB), adalah dengan menonton video seminar dan wawancaranya, dimana jumlahnya lumayan banyak sejak ia pertama kali masuk televisi sekitar tahun 1962 lalu. And thanks to Youtube, kita bisa menonton video tersebut setiap saat, kalau penulis sendiri biasanya di malam hari menjelang tidur. Nah, dari sekian banyak video, ada satu video wawancara yang menarik, yakni ketika WB pada tahun 2018 dimintai pendapat oleh reporter Wall Street Journal (WSJ) tentang krisis finansial di tahun 2008 di Amerika Serikat. Lebih jelasnya bisa dilihat pada link video berikut:

Seperti yang bisa anda lihat di videonya, si reporter mengajukan sejumlah pertanyaan yang umum ditanyakan oleh masyarakat banyak, seperti krisis 2008 itu apa penyebabnya? Siapa yang harus bertanggung jawab? Pelajaran apa yang anda ambil dari peristiwa krisis 2008? Seperti apa kondisi ekonomi saat ini (maksudnya tahun 2018)? Kira-kira akan seperti krisis berikutnya?
***
Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 sudah terbit! Dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut.
***
Dan WB kemudian menjawab berdasarkan sudut pandangnya sebagai investor yang sudah amat sangat berpengalaman. Contohnya, ketika ditanya siapa yang harus bertanggung jawab/harus disalahkan atas terjadinya krisis, maka WB menjawab bahwa ketika terjadi bubble di pasar modal lalu kemudian bubble tersebut meledak, menimbulkan kepanikan, dan pada akhirnya menyebabkan krisis, maka terjadinya bubble ini bukandisebabkan oleh segelintir orang saja, melainkan boleh dikatakan bahwa hampir semua orang di pasar modal menyebabkan bubble tersebut, biasanya didorong oleh ilusi bahwa ‘harga saham selamanya akan terus naik’, atau semacamnya. Para investor/trader saham ini seperti Cinderella yang pergi ke pesta dansa yang menyenangkan, dan mereka tidak mau meninggalkan lantai dansa hingga persis tengah malam, ketika sebenarnya itu sudah terlambat.
Kemudian ketika ditanya, pelajaran apa yang anda ambil dari peristiwa krisis 2008? Maka menurut WB, ia tidak mempelajari hal yang baru karena krisis itu sama saja seperti krisis-krisis sebelumnya, yakni diawali dari bubble, orang berspekulasi membeli rumah/saham menggunakan dana pinjaman, bubble tadi meledak, terjadi kepanikan, dan akhirnya krisis. Kita beruntung karena Pemerintah AS sangat cepat tanggap, mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, yang mencegah krisis menjadi lebih buruk lagi.
Namun bagi sebagian orang, jawaban WB diatas terdengar normatif karena tidak mewakili pendapat umum di masyarakat. Seperti yang kita ketahui, krisis besar di tahun 2008 telah menyebabkan banyak perusahaan bangkrut, jutaan investor merugi atau kehilangan tabungan mereka (tabungan mereka di bank menjadi nol, karena bank-nya tutup), dan jutaan lagi bahkan kehilangan pekerjaan serta tempat tinggal mereka, dan krisis itu kemudian juga menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Bagi banyak orang, harusnya ada sekelompok orang yang bertanggung jawab atas semua musibah diatas, dan mereka harus masuk penjara. Jadi sama seperti kalau terjadi kecelakaan kendaraan bermotor, maka pasti ada yang bisa disalahkan, entah itu si supir atau lainnya.
Tapi apa kata WB? Ternyata ia tidak menyalahkan siapapun, malah menyebut bahwa terjadinya krisis itu adalah karena tindakan para pelaku pasar itu sendiri. Kemudian soal pelajaran apa yang bisa diambil, ia seperti menyebut bahwa krisis 2008 itu adalah peristiwa yang biasa-biasa saja, yang sudah pernah atau bahkan sering terjadi sebelumnya. Dan WB bahkan memuji para pejabat/politisi AS yang menurutnya telah melakukan tindakan yang tepat, ‘a fantastic job’, sehingga krisis yang terjadi tidak menjadi lebih buruk. Sebuah jawaban yang tentu saja sangat berlawanan dengan mayoritas opini publik, yang menilai bahwa terjadinya krisis 2008 itu adalah karena ulah serakah para politisi, The Fed, bankir, dan semacamnya. Anda bisa baca komentar-komentar di video Youtube-nya, rata-rata menyebut bahwa WB ‘explains nothing’, atau bahwa ‘he knows more than he’s saying’.
Cara Berpikir Investor dibanding Non-Investor
Actually, jika penulis adalah seseorang yang tidak pernah membeli saham dan juga tidak tahu apa itu PE ratio, tapi merasa sudah sangat mengerti tentang ekonomi dan pasar modal karena sudah menonton film ‘Inside Job’ dan ‘The Big Short’, maka penulis juga mungkin akan memberikan komentar yang sama: Warren Buffett explains nothing. Saya bahkan mungkin bisa menjelaskan tentang krisis 2008 secara lebih spesifik, berdasarkan referensi dari dua film diatas.
However, kalau saja anda adalah seorang investor pasar modal yang sudah berinvestasi sejak 10 atau 20 tahun yang lalu, dimana selama itu anda entah sudah berapa kali membeli (dan menjual) saham, menikmati sejumlah profit, menderita rugi, melihat pasar/saham terbang, dan sebaliknya menyaksikan IHSG anjlok dan pasar dilanda kepanikan, maka kira-kira apakah anda akan juga menganggap bahwa WB tidak menjelaskan apa-apa? Karena sebagai investor yang lebih banyak berkecimpung di bursa saham, WB mungkin memang tidak terlalu memahami soal subprime mortgage bubble di AS, yang merupakan penyebab spesifik dari krisis 2008, dan karenanya ia tidak banyak bicara tentang subprime mortgage tersebut. Namun ia paham satu hal: Ketika 50 juta dari 75 juta pemilik rumah baru di AS membeli rumahnya menggunakan pinjaman/mortgagedengan jangka waktu sangat panjang (diatas 30 tahun) dan dengan bunga yang amat sangat rendah, kemudian pihak bank menjual mortgage backed securities ke masyarakat dengan jaminan mortgage diatas, lalu uangnya diinvestasikan ke saham hingga harganya menjadi melambung, maka itu adalah bubble, dan bubble ini pasti akan meledak suatu hari. Jadi sama saja dengan dot-com bubble, stock market bubble di tahun 1929, south sea bubble, tulip mania, dan seterusnya, dimana kesemua bubble tersebut (yang kemudian disusul dengan ledakan atau burst) adalah bagian yang normal dari sebuah siklus ekonomi jangka panjang (ada tulisan yang bagus sekali di Wikipedia berjudul ‘business cycle’, bisa anda baca sendiri).
Kemudian soal pelajaran apa yang bisa diambil dari krisis 2008? Maka sebagai investor yang entah sudah menyaksikan dan mengalami berapa kali market crash sejak tahun 1950-an, termasuk mungkin juga sudah mendengar kisah tentang US Great Depressiondi tahun 1930-an dari ayahnya sendiri (ayah WB, Howard Buffett, adalah seorang broker saham sejak tahun 1925, sekitar 5 tahun sebelum WB lahir di tahun 1930), maka bagi seorang WB, krisis 2008 itu cuma ‘just another market downturn, nothing special’. Tapi jawaban seperti itu tentu saja tidak bisa dipahami oleh investor yang lebih baru, yang baru pertama kali menghadapi krisis di tahun 2008 tersebut, dan bukan tidak mungkin ada banyak diantara mereka yang gagal melewatinya (baca: rugi habis-habisan, lalu menutup rekeningnya sama sekali). Sehingga ketika WB seperti menganggap krisis 2008 sebagai peristiwa yang biasa-biasa saja, maka mereka mungkin akan mengernyitkan dahi, ‘Are you kidding me???’
Nah, dari sini kita bisa lihat bagaimana perbedaan cara pandang dari seorang investor yang sarat pengalaman dengan orang awam atau investor pemula, ketika mereka melihat peristiwa krisis atau semacamnya. Dan perbedaan cara pandang ini menjadi sangat krusial karena terkait langsung dengan tindakan yang dilakukan oleh seorang investor ketika krisis itu terjadi, dimana ketika banyak orang kabur dari pasar pada tahun 2008, WB ketika itu justru belanja banyak. Sebenarnya, WB bisa saja mengatakan di interview-nya bahwa ketika bursa saham AS anjlok pada bulan September – Oktober 2008, maka itu adalah kesempatan yang sangat baik untuk belanja saham (dan ia benar-benar melakukannya), tapi pada akhirnya ia tidak mengatakan itu. Karena ia sadar bahwa, jangankan belanja saham, sebagian besar investor pada tahun 2008 tersebut bahkan harus struggle untuk tidak kena margin call (karena mereka beli saham pakai margin). Sebab ketika Berkshire Hathaway (BRK) senantiasa menjaga posisi utang di level serendah mungkin, dan cash minimal di level 20% sehingga mereka selalu punya ‘amunisi’ untuk tambah posisi, maka sebagian besar investor lainnya di Bursa New York, baik itu individu maupun institusi, mereka tidak hanya menggunakan semua uang kas yang mereka miliki untuk membeli saham, tapi juga menggunakan uang pinjaman/margin.
Thus, ketika pasar kemudian drop dan para investor ini rugi besar-besaran, maka mereka berteriak, ‘Seseorang harus bertanggung jawab!’ Sedangkan WB, meski ia juga merugi di tahun 2008 tersebut (sepanjang tahun 2008, book value per share BRK tumbuh minus 9.6%), tapi ia tidak menyalahkan siapapun, dan justru memanfaatkan peristiwa krisis tersebut untuk membeli membeli saham-saham bagus di harga obralan, untuk kemudian disimpan dalam jangka panjang.
If you wait until you know everything, it’s too late!
Namun yang paling menarik adalah pernyataan WB terkait kepanikan yang timbul ketika krisis mencapai puncaknya pada sekitar bulan September 2008, dimana ia kurang lebih mengatakan sebagai berikut:
‘Ketika bursa saham anjlok, kesemua indikator ekonomi menunjukkan angka negatif, maka pasar akan panik, tapi masalah sebenarnya bukan disitu. Melainkan, ketika pasar panik, maka rumor negatif akan beredar dimana-mana dan itu semakin menambah kepanikan yang terjadi, dan semua orang kemudian hanya duduk menunggu soal peristiwa/berita/informasi apa yang akan muncul selanjutnya. Tapi saya tidak melakukan itu. Karena jika anda menunggu hingga anda akhirnya mengetahui semuanya (tentang apa yang sedang terjadi di bursa saham), maka itu sudah terlambat’.
Pada video wawancara lainnya, WB mengatakan, ‘Saya tidak mencoba untuk menebak kapan waktu yang tepat untuk membeli saham. Yang saya lakukan hanya menilai apakah sebuah saham (dari perusahaan bagus) sudah murah atau belum. Pada Oktober 2008, saya banyak membeli saham karena menilai harga mereka sudah sangat murah, tapi kenyataannya DJIA turun lebih dalam lagi hingga akhir tahun, dan baru naik lagi sekitar setengah tahun kemudian.’
Jadi kesimpulannya, pertama, untuk bisa memahami jalan berpikir seorang WB atau investor kawakan lainnya, maka pertama-tama kita juga harus menjadi seorang investor yang berpengalaman terlebih dahulu, minimal selama beberapa tahun, karena ada banyak hal dan peristiwa di dunia investasi pasar saham ini yang hanya bisa dimengerti setelah kita mengalaminya sendiri. Kedua, dalam perjalanan ‘menabung pengalaman’ sebagai investor, maka kita awalnya akan menganggap bahwa kita harus membaca dan mengetahui semua info/berita yang beredar tentang subprime mortgage dll, agar kemudian bisa mengambil keputusan investasi yang terbaik, tapi pada akhirnya nanti kita akan sama seperti WB, yang tidak berusaha untuk mengetahui segalanya dengan cara menangkap semua informasi, rumor, dan pemberitaan yang beredar di pasar (karena logika saja: Anda tidakakan bisa melakukan itu). Melainkan, strategi investasi WB justru sangat sederhana (meski pada prakteknya tidak semudah itu juga), yakni: 1. Jangan beli saham pakai utang, 2. Jika kita memandang saham-saham sudah pada mahal, atau indikasi bubble mulai tampak, maka segera siapkan sejumlah cash lalu tunggu, dan 3. Ketika kemudian pasar anjlok dan saham-saham sudah sangat murah, maka ketika itulah kita bisa belanja kembali.
Terakhir, ketiga, investor yang sejak awal sudah pegang cash sekalipun seringkali berusaha menebak-nebak, soal kapan waktu terbaik untuk belanja saham lagi. Namun yang WB lakukan hanya mencari value deal terbaik, dan kalau ketemu maka ia akan mengeksekusinya saat itu juga. Mengabaikan faktor timing ini seringkali menyebabkan porto WB tampak nyangkut untuk sementara (misalnya ketika BRK belanja banyak saham di bulan Oktober 2008, tapi DJIA justru turun banyak hingga bulan Desembernya), tapi itu masih lebih baik daripada tunggu pasar pulih dulu lalu baru masuk, karena itu artinya sudah terlambat.
Oke Pak Teguh, lalu sebenarnya kenapa panjenengan posting artikel ini sekarang? Well, soal itu silahkan ente tafsirken sendiri.
Jadwal Kelas Value Investing: Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang: Jakarta & Surabaya, 24 & 31 Agustus 2019. Info lengkapnya baca disini, tersedia diskon earlybirduntuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 10 Agustus.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Investasi vs Melunasi Utang: Mana Yang Harus Didahulukan?

Kemarin penulis menerima satu pertanyaan menarik, ‘Pak Teguh, saya seorang karyawan yang tiap bulan menyisihkan gaji untuk diinvestasikan di saham. Disamping itu saya juga menerima bonus tahunan diluar gaji sebesar kurang lebih Rp60 juta. Uang bonus ini sebaiknya saya setor juga ke sekuritas, atau dipakai untuk melunasi utang terlebih dahulu? Soalnya rumah saya masih KPR, dan juga masih ada cicilan mobil.’ Nah, berhubung sekarang ini investasi saham tidak lagi monopoli para pengusaha yang biasanya gak punya masalah dengan cashflow sehari-hari dan juga gak punya utang pribadi (kecuali terkait usahanya), melainkan juga para karyawan atau bahkan juga mahasiswa yang masih belajar mengatur keuangan, maka pertanyaan ini menjadi penting untuk dijawab. Okay, kita langsung saja.

***
Jadwal Kelas Value Investing: Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang, Jakarta & Surabaya, 24 & 31 Agustus 2019. Info selengkapnya baca disini.
***
Terkait pertanyaan diatas, maka kalau anda sudah lama mengikut blog Indonesia Value Investing ini, anda mungkin bisa langsung menebak jawaban penulis: Sebaiknya lunasi dulu semua utang, lalu baru invest. However, beberapa perencana keuangan mungkin menyarankan hal yang berbeda. Contohnya kalau anda punya cicilan KPR rumah dengan bunga 9 – 12% per tahun, kemudian anda sewaktu-waktu dapet bonus dari kantor, maka gak apa-apa kalau uang bonus tadi tidak dipakai untuk melunasi KPR, melainkan langsung dibelikan saham saja. Sebab dengan strategi investasi yang konservatif saja, misalnya dengan hanya membeli saham-saham bluechip (BBCA dkk), maka kita bisa dapet 20 – 25% per tahun, alias lebih besar dibanding bunga KPR tadi. Sehingga kalau kita pakai uang bonus tadi untuk melunasi KPR, maka kita boleh dibilang ‘rugi cuan’ sekitar 11 – 13% per tahun. Atau bahkan, penulis pernah mendengar seorang ‘pakar’ mengatakan bahwa kalau anda punya rumah (yang sudah lunas, jadi gak ada cicilan KPR lagi), maka sertifikat rumah itu bisa digadaikan saja. Karena nantinya anda cuma perlu bayar bunga 8 – 9% per tahun ke bank, sedangkan uang hasil gadainya bisa diputar di saham dan menghasilkan cuan setidaknya 20% per tahun, belum termasuk dividen.
Nah, sejumlah saran diatas mungkin terdengar masuk akal. Dan kalau misalnya anda memperoleh gaji bulanan yang nilainya jauh lebih besar dibanding cicilan KPR (plus cicilan-cicilan lainnya, kalau ada), sedangkan anda tahu bahwa anda akan terus menerima gaji tersebut, maka kenapa juga harus buru-buru melunasi utang-utang tadi? Tapi penulis sendiri tetap menjawab seperti diatas: Lunasi dulu semua utang, lalu baru invest. Dan terdapat setidaknya dua argumen untuk itu. Pertama, memang benar bahwa kalau kita invest di saham, secara konservatif kita bisa memperoleh rata-rata profit kurang lebih 20% per tahun. Kalau kita ambil contoh beberapa saham populer seperti BBCA, BBRI, hingga TLKM, maka dalam 10 tahun terakhir atau lebih lama lagi, CAGR (compounding annual growth rate) saham-saham tersebut berkisar antara 15 – 20% per tahunnya, belum termasuk dividen.
Masalahnya adalah, bahkan untuk ‘saham-saham super’ diatas sekalipun, kenaikan mereka tidak konsisten dari tahun ke tahun. Contohnya BBRI, yang meski CAGR-nya dalam 10 tahun terakhir mendekati 20%, tapi jangan bayangkan bahwa BBRI secara konsisten terus naik sebesar 20% setiap tahun sejak tahun 2009 lalu sampai sekarang, melainkan pernah pada tahun 2016 lalu BBRI hanya naik 4%. Demikian pula kalau anda ambil saham lain, dimana dengan asumsi saham tersebut bergerak naik dan turun sesuai dengan pergerakan IHSG, maka ingat bahwa dalam 10 tahun terakhir, IHSG pernah ditutup turun pada akhir tahun sebanyak tiga kali, yakni tahun 2013, 2015, dan 2018 lalu.
Nah, jadi katakanlah anda menggadaikan rumah dimana anda kemudian harus bayar bunga sekian persen per tahun, tapi di tahun tertentu investasi saham anda minus karena IHSG-nya juga lagi jeblok. Maka apakah orang bank untuk tahun itu tidak akan menagih cicilan, karena tahu bahwa anda sedang rugi? Nggak kan?? Namanya bank ya gak mau tau: Mau investasi anda untung atau rugi, itu cicilan harus tetap dibayar! Kalau nggak, ya siap-siap aja balik lagi ke rumah mertua, karena rumah anda akan disita.
Itu pertama. Kedua, pernahkah anda berpikir bahwa bahkan kalaupun anda tidak punya cicilan, maka anda tetap harus keluar uang secara rutin setiap bulannya, yakni untuk kebutuhan sehari-hari? Nah, pernahkah anda melihat bahwa biaya yang keluar untuk makan, transport, pulsa internet, bayar listrik, dll, itu juga sebenarnya merupakan utang? Seperti halnya cicilan KPR tadi, ‘utang’ dalam bentuk kebutuhan sehari-hari ini juga mau tidak mau harus kita bayar secara rutin, tanpa ada jeda libur sama sekali (kecuali kalau anda sekeluarga berhenti makan selama katakanlah 1 minggu, tapi kan itu gak mungkin), dan biasanya pula dengan nilai yang meningkat dari waktu ke waktu. Contohnya kalau anak anda sebelumnya masih SD, maka biaya sekolahnya adalah sekian, tapi ketika dia naik jenjang ke SMP, maka otomatis biayanya akan naik. Dan seterusnya.
Jadi maksud penulis adalah, bahkan kalaupun anda tidak punya cicilan apa-apa, maka anda sejatinya tetap memiliki ‘cicilan utang’ dalam bentuk tanggungan bagi diri anda sendiri dan keluarga, termasuk untuk tunjangan pensiun nanti. Sudah tentu, asalkan anda memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak, maka biaya sehari-hari ini harusnya tidak akan jadi masalah. Tapi kecuali jika anda adalah pengusaha yang seperti penulis sebut diatas, gak punya masalah dengan cashflow sehari-hari (seorang pengusaha biasanya tanggungannya tidak lagi hanya sebatas dirinya dan keluarganya sendiri, tapi juga para karyawannya), maka soal ‘utang kebutuhan sehari-hari’ ini tetap harus diperhatikan, agar tidak sampai terjadi kondisi besar pasak daripada tiang. Karena gaji dan bonus sebesar apapun sebenarnya percuma saja kalau pengeluarannya lebih besar lagi, terutama jika anda tinggal di kota besar yang apa-apa serba mahal, dan terdapat tuntutan gaya hidup.

Nah, soal agar tidak terjadi kondisi besar pasak tadi, maka ada banyak yang bisa dilakukan, biasanya dengan menekan pengeluaran. Contohnya kalau anda selama ini makan di kantin kantor yang mahal, maka bisa mulai bawa bekal dari rumah, dan anda beralih dari nyetir mobil sendiri ke naik MRT (kita akan bahas ini lebih lanjut di lain kesempatan).

Tapi beda ceritanya kalau anda punya utang: Angka cicilannya ya tetap segitu, gak bisa kurang, dan juga gak bisa ditunda pembayarannya. Dalam banyak kasus, ini bisa menyebabkan seseorang menjadi merasa tertekan, misalnya jika sewaktu-waktu timbul kebutuhan mendadak sehingga sisa gaji yang ada tidak cukup untuk membayar cicilan tersebut. Nah, jadi menurut anda sendiri, apakah seorang investor akan bisa fokus pada kegiatan investasinya, jika di waktu yang bersamaan ia juga harus mikir soal bagaimana menutup tagihan utang-utangnya? Perlu diketahui bahwa di perusahaan besar sekalipun, maka asalkan perusahaan itu tidak memiliki utang yang tidak bisa dibayar, maka mereka tidak akan sampai bangkrut, tak peduli meski mereka membukukan rugi besar pada tahun-tahun tertentu.

Okay Pak Teguh, I got it. Jadi intinya kalau ada rejeki lebih, sedangkan kita masih punya utang tertentu, maka kita lunasi dulu utang tersebut, dan kalau ada sisanya baru disetor ke sekuritas.
Cuma masalahnya pak, gaji saya tiap bulan ya segitu-gitu aja, tanpa ada bonus sama sekali. Sehingga mau melunasi utang KPR itu juga nggak bisa karena memang gak ada duitnya. Kalau gitu gimana dong? Nah, dalam hal ini maka anda tidak perlu buru-buru melunasi utang KPR, karena meski memang jadinya kita tetap terbebani oleh cicilan beserta bunga, tapi sebagai gantinya kita memperoleh aset fisik berupa rumah. Menurut penulis sendiri, adalah sangat penting bagi investor untuk memiliki aset fisik, dalam hal ini rumah. Karena aset berupa rumah ini nilainya akan naik dari tahun ke tahun, atau minimal tidak akan turun, sehingga itu menjadi semacam bumper bagi portofolio kita di saham, yang nilainya bisa naik dan turun setiap saat. Dengan kata lain, kita boleh saja rugi besar di saham, entah itu karena IHSG anjlok, salah masuk di AISA, atau memang kita masih harus banyak belajar saja. Tapi selama kita masih punya tanah untuk berpijak, maka itu sudah lebih dari cukup. Sekedar catatan, setiap kali Majalah Forbes menghitung nilai kekayaan seorang tokoh investor/pengusaha, maka aset-aset berupa tanah, pabrik, kepemilikan saham perusahaan dll semuanya dihitung, kecuali nilai dari tempat tinggal utama (primary residence) yang ditempati oleh si pengusaha itu tadi (jadi nilai primary residence ini dianggap nol). Karena sebangkrut-bangkrutnya si pengusaha, gak mungkin juga dia sampai menjual rumahnya kemudian pindah ke kontrakan bukan?
Karena itu pula, ketika penulis cuan besar untuk pertama kalinya di tahun 2011, maka yang pertama-tama saya lakukan adalah membeli rumah kecil di Jakarta Selatan secara tunai, dan setelah itu baru fokus lagi di saham. Tapi andaikan penulis tidak punya rejeki lebih untuk membeli rumah secara tunai, maka saya akan tetap mengangsur secara KPR, karena itu tadi: Meski porto kita di saham bisa naik dan turun setiap saat, namun kita akan tetap tenang dan rasional dalam mengelola portofolio, karena sadar bahwa dalam kondisi terburuk sekalipun, maka paling tidak kita masih punya atap untuk berteduh. Actually, ini juga kenapa penulis masih bertahan di pasar sampai hari ini, dan sama sekali tidak tertarik dengan metode investasi ataupun instrumen investasi lain diluar saham, tak peduli meski entah sudah berapa kali kita menghadapi goncangan pasar.

Home sweet home. Selain di Jakarta, sejak tahun 2017 lalu penulis juga punya satu lagi rumah di Bandung, Jawa Barat. Diluar dua aset fisik ini, barulah semua cash kita taruh di saham.

Okay, jadi kesimpulannya kalau anda punya rejeki lebih, maka sebelum telpon broker untuk setor lagi, terlebih dahulu lunasi semua atau sebagian utang yang anda tanggung, dan milikilah aset fisik dalam bentuk primary residence. Sedangkan kalau penghasilan anda masih terbatas, maka coba cek lagi: 1. Apakah anda sudah memilik aset fisik, minimal dalam bentuk rumah yang masih dalam kredit KPR? Dan 2. Apakah anda punya utang yang tidak terlalu perlu, misalnya cicilan mobil, sedangkan anda sejatinya bisa beli mobil second yang lebih murah secara tunai? Jika jawabannya adalah 1. Belum gan, dan 2. Iya punya, then you know what to do.
Jadwal Kelas Value Investing: Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang, Jakarta & Surabaya, 24 & 31 Agustus 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon earlybird bagi peserta yang mendaftar sebelum tanggal 10 Agustus.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

Seminar Value Investing Advanced, Surabaya, 1 September 2019

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing, Advanced’, di Surabaya, Minggu 1 September 2019. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi terkait strategi menghadapi koreksi pasar, cara menemukan saham atau sektor yang bakal ‘naik panggung’, cara merespon aksi korporasi emiten, dst. Berikut materi selengkapnya:

Pembicara: Teguh Hidayat
Materi Utama:
  1. Cara membaca arah pasar/IHSG berdasarkan pendekatan value investing, apakah sedang bullish, bearish, atau sideways, termasuk bagaimana strategi ‘survive’ dalam kondisi koreksi IHSG/market crash,
  2. Strategi investasi pada saham-saham yang perusahaannya melakukan aksi korporasi, seperti right issue, private placement, akuisisi/merger, divestasi, dst,
  3. Cara membaca sektor apa yang bakal ‘naik panggung’ pada tahun tertentu, sehingga kita bisa beli saham-saham di sektor tersebut ketika harganya masih murah,
  4. Cara mengidentifikasi saham-saham yang berpeluang untuk naik 100% dalam waktu 1 tahun atau kurang, namun disisi lain risikonya tetap terbatas (cara untuk membedakan saham murah dan murahan),
  5. Cara cepat untuk menemukan poin-poin ‘manipulasi’ dalam laporan keuangan,
  6. Cara membedakan berita yang bersifat rumor, dengan berita sungguhan/yang benar-benar berpengaruh terhadap fundamental perusahaan, serta bagaimana cara menyikapinya,
  7. Cara menyusun portofolio yang ideal, yang terdiversifikasi serta seimbang antara risk and reward, termasuk cara memilah-milah saham untuk di-hold dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, dan
  8. Lebih detail soal cara menentukan kapan waktu terbaik untuk buy and sell, termasuk bagaimana strategi untuk average up dan average down.
Setelah sebelumnya turun terus, saham-saham batubara naik luar biasa hanya dalam waktu 2 tahun. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita bisa curi start dengan masuk ke saham-saham batubara ketika harganya masih dibawah, tahun 2016 lalu?
Bonus Materi Tambahan:
  1. Sharing pengalaman penulis (Teguh Hidayat) sebagai investor sejak tahun 2009, termasuk ketika IHSG drop di tahun 2013, 2015, dan 2018.
  2. Tips untuk investasi/menabung saham dengan cara menyetor rutin setiap bulan ke sekuritas, sehingga nilai porto anda akan menjadi besar dan menghasilkan profit yang besar pula (dalam Rupiah) setelah 5 – 10 tahun, dan
  3. Cara mendidik putra putri anda untuk berinvestasi sejak dini.
Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita gak cuma bicara teori disini, tapi akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
***
Okay, berikut jadwal selengkapnya:
    SURABAYA
    • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya
    • Hari/Tanggal: Minggu, 1 September 2019
    Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break & snack, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
    ***
    Biaya untuk ikut acara ini hanya Rp1,350,000. Dan berikut cara daftarnya:
    1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
    Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
    Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
    Semuanya atas nama Teguh Hidayat.
    Jika anda mendaftar untuk 2 peserta, maka biayanya tinggal dikali 2 saja.
    2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Advanced Surabaya (sebutkan salah satu kota) dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Eden Hazard, BCA. Jangan lupa untuk melampirkan bukti transfer.
    3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan (sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini).
    4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan dengan cara ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia 30 kursi/slot.
    5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat tiga hari sebelum tanggal seminarnya.
    ***
    Bonus Gratis!
    1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email, dan akan dijawab langsung oleh penulis.
    2. Para alumni seminar akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabung dengan grup alumni seminar sebelumnya, yang berisi ratusan orang member.
    3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam suara penulis ketika menyampaikan materinya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
    Special BonusGratis Ebook ‘How to Be a Full Time Investor’, setebal 13 halaman, ditulis oleh penulis (Teguh Hidayat) sendiri.
    Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
    Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
    Penulis bersama temen-temen peserta seminar, Juni 2019
    Penulis bersama  temen-temen peserta kelas private, Juni 2019

    Seminar Value Investing, Basic: Bagi anda investor pemula, sangat disarankan untuk ikut kelas seminar value investing basic, lalu baru ikut yang advanced. Untuk jadwalnya adalah sebagai berikut: Surabaya, Sabtu 31 Agustus. Info selengkapnya baca disini.
    Rekaman Seminar: Bagi anda yang berminat membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2019), tentunya dengan biaya yang jauh lebih terjangkau, maka boleh baca keterangan selengkapnya disini.

    Private Class: Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Untuk lokasinya sama di [...]

    Seminar Value Investing, Surabaya, 31 Agustus 2019

    Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’ di Surabaya, Sabtu 31 Agustus 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menabung saham untuk simpanan aset jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:


    Pembicara: Teguh Hidayat

    Materi Utama:
    1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
    2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
    3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
    4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
    5. Cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
    6. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham,Ciri-ciri wonderful company, yang sahamnya bisa di-hold as long as possible, serta apa bedanya dibanding saham biasa, dan
    7. Cara menganalisa manajemen emiten/perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
    Bonus Materi Tambahan:
    1. Cara menabung saham untuk jangka panjang 5 – 10 tahun dengan menyicil membeli saham yang sama setiap bulan (strategi Dollar Cost Averaging untuk menghasilkan capital gain dan dividen), dan apa saja pilihan saham yang disarankan,
    2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
    3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
    Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
    ***
    Okay, berikut adalah lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
      SURABAYA
      • Tempat: Amaris Hotel, Jln. Kedungdoro No.1, Kota Surabaya.
      • Hari/Tanggal: Sabtu, 31 Agustus 2019.
      Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 17.00 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break & snack, serta audiobook (penjelasannya dibawah).
      ***
      Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,350,000. Dan berikut cara daftarnya:
      1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
      Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
      Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
      Semuanya atas nama Teguh Hidayat.
      Jika anda mendaftar untuk 2 peserta, maka biayanya tinggal dikali 2 saja.
      2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar Surabaya (sebutkan salah satu kota), dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Jangan lupa untuk melampirkan bukti transfer.
      3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
      4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia 30 kursi/slot.
      5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya.
      ***

      Bonus Gratis:
      1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
      2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
      3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
      Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
      Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

      Penulis (duduk di tengah) bersama temen-temen peserta seminar tanggal 22 Juni 2019
      Rekaman Seminar: Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak dan/atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya disini.

      Seminar Value Investing Advanced: Bagi anda yang punya waktu untuk kembali ikut seminar di hari minggunya, maka anda bisa ikut seminar value investing advanced, dimana kita akan membahas lebih dalam tentang strategi menghadapi koreksi pasar, strategi diversifikasi, cara average up dan average down, dan seterusnya. Untuk jadwalnya adalah sebagai berikut: Surabaya, Minggu 1 September. Info selengkapnya baca disini.

      Private Class: Bagi anda yang tertarik ikut kelas private, dimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Untuk lokasinya sama di [...]

      Legacy Stock Series: Mayora Indah

      PT Mayora Indah, Tbk (MYOR) hingga Kuartal II 2019 melaporkan laba bersih Rp807 milyar, dimana laba tersebut naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp736 milyar, dan mencerminkan annualized ROE 17.6%, atau cukup bagus. Kemudian jika kita telisik kinerja perusahaan dalam lima tahun terakhir, maka sejak tahun 2014 lalu laba MYOR konsisten naik terus setiap tahunnya, dan demikian pula ekuitasnya tumbuh signifikan dari Rp4.1 trilyun menjadi terakhir Rp9.2 trilyun. A wonderful company indeed, tapi kenapa sahamnya justru malah turun banyak dalam setahun terakhir?
      ***
      Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 akan terbit hari Kamis, 8 Agustus 2018, dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut.
      ***
      MYOR, seperti yang kita ketahui, adalah salah satu perusahaan fast moving consumer goods terbesar dan terpopuler di tanah air. Sejarah perusahaan berawal pada tahun 1948, ketika Keluarga Atmadja membuka usaha rumahan yang memproduksi biskuit. Usaha tersebut berkembang pesat hingga pada tahun 1967, perusahaan mematenkan merk biskuit ‘Roma’. Memasuki tahun 1977, generasi kedua perusahaan, Jogi Hendra Atmadja, membuka pabrik biskuit skala besar pertama milik perusahaan di Tangerang, Banten, dan secara resmi mendirikan PT Mayora Indah. Dan sejak saat itu perusahaan terus berekspansi dengan menciptakan produk-produk baru di bidang makanan dan minuman ringan, yang rata-rata sukses di pasaran dan memiliki power of brand yang kuat. Sebut saja Biskuit Roma, Kopiko, hingga Le Minerale. Hingga pada hari ini, Grup Mayora adalah produsen dan pemilik merk dari Biskuit Roma, Permen Kopiko, wafer Beng Beng, coklat Choki-Choki, Kopi Torabika, Energen Cereal, Wafer Stik Astor, Biskuit Better, Danisa Butter Cookies, air minum Le Minerale, Migelas, Bakmi Mewah, Permen Kis, Super Bubur, hingga Teh Pucuk Harum. Secara total, Grup Mayora memegang tak kurang dari 50 merk biskuit, minuman, permen, wafer & coklat, makanan instan, kopi, dan sereal, dimana banyak dari merk-merk tersebut yang baru dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir. Contohnya air minum Le Minerale, yang saat ini sudah merupakan salah satu penantang serius Aqua di pasar air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia, itu baru mulai dikembangkan pada tahun 2015 lalu.
      Melihat kerja keras manajemen yang senantiasa terus menciptakan dan mengembangkan produk-produk dan merk baru (dan rata-rata sukses), sedangkan kinerja MYOR itu sendiri cukup konsisten tumbuh terus dalam 5 – 10 tahun terakhir, maka sahamnya tentu menjadi sangat menarik untuk investasi jangka panjang. Namun demikian ada satu hal yang perlu dicatat: Tidak semua merk produk milik Grup Mayora ditempatkan dibawah MYOR. Yep, jadi pertama-tama perlu diketahui bahwa PT Mayora Indah, Tbk barulah satu dari sejumlah anak usaha milik Grup Mayora, dimana Keluarga Atmadja masih punya beberapa perusahaan lainnya diluar MYOR. Salah satunya PT Tirta Fresindo Jaya, yang merupakan pemilik merk air minum Le Minerale dan Teh Pucuk Harum diatas. Kalau anda googling, beberapa sumber menyebutkan bahwa PT Tirta ini adalah anak usaha dari MYOR, tapi itu tidak benar. Yang benar adalah, PT Tirta merupakan sister company dari MYOR, alias dua perusahaan yang sepenuhnya berbeda dan terpisah, namun dimiliki oleh pemegang saham pengendali yang sama, dalam hal ini Grup Mayora/Keluarga Atmadja.
      Nah, jadi kalau nanti anda melihat iklan Le Minerale di televisi, maka ingat sekali lagi bahwa meski produk air minum tersebut dimiliki oleh Grup Mayora, tapi tidak ditempatkan dibawah MYOR. Lebih jelasnya, berikut adalah daftar merk dagang yang dipegang oleh MYOR. Perhatikan bahwa ada beberapa merk yang disebutkan diatas, yang tidak tercantum pada daftarnya. Klik gambar untuk memperbesar.

      Okay, lalu kenapa untuk beberapa merk produknya, Grup Mayora tidak memasukkannya ke dalam MYOR? Well, entahlah, tapi itu mungkin karena keuntungan yang dihasilkan oleh merk-merk produk tertentu sedemikian besarnya sehingga sayang kalau harus ‘berbagi’ produk tersebut dengan investor publik sebagai sesama pemegang saham di MYOR. Yup, karena kalau pakai contoh Le Minerale, maka pada tahun 2016 saja, alias baru genap setahun setelah diluncurkan, merk Le Minerale sudah menempati posisi ketiga sebagai merk AMDK paling banyak dikonsumsi di Indonesia, setelah Aqua (milik Danone), dan Club (milik Indofood). Jadi besar kemungkinan bahwa pada tahun 2019 ini, Le Minerale sudah berada persis di belakang Aqua. Sedangkan disisi lain, biaya bahan baku untuk AMDK ini juga tentunya sangat murah (cuma air doang??) sehingga margin labanya, sekali lagi, sangat besar, dan ini juga alasan kenapa emiten PT Aqua Golden Mississippi (AQUA) sebagai pemilik merk Aqua melakukan go private, beberapa tahun lalu (jadi sahamnya tidak diperdagangkan lagi di BEI), yakni karena Danone sebagai pemilik perusahaan nggak mau berbagi saham AQUA dengan investor publik.
      Karena itulah, meski Grup Mayora terbilang pekerja keras dalam hal terus menciptakan produk dan merk baru, dan ada banyak diantara merk tersebut yang kemudian sukses besar, namun kesuksesan tersebut belum tentu akan turut dinikmati oleh investor publik yang menjadi pemegang saham di MYOR, dalam hal ini jika manajemen memutuskan untuk menempatkan produk yang sukses tadi diluar perusahaan.
      Meski demikian, toh MYOR tetap membukukan kinerja apik setiap tahunnya, termasuk untuk tahun 2019 ini perusahaan mentargetkan laba Rp1.9 trilyun, atau kembali naik sekitar 10% dibanding tahun 2018. Cara kerja manajemen yang tetap fokus di bidangnya (makanan dan minuman ringan), kebijakan leverage yang relatif agresif tapi tetap konservatif (utangnya agak besar untuk ukuran perusahaan consumer, tapi DER-nya masih kurang dari 1 kali), kebijakan dividen yang fair (sekitar 30 – 40% labanya setiap tahun, sehingga masih banyak sisanya untuk diinvestasikan kembali), power of brand yang kuat, hingga jaringan bisnisnya yang sudah merambah mancanegara (Grup Mayora sudah mengekspor produknya ke sekitar 50 negara di seluruh dunia), juga menjamin bahwa perusahaan akan terus tumbuh kedepannya. Posisi kas yang tidak terlalu besar, dalam hal ini Rp2.0 trilyun (dibanding asetnya senilai Rp17.7 trilyun), juga menunjukkan bahwa MYOR tidak sedang dalam posisi ‘punya duit banyak tapi gak tau mau diapain’, seperti kebanyakan perusahaan consumer goods lainnya (misalnya Sido Muncul, atau Ultrajaya), karena manajemen selalu menemukan peluang untuk ekspansi. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan kisah Warren Buffett yang pada taun 1972 mengakuisisi See’s Candies, sebuah perusahaan coklat legendaris di Wilayah Pantai Barat Amerika Serikat, dimana meski harga akuisisinya tampak agak mahal (PBV 3.1 kali), tapi beberapa dekade kemudian terbukti bahwa akuisisi tersebut menjadi salah satu keputusan investasi terbaik yang pernah dibuat oleh Buffett. Dan seperti halnya MYOR, See’s Candies juga memiliki keunggulan kompetitif berupa ‘power of brand’, dan kemampuan untuk berekspansi mengembangkan produk-produknya.
      Oke Pak Teguh, tapi balik lagi ke pertanyaan diatas: Kenapa MYOR turun terus dari 3,000-an, setahun lalu, sampai kemarin sempat mentok di 2,100? Well, kalau anda sudah baca tulisan tentang strategi investasi di saham untuk jangka panjang, maka disitu penulis sudah sampaikan bahwa ketika ada emiten/perusahaan yang fundamental amat sangat bagus serta konsisten bertumbuh dalam jangka panjang, maka itu bukan berarti sahamnya akan naik terus setiap tahun, melainkan akan selalu ada tahun-tahun tertentu dimana sahamnya stagnan, atau bahkan turun, biasanya kalau bukan karena kinerjanya agak melambat (labanya turun, meski ekuitasnya tetap naik), maka saham tersebut sebelumnya sudah naik sangat tinggi sehingga valuasinya menjadi sangat mahal.
      Nah, dalam kasus MYOR, penyebab nomer dua itulah yang terjadi. Jadi pada Agustus 2015 lalu, MYOR melakukan stocksplit dengan rasio yang sangat besar, yakni 1 : 25. Sehingga harga sahamnya, yang sebelumnya berada di level 35,000-an, menjadi tinggal 1,400-an saja. ‘Penurunan’ harga yang sangat signifikan ini otomatis menyebabkan sahamnya menjadi jauh lebih terjangkau oleh investor ritel, dimana kalau sebelumnya investor harus keluar minimal Rp3.5 juta, maka sekarang investor harus bayar Rp140,000 saja, untuk memperoleh 1 lot saham MYOR. Disisi lain, di tahun yang sama mulai gencar kampanye ‘Yuk Nabung Saham!’ (YNS) oleh BEI, yang kemudian memunculkan banyak investor ritel baru di pasar modal, dimana saham yang sering direkomendasikan oleh tim YNS di BEI untuk investasi jangka panjang salah satunya ya MYOR ini (dan juga AISA, actually). Alhasil investor berebut masuk ke saham MYOR sehingga sahamnya kemudian naik.. dan terus naik sampai tembus 3,000, dimana pada harga tersebut PBV MYOR mencapai 8 – 9 kali, atau jauh lebih tinggi dibanding sesama saham consumer lainnya seperti Indofood CBP (ICBP), Kalbe Farma (KLBF), SIDO, hingga ULTJ.
      Jadi ketika MYOR kemudian pelan-pelan turun sendiri, maka dari sudut pandang value investing, penurunan tersebut memang sudah sewajarnya. Ketika analisa ini ditulis, MYOR berada di level 2,300, yang mencerminkan PER 31.8 kali, dan PBV 5.6 kali. Masih tanggung sebenarnya, karena berdasarkan pengalaman, saham-saham dengan ‘power of brand’ seperti MYOR ini masih bisa lanjut turun sampai PBV-nya kurang dari 5 kali (4 koma sekian), dan PER-nya kurang dari 25 kali, dimana barulah pada harga tersebut anda bisa masuk untuk selanjutnya hold saja selamanya. Jadi dalam kasus MYOR, best price-nya cukup jelas, yakni sekitar 2,000.
      Tapi tentu, asalkan anda bisa komitmen pegang sahamnya untuk jangka panjang, maka pada harga sekarang pun boleh langsung nyicil masuk saja, dimana kalau nanti MYOR besok-besok beneran turun ke 2,000 (atau dibawahnya, who knows?), maka tinggal beli lagi saja. Kemudian, karena MYOR ini secara valuasi masih belum benar-benar murah, maka dalam beberapa bulan hingga setahunan kedepan kita nggak tahu sahamnya bakal kemana, dimana kemungkinan terburuknya bisa saja dia akan stagnan, atau lanjut turun. Tapi kalau anda bisa melihatnya dalam 5 – 10 tahun kedepan, dimana setiap kali MYOR ini turun maka anda selalu memandangnya sebagai kesempatan untuk tambah barang, then let me tell you: MYOR ini sejatinya sudah pernah dibahas di blog ini pada Mei 2010, ketika itu sahamnya berada di posisi 5,800 atau setara 232 setelah stocksplit, dan ketika itu penulis sudah katakan bahwa sahamnya memang layak untuk jangka panjang (bisa baca lagi artikelnya disini).
      Dan setelah 9 tahun kemudian, berapa MYOR sekarang? Sudah di 2,300, alias memberikan keuntungan hampir 10 kali lipat, belum termasuk dividen! Nah, jadi seperti yang sudah disebut diatas, kalau anda tidak bisa komitmen untuk pegang MYOR selama 5 tahun kedepan, then forget it, cari saja saham lain. Tapi jika anda bisa komitmen, maka boleh mulai nyicil dari sekarang, dan boleh buka lagi artikel ini, sekitar tahun 2024 nanti.
      PT. Mayora Indah, Tbk (MYOR)
      Rating kinerja pada Kuartal II 2019: AA
      Rating valuasi saham pada Rp2,300: BBB
      Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Agustus 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

      Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Ebook Investment Planning – Kuartal II 2019

      Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2019. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

      Seperti ebook edisi-edisi sebelumnya, penulis akan bekerja sama dengan tim kecil untuk melakukan screening/pemilihan saham untuk dimasukkan kedalam ebooknya. Berikut adalah standar kriteria yang kami terapkan dalam menyeleksi saham-saham yang akan dibahas di ebook ini, dimana kriteria ini dibuat berdasarkan kaidah value investing.
      1. Sahamnya likuid, sehingga pergerakannya bisa dianalisis menggunakan analisis teknikal sederhana (diluar analisis fundamental, kami juga memperhatikan faktor teknikal, situasi pasar, dll). Kalaupun tidak terlalu likuid, maka paling tidak jangan sampai tidak likuid sama sekali.
      2. Bukan saham gorengan. Ciri-ciri saham gorengan adalah mudah naik dan turun secara drastis dalam waktu singkat tanpa penyebab yang jelas.
      3. Memiliki kinerja fundamental yang bagus, reputasi baik, prospek cerah, dan diutamakan perusahaannya dikelola oleh manajemen yang bisa dipercaya.
      4. Kalau bisa mencatat kenaikan laba atau ekuitas yang signifikan, serta memiliki kinerja konsisten di masa lalu, dan
      5. Harganya undervalue/murah, atau paling tidak belum terlalu mahal (sudah termasuk mempertimbangkan posisi IHSG).

      Ebook ini berisi analisis terhadap 30 saham pilihan, lengkap dengan level rekomendasi, tingkat risiko untuk tiap-tiap saham, harga beli yang disarankan, serta target harganya. Ebooknya akan terbit pada hari Kamis, 8 Agustus 2019, dan anda bisa langsung memesannya disini.

      Daftar isi dari Ebook edisi sebelumnya (Kuartal I 2019), yang terbit bulan Mei 2019. Klik gambar untuk memperbesar
      Mengapa Anda Membutuhkan Ebook ini?
      1. Pekerjaan wajib investor dan fund manager profesional adalah membuat investment planning, dengan cara mempelajari pergerakan pasar/IHSG, mencari saham-saham bagus termasuk ’mutiara terpendam’ atau ‘ten bagger’ (saham yang berpeluang naik 100% atau lebih, dalam waktu 1 tahun atau kurang, dimana setiap tahun selalu ada saja saham dengan kenaikan sebesar itu) dengan cara screening kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan, menganalisis fundamental serta valuasi dari saham/perusahaan yang lolos screening tersebut secara mendetail termasuk mempelajari prospeknya, kemudian mengambil kesimpulan saham-saham apa saja yang layak beli baik itu untuk tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, dan sebaiknya beli di harga berapa, termasuk (jika ada) menentukan target harganya. Dengan berlangganan ebook ini maka itu seperti anda menyerahkan semua pekerjaan tersebut kepada kami, sehingga anda tinggal membaca hasilnya saja.
      2. Biayanya sangat terjangkau, jauh lebih kecil dibanding trading fee yang otomatis anda bayarkan ke sekuritas setiap bulannya, dan itu bahkan belum termasuk diskon jika anda berlangganan ebooknya secara jangka panjang.
      3. Satu-satunya produk analisa saham independen dan paling terpercaya di Indonesia, yang sudah ditulis sejak tahun 2010, dan sampai sekarang konsisten terbit setiap 3 bulan sekali tanpa pernah absen sekalipun (yang artinya pembacanya selalu ada, bahkan ketika pasar/IHSG sedang turun). Buku investment planning ini merupakan panduan wajib bagi pelaku pasar mulai dari investor retail, analis, broker saham, hingga fund manager.
      4. Ditulis langsung oleh Teguh Hidayat, pioneer metode value investing dalam berinvestasi saham di Indonesia, dengan gaya bahasa analisa yang sangat mudah dipahami bahkan bagi investor pemula sekalipun.
      5. Tersedia Layanan Gratis: Setelah membaca ebooknya nanti, anda juga boleh konsultasi/minta pendapat serta analisa yang lebih spesifik via email untuk saham-saham tertentu, baik itu yang dibahas di dalam ebooknya atau tidak, langsung dengan penulis (Teguh Hidayat).

      Sekali lagi, ebooknya akan terbit pada hari Kamis, 8 Agustus 2019, dan untuk memperolehnya maka bisa baca infonya disini. Jika ada yang hendak ditanyakan bisa menghubungi asisten penulis Ms. Nury melalui Telp/SMS/Whatsapp 081220445202.
      Atau anda bisa hubungi penulis langsung (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.
      Testimonial
      Pak Teguh, setelah mempelajari buku bapak “Value Investing” saya mulai tertarik untuk mempelajari analisis fundamental. Terus terang buku bapak merupakan pilihan paling rasional yang saya ambil dari rak toko buku Gramedia, dibanding buku lain dengan judul seperti “cepat kaya dari saham”, “profit tinggi dari saham terekomendasi” dan sebagainya. Berdasarkan hasil baca sampelnya, buku-buku tersebut ternyata hanya obral redaksi tanpa menjelaskan metodologi tentang cara memilah dan memilih saham dengan tepat. Analoginya adalah seperti, saya ingin menanam mangga tapi tidak diberikan cara memilih bibit mangga yang baik dan memilki future value yang menarik. 
      Setelah menyelesaikan buku bapak, saat ini saya mulai berlatih untuk menganalisis emiten sesuai panduan yang bapak eksplanasikan dalam buku tersebut. Latihan ini menurut saya sangat penting untuk menganalisis dengan cepat, Hal ini sesuai analogi tentang ART bapak yang belajar naik sepeda motor. Tanpa memahami aturan dasar dan berlatih berkendara, tentunya bisa berkendara adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
      -Renaldi [...]

      Misteri Saham Sritex (SRIL)

      PT Sri Rejeki Isman, Tbk, atau lebih dikenal dengan Sritex (SRIL), menjadi emiten pertama yang merilis laporan keuangan (LK) untuk periode Kuartal II 2019, dimana hasilnya sekilas tampak sangat baik: Labanya naik menjadi US$ 63 juta dibanding US$ 56 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan annualized ROE mencapai 21.8%. Disisi lain pada harga saham 340, PBV-nya cuma 0.9 kali, dengan PER 3.9 kali. Dengan indikator fundamental seperti itu, maka harusnya sahamnya bakal langsung lompat segera setelah LK-nya keluar, dan memang pada hari ini SRIL sempat lompat ke 352 dengan volume transaksi yang sangat besar (lebih dari 2 milyar lembar saham), tapi somehow dia balik lagi ke 340, sebelum akhirnya ditutup di 344. Kemudian jika kita perhatikan pergerakan sahamnya selama setahunan terakhir, maka SRIL memang nyaris tidak pernah beranjak dari level 340 – 350, tak peduli IHSG naik atau turun, dan tak peduli meski saham-saham lain dengan kualitas fundamental yang sama sudah pada terbang semua. Jadi ada apa ini??

      ***
      Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 akan terbit hari Kamis, 8 Agustus 2018, dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut. Tersedia preorder discount bagi investor yang subscribe sebelum tanggal 8 Agustus.
      ***
      Sritex, seperti yang mungkin anda ketahui, adalah perusahaan tekstil terintegrasi terbesar di Asia Tenggara, dalam hal ini jika Grup Indorama tidak dihitung/lebih dianggap sebagai perusahaan kimia, yang bermarkas di Sukoharjo, Jawa Tengah. Produk yang dibuat perusahaan meliputi benang, kain tenun, kain jadi, hingga pakaian jadi untuk seragam militer, seragam instansi/perusahaan, dan fashion. SRIL adalah supplier utama seragam untuk TNI/Polri, dan juga supplier bagi banyak merk fashion terkemuka di dunia seperti H&M dan Uniqlo. Sekitar dua pertiga pendapatan SRIL berasal dari pasar ekspor, sehingga laporan keuangannya kemudian disajikan dalam mata uang US Dollar. Ketika pendiri perusahaan, Haji Muhammad Lukminto, wafat pada tahun 2014, SRIL sudah menjadi berubah total dari tadinya hanya sebuah toko kecil yang menjual kain di Pasar Klewer, Solo, menjadi salah satu raksasa tekstil Asia Tenggara, dengan total aset US$ 699 juta, dan ekuitas US$ 231 juta.

      Namun di tangan generasi kedua perusahaan, yakni duet kakak beradik Iwan Setiawan dan Iwan Kurniawan, SRIL bahkan melompat lebih tinggi lagi, dimana hingga pada Kuartal II 2019, perusahaan sudah membukukan total aset US$ 1.4 milyar, dan ekuitas US$ 575 juta. Yep, jadi tak lama setelah SRIL IPO pada bulan Juni 2013, manajemen langsung gerak cepat dengan juga menerbitkan obligasi di Singapura, dan dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk memperluas kompleks pabriknya di Sukoharjo, dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat. Ekspansi besar-besaran yang sebenarnya agak berisiko itu ternyata sukses, dimana SRIL tidak kekurangan permintaan dari para pelanggannya, terdapat kurang dari 1% produknya yang di-retur/dikembalikan oleh konsumen karena rusak dll, terdapat kurang dari 1% produknya yang dikirim tidak tepat waktu, dan tidak pernah terjadi penghentian produksi kecuali yang disengaja. Jika diperhatikan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan perusahaan. Pertama, karena pasarnya lebih banyak ekspor, maka naik turunnya kondisi ekonomi dalam negeri termasuk fluktuasi Rupiah menjadi tidak berpengaruh. Dan karena produk yang dijual adalah tekstil dan garment, yang notabene merupakan kebutuhan primer masyarakat dunia, maka permintaannya juga tidak pernah turun.
      Kedua, gaji karyawan yang terhitung murah (karena lokasi pabriknya di Sukoharjo, dimana UMR disana cuma Rp1.7 juta per bulan), plus beban bunga utang yang murah (obligasinya cuma dikenai bunga 8.25% per tahun), menyebabkan margin laba perusahaan menjadi besar. Dan ketiga, manajemen fokus di bidang yang merupakan keahlian mereka, yaitu tekstil, dimana ekspansi yang dilakukan selama ini adalah dengan memperbesar kapasitas produksi, jadi bukan dengan masuk ke bidang usaha lain dimana manajemen masih harus belajar lagi. Dalam hal ini penulis jadi ingat dengan Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), sebuah perusahaan yang juga berasal dari Sukoharjo, dan pemiliknya juga banyak berekspansi sejak tahun 2007 lalu, tapi hasilnya berbanding terbalik dengan SRIL, yang mungkin karena ekspansinya kesana kemari dimana mereka bikin bihun, mie kering, makanan ringan, beras, perkebunan kelapa sawit, sampai membangun pembangkit listrik segala. Dalam banyak kesempatan, penulis selalu mengatakan bahwa perusahaan yang bagus adalah yang fokus di bidangnya, kecuali jika perusahaan tersebut adalah perusahaan holding, misalnya Astra International (ASII). Karena meski ASII unit usahanya macem-macem, tapi untuk setiap unit usahanya ASII memiliki anak-anak usaha yang fokus menjalankan satu bidang usaha tersebut, seperti AALI fokus di perkebunan kelapa sawit, UNTR fokus di tambang batubara, dan seterusnya.
      Kenapa SRIL gak mau naik?
      Dengan track record pertumbuhan perusahaan yang sangat baik, statusnya sebagai perusahaan yang besar, mapan, dan populer, plus keberadaan sejumlah faktor diatas yang memungkinkan perusahaan untuk terus melanjutkan kinerja apik-nya di masa yang akan datang, maka saham SRIL juga seharusnya naik banyak dalam jangka panjang. Namun hingga ketika artikel ini ditulis, SRIL hanya berada di level 340, atau hanya naik relatif sedikit dibanding posisinya ketika IPO lima tahun lalu di level 240, padahal selama lima tahun tersebut perusahaan tidak pernah menggelar right issue ataupun private placement. Kemudian seperti yang disebut diatas, sering terjadi saham SRIL tidak naik ataupun turun dalam waktu yang cukup lama (hingga setahun, atau lebih), tak peduli meski IHSG naik atau turun. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, kalau ada perusahaan dengan fundamental bagus/ROE-nya konsisten di level 20%, prospeknya cerah, dan valuasinya juga murah, maka meski kadang kita perlu nunggu lama sampai dia naik, tapi harusnya gak sampai 1 – 2 tahun juga, apalagi jika saham tersebut sangat likuid seperti halnya SRIL ini (kalau saham yang tidak likuid memang kadang suka susah naik bahkan meski fundamentalnya bagus, karena investor biasanya hanya mau beli saham-saham yang ramai diperdagangkan).
      Jadi apa masalahnya? Well, entahlah. Tapi diluar periode dimana sahamnya dieeeem saja selama berbulan-bulan, maka ada juga periode dimana SRIL naik dan turun secara sangat signifikan tanpa adanya penyebab yang jelas. Contohnya pada bulan Januari – Oktober 2014, dimana SRIL entah kenapa jeblok dari 300 sampai mentok di 120. Penulis katakan ‘entah kenapa’, karena di periode yang bersamaan IHSG justru naik banyak (totalnya 22.3% sepanjang tahun 2014), sedangkan kinerja SRIL ketika itu juga sama bagusnya seperti sekarang. Tapi memasuki bulan Februari 2015, SRIL tiba-tiba saja naik dengan cepat dari 150 hingga menembus 480 di bulan Juli-nya, atau terbang lebih dari tiga kali lipat hanya dalam waktu lima bulan! Dan lagi-lagi, kenaikan SRIL tersebut terjadi justru ketika IHSG bergerak turun. Hal yang tidak wajar lainnya adalah, mau itu sahamnya naik, turun, atau bergerak mendatar, namun nilai transaksi harian sahamnya selalu besar, atau bahkan sangat besar dimana pada hari-hari tertentu, termasuk pada hari Kamis, 17 Juli ini, nilai transaksi saham SRIL bahkan bisa tembus diatas Rp700 milyar. Sebagai perbandingan, nilai transaksi 10 saham dengan market cap terbesar di BEI biasanya hanya Rp200-an milyar per hari, tapi saham SRIL ini bahkan lebih ‘encer’ lagi.
      Nah, jadi anda mengerti maksud penulis bukan? Yep, meski perusahaannya sejatinya bagus, tapi masalahnya justru di sahamnya yang merupakan saham gorengan, dalam pengertian bahwa SRIL ini tidak pernah bergerak berdasarkan analisa fundamental serta mekanisme pasar yang wajar seperti kebanyakan saham lainnya. Actually dalam hal ini SRIL tidak sendirian, karena di BEI ada juga sejumlah emiten lain yang sahamnya sering naik turun sendiri tanpa penyebab fundamental yang jelas, dan juga dengan volume transaksi yang sangat besar. Contohnya yang sudah pernah dibahas di blog ini, Trada Alam Minera (TRAM), Benakat Integra (BIPI), hingga Rimo Internasional (RIMO). Biasanya saham-saham model gini disukai para trader spekulan karena sering tiba-tiba naik banyak dalam waktu sangat singkat, misalnya 100% atau lebih dalam waktu gak sampai sebulan, sekali lagi, tanpa penyebab yang jelas. Tapi bagi investor fundamentalis, kita tentu saja menghindari saham-saham diatas. Termasuk SRIL, yang meski di tahun 2014 – 2015 lalu sempat jadi menu wajib penulis karena memang fundamentalnya mengesankan, tapi kesininya kita jarang memasukkan sahamnya ke dalam planning, bahkan sekedar masuk watchlist pun nggak.
      Okay Pak Teguh, tapi bukannya diatas panjenengan sendiri bilang kalau SRIL ini sejatinya bagus? Jadi dia jelas beda dengan TRAM dkk dong, karena kalau mereka sih memang fundamentalnya nol besar toh?? Yep, SRIL memang bagus, dan juga murah, sangat murah malah untuk ukuran saham dari perusahaan yang cukup populer. Dan faktanya kalau anda beli sahamnya akhir tahun 2014 lalu, kemudian hold barang setahun, maka anda bakal cuan besar. Demikian pula kalau anda masuk ke SRIL pada akhir tahun 2016, dimana sahamnya kemudian naik banyak dari 220 sampai tembus 400, setahun kemudian.
      Jadi keputusannya sekarang di tangan anda sendiri: Kalau anda percaya bahwa SRIL ini eventually akan naik juga, mengingat PBV-nya sekarang sudah sama dengan PBV-nya waktu di harga 220, tahun 2016 lalu (sama-sama 0.9 kali), then go ahead! Jika beruntung, maka SRIL bisa saja lompat ke 500 lagi dalam waktu tidak sampai tiga bulan dari sekarang, dan bonusnya kita gak perlu khawatir dengan naik turunnya IHSG, karena SRIL ini punya pergerakan sendiri. Tapi disisi lain jika anda kurang beruntung, maka peristiwa di awal tahun 2014 dan awal 2016 lalu bisa saja terulang kembali, dimana SRIL entah gimana ceritanya turun sendiri. Thus, jika anda tidak mau mengambil risiko berada di posisi yang ‘kurang beruntung’, maka jangan khawatir karena kita masih punya banyak pilihan emiten lain yang juga berkinerja bagus, dan valuasinya juga murah, namun pergerakan sahamnya jauh lebih selaras dengan fundamental serta valuasinya tersebut. Dan mumpung sekarang sudah masuk musim laporan keuangan Kuartal II 2019, maka kalau nanti penulis nemu saham bagus lagi, kita akan membahasnya di blog ini.
      PT. Sri Rejeki Isman, Tbk (SRIL)
      Rating Kinerja pada Kuartal II 2019: A
      Rating Valuasi Saham pada 340: A
      Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 akan terbit hari Kamis, 8 Agustus 2018, dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut. Tersedia preorder discount bagi investor yang subscribe sebelum tanggal 8 Agustus.

      Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Bank BTN, dan Prospek Program Sejuta Rumah

      Di semua negara di seluruh dunia, salah satu sektor usaha yang paling menguntungkan adalah perbankan. Karena segala jenis usaha lainnya di negara yang bersangkutan pasti membutuhkan jasa perbankan, baik itu untuk transaksi keuangan maupun kebutuhan pendanaan. However, industri perbankan pada satu negara tertentu biasanya hanya didominasi oleh beberapa pemain saja. Termasuk di Indonesia, dimana lebih dari 70% aset perbankan disini dikuasai oleh empat emiten yakni Bank BCA (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), dan Bank BNI (BBNI). Alhasil, meski tadi diatas dikatakan bahwa sektor perbankan terbilang menguntungkan, namun bank yang benar-benar membukukan profit jumbo setiap tahunnya hanyalah empat bank diatas saja. Sedangkan diluar itu, mereka seringkali harus puas dengan return on equity kurang dari 12% setiap tahunnya, itupun tidak konsisten/kadang bisa rugi pada tahun-tahun tertentu.

      ***
      Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal, namun anda bisa memperoleh rekaman seminarnya disini (rekaman seminar terbaru, bulan Juni 2019 kemarin).
      ***
      Dan Bank BTN (BBTN) adalah salah satu dari sekian banyak bank di Indonesia dengan mediocre performance diatas, dimana hingga sebelum tahun 2015 lalu, ROE-nya hanya berada di kisaran 10 – 12% saja per tahun. Jadi meski dalam hal ini nilai aset bersih/ekuitas BBTN tetap terus tumbuh dalam jangka panjang, namun rate pertumbuhannya relatif lebih rendah dibanding big four banking diatas (BBCA dkk), dan demikian pula kenaikan sahamnya tidak terlalu tinggi meski setelah sekian tahun sekalipun. You see, pada Februari 2010, BBTN berada di posisi 1,000-an. Dan berapa posisi BBTN pada bulan Februari 2015, alias lima tahun kemudian? Ternyata masih di 1,000-an juga.
      However, pada tahun 2015 inilah, Pemerintah Republik Indonesia meluncurkan satu program kerja yang di kemudian hari sangat menguntungkan BBTN, yaitu program pembangunan sejuta rumah bersubsidi untuk masyarakat menengah kebawah. Nah, balik lagi ke soal industri perbankan di Indonesia: Untuk bank-bank diluar big four, mereka sulit untuk membukukan kinerja bagus karena masyarakat itu sendiri agak sulit kalau diajak menabung/buka rekening di mereka. Karena logika saja: Jika anda selama ini sudah nyaman menabung di BCA, maka ngapain lagi anda buka rekening di bank kecil yang mesin ATM-nya saja entah ada dimana?
      Tapi jika ada bank kecil/menengah tertentu yang menawarkan layanan spesialis tertentu, dimana masyarakat mau tidak mau harus ke bank tersebut jika mereka membutuhkan layanan tersebut, maka barulah bank kecil tersebut akan membukukan profit lumayan. Contohnya bank pembangunan daerah seperti Bank BJB (BJBR), atau Bank Jatim (BJTM), dimana mereka spesialis memberikan kredit consumer, dan juga menjadi tempat transfer gaji/transaksi keuangan bagi Pegawai Negeri Sipil, institusi, dan perusahaan daerah di provinsi setempat. Alhasil dua bank ini kinerjanya cukup baik, gak kalah dibanding BBRI dkk. Kemudian ada lagi, Bank BTPN Syariah (BTPS), yang spesialis memberikan pembiayaan mikro syariah untuk ibu-ibu prasejahtera di seluruh Indonesia.
      Lalu bagaimana dengan BBTN? Nah, BBTN sejak dulu adalah juga spesialis, dalam hal ini spesialis penyaluran kredit pemilikan rumah alias KPR. Sampai-sampai ada anekdot, BTN itu adalah singkatan dari ‘bayar tapi nyicil’, karena bank ini identik dengan cicilan KPR itu tadi. Hingga tahun 2015, BBTN adalah market leader di industri KPR di Indonesia, dimana perusahaan membantu pembiayaan sekitar 100,000 unit rumah setiap tahun.
      Tapi jika dibanding dengan jutaan penduduk di Indonesia yang butuh tempat tinggal baru saban tahunnya, maka angka seratusan ribu unit rumah diatas sejatinya masih sangat kecil, dan alhasil kinerja BBTN sebelum tahun 2015 terbilang gitu-gitu aja. Barulah setelah pemerintah meluncurkan program sejuta rumah, dimana BBTN ditunjuk sebagai penyalur KPR-nya karena dia sejak awal merupakan bank yang paling berpengalaman di bidang ini, maka peruntungan BBTN mulai berubah. Di tahun 2015 tersebut, BBTN membukukan laba Rp1.9 trilyun, meningkat signifikan dibanding tahun 2014 senilai Rp1.1 trilyun, yang kembali meningkat di tahun 2016 menjadi Rp2.6 trilyun, dan naik lagi menjadi Rp3.0 trilyun di tahun 2017. Hingga pada Kuartal I 2019 kemarin, ekuitas BBTN tiba-tiba saja sudah berada di level Rp24.5 trilyun, melonjak dua kali lipat dibanding akhir tahun 2014 (sebelum program sejuta rumah tadi diluncurkan) di level Rp12.2 trilyun. Sementara sahamnya? Well, tentu saja terbang, dari sebelumnya mentok di 1,000-an di tahun 2015, hingga hampir saja tembus 4,000 pada awal tahun 2018 lalu. Tapi karena pada harga 4,000 tersebut BBTN sudah overvalue (PBV-nya ketika itu tembus 3 kali, atau sudah mendekati PBV BBCA), maka sahamnya lalu turun sendiri hingga mentok di persis 2,000, sebelum kemudian sekarang stabil di kisaran 2,400-an.

      Daaan terus terang, penulis sendiri ketika itu miss peluang di BBTN ini, karena pada tahun 2016 – 2017 kita lebih sibuk di saham-saham batubara (yang memang cuan juga). Tapi setelah sekarang valuasinya menjadi reasonable lagi pada PBV sekitar 1.0 kali (dan actually itu undervalue, mengingat ROE BBTN sekarang sudah lumayan stabil di sekitar 15%), maka penulis mulai melirik BBTN ini lagi. Karena disisi lain, juga belum ada tanda-tanda bahwa program sejuta rumah tadi akan dihentikan.
      Okay, lalu bagaimana prospek BBTN ini kedepannya? Nah, kata kunci untuk BBTN ini adalah itu tadi, yakni terkait kelanjutan program sejuta rumah. Dan inilah yang perlu dicatat: Meski judul programnya ‘sejuta rumah’, namun jumlah unit rumah yang benar-benar dibangun saban tahunnya sejak tahun 2015 hanya di kisaran 400 – 500 ribu unit saja, tapi angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun, dan baru benar-benar tembus 1 juta unit pada tahun 2018 kemarin. Untuk tahun 2019 ini, Pemerintah melalui Kementerian PUPR mentargetkan membangun 1.25 juta unit rumah, dimana jika itu terealisasi maka BBTN bakal jackpot lagi. Yep, jadi bisa dibilang bahwa peningkatan laba yang dialami BBTN dalam beberapa tahun ini baru permulaan, karena faktanya di Indonesia yang sangat besar ini, ada jutaan penduduk yang butuh tempat tinggal baru setiap tahunnya, dan untungnya Pemerintah mampu untuk komitmen melaksanakan program sejuta rumah ini, dimana jumlah unit rumah yang dibangun juga terus bertambah setiap tahunnya (meski banyak dikritik karena harganya tidak cukup terjangkau dst, tapi yang jelas program ini masih tetap jalan terus).
      Kemudian diluar program pemerintah diatas, industri properti di tanah air itu sendiri berpeluang untuk kembali melaju pada tahun ini, atau mungkin tahun 2020 nanti, dimana pada saat ini semua faktor mendukung untuk pulihnya sektor properti: Pelonggaran peraturan LTV (loan to value), termasuk ada wacana DP 0% segala, suku bunga BI yang relatif rendah, pertumbuhan ekonomi stabil, hingga pelaksanaan Pemilu kemarin yang berjalan aman dan damai. Actually, lesunya sektor properti sejak tahun 2013 lalu menjadi berkepanjangan salah satunya karena konsumen masih wait and see terkait pemilu dan pilpres kemarin. Tapi untungnya semuanya aman-aman saja, sehingga selanjutnya cuma soal waktu saja sebelum industri properti akan kembali pulih, dan BBTN terutama akan kembali diuntungkan.
      Kesimpulannya, well, bagi anda yang ketinggalan kereta di BBCA dkk, tapi juga gak mau invest di saham bank kecil yang gak jelas, maka kita punya BBTN ini. Dalam hal ini BBTN tidak hanya memenuhi kaidah value investing (best price-nya sekitar 2,200, tapi BBTN hanya bisa kesitu kalau IHSG turun), tapi dia juga menawarkan peluang pertumbuhan yang signifikan di masa depan, sehingga bisa disebut sebagai growth investing stock juga. Jika program sejuta rumah ini terus dilanjut katakanlah sampai 5 tahun kedepan, sementara industri properti juga beneran pulih, dan BBTN juga konsisten labanya naik terus selama 5 tahun tersebut, maka pada saat itulah investor akan mulai menghargai sahamnya pada valuasi yang lebih tinggi, minimal PBV 1.5 – 2.0 kali, sehingga kenaikan sahamnya juga akan sangat signifikan, minimal 100% dalam kurun waktu 5 tahun tersebut, belum termasuk dividen. Sudah tentu, soal sahamnya mau naik sampai berapa itu tentu kita nggak tahu, tapi yang jelas untuk saat ini BBTN ini murah, kinerjanya bagus, dan prospeknya juga cerah. And that’s that!
      PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk (BBTN)
      Rating Kinerja Kuartal I 2019: A
      Rating Saham pada 2,450: AA
      Jadwal Seminar Value Investing: Untuk saat ini belum ada jadwal, namun anda bisa memperoleh rekaman seminarnya disini (rekaman seminar terbaru, bulan Juni 2019 kemarin).

      Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Rekaman Seminar Value Investing & Private Class, Juni 2019

      Dear investor, penulis pada hari Sabtu, tanggal 22 Juni kemarin menyelenggarakan seminar investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’, disusul pada hari minggu-nya, tanggal 23 Juni, kelas private dimana kita banyak berdiskusi tentang investasi saham pada umumnya, dan value investing pada khususnya. Suara penulis ketika mengisi dua kelas diatas direkam dari awal sampai akhir, dan anda bisa memperolehnya dengan ketentuan sebagai berikut.

      Rekaman Seminar, ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’
      • Materi: Materi lengkapnya bisa dibaca disini.
      • Durasi: 3 sesi dari awal sampai akhir, masing-masing berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit.
      Rekaman Private Class
      • Materi: Materi selengkapnya bisa dibaca disini.
      • Durasi: 2 jam 20 menit sesi utama, dan 1 jam sesi tambahan diskusi/tanya jawab bebas.
      Penulis bersama teman-teman peserta seminar tanggal 22 Juni 2019
      Penulis bersama teman-teman peserta private class, tanggal 23 Juni 2019
      Sebelumnya perlu dicatat bahwa rekaman seminar dan kelas private ini materinya kurang lebih sama dengan rekaman dari seminar di awal tahun 2019 yang disampaikan disini(rekaman value investing, bukan yang advanced), namun juga tidak persis sama, karena untuk contoh contoh kasus sahamnya beda lagi, dan ada beberapa materi tambahan. Materinya adalah full dari awal sampai akhir, jadi dengan mendengarkannya maka anda seperti hadir di acara seminarnya itu sendiri.
      Untuk rekamannya adalah dalam bentuk audiobook dengan format M4A, yang bisa anda konversi sendiri menjadi MP3 atau lainnya, tapi format ini bisa langsung didengarkan di smartphone. Setiap file rekamannya berukuran sekitar 100 MB, jadi sangat ringan untuk masuk di smartphone anda.
      Okay, berikut biayanya, sudah termasuk memperoleh slide powerpoint materi seminar, dan file excel formula ‘kalkulator saham’
      • Rekaman Seminar: Rp275,000
      • Rekaman Private Class: Rp350,000
      • Paket Hemat (dua rekaman diatas): Rp550,000.
      Okay, berikut cara order:
      1. Tentukan apakah anda hendak membeli rekaman value investing class, private class, atau keduanya.

      2. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
      Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
      Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
      Semuanya atas nama Teguh Hidayat
      3. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Beli Rekaman Seminar Juni 2019 (subjeknya harus lengkap! Jadi sekali lagi, Beli Rekaman Seminar Juni 2019), dan isi: Nama lengkap anda, jumlah transfer, bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, 550,000, BCA (catatan: Dari jumlah transfernya maka kami akan mengetahui apakah anda membeli rekaman seminar, private class, atau keduanya). Anda tidak perlu menyertakan bukti transfer, karena kami bisa mengecek transferan anda melalui internet banking. Tapi jika dirasa perlu, maka anda boleh juga melampirkan bukti transfer tersebut.
      4. Anda akan menerima email balasan yang berisi link website untuk men-download file rekaman (file-nya di-upload di Dropbox, jadi nanti anda tinggal download saja), termasuk slide powerpoint materi seminar dan excel kalkulator sahamnya. Selanjutnya, enjoy!

      ***
      Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Silahkan langsung telepon/SMS/Whatsapp 081220445202 (Ms. Nury). Konfirmasi setelah melakukan transfer juga bisa melalui Whatsapp diatas.
      Atau anda bisa hubungi penulis (Teguh Hidayat) langsung melalui email 

      Pernah Dengar Istilah Zona Nyaman? Dalam Dunia Investasi Saham, Ini Penjelasannya

      Menurut Wikipedia, comfort zone, atau zona nyaman, adalah kondisi psikologis dimana seseorang merasa aman dan nyaman dengan lingkungannya, dan jarang mengalami stress atau gelisah. Menurut Casandra Brown, penulis buku The Gift of Imperfection, zona nyaman adalah keadaan dimana kita hanya mengalami sedikit ketidakpastian, tidak mengalami kekurangan (akan kebutuhan sehari-hari/kebutuhan pokok), dan tidak rentan terhadap situasi atau peristiwa yang berbahaya. Zona nyaman adalah keadaan dimana kita memiliki kendali penuh atas diri kita sendiri, dan lingkungan sekitar.

      ***
      Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juli 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.
      ***
      Contoh zona nyaman adalah jika anda punya pekerjaan tetap yang anda sukai di perusahaan yang besar dan mapan, dimana anda menerima gaji serta tunjangan rutin tiap bulan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari anda dan keluarga. Dan anda tahu bahwa kecuali terjadi peristiwa ekstrim tertentu, maka anda tidak akan dikeluarkan dari perusahaan, sehingga boleh dikatakan bahwa anda pasti akan terus menerima gaji setiap bulannya.
      Nah, bagi sebagian besar orang, contoh ‘zona nyaman’ diatas sejatinya merupakan impian. Karena jangan salah: Penulis sendiri dulu juga pernah jadi pegawai kontrak, yang bercita-cita diangkat menjadi pegawai tetap. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) mungkin adalah profesi yang paling populer di Indonesia, karena menawarkan zona nyaman itu tadi (kepastian gaji, dan kepastian memperoleh tunjangan pensiun). Tapi kondisi zona nyaman ini bukannya tanpa kelemahan: Ketika anda merasa berkecukupan, ketika keluarga anda memiliki standar hidup yang baik, maka anda akan mulai bertemu dengan orang-orang yang punya ‘standar hidup yang lebih baik’. Misalnya tetangga anda yang dulunya cuma usaha serabutan yang saban hari pake sepeda motor kreditan, eh tiba-tiba saja sekarang dia pake mobil 4×4 yang gak kalah sangar dibanding mobil bos anda di kantor, sedangkan mobil anda dari dulu ya masih itu-itu saja, yang kalau digeber 140 KM per jam di jalan tol akan keluar bunyi ‘ddrr.. ddrr’ gitu.
      Karena itulah, ketika seseorang sudah cukup lama berada di zona nyaman-nya, maka dia tetap akan mulai merasa gelisah karena merasa bahwa hidupnya begini-begini saja. Pada titik ini, seorang karyawan kantoran mungkin akan mulai berusaha keluar dari zona nyaman. Misalnya dengan bikin usaha kecil-kecilan, bekerja lebih keras untuk menggapai jabatan yang lebih tinggi, atau apapun yang bisa menghasilkan penghasilan tambahan, sehingga harapannya ia akan bisa menyusul tetangganya itu tadi. Disebut ‘keluar dari zona nyaman’, karena pada kondisi ini seseorang akan mulai mengalami ketidakpastian. Contohnya ketika ia buka usaha kecil-kecilan, maka usaha tersebut mungkin akan sukses, tapi mungkin juga gagal, rugi, dan bangkrut. Penulis sendiri kenal banyak teman pengusaha sukses yang dalam upaya membangun usahanya dari nol dulu, maka tak terhitung berapa kali dia kena rugi, ditipu rekan bisnisnya sendiri, hingga hampir bangkrut.
      ‘Saya Ingin Mulai Berinvestasi, Tapi Saya Takut Rugi’
      Salah satu upaya untuk keluar dari zona nyaman adalah dengan berinvestasi, dalam hal ini di saham, karena disini anda akan mengalami semua hal diluar definisi zona nyaman tadi: Ketidak pastian (tidak ada jaminan kalau anda bakal profit), stress dan mudah panik (terutama bagi pemula), kekurangan (udah cuan 10% dari saham A, eh temen di grup pamer kalo dia cuan 20% dari saham B), dan rentan terhadap peristiwa berbahaya (masih inget koreksi pasar bulan Mei 2019 kemarin? Bagaimana nasib saham anda ketika itu?). Bahkan bagi fund manager besar dengan pengalaman puluhan tahun sekalipun, tidak pernah ada yang namanya zona nyaman di pasar modal, karena salah keputusan sedikit saja bisa menyebabkan porto anda langsung kebakaran.
      Tapi disisi lain, di pasar modal inilah anda tidak akan ‘terjebak dalam zona nyaman yang stagnan’. You see, jika anda sudah mampu berinvestasi dengan baik dan benar, maka aset anda akan terus bertumbuh setiap tahun, dimana setelah 10 – 20 tahun maka nilainya akan menjadi akan sangat besar (karena efek compounding), dan bahkan setelah itupun aset anda akan terus meningkat tanpa henti. Sudah tentu, anda tetap akan mengalami rugi sesekali bahkan ketika nanti anda sudah berpengalaman sekalipun, dimana anda tidak akan mengalami rugi tersebut kalau anda tidak pernah buka rekening. But, I don’t know, kalau bagi penulis sendiri justru disitulah serunya! Karena dalam hal ini hidup anda jadi seperti iklan Chitato, ‘life is never flat’, alias banyak naik turunnya, sehingga kita tidak akan pernah merasa bosan. Kalau kata Sherlock Holmes, I abhor the dull routine of existence. Saya tidak suka rutinitas kehidupan yang stagnan, yang gitu-gitu aja, yang membosankan!

      Penulis ketika di Swiss. Jalan-jalan juga adalah salah satu cara untuk keluar dari zona nyaman, karena bikin kita jadi gak bosan lagi dengan rutinitas sehari-hari
      Tapi Pak Teguh, saya takut untuk keluar dari zona nyaman ini. Dan dalam hubungannya dengan berinvestasi di saham, saya takut untuk rugi, sedangkan diatas Pak Teguh sendiri bilang kalau investor saham harus siap untuk rugi. Jadi adakah solusinya agar saya bisa cepat  mulai pak?
      Nah, dalam hal ini kita balik lagi ke defisini zona nyaman tadi: Zona nyaman adalah kondisi dimana semuanya terasa aman dan nyaman.. tapi sekaligus stagnan. Diluar itu ada namanya optimal performance zone (OPZ), yakni zona dimana kita berusaha menggali peluang agar bisa bertumbuh/tidak stagnan lagi, dengan mengorbankan sedikit rasa aman tadi namun tidak secara berlebihan, dimana kita mungkin akan mulai merasa gelisah, tapi tidak sampai mengalami panik. Menurut Robert Yerkes, Professor Harvard University di bidang psikologi (yang sudah penulis tulis ulang dengan bahasa penulis sendiri, agar lebih mudah anda pahami), ‘Kegelisahan yang kita alami, pada titik tertentu akan meningkatkan semangat kita untuk bekerja lebih keras agar mencapai hasil yang lebih baik. Namun kegelisahan yang berlebihan justru akan membuat kita tidak lagi mampu berpikir logis dalam membuat keputusan, yang pada akhirnya menurunkan hasil kinerja itu tadi.’ Kondisi dimana seseorang mengalami ‘kegelisahan yang berlebihan hingga alih-alih meraup profit/maju kedepan, ia malah rugi/mundur kebelakang’, inilah yang disebut dengan danger zone, alias zona berbahaya yang sudah diluar OPZ tadi, dan juga diluar zona nyaman.
      Nah! Jadi ketika anda berusaha keluar dari zona nyaman, maka anda harus bisa membedakan: Apakah sekarang anda tengah berada dalam OPZ, atau malah danger zone?? Dalam hubungannya dengan ketika anda mulai invest di saham, maka mudah saja membedakannya: Kalau anda belum apa-apa langsung pake duit besar, pakai margin, pake dana hasil gadai motor, pinjam/kelola dana punya teman atau saudara, hingga langsung resign dari kantor, maka selamat: Anda sudah sukses keluar dari zona nyaman.. tapi langsung nyemplung ke jurang kebangkrutan. Yep, karena kalau anda berinvestasi dengan cara seperti diatas, tak lama setelah anda buka rekening, maka anda yang sebelumnya tidak pernah merasa gelisah (karena rekening bank pasti terisi terus saban tiap bulan), akan tiba-tiba saja merasa gelisah yang berlebihan setiap hari, setiap saat, hingga tidak bisa tidur, karena hasil tabungan anda selama bertahun-tahun bisa lenyap dalam sekejap.
      Jadi untuk berada di OPZ dan bukannya danger zone, maka disitulah kata kuncinya: Anda jangan sampai merasa gelisah yang berlebihan! Caranya? Ya dengan menyetor sejumlah dana yang kalau anda rugi hingga dana tersebut berkurang separuhnya, maka anda tetap akan tenang-tenang saja! Contohnya, kalau gaji anda tiap bulan adalah Rp5 juta, maka mulailah dari Rp5 juta itu saja dulu. Karena kalaupun itu duit 5 juta habis (ini sangat kecil kemungkinannya terjadi, karena artinya anda rugi 100%, tapi anggap saja begitu), maka toh nanti bulan depan juga anda akan dapet duit segitu lagi. Kebanyakan orang yang ‘udah dari dulu ngomong soal saham, tapi sampe sekarang gak berani buka rekening’, itu adalah karena mereka melihat contoh dari temannya yang ‘investor’ yang selalu stress gak karu-karuan karena nyangkut dimana-mana. Padahal si teman ini kemungkinan besar bisa jadi stress gitu karena ia, disadari atau tidak, langsung lompat dari zona nyaman ke zona berbahaya. Misalnya dengan langsung menyetor seluruh tabungan yang mereka miliki ke sekuritas, sedangkan price to earning ratioaja masih bingung cara ngitungnya gimana. Padahal kalau dia masuknya ke zona performa optimal, yakni dengan cara setor kecil dulu, maka ia tetap akan merasa gelisah (karena yang namanya rugi, meski cuma seribu perak, itu rasanya gak enak), tapi gelisahnya tidak akan berlebihan, dan juga tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.
      Kemudian jika ia secara bertahap menyetor sedikit demi sedikit, misalnya secara rutin Rp1 juta per bulan dari gaji bulanan tadi, maka ia akan sampai pada satu titik dimana dana di portofolionya sudah cukup besar, tapi ia tetap tidak merasa terlalu gelisah dalam mengelola dana tersebut, sehingga ia tetap berada di OPZ tadi, dan bukannya danger zone. Nah, jadi kalau anda bertanya, kalau dana investasinya kecil maka nanti cuan-nya juga kecil dong? Maka anda boleh kok pegang dana yang (menurut anda) besar, tapi nyetornya tetap harus sedikit demi sedikit agar kita tetap tidak merasa gelisah yang berlebihan. Jadi jangan setor gede sekaligus. Penulis sendiri, terlepas dari berapa jumlah dana yang kami manage 5 tahun lalu, hari ini, dan 5 tahun yang akan datang, namun kuncinya adalah itu tadi: Jangan sampai kita mengalami gelisah yang berlebihan dalam mengelola dana tersebut hingga kita tidak lagi bisa menganalisa secara logis, dan ujung-ujungnya melakukan blunder yang menyebabkan kerugian.
      Jadi anda bisa menerapkan prinsip yang sama. Contohnya, kalau anda pegang saham A sebanyak 1,000 lot dan anda ngeliatin itu saham setiap hari, dari pagi sampai sore, maka artinya anda terlalu gelisah memegang saham A tersebut. Sehingga sarannya cukup jelas: Jual saham A tadi sebagian, sehingga anda tinggal memegangnya sebanyak 500 lot, 300 lot, atau lebih sedikit lagi. Yang penting, dari sisa saham A yang masih anda pegang ini, anda tidak lagi gelisah melihat sahamnya setiap saat, dan percaya bahwa dalam jangka menengah hingga panjang, saham A tadi akan memberikan anda profit yang memuaskan.
      Okay, I think that’s all. Buat anda yang punya temen yang masih ragu buka rekening, maka boleh share tulisan ini, mudah-mudahan bisa jadi pencerahan.
      Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juli 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

      Anda terlewat hadir di jadwal Seminar Value Investing, Juni 2019 kemarin? Jangan khawatir, anda masih bisa memperoleh rekaman seminarnya disini.

      Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Special Report: Penyebab Anjloknya Saham MNCN dan BMTR, dan Rencana Private Placement

      Pada Kamis, 17 Juni, tepatnya menjelang penutupan pasar, tiga saham Grup MNC yakni Media Citra Nusantara (MNCN), Global Mediacom (BMTR), dan MNC Investama (BHIT), secara bersamaan turun signifikan, gak tanggung-tanggung MNCN dan BMTR bahkan jeblok sampai auto reject (AR) 25 persen! Sedangkan BHIT tersungkur 11.9%. Tidak ada berita atau informasi penting tertentu yang bisa menjelaskan penurunan yang sangat tiba-tiba tersebut, termasuk humas dari MNCN juga sudah mengklarifikasi bahwa tidak ada peristiwa material tertentu yang mengubah fundamental perusahaan. Tapi tidak adanya penjelasan inilah yang justru kemudian menimbulkan sejumlah rumor dan teori konspirasi, salah satunya adalah bahwa jatuhnya MNCN ini adalah karena ulah bandar saham. Benarkah demikian?

      ***

      Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juli 2019 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

      ***

      Setelah menerima banyak pertanyaan terkait sahamnya yang AR kiri, di hari yang sama humas MNCN langsung mengeluarkan press release, yang pada intinya menyebutkan bahwa perusahaan masih membukukan kinerja keuangan yang positif dan bertumbuh, termasuk tetap beroperasional seperti biasa, sehingga penurunan sahamnya tersebut tidak ada kaitannya dengan fundamental, dan juga prospek jangka panjang perusahaan. Pihak humas menambahkan, kemungkinan ada pemegang saham tertentu di MNCN terpaksa (atau dipaksa) menjual sebagian atau seluruh sahamnya sekaligus dalam jumlah besar pada satu hari Kamis tersebut. Karena normalnya jika ada investor yang keluar dalam jumlah besar seperti itu, maka aksi jualnya dilakukan secara bertahap selama beberapa hari hingga beberapa minggu, yakni agar sahamnya tidak turun, atau hanya turun sedikit. Jadi tidak sekaligus dalam 1 hari seperti itu.
      However, pernyataan diatas menimbulkan pertanyaan berikutnya: Siapa pemegang saham besar yang seperti buru-buru keluar dari MNCN tersebut? Sehingga kemudian beredar rumor, ada private equity (PE) asal Korea Selatan yang mengurangi kepemilikan di saham MNCN dan BMTR, tapi tidak disebutkan nama PE tersebut. Sementara dari humas MNCN, maka mereka mengakui adanya transaksi jual beli saham oleh investor institusi, tapi itu bukan karena terjadi perpindahan kepemilikan, melainkan hanya pemindahan kustodi. Maksudnya seperti jika anda transfer/memindahkan uang dari rekening anda di Bank BCA ke Bank Mandiri, tapi dua rekening itu sama-sama dimiliki oleh anda sendiri, sehingga sejatinya pemegang saham yang bersangkutan tidak benar-benar keluar dari MNCN. Dan baru tadi pagi, ramai lagi berita bahwa Hary Tanoesoedibjo angkat bicara: Kalau MNCN berada di level Rp3,000, saya akan mundur! Entah apa itu maksudnya..
      Tapi terlepas dari semua berita dan rumor yang beredar (dan juga klarifikasi dari manajemen terhadap sebagian rumor tersebut), maka dari sisi kaidah value investing, inilah fakta pentingnya: MNCN adalah perusahaan media terintegrasi terbesar di tanah air yang menguasai 35% pangsa pasar stasiun televisi free to air, menguasai 40% industi konten media, dan bahkan merupakan penghasil traffic view terbanyak di Youtube Indonesia.
      Dan penulis sendiri mulai melirik MNCN ini sejak awal tahun 2019 kemarin ketika sahamnya berada di level 750, yang mencerminkan PBV 0.9 kali, atau sangat murah untuk ukuran perusahaan yang merupakan market leader di bidangnya, dan PBV tersebut juga jauh lebih rendah dibanding PBV perusahaan sejenis seperti Surya Citra Media (SCMA). Pembahasan MNCN ini bisa dibaca di Ebook Investment Planning, edisi Kuartal IV 2018.
      But little did I expect, sahamnya dengan cepat naik sampai sempat menyetuh 1,300-an! Jadi ketika sahamnya kemarin tiba-tiba saja drop sampai dibawah 1,000 lagi, maka alih-alih fokus pada penyebab penurunan tersebut, penulis lebih tertarik untuk mempelajari, apakah ini merupakan opportunity atau bukan? Sebab meski MNCN ini menarik pada harga 750, atau setidaknya dibawah 1,000, tapi pada harga 1,300-an, PBV-nya sudah relatif tinggi lagi.
      Right Issue Tanpa Pembeli Siaga
      Dan setelah mempelajarinya lebih lanjut, maka diluar kinerja fundamentalnya yang cukup baik di Kuartal I 2019, prospek jangka panjangnya yang juga menarik karena perusahaan sekarang banyak fokus ke digital media, dan valuasi sahamnya juga masih murah (atau setidaknya reasonable), penulis kemudian baru menemukan satu fakta menarik lagi: Saat ini Grup MNC tengah melakukan penambahan modal secara besar-besaran melalui mekanisme right issue (RI), private placement (PP), hingga IPO secara sekaligus. Yup, beberapa waktu lalu BMTR sudah melaksanakan PP pada harga Rp360 dan Rp372 per saham, kemudian BHIT menggelar right issue pada harga Rp100 per saham. Dan barusan, berdasarkan hasil RUPS-nya, giliran MNCN yang menggelar PP pada harga Rp1,600 – 2,000 per saham, dilanjut MNC Land (KPIG), yang juga akan menggelar PP dalam waktu dekat (harganya belum ditentukan). Seolah belum cukup, Grup MNC pada awal Juni kemarin juga meng-IPO-kan PT MNC Studios International (MSIN), yang merupakan anak usaha MNCN di bidang production house, periklanan, dan manajemen artis. Terakhir, PT MNC Vision Networks, yang juga merupakan anak usaha MNCN, juga akan IPO dalam waktu dekat.
      Nah, penulis belum menghitung, berapa total tambahan modal yang diperoleh Grup MNC dari rentetan aksi penerbitan saham baru diatas, karena untuk sejumlah aksi korporasi seperti PP KPIG dan IPO MNC Vision Networks, jumlah proceeds-nya belum diketahu. Tapi yang jelas angkanya cukup besar, yakni mencapai sekian trilyun Rupiah. Dan disinilah poin pentingnya: Biasanya kan kalau perusahaan melakukan RI atau PP, maka ada pembeli siaga-nya, yakni pihak atau investor strategis tertentu yang siap untuk menyetor sejumlah dana ke perusahaan, dan sebagai gantinya mereka memperoleh saham baru yang diterbitkan. BEI sendiri sebagai otoritas pasar modal memang sengaja menyediakan fasilitas PP bagi investor besar yang hendak menjadi pemilik perusahaan dengan cara menyetor langsung modal ke perusahaan, dan bukan dengan membeli saham milik publik di pasar.
      Tapi dari PP yang dilakukan BMTR, MNCN, dan KPIG, dan juga RI BHIT, semuanya dilakukan tanpa adanya pembeli siaga. Atau dengan kata lain, saham baru yang diterbitkan akan langsung dilempar/ditawarkan ke investor publik (jadi sama seperti IPO), dimana pada proforma komposisi pemegang saham MNCN pasca RI, tampak bahwa kepemilikan publik di MNCN akan meningkat dari 29.9% menjadi 35.1%. Ini pula kenapa manajemen MNCN tidak secara tegas menyebut harga PP-nya di berapa, melainkan pada rentang Rp1,600 – 2,000 per saham. Yang itu artinya, harga pelaksanaan PP MNCN akan ditentukan oleh seberapa besar minat investor untuk membeli saham baru tersebut. Kalau misalnya minat investor ternyata tinggi, maka harga PP-nya bisa disetel pada batas atas. Tapi bagaimana kalau minatnya rendah? Ya harganya ditetapkan di level 1,600, atau bahkan lebih rendah lagi. Namun masih ada skenario ketiga: Jika minat investor publik untuk menebus saham PP MNCN sangat rendah, maka jumlah saham baru yang diterbitkan akan lebih sedikit dibanding rencana awalnya.
      Dan setelah penulis menemukan fakta penting lainnya, yakni bahwa hampir semua perusahaan Grup MNC secara bersamaan menggelar (atau berencana menggelar) public expose dalam beberapa bulan terakhir ini, termasuk Om HT itu sendiri nongol langsung untuk ‘membela’ MNCN, maka kesimpulannya cukup jelas: Saat ini Grup MNC tengah berusaha menggalang dana dari investor publik melalui perusahaan-perusahaan yang mereka miliki, melalui semua mekanisme penambahan modal yang tersedia. Dan meski perusahaan-perusahaan tersebut jumlahnya tampak banyak, tapi sebenarnya mereka sejatinya satu perusahaan saja! You see, MSIN dan MNC Vision Networks adalah anak usaha dari MNCN, sedangkan MNCN adalah anak usaha dari BMTR, dan BMTR pada gilirannya adalah anak usaha dari BHIT. Kemudian KPIG adalah juga anak usaha dari BHIT. Jadi mau anda sebagai investor publik ikut menyetor modal entah itu dalam bentuk RI, PP, atau ikut IPO-nya, tapi ujung-ujungnya yang terima duitnya adalah perusahaan yang posisinya paling diatas yakni BHIT, atau dalam hal ini, Om HT itu sendiri. Dan ini bukan kali pertama Grup MNC melakukan hal ini, karena untuk BHIT sendiri, right issue-nya kali ini bahkan adalah yang ke-6 kali, sejak perusahaan melantai di bursa pada tahun 1997.


      Logo PT MNC Investama, Tbk (BHIT)

      Dua Macam Owner Perusahaan
      Kalau anda pelajari, maka ada dua macam pemilik perusahaan Tbk berdasarkan cara mereka menghimpun dana, dan menumbuhkan perusahaan. Pertama, yang menjalankan operasional perusahaan seperti biasa, mengakumulasi laba yang dihasilkan setiap tahun, membayar dividen, dan menginvestasikan kembali selebihnya. Idealnya pemilik perusahaan bekerja dengan cara seperti ini, dimana investor publik kemudian ikut menikmati pertumbuhan riil perusahaan, dalam hal ini kenaikan aset bersih per saham atau book value per share yang kemudian tercermin pada kenaikan sahamnya dalam jangka panjang, plus dividen setiap tahun.
      However, cara kedua adalah dengan menghimpun dana dari masyarakat, baik itu investor ritel, investor institusi, hingga bank, entah itu dalam bentuk setoran modal (IPO, right issue, private placement), utang obligasi, hingga utang bank. Untuk melakukan hal ini tidak mudah, karena dibutuhkan izin OJK dll, tapi sejumlah grup usaha justru paling jago dalam hal ini. Salah satunya ya Grup MNC, yang meski usaha sektor riil-nya adalah di bidang media, melalui MNCN, tapi sejatinya mereka bisa jadi besar karena kepiawaian sang owner dalam hal menerbitkan saham baru dll, karena memang latar belakang beliau di investment banking. Sebelumnya mungkin perlu diketahui, seorang investment banker adalah mereka yang kerjaannya menciptakan atau menghimpun dana untuk modal suatu perusahaan (capital raising), entah itu perusahaan miliknya sendiri atau milik orang lain. Investment banker berbeda dengan investor atau value investor, karena fokusnya bukan di meningkatkan nilai perusahaan atau mengakuisisi aset-aset bagus pada harga murah, melainkan di, sekali lagi, menghimpun dana.
      Jadi kalau anda lihat Grup Astra, misalnya, maka mereka adalah investor, karena mereka banyak akuisisi aset ini itu untuk disimpan jangka panjang, tapi mereka jarang sekali melakukan right issue atau semacamnya, dan kalaupun mereka melakukan itu maka ada pembeli siaga-nya (jadi gak seperti MNCN diatas, dimana saham barunya ditawarkan ke publik). Atau contoh yang lebih ekstrim lagi adalah Berkshire Hathaway-nya Warren Buffett, dimana jangankan menerbitkan saham baru, BRK bahkan sangat jarang mengambil utang bank. Pun ketika para direkturnya hendak memiliki saham perusahaan, maka BRK tidak menerbitkan saham baru, melainkan para direktur ini disuruh beli sendiri saham BRK di pasar.
      Sedangkan Grup MNC, well, seperti yang disebut diatas, acara penghimpunan dana-nya kali ini adalah yang kali kesekian, dan dana hasil right issue-nya dll bahkan tidak jelas mau dipakai untuk apa kecuali sebatas ditulis untuk ‘modal kerja’. Di satu sisi ini menyebabkan BHIT dkk tidak layak untuk investasi jangka panjang, karena pemiliknya tidak pernah benar-benar berusaha untuk menaikkan nilai perusahaan (dan memang BHIT, BMTR dst, meski dulu pernah naik banyak, tapi ujung-ujungnya turun lagi, dan beberapa saham lainnya seperti KPIG dan MSKY malah gak kemana-mana). Namun disisi lain, kalau misalnya pada waktu-waktu tertentu sahamnya turun banyak hingga valuasi mereka menjadi murah, maka mungkin ada peluang disini. Karena biasanya cepat atau lambat mereka akan naik lagi, entah karena digoreng bandar atau lainnya. Dan karena untuk aset-aset media yang dipegang oleh MNCN, itu beneran kinerjanya bagus kok, dan prospeknya pun cerah terkait Industri 4.0, seperti yang kemarin kita bahas disini (dan inilah kenapa, seperti yang sudah disebut diatas, penulis mulai melirik lagi MNCN ini ketika beberapa bulan lalu sahamnya drop sampai 750).
      Nah, jadi balik lagi ke peristiwa anjloknya saham MNCN dan BMTR sampai 25% dalam sehari, beberapa waktu lalu: Entah itu ada hubungannya atau tidak dengan aksi private placement perusahaan, tapi memang sejak awal kedua saham tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi terkait cara kerja owner-nya yang totally different dengan katakanlah Grup Astra, atau Grup Djarum pemilik Bank BCA (pernah denger Bank BCA right issue?). Penulis sendiri melihat bahwa dalam beberapa waktu kedepan, saham MNCN dkk kemungkinan akan bergerak liar tergantung rumor yang beredar, dan karena itulah sahamnya tidak disarankan bagi anda yang tidak mau berspekulasi, let alone anda ikut PP (kalau anda ditawari), right issue, atau IPO-nya. Actually, cara penghimpunan dana oleh Grup MNC ini masih lebih baik dibanding cara kerja beberapa grup lainnya, yang kadang pake cara repo saham, dimana dalam banyak kasus itu jelas-jelas merugikan investor publik (baca penjelasannya disini). Tapi apapun itu, ingat bahwa owner Grup MNC adalah seorang investment banker, dan bukan benar-benar pengusaha media.
      Disisi lain, jika saham-saham yang disebut diatas entah gimana ceritanya drop pada level yang benar-benar rendah/valuasinya sangat terdiskon, maka penulis sendiri mungkin akan ikut masuk karena, sekali lagi, prospek bisnis digital media oleh Grup MNC ini memang riil adanya, dan mereka adalah memang perusahaan media terbesar di tanah air saat ini. Anyway, untuk saat ini maka mari kita perhatikan dulu bagaimana perkembangan selanjutnya.
      Untuk ulasan minggu depan, ada masukan isu apa lagi yang mau kita bahas?

      Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juli 2019 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

      Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Prospek Bali United FC: Valuasi Setara Inter Milan??

      Ketika PT Bali Bintang Sejahtera, Tbk (BOLA), yang merupakan perusahaan pemilik klub sepakbola Bali United FC, mengumumkan akan IPO, maka penulis menerima banyak pertanyaan dari investor yang juga mengaku sebagai pecinta olahraga sepakbola, terkait prospek dari BOLA ini. Yep, karena kalau melihat industri sepakbola itu sendiri yang digandrungi oleh milyaran penggemar di seluruh dunia termasuk di Indonesia, maka prospek BOLA ini sekilas sangat menarik. Dan kalau misalnya anda adalah supporter dari Bali United itu sendiri, maka terdapat kepuasan tersendiri jika kita bisa menjadi pemilik perusahaan, meski hanya 1 lot sahamnya. Tapi sekarang kita balik lagi ke pertanyaan umum investor: Apakah Bali United FC ini memang menguntungkan?

      ***
      Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning/Ebook Bulanan) edisi Juli 2019 akan terbit tanggal 1 Juli mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.
      ***
      Dibanding klub-klub sepakbola lainnya di Indonesia yang memiliki sejarah panjang, katakanlah seperti Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Persib Bandung, yang masing-masing berdiri pada tahun 1927, 1928, dan 1933, maka usia Bali United terbilang masih sangat belia karena baru berdiri tahun 2015, ketika itu merupakan rebranding dari Persisam Putra Samarinda. Jadi ceritanya Persisam jatuh bangkrut dan diakuisisi oleh pengusaha bernama Pieter Tanuri, yang kemudian membawa klub pindah dari Samarinda ke Gianyar, Bali, dan memberinya nama baru: Bali United. Bali United kemudian dibangun kembali dari nol, dan saat ini mereka berbagi kandang dengan Persegi Gianyar FC di Stadion Kapten I Wayan Dipta di Kabupaten Gianyar, Bali.

      Nah, sebelum kita membahas BOLA, pertama-tama kita telisik dulu industri sepakbola itu sendiri. Perusahaan pemilik klub sepakbola umumnya memperoleh pendapatannya dari tiga segmen utama: Tiket pertandingan, hak siar, dan sponsor. Dan inilah yang perlu dicatat: Untuk dua segmen yang disebut terakhir, yakni hak siar dan sponsor, itu baru berkontribusi menjadi pendapatan dalam dua atau tiga dekade terakhir. Yep, karena meski klub dan kompetisi sepakbola profesional pertama di dunia sudah ada sejak penghujung abad ke-19, yakni di Inggris, namun siaran langsung pertandingan sepakbola di televisi baru ada sejak tahun 1960-an, juga di Inggris, dan pertandingan-pertandingan sepakbola baru disiarkan secara rutin pada dekade 1980 – 1990an. Siaran langsung televisi menyebabkan jumlah penonton pertandingan menjadi jauh lebih banyak, dimana penonton di Indonesia bahkan bisa menyaksikan pertandingan di Italia. Thus, klub sepakbola mulai menarik minat perusahaan untuk menjadi sponsor.
      Jadi sebelum tahun 1980-an, pendapatan klub sepakbola hanya berasal dari tiket pertandingan saja, dan pada masa-masa ini sebuah klub sepakbola sangat sulit untuk bisa membukukan keuntungan, karena pendapatan tiket itu biasanya akan langsung habis untuk membayar gaji pemain dll. Tapi bahkan ketika sekarang ini klub-klub sepakbola mulai memperoleh pendapatan dari hak siar dan sponsor, maka pendapatan tersebut hanya dinikmati oleh segelintir klub yang benar-benar besar dan populer saja, yang memiliki suporter tidak hanya dari kota asalnya, tapi juga dari seluruh dunia. Contohnya seperti Manchester United, Juventus, Bayern Munchen, Real Madrid, dan Barcelona. Diluar itu, klub-klub sepakbola biasanya memiliki posisi tawar yang lemah dihadapan stasiun televisi sebagai pembeli hak siar, atau perusahaan yang hendak menjadi sponsor, karena jumlah fans mereka terbatas. To put it into perspective, meski Manchester United dan Huddersfield Town sama-sama berlaga di English Premier League pada musim 2018 – 2019 kemarin, namun MU memperoleh guyuran £47 juta per tahun dari Chevrolet sebagai sponsor utamanya, sedangkan Huddersfield hanya menerima £1.5 juta dari Ope Sports. Hal ini sangat wajar, tentu saja, mengingat MU memiliki lebih dari ratusan juta penggemar di seluruh dunia, sedangkan jumlah pendukung Huddersfield hanya berkisar di angka puluhan ribu saja.
      Karena itulah, bahkan di Inggris sendiri yang dikenal sebagai ‘home of football’, sekitar 60% klub disana masih membukukan rugi pada dekade 2000-an lalu. Kinerja laba bersih klub-klub sepakbola Inggris baru menjadi positif, dan industri sepakbola itu sendiri mulai tampak profitable, setelah dalam 5 – 10 tahun terakhir ini para klub sepakbola mulai menemukan sumber pendapatan yang baru lagi, mulai dari perdagangan merchandise, lisensi untuk video game dll, mobile media, hak siar streaming, dan media sosial.
      Tapi lagi-lagi, yang diuntungkan dari sumber-sumber pendapatan baru itu tetap hanya klub-klub besar saja, dan Liga Inggris pada saat ini terbilang profitable karena jumlah klub besarnya, dalam hal ini klub yang memiliki jutaan fans dari seluruh dunia, adalah yang paling banyak yakni enam klub (MU, Manchester City, Arsenal, Liverpool, Chelsea, dan Tottenham), dan ini berbeda dengan liga eropa lainnya dimana klub besarnya biasanya hanya ada dua atau tiga klub. Thus, kita bisa katakan bahwa diluar Liga Inggris, maka kinerja klub sepakbola di liga-liga di negara lainnya termasuk Italia, Spanyol, dan Jerman sekalipun, rata-rata masih merugi, atau cuma untung sedikit saja.
      Okay, lalu bagaimana dengan prospek industri sepakbola di Indonesia?
      Seperti halnya di banyak negara lain, bisnis sepakbola di Indonesia juga tidak menguntungkan, terlihat dari banyaknya klub yang bergantung pada APBD pemda setempat untuk biaya operasionalnya, karena pendapatan tiket sama sekali tidak mencukupi, sedangkan pendapatan hak siar dan sponsor juga masih kelewat kecil. Jadi ketika Pemerintah pada tahun 2011 melarang penggunaan APBD untuk operasional klub, maka satu persatu klub sepakbola ‘profesional’ di tanah air bertumbangan. Beruntung, beberapa klub menerima suntikan dana dari pengusaha atau perusahaan swasta, dimana para pengusaha ini kemudian menjadi pemilik dari klub yang bersangkutan. Contohnya Persib Bandung, yang pada tahun 2010 diambil alih oleh seorang venture capitalist, Glenn Sugita, dan kemudian dibentuk badan hukum bernama PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB). Masuknya Mr. Sugita ke Persib ini kemudian mendorong para pemilik modal lainnya untuk juga melakukan hal yang sama, salah satunya Pieter Tanuri, yang masuk dan mendirikan Bali United.
      Tapi apakah ditangan para pengusaha swasta ini, Persib Bandung dkk menjadi menguntungkan? Sayangnya, tidak juga. Meski laporan keuangannya tidak bisa diakses karena perusahaannya belum Tbk, namun banyak sumber menyebutkan bahwa PT PBB masih merugi. Atau dengan kata lain Mr. Sugita dan konsorsium-nya masih terus tekor saban tahun untuk menghidupi Persib. Padahal disisi lain, dengan supporter yang berasal dari hampir seluruh Provinsi Jawa Barat, sedangkan Jabar itu sendiri adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, maka Persib adalah klub paling populer di Indonesia, bahkan salah satu yang paling populer di Asia Tenggara. Termasuk pertandingannya baik kandang maupun tandang selalu dipenuhi oleh bobotoh, dan seragam Persib sekarang ini juga dipenuhi oleh banyak logo sponsor.
      But still, Persib masih merugi. Dan kalau klub sebesar Persib saja masih rugi, lalu bagaimana dengan klub-klub lain yang lebih kecil?? Terjadinya kerugian ini bukan karena ada yang salah dengan pengelolaan klub sepakbola yang bersangkutan, melainkan karena sejak awal industri sepakbola itu sendiri memang gak menguntungkan apalagi di Indonesia, dimana pada level regional Asia Tenggara sekalipun, kita masih jauh dibelakang Thailand.
      Lalu bagaimana dengan Bali United? Ya seperti yang bisa anda tebak: Hingga akhir tahun 2018 lalu, perusahaan masih membukukan saldo defisit Rp13 milyar. Pada tahun 2018 tersebut BOLA memang membukukan laba bersih Rp5 milyar, tapi laba segitu tentunya kelewat kecil dibanding pendapatannya yang mencapai Rp115 milyar, sehingga bisa berbalik menjadi rugi lagi sewaktu-waktu. Dan kalaupun kita anggap bahwa laba Rp5 milyar tadi akan konsisten bertahan dan tumbuh, tapi laba segitu tetap saja jauh lebih kecil dibanding ekuitas perusahaan senilai Rp118 milyar (sebelum IPO), atau dengan kata lain ROE-nya gak nyampe 5%. Padahal, thanks to Mr. Tanuri yang punya banyak relasi ke perusahaan-perusahaan besar, Bali United kemudian sukses menggaet banyak sponsor, dan memang lebih dari 70% pendapatan perusahaan berasal dari sponsor ini, yang rata-rata merupakan pihak berelasi. Misalnya PT Multistrada Arah Sarana (MASA), yang dimiliki oleh Pieter Tanuri itu sendiri. Jadi bisa dibilang bahwa Mr. Tanuri sejatinya men-subsidi Bali United melalui MASA. Tanpa adanya ‘subsidi’ ini, maka Bali United harusnya tetap merugi.
      Prospek Sepakbola Indonesia di Masa Depan
      Hanya memang kalau bicara prospek, maka ada dua hal yang bisa dijadikan argumentasi bahwa saham BOLA bisa dipertimbangkan untuk investasi. Pertama, seperti yang disebut diatas, dengan berkaca pada pengelolaan Liga Inggris, maka industri sepakbola pada hari ini tidak lagi merugikan seperti di masa lalu, melainkan sudah menghasilkan keuntungan yang signifikan. Okay, sepakbola di Indonesia memang masih jauh kalau dibanding Inggris, tapi dalam hal ini kita lihatnya beberapa tahun hingga beberapa dekade kedepan. Ingat pula bahwa jumlah penduduk penggemar sepakbola di Indonesia juga sangat banyak, sehingga Bali United dkk tidak perlu memiliki supporter dari luar negeri untuk bisa mendapatkan penghasilan dari hak siar dan sponsor yang cukup.
      Kedua, juga seperti yang disebut diatas, sekarang ini para klub-klub sepakbola punya banyak sumber income baru, dimana dalam hal Bali United, sumber pendapatan baru tersebut meliputi penjualan merchandise, café untuk nobar (nonton bareng), tempat bermain anak di sekitar stadion, streaming media, hingga e-sports. Termasuk dari dana hasil IPO-nya sebesar Rp350 milyar, mayoritas digunakan untuk mengembangan Bali United Store, aplikasi, hingga akademi sepakbola. Kesemua sumber anyar pendapatan ini memang belum benar-benar berkontribusi terhadap kinerja perusahaan. Namun jika manajemen mampu mengoptimalkan dana hasil IPO-nya untuk pengembangan tadi, maka cukup menarik untuk melihat bagaimana kinerja Bali United dalam beberapa tahun mendatang.
      Nevertheless, dalam value investing biasanya kita lihat kinerja terbaru dan kinerja historis perusahaan terlebih dahulu, lalu baru lihat prospeknya. Dan karena Bali United tidak atau belum memiliki track record keuangan yang bagus, termasuk industri sepakbola di Indonesia itu sendiri belum benar-benar menguntungkan, maka sulit untuk menjadikan sahamnya sebagai pilihan investasi. Sementara dari sisi valuasi sahamnya, Bali United ini juga mencengangkan: Pada harga perdananya yakni Rp175 per saham, market cap BOLA tercatat Rp1.05 trilyun, dan pada harga sahamnya saat ini yakni 370, market cap itu menjadi Rp2.2 trilyun, yang masih bisa naik lagi jadi Rp3 – 4 trilyun kalau besok-besok sahamnya lanjut naik. Sebagai perbandingan, ketika Suning Group asal China mengakuisisi 68.55% saham Inter Milan FC pada tahun 2016, perusahaan membayar US$ 307 juta, sehingga bisa dikatakan bahwa nilai 100% saham Inter adalah US$ 448 juta, atau Rp6.4 trilyun. Nah, jadi apakah dalam hal ini nilai Bali United memang mencapai separuh dari nilai Inter, yang notabene merupakan salah satu klub sepakbola paling populer di dunia???

      Jadi kesimpulannya, well, silahkan anda simpulken sendiri.

      Untuk minggu depan kita akan bahas tentang MNC Group (MNCN, BMTR, BHIT). Bagi anda yang ingin memperoleh prospektus lengkap Bali United bisa kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek ‘Prospektus Bali United’.

      Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Seminar Pak Joeliardi Sunendar, Jakarta, Sabtu 29 Juni


      Materi Pembukaan

      Kisi-kisi Materi Seminar
      A. Capital Market – Introduction
      • A world billionaire list – One obvious similarities among those in the list.
      • Stocks – The best performing asset class, but only few interested. Why? Gentlemen who prefer bonds do not know what they miss.
      • What is capital Market? – There seems to be some perverse human character that like to make easy things difficult.
      • The dumb money vs Smart money -  Who’s the real winner? The miracle of St. Agnes. The advantage of being an individual investor.
      B. Buffett – The Superinvestor
      • Who’s Warren Buffett? – A story about 2,404,748% increase in market value.
      C. Core Principles of Smart and Simple Way of Stock Investing
      • The magic of compounding – The younger, the better. The stock market is a device for transferring wealth from the impatient to the patient.
      • Invest in Good Companies – What are the metrics of a good company? Economic moats, capital efficient.
      • The Magic Concept of Margin of Safety – A good company purchased at bad price is not a good investment
      • Time – It is a friend for a wonderful company, and enemy of a mediocre company.
      • Focus Investment vs Diversification – Which is better?
      D. Equity Bond
      • How to find forever stock – Buffett and beyond.
      • Is Buffett ways the only way to succeed? Of course not! – Sector focus, ETF, Index Fund.
      • Now and the future – United States of America in 1960, and Indonesia in 2010.
      • Stocks in Indonesia Stock Exchange – Be prepared to be the owner of great companies.
      • World wealth – 99% of World GDP is also waiting for you.
      • Other opportunities – Commodities, options, REITS
      E. Option Trading
      • A secret method – Your broker does not want you to do it!
      • Extra Income – How to collect extra income with no risk.
      • Return vs Risk – How to acquire higher return with less risk.
      ***
      Pembicara: Bapak Joeliardi Sunendar, investor senior yang sudah berinvestasi di saham sejak tahun 1990-an. Profil beliau bisa dibaca di gambar berikut, klik gambar untuk memperbesar.
      Penulis (Teguh Hidayat) juga pernah membuat video diskusi tanya jawab investasi saham dengan Pak Joeliardi, dan anda bisa menonton salah satu video tersebut pada link Youtube dibawah ini:
      Okay, berikut informasi lokasi dan jadwal acara seminarnya
      • Lokasi: Wyndham Hotel, Jln. Casablanca Kav. 28, Jakarta Selatan.
      • Hari dan Tanggal: Sabtu, 29 Juni 2019.
      • Waktu: Full day, pukul 08.00 – 18.00 WIB.
      Seminarnya dibawakan dalam Bahasa Indonesia. Setiap peserta akan memperoleh buku ‘Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal’ (ditulis oleh Pak Joeliardi), dan sertifikat.
      ***
      Biaya untuk ikut seminarnya adalah Rp2,500,000 per peserta.
      Untuk registrasi, bisa langsung kirim email ke teguh.idx@gmail.com, dengan subjek: Daftar Seminar Pak Joeliardi, dan isi: Nama lengkap anda. Nanti anda akan menerima email berisi informasi nomor rekening bank (bukan rekening penulis), lalu anda transfer kesitu kemudian kirim bukti transfernya. Dan setelah itu anda akan menerima email lagi yang berisi konfirmasi, bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta seminar.
      Demikian, semoga bermanfaat!
      Untuk seminar dengan pembicara penulis (Teguh Hidayat), jadwalnya adalah juga di Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019, dengan biaya Rp1,500,000 per peserta (hingga Senin, 17 Juni, masih tersedia kursi untuk 4 peserta lagi). Info selengkapnya klik [...]

      Inilah Saham yang Diuntungkan Revolusi Industri 4.0

      Menurut Wikipedia, Industry 4.0 atau disingkat I4, adalah trend industri saat ini dimana segala sesuatunya sudah sangat berhubungan dengan teknologi digital, komputer, internet, artificial intelligence (AI), hingga cyber-physical system. Bahasa gampangnya, I4 adalah aplikasi-aplikasi yang ada di smartphone anda saat ini, yang menawarkan fungsinya masing-masing. Termasuk ketika anda membaca blog ini, maka bukanya pakai aplikasi browser bukan? Entah itu Google Chrome, Opera, atau lainnya, atau melalui email yang masuk ke aplikasi inbox email anda, jika anda berlangganan newsletter.

      ***
      Jadwal Kelas Seminar Value Investing: ‘Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’. Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019. Info selengkapnya baca disini. Tersedia DISKON earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 17 Juni.
      ***
      Dan semakin kesini, para pengusaha dan pelaku industri tradisional mau tidak mau harus beradaptasi dengan revolusi I4 ini, dimana mereka yang gagal beradaptasi maka akan mengalami kemunduran. Contohnya, seorang teman penulis yang punya toko grosir elektronik di Mangga Dua, Jakarta, sejak sekitar 5 tahun lalu sudah merasa kalau tokonya sepi pengunjung, dan ia kemudian menyadari bahwa itu adalah karena para pembeli mulai beralih ke toko online. Jadi ia mulai membuka ‘official store’ entah itu dalam bentuk website, Facebook Fan-page, dan mendaftar di market place seperti Bukalapak, dan Tokopedia. Alhasil, tokonya rame lagi, bahkan lebih rame dari sebelumnya, karena sekarang pembelinya tidak cuma dari Jakarta dan sekitarnya, tapi dari seluruh Indonesia (dan barangnya dikirim melalui jasa ekspedisi). Untuk toko fisiknya yang di Mangga Dua juga tetap beroperasi seperti biasa untuk melayani pembeli yang langsung datang ke lokasi, atau supir gojek yang mengambil barang. Namun, teman penulis ini melanjutkan, ia melihat bahwa beberapa toko tetangganya mulai tutup satu per satu, karena alasan sepi pengunjung.
      Nah, dari sini kelihatan bahwa ketika kehadiran I4 disatu sisi menaikkan omzet para pemilik industri dan usaha, namun disisi lain justru ‘mematikan’ mereka yang tidak mampu beradaptasi, yang masih bersikukuh untuk jualan dengan cara tradisional. Dan tidak hanya pada usaha kecil dan menengah (UKM), hal ini juga terjadi pada perusahaan Tbk yang besar-besar sekalipun. Contohnya, kalau anda pehatikan, kinerja atau perolehan laba bersih Astra International (ASII) cenderung stagnan sejak beberapa tahun lalu, tapi hal yang berbeda dialami oleh Telkom (TLKM), dimana labanya naik terus. Dan alhasil, kenaikan saham TLKM dalam lima tahun terakhir jauh lebih tinggi dibanding ASII, demikian pula dividennya lebih besar dibanding ASII. Awalnya penulis berpikir, ASII bisa ketinggalan kereta karena memang usaha terbesarnya ada di komoditas, dalam hal ini batubara dan sawit/CPO, dimana sektor komoditas ini memang sangat fluktuatif/kalau harga batubara turun maka mau gak mau kinerja ASII juga bakal tertekan. Namun disisi lain, TLKM bisa terus melesat karena dia memang sejak awal merupakan perusahaan information and communication technology (ICT) yang spesialis jualan kuota internet dan produk-produk sejenis, dimana memang produk itulah yang amat sangat dibutuhkan oleh masyarakat, seiring dengan terus berlanjutnya Revolusi Industri 4.0.
      Kemudian, anda tahu apa yang membuat kinerja big four banking di Indonesia yakni Bank BCA, BRI, Mandiri, dan BNI terus saja naik dalam beberapa tahun terakhir? Yep, faktor utamanya adalah karena memang kondisi makroekonomi Indonesia sejauh ini terbilang aman-aman saja, dimana kinerja sektor perbankan suatu negara adalah merupakan cerminan dari kinerja makroekonomi negara itu sendiri. Tapi faktor lainnya yang juga penting, adalah karena para bank ini sukses beradaptasi dengan perkembangan I4, dimana sekarang ini kita sudah sangat terbiasa dengan i-banking, m-banking, e-money, dan seterusnya, yang memungkinkan kita untuk tidak lagi pergi ke kantor bank, atau bahkan mesin ATM, untuk melakukan transaksi perbankan. Sebenarnya ada juga anggapan bahwa kehadiran fintech hingga cryptocurrency mungkin akan bisa menggeser kehadiran institusi perbankan, tapi sejauh ini hal itu tidak atau belum terjadi, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, yang mungkin karena para lembaga perbankan itu sendiri juga mampu memanfaatkan keberadaan teknologi untuk meningkatkan kinerja mereka.
      Prospek Emiten Teknologi
      Tapi intinya, diluar berbagai macam isu yang melanda bursa saham dalam beberapa tahun terakhir seperti sentimen ‘tahun pemilu’ di Indonesia, upgrade sovereign rating Indonesia oleh S&P, kenaikan Fed Rate, hingga perang dagang antara Amerika vs China, maka penulis menganggap bahwa isu industri 4.0 inilah yang sebenarnya paling penting untuk diperhatikan. Karena dengan adanya trend I4 ini, maka selain mengerjakan analisa saham dan stock screening seperti biasa, investor juga dituntut untuk bisa membedakan emiten mana yang mampu beradaptasi dengan revolusi I4, dan emiten mana yang tidak. Contohnya, di blog ini sejak beberapa tahun lalu penulis selalu katakan bahwa saham ASII cocok untuk investasi jangka panjang. Tapi jika perusahaan tidak membuat aplikasi atau portal khusus untuk jual beli batubara, misalnya, maka kemungkinan omzet-nya akan sulit untuk berkembang, dan kalau demikian maka sahamnya tidak lagi bisa dijadikan sebagai legacy stock. Untungnya, manajemen ASII dalam beberapa waktu terakhir memang terbilang serius dalam hal meng-digital-kan unit-unit usahanya, contohnya mereka melalui United Tractors (UNTR) sekarang punya www.klikut.com bagi konsumen yang hendak membeli alat-alat berat dan sparepart-nya. Jadi mari kita lihat bagaimana hasilnya nanti.
      Diluar dua kelompok emiten yakni yang mampu beradaptasi dengan I4, dan yang tidak, maka ada satu lagi kelompok emiten yang sudah pasti akan diuntungkan dengan adanya I4, yakni emiten/perusahaan berbasis teknologi itu sendiri. Contohnya ya TLKM tadi, atau Metrodata Electronics (MTDL), hingga Erajaya Swasembada (ERAA). Kemungkinan dalam beberapa tahun kedepan, beberapa start-up teknologi dari dalam negeri juga akan menggelar IPO, sehingga investor bisa membeli sahamnya dan turut menikmati pertumbuhan jangka panjangnya. Faktanya adalah, saat ini dari 10 orang terkaya di dunia, 5 diantaranya yakni Jeff Bezos, Bill Gates, Larry Ellison, Mark Zuck, dan Larry Page, kesemuanya merupakan tech entrepreneur, dan bahkan Carlos Slim Helu juga bisa disebut sebagai pengusaha teknologi, mengingat investasi terbesarnya terletak di America Movil, perusahaan mobile telecom terbesar di Amerika Latin.

      Smartphones, the ‘center of our lives’, klik gambar untuk memperbesar
      Nah, jadi bukan tidak mungkin bahwa dalam satu atau dua dekade kedepan, daftar 10 orang terkaya di Indonesia akan tidak lagi didominasi nama-nama tradisional seperti Keluarga Djarum, tapi juga para pengusaha teknologi, dan kita bisa turut menikmati prospek jangka panjang di sektor anyar ini melalui instrumen bursa saham. Sudah tentu, ini bukan berarti perusahaan teknologi, atau perusahaan yang mampu beradaptasi dengan penggunaan teknologi yang listing di bursa, saham mereka semuanya layak invest, karena kita tetap harus menganalisa track record kinerja perusahaan, kualitas manajemennya, dll. Dan diluar beberapa emiten yang sudah disebut di artikel ini, sebenarnya di BEI masih ada lagi sejumlah emiten lainnya yang jenis usahanya berhubungan langsung dengan teknologi, tapi tidak penulis sebutkan karena laporan keuangannya tidak profitable.
      Tapi intinya kalau anda menemukan dua saham yang fundamentalnya sama-sama bagus, prospeknya sama-sama cerah, dan valuasinya juga sama-sama murah, maka coba cek lagi, emiten yang mana yang lebih aktif di media sosial untuk jualan dan/atau mempromosikan produk-produk mereka. Beberapa waktu lalu penulis mendengar bahwa ada sejumlah perusahaan yang kalau mereka membuka lowongan pekerjaan, maka pelamar diwajibkan untuk menyertakan akun medsos di CV yang mereka kirimkan. Nah, jadi sebagai investor, kita juga bisa mengecek akun medsos milik si perusahaan itu sendiri, lalu baru kita beli sahamnya :D
      Jadwal Kelas Seminar Value Investing: ‘Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’. Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019. Info selengkapnya baca disini. Tersedia DISKON earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 17 Juni.

      Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik ‘View on Instagram’ berikut ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Asuransi Unitlink vs Saham: Mana yang Lebih Menguntungkan?

      Mudik lebaran kemarin penulis dapet cerita dari salah seorang bibi. Jadi ceritanya ia membeli produk unitlink dari sebuah perusahaan asuransi, dengan cicilan tetap Rp500,000 per bulan selama 10 tahun, sejak bulan Oktober tahun 2009 lalu. Ketika itu agen asuransinya bilang, dengan unitlink ini maka ibu dapet dua keuntungan sekaligus. Yang pertama adalah proteksi, dimana kalau ibu sakit maka dapat uang pertanggungan (UP) sebesar maksimal Rp120 juta, dan yang kedua adalah investasi, dimana setelah 10 tahun maka ibu akan menerima pembayaran tunai sebesar Rp60 juta (Rp500 ribu x 12 bulan x 10 tahun), bahkan bisa lebih dari itu kalau hasil investasinya tinggi. Sebab uang yang disetorkan tiap bulan akan kami putar/kami investasikan, dan ibu akan menerima keuntungannya.
      ***
      Jadwal Kelas Seminar Value Investing: ‘Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’. Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019. Info selengkapnya baca disini. Tersedia DISKON earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 17 Juni.
      ***
      Nah, berhubung sekarang sudah bulan Juni 2019, alias sebentar lagi bakal genap 10 tahun, dan selama itu bibi penulis ini rutin menyetor Rp500,000 per bulan tanpa pernah terlambat sekalipun, termasuk juga tidak pernah sakit yang serius (jadi UP-nya belum dipakai), maka ia iseng-iseng menghubungi agen asuransinya, untuk menanyakan berapa nilai ‘investasinya’ saat ini. Tapi alangkah kagetnya ketika si agen menjawab, nilainya Rp31 juta. Padahal kalau hitung nilai pokok setorannya saja (belum termasuk proyeksi keuntungan yang disampaikan sebelumnya), maka harusnya nilai tabungannya sampai Mei 2019 kemarin sudah Rp57.5 juta (Rp500 ribu x 115 bulan). Jadi kenapa ini malah berkurang sampai hampir setengahnya? Dan si agen menjawab, pertama, memang ada potongan-potongan untuk meng-cover UP tadi, dan juga biaya administrasi bla bla bla. Dan kedua, ini karena bursa saham lagi turun, makanya investasi sekarang lagi rugi semua. Bibi penulis nanya lagi, tapi dulu kamu gak bilang apa-apa soal saham turun? Saham rugi? Dan apa pula itu saham? Lalu baru agen juga menjelaskan tentang tiga kemungkinan hasil investasi yakni rendah, sedang, dan tinggi. Jadi dalam skenario ‘hasil investasi rendah’, maka hasilnya memang bisa ‘kurang memuaskan’.
      Pada titik ini bibi penulis sudah males untuk bertanya lagi, karena sejatinya dia sudah ingin murka saja. Karena ia inget persis bahwa di tahun 2009 lalu (biasanya daya ingat ibu-ibu jauh lebih kuat dibanding bapak-bapak), si agen asuransi ini tidak ngomong sedikitpun soal risiko nilai tabungannya bakal turun, atau rugi, apalagi tinggal sisa separuhnya seperti itu. Termasuk juga gak ada penjelasan apa-apa soal biaya tetek bengek bla bla bla. Dan yang pasti, ia sekarang sangat menyesal. Karena kalau uang Rp500,000 per bulan tadi disetor ke deposito saja, maka setelah 10 tahun hasilnya benar minimal Rp60 juta belum termasuk bunga, dan tanpa ada risiko apapun.
      Nah, actually penulis tidak kaget dengan cerita si bibi diatas, karena sejak dulu juga kalau saya googling, di internet ada banyak cerita serupa dari para nasabah unitlink asuransi, dimana jangankan menerima prospek keuntungan yang disebutkan di awal pembukaan rekening, nilai ‘investasi’ mereka malah berkurang. Ini mending kalau berkurangnya cuma sedikit, lha ini berkurangnya gede banget, bisa lebih dari setengah dari total nilai pokok setoran. Penulis sendiri sering ditelpon orang yang mengaku dari BCA, Mandiri dst, tapi ujung-ujungnya mereka menawarkan produki unitlink dari perusahaan asuransi tertentu. Namun sebelum mereka ngomong lebih jauh, saya langsung menolak dengan halus.
      Lalu apa sebenarnya asuransi unitlink ini? Dan kenapa hampir semua testimoni menyebutkan bahwa unitlink ini sangat merugikan?
      Jadi pada awal mulanya, cara kerja asuransi adalah sebagai berikut: Nasabah dijanjikan UP sebesar maksimal sekian Rupiah jika terjadi peristiwa tertentu yang membutuhkan uang dalam jumlah besar, misalnya jika anda sakit dan harus dirawat di RS (jika asuransinya adalah asuransi kesehatan). Sebagai gantinya, nasabah harus membayar premi sebesar sekian persen dari UP tadi, biasanya sekitar 1 – 4% (jadi kalau UP-nya Rp100 juta, maka preminya Rp1 – 4 juta) tergantung banyaknya jenis penyakit yang di-cover, tingkat risiko si nasabah untuk menderita sakit, lamanya masa proteksi, dst.
      Jadi kalau anda kemudian jatuh sakit dan asuransinya masih berlaku/masih dalam masa proteksi, maka sebagian atau bahkan seluruh biaya rumah sakitnya akan ditanggung oleh pihak perusahaan asuransi, sehingga barulah dalam hal ini asuransi yang anda ambil akan terasa manfaatnya. Tapi bagaimana jika selama masa proteksi anda sehat-sehat saja? Ya kalau gitu uang premi yang anda setorkan hangus begitu saja, dan kalau anda mau memperpanjang masa proteksi maka anda harus bayar premi lagi.
      Bagian dimana uang premi hangus inilah, yang tidak disukai oleh nasabah karena kesannya mereka jadi rugi, sehingga dalam hal ini pihak perusahaan asuransi jadi sulit untuk memasarkan produknya. Karena itulah, perusahaan asuransi kemudian menciptakan produk ‘asuransi sekaligus tabungan/investasi’, yang dikenal sebagai unitlink. Perbedaan mendasarnya sebagai berikut:
      1. Nasabah tetap mendapatkan UP jika sakit dll, tapi nilainya jauh lebih kecil dibanding asuransi biasa. Contohnya bibi penulis diatas, UP-nya cuma Rp120 juta, dibanding nilai setoran premi-nya yang mencapai Rp60 juta setelah 10 tahun. Ini berarti premi-nya mencapai 50% dari nilai UP.
      2. Meski UP-nya kecil, tapi uang premi yang disetor ke unitlink tidak akan hangus termasuk jika UP tadi dicairkan, dan bahkan bisa bertambah jika hasil investasinya bagus. Ini karena uang premi tersebut akan dibelikan instrumen investasi, biasanya reksadana. Tapi disisi lain kalau hasil investasinya jelek, maka ya nilai pokok setorannya tetap bisa berkurang.
      Nah, bagian dimana ‘nilai pokok setorannya bisa berkurang’ inilah, yang biasanya tidak dijelaskan oleh si agen asuransi. Karena jangankan dijelaskan soal risiko investasi saham bla bla bla, si nasabah cuma bisa ngerti kalau dia ini seperti sedang menabung di bank, dan tetap mendapatkan proteksi kalau sakit. Termasuk si nasabah juga tidak tahu menahu kalau uang premi yang disetor tetap dipotong sebagian untuk biaya proteksi itu sendiri (jadi pada akhirnya uang premi tersebut tetap hangus, tapi kelihatannya tidak hangus seluruhnya karena toh sejak awal setoran premi-nya sangat besar dibanding nilai UP-nya). Malah kalau hasil investasinya ‘rendah’, maka kerugian si nasabah sejatinya jadi lebih besar lagi dibanding jika ia ambil asuransi biasa, karena ibarat sudah uang preminya hangus, ditambah sekarang nyangkut pula di reksadana. Dan, oh, masih satu lagi: Mau hasil investasinya untung atau rugi, tapi setoran premi nasabah juga tetap dipotong untuk bagian keuntungan perusahaan asuransi, komisi si agen (nama biayanya bisa biaya akuisisi, biaya admin dst, tapi intinya banyak potongannya), dan juga fee untuk manajer investasi (MI). Sebab perusahaan asuransi tidak langsung membeli saham, obligasi dll di pasar, melainkan mereka membeli unit reksadana yang dikelola oleh MI, dimana MI ini memungut management fee sekitar 1 – 2% per tahun dari total nilai dana yang dikelola, tak peduli hasilnya untung atau rugi.
      Dari penjelasan diatas maka bisa dilihat kenapa nasabah asuransi unitlink rata-rata tekor bolak balik. Karena jangankan jika hasil investasinya rugi, jika investasinya untung pun maka mereka tetap rugi karena premi yang disetorkan sejak awal sudah dipotong biaya ini itu, yang jumlahnya lebih besar dibanding asuransi biasa.
      Tapi Pak Teguh, kalau unitlink ini lebih banyak merugikan ketimbang menguntungkan, lalu kenapa produknya sampai sekarang gak dilarang oleh OJK? Ya karena pihak agen asuransi termasuk perusahaan asuransi itu sendiri dalam hal ini tidak melanggar hukum apapun (kecuali kalau ada oknum agen asuransi yang sengaja memberikan info yang salah, tapi itu lain cerita). Karena risiko terkait kerugian investasi, potongan biaya ini itu, hingga ilustrasi hasil investasi, semuanya sudah dijelaskan di lembar polis asuransi ketika si nasabah membuka rekening. Kemudian kalau nasabah unitlink ini beneran sakit, maka UP tadi beneran dibayarkan kok. Sehingga bagi nasabah yang sempat sakit dan menerima UP, maka unitlink ini justru sangat terasa manfaatnya. Thus, mau nasabah protes sampai bawa-bawa Hotman Paris sekalipun, biasanya si agen hanya akan mengeluarkan satu mantra sakti ini saja: ‘Jenengan sudah baca polisnya? Disitu sudah dijelaskan semuanya, jadi jangan protes!’
      Okay, lalu bagaimana dengan investasi saham secara langsung? Well, meski tentunya ada banyak juga cerita investor yang rugi di saham, tapi biasanya itu adalah karena tiga hal berikut: 1. Si ‘investor’ ini sejatinya belum bisa disebut sebagai investor, karena ia masih belajar/masih pemula, 2. IHSG-nya lagi turun, atau 3. Terjadi force majeure dimana emiten bangkrut atau semacamnya, sehingga nilai sahamnya anjlok, misalnya seperti kasus Tiga Pilar Sejahtera (AISA) dulu.
      Sementara diluar tiga faktor diatas, maka bagi investor yang sudah cukup pengetahuan dan pengalaman, normalnya dia akan cuan minimal sebesar kenaikan IHSG itu sendiri, dan maksimalnya bisa jadi trilyuner seperti Om Lo Kheng Hong. Contohnya bibi penulis diatas: Jika ia rutin menyetor Rp500,000 per bulan sejak Oktober 2009 untuk beli saham BBCA dkk lalu tutup mata (tak peduli pasar mau terbang atau jeblok), maka pada hari ini nilai portonya akan lebih dari sekedar Rp60 juta, mungkin jadinya sekitar Rp100 jutaan. Karena IHSG pada Oktober 2009 berada di level 2,500, sedangkan sekarang sudah diatas 6,000, atau naik lebih dari dua kali lipat belum termasuk dividen.  Dan satu-satunya biaya yang harus anda bayar hanyalah trading fee (dan juga pajak dividen, kalau anda terima dividen), yang jumlahnya tidak akan terlalu besar asalkan anda jarang melakukan trading itu sendiri (jadi beli lalu hold saja). Hanya memang dalam hal ini si bibi jadi gak punya proteksi asuransi, dimana kalau ia sakit maka harus bayar sendiri. Tapi yah, untuk proteksi asuransi ini maka bisa beli polis lagi toh? Dalam hal ini asuransi murni ya, misalnya BPJS, jadi bukan unitlink.

      Daripada nabung di bank, mending beli saham bank

      Jadi kalau dirunut lagi dari awal, masalah yang dialami bibi penulis tadi kronologisnya adalah sebagai berikut: Orang mau punya asuransi kesehatan, tapi gak mau kalau premi asuransinya ‘hangus’, sedangkan dia sehat-sehat saja. Alhasil produk asuransi yang murni jadi nggak laku. Solusinya, perusahaan asuransi bikin unitlink agar timbul kesan bahwa premi yang dibayarkan nasabah tidak hangus, dan bahkan bisa balik lagi dengan nilai lebih besar karena diinvestasikan, atau minimal sama dengan nilai total setorannya, dimana hal inilah yang ditekankan berkali-kali oleh si agen (tapi soal risiko, biaya dst gak dijelaskan, atau cuma disampaikan sekilas saja). Dan ketika realisasinya tidak seperti yang dipaparkan di awal, maka barulah nasabah menyadari there is something wrong, tapi itu sudah terlambat.

      Anyway, mau itu asuransi murni, unitlink, reksadana, atau anda langsung invest sendiri di bursa saham, maka problem terbesarnya tetap di satu hal itu saja: Edukasi. Karena harus diakui, literasi keuangan di Indonesia masih sangat kurang, dan masalahnya orang-orang lebih suka membaca berita atau nonton debat politik ketimbang baca polis asuransi, prospektus, laporan keuangan emiten, atau artikel-artikel edukasi investasi seperti yang banyak disajikan di blog ini. Jadi buat temen-temen yang lebih beruntung karena sudah cukup mengerti soal saham dll, please share your knowledge, minimal ke saudara-saudara terdekat. Atau gampangnya, ajak mereka buat baca TeguhHidayat.com, semoga bisa bermanfaat.

      Dan buat anda yang punya pengalaman dengan asuransi unitlink, bisa share pengalaman tersebut melalui kolom komentar dibawah.
      Jadwal Kelas Seminar Value Investing: ‘Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’. Amaris Hotel Thamrin City, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2019. Info selengkapnya baca disini. Tersedia DISKON earlybird untuk peserta yang mendaftar sebelum tanggal 17 Juni.

      Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Seminar Value Investing, Jakarta, 22 Juni 2019

      Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang’ di Jakarta, hari Sabtu, 22 Juni 2019. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menilai fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, hingga cara menabung saham untuk simpanan aset jangka panjang. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:


      Pembicara: Teguh Hidayat

      Materi Utama:
      1. Lebih detil tentang konsep value investing, suatu metode paling santai sekaligus paling menguntungkan dalam investasi saham: Bagaimana agar kita bisa meraup keuntungan besar dari saham tanpa perlu lagi duduk didepan monitor tiap hari.
      2. Cara cepat untuk screening/menemukan saham bagus dari ratusan laporan keuangan perusahaan,
      3. Cara untuk memperoleh seluruh informasi penting dan valid tentang perusahaan hanya dalam 30 menit atau kurang.
      4. Hanya dengan tiga indikator sederhana, kita bisa menghitung nilai wajar/nilai intrinsik saham, dan menentukan apakah harga sebuah saham terbilang murah/undervalue, wajar, atau mahal, plus bonus kalkulator untuk menghitung harga wajar saham (file excel)
      5. Cara menentukan harga terbaik untuk membeli saham, serta menentukan target harganya.
      6. Cara mengetahui kapan harus membeli dan menjual saham,
      7. Ciri-ciri wonderful company, yang sahamnya bisa di-hold as long as possible, serta apa bedanya dibanding saham biasa, dan
      8. Cara menganalisa manajemen emiten/perusahaan: Apakah mereka pekerja keras, jujur, serta benar-benar berpihak kepada investor termasuk investor ritel?
      Bonus Materi Tambahan:
      1. Cara menabung saham untuk jangka panjang 5 – 10 tahun dengan menyicil membeli saham yang sama setiap bulan (strategi Dollar Cost Averaging untuk menghasilkan capital gain dan dividen), dan apa saja pilihan saham yang disarankan,
      2. Lebih detil tentang tiga tips penting untuk investor pemula untuk survive di tahun-tahun awal di pasar saham, dan
      3. Cara untuk menjadi investor santai, yang hanya perlu melakukan analisa selama 5 menit setiap harinya, namun tetap menghasilkan kinerja profit diatas rata-rata pasar.
      Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas. Materinya akan cukup banyak (dan semuanya penting), jadi kita akan full diskusi dari siang sampai sore.
      ***
      Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
      • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
      • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 Juni 2019
      Kelasnya akan dimulai pukul 11.00 s/d 16.30 WIB. Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
      ***
      Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,500,000, dan berikut cara daftarnya:
      1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
      Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
      Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
      Semuanya atas nama Teguh Hidayat
      2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Mohamed Salah, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
      3. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
      4. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, hanya tersedia kursi untuk 30 orang.
      5. Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.

      Bonus Gratis:
      1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
      2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
      3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
      Ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu? Anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.
      Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.

      Penulis bersama temen-temen peserta salah satu kelas seminar sebelumnya
      Bagi anda yang tidak bisa hadir di kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka bisa membeli rekaman seminarnya saja (rekaman terbaru tahun 2019), tentunya dengan biaya yang lebih terjangkau. Boleh baca keterangan selengkapnya disini.

      Bagi anda yang tertarik ikut kelas privatedimana peserta bebas tanya jawab dan diskusi dua arah (jadi gak seperti seminar yang diskusinya satu arah, dimana penulis menyampaikan materi sedangkan peserta mendengarkan), maka boleh baca info lengkapnya disini. Kelas private ini biayanya lebih tinggi dibanding seminar, namun jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 orang saja. Untuk lokasinya sama di Jakarta.

      UPDATE: KURSINYA SUDAH PENUH! DEMIKIAN PULA UNTUK KELAS PRIVATE, SUDAH FULL 5 ORANG. JADI SAMPAI JUMPA DI KESEMPATAN KELAS [...]

      ‘Perkataan yang Baik Adalah Sedekah’

      Suatu siang di Cimahi, Jawa Barat, dimana penulis seperti biasa menjemput si kecil pulang dari taman kanak-kanak. Biasanya saya menjemput pakai sepeda motor, namun karena ketika itu hujan maka saya pakai mobil. Tak lama setelah kami berdua masuk mobil dan jalan lagi, si kecil kemudian menurunkan kaca jendela dan menyapa teman-temannya sambil melambaikan tangan, dadah dadah, seperti itu. Tapi saya kaget ketika tiba-tiba dia ngomong begini ke salah seorang teman TK-nya (yang diantar oleh ibunya) yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan umum, ‘Kenapa kamu naik angkot? Gak punya mobil yaaa?
      ***
      Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juni 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham untuk subscriber selama 1 bulan penuh atau lebih lama lagi.
      ***
      Penulis segera menepikan kendaraan, dan bergegas menuju si ibu dan anaknya, yang untungnya masih berada di lokasi. Penulis kemudian minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf atas ucapan si kecil tadi, dan berjanji bahwa saya akan mengajari si kecil untuk tidak lagi nyeletuk sembarangan. Sudah tentu, si ibu memaklumi, karena anak berusia 5 tahun memang kebanyakan belum bisa membedakan mana kata-kata yang baik dan yang tidak. Dan memang ketika penulis balik lagi ke kursi kemudi, si ade masih cengar cengir saja di kursinya, tanpa merasa bersalah sama sekali. Saya kemudian segera menasihati dengan baik-baik, mengingatkan bahwa apa yang baru saja ia katakan bisa menyinggung perasaan orang lain. Jadi lain kali kamu gak boleh ngomong seperti itu lagi.
      Untungnya, si kecil bisa menerima pelajarannya dengan baik, dan sampai sekarang ia belum pernah salah ngomong lagi. Tapi balik lagi: Jika anak kecil mengatakan sesuatu yang tidak baik, yang menyinggung perasaan orang lain, maka kita sebagai orang dewasa bisa memakluminya, dan bisa mengajarkan agar dia tidak bicara seperti itu lagi.
      Tapi bagaimana jika ada orang dewasa yang seperti itu, yang tidak bisa menjaga lisannya sendiri??
      Kenyataannya adalah, seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial, ada banyak orang yang justru senang mengucapkan atau menuliskan kalimat-kalimat yang tidak baik, yang menyinggung perasaan, nyinyir, yang merendahkan atau menyerang pihak tertentu, hingga menghakimi atau menggurui orang lain. Apakah mereka ini sama seperti anak penulis tadi, yang belum bisa membedakan mana kalimat yang baik dan yang buruk? Tidak, mereka 100% sadar soal itu, dan actually penulis sendiri dulu juga pernah seperti itu. Kalau anda baca-baca lagi artikel lama di blog ini sejak tahun 2010 lalu, maka ada banyak tulisan yang terkesan menyerang emiten atau grup konglomerasi tertentu, dan para pembaca justru menyukainya. Sehingga blog ini bahkan sudah langsung populer sejak tahun 2010 tersebut.

      Dulu penulis sering cerita gak bagus tentang perusahaan ini.
      Namun seiring dengan berjalannya waktu, penulis sadar bahwa mengkritik atau menjelek-jelekkan orang lain atau perusahaan tertentu, itu tidak memberikan manfaat apa-apa, dan malah bisa bikin kita jadi punya musuh. Dan yang paling penting, menjelek-jelekkan orang lain mungkin bisa membuat kita untuk sesaat merasa hebat, tapi itu tidak menghasilkan cuan atau dividen sama sekali! Jadi ya buat apa?? Mengkritik, menyerang, atau menghina, itu juga sangat berbeda dengan bersikap kritis, karena pilihan kata-kata yang digunakan juga berbeda. Misalnya, anda bisa memilih untuk mengatakan bahwa ‘Direktur PT A itu g*blok’, atau ‘Direktur PT A harusnya bisa bekerja lebih baik lagi’. Perhatikan bahwa makna kedua kalimat itu sama saja, tapi nadanya jelas berbeda bukan?
      Karena itulah, penulis selalu mengajarkan kepada anggota tim, keluarga, dan juga diri penulis sendiri, untuk selalu menuliskan kalimat-kalimat yang baik, yang bermanfaat bagi orang lain. Dan kalau kita tidak bisa melakukannya, maka lebih baik diam saja. Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Perkataan yang baik adalah sedekah’. Jadi dengan kita menjaga lisan saja, maka balasannya adalah sama dengan jika kita beramal sejumlah uang atau barang, atau bahkan balasannya lebih besar lagi. Karena, coba pikir. Jika ada seorang pengemis yang datang menghampiri, maka apa yang anda lakukan? Memberikan sejumlah uang tapi sambil berkata kasar, atau tidak memberikan apa-apa namun dengan mengucapkan maaf sembari tersenyum tulus??
      Nah, di buku ‘Value Investing: Beat the Market in Five Minutes!’, penulis sudah menyampaikan bahwa salah satu satu rahasia sukses investor adalah jika ia bisa rajin beramal dan berbuat baik, bersedekah, dan melakukan kegiatan filantropi yang bermanfaat bagi orang lain, dimana itu akan menekan sifat greedy yang seringkali muncul pada diri investor pemula, dan pada akhirnya akan membuat pekerjaan investasi itu menjadi lebih mudah dengan sendirinya. Namun mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa ‘beramal’ itu tidak melulu harus dengan memberikan sebagian harta yang kita miliki. Karena dengan berkata baik saja, itu sudah merupakan amal perbuatan yang Inshaa Allah bermanfaat tidak hanya bagi orang lain, tapi juga bagi diri kita sendiri karena, boleh anda coba sendiri: Jika kita terbiasa berbicara dengan baik, maka bawaan kita akan terasa enak dengan sendirinya.
      Anyway, sekeras apapun kita dalam berusaha menjaga lisan dan perbuatan, namun tetap saja, penulis sendiri mungkin pernah menulis atau mengatakan sesuatu yang membuat anda tidak berkenan. Karena pada akhirnya saya hanya manusia biasa, tempatnya berbuat salah.
      Jadi dengan ini izinkan penulis dan team untuk mengucapkan, selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Terima kasih anda masih setia bersama dengan kami disini, dan semoga kita bisa terus bersama-sama menghasilkan keuntungan yang konsisten dari pasar modal. Aamiin.

      Dan selamat buat yang baru saja terima THR dividen :)
      Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal I 2019 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya pada link berikut.
      Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Juni 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham untuk subscriber selama 1 bulan penuh atau lebih lama lagi.
      TeguhHidayat.com tetap online sepanjang libur lebaran, jadi email-email yang masuk tetap akan dibalas secepatnya.

      Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik ‘View on Instagram’ dibawah ini: .ig-b- { display: inline-block; } .ig-b- img { visibility: hidden; } .ig-b-:hover { background-position: 0 -60px; } .ig-b-:active { background-position: 0 -120px; } .ig-b-v-24 { width: 137px; height: 24px; background: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24.png) no-repeat 0 0; } @media only screen and (-webkit-min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min–moz-device-pixel-ratio: 2), only screen and (-o-min-device-pixel-ratio: 2 / 1), only screen and (min-device-pixel-ratio: 2), only screen and (min-resolution: 192dpi), only screen and (min-resolution: 2dppx) { .ig-b-v-24 { background-image: url(//badges.instagram.com/static/images/ig-badge-view-sprite-24@2x.png); background-size: 160px 178px; } }Instagram

      Value Investing Class for Millennials, Jakarta, 22 Juni

      Dear investor, sesuai request, penulis menyelenggarakan kelas seminar dengan tema: Value Investing for Millennials. Berbeda dengan seminar yang biasanya, materi di kelas seminar kali ini sengaja didesain agar sesuai untuk teman-teman investor berusia 20-an, 30-an, atau lebih muda lagi, dimana kita tidak hanya membahas tentang investasi saham itu sendiri, melainkan juga membahas tahapan-tahapan yang harus dilewati agar kita kemudian siap menjadi pro investor, mulai dari ketika usia sekolah, kuliah, hingga ketika sudah bekerja dan memiliki penghasilan untuk ditabung di saham. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya.


      Pembicara: Teguh Hidayat

      Materi Utama:
      1. Everybody can be an investor: Bagaimana seseorang dengan tingkat kecerdasan rata-rata, dan juga bukan tipe pekerja keras, bisa tetap sukses sebagai investor (rahasianya adalah di kemampuan untuk selalu berpikir rasional).
      2. To be an investor, you need money to start with, knowledge, and experience: Penjelasan mengenai tiga modal penting, yakni tabungan (minimal berapa Rupiah?), pengetahuan (harus belajar apa saja?) dan pengalaman (berapa lama?), yang harus dimiliki oleh setiap investor.
      3. Start your investing career as early as possible: Bagaimana cara menggali pengalaman sebagai value investor bahkan sejak kita masih duduk di bangku SMU, kuliah, atau baru mulai bekerja.
      4. How to set up your financial goals, step by step: Bagaimana cara mengatur pemasukan, pengeluaran, hingga menabung untuk membeli dan memiliki aset-aset dasar (rumah, mobil, dst), dan tentunya cara menyisihkan tabungan secara bertahap untuk investasi jangka panjang, kesemuanya berdasarkan kaidah value investing (baca artikel ini: Value investing di kehidupan sehari-hari).
      5. To be the best, you have to learn from the best: Bagaimana cara menjalin hubungan dengan, dan juga belajar langsung dari investor-investor terbaik tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, dan
      6. How to build your career as an investor, or even professional fund manager: Bagaimana cara seorang karyawan fresh graduate dengan gaji rata-rata bisa ‘naik kelas’ menjadi seorang professional self-employed, pengusaha, dan akhirnya menjadi seorang investor yang punya banyak waktu luang untuk diri sendiri, keluarga, dan bisa membantu orang banyak (hampir tidak ada bedanya dengan pensiun), dalam rentang waktu kurang dari 10 tahun.
      Step by step, perjalanan karier investor

      Bonus Materi Tambahan:
      1. How to be a happy investor: Sharing pengalaman penulis jalan-jalan keliling dunia dan bertemu dengan orang-orang hebat, dan pelajaran-pelajaran apa saja yang didapat dari pengalaman ‘berpetualang’ tersebut.
      2. Sharing pilihan saham-saham terbaik untuk tabungan jangka panjang, lengkap dengan penjelasan kenapa mereka cocok untuk jangka panjang, plus strategi buy, hold, and sell untuk tiap-tiap saham tersebut, dan
      3. Sharing pilihan saham-saham syariah terbaik, bagi anda yang membuka rekening syariah.
      Bonus lagiSalah satu ciri khas millennial adalah mereka memiliki rasa keingin tahuan yang sangat besar, sehingga banyak mengajukan pertanyaan. Jadi khusus untuk seminar kali ini, penulis akan menyediakan sesi khusus selama 1.5 – 2 jam untuk diskusi tanya jawab, dimana anda bisa bertanya apa saja terkait investasi saham/value investing secara khusus, atau tentang menjadi seorang investor itu sendiri secara umum.
      Seluruh materinya akan disampaikan dengan cara yang santai, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Seluruh materinya adalah berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai investor, sehingga kita hanya akan sedikit bicara teori disini, dan akan lebih banyak bicara praktek termasuk menyertakan contoh-contoh riil untuk tiap-tiap poin materi diatas.
      Target peserta: Professional muda berusia 20-an, 30-an, atau lebih muda lagi, dan para orang tua yang ingin mengarahkan putra putri mereka agar mampu untuk menciptakan aset investasi milik mereka sendiri.
      ***
      Lokasi, tanggal, dan waktu acaranya:
      • Tempat: Amaris Hotel Thamrin City, Mall Thamrin City Lt.6, Jakarta Pusat (belakang Mall Grand Indonesia, sekitar 150 meter dari Bundaran HI).
      • Hari/Tanggal: Sabtu, 22 Juni 2019
      Kelasnya akan dimulai pukul 10.00 s/d 17.00 WIB (waktunya lebih lama dari biasanya). Setiap peserta akan memperoleh fasilitas softcopy dan hardcopy materi seminar, makan siang, coffee break, dan audiobook (penjelasannya dibawah).
      ***
      Biaya untuk ikut seminar ini hanya Rp1,500,000, atau Rp1,100,000 bagi anda yang masih mahasiswa. Dan berikut cara daftarnya:
      1. Lakukan payment dengan cara transfer ke (salah satu):
      Bank BCA no rek 139.229.1118                    Bank BNI no rek 338.434.774
      Bank Mandiri no rek 132.000.706.2087        Bank BRI no rek 0137.0101.0657.539
      Semuanya atas nama Teguh Hidayat
      2. Segera kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek Daftar Seminar, dan isi: Nama lengkap anda, nama bank tujuan transfer. Contoh: Alex Lacazette, BCA. Anda boleh melampirkan bukti transfer, tapi boleh juga nggak, karena kami bisa langsung mengecek transferan anda melalui internet banking.
      3. Jika anda mahasiswa, maka lampirkan bukti kartu tanda mahasiwa pada email yang anda kirim diatas.
      4. Anda akan menerima email konfirmasi bahwa pembayaran anda sudah diterima, dan bahwa anda sudah terdaftar sebagai peserta kelas. Selanjutnya, anda bisa datang ke lokasi acara pada waktu yang sudah ditetapkan. Sehari sebelum acaranya, kami akan mengirim email reminder untuk mengingatkan anda soal acara ini.
      5. Jika anda mendaftar namun ternyata pesertanya sudah penuh maka uang anda akan dikembalikan/ditransfer balik. Tempat terbatas, agar penyampaian materi efektif, maka jumlah peserta dibatasi maksimal 30 orang.
      Diskon Early Bird: Jika anda mendaftar sebelum tanggal 9 Juni 2019 pukul 16.00 WIB, maka biayanya menjadi Rp1,350,000, atau Rp950,000 bagi peserta mahasiswa. Setelah tanggal 9 Juni, maka harga yang berlaku adalah harga normal.
      Kebijakan Refund: Bagi anda yang sudah mendaftar sebagai peserta seminar namun kemudian berhalangan hadir, maka anda akan menerima refund/pengembalian biaya sebesar 100% (uang anda akan ditransfer balik secara penuh), dengan syarat anda memberitahukan ketidak hadiran anda tersebut via email atau Whatsapp dibawah, paling lambat dua hari sebelum tanggal seminarnya. Lewat dari itu maka biayanya dianggap hangus.
      Demikian, sampai jumpa di lokasi!
      Layanan Gratis Khusus Peserta:
      1. Jika nanti setelah kelasnya masih ada materi yang belum dipahami, maka peserta boleh bertanya via email dan akan dijawab langsung oleh penulis.
      2. Para alumni akan dibuatkan Grup Whatsapp/Telegram sehingga akan tetap bisa berkomunikasi setelah acaranya, dan grupnya akan digabungkan dengan grup alumni seminar sebelumnya.
      3. Di seminarnya nanti, anda bisa membawa alat perekam suara (biasanya di ponsel juga ada), untuk merekam materi seminarnya, untuk anda dengarkan lagi di rumah sebagai audiobook.
      ***


      Rekaman Seminar: Bagi anda yang tidak bisa hadir di acara kelasnya karena kendala jarak atau waktu, maka anda bisa membeli rekaman audio-nya saja (plus slide powerpoint-nya), dengan biaya yang tentu saja lebih murah, yakni Rp275,000. Caranya cukup transfer ke salah satu no rekening bank diatas, lalu kirim email ke teguh.idx@gmail.com dengan subjek: Rekaman Seminar Millennials, dan isi: Nama lengkap anda, bank tujuan transfer (lampirkan bukti transfer jika perlu). Kemudian link untuk men-download rekamannya akan dikirim melalui email pada hari Senin, 24 Juni.

      Untuk membeli rekaman seminar value investing yang biasanya (basic and advanced, rekaman terbaru tahun 2019), maka boleh lihat lagi cara membelinya disini.

      Baiklah, sudah cukup. Jika masih ada yang ingin ditanyakan, anda bisa menghubungi Ms. Nury di Whatsapp 081220445202. Konfirmasi setelah anda melakukan pembayaran juga bisa melalui kontak telepon/whatsapp tersebut.

      Atau anda bisa langsung bertanya kepada penulis (Teguh Hidayat) melalui email teguh.idx@gmail.com.


      Salah satu [...]